Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 20

Eps 20 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

Gerakan Kui Heng Su benar-benar cepat dan telak, Goresan pedang di tangannya begitu hebat sehingga tubuh anaknya sendiri tidak terluka sedikit pun.

orang-orang yang hadir dalam ruangan itu menjadi kagum sekali terhadap kelihaian si kakek tua.

Sementara itu, Kui Tiong begitu terkejutnya sehingga dia sempat termangu-mangu untuk sesaat Kemudian terdengar dia terbatuk-batuk dan dengan suara meratap dia berkata.

"Tia, (ayah) Huk... Huk... aku...."

Kui Heng Su mengibaskan tangannya.

Pedang panjang yang digunakannya tadi masuk kembali ke dalam sarung di pinggang Kui Tiong, Lalu dia melepaskan mantelnya sendiri dan digunakan untuk menutupi tubuh anaknya.

"Pakailah!"

Katanya.

Kui Ji Nio memunguti koyakan kulit harimau yang bersebaran di atas lantai dan dimasukkannya ke dalam tungku perapian, Dalam sekejap mata api dalam tungku itu menyala tinggi dan terciumlah bau sangit, Lambat laun serpihan kulit harimau itu berubah menjadi abu.

Siau Po menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sayang! Sayang!"

Katanya.

"Mari kita pergi!"

Ujar Kui Heng Su sambil menarik tangan anaknya untuk berjalan menuju pintu ruangan.

"Kui tayhiap akan melakukan perbuatan besar, sudah seharusnya kita memberikan bantuan!"

Kata Tan Kin Lam.

"Tidak perlu! Kami tidak pantas menerima uluran tangan Saudara!"

Sahut Kui Heng Su sambil meneruskan langkah kakinya.

Siau Po tahu bahwa pasangan suami istri itu akan turun tangan segera, tentu tidak ada waktu lagi memperingatkan kaisar Kong Hi.

Dia berusaha menggunakan akal menunda sedikit waktu, Karena itu dia berteriak.

"Kamar-kamar di dalam istana kaisar Tatcu, meskipun tidak sampai selaksa ruang, paling sedikitnya ada lima ribu kamar, Tahukah kau kamar mana yang ditempati raja Tatcu itu?"

Kui Heng Su tertegun, Dia merasa ucapan Siau Po ada benarnya juga. Dia memalingkan kepalanya dan bertanya.

"Apakah kau tahu?"

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada yang tahu, Raja Tatcu khawatir ada orang jahat yang akan membokong dirinya, karena itu setiap malam dia selalu berganti kamar, Kadang-kadang dia tidur di Yang Cun Kiong, ada kalanya di Keng Yang Kiong, kadang di Kam Hok Kiong, Cen Si Kiong, kemungkinan dia juga tidur di Li Cing Kan, Ho Hua Kiok."

Sekaligus dia menyebutkan nama tujuh delapan kamar yang terdapat dalam istana, Kui Heng Su sampai mengerutkan kening mendengarnya.

"Biarpun penjaga pribadi atau Thay-kam pribadi Raja sendiri tetap tidak tahu di mana dia akan tidur malam ini,"

Kata Siau Po pula.

"Lalu, bagaimana kita bisa menemukannya?"

Tanya Kui Heng Su.

"Pagi hari, kalau raja berada di ruang pertemuan, seluruh menteri dan penjaga pasti berkumpul selain itu, kalau bukan dia sendiri yang memerlukan kita, sulit sekali kita menemuinya,"

Kata Siau Po.

Sebetulnya keadaan di dalam istana tidak tepat seperti yang digambarkan Siau Po.

Kaisar Kong Hi jarang berpindah-pindah kamar tidur.

Tapi pasangan Kui Heng Su dapat dikatakan orang dusun, mana mungkin mereka tahu keadaan di dalam istana?

Mereka malah merasa itulah cara terbaik bagi seorang raja untuk menghindarkan diri dari pembokongan musuh, Karena itu mereka percaya sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Siau Po.

Melihat wajah Kui Heng Su yang kelam, timbul semangat dalam hati Siau Po.

"Kui Loyacu, tahukah kau berapa jumlah selir Raja Tatcu?"

Tanyanya. Kui Heng Su mendelik padanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Menurut berita yang tersebar di luaran, di dalam istana ada enam pendopo besar dan tiga istana pribadi. Di ruangan belakang yang terdiri dari ribuan kamar, ada tiga ribu selir Raja, sebetulnya itu merupakan berita bohong yang dilebih-lebihkan saja. Tetapi setidaknya selir raja memang ada sejumlah delapan ratus atau sembilan ratus orang, Setiap malam dia jadi pengantin baru, Malam ini dia tidur di kamar selir ke tiga ratus lima puluh satu, besok dia tidur di kamar selir yang enam ratus tujuh lima, bahkan selirnya sendiri tidak pernah tahu dia akan tidur bersama siapa malam ini. Ada malah yang menunggu sampai tiga empat tahun tapi masih belum mendapat kesempatan digilir olehnya,"

Kata Siau Po seenaknya.

"Siau Po, kau sudah cukup lama berdiam di dalam istana, tentu tahu cara menemukannya, bukan?"

Kata Tan Kin Lam.

"Kalau pagi atau siang hari, rasanya masih bisa menemukannya Tapi kalau malam hari, terus terang saja, aku sendiri tidak yakin,"

Sahut Siau Po.

"Kalau begitu, besok kita semua menyamar menjadi apa saja, kau memimpin kami masuk ke dalamnya."

Bukankah kau pernah mengajak Cian heng dan Gouw jiko ini masuk ke dalam istana?"

Kata Tan Kin Lam. Tangannya menunjuk Cian Lao Pan dan Gouw Lip Sin.

"Cian toako hanya sampai di dapurnya, sedangkan Gouw jiko begitu masuk ke dalam istana langsung kepergok, Kalau ingin bertemu dengan rajanya sendiri, rasanya masih jauh sekali jaraknya, Cian toako, Gouw jiko, bukankah benar apa yang kukatakan?"

Tanya Siau Po.

Baik Cian Lao Pan maupun Gouw Lip Sin terpaksa menganggukkan kepalanya, Kenyataan-nya, kedua orang itu memang sudah pernah masuk ke dalam istana, tapi untuk melihat wajah kaisar Kong Hi, tidak ubahnya seperti mencari sebatang jarum di antara tumpukan jerami.

"Tecu mempunyai sebuah akal,"

Kata Siau Po.

"Akal apa?"

Tanya Tan Kin Lam cepat.

"Tecu besok akan menemui Sri Baginda, Dia pasti ingin berunding denganku cara mengatasi pemberontakan Gouw Sam Kui. Tecu akan memancingnya keluar melihat persiapan meriam, Kalau dia sudah keluar dari istananya, tentu lebih mudah turun tangan terhadapnya, Baik berhasil maupun gagal, kita juga lebih mudah mengambil langkah seribu. Dengan demikian, berkurang pula bahaya yang kita hadapi,"

Sahut Siau Po. Kui Ji Nio tertawa dingin.

"Masa Raja Tatcu akan mendengarkan omonganmu? Kalau sampai tiga tahun dia belum keluar dari istananya juga, jadi kita juga harus menunggu sampai tiga tahun lamanya? Kau mendorong sini menolak sana, tampaknya kau memang sengaja menghalangi usaha kita ini!"

Katanya ketus.

"Kalau menyelinap ke dalam istana untuk membunuh raja, kami orang-orang dari Bhok onghu juga sudah pernah mencobanya, Bila diceritakan malah memalukan saja, Beberapa orang dari pihak Bhok onghu kami tewas di tempat itu.

Bahkan adikku sendiri bersama seorang sumoay bernama Pui Ie, Gouw susiok serta dua orang adik seperguruannya yang lain malah tertangkap dan disekap dalam istana.

Pada saat itu kami semua sudah putus asa, untung saja ada Wi hiocu yang membantu dari dalam sehingga mereka bisa meloloskan diri.

Bukannya kami bernyali kecil, tapi urusan ini benar-benar sulit dilaksanakan,"

Kata Bhok Kiam Seng. Kui Ji Nio menatap Siau Po dengan pandangan dingin.

"Aku kurang yakin dengan mengandalkan seorang bocah cilik seperti engkau saja bisa membebaskan mereka dari marabahaya!"

Katanya ketus.

"Meskipun usia saudara Wi ini masih muda, tapi jiwanya gagah dan suka menolong, Berkat kecerdasan dan akalnya, kami beberapa bersaudara baru berhasil mempertahankan jiwanya masing-masing,"

Kata Gouw Lip Sin cepat.

"Apa yang gagal dilakukan oleh orang-orang Bhok onghu, belum tentu gagal dilakukan oleh orang she Kui,"

Kata Kui Ji Nio sinis. Liu Tay Hong langsung berdiri dari tempat duduknya.

"llmu silat pasangan suami istri Kui Heng Su sudah lama terkenal, mana mungkin kami orang-orang dari Bhok onghu sanggup menandinginya. Kalau kalian berdua ingin turun tangan segera, harap berangkatlah secepatnya, Biar kami menunggu berita baik dari sini,"

Katanya. Salah seorang anggota bagian Hong Sun Tong dari perkumpulan Thian Te hwe ikut berbicara.

"Wi hiocu, sebaiknya kau ikut saja kembali ke istana, Kalau kedua locianpwe ini menyelinap ke sana dan tertangkap, toh kau sudah siap siaga memberikan pertolongan kepada mereka!"

Kata-katanya ini sudah terang merupakan sindiran bagi pasangan suami istri Kui Heng Su.

Dia merasa benci karena si nenek dan putranya telah membunuh hiocu mereka, Gouw Liok Kie.

Karena itu, meskipun di hadapan ada Tan Congtocu mereka di sana, dia tidak memperdulikan begitu banyak lagi.

Dalam hati Siau Po memaki.

--Kalau sampai ketiga ekor kura-kura ini menyelinap ke dalam istana kemudian tertangkap, biarpun kepalaku ini akan dipenggal, aku tetap tidak akan memberikan bantuan apa-apa!

Meskipun dalam hati memaki, di luarnya dia justru tertawa dan berkata.

"Mana mungkin ketiga pendekar besar dari keluarga Kui ini bisa tertangkap oleh para Sie Wie? jumlah Sie Wie dalam istana hanya delapan ribu orang lebih. Asal Kui siauya terbatuk-batuk beberapa kali saja, para Sie Wie itu pasti akan terpental ke mana-mana dan tidak dapat bangkit lagi!"

Beberapa anggota perkumpulan Thian Te hwe serta orang-orang dari pihak Bhok onghu tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa-tawa, Kui Tiong sendiri ikut tertawa.

"Benarkah apa yang kau katakan? Mereka takut mendengar suara batukku yang Huk... Huk.,.? Huk... Huk...."

Begitu bangganya Kui Tiong sampai sengaja memperdengarkan suara batuknya berulang kali.

Pasangan suami istri Kui Heng Su marah sekali, masing-masing mencekal sebelah lengan anaknya kemudian diseretnya ke Iuar.

"Kui tayhiap, jangan marah, cayhe mempunyai sebuah siasat!"

Kata Tan Kin Lam cepat. Kui Ji Nio tahu bahwa Tan Kin Lam cerdas dan banyak akalnya, Karena itu dia membalikkan tubuhnya dan menunggu kelanjutan kata-katanya.

"Ketinggian ilmu silat pasangan suami istri Kui tayhiap tentu tidak perlu diragukan lagi. Kemungkinan di dalam dunia kangouw sekarang sudah sulit dicari tandingannya. Tapi biar bagaimana kalau kalian menyelinap ke dalam istana, jumlah musuh tidak terkirakan banyaknya, Bahaya yang akan dihadapi juga bukan main besarnya, sebaiknya kita rundingkan kembali jalan yang terbaik..."

"Huh!"

Dengus Kui Ji Nio yang memotong perkataan Tan Kin Lam.

"Aku kira kau mempunyai siasat yang jitu!"

Kembali dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke luar. Liu Tay Hong dan Gouw Lip Sin berdiri serentak dan menghambur ke depan, Mereka menghadap di depan pintu.

"Kalau kalian ingin memberikan bantuan kepada Gouw Sam Kui, kami orang-orang dari Bhok onghu tidak dapat menurutnya!"

Bentak Liu Tay Hong.

"Apa? Rupanya kalian ingin berkelahi?"

Teriak Kui Ji Nio tidak kalah garangnya.

"Kalian boleh bunuh dulu kami dua bersaudara, Setelah itu baru keluar pintu itu dan membantu Gouw Sam Kui!"

Kata Liu Tay Hong pula.

"Siapa yang bilang kami akan membantu Gouw Sam Kui?"

Teriak Kui Ji Nio.

"Meskipun kalian tidak berminat memberikan bantuan kepada Gouw Sam Kui, tapi apabila usaha kalian nanti berhasil, berarti kalian telah meringankan beban si pengkhianat bangsa itu. Pada saat itu, tentu sulit lagi bagi kami untuk mengendalikannya!"

Kata Liu Tay Hong.

"Minggir!"

Bentak Kui Heng Su sambil maju satu langkah.

Liu Tay Hong merenggangkan kedua tangannya.

Kui Heng Su mengulurkan tangannya untuk mencekal dada lawannya, Liu Tay Hong menggerakkan tangannya untuk menyambut serangan itu, Terdengar suara Plak!

Kedua telapak tangan beradu.

Tampak tubuh Liu Tay Hong terhuyung-huyung, wajahnya langsung berubah pucat pasi.

"Aku hanya mengerahkan tenaga sebanyak lima bagian,"

Kata Kui Heng Su. Sembari menggelengkan kepalanya, Gouw Lip Sin berkata.

"Kau boleh mengerahkan tenagamu sebanyak sepuluh bagian, Bunuh saja kami dua kakak beradik!"

Teriaknya.

"Sepuluh bagian juga boleh!"

Kata Kui Heng Su tidak mau kalah.

Kui Tiong mendahului ayahnya menerjang ke depan, Sebelah lengannya disurutkan ke belakang, sedangkan tangan satunya lagi menghantam ke depan.

Gouw Lip Sin menggerakkan tangannya untuk melancarkan sebuah serangan, tapi tiba-tiba Kui Tiong menyurutkan tangannya ke belakang sehingga serangan Gouw Lip Sin pun menubruk tempat kosong.

Kui Tiong menggunakan kesempatan ketika Gouw Lip Sin menarik tangannya kembali untuk melancarkan serangan, Gerakannya secepat kilat, tahu-tahu jalan darah penting di dada Gouw Lip Sin sudah tercekal olehnya.

Tan Kin Lam cepat-cepat menghambur kedepan.

"Semuanya toh orang sendiri, jangan menggunakan kekerasan!"

Katanya menasehati.

"Sejak tadi kita berdebat terus, Kalau begini, sampai kapan pun tidak bisa diambil keputusan. Begini saja, lebih baik kita melemparkan dadu untuk mencoba peruntungan masing-masing, Kalau pihak Kui loyacu menang, kita bukan saja tidak boleh menghalangi kepergiannya, malah boanpwe akan menjelaskan secara terperinci keadaan dalam istana,"

Ujar Siau Po menengahi.

"Bagaimana kalau pihakmu yang menang?"

Tanya Kui Ji Nio.

"Kalau kebetulan aku yang menang, kalian harus menunda urusan ini. Setelah Gouw Sam Kui mati, kalian baru boleh membunuh Raja Tatcu,"

Sahut Siau Po.

Kui Ji Nio merenung sejenak.

-Kalau kita memaksakan diri, kemungkinan orang-orang pihak Bhok onghu akan menyampaikan kabar ini secara diam-diam kepada Raja Tatcu, Bagaimanapun urusan ini memang sulit dijalankan, lebih baik aku ikuti saja kemauannya, --katanya dalam hati.

Dengan membawa pikiran demikian, dia menoleh kepada si kakek.

"Suamiku, bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanyanya. Kui Heng Cu menoleh kepada Siau Po.

"Bocah, kalau kau sampai kalah, awas kalau kau tidak menepati janjimu!"

Katanya. Siau Po tertawa.

"Ucapan seorang laki-laki sejati berat sekali, kuda mati pun sulit mengejarnya. Raja Tatcu toh bukan ayahku, untuk apa aku melindunginya? Biarpun demikian, kalau menang harus menang secara gagah, kalah pun harus habis-habisan, Siapa pun yang kalah atau menang, pokoknya tidak boleh ada rasa dendam,"

Sahutnya. Tan Kin Lam merasa bahwa ucapan Siau Po yang terakhir tepat sekali.

"Urusan ini menyangkut kepentingan negara, Apakah usaha kita akan mencapai hasil atau tidak, sekarang ini masih sulit dikatakan Orang jaman dulu sering menggunakan Ciok Pue (Sepasang kayu yang dilemparkan di atas lantai) untuk menentukan pilihan, kita menggunakan dadu, intinya tidak jauh berbeda, Biarlah kita ikuti kehendak Thian Yang Kuasa,"

Katanya.

"Anakku, lepaskan tanganmu!"

Kata Kui Ji Nio. "Aku tidak mau!"

Sahut Kui Tiong.

"Adik kecil ini ingin mengajakmu bermain dadu,"

Kata Kui Ji Nio.

Kui Tiong senang sekali, Dia segera melepaskan tangannya, Dibebaskannya totokan pada tubuh Gouw Lip Sin.

Si Yau Tau Say Cu merasa ngilu di dadanya, Pernafasannya pun tersendat-sendat sehingga dia tidak henti-hentinya menggelengkan kepalanya.

"Kui Siauya, harap kau keluarkan dadumu, Kita pakai kepunyaan kalian saja,"

Kata Siau Po.

"Dadu? Aku tidak punya. Kau punya tidak?"

Sahut Kui Tiong.

"Aku juga tidak punya, Saudara sekalian, apakah di antara kalian ada yang punya dadu?"

Tanya Siau Po. Para hadirin menggelengkan kepalanya, Dalam hati mereka berpikir. -Kami toh bukan penjudi, buat apa bawa-bawa dadu? "Kalau tidak ada dadu, pakai uang logam saja!"

Kata Kui Ji Nio.

"Lebih baik menggunakan dadu saja! Lebih adil Namanya juga adu peruntungan, Di luar banyak para serdadu, di antara mereka pasti ada yang suka bawa dadu,"

Kata Siau Po.

Tanpa menunggu persetujuan dari yang lainnya, dia segera berjalan ke luar.

Begitu keluar dari ruangan sebelah timur itu, dia masuk ke dalam ruangan besar.

Dari dalam saku dia mengeluarkan dadunya, Dadu itu merupakan benda mustika baginya yang selalu dibawanya ke mana-mana.

Tapi kalau tadi ia langsung mengeluarkannya, pasangan suami istri Kui Heng Su pasti akan curiga, Dia duduk beberapa saat di dalam ruangan itu, kemudian baru berjalan kembali ke ruangan sebelah timur Sambil tertawa dia berkata.

"Aku sudah mendapatkan dadunya."

"Bagaimana cara taruhannya?"

Tanya Kui Ji Nio.

"Aku sama sekali tidak mengerti cara bermain dadu, Kui Siauya, apakah kau tahu cara bermain dadu?"

Siau Po malah bertanya kepada Kui Tiong. Kui Tiong meraih dua buah dadu dari atas meja.

"Kita adu kecepatan dan ketepatan,"

Katanya sambil melemparkan kedua dadu itu, Gerakannya tidak istimewa, tapi ternyata kedua dadu itu melayang ke depan dan tanpa suara sedikit pun menancap ke dalam dinding dengan posisi horisontal.

Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu secara diam-diam merasa kagum sekali, Meskipun laki-laki penyakitan itu tampangnya ketolol-tololan, tapi rupanya memiliki ilmu yang cukup tinggi.

"Aku pernah menyaksikan orang bermain dadu, yang dipertaruhkan adalah jumlah angkanya yang besar atau kecil, bukan menggunakannya seperti senjata rahasia,"

Kata Siau Po.

"Betul,"

Kata Kui Ji Nio.

"Kalian masing-masing melemparkan dadu itu satu kali, siapa yang angkanya lebih besar maka dialah yang menang."

Siau Po berpikir dalam hati. -Kalau hanya bertaruh satu kali, kemungkinan peruntungannya bagus dan bisa mendapatkan angka paling besar, -Dengan membawa pikiran demikian, dia segera berkata.

"Begini saja, kita masing-masing melemparkan dadu-dadu itu sebanyak tiga kali,"

Bagi Kui Tiong, semakin banyak kesempatan melemparkan dadu semakin menyenangkan.

"Begini saja, kita masing-masing melemparkan dadu sebanyak tiga ratus kali, Yang angkanya lebih besar dua ratus kali, berarti dialah yang menang,"

Katanya.

"Mana mungkin menggunakan cara yang demikian merepotkan? Masing-masing melemparkan dadu sebanyak tiga kali saja,"

Kata Kui Ji Nio. Ci Thian Coan mengorek keluar kedua biji dadu yang melesak ke dalam tembok penyekat lalu di-taruhnya di atas meja.

"Kui Siauya, silakan, biar kau duluan!"

Kata Siau Po. Kui Tiong mengambil dadu dari atas meja. Dengan tertawa terkekeh-kekeh, dia menggerakkan tangannya dengan maksud melemparkannya, tapi keburu dicegah oleh Kui Ji Nio.

"Tunggu dulu! Kalau kebetulan kami yang menang, apakah orang-orang dari Bhok onghu termasuk dalam pertaruhan ini?"

Tanya Kui Ji Nio.

Tadi Liu Tay Hong sudah bergebrak satu kali dengan Kui Heng Su, sampai sekarang dadanya masih terasa sesak dan darahnya terasa masih bergejolak, Dia sadar bahwa ilmu pasangan suami istri dari Bhok onghu mereka, belum tentu sanggup mencegah keinginan sepasang kakek nenek itu untuk membunuh Raja Tatcu, Karena itu dia segera menganggukkan kepalanya.

"Apa pun kehendak Thian Yang Kuasa, kita lihat saja dari hasil pertaruhan kalian berdua,"

Kata Bhok Kiam Seng.

"Bagus!"

Seru Kui Ji Nio. Kemudian dia menoleh kepada putranya dan berkata kembali "Lemparlah dadu itu, semakin besar angkanya semakin bagus!"

Kui Tiong memperhatikan enam biji dadu yang sekarang ada dalam genggaman tangannya dengan seksama.

"Yang besar titiknya ada enam, angka paling kecil dua. Masih ada satu lagi yang lekukkannya dalam,"

Katanya.

"Yang ada lekukkannya itu berarti satu titik, merupakan angka terkecil,"

Kata Kui Ji Nio menjelaskan.

"Aneh-aneh saja, Angka empat titiknya berwarna merah semua,"

Kata Kui Tiong.

Dia menggerakkan tangannya, terdengar suara plak!

Keenam biji dadu itu pun melesak ke dalam meja dengan titik enam di sebelah atas.

Rupanya dia menggenggam biji-biji dadu itu dengan kedua tangannya dirapatkan titik satu diletakkan di sebelah bawah, Begitu dia menggebrak meja, enam biji dadu itu pun melesak ke dalam dengan angka atau titik enam di atasnya.

Bagian 78 Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa terkejut juga geli, Laki-laki itu tampaknya seperti orang penyakitan, tapi ternyata tenaga dalamnya mahir sekali, Tapi di dunia ini mana ada orang yang bermain dadu seperti caranya itu?

"Anakku, bukan begitu caranya,"

Kata Kui Ji Nio sambil menggebrak meja keraskeras sehingga keenam biji dadu itu langsung mencelat ke luar dan diraih olehnya. Kemudian dia melemparkannya asal-asalan.

"Berapa titik yang tampak di atas, itulah angka yang kau peroleh, bukannya mengikuti kehendakmu sendiri,"

Kata si nenek pula. Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu bersorak memuji gerakan si nenek yang hebat tadi.

"Begitu rupanya,"

Kata Kui Tiong.

Dia mengambil dadu-dadu itu dari atas meja kemudian perlahan-lahan dilemparkannya, Di bagian atas terlihat dua puluh titik, Enam biji dadu menghasilkan dua puluh titik sebetulnya sudah cukup bagus, peluangnya untuk menang di atas lima puluh persen.

Siau Po mengambil dadu tersebut.

Perlahan-lahan diputarnya dengan jari tangannya untuk melakukan kecurangan secara diam-diam.

"Ganyang semua!"

Serunya sambil melemparkan keenam biji dadu itu di atas meja, Lima biji dadu berhenti berputar dan titik yang terlihat di bagian atas berjumlah tujuh belas, Dadu yang terakhir masih terus berputar Kalau menurut gerakan tangannya tadi, dadu yang satu ini pasti akan menunjukkan enam titik.

Bila hal itu terjadi, berarti dia memperoleh dua puluh tiga titik dan dengan demikian dialah yang akan memperoleh kemenangan atau satu nol.

Tidak disangka-sangka dadu itu menggelinding ke samping dan jatuh tepat ke dalam lubang yang dibuat oleh Kui Tiong tadi, Dadu itu sempat bergetar sejenak kemudian berhenti, Titik yang terlihat hanya satu, jumlah titik yang diperoleh Siau Po jadi delapan belas, berarti kali ini dia kalah.

"Meja itu ada lekukannya, yang ini tidak bisa dihitung, ulangi sekali lagi,"

Kata Siau Po sambil mengambil dadu-dadu itu dengan maksud melemparkannya kembaIi. Tan Kin Lam menggelengkan kepalanya.

"Sudah takdir Thian Yang Kuasa, Siau Po, kau sudah kalah satu kali,"

Katanya.

--Masih ada dua kali, biar bagaimana aku harus mengalahkanmu!

--kata Siau Po dalam hati, Dia mengembalikan dadu-dadu itu ke tangan Kui Tiong.

Kui Tiong yang sudah menang satu kali merasa bangga sekali, Perlahan-lahan dia melemparkan dadu itu sekali lagi.

Ternyata kali ini jumlah keseluruhannya hanya sembilan titik.

Orang-orang dari Bhok Onghu yang melihat hal itu bisa bernafas lega sedikit.

Tampaknya untuk permainan kali ini Siau Polah yang akan keluar sebagai pemenang.

Siau Po berjalan ke sudut meja.

Dengan demikian jaraknya agak jauh dari keenam lubang yang dibuat Kui Tiong tadi.

Sekali lagi dia melemparkan dadunya, Kali ini enam biji dadu itu semua memperlihatkan empat titik, Enam kali empat dua puluh empat, kali ini benar-benar Siau Po yang menang, Dengan demikian kedudukkan mereka jadi seri.

Yang terakhir ini merupakan babak penentuan Giliran Kui Tiong melemparkan dadunya, Keenam biji dadu itu berputar sampai lama sekali di atas meja, Ketika berhenti, tampaklah jumlahnya tiga puluh satu titik, Angka yang tinggi sekali.

Wajah orang-orang Bhok onghu berubah kelam seketika, Dalam hati mereka berpikir, bahwa untuk memenangkan tiga puluh satu titik ini, orang harus mempunyai peruntungan yang besar sekali, Dengan kata lain harus terjadi keajaiban.

Siau Po sendiri sama sekali tidak khawatir --pokoknya aku gunakan cara seperti tadi saja, Bisa mendapatkan tiga puluh empat titik saja, berarti aku sudah menang, ~ katanya dalam hati, Jari tangannya secara diamdiam menggerakkan dadu-dadu dalam genggamannya, Setelah yakin bahwa posisinya sudah tepat, perlahan-lahan dia melemparkannya.

Dadu-dadu itu berputaran di atas meja, kemudian satu demi satu berhenti, Enanf titik, lima titik, lima titik, enam titik, Empat biji dadu telah berhenti berputar jumlahnya dua puluh dua titik, Dadu yang ke lima pun ikut berhenti, Yang terlihat enam titik, sekarang jumlahnya menjadi dua puluh delapan titik, Dadu yang terakhir masih berputar Kalau yang terlihat tiga titik, maka berarti seri, mereka harus bertaruh satu kali lagi.

Kalau yang keluar satu atau dua titik, berarti Siau Po kalah, Namun kalau yang keluar empat, lima atau enam titik, dialah yang akan meraih kemenangan peluangnya untuk menang kali ini malah di atas enam puluh persen.

Dalam hati Siau Po tertawa, -Biar aku mendapatkan tiga titik, berarti kedudukan kita seri, Tapi kalau kau melemparkan dadu itu sekali lagi, peruntunganmu belum tentu sebagus tadi, -Dadunya mulai lambat, tampaknya akan berhenti pada titik enam.

"Bagus!"

Seru Siau Po. Tiba-tiba dadu itu membalik sekali lagi dan menggelinding.

"Ada setan!"

Teriak Siau Po yang terkejut sekali, Ketika dia melirik, tampak Kui Heng Su sedang meniup pelan-pelan dan saat itulah dadunya menggelinding lagi.

Rupanya si kakek tua yang menjadi setannya, Dadu itu menggelinding ke dalam lubang yang dibuat oleh Kui Tiong lalu berhenti.

Di bagian atas yang terlihat satu titik, orang-orang dalam ruangan itu langsung mengeluarkan suara kecewa, Siau Po terkejut sekaligus mendongkol.

Orang yang main curang dengan mempelajari keahlian melempar sudah biasa ditemuinya, tapi orang yang menggerakkan dadu ke sisi lain dengan mengerahkan tenaga dalam dan meniupnya, dengar saja belum pernah.

Tenaga dalam kakek tua itu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, tiupannya pasti tidak diperhatikan oleh orang lain, Kemungkinan anaknya, Kui Tiong bisa mendapat tiga puluh satu titik barusan juga bukan karena peruntungannya yang bagus, tapi karena dibantu oleh bapak tuanya ini.

Wajah Siau Po merah padam.

"Kui loyacu, kau,., kau Hu,., Hu.,, Hu...."

Begitu mendongkolnya Siau Po sehingga dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya tapi hanya menirukan lagak kakek itu.

"Dua puluh sembilan titik, Kau sudah kalah!"

Kata Kui Heng Su sambil mengulurkan tangannya meraih dadu-dadu dari atas meja kemudian diremasnya sekaligus.

Tampak beberapa butir bola kristal yang kecil-kecil berjatuhan di antara hancuran dadu tersebut.

Kui Tiong menepuk tangannya sambil tertawa-tawa.

"Bagus, bagus sekali! Apakah itu? Tampaknya seperti tetesan air tapi mengeluarkan cahaya seperti uang perak!"

Katanya.

Siau Po melihat rahasianya telah terbongkar dia juga tidak bisa bersikeras lagi tentang kecurangan si kakek tadi, Rupanya kali ini dia benar-benar kena batunya.

Tapi sebagai anak yang cerdik, dia pura-pura terpana.

"Oh, rupanya di dalam dadu itu ada bola-bola kristal, Loyacu, hari ini kau menambah pengetahuanku, Tadinya aku mengira bahwa dadu itu terbuat dari tulang kerbau, tidak tahunya bola kristal juga terbuat dari tulang kerbau. Wah, benar-benar hebat Kerbau selain bisa membajak sawah, juga bisa menghasilkan bola kristal, hebat sekali!"

Katanya. Kui Ji Nio tidak memperdulikan ocehannya. "Sekarang kalian tidak bisa bilang apa-apa lagi, kan? Saudara Wi, harap kau jelaskan situasi di dalam istana!"

Katanya. Siau Po menatap gurunya, Tan Kin Lam menganggukkan kepalanya.

"lni merupakan takdir, Siau Po, kau harus menjelaskannya secara jujur!"

Katanya. Dia tahu muridnya yang satu ini banyak siasatnya dan licik, karena itu dia menegaskan dengan "secara jujur". Hati Siau Po tergerak, dia segera mendapatkan akal bagus.

"Kalau sudah kalah, tentu tidak boleh ingkar,"

Katanya.

"Seorang laki-laki sejati boleh membohong atau pun menipu, tapi hutang judi bagaimanapun harus dibayar, Ruangan serta kamar-kamar di dalam istana jumlahnya terlalu banyak, maka biar dijelaskan juga sulit dipahami Biar aku gambarkan petanya saja, Cian toako, Ci toako, harap kalian temani para tamu, akan kubuat gambarnya sekarang juga!"

Dia berdiri dan melambaikan tangannya, Setelah itu dia berjalan ke luar.

Dia segera masuk ke ruang baca.

Gedung tempat tinggalnya ini merupakan hadiah dari Kong Cin 0ng.

Dalam ruang baca terdapat minyak buku-buku dan di atas meja lengkap dengan peralatan tulis.

Karena ruang baca dan kalah judi mempunyai lafal yang sama yakni Su, maka meskipun tulisannya berbeda, Siau Po khawatir akan mempengaruhi peruntungannya dalam berjudi.

Itulah sebabnya selama ini dia tidak pernah menginjakkan kakinya ke dalam ruang baca ini.

Begitu duduk di belakang meja, dia segera berseru.

"Gosokkan bak tinta."

Seorang pelayan segera melaksanakan perintahnya.

Dia tahu majikannya itu tidak pernah menggunakan alat-alat tulis tersebut, tiba-tiba hari ini dia disuruh menggosok bak tinta, Diam-diam hatinya merasa kagum, mungkinkah tuan kecilnya ini seorang yang berpendidikan tinggi, tapi tidak mau menonjolkan diri?

Dienyahkannya pikiran macam-macam dalam benaknya, cepat-cepat dia menyiapkan segala keperluan dan mulai menggosok bak tinta itu.

Siau Po membentuk tangannya seperti cakar harimau, sekaligus dicomotnya Mo pit dan dicelupkannya ke dalam bak tinta, Setelah itu perlahan-lahan dia mengangkatnya dan dihentakkannya, Setetes besar tinta hitam jatuh di atas kertasnya yang dicampur bahannya dengan air emas, sementara itu si pelayan terus memperhatikan tingkah laku majikannya.

-Rupanya Wi Tayjin bukan ingin menulis, melainkan belajar membuat lukisan dari percikan air tinta seperti pelukis jaman dulu yang terkenal, Liang entah...

apa namanya.

-pikir si pelayan.

Kemudian dia melihat Siau Po membuat guratan panjang yang mencang-mencong di sebelah kiri, Bentuknya kalau diperhatikan mirip dengan sebatang pohon Liu.

Lalu dia membuat sebuah titik lagi di sebelah kiri garis non lurus yang mirip batang pohon Liu itu.

Si pelayan benar-benar tidak mengerti gambar apa yang sedang dibuat oleh tuan kecilnya, Dia melihat Siau Po menutul sebuah titik lagi di sebelah kanan garis itu.

Si pelayan masih terkagum-kagum dengan bakat tuannya, ketika tiba-tiba Siau Po berkata.

"Bagaimana dengan huruf "Siau"

Yang kubuat ini?"

Si pelayan terkejut setengah mati. Tadinya dia mengira gambar apa yang sedang dibuat oleh Siau Po, tidak tahunya hanya menulis sebuah huruf "Siau", Cepat-cepat dia memberikan pujiannya.

"Bagus, bagus sekali! Tulisan yang dibuat Tayjin mirip benar dengan lukisan, sungguh mengagumkan !"

"Baik, sekarang kau keluar dan panggilkan Komandan pasukan Thio Yong!"

Kata Siau Po pula.

Si pelayan mengiakan lalu berjalan ke luar.

Dalam hati dia berpikir.

--Entah huruf apa yang akan ditulis tayjin di bawahnya, --Biarpun dia memikirkannya sampai kepalanya botak, pasti tidak tertebak.

Rupanya di bawah huruf "Siau"

Itu, Siau Po membuat sebuah lingkaran yang tengahnya kosong, lalu di bawahnya dia menggurat pitanya agak melengkung, bentuknya seperti capit kepiting tapi di tengahnya ditambah dengan garis melintang yang lurus, Kalau diperhatikan dengan seksama, mungkin orang bisa mengerti bahwa dia sedang mencoba menulis huruf "Cu"

Memang Siau Po ingin menulis nama Siau Hian Cu.

Tapi karena dia tidak tahu bagaimana huruf "Hian" , maka dia membuat sebuah lingkaran sebagai tanda bahwa di tengah masih ada huruf yang ketinggalan.

Dia ingat ketika berada di kuil Ceng Liang Si, kaisar Kong Hi pernah menurunkan firmannya dengan lukisan, Siau Po merasa kagum sekali.

sekarang dia ingin meniru cara tersebut, Setelah mencoba menulis nama Siau Hian Cu, Siau Po menggambar sebatang pedang yang ditancapkan di tengah-tengah lingkaran kosong yang mana dimaksudnya dengan huruf "Hian"

Begitu selesai menggambar, keringatnya sudah bercucuran dengan deras, padahal gambar yang dibuatnya aneh sekali, dibilang pedang tidak mirip dengan pedang, dibilang golok, rasanya bukan juga.

Tapi tepat pada saat itulah Thie Yong berjalan masuk ke ruang bacanya.

Siau Po melipat kertas itu lalu dimasukkannya ke dalam sebuah amplop dan direkatnya dengan rapi, Setelah itu dia menyodorkannya kepada Thio Yong.

"Saudara Thio, di sini ada sepucuk surat yang penting sekali, Kau harus membawanya ke istana untuk disampaikan kepada Sri Baginda. Kepada para Sie Wie atau Thay-kam, kau katakan bahwa ini surat rahasia dariku, mereka akan menyampaikannya segera, Ingat, jangan sampai kepergok orang lain!"

Katanya kepada Thio Yong. Thio Yong mengiakan. Dia baru bermaksud memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya, tiba-tiba terdengar suara bentakan dua orang penjaga di luar.

"Siapa?"

Pintu ruangan itu didorong dengan keras, dari luar menerjang masuk tiga orang.

Mereka adalah pasangan suami istri Kui Heng Su dan putranya, Kui Tiong.

Kui Ji Nio melihat tangan Thio Yong memegang sebuah amplop, dia langsung merebutnya dan bertanya kepada Siau Po dengan suara yang bengis.

"Kau membuat laporan rahasia untuk Raja Tatcu?"

Begitu terkejutnya Siau Po sampai dia berdiri termangu-mangu untuk sesaat.

"Bukan, bukan!"

Katanya kemudian. Kui Ji Nio merobek amplop itu dan mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya, Dia melihat sehelai kertas yang gambarnya tidak karuan.

"Lihat!"

Katanya sambil menyodorkan kertas itu kepada Kui Heng Su. Lalu dia menoleh kepada Siau Po.

"Apa artinya gambar itu?"

Bentaknya.

"Aku... suruh dia ke bagian dapur dan perintahkan koki untuk membuat lumpia yang ukurannya jangan terlalu besar juga jangan terlalu kecil, di bagian kulitnya harus dibuat gambar bunga, Tapi dia tidak mengerti, maka aku menjelaskannya dengan membuat gambar contoh asal-asalan saja,"

Sahut Siau Po cepat.

Kui Heng Su dan Kui Ji Nio sama-sama menganggukkan kepalanya, meskipun mereka belum pernah makan kue lumpia yang ada gambarnya, tapi mereka mengira bahwa selera dan cara masak para pembesar memang istimewa.

Lagipula gambar yang dibuat Siau Po tidak menunjukkan arti apa pun bagi mereka.

Mimik wajah mereka langsung berubah, tidak segarang sebelumnya lagi.

Tentunya apa yang dikatakan bocah ini benar, bentuk gambar seperti tadi pasti bukan laporan rahasia untuk Raja Tatcu.

Kui Ji Nio menyerahkan kertas itu kembali pada Siau Po.

Si bocah segera memberikannya kepada Thio Yong.

"Cepat pergi!"

Katanya sambil mengibaskan tangannya seperti mengusir Thio Yong menyambut kertas itu lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan ke luar.

"Persiapkan semuanya baik-baik! Kalau perlu cari bantuan beberapa orang lagi untuk mengerjakannya! jangan lamban! semuanya sudah lapar, Para tamu sedang menunggu, urusan ini menyangkut jiwa manusia, tidak boleh ditunda lagi!"

Kata Siau Po memesankan sekali Iagi. Thio Yong mengiakan sekali lagi lalu melangkah ke luar.

"Urusan makanan kecil tidak perlu diutamakan,"

Kata Kui Ji Nio.

"Saudara Wi, apakah peta gambar ruangan-ruangan dalam istana sudah kau siapkan?"

"Aku sudah menggambarnya beberapa kali, tapi tidak berhasil,"

Sahut Siau Po sambil meraih selembar kertas dan sebatang pit lalu disodorkannya kepada Kui Ji Nio.

"Baiknya aku yang menjelaskan kalian yang menggambar."

Kui Ji Nio menyambut kertas dan pit itu lalu duduk di atas sebuah kursi.

"Baik, kau katakan saja, aku yang gambar,"

Katanya.

Siau Po memang tidak bermaksud mengelabui kedua orang itu, Oleh karena itu ia segera menjelaskan letak-letak ruangan yang ada dalam istana, Dia menyebutkan nama dan letak setiap pendopo yang ada dari selatan ke utara, lalu dari barat ke timur.

Kui Ji Nio mendengarkan dengan seksama, tapi sampai begitu lama, Siau Po baru menjelaskan setiap ruangan yang ada di sebelah selatan, dan perlahan-lahan diteruskan ke utara, Setelah menghabiskan waktu setengah harian, bocah itu baru mulai menjelaskan kedudukan ruangan yang ada di sebelah timur.

Ternyata apa yang dikatakan Siau Po memang tidak salah, ruangan yang ada dalam istana begitu banyaknya, Kui Heng Su dan istrinya bukan orang berpendidikan maka mereka mendengarnya sampai bingung.

Tidak mungkin mereka sanggup mengingat nama setiap ruangan yang ada di sana.

Sampai terasa letih, Kui Ji Nio baru sempat mencatat nama-nama sembilan pendopo dan empat puluh delapan ruangan yang ada dalam istana, Akhirnya dia meletakkan pitnya di atas meja dan berkata.

"Sungguh mengagumkan daya ingat saudara Wi, kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih!"

Rupanya dia sendiri menyadari bahwa percuma saja apabila dia ingin melukiskan setiap ruangan yang ada dalam istana itu. ia maklum dirinya tidak punya kesanggupan itu. Siau Po tertawa.

"Penjelasan ini kuberikan karena Kui siauya sudah memenangkan pertaruhan, maka kalian tidak perlu berterima kasih,"

Katanya. Kemudian dia menjelaskan lagi.

"Para Sie Wie biasanya hanya berjaga di sebelah timur yang di sana terdapat pendopo pertemuan hanya sebagian kecil yang menjaga di tempat lain. Tapi sekarang mereka sedang menghadapi pemberontakan yang diadakan oleh Gouw Sam Kui, maka Raja Tatcu pasti memperketat penjagaan Pada keempat puluh delapan ruangan penting yang ada di dalam istana pasti banyak para penjaganya." --Lebih baik aku tegaskan dulu, kalau Sri Baginda menerima pesanku dan memperketat penjagaan Tentu ketiga ekor kura-kura ini tidak akan curiga kepadaku, Pikir Siau Po dalam hatinya.

"Hal itu tidak perlu diherankan lagi,"

Kata Kui Ji Nio.

"Meskipun jumlah pengawal dalam istana tidak terkirakan, tapi sedikit sekali yang berilmu tinggi. Mereka hanya mengandalkan orang banyak saja. Tetapi ada satu hal yang perlu kalian ketahui bahwa ilmu memanah orang Boan Ciu hebat sekali, Tapi aku yakin tentu kalian tidak mengkhawatirkan hal itu,"

Kata Siau Po pula.

"Sekali lagi terima kasih atas petunjuk yang kau berikan sekarang juga kami mohon diri,"

Ujar Kui Ji Nio.

"Sebaiknya kalian bertiga makan kue lumpia dulu, dengan demikian bisa menambah sedikit tenaga,"

Kata Siau Po. Kemudian dia berteriak ke arah pintu.

"Mana pelayan? Antarkan beberapa macam makanan kecil!"

"Tidak usah!"

Ujar Kui Ji Nio sambil menarik tangan anaknya ke luar dari ruang baca, Dalam hati pasangan suami istri itu berpikir --Tanpa juntrungan kau menyuruh koki membuat guratan gambar di atas kulit lumpia, jangan-jangan kau bermain gila untuk mencelakakan kami.

-Sejak awal kedatangan hingga pulang, mereka tidak minum setetes air teh pun.

tampaknya mereka tidak sudi terjebak untuk kedua kalinya.

Siau Po mengantar sampai ke depan pintu, Di sana dia menjura sambil berkata.

"Boanpwe menunggu berita baik dari locianpwe sekalian!"

Kui Heng Su melancarkan sebuah pukulan ke arah patung singa yang terdapat di depan pintu gerbang, Patung itu langsung pecah berantakan dan debunya beterbangan ke mana-mana.

Setelah tertawa dingin dua kali, dia melesat cepat meninggalkan tempat itu.

Siau Po tertegun beberapa saat Dalam hati dia berpikir.

--seandainya pukulan tadi ditujukan kepadaku, wah...

tentu hebat sekali sebetulnya dia ingin memberi peringatan kepadaku agar jangan merusakkan rencananya, kalau tidak pukulan itu akan dirasakan olehku!

Iseng-iseng dia juga melancarkan sebuah pukulan ke arah patung singa yang satu lagi, tapi dia segera menarik tangannya kembali dan menjerit kesakitan Begitu dia memperhatikan telapak tangannya, rupanya terdapat sedikit luka yang mengeluarkan darah.

Siau Po kembali lagi ke ruangan sebelah timur, Tampaknya Tan Kin Lam dan yang lainnya sedang minum arak.

Dia melaporkan pada gurunya bahwa dia telah menjelaskan keadaan dalam istana pada pasangan suami istri Kui Heng Su.

Dan baru saja dia mengantarkan ketiga tamunya keluar, Tan Kin Lam mengangguk-anggukkan kepalanya, Sembari menarik nafas panjang dia berkata.

"Seandainya pun mereka berhasil membunuh Raja Tatcu, rasanya mereka sendiri tidak dapat keluar dengan selamat dari istana."

Para tamu minum arak dengan perlahan-lahan, Tampaknya mereka mempunyai jalan pemikiran masing-masing, walaupun ada satu dua orang yang mengucapkan beberapa kata, tapi tidak ada seorang pun yang memberikan jawaban.

Setengah kentungan kemudian, terdengar seseorang berkata dari luar ruangan.

"Lapor tayjin, kepala pasukan Tuan Thio mohon bertemu!"

Hati Siau Po gembira sekali mendengarnya, tapi dia pura-pura berkata.

"Sudah tengah malam begini, ada urusan apa sih? Bilang saja aku sudah ingin tidur, ada persoalan apa, katakan besok pagi saja!"

"Baik,"

Sahut orang itu.

"Mungkin ada kabar dari istana, Lebih baik kau tanyakan saja,"

Kata Tan Kin Lam dengan suara rendah.

Siau Po mengiakan, lalu berjalan ke Iuar.

Begitu sampai di ruangan depan, dia melihat Tio Liang Tong, Ong Cin Po dan Sun Si Kek berdiri di sana.

Thio Yong justru tidak kelihatan.

Siau Po jadi tertegun.

"Mana saudara Thio Yong?"

Tanyanya dengan suara rendah pula.

"Lapor tayjin,"

Kata Ong Cin Po.

"Telah terjadi sesuatu pada diri Kepala pasukan Thio Yong, Dia ditemukan pingsan di tengah jalan, tapi sekarang sudah digotong ke kamar samping."

Siau Po terkejut setengah mati mendengar laporan itu.

"Hah? Apa yang terjadi?"

Tanyanya. Tanpa menunggu jawaban dari Ong Cin Po dan yang lainnya, dia segera berlari ke kamar samping, Tampak sepasang mata Thio Yong terpejam erat, wajahnya pucat pasi dan dadanya tersengal-sengal.

"Saudara Thio, kenapa kau?"

Teriak Siau Po. Perlahan-lahan Siau Po membuka mata Thio Yong.

"Hamba... hamba...."

Mata Thio Yong mendelik ke atas dan dia jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Siau Po mengulurkan tangannya ke balik pakaian Thio Yong.

Dia menarik keluar sehelai kertas yang merupakan surat rahasia untuk kaisar Kong Hi.

Diam-diam dia mengeluh.

"Tadi seorang perwira yang mendapat tugas berjaga malam datang melaporkan bahwa dia melihat seorang tentara terkapar di tengah jalan, Ketika hamba menyuruh orang melihat ke sana, dia segera mengenali kepala pasukan Thio Yong, maka dia menggotongnya pulang, Darah yang terdapat di belakang kepala kepala pasukan Thio Yong sudah mulai membeku. Tampaknya dia pingsan sudah cukup lama,"

Kata Sun Si Kek memberikan keterangannya, --Dia pingsan sudah cukup lama.

Surat itu belum sempat diantarkan pula.

Tampaknya begitu keluar pintu, dia sudah dicelakai orang.

Mungkinkah ketiga ekor kura-kura itu menanamkan orangnya di sekitar tempat ini?

Mereka takut aku memberikan laporan kepada Sri Baginda, maka begitu melihat Thio Yong keluar, mereka segera turun tangan, --Pikir Siau Po dalam hatinya.

Hatinya menjadi gelisah, Pada saat itu, perlahan-lahan Thio Yong sadar kembali, Ong Cin Po cepat-cepat membawakan kendi arak agar orang itu dapat minum beberapa teguk, Sun Si Kek dan Tio Liang Tong menggunakan arak hangat untuk menggosok sepasang tangan Thio Yong.

Dengan demikian, semangat Thio Yong agak pulih kembali.

"Hamba pantas mati, Baru keluar belum ada seratus langkah, tiba-tiba saja dada ini terasa sakit... seperti disayat sembilu.... Dipaksa... kan berjalan beberapa langkah lagi, kakiku limbung lalu pandangan mataku menjadi ge... lap. Ka... rena itu... tugas yang diberi... kan tay.,, jin belum sempat hamba jalan... kan, se... karang,., juga... hamba... akan..."

Sembari berkata, dia memaksakan diri untuk bangun. "Thio toako, harap kau rebah saja agar bisa beristirahat!"

Kata Siau Po cepat.

"Urusan ini bisa diselesaikan mereka bertiga."

Siau Po segera menyerahkan surat rahasia kepada Ong Cin Po dan memerintahkan mereka bertiga agar segera menuju istana raja dengan membawa sejumlah Sie Wie.

Hatinya panik sekali.

--Ketiga orang dari keluarga Kui itu sudah berangkat dua jam lebih, kemungkinan jiwa Siau Hian Cu tidak bisa dipertahankan lagi.

Yah, apa boleh buat, kita lihat peruntungannya saja, -pikirnya.

Ong Cin Po dan kedua rekannya menerima baik tugas itu dan segera melaksanakannya.

"Si kakek tua yang ada dalam ruang baca tayjin tadi, ilmunya tinggi sekali..."

Kata Thio Yong ter-sendat-sendat.

"Ketika aku berjalan ke... luar... dari sana, huk... huk... dia menepuk pung... gungku dengan per... Iahan.... Pa... da waktu i... tu aku tidak merasa... kan apa-apa, rupanya aku sudah terluka di... dalam, Keluar belum berapa jauh, sakitnya segera... tera... sa, sehingga... menggagalkan ren... cana tayjin..."

Saat itu Siau Po baru sadar.

Rupanya Kui Heng Su yang melihat isi suratnya bukan laporan rahasia, tetap saja menaruh kecurigaan Diam-diam dia turun tangan terhadap Thio Yong, dengan demikian tugasnya jadi tidak terlaksana, Siau Po melihat sikap Thio Yong yang salah tingkah karena menemui kegagalan Siau Po segera menghiburnya.

Thio toako, kau istirahatlah dengan tenang!

Dalam hal ini, kau sama sekali tidak dapat disalahkan Makanya!

Kura-kura tua itu telah mencelakaimu kita harus mencari jalan untuk menebus nya"

Dia menambahkan beberapa patah kata lagi untuk menenangkan perasaan Thio Yong, kemudian memerintahkan seorang pelayan untuk membawakan sup jinsom sebagai obat penguat tubuh dan sekalian menyuruhnya memanggil tabib untuk mengobati Thio Yong.

Setelah itu, Siau Po kembali ke ruangan timur.

"Bukan berita dari istana,"

Katanya.

"Kepala pasukan dipukul oleh Kui loya, mungkin selembar jiwanya sulit dipertahankan lagi."

Para hadirin terkejut sekali mendengarnya.

"Kenapa dia memukul Kepala pasukan Thio?"

Tanya mereka serentak. Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Kepala pasukan Thio sedang meronda di luar, melihat mereka, dia mengajukan pertanyaan Rupanya Kui loya merasa tidak senang dan menghadiahkan sebuah pukulan untuknya."

Para hadirin manggut-manggut mendengar keterangannya, Dalam hati mereka berpikir.

--Seorang pesilat biasa mana mungkin menahan pukulan si kakek Kui Heng Su yang demikian lihay!

Diam-diam Siau Po sendiri merasa menyesal.

--Kalau sejak semula aku tahu Thio Yong telah terkena pukulan si kura-kura tua itu dan surat rahasia tidak bisa sampai ke tangan Siau Hian Cu tepat waktunya, mestinya aku tidak boleh menjelaskan keadaan di dalam istana dengan terperinci seharusnya aku memberikan keterangan yang kacau, biar si kura-kura tua, kura-kura betina dan anak kura-kura itu pusing tujuh keliling berputaran dalam istana!

--pikirnya.

Orang-orang yang ada dalam ruangan itu duduk menunggu, Telinga mereka mendengar suara kentungan, ternyata sudah jam tiga subuh.

Tidak berapa lama kemudian, dari kejauhan terdengarlah suara gonggongan anjing dan ayam berkokok.

Hati mereka terasa tegang, Sedikit suara saja, tangan mereka langsung menggenggam gagang senjata masing-masing.

Tapi begitu suara-suara lenyap, mereka duduk kembali dengan gelisah.

Beberapa saat kemudian, kokok ayam kembali terdengar, segurat garis putih yang tipis mulai terlihat lewat celah jendela.

Pagi sudah datang, fajar telah menyingsing, Meskipun tidak ada seorang yang bersuara, tapi hati mereka sama-sama diliputi ketegangan.

"Sudah pagi,"

Kata Siau Po.

"Sebaiknya aku pergi ke istana untuk mencari info."

"Seandainya pasangan suami istri Kui Heng Su tidak berhasil dalam usahanya dan mendapatkan kemalangan, kau harus berusaha menolong mereka, Kematian Gouw Liok Kie toako adalah salah paham. Dalam hal ini kita tidak boleh menyalahkan mereka, Kau harus menyadari bahwa kepentingan umumlah yang terutama, jangan mencampur adukkannya dengan dendam pribadi penghinaan yang diperlihatkan oleh mereka pun, kau tidak boleh ambil hati, mengerti?"

Kata Tan Kin Lam.

"Pesan Suhu tentu akan Tecu perhatikan Tapi,., tapi kalau mereka sudah berhasil membunuh Si Raja cilik, biarpun Tecu ingin mempertaruhkan jiwa, rasanya sulit lagi memberikan pertolongan kepada mereka,"

Sahut Siau Po. Tiba-tiba saja dia berpikir bahwa ada kemungkinan saat ini Siau Hian Cu sudah dibunuh oleh ketiga ekor kura-kura itu. Hatinya menjadi pilu, air matanya jatuh bercucuran.

"Sayangnya Gouw toako..."

Dengan alasan Gouw Liok Kie, suara tangisnya semakin meraung-raung.

"Berhasil atau tidaknya usaha pasangan suami istri Kui Heng Su, keadaan dalam kotaraja hari ini pasti kacau balau,"

Kata Bhok Kiam Seng.

"Aku mempunyai sejumlah saudara yang berdiam di sekitar istana menunggu berita, sebaiknya aku cari mereka sekarang agar dapat menyuruh mereka menyembunyikan diri untuk sementara, Setidaknya sampai situasi aman kembali."

"Betul,"

Ujar Tan Kin Lam.

"Para saudara dari Thian Te hwe kami juga banyak yang tersebar di sana, semuanya berpencar untuk memberitahukan masalah ini, suruh mereka berhati-hati, jangan sampai terkena getahnya! Tengah malam nanti, kita bertemu kembali di tempat ini. Kita rundingkan lagi tindakan selanjutnya."

Para hadirin setuju dengan usul yang diberikan ketua pusat perkumpulan Thian Te hwe itu.

Tan Kin Lam memerintahkan empat orang anak buahnya keluar untuk melihat keadaan Setelah mendapat laporan bahwa di luar keadaan aman, mereka baru meninggalkan tempat itu.

Baru saja Siau Po bermaksud ke luar, Sun Si Kek datang, Dia melaporkan bahwa surat rahasia Siau Po sudah diantarkannya, Ketika penjaga di istana mendengar bahwa ada sepucuk surat rahasia dari Ciam Cai Tayjin untuk Sri baginda, orang itu langsung menghambur ke dalam untuk menyampaikannya, Sun Si Kek dan kedua rekannya menunggu di luar, Sampai jam lima pagi, masih belum ada jawaban dari dalam.

Sampai sekarang Tio Liang Tong dan Ong Cin Po masih menunggu di sana, Karena khawatir Ciam Cai tayjin menanti terlalu lama, Sun Si Kek pulang dulu memberikan laporannya.

"Baiklah, Kau jaga saja Kepala pasukan Thio disini!"

Kata Siau Po.

Hati Siau Po masih gelisah tidak menentu, Dia menyuruh beberapa orang congpeng untuk menggiring ke luar si permaisuri palsu dan dengan tandu mereka berangkat bersama-sama ke istana.

Begitu sampai di pintu gerbang istana, Siau Po melihat keadaan di sana sunyi senyap, Belasan Sie Wie penjaga yang memang bertugas di sana segera menghadapnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Hu congkoan tentunya sudah letih sekali, tapi kota Yang-ciu pasti indah sekali, bukan?"

Sapa mereka.

Siau Po berpikir dalam hati.

-seandainya terjadi sesuatu dalam istana, mereka tentu tidak akan keisengan menanyakan pemandangan kota Yang-ciu segala, -Karena itu dia segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Selama ini, keadaan kalian baik-baik saja, bukan?"

Tanyanya.

"Berkat peruntungan Hu congkoan yang besar, kami baik atasan maupun bawahan dalam keadaan baik-baik saja, Namun pemberontakan yang dilakukan oleh Gouw Sam Kui benar-benar merepotkan junjungan kita, Tidak jarang pada tengah malam, beliau mengumpulkan menteri-menterinya untuk merundingkan urusan ini,"

Sahut salah seorang penjaga. Mendengar kata-kata itu, hati Siau Po jadi lega seketika. Salah seorang penjaga tersenyum simpul dan herkata.

"Dengan kembalinya Hu congkoan yang biasa menangani segala urusan, Sri Baginda tentu bisa bersantai sedikit."

Siau Po tertawa.

"Kalian tidak perlu mengumpak. Oleh-oleh yang kubawa dari Yang-ciu cukup banyak, semuanya pasti kebagian,"

Katanya, Para penjaga itu gembira sekali.

Mereka mengucapkan terima kasih sampai berulang kali.

Siau Po menunjuk pada tandu yang ada di belakangnya.

"Di dalam tandu itu terdapat penjahat yang diinginkan oleh Thay Hou dan Sri Baginda, sebaiknya kalian periksa dulu!"

Katanya pula.

Disingkapkannya tirai tandu itu, beberapa orang Sie Wie segera mengulurkan tangannya untuk mencari-cari, ternyata tidak ditemukan senjata tajam atau benda lainnya yang berbahaya, Sembari tertawa mereka berkata.

"Jasa Hu congkoan kali ini tidak kecil, kami pasti akan diundang minum arak kenaikan pangkat lagi."

Siau Po masuk ke dalam istana.

Dia segera menemui Sie Wie yang menjaga di sekitar Kan Ceng Bun.

Ternyata Sri Baginda benar-benar dipusingkan oleh masalah pemberontakan Gouw Sam Kui sehingga sejak tengah malam beliau mengadakan perundingan dan sampai saat ini belum bubar Siau Po senang sekali mendengarnya, Rupanya Sri Baginda sibuk sepanjang malam Tentu saja penjagaan di sekitar istana ditujukan ke Yan Sim Tian, makanya di luar tidak kelihatan apa-apa.

Lagipula penerangan di pendopo itu luar biasa.

Di sana terdapat empat ribu lentera yang tergantung di sana sini.

Meskipun ketiga ekor kura-kura dari keluarga Kui lihai sekali, mana mungkin mereka bisa mendekati Sri Baginda?

seandainya Siau Hian Cu tadi malam cepat-cepat masuk tidur, kamarnya pasti gelap sekali.

Kemungkinan tadi malam jiwanya sudah melayang.

Aih, ternyata dia bisa menjadi raja bukan hanya karena ahli waris saja, tapi peruntungannya memang lain daripada orang biasa, Untung juga ada si kdra-kura tua Gouw Sam Kui yang melakukan pemberontakan Dengan demikian hati Sri Baginda jadi resah dan tidak dapat tidur nyenyak, --pikirnya dalam hati.

Setelah selesai bertanya, Siau Po segera menuju bagian luar pendopo Yang Sim Tian, Di sana dia berdiri menunggu.

Meskipun dia sangat disayang oleh Kaisar Kong Hi, tapi junjungannya itu sedang mengadakan rapat besar, Maka bagaimana pun dia tidak berani lancang masuk ke dalam.

Kurang lebih satu jam kemudian, tampak pintu utama pendopo itu dipentang lebarlebar oleh seorang Sie Wie, Dari dalam berjalan ke luar Kong Cin Ong, Beng Cu, So Ngo Ta dan yang lain-lainnya.

Ketika melihat Siau Po, semuanya tersenyum simpul sambil melambaikan tangannya, Tidak ada seorang pun yang berani menyapanya.

Seorang thay-kam masuk memberikan laporan Kaisar Kong Hi segera menyatakan bahwa Siau Po boleh masuk menemuinya.

Siau Po berjalan ke dalam, Dia berlutut dan menyembah Tampak olehnya keadaan kaisar Kong Hi yang baik-baik saja, hanya tampangnya yang agak kusut Hati Siau Po gembira sekali.

"Sri Baginda, hamba,., senang sekali melihatmu...."

Sepanjang malam Siau Po mengkhawatirkan keadaan Kong Hi, tanpa dapat menahan diri lagi air matanya jatuh bercucuran. Kaisar Kong Hi tertawa melihatnya.

"Lho, tidak ada apa-apa kok nangis?"

"Hamba menangis karena saking gembiranya, Sri Baginda,"

Sahut Siau Po. Kong Hi dapat melihat sikap Siau Po yang tulus, Dia tertawa sekali lagi.

"Bagus, bagus!"

Katanya.

"Gouw Sam Kui sudah memenangkan beberapa kali peperangan, dia mengira aku tidak berani membunuh anaknya, Mak-nya! Kemarin aku sudah memenggal batok kepala si keparat Gouw Eng Him!"

Siau Po terkejut setengah mati, mulutnya sampai mengeluarkan seruan.

"Hah! Sri Baginda telah membunuh Gouw Eng Him?"

Tanyanya untuk menegaskan.

"Memangnya kenapa?"

Tanya Kaisar Kong Hi.

"Para menteri menasehati aku agar jangan membunuh Gouw Eng Him. Mereka bilang urusannya nanti semakin runyam. Mungkin kita masih bisa mengadakan perundingan dengan Gouw Sam Kui, Apalagi kalau pemberontakannya tidak diungkit-ungkit lagi dan ia tetap boleh menjadi raja muda di In-lam. Mereka juga bilang, kalau aku membunuh Gouw Eng Him, tidak ada lagi yang dikhawatirkan oleh Gouw Sam Kui, tindakannya semakin menjadi-jadi. Huh! Dasar pengecut!"

"Sri Baginda sungguh bijaksana, Hamba pernah menyaksikan pertunjukkan sandiwara yang di situ. Ciu Yu dan Lu Siau pernah berkata, bahwa sebagai menterimenteri yang setia, kita boleh mengajukan peperangan kapan saja, tapi jangan sekalisekali memperlihatkan kelemahan apalagi menunduk kepada musuh, Demikian pula kita sekarang, Biarlah para menteri itu berunding dengan Gouw Sam Kui, tapi jangan sekali-sekali Sri Baginda tunduk kepadanya,"

Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi senang sekali, Dia menepuk meja keras-keras kemudian turun dari kursinya.

"Siau Kui cu, seandainya kau datang kemarin dan mengatakan dalil ini, para menteri atau pun raja-raja muda yang hadir pasti tidak ada satu pun yang berani menasehati aku agar mengadakan perundingan dengan Gouw Sam Kui. Huh! Biarpun mereka menyerah kepada Gouw Sam Kui, kemungkinan kelak mereka tetap akan menduduki jabatan yang sama" , tentu mereka tidak merasa dirugikan!"

Dia merasa, meskipun Siau Po tidak berpendidikan tapi setidaknya lebih jujur dibandingkan yang lain.

Setidaknya bocah ini selalu mengutamakan kepentingannya, Ditariknya tangan Siau Po menuju sebuah meja besar yang di atasnya terdapat sehelai peta besar.

"Aku sudah memerintahkan orang untuk menyiapkan pasukan sebagian menjaga dari daerah Cin Ciu sampai Tiong Tek, sebagian lagi dari Bu Cong sampai Vok Ciu. Aku mengutus Cang Erl Min yang menjadi panglimanya, Bila ada sesuatu yang mendesak, dia boleh melakukan penyerangan. Barusan aku juga mengutus Mo Lok untuk menjadi pemimpin pasukan dan berjaga-jaga di Say An. Dengan demikian, sepanjang jalan menuju kotaraja telah dijaga ketat. seandainya Gouw Sam Kui sudah menguasai Inlam, Kui Cu dan sekitarnya, kita juga tidak perlu merasa takut dia akan mementangkan sayapnya,"

Kata kaisar Kong Hi menjelaskan "Sri Baginda,"

Kata Siau Po.

"Harap Sri Baginda juga menganugerahkan sebuah jabatan dalam militer kepada hamba agar hamba dapat membantu menjatuhkan Gouw Sam Kui!"

Kong Hi tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

"Urusan militer atau pun perang bukanlah permainan,"

Katanya.

"Sebaiknya kau berdiam dalam istana menemani aku saja, Lagipula, yang diutus kali ini adalah pejabatpejabat tinggi pemerintahan yang merupakan orang Boan Ciu asli, Mungkin mereka bisa tidak senang kalau kau ikut-ikutan."

"lya,"

Sahut Siau Po.

Dalam hati dia berpikir -Gouw Sam Kui ingin menarik simpati orang-orang Han untuk mengusir Bangsa Tatcu, sedangkan aku hanya orang Boan gadungan, tentu saja Sri Baginda tidak bisa percaya penuh kepadaku, -Ternyata Kaisar Kong Hi bisa menebak isi hatinya "Kau begitu setia kepadaku, Bukannya aku tidak mempercayaimu Siau Kui Cu, pasukan biasa maupun pasukan berkuda yang dipimpin Gouw Sam Kui bukan kepalang hebatnya, Mungkin perlu waktu tiga, lima atau tujuh tahun untuk menghentikan pergerakannya, Malah ada kemungkinan di tahun-tahun pertama kita terpaksa harus menelan kekalahan.

Dalam peperangan kali ini, kita harus mengambil patokan, pahit dulu manisnya belakangan Kau suka menang dalam peperangan atau kalah dalam peperangan?"

Tanyanya.

"Tentu saja menang dalam peperangan Kalau sampai kalah dan terpaksa lari terbiritbirit, tentu tidak enak rasanya!"

Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi tertawa.

"Kau begitu setia terhadapku, aku juga tidak akan merugikan dirimu. Kekalahan yang akan kita terima di tahun-tahun pertama peperangan ini, biarlah dijalankan orang lain. Apabila pasukan Gouw Sam Kui sudah jenuh dan letih dan posisi kita semakin mantap, aku akan mengutus kau membawa pasukan besar ke Inlam dan menangkap sendiri si pemberontak tua itu. Tahukah kau apa janji yang kutuliskan dalam surat pernyataan mengenai peperangan ini?"

Tanya kaisar Kong Hi. Siau Po senang sekali mendengar janjinya.

"Sri Baginda berpandangan luas dan berpengetahuan tinggi, apa yang dijanjikan dalam surat pernyataan itu mana mungkin bisa hamba tebak?"

Kong Hi tertawa.

"Dalam surat pernyataan itu ada janji yang aku buat sebagai berikut Siapa pun yang berhasil meringkus Gouw Sam Kui, maka jabatan yang sebelumnya dipegang oleh si pemberontak itu akan dianugerahkan pada orang tersebut Siau Kui Cu, dalam hal ini terpaksa harus dilihat sampai di mana kehebatanmu Maknya, coba lihat apakah Hu Tek Seng ini pantas menjadi Peng Si Ong atau tidak? Ha ha ha ha!"

Dia memiringkan kepalanya dan menatap Siau Po sekejap, Kemudian berkata pula.

"Sekarang kau masih terlalu kecil, wibawamu masih kurang, mungkin enam tujuh tahun lagi, kalau umurmu sudah dua puluhan, bisa jadi pantas juga kau dianugerahkan gelar Ong ya."

Siau Po ikut tertawa.

"Jabatan setinggi Peng Si Ong, mungkin peruntungan hamba tidak sebagus itu,"

Sahutnya.

"Tapi kalau Sri Baginda mengutus hamba menjadi panglima perang ke Inlam untuk meringkus Gouw Sam Kui, wah... keren benar! Hamba akan membawa tombak panjang dan berdiri di hadapannya sambil membentak.

"Gouw Sam Kui, berlutut di hadapan Jenderalmu!"

Hamba memuja kepada Thian Yang Kuasa agar Gouw Sam Kui diperpanjang umurnya, sehingga pada saat itu hamba sendiri yang akan menyeretnya ke mari dan menyuruhnya berlutut meminta pengampunan kepada Sri Baginda."

Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, bagus sekali!"

Serunya. Tiba-tiba wajahnya berubah serius.

"Siau Kui Cu, peperangan yang akan berlangsung di tahuntahun pertama ini pasti akan menemui banyak kesulitan Kalah dulu bukan persoalan, asal keadaannya tidak jadi kacau, Hanya seorang Jenderal besar yang bisa membuat situasi tidak kacau meskipun kalah. Lambat laun, dengan strategi yang dominan, kemenangan akan ada di pihak kita. Kau bukan panglima keberuntungan, juga bukan panglima yang gagah berani, apalagi disebut panglima besar Aih, sayangnya dalam pemerintahan ini juga tidak ada orang yang bisa dianggap panglima besar."

"Sri Baginda sendiri adalah seorang panglima besar, Sri Baginda sudah dapat melihat bahwa di tahun-tahun pertama kita terpaksa harus menelan kekalahan Meskipun kalah, keadaannya tidak akan menjadi kacau, Seperti dalam perjudian, Sri Baginda sudah memegang kartu utama, kartu apa pun yang dimiliki lawan, Sri Baginda tidak perlu khawatir lagi, Meskipun musuh mencoba menggertak dengan memanggil jumlah besar, akhirnya toh Sri Baginda juga yang akan meraih kemenangan dan menyapu bersih semua uang di atas meja. Yang penting, modal kita besar, Kalau mula-mula kalah, anggaplah kita meminjamkan uang kepada lawan, sampai akhirnya kita akan menagih kembali berikut bunganya,"

Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Di dalam pemerintahan tidak ada panglima besar Aku sendirilah panglima besarnya, Kata-kata ini tidak keliru juga.

"Meski harus mengalami kekalahan dulu, tapi semangat harus tetap ada. Dalam pemerintahan selain aku, mungkin tidak ada orang lain yang sanggup melakukannya,"

Katanya. Dari dalam laci kaisar Kong Hi mengeluarkan sehelai kertas yang ternyata surat rahasia dari Siau Po.

"Kau mengatakan ada penyerang gelap dan meminta aku berhati-hati menjaga diri?"

Tanyanya.

"Betul,"

Sahut Siau Po.

"Saat itu keadaan sudah mendesak sekali, hamba dijaga ketat oleh orang-orang itu pula, Dengan demikian hamba tidak mempunyai kesempatan untuk memberitahukan secara diam-diam. Karena itulah hamba membuat sebuah gambar, Untung saja Sri Baginda begitu cerdas sehingga sekali lihat saja sudah mengerti artinya, walaupun orang yang akan melakukan penyerangan gelap itu ada di tempat, dia toh tidak mengerti gambar apa yang hamba buat ini. Untung saja Sri Baginda dilindungi oleh para Dewata sehingga niat jahat orang itu tidak kesampaian."

"Orang seperti apa penyerang gelap itu?"

Tanya kaisar Kong Hi.

"Dia adalah orang yang diutus Gouw Sam Kui untuk menyelinap ke kotaraja."

Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya.

"Begitu tahu Gouw Sam Kui akan melakukan pemberontakan aku sudah menambah penjagaan sebanyak tiga kali lipat, Ketika menerima surat rahasiamu tadi malam, aku menambah lagi sejumlah Sie Wie menjaga di luar sini."

"Pembunuh gelap yang dikirim Gouw Sam Kui ini lihay sekali. Meskipun Sri Baginda dilindungi para dewata, sebaiknya kita berhati-hati. jangan sampai Sri Baginda terkejut karenanya,"

Sahut Siau Po. Tiba-tiba suatu ingatan melintas dalam benaknya. Cepat-cepat Siau Po berkata pula.

"Sri Baginda, hamba mempunyai sehelai kaos dalam mustika. Kalau dikenakan, tidak akan mempan senjata tajam atau yang lainnya, sekarang juga hamba akan melepaskannya agar dapat dipakai oleh Sri Baginda."

Kaisar Kong Hi tersenyum simpul. "Bukankah baju itu kau peroleh ketika menggeledah rumah Go Pay?"

Tanyanya.

Siau Po terkejut setengah mati.

Meskipun kulit wajahnya cukup tebal, tapi pertanyaan ini sama sekali tidak terduga olehnya, selembar wajahnya jadi merah padam.

Dia segera menjatuhkan dirinya berlutut sambil berkata.

"Hamba pantas menerima hukuman mati Ya, ternyata urusan apa pun tidak dapat mengelabui Sri Baginda."

"Kaos dalam dari benang emas itu merupakan peninggalan kerajaan terdahulu Go Pay sudah berjasa besar, Dalam melakukan tugasnya dia juga terluka parah, Karena itu setelah mengadakan perundingan Hu Ong menghadiahkan baju mustika itu untuknya, Ketika aku mendapatkan laporan hasil penggeledahan dari rumah Go Pay, ternyata baju mustika itu tidak tercatat di dalamnya."

Siau Po hanya tertawa terkekeh-kekeh dan salah tingkah. Kong Hi juga tersenyum.

"Sekarang kau bersedia melepaskan baju mustika itu untuk kupakai, ini berarti hatimu tulus terhadapku Tapi aku berdiam dalam istana, di sekitarku ada ribuan penjaga, Rasanya pembunuh gelap itu juga sulit mendekati diriku, Tidak perlulah memakai baju mustika itu, Kau sendiri menangani berbagai urusan di luaran, Lebih banyak bahaya yang kau hadapi daripada aku. Baju mustika itu anggaplah aku menghadiahkannya kepadamu hari ini. Dengan demikian kau tidak akan menyandang sebutan maling lagi,"

Katanya.

Sekali lagi Siau Po menjatuhkan diri berlutut dan menyatakan terima kasihnya, Keringat dingin telah membasmi seluruh tubuhnya.

--Yang penting Sri Baginda jangan sampai tahu bahwa aku juga telah mencuri kitab Si Cap Ji Cin Keng.

--pikirnya.

"Kau setia terhadapku, hal ini aku tahu betul Tapi dalam menangani urusan apa pun, sebaiknya kau menggunakan peraturan, jangan seenaknya saja, seandainya suatu hari, aku terpaksa mengutus orang menggeledah rumahmu dan kaos mustika ini diambil oleh orang itu, celakalah kau!"

Kata kaisar Kong Hi pula. Keringat dingin yang membasmi tubuh Siau Po semakin banyak.

"lya, iya. Hamba tidak berani lagi,"

Katanya sambil menyembah lagi beberapa kali baru berdiri.

"Urusan Yang-ciu, Iain kali baru kita bicarakan lagi,"

Kata kaisar Kong Hi. Tiba-tiba dia bersin beberapa kali, sepanjang malam si raja cilik tidak dapat tidur, tentunya sekarang sudah letih sekali.

"Baik,"

Sahut Siau Po.

"Berkat rejeki Thay Hou dan Sri Baginda yang besar, permaisuri palsu itu sudah berhasil hamba tangkap."

Mendengar kata-katanya, Kaisar Kong Hi langsung berseru.

"Mana dia? Cepat giring masuk!"

Siau Po segera ke luar dan memerintahkan empat orang Sie Wie untuk membawa Mao Tung Cu ke dalam serta mendorongnya agar berlutut di hadapan Kaisar Kong Hi.

"Dongakkan kepalamu!"

Bentak kaisar Kong Hi sembari berjalan mendekati permaisuri palsu itu.

Mao Tung Cu ragu-ragu sejenak, kemudian perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan memperhatikan Kaisar Kong Hi.

Kong Hi melihat wajah Mao Tung Cu yang pucat, timbul sekilas perasaan pilu dalam hatinya.

--perempuan ini telah mencelakakan ibu kandungku sehingga meninggal, juga mencelakai Hu Ong sehingga bersedih hati dan memilih menjadi pendeta, Dia pula yang membuat aku menjadi yatim piatu.

Dia juga menyekap Thay Hou sekian tahun dan membuatnya menderita, Rasanya tidak ada orang yang melebihi dosa perempuan ini.

Tapi..

tapi...

sejak kecil aku sudah kehilangan ibu, dialah yang membesarkan aku.

Selama beberapa tahun ini, budinya terhadapku cukup besar.

Dia memperlakukan aku seperti anaknya sendiri Dalam istana ini, satu-satunya orang yang benar-benar memperhatikan aku, mungkin hanya perempuan ini.

Tentu saja masih ada si licik Siau Kui Cu.

--pikirnya dalam hati.

Dia merenung lagi sejenak, jauh di dasar lubuk hatinya juga menyadari.

--Kalau dia tidak mencelakai selir Tong dan putranya, Yong Cin Ong, pasti kedudukan mahkota di kerajaan ini akan jatuh pada anak selir itu mengingat begitu sayangnya Hu Ong kepada ibunya.

Kalau diingat kembali, budi perempuan ini terhadap aku semakin besar saja, -- Beberapa tahun yang lalu, usia kaisar Kong Hi masih terlalu kecil, Dalam ingatannya, tidak ada persoalan yang lebih menyakitkan daripada tidak mempunyai orang tua.

Tapi setelah memegang tampuk pemerintahan selama beberapa tahun terakhir ini, dia merasa kedudukannya diincar oleh banyak orang.

Dia sekarang menyadari bahwa kasih sayang orang tua masih tidak dapat dibandingkan dengan kedudukannya yang mulia.

Tentu saja pikirannya ini tidak pernah dinyatakan kepada siapa pun juga, Bahkan mengingat terlalu lama pun, dia merasa agak bersalah.

Mao Tung Cu dapat melihat perubahan mimik wajah Kong Hi.

Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.

"Dalam urusan pemberontakan yang dilakukan oleh Gouw Sam Kui, Sri Baginda tidak usah terlalu mencemaskannya. Biar bagaimana kesehatan Sri Baginda harus diutamakan. Apakah setiap pagi kau masih meminum sup sarang burung walet seperti biasanya?"

Tanyanya penuh perhatian.

"Masih,"

Sahut Kaisar Kong Hi tanpa sadar.

"Dosaku terlalu berat, kau bunuh saja aku dengan tanganmu sendiri!"

Kata Mao Tung Cu pula. Kembali serangkum rasa sakit menyelinap dalam dada Kaisar Kong Hi. Dia menggelengkan kepalanya lalu berkata kepada Siau Po.

"Giring dia ke Cu Leng Kiong, katakan kepada Thay Hou bahwa aku meminta beliau yang memutuskan hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada perempuan ini!"

Siau Po menekuk sebelah lututnya.

"Terima perintah!"

Sahutnya. Kong Hi mengulapkan tangannya.

"Pergilah!" . Siau Po mengeluarkan surat pernyataan yang dibuat oleh Lhama Shang Cie dan pangeran Kaerltan. Dengan dua tangan disodorkannya surat-surat pernyataan itu kepada Kaisar Kong Hi.

"Rejeki Sri Baginda sungguh besar sekali, pemimpin andalan Tibet dan Mongol sekarang bertentangan dengan Gouw Sam Kui. Mereka mengambil keputusan untuk berpihak pada Sri Baginda,"

Katanya.

Selama beberapa hari ini Kaisar Kong Hi sibuk mempersiapkan pasukannya, Dia justru khawatir kalau-kalau Mongol dan Tibet akan bergabung dengan Gouw Sam Kui.

Karena itu, mendengar kata-kata Siau Po, dia terkejut sekaligus gembira.

"Benar ada urusan demikian?"

Tanyanya.

Cepat-cepat dibukanya surat pernyataan itu, hatinya semakin berbunga-bunga, Dia mengibaskan tangannya memanggil dua orang Sie Wie menggiring Mao Tung Cu ke luar.

Lalu dia bertanya lagi kepada Siau Po.

"Dua jasa yang begitu besar bagaimana kau bisa melaksanakannya? Maknya! Kau memang pantas disebut Panglima keberuntungan!"

Pada saat itu, kekuatan Mongol maupun Tibet tidak dapat dianggap enteng, seandainya kedua negara itu sampai bergabung dengan Gouw Sam Kui, sulit sekali baginya untuk memenangkan peperangan ini.

Sekarang ternyata kedua pentolan kedua negara yang pengaruhnya besar dan berilmu tinggi sudi bekerja sama dengannya membasmi Gouw Sam Kui, Bagaimana hatinya tidak menjadi senang?

Tapi urusan ini datangnya terlalu mendadak Untuk sesaat dia masih belum berani mempercayai benar tidaknya.

Siau Po tahu, kalau Si Raja cilik memaki "Mak-nya!"

Di hadapannya, berarti hati raja itu sedang senang. Dia pun tertawa terkekeh-kekeh.

"Berkat rejeki besar Sri Baginda, hamba telah mengangkat saudara dengan mereka, Si Lhama Shang Cie jadi toako, pangeran Kaerltan menduduki peringkat kedua, hamba jadi saudara terkecil sahutnya. Kaisar Kong Hi tertawa.

"Akalmu memang paling banyak, persyaratan apa yang kau janjikan kepada kedua orang itu sehingga mereka bersedia membantu aku menjatuhkan Gouw Sam Kui?"

Tanya Kaisar Kong Hi. Siau Po tertawa Iebar.

"Sri Baginda memang cerdas, tentu saja tahu bahwa pengangkatan saudara ini hanya kedok saja, tidak dapat dianggap serius, Mereka juga melakukannya karena ingin mendapat anugerah dari Sri Baginda, Shang Cie ingin menjadi Buddha Hidup, Selain Dalai Lhama dan Buddha Hidup Shang Cie. sedangkan Pangeran Kaerltan itu ingin menjadi,., entah Cen Ke El Hao apa... hamba kurang pa-ham...." Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Cen Ke El Hao? Ah! Betul! Tentunya dia ingin menjadi Jengel Khan! Kedua urusan ini tidak sulit sama sekali, Lagipula tidak perlu mengeluarkan biaya, Pada waktunya nanti, tulis saja sebuah firman dengan cap kerajaan, dan kau sebagai utusanku yang menyampaikan penganugerahan kedua orang itu di Tibet dan di Mongol. Kau sampaikan pada toako dan jikomu itu, asal mereka bersungguh-sungguh membantu aku, apa yang mereka damba-kan akan menjadi kenyataan, Yang penting, harus setia. jangan mulut berbicara hitam, tapi hati justru mengatakan putih, Pokoknya, apa yang dijanjikan dan apa yang dilaksanakan harus sama!"

Bagian 79 Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Apa yang dikatakan Sri Baginda memang tepat. Kedua kakak angkatku itu, mutunya juga kurang begitu bagus, tidak boleh dipercaya sepenuhnya. Biar bagaimana harus berhati-hati. Apalagi Sri Baginda sudah mengatakan bahwa di tahun-tahun pertama ini kemungkinan kita akan kalah perang dulu. Kita harus berjaga-jaga agar kedua orang itu tetap berpihak kepada Sri Baginda dan tahan mental."

Siau Po berkata demikian karena memikirkan kepentingan dirinya juga.

seandainya kelak terjadi pemberontakan oleh Shang Cie maupun Pangeran Kaerltan, toh sebelumnya dia sudah menyuruh Sri Baginda untuk mawas diri.

Jadi dia tidak akan terbawa-bawa apabila ada masalah.

Kong Hi tersenyum, Kepalanya manggut-manggut.

"Betul, Tapi kita juga tidak perlu takut, Pada waktu itu kekuatan Gouw Sam Kui pasti sudah jauh berkurang, Sedangkan jumlah tentara kita tidak terhitung banyaknya."

Siau Po tertawa terbanak-bahak.

Rupanya si Raja cilik benar-benar mengagumkan semangatnya melebihi orang dewasa.

(Di kemudian hari, baik Pangeran Kaerltan maupun si Lhama Shang Cie memang mengadakan pemberontakan, tapi waktunya berlainan pangeran Kaerltan meninggal ketika usia Kong Hi menjelang tiga puluh enam tahun.

sedangkan Shang Cie meninggal ketika kaisar Kong Hi berusia empat puluh empat tahun) Siau Po menggiring Mao Tung Cu ke Cu Leng Kiong untuk menemui Thay hou.

Seorang thay-kam ke luar menyambutnya dan mengatakan agar Siau Po membawa penjahat itu masuk ke dalam kamarnya.

Dalam hati Siau Po berpikir.

--Dulu kedudukanku hanya seorang thay-kam, otomatis aku boleh keluar masuk kamar Thay hou.

Tapi sekarang aku sudah menjadi seorang pejabat tinggi, mengapa aku masih disuruh masuk ke kamarnya?

Mungkinkah Thay hou terlalu senang mendengar aku berhasil menangkap si moler tua ini sehingga untuk sesaat dia lupa bahwa aku bukan lagi seorang thay-kam?

Dengan diiringi empat orang thay-kam yang menggiringi si permaisuri palsu, Siau Po ikut masuk ke dalam kamar.

Tampak keadaan dalam kamar itu gelap sekali Dekorasinya masih tetap sama seperti sedia kala, Thay hou duduk di tepi ranjang dengan sebagian punggungnya tertutup oleh kelambu.

Siau Po segera menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

Dia menanyakan kesehatan Thay hou.

Thay hou berdehem sambil melirik sekilas kepada Mao Tung Cu.

"Hm! Kau berhasil menangkap penjahat ini, Bagus! Kau boleh ke luar sekarang!"

Katanya.

Sekali lagi Siau Po berlutut dan menyembah kemudian mengundurkan diri.

Ketika berjalan ke luar dari Cu Leng Kiong, hatinya terasa tidak puas sama sekali.

--Dengan susah payah aku berhasil meringkus si Moler tua, tapi Thay hou tidak tampak senang, Padahal jasaku ini besar sekali, sepatah kata pujian pun tidak dicetuskan, Neneknya!

Siapa saja yang tinggal di Cu Leng Kiong pasti telur busuk!

Baik permaisuri yang asli maupun yang palsu, dua-dua-nya moler tua, nenek sihir!

-makinya dalam hati.

Hatinya kesal sekali.

Sembari berjalan mulutnya mendumel terus.

Begitu keluar dari Cu Leng Kiong, dia segera berjalan ke taman bunga yang ada di sampingnya, Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat.

Ketika itu dia berada di jalan setapak yang dipenuhi gunung-gunungan di sekitarnya, Dari balik gunung-gunungan itulah muncul tiga orang.

Salah-satunya langsung mencekal lengan kiri Siau Po.

Sambil tertawa, dia berkata.

"Apa kabar?" Siau Po terkejut setengah mati, Begitu dilihatnya ternyata seorang thay-kam, Baru saja dia bermaksud menyentaknya untuk bertanya, tahu-tahu dia mengenali thay-kam itu adalah Kui Ji Nio. Rasa terkejutnya kali ini jangan ditanyakan lagi. Ketika dia melihat kedua orang yang ada di samping thay-kam gadungan, ternyata mereka adalah Kui Heng Su dan putranya Kui Tiong. Kedua orang itu mengenakan pakaian seragam para siwi bagian dalam. Diam-diam Siau Po mengeluh. --Rupanya kalian bertiga masih bersembunyi di sini, --Lengan kirinya telah dicekal oleh Kui Ji Nio, Dia sadar, asal dia membuka mulut sedikit saja, Kui Heng Su pasti akan menghantam batok kepalanya sampai pecah berantakan sekarang saja separuh tubuhnya sudah terasa ngilu. Bayangkan saja, batok kepalanya toh tidak mungkin lebih keras dari patung singa yang ada di depan rumahnya.

"Apa kabar locianpwe berdua?"

Tegurnya sambil tertawa getir, Dalam hati dia justru memikirkan cara untuk meloloskan diri.

"Kau suruh mereka jangan bergerak, aku ingin bicara denganmu,"

Kata Kui Ji Nio dengan suara rendah. Siau Po tidak berani bertindak ceroboh, Dia segera menoleh dan berkata kepada beberapa siwi yang mengikuti di belakangnya.

"Kalian tunggu di sini!"

Katanya. Kui Ji Nio menarik tangan Siau Po dan berjalan ke depan belasan langkah.

"Cepat antarkan kami ke tempat Raja!"

Katanya dengan suara Iirih.

"Kalian toh sudah sampai di tempat ini sejak tadi malam, mengapa kalian masih belum menemukan Raja juga?"

Tanya Siau Po.

"Kami sudah bertanya kepada beberapa orang penjaga. Menurut mereka Raja sedang mengadakan perundingan dengan menteri-menterinya, sepanjang malam tidak tidur sama sekali, Kami tidak bisa mendekatinya, apalagi turun tangan,"

Sahut Kui Ji Nio.

"Barusan aku baru berpikir ingin menemui raja untuk mencari informasi tapi ternyata dia sudah tidur sehingga tidak bisa ditemui, sekarang kalian sudah menyamar sebagai thay-kam dan siwi. Bagus sekali, jangan menunda waktu lagi, kita ke luar dari istana sekarang juga!"

Kata Siau Po.

"Urusannya saja belum selesai, untuk apa ke luar istana?"

Kata Kui Ji Nio.

"Sekarang sudah pagi, urusan ini tidak mungkin dilakukan Kalau kalian masih berminat, sebaiknya kembali lagi saja nanti malam!"

Kata Siau Po.

"Dengan susah payah kami baru berhasil menyelinap ke dalam istana ini, masa usahanya belum beres, kita sudah harus keluar? Dia tidur di mana? Antarkan kami ke sana!"

