Ceritasilat Novel Online

Laron Pengisap Darah 3

Eps 3 Laron Pengisap Darah - Huang Ying

Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying

Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.

Untung mereka mundur dengan cepat meski bukan berarti sama sekali sudah lolos dari ancaman yang datang, baru saja tubuh mereka bergeser ke samping, tiga batang anak panah sudah meluncur ke arah dada Nyo sin dengan kecepatan tinggi.

Waktu itu Siang Huhoa menarik bahu Nyo Sin dengan tangan kanannya, dengan tangan kiri yang kosong dia segera menyambar ke depan menangkap dua batang anak panah diantaranya, sementara sisa satu batang yang lolos dari sambarannya langsung menyambar ke tubuh Nyo Sin dan merobek pakaian bagian iganya.

Tidak terlukiskan rasa kaget Tu Siau-thian menyaksikan kejadian itu, Siang Huhoa sendiripun diam-diam bermandikan peluh dingin.

Sementara Nyo Sin sendiri sudah dibuat ketakutan setengah mati, wajahnya berubah jadi pucat pias, sepasang kakinya jadi lemas dan gemetaran, sewaktu Siang Huhoa melepaskan cekalannya, nyaris dia jatuh berlutut ke tanah.

Buru-buru Tu Siau-thian memayangnya seraya menegur.

"Bagaimana keadaanmu komandan? Apakah terluka?"

Dengan pandangan terkesima Nyo Sin mengawasi bajunya yang berlubang besar. Sampai lama kemudian dia baru bisa menjawab.

"Untung hanya pakaianku yang tersambar!"

Kemudian sambil berpaling dan memperhatikan Siang Huhoa dari atas hingga ke bawah, dia pun menegur.

"Apakah saudara Siang tidak terluka?"

"Tidak!"

"Untung tidak sampai terluka"

Nyo Sin segera menghembuskan napas lega.

"kalau tidak, kejadian ini pasti akan membuat perasaan ku tambah sungkan"

Perlahan-lahan dia bangkit berdiri sorot matanya dialihkan kembali ke permukaan lantai di depan pintu rahasia.

Tampak beberapa batang anak panah itu hampir semuanya menancap diatas ubin, bukan hanya menancap bahkan menembusnya hingga sangat dalam.

Dari kejadian ini bisa diketahui betapa tajamnya mata anak panah itu dan betapa kuatnya tenaga bidikan yang dihasilkan, bisa dibayangkan apa jadinya bila ke dua-tiga puluhan anak panah itu serentak menghujam diatas tubuh?

Diam diam Nyo Sin bergidik sambil merinding, tanpa sadar dia berpaling lagi ke arah Siang Huhoa sambil berseru.

"Saudara Siang, untung kau sempat menarikku........."

Sebetulnya dia ingin sekali mengucapkan sepatah dua patah kata ucapan terima kasih, namun untuk sesaat dia pun tidak tahu bagaimana harus mengemukakan perasaan hatinya itu.

Meskipun ungkapan kata terima kasih belum terlupakan sama sekali dari otaknya, paling tidak sebagian besar perbendaan katanya nyaris sudah dia lupakan.

Agaknya Siang Huhoa sama sekali tidak ambil perduli, kembali dia mengalihkan pandangan matanya ke wajah Tu Siau-thian.

Tampaknya Tu Siau-thian mengerti yang dimaksud, dia segera membungkukkan tubuhnya dan mencabut keluar sebatang anak panah yang tertancap dilantai itu.

Ternyata tidak mudah untuk mencabut keluar, dia harus mengerahkan tenaga penuh sebelum berhasil mencabutnya.

Begitu anak panah sudah tercabut, paras muka Tu Siauthian kontan berubah hebat "Kau mengira ubin apa yang terpasang dilantai?"

Tegur Siang Hu-hoa sambil tertawa. Tu Siau-thian menghela napas panjang.

"Justru karena aku tahu kalau ubin yang dipasang dilantai ruangan ini adalah ubin hijau yang digosok dengan air, maka aku baru merasa keheranan, kenapa panah panah tersebut dapat menembusi lantai ini se dalam itu"

Katanya.

Sekali lagi sinar matanya dialihkan ke atas panah yang berada dalam genggamannya.

Anak panah itu panjangnya tidak sampai satu depa, mata panah tajam dan memancarkan sinar berkilauan, seluruh tubuh panah berwarna hitam dan amat berat, jelas terbuat dari baja asli.

Setelah diperhatikan lagi berapa kejap, dia baru meletakkan kembali anak panah itu ke lantai, kemudian sambil bangkit berdiri dan sekali lagi menghela napas, ujarnya.

"Sungguh tidak kusangka dia dapat menciptakan alat jebakan sedemikian hebatnya"

"Tapi aku dapat menduganya"

"Tentu saja sebab kalian adalah sahabat lama, kau sudah tahu sejak awal kalau dia adalah murid penutup dari Hiankicu"

"Itulah sebabnya aku pun mengetahui kebiasaan dari Hiankicu"

"Kebiasaan apa?"

"Ketika merancang alat jebakan jenis apa pun, dia pasti akan sertakan alat pembunuh yang luar biasa hebatnya, bila seseorang berani memasuki suatu tempat sebelum mematikan alat jebakan itu maka sembilan puluh persen orang itu pasti akan mati"

Tu Siau-thian segera manggut-manggut, dia memang tidak perlu meragukan kebenaran dari ucapan tersebut.

Nyo Sin lebih percaya lagi, tadi, seandainya Siang Huhoa tidak menariknya tepat waktu mungkin saat ini dia sudah mati konyol, mati terhajar puluhan anak panah dari ruang rahasia.

Meski begitu dia bergumam juga dengan perasaan tidak habis mengerti.

"Aneh benar, sebuah ruang perpustakaan yang begini hebat kenapa mesti dilengkali dengan pelbagai alat jebakan yang mematikan? Kalau bukan orang ini mempunyai tujuan tertentu, pasti otaknya yang ada masalah"

"Sekalipun otaknya benar benar punya masalah, masalahnya tidak akan berbeda dengan masalah setiap orang"

Sambung Siang Huhoa sambil tertawa.

"Oya?"

"Bukankah siapa pun orangnya, dia pasti akan menyimpan barang barang berharganya di suatu tempat yang paling rahasia dan paling aman?"

Nyo Sin mengangguk.

"Itulah dia"

Ujar Siang Hu-hoa lagi.

"dia hanya menciptakan sebuah tempat yang rahasia dan sangat aman di dalam ruang perpustakaannya untuk menyimpan semua barang barang berharga miliknya"

"Mestika apa sih yang dia milik sehingga diperlukan tempat seperti........"

Belum selesai dia berkata tiba-tiba dia menutup mulutnya kembali.

Rupanya secara tiba-tiba dia teringat kembali dengan nama gedung perpustakaan itu, Ki Po cay, perpustakaan penyimpan mestika, apalagi pekerjaan resmi Jui Pakhay adalah seorang pengusaha.

Sementara dia masih termenung, terdengar Tu Siau-thian telah bertanya kembali.

"Saudara Siang, apakah kau punya cara untuk mematikan semua alat jebakan itu?"

"Akan kucoba untuk menemukan tombol rahasia itu........."

"Tidak usah dicari lagi"

Tukas Nyo Sin.

"bukankah alat jebakan itu sudah bekerja dengan melepaskan seluruh anak panahnya? Aku rasa kita bisa masuk ke dalam sekarang dengan perasaan aman"

Komentar boleh cepat, namun sepasang kakinya sama sekali tidak bergerak, dia tetap berdiri ditempat semula. Siang Hu-hoa mengerling sekejap ke arahnya, kemudian menegur.

"Jadi kau anggap hanya ada sebuah alat jebakan saja disitu?"

"Memangnya masih ada yang lain?"

"Aku rasa masih banyak sekali"

Tanpa sadar Nyo Sin mundur setengah langkah, kemudian dengan pandangan berkilat ujarnya lagi.

"Alat jebakan itu pasti berada dibalik pintu rahasia, tapi pintu mana yang benar-benar merupakan pintu masuk yang sebenarnya? Atau mungkin pintu ke dua yang merupakan pintu masuk sebenarnya?"

"Apakah kau yakin dibalik pintu rahasia ke dua itu tidak ada alat jebakannya?"

Siang Hu-hoa bertanya.

Nyo Sin tidak berani menjawab, dia segera terbungkam.

Siang Hu-hoa tidak banyak bicara lagi, tiba-tiba dia maju ke depan, menyambar sebuah bangku lalu dilemparkan ke dalam pintu rahasia itu kuat kuat.

"Weeess!"

Bangku itu segera melayang masuk melalui pintu dan terjatuh ke balik ruang rahasia.

Ketika bangku itu menyentuh lantai, pintu itupun seketika menutup kembali, seolah ada orang yang tiba-tiba mendorong pintu itu kuat-kuat.

Dan pada itulah mereka semua melihat adanya kilatan cahaya golok.

Berpuluh puluh batang pisau terbang dengan dahsyatnya menyembur keluar dari balik dinding ruang rahasia dan menyambar ke tengah ruangan.

Dengan tertutupnya pintu rahasia itu, cahaya golok pun turut lenyap dari pandangan mata, namun secara lamat lamat semua orang dapat mendengar suara benturan logam dengan lantai yang amat ramai dibalik ruang rahasia itu.

Pucat pias selembar wajah Nyo Sin setelah menyaksikan kejadian ini.

Air muka Tu Siau-thian pun nampak sangat jelek, serunya tanpa sadar.

"Waah.... sungguh mengerikan, tampaknya alat rahasia ini jauh lebih hebat dan mematikan ketimbang alat jebakan yang pertama tadi, begitu pintu tertutup sama artinya jalan mundur terpotong, bila ada orang didalam ruangan itu niscaya dia akan jadi bulan bulanan pisau terbang itu"

"Betul"

Siang Huhoa mengangguk.

"ruang rahasia itu paling banter empat lima depa, biar membawa senjata tajam pun rasanya tidak gampang untuk dipergunakan melindungi diri"

"Sekalipun membawa senjata, rasanya tidak gampang untuk menghadapi serangan pisau terbang yang muncul dari empat arah delapan penjuru"

Siang Huhoa kembali manggut manggut, sorot matanya masih belum beralih dari pintu rahasia yang tertutup rapat itu.

Ukiran Mi lek Hud di depan pintu rahasia itu masih tetap seperti sedia kala, mengulumkan senyumannya yang khas.

Sekarang Siang Huhoa baru dapat melihat jelas mimik muka ukiran tersebut, rupanya Mi LekHud digambarkan sedang tertawa lebar, tertawanya begitu lembut, begitu gembira dan peluh welas asih.

Tampaknya Tu Siau-thian pun sedang memperhatikan ukiran itu, tiba-tiba dia menggelengkan kepala seraya berseru.

"Tampaknya alat jebakan ini dia namakan menyembunyikan golok dibalik senyuman!"

"Masih untung hanya sebuah ukiran kayu"

Sambung Siang Huhoa.

"coba kalau dia adalah orang sungguhan, biar kita tidak masuk ke dalam pun tetap ada peluang kena dibokong dengan pisau terbang"

Bila ada manusia mirip Mi Lek Hud, selalu tersenyum kepada siapa pun, bila dia ingin menghadiahkan sebuah tusukan, hal ini memang bisa dilakukan sangat mudah.

Alat jebakan itu mati, tapi manusia hidup.

Bila kau tidak menyentuhnya, alat jebakan pun tidak akan mengejar dan berusaha membunuhmu.

Berbeda sekali dengan manusia, berada disaat apa pun, berada dimana pun, dia tetap bisa membunuhmu.

Karena alat jebakan merupakan hasil rancangan dan karya seorang manusia, maka benda inipun bisa membunuh.

Tu Siau-thian sangat memahami ucapan dari Siang Hu-hoa itu, katanya sambil tertawa.

"Tepat sekali perkataanmu, manusia memang lebih sukar diwaspadai ketimbang sebuah alat jebakan"

Kini Nyo Sin tidak bisa tertawa lagi, sesudah celingukan ke sana ke mari dia baru menatap wajah Siang Hu-hoa seraya menghela napas, katanya perlahan.

"Ke dua buah pintu rahasia itu sudah dilengkapi dengan alat perangkap, lantas menurutmu pintu yang mana merupakan pintu masuk yang sebenarnya?"

"Tentu saja pintu yang ini!"

Sambil berkata Siang Hu-hoa menuding ke arah pintu rahasia dengan ukisan Kwan-im bertangan seribu.

"sekarang Mi-Lek-hud sudah terbongkar kedoknya, pintu rahasia itupun sudah terkunci dari dalam, otomatis kita hanya punya satu pilihan saja"

Nyo Sin tertawa getir.

"Kwan-im bertangan seribu ini mesti tidak menyembunyikan pisau dibalik senyumannya, namun cukup membuat orang berubah jadi seekor landak"

Keluhnya.

"Asal kita tidak mengganggu dan mengusiknya hingga marah, dia pasti tidak akan merecoki kita lagi"

"Jadi kau punya akal untuk membuatnya tidak marah?"

"Sekarang mah belum ketemu"

Mendadak dia berjongkok lalu memeriksa sekali lagi ukiran kayu Kwan-im bertangan seribu itu dengan lebih seksama.

Tanpa terasa Tu Siau-thian ikut mengalihkan perhatiannya ke situ, begitu juga Nyo Sin, tapi setelah diawasi berapa saat belum juga menemukan sesuatu yang aneh, tidak tahan pembesar itu berteriak.

"Hey, apa yang sedang kau lakukan?"

"Mencari tombol yang mengendalikan alat perangkap ini"

Jawab Siang Hu-hoa tanpa berpaling.

"Mungkin tombol pengendalinya berada didalam"

"Kalau tombolnya di dalam, dengan cara apa dia masuk ke situ?"

Merah jengah selembar wajah Nyo Sin, dia tidak bersuara lagi. Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh.

"Hiankicu adalah seorang ahli tehnik yang amat hebat, sementara Jui Pakhay merupakan murid didikannya yang luar biasa, sejak berapa tahun berselang dia sudah mampu menyambung kunci sontekan didalam pintu dengan sebuah tombol yang berada diluar pintu, asal kita memukul diatas dinding yang berisi tombol rahasia itu maka getaran yang ditimbulkan akan menggerakkan kunci dibalik dinding yang akan bergerak menarik sontekan pintu ke samping, dengan begitu pintu pun akan terbuka. Tapi bila kau ingin menutup pintu itu dari luar maka kau mesti mendorong dengan menggunakan tanganmu. Maka kalau kulihat permukaan dinding yang licin, begitu juga dengan lantai yang licin, besar dugaan tombol tersebut dia sembunyikan diatas pintu rahasia itu sendiri"

Berbicara sampai disitu, tangannya mulai meraba ukiran kayu Kwan-im bertangan seribu itu dari atas hingga ke bawah.

Ketika tangannya mulai bergeser, mendadak timbul satu perasaan aneh dalam hatinya, perasaan seakan dia sedang dipelototi seseorang.

Dia tidak tahu kenapa bisa muncul perasaan seperti itu, tanpa terasa tangannya yang bergeser pun ikut berhenti.

Tapi dihadap annya tidak ada seorang manusia pun, yang ada hanya sebuah ukiran kayu.

Ukiran kayu bergambar Kwan-im bertangan seribu.

Kwan-im bertangan seribu dikenal juga sebagai Kwan-im bertangan seribu bermata seribu.

Menurut kitab suci Gavatamo, Kwan-im ini memiliki dua puluh buah tangan dimasing masing tangannya, pada setiap tangan terdapat sebuah mata hingga bila dijumlah maka terdapat empat puluh tangan dengan empat puluh buah mata.

Dan sekarang, ukiran kayu bergambar Kwan-im bertangan seribu pun memiliki empat puluh buah mata dan empat puluh buah tangan, sama persis seperti apa yang tertera dalam kitab suci itu.

Bukan hanya bentuk bahkan cara duduknya pun persis sama seperti apa yang dilukiskan dalam kitab suci, tiga puluh delapan buah tangannya membentang dibelakang tubuhnya membentuk lingkaran, sementara dua tangannya yang asli menempel diatas lutut dengan membuat tekukan jari.

Sekarang sepasang tangan Siang Huhoa sedang menekan tangan Kwan-im bertangan seribu yang diletakkan diatas lutut itu.

Dengan termangu-mangu dia awasi ukiran itu tanpa berkedip, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

Belum sempat Tu Siau-thian bertanya, sepasang tangan Siang Hu-hoa sudah mulai bergerak dan menggeser ke samping.

Dia menggeser tangannya mulai dari jari tangan Kwan-im bertangan seribu yang ditekuk diatas lutut itu menuju ke atas, sementara sepasang matanya mengawasi biji mata Kwan-im bertangan seribu itu tanpa berkedip.

Betul juga dugaannya, pupil mata Kwan-im bertangan seribu itu ternyata ikut bergerak menyusul pergeseran jari tangannya menuju ke atas, mata itu bergerak seakan sedang menegurnya kenapa berani menyentuh tubuh sucinya.

Ternyata sepasang mata itu yang sedang mengawasi aku terus menerus!"

Serunya kemudian sambil tertawa, sementara jari tangannya mulai bergeser ke kiri kanan jari tangan Kwanim itu.

Rupanya jari tangan yang ditekuk diatas lutut itupun bukan ukiran mati, tapi bisa digerakkan dengan leluasa.

Ketika dia menggeser ke kiri, kekanan maupun ke bawah, tiada reaksi apa pun yang timbul, tapi ketika jari tangan itu digeser keatas maka ......"Kraaak!"

Terdengar bunyi gemerutuk yang lembut diikuti melompat keluarnya pupil mata dari ukiran Kwan-im bertangan seribu itu ke depan.

Biji mata itu tidak melejit ke udara tapi hanya melompat keluar sejauh setengah depa, ternyata di belakang ukiran biji mata itu tersambung dengan sebatang kayu sepanjang setengah depa.

Siang Huhoa segera melepaskan ukiran jari tangan dilutut itu lalu memegang sepasang biji mata yang melompat keluar Ketika disentuh ternyata benda itu terasa dingin dan bukan terbuat dari kayu, rupanya biji mata itu dibuat khusus dengan baja.

Siang Huhoa mulai menggerakkan biji mata itu, ketika digeser dari kiri menuju ke kanan, dari balik pintu rahasia pun bergema suara yang sangat aneh.

Suara itu mirip suara sekelompok tikus yang sedang menggigit dan mencakar sesosok bangkai atau mayat.

Karena suasana waktu itu sangat hening, maka suara aneh itu kedengaran jelas sekali.

Suasana yang semula sudah terasa menyeramkan kini terasa makin mengerikan dan menggidikkan hati, jangan lagi orang lain, Siang Huhoa sendiripun tidak kuasa untuk merinding dan bersin berulang kali.

Tapi tidak lama kemudian sekulum senyuman telah menghiasi ujung bibirnya, sambil bertepuk tangan dan bangkit berdiri serunya.

"Sekarang kita sudah boleh masuk!"

"Sudah kau tutup semua alat jebakan yang ada didalam ruang rahasia itu?"

Tanya Nyo Sin kuatir.

"Mungkin saja dia telah mempersiapkan alat jebakan lain di dalam ruangan itu, tapi untuk memasuki pintu rahasia, menurut pendapatku, semestinya memang tidak ada masalah lagi"

Biarpun sudah dikatakan kalau tidak ada masalah, Nyo Sin tetap tidak berani beranjak dari tempatnya berdiri.

Tampaknya Siang Huhoa sendiripun tidak berani seratus persen percaya dengan analisa sendiri, kembali dia mundur beberapa langkah, menyambar lagi sebuah bangku kemudian dilemparkan ke dalam pintu rahasia.

