Eps 24 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
Siau Po jadi marah mendengar katakatanya.
"Jadi kalau Bangsa Lo Sat mengangkat senjata dan menembakkan meriam, bukan melakukan pembalasan namanya?"
Teriaknya keras-keras.
"Mereka hanya mempertahankan kota yang dianggap milik negaranya... Bukan melakukan pembalasan namanya. Kalau benar-benar berperang, tidak mungkin Bangsa Lo Sat hanya mempertahankan tanpa melakukan pembalasan. Mereka pasti akan mengeluarkan seluruh persediaan senjata api yang paling hebat dan menyerbu langsung ke Kota raja Pe King"
Sahut Golovin.
Siau Po marah sekali.
Dalam hati dia memaki, -Neneknya.
Kalian bangsa rambut kuning hanya pandai menggertak.
Kalau aku Wi Siau Po sampai termakan gertakanmu, maka aku akan mengikuti margamu, jadi anakmu atau cucumu Namaku akan kuganti menjadi Siau Po Pedro — Dia tahu orang Lo sat selalu menggunakan nama kecil di depan dan marganya di belakang, tapi justru tidak tahu bahwa Pedro itu nama kecil si utusan, sedangkan Golovin baru marganya.
Kemudian terdengar dia berkata.
"Bagus, bagus sekali Tuan Besar, tahukah kau apa yang paling kuharapkan dalam hati ini?"
"Mengenai hal ini aku tidak tahu, harap Tuan utusan memberikan petunjuk"
Sahut Golovin.
"Jabatanku sekarang baru Kong ciak (gelar pangeran yang diberikan karena mendirikan jasa besar), bukan pangeran asli. Aku mengharapkan kenaikan pangkat sehingga aku bisa menjadi pangeran yang asli atau setidaknya menantu raja,"
Kata Siau Po — Menjadi pangeran asli atau naik pangkat, memangnya hanya kau yang bercita-cita setinggi, itu? -Ejek Golovin dalam hati. Di luarnya dia justru berkata lain.
"Tuan utusan sangat cerdas dan masih muda, perjalanan yang harus ditempuh masih panjang. Apabila Tayjin mendirikan beberapa jasa lagi, aku yakin lama kelamaan Tayjin akan dianugerahi pangkat sebagai Ceng ong atau pangeran yang dianggap sedarah dengan rajanya. Dengan setulus hati aku mendoakan agar cita-cita Tayjin segera tercapai."
Siau Po merendahkan suaranya.
"Tapi untuk hal ini aku memerlukan bantuanmu,"
Katanya, Golovin tertegun sejenak.
"Tentu saja aku bersedia mengulurkan tangan, tapi entah bantuan apa yang dapat kuberikan?"
Tanya Golovin. Siau Po mendekatkan bibirnya ke daun telinga Golovin dan berkata.
"Kalau menurut peraturan negara kami, seorang harus sanggup memenangkan peperangan besar barulah dapat dianugerahi kedudukan Pangeran Tingkat satu, sedangkan sekarang ini negara kami sedang damai-damainya, para pemberontak sudah terbasmi semua. Untuk menunggu kesempatan baik ini, mungkin dua atau tiga puluh tahun lagi baru kesampaian, sedangkan dalam perundingan ini kau tidak mau mengalah setindak pun, sebaiknya kau pimpin sejumlah pasukan besar untuk menggempur Kota raja kami, kalau perlu sekarang bunuh dulu dua atau tiga orang menteri utusan Istana. Dengan demikian kedua negara pasti akan berperang. Kau kerahkan seluruh perlengkapan senjata api dan meriam yang paling dahsyat untuk menyerang Pe King. Dan kami akan bekerja sama dengan negara Swiss mengerahkan seaenap kekuatan untuk menggempur Moskow. Lebih baik lagi kalau perangnya berjalan sadis, darah berceceran di mana-mana, rakyat yang tidak berdosa kita korbankan. Akhirnya toh aku bisa dianugerahi pangkat yang lebih tinggi, bahkan ada kemungkinan kaisar yang sekarang bersedia mengangkatku menjadi saudaranya, Tolong deh. Mudah-mudahan kau sudi memberikan bantuanmu. Tapi bicaranya jangan keras-keras, nanti terdengar oleh orang lain"
Semakin didengarkan hati Golovin semakin terkejut terhadap apa yang dikatakan Siau Po-Dia berpikir bahwa anak muda ini benar-benar nekad-Demi mendapat jabatan sebagai pangeran asli saja rela mengadu domba kedua negara agar berperang, malah bermaksud mengajak negara Swiss bekerja sama untuk menggempur Moskov.
Kalau perang ini sampai terjadi, siapa yang menang atau siapa yang kalah memang masih belum pasti.
Tapi situasi di depan mata ini justru tidak menguntungkan pihaknya.
Diam-diam Golovin menyesal barusan mengungkit-ungkit soal menggempur Kota raja Pe King segala.
Anak muda di hadapannya ini bukannya gentar malah jadi bersemangat umpannya kali ini sungguh-sungguh salah sasaran.
Tapi kalau dia memperlihatkan mimik cemas, pasti akan dipandang rendah oleh Siau Po-Untuk sesaat dia dilanda kebingungan.
Terdengar Siau Po berkata pula.
"Sayangnya jarak tempat ini ke Moskov terlalu jauh. Kalau mengerahkan tentara Ceng menyerbu ke sana, kami tidak yakin juga,Jangan-jangan bukannya menang malah kalah. Kalau sampai hal ini terjadi, sri Baginda tentu akan menyalahkan aku...."
Mendengar ucapan Siau Po yang terakhir, otak Golovin berjalan lancar lagi dan wajahnya berseri-seri seketika.
"Betul, betul,"
Sahutnya mengiakan "Sebaiknya Tuan utusan jangan menempuh resiko besar ini."
"Aku toh hanya ingin mendirikan jasa besar agar mendapat kenaikan pangkat, bukannya benar-benar ingin menghancurkan Negara Lo sat. Lagipula, negara kalian begitu besar, belum tentu kami sanggup menghancurkannya,"
Kata Siau Po.Kembali Golovin mengiakannya berkali-kali.
"Begini saja"
Kata Siau Po dengan suara lirih.
"Kau kerahkan pasukan untuk menggempur Pe King, sedangkan aku akan mengerahkan pasukan untuk menggempur Ni Pu Ju, Berhasil menggempur Pe King tentunya merupakan jasamu, berhasil menggempur Ni Pu Ju akan menjadi jasaku. Kita dua bersaudara memimpin peperangan masing-masing. Apa pendapatmu tentang siasat yang satu ini?"
Bagian 94 Diam-diam Golovin mengeluh celaka, pasukannya sekarang hanya ada dua ribuan orang.
Untuk merebut kembali Kota Ya Ke Lung saja sudah jadi masalah, apalagi menggempur Kotaraja Negara Cina?
Dalam hati dia berpikir, kalau tidak mengaku kalahi kemungkinan anak muda ini akan semakin melantur ke mana-mana.
Sambil tertawa getir dia berkata.
"Harap Tayjin jangan mengambil hati atas apa yang aku ucapkan tadi. Memang aku mengatakan tentang perlengkapan senjata api dan meriam untuk menggempur Kotaraja Pe King, tapi tentunya aku tidak bersungguh-sungguh, sekarang aku menarik kembali semua kata-kataku tadi, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya."
Siau Po memperlihatkan tampang kebingungan.
"Kata-kata yang sudah diucapkan kok seenaknya ditarik kembali?"
Tanyanya.
"Aku benar-benar berharap Tayjin sudi melupakan apa yang kukatakan tadi,"
Sahut Golovin dengan nada lunak.
"Jadi pihakmu bukan benar-benar ada niat untuk menggempur Pe King?"
"Tidak, tidak mungkin kami lakukan hal itu,"
Sahut Golovin tegas.
"Kalian juga tidak bermaksud menguasai Kota ya Ke Lungku lagi?"
Tanya Siau Po.
"Tidak, kami tidak menginginkannya lagi,"
Sahut Golovin.
"Mengenai Kota Ni Pu Ju ini, berarti kalian juga tidak berani menginginkannya lagi?"
Golovin tertegun.
"Ni Pu Ju merupakan wilayah negara kami, harap Tayjin sudi memaafkannya,"
Sahutnya kemudian.
Siau Po berpikir dalam hati.
— Bila aku meminta Kota Ni Pu Ju, belum tentu dia akan mengabulkan.
Coba aku ingin tahu apa yang akan dikatakannya, jika aku meminta daerah sebelah barat kota Ni Pu Ju.
— Karena itu dia berkata.
"Dalam perundingan kita kali ini, kedua belah pihak harus bertindak adil, jangan sampai ada yang mengalami kerugian, bukan?"
Golovin menganggukkan kepalanya.
"Betul Kedua negara sama-sama mempunyai kekuasaan Paling baik kalau dapat berdiri sejajar untuk selama-lamanya" .
"Bagus sekali. Kalau wilayah sebelah sana dipotong sampai terlalu dekat kota Moskov, berarti pihak Lo sat yang rugi. Kalau wilayah sini yang dipotong sampai terlalu dekat ke Pe King berarti negara Cina yang rugi. sebisanya kita harus mengambil jalan tengah. Dua ditambah satu sama dengan lima,"
Kata Siau Po "Apa yang dimaksud dengan dua ditambah satu jumlahnya lima?"
Tanya Golovin tidak mengerti "Dari Moskov ke kota Pe King kurang lebih harus menempuh perjalanan selama tiga bulan, bukan?"
Tanya Siau Po tanpa menjawab pertanyaan lawannya.
"Betul,"
Sahut Golovin "Kalau tiga bulan dibagi dua jadi berapa lama?"
Tanya Siau Po pula. Golovin tidak mengerti apa maksud pertanyaan Siau Po, maka dia menjawab seadanya. "Jadi satu setengah bulan."
"Betul. Kita juga tidak perlu berdebat panjang lebar lagi. Kita kembali saja ke Ibukota negara masing-masing. Kemudian kau berangkat lagi dari Moskov untuk menempuh perjalanan selama satu setengah bulan dan aku juga berangkat dari Kota Pe King untuk menempuh perjalanan selama satu setengah bulan, sampai waktunya tentu kita akan bertemu bukan?"
Tanya Siau Po"Betul. Tapi entah Tayjin mempunyai maksud apa melakukan hal ini?"
"Ini merupakan cara yang paling adil untuk membagi wilayah. Tempat kita bertemu nanti akan menjadi perbatasannya. Tempat itu jaraknya satu setengah bulan perjalanan dari Moskov, juga memerlukan waktu satu setengah bulan perjalanan dari Kota Pe King. Kalian tidak rugi, kami pun tidak rugi. Namun berarti peperangan yang kami menangkan tempo hari, jadi sia-sia. Hitung-hitung malah kalian yang untung,"
Kata Siau Po. Wajah Golovin langsung berubah merah padam "Ini—. ini.,."
Dia melonjak bangun dari tempat duduknya. Siau Po tertawa.
"Tentunya kau juga beranggapan cara ini merupakan cara yang teradil, bukan?"
Golovin langsung mengibaskan tangannya berkali-kali.
"Tidak, tidak bisa Kalau membagi wilayah dengan caramu itu, bukankah berarti hampir setengah dari wilayah negara kami akan menjadi milik kalian?"
Protesnya keras.
"Tidak mungkin setengahnya Di sebelah barat negara kalian masih banyak negaranegara kecil lainnya, toh tanah di wilayah itu tidak perlu dibagi menjadi dua tambah satu jumlahnya lima dengan negara kami?"
Saking kesalnya jenggot Golovin sampai berdiri semua.
"Kong ciak Tayjin, kalau kau benar-benar bermaksud membiarkan pertemuan ini menjadi lancar, seharusnya kau mengemukakan usul yang masuk akal. Cara yang kau katakan tadi sepertinya ingin menguasai setengah dari tanah negara kamu Ini.... Ini benar-benar penghinaan namanya"
Dengan marah dia menghentakkan pantatnya di atas kursi sehingga terdengar suara krek seakan tungkai kaki tempat duduknya retak. Siau Po kembali merendahkan suaranya.
"Sebetulnya mengadakan perundingan untuk mendamaikan kedua negara seperti ini kurang seru, bagaimana kalau kita berperang saja?"
Tanyanya. Jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan Golovin saat itu. Rasanya dia ingin menggebrak meja keras-keras sambil berteriak.
"Perang ya Perang. Memangnya aku takut?"
Tapi dia membayangkan pula, apabila peperangan ini sampai terjadi, akibatnya benar-benar parah, sedangkan menilik situasi sekarang, tipis sekali kemungkinan dia bisa menang.
Karena itu terpaksa diu menahan kekesalan hatinya dan memilih berdiam diri.
Tiba-tiba Siau Po mengulurkan tangannya untuk menggebrak meja keras-keras, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Ada, ada Aku masih mempunyai cara lain yang lebih adil untuk menentukan batas wilayah negara masing-masing."
Dia mengeluarkan dua butir dadu dari balik sakunya lalu ditiupnya satu kali.
"Kau toh tidak bersedia melakukan parang dengan kami, tapi kau juga tidak menggunakan cara dua tambah satu jumlahnya lima. Mari kita taruahan lempar dadu saja, umpamanya jarak antara Pe King dan Moskov seribu li, kita bagi jadi sepuluh bagian setiap bagiannya seribu li. Kita adu lempar dadu sepuluh kali, siapa yang menang akan mendapatkan wilayah seribu li dari perbatasan Kalau rejekimu bagus dan kau berhasil memenangkan sepuluh kali taruhan, maka kota Pe King akan menjadi milik Negara Lo sat kalian,"
Katanya. Golovin mendengus dingin.
"Bagaimana kalau pada lemparan yang sepuluh kali itu aku kalah semuanya?"
Siau Po tertawa.
"Sebaiknya kau sendirilah yang mengatakannya."
"Apakah tanah negara kami yang luasnya mencapai laksaan li itu harus aku persembahkan kepada kalian?"
"Rasanya nasibmu juga tidak mungkin seburuk itu. Kalau kau bisa menang satu kali saja, berarti kau sudah mempertahankan seribu li tanah kalian. Dua kali menang menjadi dua ribu li. Enam kali menang jadi enam ribu li, kalian malah sudah meraih keuntungan,"
Kata Siau Po. Golovin semakin marah.
"Untung apanya? jarak sejauh seribu li masih terhitung tanah negara Lo sat kami. Dua ribu li, tujuh ribu li, delapan ribu li juga masih terhitung wilayah negara kami"
Sejak tadi Siau Po dan Golovin saling berdebat.
Si Ahli sastra dari Kota raja tidak henti-hentinya menterjemahkan.
Mula-mula So Ngo Ta dan Tang Kok Bang serta beberapa pembesar lainnya merasa marah karena Golovin dengan seenaknya menentukan sungai Hek Liong Kiang sebagai pembatas kedua negara.
Namun akhirnya mereka mendengar si penterjemah menceritakan perdebatan antara Siau Po dan Golovin.
Mereka mendengar bagaimana si anak muda menggunakan cara yang berbeda-beda untuk menaklukkan utusan Lo sat itu.
Siau Po malah mengajak Golovin mengerahkan pasukannya untuk menggempur Kota Pe King.
Tentu saja mereka jadi bingung.
Tapi mereka juga sadar bahwa Bangsa Lo sat adalah bangsa kasar yang tidak tahu etiket kenegaraan.
Malah belakangan mereka mendengar Siau Po mengajukan cara yang aneh untuk membagi wilayah kedua negara sehingga sang utusan Lo sat menjadi keblinger menghadapinya.
Terakhir Siau Po justru mengajak lawannya taruhan lempar dadu.
Diam-diam para pembesar dari Kerajaan ceng itu berpikir.
-Bangsa Lo sat licik dan pandai menggunakan kelemahan orang.
Mereka tidak pernah memakai peraturan, untung kami mempunyai seorang raja yang bijaksana serta cerdas.
Beliau bisa berpikir untuk mengirimkan Wi Tayjin ini sebagai utusan untuk mengadakan perundingan dengan pihak Lo sat.
Mungkin hanya Wi Tayjin ini seorang pula yang dapat memikirkan bermacam-macam akal busuk untuk menandingi kelihaian Bangsa Lo sat — Sebetulnya So Ngo Ta, Tang Kok Bang maupun pembesar lain di istana hanya berpura-pura baik dan hormat di hadapan Siau Po, namun di belakangnya mereka justru memandang remeh.
Hanya karena kebetulan si anak muda merupakan bawahan yang paling disayang oleh sang Raja, mereka terpaksa mengambil hatinyaLagi pula, dalam sikapnya sehari-hari Siau Po sering menunjukkan kebodohannya sendiri.
Lagaknya kadang-kadang kelewat norak, sedangkan kali ini sri Baginda memerintahkan anak muda itu menjadi utusan untuk membicarakan masalah perdamaian dengan Negara Lo sat.
Tadinya mereka mengira anak muda ini hanya akan mempermalukan nama negara dengan tindakannya yang konyol Tidak disangka kecerdasan sri Baginda memang tidak dapat diragukan lagi, pilihannya selalu tepat kalau sekarang yang diutus mendamaikan kedua negara bukan Siau Po, urusannya malah bisa jadi perang besar.
Mungkin dalam seluruh istana, tidak ada orang lain lagi yang lebih cocok melaksanakan tugas ini semakin mendengarkan perdebatan yang diterjemahkan oleh Ahli sastra dari istana, mereka semakin kagum terhadap si anak muda itu.
Tentu saja semua ini berkat kepandaian Kaisar Kong Hi pula.
Mendengar sampai di sini, tiba-tiba So Ngo Ta menukas.
"Moskov memang asalnya milik negara Cina kami juga."
Si Ahli sastra berkebangsaan Holland langsung menterjemahkan kata-kata So Ngo Ta.
Tentu saja Golovin jadi terkejut setengah mati-Dia berpikir dalam hatiAnak muda ini sudah mengoceh yang bukan-bukan, itu sih masih tidak apa-apa, kok engkau si tua bangka malah ikut-ikutan mengacau?
Bagaimana mungkin negara kami bisa menjadi milik negara Cina?
Terdengar so Ngo Ta berkata kembali "
Kalau menilik pembicaraan Tuan utusan barusan, wilayah yang sudah pernah diduduki oleh Bangsa Lo sat berarti sudah menjadi milik bangsa kalian, bukan?"
"Memang benar kok Tanpa hujan tanpa angin kau mengatakan bahwa kota Moskov juga terhitung milik negara kalian, ini benar-benar merupakan lelucon yang paling tidak lucu sepanjang hidupku,"
Sahut GolovinDan negara kalian terdiri dari berbagai suku, ada Elos atau apa yang besar ada pula Elos kecil Elos putih dan sebagainya, bukan?"
Tanya so Ngo Ta pula.
"Memang benar, Lo sat adalah negara besar, sudah pasti suku bangsanya juga banyak-"
"Tapi suku bangsa kami juga banyak sekali Ada orang Boan ciu, orang Mongol, orang Han, suku Biau, suku Hwe, Tibet dan lain sebagainya lagi." "Memang benar Lo sat merupakan negara besar. Cina juga merupakan negara besar. Boleh dibilang Lo sat dan cina merupakan dua negara terbesar yang ada di dunia sekarang ini"
Sahut Golovin "Tampaknya para serdadu yang dibawa oleh Tuan utusan kali ini sebagian besar terdiri dari orang-orang suku Ke Lungke"
Kata so Ngo Ta pula. Golovin tersenyum simpul.
"Ke Lungke merupakan suku bangsa yang paling gagah perkasa dari negara Lo sat kami"
"Kalau begitu, suku bangsa yang lain seperti Elos apa tadi tidak ada yang kegagahannya melebihi suku Ke Lungke?"
Tanya so Ngo Ta Tidak bisa dikatakan demikian Suku Ke Lungke merupakan rakyat negara Lo sat.
Suku Elos yang anda katakanjuga terdiri dari rakyat negara Lo sat-Tidak ubahnya seperti suku Boan ciu.
Han maupun suku Biao dalam negara Cina kalian."
So Ngo Ta menganggukkan kepalanya.
"ltu dia. Makanya Moskov juga terhitung wilayah Cina kami,"
Katanya Sejak tadi Siau Po hanya mendengarkan perdebatan antara kedua orang itu.
Dia tidak mengerti maksud yang terkandung dalam ucapan so Ngo Ta, jarak antara tempat itu dengan Moskov memang laksaan li.
Mana mungkin Moskov bisa menjadi milik Cina sebelumnya?
Tapi dia mendengar pembicaraan so Ngo Ta yang berputar-putar, sedangkan semakin lama urat hijau di kening Golovin semakin menonjol, pertanda orang itu sudah gusar sekali.
Maka tanpa berpikir panjang dia turut berkata.
"Moskov memang aslinya milik Negara Cina kami. justru raja-raja bangsa kami berjiwa besar satu orang dikirim untuk bertani di sana, seabad kemudian sudah lupa budi"
Tentu saja Golovin tidak mengerti maksud ucapan Siau Po, tapi dia dapat merasakan bahwa pembicaraan orang-orang dari negara Cina ini semakin lama semakin melenceng dari jalurnya.
Tidak mirip dengan orang yang beradab tinggi.
Maka dia pun tertawa dingin.
"Hm, dulu aku pernah mendengar bahwa Bangsa Cina sangat sopan tutur katanya, rata-rata berpendidikan tinggi. Tak disangka... he— he— semuanya justru tukang mengibul yang tidak sanggup memperlihatkan bukti apa-apa."
Tuan utusan adalah seorang Menteri besar, taruhlah pendidikannya tidak seberapa tinggi, tapi setidaknya mengerti sejarah Negara Lo sat, bukan?» tanya so Ngo Ta pula.
"Sejarah negara kami mempunyai dokumen yang tersimpan rapi. Bukan hanya ucapan di bibir yang tidak ada bukti apa-apa,"
Sahut Golovin tegas.
"Bagus sekali, jaman dulu Negara Cina kami mempunyai seorang kaisar yang bernama Jengis Khan...."
Mendengar disebutnya nama raja jengis Khan, tanpa sadar Golovin menjerit.
"Aduh"
Dalam hati dia mengeluh. — Celaka Celaka Kenapa aku sampai melupakan hal yang satu itu? — Terdengar so Ngo Ta melanjutkan kata-katanya..
"Bangsa Cina kami menyebut jengis Khan sebagai Goan Thaycou, Karena beliaulah yang mendirikan Dinasti Goan. Beliau aslinya orang Mongol seperti yang Tuan utusan kemukakan tadi, baik orang Boan ciu, orang Mongol, orang Han, semuanya sama saja, termasuk suku bangsa Cina kami. Pada saat itu pasukan Mongol ia pernah menuju barat untuk menggempur Negara Lo sat, bahkan terjadi peperangan sebanyak beberapa kali, sejarah negara kalian mempunyai dokumen yang tertulis, pasti bukan sekedar isapan jempol belaka. Tolong jelaskan, dalam beberapa kali peperangan itu, apakah Bangsa Cina kami yang meraih kemenangan atau Bangsa Lo Sat kalian yang menang?"
Golovin membisu, sampai sekian lama dia baru menyahut.
"Bangsa Mongollah yang menang"
"Suku Mongol terhitung Bangsa Cina juga,"
Kata so Ngo Ta.
Untuk beberapa saat Golovin mendelikkan matanya lebar-lebar, akhirnya dia menganggukkan kepalanya juga.
Siau Po mana tahu cerita sejarah, apalagi yang satu ini.
Mendengar perdebatan antara so Ngo Ta dan Golovin, semangatnya jadi terbangun seketika.
"Kalau Bangsa Cina dan Bangsa Lo Sat berperang, sudah pasti Bangsa Lo Sat yang kalah, Kebisaan kalian belum seberapa. Lain kali kalau kita berperang lagi, sebaiknya bangsa kami menggunakan sebelah tangan saja. Kalau memenangkan suatu peperangan terlalu mudah rasanya kurang seru juga,"
Katanya.
Golovin menatapnya dengan pandangan marah.
Dalam hati dia berpikir -Sayang Tuan puteri telah berpesan wanti-wanti, dalam pertemuan kali ini, bagaimanapun harus berdamai, tidak boleh angkat senjata, Kalau tidak.
berdasarkan hinaan kalian atas Bangsa Lo sat saja, aku akan mengajak kau berduel sampai mati — Siau Po tertawa terkekeh-kekeh, lalu bertanya kepada so Ngo Ta.
"sotoako, bagaimana caranya jengis Khan dapat mengalahkan Bangsa Lo Sat?"
"Pada waktu itu jengis Khan memerintahkan bawahannya untuk mengerahkan pasukan mereka menuju barat, jumlah tentaranya hanya dua laksa orang. Tapi ternyata mereka sanggup membasmi puluhan laksa serdadu Lo sat, Cucu Jengis Khan, panglima Besar Pa to juga seorang pahlawan. Dia memimpin pasukan perang dan secara gemilang berhasil menduduki Kota Moskov, Malah negara Polandia dan sekitarnya pun berhasil dikuasainya selama puluhan tahun sejak kejadian itu, para pembesar Moskov terpaksa menuruti perkaTaan Bangsa cina, saat itu suku Mongol dari bangsa kita tinggal di tenda yang ditempeli emas permata. Bangsa Lo sat secara berturut-turut datang menyembah Kalau bangsa kita senang menyepak pantat mereka, orang-orang Lo Sat, tidak berani mengaduh sedikitpun. Kalau ingin tampar juga demikian. Malah mereka harus berteriak 'Lagi, lagi', kalau tidak, kepalanya bisa kena penggal."
Wajah Golovin sebentar hijau sebentar putih memucat Apa yang dikatakan oleh so Ngo Ta memang berdasarkan sejarah, bukan cerita yang dikarang-karang, cuma Bangsa Lo sat selamanya tidak pernah mengakui Bangsa Mongol merupakan Bangsa Cina juga.
Tapi pada saat ini Mongol memang sudah termasuk wilayah Cina, Kalau mau diperdebatkan bukan urusan yang mudah.
Tuan utusan, rasanya masalah membagi wilayah ini tidak perlu kita lanjutkan lagi, sebaiknya kau kembali saja ke negara mu dan tanyakan pada Tuan puteri kalian kapan Moskov akan dikembalikan kepada Cina?
Aku juga ingin cepat-cepat kembali ke Pe King untuk mengumpulkan kulit kerbau dan emas-sebab aku ingin segera membuat sebuah tenda dari emas seperti jaman jengis Khan dulu, setelah itu aku akan meratakan istana Kremlin dan mendirikan tenda emasku itu di atasnya.
Pada waktu itu aku akan mengundang Tuan Puteri sophia tidur di dalamnya.
Ha ha ha ha"
Kata Siau Po sambil tertawa terbahak-bahaki Mendengar sampai di sini, Golovin tidak bisa menahan kemarahan hatinya lagi.
Tampak dia menerjang ke luar tenda lalu memberi perintah dengan suara lantang.
Terdengarlah suara derap kaki kuda yang riuh.
Dua ratus lebih pasukan berkuda langsung menerjang datang.
Siau Po terkejut setengah mati.
"Aduh Makhluk berbulu itu mengajak perang, lebih baik kita kabur saja"
Teriaknya. Tang Kok Bang sudah berpengalaman menghadapi perang yang bagaimanapun, maka dia tidak sudi mengalah begitu saja.
"Wi Kong ya tidak perlu panik, kalau memang mesti berperang, kita layani saja. Memangnya kita takut kepada mereka"
Katanya.
Terdengar suara teriakan lantang dari pasukan berkuda, seluruh tubuh Siau Po gemetaran.
Dia menundukkan kepalanya dan menyusup ke kolong meja, Tang Kok Bang dan So Ngo Ta saling memandang.
Mimik wajah mereka mengandung kekhawatiran juga.
Tenda disingkap, seseorang masuk dengan langkah lebar.
Dialah komandan pasukan yang mengawal kedatangan Siau Po, Dia berseru dengan suara lantang.
"Lapor Thayswe—."
Tapi dia tidak melihat panglima besarnya, Siau Po yang bersembunyi di bawah kolong meja mengenali suara Lim Heng Cu, maka dia menjawab.
"Aku— aku ada... di-"
Sini, Ka."
Lian semua.— cepat-cepat menyelamatkan.,, di,., ri."."
Lim Heng Cu berjongkoki lalu berkata kepada panglimanya yang bersembunyi di kolong meja "
Lapor Panglima serdadu Lo sat hanya besar suaranya Kita tidak boleh menunjukkan kelemahan. Kalau memang mau dienyahkan, enyahkan saja maknya sekalian"
Siau Po mendengar suaranya yang gagahi perasaannya menjadi jauh lebih tenang.
Dia segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Tadi keadaan memang terlalu mendadak, sehingga tanpa berpikir panjang lagi dia menyusup ke kolong meja, padahal biasanya Siau Po juga bukan orang yang terlalu penakut.
Maka dia menepuk dadanya sendiri dan berkata.
"Bagus, Kalau mau dienyahkan, enyahkan saja neneknya sekalian Bapakmu ini juga keturunan para kesatria. Kegagahan baru tidak maju, eh bukan, kegagahan barulah berharga"
Tanpa menunda waktu lagi, dia menarik tangan Lim Heng Cu dan diajaknya ke luar dari tenda.
Sampai di luar tenda, dia melihat pasukan berkuda Negara Lo Sat berputaran mengelilingi tenda.
Entah sejak kapan para serdadu itu sudah menggenggam golok di tangan masing-masing dan mengacungkannya tinggi-tinggi.
Golovin berseru lantang, para serdadu itu segera memencarkan diri sejauh dua ratus depa.
Mereka langsung membagi diri menjadi sepuluh kelompok Setiap kelompok terdiri dari dua puluh enam prajurit berkuda.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras, beramai-ramai mereka menerjang ke arah Siau Po.Siau Po menjerit.
"Aduh Emak"
Dia segera membalikkan tubuh untuk menyusup kembali ke dalam tenda, tapi tiba-ttba suatu ingatan melintas dalam benaknya.
— Kalau Setan-setan Lo sat ini memang berniat membunuhku biar bersembunyi di dalam tenda juga tetap bisa diseret ke luar oleh mereka, tapi muka ini mau ditaruh dimana?
Karena itu, meskipun tubuhnya gemetar dan wajahnya berubah menjadi kelabu, dia tetap berdiri tegak di tempatnya "Sebarkan barisan untuk melindungi wi Thay-swe"
Teriak Lim Heng Cu memberikan perintahnya. Terdengar salah seorang prajurit menyahut.
"Baik"
Prajurit Kerajaan Ceng yang berjumlah dua ratus enam puluh orang itu pun segera berpencar dan berbaris rapi melindungi Siau Po dan para pembesar lainnya.
Diam-diam Siau Po mencabut belatinya yang tajam dari balik kaus kakinya.
-Kalau memang setan Lo sat itu mau main kasar, lebih baik kita ajak duel saja, tidak usah sungkan-sungkan lagi — pikirnya dalam hati.
Dia segera menghambur ke hadapan So Ngo Ta dan berseru.
"so Toako, jangan takut, aku akan melindungimu"
So Ngo Ta sebetulnya Menteri Politik, dia tidak pernah berperang, sejak tadi dia memang sudah ketakutan setengah mati, maka dengan suara bergetar dia menyahut.
"Toa... ko hanya... bi... sa menyerah— kan semua... nya kepada saudara,., Wi-"
Tampak sepuluh kelompok padukan berkuda itu menerjang datang, jaraknya kurang lebih lima depa, seorang komandan berteriak lantang.
Dalam waktu bersamaan dua ratus enam puluh serdadu Lo sat itu menarik tali kendali kudanya masing-masing, dan gerakan kaki kuda pun berhenti sekali lagi sang komandan memberikan aba-aba, pasukan berkuda itu langsung membagi diri menjadi dua kelompok.
Kelompok berjumlah seratus tiga puluh orang, demikian pula dengan kelompok kanan.
Mereka lalu bergeraki sebagian ke utara, sebagian ke selatan.
Kira-kira mencapai jarak dua ratusan depa mereka berputar lagi, lalu kembali ke tempat semula dan berhenti pada jarak seratusan depa, lalu kembali ke tempat semula dan berhenti pada jarak seratusan depa.
Gerakan mereka teratur sekali, tidak ada kekacauan sedikit pun.
Dapat dipastikan bahwa mereka merupakan pasukan berkuda yang sudah terlatih baik, Golovin tertawa terbahak-bahak "Kong ciak Tayjin, bagaimana pendapatmu tentang serdadu Lo sat kami?"
Tanyanya dengan suara lantang. Sampai saat ini Siau Po baru tahu bahwa dia hanya pamer kekuatan, Tentu saja si anak muda jadi marah bukan main.
"Itu kan gaya monyet-monyet yang membuat pertunjukkan dalam sirkus Kalau digunakan untuk berperang, sedikit pun tidak ada gunanya"
Sahutnya kesal. Golovin juga meluap amarahnya.
"Kita coba sekali lagi"
Serunya.
Dalam hati dia berpikir, -sekali ini aku akan menyuruh mereka menerjang sampai ke depan mata kalian.
Aku ingin lihat kalian akan lari ketakutan atau tidak.
— "Renggut topi para prajurit itu"
Perintahnya sekali lagi. Seorang komandan menurunkan perintah atasannya, dua ratus orang pasukan berkuda kembali menerjang ke arah prajurit Kerajaan ceng.
"Tebas kaki kuda"
Teriak Siau Po "Terima perintah Kalian dengar Tebas kaki kuda jangan melukai siapa pun"
Seru Lim Heng cu.
Terdengar suara derap kaki kuda seperti guntur yang menggelegar di siang hari, jarak mereka semakin lama semakin mendekat Lima puluh depa, tiga puluh depa, sepuluh depa, tujuh depa, lima depa.
Tiba-tiba Lim Heng cu berseru.
"Gelinding kedepan gerakkan golok kalian"
Rupanya pihak Siau Po juga sudah menduga Bangsa Lo sat pasti tidak berlaku jujur.
Walaupun dalam perjanjian dikatakan masing-masing pihak tidak boleh membawa senjata tajam, namun diam-diam para prajurit Kerajaan ceng menyembunyikan golok di balik pakaian masing-masing.
Begitu mendengar perintah Lim Heng Cu, dua ratusan prajurit itu segera menggelindingkan tubuhnya ke atas tanah sembari menebaskan golokDua ratus enam puluh prajurit kerajaan Ceng ini merupakan orang-orang pilihan.
Mereka rata-rata mahir memainkan ilmu golok.
Ketika tubuh mereka menggelinding ke depan sambil menebaskan goloknya, senjata itu tidak memperlihatkan sinar sedikit pun.
Hal ini saking cepatnya gerakan tangan mereka.
Para serdadu Lo Sat melihat prajurit-prajurit Kerajaan ceng menggelinding di atas tanah, mereka jadi heran.
Padahal serdadu-serdadu Lo sat yang menjaga di kota ya Ke Lung sudah pernah kena batu prajurit Kerajaan Ceng, tapi sayangnya yang mati sudah mati, yang hidup justru sudah menyerahkan diri kepada pihak Cina, sedangkan pasukan berkuda yang melakukan perlawanan kali ini merupakan serdadu-serdadu yang baru didatangkan dari Moskov bersama-sama dengan Golovin.
Mereka belum mengerti kelihaian prajurit Siau Po-Dalam hati mereka justru berpikir, -Berkelahi cara apa itu?
Kalian sendiri yang menggelinding di atas tanah, kalau sampai mati terinjak kaki kuda, jangan sampai kalian menyalahkan orang lain Dalam sekejap mata rombongan yang pertama sudah menerjang tiba-Mereka masih belum mengerti permainan apa yang dijalankan prajurit Kerajaan Ceng, Tahu-tahu tampak sebagian kuda terkulai jatuh setelah meringkik keras, Menyusul beberapa puluh ekor kuda kembali terkulai dalam keadaan yang sama.
Semuanya berlangsung dengan cepat Kira-kira seratusan ekor kuda pihak lawan telah tertebas kakinya sehingga jatuh saling menimpa.
Keadaan jadi kacau balau.
Pihak Lo sat sudah melihat ketidak beresan ini, Golovin segera memerintahkan serdadu-serdadunya untuk menarik tali kendali kuda dan membalik.
Dalam waktu yang sama Lim Heng Cu juga memerintahkan anak buahnya untuk menghambur kembali ke pasukan masing-masing.
Dari pihak Kerajaan ceng hanya ada belasan orang yang terluka, itu pun hanya luka tidak serius.
sambil menahan rasa sakit para prajurit itu kembali ke posisi masingmasing dan berdiri tegak.
Sebagian besar serdadu Lo sat terpelanting dari kudanya.
Beberapa diantaranya tertindih tubuh kuda yang berat, sedangkan lainnya terpental mengenai tubuh temannya sendiri.
Terdengar suara rintihan kesakitan di sana-sini.
Hanya sisanya yang berhasil melarikan diri jauh-jauh.
Teman-temannya yang lain cuma bisa berdiri dengan mulut ternganga dan pandangan terpana serta tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, Saat itu Golovin dan beberapa puluh pembesar Lo sat lainnya justru berada di tengah-tengah arena, mereka tidak menduga akan terjadi hal demikian, sebagian besar pasukannya sudah tidak berdaya, sebagian lagi melarikan diri jauh-jauh-Siau Po yang pandai segera memanfaatkan kesempatan itu.
"sebagian prajurit mengepung para pembesar lawan"
Serunya Lim Heng Cu menerima perintahnya, sebagian prajuritnya disebar untuk mengepung para pembesar lawan, mereka melintangkan golok masing-masing ke samping sehingga membentuk lingkaran golok.
Asal Siau Po berteriak sekali lagi, seluruh golok di tangan prajurit itu akan menebas ke depan.
Bila hal ini sampai terjadi, bukankah rombongan Golovin akan menjadi bola daging?
Melihat situasi saat ini, komandan pasukan berkuda suku Ke Lungke segera melarikan kudanya mendekat sambil berteriak "Jangan melukai orang jangan melukai orang"
Siau Po menolehkan kepalanya kepada Song ji yang mengenakan seragam prajurit Ceng.
"Ke sana dan totoklah jalan darah mereka"
Perintahnya.
Songji mengiakan, tubuhnya berkelebat ke arah komandan pasukan berkuda tadi lalu menotok jalan darah di pinggangnya, setelah itu dia juga menotok jalan darah di punggung sang Wakil Komandan.
Seorang Komandan pasukan kecil menyusupkan tangannya ke dalam saku lalu mengeluarkan sepucuk pistol.
"Jangan bergerak"
Teriaknya.
Dengan gerakan cepat Songji menarik salah seorang serdadu Lo sat yang berada paling dekat dengannya, Dia menggunakan orang itu sebagai perisai sehingga komandan tadi tidak berani menembak "Jangan bergerak"
Teriak komandan itu sekali lagi Songji menghempaskan tubuh serdadu yang ditariknya tadi ke depan.
Komandan pasukan kecil itu terkejut, dia menggeser tubuhnya untuk menghindar tapi gerakan Songji lebih cepat, dia menerjang ke arah komandan itu serta mengulurkan jarinya untuk menotok jalan darah di dada orang itu.
Setelah itu dia merebut pistol dari tangannya dan terdengarlah Dorr Songji melepaskan tembakan ke udara "Bagus Dalam persyaratan yang ditentukan tidak boleh ada yang membawa senapan api, dasar kalian Bangsa Lo sat tidak bisa dipercayai teriak Siau Po sambil berjalan ke depan beberapa langkah.
Dia menuding Golovin sambil berkata.
"Hei, suruh anak buahmu membuang senjatanya masing-masing, dan harus turun dari kudanya. Bagi siapa yang membawa senjata api harus menyerahkannya kepada kami"
Golovin melihat situasi di depan matanya tidak menguntungkan bagi pihaknya, terpaksa meneruskan perintah Siau Po kepada bawahannya Serdadu suku Ke Lungke itu terpaksa membuang goloknya masing-masing dan turun dari kudanya, Siau Po menyuruh anak buahnya melakukan penggeledahan terhadap para serdadu itu.
Karena pimpinan mereka sudah terkepung, terpaksa para serdadu itu membiarkan tubuh mereka diperiksa Di antara para serdadu itu malah ditemukan dua ratus delapan puluhan pucuk pistol.
Ada serdadu yang membawa dua pucuk di kiri kanan ikat pinggangnya.
Para serdadu yang menjaga di bawah tembok kota Ni Pu Ju melihat ada perubahan yang telah terjadi Mereka segera bergerak ke depan, namun di lain pihak, prajurit kerajaan Ceng juga mengikuti tindakan mereka, setelah agak dekat, serdadu Lo sat dapat melihat bahwa semua pimpinan mereka telah terkepung.
Diam-diam mereka mengeluh dalam hati dan tidak berani maju lagi.
Siau Po bertanya kepada Golovin "Untuk apa kalian membawa pistol sebanyak ini?"
Golovin menundukkan kepalanya rendah-rendah "Maaf sebesar-besarnya.
Ternyata anak buahku tidak mendengar perintah, diamdiam mereka membawa senjata api.
sekembalinya ke Moskow nanti aku akan memberikan hukuman berat kepada mereka,"
Sahutnya.
"Saudara-saudaraku sekalian, lepaskan pakaian kalian, lihat apakah ada di antara kalian yang membawa senjata api"
Teriak Siau Po dengan suara lantang.
Para prajurit Kerajaan Ceng segera mengiakan Mereka langsung membuka pakaian masing-masing.
Tangan yang satunya diangkat tinggi-tinggi.
Ternyata tidak ada satupun yang membawa senapan api, Golovin merasa malu sekali sehingga kepalanya tertunduk semakin dalam.
Siau Po berteriak lagi dalam Bahasa Lo sat.
"Bangsa Lo sat tidak tahu malu Lepas seluruh pakaian mereka dan lihat apakah mereka masih menyembunyikan senjata api yang lain atau tidak?"
Golovin terkejut setengah mati.
"Kong ciak Tayjin, harap kau membuka budi. Kalau celanaku ini dilepaskan juga, aku lebih baik bunuh diri"
"Bagaimana pun juga celanamu itu harus dilepaskan"
Kata Siau Po tegas.
"Harap Tayjin memberi pengampunan sekali ini saja, urusan lainnya aku akan menurut apa pun yang kau katakan,"
Ujar Golovin dengan nada meratap.
"Tadi pasukan berkuda mu tiba-tiba menerjang datang. Aku begitu ketakutan sampai bersembunyi di kolong meja, benar-benar membuat malu muka Kong ciak Tayjin ini. Apa pula yang akan kau lakukan untuk mengatasi hal ini?"
Tanya Siau Po Golovin berpikir dalam hati — Nyalimu sendiri yang kecil Memangnya apa yang bisa kulakukan?
-Meskipun hatinya menggerutu namun di depan matanya tampak ratusan golok yang berkilauan Karena itu dengan terpaksa dia menyahut.
"Aku bersedia mengganti kerugian."
Hati Siau Pojadi gembira mendengarnya.
Diam-diam dia bersorak dalam hati.
-ini dia, tidak diminta datang sendiri — Tapi untuk sesaat ia masih belum menemukan apa yang akan dijadikan pengganti kerugian.
Maka dia berseru kepada anak buahnya.
"Potong ikat pinggang Bangsa Lo Sat"
"Terima perintah"
Sahut seorang komandan.
Dia segera memimpin puluhan anak buahnya maju ke depan.
Mereka lalu memotong ikat pinggang para serdadu Lo sat.
Dalam waktu sekejap ikat pinggang ratustan serdadu Lo sat itu telah terputus semuanya.
Mereka terkejut setengah mati, lalu sebera menarik pangkal celana masingmasing aaar tidak merosot.
Siau Po tertawa terbahak-bahak, girang.
"Bangsa Lo sat itu Dengan kemenangan kita kembali keperkemahan"
Serunya lantang, -ooo00000oooPada saat itu, yang dikhawatirkan oleh Bangsa Lo sat hanya celana mereka melorot jatuh kedodoran.
Karena itu tidak ada seorang pun yang berani melakukan perlawanan ketika digiring oleh prajurit-prajurit Ceng.
Tang Kok Bang tertawa lebar.
"Siasat Wi Thayswe benar-benar hebat Kami merasa kagum sekali. Dengan diputusnya ikat pinggang celana Bangsa Lo Sat itu, tidak ubahnya mereka tidak mempunyai tangan untuk melakukan perlawanan lagi,"
Katanya, Siau Po tersenyum.
"Laki-laki Bangsa Lo sat paling takut kalau celananya dilepas, perempuan bangsa Lo sat justru tidak takut sama sekali. Bukankah hal ini merupakan suatu keanehan?"
Mendengar kata-katanya, baik So Ngo Ta, Tang Kok Bang maupun yang lainnya jadi tertawa terbahak-bahak.
Rombongan itu segera bergabung dengan prajurit-prajurit lainnya, seorang komandan menurunkan perintah, anak buahnya bergerak cepat.
Mereka menyingkapkan kain terpal yang menutupi meriam-meriam besar, setelah itu mereka mendorongnya ke depan, empat ratus moncong meriam ditujukan ke arah Bangsa Lo sat, Sebetulnya Negara Lo Sat memang mempunyai perlengkapan senjata api dan meriam yang dahsyat, namun semuanya berada di Moskov, sedangkan di Ni Pu Ju hanya disediakan jumlah yang terbatas.
Kalau dibandingkan dengan persediaan yang dibawakan oleh Kaisar Kong Hi, baik senjata maupun jumlah prajuritnya sudah terpaut jauh.
Bila Golovin tetap menggunakan kekerasan, taruhlah siau Po dan yang lainnya mati, akhirnya mereka pasti kalah juga.
Melihat demikian banyaknya moncong meriam yang diarahkan ke pihak mereka, Golovin dan beberapa pembesar Lo sat lainnya langsung saling memandang.
Mimik wajah mereka menunjukkan perasaan takut, sisa serdadu-serdadu Lo Sat yang tadinya menjaga di bawah tembok kota terkejut setengah mati melihat pemimpin mereka telah tertawan.
Tanpa berpikir panjang lagi mereka segera menghambur ke dalam kota Ni Pu J u dan menutup pintu gerbangnya rapat-rapat.
Ketika melarikan diri, mereka sangat tergesa-gesa, sehingga tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya, Mula-mula mereka merasa heran, mengapa tidak tampak seorang pun dari prajurit Ceng yang melakukan penyerangan.
Perlahan-lahan beberapa orang dari mereka melongokkan kepalanya dari atas tembok kota.
Mata mereka terbelalak saat itulah mereka baru memperhatikan ada empat ratusan meriam yang moncongnya terarah ke pintu gerbang kota itu.
Tentu saja tidak ada satu pun yang berani keluar apalagi berpikir untuk menolong pemimpin mereka.
Sementara itu, tiga komandan serta wakil komandan serdadu Lo sat telah tertotok jalan darahnya oleh Songji.
Mereka berdiri tegak di tengah arena seperti patung kayu.
Para prajurit Ceng merasa geli melihat pemandangan itu, dan tertawa terkekeh-kekeh, sedangkan serdadu-serdadu Lo sat yang berdiri di atas tembok kota justru kebingungan Mereka tidak mengerti mengapa ketiga orang itu berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun.
Siau Po menyuruh anak buahnya menggiring Golovin serta para pembesar lainnya masuk ke dalam tenda.
Di dalam tenda mereka didudukkan di kursi tamu, sementara itu Siau Po hanya memandangi mereka sambil tersenyum simpul.
Hal ini membuat Golovin semakin marah.
"Kong ciak Tayjin, kau tidak perlu bersandiwara lagi. Kalau mau membunuhku, silakan"
Teriaknya lantang.
"Kita kawan baik, mengapa aku harus membunuhmu? Lebih baik kita membicarakan masalah pembagian wilayah"
Sahut Siau Po Dalam hati Siau Po menduga posisinya sudah di atas angin, apa pun yang dimintanya pihak lawan pasti menurutinya.
Tidak tahunya Golovin seorang keturunan para kesatria di negaranya.
Watak orang ini keras kepala.
"Sekarang aku adalah tawananmu, bukan utusan negara tetangga yang datang untuk melakukan perundingan Di bawah tekananmu, tidak ada yang dapat kita rundingkan Kalaupun sampai terjadi perundingan hasilnya juga tidak berlaku,"
Kata Golovin dengan suara sumbang.
"Kenapa tidak berlaku?"
Tanya Siau Po"Keputusannya ada di tanganmu, apa yang harus kita rundingkan? Kau toh tidak bisa memaksaku untuk melakukan perundingan denganmu"
"Kenapa kau mengira aku tidak bisa memaksamu."
"Sebab aku tidak akan menurut"
Sahut Golovin sengit "Kau boleh menggerakkan golok menebas batang leherku, atau boleh juga menggunakan senapan menembakku"
Siau Po tertawa mendengar kata-katanya.
"Bagaimana kalau aku menyuruh orang melepaskan celanamu?"
Tanyanya santai. Golovin langsung berdiri "Kau...."
Tiba-tiba dia merasa celananya merosot, namun cepat-cepat ditariknya ke atas, padahal tadi dia sedang duduk celananya pasti tidak bisa merosot justru saking marahnya tiba-tiba dia berdiri, untung saja dia cepat tanggap sehingga rasa malunya sempat tertolong.
Namun adegan itu cukup menimbulkan kegelian di hati para prajurit Hampir semuanya tertawa menyaksikan kejadian itu.
Saking kesalnya, wajah Golovin berubah putih seperti selembar kertas, Kedua.
tangannya mencengkeram pangkal celana, sikapnya sungguh mengenaskan.
Rasanya dia ingin mengucapkan sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya, namun kedua tangannya tidak bisa digerakkan agar kelihatannya lebih bersemangat.
Akhirnya dia mendengus satu kali lalu duduk kembali di atas kursinya.
Terdengar dia berkata.
"Aku adalah utusan negara tetangga yang diperintahkan untuk melakukan perundingan denganmu, kau tidak boleh menghina aku sedemikian rupa"
"Jangan khawatir, aku tidak menghinamu, sebaiknya kita membicarakan lagi masalah pembagian wilayah."
Ujar Siau Po Golovin mengeluarkan sehelai sapu tangan dari dalam sakunya lalu digunakan untuk menyumbat mulutnya.
Dia bermaksud mengatakan bahwa bagaimana pun dia tidak sudi lagi membicarakan masalah pembagian wilayah dengan Siau Po Siau Po tersenyum.
Dia menyuruh anak buahnya menyediakan arak dan berbagai hidangan.
Dalam sekejap mata semua hidangan sudah tersaji.
"Silahkan jangan sungkan-sungkan"
Ajak Siau Po Golovin merasa tergelitik seleranya mencium bau arak.
Dia tidak dapat menahan diri.
Segera dilepaskannya sapu tangan yang menyumpal mulutnya lalu meneguk sampai kering secawan arak yang ada di hadapannya.
Lagi-lagi Siau Po tersenyum.
"Sekarang mulutmu sudah bisa digunakan lagi?"
Tanyanya.
Golovin tidak menimpali pertanyaan Siau Po, melainkan terus melahap makanan dan minuman yang tersedia di depannya, ia seakan hendak menunjukkan kepada Siau Po dan yang lainnya bahwa mulutnya hanya digunakan untuk makan dan minum, bukan untuk yang lainnya.
Siau Po terus menuangkan arak di cawan lawannya.
Dia berharap dapat membujuk Golovin apabila orang itu sudah mabuk nanti.
Tidak disangka yang terjadi justru diluar keinginannya, setelah menghabiskan belasan kati daging sapi rebus dan belasan cawan arak.
Golovin mengambil sapu tangannya kembali dan kembali menyumbat mulutnya.
Melihat keadaan ini, mau tidak mau Siau Po merasa geli juga.
Dia menyuruh anak buahnya menggiring Golovin ke tenda belakang untuk beristirahat.
Dia juga berpesan agar orang itu dijaga dengan ketat, jangan sampai ada kesempatan untuk melarikan diri sementara itu dia mengajak para menteri dan pembesar istana untuk merundingkan tindakan selanjutnya.
"Orang ini benar-benar keras kepala, sudah pasti dia tidak sudi melakukan perundingan di bawah tekanan para prajurit kita. Namun kalau membiarkannya pulang ke rombongannya begitu saja, rasanya tidak rela juga,"
Kata Tang Kok Bang.
"Kurung saja dia selama delapan atau sepuluh hari,"
Usul So Ngo Ta "Setiap hari kita giring seorang serdadu Lo sat lalu kita bunuh orang itu di hadapan matanya, lihat apakah dia masih terus berkeras?"
"Kalau kita terlalu memaksakan kehendak sampai dia memilih jalan bunuh diri, urusannya bisa jadi runyam. Kita menggunakan kekerasan untuk menindas lawan, apabila masalah ini diselidiki oleh sri baginda, kita pasti terkena dosa,"
Kata Tang Kok Bang.
"Apa yang dikatakan Tang Kokya benar juga. Menggunakan kekerasan juga bukan jalan ke luar yang terbaiki"
Sahut so Ngo Ta setelah berpikir kembali.
Mereka mengadakan perundingan sampai sekian lama, namun tidak ada jalan ke luarnya juga.
Memang mereka sudah berhasil meringkus Golovin, meskipun terhitung sebuah kemenangan, tapi tidak sesuai dengan perintah Kaisar Kong Hi.
Boleh dibilang mereka telah mengacaukan rencana besar kerajaan.
Kalau meleset sedikit saja, tindakan mereka bisa dianggap sebagai dosa besar.
Akhirnya para pembesar istana menyarankan kepada Siau Po untuk melepaskan Golovin.
"Baiklah, Kita tahan dia satu malam ini saja, besok kita lepaskan,"
Ujar Siau Po Dia lalu kembali ke tendanya.
Di dalam tenda itu dia berjalan mondar-mandir sambil memeras otak tiba-tiba suatu ingatan terlintas di dalam benaknya.
-Dulu aku meniru cara Cu Kek Liang yang membakar Lembah Ular sehingga berhasil memenangkan peperangan di Ya Ke Lung, sekarang aku mencoba cara yang kulihat dalam sandiwara Tio yu.
— Dia merenung pula sejenaki akhirnya dia sudah mendapat akal yang bagus Siau Po segera kembali ke tenda besar.
Di sana dia memerintahkan anak buahnya memanggil si Ahli sastra berkebangsaan Holland, Dia mengajak orang itu berkasakkusuk.
Kemudian minta diajarkan dua puluhan kata dalam bahasa Lo sat.
Pemuda konyol itu langsung menghapalkannya luar kepala, setelah itu dia juga memanggil empat orang komandan pasukannya lalu menyampaikan beberapa pesan.
Akhirnya ke empat orang itu menerima perintahnya lalu meninggalkan Sementara itu Golovin tidur di tenda belakang.
pikirannya melayang-layang, di satu pihak dia merasa benci, di satu pihak dia merasa menyesal, mana mungkin dia bisa pulas sepanjang malam?
Golovin bergolek ke sana ke mari sampai tengah malam dia masih belum bisa memejamkan matanya.
Keadaan di sekelilingnya sunyi senyap.
Sayup-sayup terdengar suara hembusan nafas yang teratur Ternyata ketiga prajurit yang menjaga di depan tendanya tertidur pulas.
Golovin berpikir dalam hati.
-Kalau tidak menuruti kehendak si Pembesar Bocah Cina itu, pasti sulit bagiku untuk meloloskan diri Besok kalau setan Kecil itu marah dan aku dibunuhnya, bukankah jadi mati penasaran namanya?
Lebih baik aku mengambil resiko untuk mencoba melarikan diri malam ini juga — Dengan tergopoh-gopoh dia turun dari balai-balainya.
Dekat tempat gantungan baju ada sehelai selendang, dia menggunakannya untuk menggantikan ikat pinggang agar celananya tidak merosot, setelah itu dia mengendap-endap ke luar dari tenda.
Tampak ketiga penjaga sedang tidur dengan lelap, Dengan hati-hati Golovin mengulurkan tangannya untuk mencabut golok yang terselip di pinggang salah seorang penjaga.
Hampir saja dia berhasil meraih gagang golok itu, tiba-tiba si penjaga tersentak dan bersin.
Golovin terkejut setengah mati.
Dia segera menyurutkan tangannya kembali Beberapa saat dia menunggu, namun tidak terlihat gerakan apa-apa.
Kembali terpikir olehnya untuk mengambil golok milik seorang penjaga lainnya.
Namun tiba-tiba penjaga itu juga bergeliat lalu membalikkan tubuhnya.
Mulutnya mengucapkan beberapa patah kata yang tidak jelas, Rupanya orang itu mengigau.
Namun hal ini membuat Golovin tidak berani coba-coba lagi, dan cepat-cepat dia meninggalkan tenda itu.
Dia merasa beruntung karena tidak ketahuan oleh ketiga penjaga itu.
Golovin berjalan terus.
Dia memilih tempat yang remang-remang sehingga dirinya tidak terlihat Tampak olehnya beberapa prajurit sedang meronda.
Mereka membawa sebuah lentera di tangan masing-masing.
Hampir seluruh pelosok dijaga ketat, hanya sebelah barat yang tampak gelap gulita, Golovin mengendap-endap menuju sebelah barat.
Tiba-tiba tiga orang penjaga berjalan ke arahnya, Golovin segera menyusup ke belakang sebuah tenda yang agak besar, untung saja dirinya tidak sampai ketahuanpada saat itulah dia mendengar seseorang dalam tenda berbicara dengan bahasa Lo sat.
"Sebetulnya tidak ada masalah kalau Tayjin tetap ingin menyerang moskov, namun perjalanan ke sana panjang sekali, kemungkinan banyak bahaya yang akan kita hadapi" Golovin terkejut setengah mati mendengar kata-kata orang itu. Dia segera menyingkapkan sedikit bagian bawah tenda dan mengintip ke dalamnya. Hatinya langsung berdebar-debar. Tampak cahaya di dalam tenda itu berwarna putih terang, pemandangan di dalam tenda tampak jelas sekali, Siau Po mengenakan jubah kebesarannya dan duduk di tengah-tengah ruangan. Di sisi kiri kanannya berdiri belasan panglima perang beserta komandan-komandan pasukan Di depannya berdiri puluhan prajurit Ceng yang semuanya menggenggam sebatang golok. Di samping Siau Po berdiri si Ahli sastra kebangsaan Holland yang saat itu sedang berbicara dengan si anak muda. Terdengar Siau Po menyahut dengan menggunakan Bahasa Lo Sat.
"Kita mengajak Golovin minum arak makan yang enak-enak berbincang-bincang, semuanya bohong. Biar bicara sampai satu bulan, dua bulan, tiga bulan juga merupakan kebohongan, sementara itu secara diam-diam prajurit kita bergerak ke barat. Setiap saat Tuan puteri sophia akan menerima laporan bahwa Golovin masih berunding dengan kita. Dasar bodoh Tuan puteri tidak takut, setiap hari masih berpelukan dengan kekasih-kekasihnya. Mendadak pasukan besar Cina sudah sampai ke Moskov, Mereka diserang dengan cara yang tidak mereka pahami. Kedua pangeran beserta Tuan puteri Sophia akan ditangkap. Pada saat itu Bangsa Lo Sat akan menangis, berlutut, menyembah, memohon pengampunan menyatakan takluk"
"Mengenai urusan parang, aku tidak mengerti apa-apa,"
Kata si Ahli sastra Holland.
"Tapi, di satu pihak kita mengajak Bangsa Lo Sat melakukan perundingan sedangkan di lain pihak kita malah mengerahkan pasukan untuk menggempur ibukota negara mereka, rasanya tak melanggar etiket. Tuhan pernah bersabda, kita tidak boleh menipu orang lain untuk kejahatan Kebohongan juga merupakan sebuah dosa."
"Ha ha ha Bangsa Lo sat yang lebih dulu membohongi kita Mula-mula kita sudah berjanji untuk melakukan perundingan dengan baik-baik, kedua belah pihak tidak boleh membekal senjata api. Lihat apa yang dilakukan mereka? Mereka justru membawa senjata api, walaupun bentuknya lebih pendek tapi tetap saja senjata api namanya. Mereka bisa berbohong, kita juga bisa. Dia menggigit aku satu kali, aku akan menggigitnya dua kali"
Teriak Siau Po. si Ahli sastra terdiam sejenak, kemudian dia mendesah panjang.
"Aku hanya bisa menyarankan kepada Kong ciak Tayjin agar mengurungkan niat ini. Kalau dua negara besar berperang, yang menjadi korban bukankah umat Tuhan juga"
Katanya menasehati.
Siau Po mengibaskan tangannya berkali-kali.
Jangan bicara lagi.
Kami hanya percaya kepada Pou sat, tidak percaya Tahan sebetulnya kalau si Golovin itu mau mengalah sedikit dengan memberikan beberapa jengkal tanah kepada Bangsa Cina, mungkin perundingan ini masih bisa dilanjutkan.
Tapi si Golovin busuk itu tidak mau mengalah sedikit pun juga.
Biar kita gempur saja Kota Moskov, pada saat itu laki-laki Bangsa Lo sat akan kami bunuh semua agar bisa masuk surga, sedangkan yang perempuannya dibiarkan untuk menjadi istri-istri Bangsa Cina"
Semakin mendengarkan hati Golovin semakin tegang.
— Tuhanku, Bangsa Cina yang tidak beradab ini benar-benar tidak memandang kekuasaan Tuhan, berani-beraninya mulut mereka membual setinggi langit — katanya dalam hati-Terdengar Siau Po berkata lagi.
"Hari ini aku menyuruh seorang prajurit kecil menyentuh tubuh para komandan Lo sat dengan ujung jarinya, tahu-tahu mereka tidak bisa bergerak lagi. Apakah kau melihat kejadian itu?"
Si Ahli sastra menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku melihatnya. ilmu sihir dari mana itu? Kok ajaib sekali?"
Tanyanya dengan tatapan ingin tahu.
"Ilmu sihir dari Cina, warisan dari Jengis Khan, dulu Jengis Khan justru menggunakan ilmu ini untuk menyerang Bangsa Lo sat sehingga mereka berlutut dan menyatakan takluk. sekarang aku akan menggunakan ilmu yang sama untuk menggempur mereka. Matilah Bangsa Lo sat sahut Siau Po dengan roman bangga.
"Golovinpun berpikir dalam hati Dulu Jengis Khan hanya mengerahkan dua laksa prajuritnya untuk menyerang negara kami, ternyata belasan laksa serdadu kami berhasil dikalahkannya. Kami sudah menduga mereka pasti menggunakan ilmu sihir sekarang si bocah setan ini akan menggunakan ilmu itu sekali lagi, gawat Apa yang harus kulakukan? — Terdengar si Ahli sastra berkata pula.
"Tapi kalau dari jauh Bangsa Lo sat sudah menembakkan senapan, ilmu sihir kalian tentu tidak akan ada gunanya lagi"
Siau Po tertawa.
"Memang betul, itulah sebabnya kita harus menjalankan strategi. Di sini kita purapura mengajak Golovin berunding, sementara itu pasukan besar kita menyusup ke Kota Moskov, Aku pernah menginjakkan kaki ke ibukota negara tersebut Di dalam kota banyak suku bangsa apa ya. Tar Tar kalau tidak salah. Mereka mengenakan sejenis topi berbulu yang lucu. Kebanyakan mencari nafkah sebagai penggembala ternak-prajurit kita harus bertindak seperti maling kecil selagi tuan rumah meleng, mereka menyusup masuk ke dalam Kota Moskov dengan menyamar sebagai para gembala-sampai jejak mereka ketahuan tentu sudah terlambat untuk mempertahankan diri,"
Sahutnya pula.
Tubuh Golovin langsung mengeluarkan keringat dingin.
— siasat si bocah setan ini benar-benar keji-Memang mudah menyamar sebagai para gembala.
Kalau mereka berhasil menyusup ke dalam Kota Moskov lalu menggunakan ilmu sihir mereka, bencana apa pula yang harus bangsa kami hadapi?
—pikirnya.
Golovin tidak tahu ilmu yang digunakan Songji adalah ilmu menotok jalan darah.
Untuk menguasainya harus mempelajari dasar ilmu tenaga dalam tingkat tinggi.
Dari puluhan ribu prajurit Kerajaan Ceng, hanya Songji seorang yang bisa melakukannya, Golovin justru mengira ilmu itu merupakan warisan turun-temurun.
Setiap orang Bangsa Cina pasti bisa melakukannya Asaljari tangan menyentuh tubuh, maka orang itu tidak bisa bergerak lagi.
Apabila ratusan ribu prajurit Cina menyusup ke Kota Moskov lalu menggunakan ilmu sihir ini, bukan tidak mungkin dalam waktu yang singkat Bangsa Lo Sat akan habis mereka basmi.
Bagian 95 Terdengar si Ahli Sastra Holland berkata pula.
"Kalau Kong ciak Tayjin tetap bermaksud mengerahkan pasukan besar Cina menyusup ke Kota Moskow lalu menggunakan ilmu sihir warisan jengis Khan untuk meringkus kedua pangeran serta Tuan Puteri Sophia, mungkin memang bisa berhasil. Tapi rahasia ini harus dijaga rapat-rapat, jangan sampai diketahui oleh Bangsa Lo Sat. negara Lo Sat adalah negara yang besar sekali, kekuatannya tidak bisa disamakan dengan jaman jengis Khan dulu."
"Aku sudah pernah ke Kota Moskow, Kelihatan di sana aku sudah melihatnya dengan jelas sekali. Besok kita lepaskan Golovin, lalu kita ajak berunding lagi. Tentu saja hanya pura-pura. Apa yang kita usulkan juga pasti tidak akan disetujui olehnya. Namun kita bisa mengulur waktu, satu hari perjanjian tertunda, berarti prajurit kita sudah berkurang satu hari dalam perjalanan menuju Moskow."
"Betul, betul. Tapi biar bagaimana sebaiknya Tayjin berhati-hati, sebab urusan ini berbahaya sekali,"
Sahut si Ahli Sastra.
"Aku tahu. Yang penting kau jangan berkata apa-apa, jangan sampai timbul kecurigaan di hati Golovin,"
Kata Siau Po. Si Ahli Sastra mengiakan lalu memohon diri.
"Panggil Wang Pat Se Ki dan Cu Ke Juo Fur"
Teriak Siau Po.
Seorang cong peng berjalan ke luar, tidak lama kemudian dia masuk kembali bersama Walpatsky dan chekonof "Besok aku mengutus kalian berdua pergi ke Moskow, Bawakan hadiah-hadiah besar untuk Tuan puteri sophia, sepanjang jalan banyak perampok, sebaiknya ajak sejumlah pasukan untuk mengawal kalian,"
Kata Siau Po kepada kedua orang itu.
"Dalam perjalanan dari sini ke Moskow paling-paling ada beberapa maling kecil saja, namun mereka tidak terialu ganas, Tayjin tidak perlu khawatir,"
Sahut Walpatsky.
"Kau tidak tahu bahwa perampok suku Tar Tar sekarang ganas sekali jumlah mereka sekali keluar ada delapan sembilan ribu orang. Malah kalau sasarannya kelas kakap, sekali muncul bisa dua puluh ribuan orang,"
Kata Siau Po pulaWalpatsky dan chekonof saling memandang sekilas, pandangan mata mereka seakan tidak percaya terhadap apa yang dikatakan Siau Po "Keberangkatan kalian harus terbagi dua rombongan Wang Pat se Ki memimpin satu rombongan dengan mengambil jalan utara, sedangkan cu Ke juo Fu memimpin rombongan lainnya mengambil jalan selatan, Bagaimana?"
"Tidak jadi masalah, jarak yang ditempuh hampir sama jauhnya,"
Sahut Wafpatsky. Chekonof juga mengiakan.
"Baiklah. Hadiah-hadiah serta surat yang telah kupersiapkan biar diserahkan oleh utusan kami. Kalian hanya jadi pengantar jalan saja. Kalau kerja kalian bagus, ada hadiah nya besar sekali. Tapi kalau pekerjaan kalian tidak beres, aku akan berpesan kepada komandan pasukan yang mengawal untuk memenggal batok kepala kalian,"
Kata Siau Po-setelah itu dia mengibaskan tangannya.
"Sekarang kalian boleh keluar"
Kedua komandan Lo Sat itu segera mengundurkan diri Siau Po mengambil sejumlah Leng Ki atau Bendera perintah dan dibagikan kepada para panglima, mulutnya mengoceh dalam bahasa Cina.
Golovin memang tidak mengerti apa yang dikatakannya, tapi kalau dengan dari gerak-geriknya, dia tahu bahwa para panglima itu sedang menerima perintah dari Siau Po, lalu setiap orang menepuk dadanya sendiri seperti sedang mengangkat sumpah.
Mulut mereka tidak henti-hentinya bersemi "Moskow Moskow"
Terdengar mulut Siau Po mengoceh beberapa kalimat lagi.
Empat orang prajurit segera mengambil selembar peta dan membawanya ke hadapan siau "Po.
jari telunjuk Siau Po menuding pada sebuah titik biru, lalu menyusuri garis merah sampai pada kotak bertanda hijau.
Meskipun Golovin tidak mengerti huruf Cina dan tidak mengerti pula bahasa yang mereka gunakan, tapi kebetulan peta itu menghadap kepadanya.
Dari bentuk serta gambarnya dia tahu bahwa Siau Po sedang menunjukkan perjalanan dari Ni PuJu dan berhenti tepat di Kota Moskov-Mungkin itulah jalur yang akan mereka tempuh besok-Bangsa Cina yang bodoh ini benar-benar jahat.
Rupanya sejak semula mereka sudah mengadakan persiapan untuk menggempur Moskov — pikir Golovin dalam hatiTerdengar Siau Po berbicara kembali dalam bahasa Cina, berulang kali dia menyebut-nyebut nama "Golovin" , para prajurit yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak Golovin berpikir dalam hati-— Kalian pasti menertawakan aku sebagai si TololKalian berhasil menipu ku untuk melakukan perundingan dan akan mengulur waktu.
Diam-diam para prajurit kalian malah menyusup ke Moskov untuk menyerang ibukota kami.
Hm Kau kira aku bisa tertipu oleh kalian?
Perlahan-lahan dia berdiri -Tuhan memberkati kami sehingga aku dibiarkan mengetahui rencana jahat Bangsa Cina yang bodoh ini.
Hal ini merupakan pertanda bahwa negara kami masih dilindungi, tidak mungkin terjadi apa-apa.
Aku tidak perlu khawatir Besok toh aku akan dilepaskannya, untuk apa aku mengambil resiko melarikan diri malam ini?
— pikirnya lagi.
Di sebelah barat tampak para penjaga berjalan mondar-mandir tidak henti-hentinya, namun berbalik di sebelah timur justru berbalik jadi gelap gulita.
Dengan mengendapendap Golovin kembali ke tendanya.
Ternyata ketiga penjaga tadi masih tertidur dengan pulas.
Dengan hati-hati dia masuk ke tenda dan tiduran kembali di atas balai-balai Keesokkan paginya Golovin disediakan sarapan yang mewah.
pembesar Lo Sat itu menyantapnya tanpa sungkan-sungkan, setelah selesai, dua orang prajurit menggiringnya ke tenda besar Di dalam tenda itu tampak Siau Po duduk sambil tersenyum simpul.
"Tuan utusan Apakah semalam kau bisa tidur nyenyak?"
TanyanyaGolovin mendengus satu kali "Para penjagamu mengawasiku dengan ketat, tentu saja aku bisa tidur nyenyak"
Sahutnya ketus. Siau Po tertawa "Hari ini tentunya kau tidak lagi marahi bukan? Bagaimana kalau kita bicarakan masalah pembagian wilayah?"
Tanyanya.
Golovin tidak menjawab, malah mengeluarkan sapu tangan lalu digunakan untuk menyumpal mulutnya lagi.
Siau Po menunjukkan sikap marah "Kalau kau masih keras kepala, aku akan menyuruh orang untuk menebas batang lehermu"
Golovin tidak menunjukkan perasaan gentar sedikit pun.
— Kau toh sudah mengambil keputusan untuk melepaskan hari ini, buat apa buangbuang energi dengan pura-pura marah seperti ini.
Memangnya siapa yang takut terhadapmu -Ejeknya dalam hati.
Siau Po memaki-maki panjang lebar, tapi tampaknya Golovin tidak memperdulikannya.
Akhirnya dia memperlihatkan mimik kewalahan.
"Baiklah, aku mengakui kegagahanmu Kau boleh kembali ke tempat untuk beristirahat, sepuluh hari kemudian kita bertemu lagi di sini untuk melakukan perundingan kembali,"
Kata si anak muda, Golovin berpikir pula dalam hati.
Kau pura-pura marah, tujuanmu sebenarnya adalah mengulur waktu.
Kemungkinan pasukanmu sekarang sudah berangkat menuju Moskov, pokoknya aku tidak akan terjerat oleh perangkap yang kau pasang — Maka dia pun berkata.
"Terima kasih banyak kalau kau bersedia memulangkan aku. untuk menunjukkan ketulusan hati kami, aku bersedia merundingkan perjanjian nanti sore, jadi tidak perlu menunggu sampai sepuluh hari lamanya-"
Siau Po tersenyum"Tidak perlu tergesa-gesa. Biar kita sama-sama bisa istirahat dan menenangkan pikiran Lewat beberapa hari lagi masih ada waktu untuk merundingkannya."
"Pimpinan kedua negara sama-sama berharap masalah ini bisa cepat diselesaikan setelah itu masih banyak waktu untuk beristirahat."
Sahut Golovin "Raja kami tidak tergesa-gesa minta urusan ini diselesaikan Beliau sudah menyerahkan semuanya kepadaku.
Kalau Tuan utusan merasa keberatan, baiklah kita rundingkan hal ini lima hari kemudian,"
Kata Siau Po Golovin menggelengkan kepalanya.
"Jangan menunda waktu lagi. Kita rundingkan hari ini juga."
"Bagaimana kalau tiga hari lagi kita baru berunding?"
Tanya Siau Po seakan ingin mengulur waktu terus.
"Tidak Hari ini"
Sahut Golovin.
"Bagaimana kalau besok?"
"Tidak bisa, harus hari ini"
Siau Po menarik nafas panjang "Kalau kau begitu keras kepala, terpaksa aku yang mengalah.
Tapi sebelumnya aku harus bicara pahitnya dulu.
Dalam menentukan pembagian wilayah aku tidak akan mengalah, setiap jengkal tanah harus ada penawaran dan saling timbang yang terinci,"
Sahut Siau Po, Golovin berpikir dalam hati-Dalam pembagian wilayah saja kau ingin melakukan tawar menawar untuk setiap jengkal tanahnya.
Kalau begitu, sampai tawar menawar ini selesai kemungkinan prajurit kalian sudah masuk ke Kota Moskow, Kau kira aku ini orang tolol?
Dia segera berdiri dan berkata,"
Kalau begitu aku mohon diri sekarang, terima kasih atas hidangan yang telah Tayjin sajikan"
Siau Po mengantar sampai ke depan tenda, serombongan prajurit mengiringi pembesar Lo Sat itu sampai ke kota Ni Pu Ju.
Namun dua ratus enam puluh serdadu mereka masih ditahan oleh Siau Po Golovin berjalan ke luar.
Dia melihat pasukan besar Ceng yang kemarin berkumpul di sekitar tempat itu sudah tidak tampak batang hidungnya lagi.
Hanya tersisa segelintir yang berjaga-jaga di sana.
Hatinya semakin kecut melihat keadaan itu.
-Bangsa Cina ini berani berbicara berani berbuat pula.
sungguh bangsa yang lihai dan tidak boleh dianggap enteng -pikirnya dalam hati.
Rombongan menggiring Golovin sampai di depan tenda tempat pertemuan mereka kemarin.
Tampak tiga orang Komandan Lo Sat masih berdiri tegak di tempat semula tanpa bergerak sedikit pun.
Enam prajurit Ceng segera menghampiri mereka.
Terdengar mulut keenam orang itu berseru serentak "Jengis Khan jengis Khan"
Lalu tangan mereka menepuk beberapa kali di tubuh ketiga komandan tersebut.
Tampak ketiga komandan Bangsa Lo Sat itu menggeliat sedikit.
Tubuh mereka sudah terbebas dari totokan.
Tapi karena mereka sudah berdiri tegak selama satu hari satu malam, otomatis kedua lututnya jadi kesemutan Mereka langsung jatuh terkulai di atas tanah.
Keenam prajurit Ceng tadi segera membimbing mereka bangun lalu membantu mereka melangkah sejauh belasan depa.
Dengan demikian rasa kesemutan di dengkul para komandan itu sudah jauh berkurang sehingga mereka bisa bergerak sendiri, Golovin yang melihat kejadian langsung berpikir -ilmu sihir yang diwariskan oleh jengis Khan ternyata benar-benar lihai.
Tidak heran kalau dulu dia bisa menguasai dunia tanpa tandingan, untung jaman sekarang sudah ada senapan api, sehingga dengan demikian musuh tidak berani terlalu dekat dengan kita.
Kalau tidak, Bangsa Cina yang barbar itu akan menguasai seluruh dunia, sedangkan kami yang umat Tuhan malah harus jadi budaknya — Para prajurit Ceng Pu Ju, setelah itu Golovin menanyakan sihir Bangsa Cina, itu segera mengantar Golovin sampai ke depan pintu gerbang Ni mereka baru kembali ke tempat semula.
nasib ketiga komandannya itu setelah terkena pengaruh ilmu Ketiga komandan itu memberikan jawaban yang sama.
"Pada saat itu, tiba-tiba saja terasa ngilu di bagian pinggang dan punggung, lalu tidak terasa apa-apa lagi, seperti orang yang mati rasa."
"Apakah antara kalian ada yang membawa salib?"
Tanya Golovin Ketiga anak buahnya segera melepaskan pakaian mereka.
Tampak mereka semua mengenakan kalung salib, bahkan satu di antara mereka membawa patung kecil yesus Kristus.
Golovin mengerutkan keningnya.
Dia berpikir -ilmu sihir warisan jengis Khan rupanya benar-benar lihai, salib yesus Kristus sekali pun tidak sanggup mengenyahkan hawa sesatnya — Dia segera menulis tiga pucuk surat laporan darurat lalu menyuruh lima belas orang serdadu agar berpencar ke tiga arah yang berlainan untuk menuju ke Moskow secepatnya.
Di dalam suratnya dia menyatakan bahwa prajurit-prajurit Cina dalam jumlah besar sudah berangkat ke ibukota mereka dan akan melakukan penyerangan secara diam-diam.
Para serdadau itu akan menyamar sebagai gembala-gembala suku Tar Tar, harap pihak Moskow berhati-hati dan menjaga ketat pintu gerbang kota tersebut.
Kira-kira tengah hari, ketiga serdadu yang diutus oleh Golovin kembali ke Kota Ni Pu Ju secara berturut-turut.
Mereka memberikan laporan yang sama, yakni seluruh jalan menuju Moskow telah dihadang oleh prajurit Ceng.
Begitu utusan Lo Sat bermaksud menerobos, prajurit Ceng membidik mereka dengan anak panah.
Benar-benar tidak ada akal yang baik untuk menerobos.
Maka dari pada mati konyol lebih baik mereka kembali lagi.
Hati Golovin semakin panik mendengar keterangan para utusannya.
—jalan satu-satunya adalah mempercepat selesainya perundingan Dengan demikian baru ada kemungkinan mereka menarik kembali para prajuritnya.
— pikirnya.
Sore harinya, Golovin membawa lima belas anak buahnya menuju tenda tempat pertemuan diadakan Kali ini dia tidak membawa seorang pun serdadu suku Ke Lungke dari pasukan berkudanya.
Dia ingin menunjukkan ketulusan niatnya kali ini.
Lagipula dia merasa percuma membawa pasukan berkuda sebanyak apa pun, sebab anak buahnya tidak bisa menangkal kehebatan ilmu sihir warisan jengis Khan, sebetulnya Golovin berpendidikan tinggi.
Dia sudah mempunyai banyak pengalaman pula.
Pada dasarnya dia bukan orang yang mudah ditipu begitu saja, sayangnya rasa gentar Bangsa Lo Sat terhadap keperkasaan jengis Khan sudah tertanam sejak jaman dahulu.
Apalagi ilmu menotok jalan darah Songji sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, dia pun melihat buktinya dengan mata kepala sendiri, itulah sebabnya dia percaya penuh ketika mendengar ocehan Siau Po tentang ilmu sihir warisan Jengis Khan, Golovin tiba lebih dulu di tenda pertemuan, tidak lama kemudian Siau Po, So Ngo Ta dan Tang Kok Bang pun tiba-Siau Po melihat Golovin tidak membawa serdadunya, maka dia pun menyuruh para prajuritnya untuk mengundurkan diri
Tiraikasih website
http.//cerita-silat.co.cc/ Kedua belah pihak saling berbasa-basi sebentar, mereka tidak mengungkit urusan kemarin sedikit pun.
Mereka segera membicarakan masalah pembagian wilayah.
Golovin berharap perundingan ini dapat cepat diselesaikan makanya dalam segala hal dia banyak mengalah, sikapnya jauh berlainan dengan Diam-diam Siau Po merasa geli, dia tahu lakon sandiwara yang dimainkannya tadi malam sudah memperlihatkan hasil, sebetulnya dia sendiri tidak mengerti sedikit pun urusan pembagian wilayah ini, karena itu dia juga tidak berani ambil resiko.
Urusan itu diserahkan kepada So Ngo Ta yang berkomunikasi dengan bantuan si Ahli sastra berkebangsaan Holland.
Tampak Golovin dan So Ngo Ta meletakkan sehelai peta besar di atas meja.
Tangan So Ngo Ta terus menunjuk ke sebelah utara, Golovin mengerutkan keningnya, telunjuknya yang menunjuk ke utara juga menyurut mundur sedikit demi sedikit sebagai tanda bahwa dia terus menerus mengalah.
Asal jari tangannya makin naik ke arah utara, berarti wilayah yang dimiliki negara Cina pun semakin banyakSiau Po memperhatikan kedua orang itu beberapa saat, kemudian hatinya jadi tidak sabaran.
Dia segera berjalan menuju sebuah kursi goyang dan duduk di sana.
Disuruhnya salah seorang prajurit mengambilkan sebuah kotak yang terletak di meja satu nya, sembari menikmati kue dalam kotak itu, hidungnya mendengungkan irama "Raba sana raba sini".
Golovin sudah bertekad untuk mengalah, namun So Ngo Ta juga tidak mau terlalu mendesaki karena khawatir akan terjadi perubahan yang tidak diinginkan.
Meskipun demikian, surat-surat yang harus di-tanda tangani kedua belah pihak memang agak rumit diselesaikan.
Karena surat itu terdiri dari beberapa lembar dan harus diterjemahkan dalam bahasa negara masing-masing, setelah itu masih ada lembaran lainnya yang dibuat dalam bahasa Latin sebagai bahasa yang digunakan oleh saksi.
Sampai empat hari lamanya mereka sibuk menyelesaikan dokumen perjanjian, akhirnya surat-surat itu pun dilanda tangani oleh kedua belah pihakDari So Ngo Ta dan Tang Kok Bang, Siau Po mengetahui bahwa dalam perundingan ini negara Cina meraih banyak keuntungan, sebab wilayah pembagian yang didapatkan lebih luas dari pihak Lo Sat.
Malah jauh melebihi batas yang ditentukan oleh Kaisar Kong Hi Dokumen perjanjian terdiri dari empat bagian, satu dalam Bahasa Lo Sat, satu dalam Bahasa Cina, dan dua dalam Bahasa Latin.
Apabila ada kalimat yang kurang meyakinkan dalam perjanjian kedua belah pihak, maka dokumen dalam Bahasa Latinlah yang akan dijadikan dasar.
Tibalah saatnya bagi kedua utusan dari negara masing-masing untuk menanda tangani perjanjian Siau Po mengenali tulisan namanya sendiri, namun kalau disuruh menggerakkan pit untuk menuliskannya, kadang-kadang membuat salah kaprah.
Huruf Wi ada kalanya ditulis menjadi huruf Cang.
Bentuk kedua huruf ini memang hampir sama, apalagi bagi orang yang buta huruf, sedangkan huruf Po kadang-kadang ditulisnya sebagai huruf Mai-Hanya huruf siau saja yang masih bisa ditulisnya dengan benarSeumur hidupnya, jarang sekali melihat wajah Siau Po berubah menjadi merah.
Namun saat ini terlihat berona merah-Bukan karena minum arak, juga bukan karena marah, melainkan karena hatinya merasa agak malu.
Masa di depan utusan negara lawan dia sebagai seorang pembesar kerajaan tidak bisa menulis namanya sendiri.
So Ngo Ta paiing memahami diri Siau Po, maka dia berkata.
"Untuk menanda tangani dokumen perjanjian ini yang diperlukan hanya membuat sebuah guratan tangan saja, Wi Tayjin boleh mencantumkan sebuah huruf "siau"
Saja sudah terhitung menanda tangani perjanjian ini."
Siau Po gembira sekali. Dalam hati dia berpikir bahwa huruf "siau"
Memang merupakan huruf andalannya, Dia segera mengambil sebatang mopit, di sebelah kiri dia membuat garis miring seperti kumis, demikian pula di sebelah kanannya.
Terakhir dia membuat guratan panjang dengan bagian kakinya agak melengkung sedikit so Ngo Ta tersenyum.
"Sudah, tulisan yang bagus sekali,"
Pujinya, Siau Po memiringkan kepala untuk meneliti huruf "Siau, yang dibuatnya, kemudian mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak. So Ngo Ta menjadi heran.
"Apakah ada sesuatu yang lucu dalam pandangan Wi Tayjin?"
Tanyanya, Siau Po tertawa.
"Coba kau perhatikan huruf ini, bukankah mirip seseorang yang tertotok jalan darahnya lalu berdiri kaku dengan kedua tangan melebar ke samping?"
Katanya So Ngo Ta ikut memperhatikan sekilas, apa yang dikatakan Siau Po memang benar Dia tahu benak Siau Po saat ini pasti sedang membayangkan Golovin Bayangan itulah yang akhirnya menjadi inti tulisannya.
Dia langsung ikut tertawa geli.
Para pembesar lainnya yang hadir di sana juga ikut tertawa Golovin mendelikkan matanya memperhatikan orang-orang cina itu.
ia tidak mengerti apa yang ditertawakan oleh mereka Utusan kedua negara dan para pembesar negara masing-masing segera menyelesaikan perjanjian tersebut ini merupakan perjanjian pertama yang dibuat oleh Negara Cina dan Neaara Lo Sat.
Dalam hal ini negara Cina meraih keuntungan besar, wilayah utara yang berhasil dikuasainya mencapai dua ratus laksa li.
Kalau dibandingkan negara Cina yang sekarang, maka luasnya mencapai satu setengah kali lipat.
Sesuai dengan peraturan pada jaman itu, kedua belah pihak sama-sama menembakkan meriam ke udara sebanyak empat kali sebagai tanda perjanjian telah disepakati Meriam milik kerajaan Ceng ada empat ratus lebih, begitu ditembakkan suaranya menggelegar seakan hendak memecahkan angkasa, sedangkan meriam milik Negara Lo Sat yang ada di Ni PuJu ada dua puluhan.
Kalau dibandingkan dengan suara meriam milik Kerajaan Ceng, benar-benar ibarat kicauan burung dan auman singa.
Diam-diam Golovin merasa beruntung, sebab kalau perjanjian itu sampai gagal, dia tidak dapat membayangkan akibatnya bila harus berperang dengan pasukan Siau PoDapat dipastikan tidak ada satu pun serdadu dari pasukannya yang bisa menyelamatkan diri.
Setelah perjanjian selesai, kedua negara saiing bertukar souvenir, Golovin menghadiahkan arloji, alat teropong, peralatan dari peraki kulit macan tutul dan berbagai macam senjata untuk Siau Po dan para pembesar Ceng lainnya.
Sedangkan Siau Po membalasnya dengan memberikan kuda-kuda pilihan, pelana dari kulit bermutu terbaik, cawan emas, pakaian dari benang sutera, mantel berbulu binatang dan lainnya, sedangkan untuk para serdadu Lo Sat yang berjumlah dua ratus enam puluh orang itu Siau Po memberikan masing-masing uang perak senilai dua puluh tail sebagai pengganti ikat pinggang mereka yang telah diputuskan atas perintahnya.
Diam-diam Golovin masih merasa cemas, entah pasukan Kerajaan ceng yang diperintahkan menyusup ke kota Moskov sudah ditarik kembali atau belum.
Maka dalam pembicaraan dengan Siau Po selama perjamuan besar di malam harinya, dia terus melakukan penyelidikan.
Namun Siau Po sangat cemas, dia pura-pura tidak tahu apa yang dilakukan Golovin, pertanyaan orang itu selalu dijawab dengan sangar-sangar.
Dua hari kemudian, Golovin mendapat kabar bahwa ada pasukan besar Kerajaan Ceng yang mendatangi dari arah barat, Golovin segera memanjat ke atas tembok kota dan melihat dengan alat peneropong.
Dari kejauhan tampak rombongan besar pasukan berkuda Kerajaaan-Ceng sedang menghambur ke arah kota Ni Puju.
Debu-debu yang terkais oleh kaki kuda sampai mengepul ke udara, Golovin senang sekali.
Dia tahu pasukan besar yang tadinya diperintahkan menyusup ke Kota Moskow sudah ditarik kembali.
Beberapa hari kemudian, tukang-tukang batu panggilan telah menyelesaikan tugu perbatasan sesuai perjanjian Talisan yang tertera di atas tugu tersebut terdiri dari Bahasa Cina, Bahasa Lo Sat dan Bahasa Latin.
Setelah selesai, utusan kedua negara beserta para pembesarnya melakukan upacara peresmian secara sederhana, kemudian mereka saling memohon diri untuk kembali ke negara masing-masing.
Sebelumnya Siau Po memanggil Walpatsky dan chekonof, dia menyuruh mereka membawakan hadiah untuk Ratu Sophia, Diantaranya terdapat selimut serta bantal.
Negara utara merupakan wilayah yang tandus, sulit menemukan benda-benda seperti ini.
Siau Po memberikan milik Songji kepada si Taan Puteri Negara Lo Sat.
Sembari tertawa Siau Po berkata.
"Kalau Taan puteri benar-benar merindukan aku, suruh dia bergumul dengan selimut atau memeluk bantal ini saja."
"Cinta Tuan puteri kami terhadap Tayjin dalam sekali, sedangkan selimut dan bantal ini cepat rusaki sebaiknya Tayjin memerintahkan beberapa ahli bangunan datang ke Moskow untuk membuatkan beberapa jembatan. Dengan demikian dalam jangka waktu yang panjang sekali kenangan terhadap Tayjin masih terpateri dalam hati Tuan puteri"
Sahut Walpatsky. sekali lagi Siau Po tertawa lebar.
"Aku sudah mempertimbangkan hal ini, kalian jangan cerewet,"
Katanya.
Ia lantas menyuruh beberapa anak buahnya menggotong ke luar sebuah peti kemas berukuran besar, yang menggotongnya sampai delapan orang.
Tampaknya isi peti itu berat sekali.
Di bagian luar peti kemas terbelenggu rantai tebal yang dilas api sehingga kuat sekali.
"Hadiah ini berarti sekali, kalian harus menjaganya baik-baik dan jangan sampai terjadi kerusakan dalam perjalanan Begitu Tuan puteri kalian melihatnya, dia pasti merasa senang." "Hadiah ini akan menimbulkan kenangan sepanjang masa sama halnya dengan jembatan buatan orang-orang bangsa kami,"
Kata Siau Po pula.
Kedua utusan dari Lo Sat itu tidak berani banyak bertanya.
Mereka menyuruh beberapa serdadunya untuk membawa peti kemas itu.
peti itu memang berat sekali, mungkin lebih dari seribu kati.
Bayangkan saja betapa susah payahnya para serdadu Lo Sat membawa benda itu dari Ni Puju menuju Moskov.
Begilu menerima hadiah itu.
Ratu sophia segera menyuruh orang untuk membukanya, isi peti itu ernyata sebuah patung besar berbentuk Siau Po yang sedang tersenyum simpul, buatannya halus sekali sehingga tampak hidup.
Namun yang menjadi keistimewaannya, patung itu justru telanjang bulat.
Rupanya Siau Po mendatangkan seoarang ahli pahat patung untuk membuat patung dirinya.
Dibagian cincin patung itu terdapat tulisan "Aku selalu mencintaimu"
Yang dibuat oleh si Ahli Sastra kebangsaan Holland dengan menggunakan Bahasa Lo Sat.
Tuan puteri Sophia yang melihat patung itu sampai tertegun beberapa saat.
Dia tidak tahu harus menangis atau tertawa menghadapi kejadian ini.
Terbayang olehnya kecerdasan dan sikap nakal si Pembesar Bocah Tiongkok.
Rasanya tidak ada seorang lain pria Lo Sat yang dapat menandinginya.
Akhirnya dia menatap patung itu dengan sinar mata penuh kerinduan.
Patung ini diletakkan dalam istana Kremlin.
Ketika terjadi pemberontakan antara orang-orang sendiri Ratu Sophia diusir keluar dari istana tersebut, patung Siau Po ini diperintahkan agar dihancurkan para serdadu yang mendapat tugas tersebut merasa sayang menghancurkan patung yang bentuknya demikian hidup.
Akhirnya patung itu mereka sembunyikan di sebuah desa terpencil, oleh sebagian penduduk yang masih primilif, patung itu malah dipuja.
Ada orang yang percaya, bila ingin mendapatkan keturunan bagi pasangan yang mendapat kesulitan, mereka harus berdoa di depan patung itu lalu meraba bagian bawahnya beberapa kali.
-ooo00000ooo
Tiraikasih website
http.//cerita-silat.co.cc/ Siau Po memerintahkan anak buahnya untuk segera kembali ke Kotaraja, Begitu pasukan besar Kerajaan Ceng memasuki perbatasan kota utama negara Cina itu, para pembesar istana serta ratusan prajurit pilihan sudah menunggu di pintu gerbang kota.
Siau Po mengajak So Ngo Ta, Tung Kok Bang, Pa Hai, Peng Cun, Lim Heng cu dan beberapa pembesar lainnya pergi menemui Kaisar Kong Hi.
sri Baginda merasa puas sekali dengan hasil kerja Siau Po sehingga menganugerahkan pangkat pangeran Lu Ting Kong Tingkat satu.
sedangkan So Ngo Ta, Tung Kok Bang serta yang lainnya juga mendapat kenaikan pangkat.
Keesokan harinya Siau Po mendapat panggilan untuk menghadiri perjamuan yang diadakan oleh Kaisar Kong Hi.
Di hadapan para pembesar istana, raja menceritakan kecerdikan Siau Po sehingga berhasil melaksanakan tugasnya dengan baikSiau Po juga mendapat berbagai hadiah.
Tentu saja si anak muda merasa senang sekali Dalam perjalanannya pulang dari istana, terdengar suara tepukan tangan yang riuh mengiringi dari belakangnya.
Siau Po merasa bangga sehingga membusungkan dadanya tinggi-tinggi, setiap tempat yang dilaluinya selalu terdengar suara sorakan orang ramai memujinya.Tiba-tiba dari pinggir jalan terdengar teriakan seseorang.
"Siau Po Kaulah si anjing buduk yang tidak ingat budi"
Jangan ditanyakan bagaimana terkejutnya hati Siau Po.
Dia merasa suara ini tidak asing bagi telinganya.
Ketika dia menolehkan kepala, tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi besar menghambur ke luar dari kerumunan orang banyak-orang itu menudingnya sambil memaki "Siau Po Kau lah si maling kecil yang pantas ditebas seribu kali Kau tidak sudi menjadi orang Han yang baik justru menyerahkan diri untuk mengabdi kepada Bangsa Ceng Kau tidak malu menjadi budak Bangsa Tatcu Kau sudah mencelakai gurumu sendiri, kau juga mencelakai saudara-saudara seperguruanmu sekarang Raja Tatcu menganugerahkan pangkat yang tinggi kepadamu sehingga kau merasa besar kepala Pasti karena hidupmu senang, bukan?
Neneknya Locu akan menebas tubuhmu dua puluh delapan kali dan meng ulungkan kepalamu lima belas kali Aku ingin lihat pada saat itu apakah kau masih bisa menjadi pangeran Kura-kura atau pangeran Bebek?"
Laki-Iaki itu tidak mengenakan baju.
Tampak dadanya penuh dengan bulu yang lebat Tampangnya garang dan matanya memandang Siau Po dengan sinar menyala-nyala, ternyata dialah Mao sip Pat, yang mula-mula membawa Siau Po ke Kota raja.
Sementara Siau Po masih tertegun mendengar caci maki orang itu, puluhan prajurit Ceng sudah menerjang ke depan dan mengepung Mao sip Pat.
Laki-laki itu mengeluarkan sebilah pedang pendek untuk melakukan perlawanan, namun puluhan prajurit itu sudah mengambil tindakan terhadapnya.
Ada yang menudingkan golok ke lehernya, ada yang merebut pedang pendek dari tangannya dan sisanya segera menelikung kedua tangan orang itu lalu mengikatnya dengan tali.
Mulut Mao sip Pat tidak henti-hentinya memaki.
"Siau Po Kaulah si maling kecil yang lahir dari rahim seorang pelacur sungguh merupakan suatu kesalahan besar Locu membawamu ke Kota raja tempo hari Aku merasa berdosa terhadap Tan Kin La m dan Tan ceng tocu. Aku juga berdosa terhadap para pendekar dari perkumpulan Thian Te hwee. Hari ini toh aku tidak ingin hidup lagi, biarlah orang-orang di dunia ini tahu bahwa kaulah si pengkhianat yang menjual temannya sendiri Kaulah si maling budukan yang lupa budi orang yang ada dalam otakmu hanyalah bagaimana menjabat pangkat yang tinggi dengan menjadi anjingnya Bangsa Tatcu"
Beberapa prajurit maju untuk menampar mulut Mao sip Pat, tetapi dengan gagah orang itu terus memaki, tidak memperdulikan rasa sakit sedikit pun.
Siau Po segera memerintahkan para prajurit jangan bertindak kasar, salah seorang prajurit mengeluarkan sehelai sapu tangan lalu menyumpal mulut Mao sip Pat dengan sapu tangan itu.
Namun Mao sip Pat masih juga mencaci meskipun suaranya berubah aneh dan tidak terdengar jelas apa yang dimakinya.
Siau Po menurunkan perintah kepada anak buahnya.
"Bawa orang ini ke rumahku, jaga baik-baik tapi jangan dipersulit Beri dia makan dan minum, nanti aku akan menginterogasinya sendiri"
Siau Po kembali ke rumahnya.
Di dalam ruangan perpustakaan telah tersedia hidangan yang lengkap di atas meja.
Dia menyuruh orang menggiring Mao sip Pat ke hadapannya.
Namun dia takut Mao sip Pat akan mengambil tindakan keras terhadapnya, maka dia menyuruh Songji dan Su Cuan untuk menemaninya dengan menyamar sebagai prajurit Ceng.
Beberapa orang menggiring Mao sip Pat ke hadapan Siau Po.
Anak muda itu menyuruh mereka membebaskan belenggu yang mengikat kedua tangan Mao sip Pat setelah itu mereka disuruh meninggalkan tempat itu.
Siau Po menyambut orang itu dengan tertawa lebar.
"Mao toako, sudah lama kita tidak bertemu. Tentunya keadaanmu baik-baik saja bukan?"
Katanya. Mao sip Pat marah sekali.
"Apanya yang baik atau tidak? sejak bertemu denganmu seharusnya keadaanku baik-baik saja, sekarang sudah pasti tidak baik"
Sahutnya kasar-Siau Po tetap tersenyum.
"Mao toako, harap duduk dulu, siaute akan menyalang tiga cawan arak untukmu, semoga kemarahanmu bisa reda, setelah itu kau bisa memberitahukan kesalahan apa yang telah siaute lakukan. Rasanya masih belum terlambat, bukan?"
Katanya. Mao sip Pat melangkah lebar-lebar ke depan.
"Aku akan membunuhmu terlebih dahulu, setelah itu baru minum arak"
Tinjunya yang besar terkepal dan dilayangkan ke arah Siau Po.
Su Cuan menghambur ke depan lalu menangkap tinju Mao sip Pat dengan tangan kanannya.
Dalam waktu yang bersamaan jari tangan kirinya menotok dua kali pada bagian pundak Mao sip Pat.
Detik itu juga tubuh Mao sip Pat menjadi ngilu dan lemas.
Dia tidak dapat mengerahkan tenaga sedikit pun.
Tanpa terasa dia jatuh terduduk di atas kursi.
Mao sip Pat terkejut sekaligus marah.
Dia berusaha untuk bangun, namun Su Cuan yang berdiri di belakangnya kembali menggunakan jari tangannya menutul pundaknya sehingga di luar kemauan Mao sip Pat terpaksa duduk kembali.
Padahal tubuh Mao sip Pat besarnya dua kali tubuh Su Cuan.
Namun dengan ilmunya yang tinggi wanita itu berhasil menguasai lawannya, sudah tentu hati Mao sip Pat semakin panas jadinya.
"Hari ini Locu berani memakimu di hadapan orang banyak, dengan demikian Locu juga tidak memikirkan lagi mati hidup ini. Asal orang-orang di seluruh dunia tahu bahwa kau Wi Siau Po hanyalah seorang manusia rendah yang mencelakai gurunya sendiri serta menjual saudara-saudara seperguruannya"
Makinya.
"Mao toako, aku memang bekerja bagi sri Baginda, tapi apa yang kulakukan adalah menggempur Bangsa Lo Sat, bukan membunuh Bangsa Han kita.
Bagaimana kau bisa mengatakannya sebagai sebuah pengkhianatan?"
Tanya Siau Po dengan nada tenang.
"Namun kenapa kau membunuh gurumu, Tan Kin Lam?"
Mao sip Pat balik bertanya.
"Kenapa kau mengatakan aku yang mencelakakan guruku? sudah terang guruku mati di tangan si budak The Kek song"
Kata Siau Po "Sampai sekarang kau masih mungkir? Dalam firmannya, sri Baginda terangterangan menjelaskan masalah ini"
Sahut Mao sip Pat. Siau Po terkejut setengah mati.
"Mengapa,., dalam firman raja bisa disebutkan bahwa aku yang membunuh guruku?"
Siau Po merasa heran. Diam-diam dia mengerling ke arah Su Cuan.
"Dalam firman beliau beberapa hari yang lalu, sri Baginda memang menyatakan bahwa kau telah mendirikan jasa besar dalam pemberantasan para pemberontak seperti Go Pay, Go sam Kui dan yang lain-lainnya, juga dikatakan bahwa kaulah yang pertama-tama membuat ciut hati para pemberontak dari Taiwan sehingga bawahannya yang lain tidak mengalami kesulitan merebut pulau itu. Hal ini memang benar, namun di samping itu masih ada beberapa kalimat yang isinya menerangkan bahwa kau berhasil membunuh Ketua Pusat Thian Te hwee yakni Tan Kin Lam, juga tangan kanannya yang sangat dipercaya, Hong ci Tiong. Dengan demikian seluruh saudara-saudara dari Thian Te hwee yang tersisa scaera melarikan diri terbirit-birit serta menyembunyikan diri di tempat terpencil karena takut tertangkap prajurit Kerajaan Ceng, inilah yang tidak benar,"
Sahut Su Cuan menjelaskan tanpa diminta. Siau Po mengerutkan keningnya.
"Aku masih belum mengerti juga, bagaimana urusan ini bisa dibebankan ke pundakku?"
Tanyanya.
"Dengan kata lain kau telah berhasil membunuh Tan Kin Lam dan Hong ci Tiong sehingga murid-murid Thian Te hwee lainnya kocar-kacir entah kemana. Hal ini dapat dianggap bahwa perkumpulan Thian Te hwee sudah bubar terpecah belah"
Sahut Su Cuan pula. Siau Po melonjak bangun.
"Mana... mana ada urusan seperti itu? Bukankah ini yang dinamakan fitnah?"
Teriaknya penasaran Su Cuan menggelengkannya perlahan-lahan.
"Hong ci Tiong adalah seorang mata-mata. Memang betul kita yang membunuhnya, cuma dalam firmannya sri Baginda menambahkan tiga kata Tan Kin Lam."
Siau Po menjadi panik seketika, Tan Kin Lam adalah guruku yang berbudi tinggi.
Bagaimana mungkin aku mampu mencelakakannya?
Firman sri Baginda ini...
aih, kau sudah mendengar apa isi firman itu, mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku?"
"Kami sudah pernah merundingkan hal ini. Dalam firmannya sri Baginda menambahkan tiga kata Tan Kin Lam". Apabila kau mengetahuinya, kau pasti merasa tidak senang,"
Sahut Su Cuan. Siau Po mengerti apa yang dimaksudkan dengan "Kami telah merundingkannya"
Oleh Su Cuan. Artinya ketujuh istrinya telah mengadakan perundingan Siau Po menoleh kepada Songji, tampak istrinya itu menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.
"Mo toako, dengan sejujur-jujurnya aku mengatakan bahwa aku tidak mencelakai guruku, sedangkan Hong ci Tiong merupakan murid murtad dari perkumpulan Thian Te hwee, dia... dia memberikan laporan kepada sri Baginda mengenai gerak-gerik kami secara diam-diam...."
Mao sip Pat tertawa dingin.
"Oh, jadi kau inilah yang disebut orang baik-baik?"
Ejeknya. Siau Po terduduk dengan lemas "Aku.. aku akan menemui Sri Baginda dan meminta agar beliau merubah— merubah isi firman itu...."
Meskipun mulutnya berkata demikian, namun dia tahu bahwa Kaisar Kong Hi tidak mungkin merubah isi firmannya hanya karena dia dianggap orang yang istimewa.
Dalam hati dia berpikir.
— Entah anjing penjilat mana yang melaporkan bahwa aku yang membunuh Tan Kin Lam?
Dalam pandangan Sri Baginda, ini merupakan bukti kesetiaanku, tapi apakah...
aku masih terhitung seorang manusia apabila tidak menjelaskan duduk perkaranya?
— Hatinya semakin gelisahi Tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia menangis tersedu-sedu.
"Mao toako, cici Cuan, Songji yang baik, aku benar-benar tidak membunuhi guruku"
Teriaknya Melihat Siau Po tiba-tiba menangis keras-keras, ketiga orang itu menjadi terkejut, Su Cuan segera menghampirinya lalu memeluk pundaknya, Dengan lembut dia berkata "Suhumu dibunuh oleh The Kek song di Pulau Tong sip to.
Kami melihatnya dengan mata kepala sendiri"
Dia mengeluarkan sehelai sapu tangan kemudian mengusap air mata yang membasahi pipi Siau Po Pada saat itu Mao sip Pat baru tahu bahwa prajurit yang ilmunya tinggi itu ternyata seorang wanita.
Hatinya semakin terkejut, suatu ingatan tiba-tiba melintas dalam pikiran Siau Po.
"Betul Mao toako, si budak Kek song sekarang masih ada di Kotaraja, sekarang kita bersama-sama menemuinya lalu Toako bisa menanyakan hal ini sampai jelas. Aku yakin dia tidak berani mengingkari perbuatannya"
Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba dari luar terdengar seruan seseorang.
"Firman kaisar tiba To congkoan to Lung mendapat tugas menyampaikan firman kaisar"
Siau Po segera berdiri menghadap ke utara.
Tampak To Lung melangkah masuk dengan wajah berseri-seri.
Siau Po langsung menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sebanyak tiga kali.
to Lung menunggu anak muda itu menyelesaikan penghormatannya, baru ia berkata.
"Sri Baginda berpesan agar orang yang mengacau di jalanan tadi dibawa untuk menemui beliau. Kemungkinan Sri Baginda ingin menginterogasinya sendiri"
Hati Siau Po tercekat kaget mendengar kata-katanya.
"Oh, orang itu? Tadi adikmu ini sudah membawanya ke mari dan mengajukan berbagai pertanyaan secara mendetail, rupanya dia itu orang gila. Kata-katanya ngaco, semakin lama siaute semakin tidak mengerti apa yang diocehkannya sehingga dengan kesal siaute terpaksa melepaskannya,"
Sahut Siau PoMendengar sampai di sini, Mao sip Pat tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.
Dia melonjak bangun sambil menggebrak meja keras-keras, getarannya sampai membuat mangkuk-mangkuk yang ada di atas meja itu saling beradu.
"Maknya, Wi Siau Po siapa yang kau katakan sebagai orang gila? Akulah orang yang mengacau di jalanan tadi Aku pula yang memaki-maki Raja Tatcu Meskipun ditebas dengan seribu golok pun aku tidak takut Mengapa aku harus takut bertemu dengan seorang Raja Tatcu?"
Teriaknya lantang.
Diam-diam Siau Po mengeluh.
Dia berharap dapat mendustai Kaisar Kong Hi dan to Lung, setelah itu dia akan melepaskan Mao sip Pat, Ternyata orang itu tidak menyadari kebaikan hatinya sama sekai, malah sengaja memaki-maki sang Raja di depan umum.
walaupun batok kepalanya ada delapan belas, belum tentu Siau Po sanggup mempertahankannya lagi.
To Lung menarik naIas panjang.
"Saudaraku, kau selalu mengutamakan persahabatanmu dengan orang-orang kangouw, Daam hal ini toakomu merasa kagum sekali, untuk urusan ini kau telah berusaha sebaik-baiknya, jangan menyalahkan dirimu sendiri Mari kita berangkat"
Katanya.
Mao Sip Pat melangkah ke depan pintu.
Ketika hendak ke luar tiba-tiba dia menolehkan kepalanya lalu meludah ke arah Siau Po.
Ketika itu pikiran si anak muda sedang bercabang, yakni memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan Mao sip Pat Tentu saja dia tidak melihat datangnya semburan ludah dari Mao sip Pat, Puih segumpal air liur itu tepat mengenai matanya.
Para prajurit yang melihat kejadian itu sebera menghunus golok masing-masing lalu menerjang ke arah Mao sip Pat Siau Po mengibaskan tangannya "Sudahlah, jangan mempersulit dirinya"
KatanyaAnak buah To Lung langsung maju untuk meringkus orang itu.
Dalam sekejap mata Mao sip Pat sudah berhasil dibelenggu Siau Po berpikir dalam hati — Kalau sri Baginda mengajukan pertanyaan kepada Mao toako, mungkin belum sampai tiga kata saja dia akan dibawa ke luar untuk dipenggal kepalanya.
Aku harus menemui sri Baginda secepatnya.
Biar bagaimana aku harus mencari akal untuk menolong jiwa Mao toako,-Maka dia berkata kepada to Lung.
"To toako, aku akan menghadap sri Baginda untuk menjelaskan duduk persoalannya. Dengan demikian beliau juga bisa bersiap-siap, jangan sampai orang han yang kasar ini menyerangnya secara tiba-tiba."
Rombongan itu sampai di istana raja, Siau Po mendengar bahwa Kaisar Kong Hi berada di ruang perpustakaan.
Maka dia memohon untuk menghadap.
Sri Baginda memanggilnya, Siau Po segera masuk lalu berlutut melakukan penghormatan setelah itu dia baru berdiri "Orang yang memaki-makimu juga memaki-makiku di jalanan tadi teman baikmu, bukan?"
"Kecerdasan Sri Baginda tidak ada yang bisa menandingi dalam urusan apa pun tidak perlu menebak sampai dua kali,"
Sahut Siau Po.
"Apakah dia orang dari Thian Te hwee?"
Tanya Kaisar Kong Hi "Dia tidak pernah menjadi anggota secara resmi, tapi banyak anak murid Thian Te hwee yang dikenalnya, orang ini sangat kagum kepada guru hamba.
Dia mendengar bahwa dalam firman Sri Baginda ada menyatakan bahwa akulah yang membunuh Tan Kin Lam.
Dia marah sekali sehingga memaki-makiku seenak perutnya.
Mengenai Sri Baginda sendiri, dia tidak berani mengeluarkan cacian sepatah kata pun,"
Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi tertawa "Antara kau dengan Thian Te hwee tidak ada apa apa lagi, bukan? sejak hari ini kau tidak pernah menghubungi mereka, kan?"
Siau Po menganggukkan kepalanya "Benar, Waktu menggempur Negara Lo Sat saja hamba tidak membawa seorang pun anak murid Thian Te hwee"
"Kalau suatu hari ada teman lamamu dari Thian Te hwee yang datang mencarimu, apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Kaisar Kong Hi.
"Hamba tidak akan menemuinya, ini untuk menjaga perasaan kurang enak pada kedua belah pihaki"
Sahut Siau Po. Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya.
"Itulah sebabnya aku menyebut nama Tan Kin Lam dan Hong ci Tiong dalam firmanku tempo hari. Aku justru mencegah terjadinya banyak masalah bagimu di kemudian hari, Siau Kui Cu, tidak mungkin menginjakkan kaki pada dua perahu untuk selamanya.Kalau kau memang setia kepadaku, maka kau harus bekerja untukku dengan sesungguh hati, jangan sekali-kali kau menceburkan diri dalam kemelut gelombang badai Thian Te hwee. Bila kau memang ingin sekali menjadi Hiocu perkumpulan Thian Te hwee, maka kau juga harus mengerahkan segenap kemampuanmu untuk melawanku?"
Siau Po terkejut setengah mati mendengar ucapannya, dia segera menjatuhkan dirinya berlutut dan menyembah beberapa kali.
"Biar bagaimana pun hamba tidak berani melakukan perlawanan terhadap Sri Baginda, Di saat kecil hamba memang suka ceroboh melakukan apa pun tanpa berpikir panjang lagi. Namun sekarang hamba sudah dewasa. Hamba tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi."
Kaisar Kong Hi tertawa lebar.
"Bagus sekali Besok kau tabas saja batok kepala orang gila yang memaki-maki kita di tengah jalan itu jangan sekali-sekali dibiarkan hidup."
Kembali Siau Po menyembah "Hari ini hamba dapat bertemu dan mengabdi kepada sri Baginda, seluruhnya merupakan jasa orang ini.
Hamba masih belum mendapat kesempatan untuk membalas budinya.
Maka...
maka hamba memberanikan diri untuk memohon pengampunan baginya.
BiarIah— biarlah hamba mengembalikan semua hadiah yang telah diberikan oleh Sri Baginda, Hamba juga bersedia diturunkan pangkatnya menjadi pangeran Lu Tiong Kong Tingkat Dua kembali."
Wajah Kaisar Kong Hi berubah seketika.
"Apa yang sudah dikatakan oleh seorang Raja kau anggap sebagai suatu permainan? Anugerah berupa pangeran Lu Ting Kong Tingkat satu adalah budi yang kuberikan kepadamu. Kau menggunakan hadiah yang kuberikan untuk melakukan tawar-menawar denganku, tampaknya nyalimu sekarang sudah besar sekali, ya"
Bentak sang Raja. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Hamba memang mengajukan harga, tapi Sri Baginda toh boleh menawar sesuka hati. Kalau sri Baginda keberatan hamba diturunkan pangkatnya menjadi Lu Ting Kong Tingkat Dua, boleh saja turun lagi menjadi Tong sip Pak kembali, atau Tong sipji (Anak kecil dari pulau Tong sip)."
Tadinya Kaisar Kong Hi bermaksud menakut-nakuti Siau Po agar kelak tidak berani membangkang lagi terhadapnya. Tak disangka anak muda ini benar-benar ibarat "Katak dalam tempurung"
Walaupun pangkatnya sudah tinggi sekali, wataknya masih kampungan gayanya yang tengil tidak pernah berubah. Dalam hati Kaisar Kong Hi jadi kesal sekaligus geli.
"Berdiri kau"
Bentaknya pura-pura garang, Siau Po menyembah satu kali lagi kemudian baru bangkit.
Kaisar Kong Hi masih memasang tampang cemberut.
"Kau ingin melakukan tawar-menawar denganku.
Baiklah, Kalau kau meminta aku mengampuni pemberontak itu, maka kau harus membayarnya dengan batok kepalaku sendiri"
Katanya seolah-olah serius. Wajah Siau Po justru dipasang semurung mungkin.
"Tawaran Sri Baginda terlalu serius dan sadis, bagaimana kalau harganya dinaikkan sedikit lagi?"
"Baik aku akan menaikkannya sedikit Begini saja, biar bagian paling vital di bawah tubuhmu dipotong saja, jadi kau bisa menjadi Thay-kam yang sebenarnya di istana ini,"
Kata Kaisar Kong Hi.
"Coba naikkan harganya sedikit lagi."
Pinta Siau Po "Tidak. Harga sudah mantap, Kalau kau tidak membunuh orang itu, berarti kau tidak setia terhadapku, seseorang itu apabila setia ya setia, tidak ya tidak. Memangnya ada tawar-menawar?"
Kata Kaisar Kong Hi.
"Kepada Sri Baginda sudah pasti hamba menyerahkan kesetiaan Terhadap teman namanya setia kawan atau solider, terhadap ibu namanya berbakti, terhadap istri namanya cinta..."
Kong Hi tertawa terbahak-bahak mendengar kata-katanya.
"Kau memang bocah paling serakah. Kalau mau apa-apa tidak pernah tanggungtanggung. Bagus, aku merasa kagum sekali Besok tengah hari, pokoknya kau harus membawa sebuah batok kepala ke hadapanku. Kalau bukan batok kepala orang itu, ya batok kepalamu sendiri"
Siau Po merasa tidak berdaya. Dia segera menyembah sekali lagi lalu mengundurkan diri Ketika ia sampai di depan pintu, terdengar Kong Hi bertanya.
"Tentunya kau bermaksud kabur lagi, bukan?"
"Kali ini hamba tidak berani lagi. Hamba hanya ingin pulang ke rumah lalu berbaring di atas tempat tidur untuk berpikir baik-baik. Paling bagus kalau hamba menemukan jalan ke luar yang ideal. Dengan demikian hamba tetap setia terhadap Sri Baginda, tidak berdosa terhadap teman sekaligus dapat mempertahankan batok kepala ini,"
Sahut Siau Po Kong Hi tersenyum.
"Baiklah, Aku sudah lama tidak bertemu dengan Kian Leng kongcu. Kalau kau pulang nanti, sampaikan agar dia menemui kakaknya ini. Aku sudah rindu sekali kepadanya."
Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan kembali.
"Sekalian ke enam istrimu yang lain dan tiga orang anakmu juga suruh bawa untuk menemui Thay Hou. Thay Hou pernah mengatakan bahwa kau telah mendirikan jasa besar, beliau ingin memberi hadiah untuk istri-istri dan anak-anakmu,"
Katanya.
"Terima kasih atas budi yang dilimpahkan sri Baginda dan Thay Hou. Biarpun tubuh ini harus hancur, rasanya masih belum cukup untuk membalas budi tersebut."
Siau Po melangkah mundur dua tindak, tanpa dapat menahan mulutnya dia berkata pula.
"Hamba pernah mengatakan bahwa sri Baginda adalah sang Buddha, sedangkan hamba yang menjadi Sun Go Kongnya. Apa pun yang hamba lakukan, tetap hamba tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman Sri Baginda."
Kong Hi tersenyum simpul.
"Kau sendiri juga sangat cerdas, jadi kau tidak perlu sungkan-sungkan terhadapku."
Siau Po melangkah ke luar dari ruang perpustakaan.
Tidak henti-hentinya dia menarik naIas panjang.
-Sri Baginda sengaja menahan ke tujuh istri dan ketiga anakku.
Dia tahu dengan cara ini aku tidak mungkin sampai hati meninggalkan mereka apalagi pakai kabur segala, — pikirnya dalam hati.
Ketika sampai di koridor panjang, tampak To Lung menghampirinya.
"Saudara Wi, Thay Hou memanggil istri-istri dan anak-anakmu. Kali ini keluargamu pasti banjir hadiah lagi, selamat"
Siau Po menjura.
"Semua ini berkat rejeki to Toako puIa,"
Sahutnya. To Lung tersenyum.
"Sebelum menjalankan tugas tempo hari, saudara Wi berpesan kepadaku untuk menagihkan hutang kepada The Kek song. Boleh dibilang sudah hampir delapan puluh bagiannya yang dibayar, jumlah yang sudah terkumpul mencapai dua ratus laksa tail lebih. Nanti aku akan menyuruh orang mengantarnya ke rumah Adik Wi,"
Kata To Lung, Siau Po tertawa.
"llmu To toako ternyata hebat juga. Dalam waktu yang begitu singkat sudah berhasil menagih begitu banya-"
Kemudian dengan penuh kebencian dia berkata pula.
"Maknya si bocah Kek song itu Kalau mengingat guruku yang mati di tangannya, rasanya belum puas sebelum berhasil membalaskan dendam ini. Dan orang gila yang memaki-maki di jalanan tadi juga karena perbuatannya itu"
Semakin memikirkan hatinya semakin kesal.
"To toako, harap kau membawa anak buahmu lebih banyak lagi, sekarang juga kita tagih lagi hutangnya"
Katanya pula.
Mendengar Siau Po ingin menagih hutang lagi kepada Kek song, tentu saja hati to Lung menjadi senang sekali.
Apalagi hari ini dia ditemani oleh Lu Ting Kong Tingkat satu, wibawanya pasti tampak semakin besar.
Dia segera menyuruh wakilnya menggantikannya untuk sementara.
Kemudian dia memerintahkan salah seorang komandannya agar mempersiapkan seratus cong peng pilihan untuk menyertai Siau Po dan dirinya menuju tempat kediaman The Kek song.
Pangkat Kek song sekarang adalah Kong ciak.
Kalau dibandingkan dengan Siau Po ibarat langit dan bumi.
Apalagi Kek song merupakan pihak musuh yang telah menyatakan takluk.
Sedang Siau Po mendapat pangkatnya dari berbagai jasa yang telah didirikannya, walaupun dihitung dari urutan tidak terpaut jauh tapi isinya justru berbeda sekali.
Di atas pintu gerbang gedung kediaman Kek song terdapat papan yang bertulisan "Hai Tin Kong Hu", namun tintanya warna hitam.
Jauh berbeda dengan gedung kediaman Siau Po yang papannya ditulis dengan tinta air emas.
Melihat keadaan itu, setidaknya hati Siau Po merasa bangga juga.
"Merek yang terpasang di atas rumah budak ini masih tidak bisa menyaingi gedung kediamanku,"
Katanya.
Para prajurit Kerajaan ceng sudah biasa menagih hutang ke rumah Kek song, setidaknya muncul dua tiga hari sekali, jadi mereka tidak menunggu sampai penjaga pintu melaporkan kedatangan mereka, semuanya main selonong saja, Siau Po masuk ke ruang tamu dan duduk di atas sebuah kursi, sedangkan To Lung duduk di sisinya.
Bagian 96 Kek Song mendengar panglima Besar Bu yan Thayswe Wi Siau Po datang berkunjung.
Dia jadi kebingungan seketika.
Tapi dia tidak berani menolak pertemuan dengan Siau Po.
Karena itu dia segera mengganti pakaiannya dengan jubah kebesarannya lalu dengan membusungkan dada dia keluar menemui musuh dedengkotnya.
Dari jauh sudah terdengar suara panggilannya yang lantang.
"Wi Tayjin"
Kek Song segera menjura dalam-dalam. Siau Po tidak berdiri, dia tetap duduk di atas kursi sambil mengangkat sebelah kakinya, kepalanya mendongak ke atas lalu mendengus satu kali.
"To toako, bocah Kek Song itu benar-benar tidak tahu sopan santun. Kita sudah datang setengah hari lebih tapi dia tidak memperdulikannya sama sekali. Bukankah kelakuannya itu menunjukkan bahwa dia tidak memandang sebelah mata terhadap kita?"
Katanya seakan tidak melihat kemunculan Kek Song.
"Memang benar, orang bilang hutang nyawa dibayar nyawa, hutang uang dibayar uang. Dia selamanya suka menyurutkan kepala seperti seekor kura-kura. Memangnya orang itu bisa bersembunyi untuk selamanya?"
Sahut To Lung.
Kek Song marah sekali, Namun di bawah tekanan orang, mau tidak mau dia harus menundukkan kepalanya, Kedua orang di hadapannya ini, yang satu seorang panglima Besar, sedangkan yang satunya lagi seorang Komandan Pengawal Istana.
Ada pun dirinya sendiri tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, pangkatnya hanya berdasarkan nama saja, walaupun punya kedudukan tapi dalam bidang apapun dia masih tidak berbeda dari rakyat biasa.
Terpaksa dia menahan rasa kesal dalam hatinya.
Dia segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dan menyapa sekali lagi.
"Wi Tayiin, to Congkoan, semoga kalian berdua sehat-sehat saja"
Perlahan-lahan Siau Po menurunkan kepalanya.
Matanya menatap Kek song yang berdiri dengan tubuh membungkuk di hadapannya tajam-tajam, Siau Po memiringkan kepalanya, kemana perginya The Kek song yang tampan?
yang terlihat di hadapannya justru seorang laki-laki setengah baya ujang tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat, matanya kuyu.
Rambutnya sebagian sudah memutih.
Siau Po semakin penasaran.
eh, kalau dilihat lama-lama tidak terlalu tua juga.
Namun tampangnya kurang bersemangat, rasanya Siau Po kenal dengan orang ini.
cuma dulunya orang ini tidak memelihara jenggot.
siapa lagi kalau bukan The Kek song?
Beberapa tahun saja tidak bertemu tampang orang ini sudah bertambah tua dua tiga puluhan tahun, Mula-mula Siau Po memang merasa bingung, namun akhirnya dia mengerti selama beberapa tahun belakangan ini Kek song sudah mengalami berbagai penderitaan.
Karena itulah tampangnya menjadi tua dan tubuhnya semakin lama semakin kurus, timbul sedikit perasaan iba dalam hati Siau Po.
Tapi kalau dia mengingat kembali orang ini pernah membunuh gurunya dengan kejam, kemarahannya timbul pula.
sembari tertawa dingin dia bertanya.
"Siapa kau?"
"Hamba The Kek song. Mengapa Tayjin tidak mengenali hamba lagi?"
Sahut Kek song, Siau Po menggelengkan kepalanya.
"The Kek song? Bukankah si bocah Kek song itu sudah menjadi Raja Muda di Taiwan? Mengapa dia bisa ada di Kotaraja? oh, kau pasti barang palsu"
"Hamba sudah mengabdi kepada Kerajaan Ceng yang besar. Berkat budi besar Sri Baginda hamba mendapat pangkat Kong ciak pula,"
Sahut Kek song.
"Oh begitu rupanya. Dulu kau pernah membual di Taiwan bahwa pada suatu hari nanti kau akan menyerang Kotaraja dan meringkus Sri Baginda, Lalu kau juga mengatakan entah akan menuntaskan segalanya sepanjang apa atau sependek apa. Apakah semua kata-kata itu tidak ada hitungannya?"
Tanya Siau Po pula.
Keringat dingin di punggung Keksong mengalir semakin deras.
— Dia ingin memperberat dosaku sehingga mengoceh yang tidak-tidaki biar bagaimana sri Baginda selalu mendengarkan apapun yang dikatakannya, tidak mungkin dia mendengarkan apa yang kukatakan, — pikirnya dalam hati.
Sejak To Lung membawa anak buahnya datang menagih piutang, hari-hari yang dilalui Kek song terasa semakin berat, satu hari serasa satu tahun.
Dari seluruh harta bendanya yang dibawa dari Taiwan, boleh dibilang hampir delapan puluh persen nya telah disita oleh congkoan beserta anak buahnya ini.
Sebagian besar dari emas permatanya telah dijual untuk membayar hutang.
Entah sudah berapa ribu kali dia menyatakan penyesalan dalam hatinya sendiri seharusnya dia jangan menyerah kalau tahu urusan belakangannya begini gawat.
Ketika sie Long membawa pasukannya datang menyerang, paling tidak dia bisa melakukan perlawanan mati-matian, toh belum tentu pihak mereka yang kalah.
Kalau dia sampai mati dalam peperangan, dia juga tidak perlu merasa berdosa terhadap para leluhurnya.
Tidak di-sangka-sangka setelah menyerahkan diri dia masih harus mengalami berbagai hinaan, terutama dari pemuda yang sekarang berada di hadapannya ini.
Mendengar ucapan Siau Po barusan, rasanya dia memilih mati daripada hidup.
"To toako, dulu The ongya ini benar-benar sok. Belum lama ini adikmu mendapat selentingan bahwa ada orang yang akan datang ke Kotaraja untuk menjemput pangeran ini agar dapat menduduki tahtanya kembali di Taiwan, The ongya, apa yang dikatakan penghubung mu itu? siaute ingin mendapat penjelasan yang selengkapnya agar tidak mendapat kesulitan bila melapor pada sri Baginda nanti,"
Kata Siau Po pula.
"Wi Tayjin, harap Anda ulurkan tanganmu yang mulia. Apa yang dikatakan Tayjin tadi benar-benar tidak pernah terjadi-..."
"Eh. kok aneh To toako, bukankah kita berhasil meringkus seorang pemberontak? Dia telah membuka mulut memakiku dan Sri Baginda, Dia mengaku sebagai bawahan lama The ongya. Dia mengatakan bahwa tuan mudanya telah disiksa di Kotaraja ini karena itu dia datang untuk membalas dendam. Dia bilang ingin membasmi seluruh Bangsa Boan ceng Tatcu apa itu,"
Kata Siau Po Mendengar sampai di sini, Kek song tidak dapat menahan kegelisahan hatinya lagi.
Dia menjatuhkan diri berlutut di depan Siau Po, lalu dengan suara meratap dia berkata "Ampun, Wi Tayjin Dosa hamba yang dulu memang besar sekali sehingga seharusnya patut mendapat hukuman mati.
Harap Tayjin berwelas asih.
Kalau Tayjin membukakan jalan kehidupan bagi hamba, Thian di atas tentu akan memberkati Tayjin sekeluarga"
Siau Po tertawa dingin.
"Ketika membunuh guruku tempo hari, apakah kau pernah membayangkah apa yang akan kau alami sekarang?"
Tiba-tiba dari ruangan dalam melangkah ke luar seseorang.
Tubuhnya tinggi kurus, tampangnya dingin.
Dia bukan lain daripada It Kiam Bu Hiat Pang Ci Hoan.
Dia menghambur ke sisi The Kek song lalu membangunkannya.
Kemudian dia menoleh kepada Siau Po seraya berkata.
"Mengenai pembunuhan atas diri Tan Cong tocu tempo hari, semuanya merupakan gagasanku, sama sekali tidak ada kaitannya dengan The Kongcu, Bila kau ingin membalas dendam, silahkan mencariku"
Selama ini Siau Po memang agak gentar berhadapan dengan Pang Ci Hoan.
Melihat kegarangan orang itu, tubuhnya jadi lemas seketika, sikapnya yang sombong tadi tidak kelihatan lagi.
Tubuhnya terhenyak di atas kursi seakan tidak mempunyai tenaga lagi.
"Apakah kau ingin memukul orang?"
Tanyanya dengan suara gemetar. To Lung segera bangkit dari tempat duduknya.
"Mana orang?"
Teriaknya.
Dalam sekejap mata muncul puluhan anak buahnya ke dalam ruangan dan mengambil posisi mengurung Pang Ci Hoan dan The Kek song.
Melihat begitu banyaknya anak buah di pihaknya, hati Siau Po terasa agak lega.
Orang ini berani bersikap kurang ajar dalam wilayah istana kerajaan.
Dia benarbenar tidak memandang sebelah mata terhadap Sri Baginda kita yang mulia.
Cepat ringkus dia"
Serunya kemudian. Empat orang pengawal istana segera tampil ke depan, lalu memborgol kedua lengan Pang Ci Hoan, Pang Ci Hoan tidak melakukan perlawanan. Malah dengan suara lantang dia berkata.
"Kami telah menyatakan takluk pada pihak Kerajaan Ceng, Sri Baginda menganugerahkan pangkat Hai Tin Kong kepada The Kongcu, sedangkan aku dianugerahi pangkat Tiong seng Pak-ucapan seorang kaisar ibarat emas beratnya, beliau pernah mengatakan bahwa apa yang sudah lalu biarkan berlalu Wi Tayjin, kau sengaja mencari gara-gara agar bisa mendirikan jasa lagi, bukan? sebaiknya kita bersama-sama menghadap sri Baginda dan memohon beliau yang menentukan siapa yang bersalah di antara kita"
Siau Po tertawa dingin"Oh jadi kau sendiri orang baik? He he, rupanya It Kiam Bu Hiat Pang Ci Hoan adalah pendekar yang gagah perkasa Aneh Mengapa sampai hari ini aku baru mengetahuinya?"
Ejek Siau Po "Sejak tiba di Kotaraja ini kami selalu mendapat penjagaan yang ketat selamanya kami tidak pernah bertemu dengan orang luar.
Kami terlebih-lebih tidak berani melakukan dosa sekecil apa pun.
Para siwi ini tidak henti-hentinya datang ke mari meminta uang.
Kami selalu menyediakannya sesuai dengan kemampuan kami.
Kami tidak merasa berat hati karenanya.
Wi Tayjin, apabila kau ingin mencari masalah untuk menambah kesalahan kami, perlu kau ketahui bahwa Sri Baginda berpandangan luas.
Mungkin kau sendiri yang salah kaprah nantinya"
Kata Pang Ci Hoan pula.
Orang ini mempunyai pengalaman yang luas dan bernyali besar Tidak bisa membandingkannya dengan The Kek song.
Apa yang dikatakannya mengandung dalih yang kuat.
Untuk sesaat Siau Po sendiri juga merasa sulit berdebat dengannya Dalam hati Siau Po sadar bahwa kedua orang itu merupakan musuh-musuh yang telah menyatakan takluk, memang tidak menjadi masalah kalau hanya datang untuk memberikan sedikit hinaan saja, namun apabila benar-benar ingin menjatuhkan mereka, Sri Baginda hanya perlu menanyakan beberapa kata saja maka kedoknya bisa terbongkar.
Apalagi bila Sri Baginda sampai tahu bahwa tujuan kedatangannya untuk membalaskan dendam bagi Tan Kin Lam, kaisar itu pasti akan menyalahkan dirinya.
Tanpa terasa hatinya menjadi lunak seketika, namun mulutnya masih tidak mengaku salah.
"Kemarin kami berhasil meringkus seorang pemberontak. Dia sendiri yang mengatakan bahwa kedatangannya ke Kotaraja ini justru ingin menjemput The Kong cu pulang ke Taiwan, Memangnya apa yang dikatakan orang itu hanya kebohongan belaka?"
"Orang itu hanya mengoceh sembarangan, mana boleh dianggap serius? Harap Wi Tayjin sudi menyeret orang itu ke mari, biar kita bicara secara berhadapan sehingga kita bisa mengetahui apakah dia bohong atau tidak"
Sahut Pang Ci Hoan.
"Kau bersedia berhadapan dengan orang itu? Bagus sekali. Benar-benar suatu hal yang paling bagus Eh, ngomong-ngomong, The ongya, kapan akan kau lunasi hutangmu itu?"
Tandanya mengganti topik pembicaraan secara tiba-tiba.
Pang Ci Hoan mendengar kata-kata Siau Po yang ngalor-ngidul tidak karuan.
Dia menduga anak muda ini khawatir urusan ini diperpanjang.
Tentunya dia hanya mengada-ada saja.
Pang Ci Hoan merasa bahwa masalah ini sudah terlanjur panjang, sebaiknya diteruskan saja sampai ke hadapan Sri Baginda.
Apalagi dia tahu bahwa Sri Baginda yang sekarang ini otaknya cerdas sekali.
Meskipun usianya masih sangat muda, namun caranya memimpin tampuk pemerintahan justru bijaksana sekali.
Raja pasti bisa membedakan siapa yang bersalah dalam masalah ini.
Bila dia tidak menggunakan kesempatan yang baik ini, kemungkinan untuk selamanya mereka harus terus menerima tekanan dari berbagai pihaki Mereka sebetulnya sudah didesak sedemikian rupa oleh si pemuda tengit ini.
Dalam hati dia berpikir, semut saja kalau diinjak pasti mengigit, apalagi mereka sebagai manusia.
Daripada menadah saja leher mereka dijerat tali gantungan, toh apa salahnya kalau mencoba-coba nasib.
Maka dia pun berkata.
"Wi Tayjin, mari kita bawa orang itu ke hadapan Sri Baginda?"
Siau Po terkejut setengah mati. Dia membayangkan akibatnya apabila urusan ini diteruskan sampai ke hadapan Sri Baginda, Tapi Siau Po bukan orang yang sudi mengakui kelemahannya begitu saja.
"Bagus sekali Ringkus dulu kedua orang ini agar mereka dapat menikmati kenyamanan dalam penjara, satu atau dua tahun kemudian kita baru bawa urusan ini ke pengadilan"
To Lung menjadi serba salah.
Dia tahu masalahnya sekarang jadi gawat.
Kalau dia hanya membawa beberapa pengawal untuk menagih hutang saja, tidak menjadi persoalan, namun kalau benar-benar memasukkan kedua orang ini ke dalam penjara, bagaimanapun mereka harus mendapat ijin dari firman raja.
Apalagi raja sendiri yang pernah menyatakan akan membebaskan mereka dari hukuman.
Sebagai bukti keputusannya, Sri Baginda malah menganugerahkan pangkat untuk kedua orang ini.
"Wi Tayjin, sebaiknya kita laporkan dulu kejadian ini kepada Sri Baginda, setelah itu kita baru boleh meringkusnya"
Kata To Lung dengan suara rendah. Hati Kek song menjadi lega seketika.
"Betul, Aku toh tidak melakukan kesalahan apa-apa, mengapa harus ditangkap"
Katanya Menghitung arah angin justru merupakan salah satu keahlian Siau Po Maka dia segera berkata "Salah atau tidak, kita masih belum tahu.
Tapi hutangmu kepada ku justru belum lunas juga, apa yang akan kau lakukan?
Aku ingin tanya, kau akan membayar hutang atau ikut denganku?"
Mendengar Siau Po masih memberinya peluang untuk memilih, hati Kek song semakin lapang. Dia segera menyahut.
"Aku akan membayar hutangku. Aku akan membayar hutangku"
Selesai berkata dia langsung masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa setumpuk uang.
Disamping itu masih ada dua pelayannya yang keluar dengan membawa nampan berisi perhiasan.
"Wi Tayjin, hamba sudah menguras seluruh lemari, hamba benar-benar tidak punya apa-apa lagi, jumlah semuanya paling-paling empat laksa tail saja. sisanya hamba tidak mungkin bisa membayar lagi,"
Kata Keksong kemudian.
"Tidak bisa membayar lagi? Aku tidak percaya. Coba kita masuk bersama-sama untuk mencari lagi"
Jawab Siau Po dengan mata mendelik.
"Ini... ini.... Rasanya kurang leluasa,.,."
"Kami toh tidak melakukan kesalahan apa-apa. Wi Tayjin bermaksud menggeledah tempat tinggal kami? Boleh saja. Tapi apakah Wi Tayjin membawa surat ijin dari Sri Baginda atau sepotong surat dari pengadilan?"
Tanya Pang Ci Hoan. Siau Po tertawa.
"ini bukan penggeledahan namanya, The ongya sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak bisa membayar hutangnya lagi. Aku rasa dia berbohong. Kemungkinan dia masih sanggup membayar lebih banyak lagi, Lagipula, siapa tahu di dalam rumahnya dia bukan hanya menyimpan uang serta emas saja, tetapi masih menyembunyikan sejumlah senapan api, pistol, meriam api, meriam air dan sebagainya. Kalau dia sendiri lupa di mana dia menyimpan barang-barang itu, kami toh mempunyai banyak tenaga. Kami bersedia membantu mencarinya,"
Sahut anak muda itu seenaknya. "Mana berani hamba menyembunyikan barang-barang itu? Lagipula pangkat hamba hanya Kong ciaki maka sebutan ong ya tidak pantas hamba terima"
Sahut Kek song. Siau Po menoleh kepada to Lung.
"To toako, coba tolong kau hitung semuanya, berapa kira-kira jumlahnya?"
To Lung mengajak dua anak buahnya menghitung jumlah uang dan perhiasan yang diserahkan Kek song tadi.
Jumlah uangnya ada tiga laksa empat ribu tiga ratus tail, sedangkan sisanya merupakan perhiasan-perhiasan yang tidak ada harganya.
Kami tidak bisa memperkirakan harganya"
Sahut To Lung. Siau Po mengulurkan tangannya untuk memeriksa perhiasan-perhiasan yang ada di atas nampan. Tiba-tiba dia mengambil sebatang tusuk konde.
"Aduh, To toako, lihat ini, Bukankah Sri Baginda disebut Naga yang perkasa dan permaisurinya dipanggil Burung Hong yang suci? Mengapa selir budak The Keksong ini berani mengenakan tusuk konde berbentuk. burung Hong? Apakah dia menyamakan dirinya sebagai permaisuri Raja?"
Teriak Siau Po-Pang Ci Hoan marah sekali mendengar kata-katanya.
"Wi Tayjin Kalau kau bermaksud mencari tulang di dalam telur ayam, maka hari ini juga aku akan mengadu jiwa denganmu Dalam setiap keluarga yang berada apalagi kaum bangsawan, siapa yang anak gadis atau istrinya tidak memiliki tusuk konde burung Hong? Aku yakin setiap gadis atau selir dari para pembesar di istana ini semuanya memiliki tusuk konde burung Hong"
"Rupanya selama ini Pang Tayjin sudah membuka mata lebar-lebar terhadap setiap gadis para pembesar di istana? Hebat, hebat Hehehehe, tampaknya matamu mempunyai rejeki yang lumayan sehingga bisa menikmati kecantikan setiap putri bangsawan di Kotaraja ini. Coba katakan, gadis mana yang paling cantik dalam pandanganmu? Apakah kau sudah berhasil melihat selir Kong cin ong atau puteri tunggal Penasehat Raja?"
Ejek Siau Po.
Saking kesalnya Pang Ci Hoan sampai tidak dapat berbicara, wajahnya berubah merah padam.
Hatinya merasa agak takut juga.
Dia tahu bahwa anak muda ini mempunyai hubungan dekat dengan kaisar sekarang.
Kalau ocehannya sampai tersiar di luaran, apalagi ditambahi berbagai bumbu, kemungkinan dirinya akan mengalami nasib sial.
The Kek song tidak henti-hentinya membungkukkan tubuhnya sambil berkata.
"Wi Tayjin, urusan ini kami serahkan kepada Wi Tayjin saja, .Mohon Tayjin bersedia memberikan bantuan"
Siau Po melihat beberapa patah kata ucapannya berhasil membuat ciut nyali Pang Ci Hoan sehingga membisu, selagi benderanya masih berkibar maka dia harus menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Tampak dia tertawa terbahakbahak "To toako, muka adikmu ini rupanya masih kalah jauh dibandingkan dengan dirimuTo toako datang menagih hutang, hasilnya dua ratus laksa tail lebih, sedangkan adikmu ini turun tangan sendiri hasilnya justru jauh dari memuaskan."
"Dengan sebenar-benarnya hamba memang tidak punya apa-apa lagi. Hamba tidak berani mendustai Wi Tayjin, apalagi berpura-pura dengan niat tidak mau membayar,"
Sahut Kek Song.
"Mari kita pulang Lewat sepuluh hari atau setengah bulan kemudian, setelah The ongya mendapat kiriman dari Taiwan, baru kita datang menagih lagi"
Kata Siau Po Tentu saja Pang Ci Hoan dapat mendengar nada bicara Siau Po yang masih terus mengaitkan The Kek song dengan Taiwan, Kata-katanya seakan menyatakan bahwa tuan mudanya masih bersekongkol dengan negara yang dikuasainya dulu, ini merupakan dosa yang berat sekali karena terhitung pengkhianatan.
Kalau urusannya tidak cepat-cepat dijelaskan, selamanya mereka akan dicap sebagai pembangkang Pemerintah.
Maka dia menyahut dengan suara lantang.
"Kami selalu menjaga diri sesuai dengan hukum, tidak berani melakukan perbuatan yang memberatkan diri kami sendiri. Apa yang dikatakan oleh Wi Tayjin dan to Congkoan, semuanya harus kita sampaikan kepada Sri Baginda, Kalau tidaki meskipun dunia ini luas, kemungkinan kita tidak mempunyai tempat untuk berpijak lagi"
Siau Po tertawa.
"Kalian ingin tempat untuk menginjakkan kaki? Ada, ada The ongya dan Pang Ciangkun bisa kembali ke Taiwan. Bukankah disana ada tempat yang luas sekali? Kalian berdua tentunya ingin merundingkan tempat yang akan digunakan untuk menginjak kaki, kalau begitu sebaiknya kami tidak mengganggu lebih lama lagi," katanya. Tanpa menunggu jawaban dari lawannya, Siau Po segera menarik tangan to Lung dan diajaknya meninggalkan tempat kediaman Kek song. -ooo00000oooSetiba di rumahnya, Siau Po segera menyuruh orangnya menyiapkan meja perjamuan. Diundangnya para pengawal untuk minum arak bersama-sama, To Lung memerintahkan anak buahnya pergi mengangkut empat buah peti dari rumahnya. Ketika dibuka isinya ternyata uang peraki emas permata dan berbagai benda berharga lainnya-sembari tertawa dia berkata "Setelah menagih selama beberapa bulan, sebagian besar harta kekayaan Kek Song sudah terkumpul di sini. Wi Tayjin, harap kau terima semuanya "
Siau Po mengambil segepok uang kertas yang jumlahnya sekitar belasan laksa tail.
"Si Anjing buduk itu telah membunuh guruku, tapi Sri Baginda justru menganugerahkan pangkat untuknya. Rasanya dendam kesumat ini tidak mungkin terbalas lagj. Terima kasih atas bantuan to toako dan saudara-saudara lainnya yang telah mempersulit dirinya selama ini. Setidaknya kedongkolan dalam hati ini. agak terlampiaskan juga, guruku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Aku akan menggunakan uang ini dengan menyuruh, rakyat di Taiwan membuatkan sebuah tugu peringatan bagi beliau, Dengan demikian jasanya akan dikenang sepanjang masa. sisanya harap to toako ambil dan bagikanjuga kepada para saudara siwi yang telah bercapek lelah"
Katanya. To Lung mengibaskan tangannya berkali-kali.
"Tidak bisa, tidak bisa uang ini merupakan hutang yang dibayarkan oleh Kek song, saudara Wi hanya meminta sedikit bantuan dari saudara-saudara siwi ini untuk menagih ke rumahnya beberapa hari sekali. Masa jasa sekecil itu saja harus diperhitungkan? Lagipula kita toh orang sendiri, mana boleh meminta bagian saudara Wi?"
Siau Po tertawa.
"Terus terang saja, harta benda di rumah adikmu ini sudah terlalu banyak sehingga aku sendiri bingung bagaimana harus menggunakannya. Antara sahabat yang baik seharusnya susah sama-sama senang juga sama-sama. Mengapa harus dibedabedakan?"
Biar dibujuk bagaimana pun, To Lung tetap tidak mau menerima uang pemberian Siau Po.Mereka terus berdebat sampai wajah keduanya merah Akhirnya para siwi menerima uang sebanyak seratus laksa tail sebagai ongkos capek mereka menagih, sedangkan tiga puluh laksa tail lagi dibagikan kepada prajurit pasukan berkuda, sisanya yang dibawa sendiri oleh To Lung untuk dimasukkan ke dalam kamar Siau Po Para siwi yang bertugas di istana ataupun di luar istana segera membagi-bagikan uang jatah itu sedikitnya masing-masing menerima beberapa tail uang perak semuanya merasa gembira sekali.
Mereka makan minum sampai puas untuk merayakannya sesudahnya mereka segera menggelar meja judi di taman lalu mulai permainan judi Karena semuanya merupakan sahabat baik Siau Po, maka Siau Po bermain dengan jujur.
Berbeda dengan biasanya yang selalu mencari kesempatan untuk curang.
Mereka berjudi sampai kentungan dua lebih.
Tiba-tiba Siau Po berkata kepada To Lung.
"To toako, masih ada satu hal lagi yang adikmu ini ingin meminta bantuan dari Toako"
Peruntungan To lung sedang bagus, hatinya juga gembira sekali.
"Baik, urusan apa pun silahkan saudara Wi katakan"
Sahutnya sambil tertawa. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu sehingga dia segera menambahkan.
"Asal bukan yang satu ini yakni orang gila yang memaki-maki Sri Baginda dan Adik Wi di jalanan kemarin. Sri Baginda telah meminta agar aku menjaganya dengan ketat. Besok pagi saudara Wi sendiri yang harus mengutungkan kepalanya. Kalau saudara Wi meminta agar aku melepaskannya, bisa-bisa besok batok kepalaku sendiri yang harus dipisahkan dari lehernya."
Persoalan yang ingin dimintakan bantuan oleh Siau Po justru masalah yang satu ini.
siapa sangka sebelum dia mengatakan apa-apa To lung sudah menembaknya.
Dalam hati dia berpikir.
— Sri Baginda memang melebihi peramal ulung, apapun bisa ditebak olehnya, Bahkan uang sebesar seratus laksa tailpun tidak dapat digunakan untuk menebus selembar nyawa Mao Toako, Hatinya jadi panas, rasanya dia ingin kembali ke rumah Kek song untuk menagih hutangnya lagi.
Tapi kalau dipikir-pikir, tampang si Kek song sungguh mengenaskan seandainya bisa menekan orang bernyali semut seperti dia, toh tidak bisa dianggap seorang pendekar Dia merenung sejenak kemudian berkata.
"Mengenai orang gila itu, Sri Baginda memang sudah berpesan wanti-wanti. Biarpun nyaliku sebesar langit juga tidak berani melepaskannya. Hari ini kita ke rumah si Kek Song untuk menagih hutang, dia sendiri sih tidak jadi masalah, yang membuat hatiku mendongkol justru tangan kanannya, si Pang Ci Hoan itu. Lagaknya setinggi langit, dia benar-benar tidak memandang sebelah mata terhadap kita. Kalau mengingat kembali, rasanya aku tidak sanggup menela n penghinaan tadi"
Beberapa siwi yang mendengarkan dari samping segera menyatakan persetujuan mereka atas apa yang dikatakan Siau Po "Apa yang kita hadapi hari ini memang membuat hati jadi kesal Wi Tayjin tidak perlu memikirkannya, sekarang juga kita kembali ke sana.
Dia toh hanya seorang panglima yang kalah dalam peperangan, berani-beraninya bersikap garang di hadapan kita.
Menghadapi orang yang kasar seperti dia apakah kita juga harus memakai aturan?"
Sahut seseorang di antara mereka.
"Urusan menjadi anak kura-kura seperti ini tidak boleh dilakukan secara terangterangan. Kalau sampai tersiar di luaran, nama saudara-saudara siwi pula yang jelek"
Kata Siau Po"Memang benar, saudara Wi memang bisa mempertimbangkan segala hal sampai jauh"
Sahut To Lung cepat.
"To toako juga tidak perlu turun tangan sendiri urusan ini biar diselesaikan oleh Tio toako dan cio toako saja,"
Kata Siau Po sembari menggapaikan tangannya kepada Tio Kong Lian dan cio ci Hian.
"Kalian melamar sebagai anak buah Cin Tou tong dari bagian depan, katakan bahwa ada urusan genting yang ingin kalian rundingkan bersama Pang Ci Hoan. Meskipun hatinya curiga tapi aku yakin dia tidak berani menolak Sampai tengah perjalanan kalian harus membelenggu kaki dan tangannya. Kemudian tutup matanya dengan kain hitam serta sumpal mulutnya dengan sapu tangan, setelah itu kalian ajak dia berputar-putar beberapa kali baru bawa dia ke mari. Di sini kalian boleh memukulnya sepuas hati. Kalau dia sudah tidak sadar, kalian lepas seluruh pakaiannya lalu antar dia ke atas tempat tidur selir kesayangan Cin Toutong"
Kata Siau Po menjelaskan rencananya.
Para siwi tertawa terbahak-bahak, mereka memuji siasat bagus yang dikemukakan oleh Siau Po.
Para siwi yang bertugas dalam istana memang tidak cocok dengan para prajurit barisan depan, setiap kali bertemu selalu ada saja yang terlibat dalam perkelahian.
Sebetulnya Komandan bagian barisan depan itu dijabat oleh Akili, Tapi tempo hari orang itu sudah terperangkap oleh jerat yang dipasang Siau Po sehingga dijebloskan dalam penjara.
Walaupun akhirnya dia dibebaskan, namun Sri Baginda menyalahkan kecerobohan orang itu yang dikatakan tidak becus melaksanakan tugas, itulah sebabnya Akili dipecat dari jabatannya dan sekarang kedudukannya dijabat oleh seseorang bermarga Cin.
Selama ini, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi sudah sering terjadi perselisihan antara To Lung dengan Cin Toutong ini.
namun keduanya berpangkat tinggi sehingga sama-sama merasa apa boleh buat terhadap lawannya.
Itulah sebabnya To Lung yang maling senang mendengar siasat Siau Po barusan.
"Si budak Cin ini terkenal takut istri. Meskipun dia mempunyai beberapa orang selir, tapi tidak ada seorang pun yang berani dibawanya pulang ke rumah selir kedelapan yang baru diambilnya tinggal di daerah Tiam Cui Ceng. Cin Toutong belum pernah bermalam di tempat itu. Kita telanjangi Pang Ci Hoan lalu kita letakkan di atas tempat tidur selir barunya itu. Yakin Cin Toutong akan mencak-mencak karenanya, walaupun ada kemungkinan dia curiga semua ini adalah perbuatan kita, tapi asal tidak ada seorang pun yang membocorkan rahasia ini, dia tidak akan bisa membuktikan apaapa,"
Katanya.
Para siwi segera melepaskan lencana di pakaian masing-masing lalu melangkah ke luar sambil tertawa cekikikan, -ooo00000ooooSiau Po dan to Lung duduk di ruang tamu.
Mereka minum arak sembari menunggu laporan dari para siwi yang sedang menjalankan tugas.
Anak buah Siau Po yang mengamati kejadian yang sedang berlangsung lalu menjelaskan secara berurutan apa yang mereka lihat Para siwi sudah sampai di depan gedung Tiong seng Pak Hu, Mereka mengetuk pintu dan mengaku sebagai utusan Cin Toutong, Pang Ci Hoan keluar menyambut kedatangan mereka.
Dia bermaksud mengundang para siwi itu masuk untuk minum arakNamun Tio Kong Lian mengatakan bahwa dia mendapat tugas dari Cin Toutong untuk mengundang Pang Ci Hoan agar segera menemuinya karena akan diajak merundingkan masalah desas-desus dari Taiwan yang tampaknya sangat penting Tidak lama kemudian datang lagi laporan bahwa Pang Ci Hoan sudah naik ke dalam tandu, Para siwi mengangkutnya ke sebelah barat kota.
Para siwi sudah berhasil meringkus Pang Ci Hoan.
Beberapa prajurit yang menyertainya juga dibelenggu.
Para siwi menggiring mereka ke bagian utara kota.
Ketika ditanya oleh penjaga pintu gerbang, para siwi mengaku sebagai prajurit barisan depan pimpinan Cin Toutong, Pang Ci Hoan yang ditutup matanya dan disumpal mulutnya pasti dapat mendengar dengan jelas, sekarang rombongan orang-orang itu sedang menuju ke mari..
Kurang lebih sepembakaran hio kemudian, para siwi telah menggiring Pang Ci Hoan memasuki rumah Siau Po.
Tio Kong Lian berseru dengan suara lantang.
"Lapor kepada Cin Toutong, pemberontak Pang Ci Hoan sudah datang"
Tangan kanan Siau Po dikepalkan lalu dipukulkan ke depan keras-keras sebagai tanda bahwa para siwi harus memukuli Pang Ci Hoan.
"Pemberontak Pang Ci Hoan berani bersekongkol dengan penjahat, Cin Toutong menurunkan perintah agar memberi pelajaran yang keras"
Teriak beberapa orang siwi pula.
Dalam sekejap mata pukulan-pukulan dan tendangan segera mendarat di tubuh Pang Ci Hoan.
sebetulnya ilmu Pang Ci Hoan tinggi sekali, orangnya juga teliti.
Ketika para siwi datang menjemputnya tadi, dalam hati dia sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres.
Kalau dia memang berniat kabur, meskipun jumlah para siwi itu cukup banyak dia yakin belum tentu dirinya akan tertangkap.
Tapi sejak menyerahkan diri, dia sudah mendapat pangkat yang cukup tinggi.
Dalam hati dia berpikir, biarpun pihak lawan ada maksud mencelakainya, tapi Sri Baginda toh orang yang cerdas dan bijaksana.
Pasti beliau akan mempertimbangkan siapa yang bersalah.
Maka dia menurut saja dibawa pergi lalu dibelenggupua, namun karena serakah dan tamak pangkat, akhirnya dia malah kena pukulan sampai setengah mati.
Hal ini membuktikan bahwa ilmu yang tinggi tanpa pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusanjuga merupakan suatu kesalahan.
Siau Po melihat mulut dan hidung Pang Ci Hoan mengalirkan darah.
Hatinya terasa agak lega, setidaknya dia sudah berhasil membalas dendam gurunya walau cuma sedikit.
Tapi kalau pemukulan ini dilanjutkan, kemungkinan orang ini bisa mati benar-benar.
Karena itu dia sebera memberi isyarat dengan gerakan tangan agar nara siwi jangan memukulinya lagi, Siau Po menyuruh mereka melepaskan seluruh pakaian Pang Ci Hoan lalu mengikat tangan dan kakinya dengan tali.
To Lung tertawa geli melihat keadaan orang itu.
"Sekarang juga angkut dia ke rumah selir muda Cin Toutong"
Katanya. Cio Ci Hian juga ikut tertawa.
"Paling baik kalau seluruh pakaian selir muda itu juga dilepaskan lalu dijejerkan keduanya di atas pembaringan,"
Sarannya.
Para siwi tertawa terbahak-bahak mereka menyatakan setuju, To Lung ingin melihat bagaimana tampang Cin Toutong ketika melihat istri mudanya telanjang bulat dan tidur berdampingan dengan lelaki lain.
Maka dia berkata.
"Kali ini biar aku sendiri yang memimpin kepergian mereka"
Beberapa siwi segera menggotong Pang Ci Hoan, Baru saja rombongan itu bermaksud berangkat, tiba-tiba dari luar menghambur masuk dua orang prajurit lalu segera menghadap Siau Po "Lapor kepada Wi Tayjin, di depan rumah selir ke delapan Cin Toutong sekarang sedang kacau balau.
Terjadi perkelahian besar-besaran» orang-orang di dalam ruangan itu terkejut setengah mati, -Mungkinkah ada orang yang membocorkan rahasia?
Kalau Cin Toutong sudah mengadakan persiapan, maka urusan ini bisa gawat — Pikir mereka dalam hati- "Siapa yang berkelahi?"
Tanya Siau Po "Kami berdelapan mendapat tugas dari Wi Tayjin untuk melakukan pengintaian di sekitar rumah istri mudanya Cin tou tong.
Tiba-tiba ada serombongan Nio Cu Kun yang datang menyerbu ke rumah itu-jumlah mereka lebih dari empat puluh orang..."
Sahut salah seorang prajurit. Siau Po mengerutkan keningnya.
"Apa sih Nio Cu Kun itu?"
Tanyanya tidak mengerti.
"Harap WiTayjin ketahui, rombongan orang-orang ini terdiri dari para wanita berkaki besar. Ada yang membawa papan gilasan, ada yang membawa kemoceng (Bulu ayam), dan ada pula yang membawa palang pintu. Mereka menerjang ke halaman rumah selir muda Cin Toutong lalu berkelahi dengan para penjaga di sana. Mereka kemudian menyeret ke luar seorang wanita yang kurus kecil dan mencambukinya dengan pecut,"
Sahut prajurit itu pula "Kok ada kejadian seaneh itu? Coba kalian selidiki lagi"
Perintah Siau Po Kedua prajurit itu mengiakan lalu menjalankan tugas yang diberikan kepada mereka.
Tidak lama kemudian salah seorang dari mereka kembali lagi lalu melaporkan.
Cin Toutong telah berangkat ke rumah selir mudanya dengan menunggang kuda.
Rupanya saking buru-burunya sampai-sampai kancing bajunya tidak dipasang dengan benar.
Kaki kanannya mengenakan sepatu, kaki kirinya justru telanjang.
Rupanya pemimpin pasukan Hio Cu Kun yang menyerang ke rumah selir muda Cin tou Tong itu justru istri tuanya sendiri"
Mendengar laporan itu, para siwi serta lainnya yang ada dalam ruangan itu langsung tertawa terbahak-bahaki Rupanya istri tua Cin Toutong merasa cemburu sehingga mengganyang ke rumah madunya, prajurit yang memberikan laporan itu menceritakan sampai bagian ini, dia sendiri tidak dapat menahan kegelian hatinya sehingga ikutikutan tertawa.
Lalu dia melanjutkan lagi penuturannya.
"Istri tua itu berhasil merenggut baju Cin Toutong lalu menampar pipinya berulang kali sampai terdengar suara Plak Plok Plak Plok pantat suaminya juga ditendang keraskeras. Cin Toutong hanya dapat meringkukkan tubuhnya sambil berteriak "
Istriku, harap jangan marah, harap jangan marah"
To Lung yang mendengarnya sampai berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Cin Toutong benar-benar mendapat pelajaran kali ini"
Serunya, Siau Po tertawa.
"Toako, cepat kaupergi ke sana dengan menunggang kuda, ajak beberapa orangmu dan bertindak sebagai penengah Kali ini kuncirnya sudah terpegang olehmu, aku jamin mulai saat ini tentara barisan depan mereka tidak berani lagi berbuat macam-macam kepada para siwi kita,"
Katanya menyarankan. To Lung segera tersadar oleh ucapan Siau Po-saking gembiranya dia sampai menepuk jidatnya sendiri kuat-kuat.
"Aku benar-benar bodoh Kesempatan yang sebagus ini juga tidak digenggam erateratsaudara-saudara sekalian, mari kita pergi melihat keramaian"
AjaknyaDia sebera memimpin para siwi dan berangkat menuju Tiam Cui Ceng dengan menunggang kuda Siau Po menatap Pang Ci Hoan yang tergeletak tidak berdaya di atas tanah— Apa yang harus kulakukan terhadap makhluk ini?
Kalau aku membebaskannya, tentu dia akan melaporkan kejadian ini kepada Sri Baginda, walaupun tidak mempunyai bukti apa-apa, Sri Baginda pasti bisa menebak bahwa ini adalah perbuatanku— Tangannya melipat ke belakang, dia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu.
Kembali dia berpikir — Sebentar lagi fajar menyingsing, pada saat itu aku harus menebas batok kepala Mao toako, Adakah jalan ke luar yang baik untuk menyelamatkan selembar nyawa Mao toakoku itu?
Teori menggunakan kebesaran nama pasti tidak berlaku dalam masalah ini-Teori-...
Teori— teori apa lagi yang bisa kupakai kali ini?
&hi bagaimana kalau teori menukar anak?
Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
-Ah Dalam salah satu pertunjukan sandiwara ada cerita mengenai seorang ibu yang diam-diam menukar bayinya— Pertunjukan sandiwara yang pernah dilonton Siau Po bukan main banyaknya kalau kita menanyakan apa nama sandiwara itu dan siapa nama tokohnya, dapat dipastikan dia tidak dapat menjawab.
Tapi kalau ditanyakan jalan ceritanya, dia pasti hapal luar kepala.
Sesaat kemudian, berbagai cerita sandiwara berkelebat dalam benaknya.
Ada lagi satu kisah tentang seorang laki-laki bercambang lebat yang menukar bayinya sendiri dengan bayi majikannya-Dia membiarkan kepala bayinya yang ditebas agar dapat menolong jiwa anak majikannya-Minta ampun --pikir Siau Po pula, -untung usia Mao toako terpaut jauh dengan anak-anakkuKalau tidaki mungkin aku harus menyerahkan batok kepala Ho Tau atau Tong cui untuk menyelamatkan jiwa Mao toako Teman sih teman, solider sih solider, tapi biar bagaimana aku tidak sanggup melakukan hal ini-Bagus Bagus -Dia menyepakkan kakinya keras-keras ke arah tubuh Pang Ci Hoan.
"Rejekimu bagus juga. Sekarang juga Wi Tayjin mengangkatmu sebagai anak pungutnya. Anak sendiri dia tidak sampai hati dijadikan bahan pertukaran, tapi anak pungut sih boleh-boleh saja,"
Katanya.
Dia sebera memanggil seorang komandannya untuk menghadap lalu berbisik-bisik di telinga orang itu.
Kemudian Siau Po menghadiahkan uang perak sebanyak seribu tail.
Di samping itu masih ada seribu tail lainnya yang harus dibagi-bagikan kepada beberapa prajurit lainnya yang ikut turun tangan dalam menjalankan tugas ini.
Komandan itu mengucapkan terima kasih.
"Wi Tayjin tidak perlu khawatir, hamba akan mengatur semuanya baik-baik sehingga tidak terjadi kesalahan sekecil apa pun,"
Katanyasetelah selesai menyusun rencananya, Siau Po masuk ke dalam rumah.
Ketujuh istri dan ketiga anaknya sudah dibawa ke tempat Thay Hou sehingga kamarnya sunyi melompong.
Tidak lama kemudian fajar pun menyingsing.
Kira-kira waktu sarapan pagi, datang firman dari kaisar yang menyatakan bahwa perampok ulung Mao sip Pat melanggar peraturan karena berani memaki pembesar istana sehingga patut mendapat hukuman penggal kepala.
Bu yan Thayswe Wi Siau Po yang mendapat tugas menjalankan hukumannyaSiau Po menerima firman kaisar, lalu memanggil beberapa anak buahnya untuk menggiring Mao sip Pat ke hadapannya.
Sekitar mata Mao sip Pat tampak membiru, hidungnya bengkak dan bibirnya pecah.
Darah membasahi seluruh wajahnya.
Rupanya orang itu mendapat siksaan selama dalam tahanan.
Begitu melihat Siau Po, dia seaera membuka mulut memaki.
"Wi Siau Po Kaulah si pengkhianat yang tidak tahu malu Hari ini kau menjadi algojo pembuka jalan ke neraka bagiku, tapi harap kau tahu bahwa aku tidak penasaran sedikit pun. siapa suruh mataku buta dulu, mau saja membawamu sianak haram dari rumah pelacuran di kota Yang-ciu ke Kotaraja ini"
Para prajurit menyentaknya agar diam, tapi Mao sip Pat terus memaki bahkan semakin kerasSiau Po tidak memperdulikan orang itu-Dia menoleh kepada to Lung dan bertanya "Bagaimana keadaan si tua Cin?"
To Lung tertawa "Ketika aku sampai di sana, wajah Cin Toutong sudah penuh dengan luka akibat kena amukan istri tuanya.
Begitu melihat aku, dia tampak malu sekali.
Aku pura-pura menjadi orang baik, istrinya kunasihati.
Aku lalu menyuruh anak buahku untuk mengajak selir muda pulang ke rumahku dan menyuruh istri-istriku agar menjaganya.
Akhirnya hawa amarah istri tua Cin Toutong reda juga,"
Sahutnya -Siau Po tertawa"Bagaimana tampang selir mudanya itu?"
Tanyanya pulaTo Lung mengacungkan jempolnya.
"He he he, hebat"
Sekali lagi Siau Po tertawa.
"Kau jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, orang lagi kebakaran, kau malah merampok"
Katanya bergurau.
To Lung tertawa terbahak-bahak "Mengenai hal ini, saudara Wi tidak perlu merasa khawatir Memangnya kau kira toakomu ini benar-benar tidak becus?
walaupun si Cin tua itu musuh bebuyutan toakomu ini, tapi toakomu ini tidak akan melakukan hal serendah itu,"
Sahutnya.
Sementara itu, beberapa prajurit segera membawa Mao sip Pat ke gedung pengadilan to Lung menunggang kuda, sedangkan Siau Po menumpang sebuah kereta besar.
Mao sip Pat dinaikkan ke atas kereta kuda yang atapnya terbuka.
Tangannya dibelenggu dengan rantai, sedangkan bagian lehernya dijepit dengan sebilah papan.
Di atasnya terdapat tulisan "Penjahat Mao sip Pat yang akan dihukum penggal kepala"
Iring-iringan itu berjalan dijalan raya menuju sebelah barat kota. Banyak penduduk yang keluar melihat rombongan itu. Dalam perjalanan Mao sip Pat malah masih bisa bernyanyi dengan suara lantang.
"Delapan belas tahun kemudian Locu masih bisa lahir kembali menjadi seorang pendekar itulah sebabnya aku dinamakan Mao sip Pat. sejak semula aku memang sudah tahu bahwa suatu hari akan mendapat hukuman penggal kepala-"
Terdengar pujian dari kedua sisi jalan.
"Bagus Benar-benar seorang laki-laki sejati"
Rombongan itu sampai di persimpangan jalan depan gedung Pengadilan, Anak buah Siau Po sudah menunggu di sana sepanjang malam to Lung sendiri khawatir ada anak murid Thian Te hivee yang datang mengacau maka penjagaan di tempat itu diperketat jumlah siwi dan prajurit yang menjaga di sekitar sana mencapai seribu orang lebihYang disebut gedung pengadilan rupanya sebuah alun-alun dengan atap terbuka dan bagian depannya dikelilingi tembok tinggi.
Diantara beberapa meter dari tembok itu ada beberapa lubang angin yang dapat digunakan untuk mengintip.
Mao sip Pat digiring ke tengah-tengah lapangan, terdengar dia berseru dengan lantang.
"Kita adalah Bangsa Han yang sejati, tapi tanah kita telah diduduki oleh Bangsa Tatcu. Suatu hari nanti, kita harus sanggup mengusir Bangsa Tatcu dari negeri kita ini"
Disamping lapangan tampak ada sebuah tenda besar, Siau Po segera turun dari kereta dan masuk ke tenda, to Lung mengiringi di belakangnya, Siau Po duduk di atas sebuah kursi yang telah disediakan, lalu mempersilahkan to Lung duduk di hadapannya.
Tampak kening to Lung berkerut.
"Penjahat ini berani sekali, kalau dibiarkan lama-lama, mulutnya pasti mengoceh semakin banyaki sebaiknya cepat-cepat laksanakan hukumannya,"
Katanya-"Baik"
Sahut Siau Po lalu berseru.
"Bawa ke pesakitan itu"
Empat orang prajurit menggiring Mao sip Pat ke dalam tenda.
Mereka menekan bahunya agar dia berlutut.
Tapi dasar Mao sip Pat memang keras kepala.
Biar diperlakukan bagaimana pun dia tetap tidak mau berlutut.
"Sudah tidak usah berlutut,"
Kata Siau Po kemudian menoleh kepada To Lung dan bertanya.
"Bolehkah seorang pesakitan menjalani hukumannya sambil berdiri?"
"Tidak apa-apa,"
Sahut to Lung.
"Kalau begitu aku akan menanda tangani ijin hukumannya sekarang juga, Mao sip Pat menerima ijin hukuman penggal kepala"
Serunya sambil mengambil sebatang pit lalu membuat sebuah lingkaran di atas papan yang menjepit leher Mao sip Pat.
"Giring dia ke luar untuk dihukum"
Teriaknya pulaSeorang prajurit segera membuka papan yang menjepit leher Mao sip Pat, lalu dibuangnya ke atas tanah, setelah itu dia baru menggiringnya ke luar dari tenda tersebut.
"To toako, aku ingin memperlihatkan sesuatu yang menarik,"
Kata Siau Po kepada To Lung.
Dia mengeluarkan seikat sapu tangan dari dalam saku pakaiannya, lalu disodorkan ke hadapan To Lung.
Di atas sapu tangan itu terdapat sulaman bergambar porno.
Ada seorang gadis cantik dan seorang laki-laki tampan yang sedang bercinta, gayanya hidup sekali sehingga To Lung menjadi tertarik melihatnya.
Untuk sesaat To Lung sampai menahan nafas memperhatikan gambar sulaman itu.
Karena penasaran dia mengambil sehelai sapu tangan lainnya, Sulaman di atasnya ternyata berbeda-beda, yaitu gambar dua perempuan dan satu laki-lakiAda lagi yang laki-lakinya tiga sedangkan perempuannya dua, gaya bercinta dalam gambar sulaman itu juga aneh-aneh-Bahkan To Lung sendiri belum pernah mengalaminya seumur hidup.
Darahnya serasa meluap, hatinya ber-debar-debar menandakan dirinya terangsang sekali nafsunya melihat sulaman-sulaman itu, jumlah sapu-tangan yang disodorkan Siau Po semuanya ada dua belas helai atau satu lusin, semakin dilihat to Lung semakin senang, sembari tertawa dia bertanya "Darimana engkau mendapatkan saputangan seperti ini?
sulamannya bagus sekali seakan orang-orang yang ada di dalamnya hidup.
Bagaimana kalau kau memesankan satu set untuk toakomu ini?"
Siau Po tertawa.
"Sedikit barang yang tidak ada artinya, siaute memang bermaksud menghadiahkannya untuk toako,"
Sahutnya.
To Lung seakan mendapat rejeki nomplok-wajahnya berseri-seri seketika, cepatcepat dimasukkannya selusin saputangan itu ke dalam sakunya sambil mengucapkan terima kasihPada saat itulah terdengar suara meriam yang ditembakkan sebanyak tiga kaliSeorang prajurit datang melaporkan.
"Waktunya sudah tiba, harap Tayjin melaksanakan hukuman"
"Baik sahut Siau Po sembari berdiri-Dia lalu menarik tangan to Ling dan diajaknya ke luar-Rupanya kali ini Mao sip Pat tidak mengadakan perlawanan lagi. Dia berlutut dengan kepala terkulai seakan tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Terdengar suara tambur dipukul sampai beberapa saat. setelah suara tambur itu berhenti Siau Po mengangkat tangannya ke atas. Seorang algojo yang berdiri di samping Mao sip Pat ikut mengangkat goloknya ke atas. Ketika tangan Siau Po diturunkan, golok algojo pun menebas ke bawah-Kepala Mao sip Pat langsung menggelinding di atas tanah, disusul dengan tubuhnya yang ambruk ke depan. Darah yang mengalir dari batang leher Mao sip Pat berceceran di mana-mana. sungguh suatu pemandangan yang tidak sedap dipandang.
"Hukuman sudah selesai dijalankan saudara Wi, sekarang kita harus berpisah sebentar karena toakomu ini ingin memberikan laporan kepada sri Baginda,"
Kata to Lung. Tampak wajah Siau Po menjadi murung, matanya berkaca-kaca.
"To toako, orang ini mempunyai hubungan yang dekat sekali denganku. Tapi apa boleh buat, firman kaisar kali ini benar-benar berat siaute tidak berani melanggarnya."
Sembari berbicara dia mengusap air matanya, malah terdengar suara tangisnya yang tersedu-sedu. To Lung menarik nafas panjang.
"Aih, saudara Wi memang setia kawan sekali, sebaiknya kau urus baik-baik jenasahnya dan makamkan dengan sempurna. Dengan demikian kau sudah berbuat sesuatu untuk sahabatmu itu,"
Katanya pula.
Siau Po menganggukkan kepalanya sedikit, tangisnya masih belum berhenti juga.
Sebetulnya Siau Po menggunakan lengan baju untuk mengusap matanya, sebelumnya dia sudah mengoleskan minyak balsem pada lengan bajunya itu.
Karena perih matanya menjadi bengkak dan panas, air matanya terus mengalir.
Padahal dalam hati dia diam-diam merasa geli.
Untung rencananya berjalan dengan baik, To Lung masih menghiburnya dengan beberapa patah kata.
Dia mengantarkan Siau Po ke atas kereta, kemudian baru berangkat ke istana dengan menunggang kuda.
Beberapa prajurit menjalankan kereta untuk mengantar Siau Po kembali ke rumahnya, sedangkan sisa anak buahnya yang lain segera memungut batok kepala si pesakitan untuk dimasukkan ke dalam peti mati bersama-sama dengan tubuhnya, setelah itu cepat-cepat mereka memantek tutup peti mati dengan paku.
Terdengar suara kasak-kusuk dari penduduk yang ikut menyaksikan jalannya hukuman, mereka memuji Mao sip Pat sebagai seorang pendekar sejatiMenjelang kematiannya orang itu masih berani membuka mulut memaki-maki Raja dan pembesar istana.
Namun ada beberapa orang yang takut terlibat masalah, mereka mengatakan bahwa Mao sip Pat adalah seorang pemberontak yang patut mendapat hukuman penggal kepala, orang seperti itu tidak boleh dipuji-puji.
Siau Po berhenti di depan rumahnya lalu turun dari kereta, sedangkan para bawahannya segera melanjutkan perjalanan dengan kereta tersebut menuju selatan, yakni ke kota Yang-ciu.
Begitu sampai di dalam rumah ternyata utusan Kaisar Kong Hi sudah menunggunya.
Dalam firman raja itu dinyatakan bahwa Sri Baginda ingin bertemu dengan Siau PoRupanya dia sudah mendapat laporan dari to Lung bahwa Siau Po telah melaksanakan tugasnya dengan baik, Ketika Siau Po datang menghadapnya, dia melihat mata anak muda itu merah bengkak karena terlalu banyak menangis.
Timbul sedikit penyesalan dalam hati Kaisar Kong Hi.
Apalagi dia sudah membuktikan kesetiaannya sekarang.
Kaisar Kong Hi menghiburnya agar jangan terlalu sedih, kemudian dia berkata pula.
"Siau Kui Cu, beberapa ratus serdadu Lo sat yang kau tangkap itu mengajukan permohonan kepadaku agar mereka dibebaskan Karena itulah aku membiarkan mereka pulang ke negaranya. Namun ada dua ratus lebih yang rela mengabdi kepada negara kita dan tinggal selamanya di sini." "Kota Pe King lebih ramai dan lebih menarik daripada Kota Moskow, Lagipula mengabdi kepada Sri Baginda lebih membanggakan daripada mengabdi kepada dua pangeran yang masih ingusan dari Neaara Lo sat itu"
Sahut Siau Po, Kong Hi tertawa.
"Aku sudah mengumpulkan para serdadu itu menjadi satu kelompoki mereka kuserahkan kepadamu selanjutnya kaulah pemimpin mereka. Kau harus mengurus mereka baik-baik, jangan sampai melakukan hal yang tidak-tidak."
Siau Po gembira sekali dan segera menjatuhkan diri berlutut dan mengucapkan terima kasih.
Begitu keluar dari istana, dua rombongan serdadu Lo sat sudah menunggunya di samping jembatan Kin sui Kio dekat Tai Ho Bun, Para serdadu Lo sat itu mengenakan seragam prajurit Ceng yang masih baru, jahitannya pas sekali di badan sehingga tampak berwibawa juga.
Siau Po menurunkan perintah agar setiap serdadu Lo sat itu diberikan hadiah uang masing-masing dua puluh tail dan diliburkan selama tiga hari, Para serdadu Lo sat itu segera berjingkrak kegirangan sambil berseru.
"Hore"
Selama pemerintahan Kaisar Kong Hi, kedua ratus serdadu Lo sat itu terus mengabdikan diri dengan setia.
Banyak menteri dari negara lain yang berkunjung di kemudian hari merasa kagum atas kebijaksanaan Kong Hi yang pandai mengendalikan serdadu dari negara-negara yang ditaklukkannya.
Para serdadu itu tinggal di Negara Cina dan mengabdikan diri sampai mereka tua dan mati, setelah itu kelompok yang dinamakan "serdadu Cina Lo sat"
Ini baru dihapusBegitu pulang ke rumahnya, Tuan puteri dan istri-istri lainnya serta ketiga anaknya sudah kembali dari istana, Thay Hou memberikan bermacam-macam hadiah kepada mereka.
Namun Kian Leng kongeu justru menunjukkan wajah muram.
Bagian 97 Ketika ditanya oleh Siau Po, dia baru mengeluarkan kekesalan hatinya, Thay Hou memperlakukan ketujuh istri Siau Po dengan adil.
Dia tidak membeda-bedakan antara satu dengan lainnya, walaupun Kian Leng kongcu adalah putrinya sendiri tapi nada bicaranya tidak menunjukkan kemesraan sebagaimana biasanya perlakuan seorang ibu terhadap anaknya.
Tentu saja Siau Po tahu mengapa hal itu sampai terjadi .Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Thay Hou tidak memperlakukan kau dengan buruk, boleh dibilang karena beliau memandang muka suamimu ini."
Meskipun di dalam hati dia berpikir demikian, namun mulutnya mengatakan.
"Thay Hou tidak mengistimewakan dirimu justru karena sikapnya yang bijaksana, dia tidak ingin menimbulkan rasa iri dengan kakak serta adikmu yang lain."
Kian Leng kongcu masih merasa marah.
"Dia ibu kandungku sendiri, kalau perlakuannya lebih manis sedikit terhadapku, masa mereka akan merasa iri juga?"
Teriaknya kesal. Siau Po merangkul pinggangnya.
"Biar aku saja yang memperlakukan kau lebih mesra sedikit, coba lihat apakah mereka akan merasa cemburu atau tidak?"
Katanya.
Istri-istrinya yang lain langsung tertawa cekikikan Kian Leng kongcu sikapnya terbuka.
Kalau memang marah, dia langsung saja marah di depan orangnya, tapi dia juga mudah melupakannya.
Melihat madu-madunya tertawa gembira, senyumnya ikut merekah juga.
Selama belasan hari selanjutnya, rumah Siau Po selalu ramai kedatangan tamu.
Para pembesar satu demi satu datang mengucapkan selamat kepadanya.
Malam harinya pasti diadakan perjamuan makan dan tentu saja tidak ketinggalan permainan judi-jadi Siau Po tidak mempunyai banyak waktu senggang, setiap hari dia repot melayani tamu.
Malam ini kembali diadakan perjamuan, To Lung yang kebetulan hadir bertanya kepada Siau Po dengan suara lirih.
"Saudara Wi, malam itu kita memukuli orang itu habis-habisan. Apa yang terjadi kemudian?"
Siau Po tahu 'orang itu' yang dimaksud To Lung tentulah Pang Ci Hoan.
"Akhirnya tentu saja mengantarkannya pulang. Memangnya dia pergi ke mana?"
Sahut Siau Po"Apakah dia tidak kau bunuh?"
Tanya to Lung pula.
"Kalau aku menyuruh orang membunuhnya, sudah pasti To toako ikut menyaksikan juga. Apakah To toako melihat kejadian seperti itu?" "Tidak, tidak."
Sahut To Lung cepat.
"Kita hanya memukulnya sampai puas. Tentu saja kita tidak membunuhnya."
"Sejak mendapat tugas memimpin pasukan perang, siaute memang berhubungan dengan berbagai kalangan. Tapi biar bagaimana, apa pun yang dilakukan oleh para siwi, adikmu ini pasti akan menanggungnya bersama-sama To toako,"
Kata Siau Po tegas. To Lung tersenyum.
"Tidak akan terjadi kesulitan apa-apa. Banyak saksi yang menyatakan bahwa orang itu dibawa oleh anak buah Cin Toutong, Belakangan memang diketahui bahwa dia tidak pernah kembali, urusan ini pernah ditanyakan oleh sekretaris Negara langsung kepada Cin Toutong. Namun Cin Toutong memberikan jawaban secara samar-samar. Akhirnya malah ada beberapa pembesar lain yang merasa tidak senang Cin Toutong ditanyai sedemikian rupa dan sekretaris Negara pun tidak berani menyelidikinya lebih jauh,"
Katanya sambil berdiri lalu menepuk-nepuk pundak Siau Po "Saudara Wi, kau memang patut disebut Panglima Rejeki, Siapa sangka kejadiannya bisa begitu kebetulan istri tua Cin Toutong tidak mendatangi madunya kemarin-kemarin atau keesokan harinya, dia justru datang malam itu.
Dengan demikian semua urusan jadi dibebankan ke pundak si Cin tua itu."
Dalam hati dia yakin Pang Ci Hoan telah dibunuh oleh Siau Po-Meskipun dalam urusan ini dirinya juga ikut terlibat tapi dosanya sudah dibebankan kepada Cin Toutong.
Hal ini benar-benar sesuai dengan kehendak hatinya.
To Lung mana tahu bahwa kedatangan istri tua Cin Toutong ke rumah madunya bukanlah suatu kebetulan sebetulnya secara diam-diam Siau Po menyuruh orang kepercayaannya untuk menyampaikan berita itu kepada istri tua Cin Toutong.
Dengan demikian sesuai dengan waktu yang telah diaturnya, terjadilah keributan tersebut, To Lung terlebih-lebih tidak menduga bahwa secara diam-diam pula Siau Po telah menyuruh anak buahnya mempersiapkan Pang Ci Hoan dalam keadaan sedemikian rupa, maka ketika Mao sip Pat digiring ke luar dari dalam tenda, mereka segera memasukkannya ke dalam kereta kuda lalu ditukar dengan Pang Ci Hoan.
Untuk mengalihkan perhatian To Lung, Siau Po sengaja memperlihatkan saputangan bersulaman porno itu sehingga si congkoan jadi tertarik dan nafsunya terangsang.
Meskipun bentuk tubuh Pang Ci Hoan dan Mao sip Pat agak berbeda, namun dengan pikiran yang melayang-layang To Lung tentu tidak bisa membedakannya.
Setelah Pang Ci Hoan yang menggantikan kedudukan Mao sip Pat menjalankan hukuman penggal kepala, Siau Popun diantar pulang.
Pada saat itu di dalam keretanya sudah ada Mao sip Pat, Namun tangan dan kaki orang itu dibelenggu, mulutnya disumpal dengan kain sehingga tidak bisa berkoar-koar.
Setelah itu Mao sip Pat dibawa ke wilayah selatan oleh anak buah Siau Po.
sesampainya di Kota Yang-ciu, para prajurit itu baru melepaskan ikatan pada kaki tangan Mao sip Pat dan menjelaskan apa yang telah terjadiMao sip Pat adalah seorang laki-laki sejati.
Dia menjunjung tinggi kesetia kawanan sosial.
Mendengar Siau Po telah menyelamatkan nyawanya dengan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri, diam-diam dia merasa terharu.
Tentu saja mulai saat itu dia tidak berani lagi muncul di dunia ramai, apalagi membuka mulut tentang persoalan ini.
Selama beberapa hari berturut-turut Siau Po mengadakan perjamuan.
Lama-lama dia merasa bosan juga.
Hatinya merindukan saudara-saudaranya dari perkumpulan Thian Te hwee.
Dia berpikir bahwa perbuatan Kaisar Kong Hi semakin lama semakin menjadi-jadi Dirinya dapat menikmati segala kemewahan hidup di gedung tempat tinggalnya, namun nasib saudara-saudaranya dari perkumpulan Thian Te hwee masih tidak menentu, jangan sampai mereka terjaring oleh orang-orangnya Kaisar Kong Hi dan dibasmi sampai ke akar-akarnya.
Dia harus mencari jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah ini Keesokkan harinya dia menyamar sebagai seorang kongcu dari keluarga hartawan sedangkan Songji menyamar sebagai pelayannya.
Mereka pergi ke Tian kio dan membaur dengan orang banyak, setelah mengitari tempat itu beberapa saat lamanya, mereka melihat Ci Thian Gan berjalan menuju kedai teh dengan menenteng kotak obatnya.
Siau Po segera melangkah masuk ke dalam kedai teh.
Dia melihat ci Tian Gan duduk di udut kiri.
Dia melangkah ke depannya dan duduk di atas bangku yang ada di hadapan orang itu.
"Ci toako"
Panggilnya dengan suara lirih, Ci Tian Gan langsung berdiri wajahnya menunjukkan kemarahan Tanpa mengatakan sepatah kata pun dia berjalan ke luar.
Siau Po tertegun.
Dia segera mengikuti temannya itu.
Dia melihat Ci Tian Gan berjalan menuju tempat yang sepi, Siau Po mengajak Songji mengikutinya dari belakang.
Ci Tian Gjan membelok di tiga tikungan, kemudian melalui dua buah lorong, dan sampai di sebuah gang kecil.
Di depan gang itu terdapat dua batang pohon besar.
Dia berjalan masuk ke dalam gang itu lalu menuju ke rumah yang kelima, sesampainya di depan pintu Ci Tian Gan mengetuk beberapa kali.
Pintu dibuka, seorang anggota Thian Te hwee lainnya keluar menyambut kedatangan Ci Tian Gan, setelah melihat Siau Po, wajah orang itu juga menunjukkan kemarahan Siau Po segera menghampiri orang itu lalu menyapanya.
"So toako, apa kabar?"
Orang itu mendengus dingin. Dia tidak memberikan sahutan sepatah kata pun. ci Tian Coan juga memperlihatkan mimik wajah yang tidak enak dilihat.
"Wi Tayjin, apakah kau membawa pasukan untuk menangkap kami?"
Tanyanya dengan suara ketus.
"Mengapa Ci samko bergurau seperti ini?"
Sahut Siau Po tidak mengerti Orang Thian Te hwee yang satunya berjalan ke mulut gang lalu melongok ke kiri dan kanan.
Kemudian dia masuk ke dalam rumah dan merapatkan pintunya, Siau Po dan Songji mengikuti di belakang kedua orang itu.
Mereka berjalan menuju ruang tamu.
Di sana terlihat Li Liat sek-Hian ceng Tojin, Ko Can cao, Cian Laopan dan yang lain-lainnya sedang berkumpul.
Melihat kedatangan Siau Po, mereka mengeluarkan suara desahan terkejut lalu serentak berdiri.
Siau Po segera merangkapkan kedua tangannya menjura.
"Kakak-kakak sekalian, semoga kalian dalam keadaan baik-baik saja,"
Katanya. Hian ceng tojin marah sekali.
"Keadaan kami masih lumayan karena belum sampai dicelakai olehmu"
Sahutnya ketus. Terdengar suara sreett Hian ceng lojin telah menghunus pedangnya. Siau Po menyurut mundur satu langkah, dan dengan suara gemetar dia bertanya.
"Mengapa... kalian memperlakukan aku seperti ini? Aku toh tidak melakukan kesalahan apa-apa"
Katanya penasaran.
"Tan Cong tocu telah dicelakai olehmu Hong jiko juga mati di tanganmu, bahkan beberapa hari yang lalu kau juga memenggal kepala Mao sip Pat Kami... kami rasanya belum puas kalau belum mengoyak kulitmu atau memutuskan urat nadimu"
Bentak Hian ceng tojin dengan suara keras. Siau Po menjadi panik seketika.
"Tidak ada kejadian seperti itu semua itu dusta belaka"
Katanya cepat.
Hian Ceng tojin maju beberapa langkah lalu mencengkeram pakaian di bagian dada Siau Po "Selama ini kami kebingungan mencari jalan untuk membalaskan dendam sahabatsahabat kami.
sekarang kau mengantar nyawa sendiri, sungguh suatu kebetulan Tentu Thian yang Kuasa sudah mengatur semuanya "Siau Po dapat melihat situasinya yang kurang menguntungkan.
Dia menolehkan kepalanya dan siap-siap mengerahkan langkah ajaibnya untuk melarikan diri Tapi di belakangnya tampak Ci Tian Gan dan sou Kang berdiri menghadang dengan golok.
"Bukankah kita saudara sendiri? Mengapa kalian harus marah-marah tidak karuan?"
Katanya menutupi kegelisahan hatinya.
"Siapa yang sudi mengaku dirinya pengkhianat kecil seperti engkau sebagai saudara. Kata-katamu suka memutar tidak karuan, sama sekali tidak enak didengar Lebih baik korek dulu jantungmu untuk membalaskan sakit hati Tan congtocu dan Hong jiko"
Bentak Hian ceng tojin. Lengan kirinya disurutkan, dia menarik Siau Po ke belakang. Anak muda itu berkaokkaok keras.
"Benar-benar penasaran"
Songji melihat keadaan di depan keadaan sudah mendesak sekali.
Dia segera mengeluarkan sebuah pistol dari balik pakaiannya lalu ditembakkan ke atas sebanyak tiga kali.
Asap segera memenuhi seluruh ruangan itu.
Dengan cekatan Songji merenggut punggung Siau Po lalu diseretnya kuat-kuat.
Dulu Hian ceng tojin sudah pernah terkena batunya senapan angin bangsa Barat, bahkan ayah dan kakaknya mati oleh tembakan pistol sehingga perasaan gentarnya selalu timbul bila mendengar suara tembakan.
Hatinya shock sesaat dan kesempatan itu telah digunakan dengan baik oleh Song ji untuk menolong Siau PoSongji menghambur ke sudut rumah lalu menghadang di depan Siau Po untuk melindunginya.
Pistol di tangannya ditudingkan ke arah orang-orang di depannya.
"Kalian benar-benar tidak mencari tahu dulu kebenarannya?"
Bentak wanita itu. Mata Hian ceng tojin sampai merah terkena asap yang tebal "Semuanya serang, mari kita adu jiwa dengan mereka"
Teriaknya, lalu menghunjamkan pedangnya ke depan. Cian Laopan maju ke depan mencegahnya.
"To tiang, tunggu dulu"
Katanya sembari menoleh kepada Songji lalu bertanya.
"Apa yang kau katakan sebagai kebenaran?"
"Baiklah, harap kalian dengarkan"
Sahut Songji.
Kemudian wanita itu menceritakan bagaimana Siau Po menolong Tan Kin Lam menghindar dari musibah sehingga rumahnya diledakkan dan mereka melarikan diri ke pulau terpencil, bagaimana mereka diculik oleh Kaucu dari sin Liong kau, bagaimana Tan Kin Lam sampai terbunuh di tangan The Kek song dan Pang Ci Hoan berdua, bagaimana liciknya Hong ci Tiong yang menjadi mata-mata bagi Kerajaan Ceng, sehingga hampir saja dirinya dan Siau Po terperangkap dan bagaimana orang itu kemudian mati di tangan mereka, bagaimana Kaisar Kong Hi menggunakan sebala cara memerintahkan Siau Po membasmi seluruh anggota perkumpulan Thian Te hwee namun ditolak oleh anak muda itu, dan bagaimana Siau Po menyelamatkan Mao sip Pat dari hukuman penggal kepala dengan menempuh bahaya baru-baru ini.
Songji bukan orang yang pandai bersilat lidah, maka kisah yang dikemukakannya tidak begitu enak didengar, namun anggota Thian Te hwee sudah lama bergaul dengannya, mereka tahu wanita ini sangat polos dan tidak bisa berpura-pura.
Apalagi dia bisa menceritakan semuanya dengan lancar, tidak sedikit pun terlihat dia merenung sebentar memikirkan apa yang harus dikatakannya, Lagipula mereka yakin Songji tidak pandai mengarang cerita seperti halnya Siau Po Tidak mungkin dalam waktu yang demikian singkat dia bisa mengarang sebuah cerita yang demikian sempurna, sedangkan Siau Po rela kehilangan pangkatnya demi menyelamatkan para anggota Thian Te hwee sehingga rumahnya diledakkan atas perintah Kaisar Kong Hi, memang dialami sendiri oleh mereka.
Dan bila mereka mengingat kembali tindakan-tindakan atau sikap Hong ci Tiong semasa hidupnya, memang banyak celah yang mencurigakan.
Mau tidak mau mereka menjadi percaya atas apa yang dikisahkan oleh Songji barusan.
"Kalau begitu, kenapa... kenapa dalam firmannya. Raja... Tatcu menyebutkan bahwa Wi Hioculah yang membunuh Tan Congtocu?"
Tanya Hian Ceng tojin.
panggilannya terhadap Siau Po sudah diubah menjadi 'Wi Hiocu', hal ini membuktikan bahwa dia sudah hampir percaya sepenuhnya terhadap cerita Songji.
Songji menggelengkan kepalanya.
"Kalau mengenai hal itu, aku benar-benar tidak mengerti."
"Pasti siasat liciknya Raja Tatcu, dia mengharapkan Wi Hiocu putus hubungan dengan para anggota Thian Te hwee dan mulai sekarang hanya setia serta mengabdikan diri menjadi pembesar Tatcu,"
Tukas Ceng Pio.
"Apa yang dikatakan Ciu heng memang benar,"
Kata Ci Tian Gan sembari memasukkan golok ke dalam sarungnya.
Kedua kakinya ditekuk dan dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Siau Po "Kami sudah bersikap ceroboh tanpa memberi kesempatan kepada Wi Hiocu untuk menerangkan segalanya.
Dosa kami sungguh besar sekali, harap Wi Hiocu menjatuhkan hukuman kepada kami."
Orang-orang lainnya juga ikut berlutut memohon maaf kepada Siau Po-Hian ceng tojin malah tidak hentinya menampar pipinya sendiri sambil memaki "Kau memang patut mati Kau memang patut mati"
Siau Po dan Songji cepat-cepat ikut berlutut untuk membalas penghormatan mereka perasaan Siau Po sudah agak tentram.
Maka dia berkata "Saudara-saudara sekalian, harap kalian bangun.
Pepatah mengatakan bahwa orang yang tidak tahu tidaklah berdosa.
Mengapa kalian menyesalkan sedikit kesalah pahaman tadi?"
Para anggota Thian Te hwee berdiri, sekali lagi mereka meminta maaf atas kecerobohan tadi, sekarang Siau Po merasa bangga sekali.
Dia segera menceritakan pengalamannya selama ini.
Tentu saja caranya mengisahkan pengalaman itu jauh lebih menarik daripada Songji.
Bahkan setiap mencapai bagian yang tegang, para anggota Thian Te hwee sampai menahan nafas dan memandangnya dengan mata terbelalak Namun pada akhirnya, seperti biasa mereka tahu Siau Po lebih banyak membual daripada mengisahkan yang sebenarnya.
Mereka lebih percaya cerita yang dikisahkan Songji tadi Tampak para anggota Thian Te hwee berkerumun bersama-sama dan saling berbisik untuk beberapa saat lamanya.
Lalu Li Liat sek berkata.
"Wi Hiocu, sungguh malang nasib Tan congtocu yang dicelakai orang, perkumpulan Thian Te hwee sekarang ibarat Naga tanpa kepala, selama ini saudara-saudara kita dari sepuluh Tong selalu merundingkan siapa yang pantas menjadi pengganti Tang congtocu. Para saudara dari bagian ceng Bok Tong ingin mengajukan wi Hiocu sebagai Congtocu, tapi kami khawatir saudara-saudara dari sembilan Tong lainnya tidak setuju. Lagipula mereka masih meragukan ketulusan hati Wi Hiocu, Karena itu kami memohon Wi Hiocu melaksanakan sebuah tugas untuk mendirikan jasa bagi perkumpulan kita."
Siau Po berulang kali menggoyangkan tangannya.
"Biar bagaimana aku tidak bisa menjadi Cong-tocu,"
Sahutnya, namun hatinya merasa penasaran "Tapi jasa apa yang harus kudirikan?"
Tanyanya pula dengan perasaan ingin tahu.
"Keonaran dalam negara memang sudah reda. Taiwan sudah berhasil diduduki Bangsa Tatcu dan wi Hiocu sudah berhasil memukul mundur serdadu Lo Sat yang menguasai beberapa bagian dari negeri kita. Namun usaha besar kami untuk membangkitkan kembali kerajaan Beng rasanya semakin lama jadi semakin sulit,"
Kata Li Liat Sek pula. Siau Po menarik nafas panjang.
"Memang betul,"
Katanya sembari berpikir dalam, hati --Kalau sudah tahu susah ya biarkan saja keadaan seperti ini. untuk apa meributkan masalah membangkitkan Kerajaan Beng?"
Meskipun usia Raja Tatcu masih sangat muda tapi otaknya cerdas sekali, dia pandai mengambil hati Bangsa Lo Sat pula.
Rakyat di dunia ini sudah mulai melupakan dinasti yang dulu.
Kalau hal ini dibiarkan terus, bisa-bisa seluruh dunia ini dikuasai Raja Tatcu,"
Kata Li Liat Sek. Sekali lagi Siau Po menarik nafas panjang.
"Memang betul,"
Sahutnya dan dalam, hati kembali dia berpikir, — 'Kalau siau Hian cu bisa menguasai seluruh dunia, toh bukan urusan yang buruk pula?' — "Wi Hiocu sangat dipercaya oleh Kaisar Tatcu, Kami ingin wi Hiocu menyusun sebuah rencana agar kami dapat menyusup ke dalam istana untuk membunuh Raja Tatcu itu"
Kata Li Liat Sek pula. Siau Po terkejut setengah mati.
"Ini... tidak bisa dilaksanakan,.,"
Sahutnya dengan suara bergetar "Mohon tanya kepada Hiocu, kesulitan apa yang menjadi pikiran Wi Hiocu?"
Tanya Sou Kang.
"Di dalam, istana terdapat banyak penjaganya, masih ada lagi pasukan barisan depan, pasukan pengawal Raja, pasukan prajurit perang dan lain-lain sebagai nya. oh, pokoknya gawat deh Baru bagian siwi saja sudah terdapat berbagai bagian misalnya bagian penjaga di Kam Ceng Tong, bagian penjaga pintu gerbang istana, dan bagian penjaga sam Kisiwi (Bendera tiga warna). Tempo hari Kui Heng su Lo yacu yang ilmunya demikian tinggi saja mengalami kegagalan sampai menemui ajalnya dalam istana, apalagi aku? Bila kalian ingin membunuh Raja secara gelap, aku bisa mengatakan bahwa ini merupakan kesulitan yang tersulit,"
Sahut Siau PoPara anggota Thian Te hwee langsung merasa kurang senang mendengar penolakannya, apalagi dari nada suaranya seakan Hiocu mereka ini sangat membanggakan penjagaan yang ketat dalam istana.
Hati mereka semakin kesal, bahkan beberapa di antaranya menjadi marah kembali.
Sou Kang mengedarkan pandangannya ke para anggota Thian Te hwee yang lain, kemudian berkata.
"Wi Hiocu, ingin membunuh seorang raja memang bukan hal yang mudah.
Meskipun kau sendiri yang menyusun seluruh rencananya, kami juga tidak yakin akan berhasil Namun asal kami bisa menyusup ke dalam istana, biarpun kami tidak mengharapkan dapat keluar dalam hidup, namun kami akan menjaga baik-baik keselamatanmu.
jumlah anggota Thian Te hwee memang mencapai laksaan orang, namun tidak ada satu pun yang dapat menandingimu.
Thian Te hwee bersumpah tidak akan hidup bersama-sama Bangsa Tatcu-Beban berat membangkitkan dinasti Beng terpaksa kami serahkan ke pundak Wi Hiocu.
"Siau Po menggelengkan kepalanya "Bagaimanapun aku tidak bisa melaksanakan tugas ini. Sri Baginda meminta agar aku membasmi Thian Te hwee, namun aku tidak melakukannya karena perasaan setia kawan, sekarang kalian meminta agar aku menyusun rencana untuk membunuh Sri Baginda, aku juga tidak dapat melakukannya karena merasa harus setia kawan terhadap beliau,"
Sahutnya. Hian Ceng tojin menjadi marah.
"Mengapa harus merasa setia kawan terhadap "Raja Tatcu? Bukankah sama artinya dengan pengkhia—"
Kalimat yang terakhir tidak diselesajkannya.
Dia memaksakan diri untuk menahan emosi "lni merupakan urusan yang besar sekali, kami mengerti kalau Wi Hiocu tidak dapat mengambil keputusan dengan segera, sebaiknya Wi Hiocu mempertimbangkannya kembali-setelah mengambil keputusan, Wi Hiocu bisa datang ke sini memberikan jawabannya,"
Kata sou Kang.
"Baik, baik. Aku akan mempertimbangkannya,"
Sahut Siau Po cepat Ci Tian Gan dapat melihat niat Siau Po yang kurang tulus, maka dia berkata "Semoga Wi Hiocu tidak melupakan cita-cita Tan congtocu semasa hidupnya-jangan melupakan negara kita yang sudah diduduki bangsa asing sehingga mengalami berbagai bencana, pokoknya Bangsa Han kami tidak boleh menjadi budak Bangsa Tatcu."
Siau Po menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Ya, ya. Memang tidak boleh dilupakan."
Para anggota Thian Te hwee mendengar Siau Po hanya memberikan jawaban secara samar-samar Akhirnya mereka merasa lebih baik diam.
Siau Po mengedarkan pandangannya ke sana ke mari "Mengapa Kakak-kakak sekalian tidak bicara lagi?"
Ujarnya sambil tertawa.
Tidak ada seorang pun yang memberikan jawaban Siau Po merasa jenuh.
Dia tidak betah duduk lama-tama di tempat itu seakan di atas kursinya terdapat puluhan jarum yang menusuk pantatnya"
"Sebaiknya kita berpisah dulu sekarang, nanti sekembalinya ke rumah aku akan mempertimbangkan penawaran kalian tadi, setelah itu aku akan kembali untuk merundingkannya dengan Kakak-kakak sekalian,"
Katanya.
Dia segera berdiri Para anggota Thian Te hwee mengantarnya sampai depan pintu.
Dengan hormat mereka mengucapkan selamat jalan, Siau Po sudah sampai di rumahnya.
Dia duduk di ruang tamu sampai merasa bosan.
Ketika menjelang sore, datang firman kaisar yang menyatakan sri Baginda memanggilnya agar menghadap.
Siau Po segera menuju ruang perpustakaan dalam istana.
"Pang Ci Hoan menghilang secara tiba-tiba, sebetulnya apa yang terjadi?"
Tanya Kaisar Kong Hi. Siau Po terkejut setengah mati. Dalam hati dia berpikir. 'Kenapa aku jadinya yang ditanya?' Namun dengan hormat dia menjawab.
"Harap sri Baginda ketahui, malam ketika Pang Ci Hoan menghilang, hamba sedang minum arak bersama to congkoan dan Para siwi lainnya. Kemudian baru hamba dengar bahwa malam itu Pang Ci Hoan telah dibawa oleh anak buah Cin Toutong, entah bagaimana tahu-tahu jejak orang itu jadi hilang. Orang-orang Taiwan yang telah menyatakan takluk ini banyak akal busuknya, tingkah mereka aneh-aneh Jangan-jangan mereka merencanakan sesuatu secara diam-diam. sebaiknya hamba selidiki hal ini."
Kong Hi tersenyum.
"Baiklah, urusan menghilangnya Pang Ci Hoan ini kuserahkan kepadamu untuk menyelidikinya. Aku sudah memberikan janjiku kepada orang-orang Taiwan itu bahwa aku akan melindungi keselamatan mereka, sekarang orang ini tiba-tiba menghilang. Bila aku tidak memberikan penjelasan apa-apa, lain kali ucapanku tidak akan dipercaya lagi oleh orang-orang di seluruh dunia ini"
Katanya.
Keringat dingin membasahi kening Siau Po-'Kata-kata Sri Baginda ini sungguh berat, apakah dia tahu kalau Pang Ci Hoan telah mati akibat perbuatanku?' -tanyanya dalam hati.
Terpaksa dia menjawab.
"Baik"
"Pagi ini kau pergi ke Gin Ko Ho Tong, apakah kau merasa senang?"
Tanya Kaisar Kong Hi pula. Siau Po tertegun.
"Gin Ko Ho Tong?"
Untuk sesaat dia menjadi bingung.
Tiba-tiba dia ingat sesuatu, di depan gang markas rahasia Thian Te hwee terdapat dua batang pohon Gin Ko, kalau begitu gangnya pasti bernama Gin Ko Ho Tong, Nama jalannya saja sudah diketahui oleh Sri Baginda, urusan apa lagi yang bisa mengelabuinya?
Seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin.
Kedua kakinya menjadi lemas dan dia menjatuhkan diri berlutut seketika, sambil menyembah dia berkata.
"Pandangan sri Baginda jauh sekali. Pokoknya, dari awal hingga akhir hamba tetap setia terhadap sri Baginda."
Kong Hi menarik nafas panjang.
"Para pemberontak itu memaksamu agar mencelakaiku tapi biar bagaimana kau tetap menolaknya, kau merasa harus solider terhadap aku. Tapi-— Tapi siau Kui Cu, apakah untuk selamanya kau harus menginjakkan kaki di atas dua perahu?"
Tanyanya pula. Siau Po masih terus menyembah "Harap Sri Baginda ketahui, pokoknya hamba tidak akan menjadi Ceng Tocu mereka, untuk hal ini harap Sri Baginda berlega hati"
Sahutnya. Sekali lagi Kong Hi menarik nafas panjang, kepalanya mendongak ke atas, tampak dia merenung beberapa saat kemudian baru berkata.
"Aku telah menjadi Kaisar Negeri Tiongkok ini. walaupun tidak dapat dikatakan sebagai Niau seng Hi Tongnya, tapi aku mencintai rakyat-Aku berusaha keras untuk mensejahterakan kehidupan mereka, D-antara raja-raja dari Dinasti Beng, mana ada yang dapat menandingiku? sekarang Penjahat Go sam Kui sudah terbasmi, Taiwan sudah berhasil kita kuasai. Bangsa Lo sat tidak berani lagi bertindak semena-mena terhadap kita. Rakyat dapat hidup dengan tentram. Namun Thian Te hwee tetap ingin membangkitkan Dinasti Beng, apakah di bawah pemerintahan Kaisar she Cu itu, rakyat hidup lebih baik daripada kehidupan mereka sekarang?" -' Mana aku tahu?' -kata Siau Po dalam hati. Lalu terdengar dia menjawab.
"Hamba pernah mendengar nyanyian yang isinya begini. sejak adanya Kaisar cu, dalam sepuluh tahun, sembilan tahunnya selalu penuh dengan penderitaan Keluarga petani terpaksa menjual sawah ladangnya, keluarga biasa malah menjual anaknya. Kalau diperhatikan makna yang terkandung di dalamnya, seharusnya kita sudah mengerti sekarang ini hujan badai telah berlalu, negara dan rakyat damai sentosa, Sri Baginda Niauseng HiTong, Kaisar cu masih ketinggalan seratus delapan puluh ribu li dengan Sri Baginda, meskipun dia menunggang kuda pilihan, tetap saja dia tidak sanggup menyandak Sri Baginda."
Kaisar Kong Hi tersenyum "Bangunlah"
Perintahnya. Siau Po segera berdiri Tampak Kaisar Kong Hi melipatkan tangannya ke belakang serta berjalan mondar-mandir dalam ruangan itu. Terdengar pula ia berkata.
"Ayahanda memang orang Boan ciu, tapi ibu kandung ku justru keturunan tentara Han. Dengan demikian di dalam tubuhku mengalir setengah darah Han. Aku memperlakukan rakyatku sama rata dan tidak pernah menyiksa Bangsa Han. Mengapa mereka begitu membenciku sehingga selalu mencari jalan agar dapat membunuhku?"
"Para pemberontak itu tidak tahu aturan, mereka selalu ceroboh dalam mengambil tindakan Sri Baginda tidak perlu membuat otak capek memikirkannya,"
Sahut Siau PoKong Hi menggelengkan kepalanya, wajahnya muram dan pandangan matanya kosong seperti orang yang sangat kesepian, lewat sejenak dia berkata pula.
"Bangsa Boan ciu ada yang jahat dan ada pula yang baik, begitu pula Bangsa Han, orang jahat di dunia ini kelewat banyak-tidak mungkin habis dibunuh Dibasmi satu lahir lagi sepuluh. Tapi untuk menyadarkan pikiran mereka, aku tidak mempunyai kesanggupan setinggi itu. Aih Ternyata menjadi seorang raja bukanlah hal yang mudah"
Dia menatap Siau Po sesaat kemudian meianjutkan, "Kau boleh kembali sekarang"
Siau Po menyembah satu kali lagi lalu mengundurkan diri.
Dia merasa tubuhnya agak dingin, rupanya tadi dia kelewat kaget sehingga peluhnya membasahi seluruh tubuh.
Begitu keluar dari istana, dia baru bisa menghela nafas lega -'Ternyata di dalam perkumpulan Thian Te hwee terdapat mata-mata yang lain.
setelah Hong ci Tiong terbunuh, muncul pula penggantinya.
Kalau tidak, bagaimana Sri Baginda bisa tahu anggota Thian Te hwee memintaku menyusun rencana pembunuhan atas dirinya?
Entah siapa pula mata-mata yang satu ini?' -pikirnya dalam hati Siau Po kembali ke rumah, dia duduk di ruang tamu sambil merenung.
Dibayangkannya setiap anak murid Thian Te hwee, namun sampai lama dia masih belum bisa menebak siapa orangnya yang menjadi mata-mata.
— 'Sri Baginda memintaku menyelidiki ke mana hilangnya Pang Ci Hoan, Kalau ditilik dari nada bicaranya, kemungkinan Sri Baginda sudah curiga akulah biang keladi semuanya.
Cuma dia belum mendapatkan bukti yang konkrit untuk memperkuat dugaannya, bagaimana aku harus menutupi urusan ini selanjutnya?
Tadi Songji mengatakan kepada para anggota Thian Te hwee bahwa aku menyerempet bahaya menyelamatkan jiwa Mao toako, untung sebelumnya aku tidak menceritakan bahwa aku menggunakan Pang Ci Hoan sebagai tumbalnya.
Kalau tidak, si budak jujur ini pasti akan menceritakan semuanya dan mata-mata itu pasti akan memberikan laporan kepada Sri Baginda, Apabila pangkatku tidak diturunkan seratus delapan puluh derajat, maka aku tidak marga Wi lagi,' — pikirnya pula.
Pikirannnya melayang ke sana ke mari.
Hatinya semakin lama semakin gelisah-Dia membayangkan betapa menyenangkannya kehidupan di masa kecil ketika dia bisa bermain bersama-sama Kaisar Kong Hi.
Sungguh sayang keduanya telah tumbuh dewasa, Kong Hi bukan lagi siau Hian cu yang dulu, sikapnya harus sewibawa mungkin.
Dan Siau Po tidak bisa lagi mengoceh sembarangan di hadapannya, karena semakin besar otak Kaisar Kong Hi juga sudah semakin cerdas.
Siau Po juga tidak bebas lagi bila bergurau dengannya.
Kedudukannya sebagai panglima Besar dan pangeran Tingkat satu rasanya tidak menarik lagi.
Lebih enak kehidupan masa kanak-kanaknya sebagai anak desa di rumah pelacuran Li Cun wan di kota Yang-ciu.
-'saudara-saudara dari Thian Te hwee memaksaku membunuh Sri Baginda, sedangkan sri Baginda menekanku agar membasmi seluruh anggota perkumpulan Thian Te hwee, Sri Baginda malah berkata.
"siau Kui Cu, apakah selamanya kakimu harus menginjak pada dua perahu?" , Maknya Lebih baik aku berhenti Aku lepas tangan saja dan semua ini' —Makinya dalam hatiSecara tidak sadar dia memaki dalam hati bahwa dia ingin lepas tangan dari semua ini, tahu-tahu dadanya terasa lapang. Dia mengeluarkan biji dadu dari saku pakaiannya lalu dilemparkan ke atas meja sembari membentak.
"Kalau aku tidak boleh bekerja lagi, maka yang keluar pasti Man Teng Hong"
Empat butir dadunya menggelinding di atas meja-Tiga di antaranya menampakkan warna merah di atas, dadu yang keempat justru menunjukkan enam titik.
Padahal ketika melemparkan dadu, Siau Po sudah mengerahkan kepandaiannya, tapi ternyata tidak berhasil juga.
"Maknya"
Dia mengambil dadu-dadu itu lalu dilemparkannya sekali lagi, sampai yang ke delapan kali barulah terlihat warna merah memenuhi bagian atas dadu-dadu itu.
Terdengar Siau Po menggumam seorang diri "Rupanya aku melaksanakan tujuh tugas lagi dari Kaisar Kong Hi baru bisa pensiun"
Tapi dia berpikir pula.
-'Tujuh tugas itu telah kulaksanakan semuanya, yang pertama adalah membunuh Go Pay kedua -menolong Lo Hongya, ketiga -melindungi Raja Tua di gunung Hgo Tay san.
Keempat -menolong Thay Hou.
Kelima -Mengajak Tibet dan Mongol bekerja sama dengan Sri Baginda, Keenam -menghancurkan partai sin Liong kau, ketujuh — Menangkap Go Eng Him, kedelapan — Memerintahkan Tio yong dan Tio Liang TUng membasmi Go sam Kui.
Kesembilan -merebut kota ya Ke Lung.,, terlalu banyak, terlalu banyak urusan yang kecil tidak masuk hitungan, urusan yang besar pas tujuh buah.
Tidak lebih tidak kurang — Untuk sementara dia juga malas mengulangi kembali apa tujuh tugas besar yang telah dilaksanakannya, tiba-tiba dia berteriak "Locu pensiun" -Tapi, kalau aku tidak menjadi pembesar dan tidak juga melakukan pemberontakan apapula yang harus Locu lakukan?
-pikirnya bolak-balik, maju-mundur.
Akhirnya dia mengambil keputusan bahwa paling menyenangkan kalau dia pulang saja ke Kota Yang-ciu.
Begitu teringat Kota Yang-ciu, kekesalannya hilang seketika.
"Pelayan"
Teriaknya Seorang pelayan segera menghadap-Siau Po menyuruh orang itu menyiapkan hidangan dan arak.
yang bagus-Dia menikmati makanan dan minumannya seorang diri sembari menyapit sepotong daging sapi, otaknya terus bekerja.
Bagaimana caranya agar dia bisa pensiun tanpa dicari-cari oleh Kaisar Kong Hi, dan bagaimana caranya menolak permintaan saudara-saudara dari Thian Te hwee yang mengajaknya melakukan pemberontakan?
Kalau bisa mengambil keputusan yang adil sehingga tidak memberatkan kedua belah pihak, Dia berpikir pula, apabila mengajak Kian Leng kongcu hidup dengan senang bersamanya di Kota Yang-ciu, kemungkinan Tuan puteri itu tidak akan menolakTapi bila dia bermaksud membuka rumah pelacuran, kemungkinan Su Cuan, A Ko, Bhok Kiam Peng, Pui fe, Onju dan yang lainnya tidak akan setuju "Baiklah, kita jalan selangkah maka maju satu langkah pula-Lihat saja perkembangannya kelak.
Harta benda Locu entah sudah berapa ribu laksa tail-Tidak jadi buka rumah pelacuran juga tidak akan mati kelaparan Hanya tidak ada hal yang menarik,"
Katanya seorang diri Malam itu, dia mengajak para istrinya berkumpul di kamarnya, Siau Po selalu menunjukkan wajah berseri-seri.
Tidak henti-hentinya dia bergurau, jauh berbeda dengan keadaan siang tadi, istrinya menjadi heran sehingga mereka bertanya.
"Ada urusan apa yang membuat siangkong demikian gembira?"
Siau Po tersenyum.
"Rahasia langit tidak boleh dibocorkan"
Sahutnya santai "Apakah Hongte Koko kembali menaikkan pangkatmu?"
Tanya Kian Leng kongcu.
"Atau menang judi?"
Tanya Cinju.
"Urusan Thian Te hwee sudah berhasil diselesaikan?"
Tanya Songji.
"Aih Budak ini pasti jatuh hati lagi pada gadis cantik entah dengan keluarga mana, dan ingin mengambilnya sebagai istri ke delapan"
Tebak A Ko Siau Po hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa terkaan mereka semua salah Para istrinya semakin penasaran, lalu mendesaknya agar mendesaknya hal apa yang membuatnya begitu gembira.
"Sebetulnya aku tidak ingin mengatakan nya, tapi kalian terlalu memaksa. Baiklah, aku akan menceritakannya kepada kalian."
Para istrinya segera berdiam diri untuk mendengarkan.
"Aku telah menjabat pangkat sebagai seorang panglima Besar, Di samping itu aku juga dianugerahi pangkat Pangeran Tingkat satu. Namun aku buta huruf, rasanya memalukan saja. Mulai besok aku akan melepas jabatanku lalu belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat mengikuti ujian negara,"
Kata Siau Po pula.
Ketujuh istrinya saling memandang sejenak, kemudian mereka tertawa terbahakbahak.
Mereka tahu kalau Siau Po bisa membakar rumah penduduk, membunuh orang seenaknya, pokoknya melakukan apa saja, tapi satu hal yang tidak mungkin dilakukannya, yakni belajar membaca dan menulis.
Pada keesokkan harinya, sekretaris Negara datang mengunjunginya, orang itu mengatakan bahwa dia mendengar sri Baginda menyuruh Siau Po menyelidiki kasus menghilangnya Pang Ci Hoan.
Kedatangannya justru ingin menanyakan kemajuan hasil penyelidikannya.
Siau Po mengerutkan keningnya.
"Bukankah kalian sekretariat negara mempunyai banyak pegawai? Data-data apa yang berhasil kalian kumpulkan dalam beberapa hari ini?"
Tanyanya.
"Perlu Tayjin ketahui, menghilangnya Pang Ci Hoan misterius sekali, selama beberapa hari ini hamba sudah mengutus orang-orang hamba untuk menyelidikinya, namun sampai hari ini tidak ada jejak yang bisa kami telusuri. Hal ini benar-benar membuat kami cemas, Hari ini hamba baru tahu bahwa sri Baginda telah menyerahkan kasus ini agar diselidiki oleh Wi Tayjin, Rasa senang di hati hamba melebihi senangnya kalau pangkat hamba dinaikkan tiga tingkat, Wi Tayjin merupakan pembesar yang paling banyak akalnya di dalam istana kita. Kalau menunggang kuda dapat memenangkan perang, turun dari kuda bisa menentramkan rakyat Masalah sebesar apa pun kalau sudah ditangani oleh Wi Tayjin pasti bisa dituntaskan dalam waktu yang singkat. Hamba mendapat kesempatan melayani Tayjin dalam menangani kasus ini, benarbenar merupakan berkah dari arwah leluhur hamba. Para bawahan hamba langsung bersorak gembira dan memuji bahwa kali ini kami tidak perlu khawatir lagi. Kalau Wi Tayjin yang turun tangan, serdadu Lo Sat saja bisa dibuat terkocar-kacir, apalagi menyelidiki hilangnya Pang Ci Hoan ini?"
Siau Po tahu kalau kata-kata Sekretaris Negara ini memang enak didengar padahal sebetulnya dia sedang menimpakan bebannya ke pundak Siau Po.
Dalam hati Siau Po berpikir.
-' Entah di mana mereka memakamkan jenasah Pang Ci Hoan, Aku harus menyuruh orang mendandani mayatnya agar tidak dikenali lagi.
Kalau tidak ada bukti, tentu tidak ada tuduhan yang bisa ditimpakan pada diriku, seharusnya dari kemarin-kemarin aku sudah mempersiapkan semua ini, sayangnya aku terlalu sibuk sehingga menundanya terus sampai sekarang.
Tapi bagaimana aku harus memberikan laporan kepada si Raja Cilik?
Bukannya aku Wi Siau Po suka membual, tapi urusan apa pun yang diperintahkan oleh Sri Baginda, sampai saat ini belum pernah satu pun yang tidak sanggup aku selesaikan — terdengar seketaris negara itu berkata pula.
"Istri Pang Ci Hoan tiap hari mengutus orang datang ke rumah hamba menanyakan nasib suaminya, orang itu duduk terus di depan pintu dan tidak mau pergi sebelum mendapat jawaban yang memuaskan, Hamba benar-benar pusing menghadapinya. Kemarin datang lagi orang dari rumah keluarga Pang, dia mengatakan bahwa istri muda Pang Kongya yang namanya entah Lan Siang apa gitu telah melarikan diri bersama seorang kusir kereta keluarga mereka, perempuan itu membawa kabur sejumlah perhiasan. Apabila Pang Kongya tidak cepat-cepat kembali ke rumah, kemungkinan satu persatu selirnya akan buron dengan laki-laki lain dengan membawa harta keluarga"
Siau Po mendengus dingin "Si Pang Ci Hoan ini pasti bersembunyi di suatu tempat dan sedang bersenangsenang.
Kau utus lebih banyak orang lagi untuk mencarinya-Dia sendiri berpelesir di luaran, sedangkan selir dan gundiknya dilarikan orang.
Hitung-hitung hukum karma baginya,"
Kata anak muda itu.
"Betul, betul,"
Sahut si sekretaris Negara.
"Tapi kalau Pang Kongya benar-benar berpelesiran di luar, tapi perginya kan sudah beberapa hari, seharusnya diu sudah kembali lagi ke rumahnya."
"Sulit dikatakan juga, Pang Ci Hoan kan hidung belang tua, tidak seperti Anda lakilaki baik. Kalau berpelesiran paling-paling juga satu malam saja tidak pulang."
Si sekretaris Negara tersenyum malu-malu.
"Hamba mana berani"
Sahutnya.
Tepat pada saat itulah datang laporan bahwa Pang Hujin mengutus beberapa orang saudaranya datang menyembah kepada Siau Po dan mengantarkan berbagai hadiah sebagai ungkapan rasa terima kasih karena Wi Tayjin bersedia menyelidiki urusan ini.
Siau Po menyampaikan pada anak buahnya bahwa dia tidak mau menemui saudarasaudara Nyonya Pang itu, dan hadiahnya juga tidak usah diterima.
Tidak lama kemudian anak buahnya kembali lagi dengan laporan.
"Saudara-saudara Nyonya Pang itu benar-benar kurang ajar. Ketika meninggalkan halaman rumah Wi Tayjin ini, mereka tidak hentinya tertawa dingin Mereka mengatakan entah setan apa yang penasaran dan mengungkit soal pembalasan dendam. Disamping itu seorang diantaranya mengatakan bahwa urusan ini telah diketahui oleh Sri Baginda, suatu hari nanti pasti akan terungkap, sebaiknya orang lain jangan ikut campur agar tidak terlibat masalah yang serius ini."
Lapor Wi Tayjin.
"Orang-orang itu berani memaki serta mengoceh yang tidak-tidak di depan rumah Wi Tayjin, hampir saja hamba tidak dapat menahan diri untuk menggaplok mulutnya."
Ketika menukar pesakitan di lapangan pengadilan tempo hari, anak buahnya yang satu ini juga ikut turun tangan.
Melihat datangnya orang dari keluarga Pang, setidaknya dia sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Hatinya ikut gelisah juga memikirkan akibatnya.
Siau Po yang berbuat tentu lebih gelisah lagi.
wajahnya agak berubah mendengar laparan anak buahnya.
Dia berpikir dalam hati.
-'Kalau dibiarkan terus urusan ini pasti akan terbongkar Maknya Pang Ci Hoannya sendiri sudah kubunuh, memangnya aku takut terhadap istri sesosok arwah gentayangan' — Tiba-tiba sebuah ingatan yang bagus melintas dalam benaknya.
Wajah anak muda itu menjadi berseri-seri seketika.
"Harap Tuan jangan pergi dulu. Tuan tunggu sebentar di sini"
Katanya sembari masuk ke dalam rumah.
Dia memerintahkan dua orang komandannya untuk menghadap, lalu dia membisikkan beberapa patah kata di telinga mereka dan meminta mereka melaksanakan tugas yang diberikan.
Siau Po kembali ke ruang tamu dan berkata.
"Apa yang diperintahkan oleh majikan kita, sebagai hamba kita tentu harus melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini kita lakukan demi membalas budi Sri Baginda, sebaiknya sekarang juga kita datangi keluarga pang untuk mencari sedikit keterangan."
Sekretaris Neoara itu tertegun. -'Pang Kong ya menghilang selama beberapa hari, mengapa harus mencari keterangan di rumahnya?' — pikirnya tidak mengerti Tapi di luarnya dia terpaksa mengiakan.
"Kasus ini benar-benar pelik. Kita ajukan pertanyaan kepada setiap anggota keluarga Pang, siapa tahu kita bisa mendapatkan sedikit jejak yang bisa kita telusuri kata Siau Po pula.
"Betul, betul. Pendapat Wi Tayjin pasti benar. Hamba sungguh bodoh, tidak sanggup menandingi kecerdasan Wi Tayjin,"
Sahut orang itu.
Sebetulnya bukan karena si sekretaris Negara ini kurang cerdas otaknya, tapi pangkatnya tidak seberapa tinggi, jauh dibandingkan dengan Siau Po-Mana mungkin dia berani mengajak anak buahnya datang ke rumah Pang Ci Hoan untuk menginterogasi anggota keluarganya?
Lagipula tidak ada orang yang mau melibatkan diri dalam masalah ini.
Mereka tahu Pang Ci Hoan adalah musuh bebuyutan Siau Po-Menghilangnya orang bermarga Pang ini hampir seratus persen ada hubungannya dengan Siau Po-sedangkan Siau Po terkenal sebagai pembesar yang paling disayang raja, maka tidak ada orang yang mau mencari penyakit.
Dalam menangani kasus ini, siapa pun tidak ada yang serius.
Mereka hanya bisa mengulur-ulur waktu sampai akhirnya kasus ini dianggap sebagai kasus yang tidak terungkapkan, sekretaris Negara itu berpikir pula.
-Wi Tayjin sudah mencelakai Pang Ci Hoan, sekarang dia akan datang pula ke rumah orang itu untuk mempersulit istrinya, si Nyonya tua itu juga tidak tahu diri, pakai suruh orang datang ke mari mencaci maki, makanya Wi Tayjin jadi marah-— Siau Po mengajak sekretaris Negara berangkat bersamanya dengan kereta besar.
Begitu sampai di depan rumah Pang Ci Hoan tampak ratusan prajuritnya telah mengepung sekitar rumah itu Seorang anak buahnya datang memberikan laporan.
"Harap Tayjin ketahui, seluruh anggota keluarga Pang Kongya yang berjumlah tujuh puluh sembilan orang telah menunggu kedatangan Wi Tayjin di ruangan sebelah barat."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Lapor Tayjin, ruangan untuk rapat ada di sebelah timur"
Kata salah seorang komandannya.
Siau Po menuju ruangan sebelah timur Tampak meja kursi di dalam ruangan itu telah ditata sesuai perintahnya.
Dia duduk di atas sebuah kursi yang ada di belakang meja paling depan.
Keadaannya seperti sebuah ruangan pengadilan.
Siau Po menyuruh si sekretaris Negara duduk di sisinya, salah seorang anak buahnya segera membawa masuk seorang perempuan yang masih muda.
Tampangnya lumayan.
Dengan berlenggang-lenggok perempuan itu memasuki ruangan lalu berlutut di depan Siau Po, Anak muda itu menarik usianya sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun.
"Siapa kau?"
Tanya si anak muda.
"Hamba adalah selir kelima dari Pang Kongya,"
Sahut perempuan itu.
"Bangunlah dan silahkan duduk. Aku tidak berani menerima penghormatanmu yang demikian tinggi,"
Kata Siau PoPerempuan itu merasa ragu-ragu. untuk sekian saat dia tidak berani berdiri, Siau Po berdiri dari tempat duduknya, sambil tersenyum dia berkata.
"Sebaiknya kau berdiri saja, kalau tidak aku yang akan berlutut di hadapanmu"
Perempuan itu tersenyum malu-malu, kemudian baru berdiri Siau Po baru duduk kembali di kursinya.
— sikap Wi Tayjin terhadap keluarga Pang ini tidak garang sama sekali, hanya gayanya yang genit mengurangi kewibawaannya, — pikir si sekretaris Negara.
"Siapa namamu?"
Tanya Siau Po pula.
"Hamba bernama Kiok Fang (Harumnya bunga Krisan)"
Sahut perempuan itu Siau Po mengendus dengan hidungnya dalam-dalam, sambil tertawa dia berkata.
"Nama yang bagus Tidak heran ketika kau masuk tadi seluruh ruangan ini langsung penuh dengan harumnya bunga krisan."
Kiok Fang tertawa.
"Wi Tayjin hanya menggoda saja,"
Sahutnya dengan gaya kenes. Siau Po memiringkan kepalanya untuk memperhatikan perempuan itu sekejap, lalu bertanya lagi.
"Dengar-dengar ada seorang madumu yang melarikan diri?"
"Memang betul. Namanya Lan siang, Hm, perempuan rendah itu benar-benar tidak tahu malu"
Sahut Kiok Fang.
"Suaminya tiba-tiba menghilang, dia mencari penggantinya, Hm, ini tidak dapat dikatakan... apa ya?"
Tanya Siau Po menoleh kepada si sekretaris Negara.
"Tidak dapat dikatakan sebuah dosa,"
Sahut sekretaris Negara itu. Siau Po tertawa"Betul Bukan dosa, bukan dosa. Eh, Kiok Fang cici, kenapa kau sendiri tidak ikut kabur?"
Mendengar kata-katanya, kening si sekretaris Negara langsung mengerut. -Bocah ini semakin lama semakin ngelantur, masa di ruang interogasi menyebut saksi dengan panggilan "cici"
Segala?
-pikirnya, Kiok Fang tidak menyahut, dia melirik Siau Po dengan kerlingan penuh artiSiau Po senang sekali, sampai sekarang rayuannya selalu mendapatkan tanggapan dari perempuan mana pun.
sikap hidung belangnya timbul seketika.
"Bisakah kau menyanyikan lagu Ra..-"
Tiba-tiba dia merasa pertanyaannya tidak pada tempatnya, maka lalu menoleh kepada seorang bawahannya lalu memerintahkan "Berikan uang sebanyak dua puluh tail kepada Nona Kiok pang ini sebagai hadiah-"
Beberapa orang prajurit segera mengeluarkan uang sebanyak dua puluh tail sambil berseru.
"Wi Tayjin memberikan hadiah, sampaikan rasa terima kasihmu"
Kiok Fang segera menerima hadiah itu sambil mengucapkan terima kasih-sekali lagi dia melirik genit ke arah Siau Po-setelah itu dia baru mengundurkan diriSiau Po memanggil satu persatu anggota keluarga Pang Ci Hoan, yang semuanya perempuan.
Kalau dia mengajukan pertanyaan kepada wanita yang muda, dia selalu memberikan uang sebagai hadiah.
Tapi kalau giliran perempuan tua, mereka malah mendapat makian Siau Po yang mengatakan bahwa mereka tidak baik-baik melayani Pang Kong ya sehingga laki-laki itu merasa bosan dan sekarang berpelesiran di luaran serta tidak mempunyai maksud untuk pulang lagi, dan sebagainya.
Kurang lebih satu kentungan lamanya Siau Po mengajukan pertanyaan kepada para anggota keluarga Pang.
Kemudian seorang komandan dipanggil menghadap, Siau Po kembali mengoceh secara samar-samar sehingga si sekretaris Negara sendiri tidak mendengar jelas apa yang dikatakannya.
Hanya kalimatnya yang terakhir dapat terdengar dengan jelas.
"Mari kita mengadakan pemeriksaan di dalam"
Siau Po mengajak sekretaris negara, tukang catat dan beberapa pegawai pemerintahan lainnya melakukan penggeledahan di dalam rumah itu Ketika memeriksa sampai ruangan yang ketiga, para prajurit tetap melakukan penggeledahan sebagaimana ruangan-ruangan lainnya.
Tiba-tiba terdengar seorang prajurit mendesah terkejut.
Dari dasar sebuah peti dia mengeluarkan sebuah golok yang penuh dengan bercak darah yang sudah mulai mengering.
"Lapor Tayjin, hamba menemukan sebatang senjata tajam"
Katanya. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Periksa lagi"
Perintahnya lalu menoleh kepada si sekretaris Negara.
"Saudara, coba kau periksa apakah noda darah yang ada di golok itu?"
Si sekretaris Negara mengambil golok dari tangan prajurit tersebut ia mendekatkan golok itu ke lubang hidungnya lalu mengendus beberapa kali. Rasanya dia mencium bau amis darah, maka dia menjawab.
"Rasanya memang noda darah manusia."
"Di atas golok itu ada lubang kecilnya, mengapa aku tidak pernah melihat golok semacam itu? Tahu kah kau golok untuk apa itu?"
Tanyanya pula "Golok semacam ini biasanya disebut arit, untuk membabat rumput Dan biasanya digunakan dalam istal kuda,"
Sahut si sekretaris Negara.
"Oh, begitu rupanya"
Komandan Siau Po memerintahkan anak buahnya mengambil segenteng air lalu disiramkan di atas tanah"
Untuk apa itu?"
Tanya Siau Po "Tayjin, tanah yang pernah digali pasti akan menjadi gembur kalau disiram, dan air akan menyerap dengan cepat,"
Baru saja prajurit itu menyelesaikan keterangannya, tiba-tiba dari kolong tempat tidur terdengar suara blep blep seperti suara bergelembung masuk ke dalam tanah.
Para prajurit yang sedang melakukan pemeriksaan langsung bersorak keras-keras.
Mereka mengambil cangkul lalu mulai menggali tanah di bawah tempat tidur itu.
sedangkan beberapa di antaranya langsung memindahkan tempat tidur tersebut Tidak berapa lama menggali, mereka berhasil mengeluarkan sesosok mayat dari dalamnya.
Mayat itu tidak berkepala, tubuhnya juga sudah hampir hancur dan berbau busuk.
Tampaknya sudah mati selama beberapa hari, pakaian yang dikenakannya memang jubah kebesaran Pak Ciang Kong, Tanpa sadar sekretaris Negara menjerit begitu menyaksikannya.
"Itu... itu kan pang Kongya"
"Benar-benar Pang Ci Hoan? Bagaimana kau bisa mengenalinya?"
Tanya Siau Po "Ya, betul Kita harus menemukan kepalanya terlebih dahulu baru bisa meyakinkan hal ini,"
Sahut sekretaris Negara yang kemudian bertanya kepada seorang pegawainya.
"Siapa yang menempati rumah ini?"
"Hamba akan menanyakannya sekarang juga,"
Sahut pegawainya sambil melangkah ke luar menuju ruangan sebelah barat, tempat para anggota keluarga Pang sedang menunggu.
Rupanya ruangan itu di tempati oleh selir kelima Pang Ci Hoan yakni Lan siang yang telah melarikan diri dengan laki-laki lain.
Pegawai tadi segera kembali dan memberikan laporannya.
"Wi Tayjin, Tuan sekretaris, senjata pembunuh itu ternyata sebilah arit yang biasa digunakan untuk membabat rumput sekarang hamba akan menyelidiki sekitar istal, karena menurut kabar yang hamba terima selir kelima Pang Kong ya melarikan diri bersama kusir keretanya."
Beramai-ramai mereka menuju istal para prajurit sekali lagi melakukan pemeriksaan di tempat itu.
Tidak lama kemudian, dari balik rerumputan mereka berhasil menggali sebuah kepala manusia, Siau Po meminta sekretaris Negara untuk mengenali batok kepala itu.
Ternyata memang Pang Ci Hoan adanya.
Dengan demikian sudah dapat dipastikan bahwa Pang Ci Hoan telah dicelakai seseorang lalu jenasahnya dikuburkan dengan kepala dan tubuh terpisah.
Pada saat itulah para anggota keluarga Pang yang tadinya disuruh berkumpul di ruangan sebelah barat dilepaskan suara tangisan pun bergema di seluruh rumah.
Mereka memaki-maki Kiu si (si kusir kereta) dan Lan siang yang telah sampai hati mencelakai majikan mereka sendiri.
Berita itu dengan segera tersiar ke luar.
Tidak sampai setengah hari kemudian, hampir seluruh penduduk Kota Pe King sudah mengetahui kejadian ini.
Sekretaris Negara merasa malu, juga berterima kasih sekali terhadap Siau Po.
Dalam hati dia membayangkan kalau bukan Wi Tayjin yang menangani kasus ini, kemungkinan masa depannya akan terancam karena sampai botak pun dia tidak mungkin berhasil mengungkapkannya.
Tidak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih kepada Siau Po.
sepanjang perjalanan dia sibuk membuat laporan untuk diserahkan kepada Raja juga menulis catatan untuk dokumennya sendiri.
Disamping itu dia juga menyiarkan berita mencari kedua penjahat Kiu si dan Lan siang yang telah melakukan dosa besar membunuh seorang pembesar kerajaan.
Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 1
Baca Juga: Pendekar Patung Emas 9