Bentak Kui Ji Nio.

"Aku juga tidak tahu dia tidur di mana. Aku harus mencari seorang thay-kam dan menanyakan hal ini kepadanya,"

Sahut Siau Po.

"Kau tidak boleh berbicara dengan siapa pun! Barusan kau mengatakan bahwa kau ingin menemui Raja, kenapa sekarang kau mengatakan kau tidak tahu di mana dia berada? Hm! jangan harap bisa bermain gila di hadapan nyonya besarmu ini!"

Bentak Kui Ji Nio sambil mengencangkan cengkeramannya pada jari tangan, Siau Po kesakitan, jemari tangannya seakan remuk seketika, Saking sakitnya dia sampai mendengus keras.

Kui Heng Su mengulurkan tangannya dan membelai-belai kepala Siau Po.

"Anak baik!"

Sindirnya.

Siau Po sadar tidak mungkin baginya menghindari ketiga orang ini, Tapi tiba-tiba hatinya tergerak.

--Aku ajak saja mereka ke Cu Leng Kiong, Di sana aku harus menimbulkan keonaran agar Sri Baginda mendengarnya dan bisa mengadakan persiapan, Apabila dalam keributan itu Thay hou sampai terbunuh, toh tidak ada sangkut pautnya denganku!

-pikirnya.

"Tadi aku sih ingin pergi ke Cu Leng Kiong, Siapa tahu Sri Baginda ada di sana untuk menjenguk Thay hou. Kita ke sana saja melihat-lihat keadaan!"

Katanya segera. Kui Ji Nio melihat dengan mata kepala sendiri bahwa tadi Siau Po memang ke luar dari Cu Leng Kiong, Karena itu dia percaya dengan kata-kata Siau Po.

"Kalau kami sudah bertekad masuk ke dalam istana ini, tentunya kami juga sudah sadar bahwa tidak mungkin keluar dalam keadaan hidup, Apabila kau memperlihatkan sedikit saja gerakan yang mencurigakan terpaksa selembar nyawamu menjadi pertaruhannya. Dengan bersama-sama berangkat menuju tempat Giam Lo Ong, toh sepanjang perjalanan kita tidak akan kesepian. Apalagi anakku ini senang sekali bermain denganmu,"

Kata Kui Ji Nio. Maksud ucapannya sudah jelas, Kalau Siau Po bertingkah macam-macam, dia ingin Siau Po mati bersama mereka. Siau Po tertawa getir.

"Kalau hanya mencari teman untuk bermain sih bukan persoalan, Kita bisa bermainmain sampai puas di taman bunga ini, jalanan menuju neraka demikian gelap dan sepi, aku rasa sebaiknya kita tidak menuju ke sana saja!"

Sahutnya.

"Kau boleh memilih, apakah kau lebih suka bertemu dengan Raja akherat atau Raja di sini? Pokoknya, bagaimana pun hari ini kau harus menemui salah satu di antaranya!"

Ancam Kui Ji Nio. Siau Po menarik nafas panjang.

"Kalau begitu, lebih baik kita temui raja sini saja. Tapi sebelumnya kita harus tegaskan dulu, Begitu bertemu dengan raja, kalian harus turun tangan sendiri, aku tidak mau ikut campur!"

"Siapa yang sudi dengan bantuanmu? Asal kau mengajak kami menemui raja, kami akan segera melepaskanmu selanjutnya tidak ada urusan lagi denganmu,"

Kata Kui Ji Nio.

"Baik! Demikianlah kita tetapkan!"

Sahut Siau Po.

Siau Po digiring ketiga orang itu berjalan kembali ke istana Cu Leng Kiong, Kui Tiong senang sekali melihat burung bangau dan burung merpati yang dipelihara untuk menambah keindahan taman, Dia sampai bersorak kegirangan.

Siau Po menunjuk ke sana sini untuk memberikan penjelasan dan mengobrol dengannya, Tentu saja dia bermaksud menunda-nunda waktu.

Meskipun Kui Ji Nio hampir habis kesabarannya, tapi begitu mengingat anaknya yang seumur hidup selalu menderita dan tidak pernah mengecap kesenangan apa pun, dia tidak tega menghentikan ocehan Siau Po.

Apalagi anaknya menunjukkan sikap senang sekali dan mungkin hari ini mereka tidak dapat ke luar dari istana tersebut dalam keadaan hidup.

Dari kejauhan tampak ada serombongan orang yang keluar dari istana Cu leng Kiong, Mereka menggotong dua buah tandu, Dengan sebelah tangan menarik Siau Po dan sebelah tangan lagi menyeret anaknya, Kui Ji Nio menyelinap ke belakang pohon bunga Botan yang rimbun, Kui Heng Su bersembunyi di belakangnya, Kedua tandu yang digotong itu perlahan-lahan mendekat Siau Po melihat orang yang berjalan di bagian paling depan adalah thay-kam yang mengurus keperluan kamar Thay hou.

Kedua tandunya di belakangnya juga dikenali Siau Po.

Yang satu milik selir raja dan satunya lagi milik Thay hou.

Masing-masing tandu digotong oleh beberapa orang thaykam, Di belakang dan samping kiri kanan berjalan beberapa orang pelayan wanita, Masih ada lagi belasan siwi.

Biasanya, kalau Thay hou hilir mudik di dalam istana, tidak pernah ada siwi yang mengiringi.

Kemungkinan setelah mendapat berita dari Siau Po, Sri Baginda menyuruh menambah ketatnya penjagaan.

Hatinya segera tergerak, maka dia berkata dengan suara rendah.

"Hati-hati! Orang yang di dalam tandu pertama pasti Raja Tatcu, sedangkan orang di dalam tandu kedua kemungkinan Thay hou."

Pasangan suami istri melihat kedua tandu itu dijaga ketat dan diiringi pelayan wanita segala, Apalagi mereka ke luar dari istana Cu Leng Kiong.

Orang yang ada di dalamnya pasti Raja dan permaisuri Tanpa terasa hati mereka menjadi tegang, Kedua orang itu melirik sekilas kepada anaknya.

Sinar mata mereka menunjukkan kelembutan dan kasih sayang.

"Anakku, orang yang ada dalam tandu itu pasti raja dan permaisurinya. Nanti kalau kedua tandu itu sudah dekat, kau harus tunggu aba-aba dariku! Begitu aku berteriak, kita langsung bersama-sama menyerang kedua tandu itu. jangan beri ampun sedikit pun!"

Kata Kui Ji Nio. Kui Tiong tertawa.

"Baik, Wah, kali ini pasti menyenangkan!"

Katanya. Tampak kedua tandu itu semakin mendekat Telapak tangan Siau Po sudah berkeringat. Telinganya mendengar thay-kam yang memimpin di depan mengeluarkan suara.

"Hush! Hush!"

Maksudnya menyuruh orang yang menutupi jalan mundur beberapa tindak.

"Maju!"

Teriak Kui Ji Nio memberikan aba-aba.

Ketiga orang itu langsung menerjang ke depan.

Gerakan ketiga orang ini cepat sekali, Persis badai yang tiba-tiba melanda, Terdengar suara benturan yang keras, tiga pasang telapak tangan telah menghantam bagian atas tandu yang pertama.

Rupanya pasangan suami istri Kui Heng Su khawatir raja Tatcu belum mati, Kui Heng Su segera menghunus pedangnya, langsung menikam ke dalam tandu sebanyak lima enam kali.

Setiap kali pedangnya dicabut, darah pun bermuncratan ke mana-mana.

seandainya orang di dalam tandu mempunyai sepuluh lembar nyawa, pasti amblas semuanya sekaligus.

Para siwi yang mengiringi tandu itu jadi panik, Mereka berteriak keras dan berpencaran masing-masing mencabut senjata yang terselip di pinggang.

"Sudah berhasil!"

Seru Kui Ji Nio.

Ditariknya tangan kiri Kui Tiong dan lari ke arah utara, Pedang di tangan Kui Heng Su bergerak meliuk-liuk bagaikan seekor ular yang menari, Mana mungkin para siwi itu bisa menghadangnya?

Tampak ketiga orang itu lari melewati istana Sou Kong Kiong, Para pelayan berteriak-teriak histeris, Keadaannya kacau sekali.

Saat itu juga, terdengar suara tambur bertalu-talu, Semua pintu yang terdapat dalam istana itu langsung tertutup rapat Setiap pos yang penting dijaga oleh ratusan Sie Wie.

Dari luar istana menerjang masuk serombongan tentara berkuda, Tangan masingmasing membawa sebatang busur yang siap membidikkan anak panah, situasinya persis seperti medan perang.

Siau Po melihat ketiga orang dari keluarga Kui itu membunuh selir Raja tua.

Mereka tentunya mengira sudah mendapatkan hasil sehingga melarikan diri tanpa memeriksa lebih jauh, Hatinya gembira sekali, cepat-cepat dia menyelinap ke luar dari nbalik pohon bunga Botan.

"Semuanya tidak boleh panik!"

Teriaknya.

"Yang penting lindungi Thay hou"

Para siwi memang sedang panik, Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Begitu melihat Siau Po, hati mereka menjadi tenang.

"Semuanya mengelilingi tandu Thay hou untuk melindunginya. Apabila ada pembunuh gelap lagi, kalian harus melawannya dengan pertaruhan nyawa!"

Perintah Siau Po.

"Terima perintah!"

Sahut para siwi itu. Siau Po merebut sebatang golok dari tangan salah seorang siwi.

"Hari ini kita semua menunjukkan kesetiaan kita kepada negara. Apabila datang lagi penyerang gelap, meskipun jumlahnya ada seribu orang, kita harus mengadu jiwa dengan mereka!"

Teriak Siau sekali lagi.

"Terima perintah!"

Sahut para siwi pula, semangat mereka jadi menyala-nyala mendengar seruan Siau Po.

Siau Po berdiri tegak dengan mengacung goloknya ke atas.

Tampangnya berwibawa sekali, Para siwi yang melihatnya menjadi kagum.

--Meskipun usianya masih kecil, tapi kelak kemudian hari pasti akan menjadi tokoh besar!

--pikir mereka.

Tanpa menunda waktu lagi mereka segera melindungi tandu Thay hou dengan berbaris mengeliIinginya.

Siau Po menoleh kepada para pelayan wanita.

"Apa yang kalian ributkan?"

Bentaknya.

"Cepat berdiri melingkari depan para siwi itu! Kalau ada penyerang gelap lagi yang datang, biar mereka memenggal batok kepala kalian yang kosong itu terlebih dahulu!"

Para pelayan wanita itu berpikir, meskipun otak mereka dikatakan kosong, tapi kalau begitu saja dipenggal oleh para pembunuh gelap, tentunya penasaran juga.

Tapi melihat Siau Po berdiri sambil mengacung-acungkan goloknya dengan penuh wibawa, tidak ada seorang pun yang berani membantah.

Terpaksa mereka berdiri di luar barisan para siwi, Bahkan ada yang sampai terkencing-kencing di celana saking takutnya.

Sampai saat itu Siau Po baru menurunkan goloknya, Dia berjalan ke arah tandu Thay hou.

"Hamba Wi Siau Po terlambat memberikan bantuan sehingga membuat Thay hou terkejut Di sini hamba menanyakan kesehatan Thay hou. semoga Thay hou dalam keadaan baik-baik saja, Para penyerang gelap itu sudah melarikan diri ke bagian lain dan sedang dikejar oleh para penjaga,"

Katanya.

"Bagus!"

Sahut Thay hou. Siau Po mengulurkan tangannya menyingkap tirai tandu, Tampak wajah Thay hou pucat pasi, tapi senyumnya mengembang. Berkali-kali dia menganggukkan kepalanya.

"Bagus, Siau Po! Kau telah menolong aku sekali lagi!"

Katanya. Melihat Thay hou tidak kurang suatu apa, hati hamba sudah tidak terkatakan senangnya!"

Sahut Siau Po. Perlahan-lahan dia menurunkan kembali tirai tandu itu. Kemudian Siau Po menoleh ke arah dua orang siwi sambil berkata.

"Cepat kalian sampaikan kepada Sri Baginda bahwa Thay hou tidak kurang suatu apa, harap Sri Baginda tidak mengkhawatirkannya, Katakan juga bahwa aku Siau Po menanyakan kesehatan Sri Baginda, Para siwi dan tentara semuanya bekerja keras, Mereka sedang mengejar para pembunuh gelap itu!"

Kedua orang siwi itu menerima baik perintahnya lalu mengundurkan diri.

"Wi Siau Po!"

Tiba-tiba terdengar Thay hou memanggil dengan suara rendah.

"Hamba di sini!"

Sahut Siau Po.

"Apakah kedua orang yang ada dalam tandu di depan itu sudah mati?"

Tanya Thay hou dengan suara rendah.

"Kedua orang?"

Tanya Siau Po seakan kurang yakin dengan pendengarannya sendiri.

"Coba kau lihat sana, hati-hati!"

Kata Thay hou.

Siau Po mengiakan.

Dalam hati, dia justru heran sekali.

--Mengapa bisa ada dua orang?

Mengapa pula harus berhati-hati?

-tanyanya dalam hati.

Dia langsung berjalan ke depan tandu yang pertama lalu perlahan-lahan mengangkat tirainya, tanpa terasa dia mengeluarkan seruan terkejut.

"Ah!"

Cepat-cepat dia menurunkan kembali tirainya, sepasang lututnya terasa lemas dan gemetar Hampir saja dia jatuh terduduk di atas tanah.

Di dalam tandu daging manusia dan darah berceceran ke mana-mana, ternyata yang mati memang dua orang.

Tubuh kedua orang itu penuh dengan luka tusukan.

Bahkan darahnya masih menetes dari lubang-lubang luka itu.

Yang satu memang si permaisuri palsu Mao Tung Cu, sedangkan yang satunya seorang laki-laki bertubuh pendek gemuk.

Panca inderanya remuk terkena pukulan Tapi bentuknya masih jelas, Dia bukan lain daripada Siu Tau to.

Kedua orang itu mati berpelukan.

Kalau Mao Tung Cu mati dalam tandu itu, Siau Po memang sudah menduganya, Dia sendiri yang menggiring perempuan itu ke istana Cu Leng Kiong untuk menerima hukuman dari Thay hou.

Tapi dari mana datangnya Siu Tau to?

Kedua orang ini justru duduk di dalam tandu selir Raja dan ditemani pula oleh Thay hou.

Ke mana tujuan mereka tadinya?

Siau Po menenangkan hatinya sesaat, kemudian dia berjalan kembali mendekati tandu Thay hou.

"Lapor Thay hou, kedua orang itu sudah mati. Mereka mati dengan cara yang mengenaskan Dapat dipastikan mereka tidak mungkin hidup kembali,"

Katanya.

"Bagus!"

Kata Thay hou sembari tertawa.

"Sekarang kita kembali ke istana Cu Leng Kiong, Gotong sekalian tandu itu jangan ada seorang pun yang melongok ke dalamnya!"

Siau Po mengiakan Dia segera menurunkan perintah, Lalu dia sendiri yang menggotong tandu Thay hou dibantu seorang siwi menuju istana Cu Leng Kiong, sesampainya di sana, Siau Po mengangkat tirai tandu dan membimbing Thay hou ke luar.

Sekali lagi Thay hou tertawa.

"Kau baik sekali!"

Ujarnya.

Siau Po membalas dengan seulas senyuman.

--Apa yang baik pada diriku?

Thay hou memang tidak muda lagi, tapi wajahnya masih lumayan, -pikirnya, Thay hou menggapaikan tangannya, Siau Po disuruh masuk ke dalam kamar, para pelayan wanita dan beberapa orang thay-kam diperintahkan agar meninggalkan mereka, Setelah tinggal berdua saja, Siau Po segera merapatkan pintu kamar itu.

Jantung Siau Po berdebar-debar, Tanpa terasa wajahnya berona merah.

--Aduh, celaka!

Sejak tadi Thay hou terus memuji kebaikanku apakah dia menginginkan aku menjadi pengganti si raja tua?

Si permaisuri palsu mempunyai seorang abang seperguruan yang menyamar menjadi dayang, Ada pula Siu Tau to yang bersembunyi di dalam selimutnya, Apabila Thay hou yang asli ini menyuruh aku juga menyamar menjadi seorang dayang dan menyelinap ke dalam selimutnya, apa yang harus kulakukan?

--pikirnya dalam hati.

Thay hou duduk di tepi tempat tidur, untuk sesaat tampak dia termenung.

"Urusan ini sungguh berbahaya, sekali lagi kau memberikan pertolongan!"

Katanya kemudian.

"Hamba telah menerima budi besar dari Sri Baginda dan Thay hou. Meskipun seluruh tubuhku ini hancur, aku tetap belum bisa membalasnya!"

Sahut Siau Po. Thay hou menganggukkan kepalanya.

"Kau setia sekali, Sri Baginda dapat menggunakan tenagamu, juga terhitung rejeki kami,"

Katanya.

"Semua itu merupakan budi besar yang dilepaskan Sri Baginda dan Thay hou. Hamba hanya tahu bagaimana harus bersetia terhadap junjungan hamba,"

Sahut Siau Po.

Dalam hati dia justru berkata.

-Oh, Giok Hong tayte, Kuan Im Pou sat, tolonglah, jangan sampai perempuan ini menyuruh aku menyamar menjadi dayangnya, Sekali lagi Thay hou tertawa, Bulu kuduk Siau Po sampai merinding mendengarnya.

"Kedua penjahat yang telah mati itu, bakar sampai jadi abu berikut tandunya! Ingat, jangan membocorkan rahasia sepatah kata pun! Mengenai para siwi dan dayangdayang yang ada di tempat kejadian tadi...."

Berkata sampai di sini, tiba-tiba Thay hou membungkam.

"Peruntungan Thay hou bagus sekali, Tentang para siwi dan dayang-dayang, hamba mempunyai cara untuk membuat mereka kentut pun tidak berani,"

Ujar Siau Po. Mendengar kata-katanya yang tidak sopan, Thay hou mengerutkan keningnya.

"Masalah ini harap kau urus sebaik-baiknya, Dengan demikian, kau akan mendapat keuntungan tersendiri"

Kata Thay hou. Siau Po memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Hamba akan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Apabila ada satu orang saja membocorkan rahasia, Thay hou boleh penggal batang leherku ini!"

Janji Siau Po.

"Kalau begitu hatiku jadi tenang, kau boleh ke luar sekarang,"

Kata Thay hou.

Siau Po senang sekali, Hatinya menjadi lega, Cepat-cepat dia berlutut kemudian mengundurkan diri.

Baru saja keluar dari istana Cu Leng Kiong, Siau Po melihat tandu Kaisar Kong Hi mendatangi perlahan-lahan, Seratus lebih siwi yang menjaganya.

jumlahnya berlipat ganda dari hari biasa, Siau Po segera menepi ke pinggir.

Kaisar Kong Hi yang melihatnya segera memanggilnya.

"Siau Kui Cu, kau tunggu aku di sini!"

Katanya, Siau Po mengiakan Dia tahu si Raja cilik akan menjenguk ibunya, Diam-diam dia mengeluh dalam hati.

-Mengapa Siu Tau to bisa ada dalam tandu si Moler tua?

Hm!

Kejadian ini benarbenar aneh sekali!

-Kaisar Kong Hi berjalan ke luar dari istana Cu Leng Kiong, Siau Po mengikutinya kembali ke pendopo Yang Sim Tian, Dia menunggu di Iuar.

Beberapa saat kemudian, dia melihat pemimpin penjaga istana keluar dari pendopo itu.

-Sri Baginda pasti memerintahkan orang itu untuk memperketat penjagaan dalam istana, -pikirnya.

Kemudian seorang thay-kam datang memberitahukan agar Siau Po masuk ke dalam, Kaisar Kong Hi menyuruh para siwi dan thay-kam mengundurkan diri, lalu Siau Po disuruh menutup pintu.

Kaisar Kong Hi berjalan mondar-mandir di dalam ruangan dengan kening berkerut.

Tampaknya ada persoalan yang menyusahkan hatinya, pikiran Siau Po juga menjadi galau.

Semakin bertambah usia Kaisar Kong Hi, wibawanya semakin kentara, Semakin hari Siau Po melihatnya, dia merasa hubungan mereka semakin renggang, sedangkan rasa jerinya berhadap si Raja cilik semakin menambah, perasaan yang ada di antara mereka sudah jauh berbeda dibandingkan ketika mereka masih bermain gulat bersama dulu.

Setelah lewat sejenak lagi, Kaisar Kong Hi baru berkata lagi "Siau Kui Cu, ada suatu urusan, aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya."

"Sri Baginda cerdas sekali, Cu Kek Liang saja belum tentu sanggup menandingi Apa pun yang terpikirkan oleh Sri Baginda pasti sebuah gagasan yang sempurna,"

Sahut Siau Po.

"Kali ini Cu Kek Liang pun kehabisan akal. Kau sudah membangun tiga jasa besar, tapi satu pun aku belum menghadiahkan apa-apa. Meringkus Mao Tung Cu adalah jasa yang pertama, persoalan Mongol dan Tibet merupakan jasamu yang kedua, Dan barusan kau berhasil menolong jiwa Thay hou, berarti itulah jasamu yang ketiga, Usiamu masih kecil, kau sudah menduduki jabatan tinggi Aku toh tidak mungkin mengangkatmu menjadi raja menggantikan aku? Ha ha ha!"

Selesai berkata kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak. Sampai saat itu, Siau Po baru tahu kalau Kaisar Kong Hi sedang bergurau dengannya, Hatinya senang sekali.

"Semua ini berkat rejeki Sri Baginda dan Thay hou yang besar, segala jasa ini sebetulnya didirikan oleh Sri Baginda sendiri sayangnya Sri Baginda tidak bisa menaikkan pangkat sendiri, kalau tidak, seharusnya pangkat Sri Baginda naik lagi tiga tingkat"

Sahutnya. Sekali lagi Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Meskipun seorang raja tidak bisa menaikkan pangkatnya sendiri, tapi sejak jaman dulu kala, entah berapa banyak raja yang memberi gelar kepada dirinya sendiri, Ada perayaan sedikit saja, atau memenangkan perang kecil saja, gelarnya bertambah lagi. Meskipun harus melalui perundingan dengan menteri-menterinya, tapi semuanya toh hanya kedok? Siapa yang berani membantah ucapan seorang kaisar? Sebrang raja yang baik tidak mungkin memuji dirinya sendiri, Bukankah menggelikan sekali kalau hal itu sampai dijadikan bahan pembicaraan rakyat jelata? Seorang raja yang bijaksana tidak mungkin bersikap seperti itu."

"Oh, rupanya Niau Seng Hi Tong tidak suka memuji dirinya sendiri? Sri Baginda adalah Niau Serig Hi Tong, tentu saja tidak akan memberi gelar kepada dirinya sendiri. Tapi, kalau menurut pandangan hamba, setelah berhasil menjatuhkan Gouw Sam Kui kelak, apabila Sri Baginda tidak memberi gelar kepada diri sendiri, rasanya agak merugikan,"

Kata Siau Po.

"Apanya yang rugi?"

Tanya kaisar Kong Hi sembari tertawa.

"Setelah berhasil menjatuhkan Gouw Sam Kui, Sri Baginda pasti memikirkan jasa yang telah didirikan oleh para menteri, panglima perang, Pangkat mereka bagaimana pun harus dinaikkan, sedangkan pangkat Sri Baginda sendiri tetap begini-begini saja, Malah isi lemari uang sebagian besar akan terkuras untuk memberi hadiah kepada mereka, Bukankah ini dinamakan rugi besar?"

Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi tertawa.

"Kau benar-benar tidak berpendidikan. Apabila aku berhasil menjatuhkan Gouw Sam Kui, rakyat tidak akan diperas lagi, semuanya dapat hidup bersejahtera, itulah hadiah besar yang aku dapatkan,"

Katanya.

"Oh, rupanya begitu!"

"Tapi seandainya pemberontakan ini berhasil digagalkan, hadiah-hadiah memang cukup banyak yang harus dikeluarkan Kau toh tahu sendiri, berapa banyak pembesar yang tidak becus, Kalau ada keributan, mereka menyembunyikan diri, Kalau semuanya sudah selesai, mereka pun keluar untuk menepuk pantat kuda (mengumpak-umpak),"

Kata Kong Hi pula.

"Pada waktu itu, kita lihat saja, siapa yang paling banyak memuji Sri Baginda, dialah tukang menepuk pantat kuda,"

Ujar Siau Po.

"Betul,"

Kata kaisar Kong Hi sambil tertawa.

"Pada waktu itu, akulah yang akan menendang pantatnya." (Ternyata apa yang dikatakan kaisar Kong Hi hari itu memang tidak salah, Ketika Gouw Sam Kui sudah berhasil dibasmi, banyak sekali pembesar yang mengagulkan jasa masing-masing dan memuji-nya setinggi langit. Tapi Kaisar Kong Hi mengambil tindakan yang tegas, Orang yang benar-benar berjasalah yang mendapatkan anugerah pangkat tinggi dan hadiah besar).

"Kaisar yang menganugerahkan gelar kepada dirinya sendiri, banyaknya tidak terkira, Pada jaman dinasti Beng, ada seorang kaisar bernama Cin Tek. Dialah yang sungguh membuat orang heran,"

Kata Kong Hi.

"Oh, raja yang satu ini hamba sudah pernah melihatnya beberapa kali,"

Kata Siau Po. Kong Hi memandangnya dengan heran.

"Kau pernah melihatnya beberapa kali? Apakah dalam mimpi?" "Bukan,"

Sahut Siau Po.

"Hamba melihatnya dalam pertunjukan sandiwara, Ada sebuah sandiwara berjudul "

Bwe Liong Cen ", Kisah mengenai Kaisar Cin Tek yang mengadakan perjalanan ke Kang Lam.

Di Dusun Bwe Liong Cen, dia bertemu dengan seorang gadis penjual arak bernama Lie Hong Ci, orangnya cantik dan mereka menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai."

Kaisar Kong Hi tertawa.

"Kaisar Cin Tek senang berjalan-jalan dengan menyamar. Kemungkinan cerita percintaannya dengan gadis bernama Lie Hong Ci itu memang ada. Kaisar yang satu ini tidak suka memberi gelar kepada dirinya sendiri, tapi justru senang menganugerahkan pangkat untuk dirinya sendiri, Setiap kali kalah dalam perang, dia malah mengatakan menang, kemudian menganugerahkan pangkat untuk dirinya sendiri, Benar-benar menggelikan!"

Katanya. Siau Po tertawa terbahak-bahak.

"Orang ini memang aneh! Sudah menjadi kaisar masih belum cukup, justru lebih senang mempunyai pangkat yang lebih rendah!"

Kaisar Kong Hi tertawa.

"Pernah dia menganugerahkan pangkat "

Cen Kok Kong " (Pangeran atau raja muda sebuah kota madya) untuk dirinya sendiri, para menteri protes keras, mereka mengatakan bahwa keluhuran Kaisar Cin Tek pasti keberatan mengetahui hal ini biarpun mereka semua sudah almarhum.

Sebab hal tersebut berarti merendahkan derajat keluarga kerajaan Tapi Kaisar Cin Tek tidak perduli, Belakang hari dia menang lagi dalam peperangan Saat itu dia menganugerahkan pangkat Panglima Besar kepada dirinya sendiri, Untung saja usia kaisar itu tidak panjang, kalau tidak pangkatnya semakin lama akan semakin tinggi dan akhirnya dia terpaksa menganugerahkan kedudukannya kepada diri sendiri.

Dengan demikian berarti dia menggeser kedudukannya sendiri."

Siau Po mendengar Kong Hi mengatakan "menggeser kedudukan" , meskipun yang diceritakan adalah orang lain, tapi dia tidak berani banyak bicara lagi kecuali tertawa terkekeh-kekeh.

"Kaisar Cin Tek banyak melakukan hal yang ceroboh, sehingga rakyat mengalami berbagai penderitaan Tetapi kesalahan mutlak juga bukan di tangan kaisar tersebut, kebanyakan para thay-kam dan menteri yang memberikan pelajaran yang bukanbukan,"

Kata Kaisar Kong Hi pula.

"Betul, betul,"

Sahut Siau Po cepat.

"Raja yang tidak baik pasti menggunakan tenaga thay-kam serta menteri yang busuk pula, sedangkan raja yang bijaksana pasti menggunakan tenaga thay-kam serta menteri yang baik."

Perlahan-Iahan Kaisar Kong Hi menggelengkan kepalanya.

"Belum tentu juga,"

Katanya.

"Di samping kaisar yang baik pasti ada saja beberapa thay-kam serta menteri yang tidak beres, Tapi kalau rajanya sendiri tidak ceroboh dan pandai melihat gelagat, pada akhirnya dia pasti bisa membedakan mana thay-kam serta menterinya yang baik dan yang jahat."

"BetuI, betul,"

Sahut Siau Po dengan jantung berdebar-debar.

"Si pemberontak Mao Tung Cu kan punya kekasih gelap, siapa ya namanya?"

Tanya kaisar Kong Hi.

"Panggilannya Siu Tau to. Siapa nama aslinya, hamba juga tidak tahu,"

Sahut Siau Po.

"Tubuhnya begitu gemuk, persis seperti bola, mengapa dipanggil Siu Tau to?"

Tanya Kaisar Kong Hi.

"Katanya, dulu dia itu tinggi dan kurus sekali. Kemudian kaucu dari Sin Liong kau menyuruh dia minum sebutir pil beracun, tubuhnya pun ciut serta menggumpal menjadi gemuk pendek. Karena itulah orang tetap memanggil Siu Tau to mengikuti bentuk tubuh yang sebenarnya,"

Sahut Siau Po.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia dan Mao Tung Cu bersembunyi di dalam tandu selir Ci dan memaksa Thay hou mengantarkan mereka keluar?"

Tanya kaisar Kong Hi pula.

Pikiran Siau Po bergerak secepat kilat -Tadi Sri Baginda memuji jasaku yang besar karena telah menyelamatkan Thay hou.

Kemudian dia mengatakan kedua penjahat itu bersembunyi dalam tandu dan memaksa Thay hou mengantarkan mereka ke luar.

Kalau begitu, urusan ketiga ekor kura-kura dari keluarga Kui yang melakukan penyerangan masih belum diketahuinya, Tapi, baik ketiga orang dari keluarga Kui itu sudah berhasil melarikan diri, atau tertangkap hidup-hidup maupun mati, toh bukan urusanku.

Biar bagaimana tetap tidak bisa ditutupi Lalu apa yang harus kukatakan sekarang?

Kaisar Kong Hi melihat ia ragu-ragu beberapa saat "Bagaimana?

Apakah ada hal yang menyulitkanmu?"

Tanyanya.

"Tidak, tidak!"

Sahut Siau Po cepat "Hamba sedang memikirkan, bagaimana kedua penjahat itu bisa berada dalam tandu selir Cin.

Biar kepala hamba memikirnya sampai pecah, juga tidak berhasil mendapatkan jawabannya, Rasanya harus meminta pertimbangan dari Sri Baginda juga."

"Aku ingin bertanya dulu kepadamu, bagaimana kau bisa tahu bahwa yang duduk dalam tandu bukan Selir Cin sehingga kau memerintahkan para siwi melakukan penyerangan?"

Kata Kaisar Kong Hi.

-Rupanya Sri Baginda masih mengira para siwilah yang membunuh Mao Tung Cu dan Siu Tau to.

Bagaimana pun, urusan ini pasti akan ketahuan, Lebih baik aku bicara terus terang saja.

--pikir Siau Po dalam hati.

Karena itu ia segera berkata.

"Hamba memang pantas mendapat hukuman mati, Harap Sri Baginda membuka pintu hati untuk mengampuni hamba."

Selesai berkata, Siau Po segera menjatuhkan dirinya berlutut. Kaisar Kong Hi mengerutkan keningnya.

"Ada apa?"

Tanyanya.

"Hamba mendapat perintah dari Sri Baginda dan membawa si penjahat Mao Tung Cu ke istana Cu Leng Kiong, Ketika melewati taman bunga yang ada di samping, tiba-tiba dari belakang gunung-gunungan terdengar suara yang mencurigakan. Muncul tiga orang yang menyamar sebagai siwi dan thay-kam, Mereka langsung meringkus hamba serta memaksa hamba mengantarkan mereka mencari Sri Baginda, ilmu ketiga orang ini tinggi sekali, bahkan jemari tangan hamba hampir patah dipelintirnya."

Selesai berkata dia menunjukkan jari tangannya yang bengkak dan biru karena memar.

"Untuk apa mereka ingin mencari aku?"

Tanya Kaisar Kong Hi.

"Mereka bertiga pasti pembunuh gelap yang dikirimkan oleh Gouw Sam Kui. Biarpun mereka membunuh hamba, hamba tetap tidak akan menjadi penunjuk jalan bagi mereka, Kebetulan, tidak, ti-dak, kebetulan, tepat pada saat itu, tandu yang diduduki Thay hou dan si penjahat Mao Tung Cu diusung ke luar dari istana Cu Leng Kiong. Ketiga pembunuh gelap itu benar-benar tolol. Mereka melihat begitu banyaknya siwi yang mengawal dan mereka mengenali salah satu tandu itu milik Thay hou, maka mereka mengira tandu yang satunya lagi pasti diduduki Sri Baginda. Tanpa bertanya lagi mereka menerjang ke luar dan menyerang tandu tersebut Wah, cara mereka sungguh ganas! itu merupakan rejeki besar Sri Baginda dan Thay hou. Kenyataannya pembunuh gelap tersebut membunuh pemberontak kerajaan Mengenai ketiga pembunuh gelap itu, entah mereka sekarang sudah berhasil dibunuh oleh para siwi atau sudah kena diringkus, Lebih baik hamba keluar dan menanyakannya sampai jelas,"

Sahut Siau Po.

"Ketiga pembunuh gelap itu tidak mungkin begitu ceroboh sembarangan main bunuh, Kemungkinan kaulah yang memberikan petunjuk kepada mereka, iya kan? Kau pasti berpikir kalau lebih baik mereka membunuh selir raja daripada aku yang terbunuh, bukan? Begitu mereka menyerang tandu itu, keadaan dalam istana pasti gempar. Dengan demikian mereka tidak mungkin bisa mendekati aku lagi. Dan selembar jiwamu juga tetap dapat dipertahankan bukan?"

Kata Kaisar Kong Hi.

Rahasia hati Siau Po telah dibuka secara te-rang-terangan oleh Kaisar Kong Hi.

Dia sadar percuma berbohong lebih banyak, karena itu dia hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Kau memberi petunjuk kepada para pembunuh gelap itu untuk mencelakai selir raja, sebetulnya dosamu itu patut mendapat hukuman penggal kepala, tapi setidaknya kesetiaanmu terhadapmu masih ada tiga bagian...."

"Bukan tiga bagian, melainkan sepuluh bagian, seratus bagian, seribu bagian kesetiaan hamba terhadap Sri Baginda,"

Sahut Siau Po cepat. Kaisar Kong Hi tersenyum.

"Rasanya kok tidak sebanyak itu,"

Katanya.

"Ada, ada! Benar-benar ada!"

Sahut Siau Po. Perlahan-lahan Kaisar Kong Hi menendang jidat Siau Po. Sambil tertawa dia berkata.

"Maknya! Bangunlah!"

Katanya. Begitu terkejutnya Siau Po sampai keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, setelah menyembah satu kali lagi, dia baru berdiri Kaisar Kong Hi tertawa.

"Kau telah mendirikan tiga jasa besar Tadinya aku sudah bingung bagaimana harus membalas budimu itu. Tapi kau sudah memberi petunjuk kepada para pembunuh gelap itu untuk mencelakai selir raja, Meskipun niat itu tidak kesampaian, namun telah membuktikan kelancangannya. Dengan demikian biarlah ketiga jasamu itu digunakan untuk menutupi dosamu, Sekarang kedudukan kita jadi impas, Bagaimana?"

"Bagus, bagus sekali! ibarat bermain kartu, di bagian permulaan hamba yang memenangkan permainan, namun akhirnya Sri Bagindalah yang menang, Dengan demikian kedudukan kita jadi seri, siapa pun tidak ada yang rugi,"

Sahut Siau Po, namun dalam hati dia berkata.

--Tidak naik pangkat juga tidak apa-apa.

Memangnya kau bisa mengangkat aku menjadi panglima besar atau wakil raja?

Biar diangkat jadi Jenderal juga tidak ada artinya.

"Si penjahat yang pendek gemuk itu juga sungguh licik, Dia tahu kekasihnya telah diringkus olehmu, biar bagaimana kau pasti akan membawanya pulang ke istana, agar dapat diadili oleh Thay hou. Dia dengan nekad menempuh bahaya, yakni menyelinap masuk ke dalam istana dan menyandera Thay hou. Tapi saat ini penjagaan dalam istana ketat sekali. Dia tidak bisa seenaknya melarikan diri lagi seperti tempo hari. Satu-satunya jalan ialah duduk di dalam tandu selir Cin dan memaksa Thay hou mengantarkan mereka ke luar. Dengan demikian mereka berdua baru mempunyai kesempatan untuk lolos, Namun satu hal yang tidak pernah terduga olehnya, yakni kau berani memberi petunjuk kepada para pembunuh gelap untuk menyerang tandu selir Cin sehingga mereka berdua mati konyol,"

Kata Kaisar Kong Hi. Saat itu Siau Po baru sadar mengapa Siau Tau To dan Mao Tung Cu bisa duduk dalam satu tandu.

"Rupanya begitu..."

Katanya.

"Orang mengatakan rejeki dan peruntungan Thay Hou serta Sri Baginda sama dengan peruntungan langit, Ternyata hal ini sedikit pun tidak salah."

Dalam hati dia justru berkata.

-Tidak heran ketika aku mengantarkan Mao Tung Cu ke istana Cu Leng Kiong, wajah Thay hou benar-benar tidak enak dilihat, sepertinya aku berhutang kepadanya sebanyak tiga ratus tail dan tidak mau bayar.

Rupa-nya Siau Tau To sudah bersembunyi di dalam kamarnya, Kemungkinan dia bersembunyi di kolong tempat tidur.

Siau Tau To pernah tinggal di dalam istana ini untuk jangka waktu yang cukup lama, maka setiap liku serta jalannya dikenalnya dengan baik.

Bahkan entah sudah berapa puluh kali dia tidur di atas ranjang Thay hou, maka tidak aneh kalau dia bisa mendapatkan siasat yang jitu ini, Entah sudah berapa hari dia bersembunyi di kamar Thay hou?

Aduh, celakai Thay hou dan Siau Tau To berlawanan jenis kelamin, Kalau mereka sudah bermalam-malam tidur bersama, mungkinkah telah terjadi sesuatu di antara mereka?

Wah...

kalau benar, topi pendeta Lo Hongya di Ngyo Tay San pasti berubah warnanya menjadi kehijau-hijauan, (Mengenakan topi hijau adalah istilah untuk laki-laki yang istrinya menyeleweng dengan laki-laki lain) Tentu saja Kaisar Kong Hi tidak dapat menerka apa yang terkandung dalam hati Siau Po.

Dia hanya tertawa dan berkata.

"Peruntungan Thay hou dan aku memang cukup besar, tapi aku lihat peruntunganmu sendiri juga tidak kecil."

"Sebetulnya hamba tidak mempunyai peruntungan sama sekali Tapi karena sudah lama mengikuti Sri Baginda, maka hamba kecipratan sedikit peruntungannya,"

Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Orang yang bernama Kui Heng Su itu bergelar "

Sin Cian Bu Tek". Apakah ilmunya memang tinggi sekali?"

Tanyanya.

Sembari tertawa terbahak-bahak, Kaisar Kong Hi mengajukan pertanyaan itu.

Dalam pendengaran Siau Po seakan ada petir yang menyambar secara tiba-tiba.

Tubuhnya terhuyung-huyung, Dia merasa sepasang lututnya lemas serta tidak bertenaga sama sekali.

"Ini... ini...."

Kaisar Kong Hi tertawa dingin.

"Langit adalah ayah, bumi adalah ibu, merobohkan Ceng, membangkitkan Beng! Wi hiocu, nyalimu ternyata cukup besar, ya?"

Katanya ketus.

Siau Po merasa dunianya seakan berputar pikirannya menjadi kalut.

Yang pertamatama teringat olehnya adalah mencabut pisau belatinya dari selipan kaos kakinya, tapi tiba-tiba hatinya tergerak pula.

--Dia sudah mengetahui segalanya, Dia bisa mengajukan pernyataan tadi, ibarat dia telah membuka kartu terang-terangan untuk melihat nilai siapa yang lebih besar, ilmunya juga lebih tinggi daripada aku, sekali tusuk belum tentu dapat membunuhnya.

Tapi seandainya bisa, aku tetap tidak akan melakukannya!

-Karena mendapat pemikiran demikian, dia tidak ragu-ragu lagi, lalu segera berlutut dan berkata.

"Siau Kui Cu menyerah, harap Siau Hian Cu memberikan pengampunan!"

Mendengar kata-kata "Siau Hian Cu"

Ingatan Kaisar Kong Hi kembali pada masamasa mereka sering berlatih gulat bersama, Dia menarik nafas panjang dan berkata.

"Selama ini, sungguh pandai kau mengelabui aku!"

Siau Po segera menundukkan kepalanya sampai mencapai tanah.

"Meskipun tubuh hamba terikat dalam perkumpulan Thian Tee hwe, tapi hati hamba sungguh-sungguh berpihak kepada Sri Baginda, Selama ini hamba tidak pernah melakukan hal apapun yang bisa mencelakai diri Sri Baginda,"

Sahutnya cepat.

"Kalau kau mempunyai sedikit saja niat yang kurang baik dalam hati, kau kira kau masih bisa hidup sampai hari ini?"

Kata Kaisar Kong Hi dengan termangu-mangu. Siau Po dapat mendengar nada bicaranya yang mulai melunak, cepat-cepat dia menyembah lagi.

"Sri Baginda adalah Niau Seng Hi Tong, kecerdasannya melebihi Cu Kek Liang, hamba boleh diibaratkan kesetiaannya dengan Kwan In Tiong (Kwan Kong)."

Hati Kong Hi terasa pilu.

-Maknya!

Mana bisa dibandingkan dengan Cu Kek Liang serta Kwan In Tiong?

Meskipun berpikir demikian, dia tidak mau memberikan tanggapan apa-apa, Kong Hi sadar, kalau saja sikapnya terhadap Siau Po melunak saat ini, bocah ini pasti ngelunjak, untuk selanjutnya pasti sulit lagi mengendalikannya.

Karena itu dia membentak dengan suara keras.

"Cepat jelaskan semuanya satu per satu! Kalau ada sepatah kata saja kau mengucapkan kebohongan, aku akan menyuruh orang mencincang tubuhmu seperti daging anjing!"

Ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir, tanpa dapat dipertahankan lagi, ujung bibirnya mengembangkan sedikit senyuman.

Siau Po sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tentu saja dia tidak dapat melihat mimik wajah Kong Hi.

Namun mendengar nada suaranya yang keras, cepatcepat dia membenturkan kepalanya di atas lantai dan menjawab.

"Baik, baik, Sri Baginda telah mengetahui segalanya, mana mungkin hamba berani berbohong?"

Siau Po segera menceritakan kisahnya mulai dari hari kepergiannya ke rumah Kong Cin ong untuk membunuh Go Pay lalu dia diringkus oleh orang-orang Thian Tee Hwe, kemudian bagaimana dia diangkat sebagai murid oleh Tan Kin Lam dan dipaksa mereka menjadi hiocu Thian Tee Hwe.

Semuanya diceritakan dengan jelas.

Akhirnya dia juga mengungkapkan kisah pertemuannya dengan ketiga orang dari keluarga Kui dan bagaimana dia kalah dalam pertaruhan main dadu sehingga harus menjelaskan keadaan dalam istana, sekaligus diungkapkannya kesulitan yang ditemuinya ketika berusaha mengirimkan surat rahasia kepada Kaisar Kong Hi.

Juga tentang dirinya yang diringkus oleh Kui Ji Nio dan bagaimana dia terpaksa memberi petunjuk kepada ketiga pembunuh gelap itu untuk menyerang tandu selir Cin demi menyelamatkan jiwa kaisarnya, Hanya mengenai kitab Si Cap Ji Cin Keng yang dicurinya, tidak dibocorkan sepatah kata pun, ceritanya sungguh panjang, dan lebih banyak benarnya daripada bohongnya, Boleh dibilang, selama hidup ini, baru pertama kali inilah dia bersikap cukup jujur.

Berulang kali Kaisar Kong Hi menyela ceritanya dengan menanyakan tentang perkumpulan Thian Tee Hwe, Siau Po juga menjawabnya dengan terus terang.

Akhirnya Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Lima orang terbagi dalam sebuah sanjak, siapa jati diri tidak ada orang yang tahu,"

Katanya. --Sri Baginda bahkan mengetahui kata sandi itu, tanda pengenal perkumpulan kami, -Pikir Siau Po dalam hati. Maka dia pun segera melanjutkan ucapan raja cilik itu.

"Dari sini disebarkan kepada saudara sekalian, agar dapat saling mengetahui di kemudian hari."

"Begitu masuk pintu, persaudaraan pun terjalin Menghadapi hari esok yang terang bersumpah akan bersungguh hati,"

Lanjut Kaisar Kong Hi.

Kalau menurut peraturan dalam Thian Tee Hwe, begitu selesai membaca kata sandi itu, masing-masing orang harus menyebutkan nama, dari bagian mana serta apa kedudukannya dalam perkumpulan tersebut Tapi Kaisar Kong Hi hanya tersenyum simpul Sedangkan Siau Po merasa senang sekali.

"Rupanya Sri Baginda juga anggota perkumpulan kami? Entah Sri Baginda dari bagian yang mana? Berapa batang hiokah yang dipasang?"

Bicara sampai di sini, Siau Po baru menyadari kebodohannya sendiri Kong Hi adalah seorang kaisar Bangsa Tatcu, mana mungkin ada niat membangkitkan kembali kerajaan Beng?

"Pukul mulutmu ang lancang!

Pukul mulutmu yang lancang!"

Serunya sembari menampar mulutnya sendiri perlahan-lahan. Kaisar Kong Hi berdiri Di atas undakan tangga batu, dia berjalan mondar-mandir.

"Kedudukan yang kau jabat sekarang ini merupakan kedudukan Bangsa Boan kami, nasi yang kau makan juga berasal dari Bangsa Boan kami, tapi rupanya hatimu setiap saat justru memikirkan bagaimana caranya membangkitkan kembali kerajaan Beng. Kalau tidak mengingat jasa-jasa yang telah kau dirikan, biar batok kepalamu ada seratus, dipenggal semuanya juga masih belum cukup menebus dosamu!"

Kata Kaisar Kong Hi.

"Betul, betul!"

Sahut Siau Po.

"Jiwa Sri Baginda memang lapang sekali sehingga batok kepala hamba dapat dipertahankan sampai hari ini. Hamba akan mengundurkan diri dari perkumpulan secepatnya, Biar bagaimana pun, hamba tidak sudi lagi menjadi hiocu Thian Tee Hwe, MuIai sekarang tidak ada lagi istilah merobohkan Ceng membangkitkan Beng, khusus menjatuhkan Beng membangun kerajaan Ceng!"

Diam-diam Kaisar Kong Hi merasa geli. --Kerajaan Ceng kami yang besar toh belum runtuh, mengapa harus dibangkitkan? Dasar tukang mengoceh yang tidak-tidak! --katanya dengan suara keras.

"Betul, betul! Hamba mendoakan kerajaan kita akan berjaya sampai laksaan tahun, pokoknya apabila Sri Baginda menyuruh hamba membangkitkan apa saja atau meruntuhkan apa pun, hamba tidak akan menolaknya,"

Sahut Siau Po.

"Bagus!"

Kata Kaisar Kong Hi sepatah demi sepatah dengan suara dalam.

"Aku ingin kau memberontak dan meruntuhkan perkumpulan Thian Tee hwe."

"Baik, baik!"

Sahut Siau Po. Diam-diam dia mengeluh dalam hati, Tanpa terasa mimik wajahnya menunjukkan perasaan serba salah.

"Mulutmu memang manis sekali, Sedikit-sedikit kau menyatakan kesetiaanmu terhadapku, tapi benar atau tidaknya, siapa yang tahu?"

Kata Kaisar Kong Hi.

"Seratus persen benar!"

Sahut Siau Po.

"Boleh disamakan dengan emas murni!"

"Diam-diam aku sudah menyeIidikmu. Untung saja selama ini kau belum pernah mengambil tindakan yang merugikan diriku, sebaiknya kau dengar anjuranku, basmilah perkumpulan Thian Tee Hwe, babat habis sampai ke akar-akarnya! Bunuh bersih semua anggotanya! Dengan demikian kau telah menebus kesalahanmu sebagai matamata di kerajaan ini. Kemungkinan aku malah bisa menaikkan pangkatmu dan memberikan berbagai hadiah kepadamu. Tapi, apabila kau masih berlaku licik serta mencari keuntungan di sana-sini, hm... hm... jangan kira aku tidak sanggup membunuh seorang Wi hiocu dari Thian Tee Hwe!"

Begitu terkejutnya hati Siau Po sampai keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

"Betul, betul.... Apabila Sri Baginda ingin membunuh hamba, mudahnya seperti menginjak seekor semut. Tapi, tapi Sri Bagindakan Niau Seng Hi Tong, tidak mungkin membunuh menterinya yang setia." "Memangnya kau menteri yang setia? Kau pantas disebut menteri licik yang tidak tahu malu!"

Bentak Kaisar Kong Hi.

"Sri Baginda cerdas sekali, Hamba memang telah mengelabui Sri Baginda, Ada beberapa urusan yang tidak hamba katakan dengan jujur Tapi hamba sama sekali bukan menteri licik atau tidak tahu malu,"

Sahut Siau Po.

"Baiklah. Mungkin kau bukan menteri yang licik, Namun bagaimana pun, kau seorang bocah yang mata keranjang!"

Kata Kaisar Kong Hi. Mendengar kata-kata si raja cilik, Siau Po dapat mendengar nadanya yang mulai melunak, maka hatinya merasa agak Iega.

"Mata keranjang kan tidak apa-apa, yang penting bisa mendirikan jasa demi Sri Baginda,"

Sahutnya. Kaisar Kong Hi mengembangkan seutas senyuman tipis.

"Huh! Kau memang selalu memuji-muji diri sendiri sebagai orang baik, Begini saja, sekarang kau pimpin sepasukan tentara untuk membasmi Thian Tee Hwe, Bhok onghu dan ketiga orang dari keluarga Kui itu! Bawa batok kepala semua orang itu ke mari! Pokoknya, kalau ada satu orang saja yang sampai lolos, aku akan menyuruh orang untuk mengutungkan sebelah lenganmu, Kalau empat orang yang lolos, aku akan mengutungkan kedua lengan dan kedua kakimu. Coba kau pikir sendiri, seandainya lima orang saja yang lolos, entah apamu lagi yang harus dikutungkan?"

Siau Po menunjukkan wajah yang murung.

"Ini... ini.... Mungkin hamba harus menjadi thay-kam yang sebenarnya."

Tanpa tertahan lagi, Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Maknya! Memang kau paling mengkalkulasikan untung rugi dirimu sendiri!"

Makinya.

"Kalau Sri Baginda mengutungkan kedua kaki dan tanganku ini, hamba toh sembilan puluh persen tidak dapat hidup lagi, Dtkutungkan atau tidaknya batang leher hamba ini tidak ada bedanya lagi,"

Sahut Siau Po sembari berkata dalam hati, --Tentang Bhok onghu saja sudah diketahuinya, sumber beritanya benar-benar hebat -Kaisar Kong Hi mengulurkan tangannya ke dalam saku, Dikeluarkannya sehelai kertas lalu dibacanya dengan suara lantang.

"Cong tocu dari perkumpulan Thian Tee Hwe ialah Tan Kin Lam. Hiocu dari Ceng Bok Tong bernama Wi Siau Po. Di bawah pimpinan Wi hiocu ada anggota-anggota yang bernama Ci Thian Coan, Hian Ceng tojin, Cian Lao pan, Kho Gan Ciau, Hong Ci Tiong dan lain-lain, sedangkan tokoh-tokoh dari Bhok onghu terdiri dari Bhok Kiam Seng, Liu Tay Hong, Gouw Lip Sin dan lain-lain, Ketiga pembunuh gelap yang menyelinap ke dalam istana terdiri dari Kui Heng Su, istrinya Kui Ji Nio dan putranya Kui Tiong, Satu, dua tiga, empat, lima, enam, semuanya ada empat puluh tiga orang, Kalau dikurangi namamu, jumlahnya masih ada empat puluh dua orang,"

Katanya. Siau Po segera menjatuhkan diri untuk berlutut dan menyembah sebanyak dua kali.

"Sri Baginda, meskipun orang-orang ini mempunyai niat untuk menghancurkan kerajaan kita, serta membangkitkan kerajaan Beng, tapi baik usahanya untuk memberontak maupun membangun kembali kerajaan lama toh tidak terwujud, Biarlah hamba bicara dengan mereka bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang dapat mengelabui Sri Baginda, Pernah Sri Baginda mengatakan bahwa kerajaan Ceng kita yang besar akan berjaya selama laksaan tahun, apa yang dikatakan beliau pasti tidak salah, Lebih baik mereka memadamkan impian kosong itu dan membubarkan perkumpulan mereka saja."

Kaisar Kong Hi menepuk meja keras-keras, kemudian berkata dengan nada tajam.

"Rupanya kau sendiri rela mengorbankan nyawamu dan tetap tidak bersedia menangkap para pemberontak itu, bukan?"

Siau Po berpikir dalam hati.

--Bagi orang yang berkecimpung dalam dunia kangouw, yang penting adalah kegagahan Apabila aku menangkap suhu dan saudara-saudara yang lainnya, Sri Baginda pasti akan memenggal kepala mereka.

Dengan demikian, aku telah menjual atau mengkhianati sahabatku sendiri.

Aku tidak ubahnya dengan Gouw Sam Kui!

Aih, Siau Po, Siau Po!

Waktu itu mengapa kau tidak menyamar menjadi orang lain, tapi justru menyamar sebagai Siau Kui Cu?

Bagian 80 Siau Kui Cu, Siau Kui Cu, bukankah sama saja anak si Gouw Sam Kui?

Lebih baik jabatan ini kulepas saja dan segera mencari jalan untuk memberitahukan hal ini kepada suhu sekalian agar mereka dapat menggelinding jauh-jauh!

-Kaisar Kong Hi melihat Siau Po tidak memberikan jawaban, hatinya semakin gusar.

"Bagaimana? Apakah kau tidak sadar bahwa kau sendiri telah melakukan kesalahan besar? Bukankah aku sudah memberi kesempatan kepadamu untuk memulai semuanya dari awal dan menyuruhmu agar menebus kesalahanmu dengan mendirikan jasa tapi kau masih berharap untuk mengadakan penawaran denganku?"

Bentaknya dengan suara bengis.

"Sri Baginda, mereka ingin mencelakai engkau, Hamba mempertaruhkan nyawa untuk mencegah mereka, Biar bagaimana hamba masih mementingkan Sri Baginda, ini namanya solider, sekarang Sri Baginda meminta hamba menangkap mereka. Keadaan hamba benar-benar terjepit di tengah-tengah, SuIit rasanya jadi orang yang baik, maka terpaksa hamba meminta pertimbangan Sri Baginda dan memohon rasa solider dari Sri Baginda,"

Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi marah sekali.

"Hatimu berpihak kepada para pemberontak Kau tidak sudi menuruti apa yang kukatakan. Dengan demikian, tidak ubahnya kau tidak menghormati aku. Buat apa aku bicara soal solider denganmu?"

Kong Hi mengatur pernafasannya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali kata-katanya.

"Kau pernah menyelamatkan jiwaku, pernah menyelamatkan hu ong bahkan menyelamatkan Thay hou. Hari ini, apabila aku membunuhmu begitu saja, tentu hatimu merasa tidak puas, Pasti kau akan mengatakan bahwa aku kurang solider terhadapmu, bukan?"

Sampai detik ini, Siau Po terpaksa mengeraskan hatinya dengan berkata.

"Betul, dulu Sri Baginda pernah mengatakan, seandainya hamba berbuat kesalahan Sri Baginda akan mengampuni jiwa hamba. Ucapan yang keluar dari mulut seorang kaisar ibarat emas murni, Apa yang sudah diucapkan tidak bisa diingkari lagi,"

Sahutnya.

"Bagus, rupanya sejak awal kau sudah memperhitungkan segalanya, Kau sudah menanamkan menterimu yang terkuat di arena percaturan kita, Hm! Kau benar-benar culas!"

Kata Kaisar Kong Hi.

Siau Po tidak tahu apa artinya "culas", tapi dia dapat memastikan bahwa artinya pasti bukan pujian.

Sejak mengenal si raja cilik sampai sekarang ini, Siau Po tidak pernah melihatnya dalam keadaan demikian gusar.

-Tampaknya batok kepalaku ini seakan sudah terpenggal setengahnya, Aku toh tahu sifat si raja cilik, percuma mengemis kepadanya, Lebih baik membahas kebenaran serta mencari alasan yang tepat.

--pikirnya dalam hati.

Karena itu dia berkata.

"Hamba pernah menyembah Sri Baginda sebagai guru, Sri Baginda sendiri sudah menyetujuinya, sedangkan Tan Kin Lam juga guru hamba. Kalau hamba berniat mencelakai Sri Baginda, hambalah si murid murtad, seandainya hamba mencelakai guru yang satu itu, hamba juga pantas disebut murid murtad, Lagipula.... Lagipula... kalau Sri Baginda memenggal kepala hamba, tentunya mudah dan bisa saja, Tapi apabila seorang guru memenggal kepala muridnya sendiri, rasanya sejak dulu kok belum pernah terdengar..."

Diam-diam Kaisar Kong Hi berpikir -Urusan mengangkatnya sebagai murid, memang aku pernah menjanjikannya, Anak ini terlalu dimanja selama ini sehingga kepalanya jadi besar.

Berani-beraninya dia membandingkan aku dengan kepala pemberontak dari Thian Tee Hwe!

Benar-benar gila!

-Baru dia berpikir sampai di sini, tiba-tiba sayupsayup terdengar suara bentakan dan benturan senjata berbunyi Trang!

Ting!

Trang!

Ting!

dari kejauhan.

Siau Po langsung melonjak bangun.

"Tampaknya ada pembunuh gelap lagi, Suhu, Harap kau duduk diam-diam, biar muridmu yang menghalangi di depan!"

Katanya, Kaisar Kong Hi mendengus satu kali, --Biarpun bocah ini banyak tipu muslihatnya, tapi kesetiaannya terhadapku memang tidak bisa diragukan! --katanya dalam hati.

"Mulai sekarang kau tidak boleh memanggil aku suhu lagi, Kau tidak mematuhi peraturan partai ini, karenanya kau sudah kupecat sebagai murid!"

Ketika mengatakan ini, diam-diam kaisar Kong Hi merasa geli sendiri, Terdengar suara langkah kaki yang riuh, beberapa orang telah menghambur ke depan ruangan pendopo tersebut dan berhenti di sana.

Siau Po sendiri segera berlari menuju pintu dan memasangkan palangnya dengan benar Urusan ini menyangkut keselamatan jiwa, maka gerakannya be-nar-benar cepat Dia tidak berani lamban sedikit pun.

"Siapa?"

Bentaknya. Dari luar pintu terdengar suara sahutan.

"Lapor Sri Baginda! Di dalam istana telah kedatangan tiga orang pembunuh gelap, sekarang mereka sudah dikepung rapat oleh para siwi, sebentar lagi pasti bisa diatasi." -Ternyata ketiga orang dari keluarga Kui itu tidak sanggup meloloskan diri juga! pikir Siau Po dalam hati.

"Sri Baginda sudah tahu. Segera tambah seratus siwi untuk menjaga di depan pendopo Yang Sim Tian. Di atas genteng juga harus ada tiga puluh orang siwi yang menjaga!"

Sahut Siau Po.

Para siwi yang menjaga di depan pintu segera mengiakan dan melaksanakan perintahnya.

--pikirannya benar-benar panjang, Tempo hari ketika menemui bahaya di Ngo Tay San, si rahib wanita berbaju putih justru masuk dari atap rumah.

Saat itu benar-benar tidak ada persiapan sama sekali.

Untung saja bocah ini menghadang di depanku dengan menerima satu kali tikaman pedangnya dan tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya sendiri.-pikir Kaisar Kong Hi.

Sejenak kemudian, suara benturan senjata sudah mulai berkurang, tapi hanya berlangsung sesaat, sebab suara jeritan manusia dan benturan senjata malah semakin gencar Kaisar Kong Hi mengerutkan keningnya.

"Baru tiga orang pembunuh gelap saja tidak sanggup diringkus! Bagaimana kalau yang datang tiga ratus atau tiga ribu orang pembunuh gelap?"

Gerutunya kesal.

"Sri Baginda jangan gusar! Orang yang ilmunya setinggi Kui Heng Su bertiga, jumlahnya tidak banyak, Di dalam dunia mungkin tidak lebih dari lima orang,"

Sahut Siau Po.

Sesaat kemudian, terdengar suara bentakan yang halus diiringi dengan langkah kaki sejumlah manusia, Rupanya para Wie Su dan Sie Wie sudah mengelilingi seluruh pendopo tersebut.

Dan sejumlah penjaga lainnya mendekam di sekeliling atap pendopo itu.

Tidak ada satu pun yang berani berdiri di tengah-tengah genteng, Karena mereka tahu kaisar mereka sedang berada di dalam, apabila berdiri di tengah-tengah genteng dapat dianggap tidak sopan sebab sama saja berdiri di atas kepala kaisarnya.

Kaisar Kong Hi tahu di sekitar pendopo itu paling tidak sudah dijaga ketat oleh sekurangnya lima ratusan tentara, penjagaan yang demikian ketat tentu tidak mudah diterobos, karenanya dia juga tidak begitu mengkhawatirkan ketiga pembunuh gelap itu Iagi.

"Coba kau lihat, apa ini?"

Katanya sembari mengeluarkan lagi sehelai kertas lalu dibentangkannya di atas meja.

Siau Po berjalan mendekati Rupanya gambar sebuah peta, Di tengah-tengahnya terdapat gambar sebuah gedung besar, depannya ada dua buah patung singa yang bertengger di bagian kiri dan kanan.

Kalau dilihat sekilas, mirip gedung tempat tinggalnya.

Di sekitar gedung besar itu berjajar belasan meriam besar, Moncongnya tertuju ke arah gedung itu.

Ketika dia memperhatikan dengan seksama, rasanya semakin mirip gedung tempat tinggalnya.

"Apakah kau mengenali gedung besar ini?"

Tanya Kaisar Kong Hi.

"Rasanya mirip dengan kandang anjing tempat tinggal hamba,"

Sahut Siau Po.

"Bagus kalau kau mengenalinya,"

Kata Kaisar Kong Hi yang kemudian menunjuk kepada empat huruf besar yang tergantung di depan pintu gedung.

"Tentunya kau juga tahu tulisan Tiong Yong Pak Hu ini,bukan?"

Siau Po mendengar bahwa yang terlihat dalam gambar itu memang rumahnya, hatinya terkejut setengah mati, Keringat dingin langsung saja membasahi sekujur tubuhnya.

Kalau ditilik dari gambar itu, sekitar rumahnya telah disediakan belasan meriam besar, Tampaknya urusan ini mulai gawat.

Dia pernah melihat kedua orang asing meledakkan sebuah meriam, suaranya seperti letusan gunung ber-api, asap mengepul sampai tinggi dan bebatuan yang terkena sasaran jadi hancur tidak karuan.

Benar-benar dahsyat sekali!

Meskipun dia mengenakan seratus helai baju mustika, tetap saja tubuhnya akan berubah menjadi daging cincang dalam sekejap mata, Membayangkan hebatnya meriam itu saja, tubuh Siau Po sudah menggigil.

Perlahan-Iahan Kaisar Kong Hi berkata kembali.

"Malam ini, orang-orang dari perkumpulan Thian Te hwe, orang-orang dari Bhok onghu di Inlam, ketiga pembunuh gelap dari keluarga Kui, Hoa San Pai serta kepala pemberontak dari Ong Ok San dan sekalian kaki tangannya akan berkumpul di rumahmu.

Pada saat ini, kedua belas meriamku itu sudah diletakkan di sekitar rumahmu, Tentu saja semuanya sudah terisi Asal penutupnya dibuka, moncongnya diarahkan dengan tepat dan Blam!

Rasanya tidak ada seorang pun yang selamat Taruh kata, ada yang tidak mati oleh ledakan, mereka juga tidak mungkin meloloskan diri, puluhan pasukan berkuda yang bersiap sedia di depan rumahmu itu, pasti bukan hanya tahu mengisi perut saja.

Tentunya tadi kau sudah bertemu dengan pemimpin pasukan terdepan, bukan?

Sekarang dia sedang menyiapkan pasukannya, Selama ini, para tentara garis depan yang dipimpinnya kurang akur dengan kau, bukan?

Mungkinkah mereka mau melepaskan kau begitu saja?"

"Semuanya sudah diketahui oleh Sri Baginda,"

Ujar Siau Po dengan suara bergetar "Sekarang Sri Baginda bersedia berkata terus terang, sama artinya telah mengampuni selembar nyawa hamba, Kalau dulu hamba mempunyai sedikit jasa, maka hari ini sudah dibayar impas oleh Sri Baginda, tidak tersisa sedikit pun juga."

Kaisar Kong Hi mengembangkan seulas senyuman.

"Bagus kalau kau mengerti. ibarat kita bermain kartu, permulaan kau sudah memenangkan uang yang cukup banyak, tapi di tengah-tengah kau kalah sampai ludes oleh aku. Apa yang pernah kau menangkan pertamanya seperti dimuntahkan sekaligus. Sejak ini kedudukan kita seri. Kalau kita masih mau main, maka kita harus mulai dari awal lagi."

Siau Po menghembuskan nafas panjang.

"Terima kasih atas kasih sayang Sri Baginda! Mulai sekarang hamba hanya memusatkan perhatian untuk bekerja bagi Sri Baginda, jangan kata baru Thian Tee Hwe, meskipun hiocu dari Thian Kiu Hwe sekalipun, hamba tidak akan menjabatnya lagi."

Meskipun mulutnya berkata demikian tapi diam-diam hatinya merasa cemas, --Suhu dan saudara-saudara yang lainnya sudah berjanji untuk bertemu di tempatku malam ini.

Entah dengan cara apa aku dapat mencegah kepergian mereka, --Lalu dia berkata lagi.

"Sri Baginda menyuruh hamba meringkus rombongan para pemberontak itu, padahal sebelumnya Sri Baginda sudah mengadakan persiapan yang matang, Hamba benarbenar seperti "

Katak yang entah di dalam apa". Tiba-tiba terdengar seruan dari depan pintu.

"Lapor Sri Baginda! Para penyerang gelap sudah tertangkap!"

Wajah Kaisar Kong Hi langsung berubah berseri-seri.

"Bawa masuk!"

Serunya.

"Baik!"

Sahut Siau Po yang segera membalikkan tubuhnya dan membuka palang pintu. Puluhan Wie Su menggiring ketiga orang dari keluarga Kui masuk ke dalam ruangan pendopo.

"Menghadap Sri Baginda, berlutut!"

Seru mereka serentak sambil menjatuhkan diri berlutut di atas lantai.

Tubuh Kui Heng Su, Kui Ji Nio maupun Kui Tiong penuh dengan bercak darah, Terlihat luka di sana-sini, tapi mereka tetap berdiri dengan tegak.

Ketiga orang itu terikat oleh tali yang kuat, Beberapa siwi mencekal tangan mereka dengan keras.

Pemimpin wisu itu berteriak sekali lagi.

"Berlutut! Berlutut!"

Namun ketiga orang dari keluarga Kui itu tidak menggubrisnya, Terdengar suara tik!

tik!

Tikl di atas lantai Darah yang mengalir dari ketiga orang keluarga Kui serta sebagian para wisu yang terluka masih terus menetes jatuh, Kui Ji Nio menatap Siau Po dengan mata mendelik marah.

"Pengkhianat cilik! Kau... kau memang busuk!"

Teriaknya.

Melihat keadaan ketiga orang itu yang demikian mengenaskan hati Siau Po terasa sedih juga, Karena itu dia membiarkan dirinya dimaki-maki oleh si nenek tua itu, tidak seperti biasanya, mulutnya tidak menyahut sepatah kata pun.

Kong Hi menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Sin Cian Bu Tek Kui Heng Su, ternyata hanya seorang kakek tua yang demikian mengenaskan!

Berapa jumlah orang kita yang terluka atau mati?"

"Para penjahat ini benar-benar telengas, Dari para wisu yang ikut bergerak hari ini, yang mati berjumlah tiga puluh orang lebih, sedangkan yang terluka tidak kurang dari empat puluh orang,"

Sahut pemimpin pasukan itu.

Kaisar Kong Hi mendengus dingin, Dia mengibas-ngibaskan tangannya.

Dalam hati dia justeru memuji kehebatan ketiga pembunuh gelap tersebut.

Pemimpin pasukan itu menyuruh anak buahnya menggiring ketiga penyerang gelap itu ke luar.

Tiba-tiba Kui Heng Su menggeram kuat-kuat, mengerahkan tenaga dalamnya.

Lengan kanannya menyikut salah seorang wisu yang mencekalnya sehingga orang itu menjerit kesakitan Tubuhnya terpental ke belakang, kepalanya tepat membentur tembok dan pecah seketika, jangan ditanyakan lagi soal nyawanya.

Sementara itu, tangan Kui Heng Su dengan gerakan cepat mencengkeram tali yang mengikat tubuh Kui Tong.

Sekali lagi dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk membetot tali tersebut sehingga putus seketika.

Lalu dia menarik tubuh si laki-laki penyakitan itu.

"Anakku, lekas lari! Ayah dan ibu akan menyusul sebentar lagi!"

Katanya.

Tanpa menunda waktu lagi dia melemparkan tubuh anaknya, Dalam sekajap mata Kui Tiong sudah terbang melayang melalui pintu pendopo tersebut.

Dalam waktu yang bersamaan, Kui Heng Su dan istrinya menerjang ke depan untuk menyerang Kaisar Kong Hi.

Siau Po yang melihat perubahan itu, merasa terkejut sekali, Tanpa berpikir panjang dia menghambur ke depan dan memeluk tubuh Kaisar Kong Hi, keduanya menggelinding ke kolong meja, punggungnya sendiri menghadap ke luar untuk melindungi si raja cilik, Terdengar suara plak, plak dua kali, Beberapa orang wisu menerjang ke depan untuk mengangkat Siau Po serta Kaisar Kong Hi.

Ketika pandangan matanya terpusat pada pasangan suami istri Kui Heng Su, tampak kedua orang itu sudah rebah di antara genangan darah, Tampaknya nyawa mereka pun sudah melayang.

Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Kui Heng Su telah membunuh serta melukai puluhan wisu, Dirinya sendiri sudah terluka parah, Tapi dia masih mengerahkan tenaganya untuk melepaskan tali yang membelenggu tubuh anaknya serta melemparkannya ke luar.

Baik dirinya maupun diri istrinya masih terikat oleh tali, Mereka tidak mempunyai tenaga lagi untuk melepaskan tali yang membelenggu mereka sendiri.

Mana lagi mereka mengerahkan sisa tenaga untuk menerjang kepada Kaisar Kong Hi.

Tapi sayangnya tenaga mereka sudah terkuras habis.

Keadaan mereka ibarat lampu yang kehabisan minyak, Dalam keadaan masih melayang di tengah udara, mereka terpaksa menerima belasan tikaman pedang para wisu.

Darah pun berhamburan ke mana-mana, tubuh mereka tertumpas di atas tanah lalu tidak berkutik lagi.

Perasaan Kaisar Kong Hi yang terkejut sudah dapat ditenangkan kembali Sembari mengerutkan keningnya dia membentak.

"Seret ke luar! Seret ke luar!"

Beberapa wisu segera mengiakan Baru saja mereka hendak menggotong kedua mayat itu, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat di depan pintu, seseorang menerjang masuk, Gerakan tubuhnya sungguh cepat, Dia langsung menubruk mayat Kui Heng Su dan Kui Ji Nio.

"Mak! Bapak!"

Teriaknya.

Ternyata dialah Kui Tiong.

Beberapa orang wisu mengayunkan golok serta pedang mereka.

Kui Tiong tidak menghindar sama sekali.

Belasan senjata tajam menghunjam tubuhnya, Terdengar dia berkata dengan nafas tersengal-sengal.

"Mak! Bapak! Mengapa kalian tidak menemani aku? Tanpa kalian aku tidak tahu jalan...."

Terdengar suara batuknya sebanyak dua kali, kemudian tubuhnya pun bergetar sekali.

Kepalanya menunduk, jiwanya telah melayang menyusul kedua orang tuanya.

Selama hidupnya, Kui Tiong tidak pernah terpisah sedikit pun dari kedua orang tuanya, Urusan apa pun selalu diselesaikan oleh ayah dan ibunya, Dari mengganti pakaian sampai makan pun masih diurus kedua orang itu.

Tiba-tiba tadi dia disuruh meninggalkan kedua orang tuanya, Tentu saja hati Kui Tiong jadi bingung, Meskipun dia sudah berhasil meloloskan diri dari pendopo Yang Sim Tian, tapi akhirnya dia toh kembali lagi untuk menemani kedua orang tuanya.

Congkoan para siwi, yakni To Lung menghambur masuk ke dalam pendopo, Sembari berlutut dia berkata.

"Lapor Sri Baginda, para pembunuh gelap... sudah berhasil dibasmi."

Tiba-tiba dia melihat darah berceceran di mana-mana, rasa takutnya timbul seketika, Cepat-cepat dia menyembah dan melanjutkan kembali "Para pembunuh gelap itu telah mengejutkan Sri Baginda, Hamba patut mendapat hukuman mati!"

Barusan Kaisar Kong Hi ditomplok oleh Siau Po sehingga menggelinding ke kolong meja.

sebetulnya peristiwa itu merendahkan derajatnya dan membuatnya malu.

Namun bagaimana pun Siau Po telah menempuh bahaya besar untuk melindunginya.

Kesetiaannya memang tidak perlu diragukan lagi, Maka dia berkata kepada To Lung.

"Di luar ada orang yang ingin mencelakai Siau Po, kau harus melindunginya baikbaik. Tidak boleh berpisah darinya satu jengkal pun. Terlebih-lebih tidak boleh mengijinkan dia keluar dari istana ini. Besok lagi, kau kembali lagi untuk mendengar keputusanku!"

"Baik! Hamba akan melindunginya sekuat tenaga,"

Sahut To Lung cepat.

Diam-diam Siau Po mengeluh.

--Malam ini si raja cilik ingin menembakkan meriam kepada orang-orang kami.

Dia takut aku memberikan laporan terlebih dahulu sehingga para anggota Thian Te Hwee sudah mengadakan persiapan Karena itulah dia menyuruh To Lung menjagaku, pikirnya.

Kaisar Kong Hi berjalan menuju pintu pendopo, Hatinya berpikir --Bocah ini licik serta banyak akal muslihatnya.

Kemungkinan orang kaisar seperti To Lung bukan tandingannya.

-Dia segera menolehkan kepalanya seraya berkata.

"To Lung, kau harus menyuruh anak buahmu untuk menjaga Siau Po baik-baik. jangan biarkan dia berbicara dengan siapa pun atau pun menyuruh orang membawa apa-apa ke luar istana, Pokoknya keadaan sedang gawat, anggap saja dia seorang pemberontak yang harus diawasi."

"Baik! Budi Sri Baginda terhadap bawahannya besar sekali,"

Sahut To Lung, Dia mengira Kaisar Kong Hi demikian sayangnya kepada Siau Po sehingga tidak bersedia membiarkan para pembunuh gelap dari luar mencelakai bocah itu.

"Budi Sri Baginda memang besar sekali. Biarpun seluruh tubuh hamba hancur lebur, kemungkinan sulit membalasnya,"

Kata Siau Po.

Dia sadar bahwa kaisar Kong Hi berkata demikian, ialah demi menjaga gengsinya, Mungkin dia masih ingin memanfaatkan dirinya di kemudian hari.

Kaisar Kong Hi mengembangkan seulas senyuman tipis.

"Kali ini engkau menang lagi, Besok kita mulai dengan permainan baru, Ingat, mangkok emasmu itu harus dijaga baik-baik. jangan sampai pecah"

Katanya, Dia pun meneruskan langkah kakinya.

Ucapannya yang belakangan, tentu hanya Siau Po sendiri yang mengerti.

Barusan dia melindungi Kaisar Kong Hi, artinya dia telah mendirikan jasa lagi.

Malam ini, setelah guru dan saudara-saudara lainnya dari Thian Te Hwee terbunuh, tenaganya akan dipekerjakan lagi, Di atas mangkok emasnya terukir empat huruf, yakni "Kong Tiong Te Kok" (Setia terhadap negara dengan segenap jiwa raga).

Kong Hi ingin dia setia terhadapnya dengan tulus, hatinya tidak boleh bercabang dua.

Siau Po membayangkan tubuh gurunya serta saudaranya yang lain hancur lebur oleh ledakan meriam, meskipun kelak pangkatnya akan bertambah tinggi, mungkinkah dia hidup dengan damai?

--Apabila seseorang tidak membela kepentingan teman atau pun kaumnya, bukankah pantas disebut si raja telur busuk atau anak si kura-kura?

--pikirnya.

Kemudian dia merenung, -Sumber berita Sri Baginda hebat sekali Entah kura-kura mana yang menjadi mata-matanya?

Pagi ini ketika pertama-tama bertemu dengan si raja cilik, sikapnya baik sekali, Dia malah mengatakan bahwa suatu hari dia akan mengutus aku menempur Gouw Sam Kui, kemudian mengangkat aku menjadi Peng Si Ong.

Pada saat itu si raja cilik pasti belum mengetahui urusan Wi hiocu dari Thian Te Hwee.

Dia mendapat berita ketika aku menggiring si moler tua ke istana Cu Leng Kiong, Entah anjing mana yang memberitahukannya?

Hm!

Kemungkinan orang dari Bhok onghu, Kalau tidak salah seorang kaki tangan Suto Peng dari Ong Ok San.

Kalau bukan, mengapa urusan aku mencuri kitab Si Cap Ji Cin Keng serta urusan aku menjadi Pek Liong Su di dalam partai Sin Liong Kau kok tidak diketahui oleh si raja cilik?

-To Lung melihat wajah Siau Po yang bermuram durja.

semangatnya seakan menguap entah ke mana, Dia segera tersenyum dan berkata.

"Saudara Wi, Sri Baginda demikian menyayanginya. Entah di kehidupan yang lalu, berapa banyak kebaikan yang telah kau perbuat? Di dalam istana ini terdapat sekian banyaknya menteri, pembesar tinggi bahkan masih ada sanak jauhnya, tapi Sri Baginda belum pernah menyuruh sejumlah wisu atau siwi untuk memberikan perlindungan kepada mereka. Banyak orang yang mengatakan, belum mencapai umur dua puluh nanti, saudara Wi pasti sudah diangkat menjadi raja muda, Tampaknya ucapan ini ada benarnya, Kau tidak perlu khawatir Asal kau tidak meninggalkan istana, meskipun jumlah pembunuh gelap itu ada ratusan orang, mereka pasti tidak bisa menyentuh seujung rambutmu!"

Siau Po hanya bisa tertawa getir.

"Budi besar Sri Baginda, tingginya seperti langit, tebalnya ibarat bumi, Kita yang mengabdi kepadanya hanya dapat membalas budi beliau dengan kesetiaan penuh,"

Sahutnya.

Dia melihat sekelilingnya penuh dengan para penjaga, Tampaknya bukan hal yang mudah bila dia ingin memberikan laporan kepada pihak Thian Te Hwee.

Dalam hati dia berpikir.

-Raja muda apaan?

Lohu tidak memikirkannya Iagi.

Lebih baik pantatku ditendang oleh si raja cilik sambil dia membentak.

"Menggelindinglah jauh-jauh dari sini, mulai sekarang aku tidak mau melihat mukamu lagi!" , perlindungan seperti ini benar-benar meminta jiwa lohu! -"Saudara Wi, Sri Baginda berpesan bahwa kau tidak boleh ke mana-mana. Menurutmu, apakah sebaiknya kita pergi ke tempat tinggalmu yang dulu atau ke ruangan tempat berkumpulnya para siwi sehingga kami bisa menemanimu bermain judi?"

Tanya To Lung. Tiba-tiba pikiran Siau Po tergerak. Dia segera berkata.

"Oh ya. aku baru ingat Thay Hou meminta aku menyelesaikan suatu urusan yang penting sekali, Harap To toako menemani aku!"

To Lung menunjukkan sikap serba salah.

"Perintah yang diturunkan oleh Thay Hou tentu harus dilaksanakan secepatnya, Tapi... tapi Sri Baginda telah berpesan wantiwanti bahwa saudara Wi tidak boleh meninggalkan istana ini sedikit pun,"

Katanya. Siau Po tertawa.

"Urusannya di dalam istana ini juga. To toako tidak perlu khawatir"

Hati To Lung jadi lega seketika, Sembari tertawa dia berkata.

"Asal tidak meninggalkan istana maka tidak ada larangannya."

Siau Po segera menyuruh beberapa orang siwi untuk membawa tandu yang berisi mayat Mao Tung Cu dan Siau Tau to ke gedung pembakaran Sin Bu bun yang ada si sebelah barat.

"Siapa saja yang berani membuka tirai tandu itu, Thay Hou telah menurunkan titah untuk memenggal kepalanya saat itu juga,"

Katanya.

Persoalan tandu selir Cin yang diserang oleh pembunuh gelap sudah diketahui oleh To Lung dan para siwi atau pun wisu di istana, Meskipun mereka tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, tapi mereka dapat merasa tentunya sesuatu urusan yang menyangkut diri Thay Hou dan tidak boleh diketahui oleh umum.

Hati mereka memang sedang meresahkan hal ini.

Begitu mendengar perintah Siau Po bahwa tandu berikut isinya harus dibakar, hati mereka menjadi lega, Seakan sebuah bencana besar telah dibuang jauh-jauh.

Siau Po dan To Lung pun mengiringi tandu yang digotong ke tempat pembakaran, sepanjang jalan, darah masih menetes terus dari dalam tandu, Mengenai siapa orang yang terbunuh dalam tandu tersebut, tentu saja tidak ada yang berani menanyakannya, Begitu sampai di tempat pembakaran, tandu itu segera diletakkan di tengah-tengah.

Beberapa orang siwi mengambil timbunan kayu kering dan ditumpuknya di sekitar tandu, Setelah disiram dengan minyak tanah, api pun disulut Dalam sekejap mata tampak cahaya merah berkobar sampai tinggi.

Siau Po memungut sebatang ranting kayu, Di antara abu pembakaran ia melukiskan seekor burung kecil, Kemudian kayu itu dirapatkan dengan kedua telapak tangannya seraya mulutnya bergerak-gerak.

-Siau Tau To dan Nenek sihir, di dalam dunia yang fana ini kalian tidak berjodoh menjadi suami istri, Tapi di alam baka kalian dapat menjadi suami istri yang abadi.

Ketiga orang dari keluarga Kui yang membunuh kalian, sekarang pun sudah mati, Kalian melangkah dengan kaki depan, mereka menyusul dengan kaki belakang, seandainya kalian bertemu di jembatan perbatasan antara dunia manusia dan setan, aku harap kalian bisa bersahabat dengan rukun, -Doanya dalam hati.

To Lung melihat mulutnya berkomat kamit, dia mengira Siau Po sedang bersembahyang agar arwah yang mati di dalam tandu dapat tentram di alam baka, Kemudian Siau Po juga menancapkan ranting kayu yang digenggamnya dekat tempat pembakaran tersebut Kalau dilihat sepintas lalu, memang mirip sebatang hio, tapi siapa yang menyangka bahwa itulah tanda rahasia yang disepakatinya bersama To Hong Eng apabila mereka ingin bertemu.

Tidak lama kemudian, tandu berikut mayat di dalamnya telah terbakar menjadi abu.

Siau Po kembali ke tempat tinggalnya dulu, Sebelumnya, memang sudah ada seorang thay-kam yang membersihkannya kemudian mengantarkan sepoci teh hangat ke kamarnya itu.

Siau Po minta dibawakan arak dan beberapa macam makanan kecil.

Siau Po memberi persen kepada thay-kam yang mengantarkan makanan ke kamarnya, Lalu diajaknya To Lung dan beberapa orang siwi bersantap serta menikmati arak bersama-sama.

"To toako, harap kalian jangan sungkan-sungkan di sini! Tadi malam siaute menyelesaikan urusan Sri Baginda sampai tidak sempat tidur, sekarang baru terasa lelah sekali,"

Katanya.

"Saudara Wi tidak perlu berlaku sungkan, pergilah tidur! Toakomu akan menjaga di sini,"

Sahut To Lung.

"Siaute berterima kasih sekali. To toako, hadiah apa yang ingin kau dapatkan dari Sri Baginda? Katakan saja! Siaute akan mengingatnya baik-baik. Apabila hati Sri Baginda dalam keadaan gembira, siaute akan menyampaikan kepada beliau, Delapan bagian saja pasti ada hasilnya,"

Kata Siau Po pula. To Lung senang sekali mendengar janjinya.

"Kalau saudara Wi bersedia mengajukan permohonanku, mana mungkin tidak berhasil?"

"Urusan To toako tidak ubahnya urusan siaute juga, Karena itu, mana mungkin siaute tidak memberikan bantuan?"

Kata Siau Po, To Lung tertawa.

"Toakomu ini sudah bosan bertugas di kotaraja, Rasanya kepingin mencoba menduduki sebuah jabatan di daerah."

Siau Po menepuk pahanya sembari tertawa.

"Apa yang dikatakan toako sama dengan apa yang dipikirkan siaute. Di kotaraja ini, entah berapa banyak orang yang pangkatnya jauh lebih tinggi dari kita. Rasanya wibawa kita jadi berkurang, Tapi, bila kita bisa mendapatkan kedudukan di daerah, tentunya jauh lebih bebas. Andaikata ingin mendapatkan beberapa tail uang saja, kita tinggal mengeluarkan suara batuk dua kali, orang pasti akan mempersembahkannya kepada kita dengan kedua tangan. Kedua orang itu tertawa terbahak-bahak, Siau Po mohon diri untuk masuk ke dalam kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya melayang-layang. --To toako telah mendapat firman langsung dari Sri Baginda agar menjaga aku dengan ketat Kalau aku berniat meninggalkan istana ini agar dapat memberi laporan kepada suhu sekalian, rasanya tidak bakal tercapai. Nanti kalau bibi To datang, aku bisa meminta bantuannya untuk memberitahukan urusan ini, Tapi aku khawatir kalau dia datang kemalaman. Apabila dia baru datang menemuiku pada tengah malam, pasti sudah terlambat. Belasan meriam itu tentu sudah ditembakkan, Bagaimana baiknya? Dia memejamkan matanya sejanak, kemudian berpikir lagi. -sebaiknya aku mencari sebuah siasat, utus beberapa orang siwi guna memukul rumput mengejutkan ular Setelah mendapatkan akal yang akan digunakannya, dia memejamkan matanya kembali untuk tidur. Kurang lebih satu kentungan kemudian, dia baru bangun. Tampak matahari telah condong ke barat Hari sudah menjelang magrib, Dia keluar dari kamarnya dan bertanya kepada To Lung.

"To toako, tahukah gerombolan penjahat dari mana saja yang ingin mencelakai aku?"

"Kalau soal itu sih aku tidak tahu,"

Sahut To Lung. "Gerombolan pertama merupakan orang-orang dari Thian Te Hwee. Dan gerombolan kedua orang-orang dari Bhok onghu,"

Kata Siau Po menjelaskan. To Lung meleletkan lidahnya.

"Wah! orang-orang dari kedua gerombolan itu lihay-lihay sekali, Tidak heran kalau Sri Baginda begitu mencemaskan keselamatanmu."

"Aku berpikir, mungkin aku bisa bersembunyi satu dua hari dalam istana ini, tapi aku toh tidak mungkin bersembunyi seumur hidup, Apabila para penjahat itu tidak segera dibasmi, namanya kita meninggalkan bibit penyakit di kemudian hari,"

Kata Siau Po pula.

"Sri Baginda akan memanggil kita besok pagi, pasti beliau mempunyai siasat yang jitu, Saudara Wi tidak usah terlalu memikirkannya,"

Sahut To Lung.

"Memang betul, Tidak perlu mengelabui toako, sebetulnya di rumah siaute ada beberapa anak gadis yang cantik-cantik sekali, siaute sangat menyenangi mereka, Tampaknya para penjahat itu akan menyerbu kediaman siaute malam ini. Siaute sendiri sih tidak apa-apa karena ada perlindungan dari To toako yang ketat. Tapi beberapa anak gadis itu, sayang sekali kalau mereka sampai kena celaka...."

To Lung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa, Dia ingat tempo hari Siau Po pernah menimbulkan berbagai kesulitan untuk The Kek Song, Masalahnya justeru mereka sama-sama menyukai seorang gadis yang cantik sekali, Adiknya yang satu ini memang mata keranjang.

Meskipun usianya masih muda, namun To Lung yakin di rumahnya pasti menyimpan beberapa anak dara sebagai selirnya.

"Mudah saja, Serahkan saja pada toakomu ini. Aku akan mengutus beberapa orang siwi untuk menjaga mereka di rumahmu,"

Sahutnya. Wajah Siau Po berseri-seri seketika, Cepat-cepat dia menjura dan menyatakan terima kasihnya.

"Di antara para gadis yang ada di rumah siaute, ada tiga orang yang siaute paling sayang. Yang pertama bernama Song Ji, yang kedua bernama Cin Ju dan yang terakhir bernama... Kiam Peng. (Dalam hati dia berpikir, apabila menyebutkan she gadis itu pasti akan timbul kecurigaan dalam hati To Lung). Raut wajah mereka manismanis, Hati siaute benar-benar khawatir Harap toako mengutus orang melindungi mereka sekarang juga. Katakan kepada mereka, malam ini orang-orang dari Thian Te hwee dan Bhok onghu akan melakukan penyerangan suruh mereka bersembunyi secepatnya, Lebih baik lagi kalau toako perbanyak orang yang menjaga, Apabila para penjahat itu menyerang, tangkap saja semuanya dan jangan beri ampun, Siapa pun yang mengeluarkan tenaga, pasti akan diberikan imbalan yang sesuai,"

Katanya. To Lung menepuk dadanya seraya tertawa.

"Urusan ini tidak sulit Kalau menyangkut gedung tempat tinggal Tou Tong tayjin, siapa yang berani main-main?"

To Lung segera ke luar dan menyampaikan pesan kepada wakilnya, Para penjaga tahu keroyalan Siau Po.

Pada hari biasa saja mereka sering mendapat uang saku dari pembesar cilik ini, sekarang mereka disuruh melindungi selir-selir kesayangannya, dapat dibayangkan besarnya imbalan yang akan mereka dapatkan nanti, Karena itu dia segera mengutus orang-orangnya untuk menjaga di rumah Siau Po.

Yang tidak mendapat kesempatan hanya dapat mengeluh dan menarik nafas panjang.

Dengan demikian hati Siau Po jadi agak terhibur -Begitu Song Ji dan yang lainnya mendengar ucapan para siwi yang akan melindungi mereka dari serangan orang-orang Thian Te Hwee serta Bhok onghu, tentu segera mengerti maksudku, Mereka akan memberitahukan kepada suhu sekalian agar bersembunyi Tapi seandainya suhu sekalian sudah terhindar dari bahaya, justru Song Ji dan gadis-gadis lainnya yang terkena ledakan meriam besar itu, bagaimana?

Wah celaka!

Tapi, kalau ada banyak siwi yang menjaga di depan rumahku, orang yang ditugaskan menyulut meriam tentu tidak berani sembarangan menembakkannya.

-pikirnya, Selang sesaat, pikirannya bekerja lagi, --Tapi kalau orang yang ditugaskan menyulut meriam itu telah mendapat pesan wanti-wanti dari Sri Baginda agar mereka tidak usah perduli banyak, pokoknya pada jam sekian menit kesekian tinggal tembak saja, bagaimana?

-Bagi Siau Po, Siau Kuncu dan Cin Ju masih tidak jadi persoalan, tapi lain halnya dengan Song Ji.

Gadis ini merupakan orang terpenting dalam hidupnya, Biar bagaimana, dia tidak ingin Song Ji mengorbankan nyawanya, Namun dia menghadapi dua masalah yang sulit, Apabila dia meminta para siwi menjemput Song Ji sekalian ke tempatnya, maka tidak ada orang yang bisa menyampaikan bahayanya situasi kepada gurunya sekalian.

Kalau hanya menolong Song Ji tanpa menolong gurunya, berarti dia lebih mementingkan kasih asmara dari pada kesetia kawanan, bukankah dia pantas disebut si anak kura-kura yang paling busuk di dunia?

Untuk sesaat pikirannya jadi kacau, Dia tidak menemukan akal yang jitu.

Kurang lebih setengah jam kemudian, wakil To Lung kembali lagi dan memberikan laporan.

Mereka baru sampai di luar gedung Tou Tong tayjin, di sana sudah ada sepasukan tentara yang berjaga-jaga, Bahkan pemimpinnya mengatakan bahwa mereka sudah mendapat perintah dari Sri Baginda untuk melindungi tempat tinggal pembesar cilik itu, wakil To Lung serta anak buahnya tidak perlu bercapai hati mengurusnya lagi.

Tadinya wakil To Lung ingin masuk ke dalam untuk memberikan perlindungan terhadap selir-selir Tou Tong tayjin, tapi bagaimana pun pemimpin pasukan yang di luar tidak mengijinkan mereka mengatakan bahwa Sri Baginda sudah mengatur semuanya, Bahkan akhirnya pemimpin tentara garis depan juga ikut mencegah.

Karena tidak mendapat ijin, wakil To Lung beserta anak buahnya terpaksa kembali lagi.

Mendengar laporan itu, diam-diam hati Siau Po mengeluh.

To Lung memandangnya sembari tertawa.

"Adikku, Sri Baginda ternyata telah memikirkan segalanya, Beliau sudah mengutus sepasukan tentara untuk melindungi gadis-gadismu yang cantik-cantik itu. Apalagi yang kau cemaskan? Ha ha ha ha!"

Siau Po hanya dapat tertawa getir.

-pandangan si raja cilik memang sejauh entah berapa ribu lie.

Kali ini guruku dan saudara yang lainnya benar-benar menghadapi bahaya besar pemimpin tentara yang ada di sana pasti sudah mendapat perintah dari si raja cilik, kalau orang biasa yang datang, ijinkan mereka masuk ke dalam rumahku.

Dengan demikian biar mati sekalian oleh ledakan meriam, Tapi kalau para siwi atau petugas kerajaan lainnya yang datang, mereka harus mencegah semuanya masuk ke dalam.

-pikirnya dalam hati.

--seandainya aku membokong dengan Han Sa Si Eng (Senjata rahasia yang diberikan si Kakak nenek), mungkin tidak sulit membunuh To toako, tapi jumlah siwi begitu banyak, mana mungkin bisa membunuh mereka sekaligus?

sayangnya obat biusku sudah habis digunakan ketika berada di rumah keluarga Cuang, -Melihat hari semakin larut, Siau Po semakin seperti seekor cacing yang dimasukkan dalam kuali panas, Seluruh tubuhnya terasa panas dingin, Sebentar-sebentar dia buang air kecil, Tapi dia justru tidak menemukan jalan yang baik untuk mengatasi masalahnya.

Kurang lebih satu jam kemudian, Siau Po mendorong jendela ruangan untuk melongok ke luar, Dia melihat tujuh delapan siwi sedang berjalan mondar-mandir.

penjagaan ketat sekali, Matanya jelalatan ke sana-sini, mana ada bayangan To Hong Eng?

Siau Po menarik nafas panjang kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur, Hatinya berpikir, mungkin saat ini sudah banyak saudara-saudara yang berkumpul di rumahnya.

Semakin malam, langkah kaki saudara-saudara serta teman-temannya pun semakin dekat ke alam baka.

Pandangan matanya beredar Dia melihat ke arah gentong air peninggalan Hay Tay Hu.

Tempo hari, dengan mengandalkan gentong air inilah dia baru berhasil membunuh Sui Tong, pikirannya tergerak.

--Kenapa aku tidak memanggil To toako masuk ke dalam kamar lalu membunuhnya dengan senjata rahasia?

Setelah itu aku akan menyulut api sehingga timbul kebakaran Dalam keadaan kacau balau aku bisa meloloskan diri, Aih, sikap To toako terhadapku biasanya cukup baik, Dalam keadaan wajar, apabila aku membunuhnya, tentu aku melakukan hal yang tidak pantas, Tapi kesetia kawanan itu ada yang berat dan ada yang ringan.

Beberapa puluh lembar nyawa guru dan saudara-saudaraku tentu jauh lebih berharga dari pada selembar jiwa To toako.

Setelah merenungkan lagi sejenak, hatinya menjadi mantap, Dia segera menyulut sebatang lilin, -Kopiah terbuat dari bahan yang mudah terbakar Setelah membunuh To toako, aku harus membakar kopiah ini.

- Tepat pada saat itulah, terdengar seruan To Lung dari depan kamarnya.

"Saudara Wi, hidangan sudah diantarkan. Keluarlah untuk minum arak bersama!"

"Lebih baik kita berdua makan di dalam kamar saja!"

Sahut Siau Po.

"Baiklah!"

To Lung memerintahkan pelayan untuk mengantarkan hidangan dan arak ke dalam kamar.

Pelayan itu rupanya seorang thay-kam berusia enam atau tujuh belas tahun, Begitu masuk kamar, dia membungkuk hormat kepada Siau Po, lalu dibukanya keranjang dan dikeluarkannya hidangan serta arak.

Seberkas kilat melintas di benak Siau Po, dia sudah mendapatkan sebuah akal yang bagus.

"Kau di sini saja melayani kami minum arak!"

Katanya.

Thay-kam tanggung itu senang sekali, Dia tahu Siau Po pernah menjadi kepala thaykam di sana.

Keroyalannya sudah tersebar luas.

Apabila dia melayani pembesar itu pasti ada keuntungan yang dapat diperolehnya.

karena itu, dia segera meletakkan sumpit dan mangkuk dengan wajah berseri-seri.

To Lung pun menyusul masuk ke dalam kamar Sembari tertawa dia berkata.

"Saudaraku, meskipun kau tidak lagi bertugas dalam istana, tapi tempat tinggalmu ini masih dikosongkan untuk keperluanmu sewaktu-waktu. Bahkan seorang raja muda pun tidak pernah mendapat fasilitas yang demikian istimewa dari Sri Baginda. Hal ini menandakan betapa sayangnya beliau ter-hadapmu."

"Sebetulnya bukan mendapat fasilitas yang istimewa, tapi urusan Sri Baginda sudah terlalu banyak, mana mungkin beliau sempat mengurus hal yang sepele seperti ini? Kenyataannya, aku tinggal lagi di sini, tidak sesuai dengan peraturan istana,"

Sahut Siau Po.

"Bagi saudara Wi, tidak mematuhi peraturan istana pun tidak apa-apa."

Dia tahu thay-kam kepala dalam istana ingin mengambil hati Siau Po.

Mereka tidak mungkin menempati tempat tinggal bekas Siau Po ini.

Lagipula kamar Hay Tai Hu itu juga tidak terlalu bagus, sedangkan kamar dalam istana bukan main banyaknya.

Thay-kam kepala pasti mempunyai kamar tersendiri.

"Kalau toako tidak mengingatkan, siaute justru sudah melupakannya, Besok pagi kita harus memberitahu thay-kam kepala bahwa kamar ini harus dikembalikan. Dalam arti lain, bukan milikku lagi. Apabila kita sebagai pembesar masih menempati kamar ini dan diketahui oleh pembesar sekretariat negara, tentu akan menjadi bahan pembicaraan yang tidak enak didengar,"

Sahut Siau Po.

"Sri Baginda kan sayang sekali kepadamu. Siapa yang berani membicarakan engkau yang bukan-bukan?"

Kata To Lung sambil tertawa.

"Silakan duduk, silakan duduk! Rumah ini tidak seberapa bagus, Tapi siaute sudah kerasan di sini. Oleh karenanya, gedung tempat tinggal siaute saja rasanya tidak senyaman di sini."

Perlahan-lahan dia berjalan ke belakang To Lung. Pisau belatinya yang tajam sudah digenggamnya.

"Kedelapan macam hidangan ini merupakan kesukaan siaute, Rupanya kepala koki di dapur masih mengingatnya, Coba toako cicipi bakwan kepiting ini, entah bagaimana rasanya?"

"Makanan yang disukai oleh saudara Wi, pasti enak rasanya."

Tiba-tiba dia merasa ada hawa dingin di punggungnya, Sekejap kemudian dia jatuh tertelungkup di atas meja dengan jiwa melayang.

Rupanya dengan diam-diam Siau Po sudah menikam belakang jantungnya dengan pisau belati yang tajam itu.

Tikamannya tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Si thay-kam kecil yang melayani mereka bahkan tidak menaruh curiga apa-apa, Dengan tenang dia menuangkan arak ke dalam cawan, Siau Po melangkah lagi ke belakangnya dan sekali lagi menikamkan pisaunya ke punggung thay-kam tanggung itu.

Tanpa perlu memeriksa lagi, Siau Po yakin kedua orang itu sudah mati, ini toh bukan pertama kalinya dia membunuh orang dengan pisau belati itu, BoIeh dibilang tidak ada satu pun yang sempat lolos dalam keadaan hidup.

Siau Po segera membalikkan tubuhnya untuk memasang palang pintu, Dengan cepat dia melepaskan jubah, sepatu dan kopiahnya, Yang tinggal hanya celana dalam dan singlet Setelah itu dia membuka pakaian si thay-kam tanggung lalu dikenakannya pakaiannya sendiri pada orang itu.

Sebagai gantinya, dia mengenakan pakaian dinas si thay-kam tanggung.

Terakhir, dia memapah tubuh si thay-kam tanggung untuk duduk berhadapan dengan mayat To Lung, Dia menggurat wajah bocah itu sampai tidak karuan bentuknya.

Meskipun tangannya sibuk bekerja, pikirannya justru berkata.

--To toako, kau adalah Bangsa Tatcu, Kami orang-orang Thian Te hwee justru mencari makan dengan membunuh Bangsa Tatcu, Karena itu aku terpaksa membunuhmu sebetulnya aku merasa tidak enak telah membunuhmu Untung saja bagaimana pun kau toh akan mati, Malam ini aku melarikan diri dari penjagaanmu, Besok pagi si raja cilik pasti akan memenggal batok kepalamu.

Bedanya, kau hanya lebih cepat beberapa jam matinya, Dihitung-hitung masih tidak terlalu rugi, Apalagi, rasanya lebih enak mati dengan cara seperti ini dari pada dipancung kepalanya di depan umum.

Dengan demikian, berarti aku telah menjaga nama baikmu, Bahkan menyelamatkan keluargamu Kalau berhadapan dengan Sri Baginda besok, kemungkinan seluruh keluargamu akan mendapat hukuman mati pula, Sekarang, selain kau dianggap gugur dalam tugas, keluargamu juga akan mendapat penghargaan Yah, kalau demikian halnya, malah aku telah berjasa besar kepadamu, -Meskipun dalam hati dia berkata demikian, tapi sikap To Lung sehari-hari-nya baik sekali terhadapnya, kali ini dia membunuh toakonya itu juga karena terpaksa.

Tidak dapat ditahan lagi, hatinya merasa pilu juga.

Air matanya pun jatuh bercucuran Sekejap kemudian dia menghapus air matanya lalu membalikkan tubuhnya ke hadapan si thay-kam tanggung.

Katanya dalam hati.

"Saudara cilik, sekarang kau mengenakan baju Ma kwa kuning, lihat betapa besarnya wibawamu. Padahal, walaupun kau dilahirkan kembali sepuluh kali, belum tentu kau bisa mempunyai kesempatan mengenakan baju seperti ini, Lihat pula kopiah yang ada di atas kepalamu itu. Batu permata berwarna merah di tengahnya saja cukup untuk biaya hidupmu selama seratus tahun, He he, kau bisa mendapatkan kenaikan pangkat, berarti peruntunganmu cukup bagus juga. Dulu aku Wi Siau Po juga seorang thay-kam cilik, Berkat kepintaranlah aku bisa menjabat kedudukan seperti sekarang ini. Apakah pangkatmu bisa naik lagi atau tidak, rasanya harus dilihat dari kecerdasanmu! -Kemudian dia berpikir lagi, -Eh, dulu aku menyamar sebagai seorang thay-kam cilik, sekarang aku membiarkan seorang thay-kam cilik lainnya menyaru sebagai aku. Dengan demikian, berarti hutangku sudah impas, Siau Hian Cu, oh Siau Hian Cu, aku sama sekali tidak menyalahimu, Cepat-cepat Siau Po merapikan pakaian dan kopiahnya, setelah yakin samarannya bagus, dia segera berseru dengan suara lantang.

"Anak baik, di sini tidak memerlukan tenagamu lagi, Kau boleh keluar sekarang, Uang lima tail ini kuhadiahkan untuk beli gula-gula."

Lalu dia juga menjawab dengan suara samar-samar "Terima kasih, Tou Tong tayjin."

Lalu dia berkata lagi dengan suara lantang.

"Aku akan minum arak dan mengobrol dengan To Congkoan, Tidak boleh ada seorang pun yang datang mengganggu!"

Biasanya para thay-kam di dalam istana hanya melayani raja, Thay Hou atau selir raja, Tapi ada beberapa thay-kam tua yang kedudukannya tinggi juga minta dilayani oleh thay-kam kecil, Hal ini sudah wajar, Meskipun kedudukan Siau Po sekarang sudah lain, tapi dulu dia pernah menjadi thay-kam kepala yang sudah dikenal dan dipuja-puja oleh seluruh istana.

Karena itu, mendengar Siau Po meminta seorang thay-kam melayaninya lalu kemudian menghadiahkannya uang, mereka juga tidak ambil pusing, Tampak seorang thay-kam tanggung keluar dari kamar dan melangkah dengan kepala tertunduk, sebelumnya dia merapatkan pintu kamar kembali serta menenteng keranjang bawaannya.

Dengan tenang Siau Po berjalan Dia melihat para penjaga sedang duduk mengobrol sambil minum arak, Tidak ada seorang pun yang menaruh perhatian terhadapnya, Diam-diam Siau Po merasa senang.

-Paling tidak satu jam kemudian para penjaga ini baru menyadari kedua orang di dalam kamar itu sudah mati.

Mereka pasti menduga bahwa ada penjahat yang telah membunuh To Cong koan dan Tou Tong tayjin.

Pada saat itu mereka pasti terkencingkencing di celana saking takutnya, --pikirnya geli.

Begitu keluar dari pintu gerbang, dia melihat beberapa orang thay-kam dan dayang mengiringi sebuah tandu yang digotong mendekat.

Tandu itu dihiasi dengan bulu ayam hutan di belakangnya, dan mendapat sebutan "Tandu merak"

Thay-kam yang berjalan di bagian paling depan langsung berseru.

"Tuan puteri tiba!"

Hati Siau Po memang sudah curiga.

sekarang dia benar-benar terkejut.

--Kongcu ini bukannya datang dari tadi atau entar-entaran dulu, malah munculnya sekarang, Kalau dia masuk ke dalam kamar dan melihat pakaian yang dikenakan thaykam tanggung itu, dia pasti mengira aku sudah mati, Wah, tidak berani kubayangkan kegemparan yang akan ditimbulkannya!

Pasti akan timbul kesulitan yang tidak diinginkan --pikirnya, Untuk sesaat dia jadi kelabakan Tampak Kian Leng kongcu keluar dari tandunya lalu berseru.

"Apakah Siau Kui Cu ada di dalam?"

Siau Po mengeraskan hatinya lalu maju beberapa tindak.

"Kongcu, Wi Tayjin sudah mabuk, Mari hamba iringi Kongcu masuk ke dalam,"

Katanya.

Cahaya lentera tidak seberapa terang.

Kongcu tidak mengenalinya.

Dia melihat serombongan siwi mendekati untuk menyambut kedatangannya, Hati-nya merasa heran --Mengapa ada orang sebanyak ini?

-pikirnya, Keningnya mengerut, lalu dia mengibaskan tangannya.

"Kalian tunggu di luar!"

Katanya kemudian. Setelah itu, dia melangkah ke dalam rumah, Siau Po mengikuti dari belakang. Begitu masuk, dia segera memegang daun pintu.

"Kau juga keluar!"

Katanya kepada si thay-kam palsu.

"Baik, Wi Tayjin ada di dalam kamar,"

Sahut Siau Po. Kian Leng kongcu mempercepat langkah kakinya. Dia melihat Siau Po dan To Lung tertelungkup di atas meja, sepasang alisnya langsung terjungkit ke atas, Sekali lagi dia membentak.

"Kau masih belum keluar juga?"

Siau Po tertawa ringan "Kalau aku keluar sekarang, urusannya bisa kacau!"

Kian Leng Kongcu terkejut, cepat dia menolehkan kepalanya, Dengan bantuan cahaya lilin, dia melihat Siau Po berdiri di belakangnya, Hatinya terkejut sekaligus senang, Tanpa sadar dia mengeluarkan suara seruan.

"Ah! Apa yang kau lakukan?"

"Jangan keras-keras!"

Kata Siau Po dengan suara rendah. Kian Leng Kongcu menatapnya sejenak, lalu menoleh kepada "Siau Po"

Yang tertelungkup di atas meja.

"Permainan gila apalagi yang kau lakukan?"

Tanyanya. Siau Po menariknya ke dalam kamar, lalu memasang palang pintu kamar itu.

"Urusannya gawat Sri Baginda ingin membunuh aku,"

Bisiknya pada puteri itu.

"Hongte koko sudah membunuh Gok hu, kenapa dia juga ingin membunuh engkau? Kalau dia benar-benar membunuhmu, aku akan mengadu jiwa dengannya,"

Kata Kian Leng kongcu. Siau Po mengulurkan tangan untuk merangkulnya lalu dengan lembut dia mengecup pipi puteri itu.

"Lebih baik kita melarikan diri dari istana ini secepatnya, Kalau Sri Baginda sampai tahu hubungan kita, kepalamu pasti dipenggal olehnya."

Dipeluk dan dicium sedemikian rupa oleh Siau Po, seluruh tubuh Kian Leng kongcu menjadi lemas seketika.

"Hongte koko telah membunuh Gok hu, aku kira aku bisa menikah denganmu, Mengapa urusannya jadi begini? Bagaimana pula dia bisa tahu?"

"Pasti kau sendiri yang kelepasan bicara, bukan?"

Tanya Siau Po. Wajah Kian Leng kongcu jadi merah padam mendengar pertanyaan itu.

"Tidak, Tapi beberapa kali memang aku menanyakan kapan kau akan kembali,"

Sahutnya.

"Nah, iya kan? Tapi tidak apa-apa. Kita sudah pasti akan menjadi suami istri, sekarang juga kita meninggalkan istana ini,"

Kata Siau Po. Kongcu merasa ragu-ragu sesaat.

"Besok pagi aku akan menghadap Hongte koko. Dia tidak akan membunuhmu Setelah membunuh Gok hu, dia merasa menyesal terhadapku Dia sudah berjanji akan mencarikan seorang Gok hu lainnya yang baik untuk menggantikan anak kura-kura itu. Apalagi selama ini dia sangat menyayangi kau...."

Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba dia merasa ada bau amis yang semakin menyengat dalam kamar itu. Dia mengendus dua kali.

"Apa yang...."

Mendadak perutnya terasa muak Hoakkk!

Sembari menumpu pada sebuah kursi, dia termuntahmuntah.

Tapi yang keluar hanya air yang rasanya asam sekali.

Perlahan-lahan Siau Po menepuk-nepuk punggungnya, Dengan suara lembut dia bertanya.

"Kenapa? Salah makan? Sudah mendingan?"

Kongcu muntah-muntah lagi, Tiba-tiba dia melayangkan tangannya dan menampar pipi Siau Po keras-keras.

"Salah makan? justru kaulah yang jahat! Kau memang jahat!"

Makinya, Kedua kepalan tangannya terus meninju dada Siau Po.

Kongcu memang selamanya manja serta keras kepala, Melihat sikapnya, Siau Po tidak heran lagi, Tapi sekarang dia dalam keadaan terdesak, Menunda lebih lama sedikit, berarti waktu penembakan meriam semakin dekat Dia tidak mau urusannya rusak oleh perempuan manja ini.

"Baik, baik, Aku memang jahat,"

Sahutnya, Kian Leng kongcu menarik daun telinganya.

"Kau ikut aku menghadap Hongte koko, sekarang juga kita sembahyang kepada langit dan bumi sebagai suami istri!"

Siau Po panik sekali mendengar ucapannya.

"Urusan upacara sembahyang, serahkan saja kepadaku, Tapi begitu Sri Baginda melihat aku, aku akan berubah menjadi Gok hu tanpa kepala, Lebih baik kita kabur dulu."

Kongcu menariknya keras-keras, Telinga Siau Po terasa sakit sekali. Tanpa dapat dipertahankan lagi dia menjerit.

"Memangnya kenapa kalau kau tidak punya kepala? Setan kecil, kenyataannya kau memang tidak punya kepala, Kalau kau punya kepala otakmu pasti bisa berpikir, apa yang harus kulakukan dengan Siau Kui Cu kecil dalam perutku ini?"

Makinya. Siau Po terkejut setengah mati.

"Siau Kui Cu kecil?"

Tanyanya bingung. Kongcu mengangkat sebelah kakinya lalu mendupak perut Siau Po. Sembari menangis dia berkata.

"Di dalam perutku sudah ada Siau Kui Cu kecil yang busuk! Kau memang jahat! Kalau kita tidak segera menjadi suami istri, perutku ini semakin hari akan semakin membesar.... Sri Baginda tahu Gouw Eng Him sudah menjadi thay-kam, jadi dia tidak mungkin... pada waktu itu aku tidak mempunyai muka untuk menghadapi orang lagi!"

Wajah Siau Po pucat pasi. Dalam keadaan yang demikian genting, malah timbul persoalan seperti ini. Dengan panik dia berkata.

"Kalau kita tidak melarikan diri dari istana sekarang, Siau Kui Cu dalam perutmu ini akan kehilangan bapaknya, Kalau kita bisa lolos, kita segera kawin, Kau bisa melahirkan Siau Kui Cu kecil, Bukan... kah dia keponakan luar Raja? Sri Baginda sudah menjadi seorang paman, sekaligus iparku, Tentu dia merasa tidak enak hati membunuh suami adiknya sendiri, bukan?"

"Kenapa harus tidak enak hati? Gouw Eng Him juga iparnya, tapi bukankah dibunuhnya juga?"

Kata Kian Leng kongcu.

"Sri Baginda tahu Gouw Eng Him hanya seorang Gok hu palsu, Aku barulah barang asli, Ipar palsu boleh dibunuh, ipar asli tentu tidak. Kongcuku yang baik, setelah Siau Kui Cu kecil kita terlahir nanti, dia akan memeluk lehermu dan memanggilmu mama, bukankah menyenangkan sekali ?"

Rayu Siau Po. Bagian 81 Si bocah cilik ini malah mengulurkan tangannya untuk memeluk leher puteri, Kongcu tertawa terkekeh.

"Menyenangkan telur busukmu! Aku justru tidak senang ada Siau Kui Cu cilik yang memanggilku mama!"

Ngomong sih begitu, tapi telinga Siau Po yang dijewernya sudah dilepaskan Lalu dengan manja, dia bertanya.

"Sudah begitu lama kita tidak bertemu, apakah kau merindukan aku?"

Lalu dia menyusupkan kepalanya ke dalam pelukan Siau Po.

"Tentu saja aku merindukanmu, Setiap pagi atau pun malam aku selalu memikirkanmu, Bahkan setiap detik, setiap saat aku selalu terbayang wajahmu,"

Sahut Siau Po.

Dalam hati dia justru memaki --Di saat seperti ini masih mengelendot terus, benarbenar keturunan si Moler tua!

--Dia melihat Kongcu memeluknya erat-erat.

Wajah perempuan itu merah jengah.

Saat ini tidak mungkin Siau Po bermesraan dengannya, tapi dia juga tidak berani membuatnya tersinggung, maka dengan suara berbisik dia berkata.

"Sekarang kita kabur dari istana, Kelak kita mempunyai waktu untuk bersamasama, selamanya kita tidak akan berpisah lagi. Mari kita berangkat!"

Kongcu justru merengek-rengek.

"Tidak! Malam ini juga kita harus menjadi suami istri!"

Katanya.

"Baik, baik! Malam ini juga boleh, asal kita kabur dulu!"

Sahut Siau Po.

"Kabur apanya? Hongte koko paling sayang kepadaku, Dia juga gurumu dan menyukaimu. Besok kita bersama-sama memohon kepadanya, pasti dia tidak marah lagi, Yang paling dibenci Hongte koko justru Gouw Sam Kui. sekarang juga kau utus pasukan besar untuk menggempur orang itu, aku akan menemanimu Aku menjadi panglima besar, kau menjadi wakilnya, Kalau kita berhasil membunuh Gouw Sam Kui, Hongte koko pasti akan mengangkatmu menjadi Ongya!"

Kata Kian Leng kongcu, pelukannya terhadap Siau Po malah dipererat.

Siau Po justru sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara ketukan perlahanlahan sebanyak tiga kali di jendela samping, Setelah berhenti sebentar terdengar lagi dua kali ketukan.

Siau Po langsung saja merasa senang.

"Apakah bibi To yang datang?"

Tanyanya dengan suara rendah.

Perlahan-lahan dia mendorong tubuh kongcu dan menghambur ke arah jendela untuk membukanya.

Tampak sesosok bayangan berkelebat seseorang meloncat masuk, Ternyata memang To Hong Eng.

Begitu kedua wanita itu bertatap muka, mereka sama-sama terkejut "Kongcu!"

Panggil Hong Eng dengan suara lirih. Kongcu sendiri merasa marah sekali.

"Siapa kau? Untuk apa kau datang ke mari?"

Bentaknya, Rupanya setelah berpikir sejenak, timbul rasa cemburu dalam hatinya, Dia berpikir, di tengah malam seperti ini, seorang perempuan meloncat masuk ke dalam kamar Siau Po lewat jendela, urusannya pasti tidak beres.

Dia langsung menuduh perempuan itu kekasih gelapnya Siau Po.

Meskipun dia melihat usia perempuan ini pasti tidak muda lagi, tapi Siau Po memang mata keranjang, Mungkin saja ada apa-apa di antara mereka.

Apalagi gairahnya sedang menggebugebu, perempuan ini justru datang mengganggunya, Semakin dipikir hatinya semakin panas.

Dia segera membuka mulut dan berteriak "Mana...."

Siau Po sudah menduganya, belum sempat Kongcu menyelesaikan teriakan "mana orang?"

Dia segera membekap mulut sang puteri.

Kian Leng kongcu memberontak sekuat tenaga, Dia melayangkan tangannya dan menampar pipi Siau Po dengan keras, Dalam keadaan panik, sebelah tangan Siau Po mencekik leher kongcu, dia mengerahkan segenap tenaganya.

"Perempuan hina, mau mampus? Biar aku cekik mati sekalian!"

Makinya.

Kian Leng kongcu segera merasa pernafasannya sesak.

Tangannya menggapaigapai serabutan, Tangan kiri Siau Po berbalik lalu meninju kepala sang puteri sebanyak dua kali.

To Hong Eng yang melihat Siau Po berani memukul si tuan puteri, merasa terkejut setengah mati, Tapi dia sadar urusan ini sudah semakin gawat Maka dia mengulurkan tangannya untuk menotok bagian pinggang dan dada kongcu, Dengan demikian Siau Po baru melepaskan tangannya.

"Bibi, urusannya gawat Raja ingin membunuh aku. sebaiknya kita kabur sekarang juga,"

Katanya.

"Di luar banyak siwi yang menjaga, sebetulnya aku sudah datang sejak tadi, tapi aku terpaksa menunggu satu jam setengah, baru mendapat kesempatan menyelinap ke dalam."

Dia berjalan ke arah jendela dan menguakkannya sedikit "Kau lihat sendiri!"

Siau Po melongokkan kepalanya, Dia melihat tujuh delapan orang siwi yang membawa lentera sedang berjalan mondar-mandir.

Tiba-tiba hatinya tergerak, teringat apa yang dilakukkan oleh Mau Tung Cu dan siau Tau To.

-Nasib mereka buruk sehingga bertemu dengan ketiga orang dari keluarga Kui.

Aku boleh mencoba cara yang sama.

Tidak mungkin arwah ketiga orang itu gentayangan lagi untuk menyerang tandu si Tuan Puteri, -Karena mendapat pikiran itu, dia segera berkata kepada kongcu.

"Kongcu, kau jangan cemburu, dia ini bibimu, Adik bapakku, kakaknya ibuku, Kau jangan suka mengumbar hawa amarah."

Kian Leng kongcu ditotok oleh To Hong Eng.

Hatinya memang sudah kesal bukan main dan hampir jatuh semaput.

Mendengar ucapan Siau Po, kemarahannya langsung sirna, Dia juga tidak ingat bahwa adik bapakku dan kakak ibuku tidak mungkin terdiri dari orang yang sama, Yang penting baginya asal perempuan ini bukan kekasih Siau Kui Cu, urusan lainnya dia tidak mau tahu.

Seulas senyuman segera dipamerkannya.

"Kalau begitu, cepat bebaskan aku!"

Katanya, Siau Po memang ingin mengambil hati si Tuan Puteri.

"Kau toh istriku, cepat panggil bibi!"

Ujarnya, Kongcu senang sekali, cepat-cepat dia memanggil.

"Bibi!"

To Hong Eng kebingungan.

Baru saja kedua orang ini saling memukul, mengapa si Tuan Puteri tiba-tiba memanggilnya bibi?

"Cepat kau suruh orang membawa tandumu ke dalam.

Lalu orang itu kau suruh keluar dan jangan lupa rapatkan pintunya, Kita duduk dalam satu tandu agar dapat menyelinap keluar dari istana ini.

Malam ini juga kita akan menikah, sedangkan kalau menikah kan harus disaksikan oleh seorang angkatan tua baru sah.

Nah, Bibi To inilah angkatan tua kita, Bagaimana menurut pendapatmu?"

Kongcu gembira sekali, wajahnya merah karena jengah.

"Bagus sekali,"

Sahutnya dengan suara lirih. Siau Po mendorong punggungnya sembari berkata.

"Cepat! Cepat!"

Didorong sedemikian rupa, si Tuan Puteri ikut-ikutan panik, Tanpa menunggu totokannya dibebaskan dia maju ke depan sambil berteriak "Gotong tandunya ke dalam!"

Para thay-kam dan dayang keheranan.

Tapi tingkah laku puteri yang satu ini memang sulit diduga, perintah apa pun yang keluar dari mulutnya pasti aneh bagi orang biasa, Bahkan kadang-kadang gila-gilaan, Karena itu mereka tidak berani ayal, Tapi ada satu hal yang tidak diduga oleh Siau Po.

Tandu selir Cin bisa dibawa masuk ke dalam istana Cu Leng Kiong sehingga Siu Tau To dan Mau Tung Cu bisa menyelinap ke dalam tanpa sepengetahuan orang lain, sedangkan bekas tempat tinggal Hay Tay Hu ini mana mungkin disamakan dengan sebuah istana, pintunya jauh lebih kecil Jadi hanya bagian depan tandu saja yang muat, Pada batas tiang kedua sisi tandu, para thay-kam tidak sanggup memasukkannya lagi.

"Dasar manusia tidak punya guna! Gelinding keluar semuanya!"

Maki Kongcu.

Kedua thay-kam yang menggotong tandu hanya dapat merangkak ke luar dari bawah dan dan mendumel dalam hati, -pintunya memang cuma segini, mengapa kami yang disalahkan?

Siau Po mendekati si Tuan Puteri dan berbisik di teIinganya.

"Suruh mereka menjauh dan tidak ada seorang siwi pun yang boleh masuk."

Kongcu berkata dengan suara Iantang.

"Siau Kui Cu, kau harus baik-baik berdiam di dalam kamar Pokoknya tidak boleh keluar sama sekali!"

Siau Po juga menjawab dengan suara keras.

"Baik. sekarang sudah larut, harap Kongcu kembali ke kamar dan istirahat."

"Aku justru ingin keluar jalan-jalan, Memangnya kau berani melarang aku?"

Maki si tuan puteri sengaja menaikkan suaranya.

"Di dalam istana sedang ramai karena kedatangan pembunuh gelap, harap Tuan Putri berhati-hati!"

Sahut Siau Po.

"Sri Baginda memelihara sekian banyak siwi tapi semuanya hanya tahu makanan saja. semuanya menggelinding jauh-jauh dan tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke rumah ini!"

Kata Kian Leng kongcu.

Para siwi segera mengiakan dan mundur jauh-jauh.

Siau Po masuk ke dalam tandu lalu menggapaikan tangannya, To Hong Eng segera membebaskan totokan Kongcu agar si Tuan Puteri itu juga bisa menyusup ke dalam tandu, Karena tandu itu tidak seberapa besar, Kongcu terpaksa duduk di pangkuan Siau Po.

Tangan kiri Siau Po merangkul pinggang si Tuan Putri.

"Bibi To, harap kau kawal kami ke luar,"

Katanya kepada Hong Eng.

Siau Po berpikir bahwa ilmu bibinya ini tinggi sekali, seandainya ada orang yang curiga dan memeriksa tandu itu, kan ada orang yang membantunya berkelahi.

To Hong Eng segera mengiakan Dia mengenakan pakaian para dayang.

Apabila dia mengawal di sisi tandu Tuan Puteri, tentu tidak ada orang yang curiga kepadanya.

"Cepat gotong tandu ini ke luar!"

Bentak Kian Leng kongcu, Keempat thay-kam yang bertugas menggotong tandu segera bersiap sedia, Dua orang menggotong di bagian depan dan dua lagi dari belakang, Untuk sesaat timbul keheranan dalam hati mereka, Mengapa tandu ini tiba-tiba menjadi berat?

Kongcu mendengarkan petunjuk yang diberikan Siau Po.

Tandu digotong ke luar lewat Sin Bu Bun.

Para siwi yang menjaga di sana melihat tandu si Tuan Puteri akan digotong ke luar meskipun hari sudah larut, mereka segera maju untuk menanyakannya.

Kongcu menghambur ke luar dari tandunya sembari memaki.

"Pokoknya aku ingin keluar, buka pintu itu!"

Malam ini, yang menjadi pemimpin pengawal gerbang itu bukan lain dari pada Cio Ci Hian. Dia segera membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat Sembari tertawa, dia berkata.

"Tuan Puteri, malam ini kabarnya dalam istana akan kedatangan beberapa orang pengacau, Situasinya kurang aman, harap Tuan puteri menunggu sampai besok pagi baru keluar."

"Aku mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, Iagipula, mengapa aku harus takut terhadap para pengacau itu!"

Maki Kongcu.

Sebetulnya Cio Ci Hian tidak berani melarang, Tapi Gouw Eng Him sudah mati, sekarang tiba-tiba saja Tuan Puteri ingin keluar istana padahal sudah larut malam.

Dia khawatir urusan ini ada hubungannya dengan pemberontakan Gouw Sam Kui.

Besok pagi kalau ada pemeriksaan, dia harus menerima beban tanggung jawab yang berat Dia hanya membungkukkan tubuhnya beberapa kali namun tetap tidak bersedia membukakan pintu.

Tingkahnya itu membuat si Tuan Puteri semakin panik, Akhirnya dia berkata lagi.

"Kalau memang demikian, biarlah hamba tanyakan dulu kepada To Congkoan. Setelah mendapatkan jawabannya, hamba akan bergegas kembali ke sini."

Siau Po yang ada di dalam tandu dapat mendengar si Tuan Puteri, tapi Cio Ci Hian tetap tidak mau membukakan pintu, malah sekarang dia akan menemui To Lung untuk mendengar petunjuk dari-nya.

urusannya jadi semakin gawat Dalam keadaan panik dia terpaksa berkata.

"Cio Ci Hian, tahukah kau siapa aku?"

Cio Ci Hian cukup lama mengikutinya. Tentu saja dia mengenali suara Siau Po. Hatinya merasa heran sekaligus gembira.

"Apakah Wi congkoan di sana?"

Tanyanya. Siau Po tertawa.

"Benar"

Sahutnya. Dari dalam tandu dia melongokkan kepalanya lalu menggapaikan tangannya. Cio Ci Hian cepat-cepat menghampiri.

"Aku mendapat perintah rahasia dari Sri Baginda untuk menyelesaikan suatu urusan yang penting sekali,"

Katanya dengan suara berbisik.

"Kalau aku sampai menunjukkan mukaku, urusannya bisa kacau, Karena itulah Sri Baginda menyuruh aku bersembunyi di dalam tandu ini dan menggunakan Kongcu untuk keluar dari istana,"

Kata Siau Po. Cio Ci Hian tahu Siau Po disayang sekali oleh Raja, tingkahnya juga sulit ditebak, apa yang dilakukannya selalu tidak masuk akal, Karena itulah dia tidak curiga lagi.

"Baik, baik, Hamba akan membukakan pintu sekarang juga."

Pikiran Siau Po langsung tergerak.

"Apakah kau ingin mendapatkan kenaikan pangkat atau hadiah besar?"

Tanyanya.

Cio Ci Hian mengikuti Siau Po sekian lama, Dalam beberapa tahun saja, pangkatnya sudah dua kali dinaikkan Bahkan dia sudah mempunyai simpanan uang sebanyak dua laksa tail Iebih.

Mendengar kata-kata Siau Po, dia tahu pembesar cilik ini pasti akan mengungkapkan pujian bagi dirinya lagi di hadapan Sri Baginda.

Hatinya langsung berbunga-bunga, Cepat-cepat dia membungkukkan tubuhnya dan menjawab "Terima kasih atas tawaran Wi Congkoan!

Apabila ada sesuatu yang dapat hamba laksanakan meskipun seluruh tubuh ini harus hancur lebur, hamba tidak akan menolaknya."

Dalam hati Siau Po berkata, --Kau sendiri yang mengatakannya, Kalau meriam itu ditembakkan nanti sehingga seluruh tubuhmu hancur lebur, anggaplah karena ucapanmu sendiri jangan kau menyalahkan aku.

-Dia segera membisiki Cio Ci Hian.

"Ada sekawanan penjahat yang sekongkol dengan Gouw Sam Kui. Sri Baginda telah menyusun rencana yang bagus, Mereka berhasil dikelabui dan sekarang berkumpul di gedung kediamanku, Sri Baginda mengutus aku membawa sepasukan tentara untuk menangkap mereka, Kau tahu sendiri, pemimpin garis depan para tentara itu selamanya tidak pernah akur dengan aku. Coba kau tebak, mengapa Sri Baginda malah mengutus aku memimpin komandan tentara dan anak buahnya itu?"

Cio Ci Hian menggelengkan kepalanya.

"Hamba"

Memang bodoh, mengenai hal ini hamba tidak tahu apa-apa,"

Sahutnya.

Sebetulnya komandan pasukan tentara itu telah bersekongkol dengan Gouw Sam Kui.

Sri Baginda ingin membasmi mereka sekaligus, sedangkan Kongcu menantunya Gouw Sam Kui.

Begitu mereka melihat Tuan Puteri, para pemberontak itu pasti tidak akan menaruh kecurigaan lagi,"

Kata Siau Po. Cio Ci Hian seperti tersentak sadar.

"Rupanya begitu, Aku sama sekali tidak menyangka Komandan Tentara Ha Tong telah bersekongkol dengan Gouw Sam Kui. Pasti urusan ini berhasil diselidiki oleh Wi congkoan pula sehingga telah mendirikan jasa besar."

"Jasa ini sebetulnya direncanakan oleh Sri Baginda sendiri kemudian diserahkannya kepadaku, Kita kan sudah seperti saudara sendiri, kalau ada kenaikan pangkat, kita rasakan bersama, Ada hadiah, kita bagi rata, sekarang sebaiknya kau bawa empat puluh anak buah andalanmu untuk membangun jasa bersama-sama aku."

Cio Ci Hian senang sekali.

Dia sampai mengucapkan terima kasih berulang kali, Setelah itu dia mempersilahkan Kongcu masuk lagi ke dalam tandu.

Dipilihnya empat puluh orang siwi yang paling pandai mengambil hatinya dan dikatakannya bahwa mereka mendapat perintah rahasia dari Raja untuk menyelesaikan suatu urusan, Anak buahnya segera membukakan pintu gerbang, Dia mengiringi tandu Kongcu keluar dari istana, Sisa penjaga yang enam puluh orang lagi disuruh menjaga dengan ketat.

"Biar bagaimana pun, pintu gerbang ini tidak boleh dibuka lagi sampai pagi nanti, Kecuali ada perintah dari aku atau To Congkoan. Kalau tidak, siapa pun tidak ada yang boleh meninggalkan istana ini,"

Kata Siau Po.

Cio Ci Hian menyampaikan pesan Siau Po kepada para penjaga, Keenam puluh penjaga itu segera mengiakan Diam-diam Siau Po merasa geli.

--Sekali Lohu meninggalkan istana ini, lohu tidak akan kembali Iagi, Entah arwah To congkoan akan datang memberikan perintah kepada kalian untuk membukakan pintu atau tidak?

--katanya dalam hati.

Tempat tinggal Siau Po tidak seberapa jauh dari istana, Tidak lama kemudian mereka sudah hampir sampai.

sepanjang perjalanan jantung Siau Po terus berdebardeban Dia khawatir baru sampai tengah jalan, tempat tinggalnya sudah hancur tertembak meriam, Untung saja sampai mereka tiba, keadaan di tempatnya masih sunyi senyap tanpa terlihat gerakan apa pun.

Begitu sampai di depan pintu gerbang, Komandan Tentara sudah mendapat laporan bahwa mereka kedatangan Kian Leng kongcu, Karena itu dia segera maju menyambut.

Sementara itu, di dalam tandu, Tuan puteri telah mendapat petunjuk dari Siau Po disamping digerayangi tangannya yang nakal, Mendengar suara penyambutan si komandan tentara, dia segera melongokkan kepalanya keluar.

"Komandan Ha, Sri Baginda mengeluarkan perintah rahasia bahwa urusan yang harus diselesaikan malam ini penting sekali Apakah kau sudah menyiapkan segalanya dengan baik?"

Tanyanya. Komandan tentara itu kembali membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"Betul, hamba sudah menyiapkan segalanya."

Kongcu berkata lagi dengan suara berbisik.

"Tentunya meriam-meriam itu sudah ditempatkan dengan baik, bukan?"

"Betul, Lam tayjin sendiri yang akan memberikan petunjuk,"

Sahut si komandan.

Siau Po yang ada di dalam tandu dapat mendengar semuanya dengan jelas, Dalam hati dia berkata.

-Rupanya Sri Baginda memang tidak berdusta, Kalau Lam tayjin, si Setan Bule itu yang langsung memberikan petunjuknya, tembakan meriam itu tentunya tepat pada sasaran!

-"Sri Baginda berpesan agar aku menyelesaikan suatu urusan dalam gedung ini.

sebaiknya kau temani aku ke dalam,"

Kata Kian Leng Kongcu pula.

"Lapor Tuan Puteri, waktunya sudah mendesak sekali, Sekarang kita tidak bisa lagi masuk ke dalam,"

Sahut si komandan Kian Leng Kongcu segera memperlihatkan kemarahannya.

"Mana mungkin tidak boleh? ini perintah langsung dari Raja, kau berani membangkang?"

Bentaknya.

"Hamba tidak berani, Tapi... tapi benar-benar berbahaya, tubuh Tuan Puteri ibarat emas murni...."

Siau Po yang ada di dalam tandu mengeluarkan suara batuk satu kali, To Hong Eng segera menerjang ke depan dan menotok tiga kali pada bagian pinggang dan bawah ketiak si komandan.

Terdengar suara dengusan dari hidung si Komandan, tahu-tahu tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi, Kemudian dia merasakan serangkum hawa dingin menyusup dalam punggungnya.

Kali ini rasa terkejutnya jangan dikatakan lagi.

Tapi dia benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi Rupa-nya punggung orang itu telah ditusuk oleh sebatang pedang yang bukan main tajamnya, tapi dia hanya terluka sedikit.

"Sri Baginda telah menurunkan perintah, Apabila kau membangkang, penggal saja kepalamu, juga seluruh anak buahmu harus dibunuh sampai habis,"

Kata Kian Leng kongcu.

"Baik, baik,"

Sahut si komandan dengan suara gemetar.

Tiba-tiba hati Siau Po tergerak.

--orang-orang dalam pasukan ini semuanya pernah mengikuti aku.

Mereka tidak pernah membantah mengapa mereka harus dibunuh?

-pikirnya.

-Lebih baik disuruh menjadi pasukan Berani Mati yang menghadang di depan, -Karena mendapat pemikiran demikian, dia segera berbisik di sisi telinga Kian Leng kongcu.

"Suruh dia perintahkan lima puluh anak buahnya untuk menemani kita masuk ke dalam rumah."

"Panggil lima puluh orang tentaramu untuk menemani kita masuk ke dalam rumah!"

Kata Kian Leng kongcu.

"Ba... ik, ba... ik...."

Komandan itu segera menyuruh lima puluh orangnya untuk mengiringi di belakang tandu si Tuan Puteri, Mereka langsung masuk ke dalam, Diamdiam Siau Po telah memerintahkan Cio Ci Hian dan anak buahnya menjaga di luar gedung.

Tandu digotong masuk ke dalam halaman kedua.

Kongcu dan Siau Po keluar dari tandu, diperintahkannya ke lima puluh tentara tersebut untuk berbaris dan menunggu di tempat itu.

Dengan diiringi To Hong Eng yang mencekal si komandan, mereka melangkah masuk ke dalam.

Begitu masuk ke dalam, mereka melihat Tan Kin Lam, Bhok Kiam Seng, Ci Thian Coan dan yang lain-lainnya sudah ada di sana.

Mereka merasa heran ketika melihat Siau Po masuk ke dalam dengan diiringi oleh seorang nyonya yang anggun, seorang dayang dan seorang petugas kerajaan.

Siau Po menggapaikan tangannya, Para hadirin segera menghampirinya, Dia segera berbisik.

"Raja sudah tahu bahwa kita mengadakan pertemuan di sini. Di luar gedung ini telah dijaga ketat oleh puluhan tentara, juga telah disiapkan belasan meriam yang diarahkan ke mari."

Orang-orang gagah yang berkumpul dalam ruangan itu terkejut setengah mati, Wajah mereka berubah seketika.

"Lebih baik kita menerjang ke luar saja dan bunuh setiap orang yang menghalangi kita!"

Usul Liu Tay Hong. Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisa!"

Sahutnya.

"Tentara yang menjaga di luar terdiri dari tentara yang sudah terlatih dengan baik, Apalagi kehebatan meriam-meriam itu. Aku membawa puluhan tentara ke dalam sini. sebaiknya semua mengganti pakaian dengan seragam mereka, barulah kita keluar dari sini,"

Katanya. Para hadirin memuji akalnya yang cerdik. Siau Po segera memberi petunjuk lagi kepada Kian Leng kongcu, Si Tuan Puteri berkata kepada si komandan.

"Suruh dua puluh orang anak buahmu masuk ke dalam!"

Sejak semula si komandan sudah merasa urusan ini kurang beres, tapi pedang To Hong Eng menempel di batang lehernya, mana mungkin dia berani berbuat apa-apa?

Terpaksa dia memerintahkan dua puluh anak buahnya masuk ke dalam ruangan.

Para anggota Thian Te Hwee dan beberapa orang dari Bhok onghu sudah menunggu di balik pintu.

Begitu kedua puluh tentara itu masuk ke dalam, mereka segera mengayunkan tinju dan tendangan sehingga semuanya semaput.

Kian Leng kongcu kembali menyuruh si Komandan menitahkan lima belas anak buahnya masuk ke dalam, kejadian tadi terulang kembali.

Terakhir yang lima belas orang juga disuruh masuk, Para anggota Thian Te Hwee dan orang-orang dari Bhok onghu sibuk mengganti mereka dengan seragam para tentara, Bahkan Kian Leng kongcu juga ikut mengganti pakaiannya.

Siau Po melihat Bhok Kiam Peng dan Cin Ju masuk ke dalam ruangan yang satunya lagi untuk mengganti pakaian mereka, Tapi dia tidak melihat Song Ji.

Cepat dia menanyakannya kepada Cin Ju.

"Adik Song Ji sudah begitu lama pergi ke istana untuk melihat kau, tapi belum kembali juga, pasangan suami istri Kui Heng Su juga menyelinap ke dalam istana tapi tidak ada kabar apa-apa. Dia menjadi khawatir Akhirnya ia ikut keluar dengan Hong toaya untuk mencari informasi,"

Kata Cin Ju.

"Mereka keluar setelah makan siang, mengapa sampai sekarang belum kembali juga?"

Tanya Kiam Peng.

Siau Po mengerutkan keningnya, Dia tahu ilmu silat Hong Ci Tiong cukup tinggi, tentu dapat melindungi keselamatan Song Ji.

Tapi mereka tidak tahu rencana Raja, bagaimana kalau setelah mereka pergi nanti, kedua orang itu justru kembali lagi kemari?

Apabila pada saat itu meriam ditembakkan, bukankah mereka akan mati konyol?

Setelah merenung sejenak, Siau Po berkata kepada Cian Lao Pan.

"Cian toako, Hong toako dan Song Ji keluar mencari informasi, sampai sekarang mereka masih belum kembali Kita harus meninggalkan kode rahasia di sini, Dengan demikian, apabila mereka kembali nanti, mereka bisa melarikan diri secepatnya."

Cian Lao Pan mengiakan.

Karena keadaannya sudah mendesak, dia segera mengeluarkan pedangnya lalu ditikamnya dua orang tentara yang menggeletak di atas lantai, Setelah itu dia merobek ujung pakaiannya lalu dilumuri dengan darah kedua tentara itu dan dituliskannya dua kata "Cepat kabur"

Yang besar-besar di sekeliling tempat itu.

Tepat pada saat itu, semua sudah selesai menyalin pakaian.

Siau Po mengajak para hadirin ke istal untuk mengambil kuda tunggang, Empat orang Thian Te Hwee menyamar sebagai thay-kam, Mereka menggotong tandu si Tuan Puteri ke luar To Hong Eng masih menggiring si komandan, sedangkan para tentara lainnya ada yang jatuh semaput dan ada pula yang ditotok jalan darahnya, Mereka ditinggalkan dalam gedung Siau Po.

Siau Po sendiri tetap duduk dalam tandu bersama Kongcu, Begitu keluar dari gedungnya, dia baru bisa menghembuskan nafas lega.

Dalam hati ia berpikir.

-Para pelayan, pengurus kuda bahkan koki yang bertugas di rumahku ini pasti tidak terhindar dari ledakan meriam, Tapi seandainya aku mengajak mereka semua, sisa para tentara yang ada di depan pasti akan merasa curiga, -Kemudian dia berpikir lagi, Tempo hari ketika berada di Gunung Ngo Tay San, kita menyamar sebagai Ihama untuk menolong si Raja Tua, Hari ini kami menggunakan cara yang sama.

Cara melarikan diri seperti kura-kura ini memang berguna sekali, Tempo hari digunakan untuk menolong Lo Hongya, sekarang digunakan untuk menolong Siau Kui Cu.

Benar-benar berhasil Para hadirin keluar dari gedung itu bersama-sama tandu Kongcu, Si komandan masih ikut serta.

Tampak puluhan siwi mengadakan perondaan dengan berjalan mondar-mandir, Tapi di mana meriam-meriam itu diletakkan, sampai saat itu masih belum terlihat.

Setelah terlepas dari bahaya, hati Siau Po agak lega.

Apalagi melihat guru dan saudara-saudaranya tidak sampai terkena tembakan meriam, hatinya semakin girang dan terhibur.

"Komandan ini telah melakukan kesalahan be-sar.,."

Katanya kepada Cio Ci Hian.

"Sebaiknya kau giring dia ke dalam penjara, Kecuali Sri Baginda sendiri, siapa pun tidak boleh menemuinya, Keputusannya, tunggu sampai aku kembali saja."

Cio Ci Hian segera mengiakan.

"Orang ini adalah pengkhianat besar, Sri Baginda benci sekali kepadanya, Begitu mendengar namanya saja, pasti gusar sekali. Harap kau sampaikan kepada saudara lainnya agar berhati-hati, jangan sampai Sri Baginda mendengar nama si Pengkhianat besar ini,"

Kata Siau Po pula.

Setelah mendapat perintah, Cio Ci Hian segera membawa anak buahnya seraya menggiring si Komandan meninggalkan tempat itu.

Keadaan si Komandan bagai telur di ujung tanduk, Bagaimana nasibnya di kemudian hari, Siau Po juga enggan memikirkannya.

Para hadirin tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Mereka hanya berjalan menuju ke tempat yang sepi.

"Bagaimana hasil pasangan suami istri Kui Heng Su yang menyelinap ke dalam istana?"

Tanya Tan Kin Lam tiba-tiba.

"Mereka bertiga...."

Belum sempat Siau Po menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari arah kedatangan mereka, terdengar suara ledakan yang memekakkan gendang telinga.

Tidak salah lagi, tentunya gedung tempat tinggal Siau Po telah menjadi sasaran menang Kobaran api dan kepulan asap tampak membumbung sampai tinggi, bahkan papan dan bebatuan beterbangan ke angkasa, orang-orang gagah yang ada di tempat itu merasa tanah yang mereka injak bergetar.

Suara ledakan masih berkumandang terus, Mengerikan sekali!

Orang-orang Thian Te Hwee dan orang-orang Bhok onghu saling lirik sekilas, mereka tidak menyangka tembakan meriam bisa sedahsyat itu.

Apabila mereka terlambat pergi sebentar saja, entah bagaimana bentuk tubuh mereka sekarang?

Terdengar Liu Tay Hong memaki.

"Maknya! Benar-benar...."

Terdengar lagi suara ledakan yang keras sehingga katakatanya yang selanjutnya tertekan, Begitu memandang ke arah gedung Siau Po, tampak cahaya api sudah mulai pudar, berganti dengan asap hitam yang menutupi sebagian langit.

--Ledakan sekeras ini pasti terdengar juga oleh si Raja cilik, Apabila dia mengutus orang memanggil aku untuk berbicara, kedokku ini pasti akan terbuka segera.

-Pikir Siau Po dalam hati.

Dia segera keluar dari tandu untuk menghampiri Tan Kin Lam.

"Suhu, kita harus meninggalkan kotaraja secepatnya, Kalau berita ini sudah tersiar, mungkin seluruh pintu kota akan ditutup, Kita pasti sulit untuk keluar lagi,"

Katanya.

"Tidak salah, sekarang juga kita berangkat,"

Sahut Tan Kin Lam. Tepat pada saat itu, Kian Leng kongcu juga keluar dari tandunya.

"Kau kembali dulu ke istana, Setelah keadaan tenang, aku akan menjemputmu lagi,"

Kata Siau Po. Kongcu terkejut sekaligus marah.

"Apa kau bilang?"

Siau Po mengulangi kata-katanya.

"Kau memungkiri kata-katamu sendiri, sekarang kau sudah terlepas dari bahaya, kau ingin membuang aku begitu saja?"

Teriak kongcu.

"Bukan, bukan begitu,"

Sahut Siau Po gugup, Belum lagi dia menyelesaikan katakatanya, tahu-tahu terdengar suara plak!

Pipinya kena ditampar keras-keras oleh si Tuan Puteri.

Orang-orang yang ada di tempat itu jadi terpana, barusan mereka sudah melihat kedahsyatan ledakan meriam yang ditembakkan, kalau bukan karena Siau Po yang datang memberi kisikan, tentu mereka tidak mempunyai kesempatan untuk meloloskan diri.

Tubuh mereka pasti sudah hancur lebur saat ini.

Karena itu, kalau biasanya ada yang kurang memandang mata kepada Siau Po, pada saat itu mau tidak mau timbul juga rasa hormat dan berterima kasih dalam hati mereka, Melihat bocah tanggung itu mendadak kena tamparan, ada orang yang langsung menerjang ke depan untuk mendorong Kongcu, bahkan ada beberapa orang yang membuka mulut memakimakinya.

Kongcu tidak pernah mendapat perlakuan sedemikian rupa, Dia langsung menangis meraung-raung.

"Kau sendiri yang bilang akan menikah denganku itulah sebabnya aku sudi kabur denganmu, Aku malah menyuruh komandan tentara menolong teman-temanmu! Kau... penjahat... busuk! perhitungan kita belum selesai! Anak dalam perutku ini...."

Siau Po takut Tuan Puteri akan melanjutkan kata-katanya sehingga perbuatannya yang memalukan akan terbongkar maka cepat-cepat dia menyahut.

"Baik, baik, Kau ikut saja denganku. sekeluarnya dari kotaraja, kita baru bicarakan lagi masalah lainnya."

Sembari mengusap air matanya, Kongcu tertawa senang, Dia membalikkan tubuh dan naik ke atas punggung seekor kuda. Serombongan orang itu tiba di Cao Yang Bun, pintu keluar sebelah timur.

"Firman rahasia dari Raja untuk keluar kota menangkap pemberontak Cepat bukakan pintu gerbang!"

Teriak Siau Po.

Pakaian yang dikenakan oleh orang-orang itu ialah seragam tentara pasukan pribadi Raja, Tentu saja para penjaga gerbang pintu tidak ada yang berani mencegah, Apalagi barusan mereka telah mendengar suara tembakan meriam yang memekakkan telinga dalam kota pasti telah terjadi sesuatu Pasukan ini pasti mendapat tugas langsung dari Sri Baginda, Karena itu mereka segera membukakan pintu.

Serombongan orang itu berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka menuju ke timur, Siau Po dan Tan Kin Lam duduk bersama di atas punggung seekor kuda, Dia menceritakan peristiwa mengenaskan yang terjadi pada diri ketiga orang dari keluarga Kui itu.

Dia juga menceritakan bagaimana rahasianya telah diketahui oleh Raja Tatcu.

"Siau Po, biasanya aku selalu menganggap kau tidak-pernah serius menghadapi apa pun. Kau juga tidak jujur dalam segala hal, Tapi, ternyata dalam situasi yang demikian genting, kau bisa mengutamakan kesetia kawanan, Kau tidak serakah akan kedudukan atau pun harta benda, Kau tidak mengkhianati sahabat-sahabatmu, Sungguh orang yang sulit ditemui!"

Puji Tan Kin Lam. Siau Po tertawa.

Baca Juga: Bangau Sakti 30

Baca Juga: Jaka Lola Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert