Ceritasilat Novel Online

Laron Pengisap Darah 4

Eps 4 Laron Pengisap Darah - Huang Ying

Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying

Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.

"Gi Tiok-kun yang mengundangmu?"

"Darimana kau bisa tahu? Apakah piaumoay ku yang mengatakan?"

Tanya Kwee Bok keheranan. Bukannya menjawab, Siang Huhoa bertanya lebih lanjut.

"Ada urusan apa Gi Tiok-kun mengundangmu untuk datang mengunjungi perpustakaan Ki po cay?"

"Memeriksa pasien"

"Siapa pasiennya?"

"Jui Pakhay!"

"Atas ide siapa ini?"

"Adik misanku!"

"Apakah Jui Pakhay mengetahui rencana ini?"

"Tidak tahu"

"Kenapa dia mencari mu secara mendadak?"

Siang Hu-hoa mendesak lagi.

"Dia bilang selama berapa hari belakangan, pikiran dan perasaan suaminya sangat kalut, tingkah lakunya sering diluar batas kewajaran bahkan kerap mengucapkan kata-kata yang aneh dan mengherankan, dia curiga suaminya mengidap sakit gila atau tidak waras otaknya, maka aku diundang untuk melakukan pemeriksaan"

"Menurut kau penyakit apa yang diidapnya?"

"Menurut pandanganku, dia sehat, sama sekali tidak mengidap penyakit apa pun"

Siang Huhoa segera berpaling ke arah Nyo Sin seraya bertanya.

"Apakah dalam catatan tersebut, dia menulis begitu?"

"Sejak awal aku sudah tahu kalau isi catatan itu sama sekali tidak ada masalah"

"Catatan apa sih yang kalian maksudkan?"

Tanya Kwee Bok keheranan.

"Catatan peninggalan Jui Pakhay yang berisikan semua pengalaman yang dialaminya sejak tanggal satu bulan tiga hingga tanggal lima belas bulan tiga"

"Dia pun mencatat peristiwa yang dialaminya pada tanggal dua belas bulan tiga?"

"Benar, bahkan dicatat dengan sangat terperinci"

Sahut Siang Hu-hoa sambil mengangguk.

"Ooh...?"

"Selesai memeriksa penyakitnya, benarkah Jui Pakhay mengundangmu untuk makan bersama di rumahnya?"

"Benar"

"Benarkah Gi Tiok-kun turun tangan sendiri ke dapur dengan mempersiapkan sebuah hidangan yang disebut bola udang masak madu?"

Kembali Kwee Bok mengangguk.

"Hidangan tersebut memang merupakan hidangan faforitnya, dia paling senang memasak masakan itu"

"Sewaktu Jui Pakhay makan bola udang masak madu itu, benarkah telah terjadi suatu peristiwa yang sangat aneh?"

"Apa dia menulis begitu di dalam buku catatannya?"

"Benar"

"Peristiwa itu memang aneh sekali, ketika dia menyumpit sebiji bola daging dan baru saja dimasukkan mulut dan menggigitnya sekali, tiba tiba hidangan tersebut dimuntahkan kembali, kemudian dia muntah tiada hentinya sambil menuduh bola udang itu bukan hidangan udang melainkan bola laron penghisap darah"

"Apakah memang begitu dalam kenyataannya?"

"Mana mungkin?"

Bantah Kwee Bok cepat.

"sebenarnya aku yakin benar dengan hasil pemeriksaan nadiku, tapi setelah menyaksikan ulah serta tingkah lakunya, mau tidak mau aku menjadi sangsi juga"

"Apa yang kau sangsikan?"

"Aku curiga otaknya memang kurang waras, sekalipun dari denyut nadi bisa dicari sumber dari kekalutan itu, namun jika penyakitnya timbul pada otaknya maka akan jadi sulit untuk menemukan sumber penyakitnya hanya dari pemeriksaan denyut nadi, atau dengan perkataan lain hasil diagnosaku sebelumnya memang tidak keliru"

"Kalau memang sudah muncul kecurigaan semacam itu, kenapa kau tidak lakukan pemeriksaan sekali lagi dengan lebih teliti?"

Kwee Bok tertawa getir.

"Sebenarnya aku pun punya rencana untuk berbuat begitu, tapi sejak peristiwa itu, pada hakekatnya dia sudah menganggap kami berdua sebagai siluman atau setan iblis, setelah menghardik kami agar tidak mendekatinya, dia langsung melarikan diri dari meja perjamuan"

"Jadi dia benar-benar telah menganggap kalian sebagai siluman atau setan iblis?"

Nyo Sin menatap tajam pemuda tampan itu.

"Kenapa dia bisa berpendapat begitu?"

Tanya Kwee Bok tercengang.

"Seharusnya kau mengerti akan hal ini"

"Tapi aku benar benar tidak tahu"

Sekali lagi Kwee Bok tertawa getir.

"Hmmm, pandai amat kau berlagak pilon"

Jengek Nyo Sin. Kwee Bok menghela napas panjang, selang sesaat kemudian dia baru bertanya lagi.

"Jui Pakhay benar benar telah mati?"

"Kenapa kau masih belum yakin kalau dia telah mati?"

"Kenapa pula Nyo tayjin begitu yakin kalau kematian Jui Pakhay benar-benar ada sangkut pautnya dengan kami berdua?"

Kwee Bok balik bertanya sambil menghela napas.

"Karena dua alasan"

"Apa itu alasannya?"

"Pertama, didalam catatan yang ditinggalkan Jui Pakhay, dia pernah menyinggung kalau kalian berdua punya rencana akan menghabisi nyawanya!"

"Soal ini................"

Tidak menunggu pemuda itu membantah, Nyo Sin berkata lebih jauh.

"Kedua, jenasah Jui Pakhay ditemukan didalam sebuah ruang kecil persis dibelakang kamar tidur mereka suami istri berdua, untuk bisa mencapai ruangan kecil itu, orang harus melalui kamar tidurnya lebih dulu, disaat kami menjumpai mayat dari Jui Pakhay, kami pun menemukan juga sejumlah laron penghisap darah"

"Laron penghisap darah?"

"Beribu-ribu ekor laron penghisap darah sedang menghisap darah jenasah dan melalap daging mayat"

"Benarkah ada kejadian seperti ini?"

Seru Kwee Bok dengan tubuh bergidik.

Kalau ditinjau dari lagaknya, dia seakan memang benarbenar tidak mengetahui akan peristiwa ini.

Sorot mata Siang Hu-hoa tidak pernah bergeser dari raut muka Kwee Bok, dia memperhatikan terus setiap perubahan mimik muka pemuda itu, setelah dicermati sampai disitu, tanpa terasa pikirnya.

"Apa benar peristiwa ini memang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka?"

Sementara dia masih termenung, Nyo Sin telah berkata lebih jauih.

"Kecuali mereka suami istri berdua, aku tidak percaya kalau masih ada orang luar yang bisa menyembunyikan mayat serta sejumlah laron penghisap darah didalam ruangan kecil itu tanpa ketahuan orang lain"

"Aku pun tidak percaya"

Sahut Kwee Bok setelah termenung sejenak.

"Bila sang korban adalah satu diantara sepasang suami istri tersebut, bukankah orang yang tersisa merupakan tersangka yang pantas paling dicurigai?"

Mau tidak mau Kwee Bok harus mengangguk juga.

"Jadi berdasarkan dua alasan tersebut maka kau menangkap kami berdua?"

Tanyanya.

"Memangnya dengan dua alasan tersebut masih belum cukup?"

"Benar, memang sudah lebih dari cukup"

Kwee Bok mengangguk.

"Kalau memang begitu, ayoh ikut kami kembali ke kantor polisi"

Seru Nyo Sin sambil mengulurkan tangan kirinya dan mencengkeram bahu pemuda itu.

Kwee Bok tidak membiarkan bahunya ditangkap orang, belum sampai tangan pembesar itu menyentuh badannya, dia sudah menarik diri sambil bergeser mundur.

"Kunyuk jelek, kau berani melawan?"

Kontan saja Nyo Sin berkaok kaok gusar.

"Aku bukannya bermaksud melawan, tapi ada yang mesti kusampaikan dulu"

Sahut Kwee Bok sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Kalau ada yang hendak disampaikan, katakan saja setelah tiba di kantor polisi"

"Kalau harus menunggu sampai waktu itu, mungkin keadaan sudah terlambat"

"Tidak ada gunanya kau berusaha mengulur waktu......."

Mendadak Siang Huhoa menyela, ujarnya.

"Biarkan dia sampaikan dulu apa yang hendak dikatakan"

Nyo Sin memandang Siang Huhoa sekejap, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat sahutnya.

"Baiklah kalau begitu"

Sesudah menghembuskan napas panjang ujar Kwee Bok.

"Terlepas Nyo tayjin mau percaya atau tidak, perkataanku ini harus kusampaikan dulu sejelasnya"

"Kalau ingin berbicara, cepat katakan"

Tukas Nyo Sin tak sabar.

"Aku sama sekali tidak membunuh Jui Pakhay!"

"Mungkin kau tidak, tapi Gi Tiok-kun yang melakukan pembantaian tersebut"

"Aku yakin peristiwa ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan adik misanku"

"Oya?"

Jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Jika kami yang melakukan pembunuhan itu, kenapa mayatnya tidak kami musnahkan saja untuk menghilangkan jejak, kalau dibilang peristiwa itu merupakan hasil perbuatan pribadi, akupun tidak mempunyai alasan untuk berbuat demikian, terlebih lagi tidak mungkin akan kumasukkan jenasahnya ke dalam ruangan kecil itu. Apalagi jika pembunuhan ini dilakukan piaumoay ku, dia terlebih tak mungkin akan meninggalkan mayatnya ke dalam ruangan yang dekat dengan kamar tidur pribadinya"

"Dalam hal ini kau tidak perlu menguatirkan cara kerja kami sebab kami sudah mempunyai alasan yang paling bagus untuk menerangkan kesemuanya itu"

"Aku percaya, tapi aku yakin semua penjelasan kalian hanya berdasarkan perkiraan"

Nyo Sin tidak menyangkal akan hal tersebut. Terdengar Kwee Bok berkata lebih jauh.

"Nyo tayjin, pernahkah kau mencurigai seseorang lain yang bisa jadi sedang menfitnah kami berdua atau ada orang lain yang menjadikan kami berdua sebagai kambing hitam atas perbuatannya?"

"Hmm, siapa yang sudi mengkambing hitamkan kalian berdua?"

Jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Mungkin saja semuanya ini merupakan ulah dari Si Siangho"

"Si Siang-ho?"

Nyo Sin mengerutkan dahinya.

"nama ini rasanya seperti pernah kudengar disuatu tempat"

"Si Siang-ho adalah pemilik lama gedung perpustakaan Ki po cay ini"

Tu Siau-thian segera menerangkan. Begitu dijelaskan, Nyo Sin seakan teringat kembali akan orang tersebut, serunya tertahan.

"Oooh, rupanya dia!"

Sementara itu Tu Siau-thian telah berpaling ke arah Siang Hu-hoa sambil bertanya.

"Saudara Siang, pernah mendengar nama orang ini?"

Siang Huhoa manggut-manggut.

"Si Siang-ho dengan sebilah pedang baja dan tiga buah gelang terbangnya sudah lama menjagoi dunia persilatan, hampir semua anggota persilatan pernah mendengar nama besarnya itu"

"Menurut apa yang kuketahui, dia mempunyai sebuah julukan yaitu Pedang baja gelang terbang!"

Tu Siau-thian kembali menjelaskan. Bab 16. Pertaruhan Gedung perpustakaan Ki po cay.

"Berapa tahun belakangan sudah jarang kami dengar tentang kabar beritanya"

Kata Siang Huhoa.

"Menurut pendapat saudara Siang, manusia macam apakah dia ini?"

"Aku tidak pernah bertemu dengannya jadi tidak terlalu jelas bagaimana tabiat serta sepak terjangnya, tapi menurut apa yang kudengar, dia terhitung seorang hiapkek, pendekar sejati"

"Moga-moga saja kesemuanya itu memang sebuah kenyataan"

"Jadi kau tidak kenal dengan orang ini?"

Tu Siau-thian menggeleng.

"Kami hanya pernah bertemu beberapa kali ditengah jalan"

"Apakah dia mempunyai ganjalan atau sakit hati dengan Jui Pakhay?"

"Kalau bukan gara-gara Jui Pakhay, adik misanku sudah lama menjadi bininya"

Kwee Bok segera menimbrung.

"Oooh, jadi mereka adalah musuh cinta?"

"Boleh dibilang begitu"

"Kalau begitu aneh sekali....."

Seru Siang Huhoa lebih jauh.

"Apanya yang aneh?"

Sela Nyo Sin.

"Kenapa Si Siang-ho rela menjual perpustakaan ki po cay miliknya ini kepada musuh cintanya?"

Ehmmm, betul juga, akupun merasa kejadian ini rada aneh"

Kata Nyo Sin setelah termenung sejenak. Kwee Bok segera menerangkan.

"Ketika Si Siang-ho akan menjual gedung perpustakaan ki po cay ini kepada Jui Pakhay, dia sama sekali tidak tahu kalau Jui Pakhay adalah musuh cintanya, apalagi dalam kenyataan Ki po cay tidak pernah dijual kepada Jui Pakhay"

"Kalau bukan dijual, memangnya dihibahkan kepadanya?"

"Bukan, bukan dihibahkan tapi diserahkan dengan begitu saja karena kalah bertaruh"

Kata Kwee Bok sambil menggeleng.

"Maksudmu gedung perpustakaan Ki po cay diperoleh Jui Pakhay dari tangan Si Siang-ho karena dia menang bertaruh?"

"Begitulah kenyataannya"

"Aku pernah mendengar juga tentang hal ini"

Sela Tu Siauthian.

"Ki po cay memang diperoleh Jui Pakhay setelah menangkan pertaruhan dari tangan Si Siang-ho"

"Wah, sepak terjangnya ternyata hebat sekali"

"Sebenarnya orang ini gemar sekali berjudi, bertaruh merupakan kegemarannya yang paling utama, biasanya kalau dia sudah mulai berjudi maka barang taruhannya pasti sangat mengerikan, mempertaruhkan sebuah perkampungan memang merupakan satu angka pertaruhan yang menakutkan"

"Oooh, tidak kusangka kalau kecanduan Jui Pakhay pada bertaruh demikian hebatnya"

"Kalau aku sih sudah pernah menduga sampai ke situ"

Kata Tu Siau-thian.

"Waktu itu, dia memang berniat untuk menantang Si Siangho bertaruh habis habisan!"

Kwee Bok menambahkan.

"Kenapa sampai muncul niat seperti itu?"

Tanya Siang Huhoa keheranan.

"Sebab sudah lama dia mengincar gedung Ki po cay bahkan sangat berminat untuk menguasahinya"

"Kalau begitu gedung Ki po cay jelas merupakan sebuah tempat yang sangat bagus dan hebat"

"Sebelum terjadinya peristiwa itu"

Sambung Kwee Bok lebih lanjut.

"sudah beberapa kali dia mengutus orang untuk mengadakan pembicaraan dengan Si Siang-ho, dia berencana untuk membeli gedung Ki po cay dengan harga yang pantas"

"Dan Si Siang-ho enggan menjual kepadanya?"

"Benar, penawaran itu ditolak mentah-mentah"

"Kalau tidak punya uang, tidak nanti orang itu memiliki sebuah perkampungan sebesar itu, kalau seseorang punya uang banyak, tentu saja dia tidak bakal menjual perkampungan miliknya"

"Tapi waktu itu dia sudah tidak seberapa punya uang"

"Oya?"

"Dulunya Ki po cay adalah sebuah toko yang menjual aneka mutiara, tapi saat itu usaha dagangnya sudah nyaris bangkrut"

Kwee Bok menerangkan. Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Si Siang-ho sendiripun amat tergila-gila dengan berjudi, dia pun tidak pandai berdagang, jauh sebelum kejadian tersebut didalam gedungnya yang dinamakan penyimpan mestika nyaris sudah tidak tersisa sebuah mestika pun"

"Kalau memang sudah nyaris bangkrut, mengapa Si Siangho segan untuk menjual gedungnya itu?"

Ujar Siang Hu-hoa keheranan.

"Sebab perkampungan itu merupakan warisan dari leluhurnya"

"Kalau sudah tahu merupakan warisan dari leluhurnya, mengapa pula dia dijadikan barang taruhan?"

"Sebab pada waktu itu dia sudah kelewat banyak minum arak, bila seseorang sudah mabuk berat, seringkali perbuatannya bisa mengakibatkan kejadian fatal"

"Jui Pakhay yang suruh dia mempertaruhkan perkampungan Ki Po cay atau dia sendiri yang berniat mempertaruhkan perkampungannya?"

"Pada mulanya yang mereka pertaruhkan hanya uang, sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk membeli seluruh perkampungan Ki po cay"

"Waktu itu apakah Si Siang-ho memiliki jumlah uang sebanyak itu?"

"Tidak punya"

"Saat itu dia baru mabuk tiga puluh persen, semestinya dia tahu bahwa dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu untuk diper-taruhkan?"

"Mungkin dia menyadari akan hal tersebut, tapi kemudian Jui Pakhay memanasi hatinya dengan perkataan dan minta dia menggunakan perkampungan Ki po cay sebagai barang taruhan"

"Tapi sepantasnya dia waspada dan hati-hati sebelum mengambil keputusan"

Kata Siang Hu-hoa.

"Sayangnya dia sudah mabuk duluan, apalagi ditambah wataknya yang pingin menang sendiri, dia takut dipandang hina orang lain terutama dikala itu banyak sekali yang hadir dan menyaksikan pertaruhan tersebut, kuatir orang mengatakan dia bernyali kecil, takut kalah, ditambah lagi diapun menganggap dirinya belum tentu akan kalah, maka tantangan itu diterimanya tanpa dipikir lagi"

Siang Hu-hoa cukup mengetahui keadaan seperti ini, bukankah pemikiran semacam itu selalu dimiliki setiap penjudi? Terdengar Kwee Bok berkata lebih jauh.

"Tampaknya dia tidak sadar, kecuali dia tolak taruhan tersebut, kalau tidak, dapat dipastikan dia pasti akan kalah ditangan Jui Pakhay"

"Tapi setahuku, dibidang pertaruhan kemampuan yang dimiliki Jui Pakhay tidak terlampau hebat atau luar biasa"

"Demikian pula dengan keadaan Si Siang-ho, apalagi saat itu dia sudah sangat mabuk, ditambah lagi Jui Pakhay memiliki uang kontan yang lebih dari cukup untuk menantangnya bertaruh"

"Justru kondisi semacam inilah merupakan kunci yang paling utama untuk meraih sebuah kemenangan"

"Itulah sebabnya kecuali dia bernasib luar biasa bagusnya dan selalu meraih kemenangan dalam setiap taruhan, kalau tidak, kekalahan sudah menunggunya di depan mata"

Siang Huhoa manggut manggut.

"Benar, sesungguhnya posisinya waktu itu sangat tidak menguntungkan, sebab Jui Pakhay boleh kalah berulang kali namun baginya dia hanya bisa kalah satu kali dari Jui Pakhay"

"Ternyata nasibnya memang jelek sekali, pertaruhan baru saja dimulai, dia sudah kalah ditangan Jui Pakhay"

Kwee Bok menerangkan.

"Bukankah dengan begitu pertaruhan tidak bisa dilanjutkan lagi?"

"Yaa, selain memiliki perkampungan Ki po cay, dia memang sudah tidak memiliki secuwil benda pun yang bisa digunakan sebagai barang taruhan"

"Ehmm, sepintas lalu pertaruhan ini kelihatannya seakan adil sekali!"

"Padahal sama sekali tidak adil"

Seru Kwee Bok.

"sebab sejak awal Jui Pakhay memang sengaja mengatur jebakan itu, dia sengaja meloloh Si Siang-ho dengan arak agar cepat mabuk, kemudian sengaja mengajaknya bertaruh, kesemuanya ini merupakan satu rancangan siasat yang luar biasa"

"Tentunya Si Siang-ho juga menyadari akan hal itu bukan?"

"Waktu itu dia sih tidak mengatakan sekecap katapun, perkampungan Ki po cay langsung dia serahkan kepada Jui Pakhay, bagaimanapun dia merupakan seorang lelaki yang berani berbuat berani pula menerima resiko"

"Setelah kehilangan perkampungan Ki po cay, dengan sendirinya dia pun tidak akan berhasil menangkan Gi Tiok-kun dari tangan Jui Pakhay?"

Kata Siang Hu-hoa.

"Benar, saat itulah dia baru betul-betul naik pitam"

"Terjadinya ke dua peristiwa itu berselisih berapa lama?"

"Paling banter cuma dua bulan, itulah sebabnya Si Siang-ho menganggap semua peristiwa ini merupakan serangkaian rencana keji yang sengaja diatur Jui Pakhay dengan tujuan untuk mendapatkan adik misanku"

"Tindakan apa yang kemudian dilakukan Si Siang-ho untuk menuntut balas atas sakit hati ini?"

"Dia tidak melakukan pembalasan, pada hari dimana adik misanku menikah dengan Jui Pakhay, dia segera bebenah dan diam diam pergi meninggalkan tempat ini"

"Dia pergi ke mana?"

"Tidak pernah diungkapkan, juga tidak seorang manusia pun yang memperdulikan dirinya"

Tidak sulit bagi Siang Huhoa untuk membayangkan suasana seperti itu, dingin atau hangatnya hubungan sesama manusia seringkali ada hubungan yang erat dengan banyak dan tidaknya kekayaan yang kau miliki, semakin kau banyak uang dan kaya raya, biasanya orang lain akan berusaha untuk mendekatimu dan bersikap hangat kepadamu, semakin sedikit kekayaan yang kau miliki, semakin dingin pula sikap orang terhadapmu.

"Aaai, kelihatannya orang ini memang termasuk orang yang berani berbuat, berani pula menanggung akibatnya"

Kata Siang Hu-hoa perlahan. Tu Siau-thian yang selama ini hanya membungkam, kini tidak kuasa lagi menahan rasa kesalnya, tiba tiba dia menyela.

"Kalau toh dia sudah pergi meninggalkan tempat ini, lantas mengapa kau menghubungkan peristriwa tentang laron penghisap darah dengan dirinya?"

"Karena sejak tiga bulan berselang dia sudah muncul lagi disini"

Kwee Bok menjelaskan. Tu Siau-thian tertegun.

"Kembalinya dia kali ini bertujuan untuk mencari Jui Pakhay dan membuat perhitungan dengannya"

Kata Kwee Bok lebih jauh.

"Seandainya dia memang berniat membuat perhitungan dengan Jui Pakhay, seharusnya hal ini dilakukan sedari dulu"

Kata Tu Siau-thian.

"Tiga tahun berselang, dia tahu kemampuan yang dimilikinya masih bukan tandingan dari Jui Pakhay"

"Apakah dalam tiga tahun terakhir dia telah berhasil mempelajari suatu kepandaian silat yang tangguh?"

Tanya Tu Siau-thian.

"Dalam hal ini aku kurang begitu tahu, mungkin saja dia telah berhasil mempelajari sejenis ilmu silat yang sangat tangguh, mungkin juga telah memperoleh sejenis ilmu sesat yang hebat, yang pasti katanya dia mampu menghabisi nyawa Jui Pakhay setiap waktu setiap saat"

"Waah, nampaknya perbuatan orang ini mencerminkan jiwa seorang kuncu"

Tiba tiba Siang Hu-hoa tertawa.

"Maksudmu?"

"Orang bilang bila seorang kuncu ingin membalas dendam, tiga tahun pun belum terlambat"

"Ooh, rupanya begitu maksudmu"

Kata Kwee Bok kemudian sambil tertawa. Mendadak Siang Huhoa menarik kembali senyumannya, sambil mengawasi Kwee Bok dengan mata melotot, tegurnya.

"Kenapa kau bisa mengetahui urusannya dengan begitu jelas?"

"Kapan kau pernah bersua dengannya? Kenapa pula dia beritahukan segala sesuatunya kepadamu?"

Tanya Tu Siauthian pula.

"Sebenarnya apa hubunganmu dengan dirinya?"

Nyo Sin menimbrung pula.

Karena ke tiga orang itu mengajukan pertanyaan hampir bersamaan waktunya, untuk sesaat Kwee Bok jadi bingung, dia tidak tahu pertanyaan mana yang harus dijawab terlebih dulu.

Setelah menghela napas panjang, katanya perlahan.

"Si Siang-ho pernah menjadi pasienku!"

"Karena sakit apa dia mencarimu?"

Tidak tahan Nyo Sin bertanya lagi.

"Tempo hari karena kurang hati hati dia masuk angin, setelah minum obat yang kubuat sebanyak satu tiap lalu beristirahat sejenak, kondisi badannya telah pulih kembali"

"Darimana kau bisa begitu yakin?"

"Sebab obat itu dimasak di rumahku"

Jawab Kwee Bok Setelah berpikir sejenak kembali ujarnya.

"Setiap kali melihat aku sedang menganggur tidak ada pekerjaan, dia selalu memaksaku untuk menemaninya minum berapa cawan arak, menghadapi pasien yang tidak tahu menyayangi kesehatan sendiri macam begini, saat itu aku benar-benar dibuat serba salah"

"Akhirnya apakah kau menemaninya dia pergi minum arak?"

"Menolak pun tidak ada gunanya"

"Kenapa?"

"Tenagaku tidak sekuat tenaganya, apalagi dia berbuat demikianpun berdasarkan niat baik"

Maka dia pun memberitahukan semua rahasia tersebut kepadamu?"

"Waktu bercerita, dia sudah berada dalam kondisi mabuk, maka aku percaya semua yang dia tuturkan adalah perkataan yang sejujurnya"

"Apakah dia jugamem beritahu kepadamu bahwa kedatangannya kali ini bertujuan untuk membalas dendam?"

Kwee Bok mengangguk Kembali Nyo Sin bertanya.

"Apakah dia sempat menyinggung masalah yang ada hubungannya dengan laron penghisap darah?"

"Soal itu, tidak pernah"

"Selain kepada kami, apakah kau pernah memberitahukan persoalan ini kepada orang lain?"

"Tidak pernah"

"Juga tidak pernah memberitahu kepada Jui Pakhay?"

"Selama ini antara aku dengan dia tidak pernah berhubungan atau mengadakan kontak"

"Kau pun tidak pernah mendatangi perkampungan Ki po cay?"

Desak Nyo Sin lebih jauh.

"Aku hanya pernah datang satu kali yaitu pada tanggal dua belas bulan tiga, ketika itu aku diundang adik misanku untuk memeriksakan kondisi kesehatan tubuhnya"

"Waktu itu kau toh punya peluang untuk menyampaikan kabar tersebut kepadanya?"

"Waktu itu tidak terpikirkan olehku akan kejadian tersebut, sewaktu aku mulai teringat dan akan sampaikan kabar kepadanya, dia sudah anggap kami sebagai jelmaan siluman atau setan iblis, untuk menghindar saja rasanya sudah tidak sempat apalagi mau berbicara denganku, mendengarkan perkataanku?"

"Ooh......"

Wajah Nyo Sin mulai menunjukkan kesangsian dan keraguan.

"Setelah kejadian itu, apakah kau pernah berjumpa lagi dengan Si Siang-ho?"

Tanya Tu Siau-thian kemudian "Masih bertemu satu kali lagi"

"Lagi-lagi untuk memeriksakan kesehatan tubuhnya?"

"Benar, datang untuk memeriksakan diri, hanya kali ini dia mengutus orang untuk mengundangku datang ke tempat tinggalnya"

"Jangan-jangan perbuatannya?"

"Benar!"

"Kali ini dia sakit apa lagi?"

"Seperti yang lalu, masuk angin, hanya kali ini kondisinya sedikit lebih parah"

"Dia tinggal di mana?"

Tiba-tiba Nyo Sin menyela.

"Sebuah rumah penginapan disebelah timur kota, konon penginapan itu merupakan perusahaan miliknya"

"Apa nama penginapan itu?"

Desak Nyo Sin lebih jauh.

"Hun-lay!"

Nyo Sin segera berpaling ke arah Siang Hu-hoa dan ajaknya.

"Bagaimana kalau kita mengunjungi rumah penginapan Hun-lay?"

Siang Huhoa tidak berkata apa apa, dia pun tidak menolak atau mengajukan usul lain.

"Siapa tahu disana kita akan menemukan lagi sesuatu"

Sambung Nyo Sin. Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Kwee Bok, lalu katanya lagi.

"Kau ikut bersama kami dan menjadi petunjuk jalan"

"Bolehkah aku tidak ikut serta?"

Pinta Kwee Bok sambil tertawa hambar.

"Tentu saja tidak boleh, mulai sekarang tanpa seijinku, jangan harap kau bisa berlalu dari hadapanku barang setengah langkah pun"

"Nyo tayjin tidak usah kuatir"

Ucap Kwee Bok sambil menghela napas.

"sebelum duduknya persoalan menjadi jelas dan tuntas, aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini"

"Memang paling bagus begitu, jadi masing masing tidak perlu direpotkan oleh yang lain"

Kwee Bok tidak banyak bicara lagi, dia segera beranjak, sikapnya sangat tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.

Ketika sikapnya yang tenang itu terlihat oleh Siang Huhoa, Nyo Sin maupun Tu Siau-thian, tanpa terasa satu ingatan melintas bersama dalam benak mereka.

Benarkah peristiwa berdarah ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya?

Benarkah semua kejadian ini merupakan ulah dari Si Siang-ho?

Tanpa terasa mereka pun ikut beranjak dan mengikuti di belakang tubuhnya.

Terlepas benar atau tidak, asal Si Siang-ho berhasil ditemukan, sudah pasti akan diperoleh jawaban yang jelas, mereka hanya berharap Si Siang-ho masih tetap berdiam di rumah penginapan Hun-lay.

--Rumah penginapan Hun-lay, sebuah nama yang sangat indah, sayang letaknya sedikit diluar kota, disisi timur pintu gerbang kota.

Jalanan menuju ke luar kota sangat tidak rata dan tidak enak dilalui.

Rumah penginapan itu meski dibangun tidak terlalu dekat dengan kota namun tidak juga terhitung kelewat jauh, asal langkah mereka agak cepat maka sebelum malam menjelang tiba nanti, mereka masih sempat untuk balik ke dalam kota.

Oleh sebab itu rumah penginapan Hun-lay bukan termasuk sebuah penginapan yang berlimpah tetamunya, dusun itu pada hakekatnya merupakan sebuah dusun yang amat miskin.

Dalam seluruh dusun tersebut hanya terdapat sebuah jalanan yang beralaskan batu, tentu saja rumah penginapan Hun-lay dibangun disisi jalan besar.

Beberapa orang bocah cilik nampak sedang bermain disisi jalan, pintu depan rumah penginapan kelihatan amat sepi dan hening.

Ketika Siang Hu-hoa sekalian sudah berjalan mendekat, mereka baru tahu kalau sepasang pintu gerbang rumah penginapan itu berada dalam keadaan tertutup rapat, malah diatas salah satu pintunya tertempel selembar kertas pengumuman yang bertuliskan.

"Sementara berhenti usaha"

Kertas itu sudah lusuh dan warnanya sudah luntur, ini menunjukkan kalau sudah lama rumah penginapan Hun-lay menutup usahanya, tanpa terasa Siang Huhoa bertiga mengalihkan sorot matanya mengawasi wajah Kwee Bok.

"Sejak enam bulan berselang rumah penginapan ini memang sudah menghentikan usahanya untuk sementara waktu"

Kwee Bok menerangkan.

Dia segera maju ke depan, memegang gelang diatas pintu dan dipukulkan kuat kuat sebanyak berapa kali diatas pintu itu.

Tidak lama kemudian kedengaran seseorang menegur dari dalam pintu.

"Siapa?"

"Aku, Kwee Bok!"

Jawab pemuda itu cepat.

"Ooh, rupanya saudara Kwee!"

Suara orang itu segera berubah jadi tinggi melengking.

Menyusul kemudian kedengaran suara langkah kaki yang berjalan mendekat, suara langkah yang sangat aneh, seolaholah orang tersebut sangat rapuh kesehatannya sehingga tenaga untuk berdiri tegak pun tidak ada.

henti dibalik pintu tapi pintu itu tidak segera dibuka, sampai sesaat kemudian dia baru membukakan pintu gerbang.

Bau arak yang sangat menyengat segera menyebar disekeliling tempat itu, tanpa terasa Siang Huhoa berempat pun mengalihkan perhatiannya ke wajah orang itu.

Orang itu berdiri sambil berpegangan pada daun pintu, namun tubuhnya masih kelihatan gontai seakan akan setiap saat bakal roboh ke tanah.

Dalam genggamannya masih terdapat sebuah cawan arak, cawan itu penuh berisikan arak, pakaian berwarna biru yang dikenakannya juga dipenuhi oleh noda arak yang menusuk hidung.

Rambutnya awut awutan, jenggotnya tidak terawat, mukanya sangat dekil, entah sudah berapa hari dia tidak pernah cuci muka dan menyisir rambutnya.

Dalam ruangan itupun tidak ada lentera, seluruh jendela dibiarkan dalam keadaan tertutup rapat, hal ini membuat suasana dalam bangunan itu terasa remang remang dan sangat menyeramkan, seakan sebuah neraka ditengah alam manusia.

Dalam kenyataan raut muka orang ini memang tidak jauh berbeda seperti wajah setan gentayangan dari neraka, wajahnya pucat kehijau hijauan dan sama sekali tidak ada rona merahnya, namun sepasang matanya justru dipenuhi dengan garis garis merah darah, sedemikian merahnya sehingga mirip dengan lelehan darah segar.

Siapa pun yang bertemu dengan manusia macam begini, dapat dipastikan mereka akan terkesiap bercampur ngeri.

Untung saja waktu itu masih tengah hari sehingga nyali mereka pun otomatis jauh lebih besar.

Sejak terjadinya peristiwa berdarah dalam perkampungan Ki-po-cay, segala persoalan yang kemudian mereka jumpai seakan tak ada yang tidak mengejutkan hati, semua penemuan, semua kejadian seolah sama sekali diluar dugaan dan mendatangkan kabut tanda tanya yang semakin besar.

Saat itu, orang yang benar benar terperanjat ternyata hanya Kwee Bok seorang, tampaknya pemuda itupun baru pertama kali ini bersua dengan manusia tersebut, untuk berapa saat dia nampak berdiri termangu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Siang Hu-hoa melirik sekejap wajah orang itu, kemudian sambil berpaling ke arah Tu Siau-thian, ujarnya.

"Apakah orang ini yang bernama Si Siang-ho?"

"Benar, dialah orangnya"

"Dulu, apakah begitu juga tampangnya?"

Tanya Siang Huhoa lebih jauh. Tu Siau-thian segera menggeleng.

"Tidak, dulu dia sangat memperhatikan penampilan, pakaiannya, dandanannya selalu rapi dan perlente"

"Pakaian yang dikenakan seseorang bisa saja berganti tiga kali dalam sehari, tapi apa raut wajah orang tidak mungkin berubah setiap tiga tahun?"

"Itulah sebabnya meski keadaannya saat ini sangat payah, aku masih tetap dapat mengenalinya dalam pandangan pertama"

"Aku pun dapat mengenali dirinya"

Nyo Sin menambahkan.

"Aku rasa usianya jauh lebih tua ketimbang usia Jui Pakhay"

Kata Siang Hu-hoa.

"Waah, kalau soal ini aku kurang begitu jelas"

Ucap Tu Siau-thian.

"Kalau dilihat dari penampilannya sekarang, paling tidak dia telah berusia diatas lima puluh tahunan"

Nyo Sin menimpali.

"Aku benar benar kurang jelas tentang masalah ini"

Kembali Tu Siau-thian menggeleng. Mendadak terdengar Si Siang-ho menghela napas panjang, tanyanya.

"Benarkah penampilanku sekarang nampak sangat tua?"

Tampaknya semua pembicaraan mereka bertiga terdengar pula oleh Si Siang-ho.

"Sebenarnya berapa sih usiamu tahun ini?"

Tanya Nyo Sin kemudian.

"Satu bulan lagi aku baru berusia tiga puluh sembilan tahun"

"Apa? Empat puluh tahun pun belum sampai?"

"Aku toh bukan wanita, kenapa mesti merahasiakan umur?"

"Tapi kalau dilihat dari penampilanmu sekarang, kau lebih mirip berusia lima puluhan tahun ketimbang berusia tiga puluh sembilan tahun"

"Mana mungkin"

Bantah Si Siang-ho sambil garuk-garuk kepalanya.

"malah tiga tahun berselang orang bilang dari penampilanku, usiaku paling banter baru tiga puluhan tahun"

Sesudah menghela napas panjang, tambahnya.

"Masa baru lewat tidak sampai tiga tahun, penampilanku sudah berubah dua puluh tahun lebih tua?"

"Memangnya kau tidak menyadari?"

"Aku hanya menyadari akan sesuatu"

"Soal apa?"

"Perasaan hatiku memang sudah semakin tua, bahkan sedemikian tuanya hingga mendekati saat ajalnya"

"Berarti kau masih terbayang terus akan peristiwa yang telah terjadi tiga tahun berselang?"

Tanya Nyo Sin Si Siang-ho mengangguk berulang kali. Tidak tahan lagi Nyo Sin menghela napas panjang, namun dia tidak berkata-kata. Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh.

"Padahal aku sudah berusaha dengan segala cara untuk melupakan kejadian itu"

"Jadi inikah alasanmu kenapa minum arak sebanyakbanyaknya?"

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

"Sebenarnya aku menyangka cara ini merupakan sebuah cara terbaik untuk melupakan kejadian lama, namun belakangan aku malah semakin sulit dibuat mabuk"

"Mengapa tidak langsung pergi mencari Jui Pakhay dan menantangnya untuk berduel, agar semua sakit hatimu terlampiaskan?"

Tanya Nyo Sin. Tiba-tiba Si Siang-ho tertawa tergelak, katanya.

"Hahahaha......karena tidak lama setelah itu, aku telah berhasil memahami semua masalah yang sedang kuhadapi"

"Kau berhasil memahami? Memahami apa?"

Nyo Sin semakin keheranan.

"Walaupun peristiwa ini terjadi gara-gara rencana busuk yang diatur Jui Pakhay, seandainya aku tidak gemar berjudi, sebenarnya diapun tidak akan berhasil menjalankan rencana busuknya itu, dan dengan sendirinya perkampungan Ki po cay pun tidak nanti bisa terjatuh ke tangannya, jadi kalau mau mecari sumber masalahnya, aku harus menyalahkan diriku sendiri, aku tidak boleh menyalahkan orang lain saja, kalau aku tidak kemaruk, kalau aku tidak suka bertaruh, peristiwa ini tidak mungkin akan menimpa diriku"

Kemudian setelah berhenti sejenak untuk berganti napas, lanjutnya.

"Terus terang saja aku katakan, waktu itu aku memang terlalu suka berjudi, aku gemar bertaruh, jadi, seandainya perkampungan Ki po cay tidak hilang pada saat itu, suatu ketika akupun pasti akan kehilangan perkampungan tersebut, karena masalahnya tinggal cepat atau lambat"

Nyo Sin mengawasi Si Siang-ho dengan mata melotot, mimik mukanya dipenuhi rasa heran dan tercengang. Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh.

"Kalau mau bicara yang lebih jujur, sebenarnya pertaruhan yang berlangsung waktu itu cukup adil, aku mesti salahkan nasibku yang tidak mujur, jadi peristiwa itu merupakan kejadian yang lumpah, tidak ada yang bisa disalahkan"

"Tapi bagaimana pula dengan masalah yang menyangkut Gi Tiok-kun?"

"Bila perkampungan Ki po cay sudah jatuh ke tangan orang lain, dengan sendirinya Gi Tiok-kun juga tidak bakal jatuh ke tanganku, sebab aku pasti bukan tandingannya lagi"

Kata Si Siang-ho dengan wajah sedih.

"Tapi kau tidak mirip dengan orang yang rela menerima kekalahan?"

"Kalau kenyataan sudah terpampang di depan mata, tidak rela pun harus rela juga menerima nasib"

Sesudah menghela napas panjang, tambahnya.

"Waktu itu, sisa harta kekayaan yang kumiliki bila dijumlahkan keseluruhannya, paling banter baru senilai perkampungan Ki po cay, apakah aku mampu menandingi kekayaan Jui Pakhay rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi, pada hakekatnya aku sudah tidak mungkin memenuhi kebutuhan dari Gi toama"

"Maka terpaksa kau lepas tangan?"

"Kalau tidak lepas tangan, apa lagi yang bisa kuperbuat?"

"Ooh, rupanya kau belum sampai mabuk, kenyataannya kau masih bisa berbicara dengan jelas"

Si Siang-ho tertawa terkekeh.

"Hahaha.... walaupun saat ini aku merasakan kepalaku berat dan kakiku ringan, namun otak dan kesadaranku masih sangat waras"

"Apa yang barusan kau katakan apakah ungkapan yang sejujurnya?"

Tanya Nyo Sin lagi.

"Sekarang aku sudah terjerumus dalam kehidupan yang susah, keadaanku sudah bukan rahasia lagi, kenapa aku mesti takut untuk bicara sejujurnya?"

Si Siang-ho balik bertanya sambil tertawa.

"Kau tetap akan bercerita kepada orang asing mana pun?"

"Bagiku, kau bukan termasuk orang yang terlalu asing"

Kata Si Siang-ho seraya mengangguk.

"Berarti kau sudah tahu siapakah aku?"

"Siapa yang tidak kenal dengan komandan Nyo yang punya nama besar dan amat tersohor di kolong langit? Tidak banyak orang diseputar sini yang tidak mengenali namamu"

Nyo Sin tertawa senang.

"Tidak heran kalau semua pertanyaan yang kuajukan telah kau jawab dengan sejujurnya, seolah bukan sedang berbicara dengan orang asing saja"

Perlahan-lahan Si Siang-ho mengalihkan sorot matanya ke wajah Tu Siau-thian, kemudian katanya lagi.

"Bila aku tidak salah ingat, semestinya saudara ini adalah wakil komandan opas Tu Siau-thian bukan?"

"Benar akulah orangnya"

Tu Siau-thian menyahut. Dia berpaling ke arah Siang Huhoa lalu tanyanya.

"Apakah saudara Si tahu siapakah dia?"

Sambil memicingkan matanya yang setengah mabuk, Si Siang-ho mengawasi Siang Hu-hoa berulang kali, lama kemudian dia baru menggeleng.

"Wajahnya terasa asing sekali bagiku, apakah dia........."

"Dia adalah Siang Huhoa, Siang tayhiap"

Tu Siau-thian memperkenalkan rekannya. Mula-mula Si Siang-ho agak tertegun, kemudian sambil tertawa tergelak serunya.

"Hahaha.......ternyata saudara Siang!"

"Aneh, tadi bilang tidak kenal, sekarang kenapa tiba-tiba sudah kenal?"

Sindir Nyo Sin dingin. Si Siang-ho tertawa.

"Aku hanya mengenali nama besarnya, aku rasa tidak banyak orang persilatan yang tidak mengenali nama besarnya"

Bab 17. Kawanan laron muncul kembali. Dia maju kedepan menghampiri Siang Huhoa, kemudian sambil tertawa lanjutnya.

"Sudah lama aku mengagumi nama besar anda, sayang selama ini tidak ada kesempatan untuk bersua, sungguh beruntung aku bisa menjumpaimu hari ini, untuk merayakan pertemuan ini, aku harus meneguk habis isi cawan ini"

Selesai berkata dia segera mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya.

Dengan bertambahnya secawan arak, langkah kakinya semakin enteng dan gontai, namun untung tidak sampai roboh terkapar ke tanah.

Siang Huhoa memandangnya sekejap, tiba-tiba tanyanya sambil tertawa.

"Kau hanya memiliki secawan arak?"

"Hahahaha........ aku punya banyak arak didalam sana, apakah saudara Siang sudi memberi muka kepadaku?"

Si Siang-ho tertawa tergelak.

"Sayang saat ini bukan saat yang tepat untuk minum arak, masih banyak urusan yang sedang menanti kami"

Seakan baru teringat akan sesuatu, buru-buru Si Siang-ho bertanya.

"Apakah kedatangan kalian adalah untuk mencari aku?"

"Benar!"

"Boleh tahu ada urusan apa?"

"Memang ada berapa persoalan yang tidak dapat kami pecahkan, karena itu terpaksa harus berkunjung kemari dan menantikan petunjukmu"

"Tidak berani, tidak berani, kalau memang ada persoalan, katakan saja berterus terang, asal bisa kujawab pasti akan kukatakan sejujurnya"

"Sejak pertaruhan tempo hari, saudara Si telah menyingkir ke mana saja?"

Tanya Siang Huhoa kemudian. Si Siang-ho segera menunjuk ke arah dalam rumah, sahutnya.

"Aku selalu bersembunyi di dalam rumah penginapan ini"

Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya.

"Waktu itu aku putus asa bercampur kecewa, ditambah lagi akupun merasa sangat kehilangan muka, aku benar benar tidak ingin dijadikan bahan tertawaan orang kota, maka berapa saat lamanya aku hidup menyembunyikan diri"

"Ada orang bilang, waktu itu kau telah pergi jauh meninggalkan kota?"

"Tidak ada, tidak ada kejadian semacam ini"

Si Siang-ho gelengkan kepalanya berulang kali.

"meskipun aku telah kehilangan perkampungan Ki po cay, namun aku masih memiliki harta kekayaan lain, asal aku mau hidup tenang dan tidak tergila gila untuk main judi lagi, masalah kehidupan sudah bukan masalah lagi bagiku"

Kemudian setelah tertawa getir, tambahnya.

"Sejak peristiwa itu, dalam kenyataan aku memang tidak pernah main judi lagi"

"Benarkah begitu?"

"Penduduk sekitar tempat ini bisa bertindak sebagai saksi ku"

"Dengan cara apa kau urusi harta kekayaanmu itu?"

Tanya Siang Huhoa lagi "Hampir semuanya kusewakan kepada orang lain"

"Maksudmu, kau hanya menerima uang sewa?"

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

"Walaupun aku punya keinginan untuk meninggalkan berapa bau sawah untuk dikerjakan sendiri, sayang pengetahuan tentang bercocok tanam sama sekali tidak kumiliki"

"Bagaimana sistim pembayaran uang sewa itu?"

"Setiap kali panenan mereka akan menghantar uang sewanya kemari"

"Maksudmu ke rumah penginapan Hun-lay?"

"Benar"

"Selama tiga tahun terakhir kau tidak pernah pergi ke tempat jauh, apakah mereka dapat bertindak sebagai saksimu?"

"Benar"

Kwee Bok yang selama ini hanya membungkam diri, kini tidak tahan untuk menimbrung.

"Bukankah kau pernah berkata kepadaku kalau selama tiga tahun terakhir kau hidup berkelana di dalam dunia persilatan dan baru balik kemari pada tiga bulan berselang?"

Si Siang-ho nampak tertegun, lalu serunya.

"Kepan aku pernah berkata begitu kepadamu?"

"Waktu pertama kali kau datang memeriksakan badanmu"

"Aku memang pernah datang mencarimu untuk berobat"

"Bukankah resep obat yang kubuatkan untukmu kau masak di ruang praktekku?"

Seru Kwee Bok.

"Benar"

"Setelah itu bukankah kau mengundangku pergi minum arak?"

"Benar"

"Aku rasa kau belum lupa bukan ditempat mana kita minum arak?"

"Tentu saja, di rumah makan cong-goan"

Jawab Si Siang-ho tanpa ragu.

"Bukankah waktu itu kau minum sampai mabuk?"

Kali ini ternyata Si Siang-ho menggelengkan kepalanya seraya membantah.

"Siapa bilang aku minum sampai mabuk waktu itu?"

Kontan Kwee Bok mendelikkan matanya lebar-lebar. Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh.

"Aku masih ingat, waktu itu semuanya kita pesan empat poci arak ditambah empat macam hidangan"

"Kita pesan dua poci arak, satu setengah poci diantaranya kau sendiri yang menghabiskan"

Kwee Bok mencoba meralat.

"Dengan takaran minum yang kumiliki saat ini, jangankan baru satu setengah poci, ditambah lagi empat lima kali lipat pun aku masih tetap bisa melayaninya tanpa mabuk"

"Sewaktu kita meninggalkan rumah makan itu, kau sudah tak mampu berdiri tegak"

"Apakah waktu itu aku minta kepadamu untuk memayang atau menuntun diriku?"

Ucap Si Siang-ho sambil tertawa.

"Kalau itu sih tidak!"

"Apakah aku pergi membayar rekening lalu turun dari loteng sendirian?"

"Benar"

"Waktu itu kita menghabiskan tiga tahil perak"

Kata Si Siang-ho lebih jauh, kemudian setelah berhenti sejenak lanjutnya.

"sewaktu turun dari loteng, kita bertemu dengan nenek Cho......"

"Nenek Cho yang menjual gula-gula? Tukas Tu Siau-thian.

"Betul, nenek Cho yang menjual gula-gula!"

Setelah berpikir sejenak, kembali ujarnya.

"Ternyata dia masih mengenali aku, dia ribut dan minta aku membeli sebungkus gula-gula"

"Apakah kau membelinya?"

"Aku tetap membelinya, walaupun saat itu kondisi ku sudah tidak semakmur dulu, namun untuk membeli sebungkus gulagula rasanya aku masih mampu untuk melakukannya"

"Berapa harga gula gula yang dijual nenek Cho waktu itu?"

Tanya Tu Siau-thian.

"Masih seperti harga lama, lima hun untuk satu bungkus gula gula, aku minta sebungkus dan memberinya satu tangce"

Tu Siau-thian segera mengerling sekejap ke arah Kwee Bok, sementara pemuda itu berdiri termangu dengan mata terbelalak dan mulut melongo, diawasinya wajah Si Siang-ho dengan tertegun.

Seandainya waktu itu Si Siang-ho benar-benar berada dalam keadaan mabuk, tidak mungkin dia masih ingat semua kejadian yang dialaminya secara jelas dan terperinci, hanya orang sadar yang bisa melakukan hal seperti itu.

Kembali Tu Siau-thian bertanya kepada Si Siang-ho.

"Waktu itu sebenarnya apa saja yang telah kau katakan kepadanya?"

Si Siang-ho mencoba mengingat kembali, kemudian sahutnya.

"Rasanya tidak banyak yang kami bicarakan, seingatku, bahan pembicaraan saat itu hanya sekitar masalah sepele dan hal yang ringan ringan saja"

"Betul tidak ada urusan yang sedikit lebih istimewa?"

Desak Tu Siau-thian lebih jauh.

"Kalau dibilang sedikit rada istimewa, mungkin urusan ini yang dimaksud agak istimewa"

"Urusan apa?"

"Sewaktu sedang bersantap, dia pernah bertanya kepadaku apakah disekitar tempat tinggalku ada rumah kosong yang hendak disewakan"

"Bagaimana jawabanmu?"

"Aku menjawab sejujurnya, sekitar tempat tinggalku tidak ada rumah kosong yang akan disewakan, tapi rumah penginapan Hun-lay milikku sudah tutup usaha, jadi tempat kami terdapat ruang kosong yang bisa disewa"

"Bagaimana jawabannya?"

"Dia akan mengunjungi tempat kami berapa hari kemudian, apabila cocok dia akan menyewanya"

"Kemudian, apakah dia datang berkunjung?"

"Benar"

"Kapan itu kejadiannya?"

"Kurang lebih sepuluh hari kemudian"

"Datang untuk melihat rumahmu?"

"Benar"

"Berarti bukan datang karena dipanggil untuk memeriksakan sakitmu?"

Tukas Siang Hu-hoa tiba-tiba.

"Siapa bilang aku sakit?"

Tanya Si Siang-ho tertegun.

"Aku!"

Jawaban Kwee Bok keras dan lantang.

"Apa maksudmu berkata begitu?"

Tegur Si Siang-ho.

"Justru aku yang ingin bertanya kepadamu, apa maksudmu berkata begitu?"

Teriak Kwee Bok semakin keras.

"Jadi kau menuduh aku sedang berbohong?"

"Kau memang sedang berbohong!"

"Buat apa aku meski berbohong?"

"Untuk menutupi semua dosa dan perbuatan bejadmu"

"Perbuatan bejad apa yang telah kulakukan? Kenapa harus kututupi?"

Si Siang-ho balik bertanya.

"Seharusnya kau lebih mengerti"

"Aku benar-benar tidak mengerti"

Seru Si Siang-ho cepat, kemudian sambil berpaling ke arah Siang Huhoa katanya lebih jauh.

"hingga sekarang aku masih belum tahu peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi"

"Benarkah begitu?"

Jengek Siang Huhoa hambar "Sebenarnya apa maksud dan tujuan kedatangan kalian semua mencari aku?"

Tanya Si Siang-ho lagi. Siang Hu-hoa tidak menjawab, malah katanya kepada Kwee Bok.

"Kau bilang dia mengutus orang untuk mengundangmu kemari dan memeriksakan kesehatan tubuhnya?"

"Memang begitu kenyataannya!"

"Siapa yang dia utus waktu itu untuk mengundang kedatanganmu?"

"Seorang kakek yang mengaku dari marga Kwee, kakek itu tetangganya, sewaktu datang membawa sebuah kereta kuda yang sudah kuno dan jelek"

"Dengan kereta kudanya itu si kakek Kwe menghantarmu sampai disini?"

"Tidak, hanya menghantar sampai di mulut dusun, dia bilang harus pergi ke tempat lain maka setelah aku turun dari kereta, dia pun segera pergi"

Baru saja Siang Hu-hoa ingin bertanya lagi, mendadak Si Siang-ho menukas.

"Di dalam dusun ini sama sekali tidak ada kakek dari marga Kwee, juga tidak ada kakek Kwee yang memiliki kereta kuda"

"Hmmm, benarkah begitu?"

Kwee Bok mendengus dingin.

"Aku rasa didalam dusun ini bukan hanya aku seorang yang masih hidup, bukan hanya aku seorang yang bisa berbicara"

"Maksudmu asal diselidiki, segera akan diketahui apakah didusun ini terdapat seorang kakek semacam ini atau bukan?"

Sambung Siang Hu-hoa. Setelah menatap wajah Si Siang-ho lekat lekat, kembali tanyanya.

"Kau bilang Kwee Bok datang kemari untuk melihat rumahmu?"

Si Siang-ho mengangguk tanda membenarkan.

"Bagaimana hasilnya setelah peninjauan itu?"

"Tampaknya merasa sangat puas"

"Dan jadi menyewanya?"

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

"Dia bahkan bersedia membayar tiga ribu tahil perak"

Sahutnya.

"Ehmmm, satu jumlah yang tidak kecil"

"Benar, sebuah penawaran yang sangat menggiurkan karena pada tahun yang paling baguspun pemasukan rumah penginapan Hun-lay paling banter Cuma seribu tahil perak"

"Tentu saja kau menyetujuinya bukan?"

"Tentu saja"

Sahut Si Siang-ho. Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.

"Rumah penginapan ini terpaksa tutup usaha karena tamu yang menginap ditempat kami akhir-akhir ini amat sepi dan minim, sekarang bertemu dengan orang yang mau membayar tinggi rumah kami, tentu saja tidak akan kulepas kesempatan baik itu, apalagi pihak penyewa bersedia membayar dengan tiga ribu tahil perak"

"Dengan uang sebesar tiga ribu tahil perak, rasanya sudah lebih dari cukup untuk membeli rumah penginapan ini"

Kata Siang Hu-hoa. Si Siang-ho segera tertawa.

"Jangan lagi tiga ribu tahil perak, sewaktu membeli rumah penginapan ini, aku hanya cukup mengeluarkan uang lima ratus tahil"

"Memangnya dia tidak bisa menilai berapa harga dari rumah penginapan itu?"

"Mungkin saja dia memang tidak tahu"

Jawab Si Siang-ho. Kemudian setelah mengerling Kwee Bok sekejap, terusnya.

"mungkin juga uang sebesar tiga ribu tahil perak merupakan sebuah angka yang kecil baginya, atau bahkan dia tidak pernah pandang sebelah matapun atas jumlah tersebut"

"Kenapa tidak membeli sekalian rumah penginapan itu?"

"Menurut pendapatku, hal ini disebabkan ada dua alasan"

"Salah satu alasannya pasti karena dia kuatir kau enggan menjual kepadanya"

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

"Selain itu masih ada sebuah alasan lagi yakni karena dia hanya butuh rumah penginapan ini untuk sementara waktu"

Katanya.

"Sebenarnya dia mau pakai rumah penginapan ini berapa lama?"

Tanya Siang Hu-hoa.

"Setengah tahun"

"Tiga ribu tahil perak untuk menyewa selama setengah tahun? Wah, siapa pun pasti akan bersedia untuk melakukan transaksi yang sangat menguntungkan ini"

"Itulah sebabnya aku segera mengabulkan pennintaannya"

Seru Si Siang-ho, kemudian setelah mengerling lagi Kwee Bok sekejap, lanjutnya.

"cuma, ke tiga ribu tahil perak itu bukan seluruhnya untuk membayar uang sewa"

"Lalu berapa semestinya uang sewa gedung?"

"Hanya seribu tahil perak"

"Lalu yang dua ribu tahil perak untuk apa?"

"Upah kerjakul"

"Upah kerja? Apa yang harus kau lakukan?"

"Menjaga rumah ini, melarang siapa pun masuk keluar tempat ini dan setiap hari mempersiapkan sejumlah makanan untuk segerombolan mestika miliknya"

"Kau bersedia melakukan pekerjaan seperti itu?"

Tanya Siang Huhoa keheranan "Tiga ribu tahil perak masih belum kupandang sebelah matapun, aku mengabulkan tawarannya karena terdorong oleh rasa ingin tahu, aku merasa sangat tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan dan mulai asyik mengerjakannya"

"Sebenarnya apa tujuannya menyewa rumah penginapan ini?"

Tanya Siang Hu-hoa keheranan.

"Mencarikan tempat tinggal bagi sekelompok mestika nya!"

"Makhluk apa sih yang kau sebut sebagai sekelompok mestika itu?"

Desak Siang Huhoa lebih jauh. Seketika itu juga paras muka Si Siang-ho berubah sangat aneh, bahkan nada ucapannya pun ikut berubah jadi aneh sekali, jawabnya.

"Sekelompok laron, sekelompok laron hijau!"

Laron hijau!

Siang Huhoa merasa hatinya tercekat sementara paras muka Tu Siau-thian dan Nyo Sin berubah hebat.

Paras muka Kwee Bok turut berubah hebat, baru saja dia membuka mulutnya siap mengatakan sesuatu, Si Siang-ho telah berkata lebih jauh.

"Kelompok laron hijau yang kupelihara merupakan sejenis laron yang paling aneh dan paling cantik yang pernah kujumpai sepanjang hidupku! Mereka memiliki tubuh yang bening bagaikan batu kemala hijau, matanya merah seperti bercak darah, sayapnya dipenuhi garis garis merah seperti lelehan darah segar sementara diatas sepasang sayapnya terdapat garis darah yang berbentuk seperti mata, bentuk mata itu mirip mata burung hantu, tapi mirip juga ular kobra sementara perutnya berbentuk seperti hidung sehingga kalau dilihat dari punggungnya, pada hakekatnya sangat mirip dengan selembar wajah setan!"

Belum selesai dia mengucapkan perkataannya, semua orang sudah merasakan badannya merinding hingga bersin berulang kali. Begitu Si Siang-ho menyelesaikan perkataannya, Nyo Sin langsung menjerit keras.

"Laron Penghisap darah! Itulah Laron Penghisap darah!"

"Laron Penghisap darah?"

Si Siang-ho agak tertegun.

"Laron laron yang kau maksud itu adalah Laron Penghisap darah"

Mendadak Si Siang-ho seakan teringat akan sesuatu, paras mukanya berubah jadi hijau membesi, serunya tertahan.

"Aaah, benar! Kelihatannya mereka memang pandai sekali menghisap darah..............."

"Darimana kau bisa tahu?"

Tukas Siang Hu-hoa.

"Sebab setiap hari aku harus menghantar makanan untuk kawanan laron itu, setiap hari mereka butuh sepuluh ekor kelinci hidup"

"Lalu apa hubungannya dengan menghisap darah?"

Tanya Siang Hu-hoa. Dengan wajah hijau membesi sahut Si Siang-ho.

"Keesokan harinya ketika aku balik lagi ke kandang, maka akan kujumpai ke sepuluh ekor kelinci itu tinggal sepuluh kerat tulang belulang, kulitnya sudah tersayat, dagingnya sudah habis dan darah pun sudah lenyap"

"Apakah kau pernah melihat bagaimana cara kawanan laron itu menyerbu santapannya?"

Tanya Siang Huhoa lebih lanjut.

"Satu kali, setelah memberi makanan kepada mereka, aku mengintipnya dari balik celah celah pintu"

"Apa yang kau saksikan?"

"Aku saksikan rombongan laron itu mengerumuni kelincikelinci tersebut, yang kudengar hanya suara dengungan dan suara cicitan, suara itu mirip sekali seperti suara yang sedang menghisap cairan dan mengunyah daging......."

Kata Si Siangho dengan nada gemetar. Tidak kuasa lagi Siang Huhoa merasakan hatinya bergidik, cepat tanyanya.

"Sekarang dimana rombongan laron itu berada?"

"Diruangan atas loteng"

"Cepat ajak kami ke sana, akan kulihat bagaimana keadaannya"

Si Siang-ho manggut-manggut, ujarnya tiba-tiba.

"Kedatangan kalian memang tepat pada waktunya"

"Oya?"

Buru-buru Si Siang-ho menerangkan lebih jauh.

"Selama belasan hari terakhir, setiap malam mereka selalu terbang keluar secara rombongan, pada mulanya aku kuatir mereka terbang dan tidak balik lagi, tapi kenyataannya keesokan harinya mereka terbang balik lagi secara rombongan"

"Kapan mereka baru balik malam ini?"

"Jauh lebih malam ketimbang dihari biasa, mereka baru saja balik ke kandangnya"

Tergerak perasaan Siang Huhoa setelah mendengar penjelasan itu, tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah Tu Siau-thian kemudian menengok pula ke arah Nyo Sin.

Pada saat yang sama Tu Siau-thian dan Nyo Sin memandang pula ke arahnya, maka mereka bertiga pun saling bertukar pandangan sekejap lalu bersama-sama mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwee Bok.

Dalam pada itu Kwee Bok kembali berdiri tertegun dengan wajah melongo dan mata terbelalak, agaknya dia merasa jauh diluar dugaan terhadap apa yang barusan diucapkan Si Siangho itu.

Sepasang mata Siang Huhoa berbinar-binar, kembali dia menatap wajah Si Siang-ho, setelah berpikir sejenak, tanyanya lagi.

"Sewaktu dalam kenyataan kau ketahui bahwa dia menyewa rumah penginapanmu bukan untuk ditempati manusia melainkan untuk memelihara laron, pernahkan timbul rasa antipati dalam hati kecilmu?"

"Siapa bilang tidak?"

"Tapi nyatanya kau tidak pernah protes, kau terima semua kenyataan itu dengan mulut membungkam?"

"Bagaimana pun juga bangunan rumah ini sudah disewa orang, selama pihak penyewa tidak menggunakannya untuk membuka usaha gelap, atau melakukan pembunuhan dan perampokan, biar mau dipakai untuk pelihara babi pun tidak ada alasan bagiku untuk merasa keberatan, apalagi aku sendiripun sebenarnya pingin tahu apa maksud dan tujuannya yang terutama dengan memelihara sekelompok laron itu"

"Apakah pihak penyewa pernah menyinggung soal ini?"

Tanya Siang Hu-hoa. Si Siang-ho mengangguk.

"Apa yang dia katakan?"

Tanya Siang Hu-hoa lagi.

"Berulang kali dia kemukakan alasan yang sama yaitu hendak dipakai untuk meramu sejenis obat"

"Obat apa?"

"Obat untuk menyembuhkan sejenis penyakit, obat untuk melenyapkan nyawa seseorang"

"Kau percaya dengan pengakuannya itu?"

"Tidak percaya"

"Kalau hanya dipakai untuk meramu obat, dia tidak perlu jauh jauh datang kemari dan lagi dia pun tidak perlu berlagak sok rahasia"

"Dalam hal ini dia mempunyai alasan dan penjelasannya"

Ujar Si Siang-ho menerangkan.

"Bagaimana penjelasannya?"

"Menurut dia, bentuk dari kawanan Laron Penghisap darah itu menakutkan dan sangat mengerikan hati, bila dipelihara ditempat ramai dan banyak penghuninya, kejadian ini pasti gampang menjadi pembicaraan orang, gampang pula memancing kecurigaan pihak pemerintah, sekalipun tidak banyak berpengaruh terhadap perkembangan kawanan laron tersebut, namun hal mana akan sangat merepotkan, maka untuk memeliharanya secara diam diam dan tidak mudah diketahui orang banyak, satu satunya cara adalah pindah ke pinggiran kota"

"Penjelasan yang sangat bagus"

Puji Siang Hu-hoa, kemudian setelah berhenti sejenak tanyanya lagi.

"Sebelum dipindah kemari, kawanan laron itu pernah dipelihara di mana?"

"Itu sih kurang jelas"

Si Siang-ho menggeleng.

"Dengan cara apa dia memindahkan kawanan Laron Penghisap darah itu kemari?"

Siang Hu-hoa mengalihkan pertanyaannya.

"Diangkut kemari dengan menggunakan sebuah kereta kuda"

"Kereta kuda milik siapa?"

"Kurang jelas"

"Berapa besar usia sang kusir kereta? Bagaimana bentuk tubuh dan wajahnya? Apakah masih tersisa ingatan tentang orang tersebut?"

"Kusirnya bukan orang lain tapi dia sendiri"

"Semua pekerjaan dia lakukan seorang diri, tanpa bantuan orang lain?"

"Benar, semua pekerjaan dia lakukan seorang diri kecuali tugas menghantar masuk kawanan kelinci ke dalam kamar setiap harinya, karena dia tidak punya waktu untuk mendatangi tempat ini saban hari"

"Lalu dengan cara apa pula dia mengangkut masuk kawanan Laron Penghisap darah itu ke dalam rumah penginapan?"

"Menggunakan kerangkengan, dia masukkan kawanan laron itu ke dalam beberapa buah kerangkeng"

"Beberapa buah kerangkeng? Berapa besar kerangkeng itu?"

"Kurang lebih lima enam depa persegi"

"Berapa banyak Laron Penghisap darah yang dia angkut kemari?"

Agak berubah paras muka Siang Huhoa. Si Siang-ho termenung seperti berpikir sejenak, kemudian sahutnya.

"Menurut perkiraanku, jumlahnya bisa mencapai ribuan ekor"

Tanpa terasa sekali lagi Siang Huhoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin saling bertukar pandangan sekejap, sebaliknya paras muka Kwee Bok telah berubah jadi hijau membesi. Kembali Siang Huhoa berkata.

"Oleh sebab itu setiap hari mereka butuh sepuluh ekor kelinci sebagai santapannya?"

Sebelum pertanyaan itu dijawab, kembali dia bertanya.

"Dia yang mempersiapkan kelinci-kelinci itu setiap harinya atau kau yang pergi membelinya di pekan?"

"Setiap sepuluh hari satu kali dia datang menghantar kawanan kelinci itu dengan menunggang kereta kuda"

"Bukankah berarti penduduk didusun ini hampir sebagian besar mengenalinya?"

"Seharusnya begitu"

"Apakah mereka juga tahu kalau dia telah memindahkan berapa buah kerangkeng berisi Laron Penghisap darah kemari?"

"Aku percaya mereka tidak akan tahu soal ini, pertama karena aku tidak pernah menyinggung persoalan ini dengan orang lain, kedua sewaktu memindahkan beberapa buah kerangkeng berisi Laron Penghisap darah itu, seluruh kerangkeng telah dikerudungi dengan selembar kain warna hitam"

"Kemudian ketika setiap kali dia datang menghantar begitu banyak kelinci, masa tidak ada yang menaruh curiga? Atau tidak ada yang mengajukan pertanyaan?"

Tanya Siang Hu-hoa.

"Sewaktu mengirim kawanan kelinci itupun dia gunakan kerangkeng yang ditutupi kain hitam, kalau tidak memangnya orang lain tidak akan menaruh curiga kepadaku, masa tidak membuka toko penjual kelinci, aku mendatangkan begitu banyak binatang tersebut, memangnya aku seorang bisa menghabiskan begitu banyak kelinci sekaligus?"

"Paling tidak semestinya mereka menaruh curiga juga bukan ketika melihat ada begitu banyak barang yang dibongkar dari atas kereta dan diangkut masuk ke dalam rumah penginapan?"

Kata Siang Huhoa.

"Seandainya aku jadi mereka, aku pasti akan menaruh curiga"

"Apa pernah ada orang yang bertanya kepadamu, barang apa yang kau bongkar dari atas kereta dan diangkut ke dalam rumah? Apa mereka tidak bertanya, siapa tamu asing yang kerap datang berkunjung?"

"Mungkin saja mereka curiga, tapi selama ini tidak seorangpun yang berani datang menanyakan kepadaku"

"Kenapa tidak berani?"

"Sebab sudah berapa kali aku mabuk berat karena arak dan membuat keonaran yang sangat hebat disini, maka selama ini mereka selalu menaruh perasaaan was was dan ngeri terhadapku, otomatis semua tingkah laku dan perbuatanku juga tidak ada yang berani bertanya"

Setelah tertawa santai, lanjutnya.

"Walaupun begitu aku juga sudah banyak mendengar isu yang beredar di masyarakat, di antara mereka ada yang mengira aku sedang bersiap sedia untuk membangun kembali usahaku, mungkin saja barang yang diangkut kereta kuda itu adalah barang perabot baru untuk keperluan rumah penginapan, tapi ada juga yang menuduh aku sebagai seorang perampok ulung dan barang yang diangkut masuk merupakan barang barang hasil rampokan"

"Isu tersebut pasti akan menakutkan orang banyak!"

"Apalagi selama setengah bulan terakhir, mereka semakin ngeri terhadapku, setiap kali bertemu, tergopoh gopoh mereka akan menghindar dan bersembunyi"

Si Siang-ho berkata kembali.

"Kenapa bisa begitu?"

"Mungkin saja mereka sempat menyaksikan munculnya sekelompok laron dari dalam rumah penginapan yang sangat banyak bagaikan gerombolan lebah"

"Atas dasar apa kau menduga begitu?"

"Berapa hari berselang, ketika aku lewat disebuah tanah lapang diluar dusun sana, kebetulan disitu sedang ada sekelompok bocah sedang bermain, tapi begitu melihat kemunculanku, seperti bertemu setan saja mereka langsung membubarkan diri, bahkan satu diantara mereka sempat berteriak.........."

"Teriak apa?"

"Siluman tosu pemelihara laron telah datang!"

Sahut Si Siang-ho sambil tertawa getir.

"Siluman tosu?"

Sembari meraba batok kepala sendiri Si Siang-ho menerangkan.

"Mungkin lantaran saban hari aku selalu menggulung rambutku diatas kepala dan menggunakan sebuah tusuk konde dari bambu, mereka mengira aku adalah seorang tosu"

Sekarang Siang Huhoa baru memperhatikan gulungan rambut Si Siang-ho itu, benar juga, dia memang mirip sekali dengan seorang tosu. Maka tanyanya sambil tertawa.

"Setelah mendengar olokan itu, apakah kau merasa marah sekali?"

"Marah sih tidak, Cuma merasa mendongkol bercampur geli"

"Kapan teraldiir kalinya dia berkunjung kemari?"

Selidik Siang Huhoa lebih jauh.

"Lima hari berselang"

"Datang menghantar kelinci?"

"Yaa, menghantar tiga puluh ekor kelinci"

"Apakah masih ada sisa dari pengiriman yang terakhir kali?"

"Seekor pun sudah tidak tersisa"

"Tiga puluh ekor kelinci berarti jatah ransum tiga hari untuk kawanan Laron Penghisap darah itu?"

"Benar"

"Biasanya berapa banyak kelinci yang dia kirim setiap kalinya?"

"Seratus ekor kelinci setiap sepuluh hari"

"Kali ini dia hanya mengirim tiga puluh ekor, tentunya kau bertanya apa alasannya bukan?"

Si Siang-ho mengangguk.

"Apa jawabannya?"

Tanya Siang Hu-hoa.

"Dia bilang ada rencana lain setelah tiga hari"

"Selain itu adakah pesan istimewa yang dia sampaikan?"

Si Siang-ho berpikir sejenak, kemudian katanya.

"Aku seperti mendengar ada beberapa patah kata......."

Tanpa terasa Siang Huhoa, Tu Siau-thian serta Nyo Sin pasang telinga baik baik untuk mendengarkan, sementara Kwee Bok sendiripun ikut pasang telinga.

Terdengar Si Siang-ho berkata.

Tanpa sengaja aku seperti mendengar dia sedang bergumam, katanya.....

selewat bulan purnama tanggal lima belas, semua urusan akan beres......"

"Apakah kau paham apa maksud dan perkataannya itu?"

Tanya Siang Hu-hoa.

"Tidak, aku tidak mengerti"

Si Siang-ho menggeleng. Siang Huhoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin saling bertukar pandangan sekejap, Si Siang-ho memang tidak mengerti, tapi mereka mengerti amat jelas.

"Pada malam bulan purnama tanggal lima belas, apakah kawanan Laron Penghisap darah itu terbang keluar lagi?"

Tanya Siang Huhoa lagi.

"Benar, malam itu sebelum bulan purnama berada diatas angkasa, kawanan laron itu sudah mulai bergolak dengan hebatnya"

"Waktu itu kau belum tidur?"

"Sedang bersiap siap untuk tidur"

"Kau dikejutkan oleh kegaduhan yang ditimbulkan kawanan laron itu?"

Kembali Si Siang-ho mengangguk.

"Kegaduhan yang mereka lakukan saat itu luar biasa hebatnya dan belum pernah terjadi sebelum ini, secara kebetulan akupun sempat menyaksikan kawanan laron itu terbang menyongsong datangnya rembulan di angkasa"

"Keesokan harinya baru kembali?"

"Tidak, pagi tadi baru kembali ke kandang"

Kata Si Siangho sambil menggeleng.

"Ini berarti mereka telah hilang selama dua, tiga hari lamanya?"

"Benar"

"Apakah selama berapa hari ini kau tidak berusaha untuk melacak jejak mereka?"

"Pernah terlintas ingatan tersebut dalam benakku, khususnya pada malam tanggal lima belas, keinginanku untuk menguntil ke mana perginya kawanan laron itu kuat sekali"

Tiba-tiba dia menggeleng, terusnya.

"Sayang aku tidak bersayap, kecepatan terbang mereka luar biasa, dalam sekejap mata bayangan dari rombongan laron itu sudah lenyap dibalik kegelapan malam"

"Benarkah begitu?"

"Benar, aku benar benar tidak tahu selama tiga hari ini ke mana saja perginya kawanan laron tersebut"

Kata Si Siang-ho sambil angkat tangannya.

Siang Hu-hoa manggut manggut sementara Tu Siau-thian dan Nyo Sin saling bertukar pandangan.

Si Siang-ho memang tidak tahu, tapi mereka tahu jelas.

Bab 18.

Membingungkan Siang Huhoa segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwee Bok, tanyanya.

"Sudah kau dengar semua penjelasannya?"

Tidak kuasa lagi Kwee Bok mengangguk.

"Apakah semua yang dia tuturkan adalah kenyataan?"

Desak Siang Huhoa. Sekujur badan Kwee Bok bergetar keras, tiba-tiba dia berteriak lantang.

"Siapa bilang semuanya kenyataan, dia sedang bohong!"

Mendadak tubuhnya menubruk maju ke muka, sambil mencengkeram dada Si Siang-ho teriaknya lagi.

"Kenapa kau harus berbohong? Kenapa kau harus menfitnah aku? Kenapa harus mencelakai aku?"

Si Siang-ho sama sekali tidak berkelit, dia membiarkan Kwee Bok mencengkeram baju dibagian dadanya, dia pun tidak berubah membantah, sorot matanya malah dialihkan memandang ke wajah Siang Huhoa.

Sementara itu Siang Huhoa sendiripun hanya berdiri tanpa bergerak, sebab pada saat itulah Tu Siau-thian dan Nyo Sin sudah maju ke depan dan satu dari kiri yang lain dari kanan telah menangkap sepasang tangan Kwee Bok serta menariknya dengan paksa hingga cengkeraman pemuda itu terlepas.

"Kalian jangan percaya dengan perkataannya"

Jerit Kwee Bok sambil meronta keras.

"Tutup mulutmu!"

Bentak Nyo Sin lantang, suara bentakan yang begitu nyaring itu seketika membuat Kwee Bok terbungkam. Saat itulah Siang Huhoa baru berkata.

"Mari kita naik ke loteng untuk memeriksa dulu kawanan Laron Penghisap darah tersebut"

Si Siang-ho yang pertama menyetujui usulan itu, sahutnya sambil mengangguk.

"Mari ikut aku!"

Dia segera membalikkan badan dan beranjak masuk ke dalam rumah penginapan diikuti Siang Hu-hoa di belakangnya.

Kwee Bok merupakan orang ke dua yang menguntil di belakangnya, bukan karena kemauan sendiri tapi Nyo Sin dan Tu Siau-thian lah yang mendorong tubuhnya agar bergerak masuk duluan.

