Eps 8 Golok Bulan Sabit - Khu Lung
Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung
Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.
Tapi bila dia mesti bertarung dengan tangan kosong, dia pun merasa tak mampu untuk menghadapi si lelaki bertenaga besar itu.
Lama sekali dia berdiri termenung.
"Lama"
Hanya berlaku bagi perasaannya, juga perasaan para penonton yang berada di sekitar sana, mereka semua megganggap lama sekali, namun didalam kenyataan, hal mana tidak berlangsung kelewat lama.
Cia sianseng berpaling melongok ke dalam perkampungan, ternyata Cia siau giok belum juga menampakkan diri.
Hal ini berarti dia harus bertahan lebih jauh, bertahan sambil mengeraskan kepalanya.
Oleh sebab itu dia lantas menggapai ke arah Ah ku sambil berseru lantang.
""Hei, kau turun kemari."
Ah ku menurut sekali, dia segera melompat turun dan berdiri dihadapannya persis seperti malaikat langit.
perawakan tubuh mereka kalau dibandingkan, Cia sianseng merasa kalah separuh.
Cia sianseng sama sekali tidak kuatir, dengan perawakan tubuhnya yang besar, yang ditakuti adalah tenaganya, maka begitu dia tampil segera tegurnya.
"Barusan, Kau yang telah menghadiahkan sebuah ayunan cambuk kepadaku..."
Ah ku tidak menggubris ucapan itu, sebab Ah ku tak punya lidah, tak dapat berbicara.
Tapi Ah ku mempunyai cara untuk menyampaikan maksud hatinya, dia memberi suatu gerakan tangan kepada Siau hiang, lucu sekali gerakannya seperti anjing yang sedang merangkak.
Cia sianseng tak tahan ingin tertawa, ucapan Siau hiang kemudian membuat tertawanya hampir saja berubah menjadi tangisan.
Siau hiang berkata begini.
"Dia tidak menghajarmu, hanya menghajar seekor anjing, dia menganggap seorang lelaki yang menyergap seorang anak gadis tanpa mengucapkan sepatah katapun merupakan perbuatan dari seekor anjing yang tak punya otak!"
Cia sianseng berusaha dengan sekuat tenaga untuk menenangkan hatinya, tapi dia toh masih tak tahan juga untuk berteriak keras.
"Omong kosong ngaco belo, aku toh sudah memberi peringatan lebih dahulu kepadamu"
Siau hiang tertawa.
"Benar, kau memang mengatakan hendak memberi pelajaran kepadaku ...."
"Lantas mengapa menuduh aku melancarkan sergapan?"
""Aku kan sudah memberitahukan kepadamu, aku tidak mengetahui bagaimakah peraturan dari Sin kiam san ceng kalian memberi pelajaran kepada orang, sekalipun menurut peraturan dari Sin kiam san ceng kalian memberi pelajaran berarti menghantam dengan tangan, paling tidak kau toh mesti memberitahukan hal tersebut kepadaku lebih dulu sebelam turun tangan"
"Aku tak pernah memberitahukan kepada orang lain bila aku hendak menanya, begitu pula keadaannya disini, mengapa aku harus memberikan perbedaan kepadamu?"
Kata Cia sianseng dingin.
Siau hiang segera tertawa.
Itulah sebabnya kau baru mendapat cambukan, selamanya bila paman Ah ku hendak mencambuk anjing, diapun tak pernah memberitahukan dulu kepada si anjing kalai dia hendak menghajarnya"
Sekali lagi Cia sianseng memandang ke arah kereta, melihat keadaan dalam kereta, tetap tenang, dia baru mengambil keputusan didalam hati, ujarnya kepada Ah ku.
"Kau sanggup mencambukku, hal ini menunjukkan kalau kepandaianmu lumayan sekali dan pantas bagiku untuk meloloskan pedang, apakah cambuk itu merupakan senjata andalanmu?"
Ah ku melemparkan cambuknya ke samping, gagang cambuk tersebut secara otomatis menancap kembali dalam lubang tempat cambuk di atas kereta, selain jitu pun mantap, jelas bisa diketahui kalau dia sudah amat sempurna dalam mengendalikan tenaga, lagi-lagi Cia sianseng merasa terkejut dengan dilemparnya cambuk Ah ku ke tempat semula, hal ini berarti dia hendak bertarung menggunakan tangan kosong belaka dan tak ingin tertipu.
"Rupanya kau tidak mempergunakan cambuk, baiklah terserah kau hendak mempergunakan senjata apa saja, bile kau tak punya, aku akan menyuruh orang untuk mengambilkan bagimu!"
Cia sianseng yang pintar, tentu saja enggan melakukan perbuatan bodoh, oleh sebab itu dia ingin menyumbat lawan dengan kata-kata tersebut agar lawannya terpaksa mengguna-kan senjata.
Sayang sekali, Cia sianseng yang pintar kali ini telah melakukan suatu perbuatan yang tidak pintar.
Dia mengira dalam perkampungan Sin kiam san ceng dewasa ini hampir terdapat setiap macam senjata yang dipakai orang di dunia ini, sekalipun tak akan ditemukan dalam rak senjata diluar sana, dalam gudang rahasia mereka pasti akan didapatkan.
Dahulu Pek Siau seng pernah membuat kitab senjata yang mencantumkan pelbagai macam senjata di dunia ini menurut urutan nya, meski yang diurutkan adalah senjatanya tapi dalam kenyataan orangnya yang diatur menurut urutan.
Dalam kita senjata mana, senjata yang dicantumkan pada urutan pertama adalah senjata tongkat thian ki-pang milik Thian-ki lojin.
Kedua adalah gelang Liong Hong huan milik Sangkoan Kim lui, sedang ketiga adalah pisau terbang milik Siau li tham hoa Li Sin huan .......
Berhubung yang diurut adalah senjata nya, maka selama ini urutan tersebut, dianggap paling adil, kendatipun Thian ki lojin serta Sangkoan Kim Jin akhirnya tewas di ujung pisau terbang Siau li tham hoa.
Hal ini bisa terjadi karena watak manusianya, Li Sin huan telah berhasil membawa dirinya ke suatu keadaan yang mendekati sempurna, apalagi pisau terbangnya dipakai untuk menolong orang, dalam benaknya sama sekali tiada hawa napsu untuk membunuh.
Oleh sebab itu, pisau terbangnya tak mampu melebihi tongkat Tiang Ki pang serta pedang Liong hong huan, tapi kedua orang pemilik senjata tersebut justru tewas di ujung pisau terbangnya.
Peristiwa ini telah berlangsung lama sekali, sudah berlangsung beberapa generasi berselang sehingga ceritanya sudah dianggap orang sebagai dongeng saja.
Tapi Cia Sianseng tak pernah menganggap kejadian itu sebagai dongeng, dia bersama Cia Siau giok mempunyai sesuatu kegemaran yang sama, kegemarannya itu sudah dimulai dari tubuh Cia Siau hong.
Kegemaran itu adalah mengumpulkan senjata tajam yang pernah dipergunakan orang, terutama sekali senjata aneh yang tercantum dalam kitab senjata.
Semasa masih muda dulu, Cia Siau hong juga pernah terkena penyakit itu, mengumpulkan pelbagai macam macam senjata antik.
Kemudian setelah Cia Siau hong mulai jemu dengan kegemarannya itu, Cia sianseng meneruskan kegemarannya ini.
Pengumpulan benda-benda antik yang tak pernah akan berkurang ini tentu saja membuat benda yang terkumpul makin lama semakin banyak, tapi benda-benda itu baru lebih banyak jumlahnya setelah Cia siau giok terjun pula dalam kegemaran ini.
Sebab dia membawa tongkat Thian ki-pang, sepasang martil Hong hu siang liu seng dan tombak baja serta tangan baja milik Lu Hong sian.
Berhubung dalam urutan senjata tersebut Lu Hong sian diletakan pada urutan dibawah pedang bajanya Kwik siong yang, dalam marahnya dia membuang tombak baja kesayangannya dan khusus melatih tangan nya agar lebih keras dari pada baja.
Sayang sekali Pek Siau seng keburu mati sehingga tangan bajanya itu tak sempat dicantumkan dalam urutan nama, meski demikian ia tak kecewa, dengan tangan bajanya itu dia sanggup menangkan Kwik Siong yang menempati urutan ke empat.
Kini dalam perkampungan Sin kiam san ceng telah berhasil mengumpulkan tujuh delapan puluh persen dari senjata yang tercantum dalam kitab senjata itu.
Tongkat Thian ki pang maupun gelang liong hong huan tentu saja terdapat diantaranya, yang belum mereka temukan tinggal pisau terbangnye si Siau li tham hoa dan pedang bajanya Siong yang thi kiam.
Walau pun setelah mengundurkan diri dari dunia persilatan, Li Tham hoa masih sering melakukan perbuatan besar yang menggemparkan kolong langit, tapi tak seorangpun yang tahu dimanakah dia menetap.
Pisau terbang miliknya pun turut bersama jejaknya lenyap tak berbekas, dalam dunia persilatan hanya tertinggal kisah-kisah cerita tentang kegagahannya belaka.
Pedang baja milik Kwik Siong yang tersimpan dalam gedung keluarga Kwik, suatu keluarga persilatan yang dihormati setiap orang, anak muridnya banyak, ilmu pedangnya lihay, pendidikan keluarga mereka pun sangat baik, tidak suka mencari gara-gara dengan orang lain.
Bila mereka tidak menggangu orang, tentu saja orang pun tak berani mengganggu mereka, sebab leluhur mereka adalah sahabat karib Li Tham hoa, semasa masih hidupnya dulu dan telah mempersembahkan nyawanya untuk Li Sin huan.
Li Sin huan selalu merasa bersalah kepadanya, terhadap keturunannya otomatis memberikan perhatian yang khusus, bahkan tanggung jawab ini selalu diwariskan turun temurun kepada para ahli warisnya.
Setelah Li Sin huan, hanya seorang ahli warisnya yang bernama Yap Kay pernah menerima budi kebaikan dari keluarga Kwik, oleh sebab itu hutang budi dari pihak Li Sin huan pun semakin bertambah mendalam.
Setelah Yap kay, tiada orang yang tahu siapakah ahli waris selanjutnya, tapi siapa pun tidak berani mengatakan kalau mereka tak punya ahli waris.
Sebab dalam dunia persilatan sering kali masih banyak terjadi kisah-kisah yang aneh.
Banyak persoalan yang amat rahasia, mendadak terungkap sama sekali hingga diketahui tiap orang.
Manusia yang paling sukar dihadapi, tahu-tahu kehilangan batok kepalanya dengan begitu saja.
Banyak pekerjaan yang sukar di selesaikan, tiba-tiba saja telah dikerjakan orang secara diamdiam hingga selesai.
Siapapun tidak tahu siapakah yang telah melakukan perbuatan tersebut, cara kerja mereka selalu bersih tanpa meninggalkan jejak, ibarat naga sakti yang tampak kepala tidak nampak ekornya, kelihayan ilmu silat orang itu hampir boleh dibilang tiada taranya lagi didunia ini.
Semua orang percaya kalau perbuatan tersebut dilakukan oleh ahli waris dari Siau li si pisau terbang, Yap Kay atau Poh Hong soat, sedang orang-orang itupun mempunyai hubungan yang erat sekali dengan orang-orang dari keluarga Kwik.
Oleh sebab itu tiada orang yang berani mencari gara-gara dengan keluarga Kwik, bahkan semasa jayanya Cia Siau hong pun, dia tak pernah mencari gara-gara dengan keluarga Kwik.
Pedang Siong yang kiam dianggap sebagai senjata suci oleh keturunan keluarga Kwik, pedang itu dihantar pulang oleh Li Sin huan bersama-sama dengan jensahnya.
Bahkan selama tiga bulan lamanya, Li Tham hoa telah berkabung ditempat itu.
Pihak perkampungan Sin kiam san ceng pun tak berani meminta pedang baja tersebut, sebab Cia Siau hong pasti akan menampik untuk berbuat demikian.
Cia Sianseng telah berbicara sesumbar, namun Ah ku tetap membungkam, Siau hiang yang mewakilinya berbicara.
"Paman Ah ku tak akan mempergunakan senjata apapun, tapi dia paling berharap kalau bisa mempergunakan sejenak pisau terbang milik Li Sin huan!"
Sudan jelas pihak lawan berniat untuk mencari gara-gara, maka dengan terus terang Cia sianseng menjawab.
"Benda itu tak mampu kami keluarkan dan aku percaya bukan hanya pihak kami saja, di kolong langit belum pernah ada orang yang sanggup memperlihatkan pisau terbang tersebut"
Perkataan itu tak akan disalahkan oleh siapapun, cuma sayang justru karena ucapan Cia sianseng tersebut persoalan segera muncul.
Sambil tertawa cekikikan Siau hiang merogoh ke sakunya dan mengeluarkan sebilah pisau terbang yang amat tipis, setelah di perlihatkan sebentar kepada semua orang dengan cepat dia menyimpannya kembali, lalu ujarnya sambil tertawa.
"Walaupun ilmu melepas pisau terbang dari Siau li hui to sudah menjadi suatu kepandaian yang sangat hebat, namun pisau terbang miliknya masih tetap ada di dunia ini, padahal pisau ini pun bukan suatu benda yang luar biasa"
"Mencorong sinar tajam dari balik mata Cia sianseng, cepat-cepat dia bertanya. Apakah pisau yang berada ditangan nona benar-benar merupakan pisau terbang yang pernah digunakan Li Sin huan dahulu?"
"Tanggung asli!"
Sungguh membuat orang tidak habis percaya.
Sekalipun pisau terbang yang pernah digunakan Siau li tham hoa kebanyakan di tarik kembali, tapi ada juga yang tak bisa diambil kembali karena keadaan, benda tersebut bukan cuma satu saja yang kemudian beredar dalam dunia, cuma pemiliknya sering menyimpan benda tersebut bagaikan mestika, tak mungkin akan diperlihatkan kepada siapa pun dengan begitu saja!"
Cia Sianseng menjadi sangat terperanjat sesudah mendengar ucapan itu, segera tanyanya.
"Nona, darimana kau dapatkan pisau itu? Aku tahu sudah pasti leluhurmu yang mewariskan kepadamu, sebab Li Tham hoa sudah lama meninggal, mustahil dia sendiri yang menghadiahkan untukmu!"
Pertanyaan dari Cia sianseng, tentu saja Siau hiang berhak untuk membungkam, tapi ia bertanya dengan begitu sungkan, hal ini membuat si none menjadi serba salah. Terdengar Cia sianseng berkata lagi.
"Nona, sepanjang hidupnya Li Tham hoa adalah seorang pendekar yang berjiwa besar dan terbuka, setiap orang mengetahui tentang semua persoalannya, kecuali pisau terbang itu kau dapatkan dengan cara mencuri kalau tidak, kau seharuinya tak perlu kuatir untuk mengutarakannya keluar! Akhirnya Siau hiang menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu menjawab pelan.
"Pisau terbang itu bukan kudapatkan dari mencuri, pisau terbang itu pun tak akan mendatangkan kegagahan apa-apa bagiku, Li Tham hoa sendiri yang menghadiahkan pisau itu buat kakekku, dia pun telah mewariskan ilmu pisau terbang tersebut kepada kakekku"
Semua orang merasa terperanjat setelah mendengar ucapan itu, cepat-cepat Cia sianseng bertanya.
"Jadi kau pun bisa?"
Dengan cepat Siau hiang menggeleng.
"Tidak, meskipun Li Tham hoa mewariskan ilmu pisau terbangnya kepada kakekku, nanun hal ini diketahui oleh kong co ku, seketika itu juga otot dari sepasang tangan kakekku dibetot keluar, membuat dia tak mampu mempergunakan ilmu tersebut lagi untuk selamanya"
"Tapi mengapa begitu? apakab keluarga mu ada perselisihan dengan Li Tham hoa"!"
Siau-hiang tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya berkata.
"Aku she Liong bernama Liong Than hiang"
"Kalau begitu kong co mu itu pasti bernama Liong Keh im?"
Sambung Cia sianseng cepat. Dengan sedih Siau hiang manggut-manggut kemudian setelah menghela napas kata nya lagi.
"Kong co ku bermusuhan dengan Li Sin huan hampir sepanjang jaman, tapi dia sendiripun harus merasakan penderitaan sepanjang masa, ilmusilat dari kong co ku dipunahkan oleh Li Sin huan sehingga dia membencinya sampai merasuk ke tulang sum-sum, tapi semuanya itu bukan rasa benci yang sebenarnya, mereka mencelakai diri sendiri dan lebih banyak dari pada mencelakai orang lain!"
"Aku tahu, siapa pun mengira Li Sin huan telah dicelakai oleh keluargamu, siapapun mengira Liong Siau im kelewat banyak menerima balas budi dari Li Sin huan dan ber hutang kelewat banyak kepadanya, hanya aku yang menganggap Li Tham hoa telah ber hutang budi kepada keluarga Liong, karena dia telah memberikan penderitaan sepanjang hidup untuk Liong Siau im!"
Kembali Siau hiang manggut-manggut.
Benar Li tham hoa sendiripun memahami akan hal ini, sewaktu dia mengajarkan ilmu pisau terbang kepada kakekku diapun pernah berkata demikian, dia bilang ia telah berbuat salah, menyerahkan mak co ku untuk Kong co ku pun merupakan suatu perbuatan salah yang besar baginya, peristiwa tersebut bukan saja membuat mereka bertiga menderita sepanjang hidup, juga mengakibatkan banyak orang terseret didalam persoalan tersebut""
Setelah berhenti sejenak, dengan suara yang agak emosi dia meneruskan.
"Terutama sekali keluargaku sampai akhirnya selalu hidup dalam penderitaan, orang lain yang mengetahui kalau keluarga kami adalah keturunan Liong siau im, sama-sama memandang hina kepada kami, justru karena alasan itulah Li Sin huan mengajarkan rahasia ilmu pisau terbang kepada kakekku, maksudnya agar dia menjadi tenar dan hebat, tapi soal ini diketahui kong co ku dan dihalangi olehnya....."
"Kongco mu memang berbuat agak kelewat batas"
Komentar Cia sianseng.
"sekali pun dia punya perselisihan dengan Li Tham hoa dimasa lampau, kalau toh hendak menghalangi kakekmu, dia toh bisa menghalangi dengan cara lain, buat apa mesti memunahkan ilmu silatnya?"
"Yang memunahkan sepasang tangan tangan kakekku adalah Mak co ku!"
Sekali lagi semua orang merasa terperanjat bahkan Cia sianseng pun ikut menjerit kaget.
"Apakah mak co mu itu adalah Lim Si in yang pernah disebut perempuan paling cantik dalam dunia persilatan?"
"Benar"
Sahut Siau hiang bangga.
"aku percaya didalam dunia persilatan dewasa ini belum pernah ada perempuan ke dua yang sukar dilupakan orang seperti dirinya! Cia sianseng tidak mengumpak tentang soal itu, hanya ujarnya kemudian.
"Dia adalah kekasih hati Li sin huan, mengapa bisa membenci Li sin huan?"
"Dia bukan membenci Li Sin huan"
Sahut Siau hiang bangga.
"dia hanya menyatakan posisinya saja dalam peristiwa itu, karena dia adalah istri Liong Siau im, ibu Liong Ken im, sekali pun semua orang tidak memandang sebelah matapun kepada kong co ku, dia tetap merasa bangga bagi suaminya, anak keturunan keluarga Liong tidak membutuh-kan perlindungan dari Li Tham hoa"
"Apakah Li sin huan mengetahui akan hal ini? Tentu saja tahu, sebab waktu itu Li Tham hoa hadir pula disana, sebetulnya dia masih memohon ampun untuk kakekku, tapi setelah mendengar ucapan dari mak co ku, dia segera berlalu dengan hati sedih, konon semenjak peristiwa itulah dia mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan?"
Cia sianseng menghela napas panjang. Mereka semua adalah manusia-manusia aneh, tapi tak bisa disangkal lagi, mereka semua pun merupakan manusia-manusia yang amat berperasaan"
Katanya.
Siau hiang tidak berbicara lagi, sorot matanya menatap wajah Cia sianseng tajam-tajam, ketika dilihatnya sorot mata orang itu masih saja memperhatikan sakunya, sambil tertawa tiba-tiba ujarnya.
Tentunya kau sangat berharap bisa mendapatkan pisau terbang ini bukan..?
Dengan agak rikuh Cia sianseng menyahut.
"Nona kau tahu kalau perkampungan kami mempunyai kegemaran mengumpulkan senjata tajam milik orang-orang kenamaan, dan hingga kini masih kekurangan beberapa macam diantaranya..."
Kalau begitu seandainya aku bersedia memberikan pisau terbang ini kepada kalian, sudah pasti kau tak akan menampiknya?"
Kata Siau hiang sambil tertawa. Buru-buru Cia sianseng menyahut. Tentu saja, tentu saja, bila nona bersedia memberikan benda itu kepadaku, syarat apa pun pasti akan kuterima!"
Sebenarnya dia adalah seorang yang berpengalaman luas, tapi berhubung menjumpai suatu persoalan yang sangat menggembirakan hatinya, dia berubah menjadi sedikit agak kekanakkanakan, sampai akhirnya dia baru merasa kalau pihak lawan tak nanti akan lepas tangan dengan begitu saja, maka wajahnya kembali berubah menjadi amat sedih.
Jumlah pisau terbang yang ditinggalkan Li Tham hoa dalam dunia persilatan paling banyak, karena benda itu menyerupai senjata, tapi bisa dipakai juga sebagai senjata rahasia, tidak seperti senjata orang lain, jumlahnya hanya sebuah dan tak mungkin berpisah-pisah.
Tapi pisau terbang milik Li Sin huan justru paling sukar ditemukan, karena semua orang menganggap dia sebagai malaikat, tentu saja setiap orang yang merasa punya sedikit hubungan dengan Li Tham hoa akan merasa bangga akan hal itu, tak heran kalau mereka pun tak suka menyerahkan tanda bukti itu kepada orang lain.
Sudah barang tentu jumlah pisau terbang yang tertinggal di dunia pun tidak banyak jumlahnya, sebab pisau itu mempunyai bentuk yang istimewa, jauh berbeda dengan pisau biasa.
Dari dalam sakunya Siau hiang mengeluarkan pisau terbang itu, kemudian ujarnya lagi.
"Mungkin saja pisau ini akan dianggap sebagai mestika dalam pandangan orang lain, tapi ditangan kami keturunan dari keluarga Liong, benda tersebut tidak terhitung sebe-rapa, aku bersedia memberikan kepadamu tanpa syarat"
Untuk sesaat lamanya, Cia sianseng masih mengira dirinya sedang bermimpi, dengan menggunakan nada suara yang sukar untuk percaya dia berkata.
"Kau hendak menghadiahkan kepadaku?"
""Benar"
Sahut Siau hiang sambil tertawa "akan kuserahkan pisau itu kepada Ah Ku agar dia yang menimpuknya kedepan, asal kau mampu menerima sambitannya, pisau terbang itu akan menjadi milikmu ...."
Paras muka Cia sianseng berubah hebat.
"Sambitan pisau terbang Siau li, tak pernah meleset dari sasaran"
Ucapan mana telah beredar sejak ratusan tahun berselang, belum pernah ada orang yang meragukan kebenarannya.
Berhadapan dengan senjata tajam yang tiada keduanya di dunia ini.
Cia sianseng benar-benar tidak mempunyai keberanian untuk menyambutnya ...
Hanya sayang, dia sendiri yang mencabut pedang dan menantang orang lebih dahulu.
Hanya sayang dia adalah congkoan dari perkampungan Sin kiam san ceng, sedang sekarang dia berada dalam perkampungan Sin kiam san ceng, dihadapan anak buahnya yang begitu banyak.
Sekalipun Cia sianseng takut mati, dia pun tak bisa menampik dengat begitu saja.
Apalagi Siau hiang telah menyerahkan pisau terbang tersebut ke tangan Ah ku, telapak tangan Ah ku yang begitu memegang pisau itu maka pisau berikut gagangnya segera tergenggam dalam telapak tangan nya dan tidak nampak sama sekali.
Tangan Ah ku pun sudah mengenakan sarung kuku, sarung kuku yang membawa ujung kuku yang tajam, kini dia sudah ditunggu, sekalipun dia tak mau turun tangan, Ah ku juga tak akan melepaskannya dengan begitu saja.
Maka pedang yang berada ditangan digetarkan kencang, kemudian dengan gerakan lurus menusuk ke muka.
diujung pedangnya sama sekali tidak disertai jurus kembangan, akan tetapi dibalik serangan mana justru mencakup suatu kekuatan yang luar biasa.
Orang-orang yang berada disekeliling arena segera terasa digetarkan oleh jurus serangan tersebut, sekalipun mereka berdiri agak jauh dari arena, akan tetapi serasa orang dapat merasakan hawa pedang yang menyayat badan, memancarkan ke empat penjuru, sehingga tanpa terasa mereka mundur ke belakang.
Ah ku tentu saja merasakan daya tekanan yang jauh lebih dahsyat dari pada orang lain, tapi cara Ah ku untuk mematahkan serangan ini ternyata sama sekali tak diduga oleh siapa pun.
Dia mengalungkan kepalannya dan langsung menghantam persis diujung pedang tersebut.
Menghadapi jurus serangan seperti ini, paras muka Cia sianseng segera berubah hebat.
Selama ini, Ah ku baru satu kali mendemontrasikan kepandaiannya dalam perkampungan Sin kiam san ceng, yakni ketika berada di muka Cong kiam lu untuk menghadapi empat orang budak pedang.
Didalam pertarungan tersebut dia hanya mempergunakan satu jurus serangan, yakni sambil maju kedepan, menyambut tusukan gabungan dari empat pedang musuh, selain berhasil mendesak mundur lawannya, dengan sekali ayunan tinju ia berhasil menghancurkan kunci dimuka pesanggarahan Cong kiam lu dan mengungkap rahasia tempat itu.
Waktu itu pedang dari keempat budak pedang tersebut kena tertahan oleh hawa khikangnya, sehingga sama sekali tidak membuat tubuhnya menjadi cedera.
Tapi kemudian keempat orang budak pedang itupun melancarkan sebuah serangan balasan, belum lagi serangan mereka mengenai tubuh, dia sudah kena didesak mundur berulang kali, untung Ting Peng menggerakkan golok saktinya sehingga serangan tersebut berhasil ditahan olehnya.
Sekarang, kalau dilihat dari gerak serangan pedang Cia sianseng"
Sudah jelas tidak berada dibawah keampuhan serangan maut dari ke empai orang budak pedang itu, tapi Ah ku ternyata berani menyongsong serangan tersebut dengan ayunan kepalannya.
Betul kepalan itu dikalungi sarung jari tangan yang terbuat dari baja, namun kekuatan dari serangan pedang tersebut sanggup merobohkan sebuah bukit karangpun, bagaimana mungkin ayunan tinju itu mampu untuk membendungnya?"
Siapa pun menganggap Ah ku sudah bosan hidup, bahkan Siau hiang sendiri pun berpendapat demikian.
Akan tetapi paras muka Cia sianseng justru berubah hebat, bahkan dengan suatu gerakan yang amat cepat dia menarik kembali senjatanya ke belakang.
Hanya saja ayunan kepalan dari Ah ku tersebut bukan suatu serangan yang bisa memaksa orang untuk menarik kembali ancamannya ditengah jalan.
Baru saja pedangnya ditarik sampai setengah jalan, dia sudah kena dihajar oleh ayunan kepalan Ah ku.
"Traang!"
Pedangnya segera terlepas dari tangan, menyusul kemudian kepalan itu langsung menyambar tubuh Cia sianseng, Tubuh Cia sianseng mundur terus kebelakang, tadi dia kurang cepat sehingga bahu kena tersapu telak dan badannya langsung meluncur ke belakang.
Tiba-tiba Ah ku membuka genggaman tangannya, sekilas cahaya tajam menyambar lewat, pisau terbang milik Li Tham hoa yang berada ditangannya telah melejit ke udara dan langsung menyambar tenggorokan dari Cia sianseng.
Waktu itu Cia sianseng sudah kena ditinju sampai isi perutnya bergoncang, apalagi ditambah dengan ayunan pisau terbang tersebut, sekalipun dia punya nyawa rangkap juga bakal habis.
Untung saja nasibnya pada hari itu masih terhitung lumayan juga.
Yang dimaksudkan sebagai bernasib baik adalah dia bisa lolos dari ancaman kematian tersebut.
Disaat yang paling kritis itulah, muncul seorang yang membantunya memukul rontok pisau terbang tersebut dengan ayunan pedang, sebaliknya Cia sianseng pribadi justru kena menumbuk diatas dinding keras-keras.
Masih untung punggungnya yang menumbuk lebih dulu kemudian tubuhnya merosot ke bawah, dia masih sanggup berdiri tegak di tempat, tapi wajahnya telah memucat dan darah meleleh membasahi ujung bibirnya, Ah ku cuma melepaskan satu pukulan, dia justru terkena sebanyak dua kali, selain pukulan langsung dan sekali lagi tumbukan punggung diatas dinding.
Orang yang membantunya memukul rontok pisau terbang itu adalah Cia Siau giok.
Dengan pedang ditangan, ia memandang wajah pembantunya dingin.
Cia sianseng harus menarik napas panjang sebelum mampu berbicara, katanya dengan kepala tertunduk.
"Nona, kau sudah keluar, hamba benar-benar tak becus"
"Hmm, kau benar-benar memalukan"
Seru Cia Siau giok sambil tertawa dingin, mentangmentang seorang congkoan dari Sin kiam san ceng, nyatanya kena dibikin keok oleh seorang kusir kereta, padahal diluar sudah tersiar kata yang mengatakan golok sakti bila muncul, pedang sakti tak akan bersinar, setelah peristiwa hari ini, orang pasti akan menganggap demikianlah keadaan yang sebenarnya!"
Cia sianseng tertawa getir.
"Hamba yakin kalau ilmu silat yang kumiliki masih tidak kalah dengan kepandaian silat yang dimiliki kusir kereta itu, tadi aku hanya salah menggunakan jurus serangan, dengan mengeluarkan jurus serangan yang bernama San hi ciat lay (hujan bukit bakal turun) tersebut, sebetulnya aku bermaksud untuk mendesaknya agar mundur teratur ke belakang, setelah itu aku akan melanjutkan dengan jurus pembunuh lainnya yang telah kupersiapkan secara matang, siapa tahu dia tak cuma termakan oleh desakan ku itu untuk mundur, sebaliknya malah memaksa maju ke depan dan melakukan suatu pertarungan adu keras lawan keras, Tindakannya ini sungguh diluar dugaanku sama sekali."
Setelah mendengar penjelasan tersebut.
Siau hiang baru tahu mengapa Cia sianseng tidak sanggup menghadapi serangan Ah ku dalam gebrakan yang pertama saja.
Rupanya serangan pedang yang kelihatannya amat dahsyat dan sangat mengerikan itu tidak lebih cuma suatu jurus serangan tipuan belaka, sementara serangan mematikan yang sebenarnya justru disembunyikan dibalik ancaman tersebut"
Kalau dilihat dari jurus serangan lawan yang begitu dahsyat dan mengerikan, siapa pun tak akan menyangka kalau jurus serangan semacam itu sebenarnya hanya suatu jurus serangan tipuan belaka.
Oleh sebab itu, bisa diduga entah berapa banyak manusia yang sudah dibikin keok dalam jurus serangan mana.
Atau dengan perkataan lain, bisa jadi serangan itu merupakan suatu jurus serangan yang tak pernah meleset.
Hanya sayang nasib Cia sianseng dalam hal ini tampaknya kurang baik, sebab dia telah bertemu dengan seorang lawan yang amat tangguh sekali seperti Ah ku"
Ah hu adalah seorang manusia ulung tak pernah mengenal arti mundur, dia hanya tahu maju terus pantang mundur, bayangkan saja bagaimana mungkin ia tak sial bila bertemu manusia macam begini?
ooo0ooo SIAU LI SI PISAU TERBANG PARAS muka Cia Siau giok dilapisi oleh hawa dingin yang sangat menggidikkan hati, bahkan diapun telah melakukan suatu tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya semenjak perkampungan Sin kiam san ceng didirikan.
Tangan kanannya diayunkan ke muka dan "Plaaak, plook!"
Wajah Cia Sianseng telah bertambah dengan dua buah bekas telapak tangan yang merah membara.
Padahal Cia sianseng adalah manusia yang amat berkuasa di dalam perkampungan Sin kiam san ceng.
Sekalipun kedudukannya tidak lebih tinggi dari Cia Siau giok, namun selisihnya tidak banyak, namun kenyataannya Cia Siau giok telah menamparnya dua kali di depan mata umum.
Dari balik mata Cia sianseng segera mencorong sinar amarah yang berkobar-kobar, sekalipun Cia Siau giok baru saja menyelamatkan jiwanya, tapi ke dua buah tamparan tersebut sama artinya dengan merontokkan martabat serta harga dirinya, membuat ia tak bisa mengangkat kepalanya lagi untuk selamanya.
Bila seseorang yang terbiasa dengan harga diri dan segala kehormatan, bila tiba-tiba kehormatannya disinggung orang maka keadaan tersebut jauh lebih baik mati daripada hidup.
Yaa, siapakah yang akan tahan bila kehormatannya diinjak-injak orang diha-dapan umum.
Oleh sebab itu Cia sianseng menunjukkan sikap melawan terhadap Cia Siau giok, kendatipun mati hidupnya sudah menyatu dengan perkampungan Sin kiam san ceng, meninggalkan perkampungan tersebut sama artinya dengan kehilangan segala pegangan dan melawan Cia Siau giok berarti dia harus meninggalkan perkampungan Sin kiam san ceng, namun ia tidak ambil perduli terhadap segala sesuatunya itu.
Sekalipun ia tetap tinggal diperkampungan Sin kiam san ceng, keadaannya tak akan berbeda dengan sesosok mayat hidup, sama sekali tak punya kebebasan.
Cia Siau giok sendiri bersikap seolah-olah tidak melihat akan sikap melawannya, dia masih tetap berwajah sedingin es, tetap bersuara dingin dan kaku.
"Cia Sin, kuberikan kedudukan congkoan tersebut kepadamu, menyuruh kau mengurusi segala persoalan besar atau pun kecil yang ada dalam perkampungan ini, kesemuanya itu karena aku menghargai engkau, tapi akhirnya apa saja yarg telah kau lakukan. Ucapannya yang keras dan tajam seolah-olah membuat Cia sianseng terperana, dia berdiri tertegun untuk beberapa saat, kemudian baru katanya pelan.
"Aku kalah ditangan orang, hal ini memang disebabkan ketidak mampuanku, tapi aku toh sedang menjalankan tugas!"
"Heeehhh.....heeehhh.. ...heeehhhh..... .. kau sedang menjalankan tugas apa?"
Jengek Cia Siau giok sambil tertawa dingin.
"kau hanya bisa memamerkan kegagahanmu di depan pintu, bersilat lidah, berdebat, sungguh memalukan?"
"Sekali lagi Cia sianseng membusungkan dadanya, lalu sambil memberanikan diri katanya.
"Aku tidak suka mencari gara-gara, apalagi mengajak orang lain berkelahi, akan tetapi. ."
Tetapi kenapa? Ayo katakan?"
Kembali Cia sianseng tertegun sejenak, kemudian baru berkata.
"Karena kau pernah berkata, bila Ting Peng datang, pertama-tama harus memberi kabar dulu kepadamu. kemudian berusaha untuk menahan orang tersebut di depan pintu, menghalangi sampai kemunculanmu untuk menyambut kedatangannya"
Suatu pengungkapan yang segar dan sangat aneh, mengapa Cia Siau giok harus berbuat demikian?
Apakah dia mempunyai suatu rahasia yang takut diketahui orang lain dan perlu disembunyikan dulu agar tiada terlihat oleh Ting Peng?
Tapi dengan demikian, hal itupun telah menjelaskan apa sebabnya Cia sianseng selalu menghalangi kepergian Ting Peng dan sengaja mencari gara-gara untuk menimbulkan keributan.
Sebenarnya dia, termasuk seseorang yang beriman tebal, tapi kenyataannya hari ini hanya dikarenakan ribut dengan Siau hiang dia telah menjadi marah dan berakibatkan terjadinya pertarungan.
Ternyata dia sengaja berbuat demikian untuk mencegah Ting Peng masuk, agar Cia Siau giok yang berada didalam mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan diri dan menyingkirkan halhal yang tidak seharusnya terlihat oleh Ting Peng.
Berita kedatangan Ting Peng sudah diketahui anggota perkampangan sejak kemunculan kereta tersebut dipantai seberang tapi kenyataan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum Cia Siau giok bisa munculkan diri, dari sini dapat disimpulkan kalau pekerjaan mereka itu membutuhkan banyak waktu dan tenaga.
Setelah menyingkap rahasia tersebut, Cia sianseng melirik sekejap ke arah kereta, wajahnya menunjukkan rasa puas karena berhasil membalas dendam.
Sebetulnya dia ingin sekali bersikap setia kepada Cia Siau giok dan membenci Ting Peng, tapi disebabkan Cia Siau giok telah menampar wajahnya, maka diapun segera berpaling ke arah Ting Peng .
Melihat sikap maupun mimik wajahnya sekarang, tampaknya dia ingin melenyapkan Cia Siau giok dari muka bumi dan tak segan-segannya untuk menyingkap lebih banyak rahasia untuk Ting Peng.
Akan tetapi diapun seorang yang banyak curiga dan bersikap waspada, bila ia sudah mengambil suatu keputusan, maka pertama-tama yang dipersiapkan dulu adalah mencegah usaha Cia Siau giok untuk melakukan pembunuhan untuk membungkamkan mulutnya.
Itulah sebabnya mata yang sebelah terus menerus mangawasi tangan Cia Siau giok.
Betul juga, tangan Cia Siau giok sudah mulai meraba gagang pedang, padahal tangan itu sebenarnya terulur Ke bawah.
Setelah memapas jatuh pisau terbang Ah ku dia telah mengembalikan pedangnya kedalam sarung, malah dengan tangan itu juga dia menampar wajah Cia sianseng.
Sekarang tangannya itu sudah meraba gagang pedangnya lagi, tentu saja Cia sianseng menjadi amat tegang, bahkan telah melakukan persiapan yang cukup matang.
Kini tubuh Cia siau giok sudah mulai bergerak, bergerak dengan sangat cepatnya.
Setelah berputar selingkaran, dia berputar kembali dihadapan muka Cia sianseng.
Menyusul kemudian...
"Plaaak, plaaakk.. !"
Dua tamparan keras bersarang kembali diatas wajahnya.
Dua bekas telapak tangan muncul kembali diwajah Cia sianseng, sebetulnya telapak tangan Cia Siau giok tidak besar tapi setelah dua buah bekas telapak tangan berjajar disatu pipi, hampir seluruh wajahnya tertutup oleh bekas tangan yang membengkak itu.
Tak heran kalau paras muka Cia sianseng yang sebetulnya pucat pias, kini telah berubah menjadi merah membara.
Hanya saja, setelah Cia sianseng terkena tamparan kali ini, dia hanya berdiri tertegun saja sama sekali tak berkutik.
Dia bukan dibikin tertegun karena kaget dengan gerakan tubuh Cia Siau giok yang cepat.
Walaupun gerakan tubuh Cia Siau giok sangat cepat, dia yakin masih mampu untuk menghindarinya, bahkan masih mempunyai kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.
Pertama kali tadi ia bisa terkena dua kali tamparan, karena dia sama sekali tidak menduga kalau Cia Siau giok akan menamparnya.
Tapi kali ini dia justru cuma berdiri tenang ditempat tanpa bergerak barang sedikit pun jua, bahkan wajahnya malah dijulurkan ke muka, seolah-olah menunggu Cia Siau giok datang untuk menjagalnya.
Ketika Cia Siau giok mencapai didepan tubuhnya tadi, tangannya masih memegang diatas gagang pedang, akhirnya dia cuma menempeleng wajahnya dengan tangan kanan, lalu menyimpan kembali pedangnya kedalam sarung.
Alasan apakah yang membuat dia dari liar dan buas menjadi lembut dan penurut?
Hal ini tak lain dikarenakan Cia Siau giok yang telah mencabut keluar pedangnya telah berputar dulu satu lingkaran..Sewaktu tubuhnya bergerak tadi pedangnya telah diloloskan dari sarung, tapi dia bukan menubruk Cia sianseng lebih dulu, melainkan menerkam kereta kuda.
Kereta kuda itu tak lain adalah kereta kuda yang ditumpangi oleh Ting Peng.
Setibanya didepan kereta, pedangnya segera digetarkan untuk menyingkap tirai di depan jendela, menyusul kemudian dia membuka pintu kereta dan menerobos masuk ke dalam.
Semula Cia sianseng mengira dia hendak beradu jiwa dengan Ting Peng, tapi dengan cepat Cia Siau giok telah menerobos keluar lagi.
Dia menerobos keluar melalui kereta di sebelah yang lain..
Sewaktu masuk tidak menutup pintu, setelah keluar pun tidak menutup dulu, pintu tersebut masih terpentang lebar, dengan cepat terlihat keadaan dalam ruangan kereta yang megah mewah.
Tapi disitu tak nampak seorang manusia pun.
"Ting Peng tidak berada disana, juga tidak kelihatan seorang manusia pun. Rupanya kereta tersebut hanya sebuah kereta kosong, sejak kereta itu naik ke atas perahu, sepasang mata Cia sianseng tak pernah bergeser dari kereta tersebut, dia tak pernah melihat ada seorang manusia pun yang keluar dari situ. Dari sini terbukti sudah, sejak awal sampai sekarang, Ting Peng tidak berada dalam kereta itu, rupanya setelah ribut sekian lama, yang disambut kedatangannya hanya sebuah kereta kosong. Saat itulah Cia sianseng baru tahu kalau dia telah melakukan suatu kesalahan yang besar, dia memang pantas dipukul, itulah sebabnya dengan hati yang rela ia menerima tamparan untuk ke dua kalinya. ooo0ooo ADAPUN tujuan Cia sianseng membuat keributan adalah untuk mencegah Ting Peng yang berada diatas kereta memasuki perkampungan tersebut, kini Ting Peng tak ada di kereta, paling banter Cia sianseng cuma membuat gara-gara dengan percuma, sesungguhnya dia sama sekali tidak melalaikan kewajiban. Tapi, mengapa dia mengaku salah dengan cepat dan rela dirinya ditempeleng? Dalam hal ini, mau tak mau kita harus akui keunggulannya untuk memutar otak secara cepat..Kereta itu datang dari luar, sedang Cia Siau giok datang dari dalam perkampungan, Cia sianseng yang mengawasi kereta tersebut terus meneruspun tidak pernah menduga kalau kereta tersebut kosong. mengapa Cia Siau giok yang baru keluar segera tahu akan hal itu? Mungkinkah dia mempunyai kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang terjadi jauh sebelumnya. Cia sianseng sangat memahami kemampuan dari Cia Siau giok, meskipun gadis itu memiliki kepandaian yang besar, akan tetapi tak memiliki kemampuan tersebut, kalau tidak dia pun tak bakal bersikap begitu gugup dan gelagapan, bila ia bisa menduga kalau Ting Peng hanya keluar sebentar untuk segera kembali lagi, dia pun tak akan bersusah payah untuk mengeluarkan segala macam permainannya yang tidak mudah diberesi itu. Ternyata Cia Siau giok mengetahui lebih dulu daripada Cia sianseng bahwa kereta itu kosong. Satu-satunya keterangan yang bisa memecahkan teka-teki ini adalah Ting Peng telah menyusup kedalam perkampungan lebih dahulu. Bila menyeberangi sungai merupakan satu-satunya jalan tembus untuk memasuki perkampungan Sin kiam san ceng, sudah pasti Ting Peng tak mungkin bisa masuk kedalam perkampungan itu. Hanya sayangnya, satu-satunya jalan tembus tersebut hanya sengaja mereka siarkan kepada orang luar. padahal masih ada jalan untuk bisa memasuki perkampungan Sin kiam san ceng. Celakanya jalan tembus yang sebenarnya teramat rahasia itu ternyata berhasil ditemukan Ting Peng. Cia sianseng bertindak sebagai seorang congkoan, terpaksa harus mengakui kebodohan sendiri. Sebetulnya Cia Siau giok ingin membunuh Cia sianseng, asal ia masih memperlihatkan sikap melawannya, maka jurus pedangnya yang sangat lihay beserta ke tujuh belas macam senjata rahasianya yang sakti akan digunakan seluruhnya. Jarang sekali ada jago persilatan yang mengetahui kalau dalam sakunya tersedia begitu banyak senjata rahasia, sekalipun Cia sianseng sendiri juga paling banter hanya tahu kalau dia bisa mengeluarkan tujuh delapan macam saja. Tahu kalau tujuh delapan macam senjata rahasia itu setiap macamnya dapat merenggut nyawa manusia, tapi tidak tahu kalau sepuluh macam lainnya justru empat lima kali lipat lebih lihay. Kalau bukan begitu, sebagai seorang gadis muda, bagaimana mungkin dia bisa berubah menjadi Giok Bu sia dan memimpin Lian im cap si sat seng untuk menteror dunia persilatan. Sikap rela untuk menerima kematian di saat terakhir, coba kalau dia berani memperlihatkan sikap melawan terhadap Cia siau giok, mungkin saat ini nyawanya sudah putus. Justru kerena dia memberikan kepalanya untuk dipenggal, nyawanya malah selamat dari ancaman maut.
"Sudah kau sadari bahwa kau telah berbuat kesalahan?"
Cia Siau giok menegur dengan suara dingin.
"Yaa, hamba memang pantas untuk mati! sahut Cia sianseng dengan ketakutan. Berbicara soal tingkat kedudukan dalam keluarga Cia sianseng semestinya Cia sianseng adalah adik famili dari Cia Siau hong atau paman dari Cia Siau giok sendiri. Tapi soal susunan tingkat dalam keluarga dinilai sudah usang pada jaman itu, lambat laun penganutan makin berkurang sehingga meski masih ada hubungan famili, kalau sudah jauh hubungannya akan semakin kecil pula perhatiannya. Tingkat kedudukan dalam keluarga telah terpengaruh sama sekali oleh tingkat sosial, kecuali beberapa keluarga yang ikatan familinya masih amat dekat sehingga mau tak mau harus dihormati, selebihnya sudah tidak masuk dalam daftar lagi. Mencari anak keturunan dari famili jauh untuk dijadikan pembantu pun bukan suatu kejadian aneh pada waktu itu, sebab mencari pekerjaan pada waktu itu pun harus di buat dari silsilah keluarganya, maka walaupun Cia sianseng menjadi anak buah, diapun merasa rela sekali. Setetah mendengus dingin, kembali Cia Siau giok berkata.
"Butiran kepala anjingmu masih bisa bercokol diatas tengkukmu, dikarenakan kau masih tahu diri, mengerti kalau kau pantas untuk mampus, hmm coba kalau tidak begitu.."
Maksud dari perkataan itu, masih untung otaknya dapat bekerja keras dan segera mengetahui kesalahan sendiri, coba kalau tidak maka..
Keadaan Cia sianseng sekarang betul-betul mengenaskan sekali, dia membungkukkan badannya seperti udang yang sudah matang, sahutnya dengan suara gemetar.
"Benar, benar, hamba sama sekali tak menyangka kalau Ting Peng sedang memerankan permainan combret emas melepaskan diri dari kulitnya, padahal dahulu dia tak pernah meninggalkan keretanya!"
"Aaaii, bukan cuma kau saja yang tak menduga"
Kata Cia Siau giok sambil menghela napas.
"bahkan aku pun sama sekali tak menyangka kalau dia merubah kebiasaannya secara tiba-tiba!"
Siau hiang yang berada disampingnya pun ikut tertawa, katanya.
"Hal ini sesungguhnya bukan merupakan kebiasaan dari kongcu kami, padahal dia paling benci untuk menunggang kereta, meskipun ini nampaknya sangat indah dan mewah, tapi kalau duduk terus didalamnya maka lama kelamaan akan terasa kesal dan bosan, pada hakekatnya merupakan sesuatu siksaan batin, oleh sebab itu dia tak pernah mengundang orang lain untuk naik kereta bersama, karena dia kuatir orang lain akan mengetahui juga kalau naik kereta itu tak enak!"
"Kalau toh naik kereta tidak enak mengapa sepanjang hari dia duduk melulu dalam keretanya?"
"tanpa terasa Cia Siau giok bertanya. Dia mengharapkan orang lain menganggapnya duduk dengan nyaman, mengira hal ini sebagai kebiasaannya, sebagai perlambangnya, dimana kereta itu berada, disitu orangnya berada, kemudian bilamana keadaan dirasakan perlu dan dia harus meninggalkan kereta untuk melakukan suatu tugas rahasia, orang tak akan menduga sampai ke sini"
Cia Siau giok maupun Cia sianseng berdua sama-sama merasakan pipinya seperti ditampar orang.
Paras muka Cia sianseng lebih merasa lagi, walaupun Cia Siau giok tidak kena tampar, namun wajahnya pun mulai memerah juga.
ooo0ooo SEMUA rasa mangkel Cia Siau giok terpaksa dilampiaskan semua ke atas kepala Cia sianseng, katanya tiba-tiba dengan dingin.
Dalam hal dia menggunakan kereta kosong untuk memerankan siasat kim cian tou ku (comberet emas melepaskan diri dari kulit) aku memang tak bisa menyalahkan tapi dari tepi sungai sampai naik ke perahu dan tiba dipantai seberang, ternyata kau belum juga tahu kalau kereta tersebut adalah sebuah kereta kosong, inilah kesalahanmu yang pantas dihukum mati!
"Nona, kau toh mengerti juga"
Rengek Cia Sianseng dengan wajah memelas, selamanya Ting toaya tak pernah mengijinkan orang lain untuk mendekati keretanya!"
Itupun suatu kenyataan!"
Tapi Cia Siau giok segera tertawa dingin, katanya cepat.
"Alasan tersebut tidak berlaku untukmu, kau adalah seorang congkoan, seharusnya kau berdaya upaya untuk mencari akal dan menyelidiki hal itu, keteledoranmu ini merupakan dosa yang besar, bagaimana pun kau ingin melepaskan diri, jangan harap bisa lolos dari kesalahan tersebut!"
"Hamba tahu salah! "Cia sianseng menundukran kepalanya semakin rendah. Cia Siau giok menghela napas panjang, katanya lagi.
"Sekarang baru mengaku salah apa gunanya, Ting Peng telah melakukan perjalanan keliling di seluruh perkampungan, bahkan dia keluar dengan membawa dua orang!"
"Dia masuk melewati jalan yang mana"
Tanpa terasa Cia sianseng bertanya dengan persaaan hati bergetar keras. Dengan perasaan mendongkol Cia Siau giok segera berseru.
"Kalau kau bertanya kepadaku, maka aku harus bertanya kepada siapa?"
Cia sianseng merasa benar-benar terbentur pada batunya, dia pun tahu pertanyaan itu sama artinya dengan suatu pertanyaan yang tak berguna, bisa mengetahui Ting Peng masuk melewati jalan yang mana, tanda bahaya tentu sudah dibunyikan didalam perkampungan.
Terpaksa dengan wajah tersipu-sipu dia berkata.
"Entah dia telah berkunjung kemana saja"
"Semua tempat tempat yang tak boleh di kunjungi, telah dikunjungi semua olehnya"
"Bagaimana mungkin dia bisa menemukan tempat itu?"
"Ada orang yang bertindak sebagai petunjuk jalan baginya, dengan petunjuk orang itu, tempat mana lagi yang tak bisa dikunjungi?"
Siapa? Aah, mustahil, orang dari perkampungan pun tidak akan mengetahui tempat itu."
Cia Siau giok tertawa dingin.
"Heeehh...heeeehhhh...heeehhh... tapi ada dua orang yang mengetahui keadaan yang sesungguhnya telah bekerja sama dengannya, bila begitu halnya tentu saja keadaannya berbeda. Tapi hanya dua orang yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, yang seorang adalah nona sendiri!"
Tentu bukan aku bukan?"
Tentu saja, tentu saja!"
Buru-buru Cia sianseng berseru.
"tapi orang kedua adalah hamba sendiri!"
Kalau bukan aku, sudah barang tentu kau, sebab disini tiada orang ke tiga!"
Nona, kau jangan bergurau, buru-buru Cia sianseng berseru dengan hati gugup, masa hamba akan bersekongkel dengan orang luar? "
"Aku tak akan menuduhmu yang bukan-bukan."
"Belum sempat Cia sianseng memberikan bantahan apa pun, Cia Siau giok telah menyambung lebih jauh.
"Kau telah terkena siasat memancing harimau turun gunungnya, bahhan terkururg disini, sedangkan gentong-gentong nasi didalam pun sedang ribut membubarkan diri, tak seorang pun yang tahu kalau Ting Peng sudah masuk ke dalam, bukankah hal ini sama artinya dengan menjadi penunjuk jalan baginya?"
Cia sianseng hanya bisa menarik napas panjang-panjang, hal ini bukan kesalahannya, tapi bila terjadi sesuatu m.aka semuanya itu menjadi tanggung jawab dari seorang congkoan.
Cia Siau giok bisa saja melimpahkan semua pertanggungan jawab tersebut kepadanya, tapi ia tak dapat melimpahkan pertanggungan jawabnya kepada siapapun, sebab penjagaan dalam perkampungan menjadi tanggung jawabnya.
Di hari-hari biasa dia selalu menganggap dirinya paling hebat, tak pernah terjadi suatu persoalan apa pun, sungguh tak disangka hari ini bukan saja sudah dipecundangi orang, bahkan betul-betul dipecundangi habis-habisan.
Kini, suaranya sudah turut berubah, dengan suara yang parau dia bertanya.
"Entah dua orang yang mana yang telah dibawa pergi olehnya?"
Dari mimik wajah Cia Siau giok, dia tahu kalau dua orang itu pasti merupakan dua orang yang penting sekali artinya, tapi diam-diam ia berdoa, moga-moga saja kedua orang tersebut bukan dua orang tersebut.
Kalau tidak, ia lebih suka mati terbunuh di tangan Cia Siau giok sedari tadi.
Siapa tahu jawaban dari Cia Siau giok justru merupakan jawaban dari apa yang tak ingin di dengarnya.
(Bersambung ke
Jilid 24)
Jilid .
24 DUA ORANG itu adalah dua orang yang kau bawa pulang kemarin, oleh sebab itu kau boleh memikirkan akibatnya!
Tiba-tiba saja Cia sianseng merasakan sepasang kakinya menjadi lemas, seandainya dia tidak secara kebetulan berdiri ditepi dinding sehingga tangannya dengan cepat bisa berpegangan diatas dinding, hampir saja tubuhnya terjengkang keatas tanah.
Sekarang, ia sama sekali tidak merasa berterima kasih lagi atas budi Cia Siau giok yang tidak membunuhnya tadi, sebab dia menemukan kalau penghidupan selanjutnya akan dilalui dengan penuh kesusahan dan kesulitan yang memusingkan kepala.
Siau hiang telah naik ke kereta lagi, Ah ku pun telah memutar keretanya, tugas mereka telah selesai dan sekarang harus berlalu dari tempat tersebut.
"Adik cilik, apakah kau hendak pergi?"
"Cia Siau giok segera menegur sambil tertawa.
"Benar", jawab Siau hiang. Setelah mengganggumu setengah harian lamanya, sekarang kami harus minta diri."
"Apakah kau tak ingin tahu Ting kongcu telah pergi kemana? Dan bagaimana caranya kalain baru bisa bersua dengannya?"
Tanya Cia Siau giok lagi sambil tertawa.
"Tidak usah, kongcu telah berpesan kepada kami bagaimana caranya untuk bersua muka nanti!"
"Itu mah kalau dia pergi seorang diri, sekarang dia harus membawa serta dua orang untuk meninggalkan tempat ini, sudah jelas gerak-geriknya tak akan leluasa, rencana tersebut harus dirubah, oleh sebab itu dia suruh aku menyampaikan pesan ini kepada kalian... ."
"Kalau begitu terima kasih lebih dulu, apa pesan kongcu kami?"
Buru-buru Siau hiang bertanya.
Cia Siau giok tertawa.
Walaupun Ting toako membawa pergi dua orang dari sini, tapi aku telah berhutang budi kepadanya, oleh sebab itu diantara kami tidak terjadi sesuatu hal yang tidak menyenangkan, kami tetap masih berpisah secara baik-baik!"
"Aku percaya, sebab bila sampai terjadi keributan di dalam sana, kongcu pasti akan keluar melalui pintu depan, tiada orang yang mampu menghalanginya!"
Cia Siau giok cuma tertawa, dia tidak dibikin tak senang hati oleh perkataan tersebut, cuma katanya lagi.
"Diantara kita memang tak punya dendam sakit hati apapun, buat apa mesti ribut sampai ada darah yang bercucuran? Lagi pula Ting toako adalah tuan penolongku, masa aku akan bersikap kurang ajar kepadanya!"
"Cia siocia sebenarnya apa yang dikatakan kongcu kami?"
Tak sabar Siau hiang menukas.
"Ting toako berpisah denganku dalam suasana riang"
Kembali Cia siau giok berkata sambil tertawa.
"sebaliknya kalian malah ribut dan bertarung sendiri di muka pintu, hal ini sedikit banyak membuat aku yang menjadi tuan rumah seperti kehilangan muka, oleh sebab itu bila kau menginginkan jawaban dari mulutku, paling tidak kau pun harus membuat aku tak sampai kehilangan muka. Apa yang kau hendaki sehingga tak sampai kehilangan muka?"
Cia Siau giok tertawa.
"Itulah persoalanmu sendiri, masa kau malah bertanya kepadaku? Menurut pendapatmu bagaimana kau harus berbuat untuk menyatakan rasa penyesalanmu itu?"
Siau hiang menyaksikan sepasang matanya memandang terus tenggorokan Cia Sianseng dimana darah masih menetes keluar tiada hentinya, itulah akibat dari ayunan pisau terbang yang dilemparkan Ah ku.
Untung saja pisau terbang tersebut kena dipukul rontok oleh pedang Cia Siau giok, kalau tidak maka Cia Sianseng akan menjadi salah satu korban pisau terbang milik Siau li hui to setelah yang empunya mati seratus tahun berselang.
Pisau terbang itu masih tergeletak diatas tanah, walaupun Cia siau giok tidak memandangnya, namun pengharapan yang menghiasi wajahnya, tak bisa mengelabuhi siapa saja.
Maka sambil tertawa Siau hiang berkata lagi.
"Nona Cia, walaupun pisau terbang yang dilemparkan Ah ku hanya melukai kulit leher dari congkoan kalian, tapi pisau terbang itu dirontokan olehmu, kami pun tidak berhasil meraih keuntungan apa-apa, sebaliknya pihak kalian pun tidak menderita kerugian yang terlampau besar, bukan kah begitu!"
Maksudmu aku tidak seharusnya mencampuri urusan ini?
Aku tidak berani mengatakan demikian", sahut Siau hiang sambil tertawa ringan, aku hanya bilang setelah nona Cia turun tangan, kami yang menjadi bawahan mana berani ribut denganmu?
Pisau terbang itu rontok ditanganmu, maka kamipun tak berani mengambilnya kembali, sebab kami telah berjanji kepada Cia Congkoan, bila dia sanggup menerima serangan itu maka pisau terbang akan kuberikan kepadanya, sekarang pisau itu berhasil dirontokkan nona Cia, terpaksa kami pun hadiahkan pisau tersebut untuk nona Cia.
Tak terlukiskan rasa gembira Cia Siau giok setelah mendengar perkataan itu.
memang itulah tujuannya yang terutama, dia sengaja mencari alasan lain padahal tujuannya adalah untuk mendapatkan pisau terbang tersebut.
Sekarang Siau hiang menghadiahkan pisau tersebut kepadanya, bagaimana mungkin hatinya tak senang?, Hanya diluaran saja dia harus berlagak menolak.
Sambil menarik muka, dia segera berseru.
"Omong kosong, siapa yang kesudian dengan sebilah pisau terbang rongsokan macam begitu?"
"Hanya kami orang-orang dari keluarga Liong yang boleh mengucapkan perkataan tersebut,. kata Siau hiang dengan wajah serius.
"sebab makco dari keluarga Liong kami Lim Si ing pernah memperingatkan anak cucunya agar jangan mencari nama dengan mengandalkan pisau terbang milik Siau li huito, kecuali kami, siapakah yang berani memandang rendah pisau tersebut, bukankah ayahmu Cia tayhiap pun pasti akan bersikap sangat menghormati bila menjumpai pisau terbang tersebut?"
Betapapun binal dan tak tahu aturannya Cia Siau giok, ternyata ia menerima teguran tersebut tanpa membantah.
Sebab Siau hiang she Liong Siau hiang boleh memandang remeh nilai dari pisau terbang Li Sin huan, sebab dia cukup berhak untuk berbuat demikian.
"Selain dia, orang lain memang tak berani bersikap kurang sopan terhadap pisau terbang itu. Walaupun Li Sin huan sudah mati banyak tahun, namun keturunannya atau cucu muridnya masih tetap berkelana dan melakukan pekerjaan budiman untuk meneruskan cita-cita luhurnya, mereka cukup mengetahui betapa sulitnya leluhur mereka dalam memupuk nama baik, oleh sebab itu mereka bersumpah tak akan mencari nama, melainkan muncul dengan wajah yang berbedabeda untuk menolong umat manusia. Mereka semua adalah pendekar pendekar sejati yang berjiwa besar, dan lagi ilmu pisau terbang mereka sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, mereka tidak memerlukan pisau terbang sungguhan, hanya selembar daun atau kayupun bahkan selembar kertas main dari bocah pun, ditangan mereka benda-benda tersebut dapat memperlihatkan kehebatannya. Selama banyak tahun ini, seringkali ditemukan kaum jahanam dan manusia laknat ataupun manusia munafik yang berlagak baik, ditemukan tewas diujung senjata yang beraneka ragam, mereka tewas tanpa menimbulkan sedikit suara pun. Sekalipun siapa saja tak bisa membuktikan kalau perbuatan itu dilakukan oleh keturunan Li Sin huan, namun siapapun tak bisa membuktikan kalau bukan. Siau li hui to sudah dianggap manusia suci dalam dunia persilatan, oleh karena itu tak heran kalau Cia Siau giok merasa agak kuatir setelah mendengar perkataan tersebut. Sebab selama banyak tahun ini, hanya mereka yang bertindak menuruti cara hidup Li Sin huan saja yang dianggap sebagai pendekar sejati, asal ada orang yang menjelek-jelekkan Li Sin huan, dia pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Cia Siau giok yang ditegur sama sekali tak berani mengumbar amarahnya, hanya wajahnya segera berubah menjadi sama sekali tak berperasaan, serunya sambil tertawa dingin.
"Hmmm, siapa yang kesudihan dengan pisau mu itu!"
Siau hiang tertawa.
"Pisau itu memang mahal artinya, kecuali dapat dijadikan sebagai barang kenangan, dari pisau itu pun bisa ditemukan sebab-sebab mengapa Li Sin huan menjadi jagoan yang tak terkalahkan didunia ini, Cuma ketika Ah Ku toasiok menyerang anggota perkampunganmu dengan pisau terbang, nona Cia berhasil mematahkan serangannya, kalau dihitung-hitung kami sudah kena dipecundangi, bila nona menahan pisau tersebut, maka nama baik perkampungan Sin kiam san ceng pun tak akan mendapat kerugian apa-apa"
Sekarang Cia Siau giok baru tertawa, katanya dengan cepat.
"Nah, ucapan tersebut baru dirasakan agak enak untuk didengar"
"Sekarang, apakah Cia sioucia sudah bersedia untuk memberitahukan kepadaku apa pesan dari kongcu?"
Cia Siau giok tertawa.
"Dia bilang dimana kalian harus bertemu, disitulah kalian menunggu, perkampungan Sin kiam san ceng tak akan bisa mengurung dirinya!"
Beberapa patah perkataan itu sedikit banyak bernada mempermainkan, sebab diucapkan atau tidak, keadaan tetap sama saja, bahkan kemungkinan besar Ting peng tidak memberikan pesanan apa2, sebaliknya gadis itulah yang mengarang sendiri, namun terhadap kenyataan hal mana memang tidak mendatangkan pengaruh ataupun perubahan apapun jua.
Ternyata Siau hiang tidak kelihatan gusar, setelah mengucapkan terima kasihnya berulang kali, dia naik kedalam kereta dan menitahkan kepada Ah-ku untuk berangkat.
Cia Siau giok kelihatan gembira sekali, dia segera memungut pisau terbang tersebut dan diperiksanya setengah harian dengan sangat berhati-hati, kemudian senyuman yang menghiasi wajahnya kian bertambah tebal.
Pisau tebang itu memang pisau terbang yang berharga sekali, terutama tulisan "Li"
Diatas tubuh pisau tersebut, hal ini membuktikan kalau pisau mana merupakan pisau terbang yang sering kali digunakan Li sin huan sendiri.
Cia sianseng turut berjalan mendekat.
Sambil menahan malu dia ikut memeriksa sejenak pisau terbang itu, kemudian baru bertanya.
Nona, setwaktu Ting Peng membawa pergi kedua orang itu, apakah dia pun membawa serta pedang tersebut?"
Tidak, walaupun Ting Peng lihay, dia masih belum memiliki kepandaian untuk masuk ke gudang mestika!"
Aaaah, kalau begitu bagug sekali, seru Cia sianseng cepat, untung saja gudang mestika kita tetap utuh, senjata kenamaan yang tercatat dalam kitab senjatapun tak kekurangan sebuah pun"
"Apa gunanya semuanya itu? Yang kita peroleh cuma senjata-senjata yang mati, tanpa orang hidup mana kepandaian kita bisa bertambah hebat...?` Orang hidup tak mampu melindungi barangnya, karena itu barang-barang tersebut baru bisa terjatuh ke tangan kami, hal ini membuktikan kalau senjata jauh lebih berharga daripada manusianya!"
"Cia Siau giok menghela napas panjang.
Setiap jaman tentu akan muncul manusia kenamaan, benda-benda tersebut sudah menjadi barang antik semua, apabila kita dapat mengumpulkan semua senjata andalan yang dipergunakan jagoan persilatan sekarang, itu baru namanya luar biasa.
Aaaah, itupun sudah cukup banyak, kata Cia sianseng sambil tertawa lebar.
Cia Siau giok mendengus dingin.
"Hmmm, masih terpaut jauh sekali, bila tiga macam senjata tak berhasil kita kumpulkan, maka semua mestika dalam gudang sama artinya dengan benda yang tak berguna!"
"Tiga macam yang mana? tanya Cia sianseng dengan wajah tertegun. Pedang mestika bertaburkan tiga belas mutiara milik Yan Cap sa, Pedang sakti keluarga Cia dari perkampungan Sin kiam san ceng ."
Bukankah semuanya tersimpan dalam pesanggrahan Cong kiam lu?"
Seru Cia sianseng cepat. Cia Siau giok segera tertawa dingin. Dalam perkampungan Sin kiam sanceng sudah tidak terdapat lagi pesanggrahan Cong kiam lu, masa pedangnya masih ads disitu.
"Sudah tak ada. Mass dibawa pergi oleh cengcu?"
"Benar, aku pernah masuk kesana dan secara diam-diam pernah membongkar kedua kuburan tersebut, namun isinya kosong melompong!"
"Tiada peti mati? Tak ada tulang belulang?"
""Sudah kukatakan disitu kosong!"
"Mungkinkah disembunyikan ditempat rahasia lainnya?". Cia Siau giok mendengus lalu tertawa dingin.
"Walaupun pesanggrahan Cong kiam lu merupakan tempat yang paling rahasia dari perkampungan Sin kiam san ceng, sesungguhnya tempat itupun merupakan tempat yang paling tak ada rahasianya, empat penjuru dikelilingi dinding pemisah, namun didalamnya sama sekali tak ada sesuatu benda apapun.
"Lantas mengapa majikan mempelakukan daerah disekitar tempat itu sebagai tempat terlarang yang paling dirahasiakan."
"Dahulu aku tidak tahu, sekaramg aku baru mengerti, rupanya dia sedang melatih perasaan disitu untuk mencapai ketingkatan yang lebih tinggi lagi"
Ke tingkatan yang lebih tinggi?, Masa ilmu pedang majikan masih bisa maju lebih tinggi?"
Siapa bilang tidak?
Dahulu dia pernah kalah diujung pedang Yan Cap sa ketika yang terakhir mengeluarkan jurus simpanannya, kemudian buktinya jurus itu tak mempan terhadap budak-budak yang mengitarinya, hal ini membuktikan kalau tingkat kepandaian silatnya telah memperoleh kemajuan yang lebih pesat lagi.
Cia Sianseng hanya membungkam diri sambil berdiri melongo, seakan-akan baru pertama kali ini dia mendengar ucapan tersebut, dan baru pertama kali ini dia mengetahui kalau ilmu pedang majikannya masih bisa memperoleh kemajuan yang lebih hebat lagi.
Suasana menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun untuk beberapa waktu lamanya kedua belah pihak hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.
ooo0ooo PEDANG BAJA DARI SIONG YANG SIAU HIANG masih duduk dalam kereta sedang Ah-ku menjalankan keretanya menuju ke sebuah hutan disebelah kiri perkampungan Sin-kiam san-ceng, disitulah Ting-Peng berpesan agar mereka menunggu, Ting-Peng bermaksud untuk menyelidiki perkampungan Sin-kiam san-ceng secara diam-diam, diapun tahu untuk memasuki perkampungan tersebut ia tak usah melewati jalan air di depan.
Setiap gedung persilatan yang besar dan kenamaan, selalu akan tersedia satu atau dua jalan rahasia yang tidak terkecuali partai2 persilatan besar sekalipun.
Hal ini bukan dikarenakan mereka bermaksud hendak melakukan suatu pekerjaan rahasia melainkan dikarenakan orang yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan pasti akan mempunyai satu dua orang musuh besar, siapapun tak akan menduga kapankah musuhnya akan datang, bila keadaan berbahaya, dengan tersedia jalan rahasia tersebut berarti dia akan dapat meloloskan diri bila mana perlu.
Tentu saja perkampungan Sin kiam san ceng pun tidak terkecuali, jalan tembus disana bukan cuma sebuah saja, semenjak Cia Siau giok menjadi majikan disana, bukan saja dia menemukan dua jalan rahasia, bahkan diapun membuat lagi jalan tembus lainnya, cuma dia tak menyangka kalau masih ada jalan lain yang sebetulnya belum dia temukan.
Ketika Ting Peng berbincang-bincang dengan Cia Siau hong dalam pesanggrahan Cong kiam lu tempo hari, mereka dapat bergaul sangat akrab, sehingga banyak sekali rahasia yang tidak diketahui putrinya, Cia Siau hong memberitahukan hal tersebut kepada pemuda ini.
Bukan suatu pekerjaan yang gampang bagi Ting peng untuk memasuki perkampungan Sin kiam sanceng secara rahasia, bukan pekerjaan yang mudah pula baginya untuk lebih maju selangkah dengan menemukan rahasia dalam perkampungan itu, sebab Cia Siau hong pernah berkata demikian kepada Ting peng.
"Rumahku ini sudah tak bisa dianggap sebagai milikku lagi, ada banyak persoalan, ada banyak tempat yang tidak kuketahui, bila lote ada kesempatan berusahalah untuk melihat sendiri, aku sendiri mempunyai kesulitan yang membuatku tak leluasa!"
Ting peng tidak bertanya kepada Cia Siau hong, kesulitan apakah itu.
kalau toh orang sudah bilang tak leluasa, tentu saja hal ini berarti sulit baginya untuk membicarakannya.
Apalagi dia sendiri bisa pergi ke situ untuk melakukan pemeriksaan sendiri.
Oleh sebab itu, sebelum pergi ke sana untuk ketiga kalinya, diapun menyusun suatu rencana yang matang.
Walaupun dia tidak memiliki pengalaman dunia persilatan yang terlalu banyak, tapi kepandaian silat maha dahsyat yang dimiliki itu bukan saja telah menciptakan kemampuan yang luar biasa kecerdasannya pun memperoleh pula kemajuan yang pesat.
Orang yang tajam pikirannya tentu lemah dalam kekuatan, itulah sebabnya kebanyakan pelajar memiliki tubuh yang lemah.
Berbeda halnya dengan orang yang belajar silat, kemajuan yang dicapai dalam ilmu silat selalu akan dlimbangi pula dengan kemajuan dalam kecerdasan, jika seorang jago silat telah berhasil mencapai suatu kemajuan tertentu.
selain kondisi badannya akan bertambah baik, kecerdasan otak nya pun akan bertambah tajam.
Oleh sebab itu Ting Peng menyuruh Siau hiang dan Ah Ku sengaja membuat keonaran didepan perkampungan Sin kiam san ceng, padahal dalam kenyataannya adalah untuk menutupi tujuan untuk menyusup ke dalam perkampungan itu serta melaksanakan tugas rahasianya.
Akhirnya apa yang menjadi tujuannya dapat tercapai separuh bagian, dia telah melihat banyak hal yang tak diketahui orang lain, cuma dia toh masih tak sempat melihat beberapa diantaranya.
Sebetulnya dia dapat masuk lebih dalam lagi karena seseorang hal ini menjadi terbengkalai.
Dia adalah seorang pemuda yang tampan dan penuh memancarkan sinar kegagahan, pemuda itu terkurung didalam sebuah ruang rahasia.
Dia telah menolong pemuda itu mesti tak diketahui karena apa, sebab dia sama sekali tak kenal dengan orang itu.
Sewaktu pemuda itu ditemukan, dia berada dalam keadaan tak sadarkan diri, hanya berdasarkan kesan pertama saja, dia sudah menyukai pemuda ini, dia bertekad akan menolongnya, karena dia Ting Peng terpaksa menampakkan diri dan tidak melakukan penyelidikan lebih jauh.
Sewaktu Siau hiang tiba dalam hutan.
Ting Peng sudah menunggu disana, sedang pemuda tersebut masih tergeletak ditanah.
Sambil turun dari keretanya.
Siau hiang segera berseru.
"Kongcu, kami telah datang!"
Ting Peng manggut manggut.
"Tidak menjumpai kesulitan apa-apa?"
"Tidak!"
Siau hiang tertawa.
""hanya Cia congkoan mereka telah bertarung melawan paman Ah Ku gara-gara menghalangi kita masuk kedalam...!"
Ting Ping segera tertawa.
"Cia sianseng itu memang bukan manusia yang bisa dilawan dengan baik, cuma aku pikir Ah Ku tak bakal menderita kerugian.! "Tentu saja paman Ah Ku tak bakal menderita kerugian, dia telah menghadiahkan sebuah pisau terbang ke tubuhnya, andaikata Cia Siau giok tidak menolong tepat pada waktunya, mungkin pisau terbang tersebut akan merenggut selembar jiwanya. Walaupun ilmu pedang Cia sianseng tidak becus, tapi dia tak akan lebih rendah kemampuannya daripada ketua dari enam partai besar, masa pisau terbang Ah Ku bisa melukainya?"
"Siau li si pisau terbang, tak pernah meleset dari sasarannya."
"Aaah, kau bikin aku menjadi bingung saja, mengapa kalian bisa membicarakan soal Siau li si pisau terbang?"
"Pisau terbang yang dipergunakan Ah Ku adalah pisau terbang peninggalan Li Sin huan tempo hari, meskipun caranya melemparkan senjata tersebut tidak benar, akan tetapi kemampuan dan daya serangannya, tak mungkin bisa ditahan oleh Cia sianseng"
"Darimana Ah Ku bisa memiliki pisau terbang warisan Li Sin huan..?"
"Aku yang berikan kepadanya, pisau itu diwariskan leluhurku kepadaku ......"
Dia menyaksikan kebingungan diwajah Ting Peng, maka dijelaskan lebih jauh.
"Aku tidak she Li, aku she Liong, keturunan dari Liong Siau im dan Lim Si ing! Ting Peng tidak nampak terkejut ataupun keheranan, dia malah manggut-manggut.
"Tak aneh kalau begitu, aku selalu merasa kalau kau berbeda sekali dengan perempuan lain. Nyatanya kau memang mempunyai asal usul yang luar biasa!"
Siau hiang tertawa getir.
"Keturunan Liong Siau im belum bisa dikatakan sebagai asal-usul yang luar biasa"
Katanya. Ting Peng segera tertawa.
"Dalam hal ini kaupun tak usah merasa rendah diri, sebab orang yang bisa berada setingkat dengan Li Sin huan, biasanya dia tentu seorang manusia yang luar biasa!"
"Sayang sekali orang lain tidak menganggap hal itu sebagai hal yang luar biasa, buktinya keluarga Liong kami tak pernah bisa mengangkat kepala lagi didalam dunia persilatan"
"Hal ini dikarenakan kalian terkurung oleh bayangan hitam dari Li Sin huan, seharusnya kalian mesti membangkitkan semangat dan melakukan suatu perbuatan yang bisa dibanggakan dihadapan orang lain!"
"Hari ini aku telah melakukannya"
Ucap Siau hiang sambil tertawa.
"aku telah menghadiahkan pisau terbang milik Li Sin huan untuk Cia Siau giok. .!"
"Suatu perbuatan yang sangat bagus, bila anak cucu keluarga Liong harus selalu menggembol pisau terbang milik Li Sin huan, sesungguhnya peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang amat tak sedap dipandang, walaupun diantara kedua keluarga tersebut sudah tidak membicarakan soal dendam kesumat lagi, tapi paling tidak kalian pun tak usah membonceng ketenarannya!"
Mendadak air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Siau hiang, sambil menjatuhkan diri berlutut dan menyembah beberapa kali, dia berseru dengan terharu.
"Terima kasih banyak kongcu, inilah suatu ucapan yang tak akan kulupakan untuk selamanya!"
"Tapi ucapanku ini suatu perkataan yang sangat biasa!"
Kata Ting Peng dengan wajah tercengang.
"Tapi setiap kali orang lain tahu kalau aku adalah keturunan dari Liong Siau im, mereka pasti membeberkan kembali kesalahan demi kesalahan yang telah dilakukan oleh leluhur kami, mereka tak pernah menganjurkan diriku untuk berbuat begini berbuat begitu."
Ting Peng segera tertawa.
"Sekalipun dibeberkan kembali juga bukan masalah, Li Sin-huan berhasil dan bernama besar, sejak awal sampai akhir tidak menderita kerugian apa pun juga, sekalipun dia menderita sepanjang masa gara-gara Mak co mu Lim Si ing, tapi akhirnya toh berhasil menemukan ganti nya dari tubuh Sun Siau hong, sebaliknya kalian menderita kerugian besar akibat peristiwa tersebut, jadi kau dihitung kembali justru dialah yang masih berhutang kepada kalian!"
Dengan terharu Siau hiang berkata.
"Selama seratus tahun belakangan, Kong cu adalah orang kedua yang berkata demikian, aku rasa leluhurku dialam baka pasti akan berterima kasih sekali atas perkataanmu itu"
"Siapakah orang yang lain?"
"Li Sin huan sendiri."
Selama seratus tahun belakangan ini, kejadian tersebut sudah menjadi buah bibir setiap orang, hampir semua manusia tahu dan membicarakan masalah tersebut, tapi apa sebabnya cuma dia orang yang memberikan penilaian demikian?
Li Sin huan sudah merupakan malaikat diantara para pendekar.
Sebaliknya Ting Peng justru penuh diliputi oleh napsu iblis, mengapa mereka berdua justru mempunyai pemikiran yang sama?
Padahal kedua orang itu mempunyai cara bekerja yang sama sekaii berbeda?
Tapi mereka justru mempunyai pula banyak persamaan satu sama lainnya.
Mereka berdua sama-sama merupakan manusia yang mempunyai perasaan yang kaya.
Mereka adalah manusia-manusia yang cerdas dan berakal panjang.
Mereka pun sama-sama manusia yang menggunakan golok, bahkan berhasil dalam permainan goloknya hingga mencapai suatu taraf yang sukar diimbangi orang lain.
Baik malaikat atau iblis, kedua-duanya merupakan suatu tingkatan perasaan yang amat tinggi.
Bila sudah berada dalam keadaan demikian!
malaikat belum tentu selalu lurus, iblis pun belum tentu selalu sesat.
Mungkin, inilah yang dinamakan meski bercabang-cabang, sesungguhnya asalnya tetap satu.
Mungking teori ini kelewat dalam.
Teori yang dalam belum tentu dipahami Ting Peng, tapi sewaktu dia mendengar dirinya disamakan dengan Li Sin huan, diapun tidak merasakan suatu perasaan bangga, tidak pula merasa terkejut atau tercengang yang luar biasa.
Dia seakan-akan merasa kalau hal tersebut sudah merupakan suatu keharusan.
Tapi dalam pandangan Siau hiang, Ting Peng pada saat ini seakan-akan jelmaan dari malaikat suci, malaikan suci yang telah melampaui tingkatan Li Sin huan..
Sebab dia adalah keturunan keluarga Liong, orang-orang dari keluarga Liong tidak lagi membenci Li Sin huan, tapi merekapun tidak mengangapnya sebagai malaikat.
Dengan termangu-mangu Siau Hiang mengawasi wajah Ting Peng, sorot matanya penuh pancaran rasa hormat dan kagum.
Kini, dia bersedia mati seribu kali, bahkan selaksa kali demi orang ini.
ooo0ooo Pemuda itu masih tergelatak tak sadarkan diri di atas tanah, ketika mereka sedang berbincang-bincang.
Ah Ku membungkukkan badan untuk memeriksa anak muda tersebut.
Ia segera mengetahui kalau pemuda tersebut ditotok oleh semacam ilmu menotok jalan darah, tapi walaupun dia telah mencoba membebaskan pengaruh totokan itu dengan tujuh belas macam cara, tak satupun yang berhasil.
Sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa Ting Peng berkata.
"Ah ku percuma, akupun telah mencobanya, meski ilmu membebaskan jalan darah yang kumiliki tidak lebih banyak darimu tapi keenam macam cara yang kugunakan sama sekali berbeda dengan cara yang kau pergunakan barusan, nyatanya dia sama sekali tak bereaksi, Siau hiang, kau adalah kitab berjalan dari dunia persilatan, coba kau amati dulu siapakah orang ini ?"
Siau hiang mengamatinya beberapa saat, kemudian baru berkata.
"Budak tidak kenal, orang ini belum pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tapi kalau dilihat dari mimik wajahnya, sudah pasti dia adalah keturunan dari keluarga ternama!"
Soal ini tak usah kau katakan lagi", kata Ting Peng sambil tertawa tergelak, dia bisa disekap didalam ruang rahasia oleh Cia Siau giok dengan penjagaan yang begitu ketat diluar ruangan, bisa disimpulkan bila orang itu bukan manusia yang penting artinya, tak mungkin dia akan diperlakukan secara khusus, itulah sebabnya aku lantas menyelamatkan dirinya dari sekapan!"
Siau hiang berjalan mendekat, berlutut disisinya dan memeriksa tangannya beberapa saat, kemudian sambil memperhatiken telapak tangan orangitu, Katanya.
0rang ini mempergunakan pedang, bahkan memiliki kesempurnaan yang mengagumkan anak muda jaman sekarang amat jarang ada jagoan yang begini lihaynya"
"Dalam hal ini akupun dapat melihatnya tapi bila tidak mengetahui siapakah dia ucapanmu semua hanya ucapan yang tak berguna. Siau hiang tertawa. Tidak semuanya perkataan tak berguna menurut apa yang dilihat didepan mata sekarang, ada dua hal yang berhasil kuperoleh, meski budak tidak kenal siapakah dia, tapi besar kemungkinan bisa menebak asal usulnya!"
"0ooh, menurut kau, Siapakah dia?.
"Delapan sembilan tak akan terpisah dari sepuluh, dari beberapa keluarga ilmu pedang, yang ada dalam dunia persilatan dewasa ini, hampir sebagian besar sudah kena ditekan oleh kewibawaan keluarga Cia dari perkampungan Sin kiam San ceng, sikap mereka biasanva suram dan tak akan memancarkan kegagahan seperti ini, hanya anak keturunan keluarga Kwik dari Siong Yang yang belum pernah bentrok dengan keluarga Cia, bahkan masih bisa memperlihatkan kegagahannya sebagai seorang jago pedang!"
""Aku pikir ucapan tersebut kelewat didipaksakan kebenarannya!"
"Ilmu pedang keluarga Kwik dari Siong yang mengutamakan keterbukaan, kegagahan dan kecepatan, itulah sebabnya para jago pedangnya selalu dipancari oleh sikap yang gagah perkasa, dilihat dari mimik wajah pemuda tersebut dapat dilihat betapa gagahnya dia, tak mungkin kegagahan semacam itu bisa dipupuk melalui ilmu pedang keluarga lain, bagaimana menurut pendapat kongcu? "Ehmmm, kalau ucapan ini mah masih masuk juga diakal!"
"Ketiga orang yang bisa dipandang serius oleh Cia Siau giok pun hanya anak keturunan dari keluarga Kwik di Siong yang!"
"Ucapan inipun kelewat dipaksakan kebenarannya!` "Aku yakin alasanku yang ke empat ini mempunyai kekuatan yang cukup memadahi, keluarga Cia sedang mengumpulkan pelbagai senjata kenamaan yang pernah tercatat dalam kitab senjata, mereka hanya kekurangan pisau terbang dari Li Sin huan yang menempati urutan ke empat, sewaktu kuberikan pisau terbang milik Li Sin huan kepada mereka tadi Cia Siau giok maupun Cia sianseng tak dapat mengendalikan rasa girang dihatinya, hal ini membuktikan kalau mereka sudah berhasil mendapatkan pedang baja dari Siong yang dan cuma kurang pisau terbang dari Li Sin huan, padahal pedang baja dari Siong yang hanya berada ditangan keturunan keluarga Kwik. Sedang pemuda itupun terjebak dalam perkampungan Sin-kiam san-ceng"
"Aku tahu, alasanmu hampir semuanya cukup memahami,"
Kata Ting Peng sambil tertawa, Cuma sayang kau basih kekurangan bukti yang nyata, mengapa kitatidak menyadarkan dia lebih dulu kemudian baru ditanyai duduk persoalan yang sebenarnya?"
"Kongcu dan paman Ah ku saja tidak berhasil menolong dia, masa budak bisa membantu?"
"Setan cilik, kau tak usah bermain setan lagi dihadapanku, bila kau tak mampu menyadarkan dia, mungkin di dunia ini tiada orang bisa menyadarkan dirinya lagi!"
"Kongcu atas dasar apakah mengahrgai budak ?"
"Sejak aku tahu kalau kau adalah keturunan Liong Siau im, apu percaya kalau kau memiliki keammpuan tersebut!"
"Mengapa ?"
"Sebab aku tahu kitab pusaka Leng hoa poo-ci peninggalan dari Jian bin khi jin (manusia aneh bermuka seribu) Giok Lian hoa telah terjatuh ketangan keluarga Liong kalian, meskipun kitab aslinya sudah hilang ditangan kakekmu ketika dia hendak menjumpai Sangkoan Kim hong untuk menebus nyawa Li Sin huan, tapi sebagian besar isi kitab Kian hoa poo-ci tersebut sudah diwariskan oleh Lim Si ing kepada putranya Liong keh im adalah seorang yang pintar dan sudah pasti telah mengingat semua isinya, masa dia tidak mewariskan kepandaian tersebut kepadamu?"
"Untung saja ucapan ini diutarakan oleh kongcu, coba kalau orang lain mengetahui akan persoalan ini, mungkin nyawa budak sudah terancam oleh mara bahaya"
Kembali Ting Peng tertawa.
"Siau hiang, kau tak usah kuatir, selama ada aku disisimu, maka kau tak usah menguatirkan keselamatanmu lagi, sebelum orang lain melukaimu, dia harus mampu melangkahi mayatku lebih dulu, dan agaknya hal ini merupakan suatu peristiwa yang mustahil bisa terjadi"
Siau hiang benar-benar merasa amat terharu, dia tidak jual mahal lagi, dari sakunya dia mengeluarkan sebuah kotak perak dan didalam kotak tersebut terdapat belasan batang jarum emas.
Dia mengeluarkan sebatang jarum dan segera ditusukkan kedalam jalan darah pemuda itu, seakan-akan tak perlu diperhatikan lagi dengan matanya, tusukan itu begitu cepat dan sasarannya tepat.
Rasa kaget segera menghiasi wajah Ah ku, tapi Ting Peng seakan-akan sudah mengetahui akan hal ini, wajahnya sama sekali tidak menampilkan perasaan keheranan.
Tatkala Siau hiang menancapkan jarum emas yang kelima belas, pemuda itu mulai merintih sambil membalikkan tubuhnya.
Sambil tertawa Siau hiang lantas berkata.
"Kwik kongcu, berbaringlah denagn tenang lebih dulu, baru saja jalan darahmu kutembusi, sebentar jarum-jarum emas itu kucabut, kau baru boleh berbicara, kalau tidak, bila sampai mengalami peredaran darah yang terbalik, bisa berabe jadinya!"
Pemuda itu menurut dan segera memejamkan matanya rapat-rapat kemudian berbaring tak bergerak ditempat semula.
Dengan sangat berhati-hati sekali Siau hiang mencabuti jarum emas tersebut satu persatu secara beraturan, setelah diseka dengan sapu tangan, jarum-jarum itu baru dimasukkan kembali kedalam kotak.
Setiap jarum tersebut menancap satu inci lebih kedalam tubuh, namun ujung jarum sama sekali tak nampak noda darah, bahkan setelah dicabut keluar pun dari lubang bekas tusukan tak nampak darah yang mengalir keluar, hal mana kontan saja membuat Ah Ku semakin tertegun dibuatnya.
Sambil tertawa Ting Peng segera berkata.
"Ilmu yang tercantum dalam kitab Lian hoa po ci sungguh luar biasa sekali, Siau hiang, apakah kim ciam kay hiat ci hoat (ilmu membebaskan jalan darah dengan tusukan jarum emas) mu itu dapat membebaskan segala macam totokan darah"".
"Benar, mendiang kakekku Liong keh im baru merasa menyesali kepicikan pikiran sendiri setelah menjelang masa tuanya, maka diapun lantas memusnahkan semua cara untuk mencelakai orang serta ilmu silat keji yang tercantum dalam kitab pusaka tersebut, yang tertinggal hanyalah kepandaian-kepandaian untuk menolong manusia, bahkan ditambahi pula dengan beberapa macam kepandaian yang tercantum dalam kitab Lian hoa Poo-ci, tapi masih lebih dari cukup untuk digunakan menolong orang."
"Kakekmu benar-benar seorang manusia yang luar biasa!"
Seru Ting Peng kemudian dengan wajah serius. Siau hiang tertawa hambar.
"Sementara itu, sang pemuda tadi sudah dapat merangkak bangun dan duduk, tiba-tiba ia berkata.
"Terima kasih banyak nona, atas bidu pertolonganmu"
"Jangan berterima kasih kepadaku Kwik kongcu, aku hanya membantumu untuk menghilangkan pengaruh totokan, yang menyelamatkan dirimu dari sekapan musuh adalah kongcu kami."
Pemuda itu segera bangkit berdiri dan menjura dalam-dalam sambil berkata.
"Terima kasih atas pertolongan dari saudara, Kwik lm liong tak akan melupakan untuk selamanya"
"Ooah, anda benar-benar she Kwik?"
Seru Ting Peng dengan wajah tercengang.
"Benar, bukankah nona itu kenal dengan diriku?"
"Aku pun tidak kenal"
Jawab Siau-hiang "apa yang kukatakan tak lebih hanya berdasarkan dugaan saja..."
"Berdasarkan dugaan saja?"
"Seru Kwik In liong keheranan.
"padahal nama marga yang ada begitu banyak, mengapa nona justru memilih nama marga Kwik. Tentu saja berdasarkan suatu analisa"
Kata Siau hiang sambil tertawa "sekarang aku tidak salah menduga bukan, hal ini menunjukkan kalau analisaku tadi memang masuk di akal juga"
Ketika Ting Peng menyaksikan dia seperti hendak menanyakan sesuatu lagi, sambil tertawa dia segera menukas.
"Bukankah saudara Kwik berasal dari perkampungan keluarga Kwik di kota Siong Yang?"
Kembali kwik In liong manggut-manggut.
Benar, Kepergian siaute ini merupakan kepergian siaute yang pertama kalinya, tapi saudara dapat mengenali dusun siaute rupanya kita pernah bersua dimasa lalu?
Tidak, tapi golok Siong yang dari saudara Kwik amat kentara, setelah kupikir-pikir dan merasa tiada keluarga lain yang merupakan keluarga persilatan, maka akupun lantas menduga kalau saudara kwik berasal dari Siong yang.
Kwik in liong kelihatan gembira sekali.
Ucapan saudara kelewat sungkan, kami hanya membonceng ketenaran dari leluhur kami saja untuk bercokol terus dalam dunia persilatan, padahal anak keturunan keluarga Kwik tidak mempunyai kelebihan apa-apa, terutama sekali siaute, boleh dibilang benar-benar memalukan sekali, belum setengah bulan keluar rumah aku sudah dipecundangi orang habis-habisan, belum lagi pedang dicabut, orangnya sudab dirobohkan lebih dulu...."
Ketika berbicara sampai disitu, wajahnya segera menampilkan sesuatu perasaan batin yang amat menderita.
"Bagaimana ceritanya sehigga sandara Kwik bisa terkurung didalam perkampungan Sin kiam san ceng?"
Tanya Ting Peng kemudian . Kwik In liong segera menghela napas panjang.
"Aaaai, sesungguhnya memalukan sekali kalau diceritakan, adapun kepergian siaute kali ini, pertama untuk mencari pengalaman dalam dunia prrsilatan, kedua ingin mencari dua orang untuk mencoba ilmu pedang yang kumiliki"
"Orang pertama yang saudara Kwik cari adalah Cia Siau hong dari perkampungan Sin-kiamsan-ceng?"
"Benar, nama besar pedang sakti keluarga Cia sudah lama termashur dalam dunia persilatan, siaute pernah mendengar semasa mudanya dulu dia pernah menyatroni pelbagai perguruan pedang kenamaan dikolong langit dan akhirnya berhasil merebut gelar sipedang sakti yang tiada tandingan tapi dia tidak mendatangi keluarga Kwik di Siong yang, aku tidak mengerti apa maksudnya itu karena tidak memandang sebelah mata terhadap kami ataukah karena menganggap ilmu pedang keluarga Kwik kami tidak berharga untuk mencoba, itulah sebabnya aku hendak mencarinya dan menayai persoalan ini sampai jelas!"
"Persoalan ini tak usah kau tanyakan lagi kepadanya, sebab aku dapat memberikan jawaban untukmu"
Kata Ting Peng sambil tertawa, dia bukannya tak ingin melainkan tak berani!"
"Tak berani ?"
"Benar tak berani, bukan hanya Cia Siau hong saja, bahkan setiap umat persilatan tak berani mencari gara2 dengan orang perkampungan keluarga Kwik!"
"Saudara, walaupun perkampungan keluarga Kwik mempuyai nama dalam dunia persilatan, itupun dikarenakan perjuangan leluhur kami, selama berapa puluh tahun ini meski kami tiada hentinya melatih ilmu pedang kami secara tekun, namun amat jarang keluar rumah dan berkelahi dengan orang, Siaute tidak mengetahui kalau keluarga kami memiliki nama dan kewibawaan sebesar ini!"
Ting Peng tertawa.
"Saudara Kwik boleh tidak percaya, tapi kesemuanya ini merupakan kenyataan, cuma tak ada orang yang berani memberitahukan kepadamu saja, untung saudrra Kwik bertanya kepada siaute, coba kalau bertanya kepada orang lain, kemungkinan besar orang tak akan mengatakan apa alasannya kepadamu."
"Apakah hal ini disebabkan nama dari perkampungan keluarga Kwik kami terlampau jelek? "
"Nama baik keluarga kalian sudah termashur dan dikenal setiap orang selama seratus tahun belakangan ini keluarga kalian selalu dihormati dan disegani setiap orang"
"Siaute rasa peraturan perkampungan kami kelewat ketat diantara keturunan kami pun tak ada yang berani berbuat ulah diluaran, semestinya orang tak usah jeri kepada kami. Kembali Ting peng tertawa.
"Bila orang-orang dari keluarga kalian amat menghina orang dan mengandalkan kepandaian untuk berbuat sewenang-wenang, tak mungkin orang lain akan merasa jeri kepada kalian, malah justru orang akan berdatangan untuk menuntut balas atau minta pertanggungan jawab kalian, justru karena keluarga kalian termashur karena kejujuran dan kegagahannya, maka orang persilatan menjadi segan kepada kalian, menaruh hormat kepada kalian dan tak seorang pun berani mendatangi perkampungan kalian untuk membuat keonaran"
Alasan tersebut tidak terlalu baik, tapi Ting Peng memang tak mampu memberikan alasan yang lebih baik lagi, dia bukan seorang yang bisa membohong, tapi kalau dia berkata terus terang dengan mengatakan bahwa selama ini keluarga Kwik bisa selamat karena selalu dilindungi oleh anak murid dari Li Sin huan dan Hui kiam kek A hui, mungkin Kwik In liong tak sanggup menahan diri.
Entah mengapa Ting peng memang menaruh kesan yang sangat baik terhadap pemuda ini, dia tak ingin melukai nama baik serta harga diri dari bocah tanggung yang belum berpengalaman itu.
Untung saja Kwik in liong masih polos dan mempercayai perkataan tersebut dengan begitu saja.
Setelah menghela napas panjang, ujarnya.
"Aku pun tak lebih hanya bertanya saja, bukan benar-benar ingin mencari Cia Siau hong dan menantangnya untuk berduel, aku pikir dia sudah termashur banyak tahun dan nama tersebut sudah pasti bukan diperoleh secara kebetulan, ilmu pedangku belum tentu bisa benar-benar menangkan dia, tentang kalau aku yang salah, seandainya dia yang sampai kalah, aku kan bisa menjajarkan nama besarku setaraf dengan nama besar nya?. Ting Peng semakin menyukai bocah ini, dia muda, jujur, polos, tidak terlampau tinggi hati, berhati baik dan selalu memikirkan keadaan orang lain, dia memang seorang pemuda yang baik. Oleh karena itu, sebetulnya dia ingin bertanya bagaimana sampai dia terjatuh di tangan orangorang perkampungan Sin kiam san ceng pun segera diurungkan. Kwik In liong menundukkan kepalanya rendah-rendah, mungkin dia sedang teringat akan suatu peristiwa yang memedihkan hatinya. Setelah ditahan sekian waktu, akhirnya tahan lagi dia berkata.
"Ketika aku datang ke perkampungan Sin kiam san ceng, dengan amat sungkan dan hormat Cia Siau giok menjamuku, dia begitu cantik, begitu supel dan pandai bergaul, kami bisa berbincang-bincang sangat luwes, masing-masing pihak merasa gembira sekali ...."
Kembali sorot matanya memancarkan kesedihan, tapi juga agak termangu seperti seseorang yang terpikat oleh sesuatu. Menyaksikan hal tersebut, Ting Peng menghela napas panjang, pikirnya kemudian.
"Lagi-lagi seorang pemuda kena dipikat oleh rayuan maut Cia Siau giok..."
Nada suara dari Kwik In liong lambat laun berubah menjadi marah, katanya lebih jauh.
"Aku bersikap hormat kepadanya, siapa tahu ternyata dia adalah seorang perempuan macam begitu"
"Apa yang dia lakukan terhadap dirimu.?"
"Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa dia berbuat demikian kepadaku, ia mencampuri sayur dan arak tersebut dengan obat"
"Oooh...mencampuri sayur dengan obat?"
Seru Ting Peng tertahan.
"Yaa, dia telah mencampuri sayur dan arakku dengan obat perangsang, bahkan.."
Bagaimanapun juga dia adalah seorang pemuda yang masih polos, ketika berbicara sampai disitu mukanya berubah menjadi merah karena jengah, kata-kata selalanjutnya pun tak mampu dilanjutkan, Ting Peng merasa terkejut sekali, dia tahu Cia Siau giok memiliki suatu kepandaian untuk merayu, jarang sekali ada pemuda yang mampu menahan diri terhadap rayuannya, tapi tampaknya Kwik In liong tak sampai terpikat oleh perempuan tersebut dengan begitu saja, hal ini sesungguhnya merupakan suatu hal yang luar biasa.
Maka sambit tertawa katanya.
"Apa dia menyatakan rasa senangnya kepadamu?"
Kwik In liong manggut-manggut, bahkan menunjukkan rasa puasnya terhadap penjelasan dari Ting peng tersebut. Sesudah menghembuskan napas panjang, katanya lagi.
"Yaa benar, dia menunjukkan sikap yang kelewat hangat atau mau dibilang panas sekali!"
"Oooh, kalau begitu dia mencintai dirtimu?"
Kata Ting peng sambil tertawa.
"Tidak, dia tidak mencintai diriku, dia hanya mencintai pedang baja keluargaku, aku dapat melihat kalau dia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk menjebakku, agar aku memghadiahkan pedang keluargaku itu kepadanya"
"Kalau begitu saudara Kwik keluar dengan membawa serta pedang baja keluargamu?"
"Benar, inilah lambang kehormatan dan kejayaan dari keluarga kami, setiap anak cucu keluarga Kwik yang melakukan perjalanan didalam dunia persilatan pasti akan membawa pedang ini, selain untuk menjaga diri, maksudnya agar selalu memperingatkan kita agar tidak melakukan perbuatan yang tercela sehingga menodai nama baik leluhur kami, justru karena pedang baja itu selalu berada disisi kami, maka aku bisa tetap mempertahan kesadaranku kendatipun berada dibawah pengaruh obat, aku tak sampai terperangkap oleh siasatnya!"
Ting peng amat mengagumi atas keteguhan imannya, sambil tertawa tanyanya kemudian.
"Lantas kalian saling bertarung?"
"Tidak, berada dalam keadaan seperti itu, aku benar-benar tak mampu untuk turun tangan, sebab dia bertangan kosong belaka, dan lagi tidak mengenakan busana.` Tak tahan lagi Ting peng segera tertawa tergelak.
"Haaahhh ....haaahhh... haaahhh... dalam keadaan seperti ini memang tidak leluasa bagimu untuk turun tangan, andaikata kau membunuhnya, sekalipun kau terjun ke sungai Huang ho dan mandi sepuluh kali pun nodamu tak akan tercuci bersih!"
""Soal itu mah aku tidak takut, bagiku yang penting adalah hatiku tidak menaruh suatu maksud buruk, aku sama sekali tidak menggubris terhadap pandangan orang lain, waktu itu aku tak bisa turun tangan karena hatiku memang merasa tak mampu untuk turun tangan!.. Apa tindakan saudara Kwik selanjutnya? "Terpaksa aku harus minta dini, diapun tidak menghantarku, namun aku mengerti bahwa dia tak akan melepaskan aku dengan begitu saja, betul juga belum lagi berjalan keluar dari perkampungan, aku sudah terkena sergapannya, dari dalam kebun tahu-tahu muncul sebuah jaring besar yang mengurung aku dari atas"
Maka pedang baja milik keluarga Kwik pun terjatuh ketangan orang orang Sin kiam san ceng?"
Kwik In liong segera menggeleng.
Itu sih tidak, sewaktu aku berjalan masuk kedalam kebun, sudah kuduga kalau pedang ini sulit untuk kupertahankan pada hari ini, maka aku telah mencari suatu tempat dan menyembunyikannya!"
Mendengar perkataan tersebut, tak tahan lagi Ting Peng tertawa, ia mentertawakan Kepolosan orang, ingin menyembunyikan diri suatu benda yang telah diincar orang di dalam perkampungan Sin kiam san-ceng, mungkin hanya anak muda yang bisa berpikiran demikian.
Namun Kwik In liong amat mempercayai tempat penyimpanannya itu, kembali dia berkata.
Tempat yang kugunakan untuk menyembunyikan pedang itu amat rahasia sekali letaknya, tak nanti mereka akan berhasil untuk menemukannya, aku melompat naik ke atas sebatang pohon bwee tua dan menemukan sebuah cabang pohon yang amat tersembunyi, lalu kutancapkan pedangku disana, kemudian Cia Siau giok sudah tiga kali menanyakan persoalan itu kepadaku, dia berulang kali memaksaku untuk menyerahkan pedang itu, dari sini dapat disimpulkan kalau dia belum berhasil emnemukan pedang bajaku itu!"
Ting Peng agak percaya, seandainya dia memang menyembunyikan pedang tersebut disana, besar kemungkinannya Cia Siau giok memang tak akan berhasil menemukannya.
Akan tetapi setelah ia menyaksikan mimik wajah Siau hiang, dengan cepat anak muda ini tahu kalau harapan pedang tersebut masih berada di tempat semula kecil sekali.
Cia Siau giok telah menyebarkan mata-matanya diseluruh penjuru perkampungan Sin kiam san-ceng, tak mungkin mereka akan melepaskan setiap gerak gerik dari Kwik In liong dengan begitu saja.
Namun diapun tak ingin menghilangkan rasa gembiranya, maka sambil tertawa ujarnya.
"Kwik-heng, harap kau memberitahukan letak pohon bwe tersebut kepadaku, siaute akan mengambilkannya untukmu!"
"Tidak, aku hendak pergi mengambilnya sendiri"
Ting Peng segera tertawa.
"Saudara Kwik, walaupun perkampungan Sin kiam san ceng berusaha untuk mengumpulkan berbagai macam senjata tajam yang tercantum dalam kitab senjata, hal tersebut dikarenakan hobby saja, senjata tajam itu sama sekali tidak memiliki nilai yang terlampau luar biasa, dia tak segan-segan melakukan kesalahan terhadap saudara Kwik, hal ini sudah pasti dikarenakan dia mempunyai maksud lain.!"
"Akupun berpikir demikian, cuma ia sama sekali tidak mngajukan permintaan lebih jauh, sehingga aku benar-benar tak bisa menebak apa maksud tujuannya yang sesungguhnya?"
"Perduli apakah maksud tujuannya, yang paling penting dia menaruh perhatian khusus terhadap suadara Kwik, mengapa saudara Kwik harus menampakkan diri lagi untuk memasuki perangkap?"
"Kali ini aku bisa bertindak lebih berhati-hati lagi"
Ting Peng tertawa.
"Serangan secara terang-terangan mudah dihadapi, serangan secara menyergap itulah yang perlu dikuatirkan, saudara Kwik, senadainya sampai saatnya nanti lagi-lagi dia melemparkan selembar jaring, apakah kau tak akan dibikin gelagapan lagi?"
Selapis rasa murung yang amat tebal segera menyelimuti wajah Kwik In liong, katanya kemudian.
"Betul juga, entah jaring itu terbuat dari bahan apa? Selain keras dan kuat juga mempunyai daya lentur yang besar, bila sudah membungkus dibadan maka rasanya mau meronta untuk melepaskan diripun sukarnya bukan buatan, tapi aku harus menemukan kembali pedang itu!"
"Seandainya saudara Kwik mempercayai aku, serahkan saja kepada siaute untuk mengerjakannya, tak sampai tiga hari pedang baja milik saudara Kwik pasti sudah kudapatkan kembali!"
Kwik In liong termenung sambil berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Baiklah, aku tidak kuatir tidak melangsungkan duel satu lawan satu, tapi aku benar-benar kuatir dengan siasat busuk mereka, apalagi pihak lawan pun tergantung seorang anak gadis aku merasa sungkan untuk bertindak kelewat batas, kalau begitu terpaksa harus merepotkan saudara sebentar. Aaah, betul, aku belum menanyakan nama saudara, coba kau lihat, aku betul-betul sudah kelewat pikun.". Ting Peng tertawa.
""Lebih baik saudara Kwik jangan bertanya lebih dulu, kalau tidak, kita bisa gagal menjadi teman bahkan bisa jadi akan disusul dengan suatu pertarungan!"
"Maksudmu?"
Sebab akulah orang kedua yang hendak saudara Kwik cari untuk diajak berduel"
"Aaah, tak mungkin, orang kedua yang hendak kucari untuk kuajak berduel adalah seorang jago golok muda yang bernama Ting Peng, dia menggunakan sebilah golok iblis"
Sambil tertawa dan menepuk-nepuk golok disisi tubuhnya, Ting Peng berkata.
"Apakah sebilah golok bulan sabit?"` Kwik In liong segera menjerit sekeras-kerasnya.
"Haaahh, jadi kau .... kau adalah Ting Peng? "
"Betul, sasaran pertama dari saudara Kwik adalah Cia Siau hong, maka aku lantas menduga bahwa akulah orang ke dua yang mungkin menjadi sasaranmu"
Kwik In liong segera menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Habis sudah sekarang! Habis sudah ....".
"Saudara Kwik ada persoalan apakah yang membuat pikiranmu tak bisa terbuka? Kwik In liong menghela napas panjang.
"Aku sudah dipermainkan Cia Siau giok secara habis-habisan, tentu saja aku tak dapat pergi mencari Cia Siau hong untuk diajak berduel, dan sekarang akupun menerima kebaikan darimu, tentu"
Saja aku pun tak dapat mencarimu untuk diajak ber duel, hal ini bukankah berarti perjalananku dalam dunia persilatan hanya perjalanan yang sia-sia belaka?"
"Saudara Kwik, kecuali kami berdua, apakah kau sudah tidak mempunyai sasaran ketiga yang bisa diajak untuk duel?"
Kata Ting Peng sambil tertawa. Dengan angkuh Kwik In Liong menjawab.
"Didalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali kalian berdua, manusia darimana lagi yang pantas untuk disebut sebagai seorang enghiong? Aku orang she Kwik kalau bukan mencari enghiong untuk diajak berduel. apakah aku harus mencari kaum berandal?"
Ucapan tersebut cukup gagah dan perkasa, sayang Ting Peng lagi-lagi tertawa dingin.
"Heeehh... heeehhh... heeehhh... setelah Sangkoan Kim hong mati dulu, perkumpulan Kim chee pang pun ikut buyar, tapi kakekmu Kw ik Siong yang cianpwe setelah mati, nama besar Siong yang kiam masih termashur sampai dimana-mana, tapi kenyataannya didalam urutan nama senjata dalam kitab senjata, nama Sangkoan Kim hong justru masih berada diatas nama Kwik Siong Yang!"
Kwik In liong menundukkan kepalanya rendah-rendah, hal ini merupakan suatu kenyataan yang tak bisa disangkal, maka sambil menghela napas panjang katanya kemudian.
"Aku sungguh berharap Sangkoan Kim hong mempunyai putra atau ahli waris yang masih hidup didunia ini, sehingga aku dapat mencari mereka untuk diajak berduel, akan kubuktikan kalau pedang Siong yang thi kiam belum tentu lebih kalah ketimbang sepasang gelang Liong hong siang huannya...!"
"Saudara Kwik, mengapa sih kau masih panasan hati terus menerus? Mengapa tidak kau bayangkan meskipun ilmu silat Sang koan kim hong mengungguli ayahmu, tapi sampai kini tidak banyak orang yang bisa mengingatnya, sedangkan nama besar kakekmu masih dikenal dan dihormati setiap orang, hal ini membuktikan kalau nama besar seorang enghiong belum tentu bisa tetap langgeng hanya berdasarkan soal ilmu silat saja"
Kwik In liong menundukkan kepalanya semakin rendah.
"Tentang soai ini, akupun tahu!"
"Bila saudara Kwik sudah mengetahui akan hal ini, maka kau tak akan merasa sedih karena kepandaianmu kalah dengan kepandaian orang lain, sewaktu baru pertama kali terjun kedalam dunia persilatan dulu, siaute pun mempunyai jalan pemikiran seperti apa yang saudara Kwik pikirkan sekarang, itulah sebabnya aku mendatangi perkampungan Sin kiam san ceng dan mencari Cia Siau hong untuk mengajaknya berduel"
Konon pertarungan tersebut belum menghasilkan keputusan siapa menang dan siapa kalah?
"Boleh dibilang demikian, kata Ting Peng sambil tertawa, dalam kenyataan kami tak pernah bergebrak secara sungguhan waktu itu, kami hanya berbicara saja, namun cukup dalam beberapa patah kata saja, masing-masmg pihak sudah merasa lebih dari cukup!"
"Sudah cukup?"
"Betul, sudah cukup, hari itu kami berjumpa didalam pesanggrahan Cong kiam lu, waktu itu Cia tayhiap sama sekali tidak membawa pedang tapi aku dapat merasakan bahwa kesempurnaan ilmu silat yang dimilikinya sudah tak mamptu ditandingi oleh siapa saja!"
Termasuk golokmu pun tak sanggup?"
"Yaa, tidak sanggup golokku masih ada wujudnya, tapi dia sudah berhasil mencapai ke tingkatan yang tidak berwujud, seperti ombak dahsyat ditengah samudra, se waktu dia menggulung datang siapapun tak akan mampu membendungnya dengan pedang atau golok apa pun jua "
Kwik In liong tidak bersuara.
Biasanya kalau membungkam akan berarti mengakui atas kebenaran dari perkataan lawan.
Ting Peng berkata lebih jauh.
`Setelah berada dalam keadaan seperti itu, akupun tak sanggup untuk mencarinya dan menantangnya berduel karena aku tahu bahwa aku tak akan berhasil menangkan dia!"
Tapi ada pula orang mengatakan saudara Ting berhasil mengungguli dia"
Ting Peng segera tertawa.
"Boleh juga dibilang demikian, sebab selain kenyataan setiap orang boleh berkata demikian, karena dia sudah menjauhkan diri dari soal nama dan kedudukan, tak mungkin dia akan mencari orang untuk diajak berduel, bila kita menantang seseortang yang tak bersedia melayani tantangan kita itu, maka siapapun dapat pula menangkan dia!"
"Seandainya ada orang hendak memaksanya untuk turun tangan?"
"Aku percaya diapun tak akan melancarkan serangan balasan!"
Ujar Ting Peng sambil tertawa.
"Sekalipun ada orang memalangkan pedangnya diatas tengkuk diapun ia tak akan melancarkan serangan balasan?"
"Tiada orang dapat menggunakan ancaman pedang yang ditempelkan diatas tengkuknya, juga tiada seorang pun yang dapat berbuat demikian!"
"Mengapa?"
Ting Peng berpikir sebentar, kemudian baru ujarnya.
"Tentunya saudara Kwik pernah melihat patung Ji lay Hud ditengah kuil bukan? Ada pula yang menyembah patung Bu dha jian jiu ji-lay Hud, diantara tanganxnya terdapat memegang pedang, adakah seorang yang hendak menantangnya untuk berduel.
"Itu mah berbeda, patung itu toh patung Ji lay-hud!-seru Kwik In liong sambil tertawa. Dengan cepat Ting Peng menggeleng.
""Sama sekali tiada bedanya, sebab perasaan yang dia berikan kepada setiap orang persis seperti patung budha didalam kuil."
"Masa kepandaiannya sudah berhasil di latih hingga mencapai ketingkatan setinggi itu?"
Tanya Kwik In liong dengan wajah tertegun. Ting Peng manggut-manggut.
"Benar, dia sudah berhasil mencapai ketingkatan setinggi itu, tiada manusia didunia ini yang sanggup memandangi lagi, oleh sebab itu saudara Kwik boleh mencoret namanya dari daftar yang kau buat. Kwik In liong menghela napas panjang.
"Aaaai, didalam kenyataan aku sudah tidak mempunyai daftar nama lagi, sebab dalam daftar namaku itu hanya tercantum dua nama, sekarang tak mungkin lagi bagi ku untuk mencari kedua orang ini dan menantangnya untuk berduel!"
"Kalau begitu, saudara Kwik bermaksud pulang ke rumah saja?"
Tanya Ting Peng sambil tertawa.
"Benar, kalau tidak pulang, apa lagi yang harus kukerjakan? Cuma sewaktu berangkat aku sudah terlanjur sesumbar dan bicara besar, kalau harus pulang dengan begitu saja, rasanya, rasanya aku menjadi rikuh sendiri!"
Ting Peng berpikir sebentar, kemudian katanya.
"Kalau saudara Kwik ingin pulang, hal ini sebenarnya memang merupakan suatu tindakan yang paling baik, cuma tampaknya saudara Kwik masih belum mau kesepian terus!"
"Yaa, betul, aku belum mencapai usia seperti Cia Siau hong, juga belum berhasil mencapai ke tingkatan seperti itu, tentu saja aku tak dapat hidup dengan suasana yang begitu hambar!"
Teriak Kwik In liong dengan suara keras.
"Betul, betul, sudah seharusnya saudara Kwik banyak melakukan pekerjaan. Apalagi sudah lama perkampungan Siong yang san ceng tak pernah mengeluarkan pedang Siong yang thi kiam yang kedua"
"Saudara Ting, apa maksud dari perkataan itu?"
Tanya Kwik In liong tertegun. Ting Peng kembali tertawa.
"Aaah, tidak apa-apa, hanya nasib saudara Kwik mujur, begitu dilahirkan sudah berada didalam keluarga jago pedang kenamaan, sehingga kemana saja kau pergi, asal menyebut sebagai ahli waris keluarga Kwik, maka kau akan segera menerima penghormatan dari siapa pun.
"Aku justru merasa tidak senang dengan hal ini, orang lain bersikap hormat kepadaku, karena aku adalah ahli waris dari Siong yang, bukan dikarenakan aku adalah Kwik In liong, aku memang merasa hormat, kagum dan bangga karena watak leluhurku, tapi aku sama sekali tak sudi untuk membonceng ketenaran dari leluhurku itu!"
"Tapi suadara Kwik sama sekali tidak berniat untuk merencanakan suatu perjuangan agar nama Kwik In liong menjadi tenar!"
"Siapa bilang tidak? Kali ini aku keluar dari rumah dan menantang Cia Siau hong, serta saudara Ting tak lain bukan karena aku ingin mencari nama besar bagiku, tapi sekarang..."
Ting Peng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ucapnya.
"Saudara Kwik, jika kau benar-benar berniat untuk mengembangkan diri, maka kau tidak perlu menggotong keluar nama leluhurmu, seandainya kau tidak merasakan keistimewaan daripada dirimu, seharusnya kalau kau bersikap seperti kebanyakan orang lainnya, berjuang dari bawah, agar orang lain pelan-pelan mengenali dirimu sebagai Kwik In liong dan kalau bisa maju setapak lagi bisa menerima kehadiranmu!"
Kwik In liong termenung beberapa saat lamanya, mendadak ia merasakan hatinya bergetar keras, kemudian dengan wajah berseri serunya!"
"Terima kasih atas pentunjuk saudara Ting, aku sudah bertekad untuk mulai dari bawah, mulai sekarang aku tak akan menyinggung soal nama Siong yang-san-ceng lagi, aku hanya akan berjuang dengan mengandalkan nama Kwik In liong!"
""Percuma, kata Ting Peng sambil tertawa.
"asal saudara Kwik mengeluarkan senajtamu, orang lain segera akan tahu kalau kau adalah keturunan dari Siong yang!"
"Tak mungkin"
Ucap Kwik In liong pula sambil tertawa.
"pedang Siong-yang thi-kiam sama sekali tidak mempunyai suatu tanda yang khusus, selain ukiran huruf "Kwik"
Saja diatas gagang pedang tersebut, kini pedang itu sudah terjatuh ke tangan orang-orang Sin kiam san ceng, aku pun tak maui benda itu lagi, aku akan ganti dengan sebilah pedang biasa, agar siapa pun tidak dapat mengenali diriku lagi"
"Ehmmmm.. Caramu ini betul juga, tapi saudara Kwik hendak mulai dari mana"
Kwik In liong berpikir sebentar, kemudian ujarnya. (Bersambung ke
Jilid 25)
Jilid -25 AKU akan mencari beberapa orang jago kenamaan untuk merobohkan mereka lebih dahulu, menanti namaku sudah mulai terpupuk akan kucari jago-jago yang bernama besar untuk mencoba kepandaian mereka, bila mereka semua dapat kurobohkan...
Ting Peng segera mendengus tukasnya.
Paling banter kau pun hanya akan menjadi seorang jago pedang kenamaan, kendatipum kau dapat merobohkan semua orang yang ada dan bisa menjadi seorang jago pedang yang paling top, namamu pun tak akan bisa melampaui kepopuleran nama kakekmu, sebab nama Siong yang thi kiam diperoleh dari suatu perbuatan yang mulia suatu pengorbanan yang ksatria.
Kalau begitu, aku pun akan melakukan juga perbuatan perbuatan yang manis dan pengorbanan-pengorbanan secara ksatria!"
Ting Peng segera tertawa.
Kalau cuma membunuh beberapa orang gelintir manusia kurcaci atau membasmi berapa orang durjana mah nama besarmu tak akan secepat itu menjadi tenar.
Dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti Kwik In liong segeta bertanya.
"Lantas perbuatan macam apakah yang bisa membuatku menjadi tenar dan bernama besar?"
""Itulah yang sulit untuk dibicarakan, tapi paling tidak harus melakukan suatu perbuatan besar yang bisa menggetarkan seluruh dunia persilatan, dan dibalik perbuatan itu terdapat suatu penampilan yang bagus. aku percaya dengan kecerdikan saudara Kwik asal kau bersedia melakukan segala perbuatan dengan berhati-hati, tidak sulit rasanya untuk menemukan kesempatan seperti itu!"
Kwik In liong berpikir sebentar, akhirnya dia menjura seraya berkata.
"Terima kasih banyak atas petunjukmu, sekararg siaute hendak mohon diri lebih dahulu, budi kebaikanmu ini pasti akan kubalas dikemudian hari, moga-moga ada suatu kesempatan yang baik bagiku untuk bisa menolong dirimu pula satu kali"
Selesai berkata dia lantas membalikan badan dan berlalu dengan langkah lebar.
Ketika Ting Peng menyaksikan tempat yang ditujunya adalah perkampungan Sin kiam san ceng, tak tahan lagi dia segera berteriak keras.
"Saudara Kwik kau telab salah jalan!"
"Tidak, aku tidak salah jalan!"
Kwik In liong tanpa berpaling lagi.
"Keliru, kau tak boleh berbuat demikian, paling tidak kau harus mencari tempat untuk membeli sebilah pedang lebih dulu sebelum pergi ke sana .". Mendengar perkataan itu Kwik In liong berhenti sebentar dan akhirnya berbalik arah tapi dia hanya lewat saja, sewaktu lewat di samping mereka, dia melemparkan sekulum senyuman, lalu meneruskan perjalanan nya dengan langkah lebar.
"Keturunan keluarga Kwik memang luar biasa, kongcu hanya cukup memberi sedikit petunjuk saja dia sudah lantas mengerti!"
Siau hiang memperhatikan bayangan tubuh Kwik In liong dan berkata dengan gembira. Ting Peng sendiri pun nampak gembira sekali.
"Akhirnva dia toh tidak membuatku merasa kecewa, tidak membuatku membuang tenaga dengan percuma, aku pun tidak sia-sia memeras keringat untuk membopongnya dari dalam perkampungan Sin-kiam-san ceng hingga sampai disini!"
Mungkinkah dia masih akan kembali lagi ke dalam perkampungan Sin-kiam-san-ceng?"
"Sudah pasti dia masih akan kembali ke situ, tapi diapun sudah memahami maksud perkataanku itu, kalau ingin melakukan suatu pekerjaan yang besar dan menggemparkan seluruh dunia persilatan, perkampungan Sin kiam san ceng inilah satu satunya kesempatan yang paling baik, asal dapat menyingkap rahasia yang menyelimuti perkampungan Sin kiam san ceng maka nama besarnya dengan cepat akan melangit dan pasti menggemparkan seluruh dunia persilatan!"
Tapi, apakah ia dapat berhasil dengan sukses atas segala usahanya itu... ?"
Sukar untuk dikatakan, tapi kalau dia datang lagi untuk ke dua kalinya nanti sudah pasti tindak tanduknya tidak akan seceroboh dan segagah seperti pada kedatangan nya yang pertama kali dulu, dia tak akan mudah tertipu lagi!"
"Heran, mengapa orang baru akan menjadi pintar setelah ia menderita kerugian lebih dahulu?"
Tanya Siau hiang dengan nada dan suara yang merdu.
Ting Peng segera tertawa.
Hei.
Siau hiang, kau tahu usiamu masih amat muda, mengapa sih kalau berbicara selalu saja seperti nenek yang bawel dan giginya sudah ompong?
judasnya bukan kepalang ......
Siau hiang segera melemparkan sekulum senyuman kepadanya, sifat polos kekanak kanakan yang menawan hati sempat menghiasi raut wajahnya yang cantik jelita itu.
ooo0ooo MENANTI AH-KU masih bertindak sebagai kusir kereta, sedangkan Ting Peng duduk di dalam kereta, tangan yang satu memeluk golok bulan sabituya sementara tangan yang lain membelai rambut Siau hiang.
Siau hiang duduk diatas permadani yang melapisi permukaan kereta berbaring diatas lutut Ting Peng dengan jinak bagaikan se ekor kucing kecil.
Kereta itu sedang lari menuju kearah perkampungan Sin kiam san ceng, dari kejauhan sana, sebelum tiba di dermaga parkampungan Sin kiam san ceng sudah nampak amat kacau balau seperti sarang laba-laba yang di usik orang.
Dalam ruang rahasia, Cia Siau giok dan Kim say sedang duduk saling berhadapan sambil bermuram durja, Ketika mendengar suara gaduh diluar sana, mereka nampak sama sekali tidak berdaya.
Dengan gemas Cia Siau giok memukulkan tinjunya diatas telapak tangan sendiri kemudian serunya.
Dengan susah payah kita berhasil membangun tempat ini menjadi begini rupa, kalau di suruuh lepaskan semua hasil tersebut dengan begitu saja, aku benar-benar merasa amat tidak terima!"
Singa emas pun menghela napas panjang.
"Aaaaai nona, apa boleh buat, siapa suruh kita mencari gara-gara dengan raja iblis ini?"
Empek Kim, bagaimana kalau kita beradu jiwa saja?.
Dengan cepat Singa emas menggeleng.
Tidak boleh, tempo hari aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagai mana dia bertanding melawan si naga perak, keampuhan golok sakti penembus langit nya tak mungkin bisa ditahan olah siapapun "Empek Kim mengapa kau membiarkan manusia semacam ini hidup didunia ini?
Konon sewaktu ia berjumpa dengan Cing-cing waktu itu, kaupun berada di arena?"
Si Singa emas tertawa getir.
"Betul, waktu itu dengan susah payah aku berhasil menemukan jejak setan tua tersebut dan secara kebetulan pula berjumpa dengan mereka!"
"Waktu itu mengapa kau tidak mencoba untuk membunuhnya?"
Si Singa emas menghela napas panjang.
"Aaai pada saat itu aku sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirinya, sungguh tak kusangka hanya di dalam satu dua tahun saja, kepandaian silat nya sudah memperoleh kemajuan yang begitu pesat.... !"
Cia Siau giok turut menghela napas.
"Aaai, mungkinkah ilmu silat seseorang bisa mengalami kemajuan yang demikian pesatnya hanya didalam waktu satu dua tahun saja. Singa emas termenung sampai lama sekali, kemudian baru sahutnya.
"Bagi sementara orang hal ini jelas tak mungkin, tapi di dalam Mo kau terdapat semacam Ilmu yang dinamakan Gi giok tay hoat yang mana seseorang dapat mengalihkan tenaga dalamnya kedalam tubuh seseorang yang lain sehingga pihak lawan bisa berubah menjadi seorang jagoan yang sangat lihay hanya dalam waktu yang amat singkat"
"Apakah keberhasilan ilmu silat Ting Peng diperoleh dari jalan begini...?"
"Kecuali cara ini, aku rasa tak mungkin ada cara kedua yang bisa mendatangkan keberhasilan seperti ini"
"Tapi mengapa aku belum pernah mendengar tentang kepandaian semacam ini?"
"Didalam Mo kau pun hanya seorang kaucu yang diperbolehkan mempelajari kepandaian semacam itu!"
"Kalau begitu kepandaian silat Ting Peng diperoleh dari setan tua itu?"
"Benar, asal dia menyalurkan tenaga dalamnya ketubuh seseorang maka kepandaian orang itu sudah menjadi amat tangguh, inilah suatu cara yang biasanya dipergunakan perkumpulan kami untuk mempersiapkan seorang kaucu baru, agar calon kaucu itu didalam waktu singkat berubah menjadi seorang jago lihay yang tiada taranya didunia ini"
"Kalau begitu setan tua itu sudah memilih Ting Peng sebagai ahli warisnya"
Si Singa emas berpikir sebentar, kemudian menyahut.
"Tampaknya tidak mirip, sebab dia sama sekali tidak memberi tahukan segala sesuatu tentang Mo kau kepada Ting Peng` "Lantas siapakah yang akan dipersiapkan sebagai pewaris jabatannya itu?"
"Tampaknya setan tua itu mempunyai rencana untuk mengakhiri perkumpulannya sampai disini dan tidak bermaksud untuk mengembangkan perkumpulan Mo kau lagi"
"Dia tidak mempunyai hak untuk berbuat demikian"
Kata Cia Siau giok dengan suara dalam.
"Mo kau adalah perkumpulan besar dari kaum iblis siapapun tidak berhak untuk mengakhiri perkumpulan Mo kau sampai ditengah jalan."
"Benar, kata singa emas dengan wajah serius.
"nona, lohu sekalian lebih condong untuk mendukung Kiong cu mendirikan partai lain, kesemuanya juga disebabkan hal ini!""
"Apakah ibuku berhak untuk berbuat demikian?"
"Kiongcu dan setan tua itu berasal dari satu sumber yang sama, tentu saja ia berhak. Asal setan tua itu tak mampu meneruskan pewarisnya untuk memimpin Mo kau, maka secara otomatis Kiongcu lah pewaris utama, tapi dewasa ini kita masih belum berdaya!"
"Mengapa ?"
"Sebab tongkat iblis kemala hijau Lik giok mo ciang yang menjadi perlambang turun temurun dari seorang kaucu masih berada ditangan mereka... ."
"Apakah kita harus mempunyai benda itu?"
"Betul, seperti juga cap kerajaan yang harus dimiliki seorang kaisar, maka tongkat Lik giok mo ciangpun merupakan benda mestika yang diwariskan A-siulo Cuncu, cousu angkatan pertama dari Mo kau. Asal benda itu berada di tangan kita maka semua tianglo baru bisa kita perintah, selama banyak tahun ini kami sudah berusaha dengan sepenuh tenaga untuk mencari jejak setan tua itu tujuannya yang terutama tak lain untuk mendapatkan mestika tersebut"
Cia Siau giok termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru ujarnya lagi.
Apakah ibuku pandai ilmu Gi giok sin kang?.
Seharusnya dapat, bukankah keberhasilan nona juga akibat dari pengaruh ilmu tersebut?"
Empek Kim, sekarang juga harus pulang ke Ibu kota dan mempelajari kepandaian tersebut. Nona mau pulang? Si Singa emas tertegun.
"Benar, untuk bisa menangkan Ting Peng aku harus dapat memberikan perlawanan dalam tenaga dalam, oleh sebab itu aku harus mempelajari kepandaian tersebut. Aku rasa percuma, kepandaian tersebut memang dapat menambah tenaga dalam yang dimiliki seseorang, tapi hal ini pun harus ditinjau dulu dari bakat masing-masing orang, Ting Peng adalah seorang manusia yang berbakat bagus, tenaga dalam yang di milikinya sekarang sudah dapat mengungguli setan tua tersebut!"
Kau anggap, bakatku tidak dapat melampaui Ting Peng?"
Singa emas agak ragu, kemudian katanya.
"Soal ini lohu tak berani mengatakan secara sembarangan, ayah ibu nona adalah jagoan nomor satu dikolong langit, tentu saja bakatnya tak mungkin jelek tapi manusia seperti Ting Peng sesungguhnya merupakan seorang manusia berbakat yang sukar di temukan."
Cia Siau giok tersenyum.
"Empek Kim, kau tak usah sungkan-sungkan, aku tahu kalau bakatku tak bisa memadahi bakat Ting Peng, tapi aku mempunyai cara lain untuk mengatasi kekurangan tersebut.
"Setelah nona mempelajari ilmu Gi giok sin kang, apakah kau hendak menyalurkan tenaga dalammu kedalam tubuh seseorang agar kemampuan orang itu bertambah hebat?"
"Apakah hal ini bisa dipakai untuk menandingi Ting Peng?"
Tanya Cia Siau giok sambil tertawa.
"Mungkin tidak bisa, bila tenaga dalam yang dimiliki disalurkan ke tubuh orang lain dengan ilmu Gi giok sin kang, maka kekuatan tubuh orang yang bersangkutan akan memperoleh kerugian besar, apalagi nona masih muda dan.."
Tujuanku yang terutama adalah untuk menandingi Ting Peng, apabila hal tersebut tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan, aku mah tidak akan melakukannya!"
Apa gunanya nona mempalajari ilmu Gi giok sin kang tersebut?" . Cia Siau giok tertawa.
"Soal ini tak usah kau campuri, pokoknya cepat buatkan persiapan, aku ingin bertemu dengan ibuku secepatnya. Singa emas segera memperlihatkan wajah serba salah, katanya kemudian setelah ragu sejenak.
"Saat ini kiongcu sedang mempelajari semacam ilmu sakti, dia telah menurunkan perintah yang melarang siapa pun pergi mengacau konsentrasinya"
"Tapi persoalan ini luar biasa, kita sudah mencapai pada saat yang kritis dan ancaman jiwa, aku rasa hal ini tak bisa dibilang sebagai mengganggu lagi". Baru saja Singa emas hendak buka suara, Cia Siau giok sudah berkata lagi dengan suara dalam.
"Empek Kim, aku tak ingin menggunakan kata perintah secara sembarangan, tapi untuk menghormati kau, aku terpaksa harus berbuat demikian, aku tak ingin menggunakan perintah secara sembarangan, bilamana keadaan benar-benar tidak memaksa, apakah kau ingin melanggar perintah?"
"Tidak, lohu tidak berani!"
Seru Singa emas dengan perasaan terperanjat.
"Bagus sekali, kalau begitu berangkatlah sekarang juga!"
"Bagaimana dengan tempat ini ?"
"Lepas saja jangan digubris, biarkan Ting Peng masuk, mau membunuh siapapun biarkan saja dia membunuh!"
"Soal manusia sih tidak menjadi soal, setiap saat kita bisa melatih pasukan baru, yang kukuatirkan adalah hasil usaha kita selama ini... ."
Cia Siau giok segera tertawa.
"Soal ini tak usah kau kuatirkan, asal kita perintahkan kepada mereka agar jangan melawan, Ting Peng pasti tak akan memusnahkan tempat ini... ."
"Apakah nona yakin?"
"Yakin sekali, jangan lupa tempat ini adalah perkampungan Sin kiam san ceng, rumah Cia siau hong, Ting Peng menaruh rasa hormat terhadap ayahku, dia tak akan berbuat secara semenamena. coba kalau bukan tergantung hal ini, sekalipun ada sepuluh buah perkampungan Sin kiam sanceng pun sudah bubar sedari dulu. Kim say tianglo menghela napas panjang memandang Cia Siau giok yang duduk sambil tersenyum, tiba-tiba saja timbul perasaan bergidik didalam hatinya. Kalau berbicara dari tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, dia masih mampu untuk membinasakan Cia Siau giok, tapi entah mengapa, dia justru menaruh sikap yang begitu menghormat terhadap nona ini, sedikitpun tidak berani membantah perintahnya. Apakah hal ini dikarenakan kesetiaan? Orang ini tidak memiliki kesetiaan, kalau tidak, diapun tak dapat menduduki kursi sebagai pemimpin para tianglo dan menghianati perguruan serta majikannya. Lantas apa sebabnya dia begitu takut terhadap Cia Siau giok? Mungkin dia sendiripun tak dapat menjawab pertanyaan tersebut, bukan cuma dia, setiap orang yang berada dalam perkampungan Sin kiam san ceng pun berperasaan demikian. Cia sianseng telah datang, ketika menerima perintah dari si nona untuk tetap tinggal disana menghadapi Ting Peng, paras muka Cia sianseng segera berubah, perintah itu sama artinya dengan mengumumkan hukuman mati kepadanya. Tapi kecuali menerima perintah, Cia Sianseng tak berani mengucapkan sepatah katapun. Mereka semua hidup karena takut mati tapi berada dihadapan Cia Siau giok, nyawa mereka! bagaikan sampah, mereka sama sekali tak berani menghindarkan ataupun melarikan diri. Kini Cia sianseng hanya bisa berdoa semoga Ting Peng hanya lewat saja dan tidak memasuki perkampungan Sin kiam san ceng. ooo0ooo UNTUNG saja nasib Cia sianseng masib terhitung tidak jelek, kereta Ting Peng hanya berhenti didepan dermaga. Hanya Siau hiang yang melompat turun, setelah menjura kepada Cia sianseng dengan hormat diapun berkata.
"Kongcu kami datang untuk pamit, dia mau pulang ke rumah, tolong sampaikan kepada nona Cia bahwa dia minta maaf karena berulang kali datang mengganggu kalian, mungkin dua tiga bulan lagi kongcu kami baru akan datang berkunjung lagi"
Begitu mendengar kata "pamit", Cia sianseng sudah merasa amat lega hatinya bahkan dia berjanji mulai hari itu akan bersembahyang setiap hari, dan tiap tanggal lima belas akan berpantang untuk mengucapkan terima kasihnya atas perlindungan Thian dalam peristiwa hari ini.
Hingga kereta Ting Peng pergi jauh dia baru percaya kalau nasibnya benar-benar lagi mujur.
Maka tergesa-gesa dia kembali ke kamar rahasia untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada Cia Siau giok, tapi begitu masuk ke dalam ruang rahasia dia menjadi tertegun.
Pintu batu yang tebalnya beberapa depa itu, sekarang sudah terbelah menjadi dua dan roboh di tanah.
Diatas tanah masih tersebar banyak sekali kutungan panah dan kutungan tombak, semua benda tersebut sebetulnya tersimpan dalam alat rahasia dibalik dinding, tujuannya adalah untuk mencegah orang menyusup ke situ.
Sekarang kenyataan membuktikan kalau alat rahasia tersebut tak pernah berfungsi tapi setiap panah, setiap tombak telah dibelah orang menjadi dua bagian.
Dari kepala sampai buntut, semuanya terbelah menjadi dua bagian yang sama besarnya.
Siapa yang melakukan perbuatan ini?
Jawabannya hanya satu....Ting Peng.
Hanya golok Ting Peng yang dapat membelah senjata rahasia tersebut, hanya golok bulan sabit yang bisa membelah pintu batu setebal beberapa depa itu.
Bacokan tersebut benar-benar merupakan sebuah bacokan kilat yang mampu membelah apapun.
Senjata rahasia, ruang rahasia, gudang bawah tanah, kesemuanya itu seperti mainan kanakkanak bagi pandangan Ting Peng.
Menyaksikan semua potongan senjata yang terbelah ditanah, mau tak mau Cia sianseng merasakan hatinya menjadi bergidik.
Ditanah tak nampak noda darah, tak nampak jenasah ....
tiada jenasah yang terbelah menjadi dua.
Hal ini membuktikan kalau Cia Siau giok tidak terbunuh, tapi hal itu tidak menunjukkan pula kalau jiwa Cia sianseng sudah ada jaminan, dia tetap berada disitu, menunggu kemunculan Ting Peng yang setiap saat akan mencabut nyawamu.
Bahkan Cia sianseng berharap bisa menemukan jenasah Cia Siau giok ditanah, berharap ia terbunuh oleh Ting Peng.
Walaupun Cia Sianseng juga tahu kalau musuhnya amat banyak, seandainya tanpa Sin kiam san ceng sebagai tiang punggungnya, sulit baginya untuk hidup selama tiga bulan lagi, tapi dia tetap mengharapkan harapannya terkabul.
Bahkan diapun berharap Ting Peng dapat membacoknya pula dalam sekali bacokan.
Dia tak ingin mati, tapi kadang kala dia merasa pula kalau kematian merupakan semacam pelepasan, semacam pelepasan dalam bentuk semangat dan jiwa.
Hidup pun kadang kala amat menderita.
Padahal asal dia mau mencabut pedang nya dan menggorok ke atas tenggorokan sendiri, maka semua persoalan akan menjadi beres, apalagi didalam perkampungan Sin kiam san ceng paling tidak terdapat dua ribu macam cara untuk membunuh diri sendiri, diantaranya terdapat dua ratus cara yang sama sekali tidak memberikan rasa sakit barang sedikitpun juga.
Tidak sulit untuk mencari kematian dalam perkampungan Sin kiam san ceng, justru sukar kalau kau ingin hidup disitu.
Cuma saja Cia sianseng tidak mempunyai keberanian untuk bunuh diri oleh karena itu dia harus hidup lebih lanjut sambil merasakan pelbagai penderitaan.
ooo0ooo KERETA kembali meneruskan perjalanan kedepan, kali ini menuju ke kota Hang ciu.
Ting Peng memang ingin pulang ke rumah.
Sikapnya masih tetap amat santai, hanya nafasnya agak tersengkal.
Sewaktu berada dalam ruang rahasia milik Cia Siau giok, dia telah mempergunakan goloknya untuk menghalau senjata rahasia beracun itu.
Setiap panah, setiap tombak, semuanya berdatangan dari arah yang sama sekali tak terduga, dengan kecepatan yang tak terduga pula.
Setiap panah dan setiap tombak semua sudah terendam dengan racun jahat, tak usah melukai tubuh kena tersentuh diatas badan pun, dalam waktu singkat korbannya bisa melumer menjadi luluhan darah.
Kebuasan dan berbahayanya ruang rahasia tersebut pada hakekatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Tujuan Cia siau giok membuat alat-alat rahasia didalam ruang rahasia itu tak lain adalah khusus untuk dipakai menghadapi jago lihay dalam dunia persilatan, oleh sebab itu Kim say tianglo maupun Cia sianseng, bila sudah berada didalam ruang rahasia, mereka akan berdiri tak berkutik sebab salah2 nyawa mereka bisa melayang disana.
Hanya satu orang yang bisa menerjang masuk dan keluar dengan selamat, orang itu adalah Ting Peng, cuma Ting Peng sendiripun harus menggunakan tenaga yang sangat besar.
Setiap orang yang berputar satu lingkaran disana, perasaannya pasti tak bisa enteng, demikian juga halnya dengan Ting Peng.
Sekalipun dia berusaha untuk bersikap tenang, tapi tak dapat mangelabuhi Siau hiang terutama sekali tangannya yang membelai rambut Siau hiang masih kelihatan gemetar.
Siau hiang menggenggam tangannya dan ditempelkan diatas pipi sendiri, membuat Ting Peng tak tahan untuk mencubit pipinya yang halus.
Kalau dihari biasa, Siau hiang tentu akan melemparkan sekulum senyuman, tapi hari ini dia nampak amat risau.
"Kongcu telah melangsungkan suatu pertarungan?"
Ting Peng menghela napas..
"Benar, aku harus menggunakan tujuh kali tujuh empat puluh sembilan bacokan sebelum berhasil keluar dengan selamat."
Dengan perasaan terkejut Siau hiang berseru.
Masa didunia ini terdapat jagoan semacam ini?
Masa dia mampu bertarung sebanyak delapan puluh sembilan gebrakan dengan kongcu?` Ting Peng tertawa.
Bukan manusia, melainkan sebuah rumah setan, didalamnya penuh dengan alat rahasia dan senjata rahasia.
"Masa untuk menghadapi alat rahasia dan senjata rahasia pun harus memaksa kau untuk menggunakan golok? Bila kau tahu senjata rahasia apakah itu maka kau pun akan tahu kecuali menggunakan golok, tiada cara lain untuk menghadapi ancaman tersebut. Kebaikan yang dimiliki Siau hiang adalah selamanya tak pernah membantah apa yang dikatakan orang, dia mempercayai setiap patah kata yang diucapkan lawan, ketika Ting Peng mengatakan kalau hanya menggunakan golok saja baru dapat menyelesaikan persoalan itu, dia pun percaya kalau tiada cara lain". Maka dia bertanya lagi. Pentingkah rumah itu?"
Aku percaya amat penting, sebab dari situlah Cia Siau giok melarikan diri, akupun melihat ada sebuah lorong rahasia, tapi tidak mengejar lebih jauh."
"Kenapa?"
"Sebab aku sudah tak dapat melancarkan empat puluh sembilan buah bacokan lagi!"
Sebuah bacokan saja sudah mendatangkan keampuhan yang luar biasa, apalagi empat puluh sembilan bacokan sekaligus Siau hiang dapat membayangkan bagaimana sengsaranya itu.
Maka dia pun bertanya lagi.
Jadi Cia Siau giok telah kabur?"
Aku tidak tahu, mungkin ia sudah kabur mungkin ia masih bersembunyi didalam, tapi aku memutuskan untuk tidak masuk kedalam."
Siau hiang manggut-manggut.
Tindakanmu ini memang benar, kongcu tidak perlu untuk pergi menyerempet bahaya sebab sekalipun berhasil kau temukan, belum tentu kongcu akan membunuhnya, paling banter kaupun hanya akan mengajukan beberapa buah pertanyaan saja!"
Oooh, darimana kau bisa tahu?
Sebab dia adalah putri dari Cia Siau hong, Cia tayhiap!
Ting Peng segera tertawa tergelak-gelak.
Haaahh...haaaah....
haaaah....
terlepas dia itu putri siapa, seandainya semua bukti yang berhasil ku kumpulkan selama beberapa hari ini dijadikan satu, maka sekalipun dia harus mati seribu kalipun tidak terhitung sedikit""
Siau hiang turut tertawa.
"Tapi kongcu toh tetap tak akan membunuhnya, sebab kongcu masih ingin mengetahui rahasia yang menyelimuti tubuhnya""
"Rahasia apa sih yang masih dia miliki? "Kelewat banyak, dia adalah majikan perempuan dari parkampungan Sin kiam san ceng, mengapa dia telah merubah perkampungan Sin kiam san ceng yang dihormati dan disegani setiap orang menjadi suatu tempat yang begitu menyeramkan dan begitu mengerikan?"
"Dia hanya merupakan seorang anak gadis, mengapa bisa mempunyai kekuasaan yang begitu besar? Meskipun perkampungan Sin kiam san ceng bernama besar, toh hal ini merupakan hasil perjuangan dari Cia Siau hong sendiri, tiada keuntungan pribadi yang terselip didalamnya, tapi Cia Siau giok berhasil menciptakan semacam pengaruh dan kekuasaan didalam perkampungan Sin kiam san ceng, semua anak buahnya juga merupakan buah pilihannya sendiri, dari manakah dia bisa memperoleh orang-orang tersebut ? "Tindak tandaknya yang begitu berani dan dalam perkampungan Sin kiam san ceng, paling tidak juga harus didengar oleh Cia Siau hong tapi dengan kedudukan Cia Siau hong sekarang tenyata dia sama sekali tidak menegur ataupun menggubris, jelas dia mempunyai rahasia pribadi yang sengaja ditutupi, sebenarnya kekuatan apakah yang mencegah Cia tayhiap mengambil tindakan ?"
Ting Peng segera tertawa terbahak2.
"Haaahh... haaahh... haaahh.... Siau hiang kau memang benar-benar luar biasa, semua isi perutku tampaknya sudah berhasil kau korek keluar semua. Benar bila tiga pertanyaan tersebut belum dipecahkan aku memang tak akan tidur dengan nyenyak, tapi bila kubunuh dirinya, maka semua titik terang itu pun akan terputus sampai disitu saja!"
Sekali pun kongcu sudah berhasil memecahkan ketiga buah pertanyaan inipun, kau masih belum bisa membinasakan dirinya"
"Karena alasan apakah itu?"
"Sebab dia adalah seorang gadis yang cantik dan menawan hati "Seorang gadis yang cantik dan menawan hati toh belum tentu haru hidup terus "Mungkin orang lain mempunyai alasah untuk membunuhnya, tapi kongcu tidak mempunyai kepentingan untuk harus membunuhnya, sebab entah berapa banyakpun perbuatan brutal yang telah dilakukan olehnya, dia belum pernah melakukannya!"
"Hal ini bukan disebabkan dia terlalu sungkan kepadaku, melainkan dia memang tak mampu untuk melukai aku"
"Hal itu toh sama saja, masih ada alasan lain yang jauh lebih penting lagi, yakni Cia Siau hong saja bisa bersabar dan menahan diri membiarkan dia untuk hidup lebih lanjut?"
Ting Peng tertawa.
"Mengapa cara kerjaku selalu harus dihubung-hubungkan dengan Cia Siau hong?" .
"Karena kongcu telah menganggap dia sebagai satu-satunya musuh"
"0mong kosong, aku amat menghormatinya, aku tidak bermaksud untuk memusuhi dia."
Hal ini pun bukan berarti kongcu terlalu mengaguminya dan ingin menjadikan dia sebagal contoh!"
Tentu saja, ilmu yang dilatih olehnya adalah ilmu pedang, sedangkan ilmu yang kulatih adalah ilmu golok, kita masing-masing hidup dengan cara kehidupan masing-masing, mengapa aku harus menirukan dia?
Nah, itulah dia"
Seru Siau hiang sambil tertawa, walaupun kongcu amat mengagumi dia, tapi dalam hatimu selalu muncul satu ingatan untuk berusaha dapat melampaui nya, sekalipun belum tentu harus mencabut golok dan menantangnya berduel, tapi kau tetap ingin berusaha untuk mengalahkan dia di bidang lain!"
"Tidak pantas aku mempunyai jalan pemikiran demikian?"
Tanya Ting Peng setelah termenung sejenak dan tertawa.
"Seandainya orang lain yang mempunyai jalan pemikiran demikian, mungkin orang akan menuduhnya sebagai manusia latah, tapi tidak demikian dengan kongcu, sebab keberhasilan kongcu di dalam permainan golok mu sudah tidak kalah dengan keberhasilannya di dalam permainan ilmu pedang"
"Tidak bisa, aku masih kalah setingkat daripadanya!"
Tidak, itu dulu, sekarang aku rasa kongcu sudah tidak kalah darinya ....
"kata Siau hiang cepat. Mengapa kau bisa mempunyai pandangan semacam ini?"
"Demi Cia Siau giok, demi putrinya!"
Apa sih hubunganmu dengan putrinya?"
Besar sekali, betapapun mendalamnya ilmu pedang yang dimiliki, bagaimana pun tingginya moral yang dipunyai, asal dia mempunyai putri seperti ini, hal tersebut akan merupakan titik kelemahannya, oleh sebab itu selama Cia Siau giok tetap ada, maka kongcu masih dapat melebihi dirinya.
Ting Peng segera membungkam dalam seribu bahasa, ucapan Siau hiang telah merasuk ke dalam hatinya.
Mengungguli Cia Siau hong merupakan keinginan yang selama ini selalu terpendam dalam hatinya, walaupun dia tak mau mengakui, namun hatinya selalu menganjurkan pada dirimu sendiri agar ia berjuang menuju kearah sana.
Justru karena kehadiran Cia Siau hong diantara mereka, maka ia tidak merasa puas, oleh sebab itu dia baru mempunyai gairah untuk berjuang terus agar bisa lebih maju.
Sungguh tak pernah di sangka kalau akhlak dan moral Cia Siau giok sudah berubah menjadi begitu sesat, begitu jahat dan rumitnya kesemuanya ini membuat Ting Peng mau tak mau merasakan juga sedikit rasa gembira, sekalipun sesungguhnya diapun merasa gusar juga terhadap putrinya Cia Siasu hong ini bila mengingat kejayaan ayahnya yang dibikin porak poranda olehnya"
Tapi bila teringat olehnya kalau Cia Siau hong hanya mempunyai seorang putri saja apa bila rahasia ini sampai sampai terungkap, sudah jelas hal mana akan sangat mempengaruhi rasa hormat dan segan orang persilatan pada umumnya terhadap Cia Siau hong.
Pukulan batin yang demikian besar dan beratnya ini, bisa jadi akan membuat Cia Siau hong menjadi kecewa dan putus asa.
Seringkali dia memikirkan persoalan ini bahkan dia pun merasakan sedikit malu dan menyesal, tapi hal itu pun tak lebih hanya suatu perasaan sayang dan kecewa, belaka.
Sebab rusaknya Cia Siau giok hingga terjerumus dalam keadaan seperti ini, paling tidak bukan merupakan hasil karyanya.
Oleh sebab itu katanya sambil tertawa.
"Paling tidak ada satu hal aku masih belum dapat mnyamai Cia Siau hong, yakni aku tidak mempunyai anak gadis, sekalipun dikemudian hari akan mempunyai anak gadis, tak nanti anak gadisku akan meniru cara Cia Siau giok yang brutal itu!"
Anak gadis seperti Cia Siau giok ini, mungkin Cia Siau hong sendiripun tak mampu untuk melahirkan untuk kedua kalinya, maka Ting Peng merasa hatinya amat tegang.
Walaupun hal ini merupakan kekurangannya bila dibandingkan dengan Cia Siau hong namun dia rela sekali untuk mengaku kalah.
Dan persoalan ini pula yang merupakan satu-satunya kekurangan yang mau dia akui atas diri Cia Siau hong.
Diapun percaya, tiada orang yang menginginkan anak gadisnya bersaing dengan Cia Siau giok.
ooo0ooo LEMBAH KEMATIAN TEMPAT ini merupakan sebuah lembah bukit yang dingin dan menyeramkan, sekalipun matahari sedang memancarkan cahayanya dengan terik ditengah hari bolong, lembah tersebut masih tetap diselimuti oleh kabut yang tebal.
Lembah itu sangat curam, apalagi karena sepanjang tahun diselimuti oleh kabut yang tebal sehingga sukar untuk diketahui dalam tidaknya, tentu saja tiada orang yang sudi untuk menelusuri tempat seperti itu.
Dibalik kabut yang tebal terendus pula bau busuk yang amat menusuk penciuman, tatkala tertimpa cahaya matahari, ternyata membiaskan cahaya tujuh warna yang berwarna warni.
Inilah yang disebut sebagai kabut beracun, kabut itu sangat jahat dan mengerikan.
Seorang tukang penebang kayu yang terpeleset pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ada seekor burung kecil hendak terbang melintas dari sana, karena kurang berhati-hati, tubuhnya terkena sedikit hawa kabut tersebut, akibatnya burung itu segera terjatuh ke bawah dan mati.
Ada pula yang tanpa sengaja berjalan ke sisi lembah itu, baru mengendus sedikit hawa kabut, tubuhnya segera roboh tak sadarkan diri.
Itulah sebabnva orang lantas menyebut tempat itu sebagai lembah kematian.
Jauh dari lembah itu, pada jarak dua li dari mulut lembah, orang telah membuat peringatan diatas pohon yang menerangkan betapa berbahayanya keadaan didalam lembah tersebut dan menganjurkan kepada setiap orang agar jangan mendekat.
Tempat yeng bercahaya dan menyeramkan seperti ini tentu saja mempunyai pula banyak dongeng yang beraneka ragam, tapi yang paling aneh diantaranya adalah tinggallah seorang malaikat iblis di dalam lembah kematian itu.
Malaikat iblis itu adalah seorang perempuan yang cantik jelita, konon seorang penebang kayu pernah menyaksikan perempuan itu melayang-layang diantara kabut.
Ketika pada hari pertama tukang penebang kayu itu turun gunung, dia masih memujinya betapa cantik dan menariknya perempuan yang dijumpainya itu, tapi pada hari kedua, seluruh badannya sudah membengkak dan akhirnya mati dengan badan berubah menjadi hitam pekat, setelah mayatnya diperiksa, baru diketahui kalau dia tewas karena terkena sejenis kabut beracun yang jahat.
Maka orang-orang tua dalam dusun pun menyatakan kalau didalam lembah tersebut tinggal seorang malaikat kabut beracun.
Mereka yang percaya dengan tahayul pun mulai membangunkan kuil dewa kabut beracun dibawah bukit itu, didalam kuil dipersembahkan sebuah patung perempuan.
Berhubung tukang kayu yang pernah melihat dewi kabut itu sudah mati, maka raut wajah dewi kabut pun dibuat sesuai dengan apa yang pernah dilukiskan tukang penebang kayu itu semasa hidupnya tapi sayang tukang pahatnya kurang pamdai sehingga pada itu dilukiskan sebagai seorang perempuan setengah umur yang sedikit agak gemuk, sedikit pun tidak nampak cantik atau menarik..
Walaupun demikian, peziarah yang berkunjung kesana ternyata banyak sekali, kuil itu pun di jaga oleh seorang nenek sebagai juru kuncinya, setiap orang yang pernah terkena kabut beracun, asal membungkus abu hio dari kuil itu dan diminumkan, penyakitnya segera menjadi sembuh kembali, konon khasiatnya jauh lebih hebat daripada khasiat obat tabib.
Ada orang pernah membuktikan, ada seorang saudagar yang datang dari kota lain terkena racun kabut dan berbaring dalam rumah penginapan di kota, berbagai macam obat dari beberapa orang tabib kenamaan telah diminum namun penyakitnya belum juga disembuhkan.
Kebetulan kacungnya mendengar dari orang tentang cerita kuil dewi kabut beracun, diapun berkunjung kesitu dan minta sebungkus obat, ketika abu itu diminumkan kepada majikannya, ternyata penyakit yang di derita majikannya segera sembuh.
itulah sebabnya lambat laun nama kuil dewi kabut beracun pun menjadi tenar dan dikenal banyak orang.
suatu hari datang sebuah kereta yang indah dan mentereng yang berhenti dimuka kuil, kehadiran kereta itu sama sekali tidak menarik perhatian banyak orang sebab selama banyak tahun ini banyak orang dari tempat jauh yang datang kesitu minta obat, bahkan mereka yang tidak terkena kabut beracun pun datang kesana untuk minta obat.
Kedatangan kereta itu sangat mendadak mereka segera memborong kamar-kamar yang ada didalam rumah penginapan terbaik di kota itu.
Kamar yang terdiri dari tujuh delapan buah itu mereka borong semuanya, dua orang tamu yang semula menginap disanapun dipersilahkan pindah karena pengurus rumah tangga tua itu bersedia mengeluarkan uang sebesar dua puluh tahil perak tiap orang untuk menyilahkan mereka pergi.
Sewa kamar yang semula setahil sehari ternyata ditukar dengan uang sebesar dua puluh tahil perak asal mau pindah, sudah barang tentu siapa saja bersedia untuk melakukannya.
Tahu begini, pemilik rumah penginapan itu pasti akan menyuruh seluruh isi keluarganya untuk menginap dulu disana.
Ia lebih-lebih membenci diri sendiri, sebab sewaktu pengurus rumah tangga yang tua itu bertanya kepadanya apakah ada kamar kosong, dia mengatakan ada, bahkan membawanya untuk memeriksa kamar kosong itu satu persatu.
Pada saat itu dia hanya kuatir pihak lawan tidak jadi menginap disana, maka semua kamar yang dimilikinya segera di perlihatkan semua kepada tamunya.
Tua bangka itu tiap kali melihat sebuah kamar segera mengangguk satu kali tanpa mengucapkan sepatah katapun, pada mulanya dia masih kuatir karena usahanya mungkin akan gagal.
Siapa tahu sampai pada akhirnya, ternyata semua kamar yang ada dalam rumah penginapannya diborong semua, malahan dia berunding sendiri dengan tamu yang tinggal disana dan bersedia membayar dua puluh tahil seorang untuk mempersilahkan mereka pindah tempat.
Dua puluh tahil perak sudah cukup untuk memborong seluruh kamar yang ada dirumah penginapan tersebut, tapi dia telah mempergunakannya untuk memindahkan tiap tamu dari kamarnya.
Tahu begini, dia pasti akan menyuruh bininya, putrinya dan putranya untuk menempati kamarkamar tersebut agar tiap orang bisa memperoleh uang pesangon sebesar dua puluh tahil.
Bila demikian akan bisa menarik seratus tahil perak lebih.
Dia sudah mengangkat tangannya dan hampir saja hendak digaplokkan ke atas kepala sendiri.
Untung belum digaplokkan, kalau tidak mungkin dia akan menyesal, sebab pengurus rumah tangga tua itu kembali bertanya.
"Apakah keluarggamu sendiri juga berdiam disini?"
Suatu kesempatan yang sangat baik telah datang, sebetulnya dia hendak menggeleng, tapi baru saja dia akan menggeleng, pengurus rumah tangga tua itu sudah menghela napas seraya berkata.
""Waah, kalau begitu sayang sekali, kalau tidak kau bisa beruntung sejumlah uang lagi!"
"Buru-buru pemilik penginapan itu berseru.
"Mereka berdiam di rumah penginapan ini, biniku berada didapur, putraku membantu mengerjakan apa saja, kami sekeluarga tiada yang menganggur, kami pun tidak memakai pembantu"
Maklum usaha kecil, coba bayangkan saja, mana kuat kami menggaji orang?"
Orang itu segera tertawa.
"Bagus sekali kalau begitu, hujin kami memang kuatir disini terlalu banyak pembantu, kalau begitu kami akan tinggal disini saja, Aaaah, benar, berapa jumlah anggota keluargamu."
"Tidak banyak, Cuma empat orang, tidak..tidak, lima... lima orang, kami suami istri berdua, seorang putri dan dua orang putra jadi jumlahnya lima orang."
Seandainya ada pelayan atau pembantu, harus menerangkan lebih dulu agar aku bisa memperhitungkan juga!"
"Tidak ada, kami hanya usaha kecil-kecilan."
"Baik, kami akan memborong seluruh penginapanmu ini dengan bayaran lima ratus perak sehari, Cuma harus dihitungkan pula dengan lima puluh tahil seorang bagi anggota keluargamu, kau tidak merasa kelewat banyak bukan?"
"Yaa, tidak banyak, tidak banyak!"
"Kalau ada uang, tentu saja tak akan dianggap terlalu banyak."
Sambil tertawa pengurus rumah tangga tua itu berkata lagi.
"Baik, kita sudah menetapkan demikian, aku harap masing-masing tak boleh mengingkari lagi, berapa hari kami akan berdiam disini masih belum tahu, pokoknya sehari kami tinggal disini, sehari akan kami bayar kontan, inilah bayaran untuk hari ini, dua ratus lima puluh tahil perak, harap kau terima dulu!"
Tangan si pemilik penginapan yang dipakai untuk menerima uang tersebut kelihatan gemetar keras, namun dia tidak menjadi bodoh karena kegirangan, dia masih bisa memperhitungkan jumlah angka, maka segera serunya.
"Lo koan keh, bukankah kau berjanji akan memberi lima ratus tahil perak untuk satu hari?"
"Betul, nilai menyewakan lima ratus tahil, tapi dipotong dengan lima orang anggota keluargamu tiap kepala lima puluh tahil, maka jumlahnya tinggal dua ratus lima puluh tahil... ."
"Mengapa kau memotong uang kami?"
"Begini ceritanya, nyonya kami suka akan kebersihan, kami tidak membutuhkan pelayanmu, pekerjaan apa saja akan melakukannya sendiri kebetulan kamipun menyewa rumah penginapan lain di kota maka kalian akan kami kirim untuk menginap sementara waktu disana, berhubung kamipun tak akan membiarkan anggota keluarga kalian berjumpa dengan orang lain, maka kami akan mengirim orang untuk memperhatikan kalian, harus memberi makan minum buat kalian, maka setiap orang harus dipotong lima puluh tahil perak, mungkin nilai ini kelewat tinggi tapi mereka adalah anggota keluargamu, kan sudah sewajarnya mengeluarkan uang buat mereka bukan? Jika kau mempunyai pelayan, libur saja dua hari suruh mereka pulang, bukankah kaupun akan menghemat? Untung saja anggota keluarga kalian Cuma lima orang itu berarti kau masih untung bukan?"
Untung saja pemilik rumah penginapan itu tak sampai muntah darah, tentu saja dia tak dapat mengatakan tidak, karena dalam kenyataannya usahanya kali ini menguntungkan sekali, bahkan pada hakekatnya membuat tidak percaya.
Kembali Lo koan keh menggapai memanggil dua ekor kereta kuda, kemudian oleh lima orang lelaki kekar dia dan keempat anggota keluarganya segera dinaikkan keatas kereta ooo0ooo DENGAN hormat sekali si singa emas mengetuk pintu kamar, sampai pada ketukan yang kedua, dari dalam kamar baru mendengar suara yang merdu merayu menegur.
"Siapa ?"
"Lapor, sau-kiongcu, hamba yang datang!"
"Oooh, empek Kim, silahkan masuk, pintu tidak dikunci"
Singa emas mendorong pintu dan masuk tapi dengan cepat dia berdiri tertegun.
Sebab Cia Siau giok sedang menyisir rambutnya.
Menyisir rambut sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang mengejutkan, hampir setiap perempuan pasti menyisir rambut, sekalipun si nenek yang rambutnya telah beruban pun, setiap hari pasti akan membutuhkan banyak waktu untuk pelan-pelan menyisir rambutnya.
************************* Halaman 48 -49 hilang ************************* Cia Siau giok tidak berpaling, yang terlihat oleh si singa emas tak lebih hanya bayangannya dibalik cermin tetapi senyumannya yang polos, suara yang manja telah membuat seluruh tubuhnya seakan-akan terjerumus ke dalam suatu keadaaan tiada aku.
Cia Siau giok tidak tahu kalau dia sudah berlutut, sambil tertawa tanyanya lagi.
"Empek Kim, apakah kau sudah mengadakan hubungan kontak?"
"Sudah, hubungan kontak sudah kulakukan, besok pagi Kiongcu akan mengundang kita untuk masuk!"
"Ia bersedia menjumpai aku?"
"Sebenarnya tak mau, tapi kemudian setelah mengetahui kalau urusan yang budak tua kemukakan amat serius, dia baru mau mengabulkan."
"Mengapa sih dia menyembunyikan diri di tempat yang terpencil ?"
"Untuk menyucikan diri dan menjauhkan diri dari keramaian dunia... ."
"Tempat ini tidak sepi, terutama sekali segala peristiwa aneh yang diterbitkan olehnya, apakah dia bisa memperoleh ketenangan di tempat seperti ini?"
Kiongcu telah mendapat julukan sebagai malatkat kabut beracun, semua orang dibuat ketakutan olehnya, dan siapapun tak berani kesitu untuk menghantar kematian, dia adalah malaikat yang dihormati dan disegani oleh setiap orang.
Aaah, paling paling cuma orang desa yang bisa digertak dan dibikin ketakutan olehnya, coba kalau ada orang yang pandai bersilat datang kesitu, niscaya mereka tak akan mempercayai dongeng tersebut, malahan bisa jadi akan melakukan penyelidikan kesana.
Berapa tahun berselang memang terdapat manusia semacam ini yang pergi melakukan pengintaian, tapi kenyataannya mereka ditemukan tewas semua karena terserang kabut beracun, sejak itulah tak seorangpun manusia yang berani datang ke situ untuk menghantar kematian!
Cia Siau giok tertawa.
"Ya, mereka mampus karena orang-orang itu Cuma kawanan jago silat kasaran, coba kalau bertemu dengan jagoan yang sesungguhnya, kabut beracun itu tidak akan membuat mereka ketakutan. Kiongcu sama sekali tidak mencampuri urusan dunia persilatan, diapun tak mau melibatkan diri di dalam persoalan apapun, seorang jago lihay yang sesungguhnya tak nanti akan kesitu untuk mengusik ketenangan.
"Benarkah begitu? Untung dia tak berjumpa dengan Ting Peng, sifat ingin tahu yang dimiliki orang itu luar biasa sekali!"
Singa emas tak tahu bagaimana harus menjawab, terpaksa dia hanya membungkam dalam seribu bahasa.
Cia Siau giok berpaling, sekarang dia baru tahu kalau si singa emas sedang berlutut, tanpa terasa serunya dengan terperanjat.
"Empek Kim, apa yang sedang kau lakukan ? Ayo cepat bangun!"
Oleh karena budak tua menyaksikan Sau kiongcu amat berwibawa, maka budak tua tak berani bersikap kurang ajar."
"Oooh, benarkah aku memiliki kekuatan iblis sedemikian besarnya sehingga bisa membuat Tianglo dari Mo kau seperti kau pun takluk seratus persen?"
"Benar, kekuatan tersebut sudah bukan termasuk kekuatan iblis sedemikian lagi, melainkan semacam kekuatan sakti kesucian dan keanggunan sau kiongcu cukup membuat siapa saja bertekuk lutut!"
"Termasuk perempuan?"
"Menurut pendapat budak itu, entah laki-laki entah perempuan baik yang tua maupun yang muda, semuanya sama saja!"
"Kalau begitu, aku harus muncul dalam sikap dan bentuk seperti ini....?"
"Benar, sayang sekali budak tua belum pernah menjumpainya dahulu, apabila sau kiongcu muncul dengan wajah seperti ini, seluruh kolong langit mungkin sudah terjatuh kedalam cengkeramanmu."
Cia Siau giok tertawa.
"Aku mah sudah sejak dulu mengetahui akan hal ini", katanya.
"Oooh, bagaimana caranya sau kiongcu mengetahui akan hal ini?"
"Waktu itu aku masih muncul dalam bentuk sebagai Giok Bu sia, lotoa dari Lian im cap si sat, tatkala menjumpai suatu persoalan yang amat penting, waktu itu aku sedang menyisir rambut, tatkala menyaksikan diriku, akhirnya mereka sama-sama menjatuhkan diri berlutut diatas tanah."
"Kalau toh sau kiongcu sudah mengetahui kalau dirimu memiliki suatu kelebihan yang amat luar biasa, sudah seharusnya bila kelebihan tersebut kau manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sambil tertawa Cia Siau giok menggeleng. Sebenarnya aku pun mempunyai rencana untuk berbuat demikian, tapi akhirnya niatku itu terpaksa harus kuurungakan.
"Mengapa?"
Sejak saat itulah, setiap anggota Lian im cap si sat yang bertemu dengan diriku selalu menunjukkan sikap yang amat menghormat, bahkan menghembuskan napas panjangpun tak berani!"
"Hal ini dikarenakan munculnya satu perasaan hormat yang timbul dari dasar hati kecilnya, sekarangpun budak tua tak berani menghembuskan napas keras-keras!"
Tapi aku tak ingin kalian berubah menjadi begini!"
Mengapa? Bukankah tujuan sau kiongcu adalah menaklukkan kolong langit? Inilah cara yang paling mudah dan gampang untuk dikerjakan""
Yang kuinginkan adalah menguasahi kolong langit, bukan membuat semua orang bertekuk lutut dihadapanku!"
"Bila sau kiongcu ada perintah, budak pasti tak akan menampik dengan begitu saja!"
"Oooh, kalau aku suruh kau maju dan memeluk aku?"
"Soal ini, budak tak berani!"
"Bila ada orang menggunakan pisau yang ditempelkan dibelakang tubuhmu untuk emmaksa kau berbuat demikian?"
"Budak lebih suka ditusuk daripada mengusik dan menodai sau kiongcu..."
Cia Siau giok tertawa.
"Itulah dia, justru karena alasan ini maka aku segan untuk melakukannya, aku tak mau seorang diri di puncak terttinggi seperti ibuku!"
"Apakah sau kiongcu tak pernah bertemu dengan kiongcu?"
Tanya singa emas dengan perasaan bergetar keras.
"Belum pernah, sejak berusia tiga tahun kalian telah membawaku pergi dari ibuku, sejak saat itulah aku tak pernah berjumpa lagi dengannya....!"
"Darimana sau kiongcu bisa tahu seperti kiongcu?"
"Bukankah kalian yang sering bercerita? Sejak kecil aku sudah sering kali mendengar kalian berkata bahwa wajahku mirip ibuku, selain itupun aku tahu dari ayahku"
"Apakah Cia tayhiap juga bilang kalau sau kiongcu mirip kiongcu?"
"Benar itulah sebabnya dia tak suka diriku, memandang kepadaku, pada hakekatnya tak pernah menganggap diriku sebagai putrinya!"
Kiongcu dan sau kiongcu bukan manusia sembarangan inilah sebabnya sering kali menjumpai kejadian-kejadian vang luar biasa, bagaimana mungkin bisa disamakan dengan orang biasa?
Dahulu Cia Siah giok sudah berulang kali mendengar orang berbicara demikian setiap kali dia menggerutu pasti ada orang yang menasehati dan menghiburnya dengan kata-kata seperti itu.
Setiap kali dia mendengarnya ucapan mana semangatnya lantas bangkit kembali membuat dia melupakan segala sesuatunya tapi sekarang, ketika Kim say tianglo mengulangi sekali lagi ucapan tersebut ternyata reaksi yang timbul sama sekali diluar dugaan.
Sekarang Cia Siau giok bukan bocah cilik, tidak seperti dahulu gampang dibohongi..
Kini, dia sudah dapat merasakan sendiri semua rasa Cinta, benci, girang dan marah bahkan oleh karena kehidupannya beribu kali-kali lipat lebih rumit dari pada orang lain, maka diapun dapat meresapi hal tersebut beribu kali lipat lebih dalam.
Ketika si singa mengucapkan kata-kata hiburan yang tua itu, dia sendiripun tidak percaya, diapun tidak mengharapkan Cia Siau giok dapat mempercayainya.
Dia hanya merasa bila mana perlu, ucapan tersebut harus diulangi kembali.
Siapa tahu tiba-tiba saja dari balik mata Cia Siau giok segera mencorong sinar tajam seperti seorang bocah-bocah yang secara tiba-tiba mendapatkan benda yang sudah lama disukai saja, ia nampak girang sekali.
"Benarkah aku berbeda dengan manusia biasa?"
Pekiknya.
"Benar, sau-kiongcu memiliki bakat alam yang sama sekali berbeda, dengan manusia biasa!! "Bakat alam?"
Bakat alam yang mana?"
Singa emas tertegun, padahal ucapan tersebut diutarakan sekenanya saja tanpa di sertai dengan pemikiran yang lebih mendalam sewaktu kecil dulu, penampilan Cia Siau giok memang luar biasa sekali.
Hanya saja kelebihan dan keluar biasaan ini sulit untuk diterangkan kepada orang lain.
Misalnya saja, pada usia tujuh delapan tahun dulu, sifat dan daya tarik kewanitaannya sudah amat besar!
sekalipun hanya sekulum senyuman belaka, kadang kala bisa membuat seorang pria menjadi terkesima dan tertarik kepadanya.
Tentu saja daya tarik itu adalah semacam daya tarik seorang perempuan terhadap lawan jenisnya.
"Kau seperti ibumu, merupakan perempuan luar biasa yang berbakat alam, siluman iblis yang bisa memikat kaum pria sampai mampus, siluman rase yang luar biasa dan berbakat"
Ucapan seperti itu berkecamuk dalam benak Si Singa emas, namun dia tak berani mengutarakannya keluar, tapi diapun membutuhkan suatu jawaban yang tepat.
Bila Cia Siau giok mangajukan suatu pertanyaan, maka pertanyaan tersebut harus dijawab, bahkan harus merupakan suatu jawaban yang bisa membuatnya merasa puas.
Kebiasaan seperti inipun merupakan didikan dari mereka sendiri, dia dan naga perak serta banyak lagi manusia-manusia seangkatan dari mereka semuanya rela untuk dicocok hidungnya oleh ibu dan anak berdua itu serta dituntun untuk pergi kemana saja, merekapun rela dan bersedia melakukan pekerjaan apapun, termasuk pekerjaan yang mereka sendiripun tak berani untuk melakukan.
Mengapa demikian?
Bukan hanya satu kali dia mengajukan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri tapi selamanya tak pernah memperoleh jawaban yang memuaskan, merekapun bukan hanya satu dua kali saja saling mengadakan tanya jawab....Seandainya Cia Siau giok dan ibunya tidak memiliki suatu bakat alam, atau semacam daya pengaruh yang luar biasa, mustahil mereka bisa berbuat demikian.
"Sau kiongcu mempunyai semacam bakat terpendam yang membuat orang lain terpengaruh, sehingga tak berani bertatap pandang, takluk dengan hati tulus dan rela melaksanakan perintah apa pun"
Tentu saja, jawaban dari si Singa emas ini sudah melalui suatu pemikiran yang amat mendalam, semacam tehnik untuk menjawab. `Apakah ibuku sejak kecil sudah memiliki daya kemampuan tersebut?"
"Benar, sejak kecil kiongcu sudah memiliki kemampuan untuk membuat semua orang tunduk dan takluk kepadanya, setiap orang yang pernah berjumpa dengannya, tanpa terasa selalu tunduk dan takluk dibawah telapak kakinya!"
"Tapi kenyataannya dia toh tak berhasil menguasahi seluruh kolong langit?"
"Hal ini dikarenakan dia telah berkenalan dengan seorang lelaki yang sesungguhnya tak boleh dikenali, dia telah kehilangan kepercayaan atas dirinya sendiri!"
"Apakah lelaki itu adalah ayahku?"
"Benar, Cia tayhiap adalah seorang dewa pedang, juga merupakan seorang lelaki yang pamdai menaklukkan hati wanita!"
"Seperti Ting Peng?` "Benar"
Dengan cepat Singa emas menjawab "mereka adalah manusia sejenis, oleh sebab itu paling baik jika sau-kiongcu menjauhi manusia seperti itu` "Mungkinkah?
Setiap kali kita hendak melakukan sesuatu, dia selalu datang mencari kita"
"Terpaksa kita harus memusnahkan dirinya!"
Cia Siau giok menghela napas panjang.
"Empek Kim, kau bukan orang pertama yang menganjurkan diriku, akupun bukannya tak pernah mencoba, selama ini aku selalu memeras otak, aku tak akan meniru keadaan ibu yang putus asa, kecewa dan selalu murung, soal ini tentunya kau bisa melihatnya sendiri bukan?"
"Benar, sau kiongcu memang memiliki daya tarik yang jauh lebih besar daripada Kiongcu dulu!"
Tapi aku tak mampu melenyapkan Ting Peng, bukannya tak tega untuk turun tangan, melainkan benar-benar tak mampu untuk menghilangkan dia dari muka bumi""
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat lamanya, Singa emas tahu bahwa ucapan tersebut bukan alasan, melainkan suatu kenyataan, dia pernah menyaksikan kelihayan golok dari Ting peng, dia pun menaruh perasaan ngeri dan seram terhadap pemuda itu"
Sudah lama ibuku mengasingkan diri ditengah bukit, apakah dia sedang melatih semacam ilmu!"
"Benar, setelah dia mengetahui kalau dengan cinta tak mungkin bisa menaklukkan Cia Siau hong, maka dia bersumpah hendak melatih ilmu silatnya sehingga jauh mengungguli dirinya! Tapi, mungkinkah hal ini bisa dicapai? Sudah lama Kiongcu tak pernah muncul di dalam dunia persilatan, dahulu dia selalu menjadikan Cia Siau hong sebagai sasarannya, mungkin saja ada kemampuan untuk melampauinya, tapi selama banyak tahun Cia Siau hong sendiripun mengalami kemajuan yang amat pesat, bila ditinjau dari situasi ketika bertemu dengan Ting Peng, agaknya Cia Tayhiap sudah berhasil mencapai suatu taraf yang baru, jauh lebih unggul daripada kemampuan Kiongcu!"
Lantas mengapa kalian tidak pergi memberi tahukan hal tersebut kepadanya?
singa emas termenung beberapa saat, kemudlian baru jawabnya.
Selama ini Kiongcu tak pernah mau percaya dengan nasehat orang, selamanya dia menilai dunia melalui kaca matanya sendiri.
Bila begini keadaannya, apakah ia akan berhasil?"
Singa emas berpikir sebentar, kemudian baru menjawab.
Tidak dapat, oleh sebab itu kami menumpahkan harapankami diatas tubuh sau kiongcu.
Jadi kalian menganggap aku lebih punya harapan ketimbang ibuku?"
Sejak mulai, Sau Kiongcu sudah melakukan hubungannya yang luas dengan seluruh umat persilatan, tentu saja pandanganmu akan jauh lebih mendalam daripada pandangan kiongcu, lagipula sau kiongcu juga mempunyai nama keluarga dari Sin kiam san ceng yang amat termashur, hal ini merupakan suatu kesempatan yang baik sekali bagi sau Kiongcu untuk maju lebih ke depan.
Seandainya kedudukanku sebagai toa siocia dari keluarga Cia masih ada manfaatnya berarti aku harus mencegah ibumu agar jangan mengacau ayahku bukan?"
Soal ini...
tampaknya sau kiongcu harus membicarakan sendiri dengan kiongcu, sesungguhnya budak tua merasa kurang leluasa untuk turut memberikan pendapatnya, namun sau kiongcu tak usah kuatir, kemampuan yang dimiliki Cia tayhiap sekarang sudah tak mungkin bisa dipunahkan oleh siapa saja.
ooo0ooo Fajar baru saja menyingsing, matahari belum mengolkan diri, hanya di ufuk timur terlihat lapisan cahaya merah menyelimuti jagad.
Saat ini merupakan saat paling berbahaya untuk melintasi bukit, karena disaat beginilah kabut beracun sedang menyelimuti jagad dengan hebatnya.
Lembah kematian diliputi kegelapan, di atas permukaan tanah melayang kabut tipis yang berwarna-warni.
Pemandangan semacam ini tak ubahnya dengan pendangan di pintu gerbang menuju beraka.
Seluruh jagad seakan-akan dilapisi oleh hawa iblis yang menggidikkan hati.
Cia Siau giok mengenakan pakaian yang indah, dia didampingi oleh Singa emas yang bersikap menghormat.
Di depan kuil dewi kabut berkerumun penduduk desa yang diliputi oleh perasaan ingin tahu, mereka menyembunyikan diri di tempat-tempat yang tidak mudah ditemukan dan menyaksikan perempuan muda yang sedang bersembahyang untuk kesembuhan dari suami dan ayahnya ini, mereka ingin tahu apakah permintaannya akan dikabulkan oleh dewi kabut.
Setelah berlutut tiga kali menyembah tujuh kali, memasang Hio, mempersembahkan korban, segala sesuatunya berjalan dengan lancar.
(Bersambung ke
Jilid 26)
Jilid 26 SEBAGAI juru kuncinya adalah seorang nenek yang bersifat sangat aneh, mukanya tetap kaku tanpa emosi.
sama sekali tak nampak perubahan apapun disebabkn keistimewaan dari tamunya ini.
Selesai bersembahyang seperti biasa dari atas meja altar meluncur jatuh selembar kertas.
Ketika itu berwarna putih yang tiada tulisan, biasanya harus dibakar dahulu sebelum muncul huruf diatas kertas mana.
Biasanya tulisan itu di beri resep obat dan memberi tahukan kepada pemohon obat apakah yang harus di minum.
Tapi petunjuk yang tertera diatas kertas kali ini ternyata tidak berisi resep, setelah nyonya muda itu membaca petunjuk tersebut, dia lantas bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah tebing curam ditepi lembah tersebut..
Pada saat itulah si pengurus rumah tangga tersebut baru maju untuk membaca isi petunjuk itu, kemudian sambil mengejar dari belakangnya dia berseru.
"Nyonya muda, nyonya muda, jangan". Dia mengejar kedepan, dan menuju ke tepi jurang, tapi nyonya perempuan itu sudah melompat masuk ke dalam jurang tersebut. Semua penonton yang menyaksikan kejadian tersebut menjerit kaget, tak tahan lagi mereka bersama-sama munculkan diri... Ketika Lo koan keh itu mengejar nyonya mudanya, dia datang agak terlambat selangkah, yang berhasil ditarik hanya se dikit ujung bajunya saja.... Dia termangu-mangu berapa saat lamanya di tepi jurang, akhirnya dengan suara parau katanya.
"Sau hujin, kau bawalah serta budak tua, kalau tidak bagaimana mungkin budak tua bisa mempertanggung jawabkan diri nanti"
Maka diapun ikut terjun ke dalam jurang.
Kejadian ini kontan saja membuat semua orang menjerit kaget, kali ini bukan berasal dari tempat persembunyian lagi, melainkan sudah munculkan diri.
Tapi orang-orang itu tak mampu mencegah terjadinya tragedi tersebut, siapapun tak berkemampuan untuk mencegah kedua orang itu berbuat nekad, siapa pun hanya bisa menyaksikan kedua orang manusia hidup itu memasuki lembah kematian.
Akhirnya semua orang pun berbondong-bondong mendatangi altar dewi kabut, mereka ingin tahu isi dari tulisan yang telah terbakar sampai hangus tersebut.
"Suamimu telah membuat dosa terhadap dewa penyakit, karenanya ditakdirkan untuk terjangkit penyakit parah sehingga mati dan hancur tak berwujud badan. Bila ingin memperoleh pertolongan dan terhindar dari malapetaka,"
Kau harus bersedia menjadi dayang kami.
Tulisan itu ditulis dengan huruf yang sangat indah, kuat dan bertenaga.
Seorang nyonya muda yang berhati tulus mengharapkan suaminya bisa tertolong dari musibah untuk menyelamatkan jiwanya, ia rela terjun ke dalam lembah kematian.
Seorang pelayan tua yang biasa mengikuti majikan perempuannya terjun pula kedalam lembah kematian.
Maka sejak saat itu beredarlah suatu dongeng baru tentang lembah kematian, hal mana menambah pula seramnya suasana di situ.
Apakah suami yang kejangkitan penyakit parah itu akhirnya dapat sembuh?
Tiada orang yang tahu sebab pelayan yang datang bersama mereka itu sudah pergi secara diam-diam, pergi entah kemana dan tak bisa ditelusuri lagi.
Tapi tiada orang yang curiga, sebab jaman itu orang masih percaya dengan tahayul.
ooo0ooo YOK LIU DAN THIAN BI SURAT perintah yang hangus itu di bawa orang dan berpindah dari satu tangan ke tangan lain, akhirnya lenyap secara misterius, dikirim ke suatu tempat.
Atau tepatnya kehadapan seorang kakek.
Kakek itu duduk saling berhadapan dengan seorang nenek, memandang tulisan itu sekulum senyuman dingin segera menghiasi ujung bibir kakek tersebut.
Rupanya dia bersembunyi disana, tak aneh kalau selama banyak tahun tak pernah menemukan jejaknya!"
Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 11
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus Gan Kl