Eps 1 Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.
___________________________________________________________________________ Judul asli Bai Yu Laohu, disadur oleh Tjan sebanyak 33 jilid.
Salah satu karya terbaik Gu Long, sayang tamat di bagian yang sedang seru-serunya dan belum ada yang melanjutkannya dalam Bahasa Indonesia.
Selamat penasaran membaca.
__________________________________________________________________________
Jilid 1________ Bulan tiga tanggal dua puluh tujuh, hari baik.
Hari ini cocok untuk melakukan pekerjaan apapun!
Tio Bu Ki berbaring diatas pembaringan.
Setelah menempuh perjalanan sejauh tiga ratus li tanpa berhenti, begitu turun dari kudanya, ia langsung masuk kamar dan menjatuhkan diri di atas pembaringan.
Yaa, pembaringan yang empuk, lembut dan harun....
Pembaringan ini milik Hiang hiang, seorang gadis, seorang gadis yang halus, lembut dan harum...
Setiap kali bertemu dengan Tio Bu Ki, sekulum senyuman yang lebih manis dari gula akan menghiasi bibirnya.
Cahaya matahari mencorong masuk lewat celah jendela, hari ini udara cerah, angin berhembus lewat membawa bau harum bunga yang semerbak.
Agak termangu Tio Bu Ki memandang langit nan biru di luar jendela, akhirnya ia menghembuskan napas panjang seraya bergumam.
"Ooo....hari ini memang hari baik!"
Hiang hiang tidak tertawa, ia menyambung dengan nada hambar.
"Aaa, betul! Hari ini memang hari baik, hari baik untuk membunuh orang...!"
"Kau ingin membunuh orang?"
Tio Bu Ki memegang dagunya dan mengangkat wajahnya.
"Yaa, aku ingin membunuh orang"
"Siapa yang ingin kau bunuh?"
"Kau!"
Tio Bu Ki tidak dibuat terkejut, dia malah tertawa, tertawa lebar dengan penuh kehangatan.
"Sebenarnya aku sungguh sungguh ingin membunuhmu"
Kata Hiang hiang sambil menggigit bibir.
"Tapi setelah kupikir kembali, apalagi setelah kau datang menjengukku...niat itu terpaksa kuurungkan"
"Kau tahu kalau aku akan datang?"
"Tentu saja. Hari ini kan hari baik Tio Koncu. Hari baik untuk melangsungkan perkawinan"
Matanya yang jeli mulai berkaca kaca, lanjutnya.
""Akupun tahu hari ini Tio koncu datang hanya ingin memberitahukan kepadaku, bahwa sejak hari ini hubungan kita putus sampai disini, walaupun lain waktu masihn sempat bertemu, kita harus saling menganggap saing, kita tak boleh saling menyapa lagi"
Tio Bu Ki tak dapat menyangkal, diapun sedikit merasa sedih.
"Aku emmbawa sebuah hadiah untukmu"
Bisiknya. Sambil mengeluarkan seuntai mutiara, ia menambahkan.
"Aku pernah penyanggupi permintaanmu, dan sampai sekarang aku belum melupakannya"
Seuntai mutiara yang bening dan bercahaya tajam, seperti butiran air mata seorang gadis suci. Hiang hiang menerima hadiah itu, embelainya penuh kasih sayang, lalu bergumam.
"Aku tahu, suatu ketika kau pasti membawakan benda ini untukku, sebab kau adalah seorang laki laki yang pegang janji, selalu dan sepanjang masa"
Air mata tak sampai meleleh keluar, tapi tangannya sudah gemetar keras, seluruh tubuhnya hampir sja ikut menggetar keras...
Tiba tiba ia melompat bangun, mencampakkan untaian mutiara tersebut ke wajah Tio Bu Ki, lalu berteriak penuh emosi.
"Kau anggap aku sudi menerima uintaian mutiara busuk ini? Kau anggap aku sudi menerima telur busuk kecil macam kau?"
Untung mutiara tersebut tak sampai mengena di wajah Tio Bu ki benda itu melayang keluar dari jendela dan jatuh ke halaman depan sana. Tio Bu Ki kembali tertawa.
"Masih mendingan kalau cuma telur busuk kecil"
Katanya.
"sebab sedikit banyak toh ada kebaikkannya juga!"
"Kebaikkan apa? Katakan!"
Hiang hiang mencak mencak semakin marah.
"Jelek jelek toh telur busuk kecil lebih mendingan daripada telur busuk tua, apalagi dibandingkan telur busuk mampus!"
Dia ingin membuat Hiang hiang tertawa, ingin menyaksikan gadis itu terpingkal karena geli.
Memang, diantara mereka tiada ikatan ataupun hubungan menurut hukum, tapi perpisahan memang cukup memedihkan hati siapapun...
Ia selalu berharap, dikala perpisahan itu terjadi, mereka masih dapat tertawa atau paling tidak tersenym sedikit saja.
Tapi Hiang hiang tidak tertawa, atau tepatnya sebelum senyuman sempat menghiasi bibirnya, untaian mutiara yang terlempar keluar jendela itu telah melayang kembali.
"Craat...!"
Sebatang anak panah sepanjang tiga depa enam inci menyambar masuk ke ruangan dan memantek mutiara itu di ats tiang.
Batang anak panah itu berwarna perak, bulu peraknya masih bergerak keras ketika sebatang panah yang lebih pendek kembali menyambar masuk dan membelah anak panay yang pertama menjadi dua bagian.
Hiang hiang tertegun, belum pernah ia saksikan permainan panah selihay ini, belum pernah ia jumpai seseorang yang sanggup memanah setepat ini....
Senyuman yang menghiasi bibir Tio Bu Ki seketika berubah menjadi senyuman getir, dia menghela napas.
"Ooooh...para penagih hutang telah datang!"
"Mau apa mereka kemari?"
Tanya Hiang hiang dengan paras muka berubah.
"Si penagih hutang tentu saja datang untuk menagih hutang, apakah kau tidak tahu kalau hari ini adalah hari baik pula untuk menagih hutang?" ........................................ Tempatnya di depan sebuah loteng kecil, waktunya musim semi yang cerah. Bunga beraneka warna tumbuh dengan suburnya disekeliling loteng kecil, ada yang berwarna merah, ada yang berwarna hijau dan ada pula yang berwarna kuning telur. Dua orang manusia berbaju hitam berdiri di tengah bunga yang indah, mereka adalah seorang pria dan seorang wanit, seorang masih muda dan seorang sudah lanjut usia. Yang muda adalah seorang laki laki kekar setinggi delapan depa, sedang yang tua adalah seorang nenek bungkuk, meski bungkuk dia memiliki sepasang mata yang tajam, setajam binta fajr dipagi hari. Kedua orang itu sama sama menggembol busur, busur emas dengan sarung kulit hitam, yang satu panjang dan yang lain pendek. Waktu itu Haing hiang berdiri di tepi jendela di atas loteng kecil, menyaksikan dua orang itu, dia lantas bertanya keheranan.
"Siapakah mereka berdua?"
"Hek popo dengan putranya!"
Jawab Bu Ki.
"Manusia macam apakah Hek popo itu?"
"Seorang jago silat yang sanggup membidik sepasang mata lalat dari jarak sepuluh kaki dengan anak panahnya!"
"Oooh, begitu hebakah nenek bungkuk itu..."
Keluh Hiang hiang dengan paras berubah.
"Meski putranya tidak sejitu ibunya, namun dia memiliki tenaga dalam yang maha dahsyat, bila dia sedang gembira setiap saat anak panahnya dapat menembusi dada dua orang yang berdiri beriring"
Ia menghela napas lalu menambahkan.
"Kim kiong gin ciam (Busur emas panah perak) Cu bu siang hui (ibu anak terbang bersama), siapa yang bertemu dengan mereka siapa pula yang ketimpa sial"
"Tapi justru kau telah berhutang kepada mereka"
Tio Bu Ki tertawa getir.
"memang selamanya aku selalu sial!"
"Kau hutang apa dengan mereka?"
"Hutang dua orang manusia!"
"Hutang dua manusia? Apakah maksudmu?"
Tentu saja Hiang hiang tidak akan mengerti.
"Suatu ketika, aku pulang dari minum arak di telaga Beng ou dimalam sepi kusaksikan ada dua orang nona kecil sedang melarikan diri dikejar oleh putranya, salah seorang nona kecfil itu sudah terbidik panahnya dan berteriak minta tolong!"
Ia menghela napas, terusnya.
"Tentu aku lantas turun tangan untuk memberi bantuan setelah menyaksikan seorang laki laki mengejar dua orang nona kecil, kubantu mereka menahan pengejaran tersebut dan memberi kesempatan sang noan untuk mneyelamatkan diri"
"Lantas"
"Sesudah kejadian itu, aku baru tahu kalau dua orang nona cilik yang kutolong sebernya bukan nona cilik"
"Kalau bukan nona cilik lantas apa Tanya Hiang hiang semakin tidak mengerti.
"Rupanya mereka adalah orang laki laki yang menyaru sebagai nona cilik...!"
Hiang hiang tertegun, ia berdiri bodoh. Pelan pelan Tio Bu Ki menarik napas tuturnya.
"Rupanya dlaam dunia persilatan terdapat organisasi yang bernama It oh hong (sarang tawon),m perkumpulan itu adalah perkumpulan orang orang jai hoa cat (Penjahat pemetik bunga), untuk memperlancar usaha mereka sering kali anggotanya menyaru sebagai nona nona cilik"
"Kalau begitu, kedua orang nona yang kau tolong juga penjahat penjahat pemitik bunga?"
Sambil tertawa getir Tio Bu Ki mengangguk.
"Untung mereka ibu dan anak tidak menuduh aku sebagai komplotan Jay hoa cat, coba kalau tidak, wah....rusak nama baikku!"
"Meskipun begitu, tentu saja mereka tak akan membebaskan kau dengan begitu saja bukan?"
"Benar, mereka memberi batas waktu tiga bulan kepadaku, dalam waktu yang disediakan itu aku harus dapat menangkap kembali kedua orang Jay hoa cat tersebut dan diserahkan kepada mereka"
"Dan kini batas waktunya sudah habis?"
"Belum! Cuma sudah hampir..."
"Sudah berhasil kau tangkap kembali kedua orang itu?"
"Belum!"
Hiang hiang mencoba menatap wajahnya, lalu sambil gelengkan kepalanya ia menghela napas.
"Aku lihat tampaknya didunia ini masih terdapat sejenis orang yang suka menangkap kutu untuk dilepaskan kembali diatas rambut sendiri, mengapa kau adalah manusia semacam itu?"
"Mendingan kalau cuma sat dua ekor kutu rambut saja!"
"Lalu masih ada apa lagi dirambutmu?"
"Agaknya masih ada lima atau enam ekor kalajengking serta tujuh atau delapan ekor ular beracun!"
Hiang hiang tidak bertanya lagi, dia terbisu untuk beberapa saat, saking kagetnya dia berubah seperti orang bodoh.
Sekarang, ia telah melihat beberapa ekor ular beracun yang betul betul masih hidup.
..............................
Ular beracun itu berada dalam sebuah karung goni, kepalanya terjulur keluar dari sebuah lubang dan lidahnya yang merah menyala kelihatan pula seperti jilatan api.
Karung goni tadi kebetulan berada dipunggung seseorang.
Dia adalah seorang manusia yang aneh bentuknya, bukan saja hidungnya tinggal separuh, telinganya juga tidak utuh, daun telinganya sudah terkoyak koyak hingga tidak berujud lagi.
Sepasang matanya merah membara seperti jilatan lidah dari ular berbisa itu.
Dengan tampang sejelek itu justru dia mengenakan baju lebar yang berwarna warni, ini semua menciptkan suatu kemisteriusan, suatu keanehan yang membuat hati mereka bergidik.
Seekor ular beracun merambat naik diatas bahunya dan melilit pada tengkuknya, lalu dengan lidah yang merah membara menjilati pipinya.
Tapi dia seperti tidak merasa, kalau pipnya dijilati ular.
Hiang hiang yang melihatnya justru merasa mual saking mualnya hampir saja semua isi perutnya tumpah keluar.
"Orang itu juga penagih hutangmu?"
Ia berbisik.
"Ehmm...!" ."Kau hutang apa dengannya?"
"Lima ekor ular!"
Tio Bu Ki seperti merasa mulutnya menjadi pahit.
"Lima ekor ular yang paling beracun"
Mendengar keterangn tersebut, Hiang hiang sedikit tidak puas, katanya.
"Kau menolong dua orang Jay hoa cat, itulah kesalahanmu. Tapi ular berbisa seperti itu, sekalipun dibunuh beberapa ekor lagi juga tak mengapa, kenapa kau harus mengembalikan kepadanya?"
"Sebab dia adalah Tok Pousat (dewa racun)"
"Tok pousat?"
"Meskipun seluruh badannya penuh dengan racun, tapi hatinya lembut dan penu welas kasih., sewelas hati pousat"
"Mana ada pousat memelihara ular?"
"Kalau orang lain memelihara ular untuk mencelakai orang, dia memelihara ular untuk menolong manusia"
Ia tahu, Hiang hiang tentu tidak emngerti, maka ia menjelaskan lebih jauh.
"Dari liur racun yang berada dimulut ular dicampur dengan darah segera akan terbuat serum anti racun ular yang hebat, dan ia selalu menggunakan cara tersebut untuk menolong orang"
"Kelima ekor ular racun macam apa yang kau bunuh?"
Tanya Hiang hiang lagi.
"Kelima ekor ular beracun itu semuany termasuk jenis yang langka, untuk memperolehnya dia harus menjelajahi bukit yang curam dan memasuki hutan yang lebat disepanjang perbatasan selama tiga tahun. Itupun setelah bersusah payah kelima jenis ular tadi baru berhasil ditangkapnya bersama"
"Setelah ditangkap lalu apa gunanya?"
"Dengan campuran air liur dari kelima jenis ular beracun itu dapat dibuat semacam serum yang luar biasa hebatnya, serum tersebut dapat memunahkan segala jenis racun, tapi hanya liur beracun yang dimuntahkan sendiri dari ular ular yang hidup yang bisa dipakai untuk membuat obat itu"
"Aku dengan orang bilang, bisa ular baru akan keluar bila binatang itu sedang menggigit orang?"
"Benar!"
"Lantas untuk mendapatkan bisa dari kelima jenis ular beracun itu, apakah dia membiarkan ular ular tadi mematuk orang lain?"
"Tidak, dia mempunyai cara lain"
"Siapa yang akan digitkan ular ular tersebut?"
Tanya Hiang hiang makin keheranan.
"Dia sendiri!"
Hiang hiang tertegun, ia berdiri bodoh.
"Dan waktu kutemui dirinya, kusaksikan kelima ekor ular beracun itu sedang menggigit tubuhnya sendiri"
Bu Ki menerangkan.
"Apa yang kau lakukan waktu itu?"
Tio Bu Ki tertawa getir.
"Terkalah....apa yang kulakukan jika menemui keadaan seperti ini? Tanpa berpikir untuk kedua kalinya, kucabut pedangku dan kubacok mampus kelima jenis ular beracun itu, setiap ekor ular kucincang menjadi tujuh delapan potong"
Sekarang Haing hiang ikut tertawa getir.
"Rupanya ilmu pedangmu sudah memperolehkemajuan yang pesat!"
"Tapi dalam peristiwa ini, kembali aku telah berbuat kesalahan besar..."Keluh pemuda itu. Suasana dalam kebun sangat hening, rupanya baik Hek Popo maupun Tok pusat adalah orang orang yang pandai mengendalikan perasaan.
"Tok Tok!"
Mendadak dari kejauhan berkumandang suara kentongan, suara itu seperti datang dari jauh, seperti juga berasal dari sisi telinga mereka...
Ketika mendengar suara itu, paras muka Hek popo maupun Tok pusat kelihatan sedikit berubah.
"Eeeh...coba kau dengar, bukankah itu suara kentongan?"
Bisik Hiang hiang keheranan.
"Yaa, betul!"
"Aku tdiak salah mendengar bukan?"
"Tidak, kau tidak salah!"
"Tapi...sekarang kan masih pagi hari, kenapa kentongan dibunyikan? Jangan janganorang itu sudah sinting?"
"Tidak, dia tidak sinting, sebab kapan dia ingin menbunyikan kentongan, pada waktu itulah kentongan dibnunyikan"
"Kenapa?"
"Sebab kentongan yang dia bunyikan berbeda dengan kentongan orang lain, yang diberitakan bukan soal waktu"
"Lalu kentongan apa yang diwartakan?"
"Kentongan pencabut nyawa!"
"Apa? Kentongan pencabut nyawa?"
"Benar, bila kentongan sudah dibunyikan tiga kali, itu berarti ada orang akan kehilangan nyawa"
Wajah Tio Bu Ki terlintas pula suatu perubahan aneh, kembali ia berkata.
"Tohn mia keng hu (Tukang kentongan pencabut naywa) Liu sam keng, tiga kali kentongan dibunyikan nyawa manusia akan terbang melayang"
Kembali suara kentongan, kali ini suaranya berasal dari tempat yang lebih dekat. Walaupun kentongan tersebut tak ubahnya dengan suara kentongan yang sangat aneh.
"Coba kau dengar, berapa kentongan yang dia bunyikan?"
Tanya Hiang hiang tidak tenang.
"Dua kentongan lebih satu ketukan!"
Tanpa sadar menggigil sekujur badan Hiang hiang karena ngeri, bisiknya.
"Kalau...bukankan kentongan ketiga akan segera tiba?"
"Benar, begitu dua kentongan lebih satu ketukan lewat kentongan ketiga segara akan tiba"
"Apakah dia pun penagih hutang?"
"Bukan penagih hutang saja, dia adalah seorang penagih yang amat gigih...!"
"Kau hutang apa dengannya?"
"Hutang sebuah bacokan!"
"Berapa orang penagih hutang lagi yang akan datang?"
"Penagih penagih hutang yang paling besar, hanya mereka tiga orang!"
"Jadi mereka sudah tahu kalau hari ini kau akan datang kemari?"
"Tentu saja, sebab akulah yang mengundang mereka datang"
"Kau yang mengundang mereka datang?"
Hamnpir saja Hiang hiang menjerit saking kagetnya.
"Mengapa kau undang kemari semua penagih penagih hutangmu itu?"
"Sebab barangsiapa merasa berhutang, cepat atau lambat hutang itu harus dibayar"
Tiba tiba pemuda itu tertawa, tambahnya.
"Masa kau tidak merasa, hari ini toh hari paling baik untuk menagih hutang?" ................................ Kentongan pencabut nyawa kembali berbunyi.
"Tok tok tik"
Masih dua kentongan lebih satu ketukan, sampai kapan kentongan ketiga baru akan dibunyikan?
Kecuali si tukang kentongan pencabut nyawa, rasanya tak seorangpun dapat menjawab pertanyaan itu.
Pelan pelan Liu sam keng muncul dari balik ekbun bunga yang rindang, ia mengenakan baju hiaju, kaos kaki putih, sepatu rumput dan mempuyai raut wajah yang pucat.
Sebenarnya didalam kebun bunga tida manusia semcam ini, tapi sekarang justru muncul seorang manusia seperti itu.
Dia membawa sebuah gembrengan kecil, sebuah alat pemukul, sebuah bambu kentongan, ditambah lagi sebuah tongkat pendek berwarna putih.
Beginilah alat senjata yang dipakai Tukang kentong pencabut nyawa untuk merenggut nyawa orang?
Bagi orang sepanjang tahun tidak melihat sinar matahari, mukanya selalu memang pucat, dan hal ini tidak aneh.
Tapi yang aneh justru adalah sepasang matanya!
Sepasang matanya putih pula warnanya, suatu warna putih keupcat pucatan yang aneh, tidak nampak biji matanya, tidak nampak pula manik matanya.
Mungkingkah tukang kentongan pencabut nyawa Liu samkeng yang menggetarkan perasaan orang adalah seorang buta?
Diluar kebun bunga merupakan sebuah jalan yang sempit.
Jalan kecil itu berliku liku, sebagai alas jalan adalah batu batu kerikil ptih sebesar telur itik.
Hek Popo dengan putranya berdiri dalam semak ditepi jalanan sempit tersebut.
Tentu saja orang buta tak mungkin bisa melihat mereka!
Tapi anehnya, ketika Liu sam keng lewat disisi mereka, tiba tiba ia berhenti lalu berpaling.
"Hek popo, baik baikkah selama ini?"
Sapanya. Lama sekali Hek popo memandang kearahnya dengan pandangan dingi, lalu jawabnya hambar.
"Berkat doa restu Liu siangseng, kami janda dan anak yatim yang malang tak sampai mati dibuat mendongkol orang lain"
Liu sam keng menegadah memandang ke angkasa, seakan akan sedang memikirkan sesuatu. Lama, lama sekali, dia baru menghela napas panjang.
"Perpisahan kita kalau dihitung sudah lebih dari tiga belas tahun, waktu memang berlalu dengan cepatnya"
"Setiap hari tentu ada kentongan ketiga, kesana kentongan ketiga, kemari kentongan ketiga, siapa bilang waktu tidak berlalu dengan cepatnya?"
Kata Hek popo lagi. Pelan pelan Liu sam keng mengangguk diatas wajahnya yang pucat tidak nampak pancaran emosi, mukanya tetap dingin, kaku...
"aaaai...betul juga perkataanmu, apalagi dalam sehari bukan hanya ada sekali kentongan ketiga, kemari kentongan ketiga...ada pula yang sudah mampus, aaai....betul juga siapa yang bilang waktu tidak lewat dengan cepatnya?"
Seolah olah sedang bergumam diri, dengan tongkat putihnya sebagai petunjuk jalan, pelan pelan dia maju ke depan.
Ketika tiba kedepan Tok pusat, kembali ia berhenti.
Ia tidak embuka suara, Tok pousat pun tidak membuka suara, tapi dua ekor ular beracun yang berada didalam karung telah menyusup keluar secepat kilat, waktu muncul sedikitpun tidak menimbulkan suara.
Sebagai orang buta tentu saja ia tak dapat melihat, biasanya ia menggantukan diri pada suara, tapi kini ular ular tersebut menyergap tanpa suara, bayangkan sendiri apakah orang buta seperti itu bisa mendengarnya?
Tetapi, baru saja kedua ekor ular itu mendekati tubuhnya, ia telah menggerakkan tongkat pendeknya untuk memukul, yang dipukul tepat baian tujuh inci yang paling lemah bagi kedua ekor ular beracun itu....
Bagaikan dua utas tali rami, dua ekor ular tersebut rontok ekt tanha, tergeletak di bumi dan tak berkutik lagi.
Saat itulah Liu sam keng kembali menghela napas.
"Aaai...apakah aku telah membinasakan lagi dua ekor ular beracunmu?"
"Hnmnmm...!"
Tok pusat hanya mendengus.
"Apakah kau menuntut kepadaku untuk menggantinya?"
"Kau anggap mampu untuk emmbayar ganti ruginya?"
Liu sam keng tertawa ewa.
"Aku tahu, kedua ekor ular itu cuma jenis Tiok yap cing dan seekor Hoan jam tau, kalau kau ingin ganti rugi, setiap saat aku dapat mengkapkan tujuh sampai delapan puluh ekor bagimu."
Dengan nada agak kaget Tok pusat memandang ke arahnya, meski wajahnya berubah, suaranya tetap dingin dan hambar.
"Tak usah repot repot, aku masihn mampu untuk menangkap sendiri!"
"Kalau memang kau tidak membutuhkan ganti rugi, aku hendak menasehatimu dengan beberapa patah kata."
"Katakan!"
"Kau mengorbankan badanmu untuk makanan ular, dengan darah dan daging tubuhmu, kau mendapatkan bisa ular mereka, sekalipun setiap saat racun ular bisa diserap keluar pada saatnya, namun sedikit banyak tentu masih ada sisa racun yang masih tertinggal dalam darahmu."
Dia menghela napas kembali ujarnya.
"Aku tahu kau memiliki ilmu rahasia pencabut bisa dari badan warisan Thian to cuncu, tapi belum tentu kepandaian tersebut selalu manjur untukmu.... Tok pusat hanya membungkam, dia tidak mengakui, pun tidak menyangkal...
"Sekarang sisa racun yang tertinggal ditubuhmu sudah mencapai seratus tiga jenis"
Kata Liu sam keng lagi.
"Kau dapat melihatnya?"
Bisik Tok pusat kaget. Setelah berhenti sejenak, terusnya dengan ewa.
"Meski begitu, aku tahu dengan pasti, jika dalam darahmnu tercampur lagi dengan lima jenis racun ular, maka dari seorang pusat kau akan beruba menjadi sesosok mayat hidup."
Tio Bu Ki sudah turun dari loteng, ia berdiri dibawah sina sang surya dan mengawasi tukang kentongan pecabut nyawa tanpa berkedip.
Dalam hati kecilnyha ia sedang bertanya pada diri sendiri.
Benarkah dia adalah orang buta sungguhan?
Atau mungkin cuma pura pura buta?
Ia tidak tahu.
Yaa, tentu saja ia tak tahu, kecuali Liu sam keng pribadi, siapa yang akan tahu?
Sebagai alas jalan kecil itu adalah batu bulat berwarna putih ketika tongkat pendek membentur di atas batu terdengarlah suara dentingan yang aneh.
Suara itu pasti bukan suara bambu yang membentur bambu, juga bukan suara emas atau baja menyentuh batu.
Terbuat dari apakah tongkat pendek itu?
Tio Bu Ki tidak mampu menebaknya.
Ketika ia menengadah, Liu sam keng sudah ada dihadapan matanya.
Setelah saling berhadapan muka, Tio Bu Ki baru yakin kalau Liu sam keng benar benar buta sebab biji matanya mati, biji mata yang tak dapat bergerak gerak.
Seorang yang normal, seorang yang dapat melihat tak mungkin bisa ditirukan"
"Hei, kau sedang memperhatikan biji mataku!"
Tiba tiba, Liu sam keng menegur.
Tio Bu Ki terperanjat, hampir saja ia menjerit tertahan.
Walaupun orang ini tidak dapat melihat, tampaknya dia seperti memiliki sepasang mata yang aneh.
Sepasang mata yang misterius yang tersimpan disetiap bagian tubuhnya, sehingga semua perbuatan orang, semua tingkah laku orang tak akn mampu mengelabuhinya.
"Kau tak perlu memperhatikan lagi dengan seksama"
Kembali Liu sam keng berkata. Pada hakekatnya, Tio Bu Ki sangat ingin memperhatikan sepasang mata lawan dengan lebih seksama. Tiba tiba Liu sam keng berkata lagi.
"Baiklah, kalau kau masih belum percaya, ambil dan periksalah sendiri....!"
Dia mengorek keluar biji matanya itu dengan jari tangan, sekarang kelopak matanya kosong seperti sebuah gua yang mengerikan.
Biji matanya berwarna kelabu, entah terbuar dari kaca atau batu kaca, benda tersebut menggelinding tiada hentinya di tangan, seperti sebuah benda hidup.
Sekalipun dengan jelas kau tahu bahwa biji mata itu palsu, toh akan terperanjat juga setelah menyaksikan kejadian tersebut.
"Sekarang sudah kau lihat dengan jelas?"
Tegur Liu sam keng lagi.
"Sudah"
Akhnirnya Tio Bu Ki menghembuskan napas panjang.
"Lebih baik perhatikan lebih seksama lagi, sebab inilah pengorbanan yang harus kubayar untuk kesalahan yang pernah kulakukan"
Selintas perasaan sedih, perasaan murung dan kesal tiba tiba menghiasi wajahnya yang pucat. Pelan pelan dia berkata lebih lanut.
"Dua puluh tahun berselang, aku telah salah melihat orang, meskipun sepasang mataku di korek orang, aku tidak menyesal ataupun mengucapkan keluhan, sebab prinsipku barangsiapa telah melakukan dia harus membayar mahal kesalahan yang telah dilakukan itu, baik orang lain ataupun diri sendiri"
"Aku mengerti!' "Menurut pendapatmu, apakah perbuatan temanmu itu adalah perbuatan salah?"
"Yaa, memang salah!"
"Pantaskah dia membayar mahal untuk kesalahan yang telah dilakukan itu?"
"Dia memang pantas!"
Untuk kedua kalinya Tio Bu Ki menangguk.
"Sekalipun kubacok badannya dengan golok pantaskah dia cuma membungkam tanpa mengeluh?"
"Yaaa, pantas!"
"Dan sekarang, bersediakah kau menerima bacokanku untuk mewakili dirinya?"
".Aku bersedia"
"Mengapa?"
Tio Bu Ki menghela napas panjang.
"Sebab dia adalah sahabatku, dan lagi sudah terluka parah, dia tak akan mampu untuk menerima bacokanmu lagi"
"Tahukan kau berapa beratnya bacokaku ini?"
Desak Liu sam keng lebih jauh.
"Enteng atau berat semua sama saja!"
"Dan kau tidak menyesal?"
"Selama hidup, kata menyesal tak pernah kukenal dalam kamus hidupku..."
Pelan pelan Liu sam keng masukan kembali biji amtanya ke dalam kelopak mata, sepasang biji mata yang kelabu seolaholah sedang menatap ke arahnya tanpa berkedip.
Apa yang bisa dilihat oleh sepasang biji mata palsu?
"Mulai sekarang, setiap waktu setiap saat kau boleh turn tangan atas diriku"
Kata Tio Bu Ki.
"Baik!"
Sebenarnya tongkat pendek itu sudah dikempit dibawah ketiaknya, tapi sekali membnalik tangannya tahu tahu ia sudah mencabut keluar sebilah pisau.
Rupanya dibalik tongkat pendek itu tersimpan sebilah pisau, sebilah pisau yang tajamnya luar biasa.
Tio Bu Ki membusungkan dadanya, ia sudah bertekad menerima bacokan itu, walau tengkuknya yang dibacok, dia tak akan gentar.
"Eeeh...tunggu sebentar!"
Tiba tiba Tok pusat berseru.
"Tunggu apa?"
Tanya Liu sam keng.
"Penagihnya bukan cuma kau seorang, paling sedikit sepantasnyakalau kau beri kesempatan kepadanya untuk membereskan danhulu hutangnya denganorang lain"
"Hutang kepada orang cepat atau lambat memang harus dibayar, siapa lebih duluan siapa belakangan toh sama saja"
Tio Bu Ki mengomentari.
"Apakah kau sudah bersiap sedia untuk membayar semua hutangmu pada hari ini juga? Tanya Tok pusat.
"Kalau tidak begitu, buat apa aku undang kalian semua?"
"Apa kau benar benar bernama Tio Bu Ki?"
Tanya Tok pousat.
"Kalu bukan, lantas aku ini sapa?"
"Aku hanya kenal dengan seorang Tio Bu Ki dari Tay hong tong"
Suara Tok pusat kendengaran sangat berat.
Bolenh dibilang segenap jago persilatan mengetahu perkumpulan macam apakahn Tay hong tong itu.
Tay hong tong bukan cuma suatu perkumpulan biasa, organisasi mereka amat besar dan ketat, pengaruhnya meliputi perlbagai wilayah didaratan tionggoan.
Cita cita mereka hanya satu, yakni.
MENOLONG KAUM LEMAH MEMBERANTAS KAUM PENINDAS"
Sebab itu bukan saja mereka disegani orang, semua orangpun menaruh hormat kepada mereka. Kedengaran Tok pousat sedang berkata.
"Tongcu dari Tay hong tong memang Im hui yang, Im loyacu! Tapi pada hakekatnya ytang menjalankan roda pemerintahan adalah Tio Kian, Sugong siau hong dan Sangkoan Jin tiga orang, aku tahu Tio Bu Ki yang kumaksudkan adalah Tio Bu Ki putra Tio Kian"
"Aaaai...tak kusangka kau telah menyelidiki seluk beluk perkumpulan kami selejas ini"
Keluh Tio Bu Ki sambil menghela napas.
"Bila kau adalah Tio Bu Ki yang kumaksudkan hari ini tidak seharusnya berada di sini"
"Lantas, semestinya aku berada di mana?"
"Dalam ruang penganten gedung di keluarga Tio dan menanti datangnya para tetamu yang menyampaikan selamat"
Ditatapnya Tio Bu Ki tanpa berkedip, lalu pelan pelan ujarnya lebih lanjut.
"Aku tahu Sugong siau hong maupun Sangkoan Jin akan datang pula kesana, dengan hardirnya mereka semua, siapakah didiunia ini yang berani mendatangi engkau untuk menagih hutang?"
"Aku pribadi yang berhutang, sudah sepantasnya kalau aku pula yang membayar, persoalan ini tak ada hubungannya dengan Tay hong tong, tak ada pula hubungannya dengan ayahku"
Ujuar Tio Bu Ki dengan gagah.
"Bila kau adalah Tio Bu Ki yang tulen, maka hari ini adalah hari baik untuk perkawinanmu!"
"Benar!"
"Hari baik untuk perkawinan, biasanya bukan hari baik untuk membayar hutang"
"Tapi setelah lewat hari ini, aku adalah seorang yang lain, sebab aku telah mempunyai keluarga, mempunyai istri, diriku sudah tak akan sebebas diriku yang dulu"
Tiba tiba matanya memancarkan sinar yang terang, tambahnya.
"Istriku adalah temanhidupku sepanjang masa, aku akan saling menghormati dengannya, aku tak ingin membuat ia kecewa seorang laki laki yang suka menuggak hutang"
"Oooh...jadi karena itu semua pertikaian dan semua hutang hutang akan kau bayar lunas sebelum ia kawin denganmu?"
"Benar"
Tiba tiba Hek popo menghela napas panjang "aku rasa ia pasti seorang gadis yang lembut. Seorang gadis yang cantik dan betul betul hok ki"
Bisiknya.
"Aku bisa kawin dengannya bukan dia yang hok ki, justru inilah rejeki buat diriku"
"Oleh sebab itu kau mengingkan agar ia bisa mengawini seorang laki laki yang benar benar bersih dan gagah?"
"Betul. Asal seorang bisa hidup tanpa pernah melakukan dosa atau kesalahan yang menyalahi naluri sendiri, sekalipun dia kehilangan sebuah kaki atau kutng sebuah lengannya, juga tak menjadi soal"
"Karena itu walau kau gagal menemukan kembali kedua orang jay hoa cat tersebut, kau toh datang juga untuk memenuhi janji?"
"Benar!"
Pelan pelan Hek popo maju menghampirinya, kemudian bertanya dengan hambar.
"Dengan apa kau hendak membayar hutangmu kepadaku? Dengan tanganmu atau kakimu?"
Sorot matanya memancarkan cahaya berkilat bahkan jauh lebith tajam dari golok ditangan Liu sam keng. Tio Bu Ki tidak berusaha menghindari tatapan itu, dia malah ballik bertanya.
"Apa pula yang kau tuntut atas diriku?"
Hek pop tidak langsung menjawab, ia berpaling ke arah Tok pusat dan bertanya lagi.
"Apa yang kau tuntut darinya?"
Tok pousat termenung sejenak, lalu menjawab.
"Tak terhitung jumlah jenis ular berbisa yang ada didunia ini, tapi yang paling beracun hanya ada sembilan jenis"
"Tentu saja kau akan lebinh jelas dalam soal tersebut dari padaku, aku segan untuk memikirnya"
Tukas Hek popo. Tok pusat tidak menanggapi ucapan itu, dia berkata lebih lanjut.
"Ia sudah berhutang lima ekor ular beracun dariku, tiga diantaranya malah terhitung dalam jenis ular paling beracung yang langka didunia ini. Kecuali aku, mungkin hanya dua tiga orang saja didunia ini yang sanggup menagkap ketiga jenis ular beracun itu dalam keadaan hidup"
"Siapakah kedua orang itu?"
Kembali Hek pop bertanya.
"Kau tak perlu tahu siapakah mereka, pokoknya yang pasti dia bukan Tio Bu Ki"
"Karena itu kau yakin kalau dia tak akan mampu mengganti ular ular racunmu yang telah terbunuh itu?"
"Aku memang bukan datang untuk menagih hutang!"
"Lantas mau apa kau kemari?"
"Membalas bud!"
"Membalas budi?"
"Betul. Seperti apay yang dikatakan Li sianseng, racun yang berada dalam darahku memang sudah mencapai titik kejenuhan"
"Apakah sebelumnya kau tak tahu tentang hal ini?"
Tanya Hek pop sambil menatap tajam wajahnya. Tok pusat menghela napas panjang.
"Aaai...dikala kurasakan hal ini, kelima ekor ular itu sudah terlanjur melekat ditubuhku, ingin diurungkan juga tak sempat lagi!"
"Apakah Tio Bu Ki yang menyelamatkan jiwamu?"
"Benar. Seandainya kelima ekor ular itu tidak dibunuhnya tanpa sengaja, mungkin sekarang aku telah menjadi sesosok mayat hidup"
"Perduli dia bermaksud atau tidak bermaksud, yang pasti jiwamu kan sudah diselamatkan?"
"Benar"
"Sebab itu bukan saja ia tidak berhutang apa apa kepadamu, sebaliknya kaulah yang telah berhutang nyawa kepadanya"
"Benar"
"Aku pikir selembar nyawa Tok pusat bukanlah selembar nyawa yang tidak berharga, lalu apa rencanamu untuk membayar hutang budi itu?"
"Aku bisa mewakilinya untuk membayar hutangnya kepadamu"
"Kau hendak menangkap kembali dua orang Jay hoa cat yang ditolongnya itu?"
"bahkan akupun bersedia untuk membayar rentenya"
"Membayar rentenya? Rente apa?"
"Sekaligus dengan satu sarang tawonnya!"
"Masa kau mampu?"
Tok pusat tertawa.
"Ah, racunku bukan hanya bisa menolong orang saja, untuk merenggut nyawa orangpun bukan suatu pekerjaan yang sulit"
Hek pop tertawa pula.
"Dengan racun melwan racun, menggunakan racun ularmu untuk menghadapi seoang tawon beracun, memang cara ini merupakan suatu cara terbaik"
"Jadi kau mengabulkan?"
Tok pusat menegaskan.
"Kenapa aku mesti menampik?"
Hek popo balik bertanya. Tok pousat berpaling kearah Tio Bu Ki lalu tersenyum.
"Kalau begitu kita sudah impas, siapaun tidak ada yang berhutang kepada yang lain"
Katanya Tio Bu Ki tidak berbicara lagi, walau sepatah katapun. Dalam keadaan dan suasana seperti ini, apa lagi yang mampu dia ucapkan? "Bukankah sekarang aku tidak lagi berhutang apa apa kepadamu?"
Tanya Tok pusat lagi.
"Sejak dulu sampai sekarang kau memang tak pernah berhutang kepadaku..."jawab sang pemuda.
"Kalau begitu kau harus menyanggupi sebuah permintaanku!"
"Hari ini adalah hari perkawinanmu, har baik untukmu, maka kau harus mengundang aku untuk minum secawan arak kegirangan"
"Masa cuman secawan? Tio Bu Ki tertawa.
"Kalau pingin minum, paling sedikit harus menghabiskan lima puluh cawan"
"Tidak, kau tidak boleh minum"
Tiba tiba Liu sam keng menukas.
"Kenapa"
"Sebab kau sudah terluka"
"Aku terluka? Terluka dibagian mana"
Pekik Tio Bu Ki tercengang.
"Dimana golokku mampir ditubuhmu, disanalah letak lukamu itu!"
Jawaban dari Liu sam keng ini cukup menggidikkan.
Golok masih berada digengamannya, itulah golok yang tipis bersinar dan sangat tajam.
Pantulan sinar golok memancar diwajah Liu sam keng yang pucat, muka yang hambar tanpa emosi.
Siapapun juga meski dia orang bodoh segera akan tahu dia bukan seorang laki laki yang gampang terpengaruh oleh keadaan, apalagi mengampuni seseorang yang berhutang kepadanya.
Sudah menjadi wataknya, kalau kau merasa berhutang satu bocokan maka dia akan membalas dengan satu bacokan pula.
Jangan harap kau dapat menghindarinya dan diapun tak akan menampik pemberianmu.
Persoalan apapun juga, jangan harap bisa merubah jalan pikirannya apalagi keputusan telah diambil.
Kentongan pencabut nyawa kembali berkumandang.
"Tok, tok, tok!"
Tiga kentongan!
Yaa,m tiga kentongan!
Ketiga kentongan tersebut dibunyikan dengan ujung golok yang tajam....
Tangan Tio Bu Ki sudah basah, basah oleh keringat dingin.
Dia bukan tidak merasa takut namun sekalipun takutnya setengah mati tak nanti dia akan mengambil langkah seribu.
Liu sam keng memandangnya dengan dingin lalu menegur dengan suara yang paling menggidikan hati.
"Bacokan ini harus kujatuhkan dibagian yang mana?"
"Aaaai...apakah aku masihn mempunyai hak untuk menentukan pilihan sendiri?"
Bisik Tio Bu Ki sambil menghela napas.
"Tidak ada!"
Cahaya golok berkelebat lewat, sesosok tubuh ikut terkapar di tanah.
Bacokan itu bersarang telak diatas tekukannya walau bukan bacokan yang terlampau berat.
Namun ujung golok yang tipis dan tajam itu telah memenggal kutung urat nadi besar dibelakang tengkuk disebelah kirnya, darah telah memancar kemana mana, hampir mencapai seluar satu kaki malah.
Darah...darah...yaa, itulah dara yang pucat kehijau hijauan.
Ahen!
Kenapa darahitu pucat kehijau hijauan?
Apakah didalam darah terlampau banyak racunnya?
Dalam darah Tio Bu Ki tiada racunnya.
Bacokan itu juga tidak mengena ditubuhnya.
Ketika sinar golok berkelebat lewat, ia sudah bersedia menerimanya dengan hati yang pasrah tapi kilatan cahaya golok itu tidak mampir ditengkuknya melainkan tengkuk Tok pousat.
Tok pousat tidak menghindar, bukan dia tak mau menghindar, hanya sewaktu niat untuk menghindar menysusp ke dalam benaknya keadaan sudah terlambat.
Mimpipun tak pernah ia sangka bacokan tersebut akan mampir ditengkuk kirinya.
Hek popo dan putranya juga tidak menduga lebih lebih Tio Bu Ki yang telah siap menerima bacokan tersebut.
Dengan mata terbelalak lebar, dengan pandangan yang amat jelas mereka saksikan Tok pusat terkapar ditanah, mereka menyaksikan pula darah berwarna pucat kehijau hijauan meleleh dari ujung golok dan menetes ke atas tanah.
Sekalipun semua adegan mereka saksikan dengan jelas, meskipun semua peristiwa mereka ikuti dengan mata kepala sendiri, namun mereka masih tak paham, mereka tak tahu apa gerangan yang telah terjadi.
"Apakah tidak kau sadari bahwa bacokanmu salah sasaran?"
Bisik Tio Bu Ki tak tahan.
"Selama hidup hanya sekali aku melakukan kesalahan!"
Jawab Liu sam keng tegas. Tentu saja kesalahan tersebut bukan dilakukan sekarang ini. Sebab semenjak biji matanya dicukil orang, ia tak pernah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
"Tapi yang hutang sebuah bacokan adalah aku bukan dia!"
Sela Tio Bu ki lagi.
"Meskipun kau yang berhutang sebuah bacokan dariku, toh sudah kau sanggupi sendiri, aku bebas membacokkan golokku ke bagian manapun"
"Yaa, tapi tidak seharusnya kau serangkan bacokan tersebut diatas tubuhnya"
"Bacokan ini sudah sewajarnya kalau dibacokan diatas tubuhnya"
"Kenapa?"
"Karena hari ini kau tak boleh mati dan tidak pantas mati! Yang pantas mati bukan kau melainkan dia!"
Tubuh Tok pousat yang tergeletak ditanah sudah tak berkutik lagi, ular ular beracun yang berada dalam karung goni di punggungnya masih bergerak malah.
Seekor ular beracun merambat keluar dari karung, menyusup ke permukaan tanah dan mendekati genangan darah, dengan mulutnya yang berbisa ia menghisap darah itu, darah yang berbisa.
"Bukankah dipunggungnya ia menggembol karung goni?"
Liu sam keng telah bertanya lagi.
"Benar!"
Tio Bu Ki membenarkan "Apa isi karung goni itu?"
"Tentu saja ular!"
"Berapa ekor jumlahnya?"
"Kecuali dua ekor yang sudah mampus, masih ada tujuh ekor ular hidup"
"Apakah ketujuh ekor ular tersebut sudah merangkak keluar semua dari karung goni itu?"
"Yaa, sudah"
"Tapi aku yaking karung itu belum kosong"
Betul! Karung goni itu belum kosong. Tok pusat roboh tertelungkup ditanah, karung goni itu berada dipunggungnya tampak tersembul keatas, meski semua ular berbisa telah merangkak keluar.
"Kenapa tidak kau buka karung goni itu dan memeriksa apa gerangan isi yang masih tertinggal itu?"
Kata Liu sam keng lagi.
"Biar aku yang periksa!"
Sela Hek popo cepat.
Dengan busur emasnya dia mencukil karung goni itu, belasan biji kelereng sebesar buah jeruk segera menggelinding keluar dan terjatuh diatas genangan darah.
Dimana kelereng kelereng itu bergelindingan, disana pula kawanan ular beracun itu kabur terbirit birit.
Sebenarnya Tio Bu Ki masih keheranan, dia tahu Tok pusat mempunyai kepandaian menaklukan ular yang sangat lihay.
Dia adalah seorang pawang ular yang boleh diandalkan, tapi anehnya kenapa kawanan ular beracun yang berada di karung goni masih kelabakan seperti tak tenang?
Sekarang, Tio Bu Ki baru tahu mengapa bisa demikian.
Tentu saja ular ular beracun itu tak tenang, pasti ular tesebut membentur benda benda seperti kelereng itu, sebab ular dengan kelereng itu ibaratnya manusia dengan ular berbisa.
Dengan busur emasnya kembali Hek popo mencukil sebutir kelereng dari atas genangan darah.
Ia tidak berkata apa apa dan tak perlu mengatakan apa apa, sebab antara ibu dan anak berdua seperti mempunyai suatu kontak batin yang hebat, sekalipun tidak berkata apa apa namnun kedua belah pihak sama sama dapat memahami maksud lawannya.
Begitulah, ketika ia mencukil bulatan besi itu ke atas, putranya asegera membidikkan anak panahnya ke depan.
"Creeet....!"
Sebatang anak panah menyambar ke arah bulatan besi itu dan menghajarnya telak. Benda tersebut segera hancur berkeping keping bau harum campuran antara apotas dan belirang segera tersebar dimana mana.
"Coba kalian perhatikan, bau apakah ini?"
Kata Liu sam keng kemudian. Hek popo masih berpikir, tapi Tio Bu Ki telah menjawab dengan cepat.
"Aaah...itu kan pek lek!"
Pek lek adalah suara guntur yang bisa menggetarkan seluruh bumi, serentetan cahaya kilat.
Pek lek tidak harum pun tidak berbau, kau dapat membayangkan, dapat melihat tapi tak dapat tercium.
Tapi aneh, kenapa Tio Bu Ki dapat menciumnya?
Sebab Pek Lek yang dimaksudkan bukan kilat dan guntur yang mneggelegar diangkasa.
Pek lek yang dia maksudkan adalah sejenis senjata rahasia yang maha dahsyat.
"Yaa, itulah sejenis senjata rahasia yang dapat merenggut nyawa manusia secara mudah, sejenis senjata rahasia yang dapat merontokan nyali siapapun. Hek popo adalah seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, pengalamannya sangat luas. Sejak berusia enam belas tahun ia sudah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, kini usianya telah mencapai enam puluh satu. Sepanjang hidupnya, ia pernah kawin tiga kali. Suami suaminya kebanyakan adalah ahli dalam melepaskan senjjata rahasia, dan ia sendiri termasuk juga diantara tiga puluh orang ahli senjata rahasia yang paling tersohor dalam dunia persilatan dewasa itu...busur dan anak panah termasuk juga sejenis senjata rahasia. Walaupun demikian, ia tidak begitu paham tentang jenis senjata rahasia ini, malah jauh dibawah pengetahuan Tio Bu Ki. Hal ini tak aneh, sebab Pek lek tong adalah sejenis senjata rahasia yang berdiri manunggal. Nama Pek lek tong cukup menggetarkan seluruh dunia persilatan. Ketenaran ini sebagian besar disebabkan mereka memiliki jenis senjata rahasia tersebut. Pemilik Pek lek cu tong yang bernama Liu Ceng thian bisa menduduki urutan kedua diantara tiga puluh ahli senjata rahasia didunia, hal inipun disebabkan karena dia memiliki senjata rahasia itu. Tentang segala sesuatu yang bersangkutan dengan senjata rahasia tersebut, tetap anak murid Tay hong tong mengetahuinya dengan jelas sejak masih kanak kanak mereka sudah mendapat petunjuk tentang hal ini. Sebab Tay hong tong dan Pek lek tong adalah musuh buyutan yang sudah bermusuhan turun temurun. Hingga kini kedua belah pihak masih dapat bertahan, ini semua disebabkan karena kedua belah pihak sama sama telah menjajaki kekuatan lawan. Kedua belah pihak tahu kekuatan yang dimiliki musuh hingga tak berani bergerak secara sembarangan. Mengikuti hancuran bahan peledak, panah perak tadi melesat ke samping dan..."Creeet!"
Menancap diatas tiang loteng, bulu bulunya yang berwarna perak bergetar keras. Dengan membawa perasaan kagum Hek popo melirik sekejap ke arah putranya kemudian baru berpaling seraya bertanya.
"Inikah yang dinamakan Pek lek?"
"Tak mungkin salah"
Jawab Tio Bu Ki. Ia yakin seyakin yakinnya kalau ucapan tersebut tak salah.
"Tapi mengapa tiada kedahsyatan Pek lek seperti yang digembor gemborkan orang?"
Hek popo keheranan.
"Sebab diatas tanah terdapat genangan darah beracun"
Sela Liu sam keng.
Pelan pelan ia membungkukkan badan, dijepitnya sebutir Pek lek cu, yang menggelinding ke sisi kakinya dengan japitan dua jari.
Walaupun dia tidak melihat, ia dapat mendengar.
Ia dapat mendengar suara angin menggoyangkan daun dan ranting, ia mendengar suara Pek lek cu yang menggelinding keluar, diapun mendengar suara busur serta anak panah yang menyambar....bukan begitu saja, setiap suara yang timbul dari daerah seluar tiga puluh kaki disekelilingnya tak akan lolos dari telinganya.
Pek lek cu itu kelihatan begitu segar lagi kering seperti buah yang baru dipetik dari atas pohon.
Liu sam keng menyentil dengan ujung jarinya..."Sreeet...!"
Secepat sambaran petir Pek lek cu itu meluncur ke depan.
Sentilan jarinya ibarat sebuah busur berpegas tinggi yang dapat melontarkan tiga ratus biji batu sekaligus, benda peledak itu terlempar sejauh puluhan kaki, melewati kebun bunga yang lebar dan membentur diatas batu gunung gunung disudut halaman sana.
"Blaaar...!"
Suatu ledakan dahsyat yang menggelegar di udara, batu dan pasir beterbangn di angkasa membuat pemandangan menjadi kabur.
Paras muka Hek popo berubah hebat, akhirnya ia menyaksikan juga kedanhsyatan Pek lek cu, sekarang ia membuktikan sendiri bahwa Pek lek cu adalah benda yang amat menakutkan, jauh lebih menakutkan dari apa yang pernah didengar sebelumnya.
Segulung angin berhembus lewat membawa bau apotas dan belirang, seakan akan tertawa juga bau harum bunga yang sangat aneh.
Tidak lazim dalam Pek lek cu terdapat pula harum bunga yang demikian aneh...
"Eeeeh...coba diperhatikan, aneh benar! Bau harum apa ini"
Bisik Tio Bu Ki keheranan.
"Kenapa tidak kau hampiri tempat ledakan itu untuk memeriksa sendiri...?"
Li sam keng balik bertanya.
Tio Bu Ki tak perlu ke sana untuk memeriksa sendiri, sebab paras mukanya telah berubah hebat.
Segumpal serbuk halus tersebar luas di atas kumpulan bunga Bo tan yang sedang mekar, tiba tiba bunga Bo tan yang segar itu menjadi layu, lalu rontok ke tanah dan berubah menjadi hitam pekat.
"Haaa! Hian khi pek tok! ( seratus racun hawa harum)"
Pekik Ti oBu ki amat terkejut.
Sedikitpun tak salah, rupanya dalam bahan peledak tersebut telah dicampuri bubuk racun yang menyiarkan bau harum.
Apabila darah beracun yang menggenangi tanah tidak memunahkan dulu racun yang terkandung dalam beahan peledak tersebut, sebaran racun keji dari ledakan tadi sudah cukup untuk merenggut nyawa kita semua"
Demkian kata Li sam keng.
Kendatipun kali ini ledakan tersebut terjadi pada suatu wilayah sejauh tiga puluh kaki dari mereka berada, walaupun arah angin tidak berhembus ke arah mereka, namun beberapa orang it toh merasakan juga kepalanya menjadi pening, perut menjadi mual dan seperti mau tumpah.
"Jangan lupa!"
Kembali Liu sam keng berkata,"
Racun dari Tok pousat bukan hanya bisa menolong orang, racun itu dapat pula diapaki untuk merenggut nyawa manusia!"
Tentu saja sekantong bahan peledak berisi bubuk beracun itu disediakan untuk menghadapi para tamu yang akan datang minum arak ekgirangan dari perkawinan Tio Bu Ki.
Orang orang yand dapat diundang Tio Kian untuk mendatangi perkampungan Ho hong san ceng, sudah barang tentu adalah inti kekuatan dari Tay hong ton.
Cukup sepercik kilatan api sudahlebih dari cukup untuk mledakkan tiga empat biji Pek lek cu itu, sudah barang tentu seluruh ruang tengah perkampungan Ho hong san ceng akan bermandikan cahaya lampu pada hari ini, tentu banyak pula lampu lentara serta cahaya lilin yang ikut menyemarakkan suasana.
Andaikata Tok pusat sampai ikut menyusup ke dalam ruangan, cukup ia meletakkan sebuah lampu lentera disisi dua tiga biji Pek lek cu, bila suhu panas yang dipancarkan oleh lentera itu cukup melelehkan lapisan lilin diluar benda itu bayangkan sendiri apa akibatnya bila dua tiga biji baha peledak itu meledak bersama?
Terbayang sampai kesitu hampir saja seluruh pakaian yang dikenakan Tio Bu Ki basah kuyup oleh keringat dingin.
"Tentu tak pernah kau sangka bukan jika Tok pusat telah menggabungkan diri dengan pihak Pek lek tong?"
Tanya Liu sam keng. Memang, Tio Bu Ki tak pernah menyangka sampai kesitu.
"Dan kau, tentunya tak akan menyangka bukan kalau mereka berani turun tangan sekeji ini terhadap orang orang dalam perkampungan Ho hong san ceng kata Liu sam keng lebih lanjut. Yaa, mereka berani berbuat demikian pada hakekatnya sama artnya dengan suatu tantangan perang terbuka kepada pihak Tay hong tong. Bila pertempuran sampai berkobar, pertempuran itu pasti merupakan suatu pertempuran yang menentukan mati hidup mereka, kesengitan dan kedahsyatannya hampir tak terbayangkan oleh Tio Bu Ki.
"Sekalipun usaha mereka untuk melakukan sabotase mengalami kegagalan, kerugian yang mereka derita paling cuma Tok pusat seorang"
Kata Liu sam keng.
"Dia bukan tulang punggung Pek lek tong, bahkan mungkin mereka tak pernah memperhatikan soal mati hidupnya dihati"
Sebaliknya jika peristiwa ini sampai berhasil mereka lakukan, maka kemungkinan besar segenap inti kekuatan dari Tay hong ton akan hancur dan musnah.
Tio Bu Ki mengepal sepasang tangannya kencang kencang, katanya dengan suara keras.
"Padahal rencana itu berhasil atau tidak, akibatnya adalah sama saja..."
"Kenapa?"
"Sebab bila mereka sampai berani berbuat demikian, itu berarti mereka sudah berencana untuk melangsungkan pertempuran terbuka dengan kami"
Setelah berhenti sejenak, dengan suara yang lebih emosi dan nada yang lebih berat dia melanjutkan.
"Beribu ribu anggota Tay hong tong kami tidak akan jeri atau mundur karena takut!"
Dalam perkumpulan Tay hnong tong cuma ada pahlawan yang berani bertempur sampai mati tak pernah ada kurcaci yang penakut dan bernyali seperti tikus.
Hampir saja dia seperti melinhat anak murid Tay hong tong sedang melangsungkan pertarungan sengit diantara dentuman dentuman keras yang menggentarkan sukma.
Diantara sekian banyak orang, ada para cianpwe yang dihormati, ada pula sahabat sahabat karibnya.
Setiap saat mungkin mereka akan mati bersamanya, menderita bersamanya....
Ia sendiripun telah bersiap sedia untuk berbuat demikian.
Mungkin saja mereka tidak memiliki keyakinan untuk menang, tapi bila pertempuran telak berkorban, siapa lagi yang akan memperdulikan mati hidup, menang atau kalah?
Ia percaya anggota Tay hong ton pasti dapat berbuat demikian.
Tiba tiba Liu sam keng untuk pertama kalinya dia tertawa, dengan terkejut Tio Bu Ki memandang ke arahnya, dia tak habis mengerti kenapa dia bisa tertawa.
"Aku sedang mentertawakan kau!"
Liu sam keng menerangkan.
"Mentertawakan aku?"
Kenapa mentertawakan aku?"
"Sebab kembali kau berbuat salah"
Ia tidak memberi kesempatan kepada Tio Bu Ki untuk buka suara, kembali ujarnya.
"Kini Tok pusat telah mati, Ho hong san ceng juga aman tenteram tak kekurangan sesuatu apapun, maka peristiwa ini pada hakekatnya seperti tak pernah terjadi, pihak Pek lek tong hanya berani mengutus manusia semacam Tok pusat untuk menjalankan misinya, ini disebabkan mereka pribadi tak berani bergerak secara gegabah, sekalipun ada orang menanyakan persoalin ini kepada mereka, belum tentu mereka akan mengakui kalau peristiwa ini adalah ide mereka"
"Tapi...."
"Sudah tiga puluhan tahun lamanya Tay ho tong berhadap hadapan dengan mereka sebagai musuh bebuyutan, dan keadaan ini mungkin akan berlangsung dua tiga puluh tahun lagi, bahkan mungkin saja dikemudian hari permusuhan ini akan berubah menjadi persahatan. Apa gunanya kau berpikir terlalu panjang?"
"lantas apa yang harus kulalukan sekarang?"
"Kau harus lebih banyak memikirkan pengantinmu yang cantik lagi lembut itu, kau harus memikirkan juga sahabat sahabat baik kalian yang khusus datang ke Ho hong san ceng untuk minum arak kegiranganmu"
Mencorong sinar terang dari mata Tio Bu Ki, bagaimanapun juga dia masih sangat muda. Sebernya dia termasuk seorang pemuda yang berperasaan panas, gampang marahnya tapi gampang pula menjadi gembira.
"Oleh karena itu sekarang kau harus menunggang kuda yang paling cepat untuk pulang ke rumah"
Kata Liu sam keng lebih lanjut "
Gantilah baju pengatinmu dan langsungkan upacara perkawinanmu di ruang perkawinan...!"
"Tapi aku..."
"Kini kau tidak lagi berhutang kepadaku, demikian pula dengan Hek popo, kalau kau tidak cepat berangkat, kalau masih ingin membiarkan pengantinmu gelisah, jangan salahkan kalau aku menjadi marah"
"Dan aku pasti akan lebih marah!"
Hek popo menambahkan.
Tio Bu Ki memandang sekejap ke arahnya, lalu memandang pula ke arah Liu sam keng, tiba tiba ia merasa didunia ini seakan akan penuh dengan orang baik, dimanapun juga dia dapat bertemu dengan orang baik.
Yaa, bagaimanapun juga dunia ini penuh dengan kehangatan, bagaimanapun juga kehidupan adalah suatu keindahan yang indah, suatu kejadian yang menyenangkan.
Dia tertawa kembali...ia gembira sekali....
Bencana rupanya masih jauh dari dirinya, masa depan yang penuh kehangatan, penuh kasih sayang seakan akan sudah terbentang lebar dihadapan matanya.
Ia melompat bangun dan berteriak.
"Baik, sekarang juga aku berangkat!"
"Oya, masih ada satu hal yang perlu kau ingat baik baik"
Liu sam keng kembali memperingatkan.
"Soal apa?"
"Kau harus ingat baik baik, jangan sampai diloloh orang hingga menjadi mabok!"
Sekulum senyum tersunggin diujung bibirnya "Ketahuilah seorang pengantin perempuan tak akan suka menerima seorang suami yang sudah mabok kepayang pada malam pertamanya"
"Tepat sekali perkataan itu"
Hek popo menambahkan. TIba tiba mukanya yang tua reyot seakan akan menjadi muda kembali.
"Aku masih teringat sewaktu menjadi pengantin dulu, saking gemasnya aku telah menendang suamiku yang mabok hebat ke dalam kolong pembaringan, bahkan paling sedikit selama tiga hari aku segan bercakap cakap dengannya"
Selapis warna merah menghiasi pipinya sambil tertawa ringan ia menambahkan.
"Untungnya ada perbuatan yang dapat berlangsung juga sekalipun tanpa berbicara"
Li sam keng terbahak bahak mendengar perkataan ini. Tio Bu Ki percaya, sepanjang hidupnya kemungkinan besar belum pernah ia tertawa terbahak bahak sekeras ini. Tentu saja Tio Bu ki juga tertawa.
"Akan kuingat selalu, bila ada orang meloloh diriku dengan arak, maka aku..."
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Sela Hek popo Jawab Tio Bu Ki sambil mengerdipkan matanya.
"Aku bersiap siap untuk bersembunyi dikolong ranjang lebih dulu, sebab kan lebih enak masuk sendiri ke kolong ranjang dari pada ditendang orang lain,betul tidak?"
"Haaaahhh...haaahhh....haaahhh...suatu ide yang sangat bagus!" ....................................... Hutang telah terbayar lunas, persoalan telah menjadi beres, dan lagi kini masih tengah hari. itu berarti masih ada waktu untuk pulang kerumah. Perasaan Tio Bu Ki ketika itu sungguh bebas, riang dan gembira... Satu hal yang membuat dia sangat gembira adalah, Hiang hiang! Nona cantik itu bukan saja tidak menghalangi kepergiannya, dia malah menuntun kudanya dan menunggu didepan pintu. Kemurungan dan kesedihan memang masih nampak jelas dimatanya, tapi paling sedikit air matanya sudah mengering. Dia menundukkan kepalanya dan berkata dengan lirih.
"Kau bersikeras akan pergi tinggalkan tempat ini, aku tahu menahan kau dtempat inipun tak ada gunanya...toh sekalipun ingin menahan juga tak akan berhasil"
"Terima kasih"
Sahut Tio Bu Ki Perasaannya benar benar merasa berterimna kasih.
Berterima kasih atas kesudiannya untuk memahami dia lebih lebih untuk kebesaran jiwanya untuk memaklumi keadaan sekarang.
Bagaimanapun juga sedikit banyak ia tetap merasa berdosa kepadanya, merasa telah berbuat salah kepadanya.
Tiba tiba Hiang hiang menengadah lalu memandang tajam wajahnya.
"Walaupun demikian"
Begitu katanya.
"Aku tetap yakin, suatu saat, entah kapan...kau pasti akan datang kemari dan menjenguk aku lagi"
Tio Bu Ki menghela napas panjang.
"Aku tak mungkin akan kemari lagi"
Bisiknya lembut.
"Mengapa?"
"Sebab datang kemari hanya akan menambah kemurungan serta kekesalan dalam hati kita masing masing, apa gunanya aku datang kemari lagi? Setiap orang, setiap manusia, dikala dia masih muda tentu pernah melakukan perbuatan yang melanggar peraturan. Pemuda manakah yang tidak romantis? Pemuda manakah yang tidak haus akan bercinta? Namun ia sudah memutuskan, ia harus menjadi suami yang baik, seorang suami teladan. Dan apa yang telah diputuskan harus dilaksanakan sebaik baiknya, walau dengan pengorbanan.
"Tapi aku tidak percaya"
Kata Hiang hiang lagi sambil menggigit bibir.
"Kau tidak percaya?"
"Aku tidak percaya kalau kau tak akan melihat perempuan lain, aku tak percaya selamanya kau tak akan berbuat demikan"
"Kecuali orang buta atau manusia munafik, seorang laki laki yang normal akan selalu tertarik untuk melihat perempuan cantik, siapapun tak akan terkecuali termasuk pula diriku"
"Tapi aku hanya melihat saja, yaaa....cuma terbatas pada melihat saja, lain tidak!"
Hiang hiang tak mau menyerah dengan begitu saja kembali dia berkata.
"Aku tidak percaya hanya mengandalkan dia seorang, maka selamanya kau dapat dikekang, kau dapat dikendalikan olehnya!"
"Mungkin dia memang tak dapat mengendalikan aku, dia tak dapat pula mengekang kebebasanku, tapi aku yaking dikemudian hari pasti ada seseorang akan membantunya untuk mengekang diriku"
"Masa orang itu dapat mengekang kebebasanmu?"
"Dia pasti dapat! Sebab hanya dia yang mampu mengekang diriku!"
"Siapakah dia?"
"Aku sendiri!" ------------------------------------Wi Hong Nio duduk di depan toliet, diam diam ia merasa puas..., puas sekali terhadap diri sendiri. Ia memang seorang gadis yang amat cantik, terutama hari ini, kelihatan begitu semarak, begitu mentereng dan begitu cantik.... Dihari hari biasa, jarang sekali ia kenakan pakaian sementereng ini, wajahnya jarang pula memakai bedak, apalagi gincu. Selamanya ia pandai mengekang diri, pandai mengatur diri. Ia tahu, hanya seorang perempuan yang pandai mengatur diri yang pantas untuk menjadi menatunya keluarga Tio. Sejak ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Tio Bu Ki, ia sudah mengambil keputusan untuk menjadi menantunya keluarga Tio. Dan sejak hari itu pula ia telah menetap target bagi dirinya, suatu target kemampuan yang harus dicapainya dalam waktu singkat. Maka dia mulai belajar membuat masak masak, belajar pula bagaimana cara mengatur rumah tangga. Sayur yang dimasaknya sekarang boleh dibandingkan dengan hasil masakan dari koki terkenal pun yang ada didunia ini. Pakaian yang ia buat dapat dikenakan oleh siapapun dengan pas tanpa keluhan, siapapun akan merasa enak memakai baju jahitannya. Sekalipun seorang tukang kritik, mau tak mau harus mengakui bahwa dia memang seorang istri yang andal. Semua perjuangannya ternyata memang tidak sia sia, semua ketekunan dan usahanya tidak terbuang dengan percuma. Bagaimanapun juga, kini ia sudah masuk kedalam keluarga Tio, ia sudah menjadi orangnya keluarga Tio. Itu semua bukan berarti ia sudah bersiap sedia menjadi seorang nyonya besar yang congkak. Tidak! Ia tidak mau menjadi manusia semacam itu, dia malah sudah bertekad dikemudian hari akan menjadi seorang menantu yang baik bagi keluarga Tio, agar Tio Bu Ki selamanya tak akan menyesal karena memperistri dirinya.... Tio Bu Ki itu ganteng, sehat, pintar, meski wataknya agak jelek, toh dia adalah seorang pemuda yang sangat baik. Bagi pemuda seganteng dia, sebaik dia, sudah barang tentu banyak gadis yang terpikat kepadanya, banyak pula yang jatuh cinta kepadanya. Diapun tahu, dahulu pernah romantis pernah royal, dalam soal percintaan. Bahkan diapun tahu dia mepunyai seorang gadis simpanan yang bernama Hiang hiang. Tapi ia sudah memutuskan bahwa semua kejadian yang sudah lewat akan dilupakan dengan begitu saja, sebab diapun percaya sejak kini ia dapat dilupakan, ia dapat dikuasainya. Iapun dapat melihat kalau dia adalah seorang pemuda jujur, lain kali dia pasti dapat pula menjadi seorang suami yang jujur. Bisa kawin dengan seorang suami baik itu siapakah yang tidak puas? Apalagi yang diharapkan seorang gadis biasa? Walaupun demikian, ia sedikit agak tegang apalagi terbayang malam nanti...malam pertamanya setelah perkawinan...membayangkan pembaringan yang begitu besar, mereka akan berduaan...jantungnya akan berdebar pikirnya...seperti juga sekarang, jantungnya berdebar keras... Sesungguhnya ia bukan benar benar kuatir, setiap gadis akan mengalami peristiwa malam pertama, apa yang mesti dikuatirkan? Hanya satu hal yang ia betul betul kuatirkan, sejak pagi tadi Tio Bu Ki telah keluar rumah, hingga sekarang dia belum kembali. Kini hari sudah mulai malam, upacara perkawinan segera akan dilangsungkan. Ia bukan cuma kuatir, hatinya mulai gelisah. Untung pada saat itu jerit kegirangan dari Cian Cian sudah kedengaran.
"Bu Ki telah pulang!"
Tio Cian Cian adalah adiknya Tio Bu Ki.
Seperti juga kakanya, dia adalah seorang gadis yang lincah, pintar dan cantik.
Bukan saja dia tersohor sebagai gadis rupawan, diapun seorang pendekar wanita yang punya nama dalam dunia persilatan.
Sejak masih kecil, ia sudah mulai belajar pedang.
Banyak jago lihay dari Tay hong tong yang keok ditangannya, malah kakaknya juga pernah dia kalahkan.
Tentu saja dia tahu kalau kakaknya sengaja mengalah, meski begitu dia toh sangat gembira.
Tahun ini dia berusia tujuh belas tahun, masa berkembangnya gadis remaja.
Bagi dirinya, kehidupan manusia ibaratnya arak wangi yang manis dan segar, arak manis yang menunggu orang untuk mencicipinya.
Tapi diapun mempunyai rahasia hati.
Yaa, siapa bilang seorang gaid berusia tujuh belas tidak mempunyai rahasia hati?
***** Sebetulnya ia selalu hidup dengan hati yang riang gembira, hingga pada suatu senja.
Hari itu musim semi, ia duduk seorang diri di kebun belakang, sambil menikmati keindahan bunga serta langit nan biru.
Tiba tiba ia merasa kesepian.
Pada umumnya hanya ada satu cara untuk melenyapkan kesepian yang dialami gadis remaja...yaitu dicintai dan diperhatikan oleh seorang pria yang dicintainya.
Tapi ia belum berhasil menemukan pria seperti ini.
Sebab ia selalu beranggapan di dunia ini hanya ada dua orang laki laki sejati, mereka adalah ayahnya dan kakaknya.
Sedang laki laki lain tak pernah ia pandang sebelah matapun.
Seandainya dia masih mempunyai ibu, isi hatinya dapat dia ungkapkan kepada ibunya, sayang ibunya sudah lama meninggal dunia.
Ia memang rapat hubungannya dengan ayahnya toh itupun masih terdapat suatu perbedaan suatu jarak pemisah yang tak mungkin bagi mereka untuk berhubungan lebih rapat.
Hanya ada seorang yang bisa berhubungan akrab, dia adalah kakaknya.
Tapi sekarang kakaknya hampir menikah, ia pasti akan kesepian kembali.
Kesepian...kesepian...suatu kejadian yang mengerikan!
Sejak pagi Bu Ki telah pergi, hingga kini ia belum juga kembali tentu saja dia yang paling kuatir.
Sebab hanya dia yang tahu kemana pemuda itu pergi.
Diantara mereka berdua selamanya tak pernah ada rahasia apa apa.
"Aku hendak membayar hutang, dan aku harus pergi, tapi ada sementara hutang yang belum tentu bisa kubayar, maka jika sampai malam nanti aku belum juga kembali, itu berarti kemungkinan besar aku tak akan kembali untuk selamanya."
Ia tidak berusaha untuk menghalanginya, dia pun tidak mencoba untuk menasehatinya.
Karena dia paling memahami watak kakaknya.
Ia tahu tidak adalah seorang laki laki, bila ia sudah mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu pekerjaan, maka jangan harap niatnya bisa dicegah, apalagi dinasehati.
Justru karena itu, dia selalu bangga, ia selalu merasa kagum oleh kehebatan kakaknya itu ***** Sejak senja menjelang tiba, ia sudah menunggu, berdiri diluar pintu kebun sambil menantikan kedatangannya.
Kini hari sudah mulai gelap, tapi ia belum nampak juga, hatinya mulai gelisah, perasaannya mulai cemas.....
Pada saat itulah ia saksikan seseorang melarikan kudanya seperti orang kesetanan, dengan kecepatan paling tinggi ia menerjang masuk kelorong sempit di belakang kebun.
Sekalipun ia belum melihat jelas bagaimanakah rupa wajah orang itu, tapi dia tahu siapakah orang itu.
Hanya Bu Ki yang akan segila ini, hanya Bu Ki yang bisa melarikan kudanya seperti orang kesetanan.
Ia melompat bangun dan bersorak kegirangan.
"Bu Ki telah pulang!"
Bu Ki sedang tukar pakaian.
Tiada waktu baginya untuk membersihkan badan lagi, ia mulai tukar pakaian dan mengenakan pakaian pengantinnya.
Badannya masih basah oleh keringat busuk, sepasang kakinya bukan saja linu, sakitnya bukan kepalang, malah kulit kakinya sudah lecet kena lali kuda.
Ia pulang dengan menunggang seokor kuda jempolan yang bisa lari cepat, walaupun begitu sekarang kuda itu sudah roboh terkulai.
Masih untung kuda itu baru roboh sekarang, coba ditengah jalan tadi...
Sekarang dia baru merasa, untuk menjadi seorang pengantin, bukan suatu pekerjaan yang amat gampang.
Sejak berganti pakaian pengantin ia sudah merasakan kesulitan.
Dulu tak pernah ia sangka kalau pakaian pengatin adalah pakaian yang paling repot untuk dikenakan, jauh lebih repot daripada seorang nona cilik mengenakan baju bonekanya.
Untung dia masih bisa bersabar, sebab dia tahu sepanjang hidup paling banyak hanya sekali mengalaminya.
Tiga orang sedang membantunya mengenakan pakaian.
Sebetulnya tiga orang perempuan yang akan membantunya, tapi ia bersikeras minta dibantu seorang lelaki.
Meski begitu, dalam ruangan masih ada seorang gadis.
Walaupun dalam pandangannya gadis itu tak bisa terhitung sebagai gadis namun dalam pandangan pria lain, dia adalah seorang gadis yang betul betul cantik, seorang gadis yang benar benar berperawakan aduhai, kecuali wataknya sedikit jelek, hampir boleh dibilang dia adalah gadis ditengah gadis.
Cian Cian duduk disudut ruangan, tepatnya diatas lantai sambil menyaksikan ia tukar pakaian.
Sekalipun dalam ruangan tersedia delapan ratus kursi, dia tak akan duduk dikursi kursi itu, sebab dia lebih suka duduk diatas lantai.
Dia paling suka duduk di lantai.
Pakaian akan kotor?
Perduli amat!
Orang lain mengatakan ia tak pantas duduk di lantai, ia tak ambil peduli.
Disinilah letak perbedaannya dengan Wi Hong Nio.
Selamanya Cian Cian hanya akan melakukan pekerjaan yang dia senangi.
Melihat perbuatan adiknya itu, Bu Ki cuma bisa menggeleng sambil mengeluh.
"Coba lihat caramu duduk, bagaimana mungkin orang akan memperistri gadis macam kau?"
"Hmm...! Perduli amat"
Cian Cian lalu mendengus dengan gemas.
"Buat apa kau urusi aku bakal kawin atau tidak? Yang pasti aku toh tak akan kawin denganmu!"
Bu Ki tertawa getir. Yaaa...kecuali tertawa getir, apalagi yang dapat dia laukan? Dengan perasaan tidak puas Cian Cian kembali berkata.
"Bayangkan saja laki laki macam kaupun dapat mempunyai bini, kenapa aku tak laku kawin?"
"Tapi kau seorang perempuan"
Bantah Bu Ki.
"Sedikit banyak kau harus mempunyai potongan sebagai seorang perempuan!"
Cian Cian menyibirkan bibirnya.
"Kalau perempuan, lantas harus seperti apa? Seperti Hiang hiangmu itu...?"
Menyinggung soal Hiang hiang, Bu Ki tak dapat berbicara lagi. Sekali berhasil dengan ucapannya Cian Cian mendesak lebih lanjut.
"Apakah dia sungguh amat harum? Sampai dimana harumnya?"
Rupanya gadis itu mempunyai minat yang sangat besar terhadap persoalan itu, terpaksa Bu Ki harus mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain.
"Banyakkah yang datang pada hari ini?"
Demikian ia bertanya.
"Ehmm, banyak sekali!"
"Siapa saja yang datang?"
"Yang semestinya datang pada tidak datang, yang semestinya tidak datang telah berdatangan"
Dengan ujung matanya Bu Ki mengerling sekejap adiknya, kemudian ia berseru.
""Aku tahu, putranya Toa toaya pasti tidak datang!"
"Dari mana kau bisa tahu?"
Tanya Cian Cian keheranan. Sengaja Bu Ki memperlihatkan sekulum senyuman yang misterius.
"Sebab dia semestinya harus datang"
Merah padam air muka Cian Cian karena jengah.
Toa toaya adalah orang nomor satu yang paling berkuasa dalam perkumpulan Tay hong tong, orang persilatan mengenalinya sebagai seorang tokoh yang amat cerdas, Sugong Siau hong namanya.
Ia mempunyai seoang putra yang bernama Sugong Ki.
Perhatian Sugong Ki terhadap Tio Cian Cian boleh dibilang sudah bukan merupakan rahasia lagi bagi setiap orang.
Bu Ki sangat bangga.
Sekarang ia berhasil juga untuk membungkam adiknya yang cerewet ini, meski hanya untuk sementara waktu, sayang dia lupa, dia lupa kalau dia sendiripun mempunyai rahasia yang sudah bukan merupakan rahasia lagi.
Cian Cian memutar biji matanya, lalu secara tiba tiba menghela napas.
"Aaaai....sayang, sungguh amat sayang!"
"Apanya yang sayang?"
Tanya Bu Ki keheranan.
"Sayang ada seorang yang tidak datang"
"Siapa?"
"Seorang yang sebenarnya harus datang!"
"Siapakah orang itu?"
"Lian lian yang patut dikasihani!"
"Apa urusannya denganku? Jangankan berbicara, bertemu muka saja belum pernah"
"Oleh karena kau belum pernah bertemu muka dengannya, maka aku baru merasa sayang!"
Ia mengerling sekejap wajah kakanya, lalu menambahkan.
"Bukankah kau selalu ingin bertemu dengannya serta menyaksikan bagaimanakah potongan wajahnya?"
Bu Ki tak bisa menyangkal.
Pada hakekatnya dia memang selalu ingin bertemu dengan Lian lian yang patut dikasihani, dia ingin tahu bagaimanakah potongan wajahnya dan bagaimanakah potongan badannya.
Hal ini juga bukan merupakan rahasia lagi....
***** Lian lian yang patut dihasihani adalah putri tunggal dari Sam toaya mereka, Sangkoan Jin!
Ia bernama Lian lian, lengkapnya Sangkoan Lian lian.
Setiap orang tahu kalau dia adalah seorang gadis brilian, seorang gadis yang cantik pula.
Tapi belum pernah ada orang yang pernah berjumpa dengannya.
Mengapa begini?
Sebab semenjak kecil, dia sudah dikirim ayahnya ke bukit Hong san, ada orang bilang ia sedang belajar ilmu.
"Ilmu silat dari Biau hi Sutay yang berdiam di kuil Biau hi koan bukit Hong san, paling cocok untuk anak perempuan"
Sementara orang memang berpendapat demikian. Tapi ada pula sebagian orang berkata bahwa ia pergi untuk merawat penyakitnya akut.
"Sejak dihadirkan ia sudah mengidap suatu penyakit aneh, seperti juga ibunya, kalau tidak beristirahat dan hidup dengan perasaan tenang, umur dua puluh pun sukar dilampaui"
Tapi apakah yang menyebabkan dia pergi?
Tak seorangpun yang tahu, selamanya tak ada yang tahu selamanya tak ada yang berani menanyakan persoaln ini kepada Sangkoan Jin.
Sangkoan Jin, buka seorang yang mudah didekati, lebih lebih tentang masalah putrinya.
Kematian dari istrinya dan kepergian dari putrinya merupakan dua masalah yang pantang baginya untuk ditanyakan.
Bila Sangkoan Jin telah menetapkannya sebagai pantangan, maka berani siapa menyinggung soal itu berarti dia hanya ingin mencari penyakit buat diri sendiri.
Baik dia manusia biasa maupun manusia yang telah dikenalnya.
Konon pemilik Tay hong tong yakni Im loyacu juga mengetahui watak anehnya ini.
Jilid 2________ Menyinggung soal Lian lian, mau tak mau Bu Ki harus mengalihkan kembali pokok pembicaraannya.
"Hari ini apakah si tua sudah minum obat?"
Ia bertanya. Masalah tersebut, selamanya merupakan masalah yang paling mereka perhatikan, sebab "si tua"
Yang dimaksud tak lain adalah ayah mereka. Sebutan "si tua"
Sama sekali tidak mengandung maksud kurang hormat, panggilan itu hanya merupakan pertanda bahwa antara ayah dan anak bertiga sebernya mempunyai hubungan yang sangat akrab, hubungan yang luar biasa yang tak akan dipahami siapaun.
Dalam pandangan orang lain, mungkin ayah mereka adalah seorang manusia yang menakutkan, sebagian besar jago persilatan pasti akan merasa kagum, hormat dan bila menyinggung nama Kim Kiong Kiam (Pedang naga emas) Tio kian.
Tapi dalam pandangan kedua orang itu, bukan saja ia adalah ayah mereka yang tercinta, diapun sekaligus merupakan ibu mereka yang tersayang.
Tio hujin sudah lama meninggal dunia, Tio kian lah yang memelihara mereka hingga menjadi dewasa.
Bila musimn dingin telah tiba, bila salju turun dengan derasnya, dia akan bangun dari tidur untuk menyelimuti anak anaknya.
Bila musim semi tiba, dikala angin berhembus sepoi, dia pula yang menemani putra putrinya untuk bermain layang layang dikebun.
Demi pendidikan serta memelihara putra putrinya ini, jago yang pernah malang melintang dalam dunia persilatan dengan pedang saktinya, serta pernah membantu sahabat karibnya Im Hui Yang untuk mendirikan Tay hong tong ini banyak mengalami perubahan, terutama dalam perubahan soal tabiat...
Walaupun belakangan ini wataknya berubah menjadi jauh lebih baik, namun tubuhnya justru bertambah lemah, ia berubah menjadi gampang lelah gampang kehabisan tenaga.
Bila urusan penting dalam tubuh Tay hong ton telah diselesaikan sering kali seorang diri ia duduk dalam kamar bacanya, ia tak mampu berkata kata karena kelelahan, bahkan kadangkala sekujur badannya mengejang keras, mengejang penuh derita.
Lambat laun putra putrinya mengetahui penderitaanya itu, mereka yakin kalau ayah mereka telah mengindap suatu penyakit yang sangat aneh.
Walaupun dengan bersusah payah putra putrinya berhasil juga memaksanya untuk memeriksakan diri pada seorang tabib, tapi si tua yang keras kepala seringkali tak mau minum obat.
Seringkali dia berkata begini.
"Hanya anak perempuan yang setiap malam minum obat, apakah kalian sudah menganggap diriku sebagai perempuan?"
Meskipun jalan pikiran seperti ini sama sekali tak benar, tapi asal ia bersikeras mengatakan benar, siapa lagi yang dapat merubah pendapatnya itu?"
Cian cian menghela napas ringan katanya.
"Diam diam, obat jatahnya untuk hari ini telah dibuang ke dalam selokan..."
Mendengar itu Bu ki tertawa getir.
"Aku sungguh tak habis mengerti, kenapa ia selalu saja berbuat seperti anak kecil? Hanya anak kecil yang takut minum obat"
"Konon orang yang telah menginjak usia tua, seringkali wataknya tak berbeda jauh dengan anak kecil"
"Apakah Toa sauya berada disini?"
Baik Bu ki maupun Cian cian segera mengenali suara terxebut sebagai suaranya Lo ciang.
Sudah puluhan tahun Lo ciang berdiam dalam gedung keluarga Tio, sejak sebagai seorang kacung bukunya Tio kian, kini dia sudah menjadi congkoannya perkampungan Ho hong san ceng, semula dia mempunyai sepasang kaki yang kuat, malah juara bermain "Kancu" (Sejenis permainan yang terbuat dari bulu ayam) tapi belakangan ini kakinya terserang rhematik, untuk berjalan saja susah apalagi bermain "kiancu"
Walaupun demikian dalam pandangannya sejak dulu, sekarang maupun nanti Tio kian tetap adalah "Toa sauya nya".
Malah panggilan itu tak pernah berubah.
Cian cian melompat bangun dari tanah, membuka daun jendela dan terlihat Lo cian yang selalu tenang, kini tampak agak gelisah meski napasnya sudah tidak tersengkal lagi.
Tak tahan lagi dia bertanya.
"Hei, apa gerangan yang telah terjadi? Mengapa kau tampak begitu gelisah?"
Sambil mengatur napasnya yang sedikit terengah jawab Lo ciang.
"Sugong toaya telah datang dari kota Po ting dan sekarang sedang menanti di ruang tengah untuk bertemu dengan toa sauya, tapi toa sauya tidak diketahui kemana perginya"
"Sudah kau cari?"
"Aku telah mencarinya kesana kemari, bukan saja toa sauya tidak kutemukan, sangkoan samya pun ikut lenyap tak berbekas"
Mendengar kabar tersebut, Cian cian ikut sedikit gelisah.
Sudah hampir empat puluh tahun lamanya Lo ciang mengikuti ayahnya, boleh dibilang semua tempat semua ruangan yang ada dalam perkampungan Ho hong san ceng dikenal olehnya.
Kalau manusia seperti Lo ciang pun tak dapat menemukan siapa lagi yang bisa menemukan?
"Aku bisa menemukannya!"
Tiba tiba Bu ki menyela.
"Masa kau tahu dia ada dimana?"
Lo ciang seperti kurang percaya. Tio Bu ki tertawa lebar.
"Tempat itu hanya aku seorang yang tahu, biar kucarikan untukmu!"
Demikan katanya.
Pemuda itu tak ambil perduli apakah dia sedang berganti pakaian pengantin atau tidak, sekali melompat tubuhnya sudah menerjang ke muka.
Memandang bayangan punggungnya, Lo cian hanya bisa gelengkan kepalanya sambil menghela napas.
"Aaaai.....tabiat siau sauya persis dengna tabiat toa sauya dimasa mudanya dulu!"
Walaupun ia menghela napas, toh sinar matanya adalah sinar mata kagum bercampur girang.
Selama hidupnya, toa sauya tak pernah melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, dan sekarang ia mendapat balasan untuk kebaikannya itu....
Bayangkan saja, siapa yang tidak berbahagia menyaksikan putranya tumnbuh menjadi dewasa, mempunyai istri dan melahirkan anak, siapakah di dunia ini yang tak ingin menimang cucu?
Lo cian hanya berharap siau sauyanya bisa cepat cepat menemukan toa sauya, lalu upacara perkawinan dilangsungkan dan sepasang pengantin masuk ke kamar.
Bila ucapan telah selesai, diapun bisa menemui rekan rekannya untuk minum arak sampai puas.
Cian cian kelihatan sedikit tak puas, dengan hati mendongkol ia berseru.
"Aku tidak percaya kalau ditempat ini terdapat suatu tempat yang tidak kuketahui."
"Aaaaiii,,,ada sementara tempat memang tidak seharusnya kita ketahnui.."sela Lo ciang.
"Kenapa?"
"Sebab tempat itu pasti merupakan tempat rahasia dimana toa sauya biasanya menyelesaikan urusan perkumpulan, sauya selalu pandai memisahkan antara tugas umum dan kepentingan pribadi, tentu saja tempat rahasia semacam itu tak boleh kita ketahui"
"Lantas, kenapa Bu ki bisa tahu?"
"Siau sauya adalah ahli waris dari toa sauya setelah toa sauya mengundurkan diri lain hari, dialah yang akan meneruskan karier serta perjuangan toa sauya, sebab itu sudah sepantasnya kalau siau sauya ikut mengetahui segala sesuatu."
"Apa yang dia andalkan sehingga cuma dia seorang yang boleh tahu?"
Teriak Cian cian tidak puas.
"Masa aku bukan anak kandung ayah?"
"Oooh...Sudah barang tentu kau adalah anak kandung toa sauya! Cuma, bagaimanapun juga kau toh seorang perempuan"
"Kalau perempuan lantas kenapa?"
"Kalau perempuan, maka cepat atau lambat kau bakal kawin, setelah kawin maka kau adalah orangnya keluarga lain"
Apa yang diucapkan memang ucapan yang sejujurnya, ia memang selalu berbicara jujur.
Cian cian ingin mendebat namun tak tahu bagaimana harus mendebatnya, terpaksa ia cuma bisa melotot sekejap kearahnya dengan gemas.
"Aku justru sengaja tak mau kawin, akan kulihat apa yang bisa kau perbuat"
Teriaknya. Lo ciang tertawa.
"Aku bisa apa? Tentu saja aku tak bisa apa apa"
Sambil picingkan matanya ia tertawa, lanjutnya.
"Justru yang kukuatirkan, setelah sampai waktunya, mau tak mau kau harus menerima pinangan orang lain dan menikah" ***** Tay hong tong adalah suatu organisasi yang besar dengan peraturan yang ketat, bukan saja pengaruhnya meliputi seluruh dataran Tionggoan bahkan merembas pula hingga jauh keluar perbatasan. Keberhasilan Tay hong tong seperti apa yang disaksikan pada saat ini, kecuali disebabkan karena ambisi serta kewibawaan Liang kian hong sintang in (angin sakti menggulung naga) Im Hui yang maha hebat, hal ini disebabkan pula oleh perjuangan tiga serangkai yang berani menantang segala kesulitan yang dihadapinya. Ketiga serangkai tersxebut tak lain adalah Sugong siau hong, Tio Kian serta Sangkoan Jin. Merekalah yang memerjuangkan Tay hong tong dengan keringat dan darah, maka sudah wajarnya kalau mereka juga yang menikmati kemenangan serta kemuliaan. Sejak Im Hui yang, Im Laytacu menutup diri selama lima tahun untuk melatih sejenis ilmu pedang yang tiada taranya di dunia ini, tanggung jawab Tay hong tong serta otomatis terjatuh dipundak mereka bertiga. Pada hakekatnya mereka adalah saudara sehidup semati, bukan saja menanggulangi bersama semua kesulitan yang dihadapi, emrekapun dapat menikmati bersama semua kebahagian yang berhasil diraih. Oleh karena itu tak timbul perselisihan diantara mereka untuk saling menggeser dan menjegal untuk memperebutkan kekuasaan serta kedudukan paling tinggi, semua perhatian dan kekuatan mereka hanya ditujukan keluar. Menolong mereka yang lemah dan menantang kaum penindas. Usia Sugong siau hong paling tua, tapi tabiatnya paling lembut dan ramah, dia tersohor sebagai seorang jago yang berotak "brilian". Sepanjang hidupnya ia enggan ribut denganorang, dia pun enggan melakukan perbuatan yang mengakibatkan mengalirnya darah. Sebab menurut pendapatnya, segala persoalan dapat diselesaikan dengan mengandalkan kecerdasan otak, tak usah menggunakan golok tanpa kekerasanpun urusan bisa diselesaikan sama baiknya. Karena wataknya ini, banyak orang persilatan yang secara diam diam memberi julukan kepadanya, mereka memanggilnya sebagai Sugong popo, si nenek Sugong! Anak murid perkumpulan Tay hong tong memang menaruh hormat kepadanya, tapi bukan berarti mereka benar benar puas dengna kebijaksanaan pemimpinnya. Pemuda pemuda yang berdarah panas ini berangggapan bahwa cara kerja pemimpinnya ini terlalu berpura pura. Mereka menghendaki suatu tindakan yang tegas dan keras, karena dengan begitu kobaran semangat mereka yang menyala nyala baru bisa terlampiaskan keluar. Sayang apa yang mereka harpkan tinggal harapan, Sugong siau hong sudah mempunyai prinsip dalam perlawannya terhadap Pek lek tong, yakni.
"Bila orang lain tidak mengganggu aku, akupun tak akan mengganggu orang lain. Apabila keadaan tidak terlalu memaksa, mereka tak akan turun tangan secara gegabah!"
Barang siapa diantara murid murid Tay hong tong berani memasuki wilayah kekuasaan Pek lek tong, dia bakal dihukum mati!
Sangkoan Jin adalah seorang manusia emas yang tak pernah mengucapkan sepatah katapun walau menghadapi kejadian seperti apapun juga.
Sekalipun para pengikut setianya yang sudah banyak tahun mengiringi disisinya, belum tentu setahun mendengar suara perkataanya.
Dia selalu bernaggapan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk merahasiakan kepentingan pribadinya, ia tak perkenankan siapapun juga untuk menanyakan masalah pribadinya.
Ruangan tidurnya selalu dijaga dengan ketat, siapapun tak berani mendekati tempat itu secara gegabah.
Seperti juga Tio Kian istrinya sudah lama meninggal, putrinya yang cuma satu satunya itu sudah dikirim ke tempat yang amat jauh.
Sekarang, bukan saja ia tak punya sanak, teman akrabpun cuma satu dua orang.
Keangkuhannya, keanehannya serta kekerasan hatinya sudah diketahui siapapun, pada hakekatnya tak seorangpun yang dapat mendekatinya.
Oleh karena itulah diantara ketiga orang pemipin tersebut, Tio Kian yang paling banyak penggemarnya.
Semasa mudanya Tio Kian tersohor karena kebesaran jiwanya serta sifat kependekarannya yang suka menolong kaum lemah dan menentang kaum penindas.
Sekalupun tabiatnya sekarang sudah jauh lebih lembut dan kalem, toh ia masih terhitung seorang jago yang berjiwa terbuka.
Asal kau adalah sahabat karibnya, sekalipun kepala harus dipenggal dan diberikan kepadamu tak nanti dia akan kerutkan dahi.
Manusia seperti inilah merupakan type manusia yang paling dihormati oleh orang muda.
Dan hari ini putra tunggalnya melangsungkan perkawinan, sudah barang tentu semuanya berdatangan untuk ikut minum secawan arak eegirangan.
Malah Im loyacu yang sedang menutup diri dipuncak bukit Cing siu san pun mengutus seorang untuk menyampaikan hadiah khusus.
Semua orang menunggu dengan tak sabar, semua orang ingin cepat cepat menyaksikan pengantin lelaki yang ganteng serta pengantin perempuan yang cantik jelita lagi lembut itu.
Ketika Bu ki mnculkan diri, semua orang mengerumuni dirinya.
Sekalipun ia tak sampai melangkah untuk ke ruang tengah, tapi dikebun belakangpun ada orang dimana mana penuh sesak dengan lautan manusia.
Ketika semua orang menyaksikan pengantin laki laki lari kesana kemari dengan "Baju kebesaran"
Nya sebelum upacara dimulai, semua orang merasa kaget, heran dan gembira, tak seorangpun yang menaggap perbuatannya itu melanggar adat kesopanan.
Putra Tio Kian memang sudah tersohor karena kebebasannya dari segala ikatan adat, dia adalah seorang pemuda yang berbuat bebas menurut suara hati sendiri.
Dengan susah payah akhirnya Bu ki berhasil juga melepaskan diri dari kepungan orang banyak.
Sesudah menebusi hutan bunga tho dikebun belakang, dengan melewati sebuah jalan kecil yang berliku liku akhirnya sampailah dia dalam sebuah halaman kecil ynag penuh ditumbuhi bambu.
Angin berhembus sepoi sepoi menggoyangkan daun bambu, suasana disitu hening dan sepi suara gelak tertawa manusia diruang depan sama sekali tak terdengar disitu.
Dalam halaman kecil itu semuanya terdapat lima buah bilik, tiga buah bilik lebar dan dua bilik tersembunyi, disinilah biasanya pemilik perkampungan Ho hong san ceng membaca buku.
Tentu saja Lo ciang mengetahui tempat ini dan sudah barang tentu telah mencari pula disana.
Tapi dia tidak menemukan toa sauyanya, sebab orangnya memang tak ada disana, dari depan sampai belakang ruangan tak seoang manusiapun yang kelihatan.
Walau begitu, Bu ki tidak kecewa, sebab ia tahu ditempat ini masih ada rahasianya.
Dan rahasia terxebut hanya dia seorang yang tahu.
Kamar baca Tio Kian yang sebenarnya terletak di ruang paling belakang, sekeliling ruangan penuh dengan rak buku yang tinggi, barang siapa masuk ke situ ibarat seseorang yang masuk kekota buku.
Tapi disanapun tak ada orang.
Dengan langkah lebar Bu ki masuk ke dalam ruangan, setelah yakin kalau disana tak ada orang bukan saja tidak gelisah malah sebaliknya justru ia merasakan lega hati.
Sebab ia tahu dibelakang rak buku sebelah kiri masih terdapat sebuah ruang rahasia, disitulah ayahnya mengatur segala sesuatu urusan Tay hong tong yang bersifat rahasia.
Ia percaya ayahnya pasti berada disana, bahkan kemungkinan besar sedang merundingkan suatu masalah besar dengna Sangkoan samya.
Ia tak langsung masuk, diambilnya sebuah pemberat kertas yang terbuat dari tembaga dan dketukkan perlahan pada rak nomor tiga dari rak buku tersebut.
Tiga kali sudah dia mengetuk rak tersebut, namun tiada suara jawaban yang kedengaran.
Sekarang hatinya baru gelisah, sekuat tenaga dia mendorong rak buku itu kesamping, lalu badannya menerobos masuk celah celah yang terbuka.
Ayahnya memang berada dalam ruang rahasia itu malah dia mengenakan jubah panjang bersulamkan naga indah, jubah indah yang khusus disiapkan untuk merayakan hari perkawinan putranya, dan huncwe kemala hijau kesayangan masih berada pula dalam genggamannya.
Cuma, ia tergeletak ditanah, tegeletak ditanah tanpa batok kepala!
Bu ki berlutut ditanah, ia tidak meraung raung tidak pula lemlelelhkan air mata.
Dalam kelopak matanya tiada air mata, yang ada hanya darah!
Segulung angin berhembus lewat dari luar ruangan dan menyingkapkan kalender diatas meja seakan akan ada tenaga tak berwujud yang membaliknya, secara kebetulan kalender itu menunjukkan, bulan tiga, tanggal dua puluh tujuh, rejeki besar, cocok untuk mengadakan perkawinan.
Kim Liong Kiam Khek (jago pedang naga emas) Tio Kian, orang kedua dari Tay-hong tong ternyata kehilangan batok kepalanya secara misterius dihari perkawinan putra kesayangannya.
Sudah barang tentu peristiwa ini menghebohkan segenap dunia persilatan.
Sekalipun tidak kenal atau belum pernah bertemu dengan Tio Kian, paling sedikit mereka pernah mendengar nama besarnya.
Dia punya teman, tentu saja punya musuh.
Tapi baik itu temannya atau musuhnya, mereka rata rata merasa kaget bercampur tecengang oleh peristiwa tersebut.
Mereka yang agak mengetahui jelas duduknya peristiwa itu mendadak menjadi pusat perhatian orang, dimana saja mereka berada, semua orang memusatkan perhatiannya kepada mereka, dan orang orang itu hanya ingin mengajukan satu pertanyaan.
Siapakah pembunuhnya?
Tak seorangpun dapat menjawab pertanyaan itu, tak seorangpun berani mengadakan penilaian sendiri.
Sebab bila ada yang salah berbicara, kemungkinan besar mereka akan kehilangan pula batok kepalanya ditengah malam buta.
Oleh karena itu berbagai reaksi, berbagai pertanyaan berkecamuk dihati setiap orang.
"Benarkah Tio Kian telah mati? Benarkah dia mati lantaran kepalanya dipenggal orang?"
"Benar! Memang itulah kejadiannya"
"Kapan peristiwa itu berlangsung?"
"Bulan tiga tanggal dua puluh tujuh, tepat disaat putranya hendak melangsungkan perkawinan"
"Konon hari itu adalah hari baik, paling baik untuk menyelenggarakan usaha apapun?"
"Benar hari itu memang hari yang paling baik untuk melakukan pekerjaan apapun"
"Untuk mencari menantu sudah tentu harus memilih hari baik, masa membunuh orangpun harus mencari hari baik juga?"
"Hari itu adalah hari baik untuk melakukan pekerjaan apapun, baik menyelenggarakan perkawinan ataupun membunuh orang"
"Makanya si pembunuh itu hingga sekarang belum juga ketahuan"
"Aku rasa bukan pekerjaan yang gampang untuk menemukan pembunuh tersebut"
"Tapi sedikit banyak pihak keluarga Tio Kian sudah mempunyai titik terang bukan?"
"Agaknya memang begitu"
Maka bermunculanlah berbagai lapisan manusia yang membantu keluarga Tio untuk melacaki jejak pembunuh tersebut.
"Tio Kian terbunuh dimana?"
Demikian pertanyaan itu berkumandang diantara kumpulan manusia.
"Katanya mati di perkampungan Ho hong san ceng"
"Tapi orang hadir diperkampungan Ho hong san ceng waktu itu tentu banyak sekali, kenapa tak seorangpun yang menyaksikan peristiwa pembunuhan tersebut?"
"Sebab dia mati di ruang rahasia"
"Begitu rahasiakah ruang rahasianya itu?"
"Tentu saja rahasia sekali, bahkan aku dengar putrinya sendiri juga tidak tahu"
"Lantas siapa yang tahu?"
"Konon kecuali dia sendiri yang pernah masuk ruang rahasia itu, hanya tiga orang yang tahu"
"Siapakah ketiga orang itu?"
"Sugong Siau hong, Sangkoan Jin serta putranya"
"Apakah hanya salah satu diantara ketiga orang itu yang ada kemungkinan untuk membnunuhnya?"
"Aku rasa sulit untuk menemukan orang keempat"
"Kenapa?"
"Tio Kian bukan manusia sembarangan. Sebelum berusia duapuluh tahun ia sudah mulai mengembara dalam dunia persilatan dengan mengandalkan sebilah pedang"
"Aku juga pernah mendengar, sebelum usia tujuh belas, ia telah membunuh Tiang an hau (Harimau Tiang an) di kota Tiang an"
"Ya, betul!"
Sambung yang lain.
"Dalam tiga tahun kemudian bahkan ia telah membinasakan juga Kwan tiong jit hiong (tujuh orang gagah dari Kwan tiong) Huang ho su ciau (empat ular sakti dari sungai kuning), malah mengalahkan juga siau tojin serta Tan tiong hiong yang merupakan jago pedang waktu itu."
"Tak aneh kalau namanya amat tersohor sebelum berusia dua puluh tahun"
Kata jago lain.
"Konon sebelum berusia tiga puluh tahun, ia telah membantu Im Hui yang mendirikan Tay hong tong, bayangkan saja, amnusia tangguh semacam ini mana mungkin dipenggal kepalanya secara gampang.
"Aku merasa tidak habis mengerti"
"Seharusnya kau mengerti, orang yang bisa memenggal kepalanya pastilah seseorang yang sangat dikenal olehnya, sebab itu dia tidak bersikap waspada terhadap orang tersebut" 'Wah, kalau betul begitu, ilmu silat yang dimiliki orang itu tentu lihay sekali, dan caranya turun tanganpun sangat cepat"
"Betul, konon pada waktu itu si tabib pertapa dari Hoa san juga hadir disitu, malah dialah yang memeriksa jenasah Tio jiya"
"Apa yang dia katakan?"
"Dia yakin kalau alat senjata yang digunakan untuk membunuh Tio jiya adalah sebilah pedang, bahkan dalam sekali tebasan ia berhasil menguntungi batok kepala Tio jiya."
"Dan kebetulan Sugong Siau hong dan Sangkoan Jin adalah jago jago lihay yang menggunakan pedang"
"Yaa, mereka semua adalah jago silat kelas satu dalam dunia persilatan...!"
"Putra Tio jin apakah pemuda yang bernama Tio Bu ki itu?"
"Benar dialah orangnya"
"Sudah barang tentu dia pembunuhnya?"
"Tentu saja bukan"
"Kalau begitu, menurut pendapatmu pembunuhnya adalah Sangkoan jin"? Ataukah Sugong Siau hong?"
"Aku tidak tahu!"
"Coba terkalah!"
"Aku tidak berani menerka"
Perdebatan dan pembicaraan tersebut adalah pembicaraan bebas yang kedengaran dikalaangan umum.
Di tengah malam buta, baik dikaki lima, ditepi jalan maupun dalam warung makan yang memakai merek mentereng, masih kedengaran banyak orang yang membicarakan peristiwa itu.
Konon orang yang paling mecurigakan adalah Sugong Siau hong!"
Demikian mereka berkata.
"Kenapa?"
"Sebab dia adalah orang terakhnir yang tiba diperkampungan Ho hong san ceng, ia baru tiba pada malam bulan tiga tanggal dua puluh tujuh"
"Kenapa dia yang dicurigai?"
Bantah yang lain.
"Justru orang terakhir yang datang seharusnya malah tak pantas dicurigai"
"Yaaa, kalau cuma begitu memang tak pantas dicurigai, tapi menurut hasil meneylidikan yang kemudian diadakan, katanya pada tanggal dua puluh lima ia sudah meninggal kota Po teng"
"Jadi semestinya tanggal dua puluh enam ia sudah sampai di perkampungan Ho hong san ceng?"
"Yaaa, paling lambatpun sore itu harus sudah tiba"
"Lalu sejak sore tanggal dua puluh enam sampai malam tanggal dua puluh tujuh dia telah kemana?"
"Tak seorangpun yang tahu"
"Maka orang lantas menduga bahwa dialah yang paling mencurigakan?"
"Begitulah!"
"Tapi aku dengar sejak sore hari tanggal dua puluh tujuh, hanya Sangkoan Jin seorang yang menemani Tio jiya hingga berlangsungnya peristiwa tersebut"
"Karena itu Sangkoan Jin juga seseorang yang patut dicurigai"
"Sekarang,dimanakah orang itu?"
"Hingga kini mereka berdua masih tetap tinggal di perkampungan Ho hong san ceng"
"Yaaa, betul! Siapa berani berangkat dulu, dialah yang pantas dicurigai sebagai pembunuhnya, tentu saja apapun diantara mereka tak ada yang berani berangkat meninggalkan tempat itu"
"Padahal mereka mau pergi atau tidak juga sama sja"
"Kenapa?"
"Karena mereka berdua adalah saudara sehidup semati dari Tio jiya, tiada alasan buat mereka untuk melakukan pembunuhan keji tersebut, bila tidak menemukan bukti bukti yang kuat, siapakah yang berani mencurigai kedua orang itu?"
"Dan sekarang apakah mereka menemukan buktu buktinya?"
"Belum" ***** Hari ini sudah tanggal empat bulan empat, peringatan hari ketujuh sejak kematian sudah lewat. Malam sudah menjelang tiba, suasana sangat hening. Sejak Tio Bu ki menemukan jenasah ayahnya hingga kini, tujuh hari lewat tanpa terasa. Selama tujuh hari ini, Bu ki tidak pernah menagis, setitik air matapun tak pernah meleleh keluar membasahi pipinya. Ia tidak minum, tentu saja tidak pula makan. Bibir sudah mengering dan rretak retak, bahkan seluruh kulit badannya ikut kering dan pecah pecah. Matanya cekung kedalam wajahnya yang semula merah segar telah berubah menjadi sepucat kertas. Bukan begitu saja, badannya sudah kaku dan tak berkutik. Tampangnya tersebut mengerikan sekali. Semua orang takut kepadanya, bahkan Cian cian juga takut. Tapi tak seorang manusiapun yang mampu menghibur hatinya. Pada hakekatnya ia seperti patung, apapun suara pembicaraan manusia ia tidak mendengar, apapun yang berada dihadapannya dia tidak melihat. Tentu saja yang paling menderita adalah Wi Hong nio, ia menangis sepanjang hari, tapi sekarang air matanya telah mengering. Selama tujuh hari ini, setiap orang jarang berbicara, setiap orang berusaha mencari....mencari jejak dari pembunuh tersebut. Tapi mereka gagal untuk menemukannya. Setiap jengkal tanah dan disekitar perkampungan Ho hong san ceng telah mereka geladah, tapi semua usahanya itu cuma sia sia belaka, mereka tidak berhasil melacaki jejak sang pembunuh tersebut. Siapapun tak berani mencurigai Sangkoan Jin lebih lebih mecurigai Sugong Siau hong, tapi kecuali kedua orang itu tiada orang lain yang dapat mereka curigai lagi. Seandainya pembumuh itu adalah orang lain maka pembunuh tersebut tentu dapat datang tanpa wjud pergi tanpa bayangan, seakan akan setan iblis yang mengerikan. Walaupun semua orang jarang berbicara, sedikit banyak mereka toh berbicara juga. Lain halnya dengan Sangkoan Jin boleh dibilang dia sama sekali tidak bersuara. Iapun tidak memberikan alibinya, ia tidak menerangkan dimanakah dia berada, tak ada seorangpun yang berani minta penjelasan kepadanya. Akhirnya orang lain baru tahu kalau waktu itu rupanya dia sudah mabok, oleh Cian congkoan, ia dibaringkan dalam kamar tamu. Kamarnya terletak nomor lima dalam halaman yang terpisah, dia maupun pengikutnya semua berada disana. Orang yang bertugas mengatur segala kebutuhan mereka adalah Tio Piau. Tio Piau, bukan saja seorang pembantu tua dari keluarga Tio, dia masih terhitung famili jauhnya Tio jiya. Tio Piau telah memberikan kesaksiannya pada tanggal dua puluh tujuh bulan tiga, sejak maghrib Sangkoan samya terus tidur didalam kamarnya. Sekalipun sewaktu sadar dari maboknya, ia tidak menimbulkan suara apa apa, tapi setelah mabok, ia tidur sambil mendengkur, banyak orang mendengar suara dengkurannya itu. Kebanyakkan orang persilatan beranggapan, keberhasilan Sugong Siau hong untuk mencapai kedudukannya seperti hari ini bukan lantaran ilmu silatnya yang hebat melainkan karena imannya yang tebal. Tenaga dalamnya maupun ilmu pedang Sip ci hui kiamnya belum sampai mencapai puncak kesempurnaan, tapi soal ketebalan imam, soal kesabaran dan tahan uji dia adalah nomor satu di dunia. Dia tahu banyak sekali jago Ho hong san ceng yang mencurigai dirinya, sebab pada tanggal dua puluh enam bulan tiga, seharusnya dia sudah harus sampai disana. Walau begitu, ia sedikitpun tidak menunjukkan perasaan tak tenang, apalagi memberi sanggahan ataupun penerangan. Ia berangkat lebih awal dari tanggal yang sebenarnya, hal ini disebabkan karena persoalan lain. Tapi soal itu adalah suatu rahasia besar, ia tidak akan membiarkan orang lain tahu. Selama beberapa hari ini dia masih tetap tenang dan bersikap wajar seperti ini, seseorang harus tetap mempertahankan ketenangannya, dengan demikian urusan jadi tak sampai kalut. Walau berada dalam keadaan seperti apapun, dia tak akan lupa untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Ia berusaha keras untuk mengaturkan upacara penguburan bagi jenasah Tio Kian, lalu menasehati anak murid Tay hong tong agar selalu bersikap tenang, ia percaya cepat atau lambat duduknya persoalan pasti akan menjadi jelas. Terlepas dari apa yang dikatakan orang lain, siapapun mengakui bahwa dia memang memiliki daya ketenangan yang luar biasa. Sebab itu, Tay hong tong selamanya tak bisa kehilangan dia. Setelah upacara peringatan "hari ketujuh"
Lewat, sisa anggota Tay hong tong yang masih tertinggalpun telah kembali ke posnya masing masing.
Sekalipun Tio Kian adalah batu tonggak bagi Tay hong tong, namun Tay hong tong tak dapat roboh dan hancur hanya lantaran kehnilangan sebuah tongkat saja.
Yaa, jika pondasinya sudah kuat dan kokoh sekalipun kehilangan sebuah tongkatnya, hal ini tak menyebabkan bangunan menjadi roboh, walau ditiup oleh angin sekencang apapun.
Sugong Siau hong berhasil membuat anak muridnya memahami persoalan ini, dia berharap semua orang dapat merubah kesedihan menjadi kekuatan yang besar.
Yang masih tertinggal dalam ruangan waktu itu kecuali orang orang dari keluarga Tio, hanya sedikit saja orang luar.
Tiba tiba Sangkoan Jin bangkit seraya berkata.
"Ouyang sedang menunggu aku!"
Habis mengucapkan kata kata tersebut, dia berlalu dengan langkah lebar....
Empat kata itu terlampau singkat, kecuali Sugong Siau hong, yang lain boleh dibilang tak ada yang mengerti.
Sekalipun begitu asal satu orang bisa memahami, hal ini sudah lebih dari cukup.
Yaaa, memang begitulah watak Sangkoan Jin, kalau dengan empat katapun bisa menjelaskan maksudnya maka tak akan dia gunakan kata kelima.
Ketika melihat Sangkoan Jin pergi, tak tahan lagi Cian cian segera berseru.
"Apakah dia akan pergi dengan begitu saja?"
"Yaa, bagaimanapun juga dia harus pergi!"
Jawab Sugong Siau hong.
"Kenapa?"
"Sebab dia sudah mempunyai janji dengan Ouyang untuk berjumpa"
"Siapakah Ouyang itu?"
"Dia adalah Ouyang Peng an"
Ouyang Peng an adalah congpiautau dari delapan belas perusahaan ekspedisi di daratan Tionggoan, mereka telah berencana untuk membentuk perserikatan dengan pihak Tay hong tong.
Sudah barang tentu apa yang hendak dirundingkan antara Ouyang Peng an dengan Sangkoan Jin adalah suatu persoan yang amat penting.
Cian cian tidak bertanya lagi.
Secara lamat lamat ia sudah mendengar tentang persoalan itu.
Tay hong tong memang membutuhkan persekutuan yang tangguh untuk memupuk kekuatan.
Sejak mereka mengetahui kalau Pek lek tong telah mengikat hubungan berbesan dengan keluarga Tong dari sechuan, merekapun berharap bisa memperoleh persekutuan pula.
Senjata rahasia bahan peledak dari Pek lek tong sudah cukup menakutkan siapaun, sekarang bila ditambah pula dengan senjata rahasia dari keluarga Tong yang telah berusia seratus enam puluh tahun, keadaan tersebut ibaratnya harimau tumbuh sayap.
Persoalan inilah yang selalu menjadi ganjalan dihati Sugong Siau hong, ia selalu berharap agar Ouyang Peng an jangan membatalkan rencana semulanya karena peristiwa tersebut.
Suara derap kaki kuda secara lamat lamat kedengaran berkumandang diluar sana, rupanya Sangkoan Jin beserta anak buahnya telah meninggalkan perkampungan Ho hong san ceng.
Ketika suara derap kuda itu makin menjauh, suasana dalam ruang tengah kembali diliputi keheningan.
Bu Ki masih berlutut didepan meja abu ayahnya tanpa bergerak barang sedikitpun, bibirnya yang kering sudah pecah dan berdarah.
Saat itulah Sugon Siau hong berkata.
"Aku rasa semua persoalan disini telah dapat diatasi, satu dua hari lagi aku harus pergi meninggalkan tempat ini."
Tentu saja, cepat atau lambat dia memang harus pergi.
Im Hui Yang masih berada dalam masa pertappan, sedang Tio Kian telah tewas secara tiba tiba, Tay hong tong lebih lebih tak boleh kekurangan dirinya.
Cian cian tundukkan kepalanya, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya dibatalkan.
Diapun tak berani bicara sembarangan, dia tahu sepatah kata saja salah berbicara bisa mengkibatkan hancurnya keluarga mereka.
Namun pada hakekatnya dia sedikit merasa takut.
Ayahnya telah tewas dan kakaknya berubah menjadi begini, dia merasa bagaimanapun juga perkampungan Ho hong seng harus dipertahankan.
Beban dan tanggung jawab yang amat berat ini tak bisa dibantah lagi terjatuh diatas pudaknya.
Lalu apa yang ia harus lakukan?
Sugong Siau hong memandang sekejap kearahnya, seakan akan dia dapat menebak suara hatinya.
"Aku tahu bahwa kau adalah seorang gadis yang berhati teguh"
Demikian katanya dengan lembut, justru yang kami kuatirkan adalah dia"
Tentu saja orang yang paling dikuatirkan adalah Bu Ki.
Setiap orang menguatirkan Bu Ki, semua orang berharap dia bisa bangkit berdiri dan membusungkan dadanya.
Tapi siapapun tidak tahu,s ampai kapankah pemuda itu baru bangkit berdiri dan membusungkan dadanya.
Ditengah keheningan yang mencekam ruang tengah, tiba tiba berkumandang suara langkah kaki yang berat dan mantap, tak usah berpalingpun Cian Cian tahu bahwa orang itu adalah Lo Ciang.
Napasnya tersengkal sengkal baru mukanya merah membara, dia lari masuk dengan tergesa gesa, ditangannya membawa sebuah cawan arak.
Apakah dia mabok karena arak?
Tidak!.
Dalam cawan arak itu bukan berisi arak, melainkan selapis debu yang tebal.
Dengan napas tersengkal teriak Lo Ciang.
"Benda ini kudapatkan dari dalam kamar yang ditempati Sangkoan samya"
Kemudian setelah berhenti sebentar, ia menerangkan lebih lanjut.
"Setelah Sangkoan samya pergi, aku lantas membawa orang untuk membersihkan kamar itu"
Yang dimaksudkan melakukan pembersihan tentu saja hanya suatu alasan belaka!
Sangkoan Jin termasuk orang yang dicurigai, cuma selama orangnya masih berada disana, tak seorang manusiapun berani menggeledah kamarnya.
"Apa yang sebenarnya kau temukan itu?"
Tanya Sugong Siau hong.
"Aku justru mohon toaya sudi memeriksanya sendiri"
Dalam cawan arak hanya terdapat separuh cawan bubuk berwarna kuning, bubuk itu seperti tanah lumpur yang baru diambil dari atas tanah.
Cuma anehnya, lumpur kuning itu menyiarkan sejenis bau harum yang aneh sekali.
Dengan sepasang jari tangannya Sugong Siau hong mengambil sedikit bubuk kuning itu, diremas remas dengan jari tangannya, lalu dicium.
Tiba tiba paras mukanya menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali...
Lo Ciang kembali berkata.
"Lo Tan yang mengurusi pesta perjamuan adalah seorang ahli dalam penciuman, aku telah menyuruh dia mencium bubuk tersebut katanya campuran tersebut bukan saja terdiri dari batu gamping tapi terdapat juga wangi wangian dan tanduk naga"
Mau tak mau dia harus mengakui juga atas ketajaman penciuman dari Lo Tan tersebut, diantara tanah liat memang terdapat wangi wangian, tanduk naga dan batu gamping.
"Semua benda ini kudapatkan dari dasar meja yang berada dikamar Sangkoan samya, aku berhasil mendapatkannnya setelah mengorek dengan memakai pisau belati"
Biji matanya seakan akan melompat keluar tanganpun agak gemetar, lanjutnya.
"Bukan ditanah saja terdapat benda itu, diantara celah celah mejapun ada, aku...aku menjadi tak habis mengerti, buat apa Sangkoan samya membutuhkan benda benda seperti itu?"
Bahkan suaranya kedengaran agak gemetar, sebab dia tahu apa gunanya benda benda itu.
Wangi wangian dan tanduk naga adalah bahan pengawet yang mahal harganya, bukan saja dipakai sebagai obat, dapat pula digunakan sebagai pencegah pembusukan.
Dan batu gamping adalah bahan umum yang digunakan untuk menjaga keringnya suatu benda, sebab bahan itu anti kelembaban.
Lalu benda apa yang dimiliki Sangkoan Jin dalam kamarnya sehingga ia membutuhkan bahan bahan seperti itu untuk mencegah kelembaban dan pembusukkan?
Dalam peti mati Tio Kian terdapat pula benda benda tersebut, dan ketiga macam bahan itu digunakan untuk menjaga keringnya suasana dan utuhnya mayat tersebut.
Walau begitu, batok kepalanya tak berada didalam peti mati.
Lalu ditangan siapakahn batok kepala itu?
Benarkah orang itu membutuhkan juga ketiga macam bahan tersebut guna menyimpan batok kepala yang diperolehnya?
Bila semua persoalan itu disangkut pautkan antara yang satu dengan yang lainnya, maka munculah suatu persoalan yang sangat mengerikan.
Benarkah Sangkoan Jin menyimpan bahan bahan tersebut karena dia membutuhkannya untuk menyimpan batok kepala Tio Kian?
Mungkinkah dialah pembunuh Tio Kian?
Hingga kini belum ada orang yang berani, bahkan berbicarapun tak berani.
Namun paras muka Cian Cian telah berubah mnenjadi pucat pias seperti mayat, sekujur badannya mulai gemetar malah.
Bukan dia saja, bahkan paras muka Sugong Siau hong pun ikut berubah hebat.
Sekuat tenaga ia berusaha memnepertahankan ketenangannya hatinya, dengan suara berat ia bertanya.
"Hari itu, siapakah yang melihat Sangkoan samya tidur didalam kamarnya?"
"Tio Pian!"
"Bawa orang itu kemari!"
"Sudah kukirim orang untuk memanggilnya kemari"
Dia sudah mengutus dua belas orang, dua belas orang itu adalah jagoan paling baik dalam gedung keluarga Tio. Dan sekarang mereka sudah datang menghadap.
"Dimanakah Tio Pian?"
Lo Ciang segera menegur.
"Diluar!"
"Suruh dia masuk!"
"Ia sudah tak mampu untuk masuk sendiri!"
"Kalau begitu gotong dia kedalam"
Dengan sebuah daun pintu, empat orang menggotong masuk Tio Pian kedalam ruangan, sekalipun Lo Ciang adalah rekan sejawatnya, namun sekarang hampir saja ia tidak kenali kembali orang itu sebagai Tio Pian.
Sekujur badannya sudah berubah hitam dan membengkak, lagi mukanya besar membengkak dan berwarna hitam pula, panca indranya sudah sama sekali berubah.
Sewaktu digotong masuk dia masih terengah, tapi sesudah bertemu dengan Sugong Siau hong,nyawanya segera putus.
"Siapa yang membunuhnnya?"
Tanya Sugong Siau hong kemudian dengan wajah berubah.
"Entahlah, didadanya terkena sebatang senjata rahasia tadi sepertinya tidak mengapa, tak tahunya dalam waktu singkat dia telah berubah menjadi begini rupa!"
Diatas wajah para jagoan yang menggotongnya masuk itu masih tertera jelas rasa ngeri dan takut yang amat tebal.
Walaupun dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan perubahan yang menakutkan itu, toh mereka masih belum mempercayainya.
.Ambil sebilah pisau!"
Perintah Sugong Siau hong dengan suara berat.
Seseorang mencabut pisau belatinya dari balik laras sepatu.
Dengan ujung pisau Siau hong merobek pakaian dibagian dada yang dikenakan Tio Pian, tampaklah sebatang senjata rahasia berbentuk duri yang kecil sekali menancap didada sebelah kirinya, sekalipun sekitar mulut luka tiada darah, namun sudah berubah menjadi hitam dan membusuk lagi.
"Oooh...betapa kejinya snejata rahasia beracun ini!"
Pekik Lo Ciang sambil menghembuskan napas panjang.
Sugon Siau hong memeriksa sekejap ujung pisaunya, ujung pisau itu cuma terkena sedikit nanah beracun disekitar mulut luka, tapi sekarang pisau tersebut telah berubah menjadi hitam perak.
Paras mukanya berubah makin serius.
Dalam kolong langit dewasa ini, hanya semacam senjata rahasia yang membawa racun keji itu.
Cian Cian mengigit bibirnya, darah nampak meleleh dari luka luka bibir, bisiknya agak gemetar.
"Bu...bukankah benda itu adalah duri beracun dari keluarga Tong di Siok tiong?"
Pelan pelan Sugong Siau hong mengangguk.
"Benar!"
Jawabnya sepatah demi sepatah kata.
"Benda ini memang senjata rahasia dari keluarga Tong, duri beracun yang membunuh korban setelah terkena darah!"
Paras muka semua orang berubah hebat.
Semua orang sudah tahu, hubungan antara keluarga Tong di Siok tiong dengan Pek lek tong adalah hubungan berbesan.
Dan sekarang, jago lihay dari keluarga Tong telah menyusup kedalam perkampungan Ho hong san ceng.
Peristiwa ini benar benar merupakan suatu peristiwa yang mengerikan!
Salah seorang jago muda yang ikut menggotong Tio Piau itu seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun ia tak berani sembarangan berbicara, takut kesalahan.
Sugong Siau hong telah memperhatikan sikapnya itu, dengan cepat dia berseru.
"Apa yang hendak kau katakan?"
Jago muda itu sedikit rada sangsi, tapi akhirnya ia berkata juga.
"Ada suatu persoalan, siaujin tak tahu harus dikatakan ataukah tidak...!"
"katakan! Apa persoalan itu?"
Jago muda itu kembali tampak seperti sangsi, Setengah harian kemudian ia baru memberanikan diri untuk berkata.
"Diantara pengiring yang dibawa Sangkoan samya, tampaknya ada seorang memang berasal dari wilayah Suzhuan sana!"
"Darimana kau bisa tahu?"
Tanya Sugong Siau hong dengan perasaaan agak tergetar.
"Sebab siaujin juga berasal dari daerah Suzhuan, siaujin dapat pula dialek Suzhuan sana. Tanpa sengaja kemarin hamba mendengar orang itu sedang berbicara dengan dialek suzhuannya dalam kamar Sangkoan samya...!"
Ia berpkir sebentar, lalu katanya lagi.
"Selain itu orang Suzhuan sangat mengagumi kehebatan Cukat liang, dihari hari biasa mereka gemar mengenakan kain putih sebagai pengikat kepala. Siaujin saksikan sewaktu hendak tidur orang itu selalu mengenakan ikat kepala warna putih dikepalanya. Aku sebetulnya ingin berbicara dengannya memakai dialek Suzhuan, siapa tahu dia bersikeras tidak mengakui kalau dirinya orang Suzhuan bahkan sampai akhirnya hampir saja aku ribut dengan orang itu"
"Yaa betul!"
Lo Ciang menimbrung pula, diantara pengiring yang dibawa Sangkoan samya kali ini memang terdapat seseorang yang belum pernah kujumpai sebelumnya, sebetulnya aku ingin bertanya sejak kapan menjadi pengikutnya Sangkoan samya, tapi aku pun cukup memahami watak Sangkoan samya, maka pertanyaan tersebut tak berani kuajukan..."
Dan sekarang, tentu saja perkataan atau pertanyaan apapun tak perlu diajukan lagi.
Semua bukti, semua kenyataan yang tertera didepan mereka sudah lebih dari cukup untuk menerangkan siapakah pembunuh yang sebenarnya.
Siapakah pembunuh keji yang telah membinasakan Tio Kian.
Rupanya Sangkoan Jin telah menyuap Tio Paiu agar memberikan kesaksian palsu baginya, kemudian memerintahkan pengiringnya yang berasal dari Suzhuan itu untuk membunuh Tio Pian.
Tetapi...bukankah anak murid keluarga Tong dari wilayah Suzhuan selamanya congkak dan tinggi hati, mengapa ia bersedia menjadi pengiringnya Sangkoan Jin?
Itu berarti dibalik kesemuanya itu sebetulnya masih terselip suatu rencana besar yang mengerikan.
"Mungkinkah Sangkoan Jin telah bersekongkol dengan keluarga Tong dan Pek lek tong?"
"Apakah tindakannya membunuh Tio Kian, adalah demi untuk membaiki mereka?"
Persoalan persoalan tersebut, bukan saja tak berani diutarakan keluar, bahkan mereka tak berani memikirkannya.
Sugong Siau hong mengepal kencang kencang tangannya, peluh dingin telah membasahi tubuhnya.
Pada saat itulah Tio Bu Ki yang selama ini berlutut terus ditanah, tiba tiba melompat bangun dan menerjang keluar.
Sebenarnya sekujur badan Tio Bu Ki telah kaku, semua persendian tulangnya seakan akan sudah hampir rontok.
Anehnya, perasaannya waktu itu justru jauh lebih tajam dan reaksinya pun semaking sensitif, suara yang bagaimana lirihpun seakan akan merupakan guntur yang membelah bumi.
Dalam pendengarannya, semua pembicaraa orang orang tersebut seperti jeritan keras disisi telinganya.
Jilid 3________ Mungkin hal ini disebabkan karena pikirannya kosong dan tubuhnya amat lemah, amat rapuh.
Sekalipun begitu, bukan berarti ia kehilangan kesadarannya...yaa, disinilah terletak keajaiban manusia, sering kali dikala manusia berada dalam keadaan lemah, perasaan dan pikirannya justru jauh lebih tajam, jauh lebih sensitif.
Kini, ia telah berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya!
Ia melompat bangun dan menerjang keluar.
Tiada orang yang menghalanginya kecuali Sugong Siau hong.
Ketika Sugong Siau hong menahan tubuhnya dengan uluran tangan, Tio Bu Ki segera roboh terkapar ditanah.
Oleh kobaran api benci dan pergolakkan rasa dendam yang berkecamuk dalam dadanya, Bu Ki masih dapat bertahan hingga kini.
Tapi sekarang, ia terkapar lemas, sekalipun seorang bocah kecil cukup mampu untuk merobohkan dirinya pula.
"Aku tahu kemana kau akan pergi"
Demikian Sugong Siau hong berkata.
"Sebernarnya aku tak ingin menghalangimu, namun karena aku sendiri juga ingin kesana, maka terpaksa kupersilahkan kau untuk menunggu"
Sepasang mata Tio Bu Ki merah membara, sepintas lalu tampangnya seperti harimau terluka yang siap menerkam mangsanya, mengerikan sekali keadaan pemuda itu.
"Tapi kau tak boleh pergi dalam keadaan seperti ini"
Hibur Sugong Siau hong lebih jauh.
"Sebab kalau kau besikeras kesitu, maka kau hanya akan menghantar nyawa saja"
Sepasang mata Cian Cian juga merah membara, teriaknya pula dengan suara lantang.
"Bagaimanapun juga, kami harus pergi! Walau apapun juga resikonya"
"Sangkoan Jin orangnya jeli dan pikirannya panjang, semenjak dulu dia sudah memelihara kelompok jago yang setiap saat bersedia menjual nyawa baginya, sekarang ditambah lagi senjata rahasia beracun dari keluarga Tong, sekalipun kita harus kesana, tentu saja tak boleh pergi tanpa persiapan"
"Lantas dalam keadaan yang bagaimana kita baru boleh pergi?"
Ngotot Cian Cian.
"Kita harus menunggu sampai kita mempunyai keyakinan bahwa sergapan kita pasti mendatangkan hasil!"
Ia menghela napas panjang, katanya lagi.
"Bila sergapan kita tidak menemui sasarannya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk mengundurkan diri maka selamanya jangan harap kita bisa memperoleh kesempatan baik untuk kedua kalinya"
Apa yang dikatakan memang merupakan suatu kenyataan, namun anak murid Ho Hong San Ceng tak mau menerima nasehat tersebut dengan begitu saja.
Dalam waktu singkat, dibawah pimpinan Lo Ciang seratus tiga puluh enam orang jagoan telah disiapkan dihalaman ruangan depan, mereka semua telah siap dengan senjata lengkap ada yang membawa busur dan panah ada yang membawa tombak dan ada pula yang membawa golok.
Diantara ke seratus tiga puluh enam orang itu ada separuh diantaranya telah mendapat didikkan ilmu silat paling sedikit selama sepuluh tahun lamanya.
Lo Cian berlutut dihapadan Sugong Siau hong sambil memohon mohon, kepalanya yang membentur lantai sudah nanar dan mengucurkan darah.
Meskipun begitu, dia memohon terus, memohon kepada Sugong Siau hong agar diijinkan untuk membalas dendam.
Tentu saja Sugong Siu hong dapat merasakan gelagat tersebut, ia tahu semangat mereka untuk membalas dendam telah berkobar kobar, siapapun jangan harap bisa membatalka niatnya itu.
Padahl ia tidak setuju kalau memakai kekerasan, tapi keadaan memaksa dia untuk menyetujuinya juga.
"Baik ,kalian boleh pergi, aku akan mengiring keberangkatan kalian, tapi bagaimana dengan Bu Ki...?"
"Siau sauya harus ikut pergi"
Sela Lo Cian dengan cepat.
"kami telah meneydiakan satu mangkuk kuah jinsom untuknya, dikala kereta kita tiba dimuka benteng Sangkoan po, kesehatan tubuhnya pasti sudah pulih kembali!"
Selama hidup Bu Ki paling enggan minum kuah jinsom, tapi sekarang mau tak mau dia harus menghabiskan semangkuk kuah tersebut.
Kekuatan tubuhnya harus dipulihkan dalwam waktu singkat.
Dia harus pula membunuh pembunuh ayahnya dengan tangan sendiri.
Sayang ada satu hal yang telah ia lupakan...
Kendatipun kekuatan tubuhnya berada dalam kondisi yang terbaik, ia masih bukan tandingan Sangkoan Jin.
***** Sugong Siau hong belum melupakan hal ini.
Terhadap ilmu pedang, limu silat keganasan dalam melancarkan serangan dan ketepatan dalam melepaskan pululan maut dari Sangkoan Jin, tiada orang kedua yang lebih memahami daripada dirinya.
Semenjak masih muda, mereka sudah seringkali bahu membahu untuk melakukan pertarungan, rata rata dalam satu tahun mereka harus bekerja sama tiga puluh kali.
Sebelum perkumpulan Tay hong tong didirikan, paling sedikit mereka pernah melakukan tiga ratus kali pertarungan besar maupun kecil.
Berulang kali ia pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Sangkoan Jin menyarangkan ujung pedangnya ketenggorokan musuh, setiap kali selalu tenggorokan yang menjadi sasaran, setiap kali tentu merenggut nyawa orang dan hampir boleh dibilang tak pernah meleset...
Suatu kali, ketika mereka harus menghadapi Kwan tion jin kiam (tujuh pedang sakti dari Kwan tiong), musuh yang dihadapi Sangkoan Jin waktu itu adalah San tian kuay kiam (pedang cepat sambaran kilat) Cho Sut, seorang jago pedang yang amat tersohor namanya ketika itu, begitu pertarungan dimulai, ia sudah menderita luka tusukan ditujuh tempat, bahkan sebuah tusukan kilat telah menembusi bahunya.
Akan tetapi akhirnya Cho Sut tewas ditangannya, sebelum musuh roboh ke tanah seperti juga yang lainnya sebuah tusukannya berhasil menembusi tenggorokkannya.
Itu baru merupakan ancaman yang paling menakutkan.
Hampir boleh dibilang, ia mempunyai daya kemampuan untuk menahan penderitaan seperti cacing ditengah gurun pasir, tapi diapun memiliki daya tahan yang ulet seperti seekor unta.
Suatu ketika, enam biji tulang iganya kena dihantam patah, ketika orang sedang membantu untuk membalutkan lukanya, peluh dingin telah membasahi seprei pembaringannya lantaran menahan sakit, tapi merintihpun ia tidak....
Waktu itu kebetulan Im Hui Yang juga hadir disana, setelah menyaksikan pertistiwa itu segera katanya kepada orang orang lain.
"Barang siapa mempunyai musuh semacam Sangkoan Jin, malam harinya mereka tentu tak bisa tidur nyenyak!"
Perkataan itu masih mendengung disisi telinga Sugong Siau hong, dia tak pernah melupakannya. Tentu saja pandangan Im Hui Yang terhadap dirinya juga tak akan terlupakan untuk selamanya.
"Bila suatu hari Sugong Siau hong hendak menantang aku untuk berduel, maka begitu ia datang aku akan cepat cepat mengambil langkah seribu"
Ketika ada orang bertanya.
"Kenapa?"
Maka Im Hui Yang menjawab.
"Sebab ia tak pernah melakukan pertarungan yang tidak ia yakini bisa menang, itu berarti jika ia sampai datang maka keyakinannya untuk menang pasti sudah ada!" ***** Im Hui Yang tersohor sebagai manusia yang lihay seorang manusia yang pandai menilai keadaan orang, tentu saja iapun pandai pula memilih kawan perjuangan. Dengan bekal kemampuan semacam ini, tentu saja diapun tak akan salah memilih teman. Selama hidupnya, Sugong Siau hong memang belum pernah melakukan suatu perbuatan yang tidak diyakini. Mungkinkah dalam tindakannya sekarang ia telah mempunyai keyakinan untuk menang? Lo Ciang berada pula dalam ruang kereta. Sakit encok yang dideritanya sejak banyak tahun membuat pelayan tua ini tak sanggup lagi melkaukan perjalan jauh, diapun tak kuat untuk menunggang kuda. Ruangan kereta sangat lebar dan luas, cukup bagi empat orang untuk duduk dengan nyaman. Tapi ia bukan duduk dengan nyaman, sebab pada hakikatnya hampir seperti berdiri. Ia selalu memahami apakah kedudukannya ditempat itu, sekalipun tuan mudanya sudah lama menganggapnya sebagai orang sendiri, tapi belum pernah ia melampaui batas batas yang telah dipertahankannya selama banyak tahun. Mengenai persoalan ini, Sugong Siau hong selalu merasa kagum dan memujinya, karena sepanjang hidup ia paling benci dengan segala macam manusia yang melanggar peraturan. Oleh karena itulah mereka tidak meminta kepada Lo Ciang untuk duduk lebih nyaman, hanya tanyanya.
"Dengan cara apa kita akan memasuki benteng Sangkoan po? Dengan cara apa menghadapi Sangkoan Jin? Apakah kau sudah mempunyai suatu rencana yang matang? "Benar"
Jawab Lo Ciang.
"Kenapa tidak kau katakan?"
Sugong Siau hong kembali bertanya.
"Karena toaya belum menanyakannya!"
"Sekarang aku sudah bertanya, katakanlah dengan cepat!"
"Baik!"
Lama sekali ia termenung, kemudian pikirnya sekali lagi dengan seksama semua rencana yang telah disusun secara rapi itu, ketika ia sudah yakin bahwa diantara rencana rencananya itu tiada sesuatu kekurangan, barulah secara terperinci rencana itu diutarakan keluar.
Sangkoan Jin adalah seorang manusia yang aneh suka menyendiri dan berdisiplin ketat, sudah barang tentu benteng Sangkoan po yang berada dibawah komandonya mempunyai penjagaan yang sangat kuat, jangan harap orang luar bisa memasukinya secara gegabah.
Untung Sugong Siau hong bukan orang luar.
Kata Lo Ciang lagi.
"Maka dari itu, bila kita akan masuk secara aman, toaya yang musti menampilkan diri lebih dahulu, sekarang Sangkoan Jin masih belum tahu kalau rahasianya telah terbongkar, bukan saja tiada hadangan hadangan, bahkan pintu gerbang bentengnya pasti akan dibentangkan lebar lebar untuk menyambut kedatangan kita"
Rupanya secara diam diam ia telah memperhitungkan kekuatan lawan, sebab dia tahu dalam benteng Sangkoan po semuanya terdapat tiga ratus orang centeng penjaga rumah, bahkan hampir semua centeng itu pernah berlatih silat, diantaranya terdapat banyak jago berani mati yang telah dilatih untuk menjual nyawa setiap saat.
Kata Lo Ciang lebih jauh.
"Kali ini kita hanya membawa seratus tiga puluh enam orang, musuh lebih banyak jumlahnya dari pada kekuatan kita, kemungkianan besar kita masih bukan tandingan mereka"
Sugong Siau hong menyetujui pendapat tersebut.
"Tapi, jika Sangkoan Jin menyambut sendiri kedatangan kita"
Kata Lo Ciang lagi.
"pengiring yang dibawanya pasti tidak terlalu banyak"
"Jadi kau bersiap siap untuk turun tangan pada waktu itu?"
Tanya Sugong Siau hong.
"Untuk membasmi kaum penjahat kita musti membekuk pentolannya lebih dulu, asal Sangkoan Jin telah berhasil kita kuasai, anak buahnya tentu tak berani sembarangan berkutik!"
"Siapa yang mempunyai kepandaian untuk membekuknya?"
"Bila kita biarkan siau sauya menyerang dari depan, toaya dan ji siocia menyergap dari kedua sayap, sedang aku dengan memimpin sepasukan jago mematahkan bala bantuan yang datang dari belakang tidak sulit rasanya untuk merobohkannya"
"Seandainya ia tidak keluar apa yang mesti kita lakukan?"
"Terpaksa kita harus menyerbu ke dalam dan beradu jiwa dengan mereka"
"Dengan menggunakan apa kau akan beradu dengan mereka?"
"Tentu saja beradu dengan mengandanlkan nyawa kita"
Lo Ciang berhenti sebentar, kemudian sambil mengepal sepasang tangannya ia berkata lebih jauh.
"Walaupun jumlah mereka lebih banyak, belum tentu mereka berani beradu jiwa dengan kita"
"Beradu jiwa"
Memang merupakan cara yang paling menakutkan dalam medan pertarungan, baik itu dilakukan disaat apa dan tempat macam apapun, bahkan kadangkala lebih mudah memberikan hasilnya.
Sugong Siau hong menghela napas panjang, katanya.
"Urusan telah berkembang menjadi begini, agaknya terpaksa kita harus menempuh dengan cara tersebut" ***** Sayang cara tersebut tak mungkin bisa mereka laksankan, karena hakekatnya mereka tidak mendapat kesempatan untuk menggunakannya. Pada saat itulah mereka telah mnenyaksikan kobaran api ditempat kejauhan sana, jilatan api yang membuat separuh langit berubah menjadi merah. Tempat terjadinya kebakaran itu tampaknya speerti benteng Sangkoan po yang sedang mereka tuju. Ketika mereka tiba, Sangkoan po sudah tinggal puing puing yang berserakkan, sesosok bayangan manusiapun tidak nampak. Ditempat bekas kebakaran tidak ditemukan kerangka manusia, Sangkoan Jin dan segenap anak buahnya berjumlah empat ratus orang telah lenyap dengan begitu saja, seakan akan mereka lenyap dengan begitu saja dari permukaan tanah. Sungguh tegas, keji, bersih dan rapi tindakan ini, sulit rasanya untuk menemukan orang kedua yang dapat melakukan tindakan setegas ini...
"Kemunafikkan, ketebalan muka, kekejian serta kelicikkannya sudah cukup membuat orang untuk mengaguminya, disamping takut pula kepadanya!"
Itulah penjelasan yang kemudian diberikan Sugong Siau hong tentang lenyapnya Sangkoan Jin dari benteng Sangkoan po.
Ucapan tersebut tak pernah dilupakan lagi oleh Tio Bu Ki untuk selamanya...
***** Selain mempersiapkan segala kepandaian untuk menjadi seorang istri yang setia dan bijaksana, Wi Hong Nio mempunyai pula suatu kebiasaan yang baik.
Setiap hari menjelang tidur, ia tentu mencatat semua kejadian besar yang dialami atau diketahuinya sepanjang hari serta semua jalan pikirannya pada hari itu dalam catatan harian.
Semenjak masih kecil, ia sudah mempunyai kebiasaaan baik itu, sekalipun ia berada dalam suasana yang sedih, belum pernah ia membengkalaikan kebiasaannya itu.
Tentu saja kejadian besar yang dialaminya selama beberapa hari ini telah dicatat semua, kendatipun agak sedikit kacau, tapi sikap serta cara berpikirnya tentang Bu Ki dan pelbagai persoalan ternyata jauh berbeda dengan pandangan orang lain Berikut ini adalah beberapa diantara catatan hariannya.
***** Bulan empat tanggal empat, hari cerah.
Pembunuh loyacu ternyata Sangkoan Jin, suatu kejadian yang tak pernah disangka sangka.
Aku selalu beranggapan hubungannya dengan loyacu paling akrab dari pada hubungannya dengan orang lain, bahkan sampai sore itu ketika mereka berdua minum arak dalam kebun, aku masih mempunyai anggapan demikian.
Sekalipun demikian, hari itu aku menemukan sesuatu kejadian yang aneh sekali.
Menengok dari daun jendela diatas loteng tempat tinggalku, kebetulan dapat kusaksikan gardu tempat mereka minum arak dengan jelas.
Hari itu kusaksikan dengan mata kepala sendiri Sangkoan Jin seperti akan menjatuhkan diri dan berlutut dan mnyembah dihadapan Loyacu, tapi niatnya itu dapat dihalangi oleh Loyacu.
Aku tahu, hubungan persaudaraan diantara mereka memang diimbangi dengan segala peraturan dan tata cara yang banyak, Samte menyembah kepada jikonya memang bukan suatu kejadian yang luar biasa.
Ditambah pula hari itu aku selalu merindukan Bu Ki, maka waktu terjadi peristiwa itu aku tak begitu menaruh perhatian hampir saja melupakan kejadian itu.
Tapi Setelah kupikirkan kembali sekarang, dapat kurasakan bahwa peristiwa menyembah itu pasti mengandung alasan yang luar biasa.
Mungkinkah lantaran Sangkoan Jin mempunyai rahasia yang memalukan dan berhasil diketahui oleh Loyacu, maka dia hendak menyembah untuk minta maaf?
Meskipun Loyacu telah mengampuni dirinya, tentu ia belum merasa lega maka dibunuhnya Loyacu untuk menghilangkan jejak.
Bu Ki, Cian Cian telah berangkat ke benteng Sangkoan po bersama Sugong toaya, hingga kini mereka belum kembali.
Sebelum berangkat , ia tidak melihat kepadaku, melirik sekejappun tidak, tapi aku tidak membencinya.
Aku dapat memahami perasaannya, sebab perasaanku sendiripun ikut menjadi takut.
Aku tahu malam ini aku pasti tak dapat tidur nyenyak.
***** Bulan enam tanggal lima, hari cerah.
Pagi pagi sekali Bu Ki sekalian telah pulang, wajah mereka tampak gelisah, murung dan tak sedap dipandang.
Akhirnya kuketahui ketika mereka tiba ditempat tujuan, ternyata benteng Sangkoan po telah terbakar tinggal puing puing yang berserakkan, Sangkoan Jin sendiri juga ikut kabur.
Ia memang selalu bertindak sangat cermat dan hati hati, tentu saja ia telah menduga kalau rahasiannya cepat atau lambat bakal ketahuan orang, maka sebelum terjadi sesuatu ia telah sedia payung sebelum hujan.
Kalau bukan demikian, tak mungkin ia bisa kabur membawa serta segenap anak buahnya.
Bila ada rombongan melakukan perjalanan bersama, kejadian ini pasti akan menimbulkan perhatian orang, sedikit banyak mereka tentu akan meninggalkan jejak pula.
Rupanya Sugong toaya telah berpikir sampai kesitu, ia telah mengutus orang untuk melakukan pengejaran ke empat penjuru.
Tapi menurut perasaanku, pengejaran ini pasti sia sia belaka dan tak akan mendatangkan hasil apa apa, sebab Sangkoan Jin tentu sudah berpikir pula sampai kesitu, seluruh anak buahnya tentu sudah diperintahkan untuk menyaru dan memecahkan diri dalam keompok kecil.
Hari ini Bu Ki masih belum mengajak aku berbicara, tapi aku tidak menyalahkan dirinya.
Bagaimana juga aku telah masuk ke dalam keluarga Tio, aku telah menjadi orangnya keluarga Tio, sampai berapa lamapun aku harus menunggu hatiku tak akan menyesal.
Aku sangat ingin membuatkan semangkuk kuah ayam masak kaki babi yang paling disukainya dan menyuapi sendiri kemulutnya.
Tapi akupun tahu bahwa aku tak boleh berbuat demikian.
Tempat yang kuhuni sekarang adalah suatu keluarga besar, aku harus berhati hati dalam setiap gerak gerikku, aku tak boleh membiarkan orang lain membicarakan kejelekkanku secara diam diam.
Aku hanya bisa berharap semoga ia bisa baik baik menjaga diri.
***** Bulan empat tanggal enam, hari mendung.
Hingga kini berita tentang Sangkoan Jin masih belum diketahui, semua orang tampak lebih gelisah dan tak tenang.
Yang aneh, keadaan Bu Ki justru lebih tenang dari pada beberapa hari berselang, bahkan setiap hari dia selalu menghabiskan semangkuk besar nasi beserta lauk pauknya.
Semenjak kecil ia sudah kuperhatikan, tentu saja sangat kupahami bagaimanakah tabiatnya, bila secara tiba tiba ia berubah menjadi begini, berarti ia telah mengambil satu keputusan dalam hatinya untuk mengerjakan sesuatu.
Sekalipun tidak ia ungkapkan, tapi aku percaya ia tentu hendak mencari sendiri jejak Sangkoan Jin serta membalaskan dendam bagi kematian loyacu.
Tapi akupun tahu, kekuatan yang dimilikinya terlalu minim, bukan saja usahanya ini sangat berbahaya, harapannya pun tipis.
Tapi siapakah yang bisa menghalangi niatnya itu?
Aku cukup memahami wataknya, bila ia sudah bertekad untuk mengerjakan suatu pekerjaan maka jangan harap niat tersebut dapat dihalangi.
Aku hanya berharap ia mau kemari dan menjumpaiku sekejap, memberitahu kepadaku kapan dia siap akan pergi, agar akupun dapat memberitahukan kepadanya bahwa kemanapun dia pergi, berapa lamapun ia akan tinggalkan diriku, aku selalu akan menantikan kedatangannya kembali.Sekalipun harus menunggu seumur hidup, aku juga rela.
***** Bulan empat tanggal tujuh, hari mendung.
Empat kelompok pengejar yang diperintahkan melacaki jejak Sangkoan Jin, sudah ada dua kelompok yang telah kembali, betul juga dugaanku, mereka pulang dengan tangan hampa.
Sebetulnya, kemanakah perginya Sangkoan Jin?
Tempat manakah yang dapat ia gunakan sebagai tempat persembunyian?
Aku dapat menduga tempat manakah yang ia gunakan sebagai tempat persembunyian, tapi aku tak berani mengatakannya.
Persoalan ini mempunyai hubungan yang amat besar dengan keadaan dalam dunia persilatan, aku tak akan sembarangan berbicara.
Semoga Bu Ki jangan teringat pula dengan tempat itu, sebab kalau sampai dia kesana, mungkin tiada harapan lagi baginya untuk kembali dalam keadaan selamat.
Setelah cuaca menjadi gelap, hujan mulai turun dengan derasnya pikiran dan perasaanku terasa makin kalut.
Oh, Bu Ki!
Mengapa kau tidak datang menengokku?
Tahukah kau berapa banyaknya persoalan yang hendak kubicarakan denganmu?
Tahukah berapa inginnya aku berbicara denganmu?
Walau hanya sepatah kata saja.
***** Kemarin, dikala aku menulis sampai disini tiba tiba ada orang mengetuk pintu diluar, akupun berhenti untuk sementara waktu.
Bagian yang kutulis sekarang adalah tambahan untuk catatan semalam, karena setelah Bu Ki pergi semalam, aku tak mampu untuk memegang pit lagi.
Tentu saja orang yang datang menjengukku malam malam tak lain adalah Bu Ki.
Ketika kujumpai kemunculannya, tak terlukiskan rasa gembira dihatiku, namun akupun merasakan kesedihan yang tak terkirakan.
Aku gembira karena akhirnya ia datang menjengukku, tapi akupun sedih karena sudah kuduga ia tentu datang untuk mengucapkan selamat berpisah denganku.
Ternyata dugaanku memang tidak salah.
Ia bilang dia mau pergi, pergi mencari Sangkoan Jin, kendatipun harus menjelajahi seluruh ujung dunia, Sangkoan Jin akan dicari sampai ketemu dan dendam Loyacu harus dibalas.
Ia bilang setelah menjumpai dia akan pergi kecuali aku tiada orang lain yang diberitahu, bahkan Cian Cian pun tidak tahu.
Sebetulnya aku tak ingin menangis dihadapannya.
Tapi setelah mendengar perkataan itu tak bisa ditahan lagi air mataku jatuh bercucuran.
Dia hanya memberitahukan persoalan ini kepadaku, sebelum berangkat diapun hanya berpamit padaku, ini berarti dalam hatinya masih terdapat aku, tapi mengapa ia tidak membawa serta diriku?
Padahal aku juga tahu, tak mungkin dia akan pergi membawaku, akupun tahu kepergiannya kali ini tanpa tujuan, aku tak boleh menyusahkan dia.
Tapi aku tak dapat mengendalikan rasa sedih yang mencekam perasaanku saat itu.
Aku merasa berat hati untuk melepaskan dia pergi, tapi akupun tak dapat menahan dirinya terus.
Jika aku melarang ia pergi untuk membalaskan sakit hati ayahnya, bukankah diriku akan menjadi orang yang berdosa dari keluarga Tio?
Lain kali aku mana aku punya muka untuk bertemu dengan Loyacu di alam baka?
Ketika ia melihat air amataku bercucuran, aku segera dihiburnya dengan kata kata lembut, ia bilang selama beberapa tahun ini selalu berlatih dengan tekun, ia merasa sudah mempunyai keyakinan dengan ilmu silat yang dimilikinya, lagipula sebelum keberangkatannya sekarang, ia telah mengadakan persiapan pula.
Yaa, ia memang sudah menyiapkan segala sesuatunya, bukan saja membawa ongkos jalan yang cukup, diapun mencatat semua alamat dari sahabat sahabat loyacu semasa hidupnya.
Semua alamat dari kantor kantor cabang perkumpulan Tay hong tong telah diingat semua dengan jelas, maka ia minta aku berlega hati karena diluar masih ada orang yang merawat dirinya.
Sesungguhnya ingin sekali kuberitahukan kepadanya betapa berharapnya aku bisa mendampinginya serta merawat sendiri semua kebutuhannya.
Tapi akhirnya aku tidak berkata apa apa, aku tak ingin membuat ia mengalami kesulitan ditempat luar karena terlalu merindukan diriku.
Aku lebih rela mencucurkan air mata sendiri disini.
Hari ini adalah bulan empat tanggal tujuh, hujan telah berhenti, tiba tiba saja udara berubah sangat panas, semacam musim panas saja.
Pagi tadi aku baru tahu, rupanya Sugong Siau hong pun telah pergi, ia berangkat lebih dulu, kemudian Bu Ki baru ikut berangkat.
Ketika fajar baru menyingsing, sudah beberapa rombongan yang keluar rumah untuk mencari Bu Ki, betapa berharapku bila mereka bisa menemukannya kembali, tapi akupun berharap agar mereka jangan menemukan dirinya, agar ia dapat melaksanakan apa yang sudah menjadi tugasnya untuk dilaksanakan.
Bagaimanapun juga, aku telah bertekad untuk tidak mengunci diri sepanjang hari dalam kamar.
Aku tak ingin menangis terus meratapi nasibku yang malang, akupun tak ingin menikmati semua penderitaan serta percobaan yang sedang menimpa diriku.
Aku tahu merenung tak ada faedahnya, menutup diri dalam kamar hanya akan merusak kesehatan badan sendiri, aku tak ingin menjadi perempuan yang lemah.
Yaa, bagaimanapun pedihnya perasaaanku, bagaimana hancurnya hatiku karena kepergiannya, aku harus bangkitkan kembali semangatku...
Aku harus tampilkan diri dirumah ini untuk membantu Cian Cian mengurusi rumah tangga, sebab rumah in telah menjadi rumahku pula.
Aku ingin membuktikan kepada arwah Loyacu yang berada dialam baka bahwa aku adalah menantu keluarga Tio yang baik, menantu keluarga Tio yang setia dan bukan perempuan lemah yang tak berjiwa jantan.
Akupun ingin membuktikan kepada setiap orang bahwa aku merupakan istri Tio Bu Ki yang setia, istri yang bijaksana dan dapat mengendalikan keadaan.
***** Bulan empat tanggal tujuh, hari mendung.
Empat kelompok pengejar yang diperintahkan melacaki jejak Sangkoan Jin, sudah ada dua kelompok yang telah kembali, betul juga dugaanku, mereka pulang dengan tangan hampa.
Sebetulnya, kemanakah perginya Sangkoan Jin?
Tempat manakah yang dapat ia gunakan sebagai tempat persembunyian?
Aku dapat menduga tempat manakah yang ia gunakan sebagai tempat persembunyian, tapi aku tak berani mengatakannya.
Persoalan ini mempunyai hubungan yang amat besar dengan keadaan dalam dunia persilatan, aku tak akan sembarangan berbicara.
Semoga Bu Ki jangan teringat pula dengan tempat itu, sebab kalau sampai dia kesana, mungkin tiada harapan lagi baginya untuk kembali dalam keadaan selamat.
Setelah cuaca menjadi gelap, hujan mulai turun dengan derasnya pikiran dan perasaanku terasa makin kalut.
Oh, Bu Ki!
Mengapa kau tidak datang menengokku?
Tahukah kau berapa banyaknya persoalan yang hendak kubicarakan denganmu?
Tahukah berapa inginnya aku berbicara denganmu?
Walau hanya sepatah kata saja.
***** Kemarin, dikala aku menulis sampai disini tiba tiba ada orang mengetuk pintu diluar, akupun berhenti untuk sementara waktu.
Bagian yang kutulis sekarang adalah tambahan untuk catatan semalam, karena setelah Bu Ki pergi semalam, aku tak mampu untuk memegang pit lagi.
Tentu saja orang yang datang menjengukku malam malam tak lain adalah Bu Ki.
Ketika kujumpai kemunculannya, tak terlukiskan rasa gembira dihatiku, namun akupun merasakan kesedihan yang tak terkirakan.
Aku gembira karena akhirnya ia datang menjengukku, tapi akupun sedih karena sudah kuduga ia tentu datang untuk mengucapkan selamat berpisah denganku.
Ternyata dugaanku memang tidak salah.
Ia bilang dia mau pergi, pergi mencari Sangkoan Jin, kendatipun harus menjelajahi seluruh ujung dunia, Sangkoan Jin akan dicari sampai ketemu dan dendam Loyacu harus dibalas.
Ia bilang setelah menjumpai dia akan pergi kecuali aku tiada orang lain yang diberitahu, bahkan Cian Cian pun tidak tahu.
Sebetulnya aku tak ingin menangis dihadapannya.
Tapi setelah mendengar perkataan itu tak bisa ditahan lagi air mataku jatuh bercucuran.
Dia hanya memberitahukan persoalan ini kepadaku, sebelum berangkat diapun hanya berpamit padaku, ini berarti dalam hatinya masih terdapat aku, tapi mengapa ia tidak membawa serta diriku?
Padahal aku juga tahu, tak mungkin dia akan pergi membawaku, akupun tahu kepergiannya kali ini tanpa tujuan, aku tak boleh menyusahkan dia.
Tapi aku tak dapat mengendalikan rasa sedih yang mencekam perasaanku saat itu.
Aku merasa berat hati untuk melepaskan dia pergi, tapi akupun tak dapat menahan dirinya terus.
Jika aku melarang ia pergi untuk membalaskan sakit hati ayahnya, bukankah diriku akan menjadi orang yang berdosa dari keluarga Tio?
Lain kali aku mana aku punya muka untuk bertemu dengan Loyacu di alam baka?
Ketika ia melihat air amataku bercucuran, aku segera dihiburnya dengan kata kata lembut, ia bilang selama beberapa tahun ini selalu berlatih dengan tekun, ia merasa sudah mempunyai keyakinan dengan ilmu silat yang dimilikinya, lagipula sebelum keberangkatannya sekarang, ia telah mengadakan persiapan pula.
Yaa, ia memang sudah menyiapkan segala sesuatunya, bukan saja membawa ongkos jalan yang cukup, diapun mencatat semua alamat dari sahabat sahabat loyacu semasa hidupnya.
Semua alamat dari kantor kantor cabang perkumpulan Tay hong tong telah diingat semua dengan jelas, maka ia minta aku berlega hati karena diluar masih ada orang yang merawat dirinya.
Sesungguhnya ingin sekali kuberitahukan kepadanya betapa berharapnya aku bisa mendampinginya serta merawat sendiri semua kebutuhannya.
Tapi akhirnya aku tidak berkata apa apa, aku tak ingin membuat ia mengalami kesulitan ditempat luar karena terlalu merindukan diriku.
Aku lebih rela mencucurkan air mata sendiri disini.
Hari ini adalah bulan empat tanggal tujuh, hujan telah berhenti, tiba tiba saja udara berubah sangat panas, semacam musim panas saja.
Pagi tadi aku baru tahu, rupanya Sugong Siau hong pun telah pergi, ia berangkat lebih dulu, kemudian Bu Ki baru ikut berangkat.
Ketika fajar baru menyingsing, sudah beberapa rombongan yang keluar rumah untuk mencari Bu Ki, betapa berharapku bila mereka bisa menemukannya kembali, tapi akupun berharap agar mereka jangan menemukan dirinya, agar ia dapat melaksanakan apa yang sudah menjadi tugasnya untuk dilaksanakan.
Bagaimanapun juga, aku telah bertekad untuk tidak mengunci diri sepanjang hari dalam kamar.
Aku tak ingin menangis terus meratapi nasibku yang malang, akupun tak ingin menikmati semua penderitaan serta percobaan yang sedang menimpa diriku.
Aku tahu merenung tak ada faedahnya, menutup diri dalam kamar hanya akan merusak kesehatan badan sendiri, aku tak ingin menjadi perempuan yang lemah.
Yaa, bagaimanapun pedihnya perasaaanku, bagaimana hancurnya hatiku karena kepergiannya, aku harus bangkitkan kembali semangatku...
Aku harus tampilkan diri dirumah ini untuk membantu Cian Cian mengurusi rumah tangga, sebab rumah in telah menjadi rumahku pula.
Aku ingin membuktikan kepada arwah Loyacu yang berada dialam baka bahwa aku adalah menantu keluarga Tio yang baik, menantu keluarga Tio yang setia dan bukan perempuan lemah yang tak berjiwa jantan.
Akupun ingin membuktikan kepada setiap orang bahwa aku merupakan istri Tio Bu Ki yang setia, istri yang bijaksana dan dapat mengendalikan keadaan.
***** Dia berbuat demikian karena dia ingin meninggalkan sejauh-jauhnya tatapan mata Hong-nio yang bening dan menghanyutkan.
Ia kuatir tatapan mata yang lembut tersebut akan meluluhkan tekad hatinya.
MANUSIA TAK BERTULANG PUNGGUNG MALAM sangat gelap.
Hujan turun dengan derasnya .......
Percikan air yang dingin bagaikan cambuk yang menyayat wajah Bu-ki, sekalipun udara serasa dingin membekukan badan tak nanti bisa memadamkan kobaran api dihatinya.
Api itu berkobar karena dendam kesumat yaug membara, air mata Hong-nio pun tak mampu memadamkannya, apalagi hanya percikan air hujan?
Sepanjang jalan ia melarikan kudanya kencang-kencang, bukan berarti ia telah mempunyai suatu tujuan tertentu dan terburu-buru ingin tiba disitu, bukan.
ooo0ooooo0oo ooo0oo Malam sudah semakin kelam, ditengah jalan raya yang gelap gulita tiba-tiba muncul sebuah lampu lentera.
Aneh!
Ditengah kegelapan malam yang diguyur oleh hujan yang membekukan badan, darimana datangnya pembawa lentera itu?
Tapi Bu-ki tidak berpikir ke sana, diapun tidak mendekati sumber lentera itu untuk memeriksa keadaan yang sesungguhnya.
Yaa, pada hakekatnya ia tak mau perduli urusan orang lain, siapa tahu justru oranglah yang telah menghadang jalan perginya.
Kuda tunggangannya yang perkasa tiba-tiba meringkik panjang dan mengangkat keatas sepasang kaki depannya, nyaris melemparkan tubuh Bu-ki ke belakang.
Kejadian tersebut segera mengobarkru amarahnya, sayang amarah itu tak mungkin dilampiaskan keluar sebab orang yang menghadang jalan perginya tak lebih hanya seorang bocah cilik.
Seorang bocah cilik yang berbaju merah membara dengan dua kepang yang kecil, ditangan kirinya ia membawa payung sedang ditangan kanannya membawa lampu lentera.
Ketika itu bocah tadi sedang menatapnya sambil tertawa, tampak sepasang lesung pipinya yang menambah manisnya raut wajah bocah itu.
Mustahil bukan ia harus marah dengan bocah cilik?
Tapi anehnya, kenapa bocah cilik seperti ini bisa muncul ditengah jalanan yang sepi dan gelap ini ditengah malam buta?
Bu-ki mengendalikan kudanya lebih dahulu, kemudian baru bertanya.
"Mengapa kau tidak menyingkir kesamping? Apa kali kau tidak takut diinjak kuda ini sampai mati? Bocah cilik itu menggelengkan kepalanya, sepasang rambut kepangnya yang cilik ikut bergoyang kesana kemari, lucu dan menawan persis seperti sebuah boneka. Sesungguhnya Bu-ki suka dengan anak cilik bocah itu sebenarnya juga menawan hati. Tapi bagaimanapun juga nyalinya terlalu besar, ia sudah tidak mirip dengan seorang bocah meski tampangnya masih kebocah-bocahan..
"Kau benar-benar tidak takut?"
Kembali Bu-ki bertanya.
"Aku hanya takut kalau kuda ini sampai kuinjak mati, sebab aku tak kuat untuk membayar ganti ruginya"
Bu-ki tertawa, tapi ia berusaha untuk menahan rasa gelinya, sambil menarik muka katanya dengan dingin.
"Kau tidak takut ayah ibumu menunggu dengan cemas dirumah?"
"Aku tidak punya ayah juga tidak punya ibu!"
"Perduli bagaimanapun juga, sekarang kau harus segera pulang ke rumah ."
"Tapi baru saja aku keluar dari rumah!"
Sera bocah cilik itu.
"Semalam ini mau apa kau keluar rumah?"
"Mencari kau!"
Meskipun setiap jawaban dari bocah itu berada diluar dugaan tapi yang paling diluar dugaan adalah ucapannya yang terakhir ini. Kau keluar rumah untuk mencari aku?"
Tanya Bu-ki keheranan.
"Ehmm betul" ''Kau masa tahu siapakah aku?" 'Tentu saja tahu, kau she Tio bernama Tio Bu-ki, Toa sauyanya Tio jiya dari perkumpulau Tay-hong-tong!"
Bu-ki tertegun, untuk sesaat ia tak sanggup berbicara. Bocah cilik itu memutar sepasang biji matanya, kemudian sambil tertawa kembali berkata.
"Tapi aku berani bertaruh tentu kau tak akan tahu siapakah aku ini, bukan begitu?"
Bu-ki memang tidak tahu, selama hidupnya hingga detik ini ia belum pernah berjumpa dengan seorang bocah cilik macam itu. Tarpaksa iapun bertanya.
"Siapakah kau?"
"Aku adalah bocah cilik!"
"Aku sudah tahu kalau kau adalah bocah cilik!"
"Kalau sudah tahu, kenapa musti bertanya lagi? "Aku ingin mengetahui namamu!"
Tiba tiba bocah, itu menghela napas panjang, katanya.
"Ayah ibupun aku tak punya, dari mana bisa mempunyai nama?"
Bu-ki ikut menghela napas sesudah mendengar jawaban itu, selang sesaat kemudian kembali ia bertanya.
"Lantas dirumahmu ada siapa saja?"
"Kecuali guruku masih ada seorang tamu"
Siapa gurumu?"
"Sekalipun kusebutkan namanya, belum tentu kau mengenalinya!"
Itu kalau dia tidak kenal dengan aku, kenapa suruh kau datang mencariku....?"
"Siapa bilang kalau dia yang suruh aku kemari?"
"Kalau bukan dia, masa tamu itu yang suruh?"
Tiba-tiba bocah itu menghela napas lagi.
"Aaaai... aku masih mengira kau tak bisa menebak untuk selamanya, tak kusangka kalau kaupun ada saatnya menjadi pintar"
"Apakah tamu kalian itu bernama Sugong Siau-hong?"
Kembali Tio Bu-ki bertanya. Bocah itu segera bertepuk tangan sambil bersorak kegirangan.
"Horee .... tak nyana makin lama kau semakin pintar, kalau begini terus kemajuan yang dapat kau raih, siapa tahu kalau suatu hari kau bisa menjadi secerdik aku sekarang"
Bu-ki tak bisa menjawab, ia hanya tertawa getir .
"Mau kesana tidak? kembali bocah itu bertanya Mana mungkin dari Bu-ki untuk menghindarkan diri? Setelah Sugong Siau-hong berhasil menemukan jejaknya, mau bersembunyipun tak ada gunanya ........
"Rumahmu berada dimana? akhirnya ia bertanya.
"Itu disana!"
Kata si bocah sambil menuding ke arah hutan ditepi jalan sana.
***** Hujan rintik masih turun tiada hentinya, tetesan air tersebut ibaratnya sabuah tirai dan hutan tersebut berada dibalik tirai.
Maka kau harus masuk dulu kedalam sebelum dapat melihat sinar lampu yang memancar keluar dari balik daun jendela.
Kalau ada sinar lampu, berarti disitu ada manusia yang menghuni.
Daun jendela itu tidak terlampau besar, sudab barang tentu bangunan rumahnya juga tidak terlalu besar, hakikatnya bangunan itu sebuah bangunan rumah kecil.
Bagaimana mungkin Sugong Siau-hong bisa sampai disini?
Bu-ki tak dapat mengendalikan perasaannya, ia bertanya.
"Mengapa gurumu harus mendirikan rumahnya ditempat seperti ini?"
"Masa disini ada rumah! Kenapa aku tidak menemukan rumah yang kau maksudkan itu?"
Kata si bocah keheranan.
"Itukan rumah? Kalau bukan, lantas apa namanya?"
Sambil menggelengkan kepalanya bocah itu menghela napas sedih.
"Aaai. ... kenapa secara tiba. tiba kau menjadi bodoh lagi?"
Keluhnya.
"masa sebuah kereta kudapun tak dapat kau bedakan? Bu-ki tertegun, ia benar-benar tercenung dibuatnya. Untunglah sepasang matanya masih dapat melihat bagian bawah dari "bangunan rumah"
Itu memang dibawahnya terdapat empat buab roda kereta yang besar.
***** Seandainya tempat itu adalah sebuah bangunan rumah, tentu saja tak dapat dianggap sebagai bangunan rumah, bila dianggap sebagai sebuah kereta, maka tempat itu betul-betul merupakan sebuah kereta kuda yang luar biasa besarnya.
Tapi pada hakekatnya tempat itu memang sungguh-sungguh sebuah kereta kuda.
Belum pernah Bu-ki menjumpai kereta kuda sebesar itu, hakekatnya lebih mirip dengan sebuah bangunan rumah kecil.
"Pernahkah kau tinggal diatas sebuah kereta?"
Tiba-tiba bocah itu bertanya.
"Belum pernah!"
"Tak heran kalau kau tidak tahu bahwa tinggal diatas kereta kuda jauh lebih nikmat dan nyaman daripada tinggal dalam sebuah rumah"
"Bagaimana nyamannya?"
"Dapatkah bangunan rumah berpindah-pindah?"
"Tentu saja tak dapat!"
"Tapi kereta kuda dapat berpindah-pindah, hari ini misalnya masih berada di bo-tong, besoknya sudah berada di Hoo-se, pada hakekatnya seakan-akan dimanapun kita pergi disitu ada rumah kita!"
"Apakah kalian selalu menganggap kereta kuda ini sebagai rumah tempat tinggal?"
Bocah itu manggut-manggut, tapi sebelum ia mengucapkan sesuatu, dari dalam kereta sudah ada orang menegur.
"Apakah Bu-ki telah datang?"
Tentu saja suara itu adalah suara dari Sugong Siau-hong!
Ruangan kereta yang luas dan lebar dibagi menjadi dua oleh sebuah kain korden berwarna merah menyala, bisa diduga dibalik tirai korden itu tentu merupakan kamar beristirahat dari tuan rumah.
Diruang depan terdapat sebuah pembaringan baru dan sebuah meja sebuah meja kecil, beberapa buah kursi kayu beberapa lembar lukisan kenamaaan beberapa macam barang antik dan selain itu terdapat juga sebuah bangku, sebuah tungku kecil dan satu stel catur.
Setiap macam benda itu tampaknya sudah dia atur secara teliti dam persis diletakkdn pada bagian ruangan yang paling cocok.
Setiap jengkal tempat yang berada dalam ruangan itu telah dipergunakan sebaik-baiknya.
Orang yang berbaring diatas pembaringan bambu itu adalah seorang setengah umur yang rambutnya sudah banyak yang memutih, ia berdandan amat rajin dan bersih, bajunya amat serasi sekulum senyuman ramah yang lembut menghiasi wajahnya yang tampan.
Siapapun juga yang bertemu dengannya pasti dapat merasakan bahwa dulunya ia tentu merupakan seorang laki-laki yang paling disukai oleh orang-orang perempuan.
Seandainya kalau bukan lantaran punggungnya mungkin sampai sekarangpun dia tetap akan disenangi oleh kaum perempuan.
Sayang punggungnya terdapat sebuah rangka besi yang menopang tubuhnya.
orang itu seakan-akan ditopang keseluruhannya oleh rangka besi tadi, seolah-olah bila tiada rangka besi itu maka seluruh tubuhnya akan terlepas dan hancur berkeping-keping Baik siapapun juga, bila pertama kali ia menjumpai pemandangan semacam ini pasti akan menimbulkan perasaan aneh dalam hatinya.
Perasaan itu seperti seseorang yang baru pertama kalinya menyaksikan seorang manusia sedang menjalankan siksaan hidup didepan matamu.
Bedanya, kalau siksaan orang lain dengan cepat akan berlalu, maka orang ini harus merasakan penderitaannya selama hidup.
***** Tio-Bu-ki hanya memandang orang itu sekejap.
Karena ia sudah tak ingin untuk memandang kedua kalinya, ia tak tega untuk menyaksikan ke dua kalinya.
Sugong Siau-hong duduk disebuah kursi tepat berhadapan dengan pintu kereta, ketika melihat kedatangannya, sambil tersenyum ia hanya berkata.
"Ooo...., akhirnya kau datang kemari juga!"
Bu-ki tidak mengajukan pertanyaan kepadanya, ia tidak bertanya.
"'Darimana kau kau bisa tahu kalau aku bisa datang?"' Seakan-aksn orang ini selalu dapat mengetahui segala sesuatu persoalan yang sesungguhnya tidak pantas diketahui olehnya. Sugong Siau-hong kembali berkata.
"Sebenarnya aku ingin menyambut sendiri kedatanganmu, tapi aku ....."
"Tapi kau takut kehujanan"
Tukas Bu-ki tiba-tiba sambil menyambung kata-katanya yang belum selesai itu.
"Darimana kau bisa tahu?"
Agaknya Sugong Siau-hong merasa terkejut bercampur keheranan oleh kenyataan itu "Yaa, tentu saja aku tahu hanya ada tiga pekerjaan di dunia ini yang kau paling takuti, pertama memikul kotoran manusia, kedua bermain catur dan ketiga kehujanan"
Mendengar perkataan itu, Sugong Siau-hong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-habak.
"Hingga sekarang aku tetap tak habis mengerti kenapa kau takut bermain catur?"
Kata Bu-ki.
"Sebab untuk bermain catur bukan saja harus pusatkan semua pikiran dan tenaga lagi pula terlalu banyak membuang energi ."
Kalau ada manusia macam Sugong Siau-hong, tentu saja ia tak sudi membuang-buang energinya dengan percuma, apalagi untuk melakukan pekerjaan macam bermain catur yang banyak membuang waktu.
Didunia ini masih terdapat banyak persoalan yang butuh ia pikir secara tenang, jauh lebih penting dari urusan seperti bermain citur.
Tiba-tiba tuan rumah yang berbaring diatas pembaringan itu ikut berkata sambil tertawa.
"Ooh, kalau seorang manusia cacad macam aku yang selalu bergelandangan ke empat penjuru, tentu saja tak akan kuatir untuk membuang tenaga dan pikiran secara percuma!"
Sekalipun senyumannya masih tetap lembut dan ramah, tapi jelas menunjukkan rasa kesepian yang tebal, kembali katanya.
"Bagiku, aku hanya takut kalau tak ada orang yang mau menemani aku untuk bermain catur lagi" ***** Hujan rintik-rintik dan hembusan angin dingin malam berlangsung diluar jendela, diatas meja kecil masih tertera permainan catur yang terhenti ditengah jalan. Mungkinkah sepanjang tahun ia selalu hidup dalam suasana seperti ini? Selalu hidup dengan rangka besi yang menopang puuggungnya? Meskipun Bu-ki selalu berpura-pura tidak memperhatikan penderitaannya, sayang ia bersikap kurang baik. Tiba-tiba tuan rumah itu tertawa dan berkata.
"Tentu saja akupun takut sekali dengan rangka besi yang selalu menopang punggungku ini, sayang aku tak bisa kehilangan dia"
Dalam keadaan seperti ini, Bu-ki tak dapat berpura-pura tidak melihat lagi, tak tahan dia lantas bertanya.
"Kenapa?.' "Sebab tulang punggung yang menopang segenap kekuatan tubuhku telah hancur dan rusak, bila tubuhku tidak ditopang oleh kerangka besi ini, niscaya keadaanku akan berubah menjadi mengenaskan sekali, yaa .... bayangkan sendiri bagaimana jadinya bila orang sudah tidak memiliki tulang punggung yang menopang tubuhnya lagi?"
"Oleh sebab itu kadangkala aku sendiripun merasa keheranan kenapa aku masih dapat hidup hingga sekarang"
Tiba-tiba Bu-ki menemukan bahwa punggungnya merinding karena basah oleh peluh dingin, hawa dingin yang mencekat perasaan itu muncul dari punggung dan langsung menembusi telapak kakinya Meskipun ia tak dapat memahami sampai berapa besar penderitaan yang dijalankan orang ini, tapi mau tak mau dia harus merasa kagum juga terhadap orang ini, karena kendatipun dirinya su-dah tahu kalau selama hidupnya harus berada dia atas rangka besi yang menopang tubuhnya, ternyata ia selalu dapat tersenyum bahkan senyumannya begitu lembut dan ramah.
Agaknya tuan rumah berhasil menebak apa yang sedang ia pikirkan, katanya.
"Akan tetapi aku tak usah mengagumiku, sebab ditubuh setiap orang pasti terdapat rangka semacam ini hanya saja kau tak dapat melihat dengan mata telanjang"
Ditatapnya Bu-ki tajam-tajam, seperti seorang kolektor yang sedang mengamati sebuah benda antik lalu tambahkan.
"Bahkan kau sendiripun sama saja!' "Akupun sama saja?"
Ulang Bu-ki dengan perasaan tidak habis mengerti.
"Kalau seorang yang mengidap penyakit, dalam tubuhmu juga terdapat sebuah kerangka yang menopang tubuhmu..maka hingga kini kau tak sampai roboh ke tanah"
Jelas Bu-ki masih belum dapat memahami maksudnya, cuma ia tetap menjaga ketenangannya dan siap mendengarkan perkataan orang itu lebih jauh. Kata tuan rumah itu lagi.
"Kalau kutinjau dari pakaian berkabung yang kau kenakan, rupanya dalam beberapa waktu berselang kau telah kehilangan seorang yang paling kau kasihi?"
Bu-ki tertunduk sedih. Setiap kali bila teringat kembali akan kematian ayahnya, ia selalu merasa hatinya perih dan sakit, sedemikian sakitnya sehingga hampir saja sukar ditahan.
"Wajahmu pucat pasti, sinar matamu sayu dan penuh dengan garis-garis merah semu ini menunjukkan bukan saja hatimu kelewat sedih, bahkan penuh dengan kobaran api dendam"
Kata tuan rumah lebih jauh. Setelah menghela napas tambahnya.
"Kesedihan dan api kebencian merupakan suatu wabah penyakit yang sangat berbahaya, kau sudah sakit parah"
Diam-diam Bu-ki harus mengakui akan kebenaran dari perkataan itu, yaa, memang begitulah keadaan yang sesungguhnya. Kembali tuan rumah berkata.
"Hingga sekarang kau belum juga roboh ketanah hal ini disebabkan karena kau masih ingin membalas dendam, maka kau tak boleh roboh duluan ke tanah"
Bu-ki mengepal sepasang tangannya kencang-kencang.
"Pandanganmu tepat sekali!"
Ia mengakui. Nah, ingatan untuk membalas dendam itulah kerangka yang telah menopang tubuhmu, tanpa kerangka penopang tersebut, mungkin sejak dulu-dulu kau sudah hancur dan musnah!"
Sekarang Bu-ki telah memahami maksud dari perkataannya itu.
Meskipun cara berpikir orang itu sedikit aneh dan luar biasa, namun mengandung suatu pendapat pelajaran yang dalam sekali artinya, yang membuat orang tak dapat membantah.
Sekalipun tubuhnya telab cacad, namun kecerdasan serta jalan pikirannya justru lebih tajam dan lebih hebat dari kebanyakan manusia.
Timbul suatu keinginan dihati Bu-ki untuk mengajukan suatu pertanyaan.
"Sesungguhnya siapakah orang ini?"
Tapi sebelum pertanyaan itu diajukan, sambil tersenyum Sugong Siau-hong telah keburu memberi keterangan lebih dahulu;
"Orang ini adalah seorang manusia aneh!"
Mengapa dia adalah seorang manusia aneh?"
"Selamanya belum pernah kusaksikan ia mencari untung setengek uangpun, tapi ia dapat melewatkan kehidupannya bagaikan seorang raja muda"
Kata Sugong Siau-hong lagi.
Dalam hal ini Bu-ki sudah dapat melihat sendiri, setiap benda dan barang antik yang tertera dalam kereta itu nilainya berada diatas ribuan tahil emas, pakaian yang dikenakan terbuat pula dari bahan yang termahal dan terhalus.
Tentu saja selain apa yang dapat dilihat, masih banyak diantaranya yang tak dapat dilihat oleh Bu-ki.
Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan 1
Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 7