Ceritasilat Novel Online

Golok Bulan Sabit 9

Eps 9 Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.

Sudahlah, kalau toh tuan putri telah menjauhkan diri dari keramaian dunia, anggap saja urusan sudah selesai, buat apa kita mesti mengejarnya terus?"

Kata nenek itu.

"Bagaimana mungkin aku bisa berpeluk tangan belaka? Semua usahaku dan perjuanganku akhirnya kandas ditangannya, aku tak bisa melepaskan dia dengan begitu saja."

Nenek itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata lagi.

"Cukong, kau tak bisa menyalahkan dia, kita sendiripun mempunyai kekeliruan"

"Kesalahanku yang terbesar adalah membiarkan dia hidup terus, bahkan menerimanya, aku sudah tahu kalau dia adalah bibit pembawa bencana..."

"Cukong tegakah kau"

Dapatkah kau melupakan bait syair yang dicantumkan diatas golok tersebut ? Siau-lo it-ya-teng Cun-hi... bagaimanapun juga dia adalah putrimu, siapa tahu dia adalah putri kandungmu sendiri?"

Hawa pembunuhan yang semula mencorong keluar dari balik mata kakek itu segera lenyap tak berbekas, sebagai gantinya muncul selapis perasaan sedih dan murung yang amat tebal setelah menghela napas panjang katanya kemudian.

"Aku betul-betul tidak percaya, seorang perempuan yang suci bersih semacam dia, ternyata dapat melahirkan seorang putri semacam itu."

Nenek itu turut menghela napas.

"Haai, antara malaikat dan iblis sesungguhnya hanya berbeda sejengkal, mungkin kaulah yang terlalu berhutang kepada ibunya!"

"Aku...aaai, kau tak akan mengerti!"

"Cukong, aku tidak mengerti kejadian apakah yang telah berlangsung diantara kalian, bila kau tak bersedia mengutarakan, mereka yang mengetahui juga tak akan bersedia untuk menjawab, tapi aku mengerti, si bocah perempuan yang datang kemari itu adalah seorang bocah yang amat menarik hati, setiap orang akan menyukainya bila bertemu, dia bisa berubah menjadi begitu, karena kita tidak mendidiknya secara baik!"

Mendadak kakek itu menggebrak meja sambil bangkit berdiri, dengan suara yang bersungguhsungguh katanya.

"Tidak bisa, aku tak bisa membiarkan dia melakukan keonaran lebih jauh, dia telah memusnahkan diriku dan ini sudah cukup, aku tak bisa membiarkan dia untuk menghancurkan pula diri Ting Peng!"

"Bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan Ting Peng?"

"Tahukah kau siapa yang telah terjun ke dalam jurang itu? Bila kau tahu siapakah orang itu maka kau akan tahu apa pengaruhnya terhadap Ting Peng!"

"Siapa?"

"Singa emas dan Cia Siau giok!` "Cia Siau giok, Bukankah dia adalah putri Cia Siau hong! Mengapa bisa berada bersama-sama singa emas?"

"Aku tidak tahu, tapi hubungan antara mereka sudah pasti sangat akrab, Ting Peng pernah membacok mati naga perak disekitar perkampungan Sin kiam san ceng"

Kembali si nenek termenung beberapa saat lamanya, setelah itu lalu ujarnya.

"Cukong, walaupun aku tidak setuju, tapi selama banyak tahun aku selalu tunduk dan patuh atas setiap petunjukmu, aku percaya setiap petunjukmu itu sungguh-sungguh dan benar, sekarang kau suruh aku berbuat apa...??> "Hujin darimana kau bisa tahu kalau aku akan menyuruh kau untuh berbuat sesuatu?` Nenek itu tertawa.

"Soal itu mah gampang untuk ditebak, selama banyak tahun kau jarang sekali mencariku untuk merundingkan sesuatu, tapi kali ini kau telah memperlihatkan surat itu kepadaku, hal ini berarti kalau kau ada urusan dan hendak menugaskan aku untuk mengerjakannya!"

Kakek itu merenung sebentar, kemudian baru menghela napas panjang.

Aaaai..

benar, Hujin Mungkin kau dan si Unta tembaga yang harus mengerjakannya, berhubung tenaga dalamku telah kusalurkan sebagian besar ke dalam tubuh Ting Peng, kini sudah tak mampu untuk mengerjakan sendiri pekerjaan itu.

Kalau begitu aku harus pergi bersam si Unta tembaga?"

"Benar, bukan cuma kalian berdua saja yang harus turun tangan, bahkan semua jago-jago lihay yang berada disisiku juga kalian bawa semua."

Hal ini mana boleh jadi? Bukankah dengan begitu tiada orang yang akan mendampigimu?"

Buat apa mereka mendampingi diriku? Sekarang aku sudah merupakan seorang tua renta yang tak berguna, tiada orang akan tertarik lagi dengan diriku"

Cukong, sekarang kita bukan lagi bergurau, akupun tidak lagi bergurau, walaupun naga perak dan walet emas sudah mati, masih ada si Singa emas.

Secara paksa si Unta tembaga masih mampu untuk menahannya.

Sedangkan perempuan rendah itu hanya kau yang mampu untuk menghadapinya.

Sedangkan sisa nya boleh kau bawa untuk berjaga-jaga menghadapi mereka yang lain.

Itulah sebabnya kau harus membawa semua mereka yang terbaik!"

"Jadi kami pergi beradu jiwa!"

Paras muka kakek itu berubah menjadi amat serius, dia segera mengangguk.

Benar, bunuh mereka semua, jangan biarkan seorangpun diantara mereka berhasil meloloskan diri, kali ini kita harus membersihkan perguruan dari unsur-unsur penghianat!"

Nenek itu seperti hendak mengucapkan sesuatu lagi namun si kakek sudah mengulapkan tangannya sambil berkata.

Kau tak usah berbicara lagi, keputusan ini kuambil setelah kupertimbangkan berulang kali, kita bukan berbuat sok-sokan, bukan mencari nama, sekalipun Mo kau harus punah dari muka bumi, paling tidak kita tak boleh membiarkan sebuah bibit bencanapun masih tetap hidup didunia ini".

Nenek itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata.

Baiklah, kalau begitu kita putuskan demikian, aku pasti akan melaksanakan perintahmu itu, aku tahu kau bukan seorang manusia yang sembarangan mengambil keputusan.

Terima kasih banyak atas kepercayaanmu terhadapku.

Nenek itu memandang ke arahnya, simar cinta kasih yang tebal mencorong keluar dari balik matanya, walaupun mereka sudah hidup sebagai suami isteri selama enam puluh tahun, namun rasa cinta kasihnya tak pernah menjadi luntur.

Nenek, nenek itu pun mendadak merasakan suatu kepedihan, tiba-tiba dia menemukan bahwa suaminya yang selalu tetap awet muda itu mendadak berubah menjadi tua sekali.

"Pergilah dengan berlega hati, tempat ini terpencil letaknya tak mungkin ada orang yang akan mencari sampai disini, aku akan turun kedapur sendiri untuk menyiapkan dua macam sayur, moga-moga saja kalian bisa pulang membawa kemenangan dan keberhasilan!"

Kakek itu menghantar rombongan sampai didepan lembah, sambil menggapaikan tangan mengucapkan kata-kata penambah semangat yang dihantarpun merasa gembira.

Dengan wajah berseri si Unta tembaga berkata.

Kali ini cukong nampak amat cerah dan segar, selama tiga puluh tahun belakangan ini, belum pernah kusaksikan dia segirang ini,"

"Benar, inilah keputusannya yang terbesar, selama hidupnya dia telah menurunkan perintah pembunuhan yang amat besar"

"Semestimya Cukong sudah menurunkan perintah terhadap perempuan rendah ini sejak dahulu, aku sudah banyak tahun menantikan perintah ini dan akhirnya berhasil juga kuperoleh!"

"Unta tembaga kau tidak mengetahui perasaannya."

"Aku tahu kalian selalu mengira Thian bi adalah putri Cukong, maka tidak tega untuk menghadapinya!"

Apakah bukan? Menurut perhitungan usiapun kira-kira cocok sekali... ."

"Hamba tahu bahwa hal ini tidak mungkin!"

"Mengapa? Darimana kau bisa tahu?"

"Aku tahu dengan pasti, setiap orang mengira Yok liu hujin adalah seorang perempuan suci, kecuali cukong dan aku, tiada pria lain yang tahu kalau dia adalah seorang perempuan cabul!"

"Unta tembaga, kau tak boleh berkata begitu!"

"Aku boleh saja berkata demikian, karena aku mempunyai bukti!"

"Bukti apa ?"

"Dia pernah merayuku!"

"Kau, Unta tembaga? Waktu itu kau masih berumur berapa?"

"Aku masih berumur empat belas tahun, pada hakekatnya belum mengetahui urusan keduniawian, tapi dia tak bisa kehilangan lelaki didalam seharipun, waktu itu kebetulan dia datang mencariku, berdaya upaya untuk merayuku dan memancingku naik ranjang, tapi sebelum aku benar-benar merasakan tubuhnya, kebetulah cukong telah pulang!"

"Aaah, Mengapa aku tidak mengetahui tentang persoalan ini?"

Disinilah letak kebijaksanaan cukong, dia selalu merahasiakan kesalahan orang, waktu itu aku masih ingat, ketika cukong melangkah masuk kedalam kamar, dia lantas melompat bangun dari pembaringan dan sambil menangis melapor kepada cukong bahwa aku menganiayanya, akulah yang hendak menodainya !"

"Apa yang di katakan cukong?"

Cukong hanya tertawa, dia bilang aku tak lebih cuma seorang kanak-kanak, darah muda masih panas, diapun berwajah begitu cantik sehingga mungkin tak sanggup menahan diri, dia lantas suruh aku minta maaf kepadanya danmelupakan kejadian itu, bahkan menjamin aku tak akan berbuat demikian lagi dikemudian hari.

Oooh, jadi cukong percaya kalau kaulah yang bermaksud untuk memperkosa dirinya.

Si Unta tembaga mendongakkan kepalanya, Dalam kenyataan aku sendiri pun kurang mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi pada waktu itu..

sebab teknik Yok liu hujin dalam merayu kaum lelaki benar-benar kelewat lihay, dia selalu seperti sengaja tak sengaja untuk membangkitkan hawa napsu birahi kaum pria, menanti kaum pria masuk perangkap dengan sendirinya, seperti laron yang memapaki api.!"

"Apakah cukong mengetahui akan wataknya ini?` "Selanjutnya aku kurang begitu jelas, tapi waktu itu dia sama sekali tidak tahu"

"Tapi dia toh mau bersikap bijaksana dan berjiwa besar dengan memaafkan perbuatanmu?"

"Benar, itulah sebabnya aku amat berterima kasih kepada cukong dan setia kepadanya terus sampai mati!" `Kalau begitu Singa emas sekalian pasti telah berbuat serong dengannya, apalagi usia mereka jauh lebih besar daripada dirimu! ` Si Unta tembaga termenung sebentar, lalu baru berkata.

"Aku pikir hal ini memang tak dapat dihindari, itulah sebabnya mereka menunjukkan sikap yang begitu setia dan membela terhadap Thian bi, aku rasa kebanyakan disebabkan oleh hubungan tersebut!"

"Dari mana pula kau bisa membuktikan kalau Thian bi bukan putri Cukong...?"

"Karena Thian-bi mempunyai buah jari pada tangan kanannya"

"Bukti macam apakah hal ini?"

"Jari tangan yang bercabang-cabang merupakan keturunan, Cukong justru tak punya jari"

"Setiap orang dalam keraton tidak memiliki, siapa tahu kalau hal ini hanya merupakan warisan dari berapa generasi?"..

"Aku tahu ada seseorang yang sejak di lahirkan sudah mempunyai cabang pada jari tangannya, namun dia bukan orang Mo kiong, orang itu adalah pamanku, suatu hari dia datang menjengukku.

"Mengapa dengan pamanmu itu!"

"Tak lama kemudian, Yok liu hujin pun lenyap secara misterius, kami telah melakukan pencarian ke mana-mana akan tetapi tak pernah berhasil menemukan jejaknya, empat tahun kemudian baru ada orang yang membopong Thian-bi datang ke istana"

"Bagaimana pula cara pembuktiannya? Waktu itu Thian bi sudah berusia tiga tahun lebih, senadainya Yok liu hujin sudah berbadan dua ketika pergi, anaknya memang akan berusia sebaya dengannya."

Si Unta tembaga menggeleng.

"Aku telah menyaksikan Thian bi memiliki cabang dalam jari tangannya, maka akupun minta ijin untuk pulang sekalian baru menyelidiki persoalan ini, akhirnya baru kuketahui kalau pamankulah yang telah mengajak Yok liu kabur dan hidup di dusun kelahiranku..."

"Hebat juga pamanmu itu!"

"sesungguhnya dia memang seorang lelaki tampan, pandai merayu lagi, dan yang paling penting adalah pandai mengambil hati perempuan, sehingga kaburnya Yok liu bersamanya sesungguhnya bukan suatu kejadian yang luar biasa, aku sudah mendapat kabar bahwa mereka telah melahirkan seorang putri"

"Dia adalah Thian bi?"

"Benar, gadis itu memang berperawakan lebih besar dari usia bocah sebayanya sewaktu dihantar ke sana katanya sudah merumur tiga tahun lebih, padahal Cuma dua tahun lebih sedikit."

"Kalau begitu Thian bi adalah putri pamanmu, yakni adik tongmu sendiri, bila sewaktu datang dia hanya berusia dua tahun lebih, hal ini membuktikan kalau dia bukan darah daging cukong sendiri!"

Si Unta tembaga hanya membungkam dalam seribu bahasa. Kembali si nenek bertanya.

"Mengapa mereka mengirim putrinya agar kita yang memelihara?"

"Pamanku adalah seorang lelaki romantis, tapi sejak dia melarikan Yok liu, ternyata hidupnya menjadi amat beraturan, dia selalu berada di rumah menjaganya, dua tahun pertama masih mendingan, kemudian untuk melatih semacam ilmu pamanku telah bersikap agak dingin terhadapnya, maka diapun mulai tidak tenteram hidup dalam rumah!"

Perempuan semacam dia memang tak pernah akan merasa tenteram bila dibiarkan hidup kesepian!"

Pamanku tidak berjiwa besar seperti cukong, ketika akhirnya tertangkap basah kalau bininya serong, dia segera membacok kedua orang itu sampai mampus, kemudian diapun bunuh diri!"

Nenek itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru menghela napas panjang.

"Aaai... padahal buat apa dia harus berbuat demikian? Yok liu toh bukan miliknya, dia menganggap tiada lelaki yang tega untuk membunuhnya, tapi akhirnya dia toh ketemu batunya juga, kali ini dia betul-betul mampus."

"Cubo, tampaknya kau seperti sudah mengetahui akan watak dari Yok liu ini?"

Nenek itu tertawa.

"Jangan lupa, akupun seorang wanita, biasanya wanita lebih mudah memahami perasaan sesama wanita!"

"Kalau memang begitu, mengapa kau tidak memberitahukan hal ini kepada cukong?"

Kembali nenek itu tertawa.

"Hanya perempuan terbodoh yang akan menyerang perempuan lain dihadapan suaminya, selama banyak tahun cukong selalu menaruh hormat kepadaku, karena aku tahu bagaimana harus menjadi seorang perempuan yang sebenarnya! Kali ini si Unta tembaga membungkam, diapun menaruh sikap yang amat hormat terhadap Cubo nya ini, tapi inipun disebabkan karena dia merupakan istri cukong nya. Dia sendiri tidak mempunyai daya tarik apapun. Kalau dibilang wajahnya termasuk cukupan, tidak terlalu cerdik, tidak pula terlalu bodoh. Selain tidak suka berbicara, tak pernah mengemukakan pendapat, tiada sesuatu yang luar biasa, bahkan seakan-akan seorang yang tak bisa dan tak punya apa-apa, tapi cukong selalu besikap sungkan dan hormat terhadapnya. Hal inilah yang selalu membuat dia tak habis mengerti. Ada kalanya dia merasa sayang untuk cukongnya ini, dia merasa cukongnya gagah perkasa lagi pula tampan, tidak seharusnya dia memiliki seorang bini seperti ini. Sekarang, baru sampai detik ini baru mengerti dimanakah letak kelebihan dari cubonya, justru dialah memiliki kecerdasan yang tinggi, kebesaran jiwa yang mengagumkan, penamplian yang wajar dan sikap yang anggun, hampir semua keindahan dari seorang perempuan dimilikinya tanpa ada yang ketinggalan. Apabila seorang lelaki dapat menemukan seorang perempuan semacam ini, maka akan bahagialah hidupnya sepanjang masa, sayang sekali perempuan semacam ini biasanya memang sedikit sekali. Tanpa terasa timbul perasaan yang amat menghormat dalam hati si Unta tembaga terhadap cubonya ini. Tiba-tiba nenek itu mengalihkan kembali pokok pembicaraannya ke soal lain, katanya.

"Unta tembagb apa pula yang terjadi dengan bait syair Siau lo it ya teng cun hi tersebut?"

Ooh, itulah bait syair yang membuat cukong tertarik kepada Yok-liu hujin sewaktu pertama kali mereka bertemu, waktu itu kami sedang melakukan perjalanan melewati sebuah dusun wilayah Kanglam, pemandangan alam sangat indah, dari sebuah rumah gubuk ditepi sebuah sungai suara senandung tersebut berkumandang, suara itu segera menarik perhatian kami untuk melakukan penyelidikan dan kami pun segera menjumpai Yok-liu hujin.

Waktu itu dia hanya putri seorang guru desa, seorang gadis dusun yang berbaju sederhana tapi memiliki kecantikan yang luar biasa dan dia tampaknya tertarik oleh kegagahan serta ketampanan cukong dalam pembicaraan yarg berlangsung berapa saat itulah akhirnya dia memutuskan untuk pergi bersama kami, pergi meninggalkan ayahnya seorang diri.

"Kemudian, apakah dia tak pernah kembali lagi ?"

"Tidak, dia seperti sudah melupakan sama sekali akan ayahnya sebaliknya cukong masih teringat dengannya, ia suruh aku mengunjunginya, waktu itua ayahnya sedang di rundung kemiskinan dan hidup melarat, maka aku meninggalkan sejumlah emas, perak dan permata untuknya, ketika aku menjenguknya untuk ke dua kalinya dia telah memanfaatkan harta yang kutinggalkan itu untuk membeli sawah, membangun rumah bahkan mengawini perempuan muda sebagai istrinya, kehidupan mereka nampak amat bahagia, maka cukong pun melarang aku untuk berkunjung ke sana lagi"

"Mengapa?"

Dengan suasana kita pada waktu itu masa jaya sedang diambang pintu, ibaratnya matahari di tengah angkasa, kurang baik bagi kita untuk mengadakan hubungan dengan seorang rakyat biasa."

Nenek itu segera menghela napas panjang.

"Aaai... cukong memang manusia begitu, dia selalu meikirkan orang lain, manusia semacam ini sesungguhnya tidak cocok untuk menjadi seorang kaucu!"

Berbeda sekali bial cukong sedang mengatasi masalah perkumpulan, dia tak pernah bersikap ramah, semuanya tandas dan tegas."

"Betul, memang dia harus begitu berbicara menurut perasaan, tidak salah lagi bila Mo kau dianggap sebagai perkumpulan kaum sesat umat persilatan sebab Mo kau mempunyai banyak peraturan dan banyak cara melatih ilmu yang sesat dan jahat, cukong ingin merubah pandangan orang kepada Mo kau agar apa yang didengar tentang Mo kau berbeda dengan Mo kau yang sebenarnya karena itu dia baru menerapkan banyak peraturan secara ketat mengendali-kan anggotanya untuk berbuat sewenang-wenang, tapi justru karena inilah menimbulkan rasa tak puas dari banyak orang sehingga akhirnya terjadi peristiwa penghianatan."

Tak bisa dibilang begitu, sampai sekarang cukong toh masih mempunyai banyak pengikut yang tetap setia sampai mati kepadanya!"

Tapi jumlahnya sudah menciut sehingga menjadi sedikit sekali, orang-orang itu bisa bergabung dengan kita tak lain karena tertarik oleh ilmu perkumpulan kita yang aneh dan sakti dan berharap bisa mewarisi kepandaian tersebut.

Si Unta tembaga membungkam dalam seribu bahasa.

Kembali si nenek bertanya.

"Mengapa cukong mengukir bait syair tersebut pada tubuh goloknya?"

"Tentang soal ini hamba kurang begitu tahu, sejak Yok liu hujin lenyap, ada sementara waktu sifat cukong menjadi berangasan sekali dan membunuh banyak orang."

Perempuan luar biasa semacam itu memang sulit dilupakan oleh siapapun, jangan kan cukong, bahkan akupun merasa seperti kehilangan sesuatu..."

Si Unta tembaga berpikir sebentar, kemudian katanya lagi.

"Walaupun cukong merasa gusar karena hilangnya, Yok liu hujin, mungkin dia pun kemudian merasa kalau kemarahannya itu tidak berdasar dan salah, maka dia lantas mengukir syair tersebut diatas goloknya untuk mengendalikan luapan emosi sendiri, ada beberapa kali kusaksikan dia mencabut keluar goloknya dan memandang sekejap bait syair yang terukir di atasnya, kemudiain hawa amarahnya pun segera mereda!"

"Kalau begitu mungkin dikarenakan alasan ini, semenjak saat itu ilmu goloknya juga berhasil maju ke tingkatam yang lebih tinggi, permainan golonya nampak bertambah tangguh hingga membuat nama perkum-pulan kita berkembang menjadi pesat dan tenar, tapi hal itu pula yang akhirnya mencelakai dia"

"Benar, waktu itu perkembangan Mo-kau memang kelewat cepat, bahkan sudah melampaui nama besar dari semua partai dan perguruan lainnya sehingga menimbul-kan perasaan tak tenang dari semua orang, justru karena perkembangannya terlalu, cepat sehingga cukong tak bisa melakukan pemeriksaan sendiri atas setiap persoalan yang ada, ia suruh si singa emas sekalian bertanggung jawab sebagian atas masalah, tapi kenyataannya mereka justru menanamkan banyak permusuhan untuk perkumpulan kita!"

Si nenek menghela napas panjang.

"Benar, setelah kejadian cukong merasa menderita kerugian yang amat besar, tapi dia tidak menyalahkan orang lain, karena menganggap kesalahan tersebut merupakan kesalahan sendiri!"

"Hal ini tak bisa menyalahkan Cukong, dia bermaksud demi kebaikan kita semua` "Unta tembaga, apakah kau masih belum memahami cukong? Apakah dia adalah seorang manusia yang berwatak macam begitu? Dia adalah seorang kaucu, tentu saja dia bertanggung jawab atas berhasil atau tidaknya semua masalah, disamping itu masih ada sebuah alasan lain yakni dia adalah seorang manusia yang tinggi hati, dia selalu beranggapan tiada tandingannya dikolong langit, tapi tempo hari dia justru menderita kekalahan diujung pedang Cia Siau-hong!"

Si Unta tembaga tidak berbicara lagi.

Cukong merasa bakatnya terbatas dan tahu kalau dalam hidupnya tak mungkin dia mencapai kemajuan lagi, meski bacokan goloknya lihay, tapi dia tak mampu untuk melebihi Cia Siau hong, karena itu dia benar-benar menjadi putus asa dan tak ada niat untuk bangkit kembali.

Setelah murung selama banyak tahun, akhirnya dia berhasil menemukan Ting Peng, bakat dari pemuda ini merupakan suatu bakat luar biasa yang tak akan dijumpai dengan mudah, maka dia pun melimpahkan seluruh harapannya ke tubuh anak muda ini!"

Bocah muda ini memang hebat, konon kemajuan yang berhasil dicapainya sekarang sudah melebihi kemampuan cukong dulu, Gin liong dan Thi yan kedua-duanya tewas dalam satu bacokan saja!"

Si nenek manggut-manggut.

"Benar, cukong juga telah membahas masalah itu, kematian naga perak bukan sesuatu yang aneh, tapi putusnya lengan Thi yan baru benar-benar luar biasa karena dia bisa menguasahi golok itu dan digunakan menurut kehendak hatinya, justru karena dia sudah dapat melepaskan diri dari lingkungan pengaruh ibis maka ia baru dapat maju untuk mencapai taraf malaikat"

Apakah cukong belum dapat mengendali-kannya?

Tidak dapat, selama hidup dia hanya bisa berputar terus dalam taraf iblis, meski pun serangan goloknya bisa diperhebat namun ia tak pernah berhasil untuk menguasahinya"

Kalau begitu perkampungan kita dapat bangkit dan jaya kembali ditangan Ting Peng"

"Itulah pengharapan cukong!".

"Mengapa kita tidak menyerahkan semua persoalan perkumpulan kepadanya saat ini juga"

"Tak boleh terlampau terburu napsu karena cukong harus mengurusi masalah perkumpulan, apalagi kemajuan dari ilmu silat perkumpulan kita makin mencapai tarap terakhir semakin sukar untuk melangkah maju, kalau tidak diperjuangkan dengan sepenuh tenaga dan seluruh perhatian tidak terhimpun menjadi satu sulit rasanya untuk mencapai taraf tersebut, maka cukong memutuskan untuk membiarkan dia berkembang dulu secara bebas, jangan dibebani dahulu oleh persoalan lain!"

Cubo, kali ini kita hendak menyerbu sarang Thian bi, apakah hal tersebut juga dikarenakan Ting Peng?"

Nenek itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata.

"Walaupun cukong berkata demikian, tapi aku percaya bukan begitu... ."

"Bukan?"

Menurut apa yang kuketahui, keadaan yang berhasil dicapai Ting Peng saat ini sudah tak mungkin bisa dilukai oleh siapapun, cukong sengaja berbuat demikian tujuannya tak lain adalah untuk membasmi sisa-sisa kejahatan dan unsur-unsur munafik dari Mo kau yang masih hidup di dunia ini, dan selanjutnya menyerahkannya kepada Ting Peng seorang untuk mendirikan sebuah perguruan yang suci dan bersih."

Cukong benar-benar seorang manusia yang luar biasa!"

Ooo0ooo Sekembalinya kedalam lembah tiba-tiba si kakek merasakan suatu kesepian yang luar biasa, belum pernah ia merasakan kekosongan seperti apa yang dialaminya saat ini.

Semua orang penting dalam lembah telah pergi semua, yang tersisa hanya beberapa orang murid yang baru masuk perguruan dan mengurusi soal-soal kecil.

Seandainya benar-benar ada orang yang menyusup ke dalam, mereka tak akan memiliki sedikit kekuatanpun untuk melakukan perlawanan, walaupun dia pernah bilang tempat ini terpencil letaknya dan tiada orang yang bisa menemukannya.

Tapi dia sendiripun tahu, ucapan tersebut tidak dapat dipercaya seratus persen.

Suatu organisasi yang terdiri dari banyak orang, tak mungkin bisa manyembunyikan diri kelewat rahasia, apalagi kalau pihak lawan memiliki ketajaman hidung yang melebihi ketajaman hidung anjing pemburu.

Selama banyak tahun, dia dapat melindungi diri dengan aman tenteram, yang paling penting adalah dia menggantung diri pada kekuatan dan keampuhan yang dimiliki dari sisa-sisa kekuatan perkumpulannya.

Beribu orang jago lihay melakukan penjagaan yang ketat terhadap seluruh markas besar mereka, tak nanti musuh dalam jumlah kecil dapat menyusup ke dalamnya, sedang musuh dalam jumlah besar akan diketahui dari tempat kejauhan.

Mereka dapat menghindarkan diri atau berpindah tempat sebelum orang-orang itu tiba disana.

Tapi sekarang semua orang yang paling diandalkan telah pergi semua meninggalkan tempat itu.

Penjagaan di dalam lembah boleh di bilang sama sekali tak ada, sekarang asal ada seorang jago kelas dua saja sudah mampu untuk menyusup masuk secara mudah.

Satu-satunya orang yang bisa melindungi dirinya hanyalah dia sendiri.

Untuk membuat Ting Peng berhasil, dia tak segan untuk menyalurkan segenap hawa murni yang dilatihnya selama ini kepada pemuda itu.

Meski kemudian dia mengandalkan semacam ilmu simhoat dan dibantu obat-obatan dapat mengembalikan hawa murninya hingga mencapai tiga bagian, tapi dengan kekuatan sebesar tiga bagian, mampukah dia untuk menghadapi ancaman dari luar?.

Persoalan itu segera akan menjadi suatu kenyataan, karena dia melihat ada tiga orang, tiga orang yang tidak seharusnya berada didalam lembah itu, dua orang perempuan dan seorang lelaki.

ooo0ooo SERGAPAN MAUT Dia kenal dengan dua orang perempuan itu sebab mereka adalah dua orang dayang ditugaskan untuk melayani Cing cing.

Cun Hoa dan Ciu Gwat.

Sebaliknya yang lelaki belum pernah di jumpai sebelumnya.

Kakek itu merasa tercengang dan diluar dugaan tapi tidak memperlihatkan rasa kaget dan keheranan yang terlampau besar, hanya tegurnya dengan suara hambar.

Cun Hoa, Ciu Gwat, kenapa kalian kemari?

Baik baikkah nona?"

Cun Hoa tertawa. Apakah nona berada dalam keadaan baik budak kurang begitu jelas!"

Jawabnya.

"Mengapa kalian tidak begitu jelas? Bukankah kalian ditugaskan melayani nona?"

Ciu Gwat segera tertawa, katanya pula.

"Nona telah menyerahkan kami berdua untuk melayani Liu toaya ini, maka budak tidak mengetahui jelas keadaan yang sebenarnya dari nona"

"Lantas ... mengapa kalian datang kemari?"

"Nona memerintahkan kepada kami untuk mengikuti terus Liu toaya ini kemanapun dia pergi kami tak boleh melepaskannya, karena itu ketika Liu toaya kemari, terpaksa kamipun ikut kemari!"

Dengan cepat kakek itu mengalihkan sorot matanya ke arah lelaki tersebut, kemudian katanya sambil tertawa dingin. Siapa yang bernama Liu toaya?"

Siapa yang berhak untuk menyebut dirinya sebagai toaya dihadapanku? Saat itulah lelaki tersebut baru membungkukkan badannya dan berkata sambil tertawa.

"Boanpwe Liu Yok siong!"

"Hmmm, kawanan tikus yang tak tahu malu!"

Tak tahan lagi terlintasp sikap sinis di atas wajah kakek itu. Liu Yok-siong tidak marah malah kata nya sambil tertawa.

"Boanpwe tidak menyangka kalau diriku adalah kawanan tikus tapi cianpwe sendiri pun tidak lebih hebat dari padaku, kaum rase satu jenis dengan kaum tikus, jadi sebenarnya kita hanya manusia-manusia dari jenis yang sama!"

Kakek itu marah sekali, seorang manusia kawanan kita seperti Liu Yok siong ternyata berani mengucapkan ucapan semacam itu untuk berbicara dengannya, hal ini merupakan suatu kejadian yang membuat orang tak tahan.

Dengan gusar lantas ia menuding ke arah pintu seraya membentak.

"Enyah, enyah kalian dari sini!"

Kembali Liu Yok siong tertawa.

"Asal benda yang harus boanpwe peroleh sudah didapatkan, tentu saja aku akan segera pergi dari sini!"

Kakek itu segera menarik sebuah tali yang berada dibelakang pintu itulah tali untuk memanggil orang, sebab setiap murid dilarang masuk kedalam sebelum mendapat panggilan.

"Loya cu"

Kata Cun Hoa kemudian sambil tertawa.

"apa yang kau inginkan? Perintahkan saja kepada budak, biar budak yang melayani dirimu, tentu jauh lebih baik dari pada mereka yang melayani kau "

Ciu Gwat turut tertawa katanya pula.

"Mungkin kami bodoh dan bebal, sulit untuk memenuhi keinginan majikan tua, tapi paling tidak kami masih hidup, orang hidup toh jauh lebih baik dari pada orang mati bukan?"

Kakek itu menghela napas, diapun tahu bahwa ketiga orang ini bisa masuk dengan semaunya sendiri karena orang-orang yang berada diluar sudah mengalami musibah.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu dia menatap kedua orang perempuan itu sehingga membuat mereka merasakan sedikit kurang leluasa kemudian katanya.

"Semenjak kapan kalian berkomplot dengan si singa emas?"

"Sudah lama sekali"

Ciu Gwat sambil tertawa.

"semenjak dahulu kami adalah budak dari Kim say tianglo, kemudian kami baru dipanggil untuk melayani nona"

Perasaan si kakek semakin tenggelam, kembali dia menghela napas panjang.

"Aku mengira setelah kalian berganti lingkungan maka sikap kalian akan berubah lebih baikan, tapi kalau ditinjau sekarang, tampaknya kalian tetap cabul dan jalang!"

Cun Hoa kembali tertawa.

Loya cu, perkataan semacam itu tidak seharusnya muncul dari mulutmu, sewaktu kami bergabung dengan perkumpulan ini, apa yang kami kerjakan toh semuanya merupakan perintah dari kau orang tua!"

Tapi kemudian, bukankah aku suruh kalian bertobat dan meninggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar?"

"Benar, kau pernah berkata begitu, tapi kau tidak memberitahukan kepada kami apa yang disebut sebagai jalan benar itu"

Ucap Ciu gwat sambil tertawa. Cun Hoa pun menyambung. Kau lebih-lebih tak pernah mengajarkan kepada kami bagaimana caranya untuk kembali ke jalan yang benar!"

Mengapa tidak?"

Teriak kakek itu gusar.

"sudah kukatakan kalau semua perbuatan dari perkumpulana kita dimasa lalu adalah sesat dan jahat, kalian diharuskan melepaskan semua yang lalu, mengekang diri sendiri..."

Ciu Gwat tertawa.

Loya cu, kami sudah mengorbankan waktu bekerja sepuluh tahun untuk mempelajari berbagai macam ilmu sesat dari perkumpulanmu itu, tapi kau hanya ingin merubah kami dengan sepatah kata saja, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?"

Kakek ini menghela napas panjang.

"Yaa, aku tahu kalau ini susah, tapi bukan berarti tak mungkin, untuk bisa meloloskan diri dari pengaruh sesat, dari Mo kau hanya ada satu cara yakni berusaha mengekang dan mengendalikan diri sendiri, segala sesuatunya tergantung pada diri sendiri, tiada orang kedua yang dapat membantu lesbian, tapi buktinya banyak orang dari perkumpulan kita yang berhasil melepaskan diri dari kekangan sesat!"

Aku tahu, kata Cun hoa sambil tertawa.

"orang-orang yang selama ini mendampingi loya cu terus menerus adalah anak murid loya cu yang paling setia!"

"Benar"

Kata si kakek dengan wajah berseri, dari sini membuktikan kalau Mo kau belum tentu sesat dan jahat, kami masih tetap dapat menjaga diri dan dihormati oleh semua orang!".

Mungkin saja ada kemungkinan semacam itu, tapi kami kakak beradik dua orang sudah tak mempunyai kesempatan lagi untuk berbuat demikian` ucap Ciu Gwat tertawa.

Kakek itu tertegun, serunya.

Tidak ada kesempatan seperti ini?

Kesempatan bagi kalian banyak sekali, aku sengaja mengirim kalian untuk mendampingi Cing Cing tak lain karena aku mengharapkan dialah yang mengawasi dan membimbing kalian berdua!"

Nona adalah satu-satunya perempuan suci dari perkumpulan kita!"

Kata Ciu Gwat tertawa.

Benar!

Dia tak tersentuh dan terpengaruh oleh kesesatan dan kejelekan perkumpulan kita, bila kalian mengikutinya maka kalian akan memperoleh kesempatan yang lebih banyak untuk maju.

Cun Hoa tertawa.

"Nona sendiri adalah perempuan suci, tapi dia tak pernah mengajarkan kepadaku, bagaimana caranya menjadi perempuan suci tugas yang dia berikan kepada kami selalu merupakan pekerjaan sesat dan jahat, di suruh kami untuk melayani Liu toaya ini."

Dia suruh kalian melayani kawanan tikus ini?.. Itu mah tidak, dia hanya suruh kami mengawasi toaya ini, cuma loya cu cerdik juga tahu, Liu toaya ini adalah manusia paling sesat didunia ini!"

Siapa bilang tidak?

sambung Ciu Gwat sambil tertawa, walaupun dia bukan anggota perkumpulan kita, tapi jauh lebih sesat daripada manusia tersesat dari perkumpulan kita, menugaskan kami untuk menghadapi manusia seperti ini ibaratnya dua ekor kucing yang ditugaskan menjaga seekor ikan besar, bagaimana mungkin bisa ditahan hal-hal yang tak diinginkan?"

Kakek itu memandang kearah mereka lalu menghela napas dengan penuh penderitaan.

"Aaai... sudah, sudahlah, siapa berani berbuat kejahatan, ia tak boleh dibiarkan hidup, terhadap kalian berdua, lohu pun tak akan banyak berbicara lagi"

Loya cu, bila kau masih ingin memberi pelajaran kepada kami, tentu saja kami akan mendengarkan dengan senang hati, sebab setelah lewat hari ini, mungkin tidak banyak kesempatan lagi bagi loyacu untuk menasehati orang!"

Kakek itu memandang sekejap ke arah mereka, tiba-tiba tanyanya.

"Sebenarnya apa tujuan singa emas mengirim kalian datang kemari?"

"Untuk sesaat kedua orang gadis itu menjadi gelagapan dan tak sanggup menjawab. Kembali kakek itu menghela napas, katanya lagi.

"Padahal aku tak usah bertanya lagi, sejak mereka berani menghianati aku secara terangterangan, dia selalu mencari jejak ku!"

Ucapan loya cu memamg benar, hidupmu di dunia ini bagi mereka merupakan duri dalam mata!"

Kakek itu segera mendongakkan kepala nya dan tertawa terbahak-bahak.

Haaah...

haaah...

haaah...

kalau toh dia mempunyai kalian sebagai mata mata, rasa nya bukan suatu pekerjaan yang sulit baginya untuk mengetahui jejak ku, mengapa dia tidak datang saja kemari dan membunuhku ?

Ciu Gwat tertawa.

Mereka tak berani sebab bacokan geledek dari kau orang tua tiada orang yang bisa membendungnya kecuali Cia Siau hong dari perkampungan Sin kiam san-ceng, apalagi sejak pertarunganmu dengan Cia tayhiap tempo hari kaupun jarang sekali mencampuri urusan dalam dunia persilatan lagi, oleh karena mereka tak bisa menemukan orang yang bisa menandingimu, tentu saja mereka tak berani datang mengganggumu...

Sambil tertawa Cun Hoa menyambung.

"Apalagi kecuali kau masih ada banyak anggota perkumpulan yang setia kepadamu, mereka adalah rekan-rekan lama oleh sebab itu mereka tak berani datang mengusikmu dengan begitu saja."

"Bagaimana dengan ini hari? Mengapa diapun tak berani datang kemari... ?"

Tanya si kakek sambil tertawa. Cun Hoa tersenyum.

"Hari ini dia pun tak kemari karena dia telah pergi ke tempat Thian bi kuncu menemani majikan muda ke situ."

"Majikan muda, siapa majikan muda?"

"Putri Thian bi kuncu!"

Thian bi juga mempunyai anak? Dia kawin dengan siapa? Putri siapakah itu?"

Thian bi kuncu belum kawin tapi sudah melahirkan seorang putri, dia telah menyerahkan segala sesuatunya kepada putrinya ini."

Kakek itu mendengus.

"Hmmm, benar-benar suatu kejadian yang tak gampang, ternyata dia tak memperdulikan nama sendiri dan mengadakan hubungan gelap dengan orang sehingga melahirkan anak, lelaki itu pasti seorang lelaki yang luar biasa sekali?"

"Benar, dia adalah Cia Siau hong, Cia tayhiap!"

"Apa? Cia Siau hong?"

"Betul, kecuali Cia Siau hong siapakah yang bisa membuat Thian bi kuncu menjadi jatuh hati?"

Hawa amarah segera menyelimuti seluruh wajah kakek itu, bentaknya dengan suara keras.

"Tak heran kalau waktu itu Cia Siau hong datang mencariku, haaahhh... haaahhh... haaahhh... Cia Siau hong wahai Cia Siau hong, sia-sia saja kau mempunyai nama besar, rupanya kau tak lebih anya seorang manusia hidung bangor yang suka bermain perempuan. Loya cu, kau harus memahami kemampuan dari Thian bi kuncu. apabila dia sudah mengeluarkan tehnik merayunya, tiada seorang pria pun yang bisa melepaskan diri! Kakek itu menghela napas panjang.

"Betul, apabila dia sudah berlagak serius, siapapun akan terpengaruh oleh kesucian dan kepolosannya, seandainya tempo dulu lohu tidak mudah menpercayai hasutannya, bagaimana mungkin perkumpulanku bisa porak poranda dan amggotaku banyak yang berhianat seperti saat ini? Ciu Gwat tertawa... Tapi kenyataannya loya cu masih sanggup untuk berjuang dan meloloskan diri di bawah pengaruhnya, hal ini sudah merupakan suatu tindakan yang tak gampang. Kakek itu tidak menjawab, dia cuma tertawa getir belaka. Kembali Cun Hoa berkata. Akhirnya Cia tayhiap pun menyadari kalau dia sedang memperalat dirinya dalam keadaan gusar ia lantas meninggalkan dirinya, didunia ini mungkin hanya kalian berdua saja yang bisa melepaskan diri darinya atas kemampuan sendiri!"

Tampaknya kakek itu merasa sedikit terhibur, katanya kemudian.

"Jadi akhirnya Cia Siau hong juga meninggalkan dirinya? Hal ini membuktikan kalau di dunia ini masih terdapat lelaki yang tidak terpengaruh oleh kaum wanita, bagus, bagus sekali..."Kalau begitu nama besar Cia sam sauya sebagai si malaikat pedang memang bukan nama kosong belaka` Pada mulanya dia masih mencerca dan mencemooh Cia Siau hong, tapi dalam waktu singkat dia sudah mulai memuji-muji kehbebatan Cia Siau hong .... Cuma, bukan sesuatu yang gampang untuk mendapatkan pujian dari mulut kakek ini, dari sini bisa diketahui bahwa untuk melepaskan diri dari pengaruh perempuan sesungguhnya dibutuhkan suatu kemauan dan keteguhan imam yang besar, dan bukan sembarang orang dapat melaksanakannya. Terdengar Ciu Gwat berkata lagi.

"Berhubung Thian bi kuncu dua kali mengalami kegagalan total ditangan loya cu serta Cia tayhiap, dia menganggap kejadian ini sebagai suatu peristiwa yang memalukan, dia lantas merusak wajah sendiri dan menutup diri didalam lembah terpencil, setiap hari dia melatih tekun ilmu silatnya dan bersumpah pada suatu ketika dia akan menggunakan ilmu silat yang sejati untuk mengalahkan kalian dan menguasahi seluruh kolong langit! . Mendengar itu, si kakek segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh... haaahhh... haaahhh... ambisinya boleh dikagumi, tapi... dia itu manusia dengan bakat macam apa? Jangan harap sepanjang hidupnya bisa mengungguli aku dan Cia Siau hong melalui pertarungan ilmu silat. Tentarg soal itu kurang begitu jelas, semenjak Thian bi Kuncu mengasingkan diri di tempat terpencil, dia sudah putus sama sekali hubungannya dengan dunia luar, hanya Kim dan Gin dua orang tianglo yang kadang kala pergi menjenguknya, mereka masih tetap setia terhadapnya. Kuakui kalau Thian bi memiliki suatu kemampuan untuk menguasai orang lain, ia bisa menarik Kim say dan Gin liong dari sisiku membuktikan kalau dia memang tangguh.. Bahkan sewaktu berita itu tersiar, aku sendiri pun tidak percaya, aku malah mengira yang besar kemungkinannya berhianat adalah Thi Yan suami istri, kedua orang ini paling tak bisa dibikin tenang, kedua adalah Si Unta tembaga, sebab dia paling angkuh dan tinggi hati"

Cun Hoa segera tertawa.

"Konon Thian bi Kuncu telah menggunakan banyak waktu dan pikiran untuk berhasil menguasahi Tong tou tianglo, sayang Si Unta tembaga kelewat menaruh hormat terhadap loya cu sehingga tak pernah mau menerima bujuk rayunya, itulah sebabnya Thian bi Kuncu selalu mengumpatnya sebagai budak rendah berjiwa kere"

Kakek itu menghela napas panjang.

"Aaai, kesetiaan si Unta tembaga terhadapku membuat aku sangat terharu, tapi dia kelewat kaku hatinya, karena kuatir menyedihkan hatiku, pelbagai rencana busuk yang dilakukan Thian bi secara diam-diam tak pernah dia laporkan kepadaku, coba kalau sejak dahulu aku tahu bila Thian bi ada maksud untuk merampas kedudukanku ini, tak nanti akhirnya akan berakhir seperti ini!"

"Namun harapan Thian bi Kuncu untuk mewujudkan ambisinya selalu kecil, dia telah melimpahkan semua tumpuan harapannya ke atas tubuh Cia Siau giok! "Ooh, jadi Cia Siau giok adalah putri Thian bi dengan Cia Siau hong...? ` "Benar, jarang orang persilatan mengetahui hubungan antara Cia Tayhiap dengan Thian bi Kuncu, tapi dia tak pernah menyangkal tentang kehadiran putrinya itu karena itulah Cia Siau giok disamping mempunyai dukungan dari Thian bi Kuncu, dia pun mendapatkan nama dan pengaruh dari Sin-kiam san ceng, inilah suatu kesempatan yang baik baginya untuk berjuang lebih jauh"

"Bagaimana dengan bocah perempuan itu?"

""Bagus juga, dia memiliki kecerdikan seperti Cia Siau hong, tapi memiliki juga kecantikan dan daya pikat seperti Thian bi Kuncu, sewaktu masih berada di perkampungan Sin kiam san ceng, banyak sudah keturunan keluarga kenamaan yang jatuh hati kepadanya. Sehingga andaikata dia berminat untuk menjagoi dunia persilatan, aku pikir hal tersebut bukan suatu persoalan yang besar!"

"Bagaimanapun tangguhnya dia mengua-sahi kolong langit, jangan harap dia dapat menaklukan Ting Peng !"

Ucap si kakek sambit tertawa penuh kepercayaan pada diri sendiri. Cun Hoa turut tertawa.

"Betul juga perkataan ini, buktinya beberapa kali Cia Siau giok harus menderita kerugian ditangan Ting kongcu, bahkan hampir saja perkampungan Sin kiam san ceng kena diobrak abrik, itulah sebabnya didampingi oleh Kim say tianglo, dia telah berangkat ke tempat pengasingan Thian bi kuncu untuk mohon bantuan"

"Sekalipun Thian bi turun tangan sendiri apakah dia mampu berbuat sesuatu terhadap Ting Peng"

"Soal ini budak kurang tahu, namun budak dengar selama beberapa tahun belakangan ini Thian bi Kuncu sedang mendalami ilmu silat yang diperolehnya dari kitab Mo kau pit kip, bahkan sudah berhasil dikuasahi dengan sempurna!"

Kakek itu mendengus lalu tertawa dingin.

"Heeehh ... Heeehh ....heeehhh....hampir semua kepandaian tersebut diperoleh dengan menipu dari tangan lohu, memangnya lohu tidak jelas, mana mungkin ia bisa menguasahi ilmu silat yang maha dahsyat? Paling banter dia Cuma dapat menyamakan kemampuan lohu, bila ingin menyusul Ting Peng kecuali kalau dia bisa berganti tulang lebih dulu"

Tiba-tiba Cun Hoa berkata dengan nada yang amat menarik.

"Loyacu, kemampuan yang dimiliki Ting kongcu dapat melampaui beberapa puluh tahun hasil latihanmu, kejadian ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak bisa masuk di akal!"

Kakek itu tertawa.

"Sesungguhnya tiada suatu yang aneh"

Katanya.

"keberhasilan Ting Peng tidak lebih karena dia memiliki bakat yang luar biasa"

"Padahal kepandaian silat yang dimiliki Ting Kongcu dulu amat biasa dan tiada sesuatu yang aneh, bahkan tidak nampak juga kalau dia mempunyai suatu bakat yang luar biasa."

"Dia tidak berbakat untuk belajar ilmu pedang, maka dalam jurus pedangnya dia hanya berhasil tapi kecil sekali", sahut si kakek tertawa.

"tapi setelah belajar ilmu golokku maka dia menjadi luar biasa, karena bakatnya memang cocok untuk mempelajari ilmu tersebut, ditambah lagi dia telah mengalami pelbagai kejadian dan memiliki bakat yang bagus, maka serta merta keberhasilannya bisa mencapai tingkatan yang luar biasa sekali... ."

Wataknya seakan-akan berubah menjadi amat tidak terima dengan sesuatu persoalan bahkan dengan kedua orang budak itupun bisa berbicang-bincang dengan gembiranya, seakan0akan sudah melupakan posisi mereka yang berdiri saling berhadapan sebagai musuh.

Tapi pada saat itulah ada seseorang yang mulai tidak sabar, ia mulai mendengus dingin.

Orang itu adalah Liu Yok siong.

"Tampaknya nyali bangsat ini menjadi sangat besar sekali, dalam situasi dan kondisi seperti inipun berani mengeluarkan dengusannya yang menunjukkan sikap tak sabar. Apa yang diandalkan sekarang. Kakek itu segera mendengar suara dengusan tersebut, dengan gusar dia lantas menegur. Hei, apa yang membuatmu mendengus!. Kau anggap ditempat dan keadaan seperti ini, kau masih mempunyai hak untuk bersuara? Liu Yok siong segera tertawa.

"Walaupun cianpwe tidak memandang sebelah matapun terhadap boanpwe, tapi boanpwe bukan orang yang tidak becus seperti apa yang cianpwe bayangkan! "Apakah Kim say menyuruh kalian datang untuk membunuh lohu? tegur kakek itu dingin. Cun Hoa segera tertawa.

"Aaaah, masa budak sekalian berani bersikap demikian terhadap loya cu, apalagi kedatangan budak sekalian inipan bukan atas perintah dari Kim say tianglo .

"Bukan?"

"Bukan"

Kakek itu manggut-manggut..

"Yaa, aku pikir memang tak mungkin, bukankah si singa emas sedang pergi ke tempat pengasingan Thian bi? Seharusnya berita yang lohu terima tak bakal salah! "Benar, bukan saja Kim say tianglo telah pergi ke tempat pertapaan Thian bi kuncu bahkan Lo hujin bersama Tong tou tianglo pun dengan membawa sekawan jago lihay meluruk semua kesitu, perjumpaan kali ini pasti akan diteruskan dengan suatu pertempuran yang amat seru, siapa yang kalah akan ditumpas sampai habis, tapi yang unggul pun tak memperoleh keuntungan apa-apa?! Mendadak kakek itu berseru denga kaget.

"Darimana kalian bisa tahu?"

Cun Hoa segera tertawa.

Mana mungkin budak bisa memiliki kepandaian sebesar ini?

Semuanya ini tak lain adalah berita yang berhasil didengar oleh Liu toaya, dia memang luar biasa terutama sekali kemampuan untuk mencari berita, kelihayannya luar biasa sekali"

Sambil tertawa Liu Yok siong berkata pula "Seandainya boanpwe tidak tahu kalau segenap jago inti yang ada dalam lembah sudah pergi semua, masa kami berani datang kemari?

Selama beberapa tahun belakangan ini, meski Mo kau sudah mendekati keruntuhannva, namun kekuatan yang berada disekitar cianpwe masih merupakan sesuatu kekuatan yang tak boleh dianggap enteng oleh siapa saja"

"Lantas, apa maksud kedatangan kalian kemari?"

Tegur kakek itu lagi dingin.

"Pertama datang untuk menjenguk Cianpvwe"

"Bujuk rayu, hmmm! Lohu paling benci dengan manusia semacam ini ..."

Damprat kakek itu marah. Liu Yok siong tertawa, dia sama sekali tidak menggubris dampratan orang, katanya lebih lanjut.

"Ke dua, akupun ada sedikit persoalan yang hendak dirundingkan dengan cianpwe!"

"Diantara kita berdua, tiada persoalan yang dapat dirundingkan lagi .... ` "Cianpwe janganlah kelewat keras kepala dengan ucapanmu itu, kalau dibilang berunding, lebih cocok kalau boanpwe ingin mengajukan sebuah permintaan! "Kau hendak memohon sesuatu dari lohu? Boanpwe menggunakan istilah "memohon"

Tak lain hanya berharap agar ucapan ini kedengaran lebih enak, padahal yang lebih cocok lagi adalah aku datang untuk membantu cianpwe dengan sepenuh tenaga"

"Dalam apa lohu membutuhkan bantuan-mu?". Liu Yok siong tertawa.

"Sekalipun tak bisa dibilang membantu, paling tidak juga merupakan kebaikan buat cianpwe, boanpwe mohon cianpwee sudi menghadiahkan rahasia dari ilmu golok tersebut untuk boanpwe"

"Apa? Kau bilang apa?"

Kakek itu benar-benar amat terperanjat, ternyata kawanan tikus yang pengecut, tak tahu malu dan munafik ini berani datang untuk meminta rahasia ilmu golok sakti.

Dengan suara yang meyakinkan Liu Yok siong berkata lagi.

"Aku ingin mempelajari rahasia dari ilmu maut tersebut"

"Tahukah kau apa yang dinamakan rahasia ilmu golok maut?."

"Tahu, ilmu tersebut merupakan sebuah ilmu silat paling tinggi dari Mo kau, bila golok maut dicabut maka korbannya pasti akan tewas, kecuali pedang sakti dari Cia Siau hong, tiada orang didunia ini yang sanggup untuk menandingi kehebatan dari ilmu golok tersebut! Si kakek segera tertawa terbahak-bahak. Haaahh.... haaaahh... haaahh. seandainya bacokan itu dilancarkan oleh Ting Peng, Cia Siau hong sendiripun belum tentu sanggup untuk menghadapinya! Tentang soal ini, Cia taybiap serdiripun sudah mengakui, itulah sebabnya ketika Ting kongcu datang keperkampungan Sin kiam san ceng untuk menantangnya berduel meski dua orang itu belum jadi melangsungkan pertarungan, Cia tayhiap sendiripun tidak mengatakan kalau dia mampu menerima bacokan maut itu. Kalau toh kau sudah mengetahui kehebatan dari ilmu golok tersebut mengapa datang kemari untuk mohon rahasia ilmu golok sakti itu dari lohu? Selamanya boanpwe mempunyai pandangan yang kelewat tinggi, seandainya ilmu golok tersebut tidak sedemikian hebatnya boanpwe tidak akan sudi untuk memohonnya. Liu Yok siong, mungkin otakmu sedikit kurang beres. Liu Yok siong tertawa. Soal itu, mah kau boleh bertanya kepada kedua orang nona ini, di dalam beberapa hal mungkin boanpwe sudah tidak berkemam-puan hebat lagi, namun benakku masih cukup sehat, sama sekali tak ada yang tidak beres. Kalau memang begitu, mengapa kau bisa datang kemari untuk minta rahasia ilmu golok tersebut dari lohu?"

Sebab cianpwe merupakan satu-satunya orang yang mengerti rahasia ilmu golok tersebut, walaupun sudah ada beberapa orang yang mempelajari ilmu golok itu, tapi mereka hanya tahu bagaimana cara mempergunakannya tapi tak bisa mengajar-kan kepada orang lain bagaimana cara untuk berlatih ilmu tersebut.

Hmm, tampaknya tidak sedikit yang berhasil kau ketahui!"

Selama ini boanpwe selalu menguatirkan persoalan tersebut, apalagi dunia persilatan dewasa ini sudah bergolak, rasanya tiada orang kedua yang lebih mengerti daripada aku...Sambil tertawa Ciu Gwat segera menambahkan.

"Dalam hal ini dia tidak mengibul Loyacu, termasuk lima partai besar dan pelbagai perguruan lainnya, tiada gerak gerik yang dapat lolos dari pengamatannya."

Liu Yok siong kembali tertawa.

"Walaupun boanpwe tidak memiliki nama dan kedudukan yang tinggi, namun mempunyai banyak sahabat karib yang tersebar luas di seluruh kolong langit, mereka semua amat baik kepadaku, bila boanpwe ingin mengetahui tentang suatu berita mereka tentu akan memberitahukannya kepadaku! Apakah didalam perguruanku juga terdapat orangmu? Kalau bukan begiut, darimana boanpwe bisa tahu kalau semua orangmu sudah pergi dan boanpwepun bisa datang tepat pada saatnya? Kakek itu menghela napas panjang.

"Aku tahu, dahulu kau adalah seorang yang berambisi sangat besar!"

"Sampai kinipun kau boanpwe belum pernah melepaskan ambisiku itu."

"Apakah kau masih ingin membentuk suatu kerajaan di kolong langit yang berada di bawah telapak kakimu?"

Liu Yok siong tersenyum.

"Aku tidak menyangkal pernah menderita pecundang yang amat besar ditangan Ting kongcu dan nona Cing Cing, tapi peristiwa itu justru mendatangkan kebaikan untukku"

Oooooh ..."

"Penampilanku setelah menderita kalah amat rendah dan berkurang, bahkan mereka yang punya sedikit nama saja sudah tak sudi berhubungan denganku, hal mana membuat perhatian orang terhadapku menjadi berkurang, sebaliknya dulu, perkampungan Siang siong san ceng ku paling termashur, sedemikian termashurnya sampai membuat beberapa orang merasa amat tidak tenang."

"Sungguh tak disangka perbedaan keadaan panas dan dingin serta pukulan batin yang begitu besar masih bisa kau hadapi dengan tabah... ."

"Yaaa, aku harus tabah menghadapi keadaan, sebab bila seseorang ingin berhasil dengan usahanya, dia harus memiliki kesabaran yang luar biasa!"

Mendadak si kakek mempunyai suatu perasaan dan pandangan yang baru terhadap Liu Yok siong, dia merasa dipunggungnya seakan-akan terdapat seekor ular yang sedahg merambat naik, membuatnya amat tak enak hingga membuatnya berseru tertahan.

Setelah menghela napas panjang, Liu Yok siong berkata lebih jauh.

"Semenjak kegagalanku di perkampungan Siang siong san ceng, aku seolah-olah kehilangan segala sesuatunya, bahkan perkampungan Siang-siong san ceng pun tak dapat kupertahankan!"

Akhirnya kakek itu mengangguk juga.

"Apakah kau belum kehilangan segala sesuatunya?"

Liu Yok siong tidak menjawab pertanyaan-nya itu secara langsung, sebaliknya berkata sambil tertawa.

"Sementara berjuang sementara mendapat hasil, untuk memperjuangkan berdirinya perkampungan Siang siong san ceng, hampir boleh dibilang aku sudah menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki, bagaimana mungkin aku rela melepaskannya dengan begitu saja?"

Tak tahan sekali lagi kakek itu mengangguk.

"Kau memang seorang yang pintar"

Liu Yok siong tertawa.

"Pintarnya sih tidak, tapi aku memang bukan seorang yang bodoh, aku menjadi bodohnya seperti babi selama Ting Peng sedang melaksanakan perbuatannya untuk membalas dendam terhadapku. Berbicara menurut liangsim, bagaimara mungkin aku Liu Yok siong dapat melakukan perbuatan sebodoh itu, menerima penderitaan sebesar itu dan tertipu sampai habis-habisan!".

"Ya, kau memang tak mungkin!"

Kakek iiu tak bisa tidak harus mengakui juga.."Waktu itu, kehadiran Siang siong san ceng sudah membuat banyak orang merasa tak tenteram, banyak sekali orang kenamaan yang berdatangan untuk melakukan hubungan, sejak itu aku sudah tahu kalau situasi semacam ini bukan suatu keadaan yang menguntungkan!"

"Maka kau pun menggunakan kesempatan itu untuk merahasiakan kekuatanmu yang sesungguhnya. Liu Yok siong tertawa. Belum pernah kuperlihatkan kekuatanku yang sebenarnva, selamanya aku adalah manusia yang berhati-hati, tapi sampai dimanapun hati-hatinya seorang toh ada waktunya juga menimbulkan kecurigaan orang, Ting Peng datang mencari balas kepadaku, bagiku inilah kesempatan yang terbaik untuk menghilangkan jejak, suatu kesempatan untuk mengalihkan perhatian orang lain dari diriku kepada orang lain, sejak peristiwa itulah orang tak pernah ada yang memperhatikan diriku lagi, setiap orang menganggap aku bagaikan sampah yang tiada harganya untuk diperhatikan"

Kakek itu berpikir sebenar, kemudian ujarnya.

"Belum tentu demikian, buktinya ada orang yang mengatakan dihadapanku, bahwa kau bukan seorang manusia yang sederhana? Namun cianpwee toh tak pernah mempercayainya? (Bersambung ke

Jilid 27)

Jilid .

27 KAKEK itu menghembuskan napas panjang dan tak bisa menyangkal lagi.

Setelah tertawa, Liu Yok siong berkata lagi.

Cuma memang masih ada sebuah alasan lagi yakni aku cukup memahami watak Ting Peng, aku tahu kalau Ting Peng telah mengawasi cucu perempuan cianpwe, juga mempelajari ilmu golok maut dari cianpwe aku dapat merasakan kalau kepandaianku sudah tak mampu lagi untuk menandinginya.

kalau toh tak sanggup menandinginya, terpaksa aku hanya bisa mengaku kalah saja!

Kakek itu memandang sekejap ke arahnya, lalu berkata.

Tapi pengakuan kalahmu ini harus kau bayar dengan mahal sekali.

Dengan cepat Liu Yok siong menggelengkan kepalanya berulang kali.

Aku tidak merasakan akan hal itu, apa lagi aku toh tidak menderita kerugian kelewat banyak, bahkan aku tak pernan meninggalkan perkampungan Siang siong san cengku, selama ini aku masih tetap berdiam di situ!

` Tapi bagaimana pun bagi orang lain terhadap dirimu?

Ciang siong kiam khek adalah julukan yang berhasil kuciptakan dengan mengandalkan permainan pedangku, oleh sebab itu asal kau dapat bangkit kembali, mereka masih tetap akan menghormati dan menyanjung diriku!

Toh bukan setiap orang akan berbuat demikian!

Liu Yok siong tertawa.

"Ada sementara orang yang tidak pernah memandang sebelah matapun terhadap diriku, aku sendiripun tidak butuh mereka memandang tinggi diriku! Kakek itu tidak berbicara lagi, sesudah berpikir sebentar, ia baru berkata.

"Darimana kau bisa tahu kalau kau pasti dapat hidup lebih lanjut? "Aku tidak tahu!"

Seandainya bacokan golok Ting Peng membelahmu menjadi dua bagian..?"

Bahaya ini harus kuserempet, lagi pula merupakan satu-satunya jalan yang bisa ku tempuh, sebab waktu itu sekalipun kuterjang ia dengan sekuat tenaga pun tak nanti akan mampu menahan terjangan goloknya, kalau toh memang tak mampu, terpaksa aku harus bertaruh, di dunia ini memang tiada persoalan yang bisa dijamin keberhasilannya secara seratus persen, paling tidak kita harus beradu nasib juga.

"Kelihatannya nasibmu memang cukup baik. Liu Yok siong tertawa. Benar, aku tahu kalau Ting Peng tak akan membunuhku, sebab dia tidak sejenis dengan ku, tapi tindakannya bersedia menerimaku sebagai murid benar diluar dugaanku, dan akibat dari tindakan yang tak terduga ini membuat rencanaku yang semula untuk melepaskan perkampungan Siang siong san ceng pun menjadi dibatalkan kembali, bukan hal ini merupakan suatu kemujuran bagiku?"

"Kau anggap pcrkampungan Siang siong sanceng masih menjadi milikmu..?`.

"Benar, aku adalah cengcu perkampungan tersebut kemudian berganti menjadi congkoan, meski nama sebutannya saja yang berbeda, namun orangnya gedungnya, kebunnya sama sekali tidak berubah, aku masih tetap dapat menikmatinya! Congkoan sama sekali berbeda dengan Cengcu! Tapi dalam hati mereka mengerti, kalau aku masih tetap menjadi cengcu mereka. Akhirnya kakek itu menghela napas panjang. Liu Yok siong, sebenarnya kau adalah manusia macam apa? Liu Yok siong mengangkat bahunya. Aku sendiripun tidak tahu, sebab didunia ini belum pernah muncul seorang manusia macam aku, mungkin disaat mendatangpun tak akan terlalu banyak. Sekali lagi kakek itu berpikir sebentar, lalu tanyanya lagi.

"Jadi kau menginginkan Ilmu golokku?"

"Benar, semoga cianpwe sudi mempersem-bahkannya untukku!"

Sekalipun kau pelajari ilmu golok tersebut, tak nanti akan berhasil melebihi Ting Peng!"

"Aku tahu tentang hal ini, kalau tidak aku pun tak akan datang kemari untuk memohonmu, seandainya aku dapat menang-kan Ting Peng, tak mungkin cianpwe akan mewariskan ilmu tersebut kepadaku"

"Sekalipun kuberikan ilmu golok itu kepadamu, bagiku tak akan ada manfaatnya"

"Ada, aku bisa membalaskan dendam bagi cianpwe!"

"Membalaskan dendam bagiku?"

"Benar, Hujin Cianpwe dengan membawa Tong tou tianglo beserta segenap jago inti perguruanmu telah menyerbu Thian bi kuncu, aku tahu mereka pasti tak akan bisa pulang dalam keadaan hidup!"

Tergerak hati sikakek sesudah mendengar perkataan itu. Terdengar Liu Yok siong berkata lebih jauh.

"Mungkin saja satu dua orang diantaranya dapat melarikan diri, tapi perguruan Mo kau pun akan tumpas dan berakhir sampai disini saja..

"Darimana kau bisa tahu kalau mereka pasti akan kalah!"

"Bukan cuma aku yang tahu, si Singa emas sekalian pun tahu, mereka memang sengaja membocorkan jejaknya agar memancing cianpwe sekalian menyerbu kesana"

"Tapi bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk menumpas orang-orangku itu"

"Cianpwe jangan lupa, berbagai perguruan besar menganggap cianpwe sebagai duri dalam daging, bila mereka mengetahui ada kesempatan sebaik ini untuk menumpas sisa kekuatan dari cianpwe, adakah mereka akan melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja?"

Kini, paras muka si kakek baru nampak agak berubah, tapi dengan cepat ia sudah tertawa hambar.

"Biarkan saja mereka semua terbunuh, lohu memang berniat untuk membiarkan mereka mati ditumpas orang"

Liu Yok siong segera tertawa tergelak.

"Aku tahu, untuk menciptakan Ting Peng cianpwe telah mengorbankan banyak pikiran dan tenaga, tapi cianpwe berpikir, tanpa tunjangan kekuatan secara diam-diam dari cianpwe, apakah Ting kongcu tidak merasa kelewat terpencil dan kesepian?"

"Dengan, tenaga kekuatannya seorang, dia sudah cukup untuk menandingi seluruh kolong langit!"

"Perkataan itu memang benar, tapi Ting Kongcu bukan seorang manusia yang gemar membunuh, bila dia mempunyai musuh sebanyak itu, sesungguhnya hal ini bukan sesuatu yang menguntungkan baginya!"

Kakek itu hanya mendengus dingin tanpa berbicara. Sambil tertawa kembali Liu Yok siong berkata.

"Aku sendiri pun merasa amat membenci terhadap orang-orang itu, aku dapat mewakili cianpwe untuk membasmi orang-orang itu, cuma saja kemampuanku mungkin tidak cukup".

"Kelihatannya aku harus mewariskan ilmu golok iblis tersebut kepadamu."

"Boanpwe pasti tak akan mengingkari janji, bahkan cianpwe pun boleh berlega hati"

Kata Liu Yok siong sambil tertawa, dihadapan orang banyak aku telah mengangkat Ting kongcu sebagai guruku, entah hubungan antara guru dan murid ini ada didalam kenyataan atau tidak, sudah pasti aku tak akan menjadi seorang penghianat yang main bunuh guru sendiri!"

Kakek itu berpikir sejenak, kemudian berkata.

Liu Yok siong, seandainya kemarin ada orang mengatakan aku bakal mewariskan rahasia ilmu golok tersebut kepadamu, lohu pasti akan kegelian sampai copot semua gigiku, tapi hari ini lohu benar-benar telah melakukan suatu perbuatan brutal!

Dia membalikkan badan menuju ke kamarnya, tapi dengan cepat sudah muncul kembali dan menyerahkan se

Jilid kitab tipis kepada Liu Yok siong.

"Nah, ambilah berapa banyak yang bisa kau pelajari tergantung kemampuan sendiri, lagi pula asal kau cuma melatih ilmu golok ini, toh sama sekali tiada hubungannya dengan Mo kau kami.

"Liu Yok siong menerima kitab itu dan dipandang sekejap, lalu dengan wajab dingin segera membungkukkan memberi hormat, tapi saat itulah sebilah pedang menyambar keluar dari balik bajunya menusuk tenggorokan kakek itu. Si kakek tidak menghindar, malah justru menyambut tusukan mana, lalu serunya sambil tertawa.

"Bagus sekali Liu Yok siong, bila tiada tusukan ini, Liu Yok siong bukan Liu Yok siong!"

Agaknya kejadian ini sudah diduga olehnya.

ooo0ooo PENUMPASAN Si Unta tembaga dengan seluruh tubuh berlepotan darah dan memegang sebilah golok besar menyerbu keluar dari lembah itu bagaikan orang kalap.

Dari atas lapisan baju tembaganya nampak darah meleleh keluar, sebagian besar darah musuh, tapi sebagian kecil adalah darah sendiri ......

Dibawah kerubutan para jago pilihan dari berbagai perguruan besar, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menyerbu ke luar dari kepungan.

Namun si Unta tembaga dapat melakukannya, dari dalam tubuhnya seakan-akan muncul segulung kekuatan yang selalu menunjang dirinya.

Membuat dia tangguh bagaikan malaikat dari langit, dengan melindungi Cubonya menyerbu keluar dari kepungan tersebut.

Selama ini dia selalu mempergunakan tubuhnya untuk membendung tusukan musuh kemudian menggunakan goloknya untuk membacok tubuh lawan menjadi dua bagian.

Lapisan baju tembaga yang dikenakan itu, bisa digunakan untuk menahan tusukan senjata, tapi musuh-musuh yang dihadapinya rata-rata merupakan jagoan lihay yang bertenaga dalam amat sempurna, senjata yang mereka gunakan juga rata-rata merupakan senjata tajam yang luar biasa sekali.

Oleh sebab itu mereka dapat menusuk baju tembaganya dan melukai tubuhnya sebelum terjungkal ke atas tanah dalam keadaan terbelah menjadi dua bagian.

Oleh sebab itu, tatkala mereka berdua berhasil menerjang keluar dari kepungan, walaupun pihak lawan masih mempunyai separuh bagian jago yang terbaik, namun tak seorangpun berani melakukan pengejaran.

Jagoan yang lebih tangguh pun akan dibikin keder dan bergidik oleh sistim pertarungan seperti ini, sebab pertarungan semacam ini sudah bukan suatu pertarungan lagi.

Jurus serangan, ilmu pedang, hampir semuanya tidak digunakan, bahkan seorang bocah berusia tiga tahun pun asal dia punya pedang maka iapun dapat ikut menusuk tubuh si Unta tembaga.

Sebab perawakan tubuh si Unta tembaga dua kali lebih tinggi dari perawakan manusia biasa, tubuhnya juga satu kali lebih lebar dari orang biasa, dengan sasaran yang begitu besar, siapakah yang tak mampu untuk menusuknya?"

Tapi, jagoan yang bagaimana tangguh pun pasti akan roboh setelah berada dihadapannya.

Karena goloknya tanpa tandingan, kekuatan yang disertakan dalam setiap bacokan sudah tak bisa ditandingi lagi, ditambah pula disana masih ada seorang nenek tangguh.

Orang-orang itu belum pernah berjumpa dengan nenek itu, mereka juga tidak tahu siapakah dia.

Ditangannya tidak nampak golok, yang ada hanya sebuah toya baja berkepala naga tapi kedahsyatan yang dipancarkan dari toya baja tersebut tak berbeda jauh dengan kedahsyatan yang dipancarkan dari bacokan golok atau pedang.

Jika bacokan golok maut bisa membelah tubuh orang menjadi dua bagian, maka tongkat iblis itu dapat menyapu pinggang orang hingga putus menjadi dua bagian, mulut mukanya rata seperti babatan, tak seorang korban pun bisa selamat.

Ketika dua orang itu berhasil menerjang keluar dari kepungan mereka, berpaling dan memandang sekejap lembah tersebut.

Lembah itu letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiam, paling banter cuma tiga puluh li lebih, bahkan belum keluar dari wilayah pegunungan tersebut.

Namun mereka telah berjumpa dengan para jago lihay dari berbagai partai dan perguruan yang ditunjang dengan kawanan penghianat dari Mo kau dimasa lalu.

Orang-orang itu seperti sudah menduga kalau mereka akan melalui jalanan tersebut sehingga jauh sebelumnya sudah menantikan kedatangan mereka disana.

Hujan anak panah dan batu cadas telah membunuh separuh bagian dari orang-orang mereka, kemudian disusul dengan suatu pembantaian secara besar-besaran yang mendekati suatu serangan kalap.

Berada didalam keadaan seperti ini, siapa pun akan turut menjadi gila, siapapun akan mencari seorang sasaran dan berusaha untuk merobobkan lawan, kemudian mencari sasaran yang berikutnya.

Akhirnya di dalam pertarungan yang tiada berimbang itulah, semua anggota yang mereka bawa satu persatu roboh di atas tanah, akan tetapi pihak musuh yang melancarkan serangan juga tidak berhasil meraih keuntungan apa-apa, sebab jumlah mereka yang roboh hampir tiga kali lipat lebih banyak.

Tapi apa gunanya kesemuanya itu?

Jumlah musuh enam tujuh kali lipat lebih banyak dari pada jumlah mereka, sekalipun menderita kerugian tiga kali lipat, tapi jumlah mereka masih tetap ada separuh bagian, sebaliknya dari pihak mereka sendiri telah tumpas semua kecuali dua orang yang berhasil lolos.

Memandang kobaran api yang membara didalam lembah dengan sedih nenek itu menggelengkan kepalanya.

"Unta tembag bagaimana keadaan lukamu."

Tidak tahan lagi si unta-tembaga segera menjatuhkan diri berlutut.

"Hamba tidak becus, hamba ingin sekali mati di medan laga."

Nenek itu menghela napas panjang.

"Aaaai, kau harus tahu kita tak boleh mati, kita masih mempunyai pekerjaan yang jauh lebih penting untuk diselesaikan, aaaaaai --kali ini kita benar-benar dibikin menderita kekalahan total, jauh lebih mengenaskan daripada yang lalu. Kasihan murid-murid itu, sudah banyak tahun mereka setia kepada kita, tapi sekarang semuanya sudah habis!"

Si Unta tembaga termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru ujarnya.

Cubo, baru saja berlalu dari lembah, kita sudah memperoleh sergapan, ini membuktikan kalau pihak lawan sudah lama menunggu kita disana "

Nenek itu mengangguk.

Benar, kalau dilihat dari kawanan jago yang dipersiapkan lawan, hampir semuanya merupakan jago tangguh dari perguruan masing-masing, formasinya lebih kuat, jauh melampaui pertarungan pada dua puluh tahun berselang, nampaknya mereka memang ada maksud untuk membasmi kita semua!"

"Yaa, kalau dilihat pihak lawan bisa mengetahui gerak gerik kita, kalau dalam tubuh orangorang kita terdapat penghianat yang secara sengaja membocorkan rahasia tersebut"

Si nenek menghela napas panjang.

"Unta tembaga, jangan berpikir demikian, di dalam pertempuran hari ini, bukankah semua anggota yang kita bawa tak seorangpun yang berada dalam keadaan hidup!"

"Soal ini....soal ini...hamba tidak melihat.."

"Akupun tidak melihat ada yang hidup, mereka semua mati secara ksatria, setiap orang menemui ajalnya dihadapan kita semua. Oleh sebab itu aku percaya mereka semua adalah murid-murid kita yang paling taat dan setia ....

"Mungkin pihak lawan yang tidak membiarkan mereka hidup terus, mereka hendak membasmi bukti-bukti itu!"

"Entah bagaimana pun juga mereka telah mati untuk perkumpulan kita, oleh sebab itu kesetiaan mereka tak bisa diragukan lagi!"

Si Unta terbungkam dalam seribu bahasa, selang berapa saat kemudian ia baru berkata.

"Cubo, bagaimana cara kita untuk pulang menjumpai cukong?"

"Kita tak akan pulang!"

Jawab si nenek dengan suara dalam.

"Tidak akan pulang?"

Benar, sekarang kita sudah tiada rumah lagi, kalau toh pihak lawan bisa menunggu kedatangan kita di depan pintu rumah, apakah mereka tak bisa masuk kedalam sarang kita untuk melakukan pembersihan?"

"Celaka kalau begitu, semua anggota lembah yang dapat bertempur telah ikut keluar."

Kalau dilihat dari musuh yang datang dengan persiapan matang, sekalipun kita tidak keluar juga sama saja, paling banter pihak lawan harus membayar dengan lebih mahal lagi."

"Bagaimana dengan cukong?"

Rasa sedih segera menghiasi wajah nenek itu, selang berapa saat kemudian dia baru berkata.

"Seandainya cukong tidak memberikan tenaga dalamnya untuk Ting Peng, tentu saja dia masih bisa melindungi keselamatan sendiri, tapi sekarang... sulit untuk dibicarakan." `Kalau begitu kita harus kembali untuk melihat keadaannya!"

"Tak boleh kesana, seandainya didalam lembah sudah terjadi peristiwa, kedatangan kita juga tak ada gunanya malah bisa jadi akan terperosok sekali lagi kedalam perangkap musuh, hal ini akan mempersulit kita untuk meloloskan diri, sekalipun kita sudah dikeroyok oleh jago-jago dari berbagai perguruan, namun ciangbunjin dan para tianglo mereka belum ikut datang, coba kalau tidak kita pun jangan harap akan bisa meloloskan diri!"

"Maksud cubo, kita tak usah menggubris keadaan cukong"

"Benar, kita masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan!"

"Seandainya cukong sampai menemui bencana kecuali kita harus membalas dendam masih ada pekerjaan apa lagi yang jauh lebih penting?"

"Unta tembaga, selama banyak tahun kau sudah berkumpul dengan cukong, mengapa kau belum bisa memahami watak serta perasaan cukong"

Apakah dia adalah manusia kecil yang terlalu memikirkan dendam pribadi....?"

Unta tembaga terbungkam dalam seribu bahasa. Dengan serius si nenek berkata lagi.

"Satu-satunya persoalan yang paling membuat cukong merasa menyesal adalah generasi Mo kau kita yang harus tumpas ditangannya... ."

"Kita tak bisa menyalahkan cukong!"

"Akan tetapi cukong tak boleh berpikir demikian, generasi Mo kau yang sudah bersejarah ratusan tahun tak boleh berakhir sampai disini saja, generasi ini harus dilanjutkan dan sekarang tugas berat itu sudah terjatuh di atas oundak kau dan aku!"

Dengan perasaan tertegun dan kaget si Unta tembaga mengawasinya tanpa berkedip. Terdengar si nenek berkata lagi.

"Terhadap gerakan yang kita lakukan kali ini, Cukong telah membuat perhitungan yang paling jelek, bila kita tak bisa mempertahankan sebagian besar dari kekuatan kita, maka dia suruh kita tak usah kembali ke sana"

Harus ke mana?"

Menuju ke suatu tempat, disitu masih terdapat dua orang tianglo dari perkumpulan kita yang memimpin belasan orang murid-muridnya yang masih muda!"

"Mengapa hamba tidak tahu... ."

"Aku sendiripun baru tahu kemarin malam, sampai pada kemarin malam cukong baru mengambil keputusan yang terakhir itu dan ia baru memberi tahukan alamat tersebut kepadaku, kedudukan kedua orang tianglo itu sangat tinggi, mereka masih terhitung susiok dari cukong"

"Tapi mereka toh belasan orang saja?"

"Belasan orang pun sudah lebih dari cukup, bila jumlahnya kelewat banyak maka sulit untuk menyembunyikan diri, dari belasan orang bocah itu masing-masing pihak memperoleh semacam ilmu dari perguruan, merekalah yang akan menjadi bibit-bibit baru kita untuk membangun kembali perguruan dimasa mendatang, kita harus kesana untuk melindungi dan mendidik mereka."

Bukankah sudah ada dua orang tianglo?

Aaai ....!

Unta tembaga, mereka adalah paman guru cukong, bayangkan saja sudah berapa usia mereka, setiap saat mereka akan meninggal dunia, padahal proyek raksasa itu tak boleh berhenti, maka kita baru, kesana untuk menggantikan kedudukannya!"

Si Unta tembaga berpikir sebentar, kemudian tanyanya. Cubo, maafkanlah kekerasan kepala hamba, hamba harus kembali dulu untuk melihat keadaan!"

Sekali lagi si nenek itu menghela napas panjang.

Baiklah, aku tahu, kalau kau sangat setia kepada cukong, sebelum meemperoleh kabar beritanya, hatimu tak akan tenteram, kalau begitu pulanglah dan tengoklah keadaannya.!"

Setelah termenung dan berpikir sebentar dia berkata lagi.

"ingat, jika keadaan di dalam lembah aman tenteram maka kau harus melaporkan keadaan yang sebenarnya dan katakan kalau aku akan berangkat lebih dulu tentu saja hal ini menurut pemikiran yang terbaik, cuma kemungkinannya tipis sekali! Tidak mungkin, cukong adalah orang baik, orang baik akan selalu dilindungi Thian..."

Dengan amat sedih si nenek berkata.

"Unta tembaga, Cukong bukan hanya majikanku, diapun merupakan suamiku, apakah rasa kuatirmu bisa lebih kecil darlpadaku?"

Kita harus berotak dingin, cukong berharap kitalah yang akan meneruskan tugas dan tanggung jawabnya."

Si Unta tembaga segera menjatuhkam diri berlutut di atas tanah, ujarnya sambil menyembah.

"Cubo, hamba tak dapat memiliki ketenangan seperti cubo, lagipula hamba masuk perkumpulan karena ingin mengikuti cukong, hidup hamba ini hanya untuk cukong seorang"

Sekali lagi nenek itu menghela napas.

"Aku tahu, oleh sebab itu aku tidak menggunakan lencana leng hu untuk memerintahkan kau untuk pergi bersamaku, namun ada sepatah kata yang harus kau ingat, sekembalinya ke lembah nanti, entah peristiwa apapun yang bakal terjadi disana, kau harus berusaha keras untuk menyelamatkan selembar jiwamu!"

"Hamba akan mengingatnya terus, tapi bagaimana cara hamba untuk mencari cubo?"

"Bila kau telah bertemu dengan cukong, dia tentu akan mengajakmu untuk datang mencariku, seandainya tidak berhasil menemukannya, pergilah mencari nona dan selanjutnya mengikuti Ting Peng, sebab aku tak dapat memberitahukan tentang itu kepadamu, dan kaupun tak boleh kesitu mencari aku!"

"Jadi hamba selanjutnya tak dapat bertemu lagi dengan cubo?"

"Tidak, menanti partai kita sudah akan berjaya kembali, aku pasti akan datang mengundangmu, saat itu, tentu saja kita pun tak usah bersembunyi lagi."

Sekali lagi si Unta tembaga menyembah dengan hormat, tatkala dia mengangkat kepalanya kembali, nenek itu sudah membalikkan badan dan pergi, bayangan tubuhnya meski kurus dan lemah, namun langkahnya masih gagah dan tegap.

Segera muncul kembali rasa kagum dan hormat dalam hati si Unta tembaga, suatu perasaan hormat yang amat agung, entah dia lelaki entah perempuan.

ooo0ooo Sewaktu tiba di mulut lembah, si Unta tembaga sudah mendapat firasat jelek karena para penjaga mulut lembah yang bertugas disitu ditemukan dalam keadaan tewas, tapi mereka tewas dalam keadaan yang tenang, sedikitpun tidak terasa kaget atau gugup, sebab kematiannya adalah sebuah tusukan pedang yang persis menembusi tenggorokan mereka.

Walapun tusukan itu mengenai tempat yang mematikan, tapi orang yang terkena tusukan tersebut, paling tidak tak akan merasakan penderitaan.

Apalagi didalam lembah masih terdapat banyak alat rahasia, namun tak sebuahpun yang sempat digerakkan.

Hal ini segera membuktikan akan satu hal.

Jumlah pembunuh itu tidak banyak, kalau tidak, para penjaga lembah sudah pasti akan meningkatkan kewaspadaannya dengan menggerakkan alat rahasia untuk melakukan penghadangan.

Pembunuh itupun pasti memahami letak lembah tersebut, paling tidak termasuk orang sendiri, karena itu dia mengetahui keadaan dalam lembah tersebut amat jelas.

Sedang pihak pembunuhpun sudah pasti memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, sehingga dia bisa masuk tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Sudah pasti mereka menggunakan suatu tindakan yang diluar dugaan untuk menotok dulu jalan darah mereka kemudian baru menambahi dengan sebuah tusukan di atas tenggorokannya.

Terhadap seorang yang sama sekali tak berkemampuan untyuk melakukan perlawanan ternyata mereka menggunakan cara yang demikian kejinya, dari sinipun dapat diketahui kalau orang tersebut adalah seorang manusia yang berhati kejam.

Setiap orang memperoleh sebuah tusukan yang tepat menembusi tenggorokannya, tapi sasarannya amat tepat, mata pedangnya juga sama besarnya, darisini bisa disimpulkan juga kalau ilmu pedang yang dimiliki orang itu amat lihay.

Kawanan penjaga lembah itu tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, mereka belum lama masuk perguruan, sesungguhnya pihak lawan tidak seharusnya membinasakan mereka kecuali jika pembunuh itu k uatir bila raut wajah mereka dikenal orang.

Selesai memeriksa keempat puluh sembilan sosok mayat itu, si Unta tembaga sudah dapat menarik suatu garis kesimpulan terhadap latar belakang peristiwa pembunuhan itu.

Jangan dilihat perawakan tubuhnya yang tinggi besar dan kekar, sebetulnya dia dia memiliki otak yang cerdas dan lincah.

Empat puluh sembilan orang, itulah jumlah murid Mo kau yang tersisa dalam lembah, tapi sekarang mereka telah tewas semua dibunuh orang, dibunuh oleh tangan yang sama.

Si Unta tembaga merasakan hatinya tenggelam ke bawah, dia memuji dugaan cubonya yang tak mau kembali kesitu untuk melakukan pemeriksaan, tampaknya dia sudah tahu kalau sekarang mereka sudah tak dapat di selamatkan lagi.

Kini, semua murid didalam lembah telah dlketemukan tewas semua, harapan hidup untuk cukongnya pun semakin bertambah tipis.

Si Unta tembaga merasa sedih sekali, dia pun merasa gusar dan sakit hati, ia bersumpah akan menemukan pembunuh yang kejam dan berhati binatang itu untuk membuat perhitungan.

Jelas bukan orang orang dari lima partai besar, mereka berani melangsungkan perlawanan terbuka dengan pihak Mo kau, tidak kuatir jejaknya ketahuan orang, maka mereka pun tidak butuh melakukan pemusnahan terhadap saksi-saksi hidup.

Merekapun bukan si singa emas sekalian, mereka sudah terang-terangan berhianat, mereka tidak perlu merasa takut kalau perbuatannya diketahui orang.

Berarti, orang itu harus dicari dari sekitarnya, tapi tidak mungkin bisa ditemukan dari sekitarnya, sebab orang orang Mo kau sudah mati semua ditangan lawan.

Sedangkan lawan pun tak usah merahasiakan lagi identitasnya.

Oleh sebab itu orang tersebut pasti berada disekitar Ting Peng atau Cing Cing.

Tapi siapakah orang itu?

Hampir tak usah membuang banyak waktu si Unta tembaga telah berhasil menemukan orang itu.

Kecuali dia, tak mungkin ada orang lain lagi.

Suatu hari, aku pasti akan mencincang tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping, aku akan membalaskan dendan untuk orang-orang ini, sekalipun harus mengorbankan selembar jiwaku pun aku rela.

Ia tidak memasukkan dendam cukongnya kedalam sumpah tersbeut, sebab dia tahu walaupun orang itu kejam, dia masih belum mampu untuk membunuh cukongnya.

Sambil berjalan masuk ke dalam, dia mulai menjalankan semua alat jebakan di dalam lembah.

sebab keadaan dalam lembah tidak terlampau kacau, berarti musuh-musuh tersebut belum sampai ke sana.

Murid-murid yang tewas telah mempersembahkan nyawa mereka untuk Mo kau, dia tak dapat membiarkan jenasah mereka dianiaya atau dirusak lagi oleh kaum jahanam tersebut.

Karena dia mengerti, sejak peraturan hari ini, dendam kesumat mereka terhadap lima partai besar sudah pasti akan semakin mendalam, bila orang-orang dari lima partai dibiarkan masuk, mungkin jenasah mereka pun tak akanLau dilspaskan dengan begitu saja.

Semakin masuk ke dalam hatinya merasa makin tenggelam ke bawah, walaupun ia tidak menjumpai jenasah cukongnya namun ia melihat ada gumpalan darah diatas tanah.

Darah itu tidak banyak, tapi tempat tersebut adalah daerah terlarang untuk murid partai, oleh karena itu bisa disimpulkan kalau darah tersebut adalah darah cukong mereka.

Tidak mungkin, darah itu darah orang lain sebab noda darah tersebut memanjang hingga ke depan dan berhenti di depan sebuah dinding.

"Ini berarti orang yang terluka sudah sampai disitu, kemudian lenyap di balik dinding sana."

Tak tahan lagi si Unta tembaga menjatuhkan diri berlutut, hanya dia seorang yang mengerti tempat apakah dibalik dinding tersebut.

Sebab kakek itu pernah mengajaknya seorang diri untuk berkunjung kesana bahkan sambil menunjuk ke arah sebuah tombak rahasia yang tidak begitu terlihat bentuknya, ia berpesan.

"Unta tembaga, seandainya pada suatu hari kau tak menemukan aku, datanglah kemari dan carilah aku disini, atau seandainya disebabkan alasan lain aku tewas ditempat lain, kau harus ingat, tubuhku harus kau hantar ke tempat ini!"

"Waktu itu si Unta tembaga tidak bertanya apa alasannya, tapi ia sudah tahu tempat apakah itu, sebab setiap kali mereka harus berpindah rumah, cukong akan selalu menggendong sebuah peti yang besar, sebuah peti yang besar lagi berat. Setelah sampai di tempat iotu, dia pasti akan mengatur sebuah ruang rahasia dan menyimpan peti tersebut disana. Apa isi peti itu? Hanya si Unta tembaga yang tahu, karena ia pernah membantu cukongnya mengatur ruangan rahasia tersebut, membakar barang yang berada dalam peti dan satu persatu diatur di atas tempat yang telah disediakan. Dalam pandangan orang lain, barang-barang tersebut sama sekali tak ada harganya bila terlihat oleh mereka yang bernyali kecil pasti akan membuat orang itu ketakutan setengah mati. Sebab benda-benda tersebut adalah tulang tengkorak kepala manusia, seluruhnya berjumlah dua belas dan diatas tiap tulang kepala itu tercantum huruf yang amat aneh. Huruf itu berasal dari tulisan negeri Thian tok, hanya sedikit orang yang bisa membacanya, tapi si Unta tembaga adalah salah seorang dinatara mereka yang berjumlah sedikit ini. Dia memang asalnyaorang dari negeri Thian tok. Tentu saja dia mengenal huruf Thian tok, dan tulisan tersebut hanya melambangkan sebuah nama, tulang-tulang kepala itu merupakan tulang kepala dari kepala kaucu Mo kau secara turun temurun. Ruang rahasia itupun merupakan tempat suci dari perguruan, sebab disitulah semua cousu Mo kau generasi demi generasi berkumpul disana, hanya orang mati saja yang mempunyai hak untuk menempati ruangan ini. Tiada orang mengetahui ruangan rahasia ini kecuali cukong, hanya dia seorang yang tahu. Noda darah berakhir disana, berarti ada orang telah memasuki ruang rahasia itu, tentu saja orang itu bukan orang lain. Si Unta tembaga berlutut di atas tanah dan menyembah sebanyak tiga kali dengan hormat, kemudian dia menekan sebuah batu kecil yang terjepit diantara dua buah lembaran batu cadas. Tempat dimana ia berlutut tadipun berputar ke depan lalu berputar kebalik dinding, dari atas dinding terbuka sebuah mulut gua. Tatkala tubuhnya sudah berputar ke dalam, pintu rahasia itupun merapat kembali. Suasana didalam gua itu amat gelap lagi pengap, lama kemudian si unta tembaga baru dapat menyesuaikan diri dengan suasana dalam kegelapan, pelan-pelan dia meraba ke sudut ruangan dan mengambil batu api untuk menyulut lentera. Lentera itu mereka bawa dari negeri Thian tok, demikian juga dengan minyaknya, begitu di sulut, cahaya api berwarna hijau segera menerangi seluruh ruangan. Sinar berwarna hijau itu segera menyelimuti meja altar dalam ruangan dan menyinari kepala tengkorak manusia yang berjajar di sana. Dengan amat pelan si Unta tembaga mencari satu demi satu, akhirnya pada kotak yang terakhir dia berhenti, tempat itu amsih berada dalamm keadaan kosong. Buat setiap orang yang menjabat sebagai kaucu, maka pekerjaan pertama setelah dia dilantik menjadi kaucu adalah menyiapkan sebuah tempat dalam ruangan suci itu sebagai tempat penyimpanan tulang belulangnya, karena yang boleh t erletak diatas meja altar hanya tengkorak kepalanya. Dalam ruangan suci juga tak akan dietmukan ruang kotak kedua, hal ini menandakan kalau kaucu dari Mo kau hanya bisa disambung jabatannya oleh orang lain bila kaucu itu sudah mati. Dalam ruangan itupun tak boleh terdapat sebuah tempat kosongpun sekalipun dia hanya menjadi seorang kaucu dalam seharipun, ia harus menyiapkan tempatnya. Oleh sebab itu, selama sejarah Mo kau berlangsung, walaupun beberapa orang diantaranya yang mati dibunuh prang sendiri tapi batok kepala mereka toh tetap disimpan dalam ruangan ini. Peraturan ini sudah merupakan ketetapan yang tak boleh dilanggar, tercantum pada halaman pertama dari kitab agama Mo kau, peraturan yang tak bisa ditentang oleh siapa pun. Akhirnya si Unta tembaga menemukan kakek itu sedang duduk dikotak tempat yang tersedia bagi jenazahnya, seluruh tubuhnya yang memancarkan sinar hijau tampak begitu keren begini berwibawa, begitu tenang. Unta tembsga telah menjatuhkan diri berlutut, dia bersujud dengan penuh rasa hormat tiada air mata, tiada isak tangis. Setiap anggota Mo kau dilarang untuk mengucurkan air mata, sepanjang hidup mereka hanya boleh melelehkan air matanya satu kali, entah lelaki ataupun wanita. Lelehan air mata pun tak akan dipergunakan menghadapi suatu kematian, sebab kematian untuk orang Mo kau bukan merupakan kesedihan, sebaliknya merupa-kan semacam kegembiraan, kegembiraan yang sangat besar. justru karena mereka menganggap kematian sebagai kejadian yang menggembirakan maka setiap anggota Mo kau dapat bersikap begitu pemberani, dalam setiap pertempuran selalu tangguh dan berani menentang maut, sebab mereka percaya bahwa kematian bukaulah suatu kejadian yang perlu ditakuti. Setiap anggota perkumpulan selalu menggunakan senyumannya untuk merangkul kedatangan malaikat elmautnya.

"Unta tembaga, ternyata kau dapat menyusul kemari, hatiku benar-benar sangat gembira..."

Suaranya amat datar dan tenang. Hampir melonjak-lonjak si unta tembaga saking gembiranya. Cukong, kau belum mati?"

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tenggorokanku sudah ditembusi pedang, kematian sudah pasti akan tiba, Cuma aku tak tega untuk mati sebelum meninggalkan beberapa pesan, Sekarang aku gembira sekali atas kedatanganmu, kau masih sempat mengantar keberangkatanku!"

"Cukong, siapakah dia... ? Siapakah dia?"

Dia orang kecuali kemauanku sendiri, coba pikirlah siapa yang bisa menembusi tenggorokanku dengan pedangnya ?"

"Cukong, kau... ."

"Tentu saja aku tidak bunuh diri, aku masih belum ingin mati, tapi berada dalam situasi dan kondisi seperti itu, bila aku tidak menerima tusukan tersebut berarti aku tidak bisa bertahan smpai sekarang, apalagi mempertahankan batok kepalaku sehingga memperoleh kematian yang berjiwa."

"Siapakah pihak lawan ?"

"Unta tembaga, kau seharusnya mengetahui siapakah orang itu, kalau tidak kau tak pantas menjadi tianglo kami, sia-sia saja mengikuti aku selama banyak tahun."

Si Unta tembaga tercenung sebentar, kemudian serunya.

"Apakah tua keparat itu? Mana mungkin"

Si kakek segera menghela napas panjang.

"Kita semua mengira dia tak mungkin, sesungguhnya kita sudah menilai dia kelewat rendah, inilah kesalahan besar yang kita lakukan, setiap manusia hanya boleh melakukan satu kali kesalahan besar, tiga puluh tahun berselang aku telah melakukan kesalahan besar, aku tidak dapat mengenali keadaan Thian bi yang sebenarnya, dua puluh tahun berselang akupun melanggar lagi suatu kesalahan besar dengan tidak mengenal si singa emas sekalian, dua kali kesalahan besar yang kuperbuat sudah cukup membuatku mati, apalagi kesalahan yang kulakukan kali ini merupakah kesalahanku yang ketiga, mengapa aku tak boleh mati."

Si Unta tembaga tak dapat berbicara, dia hanya bisa membungkan diri dalam seribu bahasa.

"Kalian menderita kekalahan?"

Kakek itu kembali bertanya.

"Benar, belum lagi keluar dari bukit ini, para jago dari lima partai besar sudah melancarkan sergapan maut, yang berhasil kabur hanya Cubo dengan hamha dua orang!".

"Oooh, dimana Cubo?"

"Ia telah pergi ke tempat yang cukong beritahukan!"

Kakek itu tertawa dan manggut-manggut.

"Bagus sekali, dia amat tenang dan pandai bekerja. dia memang seorang perempuan yang agung. Dia telah menyerahkan seluruh hidupnya untukku, membantu banyak sekali kepadaku, walaupun dalam hidupku ini sudah salah menilai tiga orang, pertama adalah dia, kedua adalah Ting Peng dan ketiga adalah kau, Dengan gantinya kalian bertiga, hal ini membuat hidupku tidak sampai menderita kerugian yang kelewat besar, aku pun dapat beristirahat di ruangan ini dengan tenang tanpa perasaan sedih atau menyesal!". Si Unta tembaga tidak berbicara, dia sedang berada dalam gejolak emosi yang paling memuncak, dalam hatinya kakek itu adalah dewanya, malaikatnya, dan ternyata dia mempunyai kedudukan yang begitu penting dalam hati kecil malaikatnya, kenyataan ini sudah cukup membuatnya merasa lega, merasa tidak sia-sia sama pengorbanan dan pengabdiannya selama ini. Kembali si kakek bertanya.

"Apakah cubo menyuruh kau pergi mengikutinya?"

"Benar, tapi hamba bersikeras hendak pulang dulu untuk menjenguk keadaan cukong"

"Kau terlampau bodoh, perasanmu lebih lemah dari seorang wanita, tapi.. aaai... memang tak bisa disalahkan, jarang ada yang bisa melebihi dia, aku sendiripun terpaut jauh sekali bila dibandingkan dengannya, apakah Cubo tidak menyuruh kau pergi mencarinya?"

Tidak, ia menyuruh hamba mendampingi Ting kongcu dan nona!"

""Bagus sekali, tindakan ini memang jauh lebih baik bagimu, disamping Ting Peng memang harus terdapat seorang manusia seperti kau, kalau tidak dia tentu akan merasa kesepian ...."

Mendadak paras muka kakek itu berubah menjadi amat serius, terusnya lebih jauh.

"Cuma saja, setibanya disana kau jangan menceritakan keadaan ditempat ini"

"Mengapa? Apakah cukong hendak membiarkan kawanan tikus itu bertahan lebih jauh?. Kakek itu segera tertawa.

"Benar, bukan saja aku akan membiarkan hidup bahkan akan mewujudkan impiannya, aku telah mewariskan pula ilmu golok maut tersebut!"

Si Unta tembaga amat terperanjat, jarang sekali dia bisa terperanjat seperti saat ini"

"Cukong, mengapa? Mengapa kau berbuat demikian?`. Tidak karena apa-spa, walaupun perkum-pulan kita tidak mempunyai dendam pribadi, tapi perkumpulan kita pun mempunyai kitapun peraturaa emas yakni dengan mata membayar mata, dengan gigi membayar gigi terhadap mereka yang telah berhianat dan memunahkan perguruan kita, aku tak bisa melepaskannya dengan begitu saja, aku hendak mempergunakan ilmu golok perkumpulan kita dan meminjam tangannya untuk menghadapi oreng-orang tersebut! "Sanggupkah dia? "

Aku tahu kalau dia sanggup, untuk melakukan tugas semacam itu, dia lebih cocok dan mampu daripada Ting peng!

Si Unta tembaga tidak membantah lagi, dia tahu apa yang diputuskan oleh cukong nya selalu benar.

"Tapi bagaimana selanjutnya?"

Dia hanya bertanya kemudian dengan nada kuatir.

Walaupun dia telah mendapatkan ilmu golok perguruuan kita, namun bukan anggota perkumpulan kita, ilmu goloknya tak pernah akan bisa melampaui kehebatan Ting Peng, suatu hari diapun akan terbelah menjadi dua termakan golok Ting Peng dan selanjutnya pun tak ada lagi.

Si Unta tembaga termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba terlintas rasa kagum dan hormat di atas wajahnya.

Cukong memang bertindak dengan tepat sekali, kali ini kau tidak salah mencari orang!

Kakek itu tertawa.

Selang beberapa saat kemudian dengan suara yang lebih santai dia berkata lagi.

Unta tembaga, hanya kau seorang yang mengetahui letak tempat ini, oleh sebab itu generasi penerus dari perkumpulam kita pun tergantung pada kemampuanmu untuk mengembangkan dan melindunginya, kau harus hidup terus, hidup sampai menantikan datangnyaorang itu, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada orang tadi.

Apakah cukong tidak akan menitipkan pesan apa-apa untuk cubo?"

Tidak, dia hanya bertugas untuk mengiring munculnya murid kita dari generasi mendatang, tugas yang paling pentirg telah kuserahkan kepadamu dan tergantung pada kemampuanmu sendiri.

Hamba harus menyerahkan kepada siapa?

Apakah cukong bisa memberikan petunjuk?

Tidak usah, aku sendiripun tak dapat memberikan dugaan apa-apa, karena aku tidak menentukan pilihan sebagai penerusku, cuma kau tak usah kuatir, sampai waktunya kau tentu akan mengetahui dengan sendirinya, setiap kaucu dari perkumpulan kita akan muncul karena dorongan alam, asal waktunya sudah tiba, serta merta dia akan menampakkan diri dan memancarkan sinar gemerlapannya ke seantero jagad.

Sekali lagi si unta tembaga terbungkam dalam seribu bahasa.

"Waktu sudah sampai", ucap kakek itu kemudian dengan suara dalam dan penuh wibawa. Si Unta tembaga menjadi sangsi dan berdiri tertegun. Dengan gusar kakek itu segera membentak.

"Ayo cepat turun tangan, jangan berhati lembek seperti perempuan sehingga mengacaukan rencanaku, gagalnya rencana akan membuatku menyesal sepanjang masa. Akhirnya si Unta berlutut dan menyembah beberapa kali, kemudian dari sakunya mencabut keluar sebilah pisau kecil, pisau yang memancarkan cahaya hijau yang gemerlapan. Cahaya tersebut begitu tajam, begitu hijau hingga mendatangkan suatu perasaan yang mengerikan bagi yang memandangnya, hijau yang membawa hawa siluman.. Kemudian dengan cepat dia mengayunkan tangannya, batok kepala kakek itu segera terlepas dari tubuhnya dan melayang di udara, dengan cepat si Unta tembaga menyambut kepala tersebut. Jenazah kakek itu segera roboh kedalam kotak, tapi si unta tidak menggubrisnya. Dengan sikap yang amat menghormat dia meletakkan kepala itu diatas meja altar. Sepasang mata kaket itu segera terpejamkan rapat-rapat, sekulum senyuman puas pun menghias bibirnya, ternyata dia masih mampu mengucapkan kata yang terakhir.

"Terima kashi, Unta tembaga."

Ternyata batok kepala itu masih mempunyai kemampuan untuk mempertahankan hidupnya.

Benar orang yang menyaksikan hal itu mereka pasti akan ketakutan setengah mati.

Namun Si unta tembaga menganggap segala sesuatunya itu adalah kejadian yang wajar, kejadian yang lumrah, suatu kejadian yang tidak perlu ditakuti atau dikagetkan."

Baginya, kakek itu adalah malaikat, malaikat suci yang telah menuntunnya dan mendidiknya selama ini.

Baginya, kakek itu merupakan dewa kebenaran, dewa yang menunjukkan jalan kebenaran baginya.

Sebagai malaikat suci, sebagai dewa yang mulia, tidak heran bila dia mampu untuk melakukan segala sesuatunya, termasuk apa yang baru saja terjadi dihadapannya.

Sebab itu dia tidak merasa heran, dia menyambut kejadian tersebut sebagai suatu pemantulan sinar kekuatan dari dewanya.

Dan sekarang, dia harus pergi dari ruang suci tersbut, dia harus melaksanakan tugas dan memikul beban serta tanggung jawab yang telah dilimpahkan dan dibebankan oleh malaikat sucinya itu keatas bahunya.

Dia tak boleh membuat malaikan sucinya merasa kecewa dan sedih di alam baka.

ooo0ooo AHLI WARIS GOLOK SAKTI TATKALA si Unta tembaga menampakkan diri dihadapan Ting Peng dan Cing cing, kehadiran telah membuat mereka merasa amat terperanjat.

Sebab si Unta tembaga telah melepaskan baju tembaganya yang sepanjang tahun tak pernah dilepas itu, sekarang dia tak lebih hanya seorang kakek biasa, sama sekali tidak mempunyai keangkeran dan kegagahan seperti dahulu, bahkan perawakan tubuhnya nampak jauh lebih pendek ...

Yang paling terkejut adalah Cing Cing, dia tahu andaikata di rumahnya tidak terjadi suatu perubahan yang luar biasa, si Unta sebaga tidak akan meninggalkan majikannya.

Namun dia masih mampu untuk menahan diri setelah menyambut kedatangan si Unta tembaga, dengan tenang ia bertanya.

"Paman tembaga, yayakah yang menyuruh kau datang kemari?"

Si Unta tembaga mengangguk.

"Berapa lama kau akan berada disini?"

Kembali Cing-cing bertanya. Si Unta tembaga ragu sebentar, kemudian sahutnya.

"Majikan menitahkan kepada hamba untuk datang mendampingi Ting kongcu dan nona, hamba tak usah kembali lagi!"

Paras muka Cing-cing segera berubah menjadi amat sedih, tentu saja hanya dalam suatu keadaan saja si Unta tembaga tak usah pulang lagi, dia tak ingin mencari bukti atas berita tersebut, namun tak tahan juga dia bertanya lagi.

"Apakah pertapaan yaya sudah mencapai titik akhir?"

"Benar,"

Sahut si Unta tembaga dengan mata bercucuran.

"pertapaan majikan telah selesai dan kini sudah melepsakan jasad kasarnya untuk menuju ke Nirwana....!"

"Cing-cing sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?"

Tak tahan Ting Peng bertanya.

"Kami sedang membicarakan soal latihan pertapaan... ."

"Aku tahu melepaskan jasad kasar untuk menuju ke Nirwana berarti sudah menjadi dewa, apakah yaya telah menjadi dewa?"

"Benar, yaya telah berhasil melepaskan diri dari wujud raganya dan menjadi dewa"

Cing-cing mengangguk sambil menahan isak tangisnya yang amat pilu. Paras muka Ting Peng turut berubah menjadi sedih.

"Bisa menyelesaikan pertapaan untuk menjadi dewa merupakan suatu peristiwa yang patut dirayakan dengan gembira, mengapa kalian malahan nampak bersedih hati?"

Cing cing segera memaksakan sekulum senyuman.

"Benar, ya, peristiwa ini memang pantas untuk dirayakan dengan gembira, memang tidak banyak yang bisa menyelesaikan pertapaannya secara sukses, tidak sia-sia jerih payah yaya selama ini, cuma dewa dan manusia dibatasi oleh dunia yang berbeda, mungkin... mungkin kita tak berjodoh untuk saling bertemu lagi!"

Mendadak Ting Peng berpaling ke arah si Unta tembaga dan berseru. Tong cianpwe .. .."

"Hamba tidak berani menerima panggilan semacam itu."

Buru-buru si Unta tembaga menukas.

Tempat kediamanku bukan perguruan ataupun suatu perkumpulan, sedangkan aku sendiri juga tidak turut menjadi anggota perkumpulan apa-apa, jadi aku pikir bahasa "hamba"

Tak usah kau pergunakan lagi di tempatku ini!"

Budak tua mendapat perintah untuk melayani kongcu, lebih baik kongcu memanggil dengan nama sebutan si Unta tembaga saja! . Ting Peng berpikir, kemudian manggut-manggut.

"Baiklah! Unta tembaga, aku tahu kalau kau adalah seseorang yang amat teliti dan tahu aturan, oleh sebab itu akupun tak ingin berbasa basi terus menerus, aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu sekarang, harap kau suka menjawab dengan sebaiknya"

"Silahkan kongcu tanyakan!"

"Unta tembaga, kau harus pertimbangkan baik-baik sebelum menjawab, sebab pertanyaanku ini harus dijawab secara nyata, bila kau tidak tahu, jawab saja tidak tahu, tapi bila tahu, kau tak boleb mengelabuhi diriku!"

Tanpa terasa, si Unta tembaga menjadi sangsi, dia berpaling ke arah Cing-cing seperti mohon pertimbangannya. Cing cing segera mengobarkan semangatnya dengan berkata.

"Paman Tong, tuan amat menghormatimu, dia tak akan menyusahkan dirimu.."

"Baiklah, apa yang budak tua ketahui sudah pasti tak akan kurahasiakan..."

Bagus sekali!"

Seru Ting Pang sambil manggut-manggut.

"aku dengar orang bilang, sewaktu berada didepan lembah Say mo kok, pihak lima partai besar telah mengirimkan sejumlah jago untuk melakukan penghadangan dan sudah membunuh banyak orang, tahukah kau akan peristiwa tersebut."

Sekilas rasa pedih dan sedih menghiasi wajah si Unta tembaga, sahutnya dengan suara rendah..

"Yaa, budak tua tahu!"

"Orang-orang yang terbunuh itu, apakah mempunyai hubungan yang dalam sekali denganmu?"

Unta tembaga memandang sekejap ke arahnya dengan perasaan tercengang, selang berapa saat kemudian dia baru berkata.

"Yaa, hubungan kami bagaikan sesama saudara kandung, dan hubungan batin seperti anggota keluarga sendiri!"

Ting Peng manggut-manggut, kemudian ujarnya lagi.

"Aku dengar orang bilang, untuk mencapai tingkatan dewa, maka seorang rase langit harus mengalami Peng ciat lebih dahulu sebelum bisa lepas raga menjadi dewa, sebab bila melewati sambaran api dan guntur maka wujud dewa akan lenyap"

"Benar., memang begitu!"

Sahut si Unta tembaga agak gelagapan.

"Kalau begitu, loya cu pergi melalui Peng ciat tersebut?"

Terpaksa si Unta tembaga harus mengangguk.

"Ya benar!"

Mendadak nada suara dari Ting Peng berubah menjadi keras sekali, bagaikan sambaran geledek dia berseru.

"Siapa? Siapa yang telah turun tangan?"

Si Unta tembaga, agak tertegun sejenak, kemudian ia baru menjawab.

"Budak tua yang melakukan!"

Jawaban tersebut bukan saja sama sekali diluar dugaan Ting Peng, bahkan Cing-cing sendiripun merasa sedikit kurang percaya?"

"Paman Tong, mengapa bisa kau?"

Si Unta tembaga segera menjatuhkan diri berlutut, katanya dengan suara memilukan hati.

"Benar-benar budak tua yang melakukan, sebab pada waktu itu bencana langit telah tiba, terpaksa budak tua membantu majikan tua untuk melakukan pelepasan agar cepat naik ke Nirwana!"

"Baik! Aku percaya kalau kau baru berbuat demikian karena berada di dalam keadaan terpaksa!"

Tanpa sadar si Unta tembaga mengangguk.

"Benar, majikan tua adalah seorang malaikat yang gagah perkasa, siapapun tak akan bisa mengalahkan dia orang tua.!"

Dengan perkataan mana, maka majikan tuanya itu menjadi tidak mirip dengan cerita pelepasan seekor rase langit menjadi dewa lagi, namun Ting Peng seolah-olah tidak memperhatikan akan hal ini, setelah menghela napas panjang katanya.

"Kalau memang begitu, bagus sekali! Sebab berita yang kuperoleh mengatakan kalau dia orang tua telah tewas di tangan Liu Yok siong, bukan saja hal ini membuatku tidak percaya, bahkan membuat hatiku amat menyesal sekali!"

Dengan perasaan terperanjat, buru-buru si Unta tembaga berseru.

"Kongcu, darimana kau bisa tahu? Siapakah yang memberitahukan persoalan ini kepadamu?"

"Aku tahu Liu Yok siong bukan seorang manusia yang bisa dijinakkan, dia pun tak akan bersedia menjadi muridku dengan begitu saja, oleh sebab itu walaupun kuampuni selembar jiwanya, namun tak pernah kukendorkan pengawasanku terhadapnya, saban hari pasti ada orang yang menguntil di belakangnya, orang itu mengetahui kalau dia mendatangi lembah Say mo kok juga menyaksikan pertarungan sengit di luar lembah tersebut... ."

"Oooh, jadi kongcu telah mengetahui segala sesuatunya?"

"seru si Unta tembaga dengan perasaan tercengang. Kembali Ting Peng tertawa.

"Benar"

Aku hanya mengirim seseorang untuk menguntil dibelakan Liu Yok siong, tapi kuketahui rahasia terbesar didunia saat ini!"

Cing-Cing yang mendengar perkataan itu segera bertanya tanpa terasa.

"Siapakah orang itu? mengapa dia memiliki kepandaian sedemikian lihaynya? Apalagi yang dia ketahui"

Ilmu silat yang dimiliki orang ini tidak tinggi, namun ilmu meringankan tubuh serta tehnik menguntit orang yang dimilikinya boleh dibilang nomor satu di seluruh kolong langit, aku telah membayar tiga ribu tahil emas kepadanya dengan catatan selama tiga tahun ini dia harus menguntil terus dibelakang Liu Yok siong dan melaporkan semua gerak-geriknya kepadaku, dan akhirnya orang itu telah memberitahukan suatu berita besar kepadaku!"

"Sesudah hening sejenak, Cing-cing segera berseru.

"Jadi kau telah mengetahui segala sesuatunya?"

"Benar semenjak aku terjun kembali ke dunia persilatan dan menggunakan sebilah golok untuk menggemparkan seluruh kolong langit, aku sudah tahu kalau kau bukan rase langit, karena rase langit hanya ada didalam khayalan manusia, padahal sebetulnya tiada kejadian seperti ini."

Di wilayah utara, dewi rase dibilang amat cerdik, lagipula orang yang percaya akan dongeng inipun banyak sekali, bahkan dongeng tentang siluman rase tersebut banyak sekali!"

"Benar", kata Ting Peng sambil tertawa.

"selama beberapa waktu berselang, Liu Yok siong juga mempercayai akan hal ini, sebab setiap kejadian yang menimpa dirinya boleh dibilang semuanya melampaui kemampuan seorang manusia, hanya siluman atau dewa saja yang dapat menjelaskan semua masalah tersebut, tapi aku justru tahu kalau segala sesuatu nya, itu dikerjakan manusia, yang dibilang paling hebat dan paling berkasiat tak lebih cuma daya tarik uang, asal ada uang menyuap beberapa orang pegawai dalam rumahnya bukan suatu pekerjaan yang sukar, apalagi kalau cuma membuat ayam terbang, anjing melompat dan kejadian kejadian seram lainnya ... .."

"Jadi pada waktu itu kau sudah tahu kalau aku bukan siluman rase?"

"Kembali Ting Peng tertawa.

"Benar, seandainya kau benar-benar rase kau toh bisa menggunakan ilmu sihirmu untuk melakukan kesemuanya itu dan tidak usah menghambur-hamburkan uang untuk menyuap orang dan memerintahkan kepada mereka untuk melakukan permainan semacam itu"

Cing Cing tertawa getir. Akupun tahu kalau bohongku kurang sempurna, cepat atau lambat akhirnya akan terbongkar juga, hanya tidak kusangka kalau sedemikian awalnya rahasiaku itu sudah kau ketahui!"

Ting Peng menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Walaupun aku sudah mengetahui akan rahasia itu, tapi aku selalu berharap kau benar-benar adalah siluman rase..."

"Mengapa? Apakah kau suka mempersun-ting seorang istri yang berasal dari siluman rase?"

"Bukan demikian, seandainya kau adalah rase, maka aku bisa mencari suatu tempat yang terpencil dari manusia untuk turut bertapa dan hidup mengasingkan diri!"

Sekarang pun bisa kau lakukan bila kau mau, kita bisa mencari suatu tempat yang sepi dan terpencil, jauh dari kehidupan manusia banyak dan hidup bahagia disana, Tujuanku mengaku sebagai rase dulu pun tak lain untuk mewujudkan keadaan tersebut."

"Tapi sekarang tidak boleh, sudah terlalu lambat!"

Kata Ting Peng sambil memggeleng-kan kepalannya berulang kali.

"Mengapa?"

"Sebab yaya mu telah mewariskan goloknya kepadaku, diapun mewariskan ilmu golok tersebut kepadaku... ."

"Kau jangan salah mengartikan maksud yaya"

Buru-buru Cing-cing berseru.

"ia mewariskan ilmu golok tersebut kepadamu, karena kau mempunyai bakat yang bagus dan bisa menyerap sari dan inti dari ilmu golok tersebut, dia memberikan golok itu kepadamu karena kau harus menggunakan golok itu untuk menggunakan kekuatan yang sebenarnya dari ilmu golok itu, jadi sama sekali tidak mempunyai maksud dan tujuan yang lain....."

Jilid . 28 AKU tahu!"

Kata Ting Peng sambil tertawa, oleh sebab itulah kau pun tak usah melakukan apaapa baginya!"

"Aku juga tahu akan hal ini, namun orang lain tidak berpendapat demikian, yang mereka kenali hanya golok itu, yang mereka rasakan hanya ilmu golok tersebut.

"Siapa yang kau maksudkan sebagai orang lain?"

Dahuhu adalah si singa emas, naga perak, walet baja dan orang-orang lima partai besar, mereka semua mengenali ku sebagai ahli waris dari yayamu... ."

"Tentang soal ini, kau toh bisa memberikan penjelasan... ."

Cing-cing, kau jangan berbuat bodoh, siapakah yang akan mempercayai penjelasanku?

Penjelasan yang paling baik adalah mengayunkan golok, sebab setelah golok diayun maka tidak perlu penjelasan apa-apa lagi!"

Cing-cing termenung untuk beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata.

"Ya, apakah kau sudah mengetahui akan riwayat dan asal usul kami....?"

Ting Peng manggut-manggut.

"Betul, walaupun pengalaman dari pengetahuanku dalam dunia persilatan di masa lalu masih cetek, dan akupun tidak mengetahui tentang Mo kau, tapi sekarang aku sudah mengetahui dengan jelas."

"Bagaimanakah pandanganmu terhadap Mo kau?"

"Tidak tahu!"

"Mengapa bisa tidak tahu?"

""Tentu saja tidak tahu, ketika aku muncul dalam dunia persilatan, Mo kau sudah berhenti melakukan gerakan, sekalipun yang lain mengatakan bahwa Mo kau banyak melakukan kejahatan namun aku hanya menyaksikan anak murid Mo kau dianiaya dan disiksa orang lain, meski orang lain mengatakan orang-orang Mo kau berhati binatang, sesat dan kejam, cara kerjanya amat kasar dan tak berperikemanusiaan, namun orang-orang yang dekat dan baik kepadaku justru merupakan orang-orang Mo kau yang setia tulus, lembut dan berbudi luhur."

"Terima kasih banyak kongcu, terima kasih banyak""

Seru si Unta tembaga amat terharu. Ting Peng merenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata lagi.

"Loyacu mewariskan ilmu goloknya kepadaku, memberikan goloknya kepadaku, semuanya ini disebabkan karena aku adalah cucu menantunya!"

"Benar!, sesaat sebelum majikan berangkat ke alam baka, ia berulang kali menegaskan kalau kongcu dan Mo kau sama sekali tak ada hubungan apa-apa, bahkan majikan telah menghapus pula nama nona dari dalam perkumpulan, malah budak tua sekarang pun sudah dicoret namanya dari perkum-pulan, sekarang budak sudah tidak terhitung anggota Mo kau lagi"

"Tapi kaucu adalah kakek mertuaku, paling tidak aku masih mempunyai hubungan keluarga dengannya!"

"Majikan tua hanya berharap kongcu bisi menggunakan ilmu golok dan golok tersebut sebaikbaiknya. selebihnya ia tidak mengharapkan apa-apa!"

"Walaupun dia tidak mengharapkan apa-apa dariku, namun aku tak bisa tidak harus melakukan sedikit pekerjaan baginya!"

"Apa yang hendak kongcu lakukan?"

"Aku harus membuat jelas satu persoalan!"

"Persoalan apa?"

"Hubungan antara Cia Siau giok dengan Mo kau, kendatipun dia putri Cia Siau hong namun anak buahnya justru meliputi penghianatan perkumpulan seperti Si singa emas, naga perak dan lain-lainnya, dari sini dapat disimpulkan kalau dia mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan pihak Mo kau"

Si Unta tembaga termenung sampai lama sekali, kemudian dia baru berkata.

"Dia adalah putri yang dilahirkan antara Cia tayhiap dengan Thian bi kiongcu, sedangkan bagaimana ceritanya sehingga Cia tayhiap bisa berhubungan dengan Thian bi kiongcu, budak tua sendiri pun kurang begitu jelas!"

"Kalau begitu katakan saja hal-hal yang kau ketahui!"

"Baik, peristiwa ini panjang sekali untuk diceritakan, nama asli Thian bi kiongcu adalah Sun Cun hi....."

Kalau begitu bait syair semalam mendengar hujan rintik diloteng kecil adalah memaksudkan dia?"

Benar, peristiwa itu sudah berlangsung lama sekali... ."

Ooo0ooo Musim hujan kembali menjelang datang.

Sudah tiga tahun lamanya si Unta tembaga berdiam di keluarga Ting..

Selama tiga tahun ini, kehidupan mereka dapat dilewatkan dengan tenang, tapi ada pula kejadian yang patut digirangkan, yang terpenting adalah Cing-cing telah melahirkan dua orang anak lelaki.

Sepasang bocah kembar yang gemuk dan putih itu, kini sudah berusia setahun lebih.

Pada saat merayakan hari ulang tahunnya yang pertama, gedung keluarga Ting nampak ramai sekali, banyak jago persilatan dari berbagai daerah, baik yang punya nama maupun yang tak punya nama..

berbondong-bondong datang ke sana, untuk menyam-paikan selamat.

Ternyata Ting Peng telah merubah sikap congkak dan tinggi hatinya dulu, dengan ramah tamah dan sikap yang hangat dia munculkan diri dihadapan orang-orang itu dan berterima kasih untuk menyampaikan selamat mereka.

Dalam perjamuan demikian, biasanya di selenggarakan pula suatu upacara tradisionil yakni menangkap usia setahun.

Maksudnya, dalam sebuah keranjang yang besar akan di isi dengan berbagai barang untuk melambangkan berbagai profesi, kemudian mempersilahkan kepada sang bocah untuk mengambil sendiri benda yang di inginkannya itu.

Seorang bocah berusia setahun, tentu saja tidak mengerti untuk memilih, dia hanya akan mengambil benda yang dianggapnya sebagai benda yang paling menarik baginya.

Dari barang yang berhasil diambil inilah, konon nasib bocah tersebut dimasa mendatang bisa diramalkan.

Jika yang diambil adalah sie poa emas kecil, maka besarnya nanti akan menjadi seorang saudagar yang berhasil.

Apabila yang diambil adalah sebuah cap kerajaan, maka dikemudian hari dia akan menjadi pembesar.

Konon Cia po giok dalam kisah Hong lo bong dulu mengambil sebuah kotak pupur, sehingga setelah dewasa ia dibikin pising oleh masalah perempuan yang serba ruwet.

Dua orang bocah cilik itu berlari keluar, mereka putih lagi gemuk dan lucu sekali, berlari kesana kemari sambil tertawa, sedikitpun tidak nampak rasa takut.

Sementara itu, barang-barang untuk upacara tradisionil telah dipersiapkan, dalam keranjang tersebut sudah tersedia berbagai barang yang indah, satu diantaranya justru terdapat sebilah yang amat istimewa dan membuat orang merasa tercengang.

Itulah sebilah golok berikut sarungnya, golok yang berwarna hitam pekat.

Inilah golok mestika milik Ting Peng, golok yang menggetarkan seluruh kolong langit, golok dengan ukiran syair "Siau lo it ya teng cun hi..."

Golok tersebut diletakkan dalam keranjang, sehingga memancarkan hawa pembunuhan yang menyeramkan.

Kedua orang bocah itu memandang sekejap kearah barang-barang yang bertumpukan disitu, kemudian hampir pada saat yang bersamaan mengambil golok tersebut.

Walaupun dalam keranjang tersedia begitu banyak barang, namun tak satupun yang diperhatikan, kedua-duanya tertarik pada golok tersebut.

Sang lotoa memegang gagang golok sedang loji memegang sarungnya, kedua orang bocah tersebut saling memperebutkan sebentar, kemudian "Cringg"

Golok tersebut terlepas dari sarunguya dan golok itu berada ditangan sang lotoa.

Para tamu yang berada disekeliling tempat itu segera berseru tertahan karena kaget.

Hanya Ting Peng seorang yang masih tertawa terkekeh-kekeh, katanya kemudian.

"Baik sekali!"

Kalian berdua memang cukup tahu mutu barang, bahkan telah melakukan suatu pilihan yang bagus!"

Dia maju ke depan mengambil kembali golok tersebut dari tangan lotoa kemudian dengan cepat dia menyodok pelan sepasang bahu bocah tersebut sehingga menjerit dan menangis.

Cing Cing dengan wajah memucat karena kaget buru-buru keluar dan membopong bocah tersebut, namun kedua tangan si bocah telah terkulai lemas ke bawah.

Dengan hati yang gelisah dia lantas menegur.

"Apa yang kau lakukan?"

"Tidak apa-apa, aku hanya membuat cacad urat dan otot sepasang tangannya? namun tak akan mempengaruhi perkembangan nya nanti, hanya saja selama hidup dia tak bisa berlatih ilmu silat lagi"

Sambil menahan isak tangisnya Cing cing segera berseru.

"Bocah ini toh masih kecil, dia tahu apa? Sekalipun tak usah belajar silat, kau tak perlu berbuat demikian?"

"Aku tidak melarang mereka berlatih silat, tapi yang dipilih adalah sebilah golok tak bersarung, golok yang bermata tajam ini menandakan suatu firasat jelek, oleb sebab itu dia tak boleh mempelajari ilmu golok tersebut, golok itu milik loji"

Selamanya Cing cing adalah seorang istri yang penurut, sekarang sikapnya terhadap Ting Peng berubah semakin menghormat lagi, katanya dengan serius.

"Perkataanmu memang betul"

Ting Peng segera memasukkan kembali goloknya kedalam sarung kemudian serunya.

"Unta tembaga!"

Si Unta tembaga yang sedang membopong loji segera menyahut dengan hormat.

"Budak di disini!"

Kemarin ada orang datang mencarimu, apakah di suruh aku berangkat ....?"

"Ooooh, itu hanya... hanya ..."

Saking tergagapnya si Unta tembaga sampai tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.

"Tidak mengapa aku tahu kalau lo hujin yang mengutus orang datang mencarimu, muridmuridnya yang berada disana telah selesai belajar dan kau diharapkan kesana untuk membantunya!"

Menyaksiksn persoalan tersebut telah di utarakan terpaksa si Unta tembaga berkata.

"Lo hujin membawa sekelompok murid yang baru terjun ke dunia persilatan, dia kekurangan tenaga maka budak tua disuruh membantunya tapi berhubung budak tua belum memperoleh ijin dari kongcu ..."

Baik, aku disini memang tak ada urusan, pergilah kau!.

"Terima kasih kongcu!"

"Jangan bertetima kasih dulu, aku masih ada urusan yang bakal merepotkan dirimu, bawalah golok ini juga si loji, dia adalah darah daging Cing-cing, sudah sewajarnya bila meneruskan citacita dari loyacu, aku pikir lohujin sudah pasti tak akan menolak!"

Sementara si Unta tembaga masih tertegun dan tak tahu apa yang dimaksudkan Ting Peng telah berkata lagi.

"Walaupun persoalan ini kuputuskan sedikit terlalu gegabah, tapi Loyacu sudah tidak mempunyai keturunan lagi, apa pula golok sakti Mo kau berada di tanganku mungkin aku masih bisa dianggap sebagai separuh majikannya, mulai sekarang bocah ini sudah merupakan calon kaucu dari Mo-kau, sebelum berusia delapan belas tahun dia akan diasuh dan dididik oleh lo hujin dan kau, selewatnya delapan belas tahun, biar dia secara resmi memangku jabatan ...."

Mendengar sampai disitu, saking terharunya si Unta tembaga segera menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, serunya berulang kali.

"Terima kasih kongcu, terima kasih kongcu..."

"Saking terharunya, suara orang itu sampai parau dan tidak mampu untuk meneruskan katakatanya lagi.

Ting Peng segera menariknya bangun, kemudian berkata lebih jauh.

Kau tak usah mengucapkan kata-kata seperti itu, aku berhasil seperti sekarang adalah berkat jasa dari kakek mertuaku, budi kebaikan ini tak ternilai harganya, inilah satu-satunya perbuatan yang bisa kulakukan untuk mewujudkan baktiku kepadanya, bakat loji sama seperti aku sewaktu kecll dulu, aku percaya dia mampu untuk memi-kul tanggung jawab ini, cuma kalian harus baikbaik mengawasinya dan mendidiknya"

Si Unta tembaga menyembah berulang kali dengan perasaan amat terharu. Baik! Baik! Budak tua pasti akan memikul tanggung jawab ini!"

"Hingga sekarang, kedua orang bocah tersebut belum sempat kuberi nama, hal ini disebabkan aku menantikan keputusan pada hari ini, walaupun keputusan mana agak sedikit gegabah, tapi semuanya hanya menuruti kehendak takdir, mungkin arwah loyacu di alam baka dapat merasakan hal ini dan telah memutuskan demikian, nah kau boleh menceritakan hal yang sesungguhnya kepada lo hujin!"

"Baik!"

Kembali Ting Pang berkata lebih jauh.

"Kau pun boleh memberi tahukan kepada lo hujin bahwa Mo kau telah bangkit kembali dan tak usah kuatir dihalangi orang, segala sesuatunya akan kuhadapi, hanya saja tanggung jawabku hanya terbatas hingga bocah itu menjadi dewasa, apabila dia telah berusia delapan belas tahun, berarti tugasku telah selesai dan aku tak akan mengurusinya. Sekarang aku telah menyuruh Ah ku dan Siau hiang menyiapkan kereta kuda menunggumu dipintu belakang, sekarang kau boleh pergi!"

Baik, cuma .... kongcu, golok ini masih belum dibutuhkan majikan muda saat ini, lebih baik tinggalkan saja disamping kongcu!"

Ting Peng tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak usah, bawalah pergi, nah kau boleh berangkat sekarang!"

Sekali lagi si Unta tembaga menyembah beberapa kali, kemudian sambil membopong si bocah dan membawa golok tersebut dia berlalu melalui pintu belakang.

Sepeninggalan si Unta tembaga Ting Peng baru berkata kepada para jago yang berada di dalam ruangan tersebut.

"Mari! Mari! Mari! Mari! Mari kita duduk dan minum arak, kedatangan kalian untuk merayakan kejadian ini benar-benar membuat aku orang she Ting merasa berterima kasih sekali tapi apabila ada yang meninggalkan pesta sebelum merayakan ini selesai terpaksa aku orang she Ting akan berbuat keji kepadanya, sebab Tong tou tianglo baru saja membawa ketua muda Mo kau berangkat meninggalkan tempat ini, aku tidak berharap ada orang yang menyusul mereka!"

Semua hadirin segera membungkam dalam suasana serius, tak seorangpun diantara mereka yang berbicara.

Sambil tertawa Ting Peng segera mengang-kat cawannya dan menghormati setiap orang tamunya.

Ketika sampai didepan sebuah meja, mendadak ia menemukan ada dua orang sudah tidak ada disitu lagi.

Ketika ditanya, lelaki yang berada di sampingnya segera menyahut.

Baru saja mereka berdua pergi melepaskan hajad, dengan cepat mereka akan balik kembali!"

Ting Peng hanya tertawa, mendadak dia mengeluarlan sebuah pisau belati kecil dan segera memotong salah satu kaki meja tersebut.

Kemudian ditengah ruangan itu juga, pelan-pelan dia memotong kaki meja tadi dan dibentuk menjadi sesuatu benda.

Tindak tanduknya ini segera mencengangkan semua orang, apalagi setelah dilihatnya orang itu nembentuk sebilah golok dengan menggunakan kaki meja tadi.

Pada saat itulah tampak ada dua sosok manusia yang secara diam-diam menyelinap ke sisi ruangan, kemudian berjalan menuju kearah luar gedung.

Sambil tertawa Ting Peng segera membalik-kan badan dan menghadang didepan mereka berdua.

"Kalian berdua hendak pergi?"

Dia menegur.

Paras muka kedua orang itu berubah hebat, serentak mereka mencabut pedang dan melepaskan tusukan kilat ketubuh Ting Peng.

Walaupun kedua orang itu tidak ternama dalam dunia persilatan, namun serangan pedang yang mereka lepaskan benar-benar dahsyat sekali bahkan sama sekali tidak berada dibawah kepandaian silat seorang jago kenamaan.

Dengan meninjau permainan pedangnya saja, mungkin mereka dapat mencantumkan diri diantara sepuluh orang jago terlihay didalam dunia persilatan dewasa ini, lagi pula pedang yang mereka pergunakan adalah senjata mestika yang tajam sekali.

Sebaliknya ditangan Ting Peng hanya memegang sebilah golok, sebilab golok yang terbuat dari kaki meja.

Menggunakan golok kayu itulah dia mengayunkan kedepan pelan.

"Traang"

Traang"

Ke dua pedang mestika tadi tahu-tahu sudah patah menjadi dua bagian.

Kedua orang tersebut masih sempat menerjang maju belasan langkah lebih, akhirnya roboh terkapar di atas tanah dengan badan terbelah menjadi dua bagian.

Hasil dari bacokan tersebut sama sekali tidak berbeda jauh dengan hasil bacokan menggunakan golok mustika.

Sambil membuang golok kayu itu ke tanah, Ting Peng menghela napas panjang, katanya.

"Kalau Cia Siau hong sudah membuang pedangnya semenjak puluhan tahun berselang, maka sampai hari ini aku baru bisa meninggalkan golok baja untuk memakai golok kayu, aaai, bila dibandingkan dengan dia, aku masih ketinggalan jauh sekali, sungguh memalukan! Sungguh memalukan....ooo0ooo "Siau hiang dan Ah ku telah kembali, Cing-cing sedang bermain dengan putra mereka Ting Koh bun dalam ruangan. Siau hiang begitu masuk ke dalam, dia segera berlutut dan menyembah sebanyak tiga kali. Melihat itu, Ting Peng segera menegur sambil tertawa.

"Hei, budak! Mengapa kau ? Mengapa secara tiba-tiba melakukan penghormatan besar"

"Lo hujin yang menitahkan kepada budak untuk mewakili dia orang tua melakukan penyembahan ini, sebagai rasa terima kasihnya kepada kongcu"

Buru-buru Ting Peng menariknya bangun sambil berseru.

"Aku tidak berani menerima penghormatan seperti ini, kau si bocah memang suka sekali bergurau!"

"Lo hujin mengatakan bahwa tata kesopanan sudah seharusnya dilaksanakan demikian, dan lagi diapun bilang kalau rasa terima kasih ini bukan dari dia seorang, melainkan rasa terima kasih dari semua cousu Mo kau generasi yang lalu, terima kasih kepada kongcu sehingga keturunan dan warisan Mo kau tidak hilang lenyap dengan begitu saja"

Ting Peng berpikir sebentar kemudian baru bertanya"

"Baik-baikkah nenek?"

"Lo hujin berada dalam keadaan sangat baik, sambil membopong majikan muda ia nampak gembira sekali, mana mencium mana tertawa seakan-akan usianya menjadi muda sepuluh tahun, saban hari mulutnya tak pernah bisa merapat kembali!"

"Amankah tempat mereka itu?"

Aman sekali, lelaki perempuan semuanya berjumlah lima puluh orang, yang lelaki berlatih ilmu golok sedangkan yang perempuan belajar ilmu pedang, Tong tianglo telah mencobanya sendiri untuk satu lawan satu, mungkin kekuatannya hampir berimbang!"

"Ooooh, sungguh tak kusangka kalau mereka dapat mencapai tingkatan seperti ini, berbicara soal kekuatan mana semestinya sudah cukup untuk dipakai membela diri, bagaimanakah keadaan medan disitu?"

Tempat itu merupakan sebuah pulau kecil ditengah telaga, empat penjuru berupa air.

"Hhmmm, tempat semacam ini, kurang baik"

Kata Ting Peng dengan kening berkerut.

"walaupun sekeliling pulau dilindungi air telaga, bukan berarti tak bisa membendung serangan musuh, apa lagi yang yang hidup di pulau tersebut menganggap pulau mereka sudah dilindungi oleh telaga yang luas, penjagaan disekitar sana bisa menjadi mengendor akibatnya?"

Budak pun telah mengemukakan persoalan ini kepada lo hujin, Tong tianglo bilang dia akan segera memperhatikan soal ini dengan mengembangkan pos penjagaannya di seluruh pantai pulau itu!"

Ting Peng manggut-manggut..

"Kalau begitu terhitung lumayan juga, cuma bagaimanapun rapatnya penjagaaan toh tak akan bisa menahan yang datang membawa maksud tertentu!"

"Tong tianglo bilang menyerang adalah suatu pertahanan yang paling baik tapi lo hujin menolak, dia bilang peristiwa dimasa lampau merupakan contoh yang amat jelas untuk menjaga agar supaya Mo kau tetap hidup didunia ini, dan selanjutnya menjadi salah satu kekuatan dalam dunia persilatan, lebih baik jangan melakukan pembunuhan lagi"

"Aaaai, tapi orang lain tak akan berpikiran demikian"

Kata Ting Peng sambil menghela napas panjang.

"Lo hujin sudah bilang, segala sesuatunya terserah pada diri kita sendiri, Mo kau tak akan bertempur jika tidak diserang, tapi untuk mempertahankan hidup, kami tak akan mundur karena ketakutan !"

Ting Peng segera manggut-manggut, kemudian katanya lagi.

"Sepanjang jalan kembali kesini, kau berjumpa dengan kesulitan apa saja?"

Siau hiang berpikir sejenak kemudian menggeleng.

"Tidak ada, segala sesuatunya amat tenteram! Aku tidak percaya akan hal ini, aku rasa paling tidak pasti ada orang yang ingin menghalangimu, dan mencoba untuk menanyakan kepergian kalian"

"Budakpun berpendapat demikian, tapi kenyataannya benar-benar tidak berjumpa dengan seorang manusiapun, kendatipun budak dapat merasakan bahwa jejak kami selalu diikuti orang dari belakang, namun tak pernah ada yang menampakkan diri untuk melakukan penghadangan secara terang terangan!"

Ting Peng segera manggut-manggut.

"Mungkin pihak lawan merasa kekuatan yang dimilikinya kurang cukup, sebab untuk menghalangi kau dan Ah ku mungkin bukan suatu pekerjaan yang terlalu mudah!"

Ketika berbicara sampai disitu mendadak dari luar jendela kedengaran suara burung terbang merendah.

menyusul kemudian tampak seekor burung merpati pos yang putih dan gagah sudah hinggap diatas tangan Ting Peng.

inilah sistim pemberitaan yang digunakan Ting Peng selama ini dan anggota keluarga tak pernah menanyakan ataupun mencam-puri urusan tersebut.

Maka sewaktu dia melepakan sebuah tabung bulat kecil dari kaki burung merpati tersebut, tak seorangpun yang berani berjalan mendekat.

Ketika Ting Peng selesai membaca isi surat tersebut dia baru tertawa dan berkata.

"Siau hiang, walaupun kau tidak menjumpai sesuatu peristiwa apapun sepanjang perjalanan kembalimu ke sini, tapi sepanjang jalan yang kalian lewati sewaktu berangkat pulang tadi paling tidak ada empat puluhan orang jago lihay yang bersembunyi di balik tempat-tempat rahasia untuk mengintai dirimu."

Siau hiang merasa amat terkejut sesudah mendengar perkataan itu, segera serunya.

"Aaah, masa ada peristiwa seperti ini? Mengapa budak sama sekali tidak tahu?"

"Yang mengintai dirimu selama ini adalah para ahli mengintai yang sudah berpenga-laman luas sekali, tempat persembunyian mereka pun dibuat sedemikian rupa sehingga rahasia sekali letaknya, tak mungkin kau dapat menemukannya!"

"Siapa saja orang tersebut?"

Mereka adalah jago-jago yang tergabung dalam lima partai besar, bahkan merupakan jago pilihan, tapi dari sekian banyak jago, orang-orang dari Khong tong pay dan Go bi pay yang paling banyak, tujuan mereka adalah untuk menghalangi jalan pergi kalian!"

"Lantas mengapa mereka tidak bertindak untuk menghalangiku?"

"Sebab mereka sudah keburu dibantai orang!"

"Siapa pula yang telah membantai mereka?"

"Sekelompok pembunuh-pembunuh berke-rudung yang tidak jelas indentitasnya, Cuma aku sudah tahu siapakah yang mengirim mereka."

"Siapa ?"

"Orang-orang itu adalah anak buah Liu Yok siong, aku tahu keparat ini tak akan tahan berdiam diri hidup kesepian, sekarang dia sudah mulai bergerak.. Cing-cing, kita pun harus keluar untuk melemaskan otot, sudah tiga tahun kita hidup mengendon dirumah.. orang bisa malas kalau begini terus, bila tidak bergerak lagi, mungkin banyak teman lama yang akan melupakan kita!"

Cing-cing tidak berbicara, terhadap perkataan dari Ting Peng, selamanya dia tak memang tak pernah membantah..

ooo0ooo PENUTUP CING CING duduk dalam kereta, Ting Peng duduk dihadapan mukanya, sedang Ah-ku bertindak sebagai kusir.

Waktu itu Ting Peng sedang memainkan sebilah golok, sebilah golok yang indah sekali, golok kayu yang diatas batangnya terukir lukisan indah, ada pemandangan alam, ada perempuan cantik, ada kereta dan lain sebagainya.

Itulah sebuah pemandangan yang menarik sekali.

Benda ini dibeli Ting Peng dengan uang sepuluh laksa tahil emas murni, dibeli dari sebuah rumah penjual barang.

Ting Peng msnginginkan bends tersebut karena golok itu amat indah dan istimewa, tentu saja karena antik dan menawan hati.

Lama sekali dia memainkan benda itu, sementara Siau hiang yang duduk didepan kakinya turut menikmati benda tadi, mendadak dia bertanya.

"Kongcu, benarkah kau hendak menggunakan golok kayu ini untuk menghadapi musuh, membunuh orang?"

Ting Peng tertawa. Benar? Golokku telah dibawa Unta tembaga, aku rasa lo hujin memerlukan benda tersebut, padahal akupun seorang pemakai golok, tentu saja aku harus memakai golok!"

"Kongcu, aku tidak habis mengerti, kalau toh tenaga dalam kongcu sudah mencaapai tingkatan yang luar biasa, namun tanpa golok tersebut."

Ting Peng manggut-manggut. Yaa, tanpa golok tersebut aku hanya bisa"

Memanfaatkan enam tujuh bagian kekuatan sesungguhnya, tapi bila kugunakan golok tersebut, kehebatanku bisa mencapai dua belas bagian."

Kita akan berangkat untuk membantu lo hujin ?"

"Benar, sekarang semua jago dari berbagai partai maupun jago dari Thian bi kiongcu telah bermunculan, mereka tak akan melepaskan lo hujin sekalian dengan begitu saja."

Tinggikah ilmu silat mereka?"

Konon amat tinggi, terutama anak buah Thian bi kiongcu, mereka rata-rata hebat, apalagi sebagian kekuatan itu sudah berada dibawah komando Cia Siau giok, gadis berhati keji ini, bila kita tidak membantu, lo hujin akan menjumpai kesulitan.

Kongcu, kalau toh kita hendak membantu lo hujin, mana kepandaian silat pihak lawan hebat sekali, mengapa kau malah mengirim pergi golok mestika tersebut?"

Ting Peng segera tertawa.

"Selama golok sakti itu ditanganku, tiada orang yang bisa menandingi diriku, lagi masa orang lain akan memusuhi diriku? Siau hiang menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Mungkin tiada orang yang berani, sejak naga perak terbunuh mungkin sudah tak ada manusia yang berani memusuhimu lagi, konon naga perak termasuk jago lihay dalam permainan golok!"

"Itulah dia, bila aku membawa golok, orang lain tak akan berani turun tangan menentangku, mereka pasti akan mengguna-kan akal muslihat untuk mencelakaiku, membuat aku harus menjaga terhadap mereka yang terduga, oleh sebab itu membawa golok mestika malah justru akan menyusahkan diriku sendiri."

Tapi dengan golok tersebut, kau bisa memukul mundur lawan, apalagi Kim say tianglo sudah berhasil melatih ilmu silatnya mencapai tujuh bagian kesempurnaan."

"Benar"

Kata Ting Peng tertawa.

"sewaktu bertarung melawanku dulu, kemampuannya memang cukup hebat, tapi dengan golok ini ditanganku, dia tak akan banyak berkutik."

"Golok ini tak akan mampu menambah kekuatan bagimu, budak telah meneliti dengan seksama, golok ini terbuat dari kayu Hong-yang, meski keras namun tidak kuat bila menjumpai senjata yang tajam, benda ini segera akan patah menjadi dua"

"Inilah yang kuinginkan!"

"Kongcu, budak tidak mengerti!"

"Budak bodoh, otakmu sudah tumpul barangkali, bila kau membawa sebilah golok, apakah kau akan tega mematahkan golokku ini?"

"Tidak, aku tak tega untuk merusaknya"

"Itulah dia, sejak musuh melihat golokku dalam hati mereka sudah timbul perasaan tak tega, serangan yang dilancarkan pasti akan tertunda waktunya, nah saat seperti inilah merupakan saat yang terbaik bagiku untuk turun tangan lebih dulu."

"Kongcu, hebat sekali siasatmu ini."

Ting Peng tersenyum.

"Aku tak ingin menjadi Enghiong, tidak butuh nama kosng, aku hanya ingin hidup terus, demi mempertahankan hidup, cara apapun akan kutempuh."

"Bila Cuma untuk mempertahankan hidup, sesungguhnya kongcu tak usah keluar rumah, asal kau duduk di rumah, siapa yang berani datang mengganggu?"

Ting Peng tertawa tergelak.

"Siau hiang, kau memang pintar, tapi mengapa mengucapkan kata-kata bodoh? Kau anggap asal duduk terus di rumah maka orang lain akan melepaskan aku? Seperti yaya, mereka sudah bersembunyi banyak tahun, tapi toh tak bisa bersembunyi terus?"

"Kongcu, keadaanmu jauh berbeda dengan majikan tua"

"Sama saja, Kim say tianglo sekalian hanya bermaksud untuk membunuh yaya bukan untuk membalas dendam, merekapun takut yaya membalas dendan kepada mereka, inilah yang dinamakan ngeri dalam hati sendiri"

"Rasa ngeri dalam hati sendiri?"

"Benar, atau dengan perkataan lain mereka takut pada diri sendiri"

"Apa yang ditakuti dengan diri sendiri?"

Kau masih kecil maka tidak akan mengerti, bila sudah dewasa nanti kau akan tahu sendiri, Seandainya kau berbuat salah kepada orang lain, atau juka kau mempunyai sesuatu ambisi, maka kau tak akan duduk tenang...

"Aku tahu, oleh sebab Singa emas sekalian telah berbuat kesalahan terhadap majikan tua, maka mereka baru membunuhnya?"

"Benar, dunia persilatan memang tak pernah akan tenang untuk selamanya, satu generasi hilang, generasi yang lain akan muncul kembali... ."

Siau hiang menghela napas panjang, dia merasa perkataan majikannya memang benar.

Hanya Cing-cing yang tetap bersikap tenang, dia seperti tidak memikirkan apa-apa, baginya yang penting adalah Ting Peng tetap disampingnya dan anak mereka tetap sehat selalu...

ooo0ooo Tiba tiba kereta itu berhenti, Ting Peng tidak turun hanya bertanya.

"Ah Ku, mengapa?"

Ah Ku tidak menjawab, ketika Ting Peng menyingkap tirai, di jumpainya Ah Ku sedang berlutut ditanah, sesosok mayat tergantung dihadapannnya, mayat berpakaian tembaga, dialah mayat si Unta tembaga.

Unta tembaga diikat dengan tali dan di gantung diatas pohon, sedang Ah Ku sedang menangis sedih, meski tak bersuara.

air matanya jatuh bercucuran amat deras.

Ting Peng segera turun dari kereta, menghampiri pohon itu dan menurunkan jenasah Unta tembaga, tali pengikatnya dilepas, tubuh unta tembaga tergeletak dalam keadaan terbelah menjadi dua.

Cing cing dan Siau hiang telah turun dari kereta dan berlutut pula didepan jenazah, hanya Ting Peng masih meneliti jenasah itu dengan seksama.

"Beberapa saat kemudian, ia baru berkata.

"Liu Yok siong yang turun tangan!"

"Kau tidak salah melihat? seru Cing cing tertegun.

"Tak mungkin, bacokan ini tepat dan rata, hanya orang yang tahu akan teori baru bisa berbuat demikian. dalam dunia dewasa ini hanya dua orang yang bisa betbuat demikian, aku dan dia, sebab hanya kami berdua yang memperoleh warisan ilmu tersebut.

"Apakah Liu Yok siong telah berhasil mencapai tingkatan seperti kau?"

"Tidak, dia masih ketinggalan jauh, bila aku yang turun tangan, si Unta tembaga dalam keadaan hiduppun tak akan lolos dari bacokanku, tapi dia hanya bisa membacok mayat unta tembaga saja."

"Jadi dia mencelakai paman Tong lebih dulu kemudian baru turun tangan?"

"Yaa benar, penyebab kematian si unta tembaga yang sebenarnya adalah keracunan, dia mati keracunan, oleh sebab itu mayatnya tak nampak darah yang mengalir keluar."

"Mengapa?"

"Tentu saja demi memperebutkan golok tersebut."

Cing-cing tertegun sesaat, kemudian baru bertanya.

"Bagaimana dengan bocah itu?"

Bocah itu tak akan mati, Liu Yok siong tak akan bertindak bodoh, dia pasti akan menahan bocah itu untuk mengancam kita."

Sementara itu Ah ku telah bangkit dan melakukan kode tangan dihadapan Ting Peng. Sambil menghela napas Ting Peng segera menjawab.

"Tak usah kuatir, aku tak akan melepaskan dia, tapi soal membalas dendam bukan tugasmu, golok bulan sabit telah berada di tangan Liu Yok siong, kau bukan tandingannya. Ah Ku masih ingin mengemukakan sesuatu, tapi Ting Peng segera menukas. Sekarang gotong jenasah si Unta tembaga ke atas kereta, kemudian kita pergi mencarinya. Ah ku membopong jenasah si Unta tembaga dan mengikatnya kembali dengan tali. Ting Peng membopong si bocah dari dalam kereta lalu berseru.

"Mari berangkat, aku tahu lima puluh li didepan sana ada kuil, kita titipkan dulu jenasah si Unta tembaga disana. Siau hiang hendak membopong bocah itu, tapi Ting Peng kembali berkata.

"Lebih baik aku membopong sendiri, sepanjang jalan pasti banyak bahaya, ilmu silatmu hanya bisa digunakan untuk melindungi diri, tak nanti bisa kau lindungi bocah ini"

Siau hiang benar-benar mundur, dia tahu akan kemampuannya bila menjumpai serangan dia memang tak mampu melindungi bocah tersebut.

Sepanjang jalan menuju kuil Cu im si, mereka harus melewati tujuh kali penghadangan.

Penghadangan tersebut dilakukan oleh jago-jago persilatan yang berilmu tinggi, mereka bersama bahkan tidak pakai peraturan dunia persilatan, mana senjata rahasia beracun, ayunan golok, pedang, semuanya dilakukan serentak.

Padahal mereka hanya berlima ditambah seorang bocah berusia setahun lebih, bukan saja tak bisa membantu, bahkan hanya merepotkan.

Untung saja Ting Peng sendiri yang membopong bocah itu, dengan tangan sebelah membopong bocah, tangan lain menggenggam golok kayunya.

Ruyung panjang dari Ah ku juga membunuh beberapa orang, tapi dia sendiripun menderita luka, lengan kirinya kena dipatahkan terhantam oleh bacokan golok yang amat besar.

Padahal khikang pelindung badannya telah berhasil dilatih hingga mencapai tingkatan yang kebal dengan senjata, namun lelaki tak bernama yang melukainya itu hanya menghadiahkan sebuah bacokan.

Meski hanya sebuah bacokan, namun sakitnya sampai merasuk tulang, ia mendengar suara tulang lengannya yang patah, tapi mendengar juga suara remuknya tulang dari tubuh lawan, itulah hasil karya ruyung panjangnya yang berhasil melilit tengkuk lawan dan menghancur lumatkan tulang belulangnya.

Lo hongtiang dari kuil Cu im si adalah teman lama Ting Peng, setelah menerima jenasah si unta tembaga untuk sementara waktu, kemudian sambil membacakan doa, mengantar mereka naik ke dalam kereta.

Sebab dari wajah setiap orang dia telah menemukan hawa pembunuhan yang amat tebal.

Ah ku masih bertanya kemana mereka hendak pergi, secara tegas Ting Peng segera menjawab.

"Berangkat ke perkampungan Sin kiam san ceng!"

"Mengapa harus ke Sin kiam san ceng?"

Tanya Siau hiang.

"Sebab aku dapat merasakan, mereka sudah pasti telah berkumpul semua di dalam perkampungan Sin kiam san-ceng!"

Siau hiang tidak banyak bertanya lagi, dia cukup mengetahui akan kemampuan majikannya selama dua tahun belakangan ini, meski tak poernah melakukan sesuatu, namun dia seperti tahu akan segala persoalan yang sedang terjadi.

Firasat Ting Peng memang tidak salah, sepanjang jalan menuju ke perkampungan Sin kiam san ceng, mereka bertemu dengan banyak sekali jago-jago persilatan yang menuju ke arah sana namun tak seorang pun diantara mereka yang mengusik rombongan berkereta ini.

Tujuh babak pertarungan yang berlang-sung dalam tujuh kali penghadangan sudah cukup membuat hati mereka ketakutan.

ooo0ooo Sewaktu Ting Peng tiba di depan perkampungan Sin kiam san-ceng, dia datang agakl terlambat, pertarungan yang berlangsung disitu sudah mendekati terakhir.

Dari tumpukan mayat yang bergelimpangan di tanah mereka temukan seorang nenek yang sudah gawat keadaannya.

"Nenek... ."

Sambil menangis Cing-cing berseru. Nenek itu menelan ludahnya sambil terengah, lalu menjawab lirih.

"Akhirnya kalian datang juga, mengapa golok Ting Peng bisa terjatuh ke tangan Liu Yok siong?"

Terpaksa Cing-cing menceritakan keadaan yang sebenarnya secara ringkas. Dengan perasaan lega nenek ityu menghembuskan napas panjang, lalu katanya lagi.

"Terima kasih banyak kepadamu Ting Peng, terima kasih atas pemberian seorang anakmu untuk kami!"

"Hal ini sudah seharusnya!"

Jawab Ting Peng sambil turut berlutut ke atas tanah.

"Kini, bocah tersebut sudah terjatuh ke tangan mereka, kalian harus merebutnya kembali, golok itu tak perlu diminta lagi, yang penting bocah tersebut, pergilah ke tempat kami, disitu masih ada dua puluhan orang, mereka adalah sisa perkumpulan kias yang terakhir, tunggulah sampai bocah itu menjadi dewasa, suruh dia merebut kembali golok mestika tersebut, bangun kembali perkumpulan Mo kau kita. Biar golok itu berada ditangan Liu Yok siong, kemampuan-nya terbatas sekali, dua puluh tahun kemudian bocah itu pasti dapat mengalahkannya biarlah saja dia gembira selama dua puluh tahun!"

"Tidak bisa, biar seharipun aku tak dapat melepaskannya dengan begitu saja!"

Walaupun Liu Yok siong pantas dibunuh, namun dia telah membalaskan dendam buat partai kita, ia telah membunuh semua penghianat dan musuh-musuh kita"

"0oooh!" .

"Singa emas, Thian bi, masih ada beberapa orang jago lihay dari berbagai perguruan besar, pokoknya setiap musuh yang turut serta dalam penumpasan terhadap perkum-pulan kita di masa lalu, semuanya telah tewas di ujung goloknya, perhitungan loya cu memang tepat, dia telah mempergunakan golok dan ilmu golok sendiri untuk membalas dendam, oleh sebab itu walaupun Liu Yok siong telah membunuh banyak orang kami, aku tidak merasa mendendam kepadanya..."

Nenek itu tidak berbicara lebih lanjut, kendatipun dia masih mempunyai banyak masalah yang hendak diutarakan, namun ia sudah tak berkekuatan lagi untuk mengutarakan keluar.

Sementara Cing-cing masih menangis, Ting Peng telah menyerahkan bocah itu kepadanya kemudian berjalan menuju ke pintu perkampungan.

Didepan pintu terdapat banyak orang sedang mengumpulkan mayat, mereka semua masih muda-muda, agaknya tak seorangpun yang mengenal Ting Peng, tiada yang menyapa atau menegurnya.

Barulah sesampainya dipintu gerbang, Cia sianseng baru muncul sambil menjura.

""Ting kongcu, baik-baikkah selama ini? "Banyak juga yang tewas disini!"

Jengek Ting Peng dingin.

"Yaa, benar, baru saja majikan kami, mendemonrasikan kelihayannya dengan menyingkirkan semua perintang yang ada"

"Majikan kalian? Apakah Cia tayhiap telah kembali?"

"Bukan! Majikan tua telah hidup bebas dan tidak mencampuri urusan keduniawian, lagi yang kumaksudkan adalah majikan baru kami"

"Majikan baru? Bukan majikan muda?"

Cia sianseng segera tertawa.

"Yaa, hampir begitulah sebab majikan muda kami akan menikah dengan majikan baru, kemudian membangun kembali perkampungan Sin kiam san-ceng ini, bahkan perkampungan kami pun di ubah menjadi perkampungan Sin to ceng, perkampungan golok sakti "

"Sin to ceng? Jadi majikan baru kalian adalah"...

"Yaaa. betul! Dia adalah Liu Yok siong, Liu tayhiap!"

"0oooh, rupanya dia"

Seru Ting Peng sambil tertawa.

"dia toh anak muridku!"

Cia sianseng segera tertawa.

Walaupun Liu tayhiap sudah menjadi tenar, namun ia masih mengakui sebagai murid Ting kongcu, maka diapun menerima pemberian golok sakti dari kongcu, sebab kejadian ini memang lumrah!"

"Dia masih mengakui sebagai muridku?"

"Ting kongcu adalah sahabat karib majikan tua, sedangkan Liu cengcu telah menjadi menantunya majikan tua, bagaimanapun juga tingkat kedudukannya memang agak rendah setingkat, apalagi belajar ilmu dari Ting kongcu pun bukan suatu kejadian yang memalukan!"

"Kalau toh dia masih menganggap aku sebagai gurunya, kini gurunya sudah datang mengapa dia belum menampakkan diri untuk menyambut?"

Seru Ting Peng kemudian dengan gusar. Cia sianseng segera tertawa.

"Sebentar akan datang, sebentar akan datang! Berhubung seluruh badan Liu Cengcu kotor oleh darah, ia tak berani berbuat semberono, maka sekarang sedang pulang bertukar pakaian"

Sementara berbicara, Liu Yok siong dengan pakaian yang indah dan menggnadeng Cia Siau giok telah menampakkan diri. Begitu tertemu dengan Ting Peng, dia segera menjura seraya berkata.

"Terima kasih banyak atas hadiah golok mestika dari suhu, tecu telah mengandalkan golok ini untuk membunuh tujuh belas orang jago lihay dari dunia persilatan dewasa ini."

"Bagus sekali, mungkin kau sudah anggap tiada tandingannya lagi di dunia ini?"

"Aaah, mana! Mana! Berada di hadapan suhu, tecu tak berani mengucapkan perkataan semacam ini, apalagi masih ada Cia Siau hong seorang! Cuma, bila aku telah menikah dengan nona Cia, kalian berdua yang satu adalah ayah mertuaku, sedang yang lain adalah guruku, tentu saja kalian tak akan menggangguku lagi!"

Ting Peng segera berpaling ke arah Cia Siau giok sambil berseru.

"Siau giok, kiong-hi untukmu!"

Cia Siau giok segera tertawa.

"Tidak apa-apa, Ting Peng, aku adalah orang yang enggan tunduk di bawah orang lain, oleh karena kau enggan mengawiniku, aku terpaksa harus kawin dengannya."

"Ia telah membinasakan Thian bi Kiongcu!"

"Benar, diapun membunuh si Singa emas dan sekalian penghianat Mo kau, ia pernah mendapat pesan dari Mo kau kaucu agar membersihkan perguruan dari kaum penghianat, sudah kewajibannya bila dia berbuat begitu!"

"Tapi Thian bi kiongcu toh ibu kandungmu sendiri?"

"Hubungan dengan ibuku amat tawar, kalau dibilang dia masih terhitung selirnya Mo kau kaucu, kini Liu Yok siong membunuhnya demi perguruan, sudah barang tentu aku tak bisa menghalangi niatnya itu!"

"Paling tidak kau tak pantas untuk kawin dengannya!"

Kembali Cia Siau giok tertawa.

"Bila aku tidak kawin dengannya, mungkin termasuk akupun akan dibunuh olehnya, padalah aku belum ingin mati, Ting Peng bila kau membantuku untuk membu-nuhnya akupun tak usah kawin dengannya lagi!"

Ting Peng tidak menggubris perkataan itu lagi, dia berpaling ke arah Liu Yok siong sambil menegur.

"Mana putraku?"

"Di dalam!"

Jawab Liu Yok siong tertawa.

"dia adalah siau sute ku, tecu harus merawatnya secara baik-baik"

Dengan wajah berubah serius Ting Peng segera berkata.

"Liu Yok siong dengarkan baik-baik, kembalikan bocah itu kepadaku dan serahkan kembali golok mestika itu, kuampuni selembar jiwamu!"

Tapi golok itu telah suhu wariskan kepada tecu!"

Aku tak pernah berkata demikian Liu toaya, lebih baik kau tak usah berbuat yang tengik, aku tak pernah mengajarkan ilmu silat kepadamu kaupun tak usah memanggil dengan begitu merdu lagi!"

"Baik! Kalau toh suhu telah berkata demikian, tecupun tak akan memaksa, usia tecu jauh lebih tua daripada suhu, sudah sepantasnya bila tecu tidak ribut lagi. Kalau tadi kita masih ada hubungan karena kau telah menghadiahkan golok kepadaku, sekarang kita sudah tiada hubungan apa-apa lagi, lebih baik kau dan aku menempuh perjalanan masing-masing!"

"Serahkan putraku dan golok tersebut kepadaku!"

"Aku tidak bermaksud untuk menahannya, setiap saat kau boleh membopongnya kembali, sedangkan mengenai golok mestika tersebut, aku pun terhitung ahli waris Mo-kau, apalagi sudah membuat pahala besar dengan membersihkan perguruan dari kaum penghianat, aku merasa berhak untuk menggunakan senjata ini"

"Bila aku bersikeras hendak memintanya kembali?"

Kata Ting Peng sambil tertawa.

"Mudah sekali, aku mendapatkannya dengan jalan merebut, maka kaupun boleh merebutnya kembali!"

"Aku tahu kalau mustahil bila menyuruhmu menyerahkan sendiri golok itu maka aku telah membuat persiapan, sekarang, cabut keluar golokmu itu... ."

"Kau akan bertarung menggunakan golok yang berada di tanganmu itu?"

Ting Peng mengangkat golok itu ke depan agar Liu Yok siong melihatnya lebih seksama, kemudian katanya.

"Golokku ini jauh lebih menarik daripada golokmu, lagipula manusia di dunia ini mengetahui akan namanya, berbeda dengan golok mestika itu, hanya orang persilatan yang mengenalinya!"

Liu Yok siong memperhatikan golok kayu itu dengan seksama, kemudian manggut-manggut.

"Yaa, memang golok Pit to yang termashur itu, dulu aku masih belum percaya ketika aku mendengar orang bercerita tentang hal ini, sekarang apakah kau benar-benar hendak menggunakan benda itu untuk berduel denganku "

Bukan berduel, tapi membunuh orang, membinasakan dirimu!"

Kau jangan bergurau, masa benda itupun bisa dipakai untuk membunuh orang?"

Asal benda itu berbentuk golok, maka bisa dipakai untuk membunuh orang, aku telah membunuh puluhan orang!"

Tapi kau harus tahu kalau golok yang ditanganku ini adalah golok iblis yang menggetarkan setiap orang!"

Setiap orang yang kubunuh hampir semua dia memakai senjata mestika ...."

Tukas Ting Peng.

Dengan perasaan tidak percaya Liu Yok siong segera mengangkat goloknya, sedangkan golok kayu Ting Peng juga telah di ayunkan ke arah depan....

Kedua orang sama-sama pernah mempelajari ilmu golok dari Mo kau, oleh sebab itu terhadap bacokan tersebut mereka sama-sama mengerti jelas hingga kedua belah golok itupun hampir membentuk satu garis lurus yang sama untuk membacok ke bawah.

Apabila menginginkan suatu hasil yang nyata, maka mereka harus dapat membelah kutung golok lawan, kemudian baru membabat tubuh lawan menjadi dua bagian.

Serangan yang dilancarkan Liu Yok siong jauh lebih lambat, namun memegang golok bulan sabit yang kuat dan tajam, dia yakin pasti dapat mengungguli Ting Peng.

Oleh sebab itu, disaat kedua bilah golok itu saling membentur, tiba-tiba saja dia teringat akan betapa berharga dan indahnya golok kayu tersebut, sehingga tanpa disadari gerak serangannya menjadi agak terhenti.

Inilah yang sudah diperhitungkan oleh Ting Peng jauh hari sebelumya, dan kesempatan ini pula yang sedang dinanti-nantikan olehnya untuk dimanfaatkan.

Tatkala golok menyentuh golok, tentu saja golok kayu itu tak akan bisa mengungguli golok sakti tersebut sehingga terbelah menjadi dua bagian.

Akan tetapi serangan dari Ting Peng sama sekali tidak terputus, kedua potongan golok kayu itu masih membabat ke bawah sehingga membabat tubuh Liu Yok siong menjadi tiga bagian.

Lama setelah semua hening, Ting Peng baru mengambil kembali golok sakti itu dari tanah sambil berkata.

"Ada sementara orang, meski mempunyai golok sakti di tangan, namun ia tak pernah akan bisa menjadi sakti karena golok tersebut"

Dan sampai disini pula kisah "Golok Bulan sabit "

Ini. TAMAT

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 20

Baca Juga: Harimau Kemala Putih 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert