Eps 6 Dendam Asmara - Okt
Baca online Dendam Asmara - Okt
Cersil Dendam Asmara - Okt.
Tapi tak lama ln Kiam sadar pada keadaan luar biasa itu.
Warung minum itu merangkap jadi rumah makan.
In Kiam pun sudah memesan beberapa macam masakan.
Tapi keadaan riuh membuat selera makannya hilang.
Ia kelihatan kurang gembira.
Saat In Kiam yang malas-malasan menjemput sumpit, tiba-tiba ia mendengar suara luar biasa.
In Kiam menoleh, ia lihat ada tiga orang tamu masuk ke dalam rumah makan.
Mereka berpakaian luar biasa, tubuh mereka ada yang gemuk dan pendek, ada juga yang jangkung dan kurus, ln Kiam sangat tertarik pada mereka.
Pakaian tamu-tamu itu seperti seragam, sama modelnya, sama juga bahannya.
Pakaian mereka berwarna dan berkilau terkena sinar matahari.
Pada pinggang mereka masing-masing tersandang sebilah pedang, sarung pedang mereka bertabur mutiara dan tampak indah sekali.
Mereka berjalan masuk dengan sikap angkuh.
Ini sangat menarik perhatian semua tamu yang ada di situ.
Jongos yang bicara dengan lu Kiam tadi agak jerih, tapi terpaksa ia harus menyambut ketiga tamu itu.
Jelas tiga tamu itu bukan saja aneh pakaiannya, tapi juga cara mereka bicara.
Kata-katanya sulit dimengerti.
Setelah pesanan makanan mereka siap.
tampak ketiganya makan dengan lahap sekali.
Sikap mereka acuh tak acuh.
tak menghiraukan tamu-tamu yang lain.
In Kiam sudah berpengalaman, telah banyak melakukan pengembaraan.
Bersama puteranya ia mengawasi ketiga tamu itu.
Bisakah ia menerka siapa mereka in.
Tiba-tiba salah seorang tamu itu berkata dengan nyaring.
Tapi kata-katanya sulit dimengerti hanya tertangkap sepotong-sepotong, ia menyebut ilmu silat yang lihay.
setan dan sebagainya.
Semua orang keheranan hanya In Kiam yang sedikit mengerti, lalu berkata pada puteranya.
"Mereka ini orangorang Hay-lam (Hai-nan). Mereka bilans mereka telah bertemu pemuda gagah, untung mereka tahu gelagat, jika tidak pasti pedang mereka sudah terbang entah ke mana. Kelihatan mereka ini lihay dan entah siapa pemuda yang gagah itu....."
Seorang temannya memperingatkan agar orang yang bicara tutup mulut karena banyak orang.
"Apa maksudnya Ayah''"
Tanya Tiong Teng ingin tahu.
"Dia bilang di tempat ini banyak mata dan telinga, ia minta agar kawannya tadi sedikit berhati-hati."
Kata In Kiam. Tiong Teng mengangguk. Tak lama orang yang ketiga ikut bicara, ia menyebut-nyebut nama Tiang Keng hingga In Kiam kaget dan gembira saat mendengar bahwa pemuda gagah itu To Tiang Keng.
"Anakku, pemuda yang mereka temui itu ternyata Tiang Keng."
Kata In Kiam pada puteranya.
"Entah di mana dia sekarang'.'"
Tak lama orang pertama bicara lagi.
tapi Tiong Teng tak mengerti.
Ia akan bertanya lagi pada ayahnya, tapi sang ayah malah bangun dari kursinya.
Setelah meletakkan uang perak di meja.
ia berkata pada puteranya.
"Mari kita pergi!"
Kata In Kiam.
Mereka berdua berjalan keluar dari rumah makan tersebut.
Sekalipun heran dan penasaran terpaksa Tiong Teng mengikuti ayahnya pergi.
In Kiam berjalan cepat.
Di jalan raya saat menemukan kereta lewat, mereka hentikan, lalu In Kiam dan Tiong Teng naik .kereta itu.
In Kiam meminta agar kusir segera menjalankan keretanya.
"Mau ke mana Tuan?"
Tanya si kusir heran. In Kiam menyelipkan uang perak ke tangan si kusir sambil berkata.
"Ke Thian-bak-san!"
Mendengar kata-kata ayahnya. Tiong Teng heran. Dia juga melihat wajah ayahnya muram.
"Apa kata ketiga orang itu?"
Kata Tiong Teng.
"Mengapa kelihatannya Ayah cemas?"
In Kiam menghela nafas panjang.
"Tiang Keng telah masuk ke dalam sarang harimau."
Jawab ayahnya.
"Siapa tahu ia dalam bahaya! Ayahnya baik. aku berhutang budi kepadany a. maka itu aku harus melindungi puteranya..."
Tiong Teng kaget dan heran, ia mengerutkan alisnya.
Kereta dilarikan dengan cepat, suara roda kereta serta derap kaki kuda tedengar sangat riuh.
Tiong Teng heran dan bingung, tapi ia tak mau bertanya pada ayahnya.
Karena kesal ia memandang keluar kereta lewat jendela.
Tiba-tiba Tiong Teng berkata penuh keheranan.
"Pada siang hari bolong begini, mengapa banyak orang yang biasa berjalan malam berkeliaran di tempat ini?"
Kata Tiong Teng. Ketika itu In Kiam menyaksikan orang-orang berpakaian serba hitam berjalan di tepi jalan, mulut mereka bungkam, tapi wajah mereka aneh sekali.
"Pasti mereka anggota sebuah partai persilatan."
Pikir In Kiam.
Karena kereta dilarikan dengan cepat rombongan orang berpakaian hitam itu sudah mereka lewati.
Ketika di perhatian di tengah rombongan orang berpakaian serba hitam itu.
tampak ada seorang yang rebah di atas sebuah gotongan.
Orang yang rebah itu kurus juga berpakaian hitam.
In Kiam memperhatikan orang yang rebah di atas gotongan, saat muka orang itu terlihat jelas oleh In Kiam.
jago tua itu kaget, tanpa merasa ia berseru.
"Kiauw Cian!"
In Kiam menyingkap tenda kereta dan melompat turun. Melihat ayahnya lompat dari kereta yang sedang berjalan Tiong Teng kaget.
"Tahan!"
Kata Tiong Teng pada kusir kereta.
Sebelum kereta berhenti dengan sempurna.
Tiong Teng pun sudah melompat turun menyusul ayahnya.
ln Kiam berlari cepat menyusul orang yang sedang menggotong Kiauw Cian.
saat sudah dekat ia jambret salah seorang dari orang berpakaian serba hitam itu.
"Hai. sahabat, kau mau apa?"
Tanya orang yang ditarik bajunya itu.
"Siapa sahabatmu?"
Bentak In Kiam dengan bengis.
Ia lihat Kiauw Cian yang ada di atas gotongan rebah tak berdaya, wajahnya pucat sedang tubuhnya diam saja.
Sekalipun orang yang ditarik oleh In Kiam ini bertubuh tinggi besar, namun ditarik secara mendadak ia kaget hingga jatuh terlentang.
Orang ini menjerit kaget, suaranya terdengar oleh kawan-kawannya.
Dalam sekejap rombongan ini berhenti, semua orang berpaling ke arah suara itu.
Mereka langsung mengawasi ke arah In Kiam yang mereka tak kenal.
Orang yang jatuh itu buru-buru bangun, karena kesal ia langsung menonjok ke arah In Kiam.
tapi saat tangannya menyerang, ia mendengar suara bentakan.
"Tikus! Beraninya kau!"
Bentak orang itu.
Tahu-tahu tubuh penyerang In Kiam itu merasakan dadanya kesemutan, ia langsung kaku karena sebuah totokan.
Itulah serangan In Tiong Teng untuk menyelamatkan ayahnya dari serangan lawan.
Tapi dalam sekejap Tiong Keng sudah langsung terkepung oleh orang-orang berpakaian serba hitam itu.
"Tiong Teng!"
Kata In Kiam.
"Kau lihat bagaimana keadaan Kiauw Cian Toa-ko!"
Sesudah itu In Kiam mengawasi pada semua pengepungma.
"Kalian murid siapa?"
Kata ln Kiam dengan suara nyaring.
Puluhan orang berpakaian hitam itu kaget, telinga mereka mendengung karena kerasnya teguran In Kiam itu.
Namun mereka tetap diam dan mengepung In Kiam dan Tiong Teng.
Dengan bengis In Kiam mengavv'asi orang-orang itu.
Ia tampak gagah.
Sekali pun ia sudah mundur dari Dunia Persilatan, namun ln Kiam tak lupa berlatih ilmu silat.
Melihat semua orang itu diam, In Kiam tertawa.
Tiba-tiba dari rombongan orang berpakaian serba hitam itu muncul seorang yang maju ke depan.
"Kalian murid siapa?"
Tanya In Kiam lagi.
"Apa kau tak kenal padaku?"
Tapi semua orang itu diam saja. hingga In Kiam berkata lagi.
"Bagaimana Kiauw Cian sampai terluka dan siapa yang melukainya?"
Tanya In Kiam.
"Ayo bicara atau hm!"
In Kiam diam sambil mengawasi dengan tajam.
Ia pikir ia bicara terlalu keras.
Kelihatan orang-orang itu tidak takut pada In Kiam.
Orang yang tadi maju berdiri tegak, kemudian ia rangkapkan kedua tangannya memberi hormat, lalu berkata dengan suara nyaring.
"Aku yang muda bernama Tong Gie."
Kata orang itu.
"She (marga) dan nama besar Loo-cian-pwee tak berani aku menyebutkannya. Tapi aku ingin bertanya apa hubungan Loocian-pwee dengan Kiauw Cian?"
Alis In Kiam berdiri.
"Dia menganggap aku sahabat ayahnya,"
Kata In Kiam.
"Maka aku pun menganggap dia keponakanku. Aku lihat dia terluka parah.."
Sebelum meneruskan kata-katanya ln Kiam melengak.
"Bagaimana kau tahu tentang diriku?"
Kata In Kiam.
"Nama ayah dan anak keluarga In sangat termasyur di Buouw."
Kata Tong Gie menjelaskan.
"Aku yang masih muda saat melihat Loo-cian-pwee berdua, langsung mengenalinya!"
"Hm!"
In Kiam memperdengarkan suara dari hidungnya.
"Kau murid siapa dan apa she dan namamu?"
Kata ln Kiam.
"Dasar orang tua..."' pikir Tong Gie.
"Aku baru menyebutkan namaku, dia sudah lupa lagi!"
Tapi Tong Gie dengan sikap hormat menjawab pertanyaan ln Kiam.
"Namaku Tong Gie. murid Keluarga Tong dari tanah Siok!"
Kata Tong Gie merendah. In Kiam sedikit kaget dan heran.
"Kau dari Keluarga Tong. jadi kau murid dari Tong Sain Hoan?"
Kata ln Kiam.
"Tapi seperti yang kuketahui antara Kiauw Cian dan pihak Keluarga Tong rasanya tidak ada masalah. Kenapa ia terluka di tangan kalian?"
Tong Gie menunduk ia berpikir sejenak.
"Kami tahu Loo-cian-pwee seorang yang mulia dan jujur, hingga menganggap orang lain pun seperti Loo-cian-pwee juga. Tapi aku yang muda mohon maaf. dalam hal Kiauw Cian rasanya Loo-cian-pwee kurang mengetahui tentang sifat dan kelakuannya di luaran....."
Kelihatan In Kiam kurang senang, tapi ia menahan sabar.
"Teruskan.."
Kata jago tua ini. Tong Gie diam sejenak lalu meneruskan kata-katanya.
"Jika bukan Loo-cian-pwee yang bertanya, aku tak akan bicara terus-terang."
Kata Tong Gie merendah.
"Karena Loocian-pwee yang bertanya, baiklah aku akan berterus terang.. Alis In Kiam bangun.
"Apa \ang terjadi sebenarnya?"
Tanya ln Kiam.
"Sebenarnya ia bukan terluka oleh kami."
Kata Tong Gie merendah.
"Coba Loo-cian-pwee periksa sendiri lukanya, apa mungkin aku bisa melukai dia dengan cara demikian?"
"Kalau begitu siapa yang melukainya?"
Tanya ln Kiam hilang sabarnya. Tong Gie menarik nafas sambil menengadah ke langit. Saat itu sudah tengah hari. sang surya sedang panas-panasnya.
"Orang itu bergelar Thay-yang Kun-cu!"
Kata Tong Gie. In Kiam tercengang mendengar nama itu disebutkan.
"Thay-yang Kun-cu!"
Kata In Kiam mengulang ucapan Tong Gie.
"Apa benar ada orang yang bergelar demikian?"
Ia belum pernah mendengar nama itu tak heran ia jadi tercengang bukan main.
"Dia masih muda dan luar biasa."
Kata Tong Gie.
"Hatinya mulia, sungguh tepat gelarnya itu karena tak ada orang Rimba Persilatan yang layak memakainya!"
"She apa dan siapa namanya?"
Kata In Kiam.
"Dia she To, namanya...."
Tapi sebelum kata-katanya selesai In Kiam sudah menyelak.
"Tiang Keng!"
Kata In Kiam.
"Benar sekali. Loo-cian-pwee."
Kata Tong Gie.
"Apa Loocian-pwee kenal dengan dia?"
To-pie Sin-kiam ln Kiam melengak. dia tertawa terbahakbahak, tampak ia girang bukan main.
"Thay-yang To Tiang Keng!"
Kata ln Kiam sambil tertawa. oo BAB 49. IN KIAM DAN TIONG TENG TIBA DI THIAN-BAKSAN Saat In Kiam sedang tertawa, terdengar Tiong Teng berteriak.
"Jarum Bu-eng Sin-ciam!"
Teriak ln Tiong Teng kaget.
Jin-gie Kiam-kek Tiong Teng orangnya teliti, setelah memeriksa luka Kiauw Cian ia menemukan jarum pada luka itu.
ketika itu jarum itu masih tertanam di tubuh Kiauw Cian.
maka ia cabut senjata rahasia itu.
Dengan demikian ia yakin bahwa itu senjata rahasia jarum Bu-eng Sin-ciam In Kiam kaget ia berpaling ke arah puteranya.
"Jadi Kiauw Cian terluka oleh jarum Bu-eng Sin-ciam?!"
Kata In Kiam.
"Benar. Ayah!"
Kata Tiong Teng. Tiba-tiba In Kiam melompat ke hadapan Tong Gie.
"Anak tak tahu diri kau berani mengelabuhi aku si orang tua!"
Kata ln Kiam. Tong Gie sedikit pun tak gentar, ia membusungkan dada dan maju.
"Apa yang kukatakan benar semuanya jika aku berbohong aku siap menerima dihukum!"
Kata Tong Gie.
"Tiang Keng putera sahabatku, aku kenal dia dan dia tak punya Bu-eng Sinciam. Terlalu berani jika kau mau membohongiku!"
Kata In Kiam.
"Kiauw Cian tertangkap oleh Tiang Keng. sedang luka yang diderita oleh Kiauw Cian. perbuatan seorang nona yang ada di sampingnya. Aku yang muda mana berani berbohong! Harap Loo-cian-pwee jangan menyalahkan aku!"
In Kiam diam.
"Aneh!"
Kata In Kiam. '"ada seorang nona di samping Tiang Keng? Siapa dia? Apa she dan siapa namanya? Bagaimana rupanya?"
Begitu In Kiam secara beruntun bertanya pada Tong Gie. Tong Gie memberi hormat.
"Nona itu she Un."
Kata Tong Gie. karena ia sahabat To Siauw-hiap. aku tak berani memperhatikan wajahnya, tapi sekelebatan aku tahu nona itu cantik sekali dan kepandaiannya lihay sekali."
In Kiam berpikir ia heran bukan kepalang.
"Coba kau ceritakan kejadiannya."
Kata ln Kiam.
Tong Gie tak menolak, ia mengisah kan semua yang ia ketahui, juga tentang kejahatan Kiauw Cian, yaitu sejak si Raja Copet datang ke Su-coan memsan senjata Bu-eng Sinciam.
sampai mereka diajak ke Thian-bak-san, dan menjalankan perintah Kiauw Cian.
Akhirnya, setelah mereka bertemu dengan Tiang Keng dan Nona Un.
baru rahasia Kiauw Cian itu terbuka.
ln Kiam kaget wajahnya merah padam, ia damprat Kiauw Cian habis-habisan.
"Dasar manusia celaka!"
Kata In Kiam gusar bukan main. Tiong Teng pun keheranan.
"Mengapa adik Tiang Keng bersama-sama dengan Nona Un?"
Kata Tiong Teng perlahan. Aganya dia ragu-ragu '"Sekarang dia di Thian-bak-san. Benarkah dia dalam bahaya? Ayah. lebih baik kita...."
"Benar, mari kita susul dia."
Kata In Kiam lalu mengawasi ke arah Kiauw Cian.
"Jika aku tak ada urusan, akan kuhajar dulu dia!"
Maka tanpa banyak bicara ia naik kereta akan ke Thianbak-san.
la tinggalkan rombongan Tong Gie.
Pada saat matahari sudah condong ke barat, kereta yang dinaikinya sampai di mulut gunung Thian-bak-san.
Karena ingat pada Tiang Keng.
mereka sesudah membayar ongkos kereta, mereka langsung naik ke atas gunung.
Mereka tak menghiraukan ada bahaya atau tidak, mereka terus saja mendaki dengan cepat.
Mereka harus melalui jalan yang sukar luar biasa, dan tak berpikir di bagian gunung mana sebenarnya Tiang Keng berada.
Matahari pun mulai terbenam tapi cahaya layung yang kemerah-merahan masih menampakan diri.
Di tempat itu sepi dan keadaan di sekitarnya sunyi senyap.
Jangankan suara orang suara binatang buaspun tak terdengar saat itu.
Tiba-tiba dalam kesunyian itu.
In Kiam dan Tiong Teng mendengar suara yang sangat perlahan.
Mereka mencoba mencari tahu dari mana suara itu.
"Apa kau sudah lapar, betapa gilanya aku. makanan sudah sedia tetapi tak kuberikan padamu...."
Kata suara itu halus.
Itu suara seorang perempuan.
Begitu suara itu berhenti, tiba-tiba muncul Un Kin yang cantik, pada tangan si nona menjinjing sebuah keranjang, la tersenyum manis, lalu membungkuk dan meletakkan keranjang itu di atas rumput yang hijau dan empuk, dan membuka tutup keranjang, ia mengeluarkan sehelai kain hijau yang dia beberkan di rumput.
Ketika itu Un Kin melihat ada bayangan jangkung mengikutinya.
Un Kin tak bangun juga tak menoleh.
"Makanan belum siap kau sudah datang!"
Kata si nona. Saat itu bayangan itu mengangkat tangannya menyerang si nona. Anginnya terasa berkesiur keras. Un Kin kaget.
"Ah tak mungkin dia bukan Tiang Keng!"
Pikir Un Kin. Buru-buru Un Kin bangun, tangannya ia gunakan untuk menangkis serangan itu. Ia membentak dengan nyaring.
"Siapa kau?"
Kata Un Kin. Sepasang tangan beradu keras, tapi keduanya tetap berdiri tegar. Un Kin mengawasi orang yang menyerangnya itu. Ternyata itu memang benar Tiang Keng.
"Hai siapa yang kau bilang menyebalkan?"
Kata Tiang Keng. Keduanya tertawa riang, demikian mereka bergurau.
"Kau mundur agak jauh. kalau tidak aku tak bisa menyiapkan makanan untukmu!"
Kata Un Kin. Dia mendorong tubuh Tiang Keng.
"Baik, baik aku mundur."
Kata Tiang Keng sambil tertawa.
"Nah, kalau begitu baru kau anak yang manis."
Kata Un Kin. Un Kin menoleh sambil tertawa manis. Tiang Keng mengawasi si nona ia perhatikan Un Kin yang sedang bekerja.
"Sudah siap belum?"
Tanya Tiang Keng selang sesaat.
"Sudah, tapi tunggu sebentar lagi."
Kata Un Kin.
"Wah aku sudah lapar nih."
Kata Tiang Keng.
"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi..."
Un Kin kembali tertawa.
"Kalau begitu lekas kemari."
Kata si nona aleman. Tiang Keng menghampiri Un Kin yang sibuk menyiapkan makanan. Tak lama mereka sudah duduk berdampingan lalu mulai makan.
"Bagaimana, enak tidak"
Tanya si nona. Tiang Keng mengangkat tangan lalu ia belai-belai rambut si nona dengan lembut, ia merasa sangat senang.
"Eh. katakan enak tidak?"
Desak si nona. Tiang Keng tertawa.
"Bagi lagi aku sepotong, sepotong kecil mana cukup."
Kata Tiang Keng.
"Dasar setan kelaparan."
Kata Un Kin sambil tertawa manis. Ia mengambil sepotong daging ayam yang ia suapkan ke mulut Tiang Keng.
"Enaaak, sungguh enak!"
Kata Tiang Keng.
"Cuma..."
"Cuma apa?"
Tanya si nona.
"Aku kira kau besanan dengan garam, kalau tidak mana mungkin makanan ini asin!"
Kata Tiang Keng.
"Setan!"
Teriak Un Kin. lalu ia jejalkan kaki ayam ke mulut Tiang Keng.
"Aduh! Aduh!"
Kata Tiang Keng.
"Kenapa?"
Tanya si nona kaget.
"Asiiin!"
Teriak Tiang Keng menggoda.
Tiang Keng tertawa si nona pun ikut tertawa riang.
Kedua anak yatim itu tertawa dan begitu gembiranya mereka, tapi tiba-tiba keduanya diam.
mereka saling mengawasi .
Tiba-tiba mereka mendengar suara binatang malam berbunyi mereka jadi kaget.
"Cuaca semakin gelap..."
Kata si nona. Tiang Keng mengelah napas. Memang alam dengan cepat berubah menjadi gelap.
"Ya. kau lihat rembulan sudah muncul!"
Kata Tiang Keng. Un Kin menunduk.
"Aku tak tahu Un Jie Giok sudah pergi atau belum...."
Kata Un Kin perlahan "Mungkin belum...."
Jawab Tiang Keng.
"Karena sekarang belum bisa dikatakan sudah malam."
Diam-diam Un Kin menangis dan Tiang Keng hanya bisa mengawasinya saja.
Keduanya diam dan lenyaplah kegembiraan yang baru saja mereka rasakan.
Tadi mereka bergembira sejenak, namun kesulitan yang sedang mereka hadapi belum lenyap, bahkan barangkali bahaya sedang mengancam mereka.
Di suatu tempat mereka akan bertemu dengan musuh besanua.
mampukah mereka mengalahkannya.
Tiba-tiba Tiang Keng mengusap bahu si nona.
hingga Un Kin menengadah.
"Tiang Keng. bisakah kau menjawab pertanyaanku?"
Kata si nona.
"Katakan apa?"
"Kenapa suatu pertemuan harus selalu ada perpisahan yang segera datangnya?"
Kata si nona. Tiang Keng mengawasi wajah si nona dan dia berpikir keras. Un Kin menyeka air matanya lalu berkata perlahan.
"Jika besok di saat seperti ini kita bisa berkumpul kembali seperti ini. waktu itu akan kumasakkan daging ayam dan akan kukurangi kecapnya, supaya aku tidak dikatakan berbesan dengan garam..."
Ia memaksakan untuk tertawa manis. Tiang Keng diam saja.
"Ketika kau pura-pura menyerang ku. aku kira itu Pit Su."
Kata si nona. Tiang Keng tetap membisu dan diam saja.
"Pit Su itu lucu. hingga aku tak bisa tidak tertawa."
Kata si nona. Tiang Keng tak menyahut dia tetap diam saja. Un Kin mengawasi anak muda itu ia heran sekali.
"Kau tak senang bicara denganku"
Tanya si nona.
"apa kau tak bisa menyingkirkan kesulitanmu?"
Akhirnya Un Kin menangis karena sedih.
oo BAB 50.
UN JIE GIOK TAK MAU MELEPASKAN TOTOKAN PADA DUA MURID IN HOAN In Kiam dan Tiong Teng mencari di sekitar gunung.
Mereka berusaha terus sampai magrib, dan belum juga mereka menemukan Tiang Keng.
Tak lama rembulan mulai menampakkan diri.
Mereka semakin penasaran dan berkhawatir juga bingung sekali.
"Gunung begini luas tapi kita belum menemukan dia. Bagaimana kalau kita mencarinya secara terpencar. Kau ke sana aku ke sini. siapa yang lebih dahulu menemukan dia harus segera dibawa ke mari. Nanti sekalipun tak bertemu dengannya, jika rembulan sudah tinggi kita berkumpul lagi di sini!"
Kata In Kiam.
"Baik. Ayah."
Kata Tiong Teng.
"Tapi jika berpencar, bagaimana jika Ayah bertemu dengan musuh?"
Sang ayah mengerutkan alis.
"Tiong Teng. apa kau kira karena aku sudah tua jadi sudah tak berguna sama sekali?"
Kata sang ayah.
"Ya. baiklah. Ayah."
Kata sang putera.
"Sekarang kau ingat-ingat tempat ini. kau berangkat ke arah Barat, aku ke sebelah Timur!"
Kata In Kiam.
Tiong Teng kembali mengangguk mengiyakan.
Sesudah itu ln Kiam dengan tak menoleh lagi langsung berlari ke arah Timur.
Tiong Teng menghela nafas.
Ia mengawasi ke sekitarnya.
Tiong Teng berbeda dengan ayahnya, ia tak sabaran, dan langsung berjalan meninggalkan tempat itu.
Baru beberapa langkah ia sudah berpaling ke belakang, la sudah tak melihat ayahnya lagi.
Tiong Teng sekarang hanya mendengar suara angin malam.
Keadaan di sekitarnya sunyi.
Tiba-tiba Tiong Teng mendengar suara tawa yang terbawa angin malam, la heran lalu lari ke arah pepohonan dan melompat naik ke sebuah pohon untuk bersembuny i di balik dedaunan, la bersikap waspada dan karena tak ingin mengandalkan kepandaiannya saja.
la berharap orang yang tertawa itu pemuda yang sedang mereka cari.
Tak lama tampak dua orang sedang berjalan mendatangi.
Wajah mereka kumal.
Salah seorang malah terus-menerus mendumal dan menghela nafas.
Pakaian mereka berwarna kuning.
"'Mengapa harus bersusah hati terus."
Kata yang seorang.
"Itu percuma saja! Aku yakin Un Jie Giok akan membebaskan totokan kita. Ia tidak akan ingkar janji! Sebentar lagi lebih baik kita pergi ke kelenteng itu...."
"Seandainya ia membebaskan totokannya. belum tentu jiwa kita selamat."
Kata kawannya.
"Dosa telah membunuh guru sendiri, itu dosa tak berampun. Thian tak akan mengampuni kita, Tat Jin!"
"Pendapatmu salah."
Kata Tat Jin sambil tertawa dingin.
"Aku yakin tak salah. Coba kau ingat Tentang See Sie dan Hu Cee. Bukankah See Sie telah membunuh suaminya? Apakah ia tak berdosa besar? Tapi orang tidak menyalahkan perbuatannya, malah dia dipuji-puji oleh setiap orang. Dia dikatakan suci bersih! Mengapa bisa begitu, dan tahukah kau apa sebabnya?"
"Tetapi..."
Kata Cio Peng tak meneruskan kata-katanya. Mereka berhenti lalu duduk di bawah pohon tua di atas sebuah batu yang datar.
"Aku heran mengapa kau berpikir begitu."
Kata Tat Jin.
"Bukankah nama guru kita terkenal sangat jahat? Cukup asal kita bisa memberi alasan yang masuk akal. orang Rimba Persilatan akan menganggap kita membunuhnya demi keadilan dan perikemanusiaan. Mereka pasti akan memuji kita! Siapa yang akan menyalahkan kita"
"Tetapi...."
Cio Peng kembali bimbang. Ia awasi sahabatnya. Tiba-tiba ia tenawa.
"Kau benar! Ya, kau benar!"
Tat Jin tersenyum.
Hati mereka lega keduanya tertawa berderai.
Di atas pohon Tiong Teng jadi heran.
Matanya menyala.
Karena gusar hampir saja ia melompat turun karena sudah tak sabar.
Ia yakin saat itu ia bertemu dua orang murid durhaka, mereka membunuh guru mereka.
Ketika ia akan melompat ia melihat ada bayangan yang sedang mendatangi.
"Ah, apa itu Un Jie Giok yang datang"
Pikir Tiong Teng.
Terkaan Tiong Teng benar, memang itu bayangan Un Jie Giok.
Dengan cepat ia telah sampai ke tempat kedua orang itu.
Hati Tiong Teng berdebar-debar.
Begitu sampai Un Jie Giok tertawa dingin.
"Apa kalian sudah melaksanakan perintahku itu?"
Kata Un Jie Giok dingin.
"Sudah!"
Jawab Tat Jin dan Cio Peng hampir bersamaan.
"Bagus!"
Kata Un Jie Giok. Dengan tak menghiraukan kedua orang itu ia melompat lari ke sebuah tikungan.
"Loo-cian-pwee!"
Teriak Tat Jin memanggil nyonya tua itu. Jie Giok berpaling.
"Ada apa?"
Tanya Jie Giok.
"Bagaimana mengenai totokan Cit-ciat-tiong-cit atas diri kami...."
Kata Tat Jin cemas bukan main.
"Ini sudah hampir duabelas hari.. ."
Sambil tertawa dingin Jie Giok menjawab.
"Masih ada waktu 30 jam."
Katanya. Bukan main kagetnya kedua orang itu. Tat Jin berkata dengan lirih.
"Sesuai perintah Loo-cian-pwee. kami telah menaruh racun pada teh untuk guru kami. Kami juga melihat sendiri, guru kami meminumnya, maka kami mohon Loo-cian-pwee..."
"Kau taat pada perintahku, itu bagus!"
Kata Jie Giok.
"Tetapi aku ingin bertanya siapa yang menyuruh kalian meracuninya?"
"Tetapi, Loo-cian-pwee yang .."
Kata Cio Peng yang kaget dan gugup.
"Coba kalian pikirkan lagi."
Kata Un Jie Giok.
"Apa yang kukatakan tadi malam? Apa yang aku katakan dan apa yang kujanjikan pada kalian?"
Dengan tubuh gemetar Cio Peng menjawab.
"Tetapi..Tapi..."
Cio Peng tak bisa meneruskan katakatanya. Un Jie Giok tertawa.
"Bukankah aku hanya melemparkan obat itu ke tanah?"
Kata Un Jie Giok. Tat Jin mengangguk.
"Tapi Loo-cian-pwee juga berkata...."
"Aku bilang apa?"
Kata si nyonya.
"Kau bilang obat itu tanpa tanpa rasa, jika dicampur ke dalam air teh atau arak itu boleh saja. Lagi pula..."
Tat Jin ragu-ragu ia tak meneruskan kata-katanya.
"Kau berbakat dibanding anak-anak yang lain."
Kata Jie Giok.
"Ingatanmu juga kuat. Semua yang kukatakan, kau masih ingat dengan baik. Sekarang katakan, apa aku pernah menyuruh kau mencampur obat itu agar ln Hoan keracunan?"
Kedua pemuda itu saling mengawasi. Tiba-tiba keduanya berlutut di depan nyonya tua itu.
"Karena kami masih muda kurang periksa, kami harap Loo-cian-pwee menyelamatkan jiwa kami..."
Kedua pemuda itu memohon. Un Jie Giok tertawa dingin.
"Bukankah aku tak menyuruhmu meracuni gurumu?"
"Kau benar, kau tidak langsung memerintahkan kami. Loocian-pwee."
Kata Tat Jin sambil berlutut.
"Karena aku tak menyuruh kalian, lalu kapan aku berjanji akan membebaskan kalian dari totokan?"
Kata Jie Giok.
"Sekalipun tidak berjanji, akan tetapi..."
Kata Tiat Tat Jin. Tiba-tiba Jie Giok tertawa dingin dan lama. suaranya tajam dan tak sedap didengar. Mendengar pembicaraan itu Tiong Teng gemetar sendiri.
"Ilmu totok Cit-coat-tiong-ciu yang sudah ratusan tahun itu sudah hilang. Sedang yang mengerti ilmu itu hama tinggal seorang. Itu aku! Orang yang bisa membebaskannya juga hanya tinggal seorang. Tahukah kau siapa orang itu?"
Kedua pemuda itu kaget, tapi setelah berpikir sejenak mereka menjawab sekenanya.
"Cuma Loo-cian-pwee..."
Kata Tat Jin. Jie Giok tertawa lagi.
"Bukan. Kau salah, orang itu bukan aku."
Kata Jie Giok. Tat Jin kaget tanpa merasa ia bertanya.
"Lalu siapa?"
Setelah tertawa dingin nyonya itu berkata dengan suara perlahan.
"Orang itu In Hoan yang kalian racun!"
Kata Jie Giok. Kedua pemuda itu kaget tak terkecuali Tiong Teng yang sedang mendekam di atas pohon. Wajahnya demikian pucat.
"Loo-cian-pwee. tolong kami. kata Tat Jin meratap.
"Hai apa kau kira aku sedang membohongi kalian?"
Kata Jie Giok dengan suara dingin.
"Mana berani kami menuduh demikian."
Kata Tat Jin.
"Dulu saat kudapatkan kitab ilmu totok, itu terdiri dari dua jilid."
Kata Jie Giok.
"Kitab yang satu tentang teori dan cara menggunakan ilmu totok itu.
sedang yang lain mengenai memecahkan rahasia ilmu itu dan cara membuat obat pemunahnya.
Ketika itu aku..
Ia menengadah ke langit, sinar matanya tajam.
Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.
"Tatkala itu. aku yakin sekali gurumu itu orang baik. maka aku tak curiga. Tak dikira..."
Sejenak ia berhenti bicara, wajahnya berubah dingin.
"Siapa tahu mukanya saja muka manusia, tapi hatinya hati binatang! Saat aku sedang semedi selama 61 hari untuk belajar ilmu totokan itu. dia mencuri barang-barang berharga milikku dan kitab yang se
Jilid lagi...."
Baru sekarang Tiong Teng tahu.
bagaimana hubungan Un Jie Giok dengan ln Hoan.
Dengan hati berdebar-debar tanpa merasa ia mandi keringat dingin.
Ia sadar, jika ia kepergok.
Terutama ia malu mencuri dengar pembicaraan orang....
Malam merayap semakin gelap dan larut, keadaan di sekitarnya gelap dan wajah Jie Giok pun tak jelas namun suaranya jelas sekali.
In Tiong Teng mengira, pikiran Jie Giok sedang terganggu oleh rasa cinta dan benci kepada I n Hoan.
Cio Peng dan Tat Jin masih berlutut di depan Un Jie Giok.
Mereka hanya bisa saling mengawasi dengan perasaan cemas bukan main Terdengar Jie Giok tenawa dingin, mirip suara burung hantu yang menyeramkan.
"In Hoan! In Hoan! Aku kira aku sudah cukup baik kepadamu! Kiranya di jalan yang gelap kau tak kesepian, karena tak lama lagi kedua muridmu yang sangat kau cintai akan segera menyusul.....*"
Sesudah itu ia kibaskan ujung bajunya, lalu berjalan ke balik gunung. Cio Peng melompat ia hendak menyerang perempuan iblis itu. tapi Tat Jin menarik sang kawan.
"Kau mau apa?"
Tanya Tat Jin.
"Apa kau sanggup mengalahkan hantu perempuan itu?"
Mata Cio Peng melotot dan berputar-putar.
"Sekalipun aku bukan lawannya, aku ingin mengadu jiwa dengannya!"
Kata Cio Peng.
"Buat apa...."
Tat Jin mendadak tertawa.
"Apa kita sudah tak punya harapan hidup lagi?"
Kata Tat Jin. Cio Peng melengak.
"Tak mustahil Tak mustahil..."
Kata Cio Peng. Tat Jin menyeka debu di lututnya, wajahnya cerah sekali.
"Coba kau renungkan baik-baik."
Kata Tat Jin.
"Bukan saja kita masih punya harapan hidup, bahkan kita bakal mendapat kebaikan...."
Cio Peng melengak.
Sedang Tiong Teng yang ada di atas pohon keheranan karena tak bisa menerka jalan pikiran kedua pemuda itu.
Tiat Tat Jin mengeluarkan jari tangannya, jempol dan jari tengah, ia mengadukan kedua jari itu hingga mengeluarkan suara cetrek dari tangannya itu.
"Jika kitab itu berisi cara membebaskan totokan. maka cukup jika kita pulang untuk mencari kitab itu!"
Kata Tat Jin.
"Maka kita akan tertolong!"
Mendengar hal itu Cio Peng kelihatan girang sekali.
"Kau benar, kau pandai dan cerdik, aku tak bisa melawan kecerdasanmu!"
Kata Cio Peng.
"Tetapi di mana kitab itu disimpan oleh Suhu?"
Tiat Tat Jin diam. ia kelihatan kurang puas oleh ucapan adik seperguruannya itu. Cio Peng heran melihat kakak seperguruannya itu. tapi ia segera mengerti.
"Suheng, maafkan aku."
Kata Cio Peng.
Tiong Teng di atas pohon merasa kurang senang pada kedua orang yang ia kira jahat itu oo BAB 51.
CIO PENG DAN TIAT TAT JIN AKHIRNYA TEWAS MENGENASKAN Tiat Tat Jin mengawasi adik seperguruannya itu.
ia bergumam dengan suara dingin.
"Seharusnya, kau tahu di mana Suhu menyimpan kitab itu!"
Kata Tat Jin.
"Kau salah karena kau kurang perhatian...."
Ketika kata-kata Tiat Tat Jin baru saja berhenti, tiba-tiba terdengar suara yang nadanya sangat dingin.
"Ya. kalian seharusnya tahu di mana aku menyimpan kitab itu!"
Kata suara yang sangat mereka kenal.
Bukan main terkejutnya Tiat Tat Jin dan Cio Peng ketika mendengar kata-kata itu.
Karena mereka tahu siapa orang yang berkata itu.
Berbeda dengan Tat Jin.
Cio Peng begitu mendengar suara itu.
langsung siap untuk kabur.
Sedang Tiat Tat Jin segera berlutut memberi hormat, namun tubuhnya sangat kemah karena ketakutan.
Tak lama kelihatan berkelebat sebuah bayangan disusul tawa dinginnya.
Tubuh orang itu melayang turun dari atas pohon besar dan jatuh tepat di hadapan Cio Peng yang hendak kabur.
"Hm! Jahanam, kau masih berpikir hendak kabur?"
Kata suara orang itu. Cio Peng mundur sebanyak tujuh langkah dari depan orang itu.
"Suhu!"
Ia memanggil.
Memang benar orang itu adalah In Hoan.
guru mereka.
Di atas pohon Tiong Teng melihat bayangan itu turun dengan gesit, orang itu mengenakan kopiah tinggi dan tubuh orang itu jangkung.
Selangkah demi selangkah imam itu mendekati Cio Peng yang masih gemetar karena takut.
"Dasar manusia goblok, mana mungkin kau bisa menghindari gurumu ini! Kau sangat jahat tetapi kau tidak berdaya, kau memang harus mampus!"
Kata In Hoan geram sekali. Sambil mendekam di tanah kepala Cio Peng berulang-ulang mengangguk ke arah In Hoan.
"Memang muridmu ini pantas mati!"
Kata Cio Peng. Mata ln Hoan yang bengis mengawasi muridnya yang murtad itu.
"Memang pada masa sekarang ini sudah lumrah orang yang kuat menelan yang lemah... Karena saat ini orang harus bergulat keras saling berebut untuk bisa hidup! Aku tidak menyalahkan kalian berdua, tetapi kalian semua tolol sekali! Kalian tak bisa membuat gurumu senang, lebih baik kalian mati saja semua!"
Kata In Hoan. Mendengar kata-kata In Hoan tersebut. Tiong Teng yang berada di atas pohon jadi ngeri. Dia tak mengira seorang guru bisa begitu sadis terhadap muridnya.
"Suhu...."
Cio Peng memohon.
"Seumur hidupku memang aku tak pernah berbuat baik."
Kata In Hoan.
"Hanya, gurumu ini saat berbuat jahat selalu menggunakan otaknya dengan baik. Itu sebabnya hingga sekarang ini gurumu selalu selamat. Orang-orang tak berdaya terhadap aku. Ketahui olehmu, berbuat jahat harus dibarengi dengan keberanian dan kepandaian, jika tidak maka kalian akan gagal. Kakakmu Tat Jin lumayan dibandingkan dengan kau. Cio Peng!"
Mendadak kaki In Hoan melayang ke arah Cio Peng dan sang murid ini tak sempat lagi menghindar dari serangan yang hebat itu.
Maka tak ampun lagi.
sambil menjerit keras tubuh Cio Peng pun terpental, lalu jatuh bergulingan.
Saat itu juga nyawanya melayang..
Tiat Tat Jin terus mendekam di tanah dengan ketakutan.
Ia tak berani mengawasi gurunya.
Sedang Tiong Teng yang ada di atas pohon kaget, tanpa terasa keringat dingin membasahi tubuhnya.
Setelah menendang Cio Peng.
ln Hoan berjalan ke arah muridnya yang lain.
Matanya mengawasi si murid dengan tajam luar biasa.
"Apa tadi kau sudah melihat contoh yang kuberikan?"
Tanya ln Hoan.
"Sudah. Suhu..."
Jawab Tat Jin.
"Jika kau sudah melihatnya, apa yang ada dalam pikiranmu sekarang"
Tanya In Hoan.
"Jika aku gagal mencarikan obat untuk Suhu."
Kata Tat Jin.
"Maka aku mohon Suhu bersedia menolong jiwaku.... Atau..."
In Hoan tertawa dingin.
"Hm! Kau mengira kau ini cerdik, sehingga kau bisa membohongi aku?"
Kata In Hoan. Tat Jin melengak. ia awasi gurunya.
"Tadi malam, saat kalian berdua pulang sudah kuperhatikan wajah kalian yang bingung dan cemas."
Kata In Hoan.
"Terlebih Cio Peng. sikapnya sangat tak wajar! Semua itu tak lepas dari pengawasanku. Saat aku pura-pura akan buang air kecil, sayup-sayup kudengar kau menyuruh Cio Peng menaruh racun di cawanku. Semua kuperhatikan. Tetapi ketika itu aku belum tahu, siapa yang menyuruh kalian meracuniku. Saat kalian meninggalkan aku sebentar, maka kuganti cawan minumku dengan yang baru. Ketika kalian kembali, air di cawan itu kuminum sehingga kalian mengira aku berhasil kalian racuni..."
Mendengar penuturan itu Tat Jin hanya menunduk. Dia kagum oleh kecerdikan gurunya "Pagi-pagi sekali."
In Hoan melanjutkan.
"'Kalian berdua lama berdiri di depan kamarku, tetapi kalian tak berani masuk untuk memeriksa, apakah aku benar-benar sudah mati atau belum. Kemudian kalian buru-buru pergi. Lalu aku mengikutimu sampai di sini. Saat kalian bicara dengan Un Jie Giok tadi. semua telah kudengar dengan jelas..."
Diam-diam Tiong Teng menghela nafas panjang.
"In Hoan ini sangat cerdik! Kecerdikannya itu sangat membantu kejahatan yang dilakukannya,"
Pikir Tiong Teng.
"Peran seperti dia harus segera disingkirkan! Kejahatannya melebihi seekor binatang, mana boleh dibiarkan terus..."
Oleh karena berpikir begitu Tiong Teng memutar otaknya mencari jalan untuk menyingkirkan imam jahat itu.
Tetapi, sebelum Tiong Teng bertindak, tiba-tiba ia mendengar suara bentakan nyaring dari balik gunung.
"in Hoan! Perbuatan kejimu itu bisa dianggap tak adil..."
Kata suara itu.
Begitu suara orang itu selesai, tubuh orang itu melayang turun.
Tangan orang itu terangkat dan terayun ke arah Tiat Tat Jin.
disusul oleh suara jeritan pemuda itu yang mengerikan.
Tubuh Tat Jin bergulingan dan berhenti dekat tubuh Cio Peng.
nafasnya langsung berhenti.
Kelihatan ln Hoan kaget bukan main.
ia mengenali suara dan orang yang baru muncul itu.
"Kedua muridmu itu sama jahatnya."
Kata Un Jie Giok yang muncul secara tiba-tiba.
"Jika yang seorang kau bunuh sedang yang lain kau biarkan hidup, itu kurang adil. Maka itu tadi aku telah mewakilimu membunuhnya!"
Wajah In Hoan beberapa kali berubah-ubah. sebentar merah sebentar pucat. Tiba-tiba ln Hoan tertawa perlahan.
"Bagus! Akupun berpikir demikian!"
Kata In Hoan sambi tersenyum pahit.
"Dua muridku itu murtad, tak layak mereka dibiarkan hidup!"
"Hm!"
Un Jie Giok mengeluarkan suara dari hidungnya. In Hoan tersenyum, wajahnya kini jadi semakin berseri-seri.
"Jie Giok."
Kata In Hoan dengan halus.
"Sudah lama kita tidak saling bertemu, tidak kusangka tenyata kau masih seperti dulu!"
Kemudian terdengar In Hoan menghela nafas panjang.
"Selama kita tak saling bertemu."
Kata In Hoan lagi.
"Aku selalu mengingat dan mengenangmu, tetapi sekarang aku telah menjadi tua...."
"Hm!"
Lagi-lagi Jie Giok mengeluarkan suara. In Hoan mengelus jenggotnya sambil menghela nafas perlahan.
"Ya. tak kukira, bulan dan tahun terus mendesak manusia. ."
Kata In Hoan lagi.
"Sang waktu pergi untuk tidak kembali... Setiap kali aku teringat semasa kita pernah hidup bersama bertahun-tahun lamanya, aku jadi berduka sekali.... Jie Giok. ingatkah kau saat kita duduk berdua memandangi sang rembulan di puncak gunung? Di sana. ketika itu kita minum arak bersama-sama. Saat itu kita pun saling mendoakan agar kita sama-sama panjang umur... Ah. tak hentinya aku memikirkan dirimu dan aku merasakan kiranya sang waktu sangat singkat. Memang benar pepatah mengatakan tidak ada pesta tanpa akhir. Itu yang dikatakan bahwa lebih baik tidak bertemu daripada harus bertemu. Bukan benar begitu. Jie Giok?"
Sambil berkata ln Hoan terus mengawasi wajah wanita jelek di depannya. Dia ingin tahu reaksi wanita jelek itu. Ia lihat Jie Giok sedang mengawasi ke arahnya dengan mata yang tajam dan bengis.
"Semua itu teringat lagi. tapi sayang itu sudah berlalu..."
Kata In Hoan Tiba-tiba Un Jie Giok tertawa dingin.
"Jika aku mendengar kata-katamu itu beberapa tahun yang lalu. aku memang agak khawatir... Tetapi kini hm! Hm!"
Kata Un Jie Giok.
"'Memang waktu telah berlalu, hanya keadaannya masih tetap sama! Dulu dan sekarang apa bedanya?"
Kata In Hoan. Un Jie Giok kembali tertawa dingin.
"Mungkin orang akan terperangkap oleh kata-katamu!'"
Kata Jie Giok.
"tapi sayang, kau mengatakannya hari ini. dan aku sudah bosan mendengarnya!"
Mendengar ucapan itu In Hoan melengak. Matanya jelalatan. tetapi ia memaksa untuk tertawa.
"'Jie Giok. aku tahu bagaimana persasaanmu saat ini."
Kata In Hoan.
"Aku kira kau salah mengerti tentang diriku, tetapi aku...."
"'Tutup mulutmu!"
Kata Jie Giok sengit. Jie Giok menundukkan kepalanya lalu menghela nafas panjang. Ketika ia angkat kepalanya, ia berkata lagi.
"Seperti katamu tadi. sang waktu sudah berlalu dan aku sudah terlalu tua.... ya sudah tua!""
Dia awasi In Hoan dengan tajam, mendadak dia tertawa nyaring. Sementara itu In Hoan coba bersabar.
"Jie Giok. kau belum tua.""
Kata ln Hoan "Cuma kau..."
Un Jie Giok kembali tertawa dingin.
"Jika seseorang menjadi tua dia akan mirip dengan siluman."
Kata Jie Giok. Tidak! Aku tak bisa kau akali lagi. Sampai saat ini kau masih menganggap dirimu pintar! Kau anggap kau lebih pintar dariku. Tetapi, sungguh kau tak sadar bahwa aku pandai melebihimu!"
Mendengar kata-kata itu In Hoan batuk sekali.
"Itu betul. Kepandaianmu memang melebihiku."
Kata ln Hoan. Pujian ini seolah-olah tak didengar oleh Un Jie Giik.
"Hm! Memang sudah kuduga, kedua muridmu yang tolol itu tidak akan berhasil meracunimu!"
Kata Un Jie Giok dingin.
"Aku juga sudah menduga bahwa kau akan datang menyusul mereka ke mari. Dan ternyata dugaanku itu benar sekali!"
Suara Jie Giok jelas ia sangat girang karena dugaannya tidak meleset.
"Dulu aku selalu jatuh ke dalam tanganmu, tetapi sekarang telah tiba giliranku."
Kata Un Jie Giok.
In Hoan menghela nafas lalu menunduk, tetapi matanya ia permainkan, la berpura-pura lunak, sebenarnya ia sedang berpikir keras.
Sikap ln Hoan ini tak lepas dari perhatian Un Jie Giok.
"Hm! ln Hoan. kau jangan berpikir yang bukan-bukan dan mencari jalan untuk lolos dariku!"
Kata Un Jie Giok keras.
"Kuperingatkan padamu, akhir-akhir ini aku tekun mempelajari ilmu meringankan tubuh. Jika kau kira aku bohong, boleh kau coba!"
Tiba-tiba perasaan In Hoan dingin.
"Ah dia bilang dia berlatih ilmu meringankan tubuh."
Pikir ln Hoan.
"Kalau begitu, ilmu silat yang lainnya agak ia abaikan. Jika sekarang kulawan dia dengan mati-matian, belum tentu aku kalah olehnya..."
Hati In Hoan tiba-tiba jadi tenang kembali. Un Jie Giok mengawasi In Hoan dengan tajam.
"Jangan coba melawanku."
Kata Jie Giok tajam.
"Soal ilmu silat aku rasa kau tak akan mampu mengalahkanku! Kau camkan saja. satu di antaranya. Mengenai ilmu silat tangan kosong Cit-keng-pit-kip saja. tak nanti kau bisa menghadapinya. Jika kau tak percaya boleh kau coba sekarang juga!"
In Hoan mendongak, kemudian ia menghela nafas panjang.
"Sudah lama aku berpikir ingin menemuimu."
Kata ln Hoan kemudian.
"Sekaipun hanya untuk sekali saja. Oleh sebab itu mana mungkin aku berniat pergi dari hadapanmu, apalagi akan melawanmu? Kau berpikir terlalu jauh. Jie Giok!"
Un Jie Giok tertawa lagi.
"Kau bilang aku berpikir terlampau jauh? Hm! Benarkah itu? Apa yang sedang kau pikirkan, pasti kau tahu jawabannya!"
Kata Un Jie Giok sengit.
"Yang sedang kupikirkan ialah tentang Dunia Persilatan yang kacau-balau."
Kata ln Hoan.
"Kita sudah berusia lanjut, aku pikir lebih baik kita cari sebuah tempat yang aman dan tenteram, di sana kita bisa hidup bahagia melewatkan hari tua kita..."
Kata-kata ln Hoan selain halus juga menarik hati.
Tiba-tiba Un Jie Giok menundukkan kepalanya.
Jie Giok solah-olah tertarik oleh rayuan si imam yang cerdik ini.
Mata In Hoan bersinar terang saat melihat Jie Giok menundukkan kepalanya, maka ia berulang-ulang tersenyum.
"Jie Giok. dengar olehmu."
Kata In Hoan lembut. ' "
Kau telah hidup menjagoi di Dunia Persilatan selama bertahuntahun, tetapi apa yang kau peroleh sekarang ini.
tak lain di dalam hatimu hanya ada aku!
Dan seperti juga di dalam hatiku, hanya ada kau......"
Suara In Hoan halus, tiba-tiba tangannya mengusap matanya yang berair karena tangis, ln Hoan sangat terpengaruh oleh kata-katanya sendiri hingga ia menundukkan kepalanya.
Jie Giok mendadak tertawa keras sekali.
"Di hatimu ada aku. di hatiku ada kau?"
Ujar Un Jie Giok nyaring.
"Sisa hidup kita.
"Dia berhenti sejenak.
"Dengarkan katakataku, bagiku aku sudah tak memikirkan lagi untuk hidup lebih lama lagi! Maukah kau mati bersamaku?"
Ln Hoan kaget mendengar pertanyaan itu. ia terpaksa tertawa.
"Mengapa kau berkata begitu. Jie Giok? Bukankah tubuhmu masih segar-bugar. Aku kira kau masih bisa hidup sepuluh tahun atau dua puluh tahun lagi.. ."
Kata In Hoan.
"Jadi kau tak mau menemaniku mati?"
Kata Un Jie Giok dingin.
"Tidak! Aku tak menyesalimu! Kau boleh berbuat tak selayaknya terhadapku, aku tak bisa membunuhmu.. Bagiku, aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku sekali lagi...."
Suara Un Jie Giok keras, lama-lama berubah menjadi perlahan ia agaknya menyesal dan penasaran...
Saat itu segumpal awan hitam lewat menutupi sang Puteri Malam, hingga malam pun semakin larut saja...
oo BAB 52.
PENUTUP Di tempat lain masih di sekitar Thian-bak-san.
dua mudamudi Tiang Keng dan Un Kin sekarang hanya berduaan saja.
"Malam semakin larut...."
Kata Un Kin. Tiang Keng mengawasi ke sekitar tempat itu.
"Kuil tua itu sudah ada di depan kita. tetapi kita tak tahu apakah Un Jie Giok sudah ada di sana atau belum?"
Kata Tiang Keng.
"Dia bilang akan ke sana. pasti ia akan ke sana!"
Kata si nona meyakinkan.
Ia menarik tangan pemuda itu untuk diajak berjalan bersama-sama.
Mereka berjalan bergandengan hingga sampai di depan kuil dan mereka langsung masuk ke dalam kuil.
keadaan di sana masih seperti kemarin ketika mereka ada di situ.
Terlihat patung Buddha yang wajahnya lembut, tetapi hati kedua muda-mudi ini malah berdebar-debar Kemudian mereka saling mengawasi lalu mereka menunggu dan duduk berendeng, otak mereka bekerja keras.
Saat itu hati mereka jadi tak tenteram, mereka tak tahu mau bicara apa.
Tak lama terlihat cahaya api dan dua bayangan orang sedang mendatangi, tubuh keduanya langsing dan mereka berjalan dengan sangat hati-hati sekali.
"Oh kalian berdua pun sudah datang?"
Kata Tiang Keng dan Un Kin. Salah seorang dari nona itu tertawa. Dia adalah Siauw Tin. Dia meletakkan dua buah pelita di atas altar sembahyang. Tiba-tiba Siauw Keng berkata.
"Sejak tadi kami sudah menunggu, barangkali Couw-ko pun akan segera tiba!"
Kemudian kedua nona itu berdiri dekat tembok, mereka tak mau mengawasi ke arah Tiang Keng maupun Un Kin Tak heran sekalipun di pendopo itu ada empat orang karena tak ada yang bicara maka keadaan di situ tetap sunyi.
Mungkin hanya hati mereka yang berdebar-debar.....
Angin yang dingin bertiup ke dalam pendopo.
Daun-daun pepohonan pun tertiup angin yang kadang-kadang agak keras hingga daun-daun itu rontok dan berjatuhan ke tanah.
Tibatiba bersamaan dengan daun yangromtok berjatuhan dan masuk ke dalam pendopo.
melayang sebuah bayangan orang ikut masuk.
Empat orang yang ada di dalam pendopo semua menoleh ke arah orang itu.
Sesudah melihat tegas siapa orang itu.
mereka berteriak kaget.
"Kau. .!"' kata mereka hampir bersamaan. Orang itu tersenyum. Dia ternyata ln Hoan.
"Kalian tak menyangka, bukan?"
Kata ln Hoan sambil tertawa. Sambil menggendong tangan ln Hoan berjalan hilir-mudik. Tak lama ia langsung berhadapan dengan Tiang Keng dan berkata dengan sabar.
"Kuucapkan selamat padamu, karena hari ini sakit hati orang tuamu akan terbalas!"
La melangkah ke arah tembok. Tiang Keng heran, ia jadi curiga tetapi diam saja. Tidak berapa lama satu bayangan lain melompat masuk ke dalam pendopo. Siauw Tin dan Siauw Keng berseru.
"Couw-ko tiba!"
Hati Tiang Keng dan Un Kin bergolak, darah mereka mendidih.
"Ternyata kalian sudah datang lebih dulu!"
Kata Un Jie Giok dingin. Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi. Un Jie Giok tertawa meringis.
"Aku tahu perasaan kalian untuk membalaskan sakit hati orang tuamu, pasti kalian tak sabar!"
Kata Jie Giok.
"Benarkah begitu?"
"Karena dendam orang tua kami. maka kami tak bersedia hidup bersama dengan musuh kami!"
Kata Tiang Keng.
"Sebelum kami balas dendam, sehari pun kami tak bisa tidur tenang!"
Un Jie Giok tertawa dingin.
"Sekarang musuh besarmu itu ada di depanmu! Tetapi aku ingin bertanya, sudah berapa tinggi ilmu silatmu dan mampukah kau membalas dendam sekarang?"
Kata Un Jie Giok. Alis Tiang Keng berdiri.
"Hari ini aku dalang dengan tak menghiraukan jiwaku!"
Kata Tiang Keng dengan gagah. Kembali Un JieGiok tertawa dingin.
"Kau memang bersemangat!"
Kata Un Jie Giok.
"Ketahui olehmu, seumur hidupku aku belum pernah memberi kesempatan pada orang lain!"
Mendadak Jie Giok mengeluarkan dua batang bambu yang bersinar kuning keemasan dari sakunya. Kemudian ia berkata lagi dengan dingin.
"Ini dua buah bumbung jarum Ngo-in-hong-jit-touw-simciam1"
Kata Jie Giok "Dua bumbung ini yang satu berisi jarum itu dan yang satu lagi kosong!
Sekarang kau ambil salah satu bumbung ini.
jika kau berhasil mengambil yang berisi jarum, maka kau akan berhasil membalas dendam Sebaliknya jika bukan yang berisi jarum...hm!
Hai ln Hoan.
ambil kedua bumbung ini.
pesilakan dia mengambil salah satu bumbung ini untuk memilihnya!"
In Hoan kelihatan ragu-ragu.
matanya menunjukkan sinar tajam.
Perlahan-lahan ia menghampiri si nyonya tua untuk mengambil kedua bumbung bambu itu dari tangan si nyonya.
Sesudah itu dia berbalik dan berjalan dengan perlahan sekali, tapi tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dengan cepat, sambil berbalik kedua tangannya ia majukan dipakai menyerang ke arah si nyonya jelek!
Terdengar suara dari dua bumbung bambu itu.
alatnya bekerja.
Kemudian disusul suara tawa si imam yang tak sedap didengar, tetapi.....
Ternyata dari kedua bumbung itu tak ada jarum yang keluar.
Kiranya kedua bumbung itu kosong tak berisi jarum beracun!
Tak lama terdengar lagi suara tawa In Hoan disusul suara lawa Un Jie Giok.
nadanya mengejek.
In Hoan kaget, ia melompat mundur tiga langkah dan sepasang matanya mendelong....
Un Jie Giok tertawa lagi.
"Salah! Kembali kau salah selangkah, kau tertipu oleh akalku!"
Kata Un Jie Giok.
Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi, bukan main herannya mereka.
Setelah mengawasi ke arah Un Jie Giok.
mereka menoleh mengawasi ln Hoan.
Wajah ln Hoan berubah pucat bagaikan kertas putih.
"Seumur hidupmu belum pernah kau berbuat kebaikan!"
Kata Jie Giok dengan tajam ke arah In Hoan.
"Kemampuanmu hanya mengelabuhi orang saja. Sudah lama aku ingin menyingkirkanmu. tetapi selalu gagal. Hari ini sebenarnya aku akan membebaskan jiwamu, asal kau tak memperdayaiku lagi dan akan kuizinkan kau pulang masih bernyawa!"
Saat Un Jie Giok bicara selangkah demi selangkah ln Hoan mundur teratur.
Tetapi Jie Giok juga tak tinggal diam.
ia juga maju selangkah demi selangkah mengikutinya.
Tanpa terasa In Hoan telah didesak oleh Un Jie Giok.
Sambil melangkah maju kembali Jie Giok mengeluarkan dua buah bumbung bambu kuning.
Setelah In Hoan terdesak sampat di tembok, baru Jie Giok bicara.
"Jika dulu saat di puncak Sie-sin-hong di gunung Hong-san tak ada kau."
Kata Jie Giok.
"Suami-isteri itu tentu tak akan memilih jalan kematian! Begitupun anak Kin. jika bukan karena kau yang mengoceh yang bukan-bukan, dia tak akan....."
Mendadak Un Jie Giok berhenti bicara, la mengawasi ke arah Tiang Keng.
"Tiang Keng. ke mari kau!"
Kata Un Jie Giok nyaring.
Tiang Keng kaget tapi ia tetap melompat maju ke arah Jie Giok.
Tanpa menoleh Un Jie Giok menyerahkan kedua bumbung bambu itu kepada Tiang Keng.
Kemudian Un Jie Giok berkata nyaring.
"Kau ambil salah satu bumbung ini. imam ini juga musuh besarmu yang telah membunuh orang tuamu..."
Tiang Keng bersikap tenang saat ia menyambut salah satu bumbung itu. lalu bumbung itu ia kembalikan pada Jie Giok.
"Sakit hatiku memang luar biasa, tapi untuk membalas dendam itu aku tak perlu bantuan orang lain. aku malu menerimanya..."
Kata Tiang Keng. Sebelum Tiang Keng selesai bicara, tiba-tiba ln Hoan melompat naik ke tembok, ia melompat sejauh tiga tombak.
"Hm! Kau masih berpikir mau kabur?"
Bentak Jie Giok pada ln Hoan.
Mendadak tubuh Un Jie Giok berbalik dan sebelah tangannya terayun.
Dari sana lima sinar kuning melesat dengan cepat luar biasa ke arah In Hoan.
Menyusul sinar emas itu terdengar suara benda berat terjatuh ke lantai.
Kiranya Ban-biauw Cin-kun yang ilmu meringan kan tubuhnya mahir itu ternyata tak mampu menandingi kecepatan senjata rahasia milik Un Jie Giok hingga ia roboh tak berdaya...
Un Jie Giok tertawa sejenak.
Kelihatan dia puas sekali.
Kemudian suasana di pendopo itu sunyi.
Un Jie Giok berdiri diam.
Matanya yang sayu mengawasi tubuh In Hoan.
Kemudian dia berjalan perlahan, rambutnya terurai tak teratur karena sudah dua hari tak diurus.
Namun rambut itu melambai-lambai tertiup angin malam yang dingin.
Sinar pelita di atas altar sembahyang cahayanya redup dan bergoyang-goyang tertiup angin malam.
Detik-detik berlalu dalam keadaan sunyi.
Sampai tiba-tiba si nyonya membalikkan tubuhnya, ia awasi Tiang Keng dan Un Kin secara bergantian.
Kedua muda-mudi mengawasi dengan mata mendelong.
mungkin mereka terkejut menyaksikan kejadian di depan mata mereka tadi.
Kemudian Jie Giok berkata dingin.
"Kalian mau balas dendam, mengapa kalian diam saja?"
Dua bumbung bambu yang tadi tak diambil Tiang Keng oleh Jie Giok dilemparkan ke arah mereka berdua.
"Jika kalian mau menggunakan senjata itu. silakan kalian gunakan!"
Kata Jie Giok dingin.
Hawa udara sangat dingin saat In Tiong Teng harus kembali ke tempat yang dijanjikan ayahnya.
Ketika Tiong Teng sampai tempat itu sunyi.
Ayahnya belum kelihatan.
Tiong Teng jadi khawatir hingga ia tak tenang.
Tadi Tiong Teng melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya dan mendengar sesuatu yang belum pernah didengar.
Menurut Tiong Keng yang paling aneh adalah kata-kata Siu-jin Un Jie Giok "Aku hanya ingin kau melakukan suatu pekerjaan lagi.
Tunggu sampai aku mati.
kau harus berusaha menyampaikan pesanku.
Katakan bahwa Nio Tong Hong ayahnya dan Beng Jie Kong bukan ibunya!"
Kata Un Jie Giok ketika itu. Tiong Teng melihat In Hoan mengangguk, ln Hoan berjanji akan menyampaikan pesan itu.
"Sungguh Un Kin harus dikasihani."
Kata Jie Giok dengan suara mengharukan sekali.
"Dia tak akan menyangka bahwa musuhnya atau orang yang membunuh ayahnya adalah ibu kandungnya sendiri. Mana tega aku memberitahu dia. Aku tak bisa..."
Tiong Teng ingat kata-kata itu dengan baik. Tiong Teng jadi berpikir keras. Ia tak tahu duduk persoalannya, tapi ia sudah menerka beberapa bagian. Kembali terdengar Un Jie Giok bicara.
"Nio Tong Hong jahat padaku, sama jahatnya seperti kau padaku."
Kata Jie Giok pada ln Hoan "Dia membohongiku.
Dia bilang dia mencintaiku, tapi sebenarnya ia hanya mengakali ilmu silat dan hartaku belaka!
Kemudian aku dengar dia sudah beristeri.
maka aku tak mau memaafkannya.
Aku memutuskan akan membunuh mereka berdua.
Tetapi saat itu aku sedang hamil....
Oh.
Thian (Tuhan), mengapa aku bisa dipermainkan begitu...."
Tiong Teng masih ingat kata-kata Un Jie Giok ini. hingga ia jadi simpati kepadanya.
"Apa salah dia. Dengan demikian ia wanita yang perlu dikasihani."
Pikir Tiong Teng.
"Tetapi mengapa dia jadi semakin kejam?"
Dengan pikiran kacau Tiong Teng berjalan hilir-mudik di tempat itu la harap ayahnya akan segera datang.
Ia pikir mungkin saat itu Tiang Keng dan Un Kin sudah berada di kuil bersama Jie Giok dan ln Hoan.
Untung tak lama ln Kiam datang, Dia tak menemukan sesuatu.
"Ayah. mari kita ke Thian Sian Sie!" ' kata Tiong Teng. Sambil berjalan! iong Teng memberi keterangan singkat pada ayahnya Bukan pekerjaan mudah untuk menemukan kuil itu. tetapi sesudah berusaha dan makan waktu akhirnya mereka sampai juga di kuil itu. Mereka melihat sinar pelita dan dengan santai mereka masuk ke pekarangan kuil itu. Tiba-tiba mereka mendengar suara tangis. To-pie Sin-kiam In Kiam berlari cepat dengan ilmu Pat-poukan-siam. Begitu sampai di pendopo ia lihat To Tiang Keng dan Un Kin berdiri melongo. Dua pelayan berpakaian merah sedang menangis di lantai, di depan kedua pelayan itu rebah Ang-ie Nio-nio. si hantu wanita jelek. Mereka tak tahu kedatangan ln Kiam dan Tiong Teng. mereka juga tak lancang mengganggu. Di tempat yang sunyi dan suram itu terdengar sebuah suara. Dari tangan Un Jie Giok yang tiba-tiba menggelinding sebuah benda berwarna kuning ke dekat Tiong Teng. Segera Tiong Teng membungkuk untuk mengambil benda itu. ternyata itu bumbung tempat jarum rahasia yang terkenal itu. Ketika tutup bumbung itu dibuka, maka keluarlah lima batang jarum beracun itu. Tiong Teng sadar Un Jie Giok tak menggunakan senjata itu. jika ia menggunakannya pasti ada korbannya... Tiang Keng mengawasi tubuh Un Jie Giok. Tubuh musuhnya dan musuh Un Kin juga. pikir Tiang Keng. Musuh mereka sekarang telah jadi mayat, tapi aneh mereka kelihatan tak gembira. Malah hati mereka jadi kurang nyaman. Padahal mereka telah berhasil membalas dendam... Di kaki tembok rebah tubuh In Hoan yang jahat. Setelah sekian lama tiba-tiba tubuh imam itu bergerak. Kiranya dia hanya pingsan dan sekarang ia sadar, la merintih, mencoba mengangkat kepala nya. Kembali ia merintih.
"Kalian....akhirnya kalian berhasil balas dendam!"
Kata In Hoan.
"Bagus sekali. Imam itu tertawa dan Tiang Keng bersama Un Kin menoleh, la berusaha mengeraskan hati. Kembali In Hoan merintih.
"Apa kalian heran karena aku belum mati"
Tanya ln Hoan.
"Itu sebab.. aku masih punya rahasia yang belum kuceritakan pada kalian. Apa... apakah kalian ingin tahu?"
Tiang Keng tercekat. Tanpa diminta ln Hoan mulai bicara.
"Rahasia ini..."
Kata In Hoan.
"Rahasia tentang dirimu dan hidupmu.... Rahasia ini hanya aku yang tahu. Jika kalian ingin tahu ayo berusaha mengobatiku....."
Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi dan mereka raguragu.
"Hai imam jahat!"
Teriak Tiong Teng dengan tiba-tiba.
"Apa saat ajalpun kau hendak mencelakai orang lain?"
Tiong Teng melompat dan menendang imam itu. In Hoan tak berdaya ia menjerit keras sekali. Tubuhnya terpental dari mulutnya keluar darah segar, la mati seketika. Tiong Teng mengawasi tubuh ln Hoan ini.
"Biarlah sejak saat ini tak ada yang tahu rahasia yang bisa merusak keberuntungan orang lain itu!"
Gerutu Tiong Teng. ln Kiam heran menyaksikan tindakan puteranya itu.
"Apa katamu. Tiong Teng?"
Tanya sang ayah. Tiong Teng menghela nafas panjang.
"Aku mengatakan roh Paman To di alam baka akan tenang...."
Kata Tiong Teng.
ln Kiam heran tetapi tak lama air matanya mengalir dari pipinya.
Tiang Keng pun ikut menangis.
Un Kin melongo keheranan, la awasi Siauw Kin dan Siauw Keng.
keduanya juga sedang menangisi Un Jie Giok.
Un Kin pun akhirnya tak dapat menahan gejolak hatinya, ia pun ikut menangis.
"Aneh?"
Kata Tiong Teng.
"Mengapa kau juga menangis?"
Tetapi tangisan itu tangis suci murni sejernih mutiara...
Saat Tiang Keng menangis ia merasakan bahunya ada sang meraba dan sehelai sapu tangan telah disesapkan ke tangannya, maka ia bisa menepis air matanya.
Tatkala Tiang Keng menoleh sinar matanya beradu dengan sinar mata Un Kin yang jernih, ia sedang mengawasi dengan tajam.
Sedang sang fajar di luar sudah menampakkan cahayanya karena sang malam telah berganti dengan siang....
TAMAT BAB 30.
TIANG KENG BERTARUNG DENGAN DUA ORANG BEKAS MUSUH AYAHNYA Ketika semua orang diam dan keadaan jadi sunyi, si imam gemuk membaling-balingkan pedangnya sambil tertawa dingin.
"Kau belum bisa menerka, siapa kami?"
Kata si imam.
"Hm! Kalau begitu gurumu itu sangat tolol! Mengapa nama kami berdua tak disebut-sebut olehnya?"
Mendengar gurunya dihina, bukan main mendongkolnya Tiang Keng. Ia berusaha menahan diri, tapi tak urung ia mengeluarkan suara di hidung.
"Hm!"
Kemudian Tiang Keng menengadah mengawasi rembulan yang suram seolah ia tak menghiraukan kedua orang itu.
Imam gemuk dan pendeta kurus itu jadi gusar.
Tiga puluh tahun yang lalu, mereka sangat terkenal dan disegani oleh kalangan Rimba Hijau (Kalangan para Penjahat).
Tetapi golongan Rimba Persilatan (golong putih) banyak yang belum mengenalnya secara dekat.
Ketika itu mereka dikenal sebagai "Pay-kiam Pian-too Siu Hud Poan Sian" (Si Buddha Kurus dan Dewa Gemuk dengan pedang Pay-kiam, pedang seperti tameng dan pian-too, golok mirip cambuk).
Tegasnya mereka lebih dikenal dari senjata mereka masing-masing.
Mereka sebenarnya berbeda golongan tapi mereka bisa bersatu.
Si imam gemuk bernama Poan Sun Yang golongan Leng-cin-kiam-pay, sebuah partai berasal dari Propinsi Shoatang.
Ilmu pedangnya aliran keras.
Si pendeta kurus bernama Siu Bie To.
ia dari Ngo-tay-san.
Kegemaran mereka berdua juga berlainan.
Paon Sun Yang gemar minum arak dan mengumpulkan harta.
Siu Bie To sebaliknya, senang namanya terkenal dan wanita cantik.
Sesudah ternama mereka mendadak mengundurkan diri dari Rimba Hijau.
Ko.ion ketika mereka sedang bekerja di wilayah Thio-kee-lauw, mereka bertemu dengan To Ho Jian.
Sekalipun keduanya gagah, namun mereka tak mampu melawan To Ho Jian dan mereka dikalahkan lalu kabur.
Sepuluh tahun lamanya mereka menghilang dari dunia Kang-ouw.
Suatu ketika mereka bertemu dengan Un Jie Giok, mereka diajak bekerja sama.
Ketika To Ho Jian berhasil dibunuh oleh Un Jie Giok, mereka jadi berhutang budi kepada Jie Giok hingga mereka pun setia sekali, bahkan mereka bersedia mati untuk Un Jie Giok.
Tetapi saat mereka berhadapan dengan To Tiang Keng, mereka tak tahu kalau pemuda ini justru putera To Ho Jian, bekas musuhnya.
Poan Sun Yang kehilangan kesabarannya, ia menoleh ke arah kawannya lalu berkata.
"Hwee-shio tua, wajah anak ini tak bercela, namun lagaknya sangat menjemukan! Oleh sebab itu maafkan, aku akan melanggar pantangan membunuh orang...."
Sebelum ucapannya selesai, tangannya telah meluncur disusul dengan bentakan, la menikam Tiang Keng dengan jurus "Ngo Teng Kay San".
Untung Tiang Keng sudah waspada, la kelihatan sabar namun sangat benci pada lawannya itu.
Saat serangan lawan datang Tiang Keng langsung berkelit, sambil berkelit tangan kanannya menotok ke sikut lawan ke jalan darah hwee-tie.
Siu Bie To mengawasinya, ia tak benci pada si anak muda seperti si imam gemuk, sahabatnya.
Dia malah menganggap si imam terlalu kejam dan ganas.
Menyaksikan gerakan Tiang Keng yang gesit, ia terperanjat juga.
Sebagai seorang jagoan ia melihat si anak muda bukan orang sembarangan.
Ia tahu benar tentang pepatah yang mengatakan "Jika seorang ahli mengulur tangan, ia akan tahu kelihayan musuhnya".
Sekarang ia sadar bagaimana lihaynya Tiang Keng.
Poan Sun Yang, si imam juga kaget ketka ia sadar bahwa serangannya menemui tempat kosong.
Dia tak sempat berpikir lagi, lalu berseru sambil menarik tangannya.
Dia majukan kaki kirinya, kembali tangan kanannya menyerang.
Itujurus (Tiang Hong Koan Jit (Bianglala menutupi matahari).
Melihat serangan lawannya ini.
Tiang Keng yakin lawannya ini terkenal hanya namanya saja.
Tian Hong Koan Jit hanya pukulan biasa saja, dengan tak memperdulikan serangan lawannya itu.
Tiang Keng menyambar dada lawan dengan tangannya.
Tapi serangan Poan Sun Yang terhenti setengah jalan.
Secara mendadak ia mengubah gerakannya itu, pedangnya menyerang ke bagian bawah, ke arah perut Tiang Keng.
Perubahan itu cepat luar biasa.
"Omietoo-hud!"
Siu Bie To memuji menyaksikan aksi kawannya itu.
sedang nona-nona itu menjerit melihat bahaya sedang mengancam anak muda itu.
Mereka semua yakin tak lama lagi anak muda itu akan roboh tersungkur di ujung pedang yang sangat istimewa itu.
Tiang Keng melihat bahaya mengancam, ia kaget tapi tak gugup, la juga mengubah serangannya, ia tak jadi menotok sikut lawan, sebaliknya dengan jari tangannya ia sentil golok lawan "Trang!"
Terdengar suara sentilan itu nyaring sekali.
Si imam gemuk kaget saat serangannya dimentahkan, keras sentilan itu hingga hampir saja pedang di tangannya itu terlepas dari genggamannya.
Sedang tubuh si imam terhuyung-huyung, hampir roboh terguling.
Menyaksikan kesudahan dari serangannya itu tampak Tiang Keng puas sekali.
Ia tak mengejar dan menyerang lawannya lagi, tapi sambil tertawa dingin ia berkata.
"Kiranya kepandaianmu hanya begini saja!"
Mendengar hinaan itu bukan main sakit hati Poan Sun Yang.
Ia pun mendengar nona-noa manis itu menahan nafas.
Ia malu karena tak sempat melihat sentilan lawan, tahu-tahu pedangnya terhantam keras.
Sentilan itu pun sampai tak terlihat oleh Siu Bie To dan nona-nona berbaju merah itu.
Ia tak menghiraukan si imam gemuk, ia hanya menoleh ke arah pendeta kurus.
Sambil tertawa dingin dia berkata.
"Jika kau punya kepandaian lain, tak ada halangannya untuk kau pertunjukkan padaku! Sebentar lagi bisa kau lihat, siapa yang akan menjadi guru dan siapa yang akan menjadi murid!"
Sebelum Siu Bie To menjawab ejekan si anak muda, ia mendengar seman temannya yang langsung melompat maju.
Tiang Keng menoleh, ia lihat imam gemuk itu merobek jubahnya menjadi dua potong, suara robekan jubah itu terdengar nyaring.
Sekarang si imam gemuk jadi telanjang, dia hanya mengenakan celana pendek.
Kelihatan dagingnya bergerak-gerak....
Nona-nona itu berteriak dan segera mereka menutup mata.
"Mau apa kau dengan lagakmu ini?"
Tegur Tiang Keng sambil tertawa mengejek.
Tapi ia tetap waspada.
Siu Bie To tahu kawannya sedang marah luar biasa.
Tubuh si imam bernama Poan Sun Yang bergerak-gerak lebih cepat, matanya mengawasi bengis sekali.
Dia berteriak-teriak makin lama suaranya jadi perlahan.
Sebagai gantinya sekarang kakinya yang bergerak-gerak sampai perlahan.
Kelihatan kaki itu jadi berat saat diangkat...
Melihat gerakan lawan.
Tiang Keng jadi curiga.
Apalagi ia lihat bekas injakan kaki si imam gemuk membekas dalam sekali, mungkin setiap imam itu melangkah ia menekan dengan keras.
Poan Sun Yang melangkah perlahan, tapi lama-lama ia sudah dekat pada si anak muda.
Tampak wajahnya yang buruk itu memperlihatkan kegusarannya.
Semakin dekat Tiang Keng mendengar suara nafasnya yang makin keras.
Melihat demikian nona-nona yang tadi menutupi mata mereka dengan tangannya, sekarang membuka mata untuk menyaksikan...
Tiba-tiba imam gemuk itu menyerang dengan hebat ke arah Tiang Keng.
Berbareng dengan serangan itu, tubuh Su Bie To pun melompat ke arah Tiang Keng.
Dia menyerang dari belakang lawan.
Dia membacok punggung Tiang Keng.
Tiang Keng tidak menangkis serangan kedua musuhnya itu, ia berkelit dengan gesit.
Tiang Keng bebas dari serangan itu.
Tapi Poan Sun Yang lihay, ia sudah menduga.
Begitu serangannya tak mengenai sasaran, ia melompat maju dan menyerang lagi.
Kali ini goloknya mengarah ke dada kiri lawan.
Jika tadi ia menyerang dengan perlahan, sekarang serangannya cepat luar biasa.
Tiang Keng terkejut.
Serangan itu hebat sekali.
Tetapi lagi-lagi ia tak menangkis serangan itu dengan mengegoskan tubuhnya.
Di luar dugaan Su Bie To pun menyerang bersamaan dengan si imam gemuk.
Rupanya mereka berdua bisa bekerjasama dengan rapi.
Serangan mereka datang ber-gantian dari kiri dan kanan.
Tiang Keng jadi sibuk sendiri.
Ia sekarang tak bisa hanya berkelit saja.
Terpaksa ia menyampok dengan tangan kanannya.
Dua kali ia menyentil dengan saling susul.
Karena terburu-buru sentilan Tiang Keng kurang tepat mengenai sasaran, ia tak bisa membuat kedua lawannya terancam serangannya.
Kedua orang itu jadi heran.
Ternyata ilmu silat yang sepuluh tahun terakhir ini mereka ciptakan, dengan mudah bisa dimentahkan oleh To Tiang Keng yang masih sangat muda.
Mereka jadi penasaran sekali.
Kemudian si imam gemuk menyerang ke bagian bawah Tiang Keng dengan tipu .
"Masuk laut membunuh naga'"
Sedang golok si pendeta Siu Bie To menyambar ke bahu kiri dengan tipu "Badai merontokkan daun".
Serangan mereka gesit dan datangnya dari atas dan bawah.
Tiang Keng kelihatan sibuk dikepung oleh dua orang jago tua.
Nona-nona itu tak bisa melihat jelas kedua senjata si imam dan si pendeta, yang kelihatan hanya kilauan senjata mereka.
Mereka sayang dan girang, sayang karena lawan masih muda dan tampan, sedang girang karena pihaknya yang akan menang.
Sejak tadi Tiang Keng memperhatikan serangan kedua lawannya, karena gusar ia mengambil keputusan.
"Aku tak bermusuhan dengan kalian, mengapa kalian begitu kejam menyerangku. Rupanya kalian memang manusia kejam!"
Pikir Tiang Keng.
Sekarang Tiang Keng mulai berkelahi dengan bersungguhsungguh, tangan kanannya menyerang mata Poan Sun Yang, sedang tangan kirinya dipakai menekan gagang pedang lawan.
Dia tekan sambil didorong ke arah kiri.
Poan Sun Yang kaget.
Ia rasakan dorongan si anak muda keras sekali.
Mau tak mau senjatanya bentrok dengan senjata Siu Bie To.
Tiang Keng menggunakan tipu silat Thay-kek-pay yang diberi nama "Tangan Menuntun" , dengan demikian ia berhasil membuat pedang si gemuk bentrok dengan golok si pendeta kurus.
Ia juga menggunakan ilmu silat Bu-tong-pay, ilmu silat tangan kosong.
Dengan ilmu ini ia berhasil menghadapi dua lawan bersenjata.
Semua nona itu kagum melihat hal itu.
Mereka mengerti ilmu silat namun masih jauh dari mahir hingga mereka belum tahu betapa tingginya ilmu silat berbagai partai persilatan apabila digabungkan.
Hebat pertarungan itu, kuda kereta kaget karena mereka sering ke dekatnya.
Mendadak kudakuda itu meringkik dengan mengangkat kaki mereka dan berniat kabur sambil menarik kereta hingga si kusir kewalahan tak bisa mengendalikan untung belum jauh kuda bisa ditahan si kusir bengong karena kagetnya.
oo BAB 31.
TIANG KENG DIBANTU OLEH TIGA PENDEKAR KATE Saat nona-nona itu sedang keheranan dan kusir kereta sedang bengong saja, Poan Sun Yang dan Siu Bie To kaget dan mereka pun kuatir.
Beradunya senjata mereka membuat telapakan tangan mereka terasa nyeri sekali.
Syukur mereka masih sadar hingga keduanya melompat mundur teratur.
Sejak mereka muncul di kalangan Kang-ouw, mereka baru pernah dikalahkan oleh Tiong-goan Tay-hiap To Ho Jian.
mereka tak menyangka sekarang mereka dikalahkan oleh seorang anak muda yang mereka tak kenal.
Sambil melompat mundur mereka mengawasi Tiang Keng dengan tajam.
Mereka pun tak pernah menduga pemuda itu demikian lihay, hingga mereka jadi heran dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Siapakah anak muda ini? Mengapa masih demikian muda begitu lihay!"
Poan Sun Yang tabiatnya keras, hingga karena gusarnya dagingnya jadi bergerak-gerak, la ingin sekali menusukdada Tiang Keng hingga tewas.
Oleh sebab itu kembali ia menyerang.
Sejenak Siu Bie To tercengang, tak lama ia pun ikut maju pula.
Tiang Keng yang tadinya mengira kedua musuhnya otu akan menyerah kalah.tak di kira mereka malah bandel dan tak mau sudah.
Dengan nyaring Tiang Keng berseru.
"Aku telah bermurah hati pada kalian, ternyata kalian tak tahu diri. nah jangan kau salahkan aku sangat keterlaluan!"
Kata Tiang Keng.
Turunnya Tiang Keng ke kalangan Kang-ouw dengan tujuan untuk membalas dendam, namun ia tak ingin membunuh orang sembarangan saja, ia juga tak berniat membunuh kedua orang yang angkuh itu.
Tak demikian dengan si Dewa Gemuk dan si Buddha Kerempeng itu.
Mereka belum sadar bagaimana lihaynya si anak muda.
Mereka menganggap bahwa kekalahan mereka tadi hanya karena mereka kurang waspada saja.
Sekarang mereka berkelahi lebih bersungguh-sungguh dan waspada, sedang serangan mereka keras dan berbahaya.
Sekarang Tiang Keng jadi terkepung, hal ini membuat nona-nona yang menontonnya itu jadi kagum karena Tiang Keng seolah membiarkan dirinya terkepung oleh kedua lawannya itu.
Mereka tak tahu kalau Tiang Keng justru sedang berpikir lain.
Tiang Keng tahu mungkin mereka akan mendapat balabantuan, tapi ia tak ingin buru-buru menyelesaikan pertarungan itu.
Ia tertarik oleh cara mereka bersilat, hingga ia berpikir akan terus melayani mereka.
Lagipula ia ingin menyaksikan ilmu silat lawannya itu, sebab dengan melihat tipu-silat mereka pengetahuannya akan bertambah.
Jika lawannya bersikap bengis dan keras, ia hanya berkelit menghindar saja.
Lama-lama si imam gemuk dan si pendeta kurus jadi bingung sendiri.
Di gunung Thian-bak banyak jago silat.
Benar semua berhasil dikumpulkan oleh Un Jie Giok.
tetapi di antara mereka ada yang memusuhinya.
Jika mereka tak segera bisa mengalahkan Tiang Keng, mereka akan malu karena tak mampu dan akan ditertawakan oleh para penonton.
Karena berpikir demikian mereka langsung berseru dan maju bersama-sama dan mendesak ke arah Tiang Keng.
Pedang dan golok saling bergantian menyerang secara bertubi-tubi, sehingga anginnya menderu dan sinar pedang serta golok mereka itu berkilauan cahayanya.
Menyaksikan kedua orang itu demikian kejam dan hendak membunuhnya, Tiang Keng jadi dongkol juga, ia mencari celah untuk balas menyerang mereka, saat ia lihat si imam menyerang ke arah dadanya, ia ulur tangan kirinya.
Si imam terperanjat.
Ia kira Tiang Keng hendak menyentil pedangnya lagi seperti tadi.
Buru-buru ia berkelit ke sebelah kanan.
Tiang Keng memang gesit luar bias.
Ketika ia lihat lawannya berkelit ke kanan, ia susul dan tangan kanannya ia ulur.
Kedua tangan Tiang Keng maju secara bersamaan.
Tangan kanan menghadang tangan kiri menyusul menyerang.
Maka tak ampun lagi pedang si imam jadi terjepit di antara kedua telapak tangan Tiang Keng.
Dan Tiang Keng bergerak lebih jauh, tangan kanannya ia tekuk, sikut Tiang Keng bekerja dengan cepat menyikut hidung si imam.
Itu sebuah serangan yang cepat luar biasa.
Dari semula renggang Tiang Keng merapat.
Ia berani berbuat demikian karena mengira lawan sedang bingung karena pedangnya dijepit olehnya.
Itu merupakan tipu-silat yang sangat langka, yang tak ada di Bu-tong-pay, Siauw-lim-pay maupun di perguruan Kun-lun-pay.
Poan Sun Yang sudah sangat berpengalaman berkelahi, ia banyak mengenal berbagai tipu-silat dari berbagai partai, tapi sekarang ia dibuat bingung sekali.
Dia terperanjat Ia coba menarik pedangnya dari jepitan si anak muda.
Ia kembali terkejut.
Di luar dugaan pedangnya terjepit di antara telapak tangan Tiang Keng dengan keras sekali.
Pedang itu terjepit dan tak bisa bergerak hingga ia tak mampu menarik pedangnya.
Tiba-tiba siku Tiang Keng mengarah kan serangannya ke hidung lawan, karena takut kena sikut lawan, maka terpaksa ia lepaskan cekalan pada pedangnya, lalu melompat mundur.
Siu Bie To menyaksikan kawannya terancam bahaya, ia melompat sambil membacok hendak menolong sang kawan dari serangan lawan.
Semua berlangsung cepat tanpa dipikir lagi.
Saat itu Tiang Keng sedang menghadapi Poan Sun Yang, ia pun sedang menggunakan kedua tangannya, wajar kalau tubuhnya jadi terbuka tak terlindungi.
Tapi sedetik saja ia melihat bahaya mengancam atas dirinya, mau tak mau ia harus menyelamatkan dirinya.
Ia tak sempat berkelit atau menggeser kakinya.
Justru pada saat pedang yang ia jepit dilepaskan oleh Poan Sun Yang, pedang itu ia angkat untuk dipakai menangkis serangan dari Siu Bie To, saat itu pedang lawan masih ia jepit.
Serangan Siu BieTo yang keras mau tak mau beradu dengan pedang kawannya vang ada di tangan Tiang Keng.
Hingga akhirnya ia jadi kaget sekali.
Golok Siu Bie To terlempar, terlepas dari cekatannya, karena telapak tangannya terasa sangat nyeri.
Golok Siu Bie To pun melayang ke arah para nona berbaju merah.
Bukan main terkejutnya nona-nona itu, mereka menjerit dan membubarkan diri dari kerumunan, tak seorang pun ada yang berani menyambut atau menangkis golok yang berbahaya itu.
Pendeta dan imam itu berdiri dengan tercengang-cengang, mereka heran dan penasaran sekali ditambah malu.
Mereka berdua dikalahkan dengan cara luar biasa sekali.
Siu Bie To bungkam.
Sedang Poan Sun Yang mendelik matanya dan berkata dengan nyaring.
"Lekas kau bunuh kami. atau tinggalkan namamu, agar kelak kami bisa mencarimu dan membalas kekalahan kami hari ini!"
Kata Poan Sun Yang dengasn tegas.
Tiang Keng tertawa tawar.
Sebelum ia menjawab dari dalam rimba muncul tiga orang, mereka bertubuh pendek dan gemuk.
Tiang Keng mengawasi ke arah ketiga orang yang baru muncul itu.
Bukan saja tinggi dan gemuknya sama mereka juga mengenakan pakaian seragam.
Baju mereka loreng lima macam, pada malam hari baju itu seperti mengeluarkan cahaya berkeredepan, bergerak-gerak di antara tiupan sang angin.
Tak tahu pakaian itu dari bahan apa.
Di pinggang mereka masing-masing tergantung sebilah pedang, pada sarung pedang mereka itu tertabur batu permata, hingga batu permata itu berkilauan terkena cahaya pakaian mereka.
Poan Sun Yang sudah pendek atau kate, tapi ternyata ada yang lebih kate lagi dari Poan Sun Yang.
Hingga orang itu bundar mirip bola saja.
Mereka maju perlahan-lahan.
Setelah dekat yang di sebelah kanan berkata.
"Aku Lee To-toa!".
"Aku Lee To-jie!"
Kata yang di tengah.
"Aku Lee To-sam,"
Kata yang di sebelah kiri.
Suara mereka sama nadanya dan sama anehnya.
Mulamula Tiang Keng melengak, kemudian baru ia tahu orang memperkenalkan diri tanpa diminta.
Tiang Keng terus mengawasi ketiga orang kate yang baru tiba itu.
Bukankah Poan Sun Yang dan Su Bie To menyembunyikan nama mereka, sebaliknya mereka bertiga ini mengobral nama mereka.
Nama mereka pun tak kurang anehnya..
Jelas mereka she (bermarga) Lee-to.
dan usia mereka jadi rutan dan nama-nama mereka.
Toa berarti yang besar.
"Jie"
Yang kedua dan "Sam"
Yang ketiga.
Sebenarnya itu bukan nama tapi panggilan sesuai urutan.
Tiang Keng juga merasa heran karena ke Thian-bak-san telah berdatangan orangorang aneh.
Mereka masing-masing mengacungkan jempol mereka sambil berkata.
"Bagus! Bagus!"
Ucapan itu ditujukan ke arah Tiang Keng. Tiang Keng mengawasi mereka, ia tak mengerti apa maksudnya.
"Anak muda bagus ilmu silatmu!"
Kata mereka.
"Jelas kau telah berhasil mempelajari ilmu silat dari pulau Hu-song. Sejak aku melihat ilmu silat ini dipraktekkan oleh murid dari partai Ryugyo, belum pernah aku melihatnya lagi cukup lama, selain tadi itu...."
Sulit Tiang Keng mendengar dan mengerti maksud ucapan orang itu.
Tapi benar sekali ilmu silat itu adalah ajaran dari Sukhong Hoa yang dia peroleh dari Gu-song (Jepang), seorang Ronin (Ronin bahasa Jepang artinya pesilat, red) yang merantau ke Tiongkok.
Tapi ilmu silat itu telah diubah dan disempurnakan lagi oleh Su-khong Hoa.
Karena Ronin itu melanggar aturan gurunya, ia kabur ke Tiongkok, di Tiongkok ia mencoba mengangkat namanya, tapi ia bertemu dengan Su-khong Hoa, ia takluk dan kalah oleh ilmu silat Tionghoa.
Karena tipu-silat Ronin itu bagus, Su-khong Hoa mengambilnya sebagai dasar dan ia menciptakan jurus yang baru atas dasar ilmu silat itu.
Ketika Su-khong Hoa bercerita pada muridnya sambil tertawa.
"Di Tiongkok ini,cuma ada beberapa orang saja yang mengenal tipu-silatku ini."
Kata guru Tiang Keng.
Sekarang ternyata tiga orang kate itu mengenalnya.
Saat Tiang Keng sedang keheranan karena tiga orang kate itu mengenal tipu-silatnya, ia mendengar Lee-to Toa tertawa terkekeh-kekeh, ia awasi si pendeta dan si imam dengan tajam, la Ialu berkata.
"Pada mulanya aku kira ilmu silat kalian bagus sekali, tapi tak kukira hi hi hi. ternyata tak bermanfaat sama sekali! Untuk apa kalian banyak laga lagi? Lebih baik kalian segera pergi!"
Wajah Poan Sun Yang dan Siu Bie To jadi merah padam serta pucat-pasi.
Tubuh si imam bergerak-gerak lagi, keduanya diam saja.
Rupanya mereka sedang berpikir keras.
Marah salah tidak marah pun salah juga.
Gusar tapi mereka tak berdaya dan malu pula.
Tiang Keng mengawasi bekas kedua lawannya itu.
"Namaku To Tiang Keng,"
Ia memperkenalkan diri.
"Jika kalian ingin menuntut balas, kalian boleh mencariku!"
Mendengar nama Tiang Keng disebutkan Poan Sun Yang terperanjat.
"Kau pernah apa pada To Ho Jian?"
Kata dia.
"Dia ayahku!"
Jawab Tiang Keng terus terang dan sikapnya hormat sekali.
Kedua orang itu terkejut, mereka saling mengawasi satu sama lain, lalu kedua-duanya menarik napas.
Tampak mereka menyesal dan penasaran, karena sebagai jago mereka telah dua kali dikalahkan, baik oleh ayah anak muda ini maupun oleh anaknya.
Langsung hati merekajadi dingin.
Keduanya lalu mengawasi tiga orang aneh itu.
Akhirnya mereka pergi dengan tak memperdulikan golok dan pedang meeka lagi.
Tiga orang aneh itu tertawa menyeramkan.
Sedang Lee-to Sam berkata dengan nyaring.
"Segala manusia tidak berguna, mereka berani muncul di sini!"
Semula Tiang Keng mengira mereka berkomplot, ternyata tiga orang kate dan aneh itu malah mengejek Poan Sun Yang dan Siu Bie To berdua.
Ia juga heran mereka memuji dirinya dan mengejek lawan-lawannya.
Tiang Keng pun tak mengetahui, kalau ketiga orang kate aneh itu pernah belajar ke Hu-song dan mereka dari Hay-lam-pay, tak heran jika ia mengenal ilmu silat Jepang itu.
Saat mereka pulang dari Jepang, mereka diundang oleh Un Jie Giok yang membutuhkan tenaga mereka ini.
Sudah lama mereka tinggal di negeri asing, hingga ia jadi buta mengenal Dunia Persilatan di Tiongkok, malah mereka tak meremehkan pesilat Tiongkok, oleh karena itu mereka jadi tak menghargai Poan Sun Yang dan Siu Bie To yang banyak lagaknya itu.
Sudah beberapa hari mereka saling mengejek, namun karena bahasa Tionghoa mereka sudah tak mahir lagi, mereka kalah bicara sehingga mereka semakin benci kepada si imam gemuk dan si pendeta kurus.
Tadi mereka menyaksikan si imam dan pendeta itu dikalahkan oleh Tiang Keng.
Kesempatan itu mereka pergunakan untuk menghina lagi kedua orang itu.
Untung Poan Sun Yang dan Siu Bie To sudah kalah pamor dan mati kutu, jika tidak pasti akan terjadi pertarungan hebat di anatara mereka.
Saat mereka sedang mengawasi perginya si imam dan si pendeta kurus yang menghilang di tempat gelap, Tiang Keng pun sedang berpikir keras.
"Heran mereka ini! Mengapa bahasanya tak kumengerti, macamnya pun begitu aneh? Pasti mereka lihay. jika tidak mana berani mereka menghina si imam dan pendeta itu. Siapakah mereka ini, musuh atau kawan?"
Pikir Tiang Keng agak bingung.
Tiang Keng mengawasi ketiga orang kate itu.
Setelah mereka berhenti tertawa, wajah mereka berubah jadi dingin dan semuanya mengawasi ke arahnya dengan tajam.
Sekarang lenyap wajah yang tadi mengaguminya itu.
Melihat hal itu Tiang Keng terpaksa waspada kembali.
Ia juga balas mengawasi dengan tajam.
Ia kelihatan tak gentar, tapi ia merasa aneh benar-benar di Thian-bak-san terdapat banyak orang lihay.
Ini sangat berbahaya jika setiap saat bermunculan orang-orang dari Thian-bak-san satu persatu, jiwanya bisa terancam.
oo BAB 32.
LEE-TO-JIE DIKALAHKAN TIANG KENG DENGAN KELINGKING Lee-to Jie maju.
Dia hampiri si anak muda.
"Siapa namamu?"
Dia tanya Tiang Keng, sikapnya jumawa..
"Mau apa kau lari ke mari. nah?"
Dia diam sejenak karena sadar katakatanya tak jelas, ia menambahkan.
"Mau apa kau datang ke mari? Aku pikir sebaiknya kau mengikuti teladan kedua orang tadi, segera kau pulang ke rumahmu!"
Tiang Keng tak puas pada sikap Lee-yo Jie, sepasang alisnya berdiri.
"Jika aku mau ke sini, tak ada orang yang bisa melarangku!"
Kata Tiang Keng dengan suara nyaring.
Orang Hay-Iam (Hai-nan) itu tertawa.
Ia mengulur tangannya dan tiga buah jarinya ia tekuk, masing-masing telunjuk, jari tengah dan jari manisnya ke bawah jempol, kemudian ia menunjukkan kelingkingnya yang ia lambailambaikan ke muka Tiang Keng.
Kemudian ia tertawa aneh.
"Jangan kau anggap kau ini lihay, ya! Di depanku, kau tak lebih seperti ini!"
Kata Lee-to Jie. Tiang Keng melengak, kiranya orang menyamakan dirinya dengan kelingkingnya, ia jadi dongkol bukan main "Kau gila!"
Bentak Tiang Keng.
Sebelum tawa Lee-to Jie berhenti, tiba-tiba ia menghunus pedangnya, ia langsung meggeser kirinya ke samping, dan ia majukan kaki kanannya, langsung ia menikam muka orang dengan pedangnya itu.
Tetapi saat pedangnya tinggal tiga dim dari wajah Tiang Keng, ia menahan pedangnya.
"Kau mau turun gunung atau tidak?"
Ia mengancam. Bukan main dongkolnya Tiang Keng, tiba-tiba ia sentil pedang Lee-to Jie dengan kelingkingnya, lalu ia meniru perbuatan Lee-to Jie tadi. ia tunjukkan jari kelingkingnya dan berkata.
"Aku tak mau turun, kau mau apa? Kau yang seperti ini!"
Kata Tiang Keng.
Lee-to Jie melongo.
Semula ia kira orang melengak karena kagum pada gerakan pedang lawannya itu.
Saat dia menggerakkan pedang itu ia gunakan tenaga sepenuhnya.
Ia heran saat ia lihat Tiang Keng pun mengulurkan tangannya, Tiang Keng menyentil pedangnya lalu menunjukkan jari kelingkingnya.
"Tring!"
Terdengar sebuah suara yang nyaring.
Tangan Lee-to Jie terasa kesemutan oleh sentilan istimewa itu.
la mundur sambil terhuyung sejauh dua langkah.
Untung ia masih, bisa memegang pedangnya yang tersentil itu, hingga pedangnya tak sampai terlepas, tetapi telapak tangannya terasa panas dan nyeri.
Mau tak mau sekarang ia yang melengak kaget.
Tiang Keng tertawa.
"Tahukah kau apa nama sentilanku itu?"
Tanya Tiang Keng.
Lee-to Jie diam, mereka saling pandang dengan kedua saudaranya.
Jelas mereka tak tahu nama sentilan itu.
Menyaksikan mereka tercengang.
Tiang Keng tertawa pula, ia melangkah maju, lalu berjalan melewati Lee-to Jie.
Ia terus mendaki.
Ketika ia menoleh ke arah kereta, sekarang ia tak melihat apa-apa lagi.
Baik kusir maupun nona-nona berbaju merah itu telah lenyap semua.
Sekarang yang ada tinggal kereta kosong yang tetap nongkrong di tepi jalan.
Ia terus mendaki hingga hampir tiba di tempat tujuan.
Ia tak mau turun, jika ia turun pasti ia akan jadi bahan tertawaan.
Memang Tiang Keng ini besar kepala, ia tak pernah mau mengalah.
Perlahan-lahan ia terus mendaki.
Sambil mendaki ia berpikir, memikirkan cara menghadapi musuh andaikata ia dirintangi.
Sambil mendaki ia sering menoleh ke belakang, melirik ke arah tiga orang kate dari Hay-lam itu.
Lee-to Toa dan dua saudaranya masih saling mengawasi.
Otak mereka sedang berpikir.
"Bagaimana sekarang? Yang pasti Tiang Keng harus mereka rintangi atau tidak! Jika tak mereka rintangi, bagaimana dengan nama baik mereka? Nama "
Hay-lam Sam Kiam"
Atau "Tiga Jago Pedang Dari Hay-lam"
Jika mereka menghadang, bisakah mereka mengalahkan Tiang Keng?
Sungguh hebat!
Kalau mereka kalah mereka bakal mendapat malu besar.
Setelah saling pandang, mereka melihat ke sekelilingnya.
Keadaan gunung sunyi-sunyi saja.
Di tempat itu tak ada orang lain kecuali mereka bertiga, sedang Tiang Keng sedang mendaki dengan tenang.
Setelah berpikir dan saling mengawasi mereka diam.
"Di tempat ini tak ada orang lain jika kita kabur tak ada yang melihatnya habis perkara dan tak ada yang tahu..."
Pikir mereka.
Mereka bukan sahabat baik Un Jie Giok, jelas mereka tidak ingin mengorbankan jiwa mereka secara sia-sia di atas gunung itu.
Setelah mereka saling pandang kembali, ketiganya lalu berjalan turun meninggalkan gunung....
Tiang Keng berjalan perlahan, ia sadar ia bisa dibokong jika orang ingin membokongnya.
Ia heran dari arah belakangnya keadaan tetap sunyi.
Kembali ia menoleh ke belakang.
Ia heran ia tak melihat ketiga orang Hay-lam itu di sana.
Samarsamar ia melihat mereka sedang berjalan menuruni gunung di balik pohon-pohon.
"Lucu juga,"
Pikir Tiang Keng.
Tadi ketiga orang itu demikian galak tapi sekarang mereka pergi dengan diam-diam.
Ia mengawasi ke atas.
Ia diam.
Keadaan tempat itu sunyi hingga suasana di tempat itu menyeramkan.
Di tempat yang sesunyi itu bukan tak mungkin ada orang sedang bersembunyi di balik pepohonan.....
"Ke mana aku harus mencari Un Jie Giok?"
Pikir Tiang Keng.
"Aku tak boleh terus mendaki seperti ini... .Sedang nona-nona berbaju merah dan kusir itu entah ke mana perginya. Aku jadi tak punya penunjuk jalan lagi. Apa lebih baik aku turun gunung saja...."
Ia baru berpikir sampai di situ. tiba-tiba ia tertawa.
"Tidak bisa!"
Ia berpikir lagi.
"To Tiang Keng, kau tak boleh pergi. Jika kau tak berani naik gunung, dan kau akan pergi seperti ketiga orang itu, oh bodohnya. Kau jangan mencari alasan yang tidak-tidak! Jika kau sekarang tak mencari mereka, apa kau kira mereka kelak tak akan mencarimu?"
Tiang Keng lalu membusungkan dadanya, dan kakinya kembali melangkah naik.
Keadaan di sekitarnya tetap sunyi.
Tiang Keng jadi iseng sendiri.
Tanpa terasa ia bersenandung.
Ia berharap akan muncul seseorang, tak peduli siapa dia...
.Tapi kesunyian tetap menguasai tempat itu...
"Ah!"
Tak lama Tiang Keng bersenandung lagi, suaranya makin keras.
Di tempat yang mendaki itu ia tak bisa menggunakan ilmu berlari kencang.
Untuk mencari Ang-ie Nionio ia harus mendaki perlahan-lahan.
Ia berjalan terus dan akhirnya ia melihat beberapa bangunan di depannya.
Ia mempercepat langkahnya.
Sesudah dekat, ia lihat bangunan itu ternyata sebuah wihara (vihara).
Wihara itu dibangun di atas sebuah tanjakan, merknya "Thian Sian Sie"
Itu sebuah wihara yang sudah rusak, papan namanya pun sudah luntur dan tidak lagi.
"Ah, sayang,"
Kata Tiang Keng sambil menghela nafas.
Ia yakin wihara rusak ini tak ada sangkut-pautnya dengan Un Jie Giok.
Dengan tak acuh Tiang Keng masuk ke pendopo.
Samarsama ia lihat patung-patungnya masih lengkap.
Sebuah patung paling besar yang berada di tengah, tingginya setombak lebih, alis patung itu turun seolah ia sedang memuji demi keselamatan umat manusia...
Di empat penjuru ruangan penuh dengan gambar-gambar Sang Buddha saat beliau memperoleh penerangan di bawah pohon Bodhi.
Tiang Keng tak mengira hari itu ia bakal memasuki rumah suci.
Ia maskul.
Kembali ia menghela napas.
Kemudian ia bersihkan sebuah pou-toan dan di sana ia duduk.
Dalam kesunyian kembali ia berpikir.
Tak lama ia mendengar suara alat sembayang dibunyikan.
"Tok..tok...tok..."
Itu adalah suara bok-gie, alat sembahyang dari kayu mahoni yang biasa dipakai oleh seorang pendeta, suara itu datang dari arah belakang wihara.
"Heran?"
Pikir Tiang Keng.
Ia berusaha mendengarkan datangnya suara alat itu.
Tiba-tiba Tiang Keng melompat.
Ia masih mendengar suara tok-tok itu terus berbunyi.
Itu sebenarnya tak mengherankan terjadi di sebuah kuil, wihara atau kelenteng, yang mengherankannya ia dengar suara alat itu di Thian-bak-san dalam suasana sunyi seperti itu.
Untuk memastikan lebih jauh.
Tiang Keng berjalan cepat ke belakang wihara.
Di sebuah pekarangan dalam, ia lihat ada cahaya api, datangnya cahaya itu dari sebuah ruangan yang jendelanya masih utuh.
Ini sungguh luar biasa.
Ia jadi curiga dan ingin memperoleh kepastian.
Ia melompat naik ke payon.
Daun jendela kamar itu tertutup rapat, di bagian atasnya terdapat erang-erang atau kisi-kisi, dari sana Tiang Keng mengintai ke dalam kamar itu.
Di ruangan itu cuma ada sebuah meja terletak di tengah ruangan, di atas meja terletak sebuah Leng-pay (Papan nama yang biasa disembahyangi), di samping papan iyu ada sebuah pelita yang cahayanya suram.
Pada leng-pay itu terdapat tulisan yang tak terlihat jelas oleh Tiang Keng, entah apa bunyi tulisan itu.
karena dari atas payon hurufnya tak terbaca.
Apa yang luar biasa di situ berlutut seorang perempuan, tapi yang dilihat oleh Tiang Keng hanya bagian belakang atau punggungnya saja.
Rambut perempuan itu lebat hitam dan indah.
"Aneh. siapakah wanita ini?"
Pikir Tiang Keng.
"Mengapa ia sendirian saja di sini?"
Perempuan itu sedang membaca doa dan suaranya perlahan sekali.
Suara Bok-gie mendatangkan rasa haru....
oo BAB 33.
TIANG KENG DIBUAT HERAN DENGAN SIKAP UN KIN Setelah mengawasi sekian lama.
Tiang Keng melompat turun dari payon.
Kemudian dia terus mengawasi bayangan itu sambil berpikir.
"Entah siapa dia?"
Pikir Tiang Keng.
"Mengapa tengah malam begini ia datang ke wihara untuk bersembahyang?
Apa ia seorang pendeta yang memelihara rambut dan datang karena menyukai tempat sunyi ini?
Ah.
pasti orang ini tak tahu tentang keadaan Thian-bak-san vangjadi sarang penjahat ganas....
Jika telah tiba saatnya, dia bakal tak mendapatkan tempat setenang dan sesunyi ini untuk beribadat...
Tiang Keng berpikir keras.
"Dia tinggal di sini, tahukah dia tentang gerak-gerik Ang-ie Nio-nio?"
Tiang Keng pun melangkah ke arah pintu. Baru saja ia sampai di ambang pintu, ia mendengar suara perlahan dan dingin.
"Mari masuk!"
"Heran!"
Pikir Tiang Keng.
Memang ia tak menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun langkahnya perlahan sekali, di luar dugaan perempuan itu bisa mendengar suara langkah kakinya, padahal waktu itu ia sedang sembahyang dan bokgienya sedang dibunyikan tak hentinya.
"Maafkan, aku yang rendah ingin menanyakan sesuatu. Aku minta maaf karena telah mengganggu..."
Kata Tiang Keng.
"Hm"
Terdengar suara dingin yang tak jelas.
Suara bok-gie pun berhenti.
Tiang Keng mendorong pintu kamar itu.
ia melangkah masuk, la lihat perempuan itu tetap berlutut membelakangi pintu.
Sedikitpun ia tak bergerak, hanya leng-pay yang tadi ada di atas meja sekarang sudah tak ada.
Kemudian dia batuk-batuk.
Setelah itu.
terlihat kepala perempuan itu bergerak, berbalik perlahan sekali.
Begitu ia lihat wajah perempuan itu Tiang Keng heran dan terperanjat, tapi tetap bungkam.
Perempuan itu juga sudah melihat siapa yang masuk ke kamar itu.
dia juga terperanjat, kemudian menghela nafas panjang...
"Kiranya kau!"
Kata dia perlahan.
Kecuali terperanjat dia tak menunjukkan roman atau sikap yang bermusuhan.
Tiang Keng mengawasi orang itu.
Kkini ia berhadapan dengan seorang nona.
itulah Un Kin.
Nona yang paling disayang oleh Un Jie Giok.
Tian Keng membayangkan saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Pertama-tama sikap nona ini manis sekali, lalu ia besikap bengis sekali, tetapi sekarang ia mengenakan pakaian putih.
Alisnya berkerut, ia tampak lesu dan alim.
Dia kini bukan nona nakal dan berandalan lagi.....
"Kiranya kau Nona Un."
Kata Tiang Keng perlahan. Tiang Keng mundur sampai ke ambang pintu.
"Tiang Keng, ingat apa maksud kedatanganmu ke Thianbak-san? Bukankah kau ingin mencari perempuan ini? Mengapa sekarang kau mau pergi?"
Pikir Tiang Keng. Karena itu ia maju lagi selangkah, bertanya dengan suara dalam.
"Malam selarut ini. mengapa kau datang ke mari?"
Tanya Tiang Keng. Un Kin meletakkan bok-gienya. lalu ia menarik nafas.
"Beberapa hari yang lalu, kau dan aku bermusuhan satu sama lain,"
Kata Un Kin. suaranya perlahan.
"Tetapi sekarang aku tidak berpikir untuk memusuhimu lagi..Tapi soal aku ada di sini. itu tak ada hubungannya denganmu. Sebaiknya kau segera pergi dari sini...!"
Sekejap tampak mata si nona bercahaya. Tiang Keng menyaksikan sinar mata si nona. ia heran. Ia tak tahu bagaimana ia harus menghadapi nona ini. Diam sesaat kemudian ia bertanya.
"Nona, kau sedang menyembahyangi siapa?"
Nona Un mengawasi Tiang Keng.
matanya bercahaya kembali.
Sesaat kemudian Tiang Keng ingat cerita si imam berkopiah kuning.
Kemudian Tiang Keng ingat leng-pay yang tiba-tiba lenyap dari hadapan si nona.
Sebagai pemuda yang cerdas.
Tiang Keng segera sadar lalu menghela nafas.
"Aku ingat sekarang, aku pernah mendengar sebuah cerita."
Kata Tiang Keng akhirnya.
"Konon dulu di kalangan Kang-ouw hidup sepasang jago silat yang dikenal orang sebagai Nio Beng Siang Hiap. Nona apakah kau tahu nama pasangan yang gagah itu?"
Suara Tiang Keng perlahan saat ia berkata begitu, ia memperhatikan wajah si nona.
Ia lihat tubuh si nona gemetar saat mendengar Tiang Keng menyebut nama Nio Beng Siang Hiap.
Sinar mata si nona yang semula bercahaya, jadi suram dan sayu menunjukkan sinar mata duka dan penasaran..,, Nona itu tidak menjawab pertanyaan Tiang Keng.
malah ia balik bertanya.
"Apakah kau To Tiang Keng"
Sekarang Tiang Keng yang heran.
"Eh mengapa dia tahu she dan namaku?"
Pikir Tiang Keng.
Saat Tiang Keng akan menjawab, tiba-tiba di luar kamar itu terdengar bentakan keras, disusul dengan berkelebatnya sebuah bayangan manusia yang bertubuh tinggi besar.
Bersamaan dengan itu angin pun bertiup masuk seiring masuknya tubuh si bayangan yang disusul dengan suara beradunya logam.
Akibatnya api di kamar itu hampir padam.
Tiang Keng terkejut, saat ia lihat senjata panjang sedang menyerang ke arahnya.
"Siapa kau?!"
Ia melompat ke samping.
Segera terdengar suara benturan keras karena senjata itu tak mengenai sasaran melainkan mengenai lantai.
Lantai yang terhajar keras jadi berantakan.
Itu sebuah serangan yang sangat hebat.
Sebelum Tiang Keng sempat melihat tegas penyerangnya, senjata lawan sudah kembali menyerangnya.
Sekarang ke arah pinggang Tiang Keng.
Dari suaranya, sekalipun Tiang Keng tak melihat orangnya, ia tahu siapa orang itu.
Ia coba menghindar lalu menjejak lantai dan melompat tinggi, hingga senjata lawan tepat di bawah kakinya.
"Tay-su. tahan!"
Teriak Tiang Keng.
Tiang Keng tak meladeni penyerang itu.
Tadi dengan melompat ia telah sampai ke penglari.
lalu mengawasi ke bawah dan mengulangi kata-katanya.
Orang itu mengangkat kepalanya mengawasi dengan melongo.
Ia heran, dua kali serangannya yang berbahayanya bisa dihindarkan oleh anak muda itu.
Padahal serangan itu adalah serangan ilmu silat Siauw-lim-pay yang sangat lihay.
"Entah dari mana bocah ini, kenapa ia bisa muncul di sini?"
Pikirnya. Namun tabiat orang ini keras, ia jadi penasaran. Dengan tak menghiraukan ucapan Tiang Keng, ia berteriak.
"Hai. Nak! Jika berani turun, hadapi aku! Atau aku yang akan naik menghajarmu sampai mampus!"
Tiang Keng diam dan mengawasi. Un Kin sejak tadi diam saja agaknya ia tak sadar, ia mengangkat kepala ke atas.
"Kau turun."
Kata Un Kin sabar menoleh pada si penyerang dan berkata "Tay-su, kau jangan turun tangan"
Pendeta itu diam sejenak. Ialu berkata.
"Barusan aku sedang duduk di pouw-toan. kemudian aku pergi sebentar untuk buang air. Tak kukira secara lancang bocah ini masuk kemar "
"Pantas pouw-toan ini bersih rupanya tadi dipakai duduk oleh pendeta ini."
Pikir Tiang Keng Ternyata ia mengenali pendeta itu To-su Tauw-to Bu Kin.
pendeta itu senang ikut campur urusan orang.
Ia ikut Un Kin ke Thian-bak-san dan di Thian-bak-san ia tak kerasan kiranya di tempat ini banyak orang sesat maka tak cocok ia ingin segera turun gunung tapi Un Kin membujuknya kemudian pendeta itu menurut, la senang dengan sikap Un Kin yang hormat kepadanya maka ia tetap diam dan tak bercampur dengan orang-orang yang tak disukai itu.
Begitulah, saat Un Kin Ini bersembahyang ia menungguinya di situ bertugas mencegah kedatangan orang yang tak berkepentingan Namun Tian Keng masuk saat ia buang air, maka ia jadi gusar.
Dia tambah heran melihat pemuda yang dulu dikatakan oleh Un Kin orang jahat lalu tanpa berbicara lagi.
ia serang pemuda itu, ia diam saat diminta agar tidak menyerang anak muda itu.
Ia mengawasi dengan mata keheranan.
Ia berharap si nona memberi penjelasan padanya.
Un Kin menghela nafas panjang.
"Dia bukan orang jahat,"
Kata si nona.
"Sabar, aku.... Aku mau bicara dengannya... Aku minta Tay-su bersedia keluar sebentar dan jaga jangan sampai ada orang lain masuk ke mari!"
To-su Tauw-to heran ia melengak sejenak, kemudian ia banting-banting kakinya.
"Kalian orang muda sangat aneh!"
Kata dia. Sambil membawa senjata Hong-pian-san-nya. ia pergi. Tiang Keng geli melihat pendeta itu menurut pada si nona. Setelah pendeta itu pergi. Tiang Keng melompat turun.
"Kau benar To Tiang Keng?"
Kata si nona. Tiang Keng mengangguk.
"Ya."
Jawab Tiang Keng.
Si nona tampak berduka, ia menghela nafas.
Wajahnya lesu.
Sebelum ia berkata lagi ia mengeluarkan serupa benda.
Tiang Keng tahu itulah leng-pay yang tadi berada di atas meja.
Si nona meletakkan leng-pay itu ke dekat lilin, hingga sekarang Tiang Keng bisa melihat tegas.
"Sin-cie almarhum Ayah Beng Kong dan Ibu Thay-hu-jin"
Membaca tulisan itu hati Tiang Keng bergetar. Dia jadi heran.
"Mengapa si nona bisa mengetahui asal-usulnya?"
Pikir Tiang Keng.
"Barang kali sekarang ia belum tahu, siapa musuh besarnya. Orang yang membinasakan orang tuanya, justru gurunya sendiri..."
Pada mata si nona berlinang air matanya, air mata itu turun melalui pipinya yang putih halus. Ia tak bisa menahan turunnya air matanya, tapi buru-buru ia susut dengan tangannya yang putih mulus.
"Nasibku sangat malang...."
Kata si nona perlahan.
"Baru kemarin aku tahu siapa ayah dan ibuku.... Hanya aku belum mengetahui mengapa kedua orang tuaku itu meninggal dunia...."
La menangis tersedu-sedu. Tiang Keng jadi terharu, ia ikut berduka tapi ia diam saja. Si nona bangkit menghampiri Tiang Keng. la tetap berdiri diam sambil mengawasi si nona. ia kasihan pada si nona.
"Nona, sebaiknya kau...."
Ia tak meneruskan kata-katanya, la ingin menghibur nona itu, tapi tak bisa memilih kata-kata yang pantas. Un Kin terus menghampiri Tiang Keng, sesampai di depan si anak muda. ia berlutut.
"Nona... Nona..."
Kata Tiang Keng kaget.
"Apa artinya ini?"
Ia segera melompat ke samping.
Semula ia akan mengulurkan tangannya akan mengangkat si nona supaya bangun, tapi tak jadi.
Ia tak ingin berbuat lancang.
Lalu ia membalas hormat si nona sambil berlutut.
Pada saat yang sunyi kedua muda-mudi itu berlutut berhadapan, tapi mereka tetap diam tak bicara apa-apa.
Si nona tampak bingung, begitu pun Tiang Keng tak tahu harus bilang apa.
To-su Tauw-tu berjaga di luar sekian lama, ia tak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu, karena heran ia ingin melihat ke dalam.
Begitu ia melangkah dan melihat apa yang terjadi di dalam, ia jadi keheranan dan mengawasi kedua anak muda itu.
"Dasar anak-anak muda yang aneh,"
Pikir si imam. Ia melangkah perlahan meninggalkan kamar itu. Tiang Keng tetap berdiam diri. Un Kin menangis dan matanya basah.
"Aku tahu, kau pun tahu,"
Kata si nona. Tiang Keng melongo, ia tak mengerti apa maksud kata-kata si nona itu "Tahu apa?"
Akhirnya Tiang Keng bertanya.
Si nona menyeka air matanya.
Ia juga kaget mendengar pertanyaan Tiang Keng.
Ia sadar kata-katanya tadi tak karuan, ia geli tapi tak bisa tertawa karena ia sedang berduka.
Ia hanya terisak-isak sedih.
"Aku tahu, hanya kau yang tahu mengenai meninggalnya orang tuaku itu tapi hanya kau yang tahu siapa pembunuh orang tuaku. Benarkah begitu?"
Kata si nona. Tiang Keng heran bukan main.
"Mengapa ia tahu kalau aku tahu asal-usul orang tuanya?"
Pikir Tiang Keng. Sebelum sempat menjawab pertanya an si nona, ia teringat sesuatu.
"Barangkali si nona sudah bertemu dengan si imam berkopiah kuning?"
Ia menduga-duga.
"Aku heran, jika si imam sudah bertemu dan memberitahu nama orang tua si nona. kenapa dia tak sekalian mengatakan musuh besarnya?"
Oo BAB 34. UN KIN MENCERITAKAN PENGALAMANNYA BERTEMU IN HOAN Dengan mata basah. Un Kin mengawasi Tiang Keng. Ia lihat anak muda itu diam saja. Ia terisak sedih dan berkata.
"Aku sadar, aku telah berbuat salah padamu. Aku menyesal, berharap kelakuanku itu tak kau taruh dalam hatimu. Jika kau mau menjelaskan padaku, aku sangat berterima kasih seumur hidupku..."
Tiang Keng menghela nafas.
"Benar, Nona. Aku tahu sedikit tentang kematian kedua orang tuamu itu,"
Kata Tiang Keng.
"Tapi ceritanya panjang sekali. Nona. Bagaimana kau tahu tentang orang tuamu itu. Apakah imam bernama Kho Koan Iesu yang memberitahumu? Kecuali dia siapa orang yang memberitahumu?"
Si nona terbelalak heran.
"Siapa Kho Koan Ie-su itu?"
Tanya si nona.
"Namanya pun baru sekarang aku dengar!"
Tiang Keng heran Tak lama ia dengar si nona berkata lagi dengan agak sangsi.
"Mengenai diriku,"
Kata si nona.
"Aku bersedia menceritakannya padamu. Hanya aku minta kau jangan menceritakannya lagi pada orang lain. Tadi malam aku sudah tidur. Tiba-tiba aku mendengar ada orang mengetuk jendela kamarku. Aku kaget. Saat itu aku tidur di kamar belakang, sedang di kamar depan tidur para jago silat. Yang aku heran orang itu bisa datang ke kamarku dan mengetuk jendela kamarku. Siapa orang yang bergitu berani...."
Tiang Keng mengawasi ke arah si nona ia heran.
Ia ingat cerita nona-nona berbaju merah di atas kereta tadi.
Kemudian Tiang Keng teringat pada orang yang disebut Hoa-long Pit-ngo oleh nona-nona itu.
Semula kata-kata nona-nona itu ia anggap lucu.
sekarang ia jadi serius.
Un Kin bicara agak likat.
Ia malu sendiri barang kali.
Tapi ia melanjutkan.
"Aku mendongkol, dengan hati-hati kukenakan pakaianku, perlahan-lahan aku turun dari pembaringan. Aku tak membuka pintu atau jendela, aku pun tak menjawab ketukan pada jendela kamar. Tapi dengan cepat aku melompat dari jendela yang lain. Aku akan menghajar orang yang iseng itu. Tiba di luar aku jadi melongo. Aku tak melihat apa-apa. Tengah aku keheranan, aku dengar suara tawa di belakangku, perlahan dan disusul dengan kata-kata bahwa dia ada di dekatku!" . Nona Un berhenti bicara, ia menarik nafas panjang.
"Saat itu aku kaget bukan kepalang."
Ia melanjutkan.
"Aku kaget karena aku pikir orang ini lihay sekali. Buru-buru aku menoleh. Setelah melihatnya hatiku jadi lega. Ternyata dia orang Rimba Persilatan yang ilmu silatnya sangat mahir. Pantas ia bisa masuk dengan leluasa ke kamarku. Aku kira guruku pun tak akan mampu menyentuh sekalipun hanya bayangannya saja!"
Mendengar itu alis Tiang Keng berkerut "Orang paling lihay di dunia Kang-ouw?"
Tanya Tiang Keng.
"Siapakah dia?"
Tiang Keng cuma tahu orang yang lihay itu gurunya, apa mungkin yang dimaksudkan Un Kin itu gurunya ' ' "Mungkin kau kenal pada orang itu."' kata Un Kin.
"Dia Ban Biauw Cin-kun In Hoan. Dia.."
Tubuh Tiang Keng gemetar "Ban Biauw Cin-kun In Hoan!"
Kata Tiang Keng terlepas bicara.
"Bukankah dia orang tua yang berkopiah imam dengan tubuh tinggi besar dan kumis serta jenggot panjang pecah lima. Dia selalu memakai jubah seorang imam?"
Un Kin mengangguk, tapi ia agaknya heran. 'Kau tak kenal dia. sebaliknya dia mengenalimu!"
Kata Un Kin.
Baru sekarang Tiang Keng ingat, orang berkopiah tinggi yang mengaku bernama Kho Koan le-su itu adalah Ban Biauw Cin-kun In Hoan.
Dia salah satu musuh ayah dan ibunya.
Sekejap saja perasaan Tiang Keng jadi tak enak.
Berbagai perasaan berkecamuk di otaknya.
Dia heran mengapa imam itu bersandiwara di depannya?
Sekalipun cerdas, karena Tiang Keng masih muda ia berhasil dibuat pusing kepala.
Un Kin tak mengetahui apa yang ada di pikiran anak muda ini Ia tak tahu masalah itu jadi sulit dan berbelit-belit.
"Ban Biauw Cin-kun kenal baik dengan guruku."
Kata si nona.
"Dulu ia sering datang ke mari.
Tapi kemudian ia tak pernah datang lagi.
hingga aku tak pernah melihatnya lagi.
Tentang dia kuketahui dari guruku dan beliau sedang mencarinya!
tiba-tiba ia muncul, tapi bukan mencari guruku, tapi justru dia datang menemuiku.
Bukankah itu aneh sekali?
Begitu dia berhadapan denganku, ia tertawa.
Kemudian dia bertanya kepadaku.
"Apakah kau tahu nama a\ah dan ibumu. Maukah kau kuberitahu?"
Sesudah itu Un Kin menghela nafas panjang.
Tak lama dia sudah melanjutkan ceritanya "Setelah aku dewasa, pertanyaan itu selalu ada di benakku.
Pertanyaan itu menggangguku, apakah aku sedang duduk atau kapan saja.
lak pernah sesaat pun aku melupakan masalah itu.
Sebenarnya aku curiga pada Ban Biauw Cin-kun.
namun pertanyaannya menggodaku.
Itu pertanyaan yang menusuk hatiku!"
Tiang Keng berpikir keras, ia juga jadi pusing oleh masalah si nona ini.
Oleh karena itu ia diam mendengarkan saja.
Sampai si nona berhenti bicara ia tetap diam Bahkan ia lupa saat itu mereka masih berlutut dan berhadapan mereka tak ada yang ingat untuk bangun.....
"Aku tertarik oleh pertanyaannya itu,"
Kata Un Kin.
"Maka aku minta agar dia memberitahuku. Tapi kembali ia tertawa. Dia bersedia memberitahuku, asal aku mau melakukan sesuatu untuknya. Dia minta agar aku melepaskan anak muda yang tertangkap oleh guruku. Aku kira anak muda itu telah berbuat salah pada guruku, jika tidak untuk apa guruku menangkap dia sebagai murid Ban Biauw. Aku tahu Ban Biauw lihay sekali, tapi ia takut menemui guruku. Malah dia minta bantuanku, untuk itu dia bersedia membuka rahasia tentang orang tuaku yang selama ini jadi rahasia bagiku. Ucapannya menarik hatiku. Jangankan hanya melepaskan pemuda itu. masalah yang berlipat ganda dari itu pun. aku bersedia melakukannya. Semua demi aku bisa mengetahui tentang kedua orang tuaku."
Tiang Keng mengerutkan alisnya.
"Jadi kau telah lepaskan anak muda she Gim itu?"
Tanya Tiang Keng. Un Kin mengangguk.
"Benar,"
Katanya.
"Kemudian?"
Kata Tiang Keng. Un Kin membuka kedua matanya, la tahan air matanya agar tak keluar, ia kembali menghela nafas.
"Lalu ia memberitahuku nama dan she kedua orang tuaku, ia juga bilang kedua orang tuaku itu binasa di tangan seseorang."
Kata si nona.
"Aku kaget dan berduka. Aku menyesal aku tak bisa segera menemui musuh besarku. Saat itu muridnya mengawasiku dan sinar matanya bermaksud buruk. Aku bersikap sabar. Lalu aku tanya siapa musuh besarku itu?"
Tiang Keng mengerutkan alisnya. Dia heran dan masgul.
"Apa ia memberitahukannya?"
Tanya Tiang Keng.
"Tidak!"
Jawab si nona.
"Mengapa ia tak memberitahumu?"
Tanya Tiang Keng lagi. Kembali Un Kin menarik nafas.
"Mendengar pertanyaanku itu. dia menunjukkan wajah berduka. Justru saat itu kami mendengar langkah kaki mendatangi. Dia kaget sekali, dia tarik tangan muridnya, sambil berkata, sebaiknya aku tanyakan hal ini pada To Tiang Keng! Kemudian ia kabur bersama muridnya. Ah sungguh hebat ilmu meringankan tubuhnya. Dia membawa orang tapi toh aku tak mampu mengejarnya. Di samping itu aku juga kuatir guru tahu. aku yang melepaskan anak muda itu. Dengan terpaksa aku kembali ke kamarku. Aku berduka, bingung dan menyesal. Aku juga penasaran sekali. Selain itu aku jadi berpikir, siapa To Tiang Keng? Ke mana aku harus mencarinya? Kepalaku jadi pusing. Sampai terang tanah (pagi) aku tak bisa tidur lagi."
Air mata si nona terus mengalir hingga setiap saat ia harus menghapus dengan tangannya.
"Tadi aku bertemu dengan guruku."
Kata si nona melanjutkan.
"Suhu sedang gusar karena pemuda tawanannya hilang. Aku tutup mulut. Tapi diam-diam aku membuat lengpay orang tuaku, agar rohnya tenang... Mulutku sembahyang tapi otakku bekerja keras. Tak habisnya aku memikirkan musuh besarku itu Aku juga berpikir, siapa To Tiang Keng? Ke mana aku mencarinya?"
Ia menatap ke arah si anak muda.
"Kau datang ke mari, hatiku jadi tak enak."
Kata si nona lagi.
"Aku tak ingin bermusuhan denganmu. Siapa sangka ... kau justru bernama To Tiang Keng!"
Si nona berhenti bicara, kepalanya ditundukkan. Tiang Keng mengawasi si nona. otaknya bekerja.
"Ban Biauw Cin-jin berbuat begitu. dengan demikian dia telah mengatur siasat."
Pikir Tiang Keng.
"Aku tahu maksud Ban Biauw. jelas ia ingin kami bersatu untuk bersama-sama menghadapi Un Jie Giok! Un Jie Giok benci pada Ban Biauw. karena itu Ban Biauw ingin membunuhnya dengan tangan orang lain. Tapi Ban Biauw licik, ia pikir aku bukan tandingan Un Jie Giok, maka ia berupaya agar aku bergabung dengan Un Kin. Barang kali juga dia senang jika aku bisa menyingkirkan Un Jie Giok. Rupanya dia takut aku gagal, maka dia berjaga-jaga. Dia juga takut Un Jie Giok tahu kalau yang membocorkan rahasia orang tua Un Kin itu dirinya. Maka diam-diam dia suruh Un Kin menanyakan padaku. Ah sungguh licin Ban Biauw ini. Dia mirip dengan ular berbisa dan kalajengking!"
Oo Biauw Cin-kun In Hoan tidak takut pada Tiang Keng.
tetapi yang dia takutkan adalah Un Jie Giok.
Lalu ia membuat rencana, la tak peduli seandainya Tiang Keng mati di tangan Un Jie Giok.
Sebenarnya dia pun berencana akan membunuh anak muda itu.
Bukankah pemuda itu pun musuhnya?
Hanya In Hoan belum tahu jelas siapa Tiang Keng sebenarnya.
Sudah biasa In Hoan membunuh orang dengan meminjam tangan orang lain.
begitu pun kali ini.
Apapun hasil siasatnya ia tak akan rugi.
Tiang Keng sadar, ia jadi benci pada In Hoan.
Ia anggap In Hoan jauh lebih jahat dari Un Jie Giok.
Nona Un menghela nafas.
"Semuanya telah kujelaskan padamu, sekarang tinggal kau menjelaskan padaku. .."
Kala si nona. Tiang Keng mengawasi si nona. ia lihat mata si nona sangat memohon. Saat Tiang Keng akan memberikan jawaban, tiba-tiba di luar terdengar suara bentakan.
"Tak peduli kau siapa, jika kau memaksa masuk, kau akan merasakan senjataku ini!"
Begitu suara itu.
Itu suara To-su Tauw-to.
Kedua muda-mudi itu kaget, sekarang mereka sadar mereka sedang berhadapan sambil berlutut.
Tiba-tiba keduanya bangun hampir bersamaan.
Keduanya saling mengawasi.
Mereka dengar suara ribut di luar serta suara beradunya senjata yang sedang bertempur....
Tak ayal lagi Tiang Keng mengibaskan tangannya memadamkan api.
pelita itu jatuh ke lantai.
Un Kin diam pikirannya kacau.
"Siapa? Siapa itu?"
Tanya Un Kin.
Suara pertempuran makin hebat, begitu juga bentakan si pendeta.
barangkali ia sedang bertarung dengan musuh yang tangguh.
Kemudian terdengar suara tawa dingin yang disusul oleh kata-kata nyaring dan tajam.
"Aku sudah tahu, kau bukan orang baik, pendeta. Aku tak mengira kalau kau mata-mata musuh dan seorang pengkhianat!"
Kata suara itu. Menyusul suara bentakan itu, ada suara bentakan yang lain. suaranya keras bagaikan suara gembreng pecah.
"Hai kalian kedua bocah, lekas keluar! Hm! Jika kalian berpikir akan main gila di sini. kau benar-benar buta!"
Kata suara itu. Tiang Keng kaget.
"Barang kali orang sudah tahu kita ada di sini?"
Kata Tiang Keng pada si nona. la jadi sangsi. Sebelum ia mengambil sikap, ia dengar lagi suara keras itu.
"Di sini! Di sini. Saudara Gu. saudara Siauw, lekas! Kedua bocah itu sudah kabur turun gunung!"
Mendengar suara itu Tiang Keng jadi bertambah heran.
"Siapa yang turun gunung?"
Pikir Tiang Keng.
"Jadi yang dimaksudkan orang-orang itu bukan kita berdua, lalu siapa mereka itu?"
Un Kin juga heran dan sangsi, la tahu orang-orang yang ada di luar sana adalah orang-orang gurunya.
Dia juga tahu yang mereka kejar-kejar bukan dia dan Tiang Keng tapi orang lain.
sekarang mereka tak terlihat.
Dia juga sangsi sambil berdiri diam dan tak tahu apa dia harus keluar untuk menyingkir atau tetap diam saja....
BAB 35.
DUA MURID IN HOAN DIBURU JAGO SILAT TANGGUH To-su Tauw-to menyaksikan Un Kin dan Tiang Keng berlutut berhadap-hadapan.
ia heran.
Entah apa yang sedang dilakukan kedua anak muda itu?
Sekalipun ia sudah pergi dari hadapan mereka, namun pikirannya tetap tergoda.
Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan kedua muda-mudi itu.
Ia polos dan sembrono, tapi ia juga usil.
Ia tak bisa diam saja.
Ia tahu itu rahasia orang, tapi ia tak bisa diam.
Saat ia berdiri di luar di depan pintu ia jadi serba salah.
Tak lama ia berjalan hilir-mudik.
Ia berharap jika kedua anak muda itu sudah keluar, ia berharap mereka akan memberi keterangan kepadanya.
Sang waktu berjalan terus, ia juga tetap gelisah.
Saat kesabarannya telah habis, ia melihat dua bayangan orang berkelebat masuk ke dalam ruangan itu.
la tak bisa melihat dengan tegas, maka ia gunakan hong-pian-san untuk menghalanginya sambil membentak.
"Siapa yang berani masuk ke mari. dia harus merasakan senjataku!"
Kata dia Itulah suaranya yang pertama didengar oleh Un Kin dan Tiang Keng.
Kedua bayangan itu kaget saat mereka tahu dihadang oleh si pendeta secara tiba-tiba.
Keduanya langsung berhenti dan mengawasinya.
Sekarang mereka kelihatan jelas, yang seorang jangkung-kurus membawa sebilah pedang, yang lain bungkuk membawa senjata ruyung tiok-ciat kong-pian.
Mereka saling mengawasi hingga tiga pasang mata saling pandang dekat sekali, ternyata mereka saling kenal.
Kiranya mereka adalah begal dari wilayah bagian barat sungai Tiangkang.
yaitu Cian-lie Beng-to Gu It San dan Eng Lo-sat Siauw Tiat Hong, mereka berdua orang gagah dari See-ouw (Telaga Barat).
Mereka berlainan tempat, satu di Barat satu di Selatan, tapi sekarang karena undangan dari Un Jie Giok mereka jadi berkumpul bersama.
Mereka berdua kenal pada si pendeta, hanya si usilan kurang cocok dengan mereka hingga mereka tak mau bergaul.
Mereka keheranan satu sama lain.Bu-eng Lo-sat jadi tak puas.
"Ada orang lancang datang ke mari. kami sedang mengejarnya. Mengapa Tay-su menghalangi kami?"
Kata Bueng Lo-sat.
To-su Tauw-to memang tak mengerti apa maksud Un Kin menugaskan dia agar melarang orang mendekat ke kamar itu.Tapi karena ia sudah berjanji pada si nona.
maka ia harus taat.
Oleh karena itu ia tak ambil pusing, ia tetap bandel.
"Di tempat ini tak ada orang!"
Bentaknya bengis.
"Jika kau mencari orang, kalian cari di tempat lain!"
Gu-it San berangasan, ia tak senang atas teguran dan hadangan si To-su Tauw-to ini.
Ia mendongkol atas cacian itu.
maka ia berseru sambil mengayunkan piannya.
Melihat dirinya diserang.
To-su Tauw-to tertawa.
"Kalian cari mati sendiri!"
Kata dia.
Memang ia senang keras lawan keras.
Maka serangan ruyung itu ia sambut dengan senjatanya yang berat.
Tak lama kedua senjata mereka beradu.
Tapi si To-su Tauw-to kaget, karena ia merasakan telapak tangannya bergetar dan nyeri.
"Tak kusangka binatang ini kuat sekali."
Pikir To-su Tauwto sejenak.
Lalu ia balas menyerang dengan tipu menghajar gunung Hoa-san.
Beng-to Cian-lie pun terperanjat.
Mereka terkenal bertenaga besar, sekarang ia berhadapan dengan lawan yang setimpal.
Saat ia tahu diserang, ia jadi makin sengit.
Ia tangkis serangan To-su Tauw-to dengan keras karena itu ia mengerahkan seluruh kekuatannya.
Kembali kedua senjata mereka bentrok hingga terpaksa mereka harus mundur sejauh tiga langkah.
To-su Tauw-to yang kuda-kudanya sudah teguh kembali takut didahului oleh lawan, maka itu ia kembali menyerang.
Gu-it San benar-benar pemberani, ia sengaja maju menangkis serangan itu dengan sama kerasnya.
Dia terperanjat, tangannya terasa nyeri sekali, hampir saja sepasang ruyungnya terlepas dari tangannya.
Si pendeta pun demikian, ia rasakan tangannya nyeri juga.
Bu-eng Lo-sat mendongkol berbareng geli menyaksikan kedua orang itu bertarung secara sembrono Mereka seolah sedang menguji tenaga masing-masing.
Ia mencaci kedua orang sembrono itu.
Karena mendongkol ia maju.
melompat melewati mereka, ia masuk ke pertempuran.
Sekalipun sembrono ilmu silat To-su Tauw-to cukup baik.
Melihat orang maju hendak menerobos, ia angkat senjatanya untuk merintanginya.
Siauw Tiat Hong tak ingin adu tenaga seperti sahabatnya tadi.
Maka ia berkelit menghindari serangan si To-su Tauw-to.
lalu membarengi dengan sebuah tikaman.
Menyaksikan lawannya lihay.
To-su Tauw-to Bu Kin meladeninya dengan sungguh-sungguh.
Ia gunakan ilmu Thung Mo Jie-ie Hong-pian-san-hoat atau tongkat pembasmi hantu la berkelahi sambil berseru.
Ia menghadapi Gu-it San yang tak segera mau mundur.
Siauw liat Hong yang menyaksikan perkelahian itu jadi heran dan curiga.
Ia yakin orang yang mereka kejar ada di dalam kamar itu.
Dia juga yakin Bu Kin, sahabat mereka akan ngotot bertahan, karena Bu Kinberkhianat.
Maka ia mencaci Bu Kin sebagai manusia busuk.
Akhirnya mereka saling mencaci hingga jadi berisik.
Caci-maki inilah yang didengar oleh Tiang Keng dan Un Kin dari dalam kamar.
To-su Tauw-to tangguh sekalipun ia dikepung berdua, ia tak mau menyerah dan melawan terus.
Saat itu dari jauh terdengar suara ribut.
Jelas itu suara orang sedang mengejar seseorang.
Mendengar di kaki gunung ada musuh.
Siauw Tiat Hong tak ingin meladeni To-su Tauwto lebih jauh.
ia gunakan akal.
Begitu ia menggertak, ia melompat mudur dan pergi.
Perbuatan SiauwTiat Hong ditiru oleh kawannya yang juga ikut pergi.
Bu Kin tertawa terbahak-bahak sambil membolak-balikan senjatanya.
"Segala kelinci tak berguna. Pergilah kalian!"
Kata dia. Karena taat kepada tugasnya ia tak mengejar mereka. Un Kin dan Tiang Keng bernafas lega.
"Mereka sudah pergi..."
Bisik si nona.
"Benar, mereka sudah pergi,"
Kata Tiang Keng. To-su Tauw-to berjalan ke ambang pintu kamar dan masuk.
"Mereka sudah kabur."
Katanya.
"To-su lihay!"
Kata Un Kin. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar pujian itu. Tangan yang kanan memegang senjatanya, sedang tangan kirinya menepuk dadanya.
"Nona, kepandaianku jelek, hanya dengan mengandalkan senjataku ini, dua orang itu bukan apa-apa bagiku!"
Kata si pendeta. Tak lama terdengar ia tertawa lagi sambil menepuk dadanya.
"Nona jangan cemas, selama ada aku di sini, tak ada orang yang bisa masuk ke mari. Jika Nona masih ingin bicara, bteruskan saja dengan tenang...."
"Belum tentu, Tay-su..."
Kata Tiang Keng dingin.
To-su Tauw-to kaget.
Ia jadi gusar.
Kedua alisnya berdiri.
Saat ia akan bicara mendadak ia lihat kedua pasang mata anak muda itu bersinar tajam, mereka sedang mengawasi ke atas pintu.
Tak lama dari atas pintu meluncur turun dua sosok bayangan.
Tubuh mereka ada yang gemuk dan ada yang pendek, kedua orang itu berdiri berendeng di ambang pintu.
Mereka mengawasi secara bergantian pada ketiga orang yang berada di dalam.
Bu Kin keheranan, kedua matanya dibuka lebar-lebar.
"Sahabat, kalian ini siapa?"
Kata Tiang Keng.
"Silakan masuk, mari kita bicara!"
Di antara mereka bertiga Tiang Keng paling miskin pengalaman, namun matanya sangat jeli.
Saat Bu Kin tadi bicara.
Tiang Keng melihat ada dua bayangan melompat ke atas pintu, la pikir mereka sedang kebingungan.
Un Kin melihatnya belakangan.
Sekarang terlihat tegas dua orang yang masih muda berdiri di hadapan mereka.
Rupanya mereka sedang kebingungan.
Jelas mereka bukan anak buah Un Jie Giok.
Un Kin ingat pada keributan tadi.
Mungkin kedua orang inilah yang dicurigai dan kepergok, lalu dikejar-kejar serta dicari-cari.
Kedua orang itu terus mengawasinya, karena yakin.
Tiang Keng tak berniat jahat, keduanya masuk.
Tiang Keng mengawasi mereka dengan tajam.
namun kedua orang itu tak bisa melihat ke dalam kamar yang gelap itu.
Salah seorang dari mereka agak curiga, ia menyalakan api.
Sekarang mereka bisa saling mengawasi dengan jelas.
Kedua orang itu sama-sama tampan, tapi mereka kelihatan sedang gelisah.
Yang membuat Tiang Keng keheranan, kedua orang itu berpakaian serba kuning, pakaian yang sama yang dikenakan oleh Gim Soan.
Tiang Keng sudah lupa.
mereka berdua pernah bertemu di atas gunung, yaitu saat masih kecilkecil.
Mereka datang bersama Gim Soan dan gurunya Ban Biauw Cin-kun In Hoan.
Selang sepuluh tahun, mereka telah dewasa semua.
Sebenarnya mereka turun gunung bersama Gim Soan, tapi Gim Soan pergi ke Selatan, lalu mereka berdua berpisahan.
yang seorang ke tepi sungai besar dan yang satunya lagi ke Se-coan dan Siam-say.
Saat pesta di rumah To-pie Sin-kiam.
Souw Sie Peng pernah menyebut-nyebut, bahwa ia pernah bertemu dengan anak muda di kaki gunung Gan-tong-san.
Dia adalah salah seorang dari mereka berdua, yaitu Tiat Tat Jin.
Kepandaian ketiga murid Ban Biauw Cin-jin ini seimbang.
Mereka tak mengecewakan menjadi murid si imam.
Karena mendengar kabar tentang pi-bu yang akan diadakan di Thianbak-san, mereka yang tertarik datang ke Thian-bak-san.
Tiat Tat Jin dan saudara seperguruannya, Cio Peng, datang terlambat.
Tapi di kota Lim-an mereka menemukan tanda rahasia dari gurunya.
Itu sebabnya mereka langsung menyusul.
Di suatu tempat yang dijanjikan, mereka bertemu dengan gurumya.
Ternyata guru mereka telah berhasil menolong Gim Soan.
Saat itu gurunya melarang mereka ikut pertandingan di Thian-bak-san tanpa diberi tahu alasannya.
Karena Gim Soan sudah merasakan dihajar musuh, ia tak berani membantah pesan gurunya.
Tidak demikian dengan Tiat Tat Jin dan Cio Peng, diam-diam mereka berkasak-kusuk.
"Suhu melarang kita mengambil bagian, jika kita datang sebelum pertandingan dimulai, apa salahnya?"
Kata Tiat Tat Jin.
Karena kedua anak muda itu tak bisa menahan gejolak hatinya, diam-diam mereka mendaki gunung Thian-bak-san Mereka tak tahu kalau di atas gunung banyak orang gagah dan ternyata mereka kepergok.
Karena tak sanggup melawan orang-orang Un Jie Giok.
mereka berniat kabur.
Mengapa mereka bisa lolos, karena saat mereka tiba Tiang Keng sedang berhadapan dengan si imam dan pendeta, serta tiga jago dari Hay-lam.
Sedangkan Tiang Keng bisa naik tanpa gangguan, karena saat itu orang sedang sibuk menghadapi kedua pemuda itu.
Kedua pemuda ini cerdik, mereka bisa lolos dan meninggalkan Siauw Tiat Hong dan Gu-it San, mereka terlihat oleh Tiang Keng.
Semula mereka pikir mereka tak akan bisa lolos lagi.
Maka itu mereka berniat akan bertarung matimatian.
Mereka heran ternyata Tiang Keng baik hati dan sabar.
Ia menyaksikan To-su Tauw-to juga si cantik Un Kin.
Ketika diawasi demikian tajam oleh kedua pemuda itu, Un Kin tidak puas.
Saat itu hatinya memang sedang sumpek.
Sambil mengeluarkan suara "hm"
Ia kibaskan tangannya, tak ampun api di tangan salah satu pemuda itu pun padam.
Keadaan tempat itu jadi gelap seperti tadi.
Keadaan jadi sunyi, yang terdengar hanya nafas mereka masing-masing.
Mereka semua waspada karena belum tahu apa yang ada di hadapannya.
Tiat Jin dan Cio Peng diam.
mereka tak ingin menyalakan api lagi.
sekalipun sebenainya mereka sangat ingin melihat wajah Un Kin yang cantik.
Tapi tiba-tiba dari belakang Tiang Keng dan Un Kin terlihat sinar terang., hingga membuat mereka terperanjat.
oo BAB 36.
UN JIE GIOK MELUMPUHKAN DUA MURID IN HOAN Tiang Keng langsung berkelit ke samping.
Ia membalikkan tubuhnya lalu mengawasi ke arah datangnya sinar.
Ia kaget, di atas meja sudah bercokol seorang perempuan tua, wajahnya buruk sekali, ia mengonde rambutnya dan berpakaian serba merah.
Kiranya orang itu Ang-ie Nio-nio Un Jie Giok!
Un Kin juga sudah menoleh dan melihat orang itu.
"Suhu!"
Kata si nona.
Nona Un melompat ke depan meja.
Un Kin tak sadar kalau musuh besarnya adalah gurunya sendiri, tapi si guru menyayangi dirinya seperti menyayangi anaknya sendiri.
To-su Tauw-to pun terperanjat.
Tak ia kira si nenek bisa muncul demikan tiba-tiba.
Hanya sekejap hatinya tenteram kembali.
Ia melompat ke samping, karena tak mau mengawasi perempuan jelek itu lama-lama.
Tiat Tat Jin dan Cio Peng terperanjat juga.
mereka diam saja.
Mereka berdua keheranan, bagaimana caranya tiba-tiba perempuan jelek itu bisa berada di antara mereka..
Tapi mereka langsung bisa menebak, bahwa perempuan buruk itu Un Jie Giok adanya.
Mereka awasi tangan si nyonya yang sedang memegang sebutir mutiara yang menimbulkan sinar dan mengagetkan mereka.
Di lain saat mereka sadar harus segera pergi dari tempat itu.
Mereka awasi terus si nyonya jelek itu, hati mereka gentar bukan main.
Betapa tajam sinar mata perempuan jelek yang sejak tadi mengawasi mereka itu.
Serasa mereka sulit bernafas saat ditatap oleh si nyonya bengis itu.
Un Jie Giok duduk tak bergeming di atas meja, sinar matanya bercahaya, kelihatan wajahnya yang buruk dan bengis.
Kedua belah pipinya menonjol bagai sepasang tanduk ular naga yang jahat, sedang hidungnya bengkok bagaikan paruh burung garuda.
Ketika ia duduk begitu ia mirip dengan hantu perempuan.
Sesaat keadaan jadi sunyi sekali.
Tiat Tat Jin dan Cio Peng tampak jerih bukan main.
diam-diam dan perlahan sekali, kaki mereka bergerak mundur, setindak demi setindak.
Mereka tak ingin ada orang melihatnya.
Tapi tiba-tiba terdengar teriakan..
"Berhenti!"
Bentak si nyonya.
Suara si nyonya tua bengis dan berwibawa Tat Jin dan Cio Peng berhenti melangkah mendengar suara bentakan itu.
Ketika itu angin yang dingin berhembus masuk, mengenai punggung, tanpa terasa mereka menggigil.
"Kalian berduakah yang lancang naik gunung dan lari kianke mari?"
Tanya si nyonya tua dingin.
Mata kedua anak muda itu celingukan.
Punggung mereka terasa semakin dingin.
Mereka mirip seekor tikus yang ketakutan melihat kucing yang hendak menerkam mereka.
Suara Un Jie Giok tajam menusuk telinga.
Un Kin yang selama ini ikut dengan si nenek pun.
ikut ngeri hingga jantungnya berdebar-debar.
Apalagi saat ia lihat sinar mata gurunya.
Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 11
Baca Juga: Pisau Terbang Li 2