Eps 7 Dendam Asmara - Okt
Baca online Dendam Asmara - Okt
Cersil Dendam Asmara - Okt.
Itu sinar mata yang tak penah ia lihat sebelumnya.
Sinar mata itu mengandung kemarahan.
Ia tak tahu sang guru gusar pada orang lain atau kepadanya.
"Barangkali ia sudah tahu aku yang melepaskan Gim Soan?"
Pikir si nona. Saat nona Un sedang khawatir ia mendengar suara tawa menyeramkan dan kata-kata ejekan.
"Aku kira dengan berani naik ke atas gunung, nyali kalian besar sekali! Kiranya nyali kalian kecil seperti nyali tikus!"
Wajah Tat Jin dan Cio Peng berubah merah.
Sejenak mereka ingin membusungkan dada mereka, tapi entah mengapa keberanian itu tak ada.
Mulut mereka saja yang komat-kamit tak keluar suara.
Un Jie Giok seperti menunggu jawaban, ia diam.
Akhirnya Tat Jin bisa melegakan hati dan perasaannya.
"Boan-pwee (aku yang rendah), bersama adik seperguruan Cio Peng datang ke mari atas suruhan Guru kami....."
Tat Jin berkata begitu karena ia tahu gurunya dengan nyonya jelek ini bersahabat dan saling kenal. Maka itu ia berharap orang akan memandang gurunya itu... Tapi Un Jie Giok memotong ucapan Tat Jin.
"Jadi semula kau ingin menemuiku, bukan hendak main gila?"
Kata Un Jie Giok. Kedua anak muda itu mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu siapa gurumu itu?"
Tanya Un Jie Giok.
Suara si nyonya tetap dingin dan matanya tetap bengis.
Kedua anak muda itu tak melihat sinar mata si nyonya tua dan mereka tak bisa menerka hatinya.
Maka legalah hati mereka berdua.
Mereka seolah mendapat harapan.
"Guru kami bernama Ban Biauw Cin-jin In Hoan. beliau sahabat Loo-cian-pwee."
Jawab Tiat Tat Jin. Dalam keadaan terjepit demikian mereka terpaksa berani menyebutkan nama dan gelar guru mereka.
"Oh!"
Suara Jie Giok hampir tak terdengar. Sedang matanya terus menatap ke arah kedua anak muda itu. Ia seolah hendak menjajaki hati mereka berdua.
"Jadi kalian murid In Hoan ..."
Si nenek meneruskan.
"Tak heran.."
Suaranya begitu perlahan, seolah dia sangat baik, tapi mendadak ia melompat tangannya ia ulurkan.
Tangan kanan menyentil, dan tiba-tiba mutiara di tangannya itu melesat menyambar ke jalan darah ciang-tay di dada Cio Peng.
Di lain saat tubuh si nyonya tua sudah berada di depan Tat Jin, serta jari tangan kanannya menotok jalan darah ciang-tay anak muda itu.
Kedua murid In Hoan itu tidak berdaya sama sekali, mereka tertotok dan keduanya terguling rebah di lantai.
Sementara itu Tiang Keng hanya bisa menghela nafas.
"Jika aku yang ditotoknya. apakah aku bisa mengelak?"
Pikir Tiang Keng.
Sebelum pertanyaan di otaknya terjawab, mutiara yang tadi mengenai Cio Peng bergulir ke kakinya, la membungkuk, dan menjemput mutiara itu.
Kemudian ia menunggu serangan si nyonya tua agar ia tahu jawaban yang ada di otaknya itu.
Tapi Un Jie Giok tidak menyerangnya.
Ketika mutiara itu sudah berada di tangan Tiang Keng.
Un Jie Giok pun sudah kembali ke atas meja dan duduk lagi seperti tadi.
Mau tak mau Tiang Keng jadi melengak.
Saat menoleh ke arah Un Kin.
ia lihat si nona sedang mendelong di sisi meja.
matanya mengawasi ke bawah.
Kemudian Tiang Keng melirik ke arah To-su Tauw-to yang berdiri diam di pinggiran tembok, matanya sedang mengawasi Un Jie Giok.
Agaknya dia keheranan.
'"Aku yakin pendeta ini baru pertama kali ini melihat kepandaian Un Jie Giok?!"
Pikir Tiang Keng.
Tak lama ia melirik Tat Jin dan Cio Peng.
Tubuh mereka diam tak bergerak.
Keduanya mirip dua sosok mayat yang sudah kaku.
Tiang Keng menghela nafas lagi.
ia perhatikan mutiara yang ada di tangannya.
Itu sebutir mutiara yang indah...
Sekarang Tiang Keng tak banyak berpikir lagi, ia hanya melangkah ke arah meja untuk meletakan mutiara itu di atas meja.
dekat kaki si nyonya tua.
Ia menahan hati untuk tidak mengawasi nyonya tua buruk itu.
Tapi tak terasa ia angkat juga kepalanya.
Ia kaget ternyata nyonya tua itu pun sedang mengawasi dia.
Perempuan jelek yang ada di depannya ini.
musuh besarnya.
Tapi aneh sekarang Tiang Keng jadi tak menentu pikirannya.
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Lalu ia ingat janjinya pada Un Jie Giok.
Kemudian ia batuk sekali dan menoleh ke arah lain.
"Ternyata kau juga datang ke mari! Bagus!"
Kata si nyonya tua. Ia bicara seolah baru tahu anak muda itu ada di antara mereka.... Tiang Keng diam saja. seolah-olah ia tak mendengar katakata nyonya tua itu.
"Bu Kin Tay-su."
Kata Un Jie Giok.
"Aku dengar ilmu silat Siauwlim-pay hanya bagian luar saja. Aku kira ucapan itu hanya untuk mengelabui orang saja! Apa benar begitu?"
To-su Tauw-to melengak. Ia tak mengerti pertanyaan nyonya itu. Tapi ia jujur, ia lalu berkata.
"Benar, itu memang kata-kata untuk mengelabuhi orang. Partai Siauw-lim-pay sejak didirikan oleh Tatmo Couw-su sampai sekarang..."
Un Jie Giok memotong kata-kata orang sambil tersenyum.
"Partai Siauw-lim terkenal di kolong langit, mengenai riwayatnya aku sudah mengetahuinya."
To-su Tauw-to diam.
"Tay-su.
kau bertubuh sehat dan kekar, sekali lihat saja orang sudah tahu bahwa ilmu silat bagian luarmu telah sempurna benar.
Ilmu silat Siauw-lim-pay punya dua bagian, luar dan dalam, karena ilmu luarmu mahir sekali, maka ilmu tenaga dalamnya pun pasti tidak berbeda jauh.
Benarkah ucapanku itu?"
Mendengar pertanyaan Un Jie Giok itu. bukan hanya si pendeta tapi Tiang Keng dan Un Kin keheranan. Ternyata Cio Peng dan Tat Jin yang sekarang tak berdaya pun jadi heran dan merasa aneh.
"Aku belajar sejak masih muda, aku..."
Kata si pendeta, tapi langsung dipotong oleh Un Jie Giok.
"Sudah! Tak perlu Tay-su menceritakannya, aku sudah tahu."
Kata Jie Giok.
"Ilmu silat bagian dalammu pasti tak ada celanya. Oleh karena itu aku yakin kau pun mengenal ilmu totok. Benar bukan?"
Aneh sekali sikap nyonya ini. ia bertanya pada si pendeta, tapi ia selalu menyelak dan memotong pembicaraan orang. Hingga dengan demikian si pendeta hanya menyahut.
"Oh!"
Serta mengangguk saja.
"Sekarang, coba Tay-su totok pemuda yang berada di sebelah kiri, agar ia bebas dari totokanku. Aku yakin Tay-su bisa melakukannya. Benar, bukan?"
Kembali pendeta ini melengak.
la benar-benar tak mengerti sedang main sandiwara apa.
Si pendeta meletakkan senjatanya di tembok, ia melangkah menghampiri Tiat Tal Jin.
Ia membangunkannya dengan menggunakan telapak tangannya yang besar untuk menepuk sekali, disusul dengan dua kali totokan di sisi pinggang pemuda itu.
Siauw-lim-pay terkenal ilmu silat luar (Gwa-kang) dan dalam (Nui-kangnya).
Si pendeta bisa membuktikannya.
Ia bisa membebaskan Tat Jin yang tubuhnya ia dorong beberapa langkah, ia langsung berjalan menuju ke pinggir tembok.
Ia kelihatan tak puas terhadap pemuda yang lemah itu.
Tat Jin berjalan dua langkah, tapi tiba-tiba ia jadi limbung.
Ketika sudah berdiri kembali, mendadak ia muntah reak kental, lalu ia menoleh, mengawasi ke arah Un Jie Giok sambil melongo.
Akirnya ia menunduk, sambil berpikir karena heran.
"Aneh perempuan jelek ini. dia yang menotokku. mengapa orang lain yang ia suruh membebaskan aku? Mau apa dia sebenarnya?"
Pikir Tat Jin.
BAB 37.
UN JIE GIOK BERNIAT MERACUNI IN HOAN LEWAT KEDUA MURIDNYA Mata tajam dari si perempuan jelek mengawasi ke arah Tiat Tat Jin.
Ia kelihatan seperti seorang pemburu yang puas pada hasil buruannya.
Tak lama sambil tertawa dingin, dia tanya Tat Jin.
"Pasti kau tahu ilmu totok dan cara membebaskannya?"
Tat Jin menunduk tidak menjawab. Un Jie Giok seolah tak butuh jawaban Tat Jin, kembali ia tertawa dingin lalu ia berkata lagi.
"Tikus kecil yang sedang rebah itu pasti adik seperguruanmu, bukan?"
Hati Tiat Tat Jin panas bukan main atas kata-kata itu, ia angkat kepalanya. Baru saja ia menengadah sedikit lalu ia menunduk kembali. Un Jie Giok berkata lagi.
"Sekarang kau boleh pergi, dan kau angkat adik seperguruanmu itu! Totok dan bebaskan dia!"
Kata Un Jie Giok.
Tiat Tat Jin agak ragu-ragu.
Tapi tak lama, ia memutar tubuhnya dan menghampiri adik seperguruannya.
Ia berbuat seperti To-su Tauw-to, ia mengangkat tubuh adik seperguruannya itu.
lalu ia totok, ia menotok dengan lebih cepat dari si pendeta.
Cio Peng pun bebas dari totokan itu.
Un Jie Giok mengeluarkan suara dingin, ia tak menoleh atau menghiraukan kedua pemuda itu.
Tiat Tat Jin dan Cio Peng berdiri mematung, mereka tak tahu apakah mereka harus pergi atau diam saja di situ.
Mata mereka saling mengawasi, mereka sama-sama ingin tahu apa yang diinginkan oleh si hantu perempuan jelek itu.
Mereka pun sama-sama tidak berdaya.
Sesaat suasana tempat itu sunyi.
Mereka sama-sama ingin tahu langkah apa yang akan dilakukan oleh Un Jie Giok selanjutnya.
Tiang Keng diam saja.
ia merasa kasihan kepada kedua pemuda berbaju kuning itu.
Akhirnya Un Jie Giok bicara, tapi ia bicara seperti pada dirinya sendiri.
"Ada yang berani kurang ajar padaku, tapi mereka tak bisa hidup lama, tubuhnya berlumuran darah. Ada yang beruntung, mereka masih punya waktu 49 jam untuk mengurus sesuatu walau akhirnya mati juga. .. Atau jika mereka cerdas, mereka bisa tidak harus mati.."
Semua orang melengak mendengar kata-kata Un Jie Giok ini. Aneh kata-kata hantu perempuan itu. Tiang Keng pun jadi tak sabaran.
"Apa maksudmu?"
Kata Tiang Keng dengan suara dalam. Sepasang mata Un Jie Giok bersinar, ia mengawasi kedua anak muda itu.
"Apa kau pernah mendengar ilmu silat yang katanya telah lenyap dari kalangan Kang-ouw, namanya ilmu Cit Ciat Tiong Ciu."
Kata dia dengan dingin.
Tiang Keng gemetar karena kaget, ia mengawasi ke arah To-su Tauw-to yang ia lihat juga kaget.
Wajahnya pucat-pasi, begitu pun Cio Peng dan Tiat Tat Jin.
kini wajahnya seperti mayat "Jika dia terkena ilmu itu."
Kata Jie Giok dengan suara dingin.
'Dia bisa tak segera mati, bahkan tak ada perubahan pada tubuhnya, sebab kelihatannya seperti biasa saja, tapi lewat 49 jam, ia roboh muntah darah dan binasa.
Kematiannya sangat tersiksa!
Sekalipun dewa.
ia tak akan tahan penderitaan itu....."
Mata Jie Giok menyapu ke semua orang, lalu ia meneruskan dengan suara perlahan.
"Orang yang terkena pukulan ini. sekalipun ada yang menolong membebaskan jalan darahnya, ia tak akan tahu dan merasa bahwa dia telah menjadi korban, kecuali jika dia meraba dan menekan tulang di belakang lehernya, tulang ketujuh di punggung dan jalan darah di kedua iganya dan kedua lututnya. Dengan demikian.."
La bicara perlahan, akan tetapi tubuh Tiat Tat Jin tiba-tiba gemetar.
Kedua pemuda itu jadi ketakutan sekali.
Tanpa merasa mereka meraba bagian-bagian yang disebutkan oleh Un Jie Giok tadi.
Bukan main kagetnya mereka karena mereka pernah mendengar kedasyatan pukulan Cit Ciat Tiong Ciu atau Tangan Berat Memotong Tujuh.
Dan setelah meraba tubuhnya, mereka merasakan sedikit nyeri pada tulang punggung mereka, juga pada enam jalan-darah yang lain.
Artinya pukulan itu telah memutus jalan darah mereka.
Kedua murid In Hoan ini baru sadar dan tak ada orang yang mampu menyembuhkan orang yang tekena pukulan itu..
Sinar mata perempuan tua yang tajam masih memancar ke arah mereka.
Perempuan tua itu tersenyum menyeramkan.
Tiba-tiba Cio Peng berlutut..
"Aku... aku minta ampun.
"terdengar Cio Peng berkata.
"Rupanya kau anak yang cerdik."
Kata Un Jie Giok.
Kepala Cio Peng tunduk, ia masih muda, ia tak mau mati.
Maka ia pun tanpa malu-malu minta ampun.
Sebenarnya permintaan yang memalukan sekali, tapi dilakukannya karena ia pikir lebih baik terhina daripada binasa.
Tiang Keng menoleh ke arah lain la anggap perbuatan Cio Peng itu rendah sekali, sekalipun sebenarnya ia merasa kasihan.
Jika ia berhadapan dengan orang lain, atau di tempat lain.
mungkin ia akan mengulurkan tangan untuk menolong...
Sekarang, ia hanya bisa menghela nafas.
Ia tak berdaya.
Jika ia bisapun.
belum tentu ia membantunya..
Kembali ia mendengar suara gabrukan, ia tak menoleh karena ia tahu itu pasti Tiat Tat Jin yang belutut untuk minta ampun seperti Cio Peng pada Un Jie Giok.
Tak lama terdengar suara dingin dari Un Jie Giok.
"Kiranya kau juga cerdik!"
Kata Un Jie Giok.
"Kau tahu mati itu tak enak!"
Terdengar To-su Tauw-to menghela nafas, sepasang alisnya berkerut, ia ambil senjatanya, lalu berjalan keluar ruangan.
Ia tidak menoleh lagi.
Ia jemu menyaksikan kejadian itu.
Ia tak mau mati, tetapi ia tak mau dihina.
Un Jie Giok tertawa perlahan, tangannya merogoh ke sakunya.
Ia mengeluarkan bungkusan berwarna merah dadu kecil, bungkusan itu dia lemparkan ke lantai ke arah kedua anak muda itu.
"Itu obatnya, tak berwarna dan berbau juga tak ada rasanya."
Kata dia.
"Kalian boleh mencampurnya dengan arak atau air, terserah kalian, sesuka kalian! Jika obat ini diberikan oleh seorang murid pada gurunya, maka guru itu tak akan merasakan sesuatu, dia tak akan tahu apa-apa...."
Un Jie Giok tertawa.
"Nah, apa kalian sudah tahu maksudku?"
Tubuh kedua pemuda itu gemetar semakin hebat.
Mata mereka mengawasi ke arah bungkusan obat itu, hati mereka berguncang keras.
Hidup!
Hidup itu indah, maka harus disayangi.
Hati mereka masih memukul keras, mereka harus memilih, jiwa mereka atau nyawa guru mereka!
Si lemah tetap lemah, pengecut tetap penakut, hingga Ban Biauw Cin-jin In Hoan harus menyesal karena saat ia mengambil murid dan mendidiknya, ia telah bersikap keras dan kejam.
Dia seperti tak menghiraukan jiwa orang lain.
Tat Jin dan Cio Peng mengulur tangan mereka.
Tat Jin yang lebih dahulu berhasil menyentuh bungkusan kecil berwarna merah dadu itu.
Tangan Tat Jin gemetar keras.
Lalu bungkusan itu ia serahkan pada adik seperguruannya.
Dia letakkan bungkusan itu ke tangan Cio Peng....
Un Jie Giok tertawa keras dengan suara dingin.
"Aku tahu kalian semuanya cerdas."
Kata Un Jie Giok.
"Memang ada orang yang cerdas karena bakatnya, dia bawa bungkusan obat itu. dalam waktu dua belas jam dia sudah berhasil membuat obat itu masuk ke dalam perut gurunya. Dia tak tahu cara apa yang dia gunakan. Demikian juga dengan kalian, maka dengan demikian kalian akan berhasil merampas kembali nyawamu!"
Tak lama Jie Giok tertawa lagi. wajahnya berubah.
"Sekarang lekas kalian pergi!"
Kata Jie Giok. Ia kibaskan lengan bajunya hingga terlihat tangannya yang kurus kering.
"Lekas pergi!"
Bentaknya.
Kembali Jie Giok tertawa menyeramkan.
Tat Jin dan Cio Peng terkejut.
Mereka sangat ketakutan, mereka mirip dengan dua ekor kelinci, mereka melompat bangun, lalu mereka memutar tubuh dan lari keluar ruangan.
Dalam sekejap mereka sudah lenyap di balik kegelapan malam.
"Hm!"
Kembali terdengar suara si jelek.
"Hm! Manusia cerdas!"
Tapi tiba-tiba ia menoleh ke arah Un Kin. Sambil mengawasi, ia berkata.
"Anak Kin, kau ikuti mereka! Kau perhatikan ke mana perginya dua anak yang lemah dan pengecut itu! Kau bisa?"
Aneh Un Jie Giok ini.
la menyuruh Un Kin.
tapi ia juga ingin minta persetujuannya dulu.
Tetapi ia juga tak bersedia memberikan kesempatan orang untuk memilih....
Un Kin agak sangsi.
Kedua matanya yang sayu memandang ke arah leng-pay dan wajah Tiang Keng.
"Ya. Suhu."
Sahut Un Kin.
"Aku.."
Dari wajah Jie Giok yang bengis tersungging sebuah senyuman. Ia tertawa.
"Segera kau pergi!"
Kata dia.
"Sekalipun ilmu meringankan tubuhmu lebih baik dari mereka, kau harus segera pergi mengejarnya. Masalah di sini kau tinggalkan saja sebentar!"
"Ya!"
Kata Un Kin. la berlari ke luar ruangan. Di ambang pintu mendadak ia berhenti, menoleh ke arah Tiang Keng dan berkata.
"'Kau jangan pergi, tunggu aku!"
Kata Un Kin.
Suaranya lenyap bersamaan dengan tubuhnya yang juga lenyap di balik pintu dalam kegelapan malam.
Tiang Keng hanya bisa mengawasi dengan melongo la keheranan.
Walaupun ia ingin mengatakan Un Jie Giok adalah musuh besarnya pada Un Kin.
namun ia tak bisa.....
Ketika anak muda itu memperhatikan ke arah Un Jie Giok.
ia lihat tubuh Jie Giok yang tadi duduk tegak di atas meja.
sekarang jadi bungkuk.
Ketika ia memperhatikan sinar matanya, kembali ia keheranan.
Ia lihat itu sinar mata yang mengasihi, sayang, seperti sinar mata cinta seorang isteri kepada suaminya, atau sinar mata sayang dari seorang ibu pada anaknya.
Saat Tiang Keng berdiri diam.
Jie Giok berkata dengan perlahan.
"Kau bukan seorang yang cerdas!"
Kata Jie Giok suaranya berat dan dingin. Bukan menjawab Tiang Keng malah bertanya.
"Kau dari mana'.'"
Tanya Tiang Keng. Nyonya tua itu tertawa dingin.
"Ada orang yang karena urusan orang yang dicintainya, ia sering mendapat masalah yang mendukakan hatinya."
Kata Jie Giok.
"Seumur hidupku belum pernah aku menguping pembicaraan orang lain. akan tetapi..."
La tertawa, sedangkan tangannya menunjuk ke atas.
Tiang Keng mengikuti arah tangan Jie Giok yang menunjuk ke atas.
ternyata di atas genting terdapat sebuah lubang.
Hingga ia sadar dan tahu mengapa Un Jie Giok bisa tiba-tiba muncul dari situ "Jadi kau sudah tahu semuanya?"
Kata Tiang Keng. Un Jie Giok mengangguk "Semua telah kudengar."
Kata dia.
"Ya. aku sudah tahu semuanya!"
La menarik dan menekuk tanganny a. lalu merogoh ke dalam sakunya. Ketika tangan itu dikeluarkan, sekarang di tangannya itu tergenggam sebuah bumbung kecil yang mengeluarkan sinar keemasan.
"Ini alat melepas jamin Ngo ln Hong Jit Touw Kut Ciam,"
Kata Jie Giok bengis luar biasa.
"Sudah lama kubidikkan alat ini ke arahmu! Jika kau ucapkan sebuah kata.. Hm! Maka jarum rahasia ini akan terbenam di ulu hatimu!"
Jantung Tiang Keng berdebar.
Nama senjata rahasia itu .
Ngo In Hong Jit Touw Kut Ciam yang artinya jarum panas seperti teriknya matahari yang tembus ke ulu hati!
Tiang Keng heran bukan main.
Heran karena si nyonya memiliki ilmu menotok Cit Ciat Tiong Ciu yang sudah lama tak beredar lagi di kalangan Kang-ouw, kiranya sekarang dia juga pandai menggunakan senjata rahasia beracun dan lebih lihay lagi.
Tetapi Tiang Keng sedikitpun tak takut.
"Jarakmu itu pun tak akan bisa berbuat banyak terhadapku!"
Kata Tiang Keng dengan gagah. Sinar mata Un Jie Giok memain. Mendadak ia tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar-benar bukan manusia cerdas!"
Kata dia nyaring.
"Apakah kau belum sadar bahwa aku akan membunuhmu?"
Ia tertawa lagi, setelah behenti ia berkata.
"Aku hendak membunuhmu tapi kau tak segera pergi!"
Tiang Keng membusungkan dadanya, ia tertawa dingin.
"Aku tahu tak mudah kau bisa membunuhku!"
Kata Tiang Keng menantang. Sinar mata si nyonya tua berkelebat.
"Bagaimanapun aku akan membunuhmu!"
Katanya.
"Sekalipun kau akan pergi, tapi kurasa waktunya sudah terlambat! Sesudah kau kubunuh bersama ln Hoan. maka di dunia ini tak ada lagi orang yang mengetahui rahasia ini! Maka untuk selamanya Anak Kin jadi milikku!"
Perlahan-lahan ia menunduk wajahnya jadi kelihatan lebih tua.
"Untuk selamanya Un Kin akan jadi milikku!"
Kata dia lagi.
"Sampai aku mati, tak ada orang bisa merampasnya! Ya. tak akan ada orang lain!""
Ia awasi bungkusan berwarna keemasan itu. ia permainkan di tangannya.
"Kau bukan orang yang cerdas! Bukan orang cerdas! Seharusnya kau pergi sejak tadi!"
Tiba-tiba Tiang Keng tertawa dengan suara nyaring.
"Rahasia yang kau katakan selamanya tak ada orang yang tahu?!"
Kata Tiang Keng dengan suara keras, la lalu tertawa lagi.
"Ketahui olehmu di dunia ini tak ada rahasia yang benarbenar rahasia! Kecuali...."
Un Jie Giok membentak sebelum Tiang Keng menyelesaikan kata-katanya.
"Kecuali kau kubunuh!"
Kata Jie Giok.
Mendadak ia mengibaskan lengan bajunya, ia melompat bangun dari atas meja.
Tiang Keng segera melihat sesuatu yang mirip dengan mega berwarna merah melayang ke arah kepalanya.
Ia sadar pada ancaman bahaya maut, segera ia mendek.
kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong dengan keras sekali.
Hebat dorongan itu, sampai mutiara jatuh ke lantai dan tubuh Jie Giok pun terdorong mundur.
Sedetik kemudian nyonya tua itu sudah maju lagi, sambil tertawa ia berkata.
"Aku tahu kepandaianmu berapa tinggi? Melawanku, kau tak akan sanggup bertahan sampai limapuluh jurus! Saat itu aku yakin si Kin belum kembali! Ha... ha... ha! Aku tak perlu menggunakan senjata rahasiaku untuk membunuhmu! Akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri, agar selamanya tak ada orang yang tahu rahasiaku. Ya selamanya!"
Sekali lagi si nyonya tertawa.
Suara tawanya membangkitkan bulu roma.
Suara tawanya itu ditutup oleh sebuah serangan hebat.
Tiang Keng sudah siaga, ia melawan.
Luar biasa gesitnya Un Jie Giok menyerang Tiang Keng secara beruntun sebanyak lima kali.
Semua serangannya sangat berbahaya, tapi Tiang Keng yang senantiasa waspada bisa mengatasi serangan Un Jie Giok ini.
Tapi saking gusar Tiang Keng pun membalas dengan lims serangan hebat ke arah Jie Giok.
Kiranya ia jadi nekad, ia tak merasa takut atau gentar.
Bahkan ia tak berniat kabur atau menghindar, la menyerang ngan hebat sekali.
Suara angin serangan mereka terdengar menderu-deru.
Ketika sudah lewat sepuluh jurus.
Jie Giok jadi gelisah sendiri.
Jangankan berhasil membunuh Tiang Keng.
untuk menang di atas angin saja sudah sangat sulit Wajahnya berubah jadi merah-padam dan pucar-pasi disebabkan panas sekali hatinya juga bingung.
Tiang Keng memang kalah pengalaman dan kurang latihan, tetapi tingkat kepandaian mereka setingkat dan tak berbeda jauh.
Maka dengan Tiang Keng melawan mati-matian setengah nekad.
ia bisa bertahan menghadapi si hantu perempuan.
Bagaimanapun, saat pertama kali pertarungan, ia telah memperoleh sedikit pengalaman.
oo BAB 38.
UN KIN MENGETAHUI RAHASIA BESAR YANG DIPENDAM UN JIE GIOK Un Jie Giok bergerak dengan cepat dan berat.
Setiap serangannya dibarengi dengan tenaga yang keras.
Mau tak mau Tiang Keng pun harus mengeluarkan tenaga, hingga Tiang Keng sangsi apakah ia mampu menghadapi lawan yang tangguh ini sampai seratus jurus.
Meja tempat sembahyang dan yang tadi dipakai duduk oleh Un Jie Giok telah roboh akibat tendangan si nyonya tua bengis dan bertenaga besar itu.
Tiang Keng sadar tanpa senjata ia akan kewalahan.
Suatu ketika Tiang Keng berhasil menyambar salah satu kaki meja yang berantakan itu.
Saat serangan L'n Jie Giok tiba.
kaki meja itu ia gunakan sebagai senjata untuk menangkis.
Ia pegang kaki meja itu dengan tangan kirinya, maka tangan kanannya bisa setiap saat menotok ke arah Jie Giok Malah tangan kanannya itu menyambar ke kepala si nyonya tua.
Jie Giok bergerak mendek sambil berseru dan mundur.
Kesempatan ini digunakan oleh Tiang Keng untuk menyerang Jie Giok dengan kaki meja di tangan kirinya.
Dia gunakan kaki meja itu seperti pedang dan dengan sebelah kakinya, ia menendang.
Maka dalam gebrakan itu ia telah menggunakan empat macam pukulan.
Sungguh hebat kaki meja yang bergerak seperti pedang itu.
Sekalipun Un Jie Giok terancam serangan lawan, namun ia tetap tenang dan tak ciut hatinya.
Ia tertawa nyaring dan tajam, sedang tubuhnya bergerak dengan cepat.
Dengan tangan kirinya dia mencoba merampas kaki meja yang ada di tangan kiri Tiang Keng.
Dengan demikian ia menggunakan ilmu silat tangan kosong melawan senjata Tiang Keng harus waspada, sedikit ayal.
maka kaki meja akan terampas oleh lawan.
Un Jie Giok menggunakan tangan kanan untuk menotok Tiang Keng.
Sebagai alat totok ia gunakan bumbung kecil di tangannya.
Bumbung itu berkilauan keemasan hingga menyilaukan mata Tiang Keng.
Demikian mereka bertarung hebat, menguji kepandaian dan tenaganya.
Kedua lawan memiliki keistimewaan masingmasing.
Yang satu masih muda dan gagah, sedang lawannya sekalipun sudah tua tapi gesit dan berpengalaman.
Tiang Keng melayani dengan setiap saat ia harus mengerahkan tenaga dalamnya.
Hal itu penting agar ia bisa tetap bertahan.
Ia kalah latihan, tapi ia murid seorang ahli silat ternama, maka ia keluarkan seluruh kepandaiannya.
Demikian hebatnya pertarungan itu.
tanpa terasa sudah seratus sepuluh jurus telah mereka lewati.
Saat Tiang Keng ingat ia tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan nyaring.
"Hanya dalam lima puluh jurus kau akan membunuhku! Tapi, hm aku khawatir..."
Sebelum Tiang Keng tutup mulut, ia lihat Un Jie Giok sudah melompat ke arah kaki meja.
Tiang Keng kaget!
Jika kaki meja itu berhasil dirampas musuh, setiap saat dia bisa ditotok oleh bumbung lawan yang lihay.
Karena ia tak sempat berkelit, ia lalu menangkis dengan keras.
Dua senjata beradu keras sekali, tangan Tiang Keng bergetar.
Bumbung menekan, terpaksa Tiang Keng bertahan.
Ia rasakan tenaga Jie Giok kuat sekali.
Untuk memperkuat kuda-kudanya.
Tiang Keng berseru, ia mengempos semangatnya.
Mutiara yang menggelinding sudah sampai ke depan pintu.
Tiang Keng mencoba tetap bertahan.Saat itu ia rasakandorongan yang semakin kuat dan bertambah kuat saja.
Datangnya serangan itu bagaikan bergelombang, yang satu punah, datang yang lain.
Saat demikian sekalipun ia berpikir akan menghunus pedangnya, ia tak punya kesempatan lagi.
Saat ia perhatikan wajah si hantu perempuan itu, wajah itu tampak kejam dan bengis sekali.
Mendadak Un Jie Giok tertawa "Aku takut kau bukan orang yang cerdas!"
Kata dia.
"Jika kau sudah mati, maka rahasiaku tak akan ada orang yang tahu! Untuk selamanya Un Kin akan jadi milikku!"
Jantung Tiang Keng bergetar.
Tak disadarinya peluh telah mengucur deras.
Diam-diam Tiang Keng menghela nafas.
Jelas ia tak akan bisa bertahan lebih lama lagi.
Tapi Tiang Keng pantang menyerah, ia masih ingin mncoba kekuatannya yang terakhir.
Tapi..
Mendadak sebuah tubuh berkelebat di pintu, bagaikan bayangan tubuh orang itu menghampiri.
Dia seorang yang mengenakan pakaian berkabung dan rambut terurai.
Wajahnya pucat, tapi sepasang matanya bersinar.
Mula-mula ia menghela nafas panjang, lalu berkata dingin.
"Tak perlu kau bunuh dia. rahasia itu telah kuketahui!"
Katanya.
Baik Tiang Keng maupun Un Jie Giok kaget.
Masing-masing melompat mundur.
Keduanya berpaling ke arah pintu.
Di sana berdiri nona Un Kin.
cahaya mutiara menyinari wajahnya yang pucat.
Un Jie Giok menggigil, dia mundur lima langkah, lalu dia sandarkan tubuhnya ke tembok.
Sambil mengulur tangannya yang kurus kering dan suara sember karena gemetar, dia bertanya.
"Kau... Kau... Mengapa kau sudah kembali?"
Un Kin mengawasi dengan wajah tanpa perasaan.
Ia angkat kakinya hendak melangkah masuk ke ruangan.
la membungkuk, untuk memungut leng-pay yang menggeletak di lantai.
Kemudian leng-pay itu ia rangkul, ia berdiri tegak dan matanya memandang tajam ke arah gurunya, sedang dari mulutnya terdengar suara dingin, sepatah demi sepatah.
"Ayahku telah kau bunuh, benar atau tidak!"
Kata Un Kin. Kata-kata itu tajam menusuk ke hati Un Jie Giok, hingga tiba-tiba tubuhnya menggigil. Tanpa merasa ia mundur ke pojokan. Un Kin terus menatap dengan tajam.
"Aku sudah tahu ayahku kau yang membunuhnya."
Kata si nona.
"Benar. Tidak ? Katakan benar tidak?"
Sambil berkata si nona melangkah mendekati si nyonya tua perlahan-lahan.
Tiang Keng menyeka peluh di dahinya, ia sadar telapak tangannya pun telah berpeluh.
Hatinya goncang.
Itu adalah saat-saat berbahaya bagi Un Kin.
Makin lama nona Un makin dekat pada gurunya.
"Berhenti!"
Tiba-tiba Un Jie Giok membentak nyaring. Un Kin kaget, ia menghentikan langkahnya. Setelah membentak Un Jie Giok menghela nafas, kemudian ia menunduk."Ya, aku yang membunuh ayahmu."
Kata dia perlahan.
"Aku yang membunuhnya...."
Un Kin meraba rambutnya yang bagus, tiba-tiba ia melompat sambil tertawa nyaring seperti orang kalap.
"Kau membunuh Ayahku!"
Kata Un Kin.
"Ya. kau bunuh Ayahku! Juga kau bunuh Ibuku."
Un Kin tertawa hanya kali ini tawanya sedih. Tiang Keng merasa tangannya dingin. Suara tawa itu menusuk hati sangat tajam. Un Kin mulai melangkah lagi.
"Ibuku juga kau yang membunuhnya, kan?"
Kata si nona. air matanya meleleh deras.
"Benar tidak?"
Ia menegaskan.
Ia melangkah maju.
langkahnya berat, setiap langkah begitu berat seolah seperti godam ribuan kati yang siap menimpa jantung Un Jie Giok....
Perempuan jelek itu terus bersandar di tembok sambil menggigil.
"Jangan mendekat padaku!"
Jie Giok membentak. Tangannya ia tudingkan.
"Jangan mendekat, kau tahu tidak. Jangan kau paksa aku membunuhmu! Jangan kau paksa aku membunuhmu!"
Un Kin tertawa dengan suara sedih.
"Kau hendak membunuhku?"
Kata Un Kin sambil tertawa.
"Memang lebih baik kau bunuh aku!
Kau toh sudah membunuh Ayah dan Ibuku..
Tapi kata-kata Un Kin itu dipotong oleh suara tawa Un Jie Giok, tubuhnya mencelat ke arah pintu.
Kemudian terdengar kata-katanya yang tajam.
"Aku telah membunuh ibumu! Ha... haa! Aku telah membunuh ibumu!"
Kata Jie Giok. Tiang Keng terkejut sejenak, ia tak melihat si nyonya tua karena sudah menghilang di balik pintu. Hanya dari kejauhan masih terdengar suara tawa dan kata-katanya yang ia ulangulang.
"Aku telah membunuh ibumu! Aku telah membunuh ibumu!"
Begitu ia berteriak-teriak seperti orang edan.
Dalam sekejap ruangan itu jadi sunyi, yang terdengar hanyalah nafas Tiang Keng dan Un Kin berdua.
Un Kin berdiri mematung, ia seolah kehilangan sukma.
Saat ia sadar tubuhnya gemetar, kemudian ia menangis tersedusedu.
la tak bisa berbuat apa-apa, karena ia tak kuat melawan kesedihan hatinya, maka ia menumpahkan semua derita itu ke dalam tangisnya....
Tiang Keng lihat tubuh Un Kin terhuyung, ia terkejut dan lupa segalanya.
Tak ia sadari ia menubruk dan menyambar pinggang Un Kin, agar nona itu tidak sampai terjatuh ke lantai.
"Nona!"
Ia berteriak.
"Kau kenapa. Nona?"
Un Kin diam saja dia hanya terisak.
Bukan main susah hatinya.
Di luar dugaan dia ternyata gurunyalah musuh besarnya, orang yang membunuh orang tuanya!
Bertahuntahun ia dirawat oleh gurunya itu dengan penuh kasih-sayang.
tapi ternyata..
"Lalu bagaimana aku sekarang?"
Kata si nona.
"Ayah. Ibu mengapa kalian tak memberi kesempatan agar aku bisa melihat wajah kalian!"
Ia terisak, karena saat itu ia tak melihat wajah kedua orang tuanya, kecuali dalam khayalan. Sedang wajah Un Jie Giok tak pernah hilang dari matanya.
"Ah. mengapa nasibku begini buruk?"
Un Kin mengeluh.
Tanpa terasa nona ini menangis, air matanya membasahi tubuh Tiang Keng.
Tiang Keng tidak berani bergeser, ia tak tega menggeser tubuh si nona.
la tetap merangkul si nona.
ia biarkan si nona menangis maupun melamun dalam pelukannya.
Tak berapa lama kemudian dari luar sudah tampak cahaya terang meskipun masih samar-samar.
Sang fajar sudah merayap mendatangi, bersamaan dengan itu bertiuplah silir angin yang dingin sekali.
Tiang Keng tetap diam.
la tak mau mengganggu kesedihan si nona.
Karena ia pikir tangisnya itu bisa melegakan hati si nona.
Jika ia tegur pasti si nona akan bertambah duka.
Tak lama fajar pun menyingsing, tandanya sang siang sudah datang.
Ketika itu sudah lama Tiang Keng tak mendengar suara isakan si nona.
Sekalipun suara napasnya terdengar berat.
Rupanya ketika itu tak terasa Un Kin tertidur lelap.
Nyenyak dalam rangkulan si anak muda yang memeluknya erat-erat.
Tiang Keng tetap diam.
ia mencoba merapatkan matanya untuk mencoba menenangkan hatinya.
Dengan demikian ia pun bisa beristirahat.
Tiba-tiba nona Un bangun.
Ia rasakan hawa dingin sekali.
Ia membuka matanya, dan ia angkat kepalanya hingga ia bisa melihat wajah si anak muda.
Tiang Keng merasa tubuh si nona bergerak, ia duga si nona terjaga, maka ia pun menunduk untuk melihatnya, karena itu sinar mata mereka jadi beradu pandang.....
Sesudah menengadah nona Un tunduk kembali.
Jantungnya berdebardebar.
Ia sadar malu dan terperanjat.
Segera ia bangun, untuk duduk di lantai.
Dari mulut si nona terdengar helaan nafas.
Agaknya ia ingin bicara tetapi selalu gagal.
Tak lama ia duduk lalu berdiri, la mengawasi pintu, lalu menarik nafas lagi.
"Sudah terang tanah."
Kata si nona perlahan.
"Aku harus pergi..."
La menoleh, sinar matanya sayu. Tiang Keng mengawasinya.
"Tanpa kuberi penjelasan, kau pasti tahu aku akan pergi ke mana."
Kata Un Kin.
"Aku akan mencari musuh besarku.. Kau juga akan berangkat, bukan? Sekarang sudah pagi!"
Sesudah itu Un Kin melangkah ke arah pintu, la seperti ingin melihat apa benar sekarang sudah pagi.
Ternyata kabut sudah buyar.
Un Kin menoleh, ia mengawasi si anak muda.
Ia seolah merasa tak akan bisa bertemu lagi dengan pemuda itu.
Bukankah ia pun hendak mencari musuh besarnya.
Mungkin ia bakal menghadapi bahaya maut!
Dengan demikian seolah ia sedang mengantarkan jiwa.
oo BAB 39.
TIANG KENG BERSAMA UN KIN MENCARI MUSUH BESARNYA Tiang Keng bangun.
Ia awasi si nona, hingga mata mereka bentrok satu sama lain.
Tiang Keng diam ketika si nona sudah sampai di ambang pintu.
Tiba-tiba Tiang Keng sadar.
"Nona!"
Tiang Keng memanggil. Un Kin merandek menahan langkahnya, ia menoleh. Tiang Keng mengawasi si nona sekian lama.
"Nona. tahukah kau ke mana perginya Un Jie Giok?"
Kata Tiang Keng. Si nona menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu."
Jawab si nona perlahan. Ia menghela nafas.
"Tetapi aku yakin aku bakal bisa mencarinya. Aku pasti berhasil..."
Tiang Keng menghampiri si nona.
"Kalau begitu mari kita bersama-sama mencarinya!"
Kata Tiang Keng. Nona Un melengak.
"Kita?"
Ia bertanya. Tiang Keng tidak menjawab, ia menengadah ke langit sambil menarik nafas.
"Sebaiknya ketahui olehmu. Ayah dan Ibuku juga binasa di tangan dia!"
Kata Tiang Keng. Nona Un kaget.
"Apa?"
Kata si nona.
"Apa katamu?"
"Sepuluh tahun yang lalu di kaki puncak Sie Sin-hong di gunung Hong-san...."
Sahut si anak muda. 'Oh! Keluh Un Kin.
"Oh. aku ingat! Aku ingat di gunung Hong-san...Ya ketika itu kau di sana... kiranya itu kau!"
Si nona langsung menunduk.
"Maka itu aku bersedia menemanimu."
Kata Tiang Keng.
Pemuda ini tak perlu menjelaskan lebih jauh.
karena nona Un sudah mengetahui duduk persoalannya.
Un Kin mengangkat kepalanya, ia mengawasi ke arah si anak muda dan anak muda itu pun sedang mengawasinya.
Lagi-lagi sinar mata mereka beradu.
Tiang Keng memegang tangan Un Kin.
dadanya berombak.
Nona Un diam tapi dadanya ikut bergerak-gerak.
"Jika aku membantumu menuntut balas, itu artinya aku juga membalas sakit hatiku sendiri,"
Kata Tiang Keng.
"Tapi sekarang entah ke mana perginya Un Jie Giok. Tapi kita bakal menemukannya, bukan?"
Muda-mudi ini diam sejenak.
Un Kin tak menjawab katakata Tiang Keng.
Tiang Keng terus menunggu jawaban si nona.
Tapi rupanya tak lama mereka sudah jadi seia-sekata.
Tak berapa lama mereka keluar dari wihara itu dan berjalan menuju ke Thian-bak-san.
Itu adalah sarang Un Jie Giok.
Mereka sadar mereka sedang menempuh bahaya.
Bukan karena Un Jie Giok sangat lihay bagi mereka, tapi di atas gunung pun banyak jago-jago silat ternama, undangan Jie Giok.
Dengan demikian pasti jago-jago itu akan menghadapi mereka berdua...
Sekalipun demikian mereka maju terus pantang menyerah.
Matahari sudah semakin tinggi membuyarkan kabut.
Cahayanya memancar ke segala penjuru.
Daun-daun di sekitar gunung tampak hijau.
Tiang Keng berjalan di samping nona Un.
"Musuhmu..."
Kata si nona.
"Kecuali Jie Giok, ada lagi yaitu imam bernama In Hoan. Maka jika kita tak bisa menemukan guruku, kau akan kutemani mencari si imam. Hanya untuk yang bisa kuatur.."
Un Kin menarik nafas. Ia tak melanjutkan kata-katanya. Sebenarnya ia putus asa.... Tiang Keng mengangguk.
"Tadi malam mengapa kau bisa segera kembali lagi?" ' kata Tiang Keng pada si nona. Tiang Keng baru ingat pada masalah itu. karena heran si nona bisa kembali demikian cepat.
"Apa barang kali In Hoan ada di sekitar tempat ini?"
Ia berpikir.
"Sebenarnya aku tidak menguntit mereka, tapi kuhadang mereka di tengah jalan. Aku minta agar mereka mengatakan tempat guru mereka!"
Jawab Un Kin "Ketika itu pikiranku sedang kusut.
Aku heran kenapa guruku menyuruh aku menguntit mereka, padahal saat itu bisa saja ia tanyakan pada mereka tempat gurunya.
Aku yakin mereka tak berani berbohong.
Sekarang aku baru sadar, selain ia ingin menyuruhku pergi, ia juga hendak membunuhmu!"
Tiang Keng mengawasi si nona dengan tajam.
"Jika tadi malam kau tak segera kembali, mungkin."
Kata Tiang Keng..
"Mungkin..."
Un Kin tersenyum, ia bisa menebak ke mana maksud katakata Tiang Keng itu.
"Sekarang aku mengerti, apa artinya pembalasan,"
Kata si nona. Tiang Keng mengangguk Mereka terus berjalan, sekarang mereka telah memasuki tempat yang banyak pepohonannya.
"Perubahan suasana ini mungkin akan membuat orang banyak yang putus asa."
Kata si nona. Ia pun menghela nafas panjang.
"Banyak yang datang dengan suatu maksud, tapi sasaran mereka gagal.... Ini ada baiknya. mungkin ini keberuntungan kita. jika tidak..."
Tiang Keng mengangguk.
"'Oh. ya! Aku akan menanyakan sesuatu, boleh tidak?"
Kata Tiang Keng.
"Katakan saja!"
Kata si nona Tiang Keng menarik nafas sebelum ia mengajukan pertanyaannya.
"Aku ingin membicarakan orang-orang Koay To Hwee...."
Kata Tiang Keng. Tapi tiba-tiba ia berkata lagi.
"Ah sudahlah, lebih baik aku tak menanyakannya, lagi pula itu sudah berlalu....'"
Un Kin tahu maksud pertanyaan Tiang Keng.
"Kau jangan kuatir,"
Jawab si nona.
"Mereka itu tidak binasa di tanganku! Mereka juga bukan dibunuh oleh pelayanpelayanku!"
Tiang Keng bernafas lega. Memang ia tak berharap si nona akan menjawab.
"Mereka terbunuh olehku!"
Ia tersenyum. Tapi ia tak tahan untuk tak berkata lagi.
"Yang mengherankan, mereka tak tahu siapa yang membunuhnya.. .."
Kata Tiang Keng. Un Kin kembali menghela nafas.
"Untuk selamanya tak akan bisa kau terka siapa pembunuh mereka itu,"
Kata si nona. Tiang Keng mengawasi tajam.
"Seandainya aku memberitahumu, pasti kau tak akan percaya,"
Kata si nona lagi "Tapi kelak kau akan tahu sendiri!"
Tiang Keng heran. Sambil berjalan otaknya pun bekerja.
"Apa dia Ban Biauw Cin-jin In Hoan?"
Kata Tiang Keng. Tiang Keng penasaran keingintahuannya sangat keras Nona Un menggeleng kepala.
"Apa beberapa orang murid imam itu?"
Tanya Tiang Keng lagi. Kembali Un Kin menggelengkan kepala. Tiang Keng makin keheranan. '"Aku benar-benar tak bisa menerkanya."
Kata Tiang Keng.
"'Siapa orangnya yang bisa menggunakan senjata rahasia sehebat itu. jika bukan In Hoan dan sebangsanya!"
Un Kin tertawa perlahan.
"Senjata rahasia itu bernama Bu Eng Sin Ciam (Jarum Sakti Tanpa Bayangan)."
Si nona menjelaskan.
"Sebenarnya jarum itu aku yang melepaskannya..."
Mendengar jawaban itu Tiang Keng terperanjat. Mendadak ia menghentikan langkahnya, wajahnya berubah.
"Kau?"
Kata dia.
"Kau"
Un Kin tidak terperanjat oleh pertanyaan itu. Malah ia tersenyum manis.
"Tapi senjata rahasiaku itu tak berbahaya dan tak melukai orang, tetapi malah sebaliknya bisa menolong orang..."
Tiang Keng melongo, ia mengawasi nona yang ada di depannya.
"Bisa menolong?"
Kata Tiang Keng. keheranannya jadi bertambah.
"Apa artinya kata-katamu itu?"
"Ceritaku panjang, nanti saja akan kuceritakan perlahanlahan."
Kata Un Kin.
"Yang penting sekarang kau percaya padaku dan aku tak akan membohongimu!"
Sambil berkata si nona menunduk, wajahnya berubah merah-padam. Tiba-tiba ia menunjuk ke arah depan.
"Lihat di sana!"
Kata si nona.
"Itu pintu gerbang dan itu adalah tempat yang akan dijadikan tempat pertandingan silat itu!"
Tiang Keng mengawasi ke depan.
"Katanya dia tak akan mendustaiku."
Pikir Tiang Keng.
Tiang Keng melihat sebuah jalan kecil yang menanjak.
Dia mengawasi ke gerbang dari daun-daun yang ditunjuk oleh si nona.
Gerbang atau kaca-kaca itu tingginya lima tombak dan lebarnya tiga tombak.
Di kiri kanan gerbang itu digantung sepasang lian (syair) yang berbunyi "Menengadah melihat langit luas tanpa batas, menunduk mengawasi jago-jago Rimba Persilatan".
Kata-kata itu sungguh temberang.
"Itu pasti tulisan Un Jie Giok!"
Kata Tiang Keng.
"Bukan!"
Kata Un Kin sambil menggeleng kepala.
"Lalu tulisan siapa?"
Tanya Tiang Keng.
"Pasti kau tidak bakal menyangka siapa penulis lian itu"
Sahut si nona. Kembali Tiang Keng keheranan.
"Siapakah penulisnya?"
Tanya Tiang Keng.
"Penulis lian itu adalah Sin-tauw Kiauw Cian, si Raja Copet!"
Sahut Un Kin.
"Apakah dia Sin-tauw Kiauw Cian -si hartawan, yang membawa-bawa lukisan perempuan yang dia puji-puji di mana-mana?"
Tiang Keng menegaskan.
"Sungguh tak disangka, mengapa ia ada hubungan dengan Un Jie Giok?"
Un Kin tertawa dingin.
"Itu seperti pepatah mengatakan, tahu muka, tak akan mengetahui hatinya!"
Kata Un Kin.
"Baik buruknya hati manusia itu, sukar ditebak. Di kalangan Kang-ouw siapapun mengatakan Kiauw Cian itu orang baik, tapi yang sebenarnya, hm! Sudahlah, aku tahu sekali mengenai dirinya!"
Saat Un Jie Giok memutuskan akan memancing semua jago silat datang ke Thian-bak-san.
Jie Giok sudah mengatur semuanya dengan sempurna.
Tetapi ia masih membutuhkan orang yang pandai bicara untuk mempropagandakan pancingannya itu.
Jie Giok tak ingin memakai orang yang sembarangan.
namun ia juga tak bisa bekerja sendiri.
Setelah dipikir-pikir, akhirnya Jie Giok mengirim tiga orang utusan untuk memilih calon juru-bicara itu.
Setelah orang itu diperoleh, mereka lalu diundang ke atas gunung.
Salah seorang dari orang yang terpilih itu adalah Kiauw Cian, sedangkan salah seorang dari teman Kiauw Cian sangat benci kepada Un Jie Giok.
Orang itu lalu dibunuh supaya ia tak membocorkan rahasianya.
Saat hendak dibunuh ia memakimaki Un Jie Giok.
Sedang yang seorang lagi orangnya pendiam, ia menurut saja, tapi malamnya ia mencoba kabur.
Tapi celaka ia kepergok dan dirintangi serta akhirnya dibunuh juga.
Sebaliknya si Raja Copet, selain bersedia bekerja sama.
ia juga mengajukan bermacam-macam usul.
Saat ia turun gunung akan menyiarkan pertemuan para jago silat, ia membawa gambar dan mutiara banyak sekali.
Un Kin mengisahkan semua tentang Kiauw Cian pada Tiang Keng, hingga pemuda ini sangat benci dan ingin membunuhnya.
"Orang semacam dia, aku tahu banyak sekali!"
Kata si nona.
"Ada orang yang di kalangan Kang-ouw sangat terkenal, tapi hm. ternyata.... Nanti sesudah kau ada di dalam, kelak kau akan menyaksikan sesuatu yang tak pernah terpikir olehmu!"
Tiang Keng menghela nafas, ia mengikuti si nona terus berjalan ke arah gapura.
Sesudah berjalan beberapa tombak jauhnya, mereka menemukan jalan bercabang dua, pada setiap jalan terdapat papan kayu pek berisi pemberitahuan.
Papan yang satu berbunyi .
"Inilah jalan yang benar, silakan Tuan berjalan dari sini". Papan yang lain bertulisan .
"Jika lewat dari jalan ini sulitnya seperti mendaki langit"
Setelah membaca tulisan itu Tiang Keng berpikir keras.
"Rupanya Un Jie Giok ingin menguji ilmu meringankan tubuh setiap orang..."
Pikir Tiang Keng. Saat Tiang Keng sedang berpikir ternyata Un Kin mengambil jalan yang sulit itu.
"Dia bertabiat keras sekali, pada saat begini pun ia tak ingin menunjukkan padaku, bahwa dia tak sudi menunjukkan kelemahannya. Dia malah mengambil jalan yang sulit! Ah. bukankah akan lebih baik jika ia menghemat tenaga, agar tenaga tersebut cukup untuk menghadapi musuh nanti?"
Pikir Tiang Keng.
Ketika itu si nona yang sudah berjalan agak jauh ia menoleh ke belakang, tangannya menggapai.
Maka tak ayal Tiang Keng pun menyusulnya.
oo BAB 40.
TIANG KENG DAN UN KIN MENEROBOS SARANG UN JIE GIOK Tabiat Tiang Keng keras.
Memang, menurut suara hatinya ia juga lebih suka memilih jalan yang dikatakan sulit seolah mendaki langit.
Ia anggap, ia cocok dengan perasaan si nona yang memilih jalan yang sulit itu.
Dengan demikian dengan cepat mereka telah melewati jalan sejauh belasan tombak.
Ia lihat jalan makin sempit dan benar-benar sulit dilalui.
Tapi bagi mereka itu bukan suatu rintangan.
"'Jika jalan ini dianggap sulit seperti memanjat langit, maka di dunia ini sungguh banyak jalan yang sulit!"
Pikir Tiang Keng.
Sambil berpikir Tiang Keng terus berlari-lari mendaki.
Lewat belasan tombak kemudian ia jadi heran.
Jalan itu bukan makin sulit, malah ia menemukan jalan itu rata, sekalipun orang tak bisa silatpun mereka bisa berjalan di tempat ini dengan leluasa!
Saking heran Tiang Keng jadi curiga.
Lalu ia berkata pada si nona.
"Jika jalan ini disebut sulit, lalu bagaimana dengan jalan yang lainnya itu? Barangkali jalan itu empuknya seperti ketika kita berjalan di atas kapas?"
Kata Tiang Keng. Un Kin tertawa.
"Kembali tebakanmu salah!"
Kata si nona. Tiang Keng keheranan, tapi hanya sebentar, kemudian sadar.
"Ah! Kalau begitu ini akal Un Jie Giok, bukan?"
Kata Tiang Keng.
"Jalan yang bagus sukar dilalui, jalan yang jelek mudah dilewati. Bukankah dengan demikian banyak orang yang terjebak dan terperdaya. Sembilan dari sepuluh jago silat jadi korbannya!"
Un Kin mengangguk.
"Kali ini kau menebaknya tepat sekali!"
Kata si nona.
"Jalan yang bagus dan rata serta tak mencurigakan, tapi sebenarnya banyak perangkapnya. Jangankan orang yang kepandaian ilmu meringankan tubuhnya rendah, sekalipun yang lihay, jika dia lalai, dia pasti terjebak! Apalagi di jalan yang disebut seratus langkah pasir. Atau sungai yang diberi nama sepuluh tombak sungai beracun. Sedikit saja orang kurang hati-hati, jiwanya bisa melayang."
Sesudah itu Un Kin diam sebentar, baru ia meneruskan lagi kata-katanya.
"Kebanyakan orang yang datang ke mari. mereka ingin merampas mustika."
Kata si nona.
"Mereka kebanyakan bukan orang lihay, maka mereka tak mau membuang tenaga, lalu memilih jalan yang bagus. Hingga dengan demikian mereka terjebak, bukan saja tak berhasil mengambil mustika, malah mereka pun binasa! Sedang yang lihay. mereka memilih jalan yang sukar. Berbagai rintangan yang ringan bukan halangan baginya. Hingga ia bisa mencapai tujuannya tanpa rintangan!"
Tiang Keng menghela nafas.
"Un Jie Giok benar-benar lihay!"
Pikir Tiang Keng.
"Dia sungguh berbahaya! Ada pepatah yang mengatakan, barang siapa berani mendekati gin-cu (pewarna) dia akan merah, barang siapa mendekati bak (tinta), maka ia akan hitam. Itu memang benar. Demikian dengan Un Kin yang selama ini dididik dengan keras dan kasih sayang dari Jie Giok. maka Un Kin jadi berhati keras, agak kejam. Ah. tapi mudah-mudahan saja setelah dia selalu dekat denganku, kemudian ia bisa..."
Mendadak Tiang Keng berhenti melamun, ia berpikir lamunannya terlalu jauh.
Lalu ia melangkah ke depan, sampai akhirnya mereka sampai di ujungjalan.
Di sini mereka menemukan sebuah gapura lain, di tempat ini tak ada lian.
hanya ada tiga buah huruf besar berbunyi ; Tee It Kwan artinya kota nomor satu.
Un Kin berdiri di bawah Pay-louw (gapura), dan mengawasi Tiang Keng sambil tersenyum.
Wajah Tiang Keng bersemu dadu.
"Eh kau sudah sampai lebih dulu."
Kata Tiang Keng. Un Kin tertawa.
"Aku lihat kau sedang berpikir, maka kau kulewati,"
Kata si nona.
"Entah apa yang sedang kau pikirkan?"
Ia mengawasi wajah Tiang Keng, ia lihat wajah Tiang Keng merah dadu.
mendadak ia sendiri lalu menunduk.
Dalam waktu yang singkat kedua muda-mudi itu telah mendapat perasaan yang luar biasa hingga mereka lupa kalau mereka pernah jadi lawan satu sama lain.
Kesan baik yang timbul di antara mereka membuat mereka berdua tersenyum.
"Di sini seluruhnya terdapat tiga buah gapura."
Kata nona Un.
"Di gapura pertama ini ada tiga buah lui-tay (panggung tempat bertanding). Pada gapura nomor dua terdapat Lo-hanhio dan Bwee-hoa-cung (Patok bunga bwee). Pada gapura yang ketiga disiapkan bagi kaum Lay-kee (ilmu tenaga dalam) untuk mereka saling menguji kepandaiannya. Masing-masing seperti Kim-too-hoan-ciang. Ngo-bong-sin-cu. Kek-san-pa-gu. Sesudah melewati ketiga gapura itu baru..."
La berhenti bicara sejenak, wajahnya jadi merah, tapi segera ia bicara lagi.
"Tapi sekarang semua itu sudah tak kuhiraukan lagi!"
Tiang Keng menghela nafas.
"Untuk semua ini entah berapa biaya yang dikeluarkan, belum lagi tenaga Un Jie Giok,"
Kata Tiang Keng.
"Sungguh tabiatnya aneh sekali! Semua itu dia atur untuk mencelakakan orang lain, juga mencelakakan diri sendiri. Dari In Hoan aku dengar, setiap perangkap sangat berbahaya, sedang orang yang mengatur lui-taynya semua manusia iblis. Lalu di mana mereka sekarang?"
"Para undangan Jie Giok sebagian belum sampai, yang sebagian sudah ada di dalam. Mungkin sekarang mereka sedang tidur."
Kata Un Kin. Sebelum kata-kata Un Kin selesai diucapkan, di balik Paylouw terdengar suara panggilan.
"Nona kami di sini!"
Mau tak mau Tiang Keng dan Un Kin terkejut, keduanya langsung menoleh dengan cepat.
Dari atas Iauw-teng bambu di samping pay-louw, melompat tiga orang, mereka melayang bagaikan burung walet dan terlihat tiga nona yang mengenakan pakaian serba merah yang ringkas.
Mula-mula mereka mengawasi ke arah Un Kin.
Ketika melihat Tiang Keng mereka jadi heran, mereka berdiri dan sangat tercengang.
Mungkin sedikit pun mereka tak mengira nona mereka akan berada bersama-sama dengan Tiang Keng.
Ketiga nona itu adalah nona-nona yang mengantarkan undangan ke kota Lim-an.
Setelah mengawasi sebentar, mereka langsung mau bicara.
Tapi didahului oleh Un Kin.
"Ada apa?"
Kata si nona. Ketiga nona itu melengak, mereka saling mengawasi heran.
"Hwee-shio dari Siauw-lim-pay ,"
Kata nona yang paling tua.
"Bentrok dengan Cian Lie Beng To dan Bu Eng Lo-sat, entah apa sebabnya, tadi pagi-pagi mereka memaksa si hweeshio bertarung... ."
Alis Un Kin berkerut.
"Sekarang keadaannya bagaimana?"
Tanya si nona.
"Tadi kami lihat hwee-shio itu sedang menghadapi Bu Eng Lo-sat. mereka bertarung di atas patok Lo-han-hio, tempat yang menjadi gapura kedua."
Sahut pelayan itu.
"Sekalipun bertubuh besar dan berat hwee-shio itu bergerak sangat gesit, tubuhnya ringan, tapi saat ia akan mendapat kemenangan, mendadak Cian Lie Beng To menghentikan pertarungan. Dia bilang hasil pertandingan itu seri dan tak perlu diteruskan. Lalu Bu Eng Lo-sat digantikan oleh Tiat-kiam Sun Yang yang akhirnya imam dan hwee-shio itu bertarung hebat di atas patok Bwee-hoa-cung!"
Un Kin tertawa dingin.
"Itu siasat pertandingan berganti-ganti bagai roda kereta!"
Kata si nona kesal.
"Sungguh tak tahu malu!"
Kata Tiang Keng sengit.
"Semula kami kira mereka sedang bergurau,"
Kata nona pelayan itu.
"Tapi makin lama mereka bertarung makin hebat, tak ubahnya mereka sedang mengadu jiwa! Kami bingung dan takut, kami tak bisa berbuat apa-apa, lalu kami lari ke dalam untuk melapor tapi ternyata Couw-koh tidak ada di tempat. Kau juga tak ada. Karena itu kami jadi bingung..."
Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi.
"Un Jie Giok tak ada? Ke mana dia?"
Begitu yang ada di benak mereka berdua. Wajah Un Kin jadi muram.
"Teruskan ceritamu!"
Kata si nona. Ketiga nona itu jadi ketakutan sekali, belum pernah mereka melihat wajah Un Kin begitu bengis. Dua nona langsung tunduk, hanya yang tertua langsung bicara lagi.
"Ketika kami lari keluar, mereka sudah bertarung di tempat lain, di gerbang ketiga. Di sana seorang yang bertubuh tinggi besar yang disebut Ngo Teng Sin Ciang menghadapi si hwee
KANG ZUSI website
http.//kangzusi.com shio dalam barisan Kim-too-hoan-ciang.
Si hwee-shio sudah kelelahan, tubuhnya sudah mandi keringat, nafasnya memburu.
Tapi kakinya masih tetap gesit dan tenaganya sangat kuat.
Ngo Teng Sin Ciang sangat tangguh, mereka berimbang.."
Tiang Keng menghela nafas.
"Bukan kebetulan Siauw-lim-pay menjadi jago Rimba Persilatan."
Kata Tiang Keng, kagum.
"Padahal To-su Tauw-to hanya ahli tingkat dua. Tapi tenaga dan kepandaiannya harus dikagumi. Maka tak sembarang orang bisa mengalahkannya!"
Tiang Keng berkata begitu karena ia tak mengetahui si hwee-shio seorang pria sejati.
Dia juga telah meyakinkan ilmu Cap-sha Tay-po Heng-lian dari ilmu Tong Cu Kang untuk beberapa puluh tahun tanpa henti.
"Setahu kami mereka yang berjaga di gapura ketiga lihay semuanya. Barang siapa kurang waspada, ia pasti celaka! Maka siapapun yang terluka, maka lukanya berbahaya sekali. Mereka semua orang undangan Couw-koh dan nona sendiri. Kami tak berdaya mencegah pertarungan itu. Akhirnya kami berpencar, yang lain mencari Couw-koh dan kami mencari nona. Ternyata kita bertemu di sini!"
Kata si pelayan paling tua. Sambil berkata nona-nona itu tetap mengawasi ke arah Tiang Keng. mereka jadi heran kenapa musuh mereka ada bersama si nona.
"Apa benar Couw-koh tak ada di kamar Lek-tiok-hian?"
Tanya Un Kin.
"Benar tidak ada!"
Kata si pelayan.
"Kami sudah..."
"Apa kau sudah memeriksanya dengan benar?"
Desak si nona.
"Kami sudah mencarinya dengan teliti sekali,"
Sahut si pelayan.
"Oh!"
Keluh Un Kin.
"Lalu apakah sekarang Bu Kin Tay-su masih bertarung?"
"Saat kami meninggalkannya, mereka sedang bertarung hebat sekali."
Jawab si pelayan. Kembali dia melirik ke arah Tiang Keng. Tiang Keng menyaksikan tingkah nona pelayan itu, mau tak mau wajahnya jadi berubah merah. Un Kin menarik nafas, ia menoleh ke arah Tiang Keng.
"To-su Tauw-to sedang bertarung, kita harus melihatnya, bukan!"
Kata si nona pada Tiang Keng.
"Benar,"
Kata Tiang Keng.
"Un Kin selama belasan tahun bersama Un Jie Giok, sekalipun cara bicaranya mirip, tapi ia selalu mengakhiri katakatanya dengan pertanyaan, bukan____ Ah sudah mengapa kupikirkan!"
Pikir Tiang Keng.
Tiang Keng mengawasi ke bagian dalam, selain ranggon masih ada pagar dari bambu, kursi dan meja, berarti tempat itu tempat bersenang-senang.
Kelihatan jalan berbatu yang menanjak ke arah bukit.
Di sana terdapat tanah datar dan di situlah berdiri tiga buah lui-tay yang terbuat dari kayu pekyang.
Setiap lui-tay lebarnya lima tombak kali tiga tombak.
Semua sudah dihias indah sekali seperti panggung untuk penunjukan wayang orang.
"Ah jika setiap lui-tay itu digantungi lian. baru tepat!"
Kata Tiang Keng. Un Kin melirik ke arah Tiang Keng.
"Lian macam apa kiranya?"
Tanya si nona.
"Aku pernah mendengar dongeng tukang cerita,"
Kata Tiang Keng.
"Misalnya lian yang berbunyi .
dengan kepalan menghajar harimau dari gunung selatan, dengan kaki menendang naga dari utara.
Atau lian lainnya.
orang gagah nomor satu dari dunia Kang-ouw, jago Rimba Persilatan tanpa lawan.
Jika ketiga lui-tay itu tanpa lian jadi kurang pantas.
Si nona tertawa perlahan.
Ketiga nona pelayan itu pun ikut tertawa.
Tiang Keng malah menghela nafas.
"Di sini."
Kata Tiang Keng.
"Ternyata dongeng dan kenyataan jauh berbeda sekali! Dalam dongeng banyak yang sedap-sedap, sebaliknya dalam kenyataan banyak kepahitan dan kesedihan. Benar, kan?"
Un Kin mengangguk perlahan.
oo BAB 41.
BU KIN TAY-SU DISELAMATKAN OLEH TIANG KENG Mereka meneruskan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah lembah.
Di situ terdapat jalan cukup panjang, jauhnya belasan tombak.
Sekarang mereka terhadang oleh hutan lebat.
Di sebuah pohon terlihat sebuah papan bertulisan "Teejie-kwan"
Atau kota yang kedua.
Segera Un Kin masuk ke dalam hutan.
Tiang Keng pun mengikutinya, anak muda ini terus pasang mata dengan jeli.
Ia lihat beberapa gubuk yang seolah tiangnya terbuat dari pepohonan dan dibangun indah sekali.
Dengan demikian orang jadi betah tinggal di hutan itu.
Tiang Keng kagum dia menghela nafas.
Ia lihat setiap gubuk dipasangi tulisan berbunyi .
Tempat untuk merawat orang yang terluka.
"Ah. sungguh sempurna rencana Un Jie Giok sampai demikian telitinya!"
Pikir Tiang Keng.
Tiga nona berbaju merah anak buah Un Kin berjalan di belakang Tiang Keng.
mereka sering memperhatikan Tiang Keng, terkadang mereka saling pandang dengan sesama temannya.
Di tengah rimba terdapat sebuah tempat terbuka yang tanahnya rata.
Pasti tempat itu sengaja dibuat demikian.
Pohon kayu yang besar-besar, kulitnya sudah dibersihkan, dan diletakkan di berbagai tempat hingga balok-balok itu jadi berfungsi sebagai tempat duduk.
Masih terdapat sebuah lapangan yang di tengahnya terdapat banyak bangku panjang.
Di situ terdapat empat lingkaran terkurung oleh balok-balok besar.
Kalangan atau lapangan pertama tak karuan penuh batu yang tidak teratur.
Di situ terdapat tulisan .
Loan-sek-tin (Barisan batu), yang kedua penuh pasir dan ditulisi Houw-seetin (Barisan pasir), sedang tempat yang ketiga terdapat delapan puluh satu patok kayu dan diberi nama Bwee-hoachung (Barisan patok kayu bunga Bwee).
Patok kayu itu sangat terkenal di kalangan Siauw-lim-pay.
Lapangan yang keempat diberi nama Lo-han-hio (Patok ikatan hio), seikatdcmi-seikat hio didirikan, tapi di antara ikatan hio sudah terlihat ada yang patah-patah.
Menyaksikan keadaan tempat itu Tiang Keng tertawa dingin.
"Pasti Bu Kin Tay-su tadi bertarung di tempat ini,"
Pikir si anak muda. Kemudian Tiang Keng memperhatikan ke sekitarnya.
"Ah. tak heran jika Un Jie Giok bersusah payah membangun tempat merawat orang yang terluka. tempat ini memang menyeramkan dan masuk akal kalau dia menyiapkan tempat itu. Setiap orang yang bertarung di atas lapangan itu. lalu siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan terluka?"
Pikir Tiang Keng.
Tiang Keng berpikir sambil berjalan, ia sudah melewati Houw-see-tin dan Lo-han-hio.
Tubuh Tiang Keng bergerak gesit dan ringan.
Dengan tak mendapat rintangan mereka memasuk hutan, ia mengikuti nona Un.
Sedang di belakang dia mengikuti para nona pelayan berbaju serba merah.
Mereka jelas keheranan, sambil mengawasi bagian belakang Tiang Keng, tiba-tiba ketiga nona itu tersenyum.
Sesudah berjalan sekitar belasan tombak.
Tiang Keng tersentak kaget.
Un Kin menarik nafas, perlahan lalu melirik ke arah Tiang Keng.
"Itu semua ciptaan Sin-touw Kiauw Cian."
Kata si nona Kiranya yang mengherankan Tiang Keng adalah dua baris peti mati terbuat dari kayu pek-yang dan diatur rapi sekali di kedua tepi jalan.
Jumlah peti mati entah berapa, sebab tak terlihat jelas.
Di jalan yang sempit dan berbahaya itu.
setiap hati orang yang melihatnya pasti tidak akan tenteram.
Tiang Keng maju terus dengan cepat.
"Hm!"
Dia mengeluarkan suara di hidung.
Dia kelihatan sengit la pikir, jika ia bisa bertemu dengan Kiauw Cian di tempat itu, dengan tak banyak bicara lagi ia akan menghajar orang she Kiauw itu.
Jarak jalan jauhnya sekitar satu lie dan saat itu angin berhembus terasa dingin sekali.
Suatu saat mereka tiba di sebuah ujung jalan, di sini mereka menemukan sebuah gapura bertulisan Tee-sha-kvvan (Kota yang ketiga).
Di tanah tegalan ini berdiri empat buah panggung.
Dari belakang panggung itu terdengar suara berisik, suara orang saling membentak ramai sekali.
Tiang Keng dan Un Kin mempercepat larinya.
Tiba di depan panggung mereka langsung melompat naik, maksudnya untuk melihat ke arah suara bentakan-bentakan itu.
Tinggi panggung sekitar tiga tombak, dengan demikian mereka bisa melihat segenap penjuru dengan leluasa sekali.
Di tengah empat buah panggung itu digelar pasir rata sekali, di sana ditancapkan golok-golok yang tajamnya menghadap ke atas Karena sudah diasah golok-golok itu berkilauan ketika terkena cahaya.
Di kin dan kanan panggung terletak para-para senjata, di sana tergantung golok pendek yang terikat dengan rantai, namun kelihatan berat sekali dan modelnya lain daripada yang lain.
Semua rantai yang dipakai menggantung golok ada bandulnya.
Bandul inilah yang terus berbunyi saat angin bertiup kencang.
Tak lama Tiang Keng melihat dua sosok tubuh manusia yang bergerak-gerak.
Demikian cepatnya hingga mereka bagai bayangan.
Dari mulut mereka terdengar suara bentakan yang tak henti-hentinya.
Ketika Tiang Keng mengawasi ke arah lui-tay, ia menyaksikan belasan orang sedang duduk menonton.
Tiang Keng mengira mereka adalah jago-jago dari Rimba Persilatan yang terdiri dari golongan tua maupun muda.
Banyak yang rambutnya sudah beruban, ada yang wajahnya penuh dengan bewok, ada imam yang berkonde tinggi.
Pakaian mereka pun beraneka warna, wajahnya tampak garang.
Tiang Keng mengawasi ke arah mereka, sebaliknya mereka pun mengawasinya, tapi semuanya tetap duduk tak ada yang bergerak atau bersuara.
Tiang Keng dan Un Kin keduanya melompat ke atas panggung.
Mereka berdiri berendeng.
Munculnya sepasang anak muda ini telah membuat orang-orang mengawasi, tapi mereka tetap diam.
Mungkin mereka menganggap Tiang Keng termasuk sahabat mereka juga.
Diam-diam ada lima orang yang kemudian bergerak, setelah mereka mengenali siapa anak muda tersebut.
Mereka berlima adalah Pay Kiam Pian Too dan Hay-lam Sam Kiam.
orang yang kemarin pernah bertarung dengan si anak muda.
Sesudah mengawasi sejenak Un Kin melompat turun, ujung kakinya menginjak ujung golok.
Sinar matahari menyinari wajahnya yang cantik, anginpun bertiup perlahan.
Rambut si nona tertiup angin begitu pun pakaiannya.
Menyaksikan kegesitan dan ringannya tubuh Un Kin, Tiang Keng kagum.
Sekarang orang banyak segera bangkit untuk memberi hormat.
"Pagi-pagi sekali Nona sudah datang!"
Kata mereka.
Un Kin masih muda, ia murid satu-satunya dari Un Jie Giok.
Dia memiliki kepandaian sangat tinggi, tak heran kalau para jago silat itu hormat kepadanya.
Un Kin mengambil sikap ramah, ia membalas hormat itu.
sambil tersenyum ia berkata manis.
"Selamat pagi para Loo-cian-pwec sekalian!"
Kata Un Kin.
Kemudian Un Kin menoleh ke arah rombongan Ngo Hong Sin Cu Tin.
la saksikan dua orang itu sedang bergerak dan gerakannya gesit sekali.
Mereka adalah To-su Tauw-to dan Cian Lie Beng To.
Un Kin tertawa dingin sambil berkata.
"Kenapa Bu Kin Tay-su berkelahi?"
Ucapan Un Kin tak dijawab Seseorang terlihat melompat ke arah barisan golok.
Orang itu bertubuh kurus jangkung.
Kelihatannya ia lihay dalam ilmu meringankan tubuh.
Begitu orang itu sampai Un kin langsung menyapa.
"Siauw Tay-hiap."
Kata si nona sambil melirik.
"Apa kau tahu mengapa mereka berkelahi?"
Sebelum menjawab Bu-eng lo-sit tertawa nyaring.
"Perkelahian ini dikarenakan kami sudah lama mengagumi ilmu silat kaum Siauw-lim-sie!"
Jawab Bu-eng Lo-sat "Itu sebabnya kami mohon petuinjuk padanya dan tak punya maksud lain!' "O begitu?"
Kata si nona. namun suaranya sedikit mengejek. Setelah U Kin tertawa dingin, ia melanjutkan katanya.
"Ketahui olehmu. Kim Too Hoan Ciang dan Ngo Bong Sin Cu bukan tempat orang untuk mengadu kepandaian!"
Kata Un Kin. Mendengar teguran itu Siauw Tiat Hong melengak. Tak lama kemudian ia tertawa.
"Jika orang bisa berhati-hati, aku kira tak ada bahayanya!"
Kata Siauw Tiat Hong.
Baru saja Tiat Hong tutup mulut, dari tengah lapang pertandingan terdengar suara nyaring hingga semua orang terpaksa menoleh ke arah suara di lapangan pertandingan.
Melihat Un Kin datang, semangat pendeta dari Siauw-limsie itu bangkit secara tiba-tiba.
Ia segera menyerang dengan hebat dan sebutir Ngo-bong-sin-cu melayang ke arah lawannya.
Gu It San bertubuh bungkuk, ketika ia mendek untuk menghindar dari serangan Ngo Bong Sin Cu, dengan demikian ia berhasil membebaskan diri dari serangan itu.
Tiba-tiba ia membalas, ia sampok sebutir mutiara yang lain.
To-su Tauw-to.
atau si pendeta Siauw-lim-sie, menyerang sambil berseru lagi.
Ternyata dua senjata rahasianya beradu di tengah jalan, suaranya nyaring sekali.
Celaka baginya tangan baju si pendeta tergores sin-cu yang lainnya.
Mau tak mau kaget juga dia.
tubuhnya jadi limbung.
Menyaksikan keadaan lawan sedang limbung, Cian Beng To girang sekali.
Dia tertawa, tubuhnya melompat mundur sebanyak tiga langkah ke belakang, la tidak ingin menyerah, tapi malah pasang kuda-kuda dan menyerang dengan kedua tangannya.
Dia melontarkan empat buah senjata rahasia biji Ngo Bong Sin-cu.
Sekalipun serangan itu dilakukan bersamaan, namun sasarannya berbeda-beda.
Melihat lawan menyerang dengan senjata rahasianya, si pendeta Siauw-lim-sie jadi putus asa.
Ia sebenarnya gagah, tapi karena sudah letih sekali dan harus bertarung secara beruntun, tak heran jika kegesitannya jadi agak berkurang.
Saat ia diserang, ia belum siap pasang kuda-kuda.
Saat itu tubuhnya masih agak limbung.
Ia kaget dan menghela nafas.
Dia yakin kali ini ia bakal celaka dalam barisan Ngo Bong Sin Cu Tin..
Saat pendeta yang sudah putus asa dan menerima nasib, mendadak telinganya mendengar suara senjata rahasia yang nyaring beberapa kali.
disusul oleh jeritan yang menyayat hati dari Gu It San.
Ketika itu ia merasakan lengannya ada yang memegang, tubuhnya mundur setombak lebih jauhnya, baru ia bisa berdiri tegak, la membuka matanya, sebab tadi ia pejamkan untuk menerima nasib.
Ia lihat matahari terang benderang.
Memang Ngo Hong Sin Cu masih menyambarnyambar simpang-siur.
namun ia sudah berada jauh di luar kalangan, di tempat yang aman....
Ternyata ia ditolong oleh Tiang Keng.
oo BAB 42.
MUNCULNYA SI ORANG TUA ANEH DI TENGAH GELANGGANG Tiang Keng menolong si pendeta Siauw-lim-sie pada saat yang tepat.
Sambil bersiul keras ia melompat ke arah si pendeta, ia pegang tangannya yang ia tarik dan bawa menyingkir sejauh satu tombak dari tempat pertandingan.
Menyaksikan lawannya telah ditolong oleh Tiang Keng, Gu It San menyerang lagi dengan hebat.
Rupanya Gu It San tak senang si pendeta selamat dari serangannya.
Ia melompat, lagi-lagi ia gunakan kedua tangannya untuk melemparkan senjata rahasia yang lihay ke arah Tiang Keng dan si pendeta.
Menyaksikan serangan maut yang kejam itu.
Tiang Keng mengerutkan dahinya.
Dengan menggunakan tangan bajunya, dia menangkis serangan lawan.
Tiang Keng mengibas ke belakang, ke arah penyerangnya.
Saat ia mengibas, ia gunakan tipu silat Liong Bwee Hui Hong atau Ekor Naga Mengebut Angin Menyaksikan anak muda itu hendak merintangi maksudnya.
Gu It San tertawa.
"Hai. kau mau mencari mampus sendiri, ya?"
Ia angkat sepasang tangannya ke depan dadanya, lalu ia dorong ke depan dengan keras.
It San mengerahkan seluruh tenaganya Ia yakin jika tangan mereka beradu maka tangan Tiang Keng akan patah.
Di luar dugaan, sebelum tangannya bentrok dengan tangan Tiang Keng.
tiba-tiba ia merasakan dorongan sangat keras ke arah dadanya.
Ia sadar bahaya mengancam dirinya.
Sialnya.
Gu It San tidak sedang berada di tanah, hingga tubuhnya bergoyang.
Terpaksa dia mundur tiga langkah.
Tapi celaka lima butir sin-cu menghajar punggungnya Ia rasakan tubuhnya bergetar, hatinya mencelos dingin, sedang mulutnya terasa bau amis.
Sambil menjerit darah segar menyembur dari mulutnya.
Sebenarnya Gu It San mengerti ilmu Kim-ciong-tiauw (ilmu kekebalan) dan Tiat-pousan.
sehingga tubuhnya tak akan mempan senjata tajam.
Namun karena sedang bergerak, sin-cu berhasil melukainya.
Tiang Keng melompat ke arah pendeta Siauw-lim-sie yang sedang terpesona oleh gerakan Tiang Keng.
"Tay-su, apa kau tak terluka?"
Tanya Tiang Keng. Wajah pendeta itu berubah merah, la ingat sikapnya pada pemuda ini tempo hari. Sekarang justru ia ditolong oleh si anak muda. Si pendeta langsung memberi hormat.
"Anak muda. terima kasih. Hari ini aku takluk kepadamu!"
Kata dia. Tiang Keng tersenyum, ia membalas hormat itu.
"Anda terlalu memuji!"
Tiba-tiba Bu-eng Lo-sat (Lo-sat Tanpa Bayangan) melompat ke Ngo Bong Sin Cu Tin.
ia berniat mengangkat tubuh Gu It San.
Dia bergerak dengan gesit di atas patok golok.
Dia bawa mayat sahabatnya itu ke tepi pelataran pertandingan.
Lalu ia letakan di situ.
"Ah. kiranya ia sudah tewas!"
Kata Bu-eng Lo-sat. Mendengar ucapan Bu-eng Lo-sat Tiang Keng kaget. Dia tak menyangka lawannya tewas. Ia kelihatan sangat menyesal. Ia melompat dari patok golok ke arah Tiat Siauw Hong.
"Sahabat mungkin dia masih bisa tertolong!"
Namun Bu-eng Lo-sat mendadak menoleh dan membentak.
"Pergi dari sini! Jangan mendekat!"
"Aku bermaksud baik, mengapa kau berlaku kasar begitu?"
Kata Tiang Keng.
"Apa? Bermaksud baik? Hm! Aku belum pernah mendengar ada kucing menangisi tikus yang diterkamnya!"
Kata Bu-eng Lo-sat kasar.
"Kau tak akan mampu mengelabuiku. Aku bukan anak kecil."
Tiang Keng kaget. Ia mengerti kondisi Bu-eng Lo-san Ia awasi tubuh Gu It San yang mandi darah. Dua matanya melotot dan kelihatan bengis. Sambil memejamkan mata Tiang Keng menghela nafas.
"Sebenarnya maksudku baik. tapi jika kau tak percaya...."
Sebelum Tiang Keng selesai bicara, tiba-tiba Un Kin muncul di sampingnya.
"Jika dia tak percaya, ya sudah!"
Kata si nona. Tiang Keng menarik nafas.
"Aku tak bermusuhan dengannya, aku juga tak sengaja melukainya... aku jadi tak enak hati...."
Kata Tiang Keng. Si nona tertawa dingin.
"Bagaimana jika ia berhasil membunuh Bu Kin Tay-su?"
Tanya si nona.
"Jika kau tak menolongnya, siapa yang akan menyalahkanmu? Apa kau akan membiarkan Bu Kin binasa?"
Kata Un Kin. Tiang Keng menunduk dan diam, ia menghela nafas panjang. Tiba-tiba Bu-eng Lo-sat berdiri tegak.
"Aku tak peduli kau bermaksud baik atau jahat,"
Kata Bueng Lo-sat.
"Yang jelas Gu It San mati di tanganmu! Kelak, keluarganya pasti akan mencarimu!"
Tiang Keng kaget, ia menunduk.
"Balas dendam, ya anak Gu It San akan sepertiku menuntut balas! Aku sekarang ingin balas dendam. Ini tak akan ada habisnya! Entah kapan akan berakhir?"
Pikir Tiang Keng. Tiba-tiba Un Kin berkata pada Bu-eng Lo-sat Tiat Siauw Hong dengan nyaring.
"Kau sahabat Gu It San, jadi kau akan menuntut balas?"
Mata Tiat Siauw Hong berputar sambil mengawasi si nona.
"Membalas dendam demi sahabat itu wajib!"
"Jadi kau mau membalaskan sakit hati sahabatmu dan kau akan membunuh orang yang membunuh sahabatmu, bukan?"
Kata si nona. Ditanya demikian Tiat Siauw Hong melengak.
"Bukankah itu wajar?"
Un Kin bersikap tenang.
"Memang dia telah membunuh sahabatmu, tapi dia bukan musuhmu, kenapa kau ingin membunuhnya? Apa alasanmu? Adilkah itu?"
Kata Un Kin.
"Siapa bilang tak beralasan?"
Kata Siauw Hong.
"Aku membalaskan sakit hati sahabatku, aku kira itu pantas!" 'Kau benar, kau akan membunuh orang yang sebenarnya tak bermusuhan denganmu. Kau bilang itu pantas! Sekarang aku tanya, bagaimana jika Gu It San berhasil membunuh si pendeta? "
Tiat Siauw Hong melengak. Un Kin tak menunggunya bicara, ia sudah berkata lagi.
"Gu It San jelas akan membunuh sahabat kami, lalu kami menolongnya. Apakah tindakan kami itu tak pantas?"
Kata Un Kin. Kata-kata Un Kin yang terakhir membuat Tiat Siauw Hong terdiam dan bungkam. Melihat lawan kalah bicara. Un Kin berkata lagi.
"Nah, sudah. Kau bawa mayat sahabatmu itu, mengapa diam saja!"
Kata Un Kin.
Ia membungkuk lalu ia pondong tubuh Gu It San.
tak lama ia berjalan dan menghilang dari tempat itu.
Tiang Keng masih kecewa, ia tunduk saja.
Tiba-tiba dari satu tempat ia mendengar ada yang bicara.
"Seorang nona yang lihay! Bu-eng Lo-sat dibuatnya pergi seperti seekor tikus!"
Kata orang itu.
Selesai bicara orang itu melompat ke arah kedua anak muda itu Ketika Tiang Keng menoleh, ia kagum pada ilmu meringankan tubuh orang ini.
Ia seorang pria beruban dengan pakaian seperti pakaian perempuan.
Namun ia tak memelihara kumis maupun jenggot.
Menyaksikan dandanan dan sikap orang itu.
Tiang Keng jadi geli tapi itu dia tahan untuk tak tertawa.
"Aku kebetulan sampai, kepandaian silatmu belum pernah kusaksikan. Namun aku kagum caramu menggoyang lidah!"
Kata orang itu.
Selain pakaiannya yang luar biasa, orang tua ini pun memiliki suara seperti perempuan.
Un Kin heran dan dongkol.
Ia tak kenal orang ini.
ia juga tak tahu kapan orang itu datang.
Un Kin menoleh pada para pelayan, mereka iuga bingung.
"Maafkan aku. mataku agak rabun. Lo-cian-pwee..."
Tapi sebelum Un Kin menyelesaikan kata-katanya, orang itu sudah menyela sambil tertawa.
"Nona, pasti kau heran! Aku ini siapa? Aku diam-diam datang tadi malam dengan maksud mengejutkan kalian semua!"
Kata si orang tua.
"Jika tadi malam tak terjadi insiden, tak semudah itu kau bisa sampai ke mari...."
Pikir Un Kin. Sebenarnya di antara orang yang ada di tempat itu ada yang mengenal nya. Tapi mereka hanya diam.
"Nona kau tak kenal aku. tapi aku mengenalmu. Aku si orang tua sudah lama mendengar kecantikanmu, terlebih keganasanmu hingga aku ingin datang ke Thian-bak-san!"
Kata si orang tua. Mendadak mata Un Kin melotot.
"Kau pernah apa pada Hoa Long Pit Ngo?"
Tanya Un Kin. Orang tua itu tertawa, wajahnya sudah keriput dan matanya merah tapi dua baris giginya rata dan putih.
"Matamu tajam sekali. Nona! Aku Pit Su, kakakku tak berguna seperti juga aku sendiri!"
Jawab si orang tua. Mendengar jawaban orang itu Un Kin sedikit terkejut.
"Jadi kau adalah Pit Su yang bergelar Giok Long (Pria Kemala)?"
Mendengar ucapan si nona, orang tua itu tertawa.
Sambil membuka dan menutup matanya, orang tua itu mengangguk.
Tiang Keng kaget, ia berpikir.
Dia ingat saat membonceng kereta ke Thian-bak-san.
Dia pernah mendengar para pelayan bercerita bahwa Un Kin pernah memotong hidung Pit Ngo.
Sekarang Pit Su datang untuk balas dendam.
Pit Su bergelar Giok Long sedang Pit Ngo bergelar Hoa Long (Pria Bunga).
"Benar kedatangannya pasti untuk balas dendam,"
Pikir Tiang Keng siaga. Dia siap membantu jika Un Kin diserang. Nona-nona pelayan Un Kin juga mengawasi.
"Oh jadi kedatanganmu untuk membalas sakit hati adikmu?"
Tanya Un Kin.
"Sabar, Nona. Aku bukan hendak menuntut balas."
Kata Pit Su.
"Kau salah besar!"
Un Kin dan Tiang Keng tercengang mereka mengawasi dengan heran.
"Pit Ngo sudah tua dan tolol!"
Kata Pit Su.
"Dia tak tahu diri. Siapa suruh dia ingin makan daging angsa kahyangan? Jangan kata kau hanya memotong hidungnya, kau potong telinganya pun aku tak keberatan. Aku bahkan akan bertepuk tangan untuk menyatakan setuju!"
Kata Pit Su.
Tiang Keng dan Un Kin heran "Memang sekalipun seekor naga beranak sembilan, sifat anaknya akan berlainan.
Sekarang Pit Ngo tak tahu malu.
sebaliknya Pit Su berlapang dada.
Memang menilai orang tak bisa dari romannya saja."
Kesan Un Kin dan Tiang Keng jadi baik terhadap orang tua ini.
"Kalau begitu maafkan,"
Kata Un Kin.
"Apakah kedatanganmu untuk menemui guru?"
Un Kin tak ingin semua orang tahu ia sudah bentrok dengan gurunya, maka ia masih menyebut kata guru.
"Bukan! Bukan itu maksudku!"
Kata Pit Su.
"Orang ini aneh sekali,"
Pikir Tiang Keng.
"Mau apa dia?"
"Aku bukan seperti Pit Ngo yang bersahabat dengan gurumu, kedatanganku tentu saja bukan untuk berkunjung pada gurumu. Kalau...."
Ia berhenti lalu tertawa dua kali.
Setelah itu dengan dibuatbuat ia menyipitkan matanya serta mengawasi ke arah si nona dengan tingkah ceriwis.
Dia awasi Un Kin dari atas ke bawah dan sebaliknya.....
Un Kin jadi tak enak hati.
mau menegur dengan kasar pun jadi serba salah..
"Kalau begitu kedatangan Loo-cian-pwee hanya untuk menyaksikan pemandangan yang indah saja, begitu?"
Kata Un Kin sambil tersenyum manis sekali.Kebetulan saat itu Tiang Keng mengawasi ke arahnya....
ia melengak!
oo BAB 43.
TIANG KENG MENGALAHKAN PIT SU Si nona tak melihat Tiang Keng mengawasinya, namun ia tahu pasti anak muda itu sedang mengawasi ke arahnya, la puas.
Tiba-tiba ia menghentikan tawanya.
Sedang Pit Su yang sejak tadi asyik menikmati kecantikan si nona jadi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Cantik! Sungguh cantik!"
Kata Pit Su terus memuji kecantikan si nona.
Tiba-tiba ia bertekuk lutut di depan si nona cantik, kedua tangannya ia pentang.
Menyaksikan sikap tengil orang tua itu Un Kin melengak.
ia mundur tiga langkah, lalu berjalan ke tepi tak mau mengawasi orang tengik itu.
"Loo-cian-pwee, apa maksudmu berbuat begitu?"' tanya si nona. Pit Su menengadah lalu berkata.
"Apa kau benar-benar tidak tahu maksudku?"
Katanya. Un Kin menggelengkan kepala.
"'Aku benar-benar tidak tahu."
Jawab si nona. Pit Hu membuka kedua tangannya yang ia lekatkan ke dadanya.
"Benarkah kau tak tahu?"
Ia menegaskan.
"Sebenarnya aku sedang melamarmu agar kau mau menikah denganku. Ketahui olehmu, sekalipun aku kakaknya Pit Ngo. tetapi wajahku lebih muda dari Pit Ngo Jika kau menolak cinta Pit Ngo. itu wajar sekali, tapi pasti kau tak akan menolak cintaku!"
Tiang Keng dan Un Kin tercengang mendengar ucapan Pit Su tersebut.
Kok masih ada orang setua itu tak tahu malu.
Mau tertawa tak bisa.
tersenyum pun tidak mampu mereka lakukan.
Tiba-tiba di sekitar panggung terdengar suara tawa para hadirin.
Saat itu Giok Long Pit Su masih berlutut di depan Un Kin.
"Aku rela berlutut di hadapan orang banyak dan kau. ini membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu...."
Kata Pit Su. '"Apa kau tega akan mencelakakan aku. tak mungkin bukan?"
Mendengar ucapan itu Tiang Keng yang sejak tadi diam saja. sekarang habis sabarnya dan jadi dongkol sekali.
"Tua bangka. tutup mulutmu!"
Bentak Tiang Keng. Pit Su diam dan sedikit kaget, ia awasi orang yang membentak dirinya.
"Aku bicara sendiri, apa hubungannya denganmu? Apakah kau cemburu?"
Jawab Pit Su dengan kesal. Wajah Tiang Keng merah padam.
"Bangun!"
Bentak Tiang Keng dengan suara keras. Pit Su mengangkat mukanya yang keriput mirip kulit jeruk itu. Matanya melotot tajam dan alisnya berdiri tegak.
"Siapa kau? Beraninya kau kurang ajar! Hm! Rupanya kau sudah bosan hidup. ya?"
Bentak Pit Su tak kalah sengitnya.
Sikap Pit Su yang tadi halus, berubah jadi garang sekali, la lupa saat itu ia masih berlutut di depan si nona.
Menyaksikan tingkah Pit Su yang tengil itu.
ketiga nona pelayan itu tak tahan untuk tidak tertawa, namun mereka berusaha menahan tawanya.
Tiang Keng gusar sekali.
Ketika ia hendak membentak, tapi telah didahului oleh suara tawa Pit Su.
"Aku bicara dengan nona ini. Jika ia bersedia mendengarkan kata-kataku, tak ada yang boleh ikut campur. Dasar bocah tak berguna, hm. kau mau mampus ya?"
Bentak Pit Su dengan garang.
"Kau terlalu usil. bocah!"
Mendengar ucapan itu Tiang Keng melengak. ia teringat sesuatu, kata orang perempuan senang dipuji-puji. sekarang Pit Su pun sedang memuji-muji Un Kin.
"Orang she Pit. aku sudah mendengar ocehanmu yang tak karuan dan aku belum mengusirmu atau mencacimu. Tahukah kau kenapa begitu?"
Kata Un Kin. Ketika itu Pit Su sedang gusar, wajahnya merah padam. Saat mendengar kata-kata Un Kin yang merdu, kemarahan Pit Su pun reda.
"Barangkali karena cintaku yang sungguh-sungguh, hingga hati Nona tergerak..."
Sebelum kata-kata Pit Su selesai Un Kin membentak.
"Bukan!"
Pit Su terperanjat, ia berhenti bicara.
"Kalau begitu karena suaraku enak didengar, maka..."
Kata Pit Su lagi.
"Bukan!"
Bentak Un Kin lagi.
"Lalu?"
Kata Pit Su.
"Karena aku ingat semasa masih kecil."
Jawab Un Kin.
"Ketika itu aku sedang duduk berjemur mandi cahaya matahari. Tiba-tiba datang seekor anjing gila yang berlari-lari ke arahku, lalu anjing itu kuhajar hingga anjing itu lari terbiritbirit! Tapi. ketika itu datang Louw-ko-ku. dia gusar, lalu menegurku. Dengan gusar aku dimaki-maki. Dia bilang. Anak perempuan harus tenang dan sabar. Mengapa aku harus meladeni anjing gila?"
Un Kin tersenyum manis, saat itu matahari menyorot ke wajahnya yang menambah keelokan si nona. Menyaksikan kecantikan si nona Pit Su jadi bengong.
"Benar! Sekarang pun Nona begini sabar, aku yakin sejak kecil kau mendapat pendidikan yang sempurna.."
Kata Pit Su sambil tertawa. Un Kin tersenyum manis sekali.
"Belum tentu aku tenang dan sabar."
Kata si nona.
"Tapi yang benar, aku tak mirip seekor anjing gila. Kelak jika datang anjing gila lagi. maka akan kubiarkan dia menggonggong."
Sejenak Un Kin diam. ia awasi Tiang Keng baru ia melanjutkan kata-katanya.
"Jika detik ini ada anjing gila lagi yang menggonggong di depanku, pasti tak akan kudiamkan lagi. Aku sudah..."
Si nona menunduk dan tertawa, hingga kata-katanya tertunda sejenak.
"Sekarang telah ada orang yang melindungiku."
Si nona melanjutkan. Mendadak si nona menoleh ke arah Tiang Keng.
"Tiang Keng. maukah kau mengusir anjing gila ini?"
Kata si nona.
Sejak tadi Tiang Keng memang sangat dongkol karena Un Kin terus meladeni Pit Su.
saat ia mendengar kata-kata si nona.
Tiang Keng sadar, la jadi geli sekali, la sadar si nona sedang mempermainkan Pil Su.
hingga dalam keadaan genting pun si nona masih bisa melucu.
Ia awasi Pit Su yang wajahnya jadi merah-padam.
Tiba-tiba Pit Su bangun, ia awasi si nona sambil membentak.
"Perempuan celaka! Kau benar-benar tak tahu diri!"
Kata dia.
"Kau...
Sebelum Pit Su selesai bicara, tiba-tiba ia merasakan dorongan keras ke arah dadanya.
Ini dorongan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ia kaget buru-buru menghindar dan melompat lima kaki jauhnya untuk menghindari serangan hebat itu.
Baru kemudian ia mengawasi ke arah si penyerang, ternyata itu adalah Tiang Keng.
Wajahnya bengis, ia sedang mengaw asi ke arahny a.
"Jika kau tetap berdiri di sini. sebanyak tiga kali akan kukibaskan tanganku. Jika kau terluka. jangan katakan aku tak bermurah hati padamu!"
Kata Tiang Keng.
Tiang Keng melaksanakan ucapannya, hingga Pit Su pucat.
Dia kaget oleh dorongan keras itu.
hingga mundur sejauh tiga langkah.
Sia-sia Pit Su bertahan, terpaksa ia meninggalkan gelanggang.
Tiang Keng pun tak tega mencelakai lawan, la menyesal telah melukai Gu It San hingga tewas.
Saat itu Tiang Keng melihat Pit Su yang tampak tidak gusar, malah berbalik ia akan pergi.
Tapi....di luar dugaan, tiba-tiba ia berbalik dan menyerang bagaikan kilat ke arah Tiang Keng.
Tiga kali tangannya menyerang secara bergantian.
Pit Su menyerang ke arah tiga jalan darah ciang-tay.
hian-kwan dan leng-coan.
Jarak Pit Su dan saat itu Tiang Keng sangat dekat, ditambah lagi senjata rahasia Pit Su itu luar biasa..
Tiba-tiba mata Tiang Keng jadi silau karena senjata lawan sudah di depannya.
Un Km kaget bukan main.
wajahnya pucat, sedang mulutnya berseru tertahan.
Un Kin melompat ke arah Tiang Keng.
Sedang si anak muda tak bergerak untuk menghindar, la hanya menarik mundur dadanya, tak heran jika ketiga senjata rahasia itu mengenai tubuhnya.
Mata si nona berkunangkunang, kepalanya pening, ia terhuyung beberapa langkah hingga hampir terguling.
Sebaliknya Pit Su yang angkuh tertawa terbahak-bahak karena puas.
"Kau sangat sombong, bocah! Sekarang kau ketahui kelihayan Pit Toa-yamu!"
Kata dia.
Saat Pit Su maju.
ia merandek kaget karena secara tiba-tiba Tiang Keng membusungkan dadanya dan ketiga senjata rahasia Pit Su berjatuhan ke tangan Tiang Keng.
Pit Su kaget, ia heran bagaimana musuh yang terkena senjatanya tak terluka.
Penonton pun kaget.
Sekarang mereka lihat anak muda itu berdiri tegak tak kurang suatu apa.
Saat Un Kin sadar, ia membuka matanya, la jadi kaget dan girang saat tahu Tiang Keng tak kurang suatu apa.
mulutnya jadi ternganga keheranan.
Tiang Keng tersenyum ke arah Pit Su.
Tiba-tiba tangan Tiang Keng terayun dan ..dan berbareng tiga batang jarum halus melayang ke arah Pit Su yang kejam itu....
Jarum itu bernama Ngo-leng Kong-ciam, jarum inilah yang telah mengangkat nama Pit Su hingga jadi sangat ternama.
Sekalipun tak sehebat jarum milik Un Jie Giok yang bernama Bu-eng Sin-ciam.
namun jika jarum itu mengenai lawan, akibatnya cukup fatal.
Konon katanya tak peduli orang telah berlatih ilmu Kim-ciong-tiauvv.
Tiat Pou Sam atau Cap-sha Thay -po Hang-lian.
ia tetap akan celaka jika terkena jarum itu.
Pit Su tak menduga, mimpi pun tidak, kalau Tiang Keng mampu menangkap tiga jarum itu dan menyerang Pit Su dengan senjata milik Pit Su ke arah mukanya.
Mau tak mau Pit Su harus mendek untuk menghindarinya hingga ketiga jarum itu melayang di atas kepalanya.
Saking kagetnya ia jadi jadi mandi keringat dingin, la baru sadar pada apa yang artinya jerih, la jadi bingung dan penasaran, la tak tahu mengapa Tiang Keng bisa begitu kebal dan lihay.
Pit Su tak mengetahui kalau Tiang Keng mengenakan baju buatan Su Khong Hoa yang kebal senjata, terbuat dari kulit ular di gunung Hong-san.
Untuk memperoleh bahan pakaian kebal itu.
tidak mudah.
Tak heran jika Un Jie Giok pun bersedia melakukan perjalanan yang jauhnya ribuan lie.
Khasiat pakaian kulit ular itu selain tak mempan senjata juga tak tembus air dan tahan api.
Jarum milik Pit Su tersedot, sehingga kekuatan serangannya tak hebat lagi.
ditambah lagi jarum itu mengenai baju tak mempan senjata itu.
Tiang Keng berdiri tegak, ia beroman gagah luar biasa.
"Eh. kau masih tak mau pergi !"
Bentak Tiang keng. Pit Su kaget mendengar bentakan itu. ia melongo. Sementara wajahnya pucat-pasi. Diam-diam ia menghela nafas panjang, lalu ia membalikkan tubuhnya hendak pergi. Tiba-tiba..
"Tahan!"
Bentak Un Kin dingin. Terpaksa Pit Su merandek.
"Kau telah menggonggong lama di sini. apa kau akan pergi begitu saja°"
Kata Un Kin. Tiba-tiba si nona mencelat, tahu-tahu ia sudah ada di samping Pit Su.
"Adik kesayanganmu telah meninggalkan sepotong telinganya, kau pun harus memberi tanda mata untuku!"
Kata Un Kin.
Pit Su kaget bukan main.
ia mendongkol juga bingung.
Un Kin tak peduli orang itu jerih, ia menggapai ke arah tiga budaknya, salah seorang berlari menghampiri.
Dengan sepasang tangannya pelayan ini mengangsurkan sebilah pisau belati satu kaki panjangnya pada Un Kin.
gagangnya indah sekali.
Saat pisau itu dihunus, terlihat berkilauan.
Un Kin menyambut pisau belati itu dengan tangannya yang putih halus, kemudian ia menyentil dan terdengar suara nyaring.
"Tring!"' "Apa yang hendak kau tinggalkan, hidung atau telinga?"
Kata Un Kin. 'Tapi keduanya juga boleh!"
Bukan main kagetnya Pit Su. keringat dingin tanpa terasa keluar dari tubuhnya.
"Celaka aku.,."
Keluhnya.
Dalam kagetnya ia tak punya pilihan lain.
juga tak mau dipermalukan di depan umum.
la sadar bukan tandingan Tiang Keng.
tapi sebisanya ia akan melawan.
Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba ada angin berkesiur dari belakang, ia kaget dan menoleh.
Ia jadi bertambah kaget ketika ia melihat Tiang Keng telah berada di dekatnya.
"Sudahlah, biarkan ia pergi!""
Kata Tiang Keng pada Un Kin. Kata-kata ini melegakan hati Pit Su yang sudah ketakutan setengah mati. Mendengar permintaan Tiang Keng tersebut Un Kin tertawa.
"Aku tak akan meniru kelakuan mereka, tadi aku hanya ingin menggertak!."
Kata si nona sambil tertawa.
"Bagus!"
Kata Tiang Keng sambil melambaikan tangannya ke arah Pit Su.
"Apa kau tak mau segera pergi?"
Tiang Keng tampak senang karena Un Kin menuruti katakatanya, padahal biasanya Un Kin bersikap berandalan Tiga pelayan itu heran, tiba-tiba nona mereka berubahdan sangat taat pada si anak muda.
Pit Su dongkol, ia awasi Tiang Keng penuh kebencian.
Tiba-tiba ia menghela nafas panjang.
"Ya. gunung yang biru tak berubah, sungai yang hijau terus mengalir...."
Bersamaan dengan kata-katanya itu. Pit Su melompat jauh dan menghilang. Dari kejauhan terdengar suara Pit Su yang masih bergema.
"Budi dan kebaikan ini. kelak akan kubalas!"
Kata Pit Su. Un Kin mengawasi kepergian Pit Su. lalu ia berbisik kepada Tiang Keng.
"Kau berbuat baik padanya, tapi belum tentu ia berterima kasih padamu..Apa kau dengar apa katanya tadi? Mungkin dia bukan akan balas budi. tapi membalas dendam padamu! Kenapa kau bersikap demikian kepadanya?"
Kata Un Kin.
"Kita harus jadi manusia yang tak perlu kecewa."
Kata Tiang Keng.
"Tentang orang lain yang akan berbuat apa terhadapku, terserah dia saja! Aku berbuat baik bukan untuk mengharapkan balasan!"
Sambil berkata Tiang Keng mengawasi Un Kin.
Matanya basah oleh air mata.
Tiang Keng terharu namun ia girang karena ia berhasil merebut hati si nona.
Un Kin sejak kecil di bawah asuhan Un Jie Giok.
sekarang hatinya telah berubah jadi baik.
"Ada sesuatu yang belum kau ketahui."
Kata Tiang Keng.
"Coba sejak kecil kau ikut dengan guruku pasti kau..."
Sebelum Tiang Keng menerus-kan kata-katanya, mereka mendengar suara jeritan yang mengerikan.
Suaranya menyayat hati.
suara itu jauh tapi datangnya dari arah Pit Su pergi...
Wajah Tiang Keng berubah guram.
"Itu suara Pit Su,"
Kata Tiang Keng pada Un Kin.
"Apa artinya ini?"
Oo BAB 44.
UN JIE GIOK MEMOTONG TELINGA DAN HIDUNG PIT SU Mendengar pertanyaan Tiang Keng.
Un Kin menggeleng kan kepala.
Mendadak Un Kin ingat sesuatu, tiba-tiba parasnya berubah.
Sebelum para penonton di bawah lui-tay menonton dengan diam.
Padahal di antara para penonton itu terdapat sahabat-sahabat Pit Su yang dapat membantunya.
Tapi aneh mereka tak bergerak dan hanya diam.
Kiranya hal itu ada sebabnya, pertama mereka tidak berani dengan kelihayan Tiang Keng.
Kedua mereka tak ingin membuat kesalahan terhadap Un Kin.
Mereka sadar murid Un Jie Giok ini pun lihay sekali.
Namun ketika mereka mendengar jeritan Pit Su dari kejauhan, mereka berdiri serentak dan berpaling ke arah suara yang mengerikan itu.
Saat menoleh, mereka melihat dua sosok bayangan sedang berlari-lari mendatangi, tak lama kedua bayangan itu sudah dekat dengan mereka.
Tiang Keng mengenali kedua bayangan itu.
mereka adalah Siauw Tin dan Siauw Keng.
dua nona yang pernah ia lihat saat anggota Ang Kin Hwee binasa.
Ketika ia memperhatikan tangan Siauw Tin.
tangan nona itu sedang memegang sebuah bungkusan dari kain berlumuran darah, pasti isinya anggota tubuh manusia.
Saat Tiang Keng memperhatikan dengan tegas, ia terperanjat.
Ternyata isi kain itu sepasang telinga dan sebuah hidung manusia.
Tiang Keng berseru tertahan.
"Apa arti semua ini?"
Tanya Tiang Keng.
Kedua nona itu tidak menjawab pertanyaan Tiang Keng.
Keduanya saling mengawasi, kemudian dengan wajah dingin mereka berjalan mendekati Un Kin dan berdiri di depannya.
Melihat itu.
alis Un Kin berkerut.
"Couw-ko memerintahkan kami berdua untuk menyampaikan benda ini kepada Nona."
Kata salah seorang nona. Kemudian nona ini menambahkan.
"Kata Couw-ko bagaimana pun sikap Nona kepadanya, jika ada orang yang berani kurang ajar kepadamu. Couw-ko tak mau tinggal diam dan mengawasi saja. Maka Couw-ko telah mewakili Nona memotong sepasang telinga dan hidung Pit Su. Beliau lalu memerintahkan kami untuk mengantarkannya pada Nona!"
Sambil berkata demikian Siauw Tin menyodorkan kedua tangan untuk menyerahkan bungkusan sepasang telinga dan hidung itu. Tiang Keng kelihatan heran, ia berpikir Un Jie Giok benar-benar lihay.
"Dia tak kelihatan batang hidungnya, bagaimana ia bisa tahu dengan jelas keadaan di tempat ini?"
Pikir Tiang Keng Un Kin melongo mengawasi kedua pelayan itu, ia awasi sapu tangan yang berlumuran darah di tangan Siauw Tin.
Pikirannya pun jadi kacau.
Tahu barang di tangannya tak disambut oleh Un Kin.
Siauw Tin mempermainkan matanya, lalu ia membungkuk dan meletakkan bungkusan sepasang telinga dan hidung itu ke tanah.
Sambil menghela nafas, ia berkata.
"Jika Nona tak mau menerimanya, maka kuletakkan benda ini di sini. Cukup sudah asal Nona tahu bagaimana sikap Couw-ko kepadamu... ."
Mata Siauw Keng pun berputar-putar, ia ikut bicara.
"Couwko menyuruhku menyampaikan pesan padamu. Jika Nona tetap ingin mencari beliau untuk menuntut balas. Couw-ko siap akan memuaskan hati Nona! Dia bilang nanti malam ia akan menunggumu di ruang kuil tadi malam...."
Mata Siauw Keng mendadak merah, dengan suara perlahan ia melanjutkan kata-katanya.
"Couw-ko bilang ia juga mengundang To Siang-kong agar datang bersama Nona..."
Kata Siauw Keng.
"Sebentar lagi akan tiba saatnya kami bakal berkumpul di sana menunggu Nona berdua."
Kata Siauw Ini "Sejak kecil kami berdua sudah hidup bersama dengan Nona.
kami senang Nona tak menganggap kami ini budakmu.
Maka kami berjanji di kemudian hari kami akan membahu, kebaikan Nona.
Akan tetapi...."
Siauw Tin berhenti sejenak, matanya mengawasi ke bawah.
"Akan tetapi jika nanti malam kita bertemu, saat itu kami telah menjadi musuh-musuh Nona Maka jika kau akan membunuh Couw ko. maka kami harap kau juga bunuh kami....."
Sesudah itu Siauw Tin menghela nafas panjang, melanjutkan kata katanya.
"Kami tak sepandai Nona. namun kami sudah mendengar kata-kata mu. Kami tak peduli Couw-ko orang seperti apa. tetapi sedemikian lama ia telah memperlakukan kita dengan baik sekali juga kepadamu Nona..."
Ucapan kedua nona itu membuai kepala Un Kin pusing sendiri, la di.uu dari sudut matanya keluar air.
Un Kin menunduk.
Tiang Keng mengawasi la sudah mendengar semua pembicaraan kedua nona itu.
ia mau bicara tapi selalu dibatalkan.
Tiba-tiba Un Kin bicara "Sakit hati orang tuaku luar biasa, hingga aku pikir tak mungkin aku bisa hidup bersama musuh besarku!"
Kata Un Kin "Kalian telah bicara, aku mengerti dan aku menyesal, tetapi....."
Siauw Tin mendongak.
"Kami tahu isi hatimu. Nona!"
Kata Siauw Tin yang memotong kata-kata Un Kin.
"Pasti kami juga tak akan memaksa Nona dan kami juga pernah mendengar tentang peristiwa zaman dahulu yaitu dongeng tentang memotong jubah dan memutuskan ikatan hubungan persaudaraan serta menggaris tanah membuat batas...."
Kata-kata Siauw Tin berhenti sejenak.
Siauw Tin menggerakkan tangannya.
Dia masukkan ke sakunya, lalu mengeluarkan sebilah pisau belati.
Kemudian dengan tangan kirinya ia sambar ujung bajunya, dan dengan pisau di tangan kanan ia membabat ujung bajunya.
Terpotonglalah ujung bajunya menjadi dua potong.
Sesudah itu sambil merapatkan giginya, dia berkata lagi.
"Sejak saat ini Nona dan aku tak saling mengenal lagi!"
Setelah itu ia menancapkan pisau belatinya ke tanah, sesudah melemparkan pisau itu.
Siauw Tin diam.
tak urung air matanya mengalir juga.
Ketika ia lirik, ia lihat Un Kin pun menangis Kedua nona itu saling mengawasi.
Tiang Keng menghela nafas, ia berpaling ke jurusan lain.
la heran mengapa di dunia terjadi kejadian seperti itu..., Semua penonton terpaku diam.
Mereka tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Beberapa penonton itu sudah ada yang ngeloyor pergi Siauw Keng menghela nafas panjang.
"Sesudah urusan jadi begini rumit, aku tak tahu harus bilang apa?"
Katanya.
"Kami sadar. Nona cerdas melebihi kami berdua, kami yakin Nona punya jalan keluar yang terbaik. Tapi..."
Ia berhenti bicara, lalu ia berpaling ke arah Tiang Keng. Kemudian ia berkata pada si anak muda.
"To Siang-kong. kau cerdas, maukah kau menjawab pertanyaanku?"
Kata Siauw Keng.
"Katakan saja."
Kata Tiang Keng.
"Seorang ibu yang melahirkan anak harus mendapat balasan dari sang anak. namun seseorang yang merawat anak dari kecil, sekalipun bukan anak kandungnya, bukankah budi yang besar pantas mendapat balasan?"
Kata Siauw Keng.
Tiang Keng berpikir sejenak, ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu.
Tetapi Siauw Keng tak menunggu jawaban dari Tiang Keng.
bersama Siauw Tin keduanya membalik tubuh dan pergi.
Beberapa nona-nona yang lain mengawasi dengan heran tanpa bicara mereka pun ikut pergi.
Un Kin berdiri diam.
pikirannya kacau.
Ia bingung, apakah sakit hati orang tuanya perlu dibalas?
Tapi kasih sayang Un Jie Giok yang merawatnya sejak kecil, juga budi yang harus ia balas, saat itu ia dibingungkan oleh ucapan Siauw Keng dan Siauw Tin berdua.
Ini rumit, masalah antara budi dan permusuhan.
Un Kin jadi bingung dan sulit berpikir.
Sesudah sekian lama baru ia angkat kepalanya.
Ia lihat tempat itu telah sunyi.
Semua orang yang tadi berkerumun di lui-tay sudah pergi semuanya.
Un Kin hanya melihat Tiang Keng sedang berdiri diam.
bahkan To-su Tauw-to pun entah ke mana perginya.
Matahari memancar dengan sinarnya yang terang, hingga golok yang dijadikan patok berkilauan cahayanya.
Un Kin membungkuk mengambil belati yang tadi ditinggalkan oleh Siauw Keng dan Siauw Tin.
Lalu pisau itu ia satukan dengan pedangnya.
Saat itu angin bertiup perlahan hingga Un Kin merasakan hawa dingin, la menoleh ke arah Tiang Keng.
Sekian lama ia diam saja.
Mendadak ia tubruk Tiang Keng.
tak lama ia lepaskan dirinya dari rangkulan Tiang Keng.
Kemudian dia menangis meraung-raung.
Barang kali ia anggap hanya Tiang Keng-lah yang menjadi andalannya.
Ia merasakan hawa hangat saat Tiang Keng merangkulnya.
Setelah agak tenang dan berhenti menangis, ia berkata perlahan pada Tiang Keng.
"Bagaimana sekarang?"
Kata Un Kin.
"Apa yang harus kulakukan. Tiang Keng?"
Tiang Keng menunduk.
Dadanya berdebar-debar, dada Tiang Keng bagaikan telaga yang berombak tapi perlahan.....Ia usap-usap rambut Un Kin dengan lembut.
Un Kin yang tadi sudah berhenti menangis, tiba-tiba menangis lagi.
ia terisak-isak.
Kehalusan Tiang Keng membuat rasa sedihnya bangkit lagi.
Tapi tangis itu ada baiknya bagi Un Kin.
dengan demikian hati si nona jadi agak lega.
Tiang Keng bingung oleh kata-kata Siauw Keng.
Budi membesarkan anak sama dengan budi melahirkannya.
Itu memang benar.
"Bisakah ia membiarkan si Nona menuntut balas pada Un Jie Giok"
Pikir Tiang Keng sangsi.
"Atau harus kuanjurkan agar dia balas budi?"
Lama Tiang Keng berpikir, tapi kemudian ia mengambil keputusan. secara perlahan-lahan ia tepuk-tepuk bahu si nona.
"Mari kita pergi!"
Kata Tiang Keng.
Un Kin mengangkat kepalanya, ia awasi Tiang Keng.
lalu ikut berjalan mengikuti anak muda itu.
Mereka berjalan perlahan-lahan, tak ada yang mau menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Sekarang mereka telah tiba ke tepi jalan, di tempat banyak peti-mati Melihat peti-peti mati itu.
pikiran Tiang Keng yang sedang mumat lalu berteriak, ia menyerang ke arah peti mati itu.
tak ampun lagi peti mati itu jadi berentakan.
Berbareng dengan hancurnya peti mati itu.
ada tubuh manusia terlempar sambil mengeluarkan suara jeritan mengerikan.
Tubuh itu jatuh dan diam tak bergerak lagi.
Tiang Keng kaget.
Ia melompat menghampiri tubuh orang itu.
la menyaksikan wajah orang berpakaian hitam itu menyeramkan.
Tubuh orang itu terlentang.
wajahnya seperti kaget dan ketakutan.
Un Kin terkejut, ia menoleh ke sekitarnya.
Tapi keadaan di tempat itu tetap sunyi.
Tak lama mereka melihat sesuatu yang luar biasa.
Beberapa peti mati bergerak perlahan-lahan, berjalan.
Un Kin hampir tak percaya pada matanya.
Padahal saat itu hari masih siang, tapi hati si nona tak urung gentar juga...
oo BAB 45.
UN KIN DAN TIANG KENG BERHASIL MENANGKAP KAUW CIAN Un Kin melengak sejenak, tiba-tiba ia arahkan sepasang tangannya ke arah dua peti mati yang sedang bergerak maju.
Tangan Un Kin menyambar dua sinar putih ke arah kedua peti, tak lama dua senjata rahasia itu telah tembus ke dalam peti dan disusul oleh suara jeritan mengerikan.
Dari dalam peti mengalir darah segar dan menetes ke jalan raya.
Tiang Keng melompat ke sisi Un Kin.
mata mereka saling mengawasi.
Tiba-tiba dari ujung jalan gunung terdengar suara gembreng tiga kali.
suaranya nyaring sekali.
Kemudian sisa dari 110 peti mati yang berjejer di tepi jalan, semua tutupnya terbuka.
Melihat kejadian itu hati Tiang Keng terkejut, bersamaan dengan itu berkelebat ratusan cahaya berkilauan halus.
Sinar itu menyambar ke arah Tiang Keng dan Un Kin berdua.
Dalam kagetnya Tiang Keng sempat menyambar tangan Un Kin.
lalu menarik mengajak melompat tinggi.
Dengan demikian benda yang berkilauan itu lewat di kaki mereka.
Un Kin kaget hingga ia berseru keras.
"Bu Eng Sin Ciam!"
Kata si nona.
Benda-benda itu adalah senjata rahasia Jarum Tanpa Bayangan yang lihay luar biasa Un Kin agak jerih, sebab sulit menghadapi senjata rahasia yang lihay itu.
Tiang Keng pun tak kurang kagetnya.
Syukur ia ingat sesuatu, mendadak dada Un Kin ditolaknya.
Un Kin kaget, tapi masih sempat mendorong, dan menangkis serangan Tiang Keng.
Akibatnya kedua tubuh mereka terpental mundur tiga tombak jauhnya dari tempat semula dan turun di tepi jalan raya tak kurang suatu apa.
Dengan demikian serangan jarum yang kedua pun tak berhasil mengenai mereka.
Tiang Keng yang kaget merasakan telapak tangannya dingin, la merasa ngeri dengan ancaman bahaya itu.
Tapi ia pun bersyukur dan tak tinggal diam.
Tiang Keng bergerak cepat luar biasa, melompat ke arah suara gembreng.
Ia lihat di sebuah peti mati yang tutupnya sudah terbuka, ada orang berpakaian serba hitam.
Tangannya memegang sebuah gembreng.
Tangan yang lain memegang pemukul gemreng.
Saat ia akan memukul lagi gembreng itu.
ia lihat Tiang Keng sampai ke tempatnya.
Dia kaget dan ketakutan himgga gembreng terlepas dari tangannya.
Tiba-tiba ia melompat keluar dari peti mati itu.
lalu kabur ke kaki gunung.
"Kau mau lari ke mana?"
Teriak Tiang Keng.
Tiang Keng mengejar orang itu dengan cepat.
Un Kin pun ikut mengejar.
Orang berpakaian serba hitam itu gesit luar biasa, ia berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh yang lihay sekali.
Dia gunakan tipu Pat-pou-kan-siam.
Melihat demikian.
Tiang Keng berseru pada Un Kin.
"Jangan biarkan dia lolos!"
Kedua muda-mudi ini mengejar dengan kencang, mereka mengeluarkan seluruh kemampuan mereka hingga berhasil menyusul orang berpakaian serba hitam.
Makin lama jarak mereka semakin dekat....
Orang itu merasa kalau ia tak akan lolos dari kejaran dua muda-mudi itu.
berlari sambol menoleh ke belakang dan berteriak.
"Awas piauw!"
Kata dia. Tiang Keng dan Un Kin kaget. Mereka memperlambat pengejarannya. Un Kin cerdas dan matanya awas. begitu orang itu berpaling ia langsung ber-teriak.
"Kiauw Cian!"
Pada saat yang bersamaan sebuah benda berkilauan menyambar ke arah mereka berdua.
Tiang Keng gesit, benda itu dia sampok dan berhasil menjatuhkan sebatang piauw atau senjata rahasia lawan, dan benda itu jatuh ke dalam rumpun.
"Apa benar dia Kiauw Cian?"
Tanya Tiang Keng pada Un Kin.
"Benar."
Jawab si nona.
"Ayo kejar dia!"
Keduanya langsung mengejar lagi.
Setelah serangannya gagal orang berpakaian serba hitam itu yang dikenali Un Kin sebagai Kiauw Cian lari kembali.
Di depan mereka ada hutan lebat, ke sanalah Kiauw Cian kabur.
Melihat ada hutan lebat Tiang Keng penasaran.
Karena jika Kiauw Cian berhasil mencapai rimba itu.
berarti ia lolos dari kejaran mereka.
Dengan cepat Tiang Keng menjejak tanah dan melompat dengan cepat.
Saat Tiang Keng melompat kedua tangannya dipentang.
mirip sayap burung yang akan terbang.
Tiang Keng pun berakrobat, kepala di bawah dan kakinya berada di atas.
Begitu cepat lompatan Tiang Keng ini hingga ia berhasil mengejar lawan dan langsung menyerang dengan tangannya.
Kiauw Cian kaget dan ketakutan, la buru-buru menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah.
Dia berguling masuk ke dalam hutan.
Karena berhasil masuk hutan hati Kiauw Cian agak lega sedikit.
Ia yakin di dalam hutan ia bakal selamat.
Betapa kagetnya Kiauw Cian saat ia mendengar bentakan keras dari Tiang Keng.
"Mau lari ke mana. Kau?"
Kata Tiang Keng.
Saat ia mengawasi ke depan, ia jadi lemas karena Tiang Keng ada di depannya.
Dia kaget setengah mati.
buru-buru ia bergulingan seperti tadi untuk menghindari lawannya itu.
Ilmu bergulingan yang digunakan oleh Kiauw Cian bernama Ciu-tee-sip-pat-kun (Bergulingan delapan belas kali).
Ilmu ini adalah ilmu silat yang sangat biasa digunakan oleh kaum Kang Ouw golongan rendah yaitu untuk menyelamatkan diri dengan tak menghiraukan martabat atau wibawanya.
Tubuh Kiauw Cian kurus, ia bisa bergerak dengan cepat.
Tapi lagi-lagi ia mendengar bentakan Tiang Keng.
"Kau mau lari ke mana?"
Kata suara itu.
Suara itu terdengar di samping Kiauw Cian.
Itu adalah suara halus dari seorang perempuan.
Tentu saja Kiauw Cian bertambah kaget dan ketakutan, la sadar itu suara Un Kin.
murid Ang-ie Nio-nio Un Jie Giok.
Walau ketakutan tetapi ia tak mau menyerah.
Ia sudah tahu apa jadinya jika tertangkap.
Setelah dihadang dari berbagai arah.
ia panik akhirnya jadi nekat.
Tiba-tiba tangannya terayun, dari tangan itu tersebar belasan sinar hitam mengkilat.
Un Kin yang diserang tertawa dingin.
"Ini yang namanya temberang di depan kawan sendiri!"
Kata si nona sambil tersenyum.
Un Kin mengibaskan lengan bajunya dan ia berhasil merontokkan senjata rahasia lawan.
Kiauw Cian melompat ke samping.
Lagi-lagi ia akan masuk ke dalam hutan lebih dalam lagi.
Tapi....
Kiauw Cian mendengar bentakan dari belakang dan tak lama ia rasakan pinggangnya ngilu dan lemas.
Dengan tak berdaya ia jatuh duduk di tanah.
Tiang Keng menggapai ke arah Un Kin.
"Kau jaga jahanam ini. aku akan memeriksa ke sana"
Kata Tiang Keng. Tiang Keng berlari kencang ke arah barisan peti mati yang ada di tepi jalan. Tepat Tiang Keng tiba. dari peti mati itu bermunculan orang-orang berpakaian serba hitam.
"Berhenti!"
Teriak Tiang Keng ke arah orang berpakaian serba hitam itu.
Tiang Keng melompat dengan tipu silat Cian-liong-sengthian (Naga Melompat ke langit), la melompat sebanyak tiga kali secara beruntun.
Orang berpakaian serba hitam itu kaget, mereka berdiri diam.
Mereka lihat Tiang Keng melompat bagaikan terbang di depan mereka.
Saat Tiang Keng mengayunkan tangannya ke arah peti mati itu.
peti itu hancur berantakan.
"Siapa yang berani lari? Dua peti mati itu contohnya!"
Kata Tiang Keng mengancam. Orang-orang itu kaget ketakutan.
"Kalian semua berkumpul jadi satu!"
Perintah Tiang Keng.
Setelah saling mengawasi sejenak mereka menurut dan berkumpul mengikuti perintah Tiang Keng.
Tubuh mereka hampir semua gemetar ketakutan.
Tiang Keng tersenyum sambil mengawasi mereka.
Tak lama Un Kin datang bersama tawanannya.
Kiauw Cian.
Tubuh tawanan itu ia lempar di depan orang-orang berpakaian serba hitam itu.
"Tiang Keng."
Kata si nona.
"Jahanam mi memang Kiauw Cian. Aku tahu dia jahat, tapi tak kusangka dia akan sejahat ini! Jelas ia ingin membasmi semua orang gagah yang datang ke tempat ini. Jika kita bertemu dengannya di malam gelap, kita bisa celaka di tangannya!"
Sesudah itu Un Kin berjalan ke salah satu peti mati. dari dalam peti ia mengeluarkan bungkusan makanan kering dan air minum.
"Lihat ini!"
Kata si nona pada Tiang Keng.
"Hm!"
Tiang Keng mengangguk.
"Sungguh luar biasa, serangan senjata rahasia mereka cepat dan keras, entah darimana Kiauw Cian mendapatkan orang-orang ini?"
Kata Un Kin.
Tak lama Un Kin membungkuk memungut sebuah benda yang ia serahkan pada Tiang Keng.
Anak muda ini memeriksa benda itu dengan teliti.
Benda itu kecil berduri, cagaknya tajam sekali, la langsung mengenali benda itu seperti benda yang ia lihat di kota Lim-an.
Tiang Keng mengerutkan alisnya.
"Tidak mustahil inipun perangkap Un Jie Giok."
Kata Tiang Keng. Un Kin mengangguk, ia berduka.
"Ini jarum rahasia Bu-eng-sin-ciam dan orang lain tak memiliki serta tak akan mampu menggunakannya."
Kata Un Kin.
"Kecuali aku. Siauw Tin dan Siauw Keng. tak ada orang lain lagi. Membuat jarum ini tidak mudah....."
Setelah diam sejenak, tiba-tiba Un Kin melompat ke arah belakang Kiauw Cian.
Dia tendang punggungnya dengan keras.
Ditendang demikian Kiauw Cian yang tubuhnya kurus kecil itu bergulingan tiga langkah.
Dari mulurnya menyembur ludah kental.
Sesudah bergulingan ia duduk dengan mata tajam mengawasi ke sekitarnya, lalu batuk satu kali dan kepalanya tunduk.
Sekarang ia sadar ia telah tertawan musuh, tapi otaknya tetap bekerja keras....
"Aku tanya kau. jawab dengan jelas!"
Kata Un Kin dingin.
Kiauw Cian mengusap dahinya, ia diam saja.
Seolah ia tak mendengar pertanyaan nona Un.
Tiang Keng awasi orang itu.
Dia lihat wajah Kiauw Cian kurus dan perok (keriput), tulang pipinya menonjol.
Mukanya seperti tak berdaging, maka Tiang Keng yakin orang ini licik dan pandai bicara.
Tiang Keng benci sekali, alisnya berkerut.
"Dia licik, jika ia menjawab pertanyaanmu aku tak yakin jawabannya benar dan bisa dipercaya!"
Kata Tiang Keng pada Un Kin. Un Kin tertawa dingin sambil berkata.
"Aku pernah bertemu orang yang sepuluh kali lebih licin dari dia. jika aku tak mampu membuat dia bicara, hm! Tiang Keng. tahukah kau bagaimana cara menghadapi orang seperti dia?"
Tiang Keng mengawasi si nona. ia lihat matanya berkedip.
"Baik. akan kutanya dia!"
Kata Un Kin.
"Jika dia diam saja akan kupotong sebuah jari tangannya! Begitu seterusnya, setiap kali ia tak menjawab, maka jarinya akan kupotong sebuah, sampai semua jarinya itu habis! Aku tak yakin ia benar-benar tangguh sekali. Sesudah jari tangannya habis, kedua telinganya akan mendapat bagian, baru hidungnya! Jika tetap tak menjawab, akan kutarik lidahnya, baru kemudian kukorek kedua biji matanya. Apa kau masih yakin dia tak mau bicara"
Suara Un Kin perlahan, namun kata-katanya menusuk di telinga Kiauw Cian.
la berpikir siksaan itu sungguh hebat.
Kiauw Cian masih duduk diam.
Tapi dari dahinya sekarang mengucur keringat dingin.
Un Kin mengawasinya, ia tertawa dingin.
"Kau tak percaya. Tiang Keng?"
Kata Un Kin pada si anak muda.
"Baik akan kutunjukkan padamu!"
Sesudah berkata begitu Un Kin menghampiri Kiauw Cian. Ia berhenti tepat di depan orang she Kiauw itu. Tak sampai Un Kin bertanya. Kiauw Cian sudah langsung bicara.
"Apa yang akan kau tanyakan. Nona?"
Katanya. Un Kin tertawa, ia melirik ke arah Tiang Keng.
"Lihat,"
Kata Un Kin.
"Bukankah dia ini sangat cerdik?"
Diam-diam Tiang Keng menghela nafas.
"Ya. memang selalu ada caranya untuk mengatur orang jahat."
Pikir Tiang Keng.
Ternyata kata-kata Un Kin yang perlahan itu berpengaruh besar sekali tehadap Kiauw Cian.
Dia ngeri jika sampai jari tangannya satu persatu dipotong oleh si nona.
kemudian menyusul anggota tubuhnya yang lain.
"Pertama-tama aku ingin tahu. dari-mana kau peroleh jarum rahasia Bu-eng-sin-ciam ini?"
Kata Un Kin. Kiauw Cian membuka matanya.
"Jika kujelaskan semua itu. akan kau apakan aku?"
Tanya Kiauw Cian. Alis Un Kin bergerak, suaranya dingin.
"Jika kau bicara jujur,"
Kata si nona.
"Aku hanya akan memusnahkan ilmu silatmu dan akan ku izinkan kau pergi! Ini kulakukan agar kelak kau tak berbuat jahat lagi!"
Kiauw Cian kaget, keringatnya mengucur deras, ia menunduk lesu. Tiang Keng mengawasinya, otaknya bekerja.
"Jika ilmu silatku dihilangkan, aku akan lebih memilih mati! Aku rasa dia akan memilih lebih baik mati daripada bicara..."
Baru berpikir sampai di situ. tiba-tiba Tiang Keng mendengar suara Kiauw Cian yang nadanya sedih sekali.
"Jika kukatakan semua dan seandainya Nona memberi ampun padaku pun. aku khawatir....."
Sebelum meneruskan kata-katanya ia melirik ke arah orang-orang berpakaian serba hitam. Kemudian Kiauw Cian melanjutkan kata-kaanya.
"Sebelum aku sampai di rumah. Pasti tubuhku sudah habis dicincang!"
Kata Kiauw Cian. Mendengar kata-kata itu Un Kin heran juga.
"Lalu apa maumu?"
Tanya si nona. Kiauw Cian menunduk.
"Aku minta agar ilmu meringankan tubuhku jangan dihabisi, agar aku bisa tetap hidup..."
Kata Kiauw Cian sambil menghela nafas panjang.
oo BAB 46.
RAHASIA PEMBUNUHAN DI KOTA LIM-AN TERBONGKAR Mendengar kata-kata Kiauw Cian, Tiang Keng tersenyum.
Ia heran dan tak mengira sama sekali ada orang seperti Kiauw Cian.
"Tak kusangka dia begitu sayang pada jiwanya, dan tak menghiraukan nama baik maupun derajat, kepercayaan dan kemerdekaannya. Bukankah setiap orang tak akan lolos dari kema-tian? Sungguh luar biasa jika setiap orang gagah saat mati meninggalkan nama harum...."
Pikir Tiang Keng. Entah mengapa Tiang Keng jadi tak mau melihat muka Kiauw Cian.
"Hm! Enak saja kau bicara."
Kata Un Kin.
"Kau berani tawar-menawar denganku, sesuai kesalahanmu masih bagus jika kau diberi ampun, sepantasnya kau dibinasakan!"
Di antara orang berpakaian hitam itu ada seorang yang melangkah maju. Melihat hal itu Un Kin mengerutkan alis.
"Kau siapa? Mau apa kau?"
Kata Un Kin. Sesudah maju beberapa langkah lagi ia memberi hormat pada Un Kin.
"Namaku Tong Gie. aku murid tingkat tiga dari keluarga Tong dari tanah Siok...."
Kata orang itu. Un Kin sedikit kaget, ia sadar dan berpikir.
"Pantas mereka lihay-lihay sekali, kiranya mereka murid keluarga Tong yang terkenal dari tanah Siok."
Tong Gie kembali memberi hormat.
"Jika Nona ingin menanyakan sesuatu, tanyakan saja padaku, aku akan menjawabnya dengan jujur."
Kata Tong Gie.
"Tetapi kumohon Nona mengizinkan aku membawa pulang orang she Kiauw ini ke tanah Siok...."
Tiang Keng ikut bicara.
"Silakan kau bicara!"
Kembali orang she Tong itu memberi hormat."
Sebenarnya Kiauw Cian tak punya hubungan erat dengan keluarga Tong.
Beberapa bulan yang lalu.
tiba-tiba ia datang ke rumah kami.
Ia membawa sehelai kertas yang ia katakan gambar rahasia.
Dia bilang gambar itu ia peroleh dari Ang-ie Nio-nio.
Itu gambar cara membuat jarum rahasia Bu-eng-sin-ciam.
Ketika itu ketua kami tak ada di tempat, dia disambut oleh Su-siokcouw kami yang ketiga.....
"Bukankah Su-siok-couw itu yang bergelar Sam-ciu Twiehun Tong To?"
Kata Un Kin. Tong Gie mengiyakan sambil mengangguk.
"Su-siok-couw jarang mengembara, tak heran jika ia bisa dikelabuhi oleh orang ini."
Kata Tong Gie melanjutkan.
"Gambar itu lalu dikirim ke bengkel senjata kami di Cit-leng-ciang. Senjata itu akan dibuat dalam waktu 50 hari. sedang jumlahnya 3000 batang. Murid-murid tingkat tiga bekerja keras membuat senjata itu siang dan malam. Baru 45 hari. kami berhasil menyelesaikan seluruh pesanan itu...."
"Apa mungkin semua senjata itu buatan kalian?"
Sela Tiang Keng. Ditanya demikian Tong Gie berpikir.
"Tampaknya ia lihay sekali, tapi pengetahuan dan pengalamanya cetek sekali. Tentu saja senjata itu buatan keluarga Tong. bahkan kaum Rimba Persilatan (Bu-lim) mengetahuinya dengan baik. Mengapa dia malah bertanya begitu?"
Tapi Tong Gie tetap berdiri sambil menjawab pertanyaan itu "
Benar, sudah ratusan tahun bengkel Cit-leng-cian adalah bengkel yang membuat senjata rahasia keluarga kami.
Dan kali ini yang pertama kami membuatkan senjata rahasia pesanan orang lain.
Setelah selesai pesanan akan kami serahkan ke Thian-bak-san.
Kemudian Kiauw Cian bicara dengan manis pada ketua kami.Namun..."
Sebelum kata-katanya selesai Tiang Keng memotong bicaranya.
"Siapa ketuamu itu?"
Kata Tiang Keng. Tong Gie melengak. kali ini kelihatan ia kurang senang. Siok Tiong Tong Bun atau Keluarga Tong dari tanah Siok. Su
KANG ZUSI website
http.//kangzusi.com coan ini terkenal di seluruh Tiongkok.
Mereka itu dikenal sebagai Tong Bun Sam Kiat atau Tiga Jago She Tong.
Tong Gie merasa aneh kalau Tiang Keng tak pernah mendengar nama mereka itu.
hingga Tong Gie mengira Tiang Keng hendak menghina keluarganya itu.
la melirik ke arah Tiang Keng dan memberi hormat seperti biasa, tak kelihatan kalau ia tak puas.
"Ketua kami disebut."
Sebelum Tong Gie selesai bicara, ia telah dipotong oleh Un Kin.
"Dia adalah Tek-seng Sia-goat Bu-tek-sin Tong Hui!"
Kata Un Kin. Tong Gie tersenyum ia memberi hormat kepada Un Kin.
"Setelah ketua kami mendengar ocehan orang she Kiauw.
ketua kami mengurung diri selama tiga hari di kamarnya.
Sesudah itu ia titahkan kami murid dari tingkat tiga sebanyak 70 murid dan aku bersama tujuh paman kami pergi ke Thianbak-san.
Tujuan kami ingin mendapatkan pedang dan obat seperti yang dikatakan orang she Kiauw itu.."
Kata Tong Gie. Un Kin tersenyum.
"Kekayaan Siok Tiong Tong Bun mirip dengan negara, aku yakin mereka tak butuh harta-benda."
Kata Un Kin.
Tiang Keng heran, la kira Un Kin sangat menghargai Keluarga Tong dari Su-coan ini.
Nama besar keluarga ini sudah terkenal tak kalah dari kaum Siauw -lim-pay maupun Bu-tong-pay.
Sekali pun memang benar banyak murid dari keluarga ini yang menyeleweng dan jahat, namun keluarga ini tetap terhormat dan dihargai oleh kaum Rimba Persilatan.
Un Kin kemudian berkata lagi.
"Nama Tong Tay-hiap terkenal hingga disebut si Muka Besi. Sungguh heran mengapa ia mau mendengar kata-kata orang she Kiauw ini. Apa itu tidak aneh?"
Kata Un Kin. Wajah Tong Gie berubah merah.
"Mengenai sikap ketua kami. aku sendiri tak tahu."
Kata Tong Gie.
"Setahuku memang ada maksud lain dari ketua kami, konon sepulang dari Thian-san ketua kami bermusuhan entah dengan siapa, sehingga ia membutuhkan pedang istimewa dan obat mujarab itu..."
Tong Gie diam sebentar lalu melanjutkan.
"Tapi kumohon pada Nona agar rahasia ini jangan sampai tersiar keluaran, sebab jika orang tahu aku yang menceritakan rahasia ini. maka bagianku adalah mati! Aku girang jika Nona bersedia merahasiakannya....."
Kata Tong Gie. Un Kin tertawa.
"Jadi maksudmu ingin membawa orang she Kiauw untuk kau serahkan pada ketuamu? Atau ada maksud lain?"
Tong Gie menahan geram.
"Setiba kami di sini."
Kata dia dengan sengit.
"Dari mulutnya yang manis, dia minta agar kami membujuk tujuh orang paman kami serta meminta bantuan bibi-bibi kami di kota Lim-an untuk mengirimkan undangan ke Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee. Lalu kami diminta membuat mereka bingung dan ketakutan, dan malamnya dua perkumpulan itu ditumpas habis. Dia minta kami bersembunyi di rumah-rumah tepi jalan dan menyerang mereka dengan jarum beracun milik kami!"
Mendengar kata-kata itu Tiang Keng kaget.
"Jadi inipun perbuatan dia."
Kata Tiang Keng. Un Kin tersenyum sejenak, lalu menghela nafas.
"Tak dikira masalah begitu berbelit-belit."
Kata Tiang Keng.
"Semula aku kira.... Hai kau mau lari ke mana?"
Begitu Tiang Keng berteriak ia melompat mengejar Kiauw Cian.
Orang ini sejak tadi diam saja.
tiba-tiba ia bergulingan lalu melompat bangun dan kabur.
Un Kin pun ikut melompat, saat kakinya menginjak tanah kembali ia melompat, kali ini tangannya terayun dan tiga batang senjata rahasia menyambar, kemudian disusul jeritan mengerikan dari Kiauw Cian.
Dia roboh ke tanah lalu bergulingan dan diam tak berkutik.
Tiang Keng pun segera sampai di tempat itu."Dia sudah mampus!"
Kata Tiang Keng. Un Kin tersenyum.
"Dia mati dengan cara begini sungguh terlalu enak baginya."
Kata Un Kin.
Un Kin menyambar tangan Kiauw Cian yang ia seret dan ia lemparkan ke hadapan Tong Gie.
Tong Gie menghampirinya, ia lihat tubuh Kiauw Cian tidak bergerak seolah mati.
Ketika diperiksa ia terserang jalan darah cie-tong.
di tempat itu menancap jarum Bu-eng-sin-ciam hanya tak dalam.
Jelas akibatnya tak sampai merampas jiwa orang itu.
Tong Gie melirik ke arah Un Kin.
Sebagai seorang ahli senjata rahasia ia kagum pada Un Kin yang mahir melepas senjata rahasia itu.
Setelah diam sejenak Tong Gie berkata terus terang.
"Saat kami menyerang anggota perkumpulan Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee. kami heran mengapa jarum-jarum kami bisa luput dari sasaran. Sekarang kami menyaksikan Nona demikian pandai menggunakan senjata rahasia itu. Kalau begitu orang yang menggagalkan serangan kami hingga Ang Kin Hwee maupun orang Koay To Hwee banyak yang selamat ialah Nona sendiri!"
Kata Tong Gie.
"Ketika itu aku juga heran, aku mengira itu senjata rahasia Bwee-hoa-ciam atau Tiat-kie-lee yang lihay. dan perbuatan Ban Biauw Cin-kun In Hoan atau Hoa-long Pit Ngo. Karena itu aku berniat menyelidiknya....."
Kata Un Kin sambil melirik ke arah Tiang Keng. Kemudian dia melanjutkan.
"Tapi ketika itu aku dikejar olehmu, hingga aku gagal melakukan penyelidikan.
Sama-sekali tak kuduga ternyata serangan itu dilakukan oleh pihak Keluarga Tong dan tak mengira mereka menggunakan Bu-eng-sin-ciam..."
Tiang Keng terperanjat ia baru sadar.
"Pantas Un Kin pernah bilang, kalau ia melepas senjata rahasianya untuk menolong orang."
Pikir Tiang Keng.
"Ternyata dia tak bersalah. Hampir aku salah duga. ah dunia Kang-ouw memang sungguh berbahaya!"
Ia melirik ke arah Un Kin sambil tersenyum dengan wajah merasa bersalah dan minta maaf dari si nona. Un Kin tertawa sambil menunduk, kelihatan ia sangat puas.
"Tak kusangka orang she Kiauw ini jahat sekali!"
Kata Tiang Keng.
"Bukankah dia tak bermusuhan dengan orang Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee. mengapa ia tega turun tangan demikian jahat0!"
"Pasti jahanam ini punya maksud maka ia berbuat demikian."
Kata Tong Gie.
"Pertama ia ingin mengacau orangorang Dunia Persilatan, setelah kacau dia akan menggunakan kesempatan itu untuk memungut hasilnya. Kedua ia ingin menimpakan bencana kepada Ang-ie Nio-nio. supaya kaum Rimba Persilatan mengira kejahatan itu perbuatan Ang-ie Nionio. Ketiga, ia memang bermusuhan dengan Koay -to Teng Cit dan tiga jago Ang Kin Hwee. Dengan cara itu sekaligus ia ingin melampiaskan dendamnya. Keempat ia dengan senga-ja melibatkan kami. agar bermusuhan dengan kaum Rimba Persilatan (Kaum Bu-lim Eng-hiong). Jika dia buka rahasia, bukan tak mung-kin golongan Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee akan datang ke Su-coan untuk mencari kami dan membalas dendam. Kelima, ia ingin agar pihak-pihak lain lemah sedang pihaknya jadi kuat! Keenam, aku dengar ia berniat membangun partai baru. maka jika ia berhasil memusnahkan partai-partai lain. maka ia akan bisa berdiri kokoh. Nona. dia jahat luar biasa! Dia tak perlu diberi ampun. Aku sudah mengetahui rahasianya, kami sangat benci padanya, tetapi aneh paman-paman kami percaya kepadanya. Aku benci tapi bukan aku saja. saudaraku yang lain juga. Maka itu aku ingin membawa dia ke Su-coan agar kami bisa menyerahkan dia pada ketua kami. Sekarang setelah Nona tangkap, dia akan buka rahasia. Tapi kami tahu pasti dia akan membusukkan nama kami agar Nona memusuhi kami. Maka itu kubeberkan rahasianya itu pada Nona. Dia jahat dan pantas menerima hukuman!"
Tong Gie melengak dan menghela nafas.
"Aku menyesal telah membuka rahasia.'"
Kata Tong Gie.
"'Aku buka rahasia karena ingin melindungi keluarga kami. Tetapi..."
Ia tak meneruskan kata-katanya. Tiang Keng mengerutkan alis.
"Di mana ketujuh paman gurumu itu. mengapa mereka tak ada di sini?"
Kata Tiang Keng.
"Jelas ini termasuk perbuatan licik si jahanam ini."
Kata Tong Gie.
"Pada malam itu dia ajak kami ke mari. disuruhnya kami bersembunyi di dalam peti mati. Tetapi paman-paman guru kami ia ajak menemui tamu-tamu lain. Konon katanya agar besok mereka bisa menghadiri pertemuan di Thian-baksan. Pada saat pertemuan besar itu berakhir, pasti semua orang akan lewat di jalan ini. Kami disuruh menyerang mereka secara serentak. Ketujuh paman guru kami itu diminta membantu si jahanam agar bisa bekerja-sama."
Tiang Keng kaget dan berkeringat dingin.
"Jika mereka berhasil membokong pada waktu malam, akibatnya sungguh hebat sekali!"
Pikir Tiang Keng.
"'Oh, jahatnya orang ini. Dia ingin membasmi semua jago silat di kalangan Kang-ouw dengan sekali gebrak saja. Syukurlah rencananya gagal dan tak kukira kedatanganku ke mari kebetulan sekali hingga kami bisa menumpas kejahatannya!"
Saat itu Tiang Keng melirik ke arah Un Kin.
diam-diam sekarang timbul rasa saling mengerti di antara mereka..
oo BAB 47.
TIANG KENG DAN UN KIN BERTEMU DUA MURID IN HOAN Dengan bantuan sinar matahari Tiang Keng langsung melihat jelas.
Rambut kedua orang itu kusut.
Pakaiannya yang berwarna kuning melambai-lambai tertiup angin dan acakacakan.
Tiang Keng mengenali mereka adalah Tiat Tat Jin dan Cio Peng.
dua orang murid Ban Biauw Cin-kun.
Mereka tak menghiraukan Tiang Keng tapi langsung menghampiri Un Kin.
Un Kin mengawasinya dengan tajam.
"Sudah beres?"
Tanya Un Kin dengan suara tawar.
"Sudah."
Sahut keduanya bersamaan, dada mereka kelihatan naik turun "Apa yang beres?"
Tanya Un Km Dua orang itu kaget, mereka saling mengawasi, mulut mereka terbuka, mata mereka mendelong.
"Aku.. Aku."
Kata Tat Jin. tampaknya ia sulit bicara, la batuk sekali. '"la sudah. Sudah.."
Kata Cio Peng.
Kiranya Cio Peng pun sulit bicara.
Mereka berdua ini orangorang licik dan ganas, namun mereka masih sulit untuk bicara terus terang bahwa mereka telah membunuh gurunya sendiri.
Un Kin tertawa dingin, ia memutar tubuh dan tak menghiraukan kedua orang itu.
"Tiang Keng. mari!"
Kata si nona.
"Nona Un."
Tiba-tiba salah seorang dari kedua orang itu bicara. Mereka melompat ke sisi Nona Un Kin.
"Nona. tunggu sebentar!"
Un Kin menghadapi mereka dengan sikap gagah.
"Kita tak saling kenal, mengapa kau terus mengacau di sini?"' kata Un Kin.
"Apa kau sudah bosan hidup.!"
Un Kin masih terpengaruh didikan Un JieGok. maka itu suaranya kasar dan bengis. Tiang Keng memperhatikan kedua orang itu. wajah mereka berkeringat Menyaksikan hal itu Tiang Keng jadi tak tega.
"Kalian mau apa? Apa kalian mau mencari Un Jie Giok agar bebas dari Cit Ciat Tiong Ciu°"
Tanya Tiang Keng. Kedua orang itu mengawasi Tiang Keng.
"Benar!"
Jawab mereka hampir bersamaan.
"Jika Tuan bersedia memberi tahu. budi Tuan tak akan kami lupakan!"
Mendapat jawaban itu Tiang Keng mengawasi keduanya sebentar. Lalu ia menoleh ke lain arah dan berkata.
"Sekarang kami pun tak tahu. di mana Un Jie Giok berada..."
Mendengar jawaban itu Tiat Tat Jin dan Cio Peng jadi pucat, mata mereka menunjukkan sinar memohon, dengan tangan gemetar mereka menyeka keringatnya.
"Tuan tak tahu. tapi barang kali Nona Un tahu..."
Kata Cio Peng. Alis Un Kin berkerut dan matanya bercahaya.
"Andai kata aku tahupun. aku tak akan memberitahu kalian."
Kata Un Kin.
"Orang seperti kalian berkurang satu dua orang semakin baik! Tiang Keng mari kita pergi!"
Sesudah itu ia membalikkan tubuhnya mengajak Tiang Keng pergi.
Tiang Keng menarik nafas, saat ia memperhatikan kedua orang itu ia lihat mereka berdiri diam.
tangan mereka turun dan dikepal-kepalkan.
Rupanya mereka menyesal, gemas dan ketakutan.
Tiba-tiba mereka melompat ke depan akan menghadang Un Kin dan Tiang Keng.
"Nona Un."
Kata Tiat Jin. Ia pegang ujung baju Cio Peng.
"Sekalipun kami hina dan busuk, tapi semua kami lakukan atas perintah guru kami. Kita tidak bermusuhan masakan Nona tega membiarkan kami berdua..."
Kata-kata Cio Peng gemetar, romannya menunjukkan mereka sangat memohon bantuan. Mereka berlutut sambil menangis tanpa malu-malu. Tiang Keng jemu tapi ia pun jadi tak tega.
Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 3
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 1