Sembari mendorong tubuhnya Nyo Sin dan Tu Siau-thian segera menghunus pula goloknya untuk bersiap sedia.

Mereka berharap bisa secepatnya membuktikan apakah semua keterangan yang diberikan Si Siang-ho merupakan kenyataan.

Mungkin saja Kwee Bok terkecuali, tapi sayang dia tidak mampu berbuat lain kecuali mengikuti rombongan itu, sebab didepan ada Si Siang-ho dan Siang Huhoa sementara dibelakangnya mengikuti Tu Siau-thian dan Nyo Sin, semua tindak tanduknya sudah diluar kontrol diri sendiri, bahkan mau pergi meninggalkan tempat itupun sudah menjadi masalah.

Baginya hanya ada satu jalan bila ingin pergi meninggalkan tempat itu, yakni kecuali dia memang benar-benar seorang siluman.

Entah sudah berapa lama rumah penginapan itu tidak pernah disapu dan dibersihkan, sebagian besar tempat telah dilapisi sarang laba-laba yang tebal, bahkan debu dan kotoran nyaris mengotori setiap tempat.

Sebuah bangunan rumah yang pada dasarnya sudah jelek, kuno dan mengenaskan, kini nampak lebih jelek, lebih kuno dan lebih mengenaskan lagi.

Hanya anak tangga menuju ke bangunan loteng yang nampak agak bersih, mungkin lantaran terlalu sering digunakan untuk berlalu lalang, walau begitu, bentuknya kelihatan tidak begitu kokoh, sewaktu berjalan diatasnya, anak tangga itu segera memperdengarkan suara mencicit yang keras, seakan setiap saat anak tangga itu bisa patah dan roboh.

Dengan perasaan kebat kebit Nyo Sin ikut menaiki anak tangga itu, baru berapa langkah dia sudah berseru sambil tertawa.

"Terus terang, aku kuatir kalau anak tangga ini patah dan roboh secara tiba-tiba"

"Soal ini kau tidak usah kuatir"

Jawab Si Siang-ho sambil menghentikan langkahnya dan berpaling.

"setiap hari, paling tidak aku naik turun sebanyak dua kali, bukankah hingga sekarang aku masih tetap hidup segar bugar?"

"Sebetulnya tempat ini cukup bagus, hanya sayang debu dan sarang laba-labanya kelewat banyak, kenapa tidak kau bersihkan?"

"Sebab aku tidak punya waktu senggang"

"Apa yang kau sibukkan setiap hari?"

"Minum arak"

"Kelihatannya nasib rumah penginapan Hun-lay sudah mendekati masa akhirnya"

Gumam Nyo Sin sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Si Siang-ho tidak menjawab, dia hanya tertawa. Kembali Nyo Sin berkata.

"Heran, kenapa kau bisa betah bertempat tinggal di tempat seperti ini?"

"Nyo tayjin, apakah kau tertarik juga dengan arak?"

Kembali Si Siang-ho tertawa.

"Aku jamin arak yang telah kuminum tidak lebih sedikit dari apa yang telah kau minum"

Sahut Nyo Sin sambil manggutmanggut.

"Indah bukan impian sewaktu mabok?"

Mendadak Si Siangho bertanya.

"Tentu, indah sekali"

Sahut Nyo Sin, setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"setiap kali berada dalam mendusin, aku tahu bahwa diriku hanya seorang opas, tapi begitu sudah memasuki impian indah ketika sedang mabuk, aku selalu merasa diriku bukan seorang opas lagi, tapi seorang raja muda"

"Itulah dia"

Seru Si Siang-ho segera.

"hampir sepanjang tahun aku berada dalam impian mabuk ku"

"Maka kau tidak acuh dan tidak ambil perduli terhadap lingkungan yang dalam kenyataan mengelilingi dirimu?"

"Betul, aku sama sekali tidak acuh"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka berlima sudah tiba diatas bangunan loteng.

Sebelum melangkah masuk ke ruang atas, semua orang sudah mengendus semacam bau busuk yang sangat memualkan, sedemikian busuknya bau yang tersebar membuat setiap orang nyaris muntahkan seluruh isi perutnya, apalagi ketika melangkah masuk ke dalam ruang atas, bau busuk itu semakin menusuk penciuman.

Mereka semua seolah-olah sudah terjerumus ke dalam alam kebusukan, bau busuk yang menyebar luas seolah sedang menyusup ke dalam tubuh mereka dan mulai beredar dalam badan mengikuti aliran darah.

Tiba-tiba saja mereka merasakan cairan darah dalam tubuh masing masing seakan ikut mulai berbau, seakan seluruh badan mereka ikut mengeluarkan bau busuk yang menusuk hidung.........

Untung saja semuanya itu bukan sebuah kenyataan!

--Sebuah beranda yang memanjang terbentang dihadapan mereka semua.

Dikedua sisi beranda itu masing masing terdapat empat buah kamar disisi kiri dan empat kamar disisi kanan, saat ini ada tujuh buah kamar yang terbuka lebar pintu dan jendela kamarnya, hanya ruang disudut paling kiri yang terkecuali.

Pintu dan jendela ruang kamar itu hampir semuanya tertutup rapat, sebelah sisi kiri pintu merupakan ujung paling dalam dari beranda itu tersusun beberapa buah kerangkengan besi, bau busuk yang memuakkan itu tampaknya muncul dari balik ruangan tersebut.

Sebelum mereka mendekati ruangan itu, lamat lamat terdengarlah suara yang sangat aneh berkumandang keluar dari dalam ruangan itu, suara tersebut mirip suara serombongan manusia yang bersama-sama sedang mengunyah sesuatu benda.

Terhadap suara asing semacam itu, Siang Hu-hoa, Tu Siauthian maupun Nyo Sm tidak merasa terlalu asing.

Tanpa sadar paras muka mereka bertiga berubah hebat, badan mereka merinding keras hingga bersin berulang kali.

"Jadi kawanan laron itu berdiam didalam kamar itu?"

Tanya Tu Siau-thian kemudian dengan wajah hijau membesi. Si Siang-ho manggut manggut membenarkan.

"Dan kau juga yang membuka kerangkeng besi itu serta melepaskan mereka semua?"

Tanya Tu Siau-thian lebih jauh.

"Bukan aku, tapi dia!"

Jawab Si Siang-ho sambil melirik Kwee Bok sekejap.

"Omong kosong!"

Teriak Kwee Bok gusar. Si Siang-ho sama sekali tidak menggubris, katanya lebih jauh.

"Sewaktu baru dipindahkan kemari, dialah yang membuka kerangkengan itu serta melepaskan mereka semua"

"Selanjutnya kau yang setiap hari masuk ke dalam kamar untuk mengirim kawanan kelinci itu?"

"Benar"

"Setiap kali sedang bekerja, apakah kau berada dalam keadaan mabuk?"

"Sebelum menghantar kawanan kelinci itu kepada mereka, aku tidak berani menyentuh arak walau hanya setetes pun"

"Oya?"

"Sebab aku kuatir napsu minumku kambuh hingga benarbenar dibikin mabuk, kalau sampai aku masuk dalam keadaan mabuk, bisa berabe nantinya...."

"Bukankah selama ini kau selalu masuk ke dalam kamar untuk menghantar kelinci kelinci itu? Kenapa bisa berabe?"

Tanya Tu Siau-thian keheranan.

"Tidak, aku sendiri tidak punya keberanian sebesar itu"

Seru Si Siang-ho sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Lalu dengan cara apa kau laksanakan tugas itu?"

"Diatas pintu ruangan terdapat sebuah pintu otomatis, aku cukup memasukkan kelinci kelinci itu seekor demi seekor melalui pintu otomatis"

Dia segera mempercepat langkah kakinya mendekati ruangan itu, kemudian tangannya menekan sebuah tombol diatas pintu.

Begitu tombol tersebut ditekan maka terbukalah sebuah lubang pintu selebar satu depa, tapi begitu tombol dilepas, pintu itupun menutup secara otomatis.

Tiba-tiba Siang Hu-hoa menatap wajah Si Siang-ho lekatlekat lalu berkata.

"Kalau tadi aku melihat kau masih dipengaruhi oleh mabuk, tapi sekarang aku lihat tidak secuwilpun pengaruh arak yang masih tersisa ditubuhmu"

"Betul, sekarang pengaruh arak dalam tubuhku benarbenar telah punah"

Jawab Si Siang-ho, kemudian setelah otot tenggorokannya nampak mengejang, dia lanjutkan.

"suara seperti ini, bau memuakkan semacam ini tidak disangkal merupakan obat penghilang mabuk yang paling jitu dan mujarab"

Mau tidak mau Siang Hu-hoa harus mengangguk juga, sebab apa yang dia katakan memang sangat tepat.

Kini mereka telah tiba didepan ruang kamar itu, segerombol laron sedang mengunyah sesuatu karena menimbulkan suara kunyahan yang aneh, tajam, melengking dan sangat menegangkan syarat, bahkan bau busuk yang tersiar keluar seolah sudah menembusi dinding lambung dan dinding usus mereka.

Dia memang tidak sampai memuntahkan isi perutnya, namun lambungnya terasa mulai menyusut kencang dan mengejang keras.

"Kenapa bisa begitu bau?"

Gumamnya tanpa terasa, dia berjalan semakin mendekat lalu menekan tombol diatas pintu sehingga pintu otomatis itu terbuka sedikit.

Bau busuk terendus makin tajam dan keras, dia mencoba untuk menahan napas sambil melongok ke dalam ruang kamar itu.

Laron Penghisap darah!

Ada sekamar penuh Laron Penghisap darah yang sedang beterbangan disana!

Dalam ruang kamar itu tidak ada perabot lain, semua barang yang semula terdapat disetiap kamar penginapan kini nyaris sudah terangkut keluar semua, yang tersisa hanya sebuah rak yang terbuat dari bambu.

Rak bambu itu lebarnya mencapai separuh ruang kamar itu, batang bambu yang digunakan pun merupakan batang bambu alami yang belum dibersihkan, bahkan daun daun bambu pun masih nampak berserakan disana sini.

Beribu ekor Laron Penghisap darah itu berada disekeliling dahan dan ranting bambu itu, ada yang sedang terbang mengelilingi rak bambu ada pula yang hinggap diantara ranting dan dedaunan, matanya yang merah dan sayapnya yang hijau membuat pemandangan yang menawan ditempat itu.

Dalam pandangan mata Siang Hu-hoa, semua keindahan yang ditampilkan laron laron itu justru mendatangkan perasaan ngeri dan seram yang menggidikkan hati.

Ternyata jendela dibagian luar ruang kamar itu berada dalam keadaan terbuka lebar.

Biarpun jendela dalam keadaan terbuka, namun kawanan Laron Penghisap darah itu tidak seekor pun yang terbang keluar dari ruang kamar itu, mereka hanya beterbangan disekeliling rak bambu.

Didepan rak bambu itu berserakan setumpuk tulang belulang, bukan tulang belulang manusia, dari bentuk dan wujudnya tulang itu semestinya tulang belulang dari kelinci.

Tumpukan tulang belulang itu memancarkan sinar putih yang pucat, pantulan sinar yang aneh sekali, seolah setelah dikerati daging dan kulitnya kemudian dicuci bersih dengan air dan diskat satu per satu.

Siang Hu-hoa menghembuskan napas dingin, buru buru dia lepaskan tombol rahasia itu dan mundur tiga langkah.

Tu Siau-thian dan Nyo Sin segera maju ke depan menggantikan posisi Siang Hu-hoa tadi.

Tapi begitu melihat suasana dalam ruang kamar itu, paras muka mereka berubah langsung berubah hebat, cepat-cepat mereka pun mundur ke belakang.

Dengan kedua belah tangannya Nyo Sin memegangi tenggorokan sendiri, dia seakan harus berbuat begini agar isi perutnya tidak sampai tumpah keluar.

Lama kemudian, Siang Huhoa baru menghembuskan napas panjang, kepada Si Siang-ho tanyanya.

"Kenapa semua jendela bagian luar bisa dalam keadaan terbuka?"

Sekali lagi Si Siang-ho mengerling Kwee Bok sekejap, kemudian jawabnya.

"Mungkin saja agar kawanan laron itu bisa masuk keluar dengan lebih leluasa, mengenai bagaimana caranya untuk membuka jendela itu........lebih baik tanyakan saja langsung kepadanya"

Sementara itu Kwee Bok sudah berjalan menuju ke depan pintu amar, dia pun ikut melongok ke dalam melalui pintu otomatis, tapi tidak lama kemudian paras mukanya ikut berubah sangat hebat.

Tampaknya dia sama sekali tidak mengetahui tentang semua persoalan disitu, diapun seakan tidak mendengar apa yang diucapkan Si Siang-ho barusan, kali ini dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.

"Kau bilang, dia yang membuka jendela jendela itu?"

Tanya Siang Huhoa kemudian.

"Sebelum melepaskan kawanan laron itu ke dalam ruangan tersebut, dia sudah membuka semua jendela itu terlebih dulu"

"Tidak kuatir kawanan Laron Penghisap darah itu kabur melalui jendela?"

Tanya Siang Huhoa keheranan.

"Aku sendiripun merasa agak heran, di hari hari biasa kawanan laron itu hanya beterbangan didalam ruang kamar, tidak seekor pun yang berusaha untuk terbang keluar dari situ"

Siang Hu-hoa kembali berpikir sejenak, kemudian tanyanya lagi.

"Apakah tumpukan tulang belulang yang ada didepan rak bambu itu adalah tulang belulang dari kawanan kelinci?"

"Benar"

"Tapi aku lihat tulang belulang dari tiga puluh ekor kelinci pun tidak genap?"

"Tepat tiga puluh ekor!"

"Tiga puluh ekor kelinci hanya cukup untuk rangsum tiga hari, memangnya kawanan Laron Penghisap darah itu sudah melalap habis sisa sisa tulang belulang yang dulu?"

Si Siang-ho kembali memandang Kwee Bok sekejap, kemudian katanya.

"Setiap kali datang menghantar kelinci baru, dia pasti akan masuk ke dalam ruangan dan membersihkan sisa-sisa tulang belulang kelinci yang sudah terlalap habis"

"Ooh rupanya begitu, aku masih mengira kawanan Laron Penghisap darah itu sudah melalap habis seluruh kelinci itu berikut tulang belulangnya"

Ujar Siang Huhoa sambil manggut manggut, kemudian dia bertanya lagi.

"Apakah kau tahu semua tulang belulang kelinci itu sudah dipindahkan ke mana?"

"Aku hanya tahu semua tulang belulang itu dia angkut pergi dengan menggunakan kereta kuda"

Kembali Siang Huhoa manggut manggut, baru saja dia akan mengajukan pertanyaan lagi, mendadak hidungnya mengendus semacam bau harum yang sangat aneh.

Bau harum itu tidak diketahui berasal dari benda apa, juga tidak diketahui bersumber dari mana, bau itu seolah olah ada tapi seolah olah tidak ada, kadang baunya tipis kadang baunya menebal dan melayang layang terus ditengah udara.

Siang Hu-hoa belum pernah mendengus bau harum semacam ini.

Dia segera memusatkan seluruh perhatiannya dan baru saja akan menyelidiki sumber dari bau harum itu, tiba-tiba dia menjumpai bahwa suara dengungan dan suara mengunyah yang semula amat ramai mendadak jadi mereda, sebaliknya suara kepakan sayap kian lama kian bertambah ramai dan keras.

Dengan satu gerakan refleks dia melompat ke depan, mendorong tubuh Kwee Bok kesamping lalu menekan tombol dan melongok ke dalam ruangan.

Tampak olehnya beribu-ribu ekor Laron Penghisap darah yang semula berkerumun diatas rak bambu itu kini sudah mengepakkan sayapnya dan beterbangan keluar dari ruangan melalui daun jendela.

Menyaksikan kejadian itu Siang Huhoa nampak tertegun, gumamnya.

"Heran, tidak ada hujan tidak ada angin, kenapa secara tiba-tiba pada terbang pergi?"

Tu Siau-thian maupun Nyo Sin serentak menerjang maju dan melongok ke dalam ruangan, tapi dengan cepat paras muka ke dua orang itupun diliputi perasaan tercengang bercampur tidak habis mengerti.

"Mungkin saja kawanan laron itu terpengaruh oleh bau harum ini"

Ujar Si Siang-ho pelan, tampaknya diapun turut mengendus bau harum yang sangat aneh itu.

"Berasal dari benda apakah bau harum itu?"

Tanya Siang Huhoa.

"Entahlah, aku sendiri juga kurang jelas"

Sahut Si Siang-ho seraya menggeleng.

"Sebelum hari ini, apakah kau pernah mengendus bau harum semacam ini?"

"Pernah, malah beberapa kali"

"Kira-kira kapan kau pernah mengendus bau harum itu?"

Sela Siang Huhoa.

"Sesaat sebelum gerombolan laron itu terbang meninggalkan kandangnya"

"Oooh......."

Seru Siang Hu-hoa, dia melongok lagi ke dalam ruangan, ternyata hanya dalam waktu singkat beribu-ribu ekor Laron Penghisap darah itu sudah terbang bersih dari ruangan tersebut.

Tanpa terasa pandangan matanya dialihkan ke atas gelang pintu, tanyanya mendadak.

"Kau membawa kunci ruangan?"

Diantara dua gelang pintu memang tergantung sebuah gembokan kunci yang sangat besar, gembokan besi disertai rantai besar. Si Siang-ho gelengkan kepalanya.

"Dia yang menyimpan ke dua buah anak kunci itu!"

Katanya, sementara berbicara sinar matanya kembali dialihkan ke wajah Kwee Bok.

Waktu itu Kwee Bok sedang berdiri termangu-mangu, tapi begitu mendengar perkataan Si Siang-ho apalagi melihat sorot matanya tertuju ke wajah sendiri, kontan saja dia mencak mencak kegusaran, teriaknya.

"Siapa bilang aku mempunyai kuncinya?"

Si Siang-ho hanya tertawa, dia tidak menanggapi teriakan orang. Dengan cepat Nyo Sin melotot sekejap ke arah Kwee Bok, hardiknya.

"Siau Tu, cepat geledah sakunya!"

Tentu saja Tu Siau-thian tidak berani membangkang perintah komandannya, dia menyahut dan segera jalan mendekat.

Kwee Bok tidak berusaha untuk menghindar, diapun tidak melakukan perlawanan, sambil tertawa pedih ujarnya.

"Baik, silahkan kalian geledah!"

Tu Siau-thian tidak sungkan sungkan lagi, dengan seksama dia geledah seluruh badan Kwee Bok, alhasil tidak ditemukan anak kunci walau hanya sebuah pun.

Sambil gelengkan kepalanya berulang kali Tu Siau-thian terpaksa lepas tangan dan mundur kembali.

Nyo Sin melirik Kwee Bok sekejap, tiba-tiba dia berpaling seraya berseru.

"Ayoh kita dobrak pintu itu dan menerjang masuk!"

Begitu selesai bicara, dia mundur selangkah dan siap menendang pintu itu. Belum lagi kakinya terangkat, Siang Huhoa telah mencegahnya.

"Tidak perlu!"

Cegah Siang Hu-hoa sambil menggeleng. Sepasang tangannya serentak dijatuhkan keatas gelang pintu disebelah kiri, ketika hawa murninya disalurkan.

"Kraaak"

Gelang pintu itu seketika terbetot hingga hancur berantakan.

Pintu pun perlahan-lahan mulai terbuka lebar, bau busuk yang semakin menyengat hidung segera menyembur keluar dan tersebar ke mana-mana.

Dengan cepat Siang Huhoa berpaling ke arah lain untuk menghindari semburan bau busuk itu, Tu Siau-thian menutupi hidungnya, Nyo Sin membuang napas sementara Kwee Bok mulai memuntahkan isi perutnya.

Menghadapi bau busuk yang luar biasa hebatnya itu jelas dia sudah tidak mampu untuk mengendalikan diri.

Seandainya dialah pemilik kawanan Laron Penghisap darah itu, semestinya dia sudah terbiasa dengan bau busuk semacam ini, atau mungkin dia memang bukan pemiliknya?

"Hmmm, pandai amat kau berlagak!"

Jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin. Kwee Bok tidak menggubris, dia masih muntah terus tiada hentinya.

"Mari kita masuk ke dalam"

Ajak Nyo Sin kemudian sambil mengerling Tu Siau-thian sekejap, walaupun dia berkata begitu namun tubuhnya sama sekali bergeming.

Akhirnya Tu Siau-thian menghela napas panjang, dia tahu tidak ada pilihan lain baginya kecuali masuk ke dalam ruangan terlebih dulu.

Nyo Sin segera menyambar bahu Kwee Bok dan mendorongnya masuk ke dalam ruang kamar, setelah itu dia baru mengikuti di belakangnya.

Siang Huhoa dan Si Siang-ho ikut masuk ke dalam, namun tidak terlihat seekor Laron Penghisap darah pun didalam ruangan itu.

Seluruh ruangan seolah dicekam bau busuk yang sangat tebal, ditengah bau busuk lamat lamat terendus bau harum yang aneh, bau harum itu meski sangat tipis namun masih dapat tercium dengan jelas.

Tiba-tiba Nyo Sin merasa bahwa bau harum itu rupanya datang dari tubuh Kwee Bok.

Dia segera melepaskan cengkeraman pada bahunya, setelah mundur tiga langkah, diamatinya tubuh Kwee Bok dari atas hingga ke bawah.

Waktu itu Kwee Bok masih muntah tiada hentinya, bukan cuma seluruh isi perutnya tertumpah keluar bahkan air pahit pun ikut tertumpah keluar.

Nyo Sin mencoba mengendus beberapa kali diseputar tubuh Kwee Bok, tiba-tiba tanyanya kepada Tu Siau-thian.

"Tadi, kau sudah menggeledah seluruh sakunya?"

Tu Siau-thian membenarkan.

"Kenapa bau harum itu seolah olah muncul dari tubuhnya?"

Tanya Nyo Sin lagi.

"Masa begitu?"

Tanya Tu Siau-thian keheranan, ia segera maju mendekat, mengendusnya beberapa kali, kemudian dengan wajah tercengang bercampur keheranan, serunya tertahan.

"Aaah, benar, bau harum itu berasal dari tubuhnya"

Seraya berpaling ke arah Nyo Sin, gumamnya.

"Aneh, kenapa tidak kurasakan sejak tadi?"

"Coba kau geledah sakunya sekali lagi!"

Perintah Nyo Sin.

"Padahal tadi sudah kugeledah dengan teliti"

"Mungkin kau kurang seksama, coba digeledah sekali lagi"

"Yaa. Mungkin aku kurang teliti, tapi sudah kuperiksa semuanya, apalagi yang mesti aku geledah......."

"Mungkin lipatan bajunya!"

Tiba-tiba Siang Hu-hoa menyela dari samping. Berbinar sepasang mata Tu Siau-thian, serunya tertahan.

"Lipatan ujung bajunya?"

Dengan cepat dia sambar tangan kanan Kwee Bok dan mencengkeram lipatan ujung bajunya.

Begitu dicengkeram, dia segera berhasil menggenggam sebuah benda bulatan, karena cengkeramannya kelewat keras, benda bulatan itu segera hancur berantakan.

"Blukkkk!"

Dari balik lipatan baju Kwee Bok segera berkumandang suara ledakan kecil, disusul kemudian tampak segumpal asap putih menyembur keluar dari sela sela bajunya, bau harum yang sangat menyengat pun menyebar ke seluruh angkasa.

Berubah hebat paras muka semua orang, sementara Kwee Bok sendiri seolah berubah jadi orang yang sangat bodoh, dia tampak tertegun hingga melanjutkan muntahannya pun jadi terhenti sementara waktu.

Dengan wajah berubah hebat Nyo Sin segera berseru.

"Hati-hati racun dibalik asap........."

Seraya berkata buru buru dia menutup seluruh pernapasannya. Tu Siau-thian tidak ketinggalan untuk menutup pernapasannya, sedangkan Siang Huhoa sudah menutup napasnya semenjak tadi.

"Aku percaya tidak ada racun dibalik asap itu"

Kata Si Siang-ho kemudian.

"aku sudah berulang kali mengendus bau harum seperti ini, seandainya ada racun, memangnya aku masih bisa hidup hingga kini?"

"Ehm, benar juga"

Nyo Sin manggut-manggut.

"lantas menurut pendapatmu, apa kegunaan asap itu?"

Si Siang-ho termenung sambil berpikir sejenak, kemudian sahutnya.

"Bisa jadi asap wangi itu digunakan untuk mengendalikan kawanan Laron Penghisap darah, benar atau tidak dugaanku ini, kita mesti tanyakan kepadanya"

Kali ini, tidak menunggu dia mengalihkan sorot matanya, Kwee Bok sudah berteriak sambil mencak-mencak kegusaran.

"Si Siang-ho, kenapa kau menfitnah aku? Kenapa kau berupaya mencelakai aku?"

"Buat apa aku menfitnahmu? Buat apa aku mencelakaimu? Toh antara kau dan aku tidak punya ikatan dendam atau sakit hati?"

Sahut Si Siang-ho sambil tertawa getir.

"Lalu kenapa kau menuduh aku dengan segala tuduhan yang tidak masuk diakal?"

Jerit Kwee Bok. Si Siang-ho menghela napas panjang.

"Aai, bila kenyataan memang demikian, apalagi yang bisa kuperbuat?"

Sahutnya. Kembali dia berpaling ke arah Siang Huhoa dan Tu Siauthian, lalu terusnya.

"Semua yang kukatakan adalah kata yang sejujurnya!"

"Dia bohong! Dia sedang menfitnah aku!"

Jerit Kwee Bok sambil mengepal tinjunya.

Kalau dilihat dari gayanya, dia seakan hendak menerjang ke depan dan menghadiahkan dua pukulan tinju ke dada Si Siang-ho, sayang sebelum hal ini dilakukan, tangannya sudah keburu ditangkap Tu Siau-thian.

Ketika Tu Siau-thian menggetarkan tangannya, beberapa buah kotak lilin berbentuk bulat terjatuh dari balik lipatan baju kanannya, dari balik kotak lilin itulah asap putih itu berasal.

Sambil tertawa dingin Tu Siau-thian segera menegur.

"Jika dia sedang menfitnahmu, lalu apa penjelasanmu tentang bulatan bulatan lilin yang jatuh dari balik lipatan bajumu?"

"Darimana aku bisa tahu kalau bulatan lilin itu bisa muncul dibalik lipatan bajuku"

Jawab Kwee Bok sambil tertawa getir. Tu Siau-thian tertawa dingin, sebelum dia sempat bersuara, sambil tertawa dingin Nyo Sin sudah bicara duluan.

"Kalau kau tidak tahu, siapa yang tahu?"

"Aku benar-benar......"

"Benar-benar kenapa?"

Tukas Nyo Sin.

"semuanya sudah terbukti didepan orang banyak, memangnya tuduhan inipun merupakan fitnahan?"

Perkataan itu kontan saja membuat paras muka Kwee Bok berubah jadi merah jengah dan panas, untuk sesaat dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Kembali Nyo Sin berkata.

"Sebentar kami akan menanyai semua penduduk dusun, apa benar setiap sepuluh hari kau datang satu kali kemari, apa benar kau pernah mengangkut keranjang besi menggunakan kereta kuda yang ditutup kain hitam, asal semua sudah ditanyakan, urusan akan lebih jelas lagi"

Dengan wajah merah padam Kwee Bok melotot Si Siang-ho sekejap, teriaknya.

"Semua penduduk dusun ini merupakan komplotannya!"

"Hmmm, kalau begitu kami juga merupakan komplotannya?"

Jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin. Kontan Kwee Bok terbungkam mulutnya. Nyo Sin segera berpaling ke arah Tu Siau-thian, lalu perintahnya.

"Coba geledah sekeliling tempat ini, periksa apakah masih ada benda lain yang mencurigakan"

Tu Siau-thian mengangguk dan segera berlalu.

Dalam pada itu Siang Huhoa sudah mulai berjalan mengitari ruang kamar itu.

Ruang kamar itu tidak terlalu besar.

Tidak selang berapa saat kemudian ke dua orang itu sudah selesai memeriksa dan menggeledah seluruh ruangan.

Tidak ditemukan sesuatu benda yang mencurigakan, tidak juga ditemukan sesuatu penemuan yang baru.

Kembali ke sisi Nyo Sin, Tu Siau-thian segera melapor seraya menggeleng.

"Aku lihat ruang kamar itu tidak ada yang perlu dicurigakan"

"Apakah saudara Siang berhasil menemukan sesuatu?"

Nyo Sin segera berpaling ke arah Siang Huhoa.

Siang Huhoa tidak menjawab, tiba-tiba dia membungkukkan badannya dan memungut berapa buah potongan kotak lilin yang terjatuh ke lantai.

Mendadak sorot matanya membeku, ternyata ditemukan tulisan diatas kerak lilin itu.

Buru-buru dia menyatukan kedua potongan kotak lilin itu hingga muncullah tiga buah huruf yang amat jelas.

Hui cun tong.

Sebuah cap berwarna merah tertera sangat jelas diatas lapisan lilin.

Semua tingkah laku Siang Huhoa diikuti terus oleh Nyo Sin dengan seksama, maka sebelum Siang Hu-hoa sempat mengatakan sesuatu, dia sudah memburu ke depan untuk memeriksa sendiri penemuan apa yang berhasil didapatkan.

Sementara itu Siang Huhoa sudah berpaling ke arah Kwee Bok, sambil menatap tajam wajah pemuda itu tanyanya.

"Boleh aku tahu apa nama balai pengobatan milikmu itu?"

"Hui Cun-tong!"

Jawab Kwee Bok tanpa ragu.

Siang Huhoa menghela napas panjang, pelan-pelan dia sodorkan sepasang tangannya ke depan.

Dengan ketajaman mata Nyo Sin, hanya dalam sekali pandang saja dia sudah melihat jelas tulisan itu, teriaknya tanpa sadar.

"Aaah, Hui cun tong!"

Sebelum Siang Huhoa menyodorkan lilin itu ke hadapan Kwee Bok, agaknya pemuda itu pun sudah melihat dengan jelas tulisan yang tertera disitu.

Berubah hebat paras muka Kwee Bok, apalagi setelah lapisan lilin itu disodorkan ke hadapannya, air mukanya saat ini telah berubah jadi putih pucat bagai selembar kertas.

Tampaknya dia sudah melihat dengan jelas benda itu, sudah melihat pula dengan jelas ke tiga huruf yang tertera disitu.

Dengan mata melotot Siang Huhoa segera menegur.

"Betulkah benda itu hasil produksi dari balai pengobatanmu?"

"Benar, obat itu memang aku buat sendiri"

Jawab Kwee Bok sambil mengangguk, wajahnya penuh diliputi kebingungan."

"Berdasarkan apa kau bisa membedakan kalau obat ini hasil produksimu?"

"Diatas lapisan lilin itu tertera cap identitasku"

"Tapi cap ini bisa dipalsukan orang...."

"Apakah kau tidak merasa bahwa warna merah dari cap itu sedikit agak istimewa bila dibandingkan dengan warna lain?"

Tiba tiba Kwee Bok bertanya.

"Benar"

Siang Hu-hoa mengangguk.

"rasanya warna jenis begini jarang sekali dijumpai"

"Warna itu merupakan hasil pencampuranku sendiri, sementara cap itu diterakan diatas lapisan lilin ketika lilin belum sama sekali membeku, itulah sebabnya warna yang ditimbulkan sangat berbeda dengan warna pada umumnya, biar orang lain bisa memalsukan cap ku, belum tentu ia bisa memalsukan persis seperti apa yang kuhasilkan"

Sesudah menghela napas, terusnya.

"Rahasia ini hanya diketahui aku seorang, sejak meramu obat sampai memasukkan ke dalam kapsul lilin itu, aku tidak pernah suruh orang lain yang mengerjakan, hampir semuanya aku lakukan sendiri"

"Apa tujuanmu berbuat demikian?"

"Untuk mencegah agar tidak dipalsukan orang lain"

"Sebetulnya obat itu dipakai untuk mengobati sakit apa?"

Tanya Siang Huhoa lagi.

"Terhadap beberapa jenis penyakit yang sering dijumpai dalam masyarakat, obat itu manjur sekali"

"Oooh, jadi obat itulah yang disebut orang si mia wan (pil penyambung nyawa) dari Hui cun tong?"

Timbrung Tu Siauthian tiba tiba.

"Benar!"

"Apa benar bisa menyambung nyawa orang?"

Tanya Siang Huhoa agak sangsi.

"Kalau dibilang benar benar bisa menyambung nyawa orang, hal itu sih kelewat dibesar besarkan, tapi nama ini paling tidak sudah digunakan hampir lima puluh tahun lamanya"

"Bukankah kau bilang obat itu kau sendiri yang buat?"

"Sekarang memang aku sendiri yang membuat obat tersebut, tapi dulu tidak, pencipta ramuan obat itu toh bukan aku"

Bab 19. Membetot serat menguliti kepompong.

"Kalau bukan kau, lantas siapa?"

Tanya Siang Huhoa.

"Mendiang guruku!"

"Waah.... obat itu pasti laku keras di pasaran?"

"Betul"

Kwee Bok mengangguk.

"justru karena itulah diluar sana banyak beredar obat palsu"

"Apakah obat sejenis itu hanya diperjual belikan di Hui cun tong?"

"Benar"

"Sebenarnya pil Si mia wan itu mahal tidak harganya?"

"Yang tulen murah harganya, justru yang palsu baru mahal sekali"

"Maka kau pandang sebelah mata terhadap obat itu?"

"Aku memang memandang sebelah mata, masalahnya bukan dalam hal untung rugi, balai pengobatan Hui cun tong bukan usaha dagang yang mengejar keuntungan besar, aku belajar ilmu pengobatan karena aku ingin menolong orang"

"Kalau memang begitu, kenapa kau masih memandang sebelah mata?"

Sindir Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Sebab mereka yang memalsukan obatku hanya mampu meniru bagian luarnya saja, sedang isinya sangat berbeda, meskipun setelah diminum tidak sampai menimbulkan kematian namun obat itu tidak banyak berpengaruh bagi penderita sakit, bahkan bila berlarut larut bisa menimbulkan kematian"

"Hmmm, kelihatannya kau bukan termasuk orang berhati keji"

Kembali sindir Nyo Sin.

"Apakah kau yakin obat Si mia wan yang kutemukan adalah obat asli buatanmu sendiri?"

Tiba-tiba Siang Hu-hoa menyela. Kwee Bok mengangguk.

"Kalau memang asli buatanmu, seharusnya isi kapsul lilin itu adalah bubuk obat"

Kata Siang Huhoa lebih jauh.

"kenapa isinya sekarang justru segumpal asap harum? Bagaimana penjelasanmu tentang kejadian ini?"

Kwee Bok menghela napas panjang.

"Aaai.... mungkin ada orang telah mengeluarkan isi bubuk obat itu, kemudian memasukkan bubuk obat yang lain ke dalam kapsul tersebut"

"Siapa orang itu?"

Jengek Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Alangkah baiknya bila aku tahu akan hal ini"

Sahut Kwee Bok sambil mengalihkan sorot matanya ke wajah Si Siang-ho.

Walau dipandang dengan sinar mata tajam, Si Siang-ho masih tetap berdiri tenang, begitu tenangnya seolah tidak ada urusan dengan dirinya.

"ooh, jadi kau mencurigai dia?"

Tegur Nyo Sin kemudian.

"Benar, aku memang mempunyai kecurigaan itu"

"Ketika memeriksakan kesehatan tubuhnya, apakah kau pernah memberi Si mia wan kepada nya?"

Tanya Nyo Sin.

"Penyakit yang dideritanya sangat ringan, tidak perlu obat macam si mia wan"

"Apakah dia pernah membeli obat Si mia wan dari balai pengobatanmu?"

"Juga tidak pernah"

"Lalu darimana dia dapatkan Si mia wan dari Hui cun tong?"

"Mungkin saja dia suruh orang lain yang membeli"

"Mungkin?"

Jengek Nyo Sin ketus.

"jadi kau tidak yakin?"

Mau tidak mau Kwee Bok harus mengakuinya.

"Mungkin kau tidak yakin, tapi aku telah yakin akan satu hal"

Kata Nyo Sin lebih jauh. Kwee Bok tidak bertanya apa yang dia yakini, sebab dia sudah dapat menebak apa jawaban-nya. Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh.

"Kapsul lilin itu disembunyikan dibalik lipatan ujung bajumu, sementara opas itu meremuk kapsul lilin itu dari luar lipatan baju........"

Kwee Bok tidak dapat membantah, sebab apa yang diutarakan memang merupakan sebuah kenyataan. Setelah tertawa dingin lanjut Nyo Sin.

"Sekarang kau hanya bisa berharap orang dusun tidak ada yang kenal dengan dirimu, dan tidak ada yang tahu kalau setiap sepuluh hari sekali kau pasti datang kemari dengan menunggang kereta kuda"

Kwee Bok tidak berbicara lagi, entah sejak kapan dengus napasnya mulai memburu hingga nyaris tersengkal, dengan sorot mata penuh kebencian dia awasi wajah Si Siang-ho.

Si Siang-ho sama sekali tidak menghindari sorot matanya, sekulum senyum tidak senyum justru menghiasi wajahnya.

Dengus napas Kwee Bok makin lama semakin bertambah cepat, tiba tiba dia berteriak keras, sambil mengayunkan tinjunya dia menerjang ke tubuh Si Siang-ho.

Sejak awal Tu Siau-thian sudah menduga sampai ke situ, dia memang sudah bersiap sedia sejak tadi, maka begitu ayunan tinju mulai dilontarkanh, dia segera menghadang dihadapannya.

Siapa tahu baru melangkah beberapa tindak mendadak Kwee Bok berganti arah dan langsung kabur keluar dari ruangan itu.

Tindakan ini jauh diluar dugaan siapa pun, untuk sesaat Tu Siau-thian hanya berdiri tertegun sementara Nyo Sin tidak sempat lagi untuk menghalangi.

Siang Huhoa pun nampaknya agak tercengang dengan kejadian ini, tanpa terasa sinar matanya dialihkan ke wajah Si Siang-ho.

Dalam pada itu Si Siang-ho sedang mengangkat tinggi tangan kirinya, jari telunjukkan ditempelkan diujung hidung sementara diatas jari manisnya nampak sebuah cincin yang aneh sekali bentuknya.

Cincin itu terbuat dari besi dan sangat besar bentuknya, sebuah cincin berwarna hitam yang memancarkan cahaya tajam.

"Mau kabur ke mana kau!"

Hardik Tu Siau-thian.

"Berhenti!"

Bentak Nyo Sin pula, baru dia buka mulut, Kwee Bok sudah menerjang keluar dari pintu kamar.

"Kena!"

Terdengar Si Siang-ho membentak nyaring.

Tangan kirinya segera diayunkan ke muka, cincin besi yang dikenakan dijari telunjuknya itu segera melesat ke tengah udara dan meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Diantara kilatan cahaya berwarna hitam, terdengar Kwee Bok mendengus tertahan dan jatuh berlutut diluar pintu.

"Traang!"

Cincin besi itupun jatuh ke lantai dari lekukan lutut kakinya.

Dengan satu lompatan cepat Si Siang-ho menghampiri pemuda itu, memungut kembali cincin besi itu dan dikenakan pada jari telunjuknya.

Tidak lama kemudian Siang Huhoa bertiga telah memburu pula dari balik kamar dan menyusul ke samping tubuhnya.

Berbinar sepasang mata Siang Huhoa, pujinya.

"Pedang baja gelang terbang, ternyata memang bukan nama kosong"

"Aaah, hanya permainan kucing kaki tiga, tidak ada harganya untuk dikagumi"

Sahut Si Siang-ho merendah.

"Takaran minum arakmu terhitung hebat juga"

Kembali Siang Hu-hoa memuji.

"Kenyataan memang begitu, tapi seandainya kedatangan saudara Siang sedikit agak terlambat sehingga aku berkesempatan minum lagi berapa cawan, mungkin kau tidak akan memuji takaran minumku lagi"

Sembari menggosokkan cincin besi itu diantara telapak tangannya, dia berkata lebih jauh.

"Kalau sampai serangan dilancarkan dalam keadaan pusing dan tidak tepat dalam penggunaan tenaga, mungkin yang kena bukan lututnya melainkan batok kepalanya"

Setelah tertawa tergelak, tambahnya.

"Jika sampai terjadi peristiwa macam itu, besar kemungkinan aku bakal menjadi seorang pembunuh sungguhan!"

Siang Huhoa hanya tertawa tanpa komentar.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Tu Siau-thian sudah mencengkeram kerah baju Kwee Bok dan menariknya hingga terbangun dari tanah.

Nyo Sin tidak tinggal diam, dia ikut maju sambil menelikung tangan Kwee Bok ke belakang punggungnya.

Telikungan itu mestinya tidak menggunakan tenaga yang terlalu besar, namun Kwee Bok tidak mampu menahan diri, tubuhnya segera melengkung bagaikan seekor udang.

"Kau tidak usah main akal akalan lagi"

Seru Nyo Sin sambil tertawa seram.

"belum pernah ada tersangka yang berhasil kabur dari hadapanku"

Dia pada hakekatnya telah menganggap Si Siang-ho sebagai anak buahnya.

"Aku bukannya mau melarikan diri"

Bantah Kwee Bok dengan wajah hijau membesi.

"Oya?"

"Aku hanya ingin keluar dari sini secepatnya, mencari seseorang dan menanyai masalah ini hingga jelas"

Teriak Kwee Bok lagi. Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"apalagi mau cepat atau lambat, jawabannya tetap sama, buat apa kau mesti terburu napsu"

Kwee Bok menutup mulutnya rapat rapat, tapi sepasang matanya mengawasi terus wajah Si Siang-ho dengan penuh amarah.

"Buat apa kau mendelik kepadanya?"

Tegur Nyo Sin yang menyaksikan hal itu.

"Aku pingin melihat jelas rencana busuk apa lagi yang sedang dia persiapkan"

"Waaah, kau punya kepandaian sehebat itu, mampu melihat jelas rencana yang sedang dia persiapkan?"

Kwee Bok mendengus dingin, tentu saja dia tidak memiliki kepandaian seperti itu.

"Jadi selama ini kau masih menyangka dia yang menfitnahmu, dia yang sengaja mengatur jebakan untuk mencelakaimu?"

Tanya Nyo Sin.

"Sudah tentu ulah dia!"

"Tapi ada satu hal kau mesti tahu terlebih dulu"

"Soal apa yang kau maksud?"

"Jenasah Jui Pak-hay telah ditemukan dimana?"

"Kau pernah menjelaskan tadi, aku belum lupa"

"Nah itulah dia, jika dia yang membunuh Jui Pak-hay, kenapa jenasah Jui Pak-hay bisa ditemukan ditempat itu?"

"Aku memang tahu dengan pasti bahwa tempat itu merupakan kamar tidur Jui Pak-hay dan bininya, tapi ada satu hal lebih baik jangan komandan lupakan"

"Soal apa?"

"Dulu, Si Siang-ho adalah pemilik perkampungan Ki po cay!"

"Kalau yaa, lalu kenapa?"

"Tentu saja dia hapal sekali dengan keadaan disekeliling perkampungan Ki po cay, karena dulu tempat ini memang miliknya, apalagi dengan kehebatan ilmu silatnya, bukan satu pekerjaan yang sulit untuk menyelundupkan sesosok jenasah ke dalam ruang loteng itu"

"Tapi hampir sepanjang hari Gi Tiok-kun berada didalam kamar tidurnya, memangnya perempuan itu tidak akan memergoki kehadirannya?"

Seru Nyo Sin.

"Adik misanku nyaris tidak mengerti ilmu silat, dengan kemampuan ilmu silat yang dia miliki, bukan pekerjaan yang terlampau sulit untuk memasuki kamar tidur adik misanku tanpa harus dipergoki"

"Menurut kau, kenapa dia harus berbuat begitu?"

"Tentu saja untuk menuntut balas"

Sahut Kwee Bok. Kemudian setelah mendelik ke arah Si Siang-ho, lanjutnya.

"Hingga sekarang dia belum pernah lupa dengan sakit hatinya, sakit hati lantaran Jui Pak-hay berhasil merebut pujaan hatinya bahkan menikahinya, setiap waktu setiap saat dia selalu berusaha untuk balas dendam sambil menunggu tibanya kesempatan yang sangat baik. Dan kini waktunya sudah tiba, dia bukan saja telah merenggut nyawa Jui Pakhay, bahkan dengan cara begini dia ingin menghabisi pula nyawa adik misanku, satu batu dua burung, satu siasat yang amat keji dan jahat dan sesuai dengan keinginan hatinya.........."

Setelah berhenti sejenak untuk berganti napas, terusnya lagi.

"Sedang mengenai aku.....karena kehadiranku yang tidak terduga olehnya, maka demi kesempurnaan rencana kejinya, dia pun sekalian menghabisi aku"

Tiba-tiba Nyo Sin tertawa dingin, selanya.

"Kau boleh saja bicara semaumu, tapi lebih baik jangan melupakan peristiwa apa saja yang telah berlangsung mulai tanggal satu bulan tiga hingga tanggal lima belas"

Kwee Bok menggelengkan kepalanya berulang kali, teriaknya.

"Antara aku dengan kawanan Laron Penghisap darah itu sama sekali tidak ada hubungannya"

Nyo Sin tidak berkata apa-apa. Dia hanya tertawa dingin. Dalam pada itu Si Siang-ho sudah berjalan mendekat, tibatiba dia mengeluarkan selembar uang kertas dari sakunya lalu berkata.

"Uang cek ini bernilai tiga ribu tahil perak yang dia serahkan kepadaku, mungkin dengan barang buku ini kau lebih leluasa melacak dan mengungkap kasus ini"

Nyo Sin segera menerimanya.

"Uang cek itu berasal dari rumah uang mana?"

Tanya Siang Hu-hoa.

"Kwang-hong!"

"Betul, Rumah uang Kwang-hong"

Kata Nyo Sin pula setelah memeriksa lembaran uang cek itu.

"Dibuka tanggal berapa?"

"Bulan dua belas tanggal lima belas"

Jawab Nyo Sin lagi setelah periksa cek itu.

"Terus, lembaran cek itu bernomor berapa?"

"Hong-ci nomor dua ratus empat puluh sembilan"

Siang Huhoa segera berpaling ke arah Tu Siau-thian dan ujarnya.

"Saudara Tu, coba kau turut mengingat nomor cek itu"

Tu Siau-thian manggut-manggut.

"Tidak perlu dicatat lagi"

Tukas Nyo Sin sambil menggeleng.

"lebih baik kita sita lembaran cek ini sebagai barang bukti, agar lebih gampang sewaktu dibutuhkan dalam penyelidikan nanti"

"Tadi lembaran cek itu bernilai nominal tiga ribu tahil perak, yaa... tiga ribu tahil perak, sekalipun pemilik cek percaya dengan kita pun, lebih baik kita pertimbangkan lagi"

"Tiga ribu tahil perak memang bukan jumlah yang kecil"

Nyo Sin mengangguk sambil mengelus jenggotnya.

"apalagi itu hanya selembar kertas tipis yang setiap saat bisa rusak atau hilang, kalau sampai hilang, wah... susah buat kita untuk mencarikan penggantinya. Ternyata walaupun dalam keadaan tegang, dia masih sempat juga berseloroh dengan rekannya. Tu Siau-thian tidak bicara apa-apa, dia hanya tertawa getir. Kembali Nyo Sin berkata.

"Biarpun kita mampu menggantinya, buat apa mesti menanggung resiko sebesar itu? Baiklah, aku rasa asal kita catat nomor cek dan tanggal dibukanya cek tersebut, itu pun sudah lebih dari cukup"

Seraya berkata diapun mengembalikan lembaran uang cek itu ke tangan Si Siang-ho.

"Kalau dimasa dulu uang sebesar tiga ribu tahil perak masih tidak kupandang sebelah matapun"

Kata Si Siang-ho sambil tertawa, kelihatan kalau tertawa itu kelewat dipaksakan, tertawa pedih.

Kalau mesti bicara jujur, baginya sekarang, uang sebesar tiga ribu tahil perak memang merupakan sebuah angka yang amat besar.

Dengan sangat berhati hati dia lipat kertas cek itu kemudian dengan berhati hati pula memasukkannya ke dalam saku.

Dalam pada itu Nyo Sin telah mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwee Bok dan tegurnya.

"Benarkah cek itu milikmu?"

"Bukan!"

Jawab Kwee Bok cepat. Jawaban tersebut tentu saja jauh diluar dugaan Nyo Sin, dia nampak tertegun, tapi kemudian ujarnya sambil tertawa.

"Cek itu dibuka pada tanggal lima belas bulan dua belas, berarti baru tiga bulnanan, aku percaya pemilik rumah uang kwong-hong masih bisa mengenali pemilik cek itu. Asal kita datangi tempat itu dan melakukan penyelidikan rasanya tidak gampang untuk mengungkap siapa pemilik cek tersebut, apalagi tiga ribu tahil perak bukan sebuah angka yang kecil"

"Silahkan saja ke sana dan tanya saja sampai jelas"

Seru Kwee Bok.

Sambil tertawa dingin Nyo Sin segera beranjak pergi.

Tidak usah diperintah lagi, Tu Siau-thian segera mencengkeram bahu Kwee Bok dan menggelandangnya mengikuti di belakang sang komandan.

Si Siang-ho ikut menyusul diikuti Siang Hu-hoa di paling belakang.

Sepasang keningnya nampak berkerut kencang, dia seakan sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin lelaki ini telah berhasil menemukan sesuatu?

Tiba kembali di ruang penginapan lantai bawah, suasana terasa jauh lebih nyaman dan segar, sekarang mereka sudah terbebas dari bau busuk yang sangat menusuk hidung kendatipun lamat lamat bau tersebut seakan masih menempel terus diujung hidung masing masing.

Untung saja keadaan tersebut hanya berlangsung sekejap karena tidak lama kemudian bau harumnya arak telah mengusir jauh-jauh bau busuk tersebut.

Nyo Sin segera berjalan menghampiri tepi meja, sambil menghadap guci arak yang sama sekali tak tertutup itu, dia menarik napas panjang panjang.

Setelah menghirup bau harumnya arak, dia merasa semangatnya segar kembali, pujinya sambil tertawa.

"Ehmm, arak bagus!"

Si Siang-ho ikut tertawa.

"Tentu saja arak bagus, aku tidak pernah sembarangan memilih dalam soal kwalitas arak"

Diambilnya sebuah cawan arak lalu katanya lagi.

"Bagaimana kalau meneguk dulu satu cawan?"

Sambil mengelus jenggotnya mendadak Nyo Sin menarik muka.

"Tidak boleh, sekarang aku sedang berdinas"

Katanya.

Si Siang-ho pun tertawa dan tidak memaksa lagi, sementara Nyo Sin juga tidak berkata apa apa lagi.

Segulung angin berhembus lewat, menembusi pintu belakang dan menerpa ke dalam ruangan.

Angin itu dengan cepat membuyarkan bau harumnya arak, tapi mendatangkan semacam bau harum lain yang terasa sangat aneh.

Nyo Sin dengan daya penciumannya yang sensitip seketika dapat menangkap bau harum yang aneh itu.

Dia segera berpaling ke arah Siang Huhoa dan Tu Siauthian, ternyata ke dua orang itupun sedang berpaling ke arah sumber datangnya hembusan angin itu, tampaknya daya penciuman mereka berdua tidak kalah dengan kemampuannya dan merasakan pula hal tersebut.

"Bau harum apa lagi itu?"

Akhirnya tidak tahan dia berseru.

"Entahlah, belum pernah kuendus bau harum semacam ini"

Sahut Tu Siau-thian seraya menggeleng. Begitu pula dengan Siang Huhoa, dengan penuh tanda tanya dia berpaling ke arah Si Siang-ho. Sebelum dia sempat bersuara, Si Siang-ho sudah menjawab duluan.

"Oh, bau harum itu berasal dari harumnya sejenis bunga"

"Bunga apa?"

"Aku sendiripun kurang jelas, ketika kubeli rumah penginapan ini, di belakang bangunan sudah tumbuh bunga jenis itu"

"Tidak pernah kau tanyakan kepada pemilik lama?"

Tanya Siang Hu-hoa.

"Waktu itu tidak terpikir olehku sampai ke situ"

"Setelah itu apakah kalian pernah bersua lagi?"

"Tatkala aku mencarinya untuk menanyakan masalah ini, ternyata orang itu sudah pergi meninggalkan desa"

Siang Huhoa mencoba untuk mengendus bau harum itu berulang kali, kemudian ujarnya.

"Bau harum ini sangat khas dan istimewa, sudah pasti berasal dari sejenis bunga langka yang jarang ada"

Si Siang-ho mengangguk membenarkan.

"Bagaimana kalau kita periksa sebentar bunga itu?"

Ajak Siang Huhoa sambil melirik Tu Siau-thian sekejap.

Begitu selesai berkata dia segera membalikan tubuh dan beranjak pergi, dia tidak menunggu lagi jawaban dari Tu Siauthian, juga tidak ambil perduli apakah Si Siang-ho setuju atau tidak.

Rasa ingin tahu orang ini memang sangat besar, apa yang aneh, apa yang tidak diketahui olehnya pasti ditinjau dengan segera.

Dengan pandangan heran dan penuh kesangsian Tu Siauthian melirik Siang Hu-hoa sekejap, kemudian setelah termenung sejenak, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menggelandang Kwee Bok dan mengikuti di belakangnya.

Nyo Sin sendiripun menunjukkan kesangsian, dia seakan enggan untuk ikut ke belakang, tapi pada akhirnya dia tetap mengayunkan langkahnya menyusul dari belakang.

Si Siang-ho mengikuti di paling belakang, dia tidak bermaksud mencegah atau menghalangi.

Mungkin lantaran dia sadar, mau dicegah pun jelas tidak mungkin.

--Ternyata halaman belakang rumah penginapan itu sangat lebar dan luas, dimana mana tumbuh pepohonan dan bebungahan.

Diantara pepohonan dan bebungahan itu membujur sebuah jalan setapak selebar tiga depa yang beralaskan batu putih, jalanan setapak itu berada disisi kiri yang berawal dari beranda belakang, mengelilingi tembok pagar dan membentang terus ke depan, kemudian berputar lagi ke sisi kanan hingga menyambung ke beranda sebelah kanan.

Pohon-pohonan dan bunga-bungaan yang tumbuh disitu sama sekali tidak terawat, sedemikian lebatnya daun-daunan hingga siapa pun yang berada dijalan setapak itu, bayangan tubuhnya segera akan tenggelam dibalik semak belukar.

Dinding pekarangan yang mengelilingi kebun itu tingginya mencapai dua kaki, kecuali memanjat ke puncak dinding, maka sulit bagi orang luar untuk mengetahui bahwa dibalik dinding terdapat pohon-pohonan dan bunga-bungaan yang begitu lebat.

Bunga yang tumbuh sepanjang jalan setapak itu berwarna kuning segar, daunnya panjang dan rantingnya penuh tumbuh duri yang tajam.

Sepanjang hidup belum pernah Siang Hu-hoa menjumpai bunga macam begini.

Lama sekali dia berdiri ditengah bunga-bungaan sambil mengawasi tumbuhan itu, kemudian gumamnya.

"Kelihatannya bunga jenis ini bukan berasal dari daratan Tionggoan"

"Darimana kau bisa berpikir begitu?"

Tanya Tu Siau-thian yang mengikuti di belakangnya.

"Kau tentu tahu bukan bahwa aku tinggal di perkampungan selaksa bunga?"

Tu Siau-thian kembali mengangguk.

"Didalam perkampungan selaksa bunga milikku itu, meski tidak terdapat selaksa jenis bunga, namun kalau dibilang tiga empat ribu jenis mah lebih dari itu"

Kata Siang Huhoa lagi.

Tu Siau-thian terbelalak matanya, semula dia mengira nama perkampungan selaksa bunga hanya berupa sebuah nama belaka, kalaupun dibilang tumbuh aneka bunga, dalam perkiraannya semula paling banter hanya ada dua ratusan jenis bunga.

Sebab siapa pun sadar, bukan pekerjaan yang gampang untuk mengumpulkan dua ratusan jenis bunga sekaligus.

Terdengar Siang Hu-hoa berkata lebih jauh.

"Hampir semua jenis bunga yang bisa tumbuh di daratan Tionggoan telah kutanam dalam perkampunganku, kecuali tumbuhan yang tidak mungkin bisa ditanam disitu atau selama ini belum pernah kulihat atau kudengar, hampir seluruhnya pernah ku telusuri dan kucari. Selain itu akupun memiliki buku catatan tentang aneka bunga, sehingga terhadap jenis bunga yang langka lainnya bisa kupelajari dari buku itu. Tapi kenyataannya sekarang, jangan lagi aku tidak mengenali jenis bunga ini, didengar pun belum pernah"

"Maka kau menaruh curiga kalau bunga ini bukan berasal dari daratan Tionggoan?"

Kata Tu Siau-thian. Baru saja Siang Hu-hoa hendak menjawab, Tu Siau-thian sudah maju mendekat sambil berbisik.

"Tentunya kedatanganmu ke kebun belakang bukan cuma untuk menonton jenis bunga itu bukan?"

"Boleh dibilang begitu"

Jawab Siang Huhoa setelah berpikir sebentar.

"Jadi masih ada maksud lain?"

Desak Tu Siau-thian. Siang Huhoa mengangguk.

"Lalu apa tujuanmu?"

Kembali Tu Siau-thian bertanya.

"Coba menganalisa mungkinkah tanaman langka ini ada hubungannya dengan kasus tersebut dan mungkinkah tanaman ini akan menjadi titik terang"

"Berarti sejak tadi kau sudah menemukan sesuatu?"

Tergerak hati Tu Siau-thian. Ternyata Siang Huhoa tidak menyangkal. Tu Siau-thian segera mendesak lebih jauh.

"sebenarnya apa yang telah kau temukan?"

"Sesungguhnya tidak menemukan apa-apa, hanya secara tiba-tiba timbul satu perasaan...."

"Perasaan apa?"

"Bau harumnya bunga langka ini sangat mirip atau paling tidak berasal dari jenis yang sama dengan bau harum yang kita endus dalam kamar tadi"

Setelah disinggung, Tu Siau-thian seakan merasakan juga hal itu, katanya kemudian.

"Yaa, nampaknya memang mirip sekali"

"Tapi sekarang aku lihat perasaan tersebut ternyata sama sekali tidak bermanfaat untuk menangani masalah ini"

Sorot matanya perlahan-lahan dialihkan kembali ke atas pepohonan itu, setelah termenung sejenak terusnya.

"Atau mungkin aku harus mengetahui terlebih dulu jenis apakah bunga ini, kemudian baru mendatangkan manfaat?"

"Mungkin saja?"

Sahut Tu Siau-thian, mendadak dia semakin merendahkan suaranya.

"jadi kau tidak percaya dengan perkataannya?"

Yang dimaksud "dia"

Jelas adalah Si Siang-ho.

"Memangnya kau percaya?"

Bukan menjawab Siang Huhoa balik bertanya.

Tu Siau-thian tidak menjawab, bunga jenis itu bukan termasuk sejenis bunga yang indah, anehnya setelah rumah penginapan itu dibeli, mengapa bunga itu dibiarkan tumbuh di halaman belakang, dan setelah tumbuh menjadi lebat mengapa tidak dipangkas atau ditata secara rapi, mengapa tumbuhan itu dibiarkan tumbuh liar?

Bukankah kejadian ini aneh sekali?

Setelah termenung sebentar, Tu Siau-thian bertanya lagi.

"Apakah kau bisa berupaya untuk mengetahui bunga itu berasal dari jenis apa?"

"Asal kita petik sekuntum bunga dan sehelai daunnya lalu ditanyakan orang, aku yakin kita pasti akan mendapatkan jawaban yang memuaskan"

"Tapi mau ditanyakan kepada siapa?"

"Aku mempunyai beberapa orang teman yang punya keahlian khusus tentang tumbuhan, aku percaya mereka pasti dapat mengenali bunga ini"

"Tinggal dimana teman temanmu itu?"

"Ada yang tinggal di tepi perbatasan, ada yang jauh di negeri asing, tapi ada satu orang yang justru berdiam di keresidenan tetangga"

"Itu sih gampang dicari"

"Sayangnya temanku ini tidak senang berdiam di rumah, moga moga saja kali ini terkecuali"

Kata Siang Hu-hoa.

"Apa perlu aku membantumu untuk mencarinya?"

"Kalau dia tidak berada dirumah, terpaksa aku harus pergi mencari orangnya, tidak ada orang yang tahu dia berada di mana dan senang berdiam di mana"

"Kalau begitu hanya ada satu hal yang bisa kubantu untuk mu"

Kata Tu Siau-thian kemudian sambil tertawa.

"Oya?"

"Aku yakin masih bisa membantumu untuk memetik bunga itu"

"Tidak usah dipetik"

Cegah Siang Huhoa, sambil berkata dia membungkukkan tubuhnya untuk memungut selembar daun yang rontok ke tanah.

Ketika bangkit berdiri, kebetulan segulung angin berhembus lewat dan menggugurkan beberapa kuntum bunga.

Dengan selembar saputangan dia terima guguran bunga itu sambil katanya.

"Aku rasa ini sudah cukup"

"Wah, aku lihat namamu memang sesuai benar dengan sifatmu, Hu-hoa, pelindung bunga-bungaan!"

Ejek Tu Siauthian sambil tertawa tergelak. Siang Huhoa ikut tertawa, tiba-tiba dia bertanya.

"Kau pernah menanam bunga?"

"Semasa masih muda dulu pernah"

"Dari sebuah biji yang sangat kecil ternyata bisa tumbuh pohon yang begitu besar, apakah kau tidak merasa sangat aneh?"

"Benar, aku memang merasa keheranan"

Tu Siau-thian mengangguk.

"Apakah kau pernah berpikir, mengapa bisa terjadi hal seperti ini?"

"Aku pernah berpikir, namun tidak mengerti"

"Padahal prinsip mereka sama seperti penghidupan manusia, asal ada nyawa maka mereka bisa tumbuh dan tumbuh terus hingga dewasa dan besar"

"Oleh karena itu kau menganggap mereka pun sama seperti manusia, berperasaan, bisa memiliki naluri?"

"Aku memang berpandangan demikian"

"Maka kau tidak tega untuk memetik dan mematahkan rantingnya?"

"Yaa, sebab berbuat seperti itu tidak ada bedanya dengan membunuh manusia"

"Sekarang aku baru paham"

Dia memperhatikan Siang Huhoa sekejap.

"tidak banyak manusia macam kau yang hidup di dalam dunia persilatan"

Orang persilatan memang sebagian besar lebih suka masuk dengan pisau mengkilap, waktu keluar golok sudah berubah menjadi warna merah.

Siang Huhoa menghela napas, dia bungkus saputangannya dan memasukkan daun dan bunga itu ke dalam sakunya, kemudian dia berjalan menelusuri jalan setapak dan mengelilingi kebun itu satu kali, namun tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Dari beranda sebelah kanan dia berjalan menuju ke beranda kiri setelah itu baru balik ke hadapan Si Siang-ho sambil berkata tiba tiba.

"Bagaimana kalau kau hadiahkan berapa batang pohon itu untukku?"

"Kau maksudkan pohon bunga itu?"

Tanya Si Siang-ho tertegun.

"Benar"

"Bila kau suka, angkut saja seluruh pepohonan itu"

Seru Si Siang-ho sambil tertawa.

"Jadi kau tidak suka dengan bunga-bungaan itu?"

"Aku memang tidak pernah tertarik dengan aneka macam tumbuhan, begitu juga dengan segala macam hewan peliharaan"

Setelah berhenti sejenak dan tertawa, tambahnya.

"yang paling menarik perhatianku hanya semacam benda"

"Arak?"

"Benar, hanya arak!"

"Ternyata kau memang tidak pelit, untung perkampungan selaksa bunga ku terletak tidak jauh dari sini"

"Kau bisa mengangkutnya beberapa kali"

"Tidak perlu semuanya, berapa batang pun sudah cukup"

"Kalau begitu aku hadiahkan berapa batang pohon itu untukmu"

Dia membalikkan badan sambil beranjak.

"tunggulah sejenak, segera kuambilkan sekop"

"Tidak usah, aku tidak akan mengambilnya sekarang"

"Oya?"

"Sekarang aku masih ada urusan, tidak mungkin bisa pulang ke perkampungan selaksa bunga"

"Kalau begitu kapan kau akan pulang kapan ambillah pohon itu, aku rasa tidak nanti rumah penginapan ini akan kedatangan perampok atau pencuri yang akan membabat habis pepohonan itu, sekalipun ada pun tidak nanti mereka bisa mengangkut pergi seluruh tumbuhan itu"

Kata Si Siangho. Kemudian setelah tertawa ringan, lanjutnya.

"Kecuali seluruh persediaan arakku habis, kalau tidak, tidak nanti aku akan pergi meninggalkan rumah penginapan ini, bila nanti kau datang lagi dan kebetulan tidak berjumpa denganku, tidak usah sungkan sungkan, ambil saja sendiri, aku jamin tidak akan ada orang yang menganggap dirimu sebagai pencuri"

Sebelum Siang Huhoa memberikan tanggapannya, Nyo Sin yang berada disisinya telah menyela.

"Biarpun kasus Laron Penghisap darah sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, lebih baik kau jangan pergi dulu selama berapa hari ini, siapa tahu setiap saat pengadilan membutuhkan kesaksianmu"

"Waah, begitu merepotkan......."

Keluh Si Siang-ho.

"Tidak bisa dibilang merepotkan, karena setiap penduduk punya kewajiban membantu pemerintah untuk mengungkap setiap kasus kejahatan"

Si Siang-ho tertawa getir dan tidak berkata lagi.

Siang Huhoa juga tidak berkata apa apa, dia berjalan balik menuju ke arah semula.

Mengawasi bayangan punggung laki-laki itu, Nyo Sin gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam.

"Orang ini betul-betul membingungkan........."

"Dia tidak membingungkan, hanya kebetulan suka sekali dengan bunga"

Ujar Tu Siau-thian.

"Menurut pendapatku, masalahnya tidak begitu sederhana"

Tiba tiba Si Siang-ho menimpali.

"Lantas bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanya Nyo Sin seraya berpaling.

"Tampaknya dia sudah menaruh curiga atas tumbuhan bunga itu!"

"Apa yang perlu dicurigai dengan tumbuhan bunga itu?"

Bab 20. Kosong tidak berisi.

"Aku kurang tahu, lebih baik tanyakan sendiri dengan yang bersangkutan"

Tampaknya Siang Huhoa mendengar semua pembicaraan itu, tiba-tiba dia berpaling seraya berkata.

"Tidak ada yang perlu dicurigai dengan tumbuhan bunga itu"

"Aku sendiripun tidak melihat atau menemukan hal yang kurang wajar dengan tumbuhan bunga itu"

Kata Si Siang-ho.

"tapi setelah melihat tingkah lakumu tadi, aku masih mengira mataku kurang awas sehingga ada yang ketinggalan"

Siang Huhoa tidak menanggapi lagi, dia berpaling dan melanjutkan perjalanannya.

Dalam keadaan begini terpaksa Si Siang-ho hanya bisa membungkam.

Walaupun Kwee Bok masih menaruh pengharapan, namun akhirnya dia terpaksa harus menghadapi semua kejadian dengan kekecewaan.

Apa yang diungkap dan dikatakan Si Siang-ho ternyata memang merupakan kenyataan.

Banyak orang dusun yang kenal dengan Kwee Bok, berapa orang diantaranya ternyata memiliki rasa ingin tahu yang amat besar sehingga selalu mengawasi dan memperhatikan semua gerak gerik pemuda itu.

Mereka mengatakan secara yakin kalau selalu bertemu dengan Kwee Bok setiap sepuluh hari satu kali, kereta kudanya selalu berhenti didepan pintu rumah penginapan dan dari kereta selalu menggotong turun keranjang keranjang besi yang ditutupi dengan kain hitam.

Seorang nenek dari warung teh dimulut dusun malah bercerita, sewaktu pertama kali Kwee Bok datang ke tempat itu, dia datang diantar sebuah kereta kuda dan sempat mencari tahu alamat rumah penginapan itu dengan dirinya.

Orang orang dusun itu tetap berlagak seperti orang dusun, mereka tidak mirip menjadi komplotan Si Siang-ho, sebab begitu melihat Si Siang-ho berjalan menghampiri mereka, orang-orang itu segera mundur dan menyingkir dengan ketakutan.

Rasa ketakutan mereka sangat nyata dan sama sekali tidak mirip dibuat buat, bukan hanya orang dewasa bahkan anak kecil pun pada lari ketakutan begitu melihat kemunculan Si Siang-ho, seakan mereka semua telah menganggap orang itu sebagai siluman tosu.

Sama seperti orang dusun pada umumnya, mereka hangat, polos dan selalu bersikap sahabat terhadap orang asing.

Namun terhadap orang asing yang aneh dan mencurigakan gerak geriknya merupakan pengecualian, kebetulan Kwee Bok termasuk type orang asing seperti ini.

maka mereka menaruh perasaaan was-was dan kecurigaan yang sangat besar terhadap pemuda ini, dengan sendirinya mereka pun memperhatikan lebih seksama.

Ulasan dan keterangan yang mereka berikan jauh lebih jelas dan terperinci ketimbang keterangan dari Si Siang-ho, tapi sayangnya keterangan dari mereka tidak bermanfaat banyak bagi pengungkapan kasus misterius ini.

Orang-orang dari rumah uang Kwang-hong jauh lebih memuakkan lagi, khusus dalam pandangan Kwee Bok, begitu berjumpa dengan sang pemilik rumah uang, dia segera dapat mengenali dirinya.

Sewaktu mereka balik ke kota dan menuju ke rumah uang Kwang-hong, waktu sudah mendekati senja, meski dalam suasana remang-remang, tidak sulit bagi sang pemilik rumah uang untuk melihat wajah Kwee Bok dengan jelas.

Baru saja Kwee Bok melangkah masuk ke dalam rumah uang itu, sang Ciangkwe sudah bangkit berdiri seraya menyapa.

"Kongcu ini adalah........"

Dia termenung sejenak tapi tidak sanggup melanjutkan kata katanya, rupanya meski dia kenal dengan Kwee Bok namun untuk sesaat lupa siapa nama pemuda itu.

"Dia dari marga Kwe"

Nyo Sin segera menyela dari samping.

"Aaah betul, Kwe kongcu!"

Seru sang ciangkwe seakan baru teringat dengan namanya. Kemudian dengan mata terbelalak dia berseru pula kepada Nyo Sin.

"Rupanya komandan Nyo!"

"Kau pun kenal dengan aku?"

"Biarpun komandan belum pernah datang kemari, namun paling tidak sudah ratusan kali melewati depan pintu rumahku"

Diluar pintu rumah merupakan sebuah jalan raya yang sangat ramai, bukan hanya ratusan kali saja Nyo Sin melalui jalanan tersebut, sehingga kalau dibilang sang tauke tidak mengenalinya, itu baru aneh!

Baru saja Nyo Sin hendak mengatakan sesuatu, sang tauke sudah bicara lagi.

"Ada urusan apa komandan datang berkunjung hari ini?' "Melacak sebuah kasus"

"Sebuah kasus? Di tempat kami belum pernah terjadi suatu peristiwa apa pun"

"Kasus ini memang tidak menyangkut kalian semua"

"Lalu menyangkut siapa?"

"Kwe kongcu itu"

Dengan pandangan keheranan sang tauke melotot sekejap ke arah Kwee Bok, nampaknya dia tidak menyangka akan hal itu.

"Apakah kau kenal dengan Kwe kongcu itu?"

Tanya Nyo Sin kemudian.

"Tentu saja kenal, dia adalah langganan kami"

"Apakah sering datang kemari?"

Tauke itu berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Kalau aku tidak salah ingat, dia hanya pernah datang satu kali"

"Kapan itu?"

"Lebih kurang dua tiga bulan berselang"

"Yang benar jawabanmu, dua bulan atau tiga bulan berselang?"

"Kalau itu mah kurang jelas, Kwong-hong toh bukan bertransaksi hanya dengan dia seorang"

"Apakah kau mempunyai kesan yang cukup mendalam dengan dia?"

"Sudah menjadi kebiasaan kami untuk sedapat mungkin mengingat-ingat wajah setiap langganan kami, agar didalam kunjungan berikut kami bisa memberikan pelayanan yang terbaik, meninggalkan kesan baik kepada pelanggang merupakan salah satu kunci rahasia untuk suksesnya sebuah perdagangan"

"Berani nilai transaksi yang dia lakukan waktu itu?"

"Kalau tidak salah tiga ribu tahil perak"

Jawab sang tauke setelah berpikir sejenak.

"Bagus sekali"

Seru Nyo Sin sambil manggut-manggut dan tertawa.

"Apanya yang bagus?"

Sang tauke keheranan.

"Hal ini membuktikan kalau kasus itu sudah berada pada jalur yang sebenarnya"

"Bila ingin pembuktian yang lebih akurat, lebih baik dicocokkan pula tanggal dibukanya cek tersebut"

Sela Tu Siauthian dari samping.

"Gampang kalau ingin pembuktian itu, asal kita buka buku transaksi dalam dua tiga bulan terakhir maka semuanya akan ditemukan, tentu saja lebih baik lagi jika lembaran cek itu pun dibawa serta"

Lembaran cek itu sudah diserahkan kembali kepada Si Siang-ho, padahal orang itu tidak ikut mereka masuk ke kota, untung mereka masih ingat benar lembaran cek itu dibuka pada tanggal lima belas bulan dua belas dengan nomor urut dua ratus tiga puluh sembilan.

Ketika sang tauke membuka buku catatan transaksi yang terjadi pada tanggal lima belas bula dua belas dengan nomor urut dua ratus tiga puluh sembilan maka tercatat disitu nilai nominalnya adalah tiga ribu tahil perak.

Hal ini membuktikan kalau apa yang dikatakan Si Siang-ho memang benar, cocok dan merupakan kenyataan.

Pada tanggal lima belas bulan dua belas Kwee Bok benarbenar telah mendatangi rumah uang Kwong-hong dan membuka selembar cek sebesar tiga ribu tahil perak.

Catatan itu tertera sangat jelas didalam kitab tebal milik perusahaan, bukan saja Tu Siau-thian dan Nyo Sin dapat melihatnya dengan jelas, Siang Huhoa pun dapat membacanya dengan jelas.

Tidak terkecuali Kwee Bok, kini paras mukanya telah berubah menjadi pucat pias, sorot matanya serasa membeku, dia hanya mengawasi buku catatan itu dengan mata mendelong.

Kini, sorot mata Tu Siau-thian dan Nyo Sin perlahan-lahan mulai bergeser ke wajah Kwee Bok.

Siang Huhoa juga mengalihkan pandangan matanya ke wajah pemuda itu, namun Kwee Bok seakan sama sekali tidak merasakan hal ini.

"Sudah kau lihat dengan jelas?"

Tegur Nyo Sin kemudian sambil tertawa dingin. Kwee Bok mengangguk.

"Bagaimana penjelasanmu tentang bukti ini?"

Tanya Nyo Sin lagi sambil tertawa dingin.

"Aku tidak bisa memberi penjelasan apa-apa"

"Jadi kau mengaku bersalah?"

"Tidak, aku tidak merasa bersalah, aku tidak merasa pernah melakukan pelanggaran"

Kata Kwee Bok sambil menggeleng.

"kesemuanya ini merupakan sebuah intrik jahat, sebuah perangkap yang dengan sengaja hendak mencelakai aku!"

"Siapa yang membuat perangkap itu? Mereka?"

Kembali Nyo Sin mengejek.

"Aku pun berharap bisa mengetahui hal ini secara jelas"

Sahut Kwee Bok sambil tertawa mengenaskan.

"Padahal kau sudah tahu dengan jelas, yang kau maksud mereka sesungguhnya hanya kau seorang diri!"

Kwee Bok hanya tertawa tanpa menjawab.

"Sekarang, apa lagi yang hendak kau utarakan?"

Tanya Nyo Sin kemudian. Kwee Bok masih tetap membungkam.

"Pengawal!"

Nyo Sin membentak keras, tapi begitu berteriak dia baru teringat kalau anak buahnya hanya Tu Siauthian seorang.

"Ada apa?"

Tanya Tu Siau-thian sambil maju mendekat.

"Tangkap dia dan jebloskan dulu ke dalam sel tahanan"

Tu Siau-thian tertawa, selama ini dia memang selalu memegangi bahu Kwee Bok.

Sekarang Nyo Sin baru teringat kalau mereka masih berada di rumah uang Kwong-hong, maka setelah menghela napas panjang katanya.

"Kelihatannya kasus ini membuat aku jadi kebingungan sendiri"

"Benar, kejadian ini memang membuat orang kebingungan"

Kata Siang Hu-hoa pula, pelahan lahan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwee Bok. Sementara itu Kwee Bok juga sedang memandang ke arahnya, sinar matanya kelihatan kalut dan sangat aneh.

"Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepadaku?"

Tanya Siang Huhoa tiba-tiba.

"Hanya sepatah kata"

"Katakan!"

"Aku sama sekali tidak membunuh Jui Pak-hay!"

Kembali Siang Huhoa menatapnya lekat-lekat, dia tidak memberi komentar.

Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 10

Baca Juga: Kekaisaran Rajawali Emas 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert