Eps 21 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Sahabat-sahabat yang lain masih tidak apa-apa, tapi mengkhianati dan menjual guru sendiri, sekali-sekali tidak boleh dilakukan,"
Sahutnya.
"Apanya yang "
Sahabat-sahabat yang lain masih tidak apa-apa "? pokoknya asal yang namanya teman, kau tidak boleh mengkhianatinya, Bukan hanya gurumu saja,"
Kata Tan Kin Lam. Siau Po meleletkan lidahnya.
"Suhu, tecu minta maaf, tecu tidak pernah mendapat pendidikan, jadi banyak hal yang tecu kurang mengerti, harap suhu jangan ambil hati!"
Sahutnya.
Tiba-tiba dia teringat masa lalunya dengan si Raja cilik, Meskipun menghadapi seorang kaisar, dia bisa bicara seenaknya, Sungguh indah masa-masa itu.
sekarang urusannya jadi begini, Mungkin dia tidak akan mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi dengan sahabatnya itu.
Tanpa dapat ditahan lagi, serangkum rasa pedih menyelimuti batinnya.
"Kita menyamar sebagai tentara garis depan, tidak sampai setengah hari, Raja tatcu pasti mengetahuinya. sebaiknya kita segera mengganti pakaian lagi,"
Kata Tan Kin Lam.
"Betul, sesampainya di desa pertama, kita harus membeli pakaian untuk kembali menjadi diri kita sendiri,"
Sahut Siau Po.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh li, mereka sampai di sebuah dusun, Tapi ternyata di dusun ini tidak ada orang yang menjual pakaian Tan Kin Lam orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi, Urusan militer, dialah jagonya, Namun menghadapi urusan sepele seperti ini, dia justru tidak tahu apa-apa.
Untuk sesaat dia jadi kebingungan.
"Terpaksa kita menuju dusun satunya lagi di depan sana, Semoga saja ada yang menjual pakaian, toko pakaian bekas pun jadilah,"
Katanya. Mereka meneruskan perjalanan sekeluarnya dari dusun itu, mereka melihat ada sebuah gedung besar yang temboknya tinggi sekali. Bangunannya cukup megah, Tibatiba hati Siau Po tergerak.
"Suhu, bagaimana kalau kita mampir ke rumah itu dan meminjam beberapa pakaian dari si pemilik rumah?"
Tanyanya. Untuk sesaat Tan Kin Lam merasa bimbang.
"Mungkin pemilik rumah tidak sudi meminjamkannya,"
Sahutnya. Siau Po tertawa.
"Kita kan tentara kerajaan Kalau tentara kerajaan tidak memeras orang-orang kaya dan gedung-gedung mewah, siapa lagi yang bisa mereka peras atau rampok?"
Tanpa menunggu jawaban, dia meloncat turun dari kudanya dan berjalan ke arah pintu gerbang yang besar lalu mengetuk-ngetuk cantelan pintunya yang terbuat dari logam sehingga menimbulkan suara dentangan yang bising.
Seorang pelayan laki-laki keluar membukakan pintu, Rombongan Siau Po menerjang masuk, Setiap bertemu dengan orang, mereka segera memereteli pakaiannya untuk digantikan dengan pakaian seragam yang mereka kenakan.
Pemilik rumah rupanya seorang pejabat dari kotaraja yang sudah pensiunan.
Dia melihat sikap tentara-tentara kerajaan itu seperti singa-singa yang kelaparan.
"Para Tuan Besar, harap jangan bersikap kasar, sebentar aku akan menyuruh orang menyiapkan hidangan Setelah kenyang, pasti ada hadiah yang dapat dibagi-bagi.,."
Katanya beruIang-ulang. Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba lengannya telah dicekal oleh seseorang, pakaiannya dilepaskan dengan kasar, Rasa terkejutnya jangan ditanyakan lagi.
"Aduh! Aku sudah tua, jangan main-main...!"
Teriaknya panik.
Rombongan Siau Po tertawa terbahak-bahak.
Belasan stel pakaian telah didapatkan oleh mereka, Pemilik rumah dan pelayannya merasa malu sekali.
Untung saja selera para tentara ini agak aneh, pikir mereka, Hanya pakaian orang laki yang dilepaskan sedangkan orang perempuan tidak diusik sedikit pun Setelah melepaskan pakaian orang laki-laki dalam rumah itu, mereka juga tidak mengambil tindakan apa-apa.
Mereka justru melepas pakaiannya sendiri dan diganti dengan pakaian yang mereka dapatkan Setelah itu mereka keluar dari rumah tersebut dan pergi secepatnya dengan menunggang kuda masing-masing.
Pemilik rumah saling menatap dengan para pelayannya, Mereka benar-benar tidak mengerti maksud para tentara itu.
Rombongan Siau Po tiba di tempat yang sepi.
Bhok Kiam Peng, Cin Ju dan Kongcu menuju belakang semak-semak untuk mengganti pakaian mereka, semuanya mengenakan pakaian laki-laki.
Setelah itu mereka naik lagi ke atas punggung kuda untuk melanjutkan perjalanan Siau Po masih teringat akan budak kesayangannya, Song Ji.
"Entah bagaimana nasib Hong toako dengan budak cilikku itu,"
Katanya.
"Aku berharap salahmseorang saudara dari luar daerah dan wajahnya asing untuk masuk ke kotaraja untuk mencari keterangan."
Dua orang saudara anggota Thian Te Hwee yang berasal dari Kuang Say segera menerima baik perintah itu dan pergi.
Setelah sekian lama masih belum terlihat adanya tentara kerajaan yang mengejar, hati orang-orang dalam rombongan itu baru merasa agak lega, Setelah menempuh perjalanan sejenak lagi, tiba-tiba Kiam Peng mengeluarkan seruan terkejut, tapi lalu tertawa terkekeh-kekeh.
Rupanya kuda yang ditunggangi Cin Ju tiba-tiba berak setumpuk besar dan hampir saja terinjak oleh kaki Bhok Kiam Peng.
Baru berjalan belum berapa lama, kembali ada beberapa ekor kuda yang buang air besar lagi, Kernudian kuda yang ditunggangi Hian Ceng tojin tiba-tiba meringkik keras dan jatuh terkulai Biar dibujuk dengan cara apa pun, kuda itu tidak mau bangkit lagi.
"To tiang, kita tunggang kuda bersama saja!"
Ajak Cian Lao pan.
"Baik!"
Sahut Hian Ceng tojin, Dia meloncat naik ke belakang Cian Lao Pan dan duduk be-rendeng dehgannya. Mendadak Siau Po tersadar Hatinya langsung terkejut setengah mati.
"Hukum karma! Hukum karma! Kali ini benar-benar runyam!"
Teriaknya.
"Ada apa?"
Tanya Tan Kin Lam.
"Arwah Gouw Eng Him pasti datang mencari aku! Dia benci aku karena telah meringkusnya, juga merebut... merebut...."
Kata-kata "istrinya"
Hampir terlontar dari mulut si bocah tanggung, untung saja dia segera sadar.
Dia teringat ketika mendapat firman untuk mengejar Gouw Eng Him.
Kuda yang ditunggangi rombongan itu diberi makan kacang kedelai sehingga berak-berak dan lemas, Ifulah sebabnya mengapa Siau Po tidak mendapat kesulitan menangkapnya, Kalau saja saat itu Gouw Eng Him berhasil sampai ke Inlam, tentu Raja cilik tidak bisa membunuhnya, Setelah ditanyakan sampai jelas, rupanya dia sendiri yang mengurus pengurus kudanya mengerjai mereka.
Sekarang dia sendiri berusaha melarikan diri, kuda-kudanya juga terkulai lemas seperti tempo hari.
Apalagi kalau bukan arwah Gouw Eng Him yang sedang membalaskan dendamnya?
LagipuIa Siau Po kabur dengan membawa istri orang itu, Setelah mati, kepala Gouw Eng Him harus mengenakan topi hijau pula, Bagaimana arwahnya bisa tenang di alam baka?
Semakin dipikirkan hatinya semakin takut.
Tubuhnya langsung gemeter.
Terdengar ringkikan dua ekor kuda yang kemudian jatuh terkulai juga.
Tan Kin Lam juga merasa ada yang tidak beres, dia menanyakan dengan terperinci Siau Po segera menjelaskan situasi yang dialami Gouw Eng Him ketika dia menangkapnya.
"Pasti arwah Gouw Eng Him gentayangan sekarang dia sedang membalas dendam Ini... ini.,."
Kata Siau Po dengan suara bergetar. Kongcu jadi marah.
"Gouw Eng Him si budak hina, ketika hidup jadi orang cacat, setelah mati masih jadi setan penasaran Apa yang kau takutkan?"
Tan Kin Lam mengerutkan keningnya.
"Siang hari bolong begini mana mungkin ada setan? Tempo hari ketika kau meracuni kuda-kuda Gouw Eng Him, apakah Raja Tatcu juga mengetahui persoalannya?"
Tanyanya.
"Tentu saja tahu. Dia malah memuji aku sebagai panglima yang beruntung,"
Sahut Siau Po. Tan Kin Lam manggut-manggut.
"ltu dia! Raja Tatcu menggunakan cara yang sama untuk membalas budi panglimanya yang beruntung. Dia takut kau akan melarikan diri, Sebelumnya dia sudah menyuruh orang memberi kudaku kacang kedelai seperti yang kau lakukan."
Siau Po segera tersentak sadar.
"Benar! Benar! Hari itu ketika kami berhasil meringkus Gouw Eng Him, Raja merasa senang sekali, Bahkan Raja menghadiahkan pangkat bagi tukang kudaku, Dia disuruh mengurus kuda-kuda di istana, Kali ini pasti dia pula yang meracuni kuda-kudaku,"
Sahutnya.
"ltu dia! Dalam hal ini, diakan ahlinya, Sifat setiap kuda pasti sudah dihapalnya dengan baik. Kalau memang dia yang memberikan racun, mana ada istilah melesetnya?"
Kata Tan Kin Lam.
Baru saja dia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba kuda tunggangannya menerjang ke depan lalu jatuh dengan posisi kedua kaki depan meringkuk, Siau Po segera melompat turun.
Dilihatnya kuda itu berusaha untuk bangkit kembali, tetapi kenyataannya malah semakin parah.
Bahkan kedua kaki belakang pun ikut terkulai "Binatang-binatang ini tidak dapat dimanfaatkan lagi,"
Kata Tan Kin Lam.
"Kita harus membeli kuda-kuda baru di dusun depan sana."
"Dalam waktu sesaat ingin membeli begini banyak kuda, juga sulit mendapatkannya!"
Ujar Liu Tay Hong.
"Memang betul. sebaiknya untuk sementara kita berpencar saja,"
Kata Tan Kin Lam. Ketika berbicara itulah, dari arah jalan utama sayup-sayup terdengar suara derap kaki kuda.
"Para tentara sedang mengejar kita, Lebih baik kita bunuh saja semuanya lalu kita rebut kuda-kuda mereka!"
Seru Hian Ceng tojin dengan suara riang.
"Saudara-saudara dari Thian Te Hwee, kalian bersembunyi di kedua sisi jalan, saudara-saudara dari Bhok Onghu dan Ong Ok San juga ikut memencarkan diri mengikuti saudara dari Thian Te Hwee, Begitu para tentara itu mendekat, kita serang mereka dengan mendadak.... Eh, Kok rasanya tidak benar.,."
Seru Tan Kin Lam.
Suara derap kaki kuda semakin jelas, malah gerakannya menggetarkan tanah yang mereka pijak.
Tampaknya tentara yang datang mengejar jumlahnya tidak kurang dari dua ribuan orang, Tentu saja yang lainnya tidak perlu bertanya lagi arti seruan Tan Kin Lam yang terakhir.
Wajah mereka segera berubah menjadi pucat pasi, jumlah mereka hanya puluhan orang, Meskipun ilmu silat mereka cukupan, tapi di tengah hari bolong dan tanah datar seperti ini menghadapi ribuan tentara, rasanya sulit dilukiskan dengan kata-kata, Yang ilmu silatnya tinggi sekali, mungkin masih bisa menyelamatkan diri, tapi yang kelas tanggung tidak diragukan lagi harus kehilangan selembar jiwanya.
Tan Kin Lam mengambil keputusan.
"Jumlah tentara banyak sekali, Kita tidak boleh melawan dengan kekerasan!"
Semuanya menyelinap ke pedalaman!"
Serunya.
Baru sempat mengucapkan beberapa patah kata, suara derap kaki kuda sudah semakin mendekat, Ketika mata mereka diarahkan, tampak kepulan debu membubung tinggi di atas, seakan seluruh angkasa tertutup oleh kabut yang tebal.
"Celaka! Celaka!"
Teriak Siau Po seperti orang panik, Dia menggerakkan kakinya lalu lari terbirit-birit. Kongcu pun berseru memanggilnya.
"Hei, kau mau ke mana?"
Perempuan itu mengintil ketat di belakangnya.
"Lebih baik kau pulang saja ke istana, percuma saja kau ikut denganku!"
Jawab Siau Po dengan berteriak. Kongcu marah sekali mendengar ucapannya.
"Siau Kui Cu busuk, kau pikir bisa lari dariku? Tidak begitu mudah, tahu?"
Dalam hati Siau Po tidak henti-hentinya mengeluh --Rasanya lebih sulit menghindarkan diri dari Puteri ini daripada ribuan tentara itu!
-pikirnya.
Di kejauhan dia melihat ada lumbung yang tingginya melebihi tubuh orang dewasa di sebelah tenggara, Rasanya bisa digunakan sebagai tempat bersembunyi Oleh karena itu, tanpa berpikir panjang lagi Siau Po ngacir ke arah tersebut Setelah dekat dia dapat melihat di belakang lumbung i terdapat dua rumah petani, Selain itu tidak ada apa-apa lagi.
Dia berpikir, kuda-kuda tentara itu datangnya cepat sekali, sesaat lagi pasti akan tiba.
Karena itu dia segera menyusup ke dalam lumbung yang tinggi dan rimbun tersebut.
Tiba-tiba dia merasa bagian punggungnya mengetat, rupanya dia telah dicengkeram oleh seseorang, Lalu dia pun mendengar suara tawa si Tuan Puteri.
"Mungkinkah kau melarikan diri?"
Ejeknya. Siau Po merasa apa boleh buat, Terpaksa dia membalikkan tubuhnya dan tertawa getir.
"Lebih baik kau bersembunyi di sebelah sana. Setelah para tentara berlalu, kita baru bicarakan urusan kita!"
Kata pemuda itu. Tuan puteri menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa! pokoknya aku harus tetap bersamamu!"
Perempuan itu segera menghampirinya serta menyusup ke dalam lumbung padi, Belum lagi keduanya menempatkan diri dengan baik, mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekati "Wi hiocu! Wi hiocu!"
Terdengar pula suara seruan Cin Ju. Siau Po melongokkan kepalanya, Ternyata Cin Ju dan Bhok Kiam Peng sedang berjalan beriringan ke arah mereka.
"Aku di sini!"
Seru Siau Po.
"Cepat kalian menyusup ke dalam sini!"
Keduanya pun menurut perintahnya dan segera ikut bersembunyi di dalam lumbung padi tersebut.
Sebetulnya tempat itu tidak tepat dikatakan lumbung padi, karena posisinya di tempat terbuka, Padi-padi itu masih belum dibersihkan dan hanya ditumpukkan di tanah lapang sehingga berbentuk deretan panjang dan tinggi.
Ke empat orang itu menyusup semakin ke dalam, Siau Po merasa tempat itu tidak mudah di lacak oleh para tentara, Hatinya merasa agak tenang, Tidak lama kemudian terdengarlah rombongan kuda yang melewati tempat itu.
Siau Po pun berpikir dalam hati, -Tempo hari aku bersama A Ko, Su Thay, Suhu dan si bocah busuk juga bersembunyi di balik ladang gandum, Aih, seandainya disampingku sekarang bukanlah si puteri bawel ini, tapi si cantik jelita A Ko, entah bagaimana bahagianya perasaan ini.
En-tah bagaimana pula keadaan A Ko dan di mana dia berada?
Kemungkinan dia sudah menjadi istri Tan Kek Song, Dan bagaimana pula keadaan Song Ji sekarang?
-Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang yang mengeluarkan perintah, disusul dengan berhentinya derap kaki kuda.
suasananya membisingkan sebab mereka bukannya langsung berhenti, tapi hanya membalikkan arah kuda tunggangan mereka untuk menuju ke tempat persembunyian Siau Po.
Kongcu terkesiap.
"Mereka berhasil menemukan kita!"
Katanya khawatir "Jangan bersuara, mereka tidak mungkin melihat kita!"
Ujar Siau Po memperingatkan.
"Bukankah mereka sedang menuju ke mari?"
Kata Kongcu puIa, Terdengar salah satu dari tentara itu berseru.
"Kuda tunggangan para pemberontak itu terkulai di sekitar sini, mereka pasti belum sempat lari jauh. Geledah dengan seksama!" --Rupanya begitu, kuda-kuda sialan itu benar-benar mencelakakan kami! --Gerutu si Tuan puteri dalam hati, ia pun mengulur tangannya dan meremas jari jemari Siau Po. Di wilayah perbatasan Liau Tong memang merupakan tanah pertanian yang subur, daerahnya pun luas sekali Selain masih banyak ilalang yang tinggi, para petani setempat pun suka menundukkan padi hasil panenan di tempat-tempat terbuka, itulah sebabnya kalau dilihat dari kejauhan seperti padang rumput yang luas, Tempat itu pun sesuai untuk persembunyian, karena sulit disimak satu per satu, Yang jadi masalah, justru jumlah tentara yang demikian banyak, Kalau sepuluh orang memeriksa satu tempat saja, dalam waktu yang singkat mereka pasti berhasil ditemukan. Telinga Siau Po dapat mendengar suara para tentara yang semakin mendekat, dia pun berkata.
"Mari kita menyelinap ke rumah itu!" , tangannya menarik ujung baju Bhok Kiam Peng. Kemu-dian dia mendahului mereka menuju kedua rumah petani yang terletak di bagian belakang, Ketiga gadis itu pun segera mengintilnya. Setelah melewati pagar yang terbuat dari bam-bu, mereka sampai di depan pintu, Siau Po mendorongnya lalu melongok ke dalam Tidak terlihat seorang pun. Yang ada hanya perkakas pertanian, Siau Po segera mengambil beberapa helai pakaian kasar, lalu dibagi-bagikannya kepada ketiga gadis itu.
"Cepat kenakan!"
Perintahnya. ia sendiri pun segera mengenakan salah satu pakaian tersebut Kepalanya juga ditutupi sebuah kerudung bambu, Setelah itu dia duduk di sudut rumah. Tuan puteri tertawa mengikik.
"Senang juga rasanya dapat menyamar sebagai petani dusun!"
Katanya. Bhok Kiam Peng mengeluarkan seruan terkejut.
"Ah, mereka sudah datang"
Pintu kayu di dorong dengan keras sehingga menimbulkan suara Blam! Masuklahtujuh delapan orang tentara. Siau Po dan lainnya segera menolehkan wajah. Sesaat kemudian terdengarlah suara yang lantang.
"Di sini tidak ada orang, Penduduk desa sudah berangkat ke ladang!"
Siau Po merasa suara orang itu tidak asing bagi telinganya. Lewat celah topi pandannya dia meng-intip, Hatinya menjadi senang seketika, rupanya orang yang berbicara itu bukan lain dari Tio Liang Tong.
"Cong Peng Tayjin, keempat orang ini..."
Kata salah seorang tentara. Tapi Tio Liang Tong segera menukas ucapannya.
"Semuanya keluar dari sini! Biar aku yang mengadakan pemeriksaan. Rumah ini begini kecil, Mak-nya! Kalian semua kumpuI di sini, untuk membalikkan tubuh saja sulit!"
Para tentara itu segera mengiakan, lalu berjalan ke luar. Tio Liang Tong sengaja bertanya dengan suara keras.
"Apakah ada orang asing yang lewat di tempat ini?"
Dia berkata sembari berjalan ke arah Siau Po, Tangannya diulurkan, disodorkannya dua keping uang emas dan diletakkannya di bawah kaki pemuda itu. Kemudian dia berkata lagi dengan suara lantang.
"Rupanya orang-orang itu sudah lari ke arah utara! Mereka tahu pihak kerajaan sudah mengutus para tentara mengejar, mereka juga sadar kalau sampai tertangkap, batok kepala mereka pasti terpisah dari batang lehernya, sehingga cepat-cepat melarikan diri. Semakin jauh tentu semakin baik, Celakalah kita kalau tidak berhasil meringkus mereka!"
Dia membungkukkan tubuhnya dan memeluk Siau Po dengan tubuh sedikit limbung kemudian bangkit dan membalikkan tubuh serta berjalan ke luar "Para pemberontak itu sudah kabur ke arah utara, cepat kita kejar!"
Perintahnya lantang.
Siau Po menarik nafas Iega, Dalam hati dia berpikir --Bagaimana pun, Tio Cong Peng masih ada sedikit perasaan setia kawan terhadapku Kalau sampai perbuatannya ketahuan, batok kepalanya sendiri juga sulit dipertahankan lagi, -Terdengarlah suara derap kaki kuda yang serabutan.
Rombongan tentara itu melakukan pengejaran ke arah utara.
Sementara itu, Tuan puteri merasa heran.
"Cong Peng tadi terang-terangan sudah menemukan kita, tapi dia... eh, malah menghadiahkan uang untukmu! Oh, aku mengerti sekarang, rupanya dia temanmu..."
"Mari kita keluar lewat pintu belakang!"
Ujar Siau Po.
Dimasukkannya uang pemberian Tio Liang Tong, lalu mendahului yang lainnya menuju pintu belakang.
Begitu masuk ke ruangan belakang, dia melihat di sana duduk delapan sembilan orang, Siau Po terkejut setengah mati, Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan bermaksud mengambil langkah seribu, Tapi baru lari dua langkah, bagian kerahnya terasa mengencang, rupanya dia telah dicekal oleh seseorang, kemudian tubuhnya diangkat ke atas.
Terdengar orang itu berkata dengan nada dingin.
"Mau coba lari lagi?"
Orang yang berbicara itu tidak lain dari Hong Kaucu, Yang lainnya terdiri dari Hong Hujin, Poan Tau To, Liok Ko Hian, Ceng Liong Su Kho Soat Teng, Bu Kin tojin, Tio Tam Goat, serta Oey Liong Su.
Pokoknya tokoh-tokoh utama pihak Sin Liong To sudah berkumpul di situ, Dan ada pula seorang gadis yakni Pui Ie.
Tuan puteri menjadi marah sekali melihat kejadian itu.
"Mengapa kau menariknya sedemikian rupa?"
Bentaknya sembari mendupakkan kakinya ke arah Hong Kaucu.
Pemimpin Sin Liong Kau itu mengulurkan tangan kirinya dan menotok jalan darah di paha Tuan Puteri, perempuan itu mengeluarkan suara erangan lalu jatuh terkulai di atas tanah.
Tubuh Siau Po melayang di tengah udara.
"Kaucu dan Hujin ibarat dewata, usianya dan rejekinya sama dengan langit, Terimalah penghormatan dari tecu, Wi Siau Po!"
Teriaknya. Hong Kaucu tertawa dingin.
"Untung kau masih ingat kata-kata itu!"
Ujarnya.
"Kata-kata itu sudah terpatri dalam sanubari tecu, Setiap pagi kalau bangun tidur, tecu selalu mengucapkannya satu kali, Sehabis membasuh muka, tecu menyebutnya satu kali lagi, sarapan juga tidak lupa mengucapkannya, demikian pula kalau makan siang atau pun makan malam. Bahkan apabila hendak tidur malam hari, tecu mengulanginya sekali lagi, pokoknya tecu tidak berani melupakannya, apalagi sampai salah mengucapkan Malah kalau tecu teringat budi besar yang telah ditanamkan Kaucu dan Hujin, hamba sengaja menghapalkannya beberapa kali lagi!"
Sahut Siau Po.
Bagian 82 Sejak kehancuran pulau Sin Liong to, sehingga sebagian besar pengikutnya mati dan sebagian lagi terluka dan melarikan diri, Hong Kaucu hanya mengajak beberapa kaki tangannya yang berilmu tinggi untuk berkelana di dunia kangouw.
Ucapan "Usia Kaucu seperti usia langit"
Jarang dihapalkan lagi, Kemungkinan semangat mereka juga sudah kendor, malah satu hari belum tentu dia mendengar katakata itu walau hanya satu kali, Sekarang, mendengar Siau Po mengucapkannya dengan lancar dan penuh semangat, hatinya terasa agak lapang.
Tanpa terasa dia melepaskan cekalannya, Wajah yang sebelumnya dingin dan kaku mulai tersungging sedikit senyuman.
"Hari ini tecu dapat bertemu kembali dengan Kaucu dan Hujin, tubuh ini terasa jauh lebih ringan dan semangat pun menyala-nyala. Hanya saja, ada satu hal yang tecu tidak mengerti,"
Kata Siau Po.
"Apa itu?"
Tanya Hong Kaucu.
"Tempo hari tecu berpisah dengan Kaucu serta Hujin. Kalau dihitung-hitung, rasanya sudah cukup lama juga, tapi mengapa tampaknya kaucu malah lebih muda tujuh delapan tahun, dan Hujin justru lebih pantas menjadi adikku?"
Sahut Siau Po.
"Bukankah hal ini benar-benar sulit dimengerti?"
Hong Hujin tertawa terkekeh-kekeh, dia mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Siau Po.
"Eh, Monyet kecil, kalau menepuk pantat kuda, kau memang paling pintar!"
Katanya. Tuan Puteri marah sekali.
"Perempuan ini benar-benar tidak tahu malu! Bicara dengan laki-Iaki, tidak cukup menggunakan mulut, tangan dan kaki pun ikut mengambil bagian!"
Sindirnya. Hong Hujin tertawa semakin lebar.
"Lho? Aku kan hanya menggerakkan tangan? Baiklah, sekarang kaki pun harus mengambil bagian!"
Selesai berkata, dia mengangkat sebelah kakinya lalu menendang lengan si Tuan Puteri, Tentu saja Kian Leng Kongcu menjerit kesakitan.
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang riuh dan sumbernya dari setiap arah, Tampaknya entah berapa banyak tentara telah mengepung di sekitar rumah itu.
Pintu besar terdorong, serombongan tentara menyerbu masuk, Mula-mula ada dua orang di antaranya yang menerjang ke da!am.
Mereka memperhatikan orang-orang dalam ruangan itu.
Salah satunya segera berkata.
"Rupanya hanya penduduk desa yang tidak ada gunanya!"
Siau Po mengenali suara orang itu sebagai suara Ong Cin Po.
Hatinya senang sekaIi.
Dia menoleh ke arah orang itu, ternyata di sebelah Ong Cin Po bukan lain dari Sun Kek Si.
Kedua orang itu memberikan isyarat dengan kerlingan mata, mereka juga mengulapkan tangan sebagai perintah agar tentara yang mengiringi mereka ke luar dari tempat itu, Lalu Sun Kek Si berkata dengan suara lantang.
"Hanya beberapa penduduk desa yang sudah tua renta! Hei, apakah kalian melihat adanya serombongan pemberontak yang melarikan diri lewat tempat ini? Baiklah, kami akan mencari ke tempat lain!"
Tiba-tiba saja hati Siau Po tergerak.
--Kali ini kembali aku terjatuh ke tangan orang-orang Sin Liong To.
Biar bagaimana caranya iku memutar lidah, rasanya selembar nyawa ini tetap sulit dipertahankan sebaiknya aku ikut saja dengan saudara Ong Cin Po serta yang lainnya, Begitu terlepas dari cengkeraman jahat pihak Sin Liong To, aku bisa memohon kepada saudara Ong Cin Po dan Sun Kek Si untuk membebaskan aku!
--Ketika melihat kedua orang itu bermaksud berjalan keluar, dia segera menegur "Ong koko, Sun koko, akulah Wi Siau Po, kalian bawalah aku."
"Kalian orang-orang dusun ini benar-benar cerewet, menggelindinglah jauh-jauh!"
Bentak Sun Kek Si.
"Saudara cilik ini menanyakan apakah kau mempunyai sedikit uang, soalnya dia sudah kehabisan,"
Tukas Ong Cin Po.
"Oh, uang? Ada! Ada!"
Dari dalam saku bajunya, Sun Kek Si mengeluarkan beberapa keping uang dan disodorkannya kepada Siau Po lalu berkata kembali "Ada beberapa orang penjahat yang melarikan diri dari kota Peking?
Raja marah sekali, sehingga mengutus ribuan tentara untuk mengejar mereka.
Begitu berhasil tertangkap, batok kepala orang-orang itu harus segera dipenggal Saudara cilik, tempat ini sangat berbahaya, seandainya para tentara salah tangkap dan batok kepala kalian dipenggal, namanya mati penasaran."
"Kalian tangkap saja aku, aku rela mengikuti kalian,"
Sahut Siau Po.
"Kau mau ikut kami menjadi tentara? Wah, ini bukan permainan! Di luar terdapat banyak pasukan yang membawa meriam. Begitu meriam ditembakkan, suaranya saja sudah memekakkan telinga, Biar pun ilmu silatmu tinggi, belum tentu kau bisa menyelamatkan diri,"
Kata Ong Cin Po.
Mendengar ucapannya, Siau Po berpikir dalam hati.
--Ada meriam?
Ya, lebih bagus lagi!
Aku yakin Hong Kaucu saja tidak berani sembarangan mengambil tindakan!
--Karena itu dia segera berkata lagi.
"Ada sedikit urusan yang ingin kusampaikan kepada Raja, mohon kalian bawa aku ke istana."
"Begitu Raja melihatmu, kau pasti dibunuhnya,"
Ujar Ong Cin Po.
"Raja juga tidak ubahnya dengan manusia biasa yang mempunyai sepasang mata dan sebuah mulut, apanya sih yang bagus dilihat? Saudara, kami meninggalkan tiga belas ekor kuda untuk teman-teman saudara yang ada di dusun ini. Kalian bersembunyilah sejauh-jauhnya, delapan atau sepuluh tahun kemudian, kau harus mengembalikan kuda-kuda tersebut Satu pun tidak boleh ada yang mati, kalau tidak, batok kepala kalianlah yang akan dijadikan pembayaran hutang ini!"
Selesai berkata, dia langsung berjalan ke luar. Siau Po menjadi panik, Dia menghambur ke depan dan menarik lengan baju Ong Cin Po sambil berteriak.
"Ong koko, cepat bawa aku!"
Tiba-tiba sebuah telapak tangan telah menekan di atas ubun-ubun kepalanya, lalu terdengar suara Hong Kaucu berkata.
"Saudara cilik, hati Tuan besar ini baik sekali, dia baru saja datang dari Kota Raja, yang mana pasti mengetahui dengan jelas situasi serta pemikiran Raja kita, kau jangan membuat keonaran!"
"Benar, sebaiknya kita kejar para penjahat itu sekarang!"
Ujar Sun Kek Si dengan suara lantang.
Siau Po sadar bahwa dirinya sudah terjatuh ke dalam tangan Sin Liong Kaucu.
Asal laki-laki itu menekan ubun-ubun kepalanya agak sedikit keras lagi, selembar jiwanya pasti melayang, Tapi dia juga sadar, meskipun kematian belum menjemputnya sekarang, waktunya pasti tidak larna lagi, Oleh karena itu dia menjadi nekat, sengaja dia berteriak keras-keras.
"Kalian tangkaplah aku! Aku adalah Wi Siau Po!"
Para tentara itu terperanjat Langkah kaki mereka pun terhenti seketika, sedangkan Sun Kek Si segera tertawa terbahak-bahak.
"Wi Siau Po adalah seorang pemuda berusia tujuh belasan tahun, kau ini kakek yang sudah hampir masuk lubang kubur, masak mengaku sebagai Siau Po, benar-benar menggeiikan!"
Selesai berkata, Sun Kek Si segera menarik ujung pakaian Ong Cin Po. Kedua orang itu berjalan ke luar dengan langkah lebar. Kemudian terdengarlah suara perintah.
"Tinggalkan tiga belas ekor kuda di sini, biar orang-orang itu dapat memberi kabar kepada tentara-tentara yang menyusul di belakang! Bakar rumah penduduk itu, agar para penjahat tidak dapat menggunakannya sebagai tempat persembunyian!"
"Terima perintah!"
Terdengar pula sahutan para tentara. Kemudian, beberapa di antaranya segera menyulut api obor, lalu diletakkannya di bagian depan pintu rumah. Hong Kaucu tertawa dingin.
"Teman-temanmu itu ternyata solider sekali, Sudah memberi uang, kuda pun ditinggalkan pula, Mari kita berangkat!"
Katanya.
Bhok Kiam Peng membimbing si Tuan Puteri, beramai-ramai mereka berjalan ke luar melalui pintu belakang, kemudian memutar ke bagian depan.
Ternyata di sana memang telah tersedia tiga belas ekor kuda.
Dua di antaranya memakai ladam yang indah sekali serta pelananya juga menyolok Rupanya itulah kuda tunggangan Ong Cin Po dan Sun Kek Si sendiri.
Mereka segera naik ke atas seekor kuda.
Siau Po berempat digiring di tengahtengah, mereka menuju ke timur, Siau Po sendiri terus berharap datangnya rombongan tentara yang lain agar ia dan teman-temannya segera diringkus, Hubungannya dengan si Raja cilik cukup dekat, biarpun kali ini kesalahannya cukup besar, belum tentu dia harus menebusnya dengan kepala dipenggal, sedangkan Kaucu dari Sin Liong Kau ini mempunyai watak yang jahat, licik serta hatinya beracun.
Kalau sampai jatuh ke tangannya, entah berapa banyak siksaan yang harus dideritanya sebelum mati.
Tapi, meskipun telah menempuh perjalanan sekian jauh, belum juga terdengar suara derap kaki kuda para tentara yang datang mengejar sedangkan kuda-kuda yang mereka tunggangi merupakan kuda-kuda pilihan yang diseleksi oleh Ong Cin Po sendiri.
Sudah barang tentu kecepatannya tidak perlu diragukan lagi, seandainya di belakang ada tentara yang menyusuI, belum tentu sanggup mengejar mereka, LagipuIa, sebelumnya Tio Liang Tiong, Ong Cin Po dan Sun Kek Si sudah mengalihkan pengejaran para tentara itu ke arah utara.
Sepanjang perjalanan, kecuali gerutuan dan caci maki si Tuan Puteri, tidak ada seorang pun yang bersuara, Akhirnya, Oey Liong Su menotok jalan darah gagu si Tuan Puteri, Biarpun dalam hati Kongcu itu mendongkol sekali, tapi apa boleh buat, dia tidak sanggup bersuara Iagi.
Hong kaucu memerintahkan rombongan orang-orang itu agar mempercepat perjalanan ke arah timur laut.
Malam hari mereka beristirahat di daerah pegunungan.
Beberapa kali Siau Po mencari akal untuk melarikan diri, namun kecerdikan Hong Kaucu tidak terpaut dengannya sehingga akhirnya dia malah menerima bogem mentah beberapa kali, jangankan melarikan diri!
Beberapa hari kemudian, mereka sampai ke tepi laut, Liok Ko Hian mengambil sekeping uang perak dari saku Siau Po, kemudian digunakan untuk menyewa perahu, Dalam hati Siau Po tidak hentinya mengeluh, malah uang untuk menyewa perahu saja harus dia yang mengeluarkan bukankah runyam?
Begitu semuanya naik ke atas perahu, tukang perahu segera mengembangkan layarnya untuk menuju ke arah timur laut Siau Po berpikir dalam hati.
--Kali ini tujuannya pasti pulau Sin Liong To Iagi.
Si Kura-kura tua tentu ingin mengumpankan diriku kepada ular-ular yang ada di sana!
--Setiap kali mengingat ular
Tiraikasih website
http.//cerita-silat.co.cc/ ular berbisa di sana yang melilit seluruh tubuhnya sembari menguakkan mulut lebarlebar, tubuh Siau Po pasti gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Diam-diam dia merenung -Paling bagus kalau bisa mendapatkan akal melubangi dasar perahu ini.
Dengan demikian kita semua akan mati bersama-sama, Siapa pun tidak ada yang merasa dirugikan!
Namun, para anggota Sin Liong Kau sudah mengenal betul kelicikan Siau Po.
Oleh karena itu mereka menjaganya dengan ketat Dengan demikian Siau Po juga tidak mempunyai kesempatan untuk menggunakan akalnya, Siau Po teringat, dirinya sudah dua kali ke pulau Sin Liong To.
pertama dengan Pui Ie dimana dalam sepanjang perjalanan mereka bersenda gurau, sungguh kenangan yang manis.
Dan kedua kalinya dia memimpin serombongan pasukan untuk meledakkan pulau itu, benar-benar berwibawa sekali lagaknya tempo hari.
Tapi, untuk ketiga kali ini, dia malah dalam keadaan tidak berdaya serta menjadi tawanan Kaucu Sin Liong Kau.
jiwanya bagai telur di ujung tanduk, Kalau dibandingkan dengan dua kali yang sebelumnya, benar-benar bagai langit dan bumi.
Sejak bertemu kembali dengan Pui Ie di perbatasan Kota Peking, gadis itu tidak menunjukkan perasaan sedih atau pun gembira.
Mimik wajahnya kaku seakan perasaannya telah mati.
Gadis itu juga tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun.
walaupun dia tidak menyulitkan posisi Siau Po, tapi gadis itu juga tidak melirik ke arahnya sekali pun.
Kadang-kadang Siau Po berpikir, kemungkinan Pui Ie berada di bawah tekanan Hong Kaucu, jadi, seandainya gadis itu mempunyai sedikit perasaan kepadanya, tentu dia tidak berani menunjukkannya.
Tapi, kadang-kadang pula Siau Po teringat kelicikan gadis itu yang membuatnya terperangkap berkali-kali, Sebetulnya, dari sekian banyak gadis yang dikenalnya, Pui Ie mempunyai pesona tersendiri serta menanamkan kesan yang paling dalam di hati Siau Po, namun dia juga merupakan gadis yang paling dibencinya.
Setelah berlayar beberapa hari, ternyata mereka sudah mendekati pulau Sin Liong To.
Liok Ko Hian dan poan Tau To menggiring Siau Po, Kongcu, Bhok Kiam Peng serta Cin Ju berempat naik ke daratan.
Salah seorang anak buah tukang perahu mencoba membangkang, Oey Liong Su langsung menggerakkan golok membunuhnya.
Para anak buah tukang perahu yang lain jadi ketakutan.
Mana mungkin mereka berani melakukan gerakan apa-apa.
Mereka terpaksa pasrah pada nasib.
Tampak pepohonan di pulau itu telah berubah menjadi tandus.
Tanah pun kering kerontang, Di mana-mana masih terlihat sisa kedahsyatan ledakan meriam yang ditembakkan tempo hari, Dari bagian pepohonan terhendus bau amis.
Di sana-sini tampak bangkai ular tergeletak, bahkan ada yang tinggal tulang belulangnya, Begitu sampai di halaman aula, tampak temboknya retak parah, sejumlah pondok bambu yang tadinya berjejer di kanan kiri empat itu sudah tidak berbentuk lagi, semuanya hancur akibat ledakan.
Hong Kaucu berdiri tertegun tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Wajah Oey Liong Su serta yang lainnya menyiratkan kemarahan, bahkan di antaranya ada yang mendelik ke arah Siau Po.
Tio Tan Goat langsung berseru dengan lantang.
"Hong Kaucu sudah kembali! Para anggota perkumpulan harap keluar melakukan penghormatan!"
Orang itu berteriak dengan mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, otomatis suaranya keras sekali, bahkan gemanya mencapai beberapa li.
Beberapa saat kemudian, dia berseru lagi dua kali, tapi dari dalam lembah hanya terdengar kumandang suaranya sendiri.
"Sudah kembali! Lakukan penghormatan!"
Lewat sesaat lagi, keadaan di sekitar tempat itu tetap sunyi senyap, Bukan saja tidak tampak seorang pun dari anggota perkumpulan itu menghambur keluar memberikan penyambutan, bahkan tidak terdengar sahutan sedikit pun.
Hong Kaucu menolehkan kepalanya.
"Kau menembakkan meriam ke pulau ini sehingga semuanya tidak tersisa! Tentunya sekarang kau sudah merasa puas, bukan?"
Katanya kepada Siau Po dengan nada dingin.
Siau Po melihat mimik wajah Kaucu itu menyiratkan kekejian hatinya, tanpa terasa bulu romanya jadi meremang, Kemudian dengan suara gemetar dia menyahut "Yang lalu biarkanlah...
berlalu, asal...
lain kali ja...
ngan terulang la...
gi.
Hong Kaucu mem...
punyai wibawa ibarat pa...
ra dewa, kekuasa...
annya tidak ter...
kalahkan....
Dalam waktu sekejap...
pasti berhasil membangkitkan lagi perkumpulan.-..
Sin Liong Kau....
Ini,., yang dinama...
kan semakin dibakar semakin...
matang, semakin diledakkan...
semakin semarak, Kaucu dan Hujin mempunyai rejeki yang tidak bisa disamakan dengan orang biasa...."
"Bagus sekali!"
Teriak Hong Kaucu sembari mendupak Siau Po keras-keras.
Tubuh si pemuda melayang ke atas lalu terjerembab di tanah dengan menimbulkan suara Bukk!
Tulang belulang di tubuh Siau Po seakan remuk, sakitnya tidak terkatakan, bahkan dia tidak sanggup merangkak bangun.
Cin Ju ketakutan melihat kegarangan Hong Kaucu, meskipun demikian dia tetap menghampiri Siau Po dan membantunya berdiri.
Oey Liong Su maju ke depan dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada sang Kaucu.
"Lapor kepada Kaucu! Pengkhianat ini jahat sekali, jangan sekali-sekali dikasih ampun, Biar hamba menebasnya dengan golok agar tubuhnya hancur tanpa bentuk!"
Katanya. Hong Kaucu mendengus satu kali.
"Tidak usah terburu-buru!"
Ujarnya, Lewat sesaat dia berkata lagi.
"Di dalam hati bocah ini terdapat sebuah rencana besar yang dirahasiakan Kebangkitan perkumpulan kita kemungkinan tergantung dari rahasia tersebut Oleh karenanya, untuk sementara ini dia tidak boleh dibunuh dulu!"
"Baik, baik,"
Sahut Oey Liong Su.
"Pandangan Kaucu sangat jauh, kecerdasannya pun melebihi manusia biasa, hamba yang bodoh ini tentu saja tidak mengerti jalan pemikiran Kaucu yang hebat!"
Hong Kaucu duduk di atas sebongkah batu besar, untuk sesaat tampak ia merenung.
"Untuk menghasilkan urusan yang maha besar, mulanya pasti banyak rintangan dan kendala, Apa yang dialami perkumpulan kita kali ini, tidak perlu diberatkan lagi. Sekarang ini para anggota kita sudah kucar-kacir. Yang penting sekarang kita mencari jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Harap kalian tidak sungkan-sungkan mengeluarkan pendapat yang berharga!"
Ujarnya kembaIi.
"Kaucu adalah seorang jenius, Biarpun kami berpikir sepuluh hari sepuluh malam, tetap saja kalah dengan pemikiran Kaucu sesaat, Lebih baik Kaucu saja yang memberikan jalan pemecahannya, hamba sekalian tinggal melaksanakannya dengan segenap kekuatan,"
Sahut Oey Liong Su. Hong Kaucu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yang penting sekarang ini kita harus mengumpulkan kembali anggota-anggota kita, Meskipun tempo hari para tentara Tatcu meledakkan tempat ini sehingga banyak yang terluka serta tewas, tapi kalau dihitung-hitung paling sepertiganya, sisanya yang dua pertiga mungkin kabur untuk menyelamatkan diri, Pertama-tama, Liok Kho Hian harus diangkat menjadi Pek Liong Su, dengan demikian lima duta besar kita menjadi genap kembali,"
Katanya pula. Liok Kho Hian segera membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terima kasih.
"Kalian berlima harus segera kembali ke cabang-cabang kita di berbagai daerah, cari sisa anak buah kita, dan cari pula pemuda pemudi yang bisa ilmu silat serta ajak mereka menjadi anggota kita, Kita bina kembali mereka demi membangkitkan perkumpulan kita ini,"
Ujar Hong Kaucu pula. Oey Liong Su, Tio Tam Goat serta Liok Kho hian segera memberi hormat.
"Hamba sekalian menerima perintah!"
Sahut mereka serentak. Bu Kin Tojin dan Kho Soat Teng tidak bersuara sama sekali, Hong Kaucu melirik kedua orang itu sekilas.
"Gi Liong Su dan Ce Liong Su, apakah ada yang ingin kalian katakan?"
Tanyanya.
"Jawab kepada kaucu! Hamba mempunyai dua buah permintaan. Harap Kaucu bersedia mempertimbangkannya!"
Sahut Kho Soat Teng. Kembali Hong Kaucu mendengus dingin.
"Urusan apa?"
Tanyanya kembali.
"Selama ini hamba sangat setia kepada Kaucu, tapi tampaknya Kaucu tidak sepenuhnya mempercayai kami, hal ini membuat hati kami menjadi gundah, Yang pertama, hamba mohon Kaucu memberikan pil penawar racun, Dengan demikian perasaan kami jadi tenang dan kami dapat melakukan tugas tanpa ada yang perlu dikhawatirkan,"
Sahut Kho Soat Teng.
"Apabila aku tidak bersedia memberikan pil penawar racun, tentunya kalian akan bekerja dengan setengah hati, bukan?"
Tanya Hong Kaucu dengan nada dingin.
"Hamba tidak berani. Urusan yang kedua yaitu mengenai penerimaan anggota yang masih muda belia, mereka tidak dapat diandalkan, bahkan bisa memberikan kerusuhan bagi kita, Begitu bertemu dengan urusan berat, mereka langsung kocar-kacir perkumpulan kita sedang menghadapi musibah, lihat saja... orang-orang yang masih setia dan bersedia mengikuti Kaucu hanya beberapa orang, yakni kami-kami ini. Pada waktu biasa, mulut para pemuda-pemudi itu sungguh manis, setiap hari mengatakan bahwa diri mereka akan setia, tidak takut menghadapi kematian, Tapi begitu benar-benar ada bencana, mana buktinya? Karena itu, hamba berpendapat lebih baik kita kumpulkan anggota tua yang masih setia kepada Kaucu, Mengenai para pemuda-pemudi yang tadi Kaucu katakan, sebaiknya dibatalkan saja. Sebagai contoh, Wi Siau Po ini, bukankah dia yang dianggap setia serta dapat diandalkan? Akhirnya dia pula yang mencelakai kita!"
Sahut Kho Soat Teng.
Setiap dia menambahkan sepatah kata, wajah Hong Kaucu semakin kelam, Hati Kho Soat Teng berdebar-debar, namun dia mengeraskan hati untuk menyelesaikan ucapannya.
Perlahan-lahan sinar mata Hong Kaucu beralih kepada Bu Kin Tojin, tatapannya tajam menusuk.
"Bagaimana dengan engkau?"
Bu Kin Tojin menyurut mundur dua langkah.
"Hamba sependapat dengan Ce Liong Su, jalanan yang dulu penuh diri, kita tidak boleh kita lalui lagi. Pepatah mengatakan, sebelum mencoba, bagaimana bisa tahu apa rasanya? Karena itu hamba yakin setelah pengalaman pahit ini, Kaucu yang cerdas tentu sudah mengerti sendiri bahwa anggota yang masih muda-muda tidak ada gunanya, Mereka tidak dapat diandalkan maka... maka,"
Sahut pendeta itu sembari menunjuk kepada Bhok Kiam Peng.
"Seperti nona cilik Bhok Kiam Peng itu, sebetulnya dia anggota dari Gi Liong Su kami. Kaucu telah menanam budi besar kepadanya, tapi begitu menghadapi masa sulit, dia langsung berkhianat dan memihak kepada musuh, Orang semacam dia harus dicari kembali satu per satu, Mereka harus ditebas dengan golok agar menjadi contoh bagi anggota lain yang berani berkhianat,"
Sahutnya. Mata Hong Kaucu beralih kepada Liok Kho Hian dan yang lainnya.
"Apakah urusan ini telah kalian rundingkan sebelumnya?"
Tanya pemimpin tersebut. Para hadirin tidak ada yang bersuara, sesaat kemudian Poan Tau To baru menyahut.
"Jawab Kaucu! Kami belum pernah merundingkan urusan ini, Tapi... tapi hamba merasa apa yang dikatakan Gi Liong Su dan Ce Liong Su memang beralasan."
Hong Kaucu menatap kepada Thio Tam Goat seakan menunggu pendapatnya.
"Bencana yang dialami oleh perkumpulan kita kali ini, tidak perlu diragukan lagi bahwa Wi Siau PoIah biang keladinya, Hamba paling tidak bisa percaya kepada manusia sepertinya,"
Sahut Thio Tam Goat penuh semangat. Hong Kaucu menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Bagus! Rupanya kau juga berpihak kepada mereka, Liok Kho Hian, bagaimana dengan engkau?"
Tanyanya setengah menyindir.
"Hamba telah mendapat budi besar dari Kaucu, bahkan sekarang diangkat menjadi Pek Liong Su. Tentu saja hamba akan mengeluarkan segenap kemampuan untuk bekerja serta berbakti kepada Kaucu, Apa yang dikatakan oleh Ce Liong Su sekalian tentunya demi kepentingan perkumpulan kita juga. Hamba yakin mereka tidak mempunyai niat Iain,"
Sahut Liok Kho Hian.
"Kata-kata kalian keliru sekali!"
Ujar Oey Liong Su.
"Kecerdasan Kaucu melebihi kita semua ratusan kali lipat, Untuk apa kalian bicara banyak? Yang penting kita mendengarkan petunjuk dari Kaucu dan Hujin. Meriam yang ditembakkan oleh tentara Tatcu sebetulnya malah membantu kita membersihkan perkumpulan Sin Liong Kau, karena dengan demikian para pengkhianat perkumpulan kita juga sudah pada mati oleh ledakannya, Lagipula kita menjadi tahu siapa yang setia dan siapa yang tidak! Kita para hamba ibarat katak dalam tempurung, yang terlihat hanya kegagalan sesaat, pandangan kita mana mungkin disamakan dengan pandangan Kaucu yang jauhnya mencapai tepi langit?"
Kho Soat Teng marah sekali mendengar ucapan itu.
"Keruntuhan perkumpulan kita pada hakekatnya justru terjadi karena adanya orangorang yang pandai menepuk pantat kuda semacam engkau! Kau sesumbar setinggitingginya, coba apa faedahnya bagi perkumpulan kita? Apa pula manfaatnya bagi Kaucu kita?"
Tanyanya keras.
"Apa maksudmu dengan mengatakan menepuk pantat kuda?"
Teriak Oey Liong Su tidak mau kalah.
"Bukankah sekarang kau sudah menunjukkan pembangkanganmu?"
Kho Soat Teng semakin gusar.
"KauIah manusia rendah yang tidak tahu malu! Kau merusak perkumpulan kita, kaulah yang membangkang!"
Sembari menyahut, tangannya menggenggam gagang pedang. Oey Liong menyurut mundur satu langkah.
"Tempo hari kau membuat keributan dan membantah ucapan Kaucu! Untung saja jiwa Kaucu serta Hujin sangat besar sehingga urusan itu tidak diperpanjang, Ternyata... hari ini kau berani membangkang lagi!"
Katanya.
Kho Soat Teng, Bu Kin Tojin, Thio Tam Goat, Liok Kho Hian, serta Poan Tau To menoleh kepada Hong Kaucu, semuanya memendam kegusaran tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hong Kaucu sendiri memalingkan wajahnya kepada Oey Liong Su.
Sinar matanya menyiratkan kekejian serta kebekuan yang mencekam, Oey Liong Su terkejut setengah mati.
Dia kembali mundur satu langkah lalu berkata.
"Kaucu, mereka... berlima sudah sepakat untuk berkhianat Mereka harus menerima hukuman mati..."
Hong Kaucu memicingkan matanya sedikit.
"Apa yang barusan kau katakan?"
Tanyanya dengan suara dalam. Oey Liong Su melihat mimik wajah pemimpinnya yang garang, hatinya semakin takut Dengan nada bergetar dia menyahut.
"Ham... ba sangat... setia ter... hadap Kaucu, hamba ti... dak sudi bekerja sama de... ngan para pengkhianat ini...."
"Tempo hari kita semua sudah bersumpah berat Siapa pun yang mengingat kembali dendam lama, maka dia harus dimasukkan ke telaga Liong Tam agar tubuhnya dimakan oleh ribuan ekor ular...."
Oey Liong Su begitu terkejutnya sehingga sepertinya selembar jiwanya melayang entah ke mana.
"Mohon Kaucu mengampuni kesalahan hambamu..."
Ratapnya.
"Urusan itu sudah selesai, semua orang telah melupakannya sama sekali, hanya kau seorang yang masih mengingatnya terus, Begitu ada kesempatan, kau malah menggunakannya untuk mengadu domba. Apa maksudmu sebetulnya? Apa yang kau inginkan?"
Begitu pucatnya wajah Oey Liong Su seakan tidak mengandung darah setetes pun. Kedua lututnya menjadi lemas, dia menjatuhkan dirinya berlutut seketika.
"Hamba tahu salah! Lain kali hamba tidak berani mengungkitnya kembali!"
Sahutnya panik, Dengan tenang Hong Kaucu berkata.
"Sumpah yang pernah diucapkan oleh perkumpulan kami, kau kira boleh dilanggar seenaknya? apabila bukan kau yang termakan sumpah itu, maka akulah yang harus merasakannya, Coba kau katakan, apakah kau yang harus diceburkan ke telaga Liong Tham atau aku yang lebih pantas menerima hukuman tersebut?"
Oey Liong Su memekik keras-keras, tubuhnya nencelat jauh lalu mengembangkan langkah seribu untuk kabur Hong Kaucu membiarkan orang itu mencelat sampai sejauh beberapa depa.
Dipungutnya sebuah batu, timbul suara mendesir, timpukannya tepat mengenai bagian belakang kepala Oey Liong Su, Orang itu meraung kesakitan, tubuhnya terhempas ke atas kemudian jatuh di atas tanah.
Setelah bergeliat beberapa kali, nyawanya pun melayang.
Hong Kaucu dapat melihat kalau Kho Soat Teng berlima sudah bersepakat, meskipun ilmunya sendiri sangat tinggi dan dibantu pula oleh Hong Hujin serta Oey Liong Su, kemungkinan dia akan berhasil meringkus kelima orang tersebut.
Namun apabila hal itu sampai terjadi, maka perkumpulannya semakin terancam kemusnahan, orang-orang yang dapat diandalkan hanya tinggal segelintir, sedangkan Oey Liong Su cuma pandai mencari muka, tidak banyak kegunaannya.
Kalau dia sampai membunuh Kho Soat Teng berlima, berarti anak buahnya tidak bersisa, Dengan pemikiran yang matanglah, ia mengambil keputusan ini.
Lebih baik kehilangan sedikit daripada banyak.
Dengan dibunuhnya Oey Liong Su, maka kemarahan Kho Soat Teng berlima akan surut.
Liok Kho Hian dan Thio Tam Goat langsung membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Ucapan Kaucu beratnya ibarat gunung, terbukti dengan hukuman yang dilaksanakan barusan, hamba sekalian benar-benar merasa kagum."
Kho Soat Teng, Bu Kin Tojin serta Poan Tau To juga serentak menyatakan terima kasihnya.
Kelima orang ini sudah lama merasa sebal dengan sikap Oey Liong Su yang selalu mencari muka, Orang itu mempunyai watak yang rendah dan dibenci oleh mereka semua.
Melihat Kaucu mengambil tindakan tegas dengan membunuhnya, tentu saja mereka merasa puas sekali.
Hong Kaucu menunjuk kepada Siau Po.
"Bukannya aku ingin mengampuni selembar jiwa bocah ini, tapi dia mengetahui sebuah tempat penyimpanan harta karun di perbatasan Liau Tong. Kalau bukan dia yang menunjukkan kita tidak akan menemukannya, Setelah mendapatkan harta karun itu, tentu mudah bagi kita untuk membangun kembali perkumpulan Sin Liong Kau kita,"
Katanya. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan lagi.
"Tadi kalian mengatakan bahwa anggota-anggota yang muda tidak ada gunanya dan kalian menasehati aku agar mempertimbangkannya lagi, Setelah aku memikirkannya baik-baik, kata-kata kalian memang beralasan. Oleh karena itu aku mengambil keputusan untuk menuruti permintaan kalian. Kelak apabila kita membangun kembali partai Sin Liong Kau, kita harus lebih teliti memilih anggota baru, sebaiknya memang orang yang lebih tua karena dapat diandalkan, dan jangan sampai kegagalan yang dulu terulang Iagi."
Wajah Kho Soat Teng dan yang lainnya menjadi cerah, serentak mereka memberi hormat dan menyatakan perasaan terima kasih.
Hong Kaucu mengeluarkan dua botol kecil dari saku pakaiannya, Dari botol masingmasing dituangkannya lima butir pil, Lima butir berwarna kuning, dan lima butir lainnya berwarna merah.
BotoI pil itu dimasukkannya kembali ke dalam saku, butiran pilnya sendiri tetap digenggam dalam tangan.
"lnilah pil-pil penawar racun I Kin Wan, kalian masing-masing menelan dua butir..."
Tentu saja Kho Soat Teng beserta rekannya senang sekali mendengar ucapan Hong Kaucu, Mereka segera menyatakan terima kasih, Kemudian pil yang disodorkan itu pun langsung mereka terima.
"Lekas kalian minum pil penawar racun itu!"
Kata Hong Kaucu. Kelima orang itu segera memasukkan dua butir pil ke mulut masing-masing lalu ditelannya tanpa ragu-ragu lagi. Bibir Hong Kaucu menyunggingkan senyuman.
"Bagus sekali!"
Katanya. Tapi tiba-tiba dia membentak "Liok Kho Hian, apa yang ada di tangan kirimu?"
Liok Kho Hian menyurut mundur dua langkah.
"Tidak.... Tidak ada apa-apa...."
Tangan kirinya diturunkan ke bawah, telapaknya dikepalkan.
"Buka kepalan tangan kirimu!"
Kata Hong Kaucu dengan nada tajam suaranya begitu keras sehingga telinga orang-orang yang mendengarnya merasa mendengung.
Tubuh Liok Kho Hian limbung, perlahan-lahan dia membuka telapak tangan kirinya, Terdengar suara trak!, sebutir pil terjatuh di atas tanah.
Wajah Kho Soat Teng berempat langsung berubah hebat, tapi mereka sadar bahwa otak Liok Khi Hian brillian sekali, tentu ada rencana tertentu mengapa dia berbuat demikian Dia pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa pil tersebut tidak ditelannya.
Tapi mereka berempat sudah menelan pil itu ke dalam perut Apa lagi yang harus disesalkan?
Dengan sinis Hong kaucu berkata.
"Pil itu merupakan pil Soat Som yang dapat menguatkan badan serta menyehatkan, mengapa kau menaruh kecurigaan kepada Kaucumu ini sehingga secara diam-diam kau menyembunyikan pil itu dan tidak mau menelannya?"
"Hamba... tidak berani... namun belakangan i... ni kesehatan hamba sedang terganggu, karena kesalahan dalam latihan, maka jalan darah di tubuh hamba tidak da... pat menga... lir dengan lancar.... itu... lah sebabnya.,, hamba menyimpan pil vitamin pemberian Kaucu ini. Maksud hamba baru akan menelannya setelah bersemedi melancarkan jalan da... rah nanti malam Hamba khawatir... khasiatnya a... kan sia-sia bila ditelan sekarang..."
Mimik wajah Hong Kaucu berubah agak lunak.
"Begitu rupanya, jalan darah bagian mana yang tersumbat? Masalah itu mudah sekali, aku bisa membantumu melancarkan kembali jalan darah itu. Kau kemarilah!"
Liok Kho Hian melangkah mundur satu tindak.
"Hamba tidak berani merepotkan Kaucu,"
Sahutnya.
"Asal hamba rajin bersemedi, lama-kelamaan penyakit ini pasti akan sembuh."
Hong Kaucu menarik nafas panjang.
"Kalau begitu, kau masih tidak bisa mempercayai aku sepenuh hati?"
Tanyanya.
"Hamba tidak berani mempunyai pikiran demikian,"
Sahut Liok Kho Hian. Hong Kaucu menunjuk ke arah pil yang sudah dipungut oleh Liok Kho Hian.
"Sebaiknya kau telan saja pil itu sekarang, seandainya nanti jalan darahmu masih tersumbat juga, aku toh tidak mungkin berdiam diri?"
Liok Kho Hian menatap pil di tangannya, Untuk sesaat dia tidak berkata apa-apa. Tiba-tiba dia menjentikkan jari telunjuknya sehingga pil itu melayang jauh serta menghilang di balik bukit.
"Hamba sudah menelan pilnya, terima kasih Kaucu!"
Katanya. Hong Kaucu tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, bagus! Ternyata nyalimu tidak kecil juga!"
"Hamba sangat setia kepada Kaucu, Apabila Kaucu sudah memutuskan untuk memberikan pil penawar racun, mengapa Kaucu harus menambahkan sebutir pil lainnya yang daya racunnya terlebih berat lagi? Hamba tidak merasa bersalah, karena itu hamba tidak sudi menerima hukuman,"
Sahut Liok Kho Hian. Kho Soat Teng serta yang lainnya terkejut sekali mendengar pernyataan itu.
"Pil yang racunnya lebih dahsyat? Pil racun apa itu?"
Tanya mereka serentak.
"Kaucu mengumpulkan bisa dari seratus ekor ular berbisa serta seratus ekor ulat yang berbisa pula, Racunnya diracik menjadi pil ini. Apakah pil ini dapat digunakan sebagai "
Racun lawan racun ", hamba tidak jelas, Kemungkinan memang ada khasiatnya, tapi nyali hamba terlalu kecil sehingga tidak berani mencobanya."
Sahut Liok Kho Hian sebagai penjelasan.
Rasa terkejut di hati Kho Soat Teng dan yang lainnya semakin menjadi-jadi.
serentak mereka maju ke samping Liok Kho Hian dan berdiri berendeng dengannya.
Dengan mata mengandung kecurigaan, mereka menatap ke arah Hong Kaucu.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa ini pil seratus racun?"
Tanya Hong Kaucu dengan nada dingin.
"Kau hanya mengoceh sembarangan dengan maksud mengadu domba sehingga perasaan yang lainnya menjadi bingung."
Liok Kho Hian menunjuk kepada Pui Ie.
"Tempo hari aku melihat Nona Pui sedang mencari keong siput, aku bertanya untuk apa, dia bilang telah mendapat perintah Kaucu mencari siput untuk meracik obat, sedangkan kertas yang menuliskan komposisi pembuatan pil tersebut, juga tanpa sengaja telah terlihat olehku, Meskipun di sana juga tertera bahwa racun dalam pil ini baru akan bekerja setelah tiga tahun sejak diminum, tapi yang mengkhawatirkan justru Kaucu belum pernah membuat pil ini, jadi kita tidak bisa yakin bahwa racunnya baru akan bekerja setelah tiga tahun, Kedua, hamba masih ingin hidup lebih lama lagi, tidak sudi hidup tiga tahun saja lalu mati."
Rona wajah Hong Kaucu berubah kehitam-hitaman.
"Bagaimana kau bisa melihat kertas racikan obatku?"
Tanyanya. Liok Kho Hian melirik sekilas ke arah Hong Hujin.
"Hujin menyuruh aku mengambilkan obat untuknya di peti obat Kaucu, Kertas racikan obat itu justru adanya di dalam peti tersebut,"
Sahut Liok Kho Hian.
"Ngaco belo! seandainya Hujin ingin meminum obat, dia pasti akan memintanya kepadaku, mengapa dia harus menyuruhmu mengambilnya? Lagi-pula peti obatku itu selamanya dalam keadaan terkunci, mengapa kau berani membukanya dengan lancang?"
Bentak Hong Kaucu. Sesaat kemudian, dia menoleh kepada istrinya.
"Apakah kau yang membukakan?" tanyanya pula. Wajah Hong Hujin menjadi pucat pasi, kemudian dengan perlahan-lahan dia menganggukkan kepalanya.
"Obat apa yang kau cari? Mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku?"
Tanya Hong Kaucu kembali.
Tiba-tiba wajah Hong Hujin berubah menjadi merah padam, lalu menjadi pucat kembali.
Tubuhnya terhuyung-huyung, mendadak dia meraba perutnya dan terdengarlah suara Hoakkk!!
sebanyak dua kali.
Rupanya dia termuntah-muntah, tapi yang terlihat hanya air yang berwarna kehijauan.
Hong Kaucu mengerutkan alisnya, Kemudian dia berkata dengan nada lembut.
"Apa yang terasa tidak enak? Lebih baik kau duduk saja agar dapat beristirahat sejenak."
Tiba-tiba Tuan Puteri berteriak.
"Dia sudah ada bayi dalam perutnya, Dasar Tua bangkai sendirinya akan punya anak saja, tidak tahu!"
Hong Kaucu terkejut setengah mati. DicekaInya lengan Hong Hujin lalu bertanya dengan nada tajam.
"Apakah benar apa yang dikatakannya. Hong Hujin kembali mendekap perutnya, muntahnya semakin menjadi-jadi.
"Kau ingin mencari obat untuk menggugurkan kandunganmu, bukan?"
Tanya Hong Kaucu dengan suara menyeramkan.
Selain Liok Kho Hian, orang-orang lainnya semua merasa heran, Hong Kaucu tidak mempunyai keturunan, lagipula dia sayang sekali kepada Hong Hujin, istrinya, seandainya perempuan itu melahirkan seorang anak baginya, baik laki-laki maupun perempuan, tentu merupakan hal yang menggembirakan.
Mengapa wanita itu justru ingin menggugurkan kandungannya?
Mereka menduga kemungkinan terkaan Hong Kaucu kali ini pasti keliru.
Siapa sangka Hong Hujin malah menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.
"BetuI, aku memang ingin menggugurkan kandungan ini. Sekarang kau bunuh saja aku!"
Tantangnya. Hong Kaucu menaikkan telapak tangannya, lalu kembali bertanya dengan nada tajam.
"Siapa ayahnya?"
Semua orang tahu kepandaian Hong Kaucu tinggi sekali, Kalau tangannya itu sampai diayunkan, pasti nyawa Hong Hujin akan melayang seketika.
Tapi wanita itu malah mendongakkan kepalanya dan menyahut dengan tenang.
"Aku sudah bilang, kau boleh membunuhku, mengapa kau tidak segera turun tangan?"
Sinar mata Hong Kaucu seakan memancarkan api. Dengan suara bergetar ia berkata.
"Aku tidak akan membunuhmu Kau katakan saja, anak siapa yang ada dalam kandunganmu itu?"
Hong Hujin menutup mulutnya rapat-rapat, sikapnya keras kepala seakan dia memang sudah bersiap untuk mati. Hong Kaucu menolehkan kepalanya ke arah Liok Kho Hian.
"Apakah kau ayahnya?"
Tanyanya dengan mata mendelik.
"Bukan, bukan,"
Sahut Liok Kho Hian cepat.
"Hamba sangat menghormati Hujin yang seperti Dewi, mana berani hamba melakukan pelanggaran sebesar itu?"
Sinar mata Hong Kaucu yang tadinya tertuju kepada Liok Kho Hian secara perlahanlahan beralih kepada Kho Soat Teng, Thio Tam Goat, Bu Kin Tojin lalu Poan Tau To.
Di mana sinar matanya berhenti, orang itu pasti merasa bergidik.
"Bukan siapa-siapa!"
Teriak Hong Hujin.
"Kau bunuh saja aku, untuk apa banyak tanya?"
"Dia toh istrimu, tentunya yang ada dalam perutnya pasti anakmu, Kenapa malah curiga yang bukan-bukan? Dasar pikun!"
Kata Kian Leng kongcu dengan suara keras.
"Tutup mulutmu! Kalau kau mengucapkan satu patah kata lagi, pertama lehermu yang akan kupelintir!"
Bentak Hong Kaucu.
Kian Leng Kongcu segera menutup mulutnya rapat-rapat, meskipun hatinya merasa tidak puas, Mana dia tahu bahwa sejak muda Hong Kaucu belajar ilmu tenaga dalam tingkat tinggi yang membuat dirinya tidak boleh berhubungan intim dengan wanita.
Pernikahannya dengan Hong Hujin hanya untuk menjaga mukanya, kenyataannya dia tidak pernah menyentuh wanita itu.
Karena itu pula, dia segera menyadari bahwa wanita itu telah menyeleweng dengan orang lain sehingga hamil, ini juga merupakan salah satu alasan mengapa dia sangat menyayangi wanita itu.
Dia merasa dirinya bukanlah suami yang sempurna, Dengan menuruti apa pun kemauan Hong Hujin, mungkin dia dapat memberinya sedikit kebahagiaan.
Saat ini, tiba-tiba saja dia mengetahui kehamilan istrinya, Berbagai perasaan berkecamuk dalam batinnya, malu, kecewa, marah, sesal, kasihan, sedih.
Tangannya yang terangkat di udara tidak sanggup diayunkannya ke kepala perempuan itu, Dia menolehkan kepalanya kepada Kho Soat Teng dan yang lainnya, Wajah mereka memancarkan perasaan takut, Dalam hati, Hong Kaucu berpikir....
-Urusan yang memalukan ini telah diketahui oleh mereka semua, mana aku ada muka lagi untuk menjadi Kaucu mereka?
Orang-orang ini harus dibasmi bersih, tidak boleh meninggalkan seorang pun yang hidup, Asal ada setitik saja desas-desus yang tersebar keluar, orang-orang dari dunia kangouw pasti akan menertawakan aku, pendekar macam apa aku jadinya?
Hawa pembunuhan telah memenuhi hatinya, Dia langsung melepaskan cekalannya pada lengan Hong Hujin, Tiba-tiba dia menghambur ke depan dan meringkus Liok Kho Hian.
"Semua ini gara-gara engkau yang memulai kekacauan!"
Bentaknya.
"Kau ingin membunuhku agar mulut ini bung.,."
Sahut Liok Kho Hian setengah jalan. Kata-kata "bungkam"
Belum sempat diselesaikannya, tiba-tiba batok kepalanya terasa ditepuk dengan keras, Rupanya telapak tangan Hong Kaucu telah menghajarnya.
Kedua matanya mendelik seketika, dan dalam waktu kurang dari tiga detik jiwanya pun sudah melayang.
Melihat perubahan itu, Kho Soat Teng dan yang lainnya sadar bahwa Hong Kaucu memang ingin membunuh mereka semua agar rahasianya tidak bocor.
Keempat orang itu segera mencabut senjata masing-masing dan melintangkannya di depan dada untuk melindungi diri.
"Kaucu, semua ini merupakan urusan pribadimu, tidak ada hubungannya dengan hamba sekalian!"
Teriak Kho Soat Teng.
"Hari ini semua orang kembali ke asalnya bersama-sama, satu pun jangan harap dapat meloloskan diri!"
Bentak Hong Kaucu sembari menerjang kepada Kho Soat Teng berempat.
Poan Tau To mengangkat goloknya yang seberat dua puluh kati lebih tinggi-tinggi, dari atas dia membacok ke bawah, serangannya dahsyat bukan main.
Hong Kaucu menggeser badannya sedikit untuk menghindar telapak tangan kanannya menghantam ke arah kepala Tio Tam Goat, sepasang Poan Koan Pit yang merupakan senjata andalan Tio Tam Goat secara berturut-turut-mengirimkan dua buah serangan kepada Hong Kaucu.
Dalam waktu yang bersamaan, golok Bu Kin lojin juga mengancam bagian pinggang ketua itu.
Hong Kaucu mendengus keras, tubuhnya mencelat ke udara, tapi arahnya tetap kepada Tio Tam Goat.
Sepasang senjata Tio Tam Goat seolah sepasang belati yang bukan main tajamnya, dalam sekejap digerakkannya sebanyak tujuh delapan kali, jurus ini dinamakan "Jit Seng Kit Goat" (Tujuh bintang mengerumuni rembulan), juga merupakan jurus serangan yang diandalkannya, serangannya lihay sekali.
Telapak tangan Hong Kaucu yang diarahkan kepadanya tiba-tiba mendarat perlahanlahan di pinggang Tio Tam Goat.
Serentak orang tua itu juga mencelat mundur Terdengar suara teriakan Tio Tam Goat.
Tubuhnya terjatuh dan bergulingan di atas tanah.
Kemudian melonjak bangun, tapi mendadak dia merasa sebagian kiri tubuhnya ngilu dan nyeri.
"Hari ini kalau kita tidak membunuhnya, siapa pun jangan harap bisa meloloskan diri dalam keadaan hidup!"
Teriaknya.
Keempat orang itu menggerakkan senjata masing-masing dan lagi-lagi menyerang Hong Kaucu, Keempat orang ini merupakan tokoh nomor satu dalam perkumpulan Sin Liong kau, apalagi ilmu silat yang dikuasai oleh Poan Tau To dan Kho Soat Teng, kehebatannya jangan ditanyakan lagi.
Golok besar Poan Tau To digerakkan secara memutar ke atas sebanyak delapan sembilan kali, Suara golok itu sampai mendengung-dengung, bagian yang ditujunya selalu bagian mematikan, sepasang Poan Koan Pit di tangan Kho Soat Teng justru merupakan sepasang senjata kecil yang ber-bahaya, Setiap jurusnya mengarah jalan darah yang mematikan.
Pedang putih Bu Kin To jin menimbulkan seberkas cahaya putih keperakan, dalam hati dia merasa hidupnya tidak akan dapat bertahan lama lagi, karena dia telah menelan pil racun yang mematikan.
Sebelum mati, bagaimanapun dia harus berhasil membunuh musuh besarnya yang licik itu.
Karena itu, dari sepuluh serangannya, sembilan di antaranya pasti merupakan serangan yang mengandung maut.
Setidaknya dia ingin mati bersama orang yang dibencinya itu.
Sedangkan Tio Tam Goat teringat kegagaIannya dalam melaksanakan tugas yakni mencuri kitab "Si Cap Ji Cin Keng" , Apabila tidak ada bantuan dari Bu Kin lojin dan Kho Soat Teng, hari itu juga dia sudah dihukum mati oleh Hong Kaucu.
Dia sudah mendapat perpanjangan hidup, nyawanya sendiri seakan hasil pungutan dari tengah jalan, Karena itu, meskipun sebagian tubuhnya terasa ngilu dan nyeri, dia tetap melancarkan serangan.
Ilmu silat Hong Kaucu sendiri jauh di atas ke empat orang itu.
Apabila dia ingin mencabut nyawa salah seorang di antaranya, tentu merupakan hal yang mudah baginya.
Tapi keempat orang itu menyerangnya dengan gencar, bila dia ingin membunuh salah satu di antaranya, tentu dirinya sendiri tidak bisa menghindarkan diri dari ancaman terluka.
Setelah bertempur kurang lebih puluhan gebrakan, hawa amarah dalam dadanya lambat laun mereda, Begitu hatinya terasa tenang, jurus yang dimainkannya pun semakin mantap.
sepasang tapak tangannya menghantam ke sana-sini untuk mengelakkan serangan lawan-lawannya.
Tampaknya, meskipun dikeroyok empat orang, pimpinan Sin Liong kau itu masih belum terjatuh di bawah angin, Dia melihat serangan tangan kiri Tio Tam Goat semakin melemah, dalam hati dia yakin inilah saat yang bagus untuk turun tangan, tanpa ragu lagi dia membalas serangan dengan dahsyat.
Sementara itu, Siau Po melihat kelima orang itu sedang bertempur dengan seru, Diam-diam dia menjawil ujung lengan baju si Tuan Puteri dan Bhok Kiam Peng, Dia juga memberi isyarat kepada Cin Ju agar mereka jangan bersuara, Keempat orang itu membalikkan tubuhnya dan mengendap-endap berjalan ke kaki gunung, Hong Kaucu sedang bertempur menghadapi keempat lawannya, siapa pun tidak ada yang memperhatikan gerak-gerik mereka.
seandainya mereka melihat sekali pun, tentu tidak ada yang sempat meluangkan waktu untuk mencegah kepergian mereka.
Setelah berjalan beberapa saat, jarak antara mereka dengan Hong Kaucu sudah agak jauh, maka hati mereka terasa tenang, Siau Po menolehkan kepalanya, tampak kelima orang itu bertempur semakin seru.
Dalam waktu yang singkat tentu sulit menentukan siapa yang akan kalah atau menang.
"Mari kita pergi selekasnya!"
Seru Siau Po kepada yang lainnya, Keempat orang itu mempercepat langkah kaki-nya.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara langkah susulan, rupanya ada dua orang yang mengejar ke arah mereka.
Kedua orang itu ialah Hong Hujin dan Pui Ie.
Ke empat orang itu terkejut sekali, Senjata mereka telah dilucuti musuh ketika tertawan Masih lumayan kalau hanya menghadapi Pui Ie, tapi justru Hong Hujin ikut mengejar sedangkan ilmu silat wanita itu tinggi sekali.
Mereka merasa tidak sanggup menghadapi lawan, maka mereka segera mengambil langkah seribu.
Baru berlari puluhan Iangkah, tiba-tiba kaki si Tuan Puteri tersandung batu, sambil berteriak, tubuhnya terkulai.
Siau Po berpikir dalam hati.
-Di dalam rahimnya ada anakku, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Karena itu, dia berlari kembali untuk membimbing gadis itu.
Tampak Hong Hujin berloncatan beberapa kali, tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan Siau Po.
perempuan itu berdiri tegak sambil bertolak pinggang.
"Siau Po, kau masih hendak kabur?"
Tanyanya sinis. Siau Po tertawa.
"Kami bukan kabur, tapi pemandangan di sini lebih indah, lagipula anginnya juga sejuk, karena itu kami berniat bermain-main di sini,"
Sahutnya. Hong Hujin tertawa dingin. "Bagus, kalau kalian memang ingin melihat pemandangan indah! Mengapa aku tidak diajak?"
Ketika dia berbicara, Pui Ie pun sudah tiba di sampingnya. Bhok Kiam Peng serta Cin Ju melihat Siau Po tertahan oleh Hong Hujin, mereka berjalan kembali lalu berdiri mendampinginya.
"Pui suci, kau ikut saja dengan kami, dia..."
Kata Bhok Kiam Peng sambil menunjuk kepada Siau Po.
"Dia... dia selalu baik... terhadapmu, lagi... pula... dulu kau sudah pernah bersumpah, tentunya kau belum lupa, bukan?"
"Aku hanya taat kepada Hujin, hanya perintah Hujin yang pantas aku jalankan,"
Sahut Pui Ie.
"Kau taat karena dicekoki obat olehnya, Dulu aku juga pernah mengalami hal yang sama,"
Kata Kiam Peng pula.
Siau Po baru tersadar, rupanya berkali-kali dia dikhianati oleh Pui Ie hanya karena gadis itu telah menelan obat dari Hong Hujin, Untuk sesaat dia termangu-mangu, rasa benci di dalam hatinya sirna seketika.
"Pui cici, ikutlah dengan kami!"
Katanya. Panggilan "Pui cici"
Sudah terbiasa diucap oleh mulut Siau Po, yakni ketika mereka sama-sama naik perahu datang ke Sin Liong to ini.
Tentu saja Pui Ie dapat mendengarnya dengan jelas, tanpa terasa pipinya berona merah.
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan Hong Kau-cu.
"Hujin! Hujin! A Cuan! A Cuan! Ke mana kau?"
Nada suaranya seperti panik, seakan takut ditinggalkan oleh istrinya.
Namun, Hong Hujin pura-pura tidak mendengar Hong Kaucu memanggil lagi beberapa kali, tapi perempuan itu tetap tidak menyahut.
Siau Po berlima mengalihkan pandangannya kepada Hong Hujin, Dalam hati mereka berpikir --Kaucu toh memanggilmu mengapa kau tidak menjawab?
Mengapa kau tidak kembali ke sisi suamimu?
-"Kau tentu mendengar Kaucu memanggilmu bukan?"
Tanya Siau Po. Perlahan-lahan Hong Hujin menggelengkan kepalanya, wajahnya merah padam.
"Cepat kita tinggalkan tempat ini, kita naik perahu saja!."
Ujar Hong Hujin dengan suara lirih. Hati Siau Po girang sekaligus terkejut mendengar kata-katanya.
"Kau... kau juga ikut dengan kami?"
"Di atas pulau ini hanya ada satu perahu, Biar bagaimana aku harus ikut denganmu! Lagipula, Kaucu ingin membunuhku, apakah kau masih belum menyadarinya?"
Sahut Hong Hujin.
Sekali wajahnya merah padam, lalu dia mendahului yang lainnya melangkah ke depan.
Beramai-ramai mereka berlari ke bawah sejauh belasan depa, Iagi-lagi terdengar suara teriakan Hong Kaucu.
"Hujin! Hujin! A Cuan! A Cuan! Cepat kau kembali!"
Tiba-tiba terdengar pula suara teriakan seorang lainnya, tidak salah lagi, nada suara itu merupakan jeritan menyayat sebelum jiwanya melayang, Hanya saja mereka tidak yakin siapa di antara ke empat lawan Hong Kaucu yang berpulang terlebih dahulu.
Kembali Hong Kaucu berkoak-koak.
"Kau lihat! Si tua bangka Tio Tam Goat ini sudah kuhabisi! Sejak muda dia ikut denganku, sudah tua malah mau membangkang, benar-benar goblok! A Cuan! A Cuan! Mengapa kau masih belum kembali ke sini? Aku tidak menyalahkanmu, kau sudah kumaafkan! Maknya! Kau berhasil membacok aku! Ha... ha... ha... ha.,., Poan Tau To! Coba kau rasakan, apakah seranganku kali ini tidak bisa mencabut selembar nyawa anjingmu! Otakmu tumpul! Mengapa kau ikut-ikutan dengan mereka mengkhianati aku? sekarang kau cari mati! Ha ha ha!"
Hong Hujin menghentikan langkah larinya, wajahnya tampak agak berubah.
"Dia sudah berhasil membunuh dua Iawan!"
Katanya. Siau Po jadi panik mendengarnya.
"Lekas kita lari!"
Serunya gugup, Dan, tanpa menunda waktu lagi, dia mempercepat langkah kakinya. Tiba-tiba terdengar suara geraman marah Hong Kaucu.
"Kalian berdua sang pengkhianat! Nanti aku akan kembali membereskan kalian! Hujin! Hujin! jangan pergi!"
Suara teriakannya semakin lama semakin mendekat Tampaknya pemimpin Sin Liong kau itu sudah mulai turun gunung melakukan pengejaran.
Siau Po menoleh, tampak Hong Kaucu sedang menghambur ke arah mereka dengan rambut awut-awutan dan pakaian Iusuh.
Kali ini rasa terkejutnya jangan ditanyakan Iagi, sukmanya malah terasa terbang entah ke mana.
"Halangi dia! Halangi dia!"
Terdengar suara teriakan Kho Soat Teng.
"Dia sudah terluka parah! Kalau bukan sekarang, kelak kita tidak akan mempunyai kesempatan untuk membunuhnya lagi!"
"Dia tidak bisa lari ke mana-mana!"
Sahut Bu Kin tojin.
Kedua orang itu mengejar Hong Kaucu dari belakang sambil mengangkat tinggitinggi senjata masing-masing, Tidak lama kemudian, Siau Po dan yang lainnya sudah sampai di tepi pantai, Namun, langkah kaki Hong Kaucu, Bu kin tojin dan Kho Soat Teng bukan main cepatnya, langkah kaki depan segera disusul langkah kaki belakang.
Bagian 83 Sekejap saja mereka sudah sampai di kaki gunung, Tampak wajah mereka penuh dengan bercak darah.
"Hujin, mengapa kau tidak menjawab panggilanku? Mau ke mana kau?"
Bentak Hong Kaucu.
"Hujin sudah tidak menginginkanmu lagi, dia sudah punya pacar yang muda dan tampan!"
Sahut Kho Soat Teng. Hong Kaucu marah sekali mendengarnya.
"Ngaco!"
Dia membalikkan tubuhnya sambil menghantam Kho Soat Teng.
Kho Soat teng menangkis dengan Poan Koan Pitnya, Dalam waktu yang bersamaan, Bu Kin Tojin juga sudah menyusul datang.
ia mengayunkan goloknya ke arah pinggang Hong Kaucu.
Pada saat itu, lawan Hong Kaucu sudah tinggal dua orang, tapi paha kirinya sudah terluka parah, tentu saja gerakannya pun menjadi lamban.
"A Cuan, sebentar lagi aku pasti berhasil membunuh kedua pengkhianat ini. Kau bunuh dulu ke empat penjahat itu, sisakan si maling cilik, aku ingin dia mengantarkan kita mengambil harta pusaka!"
Teriak Hong Kaucu pula.
Meskipun mulutnya berkaok-kaok, gerakan tangan dan tubuhnya tidak berhenti Kho Soat Teng dan Bu Kin Tojin mendapat kesulitan untuk mendekatinya.
Bibir Hong Hujin mengembangkan senyuman sinis, matanya perlahan-lahan melirik kepada Cin Ju berempat.
"Hujin, satu saja di antara keempat perempuan ini terluka, aku segera bunuh diri! Biar jadi setan pun, aku tidak akan mengampunimu! Kata-kata seorang laki-laki sejati, entah... entah kuda apa pun sulit mengejarnya,"
Teriak Siau Po. Seperti biasa, dalam keadaan panik, ucapan Siau Po pun jadi ngaco. Bahkan "Kuda mati"
Yang sering disebutnya juga terlupakan Tiba-tiba terdengar suara hantaman keras, bagian pinggang Kho Soat Teng terhajar oleh Hong Kaucu.
Tubuh Kho Soat Teng terhuyung-huyung beberapa kali kemudian terkulai di atas tanah, Hong Kaucu tertawa terbahak-bahak.
ia menggerakkan kakinya untuk mengirimkan sebuah tendangan.
Dengan panik Kho Soat Teng melonjak bangun Tendangan Hong Kaucu telak mengenai dadanya, Terdengar suara krek yang beruntun Tentu beberapa tulang di dadanya patah seketika, Tapi, meskipun demikian, paha kanan Hong Kaucu berhasil dipeluknya erat-erat..
Hong Kaucu menghentakkan kakinya sekuat tenaga, tetapi pelukan Kho Soat Teng tetap tidak terlepas, Bu Kin Tojin menggunakan kesempatan itu untuk menghambur ke depan, goloknya diayunkan Hong Kaucu memiringkan kepalanya untuk menghindarkan diri, sekaligus tangannya mengirimkan serangan.
Perut Bu Kin Tojin terkena pukulan, tapi goloknya juga sempat menancap di pundak kanan Hong Kaucu.
Darah berhamburan dari mulut Bu Kin Tojin, bagian belakang leher Hong Kaucu sampai terciprat, Ketika dia ingin melanjutkan serangannya, tenaganya sudah tidak ada lagi, golok yang tertancap di pundak Hong Kaucu tidak sanggup dicabutnya.
"Cepat... cepat... tarik dia!"
Teriak Hong Kaucu.
Hong Hujin malah berdiri termangu-mangu, entah dia terkejut melihat kenyataan yang dihadapinya atau memang sengaja tidak sudi memberikan bantuan kepada suaminya, Melihat ketiga orang itu sedang mengadu jiwa, dia malah berdiri tertegun, tanpa bergerak sedikit pun Sebelah tangan Kho Soat Teng meraih sebuah Poan Koan Pitnya yang terjatuh di atas tanah, Dengan sekuat tenaga digerakkannya senjata itu dan tepat mengenai perut Hong Kaucu.
pimpinan Sin Liong kau itu menjerit histeris, tapi masih sempat mengirimkan tendangan ke tubuh Kho Soat Teng, sehingga tubuh Kho Soat Teng terpental ke udara.
ia lalu menghentakkan kakinya ke belakang mengarah ke tubuh Bu Kin Tojin.
Tendangan itu tepat pada sarannya, dan perlahan-lahan tubuh Bu Kin Tojin terkulai di atas tanah.
Hong Kaucu tertawa terbahak-bahak.
"Memangnya pengkhianat-pengkhianat ini bisa menandingi aku? Mereka... mereka ingin mem... berontak? Huk... huk... huk! Toh akhirnya... me-reka... ma... ti di tangan., ku!"
Dia membalikkan tubuhnya menghadap Hong Hujin "Hujin... mengapa kau tidak mem... bantu a... ku?"
Tanyanya. Hong Hujin menggelengkan kepalanya.
"llmu silatmu toh nomor satu di dunia, buat apa aku membantumu?"
Hong Kaucu marah sekali mendengar jawaban istrinya.
"Kau juga membantah? Kau juga ingin menjadi anggota Sin Liong kau yang memberontak?"
Teriaknya gusar.
"Tidak salah! selamanya kau hanya mementingkan dirimu sendiri! Biarpun aku membantumu, toh akhirnya kau akan membunuh aku juga!"
Sahut Hong Hujin dingin.
"Kubacok kau! Akan kubacok kau si pengkhianat!"
Teriak Hong Kaucu kalap, Sembari ber-seru, dia menerjang ke arah Hong Hujin.
Hong Hujin mendesah terkejut, lalu dengan gugup dia menghindarkan diri, Meskipun dalam keadaan terluka parah, gerakan Hong Kaucu masih cukup cepat, Dalam sekejap tangan kirinya sudah berhasil mencekal belakang leher baju Hong Hujin, tubuhnya memutar, tangan kanannya menjepit tenggorokan perempuan itu.
"Lekas jawab, kau masih ingin memberontak? Kalau kau mengatakan tidak, aku akan mengampunimu?"
Teriaknya. Terdengar Hong Hujin menyahut dengan suara perlahan.
"Dulu,., dulu sekali hatiku sebenarnya sudah memberontak yaitu di saat kau memaksaku menjadi istrimu, Hari itu pula kebencianku kepadamu sudah merasuk ke dalam tulang, Kau cekik mati saja aku!"
Darah di bibir dan muka Hong Kaucu terus menetes ke atas kepala istrinya, Hong Hujin menatapnya dengan mata mendelik Seakan tidak merasa takut sedikit pun.
"Bangsat! Dasar pemberontak! Kalian semuanya pengkhianat! Aku... aku akan mencari anggota baru untuk membangun kembali Sin Liong kau!"
Teriak Hong Kaucu, sebenarnya Siau Po yang melihat dari samping ketakutan setengah mati.
Apalagi dia melihat cekikan di tenggorokan Hong Hujin diperketat sehingga nafas perempuan itu tersendat-sendat.
Tampaknya perempuan itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Perlahan-lahan tangannya memungut sebongkah batu besar yang ada di tepi pantai, Dengan kencang disambitkannya batu itu ke arah Hong Kaucu, dan tepat mengenai punggung orang itu.
Mata Hong Kaucu langsung berkunang-kunang, dan cekikan tangannya pun merenggang seketika, Kemudian sembari membalikkan tubuhnya dia berteriak.
"Kau.,, kau bangsat cilik, aku tidak menginginkan harta pusaka lagi, a... ku... lebih baik,., membunuh kau lebih... dahulu...!"
Dia menerjang ke arah Siau Po sambil melakukan penyerangan.
Siau Po mengambil langkah seribu, Hong Kaucu menggerakkan kakinya mengejar Tanah pasir bekas dia berlari meninggalkan jejak berdarah.
Siau Po sadar, apabila dirinya sampai tertangkap, nyawanya sulit dipertahankan lagi.
Karena itu, dia mengerahkan segenap kekuatannya untuk berlari Tiba-tiba, bagian lehernya mengencang, rupanya kerahnya telah tercekal oleh Hong Kaucu, Kalau saja dia tidak mengenakan pakaian mustika, kemungkinan daging di punuknya juga sudah copot dicengkeram orang tua itu.
Dalam keadaan terkejut, larinya semakin cepat, dikerahkannya ilmu "Sin Heng Pak Pian"
Yang dipelajarinya asal-asalan.
Di atas tanah.
berpasir dia berlari serabutan, kadang ke kiri, kadang ke kanan, kadang memutar pula, Meskipun beberapa kali Hong Kaucu menjulurkan tangannya dan tampaknya akan berhasil mencekal si pemuda, namun kenyataannya tetap luput.
Meskipun Siau Po sudah berlari sekuatnya, namun tenaganya memang terbatas, seharusnya sejak tadi dia sudah tertangkap, tapi ilmu "Sin Heng Pak Pian"
Justru mempunyai keistimewaan tersendiri dan merupakan ilmu andalan partai Tiat Kiam Bun.
Apalagi Bok Sang sudah merubah beberapa gerakannya tempo hari.
Hal ini membuat ilmu itu seakan mengandung keajaiban, Kedua huruf "Sin Heng" (Bayangan Dewa) tentu tidak pas diberikan kepada Siau Po, tapi "Pak Pian" (Seratus perubahan), memang cocok dengan watak asli si pemuda yang angin-anginan, itulah sebabnya, Siau Po bisa mempelajari ilmu yang satu ini, meskipun hanya sebanyak empat puluh bagian.
Karena itu pula, meskipun dia bukan pesilat unggul, tapi dalam dunia persilatan dia boleh disebut sebagai pelari nomor satu atau nomor dua.
Untuk jaman itu, Siau Po sudah sulit dicari tandingannya dalam hal mengambil langkah seribu.
Berkali-kali Hong Kaucu menjerit kalap, tangannya juga tidak hentinya melancarkan serangan, Siau Po sudah berhasil menghindarkan dua kali serangannya, namun ketika pukulan yang ketiga datang, dia tidak sanggup mengelak lagi, Pukulan Hong Kaucu telak mengenai belakang punggungnya sehingga tubuhnya terpental cukup jauh, untung saja Hong Kaucu dalam keadaan terluka parah, kalau tidak, nyawa Siau Po pasti sudah tidak tertolong lagi.
Apalagi ia juga mengenakan baju mustika, ditambah berkurang banyaknya tenaga pemimpin Sin Liong kau itu, Namun, meskipun demikian, mata Siau Po tetap berkunang-kunang jadinya, kepalanya pun pusing tujuh keliling.
Baru saja dia berusaha untuk bangkit, sekali lagi leher bajunya tercekal oleh tangan Hong Kaucu.
Kali ini, rasanya jantung Siau Po hampir mencelat keluar dari dalam hatinya, Dalam keadaan panik, dia meringkukkan tubuhnya serta secepat kilat molos dari selangkangan si orang tua, Begitu dia ingat lagi, dia baru sadar bahwa ilmu yang digunakannya adalah satu jurus yang pernah diajarkan Hong Kaucu pula, Benar-benar "Senjata makan tuan.
Kalau tidak salah, jurus ini dinamakan "Selir Kui menunggang kerbau", atau "Si She menunggang kambing"?
Ah!
Dalam keadaan bingung seperti ini, siapa yang kerajinan mengingatnya!
Siau Po mengerahkan tenaga untuk berjungkir balik, kemudian dia hinggap di atas pundak Hong kaucu, jurus yang satu ini sebetulnya belum pernah dilatih Siau Po secara sungguh-sungguh, namun gerakannya ternyata sudah lumayan.
Lagipula, untuk menggunakannya terhadap orang lihai seperti Hong Kaucu, sepertinya mustahil, tapi keadaan pemimpin Sin Liong kau itu sedang kacau, pertama dia baru saja melawan empat anak buahnya yang mempunyai ilmu tinggi-tinggi.
Kedua, pikirannya kusut membayangkan penyelewengan istrinya, Dirinya dalam keadaan terluka pula, Pisau belati Siau Po menancap di punggungnya, perutnya tertikam oleh sebatang Poan Koan Pit, Karena berlari tanpa mengingat kesehatannya, darah mengalir semakin banyak, itulah faktor-faktor yang membuat Siau Po bisa menggunakan ilmunya secara sembarangan.
Siau Po hinggap di atas pundak Hong Kaucu, kedua jari tengahnya serta merta ditujukan ke arah sepasang biji mata orang tua itu.
Tiba-tiba saja sebuah ingatan berkelebat di benak Hong Kaucu, Dia ingat pernah mengajari Siau Po langkah yang satu ini, yakni segera mencongkel kedua biji mata musuh begitu berhasil hingga di pundaknya.
Hong Kaucu adalah seorang tokoh besar dalam dunia persilatan Orang yang sanggup melawannya dapat dihitung dengan jari tangan Sekarang, kemungkinan dia bisa dikalahkan oleh seorang pemuda bau kencur, dan yang paling menyakitkan jurus yang digunakannya juga berasal dari ilmu yang diajarkannya.
Kemungkinan ini semua merupakan hukum karma, Dari matanya mengalir darah yang deras, namun Hong Kaucu tidak merasakan sakit lagi, Dia ingat, untuk seumur hidupnya, entah berapa banyak orang yang telah dibunuhnya, rasanya dia tidak perlu penasaran apabila ajalnya memang sudah sampah Orang tua itu menjadi pasrah dengan nasibnya, Kedua tangannya yang diangkat ke atas untuk menyerang Siau Po perlahan-lahan terkulai ke bawah, Begitu menarik nafas panjang yang menandakan kelegaan hatinya, kedua lutut Hong Kaucu pun menjadi lunglai serta jatuh berlutut di atas tanah berpasir Siau Po menyangka Hong Kaucu sedang menjalankan akal licik lainnya, Dengan gugup dia melompat dari pundak orang tua itu dan mencelat jauh untuk menghindarkan setiap kemungkinan Terdengar suara Hong Kaucu yang tersendat-sendat.
"A Cuan.,, A...
Cuan, ke...
marilah!"
Hong Hujin maju beberapa langkah, namun berhenti di depan orang tua itu kurang lebih satu depa setengah.
"Se... betulnya... siapa ayah bayi... da... lam kandunganmu... itu?"
Tanya Hong Kaucu. Hong Hujin menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa lagi kau mengetahuinya?"
Sahut wanita itu.
Dia melirik sekilas ke arah Siau Po.
Hong Kaucu mempunyai ilmu yang sangat tinggi.
Meskipun kedua matanya mengeluarkan darah, tapi tekanan jari Siau Po hanya melukai bagian kelopaknya saja.
Orang mengira dia sudah buta, kenyataannya, samar-samar dia masih dapat melihat.
Karena itu, dia juga tahu arti lirikan mata Hong Hujin tadi.
"Apakah bocah itu... yang.,.?"
Tanyanya tergagap. Hong Hujin menggigit bibirnya sendiri, Dia bungkam seribu bahasa, Tapi diamnya justru menandakan apa yang ditanyakan adalah benar. Hong Kaucu menjadi kalap.
"Kubunuh kau, setan cilik!"
Teriaknya sambil menerjang ke arah Siau Po.
Tampak wajah Hong Kaucu berlumur darah, mulutnya terbuka lebar sehingga tampak giginya yang kuning, tangannya yang terjulur juga penuh dengan noda darah, benar-benar menyeramkan Siau Po ketakutan setengah mati, Cepat-cepat dia menyelinap lalu menyusup lewat selangkangan Hong Hujin dan bersembunyi di belakang wanita itu.
Hong Hujin merentangkan kedua tangannya berdiri berhadapan dengan Hong Kaucu.
"Seumur hidupmu, kau sudah merasakan berbagai kekuasaan dan kebanggaan, rasanya sudah lebih dari cukup!"
Katanya datar. Tubuh Hong Kaucu sedang melayang di tengah udara, mendengar nada suara Hong Hujin. Sisa hawa murninya yang terakhir entah menghempas ke mana, dia terjatuh tepat di bawah kaki istrinya.
"Aku adalah... se... orang... kau... cu!"
Katanya dengan tampang bengis.
"Kalian.. ha... rus mendengar apa... yang ku pe... rintahkan! Me... ngapa ka... lian justru mem.bangkang? Perbuatan... kalian sa... lah, hanya... aku seo... rang yang benar di... dunia ini.... Ka... lian a... kan ku... bu... nuh, hanya... aku... seo... rang yang ber... umur pan... jang se... perti para De...."
Kata-kata "Dewa"
Tidak berhasil diselesaikannya.
Mulutnya terbuka lebar untuk menghembuskan nafas yang penghabisan Kedua matanya tetap mendelik lebar-Iebar.
Siau Po maju beberapa langkah, Dia mencelat ke depan untuk membalikkan tubuh Hong Kaucu lalu mundur kembali secepatnya, Setelah itu, dia baru membalikkan tubuhnya untuk menatap Hong Kaucu.
Tampak orang tua itu tidak bergerak sama sekali, tapi matanya masih terbuka lebar Siau Po menunggu lagi beberapa saat tetapi tetap tidak ada perubahan Namun hatinya masih ragu.
"Apakah dia sudah mati?"
Tanyanya entah kepada siapa. Hong Hujin menarik nafas panjang.
"Ya, dia sudah mati,"
Sahutnya perlahan. Siau Po maju lagi dua langkah.
"Kenapa matanya tidak terpejam?"
Tanyanya penasaran.
Tiba-tiba, terdengar suara Plok!
pipinya kena tamparan yang keras, lalu terasa telinganya dijewer pula, Siapa lagi kalau bukan Kian Leng Kongcu yang melakukannya?
Malah kaki perempuan itu sempat mendepak pantat Siau Po satu kali.
"Kau benar-benar telur busuk! Matanya mendelik karena kau telah mempermainkan istrinya! Bagaimana... kau bisa berhubungan dengan wanita yang tidak tahu malu itu?"
Bentak Kian Leng kongcu dengan suara garang.
Hong Hujin mendengus satu kali, lalu tangannya menjulurkan ke depan untuk mencengkeram leher baju Kian Leng kongcu, menyusul telapak tangannya yang satu lagi menampar pipi perempuan itu keras-keras.
Plok!!!
Kemudian, dia juga mengibaskan tangannya sehingga tubuh sang Tuan puteri terhempas ke beIakang.
Kali ini, keadaan Siau Po benar-benar runyam, Telinganya sedang dijewer oleh Kian Leng kongcu, sedangkan tubuh perempuan itu terbanting ke beIakang, otomatis dia sendiri ikut terbawa bahkan jatuh menindih tubuh perempuan itu.
"Kalau kau masih berani sembarangan bicara, aku akan membunuhmu saat ini juga!" bentak Hong Hujin marah. Kian Leng kongcu gusar sekali, Dia bangun dan langsung menerjang kepada Hong Hujin, tapi wanita itu hanya mendorongnya sedikit dan sekali tubuh Kian Leng Kongcu terhempas jatuh. Tiga kali berturut-turut Kian Leng kongcu menerjang Hong Hujin, namun setiap kali dia tetap terdorong jatuh, Dalam hati dia segera sadar bahwa ilmunya masih kalah jauh dengan wanita itu. Dia terduduk di atas tanah sambil menangis meraung-raung, sekarang dia tidak berani memaki Hong Hujin lagi, tapi Siau Polah yang jadi sasarannya.
"Telur busuk! Anak haram! Thay-kam mampus! Siau Kui Cu jelek!"
Teriaknya berulang-ulang.
Siau Po meraba telinganya, tiba-tiba dia melihat tangannya penuh dengan bercak darah, Rupanya, saking kerasnya tarikan tangan Kian Leng kongcu, bagian atas daun telinganya jadi terkoyak.
"Biar bagaimanapun aku dan dia adalah suami istri."
Mendadak Hong Hujin berkata.
"Bagaimana kalau aku menguburkannya secara baik-baik?"
Dari nada suaranya, seakan dia meminta persetujuan dari Siau Po. ucapannya lembut. Siau Po terkejut sekaligus gembira mendengarnya.
"Baik, baik!"
Sahutnya.
Tanpa menunda waktu lagi, dia memungut sebatang Poan Koan Pit dari atas tanah lalu mulai menggali bersama Hong Hujin, Pui Ie dan Bhok Kiam heng bergegas menghampiri untuk memberikan bantuan.
Dalam waktu yang singkat, jenasah Hong Kaucu sudah dimakamkan secara sederhana, Hong Hujin menyembah di depan kuburan, Diantukkannya kepalanya beberapa kali di atas tanah, dan dengan suara lirih dia berkata.
"Meskipun aku menikah denganmu karena terpaksa, tapi selama ini kau memperlakukan aku dengan baik, Sebaliknya, aku tidak pernah tulus hati terhadapmu. Sebelum mati kau mengetahui hal ini, sekarang kau sudah pergi, semoga hal yang menyakitkan ini tidak kau simpan dalam hati."
Selesai berkata, dia berdiri.
Tanpa dapat ditahan lagi air matanya mengucur dengan deras.
Untuk beberapa saat Hong Hujin berdiri terpaku di depan kuburan itu, kemudian dia mengusap air matanya lalu bertanya kepada Siau Po.
"Kita akan tinggal di sini seterusnya atau kembali ke wilayah Tiong Goan?"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Tempat ini tidak boleh ditinggali lebih lama, arwah penasaran Liok sin she, Hong Kaucu dan yang lainnya pasti gentayangan setiap hari,"
Katanya.
"Tapi, untuk kembali ke Tiong Goan, kesulitannya Iain lagi, Raja cilik justru sedang mencariku Kalau sampai ketemu, aku pasti dibunuhnya, Lebih baik kita cari tempat tinggal Iain yang aman."
Tiba-tiba matanya bersinar terang.
"Ah! Sudah ada! Aku ingat sekarang, sebaiknya kita pergi ke Tong Sip To saja, Di sana pasti tidak ada setan penasaran dan si Raja cilik juga tidak bisa menemukan aku."
"Di mana letaknya pulau Tong Sip to?"
Tanya Hong Hujin. Siau Po menunjuk ke arah timur.
"Di sana ada sebuah pulau kecil, aku menamakannya pulau Tong Sip to,"
Sahut Siau Po sembari tertawa. Hong Hujin manggut-manggut.
"Kalau kau senang ke sana, yah sudah, kita ke sana saja,"
Kata Hong Hujin. Entah mengapa, tiba-tiba saja wanita ini jadi menurut sekali kepada Siau Po. Siau Po senang sekali.
"Ayo, ayo! Kita semua pergi ke sana!"
Dihampirinya Kian Leng kongcu, sembari tertawa dia melanjutkan "Ayo, semuanya naik ke perahu!"
Sekali lagi Kong cu menggerakkan tangannya untuk memukul Siau Po. Si pemuda menggeserkan kepalanya untuk menghindar Hal ini membuat kemarahan si Tuan puteri semakin meluap.
"Kau pergi saja sendiri, Aku tidak mau ikut!"
Teriaknya.
"Di pulau ini banyak hantu, Ada setan tanpa kepala, ada setan buntung kakinya, juga ada setan banyak tangan yang suka meraba perut besar.,."
Kata Siau Po. Kongcu yang mendengarnya jadi ketakutan, Sembari menghentakkan kakinya di atas tanah, dia berteriak.
"Masih ada setan semacam kau yang banyak mulut!"
Kaki kirinya digerakkan ke depan, Siau Po tidak sempat menghindar pantatnya kena tendangan.
Tanpa dapat ditahan lagi, mulutnya mengeluarkan suara aduhan yang keras.
Perlahan-lahan Hong Hujin maju ke depan, Kian Leng kongcu segera menyurut mundur beberapa tindak.
"Lain kali, kalau kau memukul Wi kongcu satu kali, aku akan memukulmu sepuluh kali, Kau menendangnya satu kali, aku akan menendangmu sepuluh kali, Apa yang pernah kuucapkan, selamanya tidak pernah kupungkiri."
Kata wanita mantan istri Hong Kaucu itu. Saking marahnya, wajah Kian Leng kongcu sampai berubah pucat pasi.
"Memang kau apanya dia? Suamimu sendiri sudah mampus, jadi sekarang kau ingin merebut suami orang?"
Teriaknya kesal.
"Suamimu sendiri juga sudah mampus!"
Tukas Pui Ie. Sang tuan puteri bukan main gusarnya.
"Dasar Maling perempuan! Suamimu sendiri juga sudah mampus!"
Teriaknya tidak mau kalah.
"Kalau lain kali mulutmu berani sembarangan bicara lagi, aku akan meninggalkanmu seorang diri di pulau ini dan tidak boleh ada seorang pun yang menemanimu"
Kata Hong Hujin sepatah demi sepatah.
Kian Leng kongcu tahu sifat Hong Hujin yang berani bicara pasti berani bertindak, seandainya dia benar-benar ditinggalkan seorang diri di pulau ini dengan sekian banyaknya setan tanpa kepala, setan buntung dan yang lain-lainnya, entah apa yang harus dilakukannya!
Seumur hidupnya, Tuan Puteri ini selalu dimanja dan dituruti apa pun kehendaknya, Namun, dalam keadaan seperti saat ini, dia terpaksa menahan kekesalan hatinya dan tidak berani bicara lagi.
Dan yang paling senang tentu saja Siau Po.
Dalam hatinya berpikir.
--sekarang Kongcu benar-benar kena batunya, sekarang ada orang yang bisa mengendalikannya, tentu dia tidak berani sembarangan main pukul lagi!
-Tanpa sadar tangannya meraba-raba kupingnya yang berdarah, rasanya masih sakit sekali.
Hong Hujin berkata kepada Pui Ie.
"Nona Pui, tolong kau perintahkan kepada tukang perahu untuk mempersiapkan keberangkatan kita!"
"Baik,"
Sahut Pui Ie.
"Mengapa Hujin demikian sungkan terhadap hamba? Hamba jadi tidak enak hati mendengarnya."
Hong Hujin tersenyum lembut.
"MuIai sekarang kita harus saling menyapa dengan sebutan kakak dan adik, hilangkan segala formalitas Hujin dan hamba, Begini saja, kau panggil aku cici Cuan, aku akan memanggilmu adik Pui Mengenai obat penawar racun di tubuhmu, begitu naik ke atas perahu, aku akan memberikannya kepadamu, Sejak hari ini, tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi,"
Katanya.
Pui Ie dan Bhok kiam Peng senang sekali mendengar ucapannya.
Rombongan itu segera naik ke atas perahu, Layarnya berkembang ke arah barat Siau Po tidak henti-hentinya celingak-celinguk ke sana-ke mari, tampangnya seperti orang yang merasa bangga sekali.
Apalagi Hong Hujin benar-benar menepati janjinya.
Dia memberikan obat penawar racun untuk Pui Ie.
Senjata serta uang perak Siau Po juga dikembalikan Demikian pula dengan senjata orang-orang lainnya.
Siau Po tertawa senang.
"MuIai sekarang aku juga ingin memanggilmu Cici Cuan, bagaimana pendapatmu?"
Wajah Hong Hujin langsung berseri-seri.
"Bagus sekali! sekarang kita urutkan usia kita masing-masing, dengan demikian kita bisa tahu, siapa yang paling besar dan siapa yang lebih muda."
Mereka masing-masing menyebutkan tahun kelahirannya, Ternyata Sou Cuan (Hong Hujin) yang paling tua, kedua jatuh pada Pui Ie, ketiga Kiam Leng kongcu, Cin Ju, Siau Po dan Bhok Kiam Peng seumur Cin Ju lebih tua beberapa bulan, sedangkan Bhok Kiam Peng justru lebih muda beberapa hari dari Siau Po.
Sou Cuan, Cin Ju, Bhok Kiam Peng dan Pui Ie saling menyebut cici serta moay-moay dengan riang gembira, Hanya Kian Leng kongcu sendiri yang menatap mereka dari samping dengan perasaan mendongkol.
"Dia terlahir sebagai seorang puteri, tentunya tidak sudi saling menyapa dengan panggilan kakak atau adik dengan kita semua, sebaiknya kita tetap memanggilnya Kongcu saja,"
Kata Sou Cuan. Kian Leng kongcu mencibirkan bibirnya.
"Aku benar-benar tidak berani menerima penghormatan sebesar itu."
Dalam hatinya dia membayangkan persekongkolan keempat perempuan, sedangkan ia hanya seorang diri, Lagipula, si thay-kam tidak tahu mampus Siau Kui cu tampaknya malah lebih pro kepada mereka berempat daripada kepadanya.
Memikirkan hal itu, tanpa terasa hatinya menjadi sedih, dia pun menangis meraung-raung, Siau Po segera mendekatinya, ia menarik tangan si Tuan Puteri, lalu berusaha menghiburnya.
"Sudahlah! Kita kan sedang bergembira, tidak perlu menangis...."
Ucapan Siau Po belum selesai, Kian Leng kongcu sudah mengangkat tangan kanannya untuk menampar pipi Siau Po.
Namun tangannya belum sampai mendarat di pipi Siau Po, tiba-tiba ia teringat ancaman Sau Cuan, Akhirnya dia mengalihkan pukulannya sehingga mendarat di dada sendiri.
Tanpa dapat ditahan lagi, dia mengaduh kesakitan, Orang-orang lainnya merasa geli sehingga mereka tertawa terbahak-bahak, Kian Leng kongcu semakin mendongkol Dia menangis keras-keras dalam pelukan Siau Po.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi! Lebih baik kita bermain judi, aku yang jadi bandarnya!"
Tapi, meskipun dia sudah mengubek-ubek seluruh peti milik Sou Cuan, dadu-dadunya tidak berhasil ditemukan, kemungkinan sudah diambil oleh Liok Kho Hian ketika menggeledah sakunya tempo hari.
Siau Po jadi uring-uringan.
wajahnya tampak murung, Sou Cuan malah tersenyum simpul melihatnya.
"Kita gunakan kayu saja untuk membuat biji dadu,"
Katanya.
"Kayu terlalu ringan, tidak enak kalau dilempar,"
Sahut Siau Po. Cin Ju memasukkan tangannya ke dalam saku, kemudian dikeluarkannya dalam keadaan terkepal.
"Coba tebak, apa ini?"
Tanyanya.
"Jadi kita tebak-tebakan uang logam? BoIeh juga, pokoknya masih lumayan daripada tidak main,"
Sahut Siau Po.
"Tebak saja berapa?"
Tanya Cin Ju kembali. Siau Po tersenyum.
"Tiga keping,"
Jawabnya.
Perlahan-lahan Cin Ju membuka telapak tangannya, Di dalam tangan yang halus dan lembut itu ternyata ada dua biji dadu.
Mata Siau Po sampai mendelik, dia melonjak bangun sembari bertanya berulang kaIi.
"Darimana kau mendapatkan itu? Dari mana kau mendapatkan dadu itu?"
Cin Ju hanya tersenyum simpul, lalu meletakkan kedua biji dadu itu di atas meja.
Siau Po segera meraihnya.
Berulang kali dia melemparkan dadu itu ke atas meja, wajahnya ber-seri-seri.
Dia dapat merasakan bobot setiap sisi dadu itu berlainan sehingga tahulah dia bahwa dadu itu telah diisi dengan cairan kristal serta menjadi dadu yang dapat dipergunakan untuk mengakali lawan.
Dalam hati dia merasa bingung, Cin Ju adalah seorang gadis yang lembut dan pendiam, mana mungkin dia menggunakan dadu-dadu ini untuk menipu orang, Beberapa saat dia merenungkan hal itu.
Tiba-tiba dia tersadar, bukan main gembiranya, Sekali tomplok dia langsung memeluk pinggang Cin Ju dan mengecup pipinya.
"Terima kasih, cici Cin Ju. Untung kau selalu menyimpan dadu-daduku dalam sakumu?"
Wajah Cin Ju langsung berubah merah padam, Dia berlari ke geladak perahu, Rupanya tempo hari, ketika bertaruh nyawa dengan para murid Ong Ok Pai, Cin Ju keluar dari kemah dan meminta kedua biji dadunya, Urusan ini Siau Fo sendiri sudah melupakannya, Namun ternyata sampai saat ini Cin Ju masih menyimpan kedua butir dadu tersebut.
Meskipun sekarang sudah ada dadu, tapi di antara perempuan-perempuan itu, tidak ada seorang pun yang berbakat main judi, Mereka hanya merasa iba melihat Siau Po dan iseng-iseng menemaninya bermain, jumlah taruhannya pun terlalu kecil, lagipula mereka tidak perduli menang atau kalah.
Meskipun telah bermain beberapa saat, mereka masih tidak bersemangat kalau dibandingkan dengan perjudian yang pernah dimainkan Siau Po di kota Yang-ciu, atau pun berjudi dengan para thay-kam di istana, suasananya sangat jauh berbeda.
Hati Siau Po pun jadi tawar.
"Jangan main lagi! jangan main lagi! Kalian semuanya tidak mengerti bagaimana bermain judi!"
Teriaknya kesal.
Dia langsung membayangkan kehidupannya yang akan datang di pulau Tong Sip to.
Meskipun ada lima wanita cantik yang menemaninya, namun dengan tiadanya perjudian serta sandiwara yang dapat ditonton, tentu hidupnya akan terasa tawar.
Lagipula, meskipun di atas pulau itu dia memiliki beberapa puluh laksa uang emas dan perak, untuk apa?
Tidak ada tempat untuk menghambur-hamburkan uangnya!
Pikiran ini membuat Siau Po semakin kesal, sedangkan ke mana perginya A Ko dan mati hidupnya Song Ji selalu terbayang-bayang dalam ingatannya, Mana mungkin dia melupakan kedua gadis yang paling disukainya?
Semakin berpikir, hatinya semakin tawar.
"Lebih baik kita jangan pergi pulau Tong Sip to,"
Katanya.
"Kenapa?"
Tanya Sou Cuan.
"LagipuIa, ke mana lagi sebaiknya kita pergi?"
Siau Po merenung sesaat.
"Kita pergi ke Liau Tong, kita ambil harta karun di sana."
"Bukankah sebaiknya kita mencari kehidupan yang tenang di pulau yang kau katakan itu? walaupun kita bisa mengambil harta karun tersebut, apa manfaatnya bagi kita?"
Tanya Sou Suan.
"Raja Tatcu pasti sudah menyebar tentara-tentaranya untuk menangkapmu Lebih baik kita menyembunyikan diri dulu selama satu dua tahun,"
Usul Pui Ie.
"Kalau urusannya sudah lewat, waktu itu kalau kau masih ingin pergi ke Liau Tong untuk mengambil harta karun, toh masih belum terlambat."
"Harta karun selalu menjadi bahan rebutan dari jaman dahulu kala, bagaimana tidak ada gunanya?"
Lalu dia menoleh kepada Bhok Kiam Peng dan Cin Ju.
"Bagaimana kalian berdua?"
"Aku rasa apa yang dikatakan Pui suci ada benarnya,"
Sahut Bhok Kiam Peng.
"Kalau kau merasa kesal, kita boleh menyembunyikan diri beberapa bulan saja,"
Kata Cin Ju memberikan pendapatnya.
"Dia melihat wajah Siau Po masih murung, maka dia melanjutkan kembali."
Setiap hari kami akan menemanimu bermain dadu, yang kalah boleh kau pukul telapak tangannya, bagaimana?"
Dalam hati Siau Po berpikir, --Dasar maknya!
Mana enak sih bertaruh judi dengan pukulan telapak tangan?
--Tapi dia melihat wajah Cin Ju yang tersipu-sipu sehingga menambah kemanisannya, tanpa terasa hatinya menjadi hangat Maka dia berkata.
"Baiklah, baiklah! Aku akan menurut saja kepada kalian!"
Pui Ie berdiri dan tersenyum.
"DuIu aku banyak bersalah terhadapmu sekarang aku akan masuk ke dalam dan masak beberapa macam sayur, Hitung-hitung saja sebagai balasan atas hutangku kepadamu Aku akan mengundangmu minum arak, bagaimana?"
Siau Po semakin senang.
"Bagus, bagus sekali!"
Katanya.
Pui Ie segera masuk ke dalam untuk memasak sayur Rupanya gadis itu seorang ahli masak.
Apa pun yang diolahnya terasa sedap, meskipun bahan yang tersedia di atas perahu amat sederhana, Mereka semua makan dengan lahap.
"Mari kita main tebak-tebakan!"
Ajak Siau Po.
semuanya setuju, Mereka pun main tebak-tebakan.
Padahal sejak tadi Kian Leng kongcu uring-uringan terus, tapi setelah ikut main beberapa kali dan minum beberapa cawan arak, dia sudah bisa tertawa serta bercanda, Sepanjang malam mereka berlayar dengan perahu, dan pada hari kedua mereka sudah sampai di pulau Tong Sip to.
Tampak di sana-sini masih banyak bekas-bekas perkemahan para tentara tempo hari, tapi pangkat dan kekuasaan yang pernah dimiliki Siau Po kenyataannya sudah sirna.
Siau Po sendiri bersikap masa bodoh, dan sembari menggandeng tangan Pui Ie, dia tertawa.
"Cici Pui, tempo hari di pulau inilah aku pernah diketahui cici naik ke atas perahu, Hampir saja selembar nyawa ini amblas di tangan orang-orang dari negara Lo Sat,"
Katanya. Pui Ie tersenyum kecut.
"Aku kan sudah mengaku bersalah, apa aku harus menyembah di hadapanmu untuk minta maaf?"
"ltu sih tidak perlu, Tapi orang sering mengatakan kalau kita sering berbuat kebaikan pasti ada balasannya, Biarpun aku sudah mengalami berbagai penderitaan, akhirnya aku benar-benar bisa menemanimu,"
Kata Siau Po pula. Bhok Kiam Peng menukas dari belakangnya.
"Apa sih yang kalian bicarakan? Biar kita juga ikut dengar!"
Pui Ie tertawa.
"Dia bilang akan menangkapmu lalu mengukir gambar seekor kura-kura di wajahmu,"
Katanya.
"Kita jangan bercanda lagi. sekarang kita harus memikirkan hal-hal yang penting terlebih dahulu,"
Ujar Sou Cuan.
Tanpa menunda waktu lagi, dia memerintahkan tukang perahu untuk memindahkan berbagai perbekalan dan ransum ke atas pulau tersebut semuanya dimasukkan ke dalam sebuah goa.
Siau Po langsung memuji.
"Cici Cuan benar-benar teliti, Yang penting kita harus perhatikan barang-barang ini, biar mereka yang mengangkatnya satu per satu. Dengan demikian mereka tidak bisa melarikan perahu ini."
Belum lagi ucapan Siau Po selesai, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara Bam!
Bum!
yang beruntun, seperti suara ledakan bom.
Keenam orang itu terkejut setengah mati, Mereka segera menoleh ke arah laut.
Tampak asap putih dan kabut memenuhi tengah-tengah Iautan.
Di antara kabut itu tampak dua buah kapal sedang melaju ke arah mereka.
"Celaka!"
Teriak Siau Po.
"Si Raja Cilik mengutus orang untuk menangkapku!"
Terdengar lagi suara ledakan sebanyak dua kali. Ternyata memang suara meriam yang ditembakkan dari atas kapal.
"Cepat kita kembali ke perahu untuk kabur!"
Kata Cin Ju.
"Layar sudah diturunkan, tidak sempat lagi kita memasangnya, Lebih baik kita bersembunyi dan melihat perkembangannya!"
Ujar Sou Cuan..Di antara keenam orang itu, terkecuali Kian Leng kongcu, mereka rata-rata sudah bisa menghadapi marabahaya, oleh karena itu mereka juga tidak merasa panik.
Terdengar Sou Cuan berkata kembali.
"Di mana pun kita bersembunyi pasti akan ditemukan oleh para tentara itu, sebaiknya kita bersembunyi di goa atas bukit Tanjakannya berliku-liku, tentara-tentara itu hanya dapat mendaki satu per satu. Pokoknya, ketemu satu kita bunuh satu. jangan memberi harapan untuk mereka mendaki sekaligus."
"Betul, ini yang dinamakan sekali raih dua keuntungan,"
Kata Siau Po. Sou Cuan tersenyum.
"Benar."
Tanpa dapat menahan lagi, Kian Leng Kongcu tertawa terbahak-bahak. Siau Po mendelikkan matanya sambil membentak.
"Apa yang kau tertawakan?"
Kian Leng kongcu mencibirkan bibirnya.
"Tidak apa-apa, hanya pepatah yang kau ucapkan selalu mengandung arti yang dalam, Orang yang mendengarnya sampai merasa kagum sekali."
Sedikit banyaknya Siau Po mempunyai kecerdasan dibandingkan orang lain, dia mengerti pasti ucapannya tadi tidak tepat pada tempatnya, Dengan menahan rasa dongkol dia mendelik sekali lagi kepada Kian Leng Kongcu.
Keenam orang itu segera memasuki goa.
Sou Cuan menebas ranting pohon di sekitar tempat itu dan digunakannya untuk menutupi mulut goa agar bayangan mereka tidak tampak jelas, Dari ceIah-celah ranting itu mereka dapat memandang ke luar.
Tampak kedua kapal itu berjalan beriringan, keduanya melaju ke arah pulau Tong Sip to.
Kapal yang di belakang tidak henti-hentinya menembakkan meriam ke arah kapal yang depan, Namun tembakannya tidak jitu, hanya air di sekitar kapal yang depan tampak melonjak-Ionjak karena ledakan meriam.
"Rupanya kapal yang di belakang sedang menembaki kapal yang ada di depannya,"
Kata Siau Po.
"Memang benar Tampaknya mereka sedang berperang,"
Ujar Sou Cuan. Wajah Siau Po langsung berseri-seri..
"Kalau begitu, kemungkinan kedua kapal itu bukan utusan si Raja cilik untuk meringkus aku,"
Katanya pula.
"Semoga saja demikian Tapi tujuan mereka sudah jelas pulau Tong Sip to ini.
Kalau sudah sampai, mereka pasti bertanya pada tukang perahu, dan dalam waktu sekejap saja mereka pasti tahu siapa yang ada di atas pulau ini.
Meskipun kita bisa mendahului mereka membunuh si tukang perahu, tetap saja kita tidak mempunyai waktu cukup untuk mengubur mayatnya,"
Ujar Sou Cuan.
"Kenapa kapal yang di depan tidak membalas tembakan? Benar-benar tidak berguna! Paling bagus kalau keduanya tembak-menembak. Kalau sama-sama kena tembakan kan kapal mereka akan tenggelam, dengan demikian kita tidak perlu merasa khawatir lagi,"
Gerutu Siau Po.
Kapal yang di depan lebih kecil dibandingkan dengan kapal yang mengejar di belakangnya, layarnya terkembang lebar karena hembusan angin, Maka itu lanjutnya pun cepat sekali.
Tiba-tiba kapal yang di belakang kembali menembakkan meriam, Kali ini telak mengenai bagian geladak, dan dalam sekejap mata layar yang sedang berkembang terbakar orang-orang yang ada di atas kapal itu terkejut setengah mati, demikian pula dengan rombongan Siau Po.
Tampak orang-orang yang di kapal depan itu segera menurunkan sebuah sampan.
Belasan orang melompat ke atas sampan dan langsung mendayung sekuat tenaga.
Sebetulnya jarak mereka dengan pulau Tong Sip to sudah dekat sekali, Tapi karena di tepian airnya sangat dangkal, maka kapal yang ada di belakang tidak dapat maju Iagi.
Mereka juga menurunkan sampan untuk mengejar Bahkan mereka menurunkan lima sampan sekaligus.
Sungguh suatu pemandangan yang menegangkan Sampan yang di depan melarikan diri, dan lima sampan yang di belakang mengejar dengan ketat.
Tidak lama kemudian, belasan orang yang ada di sampan sudah melompat turun ke daratan.
Mereka langsung celingak-celinguk untuk memeriksa keadaan di sekitarnya, atau kemungkinan mereka sedang mencari jalan untuk melarikan diri.
Terdengar seseorang berseru.
"Sebelah sana lebih terlindung, kita kabur ke sebelah sana saja!"
Siau Po dapat mendengar suara orang yang berseru itu mirip sekali dengan suara gurunya, Tan Kin Lam.
Belasan orang itu segera berlari ke arah yang ditunjuk orang tadi.
Begitu mendekat, tampak salah satunya membawa pedang panjang, Dia berdiri tegak sambil memberikan perintah, Siapa lagi kalau bukan Tan Kin Lam?
Siau Po senang sekali melihat kenyataan ini.
dia segera menyibakkan ranting-ranting yang menghalangi mulut goa lalu menghambur ke luar.
"Suhu! Suhu!"
Serunya. Tan Kin Lam membalikkan tubuhnya, dia juga melihat Siau Po. Rasa terkejut dan senang membaur jadi satu dalam hatinya.
"Siau Po, bagaimana kau bisa ada di sini?"
Tanyanya.
Siau Po menghambur mendekati Tan Kin Lam, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, dan wajahnya termangu-mangu.
Di antara belasan orang itu, dia melihat seorang gadis cantik jelita bak bidadari, yakni A Ko, pujaan hatinya.
"A Ko!"
Teriaknya keras-keras sambil berlari ke depan.
Di belakang gadis itu berdiri seseorang yakni The Kek Song, si pemuda tengil yang dibenci sekali oleh Siau Po.
Sebetulnya, sudah tidak heran lagi kalau di mana ada A Ko pasti ada The Kek Song, Siau Po justru sedang kegirangan setengah mati dapat bertemu dengan A Ko, tapi begitu melihat ada The Kek Song yang menyebalkan itu, hatinya seperti anjlok ke dasar lautan, Karena itulah untuk sesaat dia sampai berdiri termangu-mangu.
"Siangkong!"
Panggil seseorang dari samping.
"Siangkong!"
Terdengar pula suara seorang lainnya.
Tanpa sadar Siau Po menyahuti, tapi matanya tidak melirik sedikit pun.Dia hanya memandangi A Ko dengan terkesima, Tiba-tiba terasa ada sebuah tangan yang lembut memegang telapak tangan kanannya.
Tubuh Siau Po bergetar, dia menoleh, tampaklah seraut wajah yang manis namun penuh dengan derai airmata dan sedang menatap kepadanya lekat-lekat Siapa lagi kalau bukan Song Ji?
Siau Po merasa gembira sekali, dan langsung memeluk Song Ji erat-erat.
"Oh, Song Ji ku yang baik! Aku benar-benar rindu kepadamu!"
Hatinya merasa gembira bukan kepalang, kebahagiaan yang menyelimuti sanubarinya seakan hampir meledak, Bahkan untuk sesaat A Ko pun tidak diingatnya lagi.
"Hong toako, Pang toako, kalian jaga di sini!"
Kata Tan Kin Lam.
Kedua anak buahnya itu segera menuruti perintahnya, Mereka mengeluarkan senjata masing-masing dan berdiri di jalan setapak untuk berjaga-jaga.
Secara mendadak bertemu dengan begitu banyak orang yang dikenalnya, Siau Po hanya dapat bertanya.
"Bagaimana kalian bisa datang ke tempat ini?"
"Hong toaya mengajak aku mencari siangkong ke mana-mana, Dalam perjalanan, kami bertemu dengan cong tocu. Akhirnya kami mendengar seIentingan bahwa siangkong telah berlayar dengan perahu, karena itu... karena itu...."
Saking terharunya, tenggorokan Song Ji jadi tersendat, dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya, hatinya terlalu bahagia.
Pada saat itu, kelima sampan yang mengejar tadi sudah mendarat Mereka beramairamai melompat turun, Dari atas bukit Siau Po dan rombongannya dapat melihat bahwa mereka adalah para tentara kerajaan, yang jumlahnya mencapai tujuh delapan puluhan orang.
Yang paling depan adalah seorang laki-laki yang membawa golok panjang, Gerakan tubuh laki-laki itu gesit sekali, tapi karena jaraknya terlalu jauh, wajahnya tidak jelas terlihat.
Orang itu memberi aba-aba kepada para tentara untuk berbagi diri menjadi kelompok-kelompok.
Sekelompok tentara berdiri tegak.
Begitu pemimpin mereka menurunkan perintah, mereka mengeluarkan setumpuk anak panah dari punggung masing-masing, lalu mengarahkannya ke atas bukit.
"Semua tiarap!"
Seru Tan Kin Lam.
Dalam keadaan seperti ini, Siau Po tidak perlu menunggu perintah dari gurunya lagi, Begitu melihat rombongan tentara itu melompat turun ke daratan, dia lalu menyembunyikan kepalanya rendah-rendah di balik sebongkah batu besar.
Terdengar Panglima yang memimpin rombongan tentara itu berseru.
"Lepaskan panah!"
Dalam sekejap mata, anak-anak panah melesat ke arah rombongan Siau Po.
Meskipun bukit itu cukup tinggi, dan anak panah dilepas dari bawah bukit yang jaraknya cukup jauh, tapi tenaga para tentara itu sungguh mengagumkan Luncuran anak panah dapat mencapai tempat persembunyian Siau Po.
Kedua anak buah Tan Kin Lam yang menjaga di luar goa mengayunkan senjata di tangan mereka ke sana ke mari untuk menangkis anak panah.
"Si Long, kau pengkhianat bangsa yang tidak tahu malu! Kalau kau memang berani, naiklah ke sini dan duel dengan aku!"
Teriak Pang Ci Hoan. -Rupanya pemimpin para tentara ini si Sie Long, Orang ini memang ahlinya kalau soal perang atau mengepung musuh, --pikir Siau Po dalam hati.
"Kalau kau memang bernyali, turunlah ke sini! Satu lawan satu, aku pasti tidak akan mundur!"
Terdengar sahutan Sie Long.
"Baik!"
Teriak Pang Ci Hoan. Baru saja dia hendak turun dari atas bukit, Tan Kin Lam sudah mencegahnya.
"Pang toako, kau jangan masuk perangkapnya, Orang itu licik sekali Kejahatan apa pun sanggup dilakukannya."
Pang Ci Hoan langsung menghentikan langkahnya.
"Kau bilang tidak takut duel satu lawan satu, mengapa kau membawa lima buah sampan.,., Mak-nya! Enam malah, sampan kami juga kalian rebut! Pengkhianat bau! Kau menyuruh orang membawa sampan menuju kapalmu, tentunya kau ingin menjemput anak buahmu yang lain bukan? Bukankah kau ingin mengambil keuntungan dari jumlahmu yang jauh lebih banyak?"
Teriak Pang Ci Hoan kesal. Sie Long tertawa.
"Tan kunsu, Pang Tui tiong, ilmu silat kalian sangat tinggi! selamanya aku orang marga Sie ini merasa kagum sekali! Pepatah mengatakan "
Orang yang pandai pasti bijaksana ", sebaiknya kalian giring The kongcu turun ke mari serta menyerah! Kaisar kami pasti akan menganuagerahkan kalian pangkat yang tinggi!"
Katanya.
Dulunya Sie Long adalah salah satu anak buah andalan The Seng Kong, Dia bersama Tio Kim Bu, Kam Hui, Ma Sing, Liu Kok Kan disebut sebagai lima Jenderal Harimau.
Tan Kin Lam menjabat sebagai Kunsu, sedangkan Pang Ci Hoan, meskipun memiliki ilmu yang tinggi, tapi otaknya kurang cerdas, dia diberi kedudukan sebagai komandan tentara oleh The Seng Kong.
Mereka bertiga pernah bahu-membahu melawan musuh cukup lama, Mereka juga sudah banyak mengalami berbagai penderitaan bersama-sama, Karena itulah sampai sekarang dia masih menyebut Tan Kin Lam serta Pang Ci Hoan dengan sebutannya dulu.
Meskipun jarak dari atas bukit ke bawah ada sekitar tujuh delapan depa, tapi karena semangat Sie Long ber-kobar-kobar, maka suaranya dapat terdengar jelas sekali.
Wajah The Kek Song langsung berubah hebat, lalu dengan suara gemetar dia berkata.
"Pang suhu, jangan sekali-kali kau menyerah...!"
"Kongcu tidak perlu khawatir Selama orang marga Pang ini masih ada sedikit nafas, dia pasti tidak akan menyerah."
Sahut Pang Ci Hoan.
Sebetulnya Tan Kin Lam tahu bahwa Pang Ci Hoan juga sangat licik, beberapa kali orang ini berusaha mencelakainya yang tentu saja tujuannya ingin mengangkat The Kek Song sebagai Kuncu di masa yang akan datang.
Namun, pada saat ini dia mendengar suara Pang Ci Hoan yang tulus dan pantang menyerah, maka timbul juga rasa hormat dalam hatinya.
"Peng toako, kita bahu-membahu mengadu jiwa, biar bagaimanapun kita harus melindungi Ji kong-cu,"
Katanya.
"Tentu saja sebawahanmu ini akan menuruti perintah Kunsu,"
Sahut Pang Ci Hoan.
"Kalau sekarang Kunsu menunjukkan jasa yang besar, sepulangnya ke Taiwan nanti, aku pasti akan memberi laporan kepada Hu ong, dan tentu Kunsu akan mendapat... mendapat hadiah yang besar,"
Ujar The Kek Song.
"lni adalah kewajiban kami sebagai hamba,"
Sahut Tan Kin Lam sembari berjalan ke tepi bukit untuk melihat situasi musuh. Siau Po tertawa.
"The kongcu, hadiah besar sih tidak perlu, Asal kau tidak berbalik muka dengan tanpa perasaan dan berusaha menjatuhkan guruku, kami akan mengucapkan banyakbanyak terima kasih kepadamu,"
Katanya. The Kek Song tidak berani banyak bicara, hanya matanya yang mendelik lebar-lebar kepada Siau Po. Siau Po berkata kembali dengan suara lirih.
"Su ci, bagaimana kalau kita serahkan saja The kongcu kepada tentara itu?"
A Ko mendelik satu kali kepadanya.
"Setiap kali bertemu muka, ucapanmu pasti yang bukan-bukan. Mengapa kau suka sekali menakut-nakutinya?"
Sekali lagi Siau Po tertawa.
"Di takut-takuti beberapa kali saja toh tidak apa-apa, jauh dari mati, seandainya mati pun kan lebih bagus lagi!"
Katanya. A Ko menarik nafas panjang, Tiba-tiba saja wajahnya merona merah, Kepalanya ditundukkan dalam-dalam.
"Kok kalian bisa bersama-sama?"
Tanya Siau Po kepada Song Ji.
"Tan Cong tocu mengajak Hong toaya dan aku berlayar mencarimu Aku ingat kau pernah bercerita tentang pulau Tong Sip to, maka aku segera mengatakannya kepada Cong tocu, Kami pun segera menuju ke mari untuk melihat-lihat, Di tengah perjalanan kami melihat para tentara kerajaan mengejar The kongcu sambil menembakinya dengan meriam, perahunya tenggelam, The kongcu sendiri terjun ke laut, kami menolongnya lalu sama-sama ke mari, Terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya kami berhasil menemukan siangkong juga."
Berkata sampai di sini, kelopak mata Song Ji memerah kembali. Siau Po menepuk-nepuk pundak gadis itu.
"Song Ji ku yang baik, selama ini, aku selalu terbayang padamu."
Ucapannya kali ini tidak bohong, Setiap hari, kalau tidak sepuluh kali, paling tidak ada delapan kali dia memikirkan Song Ji dan A Ko.
Malah kalau dihitung-hitung, ingatannya kepada Song Ji lebih banyak.
"Saudara-saudara sekalian, mumpung regu bantuan bangsa Tatcu belum datang, kita terjang dan bunuh mereka terlebih dahulu, Kalau sampai keenam sampan itu datang lagi ke sini, jumlah mereka jadi semakin banyak, pada saat itu tentu kita akan kewalahan melawan mereka!"
Seru Tan Kin Lam.
Orang-orang yang ada di atas bukit itu menyatakan persetujuannya, Kali ini rombongan dari Thian Te Hwee berjumlah belasan orang, pengawal The Kek Song ada tiga orang, belum lagi yang ilmunya agak rendah ada delapan orang, Jadi jumlah mereka cukup banyak juga.
"The kongcu, Tan kouwnio, Siau Po, Song Ji, kalian tinggal di sini! Yang lainnya ikut aku menerjang ke bawah!"
Seru Tan Kin Lam.
ia lalu mengayunkan pedang panjangnya, dan mendahului yang lainnya menerjang ke bawah bukit.
Hong Cit Tiong dan belasan orang lainnya segera menyusul Terdengar suara bentakan mereka yang lantang, Para tentara segera melepaskan anak panah, tapi semuanya berhasil ditangkis oleh rombongan Tan Kin Lam.
Sebelumnya mereka berperang di atas lautan, Sie Long mempunyai kapal yang perlengkapannya hebat.
Terpaksa Tan Kin Lam dan yang lainnya mendiamkan saja.
Tapi sekarang mereka bertempur di daratan, Kecuali Sie Long sendiri, para tentara yang lain tidak ada seorang pun yang berilmu tinggi.
Mana mungkin mereka sanggup menghadang rombongan Tan Kin Lam.
Anak buah Thian Te Hwee serta pengawal The Kek Song juga mempunyai ilmu silat yang lumayan, Begitu mereka semua menerjang ke bawah, para tentara pun jadi kalang kabut.
"Su ci, Song Ji, kita juga turun ke bawah untuk membantu mereka melawan tentaratentara itu!"
Ajak Siau Po. A Ko dan Song Ji segera menyetujui usul pemuda itu.
"Aku juga ikut!"
Seru The Kek Song, Tampak Siau Po telah menghunus pisau belatinya.
A Ko dan Song Ji juga sudah mengeluarkan senjata masing-masing.
Mereka bertiga segera menghambur ke bawah bukit.
Tadinya Kek Song mengikuti dari belakang, tapi baru beberapa tindak, dia segera menghentikan langkahnya.
Dalam hati dia berpikir, --Aku terlahir sebagai seorang pangeran, kenapa harus menempuh bahaya dengan para hamba sahaya?
Dengan membawa pikiran demikian, dia berteriak.
"A Ko, kau tidak perlu pergi!"
A Ko tidak memperdulikan teriakannya, dia tetap berlari mengikuti Siau Po.
Walaupun ilmu silat Siau Po biasa-biasa saja, tapi dia mempunyai empat macam pusaka, Begitu terjun ke arena pertempuran, keuntungan yang dapat diraih pihak Thian Te Hwee semakin banyak, Empat pusaka?
Apa saja?
Yang pertama, pisau belatinya yang tajam, boleh dibilang sulit dicari tandingannya di dunia ini.
Kedua, baju mustikanya, Senjata apa pun tidak mempan mengenai tubuhnya asal dia mengenakan baju mustika ini.
Ketiga, dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang ajaib, Musuh tidak sanggup mengejar dirinya, Keempat, ada Song Ji di sampingnya yang siap melindunginya dengan pertaruhan jiwa.
Dibandingkan dengan orang lain, keuntungannya sudah jelas jauh lebih banyak, Malah kalau bertempur dengan jago berilmu tinggi, dengan adanya keempat macam pusaka ini, boleh dibilang Siau Po tidak usah merasa takut lagi.
Paling tidak kedudukan mereka seimbang, Apalagi digunakan untuk melawan para tentara kerajaan, dalam waktu singkat saja sudah ada beberapa tentara yang roboh di tangannya, semangatnya semakin berkobar-kobar.
Para tentara lari pontang-panting menghadapi rombongan orang-orang Thian Te Hwee, Tan Kim Lam berduel dengan Sie Long.
Dalam waktu yang singkat sulit diperkirakan siapa yang akan menang atau kalah.
Pang Ci Hoan dan Hong Ci Tiong menggerakkan senjata mereka seakan-akan sedang menebas sayuran, Dalam waktu sekejap mata, sudah lima puluhan tentara yang terluka dan mati.
Para tentara yang terluka segera terjun ke dalam air.
Mereka sudah lama mendapat latihan untuk berperang di lautan, karena rata-rata dari mereka jago berenang.
Tanpa memperdulikan nasib kawan-kawannya yang lain, mereka segera menghambur berenang ke arah kapal.
Di pihak Thian Te Hwee, sudah ada dua orang yang mati dan satunya terluka, sisanya mengepung Sie Liong.
Golok di tangan Sie Long menebas ke sana ke mari, Meskipun dirinya terancam bahaya besar, tapi ketenangannya sungguh mengagumkan Dia tidak memperlihatkan rasa jeri sedikit pun.
Bagian 84 "Sie Ciangkun!
Kalau kau tidak mau melemparkan golokmu dan menyerah dalam sekejap mata kau bisa jadi bola daging!"
Teriak Siau Po.
Sie Long memusatkan perhatiannya kepada pertempuran yang sedang berlangsung, maka tidak memperdulikan ucapan orang-orang disekitarnya.
Pertarungan berlangsung dengan seru.
Terdengar Tan Kin Lam bersiul panjang, sekaligus melancarkan tiga buah serangan.
Pada serangan ketiga, pedangnya sudah saling menempel dengan golok Sie Long.
Tampak tangannya bergetar karena mengerahkan tenaga dalam Mendadak Sie Long mendengus keras, dan diluncurkan pedangnya ke depan dan tepat mengancam tenggorokkan Sie Long.
"Bagaimana sekarang?"
Bentak Tan Kim lam. Sie Long marah sekali.
"Kau toh sudah menang, mau membunuhku silahkan! Apa yang harus kukatakan lagi?"
"Sampai saat ini kau masih menganggap dirimu sebagai seorang laki-laki sejati? Kau pernah mengkhianati atasanmu, dan pernah menjual temanmu sendiri! Apakah seorang laki-laki sejati akan melakukan hal-hal seperti itu?"
Tanya Tan Kin Lam.
Tiba-tiba tubuh Sie Long mencelat lalu menggelinding di atas tanah, Gerakannya sungguh tepat, lalu mengirimkan sebuah tendangan ke arah paha Tan Kin Lam.
Tam Kin Lam mengerahkan pedang di tangannya lurus ke samping bawah untuk melindungi pahanya, Apabila Sie Long berkeras menendang pahanya, kakinya pasti tidak akan luput dari tebasan pedang di tangan Tan Kin Lam.
Dengan nekat Sie Long menahan gerakan kakinya, kedua telapak tangannya menumpu di atas tanah, lalu bersalto ke belakang sebanyak dua kali, Namun ketika dia berhasil berdiri tegak kembali, sekali lagi pedang di tangan Tan Kin Lam mengancam tenggorokannya.
Hati Sie Long dingin seketika.
Dia sadar bahwa dirinya masih bukan tandingan Tan Kin Lam.
Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan.
"Kunsu, bagaimana perlakuan Kok Seng Ya terhadapku?"
Pertanyaan yang diajukannya kali ini benar-benar di luar dugaan Tan Kin Lam.
Saat itu juga, budi dan dendam yang pernah ada antara The Seng Kong dan Sie Long membayang di depan pelupuk matanya, Akhirnya dia menarik nafas panjang.
"Kalau dikatakan secara terus terang, Kok Seng Ya pun pernah berbuat kesalahan terhadapmu, tapi kita semua juga pernah menerima budi besar Kok Seng Ya. Apabila sesekali kita menerima hinaan, apa pula yang dapat kita katakan?"
"Apakah aku harus mati penasaran seperti halnya Yok Hui?"
Tanya Sie Long. Tan Kin Lam segera menyahut dengan suara tajam.
"Meskipun kau tidak bisa berbuat seperti Yok Hui, tapi perbuatanmu juga tidak benar, Kau berhasil melarikan diri dengan selamat, ya sudah. sebagai seorang laki-laki sejati, mana boleh kau menjual bangsamu sendiri dan mengangkat bangsa Tat-cu sebagai majikanmu? Seorang pengkhianat lebih rendah dari seekor anjing maupun babi di mata kami!"
"Apa kesalahan kedua orang tua, istri saudara dan anak-anakku? Mengapa Kok Seng Ya harus menghukum mati mereka semua? Dia telah membunuh keluargaku, maka dari itu, aku pun ingin membunuh seluruh keluarganya untuk membalas dendam!"
Teriak Sie Long.
"Balas dendam adalah urusan kecil, sedangkan jadi pengkhianat adalah urusan yang maha besar Kalau sekarang aku membunuhmu, aku ingin tahu apakah arwahmu masih mempunyai muka bila bertemu dengan Kok Seng Ya!"
Sie Long menegakkan kepalanya.
"Kalau memang mau membunuhku, silahkan! Kemungkinan Kok Seng Ya yang tidak mempunyai muka untuk bertemu denganku, bukan aku yang tidak mempunyai muka untuk bertemu dengannya!"
Sahut Sie Long.
"Ternyata sampai saat ini kau belum sadar juga!"
Kata Tan Kin Lam dengan suara tajam.
Rasanya dia ingin menghunjamkan ujung pedangnya ke tenggorokan Sie Long, tapi tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya pernah bahu-membahu dengan orang ini melawan musuh, Pada saat itu, tanpa rasa takut sedikit pun Sie Long yang dalam keadaan tubuhnya penuh dengan luka, menghadang di depan The Kek Song.
Kalau dibayangkan kembali, jasa orang ini sebetulnya tidak kecil.
Kalau tidak ada kejadian dengan Tong Hujin, orang ini sampai sekarang pasti masih menjadi salah satu Jenderal andalan pihak Taiwan, Meskipun akhirnya dia memihak kepada musuh, namun sekeluarganya telah dihukum mati sebagai tebusan atas dosadosanya, sebetulnya Sie Long ini patut dikasihani juga.
"Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi, mulai sekarang kau harus bertobat! Akuilah kesalahanmu dan kembalilah ke Taiwan! Gunakan tenagamu untuk mendirikan jasa sebagai balasan dosamu. seandainya kau berhasil mendirikan jasa besar, rasanya masih belum terlambat untuk menganggapmu sebagai seorang laki-laki sejati, Saudara Sie, dengan setulus hati aku menasehatimu, sadar-lah!"
Katanya kemudian. Sie Long menundukkan kepalanya, wajahnya menunjukkan perasaan malu.
"Apabila aku kembali lagi ke Taiwan, bukankah aku akan dianggap sebagai manusia rendah yang tidak punya keyakinan?"
Tan Kin Lam menyarungkan pedangnya, lalu menghampiri Sie Long untuk menjabat tangannya.
"Saudara Sie, bagi seorang manusia, yang paling utama adalah budi dan jiwa besarnya, Asal sejak sekarang kau bersetia kepada negara dan bangsa, tidak ada seorang pun yang akan menertawakan kecerobohanmu di masa lalu, Bahkan Kwan Ongya sendiri, di jaman dulu pun pernah melakukan kesalahan."
Tiba-tiba di belakangnya ada seseorang yang menukas.
"Orang ini mengatakan bahwa kakekku telah membunuh seluruh keluarganya, negara Taiwan kami tentu tidak dapat menerimanya lagi. sebaiknya kau bunuh saja dia secepatnya."
Tan Kin Lam menolehkan kepalanya, ternyata yang berbicara barusan ialah The Kek Song.
"Ji kongcu, Sie Ciangkun adalah seorang ahli peperangan, boleh dikatakan tidak ada seorang pun anak buah Kok Seng Ya yang dapat menandinginya, Apabila dia bersedia kembali ke kita, justru merupakan keuntungan besar di pihak kita. Kita harus mementingkan negara daripada dendam pribadi Apa yang sudah terjadi janganlah diingat lagi,"
Sahut Tan Kin Lam. The Kek Song tertawa dingin.
"Huh! seandainya orang ini kembali ke Taiwan dan menjabat kembali kedudukannya sebagai Jenderal, mungkinkah dia membiarkan kami sekeluarga tanpa memikirkan dendamnya?"
"Asal Sie Ciangkun bersedia mengucapkan sumpah berat, aku akan mempertaruhkan seluruh keluargaku bahwa dia akan setia,"
Sahut Tan Kin Lam.
"Kalau dia sudah berhasil membasmi kami sekeluarga, apakah keluarga Tan kalian sanggup menggantikan nyawa kami? Lagipula, keluarga The adalah milik kami, tidak ada hubungannya dengan keluarga Tan kalian!"
Kata The Kek Song sekali lagi dengan nada dingin.
Saking kesalnya, kaki dan tangan Tan Kin Lam sampai keluar keringat dingin, Dipaksakannya dirinya untuk menahan emosi, Baru saja dia ingin berbicara, tiba-tiba Sie Long sudah mencelat sejauh mungkin sambil berseru.
"Kunsu, rasa solidaritasmu terhadap saudaramu ini dalam sekali, Adikmu ini tidak akan melupakannya, Tapi, maaf, adikmu ini tidak sudi menjadi hamba keluarga The lagi...."
"Saudara Sie, kembalilah!"
Teriak Tan Kin Lam.
"Ada kata-kata...."
Tiba-tiba punggungnya terasa nyeri, Sebatang pedang telah menembus dari belakang punggungnya sampai ke dada.
Tikaman ini dilakukan oleh The Kek Song secara membokong, Padahal melihat ilmu silat yang dimiliki oleh Tan Kin Lam, sepuluh orang The Kek Song pun belum sanggup membunuhnya, justru karena melihat ada tanda-tanda bahwa Sie Long akan menyerahkan diri, Tan Kin Lam pun berusaha membujuknya, tidak tahunya kata-kata The Kek Song yang menusuk malah membuat orang itu kabur Tan Kin Lam masih berusaha memanggilnya kembali, hal ini karena dia menyayangkan bakat Sie Long.
Tidak disangka-sangkanya The Kek Song yang berdiri di belakangnya bisa menurunkan tangan beracun.
Pada waktu dulu, ketika The Kek Song berhasil menduduki Taiwan, dia mengutus puteranya The Keng untuk menjaga di Kim Bun dan Sia Bun.
The Keng seorang ahli strategi, sayangnya suka berfoya-foya.
Dia malah berzinah dengan salah seorang inang pengasuhnya sehingga sempat mendapatkan seorang anak.
Di saat The Seng Kong mengetahui hal ini, dia marah bukan main, Diutusnya beberapa orang andalannya ke Kim Bun untuk membunuh The Keng.
Orang-orang utusannya menganggap The Seng Kong tidak bersungguh sungguh, apabila sudah lewat beberapa lama, dia pasti akan menyesali perintahnya.
Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang bersedia melaksanakan tugas itu.
Kejadian ini membuat The Seng Kong semakin marah.
Tidak lama kemudian, dia jatuh sakit dan meninggal Usianya tiga puluh sembilan tahun.
Para panglima dan Jenderal di Taiwan segera mengadakan perundingan, akhirnya mereka memilih adik The Seng Kong, The Long menjadi pemimpin The Keng pun kembali ke Taiwan, dia menuntut haknya sebagai Raja.
istri The Seng Kong, yakni Tong Hujin merasa seluruh bencana yang di alami keluarganya justru dimulai sejak The Keng berzinah dengan inang pengasuhnya.
Maka dari itu, ketika The Keng menyatakan ingin mengangkat anaknya sebagai pengganti Raja Taiwan kelak, dialah yang paling tidak setuju, Dia benci sekali terhadap anak haram The Keng.
Dengan segala upaya, dia berharap cucunya yang satu lagi, yakni Kek Songlah yang kelak akan menggantikan kedudukan kakeknya.
The Keng tidak sudi menuruti perkataan ibunya, Tan Kin Lam sendiri selamanya sangat setia terhadap The Keng.
Apalagi anak perempuannya diambil sebagai istri oleh anak pertama The Keng, Akhirnya Tong Hujin dan Pang Ci Hoan serta yang lainnya mengadakan pertemuan rahasia.
Mereka merundingkan rencana secara diam-diam.
Mereka sadar, agar Kek Song dapat tercapai cita-citanya seperti yang mereka idam-idamkan, maka pertama-tama mereka harus membunuh Tan Kin Lam, jangan sampai orang ini menggagalkan rencana mereka kelak.
Itulah sebabnya, berulang kali mereka berusaha mencelakai Tan Kin Lam, namun selalu gagal Tanpa disangka-sangka, Tan Kin Lam sendiri yang menyelamatkan The Kek Song malah mati di tangan orang ini pula.
Baru saja Pang Ci Hoan berniat mengejar Sie Long, mendadak dia melihat Siau Po menghunus belatinya yang tajam untuk menyerang The Kek Song.
Pang Ci Hoan segera membalikkan tubuhnya menangkis serangan itu, Terdengarlah suara Traak!!
tahu-tahu pedangnya telah terkutung menjadi dua bagian.
Namun karena tenaga dalamnya sudah tinggi sekali, getarannya saja sanggup membuat pisau belati di tangan Siau Po terpental Dalam waktu yang bersamaan, Pang Ci Hoan juga mengirimkan tendangannya, Tubuh Siau Po sampai terpelanting jatuh.
Baru saja dia berniat mengirimkan serangan susulan, Song Ji sudah menghadang di depannya, Hong Ci Tiong dan dua orang anggota Thian Te hwee lainnya juga ikut menyerang.
Dengan memaksakan diri, Siau Po merangkak bangun, Dipungutnya pisau belati yang terpental tadi, lalu dengan seruan meratap dia berteriak.
"Orang ini telah membunuh Cong tocu kita. Mari kita adu jiwa dengannya!"
Tanpa menunda waktu, dia menerjang kembali ke arah The Kek Song.
Kek Song menggeser tubuhnya untuk menghindar pedangnya dibalikkan dan mengancam di belakang kepala Siau Po.
ilmu silat The Kek Song memang jauh lebih tinggi dari pada pemuda itu, Tampaknya Siau Po akan mendapat kesulitan untuk menghindarkan diri, tapi tiba-tiba ada sebatang golok yang menyambar dari sebelah kanannya.
Kek Song terpaksa menarik kembali serangannya, Dalam waktu yang bersamaan, dia mendengar suara bentakan.
"Jangan lukai adik seperguruanku!"
Rupanya A Ko yang menyerangnya barusan, Dua orang anak murid Thian Te Hwee pun ikut menyerang The Kek Song.
Dengan seorang diri, Pang Ci Hoan melawan Hong Ci Tiong, Song Ji dan dua anak murid Thian Te Hwee lainnya, ilmu silat orang ini memang tinggi sekali, Meskipun dikeroyok empat orang, dia sama sekali tidak merasa kewalahan, bahkan masih sempat menghantamkan sebuah pukulan kepada salah seorang anak murid Thian Te Hwee sehingga muntah darah dan mati seketika.
Tiba-tiba dia mendengar suara jeritan Kek Song, Tanpa berpikir panjang dia meninggalkan lawan-lawannya untuk membantu Kek Song, Begitu sampai di samping majikannya, kembali salah seorang anak murid Thian Te Hwee mati di tangannya.
Dia sadar, begitu Tan Kin Lam mati, orang-orang Thian Te Hwee pasti menganggap Siau Po sebagai pimpinannya, Agar dapat menguasai orang-orang Thian Te Hwee, pertama-tama dia harus membunuh si setan cilik itu dulu, Olah karena itu, dengan keji dia mengirimkan sebuah pukulan ke atas kepala Siau Po.
"Siangkong, cepat lari!"
Teriak Song Ji sambil menghambur ke bagian punggung Pang Ci Hoan.
"Kau sendiri harus hati-hati!"
Sahut Siau Po sambil mengambil langkah seribu.
"Dalam hati pun, kita harus melindungi Ji kong-cu,"
Katanya.
Peng Ci Hoan berpikir.
--Ka!au aku mengejar setan cilik itu, tentu tidak ada orang yang melindungi Kongcu Diulurkannya lengan kirinya untuk meraih pinggang Kek Song kemudian tetap mengejar ke arah Siau Po.
Meskipun dia sedang menggendong seseorang, langkah kakinya tetap saja lebih cepat dari langkah Siau Po.
Siau Po menolehkan kepalanya, ia terkejut setengah mati, Tangannya sudah terulur untuk menekan tombol senjata rahasia, tapi.
dengan demikian, langkah kakinya pasti tertunda sebentar sedangkan gerakan kaki Pang Ci Hoan begitu cepat perbedaan waktu yang sekian detik saja kemungkinan dapat membuat batok kepalanya pecah.
Berpikir demikian, dia membatalkan niatnya.
Akhirnya dia mengerahkan ilmu langkah ajaib-nya untuk menghindarkan diri dari serangan Pang Ci Hoan, Kali ini Pang Ci Hoan terlalu kencang mengejarnya, hampir saja ia tidak sanggup menghentikan langkah kakinya, Ketika melihat Siau Po sudah lari ke arah lain, dia segera menahan langkahnya dan mengejar ke arah si pemuda.
"Awas, arwah guruku datang mengejar! Dia akan memegang kepalamu!"
Teriak Siau Po.
Bisa berteriak beberapa patah saja, Siau Po sudah lega, namun saat itu Pang Ci Hoan malah sudah bertambah dekat Di belakangnya, Song Ji dan Hong Ci Tiong tetap mengejar dengan ketat Mereka berharap dapat menghajar mati Pang Ci Hoan.
Siau Po berlari ke sana ke mari.
Langkahnya benar-benar ajaib, Meskipun berusaha mengejar, tapi Pang Ci Hoan tetap tidak berhasil Apalagi ia menggendong seseorang, langkahnya jadi kurang leluasa, Ditambah pula ada dua orang yang mengejarnya dari belakang.
Setelah berlari-larian sekian Iama, Siau Po mulai letih, dan nafasnya pun tersengalsengal Dalam keadaan gugup tanpa sadar, dia berlari ke atas bukit.
Pang Ci Hoan merasa senang melihatnya.
Dalam hati dia berpikir bahwa bocah itu mencari mati sendiri Sejak tadi dia sudah melihat jalan menuju ke atas bukit itu hanya jalan setapak yang sempit sedangkan di kanan kirinya terdapat jurang, jalan mundurpun tidak ada.
Karena itu, dia jadi mengejar Siau Po dengan ayal-ayalan, tidak perlu tergesa-gesa pikirnya, Yang celaka justru Siau Po.
Di jalanan setapak yang sempit dan menanjak seperti ini, ilmu langkah ajaibnya sama sekali tidak dapat dikerahkan sedangkan jarak antara Pang Ci Hoan dengan dirinya semakin dekat.
Siau Po hanya dapat berteriak-teriak.
"Hei, istri tua, istri tengah, istri muda, istri kecil, kalau kalian tidak cepat-cepat memberikan bantuan, sebentar lagi kalian pasti jadi janda!"
Dia terus berlari ke atas bukit, sedangkan para wanita yang ada di atas bukit sebetulnya sudah melihatnya sejak tadi, Sou Cuan sendiri sudah melihat kalau Pang Ci Hoan berlari sambil menggendong seseorang, tapi langkah kakinya cepat sekali.
Dari kenyataan ini saja dia sudah dapat menduga bahwa ilmu silat Pang Ci Hoan tinggi sekali, mungkin hanya kalah satu tingkat bila dibandingkan dengan Hong Kaucu, Karena itu, dia sudah bersiap-siap dengan goloknya di tepi bukit Begitu Pang Ci Hoan sampai di atas, dia akan menebasnya dengan golok itu.
Pang Ci Hoan yang mendengar Siau Po berkaok-kaok barusan hanya mengira kalau bocah itu sedang mengecohnya, Dia sama sekali tidak menyangka di atas bukit ada banyak orang, Maka dari itu, ketika sampai di atas dan mendapat serangan dari Sou Cuan, dia terkejut setengah mati.
Apalagi gerakan yang dilancarkan wanita itu dahsyat sekali, Dalam keadaan terperanjat tubuhnya terhuyung-huyung, tapi dia sempat menyurut mundur satu langkah, menyusul kaki kirinya mengirimkan sebuah tendangan sambil membentak keras.
Tendangannya telak mengenai pergelangan tangan Sou Cuan sehingga goloknya terlepas dan melayang ke udara.
Sedangkan Siau Po yang cerdik memang sudah menunggu saat ini.
Di saat Pang Ci Hoan kelabakan membalas serangan Sou Cuan, dia sudah berdiri dengan mantap, Senjata rahasia diarahkan kepada kedua musuhnya.
Sekali tekan, berpuluh-puluh batang senjata rahasia meluncur ke depan.
Beberapa di antaranya menancap di tubuh Pang Ci Hoan dan The Kek Song.
Pang Ci Hoan meraung histeris, dan cekalan tangannya pada pinggang Kek Song otomatis terlepas.
Tubuh kedua orang itu menggelinding turun ke bawah bukit Pada saat itu, Song Ji dan Hong Ci Tiong sudah mengejar sampai pertengahan bukit.
Melihat kedua sosok tubuh itu menggelinding ke bawah dengan cepat, mereka segera menjejakkan kakinya serta melayang ke tengah udara untuk menghindar.
The Kek Song dan Pang Ci Hoan terus menggelinding sampai ke bawah bukit Pada saat itu juga, racun yang terdapat dalam senjata rahasia Siau Po sudah bereaksi.
Keduanya menjerit-jerit seperti babi yang sedang dipotong.
Tubuh mereka menggelinding ke sana ke mari karena tidak sanggup menahan rasa sakit yang mengerikan itu.
Untungnya, sejak Ho I Siu masuk ke dalam perguruan Hoa San pai, segala macam senjata atau benda-benda yang menggunakan racun tidak pernah disentuhnya lagi, Senjata rahasia yang diberikannya kepada Siau Po ini tidak mematikan, boleh dibilang hanya sejenis obat bius.
Kalau tidak, sebelum sampai di bawah bukit saja, jiwa The Kek Song dan Pang Ci Hoan pasti sudah melayang, Apalagi kalau kita membayangkan senjata-senjata rahasia yang dulu digunakan oleh datuk-datuk yang menamakan diri mereka Lima racun.
Begitu terkena darah, racun segera menyebar, korbannya pun akan mati seketika, Biarpun demikian, racun di senjata rahasia Siau Po ini dapat menimbulkan rasa sakit dan gatal yang tidak tertahankan Tubuh mereka seakan dirayapi ribuan kalajengking dan kepiting, walaupun adat Pang Ci Hoan sangat keras, dalam keadaan demikian, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjerit.
Siau Po, Song Ji, Hong Ci Ting, Sou Cuan, Pui le, Bhok Kiam Peng, Kian Leng kongcu, Cin Ju, A Ko dan yang lainnya susul menyusul sampai.
Melihat keadaan Kek Song dan Ci Hoan, hati mereka terasa giris.
Siau Po segera menenangkan pikirannya, kemudian ia menarik nafas panjang beberapa kali, setelah itu dia segera menghambur ke samping Tan Kin Lam.
Tampak pedang panjang yang menembus di dada gurunya masih tertancap, tapi sang guru itu masih belum meninggal, Siau Po langsung menangis menggerung-gerung, sambil peluk tubuh Tan Kin Lam.
Tenaga dalam Tan Kin Lam sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, meskipun lukanya sangat parah, tapi nafasnya belum putus.
"Siau Po, biar bagaimana pun pada suatu saat manusia pasti akan menemui ajalnya, Selama hi... dup ini, aku selalu berbakti kepada bangsa dan negara, maka aku tidak merasa malu terhadap langit atau... pun bumi. Kau ju... ga ti... dak perlu ber... sedih lagi,"
Katanya.
"Suhu, suhu!"
Siau Po hanya dapat memanggil gurunya berkaIi-kali.
Hubungannya dengan Tan Kin Lam belum berlangsung terlalu lama, apalagi mereka jarang bertemu, Malah, setiap kali harus bertemu dengan gurunya, Siau Po selalu merasa takut, dia khawatir Tan Kin Lam akan menguji sampai di mana pelajaran silat yang telah dicapainya.
Oleh karena itu pula, dia tidak terlalu merasakan budi gurunya selama ini.
Tapi saat ini, gurunya sedang sekarat, sedang menunggu ajalnya, Berbagai pelajaran berharga yang telah diterimanya, kasih sayang gurunya yang tidak berbeda seperti seorang ayah, sekaligus memenuhi benaknya.
Rasanya dia ingin menggantikan selembar nyawa gurunya dengan nyawanya sendiri.
"Suhu, aku sudah bersalah terhadapmu,"
Kata-nya.
"llmu yang kau berikan, sedikit pun tidak ada yang kupelajari."
Tan Kin Lam tersenyum.
"Asal kau bisa menjadi orang baik-baik, gurumu ini sudah merasa senang seka... li. Belajar silat atau tidak, sama sekali tidak ada artinya ba... giku!"
"A... ku akan menurut apa yang suhu katakan, aku akan menjadi orang baik-baik, tidak akan menjadi manusia jahat,"
Kata Siau Po. Sekali lagi Tan Kin Lam tersenyum.
"Anak baik, selama ini kau memang sudah menjadi anak yang baik,"
Siau Po menggigit bibirnya untuk menahan keharuan di hatinya.
"Suhu, si bocah busuk Kek Song itulah yang membunuhmu. Aku sudah berhasil meringkusnya, aku akan mencincang tubuhnya seperti perkedel untuk membalaskan dendam bagimu!"
Tubuh Tan Kin Lam bergetar, dan cepat-cepat dia berkata.
"Tidak, tidak! Aku adalah bawahan Kok Seng Ya. Seumur hidup ini, budi Kok Seng Ya yang ditanamkan kepadaku sudah seberat gunung, Biar bagaimana pun, kita tidak boleh mencelakai keturunan Kok Seng Ya. Dia boleh tanpa perasaan, tapi aku tidak boleh lupa budi, Siau Po, sebentar lagi aku akan mati, kau tidak boleh menghancurkan nama baikku selama ini. Pokoknya, kau harus mendengarkan ucapanku ini."
Sebetulnya sejak tadi wajah Tan Kin Lam masih memaksakan diri untuk tersenyum, sekarang, wajahnya tiba-tiba menjadi muram.
"Siau Po,"
Katanya lagi.
"Biar bagaimana pun, kau harus membiarkan dia kembali ke Taiwan, kalau tidak, mati pun mataku tidak akan terpejam!"
Siau Po merasa tidak berdaya mendengar permintaan gurunya.
"Suhu, kalau kau memang mengampuni orang jahat itu, kau tidak perlu khawatir, aku akan menuruti perkataanmu,"
Sahutnya. Hati Tan Kin Lam jadi lega seketika mendengar janji muridnya, ia menarik nafas panjang-panjang.
"Siau Po, pekerjaan pihak Thian Te hwee untuk membangkitkan kembali kerajaan Beng, harus kau lakukan dengan sebaik-baiknya. Asal rakyat kita bersatu, pasti ada saatnya bangsa kita dapat bangkit kembali Sayangnya, a... ku tidak mempunyai kesem... patan untuk melihat hari yang dinanti-nanti-kan itu...."
Suaranya semakin Iama semakin lemah, tanpa sempat menarik nafas lagi, nyawanya sudah melayang. Sambil memeluk tubuh gurunya erat-erat, Siau Po menjerit.
"Suhu, Suhu!"
Meskipun teriakannya sampai memekakkan telinga, tubuh Tan Kin Lam sudah tidak berkutik lagi.
Sou Cuan dan yang lainnya masih berdiri di samping Siau Po.
Melihat Tan Kin Lam sudah meninggal dan Siau Po begitu sedih, hati mereka terasa terharu sekali.
Dengan lembut Sou Can menyentuh pundaknya.
"Siau Po, suhumu sudah pergi!"
Katanya. Tangis Siau Po semakin menjadi-jadi.
"Suhu sudah mati, Suhu sudah mati!"
Teriaknya, Seumur hidupnya, Siau Po tidak pernah mempunyai ayah.
Sejak semula dia sudah menganggap Tan Kin Lam seperti ayahnya sendiri Hanya saja, selama ini dia sendiri tidak menyadarinya.
Sampai saat ini, setelah gurunya meninggal dia baru merasa kehilangan Dalam hati dia baru tersadar bahwa dia adalah seorang anak haram yang tidak pernah mengetahui siapa ayahnya.
Sou Cuan bermaksud mengalihkan kepedihan hati Siau Po.
Oleh karena itu, dia berkata.
"Manusia jahat yang membunuh gurumu sudah berhasil kita kuasai, apa yang harus kita lakukan terhadapnya?"
Siau Po langsung melompat bangun, dan mulutnya segera memaki.
"Maknya! Telur busuk kecil! Guruku boleh saja jadi bawahan keluarga The kalian, tapi aku Wi Siau Po tidak pernah menelan sebutir nasi pun dari keluargamu, juga tidak pernah menggunakan sepeser pun uang dari keluarga The kalian, Neneknya bau! Bahkan hutang kepadaku saja kau masih belum bayar! Suhu meminta aku mengampuni jiwamu, baik! Anggap saja jiwamu sudah kuampuni, tapi hutangku harus kau bayar sekarang juga! Kalau tidak, satu tail uang perak sama harganya dengan sekali tebasan pisau belatiku ini!"
Sembari memaki-maki, dia mengeluarkan pisau belatinya dan berjalan menghampiri The Kek Song.
jarum beracun yang mengenai tubuh The Kek Song jauh lebih sedikit daripada yang mengenai Pang Ci Hoan, Rasa sakit dan gatalnya sudah jauh berkurang.
Ketika mendengar Tan Kin Lam memohon pengampunan untuknya, hatinya sudah senang sekali Tan Kin Lam adalah seorang ketua, perkataannya pasti diturut oleh anak muridnya, Namun yang punya uang sekarang menagih hutang, sedangkan dia tidak membawa uang sepeser pun, karena itu dia segera berkata dengan suara meratap.
"Begitu aku kem... bali ke Taiwan, aku akan membayar sepuluh kali lipat... tidak, malah seratus kali lipat...."
Siau Po menendang kepala The Kek Song satu kali.
"Kau... manusia berhati anjing! Maling busuk yang tidak ingat budi, kata-katamu tidak ubahnya seperti anjing busuk! Biar bagaimana aku harus membacokmu selaksa kali!"
Pisau belatinya dijulurkan ke depan dan dielus-elusnya wajah Kek Song dengan pisau belati tersebut.
Sukma The Kek Song serasa melayang entah ke mana, Dia ketakutan setengah mati.
Matanya menatap kepada A Ko, dia berharap gadis itu akan membelanya, Tibatiba suatu ingatan melintas dalam benaknya.
--Eh, tidak benar, tidak benar!
Bocah ini justru suka sekali kepada A Ko.
Kalau gadis itu membelaku sepatah kata saja, kebenciannya kepadaku pasti bertambah-tambah.
Bisa-bisa dia langsung membunuhku Karena berpikir demikian, dia segera berkata.
"Hutang sebanyak seratus laksa tail, pasti akan kubayar, Wi hiocu, eh, kalau Wi Siangkong tidak percaya...."
Siau Po menendangnya satu kali lagi.
"Tentu saja aku tidak percaya! Guruku percaya seratus persen kepadamu, lihat akibatnya, beliau malah mati di tanganmu!"
Hatinya sedih sekali, rasanya dia ingin menggerakkan pisaunya untuk menggores wajah The Kek Song. Kek Song segera berseru.
"Kalau kau tetap tidak percaya, aku akan meminta A Ko yang menjamin!"
"Percuma saja kalau dia yang menjamin, Dulu dia juga sudah pernah menjamin, toh akhirnya hutangmu tidak kau bayar juga!"
Kata Siau Po.
"Aku masih punya jaminan!"
Sahut Kek Song.
"Bagus! Kutungkan saja kepalamu sebagai jaminannya! Kalau hutang sebanyak seratus laksa tail sudah terbayar, aku akan mengembalikan kepala anjingmu itu lagi!"
"Aku ingin kau menerima A Ko sebagai jaminannya!"
Ujar Kek Song.
Saat itu juga, Siau Po merasa seakan bumi berputar dengan cepat, Tangannya mengendur dan pisau belatinya terjatuh serta tertancap di atas tanah, sejauh beberapa dim dari kepala The Kek Song, Pemuda dari Taiwan itu sampai mengaduh terkejut dan cepat-cepat dia menyurutkan kepalanya.
"A Ko kujaminkan kepadamu, Aku akan pulang ke Taiwan untuk mengambil uang, setelah seratus laksa tail itu kubayar, kau boleh mengembalikan A Ko kepadaku,"
Kata Kek Song pula.
"ltu sih bisa dirundingkan nanti,"
Ujar Siau Po.
"Tidak bisa, tidak bisa! Aku toh bukan milikmu, bagaimana kau bisa menggunakan aku sebagai jaminan?"
Teriak A Ko. Air matanya pun jatuh dengan deras tanpa dapat ditahankan lagi. Kek Song jadi panik.
"Sekarang ini aku sedang menghadapi bencana besar, A Ko malah tidak memperdulikan! perempuan ini benar-benar tidak berperasaan! Wi hiocu, begini saja, aku jual putus perempuan ini kepadamu, harganya seratus laksa tail, Dengan demikian aku tidak berhutang lagi kepadamu!"
Katanya.
"Hatinya selalu condong kepadamu, biar kau menjualnya kepadaku, apa gunanya?"
Ujar Siau Po sengaja.
"Di dalam perutnya sudah ada benihmu, mana mungkin dia masih condong kepadaku?"
Kata Kek Song. Siau Po menjadi terkejut dan gembira.
"Apa yang kau katakan?"
Tanyanya kurang percaya .
"Tempo hari ketika di rumah pelesiran Li Cun Wan, kau kan pernah tidur bersamanya, sekarang dia sudah hamil...."
A Ko menjerit histeris, lalu berlari ke arah lautan. Song Ji yang melihatnya segera menghambur ke depan serta mencekal lengannya.
"Kau.,, kau sudah berjanji... untuk tidak mengatakannya kepada siapa pun, mengapa kau mengatakannya sekarang? ucapanmu benar-benar seperti angin...."
Meskipun dalam keadaan marah, tapi dia tetap merasa bahwa seorang gadis tidak pantas menyebutkan "angin busuk"
Di depan umum. Kek Song melihat wajah Siau Po yang sebentar memucat dan sebentar merah, dia takut pemuda itu berubah pikiran, Oleh karena itu, cepat-cepat dia berkata kembali.
"Anak dalam perutnya itu seratus persen milikmu Hubunganku dengan A Ko putih bersih, Dia pernah mengatakan kalau kita sudah resmi menjadi suami istri, barulah kami.... Pokoknya, kau jangan curiga sedikit pun!"
"Masa kau tidak mau menjadi ayah cuma-cuma jagi anaknya?"
Tanya Siau Po pula.
"Sejak mengandung anakmu, dia selalu teringat kepadamu, Setiap kali bercakapcakap denganku, dari pagi sampai malam hanya namamu yang disebut-sebutnya terus. Dengar saja aku sudah muak, untuk apa aku menjadi ayah bagi anaknya?"
Sahut Kek Song. Tidak henti-hentinya A Ko menghentakkan kakinya di atas tanah wajahnya sebentar pucat sebentar merah, Dia marah sekali terhadap Kek Song.
"Kau... kau malah mengatakan... semuanya,.,."
Dia sama sekali tidak sadar kalau ucapannya barusan sama saja artinya membenarkan apa yang dikatakan Kek Song. Hati Siau Po terasa bahagia sekali.
"Baik, kalau begitu kau boleh menggelinding jauh-jauh!"
Kek Song juga senang sekali.
"Terima kasih, terima kasih banyak-banyak, semoga kalian berdua bisa akur sampai hari tua, Kado untuk kebahagiaan kalian ini akan... menyusul sesampainya aku di Taiwan!"
Sembari berbicara, perlahan-lahan dia merangkak bangun. Terdengar suara Puih! Siau Po meludah di atas tanah kemudian memaki.
"Seumur hidup ini, pokoknya aku tidak sudi melihat engkau, si maling busuk lagi!"
Dalam hati dia berpikir --Aku sudah berjanji kepada suhu untuk mengampuni jiwanya, Biarlah hari ini aku melepaskannya, Kelak aku dapat mengutus orang untuk membunuhnya, asal orang suruhan itu bukan orang dari pihak Thian Te Hwee, tentu tidak ada yang menghubungkannya dengan suhu!
Ketiga pengawal keluarga The sejak tadi berdiri di samping, Setelah melihat Siau Po mengampuni tuan mudanya, mereka baru menghampiri untuk membimbing The Kek Song.
Mereka juga memapah bangun Pang Ci Hoan yang masih tergeletak di atas tanah.
Mata Kek Song memandang ke arah lautan, hatinya terasa lapang, Kapal perang yang ditumpangi Sie Long sudah jauh di tengah lautan, Di pesisir pantai masih terdapat dua perahu, yang satu miliknya sendiri, tapi sudah tidak bisa digunakan karena terkena bom yang diledakkan tentara kerajaan sedangkan yang satunya lagi milik Siau Po dan yang lainnya.
Mereka juga memerlukan perahu itu, sudah pasti mereka tidak sudi mengalah baginya.
"Pang suhu, kita tidak mempunyai perahu, apa yang harus kita lakukan?"
Tanya Kek Song dengan suara rendah.
"Kita naik sampan dulu, sambil melihat perkembangannya,"
Sahut Pang Ci Hoan. Perlahan-lahan rombongan itu berjalan menuju tepi pantai, Tiba-tiba di belakang mereka ada yang berseru.
"Tunggu dulu! Wi hiocu boleh mengampuni kalian, tapi aku tidak!"
Kek Song terkejut setengah mati, tampak seseorang menerjang ke arahnya dengan tangan menggenggam golok. Ternyata orang itu bukan lain dari jago Thian Te Hwee yakni Hong Ci Tiong.
"Kau... kau toh anak murid Thian Te Hwee, selama ini pihak Thian Te Hwee merupakan bawahan Cin Peng onghu kami, mengapa kau... kau.,."
Kata Kek Song dengan suara gemetar.
"Ada apa dengan aku? Pokoknya kalian harus berhenti!"
Bentak Hong Ci Thiong, The Kek Song ketakutan setengah mati.
"lya,"
Sahutnya. Hong Ci Tiong kembali ke samping Siau Po.
"Wi hiocu, orang ini telah membunuh Cong tocu. Dia musuh besar pihak Thian Te Hwee kami yang tidak boleh diampuni, Cong tocu kita pernah mendapat budi besar dari Kok Seng Ya, maka beliau tidak bersedia mencelakai keturunannya, sedangkan Wi hiocu sudah mendapat pesan dari Cong tocu agar mengampuninya. Tapi aku, selama hidup tidak pernah bertemu dengan Kok Seng Ya. Lagipula pesan terakhir Cong tocu juga bukan disampaikan kepada hamba. Hari ini hamba ingin membacok manusia jahat ini, guna membalaskan dendam bagi Cong tocu,"
Katanya. Siau Po mengangkat tangannya ke belakang daun telinganya, berpura-pura tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Hong Ci Tiong.
"Apa yang kau katakan barusan? Eh, aneh. Tiba-tiba saja telingaku ini jadi agak tuli, Aku tidak mendengar apa-apa. Hong toako, kalau kau ingin melakukan apa saja, silahkan, Tidak perlu menunggu perintah dariku, Entah mengapa mendadak telingaku ini jadi penyakitan Aih! Pasti karena ledakan bom si keparat Sie Long!"
Ucapannya ini sudah jelas sekali, Apabila Hong Ci Tiong ingin membunuh The Kek Song, dia boleh turun tangan, Siau Po tidak akan menghalanginya.
Melihat Hong Ci Tiong masih ragu-ragu, Siau Po segera melanjutkan kata-katanya.
"Sebelum menutup mata, suhu hanya menyuruhku agar mengampuni selembar jiwa Yang Mulia The Kek Song, tapi tidak meminta agar aku melindunginya seumur hidup, Yang penting bukan aku sendiri yang turun tangan terhadapnya, Di dalam dunia ini terdapat beribu-ribu laksa manusia. Selain aku, siapa pun boleh membunuhnya."
Hong Ci Tiong menarik lengan baju Siau Po.
"Wi hiocu, mohon bicara empat mata denganmu.,."
Katanya. Kedua orang itu berjalan sejauh belasan tindak lalu berhenti "Wi hiocu, selama ini Raja sangat menyukaimu bukan?"
Kata Hong Ci Tiong. Siau Po merasa heran mendengar pertanyaanku.
"Betul, memangnya kenapa?"
"Raja ingin agar kau membunuh Cong tocu, tapi kau tidak bersedia, Hal ini membuktikan kebaktian dan solidaritasmu tinggi sekarang kau malah melarikan diri tanpa memikirkan akibatnya, Di mana pun, orang-orang selalu mengagumi seorang pendekar atau laki-laki sejati!"
Kata Hong Ci Tiong pula. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Meskipun begitu, akhirnya Suhu toh mati juga,"
Sahutnya dengan datar.
"Cong tocu dibunuh oleh si bocah busuk The Kek Song,"
Kata Hong Ci Tiong.
"Namun, dengan demikian berarti tugas yang diberikan oleh Raja telah terpenuhi...."
Siau Po kebingungan mendengar ucapannya.
"Kau... mengapa kau berkata demikian?"
"Dalam hati Raja, ada tiga orang yang selalu dikhawatirkannya, Apabila ketiga orang ini masih hidup, kedudukannya tidak dapat dijamin kelanggengannya. Yang pertama ialah Gouw Sam Kui, hal itu tidak perlu dijelaskan lagi, Yang kedua adalah Cong tocu kita, Anak murid Thian Te Hwee tersebar di mana-mana, tujuan mereka ingin membangkitkan kembali kerajaan Beng. Hal ini membuat Raja sakit kepala memikirkannya, sekarang Cong tocu sudah mati, berarti penghalang besar atau duri di mata Raja sudah berkurang satu...."
Mendengar sampai di sini, tiba-tiba suatu ingatan melintas dalam benak Siau Po.
"Kau... rupanya kaulah orangnya!"
Apa pun yang dilakukan Siau Po dalam partai Thian Te Hwee, selalu diketahui oleh si Raja cilik, Bahkan Raja juga hapal kata-kata sandi yang biasa diucapkan oleh orangorang Thian Te Hwe.
Namun, perbuatan Siau Po mencuri Si Cap Ji Cin Keng serta menjabat sebagai Pek Liong Su dalam partai Sin Liong Kau, si Raja cilik tidak tahu sama sekali, Setelah dipikir berulang kali, pasti ada mata-mata kerajaan yang menyusup dalam perkumpulan Thian Te Hwee.
Lagipula orang ini pasti dekat sekali dengannya, Tapi, setiap anggota dari Ceng Bok Tong sangat jujur serta setia kawan, tidak mungkin salah satu dari mereka menjadi mata-mata apalagi menjual teman sendiri, itulah sebabnya selama ini dirinya bagai tertutup kabut tebal, tidak ada sedikit jejak pun yang dapat ditelusuri olehnya, Dia hanya merasa aneh namun tidak berhasil mencari penyebabnya.
Saat ini, setelah mendengar ucapan Hong Ci Tiong, dia baru sadar, Dalam hati dia berpikir.
--Aku benar-benar bodoh, mengapa aku tidak pernah teringat orang yang satu ini?
Tempo hari si Raja cilik menyuruh aku agar meledakkan Pek Ciak Hu.
Di antara semua anak murid Thian Te Hwee, hanya orang ini yang tidak ada di tempat, Hal ini sudah jelas sekali, orang yang ada di dalam Pek Ciak Hu tidak mungkin merupakan matamata, sebab bila gedung itu diledakkan, bukankah jiwa mereka akan melayang juga?
justru karena orang ini sudah mendapat kisikan terlebih dahulu, maka dia mencari jalan agar tidak perlu berada di gedung itu.
Aih, aku benar-benar goblok, kalau sekarang dia tidak mengatakan apa-apa, kemungkinan aku masih menjadi katak dalam tempurung!
Hong Ci Tiong orangnya pendiam, sikapnya kalem, tampangnya jujur.
Meskipun ilmunya tinggi, tapi penampilannya menunjukkan otaknya kurang jalan, Kalau sebelumnya Siau Po pernah berpikir siapa kira-kira mata-mata kerajaan yang menyusup dalam kelompok Thian Te Hwee, mungkin dia bisa menduga Cian Lao Pan yang pintar berbicara, atau Ci Thian Coan yang selalu mempunyai akal licik, atau Kho Gan Ciau yang pandai mengurus pekerjaan apapun, Hian Ceng Tojin yang sifatnya pemarah serta doyan minum.
Pernah juga dia mencurigai Lie Liat Sek yang umurnya sudah tua dan badannya tampak lemah.
Goan ceng Po yang bicaranya ketus, tapi dia tidak pernah mencurigai orang seperti Hong Ci Tong.
Tiba-tiba dia berpikir lagi, -Tempo hari Song Ji juga tidak ada dalam gedung Pak Ciak Hu, mungkinkah dia juga seorang mata-mata?
Mungkinkah dia mau mengkhianatiku?
-Berpikir sampai di sini, hatinya menjadi pedih, namun dalam sekejap saja ia sudah tersentak sadar.
-Song Ji pasti dibawa oleh Hong Ci Tiong, Dia tahu aku sayang sekali terhadap Song Ji.
Bila kelak ada perubahan apa-apa, aku bisa membencinya sampai ke tulang sumsum, Dia hanya seorang mata-mata yang menyampaikan informasi kepada Kaisar Kong Hi.
Begitu perkumpulan Thian Te Hwee dimusnahkan si Raja cilik tidak memerlukannya lagi.
Kalau aku menjelek-jelekkan namanya di depan Raja, tentu dia bisa kehilangan batok kepaIanya, itulah sebabnya dia tidak berani terang-terangan menyakitiku!
Semua ini memang panjang sekali penjeiasannya, namun sebetulnya hanya beberapa detik melintas dalam benak Siau Po.
semuanya menjadi jelas sekarang, maka dia berkata.
"Hong toako, terima kasih karena kau sudah membawa Song Ji keluar dari gedung Pak Ciak Hu! Kalau tidak, dia tentu sudah mati kena ledakan bom-"
Hong Ci Tiong mengeluarkan seruan terkejut, wajahnya langsung berubah hebat, kakinya menyurut mundur dua langkah, dan tangannya segera meraba gagang goloknya.
"Kau... kau...!"
Siau Po tertawa.
"Kita sama-sama bukan manusia yang sempurna. Si Raja cilik sudah mengatakan semuanya kepadaku."
Hong Ci Tiong tahu Raja sayang sekali terhadap Siau Po, ucapan si pemuda kemungkinan besar memang benar.
"Kalau begitu, mengapa kau tidak patuh pada Firman Raja?"
Tanyanya. Dengan berkata demikian, seluruh dugaan Siau Po malah jadi semakin jelas, Kembali dia tersenyum.
"Hong toako, kau sudah tahu jawabannya, mengapa harus bertanya lagi? ini yang dinamakan "
Manusia tidak ada yang sempurna, jiwa besar dan kesetiaan tidak dapat disatukan Bagaimana perlakuan si Raja cilik, tentu aku tidak perlu menjelaskannya lagi, Aku memang anak emas baginya, tapi biar bagaimana, perlakuan Suhu terhadapku juga tidak buruk, sekarang Suhu sudah menutup mata, apa lagi yang harus kupertimbangkan?
Hanya saja, aku belum tahu apakah si Raja cilik bersedia mengampuni aku atau tidak,"
"Justru sekarang ini kau mempunyai kesempatan untuk menebus kesalahanmu dengan membuat jasa. Tadi aku sudah mengatakan bahwa Kaisar Kong Hi ingin membasmi tiga orang yang menjadi duri dalam matanya, Yang pertama ialah Gouw Sam Kui, yang kedua Tan Kin Lam. Yang ketiga justru Toa kongcu yang pindah ke Taiwan, yakni The Keng. Kita ringkus anak The Keng lalu kita giring ke Peking, dengan demikian, kemungkinan kita dapat memaksa The Keng untuk menyerah. Asal Raja merasa senang, Wi Toutong, walaupun dosamu berat sekali, pasti beliau akan mengampuninya."
Bicaranya tidak ada ditutupi lagi, panggilannya kepada Siau Po pun sudah berubah. ia tidak menyebut "Wi hiocu"
Lagi, tapi menyapanya dengan panggilan "Wi Toutong", bahkan dia menyebut Tan Kin Lam dengan namanya saja.
Dalam hati, Siau Po sebetulnya merasa marah dan sebal.
--Dasar maling tanpa kesetiaan, sekarang kau sudah berani menyebut langsung nama guruku, --Tapi membayangkan dapat berbaikan kembali dengan Kaisar Kong Hi, rasanya menyenangkan juga.
Bisa jadi pejabat lagi atau tidak, dia sama sekali tidak perdu!i, Asal bisa bercanda dan bermain-main dengan si Raja cilik, sudah melebihi apa pun di dunia ini.
"Wi Toutong, kita kembali ke Peking tapi rahasia kita jangan sampai terbongkar Setelah orang-orang dari Thian Te Hwee tahu Cong tocunya sudah mati, sebagian besar pasti akan mengangkatmu sebagai Cong tocu, Rasa setia kawanmu tinggi sekali, Kau juga sangat berbakti terhadap perkumpulan Thian Te Hwee. Kau tidak sudi menjadi Toutong, dan juga tidak mau menjabat sebagai Pak Ciak, semua ini demi menolong jiwa anak murid Thian Te Hwee. Hal ini pasti sudah tersebar luas ke mana-mana. Akhir-akhir ini, gosip yang paling sering dibicarakan dalam dunia kangouw adalah masalah ini, Siapa yang tidak mengagumi jiwa kependekaran Wi Toutong?" Siau Po merasa bangga sekali mendengarnya.
"Benarkah mereka masih membicarakan hal ni? Kau tidak berbohong?"
Tanyanya penasaran.
"Tidak, tidak!"
Kata Hong Ci Tiong.
"Hamba sama sekali tidak berani membohongi Wi Toutong!"
"Dia terus menyebut dirinya sebagai hamba, entah kedudukan apa yang dijabatnya dalam kerajaan? --tanya Siau Po dalam hati. Meskipun merasa penasaran, tapi dia tidak menanyakannya, Kalau dia bertanya, Hong Ci Tiong pasti curiga, Tentu saja kebohongannya tentang Raja sudah mengatakan semuanya kepadaku" , bisa jadi ketahuan. Kemudian dia berpikir lagi, -Tentunya tidak apa-apa kalau aku menanyakan kenaikan pangkat apa yang diperolehnya sekarang, --Oleh karena itu dia segera bertanya.
"Hong toako, kau sudah membangun jasa besar, kenaikan pangkat apalagi yang kau peroleh kali ini?"
"Raja sangat berbudi kepadaku, Beliau menganugerahkan kedudukan Sit Tong Tou si kepada-ku,"
Sahut Hong Ci Tiong.
--Rupanya hanya pangkat yang rendah, mak-nya!
Kalau dibandingkan dengan Locu, bedanya bisa dua puluh tujuh tingkat!
--pikirnya dalam hati.
Bagi bangsa Ceng, kedudukan Pek Ciak sudah terhitung tinggi sekali, boleh dibilang setaraf dengan menteri bagi bangsa Han.
Tapi ketika dia menatap kepada Hong Ci Tiong, wajah orang itu masih menampakkan kejujuran, dan sinar matanya menunjukkan perasaan bangga, Oleh karena itu dia berkata.
"Selamat! Pangkat ini dianugerahkan langsung oleh Sri Baginda, tentu maknanya jadi lain!"
Hong Ci Tiong membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
"Sejak sekarang hamba masih mengharap banyak dukungan dari Toutong Tayjin."
Siau Po tertawa.
"Kita kan orang sendiri, mengapa berbicara demikian? Untuk bekerja bagi Sri Baginda, tentunya kebisaanmu melebihi aku,"
Kata Siau Po.
"Mana mungkin hamba menyamai Tayjin walaupun seujung kukunya saja? Harap Tayjin ketahui, Sri Baginda berpesan kepada hamba, apabila bertemu dengan Tayjin, biar bagaimana hamba harus berusaha mengajak Tayjin kembali ke Peking, jangan sekali-kali melanggar Firman Sri Baginda, Kalau mendengar nada suara Sri Baginda, tampaknya beliau sangat memperhatikan Tayjin, kemungkinan beliau sudah merasa rindu sekali. Kalau kali ini Tayjin berhasil mendirikan jasa besar lagi dengan membawa anak The Keng ke kota raja, Sri Baginda pasti senang sekali, Tentu Tayjin akan dianugerahi pangkat yang lebih tinggi lagi,"
Sahut Hong Ci Tiong.
"Pangkatmu sendiri juga akan dinaikkan lagi, bukan?"
Sindir Siau Po.
"Bagi hamba, yang penting tenaga hamba bisa terpakai Kalau Sri Baginda bertemu dengan Tayjin, hatinya pasti senang sekali, hamba sekalian pun akan menjadi senang, Naik pangkat atau tidak, bukan apa-apa bagi kami."
Dalam hati Siau Po berpikir. -Selama ini aku mengira kau orang yang jujur, tidak tahunya hitunganmu hebat sekali!"
Setelah berhasil menjadi Cong tocu Thian Te Hwee, Tayjin bisa mengumpulkan kedelapan belas orang Hiocu dari berbagai daerah.
Waktu itu Tayjin bisa membasmi mereka sekaligus tanpa bersusah payah, Tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa meloloskan diri, Jasa besar seperti ini bahkan melebihi daripada meledakkan gedung Pak Ciak Hu tempo hari.
Coba Tayjin bayangkan sendiri, apabila Tayjin membunuh Tan Kin Lam tempo hari, dengan adanya sekian banyak Hiocu di pihak Thian Te hwee, mereka bisa memilih siapa saja sebagai pengganti Cong tocunya, mati satu ganti satu, tapi kalau Tayjin yang menduduki jabatan itu, panggil saja mereka sekalian, alasannya ingin merundingkan pembalasan dendam atas kematian Tan Kin Lam, tentu mereka akan hadir semua, kita dapat membasmi rumput sampai ke akar-akarnya.
Untuk selamanya Sri Baginda tidak perlu merasa khawatir lagi."
Mendengar kata-katanya, bulu roma Siau Po sampai merinding.
-Benar-benar hebat, siasat seperti ini, belum tentu orang seperti engkau mampu memikirkannya, Kemungkinan si Raja cilik yang mengungkapkan rencananya di hadapanmu.
Kalau aku kembali ke Peking, kemungkinan besar si Raja cilik akan mengampuni kesalahanku terhadapnya, tapi pasti aku harus membasmi seluruh murid Thian Te Hwee, kalau aku tidak bersedia, tentu dia mempunyai cara sendiri untuk menghadapi aku.
Aku tidak bisa melepaskan diri lagi dari genggamannya, --pikir Siau Po dalam hati.
Semakin lama dia semakin bergidik, --Kalau si Raja cilik ingin aku menyerah atau ingin memukul pantatku, pasti tidak apa-apa.
Tapi kalau menyuruh aku menjadi Cong tocu lalu membasmi seluruh saudara-saudara dari Thian Te Hwee, itu sama sekali tidak boleh dilakukan, Kalau aku sampai melakukan hal itu, delapan belas keturunanku bisa disumpahi oleh orang-orang gagah di dunia ini, setelah mati pun aku tidak mempunyai muka jgi untuk bertemu dengan suhu, sedangkan gadis besar atau pun gadis cilik yang ada di sini pasti tidak memandang sebelah mata lagi terhadapku.
Meskipun orang lain tidak perduli, biar aku Wi Siau Po bukan manusia baik-baik, tapi aku masih mempunyai Liang Sim (Hati nurani) -Matanya melirik sekilas kepada Hong Ci Tiong dan mulutnya mengeluarkan suara uh!
Uh!
seakan mengiakan saja apa yang diucapkan orang itu.
--Tapi kalau aku tidak menyetujui usulnya, dia pasti memalingkan wajahnya.
Biia terjadi perkelahian jumlah kami demikian banyak, rasanya belum tentu kalah, Sayang sekali ilmu silatnya sangat tinggi, kalau sampai salah satu gadis besar atau gadis cilikku ada yang mati di tangannya, wah...
bisa runyam!
Lebih baik aku gunakan lagi senjata rahasiaku ini...
--pikirnya.
Sesaat kemudian dia berkata.
"Kalau bertemu kembali dengan Sri Baginda, aku merasa senang sekali, Namun... untuk membunuh seluruh saudara-saudara dari Thian Te Hwee, rasanya terlalu tidak berperasaan, tidak ingat budi, serta bukan perbuatan seorang pendekar Rasanya kita harus merundingkan kembali urusan ini baik-baik."
"Apa yang dikatakan Tayjin memang benar, Tapi ada sebuah pepatah yang bagus sekali.
"Laki-laki yang tidak beracun hatinya bukanlah laki-laki sejati, laki-laki yang tidak berjiwa besar bukanlah seorang Kuncu."
"Benar, benar! pepatah itu memang bagus sekali!"
Kata Siau Po.
"Aih! Aduh... kenapa si bocah The Kek Song malah kabur?"
Hong Ci Tiong terkejut setengah mati, Dia menolehkan kepalanya untuk melihat Siau Po sudah mengarahkan senjata rahasianya dengan jitu, dan sudah siap menekan tombolnya, tahu-tahu tampak Song Ji menghambur datang sambil bertanya.
"Siangkong, ada apa?"
Rupanya sejak tadi Song Ji melihat Siau Po dan Hong Ci Tiong berbicara kasakkusuk sekian lama.
Hati gadis itu terus merasa khawatir, akhirnya perlahan-lahan dia mendekati kedua orang itu.
Ketika mendengar Siau Po mengeluarkan suara mengaduh, dia segera menghambur datang.
Tangan Siau Po sudah siap menekan tombol, Kalau tombol itu benar-benar ditekan, dada Hong Ci Tiong pasti terkena senjata rahasianya, tapi tak urung Song Ji juga ikut jadi sasaran, Karena sayangnya kepada Song Ji, dia batal menekan alat senjata rahasia tersebut.
Hong Ci Tiong yang menolehkan kepalanya, dapat melihat bahwa Kek Song dan Pang Ci Hoan masih berdiri di tepi pantai, Maka dia segera menduga ada sesuatu yang tidak beres, Tepat pada saat itu, Song Ji lewat di depannya, dia segera mengulurkan tangannya untuk menarik gadis itu sebagai pelindung di depannya.
Sebetulnya, kalau kita lihat ilmu silat yang dimiliki Song Ji, tidak mungkin Hong Ci Tiong bisa meringkusnya dengan sekali gerak saja, Tapi karena Song Ji sedang mengkhawatirkan keadaan Siau Po, dia juga tidak pernah mencurigai Hong Ci Tiong sehingga dengan mudah laki-laki itu berhasil menyanderanya.
Bagian atas tubuh gadis itu terasa ngilu dan lemas, dia tidak bisa bergerak lagi karena jalan darahnya telah ditotok, sementara itu Hong Ci Tiong segera berkata dengan suara yang dalam.
"Wi Tayjin, harap kau angkat tanganmu ke atas!"
Kesempatan bagus sudah hilang, malah Song Ji kena ditangkap, Namun Siau Po masih bisa tertawa terkekeh-kekeh.
"Hong toako, apa sih yang kau candakan?"
"Senjata rahasia Wi Tayjin yang tidak bersuara dan tidak mempunyai bayangan itu sungguh lihai, hamba benar-benar merasa takut Harap Tayjin mengangkat tangan ke atas, kalau tidak, maafkan apabila hamba sampai melakukan kesalahan!"
Sembari berbicara dia terus mendorong-dorongkan tubuh Song Ji ke depan seperti perisai.
Dengan demikian Siau Po pasti tidak berani menggunakan senjata rahasianya.
Sou Cuan, Pui Ie dan A Ko sudah dapat melihat perubahan yang terjadi, maka mereka segera menghambur mendekati Dalam hati Hong Ci Tiong berpikir.
--Bocah ini sayang sekali kepada budak cilik ini, Tapi perempuan-perempuan itu yang perlu dikhawatirkan Mereka tentu tidak perduli dengan jiwa Song Ji, hanya memperdulikan Siau Po.
-Dari selipan ikat pinggangnya, Hong Ci Tiong segera menghunus sebatang golok lalu ditudingkan ke depan tenggorokan Siau Po sambil berseru.
"Jangan ada seorang pun yang coba-coba mendekat ke mari!"
Sou Cuan dan yang lainnya segera menghentikan langkah kakinya ketika melihat Siau Po terancam bahaya, Hati mereka panik sekaligus heran, Bukankah Hong Ci Tiong ini kawan baik Siau Po?
Barusan mereka masih sama-sama bahu membahu melawan musuh, mengapa dalam sekejap mata mereka jadi berselisih?
Mereka menduga urusannya tentu karena Siau Po ingin melepaskan The Kek Song tapi Hong Ci Tiong justru ingin membunuh pemuda itu guna membalaskan dendam atas kematian Tan Kin Lam.
Karena tenggorokannya diancam dengan sebatang golok, Siau Po terpaksa mendongakkan kepalanya sedikit, namun Hong Ci Tiong justru mengikuti gerakannya.
"Wi Tayjin, ujung golok ini tidak mempunyai mata, harap kau jangan sembarangan bergerak! Bukan salahku apabila tenggorokanmu benar-benar terluka. sebaiknya kau angkat tanganmu tinggi-tinggi!"
Siau Po merasa tidak berdaya. Terpaksa dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tapi dia masih tertawa.
"Hong toako, kalau kau masih sayang dengan kedudukanmu dan ingin memperoleh pangkat yang lebih tinggi lagi, harap kau perlakukan aku baik-baik!"
Bagian 85
"Naik pangkat atau menjadi kaya tentu penting, tapi biar bagaimana, jiwalah yang terutama,"
Sahut Hong Ci Tiong, Tiba-tiba tubuhnya berkelebat tahu-tahu dia sudah berada di belakang punggung Siau Po.
DijuIurkannya tangannya untuk mengambil pisau belati yang terselip di dalam kaos kaki lalu ditudingkan ke punggung pemuda itu.
"Wi Tayjin, pisau belatimu ini benarbenar tajam, hamba pernah menyaksikan Tayjin menggunakannya beberapa kali."
Siau Po hanya dapat tertawa getir, namun punggungnya terasa agak nyeri sehingga dia tahu pisau belatinya telah mengoyak jubah luarnya, Meskipun di dalamnya dia mengenakan baju mustika, tapi tetap saja tidak mempan terhadap pisau saktinya itu.
"Kalian semua balikkan badan lalu lempar senjata masing-masing!"
Bentak Hong Ci Tiong.
Melihat keadaan di depan mata, Su Cuan beserta yang lainnya terpaksa menuruti perkataan orang itu.
Mereka membalikkan tubuh lalu melemparkan senjata masingmasing.
Hong Ci Tiong melihat di sudut satunya ada enam orang anak buati Thian Te hwee, dia segera memanggil mereka.
"Kalian ke mari! Ada yang ingin kukatakan!"
Katanya.
Keenam orang itu masih belum mengerti apa yang telah terjadi, karena itu mereka pun menghampirinya.
Lengan kanan Hong Ci Tiong terangkat ke atas, lalu dengan cepat dia menampar ke kiri dan kanan, Dalam waktu yang bersamaan golok ditangan kirinya juga mengeluarkan suara mendesing, dan dalam beberapa detik saja enam anak murid Thian Te hwee itu telah terkapar di atas tanah dalam keadaan mati.
Gerakan tangan orang ini benar-benar cepat, maka tidak dapat disangkal lagi bahwa ilmu silatnya telah mencapai taraf yang sangat tinggi, Kekejaman hatinya juga tidak perlu diragukan lagi.
Tanpa sadar Su Cuan membalikkan tubuhnya, tampak mayat ke enam murid Thian Te hwee itu sudah bergelimpangan, sedangkan para wanita yang lain juga penasaran, namun mereka segera menjerit histeris begitu melihat keadaan di depan mata.
Rupanya Hong Ci Tiong sudah merasa bahwa kedoknya sendiri telah terbuka, maka apabila sampai terjadi perkelahian dia cuma seorang diri, kerugian sudah jelas ada di pihaknya Jadi sebelum pihak murid Thian Te hwee menyadari apa yang telah terjadi, lebih baik dia menghabisi mereka terlebih dahuIu.
Pertama tentu saja untuk menambah kewibawaan dirinya sehingga Siau Po serta yang lainnya tidak berani mengadakan perlawanan Kedua, demi meringankan jumlah musuh yang sudah ada.
Dengan demikian, meskipun jumlah pihak lawan masih cukup banyak, tapi lakilakinya hanya tinggal satu, dia tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya lagi.
Hong Ci Tiong menarik kembali goloknya lalu dikalungkan ke leher Siau Po.
"Wi Tayjin, mari kita turun ke perahu!"
Katanya.
Pikirnya, bila dengan menggiring Siau Po dan The Kek Song ke hadapan Sri Baginda, berarti dia sudah mendirikan jasa besar Ketujuh perempuan itu ditinggalkannya di atas pulau, Dia tidak ingin mendapatkan kesulitan lagi di atas perahu nanti, Bukannya Hong Ci Tiong bermurah hati, tapi dia juga memikirkan akibatnya apabila dia membunuh ketujuh perempuan itu.
Siau Po tentu akan membencinya sampai ke tulang sum-sum.
sedangkan bocah busuk itu pernah mendapat kasih sayang yang besar dari Sri Baginda, Siapa pun tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi begitu mereka dipertemukan.
Bisa saja Sri Baginda memaafkan segala kesalahannya, Apabila benar demikian, tentu tamatlah riwayat Hong Ci Tiong saat itu.
Para wanita yang melihat Siau Po digiring pergi, benar-benar merasa tercekam hatinya, Mereka sempat bingung apa yang harus dilakukan, justru pada saat itulah Kian Leng kongcu berteriak kalap.
"Kau kira siapa dirimu? Berani-beraninya kau kurang ajar! Cepat lemparkan golokmu itu!"
Hong Ci Tiong hanya mendengus satu kali.
Dia pernah menemani Siau Po mengiringi Kian Leng kongcu untuk menjadi mempelai ke Hun Lam, Dia tahu benar adat si Tuan Puteri, karenanya dia juga tidak berani berdebat dengan perempuan itu.
Melihat dirinya tidak digubris oleh Hong Ci Ti-ong, Kian Leng kongcu semakin berang, Kenyataannya, di dunia ini kecuali Thay Hou, Sri Baginda, Siau Po dan Su Cuan berempat, tidak ada seorang pun yang ditakutinya, Dia membungkukkan tubuhnya untuk memungut sebatang goIok, lalu tanpa berpikir panjang lagi dia menerjang ke arah Hong Ci Tiong dan menebaskan golok dari atas ke bawah.
Hong Ci Tiong memiringkan tubuhnya untuk memghindar.
Kian Leng kongcu menyerang tiga kali berturut-turut, tapi selalu dapat dihindari dengan mudah oleh Hong Ci Tiong.
Coba kalau kedudukan si Tuan Puteri diganti dengan perempuan lainnya, Hong Ci Tiong pasti sudah mendupaknya agar jatuh ke dalam lautan.
Namun yang menyerangnya justru adik kesayangan Sri Baginda, ibarat wanita bertubuh emas, siapa yang berani menyalahinya?
Apalagi dia berniat mendirikan jasa besar agar mendapat kedudukan yang mulia, maka dia hanya mengelak ke sana-ke mari.
Kian Leng kongcu semakin marah.
"Budak telur busuk!"
Teriaknya.
"Jangan bergerak! Aku akan memenggal kepalamu, mengapa kau terus berputar tidak karuan? Lain kali aku akan mengadu kepada Hongte koko, biar kau ditebas seribu kali!"
Hong Ci Tiong terkejut setengah mati Dia tahu perempuan ini sanggup melakukan apa yang dikatakannya, Dia toh adik kandung Sri Baginda, sedangkan dirinya sendiri hanya sebutir pasir di gurun luas, bagaimana mungkin dirinya sanggup menandingi Tuan Puteri tersebut?
Semakin dipikirkan hatinya semakin ciut.
Meskipun demikian, apabila dia harus membiarkan batok kepalanya ditebas oleh perempuan tengil itu, rasanya kok berat juga.
Sembari memaki-maki, golok di tangan Kian Leng kongcu tetap mengayun ke sana ke mari, Hong Ci Tiong hanya menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindarkan diri.
Tampaknya jarak antara golok Tuan Puteri dengan tubuh Hong Ci Tiong sangat dekat, namun setiap kali serangannya selalu gagal.
Kian Leng kongcu menjadi kalap, Dia menerjang dengan keras, tapi karena golok itu cukup berat, maka tubuhnya jadi terbawa arus getaran sehingga sulit mengendalikan diri.
Sekali lagi Hong Ci Tiong terkesiap, karena begitu dia memiringkan tubuhnya, tampaknya golok di tangan Kian Leng kongcu akan meluncur terus ke arah pundak Siau Po.
"Hati-hati!"
Teriak Hong Ci Tiong sambil memutar tubuhnya sedikit dan menomplok kepada Siau Po sehingga mereka jatuh bersamaan di atas tanah, kemudian secepat kilat dia menutulkan kakinya untuk mencelat sejauh mungkin.
Song Ji menggunakan kesempatan itu untuk menghambur ke depan, Didekapnya tubuh Siau Po lalu diseretnya sejauh mungkin, Hong Ci Tiong terkejut melihat keadaan itu, lalu sembari mengayunkan goloknya dia mengejar.
Meskipun ilmu silat Song ji cukup tinggi, tapi tenaganya masih belum memadai, Apalagi dia lebih pendek satu kepala dari Siau Po, maka dengan memondong pemuda itu, dia hanya sanggup mencelat sejauh dua depa, sedangkan Hong Ci Tiong sudah mengejar tiba, Punggung Siau Po langsung tertotok sehingga kaki dan tangannya terasa lemas, dia hanya dapat berbisik "Lepaskan aku, biar aku tembakkan senjata rahasia kepadanya."
Sayangnya gerakan Hong Ci Tiong terlalu cepat, Apabila Song Ji melepaskan Siau Po, pasti pemuda itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk meluncurkan senjata rahasianya, Dalam keadaan panik, dia melemparkan tubuh pemuda itu sekuat tenaga.
Hong Ci Tiong kegirangan, dan cepat-cepat menjulurkan tangannya untuk menyambut tubuh Siau Po.
Tiba-tiba dari bagian punggungnya terdengar suara letusan, lalu terasa ada sesuatu yang membakar tubuhnya dan diiringi bau asap, Belum lagi dia berpikir lebih lanjut, tubuhnya sudah terkulai di atas tanah serta berkelojotan beberapa kali dan akhirnya tidak bergerak lagi.
Siau Po sendiri yang terhempas di atas tanah tidak mengalami luka apa-apa.
Namun untuk sesaat dia mengalami kesulitan untuk berdiri Tampak di hadapan Song Ji terdapat segumpal asap putih yang melingkar, dan tangan gadis itu menggenggam sebuah pistol pendek.
Dia ingat benda itu merupakan hadiah dari Gouw Liok Ki ketika mengangkat saudara dengan gadis itu, Benda itu juga merupakan senjata api dari negara Lo Sat, yang hebatnya bukan main.
walaupun ilmu silat Hong Ci Tiong sangat tinggi, tapi tetap tubuhnya terdiri dari darah dan daging, mana mungkin sanggup bertahan menghadapi senjata tersebut?
Song Ji sendiri juga terkesima, begitu senjatanya meletus.
Lengannya seperti ngilu, dan tanpa terasa dia menjatuhkan senjata api itu ke atas tanah.
Siau Po khawatir Ci Tiong masih belum mati, maka dia segera menghambur ke depan orang itu lalu mengarahkan senjata rahasia di pinggangnya dan ditekannya beberapa kali, Senjata rahasia yang halus itu meluncur tepat mengenai seluruh tubuh Hong Ci Tiong, tapi orang itu sama sekali tidak bergerak.
Ketika senjata api di tangan Song Ji meletus mengenai dirinya, tidak lebih dari sepuluh detik jiwanya sudah melayang.
Para perempuan yang lain segera bersorak senang dan segera menghambur datang.
Tujuh orang perempuan mengerubuti Siau Po.
Bayangkan kalau tujuh lembar mulut perempuan sudah berbicara!
Mereka menanyakan berbagai hal kepada Siau Po, sehingga si pemuda kewalahan menjawab nya.
Hubungan Song Ji dengan Hong Ci Tiong sangat dekat Mereka sering bertukar pikiran, dan ke mana-mana pun sering bersama-sama.
Sikap Hong Ci Tiong selama ini menunjukkan kasih sayang dan hormat yang dalam terhadapnya, Siapa sangka orang ini berhati busuk.
Semakin diingat kembali, Song Ji semakin tercekam hatinya, Entah berapa banyak kesempatan yang pernah ada apabila Hong Ci Tiong benar-benar ingin mencelakainya, Di samping itu, Song Ji juga menyadari satu hal.
Dia sekarang mengerti mengapa dulu Gouw Liok Ki memaksakan diri untuk mengangkat saudara dengannya, Rupanya orang itu ingin suatu hari Siau Po menikahinya, tapi dirinya hanya seorang budak, Derajatnya jauh di bawah Siau Po.
Orang aneh itu tentu mempunyai pikiran, setelah menjadi adik angkat dari Hiocu, bendera merahnya Thian Te hwee, Song Ji tentu pantas bersanding dengan Hiocu dari Ceng Bok Tong.
Dibayangkannya kebaikan hati Gi heng (kakak angkat) nya itu.
senjatanya sudah dipungut kembali oleh Song Ji, tapi pemiliknya sendiri sudah tidak ada, tanpa sadar airmatanya menetes.
Siau Po membalikkan tubuhnya, Tampak The Kek Song berempat sedang berjalan menuju tepi pantai dan bersiap-siap naik ke atas perahu, Hatinya berpikir --Dia sudah membunuh Suhu, apabila membiarkan dia pergi begitu saja, benar-benar keenakan baginya!
-Karena itu dia segera mengambil pisau belatinya dan mengejar "Berhenti dulu!"
Teriaknya. The Kek Song menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepalanya, wajahnya langsung berubah kelabu.
"Wi... Wi Hiocu, kau sudah... berjanji untuk melepaskan aku... eh... kami!"
Katanya. Siau Po tertawa dingin.
"Aku memang berjanji untuk tidak membunuhmu, tapi apakah aku pernah mengatakan bawah aku tidak akan memotong sebelah kakimu?"
Pengikut sekaligus guru pangeran dari Taiwan itu marah sekali, tapi dia hanya sanggup mengangkat tangannya sedikit, tubuhnya masih terasa lemah, sedangkan The Kek Song sendiri sudah ketakutan setengah mati, lalu segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.
"Wi Hiocu, apa.,., bila engkau mengutungkan sebelah kakiku, bagaimana aku akan hidup selanjutnya ?"
Tanya pemuda itu dengan suara memelas. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Pasti bisa! Kau berhutang padaku sebanyak selaksa taiI. Berikut bunganya jadi seratus laksa tail, Lalu kau ingin menggunakan A Ko sebagai jaminan, tapi dia sudah pernah bersembahyang kepada langit dan bumi denganku, dan dalam perutnya juga mengandung anakku, jadi dia sudah resmi sebagai istriku, bagaimana mungkin kau menggunakannya sebagai jaminan? Lagipula di dunia ini mana ada peraturan seperti itu?"
Sahutnya. Pada saat itu, Su Cuan, Pui Ie, Cin Ju, Bhok Kiam Peng dan Kian Leng kongcu berdiri di dekat Siau Po. Mendengar perkataan pemuda itu, mereka segera mendumel.
"Dasar mata keranjang!"
Sejak tadi otak The Kek Song memang sudah ruwet, tapi dia masih sadar apa yang dikatakan Siau Po ada benarnya, maka dia bertanya.
"Lalu bagaimana?"
"Begini saja, sekarang aku akan mengutungkan sebelah lengan dan sebelah kakimu sebagai jaminan. Kelak apabila kau sudah membayar hutangmu yang sebanyak seratus laksa tail itu, aku akan mengembalikan kutungan kaki dan lenganmu,"
Sahut Siau Po.
"Tapi... ,tapi tadi kau sudah mengatakan bahwa A Ko sudah dijual putus kepadamu.... Tentunya hutang yang seratus laksa tail itu juga sudah lunas, bu... kan?"
Kata Kek Song gemetar. Siau Po menggelengkan kepalanya semakin keras.
"Tidak bisa, Tadi aku kan hanya mengoceh sembarangan sehingga bisa diperdayai olehmu, A Ko kan istriku sendiri, mana bisa engkau yang menjualnya kepadaku? Baiklah, sekarang aku akan menjual ibumu kepadamu dengan harga seratus laksa tail, kemudian aku juga akan menjual bapakmu kepadamu, lalu menjual nenekmu kepadamu... harganya jadi..."
"Tapi nenekku sudah mati!"
Sela Kek Song cepat.
"Orang mati juga boleh dijual!"
Sahut Siau Po.
"Mayatnya aku jual lagi kepadamu, biar deh kalau orang mati korting delapan puluh persen, harganya jadi dua puluh laksa tail Dan petinya gratis, tidak usah dibayar!"
Kek Song mendengar kata-kata Siau Po semakin lama semakin banyak, bahkan sekarang keluarga yang sudah mati pun dijual lagi kepadanya, Kalau dihitung dari nenek moyangnya, entah sudah berapa banyak keturunan keluarga mereka, Meskipun orang mati dikorting delapan puluh persen, tetap saja Kek Song merasa keblinger, Akhirnya dengan melas dia berkata.
"Sudah... sudah, Wi Hiocu, aku tidak sanggup membeli semuanya..."
"Baiklah, kalau sudah tidak sanggup membeli Iagi, ya tidak apa-apa. Tapi yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan Tadi aku sudah menyebutkan ibumu, bapakmu, nenekmu dari pihak bapak dan nenekmu dari pihak ibu. Dipotong kortingan hutangmu jadi tiga ratus dua puluh laksa tail, bagaimana kau akan membayarnya?"
Tanya Siau Po seenaknya. Kiang Leng kongcu tertawa terkekeh-kekeh.
"Hihi... hi... hi.... Tiga ratus dua puluh laksa tail, cepat bayar!"
Katanya. Kek Song segera memasang wajah melas.
"Sekarang seribu tail saja aku tidak punya, mana mungkin mengeluarkan tiga ratus dua puluh laksa tail?"
Sahutnya.
"Sudahlah, kalau tidak punya uang, apa boleh buat! Kembalikan saja apa yang sudah kau beli, sekarang juga kau harus mengembalikan ibu, ayah, nenek dalam serta jenasah nenek luarmu, kurang sehelai rambut saja tidak masuk hitungan!"
Kata Siau Po.
Kek Song berpikir dalam haii, kalau mengaco begini terus, kapan urusannya bisa selesai?
Matanya melirik kepada A Ko, dia berharap perempuan itu akan membantunya, Tapi perempuan itu justru berdiri jauh-jauh seakan tidak sudi ikut campur dalam masalah ini.
Hati Kek Song semakin panik, Kalau menilik sikap Siau Po sekarang, sebentar lagi dia pasti akan kehilangan sebelah lengan dan kakinya, Oleh karena itu cepat-cepat dia menyembah berkali-kali, bahkan kepalanya diantuk-antukkan ke atas tanah.
"Wi Hiocu, aku telah mencelakai Tan Kunsu, maka dosaku berat sekali Aku memang pantas dihukum mati, tapi aku mohon ampunilah selembar jiwa hamba ini, Aku mengaku berhutang kepadamu sebanyak tiga ratus dua puluh laksa tail, dan biar bagaimana hamba akan berusaha membayarnya!"
Katanya meratap. Siau Po sendiri merasa sudah keterlaluan menyiksa Kek Song dan kebencian dalam hatinya pun sudah jauh berkurang.
"Kalau begitu aku minta surat pernyataan darimu,"
Katanya.
"Baik, baik,"
Sahut Kek Song. Dia membalikkan tubuhnya dan memberi perintah kepada anak buahnya.
"Ambilkan sehelai kertas!"
Mendapat perintah itu, anak buah Kek Song sempat bingung, Di atas pulau kosong ini bagaimana bisa mendapatkan kertas dan pena?
Untung saja otak orang itu cukup encer Cepat-cepat dia melepaskan jubahnya sendiri sambil berkata.
"Di sana toh banyak orang mati, Kita gunakan saja darah mereka sebagai tinta."
Sembari berjalan ke arah Hong Ci Tiong untuk mengambil darahnya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Siau Po menarik pergelangan tangan Kek Song, dan dengan pisau belatinya yang tajam, dia menyayat jari telunjuk pemuda itu, Kek Song langsung menjerit kesakitan.
"Gunakan darahmu sendiri untuk menulis!"
Kata Siau Po. Begitu sakitnya sampai tubuh Kek Song gemetar, dan untuk sesaat dia tidak sanggup melakukan apa-apa.
"Pelan-pelan saja menulisnya,"
Kata Siau Po.
"Apabila darah di telunjukmu sudah kering, aku toh bisa menyayat jari tengahmu dan demikian pula dengan selanjutnya."
"lya, iya,"
Sahut Kek Song cepat Dia tidak berani berlambat-lambat.
Sambil menahan rasa sakit dia segera menggunakan jari telunjuknya yang kutung itu untuk menulis "Hutang tiga ratus dua puluh laksa tail, Tertanda The Kek Song.
Siau Po tertawa dingin.
"Huh! Namanya sih putera Pangeran, tapi tulisannya miring tidak karuan, masih lumayan ceker ayam."
Diambilnya jubah bertulisan itu lalu diserahkannya kepada Song Ji.
"Simpan baik-baik. Coba perhatikan apakah jumlah yang dituliskan sudah cukup? Orang ini licik sekali, pokoknya kurang beberapa tail juga tidak boleh!"
Song Ji tertawa.
"Tiga ratus dua puluh laksa tail, tidak kurang tidak lebih,"
Sahutnya.
Lengan jubah itu dikoyaknya sehingga tinggal sepotong kain kecil yang bertulisan, kemudian Song Ji memasukkannya ke dalam saku bajunya.
Siau Po tertawa terbahak-bahak, lalu disepaknya Kek Song keras-keras.
"Menggelindinglah kau kepada nenek luarmu!"
Tubuh Kek Song terhempas, lalu menggelinding di atas pasir.
Beberapa orang wisu segera membimbingnya bangun lalu membungkus jari telunjuknya yang luka, Mereka juga memondongnya ke arah perahu kecil.
Tentu saja guru si pemuda, Pang Ci Hoan juga dibawa sekalian, sebentar saja perahu kecil itu sudah melaju ke arah lautan luas, Saking gelinya Siau Po tertawa terus, tapi begitu teringat nasib gurunya yang mati secara mengenaskan, dia segera menangis meraung-raung.
Setelah meninggalkan pantai sejauh beberapa depa, hati Kek Song baru terasa agak tenang.
"Kita rebut saja kapal besar di sana, biar mereka tidak punya kesempatan untuk mengejar kita lagi,"
Katanya.
Tapi begitu dekat dengan kapal, mereka baru melihat bahwa di atasnya tidak ada perlengkapan apa-apa.
Layar tidak ada, dayung besar pun tidak ada.
Pang Ci Hoan marah sekali.
"Tentu sudah disembunyikan oleh perempuan-perempuan busuk itu!"
Katanya.
Tanpa perlengkapan dan bekal makanan serta minuman, bagaimana mungkin mereka bisa bertahan di atas lautan?
"Biar kita kembali saja ke daratan aku akan memohon bocah busuk itu untuk memberikan sedikit bekal makanan dan minuman, Paling-paling aku harus menulis pernyataan hutang tiga ratus laksa tail lagi,"
Kata Kek Song.
"Mereka hanya mempunyai sebuah kapal, sedangkan jumlah orang mereka juga banyak, mana mungkin mereka sudi membagi makanan untuk kita, Lagipula, aku yakin bahwa mereka memang sudah merencanakan semua ini. Biar harus mati ditelan ikan, aku juga tidak sudi memohon belas kasihan dari mereka!"
Teriak Pang Ci Hoan.
Mendengar nada suara gurunya yang begitu tegas, Kek Song tidak berani membantah lagi.
Terpaksa dia memerintahkan anak buahnya untuk mengayuh perahu kecil itu ke arah lautan luas.
Siau Po beramai-ramai dapat melihat perahu Kek Song dilajukan ke arah kapal, namun setelah melihat di atasnya tidak ada perlengkapan apa-apa, mereka terpaksa berlayar pergi dengan perahu kecil, Diam-diam mereka merasa geli menyaksikan hal itu.
Su Cuan melihat Siau Po sebentar tertawa sebentar menangis, dia mengerti bahwa pemuda itu tentu masih berat ditinggalkan oleh gurunya, Oleh karena itu dia merasa ingin menghibur hati pemuda itu.
"The kongcu dari Taiwan ini orangnya licik sekali, Siau Po, tampaknya hutang yang tiga ratus dua puluh laksa tail itu juga tidak mungkin dibayar olehnya,"
Katanya.
"Aku juga tahu bahwa dia tidak mungkin membayarnya,"
Sahut Siau Po. Su Cuan tertawa.
"Biasanya otakmu selalu mempunyai akal bagus untuk menyelesaikan satu persoalan, tapi tadi dia menjual istrimu sendiri kepadamu senilai seratus laksa tail, tanpa pikir panjang lagi kau langsung menyetujuinya, Tampaknya cintamu kepada A Ko sudah mencapai taraf slebor, seandainya tadi dia meminta agar engkau yang menambahkan seratus laksa tail, kemungkinan kau juga akan menyetujuinya."
Siau Po mengusap air mata di pipinya dengan menggunakan ujung lengan bajunya kemudian tertawa.
"Bodoh amat! Pokoknya asal setuju dulu, urusan lainnya bisa belakangan."
"Akhirnya kau kok bisa merasa kalau kau sudah dirugikan olehnya?"
Tanya Pui Ie. Siau Po mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Sesudah Hong Ci Tiong terbunuh, pikiranku sudah agak kendor, otomatis lancar sendiri,"
Sahutnya.
Padahal dia sendiri juga tidak pernah mencurigai Hong Ci Tiong, hanya saja selama ini dia selalu merasa di sisinya ada bahaya yang mengintai, tetapi kalau ditanya bahaya seperti apa, dia sendiri juga tidak dapat menjawabnya.
Tapi gerak-geriknya seakan diawasi oleh seseorang yang cukup dekat dengannya, itu saja, Sampai Hong Ci Tiong membongkar kedoknya sendiri kemudian mati terbunuh, Siau Po baru merasa seperti terlepas dari beban yang berat sehingga perasaannya juga jauh lebih ringan dari sebelum nya.
Dalam hati dia berpikir, --Kemungkinan sudah lama aku merasa takut terhadap maling tua yang satu ini, hanya saja aku tidak pernah menyadarinya!
-Yang lain-lainnya berdiri termangu-mangu, sebagian besar musuh mereka sudah mati, dan sisanya sudah kabur, maka mereka baru merasa betapa sunyinya pulau ini.
Siau Po sendiri merasa kakinya sudah tidak tahan untuk berdiri lebih lama lagi sehingga perlahan-lahan dia jatuh terduduk di atas tanah, Su Cuan membiarkan tubuh pemuda itu tengkurap, lalu dengan lembut dia mengurut jalan darah di punggung Siau Po yang tertotok oleh Hong Ci Tiong tadi.
Matahari tidak begitu terik lagi, gelombang di lautan pun tampak tenang, Dengan perasaan lelah, satu per satu perempuan-perempuan itu menjatuhkan diri untuk melepaskan lelah di atas pasir.
Yang pertama-tama terdengar adalah suara dengkuran Siau Po, namun lambat laun para perempuan itu pun ikut tertidur saking lelahnya.
Kurang lebih satu kentungan kemudian, Pui le lah yang mula-mula terjaga, Dia menuju pondok tempat tinggal Siau Po untuk menyiapkan beberapa macam hidangan setelah selesai, dia membangunkan yang lainnya untuk bersantap bersama-sama.
Di dalam ruangan itu telah dipasang dua batang obor dari dahan pohon Siong, sehingga suasananya jadi terang benderang, Delapan orang itu duduk mengelilingi meja sambil bersantap.
Sesudah selesai, Pui Ie dan Song Ji membereskan piring mangkok untuk dicuci di belakang pondok.
Siau Po mengedarkan matanya dari Su Cuan sampai ke A Ko.
Tampak masingmasing mempunyai kelebihan.
Ada yang cantik jelita, ada yang manis, ada yang enak dipandang, ada yang lembut dan ada juga yang lincah.
Hatinya menjadi gembira sekali pikirannya juga tenang, jauh berbeda dengan suasana hati ketika ia satu tempat tidur dengan ketujuh perempuan itu di Li Cun Wan tempo hari, Sembari tertawa lebar dia berkata.
"Tempo hari aku pernah menamakan pulau ini Tong Sip to (Pulau makan semua), Rupanya aku memang sudah punya firasat, bahwa kalian bertujuh bersedia menjadi istriku. Ternyata semua ini sudah kehendak Yang Kuasa sehingga bagaimana pun tidak dapat diingkari lagi. Mulai sekarang kita berdelapan akan hidup seperti di khayangan, panjang umur bagai para Dewata di pulau ini."
"Siau Po, kata-kata itu tidak baik diucapkan, maka lain kali jangan menyebutnyebutnya lagi,"
Tukas Su Cuan. Siau Po segera tersadar, dia tahu kalau Su Cuan tidak mau mendengar kata-kata yang sering digunakan Hong Kaucu, maka dia segera menyahut.
"Baik, baik, Kata-kata itu memang tidak cocok, aku saja yang suka mengoceh sembarangan."
"Apabila berhasil pulang ke Taiwan dengan selamat, Sie Long maupun The Kek Song pasti akan membawa orang-orangnya untuk membalas dendam, Kita tidak bisa tinggal di sini lama-lama, sebaiknya kita pergi saja,"
Kata Su Cuan pula. Yang lainnya menyetujui pendapatnya.
"Cuan cici, kalau menurut pendapatmu kemana kita harus pergi?"
Tanya Pui Ie. Su Cuan melirik kepada Siau Po, sambil tersenyum .
"Untuk hal ini sebaiknya kita tanyakan kepada Tuan Besar Wi Siau Po,"
Sahutnya. Siau Po tertawa.
"Kau memanggilku Tuan Besar?"
Tanyanya.
"Kalau bukan Tuan Besar benar-benar, mana mungkin bisa makan semuanya?"
Sahut Su Cuan puIa. Siau Po tertawa terbahak-bahak.
"Namaku kan Siau Po, sedangkan Siau artinya kecil, sebetulnya aku lebih cocok dipanggil Tuan kecil, malah sekarang ada yang menjuluki aku Tuan Besar!"
Pandangan matanya mengedar, lalu melihat para perempuan itu masih menunggu jawabannya, Setelah merenung sejenak, dia berkata lagi.
"Kita tidak mungkin kembali ke Tionggoan, sedangkan jarak Sin Liong to dengan pulau ini terlalu dekat, pasti jejak kita akan ketahuan Kita harus pergi ke tempat yang aman dan terpencil. Namun tempat yang aman dan terpencil pasti tidak ada penghuninya, dan tentu saja tidak ada kesenangan sedangkan tempat yang menyenangkan pasti banyak orangnya, Apalagi kesenangan Siau Po justru berjudi, berfoya-foya, nonton sandiwara, makan minum yang enak, setiap hari bisa mencuci mata (melihat wanita cantik) bahkan kurang satu saja sudah tidak seru baginya. Tempat yang menyediakan berbagai fasilitas untuk memenuhi kegembiraannya tentu kota-kota besar seperti Pe King atau Yang-ciu. Yang lainnya masih belum cukup memenuhi syarat. Membayangkan berbagai kesenangan ini, rasa bakti dalam hatinya timbul seketika.
"Sebetulnya, kita bisa berkumpul bersama-sama di sini sudah termasuk hal yang menyenangkan, entah bagaimana keadaan ibuku yang kesepian seorang diri?"
Katanya. Hampir semua perempuan-perempuan yang mendampinginya tidak pernah tahu perihal ibunya, Melihat Siau Po masih punya sedikit rasa bakti, mereka pun merasa ikut senang.
"Di mana ibumu sekarang?"
Tanya mereka serentak Ada pula yang berpikir. -ibumu toh mertuaku, biar bagaimana aku harus mencari jalan agar kita dapat melewati kehidupan bersama-sama! -Siau Po menarik nafas panjang.
"lbuku ada di gedung Li Cun Wan, Yang-ciu,"
Sahutnya. Mendengar kata-kata "Li Cun Wan, Yang-ciu" , kecuali Kian Leng kongcu, yang lainnya terkejut sekali, Ada yang menundukkan kepalanya, dan ada pula yang memalingkan wajahnya.
"Hah? Li Cun Wan di Yang-ciu? Kau pernah mengatakan bahwa itulah tempat yang paling menyenangkan di dunia ini. Kau juga pernah berjanji akan mengajakku ke sana!"
Seru Kian Leng kongcu. Pui Ie tersenyum.
"Dia membohongimu. jangan percaya ocehannya, tempat itu... tidak beres,"
Katanya.
"Kenapa tidak beres?"
Tanya Kian Leng kongcu.
"Apakah kau sudah pernah ke sana? Eh, kenapa tampang kalian semuanya aneh?"
Tanpa dapat menahan diri lagi Pui Ie tertawa geli. Kian Leng kongcu segera meraih pundak Bhok Kiam Peng sambil bertanya dengan suara merayu.
"Adikku yang baik, bagaimana kalau kau yang menceritakannya kepadaku?"
Wajah Bhok Kiam Peng jadi merah jengah.
"Itu... itu tempat pelacuran,"
Sahut gadis itu akhirnya. Sang Tuan Puteri masih belum mengerti juga.
"Mengapa ibunya ada di Li Cun Wan, tempat pelacuran itu? Dengar orang bilang, itu kan tempat bersenang-senangnya lakilaki hidung belang!"
Pui Ie tersenyum.
"Dia kan selamanya suka mengoceh yang bukan-bukan, kalau kau percaya setengah patah ucapannya saja, maka setiap hari kepalamu bisa pusing,"
Katanya.
Tempo hari ketika berada di Li Cun Wan, kecuali Tuan Puteri yang menggantikan kedudukan si Moler tua (Permaisuri palsu), yang lainnya pun semua ada di depan mata, Kegalakan Kian Leng kongcu tidak kalah oleh Mao Tung Cu, tapi tidak sekejam ibunya lagipula dia jauh lebih muda dan cantik.
Dalam hal ini, Siau Po merasa beruntung dengan takdir hidupnya.
Yang Kuasa memang mengasihinya, seandainya sekarang yang menemaninya di pulau ini bukan sang Tuan Puteri tetapi ibunya, entah apa yang harus dilakukannya?
Kemungkinan akhirnya dia akan bernasib seperti Lo Hong ya (Kaisar tua), yakni pergi ke Ngo Tay san untuk mencukur rambut menjadi pendeta, Tapi, apabila dia memang harus menjadi pendeta, biar bagaimana ketujuh istrinya ini tetap akan dibawa serta.
Melihat mimik wajah keenam perempuan yang pernah bersama-samanya di Li Cun Wan, dia tahu mereka tentu sedang mengenangkan kembali kejadian malam itu.
--Malam itu gelap sekali, aku sembarangan nemplok ke sana ke mari, Pada waktu itu aku sendiri tidak tahu siapa yang kebagian duluan dan siapa yang belakangan.
Di perut A Ko dan Su Cuan sudah ada benih dariku, jadi sudah dua orang yang ketahuan.
Rasanya masih ada satu lagi, tapi siapa kira-kira orangnya?
Ah, pelan-pelan aku bisa mencari tahu!
-pikirnya dalam hati.
Membayangkan hal itu, kembali dia tersenyum simpul.
"Seandainya kita tinggal di pulau ini untuk selamanya, rasanya kita juga tidak perlu takut kesepian Cuan cici, Kongcu, A Ko, dalam perut kalian sudah ada keturunanku, entah siapa lagi di antara kalian yang sedang hamil, katakan saja terus terang sekarang!"
Begitu mendengar ucapannya, wajah keempat perempuan yang lain langsung berubah merah.
"Aku tidak! Aku tidak!"
Seru Bhok Kiam Peng. Cin Ju melihat ekor mata Siau Po melirik kepadanya, maka dia langsung mendelik.
"Tidak!"
Katanya lantang.
"Song Ji, rasanya usaha kitalah yang berhasil,"
Ujar Siau Po. Song Ji segera menghambur untuk bersembunyi di sudut pondok itu.
"Tidak, tidak!"
Siau Po segera tersenyum kepada Pui Ie.
"Pui cici, bagaimana dengan engkau? Ketika kau datang ke Li Cun Wan tempo hari, perutmu kan diganjai bantal dan pura-pura jadi orang bunting? Jangan-jangan sebelumnya kau juga sudah punya firasat?"
Pui Ie tidak dapat menahan kegelian dalam hatinya sehingga dia tertawa terkekehkekeh.
"Thay-kam tidak tahu mampus, aku toh tidak pernah... begitu... denganmu, mana mungkin...."
"lya, betul Su Ci, Cin cici, adik Song Ji maupun aku tidak pernah menyembah langit bumi bersamamu mana mungkin punya anak? Kau memang jahat! Kapan kau menyembah langit dan bumi bersama cici Cuan, Kongcu serta cici A Ko? Mengapa kau tidak pernah mengatakan apa-apa? Kau juga tidak mengundang kami menikmati arak kebahagiaanmu?"
Tukas Bhok Kiam Peng.
Gadis yang satu ini masih polos sekali Dalam pikirannya, hanya laki-Iaki dan perempuan yang sudah menyembah langit dan bumi yang ada kemungkinan punya anak.
Mendengar kata-katanya yang lugu, yang lainnya tertawa semakin geli Sembari tersenyum Pui Ie merangkul pinggang gadis itu.
"Sumoay, kalau begitu malam ini kau boleh menyembah langit dan bumi dengannya agar kalian bisa menjadi suami istri,"
Katanya.
"Mana bisa? Di sini kan tidak ada jembatan bunga? Aku sering melihat pengantin wanita, mereka mengenakan tudung kepala berwarna merah dan dihiasi berbagai perhiasan, mereka juga mengenakan pakaian berwarna merah yang lebar dan besar, Di sini toh tidak ada persediaan apa-apa,"
Sahut Kiam Peng.
Su Cuan tertawa.
Tidak menggunakan berbagai peradatan begitu juga tidak apa-apa, Kita petik saja beberapa kuntum bunga lalu kita rangkai menjadi mahkota untuk dipasang di atas kepalamu, Kan sama saja?"
Siau Po melihat ketujuh perempuan itu saling berolok-olok dalam suasana rukun, namun hatinya sendiri masih gundah.
--Siapa yang satu lagi?
--pikirnya terus berputar -Mungkinkah A Ki?
Aku ingat pernah memondongnya ke sana ke mari, tapi rasanya kemudian aku meletakkannya di atas kursi, aku tidak memondong-nya ke atas ranjang, Tapi malam itu, perempuan yang ada di sana memang sudah kelewat banyak, bisa jadi aku sendiri kelupaan saking keblingernya serta memondong A Ki ke tempat tidur juga.
Kalau dia benar-benar mengandung anakku, bocah itu kemudian hari terpaksa menjadi Pangeran semuanya Beres di Mongolia....
Ah!
Mungkinkah si Moler tua?
Celaka!
Kalau benar-benar dia, berarti calon anakku juga sudah terbunuh di tangan Kui Heng Su sekalian!
-Terdengar Bhok Kiam Peng berkata.
"Biarpun kita bisa menyembah langit dan bumi di sini, toh seharusnya Pui cici yang terlebih dahulu melakukannya."
"Tidak, kau kan seorang Siau Kuncu, tentu saja kau yang harus melakukannya terlebih dahulu,"
Sahut Pui Ie.
"Kita kan dari pihak negara yang dikalahkan, untuk apa menyebut-nyebut panggilan Kuncu lagi?"
Kata Kiam Peng. Pui Ie tertawa.
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 3
Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Gan Kh