"Blaaaam!"

Bangku itu seketika hancur berantakan dibalik ruang rahasia itu.

Bagaikan burung yang kaget melihat busur Nyo Sin tergopoh gopoh melompat ke samping untuk menghindarkan diri.

Ternyata kali ini tiada reaksi apa pun yang muncul dari balik pintu rahasia, suasana tetap tenang.

Melihat kenyataan tersebut, dengan perasaan tenang Siang Hu-hoa baru melangkah kakinya memasuki pintu rahasia itu.

Jui Gi yang pertama kali menyusul di belakang lelaki itu.

Tu Siau-thian menyusul di belakangnya, namun baru dua langkah, Nyo Sin sudah mendahuluinya dengan langkah cepat.

Meskipun berani melampui anak buahnya, ternyata pembesar ini hanya mengintil terus di belakang Siang Huhoa dan Jui Gi.

Biarpun dia suka merebut pahala orang, bagaimana pun termasuk juga seorang lelaki yang pintar.

Suasana dalam ruang rahasia itu gelap dan menyeramkan.

Baru satu langkah memasuki ruang rahasia tersebut, tibatiba Siang Huhoa menghentikan kembali langkahnya.

Nyo Sin yang menyaksikan kejadian itu buru-buru melompat ke samping untuk menghindar, dia mengira secara tiba tiba Siang Hu-hoa telah menemukan sesuatu ancaman mara bahaya.

Tampaknya Tu Siau-thian pun berpendapat sama, tanpa sadar dia berseru nyaring.

"Hati-hati!"

Siang Huhoa sama sekali tidak memperlihatkan rasa gugup atau panik, malah sembari berpaling ujarnya.

"Saudara Tu, tolong ambilkan lampu minyak yang berada di meja sebelah sana"

Ternyata dia berhenti karena tiba-tiba teringat untuk membawa lampu.

Tu Siau-thian segera menyahut dan membalikan badan menuju ke arah meja.

Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, juga tidak menunjukkan sikap apapun, terhadap seluruh peristiwa yang baru terjadi dia seakan sudah melupakannya.

Siang Huhoa sendiripun berlagak seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dia tidak menegur Nyo Sin, pun tidak berbicara apa apa, seolah dia sama sekali tidak tahu apa yang telah dilakukan orang itu di belakang tubuhnya.

Tidak heran kalau Nyo Sin merasa rikuh bercampur jengah, segera dia berjalan balik ke posisinya semula, kemudian baru berkata.

"Tadi, kukira kau temukan alat jebakan lagi"

Siang Huhoa hanya tersenyum tanpa menjawab, sementara Tu Siau-thian dengan membawa lampu lentera telah berjalan mauk lagi ke dalam ruang rahasia.

Dibawah sorot cahaya lampu, kini Siang Hu-hoa dapat melihat sangat jelas suasana di sekelilingnya.

Ternyata ruang rahasia itu memiliki kedalaman empat-lima depa dengan lebar lebih kurang dua kaki.

Ketika berbelok enam depa ke kiri, maka akan terlihat sebuah dinding ruangan yang memisahkan ruang ini dengan ruang di balik pintu rahasia dengan ukiran Mi lek Hud, sebaliknya ujung dari belokan ke kanan adalah sebuah dinding pula, tapi setengah kaki sebelum dinding itu terlihat permukaan tanahnya menjorok turun ke bawah, disana terlihat anak tangga yang menghubungkan ruang atas dengan ruang bawah.

Dari balik ruang bawah lamat-lamat terlihat ada cahaya lampu yang memancar keluar.

Dinding disekeliling ruangan gelap karena dicat warna hitam, diatas dinding hitam itu muncul lubang lubang kecil yang banyak jumlahnya, dari balik lubang kecil itu terlihat ujung anak panah yang menonjol keluar siap dibidikkan, ketika tertimpa cahaya lampu, ujung senjata itu kelihatan gemerlapan membiaskan cahaya tajam.

Untung tombol rahasia sudah dimatikan sebelum mereka memasuki ruang rahasia itu, coba kalau tidak, bisa jadi hujan panah akan berhamburan keluar melalui lubang lubang kecil itu.

Padahal ruangan itu begitu sempit, tentu saja sulit bagi mereka untuk menggerakkan badannya dengan leluasa, dalam keadaan begini, biarpun kau memiliki kepandaian silat yang hebat pun bukan pekerjaan yang gampang untuk menghadapi datangnya ancaman dari empat penjuru.

Kecuali lubang lubang kecil berisi anak panah, disekeliling dinding tidak tampak benda apa pun.

Ternyata ruang rahasia ini tidak lebih hanya sebuah lorong penghubung.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang rahasia dan menyaksikan ujung panah yang gemerlapan dibalik lubang dinding, Nyo Sin seketika merasakan sepasang kakinya mulai lemas, buru buru bertanya lagi.

"Saudara Siang, apakah semua alat perangkap sudah dimatikan?"

Waktu itu Siang Huhoa sudah berada didepan anak tangga yang menuju ke ruang bawah tanah, tanpa berpaling sahutnya.

"Bukankah sampai saat ini aku baik-baik saja?"

Begitu selesai berkata, dia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.

Kini Nyo Sin baru merasa lega untuk melangkah masuk ke dalam ruangan, agaknya baru sekarang dia merasa yakin kalau semua alat jebakan benar-benar telah dimatikan.

Tu Siau-thian mengikuti di belakang Nyo Sin, perasaan tidak sabar sudah muncul diwajahnya, namun dia masih berusaha untuk menahan diri.

Memang sejak berapa tahun ini dia harus mulai belajar dan mengerti apa arti dari sebuah kesabaran.

Justru karena dia memahami arti dari sebuah kesabaran, maka sekarang dia baru bisa menjadi seorang opas yang cekatan dan menonjol namanya.

Anak tangga yang menjorok ke bawah tanah itu tidak terlalu panjang, paling banter hanya ada tiga puluhan undakan.

Ujung dari anak tangga berupa sebuah pintu batu, pintu itu sudah berada dalam keadaan terbuka, dari balik ruangan itulah munculnya cahaya lentera.

Mungkinkah buka tutupnya pintu batu ini dikendalikan dari atas?

Karena semua tombol alat jebakan telah dimatikan, maka secara otomatis pintu batu itu terbuka dengan sendirinya?

Siang Huhoa berhenti sebentar diluar pintu batu itu, tapi kemudian dengan mengangkat tinggi lenteranya dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan.

Cahaya lentera lembut bagaikan sinar rembulan.

Begitu masuk ke dalam pintu batu itu maka terlihatlah sebuah ruang batu yang luas.

Ukuran ruangan batu ini sedemikian luasnya sehingga setara dengan ukuran ruang perpustakaan yang berada diatasnya.

Interior didalam ruang batu itu amat indah, ke empat dindingnya diberi kain tirai yang terbuat dari kain sutera halus, sementara permukaan lantainya dilapisi permadani tebal berwarna merah menyala, permadani dari Persia, sehingga waktu berjalan diatasnya, sama sekali tidak kedengaran suara langkah kaki kita.

Lampu penerangan diletakkan ditengah ruangan, delapan buah lampu abadi yang diatur berbentuk formasi tujuh bintang mengelilingi rembulan' berjajar rapi diatas sebuah rak tembaga berbentuk lingkaran.

Rak tembaga itu digantungkan diatap ruangan dengan memakai sebuah kawat baja yang besar dan kuat, seakan tujuh buah bintang yang mengelilingi sebuah rembulan.

Sebab dari ke delapan buah lampu itu, hanya sebuah dibagian tengah yang dibiarkan menyala Dibawah gelang lampu itu terletak meja dan bangku, sebuah meja dikelilingi tujuh buah bangku, benda benda itupun diatur dalam formasi tujuh bintang mengelilingi rembulan.

Tentu saja meja kursi yang diletakkan disitu merupakan meja kursi dengan kwalitas luar biasa sempurnanya.

Dibawah tirai sutera di ke empat dinding ruangan itu terletak pula meja meja kecil, jumlahnya mencapai dua-tiga puluhan, diatas meja meja itu lah diletakkan aneka ragam intan permata, mutu manikam yang tidak ternilai harganya, tiada satu benda pun yang sama dengan benda lainnya, tapi hampir semua yang ada disitu merupakan mestika langka yang luar biasa indah dan berharganya.

Intan permata sebesar telur ayam, mutu manikam yang menyala bagai bara api.......membuat seluruh ruangan bermandikan cahaya terang.

Seandainya ke delapan buah lampu disitu dinyalakan semua, niscaya ruangan itu akan bertambah terang dan menyilaukan mata.

Sekarang pun Nyo Sin, Tu Siau-thian serta Jui Gi sudah dibuat silau dan terbelalak matanya setelah menyaksikan gemerlapannya cahaya diruangan itu.

Untuk sesaat mereka bertiga berdiri terkesima dengan mata melotot dan mulut melongo, sesaat mereka seolah hanya bisa berdiri mematung tanpa mengetahui apa yang mesti dilakukan, hanya Siang Huhoa seorang yang terkecuali.

Sambil memegang lampu dia masih menelusuri seluruh ruangan, ditinjau dari mimik mukanya dia seakan sama sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap semua intan permata, mutu manikam dan benda berharga lainnya yang ada disana.

Selesai mengelilingi seluruh ruangan itu satu lingkaran, tiba tiba dia menarik sebuah kursi ditengah ruangan dan duduk, sementara lampunya diletakkan ditengah meja.

"Tuuukk.....!"

Suara lampu yang membentur permukaan meja menimbulkan gema suara yang luar biasa nyaringnya ditengah keheningan dalam ruang batu.

Seketika itu juga Nyo Sin, Tu Siau-thian dan Jui Gi tersadar kembali dari lamunannya, sinar mata mereka serentak dialihkan ke wajah Siang Huhoa dan menatapnya lekat-lekat.

Siang Huhoa tidak menanggapi pandangan semua orang, kepada Jui Gi mendadak dia bertanya.

"Apa sebelumnya, kau pernah berkunjung kemari?"

Jui Gi menggeleng.

"Belum pernah"

Sahutnya.

"baru kali ini aku tahu kalau dibawah ruang perpustakaan ternyata terdapat sebuah ruang rahasia macam ini, kalau tidak, meski aku tidak seberapa mengerti soal peralatan rahasia itu, paling tidak tidak bakal hanya berpeluk tangan belaka"

Siang Huhoa menatapnya sekejap kemudian manggutmanggut, ujarnya lagi setelah termenung sejenak.

"Kalau sampai kau juga tidak tahu, berarti mustahil dia akan bocorkan rahasia ini kepada orang lain, dengan perlengkapan alat jebakan yang begini hebat, tempat ini boleh dibilang sangat rahasia dan aman, memang paling cocok bila digunakan sebagai tempat untuk menyimpan intan permata dan benda berharga lainnya"

"Seandainya dia juga bersembunnyi disini, bukankah dia menjadi aman sekali?"

Tiba-tiba Nyo Sin menyela.

"Semestinya memang begitu"

Siang Huhoa mengangguk "Siapa tahu lenyapnya dia pada malam tersebut karena dia sudah menyembunyikan diri di tempat ini?"

"Tapi kami tidak mendengar suara apa-apa waktu itu"

Tu Siau-thian menimbrung.

"Waktu itu dia kabur kemari dengan tergopoh-gopoh, tentu saja semua gerakan dilakukan sambil menahan napas dan tidak berani menimbulkan suara apa pun"

"Tapi sewaktu aku bersama Tan Piau dan Yau Kun menyerbu masuk ke dalam ruang perpustakaan, dia semestinya tahu akan hal ini dan segera tampil keluar"

"Mungkin saja pada saat itu dia sudah berada dalam ruang batu ini dan menutup pintunya rapat rapat sehingga sama sekali tidak mendengar suara apa pun"

Tidak menunggu pendapat dari Tu Siau-thian, dia berkata lebih jauh.

"Mungkin juga pada waktu itu dia sudah pingsan"

"Sekalipun sempat pingsan, toh ada saatnya tersadar kembali"

"Tentu saja...."

"Tapi sejak peristiwa itu terjadi hingga senja hari ke dua, orang orang kita selalu berjaga-jaga di dalam ruang perpustakaan ini"

"Mungkin saja dia pingsan selama tiga hari tiga malam, mungkin saja dia sudah........"

Baru sampai ditengah jalan mendadak pembesar itu menghentikan kata-katanya.

"Mungkin saja dia sudah mati waktu itu"

Siang Hu-hoa segera menyambung ucapannya yang terpotong itu.

"Benar"

Nyo Sin berkata lagi.

"bila seseorang sudah mati, tentu saja reaksi apa pun tidak nanti bisa dia lakukan"

"Bila seseorang sudah mati, seharusnya dia meninggalkan suatu benda"

Kata Siang Huhoa.

"Benda apa?"

"Mayatnya!"

Dalam ruangan batu itu tidak ditemukan jenasah dari Jui Pakhay.

Seandainya Jui Pakhay mati di dalam ruangan batu itu, seharusnya jenasahnya berada pula di dalam ruangan batu ini.

Nyo Sin menyapu sekejap seluruh ruangan, tiba tiba sambil menuding ke satu arah serunya.

"Mungkin saja mayatnya tersembunyi di balik peti peti kayu itu"

Yang dituding memang merupakan sebuah sudut ruangan dimana terletak beberapa peti kayu besar. Siang Huhoa melirik peti itu sekejap, tiba-tiba tanyanya.

"Apa kau pernah melihat ada mayat yang bisa berjalan?"

Kalau mayat itu tidak bisa berjalan, darimana dia bisa menyembunyikan diri dibalik peti? "Aku tidak pernah melihatnya"

Nyo Sin menggeleng.

"sewaktu berjalan masuk ke dalam peti, bisa saja saat itu dia belum mati"

"Ooh, maksudmu dia sendiri yang berjalan masuk ke dalam peti itu kemudian mati di dalam peti?"

Kali ini Nyo Sin manggut-manggut tanda membenarkan.

"Bukankah ruangan ini sudah lebih dari aman?"

Ujar Siang Hu-hoa.

"Ketika dia kabur ke dalam ruangan ini dengan membawa luka, bisa saja ada sebagian dari kawanan laron penghisap darah itu yang turut masuk, karena kehabisan akal akhirnya dia memilih bersembunyi di dalam peti"

Tiba-tiba Siang Huhoa tertawa tergelak, serunya.

"Memangnya kau anggap dia adalah siluman?"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Nyo Sin tertegun.

"Kalau bukan siluman, bagaimana caranya dia bersembunyi di dalam peti lalu mengunci peti itu dengan sebuah gembokan besar dari luar?"

Kata Siang Hu-hoa sambil tertawa.

"Gembokan itu bisa saja bukan dia sendiri yang melakukan"

Ngotot Nyo sin dengan wajah tidak berubah.

"Kalau bukan dia, lalu siapa yang melakukan?"

"Bisa saja kawanan laron penghisap darah itu!"

"Memangnya kau anggap laron penghisap darah itu adalah siluman?"

"Mungkin saja"

Siang Huhoa segera tertawa.

Hingga kini dia masih belum pernah melihat apa yang dikatakan sebagai laron penghisap darah, karena itu dia pun tidak ingin berdiskusi tentang hal hal yang tidak diketahui olehnya secara pasti.

Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh.

"Begini saja, bagaimana kalau sekarang kita buka seluruh peti yang ada disitu?"

Dalam hal ini ternyata Siang Huhoa malah sangat setuju.

Maka satu per satu peti peti itu dibuka semua, ternyata gembokan yang berada diluar peti itu bukan dikunci beneran, tanpa menggunakan anak kunci pun mereka dapat membuka semua peti itu secara mudah.

Peti itu semuanya berjumlah tujuh buah dan ternyata terbuat dari baja asli, bukan kayu.

Empat buah peti penuh berisikan emas murni dan perak sementara tiga peti lainnya berisikan intan permata, mutiara, batu zamrud, berlian dan mutu manikam yang tidak ternilai harganya.

Sekali lagi Nyo sin dan Tu Siau-thian berdiri terkesima, untuk sesaat mereka hanya bisa berdiri melongo.

Tampaknya kekayaan yang dimiliki Jui Pakhay jauh diluar dugaan mereka semua, mereka tidak menyangka kalau ada begitu banyak barang berharga yang tersimpan disitu.

Akhirnya setelah menghela napas panjang Nyo Sin berbisik.

"Kalau ditanya siapa orang paling kaya di wilayah ini, kelihatannya dialah yang menduduki ranking nomor satu"

Jui Gi sendiripun berdiri termangu, biarpun dia adalah pengurus rumah tangga tempat itu, namun dia sendiripun tidak menyangka kalau Jui Pakhay ternyata memiliki kekayaan yang luar biasa banyaknya.

Hanya mimik muka Siang Huhoa yang sama sekali tidak berubah, tampaknya dia sudah tahu akan hal ini sehingga sama sekali tidak tertarik untuk mempersoalkan.

Isi peti peti itu hanya emas, perak dan benda berharga, sama sekali tidak ada mayat bahkan tulang belulang orang mati pun tidak dijumpai.

Dengan susah payah akhirnya Nyo Sin dapat menarik kembali sorot matanya, sambil mengelus jenggotnya dia berkata kemudian.

"Mungkin saja setelah menghisap darahnya hingga kering, kawanan laron penghisap darah itu sekalian memakan daging dan tulangnya hingga habis"

"Oya?"

Karena tidak yakin dengan dugaan tersebut, setelah berpikir sejenak Nyo Sin segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Mungkin di dalam ruangan batu ini masih terdapat jalan keluar yang lain"

Bab 12.

Kabut hujan gerimis.

Dalam ruang batu itu tidak ditemukan jalan keluar yang lain.

Mereka telah menyingkap semua tirai sutera yang melapisi empat penjuru dinding, bahkan permadani yang melapisi lantai pun sudah dibongkar, namun tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.

Akhirnya ke empat orang itu menghentikan penggeledahannya.

Siang Huhoa berjalan balik ke tempat semula dan duduk kembali sambil menengok ke arah Nyo Sin.

Kali ini Nyo sin tidak sanggup berkata-kata lagi.

Siang Hu-hoa menunggu beberapa saat, ketika melihat Nyo Sin belum juga bersuara lagi maka dia pun menegur.

"Apakah kau pikir masih ada kemungkinan yang lain?"

"Rasanya sudah tidak ada lagi"

Sahut Nyo Sin sambil menghela napas.

"Kalau memang sudah tidak ada, bagaimana kalau sekarang mendengar kemungkinanku?"

"Aku sudah siap mendengarkan pendapatmu"

"Mungkin setelah berteriak kaget dan ketakutan, dia menyembunyikan diri disini, hingga ruang perpustakaan benar-benar tidak ada orang lagi, dia baru diam-diam membuka pintu rahasia dan pergi meninggalkan tempat ini"

Nyo Sin mengawasi Siang Hu-hoa dengan mata mendelik, dia seakan hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum dia lakukan hal tersebut, Siang Huhoa sudah berkata lebih jauh.

"Apa yang kuuraikan barusan sebenarnya merupakan alasan yang paling pas, sebab kalau tidak............."

"Kalau tidak kenapa?"

"Kita harus menerima kisah tentang laron penghisap darah itu sebagai suatu kenyataan"

Mendadak Tu Siau-thian menimbrung.

"Kalau kudengar dari perkataanmu itu, seolah kau masih curiga kalau kisah tentang laron penghisap darah itu sebenarnya hanya cerita khayalan belaka"

"Benar, aku memang masih curiga"

"Tapi sikap semacam itu rasanya tidak bermanfaat bagi dia"

"Memang sama sekali tidak bermanfaat"

Siang Huhoa membenarkan seraya tertawa.

"siapa tahu lantaran kelewat jemu dan kesal, dia sengaja mengajak kita semua bergurau"

Tu Siau-thian tahu kalau rekannya tidak serius dengan perkataan itu, maka diapun hanya tertawa tanpa menjawab. Berbeda dengan Nyo Sin, dia anggap serius perkataan itu, segera bantahnya.

"Tapi menurut apa yang ku tahu, dia bukan seseorang yang gemar bergurau"

"Aku tahu, dia memang bukan manusia type itu"

Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya lebih jauh.

"Tampaknya kita sudah melupakan tujuan utama kita datang kemari"

Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk mencari buku catatan milik Jui Pakhay yang berisi catatan terperinci tentang pengalamannya.

Seakan baru tersadar dari lamunan buru-buru Tu Siau-thian menyahut.

"Aaah benar, aku rasa buku catatan itu pasti sudah dia sembunyikan disuatu tempat diseputar sini"

Siang Huhoa mengangguk.

"Aku memang tidak menemukan tempat lain yang lebih aman dan lebih rahasia didalam gedung perpustakaan ini selain ruang rahasia ini..........."

"Tapi buku catatan itu dimana dia sembunyikan?"

Tukas Nyo Sin tidak sabar.

"Jauh diujung langit, dekat di depan mata"

Jawab Siang Huhoa sambil mengalihkan pandangan matanya ke samping meja.

Diatas meja itu tergeletak berpuluh gulung lukisan, dibawah tumpukan lukisan terlihat sepucuk sampul surat.

Setiap gulung lukisan yang tertumpuk disitu bukan berisi lukisan berharga, melainkan tertulis tanggal hari dan bulan.

"Bulan tiga tanggal satu...... bulan tiga tanggal dua....bulan tiga tanggal tiga...... bulantiga tanggal empat belas!"

Mungkinkah catatan yang sedang mereka cari ada di tumpukan lukisan itu?

Tanpa terasa Nyo Sin, Tu Siau-thian maupun Jui Gi berjalan mendekat dan mengelilingi meja itu.

Mula-mula Siang Hu-hoa mengambil dulu surat itu, ternyata surat tersebut bukan ditujukan kepadanya, diatas sampul surat itu tertulis dengan jelas bahwa surat itu dititipkan sementara waktu kepadanya, bila Jui Pakhay sudah mati maka diminta untuk menyerahkan surat tersebut kepada Ko Thianliok.

Dalam sekilas pandang Tu Siau-thian dapat melihat kalau surat itu persis sama bentuknya dengan surat yang diserahkan Jui Pakhay kepadanya pada malam tanggal lima belas dan hingga kini masih tersimpan dalam sakunya.

Sampul surat yang sama dengan tulisan yang sama pula.

Dengan keheranan Siang Hu-hoa berpaling ke arah Tu Siau-thian, kemudian tegurnya.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Buru-buru Tu Siau-thian menjelaskan apa yang dialami pada malam tanggal lima belas serta apa saja yang dikatakan Jui Pakhay kepadanya.

Siang Huhoa mendengarkan dengan serius, sampai Tu Siau-thian menyelesaikan kata-katanya, dia baru berkata.

"Cara kerja orang ini selamanya memang teliti dan cermat"

Tu Siau-thian manggut membenarkan, dia simpan kembali surat miliknya. Siang Huhoa memasukkan pula surat itu ke dalam sakunya, kemudian baru berkata lagi.

"Sebelum membuktikan kematiannya, lebih baik kita berdua masing-masing menyimpan sepucuk surat tersebut, jika nanti sudah terbukti kalau dia memang mati, barulah kita serahkan surat tersebut ke alamat yang bersangkutan"

"Kelihatannya dia memang bermaksud begitu"

Maka Siang Huhoa mengambil gulungan kertas yang bertuliskan tanggal satu bulan tiga, ujarnya.

"Sekarang kita harus mulai memeriksa isi lukisan ini"

Sambil berkata dia mulai membuka gulungan lukisan itu dan dibentangkan diatas meja.

Ternyata gulungan kertas itu bukan berisi lukisan tapi penuh dengan tulisan, catatan kisah kejadian yang dialami pada tanggal satu bulan tiga.

--Malam tanggal satu bulan tiga, untuk pertama kalinya Jui Pakhay bertemu dengan laron penghisap darah.

Dengan ilmu pedang andalannya, tujuh bintang perenggut nyawa, pedang sakti pencabut sukma, dia melancarkan serangan namun gagal membinasakan laron penghisap darah itu.

Baru saja serangan dilancarkan, mendadak laron penghisap darah itu hilang lenyap tidak berbekas, lenyap bagaikan setan iblis.

--Lukisan Jui Pakhay tidak bagus, ternyata tulisannya jauh lebih payah apalagi ditulis dalam keadaan tergesa-gesa, tulisannya benar benar sangat payah seperti tulisan cakar ayam.

Masih untung apa yang dituturkan dalam tulisannya itu merupakan sebuah kisah kejadian yang sangat menggidikkan hati, sekalipun tulisannya jelek, orang tetap tertarik untuk membacanya hingga selesai.

Empat belas gulung kertas lukisan berisikan catatan lengkap tentang peristiwa yang terjadi selama empat belas hari.

Satu gulung menandakan satu hari.

Dibawah sinar lentera yang redup, dari balik tulisan yang tertera diatas gulungan kertas itu seolah terpancar keluar hawa siluman yang sangat kental.

Hawa siluman yang aneh, hawa siluman yang mengerikan dan menakutkan.

Tanpa terasa ke empat orang itu bergidik, bulu roma bangun berdiri, namun pandangan mata mereka seolah sudah tersihir, sulit dialihkan lagi dari atas gulungan kertas itu.

--Bulan tiga tanggal satu, bulan tiga tanggal dua, bulan tiga tanggal tiga,..........

Pada tiga gulungan yang pertama, Siang Huhoa hanya membuka dan membacanya secara perlahan, namun mulai gulungan ke empat, gerakannya dilakukan semakin cepat, semakin dibaca dia membuka gulungan tersebut semakin cepat.

Ternyata sorot mata Tu Siau-thian Nyo Sin dan Jui Gi ikut bergerak mengikuti ke arah mana Siang Hu-hoa bergerak.

Ketika selesai membaca ke empat belas gulung tulisan itu, Siang Huhoa merasa napasnya sesak dan nyaris tidak bisa menghembuskan napas lagi.

Tu Siau-thian bertiga pun ikut menjadi sesak napas, hawa siluman seolah memancar keluar dari balik gulungan kertas dan mulai menyelimuti seluruh ruangan batu.

Ketika Siang Huhoa meletakkan kembali gulungan kertas ke sepuluh, sepasang tangannya meski tidak sampai membeku kaku saking dinginnya, namun seluruh tubuhnya sudah bermandikan peluh dingin.

Paras muka Tu Siau-thian dan Nyo Sin berubah pucat pias, sementara Jui Gi berdiri dengan badan gemetar keras.

Mereka semua ikut merasakan ketakutan, ngeri dengan teror seperti apa yang dialami Jui Pakhay waktu itu.

Untuk sesaat ke empat orang itu tidak mampu berkata kata, mereka tidak mampu melakukan gerakan apa pun, seakan akan semuanya sudah dibuat beku dan kaku oleh gulungan hawa siluman dalam ruangan.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya Tu Siau-thian memecahkan keheningan.

"Kejadian ini menyangkut nama baik bininya, tidak heran kalau sulit baginya untuk bercerita"

"Tapi..... apa benar bininya adalah jelmaan dari laron penghisap darah? Apa benar dia adalah siluman laron?"

Kata Nyo Sin. Tu Siau-thian tidak menjawab, dia memang tidak tahu bagaimana meski menjawab pertanyaan itu.

"Aku tidak percaya kalau semua kejadian itu adalah nyata!"

Mendadak Jui Gi berteriak keras. Kalau dia tidak percaya, lalu siapa pula yang percaya? Nyo Sin tertawa getir, ujarnya tiba-tiba.

"Kau tidak percaya? Jadi kau anggap majikanmu sedang berbohong?"

Jui Gi kontan tertegun, dia jadi gelagapan dan tidak mampu menjawab. Sementara itu Nyo Sin sudah berpaling ke arah Siang Huhoa seraya bertanya.

"Bagaimana menurut saudara Siang?"

Siang Huhoa hanya menghela napas tanpa menjawab.

Dia pun sama seperti yang lain, tidak tahu harus menjawab apa.

Kalau dibilang Jui Pakhay kurang waras otaknya, mustahil dia bisa menuturkan semua pengalamannya secara terperici dalam empat belas gulungan kertas.

Berarti semua peristiwa itu nyata?

Tidak ada yang berani mengiayakan.

Sekali lagi Tu Siau-thian memecahkan keheningan, kali ini dia hanya menghela napas panjang.

"Saudara Tu"

Siang Huhoa segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Tu Siau-thian.

"dalam dua hari belakangan, apakah kau telah bersua dengan bininya?"

"Gi Tiok-kun maksudmu?"

Seru Tu Siau-thian tertegun.

"Memangnya selain Gi Tiok-kun, dia masih mempunyai bini ke dua?"

Siang Hu-hoa balik bertanya keheranan.

"Tidak punya"

"Lantas kenapa kau tunjukkan wajah keheranan ketika aku menyinggung tentang dia?"

"Aku hanya keheranan, kenapa secara tiba-tiba kau menyinggung soal dia"

"Tentu saja ada alasan yang kuat, jawab dulu pertanyaanku"

"Malam tanggal enam belas, dia sudah tahu kalau saudara Jui lenyap tidak berbekas, dia sempat mendatangi ruang perpustakaan untuk mencari berita, kemarin malam ketika aku datang menjenguk untuk menanyakan lagi kabar tentang saudara Jui, dia pula yang muncul untuk menyambut kedatanganku"

"Kalau begitu aneh sekali"

"Apanya yang aneh?"

Tu Siau-thian tertawa getir.

"Kau tidak mengerti?"

"Lebih baik kau terangkan sejelas-jelasnya"

Sahut Tu Siauthian sambil menggeleng.

"Barusan kau telah ikut membaca catatan pengalamannya, apakah kau tidak merasa banyak bagian dalam catatan itu yang kelewat emosional?"

Tu Siau-thian membenarkan.

"Bila kita bahas dari catatan yang dia tulis"

Sambung Siang Huhoa lebih jauh.

"maka tidak sulit untuk kita ketahui bahwa dia memang menaruh perasaan takut yang luar biasa, rasa diteror yang membuatnya amat tersiksa, membuat kita bisa menduga bahwa dia mempunyai satu pemikiran yang menakutkan"

"Pemikiran yang bagaimana?"

"Dia ingin sekali membunuh Gi Tiok-kun dan Kwe Bok!"

"Bila mereka benar-benar berniat mencelakai aku, akupun tidak akan berlaku sungkan terhadap mereka, mau manusia atau siluman laron, aku harus membunuhnya!"

Demikian Jui Pakhay menuliskan jalan pemikirannya dalam gulungan kertas yang bertuliskan bulan tiga tanggal dua belas.

"Benar, tampaknya dia memang punya maksud untuk berbuat begitu"

Tu Siau-thian segera teringat pula dengan pernyataan itu.

"Mungkin saja apa yang kukatakan kelewatan batas"

Siang Huhoa berkata lebih jauh.

"tapi satu hal dapat dipastikan, dia memang amat takut dan ngeri terhadap makhluk yang dinamakan laron penghisap darah itu, kemungkinan besar rasa takut yang berlebihan membuat otaknya jadi tidak waras, akibatnya dia menganggap bininya sendiri sebagai laron penghisap darah"

"Bila apa yang dikatakan merupakan kenyataan, Gi Tiokkun tidak mungkin bisa hidup sampai sekarang"

Sela Nyo Sin.

"Kalau otaknya memang tidak waras, matinya Gi Tiok-kun dan lenyapnya dia malah tidak susah untuk ditebak"

Setelah bersin berulang kali, dia melanjutkan.

"Sebab dia bisa beralasan kalau dia membunuh Gi Tiok-kun lantaran sudah menganggap bininya sebagai jelmaan siluman laron, dan dia kabur karena berusaha untuk menyembunyikan diri"

"Kita pun bisa menganggap semua catatan aneh yang dia tuangkan dalam gulungan kertas ini sebagai buah pikirannya yang ngawur dan tidak waras"

Sambung Siang Huhoa. Bicara sampai disitu dia menggelengkan kepalanya, setelah berhenti sejenak lanjutnya.

"Persoalannya adalah walaupun Kwee Bok dan Gi Tiok-kun tidak melihat kawanan laron penghisap darah itu, namun bukan hanya dia seorang yang telah menyaksikan makhluk tersebut, selain dia, kaupun sempat melihatnya"

"Benar, aku memang menyaksikannya, waktu itu tanggal dua bulan tiga dan tanggal empat belas, aku masih ingat dengan jelas"

Tu Siau-thian menandaskan.

"Justru itulah, kejadian ini baru merupakan satu masalah"

Tukas Siang Hu-hoa.

"Lantas bagaimana kau menerangkan persoalan ini?"

Tanya Nyo Sin.

"Penjelasan yang paling masuk diakal adalah satu diantara mereka bertiga ada yang sedang berbohong!"

"Siapa yang kau maksud dengan mereka bertiga?"

Kembali Nyo Sin menimbrung sembari mengerling sekejap ke arah Tu Siau-thian.

"Maksudku Jui Pakhay, Gi Tiok-kun dan Kwee Bok"

Setelah berhenti sejenak kembali tambahnya.

"Tapi uraianku tadi hanya sebatas analisaku pribadi, sebelum melihat sendiri bagaimana bentuk dari kawanan laron penghisap darah itu serta segala kemungkinan yang bisa dilakukan laron laron tersebut, untuk sementara waktu kita tidak bisa seratus persen menyangkal"

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Bagaimana pun juga kita harus temukan dulu Jui Pakhay, kecuali kawanan laron penghisap darah itu selain telah menghisap kering darahnya, juga melahap daging termasuk tulang belulangnya hingga habis, kalau tidak, biarpun dia sudah menjadi orang mati, paling tidak harus meninggalkan jenasahnya"

"Tapi di mana mayatnya sekarang?"

Tanya Nyo Sin tanpa sadar. Kontan Siang Hu-hoa tertawa tergelak.

"Hahahaha.... darimana aku tahu?"

Sadar kalau dirinya telah salah bicara, buru-buru Nyo Sin berkata lagi.

"Kalau begitu mari kita periksa lagi dengan hati-hati, siapa tahu kali ini kita akan berhasil menemukannya"

"Sebelum mulai mencari jenasahnya, terlebih dulu kita harus menjumpai dua orang"

Kata Siang Hu-hoa.

"Siapa?"

"Gi Tiok-kun dan Kwee Bok. Siapa tahu dari mulut mereka kita akan berhasil mendapat keterangan tambahan"' "Benar, siapa tahu mereka memang jelmaan dari laron penghisap darah atau siluman laron seperti apa yang dicurigai Jui Pakhay"

"Kalau benar begitu, urusan malah jadi semakin gampang!"

Seru Siang Hu-hoa sambil tertawa. Pelan pelan dia membalikkan tubuhnya, kemudian tambahnya.

"sebelum meninggalkan ruang perpustakaan ini, aku akan menutup dulu ruang rahasia ini"

"Sudah seharusnya kau berbuat begitu, aku pun akan mengirim berapa orang anak buah untuk berjaga jaga diluar gedung secara bergilir, didalam sini tersimpan begitu banyak harta karum, kalau sampai hilang, siapa yang sanggup bertanggung jawab"

"Kalau hanya harta karun yang hilang, urusan itu lebih gampang diatasi, justru yang paling aku kuatirkan adalah ada orang yang masuk kemari secara sembrono, bila sampai menggerakkan alat perangkap disini........ bisa berabe nanti!"

"Jadi disini masih terdapat alat perangkap yang lain?"

Tanya Nyo Sin terperanjat.

"Hasil rancangan dari Hiankicu merupakan sebuah rancangan yang sempurna, menurut apa yang kuketahui, tidak mungkin dia hanya memasang satu dua macam alat perangkap saja"

Tiba-tiba Nyo Sin tertawa terbahak bahak, serunya.

"Bukankah kita sudah menjelajahi hampir seluruh pelosok ruangan ini, kapan kita menjumpai ancaman bahaya maut?"

"Mungkin saja hal ini terjadi lantaran alat perangkap itu tidak jalan"

Kemudian setelah berpaling ke arah pintu masuk, terusnya.

"Kita ambil contoh pintu masuk ruang rahasia itu, semestinya pintu itupun sudah dilengkapi alat perangkap yang ampuh dan berada dalam keadaan tertutup, tapi sewaktu kita masuk kemari tadi, pintu sudah berada dalam keadaan terbuka, bukankah hal ini merupakan satu contoh yang sangat jelas?"

Tidak kuasa Nyo Sin manggut manggut. Kembali Siang Huhoa berkata.

"Jadi menurut pendapatku, mungkin untuk saat ini semua alat perangkap telah dimatikan"

Baru selesai dia berkata, mendadak dari arah pintu masuk itu sudah berkumandang suara gemerutuk yang sangat aneh. Paras muka Siang Huhoa seketika berubah hebat, buruburu serunya.

"Cepat kita tinggalkan tempat ini"

Kalau diapun mendengar suara tersebut, tentu saja Nyo Sin bertiga dapat mendengar pula suara aneh itu.

Paras muka Nyo Sin seketika berubah jadi pucat kehijauhijauan, tanpa disuruh, dia orang pertama yang kabur lebih dulu dari sana.

Siang Huhoa merupakan orang terakhir yang keluar dari ruangan, ketika kakinya baru melangkah keluar dari balik pintu, pintu rahasia ruang batu itu sudah mulai bergerak pelahan menutup diri.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Tanya Tu Siau-thian dengan mata terbelalak.

"Aku sendiripun kurang jelas"

Sahut Siang Huhoa sambil menggeleng, matanya masih mengawasi pintu ruangan itu dengan pandangan mendelong.

"atau mungkin alat perangkap yang kubilang sudah dimatikan, sekarang telah berjalan normal kembali"

"Haai......tidak ubahnya seperti ulah setan iblis atau siluman saja......."

Teriak Nyo Sin ketakutan.

Suara itu berasal dari atas, ternyata dia sudah berdiri disamping ukiran kayu Kwan-im bertangan seriu.

Kalau sudah dibikin ketakutan, ternyata kecepatan kabur orang ini jauh lebih cepat daripada larinya seekor kuda.

Perubahan cuaca saja sukar diramalkan, apalagi menduga hati manusia?

Cuaca yang semula terang benderang, entah sejak kapan telah berubah menjadi mendung dan gelap, awan tebal menyelimuti seluruh angkasa.

Ketika sinar sang surya telah menghilang dibalik awan, sewaktu awan semakin tebal dan gelap, hujan pun mulai turun, hujan gerimis yang lembut bagaikan lapisan kabut.

Awan gelap menyelimuti pula sebuah bangunan loteng, tidak terkecuali menyelimuti juga perasaan penghuninya.

Seseorang duduk sendirian ditepi jendela.

Sebenarnya orang itu masih muda, namun masa remajanya seolah sudah lenyap, menguap ke angkasa, yang tersisa tinggal sepasang matanya yang memancarkan kehangatan dan kegairahan seorang remaja, sepasang biji mata yang bening bersinar, bagai dua bara api yang sedang berkobar.

Gi Tiok-kun!

Ketika Siang Hu-hoa memandang perempuan itu dari kejauhan, timbul suatu perasaan duka yang aneh didalam hati kecilnya.

Tu Siau-thian, Nyo Sin bahkan belasan orang opas yang mengikuti dibelakang mereka, seolah terbuai juga oleh perasaan duka yang begitu tebal, tanpa terasa muncul perasaan murung diwajah setiap orang, terkecuali satu orang, Jui Gil Perasaan benci, muak, dendam bercampur aduk dalam benak Jui Gi, hal ini disebabkan dia telah terpengaruh oleh catatan peninggalan Jui Pakhay.

Tentu saja seorang pelayan yang setia tidak akan menaruh perasaan simpatik terhadap seorang pembunuh yang dicurigai telah menghabisi nyawa majikannya, yang tersisa dalam benaknya kini hanya kebencian, rasa muak disamping perasaan ngeri dan takut yang aneh.

Bila isi catatan pengalaman itu merupakan suatu kenyataan, berarti Gi Tiok-kun bukan manusia, dia adalah jelmaan dari laron penghisap darah, dia adalah siluman laron!

Jelas kenyataan ini merupakan sebuah kejadian yang mengerikan.

Masih untung hingga kini kecurigaan tersebut belum terbukti kebenarannya.

Agaknya Jui Gi masih belum melupakan akan hal ini, dia pun masih mengerti apa status dan kedudukan Gi Tiok-kun hingga kini.

Maka begitu memasuki ruang utama, walaupun dalam hati kecilnya tidak rela, dia tetap menghadap Gi Tiok-kun sambil memberikan salam.

Dengan pandangan hambar Gi Tiok-kun meliriknya sekejap, kemudian menegur.

"Berapa hari belakangan ini, kau telah pergi ke mana saja?"

"Menjalankan perintah majikan, mengunjungi perkampungan Ban hoa sanceng"

"Majikan yang suruh kau pergi?"

"Benar!"

Jui Gi menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Mau apa majikan mengutusmu pergi ke perkampungan Ban hoa sanceng?"

Gi Tiok-kun bertanya lebih lanjut.

"Mengundang kehadiran temannya"

"Ooh.....siapa dia?"

"Pemilik perkampungan selaksa bunga, Siang Huhoa, Siang toaya!"

"Apa tamunya sudah datang?"

Tanya Gi Tiok-kun lebih lanjut setelah berpikir sebentar.

"Sudah datang"

Tergopoh-gopoh Gi Tiok-kun bangkit berdiri lalu memberi hormat, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Siang Huhoa telah berkata duluan.

"Kelihatannya saudara Jui belum pernah menyinggung tentang aku dihadapan enso"

"Satu dua kali pernah disinggung"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, secara beruntun Nyo Sin dan Tu Siau-thian telah berjalan masuk. Gi Tiok-kun mengerling pada mereka, sekejap kemudian tegurnya.

"Oooh... ternyata Nyo tayjin dan Tu tayjin ikut datang juga"

Biarpun nada suaranya sedikit kaget, paras mukanya sama sekali tidak berubah.

Dia memang berasal dari dunia hiburan, tidak aneh bila kenal dengan seorang pembesar macam Nyo Sin.

Nyo Sin serta Tu Siau-thian segera balas memberi hormat, sebelum berkata-kata, Gi Tiok-kun telah berkata kembali.

"Sepagi ini tayjin berdua telah datang berkunjung, apakah sudah mendapat sebuah berita?"

Nyo Sin menggeleng, dalam hati dia tertawa dingin.

"Pintar amat perempuan ini berlagak pilon.......!"

Tentu saja ucapan semacam ini tidak nanti diutarakan. Sementara itu Tu Siau-thian telah menanggapi, katanya.

"Apakah hujin sudah mendapat kabar?"

"Belum, sama sekali tidak ada kabar beritanya"

"Sebelum saudara Jui menghilang, pernahkah enso berjumpa dengannya?"

Sela Siang Hu-hoa. Gi Tiok-kun berpikir sejenak, kemudian jawabnya seraya menggeleng.

"Rasanya tidak pernah"

"Kapan terakhir kali enso berjumpa dengannya?"

"Bulan tiga tanggal tiga belas"

"Waktu itu, apakah saudara Jui sempat mengatakan sesuatu?"

Kembali Gi Tiok-kun menggeleng.

"Tidak sepatah kata pun yang dia ucapkan, ketika melihat aku ditempat kejauhan, tergopoh gopoh dia membalikkan badan dan kabur pergi"

Siang Huhoa termenung sambil berpikir sejenak.

Menurut data dalam catatan, pada tanggal tiga belas bulan tiga, seharian penuh Jui Pakhay menelusuri seluruh perkampungan dalam rangka melacak dan mengumpulkan barang bukti.

"Bagaimana dengan bulan tiga tanggal dua belas?"

Tanyanya kemudian. Gi Tiok-kun tidak langsung menjawab, dia perhatikan dulu Siang Huhoa dan atas hingga ke bawah, lalu tegurnya.

"Aku lihat paman pasti kerap kali berhubungan dengan orang orang pengadilan"

Mula mula Siang Huhoa agak tertegun, kemudian katanya.

"Maksud enso, caraku mengajukan pertanyaan barusan mirip seorang opas yang sedang memeriksa seorang tersangka?"

"Tidak berani"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Sejak permulaan bulan ini, tingkah laku saudaramu itu aneh dan tidak wajar, jauh berbeda dari sikapnya dulu, selama belasan hari belakangan, dia selalu berteriak telah melihat laron penghisap darah, kadangkala dia membuat keonaran dengan mengobrak abrik barang, ada kalanya jendela pun dibongkar sampai hancur, aku amat menguatirkan kesehatan dan keselamatannya, maka pada tanggal dua belas aku mengundang kakak misanku Kwee Bok agar datang memeriksakan kesehatan tubuhnya, ternyata didapati dia dalam kondisi sehat, namun ketika kami sedang makan bersama, ketika dia menyumpit sepotong bola udang masak madu, tiba-tiba dia muntah, katanya bola udang yang dia telan adalah bola daging laron penghisap darah, malah kemudian sambil tertawa kalap dia kabur meninggalkan meja makan. Itulah peristiwa yang terjadi di hari itu"

Ternyata apa yang dituturkan Gi Tiok-kun persis sama seperti apa yang tercatat dalam gulungan kertas catatan Jui Pakhay.

Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, Siang Huhoa kembali termenung.

Gi Tiok-kun sendiripun tidak berbicara banyak lagi, dia hanya mengawasi Siang Huhoa tanpa berkedip.

Paras mukanya kelihatan putih memucat, sedemikian pucatnya seakan sama sekali tidak ada aliran darah.

Dibalik putih kepucatan terselip pula warna hijau kemala yang bening.

Sewaktu Tu Siau-thian, Nyo Sin dan Jui Gi melirik sekejap ke arahnya, entah mengapa, tiba tiba muncul perasaan bergidik dari hati kecilnya.

Benarkah perempuan ini jelmaan dari siluman laron?

Bahkan Siang Hu-hoa sendiripun mempunyai pemikiran seperti itu.

Gi Tiok-kun sendiri seakan tidak menyadari akan hal itu, paras mukanya tetap hambar, kaku, tanpa perubahan mimik wajah sedikitpun, dia ibarat sesosok mayat hidup yang tidak berperasaan.

Kembali Siang Hu-hoa termenung berapa saat, akhirnya setelah menghela napas, katanya.

"Enso, kami mempunyai satu permintaan yang mungkin kurang pantas........"

"Katakan saja berterus terang"

"Kami bermaksud melakukan penggeledahan diseputar gedung ini, apakah enso mengijinkan?"

Gi Tiok-kun melirik sekejap ke arah Tu Siau-thian dan Nyo Sin, lalu mengerling juga ke arah Jui Gi, setelah itu baru sahutnya.

"Kelihatannya keputusanku tidak akan berpengaruh apaapa lagi........"

Siang Huhoa tidak menanggapi, dia hanya membungkam. Sekali lagi sorot mata Gi Tiok-kun dialihkan ke wajah Siang Huhoa, ujarnya lebih jauh.

"Aku dengar paman adalah seorang yang jujur dan penuh timbang rasa, kelihatannya kau minta persetujuanku karena kuatir aku sedih, padahal pertanyaanmu tidak ada gunanya"

"Ucapan enso kelewat serius!"

"Boleh tahu, apa yang sebenarnya sedang kalian cari?"

"Kabar berita saudara Jui"

"Jadi kalian curiga kalau dia bersembunyi disini?"

Gi Tiokkun nampak melengak dan sedikit diluar dugaan.

"Kami hanya berharap dapat menggeledah seluruh bangunan yang ada disini, baik bangunan luar maupun bangunan bagian dalam"

"Apakah baru hari ini paman tiba disini?"

Siang Huhoa mengangguk tanda membenarkan.

"Apakah tahu juga kalau dalam dua hari belakangan, Tu tayjin sudah melakukan penggeledahan secara besar-besaran diseluruh perkampungan?"

Lanjut Gi Tiok-kun.

"Aku tahu cara kerja saudara Tu selalu teliti dan cermat, tapi sayang dia telah melupakan bangunan dalam"

"Bangunan bagian dalam tidak terlalu luas, seandainya ada yang bersembunyi disini, masa aku tidak tahu?"

"Saudara Tu juga berpendapat sama, hanya persoalannya...... ....."

Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun akhirnya diurungkan.

"Kenapa?' tanya Gi Tiok-kun cepat. Siang Hu-hoa menghela napas panjang.

"Masalahnya, mungkin dia sudah bukan seorang manusia hidup lagi"

Berubah hebat paras muka Gi Tiok-kun. Setelah menghela napas lagi, Siang Huhoa berkata lebih jauh.

"Orang mati tidak nanti bisa menimbulkan suara apa pun"

Gi Tiok-kun termenung sesaat, ujarnya kemudian.

"Kalau toh ada kecurigaan semacam ini, alangkah baiknya kalau dilakukan penggeledahan yang seksama, mari, aku akan menjadi petunjuk jalan"

Tidak berani merepotkan enso"

"Tidak jadi masalah"

Gi Tiok-kun menggeleng.

Perlahan-lahan dia beranjak dari tempat itu, ke dua orang dayangnya tanpa diperintah lagi segera maju dan mendampingi majikannya.

Tapi Gi Tiok-kun segera menggoyangkan tangan kanannya sambil menahan pundak dayangnya itu.

Tangannya kelihatan ramping dan indah, putih bagaikan salju, berkilat bagai batu pualam, sayang tiada warna merah darah sehingga nyaris tidak mirip tangan seorang manusia.

Dia pun memiliki pinggang yang sangat ramping, ketika angin berhembus lewat melalui daun jendela, tubuhnya tampak bergoyang keras seakan segera akan terhempas karena dorongan angin itu.

Siang Huhoa berjalan persis di belakang tubuhnya, dia dapat menyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelas.

Dia merasa sedikit tidak percaya, mungkinkah perempuan yang lemah lembut dan tidak tahan hembusan angin, sesungguhnya adalah siluman laron, setan iblis yang telah berubah menjadi laron penghisap darah.

Bab 13.

Serangan kawanan laron.

Bangunan bagian dalam terhitung cukup luas, namun mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apa pun meski seluruh bagian bangunan itu sudah diperiksa dan dilacak dengan seksama.

Akhirnya tibalah mereka di kamar tidurnya Jui Pakhay.

Segala sesuatu benda yang ada didalam kamar itu tertata rapi, biarpun kamar itu tidak terhitung kecil namun segala sesuatunya dapat terlihat dalam sekali pandangan, disana memang tidak terdapat tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi.

Mereka mencoba untuk memeriksa almari baju, namun kecuali tumpukan pakaian, disitu tidak nampak sesuatu yang mencurigakan, bahkan kolong ranjang pun tidak ditemukan sesuatu apa pun.

Kamar tidur ini merupakan tempat terakhir yang mereka periksa, di belakang kamar tidur itu masih tersisa sebuah pintu.

Siang Hu-hoa berhenti sejenak didepan pintu itu, kemudian tanyanya.

Tempat apa yang terdapat di belakang pintu ini?"

"Sebuah gudang kecil"

Siang Huhoa segera mendorong pintu itu dan berjalan masuk.

Ruangan dibalik pintu itu memang merupakan sebuah gudang kecil, tidak banyak barang yang tersimpan di situ.

Ruangan itu terbagi jadi dua bagian, satu setengah kaki diatasnya terdapat sebuah loteng yang tidak begitu luas.

Anak tangga yang merupakan jalan masuk menuju ke ruang loteng itu dibangun menempel pada dinding, begitu sempit sehingga hanya cukup dilalui satu orang, pada ujung anak tangga terdapat lagi sebuah pintu.

Pintu itu sama sekali tidak terkunci, hanya ditutup rapat, dibawah pintu merupakan tangga yang terbuat dari kayu.

Ketika mulai melangkah naik ke atas tangga itu, paras muka Siang Huhoa tiba tiba berubah menjadi sangat aneh.

Penghubung ruang kecil dengan kamar tidur hanya berupa sebuah pintu, dinding disekeliling ruangan itu tidak nampak pintu lain, bahkan jendela pun tidak ada.

Biasanya ruang kecil semacam ini pasti gelap gulita dan lagi amat sunyi, tapi anehnya saat ini ruangan tersebut tidak nampak gelap, juga tidak dalam kondisi senyap.

Pintu dalam keadaan terbuka lebar, walaupun tidak bisa dibilang terlalu cerah, paling tidak masih ada secerca cahaya yang menyoroti tempat itu, dengan sendirinya suasana di dalam ruang kecil itupun tidak amat gelap, namun suasana disitu tidak ikut berubah karena kehadiran beberapa orang itu.

Semenjak mereka masuk ke dalam ruangan, disitu sudah terdapat semacam suara yang sangat aneh, seakan ada suara kipas yang digoyangkan terus menerus.

"Nguuung,.... nguungg...."

Suara "Nguuung,.... nguungg....."

Itu tidak terlalu nyaring, namun lantaran berkumandang dalam lingkungan yang sunyi maka semua orang yang hadir disitu dapat mendengarnya dengan jelas sekali.

Nyo Sin merupakan orang ke dua yang berjalan masuk, ia segera berseru.

"Hey, suara apa itu?"

Tu Siau-thian segera pasang telinga ikut mendengarkan, dia tidak berkata apa apa namun paras mukanya mulai berubah hebat.

Gi Tiok-kun dengan dituntun dayangnya ikut berjalan masuk, namun mimik mukanya sangat wajar, dia seolah sama sekali tidak merasakan apa-apa.

Siang Huhoa segera mundur satu langkah, menghampiri ke samping Gi Tiok-kun, kemudian tegurnya.

"Enso, apakah kau mendengar sejenis suara yang aneh?"

"Suara? Suara apa?"

Paras muka Gi Tiok-kun tetap kaku. Siang Huhoa tertegun sejenak, kemudian serunya.

"Itu..... suara dengungan aneh, suara yang berbunyi Nguuung .....nguungg....."

"Tidak....! Tidak ada suara apa apa......."

Sahut Gi Tiok-kun sambil menggeleng.

Sekali lagi Siang Huhoa tertegun, ditatapnya perempuan itu tanpa berkedip.

Gi Tiok-kun sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun, dia hanya berdiri mematung, persis seperti sebuah arca yang terbuat dari tanah liat.

Pada saat itulah tiba-tiba Tu Siau-thian berteriak keras.

"Suara itu mirip sekali dengan suara sayap laron penghisap darah yang sedang berkerumun!"

Begitu teriakan tersebut berkumandang, suasana di dalam ruangan pun seketika serasa membeku bagaikan es. Nyo Sin adalah orang pertama yang bergidik, teriaknya dengan suara gemetar.

"Berasal dari mana suara itu?"

Tidak seorangpun yang menjawab, kecuali Gi Tiok-kun, hampir semua sorot mata telah tertuju ke atas bangunan loteng.

Sekalipun Nyo Sin sedang berbicara, sorot matanya tetap tertuju ke atas loteng, hal ini membuat semua yang hadir mau tidak mau mesti menahan napas untuk mendengarkan dengan lebih seksama.

Maka terdengarlah suara "Ngungg....nguuung.....!"

Itu makin lama semakin bertambah jelas dan nyata.

Mendadak Siang Huhoa mulai melangkah maju, langsung berjalan menuju ke depan anak tangga, setelah mendongakkan kepalanya memperhatikan pintu di atas loteng sekejap, dia pun mulai melangkah naik, langkah kakinya amat lambat tapi ringan, meskipun anak tangga cuma terdiri dari berapa buah namun dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya.

Setibanya di depan pintu itu, perlahan-lahan dia mulai mendorong dan membuka pintu loteng tersebut, tapi begitu pintu dibuka, suara "Ngungg....

nguuung.....!"tadi kedengaran bertambah nyaring dan jelas.

Siang Huhoa mencoba untuk menengok sekejap ke ruang dalam, tapi paras mukanya seketika berubah sangat hebat.

Buru-buru dia merapatkan kembali pintu loteng kemudian segera beranjak turun dari anak tangga.

Sebenarnya Tu Siau-thian maupun Nyo Sin yang berada dibawah tidak mengetahui apa yang telah terjadi, namun melihat perubahan wajah Siang Huhoa ditambah tindakannya yang meninggalkan loteng dengan gerak cepat, diam-diam mereka ikut terkesiap.

Perubahan air muka Siang Huhoa memang amat tidak sedap dipandang.

Walaupun selisih waktu hanya sekejap, namun air mukanya saat ini tidak ubahnya seperti paras muka seseorang yang sudah terendam ditengah air salju selama setengah harian lamanya, pucat kehijau-hijauan.

"Saudara Siang, sebenarnya apa isi ruang loteng itu?"

Tidak tahan Tu Siau-thian bertanya.

"Laron penghisap darah!"

Jawab Siang Huhoa setelah menarik napas panjang.

Walaupun dia telah berusaha untuk menenangkan suaranya, namun baik Tu Siau-thian maupun Nyo Sin dapat mendengar betapa ngeri dan seramnya lelaki itu.

Tanpa sadar paras muka mereka berdua pun turut berubah hebat.

"Laron penghisap darah?"

Seru Nyo Sin tidak tahan.

"Benar, beribu ribu ekor laron penghisap darah serta sesosok tengkorak manusia!"

"Tengkorak manusia?"

Tu Siau-thian menjerit kaget.

"Tengkorak siapa?"

Seru Nyo Sin pula. Siang Hu-hoa tidak menjawab, mendadak dia berpaling seraya berseru.

"Jui Gi!"

Waktu itu Jui Gi sedang berdiri disamping dengan wajah termangu, paras mukanya pucat kehijau hijauan, ketika dipanggil Siang Huhoa, dia nampak sangat terperanjat hingga tubuhnya bergetar keras.

Buru-buru dia maju menghampiri sambil bertanya.

"Ada urusan apa tuan Siang?"

"Disebelah sana ada lampu lentera, tolong ambilkan dua untukku!"

"Baik!"

Buru-buru Jui Gi mengundurkan diri, sementara Nyo Sin maju dua langkah ke depan, namun diapun tidak berbicara lagi.

Suasana didalam ruang kecil ini sudah begitu remang, tentu saja suasana diatas ruang loteng itu lebih gelap lagi, apalagi disana tidak ada jendela, bila seseorang telah berubah jadi tengkorak, darimana mungkin kau bisa mengenali raut muka aslinya?

Saat ini tentu saja Nyo Sin pun memahami akan hal tersebut, sebab dia memang bukan seseorang yang kelewat tolol.

Dalam ruangan terdapat lampu lentera, kebetulan jumlahnya ada dua buah.

Baru saja Jui Gi menyulut lampu lampu itu, Nyo Sin dan Tu Siau-thian sudah tidak sabar lagi menanti, dengan cepat mereka maju mendekat dan masing-masing menyambar sebuah lampu.

Dua bilah golok panjang pun serentak diloloskan dari sarungnya.

Tu Siau-thian serta Nyo Sin, masing masing dengan tangan kiri memegang lampu, tangan kanan menggenggam golok, dengan satu lompatan sudah tiba didepan anak tangga dan berebut naik ke atas, saat ini perasaan mereka jauh lebih gelisah dan cemas ketimbang Siang Hu-hoa.

Waktu itu, Siang Huhoa sama sekali tidak ikut berebut, dalam keadaan begini perasaan hatinya malah jauh lebih tenang, dia bahkan sama sekali tidak menggeserkan kakinya, walaupun tangannya sudah menempel diatas gagang senjata, pedang itu masih berada dalam sarungnya, hawa pedangpun seolah sudah terpancar keluar, dia memang sudah berada dalam posisi tempur.

Tentu saja sorot matanya telah tertuju ke atas pintu ruang loteng itu.

Pintu sudah didongkel hingga terbuka, didongkel oleh ujung golok Nyo Sin.

Rupanya dia yang pertama-tama tiba diujung tangga, dengan golok ditangan kanannya dia mencongkel pintu hingga terbuka, lampu ditangan kirinya segera didorong masuk ke dalam.

Cahaya lentera yang berwarna kuning seketika berubah menjadi hijau kemala.

Hanya didalam waktu amat singkat, penutup lentera itu sudah dipenuhi oleh laron laron terbang.

Laron laron itu berwarna hijau pupus, hijau bagaikan sebuah kemala, sepasang matanya merah membara bagaikan darah segar, laron penghisap darah!

Penutup lampu kini telah berubah jadi penutup laron, ketika cahaya lampu menembusi tubuh laron yang hijau, terpantullah sinar lentera berwarna hijau kemala.

Berpuluh puluh ekor laron penghisap darah seakan terbang bersama, suara "Ngungg....nguuung....."

Yang menggema di udara seakan telah berubah menjadi gelak tertawa seram dari setan iblis.

Kawanan laron penghisap darah itu seakan merupakan jelmaan dari setan iblis yang sedang gentayangan di angkasa.

Nyo Sin hanya merasakan pandangan matanya diselimuti cahaya hijau dikombinasi dengan titik titik merah darah, telinganya menangkap suara gemuruh sayap yang seolah telah berubah menjadi gelak tertawa setan iblis....

Karena dia berdiri persis di depan pintu, kawanan laron penghisap darah itupun persis menyongsong kehadirannya.

Dalam waktu singkat suasana seram menyelimuti seluruh ruangan, sedemikian seram dan ngeri nya hingga susah dilukiskan dengan kata-kata.

Perasaan takut, seram, ngeri dan horor yang mencekam hati Nyo Sin saat itupun sukar dilukiskan dengan ucapan.

Sambil memejamkan matanya rapat rapat dia mulai menjerit, suara jeritannya keras menyayat hati, jeritan yang penuh ketakutan dan kengerian yang luar biasa.

Sedemikian seramnya jeritan ifu sehingga pada hakekatnya tidak mirip dengan suara jeritan seorang manusia.

Tampaknya kawanan laron penghisap darah yang sedang menempel dialas penutup lentera itu ikut dikagetkan oleh suara jeritan, serentak mereka terbang di angkasa dan menyambar kian kemari di udara dengan kalutnya.

Sekejap kemudian kawanan laron penghisap darah itu sudah menerjang diatas tubuh Nyo Sin, menyambar wajahnya......

Biarpun waktu itu Nyo Sin memejamkan matanya rapatrapat, namun dia sempat merasakan sekujur badannya amat sakit, hidungnya seakan terendus bau anyirnya darah!

"Mereka akan menghisap darahku!"

Sekali lagi Nyo Sin memperdengarkan suara jeritannya yang menyayat hati, dengan sepasang tangan melindungi kepalanya, buru buru dia melarikan diri meninggalkan tempat itu, sedemikian terburunya sampai lampu dan golok miliknya pun dilempar ke lantai.

Dia bahkan sudah lupa kalau tubuhnya berdiri diatas anak tangga, begitu membalikkan badan, seketika itu juga tubuhnya terguling dari atas anak tangga dan terjun bebas ke bawah.

Tu Siau-thian yang mengikuti di belakang Nyo Sin agaknya dibuat terkesiap juga oleh pemandangan yang terpampang di depan mata, rasa terkesiap yang membuatnya tertegun dan tidak mampu berbuat apa apa, bahkan dia seakan lupa untuk memayang tubuh Nyo Sin yang sedang terpelanting jatuh ke bawah.

Padahal meski dia bisa memayang pun belum tentu bisa menghentikan tubuhnya.

Tidak ubahnya seperti sebuah buli-buli kosong, tubuh Nyo Sin terguling ke bawah, jatuh menimpa diatas tubuh Tu Siauthian.

Maka tubuh Tu Siau-thian pun seketika ikut berubah menjadi sebuah buli-buli dan terguling ke bawah.

Kini dihadapan Siang Huhoa telah bertambah dengan dua buah buli-buli yang sedang bergulingan diatas lantai Ternyata dia tidak maju ke depan untuk membangunkan mereka, dia pun tidak meloloskan pedangnya, untuk sesaat lelaki ini hanya berdiri termangu di tempatnya dan tidak tahu apa yang mesti diperbuat.

Sekalipun tangannya masih menggenggam diatas gagang pedang, namun dia seolah dia sudah lupa kalau benda yang dipegangnya adalah sebilah pedang, dia seperti lupa benda itu dipersiapkan untuk berbuat apa.

Sebenarnya dia sudah berada dalam posisi siap siaga, setiap waktu setiap saat pedangnya bersiap melancarkan serangan, namun dalam waktu sekejap dia seakan sudah terkesima oleh suasana seram dan ngeri yang mencekam sekeliling tempat itu.

Jui Gi, dua orang dayang yang memayang Gi Tiok-kun maupun puluhan orang opas yang ada diluar pintu ikut dicekam oleh perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, paras muka mereka sudah berubah jadi pucat melebihi mayat.

Bahkan ada diantara mereka yang sudah dibuat ketakutan hingga kabur dari situ sambil melindungi kepala sendiri, ada pula yang tergeletak dilantai dalam keadaan lemas tidak bertenaga, rasanya saat itu hanya ada satu orang yang terkecuali, dia adalah Gi Tiok-kun!

Paras muka Gi Tiok-kun sama sekali tidak menampilkan perubahan apa pun, dia masih berdiri bagaikan sebuah patung pouwsat.

Satu satunya yang berubah hanya air mukanya, paras muka yang pada dasarnya sudah pucat pias kini bertambah pucat lagi, sedemikian pucatnya hingga mirip mayat yang sudah membujur selama berhari hari.

--Lampu yang terguling dilantai sudah padam, dua buah lentera padam hampir bersamaan waktunya.

Tampaknya lantaran kehilangan cahaya kawanan laron itupun seolah kehilangan sasaran, mereka beterbangan di udara beberapa saat lamanya kemudian tiba-tiba berkumpul menjadi satu dan terbang menuju ke luar ruangan.

Diluar pintu ruangan terdapat cahaya, walaupun makhluk semacam laron lebih suka api namun tampaknya takut dengan cahaya langit, itulah sebabnya mereka hanya muncul dikala malam sudah tiba.

Tidak terkecuali pula dengan kawanan laron penghisap darah itu, tapi ke mana mereka akan pergi?

Tidak seorang pun yang memperdulikan pertanyaan ini, semua yang hadir seakan sudah terpengaruh oleh keadaan disitu, seolah sudah terkena teluh, mereka hanya mengawasi perginya kawanan laron penghisap darah itu dengan mata terbelalak dan mulut melongo, tidak terkecuali Siang Huhoa.

Akhirnya kawanan laron itu telah terbang pergi, suara "Ngungg....

nguuung....."

Pun makin reda dan akhirnya lenyap, kini suasana dalam ruangan pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa.

Semua suara seakan telah terhenti, bahkan suara dengusan napas pun seakan ikut terhenti.

Semua orang seperti telah berubah jadi orang bodoh, orang blo'on yang tidak tahu apa apa, untuk sesaat mereka hanya berdiri mematung, tanpa bergerak tanpa bersuara.

Suasana benar benar dicekam dalam keheningan yang luar biasa.

Udara yang sejak awal sudah kurang segar di dalam ruang kecil itu kini terasa makin tidak sehat, karena lamat lamat terendus bau busuk yang sangat aneh, bau busuk yang sukar dicerna dengan perkataan.

Bau busuk itu seolah berasal dari ruang loteng, bau busuk laron?

Atau bau busuk dari mayat yang mulai membusuk?

Seorang dayang yang berdiri disamping Gi Tiok-kun tampaknya mulai tidak tahan dengan bau busuk yang luar biasa itu, tiba-tiba dia mulai muntah........

Isi perut yang tertumpah keluar hanya air pahit, tapi muntahan itu justru seakan telah mengembalikan sukma setiap orang yang sempat hilang untuk sesaat.

Siang Huhoa menghembuskan napas panjang, dia segera maju ke depan dan memungut sebuah lentera diantaranya.

Sebuah lentera masih berada dalam keadaan utuh sementara lentera yang lain sudah hancur berantakan, dia pun mengeluarkan korek api dan menyulut sumbu lampu.

Bersama dengan terangnya cahaya lampu lentera, Nyo Sin dan Tu Siau-thian segera merangkak bangun dari atas tanah, tampaknya mereka tidak sampai terluka gara-gara terjatuh tadi.

Walau begitu, paras muka Nyo Sin telah berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, bibirnya gemetar keras, sampai lama kemudian ia baru mampu bersuara.

"Jadi.....jadi makhluk itulah laron penghisap darah?"

"Bee.....benar........"

Jawaban dari Tu Siau-thian kedengaran sangat lirih karena suara itu seolah muncul dari balik sela-sela giginya.

"Coba tolong periksakan wajahku, apakah ada sesuatu yang tidak beres"

Pinta Nyo Sin kemudian sambil menunjuk ke wajah sendiri.

Tu Siau-thian segera mengalihkan perhatiannya ke wajah Nyo Sin.

Siang Hu-hoa yang ikut mendengarkan pembicaraan itu turut maju menghampiri, dia angkat lampu tinggi tinggi sehingga paras muka Nyo Sin dapat terlihat sangat jelas.

Tampak kilatan cahaya kehijau hijauan memancar dari seluruh wajah pembesar itu.

Ternyata seluruh permukaan wajahnya telah dilapisi oleh serbuk berwarna putih kehijau hijauan, masih untung hanya serbuk laron, sama sekali tidak ada luka apalagi darah.

"Apakah berdarah?"

Kembali Nyo Sin bertanya.

"Tidak!"

Sekarang Nyo Sin baru bisa menghembuskan napas lega, dari dalam sakunya dia mengeluarkan selembar saputangan lalu digosokkan ke atas wajah sendiri.

Sementara itu Tu Siau-thian telah melirik sekejap ke arah pintu ruangan, sambil memperhatikan ruang sempit itu katanya.

"Aku rasa jumlah laron penghisap darah yang berkumpul disana tadi mencapai ribuan banyaknya....."

"Ehmmm..."

Siang Huhoa mengangguk. Kemudian setelah memandang lagi ruang loteng itu sekejap, Tu Siau-thian berkata lebih jauh.

"Aneh, apa yang sedang dilakukan ribuan ekor laron penghisap darah itu diatas ruang loteng?"

Sebelum Siang Huhoa sempat menjawab, Nyo Sin telah berteriak aneh.

"Mereka sedang melalap daging manusia"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, bahkan dia sendiripun ikut merinding dan bersin berulang kali.

Pucat pasi selembar wajah Siang Huhoa, begitu pula dengan Tu Siau-thian, dengan wajah hijau kepucat pucatan ia berbisik.

"Apa kau bilang? Sedang melahap daging manusia?"

"Benar"

Suara Nyo Sin kedengaran gemetar keras.

"ketika kuterangi ruangan dengan lampu, kusaksikan mereka sedang mengerubungi sesosok jenasah manusia, menempel diatas mayat itu sambil mengeluarkan suara mencicit yang amat menyeramkan!"

"Sesosok mayat atau tengkorak manusia?"

Siang Huhoa mencoba menegaskan, nada suaranya kedengaran gemetar juga.

"Yang kusaksikan adalah sesosok mayat"

"Sekarang kawanan laron itu sudah terbang pergi, ayoh kita ke atas dan periksa lagi dengan lebih seksama!"

Dengan membawa lampu untuk menerangi sekeliling tempat itu, Siang Huhoa segera beranjak naik ke atas anak tangga.

Tampaknya nyali orang ini sangat besar.

Ternyata Tu Siau-thian cukup bernyali juga, dia segera mengikuti dibelakang Siang Huhoa, tapi goloknya tetap di persiapkan, tangannya yang menggenggam golok basah oleh keringat dingin.

Kali ini Nyo Sin tidak berani berebut maju ke depan, namun setelah ada dua orang yang bertindak sebagai pembuka jalan, nyali nya tumbuh kembali.

Apalagi saat itu berada dihadapan anak buahnya, kalau tidak ikut naik, jelas dia akan kehilangan muka.

Maka sambil keraskan kepala, dia memungut kembali goloknya yang tergeletak dilantai kemudian sekali lagi menaiki anak tangga.

Sebenarnya anak tangga itu cukup kokoh, namun berat badan ke tiga orang itu terhitung lumayan juga, maka begitu Nyo Sin mulai menaiki anak tangga itu, terdengarlah suara mencicit yang sangat keras.

Sebuah suara yang amat menyeramkan dan menakutkan dalam situasi seperti ini.

Biarpun Nyo Sin tahu kalau suara mencicit itu berasal dari anak tangga, tidak urung bergidik juga perasaan hatinya.

Sekarang dia kuatir anak tangga itu tidak mampu menahan bobot badan mereka hingga patah secara tiba tiba, kalau hal itu sampai terjadi, sekali lagi mereka akan menjadi buli-buli yang bergulingan diatas tanah Tentu saja dia tidak ingin kehilangan muka lagi dihadapan anak buahnya.

Untung pada saat itu Siang Huhoa sudah meninggalkan anak tangga dan mulai melangkah masuk ke dalam ruang loteng.

Cahaya yang terpancar keluar dari sebuah lentera ternyata masih cukup untuk menerangi seluruh ruangan loteng.

Kali ini cahaya lentera yang terpancar keluar tidak lagi berubah jadi hijau kemala, tidak seekor laron penghisap darah pun yang tampak di dalam ruang loteng, tampaknya rombongan makhluk aneh itu sudah terbang keluar dari tempat itu.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, terenduslah bau busuk yang makin lama semakin tajam dan kuat, sebuah bau busuk yang memuakkan, membuat orang pingin muntah rasanya.

Ternyata Siang Hu-hoa memiliki daya tahan yang luar biasa, dia tidak sampai muntah karena bau busuk yang menyengat itu, namun sekujur tubuhnya kelihatan gemetar keras.

Pemandangan yang terpampang dihadapan matanya sekarang sudah tidak mungkin dilukiskan dengan kata "Seram"

Atau "menakutkan"

Atau "ngeri"

Lagi.

Biarpun dia telah berhasil melatih sepasang mata malamnya, namun apa yang terlihat tidak sejelas apa yang terpampang dibawah cahaya lentera saat ini, ketika untuk pertama kalinya dia mendorong pintu dan berjalan masuk, yang terlihat hanya sebuah raut muka yang samar, kendatipun dia segera tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sekarang dia sudah melihat semuanya dengan sangat jelas, ternyata kejadian yang ada di depan mata tidak sesederhana apa yang dibayangkan semula.

Dibawah sinar lentera yang remang, dengan jelas dia saksikan sesosok mayat membujur kaku diatas lantai, bahkan mayat itu sudah berubah menjadi sesosok tengkorak.

Tadi dia mengatakan telah melihat sesosok tengkorak, sementara Nyo Sin bersikeras mengatakan telah melihat sesosok mayat, padahal mereka berdua sama-sama benar, hanya penjelasan diberikan kurang lengkap.

Mayat itu berada dalam posisi duduk bersila ditengah ruangan, bagian tengkuk ke bawah masih tetap berdaging tapi bagian tengkuk ke atas telah berubah menjadi sesosok tengkorak.

Tulang tengkorak yang berwarna putih memucat tampak memancarkan sinar yang amat menyeramkan.

Dibalik kelopak mata tengkorak itu sudah tidak nampak biji matanya, kelopak itu berada dalam keadaan berlubang besar, lamat lamat terlihat cahaya api yang mirip dengan api setan berkelip dari balik lubang hitam itu.

Ketika Siang Huhoa mencoba memperhatikan tengkorak itu, dia segera merasakan kedua lubang mata yang hitam diatas kepala tengkorak itu seakan akan sedang melotot pula ke arahnya.

Biarpun kelopak mata itu sudah tidak punya biji mata, namun seakan masih terdapat biji mata disitu, seakan masih bisa mengutarakan perasaan hatinya.

Dalam sekejap mata Siang Huhoa segera merasakan suatu pancaran kebencian dan dendam kesumat yang sangat kuat terpancar keluar dari balik kelopak mata yang berlubang hitam itu.

Dia bergidik, dia saksikan hidung tengkorak itupun telah berubah jadi sebuah lubang hitam yang menyeramkan, mulutnya.......

Tengkorak itu tidak bermulut tapi barisan giginya masih utuh, mulutnya dalam keadaan ternganga, seolah sedang mengucapkan kutukan atau sumpah serapa, mata yang memancarkan kebencian dipadukan dengan mulut yang seolah mengucapkan kutukan jahat......

Lidah dimulutnya juga telah lenyap, dari balik lubang mulutnya yang hitam gelap seakan memancarkan selapis uap putih yang lembut dan halus....

Jelas itulah hawa mayat!

Dibawah dagu tengkorak itu masih nampak ada sedikit daging, namun daging disitu pun sudah tidak utuh, sebab daging itu hakekatnya sudah tidak mirip daging tapi lebih mirip ubur ubur.

Hancuran daging itu bergelantungan disepanjang dagunya, daging itu sudah hancur dan membusuk, seakan pernah digigit dan dicincang oleh sekelompok makhluk bergigi tajam.

Benarkah kawanan laron penghisap darah itu selain menghisap darah manusia, juga pandai makan daging manusia?

Hanya daging, tidak ada lelehan darah, hancuran daging yang meleleh disepanjang dagu itu bukan saja bentuknya mirip ubur ubur bahkan dalam kenyataan tidak ubahnya seperti ubur-ubur, selain memancarkan cahaya yang menyeramkan, pada setiap ujung hancuran daging itu seakan terdapat setitik air yang sedang menetes jatuh....

Air mayat!

Kepala tengkorak pun terlihat basah karena cairan air mayat yang sudah membusuk, cairan busuk itu bahkan membiaskan cahaya fosfor yang berwarna putih kehijauhijauan.

Serbuk laron berwarna putih kehijau-hijauan nyaris hampir menempel diseluruh kepala tengkorak itu bahkan pakaian yang dikenakan mayat itupun penuh bertaburan serbuk laron berwarna putih kehijau hijauan.

Pakaian yang dikenakan mayat tersebut masih berada dalam keadaan utuh, namun sepasang tangannya yang muncul dari balik ujung bajunya tinggal tulang tengkorak berwarna putih pucat.

Tangan itu masih menggenggam sebilah pedang!

Ujung pedang menancap dalam dalam diatas lantai ruangan, sementara tubuh pedang melengkung bagaikan bianglala karena tenaga tekanan dari atas, rupanya jenasah itu tidak sampai roboh ke lantai karena ditunjang oleh kekuatan pedang itu.

Dalam sekilas pandangan saja Tu Siau-thian telah melihat jelas bentuk pedang itu, tidak kuasa lagi dia menjerit kaget.

Nyo Sin segera memburu masuk ke dalam ruangan, begitu memandang pedang tersebut, tidak kuasa lagi dia berseru tertahan.

"Apa benar pedang itu adalah pedang tujuh bintang pencabut nyawa miliknya?"

"Rasanya tidak mungkin salah"

Jawab Siang Huhoa. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Pedang itu sesungguhnya merupakan pedang pusaka milik keluarga Hiankicu yang diwariskan turun temurun, selama ini Hiankicu hanya mewariskan ilmunya pada satu orang, karena tidak punya keturunan maka pusaka itu dia wariskan kepada muridnya, jadi hakekatnya selain menjadi murid penutup dari Hiankicu, Jui Pakhay juga terhitung anak angkatnya"

"Sekarang kita temukan pedang itu sebagai pedang miliknya, berarti mayat itu......mayat itu juga mayatnya?"

Bisik Nyo Sin tergagap. Siang Huhoa menghela napas panjang.

"Menurut apa yang kuketahui, diatas gagang pedang itu tertera beberapa huruf yang berbunyi. Pedang utuh manusia hidup, pedang hilang manusia mati...."

"Pedang utuh manusia hidup, pedang hilang manusia mati...."

Tu Siau-thian turut menghela napas panjang. Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh.

"Selama ini dia selalu menganggap pedang tersebut melebihi nyawa sendiri, kalau dia masih hidup, tidak nanti pedangnya ditinggalkan ditempat ini, sekarang kita temukan pedang tersebut tergenggam ditangan sang mayat, sedang dia sendiri hilang tanpa jejak, ini membuktikan kalau mayat ini bukan dia lalu siapa?"

"Aku pun berpendapat begitu, apalagi......."

Tiba-tiba Tu Siau-thian menghentikan kata katanya.

"Apalagi kenapa?"

Tanya Nyo Sin.

"Pada senja hari tanggal lima belas, yaitu saat untuk terakhir kalinya aku berjumpa dengannya, pakaian yang dia kenakan waktu itu persis sama seperti pakaian yang dikenakan mayat ini"

Kali ini paras muka Siang Huhoa benar-benar berubah hebat, rupanya tadi meskipun dia berkata begitu namun dalam hati kecilnya masih menaruh setitik pengharapan kalau dugaannya meleset.

Paras muka Nyo Sin turut berubah hebat, dia pun tidak percaya kalau dikolong langit benar-benar bisa terjadi peristiwa yang begitu kebetulan.

"Kau tidak salah ingat?"

Tegurnya kemudian.

"Komandan, bila kau kurang yakin, panggil saja Tan Piau dan Yau Kun, suruh mereka ikut kenali, sebab mereka pun ikut hadir waktu itu"

"Tidak usah, aku tahu kalau daya ingatmu selalu memang bagus"

Sambil berkata, pembesar itu miringkan kepalanya dan melirik Tu Siau-thian sekejap.

Sudah cukup lama Tu Siau-thian bekerja mengikuti komandannya ini, dia pun sudah amat hapal dengan kebiasaannya, melihat tingkah laku orang tersebut diapun segera tahu kalau ada tugas yang harus dia kerjakan, maka tanyanya.

"Komandan ada perintah apa?"

"Coba dekati gagang pedang itu dan periksa, apakah betul ada ukiran tulisan yang dimaksud"

"Haaahh?"

Berubah hebat paras muka Tu Siau-thian.

Gagang pedang itu masih tergenggam oleh sepasang tangan mayat tersebut, bila ingin memeriksa ukiran tulisan diatas gagang pedangnya maka dia mesti menarik lepas dulu sepasang tangan sang mayat yang menggenggam kencang itu, tak heran kalau paras mukanya langsung berubah.

Betul mayat itu adalah mayat sahabat karibnya, betul selama dia masih hidup sudah berulang kali dia berjabatan tangan dengannya, tapi sekarang kondisi mayat itu sangat menjijikkan dan mengerikan, cukup dilihatpun sudah membuat perut mual, apalagi mesti menyentuh dan menyingkirkannya......?

Tampaknya Nyo Sin sudah mengambil ke putusan untuk memaksa Tu Siau-thian melaksanakan perintahnya, melihat keraguan anak buahnya, kembali dia menegur.

"Apakah kau kurang jelas mendengar perintahku?"

Tu Siau-thian menghela napas panjang.

"Baiklah, akan segera kulakukan"

Sahutnya terpaksa.

Sembari berkata dia alihkan sorot matanya ke atas kepala tengkorak itu, baru pertama kali ini dia benar-benar menatap kepala tengkorak tersebut.

Jilatan api berwarna hijau yang seolah memancar keluar dari balik mata tengkorak itu tampak semakin menyala tajam, tengkorak itu seakan sedang balas menatap Tu Siau-thian karena dia merasa sedang diawasi opas itu.

Rasa benci, dendam dan hawa jahat yang terpancar keluar dari mata tengkorak itu terasa makin menebal dan berat.

Hawa mayat yang menyembur keluar lewat rongga giginya pun tampak semakin menebal, dia seolah sedang peringatkan Tu Siau-thian agar tidak menyentuh jenasahnya, kalau tidak, dia akan menurunkan kutukan yang paling jahat terhadap opas itu.

Bagaimanapun beraninya Tu Siau-thian, betapa besarnya nyali orang ini, tidak urung bergidik juga perasaan hatinya setelah dihadapkan dengan suasana seperti ini.

Padahal dia sudah menjadi opas selama puluhan tahun, entah berapa banyak jenasah yang pernah disentuhnya, namun baru pertama kali ini dia merasa begitu seram, begitu takut dan ngeri untuk menyentuh mayat itu.

Tapi akhirnya dia tetap maju mendekat, baginya sekarang, tugas tersebut mustahil bisa dihindari lagi.

Semakin mendekati mayat itu bau busuk yang tersiar keluar makin tebal, dengan pengalaman Tu Siau-thian yang luas, dia segera tahu kalau kematian orang itu paling tidak sudah terjadi dua hari berselang, sebab hanya kematian selama ini akan menghasilkan bau busuk mayat seperti sekarang Padahal Jui Pakhay sudah lenyap sejak dua hari berselang, tiga hari pun belum sampai.

Pakaian yang sama dengan senjata yang sama pula, tidak bisa disangkal mayat itu adalah mayat dari Jui Pakhay.

Sekarang dia semakin percaya dengan apa yang telah dikatakan Siang Huhoa tadi.

Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki Siang Huhoa, tidak ada alasan untuk tidak bisa mengenali sebilah pedang, apalagi pemilik pedang itu adalah sahabat karibnya.

Sebagai teman karibnya, Siang Huhoa pasti sangat mengenal dengan segala kebiasaan rekannya itu, kalau dia bisa mengenali pedang itu sebagai pedang miliki Jui Pakhay, tentu saja dia pun tahu kalau diatas gagang pedangnya terukir beberapa huruf kecil.

Sekalipun begitu, menurut prosedur dia tetap harus melakukan perintah itu, maka dia tidak keberatan untuk melaksanakan titah dari Nyo Sin, satu satunya hal yang membuat dia merasa keberatan adalah tidak seharusnya perintahkan dia untuk turun tangan sendiri.

Namun dalam keadaan seperti saat ini, tentu saja dia tidak bisa protes dan tidak mungkin untuk protes, maka setelah maju ke depan, dia pun mengeluarkan sebuah saputangan lalu dibalutkan di tangan kanannya.

Dengan hidung berkerut, sorot matanya mulai dialihkan ke tangan mayat itu, sepasang matanya sengaja disipitkan, agar wajah seram dari tengkorak itu terlihat agak samar.

Untung keadaan dari sepasang tangan itu tidak terlampau mengerikan.

Dengan tangan kirinya dia cengkeram gagang pedang, tangan kanannya segera menggenggam tangan kiri mayat itu.

Walaupun sudah dilapisi dengan sapu tangan namun dia masih bisa merasakan kalau tangan yang digenggamnya hanya sekerat tulang, pada saat itulah bau busuknya mayat terendus makin berat dan tebal.

Sambil menahan diri Tu Siau-thian mencoba untuk menarik tangan itu, padahal dia sudah mengerahkan tenaga cukup besar namun usahanya untuk menarik lepas gagang pedang dari genggaman tangan mayat itu tetap tidak berhasil.

Dia mencoba untuk menarik tangan yang lain, namun hasilnya sama saja.

Sangat aneh, kenapa genggaman sepasang tangan mayat itu bisa begitu kuat?

Kenapa tangannya yang menggenggam gagang pedang susah dilepaskan.

Tapi kesemuanya ini semakin membuktikan sesuatu yakni tidak mungkin pedang itu disusupkan ke tangan mayat tersebut setelah kematian orang itu, kalau hal ini yang dilakukan, tidak mungkin tangan mayat itu bisa menggenggam gagang pedang sedemikian kencangnya.

Orang mati tidak akan menggenggam pedangnya sangat kencang, dengan perkataan lain, sewaktu orang ini menemui ajalnya, dia berada dalam kondisi menggenggam pedang itu.

Jika pedang ini benar benar adalah pedang tujuh bintang pencabut nyawa, bukankah hal ini semakin memperkuat bukti bahwa sang korban adalah Jui Pakhay?

Hanya Jui Pakhay seorang yang menganggap pedang tujuh bintang lebih berharga daripada nyawa sendiri, hanya dia seorang yang tidak akan melepaskan senjatanya sampai maut menjemput dirinya.

Bab 14.

Pedang utuh manusia mati.

Cairan mayat yang berbau busuk telah membasahi seluruh saputangannya.

Cairan mayat yang dingin, lengket berlendir serasa sudah menodai seluruh kulit badannya, perasaannya waktu itu mirip sekali dengan perasaan sewaktu memegang beberapa ekor cacing yang baru digali dari dalam tanah.....

Tu Siau-thian merasa amat bergidik, perutnya terasa amat mual, entah sudah berapa kali dia bersin, bulu kuduknya sudah bangun berdiri.

Tapi dia paksakan diri untuk menekan rasa mual, rasa seram dan rasa jijik yang mencekam perasaan hatinya, dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk merentangkan jari jemari tengkorak itu.

Jari tangan tengkorak itu menggenggam kencang, seakan sudah merasuk ke dalam gagang pedang itu.

Ketika dia membetot dengan sepenuh tenaga......."Kraak, Kraak, Kraaaak!"

Tiga buah jari tangan tengkorak itu patah seketika.

Mayat yang baru mati selama tiga hari ternyata memiliki tulang belulang yang begitu rapuh, kejadian ini sedikit diluar dugaan Tu Siau-thian.

Mengawasi ke tiga batang tulang jari yang patah dan tergenggam ditangannya, sekali lagi opas itu bergidik sambil bersin berulang kali, dia merasa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan tugasnya.

Bagaimana pun juga mayat itu adalah mayat sahabatnya, dia tidak ingin setelah sahabatnya itu mati, sukmanya akan gentayangan tanpa memiliki jari tangan lagi....

Walaupun selama ini dia tidak pernah mau percaya tentang dongeng yang mengatakan bahwa manusia setelah mati akan jadi setan gentayangan, namun setelah mengalami pelbagai peristiwa aneh selama berapa hari belakangan, keyakinan itu mulai goyah.

Kalau siluman laron pun terbukti ada, berarti setan gentayangan pun pasti ada juga, untuk sesaat dia berdiri terbelalak, tertegun bercampur kaget.

Melihat mimik muka anak buahnya itu Nyo Sin tercengang, segera tegurnya.

"Hey, apa yang terjadi?"

"Aaah, tidak apa apa"

Jawab Tu Siau-thian tanpa berpaling.

"karena kurang berhati-hati, aku telah mematahkan tiga batang tulang jarinya"

"Apakah pada gagang pedang itu kau jumpai tulisan yang dimaksud?"

Kembali Nyo Sin bertanya.

"Aku belum lagi mengambil pedang itu"

"Ooh..."

Diam-diam Tu Siau-thian menghela napas, sambil bulatkan tekad tangan kanannya segera ditekan kebawah lalu membetot ke samping, dia mengangkat paksa tangan mayat itu ke atas lalu bersamaan waktunya dia tarik pedang itu ke luar.

"Kraak, kraaaak!"

Kembali dua buah jari tangan tengkorak itu patah jadi dua, namun pedang itu berhasil direbut paksa dari genggaman tangan mayat itu.

Karena pedang yang menopang tubuhnya telah direbut paksa, tengkorak manusia itupun langsung terjungkal dan roboh ke lantai, masih untung Tu Siau-thian berhasil menyambar lengan tengkorak itu sehingga sang mayat tidak sampai terjerembab keras ke tanah.

Pada saat itulah dari balik lubang mata sang tengkorak yang berlubang itu mengucur keluar dua deret cairan mayat yang berbau sangat busuk.

Cairan itu mirip sekali dengan lelehan air mata, apakah mayat itu masih punya perasaan?

Apakah dia merasa menderita karena tulang jarinya patah?

Tu Siau-thian semakin bergidik disamping terharu dan iba, dia paksakan diri untuk membetulkan posisi mayat itu kemudian baru mundur ke belakang dan membalikkan badan, sorot matanya segera dialihkan keatas gagang pedang itu.

Benar juga, diatas gagang pedang tertera beberapa huruf kecil.

"Pedang utuh manusia hidup, pedang hancur manusia mati!"

Tidak bisa disangkal lagi, pedang ini memang pedang tujuh bintang milik Jui Pakhay, itu berarti mayat tersebut adalah mayat dari Jui Pakhay.

Dengan mata melotot besar Nyo Sin mengawasi tulisan itu, akhirnya tidak tahan dia menghela napas panjang, katanya.

"Pedang utuh manusia hidup, pedang hancur manusia mati, tapi kenyataannya sekarang, pedang utuh manusia nya justru mati!"

Siang Huhoa memandang pula gagang pedang itu sekejap, namun dia tidak berkomentar atau pun mengucapkan sesuatu pernyataan.

Nyo Sin memandang Siang Hu-hoa sekejap, tiba-tiba dia membalikkan badan dan beranjak keluar dari situ.

Baru satu langkah dia berjalan, tubuhnya telah menumbuk ditubuh seseorang, Jui Gi!

Entah sedari kapan Jui Gi ikut masuk ke dalam, sepasang matanya mengawasi mayat tersebut dengan mata mendelik, wajahnya penuh diliputi kedukaan dan amarah.

Di dalam pandangan matanya seakan hanya ada mayat tersebut, dia bahkan tidak tahu kalau Nyo Sin sedang membalikkan badan, begitu tabrakan terjadi tubuhnya kontan jatuh terpelanting ke tanah.

Tubuh Nyo Sin ikut bergetar keras, masih untung dia tidak ikut roboh.

Jui Gi tidak segera merangkak bangun, sambil berlutut dan menyembah dihadapan Nyo Sin, serunya pedih.

Nyo tayjin, kau harus mencarikan keadilan buat majikan kami!"

"Tidak usah diucapkan pun pasti akan kulakukan"

Sahut Nyo Sin setelah berhasil berdiri tegak, dengan cepat dia melampui Jui Gi dan menuruni anak tangga.

Sementara itu para jago lainnya masih menunggu di bawah, sorot mata semua orang tertuju ke pintu masuk ruang loteng, begitu Nyo Sin munculkan diri, otomatis sorot mata semua orangpun tertuju ke tubuhnya.

Sekalipun mereka tidak tahu peristiwa apa yang telah terjadi dalam ruang loteng, namun dari mimik muka Nyo Sin, mereka sadar bahwa persoalan tersebut pasti sangat serius Begitu menuruni anak tangga, Nyo Sin langsung menghampiri Gi Tiok-kun dan mengawasinya dengan mata melotot.

Sorot mata semua orang pun mengikuti gerakan tubuhnya ikut bergeser ke atas wajah perempuan itu.

Gi Tiok-kun masih berdiri mematung seperti patung pousat, wajahnya hambar tanpa perubahan apa pun.

Nyo Sin mengawasi perempuan itu berapa saat, mendadak dia menarik napas panjang dan sambil menuding bentaknya.

"Tangkap dia!"

Gi Tiok-kun nampak tertegun, kawanan opas lebih tertegun lagi, mereka tidak menyangka akan datangnya perintah tersebut sehingga untuk berapa saat semua orang hanya berdiri melongo dan tidak memberikan reaksi apapun.

"Hey, kenapa kalian semua?"

Sekali lagi Nyo Sin menghardik.

"telinga kalian sudah pada tuli? Tidak memahami maksud perkataanku?"

Seakan baru sadar dari impian kawanan opas itu serentak bergerak maju. Tan Piau dan Yau Kun saling bertukar pandangan sekejap, lalu terdengar Yau Kun berbisik ragu.

"Komandan. Kau.....kau suruh kami membekuk Jui hujin?"

"Benar!"

Jawaban Nyo Sin amat tegas.

"Tapi kesalahan apa yang telah dilakukan Jui hujin?"

Tanya Tan Piau keheranan.

"Pembunuhan!"

"Siapa yang dibunuh?"

Desak Tan Piau lebih jauh.

"Jui Pakhay!"

Tan Piau berseru tertahan dan tidak bertanya lagi, namun rasa sangsi masih menyelimuti wajahnya.

Begitu juga keadaan Yau Kun, meskipun tidak ikut menimbrung namun dia pun tidak melakukan suatu tindakan apa pun.

Seorang wanita cantik yang begitu lemah lembut, begitu halus dan begitu tidak bertenaga ternyata adalah seorang pembunuh, kejadian ini sudah sangat aneh dan sukar dipercaya apalagi orang yang dibunuh ternyata adalah seorang lelaki yang berilmu silat sangat tinggi.

Bukan hanya begitu, lelaki itu bahkan adalah suaminya sendiri, Jui Pakhay!

Karena ke dua orang itu tidak melakukan reaksi apa pun, dengan sendirinya kawanan opas yang lain pun tidak melakukan tindakan apapun Melihat anak buahnya tidak melakukan tindakan apapun, Nyo Sin jadi semakin mendongkol, teriaknya penuh amarah.

"Kenapa kalian masih berdiri termangu macam orang bodoh? Cepat tangkap dia!"

"Baik!"

Sahut Tan Piau dan Yau Kun tergagap.

Cepat mereka memberi tanda, seorang opas yang berdiri di belakang mereka segera maju menghampiri sambil menyerahkan sebuah borgol.

Setelah menerima borgol itu Yau Kun maju ke hadapan Gi Tiok-kun seraya serunya.

"Gi hujin, tolong ulurkan tanganmu!"

Gi Tiok-kun memandang borgol itu sekejap, setelah tertawa getir dia sodorkan sepasang tangannya ke depan.

Dia sama sekali tidak melawan bahkan mengucapkan sepatah kata pun tidak, tampang dan mimik mukanya saat itu terlihat amat mengenaskan, sangat kasihan.........

Yau Kun merasakan hatinya ikut remuk redam, dalam kondisi demikian bagaimana mungkin dia bisa memasangkan itu ke tangannya?

Hanya Nyo Sin seorang yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kesedihan dari perempuan itu, dengan hati sekeras baja sekali lagi dia menghardik.

"Cepat diborgol!"

Terpaksa dengan keraskan hati Yau Kun mempersiapkan borgolnya dan siap dipasangkan ke tangan Gi Tiok-kun. Saat itulah dari balik ruang loteng kedengaran seseorang berseru keras.

"Tunggu sebentar!"

Suara teriakan dari Siang Huhoa, bersamaan dengan seruan tersebut dia pun muncul dari balik ruangan.

Ternyata Yau Kun menurut sekali dengan seruannya itu, seketika dia menghentikan semua tindakannya.

Nyo Sin semakin mendongkol melihat kejadian ini, namun dia tidak memberikan reaksinya dan cuma membungkam.

Bagaimana pun juga dia masih ingat bagaimana Siang Huhoa telah menyelamatkan jiwanya ketika akan masuk ke ruang rahasia tadi, pelan-pelan dia mendongakkan kepalanya dan menatap lelaki itu tajam.

Selangkah demi selangkah Siang Huhoa berjalan menuruni anak tangga, dia langsung berjalan menuju ke samping Nyo Sin.

"Saudara Siang, apakah kau telah menemukan sesuatu yang baru diatas ruang loteng?"

Nyo Sin segera bertanya. Siang Hu-hoa menggeleng.

"Lantas kenapa kau mencegah kami untuk membekuk perempuan itu?"

Desak Nyo Sin lebih jauh.

"Sampai detik ini kita masih belum punya bukti yang menunjukkan bahwa dialah pembunuh Jui Pakhay"

"Bukankah catatan yang ditinggalkan Jui Pakhay bisa kita pakai sebagai tanda bukti?"

"Apakah kau tidak merasa kalau isi catatan itu kelewat aneh, kelewat berbau mistik dan sulit membuat orang percaya?"

"Jadi kau tidak percaya?"

"Kau percaya?"

Bukan menjawab Siang Huhoa malah balik bertanya.

"Mau tidak percaya pun rasanya tidak mungkin"

"Tapi isi catatan itu hanya merupakan kesaksian sepihak"

"Kita semua telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ada sekelompok laron penghisap darah yang terbang keluar dari ruang loteng ini, kawanan laron tersebut sedang menghisap darah Jui Pakhay diatas loteng, melalap dan memakan daging mayatnya, bukankah kita semua telah menyaksikan sendiri?"

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, sekali lagi tubuhnya bergidik hingga bersin berulang kali, rupanya dia terbayang kembali adegan mengerikan yang telah disaksikannya itu.

Meskipun para opas yang lain tidak ikut menyaksikan, tapi berdasarkan penuturan dari Nyo Sin, tak urung mereka semua ikut bergidik.

Paras muka Gi Tiok-kun yang sudah putih memucat, kini seakan bertambah pucat hingga tak ubahnya seperti wajah sesosok mayat.

Siang Huhoa tidak menjawab, dia pun tidak menyangkal, sebab apa yang diutarakan Nyo Sin memang merupakan sebuah kenyataan.

Untuk sesaat suasana didalam ruangan tercekam dalam keheningan.

Sampai lama kemudian, akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh suara Gi Tiok-kun, terdengar ia berbisik-"Benarkah apa yang kau katakan tadi?"

Pertanyaan dari Gi Tiok-kun khusus ditujukan kepada Nyo Sin, bibirnya kelihatan gemetar keras bahkan nada suaranya pun kedengaran ikut gemetar.

Ditengah keheningan yang mencekam, suara pembicaraan yang gemetar itu kedengaran seperti malayang di udara, lamat-lamat tak jelas hingga nyaris tak mirip dengan suara manusia.

Nyo Sin tidak menjawab pertanyaan itu, malah kepada Siang Hu-hoa bisiknya.

"Coba kau dengar suaranya......"

"Kenapa dengan suaranya?"

Tanya Siang Hu-hoa keheranan.

"Kau tidak merasakan sesuatu?"

Suara bisikan Nyo Sin semakin merendah. Siang Hu-hoa kembali menggeleng.

"Suaranya kedengaran sangat aneh"

Ujar Nyo Sin lebih jauh.

"seakan akan panggilan setan iblis dari sesuatu tempat, seperti jeritan sukma gentayangan yang datang dari akhirat"

"Kapan sih kau pernah mendengar suara jeritan sukma gentayangan yang datang dan akhirat?"

Tiba-tiba Siang Huhoa tertawa. Nyo Sin agak melengak, sahutnya kemudian.

"Tentu saja aku tak pernah mendengarnya"

"Lantas darimana kau bisa tahu kalau suara semacam itu mirip dengan jeritan dari sukma gentayangan?"

Seketika itu juga Nyo Sin terbungkam, tak sanggup membantah.

"Sekalipun kita mengetahui bahwa kawanan laron penghisap darah itu terbang keluar dari tempat ini, bukan berarti kawanan makhluk tersebut peliharaan dia"

Kata Siang Huhoa lebih jauh.

"Kalau bukan dia yang pelihara, lalu siapa?"

"Kalau aku sudah tahu, buat apa bertanya lagi kepadamu"

"Kalau memang tidak tahu, atas dasar apa kau merasa yakin kalau kawanan laron penghisap darah itu bukan makhluk peliharaannya?"

"Aku tidak mengatakan yakin"

"Tapi kau menghalangi perbuatan kami"

"Betul, aku berbuat demikian karena kuanggap hingga sekarang kita belum berhasil mengumpulkan bukti dan saksi yang meyakinkan, sebelum kita bisa membuktikan kalau dialah pembunuhnya, tidak pantas bila kita tangkap perempuan ini"

"Oya?"

"Bila dikemudian hari ternyata dia sama sekali tidak terlibat........."

"Tentu saja aku segera akan membebaskan dirinya"

Tukas Nyo Sin.

"Tapi tindakanmu menyangkut martabat, harga diri dan nama baik seseorang......."

"Percayalah, tindakanku ini tak akan berpengaruh banyak"

Kembali Nyo Sin menukas sembari mengidapkan tangannya.

"apalagi tindakan ini terpaksa harus kita lakukan"

"Ooh......"

"Sebab sesuai dengan prosedur dan aturan, kita memang harus bertindak begitu"

Kali ini Siang Huhoa tidak dapat berbicara lagi. Perkataan dari seorang "pembesar"

Biasanya memang merupakan sebuah peraturan, karena biarpun tidak pakai aturan pun tetap dianggap sangat beraturan, apalagi kalau sudah menyangkut masalah prosedur dan peraturan, orang awam memang tak mungkin bisa membantah lagi.

Terdengar Nyo Sm berkata lebih jauh.

"Aku rasa kau pasti tak bisa menyangkal bukan kalau pada saat ini tersangka yang paling mencurigakan adalah dirinya?"

Siang Huhoa tidak menyangkal.

"Terhadap seorang tersangka pembunuhan macam dia, bukankah pantas bila kita tangkap dan menahannya lebih dahulu?"

Kembali Nyo Sin mendesak. Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Seandainya dia sampai lolos, mungkin dosa yang akan menimpa kita semua akan jadi berat sekali. Saudara Siang, kau pasti mengerti soal ini bukan?"

"Tapi kalian toh bisa mengirim petugas untuk mengawasinya siang malam?"

"Andaikata dia benar-benar seorang siluman Laron, seandainya ia benar-benar jelmaan dari laron penghisap darah, siapa yang bisa mengawasinya?"

"Seandainya dia benar benar seorang siluman laron, seandainya dia memang jelmaan dari laron penghisap darah, biar sudah kau tangkap pun dia tetap sanggup melarikan diri"

"Kalau benar benar terjadi hal semacam ini, paling tidak kita kan bisa mempertanggung jawabkan diri?"

Bantah Nyo Sin. Siang Huhoa menghela napas panjang dan tidak melanjutkan perdebatan itu lagi, dia berjalan ke hadapan Gi Tiok-kun lalu ujarnya.

"Enso, sudah kau dengar semua pembicaraan ini?"

Gi Tiok-kun menghela napas sedih.

"Mendengar mah sudah, tapi aku tidak mengerti"

"Tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan?"

"Juga tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi disini"

Sambung Gi Tiok-kun sambil menghela napas.

"Enso benar benar tidak tahu duduknya persoalan?"

Siang Hu-hoa kembali bertanya.

"Bila kalian tidak percaya, akupun tak bisa berbuat apa apa"

"Kalau begitu secara ringkas akan kuceritakan semua kejadian yang telah terjadi disini"

Gi Tiok-kun manggut manggut. Setelah termenung sejenak, Siang Hu-hoa mulai berkisah.

"Peristiwa ini dimulai pada tanggal satu malam dan berlangsung hingga malam tanggal lima belas, hampir setiap hari setiap saat saudara Jui diteror oleh kemunculan laron penghisap darah, mengenai semua peristiwa yang dialami, dia telah membuatkan sebuah catatan yang lengkap dan membeberkannya secara detil"

Gi Tiok-kun hanya mendengarkan, sama sekali tidak komentar. Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh.

"Bila kita tinjau berdasarkan penuturannya lewat catatan tersebut, tampaknya kejadian aneh yang ditimbulkan laron penghisap darah itu memang sangat menakutkan, oleh sebab alasan inilah maka pada tanggal tujuh dia mengutus Jui Gi untuk berangkat ke perkampungan selaksa bunga dan datang mencari aku, dia minta aku datang kemari untuk menghadapi teror dari laron penghisap darah"

"Ooh... jadi selama belasan hari tidak nampak Jui Gi, rupanya dia telah berangkat ke perkampungan selaksa bunga"

"Benar! Sayangnya ketika aku tiba disini pagi tadi, saudara Jui sudah lenyap semenjak tiga hari berselang"

Kali ini Gi Tiok-kun tidak memberikan komentar. Setelah menarik napas, Siang Hu-hoa berkata lebih jauh.

"Dalam tiga hari belakangan, opas Nyo telah mengirim segenap kekuatannya untuk menggeledah seluruh kota, namun kabar berita tentang saudara Jui belum juga ditemukan, dan sekarang, hanya tempat ini yang belum diperiksa, maka kami pun mendatangi tempat ini....."

Siang Hu-hoa mengalihkan sorot matanya ke arah ruang loteng, kemudian menambahkan.

"Maksudku, di dalam ruang loteng itulah akhirnya kami berhasil menemukan jenasahnya"

"Apa benar jenasahnya?"

Tiba-tiba Gi Tiok-kun bertanya "Rasanya memang jenasahnya!"

"Kedengarannya kau sendiripun tidak yakin?"

Tanya Gi Tiokkun. Siang Huhoa tidak menyangkal.

"Aku pingin naik ke atas dan memeriksa sendiri"

Pinta Gi Tiok-kun setelah berpikir sejenak.

"Biarpun enso naik sendiri pun kau tetap tak bisa mengenalinya lagi"

"Ohh... kenapa?"

"Sebab lapisan daging dan kulit saudara Jui khususnya pada seputar batok kepalanya sudah habis dimakan kawanan laron penghisap darah itu, sekarang yang tersisa tinggal sebuah tengkorak, bahkan sepasang tangannya pun tinggal tulang belulang"

Gi Tiok-kun menjerit tertahan, paras mukanya berubah jadi pucat pias, reaksinya sangat wajar dan sama sekali tak nampak seperti dibuat-buat. Menyaksikan hal itu Siang Hu-hoa segera berpikir.

"Jangan-jangan peristiwa ini memang sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya?"

Sebaliknya Nyo Sin tertawa dingin tiada hentinya.

Gi Tiok-kun sama sekali tidak menggubris sikap Nyo Sin, dia hanya mengawasi Siang Huhoa dengan wajah tertegun.

Setelah berhasil mengendalikan emosinya, dia berkata lagi.

"Lantas atas dasar apa kalian bisa mengenali kalau mayat itu adalah mayatnya?"

"Berdasarkan pakaian yang dikenakan jenasah itu, menurut kesaksian opas Tu, pada saat malam menjelang lenyapnya saudara Jui, pakaian yang dikenakan waktu itu persis sama seperti pakaian yang dikenakan mayat ini, lagipula mayat tersebut menggenggam sebilah pedang, pedang mestika miliknya"

"Pedang tujuh bintang pencabut nyawa?"

"Betul, pedang tujuh bintang pencabut nyawa"

Sepasang mata Gi Tiok-kun mulai berkaca-kaca. Terdengar Siang Huhoa berkata lagi.

"Menurut apa yang kuketahui, pedang tujuh pedang pencabut nyawa merupakan pedang pusaka perguruannya, dia selalu menyimpan nya secara baik baik, bahkan berulang kali telah menyelamatkan jiwanya ketika terancam bahaya"

"Benar, dia pernah mengungkap persoalan ini denganku"

Gi Tiok-kun mengangguk.

"Oleh karena itu, walaupun kami tidak bisa mengenali raut muka jenasah itu, namun berdasarkan pakaian dan pedang tujuh bintang pencabut nyawa yang masih berada dalam genggamannya, kami bisa membuktikan kalau jenasah itu adalah mayat dari saudara Jui"

"Tapi apa sangkut pautnya dengan aku?"

"Di dalam catatan yang dia tinggalkan, secara lamat-lamat dia menerangkan bahwa bila terjadi sesuatu atas dirinya, besar kemungkinan enso lah pembunuhnya"

Sekali lagi Gi Tiok-kun terbelalak dengan mulut melongo, tidak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

"Terlepas apakah isi catatan itu jujur atau hanya rekayasa, sampai detik ini enso adalah satu satunya orang yang patut dicurigai"

Siang Hu-hoa menerangkan lebih jauh.

"Kenapa?"

"Ruangan kecil ini berada di bagian belakang kamar tidur, untuk mencapai ruangan tersebut orang harus melalui kamar tidur lebih dahulu, selain enso, siapa yang bisa masuk keluar tempat ini dengan leluasa?"

"Tapi ada saatnya aku pun pergi meninggalkan kamar tidur!"

"Maksudmu kemungkinan besar ada orang yang menyusup masuk ke dalam kamar tidurmu secara diam diam disaat kau sedang keluar?"

"Apakah tidak ada kemungkinan seperti ini?"

"Selama dua hari belakangan ini, kau pernah pergi ke mana saja?"

Timbrung Nyo Sin tiba tiba "Aku hanya berada disekeliling perkampungan, tidak pernah melangkah keluar dari perkampungan barang selangkah pun"

"Benarkah begitu? Baik, tidak sulit bagiku untuk memeriksa apakah kau sedang berbohong atau tidak"

Seru Nyo Sin lagi. Gi Tiok-kun tidak berbicara apa apa, dia membungkam dalam seribu basa. Dari sudut ruangan sana terdengar Tu Siau-thian berseru.

"Dalam masalah ini aku telah melakukan penyelidikan dengan seksama, di dalam dua tiga hari belakangan nyonya Jui memang tidak pernah pergi meninggalkan perkampungan"

Sementara berbicara, Tu Siau-thian telah muncul kembali dari balik ruang loteng, lanjutnya.

"Sejak terjadinya peristiwa pada malam itu, secara beruntun dalam dua hari belakangan aku selalu menugaskan orang untuk mengawasi sekeliling perkampungan, semisal ada orang membawa mayat keluar atau bergerak masuk keluar dari halaman ini, niscaya jejak mereka akan segera ketahuan"

Sesudah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.

"Betul setiap malam orang orang kita mengundurkan diri dari sini, tapi aku percaya nyonya Jui pasti tidur di dalam kamar tidurnya, sehingga kalau ada orang yang masuk secara diam-diam, rasanya sulit kemungkinannya untuk tidak membangunkan nyonya Jui"

Mau tidak mau Gi Tiok-kun mengakui juga.

"Benar, dalam dua malam terakhir tidurku memang kurang nyenyak, sehingga saban kali mau berangkat tidur, aku tidak pernah lupa untuk mengunci pintu kamarku dari dalam"

"Nah itulah dia"

Seru Tu Siau-thian.

"bila seseorang ingin memasuki ruang tidur ini, berarti dia mesti mematahkan palang pintu lebih dulu, padahal sudah kuperhatikan dengan seksama barusan, semua pintu dan jendela berada dalam keadaan utuh, jika mataku tidak bermasalah, semestinya keadaan dalam ruangan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan semula"

Tentu saja sepasang mata Tu Siau-thian tidak bermasalah. Siang Huhoa segera menyambung pula.

"Apalagi selainjenasah itu, disini pun terdapat sekelompok besar laron penghisap darah, untuk bergerak ke sana kemari, kelompok makhluk itu sangat menyolok mata, apalagi beterbangan dalam perkampungan, jelas hal ini akan mengejutkan seluruh penghuni perkampungan ini, maka............."

"Maka hal ini mungkin bisa terjadi jika sebelumnya sudah ada orang yang mengatur kesemuanya ini dan meletakkan laron laron itu di dalam ruang loteng"

Sambung Gi Tiok-kun cepat.

"Atau mereka memang benar benar jelmaan dari siluman atau setan iblis"

Siang Huhoa menambahkan.

"Kau percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat siluman atau setan iblis?"

Mendadak perempuan itu bertanya. Untuk sesaat Siang Huhoa hanya melongo, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Setelah menghela napas kembali Gi Tiok-kun berkata.

"Bukankah isu siluman atau setan iblis merupakan sebuah lelucon yang tidak lucu? Siapa sih yang mau percaya?"

Siang Huhoa, Nyo Sin maupun Tu Siau-thian berdiri melongo, untuk sesaat mereka hanya bisa tertegun.

Bukankah mereka semua sedang mencurigai Gi Tiok-kun sebagai siluman laron?

Sebagai jelmaan dari laron penghisap darah?

"Hai, seandainya bukan ulah dari bangsa siluman atau setan iblis, berarti akulah yang paling dicurigai dalam kasus pembunuhan ini"

Keluh Gi Tiok-kun sambil menghela napas.

"Sekalipun peristiwa ini ulah dari siluman atau setan iblis, tetap kau yang paling dicurigai!"

Nyaris perkataan semacam itu meluncur keluar dari mulut Nyo Sin, untung pada akhirnya dia urungkan niatnya. Dengan sorot mata yang tajam Gi Tiok-kun menatap wajah Siang Huhoa, kemudian tanyanya.

"Menurut pandanganmu, apakah aku mirip dengan manusia macam itu?"

Siang Huhoa hanya menghela napas tanpa bicara.

"Tahu orangnya, tahu wajahnya sukar untuk tahu hatinya, apalagi hati manusia lebih dalam dari lautan, darimana kami bisa melihatnya?"

Perkataan inipun nyaris meluncur keluar dari mulut Nyo Sin.

Gi Tiok-kun memandang Siang Huhoa sekejap, kemudian memandang pula ke arah Nyo Sin dan Tu Siau-thian, akhirnya setelah menghela napas dia ulurkan ke dua tangannya ke depan.

Yau Kun dengan memegang borgol hanya berdiri disamping sambil mengawasi sepasang tangan Gi Tiok-kun, ternyata dia tidak berusaha untuk memborgol tangan perempuan cantik itu.

"Borgol dia!"

Sekali lagi Nyo Sin menghardik sembari mengulapkan tangannya.

Bentakannya kali ini sudah tidak segarang tadi, maka Yau Kun mengiakan dan segera memborgol sepasang tangan Gi Tiok-kun.

Kali ini Siang Hu-hoa tidak berusaha menghalangi, hanya ujarnya.

"Persoalan separah dan seberat apa pun, cepat atau lambat akhirnya akan tiba juga saatnya untuk menjadi terang"

Gi Tiok-kun hanya tertawa pedih. Nyo Sin kembali berpikir sekejap, kemudian perintahnya kepada Tan Piau dan Yau Kun.

"Segera kalian siapkan sebuah tandu, hantar balik nyonya Jui terlebih dulu"

Agaknya pembesar inipun tidak ingin terlalu menyusahkan Gi Tiok-kun, maka dia perintahkan orang untuk menghantar perempuan itu dengan memakai tandu.

Mungkinkah pertimbangan ini dia lakukan setelah menyaksikan sikap dari Gi Tiok-kun yang siap bekerja sama?

"Baik!"

Sahut Yau Kun dan Tan Piau hampir berbareng. Sambil melangkah keluar dari ruangan, tiba-tiba Gi Tiokkun berpaling lagi memandang ke arah Nyo Sin sambil berkata.

"Apa aku boleh ikut membaca catatan itu?"

"Semua catatan tersebut telah kuperintahkan orang untuk membawanya ke kantor polisi"

"Untung sekarang pun aku akan berangkat ke kantor polisi"

Sahut Gi Tiok-kun sambil tertawa getir, bagaikan sukma gentayangan diapun melanjutkan langkahnya.

Bab 15.

Gelang terbang Pedang baja.

Memandang hingga bayangan punggung Gi Tiok-kun lenyap dari pandangan mata, kembali Siang Hu-hoa termenung tanpa bicara.

Tu Siau-thian yang selama ini hanya membungkam perlahan-lahan berjalan menghampiri Siang Hu-hoa, kemudian ujarnya.

"Kelihatannya saudara Siang masih tetap ragu dan menaruh curiga terhadap persoalan ini?"

Siang Hu-hoa mengangguk membenarkan.

"Apakah saudara Tu tidak ragu atau menaruh curiga terhadap semua yang telah kita temukan?"

Dia balik bertanya. Tu Siau-thian hanya menghela napas tanpa menjawab. Terdengar Siang Huhoa berkata lebih jauh.

"Semisalnya perempuan itu yang melakukan pembunuhan, rasanya tidak masuk diakal jika dia tetap membiarkan mayat korbannya tergeletak dalam ruang loteng"

"Mungkin saja dia tidak menyangka kalau secepat ini kita akan menggeledah tempat ini"

Sela Nyo Sin.

"Aku rasa dia bukan orang bodoh, masa tidak bisa menduga sampai ke situ?"

Kata Siang Hu-hoa. Mendadak Nyo Sin bergidik, dengan badan merinding katanya.

"Atau mungkin dia mengira kalau kawanan laron penghisap darah itu telah melalap habis mayat itu?"

Kemudian setelah bersin berulang kali, tambahnya.

"Mungkin juga dia masih merasa sayang untuk membuang mayat tersebut dan ingin melahapnya lagi..........."

"Jadi kau menuduh Gi Tiok-kun adalah siluman laron, jelmaan dari seekor laron penghisap darah?"

Tukas Siang Huhoa cepat.

"Betul!"

"Kalau persoalannya hanya begitu, kasus ini malah lebih gampang penyelesaiannya, paling tidak jawaban untuk apa yang ditulis Jui Pakhay dalam catatannya tentang peristiwa aneh yang dialaminya sejak tanggal satu bulan tiga sampai tanggal lima belas bulan tiga beserta lenyapnya jejak dia serta kemunculan jenasahnya dalam ruang loteng sudah sangat jelas sekali yakni ulah dari siluman laron atau ulah dari jelmaan laron penghisap darah, kita tidak usah lagi peras otak banting tulang untuk melacak dan melakukan penyelidikan"

"Itupun kita mesti membuktikan dulu bahwa dia memang siluman laron atau jelmaan dari laron penghisap darah"

Sambung Tu Siau-thian.

"Benar"

Kata Siang Hu-hoa.

"bila dia memang siluman laron atau jelmaan dari laron penghisap darah, cepat atau lambat dia pasti akan tunjukkan wujud aslinya, asal kita menunggu sampai dia tampil dengan wujud lain, semua urusanpun akan terungkap"

"Saat itu kita semua bakal dibuat pusing kepala"

Nyo Sin menambahkan sambil memegang kepala sendiri.

"Oleh sebab itulah sekarang kita harus membuat dua perumpamaan, ke satu seandainya Gi Tiok-kun benar-benar adalah siluman laron dan kedua bila ternyata bukan demikian kejadiannya"

"Maksudmu kita tetap harus melanjutkan penyelidikan?"

"Benar"

Siang Huhoa mengangguk.

"Tapi penyelidikan kita harus dimulai dari mana?"

Tanya Nyo Sin tiba tiba, namun begitu ucapan tersebut diutarakan, dia pun merasa amat menyesal.

Sebagai seorang komandan opas yang terkenal pintar dan punya nama besar, sama sekali tidak masuk diakal bila persoalan macam begini juga harus menanyakan kepada Siang Hu-hoa, dia seharusnya tahu dari bagian mana penyelidikan ini harus mulai dilakukan.

Tampaknya Siang Hu-hoa tidak memperhatikan akan hal itu, setelah berpikir sebentar dia berkata lagi.

"Terlepas kemungkinan mana yang akan terjadi, sekarang sudah saatnya bagi kita untuk memeriksa seseorang"

"Siapa?"

"Kwee Bok!"

"Kakak misan Gi Tiok-kun?"

"Benar, bila kita tinjau dari keterangan yang tercantum dalam catatan tersebut, bukankah dia termasuk orang yang penuh tanda tanya?"

"Diantara kalian semua, siapa yang merasa pernah kenal dengan orang ini?"

Nyo Sin segera bertepuk tangan dan bertanya kepada anak buahnya. Ada empat orang opas berdiri berjaga didepan pintu, salah seorang diantaranya segera menyahut.

"Aku kenal!"

"Apa pekerjaannya?"

"Dia adalah seorang tabib, tempat prakteknya di selatan kota, konon ilmu pertabibannya sangat hebat, hingga kini sudah banyak pasiennya yang berhasil disembuhkan"

"Kalian berempat cepat pergi mencarinya dan bawa dia kemari"

Tukas Nyo Sin cepat.

"Baik!"

Sahut tiga orang opas itu.

"Membawanya kemari?"

Salah seorang opas itu bertanya "Goblok, kau anggap tempat ini tempat apa?"

"Perpustakaan Ki po cay!"

Jawab opas itu tertegun.

"Memangnya perpustakaan Ki po cay adalah tempat untuk melakukan interogasi terhadap tersangka?"

"Bukan!"

"Jadi menurutmu tempat mana yang cocok untuk melakukan interogasi?"

"Kantor polisi!"

"Goblok, kalau begitu segera cari orang itu dan seret ke kantor polisi!"

"Baik!"

Buru-buru opas itu mengundurkan diri diikuti tiga orang rekan lainnya.

"Aku rasa ada baiknya kita pun ikut ke sana"

Tiba-tiba Siang Huhoa berkata.

"Tidak usah, mereka berempat termasuk opas yang handal, untuk menghadapi Kwee Bok seorang rasanya lebih dari cukup"

"Seandainya Kwee bok pun jelmaan dari laron penghisap darah..........."

"Ditengah hari bolong macam begini, aku percaya setan iblis tidak akan mampu mengeluarkan kesaktiannya, bukankah terbukti dengan Gi Tiok-kun tadi? Dia pun tidak mampu berbuat banyak terhadap kita"

Tukas Nyo Sin sambil tertawa. Siang Huhoa hanya tersenyum tanpa menanggapi. Kembali Nyo Sin berkata.

"Apalagi saat ini masih ada satu persoalan lain yang sedang menanti kita semua"

"Oya?"

"Sekarang Jui Pakhay sudah terbukti mati, itu berarti ke dua pucuk surat wasiat peninggalannya harus dibuka dan diperiksa isinya."

"Maksudmu sekarang juga kita harus menghadapi Ko Taysiu?"

"Bukankah diatas sampul surat wasiat itu sudah tertulis jelas, surat itu harus dibuka sendiri oleh Ko tayjin?"

Siang Huhoa mengangguk, dia memang belum melupakan hal ini.

"Siapa tahu dari dalam surat wasiatnya, kita bisa menggali lebih banyak keterangan dan petunjuk yang berharga"

Kata Nyo Sin lagi.

"Yaa, mungkin....."

Hampir berbarengan waktu mereka bertiga segera beranjak pergi dari situ, jelas mereka semua ingin secepatnya tahu apa yang sebenarnya yang ditulis Jui Pakhay didalam ke dua pucuk surat wasiatnya.

--Angin masih berhembus kencang, hujan pun masih turun dengan derasnya, kabut tebal menyelimuti sepanjang jalan raya, membuat pemandangan kabur dan suasana sepi Siang Hu-hoa, Tu Siau-thian maupun Nyo Sin merasakan pula keseriusan suasana yang mencekam perasaan mereka.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka berjalan menelusuri jalan raya, dengan wajah murung dan berat mereka meniti jalan raya itu, siapa pun tidak ingin bicara, semua orang terpekur dalam lamunan masing masing.

Saat ini mereka hanya ingin tiba di kantor polisi secepatnya, ingin segera bertemu dengan pembesar Ko dan ikut membaca isi surat wasiat peninggalan Jui Pakhay.

Sekarang mereka bertiga sudah tiba disebuah tikungan jalan, pintu gerbang kantor polisi sudah terlihat di depan mata.

Ketika mereka sedang mempercepat langkah kakinya, mendadak dari arah belakang terdengar seseorang mengejar sambil berteriak memanggil.

"Siang tayhiap! Nyo tayjin! Tu tayjin!"

Seketika Siang Hu-hoa, Nyo Sin dan Tu Siau-thian menghentikan langkahnya seraya berpaling, tapi begitu melihat siapa yang muncul, mereka bertiga segera tertegun dan berdiri melongo.

Biasanya hanya orang yang kenal akrab dengan mereka yang akan memanggil dengan cara begitu, tapi kenyataannya, orang itu terasa sangat asing bagi mereka bertiga.

Orang itu masih muda, tampan dan berpakaian sederhana.

"Kelihatannya orang ini tidak mirip anak buahmu"

Ujar Siang Huhoa sambil berpaling ke arah Nyo Sin.

"Aku malah sama sekali tidak kenal dengan orang itu"

Sahut Nyo Sin seraya menggeleng.

"Saudara Tu juga tidak kenal?"

Siang Huhoa kembali berpaling ke arah Tu Siau-thian. Dengan cepat opas Tu menggeleng.

"Kalau begitu aneh sekali"

Ujar Siang Huhoa lebih jauh.

"kalau kita semua tidak kenal dengannya, kenapa dia justru kenal dengan kita bertiga?"

"Aku malah mengira dia adalah sahabatmu"

Kata Tu Siauthian.

"Aku malah merasa asing sekali dengan orang ini"

"Oya?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, orang itu sudah menyusul tiba, sambil menghentikan langkahnya dihadapan Nyo Sin, dia berdiri dengan napas terengah-engah.

"Siapa kau?"

Dengan mata melotot Nyo Sin segera menegur.

"Siaubin adalah Kwee Bok!"

Jawab pemuda itu sambil terengah.

Untuk kesekian kalinya Nyo Sin berdiri tertegun.

Rasa heran dan tidak habis mengerti pun segera menyelimuti wajah Siang Huhoa serta Tu Siau-thian, tanpa terasa mereka berdua sama-sama mengawasi pemuda yang mengaku bernama Kwee Bok itu tanpa berkedip.

Pemuda yang bernama Kwee Bok ini tidak mirip seorang yang jahat.

Setelah sekian lama Nyo Sin mengawasi pemuda itu dengan termangu, akhirnya dia berseru keras.

"Kwee bok? Jadi kau yang bernama Kwee Bok?"

"Benar"

"Kepandaian yang hebat!"

Puji Nyo Sin tiba-tiba. Kali ini giliran Kwee Bok yang dibuat tertegun dan tidak habis mengerti. Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh.

"Keempat orang anak buahku adalah empat opas yang handal, sungguh tidak kusangka secepat itu kau berhasil merobohkan mereka semua"

"Nyo tayjin, apa yang kau maksud?"

Seru Kwee Bok keheranan. Nyo Sin tertawa dingin.

"Bagus, bagus sekali monyet kecil!"

Serunya.

"sampai sekarangpun kau masih berani berlagak pilon?"

Mendadak dia menggenggam gagang goloknya dan siap diloloskan, untung Tu Siau-thian yang berada disampingnya mengetahui hal ini dan segera menahan tangannya.

Dengan mata mendelik Nyo Sin segera berpaling ke arah Tu Siau-thian, baru saja dia hendak membentak agar melepaskan tangannya, opas itu sudah berkata duluan kepada Kwee Bok.

"Apakah kau telah bersua dengan ke empat opas yang kami kirim untuk mencarimu?"

"Tidak!"

Sahut Kwee Bok seraya menggeleng.

"Lantas kau hendak ke mana sekarang?"

Kembali Tu Siauthian bertanya "Kantor polisi"

"Mau apa pergi ke kantor polisi?"

"Apakah hendak menyerahkan diri?"

Timbrung Nyo Sin "Menyerahkan diri?"

Kwee Bok tertegun.

"Yaa atau tidak?"

Desak Nyo Sin lebih jauh.

Tampaknya Kwee Bok tidak habis mengerti dengan pertanyaan itu, dia berdiri dengan wajah tercengang, bingung dan tidak tahu apa yang mesti dijawab.

Baru saja Nyo Sin akan mendesak lebih jauh, kembali Tu Siau-thian menarik tangannya sembari berkata.

"Lebih baik kita dengarkan dulu penjelasannya"

Nyo Sin mendengus dingin dan terpaksa membungkam diri.

"Ada urusan apa kau datangi kantor polisi?"

Tanya Tu Siauthian kemudian.

"Tadi kakek Gi datang ke kantor praktekku di selatan kota, mengabarkan kalau kalian telah membawa piaumoay ku ke kantor polisi, maka aku segera menyusul kemari untuk mencari tahu apa masalahnya"

"Jadi kau adalah piauko nya Gi Tiok-kun?"

"Benar"

"Lalu apa pula hubungan kakek Gi dengan Gi Tiok-kun?"

"Dia adalah salah satu famili jauh adik misanku, orangnya sudah tua dan sangat miskin, karena kasihan melihat kondisinya maka sejak dua tahun terakhir piaumoay menerimanya di rumah dan dipekerjakan sebagai salah satu pembantunya"

"Apa lagi yang dia katakan kepadamu?"

"Beritahu kepadaku apa alasan kalian menangkap piaumoay ku"

"Berapa usia kakek Gi?"

Tanya Tu Siau-thian lebih jauh.

"Enam puluh tahun lebih"

"Enam puluh tahun?"

Kembali Nyo Sin menimbrung.

"Usia yang pasti tidak terlalu jelas"

Kontan Nyo Sin tertawa dingin.

"Hmmm, heran, usianya sudah tua ternyata telinganya masih tajam dan larinya masih cepat, belum lagi ke empat orang anak buahku tiba, ia sudah tiba duluan"

"Menurut penuturannya, kenapa kami menangkap Gi Tiokkun?"

Kembali Tu Siau-thian bertanya.

"Konon dia ditangkap karenakalian menuduhnya sebagai pembunuh Jui Pakhay"

"Tepat sekali!"

"Tidak mungkin!"

Teriak Kwee Bok lantang.

"dia bukan manusia type begitu, mana mungkin dia adalah seorang pembunuh, apalagi pembunuh suami sendiri?"

"Benar atau tidak percuma diperdebatkan sekarang, lebih baik kita tunggu semua bukti sudah terkumpul karena sampai sekarang pun kami belum yakin seratus persen"

"Kalau memang belum yakin, kenapa dia tetap ditangkap?"

"Sebab dialah satu satunya orang yang paling mungkin jadi pembunuh berdarah itu"

"Jadi kalian utus orang untuk memanggilku karena menganggap akupun patut dicurigai sebagai salah satu pembunuhnya?"

Tu Siau-thian mengangguk membenarkan.

"Atas dasar apa kalian menuduh aku?"

Protes Kwee Bok. Baru saja Tu Siau-thian hendak menjawab, mendadak Nyo Sin bertanya pula.

"Darimana kau bisa mengenali kami?"

"Rasanya tidak banyak orang disini yang tidak kenal dengan tayjin berdua"

"Tapi aku tidak kenal kau"

Kwee Bok tertawa getir.

"Aku ini manusia macam apa, tentu saja Nyo tayjin tidak bakal kenal aku. Seperti juga penduduk kota ini jarang yang pernah bersua dengan Ko tayjin, tapi hampir setiap kepala tahu akan nama besar Ko tayjin, sebaliknya Ko tayjin sendiri belum tentu akan mengetahui penduduk kota ini, jangan lagi namanya, bagaimana bentuk mukanya pun tidak bakal tahu"

Dalam hati kecilnya Nyo Sin merasa senang sekali dengan pujian itu, tapi dengan lagak sok keren kembali ia menegur.

"Baru pertama kali ini Siang tayhiap berkunjung kemari, darimana kau bisa mengenalinya?"

"Kakek Gi yang beritahu kepadaku, katanya Jui Gi telah pulang bersama seorang pendekar besar yang dipanggil Siang tayhiap!"

Jawab Kwee Bok tenang.

"Kalau hanya mendengar kata orang, kenapa kau bisa mengenali bahkan berteriak memanggil meski masih berada dikejauhan?"

"Sebab kakek Gi telah melukiskan bentuk badan dan bentuk wajah Siang tayhiap"

"Apalagi yang dia katakan kepadamu?"

Smdir Nyo Sin sambil tertawa dingin.

"Tidak ada lagi"

"Tapi suara panggilanmu tadi kedengaran begitu kenal dengan hangat"

"Biarpun baru pertama kali ini kami bersua, namun sebelumnya aku sudah kerapkali mendengar orang menyinggung tentang nama besar Siang tayhiap"

"Siapa yang pernah membicarakan masalah ini?"

Tanya Nyo Sin.

"Pasien yang datang berobat, aku tidak pernah berkelana di dalam dunia persilatan tapi pasien yang datang mencariku banyak sekali merupakan anggota dunia persilatan"

"Oya?"

"Dari penuturan mereka, sudah lama aku tahu manusia macam apakah Siang tayhiap ini, asal Siang tayhiap mau tampilkan diri niscaya segala masalah akan menjadi beres dan tuntas"

Nyo Sin mendengus tidak senang hati.

"Maksudmu, kalau kami yang selesaikan persoalan ini maka penyelesaiannya tidak beres dan tidak tuntas?"

Serunya.

"Aku tidak pernah berkata begitu"

"Tapi dalam hati kecilmu kau berpendapat demikian bukan?"

"Tidak berani!"

"Kau anggap kami sudah salah menangkap, salah menuduh Gi Tiok-kun?"

Kembali Nyo Sin bertanya.

"Salah menuduh atau tidak persis seperti apa yang telah dikatakan Tu tayjin tadi, harus menunggu pembuktian serta lengkapnya penyelidikan, tapi berbicara dari sudut pandangku, sampai detik terakhir pun aku tetap beranggapan bahwa piaumoay ku bukanlah manusia semacam itu!"

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Kwee Bok tertawa getir.

"Aku? Hingga detik inipun aku masih belum tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi"

"Hmmm, kalau didengar dari nada pembicaraanmu, seakan kau benar-benar tidak tahu"

"Tapi di dalam kenyataan aku memang tidak tahu"

Nyo Sin tertawa dingin, hanya tertawa dingin. Siang Huhoa yang selama ini hanya membungkam, mendadak memecahkan keheningan dengan bertanya kepada Kwee Bok.

"Tanggal dua belas bulan tiga hari itu, benarkah kau telah terkunjung ke perpustakaan Ki po cay?"

"Benar!"

Baca Juga: Antara Budi Dan Cinta 7

Baca Juga: Golok Bulan Sabit 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert