Eps 22 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Kalau begitu, biar adik Song Ji yang menyembah langit bumi terlebih dahulu dengannya jarak waktu yang kau habiskan bersamanya kan paling lama? Kalian sudah sering merasakan susah dan senang bersama-sama. Kau juga sudah sering mengorbankan diri demi kepentingannya, tentu saja kedudukanmu mempunyai tempat yang istimewa dalam hatinya,"
Katanya kemudian. Wajah Song Ji semakin merah padam.
"Coba katakan lagi! Aku akan pergi sekarang juga!"
Sahutnya pura-pura mengancam. Song Ji sengaja melangkah ke pintu, tapi baru beberapa langkah sudah ditarik dan dipeluk oleh Pui Ie. Su Cuan tertawa kepada Siau Po.
"Siau Po, kau sendirilah yang seharusnya mengambil keputusan,"
Katanya.
"Urusan bersembahyang kepada Langit dan Bumi, nanti saja kita bicarakan lagi, Besok kita harus memakamkan jenasah guruku terlebih dahulu,"
Sahut pemuda itu.
Mendengar ucapannya, perempuan-perempuan itu langsung tertegun, Kalau menilik sikap Siau Po selama ini, siapa pun tidak ada yang mengira kalau dia begitu menghormati gurunya sehingga bisa mengeluarkan kata-kata tadi.
Tapi siapa nyana ucapan yang keluar dari mulutnya kemudian toh menunjukkan watak aslinya.
"Kalian semua merupakan istriku, Tidak ada sebutan yang tua atau yang muda, Kelak, setiap malam kalian harus main lempar dadu, siapa yang menang, dialah yang akan menemaniku malam itu."
Sembari berkata dia mengeluarkan dua butir dadu dari saku bajunya, Ditiupnya dadu itu satu kali lalu dengan gerakan manis dilemparkannya ke atas meja. Kian Leng kongcu mencibirkan bibirnya.
"Memang kau kecakepan? Siapa kalah dialah yang akan menemanimu,"
Katanya. Siau Po tertawa.
"Betul, betul. Seperti main kepalan tangan, siapa yang kalah harus minum secawan arak. Nah, sekarang siapa yang bersedia mulai duluan?"
Suasana di atas pulau malam itu pun jadi romantis sekali.
Suara tawa dan canda terus bergema, Siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam permainan dadu, rasanya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut pokoknya sejak hari itu, acara melempar dadu menjadi kebiasaan rutin dalam kehidupan keluarga Wi.
Sejak dulu Siau Po sendiri memang senang bermain dadu, tentu saja dengan taruhan uang, semakin besar semakin menyenangkan baginya, Namun sekarang dirinyalah yang menjadi benda taruhan, Mula-mula memang terasa menggemaskan tapi lama kelamaan dia menjadi jenuh juga.
Biar bagaimana tenaganya sebagai seorang pemuda toh terbatas, untung saja istrinya yang berjumlah tujuh orang itu kebanyakan berpengertian.
Keesokan harinya, sampai siang mereka baru terjaga, Begitu bangun, Siau Po memerintahkan ke-tujuh istrinya untuk membantunya memakamkan jenasah Tan Kin Lam.
Melihat tanah merah sedikit demi sedikit mulai menimbuni tubuh gurunya, Siau Po tidak dapat menahan kesedihan hatinya lagi, dia menangis tersedu-sedu.
Perempuanperempuan yang lain juga segera menjatuhkan diri berlutut sebagai penghormatan mereka yang terakhir.
Sebetulnya hati Kongcu agak kurang rela.
Dalam bayangannya dia toh seorang Tuan Puteri dari Kerajaan yang besar, mengapa dia harus berlutut di hadapan makam seorang pengkhianat negara?
Namun dia juga sadar, walaupun derajatnya yang terlihat sangat mulia, tapi kemungkinan dalam hati Siau Po sendiri kedudukannya paling rendah.
Bayangkan saja, kesetiaannya tidak dapat menandingi Song Ji, kecantikannya tidak bisa melebihi A Ko, ilmu silatnya tidak bisa menandingi Su Cuan, kecerdasannya tidak melebihi Pui Ie, kelembutannya tidak bisa menandingi Cin Ju, keluguan dan kelincahannya tidak dapat menyamai Bhok Kiam Peng.
Kelebihannya sendiri justru mulutnya yang judes dan hatinya yang egois, Kalau sekarang dia tidak turut memberikan penyem-bahan penghormatan terhadap jenasah Tan Kin Lam, kemungkinan Siau Po akan memusuhinya secara terang-terangan.
Malah ada kemungkinan dia berbuat curang dengan dadunya sehingga setiap malam kalau main lempar dadu, dialah yang akan mendapat kemenangan terus-menerus.
Itulah sebabnya si Tuan Puteri terpaksa berlutut, namun dalam hatinya dia berkata.
--Pemberontak, oh Pemberontak, aku adalah seorang Tuan puteri yang kedudukannya mulia sekali sebetulnya tidak baik aku menyembahyangimu, sebab kemungkinan arwahmu di alam baka tidak bisa memperoleh kedamaian, bahkan semakin sial!
-Selesai memberikan penghormatan terakhir, beramai-ramai mereka bangkit Tiba-tiba terdengar seruan Pui Ie.
"Aduh! Kemana kapal kita? Kemana kapal kita?"
Mendengar teriakannya yang penuh kepanikan, yang lainnya segera mengalihkan pandangannya ke arah lautan.
Tampak tempat kapal mereka berlabuh sudah kosong melompong, kapalnya sendiri sudah hilang tak berbekas, Semuanya menjadi terkesiap melihat kenyataan ini.
Mereka segera mempertajam pandangannya, di kejauhan terlihat langit biru terbentang luas, juga tampak puluhan ekor camar terbang ke sana ke mari.
Su Cuan segera berlari ke atas bukit dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling pulau tersebut Di sebelah manapun tidak terlihat bayangan kapal itu, Pui Ie segera menghambur ke arah goa tempat mereka menyimpan berbagai keperluan kapal, Namun rasa terkejutnya semakin menjadi-jadi karena semuanya juga hilang tidak berbekas.
Semuanya berkumpul menjadi satu.
Untuk beberapa saat mereka hanya dapat saling memandang, Tadi malam mereka terus bersenda gurau sampai larut sekali, siapa pun tidak ada yang terpikir untuk saling aplus menjaga.
Tentu tukang perahu yang mencuri semua peralatan lalu menggunakan kapal itu untuk melarikan diri.
Dengan demikian, mereka terpaksa tinggal terus di pulau itu, entah kapan lagi ada kesempatan untuk pergi dari sana, Siau Po membayangkan Sie Long ataupun The Kek Song yang akan membawa pasukan mereka untuk membalas dendam.
Apabila hal itu sampai terjadi, bagaimana mereka sanggup mempertahankan diri dari serangan musuh?
seandainya Su Cuan, A Ko dan Kongcu melahirkan bayi prematur, toh jumlah mereka juga tidak lebih dari sebelas orang!
Su Cuan yang usianya paling tua dan paling banyak pengalaman segera menghibur yang lainnya.
"Nasi toh sudah jadi bubur, panik juga tidak ada gunanya, Perlahan-lahan kita cari jalan keluarnya nanti."
Mereka kembali ke dalam pondok, seperti sudah berjanjian sebelumnya, mereka beramai-ramai menyumpahi si tukang perahu, Tapi biar memaki sampai mulut berbusa sekalipun, tetap saja tidak ada keajaiban yang muncul, akhirnya mereka menjadi capek sendiri "Sekarang yang harus kita utamakan adalah ber-siap-siap menghadapi datangnya serangan para tentara,"
Kata Su Cuan kepada Siau Po.
"Bagaimana pendapatmu?"
"Kalau para tentara kembali melakukan penyerangan jumlahnya kali ini pasti jauh lebih besar, Kalaupun mengadu kekerasan, kita pasti kalah, jalan satu-satunya hanya mencari tempat untuk bersembunyi kita hanya dapat berharap mereka tidak segera menemukan kita. Dengan demikian mereka bisa menduga kalau kita sudah meninggalkan tempat ini dengan menggunakan kapal,"
Sahut Siau Po. Su Cuan menganggukkan kepalanya.
"Apa yang kau katakan memang benar, Para tentara pasti tidak menduga kalau kapal kita sudah dicuri orang."
Hati Siau Po menjadi lega seketika.
"Kalau aku menjadi Sie Long, tentu aku tidak akan kembali lagi ke pulau ini. Dia tentu mempunyai pikiran bahwa selesai pertarungan tempo hari, kita pasti sudah mengangkat kaki meninggalkan tempat ini jauh-jauh, tidak mungkin kita tetap berdiam di sini menunggu datangnya para tentara untuk menangkap kita,"
Katanya.
"Tapi bila dia melapor kepada Hongte koko, beliau pasti akan mengutus orang untuk melihat-lihat tempat ini, Biarpun kita sudah pergi, siapa tahu ada jejak yang kita tinggalkan sehingga mereka dapat menelusuri ke mana tujuan kita,"
Ujar Kian Leng kongcu. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Sie Long tidak akan menyampaikan laporan kepada Sri Baginda,"
Katanya yakin. Mata Kian Leng kongcu langsung mendelik.
"Kenapa?"
"Kalau dia menyampaikan laporan, tentu Sri Baginda akan menanyakan mengapa dia tidak meringkus kita? Kalau sampai hal ini terjadi, dia terpaksa mengaku bahwa dia telah dikalahkan oleh kita. Apa bukan cari penyakit sendiri namanya,"
Kata Siau Po. Su Cuan tertawa.
"Tepat sekali. Kemampuan Siau Po menjadi pejabat pemerintahan memang tidak perlu diragukan lagi, Ada saja akalnya untuk mengelabui atasan, sudah bukan rahasia lagi."
Siau Po juga ikut tertawa.
"Kalau Cuan cici mau menjadi pejabat pemerintahan aku yakin dalam waktu yang singkat bisa menduduki jabatan yang tinggi dan kaya mendadak."
Su Cuan tersenyum simpul, dan dalam hati dia berpikir, --Kelakuan para pengikut Sin Liong kau juga banyak macamnya, toh kenyataannya tidak jauh berbeda dengan politik pemerintahan "Kalau Sie Long memberikan laporan, kemungkinan Sri Baginda akan memakinya sebagai manusia yang tidak berguna, itu sih tidak apa-apa.
Coba bayangkan kalau Sri Baginda mengutusnya kembali dengan membawa pasukan besar dan kali ini harus berhasil meringkus kita.
sedangkan dalam pikiran Sie Long kita tidak mungkin masih berdiam di pulau ini, Bukankah dia akan melakukan perjalanan yang sia-sia?
Bukankah penyakit yang dicarinya semakin bertambah?
Kan lebih baik dia diam-diam saja dan menikmati rejeki yang diperolehnya,"
Kata Siau Po pula. Para perempuan yang mendengarkan uraiannya sadar bahwa apa yang dikatakannya memang beralasan Oleh karena itu keresahan dalam hati mereka pun sirna seketika.
"Bagaimana dengan bocah The Kek Song?"
Tanya Kian Leng kongcu tiba-tiba.
"Mungkin dia masih merasa sakit hati terhadap perlakuanmu tempo hari."
Sembari berbicara matanya melirik kepada A Ko.
Yang lainnya tentu tahu makna yang dalam dari kata-katanya, Dia pasti bermaksud The Kek Song mana mungkin bersedia menyerahkan A Ko yang cantik begitu saja?
Kemungkinan besar dia akan membawa sejumlah pasukan untuk merebutnya kembali."
Wajah A Ko menjadi merah padam, Kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Ka... lau dia datang lagi, a... ku akan bunuh diri. pokoknya aku tidak akan ikut dengannya,"
Kata-katanya tegas sekali.
Hati Siau Po gembira sekali Dia ingat selama ini A Ko yang paling membencinya, Malah dia harus menggunakan berbagai macam akal busuk baru berhasil mendapatkan perempuan yang satu ini.
Sekarang, mendengar sumpahnya yang berat, hati Siau Po langsung berbungabunga, malah jauh lebih gembira sekalipun sekarang dia bisa menemukan sepuluh buah kapal Tanpa malu-malu dia segera memeluk perempuan itu dan mencium pipinya berkali-kali.
"0h... A Ko ku sayang, dia pasti tidak berani datang lagi, Dia toh punya hutang sebanyak tiga ratus dua puluh laksa tail, masa nyalinya begitu besar sehingga berani menemui bossnya?"
"Aduh, genitnya!"
Ejek Kian Leng kongcu.
"Dia pasti akan datang lagi dengan membawa pasukan besar Pada saat itu dia akan mengambil kembali tanda hutangnya, Dia juga akan merebut A Ko darimu, lalu akan menjual ayahmu, ibumu, nenekmu, kakekmu kepadamu, yang jumlah seluruhnya tujuh juta laksa tail dan meminta engkau melunasinya saat itu juga."
Semakin didengar, kepala Siau Po semakin pusing, Mending kalau urusan ini bisa diselesaikannya, Tapi dia tahu Kek Song memang licik, kalau benar apa yang dikatakan si Tuan Puteri dan dia memang bisa menyediakan orangnya, bagi Siau Po masih tidak apa-apa.
Tapi sejak lahir dia sendiri tidak tahu siapa ayahnya, mana mungkin dia bisa tahu siapa nenek dalamnya?
seandainya Kek Song bersikeras, tanpa menyerahkan orangnya maka harganya menjadi sepuluh kali lipat, bukankah masalahnya bisa semakin runyam?
Hatinya langsung berubah kesal.
"Jangan bicara lagi!"
Teriaknya.
"Kalau si budak Kek Song berani kembali lagi ke mari, untuk pertama-tama aku tidak akan menjual siapa pun kecuali satu orang yang nilainya pating tinggi, yakni adik kandung kaisar sekarang, Aku juga menghadiahkan seorang bayi dalam perutnya, harganya sepuluh juta laksa tail, Dihitung-hitung dia masih harus mengembalikan tiga ratus ribu laksa tail kepadaku, Jual beli ini masih menguntungkan pihakku!"
Kian Leng kongcu langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan nangis berkoakkoak, kemudian menutup mukanya dan lari ke dalam pondok.
Bhok Kiam Peng segera menyusul perempuan itu untuk menghiburnya.
Dia mengatakan bahwa Siau Po tidak mempunyai niat seperti itu, dia hanya menakut-nakuti saja, Tuan puteri tidak perlu bersedih karena persoalan kecil ini.
Setelah melampiaskan kekesalan hatinya, Siau Po sendiri jadi uring-uringan, dia tidak bisa mengemukakan pendapat apa-apa lagi.
Yang lainnya terpaksa menanyakan saran Su Cuan, Mereka segera berpencar mencari tempat untuk bersembunyi Akhirnya mereka menemukan sebuah goa besar di tengah-tengah hutan.
Mereka segera membersihkannya untuk dijadikan tempat tinggal, Pondok yang ada dibiarkan begitu saja.
Mereka berharap dapat mengelabui Sie Long seandainya orang itu kembali lagi.
Melihat keadaan pulau yang sunyi senyap, Sie Long pasti beranggapan mereka sudah pergi.
Mula-mula mereka masih berdebar-debar, khawatir pasukan tentara benar-benar akan mendatangi tempat itu, Siang malam mereka naik ke atas bukit untuk melihat lautan di sekitar pulau tersebut.
Namun setelah beberapa bulan, jangan kata tentara kerajaan atau pasukan dari Taiwan, bahkan perahu serta kapal nelayan pun tidak pernah terlihat.
Lambat laun hati mereka menjadi tenang, Mereka beranggapan Sie Long benar-benar tidak berani mencari penyakit sedangkan perahu kecil yang ditumpangi Kek Song kemungkinan tidak dapat bertahan lama dan akhirnya tenggelam di tengah lautan.
Kedelapan orang itu hidup di tengah pulau dengan menangkap ikan, berburu, membidik burung atau pun memetik buah-buahan.
Setiap hari mereka mengatur tugas secara bergantian Kehidupan mereka pun cukup tenang, tidak ada keributan lagi seperti sebelumnya.
Untung binatang liar di pulau itu cukup banyak, sedangkan ikan-ikan di pinggiran pantai juga mudah didapat Apalagi mereka rata-rata berilmu lumayan sehingga selama ini tidak pernah mengalami kesulitan untuk menyambung hidup.
Musim gugur telah berlalu diganti dengan musim salju, Udara semakin hari semakin dingin.
Perut Kongcu, A Ko, dan Su Cuan pun semakin hari semakin membesar.
Pui Ie dan Song Ji sibuk mengumpulkan kulit binatang serta membuat pakaian untuk mereka berdelapan, Pakaian untuk ketiga bayi juga sudah dibuat sehelai demi sehelai.
Setengah bulan kembali berlalu, Tiba-tiba salju turun dengan deras, Dalam waktu satu hari satu malam saja, seluruh permukaan pulau itu sudah berubah warna menjadi putih bersih karena tertutup timbunan salju.
Kedelapan orang itu sudah mengadakan persiapan sejak jauh hari, Daging kering serta manisan atau asinan buah disimpan sebagai penangsal perut jumlahnya jauh melebihi cukup untuk menjalani hidup menghadapi musim dingin.
Tidak ada pekerjaan yang dapat mereka lakukan, kecuali menyalakan api unggun dan mengobrol ngalor ngidul, Tentu saja topik pembicaraan mereka tidak bergeser dari ketiga bayi yang tidak lama lagi akan terlahir ke dunia.
Malam itu tidak turun salju lagi, tapi angin tetap bertiup dengan kencang.
Hembusan angin yang dingin tidak henti-hentinya menerpa masuk melalui mulut goa.
Song Ji terus menambahkan kayu kering di atas api unggun agar udara dingin tidak terlalu menusuk.
Siau Po sendiri segera mengeluarkan biji dadunya agar para perempuan itu dapat bertaruh.
Lima perempuan sudah mendapat bagian untuk melemparkan dadu.
Bhok Kiam Peng mendapat nilai terkecil yakni tiga titik, Tampaknya malam ini dia sudah pasti kalah.
Cin Ju tertawa.
"Adik Kiam Penglah yang kalah, aku tidak perlu melempar dadu lagi,"
Katanya. Bhok Kiam Peng juga ikut tertawa.
"Tidak bisa! Cepat lempar dadu itu! Siapa tahu kau mendapat nilai dua titik."
Dengan apa boleh buat Cin Ju mengambil dadu-dadu itu dari atas meja kain yang hanya dialaskan di atas lantai, Ditiupnya dadu itu satu kali mengikuti gaya Siau Po.
Baru saja dia hendak melemparkannya, angin dingin menghembus dari luar Sayup-sayup terdengar suara panggilan seseorang.
Wajah mereka langsung berubah hebat Padahal tadinya Su Cuan sudah tertidur, dia pun ikut terduduk seketika.
Kedelapan orang itu saling memandang.
Untuk sesaat muka mereka menjadi pucat pasi.
Kiam Peng menghembuskan nafas panjang lalu menyusup ke dalam pelukan Pui Ie.
Tidak lama kemudian, angin bertiup lagi, kali ini lebih kencang dari yang sebelumnya, otomatis suara orang yang terpantul pun lebih jelas.
"Siau Kui cu, Siau Kui cu, di mana engkau? Siau Hian cu sudah rindu sekali kepadamu!"
Demikianlah kata-kata yang menyusup ke dalam gendang telinga mereka. Siau Po langsung mencelat bangun, dan dengan suara gemetar dia berkata.
"Siau... Hian... cu datang mencari aku!"
"Siapa Siau Hian cu itu?"
Tanya Kian Leng kongcu.
"Dia... dia...." . Nama Siau Hian cu hanya dia sendiri yang tahu, yakni sebutan bagi Kaisar Kong Hi. Dia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun, Dan dia yakin Kaisar Kong Hi sendiri terlebih tidak mungkin menceritakannya kepada siapa pun, namun tiba-tiba ada orang yang menyebutkan nama itu. Dan suaranya demikian lantang! Seluruh tubuhnya gemetar, dia merasa urusan ini benar-benar aneh, Jangan-jangan Kaisar Kong Hi sudah wafat dan sekarang arwah kaisar itu mendatanginya. Untuk sesaat, tanpa terasa air matanya mengalir dengan deras, ia segera menghambur ke luar dari dalam goa. Bagian 86
"Siau Hian cu, Siau Hian cu!"
Teriaknya.
"Siau Kui cu ada di sini!"
Terdengar suara tadi kembali bergema.
"Siau Kui cu, Siau Kui cu! Di mana engkau? Siau Hian cu sudah rindu sekali kepadamu!"
Suara itu bergema lantang bahkan sampai mendengung-dengung, seolah-olah bukan terucap dari mulut satu orang saja, tapi ada ratusan orang yang menyerukannya, Namun, bila kata-kata itu benar diucapkan oleh ratusan orang, tentu susunan kalimatnya tidak bisa serapi itu, sedangkan bila dikatakan hanya seorang yang mengucapkannya, walaupun ilmu tenaga dalam orang itu sudah mencapai taraf setinggi apa pun, rasanya masih tidak sanggup melakukannya.
Karena itu, dugaan Siau Po semakin kuat.
Pasti arwah Kong Hi-lah yang datang mencarinya.
Hati Siau Po sedih sekali Air matanya menetes semakin deras, Dia membayangkan bahwa Kaisar Kong Hi masih mempunyai solidaritas yang demikian tinggi walaupun sudah meninggal Buktinya arwah pemuda itu mencarinya sampai sedemikian jauh.
Biasanya, Siau Po paling takut setan, Tapi kali ini, biar bagaimana pun dia ingin menemui arwah Kong Hi, dia tidak ingin mengecewakan sahabatnya, itulah sebabnya dia mempercepat langkah kakinya dan lari seperti kesurupan hantu pulau itu, Arahnya menuju datangnya suara panggilan tadi.
"Siau Hian cu, jangan pergi! Siau Kui cu ada di sini!"
Teriaknya tanpa menggunakan otak jernih lagi.
Salju memenuhi seluruh tempat itu, licinnya jangan ditanyakan lagi, namun Siau Po tidak memperdulikannya, Meskipun sempat tergelincir beberapa kali, tapi dia tetap bangun lalu berlari kembali Setelah mengitari bukit yang penuh dengan salju, dia melihat di pesisir pantai sudah diterangi api obor Ratusan orang berdiri berbaris ke arah horisontal penerangan yang dilihatnya terpantul dengan obor-obor yang ada dalam genggaman orang-orang itu.
Siau Po terkejut setengah mati.
"Aduh mak!"
Teriaknya sambil membalikkan tubuh untuk mengambil langkah seribu. Dari barisan orang banyak itu muncul seseorang.
"Wi Tou tong, akhirnya kami berhasil menemukanmu juga!"
Serunya.
Siau Po baru berhasil berlari dua langkah, namun dia segera tersadar jejaknya sudah ketahuan pihak yang jumlahnya begitu besar Biar dia bersembunyi di mana pun, dalam waktu singkat pasti akan ditemukan juga, Dia merasa suara orang itu tidak asing di telinganya, maka dia segera menghentikan langkah kakinya dan mengeraskan hati, Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya.
"Wi Tou tong, kami semua sudah rindu sekali kepadamu. Terima kasih kepada Langit dan Bumi, akhirnya kami berhasil menemukanmu!"
Suara orang itu memang mengandung nada kegembiraan yang tulus.
Tangan orang itu juga membawa sebatang obor, yang cahayanya bergerak-gerak karena hembusan angin, Orang itu segera melangkahkan kakinya menghampiri Siau Po.
setelah agak dekat, Siau Po segera mengenalinya, ternyata dia adalah Ong Cin Po.
Dapat bertemu dengan kawan lama tentunya hati Siau Po senang juga, Dia ingat tempo hari di luar perbatasan kota Pe King, orang ini juga pernah menemukannya malah pada saat itu Ong Cin Po tidak memperdulikan nasibnya sendiri dengan berani menutupi kejadian yang sebenarnya.
Dia tidak mengatakan kepada yang lainnya bahwa orang yang dilihatnya adalah Siau Po.
Dengan sikapnya itu saja Siau Po dapat menilainya sebagai seorang yang setia kawan.
Meskipun sekarang dia yang memimpin pasukan besar tentara datang mencarinya di pulau ini, tapi keadaan ini masih lumayan dibanding kalau yang datang orang lain.
Biar bagaimana setianya orang ini terhadap Kong Hi, tentunya masih ada cara untuk diajak berunding, Karena itu dia segera tersenyum dan berkata.
"Ong sam ko, akalmu benar-benar jitu sehingga bisa memancing aku ke luar dari tempat persembunyian!"
Ong Cin Po melemparkan obor di tangannya ke permukaan tanah lalu membungkukkan tubuhnya dengan hormat.
"Hamba tidak berani berdusta, terus terang saja hamba juga tidak tahu kalau Wi Tou tong ada di pulau ini,"
Sahutnya. Siau Po tersenyum.
"Pasti Hong Siang yang memberikan saran untuk menjalankan akal bagus ini, bukan?"
"Tempo hari Hong Siang mendapat laporan bahwa Tou tong sudah menyepi ke luar lautan, karena itu beliau mengutus aku mengiringi tiga kapal untuk mencari di setiap pulau kecil yang ada di sekitar sini. Pokoknya, begitu sampai di atas setiap pulau, hamba harus menyerukan kata-kata seperti yang diajarkan oleh Hong Siang,"
Sahut Ong Cin Po.
Pada saat itu, Song Ji dan Su Cuan juga sudah sampai di tempat itu, Mereka segera berdiri mendampingi Siau Po.
Tidak lama kemudian yang lainnya juga menyusul tiba.
Siau Po menoleh kepada Kian Leng kongcu.
"Hong te kokomu benar-benar hebat, akhirnya kita berhasil ditemukan juga,"
Katanya. Ong Cin Po segera mengenali Kian Leng kongcu. Cepat-cepat dia membungkukkan tubuhnya memberikan penghormatan.
"Apakah Hong Siang mengutusmu datang ke mari untuk meringkus kami kembali ke Pe King?"
Tanya sang Tuan Puteri.
"Bukan, bukan,"
Sahut Ong Cin Po.
"Hong Siang mengutus hamba ke pulau-pulau di sekitar sini untuk mencari Wi tou tong. Beliau sama sekali tidak tahu kalau Kongcu juga ada di sini."
Kian Leng kongcu menundukkan kepalanya melihat perutnya sendiri yang sudah membesar wajahnya langsung berubah merah. Ong Cin Po berkata pula kepada Siau Po.
"Hamba sudah empat bulan lebih mengarungi lautan Kami sudah menjelajahi delapan puluhan pulau, akhirnya malam ini kami berhasil menemukan Wi Tou tong juga, sungguh suatu hal yang menggembirakan!"
Siau Po tersenyum.
"Aku adalah orang yang berdosa besar bagi negara. Sudah lama aku tidak menjadi atasanmu lagi, maka ucapan seperti Tou tong maupun sebutan hamba sebaiknya tidak perlu digunakan lagi."
"Apa yang terkandung dalam hati Hong Siang akan Tou tong ketahui setelah firmannya dibacakan,"
Kata Ong Cin Po sembari membalikkan tubuh dan menggapaikan tangannya ke arah orang banyak.
"Bun kong kong, harap kau kemari sebentar!"
Dari barisan, orang banyak muncul seseorang yang mengenakan seragam para thaykam, Rupanya juga kenalan lama Siau Po, thay-kam yang bertugas di perpustakaan Bun Yu Hong.
Dia berjalan ke arah Siau Po dan yang lainnya sembari berseru.
"Ada firman dari Sri Baginda!"
Bun Yu Hong adalah teman berjudi Siau Po ketika mula-mula dia masuk ke dalam istana, orangnya kurang culas dan dalam permainan judi disebut sebagai "Babi potong"
Entah sudah berapa banyak hutangnya kepada Siau Po.
Setelah berkali-kali mendapat kenaikan pangkat, Siau Po masih sering menghadiahkan uang.
Setiap kali bertemu dengan Bun Yu Hong ini, justru hutangnya tidak pernah diungkit-ungkit.
Mendengar ucapan "Ada firman dari Sri Baginda", Siau Po segera menjatuhkan diri berlutut.
"lni merupakan firman rahasia, orang lainnya harap menyingkir"
Kata Bun Yu Hong kembali.
Mendengar kata-kata itu, Ong Cin Po segera menyingkir sedangkan Su Cuan yang banyak pengalaman juga ikut menyingkir sejauh-jauhnya, Yang lain tentu saja mengikuti, hanya Kian Leng kongcu seorang yang memprotes.
"ltu kan firman dari Hong te koko, masa aku juga tidak boleh mendengarkan?"
"Sri Baginda sudah mengatakan bahwa ini merupakan firman rahasia, hanya Wi Siau Po seorang yang boleh mendengarkan Apabila ada sepatah kata saja yang bocor, seluruh keluarga hamba akan menjadi tumbalnya,"
Sahut Bun Yu Hong, Kian Leng kongcu mendengus kesal.
"Hebat sekali! Kalau begitu biar seluruh keluargamu jadi tumbalnya saja!"
Meskipun bibirnya berkata demikian, namun dia sadar, kalau dia tidak menyingkir sampai kapan pun firman itu tidak akan dibacakan.
Oleh karenanya dengan hati mendongkol terpaksa dia menyingkir juga.
Bun Yu Hong mengeluarkan dua buah amplop kuning yang tertutup rapat dari balik saku bajunya.
"Hamba menerima firman Sri Baginda!"
Kata Siau Po lantang.
"Hong Siang bersabda bahwa kali ini kau boleh menerima firman dengan berdiri saja, Kau juga tidak perlu menyebut dirimu "
Hamba", juga tidak boleh menyembah,"
Kata Bun Yu Hong pula. Siau Po merasa heran.
"Kok ada aturan semacam itu?"
"lnilah perintah dari Hong Siang, aku hanya menyampaikannya. Tentang ada tidaknya aturan seperti itu, kelak bila bertemu dengan Hong Siang kau boleh menanyakannya langsung,"
Sahut Bun Yu Hong pula. Dengan perasaan apa boleh buat, Siau Po berkata.
"Baiklah, terima kasih atas budi besar Hong Siang!"
Kemudian ia berdiri. Bun Yu Hong menyerahkan sebuah amplop kepadanya. "Bukalah dan lihat apa isinya!"
Ujar Bun Yu Hong, Siau Po mengulurkan tangannya dan menyambut amplop tersebut Dikoyaknya lalu dikeluarkannya sehelai kertas kuning pula dari dalamnya, Bun Yu Hong mengangkat lentera di tangannya untuk menyinari kertas kuning itu.
Siau Po melihat ada enam gambaran yang tertera di atas kertas itu, Gambar pertama melukiskan dua bocah cilik yang sedang bergumul di atas tanah, Persis apa yang pernah mereka lakukan di masa kecil dulu.
Gambar kedua melukiskan sekumpulan bocah cilik yang sedang meringkus Go Pay.
Go Pay sedang berusaha menyerang Kong Hi dan ada seorang bocah lainnya yang menggenggam pisau dan menikam tubuh Go Pay.
Tentu saja Siau Po tahu bocah yang memegang pisau itu mengibaratkan dirinya.
Gambar ketiga melukiskan seorang hwesio cilik yang sedang membopong seorang hwesio tua.
Di belakang mereka terdapat tujuh delapan orang lhama yang mengejar sambil mengacung-acungkan golok ke atas.
Siau Po tahu Kong Hi ingin mengibaratkan keadaan ketika dirinya menolong Kaisar tua meninggalkan Ceng Liang Si di Ngo Tay san.
Gambar keempat melukiskan Pendekar wanita berbaju putih yang melayang dari atas melakukan penyerangan terhadap Kong Hi, sedangkan Siau Po menghalangi di depannya untuk menerima serangan itu.
Gambar ke lima melukiskan diri Siau Po yang menekan tubuh permaisuri palsu dengan kakinya, sedangkan tangannya membimbing permaisuri asli ke luar dari bawah tempat tidur.
Gambar keenam melukiskan Siau Po bersama seorang gadis Lo Sat, seorang pangeran Mongolia, serta seorang lhama tua.
Mereka bersama-sama sedang menarik kuncir seorang Panglima.
Melihat seragamnya, panglima itu tentu Peng Si Ong, Tentu Kong Hi juga bermaksud menggambarkan keadaan ketika mereka bertiga menjatuhkan kedudukan Peng Si 0ng.
Kong Hi masih muda, tapi otaknya cerdas sekali, Jiwa seninya juga kuat.
Gambarannya sangat menyentuh sayangnya dia belum pernah bertemu dengan Puteri Sofia, pangeran Kaerltan, Shang Cie sehingga dia tidak tahu bagaimana bentuk wajah mereka.
Dia hanya menggambar dengan mengambil bentuk wajah sebagian besar orangorang dari negara tersebut Pokoknya masih bisa dikenali oleh Siau Po.
Pada keenam buah gambar itu tidak tertera kata-kata apa pun.
Tentu Siau Po sudah mengerti sendiri bahwa semua itu melukiskan jasa-jasa yang pernah didirikannya selama dia mengikuti kaisar Kong Hi.
Walaupun lukisannya yang nomor satu tidak dapat dikatakan sebagai salah satu jasa Siau Po, tapi raja muda itu ingin menunjukkan kesannya selama bersama-sama Siau Po berlatih gulat.
Untuk beberapa saat Siau Po memandangi gambar-gambar itu dengan termangumangu, tanpa terasa air matanya mengalir lagi.
Dalam hati dia berpikir.
-Tanpa memperdulikan capai lelah dia melukiskan gambar-gambar ini dengan demikian sempurna, Sudah pasti dia selalu mengingat jasa-jasa yang pernah kudirikan, Tampaknya dia tidak menyalahkan aku lagi Bun Yu Hong menunggunya beberapa saat, lalu berkata.
"Apakah kau sudah melihatnya dengan jelas?"
"Sudah,"
Sahut Siau Po. Bun Yu Hong mengoyak amplop yang kedua.
"Aku akan membacakan firman Sri Baginda,"
Katanya sambil mengeluarkan sehelai kertas kuning yang lain kemudian langsung membacakannya.
"Siau Kui cu, maknya! Kemana saja kau selama ini? Aku sudah rindu sekali kepadamu, Kau si Budak busuk benar-benar tidak berbudi. Apakah sudah melupakan locu?"
Tampak mulut Siau Po bergerak-gerak, rupanya tanpa sadar dia menggumam seorang diri.
"Tidak, benar-benar tidak."
Sejak jaman dahulu kala, entah sudah berapa banyak kaisar yang memerintah di negeri Cina, namun firman seorang kaisar yang menggunakan bahasa "Maknya"
Dan seorang kaisar yang menyebut dirinya sendiri "Locu" , mungkin Kong Hi lah yang menerobos era baru atau malah cuma satu-satunya firman raja yang menggunakan bahasa demikian.
Setelah berhenti sejenak, Bun Yu Hong melanjutkan membaca kembali.
"Kau benar-benar tidak menurut perintahku. Aku suruh kau bunuh gurumu, kau tidak mau. Malah Tuan puteri kau bawa kabur. Maknya! Dengan caramu itu, bukankah kau terima gratis menjadi iparku? Tapi jasamu besar sekali, Kau juga setia kepadaku, maka apa pun dosamu, aku sudah memaafkan nya. sebentar lagi aku akan kawin, apakah kau tidak mau meneguk arak kebahagiaanku? Kalau kau sampai tidak mau, aku benar-benar tidak senang, Biar aku nasehati, sebaiknya kau menyerah saja dan kembali ke Pe King, Aku sudah menyediakan sebuah gedung baru untukmu, pokoknya lebih besar dan lebih mewah dari punyamu dulu...."
Hati Siau Po tidak kepalang girangnya, tanpa mendengar kelanjutannya dia sudah berseru.
"Baik, baik, Aku akan segera kembali ke Pe King."
Bun Yu Hong membaca kembali "Kita bicara pahitnya dulu, mulai sekarang kalau kau masih membantah apa yang kukatakan, aku akan memenggal batok kepalamu, jangan kau beranggapan bahwa aku sengaja menipumu pulang ke Pe King untuk membunuhmu.
Sekarang gurumu yang bermarga Tan itu sudah mati, berarti kau tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan Thian Te hwee, Aku ingin agar kau membasmi mereka satu per satu, kemudian aku akan mengutusmu untuk menghajar Gouw Sam kui.
Kian Leng kongcu juga boleh menjadi istrimu.
Kelak kau bisa mencapai kedudukan yang tinggi sekali.
Soal harta tidak perlu khawatir lagi, berapa pun yang kau inginkan tidak jadi masalah.
Siau Hian cu adalah kawan baikmu, juga gurumu, Niau Seng Hi Tong, apa yang sudah diucapkannya kuda mati pun tidak sanggup mengejar.
Cepatcepatlah kau menggelinding pulang ke Pe King!"
Selesai membacakan firman kaisar, Bun Yu Hong bertanya.
"Apakah kau sudah mengerti keseluruhan nya ?"
"Iya, aku sudah paham,"
Sahut Siau Po.
Bun Yu Hong memasukkan firman kaisar itu ke dalam lenteranya, Setelah ujungnya terbakar, dia baru mengeluarkannya kembali dan menanti sampai semuanya hangus menjadi abu baru dibuang.
Siau Po melihat ke arah kertas kuning yang sudah mulai terbakar, hatinya masih terasa berat Baginya benda itu bukan hanya sebuah firman dari Raja, tapi sepucuk surat dari teman, Dia berjongkok dan tangannya memain-mainkan abu yang terbang tertiup angin.
Wajah Bun Yu Hong yang sebelumnya serius sekarang berubah tersenyum simpul, Dia langsung membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada Siau Po.
Sembari tertawa dia berkata.
"Wi Tayjin, kasih sayang Sri Baginda terhadapmu benar-benar tidak ada duanya, Mulai sekarang hamba menanti uluran tangan Tayjin."
Perlahan-lahan Siau Po menggelengkan kepalanya .
Dalam hati dia berpikir, -Dia ingin agar aku membasmi partai Thian Te hwee.
Hal ini benar-benar tidak pantas dilakukan terhadap teman, Kalau aku sampai melakukan hal ini, bukankah aku sama rendahnya dengan Gouw Sam Kui maupun Hong Ci Tiong?
Bukankah aku pantas disebut sebagai si Telur busuk dan Biangnya kura-kura?
Tampaknya semangkok nasi dari Siau Hian cu ini benar-benar tidak mudah dinikmati Kali ini dia mengampuni selembar jiwaku, tapi sebelumnya dia sudah menyatakan dengan tegas bahwa Iain kali dia tidak akan memberikan pengampunan lagi.
Tapi, kalau aku menolak pulang ke Pe King, entah apa yang akan dilakukannya terhadapku Oleh karena itu dia segera menanyakan hal itu kepada Bun Yu Hong.
Seandainya aku tidak bersedia pulang ke Pe King, apa yang akan kalian lakukan?
Apakah Hong Siang memerintahkan kalian untuk meringkus aku dan membunuh langsung di tempat?"
Wajah Bun Yu Hong menunjukkan mimik kebingungan.
"Wi Tayjin tidak bersedia menuruti firman kaisar? Mana.,, mana ada kejadian seperti itu? Bukankah itu berarti... aih! Suatu pemberontakan.,., Biasanya untuk menanyakan saja tidak ada yang berani,"
Katanya.
"Kau katakan saja terus terang, kalau aku tidak menurut pada firman kaisar, apa yang akan terjadi?"
Tanya Siau Po sekali Iagi. Bun Yu Hong menggelengkan kepalanya.
"Hong Siang hanya menyuruh hamba menyelesaikan dua macam urusan, Yang pertama adalah menyerahkan firman rahasia berisi gambaran, Setelah Tayjin selesai melihatnya, hamba harus membuka amplop firman yang kedua dan membacakannya di hadapan Tayjin. Mengenai apa isi kedua firman itu, hamba sama sekali tidak mengerti Tentu saja urusan lainnya hamba terlebih tidak mengerti lagi,"
Sahutnya. Siau Po menganggukkan kepalanya, lalu berjalan ke hadapan Ong Cin Po.
"Ong Sam ko, dalam firmannya, Sri Baginda meminta agar aku kembali ke Pe King, tapi kau... lihat sendiri, perut Tuan puteri sudah demikian besar, aku benar-benar tidak bisa pergi, seandainya aku tidak menurut pada firman Kaisar, apakah Sri Baginda ada menurunkan perintah tindakan apa yang harus kau ambil?"
Sembari bertanya, hatinya berpikir -Lebih baik kita dengar dulu harga yang ditawarkan pihak lawan, Kalau si Raja cilik menyuruh pasukannya untuk membunuh kami semua, terpaksa aku menyerah Tapi seandainya tidak, aku masih bisa mengadakan penawaran, -"Sri Baginda hanya menitahkan hamba untuk menelusuri setiap pulau agar dapat menemukan Tou tong, setelah berhasil ditemukan, Bun Kong konglah yang akan menyerahkan firman beliau, Urusan lainnya tentu saja hamba serahkan kepada Tou tong untuk memberikan titahnya,"
Sahut Ong Cin Po. Siau Po jadi kegirangan mendengar kata-katanya.
"Jadi Sri Baginda tidak menyuruhmu menangkap atau membunuhku?"
Tanyanya untuk menegaskan.
"Oh, tidak, tidak,"
Sahut Ong Cin Po cepat "Mana ada urusan seperti itu?
Sri Baginda sangat memberatkan Wi Tou tong, seandainya Wi Tou tong kembali ke kota raja, kalau tidak diangkat sebagai Penasehat beliau, setidaknya pasti jadi Panglima Perang."
"Ong Sam ko, baik aku terus terang saja terhadapmu sebetulnya Sri Baginda memang meminta aku kembali ke Kotaraja, Beliau memerintahkan agar aku membasmi seluruh perkumpulan Thian Te hwee. sedangkan aku adalah seorang Hioucu dari perkumpulan itu. Urusan mencelakakan teman semacam itu, biar bagaimana pun aku tidak akan melakukan nya."
Ong Cin Po adalah sejenis manusia yang memandang tinggi kesetiakawanan sosial.
Terhadap masalah Siau Po, dia pun sudah paham benar, Mendengar ucapan pemuda itu, tidak hentinya dia menganggukkan kepalanya, Dalam hati ia berpikir.
"Orang yang sanggup membunuh temannya atau mencelakai temannya sendiri, tidak kalah rendahnya dengan anjing atau pun babi! Terdengar Siau Po melanjutkan kata-katanya.
"Budi Sri Baginda seberat gunung, namun apa yang dititahkannya benar-benar sulit kulakukan Aku tidak berani menemui Sri Baginda, mungkin dalam kehidupan yang akan datang aku akan menjadi kerbau atau kuda untuk membalas budi beliau, Kalau kau bertemu dengan Sri Baginda nanti, harap kau sudi menyampaikan kesulitanku ini. Kenyataannya, kesetiaan hanya boleh di satu pihak. Dalam pertunjukan sandiwara saja sering kita saksikan tokohnya membunuh diri untuk membalas budi majikannya, Meskipun menggorok leher sendiri itu rasanya pasti sakit sekali, tapi apa boleh buat, lebih baik aku bunuh diri saja sebagai tanda baktiku terhadap negara." 0ng-Cin Po diam-diam membayangkan bila sekarang kedudukan Siau Po berganti dengan dirinya, ia pasti akan mengambil tindakan yang sama, yakni bunuh diri untuk membalas budi Rajanya, Lagipula tindakan ini juga tidak akan mencelakai teman sendiri Cepat-cepat dia menyahut.
"Tapi Wi Tou tong jangan sekali-sekali mempunyai pikiran demikian. Perlahan-Iahan saja kita cari akal, sekembalinya ke Kotaraja hamba akan menjelaskan dengan hati-hati kesulitan Tou tong ini. perlu Wi Tou tong ketahui, beberapa orang rekan kita yang sejalan di dulu hari telah banyak mendirikan jasa akhir-akhir ini. Kami semua akan kompak untuk tidak memperdulikan masa depan lagi dan biar bagaimana pun kami akan menyembah kepada Hong Siang untuk memohon pengertian beliau,"
Melihat sikap Ong Cin Po yang tampaknya panik sekali, diam-diam dalam hati dia merasa geli.
-Kalau mengharapkan Locu membunuh diri, sama saja memohon matahari terbit dari ufuk barat jangan kata menggorok leher, biar hanya memotong sebuah jari tangan saja juga belum tentu sanggup dilakukan.
Lagipula, kalau Siau Hian cu memang ingin membunuh aku, tentu aku sudah dibunuhnya, Kalau ia benar-benar mengampuni aku, itu malah kebetulan.
Kalau mengandalkan kalian beberapa orang menyembahnya untuk memohon pengertian nya, jangan mimpi.
Aku lebih mengenal Siau Hian cu dari siapa pun di antara kalian -Meskipun hatinya berkata demikian, namun melihat kesetiaan Ong Cin Po terhadapnya, sedikit banyaknya Siau Po terharu juga, Digenggamnya tangan orang itu erat-erat.
"Kalau begitu, aku terpaksa merepotkan Ong Sam ko untuk menyampaikan kesulitanku kepada Sri Baginda, Katakan saja bahwa aku Wi Siau Po merasa serba salah, maka satu-satunya jalan yang terpikir hanya bunuh diri. Untung ada kau Ong Sam ko yang menasehati sehingga tidak jadi mengambil jalan kematian,"
Katanya.
"Baik, baik,"
Sahut Ong Cin Po.
Namun dia khawatir juga, Bun Yu Hong ada di sampingnya, Semua kejadian hari itu disaksikan oleh thay-kam ini, Bagaimana dia harus berdusta kepada Sri Baginda, kalau ketahuan bukankah jadi runyam urusannya?
Tanpa sadar wajahnya menunjukkan mimik orang kebingungan.
Siau Po yang melihat tampangnya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ong Sam ko tidak perlu khawatir, aku hanya bergurau, Sri Baginda mempunyai otak yang cerdas sekali, tidak mungkin bisa dikelabui, Beliau juga tahu aku ini orangnya paling takut sakit, apalagi untuk bunuh diri, Ong Sam ko tidak perlu berbohong, laporkan saja semuanya sesuai kenyataan"
Mendengar kata-kata pemuda itu, hati Ong Cin Po lega seketika, Dalam hati Siau Po, saat itu juga terpikir olehnya.
--seandainya aku membohongi orang ini dan menggunakan kapalnya untuk melarikan diri sejauh-jauhnya, kemungkinan lima sampai sepuluh tahun lagi si Raja cilik baru bisa menemukan aku, Tapi dengan demikian, sekembalinya Ong Sam Ko ke Kotaraja, pasti dia yang akan disalahkan Entengnya mungkin hanya dia yang dipenggal kepalanya, namun beratnya itu, bisa jadi seluruh keluarganya dari ibu, ayah, kakek, nenek akan dihukum mati oleh si Raja cilik, Kalau benar begitu, aku sendirilah yang telah mencelakakannya, Tidak!
Tidak boleh tapi berhati busuk, jangan!
Toh masih ada kemungkinan Siau Hian cu tidak akan mengambil tindakan apa-apa meskipun aku tidak bersedia kembali ke Kotaraja.
Dengan membawa pemikiran seperti itu, dia segera berkata kepada Ong Cin Po.
"Urusan yang serius telah kita bicarakan Ong Sam Ko, mari! Di atas pulau ini adikmu ini sudah lama sekali tidak berjudi Benar-benar menyebalkan, sekarang toh ada kesempatan, sebaiknya kita bermain beberapa putaran."
Ong Cin Po gembira sekali, Kegemarannya berjudi tidak kalah dengan Siau Po.
Malah kalau tidak ada lawan, dia akan menggunakan tangan kirinya untuk bertaruh dengan tangan kanannya, karena itu dia segera mengiakan sampai berkali-kali.
Tanpa menunda waktu lagi dia memerintahkan anak buahnya untuk menggotong sebuah batu besar sebagai meja mereka, Enam orang prajurit mengangkat lentera tinggi, Dengan penerangan yang cukup, permainan pun segera dimulai.
Tidak lama kemudian, Bun Yu Hong dan beberapa perwira lainnya juga ikut dalam permainan sedangkan orang-orang yang mengitari mereka semakin lama semakin banyak.
Bhok Kiam Peng yang melihat keadaan itu jadi heran, dan dengan suara lirih dia bertanya kepada Pui Ie.
"Pui suci, kenapa mereka bertaruh dadu? Apakah yang kalah juga... juga.? Tapi, mereka toh sama-sama Iaki-Iaki...."
Pui Ie tertawa geli mendengar pertanyaannya, TimbuI niat untuk menggoda adik seperguruannya itu.
"Pokoknya, siapa yang kalah akan menemanimu malam ini."
Meskipun usia Bhok Kiam Peng masih muda sekali dan pengalamannya belum banyak, namun dia tahu apa yang dikatakan Pui Ie pasti tidak benar, Karena itu dia menyusupkan tangannya ke dalam ketiak kakak seperguruannya dan menggeIitiknya.
Kedua perempuan itu tertawa cekikikan saking gelinya.
Sekali bermain judi, kalau fajar belum menyingsing tentu belum berhenti Begitu bubar, tumpukan uang di depan Siau Po sudah merupakan tiga timbunan tinggi.
Pertama tentu karena hatinya yang sedang bergembira, Kedua tentu ada main gilanya juga.
Dari antara sepuluh prajurit yang ikut bermain, pasti sembilannya kalah habis-habisan.
Hati Siau Po senang sekali, Dia menolehkan kepalanya, tampak Kian Leng kongcu, Bhok Kiam Peng dan A Ko sudah tertidur di atas sebuah batu, sedangkan Su Cuan, Pui Ie, Cin Ju dan Song Ji masih memaksakan diri mereka menemaninya meskipun mata mereka sudah berat sekali.
Hati Siau Po terharu melihat keadaan itu, dia merasa bersalah, Cepat-cepat dia mendorong tiga tumpukan uang perak di depannya kepada Ong Cin Po sambil berkata.
"Ong Sam ko, tolong bagi-bagikan uang perak ini kepada saudara-saudara kita semuanya, Kalian jauh-jauh datang berkunjung ke pulau ini, sedangkan kami tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan benar-benar merasa menyesal karenanya."
Tadinya para prajurit sudah pucat wajahnya karena ludes uang di saku, Mendengar perkataannya mereka segera bersorak gembira sembari mengucapkan terima kasih.
Ong Cin Po langsung memberi perintah kepada para anak buahnya untuk menurunkan berbagai perbekalan ke atas pulau itu.
Boleh dibilang komplit sekali apa yang dibawakan oleh orang itu.
Misalnya sayur mayur, daging, mangkok, sumpit, meja kursi sampai ke peralatan masak seperti tungku api.
setelah itu dia juga memerintahkan anak buahnya untuk segera membangun beberapa pondok.
Karena jumlah orangnya banyak, apa yang dikerjakan jadi cepat selesai.
Dalam waktu beberapa hari semuanya sudah beres.
Sesudah merasa tidak ada lagi yang dilakukan bagi Siau Po, Ong Cin Po memohon diri kepada saudaranya itu.
Belasan hari kemudian, A Ko lah yang pertama-tama melahirkan seorang bayi lakilaki.
Hari kedua setelahnya, Su Cuan juga melahirkan seorang putra bagi Siau Po.
Kongcu justru terpaut satu bulan lebih dengan kedua madunya, bayi yang dilahirkannya perempuan, Dia melihat istri Siau Po yang lain melahirkan anak laki-laki, tetapi dia sendiri justru melahirkan anak perempuan.
Hatinya mendongkol sekali sehingga tidak henti-hentinya dia menangis.
Siau Po berusaha menghiburnya.
setelah dia mengatakan bahwa dia lebih suka anak perempuan daripada laki-laki, Tuan puteri baru menghapus airmatanya dan tertawa gembira.
Tiga bayi itu justru mempunyai tujuh orang ibu.
Meskipun semuanya belum mempunyai pengalaman menjadi seorang ibu, namun dengan kalang kabut mereka berhasil juga mengatasi berbagai persoalan.
Tiap hari terdengar suara tertawa riang di atas pulau tersebut Dan ketiga bayi itu juga seakan tahu diri, semuanya tampak sehat, montok dan Iincah.
Ketujuh perempuan itu meminta Siau Po untuk mencarikan nama bagi ketiga bayi itu.
Siau Po tertawa.
"Aku kan buta huruf, kalau suruh mencarikan nama bagi putra atau pun putriku, rasanya bukan hal yang mudah, Begini saja, kita lempar dadu, apa yang keluar, nama itulah yang kita berikan kepada bayi itu,"
Katanya.
Perlu diketahui bahwa jumlah dadu yang keluar mempunyai nama masing-masing, hampir sama dengan tradisi kita di sini Kalau kita bermain domino, angka kosong sering kita sebut sebagai Jeblok, Demikian pula permainan dadu di Cina pada jaman itu.
Maka tanpa menunggu persetujuan dari para istrinya, Siau Po segera mengambil dua butir dadu dan bersiap-siap melemparkannya di atas meja.
Se-belumnya, dalam hati dia berdoa, --Oh, Dewa Judi, tolong pilihkan nama-nama yang lumayan untuk putraputriku.
-Trakk!!
Dadu pun dilemparkan.
"Untuk anak yang pertama!"
Seru Siau Po.
Dadu yang satu menunjukkan lima titik, sedangkan dadu yang satu lagi menunjukkan enam titik, jumlah ini disebut "Ho Tau" , Siau Po tersenyum "Nama putra yang pertama boleh juga, Baiklah, anak A Ko kita namakan "Wi Ho Tau","
Dadu yang kedua kalinya dilemparkan menunjukkan satunya berjumlah satu titik dan satunya lagi berjumlah enam titik, ini yang dinamakan "Tong Cui" , Maka Lo ji (Anak kedua) dari keluarga Wi dinamakan "Wi Tong Cui" , Sekali lagi dadu dilemparkan Dadu yang satu menunjukkan dua titik, sedangkan dadu yang satu lagi masih berputar terus, Ketika akhirnya berhenti, jumlahnya dua titik juga, Siau Po tertegun melihatnya kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Tampaknya nona kecil kita justru mempunyai nama yang aneh, Dia dinamakan "Wi Pan Teng"
Perempuan-perempuan yang Iain jadi terkesima mendengar nama yang aneh itu.
Kian Leng kongcu justru marah sekali.
"Jelek benar!
Anak gadis yang begini cantik masa dinamakan Pan Teng?
Aku tidak mau!
Lemparkan dadu itu sekali lagi, cari nama yang lain!"
Teriaknya.
"Nama yang sudah dipilihkan oleh Dewa Judi mana boleh diubah seenaknya?"
Sahut Siau Po sambil membopong putrinya lalu mencium pipinya satu kali, Mulutnya bernyanyi-nyanyi kecil "Si kecil Pan Teng-ku yang tersayang, oh nama ini sungguh indah sekali!"
"Tidak bisa! Pokoknya aku tidak mau nama Pan Teng! Aku yang melahirkan anak itu dan aku tidak mau nama yang begitu jelek!"
Teriak Tuan puteri pula.
"Huh! Kalau cuma kau sendiri memang anak ini bisa jadi?"
Tanya Siau Po tak mau kalah. Kian Leng kongcu merebut kedua butir dadu dari tangan Siau Po.
"Biar aku yang lempar sendiri, pokoknya keluar apa, nama itulah yang akan kugunakan untuk anak-ku!"
Katanya pula. Siau Po merasa kewalahan, akhirnya dia menuruti kehendak si Tuan Puteri.
"Tapi kali ini kau tidak boleh ingkar janji, Bagaimana kalau jumlah yang keluar Ho Tau atau Tong Cui pula?"
"Biar anak ini mempunyai nama yang sama dengan kakaknya, Ho Tau atau Tong Cui juga tidak apa-apa,"
Sahut Kian Leng kongcu sambil menggerakkan dadu di tangannya, Mulutnya juga berkomat-kamit.
"Dewa Judi, oh Dewa Judi, apabila kau tidak mencarikan nama yang bagus untuk bayi perempuanku, maka aku akan melempar kedua butir dadu ini jauh-jauh!"
Kedua butir dadu dilemparkan ke atas meja dan langsung berputaran Tidak lama kemudian keduanya berhenti Di dalam dunia ini ternyata ada kejadian yang demikian kebetulan Rupanya kedua butir dadu itu lagi-lagi menunjukkan dua titik, yakni yang disebut Pan Teng.
Mata Kian Leng kongcu sampai mendelik dan mulutnya terbuka lebar Dia langsung menangis meraung-raung.
orang-orang juga merasa heran sekaligus geli.
Su Cuan tertawa.
"Adik tidak perlu cemas!"
Katanya menghibur "Dua titik itu kan "Song" (dobel), Dadunya ada dua, jumlahnya sama, jadi "Song Song". Anak perempuan kita itu dinamakan "Wi Song Song"
Saja, bagaimana pendapatmu?"
Kian Leng kongcu yang mendengar ucapannya segera menghapus airmatanya dan diganti dengan senyuman merekah, hatinya menjadi gembira seketika.
"Bagus! Bagus! Nama ini sungguh indah, hampir sama dengan nama adik Song Ji!"
Serunya.
Song Ji sendiri juga senang dengan nama yang dipilihkan oleh Su Cuan, Cepatcepat diambilnya bayi perempuan itu dari tangan Siau Po dan dipeluknya dengan mesra.
Bhok Kiam Peng tertawa melihatnya.
"Adik Song Ji, kau begitu sayang dengan bayi itu, sebaiknya cepat kau berikan ASI mu!"
Goda nya.
"Mengapa bukan kau saja yang menyusui?"
Balas Song Ji dengan wajah berona merah, Dia pura-pura menarik bagian depan baju Bhok Kiam Peng sehingga perempuan itu lari ketakutan semuanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua perempuan yang baru mulai menginjak dewasa itu.
Dengan bertambahnya tiga orang bayi, suasana di atas pulau Tong Sip to semakin ramai.
Hari-hari penuh dengan riang canda, Sejak dibekali berbagai macam lauk-pauk oleh Ong Cin Po, mereka tidak perlu lagi bersusah payah berburu atau pun menangkap ikan setiap hari.
Kecuali kalau mereka kangen masakan hidangan laut yang segar, mereka baru pergi menangkapnya, Mula-mula mereka agak khawatir juga kalau kaisar Kong Hi marah mendengar laporan Ong Cin Po tentang penolakan Siau Po kembali ke Kotaraja.
Ada kemungkinan dikirimnya sepasukan besar tentara untuk membunuh mereka semua.
Namun beberapa bulan kembali berlalu, keadaan tetap tenang-tenang saja, Dan mereka yakin Ong Cin Po sudah sampai di Kotaraja dan menyampaikan laporannya.
Apabila sampai sekarang tidak terjadi apa-apa, bisa jadi Kaisar Kong Hi sudah mengambil keputusan untuk membiarkan apa pun keputusan Wi Siau Po, Dengan pemikiran demikian, hati mereka lambat laun jadi tidak terlalu was-was lagi.
Sampai musim panas tahun berikutnya, Ong Cin Po tiba-tiba datang lagi dengan satu kapal perang diiringi tiga kapal barang yang besar sekali, sesampainya di pulau itu, dia segera membacakan firman dari Kaisar Kong Hi.
Bahasa yang digunakan kali ini terlalu dalam sehingga tidak ada sepatah kata pun yang dimengerti oleh Siau Po.
Terpaksa pemuda itu meminta Su Cuan yang menjelaskan artinya.
Ternyata sedikit pun Kaisar Kong Hi tidak mengungkit tentang firman nya tempo hari.
Dia malah mengutus seorang perwira serta lima ratus orang prajurit untuk melindungi Kian Leng kongcu.
Selain itu masih ada enam belas pelayan laki-laki, delapan orang pelayan wanita, delapan orang dayang juga berbagai perabotan rumah tangga, makanan dan lain sebagainya sampai penuh tiga kapal.
Diam-diam Siau Po merasa cemas.
--Siau Hian cu mengirimkan demikian banyak barang, kemungkinan dia menginginkan agar aku tinggal di pulau Tong Sip to ini untuk selamanya -Dasar Siau Po jenis orang yang tidak bisa diam.
Meskipun kehidupannya di atas pulau itu cukup menyenangkan bahkan ada tujuh istri cantik yang menemaninya, tapi rasanya kehidupan yang rutin ini sudah lama dijalaninya.
Dia merasa kurang seru lagi, kadang-kadang dia mengenang kembali masa lalu, malah kehidupannya di masa kanak-kanak yang setiap hari kena pukul atau kena marah lebih menyenangkan daripada kehidupannya sekarang.
Tahun yang sama, bulan dua belas, kembali Kaisar Kong Hi mengutus Tio Liang Tong ke pulau itu untuk menyampaikan firmannya, Kali ini Siau Po mendapat kenaikan pangkat lagi, Yakni Perwira Tinggi yang menguasai Tong Sip to.
Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk mengundang Tio Liang Tong minum arak, Mereka berbicara ngalor ngidul sampai temannya itu menceritakan tentang kekuatan pasukan Gouw Sam Kui yang benar-benar sulit ditaklukkan.
"Tio Jiko, sekembalinya ke Kotaraja, tolong Tio Jiko sampaikan kepada Hong Siang bahwa aku sudah jenuh hidup santai di pulau ini. sebaiknya beliau mengutus aku ke selatan untuk menyerbu Gouw Sam Kui,"
Kata Siau Po.
"Hong Siang memang sudah menduga bahwa Hu ya sangat mencintai negara, Begitu tahu perang See Lam Ong masih merajalela, pasti dia akan mengajukan diri untuk memeranginya, Beliau berkata -Kalau Siau Po ingin menghajar pasukan Gouw Sam Kui, boleh-boleh saja, tapi pertama-tama dia harus membasmi perkumpulan Thian Te hwee dulu, Kalau tidak, sebaiknya dia tetap tinggal di pulau Tong Sip to untuk menikmati hidup yang rutin atau sekedar memancing ikan maupun kura-kura setiap hari,"
Sahut Tio Liang Tong. Mata Siau Po menjadi merah seketika, rasanya dia ingin menangis sekeraskerasnya. Tio Liang Tong melanjutkan kata-katanya.
"Sri Baginda berkata pula, pada jaman Dinasti Han ada seorang bernama Han Bu Kuang. Saat itu usianya masih muda, dia mempunyai seorang sahabat yang bernama Yan Cu Ling. kemudian Han Bu Kuang menjadi Kaisar, tapi sahabatnya Yan Cu Ling tidak bersedia diberikan pangkat dan malah memilih kehidupan tenang memancing di tepi sungai Hok Cun Kang. Sri Baginda juga berkata bahwa Tio Bu Ong juga mempunyai seorang menteri yang akhirnya memilih menghabiskan hari tuanya dengan memancing ikan, Siapa pun tahu bahwa Han Bu Kuang maupun Tio Bu Ong adalah raja-raja yang bijaksana. Tampaknya setiap raja yang bijaksana selalu ada pe-jabatnya yang hobby memancing ikan, Sri Baginda juga berkata bahwa dia ingin menjadi "
Niau Seng Hi Tong ", Kalau tidak ada Hu ya yang memancing ikan atau menangkap kura-kura, bagaimana beliau bisa menjadi "
Niau Seng Hi Tong "? "
Wi Hu ya, hambamu ini adalah orang kasar, mengapa Sri Baginda menginginkan engkau berdiam di pulau ini memancing ikan atau menangkap kura-kura, hamba benarbenar tidak mengerti Tapi Sri Baginda mempunyai kecerdasan yang sulit dicari duanya, di balik semua ini pasti ada alasan yang bagus."
"Betul, betul!"
Sahut Siau Po sambil tertawa getir Padahal dia tahu Kong Hi hanya mengolok-oloknya.
Tampaknya kalau dia tidak bersedia membasmi perkumpulan Thian Te hwee, maka untuk seumur hidupnya dia terpaksa tinggal di atas pulau itu.
Kelima ratus orang prajurit yang dikirimkan oleh si Raja cilik memang bilangnya untuk melindungi si Tuan Puteri tapi sebetulnya untuk memenjarakan mereka dan berjagajaga agar mereka tidak bisa ke mana-mana.
Semakin dipikirkan hatinya semakin sedih, Setelah selesai menjamu tamunya minum arak, dia pun tidak bersemangat mengajak mereka berjudi lagi Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia masuk ke kamarnya.
untuk beberapa saat dia duduk termangumangu di atas tempat tidur, dan tanpa terasa airmatanya mengalir dengan deras.
Ke tujuh istrinya terkejut sekali melihat Siau Po menangis dengan sedih, Mereka segera mendekati untuk menghiburnya dan ada pula yang menanyakan duduk persoalannya, Siau Po segera menceritakan isi firman dan kata-kata yang disampaikan oleh Tio Liang Tong, Kian Leng kongcu marah sekali.
"Memang betul! Kalau Hong te koko memang bersedia menaikkan pangkatmu, dia toh bisa menaikkan pangkatmu bisa saja dari Perwira tinggi tingkat tiga menjadi Perwira tinggi tingkat dua. Mengapa harus pakai embel-embel Tong Sip Pak segala? Kedengarannya saja tidak enak. Lagipula, bangsa Ceng kami yang besar ada gelar Cao Heng Pak, We Hao Pak dan yang lain-lainnya, sampai sebesar ini aku tidak pernah mendengar gelar Tong Sip Pak, Benar-benar menggelikan! Dia... dia.,, tidak memandang sebelah mata terhadapku!"
Teriaknya seperti ingin menangis.
"Sebetulnya tidak ada apa-apa dengan gelar Tong Sip Pak, Nama pulau ini toh aku yang pilih sendiri mana boleh menyalahkan Sri Baginda? Lagipula aku kan pemilik Tong Sip to ini, maka memang sudah sepantasnya kalau aku diberi gelar Tong Sip Pak. jauh lebih baik dari pada Tong Pai Pak (Perwira Tinggi Kalah semua) Cuan cici, biar bagaimana kau harus mencari akal, kita harus kembali ke Tionggoan, Aku... aku sudah rindu sekali kepada ibuku."
Su Cuan menggelengkan kepalanya.
"Urusan ini benar-benar sulit. Lebih baik perlahan-lahan kita tunggu kesempatan saja,"
Sahut wanita itu. Siau Po meraih sebuah cawan lalu dibantingkan keras-keras di atas tanah. Tranggg!!!"
Kau memang tidak mau mencari akal, Baik, kelak aku akan kabur sendirian, kalian jangan menyalahkan aku.
Aku...
aku...
aku lebih suka menjadi kura-kura tukang bawa nampan teh daripada jadi segala Tong Sip Pak di pulau ini.
Sumpek!"
Teriaknya marah. Su Cuan tidak marah kepadanya, dengan tersenyum dia berkata.
"Siau Po, kau tidak perlu merasa kesal, pada suatu hari nanti, Sri Baginda pasti akan menyuruhmu menyelesaikan suatu pekerjaan besar."
Siau Po gembira sekali mendengarnya.
"Cici yang baik, aku minta maaf kepadamu Cepat katakan, tugas apa kira-kira yang akan diberikan si Raja cilik? Asal bukan membasmi perkumpulan Thian Te hwee, pekerjaan apa pun akan kulakukan."
"Bagaimana kalau Hong te koko menyuruhmu membuang kotoran manusia atau membersihkan WC?"
Tanya Kian Leng kongcu. Kemarahan Siau Po meluap kembali.
"Akan kuterima pekerjaan itu, tapi setiap hari aku akan menugaskanmu yang melakukannya."
Melihat si pemuda demikian marahnya, Tuan Puteri tidak berani bicara lagi.
"Cuan cici, cepat kau katakan, Siau Po sudah penasaran setengah mati,"
Kata Bhok Kiam Peng. Su Cuan merenung sejenak.
"Tugas apa yang akan diberikan oleh si Raja cilik aku tidak tahu. Tapi aku yakin suatu hari dia akan memberikan pekerjaan besar kepadamu. Sekarang ini dia menggunakan pengaruhnya untuk memaksamu membasmi perkumpulan Thian Te hwee, semakin kau menolaknya, dia akan semakin merongrong. Maksudnya ingin kau menyerah terhadapnya, Siau Po, kalau kau bermaksud menjadi seorang laki-Iaki sejati yang tidak sudi mencelakakan teman sendiri, sedikit penderitaan ini terpaksa harus kau telan. Kalau mau jadi pahlawan tapi sekaligus merasakan kesenangan hidup, rasanya sulit menemukan kesempatannya,"
Sahut wanita itu. Siau Po berpendapat apa yang dikatakan Su Cuan memang beralasan, maka dia segera berdiri dan mengembangkan senyuman di bibirnya.
"Tapi kalau aku jadi pahlawan sekaligus menikmati halusnya kulit isteriku, bolehkan?"
Dia langsung mengumandangkan sebuah lagu ciptaannya sendiri "Raba sana, raba sini, rabalah rambut cici Cuan yang hitam dan lebat...."
Tangannya terulur untuk membelai rambut panjang Su Cuan.
Yang lainnya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah pemuda itu.
Gelombang kecil yang menerpa kehidupan mereka langsung hilang tak berbekas.
Sejak hari itu mereka kembali menikmati kehidupan damai di atas pulau tersebut Tahun demi tahun pun berlalu, Pada bulan tertentu setiap tahunnya, Kaisar Kong Hi secara rutin mengirimkan makanan, pakaian dan berbagai keperluan lain.
Raja itu juga tidak lupa mengirimkan dadu dari bola kristal untuk Siau Po.
Untungnya di atas pulau itu telah bertambah lima ratus orang prajurit, jadi kapan jam saja Siau Po tidak kekurangan lawan berjudi.
Tahun ini kembali Sun Si Kek diutus datang ke pulau itu.
Siau Po melihat topinya yang berantakan batu berwarna merah, pakaian yang dikenakannya keren sekali sehingga menunjukkan wibawa yang besar Siau Po tahu kedudukan orang itu pasti sudah tinggi sekali, maka dia berkata.
"Sun Si ko, selamat! Tampaknya pangkatmu naik lagi!"
Wajah Sun Si Kek berseri-seri mendapat ucapan selamat dari Siau Po. Dia segera membungkukkan tubuhnya menjura kepada pemuda itu.
"Terima kasih, Semua ini berkat budi besar Sri Baginda juga bantuan dari Wi Hu ya,"
Sahutnya.
Ketika firman Kaisar dibacakan, Siau Po baru tahu bahwa pemerintahan Kerajaan Ceng telah mengalami perubahan besar, sebagian besar tempat yang dikuasai oleh Hun Lam Peng Si Ong, Gouw Sam Kui, Kuang Tung Peng Lam Ong Siong Ci Heng, Hok Kian Ceng Lam Ong Ciu Ceng Tiong telah berhasil direbut kembali.
Saking senangnya Kaisar Kong Hi mengumbar hadiah dan pangkat Siau Po yang tidak berjasa apa-apa saja dianugerahi pangkat Perwira tinggi tingkat satu dari pulau Tong Sip to.
putranya yang pertama juga dianugerahi gelar Siau Po mengucapkan terima kasih.
Dia juga mendapat sebuah batu marmer besar sebagai hadiah, Siau Po ingat pernah melihat marmer besar itu di kediaman Gouw Sam Kui, tepatnya di perpustakaan, juga merupakan salah satu dari tiga pusaka kesayangan Peng Si 0ng.
Tio Yong, Tio Liang Tong, Ong Cin Po dan Sun Si Kek juga mendapat hadiah-hadiah yang berharga.
Malam harinya Siau Po menjamu Sun Si Kek.
Sahabatnya itu menceritakan pengalaman bagaimana mereka merebut kembali daerah-daerah kekuasaan Gouw Sam Kui.
Rupanya Tio Yong berhasil menggempur pasukan besar Gouw Sam Kui yang ada di Kam Sia dan Leng Hia.
sekarang Tio Yong sudah menjabat kedudukan yang tinggi, pangkatnya sekarang malah sudah lebih tinggi dari Siau Po sendiri.
Demikian pula dengan Ong Cin Po, Tio Liang Tong dan dirinya sendiri.
"Sejak terkena pukulan Kui Heng Su, tubuh Tio Hou Ya (Kedudukan Tio Yong sekarang) tidak bisa normal kembali Ketika memimpin peperangan, beliau terpaksa duduk di atas tandu sembari memberikan aba-aba tentang tindakan apa yang harus diambil oleh para anak buahnya,"
Kata Sun Si Kek menjelaskan Siau Po merasa kagum sekali mendengarnya.
"Wah, hebat betul! Dengan tubuh cacat saja Saudara Tio bisa memimpin penyerbuan besar, apalagi kalau dalam keadaan normal."
"Memang tepat apa yang Hu ya katakan itulah sebabnya pangkat yang dianugerahkan oleh Hong Siang kepadanya paling tinggi di antara kami ber-empat."
Siau Po mendengar Sun Si Kek menceritakan kejadian itu dengan penuh kebanggaan, wajahnya sendiri berubah muram, dan hatinya kesal karena tidak dapat ikut merasakan kemenangan itu.
Tapi mendengar keempat sahabatnya telah berhasil mendirikan jasa besar, dia ikut gembira juga.
"Kami sering membicarakan tentang pertempuran yang telah dijalankan beberapa tahun terakhir ini Semua ini berkat kebijaksanaan Sri Baginda dan bimbingan Wi Hu ya dahulu hari, seandainya Wi Hu ya yang menjadi Panglima Perang dan membawa kami menggempur Gouw Sam Kui, itulah hal yang paling sempurna, Tio Jiko dan Ong Samko sering bertengkar kadang-kadang mereka bertengkar sampai di hadapan Sri Baginda. Tio toako saja sampai kewalahan mengatasinya Beberapa kali Sri Baginda membicarakan Wi Hu ya, beliau mengatakan kalau mereka terus mempertengkarkan masalah Wi Hu ya, tentu merupakan penyesalan bagi Wi Hu ya. Mendengar kata-kata Hong Siang, mereka baru berhenti bertengkar,"
Kata Sun Si Kek pula. Siau Po tersenyum.
"Dari dulu mereka memang selalu bertengkar setiap bertemu muka, Herannya kok masih bertengkar terus walaupun sudah menjabat kedudukan tinggi?"
"ltulah! Mereka sering saling menyalahkan Yang satu memburukkan yang lain di hadapan Sri Baginda, Untung saja Raja kita orangnya bijaksana, dan tidak terlalu memperdulikan aduan siapa pun. Kalau tidak, mungkin keduanya sudah merasakan enaknya hukuman penggal kepala,"
Sahut Sun Si Kek.
"Bagaimana dengan si budak tua Gouw Sam Kui? Apakah dia juga sudah tertangkap? Apakah kalian telah menarik kuncirnya atau mendupak pantatnya beberapa kali?"
Tanya Siau Po pula. Sun Si Kek menggelengkan kepalanya.
"Aih! Nasib si budak tua itu cukup lumayan...."
Siau Po mendelikkan matanya lebar-lebar.
"Apa? Jadi dia berhasil meloloskan diri?"
Tanyanya terkejut.
"Kabur sih tidak, tetapi di mana-mana dia mengalami kekalahan Setiap daerah yang dikuasainya berhasil kita rebut kembali Dia sudah tahu bahwa kekuasaannya tidak bisa dipertahankan lagi, Sebelum mati dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Kaisar, Dia langsung mengenakan jubah kebesaran berwarna kuning, kepalanya memakai topi mahkota berhiaskan berbagai permata. Saat itu dia berada di Heng Ciu pura-pura menjadi Kaisar. Kami mendapat kabar tentang itu, tanpa menunda waktu lagi kami segera membimbing pasukan besar untuk menyerbu ke wilayah itu. Dari masuk kota kami sudah menggempur orangnya habis-habisan. Setelah mengalami berkali-kali kekalahan, si budak bermarga Gouw itu semakin kesal dan tertekan jiwanya, dan dalam keadaan hampir gilalah dia pulang ke alam baka"
Sahut Sun Si Kek.
"Oh, rupanya begitu, Jadi keenakan si budak tua itu tidak perlu merasakan nikmatnya tali gantungan!"
Kata Siau Po.
"Setelah si pengkhianat Gouw mati, anak buahnya mengangkat cucunya Gouw Sek Huan sebagai penggantinya dan mengungsi ke Kun Beng, Tio Toako tidak ingin memberi kesempatan bagi orang itu untuk mengembangkan sayapnya. Dia segera memimpin anak buahnya untuk menyerbu ke Kun Beng. Dua orang kepercayaan Gouw Sam Kui, yakni Sia Kok Siang dan Ma Po berhasil diringkus, sedangkan Gouw Sek Huan bunuh diri. Dengan demikian dunia pun jadi tenang kembali.
"Di wilayah Kun Beng ada semacam pusaka negara, entah apa yang terjadi dengan benda itu?"
Tanya Siau Po.
"Pusaka negara apa? Kok hamba tidak pernah mendengarnya?"
Kata Sun Si Kek.
"Sebenarnya yang kukatakan itu pusaka hidup, Tentu saja wanita tercantik di dunia, yakni Tan Wan Wan."
Sun Si Kek tertawa mendengar kata-katanya.
"Rupanya Tan Wan Wan! Entahlah, tidak pernah terdengar kabar beritanya lagi, Mungkin mati terbunuh ketika terjadi keributan atau mungkin saja dia juga sudah melarikan diri."
"Sayang! Sayang!"
Kata Siau Po berulang-ulang.
Dalam hati dia berpikir, -A Ko adalah istriku, dengan demikian tidak syak lagi kalau Tan Wan Wan itu mertuaku seandainya Tio Jiko mengetahui hal ini dan berhasil meringkusnya, seharusnya dia diantarkan ke Pulau Tong Sip to ini, biar dia bisa bertemu dengan putrinya A Ko.
Mereka ibu dan anak bertemu sih tidak jadi masalah, tapi aku dan dia akan berkumpul sebagai mertua dan mantu laki-Iaki, tentunya berbeda sekali jangan bicarakan urusan lainnya, asal bisa menikmati permainan harpanya atau mendengar dia menyanyikan lagu "Wan Wan"
Atau "Fang Fang"
Saja sudah merupakan kegembiraan yang tiada taranya. Tentu saja seorang mertua tidak boleh termasuk Tong Sip, tapi kalau hanya "Mantu memandang mertua perempuan sambil meneguk air liur"
Saja kan boleh?
-Selesai menjamu tamunya, Siau Po kembali ke kamar dan menceritakan pembicaraan tadi kepada ke tujuh istrinya, A Ko langsung murung wajahnya mendengar bahwa sejak peperangan tidak ada lagi kabar berita mengenai ibunya.
Meskipun sejak kecil dia sudah dilarikan oleh Kiu Lan dan tidak pernah mengenal baik ibu kandungnya, namun biar bagaimana pasti ada hubungan batin di antara keduanya, Sedikit banyaknya A Ko merasa sedih juga mendengar kabar ini.
Siau Po menghibur A Ko agar tidak perlu terlalu cemas.
Dia mengatakan bahwa ke mana pun ibunya pergi pasti Pek Seng To Ong saudara Hu akan menyertainya.
"Kau lihat sendiri, ilmu silat Hu toako sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Untuk melindungi ibumu seorang saja pasti semudah membalikkan telapak tangannya sendiri,"
Katanya. A Ko merasa apa yang dikatakan Siau Po memang ada benarnya juga, karena itu kesedihannya pun jauh berkurang. Tiba-tiba Siau Po menggebrak meja.
"Aduh, celaka!"
Teriaknya. A Ko merasa heran.
"Apa? Maksudmu ibuku menghadapi bahaya?"
Tanyanya cemas.
"ibumu sih tidak apa-apa, justru aku yang sedang menghadapi bahaya besar,"
Sahut Siau Po. A Ko semakin bingung. Bagian 87
"Kok bahayanya malah beralih kepadamu?"
"Hu toako itu kan saudara angkatku, dan kami pun sudah pernah bersembahyang kepada Langit dan Bumi, Apabila dalam kancah peperangan dia malah bermesraan dengan ibumu, bukankah mulai sekarang dia malah menjadi ayah mertuaku? Wah, urusan generasi yang akan datang bisa jadi bingung!"
Sahut Siau Po. A Ko mencibirkan mulutnya dan mendelik satu kali kepadanya.
"Hu Pek Pek ini orangnya jujur dan selalu menomor satukan kebenaran Kau kira setiap laki-laki di dunia ini sama seperti engkau sendiri, asal ketemu perempuan langsung peluk sana peluk sini?"
Siau Po tertawa mendengar sindirannya.
"Mari, mari! Sudah saatnya kita peluk sana peluk sini!"
Katanya sembari mengulurkan tangannya untuk memeluk A Ko.
Setelah mendapat kenaikan pangkat sebagai Perwira tinggi Tingkat Satu, pelayan, tukang masak bahkan dayang yang melayani di pulau itu semakin bertambah.
Putranya yang pertama, Wi Ho Tau lahir dalam keadaan yang tidak menguntungkan tapi kecil-kecil dia sudah dianugerahi gelar oleh Kaisar, Meskipun tinggal di pulau yang terpencil, untuk makan dan pakaian mereka tidak kekurangan bahkan boleh bersaing dengan anak-anak hartawan di kota-kota besar.
Sayangnya kehidupan di atas pulau itu terlalu monoton sehingga lama kelamaan Siau Po semakin terasa sumpek, Rasanya dia ingin membuat kejadian yang aneh-aneh biar timbul kegemparan tapi kalau tidak ada yang mendukung, tentu akhirnya malah dia sendiri yang dikeroyok orang banyak.
Lagipula ke-tujuh istrinya tidak mau diajak bekerja sama untuk menimbulkan huru hara, Bahkan Kian Leng kongcu yang dulunya paling nakal juga tidak bersedia mengikuti kemauannya.
Akhimya Siau Po merasa seakan berubah menjadi orang cacat yang tidak sanggup melakukan apa-apa.
Kadang-kadang dia membayangkan cerita Sun Si kek ketika mereka mendapat tugas menghancurkan kekuasaan Gouw Sam Kui.
Tentunya menyenangkan sekali dapat menyerbu ke sana ke mari dan merampas harta benda yang berhasil dikumpulkan orang itu, sayangnya dia sendiri tidak ikut ambil bagian sehingga sering merasa menyesal karenanya.
Coba kalau dia mendapat kesempatan untuk ikut dalam peperangan itu, pasti tidak akan dibiarkannya Gouw Sam Kui mati demikian enaknya, Dia akan meringkus pengkhianat itu hidup-hidup lalu dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng.
Diaraknya orang itu dari Hu Lam ke Kotaraja, siapa yang ingin melihatnya harus membayar setengah tail uang perak, kalau ingin meludahinya harus membayar satu tail, Anak-anak setengah harga, perempuan cantik tentu saja gratis, orang-orang di seluruh dunia ini benci sekali terhadap pengkhianat negara itu, Dari Hu Lam ke Kotaraja saja, aku Wi Siau Po pasti kaya mendadak.
Gouw Sam Kui sudah mati, tentu saja tidak ada peperangan sehebat itu lagi, Tapi di dalam dunia ini, selain perang, tentunya masih banyak hal yang menyenangkan.
Asal sampai di tempat yang banyak penduduknya, pasti ada saja kegembiraan yang dapat menjadi pilihan.
Pokoknya, pertama-tama yang harus dilakukan adalah meninggalkan pulau Tong Sip to.
Tapi tujuh orang istri, dua orang putra dan seorang putri tidak pernah meninggalkan satu jengkal pun.
Rasanya seperti ada sebuah batu besar yang dibiarkan menggelantung di lehernya.
Kadang-kadang terpikir pula untuk mengajak mereka semuanya melarikan diri dari pulau itu, tapi tentunya semakin merepotkan maka lebih baik ke sepuluh orang itu ditinggalkan dan dia kabur sendirian Sejak mengantarkan kepergian Sun Si Kek, setiap hari hanya urusan ini yang jadi pikirannya, Ada-kalanya dia duduk di atas sebuah batu karang yang besar untuk memancing ikan.
Timbul pikiran kalau saja muncul seekor kura-kura raksasa yang dapat menyeberangkan nya ke Tiong Goan tentu merupakan hal yang menyenangkan sekali.
Hari itu merupakan pertengahan musim gugur, udara masih terasa panas, Siau Po duduk bersandar di atas sebuah batu sambil memancing ikan, Belum berapa lama matanya sudah terasa penat, hampir saja dia tertidur.
Namun tiba-tiba terdengar ada suara yang berkata.
"Wi Hu ya, Hai Liong Ong (Raja Naga di lautan) mengundangnya."
Siau Po merasa heran sekali, dan segera memusatkan pandangannya ke arah suara tadi, Tampak di permukaan laut timbul seekor kura-kura yang besar sekali, Kepalanya mendongak ke atas dan dari mulutnya terdengar suara ucapan manusia.
"Tung Hai Liong Ong di dasar lautan mempunyai sebuah istana yang disebut Cui Cing Kiong, beliau merasa iseng. Karena itu hamba disuruh mengundang Wi Hu ya untuk berkunjung ke dasar lautan agar dapat berjudi dengan Hai Liong Ong kami. Raja kami akan menggunakan batu permata, mutiara yang ada di dasar lautan sebagai taruhannya, Wi Hu ya sendiri boleh menggunakan uang perak seperti biasanya!"
Siau Po kegirangan setengah mati mendengarnya.
"Hebat, hebat! Raja Lautan yang derajatnya demikian tinggi saja masih bersikap demikian sungkan! Biar bagaimana aku harus menemaninya bermain!"
Serunya.
"Di dalam istana Cui Cing Kiong kami ada gedung pertunjukan sandiwara Berbagai tontonan yang menarik dapat disaksikan di sana, Kami juga mempunyai tukang cerita yang mahir mengisahkan Legenda Eng Liat Toan, Sui Hu Cuan dan berbagai kisah sejarah yang menarik lainnya, Bahkan ada penyanyi yang pandai membawakan berbagai lagu kesayangan Wi Hu ya, ada penari yang cantik-cantik yang gerak-geriknya lemah gemulai. Hai Liong Ong kami juga mempunyai tujuh orang puteri yang wajahnya tidak kalah dengan Bidadari dari Khayangan. Kami tahu bahwa Wi Hu ya senang melihat wanita cantik, pasti-nya ingin mengintip sekilas sampai di mana kejelitaan tuan-tuan puteri kami, bukan?"
Kata si kura-kura pula. Semakin didengarkan hati Siau Po semakin menggelitik rasanya.
"Betul, betul, sekarang juga kita pergi ke sana!"
Sahutnya.
"Silahkan Wi Hu ya duduk di atas punggung hamba, hamba akan membawa Wi Hu ya ke istana kami!"
Kata si kura-kura.
Siau Po segera bangun dan mencelat ke atas punggung kura-kura besar itu.
Dia dibawa ke istana Cui Cing Kiong di dasar lautan.
Di depan pintu gerbang istana telah menanti Raja Lautan Timur, yakni Tung Hai Liong Ong, Dia disambut dengan hangat, tangannya digandeng serta diajak ke dalam.
Ternyata di dalam ruangan yang mewah juga telah menanti Lam Hai Liong Ong (Raja Lautan Selatan), Ketika perjamuan berlangsung, datang pula beberapa tamu yang lain.
Mereka terdiri dari Ti Pat Kai (Siluman Babi), Gu Mo ong (Siluman Raja Kerbau), Tio Hui, Li Po, Gu Peng, Ceng Yau Kim keempat Jenderal besar, Hu Ong, Ju Pao Ong, Sui Ie Ti, Beng Cin Tek keempat Kaisar, Keempat kaisar, empat Jenderal besar, dua siluman dan dua dewa iblis yakni Naga Timur dan Naga Selatan merupakan tokoh-tokoh yang paltng terkenal serta aneh sejak jaman dahulu kala.
Mereka semua memang dikisahkan menguasai lautan luas.
Selesai perjamuan, permainan judi pun dimulai, dan Siau Po yang jadi bandarnya, Tangannya meraih kartu di atas meja seenaknya, tapi biar kelihatannya sembarangan namun kartu yang didapatkannya selalu bagus, Dalam waktu tidak seberapa lama dia sudah meraih kemenangan banyak sehingga kedua belas lawannya berkaok-kaok.
Uang di hadapan Siau Po sudah bertumpuk tinggi bahkan sampai melimpah ruah, Terakhir malah selir-selir serta gundik-gundik cantik para lawannya juga digadaikan kepadanya.
Watak Li Po paling jelek di antara lawan-lawannya.
Ketika istrinya yang cantik juga terpaksa dijual kepada Siau Po untuk membayar kekalahan, ia langsung berang.
wajahnya yang kehitam-hitaman disertai rona merah, Dengan suara lantang dia berteriak.
"Dasar Keturunan Maling!
Jadi orang itu kalau sudah menang ya sudah dong!
Kau sudah memenangkan gundik dan selir orang, itu sih masih tidak apa-apa, malah istri tua juga mau digotong sekalian, Benar-benar keterlaluan!
Orang seperti engkau tidak punya perasaan, tidak pantas dijadikan teman!"
Diangkatnya tubuh Siau Po ke atas, tinjunya dikepalkan dan dihantamnya pemuda itu satu kali, Terdengar suara Buuukkk!!
Tepat mengenai telinga Siau Po sehingga kepalanya terasa berdengung-dengung.
Siau Po menjerit sekeras-kerasnya, Tali pancing terjungkit ke atas dan melilit di lehernya, Dalam keadaan panik dia bergulingan Ujung kail menancap di dagingnya sehingga dia merasa kesakitan Dalam sekejap mata, entah Ti Pat Kay, Li Po atau siapa saja sudah hilang tak berbekas, Saat itu juga dia baru sadar bahwa dirinya sedang bermimpi.
Namun pada waktu yang bersamaan, dari atas lautan terdengar suara Buummm!
yang memekakkan telinga.
Siau Po mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.
Di tengah lautan tampak beberapa kapal besar dengan layar terkembang lebar sedang melaju ke arah Pulau Tong Sip to.
Siau Po dapat melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan kapalkapal tersebut.
Dia berusaha melepaskan tali pancingan yang melilit di Iehernya.
Dalam keadaan panik dia malah kebingungan dan gagal.
Ujung kail yang menancap di bagian lehernya terasa menusuk semakin mendalam.
Tanpa memperdulikan rasa perih yang dirasakan, dia berlari sekencang-kencangnya, Dalam pikirannya, pasti The Kek Song, si Budak Tengil itu datang kembali dengan membawa pasukan besar untuk membayar hutang, sebetulnya bayar hutang sih urusan yang menyenangkan tapi belum apa-apa sudah menembakkan meriam ke arah pulau justru merupakan hal lain yang harus dipertimbangkan.
Belum lagi dia sampai ke depan rumahnya, Perwira Peng sudah menghambur ke arahnya dengan nafas terengah-engah.
"Wi Hu ya, celaka! Pasukan besar dari Taiwan datang menyerbu!"
Teriak orang itu.
"Bagaimana kau tahu kalau itu kapal pasukan Taiwan?"
Tanya Siau Po.
"Tadi... hamba menggunakan alat peneropong untuk melihat apa yang terjadi ketika terdengar suara dentuman, Di bagian e... kor,., eh, kepala kapal terdapat gambar Bulan dan Matahari. Gambar itu merupakan lambang kapal Taiwan. seandainya satu kapal mengangkut lima ratus prajurit, dua kapal,., dua ribu, tiga kapal tujuh ribu prajurit.-"
Kata-kata si Perwira makin lama makin ngaco tidak karuan.
Siau Po segera mengambil alat teropong dari tangan orang itu dan digunakan untuk meneropong ke arah kapal-kapal yang sedang mendatangi jumlahnya setelah dihitung dengan seksama ternyata ada tiga belas kapal.
Ketika Siau Po melihat bagian kepala kapal, ternyata memang ada gambar Bulan dan Matahari.
"Cepat siapkan prajurit-prajuritmu!"
Seru Siau Po.
"Suruh mereka berjaga-jaga di pesisir pantai! Lawan tentu harus menggunakan sampan untuk mencapai pulau ini, kalau mereka mendekat, cepat bidikkan anak panah!"
Perwira Peng segera mengiyakan lalu menghambur pergi. Su Cuan dan yang lainnya segera keluar mendengar suara ribut-ribut Dari arah kapal kembali berkumandang suara dentuman-dentuman.
"Adik A Ko, kalau kau dibawa ke Taiwan, apakah Ho Tau akan kau bawa juga?"
Tanya Tuan puteri. A Ko menghentakkan kakinya ke atas tanah dengan marah.
"Kau anggap sekarang saatnya berkelakar?"
Sahutnya kesal. Siau Po yang mendengarkan justru lebih gusar lagi.
"Biar Kongcu si perempuan busuk itu membawa Song Songnya saja mengungsi ke Taiwan...."
Tiba-tiba Su Cuan berkata.
"Eh, aneh! Kok meriam ditembakkan ke dalam lautan malah bukan ke arah pulau kita?"
Yang lainnya segera memperhatikan dengan seksama, ternyata apa yang dikatakan Su Cuan harus separuhnya yang benar.
Meriam itu memang tidak ditembakkan ke arah pulau, dan juga bukan ke dalam laut tapi justru ditembakkan ke atas langit yang kemudian jatuh ke dalam lautan sehingga air bergejolak dan menimbulkan suara letusan dahsyat Siau Po yang melihat hal itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"ltukan tembakan penghormatan bukan datang untuk menyerbu kita,"
Katanya setelah sempat tertegun sejenak.
"Bisa saja mula-mula dia memberikan tembakan penghormatan belakangan baru prajuritnya datang menyerbu,"
Kata Kian Leng kongcu. Siau Po semakin kesal mendengar ocehannya.
"Mana si budak Song Song? Cepat ke mari, biar Bapakmu menghajar pantatmu!"
Teriaknya. Kian Leng kongcu mendengus satu kaIi.
"Anak tidak salah apa-apa kok mau dipukul?"
"Siapa suruh dia punya ibu yang demikian menyebalkan!"
Kata Siau Po.
Jarak kapal-kapal itu semakin dekat Siau Po menggunakan alat teropongnya sekali lagi, Di atas tiang layar terkembang bendera bergambarkan seekor Naga Kuning sebagai lambang bendera Kerajaan Ceng, Siau Po gembira sekaligus terkejut, lalu menyerahkan alat teropong ke tangan Su Cuan.
"Aneh sekali, coba kau lihat sendiri!"
Katanya. Su Cuan melihat sejenak, kemudian tersenyum.
"Rupanya pasukan angkat laut dari Kerajaan, bukan kapal perang Taiwan,"
Ujarnya. Siau Po mengambil kembali alat teropong itu lalu melihat lagi sejenak untuk meyakinkan dirinya.
"Betul, itulah Angkatan Laut dari kerajaan Ceng, Aih, ada apa ya? Maknya, sakit sekali!"
Dia menolehkan kepalanya, ternyata Ho Tau yang digendong A Ko sedang menarik ujung kail yang menancap di belakang lehernya, Tentu saja dia merasa kesakitan.
A Ko menahan tawanya dan dengan hati-hati melepaskan ujung kail yang masih menancap itu.
"Maaf, jangan marah ya!"
Katanya. Siau Po tertawa.
"Anak baik, kecil-kecil saja sudah menuruni watak iseng bapaknya, benar-benar pintar!"
Kian Leng kongcu mendengus kesal.
"Dasar pilih kasih!"
Makinya. Sementara itu, tampak Perwira Peng berlari-lari datang.
"Wi Hu ya, di atas kapal tergantung bendera Kerajaan Ceng yang besar Janganjangan ada apa-apanya di balik semua ini!"
Serunya.
"Tidak salah, Kalau ada sampan yang mendatangi nanti, kita tanyakan saja, kan beres?"
Perwira Peng segera mengiakan, lalu pergi untuk melaksanakan perintah Siau Po.
"Pasti si Budak Kek Song yang main gila dengan memalsukan bendera Kerajaan. itu kan terang-terangan kapal perang dari Taiwan!"
Kata Kian Leng kongcu.
"Bagus, bagus! Kongcu, akhir-akhir ini kau kok semakin cantik saja?"
Ujar Siau Po. Tuan Puteri tertegun, tapi tentu saja hatinya senang mendengar pujian sang suami, bibirnya langsung tersenyum.
"Biasa saja, apanya yang tambah cantik?"
Katanya.
"Pipimu berona merah jambu, wajahmu berseri-seri, dan alismu melengkung indah seperti bulan sabit. Si Budak Kek Song pasti jatuh cinta kalau melihat tampangmu sekarang,"
Sahut Siau Po.
"Huh!"
Dengus kongcu setelah tahu kalau Siau Po hanya menyindirnya.
Tidak lama kemudian, kapal-kapal itu berlabuh.
jaraknya dengan tepi pantai masih agak jauh.
Tampak enam tujuh orang turun ke atas sebuah perahu (se-koci) dan mendayung ke arah pulau.
Perwira Peng memerintahkan anak buahnya bersiap-siap untuk memanah apabila ada gelagat yang tidak menguntungkan.
Di atas perahu kecil itu tampak seseorang sedang berbicara dengan menggunakan alat pengeras suara.
"Firman Kaisar tiba! Komandan Angkatan Laut Si Kun Bun diperintahkan untuk menyampaikan Firman Kaisar!"
Siau Po senang sekali mendengarnya.
"Maknya! Apa-apaan sih si Budak Sie Long? Kenapa dia menggunakan kapal perang Taiwan untuk menyampaikan Firman Kaisar?"
Makinya.
"Mungkin dalam perjalanan ke mari dia bertemu dengan kapal perang Taiwan, Setelah terjadi peperangan dia berhasil meraih kemenangan kemudian digiringnya kapal perang Taiwan itu ke sini,"
Kata Su Cuan mengambil kesimpulan. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Pasti begitu kejadiannya. Cuan cici memang pandai sekali, apa yang ditafsirkannya selalu mendekati kenyataan!"
Kian Leng kongcu semakin tidak senang mendengar saingannya selalu mendapat pujian.
"Kalau aku rasa, kemungkinan Sie Long sudah menyatakan takluk kepada pihak Taiwan dan sekarang dia pura-pura ingin menyampaikan Firman Kaisar agar tidak dicurigai,"
Katanya.
Hati Siau Po sedang senang, maka dia tidak mengeluarkan makian lagi, hanya tangannya mencubit pinggul perempuan itu satu kali lalu bergegas berjalan menuju tepi pantai untuk menyambut Firman Kaisar.
Orang yang berdiri di atas perahu kecil itu ternyata memang Sie Long, Dia turun dari perahu dan berdiri tegak di atas pasir sambil menyampaikan Firman Kaisar Rupanya Kaisar Kong Hi memerintahkan Sie Long untuk menggempur Taiwan, Angkatan Laut Taiwan dan Peng Hu berhasil dihancurkan.
Mereka menggunakan kapal lawan untuk menyerbu masuk ke negara itu.
Pangeran muda The Kek Song langsung menyerahkan diri tanpa berperang lagi, Dengan demikian, Taiwan pun terjatuh ke tangan Kerajaan Ceng.
Sesuai dengan jasa-jasa yang telah didirikan oleh bawahannya, Kaisar Kong Hi menghadiahkan pangkat.
Karena dulu hari Siau Po berhasil membujuk Sie Long untuk bekerja kepada Kerajaan Ceng, maka Kaisar Kong Hi tidak melupakan jasa tersebut Siau Po dianugerahi gelar pangeran Tingkat dua dari Pulau Tong Sip to, yakni El Ten Tong Sip Hou.
Dan pangkat putera pertamanya pun dinaikkan Siau Po mengucapkan terima kasih atas budi besar Sri Baginda terhadapnya, Dia berdiri termangu-mangu seperti orang yang kehilangan sukmanya, ia sama sekali tidak menduga kalau dalam waktu yang singkat Taiwan berhasil direbut kembali oleh Sie Long.
Sejak pertama bertemu dengan The Kek Song, permusuhan di antara mereka telah timbul.
Apalagi setelah gurunya Tan Kin Lam dibunuh oleh pemuda itu, kebenciannya semakin mendalam Begitu Taiwan berhasil dijatuhkan oleh Kerajaan Ceng, tampaknya cita-cita untuk membangun kembali Dinasti Bengpun tinggal khayalan belaka.
Tanpa terasa hatinya ikut bersedih.
Usia Siau Po memang masih muda, apalagi sejak kecil dia tidak pernah mendapat didikan yang baik, Apa yang dikatakan orang sebagai pecinta tanah air, pembela bangsa dan sebagainya, selamanya kurang diperhatikan oleh Siau Po.
Tapi karena cukup lama bergaul dengan saudara-saudara dari Thian Te hwee, dari sekian banyaknya pembicaraan yang berlangsung, setidaknya dia sendiri merasa tidak pantas apabila orang-orang Boan Ciu menguasai tanah orang lain seenaknya.
Saat ini, setelah mendengar bahwa Sie Long sudah berhasil meringkus The Kek Song dan dibawa ke Kotaraja, hatinya sama sekali tidak merasa gembira.
Apalagi mengingat penderitaan almarhum gurunya semasa hidup yang hanya mempunyai satu tujuan yakni membangun kembali Kerajaan Beng.
Taruh kata cita-cita ini akhirnya tidak berhasil diwujudkan tapi paling tidak dia dan rekan-rekannya yang lain harus bisa mempertahankan sepotong tanah di luar lautan yang menjadi lambang sisa kerajaan Beng.
Siapa nyana, belum lama gurunya menutup mata, The Kek Song pun menyerah tanpa melakukan perlawanan sengit Apabila gurunya di alam baka mengetahui hal ini, orang tua itu pasti akan menangis sedih.
Terbayang kembali olehnya saat gurunya menemui ajal, Apabila sebelumnya Tan Kin Lam tidak terlalu menguras tenaga melawan Sie Long, tentunya The Kek Song juga tidak begitu mudah mencelakainya.
sekarang dia melihat tampang Sie Long yang menunjukkan perasaan bangga di hadapannya, hatinya semakin mendongkol.
"Sie Tayjin berhasil mendirikan jasa yang demikian besar, tentunya pangkat yang dianugerahi oleh Sri Baginda juga tinggi sekali bukan?"
Tanyanya dengan perasaan ingin tahu.
"Budi Hong Siang memang besar sekali, hamba dianugerahi pangkat pangeran Ceng Hai hou tingkat tiga,"
Sahut Sie Long.
"Selamat! Selamat!"
Ucap Siau Po.
sementara dalam hatinya dia berpikir, sebetulnya kedudukanku ialah Tong Sip Pak tingkat satu, Apabila pangkatku dinaikkan satu tingkat malah menjadi Tong Sip Hou tingkat tiga.
Tapi si Raja cilik sekaligus menaikkan pangkatku sebanyak dua tingkat sehingga sekarang menjadi Tong Sip Hou tingkat dua.
Rupanya dia ingin kedudukanku lebih tinggi daripada Sie Long ini.
Apabila samasama pangeran tingkat tiga tentunya timbul perasaan kurang enak di antara kami.
Meskipun demikian, membayangkan Sie Long memimpin sejumlah prajurit untuk menggempur Taiwan dan meraih kemenangan, pasti orang itu merasa bangga sekali, sedangkan dia sendiri justru keisengan di atas pulau tanpa ada yang dapat dilakukan.
Rasa irinya timbul seketika.
Perasaan bencinya kepada Sie Long pun semakin menjadijadi.
Sie Long membungkukkan tubuhnya dalam-dalarn dan berkata lagi dengan nada menghormat.
"Ketika bertemu dengan hamba, sikap Sri Baginda sangat tegas, beliau mengatakan.
"Sie Long, kali ini kau bisa membawa pasukan untuk menyerbu ke Taiwan, Tahukah kau siapa yang mengangkat derajatmu? Dulu kau pernah tinggal lama di Pe King, siapa yang memperhatikan dirimu? Siapa yang menaruh perasaan hormat terhadapmu?"
Hamba segera menjawab.
"Semua ini berkat jasa Wi Hu ya, juga budi besar Hong Siang", Sri Baginda berkata lagi.
"Baguslah kalau kau tidak melupakan budi baik seseorang. Karena itu, sekarang juga kau harus berangkat ke Pulau Tong Sip to untuk menyampaikan firmanku sekaligus sampaikan kekagumanku terhadap kejelian matanya memilih orang-orang berbakat yang sanggup mendirikan jasa besar bagi Kerajaan" , itulah sebabnya hamba segera datang ke pulau ini untuk melaksanakan perintah Sri baginda."
Siau Po menarik nafas panjang.
--Setiap orang yang kupilih selalu mendirikan jasa besar, tetapi aku sendiri malah terkurung di atas pulau ini dan tidak bisa ke mana-mana, Si Raja Cilik tidak hentihentinya menaikkan pangkatku, Biarpun seandainya suatu hari dia mengangkat aku sebagai Raja di atas pulau Tong Sip to ini, toh tidak ada bedanya, --pikirnya dalam hati.
"Sie Tayjin, kau datang ke pulau ini menggunakan kapal perang Taiwan, aku sampai terkejut setengah mati, Tadinya aku kira Angkatan Laut Taiwan yang datang untuk menggempur kami. Tak disangka justru kau yang ingin memamerkan diri di hadapanku,"
Kata Siau Po kemudian. Sie Long segera meminta maaf dengan menjura.
"Hamba tidak berani. Hamba mendapat tugas untuk menyampaikan firman Kaisar, Rasanya hamba juga ingin segera bertemu dengan Wi Hu ya, sedangkan kapal perang Taiwan ini buatannya bagus sekali, lajunya jauh lebih cepat, maka hamba menggunakannya untuk mendatangi pulau ini."
"Rupanya kapal perang Taiwan buatannya lebih bagus dan laju nya lebih cepat! Tadinya aku agak ragu, aku kira Sie Tayjin ingin mengangkat diri sendiri menjadi Raja di Taiwan sehingga timbul kekhawatiran dalam hati."
Sie Long terkejut setengah mati mendengar ucapannya. wajahnya sampai berubah pucat pasi.
"Hamba benar-benar ceroboh, petunjuk yang diberikan Wi Hu ya memang benar, Hamba melakukan tugas dengan tergesa-gesa sehingga lambang negara Taiwan tidak sempat dihapus,"
Sahutnya cepat.
Sebetulnya hal ini bukan karena dia ceroboh atau tergesa-gesa, Setelah berhasil merobohkan pihak Taiwan, dia merasa bangga setengah mati.
Dia sengaja menumpang kapal-kapal yang berhasil disitanya untuk pulang ke Kotaraja dan kemudian menuju pulau Tong Sip to.
Dia juga sengaja membiarkan lambang negara Taiwan yang ada di bagian kepala kapal agar sepanjang perjalanan, orang-orang akan menunjuk kepadanya serta membicarakan asal-usul kapal itu.
Tentunya dia akan semakin bangga dengan hasil kerjanya yang gemilang.
Tidak disangka-sangka sekarang Siau Po mengungkapkan dugaannya bahwa dia bermaksud mengangkat dirinya sendiri sebagai Raja di Taiwan, Urusan ini merupakan penghianatan yang tidak bisa diampuni.
Tanpa terasa keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Dalam hati dia sadar bahwa Kaisar Kong Hi sangat menghargai anak muda ini.
Dia sendiri mempertaruhkan jiwa untuk merebut kembali negara Taiwan, sedangkan pemuda ini hanya duduk santai di atas pulau, namun pangkat yang dianugerahkan kepadanya justru lebih tinggi daripada dirinya sendiri seandainya suatu hari nanti dia kembali ke Kotaraja dan mengoceh yang bukan-bukan di hadapan Sri Baginda, bukankah nasibnya bisa celaka?
Hati Sie Long diliputi perasaan takut.
Cepat-cepat disimpannya kembali sikap yang penuh kebanggaan tadi, diperintahkan beberapa orang pejabat tinggi yang datang bersamanya untuk menemui Siau Po.
Salah satunya dikenal oleh Siau Po.
Dia bernama Lim Heng Cu, yang dulu pernah mengikuti Tan Kin Lam dan juga merupakan anggota Thian Te hwee yang ilmunya cukup tinggi Siau Po sempat tertegun melihatnya.
"Dia toh seorang panglima di Taiwan, mengapa sekarang justru menjadi anak buah Sie Long? "
Pikirnya dalam hati Siau Po mendengar dia memperkenalkan diri sebagai Perwira Tinggi Angkatan Laut kerajaan Ceng.
Lim Heng Cu sendiri juga terkejut dan curiga ketika melihat Siau Po yang ada di atas pulau tersebut.
--Dia kan muridnya Tan Kunsu, kenapa sekarang menjadi pejabat tinggi dalam pemerintahan Kerajaan Ceng?
Malah tampaknya Komandan Sie juga demikian hormat terhadapnya!
--pikirnya dalam hati.
Sie Long menunjuk kepada Lim Heng Cu dan seorang lainnya yang diperkenalkan sebagai pengawal pribadi Lim Heng Cu, namanya Ang Cao.
"Perwira Lim dan Pengawal Ang ini tadinya merupakan orang-orang dari pasukan Taiwan, Bersama-sama The Kek Song dan Liu Kok Han, mereka menyatakan takluk terhadap Kerajaan Ceng kami yang besar. Kedua orang ini ahli Maritim, maka kali ini hamba mengajaknya agar menunjukkan cara menjalankan kapal perang Taiwan,"
Katanya menjelaskan. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Oh, rupanya begitu!"
Dia melihat Lim Heng Cu dan Ang Cao menundukkan kepalanya rendah-rendah seakan malu bertemu muka dengannya.
Sejak menduduki negara Taiwan, The Seng Kong berhasil menjalin hubungan dagang dengan negara-negara tetangganya seperti Jepang, Lu Song serta Nepal.
Kekayaan negara Taiwan banyak sekali.
Setelah Sie Long berhasil menggulingkan kekuasaan The Kek Song di negara itu, harta benda berupa intan, berlian dan batu permata yang berharga lainnya segera disita dan dibawa ke Kotaraja, sebagai tanda baktinya terhadap negara, Sie Long tidak mengantongi sebutir pun dari permata tersebut semuanya diserahkan kepada Kaisar Kong Hi.
Si Raja Cilik memerintahkan agar dia membawa sebagian benda-benda berharga itu untuk dipersembahkan kepada Siau Po.
Selain itu, Sie Long sendiri juga sudah menyediakan hadiah untuk anak muda tersebut.
Negara Taiwan juga kaya akan hasil bumi serta pertambangan.
Sie Long membawakan gulungan rotan dan kayu-kayu gelondongan untuk si anak muda.
Begitu melihat barang-barang itu, Siau Po semakin kesal --Thio toako, Tio Jiko, Ong Samko, Sun Siko juga berhasil menggulingkan Gouw Sam Kui.
Tapi hadiah yang mereka berikan justru jauh lebih ada nilainya, Yang kau persembahkan tidak ubahnya barang-barang yang diperlukan gelandangan di tengahtengah jalan, Benar-benar tidak memandang sebelah mata kepadaku!
--Makinya dalam hati.
Malam itu juga Siau Po mengadakan perjamuan.
Tentu saja Sie Long dipersilahkan duduk di bagian kepala, Selain itu masih ada empat perwira tinggi yang mengiringi kedatangan orang itu.
Lim Heng Cu dan Ang Cao juga diundang oleh Siau Po.
Setelah menikmati hidangan dan meneguk beberapa cawan arak, Siau Po berkata.
"Perwira Lim, Seng Peng Kun Ong di Taiwan kan The Keng, kenapa akhirnya kok digantikan oleh The Kek Song? Dengar-dengar dia toh putera kedua, seharusnya bukan bagiannya yang menjadi Ong ya bukan?"
"Betul, Perlu Hu ya ketahui, The Ongya meninggal pada bulan Cia gwe (satu) tanggal dua puluh delapan tahun ini. Beliau menulis pernyataan bahwa Toa Kongcu (putera pertama) nya lah yang menggantikan kedudukannya, Toa kongcu bijaksana dan cerdas, selama ini mendapat penghormatan dari prajurit di Taiwan, tapi Thai hujin yakni permaisuri Tong justru tidak menyukainya, Dia mengutus Peng Gi Hoan untuk membunuh Toa kongcu, kemudian mengangkat Ji kongcu (The Kek Song) sebagai pengganti ayahnya, istri Toa kongcu yakni Tan hujin pergi menemui permaisuri Tong dan mengatakan bahwa suaminya tidak melakukan kesalahan apa-apa. permaisuri Tong marah sekali, Tan hujin diusir keluar. Tan hujin memeluk jenasah suaminya dan menangis sedih sampai lama sekali, kemudian dia menggantung diri untuk menyusul suaminya tercinta, Tan hujin... itu tidak lain daripada putri pertamanya Tan Kun su (Tan Kin Lam), Hal ini membuat rakyat Taiwan menjadi kurang puas,"
Sahut Lim Heng Cu.
Siau Po mendapat tahu bahwa putri gurunya pun dipaksa mati oleh permaisuri Tong, Mengingat gurunya yang telah meninggal, hatinya menjadi sedih sekali Dia menggebrak meja keras-keras.
"Maknya! Si budak The Kek Song itu orangnya tidak becus, mana sanggup dia menjabat sebagai Ongya?"
"Betul, Memang betul, Setelah menggantikan kedudukan ayahnya, Ji kongcu mengangkat Pang Gi Hoan sebagai tangan kanannya, Berbagai urusan dalam negara diserahkan kepada orang itu. sedangkan orang ini tidak mempunyai kebijaksanaan lagipu!a egois. Apabila ada orang yang berani mengungkapkan beberapa kebenaran, pasti dia menyuruh orang membunuhnya, Oleh karena itulah para pejabat yang lain hanya berani marah dalam hati namun tidak ada seorang pun yang berani mengungkapkannya secara terang-terangan. Rupanya arwah Toa kongcu dan Tan hujin masih sering bergentayangan, Pada bulan Empat tahun ini pula permaisuri Tong mati ketakutan karena sering dihantui arwah anak menantunya,"
Sahut Lim Heng Cu menjelaskan.
"Bagus! Bagus! sesampainya permaisuri Tong ke alam baka, Toa kongcu pasti tidak akan membiarkannya!"
Seru Siau Po.
"Sudah pasti! Ketika berita tentang kematian permaisuri Tong yang digentayangi hantu tersiar luas, rakyat Taiwan dari utara sampai Selatan memasang petasan panjang selama tiga hari tiga malam, Bilangnya sih untuk mengusir setan, padahal mereka mengadakan syukuran atas kematian permaisuri yang jahat itu,"
Kata Lim Heng Cu pula.
"Menyenangkan! Menyenangkan!"
Seru Siau Po berulang-uIang.
"Urusan roh yang gentayangan itu belum pernah terbukti benar-benar, Kemungkinan hati permaisuri Tong tidak tenang setelah membunuh cucu pertamanya dan memaksa mati cucu mantunya, Orang tua sering membayangkan hal yang tidak-tidak dan akhirnya dia seperti melihat setan,"
Ujar Sie Long. Wajah Siau Po berubah serius.
"Roh jahat memang benar-benar ada. Apalagi roh orang yang matinya penasaran, Setelah jadi setan dia datang lagi untuk menagih hutang atau membalas dendam. Sie Tayjin, kali ini kau tentu banyak membunuh orang ketika menyerbu ke Negara Taiwan, Mungkin di atas kapal perang Taiwan itu juga banyak setannya, sebaiknya Tayjin berhati-hati,"
Katanya. Wajah Sie Long sempat berubah sekilas, namun kemudian dia tersenyum.
"Dalam peperangan pasti banyak korban yang jatuh, Kalau setiap orang yang mati dalam peperangan selalu menjadi hantu, maka setiap panglima perang pasti akhirnya mati secara mengenaskan,"
Sahutnya. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Belum tentu. Sie Tayjin tadinya kan panglima perang di bawah pimpinan Kok Seng Ya, akhirnya berbalik menggempur orang sendiri jelas para prajurit Taiwan yang gugur pasti merasa penasaran, Sudah pasti tidak dapat disamakan dengan panglima perang lainnya."
Sie Long terdiam, Hatinya merasa marah, Dia lahir di propinsi Hokkian, sedangkan sebagian besar anak buah Kok Seng Ya juga orang dari Propinsi Hokkian, Lebih-lebih yang ada di daerah selatan.
Ketika dia berhasil menggempur negara Taiwan, dia sudah mendengar gosip tentang dirinya yang dikatakan sebagai pengkhianat bangsa.
Bahkan ada orang yang mengirim surat kaleng dan memaki-makinya, Dalam hati kecilnya dia juga merasa malu, tapi orang yang berani terang-terangan menyindirnya hanya Siau Po sekarang ini.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap anak muda itu, makanya amarahnya tertumpah pada diri Lim Heng Cu.
Tampak matanya mendelik kepada orang itu, Dalam hati dia berjanji, --sekembalinya dari pulau ini, pasti ada pertunjukkan bagus yang dapat kau saksikan, - "Sie Tayjin, nasibmu juga cukup bagus.
seandainya Tan Kun su tidak mati, tentu dia akan ke Taiwan untuk melindungi Toa kongcu dan putrinya, Dengan demikian The Kek Song tidak dapat menggantikan kedudukan ayahnya pula, Di bawah pimpinan Tan Kun su, seluruh rakyat Taiwan akan kompak, Bila hal itu sampai terjadi, belum tentu sekarang kau bisa menguasai Taiwan,"
Kata Siau Po selanjutnya.
Sie Long maklum kemampuannya tidak dapat menandingi Tan Kin Lam.
Kalau orang itu belum mati, mungkin kejadiannya tidak dapat berakhir seperti sekarang ini.
Tiba-tiba Ang Cao menukas.
"Apa yang dikatakan Wi Hu ya memang tepat, Prajurit dan rakyat Taiwan juga sama pandangannya, Setiap orang membenci The Kek Song yang membunuh seorang prajurit sejati. Dengan demikian dia menghancurkan bangsa dan negaranya sendiri sungguh keturunan yang tidak berbakti dari Kok Seng Ya."
Sie Long marah sekali mendengar kata-katanya.
"Pengawal Ang, sekarang kau sudah takluk pada Kerajaan Ceng kami yang besar, mengapa kau masih berani membicarakan pemberontak yang sudah berhasil dijatuhkan!"
Teriaknya. Ang Cao cepat-cepat berdiri dan menjura dalam-dalam.
"Hamba bersikap teledor, harap Tayjin sudi memaafkan,"
Katanya.
"Saudara Ang, apa yang kau katakan merupakan kenyataan. Biarpun Sri Baginda sendiri mendengarnya, beliau juga tidak akan mempersalahkan dirimu, Mari duduk kembali dan minum arak yang disuguhkan,"
Kata Siau Po.
"Baik,"
Sahut Ang Cao seraya duduk kembali Diangkatnya cawan araknya, namun tangannya gemetaran sehingga sebagian isinya tumpah keluar.
"Tentunya rakyat Taiwan sudah tahu kalau Tan Kun su dicelakai oleh The Kek Song, bukan?"
Tanya Siau Po pula.
"Betul. sekembalinya ke Taiwan, The Kek Song mengatakan bahwa Tan Kun su.... Tan Kun su.,."
Matanya melirik sekilas kepada Sie Long dan akhirnya dia tidak berani meneruskan kata-katanya.
"Saudara Ang, apabila yang kau katakan itu memang benar adanya, siapa pun tidak berani menyalahkan dirimu,"
Kata Siau Po.
"Betul, betul The Kek Song dan Pang Gi Hoan beserta beberapa orang bawahannya meninggalkan pulau ini dengan menggunakan perahu kecil. Untuk beberapa hari mereka terombang-ambing di tengah lautan, akhirnya mereka bertemu dengan kapal nelayan yang mengantarkan mereka pulang ke Taiwan, The Kek Song mengatakan bahwa Tan Kun su terbunuh oleh Sie Ciangkun, The Ongya yang mengetahui hal ini menangis sedih sampai beberapa hari lamanya, Kemudian The Kek Song menggantikan kedudukan orang tua itu, dan di hadapan orang banyak dia baru mengakui bahwa dialah yang membunuh Tan Kun su. Dia malah membual bahwa ilmu silatnya sendiri yang sudah mencapai taraf tinggi sekali, walaupun Tan Kun su mempunyai banyak anak buah tapi tidak ada satu pun yang sanggup menandinginya. Banyak pengikut Tan Kun su yang tidak puas mendengar berita tersebut, mereka menanyakan apa kesalahan Tan Kun su sehingga dibunuhnya, tapi orang-orang itu justru diringkus oleh Pang Gi Hoan dan dihukum mati,"
Sahut Ang Cao. Siau Po menghentakkan cawan araknya keras-keras ke atas meja.
"Kesalahan neneknya!"
Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak, Biasanya kita suka memaki nenek orang, tentunya para nenek-nenek menjadi penasaran.
Hanya nenek The Kek Song yang pantas dimaki-maki.
Kejahatannya sudah melebihi nenek siapa pun di dunia ini!"
Kata-katanya itu terasa enak didengar oleh telinga Sie Long.
Dia mengkhianati The Kek Song justru karena seluruh keluarganya dihukum mati, sedangkan orang yang memberikan perintah tidak lain dari permaisuri Tong, nenek The Kek Song.
"Apa yang dikatakan Wi Hu ya memang benar. Kita sering memaki-maki dengan kata-kata Neneknya!" . Coba bayangkan saja, Kok Seng Ya orangnya gagah dan bijaksana pula, salahnya justru memilih istri yang keliru,"
Katanya. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Setiap orang di dunia ini boleh memaki nenek The Kek Song, justru harus Sie Ciangkun seorang yang tidak boleh memakinya. Kenapa? Karena pangkat dan kekayaan Sie Ciangkun hari ini diberikan oleh nenek tua itu. Mernang ayah, ibu, istri dan anak-anakrnu telah dicelakai olehnya, Tapi kalau dibandingkan dengan kedudukan Pangeran tingkat tiga dan berbagai gelar panglima perang, rasanya Sie Ciangkun juga tidak terlalu rugi,"
Ujar si anak muda seenaknya.
Wajah Sie Long langsung berubah merah padam.
-Aku juga akan memaki-maki nenekmu!
-gerutunya dalam hati, Dia berusaha menahan hawa amarah, diangkatnya cawan arak dan diminumnya sekaligus, Tapi karena nafasnya tersengal-sengal menahan kemarahan, dia malah tersedak dan akhirnya batuk-batuk.
Siau Po berkata dalam hati.
--Kalau melihat tampangmu, pasti kau sedang memaki nenekku sekarang ini.
Tapi siapa ayahku saja aku tidak pernah tahu, apalagi nenekku, Kalau kau memaki nenekku sembarangan, pasti kau akan memaki orang yang salah, Mungkin kau juga ingin menjadi ayahku?
Wah, lebih gawat lagi!
Dengan demikian nenekku adalah ibumu, Kalau kau memaki nenekku artinya kau memaki ibumu sendiri pusing deh!
Dengan membawa pikiran demikian Siau Po menatap Sie Long sambil tersenyum simpuI.
Di meja itu juga duduk dua orang Perwira Angkatan Laut bermarga Lu.
Dia khawatir bisa timbul pertengkaran apabila sindir-menyindir ini dibiarkan terus, Maka dia berkata.
"Wi Hu ya, Sie Ciangkun berhasil menguasai Taiwan kali ini, benar-benar mengandalkan keberaniannya mempertaruhkan jiwa, Setelah menerima tugas dari Sri Baginda, Sie Ciangkun segera memerintahkan bawahannya untuk mempersiapkan enam ratus kapal perang dengan disertai enam laksa prajurit. Mereka berbondong-bondong berangkat Di atas lautan mereka malah sempat terhalang badai, Setelah berlayar sebelas hari mereka baru tiba di wilayah Peng Hu. Pada hari keenam belas mereka baru berhadapan dengan pasukannya Liu Kok Han. peperangan saat itu benar-benar dahsyat, langit gelap tertutup asap meriam, sampaisampai kita sulit membedakan siang atau malam hari, Sie Ciangkun sendiri sampai mengenakan jubah berwarna...."
Siau Po melihat Lim Heng Cu dan Ang Cao menundukkan kepalanya, Wajah mereka menunjukkan kemarahan.
Dia tahu kedua orang ini pasti terlibat dalam peperangan itu dan tentu saja Sie Long yang meraih kemenangan.
Siau Po tidak sudi mendengarkan cerita Perwira Lu yang membanggakan Sie Long, maka dia segera menukas.
"Sie Ciangkun, tempo hari ketika Kok Seng Ya berhasil menduduki negara Taiwan, apakah kalian juga memulai penyerangan dari wilayah Peng Hu?"
"Betul,"
Sahut Sie Long.
"Ketika itu kau masih menjadi bawahan Kok Seng Ya, bagaimana cara kalian bisa masuk ke wilayah Peng Hu?"
Tanya Siau Po pula.
"Setan-setan berambut merah itu tidak menugaskan prajuritnya menjaga wilayah Peng Hu,"
Sahut Sie Long.
"Pada tahun itu, Kok Seng Ya memimpin pasukannya menyerbu ke sebelah timur pulau, dengar-dengar saudara Lim juga ikut ambil bagian dalam penyerbuan menghalau pengikut setan berambut merah itu, bagaimana kejadian yang sebenarnya? Dapatkah Saudara Lim menceritakannya agar aku dapat mengetahuinya?"
Tanya Siau Po pada Lim Heng Cu.
Dalam hati Lim Heng Cu.
--Kejadian itu toh sudah pernah kuceritakan dulu, mengapa kau meminta aku mengulanginya kembali?
Oh, tentunya kau tidak ingin mendengar cerita busuk tentang Sie Ciangkun yang menguasai Taiwan, maka ingin aku menceritakan kisah kepahlawanan Kok Seng Ya dan Tan Kun su pada jaman itu, Padahal aku tidak boleh menceritakan banyak-banyak tentang diriku sendiri, Sekali hati Sie Long memendam kebencian, lain kali aku pasti menemui berbagai kesulitan sebaiknya aku mengangkatangkat orang ini saja.
Dengan membawa pikiran demikian, dia menjawab.
"Sie Ciangkun sudah dua kali menyerbu Taiwan, jasanya sungguh besar Pada waktu itu Kok Seng Ya pernah mengumpulkan para panglimanya untuk merundingkan hal itu, sebagian besar panglimanya mengajukan saran untuk membatalkan keinginan itu. Pertama karena kedudukan Taiwan yang strategis sebagai benteng pertahanan dan sulit digempur. Kedua karena udara di sekitar perairan pulau itu yang kurang menguntungkan karena sering terjadi angin topan dan hujan badai, Apalagi persenjataan Setan Berambut Merah yang sangat hebat Mereka mempunyai meriam dan senapan yang lengkap, Urusan ini benar-benar berbahaya, tapi Sie Ciangkun dan Tan Kun su berdualah yang menyatakan persetujuan Akhirnya mereka benar-benar berhasil menduduki negara Taiwan."
Mendengar keterangan Lim Heng Cu, wajah Sie Long langsung menunjukkan kebanggaan.
"Hal itu terjadi pada tahun Eng Liok ke Lima belas bulan dua.,,."
Sie Long segera menukas kata-kata Lim Heng Cu.
"Perwira Lim, penanggalan yang digunakan Dinasti Beng tidak boleh kau gunakan lagi. Hal itu terjadi pada tahun delapan belas Kaisar Sun Ti."
"Betul, betul,"
Sahut Lim Heng Cu cepat "Pada bulan dua tahun itu, Kok Seng Ya memindahkan pasukannya ke kota Kim Bun.
Pada bulan tiga tanggal satu seluruh pasukannya sudah berkumpul di tepi pantai, Tanggal sepuluh bulan yang sama mereka sudah mengepung pulau Taiwan dari segala penjuru.
Kebetulan saat itu cuaca di daerah itu sangat buruk, para prajurit yang tidak mempunyai pengalaman di laut merasa takut untuk berlayar Kok Seng Ya dan Tan Kun su membawa sebagian pasukan ke kota kecil terdekat untuk menunggu kesempatan baik.
Sampai tanggal dua puluh tiga bulan itu, cuaca baru kembali cerah.
Pasukan Kok Seng Ya segera mengembangkan layar dan menjalankan kapal.
Pada tanggal dua puluh empat sorenya mereka baru tiba di Peng Hu.
Namun baru saja tiba tidak beberapa lama, badai kembali melanda.
Selama beberapa hari kapal tidak bisa berangkat Peng Hu merupakan pulau tandus, tidak ada makanan apa-apa yang dapat diperoleh, maka pasukan Kok Seng Ya terpaksa menangsal perut dengan ubi bakar.
Sampai tanggal tiga puluh badai masih belum reda juga.
Tan Kun su dan Kok Seng Ya sepakat bahwa mereka tidak bisa menunda waktu lagi, Padahal perasaan para prajurit masih dicekam kecemasan.
Pada kentungan pertama tengah malam itu, Tan Kun su menembakkan meriam sebanyak tiga kali, Beramai-ramai mereka memukul tambur Tan Kun su berseru dengan suara lantang.
"Demi kesetiaan terhadap negara, badai topan pun kita terjang!"
Para prajurit jadi bersemangat mendengar teriakan panglimanya, mereka membesarkan hati dan ikut berseru.
"Demi kesetiaan terhadap negara, badai topan pun kita terjang!"
Begitu lantangnya suara seruan mereka sehingga bisa menutupi suara petir dan gelombang badai yang bergejolak di lautan."
Siau Po menoleh kepada Sie Long.
"Tentunya pada saat itu Sie Ciangkun juga ikut menyerukan kata-kata itu, bukan?"
Tanyanya.
"Waktu itu hamba ditugaskan menjaga pintu per-batasan Sia Bun, jadi tidak ikut menyerbu ke Taiwan,"
Sahut Sie Long.
"Rupanya begitu, sayang sekali, sayang sekali!"
Kata Siau Po.
"Ketika Kok Seng Ya sampai ke Peng Hu, yang ditemuinya hanya badai dan angin topan, Lain halnya dengan Sie Ciangkun, ketika beliau membawa pasukannya sampai ke Peng Hu, hal itu barulah menggetarkan hati, Yang menyambut kedatangannya justru pasukan besarnya Liu Kok Han. Belum apa-apa mereka sudah menembakkan meriam sampai puluhan kali. Belum lagi panah api dan senjata lain-lainnya yang.,."
Kata Wakil Panglima Lu. Siau Po tidak membiarkan orang itu menyelesaikan kata-katanya, dia tertawa lebar.
"Wakil panglima Lu, tampaknya nyalimu tidak berbeda dengan nyaliku,"
Tukasnya.
"Tidak berani. Hamba mana mungkin menyamai Wi Hu ya?"
Sahut orang She Lu itu.
"Tidak bisa menyamai aku?"
Tanya Siau Po untuk menegaskan.
"Tentu saja tidak,"
Sahut Wakil panglima Lu.
"Aneh sekali, Selama ini aku mengira, bahwa diriku ini orang yang paling penakut di dunia ini, Ya, aku menyangka nyaliku kecil sekali, tidak disangka-sangka hari ini ada orang yang mengaku bahwa nyalinya lebih kecil dari nyaliku, padahal nyaliku sendiri sudah seperti nyali tikus, Rupanya kau malah lebih kecil daripada tikus! Ha ha ha ha!"
Lu Hu Ciang (Wakil Panglima Lu) berubah merah. Dia tidak berani mengatakan apaapa lagi. Siau Po kembali mengajukan pertanyaan kepada Lim Heng Cu.
"Apa yang terjadi setelah Kok Seng Ya memimpin pasukan mengarungi lautan?"
"Kapal-kapat perang itu terombang-ambing di atas lautan selama dua kentungan lebih, Sampai kentungan ketiga tiba-tiba hujan dan badai berhenti Sesaat kemudian angin pun berhembus dengan normal. Para prajurit berseru kegirangan Suara mereka lebih dahsyat dari geledek yang menggelegar sebelumnya. Mereka mengatakan bahwa niat mereka mendapat restu dari Thian Yang Kuasa, dan dalam peperangan kali ini mereka pasti mendapat kemenangan. Pada tanggal satu pagi kapal perang mereka sampai di luar perbatasan Lu Ji Bun, Beramai-ramai mereka menggunakan galah untuk menjungkit bagian kepala kapal agar dapat melalui gundukan pasir di daerah itu, Siapa sangka pasirnya tinggi dan air di tempat itu dangkal, sehingga kapal tidak dapat melaluinya, Kok Seng Ya sudah mulai panik. Dia segera mengambil tiga batang hio lalu bersembahyang kepada Thian Yang Kuasa agar membuka jalan bagi mereka. Baru saja ketiga batang hio itu ditancapkan pada anjungan kapal, tiba-tiba gelombang besar menghantam kapal mereka sehingga terjungkit ke atas sehingga terhempas melalui gundukan pasir tersebut Di atas daratan, Setan-Setan Berambut Merah telah menunggu kedatangan mereka. Meriam-meriam langsung ditembakkan Pihak lawan sudah membangun dua buah benteng pertahanan Yang satu dinamakan Je Lan Tik dan satunya lagi Po Lo Ming Se...."
Siau Po tertawa.
"Setan-Setan Berambut Merah itu lucu juga, untuk benteng saja memilih nama-nama yang aneh,"
Katanya. Lim Heng Cu tersenyum mendengar kata-katanya.
"Pada saat itu Kok Seng Ya menggunakan alat teropong, beliau melihat di daerah pesisir sudah berbaris pasukan lawan yang jumlahnya tidak terkira, Kok Seng Ya khawatir pihak lawan akan mendatangkan bala bantuan di tengah-tengah pertempuran maka dia memerintahkan seorang panglimanya untuk memimpin seribu prajurit dan mengambil jalan memutar untuk menghadang musuh dari belakang. Dengan demikian, apabila mereka kewalahan menghadapi pasukan Kok Seng Ya, mereka tidak bisa melarikan diri untuk memanggil bala bantuan pertempuran pun berlangsung dengan seru, Hamba dan beberapa rekan lainnya ditugaskan menembakkan meriam apabila mendapatkan kesempatan bagus. Hamba tahu bahwa kapal paling besar yang dikurung di tengah-tengah pasti merupakan kapal pimpinan Setan Berambut Merah itu. Berkali-kali hamba menembakkan meriam ke arah kapal tersebut, namun selalu tidak ada hasilnya, Hamba menjadi kesal. Akhirnya Kok Seng Ya menganjurkan agar kami menembakkan beberapa meriam sekaligus. Saran itu hamba terima, Beberapa anak buah segera men-jejerkan meriam-meriam dan bersiap-siap. Hamba memberikan aba-aba dengan hitungan Tepat pada hitungan ketiga, sepuluh meriam ditembakkan dalam waktu yang bersamaan Tidak terkatakan dahsyatnya suara dentuman meriam-meriam itu. Kapal terbesar yang memuat pimpinan lawan pun hancur seketika, Tanpa banyak kesulitan lagi kami berhasil membuat pihak lawan terkocar-kacir." (Catatan . The Seng Kong masuk Taiwan dari wilayah Peng Hu, yakni yang sekarang disebut Tai Nan, Para tentara Holland pada masa itu juga bercokol di daerah tersebut.) Siau Po menuangkan secawan arak, lalu dengan kedua tangan disodorkannya kepada Lim Heng Cu.
"Lim toako, tembakan yang bagus, biar aku menghormatimu dengan secawan arak,"
Katanya. Lim Heng Cu berdiri untuk menerima arak yang disodorkan Siau Po kepadanya, Setelah mengucapkan terima kasih, dia meneguknya sekaligus.
"Ketika kami berhasil meraih kemenangan, penduduk Tionghoa setempat bersorak kegirangan Mereka mengelu-elukan bahwa bintang penolong telah dikirimkan oleh Thian Yang Kuasa. Bahkan banyak yang menangis saking terharunya, Wi Hu ya, ayah dari Kok Seng Ya mereka merupakan nelayan-nelayan yang hidupnya di pesisir pantai perbatasan Taiwan. Kemudian terjadi bencana alam sehingga orang tua itu membawa seluruh keluarganya mengungsi ke Tiong goan, Dengan demikian, belakangan hari secara bergantian Taiwan diduduki oleh Bangsa HoIIand dan Spanyol. Setan HoIIand menduduki bagian selatan, sedangkan setan Spanyol menguasai bagian utara, Akhirnya kedua setan itu berselisih dan pecahlah peperangan Bangsa Spanyol yang kalah, Taiwan pun dikuasai secara penuh oleh Bangsa HoIIand (Belanda). Bangsa kita yang masih berdiam di atas pulau mendapat siksaan dari setan Holland, Yang berani melawan pasti dibunuh, pada saat itu, ada seorang saudara yang tadinya merupakan pengikut ayah Kok Seng Ya, namanya Kwe Huai It. Dia adalah seorang laki-Iaki sejati Meskipun keadaan saat itu sedang genting, dia tetap tidak mau meninggalkan pulau tersebut Dia menyaksikan bangsa kita diperlakukan secara sadis, Diam-diam dia mengumpulkan penduduk setempat yang sehati dengannya. Mereka mengadakan perundingan dan akhirnya tercapai kesepakatan bahwa mereka akan melakukan penyerbuan ke benteng Setan-Setan Berambut Merah agar pulau mereka tidak dikuasai penjajah lagi. Keputusan telah ditetapkan sayangnya di antara mereka ada seorang pengkhianat, Namanya Po Cai, dialah yang melaporkan rencana ini kepada pihak Bangsa Holland..."
Siau Po menggebrak meja keras-keras.
"Neneknya! Urusan bangsa Cina justru sering dirusak oleh pengkhianat negaranya sendiri!"
Maki anak muda itu.
"Memang betul Begitu melihat Po Cai melarikan diri, Kwe Huai It toako segera menduga ada yang tidak beres, maka saat itu juga rencana dirubah, Saudara Kwek segera menyuruh bawahannya untuk mengumpulkan para penduduk dan melakukan penyerbuan saat itu juga. Dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi saat itu, persiapan apa pun belum ada. Senjata yang dimiliki bangsa HoIIand hebatnya bukan main, sedangkan persenjataan Bangsa Tionghoa kita hanya golok, anak panah dan paling banter beberapa pistoI curian, perang yang tidak seimbang pun pecah, Selama lima belas hari penduduk setempat masih dapat bertahan tetapi akhirnya kisah kepahlawanan Saudara Kwe Huai It itu terpaksa berakhir ketika sebuah tembakan tepat mengenainya, bahkan tubuhnya hancur tidak berbentuk oleh ledakan meriam yang menyusul..."
"Aduh, celaka!"
Teriak Siau Po.
"Begitu Saudara Kwe mati, para penduduk yang lainnya seperti ular yang kehilangan kepala, Bangsa Tionghoa terpukul mundur sampai keluar perbatasan Di tepi telaga Tai hu pertempuran masih berlangsung selama tujuh hari tujuh malam Bangsa Tionghoa yang gugur di samping telaga itu diperkirakan ada empat ribu orang lebih, sedangkan perempuan yang tidak ikut campur dalam urusan peperangan ini juga dibunuh berikut anaknya yang masih kecil-kecil, jumlah mereka tidak kurang dari lima ratus orang. semuanya mati penasaran. Gadis yang rupawan dipaksa menjadi gundik bagi Setan-setan Holland, sedangkan laki-laki yang tertangkap dihukum mati dengan sadis...."
Siau Po gusar sekali mendengar cerita itu.
"Setan-Setan Berambut Merah ternyata sadis sekali! Tindakan mereka lebih kejam daripada apa yang pernah dilakukan kerajaan Ceng pada bangsa kami di Yang-ciu dulu!"
"Peristiwa berdarah itu terjadi pada tahun ke enam Kaisar Eng Liok, bulan delapan...."
Bagian 88 Kata-kata Lim Heng Cu diputus oleh Ang Cao.
"Tahun ke enam Eng Liok berarti tahun ke tujuh... delapan... eh, sembilan dari Kaisar Sun Ti."
"Apa iya? Sejak pembunuhan besar-besaran itu, penduduk Tionghoa di Taiwan tidak bisa akur kembali dengan para Setan Berambut Merah, Karena urusan yang kecil saja, para Setan Berambut Merah tidak segan-segan membunuh orang Tionghoa setempat itulah sebabnya ketika melihat datangnya pasukan Kok Seng Ya, penduduk setempat kegirangan setengah mati dan berseru bahwa Bintang Penyelamat mereka telah tiba. Tua muda, laki-laki maupun perempuan langsung mengadukan penderitaan mereka kepada kami pada malam harinya, setelah benteng pertahanan yang pertama berhasil kami jebolkan. Setan-Setan Berambut Merah yang ada di benteng pertahanan satunya menjadi marah. Mereka menangkapi penduduk di sekitarnya dan terjadilah pembantaian besarbesaran. Sekitar lima ratus penduduk ^o,rigkDa menjadi korban. Keesokan harinya, Tan Kunsu yang mendengar berita itu menjadi berang. Dikumpulkannya para prajuritnya lalu diberi petunjuk tentang tindakan apa yang harus diambil untuk melaksanakan penyerangan ke benteng pertahanan Bangsa HolIand yang satunya. Tan Kun su adalah panglima yang sudah berpengalaman, sedangkan bawahannya selalu menghormati orang ini. Di bawah pimpinan Tan Kun su, siang hari itu juga mereka menyerbu ke benteng pertahanan yang satu lagi. Hamba mendapat tugas memimpin pasukan kedua, yakni prajurit gelombang kedua yang menggantikan kedudukan prajurit gelombang pertama yang mulai kelelahan. Dalam waktu dua hari dua malam, kami kembali berhasil menjebolkan benteng pertahanan lawan."
"Semua ini berkat jasa Lim toako pula,"
Kata Siau Po..
"Semua itu merupakan siasat yang cerdik dari Tan Kun su, hamba tidak mendirikan jasa apa-apa,"
Sahut Lim Heng Cu.
"Setelah benteng pertahanan berhasil dijebol, Kok Seng Ya tidak mau kepalang tanggung bekerja. Ribuan prajurit di bawah pimpinannya terus menggempur sisa Setan-Setan Berambut Merah yang masih ada. Perang yang pecah saat itu dahsyat sekali, prajurit kami juga banyak yang gugur dalam medan perang, Para Setan Berambut Merah merasa pasukan mereka tidak sanggup lagi menahan kegencaran serbuan prajurit Kok Seng Ya, mereka berlari ke pantai dan berniat melarikan diri dengan kapal. Pada saat itu kapal-kapal kami juga berlabuh di tempat yang tidak seberapa jauh, Kok Seng Ya membidikkan panah api sebagai isyarat kepada para prajuritnya yang ada di atas kapal. Mereka segera paham apa yang diperintahkan oleh Kok Seng Ya. Mereka membiarkan Para Setan Berambut Merah itu kabur di atas kapal. Setelah yakin semuanya naik kapal, prajurit Kok Seng Ya segera menembakkan meriam ke arah kapal tersebut. Dalam sekejap mata beberapa kapal yang berisi para penjajah itu hancur berantakan Darah dan daging manusia berserakan di permukaan laut, air laut pun langsung berubah menjadi merah warnanya, Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan!"
"Wah! Hebat, hebat!"
Seru Siau Po sambil mengacungkan jempolnya, Lalu dia memalingkan wajahnya kepada Sie Long.
"Sayangnya Sie Ciangkun saat itu sedang bertugas di Sia Bun. seandainya waktu itu Sie Ciangkun ikut ambil bagian dan membunuh beberapa ekor Setan Berambut Merah saja, sudah cukup pantas disebut sebagai pahlawan bangsa,"
Katanya pula. Sie Long berdiam diri tanpa tahu apa yang harus diucapkan. Siau Po bertanya pula kepada Ang Cao.
"Ang toako, di mana kau pada saat itu?"
"Saat itu hamba di bawah pimpinan Liu Kok Han, Liu Ciangkun Kami menyerang daerah utara, Meskipun kebanyakan Para Setan Berambut Merah itu di selatan, namun jumlah mereka di utara juga cukup banyak, lagipuIa persenjataan mereka lebih lengkap. Ketika kapal kami sudah dekat dengan kapal musuh, para prajurit kami sudah mulai menembakkan senapan dan meledakkan meriam. Tapi pihak lawan menggunakan sejenis perisai anti peluru, Sampai berpuluh kali kami melepaskan tembakan, namun tidak ada satu pun yang mengenai sasaran. Hampir saja kami merasa putus asa. Yang memimpin pasukan terdepan saat itu Lim Cin Cia, Lim Ciangkun. Dia melihat situasinya tidak menguntungkan bagi pihak kita, Anak buahnya sudah banyak yang mati tertembak, sedangkan dari pihak lawan belum satu pun korban yang jatuh. Akhirnya Lim Ciangkun menjadi nekad, Dia melompat ke kapal musuh dengan membawa sebuah granat di tangan, Begitu berhasil mencapai kapal lawan, ditariknya ujung granat dan seluruh kapal itu pun meledak bersama dirinya. Para Setan Berambut Merah yang ada di kapal lainnya menjadi panik melihat pasukan bangsa kami yang berani mati. Dalam waktu sekejap, dua kapal perang musuh sudah berhasil kami kuasai, Malam harinya kami mendapat berita bahwa pihak Tan Kun su juga sudah mendapat kemenangan. Bahkan ketika perang usai, Kok Seng Ya memerintahkan seorang tabib untuk memeriksa keadaan Tan Kun su, dari tubuh Panglima perang itu berhasil dikeluarkan tujuh butir peluru,"
Sahut Ang cao menjelaskan.
"Eh, guruku tidak mati di bawah tembakan pistol Setan Berambut Merah, akhirnya malah mati oleh tusukan pedang si budak The Kek Song yang neneknya jahat! Sie Ciangkun, Lam Cu Han Tai Tiong Hu (Pria yang merupakan laki-laki sejati) seharusnya membela negara membasmi orang asing yang ingin menjajah negaranya, itu baru namanya hebat! Kalau orang Tionghoa membunuh orang Tionghoa juga, biar pun yang dibunuh jumlahnya tidak terhitung lagi, tetap saja tidak pantas disebut laki-laki sejati, iya kan?"
Sie Long mendengus satu kali tetap tidak memberikan jawaban.
"Para Setan Berambut Merah sudah mengalami beberapa kali kekalahan. Mereka memerintahkan anak-anak buahnya untuk menelusup ke tempat kami untuk membakar gudang ransum, namun setiap kali tindakan mereka tertangkap basah oleh Tan Kun su, Akhirnya mereka menjadi kelabakan Tindakan mereka selanjutnya adalah mengutus seorang panglima perang untuk menyeberangi lautan secara diam-diam dan meminta bantuan dari Bangsa Ceng. Mereka menemui gubernur setempat yang bernama Li Sian Tay. Ternyata Li Tayjin ini orangnya lucu juga, Dia membalas surat komandan Setan Berambut Merah dan menyuruh mereka memimpin pasukannya memasuki wilayah Hokkian. Tujuannya untuk menghancurkan prajurit Kok Seng Ya yang ada di Kim Bun dan Sia Bun Tentara kerajaan Ceng sendiri akan menggempur langsung Pulau Taiwan, Li Tayjin ini tidak tahu, bahwa seluruh benteng pertahanan Setan-Setan Bcrambut Merah telah dikuasai Kok Seng Ya. jangan kata menyerbu ke Hokkian, untuk meloloskan diri saja belum tentu ada kemampuan,"
Kata Lim Heng Cu.
"Ucapan Setan-Setan Berambut Merah itu ibarat kentut busuk, sampai akhirnya mereka tidak menyerang ke Kim Bun dan Sia Bun bukan? Apa yang pernah diucapkan oleh Kerajaan Ceng kita yang besar barulah masuk hitungan, Akhirnya tentara kerajaan kita benar-benar menyerbu ke Taiwan kan? walaupun kejadiannya sudah terlambat tiga puluh tahunan, tapi toh tidak apa-apa. Ketika Sie Ciangkun melakukan penyerangan ke Taiwan, entah ada atau tidak Setan Berambut Merah yang membantu penyerangan dari dalam?"
Tanya Siau Po pula. Sie Long tidak dapat menahan diri lagi, Dia langsung berdiri dan berkata dengan nada marah.
"Wi Hu ya, kita sama-sama orang yang makan gaji, majikan kita sama-sama pemerintah Kerajaan Ceng yang besar, mengapa kata-kata yang kau ucapkan selalu dingin menusuk dan menyindir perasaan saudaramu ini?"
Siau Po menunjukkan mimik heran.
"Aih! Kok aneh, kapan aku menggunakan kata-kata untuk menyindirmu? Sie Ciangkun tidak bekerja sama dengan bangsa asing, rasanya masih belum terlambat Sekarang kedudukan Sie Ciangkun sudah tinggi sekali, prajurit yang dibawahinya pasti besar sekali jumlahnya. Bila Sie Ciangkun menghubungi Setan Holland, Setan Spanyol, Setan Portugis, Setan Lo Sat sekalipun, tentunya mereka senang dapat bekerja sama denganmu!"
Hati Sie Long tercekat mendengarnya.
--Celaka!
Kalau dia sembarangan mengoceh di depan Sri Baginda bahwa kemenangan yang aku peroleh kali ini merupakan kerja sama dengan bangsa asing, sama saja aku menyerahkan selembar nyawa ini ke tangannya!
--pikirnya dalam hati.
Membawa pikiran demikian, dia mengingat kembali amarah dan kata-katanya yang tidak sopan barusan Hatinya menyesal sekali Cepat-cepat dia mengembangkan seulas senyuman sambil berkata.
"Saudaramu ini sudah kebanyakan minum, jadi emosi, Harap Wi Hu ya tidak menyimpan persoalan ini dalam hati."
Ketika Sie Long berdiri dengan mata mendelik, sebetulnya Siau Po agak takut juga.
Melihat orang itu kemudian tersenyum dan memohon maaf darinya, anak muda yang cerdik itu segera paham bahwa Sie Long sendiri juga masih gentar terhadapnya, Karena itu dia segera tertawa.
"Kalau Sie Ciangkun memang punya niat untuk mengangkat diri sendiri sebagai raja di Taiwan, sebaiknya bunuh dulu aku agar mulut ini bungkam, jangan sampai aku melaporkannya kepada Sri Baginda, Tapi kalau hanya bermaksud menunjukkan wibawa dengan main gertak, meskipun nyali siaute kecil sekali, tapi rasanya tidak perlu takut juga."
Wajah Sie Long berubah pucat pasi. Dia segera berdiri lalu menjura dalam-dalam.
"Orang yang bijaksana tentu tidak akan mempersoalkan urusan manusia yang rendah, Hamba telah bersikap kasar sehingga tidak keberatan apabila menerima hukuman, Namun, hamba sama sekali tidak berniat mengangkat diri sendiri menjadi raja di Tai-wan atau pun bermaksud bekerja sama dengan bangsa asing, bahkan hal ini tidak pernah terlintas dalam benak hamba. Yang terutama bagi hamba hanyalah berbakti kepada Sri Baginda dan setia kepada negara,"
Katanya dengan nada rendah diri. Siau Po tertawa.
"Silahkan duduk, silahkan duduk! Kita lihat saja perkembangannya nanti,"
Katanya, Dia memalingkan kepalanya kepada Lim Heng Cu dan bertanya pula.
"Saudara Lim, kisahmu tadi lebih bagus dari tukang cerita, Setelah Kok Seng Ya melakukan perang berdarah di Taiwan, dan Setan Berambut Merah lari terbirit-birit, lalu bagaimana?"
"Kabar tentang masuknya Kok Seng Ya ke Taiwan telah menyebar ke mana-mana. Oey Bu, Oey Tayjin segera mengajukan saran kepada pihak Kerajaan, dia mengemukakan lima cara yang efektif untuk menguasai daerah-daerah yang telah diduduki Kok Seng Ya,"
Sahut Lim Heng Cu.
"Siapa Oey Bu?"
Tanya Siau Po. Lim Heng Cu melirik sekilas kepada Sie Long, lalu terbatuk-batuk beberapa kali, Dia tidak berani memberikan jawaban langsung.
"Oey Bu ini tadinya bawahan Kok Seng Ya juga. Dia ahli strategi perang dan menjabat sebagai pelatih para prajurit. Akhirnya dia membelot kepada pemerintahan Ceng. Nasibnya baik sehingga kurang dari setahun dia sudah dianugerahi gelar Hai Tin Kong tingkat satu (Pangeran Strategi Lautan tingkat satu),"
Sie Long yang menjawab pertanyaannya.
"Huh, rupanya seorang pengkhianat."
Kalimat yang terakhir tidak diucapkannya, Siau Po baru teringat bahwa dia bisa menimbulkan perselisihan lagi.
Tampak wajah Sie Long memerah, Dalam hati orang itu berkata.
-Kalau memaki diriku sebagai pengkhianat, aku rasa kau sendiri juga setali tiga uang, orang Boan Ciu gadungan!"
Jurus Menepuk Pantat Kuda yang bagaimana yang dikerahkan oleh Oey Bu ini sehingga dalam waktu singkat dia sudah dianugerahi gelar Pangeran Tingkat Satu?
Wah, ilmunya boleh juga!
Caranya itu harus kita dengar baik-baik agar kelak bisa kita tiru sedikit-sedikit!"
Kata Siau Po.
"Oey Bu ini tadinya mendapat tugas untuk menjaga daerah Hai Tin, tapi dia malah mempersembahkan daerah itu kepada pihak kerajaan, Siapa saja anak buahnya yang tidak menurut pasti dibunuhnya, Padahal waktu itu pihak kerajaan sudah tidak berdaya menghadapi Kok Seng Ya, dia menganggap orang ini semakin mengembangkan sayapnya dari hari ke hari. Tahu-tahu datang seorang panglima yang berkedudukan tinggi membelot kepadanya dan sekaligus mempersembahkan daerah yang dikuasainya, bukankah suatu kebetulan jadinya? Pihak Kerajaan senang sekali, itulah sebabnya datang-datang Oey Bu sudah diberikan kedudukan yang tinggi,"
Sahut Lim Heng Cu.
"Oh, rupanya begitu, Saran apa saja yang dikemukakan pada pihak kerajaan?"
Lim Heng Cu menarik nafas dalam-dalam baru menyahut.
"Rakyat yang menderita karena ulah Oey Tayjin ini benar-benar tidak terhitung lagi, Lima cara yang dikemukakannya adalah, pertama, mengungsikan penduduk yang hidup di sekitar perairan ke daerah pedalaman serta dijaga ketat, dengan demikian mereka tidak bisa mengadakan kontak dengan Kim Bun, Sia Bun atau pun Taiwan, Kedua, perahu-perahu milik penduduk harus dibakar musnah agar tidak ada yang melarikan diri Mulai saat itu, satu potong papan pun tidak boleh terlihat ada yang mengapung di permukaan laut. Ketiga membunuh ayah Kok Seng Ya. Ke empat, menggali makam leluhur Kok Seng Ya agar Hong Sui (Peruntungannya) jadi kacau. Kelima, mengumpulkan sisa anak buah Kok Seng Ya yang sudah menyatakan takluk dan mengungsikan mereka ke beberapa tempat terpencil sehingga tidak menimbulkan penyakit di kemudian hari."
"Eeh, saran yang dikemukakan budak ini ternyata benar-benar sadis!"
Kata Siau Po.
"Memang, ketika Kaisar Sun Ti baru mengundurkan diri sehingga Sri Baginda sekarang yang menggantikannya, sedangkan usia Sri Baginda masih kecil sekali, segala urusan pemerintahan ditangani oleh Go Pay. Begitu mendengar kelima cara yang disebutkan oleh Oey Bu, Go Pay segera berpendapat bahwa itulah ide yang paling cemerlang. Dia segera menurunkan perintah bahwa tiga puluh li di sekitar Kiang Su, Si Kiang, Hokkian dan Kuang Tong (Kan-ton) tidak boleh ada yang menghuni. Perahu-perahu dari wilayah Liau Tong sampai ke ujung perbatasan harus dibakar musnah, Pada waktu itu, entah berapa banyak penduduk di sekitar perairan yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian."
Sie Long menggelengkan kepalanya.
"lde yang dikemukakan oleh Oey Bu itu memang keterlaluan sekali, Sampai belakangan ini, yakni setelah Wi Hu ya berhasil menaklukkan Go Pay, peraturan di perairan itu baru dicabut. Tapi sudah berapa ribu penduduk yang menahan penderitaan berkepanjangan itu, Malah pada saat larangan itu disiarkan, tidak boleh ada seorang penduduk pun yang membicarakannya, Yang ketahuan langsung digiring kepada Go Pay dan dipenggal kepalanya sebagai hukuman. Banyak rakyat yang menderita kelaparan sehingga diam-diam mereka pergi ke tepi laut untuk menangkap ikan. Yang ketahuan juga dihukum mati. Ayah Kok Seng Ya juga dibunuh pada saat yang sama. Go Pay khusus memerintahkan seorang perwira kepercayaannya yakni Su Na Hay agar membawa pasukannya untuk menggali makam leluhur Kok Seng Ya."
"Go Pay menyebut dirinya sebagai seorang Pejuang sejati, tapi kelakuannya benarbenar tidak menunjang apa yang dikatakannya, Kalau memang gagah, mengapa dia tidak mengajak Kok Seng Ya berduel satu lawan satu? Dengan mengungsinya seluruh penduduk di sekitar perairan agar tidak bisa mengadakan kontak, sama saja dia menunjukkan bahwa dia takut kepada Kok Seng Ya. Hong Siang mencintai rakyatnya, maka apabila saran Oey Bu ini sempat sampai ke tangan Kaisar Kong Hi, pasti dia sendiri yang akan dipenggal kepalanya,"
Kata Siau Po.
"Memang betul, sayangnya Oey Bu ini matinya terlalu cepat, Hitung-hitung memang peruntungannya cukup bagus,"
Sahut Sie Long.
"Berita kematian The Thay Suai (Ayahanda Kok Seng Ya) dengan cepat menyebar ke Taiwan, Kala Seng Ya tahu hal ini akan menimbulkan kegemaran di hati para prajurilnya. Dia mengatakan bahwa semua itu hanya desas-desus belaka, jangan percaya. Tapi menurut pengawal pribadinya, tengah malam Kok Seng Ya sering terlihat menangis dengan sedih, Kok Seng Ya juga mengatakan kepada Tan Kun su dan beberapa panglima lainnya bahwa rencana yang diajukan oleh Oey Bu ini benar-benar lihai. Untung saja Taiwan telah dikuasai oleh pihak mereka, kalau tidak, para prajurit di Kim Bun dan Sia Bun yang jumlahnya laksana orang itu tentu tidak bisa menginjakkan kakinya lagi di wilayah itu. Pada saat itu, kami juga sudah cukup lama melakukan pengepungan Para Setan Berambut Merah pernah beberapa kali mencoba menerobos keluar, tapi tidak berhasil. Kok Seng Ya kemudian menurunkan perintah bahwa sebelum pergantian tahun, daerah yang masih ditempati para Setan Berambut Merah sudah harus kita kuasai,"
Kata Lim Heng Cu kemudian memalingkan kepalanya kepada Ang Cao dan bertanya.
"Penyerangan dilakukan pada bulan sebelas tanggal dua puluh dua, bukan?"
"BetuI,"
Sahut Ang Cao.
"Ketika pasukan yang kupimpin menembakkan meriam dengan gencar. Aku ingat bahwa saat itu hujan deras dan angin kencang sekali, tapi kami tidak perduIi. Dalam sekejap saja, pintu serta tembok benteng pertahanan sudah berhasil kami jebol. Demikian pula tembok perbatasan sebelah barat dan timur kota, Para Setan Berambut Merah menerjang ke luar untuk melakukan perlawanan namun setelah rekanrekannya mati sebanyak ratusan orang, mereka terpaksa mundur kembali. Kemudian mereka mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah. Waktu itu Bangsa Tionghoa yang di Taiwan sudah terlalu marah, mereka ingin membalas dendam atas penderitaan mereka selama ini. Mereka meminta agar semua Setan Berambut Merah itu dibunuh saja, Tapi Kok Seng Ya menjelaskan kepada para penduduk bahwa musuh yang sudah menyerah tidak boleh dibunuh lagi, itu sudah merupakan peraturan dalam politik di dunia. Kok Seng Ya mengijinkan sisa Setan Berambut Merah itu untuk naik ke atas kapal yang telah disediakan tapi sebelumnya pemimpin mereka harus menanda tangani surat pernyataan menyerah. Para Setan Berambut Merah itu pun meninggalkan Taiwan dan kabarnya mereka melarikan diri ke Batavia, Setan-Setan Berambut Merah itu menjajah Taiwan sejak Dinasti Beng, tahun Thian Pit ke empat. Jadi jumlah keseluruhannya adalah tiga puluh delapan tahun, Sampai tahun ke lima belas kaisar Eng Liok, yang.,, berarti tahun Kaisar Sun Ti dari dinasti Ceng yang ke delapan belas, Taiwan baru bersatu kembali dengan Tiongkok."
"Kok Seng Ya sudah menerangkan bahwa Setan-Setan Berambut Merah itu sudah menyerahkan diri, jadi mereka tidak boleh dibunuh. Tapi para penduduk di Taiwan tentu saja merasa tidak puas lalu beramai-ramai mereka meludah kepada Setan-Setan Berambut Merah itu. Bahkan ada yang melemparkan batu. Anak-anak kecil malah menggubah lagu yang jenaka untuk mengejek mereka, Para Setan Berambut Merah itu lari kocar-kacir sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Tidak ada satu pun yang berani melontarkan kata-kata untuk membalas perbuatan para penduduk, Begitu mereka sudah naik ke atas kapal, pemimpin mereka menaikkan bendera mereka ke atas satu kali kemudian baru menurunkannya kembali. Setelah itu mereka juga menembakkan meriam sebanyak tiga kali sebagai tanda penghormatan dan ucapan terima kasih kepada Kok Seng Ya karena mereka dilepaskan tanpa ada seorang pun yang di-bunuh,"
Kata Lim Heng Cu melanjutkan ceritanya.
"Bagus!"
Seru Siau Po.
"Kita orang-orang Tiong-hoa memang patut merasa bangga, Meriam-meriam yang dimiliki Setan-Setan Berambut Merah itu benar-benar dahsyat, namun kita bisa merebut kembali Pulau Taiwan dari tangan mereka sesungguhnya bukan urusan yang mudah. Ya, memang tidak mudah!"
"Benteng yang pertama diganti namanya oleh Kok Seng Ya menjadi kota An Peng Cen. sedangkan benteng yang kedua diganti namanya menjadi Jin Thian Fu. Untuk selama-lamanya menjadi dua tempat yang terpenting di Taiwan,"
Kata Ang Cao. Tiba-tiba Wakil Panglima Lu menukas.
"Ketika Sie Ciangkun merebut kembali Pulau Taiwan, jalan yang ditempuhnya juga mengikuti jejak Kok Seng Ya, yaitu masuk melalui Lu Ji bun ke...."
Wi Siau Po mengibaskan tangannya untuk memotong ucapan orang itu, lalu dia bersin sekeras-kerasnya dan berkata.
"Cerita tentang Bangsa Tionghoa yang membuat para Setan Berambut Merah lari terbirit-birit baru seru didengar, kalau Bangsa Tionghoa menggempur Bangsa Tionghoa juga, ceritanya toh bolak-balik sama juga, Sie Ciangkun, arak yang kita teguk sudah cukup banyak, Kita sudahi saja perjamuan ini."
Sie Long segera berdiri.
"Baik, Terima kasih atas undangan Wi Hu ya, hamba mohon diri,"
Sahutnya.
Siau Po kembali ke kamar Dia menceritakan bagaimana dia selalu memutuskan pembicaraan Sie Long karena dia tidak sudi mendengar orang itu membanggakan diri sendiri yang berhasil merebut kembali pulau Taiwan.
Keenam istrinya tertawa geli mendengar penuturannya, hanya A Ko seorang yang berdiam diri dengan wajah murung.
Rupanya dia tengah membayangkan apabila tempo hari dia terkena rayuan The Kek Song lalu ikut orang itu menikah di Taiwan, tentu hari ini dia juga digiring ke Pe King.
Negara hancur, suami ditahan, penderitaan itu benar-benar menyiksa.
Tempo hari, ketika The Kek Song menggunakan perahu kecil meninggalkan Pulau Tong Sip to.
A Ko sudah tidak memperdulikannya lagi, apalagi sekarang mendengar dia kehilangan kekuasaannya, dia sama sekali tidak merasa iba.
Kalau membayangkan kembali masa-masa dulu, kok dia bisa tertarik pada kegagahan dan ketampanan pemuda itu?
Padahal dia sudah tahu kalau orang itu tidak bisa diandalkan.
Untuk beberapa lama dalam hidupnya, ternyata matanya pernah buta, Dia pernah jatuh hati benar-benar pada The Kek Song, sekarang dia merasa malu sendiri kalau teringat kembali.
"Hongte koko juga terlalu baik hati. The Kek Song kan sudah menyerah, mengapa tidak dihukum mati? Malah dianugerahi pangkat segala! Tingkatannya justru lebih tinggi dari Siau Po. Benar-benar bikin orang jengkel!"
Teriak Tuan Putri seperti biasanya. Siau Po menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kok Seng Ya merupakan seorang pahlawan sejati yang berjiwa besar pula, justru karena memandang wajah Kok Seng Ya, Sri Baginda menganugerahkan pangkat tersebut kepada si budak Kek Song. Kalau mengandalkan kebisaan si budak busuk itu sendiri, paling-paling pantas dianugerahi pangkat Perwira Ulat Bulu,"
Katanya.
Pada keesokan harinya, Siau Po sengaja hanya mengundang Lim Heng Cu dan Ang Cao berdua, Dia menanyakan lagi pengalaman Sie Long menyerbu ke Pulau Taiwan.
Rupanya prajurit kerajaan Ceng dan prajurit Taiwan sempat bertempur mati-matian di wilayah Peng Hu selama beberapa hari, Hari pertama pasukan Sie Long mengalami kekalahan.
Belakangan datang bantuan berupa pasukan Angkatan Laut pihak Kerajaan dan dalam sekali mereka bertempur, kapal-kapal Taiwan berhasil dikuasai Prajuritnya yang mati mencapai Iaksaan orang, sebagian kapal perang musuh berhasil dihancurkan atau dibakar.
Kerugian pihak Taiwan cukup besar, Mereka kehilangan kapal sebanyak tiga ratusan, Liu Kok Han segera memimpin pasukannya yang kalah perang kembali ke Taiwan.
Sie Long segera memimpin pasukan Angkatan Lautnya untuk menyerbu ke Taiwan, Pada saat itu air di daerah Lu Ji Bun sedang surut, dengan demikian kapal mereka tidak bisa lewat, dan mereka terombang-ambing di lautan selama dua belas hari.
Ketika mereka mulai panik, tiba-tiba air bah melanda sehingga menerjang kapalkapal kerajaan, Dengan demikian pula kapal-kapal itu berhasil melalui gundukan batu dan pasir yang menjadi kendalanya.
Para penduduk Taiwan yang mengetahui hal itu semuanya merasa terkejut dan mereka berkata.
"Tempo hari ketika Kok Seng Ya bermaksud merebut kembali Taiwan dari SetanSetan Berambut Merah, kapal-kapal beliau pun mengalami kesulitan untuk melalui gundukan tanah serta pasir di Lu Ji Bun. Tidak disangka-sangka datang gelombang besar sehingga mereka berhasil melaIuinya. sekarang kejadian yang sama terulang kembali. Ternyata ini sudah merupakan takdir yang Kuasa, percuma rasanya kalau kita tetap bertempur, sebab yang hancur pasti kita sendiri."
The Kek Song yang mendengar pasukan Angkatan Laut pihak kerajaan sudah berhasil menerobos Lu Ji Bun, langsung saja ketakutan setengah mati.
Dia sendiri tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan Pang Ci Hoan menasehatinya agar menyerah saja.
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera menyetujui usul gurunya itu, Tapi dia juga khawatir Sie Long akan membalas dendam kepadanya dengan menghancurkan keturunan Kok Seng Ya.
itulah sebabnya Liu Kok Han menulis sepucuk surat kepada Sie Long dengan menyatakan bahwa mereka bersedia menyerah tapi keamanan anak cucu Kok Seng Ya harus dijamin.
Apabila tidak, seluruh rakyat Taiwan bersedia bertempur terus meskipun sampai orang terakhir Sie Long segera menyetujuinya.
Dia menjamin bahwa dirinya tidak akan mengingat kembali hutang lama.
Apabila hal itu sampai terjadi, biarlah dia disambar petir dan putus keturunan Akhirnya dengan adanya sumpah berat dari Sie Long, The Kek Song, Pang Ci Hoan, Liu Kok Hian beserta ratusan prajurit Taiwan lainnya pun menyatakan takluk serta dibawa pulang ke Kotaraja.
Keturunan langsung dari mantan Kaisar Dinasti Beng yakni Cu Sut Kui bunuh diri saking kecewanya, Lima orang istri-istrinya mengikuti jejaknya, Dengan demikian keturunan Dinasti Beng pun putus sampai di situ.
Dalam hati Siau Po berpikir --Keturunan langsung dari mantan Kaisar Dinasti Beng ini memilih jalan bunuh diri karena tahu tidak mungkin kerajaannya dapat bangkit kembali.
Tapi begitu-begitu masih ada lima orang istrinya yang menemani kematiannya, seandainya suatu hari aku Wi Siau Po terpaksa bunuh diri, entah berapa di antara ke tujuh istriku ini yang sudi menemaniku?
Song Ji tidak perlu diragukan lagi kesetiaannya, Kalau Kian Leng kongcu tidak usah diharap, sisanya yang lima orang mungkin harus lempar dadu untuk menentukan mati hidup mereka.
Apabila Pui Ie yang kebagian melempar dadu, dia pasti main gila, agar aku yang sudah mati saat itu menjadi tumbal baginya, -Lim Heng Cu melanjutkan kisahnya kembali, Dia mengatakan bahwa Sie Long ternyata orang yang menepati janji, Dia memang tidak mempersuIit keturunan Kok Seng Ya, bahkan dia sendiri mendatangi Kuil Seng Peng Ong Bio untuk bersembahyang, Di sana dia menangis dengan sedih.
"Dia menulis sebuah puisi yang isinya dalam sekali, Kata-katanya pun bagus, Puisi itu dipersembahkan kepada Kok Seng Ya,"
Kata Ang Cao yang langsung membacakan puisi itu agar didengar oleh Siau Po.
Tapi dasar bocah itu tidak pernah bersekolah, kata-kata biasa saja kadang-kadang sulit dimengerti olehnya, Apalagi puisi yang mengandung arti mendalam, Dia sampai termangu-mangu mendengar Ang Cao menirukan isi puisi itu.
"Apa sih yang diocehkannya?"
Tanya Siau Po pada Lim Heng Cu.
"Yang dimaksudkan dengan "Lu Tiong Ciong Su"
Adalah Go Cu Sai.
Dulu Go Cu Sai ini berhasil menghancurkan negara Chu.
Setelah itu dia menggali kembali kuburan Chu Peng Ong dan mencambuk jenasah raja itu sebanyak tiga ratus kali.
Maksudnya untuk membalas dendam atas kematian ayah dan kakaknya yang dibunuh oleh raja tersebut Sie Long mengatakan bahwa bagaimana pun busuknya hati sendiri, dia tidak mungkin melakukan hal yang demikian sadis."
Siau Po tertawa dingin mendengarnya.
"Huh! Memangnya dia berani? Biarpun Kok Seng Ya sudah meninggal, dia masih ketakutan setengah mati, Dia sudah menghancurkan seluruh kehidupan keturunan Kok Seng Ya. Jangan-jangan arwah Kok Seng Ya akan mendatanginya dan membuat hidupnya dihantui ketakutan itulah sebabnya dia cepat-cepat mengunjungi makam Kok Seng Ya serta pura-pura bersikap jantan Padahal dalam hati dia pasti memohon pengampunan Orang ini licik sekali, kalian jangan sampai kena dikelabui olehnya."
Lim Heng Cu dan Ang Cao segera mengiakan.
"Cerita tentang Go Cu Sai pernah kulihat dalam pertunjukan sandiwara, Ada bagian di mana dia menghadapi cobaan berat sekali sehingga dalam semalaman saja rambutnya berubah putih semua, bukan?"
Kata Siau Po pula.
"Betul, ingatan Hu ya ternyata baik sekali,"
Sahut Ang Cao.
Siau Po sudah lama sekali tidak mendengar cerita, Karena itu dia segera menanyakan sejarah kehidupan Go Cu Sai.
Kebetulan Ang Cao juga pernah mengikuti ujian untuk menjadi Siu Cai (Pelajar), meskipun akhirnya gagal tapi setidaknya perutnya pernah terisi tinta sehingga cerita sejarah-sejarah yang terkenal masih diingatnya dengan baik.
Dia menjawab semua pertanyaan Siau Po sehingga pemuda itu semakin bersemangat mendengarkannya.
"SeIama di pulau ini aku merasa iseng sekali. Untung ada saudara berdua yang berkunjung ke sini dan menceritakan kisah-kisah yang menarik ini. sebaiknya kalian berdua tinggal beberapa hari lagi, jangan tergesa-gesa pulang ke Kotaraja,"
Kata Siau Po.
"Kami berdua merupakan prajurit Taiwan yang telah menyerahkan diri, Tadi malam pembicaraan kami telah membuat kesal hati Sie Ciangkun, Apabila orang itu berniat mencelakai kami, mudahnya tentu seperti menginjak semut di tanah. Apabila dia menambahkan sedikit fitnah di hadapan Sri Baginda, kemungkinan malah kepala kami akan dipenggal dulu dan benar tidaknya baru diselidiki belakangan. Andaikan kepala sudah dipenggal dan kasusnya tidak diselidiki lagi, rasanya juga tidak ada orang yang akan menanyakannya, Wi Tayjin, mohon kau bicarakan kepada Sie Ciangkun, kalau bisa kami berdua tinggalkan di sini saja untuk melayani Wi Tayjin,"
Kata Lim Heng Cu. Siau Po justru senang sekali mendengarnya.
"Ang toako, bagaimana menurut pendapatmu?"
Tanyanya. Tadi malam hamba sudah merundingkan hal ini dengan Lim toako, Apabila tidak mendapat pertolongan dari Wi Tayjin, kali ini kemungkinan kami berdua akan mati tanpa kuburan,"
Sahut Ang Cao.
"Apabila kalian berdua mengikuti aku, aku ingin kalian menurut apa kataku,"
Kata Siau Po. Lim Heng Cu dan Ang Cao segera berdiri dan menjura dalam-dalam.
"Apa pun yang diperintahkan oleh Wi Tayjin, kami akan laksanakan dengan sesungguh hati,"
Sahut mereka serentak.
Siau Po semakin senang, Dalam hati dia berpikir.
-Dengan adanya bantuan dari kedua orang ini, tentu tidak sulit bagiku untuk kabur dari tempat setan ini, -Ketika mengutus Perwira tua dan lima ratus orang prajuritnya, Kaisar Kong Hi sudah berpesan wanti-wanti agar jangan membiarkan Siau Po atau pun keluarganya meninggalkan pulau Tong Sip to biar satu langkah pun.
Padahal Perwira tua itu bukan jenis orang yang otaknya encer.
Kebisaannya pun tidak seberapa, tapi terhadap firman Kaisar, biar kepalanya dipenggal tujuh belas kali mereka juga tidak berani melanggarnya.
Kong Hi memerintahkan dia untuk menjaga Siau Po dengan ketat, maka dia pun memperhatikan pemuda itu ke mana pun dia pergi siang dan malam, Sebetulnya, kalau Siau Po berniat membunuh perwira tua itu, mudahnya seperti membalikkan telapak tangan saja.
Namun, biarpun dia membunuh habis lima ratus prajurit yang menjaga di pulau itu, tetap saja dia tidak bisa melarikan diri tanpa adanya sepotong perahu pun.
sedangkan Lim Heng Cu dan Ang Cao merupakan Komandan Angkatan Laut di Taiwan dulu, Mengenai pembuatan perahu tentu sudah dikuasai penuh oleh mereka.
Malam itu, kembali dia mengundang Sie Long, Namun yang hadir bersama orang itu kali ini hanya Lim Heng Cu dan Ang Cao.
Hal ini memang sudah diatur oleh Siau Po.
Setelah berbincang-bincang sedikit, Siau Po berkata.
"Sie Ciangkun, sebaiknya kau tinggal di sini satu dua bulan lagi."
"SebetuInya hamba juga ingin berdekatan dengan Wi Tayjin lebih lama lagi, dengan demikian hamba bisa sering-sering mendengar nasehat Tayjin yang berharga, Tapi Taiwan baru berhasil kita rebut kembali, maka kami tidak bisa meninggalkannya terlalu lama. Mungkin besok kami sudah harus memohon diri dengan Tayjin,"
Sahut Sie Long.
"Barusan kau bilang ingin berdekatan denganku lebih lama agar bisa sering-sering mendapat nasehatku yang berharga, Entah apa yang kau katakan ini benar atau hanya ingin menyenangkan hatiku saja?"
Tanya Siau Po.
"Tentu saja benar, Hal ini merupakan kata hati hamba yang tulus, Dulu Hamba mengikuti Wi Tayjin, kita sudah pernah memimpin pasukan ke pulau Tong Slp to ini untuk meledakkan Sin Liong to. Tiap hari hamba mendapat pengarahan dari Wi Tayjin, Disam-ping itu hamba juga diajak bersenda gurau serta main judi dan minum arak, Harihari yang kita lalui dulu benar-benar menyenangkan,"
Sahut Sie Long. Siau Po tertawa.
"Apabila kau bisa merasakan kembali hari-hari seperti itu, apakah kau akan merasa senang?"
Tanyanya.
"Tentu saja senang, Kelak apabila mendapat tugas berat dari Sri Baginda, hamba akan memohon agar hamba bisa diikut sertakan dengan pasukan yang dipimpin oleh Wi Tayjin."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Mudah sekali Kalau kau ingin menyertaiku, mendengar gurauanku atau bermain judi bersamaku, sebetulnya tidak ada kesulitan sedikit pun. Besok kita bersama-sama berangkat ke Taiwan saja,"
Katanya tenang. Sie Long terkejut setengah mati, dia sampai melonjak bangun.
"Ini... ini Sri Baginda belum menurunkan firman mengenai hal ini, hamba... tidak berani memutuskannya, Harap Wi Tayjin sudi memaafkan,"
Sahut Pembesar itu gugup, Siau Po tertawa.
"Aku toh tidak bermaksud melakukan apa-apa di Taiwan, cuma mendengar cerita kalian yang seru, Aku jadi penasaran, katanya di Taipei dan di Taiwan sudah berdiri kota-kota yang indahnya tidak kalah dengan Kotaraja, aku jadi ingin melihatnya. Lagipula, sesampainya di Taiwan, kau bisa sering-sering mendengar nasehatku yang berharga bukan? Kata-kata ini kau sendiri yang keluarkan Aku justru melihat bahwa kau orangnya cukup baik, sedangkan dulu kau sudah pernah ikut denganku. Kita toh majikan dan bawahan lama, maka hubungan kita mana bisa di-samakan dengan orang-orang lainnya? itulah sebabnya aku bersusah payah memikirkan jalan agar kita bisa selalu berkumpul bersama. Aku akan pergi ke Taiwan untuk bermain-main selama satu dua bulan, setelah itu aku akan kembali lagi ke sini, Kalau kau tidak bilang kepada siapa-siapa dan aku juga diam saja, tidak akan ada seorang manusia atau seekor setan pun yang tahu, terlebihIebih lagi Sri Baginda."
Sikap Sie Long jadi serba salah, kembali dia menjura dalam-dalam.
"Wi Tayjin, urusan ini benar-benar sulit Tayjin menurunkan perintah, seharusnya hamba menurut. Namun seandainya Sri Baginda menuntut kelak, hamba benar-benar tidak berani mempertanggung-jawabkannya, Apabila hamba tidak memberikan laporan terlebih dahulu, berarti hamba melakukan kesalahan yang besar sekali, maka hamba benar-benar tidak berani melakukannya."
Siau Po tertawa.
"Silahkan duduk, silahkan duduk, Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Tidak perlu kita bicarakan lagi hal ini,"
Katanya. Sie Long seperti terlepas dari beban yang berat. Berkali-kali dia mengiakan baru duduk kembali di kursi nya. Kembali Siau Po mengembangkan seulas senyuman.
"Bicara soal membohongi atasan, entah sudah berapa banyak aku melakukannya terhadap Sri Baginda. Tapi Raja kita memang bijaksana dan besar jiwanya, Setelah mengetahui kebohonganku, beliau pun cuma memaki-maki beberapa kata lalu berbuat seakan tidak pernah terjadi apa-apa,"
Katanya.
"BetuI, betul, Semua orang mengatakan bahwa Sri Baginda sangat memperhatikan Wi Tayjin, jarang sekali hal demikian terjadi, Malah sejak jaman dulu belum pernah hamba mendengar ada orang biasa yang hubungannya bisa begitu dekat dengan seorang Kaisar, sedangkan hamba hanya seorang pejabat kecil yang tipis jodohnya, mana berani hamba berharap akan mendapat rejeki seperti Wi Tayjin?"
Sahut Sie Long. Siau Po tersenyum.
"Kata-kata Sie Ciangkun seakan menunjukkan bahwa nyalimu kecil sekali, padahal aku tahu bahwa kau seorang pemberani. Aku dengar kau mengunjungi makam Kok Seng Ya setelah berhasil menaklukkan Taiwan. Bahkan kau juga menulis sebuah puisi yang bagus sekali, bukan?"
"Menjawab kepada Wi Tayjin. sebetulnya panggilan seperti Kok Seng Ya tidak boleh dipergunakan lagi, Kok Seng (Marga Negara) yang sekarang tentu sudah tidak sama lagi, Bila kita ingin menyebut The Seng Kong dengan panggilan yang lebih sungkan, maka kita hanya boleh mengatakan "
Cian Beng Gi Seng " (Marga pemberian dari Dinasti Beng yang sebelumnya), Oleh karena itu, dalam puisi tersebut hamba hanya menyebutnya sebagai Gi Heng (Marga pemberian),"
Sahut Sie Long.
Dia sudah menduga, apabila dia menolak permintaan Siau Po untuk pergi ke Taiwan, anak muda itu pasti mencari kesulitan bagi dirinya atau mencari-cari kesalahannya, Sebetulnya, sebutan "Kok Seng Ya"
Sudah terlanjur menjadi kebiasaan bagi semua orang, namun The Seng Kong mendapat anugerah marga Cu yang merupakan marga dari kaisar dinasti Beng, bukan marga dari dinasti Ceng sekarang.
Apabila Siau Po segera mencari kesalahannya hanya karena dia menyebut nama tersebut, dia bisa melaporkannya kepada Sri Baginda bahwa Sie Long tidak pernah melupakan dinasti Beng, tentu dirinya akan celaka, Kemungkinan dia malah akan menghadapi bencana besar.
itulah sebabnya sebelum hal ini terjadi dia segera menjelaskannya terlebih dahulu, Sebetulnya Siau Po tidak berpendidikan sama sekali, Hubungan apa pun dari katakata di atas tentu tidak pernah dibayangkannya, justru karena penjelasan Sie Long barusan, dia malah bisa menangkap apa penyakitnya.
"Sie Ciangkun pernah mendapat bimbingan dari Dinasti Beng, maka tidak mengherankan kalau masih mengingat terus Gi Seng (Marga pemberian Kaisar) dari Dinasti sebelumnya, Kalau Sie Ciangkun benar-benar setia terhadap Kerajaan Ceng kita yang besar, seharusnya Sie Ciangkun menyebut The Seng Kong sebagai Huan Seng (Marga Pemberontak), Wi Seng (Marga Pengkhianat), Fei Seng (Marga Penjahat) atau Kau Seng (Marga anjing),"
Kata Siau Po.
Sie Long menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, Meskipun dalam hati dia tidak terlalu memusingkan apa yang dikatakan Siau Po, tapi dia merasa tidak boleh membicarakan hal ini terlalu banyak dengan pemuda itu.
Ternyata sebutan Gi Seng yang ditulisnya dalam puisi juga dianggap bahwa dirinya masih terus mengingat dinasti sebelumnya.
"Puisi yang dibuat oleh Sie Ciangkun waktu itu pasti bagus sekali kata-katanya, Bolehkah Sie Ciangkun mengucapkannya kembali agar aku bisa ikut mcngetahuinya?"
Tanya Siau Po.
Sie Long hanya tahu bagaimana memimpin pasukan untuk berperang, mana bisa membuat puisi segala?
Puisi yang dipersembahkannya tempo hari didepan makam Kok Seng Ya sebetulnya merupakan karangan seorang Guru besar dalam istana, Dia meminta orang itu menuliskan sebuah puisi yang kata-katanya bagus.
Kebetulan guru besar itu mengajar anak-anak para pembesar tinggi membaca dan menulis.
Setiap puisi yang ditulisnya mengandung ketulusan hati yang menyentuh perasaan siapa pun yang membacanya, Sie Long saja sudah sering mendapat pujian saking bagusnya puisi itu.
Padahal kebanyakan orang juga tahu bahwa puisi tersebut bukan hasil karyanya sendiri Saking bangga nya, Sie Long sampai menghapal puisi itu diluar kepala, Dengan demikian orang-orang akan menganggap bahwa dialah yang menulis puisi itu.
Tentu saja ini menurut jalan pikirannya sendiri Karena itu dia segera berkata.
"Hamba akan membacakannya untuk Wi Tayjin, Harap Wi Tayjin jangan menertawakan kebodohan hamba."
Dia langsung berdiri dan membacakan isi puisi tersebut. Siau Po mendengarkannya, kemudian sambil manggut-manggut dia berkata.
"Puisi yang bagus sekali, benar-benar bagus! Biar kepalaku ini dipenggal sekali pun aku tidak mungkin bisa membuatnya, jangan kata hasil karya sendiri, walaupun orang lain yang membuatnya dan aku tinggal menghapalkannya saja, dalam waktu sepuluh hari mungkin hanya tiga empat patah kata yang bisa kuingat Ternyata Sie Ciangkun cerdas sekali, Aku sungguh merasa kagum!"
Wajah Sie Long berubah kemerah-merahan.
-Kau toh sudah tahu bukan aku yang menulis puisi itu.
Orang lain yang membuatnya dan aku tinggal menghapalkan saja.
Tapi kau sengaja menyindirku sedemikian rupa, Kalau begitu aku tidak perlu banyak cakap lagi denganmu --pikirnya dalam hati.
"Di dalam puisi itu ada disebut "
Lu Tiong Ciong Su, I So Put Wi, Sie Ciangkun tentu tahu bahwa pendidikanku rendah sekali sehingga tidak memahami kata-kata yang dalam. Entah apa artinya kalimat tersebut?"
Tanya Siau Po pula.
"Yang dimaksud ialah Go Cu Sai. Ketika itu Go Cu Sai kabur dari negara Chu dan pergi ke negara Go, dia sampai ke tepi sungai serta bertemu dengan seorang nelayan, Nelayan itu menggunakan rakit untuk menyeberangkannya lalu mencari nasi baginya, Go Cui Sai khawatir prajurit dari negara Chu akan mengejarnya, maka dia bersembunyi di antara ilalang yang lebat. Begitu si nelayan kembali, dia melihat ada orang yang bersembunyi di dalam ilalang, maka dia berteriak.
"Orang di dalam ilalang, orang di dalam ilalang, apakah kau si prajurit miskin?" , Kemudian hari Go Cu Sai berbalik memimpin prajurit negara Go untuk menyerang negara Chu. Dia menggali kembali jenasah Chu Peng Ong dan mencambuknya sebanyak tiga ratus kali. Dengan demikian dia bermaksud membalaskan kematian ayah dan kakaknya, Gi Seng... eh, The Seng Kong juga pernah membunuh seluruh keluarga hamba, penduduk Taiwan khawatir hamba masih merasa sakit hati dan menggali kembali jenasah The Seng Kong lalu menghancurkannya. Dalam puisi itu hamba menyatakan bahwa hal itu tidak mungkin hamba lakukan, Arwah The Seng Kong di alam baka boleh merasa tenang dan prajurit serta penduduk Taiwan pun tidak perlu mencemaskannya."
Sahut Sie Long.
"Rupanya begitu, Sie Ciangkun sedang menyamakan dirinya dengan Go Cu Sai,"
Kata Siau Po.
"Go Cu Say adalah seorang pahlawan besar, seorang pendekar sejati, mana mungkin hamba menyamainya ? Hanya saja seluruh keluarga Go Cu Sai tertimpa bencana. Dia seorang diri melarikan diri, akhirnya memimpin pasukan kembali menyerang negara Chu untuk membalas dendam. Bagian ini mirip dengan apa yang dialami oleh hamba,"
Sahut Sie Long. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Semoga akhir cerita yang dialami oleh Sie Ciangkun berbeda dengan Go Cu Sai, kalau tidak benar-benar runyam urusannya,"
Kata pemuda itu pula.
Sie Long segera teringat bahwa Go Cu Sai telah mendirikan jasa besar bagi negara Go, namun akhirnya dia dibunuh pula oleh Raja negara itu.
Tanpa terasa wajahnya berubah hebat, dan tangannya yang menggenggam cawan arak terus bergetar saking takutnya.
Siau Po menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kabarnya setelah membangun jasa besar, Go Cu Sai berubah sombong, sikapnya terhadap Raja Go jadi kurang ajar. Sie Ciangkun, kalau kau menyamakan dirimu dengan Go Cu Sai, sebenarnya tidak cocok, Dan puisi yang kau tulis itu tentunya sekarang sudah menyebar sampai ke Kotaraja, pasti Sri Baginda juga sudah mengetahui isinya. Apabila tidak ada orang yang membantu menjelaskan duduk persoalannya di hadapan Sri Baginda, rasanya... he.,, he... sih, sayang sekali, jasa besar yang sudah kau dirikan kemungkinan akan tenggelam ke dasar lautan,"
Katanya. Sie Long cepat-cepat menyahut.
"Perlu Tayjin ketahui, hamba tidak mengatakan bahwa hamba menjadi Go Cu Sai atau menyamakan diri hamba dengan orang itu.,, Antara kedua hal ini perbeda... annya besar sekali."
"Puisimu itu sudah menyebar ke mana-mana. Perihal Sie Ciangkun menyamakan diri sendiri dengan Go Cu Say juga sudah diketahui oleh semua orang,"
Kata Siau Po pula. Sie Long langsung berdiri dan dengan suara bergetar dia berkata.
"Sri Baginda sangat cerdas, beliau pun berjiwa besar, Bawahannya yang telah berjasa pasti dilindungi dengan aman. Hamba dapat melayani seorang majikan yang baik, kalau dibandingkan dengan Go Su Cai, peruntungan hamba jauh lebih bagus."
"Apa yang kau katakan memang benar. Apa maksud sesungguhnya yang terkandung dalam hati Go Cu Sai saat itu, tentu saja hamba tidak tahu, Tapi di dalam pertunjukan sandiwara, hamba pernah melihat kisahnya. Ketika Raja Go akan membunuhnya, Go Cu Sai berkata.
"Koreklah mataku dan letakkan di atas pintu gerbang kota, agar kelak aku bisa menyaksikan prajurit lain menyerbu ke Kotaraja dan menghancurkan kekuasaan Raja Go. Kalau tidak salah akhirnya negara Go memang berhasil dihancurkan. Sie Ciangkun Bun Bu Cuan Cai (Ahli silat dan sastra), tentunya paham benar sejarah ini, iya kan?"
Tanya Siau Po.
BuIu kuduk di tengkuk Sie Long seakan berdiri semua, Sejak mengingat kematian Go Cu Sai setelah berhasil mendirikan jasa besar, hatinya sudah tidak tenang.
Waktu itu dia belum mengingat kata-kata terakhir Go Cu Sai di saat menjelang kematiannya, Dalam puisi yang dibacakannya di hadapan makam Kok Seng Ya, memang dia menyatakan bahwa dirinya tidak akan melakukan apa yang pernah dibuat oleh Go Cu Sai.
Namun setidaknya anggapan orang bahwa dia menyamakan dirinya dengan Go Cu Sai sudah merasuk dalam kepala, Kata-kata yang digunakannya dalam puisi itu ialah tentang perlakuan Go Cu Sai "Membalas dendam dengan mencambuk jenasah raja-nya sebanyak tiga ratus kali" , tapi Siau Po justru menghubungkannya dengan "Menyindir negara yang sudah hancur"
Kalau saja ada orang yang membesar besarkan persoalan ini di hadapan Sri Baginda, dosanya bisa tidak terkatakan.
Berarti jiwanya terancam bahaya, Apalagi mulut Siau Po yang pandai mengarang yang bukan-bukan, bila orang ini sampai memberi laporan kepada Sri Baginda, meskipun bagaimana bijaksananya raja ini, mungkin dia tidak akan dihukum, namun dirinya otomatis merasa kurang enak sendiri.
Untuk amannya bisa saja dia mengundurkan diri dari jabatannya, Tapi untuk selamanya jangan harap bisa hidup senang Iagi.
Apalagi kalau Siau Po menambah minyak di atas api dengan mengatakan bahwa dalam pikirannya sudah membayangkan bahwa kelak Raja tidak akan menghargai jasanya dan suatu hari akan membunuhnya, maka dalam hati dia pun mengharap bahwa akan datang prajurit negara lain yang menghancurkan Kerajaan Ceng.
Membayangkan kepandaian Siau Po mengadu domba, rasanya batok kepala di atas batang lehernya sulit dipertahankan lagi.
Dalam waktu yang singkat berbagai pemikiran terus maju mundur dalam benaknya, Dia menyesali dirinya sendiri yang pergi menyembahyangi makam The Seng Kong, Terlebih lagi menyuruh si Guru besar dalam istana membuat puisi yang ada kaitannya dengan Go Cu Sai.
Sekarang buntutnya justru digenggam erat oleh si budak setan ini, Untuk beberapa saat dia berdiri termangu-mangu.
Tubuhnya gemetar, dia tidak tahu kata-kata apalagi yang harus dikemukakan untuk berdebat dengan Siau Po.
"Sie Ciangkun, sejak menduduki tahta kerajaan, pertama-tama urusan besar apa yang berhasil beliau tangani?"
Tiba-tiba Siau Po bertanya.
"Membunuh Pengkhianat Go Pay,"
Sahut Sie Long.
"BetuI, Go Pay memang seorang pengkhianat, tapi jasanya terhadap kerajaan cukup besar, Beberapa kali dia memimpin pasukan untuk berperang dan selalu kembali dengan kemenangan Ketika Sri Baginda pernah berkata.
"Seandainya aku membunuh Go Pay, takutnya ada orang yang menganggap aku tidak mengingat jasa bawahannya, Entah burung atau busur apa, hamba tidak begitu mengingatnya lagi."
"Burung mati busurnya disembunyikan,"
Tukas Sie Long.
"BetuI, Benar bukan? Bahkan kau sendiri juga menyebut Sri Baginda demikian,"
Kata Siau Po.
"Tidak, tidak,"
Sahut Sie Long cepat.
"Hamba tidak mengatai Sri Baginda, hanya menjelaskan pepatah yang dimaksudkan." "Kau menggunakan pepatah untuk mengibaratkan cara Sri Baginda membunuh Go Pay, bukan?"
Tanya Siau Po pura-pura bodoh.
Sie Long semakin gugup.
Tayjin mengatakan pepatah tentang,., entah bu-rung...
atau busur.,, apa, hamba hanya menjawab pertanyaan Tayjin, Sama sekali hamba tidak berani menyindir Sri Baginda,"
Sahutnya cepat.
Kedua bola mata Siau Po memandangnya dengan curiga sehingga Sie Long semakin deg-degan.
Sejak jaman dahulu, apabila ada orang yang membangga-banggakan hasil kerjanya sendiri, Raja pasti benci sekali, Mulut orang itu tidak perlu mengatakan apa-apa, asal tindakannya menunjukkan bahwa dia mempunyai harapan atau cita-cita untuk membanggakan dirinya sendiri, sudah terhitung dosa besar dan kebanyakan mendapat hukuman penggal kepala.
Hati Sie Long sejak tadi memang sudah cemas, maka berusaha menjaga perkataannya, Namun tak disangka Siau Po dengan cerdik memancingnya sehingga dia mengucapkan "Burung mati busurnya disembunyikan".
Begitu ucapan itu keluar, dia baru sadar ada yang tidak beres, Benar saja, Siau Po segera memegang perkataannya bahwa dia menyindir Raja, Apalagi Siau Po tidak seorang diri, ada Lim Heng Cu dan Ang Cao yang bisa dibawa untuk menjadi saksi, Bila dia ingin mengingkar juga rasanya tidak begitu mudah.
"Sie Ciangkun mengatakan "Burungnya dibunuh, busurnya disembunyikan"
Atau kirakira begitu, Apa maksudnya menyindir Sri Baginda atau bukan, aku tidak tahu, Tapi di dalam istana banyak guru besar, guru kecil, ahli Sastra dan sebagainya, mengapa kita tidak meminta pendapat mereka saja?
Namun hari-hari yang kulalui bersama Sri Baginda cukup lama, rasanya beliau suka mendengar orang menyebutnya "Niau Seng Hi Tong", bukan "Niau Cing Kou Can"
Memang sama-sama ada burungnya, tapi mungkin isi kata-katanya jauh berbcda, Yang satu burung yang jinak, dan satunya lagi pasti burung buas, betul bukan?"
Kata Siau Po.
Sie Long terkejut juga marah, Dalam hati dia berpikir --Kalau sudah begini namanya kepalang tanggung, Kau toh bermaksud mencelakakan diriku, maka lebih baik kubunuh dulu kalian bertiga, dengan demikian berarti aku tidak membiarkan akar bencana terus bertumbuh Dengan berpikir demikian, sepasang matanya langsung berubah menjadi buas.
Siau Po juga melihat perubahan mimik wajahnya.
Hatinya diam-diam terkesiap juga, namun dia memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Ternyata apa yang sudah diucapkan oleh Sie Ciangkun, kuda mati pun sulit menyandaknya, Di depan mata sekarang kau hanya mempunyai dua pilihan, Satu, segera membunuhku serta saudara Lim dan saudara Ang. Setelah itu kau juga harus membunuh semua istri dan anak-anakku. Terakhir bawa seluruh prajurit yang ada di sini ke Taiwan dan mengangkat diri sendiri sebagai raja, Tapi kau harus pikirkan baik-baik, prajurit yang kau bawa ini merupakan prajurit kerajaan Ceng, belum tentu mereka sudi memberontak bersamamu sedangkan sisa prajurit yang ada di Taiwan kebanyakan juga tidak suka mengikutimu."
Sebetulnya hati Sie Long memang sedang mempertimbangkan kemungkinan ini, tapi segera dibongkar niatnya oleh Siau Po, Amarahnya semakin meluap, namun dia juga menyadari kedudukannya sehingga tidak berani memutuskannya secara terangterangan.
"Hamba tidak mempunyai niat itu sedikit pun. Tayjin tidak perlu curiga, karena perbuatan demikian hanya memperbesar kesalahan hamba saja, Tapi entah apa pilihan kedua yang dikemukakan Tayjin, bolehkah hamba mendengarnya agar mengetahui petunjuk Tayjin yang berharga?"
Tanyanya dengan nada menghormat.
Mendengar nada suaranya yang berubah lembut, hati Siau Po membesar kembali Dia mengangkat sebelah kakinya lalu digoyang-goyangkan seperti lagak tuan besar.
Pilihan kedua adalah memberikan bantuan kepada siaute dan kedua saudara Lim serta Ang.
Tadi ketika menyebut nama Sri Baginda, Sie Ciangkun anda mengucapkan sepatah kata "Niau" , Anggap saja Sie Ciangkun mengatakan bahwa Hong Siang ibarat "Niau Seng Hi Tong", itu bagus sekali.
Kelak apabila bertemu dengan Sri Baginda, aku akan mengatakan bahwa dia mempunyai seorang bawahan yang setia dan menjunjung tinggi rajanya, Bahwa dia juga selalu mengingat budi besar Hong Siang.
Dan dia mengatakan bahwa Go Cu Sai adalah manusia yang lupa budi.
Raja Go telah mengerahkan pasukannya untuk membantu orang itu membalas dendam, dengan demikian seharusnya dia menuruti perintah majikannya walaupun disuruh terjun ke bara api atau menyelam ke dasar laut.
Mana boleh dia mengeluarkan kata-kata yang membanggakan dirinya sendiri sehingga seakan mengejek rajanya?
seandainya waktu itu Sie Ciangkun yang menjadi Go Cu Sai, dapat dijamin kalau negara Go akan jaya selama-lamanya, jangan kata hanya seorang wanita cantik seperti Si She, malah Tung She, Nan She, Pei She, (Si artinya barat, padahal itu merupakan nama seorang wanita cantik di jaman tersebut, namun Siau Po justru menyebut Tung, Nan Pei yang artinya timur, selatan utara sebagai olok-o!ok atas diri Sie Long) semuanya akan dikumpulkan oleh Sie Ciangkun untuk dipersembahkan kepada raja Go.
Bagian 89 Yang diingat oleh Go Cu Sai hanya kepentingan dirinya sendiri, sedangkan yang diingat oleh Sie Ciangkun justru kepentingan kerajaan Ceng kita yang besar, Orang yang hatinya baik, pasti mendapat balasan yang baik pula.
Apabila kelak Sri Baginda memberikan anugerah sesuai dengan jasa masingmasing, Sie Ciangkun pasti merupakan orang pertama yang mendapat pangkat tertinggi"
Kata pemuda itu panjang lebar.
Kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Sie Long ini jelas membuat orang itu gembira sekali, Kemarahannya menguap entah ke mana, Cepatcepat dia berdiri dan menjura kepada Siau Po.
"Seandainya Tayjin sudi mengucapkan kata-kata yang demikian indah di hadapan Sri Baginda, untuk selamanya hamba tidak berani melupakan budi besar Tayjin ini."
Siau Po juga berdiri dan membalas penghormatan Sie Long, lalu berkata sambil tersenyum.
"Ucapan itu toh tidak merugikan diriku, bahkan bisa membawa keberuntungan. Apalagi kalau suasana hatiku sedang baik, aku malah bisa menambahkan beberapa ucapan yang lebih manis lagi."
Dalam hati Sie Long berpikir.
--Kalau aku tidak mengajakmu ke Taiwan kali ini, mana mungkin suasana hatimu si budak busuk bisa menjadi baik?
-Dia duduk kembali di kursinya lalu berkata.
Taiwan baru saja berhasil kita taklukkan, jelas keadaannya masih kacau balau, Hamba bermaksud mengusulkan kepada Sri Baginda agar mengutus seorang yang berwibawa dan sanggup menyenangkan hati rakyat untuk mengurus rakyat di sana.
Orang yang hamba maksudkan tentunya Wi Tayjin adanya, Hamba akan segera kembali ke Kotaraja untuk menyusun kalimat yang baik kemudian menyerahkannya kepada Sri Baginda, Setelah ada persetujuan dari beliau, pasti akan datang firman Sri Baginda yang mengutus Wi Tayjin berangkat ke Taiwan."
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Kau mau pulang dulu ke Kotaraja, lalu menyusun kalimat yang bagus untuk mengajukan usulmu kepada Sri Baginda, menunggu sampai Sri Baginda membaca, mempertimbangkannya lagi dan kalau setuju baru mengirimkan firmannya kemari? Waktu yang dihabiskan untuk pulang pergi serta tetek-bengek lainnya mungkin tidak cukup lima bulan atau setengah tahun. Takutnya pada waktu itu gosip yang sampai di telinga Sri Baginda kalau tidak ada seribu kata, paling tidaknya ada delapan ratus kata, Urusan seperti ini tidak bisa ditunda biar satu dua hari pun. sebaiknya Sie Ciangkun segera mencari seorang pembesar kepercayaan Sri Baginda untuk menyertaimu ke Taiwan serta membuktikan bahwa kau tidak bermaksud mengangkat dirimu menjadi raja di sana. Di luaran ada desas-desus bahwa kau malah sudah memilih gelar yang akan kau pakai setelah menjadi raja kelak. Kalau tidak salah namanya "
Tai Beng Taiwan Ceng Hai Ong " (Raja yang menguasai lautan di Taiwan dengan bendera Dinasti Beng) Apa benar?"
Mendengar gelar "Tai Beng Taiwan Ceng Hai Ong", Sie Long terkejut setengah mati.
Dalam hati dia berpikir, Siau Po toh tinggal di atas pulau yang terpencil darimana bisa mendengar desas-desus tentang dirinya?
Paling-paling si budak busuk ini yang mengada-ada.
Tapi kalau ucapan ini sampai ke Kota-raja, mungkin para pejabat kerajaan pun akan mempercayainya dan dirinya pasti akan mati tanpa kuburan, -Karenanya cepat-cepat dia berkata.
"ltu kan kabar burung, Wi Tayjin jangan percaya begitu saja." "BetuI,"
Sahut Siau Po.
"Aku kan kenal kau sudah lama, Tentu saja aku tidak mempercayainya. Tapi Sie Ciangkun menyerbu ke Taiwan kali ini, orang yang dibunuh pun pasti banyak sekali Dengan demikian permusuhan yang ditanam juga tidak sedikit jumlahnya Entah ada berapa pembesar di istana yang sudi mengorbankan seluruh keluarganya untuk membela Sie Ciangkun?"
Hati Sie Long semakin berdebar-debar, Dia tahu tidak ada pejabat tinggi di istana yang akrab sekali dengannya, Kalau tidak, dulu dia juga tidak terlunta-lunta di Kotaraja sekian lama tanpa ada orang yang memberikan jalan keluar bagi masalahnya.
Satu-satunya orang yang pernah menanam budi dengan mengangkat derajatnya justru pemuda yang ada di depan matanya sekarang ini.
Karena itu, dia segera mengkertakkan giginya dan berkata.
"Petunjuk berharga yang diberikan Tayjin sudah banyak sekali, untuk itu hamba merasa berterima kasih sekali, Karena waktunya sudah mendesak sekali, hamba memberanikan diri mengajak Tayjin berangkat besok juga agar sesampainya di Taiwan. Tayjin bisa menyelidiki benar tidaknya desas-desus yang tersiar di luaran."
Siau Po gembira sekali mendengarnya, tapi dia beranggapan bahwa Sie Long sendiri yang memohon kepadanya, Maka lebih baik dia mempersulit sedikit dan jangan secara mencolok menyetujui permintaannya.
"Kalau menilik dari persahabatan kita selama ini, sebetulnya tidak menjadi masalah apabila kita berangkat ke Taiwan untuk membersihkan nama baik Sie Ciangkun, Akan tetapi karena aku sudah terlalu lama tinggal di pulau ini, aku khawatir tidak terbiasa lagi naik kapal. Mungkin aku bisa mabuk laut. Lagi-pula aku sudah terbiasa berkumpul dengan anak istri-istriku, rasanya aku berat meninggalkan mereka begitu saja,"
Kata pemuda itu seolah segan-segan.
Dalam hati Sie Long memaki.
-Kau juga sudah pernah berlayar entah berapa ratus kali dan selamanya aku belum pernah kau mabuk maknya punya lautan!
Meskipun demikian, di luarnya dia tersenyum dan berkata.
"lstri-istri, serta anak-anak Tayjin tentunya harus ikut menyertai, Hamba akan memilih kapal yang paling besar untuk Tayjin sekeluarga, apalagi bulan-bulan sekarang lautan sedang tenang, tidak akan ada ombak atau badai besar. Harap Tayjin tidak perlu mengkhawatirkan hal ini."
Siau Po mengerutkan keningnya.
"Kalau begitu terpaksa siaute berusaha mengatasi kesulitan yang akan dihadapi dan ikut dengan Sie Ciangkun,"
Katanya.
Sie Long cepat-cepat mengucapkan terima kasih.
Pada hari kedua, Siau Po mengajak ke tujuh istri, dua putra dan seorang putrinya naik ke atas kapal yang telah disiapkan oleh Sie Long, Perwira Peng yang bertugas menjaganya di pulau itu bermaksud menghalangi kepergian mereka, tapi Sie Long segera meringkusnya, lalu mengikatnya dengan tali pada batang pohon.
Dengan demikian mereka segera berangkat meninggalkan pulau Tong Sip to tersebut.
Siau Po memandangi pulau terpencil yang telah menjadi tempat tinggalnya selama bertahun-tahun, bibirnya tersenyum.
"Pemilik sudah meninggalkan pulaunya, sekarang namanya tidak boleh Tong Sip to lagi. Kita harus mencari nama yang lebih sesuai baginya."
"Betul,"
Sahut Sie Long.
"Kalau menurut pendapat Tayjin, nama apa yang sesuai bagi pulau ini?"
Siau Po merenung sejenak kemudian berkata.
"Firman pertama dari Sri Baginda ada menyebutkan bahwa Tio Bung Ong mempunyai seorang sahabat yang gemar memancing, Han Kong Bu juga mempunyai seorang kawan yakni Cu Yan Ling yang suka memancing. Pokoknya setiap raja yang bijaksana pasti ada menterinya yang hobby memancing. sedangkan Sri Baginda sendiri juga mengutus aku berdiam di pulau ini untuk memancing, Kalau begitu kita namakan saja "
Tiau Hi To" (PuIau memancing Ikan)."
Sie Long bertepuk tangan sambil bersorak.
"Tidak ada nama yang lebih bagus daripada nama yang dipilihkan oleh Tayjin sekarang, pertama sesuai dengan amanat yang diberikan oleh Sri Baginda, kedua menyamakan diri Wi Tayjin dengan Ciang Thai Kong dan Cu Yan Ling yang merupakan Bun Bu Cuan Cai pada jamannya, Betul, mulai sekarang kita harus menyebutnya sebagai Tiau Hi To."
Siau Po tertawa.
"Tapi aku yang bergelar Tong Sip Hou sekarang juga terpaksa mengganti gelarnya sebagai Tiau Hi Hou. Lain kali kalau aku naik pangkat lagi, gelar yang kugunakan berubah pula menjadi entah Tiau Hi apa Kong, Kedengarannya jadi tidak enak."
Sie Long juga ikut tertawa.
"Hi Kong mendapat rejeki, yang lain juga kebagian. Enak kok didengarnya,"
Sahutnya tidak mau kalah. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Hong Siang menganugerahi aku gelar Tong Sip Pak, lalu naik lagi menjadi Tong Sip Hou. Kalau dibayangkan kembali memang enak juga kedengarannya, namun beberapa istriku yang merasa kurang puas, Mungkin kelak kalau meminta Hong Siang menggantinya menjadi Tiau Hi Hou, mereka juga akan berubah pikiran."
Diam-diam Sie Long merasa geli.
--Apa sih gelar Tong Sip Pak atau Tong Sip Hou, itukan kelakuan Hong Siang untuk mengambil hatimu.
Lagipula sebenarnya gelar itu lebih tepat sebagai ejekan bahwa kau bukanlah apa-apa di matanya, Biarpun diganti dengan Tiau Hi Hou, kedengarannya juga tetap saja enggak enak!
Seperti biasanya, Sie Long selalu lain di hati, lain di mulut, Terdengar dia berkata.
"Sejak dulu ada sebutan "Hi Ciau Ken Tuk"
Coba bayangkan saja, nelayan malah menduduki peringkat pertama, sedangkan orang yang sekolah malah berbaris paling terakhir Bila Tayjin kelak diganti gelarnya menjadi Tiau Hi Hou (Pangeran Memancing Ikan), berarti tingkatan Tayjin sudah lebih tinggi daripada segala ahli sastra yang ada di istana."
Mengenai apakah pulau memancing ikan itu sama dengan pulau Tiau Hi Tai To yang artinya sama tapi adanya di abad berikutnya, sayangnya dalam buku sejarah tidak ada disebutkan kaitannya, sayangnya tidak ada jejak Siau Po yang dapat ditemukan, meskipun diketahui pada awal pemerintahan Kaisar Kong Hi, pernah ada penduduk yang tinggal cukup lama di pulau tersebut dan bahkan ada jejak para prajuritnya pula.
Tidak sampai satu hari, Siau Po dan keluarganya beserta Sie Long, Lim Heng Cu, Ang Cao dan yang lainnya sudah tiba di Taiwan, Mereka berlabuh di daerah Ang Peng Hu.
Lim Heng Cu dan Ang Cao sebagai juru mudi menunjukkan bagaimana The Seng Kong memasuki wilayah tersebut tempo dulu.
Mereka juga menceritakan bagaimana pasukan mereka membuat Setan-Setan Berambut Merah terkocar-kacir.
Tentu saja Siau Po senang sekali mendengar cerita itu.
Karena Sie Long sudah membawanya ke Taiwan, kata-kata yang diucapkannya juga tidak menusuk hati ataupun menyindir orang itu lagi.
Di markas tentara yang ada di daerah itu, Sie Long mengadakan perjamuan besarbesaran.
Ketika mereka sedang bersantap dengan lahap, tiba-tiba terdengar seorang prajurit berseru bahwa ada Firman Kaisar dari Kotaraja.
Sie Long segera keluar menyambut datangnya firman tersebut Begitu kembali, wajahnya tampak berubah.
"Wi Tayjin, Kaisar mengutus orang untuk memeriksa dan melakukan penjagaan di Taiwan, Celakalah kita kali ini!"
Katanya.
"Lho, memangnya kenapa?"
Tanya Siau Po heran.
"Begini, keadaan di Kotaraja sedang kekurangan tenaga, Sri Baginda memutuskan akan mengutus orang untuk melakukan pemeriksaan dan penjagaan di Taiwan, Apabila perinciannya tidak menguntungkan bahwa lebih banyak penduduk setempat yang berpihak kepada kita, maka ada kemungkinan pulau ini akan ditutup, Menjadi wilayah Otoriter. Penduduk setempat diungsikan ke pedalaman, mereka hanya boleh mencari makan dari hasil kebun dan ladang setempat Dan prajurit yang menjaga di sini juga tidak perlu terlalu banyak, Dalam firmannya Sri Baginda menyatakan bahwa negara sedang mengadakan penghematan besar-besaran untuk menjaga segala kemungkinan. Apabila pulau ini tidak bisa menghasilkan banyak, lebih baik jangan dipergunakan,"
Sahut Sie Long menjelaskan Siau Po merenung sejenak, lalu bertanya.
"Apakah Sie Ciangkun tahu apa maksud sebenarnya dari para pejabat di Kotaraja?
Aku yakin ada orang yang membakar Sri Baginda untuk melakukan hal ini."
Sie Long terkejut setengah mati.
"Apakah benar desas-desus tentang Go Cu Sai telah sampai ke Kotaraja?"
Dia malah berbalik tanya dengan suara gemetar. Siau Po tersenyum.
"Ada pepatah yang mengatakan "
Tidak ada asap yang tidak tercium baunya ", Ternyata ungkapan ini memang benar, omongan yang baik tetangga belum tentu tahu, sedangkan ocehan yang tidak-tidak dalam jangka waktu sekejap saja bisa menyebar sampai ribuan li jauhnya.
Desas-desus tentang Sie Ciangkun yang ingin menggelarkan diri sendiri sebagai "
Tai Beng Taiwan Ceng Hai Ong"
Mungkin saja sudah tersebar sampai ke Kotaraja."
"Lalu, bagaimana sekarang?"
Tanya Sie Long cemas.
"Jumlah penduduk Taiwan lebih dari puluhan laksa orang, Mereka sudah tinggal di sini selama puluhan tahun, tentunya mereka sudah terbiasa, Apabila dalam waktu singkat mereka tiba-tiba diperintahkan mengungsi ke pedalaman, bagaimana mereka harus melewati hari? Kalau kita memaksakan, pasti terjadi perubahan hebat. Lagipula, bila tentara kita meninggalkan pulau ini, pasti Setan-Setan Berambut Merah itu akan datang kembali untuk mengangkatnya. Untuk apa kita bersusah payah merebutnya tempo hari kalau akhirnya dihadiahkan pula kepada para Setan Berambut Merah? Tentunya para penduduk Taiwan pasti merasa semakin tidak puas."
Siau Po merenung sejenak.
"Urusan seberat apa pun, pasti ada jalan ke luarnya, Raja sangat mencintai rakyatnya, Yang penting Sie Ciangkun harus berbicara atas nama rakyat. Kemungkinan akhirnya Sri Baginda justru akan berpihak kepadamu,"
Katanya kemudian.
Hati Sie Long terasa agak lapang mendengar ucapannya.
Tapi, bagaimana kalau kabar angin yang buruk sudah menyebar sampai ke istana?
sedangkan hamba justru mengusulkan untuk mempertahankan Pulau Taiwan ini, kemungkinan Sri Baginda.
mempunyai pikiran bahwa hamba benar-benar bermaksud mengkhianatinya."
"Sekarang sebaiknya kau cepat-cepat kembali ke Kotaraja dan menjelaskan semuanya kepada Sri Baginda, Kalau kau sudah sampai di sana, segala desas-desus tentang niatmu mengangkat diri sendiri menjadi raja di Taiwan tentu tidak dipercayai oleh siapa pun,"
Sahut Siau Po. Sie Long menepuk pahanya keras-keras.
"Betul, betul! petunjuk Tayjin memang selalu tepat. Besok juga hamba akan berangkat. Tiba-tiba suatu ingatan melintas dalam benaknya sehingga dia melanjutkan "
Para pejabat yang ada di Taiwan biar dipimpin oleh Tayjin sendiri Sri Baginda paling percaya pada Tayjin, Asal Tayjin bersedia menduduki jabatan ini, para menteri di istana tidak ada seorang pun yang berani memprotesnya."
Siau Po gembira sekali mendengarnya, Dalam hati dia berpikir bahwa tidak ada salahnya dia menjabat sebagai pembesar di Taiwan. Karenanya, sembari tersenyum dia berkata.
"Kau toh belum menerima Firman Kaisar, masa seenaknya menyerahkan pasukan dan para pejabat di sini untuk kukepalai, Bagaimana kalau sampai Sri Baginda menyalahkan dirimu untuk masalah ini?"
Mendengar pertanyaannya, hati Sie Long menjadi bimbang kembali.
--pemuda ini murid Tan Kin Lam, malah anggota perkumpulan Thian Te hwee pula, Meskipun Sri Baginda sangat menyayanginya, tapi selama beberapa tahun ini dia justru dikurung di atas pulau Tong Sip to tanpa diberi tugas apa-apa.
Kalau tiba-tiba dia memimpin sejumlah pasukan perang dan akhirnya dia mengajak sisa-sisa anggota Thian Te hwee untuk memberontak terhadap kerajaan, aku...
akulah orang pertama yang akan dijatuhi hukuman mati...
-pikirnya dalam hati.
Sie Long merenung sejenak, akhirnya dia mendapat ide yang bagus.
-Yang penting aku harus membawa seluruh pasukan Angkatan Laut Tanpa mereka pemuda ini tentu tidak bisa melakukan apa-apa.
Kalau dia sampai berani mengajak anggota Thian Te hwee untuk memberontak juga, aku tinggal memimpin Pasukan Angkatan Laut untuk kembali menyerangnya.
Dalam waktu singkat seluruh isi pulau ini akan rata menjadi tanah, -pikirnya Iagi.
Karena sudah mendapat keputusan, dia segera berkata.
"Kalau para prajurit Angkatan Darat diserahkan kepada orang lain, mungkin Sri Baginda akan menyalahkan hamba, Tapi kalau diserahkan kepada Tayjin, beliau pasti setuju sekali."
Perjamuan makan pun dihentikan saat itu juga, Pada malam yang sama, Sie Long segera memerintahkan sejumlah perwira dan pejabat yang bertugas di Taiwan untuk menemui Siau Po dan menyampaikan bahwa mulai keesokan harinya seluruh pasukan Angkatan Darat maupun urusan politik yang ada di pulau tersebut telah dialihkan kepada pemuda itu.
Dia juga menyuruh seorang Ahli Sastra untuk menuliskan sepucuk surat atas nama Siau Po, yang isinya menyatakan permohonan maaf tentang pengambiI-alihan tugas Sie Long tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tapi dia berjanji untuk setia terhadap negara.
Hal ini dilakukan demi seluruh rakyat Taiwan yang sudah kerasan tinggal di pulau tersebuL Apabila secara tiba-tiba mereka diungsikan ke Pedalaman, Siau Po khawatir akan timbul pertentangan yang akhirnya mengakibatkan jatuh korban lagi.
Setelah masalah ini selesai, ternyata tanpa sadar mereka telah sibuk sepanjang malam.
Pada hari itu juga Sie Long sudah mempersiapkan diri untuk naik ke atas kapal.
Tiba-tiba Siau Po bertanya.
"Sebetulnya masih ada satu persoalan lagi, entah kau sudah mempersiapkannya belum?"
"Urusan apa yang Tayjin maksudkan?"
"Sumbangan,"
Sahut Siau Po.
"Sumbangan?"
Sie Long menjadi bingung mendengarnya.
"Betul. Kali ini kau berhasil merebut Pulau Taiwan, Di dalam istana terdapat banyak Menteri serta pembesar Tinggi, Entah hadiah apa saja yang telah kau berikan kepada mereka?"
Kata Siau Po. Sie Long tertegun sejenak, lalu menjawab.
"Tugas ini diberikan langsung oleh Sri Baginda, Hamba beserta pasukan mempertaruhkan nyawa untuk merebut pulau ini, Para menteri dan pembesar tinggal di istana toh tidak mengeluarkan tenaga sedikit pun."
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Lo Sie oh Lo Sie, begitu berhasil kau langsung lupa diri. Penyakitmu terus kumat, Kali ini engkau telah mendirikan jasa besar dengan merebut Pulau Taiwan, Orang
Tiraikasih website
http.//cerita-silat.co.cc/ orang pasti mengira kau mendapat rejeki banyak, namun ditelan sendiri, Memangnya para Menteri dan pembesar di istana tidak menjadi silau matanya?"
Sie Long menjadi cemas.
"Tayjin penuh pengertian, apabila Sie Long mengantongi sekeping uang perak saja dari pulau ini, biarlah sekembalinya ke Kotaraja nanti aku mendapat hukuman penggal kepala,"
Katanya cepat.
"Sekarang kau toh sudah menjadi pembesar kerajaan Ceng, tapi orang lain belum tentu sudi menjadi bawahan pemerintah Ceng, apalagi orang Han sendiri. Semakin kau bersikap rendah diri, orang semakin curiga terhadapmu. Mereka tentu menduga bahwa kau telah menghabiskan uang banyak guna menyodok penduduk Taiwan atau prajurit The Seng Kong sehingga kau berhasil dengan mudah. Aih, kau benar-benar bodoh! Jadi ketika kembali ke Kotaraja kau tidak membawa apa pun?"
Tanya Siau Po menyelidik.
"Hasil bumi atau hasil tambang Taiwan banyak sekali. Rumput obat, rotan, kayu balok dan sebagainya memang aku ada membawa sedikit,"
Sahut Sie Long. Siau Po tertawa terbahak-bahak, Pertama-tama wajah Sie Long sampai merah jengah dibuatnya, namun akhirnya dia menjadi sadar. Karena itu dia menjura dalamdalam kepada Siau Po.
"Terima kasih atas petunjuk Tayjin. Hampir saja hamba tertimpa musibah,"
Katanya. Siau Po memanggil beberapa orang bawahannya lalu berkata.
"Kepergian Sie Ciangkun adalah untuk memohon kelonggaran hati Sri Baginda demi kita semua, Apabila tugasnya sampai mengalami kegagalan, kemungkinan batok kepala kita sulit dipertahankan Urusan yang menyangkut jiwa kita bersama ini, masa harus Sie Ciangkun sendiri yang menanggungnya? Saudara-saudara sekalian, cepat kalian mencari derma dari para penduduk!"
Sie Long memang jujur sekali, Sejak menguasai Taiwan, dia belum pernah mengambil uang seperak pun dari rakyat Begitu tugasnya diambil alih oleh Siau Po, tindakan pertama si pemuda justru meminta sumbangan "Garansi Jiwa"
Dari para penduduk.
Tadinya para penduduk yang mendengar berita bahwa mereka akan diungsikan ke Pedalaman, tidak ada satu pun yang tidak merasa cemas karenanya.
Belakangan mereka mendapat kabar bahwa Sie Ciangkun telah menerima saran dari Wi Hu ya untuk berangkat ke Kotaraja guna membicarakan masalah ini, itulah sebabnya tidak ada seorang pun yang keberatan memberikan sumbangan "Garansi Jiwa"
Yang diajukan oleh Siau Po.
Mereka malah menyumbang dengan suka hati, Untung saja rakyat Taiwan rata-rata hidup makmur Dalam waktu setengah hari saja, anak buah Siau Po sudah berhasil mengumpulkan Tiga puluh laksa tail lebih.
Siau Po juga menyuruh para prajurit serta pembesar setempat untuk merogoh kantong sendiri dan mengumpulkan lagi uang sebanyak enam puluh laksa tail lebih sehingga jumlahnya menjadi seratus laksa tail.
Dia pula yang menentukan siapa yang harus mengeluarkan uang lebih banyak dan siapa pula yang mengeluarkan jumlah yang lebih sedikit Sie Long jadi terharu melihat sikapnya, Sampai kentungan pertama tengah malam, kapalnya baru berangkat.
Keesokan harinya Siau Po mengadakan pertemuan Hampir seluruh prajurit dan pembesar setempat hadir, Dia berkata kepada mereka.
"Tadi malam Sie Ciangkun sudah berangkat menuju Kotaraja. sebelumnya kami mengadakan kalkulasi, rasanya jumlah uang yang berhasil dikumpulkan masih kurang seratus laksa lebih, saudaramu ini justru mengkhawatirkan nasib para penduduk di sini, akhirnya dengan berat hati aku menyerahkan sejumlah ternak dan perhiasan milik ke tujuh istriku untuk diserahkan kepada Sie Ciangkun guna melengkapkan jumlah yang kurang itu. Aih, ternyata menjadi pejabat di Taiwan ini tidak mudah juga, Baru satu hari aku memang ku jabatan, ternyata sudah rugi seratus laksa tail lebih. Padahal perhiasan dan ternak-ternak itu merupakan harta kami yang terakhir."
Tampak Siau Po menarik nafas panjang.
Tayjin berjiwa besar dan tangannya selalu terbuka untuk menolong yang lemah, Hal ini menunjukkan perhatian Tayjin yang besar terhadap rakyat Taiwan.
Namun Tayjin tidak perlu khawatir, penduduk Taiwan sudah diberikan pengertian bahwa enam puluh laksa tail milik para prajurit dan pembesar setempat yang dibawa oleh Sie Ciangkun hanya merupakan pinjaman karena keadaan yang sudah terlalu mendesak.
Mereka berjanji akan mengumpulkan uang untuk membayarnya kembali, otomatis jumlah perhiasan istri-istri Tayjin beserta ternak pemeliharaan yang seharga seratus laksa tail lebih itu juga harus diperhitungkan dan para penduduklah yang akan mengembalikan nya kelak,"
Sahut seorang pembesar setempat. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Kalian masing-masing juga mengeluarkan uang sampai-sampai kewalahan memenuhi kekurangannya, Urusan ini tentunya aku juga tahu. pembesar yang kedudukannya lebih tinggi harus mengeluarkan laksaan tail, sedangkan yang kedudukannya lebih rendah setidaknya juga harus mengeluarkan ribuan tail. Semua rela berkorban, kalau dipikir-pikir bukan lain demi rakyat juga, Dana ini sudah pasti dikembalikan namun kita yang jadi pembesar setempat juga tidak boleh keterlaluan kita tidak boleh menghitung bunga kepada rakyat jelata, Biarlah kita dirugikan sedikit, asal modalnya bisa kembali, ya sudah, ini yang dinamakan "
Mencintai rakyat seperti anak sendiri."
Katanya.
Para pembesar dan prajurit setempat gembira sekali mendengar kata-katanya.
serentak mereka menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih, Mereka merasa bahwa pembesar yang satu ini pandai mengambil hati rakyat.
Ternyata dia lebih baik dari pembesar mana pun yang pernah mereka temui.
Beberapa hari kemudian, Siau Po menyuruh anak buahnya untuk mempersiapkan keperluan persembahyangan, Mereka akan bersembahyang ke makam The Seng Kong.
Padahal Siau Po hanya ingin melihat bagaimana sebetulnya tokoh yang dulunya disegani orang itu.
Sesampainya di depan makam yang besar itu, Siau Po mendongakkan kepalanya, Dia melihat patung The Seng Kong duduk di akar lebar wajahnya bulat, di atas bibir maupun di dagunya terdapat beberapa lembar bulu halus, kedua telinganya besar, tapi matanya sipit sekali.
Alisnya melengkung, dahinya yang tinggi menunjukkan mimik pengasih dan berwibawa, Namun kelihatannya seperti orang tua biasa saja, tidak terlihat kesan seorang pendekar besar atau pahlawan bangsa pada jamannya.
Dalam pandangan Siau Po malah lebih mirip seorang guru, pemuda itu tampak agak kecewa melihatnya.
Dia bertanya kepada seorang prajurit yang menyertainya.
"Apakah tampang Kok Seng Ya memang seperti ini?"
Lim Heng Cu yang kebetulan diajaknya menjawab pertanyaan Siau Po.
"Wajah asli Kok Seng Ya memang begini. Pada dasarnya Kok Seng Ya adalah seorang yang terpelajar Oleh karena itu, meskipun dia seorang pendekar besar dan pahlawan bangsa, namun tampangnya tetap lembut."
"Oh, rupanya begitu."
Dia melihat di kedua sisi patung Kok Seng Ya terdapat lagi dua patung manusia yang bentuknya lebih kecil. Yang kiri perempuan dan yang kanan patung seorang laki-Iaki, Maka Siau Po bertanya lagi.
"Siapa kedua orang ini?"
"Yang perempuan ialah permaisuri Tong. sedangkan yang laki-laki itu Si Ong Ya,"
Sahut Lim Heng Cu.
"Apa itu Si Ong Ya?"
Tanya Siau Po pula.
"Dialah putera Kok Seng Ya yang kemudian mengambil alih jabatannya."
"Oh! Tentunya dialah The Keng, Kalau diperhatikan memang ada kemiripan dengan si budak busuk The Kek Song. Di mana patung Tan Kun su, guruku?"
Tanya Siau Po.
"Tidak ada patung Tan Kun su,"
Sahut Lim Heng Cu.
"Permaisuri Tong ini jahatnya bukan main, turunkan saja patungnya! Dan cepat suruh orang membuat patung guruku lalu letakkan di sini agar dapat menemani Kok Seng Ya!"
Kata Siau Po.
Lim Heng Cu gembira sekali mendengarnya, Dia langsung naik ke atas altar untuk menurunkan patung permaisuri Tong.
Siau Po sendiri segera menjatuhkan diri berlutut dan menyembah beberapa kali kepada patung Kok Seng Ya.
"Kok Seng Ya, kau adalah seorang pendekar besar juga pahlawan bangsa, Hari ini aku Wi Siau Po menyembah di hadapanmu karena kau memang pantas menerimanya. Nenek tua ini jahat sekali, kalau setiap hari dia menemanimu, arwahmu pasti merasa marah karenanya, sebab sudah terlalu banyak urusan keluargamu yang dikacaukan olehnya, sekarang aku membantumu menurunkan patungnya dan menggantikannya dengan patung guruku agar dapat menemanimu,"
Katanya, Begitu teringat kembali pada gurunya yang mati secara mengenaskan, tanpa terasa air mata Siau Po mengalir dengan deras, Seluruh rakyat di Taiwan sangat membenci permaisuri Tong, sedangkan Tang Eng Hoa berjiwa luhur, pendidikannya tinggi, ilmu silatnya lihai, namun dia tidak pernah sombong, Apa pun yang menyangkut kepentingan rakyat Taiwan selalu didahulukan.
penduduk Taiwan menjulukinya sebagai "Cu Kek Liang dari Taiwan"
Ketika Tan Kek Song menjadi pimpinan di Taiwan, tidak ada seorang penduduk pun yang berani mengucapkan sepatah kata yang buruk tentang permaisuri.
Mereka juga tidak berani mengatakan hal yang baik tentang Tan Eng Hoa (Nama asli Tan Kin Lam), sekarang Siau Po menurunkan perintah "Membasmi Tong, mengangkat Tan" , rakyat merasa gembira sekali, apalagi mereka mendengar Siau Po menyembah di hadapan patung Kok Seng Ya sambil menangis sedih, rakyat Taiwan merasa terharu sekali.
Meskipun Wi Tayjin ini dianggap agak mata duitan, namun pertama dia merupakan murid Tan Kun su, setidaknya rakyat Taiwan ikut menghargai dan mencintainya.
Kedua Sie Long telah membawa pasukan untuk menyerbu ke Taiwan sehingga sisa-sisa pecinta tanah air dari Dinasti Beng menjadi hancur sejak hari itu.
itulah sebabnya, meskipun diam-diam di kalangan rakyat ada ungkapan tentang "Sie yang pengkhianat dan Wi yang serakah"
Namun mereka juga merasa bahwa Wi Tayjin ini orangnya ramah serta lebih mengutamakan kepentingan rakyat, jadi mereka juga berharap agar Wi Tayjin ini akan memimpin di Taiwan untuk selamanya dan paling bagus kalau Sie Long tidak usah kembali lagi.
Tapi harapan tinggal harapan, beberapa bulan kemudian ternyata Sie Long kembali dengan membawa serta pasukan Angkatan Lautnya.
Siau Po menyambutnya di pelabuhan, Tampak Sie Long keluar dari kapal bersama seorang pembesar berpakaian mentereng, tubuhnya tinggi besar Ketika melompat ke atas papan penyeberangan terdengar pembesar itu berseru.
"Saudara Wi, apa kabar?
Kakakmu ini rindu sekali terhadapmu!"
Ternyata dia adalah So Ngo Ta.
Tentu saja Siau Po jadi gembira sekali, Cepat-cepat dia menghambur ke depan, kemudian keduanya saling berjabatan tangan dan tertawa terbahak-bahak.
Wajah So Ngo Ta tampak berseri-seri.
"Adikku, kabar baik, kabar baik, Sri Baginda mengirim Firman yang menyatakan bahwa kau di mintanya datang ke Kotaraja,"
Katanya.
Gembira dan sedih berkecamuk dalam batin Siau Po.
Diam-diam dia berpikir.
-Kalau dari semula aku memang ingin ke Pe King, tentu sekarang aku sudah ada di sana, Si Raja cilik orangnya keras kepala, dia tidak akan menyerah terhadap kemauannya, Kalau aku tidak berjanji akan membasmi perkumpulan Thian Te hwee, dia tidak mungkin mau menemuiku, Sie Long tertawa terkekeh-kekeh.
"Sri Baginda memang berjiwa besar. Benar-benar tidak ada yang bisa menandinginya, Sri Baginda sudah mengabulkan permintaan kita untuk tidak memindahkan rakyat ke daerah pedalaman,"
Katanya ikut memberi keterangan.
Selama beberapa bulan terakhir ini, baik rakyat maupun prajurit di Taiwan terus merasa khawatir, jangan-jangan Kaisar tetap pada pendiriannya ingin mengosongkan pulau Taiwan dan mengungsikan mereka ke daerah pedalaman.
Banyak yang mengatakan bahwa mulut seorang Raja adalah "Emas" , apa yang sudah dikatakannya tidak mungkin ditarik kembali Mendengar kata-kata Sie Long barusan, prajurit maupun rakyat Taiwan yang ikut menyambut kedatangan pembesar itu langsung bersorak gembira, Mereka serentak berseru.
"Ban Sui! Ban Sui! Ban Sui!" (Artinya Semoga panjang Umur bagi sang Raja), Kabar yang menggembirakan ini sudah menyebar sampai seluruh pelosok dalam waktu yang singkat Di mana-mana terdengar seruan syukur dan terima kasih. Bahkan ada yang mulai memasang petasan serta kembang api seakan sedang merayakan hari bersejarah Bisingnya malah melebihi malam tahun baru. So Ngo Ta membacakan firman Kaisar, isinya menyatakan bahwa Siau Po telah berjasa, ada hadiah yang menantinya di Kotaraja, Dengan kepandaian serta kecerdasan otaknya, Kaisar Kong Hi menyatakan bahwa dia lebih berguna apabila menetap di Pe King. Siau Po berlutut serta mengucapkan terima kasih. Kedua orang itu segera masuk ke dalam rumah untuk mengadakan pembicaraan rahasia. Setelah sampai di ruangan dalam So Ngo Ta berkata.
"Siaute, mukamu kali ini benar-benar terang, Sri Baginda khawatir kau ragu mengambil keputusan, karena itu aku ditugaskan untuk mengiringimu. Tahukah kau tugas apa yang direncanakan Sri Baginda untukmu?"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Sri Baginda sangat cerdas, apa yang ada dalam benaknya, kita-kita sebagai hambanya mana mungkin bisa menerkanya begitu saja!"
So Ngo Ta mendekatkan bibirnya ke telinga Siau Po seakan takut pembicaraannya terdengar oleh orang lain.
"Menggempur negara Lo Sat,"
Katanya lirih. Siau Po sempat tertegun sejenak, kemudian melonjak bangun.
"Bagus sekali!"
Serunya.
"Hong Siang mengatakan bahwa begitu kau mengetahui hal ini, kau pasti kegirangan setengah mati. Ternyata apa yang dikatakan beliau memang tepat Adikku, sejak jaman pemerintahan Kaisar Sun Ti, negara Lo Sat telah menduduki daerah sekitar sungai Hek Liong Ciang kita. Sikap mereka sangat kejam. sedangkan Kaisar kita yang dahulu serta Sri Baginda sekarang berjiwa lapang, mereka tidak terlalu berhitungan dalam hal ini. Siapa kira Bangsa Lo Sat ini sudah dikasih hati malah minta ampela, tanah yang mereka kuasai semakin lama semakin luas. Misalnya Liau Tong, Daerah itu sebetulnya milik Bangsa Ceng kami, bagaimana mungkin dikuasai oleh Setan Lo Sat seenaknya saja? Sekarang masalah Go Sam kui dan Pulau Taiwan sudah diselesaikan. Dunia boleh dibilang sudah tenteram Maka Hong Siang mengambil keputusan untuk merebut kembali daerah yang dikuasai oleh Setan Lo Sat,"
Kata So Ngo Ta menjelaskan.
Selama beberapa tahun belakangan ini Siau Po tinggal di Pulau Tong Sip to yang terpencil, saking isengnya dia sampai main kartu setiap hari.
Begitu mendapat kabar ini, hatinya senang sekali sampai mulutnya yang terbuka lebar lupa dirapatkan kembali.
So Ngo Ta berkata pula.
"Demi kepentingan bersama, Hong Siang sudah beberapa kali mengirimkan firmannya ke Negara Lo Sat. Tapi dari awal hingga akhir, pihak sana tidak pernah memberikan jawaban Kemudian utusan dari HoIIand menyampaikan kabar, meskipun Negara Lo Sat besar sekali, namun rakyatnya rata-rata bodoh, tidak ada satu pun yang mengerti Bahasa Tionghoa, Seiiap kali mendapat firman dari Kaisar, mereka malah kebingungan. Karena itu mereka memilih untuk tidak memberikan jawaban apa-apa. Namun prajurit Negara Lo Sat yang datang untuk memperluas kekuasaan mereka justru tidak pernah berhenti Sri Baginda berkata bahwa kita Bangsa Tionghoa adalah bangsa yang berprikemanusiaan, jadi kita tidak boleh menyalahkan bangsa yang bodoh. Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membuat mereka mengerti bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Mudah-mudahan mereka menyadarinya, Namun apabila dengan cara yang lunak mereka masih belum bisa memahami terpaksa kita harus mengambil tindakan kekerasan. Diantara para pembesar di istana, hanya Wi siaute seorang yang mengerti bahasa negara lo Sat."
Diam-diam Siau Po berpikir. --Rupanya karena aku mengerti Bahasa Lo Sat, si Raja cilik baru mengalah terhadapku -So Ngo Ta tersenyum.
"Adik Wi dapat mengerti Bahasa Lo Sat, tentunya hebat sekali, Namun masih ada hal lainnya yang lebih mengagumkan lagi Dengar-dengar Negara Lo Sat ini diperintah oleh seorang ratu. Kalau tidak salah ratu ini merupakan kenalan lama Adik Wi, bukan?"
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
"Tubuh wanita Lo Sat penuh dengan bulu berwarna keemasan. Kalau ditilik dari tampangnya, Ratu Sophia ini cukup cantik, sayangnya kalau diraba kulitnya terasa agak kasar."
So Ngo Ta tertawa.
"Sri Baginda justru memilih Adik Wi berangkat ke sana, agar tidak menemui banyak kesulitan. Mungkin sebaiknya Adik Wi meraba kulitnya beberapa kali,"
Katanya. Siau Po menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak berselera,"
Sahutnya.
"Siapa tahu kalau Adik Wi sudi mengelusnya beberapa kali, kedua negara langsung berbaikan, Jadi kita tidak perlu berperang yang bisa menjatuhkan korban banyak. Bukankah ini sebuah cara yang ajaib untuk merukunkan kedua belah pihak?"
Kata So Ngo Ta pula. Siau Po tertawa geli.
"Rupanya Sri Baginda bukan mengutus aku untuk berperang, tapi menyuruh aku mengeluarkan ilmu "
Cap Pek Mo Sin Fang" (llmu ajaib delapan belas rabaan)! Ha ha ha ha!"
Dia langsung bernyanyi.
"Raba ya raba, raba sana raba sini, raba rambut Ratu Lo Sat yang berwarna keemasan Wi Siau Po dan So toako sama-sama menikmati!"
Kedua orang itu pun tertawa terbahak-bahak.
Keesokan harinya Siau Po membawa istri-istri dan anak-anaknya berangkat ke Pe King.
sebelumnya dia menyuruh beberapa prajurit menggotong ke kapal berbagai intan permata serta uang emas hadiah dari rakyat Taiwan.
Dia juga mengatakan kepada Sie Long, bahwa dia menginginkan Kepala Komandan pasukan di Taiwan yakni Ho Yu, juga Lim Heng Cu, Ang Cao serta lima ratus orang prajurit pilihan untuk menyertainya.
Sie Long tahu keberangkatan Siau Po kali ini karena mendapat tugas berat dari raja, Lagi-pula dia sedang mengambil hati Siau Po agar bicara yang baik-baik tentang dirinya di hadapan raja.
Sudah pasti dia setuju seratus persen dengan permintaan Siau Po, bahkan dia juga menghadiahkan berbagai macam benda yang berharga kepada anak muda itu.
Rakyat Taiwan sudah tahu bahwa Sri Baginda tidak jadi memindahkan mereka ke pedalaman.
Dalam hal ini jasa Siau Po lah yang paling besar Mereka merasa terharu sekali, Menjelang keberangkatan anak muda ini, rakyat yang bermaksud mengantarkannya sampai berdesakan.
Ketika dia berniat naik ke atas kapal, dua orang tua menghampirinya dan melepaskan sepatu yang dikenakannya sebagai kenang-kenangan.
Tradisi ini memang sudah lama terdapat di Pulau Taiwan.
Namun biasanya hanya orang-orang berpangkat tinggi atau pahlawan besar yang mendapat kehormatan tersebut sedangkan Siau Po hanya menjadi pimpinan di pulau tersebut selama beberapa bulan.
Boleh dibilang dia merupakan orang pertama dan mungkin juga yang terakhir mendapat kehormatan "Lepas Sepatu untuk Tanda Mata"
Dalam sejarah Pulau Taiwan dengan jabatan sesingkat itu.
upacara penembakan meriam sebagai tanda menghantarkan keberangkatannya pun terus bergema tanpa berhenti.
Tidak sampai satu hari mereka sudah sampai di perbatasan Setelah turun dari kapal, rombongan Siau Po dan So Ngo Ta meneruskan perjalanan dengan naik kereta kuda yang semuanya sudah dipersiapkan sebelumnya.
Dengan melalui Thian Cing, mereka pun tiba di Kotaraja, Melihat pintu gerbang kota, hati Siau Po seakan berbunga-bunga.
Kenangan lama pun melintas dalam benaknya, Begitu masuk kota, dia segera memohon untuk bertemu dengan Raja.
Kaisar Kong Hi berkenan menemuinya di ruang perpustakaan.
Siau Po berjalan ke hadapannya, lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
Belum lagi dia berdiri, perasaan senang dan terharu berkecamuk dalam batinnya, Tanpa dapat ditahan lagi air matanya mengalir dan dia pun menangis tersedu-sedu.
Melihat kedatangan Siau Po, hati Kong Hi setengah senang, setengah marah, Diamdiam dia berpikir --Anak ini benar-benar tidak tahu aturan, nyatanya dia masih berani menolak firman raja.
Kali ini memang ada tugas yang harus dikerjakannya, namun sebaiknya aku bersikap agak keras terhadapnya agar kepalanya tidak semakin besar dan sikapnya menjadi semakin sombong, Sampai saat itu aku bisa kewalahan menghadapinya Meskipun hatinya berpikir demikian, tapi melihat Siau Po yang datang-datang langsung menangis keras-keras, Kong Hi mau tidak mau menjadi lunak juga sikapnya.
"Maknya, kenapa bocah ini begitu melihat Locu langsung menangis keras-keras?"
Serunya pura-pura marah.
"Hamba mengira seumur hidup ini hamba tidak akan bertemu lagi dengan Sri Baginda, Namun hari ini kita dapat bertemu lagi, hamba benar-benar senang sekali,"
Sahut Siau Po tersedu-sedu. Kaisar Kong Hi tertawa.
"Bangun, bangun! Biar aku lihat kau lebih jelas!"
Katanya. Siau Po bangkit wajahnya penuh dengan air-mata, namun dia memaksakan diri untuk mengembangkan senyuman yang paling indah. Kaisar Kong Hi semakin geli melihatnya. Tertawanya pun semakin lebar.
"Maknya! Bocah ini juga sudah jauh lebih tinggi sekarang!"
Jiwa kekanakkanakannya timbul seketika.
Dia langsung turun dari undakan tangga lalu berdiri sejajar dengan Siau Po untuk membandingkan siapa yang lebih tinggi di antara mereka berdua.
Siau Po tahu raja itu ingin membandingkan siapa yang tinggi atau siapa yang lebih pendek di antara mereka.
Namun Kong Hi adalah seorang raja, sebagai seorang hamba, mana boleh Siau Po melebihinya?
Oleh karena itu dia segera menekuk lututnya sedikit agar tampak dia yang lebih pendek.
Kaisar Kong Hi mengangkat tangannya ke atas dan mensejajarkan kepala mereka, ternyata dirinya lebih tinggi kurang lebih satu inci, Sembari tertawa dia berkata.
"Wah, tinggi kita hampir sama!"
Dia membalikkan tubuhnya lalu berjalan beberapa langkah.
"Siau Kui Cu, berapa putra dan putri yang telah kau hasilkan selama ini?"
"Hambamu tidak berguna, selama ini baru menghasilkan dua orang putra dan seorang putri,"
Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.
"Untuk urusan ini ternyata aku lebih unggul darimu, Aku sudah mempunyai empat orang putra dan tiga orang putri."
"Sri Baginda berjiwa besar, tentu saja lebih hebat dari hambamu ini,"
Sahut Siau Po pula. Kong Hi tertawa.
"Setelah lewat beberapa tahun ternyata pengetahuanmu masih belum ada kemajuan, Punya anak berapa orang kek apa urusannya dengan berjiwa besar?" "Dulu Tio Bun Ong mempunyai seratus orang anak. Dengan demikian setiap raja yang baik selalu mempunyai banyak anak,"
Sahut Siau Po tidak mau kalah.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya Kaisar Kong Hi sambil tersenyum.
Baca Juga: Si Racun Dari Barat Jin Yong
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 5