Eps 23 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Sri Baginda mengutus hamba untuk memancing ikan di pulau terpencil Hubungan kita laksana Tio Bun Ong dan Ciang Tai Kongnya, Urusan Tio Bun Ong tentu saja hamba harus menanyakannya sampai jelas, jangan sampai tidak bisa memberikan jawaban apabila suatu hari Sri Baginda menanyakannya kepada hamba,"
Sahut Siau Po.
Selama beberapa tahun belakangan ini Kaisar Kong Hi selalu sibuk mencari akal dan menentukan siasat untuk menggempur Go Sam Kui serta merebut Pulau Taiwan.
Begitu sibuknya dia sampai kurang tidur, Dia juga kehilangan seorang menteri seperti Siau Po yang sering bercanda serta pandai mengambil hati.
Kadang-kadang raja yang masih muda ini sampai merasa jenuh, ingin rasanya melepaskan semua urusannya untuk bersantap sekarang dia dapat bertemu kembali dengan Siau Po, tentu saja hatinya merasa gembira sekali.
Setelah berbincang-bincang sejenak, Kaisar Kong Hi menanyakan kehidupannya di Pulau Tong Sip to, juga meminta keterangan tentang keadaan Pulau Taiwan serta sikap rakyat di sana.
Taiwan merupakan pulau yang subur.
Hawanya sejuk, hasil bumi dan hasil pertambangan maupun pertanian banyak sekali, Rakyat di sana hidup makmur Ketika mengetahui Sri Baginda mengijinkan mereka tetap tinggal di pulau itu, mereka merasa terharu sekali Setiap orang mengatakan bahwa Sri Baginda benar-benar Niau Seng Hi Tong."
Kong Hi menganggukkan kepalanya.
"Sie Long mengutamakan politik yang menentramkan hati rakyat Para penduduk di sana sudah kerasan hidup di Taiwan. Apabila kita memaksakan mereka untuk mengungsi ke Pedalaman, tentu saja mereka bingung bagaimana harus mencari makan. Para Menteri di istana tidak memahami keadaan di Taiwan, karena itu mereka sembarangan memberikan usul. Untung urusannya tidak sempat menjadi runyam. Dalam hal ini, jasa Sie Liong dan engkau benar-benar tidak kecil."
Siau Po segera menjatuhkan diri berlutut. Sambil menyembah dia berkata.
"Sudah beberapa kali hamba menolak Firman Kaisar, Biar dipenggal kepalanya sebanyak tujuh belas kali juga sudah semestinya, Karena itu, apa pun yang telah hamba lakukan, harap Sri Baginda tidak menyebutnya sebagai jasa. Hamba hanya memohon agar Sri Baginda sudi mengampuni jiwa hamba dan agar untuk selamanya hamba diijinkan berada dekat dengan Sri Baginda agar dapat memberikan pelayanan."
Seperti biasa, kalau diberi kesempatan untuk bicara, Siau Po pasti ngelantur ke mana-mana, dengan kata lain semakin ngelunjak. Kaisar Kong Hi tertawa mendengarnya.
"Kau sendiri sadar bahwa kepalamu dipenggal tujuh belas kali juga masih pantas, sayangnya batok kepalamu tidak sampai tujuh belas, kalau tidak, aku pasti akan memenggal enam belas diantaranya."
"BetuI, betul Hamba juga tidak menginginkan batok kepala banyak-banyak, satu saja sudah cukup, Asal masih tersisa satu mulut untuk makan dan berbicara, hati hamba juga sudah cukup puas,"
Sahut Siau Po.
"Batok kepalamu yang tinggal satu ini dapat atau tidak dipertahankan tergantung dari kesetiaanmu mulai sekarang. juga tergantung apakah kau masih berani menentang Firman Kaisar atau tidak,"
Kata Kaisar Kong Hi.
"Pokoknya hamba akan mendahulukan kesetiaan mulai tekarang, Hati penuh kesetiaan, membesarkan nyali demi kesetiaan, dan setia membela negara."
Kong Hi tertawa mendengarnya.
"Rupanya pepatah tentang kesetiaan yang kau ingat banyak juga. Apakah masih ada yang lainnya?"
"Di dalam benak hamba hanya ada satu kata "
Setia", tentu saja masih ada beberapa yang hamba ingat Misalnya.
"seorang laki-Iaki sejati setia mencintai negaranya".
"Menteri yang setia tidak takut mati", juga "Setia dan jujur merupakan modal utama..."
"Bangunlah! Kalau orang seperti kau dapat dikatakan setia dan jujur, maka tidak ada manusia licik lagi di dunia ini,"
Tukas Kaisar Kong Hi.
"Harap Sri Baginda ketahui, hamba benar-benar setia terhadap Sri Baginda, Terhadap orang lain, kesetiaan hamba hanya setengah-setengah, Malah kadangkadang agak licik sedikit Sifat hamba memang bukan seratus persen baik, tentunya Sri Baginda lebih mengerti daripada hamba. Namun, terhadap Sri Baginda memang hamba harus setia, sedangkan terhadap teman hamba harus "solider" , Di saat kesetiaan serta kesolideran tidak dapat diperoleh dalam waktu yang bersamaan, terpaksa hamba menyulitkan kepala dengan bersembunyi di pulau Tong Sip to yang terpencil kata Siau Po.
"Kau tidak perlu khawatir, urusannya kita boleh bicarakan di muka, aku tidak akan meminta kau pergi membasmi perkumpulan Thian Te hwee,"
Kata Kaisar Kong Hi sambil melipatkan tangannya ke belakang dan berjalan beberapa langkah.
Perlahan-lahan dia melanjutkan "Kau mempunyai rasa solider terhadap temmantemanmu, itu merupakan hal yang baik, aku tidak akan menyalahkanmu.
Manusiamanusia suci sejak jaman dahulu kala juga mengutamakan kesetiaan dan jiwa memaafkan.
Yang dimaksudkan sudah barang tentu bukan hanya kesetiaan terhadap atasan atau pun memaafkan bawahan, namun hal ini mempunyai arti yang luas, Setia terhadap kawan dan memaafkan sesamanya juga termasuk di dalamnya, sebetulnya dua kata setia dan memaafkan selalu berkaitan dengan erat.
Kau memilih mati daripada mencelakai teman, kau rela kehilangan kekayaan serta nama besar karena tidak sudi mencelakai sahabat, hal ini boleh dikatakan bukan urusan yang mudah.
Kalau kau tidak bersedia menjual temanmu, tentu kau juga tidak akan menjual aku.
Siau Kui cu, aku memaafkan kesalahanmu bukan hanya karena jasa-jasa yang pernah kau dirikan, bukan karena kita pernah menjadi teman di saat kecil, tapi karena kau menghargai kesetiakawanan, pandanganmu ini bukan hal yang buruk,"
Ujar Kaisar Kong Hi menjelaskan. Mata Siau Po sampai merah saking terharunya, Kemudian dengan mengeraskan hati dia berkata.
"Hamba... tidak mengerti apa-apa tentang hal ini, hanya saja hamba merasa... tidak seharusnya kita berbuat sesuatu yang buruk apabila orang... itu baik terhadap hamba...."
Kong Hi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi ratu dari Negara Lo Sat itu juga baik terhadapmu sedangkan sekarang aku memberikan tugas kepadamu untuk menggempurnya, bagaimana?"
Siau Po menutup mulut dengan sebelah tangannya kemudian tertawa geli.
"Dia pernah dikurung oleh orang, hampir saja selembar jiwanya melayang, Aku yang mengajarkan bagaimana harus menggunakan senapan api untuk menimbulkan kekacauan sehingga nyawanya berhasil diselamatkan bahkan mendapat kedudukan tinggi. Berarti aku sudah menanam budi kepadanya, Apabila dia berani mengerahkan pasukan untuk merebut wilayah Sri Baginda, tentu kita tidak bisa membiarkannya, perempuan yang satu ini pandai bersandiwara. Hari ini berdekatan dengan si A, besoknya merayu si B. orangnya memang boleh juga, cuma tidak boleh dipercaya seratus persen sayangnya negara Lo Sat letaknya jauh dari sini, kalau tidak, sekarang juga hamba akan membawa pasukan besar untuk meringkus ratu itu agar Sri baginda dapat melihatnya sendiri. Tentunya menyenangkan!"
"Negara Lo Sat sangat jauh, kalimat ini penting sekali artinya. Karena itu, biar bagaimana pun kita harus memenangkan peperangan ini. Meskipun perbekalan senjata mereka lebih lengkap, namun jarak mereka jauh, kita dekat. Bila peperangan ini terjadi di wilayah perbatasan sungai Hek Liong Ciang, keuntungan justru ada di pihak kita. Bayangkan, untuk mencapai ke perbatasan mereka harus menempuh perjalanan yang panjang, Manusia atau pun hewan mempunyai tenaga yang terbatas, begitu sampai kondisi mereka sudah payah, sedangkan kita masih segar bugar. Apalagi mereka akan menemui kesulitan untuk membawa bermacam-macam perbekalan seperti ransum, amunisi, obat-obatan, dan jumlah yang diperlukan pasti banyak, Aku sendiri sudah mengadakan berbagai persiapan. Sebelum peperangan dimulai, aku sudah mengutus beberapa orang untuk menyiapkan ransum dalam jumlah yang banyak, Lagi-pula aku juga menghubungi daerah Mongol untuk mengirimkan makanan secara teratur sehingga kita tidak akan kekurangan Selain itu Mongolia juga sudah kupenngatkan agar tidak melakukan transaksi apa pun dengan pihak Lo Sat. Dengan demikian mereka akan kewalahan mencari perbekalan makanan atau yang lainnya bila kehabisan Dan yang terpenting daerah perbatasan telah dijaga ketat oleh orang-orangku. Setiap bertemu dengan kereta atau kuda milik Negara Lo Sat, aku menyuruh mereka membakar dan membunuh binatang-binatang itu, Bagaimana menurutmu siasat yang kujalankan ini?"
Tanya Kaisar Kong Hi. Siau Po senang sekali.
"Siasat Sri Baginda bagus sekali, mirip dengan pepatah yang mengatakan entah berapa burung yang dibidik atau apanya yang mati sekaligus gitu, Dari sepuluh bagian, tampaknya sembilan setengah bagiannya kita yang akan memenangkan peperangan ini,"
Katanya penuh semangat.
"Belum tentu, Lo Sat adalah sebuah negara besar. Menurut seorang bawahanku, yakni Lam Huai Jin, negara itu bahkan lebih luas daripada negara Tiongkok kita, jangan sekali-sekali memandang ringan pihak musuh. Bila kita sampai kalah dalam peperangan ini, bukan saja kita kehilangan wilayah Liau Tong, tapi seluruh negara akan ikut terguncang karenanya, sedangkan bila pihak mereka yang mengalami kekalahan, tidak banyak pengaruh yang mereka rasakan. Paling-paling mereka mengundurkan diri ke daerah Barat, Karena itu, dalam peperangan ini, kita hanya boleh menang tidak boleh kalah, Kalau sampai kau kalah, aku akan segera mengirim bala pasukan ke sana, Hal yang pertama kuperintahkan adalah memenggal batok kepalamu."
Kata-kata ini diucapkan Kaisar Kong Hi dengan nada yang tajam.
"Harap Sri Baginda berpandangan optimis. Kalau batok kepalaku ini dipertahankan, Bangsa Lo Sat bisa memenggalnya juga, Yang pasti hamba tidak akan membiarkan Sri Baginda yang memenggal batok kepala ini,"
Sahut Siau Po.
"Baguslah kalau kau mengerti hal ini, Para tentara berlatih untuk bersikap kejam, serta perang juga merupakan masalah yang berbahaya, Siapa pun tidak dapat memastikan bahwa kemenangan ada di pihaknya. Aku hanya meminta agar kau tidak menyepelekan setiap persoalan. Perang bukan suatu permainan, bukan pula sebuah tantangan,"
Kata Kong Hi.
"Baik,"
Sahut Siau Po penuh hormat.
"SebetuInya, kalau hanya memimpin pasukan untuk berperang, kau juga tidak perlu ikut serta, Namun kita menantang Negara Lo Sat hanya ingin agar mereka sadar bahwa kita bukan bangsa yang diam saja diperlakukan semena-mena, Agar mereka tahu kekuatan kita dan mundur dengan sendirinya, itulah sebabnya aku ingin mengalahkan mereka. Dengan demikian mereka merasa berhutang budi dan kedua negara bisa rukun untuk selanjutnya, Dan tanah kita yang berhasil mereka kuasai tentu akan dikembalikan pada kita, Apabila kita bersikap kejam, maksudku setelah menang perang seluruh prajurit mereka kita bunuh, maka pimpinan negara Lo Sat pasti akan marah sekali. Mereka akan mengirimkan seluruh kekuatannya untuk menyerbu kita, walaupun belum tentu kita kalah, tapi prajurit serta rakyat yang menjadi korban pasti banyak sekali Namun kalau kita bisa berdamai tanpa perlu menggerakkan senjata, itulah yang terbaik. Apabila kau sanggup membujuk ratu dari Negara Lo Sat itu untuk menarik kembali pasukannya yang ditempatkan di daerah kita, pasti akan menguntungkan kedua belah pihak."
Bagian 90
"Begitu bertemu dengan pasukan Lo Sat, hamba akan menyampaikan Firman Sri Baginda dan meminta mereka menyampaikannya kepada Ratu Sophia,"
Sahut Siau Po.
"Aku sudah mengundang beberapa orang Profesor Barat datang ke sini dan meminta mereka menjelaskan sejarah Negara Barat serta letak tanah dan Hong Sui, juga keadaan politik di sana..."
"Bagus, bagus sekali. Mengetahui kondisi musuh seperti mengetahui keadaan diri sendiri Dengan demikian kita pasti mendapatkan kemenangan,"
Tukas Siau Po. Kaisar Kong Hi tersenyum.
"Para profesor mengatakan bahwa bangsa Lo Sat benci kelemahan tapi takut terhadap yang keras, Semakin kita bersikap lunak, semakin tinggi kepala kita diinjaknya. Semakin lama sikap mereka semakin berani. Mereka harus kita beri sedikit pelajaran bahwa bangsa kita bukan bangsa yang bisa dipermainkan Karena itu, di satu pihak kita mengerahkan pasukan besar Kalau mereka ingin berperang, layani saja. Di sisi lain kita juga menunjukkan adat ketimuran kita bahwa kita bukan bangsa yang tidak beradab, kita tidak akan memaksakan kehendak dengan semena-mena,"
Katanya.
"Hamba mengerti sepenuhnya, Seakan main layang-layang, kita harus tahu kapan menarik benangnya dan kapan harus menguIurnya. Seperti apa yang pernah dilakukan oleh Cu Kek Liang, kita akan membuat musuh takluk sedalam-dalamnya sehingga kelak mereka tidak berani bertindak sewenang-wenang lagi,"
Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi tertawa terkekeh-kekeh.
"Betul, begitulah maksudku."
Siau Po melihat senyumnya yang aneh seakan menyimpan suatu rahasia, Diamdiam dia memutar otaknya, kemudian suatu ingatan melintas dalam benaknya.
"Seperti Sri Baginda menekan hamba dengan cara halus sehingga hamba merasa berterima kasih sekaligus takut. Dengan demikian mulai sekarang hamba juga tidak akan berbuat macam-macam lagi. Siau Kui Cu sendiri seperti Sun Go Kong, untuk selamanya tidak dapat melepaskan diri dari Ban Sui Ya, si Ju Lay Hud!"
Ujarnya sambil tertawa. Kong Hi tertawa.
"Usiamu sudah bertambah beberapa tahun, Semakin lama kau jadi semakin rendah hati, Kalau kau benar-benar ingin melepaskan diri dari telapak tanganku kau kira aku sanggup mencengkerammu terus?"
"Hamba merasa aman dan damai dalam genggaman tangan Sri Baginda, mengapa hamba harus melarikan diri?"
Sahut Siau Po yang cerdas.
"Keberhasilan kami membereskan Go Sam Kui, jasamu terhitung besar juga, Meskipun kau tidak sempat menikmati akhir ceritanya, namun sekarang aku akan menugaskan kau memimpin sejumlah besar pasukan untuk menggempur Negara Lo Sat Kota Ya Lung Ke dekat dengan puncak Gunung Lu Ting San (Gunung Menjangan), maka aku menganugerahkan gelar Pangeran Gunung Menjangan Tingkat Tiga sekaligus sebagai panglima perang. Dalam mengatasi masalah perang, biar Peng Cun si Komandan Pasukan, Panglima dari Hek Liong Ciang Lu Pu Sut, dan Panglima dari Ling Ku Ta yakni Pa Hai Ciangkun yang akan membantumu Mengenai surat menyurat, So Ngo Ta lah yang akan melayanimu Pertama-tama kita kerahkan pasukan berkuda sebanyak lima laksa orang dan pasukan Angkatan Laut berjumlah lima ribu. Apabila masih belum cukup, berapa banyak yang kau inginkan masih tersedia, perbekalan yang kami siapkan cukup untuk keperluan para prajurit selama tiga tahun penuh. Untuk menyerang musuh, kami sudah mempersiapkan meriam tiga ratus lima puluh buah, sedangkan sebagai pertahanan kami menyediakan lima puluh buah meriam. Cukup?"
Tanya Kaisar Kong Hi.
Setiap kali Kaisar Kong Hi mengucapkan sepatah kata, Siau Po langsung mengucapkan terima kasih.
Ketika Kong Hi menyelesaikan ucapannya, dia segera menjatuhkan diri berlutut lalu menyembah beberapa kali.
"Jumlah pasukan berkuda serta prajurit Negara Lo Sat yang berada di Ya Lung Ke dan Ni Pu Ju tidak lebih dari enam ribu orang, Kita mengerahkan pasukan sebanyak delapan kali lipat dari mereka, rasanya sudah lebih dari cukup. Asal kau tidak ceroboh menjatuhkan wibawa kami Bangsa Tionghoa,"
Kata Kaisar Kong Hi pula.
"Dalam peperangan ini hamba toh mewakili Sri Baginda, Kalau ada sedikit celah saja yang terlihay tentu kita akan dipandang rendah oleh Bangsa Lo Sat. Harap Sri Baginda tidak mengkhawatirkan hal ini."
"Bagus, Apakah masih ada hal lain yang kau perlukan?"
Tanya Kaisar Kong Hi.
"Dari Taiwan hamba membawa lima ratusan prajurit Mereka sudah pernah berperang melawan Setan-Setan Berambut Merah, karena itu pandai menggunakan senjata api. Hamba bermaksud membawa mereka dalam menghadapi Negara Lo Sat kali ini,"
Kata Siau Po. Kong Hi senang sekali mendengarnya.
"Bagus sekali Para prajurit The Seng Kong pernah mengalahkan Setan-Setan Berambut Merah dari HoIland, Kau bisa membawa mereka para prajurit itu, berarti kepercayaan kita terhadap kekuatan sendiri bertambah lagi tiga bagian, Tadinya aku khawatir persenjataan Bangsa Lo Sat terlalu hebat sehingga banyak prajurit kita yang akan menjadi korban."
"Sebagian prajurit harus menggunakan perisai dari baja, perisai sejenis ini bisa digunakan untuk menahan peluru, Setelah itu mereka menggulingkan diri ke depan dan menebas kaki musuh dengan golok besar Cara ini mungkin dapat dipraktekkan nanti,"
Kata Siau Po memberikan pendapatnya.
"Bagus sekali!"
Seru Kaisar Kong Hi gembira.
"Hamba mempunyai seorang selir yang dulu pernah mengikuti hamba ke Moskow, Dia mahir sekali Bahasa Lo Sat. Hamba bermaksud mengajukan permohonan kepada Sri Baginda agar mengijinkan dia menyertai kami sebagai prajurit dalam peperangan ini,"
Kata Siau Po pula.
Dalam undang-undang Dinasti Ceng, setiap panglima yang berangkat perang tidak boleh ada yang membawa keluarganya, Hal ini dianggap sebagai dosa besar itulah sebabnya Siau Po mengajukan permohonan terlebih dahulu.
Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Aku mengerti. Baik-baiklah kau menunaikan tugasmu!"
Sekali lagi Siau Po berlutut menyembah serta memohon diri, Ketika sampai di depan pintu, terdengar Kaisar Kong Hi bertanya.
"Aku dengar bahwa gurumu, Tan Eng Hoa dibunuh oleh The Kek Song, benarkah?"
Siau Po tertegun.
"Betul,"
Sahutnya kemudian.
"The Kek Song sudah menyatakan takluk terhadap pemerintahan Ceng, Aku sudah berjanji untuk tidak menyulitkan keturunan The Seng Kong, harap kau juga berbuat sama,"
Kata Kong Hi pula.
Siau Po terpaksa memberikan janjinya.
Ketika berangkat menuju Kotaraja ini, diam-diam Siau Po sudah bertekad untuk menemui The Kek Song agar dapat melampiaskan kedongkolan hatinya.
Siapa sangka, apa pun yang dipikirkannya selalu dapat ditebak oleh si Raja Cilik sehingga belum sempat kesampaian niatnya, dia sudah harus berjanji Apabila dia tetap mengganggu The Kek Song, maka berarti sekali lagi dia menentang Firman Kaisar.
Dalam hati Siau Po berpikir.
--Masa dendam terhadap si budak busuk yang membunuh guruku harus dilupakan begitu saja?
--Dia berjalan dengan kepala tertunduk, tiba-tiba ada seseorang yang berkata.
"Saudara Wi, selamat!"
Siau Po merasa suara itu tidak asing bagi telinganya.
Dia segera mendongakkan kepalanya, tampak seorang laki-laki bertubuh besar serta bahunya lebar, Orang itu sedang menatapnya dengan tersenyum simpul.
Ternyata dialah si Komandan para siwi yang dulu akrab sekali dengannya, yakni To Lung, Rasa terkejutnya jangan dikatakan lagi, Hari itu terang-terangan dia telah menikam orang ini di dalam rumahnya sendiri.
Apakah yang datang ini arwah nya yang merasa penasaran?
Untuk sesaat tubuhnya sampai gemetaran Rasa-nya ingin sekali membalikkan tubuhnya untuk melarikan diri, juga terlintas keinginan untuk berlutut memohon pengampunan dari orang itu.
Namun sepasang kakinya bagai terpantek di atas tanah, dia sama sekali tidak sanggup menggerakkannya, Bagian bawah tubuhnya seperti lumpuh, hampir saja dia terkencing-kencing di celana.
To Lung menghampiri Siau Po dan menarik tangannya.
"Saudaraku yang baik, berapa tahun kita tidak bertemu, Kakakmu ini sudah rindu sekali, Rasanya selama ini kau pasti senang sekali, Dengar-dengar kau disuruh memancing ikan di atas pulau Tong Sip to oleh Sri Baginda, Beberapa kali beliau menaikkan pangkatmu, aku jadi gembira mengetahuinya,"
Katanya sambil tertawa.
Siau Po dapat merasakan tangannya yang hangat Matahari menyinari koridor panjang itu.
Di sisi To Lung terlihat bayangannya, kalau begitu dia tentu bukan setan gentayangan Rasa takutnya sirna seketika, lalu terdengar dia menjawab dengan suara seperti gumaman.
"Ya, ya."
Dia masih khawatir To Lung menaruh dendam terhadapnya, Jangan-jangan dia ingin mengadakan perhitungan atas hutang lama, Namun dia yakin pisau belatinya yang tajam jelas menancap di punggung orang ini, mengapa dia tidak mati?
pikirannya sedang kusut, bagaimana dia bisa berpikir dengan jernih?
Terdengar To Lung berkata pula.
"Tempo hari, ketika berada di rumahmu, kakakmu ini telah dibokong oleh seseorang, namun untung Saudara Wi berhasil mengenyahkan musuh itu. Dengan demikian selembar jiwa ini bisa dipertahankan. Selama ini aku belum mendapat kesempatan untuk menyatakan terima kasihku kepadamu, namun dalam hati aku selalu mengingatnya. sedangkan kau masih menitipkan hadiah lewat Sie Long, aku benarbenar malu jadinya."
Siau Po memperhatikan mimik wajah orang itu, tampaknya dia tidak berbohong, Dalam hati dia berpikir lagi.
--Dia seorang komandan para siwi, berarti bawahan yang selalu dekat dengan Sri Baginda, Ketika Sie Long membagi-bagikan hadiah, dia pasti kebagian juga, Mungkin dia menanyakan diriku kepada Sie long dan orang itu sengaja mengatakan bahwa hadiah-hadiah itu merupakan titipanku, Dia takut aku memburuk-burukkan namanya di depan si Raja Cilik, lagipula, dengan menunjukkan keakrabannya denganku, dia tidak perlu khawatir orang-orang di istana ini memberikan kesulitan bagi dirinya.
Tapi, mengapa To lung mengatakan bahwa aku telah mengusir orang yang membokongnya, hal ini benar-benar membuat kepala pusing!
To Lung melihat wajah Siau Po pucat pasi, orangnya juga seperti orang linglung, Dia menduga bahwa Siau Po baru saja mendapat teguran dari Kaisar Kong Hi, maka dia menghiburnya dengan berkata.
"Akhir-akhir ini watak Sri Baginda memang kurang baik, ini disebabkan kekesalannya terhadap negara Lo Sat yang terlalu merendahkan derajat kita, Saudara Wi tidak perlu khawatir Nanti setelah selesai bertugas, kita pergi mencari makan yang enak agar meringankan beban hati."
"Budi Sri Baginda besar sekali, barusan beliau menaikkan pangkatku lagi, justru aku merasa berterima kasih sekali, entah dengan cara apa aku baru bisa membalas budi beliau,"
Sahut Siau Po. To Lung tertawa.
"Selamat! Selamat! Saudara Wi memang pandai, melakukan tugas apa pun selalu sempurna, selalu mengurangi permasalahan Hong Siang kita. Maka sudah sepantasnya kalau setiap kali mendapat anugerah kenaikan pangkat dari beliau."
Siau Po merasakan sikap To Lung terhadapnya sangat akrab, pandangannya juga menyiratkan kekaguman LagipuIa orang ini selalu bersikap terbuka dan terang-terangan dalam menghadapi apa pun.
Tidak mungkin dia bisa bersandiwara sebaik ini.
Rasa takut dan khawatirnya pun sirna seketika, Dia baru bisa tertawa lepas.
"To toako, harap kau tunggu sebentar saudaramu ini dari tadi kebelet kencing, Tadi Sri Baginda menyatakan ingin bertemu, dan pesan yang disampaikannya banyak sekali, Dari tadi aku menahan diri, sekarang benar-benar tidak sanggup menahannya lagi,"
Katanya, To Lung tertawa terbahak-bahak.
Dia tahu, apabila raja ingin bertemu dengan menteri-menteri atau bawahannya, maka sebelum pertemuan itu selesai, hambahambanya tidak boleh memohon diri dengan alasan apa pun.
Kalau hamba-hambanya kebelet ingin buang air kecil, maka situasinya bisa jadi sulit sekali, Tapi dasar Sri Baginda memang sayang sekali kepada Siau Po.
Terhadap bawahan yang lain, sang raja juga tidak pernah berbincang-bincang begitu lama.
Kalau terhadap hambanya yang lain, biasanya Kong Hi hanya menyampaikan pesannya satu dua patah kata lalu menyuruh mereka mengundurkan diri, Dengan demikian mereka juga tidak sampai kebelet buang air kecil.
Selama ini hubungan To lung dengan Siau Po memang dekat sekali Hari ini keduanya dapat berjumpa kembali, tentu saja hati mereka merasa senang, Oleh karena itu To Lung segera menarik tangan Siau Po dan mengantarkannya ke rumah pondok, Di luar pintu dia menunggu Siau Po menyelesaikan hajatnya.
Tempo hari Siau Po terpaksa membokong To Lung karena dia terdesak untuk menolong guru serta saudara-saudaranya dari perkumpulan Thian Te hwee, sekarang dia teringat lagi bahwa selamanya sikap To Lung terhadapnya sangat baik, maka dalam hati dia merasa menyesal juga.
Tak disangka To Lung ternyata tidak mati, malah tidak sedikit pun tampak sikap menyalahkan Siau Po atas kejadian yang latu, Oleh karena itu dia cepat-cepat menumpahkan air seninya yang sudah penuh, Begitu keluar dari rumah pondok (Sekarang kita sebut toilet) itu, dia pura-pura menanyakan kejadian tempo hari.
"Ketika aku tersadar tempo hari, ternyata aku sudah pingsan selama tiga hari empat malam. Menurut Tabib Kwan, untung letak jantungku agak berbeda dengan orang biasa, yakni lebih ke kanan sedikit, sehingga yang tertikam justru limpa, kalau tidak, aku pasti sudah mati. Dia juga mengatakan bahwa orang yang kedudukan jantungnya seperti jantungku ini, dalam sepuluh laksa manusia di dunia ini, mungkin hanya ada satu saja yang sama,"
Kata To Lung menjelaskan Dalam hati Siau Po berkata, -Memalukan, rupanya begitu maka dia tidak mati! -sedangkan di luarnya dia tersenyum dan berkata.
"Selama ini aku tahu bahwa To toako adalah manusia yang baik serta jujur, tidak tahunya hatinya malah miring, Kalau miring artinya kan tidak adil, Tidak adil terhadap siapa? istri muda atau anak-anak?"
To Lung tertegun sejenak, kemudian dia sadar bahwa Siau Po sedang bergurau dengannya, maka dia pun tertawa.
"Kalau adik Wi tidak mengungkitnya, aku sendiri juga tidak punya ingatan, Memang selama ini aku sayang sekali terhadap selirku yang ke delapan, ini pasti disebabkan kedudukan hatiku yang miring sedikit,"
Sahutnya geli. Kedua orang itu pun tertawa terbahak-bahak, lalu Siau Po berkata pula.
"Penyerang gelap itu mempunyai ilmu yang tinggi sekali Mula-mula aku juga tidak sadar bahwa dia ingin membokong Toako."
"Memang betuI,"
Sahut To Lung yang kemudian merendahkan suaranya serta melanjutkan "Kebetulan waktu itu Kian Leng kongcu datang menemui adik Wi.
Urusan ini siapa pun tidak ada yang berani menanyakannya, Hampir tiga bulan aku merawat diri akhirnya baru sembuh total, Sri Baginda menyampaikan Firman yang isinya mengatakan bahwa adik Wi telah menyelamatkan jiwaku ini dengan gagah berani, dengan tangan sendiri adik Wi berhasil membunuh penyerang gelap itu.
Apa yang terjadi kemudian tidak perlu diceritakan dengan terperinci lagi, pokoknya kakakmu ini telah berhutang nyawa kepada mu."
Muka Siau Po sebenarnya cukup tebal Dari jaman perkenalannya dengan Kaisar Kong Hi saja sudah sulit menemukan tandingannya Tapi mendengar kata-kata To Lung barusan, wajahnya agak merah juga.
Dia baru sadar bahwa sekali lagi Kaisar Kong Hi telah menyelamatkan mukanya.
Pertama, Kong Hi yang mengatakannya sendiri, dengan demikian sudah barang tentu To Lung percaya se-penuhnya.
Kedua, urusan ini ada sangkut pautnya dengan Kian Leng kongcu, Orang-orang di istana sadar, masalah yang menyangkut keluarga sang raja ini sebaiknya jangan banyak dibicarakan Meskipun dalam hati mereka merasa curiga, namun lebih aman kalau mereka pura-pura tidak tahu.
Kalau bukan karena Kaisar Kong Hi sendiri, ingin mengarang sebuah cerita untuk menutupi kejadian ini juga bukan hal yang mudah.
Diam-diam Siau Po merasa malu, dia berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk membalas jasa orang yang jujur dan tulus terhadapnya ini.
Maka dia berkata.
"To toako, dari Taiwan adikmu ini membawa beberapa macam tanda mata, nanti aku akan menyuruh orang mengantarnya ke rumah To toako."
To Lung mengibaskan tangannya berkali-kali.
"Jangan, jangan, Kita kan orang sendiri, buat apa bersikap demikian sungkan? Tempo hari hadiah yang dibawakan Sie Long saja sudah terlalu banyak."
Tiba-tiba suatu ingatan melintas dalam benak Siau Po.
--Urusan ini toh lebih banyak untungnya daripada ruginya, seandainya Sri Baginda mengetahui-nya, aku juga tidak akan dikatakan menentang Fir-man Kaisar, --pikirnya.
"To toako, setelah menyatakan takluk terhadap Kerajaan Ceng, bagaimana keadaan si bocah The Kek Song?"
Tanyanya kemudian.
"Sikap Hong Siang terhadapnya masih lumayan juga, dia dianugerahi pangkat pangeran Tingkat Satu, Bocah ini tidak becus apa-apa, tapi berkat rejeki leluhurnya maka dia bisa memperoleh pangkat yang lebih tinggi dari adik Wi sendiri,"
Sahut To Lung.
"Tempo hari kita mempermainkannya dengan mendesaknya berhutang pada para siwi sebanyak selaksa tail, akhirnya adikmu ini yang membayarnya Apakah To toako masih ingat peristiwa itu?"
Tanya Siau Po pula.
To Lung tertawa terbahak-bahak.
Tentu saja ingat.
Bagaimana dengan nona yang adik Wi sukai itu?
Kalau dia masih ikut dengan The Kek Song, biar sekarang kita rebut dia kembali." Siau Po tersenyum.
"Nona itu sudah cukup lama menjadi istriku, bahkan sudah melahirkan seorang putra dariku,"
Katanya. To Lung tertawa lebar.
"Selamat, selamat! Kalau tidak, kita akan mendatangi si bocah The Kek Song itu, tidak perduli pangkatnya Pangeran Tingkat Satu kek, tingkat dua kek, yang penting kedudukannya toh pangkat kosong. Aku jamin kentut pun dia tidak berani. Pangeran yang telah takluk ini setiap hari pasti merasa cemas, sikapnya seperti kerbau dicucuk hidungnya, takut kalau ada sedikit kesalahan saja Sri Baginda akan meringkusnya untuk dihukum mati karena dianggap akan memberontak lagi."
"Kita juga tidak perlu menghinanya, Tapi membunuh harus membayar dengan jiwanya, hutang uang bayar uang, ini toh sudah merupakan undang-undang yang tidak tertuIis. jangankan dia cuma Pangeran-pangeranan, biarpun dia pangeran beneran, dia juga tidak boleh melupakan hutangnya begitu saja,"
Kata Siau Po.
"Benar, benar,"
Sahut To Lung.
"Tempo hari dia berhutang kepada Adik Wi sebanyak selaksa tail, banyak siwi yang menjadi saksinya, sekarang juga kita mencarinya untuk menagih hutang."
Siau Po tersenyum.
"Bocah ini memang keterlaluan Kalau cuma selaksa tail masih tidak apa-apa. Belakangan dia malah meminjam lagi sejumlah besar uang, bahkan aku masih menyimpan bon pernyataan hutangnya, Keluarga The selama tiga generasi menjadi raja di Tai-wan, mana mungkin hartanya cuma sedikit? Pasti diam-diam dia membawanya ke Kotaraja, The Seng Kong dan The Keng adalah laki-laki sejati, manusia baik-baik yang tidak mungkin atau memeras rakyat. Namun si bocah busuk The Kek Song ini lain lagi, mana mungkin dia bersikap sungkan-sungkan terhadap rakyat? Satu hari saja dia menjadi Ongya, kemungkinan pemasukannya seratus laksa tail, dua hari berarti dua ratus laksa tail. Coba hitung sendiri, sudah berapa lama dia menjadi Ongya di Taiwan, berapa kira-kira uang rakyat yang telah diperasnya?"
To Lung meleletkan lidahnya.
"Hebat, hebat!"
Serunya.
"Sebentar nanti aku akan kembali membawa pernyataan hutangnya, Uang ini aku sendiri tidak menginginkannya lagi."
Kata Siau Po. To Lung cepat-cepat menukas.
"Saudaramu ini akan membantumu menagih hutang, kurang sepeser pun tidak boleh. Aku akan membawa beberapa orang siwi sebagai saksi mata."
"Jumlah hutangnya terlalu besar Tempo hari si bocah busuk ini pandai sekali berfoya-foya. Dia memakai uang seperti menuangkan air saja. Kalau suruh dia bayar sekaligus, pasti keberatan Begini saja, Toako bawa orang menagih hutang, kalau dalam sepuluh hari dia tidak mengeluarkan uangnya, suruh dia buat satu pernyataan lagi bahwa hutangnya sekarang harus dibayarkan kepada para siwi sekalian. Setiap siwi memegang satu lembar jumlahnya boleh seribu tail atau dua ribu tail, Siwi mana yang berhasil menagihnya maka uang itu pun menjadi miliknya,"
Kata Siau Po.
"Mana boleh? Para siwi di sini rata-rata bekas bawahan adik Wi. Kalau hanya membantu adik Wi menagih sedikit hutang saja, toh tidak usah diberikan imbalan?"
Sahut To Lung.
"Mereka merupakan bekas bawahanku yang baik, juga terhitung sahabat dan saudaraku yang baik, Selama beberapa tahun ini pangkatku terus dinaikkan oleh Sri Baginda, Namun karena berada di pulau yang terpencil aku tidak bisa memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka. Rasanya aku jadi tidak enak hati, Beberapa ratus laksa tail ini biar dibagi rata kepada para saudara siwi saja,"
Kata Siau Po memaksakan. To Lung terkejut setengah mati.
"Apa? Jum... lahnya men... capai beberapa ratus laksa tail?"
Tanyanya dengan suara bergetar. Siau Po tersenyum.
"Jumlah yang sebenarnya sih tidak seberapa, tapi dengan sedikit permainan, sedikit bunga, sedikit renten di sana-sini, otomatis jumlahnya jadi banyak, Dari jumlah ini, harap To toako ambil dulu beberapa bagian."
To Lung hampir saja tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Tampak dia bergumam seorang diri.
"Beberapa ratus laksa tail? Apakah jumlahnya tidak terlalu banyak?"
"ltulah makanya dia harus membagikannya menjadi beberapa surat pernyataan. Dengan demikian To toako dan para saudara siwi tidak terlalu susah menagihnya,"
Sahut Siau Po. Kemudian dia merendahkan suaranya.
"Sebaiknya jangan menyebut-nyebut namaku dalam urusan ini. Kalau sampai para menteri di istana tahu, mereka tentu menganggap aku membungakan uang. Biar bagaimana itu terhitung sebuah dosa, Kalau para siwi yang menagih, mereka mengira The Kek Song memang ada hutang dengan mereka, Urusan ini tidak akan dipersoalkan panjang lebar."
To Lung mengiakan.
Dalam hati dia berjanji kalau hutang ini sudah tertagih, lebih dari setengahnya harus dikembalikan kepada Siau Po.
walaupun pemuda ini royal serta berjiwa besar, tapi jangan sampai tidak kembali modal sama sekali.
Siau Po merasa senang sekali, Dia berpikir bahwa To Lung pasti akan membawa rombongan para siwi serta prajurit yang rakus akan uang untuk menagih piutang.
Kali ini kepala The Kek Song pasti pusing tujuh keliling dibuatnya, walaupun Sri Baginda sudah berpesan bahwa dia tidak boleh menyulitkan The Kek Song atas dendamnya terhadap kematian sang guru namun perbuatannya kali ini bisa membuat si anak muda dari Taiwan itu bangkrut seketika.
Dia yakin The Kek Song tidak berani mengungkap masalah ini Kalau pun sampai ada yang tahu, paling-paling mereka mengira hal ini merupakan urusan pribadi para siwi yang menagih piutang terhadap The Kek Song.
Dan kemungkinan mereka menduga si bocah Kek Song yang menyerahkan diri ke Kotaraja menjadi stress sehingga setiap hari pergi berjudi sedangkan uangnya adalah hasil pinjaman sana sini dari para siwi Bagaimanapun tidak ada kaitannya dengan diri Siau Po.
Begitu keluar dari istana, So Ngo Ta, Kong Cin Ong, Li Wei serta sejumlah pembesar lainnya sudah menanti di depan gerbang.
Mereka memberikan selamat kepada Siau Po, lalu mengiringinya keluar bersama.
Sesampainya di sebuah lorong, Siau Po melihat sebuah gedung mewah dan jauh lebih besar dari gedung miliknya dulu, Di depan atas pintu gerbang rumah itu tergantung sebuah papan besar, Namun tidak ada satu huruf pun yang tertera di dalamnya.
Siau Po memang tidak pernah bersekolah Huruf yang dikenalinya juga cuma satu dua.
Namun setidaknya dia masih bisa membedakan papan yang ada tulisannya atau tidak, Karena itu dia berdiri tertegun melihat pemandangan di depannya.
Kong Cin Ong tertawa.
"Saudara Wi, budi Sri Baginda memang besar sekali terhadapmu Dulu gedung Pak Ciak hu milikmu pernah terbakar, sedangkan kau tidak ada di Kota-raja. Ketika Sri Baginda mengetahuinya, beliau segera mengutus kakakmu ini membangunnya kembali. Bahkan dalam firman kaisar tidak disebut berapa biaya yang dibataskan untuk membangunnya, malah tercantum bahwa setiap kekurangan silahkan ambil pada bagian keuangan. Gedung ini merupakan hadiah dari Sri Baginda, maka aku yang jadi kakakmu rasanya tidak perlu berhemat bagimu, Karena itu aku pun memilih semua bahan yang terbaik untuk membangunnya, Adik Wi, coba kau !ihat, apakah rumah ini sesuai dengan seleramu?"
Siau Po cepat-cepat mengucapkan terima kasih, Begitu masuk melalui pintu gerbang utama, tampak tata ruangan di dalamnya sangat mewah dan indah.
BoIeh dibilang tidak kalah dengan gedung Kong Cin Ong Hu sendiri.
Para pembesar yang ikut mengantarnya segera menyatakan pujian dan kekaguman mereka atas keindahan gedung baru Siau Po ini.
"Gedung ini sudah selesai dibangun cukup lama, Tinggal menunggu adik Wi kembali ke Kotaraja untuk menempatinya, Tapi kakakmu ini tidak tahu pangkat apalagi yang akan dianugerahkan Sri Baginda kepada mu. itulah sebabnya papan nama di atas pintu gerbang masih dibiarkan kosong, sekarang kami baru saja mengetahuinya, nama gedung Xu Ting Kong Hu" (Sesuai dengan pangkat Siau Po) biar aku suruh Guru besar Li menuliskannya untukmu,"
Kata Kong Cin Ong.
Li Wei merupakan juru Tulis Kerajaan yang telah memperoleh gelar Guru Besar (Sekarang kita sebut Profesor), Pendidikannya dianggap tertinggi di antara Keranikerani lain dari istana, Dia juga sudah lama mengenal Siau Po sehingga tidak menolak permintaan Kong Cin Ong.
Dia segera menyuruh orang menurunkan papan nama itu dan menulis empat huruf "Lu Ting Kong Hu"
Di atasnya, Setelah itu dia menyuruh beberapa orang tukang yang ahli untuk menyemprotnya dengan tinta air emas.
Setelah selesai baru digantung kembali Tampak huruf-huruf itu bertengger di atas pintu gerbang dengan megah.
Malam harinya "Lu Ting Kong Hu"
Mengadakan perjamuan besar-besaran, Sejumlah pembesar istana dan sahabat-sahabat Siau Po diundang Bahkan The Kek Song dan Pang Ci Hoan juga menyuruh orang mengantarkan hadiah kepada Siau Po, namun mereka tidak menghadiri perjamuannya.
Sesudah mengantarkan tamu-tamunya pulang, kembali Siau Po mengadakan perjamuan keluarga, Ketujuh orang istrinya memberikan ucapan selamat kepadanya.
Saat itulah Siau Po mengungkit urusan bahwa dia akan membawa Song Ji menyertainya ke utara, Keenam istrinya yang lain langsung protes, Mereka mengatakan Siau Po pilih kasih, Siau Po terpaksa mengoceh sembarangan.
Kepergian Song Ji merupakan Firman Kaisar Kong Hi, katanya sebagai alasan, Akhirnya keenam istrinya yang lain tidak berani memrotes lagi.
Untung saja Song Ji mempunyai sifat lembut, hubungannya dengan istri-istri Siau Po yang lain juga sangat akrab, jadi mereka tidak terlalu cemburu terhadapnya, Hanya Kian Leng kongcu seorang yang masih mendongkol.
Dia merasa status dirinya sebagai adik kaisar, lebih tinggi dari istri Siau Po yang lain, namun nilainya ternyata masih dikalahkan oleh seorang budak.
Tentu saja diam-diam dia merasa tidak puas, Disamping itu, dia juga sadar bahwa dirinyalah yang akan dikeroyok oleh istri-istri "Siau Po yang lain bila mempersoalkan masalah ini.
Siau Po juga jarang membelanya.
Dalam beberapa tahun belakangan ini si Tuan Puteri sudah muIai belajar mengendalikan perasaannya, tidak seperti dulu yang suka meledakkan emosi di depan orang banyak.
Kecsokan harinya Siau Po menyuruh Song Ji mengeluarkan surat pernyataan hutang The Kek Song yang disimpannya tempo hari, Setelah itu dia memanggil To Lung untuk menghadap, Diserahkannya surat pernyataan hutang itu kepada si komandan siwi.
Tentu saja To Lung merasa senang sekali.
"Dengan adanya surat pernyataan hutang ini, biar dari dalam batu dia juga harus memeras minyaknya, Kalau dia berani tidak membayar hutangnya, maka kami para siwi dan prajurit tidak punya muka lagi untuk tetap mencari makan di Kotaraja ini."
Selama beberapa hari sejak itu, setiap harinya Siau Po pasti mendapat panggilan untuk menemui raja di ruang perpustakaan, Kong Hi menjelaskan bagaimana caranya melakukan penyerangan membuat benteng pertahanan, dan melakukan transaksi dengan pihak musuh, Kalau ada hal-hal yang kurang jelas bagi Siau Po, Kong Hi akan menggambarkannya di atas sehelai kertas dan mengulangi keterangannya.
"Pokoknya hamba hanya mewakili Sri Baginda dalam peperangan ini, Hamba tidak mengerti apa-apa, juga tidak berani sembarangan mengambil keputusan, semuanya tinggal mengikuti ajaran Sri Baginda saja. Kalau tidak, meskipun hamba berhasil memenangkan peperangan ini, Sri Baginda juga tidak merasa senang karenanya,"
Sahut Siau Po.
Kong Hie menganggukkan kepala sambil tersenyum, Kata-kata Siau Po barusan cocok sekali dengan keinginan hatinya, Sejak kecil dia sudah mempelajari ilmu politik dan ilmu perang, namun selama ini dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk mempraktekkannya.
Di masa kecil dia hanya pernah bermain gulat dengan Siau Po.
Setelah agak besar sedikit, setiap urusannya diserahkannya kepada bocah itu, Dalam hati diam-diam dia mengumpamakan Siau Po sebagai dirinya yang menjalani berbagai tugas.
Padahal usia Siau Po lebih muda sedikit dibandingkan dengan usianya, Baik dalam ilmu silat, surat maupun politik, bocah itu tidak seujung kuku dirinya, sedangkan setiap tugas yang diberikan selalu dapat diselesaikan oleh Siau Po dengan baik, apalagi kalau dirinya sendiri yang turun tangan.
Dengan memberikan tugas kepada Siau Po dia mendapat kepuasan sendiri yang sulit dikatakan.
Tidak lama lagi Siau Po akan menjalankan tugasnya.
Dia tidak berani menemui rekan-rekannya dari perkumpulan Thian Te hwee, Dalam hati dia berpikir.
-Sri Baginda tidak menyuruhku membasmi perkumpulan Thian Te hwee, ini merupakan cara untuk menyatakan dirinya telah mengalah terhadapku.
Boleh dibilang aku sudah diberikan muka yang terang, Kalau aku masih tidak tahu diri dan pergi menemui Ci Thian Coan dan yang Iainnya, kelak semua dosa-dosaku akan diungkit kembali.
Sama saja aku menimpukkan batu di atas mata kakiku sendiri Jadi orang tidak boleh terlalu bodoh, juga jangan terlalu menonjolkan kepintaran Setelah menentukan hari baik, rombongan Siau Po pun berangkat menuju utara, Banyak sekali pembesar atau pun para siwi dari istana yang mengantarkan keberangkatannya, Ketika mereka melihat Siau Po mengenakan jubah kebesarannya, diam-diam mereka merasa geli dalam hati.
Mana tampak wibawa sedikit pun pada diri anak muda itu?
Malah lebih mirip pemain sandiwara di atas panggung, Meskipun demikian, mereka tahu bahwa Siau Po telah mengangkat saudara dengan Kong Cin Ong, siapa yang berani menertawakan nya secara terang-terangan?
Siau Po sudah sering mendapat tugas dari Kaisar Kong Hi, namun wibawanya tidak seperti hari ini.
Diam-diam dia merasa bangga sekali, Dia juga sadar masalah yang ditanganinya kali ini merupakan kaliber atas, maka dia berusaha keras menunjukkan wibawanya.
Selama perjalanan dia tidak berani mengajak bawahannya bermain judi, Kalau terasa iseng, pa!ing-paling dia mengajak beberapa orang yang dekat dengannya untuk melempar dadu, main tebakan atau minum arak.
Tidak sampai satu hari, mereka sudah tiba di wilayah utara yakni Liau Tong.
Di daerah ini Siau Po pernah tinggal beberapa lama bersama Song Ji.
Di sini mereka berburu menjangan untuk menangsal perut.
Keadaan saat itu tentu jauh berbeda dengan sekarang.
Angin musim semi berhembus sejuk.
Para prajurit dari rombongan Siau Po meneruskan perjalanan jarak antara tempat itu dengan kota Ya Ke Lung masih ada ratusan li.
Utusan dari pasukan terdepan kembali dengan laporan.
Mereka mendapat kabar dari penduduk setempat bahwa para prajurit Lo Sat menyusahkan rakyat, dengan seenaknya membunuh orang atau pun membakar rumah.
Tidak satu kejahatan pun yang tidak mereka lakukan Rakyat tampak sengsara sekali hidup dalam penindasan Belasan hari sekali mereka pasti muncul untuk menimbulkan keonaran Mereka yakin dalam beberapa hari lagi para prajurit Lo Sat itu pasti kembali lagi.
Siau Po sudah mendapat pengarahan dari Kaisar Kong Hi.
Mereka mencari tempat yang agak jauh lagi terpencil untuk membangun tenda, sedangkan di dekat perbatasan para prajuritnya harus mendirikan kelompok, jumlahnya sepuluh kelompok, tiap kelompok terdiri dari seratus orang.
Mereka harus berpencar untuk menyembunyikan diri.
Bila jumlah pasukan Lo Sat yang datang besar sekali, mereka tidak boleh memperlihatkan diri terlebih dahulu, Dengan demikian dapat dijaga kemungkinan jatuh korban banyak, sedangkan kalau yang datang jumlahnya sedikit, mereka harus bergerak cepat melakukan penyerangan, jangan sampai ada yang berhasil meloloskan diri lalu mengirim berita untuk mendatangkan bala bantuan.
Beberapa hari kemudian, dari kejauhan terdengar suara tembakan yang tiada hentihentinya, Siau Po tahu pasukannya yang terdepan sudah berperang melawan prajurit Lo Sat.
Hati Siau Po berdebar-debar untuk mengetahui akhir ceritanya, sampai menjelang sore, Ho Yu (Komandan Pasukan Terdepan) mengutus anak buahnya untuk memberikan laporan, mereka berhasil membunuh dua puluh lima orang prajurit Lo Sat dan masih ada dua belas orang yang berhasil diringkus hidup-hidup.
Menjelang malam hari, kedua belas tawanan perang itu pun digiring ke tenda Siau Po.
Tentu saja Siau Po senang sekali dengan hasil gebrakan pertama ini.
Dia mengumumkan bahwa dia sendiri yang akan menginterogasi kedua belas tawanan tersebut, Para tawanan menjadi heran ketika mengetahui bahwa Siau Po mengerti bahasa Lo Sat mereka, Namun mereka memprotes, kekalahan mereka tidak perlu disalahkan Mereka mendapat tekanan karena jumlah prajurit Ceng banyak sekali, Mereka juga menyatakan bahwa kemenangan pihak Siau Po tidak membawa kegemilangan bagi kerajaan Ceng, Siau Po marah sekali mendengar protes mereka, Dia segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk menggiring dua tawanan Lo Sat ke hadapannya, Begitu mereka masuk ke tenda Siau Po, anak muda itu langsung menyerahkan dua butir dadu kepada kedua tawanan itu.
"Ayo, kalian lempar dadu itu!"
Bentaknya.
Melempar dadu merupakan permainan sejak jaman dulu bagi dunia barat, Caranya pun tidak berbeda dengan Tiongkok, Tentu saja kedua tawanan itu tahu bagaimana cara memainkannya, namun mereka tidak mengerti untuk apa Sang panglima musuh yang masih muda itu meminta mereka melempar dadu, Karena merasa tidak merugikan pihak mana pun, mereka segera melemparkan dadu ke atas meja seperti apa yang disuruh Siau Po.
Kedua butir dadu itu berputar Yang satu menunjukkan tujuh titik, sedangkan yang lainnya menunjukkan lima titik.
Siau Po menunjuk kepada tawanan yang dadunya menunjukkan lima titik.
"Kau sudah kalah, mampuslah!"
Dia menoleh kepada seorang cong peng dan memberi perintah.
"Bawa dia ke luar dan penggal kepalanya!"
Empat orang cong peng segera mengiakan, lalu mereka menyeret tawanan itu ke luar Tidak lama kemudian mereka kembali lagi dengan membawa batok kepala orang itu.
Tentu saja kesebelas tawanan yang lain terkejut setengah mati melihat hal itu.
Wajah mereka langsung berubah pucat pasi.
Siau Po menunjuk lagi kepada dua tawanan Lo Sat lainnya.
"Sekarang giliran kalian berdua yang melempar dadu!"
Katanya. Sudah pasti kedua tawanan itu tidak sudi jiwa mereka dijadikan pertaruhan dalam permainan tersebut karenanya serentak mereka berteriak.
"Kami tidak mau!"
"Baik, tidak apa-apa kalau kalian memang tidak mau."
Siau Po menolehkan kepalanya kepada empat orang cong peng tadi dan menurunkan perintah.
"Seret kedua-duanya dan penggal kepala mereka !"
Dalam sekejap mata kembali dua orang tawanan kehilangan batok kepalanya. Sekali lagi Siau Po menunjuk kepada dua orang tawanan Lo Sat yang lainnya.
"Sekarang giliran kalian berdua!"
Kedua orang itu sadar, apabila mereka menolak, mereka berdua pasti akan mengalami nasib yang tragis seperti kedua rekannya barusan.
Tapi kalau mereka bersedia melemparkan dadu, masih ada kesempatan lima puluh persen untuk hidup, Dengan ragu-ragu mereka masing-masing mengambil sebutir dadu, Baru saja mereka bermaksud melemparkannya, tiba-tiba salah seorang rekan tawanan itu mengangkat telunjuknya ke atas.
"Biar aku saja yang melempar,"
Katanya kepada Siau Po. sikapnya sombong sekali. Siau Po tertawa.
"Bagus! Ternyata kau berani menentang aku. Nah, kau dulu yang lempar!"
Katanya. Tawanan itu melemparkan dadunya, Dia memperoleh tujuh titik, sedangkan Siau Po memperoleh sepuluh titik, Sekali lagi Siau Po tertawa.
"Bagaimana?"
Tanyanya. Mimik wajah tawanan itu menunjukkan kekecewaan.
"Memang nasibku saja yang sedang apes, apalagi yang harus kukatakan!"
"Ketika kau datang ke negara kami, berapa banyak bangsa kami yang telah kau bunuh?"
Tanya Siau Po pula. Tawanan itu tampak agak bingung.
"Aku tidak ingat lagi, mungkin paling tidak ada tujuh atau delapan belas orang, Kau boleh membunuhku sekarang, pokoknya aku masih tidak merasa dirugikan,"
Sahutnya berani.
Siau Po memberi perintah untuk memenggal kepala orang itu, lalu menunjuk kepada seorang tawanan lainnya, Dengan gemetar orang itu melemparkan dadu tersebut ke atas meja, Setelah bergerak ke sana ke mari, jumlah yang ditunjukkan sebanyak sebelas titik, Berarti kesempatan untuk menang besar sekali.
Siau Po bermaksud main curang, lagipula dia memang ahlinya melempar dadu, namun kali ini ternyata gerakan tangannya kurang meyakinkan, angka yang terlihat justru hanya dua titik, untuk sesaat dia sampai tertegun, kemudian dia tertawa terbahakbahak.
"Aku menang!"
Seru nya.
"Jumlah dadu yang kulemparkan sebelas titik, sedangkan jumlah dadumu hanya dua titik, bagaimana mungkin kau yang menang?"
Sahut tawanan itu cepat.
"Kali ini jumlah yang kecillah yang menang, yang besar justru kalah!"
Kata Siau Po seenaknya. Tawanan itu merasa tidak puas.
"Tentu saja yang jumlahnya besar yang menang, Di negara Lo Sat kami peraturannya juga begitu!"
Mimik wajah Siau Po langsung berubah sehingga tidak sedap dilihat.
"Sekarang kau ada di Negara Lo Sat atau negara Tiongkok?"
Tanyanya dengan suara tajam.
"Negara.,., Ti... Tiongkok,"
Sahut tawanan itu gugup.
"Kalau tahu kau ada di Negara Tiongkok, maka peraturan Tiongkoklah yang dipakai, Lain kali kalau aku mengunjungi negara Lo Sat, baru kita gunakan peraturan negaramu itu. Mampuslah kau!"
Kembali Siau Po memerintahkan anak buahnya agar menyeret orang itu ke luar untuk dipenggal kepalanya, Setelah itu kembali dia menunjuk kepada seorang tawanan Lo Sat lainnya.
Tampaknya tawanan yang satu ini lebih cerdas dari teman-temannya yang lain, Sebelum melemparkan dadu, dia bertanya terlebih dahulu.
"Kalau menurut peraturan Tiongkok, kali ini yang besar yang menang atau yang kecil yang menang?"
"Menurut peraturan negara kami, Bangsa Tiong-hoalah yang menang, Kalau biji dadu yang dilemparkan Bangsa Tionghoa kecil, maka yang kecil yang menang, Kalau biji dadu yang dilemparkan bangsa kami menunjukkan jumlah besar, maka yang besarlah yang menang."
Tawanan itu kesal sekali dibuatnya.
"Kau benar-benar keterlaluan! itu namanya tidak pakai peraturan!"
"Tentara Lo Sat yang datang ke negara kami dan sembarangan merebut tempat serta membunuh orang, bukan bangsa kami yang datang ke negaramu untuk membunuh bangsamu, Coba kau katakan, siapa yang keterlaluan dan tidak tahu aturan?"
Tawanan itu terdiam.
"Cepat lempar dadunya!"
Bentak Siau Po.
"Biar bagaimana toh aku yang akan kalah, buat apa melempar dadu lagi?"
Kata tawanan itu.
"Tidak mau? Mampuslah kau!"
Teriak Siau Po, Kembali dia memanggil seorang tawanan Lo Sat untuk maju ke depan, orang itu bertubuh tinggi besar, wajahnya penuh dengan cambang.
"Budak Cina, kau tidak perlu main gila, Bunuh saja aku sesuka hatimu, Kali ini jumlah kalian banyak, Lagipula kalian bersembunyi di bawah salju lalu tiba-tiba menyerbu keluar, Menang juga tidak perlu dibanggakan Suatu hari pasukan besar negara kami akan menyerang kembali dan membunuh kalian semua!"
Katanya dengan suara keras.
"Jadi karena kalian berhasil kami ringkus lalu kalian merasa tidak puas?"
Tanya Siau Po.
"Tentu saja tidak puas!"
Sahut tawanan itu dengan berani.
"Dalam anggapanmu, kalau kita berhadapan dengan jumlah yang sama maka pihakmu yang akan meraih kemenangan, begitu?"
Tanya Siau Po pula. Dengan sombong tawanan itu menjawab.
"Sudah pasti, Bangsa Lo Sat kami satu orang bisa mengalahkan bangsa kalian lima orang, Kalau tidak, kami juga tidak berani datang ke negara Tiongkok kalian. Aku berani bertaruh denganmu, Kau perintahkan lima orang dari pihakmu ke luar ke depan, suruh mereka berkelahi denganku, Kalau kalian menang, silahkan penggal kepalaku, Tapi kalau aku yang menang, kau harus melepasku!"
Orang ini merupakan prajurit yang gagah dalam pasukan Lo Sat.
Tenaganya besar sekali, Dia melihat setiap prajurit yang dipimpin Siau Po rata-rata lebih pendek satu kepala darinya, maka biar pun satu lawan lima, kemungkinan menangnya masih lebih besar.
Sejak tadi Song Ji duduk di samping, Mendengar nada suara orang itu yang sombong, hatinya jadi mendongkol.
"Orang Lo Sat, tidak ada gunanya kau sesumbar. Wanita Cina saja masih dapat mengalahkan dirimu,"
Katanya sambil berdiri dan berjalan ke samping Siau Po.
Tawanan menjadi "Apakah Siau Po tawanan itu melihat tubuh Song Ji yang kecil sekali, wajahnya juga cantik jelita, Dia geli sehingga tertawa terbahak-bahak.
kau ingin melawanku?"
Tanyanya. menyuruh seorang cong peng melepaskan tali yang mengikat kedua tangan tersebut Sambil tersenyum dia berkata.
"Song Ji ku yang baik, biar dia rasakan kelihaian wanita Cina kita!"
"Wanita Cina bisa berbahasa Lo Sat, bagus sekali, bagus seka li!"
Seru tawanan itu.
Bahasa Lo Sat Song Ji masih kalah jauh dibandingkan dengan Siau Po, karenanya dia tidak sudi banyak bicara, Tangan kirinya memukul ke depan, sebuah jurus pukulan dilancarkan ke arah muka tawanan itu.
Tawanan itu cepat-cepat menundukkan kepalanya, Namun dalam saat yang bersamaan Song Ji juga mengirimkan sebuah tendangan.
Perut si tawanan telak terkena sehingga orang itu terkejut setengah mati.
Sambil meraung keras-keras, kedua tinjunya menghantam ke depan, Dia adalah jago tinju di Negara Lo Sat, gerakannya cepat dan tinjunya kuat sekali, Song Ji bisa melihat kehebatan orang itu, Dia berkelebat ke bagian punggung si Tawanan dan dengan gerakan yang indah dia mengeluarkan sebuah jurus andalannya, Plak!
Plok!
Terdengar suara keras dua kali berturut-turut pinggang kiri dan kanan si tawanan kembali terkena tendangan maut Song ji.
Tawanan itu menjerit kesakitan.
"Kau menggunakan kaki, curang! Curang!"
Teriaknya marah. Rupanya ada peraturan bagi Bangsa Lo Sat yang sedang mengadu tinju. Mereka tidak boleh menggunakan kaki untuk menyerang lawan.
"lni Negara Cina, berkelahi juga harus mengikuti peraturan Cina!"
Kata Siau Po sambil tertawa.
"Menggunakan cara Lo Sat aku juga akan menang!"
Seru Song ji.
Secepat kilat tinju kanannya menghantam ke depan, Tawanan itu berusaha menangkis, ternyata jurus yang dikerahkan Song Ji adalah jurus tipuan, Belum apa-apa dia sudah menarik kembali tinju kanannya sementara itu tinju kirinya sudah bergerak pula ke depan.
Berulang kali hal ini terjadi, sebetulnya tidak berbeda dengan adu tinju di Negara Lo Sat.
Kadang-kadang lawan justru terkecoh dengan siasat ini.
Hanya saja gerakan Song Ji jauh lebih cepat beberapa kali lipat dibandingkan orang-orang Lo Sat.
Tawanan itu menangkis beberapa kali, namun setiap kali dia gagal.
Akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Permainan wanita Cina juga tidak berarti.,."
Belum lagi kata-katanya selesai, kedua pipinya sudah terkena pukulan tinju Song Ji.
Dia jadi marah sekali Kedua tangannya langsung menghantam ke atas dan ke bawah secara serampangan.
Song Ji menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindar.
Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya menjulur ke depan, tahu-tahu Tay Yang Hiat orang itu sudah ditotoknya.
Tawanan itu merasa kepalanya pusing tujuh keliling.
Tubuhnya terhuyung-huyung, Song Ji mencelat ke atas melampaui tubuh si tawanan, telapak tangannya menepuk bagian belakang kepala lawannya.
Meskipun tubuh tawanan itu tinggi besar, namun dia juga tidak sanggup menahan diri dari pukulan Song Ji.
Tubuhnya terkulai di atas tanah dan tidak sanggup bangkit kembali.
Siau Po senang sekali melihatnya, Dia menggandeng tangan Song Ji lalu didupaknya kepala tawanan itu satu kali.
"Apakah kau sudah merasa puas sekarang?"
Tanyanya. Tawanan itu masih merasa pusing.
"Wanita Cina... menggunakan ilmu... sihir, Dukun wanita yang.,,."
Siau Po marah mendengar makiannya terhadap Song Ji, dan segera menukas ucapan orang itu.
"Babi busuk, ilmu sihir apa? Seret dia ke luar dan penggal kepalanya! Kalian para prajurit Lo Sat, siapa yang masih belum puas? Aku ke luar dan kita mengadakan pertandingan lagi!"
Teriaknya keras.
Sisa lima orang tawanan itu saling memandang.
Mereka melihat si Hercules yang tenaganya besar saja sudah dikalahkan dengan mudah oleh perempuan di samping panglima itu, tentu mereka juga bukan tandingannya.
Tidak ada seorang pun yang berani mengajukan diri.
"Kalau kalian menyatakan takluk, maka aku tidak akan membunuh kalian, Bila tidak, coba saja adu lempar dadu lagi denganku, Kita gunakan cara Tiong-kok, yang bisa mengalahkan aku boleh terus hidup!"
Kata Siau Po pula, Dia membuat gerakan isyarat dengan tangannya yang artinya memenggal kepala orang.
Ke lima tawanan itu berpikir dalam hati.
--Kalau menggunakan cara Cina, berapa jumlah dadu yang ke luar pun tetap kau yang menang!
Salah seorang di antaranya segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat dan berkata.
"Aku menyatakan takluk!"
"Bagus! Ambil arak dan daging, kasih dia makan!"
Seru Siau Po.
Beberapa orang cong peng segera mengambil arak dan daging semangkok penuh, Setelah itu dia melepaskan ikatan tangan si tawanan dan mempersilahkannya makan.
Negara Lo Sat dingin sekali, setiap penduduknya suka minum minuman keras, Meskipun Siau Po sendiri tidak begitu suka minum arak, namun persediaan yang dibawakan para anak buahnya merupakan arak kelas satu sehingga baunya harum sekali.
Ke empat orang tawanan lainnya masih ragu-ragu, namun ketika mencium bau harum arak, air liur mereka terasa akan menetes.
Dan saat melihat rekannya makan minum dengan lahap, rasa yang meng-gelitik dalam perut mereka tidak tertahankan lagi.
Satu per satu segera menyatakan takluk kepada Siau Po.
Beberapa orang cong peng diperintahkan untuk melepaskan ikatan tangan mereka, Lalu seperti rekannya yang pertama, mereka juga disediakan arak dan daging, semuanya makan dengan lahap.
Kalau mengingat kembali bahwa jiwa mereka berhasil diselamatkan bahkan diberi makan minum yang enak, mereka bersyukur sekali, Beramai-ramai mereka menyatakan terima kasih kepada Siau Po.
Beberapa di antaranya malah minum sampai mabuk, Mereka menari-nari dan bernyanyi Tentu saja para prajurit Siau Po tidak mengerti lagu apa yang mereka nyanyikan, tapi kalau didengar lama-lama iramanya lumayan juga.
Selama beberapa hari berturut-turut, komandan barisan terdepan Ho Yu berhasil lagi meringkus beberapa tawanan Lo Sat, Kadang-kadang jumlahnya mencapai tujuh belas orang, paling sedikitnya satu dua orang, Siau Po sengaja menjalankan siasatnya.
Para tawanan itu tidak langsung dibunuh, melainkan dibiarkan bertemu dengan beberapa kawannya yang sudah menyatakan takluk, Dari mulut rekan-rekannya itulah, para tawanan itu mengetahui apabila mereka mau diajak melempar dadu dengan Siau Po, satu per satu pasti dihukum penggal kepala.
Namun apabila mereka menyatakan takluk, setiap hari mereka malah disediakan arak mahal dan makanan yang enak-enak.
Oleh karena itu, setiap tawanan yang berhasil ditangkap, boleh dibilang semuanya menyatakan takluk.
Bangsa Lo Sat adalah bangsa yang besar.
Saking besarnya negara itu, perekonomian mereka jadi kacau.
Banyak penduduknya yang hidup di jalan sesat.
Umpamanya mencuri, merampok atau membunuh pun dihalalkan agar bisa menyambung jiwa keluarganya.
Demikian pula para tentara negara itu, mereka tidak merasa takut terhadap siapa pun, Selama ini sikap mereka sombong sekali, Apalagi setelah berhasil menduduki wilayah Cina dan dalam anggapan mereka rakyat Cina terlalu lemah serta tidak berani memberikan perlawanan.
Sampai Siau Po membawa pasukannya datang ke daerah tersebut dan langsung memamerkan hukuman penggal kepala, mereka baru tahu kelihaian Bangsa Cina.
Pada saat itu, Komandan Pasukan Kolichin telah mendapat perintah dari Ratu Sophia agar kembali ke Moskow untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi, sedangkan panglima perang yang memimpin Ya Ke Lung bernama Alexi Tolbusin.
Beberapa kali dia mengirim pasukan kecil untuk meninjau daerah Liau Tong, Tapi semuanya hilang tanpa kabar berita, Tolbusin menyuruh orang menyelidiki masalah ini, namun tetap tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
Dia segera sadar ada sesuatu yang tidak beres di balik semua ini, Akhirnya dia mengambil keputusan untuk memimpin dua ribu orang prajuritnya dan menyelidiki sendiri apa yang telah terjadi.
Dalam perjalanannya, Tolbusin tidak melihat apa-apa yang mencurigakan Apabila mereka bertemu dengan penduduk Cina yang kebanyakan merupakan petani, dia segera memerintahkan anak buahnya untuk membakar ladang orang tersebut dan membunuh pemiliknya.
Kira-kira menempuh perjalanan sejauh dua puluh li, tiba-tiba dia mendengar derap suara kaki kuda, serombongan pasukan berkuda mendatangi ke arahnya.
Tolbusin segera memerintahkan anak buahnya untuk berpencar Tampak serombongan prajurit Kerajaan Ceng dengan menunggang kuda menyerbu ke arah mereka.
Prajurit Kerajaan Ceng langsung membidikkan anak panah.
Tolbusin tertawa terbahak-bahak melihatnya.
"Bangsa Cina yang bodoh hanya bisa membidikkan anak panah, mana bisa melawan pasukan kita yang mempunyai senjata api lengkap?"
Katanya.
Dia langsung menurunkan perintah untuk melepas tembakan, Dalam waktu yang singkat belasan prajurit Ceng telah terkulai dari kuda masing-masing.
Dari antara pasukan berkuda Ceng terdengar suara teriakan keras.
Mereka segera memutar arah dan lari ke selatan, Tolbusin tidak sudi melepaskan mereka begitu saja.
Dia memerintahkan para serdadunya untuk mengejar.
Kuda yang ditunggangi prajurit Kerajaan Ceng merupakan kuda-kuda pilihan.
Larinya cepat sekali.
Untuk sesaat pasti tidak bisa tersusul Setelah mengejar kurang lebih tujuh delapan li, tiba-tiba serdadu Lo Sat melihat ada sebuah bendera kuning bergambar naga terpancang pada dahan sebatang pohon.
Setelah agak dekat mereka baru tahu bahwa prajurit kerajaan Ceng mendirikan beberapa puluh tenda di sana.
Serdadu Lo Sat segera melepaskan tembakan serombongan prajurit Kerajaan Ceng berhamburan ke luar dan membidikkan anak panah.
Setelah itu mereka melompat naik ke punggung kuda dan melarikan diri ke arah selatan.
Bagian 91 Di saat pasukan negara Lo Sat sampai di depan tenda-tenda itu, mereka tidak melihat batang hidung seorang prajurit Kerajaan Ceng di sana, Tolbusin menerjang ke dalam tenda yang paling besar Di sana tampak makanan yang masih mengepulkan asap dan kendi arak berserakan di mana-mana, juga terdapat berbagai jenis batu permata, mantel berbulu tebal serta benda-benda berharga lainnya yang bertaburan di dalam tenda.
Tolbusin girang sekali melihatnya.
"Ha, ini pasti tenda Panglima bangsa bodoh itu. karena diserang secara tiba-tiba dia langsung mengambil langkah seribu serta tidak sempat lagi membereskan semua ini, Cepat kalian kejar! Tangkap panglima bangsa bodoh itu, Siapa yang berhasil akan mendapat hadiah besar Kalau dilihat dari isi tenda nya, barang-barang berharga yang dibawa orang itu pasti banyak sekali!"
Perintahnya.
Para serdadu Bangsa Lo Sat yang melihat harta sebanyak itu langsung menjadi hijau matanya.
Mereka segeraberebut mengambili batu permata, emas intan yang berserakan di dalam tanah.
Ada pula yang langsung mengambil kendi arak dan meneguknya sampai kering, Beberapa yang lainnya mencomot makanan lezat yang banyak sekali jumlahnya.
Setelah mendengar perintah panglimanya, mereka baru berbondong-bondong ke luar untuk naik ke atas kuda dan mengejar ke arah selatan.
Di sepanjang perjalanan tampak berceceran uang emas, batu permata, golok panjang, busur, dan anak panah, Para serdadu Lo Sat menduga bahwa prajurit Kerajaan Ceng terkejut setengah mati melihat kedatangan mereka lalu lari terbiritbirit.
Bahkan senjata serta benda berharga yang jatuh berceceran pun tidak mereka perdulikan lagi, Mereka meneruskan pengejaran Tidak seberapa jauh kemudian mereka kembali melihat sepasang sepatu dan beberapa topi tergeletak di tengah jalan.
"Rupanya panglima bangsa yang bodoh itu sudah mengganti pakaiannya untuk menyamar Kemungkinan sekarang dia menyamar menjadi prajurit biasa, jangan sampai terkecoh olehnya!"
Teriak Tolbusin.
"Ciangkun selalu meramal sesuatu dengan tepat, pasti begitulah kejadiannya!"
Sahut beberapa orang pengikutnya. Tolbusin juga menyuruh anak buahnya untuk mengambil sepatu serta topi yang mereka temukan.
"Kalau kita berhasil meringkus prajurit bangsa yang bodoh itu, suruh dia mengenakan sepatu dan topi itu untuk dicocokkan. Bagi yang pas, kemungkinan dialah sang panglima yang kita cari,"
Katanya.
Sekali para serdadu Lo Sat memuji panglimanya, Siapa manusia di dunia ini yang tidak senang mendengar pujian?
Pengejaran pun diteruskan Tidak lama kemudian mereka kembali menemukan sebuah tenda besar Kecuali uang emas dan batu permata, kali ini tampak pakaian dalam wanita berserakan di mana-mana, warnanya mencolok pandangan mata, jantung para serdadu jadi berdegup-degup melihat pemandangan itu.
"Cepat kejar! Prajurit-prajurit bangsa bodoh itu juga membawa beberapa wanita!"
Teriak beberapa diantara nya.
Yang lain juga ikut bersemangat Apalagi di dalam tenda itu juga tercium bau pupur serta wewangian yang menyengat hidung, Mereka jadi yakin prajurit Kerajaan Ceng membawa sejumlah perempuan sebagai hiburan.
Mereka melanjutkan pencarian Dalam perjalanan mereka masih menemukan tujuh buah tenda lainnya, dari kejauhan terdengar suara teriakan hiruk-pikuk, Tulbosin segera mengeluarkan alat peneropong jarak jauh.
Dia melihat sejumlah prajurit Ceng sedang berlari serabutan Rupanya pasukan mereka telah terpecah belah, Melihat keadaan ini hati Tulbosin jadi senang tidak terkatakan.
"Kita berhasil menyusul mereka!"
Serunya sambil menghunus goloknya dan diayunayunkannya ke atas.
"Serang... Bunuh!"
Teriaknya dengan keras.
Dia segera memimpin pasukannya untuk menyerbu ke depan, Di tengah perjalanan mereka melihat beberapa ekor kuda milik prajurit Kerajaan Ceng tergeletak lemas.
Bahkan ada beberapa diantaranya yang sudah mati.
"Kuda tunggangan bangsa bodoh itu tidak punya tenaga untuk berlari lagi!"
Seru beberapa serdadu Lo Sat.
Mereka melarikan kudanya dengan cepat, setelah agak dekat, mereka melihat para prajurit menyusup masuk ke sebuah celah di antara dua bukit.
Tolbusin mengejar sampai di depan bukit tersebut Untuk sesaat dia tertegun melihat keadaan di depan mata yang tidak menguntungkan bagi pihaknya.
--Apabila pihak musuh tiba-tiba menyerbu ke luar, kami akan kewalahan menghadapinya.
--pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba dari dalam bukit terdengar seseorang berteriak dengan menggunakan Bahasa Lo Sat.
"Hei, prajurit bangsa bodoh, jadi kalian sudah menyerah? Bagus! Bagus!"
Kemudian ada orang lainnya yang berseru pula.
"Ha ha ha! Kali ini prajurit Bangsa Cina mengalami kekalahan dengan mengenaskan!"
Suara orang itu terdengar seperti logat orang setempat Hal ini tidak perlu diragukan lagi.
Tolbusin gembira sekali, Tanpa curiga sedikit pun, dia memimpin pasukannya menerjang ke celah di antara dua bukit Prajuritnya yang berjumlah dua ribu orang pun segera mengikuti di belakangnya.
"Pasukan mana yang ada di depan? Di mana kalian?"
Teriak Tolbusin. Dari tengah bukit terdengar sahutan puluhan orang.
"Kami di sini! Prajurit bangsa bodoh ini sudah menyerahkan diri!"
"Bagus!"
Seru Tolbusin, Baru saja dia menarik tali kendali kuda tunggangannya, dari belakang terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga.
Tolbusin terkejut setengah mati.
Dia membalikkan tubuhnya, tampak pepohonan di kedua sisi bukit penuh dengan asap tebal Cahaya api memijar-mijar.
Di kedua sisi bukit muncul moncong senapan yang berbaris rapi, para serdadu Lo Sat menjerit-jerit kalang kabut.
"Membalik! Kita ke luar dari celah bukit ini!"
Teriak Tolbusin. Terdengar teriakan beribu-ribu orang dari kedua sisi bukit itu.
"Tentara Lo Sat, menyerahlah! Menyerahlah!"
Suara itu begitu keras sehingga memekakkan telinga.
Sementara itu, ratusan batu dilempar ke luar sehingga menutupi jalan masuk celah kedua bukit itu.
para serdadu Lo Sat menjadi panik, mereka saling mendorong untuk meloloskan diri, namun keadaannya justru semakin parah, Belum lagi bidikan anak panah yang gencar milik prajurit Kerajaan Ceng dari segala penjuru.
Diam-diam Tolbusin mengeluh, dia baru sadar dirinya telah terjerat perangkap yang dipasang musuh.
Sekarang jalan masuk sudah tertutup, terpaksa dia memutar kembali kuda tunggangannya untuk menerjang ke arah lain.
"Semuanya terjang ke depan!"
Teriaknya memerintahkan.
Baru saja melarikan kudanya beberapa depa, tiba-tiba dari arah depan terdengar suara ledakan dahsyat Berpuluh-puluh meriam ditembakkan ke arah mereka, Tampak berpuIuh-puluh serdadu Lo Sat yang memimpin di depan langsung mati terkena ledakan meriam.
Kekagetan Tolbusin jangan ditanyakan lagi, sukmanya seakan melayang entah ke mana, Dia tidak pernah menyangka bahwa pasukan Kerajaan Ceng juga mempunyai perlengkapan senjata api yang tidak kurang hebatnya.
Apalagi mereka sudah mempersiapkan meriam-meriam di ujung celah kedua bukit itu.
Dengan panik dia melompat turun dari kudanya.
"Tinggalkan kuda kalian! Gunakan senapan untuk menyerbu ke luar dari arah kita masuk tadi!"
Teriaknya gugup.
Para serdadu itu segera melompat turun dari kuda masing-masing, Keadaan semakin kacau, beratus-ratus orang berusaha memanjat ke atas bebatuan untuk meloloskan diri, namun masih ada tersisa beberapa puluh orang yang masih bisa menggunakan akal sehatnya.
Mereka menembaki prajurit Kerajaan Ceng untuk melindungi teman-temannya yang sedang berusaha meloloskan diri, Tembakan para serdadu itu cukup hebat Belasan prajurit Kerajaan Ceng terkena sasarannya.
Tapi meriam yang ditembakkan oleh pihak Siau Po juga tidak kurang dahsyatnya.
Beratus-ratus serdadu Lo Sat berusaha melarikan diri, namun meriam-meriam serta granat yang dilemparkan ke arah mereka mencegahnya, Suara dentuman yang keras semakin menggema di udara, sebagian serdadu itu tidak sempat menyelamatkan diri, Kepala mereka terpisah dari leher karena ledakan meriam, ada pula yang kehilangan empat anggota tubuhnya, sedangkan yang belum terkena musibah segera mengundurkan diri daripada mati konyol Tampaknya kalau perang ini dilanjutkan pihak seradu Lo Sat akan mengalami kekalahan tragis, bahkan ada kemungkinan semuanya mati tanpa tersisa seorang pun.
Melihat situasi yang gawat ini, Panglima Tolbusin segera berteriak.
"Jangan menembak lagi! Kami menyerah!"
Sayangnya suara ledakan meriam dan tembakan senapan terlalu keras sehingga menutupi teriakannya.
Tidak ada yang mendengar Buktinya meriam masih diledakkan dan senapan pun tetap mengeluarkan tembakan.
Beberapa serdadu yang ada di sisinya segera ikut berteriak.
"Hentikan tembakan! Hentikan tembakan!"
Prajurit Kerajaan Ceng pun berhenti menembak. Terdengar seseorang berseru dengan bahasa Lo Sat.
"Lemparkan senapan kalian, buang senjata yang lain, lepaskan semua pakaian kalian!"
Tulbusin marah sekali mendengar teriakan itu.
"Kami akan membuang semua senjata tapi tidak boleh menyuruh kami melepaskan pakaian!"
Sahutnya lantang. Dari antara prajurit Kerajaan Ceng kembali terdengar seruan.
"Buang senapan kalian, lepaskan pakaian! Siapa yang menurut akan diundang minum arak, yang membangkang pasti mati!"
"Kami tidak akan melepaskan pakaian!"
Sahut ToIbusin sekali lagi.
Baru saja teriakannya lenyap, kembali terdengar suara ledakan, Rupanya prajurit Kerajaan Ceng menembakkan meriam mereka sekali lagi, Sebagian besar serdadu Lo Sat takut mati, mereka segera melemparkan senapan atau senjata lainnya dari tangan masing-masing lalu mulai membuka pakaiannya satu per satu.
ToIbusin mengeluarkan sebatang tombak pendek lalu ditimpukkannya ke arah salah seorang serdadunya yang sedang melepaskan pakaian sehingga orang itu mati seketika.
"Siapa yang berani melepaskan pakaiannya akan mendapat hukuman mati!"
Teriaknya.
Meskipun demikian, di bawah tembakan meriam yang semakin lama semakin gencar, mereka terpaksa mengabaikan perintah panglimanya, Belasan serdadu segera membuka pakaian mereka sehingga telanjang bulat Setelah itu mereka memanjat ke atas bebatuan.
pemandangan itu tentu lucu sekali Para prajurit Kerajaan Ceng tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan.
"Cepat buka pakaian kalian!"
Seru mereka beramai-ramai.
Serdadu yang melepaskan pakaiannya semakin lama semakin banyak, Lagi-lagi ToIbusin menimpuk dengan tombak pendeknya, Dua serdadu yang terkena sasaran mati seketika.
Tapi bagaimana mungkin dia sanggup membunuh serdadu yang jumlahnya demikian banyak?
Prajurit Kerajaan Ceng tidak menembakkan meriam lagi, Dari atas bukit terdengar seseorang berseru.
"Siapa yang ingin hidup cepat lepas pakaiannya dan panjat ke mari!"
Pada saat itu, hampir seluruh serdadu Lo Sat tidak berniat melakukan perkelahian lagi, Mereka sibuk melepaskan ikat pinggang dan seluruh pakaian.
ToIbusin menarik nafas panjang, Dia mengangkat tombak pendeknya ke atas dan bersiap-siap untuk menghunjamkan senjata itu ke ubun-ubun kepalanya sendiri, namun seorang serdadu yang rupanya merupakan wakil komandan pasukan pertama segera menarik tangannya dan berkata.
"Ciangkun, kau tidak boleh berbuat demikian. Elang yang mempunyai sayap baru bisa terbang tinggi di atas gunung!"
Pepatah dalam Bahasa Lo Sat itu kira-kira mempunyai arti yang sama dengan pepatah "Selagi gunung masih menghijau, jangan takut kekurangan kayu bakar"
Dari Cina. Dari antara para prajurit Kerajaan Ceng kembali terdengar seseorang berteriak dengan menggunakan Bahasa Lo Sat.
"Kalian lekas buka pakaian Tolbusin, kemudian kalian ke luar bersama-sama! Kalau tidak, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menembakkan meriam lagi!"
Kata Bahasa Lo Sat ini diucapkan dengan fasih, Yang menyerukannya justru para serdadu negara Lo Sat yang telah menyerahkan diri.
Tentu saja mereka dipaksa untuk menyerukannya.
Hawa amarah Tolbusin benar-benar meluap, Tapi berpuluh-puIuh pasang mata anak buahnya menatap dirinya lekat-lekat.
Dia tahu mereka juga merasa malu, Akhirnya dia bertekad untuk membunuh diri.
Tangannya segera terjulur untuk menghunus pedang panjang di pinggangnya.
Namun baru saja berhasil menyentuh gagang pedang tersebut, tujuh delapan serdadu sudah menomplok ke arah tubuhnya dan meringkusnya hidup-hidup, Ada yang memegangi kepalanya, ada yang sibuk melepaskan pakaiannya.
Dalam sekejap mata Tolbusin sudah telanjang bulat.
Tubuhnya diangkat oleh para serdadu dan digotong ke luar dari celah bebatuan.
Setiap ada serdadu Lo Sat yang memanjat ke luar maka ada dua orang prajurit Kerajaan Ceng yang menghampirinya lalu mengikat kedua tangannya ke belakang.
Setelah itu mereka digiring meninggalkan tempat itu sejauh beberapa li.
Dalam gebrakan kali ini, hampir seluruh serdadu Lo Sat kecuali yang mati sebanyak enam ratus orang lebih telah terikat tangannya dan dijejerkan di sebuah tanah kosong.
Tubuh mereka semuanya telanjang bulat Ketika angin dingin berhembus, tampak tubuh mereka menggigil kedinginan.
Prajurit Kerajaan Ceng menggiring Tolbusin dan menempatkannya di barisan paling depan, padahal saat itu serdadu Lo Sat sendiri merasa kecewa sekali sehingga mereka menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Namun ketika mereka melihat sang panglima yang sehari-harinya sangat garang dan saat ini dapat diperlakukan sedemikian rupa, diam-diam jadi merasa geli, Ada beberapa serdadu yang merasa lucu melihat pantatnya yang bulat sehingga tertawa cekikikan yang lainnya pun jadi ikut memperhatikan.
Dalam waktu yang singkat suasana di tempat itu jadi riuh karena suara tertawa yang ramai.
Hampir seluruh serdadu Lo Sat yang kena ditawan dan para prajurit Kerajaan Ceng tertawa terbahak-bahak menyaksikan pemandangan tersebut.
Tolbusin marah sekali, dia menolehkan kepalanya dan membentak.
"Siapa! Apa yang kalian tertawakan?"
Namun kata-katanya terhenti seketika, Dia baru ingat bahwa saat ini dia tidak mengenakan sehelai benang pun, dengan bersikap garang seperti ini kelihatannya malah semakin lucu, walaupun dalam hati mereka masih tersisa rasa gentar akan wibawa yang ditunjukkan sang panglima sehari-harinya, namun pada saat ini siapa yang sanggup menahan rasa geli dalam hatinya?
Tiba-tiba terdengar suara tembakan meriam sebanyak tiga kali Kemudian tampak serombongan pasukan berkuda mendatangi orang yang ada di bagian terdepan membawa bendera biru.
Di belakangnya menyusul lagi rombongan berkuda yang lain, kali ini yang dibawanya bendera kuning, sedangkan rombongan yang terakhir membawa bendera merah bertuliskan "Tay Ceng Lu Ting Kong Wi"
Yang artinya pangkat Lu Ting Kong, orangnya she Wi dan mewakili Kerajaan Ceng yang besar.
Setelah sampai di hadapan para tawanan, rombongan berkuda yang membawa bendera biru dan kuning menggeser diri menjadi dua rombongan di kanan kiri sedangkan rombongan bendera merah berbaris rapi di tengah-tengah.
Tampak di bagian paling depan duduk bertengger di atas kudanya seorang pemuda yang mengenakan mantel berwarna merah, topinya berwarna merah juga dan tangannya sedang mengibaskan sebuah kipas, Lagaknya lucu sekali Dia tentu si pemuda konyol Wi Siau Po.
Dia menggerakkan kudanya ke depan lalu tertawa terbahak-bahak pada saat itu Tolbusin sedang gusar sekali, sedangkan dia tidak mempunyai wadah untuk melampiaskannya.
Sejak tadi hatinya sudah dingin, dia sudah tidak memperdulikan mati hidupnya lagi Karena itu dia memaki dengan suara lantang.
"Bocah Cina, kau menggunakan siasat jahat untuk meringkus kami, itu bukanlah perbuatan para pendekar! Kalau mau bunuh, silahkan, Kenapa kau harus memperlakukan kami dengan cara demikian? Mengapa kau harus mempermalukan kami di depan umum?"
Siau Po tertawa.
"Bagaimana aku membuatmu malu?"
Tanyanya santai. Tolbusin semakin berang.
"Kau lihat sendiri ke... adaanku i... ni, apakah ini bukan suatu hinaan namanya?"
Kembali Siau Po tertawa.
"Celanamu itu... siapa yang melepaskannya?"
Tolbusin segera sadar bahwa tuduhannya tidak tepat, Sudah jelas celananya dilepaskan dengan paksa oleh anak buahnya sendiri, bagaimana mungkin dia menyalahkan pemuda pesolek ini?
Dalam keadaan marah besar, wajahnya berubah merah padam.
Dia lalu memberontak dan menerjang ke depan seakan hendak mengadu jiwa dengan Siau Po.
Empat orang prajurit segera mengangkat senapan mereka dan menudingkannya ke arah Tolbusin.
Panglima itu merasa tidak berdaya, terpaksa dia menghentikan gerakan kakinya, Tanpa sadar dia menurunkan tangannya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya (memang hanya Tolbusin seorang yang tangannya diikat ke depan).
Tindakannya itu justru menimbulkan lagi rasa geli di hati kedua belah pihak sehingga suara tawa kembali riuh.
"Kalau kau benar-benar menyerah, maka kau harus mengikuti Kerajaan Ceng kami yang besar, sekarang juga kau berangkat ke Pe King untuk menyembah kepada Sri Baginda,"
Kata Siau Po.
"Aku tidak akan menyerah! Biar pun tubuhku dipotong menjadi beberapa bagian, aku tidak akan menyerah!"
Sahut Tolbusin. Siau Po mengeraskan suaranya untuk bertanya kepada para serdadu Lo Sat.
"Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian menyatakan takluk kepada Kerajaan Ceng kami yang besar?"
Tidak ada jawaban atau pun reaksi dari para serdadu itu. Mereka menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Baik, rupanya kalian tidak benar-benar menyerah panggil tukang masak!"
Teriak Siau Po pula.
Sepuluh orang tukang masak berjalan ke luar, di belakangnya mengiringi beberapa orang cong peng yang membawakan sebuah tungku api.
Mereka berdiri untuk menanti perintah selanjutnya.
Siau Po menoleh kembali kepada Tolbusin.
"Di Negara Lo Sat kalian ada semacam hidangan yang bernama "
Sia sunik ", rasanya boleh juga, sekarang tiba-tiba saja aku kepingin makan lagi hidangan itu. Sudah cukup lama aku tidak merasakannya yakni sejak kembali dari Moskow!"
Katanya kemudian menoleh lagi kepada ke sepuluh orang tukang masak tadi dan memerintahkan "Buatkan hidangan "Sia sunik"
"Terima perintah,"
Sahut ke sepuluh tukang masak itu serentak.
Tungku api dinyalakan, di atasnya disampirkan selembar jala kawat.
Dalam sekejap mata jala kawat itu sudah merah membara karena apinya yang besar, Para serdadu Lo Sat saling memandang.
Mereka tidak tahu permainan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh para prajurit Cina itu.
Siau Po mengibaskan tangannya, dua puluh anak buahnya segera menyeret ke luar sepuluh serdadu Lo Sat.
Dengan Bahasa Lo Sat Siau Po berseru.
"Potong bagian bawah tubuh mereka untuk dijadikan "Sia sunik"!"
Sia sunik adalah sejenis hidangan seperti sosis yang dipanggang di atas api.
Hidangan khas ini sangat terkenal di Negara Lo Sat.
Sepuluh orang koki tadi segera menghampiri serdadu Lo Sat yang diseret ke luar, Golok mereka yang berkilau saking tajamnya diangkat tinggi ke atas lalu dibacokkan ke bawah kemudian terdengar suara jeritan yang memilukan.
Ketika para serdadu itu diseret ke daerah perbukitan, di atas tanah tampak sisa darah yang berceceran Seakan suatu hal yang sudah biasa, tukang masak Siau Po langsung menusuk setiap alat kelamin ke dalam sebatang pesi panjang lalu dipanggangnya di atas api.
Suara peletekan dan bau hangus pun tersebar Dapat dibayangkan bagaimana perasaan para serdadu Lo Sat lainnya ketika melihat daging rekan mereka dipanggang sedemikian rupa, Wajah mereka tampak pucat pasi dan kepala mereka semakin menunduk.
"Seret lagi sepuluh serdadu Lo Sat untuk dibuat "Sia sunik"!"
Teriak Siau Po sekali lagi. Dua puluh prajurit Cina pun ke luar menyeret mereka, Di antara sepuluh serdadu yang terpilih, empat di antaranya sudah tidak dapat menahan diri lagi.
"Menyerah! Menyerah!"
Teriak mereka serentak.
"Baik, Bagi yang menyerah boleh kalian bawa ke bagian bendera putih di sana!"
Kata Siau Po sambil menunjuk pada sebuah bendera putih yang entah sejak kapan dipalangkan pada dahan sebatang pohon.
Empat serdadu itu dibawa ke bawah pohon, Tidak lama kemudian ada prajurit yang datang mengantarkan arak dan makanan.
Beberapa prajurit kembali menyeret ke luar empat orang serdadu lainnya untuk melengkapi jumlah yang sudah berkurang.
Empat serdadu itu melihat rekan-rekannya yang sudah menyerah malah mendapat arak dan makanan, sedangkan yang keras kepala akan ditebas bagian bawah tubuhnya untuk dijadikan "Sia sunik", mereka segera mengambil keputusan.
"Menyerah! Kami menyerah!"
Sedangkan ke enam serdadu yang pertama-tama diseret keluar juga sadar apa yang sedang mereka hadapi, maka mereka pun ikut berseru.
"Menyerah! Kami juga menyerah!"
Kalau sudah ada satu yang mulai, biasanya pengikut yang latah pasti banyak, apalagi untuk urusan yang enak, Suara teriakan "menyerah"
Memecahkan kesunyian yang mencekam Malah sebagian besar tidak perlu diseret keluar lagi oleh para cong peng.
Mereka berhamburan lari ke bawah bendera putih.
Dalam sekejap mata seribu lebih serdadu Lo Sat sudah menyerahkan diri, Di tempat semula hanya tertinggal Tolbusin seorang yang masih berdiri dengan tegak.
"Bagaimana? Apakah kau sudah mau menyerah sekarang?"
Tanya Siau Po.
"Lebih baik mati daripada menyerah!"
Sahut Tolbusin tegas.
"Baiklah, aku akan mengembalikan kau ke Ya Ke Lung!"
Ujar Siau Po, lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Totbusin ke Ya Ke Lung.
Tadinya Tolbusin sudah yakin, kalau dia bersikap keras kepala, paling-paling dia akan dibunuh oleh prajurit-prajurit Kerajaan Ceng ini.
Ternyata sekarang dia mendengar perintah untuk melepaskan dirinya, hal ini benar-benar di luar dugaan Tolbusin.
"Kalau kau memang bersedia melepaskan aku, kembalikanlah pakaianku!"
Kata ToIbusin. Siau Po tersenyum.
"Pakaian sih tidak boleh dikembalikan lagi,"
Katanya. Dia lalu menurunkan perintah lagi kepada anak buahnya.
"Kalian antar dia sampai perbatasan kota Ya Ke Lung, sampaikan pesanku bahwa untuk sementara peperangan dihentikan. Kalian harus menggiring manusia bugil ini keliling tembok kota sebanyak tiga kali baru boleh membawanya masuk."
Ang Cao yang selaku Komandan segera mengiakan Di bawah suara tertawa yang riuh dari para prajurit, dia membawa pasukannya untuk menggiring Tolbusin meninggalkan tempat itu.
"Mohon bertanya kepada Panglima, kita sudah berhasil menangkap panglima musuh, mengapa kemudian dilepaskan lagi?"
Tanya Lim Heng Cu.
"Apabila dibalik persoalan ini ada siasat yang ajaib, bolehkah panglima menjelaskan nya kepada kami?"
Siau Po tertawa.
"Hari ini kita berhasil memenangkan peperangan dengan gemilang, tahukah kalian siasat apa yang kupakai?"
"Otak Thayswe (Panglima) sangat cerdas, siasat yang terpikirkan pun pasti ajaib tidak terkira, dalam hal ini hamba-hambamu merasa kagum sekali,"
Sahut Li Heng Cu. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Bukan siasatku yang ajaib, melainkan strategi sakti yang disusun oleh Sri Baginda, Beliau berkata, dulu Cu Kek Liang berhasil memenangkan peperangan dengan gemilang, kita harus banyak belajar dari pengalaman tokoh besar itu. Apakah kau pernah menonton sandiwara tentang tokoh Cu Kek Liang? Taruhlah kau tidak pernah menonton sandiwara ini, tetapi pasti kau pernah mendengar kisahnya dari gurumu, bukan? Cu Kek Liang memerintahkan Wei Seng untuk berperang, dia hanya boleh kalah tidak boleh menang, Wei Seng mengalami kekalahan selama lima belas kali berturutturut dan pihak Beng Hok berhasil merebut tujuh buah tenda mereka, Kemudian Beng Hok dipancing masuk ke Lembah Pan Coa Kok, akhirnya dengan api Wei Seng mengurung musuhnya sehingga terbakar hidup-hidup di dalam lembah. Siasat yang kita gunakan hari ini merupakan pemikiran Cu Kek Liang tempo dulu,"
Katanya menjelaskan. Para prajurit menyatakan kekaguman.
"Sri Baginda berjiwa pengasih, Beliau mengatakan bahwa cara Cu Kek Liang membakar hidup-hidup musuhnya di dalam lembah Pan Coa Kok terlalu sadis, Kita bangsa yang beradab dan sudah lebih pandai lagi harus bisa mengendalikan diri. Apabila para serdadu Lo Sat memang benar-benar takluk, kita harus mengampuni jiwa mereka,"
Kata Siau Po pula.
"Kalau bukan Thayswe yang cerdas menggunakan siasat "Sia sunik"
Dan memanggang daging beberapa orang dari mereka, belum tentu serdadu-serdadu itu sudi menyerahkan diri.
Mereka begitu keras kepala.
Namun setiap manusia pasti ada rasa takut menghadapi kematian, apalagi dengan cara sedemikian rupa.
Menurut hamba, siasat Thayswe kali ini bahkan lebih cemerlang daripada siasat Cu Kek Liang tempo dulu,"
Sahut seorang komandan pasukan. Siau Po tertawa.
"Aku tidak akan berbuat sekejam itu, sebetulnya di dalam saku para tukang masak itu sudah tersedia sepuluh potongan daging sapi yang masih segar. Kami sudah yakin bahwa tidak ada seorang pun yang sampai hati melihat dengan mata terbelalak di saat temannya dihukum mati. Apalagi dengan cara demikian padahal beberapa cong peng itu sudah mendapat kisikan, mereka hanya menebas bagian paha para serdadu itu sehingga darah berceceran Biar bagaimana rasa sakitnya pasti tidak berbeda jauh, itulah sebabnya mereka menjerit histeris. sedangkan yang dipanggang di atas api tidak lain dari sepuluh potong daging sapi yang telah disediakan Kalau kalian ingin tahu bagaimana rasanya, silahkan mencobanya sendiri."
Tentu saja prajurit yang lain jadi tertawa terbahak-bahak.
Mereka segera mengambil potongan daging sapi dari atas tungku pembakaran Ternyata apa yang dikatakan Siau Po memang benar, rasanya gurih dan lezat.
"Thayswe melepaskan panglima musuh begitu saja, apakah maksudnya agar dia menjadi jera serta tidak berani lagi memimpin pasukan untuk menyerang kita?"
Tanya beberapa orang prajurit.
"Bukan begitu maksudku, Tentang urusan ini, ketika di Kotaraja aku pun pernah menanyakannya kepada Sri Baginda, Aku menyebut Hong Siang sebagai Niau Seng Hi Tong. jiwanya besar dan berbudi tinggi, Apakah kita harus meniru cara Cu Kek Liang, yakni setelah berhasil menangkap panglima Lo Sat lalu melepaskannya sebanyak tujuh kali? Sri Baginda mengatakan bahwa itu merupakan suatu kesalahan. Cu Kek Liang berhasil meringkus seorang raja, sedangkan yang tertangkap oleh kita kemungkinan hanya seorang panglima, Andaikata dia menyatakan bahwa dia tidak berani memberontak lagi, tetap saja tidak ada gunanya, karena tampuk kekuasaan bukan terletak pada dirinya, Raja atau ratu dari Lo Sat masih bisa mengutus panglima yang lain untuk menyerang kita,"
Kata Siau Po menjelaskan. Para prajurit membenarkan pendapat rajanya.
"Serdadu Lo Sat yang berjaga di Ya Ke Lung sangat kejam, Persenjataan yang dimiliki mereka pun hebat sekali, Kalau kita membunuh panglimanya tadi, mereka masih bisa memilih seorang panglima yang lain untuk memimpin pasukan yang lebih besar berperang mati-matian dengan kita. Tapi aku justru menyuruh orang-orang kita menggiring panglimanya yang telanjang bulat kembali ke sana, mereka harus mengaraknya mengelilingi tembok kota sebanyak tiga kali, Serdadu Lo Sat pasti melihatnya, dan sejak sekarang panglima itu tidak dihargai lagi. Kelak apabila dia memberikan perintah apa pun, anak buahnya belum tentu mau mendengarkan,"
Kata Siau Po pula. Sekali lagi para prajuritnya mengiakan "Apakah Sri Baginda pula yang berpesan agar seluruh pakaian panglima itu harus dilepaskan?"
Tanya Lim Heng Cu.
Siau Po tertawa terbahak-bahak "Mana mungkin Sri Baginda berbuat senekad itu?
Beliau hanya menyuruhku mencari akal agar semangat kita tetap terbangun dan musuh menjadi gentar sehingga kita sanggup mengalahkan Bangsa Lo Sat.
Sri Baginda berkata.
Serdadu Lo Sat bertubuh tinggi besar, seluruh tubuh tertutup oleh bulu yang lebat puIa, dan tampangnya seperti orang liar.
Senjata api mereka hebat-hebat pula, Apabila para prajuritku melihat tampang mereka yang kasar, mungkin bisa timbul rasa takut dalam hati, Begitu semangat pudar, maka untuk mencapai kemenangan bukanlah hal yang mudah lagi, Sri Baginda berkata pula.
"Siau Kui Cu, kau paling banyak akal muslihatnya, pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus melakukan sesuatu agar para prajuritku memandang hina serdadu bangsa liar itu" , sepanjang malam aku tidak bisa tidur, aku terus mengasah otak mencari jalan melaksanakan pesan Sri Baginda, sampai lama aku kebingungan. Akhirnya aku teringat masa kecilku ketika suka bermain judi."
"Apa hubungannya antara serdadu Lo Sat dan kisah berjudi Thayswe di masa kecil?"
Tanya seorang prajurit.
"Ketika kecil aku sering bermain judi di kota Lok Yang, sifatku memang jelek. Kalau menang masuk kantong, kalau kalah justru tidak mau mengakuinya, Diajak berkelahi selalu ayo saja, tidak pernah ada rasa takut terhadap siapa pun, Sampai suatu hari aku benar-benar kapok dibuatnya. Orang yang memenangkan perjudian menyuruh rekan-rekannya meringkusku, Setelah celanaku juga dilepasnya, lalu aku disuruh pulang dengan tubuh telanjang, sepanjang perjalanan aku ditertawai oleh para penduduk, malunya bukan main. Untuk selanjutnya aku tidak berani main gila lagi, Kalau kalah ya kalah, kalau menang, boleh saja main curang asal jangan ketahuan pihak lawan."
Anak buahnya tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya.
"Sri Baginda mengatakan bahwa dalam perangan kita harus banyak akal dan pandai melihat situasi Sri Baginda memang bisa memberikan berbagai saran, tapi sampai waktunya bagaimana pun harus menjalani sendiri Aku ingat ketika aku kecil saja masih tahu betapa malunya kalau celanaku dilepaskan orang, masa Bangsa Lo Sat tidak takut diperlakukan serupa? Ternyata memang sama, begitu disuruh telanjang, mereka segera menyatakan takluk,"
Kata Siau Po selanjutnya.
Para prajurit memuji dirinya, dan merasa kagum sekali Beberapa diantaranya berpikir.
--ilmu melepas celana ini belum pernah ada, bahkan dari jaman Dinasti Sung.
Ternyata ilmu panglima Wi cukup lihai Setelah itu, Siau Po menyuruh para serdadu Lo Sat untuk mengganti pakaiannya dengan seragam Kerajaan Ceng lalu di bawah iringan seorang komandan, mereka berangkat menuju Kotaraja untuk dipersembahkan kepada Kaisar Kong Hi.
Dalam rombongan Siau Po sekarang hanya tertinggal dua puluhan serdadu Lo Sat.
Dia mempertahankan sedikit sisanya agar dapat dimanfaatkan apabila terjadi kesulitan dalam berkomunikasi.
Malam itu juga Siau Po memanggil ketiga panglima lainnya, mereka diharuskan menggempur Kota Ya Ke Lung.
Keesokan harinya, dia pribadi membawa sepasukan prajurit untuk menyusul mereka, Dari jauh saja sudah terdengar suara dentuman meriam Asap senjata-senjata api yang digunakan sampai mengepul ke atas langit.
Suara bentakan dan jeritan kedua belah pihak terdengar dari dalam maupun luar kota.
Komandan pasukan Peng Cun yang mendapat tugas menyerang kota tersebut melaporkan bahwa senjata api serta meriam serdadu Lo Sat hebat sekali.
Banyak prajurit Kerajaan Ceng yang menjadi korban.
"Tambah meriam kita dan gempur terus!"
Teriak Siau Po.
Peng Cun segera melaksanakan tugas yang diberikan Tidak lama kemudian berpuluh-putuh meriam dipencarkan ke sekeliling tembok kota, Kali ini dentuman meriam yang terdengar lebih dahsyat dari sebelumnya.
Selama beberapa hari berturut-turut peperangan terus berlangsung.
Tampaknya kedua pihak sama-sama dirugikan.
Malah kalau dihitung-hitung, lebih banyak prajurit kerajaan Ceng yang mati atau terluka parah.
Pelipis kanan panglima Lu Pu Suk terserempet peluru, untung Lim Heng Cu dengan sigap menariknya ke luar dari kancah peperangan panglima Lung segera mendapatkan pertolongan.
Tampaknya nasib orang ini masih cukup terang, peluru yang mengenai dirinya tidak sampai menembus ke dalam otak.
Siau Po memberikan hadiah kepada Lim Heng Cu atas jasanya, Dia juga memerintahkan anak buahnya untuk mendirikan tenda sejauh lima li dari pintu gerbang kota.
Beberapa prajurit memberikan pendapatnya kepada Siau Po.
Ada yang mengusulkan anak muda itu menggunakan cara yang sama dengan sebelumnya yakni memancing musuh ke tempat yang sudah terkepung sehingga dapat diledakkan sekaligus, ada pula yang menyarankan agar menggali jalan dari bawah tanah untuk melakukan penyerangan.
Cara menggali jalan di bawah tanah ini memang sudah Iama ada di Negara Cina.
Beberapa kali negara ini berhasil dalam perang justru menggunakan tradisi kuno ini.
Dan saran yang diberikan oleh salah seorang prajurit Kerajaan Ceng tersebut justru memberi ilham kepada Siau Po.
Dia tahu di dalam kota Ya Ke Lung memang ada sebuah jalan di bawah tanah, di situlah dia pernah memeluk tubuh Ratu Sophia yang bugil, Rasanya ingin sekali kembali ke masa itu.
Tanpa sadar mimik wajahnya jadi aneh, bibirnya tersenyumsenyum.
Para prajurit yang menyaksikan hal itu mengira panglima-nya telah menemukan siasat yang jitu untuk menggempur lawan, karena itu tidak ada seorang pun yang berani membuka suara.
Dalam hati Siau Po berpikir.
-Bagaimana kalau Ratu Sophia tiba-tiba muncul di kota Ya Ke Lung dan memimpin pasukannya untuk menyerang kami?
Kali ini aku harus memeluknya lebih erat, Oh, indahnya tubuh yang penuh dengan bulu emas itu!
-Para prajuritnya masih menantikan keputusan Siau Po.
Mereka tidak mengerti apa yang dipikirkan Siau Po.
Tampang anak muda itu aneh sekah, Kadang-kadang matanya setengah terpejam seakan sedang membayangkan sesuatu yang indah, Kadangkadang bibirnya bergerak-gerak seakan sedang bersenandung, namun mereka tetap tidak berani mengganggunya.
Tiba-tiba terdengar Siau Po berkata.
"Kurang ajar, bikin orang penasaran!"
"Memang betul,"
Sahut Ang Cao.
"Sudah berapa kali kita menyerang serdadu Lo Sat, namun hasilnya tidak memuaskan, kota Ya Ke Lung masih belum berhasil kita rebut kembali Bagaimana kita tidak jadi penasaran dibuatnya?"
Namun Siau Po sedang memikirkan tubuh ratu Sophia yang halus, telinganya seakan tersumbat sehingga dia tidak mendengar apa yang dikatakan Ang Cao. Terdengar dia menggumam kembali.
"Aih, masa bodoh! Biar barang rongsokan dari Lo Sat itu bagaimana lihainya, suatu hari aku pasti mendapatkan jalan ke luar untuk mengatasinya!"
"Apa yang dikatakan Thayswe memang benar, bagaimana pun lihainya Bangsa Lo Sat, kita pasti akan menemukan jalan untuk mengalahkannya,"
Sahut Peng Chun. Siau Po seperti tersentak mendengar kata-katanya.
"Apa? Kau juga ingin meraba perempuan rongsokan itu? Boleh! Boleh! Tapi kau harus hati-hati, jangan sampai melupakan anak istrimu di rumah!"
Katanya sambil tertawa terbahak-bahak Peng Cun kebingungan namun tidak berani banyak bertanya, Siau Po menggebrak meja keras-keras.
"Bagus! ide saudara-saudara sekalian semuanya bagus! Tapi jalan di bawah tanah itu terlalu sempit, lagipula tembusnya ke kamar sang Panglima, kemungkinan sekarang sudah disumbat Mulai besok pagi kalian harus mulai menggali lagi!"
Para prajurit tentu saja merasa senang mendengar usul mereka dapat digunakan walaupun dalam hati mereka menganggap sikap Siau Po angin-anginan, Kadangkadang mereka tidak mengerti jalan pikiran anak muda itu.
Pada keesokan harinya mereka mulai menggali terowongan, Selama itu peperangan masih berlangsung.
Prajurit Siau Po masih belum berhasil menemukan titik kelemahan lawan, Korban yang jatuh semakin banyak, Apalagi setelah Tolbusin mendengar selentingan bahwa pihak Kerajaan Ceng sedang menggali jalan di bawah tanah.
Diamdiam dia meletakkan beberapa bom di sana sehingga ratusan anak buah Siau Po mati seketika.
Siau Po semakin kesal, Kepalanya terasa hendak pecah memikirkan jalan untuk memenangkan peperangan ini.
sedangkan cuaca semakin hari semakin dingin.
wilayah ini merupakan wilayah paling dingin di utara, Begitu masuk musim gugur saja, angin sudah terasa menggigilkan, apalagi musim salju di penghujung tahun.
Setiap air yang menetes segera berubah menjadi es.
Hidung dan telinga terasa akan copot dari tempatnya, Kaki dan tangan membeku.
para sukarelawan yang membantu prajurit Kerajaan Ceng merasa tidak tahan lagi, Mereka mengatakan bahwa mereka ingin memohon diri untuk kembali ke tempat masing-masing.
Sampai tahun depan musim semi mereka baru datang lagi untuk memberikan bantuan, Lung Pu Suk dan Pa Hai pernah tinggal lama di daerah utara, Mereka tahu bagaimana dinginnya cuaca di musim salju, Tidak mengherankan apabila sebagian prajurit bisa mati kedinginan Apalagi mereka tidur di dalam tenda.
Berbeda dengan serdadu Lo Sat yang tinggal di dalam rumah.
Tembok rumah lebih lama menyerap hawa dingin daripada tenda yang terbuat dari kain terpal.
Akhirnya Siau Po mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sementara, Mereka harus menemukan cara yang lebih efisien untuk mengalahkan Bangsa Lo Sat.
Ketika serdadu Lo Sat melihat prajurit Kerajaan Ceng mengundurkan diri, mereka menganggap lawannya sudah keok.
Mereka bersorak dan bertepuk tangan keras-keras, bahkan ada sebagian yang naik ke atas tembok kota dan membuka celananya serta seenaknya membuang air kecil.
Tentu saja Siau Po mendongkol sekali, Tangannya menunjuk ke arah tembok kota dan memaki-maki, Salah seorang prajuritnya berkata.
"Serdadu-serdadu Lo Sat seperti binatang liar, Thayswe tidak usah memperdulikan mereka."
"Tidak bisa! Kekalahan kita terlalu memalukan!"
Teriaknya, Kemudian dia menyuruh anak buahnya membawakan selang air yang besar.
Selang air itu gunanya untuk memadamkan kebakaran Dalam peperangan mereka selalu menyediakannya, sebab ada kemungkinan tenda-tenda mereka dibakar musuh atau kejadian lainnya yang tidak terduga-duga, Para prajurit Kerajaan Ceng membawakan belasan selang air yang besar Namun benda-benda itu tidak ada gunanya karena tidak dapat menyedot air.
Bukannya tidak bisa tapi air sungai telah membeku menjadi es.
Sekali lagi Siau Po menyuruh anak buahnya menyediakan kuali raksasa.
Mereka segera menyalakan api dan memasak es dari salju sehingga mencair Setelah itu air panas dituang ke dalam sebuah corong yang mengalir ke dalam selang, Siau Po membuka celananya lalu mengencingi air panas tersebut.
"Semburkan ke arah kota!"
Perintahnya.
Para prajurit tahu bahwa Siau Po telah mendapatkan akal yang jitu untuk membalas hinaan pihak Lo Sat, Tanpa disuruh lagi mereka segera turun tangan membantu Ada yang memasak es, ada yang menuangkannya ke dalam selang dan sisanya menyemprotkan air panas itu ke arah kota, Beberapa diantaranya malah berseru.
"Wi Thayswe mempersembahkan sirop air seni untuk diminum serdadu Lo Sat!"
Begitu air panas menyemprot ke dalam kota, para serdadu Lo Sat segera menghindarkan diri sambil mencaci maki.
--Anak muda ini benar-benar iseng!
--pikir beberapa komandan pasukan Namun ada sebagian pula yang ingin mengambil hati panglima besarnya sehingga bertepuk tangan menyerukan pujian.
Sayangnya cuaca terlalu dingin, air yang dimasukkan ke dalam selang pun sebentar saja sudah membeku jadi es.
Para prajurit Kerajaan Ceng terpaksa menggodoknya kembali.
Siau Po merasa bangga sekali akan hasil pemikirannya, Dia memuji dirinya sendiri.
"Cu Kek Liang menggunakan api membakar seluruh Pan Coa Kok, aku Wi menggunakan air seni menyembur Gunung Lu Ting San. Sungguh suatu kebanggaan yang tidak terkirakan!"
Serunya. Seorang prajurit yang berdiri di sampingnya segera menukas.
"Wi Thayswe menggunakan air seninya untuk menenggelamkan semangat Bangsa Lo Sat!"
Siau Po tertegun sejenak mendengar ucapan orang itu. Suatu pernikiran kembali melintas dalam benaknya. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.
"Bagus sekali! Bagus sekali!"
Serunya sambil melonjak-lonjak kegirangan.
Siau Po memerintahkan anak buahnya memukul tambur sebagai tanda bahwa dia ingin segera bertemu dengan wakil-wakiInya.
Setelah mereka berkumpul, Siau Po bertanya.
"Berapa banyak selang air yang kita miliki?"
Salah seorang komandan yang menangani bagian perbekalan muncul dan menjawab.
"Jumlah seluruhnya ada delapan belas buah."
Siau Po mengerutkan keningnya.
"Kurang, masih kurang banyak! Mengapa tidak membawa lebih banyak?"
Komandan itu tidak menjawab, namun dalam hatinya dia berkata, --jarang sekali terjadi kebakaran dalam peperangan Kalaupun ada delapan belas buah selang sudah cukup untuk memadamkan api, -"Aku menginginkan seribu buah selang, Cepat sebar orang untuk membelinya di desa-desa terdekat Kira-kira kapan semuanya bisa tersedia?"
Tanya Siau Po pula.
Wilayah itu merupakan perbatasan utara, Tempatnya luas namun penduduknya sedikit Desa atau kota yang terdekat saja jaraknya mencapai seratus li.
Setiap desa atau kota hanya dihuni oleh ratusan keluarga, Kehidupan mereka sulit sekali, belum tentu mereka mempunyai selang air yang besar, Bila menginginkan seribu selang besar dalam waktu yang singkat siapa pun tidak ada yang berani menjanjikannya.
Komandan itu menampakkan tampang serba salah.
"Harap Thayswe ketahui, di dalam perbatasan jarang ada yang menjual selang besar, jumlahnya tidak mungkin mencapai demikian banyak. Kalau di luar perbatasan kemungkinannya lebih besar, misalnya di Tian Cin atau Pe King, Kita harus menyuruh orang pergi memesannya dan minta dikirim ke mari secepat nya."
Siau Po marah sekali.
"Kentut busuk! Berangkat ke Pe King atau Thian Cin hanya untuk memesan selang besar? Kau kira berapa lama waktu yang diperlukan? Untuk urusan perang, terlambat setengah jam pun tidak boleh!"
Teriaknya keras-keras.
Komandan itu mengiakan berkali-kali, wajahnya berubah murung seketika, Dalam hati dia berpikir.
--Celaka!
Kemungkinan batok kepalaku ini tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi.
-Salah seorang prajurit yang duduk di dekatnya mencoba memberikan saran kepada Siau Po.
"Thayswe, air senimu yang berharga sudah menyebar di tempat Bangsa Lo Sat Yang penting mutu-nya, bukan banyaknya, Menurut pandangan saudaramu yang dangkal ini, lebih baik kita hentikan saja semburan ini, toh kita sudah menunjukkan keangkeran kita!"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa! Tanpa seribu selang besar, urusan yang besar ini tidak akan dapat diselesaikan!"
Dalam hati komandan tadi berpikir.
-Panglima yang satu ini benar-benar pengacau!
Urusan rasa kesal yang disebabkan air seni saja harus diperpanjang sedemikian rupa.
Toh semua ini tadinya hanya gurauan dan tidak akan melukai siapa pun, apa untungnya?
Raja yang masih muda pasti senang menggunakan tenaga panglima yang muda pula, Hubungan mereka atasan dan bawahan begitu dekat, siapa yang berani banyak mulut?
Tapi kalau permainannya sudah mencapai batas yang keterlaluan toh kita sendiri yang akan menjadi bahan tertawaan orang-orang sedunia!
-Baru saja dia akan menasehati Siau Po sekali lagi, tiba-tiba terdengar anak muda itu bertanya.
"Saudara-saudara sekalian, siapakah diantara kalian yang dapat menemukan cara terbaik untuk mendatangkan selang besar secepatnya? Kalau bisa mendapatkannya, maka akan menjadi jasa yang tidak terkatakan besarnya."
"Mohon bertanya kepada Thayswe, apakah... apakah seribu selang besar ini... akan digunakan untuk menyemprotkan air seni ke dalam kota?"
Tanya Peng Cun. Siau Po tertawa.
"Kalau kita sudah memiliki seribu selang besar dan akan kita gunakan untuk menyemprotkan air kencing ke dalam kota, coba aku ingin tahu, dari mana kita menemukan orang yang bisa buang air seni sebanyak itu?"
"Memang benar, Hamba sungguh bodoh, Biar semua prajurit membuang air kecil sepanjang hari, jumlahnya juga tidak akan cukup untuk mengisi seribu selang, Hamba mohon petunjuk dari Thayswe,"
Sahut Peng Cun.
"Tadi aku melihat air seniku yang berharga telah menyemprot ke dalam tembok kota dan dalam sekejap mata saja sudah membeku menjadi salju, Nah, kalau kita menggunakan seribu selang lebih untuk menyemprotkan air ke dalam tembok kota itu selama beberapa hari beberapa malam, apa yang akan terjadi?"
Tanya Siau Po.
Para prajurit tertegun sejenak, orang yang otaknya lebih encer segera bersorak gembira, kemudian yang lainnya juga ikut mengerti.
Dari dalam tenda besar terdengar seruan-seruan yang memekakkan telinga.
"Siasat yang bagus! Strategi yang jitu! Air memenuhi kota Ya Ke Lung! Salju membeku di gunung Li Ting San!"
Demikian teriak mereka. Beberapa saat kemudian, seruan mereka baru mereda, terdengar ada seseorang yang berkata.
"Walaupun harus ke Kotaraja atau Tian Cin, kita tetap harus mengusahakan seribu selang besar itu!"
Bahkan ada beberapa komandan pasukan yang memberanikan diri memohon surat ijin agar mereka dapat segera berangkat mencari selang besar tersebut.
Kedudukan Ang Cao tidak begitu tinggi.
Sejak tadi dia berdiri di bagian belakang dan mendengarkan saja percakapan Siau Po dengan anak buahnya, Pada saat itu dia membungkukkan tubuhnya dan berkata.
"Lapor Thayswe, hamba mempunyai sebuah pandangan yang dangkal, bolehkah hamba mengungkapkannya?"
"Katakanlah!"
Sahut Siau Po.
"Begini, hamba adalah orang dari propinsi Hok-kian, Kampung halaman hamba itu merupakan daerah yang miskin, maka kami tidak sanggup membeli selang air. Apabila terjadi kebakaran di desa kami, para penduduk menggunakan pompa air dari bambu yang besar untuk memadamkan api, Kami membuatnya sendiri dengan menggunakan bahan bambu dan kayu. Dari sebelah atas dibuka sebuah liang kecil untuk memasukkan air, sedangkan kayu yang panjang kita gunakan untuk mendorong air sehingga menyembur ke luar,"
Kata Ang Cao menjelaskan. Siau Po menganggukkan kepalanya beberapa kali, Kemudian dia merenungkan cara pemakaian pompa air itu.
"Harap Thayswe ketahui, bentuk pompa air ini bisa kecil namun bisa besar juga,"
Kata Ho Yu.
"Ketika kecil hamba sering bermain dengan teman-teman, kami menggunakan pompa air semacam itu untuk menyemprot lawan, Memang menyenangkan juga. sayangnya daerah ini tidak banyak batang bambu yang besar Untuk membuat pompa air yang besar, mau tidak mau kita juga harus mencari bambunya di seberang sungai."
"Apakah kau mempunyai jalan keluar yang lebih baik?"
Tanya Siau Po kepada Ang Cao.
"Hamba rasa bambu besar memang sulit ditemukan di daerah ini. Namun pohon siong dan lainnya banyak, Kita dapat menebang batang pohon itu lalu bagian tengahnya kita lubangi untuk dijadikan pompa air besar,"
Sahut Ang Cao.
"Untuk melubangi batang pohon Siong rasanya juga tidak begitu mudah, bukan?"
Kata Siau Po. Salah seorang wakil komandan pasukan Siau Po merupakan keturunan tukang kayu, dia segera menyatakan pendapatnya.
"Lapor Thayswe, pekerjaan itu tidak terlalu sulit dilaksanakan Mula-mula kita belah dulu batang pohon itu menjadi dua bagian lalu masing-masing di-korek sehingga berbentuk setengah lingkaran, lalu kita serut sehingga rata dan terakhir kedua bagian itu kita satukan kembali Dengan demikian di bagian tengahnya sudah terdapat lubang seperti bambu, untuk merapatkan kedua bagian batang pohon itu kita pantek saja dengan paku besar."
Siau Po gembira sekali mendengarnya.
"Bagus! Untuk membuat sebuah pompa air sebesar itu, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan?"
"Kalau hamba turun tangan sendiri, satu hari rasanya bisa menyelesaikan satu buah, Apabila ditambah dengan kerja malam, mungkin satu hari bisa menyelesaikan dua buah,"
Sahut orang tadi, Siau Po mengerutkan keningnya.
"Terlalu lambat. Kau harus pergi ke setiap tenda dan mencari orang yang mengerti pertukangan. Kau jadi mandornya, dalam waktu sesingkat mungkin kau harus mengajarkan mereka cara membuatnya, Pompa air ini merupakan barang kasar, bukan bahan untuk membangun rumah seorang hartawan atau bahan untuk peti mati seorang pembesar. Kulit luar batang pohon itu juga tidak perlu dikelupas, pokoknya harus bisa menghemat waktu, tidak penting bagusnya, asal dapat digunakan secepatnya. sekarang juga kau mencari tenaga untuk membuat pompa air sebanyak mungkin!"
Perintahnya.
Prajurit itu mengiakan, lalu segera mencari orang untuk pergi menebang batang pohon, Beberapa puluh di antaranya mendapat tugas mendatangi rumah penduduk untuk meminjam berbagai alat pertukangan.
Daerah luar perbatasan penuh dengan pohon Siong, malah di sepanjang tepi sungai merupakan hutan yang luas, Selama ratusan tahun penduduk di sekitar daerah itu tidak pernah mengeluh kekurangan kayu bakar, mungkin saking luasnya hutan tersebut.
Para prajurit segera bekerja, Dalam setengah hari mereka sudah berhasil menebang ribuan batang pohon, Ada ratusan prajurit yang tadinya memang tukang kayu, Wakil Komandan mereka mengumpulkan orang-orang itu menjadi satu.
Setelah itu dia mencari lagi empat lima ratus orang untuk membantu, Selama beberapa hari beberapa malam mereka bekerja tanpa mengenal waktu untuk menyelesaikan pompa air yang besar itu.
sedangkan jumlah yang diperlukan juga banyak sekali, jadi mereka agak kewalahan juga.
Begitu selesai satu, Siau Po menyuruh anak buahnya mengadakan percobaan, Pompa air itu diisi dengan air panas, enam orang mendorongnya, Ternyata air panas itu bisa menyembur sampai sejauh dua ratusan depa.
Melihat hasil percobaan itu, Siau Po tidak henti-hentinya memuji.
"lni sih bukan pompa air, lebih cocok dinamakan meriam air. Tapi seharusnya kita mencari nama yang lebih bagus lagi seperti.,., Pek.Liong Cui Pao (Meriam air Naga Putih),"
Katanya seakan untuk dirinya sendiri.
Kemudian dia mengeluarkan uang perak untuk diberikan kepada Wakil Komandan dan rekan-rekannya, lalu memerintahkan mereka agar bekerja lebih giat lagi.
Tolbusin melihat para prajurit Kerajaan Ceng yang sudah mundur, sekarang balik kembali.
Namun mereka berdiri di kejauhan dan memandang ke arah tembok kota, Dengan alat teropongnya dia juga melihat musuhnya mengumpulkan batang pohon dalam jumlah yang banyak sekali, Dalam hati dia berpikir.
--Bangsa Cina yang bodoh itu menebangi batang pohon, mungkin untuk menghangatkan tubuh, Kalau melihat caranya, tampaknya mereka tidak akan meninggalkan tempat ini dengan segera.
Hm, lewat setengah bulan lagi, kalian akan mendapat kese-nangan.
Biarpun api yang lebih besar lagi, tetap saja tidak bisa mengalahkan hawa dingin seperti di neraka ini.
Dia menyuruh anak buahnya menambah kayu di tungku perapian, setelah itu menuangkan secawan arak Lo Sat dan meminta dua orang gadis Cina yang didatangkan dari dalam perbatasan untuk menemaninya.
Bagian 92 Peng Cun, Ho Yu membawa sejumlah prajurit untuk membantu penduduk mendatangkan lebih banyak lagi alat pertukangan ke tenda mereka.
Dalam waktu beberapa hari, meriam air yang diperlukan sudah selesai.
Siau Po segera memerintahkan agar meriam-meriam air itu diangkut ke atas bukit, dan moncongnya diarahkan ke tembok kota.
Para prajurit bersorak-sorai, Meriam ditembakkan sebanyak tiga kali sebagai tanda perang akan dimulai.
Kuali besar juga sudah disiapkan, bongkahan salju dimasukkan ke dalam kuali panas dan dididihkan, Setelah itu mereka menggunakan tong untuk menuangkannya ke dalam meriam air itu.
Saat itu Tolbusin sedang tertidur lelap di balik selimutnya yang tebal, Tiba-tiba dia mendengar suara meriam ditembakkan, Cepat-cepat dia melompat bangun dan secepat kilat pula mengenakan pakaiannya, dia berlari ke luar untuk melongok lewat tembok kota.
Ketika itu angin bertiup dengan kencang dan langit gelap, Dalam remangremangnya cuaca dian melihat para prajurit Kerajaan Ceng sedang meng-isikan sesuatu ke dalam batang pohon, Maka hatinya bertanya-tanya, Tiba-tiba terdengar seruan para prajurit itu disusul dengan semprotan air dari beribu-ribu batang pohon.
Tolbusin terkejut setengah mati.
"Aduh!"
Jeritnya keras-keras, sekumpulan air panas menyembur ke arah dadanya, walaupun cuaca sangat dingin dan air panas yang mencapai tubuhnya hanya terasa suam-suam kuku, namun derasnya air membuat tubuhnya terpelanting ke belakang.
Beberapa serdadu yang berdiri di dekatnya cepat-cepat membangunkan panglima itu, namun dalam waktu yang bersamaan mereka juga memekik terkejut.
Pancuran air yang jumlahnya tidak terkirakan menyemprot ke arah mereka.
Dalam sekejap mata seluruh kota Ya Ke Lung penuh dengan uap putih, hal ini disebabkan hawa air hangat yang mengenai salju di atas tanah.
Hati Tolbusin menjadi panik melihatnya.
"Bangsa Cina yang bodoh kembali menggunakan ilmu sihir!"
Teriaknya histeris. Dari dalam batang pohon tahu-tahu bisa menyemprotkan air, tentu saja mereka menganggapnya sebagai ilmu sihir, Dengan gugup dia berkata pula.
"Cepat tembak! jangan sampai Bangsa Cina yang bodoh itu memanjat ke atas tembok kota!"
Sejak hari itu dia ditelanjangi anak buahnya dan diarak kembali ke kota, wibawanya sudah jatuh, Serdadunya tidak terlalu memperdulikan perintahnya lagi, Mereka meninjau situasi yang sedang dihadapi.
Kalau membahayakan jiwa, mereka memilih tidak menuruti perintah panglimanya, sedangkan saat ini mereka melihat pancuran air yang tidak henti-hentinya menyembur ke dalam kota, setiap orang berusaha menghindarkan diri, siapa yang kerajinan menuruti perintah Tolbusin.
Para laki-laki Cina yang ada di dalam kota Ya Ke Lung sejak semula sudah dibunuh oleh anak buah Tolbusin, Yang tersisa hanya beberapa perempuan yang masih muda, Mereka dipaksa menjadi gundik para pembesar Lo Sat.
Bagi yang tidak mau akan dihukum mati juga, Jadi, dalam kota itu sekarang hampir seluruhnya merupakan Bangsa Lo Sat.
Ketika terjadi keributan, mereka berbondongbondong ke luar untuk melihat apa yang terjadi otomatis mereka pun terkena semprotan air dari meriam batang pohon yang dilancarkan prajurit Siau Po.
Tubuh mereka dari kepala sampai ke kaki basah seketika, Mula-mula airnya memang terasa hangat di badan, namun karena dinginnya cuaca, sebentar saja pakaian mereka sudah berlapis es.
Bangsa Lo Sat terkejut setengah mati.
Cepat-cepat mereka membuka seluruh pakaian dan sepatu, Mereka sadar apabila hal ini tidak cepat dilakukan, maka dengan bertambah dinginnya cuaca, pakaian serta sepatu mereka akan membeku menjadi es.
Saat itu apabila mereka ingin melepasnya, pasti sudah sulit sekali, namun kalau dibiarkan akan lebih berbahaya, Bayangkan tubuh yang ditutupi pakaian dari es.
Dalam waktu beberapa jam saja mereka akan mati membeku.
Suasana di dalam kota Ya Ke Lung jadi kacau balau, Suara jeritan dan tangisan membaur menjadi satu.
Air yang menyembur di atas tanah sebentar saja sudah menggumpal seperti bubur, Kaki Bangsa Lo Sat yang telanjang menginjak di atasnya, dinginnya jangan ditanyakan lagi.
Suara jeritan semakin menjadi-jadi.
Mereka berdesak-desakan untuk memanjat ke tempat yang lebih tinggi, bahkan sebagian di antaranya naik ke atas genteng.
Tolbusin mengenakan mantel yang terbuat dari kulit harimau, tangannya membawa sebuah payung besar, Dia kembali ke arena untuk melihat perkembangan.
Tiba-tiba dia mendengar salah seorang serdadunya berseru.
"Lebih baik kita menyerah saja!"
Tolbusin marah sekali.
"Siapa yang berani mengacau di sini? Seret dia ke luar dan penggal kepalanya!"
Bentaknya garang.
Para serdadunya melihat Tolbusin mengenakan mantel kulit yang tidak dapat merembes air.
Pasti tubuhnya hangat sekali, Dan sekarang dia berdiri sambil bertolak pinggang dan marah-marah.
Tentu saja anak buahnya merasa tidak puas, Salah satu di antaranya mengambil sebongkah es batu dan dilemparkannya ke arah sang Panglima.
Tolbusin marah sekali, lalu mencabut pistol pendeknya dan Banggg!!
Dada orang itu tertembak dan mati seketika, sekarang giliran serdadunya yang berang, Beramai-ramai mereka memunguti bongkahan salju dan ditimpukkan ke arah panglimanya, Bahkan ada beberapa di antaranya yang menerjang ke arah Tolbusin hingga orang itu jatuh bergulingan di atas hamparan salju.
Di saat ribut-ribut itu, sepasukan serdadu lainnya muncul dari dalam kota, Serdadu yang mula-mula menerjang TuIbosin takut akan timbul keonaran di antara orang sendiri, maka terpaksa mereka melepaskan sang panglima, Baru saja TuIbosin berusaha bangkit dari hamparan salju, dua semburan air yang keras mengenai kepalanya sehingga dia kebasahan juga, Kakinya mencak-mencak, air yang mengalir lewat kerah mantelnya membasahi tubuhnya sehingga dia merasa kedinginan.
Dalam keadaan demikian terpaksa dia meminta anak buahnya untuk melepaskan pakaian dan sepatunya.
Prajurit Kerajaan Ceng yang melihat kepanikan serdadu Lo Sat tentu saja merasa senang sekali, Ada yang bertepuk tangan keras-keras, ada yang bersuit sambil menarinari, ada yang menyanyikan lagu macam-macam, bahkan ada yang menyenandungkan lagu "Raba sana raba sini"
Gubahan Siau Po.
Peng Cun dan yang lainnya bertambah sibuk, Bongkahan salju yang diambil semakin banyak.
Api terus membara di bawah kuali, dan air panas yang disemprotkan ke arah tembok kota pun semakin meluap.
Siapa pun tidak menyangka kedahsyatan meriam air yang dilancarkan Siau Po.
Serdadu Lo Sat kehilangan kendali Masih ada sebagian yang bisa berpikir panjang, mereka mengeluarkan meriam untuk balas menembak, namun hal ini tidak berlangsung lama.
Air yang menyembur mengenai moncong meriam, dalam sekejap juga membeku menjadi es.
Meriam-meriam itu malah menjadi barang rongsokan yang tidak terpakai.
Atap rumah, jendela dan bagian lainnya yang terkena guyuran air juga langsung membeku Cuaca di dalam kota itu semakin dingin, pakaian kering yang disimpan untuk salin menyerap hawa dingin sehingga tidak dapat dikenakan.
Bahkan lantai didalam rumah pun tidak luput dari genangan air yang akhirnya membeku menjadi salju pula, Ke-adaan di dalam kota itu hampir tidak terkendalikan lagi, Siau Po senang sekali melihatnya.
Dia bermaksud menyuruh anak buahnya untuk mempergencar serangan, namun tiba-tiba melihat bongkahan salju di permukaan sungai tinggal sedikit, paling-paling untuk mengisi puluhan meriam batang pohon lagi, Hatinya menjadi kecewa seketika, dan wajahnya pun berubah murung, Dia benar-benar tidak tahu cara apa lagi yang harus ditempuh apabila serangan kali ini gagal.
Namun justru di saat itulah pintu gerbang utama kota terpentang lebar, ratusan serdadu berhamburan ke luar sambil berteriak.
"Menyerah! Kami menyerah!"
Luka di kepala Lung Pu Suk seperti sembuh setengahnya begitu mendengar suara itu.
Dia segera memerintahkan seribu prajurit dari pasukan berkudanya untuk maju ke depan menghampiri para serdadu yang menyerahkan diri itu.
"Yang menyerah duduk di atas tanah!"
Teriaknya lantang. Serdadu Lo Sat tidak mengerti apa yang dikatakannya Mereka saling memandang dengan rekan-rekannya, Seorang prajurit Kerajaan Ceng menunjuk ke atas tanah dan berkata.
"Duduk! Duduk!"
Tepat pada saat itulah pintu gerbang kota dirapatkan kembali Dari atas tembok muncul beberapa moncong meriam dan ditembakkan ke bawah sehingga puluhan serdadu Lo Sat mati seketika terkena ledakannya.
Prajurit Kerajaan Ceng membidikkan meriam air ke arah atas tembok kota.
Begitu serdadu Lo Sat menembakkan meriam, mereka juga menyemprotkan air dalam waktu yang bersamaan Meriam yang meluncur ke depan langsung terpental membalik oleh kencangnya semburan air, jatuhnya tepat di atas tembok tempat para serdadu Lo Sat sedang mengintai Blammm!
Terdengar suara dentuman meriam disusul dengan jeritan yang menyayat hati, Serdadu Lo Sat yang ada di atas tembok mati dengan tubuh hancur akibat "Senjata yang makan tuan.
Siau Po bertepuk tangan keras-keras, Dia tidak menyangka semburan air yang kuat dapat membalikkan meriam yang sedang meluncur, semangatnya terbangkit kembali Keyakinannya juga semakin bertambah.
Tulbosin membentak dengan suara keras, dia menyuruh anak buahnya yang lain menggantikan kedudukan serdadu-serdadu yang mati, Tapi anak buahnya malah memalingkan kepala, tidak ada seorang pun yang menuruti perintahnya.
Tulbosin marah sekali, dia mengulurkan tangannya untuk memukul salah seorang serdadu yang ada di dekatnya, Serdadu itu menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindar, Tentunya Tulbosin tidak sudi melepaskan orang itu begitu saja, dia langsung mengejarnya.
Tapi apa mau dikata, tiba-tiba kakinya tergelincir dan jatuh terpeleset, ini yang dinamakan "Sudah jatuh tertimpa tangga pula, Seorang serdadunya yang lain cepatcepat mendorong Tulbosin sehingga dia terjatuh ke dalam sebuah lubang yang tadinya digunakan untuk menempatkan meriam.
Tulbosin berusaha memanjat ke atas, tapi salju yang terdapat di sekeliling liang itu licin sekali, Berkali-kali Tulbosin mencoba, namun berkali-kali pula dia terperosok lagi.
"Tolong aku! Tolong aku!"
Serunya, sementara itu, air yang deras masih menyembur ke dalam kota, Lubang tempat Tulbosin terperosok pun tergenang air, Tulbosin semakin kelabakan, sedangkan para serdadunya malah berkerumun untuk melihat keadaannya yang mengenaskan.
Air yang menggenang di dalam lubang perlahan-lahan membeku menjadi salju, TuIbosin berusaha meronta, namun tidak ada gunanya, Sesaat kemudian, setengah tubuhnya sudah tertimpa salju.
Sementara itu, tampaknya para serdadu Lo Sat sudah bersatu hati, Mereka membuka pintu gerbang lalu berhamburan ke luar sambil berseru.
"Menyerah!"
Karena perasaan hatinya yang terlampau gembira, Siau Po sampai melompat turun dari kudanya, lalu menari-nari.
Mulutnya mengoceh macam-macam, namun tidak ada seorang prajurit mengerti apa yang diperintahkannya, Untung masih ada beberapa Komandan lain yang sudah berpengalaman dalam peperangan.
Dia segera mengambil alih tugas Siau Po.
Serdadu Lo Sat yang menyerah segera dikumpulkan menjadi satu, Kemudian dia memerintahkan ratusan anak buahnya agar masuk ke kota untuk mengambil benda-benda yang bermanfaat bagi mereka.
Dalam keadaan seperti ini, otomatis Siau Po, So Ngo Ta dan beberapa pembesar lainnya juga mendapatkan banyak rejeki, sebagian harta benda yang tidak terkirakan nilainya dibawa ke hadapan Siau Po.
Pihak mereka sudah berhasil memenangkan perang kali ini.
Malam harinya diadakan perjamuan besar-besaran, sebagian besar prajurit Kerajaan Ceng masih bekerja keras, Kalau tadi mereka membekukan Kota Ya Ke Lung, sekarang mereka justru mencairkan esnya agar mengalir kembali ke dalam sungai, pekerjaan ini pun bukan pekerjaan yang mudah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukannya sedikit demi sedikit.
So Ngo Ta dan lainnya memberikan pujian kepada Siau Po.
Mereka mengatakan belum pernah ada peperangan yang berhasil segemilang ini dari jaman dulu.
Salah seorang utusan kaisar yang kebetulan masih ada di sana berkata.
"Ketika hamba berangkat dari Kotaraja, Sri Baginda menyuruh hamba melihat perkembangan yang sedang berlangsung, Beliau juga meminta hamba menyampaikan kepada Wi Thayswe agar jangan terlalu banyak melakukan pembunuhan. Ternyata hari ini Wi Thayswe benar-benar berhasil dengan gemilang, Yang mengagumkan justru tidak adanya korban yang jatuh di pihak kita, walaupun lawan menggunakan senjata api yang dahsyat. Sejak jaman dulu, mungkin hanya Wi Thayswe seorang yang sanggup melakukan nya. Bahkan kelak di kemudian hari belum tentu ada orang yang sanggup menyamai Wi Thayswe."
Siau Po merasa bangga sekali, dan sifat membualnya kumat lagi.
"Untuk menghancurkan sebuah kota seperti Ya Ke Lung sebetulnya juga bukan urusan yang sulit Satu-satunya kesulitan yang kita temui justru terletak pada sikap Sri Baginda yang pemaaf, Beliau tidak ingin banyak orang menjadi korban walaupun yang dimaksud itu musuh negaranya sendiri itulah sebabnya aku menunggu sampai hari ini baru mengeluarkan strategi yang satu ini. Maksudnya untuk membuktikan kebaikan Sri Baginda, Kita semua bekerja untuk Sri Baginda, melakukan peperangan tanpa perduli berapa banyak korban pun yang jatuh merupakan urusan yang mudah sekali Tapi bila ingin memenuhi firman kaisar yakni menang dalam perang tanpa jatuh korban, ini memang agak sulit sedikit."
Tentu saja para prajurit tahu bahwa anak muda ini sedang membual, namun untuk memenangkan perang tanpa jatuh korban dari pihak sendiri mereka mengakui memang bukan hal yang mudah.
"Hal ini merupakan rejeki dari Sri Baginda dan bakat ajaib dari Wi Thayswe,"
Kata So Ngo Ta.
"Dalam peperangan kali ini, dari yang pangkatnya tinggi sampai rendah, semuanya telah mendirikan jasa yang besar Kalau bukan nasib baik yang dibawa oleh utusan kaisar dan So Tayjin, kita juga tidak mungkin memenangkan peperangan ini,"
Sahut Siau Po.
Tentu saja utusan Kaisar dan So Ngo Ta senang sekali mendengar kata-katanya.
Mereka merasa terharu atas kebaikan hati Siau Po.
Padahal, ketika perang berlangsung mereka berdua selalu menyembunyikan diri jauh-jauh.
Kedua-duanya takut terkena sasaran tembakan atau pun ledakan meriam, Apa hubungannya dengan "nasib baik"
Yang dikatakan Siau Po?
Tapi dengan ucapan Siau Po barusan, berarti mereka berdua juga ikut mendirikan jasa besar dalam peperangan kali ini.
Hadiah bagi yang berjasa dalam perang paling banyak dibandingkan hadiah untuk jasa lainnya.
Siau Po paling pandai melihat situasi Membagi jasa kepada utusan kaisar ini tidak akan merugikan dirinya, malah sebaliknya akan mendatangkan keuntungan baginya.
Sekembalinya utusan ini ke Kota-raja, dia pati akan membual tentang dirinya setinggi langit di hadapan Sri Baginda, Taruhlah jasanya hanya lima bagian juga akan dikatakan sebanyak sepuluh bagian.
Kalaupun ada sedikit kesalahan yang pernah dilakukannya, baik sang utusan maupun So Ngo Ta pasti akan ditutupinya, Mereka akan menutup mulut rapat-rapat.
Mereka makan minum dengan lahap, Seorang prajurit datang melaporkan bahwa mereka mendapat kisikan dari serdadu Lo Sat yang menyerah bahwa mereka telah mengeluarkan tubuh Tolbusin, Saat itu sang panglima sudah mati beku, Seluruh tubuhnya berubah menjadi kehijau-hijauan.
"Ketika masih bayi, orang ini diberi nama yang salah, Dia tidak boleh menggunakan nama Tolbusin (Sin merupakan terjemahan dari Cing yang artinya hijau), seharusnya dia bernama Tolbucai (Cai = rejeki) agar rejekinya banyak dan panjang umur, Kalau begitu dia tidak perlu menjadi hijau, malah menjadi kaya,"
Kata Siau Po sembari menarik nafas panjang, Kemudian dia memerintahkan anak buahnya untuk pergi membeli peti mati guna pemakaman jenasah ToIbusin.
Setelah menyelesaikan berbagai hal yang diperlukan Siau Po mengutus So Ngo Ta bersama utusan kaisar segera memacu kuda mereka kembali ke Kota-raja memberikan laporan kepada Kaisar Kong Hi.
Malam harinya Siau Po dan Song Ji bermalam di rumah yang tadinya ditempati oleh Gubernur setempat Tungku api membara, selimut dari kulit harimau menutupi tubuh.
suasananya romantis sekali.
Tempat ini merupakan tempat nostalgia bagi Siau Po.
Ketika dia membuka sebuah peti yang terdapat di samping tempat tidur, isinya ternyata baju seragam serta senapan api.
Song Ji tersenyum.
"Apakah Siangkong berharap dari dalam peti keluar seorang ratu negara Lo Sat?"
Tanyanya menggoda. Siau Po tertawa.
"Kau kan Tuan Puteri dari Tiongkok, jauh lebih baik daripada seorang ratu dari Negara Lo Sat,"
Sahutnya tak mau kalah. Song Ji menjadi geli mendengarnya.
"Sayangnya Puteri Tiongkokmu yang asli masih ada di Peking, bukan di sini,"
Katanya.
"Song Ji ku yang baik, bukankah pekerjaan kita hari ini dapat dikatakan sebuah "
Jasa yang bukan main besarnya"?"
Goda Siau Po.
Wajah Song Ji menjadi merah padam.
Untuk sesaat dia tersenyum tersipu-sipu, Meskipun dia sudah cukup lama menjadi istri Siau Po, namun mendengar godaan suaminya, dia masih merasa jengah.
Siau Po meraih pinggang Song Ji dan diajaknya duduk di tepi tempat tidur.
"Berkat bantuanmu, akhirnya kita berhasil merebut kembali Gunung Lu Ting San. Sri Baginda menganugerahi aku pangkat Lu Ting Kong, Tampaknya wilayah ini akan menjadi kekuasaanku Di dalam gunung ini banyak tersimpan emas permata, Perlahanlahan kita menggalinya, Suatu hari kelak namaku harus diganti menjadi Wi Tuo Po (Wi banyak harta),"
Katanya.
"Siangkong sudah memiliki banyak uang emas maupun perak, Biar digunakan sampai seumur hidup juga masih berlebihan sedemikian banyaknya emas permata juga tidak ada gunanya, Aku rasa sebaiknya Siangkong tetap menjadi Wi Siau Po (Wi yang harta-nya sedikit),"
Sahut Song Ji. Siau Po mengecup pipi Song ji dengan lembut.
"Benar, benar! Selama beberapa hari ini aku terus dicekam keraguan, Kalau hanya menggali harta saja sih tidak apa-apa, Takutnya salah menggali sehingga memutuskan urat nadi naga Bangsa Boan Ciu. Dengan demikian aku telah mencelakai Sri Baginda, Selama ini Sri Baginda selalu memperlakukan diriku dengan baik, Bukanlah suatu perbuatan yang terpuji bila aku malah mencelakakannya. Namun kalau harta itu tidak digali, rasanya sayang juga, Lebih baik begini saja, untuk sementara kita jangan menggali harta karun ini. Apabila suatu hari nanti Sri Baginda sudah wafat, tentunya kita juga sudah jatuh miskin. Sampai saat itu toh masih belum terlambat untuk menggali harta karun ini,"
Katanya pula.
Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba dari dalam peti kemas terdengar suara samarsamar.
Kedua orang itu saling melirik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah peti, Sampai sekian lama tidak terlihat gerakan apa-apa.
Perlahan-lahan Siau Po menepuk tangannya tiga kali, Song Ji keluar untuk memanggil ke empat penjaga yang meronda di depan, Siau Po menunjuk ke arah peti dan berkata dengan suara berbisik.
"Di dalam peti ada orang!"
Keempat penjaga itu terkejut setengah mati, Mereka segera membuka tutup peti, tampak di bagian atasnya penuh dengan pakaian seragam, Siau Po memberi isyarat dengan gerakan tangan.
Para penjaga itu mengerti lalu mereka mengangkat pakaian seragam itu satu per satu sampai akhirnya tampak sebuah lubang, Tepat pada saat itulah terdengar suara, Dor!
Moncong sebuah senapan tersembul ke luar.
Salah seorang penjaga yang berada di bagian paling depan menjerit satu kali kemudian roboh terjengkang ke belakang.
Song Ji segera menarik Siau Po lalu berlindung di punggungnya, Siau Po menunjuk ke arah tungku api dan memberikan isyarat kembali dengan tangannya.
Seorang penjaga mengajak rekannya mengangkat tungku api itu lalu dituangkannya ke dalam lubang.
Terdengar seseorang berteriak dengan Bahasa Lo Sat dari dalam lubang tersebut.
"Jangan buang bara api, aku akan menyerah!"
Disusul dengan suara batuk-batuk yang tidak henti-hentinya, Mungkin nafasnya sesak karena asap yang keluar dari bara api.
"Lemparkan dulu senapanmu, lalu merangkaklah ke luar perlahan-lahan!"
Kata Siau Po dengan bahasa Lo Sat.
Dari dalam lubang menyembul ke luar sebuah senapan pendek, kemudian tampak seseorang merangkak ke luar, Seorang penjaga menjambak rambut orang itu lalu menariknya ke atas, sedangkan seorang penjaga yang lain segera melintangkan goloknya di leher orang itu.
Janggut orang itu mengeluarkan asap, tampaknya api yang membakar jenggot itu masih belum padam sehingga dia meraung-raung kesakitan.
"Apakah di bawah sana masih ada orang lain?"
Bentak Siau Po. Terdengar sahutan dari dalam lubang.
"Masih ada satu orang lain lagi! Aku menyerah! Aku menyerah!"
"Lempar ke luar senapanmu!"
Teriak Siau Po.
Tampak sekilas cahaya dari dalam lubang berkelebat sebuah golok dilempar ke luar disusul dengan setumpukan kobaran api yang menyala, Rupanya orang yang satu ini mengalami kebakaran di rambut kepalanya.
Para tentaranya atau prajurit yang berada di depan kamar Siau Po mendengar suara gempar di dalam Mereka segera berhamburan datang untuk melihat kejadian apa yang menimpa Panglima Besar-nya.
Tujuh delapan orang prajurit segera memadamkan api yang membakar rambut dan jenggot kedua orang itu.
Setelah itu kedua tawanan tersebut baru diikat dengan tali kuat-kuat.
Tiba-tiba Siau Po menunjuk kepada salah seorang Bangsa Lo Sat sambil berkata.
"Kau adalah Wang Pat Se Ki (Si Kura-kura Ayam Mampus)!"
Tawanan itu menunjukkan wajah berseri-seri.
"BetuI, betul Pembesar bocah Tiongkok, aku memang bernama Walpatsky!"
Seorang tawanan Lo Sat lainnya juga ikut berseru.
"Pembesar bocah Tiongkok, aku bernama Che-konof!"
Untuk sesaat Siau Po menatap mereka dengan pandangan ragu, jenggot dan rambut mereka terbakar sehingga tidak karuan, sedangkan wajah mereka merah membengkak Namun masih bisa dikenali Karena itu dia tertawa terbahak-bahak.
"Benar, benar, Kau memang Cu Ke Juo Fu (Manusia rendah turunan Babi)!"
Chekonof gembira sekali, dia tidak paham apa arti kata-kata Siau Po dalam bahasa Cinanya.
"Betul pembesar bocah Tiongkok, aku kawan baikmu!"
Walpatsky dan Chekonof merupakan dua orang di antara para siwi Ratu Sophia, Tempo hari mereka berdua mengiringi Siau Po berangkat ke Moskow dari kota Ya Ke Lung.
Ketika terjadi keributan tempo hari, ada empat orang siwi bawahan Ratu Sophia yang telah mendirikan jasa besar sehingga pangkatnya naik menjadi Komandan pasukan Perang.
Di saat terjadi bentrokan kembali dengan pasukan Kerajaan Ceng, keempat orang ini diutus kembali untuk meredakannya, akan tetapi kali ini keadaannya justru terbalik, pihak mereka yang mengalami kekalahan.
Dua di antaranya mengalami musibah, yang satu mati kena ledakan, sedangkan satunya lagi mati kedinginan Sisa dua orang lainnya segera bersembunyi di jalan bawah tanah, mereka berharap dapat melarikan diri ke luar kota.
Tidak disangka-sangka kalau ujung jalan satunya sudah tersumbat, sedangkan ujung sebelah sini merupakan kamar tidur sang Panglima, Mereka jadi mundur salah maju salah, akhirnya malah ketangkap basah.
Tempo hari Siau Po memang memanggil mereka sebagai Wang Pat Se Ki dan Cu Ke Juo Fu, Kedua orang ini tentu saja tidak tahu arti yang sebenarnya, Mereka mengira orang Cina aksennya tidak becus sehingga kata-kata yang diucapkannya agak aneh kedengarannya, itulah sebabnya mereka langsung mengiakan panggilan Siau Po tadi.
Selain itu, mereka sering mendengar Ratu Sophia memanggil Siau Po sebagai "Bocah Tiongkok" , Pada mulanya mereka juga menyebut Siau Po sebagai Bocah Tiongkok, tapi setelah Siau Po mendirikan jasa dan dianugerahi pangkat oleh Ratu Sophia, maka mereka menyebutnya "Pembesar Bocah Tiongkok"
Siau Po menanyakan awal kedatangan mereka, lalu menyuruh para prajurit melepaskan ikatan pada kedua tangan tawanan tersebut, kemudian mengajak mereka ke luar untuk menikmati hidangan yang telah disajikan.
Para prajurit khawatir kalau-kalau di dalam lubang masih terdapat para serdadu Bangsa Lo Sat.
Mereka lalu menyusup masuk untuk mengadakan pemeriksaan.
Akhirnya mereka tahu bahwa lubang itu telah tersumbat di ujungnya sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri.
Komandan para penjaga segera menghadap Siau Po dan memohon pengampunan atas keteledorannya.
Diam-diam dia membayangkan, apabila ada beberapa serdadu Lo Sat yang bersembunyi di dalam lubang itu dan Siau Po serta Song Ji kebetulan tidak memergokinya, lalu kedua suami istri itu terbunuh pada malam harinya, kemungkinan kepalanya sendiri harus dipenggal lima belas kali atas tanggung jawab yang mesti dipikulnya.
Keesokan harinya, Siau Po memanggil Walpatsky dan Chekonof untuk menanyakan keadaan Ratu Sophia, Kedua orang itu mengatakan bahwa Ratu Sophia pandai mengatur politik di negara nya.
Para menteri maupun pembesar setempat tidak ada yang berani membantah apapun yang dikatakannya, sedangkan kedua pangeran lainnya masih kecil-kecil, tentu saja mereka menurut saja apa yang dikatakan oleh kakaknya.
Chekonof tertawa sambil berkata.
"Tuan puteri kami rindu sekali kepada pembesar Bocah Tiongkok, Kami diperintahkan ke mari untuk mencari berita tentang Anda. Apabila kami berhasil bertemu dengan Anda, maka kami harus mengundang Anda untuk bermain-main lagi ke Moskow, Pasti ada hadiah besar yang menanti Anda di sana."
"Tuan Puteri tidak tahu kalau pembesar Bocah Tiongkok yang memimpin peperangan ini, kalau tidak, semuanya toh merupakan sahabat sehati, kawan karib, tentunya peperangan ini tidak perlu dilanjutkan lagi,"
Kata Walpatsky.
"Ah, kalian hanya mengacau, bohong!"
Teriak Siau Po.
Kedua orang segera bersumpah seberat-beratnya, mereka menyatakan bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang sejati dan tidak mengada-ada.
Siau Po berpikir dalam hati.
-Sri Baginda toh menyuruhku mencari jalan agar dapat berdamai dengan negara Lo Sat, Ada baiknya aku meminta kedua orang ini menjadi penengahnya.
Oleh karena itu, dia berkata.
"Aku ingin menulis sepucuk surat, kalian harus menyerahkannya kepada Tuan Puteri. Namun tulisan ceker ayam saja aku tidak bisa, apalagi tulisan Ceng-corang Bangsa Lo Sat. Karena itu aku meminta kalian yang mewakili aku menulisnya."
Untuk sesaat kedua tawanan itu saling memandang sejenak, wajah mereka menunjukkan roman serba salah.
Sejak kecil mereka biasa hidup kasar, setelah dewasa diharuskan berlatih agar dapat diandalkan dalam peperangan.
Mana mereka punya waktu untuk bersekolah?
pada dasarnya kedua tawanan itu tidak berbeda dengan Siau Po.
Mereka juga buta huruf Akhirnya Chekonof mendapat jalan.
"Pembesar Bocah Tiongkok ingin menulis surat cinta, kita tidak akan mengerti menyusun kata-kata-nya. sebaiknya kita undang saja seorang ahli Sastra."
Siau Po menyetujuinya, Dia memerintah beberapa anak buahnya untuk membawa kedua tawanan itu agar dapat mencari seorang ahli sastra di antara serdadu-serdadu Lo Sat yang telah menyerah.
Tidak lama kemudian, kedua tawanan itu kembali lagi dengan membawa seorang laki-laki yang bercambang lebat, Pada waktu itu, Bangsa Lo Sat yang mengerti ilmu surat masih sedikit sekali, Ahli Sastra yang ikut dalam pasukan perang mempunyai tugas untuk memimpin pembacaan doa dan memberi ceramah agar para serdadu tetap terbangun semangatnya.
Selain itu masih ada satu tugas khusus yang harus dilakukannya, yakni mewakili para serdadu menulis surat untuk keluarga masing-masing agar para istri dan anakanak mereka dapat mengetahui keadaan serdadu-serdadu tersebut.
Ahli sastra itu mengenakan seragam serdadu yang kesempitan, Tubuhnya terbungkus ketat bagai bungkus kacang, maka tampak lucu sekali, Dia ketakutan setengah mati ketika mengetahui dua orang tawanan sebangsanya mengajaknya menemui Siau Po.
Dia berkata dengan suara tergagap-gagap.
"Tu... han memberkati panglima Cina, semoga seluruh keluarga Pang.. lima Besar Cina dalam keada... an sehat-se... hat se... lalu!"
Siau Po mempersilahkan orang itu duduk.
"Kau wakili aku menulis sepucuk surat untuk Ratu Sophia kalian,"
Katanya.
Ahli sastra itu segera mengiakan berkali-kali, prajurit Siau Po sudah menyediakan berbagai perlengkapan alat tulis yang diperlukan.
Ahli sastra itu segera mengambil sebatang pit lalu mulai menulis huruf huruf Lo Sat yang mirip Cengcorang berjalan.
Tapi alat tulis yang digunakan Bangsa Cina berlainan dengan yang digunakan Bangsa Lo Sat-Pit yang ujungnya berbulu itu sangat lunak, apabila digunakan untuk menulis, hurufnya jadi tebal tipis tidak karuan.
Namun dia tidak berani berkata apaapa, khawatir ucapannya akan membangkitkan kemarahan panglima Besar Cina itu.
"TuIis begini.
"Sejak perpisahan kita tempo hari, siang dan malam aku selalu merindukan Tuan Puteri. Aku sangat berharap dapat mengambil Tuan Puteri sebagai istriku...."
Kalimat yang dibacakan Siau Po membuat ahli sastra itu bagai disambar petir, Tangannya gemetar, dan pit yang digenggamnya sampai membuat coretan panjang di atas kertas.
Chekonof segera menjelaskan kepada ahli sastra itu.
"Pembesar Bocah Tiongkok ini merupakan buah hati Tuan Puteri kita. Tuan Puteri sangat mencintainya. Beliau sering mengatakan bahwa kekasih Bangsa Cina lebih hebat seratus kali lipat dibandingkan kekasih Bangsa Lo Sat sendiri."
Orang ini ingin mengambil hati Siau Po. itulah sebabnya dia sengaja melebihlebihkan persoalannya. Ahli sastra itu menganggukkan kepalanya ber-kali-kali.
"BetuI, betul. Memang lebih hebat seratus kali lipat, seratus kali lipat!"
Ucapnya berkali-kali pula.
Meskipun demikian, biasanya dia menggunakan kata-kata kelas tinggi untuk menulis surat kepada ratunya, Baru kali ini dia disuruh menulis sepucuk surat cinta, dia tidak tahu bagaimana harus menulisnya sehingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk menulis apa yang dikatakan Siau Po saja.
Ternyata isinya tidak jauh berbeda dengan surat-surat yang dituIiskan para serdadu untuk istri mereka di kampung halaman, Hanya saja kata-kata yang diucapkan Siau Po lebih membuat bulu roma merinding, antara lain.
"Kekasihku tersayang", Tadi malam aku bermimpi bermesraan lagi denganmu".
"Aku menciummu seribu kali dan lainlainnya. Siau Po melihat orang itu menulis dengan cepat sekali, maka hatinya merasa puas sekali.
"Kalian para serdadu Bangsa Lo Sat seenaknya menduduki tanah negara kami, Sri Baginda gusar sekali karena hal ini, itulah sebab aku diutus untuk memimpin pasukan perang guna menggempur kalian, sekarang aku sudah berhasil meringkus sejumlah besar serdadu kalian, Aku akan memotong tubuh mereka sekerat demi sekerat untuk kujadikan Sia-sunik,"
Katanya pula. Ahli sastra itu terkejut setengah mati mendengar kata-kata Siau Po. Tanpa sadar dia berseru.
"Oh,Tuhanku!"
Siau Po tidak memperdulikan orang itu, dia melanjutkan kata-katanya.
"Tapi, karena memandang muka Tuan Putri yang cantik jelita, untuk sementara aku tidak memotong mereka. Namun mereka juga tidak akan kulepaskan begitu saja, sebelum Tuan puteri berjanji kelak tidak akan ada serdadu kalian yang kembali menduduki tanah Tiongkok kami dengan seenaknya sehingga Negara Tiongkok dan Lo Sat akan menjadi sahabat untuk selamanya. Namun kalau kau tidak menurut apa yang kukatakan, aku akan memimpin sejumlah besar pasukan perang menuju Negara Lo Sat dan membunuh semua laki-Iaki yang ada di sana, Dengan demikian tidak tersisa satu pun laki-Iaki di Negara Lo Sat yang dapat menemanimu tidur di malam hari. Kalau kau ingin ada laki-Iaki yang menemanimu tidur, yang tertinggal hanya laki-Iaki Bangsa Tiongkok kami saja."
Diam-diam ahli sastra merasa tidak puas, dia berkata dalam hati, --Kalaupun kau membunuh semua laki-laki Bangsa Lo Sat, yang tertinggal di dunia ini juga bukan hanya laki-Iaki Bangsa Cina saja, Kata-katamu itu benar-benar tidak masuk akal, --Dia juga merasa kata-kata yang kasar itu tidak pantas ditujukan kepada tuan puterinya, Diam-diam dia merubah kalimat itu menjadi beberapa patah kata-kata yang manis.
Dia membayangkan bahwa Siau Po juga tidak akan mengetahui apa yang ditulisnya, Namun watak orang ini sangat teliti, Dia khawatir ada jejak yang tertinggal sehingga rahasianya akan terbongkar Karena itu, beberapa kalimat yang diucapkan Siau Po tadi diubahnya dengan kata-kata yang manis, tapi ditulisnya dalam bahasa Latin, Setelah selesai, wajahnya ber-seri-seri dan bibirnya tersenyum.
Terdengar Siau Po berkata kembali.
"Sekarang aku akan mengutus Wang Pat Se Ki dan Cu Ke Juo Fu untuk membawakan surat ini kepadamu, aku juga mengantarkan beberapa macam hadiah, Kau ingin menjadi kekasihku atau musuhku, keputusannya ada di tanganmu sendiri."
Ahli sastra itu kembali mengganti kata-katanya yang terakhir dengan ungkapan yang lebih halus.
"Menteri kecil dari Cina mengingat budi besar yang telah diberikan oleh Tuan Puteri, Sebagai balas jasanya menteri kecil mengirimkan beberapa macam hadiah, seandainya ada jodoh dalam kehidupan yang akan datang, menteri kecil dengan senang hati menjadi hamba bagi Tuan Puteri, Namun dalam kehidupan ini, menteri kecil mengharap kerukunan kedua negara, Bila seluruh serdadu yang tadinya diperintahkan datang menduduki tanah Cina ditarik kembali, hamba akan semakin mengingat budi besar Tuan Puteri."
Demikian tulis ahli sastra.
Ka limat yang terakhir merupakan ungkapan keegoisan hatinya sendiri.
Dia membayangkan, apabila kedua negara ini tidak bisa didamaikan, maka dia beserta seluruh serdadu Bangsa Lo Sat yang telah menjadi tawanan patsi akan dihukum mati untuk melampiaskan kedongkolan hati si panglima besar ini.
Siau Po menunggu sampai orang itu menyelesaikan suratnya, kemudian baru berkata.
"Sudah, begitu saja, coba bacakan sekali lagi!"
Si Ahli Sastra mengangkat surat itu tinggi-tinggi, lalu langsung membacakan sekali lagi isi surat itu.
Sampai batas yang telah diubahnya, dia tetap membacakan apa yang dikatakan Siau Po.
Bahasa Lo Sat Siau Po memang terbatas, apalagi dia tidak mengerti bahasa surat.
Ketika dia mendengar isinya ternyata tidak banyak berbeda dengan yang dikatakannya, maka hatinya merasa puas.
Dia mana mengira ahli sastra itu berani mati mengubah beberapa bagian dari isi suratnya?
Dia pun menganggukkan kepalanya dengan puas dan memuji.
"Bagus sekali!"
Dia mengambil sebuah cap besar yang tertera nama serta pangkatnya untuk dicapkan di atas sampul sebuah surat.
Dengan demikian, surat yang tidak mirip surat cinta, namun berisi kata-kata mesra, juga tidak mirip surat dinas namun berisi pernyataan per-damaian kedua negara ini pun selesai sudah, Dia sendiri yang memasukkan surat tersebut ke dalam ampIop.
Setelah selesai, Siau Po menyuruh ahli sastra itu ke luar untuk menikmati hidangan yang telah disajikan Kemudian dia memerintahkan seorang ahli sastra Bangsa Ceng untuk merekatkan surat itu serta menulis beberapa kata pengantar di depannya dengan menggunakan tulisan Cina.
Di sini kembali terjadi sedikit kekacauan Ahli sastra berkebangsaan Cina ini menulis nama yang ditujukan oleh surat itu, yakni Ratu Sophia, Namun dalam bahasa Cina, Fi yang ada di tengah nama sang ratu bisa berarti yang bukan-bukan, maka dia merasa bahwa kata-kata itu harus diubahnya.
Surat ini ditulis demi kerukunan kedua negara, itulah sebabnya nama Sophia diganti menjadi Sopheisia (Pheisia artinya pelangi melintasi sebetulnya orang itu benar-benar kekurangan pekerjaan Apa yang ditulisnya saja tidak dimengerti oleh Siau Po kecuali dia mengenali tulisan namanya sendiri, sedangkan Bangsa Lo Sat juga belum tentu mengerti Bahasa Cina, maka kemungkinan tulisan di depan amplop itu tidak akan menjadi perhatian pihak lawan.
Itulah sebabnya, ketika melihat ahli sastra itu menambahkan tulisan panjang di bagian depan dan blok amplop, Siau Po segera menghentikannya dengan berseru.
"Sudah, sudah! Tulisanmu bagus sekali, bahkan lebih bagus dari tikus Bangsa Lo Sat tadi!"
Dia segera menunjuk seorang wakilnya untuk mengambil beberapa macam bendabenda berharga, Benda-benda itu merupakan sitaan dari dalam Kota Ya Ke Lung, jadi dia tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membelinya.
Setelah itu, kembali dia memerintahkan anak buahnya untuk memanggil Walpatsky dan Chekonof, Kedua orang itu harus memilih seratus serdadu Lo Sat yang telah menyerahkan diri untuk mengawal kepulangan mereka ke Negara Lo Sat mengantarkan surat kepada Ratu Sophia.
Tentu saja kedua komandan itu gembira setengah mati.
Berulang kali mereka membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan terima kasih.
Bahkan mereka juga menarik tangan Siau Po untuk dicium berkali-kali, jenggot kedua orang itu kasar-kasar sehingga punggung telapak tangan Siau Po kegelian.
Pemuda itu pun tertawa terbahakbahak sambil menahan rasa geli di tangannya.
Kota Ya Ke Lung kecil sekali sehingga tidak dapat menampung seluruh prajurit Kerajaan Ceng, karena itu, Siau Po memerintahkan dua orang komandan beserta dua ribu orang prajurit untuk menjaga di kota tersebut sedangkan dia sendiri membawa pasukan besarnya bergerak ke arah selatan, sebelumnya dia berpesan kepada Lim Heng Cu, yaitu salah seorang dari Komandan tersebut bahwa mereka dilarang menggali sumur di Kota Ya Ke Lung, juga tidak boleh menggali jalan di bawah tanah.
Sisa pasukan yang besar itu mulai bergerak ke selatan, Siau Po memerintahkan para serdadu Lo Sat yang telah menyerahkan diri untuk mengganti pakaian mereka dengan seragam prajurit Kerajaan Ceng, Dia juga menyuruh beberapa anak buahnya mengajar mereka Bahasa Cina, sepanjang jalan mereka diharuskan menghafal bermacammacam pujian bagi Kaisar Kong Hi.
Setelah para serdadu itu hafal luar kepala, dia baru memerintahkan sejumlah prajurit nya untuk menggiring mereka ke Kotaraja.
Tidak lupa dia menambahkan bahwa mereka sudah harus menyerukan pujian bagi Kaisar Kerajaan Ceng begitu masuk pintu gerbang Kotaraja dan setelah bertemu dengan rajanya sendiri Seruan mereka harus di-perkeras, Dia juga mengatakan, apabila seruan mereka semakin lantang, raja akan semakin suka sehingga ada kemungkinan jiwa mereka akan diampuni.
Kurang lebih dua puluh hari kemudian, datang firman kaisar Kong Hi menyatakan salut atas kemenangan mereka.
Siau Po dinaikkan lagi pangkatnya menjadi Pangeran Gunung Puncak Menjangan tingkat dua, sedangkan setiap orang yang berjasa dalam peperangan ini juga dinaikkan pangkatnya masing-masing satu tingkat.
Selesai membacakan firman, utusan kaisar menyerahkan sebuah kotak kayu berukiran kepada Siau Po.
Anak muda itu menyambutnya sambil mengucapkan terima kasih, Dia tahu isinya pasti merupakan hadiah pribadi dari Kaisar Kong Hi untuknya.
Ketika dia membuka tutup kotak kayu itu, untuk sesaat dia sempat terpana, isinya ternyata sebuah mangkok emas.
Di dalam mangkok terukir tulisan "Pangeran yang paling banyak jasa bagi negara" , Dia tahu mangkok itu merupakan pemberian Sie Long dulu, namun tulisannya sudah dihapus dan dicetak ulang serta diganti kata-katanya.
Siau Po ingat mangkok emas itu pernah diletakkan dalam lemari pajangan di rumah kediamannya yang lama, mengapa tiba-tiba bisa muncul di sini?
Dia merenung sejenak, namun akhirnya mengerti, Tempo hari rumah lamanya sudah diledakkan atas perintah Kaisar Kong Hi.
pasti setelah keadaan aman, para prajurit mengadakan pemeriksaan dan barang-barangnya yang masih bisa diselamatkan tentu mereka serahkan ke sang Raja.
Akhirnya Kaisar Kong Hi menyuruh orang melebur mangkok emas itu dan mencetaknya dengan kalimat yang baru.
Kali ini Kong Hi mcnghadiahkannya kembali kepada Siau Po.
Maknanya pasti menyatakan bahwa mangkok nasinya sudah pernah hancur satu kali, sekarang dia harus menjaganya baik-baik agar tidak rusak untuk kedua kalinya.
Siau Po berpikir dalam hati, -Si Raja cilik cukup solider terhadapku Antara kami harus saling take and give.
Dia telah mengampuni berbagai kesalahanku dan akupun tidak boleh merusak nadi naganya -Malam harinya dia mengadakan perjamuan khusus bagi utusan kaisar Selesai bersantap dia juga menggelar permainan judi.
Kurang lebih dua bulan kemudian, kembali datang firman dari Kaisar Kong Hi.
Namun isinya kali ini ada kerlingan besar dalam pujian bagi dirinya, Kaisar Kong Hi malah mengatakan bahwa Siau Po mengacau saja.
isi firmannya antara lain mengatakan.
-Sebagai laki-laki harus bijaksana, yang terpenting mendahulukan perasaan sesama manusia, Dalam pandangan Thian Yang Kuasa, manusia di dunia ini tidak ada perbedaannya.
Meskipun Bangsa Lo Sat kasar serta kurang terpelajar, namun kita harus menghargai pernyataan takluk mereka, Serdadu yang sudah kalah perang tidak boleh dihina lagi, apalagi mengajarkan mereka menghapal berbagai pujian yang hanya menjatuhkan derajat mereka sendiri.
Bagaimana perasaan mereka ketika mengetahui apa arti seruan yang mereka eluelukan tiap hari itu?
Dalam pandangan Kaisar Kong Hi sendiri, apa yang dilakukan Siau Po itu masih bisa dimaafkan, namun dosanya besar sekali dalam pandangan Yang Kuasa, -Ternyata kali ini ilmu menepuk pantat kuda salah alamat, Yang ditepuknya bukan pantat kuda tapi kaki kuda sehingga diri sendiri yang tersepak, Untungnya muka Siau Po cukup tebal, di hadapan utusan kaisar itu dia menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya, walaupun dalam hati merasa masa bodoh.
Diam-diam dia malah berpikir.
--Pasti bahasa Cina Bangsa Lo Sat itu kacau balau sehingga Sri Baginda salah tanggapannya, padahal siapa sih di dunia ini yang tidak senang mendapat pujian?
Akhirnya dia memanggil beberapa anak buahnya yang tempo hari diperintah mengajarkan Bahasa Cina kepada para serdadu Bangsa Lo Sat itu, Dia memaki mereka habis-habisan, Setelah puas dia malah mengajak mereka berjudi, Tentu saja cercaan Kaisar Kong Hi dalam firmannya tidak dipikirkan lagi.
Dengan cepat waktu berlalu, musim dingin telah berganti dengan musim semi.
Meskipun kehidupan Siau Po di tempat itu cukup menyenangkan, namun tidak jarang dia merasa rindu terhadap A Ko, Su Cuan dan istri-istrinya yang lain.
Tentunya dia juga merasa kehilangan kedua putra dan seorang putrinya, Cepatcepat dia menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan berbagai hadiah untuk dikirim ke Kotaraja.
Keenam istrinya masing-masing mendapat kiriman pakaian serta barangbarang keperluan lainnya.
Namun mereka tahu Siau Po buta huruf, jadi percuma saja bila mereka menulis surat untuknya, Akhirnya mereka hanya menyampaikan kata-kata lisan lewat prajurit yang menjadi utusan Siau Po.
Dikatakan bahwa seluruh keluarga baik yang besar maupun yang kecil dalam keadaan baik-baik saja, semoga Thayswe dapat secepatnya kembali ke samping mereka.
Hari ini kembali datang firman dari Kaisar Kong Hi.
Selain itu ada sejumlah tentara pilihan serta beberapa pembesar yang mengiringi kedatangan utusan kaisar tersebut Mereka diharuskan menemani Siau Po yang akan mengadakan perundingan dengan pihak Negara Lo Sat sehubungan dengan datangnya balasan surat dari kedua pangeran dari negara itu.
Tentu saja surat itu juga ditulis oleh sekretaris negara karena kedua pangeran Lo Sat masih muda belia dan belum berpengalaman dalam masalah politik.
Utusan kaisar membacakan surat balasan dari negara Lo Sat, namun karena katakatanya yang dalam, dia harus menjelaskan artinya begitu selesai membacakan surat tersebut, Utusan kaisar tertawa.
"Rupanya Ratu dari Negara Lo Sat tidak pernah melupakan kisah asmaranya dengan Wi Thayswe. Hadiah yang dikirimkannya juga banyak sekali, Sri Baginda memerintahkan hamba membawa semuanya ke mari agar dapat diterima langsung oleh Wi Thay-swe,"
Katanya kemudian. Siau Po mengangkat tangannya ke atas lalu menjura kepada utusan kaisar itu.
"Terima kasih, terima kasih!"
Sahutnya.
"Bangsa Lo Sat benar-benar tidak tahu etiket pergaulan seharusnya mereka merendahkan diri dengan mengatakan "
Sedikit hadiah dari Ratu kami ", masa membanggakan hadiahnya yang besar.
Hadiah yang ditujukan untuk Sri Baginda baru harus yang berat, tapi kalau mengirimkan hadiah besar untukku, bukankah akan menjadi bahan tertawaan orang saja?"
"Memang betul, Wi Thayswe menyuruh para prajurit menggiring serdadu Lo Sat yang telah menyerahkan diri ke Kotaraja, Sri Baginda sendiri yang mengadakan pemeriksaan Ternyata dalam barisan para serdadu itu ditemukan seorang pejabat tinggi pemerintahan Negara Lo Sat,"
Kata utusan kaisar itu pula. Siau Po menunjukkan roman terkejut "Masa ada kejadian seperti itu?"
Tanyanya kurang percaya.
"Orang ini benar-benar licik. Dia sengaja berbaur dengan para serdadu dan tidak pernah memperlihatkan gerak-gerik apapun. Tempo hari Sri Baginda mengadakan pemeriksaan terhadap para tawanan. Karena susah mengadakan komunikasi, Sri Baginda mendatangkan seorang penterjemah berkebangsaan HolIand, Sri Baginda menggunakan Bahasa Latin untuk berbicara dengan Penterjemah itu. Di antara orang banyak ada seorang serdadu Bangsa Lo Sat, tiba-tiba wajahnya menunjukkan mimik yang mencurigakan Sri Baginda bertanya apakah dia mengerti Bahasa Latin, tapi orang itu terus menggelengkan kepalanya, Kemudian Sri Baginda berkata dalam Bahasa Latin.
"Bawa orang ini ke luar dan penggal kepalanya!" , Orang itu terkejut setengah mati lalu dia segera menjatuhkan diri berlutut serta mengaku bahwa dia memang mengerti Bahasa Latin,"
Kata utusan kaisar itu pula.
"Apa sih Bahasa Latin itu? Mengapa Sri Baginda bisa mengerti Bahasa Latin yang digunakan sebagian Bangsa Lo Sat?"
Tanya Siau Po.
"Sri Baginda sangat cerdas, Bahasa Latin sangat populer di kalangan Barat, tentu saja Sri Baginda mengerti cara menggunakannya,"
Sahut sang utusan.
"Tapi mengapa Sri Baginda tidak mengerti Bahasa Lo Sat malah mengerti Bahasa Latin yang mereka gunakan?"
Tanya Siau Po yang masih penasaran. Utusan kaisar itu kebingungan memberikan jawaban.
"Apa sebenarnya rahasia di balik semua ini tentu saja hamba tidak mengerti, Lain kali kalau Thayswe bertemu sendiri dengan Sri Baginda, harap jangan lupa menanyakan hal ini,"
Ujarnya sambil tertawa. Siau Po menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Kemudian apa yang terjadi dengan orang Lo Sat itu?"
"Sri Baginda menginterogasinya dengan teliti. Perlahan-Iahan rahasianya terkorek juga. Rupanya orang ini bernama Yalcinsky. Dia Gubernur daerah Ya Ke Lung dan Ni Pu Ju,"
Sahut Sang utusan. Orang-orang yang mendengar keterangan itu langsung mendesah terkejut.
"Pangkat orang ini benar-benar tidak rendah,"
Kata Siau Po.
"lya kan? Boleh dibilang di antara para utusan Negara Lo Sat yang didatangkan ke Negara Timur kita, orang inilah yang pangkatnya paling tinggi. Mungkin ketika terjadi kekacauan dalam kota Ya Ke Lung, orang ini segera mengganti pakaiannya dengan seragam para serdadu sehingga untuk sekian lama kedoknya tidak terbuka,"
Sahut utusan Kaisar itu. Siau Po menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Bukan begitu, Ketika terjadi kekacauan di Kota Ya Ke Lung tempo hari, hampir seluruh Bangsa Lo Sat membuka pakaian mereka sehingga telanjang bulat Saking tidak tahan melawan dingin barulah mereka menyerahkan diri. Dalam keadaan demikian, tampang mereka semua hampir sama, Mana bisa membedakan mana komandan, mana serdadu atau pembesarnya? Memang tidak salah pepatah yang mengatakan "
Pangkat seseorang hanya bisa dikenali dari penampilan luarnya saja ", Jadi saudaraku, ini bukan semata-mata kesalahanku bukan?"
Para hadirin tertawa terbahak-bahak, mereka berebut menceritakan situasi kemenangan yang diperoleh mereka tempo hari. Utusan Kaisar itu tertawa geli mendengar keterangan tersebut.
"Begitu rupanya! ini juga tidak dapat disalahkan, Sri Baginda berkata bahwa Siau Po berhasil meringkus Gubernur Ya Ke Lung dan Ni Pu Ju, jasanya ini besar sekali, sayangnya dia agak ceroboh sehingga mengira orang itu hanya seorang serdadu biasa, Jadi dalam hal ini hitungannya seri. Dia tidak mendapat hukuman tapi juga tidak mendapat hadiah apa-apa."
Siau Po segera berdiri dan berkata dengan nada menghormat.
"Budi Sri Baginda tidak terkirakan, hamba merasa terharu sekali!"
"Selama enam hari berturut-turut Sri Baginda menginterogasi Yalcinsky, Berbagai urusan baik yang berhubungan dengan Negara Lo Sat maupun para serdadu nya serta kekuatan mereka ditanyakan satu persatu oleh Sri Baginda, Bahkan akhirnya Sri Baginda berhasil mendapatkan sebuah informasi penting, Seperti yang Wi Thayswe katakan, ketika menyatakan takluk, orang ini tidak mengenakan sehelai benang pun, namun toh dia berhasil menyembunyikan sejumlah dokumen penting,"
Kata si utusan pula. Siau Po langsung memaki.
"Neneknya! Si Yal entah bau bacin kartu ceki apa ini benar-benar banyak akal busuknya, lain kali kalau bertemu denganku lagi, aku akan menunjukkan sedikit kelihaian di hadapannya! Tapi, di mana dia menyembunyikan dokumen penting itu? Masa dia menyembunyikannya di dalam lubang pan..."
"Ketika para serdadu Lo Sat yang sudah menyatakan takluk harus digiring ke hadapan Sri Baginda, mereka tentunya sudah diperiksa dengan teliti. Bahkan rambut, tubuh sampai ketiak pun harus dipentang lebar-lebar. Baju mereka juga dilepaskan semua. Wi Thayswe kan tahu hati Bangsa Lo Sat itu busuk sekali, bagaimana kalau mereka menyembunyikan senjata tajam secara diam-diam? Yalcinsky ini juga diperiksa secara teliti, pada tubuhnya tidak ditemukan apa-apa, tapi Sri Baginda melihat ada tonjolan pada ketiaknya, Lagipula mata orang itu berkali-kali melirik ke bagian yang satu ini. Maka Sri Baginda bertanya kepadanya, benda apakah yang dikepit dalam ketiaknya itu? Yalcinsky menyahut bahwa ketiaknya terluka sehingga dibalut dengan kain kasa, Tapi Sri Baginda tidak percaya begitu saja, Beliau segera menyuruh orang untuk membuka perban itu. Wajah Yalcinsky pucat seketika, Wi Thayswe, coba kau tebak apa yang dikempit dalam ketiaknya?"
"Pasti dokumen berharga yang tadi kau katakan bukan?"
Si utusan menepuk tangannya sambil tersenyum.
"Memang benar, Tidak heran kalau Sri Baginda sering memuji kecerdasan Wi Thayswe, ternyata sekali tebak langsung jitu, Yang disembunyikan oleh Yalcinsky itu bukan hanya sebuah dokumen penting, tapi juga merupakan firman rahasia dari kedua pangeran Negara Lo Sat,"
Sahutnya.
Sang utusan mengeluarkan sebuah surat dari dalam saku pakaiannya kemudian membacakan isinya.
Rupanya surat itu merupakan warisan dari Raja tua Lo Sat untuk kedua pangerannya, dan ketika Yalcinsky mendapat perintah untuk menjabat sebagai gubernur di daerah Ya Ke Lung dan Ni Pu Ju, surat warisan itu terus dibawanya untuk mengingatkan pesan almarhum rajanya.
Isinya antara Iain menyatakan bahwa Negara Cina adalah negara yang sangat besar, namun sejak jaman dahulu tidak ada seorang pun dari kaisarnya yang berotak cerdas, Negara besar ini mengalami berbagai kemelut.
Berebutan tahta kerajaan seakan sudah menjadi tradisi bagi bangsa ini.
Oleh karena itu Bangsa Lo Sat harus pandai menggunakan kelemahan mereka untuk menguasai sedikit demi sedikit wilayah Cina.
Yang paling penting adalah mengadu domba bangsa mereka sehingga terjadi perpecahan di mana-mana.
Kalau perlu mengajak bangsa lain untuk bekerja sama merebut Negara Cina.
Apabila sudah berhasil, barulah enyahkan satu per satu bangsa yang memberikan bantuan sebelumnya.
Setiap kali utusan itu membacakan isi dokumen rahasia, setiap kali pula Siau Po memaki.
"Kentut!"
Ketika utusan itu selesai membaca, entah sudah berapa kali ucapan itu ke luar dari mulutnya. Si utusan berkata pula.
"Sri Baginda menyatakan bahwa watak Bangsa Lo Sat sangat membanggakan diri mereka sendiri Surat ini dibuat oleh almarhum Raja tua. Yakni ayah dari kedua pangeran sekarang, Raja itu belum tahu kelihaian bangsa kita. Bagian 93 Tapi Bangsa Lo Sat yang sekarang sudah kena batunya, tentunya mereka tidak berani menganggap remeh bangsa kita lagi. Meskipun demikian, di saat mengadakan perundingan dengan mereka, Sri Baginda berharap Wi Thayswe tahu cara berhadapan dengan mereka, sebaiknya sikap keras dan lunak harus saling mengimbangi.
"Memang benar, Sri Baginda memang sudah berpesan agar kita menampar pipi mereka beberapa kali, menendang kaki mereka beberapa kali, setelah itu kita harus menepuk-nepuk pundak mereka beberapa kali dan mengelus-elus punggung mereka beberapa kali,"
Sahut Siau Po seperti biasanya. Tidak karuan.
"Ratu yang memegang tampuk pemerintahan dinegara Lo Sat sekarang juga licik sekali. Dalam surat balasannya dia seakan-akan tidak tahu kalau ada pembesarnya yang sudah tertahan oleh kita. Namun ada beberapa patah kata yang justru membuka kedoknya sendiri. Dia mengatakan bahwa bersedia mengadakan perundingan dengan pihak kita, tapi meminta kita mengembalikan para serdadunya yang berhasil kita tangkap agar dapat diadili di negaranya sendiri,"
Kata utusan kaisar. Siau Po tertawa.
"Enak benar Dia baru menghadiahkan beberapa lembar kulit macan tutul dan beberapa butir jamrud yang disebutnya sebagai hadiah besar saja lalu mau mengharapkan kita mengembalikan para serdadu?"
"Sri Baginda juga berpesan, apabila Bangsa Lo Sat benar-benar ingin berdamai dengan kita, sebetulnya tidak ada salahnya kalau kita memberikan sedikit kelonggaran. Tapi kita harus membawa pasukan besar ke sana serta mengadakan perjanjian di bawah tembok kota,"
Kata si utusan pula.
"Apa sih yang dimaksud dengan perjanjian di bawah tembok kota?"
Tanya Siau Po.
"Kedua negara saling menukar tawanan perang masing-masing, tapi dalam hal ini klta berada dipihak yang unggul karena tidak ada prajurit dari pihak kita yang tertawan oleh musuh-Pasukan besar kita mengepung tembok kota. Pihak musuh mengajak berdamai Kita melakukan perundingan dan menandatangani perjanjian di bawah tembok kota, itulah yang dinamakan perjanjian di bawah tembok kota, walaupun hal ini tidak berarti musuh menyatakan takluk terhadap kita, namun setidaknya mereka sudah mengaku kalah,"
Sahut sang utusan menjelaskan.
"Begitu rupanya, sebetulnya kita toh bisa membawa sejumlah pasukan besar untuk merebut kembali daerah Ni Pu Ju. Rasanya bukan hal yang terlalu sulit, bukan?"
Tanya Siau Po "Sri Baginda berkata, bahwa memenangkan beberapa peperangan lagi hatinya tetap merasa yakin-Tapi, di depan mata sekarang ini, Lo Sat adalah sebuah negara besar.
Banyak negara kecil yang dikuasainya.
Apabila di wilayah Timur pihak mereka mengalami kekalahan secara berturut-turut, gengsi mereka tentu jatuh di mata dunia.
Dengan demikian akan timbul pemberontakan dari negara-negara kecil yang tadinya mereka kuasai.
Akhirnya pihak Negara Lo Sat akan gusar, mereka akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk menggempur kita.
Pada saat itu, apakah keberuntungan atau musibah yang akan kita dapatkan, kita masih belum tahu, jadi untuk apa mengambil resiko seberat itu?
sedangkan di sebelah barat Negara Lo Sat masih ada satu negara lain yang tidak kalah kuatnya, yakni Negara Swiss.
Kedua belah pihak itu juga sedang saling menggempur.
Negara Lo Sat tentu khawatir apabila dari sebelah timur ada pihak lain pula yang menyerang.
Kita gunakan kelemahannya ini untuk melakukan negosiasi dengan mereka, setidaknya untuk jangka waktu yang panjang bangsa kita tidak akan mengalami tekanan dari pihak Negara Lo Sat,"
Sahut sang utusan menjelaskan.
Semangat Siau Po sedang menyala-nyala setelah memenangkan peperangan kali ini, ingin rasanya dia membawa pasukan besar untuk menyerang Ni Pu Ju.
Hatinya agak kecewa mendengar sri Baginda mengharapkan dia bernegosiasi dengan pihak negara Lo sat.
Rasanya kurang seru kalau tidak perang.
Tapi ini merupakan keputusan sri Baginda, Tentu saja Siau Po tidak berani membantahnya lagi.
Utusan ini adalah paman sri Baginda, juga merupakan paman istriku, kalau dihitunghiTung kau adalah generasi tua.
Pangkatmu pangeran Tingkat satu, sedangkan aku belum lama dinaikkan pangkat menjadi pangeran Tingkat Dua.
Kali ini Sri Baginda menyuruhku mengadakan perundingan dengan pihak Lo Sat, kau justru dijadikan wakilku.
Kalau dipertimbangkan lagi, sri Baginda sudah cukup memberi muka kepadaku, -pikirnya.
Ayah sang utusan yang bernama Tung tu Lai masih saudara kandung ibunda Kaisar Kong Hi, sedangkan ayah mereka ialah orang Han.
jadi sebetulnya Kaisar Kong Hi tidak asli Bangsa Boan ciu.
Dalam tubuhnya masih mengalir setengah darah Han.
Tung tu Lai sudah meninggal, anaknya Tung Kok Bang (utusan) dianugerahi pangkat pangeran Tingkat satu.
Dulu Tung tu Lai menjadi komandan pasukan perang di luar perbatasan, dia memimpin pasukan Bendera Kuning.
Pada jaman keemasannya, jasa orang itu banyak sekali, dan namanya sangat terkenal Namun Siau Po selalu merasa nama itu kurang bagus, tu Lai...
tu Lai, kalau diartikan dalam Bahasa Cina bisa mengandung makna orang yang sudah kalah berjudi tapi tidak mau bayar.
Malam hari itu, Siau Po mengadakan perjamuan sekali lagi, selesai bersantap, seperti biasanya Siau Po mengajak tamunya bermain judi.
Tentu saja si utusan raja tidak menolakMereka bermain sampai larut malam-Tung Kok Bang, utusan raja kalah sampai enam ratus tail uang perak lebih.
Namun orang itu masih tertawa terbahak-bahak-Tidak sedikit pun tampang orang yang sudah kalah tidak mau membayar Begitu kembali ke kamarnya, lama Siau Po merenung.
Dia berpikir dalam hati.
-Si utusan Raja ini bersikap sportif, untung tidak menuruni nama ayahnya yang Tu Lai, sudah kalah tidak mau bayar orangnya juga cukup menyenangkan masih kerabat si Raja Cilik pula, orang ini harus kugaet agar menjadi teman dekat.
Keesokan harinya Siau Po mengadakan rapat bersama beberapa -menteri dan pembesar yang dikirimkan dari Kota raja.
Mereka mengatakan bahwa sebaiknya pasukan perang diberangkatkan sekarang saja karena cepat atau lambat mereka toh harus melakukan perundingan dengan pihak Negara Lo Sat.
Kalau ditunda lama-lama, bisa-bisa pasukan tentara jadi tidak bersemangat lagi, Siau Po menyetujui usul itu, lalu memerintahkan dua orang komandannya untuk menyiapkan pasukan perang dan berangkat hari itujuga ke Kota Ni Pu JuHari itujuga mereka sampai di pesisir pantai.
Ada seorang prajuritnya yang melaporkan bahwa telah datang dua orang komandan yang memimpin sepasukan serdadu, mereka mengajukan permohonan untuk bertemu dengan wi ThaysweSiau Po menyuruh keduanya menghadap, Rupanya kedua orang itu tidak lain dari Walpatsky dan chekonof, Siau Po gembira sekali melihat mereka "Bagus, bagus Rupanya Wang Pat se Ki dan cu KeJuc Fu"
Serunya keras-kerasKedua orang itu segera membungkukkan tubuh sebagai penghormatan lalu menyerahkan surat balasan dari Ratu sophiaSi Ahli sastra berkebangsaan Lo Sat yang mewakili Siau Po menulis surat masih ikut dengan rombongan mereka.
Tentu saja untuk menjaga kemungkinan apabila tenaganya diperlukan sewaktu-waktu, Disamping itu, kaisar Kong Hi juga mengutus seorang penterjemah berkebangsaan Holland untuk membantu Siau Po dalam melakukan perundingan Siau Po segera memanggil keduanya untuk membacakan surat Ratu sophia.
Si Ahli sastra dari negara Lo Sat telah mengubah sedikit surat Siau Po tempo hari.
Dia khawatir dalam surat balasannya Ratu sophia menyinggung hal yang akan membongkar rahasianya.
Cepat-cepat dia mengambil surat dari tangan Siau Po dan melihatnya sekilas.
Hatinya baru merasa tenang setelah mengetahui isinya.
Dia menyerahkan surat itu kepada Si Penterjemah Holland yang langsung membacakannya dalam Bahasa Cina.
Surat itu menyatakan, bahwa sejak berpisah dengan Siau Po, Ratu sophia juga selalu merindukan anak muda itu.
Dia berharap, setelah perundingan berjalan dengan lancar, Siau Po bersedia main ke Moskow untuk mengenangkan kembali masa lalu mereka yang indah.
Siau Po mendapat perhatian serta kasih sayang dari dua kepala negara yang seharusnya menjadi penengah yang adil untuk menghapus segala kesalahpahaman dan sengketa yang tidak diperlukan.
Ratu sophia juga berharap Siau Po akan menjadi penunjang tercapainya kerukunan kedua belah pihak.
Dalam suratnya Ratu sophia juga mengatakan bahwa Cina dan Lo sat merupakan dua negara terbesar di Timur danBarat,Bila kedua negara dapat bekerja sama, maka tidak akan ada negara lain di dunia yang berani mencoba-coba menyerang mereka.
Namun apabila perundingan tidak berjalan sesuai kehendak kedua belah pihaki maka perang yang panjang tidak akan dapat dihindarkan lagi.
Akhirnya baik Negara Lo sat maupun Negara Cina akan mengalami kerugian besar.
Ratu sophia berharap Siau Po dapat menunaikan tugas ini dengan baik, agar dapat mendirikanjasa besar bagi Negara Cina, sedangkan Negara Lo sat juga tidak akan melupakan begitu saja kebaikannya.
Dia juga meminta Siau Po membujuk Kaisar Kong Hi agar bersedia membebaskan para serdadu Lo sat yang telah tertawan.
Dengan demikian mereka dapat kembali ke keluarga masing-masing yang sudah merasa cemas sekali atas nasib para suaminya.
Ahli Sastra itu sudah selesai membacakan surat dari Ratu sophia, Siau Po melihat Walpatsky dan chekonof memberikan isyarat dengan kedipan mata.
Anak muda itu tahu masih ada urusan lain yang ingin dibicarakan kedua orang itu, Siau Po segera menyuruh kedua Ahli sastra Lo sat dan Holland itu meninggalkannya, setelah itu dia baru bertanya.
"Apakah masih ada urusan lain yang ingin kalian bicarakan?"
"Tuan puteri meminta kami menyampaikan pada Pembesar Bocah Tiongkok bahwa laki-laki bangsa Lo Sat tidak ada yang hebat, justru harus Pembesar Bocah Tiongkok seorang yang paling hebat di dunia. Tuan puteri merasa rindu sekali kepada Anda. Biar bagaimana pun hamba berdua harus berhasil mengundang pembesar Bocah Tiongkok mengunjungi Moskov kata Walpatsky. Siau Po mendengus satu kali, diam-diam dia berpikir— ini pasti rayuan gaya Lo sat, sama sekali tidak dapat dipercayai Terdengar chekonof berkata lagi.
"Tuan puteri masih mempunyai beberapa macam urusan yang harus dimohonkan penyelesaiannya kepada Pembesar Bocah Tiongkok, Ada pula sesuatu yang diberikan oleh Tuan puteri kepada Pembesar Bocah Tiongkok."
Dia melepaskan rantai tembaga yang melilit di lehernya, gandulannya ternyata sebuah peti besi berbentuk.
mini, besarnya kurang lebih dua kali kepalan tangan orang dewasa.
Demikian pula dengan Walpatsky, Kemungkinan kedua orang itu menempuh jarak jauh, jadi mereka terpaksa menggunakan cara seperti ini untuk menjaga jangan sampai peti kecil itu hilang di perjalanan atau dicuri orang.
Setelah itu chekonof juga mengeluarkan sebuah anak kunci dari selipan ikat pinggangnya, Rupanya tutup peti itu digembok rapat Dia menggunakan kuncinya untuk membuka peti mini di tangan Walpatsky, sedangkan Wafpatsky juga mengeluarkan anak kuncinya untuk membuka peti mini di tangan chekonof.
Kemudian keduanya menghaturkan peti-peti mini itu dengan hormat ke atas meja dihadapan Siau Po.
Siau Po mengangkat peti mini yang pertama, lalu membalikkan Terdengarlah suara dentingan, ternyata dari dalamnya tumpah puluhan butir batu permata yang indahindahi sinarnya menyilaukan mata, ada batu safir, ada Jamrud, batu Mira, bahkan Topaz kuning, sedangkan peti mini yang satunya berisi berlian dan intan yang besarbesar.
Seumur hidupnya, sudah banyak batu permata, emas dan intan berlian yang dilihat Siau Po.
Tapi jumlah sebanyak ini dan bentuknya sebesar ini, benar-benar belum pernah ditemuinya, sambil tertawa dia berkata.
"Wah, hadiah yang diberikan Tuan puteri benar-benar berat dan besar sekali, aku merasa tidak kuat menerimanya"
"Tuan puteri juga berkata, seandainya Pembesar Bocah Tiongkok bisa menyelesaikan pekerjaan besar yang disodorkannya, masih ada hadiah-hadiah menarik lainnya, seperti sepuluh gadis cantik dari sepuluh negara, yakni India, Nepal, Pakistan, Polandia, Jerman, Swiss, Polinesia, Denmark dan lain-lainnya. Dijamin semuanya masih perawan, bukan janda serta berparas cantik bak dewi kayangan, semuanya akan dipersembahkan kepada Pembesar Bocah Tiongkok"
Kata Walpatsky Siau Po tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Aku sudah mempunyai tujuh istri, itu saja sudah cukup kesulitan yang kuhadapi. Ditambah sepuluh gadis cantik lagi, si pembesar Bocah Tiongkok ini bisa melayang jiwanya."
"Tidak akan terjadi hal seperti itu,"
Sahut Walpatsky "Kesepuluh gadis cantik ini sudah tersedia.
Kami sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Masing-masing mempunyai wajah yang tidak kalah ayunya dari sekuntum mawar.
Kulit tubuh mereka putih halus seperti secangkir susu, suara mereka seperti kicauan burung yang merdu."
Tentu saja hati Siau Po agak tergerak mendengarnya "Urusan apa sih yang harus aku selesaikan?"
Tanyanya penasaran.
"Pertama, kedua negara hidup rukun, dengan adil membagi kekuasaan, sejak sekarang tidak ada serdadu lawan yang ditahan,"
Kata Chekonof Diam-diam Siau Po berpikir--Ini toh sama dengan keinginan si Raja Cilik, Hal ini pasti dapat kulakukan dengan baiki— Dia mengerutkan keningnya lalu berkata.
"Di sebelah barat negara Lo sat kalian ada sebuah negara yang bernama Su. Apa gitu, mereka mengirimkan utusan yang menyatakan ajakan kerja sama. Mereka ingin kami bersama-sama memimpin pasukan perang guna menggempur Negara Lo sat dari dua arah. Dengan demikian negara kalian akan kewalahan menghadapinya. Pada saat itu. Negara Polandia keki jerman keki Hindia Belanda keki semuanya bisa kami kuasai, maka jika aku menginginkan wanita cantik macam apa atau berapa pun jumlahnya bukan masalah lagi. Apalagi Tuan puteri kalian hanya mengirimkan masing-masing seorang dari setiap negara, huh. Tidak cukup menggairahkan"
Kedua Komandan dari negara Lo sat itu terkejut setengah mati mendengar katakatanya.
Pada saat itu negara Swiss dipimpin oleh Raja Charlie ke sebelas.
Dia seorang pemuda yang gagah dan pandai mengatur siasat perang.
Memang sudah terdengar desas-desus bahwa raja ini ingin memimpin sendiri pasukannya untuk menyerang negara Lo sat.
Cepat atau lambat hal ini pasti terjadi, para menteri serta pembesar di Moskov memang sedang mencemaskan masalah ini.
Mereka sama sekali tidak menduga kalau pihak Swiss malah terpikir untuk bekerja sama dengan Cina, walaupun Lo sat adalah negara yang kuat, tapi mereka juga tidak berani menjamin pihak mereka tidak akan kalah digempur dari depan dan belakang.
Siau Po memperhatikan tampang kedua utusan itu.
Dia tahu ocehannya sudah termakan oleh mereka.
Maka dia berkata pula.
"Tapi, bagaimana pun aku dan Tuan puteri kalian merupakan teman sehati Mana mungkin aku menerima begitu saja usul negara kasar seperti sui apa tadi? Untungnya sekarang kaisar kami belum mengambil keputusan yang mantap. Bila pihak kalian benar-benar ingin berdamai, aku bisa mengusahakan agar utusan dari negara sui apa itu segera dipulangkan."
Kedua Komandan itu senang sekali mendengar janjinya dan cepat-cepat mereka menyahut.
"Tentu saja pihak kami mau berdamai setulus-tulusnya, sedikit pun kami tidak sudi berbohong mengenai urusan yang penting ini. Harap pembesar Bocah Tiongkok segera memulangkan utusan dari Swiss itu, kalau perlu penggal saja batok kepalanya"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Memenggal kepala seorang utusan itu tidak boleh sekali-kali kita lakukan. Apalagi dia sudah mengirimkan aku sedemikian banyak batu permata, sepuluh wanita pilihan dari negara nya. Masa aku tidak tahu diri main penggal saja kepala orang itu, iya kan?"
Sahut si anak muda ugal-ugalan.
Kedua Komandan Lo sat segera menganggukkan kepalanya berkalUkali, Mereka berpikir dalam hati.
-Rupanya pihak Swiss juga sudah memikirkan segala kemungkinan dengan matangmatang.
Belum apa-apa mereka sudah mengantarkan sejumlah hadiah, strategi mereka benar-benar jitu, keluar uang dulu belakangan baru menerima kembali berikut bunganya, Sesaat kemudian mereka berpikir lagi, -Untung pembesar Bocah Tiongkok ini merupakan kawan sehati Tuan putri kami, kalau tidak urusan ini bisa runyam jadinya — "Masih ada urusan apalagi yang Tuan Puteri kalian minta kuselesaikan?"
Tanya Siau Po pula. Walpatsky tersenyum.
"Satu urusan lagi yang harus diselesaikan oleh pembesar Bocah Tiongkok tidak dapat tidak harus dilakukan dalam istana Kremlin di Moskow "
Sahutnya sambil cengarcengir, Siau Po mendengus dingin.
— Lagi-lagi gaya Lo Sat, bisa juga disebut sup perangsang dari Lo Sat, boleh dihirup tidak boleh dipercaya.
— katanya dalam hati.
Sambil tertawa dia berkata pula "Rupanya kalian para laki-laki Lo Sat benar-benar tidak ada gunanya"
"Bukannya laki-laki Lo sat tidak ada gunanya, melainkan justru Tuan Puteri kami terlalu merindukan pembesar Bocah Tiongkok."
Sahut Chekonof, — Lagi-lagi sup perangsang dari Lo sat, — pikir Siau Po
Tiraikasih website
http.//cerita-silat.co.cc/ "Kalau begitu, tampaknya tidak ada urusan lain yang dipesankan oleh Tuan Puteri kalian?"
Tanyanya kemudian.
"Ratu Sophia berharap raja kalian mengeluarkan ijin perdagangan bagi kedua negara, dengan demikian perekonomian kita akan semakin lancar,"
Sahut Walpatsky "Kalau jalur perdagangan kedua negara bisa diperlancar, kapan saja Tuan puteri dapat mengirimkan surat serta menghadiahkan berbagai barang untuk pembesar Bocah Tiongkok."
Sambung chekonof. Dalam hati Siau Po memaki — Maknya. Datang lagi semangkok sup yang lain, — namun diluarnya dia berkata.
"Kalau begitu, niat Tuan puteri melancarkan jalur perdagangan kedua negara adalah mementingkan pribadinya bukan kepentingan umum?"
"Betul, betul. Apa yang dilakukan Tuan puteri kami demi pembesar Bocah Tiongkok."
Sahut Chekonof.
"Sekarang aku bukan seorang anak kecil lagi. Kalian tidak boleh memanggilku dengan sebutan Pembesar Bocah Tiongkok"
Kata Siau Po. Kedua Komandan itu segera membungkukkan tubuh mereka dalam-dalam.
"Baiki baik. Kami akan memanggil pembesar orang Dewasa Tiongkok"
Sahut mereka serentak. Perlahan-lahan Siau Po mengembangkan seulas senyuman.
"Baiklah. Kalian boleh beristirahat sekarang. Apabila kami berangkat ke Ni Pu Ju, pokoknya kalian harus ikut serta,"
Katanya kemudian.
Kedua orang itu terkejut setengah mati.
Mata mereka saling lirik sekilas.
-Untuk apa pembesar ini datang ke Ni Pu Ju?
Apakah dia benar-benar ingin melakukan penyerangan ke kota itu?
-tanya mereka dalam hati.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah berjanji kepada Tuan Puteri untuk mendamaikan kedua negara, Keberangkatan kami ke sana bukan untuk berperang,"
Kata Siau Po yang dapat menebak isi hati kedua komandan itu. Kedua orang itu sekali lagi membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.
"Terima kasih pembesar Bo-.. eh, orang Dewasa Tiongkok"
Kemudian Walpatsky berkata pula.
"Tuan puteri kami mendengar bahwa jembatan buatan orang Tiongkok bagus sekali. Biarpun danau atau sungai yang bagaimana lebarnya, orang Tiongkok sanggup membuat jembatan dari batu di atasnya. Di bawahnya tidak menggunakan penyanggah beton pula. Tuan puteri sangat mencintai pembesar orang Dewasa Tiongkok. tentu saja beliau juga mencintai barang-barang buatan Tiongkok. Oleh karena itu. Tuan puteri berharap pembesar orang Dewasa Tiongkok bersedia mengutus ahli-ahli bangunan untuk pergi ke Moskow dan membuatkan beberapa buah jembatan di sana. Bila ada jembatan buatan orang Tiongkok. Tuan Puteri kami akan melaluinya setiap pagi dan senja hari. Menurut beliau, hal ini sama saja dengan mengenang kembali masa-masa indah bersama Pembesar orang Dewasa Tiongkok." Dalam hati Siau Po berpikir, -sup yang dikirimkan perempuan dari Lo sat ini datang semangkok demi semangkok. Kalau aku terus menghirupnya, lama kelamaan aku pasti bisa muntah, secara khusus Tuan putri Lo Sat ini mengincar jembatan batu buatan bangsa kami, ada apa sebenarnya? Pasti ada udang di balik batu. Aku harus hati-hati, jangan sampai terperangkap jerat yang dipasangnya, — Maka dia berkata.
"Kalau Tuan puteri kalian sangat merindukan aku, tofo tidak perlu menyuruh orang membuat jembatan di Moskow, pekerjaan ini rumit sekali, jumlah tenaga kerjanya juga banyaki waktunya lama pula. Biar aku kirimkan beberapa lembar selimut dan bantal guling saja. Dengan demikian, apabila Tuan Puteri kalian memeluk bantal guling itu dan mengenakan selimutnya, tidak ubahnya ada laki-laki Tiongkok yang menemaninya di tempat tidur."
Tampang kedua komandan itu jadi aneh kelihatannya. Mereka saling lirik sekilas.
"Ini.,., Ini... rasanya "
Kata Chekonof tergagap. Tampaknya otak Walpatsky lebih encer daripada rekannya, dia segera berkata.
"Usul yang dikemukakan Pembesar orang Dewasa Tiongkok tadi memang bagus sekali. Biar kami saja yang mengantarkan selimut dan bantal dari Tiongkok. Biarpun Tuan Puteri kami tidak bisa memeluk langsung pembesar orang Dewasa Tiongkok. tidak banyak bedanya apabila beliau memeluk selimut serta bantal guling dari Tiongkok. Namun baik selimut maupun bantal guling merupakan benda yang tidak dapat bertahan lama, satu dua tahun kemudian pasti sudah rusak. Lain halnya dengan jembatan batu, benda itu bisa menjadi kenangan bagi Tuan puteri kami selama-lamanya. Karena itu, harap Pembesar orang Dewasa Tiongkok tetap mengirimkan beberapa ahli bangunan untuk membuatkan jembatan bagi Tuan Puteri kami,"
Mendengar nada bicara kedua orang itu, tampaknya pihak Negara Lo sat sangat menginginkan pembuatan jembatan batu seperti yang ada di Cina, dia tahu dibalik semua ini pasti ada intrik yang tidak menguntungkan pihaknya.
Siau Po tidak tahu bahwa pembuatan jembatan di Cina pada masa itu menjadi kekaguman negara-negara lainnya.
Mereka merasa aneh sebuah jembatan batu yang kekar dapat melintang di atas sungai yang lebar sebetulnya tidak ada intrik apa-apa di balik semua Pihak Negara Lo sat hanya ingin mempelajari cara pembuatannya.
Namun kalau meminta secara terang-terangan, pihak Raja di Cina pasti akan menolaknya.
Apabila berhasil membujuk Siau Po mendatangkan beberapa ahli bangunan untuk membuatkan jembatan di Moskov, mereka bisa menyuruh ahli mereka melihat cara buatannya dan kemudian menirukannya.
Siau Po berpikir lagi dalam hati.
— Apa yang semakin kalian inginkan, bapakmu ini semakin tidak sudi memberikannya — Maka dia berkata.
"Baiklah, aku sudah tahu. Kalian boleh mundur sekarang"
Kedua komandan Lo Sat itu tidak berani banyak bicara lagi.
Kemudian setelah memberikan penghormatan mereka pun mengundurkan diri Keesokan harinya, pembesar utusan Lo sat yang ada di kota Ni Pu Ju yakni Fedor.
A-Golovin mendapat laporan bahwa pasukan besar Kerajaan ceng telah tiba.
Cepatcepat dia menyuruh seseorang mengantarkan surat yang menyatakan bahwa dia akan segera menjumpai mereka dan berharap pihak Kerajaan ceng mendirikan kemah di luar kota tersebut.
"Tidak perlu sungkan-sungkan. Biar kami yang mendatanginya sebadai tamu"
Kata Siau Po Para prajurit Kerajaan ceng segera berpencar Lung Pu suki Peng cun dan Komandan perang yang lainnya memimpin pasukan masing-masing untuk mengepung seluruh Kota Ni Pu Ju.
Bahkan jalan mundur serdadu Lo sat juga ditutup untuk menjaga kemungkinan mereka melarikan diri.
Juga untuk mencegah masuknya bala bantuan dari pihak Barat, Siau Po sendiri memimpin sepasukan prajurit tepat di depan pintu gerbang kota itu.
Dia menggerakkan tangan sebagai isyarat.
Dalam sekejap mata berpuluhpuluh meriam ditembakkan ke atas sebagai tanda kedatangan mereka.
Para pembesar serta menteri-menteri Lo sat melihat begitu banyaknya prajurit Kerajaan Ceng telah mengepung di sekitar mereka.
Malah semangat para prajurit itu begitu berkobar-kobar sehingga sedikit banyak membuat ciut nyali lawan.
Golovin sebagai menteri utusan Lo sat segera menyuruh anak buahnya menyiapkan berbagai macam hadiah untuk dipersembahkan kepada utusan dari Cina, selain itu dia juga menyampaikan surat yang isinya menyatakan bahwa pimpinan kedua negara telah bersepakat untuk berdamai.
Untuk menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan, sebaiknya tentara kedua belah pihak jangan terlalu berdekatan, urusan apa pun dapat dirundingkan secara baik-baik.
Bila kedua belah pihak ada satu orang saja yang memulai sengketa, urusannya bisa gawat.
Perdamaian pun jangan diharapkan lagi.
Siau Po segera mengajak para menterinya untuk merundingkan masalah ini-supaya banyak mengatakan bahwa Bangsa Tionghoa bukanlah bangsa yang tidak tahu adat istiadat-Karena pihak lain telah meminta secara baik-baik maka Bangsa Tionghoa pun harus menerimanya-Sopan dulu, perang belakangan.
Siau Po langsung meminta para prajuritnya untuk mundur sejauh beberapa lie.Golovin melihat prajurit-prajurit Kerajaan ceng telah mengundurkan diri sesuai permintaannya.
Hatinya menjadi lapang.
Dia menulis sepucuk surat lagi untuk Siau Po yang isinya menyatakan bahwa dia mempunyai empat hidayat yang diharapkannya dapat dipenuhi oleh Siau Po-Pertama, tempat pertemuan harus dipertengahan antara Kota Ni Pu Ju dan sungai sengelkev.
Kedua, pada waktu pertemuan, utusan dari kedua belah pihak akan didampingi oleh empat puluh orang pilihannya.
Ketiga, juga disiapkan lima ratus prajurit dari negara masing-masing, serdadu Lo sat menjaga di bawah tembok kota, sedangkan prajurit Kerajaan Ceng menjaga di sepanjang sungai.
Empat, utusan kedua negara juga dikawal oleh serdadu serta prajurit dari pihak masing-masing, batasnya dua ratus enam puluh orang.
Tidak ada seorang serdadu pun dari kedua belah pihak yang boleh membawa senjata tajam ataupun senapan api.
Golovin mengajukan keempat hidayat ini justru mengingat banyaknya prajurit Kerajaan Ceng yang datang, sedangkan serdadu dari pihaknya jauh lebih sedikit.
Kalau jumlah pengawal utusan itu tidak dibatasi kerugian pasti ada di pihaknya.
Siau Po mengajak para menterinya merundingkan persyaratan yang diajukan oleh Golovin.
Mereka merasa permintaan itu dapat dipenuhi, maka waktu pertemuan pun ditentukan malam hari itu juga Siau Po menyuruh orang mendirikan tenda besar untuk tempat berlangsungnya pertemuan.
Keesokan harinya, Siau Po, So Ngo Ta dan Tang Kok Bang membawa empat puluh orang pilihan serta dua ratus prajurit ke tempat pertemuan.
Di depan pintu Ni Pu Ju yang terpentang lebar, tampak cGolovin memimpin sejumlah pasukan berkuda yang semuanya dilengkapi dengan perisai.
Mereka berbaris dengan rapi, tampak gagah dan berwibawa.
Melihat hal itu, Siau Po langsung memaki.
"Neneknya setan Lo sat benar-benar licik. Dalam syarat yang diajukan kemarin hanya dikatakan bahwa masing-masing utusan boleh membawa pengawal sebanyak dua ratus enam puluh orang. Kita justru tidak menanyakan pasukan jalan kaki atau pasukan berkuda. Telah dicantumkan pula bahwa kedua belah pihak tidak boleh membawa senjata tajam, tidak tahunya mereka justru membawa perisai untuk melindungi diri"
"Hal ini mengingatkan kita bahwa dalam mengadakan perjanjian dengan pihak mereka kita harus super hati-hati. Kalau kita melakukan setitik kecerobohan saja, kita bisa tergelincir habis-habisan"
Kata So Ngo Ta Sementara kedua orang itu berbicara, pasukan berkuda Lo sat sudah hampir sampai di hadapan mereka.
"Kita ikuti saja perintah sri Baginda, Bangsa kita adalah bangsa yang tahu sopan santun, tidak suka menggunakan kekerasan. Kita tunjukkan terlebih dahulu niat baik kita, sebaiknya kita turun dari kuda."
Ujar Tang Kok Bang.
"Baik, semuanya turun dari kuda"
Teriak Siau Po memberikan perintah.
Empat puluh orang pilihan yang mengiringi kedatangan memang menunggang kuda.
Mereka segera turun dan berdiri dengan rapi.
,Golovin yang melihat hal itu segera berseru lantang dan para pengikutnya pun segera turun dari kuda masing-masing.
Kedua belah pihak sama-sama maju untuk berhadapan.
"Utusan Raja dari Negara Lo sat, Golovin mendoakan semoga sri Baginda serta keluarganya di Tiong goan dalam keadaan sehat-sehat selalu"
Ujar Golovin dengan suara lantang. Siau Po menirukan kata-kata lawannya.
"Utusan dari Kerajaan ceng mendapat perintah dari Kaisar Kong Hi untuk mendoakan semoga pangeran-pangeran beserta seluruh keluarganya di Moskow dalam keadaan sehat-sehat selalu"
Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat lalu menambahkan sedikit.
"semoga Tuan Puteri sophia juga selalu cantik dan berbahagia"
Golovin tersenyum simpul Dalam hati dia berpikir.
-Kaisar Cina kok mendoakan semoga Tuan puteri kami selalu cantik dan berbahagia?
Tapi kalau Tuan Puteri mendengarnya, tentu beliau akan merasa senang juga.
Kedua belah pihak segera mengenalkan menteri-menteri dan pembesar dari negara masing-masing lalu berbasa-basi sedikit, setelah itu masing-masing mengemukakan pendapat tentang perjanjian yang harus disetujuiSiau Po melihat para pembesar dan menteri dari Negara Lo sat mendengarkan Ahli sastra Cina membacakan surat kaisar dengan tenang dan sopan, tapi ke dua ratus enam puluh serdadu negara itu justru sudah melompat naik ke atas kuda masingmasing dan mengacung-acungkan perisai di tangan mereka tinggi-tinggi.
Siau Po yang melihatnya semakin lama semakin mendongkol.
Ucapan ini dikatakan dalam Bahasa Lo sat.
Biasanya bahasa asing yang terucap dari mulut anak muda ini selalu kacau balau, tapi dalam keadaan serius ternyata dia dapat menggunakannya dengan baik, Bahkan aksennya mengandung wibawa yang dalam.
"Serdadu kalian benar-benar tidak mengenal sopan santun bertemu dengan pembesar orang Dewasa Tiongkok seharusnya mereka turun dari kuda dan menunggu sampai pertemuan selesai"
Golovin menyahut dengan tenang.
"Negara kami mempunyai peraturan tersendiri biarpun berhadapan dengan pangeran kami sendiri, serdadu pasukan berkuda tidak perlu turun dari tunggangannya masingmasing"
"Daerah ini masuk wilayah Tiongkok. maka kalian harus mengikuti peraturan Tiongkok pula,"
Kata Siau PoGolovin menggelengkan kepalanya.
"Pendapat Tayjin salah ini merupakan tanah yang telah dikuasai oleh negara kami, jadi peraturan yang harus dipakai adalah peraturan kami pula,"
Sahutnya.
Pertemuan yang akan diadakan hari itu justru mempersoalkan siapa pemilik tanah tersebut Hasil keputusan rapat nanti masih belum diketahui, namun utusan kedua belah pihak negara begitu bertemu sudah berdebat.
"Kalian Bangsa Lo Sat datang ke sebuah tempat, kemudian kalian bangun menjadi sebuah kota, dengan demikian apakah berarti tanah itu sudah menjadi milik kalian? Di dunia ini mana ada peraturan seperti itu?"
Kata Siau Po "lni merupakan tanah kekuasaan Negara Lo sat kami, itulah sebabnya kami mendirikan kota di sini, orang Cina toh tidak mendirikan kota di sini, jadi tanah ini memang milik bangsa kami, Tayjin berani mengakui tanah ini merupakan milik Negara Cina, apakah ada bukti-bukti yang menguatkannya?"
Tanya Golovin tak mau kalahSebetulnya kota Ni Pu Ju merupakan daerah bebas tadinya, tidak ada negara mana pun yang pernah mendebatkan masalah ini.
Bahkan dalam buku peta pun tidak tertera kalau wilayah ini masuk wilayah Cina atau Rusia (Lo Sat).
Tapi sejak kota itu mulai dibangun dan banyak penghuninya yang terdiri dari berbagai golongan ras, maka Cina dan Rusia pun saling memperebutkannya dan mengakui wilayah itu sebagai tanah milik negara masing-masing.
Siau Po yang mendapatkan pertanyaan tadi jadi bingung.
Kalau dia berdebat dengan menggunakan Bahasa Lo sat, perbendaharaan kata-katanya dalam bahasa itu terbatas sekali.
Untuk percakapan saja dia sudah kewalahan, apalagi harus bersilat lidah?
Hatinya marah sekali.
"lni merupakan tanah Negara Cina Kami mempunyai banyak bukti"
Teriaknya. Kemudian dia mengganti kata-katanya dengan menggunakan bahasa daerah Yang-ciu, kampung kelahirannya.
"Maknya. Aku ini pernah menjadi leluhur Bangsa Lo Sat dari generasi ke tujuh belas"
Sekali makian terlontar dari mulutnya, kata-katanya ibarat sungai deras yang mengalir di saat banjir, sampai-sampai nenek kakek buyut, istri dan anak-anak Golovin pun tidak terhindar dari caci maki nya.
Melihat utusan dari Tiongkok itu marah sekali, menteri-menteri dan pembesar kedua negara menjadi bingung sekali, jangankan ,Golovin yang tidak mahir berbahasa Cina, bahkan banyak prajurit dari pihak Siau Po sendiri tidak mengerti apa yang diucapkannya.
Bahasa yang digunakan Siau Po merupakan caci maki dari kalangan rendah di kota Yang-ciu orang-orang dari keluarga baik-baik dalam kota itu mungkin hanya bisa menangkap dua atau tiga bagian kata-katanya.
Apalagi So Ngo Ta, Tung Kok Bang yang selamanya tinggal di utara dan mendapat didikan dari kalangan istana?
Setelah memaki panjang lebar, hati Siau Po sudah terasa lapang.
Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak Walaupun tidak mengerti maksud ucapan Siau Po, tapi melihat mimik wajahnya saja Gofovin dapat merasakan bahwa anak muda itu sedang melampiaskan kemarahan di hatinya.
Dan ketika dia melihat akhirnya Siau Po tertawa terbahak-bahak, dia malah terkesima.
Untuk sesaat dia menatap Siau Po dengan pandangan terpana.
"Mohon tanya kepada Tayjin, petunjuk apa yang diberikan oleh Tayjin barusan?"
Tanyanya kemudian "Harap dimaklumi, bahasa Cina kami terbatas, sedangkan bahasa yang digunakan Tayjin adalah bahasa tinggi semoga Tayjin bersedia mengulangi satu persatu dan menjelaskan maknanya agar kami sekalian dapat mengerti."
"Tadi aku mengatakan bahwa kau benar-benar tidak tahu aturan, aku ingin mengambil nenek moyangmu menjadi istriku."
Gofovin tersenyum.
"Ketika masih gadis, nenekku terkenal di Kota Moskow karena kecantikannya. Banyak bangsawan negara kami yang tergila-gila kepadanya. Ayahnya adalah menteri Pedrovousky yang gagah-Rupanya Tayjin juga pernah mendengar tentang kecantikan nenekku. Aku merasa bangga sekali karenanya, sayangnya nenekku sudah mati sejak tiga puluh delapan tahun yang lalu,"
Sahutnya "Kalau begitu aku memilih ibumu saja untuk menjadi kekasih atau istriku,"
Kata Siau Po pula Wajah Golovin semakin berseri-seri, kelihatan kalau hatinya sedang gembira sekali.
"Ibuku juga keturunan orang terkenal wajahnya bersih, kulitnya halus. Beliau pandai membuat puisi dalam Bahasa Perancis, Di dalam Kota Moskov saja entah ada berapa puluh pangeran yang jatuh hati kepadanya. Di negara kami ada seorang penyair yang pernah menuliskan lima puluh lembar puisi untuk ibuku, usianya sekarang sudah enam puluh tiga tahun, tapi tampangnya tidak melebihi wanita yang berusia tiga puluhan. Kalau suatu hari pembesar orang Dewasa Tiongkok berkunjung ke Moskow, aku pasti akan mengenalkan kalian berdua. Tapi untuk menikah rasanya tidak mungkin. Kalau jadi kekasih hati saja, tentu tidak apa-apa seandainya ibuku juga bersedia"
Kebudayaan barat memang jauh berbeda dengan kebudayaan timur.
Bila ada memuji istri atau ibunya, mereka bukannya cemburu,justru malah merasa bangga.
Bahkan merasa lebih menyenangkan daripada dirinya sendiri yang dipuji.
Siau Po justru salah paham.
Dia menyangka Golovin merasa gentar terhadapnya sehingga ibu sendiri pun rela dipersembahkan baginya.
Kemarahan yang menyelimuti hatinya tadi sirna seketika.
Apalagi mendengar nada suaranya, tampaknya Golovin bersedia mengangkat dirinya sebagai ayah tirinya.
sambil tertawa dia berkata pula.
"Bagus, bagus sekali Lain kali kalau aku berkunjung ke Moskov, aku pasti akan menjadi tamu langganan dalam rumahmu"
Dia menarik tangan ,Golovin lalu diajaknya masuk ke dalam rumah.
Pengikut dari kedua negara pun ikut masuk ke dalam tenda yang besar ituRombongan Siau Po duduk di sebelah timur, sedangkan rombongan Golovin di sebelah barat, oo "Ratu yang memegang tampuk pemerintahan di negara kami berpesan bahwa dalam perundingan menuju perdamaian kali ini, pihak kami benar-benar tulus.
Kedua belah pihak harus adil siapa punjangan sampai ada yang menekan pihak lainnya.
Karena itu cula, negara kami mengusulkan untuk menggunakan sungai Hek Liong Kiang sebagai batas.
Bagian utara sungai (Kiang Pak) merupakan wilayah kami, sedangkan sebelah selatan, yakni Kiang Lam menjadi wilayah Tiongkok.
Kalau perundingan ini disetujui, mulai sekarang serdadu kami tidak boleh menginjakkan kaki ke wilayah selatan dan prajurit Kerajaan Ceng tidak boleh melintas ke utara,"
Kata Golovin sebagai pembukaan.
"Kalau Kota ya Ke Lung itu termasuk wilayah utara atau selatan?"
Tanya Siau Po "Letaknya di sebelah utara sungai Kota itu juga dibangun oleh bangsa kami, jadi termasuk wilayah kekuasaan kami,"
Sahut Golovin. Mendengar kata-katanya, hawa amarah dalam dada Siau Po meluap lagi.
"Di tengah-tengah Kota ya Ke Lung ada sebuah gunung, tahukah kalian apa nama gunung itu?"
Tanyanya. Golovin menolehkan wajahnya dan bertanya kepada seorang tua yang berdiri di belakangnya, setelah itu dia baru menjawab.
"Namanya gunung Kocutle"
Siau Po tahu "Kocutle"
Artinya Menjangan, maka dia berkata.
"Dalam Bahasa Cina disebut Lu Ting san (gunung Puncak Menjangan). Tahukah kau pangkat apa yang aku jabat sekarang?"
"Tayjin adalah Lu Ting Kong, dalam bahasa kami disebut Kong ciak dari Kocutle,"
Sahut Golovin.
"Kalau begitu kau sengaja ingin menentang aku. Kau sudah tahu kalau aku ini Lu Ting Kong, tapi kau sengaja menguasai gunung Lu Ting sanjadi kau menginginkan agar aku tidak mendapat jabatan sebagai Kong ciak-"
"Tidaki tidaki Kami tidak bermaksud demikian,"
Sahut Golovin cepat.
"Sekarang aku ingin tahu apa jabatanmu?"
Tanya Siau Po pula.
"Jabatanku sekarang Menteri Lomonosasj"
"Baik, Lomonosasj itu terletak di sebelah mana Tiongkok?"
Golovin sempat terkejut mendengar pertanyaannya, tapi segera tersenyum.
"Lomonosasj terletak di sebelah barat Moskow, mana ada kaitannya dengan Negara Tiongkok?"
"Tadi kau mengatakan bahwa jabatanmu juga berdasar nama suatu tempat yakni Laomanosasi…."
"Laomanosasi,"
Sela Golovin. Siau Po tidak memperdulikannya, dia tetap melanjutkan kata-katanya.
"Berapa jauh jarak antara Pe King, Kota raja kami dengan Lomona apa tadi? Harus menempuh perjalanan berapa hari?"
Jarak dari Lomonosasj ke Moskow saja kurang lebih lima ratus li, setidaknya menempuh perjalanan lima hari. sedangkan ke Kota raja Cina mungkin harus menghabiskan waktu tiga bulan lebih."
"Taruhlah waktu yang dihabiskan untuk menempuh perjalanan itu kurang lebih tiga bulan lima hari. Wah, benar-benar perjalanan yang panjang"
Kata Siau Po pula.
"ya, memang perjalanan yang panjang sekali."
Sahut Golovin.
"Kalau perjalanannya saja sepanjang itu, sudah pasti wilayah Lomono apa tadi bukan lagi termasuk wilayah Cina,"
Kata Siau Po pula. Golovin tersenyum.
"Apa yang dikatakan Tayjin memang tepat sekali."
Siau Po mengangkat cawan araknya.
"Silahkan minum"
Ajaknya.
Orang Lo sat gemar minuman keras.
Malah mereka memilih tidak makan daripada tidak meneguk minuman keras.
Tapi setidaknya Golovin tahu aturan.
Arak sudah sejak tadi disajikan di depan batang hidungnya, baunya harum semerbak.
Namun apabila tuan rumah belum mempersilahkannya minum, sudah pasti dia tidak berani menyentuhnya, sekarang mendengar ajakan Siau Po, tentu saja hatinya senang sekali.
Dia segera mengangkat cawan araknya dan meneguknya sekaligus sampai kering.
Seorang prajurit yang bertugas melayani perjamuan itu segera menuangkan arak lagi ke dalam cawan Golovin.
Pembesar dari Moskow itu juga di jamu dengan berbagai hidangan dari lainnya.
Sembari bersantap, iseng-iseng Siau Po bertanya.
"Kapan Tuan utusan berangkat dari Moskov?"
"Kami mendapat perintah dari Tuan puteri pada bulan empat tanggal dua belas. Hari itu juga kami berangkat dari Moskov,"
Sahut Golovin.
"Bagus, mari kita keringkan lagi cawan ini. Tang Kong ya (Tung Kok Bang) kami ini kuat minum, kalian harus saling mengeringkan beberapa cawan,"
Kata Siau Po-Tung Kok Bang segera menyalang Golovin, Masing-masing minum sebanyak tiga cawan.
"Apakah Tuan utusan bulan ini juga sampai di Ni Pu Ju?"
Tanya Siau Po sambil lalu.
"Kami tiba di sini tanggal lima belas bulan lalu,"
Sahut Golovin.
"Hm, kalian berangkat bulan empat tanggal dua belas, sampai di sini bulan tujuh tanggal lima belas, perjalanannya saja sudah tiga bulan lebihi"
Kata Siau Po"Betul, kami menempuh perjalanan selama tiga bulan lebih. UnTung saja musim dingin sudah berlalu sehingga perjalanan yang harus ditempuh tidak begitu sulit"
Siau Po mengacungkan jempolnya secara tiba-tiba.
"Bagus, Kali ini Tuan utusan benar-benar bersikap jujur. Akhirnya dia mengakui bahwa Ni Pu Ju bukan termasuk wilayah Lo sat,"
Serunya lantang. Golovin sudah menenggak belasan cawak arak-Dia mulai mabuk. "Kapan aku pernah mengakui hal ini?"
Tanyanya, Siau Po tertawa.
"Dari Lomonosa apa tadi ke Kota raja memerlukan waktu selama tiga bulan lebih baru bisa sampah perjalanan itu panjang sekali, jadi Lomonosa apa tadi bukan termasuk wilayah Cina. sedangkan dari Moskov ke Ni Pu Ju juga memerlukan waktu selama tiga bulan lebihi ini bukan perjalanan yang pendek lho jadi Ni Pu Ju juga tidak mungkin termasuk wilayah Negara Lo sat."
Golovin mendelikkan matanya lebar-lebar, untuk sesaat dia tidak tahu harus berkata apa, sampai agak lama dia baru menyahut.
"Negara kami sangat luas, tentu saja tidak dapat disamakan."
"Negara Kerajaan ceng kamijuga bukan negara kecil,"
Kata Siau PoGolovin memaksakan diri untuk mengembangkan seulas senyuman.
"Tay… Tayjin benar-benar suka bergurau. Kedua hal ini mana bisa dibandingbandingkan?"
"Tuan utusan masih bersikeras kalau Ni Pu Ju ini merupakan wilayah Lo sat. Kalau begitu kita bertukar tempat saja. Kita sama-sama berangkat ke Moskov, Aku akan memohon pada Ratu Sophia untuk menganugerahkan kepadaku jabatan sebagai Menteri Lomonansasa apa, dan kau menjabat sebagai Lu Ting Kong, Dengan demikian maka wilayah Lomonosasa apa itu sudah menjadi wilayah Tiongkok."
Kata Siau Po pula. Wajah Golovin langsung berubah merah padam.
"Mana ada aturan seperti itu?"
Ujarnya.
Hatinya jadi gundah seketika.
Dia tahu anak muda ini pernah menjadi kekasih hati Tuan Putirinya.
Kalau sampai wanita itu terkena obat bius Cina anak muda ini, urusannya bisa runyam.
Kemudian dia berpikir pula.
— Wilayah Lomonosasj merupakan wilayah yang subur dan kaya dengan berbagai produk lokal.
Bagaimana kalau Tuan puteri benar-benar memindahkan aku ke kota Ni Pu Ju ini?
Di sini wilayahnya terkenal dingin, penduduknya masih segelintir, hasil buminya sedikit, bisa celaka aku jadinya.
Apalagi pangkatku yang sebenarnya adalah Pangeran Tingkat satu.
Kalau aku berganti jabatan dengan anak muda ini, bukankah sama saja pangkatku jadi turun?
Siau Po melihat air muka Golovin yang serba salah sambil tertawa dia melanjutkan lagi.
"Kau malah bermaksud merebut Kota ya Ke Lung. Dengan demikian aku juga tidak bisa menjadi Lu Ting Kong lagi? Biarpun nama wilayahmu yang Lomonosa apa itu kedengarannya kurang enak di telinga, tapi apa boleh buat, tidak ada udang ikan pun jadi"
Golovin berpikir lagi.
— Rasanya tidak mungkin kalau negara Cina ingin mengakui wilayah Lomonosasj begitu saja.
Tapi si bocah Siau Po ini pernah mendirikan jasa bagi Tuan puteri.
Bukan tidak mungkin dia diberikan jabatan untuk mengelola wilayah Lomonosasj, Hal ini bisa membuat aku repot, sedangkan kami juga bukan serius menginginkan Kota ya Ke Lung, Toh kota itu sudah diduduki kalian, memangnya kalian bersedia disuruh keluar begitu saja?
— Karena itu dengan wajah tersenyum dia berkata.
"Apabila Tuan utusan mengatakan kota ya Ke Lung merupakan wilayah kalian, ya tidak apa-apa. Kami akan mengalah. Kedua negara tetap menggunakan sungai Hek Liong Kiang sebagai patokan. Kota ya Ke Lung dan daerah sepuluh li di sekitarnya merupakan milik Negara Cina, Hal ini kami biarkan karena memandang muka Tuan utusan saja. Kami sudah mengalah sebisa-bisanya."
Siau Po berpikir dalam hati.
— Kalian sudah kalah perang masih membuka mulut besar Coba kalau kalian yang memenangkan peperangan ini.
Kemungkinan kota Pe King juga harus kami serahkan kepada kalian — Meskipun demikian di luarnya dia berkata.
"Kita sudah melakukan peperangan satu kali, entah pihak kalian yang menang atau pihak kami yang menang?"
Golovin mengerutkan keningnya.
"Hanya perang kecil, rasanya juga sulit untuk mengatakan siapa yang menang atau siapa yang kalah. Apalagi Tuan puteri kami sudah berpesan, demi kerukunan kedua negara, jangan sekali-sekali berperang, itulah sebabnya kami tidak melakukan pembalasan ketika prajurit Tuan utusan menyerang. Kalau tidak akhir ceritanya tentu berbeda lagi-"
Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara 9
Baca Juga: Lima Jago Luar Biasa 1