Eps 8 Neraka Hitam - Khu Lung
Baca online Neraka Hitam - Khu Lung
Cersil Neraka Hitam - Khu Lung.
Berpikir sampai disitiu dia lantas mengamati perahu pertama yang makin mendekat itu, tapi setelah menyaksikan beberapa orang yang berdiri di ujung geladak itu ia menjadi amat tercengang, teriaknya kemudian dengan lantang.
"Toako, mengapa kau juga datang?"
Terdengar Hao Si menjawab dengan suara keras.
"Ayah dan ibu sebentar juga akan menyusul ke mari dengan membawa serta nona Jin Jite, tahukah kau akan hal ini?"
Kejut dan gembira Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, teriaknya lagi.
"Kapan mereka baru sampai disini?"
"Paling lambat juga satu hari lagi"
"Bagaimana dengan Jin Hian? Apakah sudah berhasil dihadang?"
"Jin Hian telah bersedia untuk mengasingkan diri ditempat terpencil dan selama hidup tidak muncul kembali dalam dunia persilatan, maka kami biarkan mereka pergi. Diatas darat masih terdapat banyak rekan persilatan dari pelbagai penjuru yang menantikan kedatangan kita, soal lain nanti saja kita bicarakan lagi, jaraknya terlalu jauh tak enak untuk bercakapcakap. Sementara itu para jago pun ada separuh bagian sudah naik keatas perahu besar dan bertarung disitu, tapi setelah dilihatnya orang-orang keluarga Hoa datang bersamaan Kiuim-kau, dengan perasaan tercengang, masing-masing pihak segera menghentikan pertarungan dan menengok ke depan. Tiba-tiba dari antara deretan orang yang berdiri diantara Kiu-im-kaucu itu, Coa hujin, Swan Bun sian menemukan seorang lelaki gagah berbaju perlente, tanpa terasa dia landas berteriak keras.
"Goan hau!"
Dengan wajah berseri dan penuh pergolakan emosi, lelaki berbaju parlente itupun berteriak.
"Bun sian baik-baikkah kau? Apakah kakek dia orang tua juga baik? Bagaimana dengan anak-anak?"
Menyinggung soal anak, Coa Wi-wi segera mengalihkan pandangan matanya kearah lelaki kekar itu, ia merasa ada suatu hubungan batin yang erat muncul dalam hatinya, segera ditariknya ujung baju ibunya sambil berbisik.
"Ibu apakah dia ayah?"
Setelah berjumpa muka dengan suaminya yang sudah banyak tahun tak pernah bersua, Coa hujin merasakan suatu pergolakan perasaan yang amat hebat, mendengar perkataan itu dia lantas mengangguk.
Sementara itu seorang kakek berwajah cerah yang berdiri disebelah kiri Kiu-im-kaucu sedang mengamati ke sana kemari dengan pandangan tajam, kemudian dengan lantang dia berseru.
"Anak Jin, dimana kau?"
Mendengar suara itu, bagaikan baru sadar dari impian setelah tertegun sejenak Si Leng jin berteriak kegirangan.
"Ayah, anak Jin berada disini!"
Tiba-tiba terjadi kegaduhan dalam tubuh orang-orang Hianbeng-kau.
Ketika Kok See-piau menyaksikan orang-orang Kiu-im-kau berubah haluan, apalagi menyaksikan kemunculan Si Seng tek dan melihat ketidak siapan anak buahnya, tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaannya, tanpa banyak berbicara lagi, tiba-tiba ia berpekik nyaring.
Mendengar tanda rahasia tersebut, orang-orang Hian-bengkau segera bergerak menyergap orang-orang Kiu-im-kau.
Dari delapan buah tersebut, selain perahu yang ditumpangi Bwe Su-yok, hampir sebagian besar anggotanya adalah orangorang Hian-beng-kau, rupanya Kok See-piau memang punya rencana sampai kesitu, dengan mengatur jago-jagonya sedemikian rupa.
Kendatipun Kiu-im-kau sendiri juga mengadakan persiapan mana mungkin mereka bisa melawan musuh sebayak itu, dalam waktu singkat ada yang mati tersergap adapula yang mencebur kelaut dengau membawa luka, separuh bagian diantaranya tahu-tahu sudah meninggalkan perahu.
Cepat-cepat orang-orang Hian-beng-kau memutar haluan dan ingin membalikkan perahunya untuk kabur dari situ.
Tiba-tiba Kiu-im-kaucu membentak keras.
"Kok See-piau, kau benar-benar tak tahu diri, jika tidak menghentikan perbuatanmu itu bila kubiarkan orang Hian-beng-kau bisa lolos seorangpun aku segera akan bunuh diri. Lautan ini amat luas, tak mungkin kau bisa meloloskan diri"
Kok See-piau segera tertawa dingin.
"Heeeh........heehh.....hhheeh.....bagaimanpun juga toh sama saja, mau beradu jiwa juga boleh"
"Tidak demikian persoalannya kata Kiu-im-kaucu dengan suara dalam, aku tak ada minat untuk membasmi kalian diatas lautan, telah tiba diatas daratan nanti Hoa kongcu sekalian yang akan membereskan persoalan ini dengan kalian sendiri, pihak kami mengundurkan diri dari persoalan ini"
Mula-mula Kok See-piau agak tertegun kemudian baru mengerti, dia tahu rupanya perempuan ini membiarkan pihak pendekar bertarung dengan pihaknya lebih dulu, sebab bagaimanapun jua bagi Kiu-im-kau hanya ada keuntungan tanpa kerugian.
Sebaiknya bila bertarung diatas lautan, Kiu-im-kau sudah pasti akan bekerja sama dengan pihak pendekar, sudah pasti Hian-beng-kau akan punah sama sekali kekuatannya, kendatipun Cho Thian hua menunjang dirinya"
Maka setelah berpikir sejenak, terpaksa ia berteriak keras.
"Semua anggota Hian-beng-kau segera menghentikan pertempuran!"
Mendengar teriakan itu, terpaksa para jago Hian-beng-kau menghentikan pertarungan dan membiarkan orang-orang Kiuim-kau untuk menjalankan perahunya untuk bergabung dengan armada lainnya.
Dengan gerakan yang cepat, perahu dari kedua belah pihak saling mendekat, dalam waktu singkat perahu-perahu itu sudah beradu muka, sekali pun cepat dalam waktu namun lama dalam penantian bagi mereka yang berharap bisa cepat bertemu dengan rekan-rekan dekatnya.
Tiba-tiba terdangar Kok See-piau mengejek sambil tertawa dingin.
"Kiu-im-kaucu, kalian terhitung juga suatu perkumpulan besar, tapi kenyataannya membatalkau persekutuan ditengah jalan, bila kabar ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, apakah kalian tidak malu ditertawakan orang?"
Kiu-im-kaucu mendengus dingin.
"Hmm! Kau berniat busuk dengan mengutus Huan Tong untuk mencari info dipihak kami, kau anggap kami tidak tahu? Oleh karena dihari-hari biasa dia cukup tunduk dan patuh padaku maka aku melepaskannya untuk pergi. Tang Kwik-siu berniat busuk menyergap partai-partai besar akhirnya toh mereka juga kalah total. Sesungguhnya dihari ini aku telah menyusun suatu rencana bagus untuk membasmi semua pendekar dari golongan putih termasuk pula dirimu, tak nyana kalau Hoa tayhiap suami istri lebih lihay, sebelum rencanaku dilaksanakan dengan sepatah kata mereka, aku bisa ditaklukan, maka rencana itu kubatalkan. Nah, sekarang rasanya kita juga tak usah banyak bicara, dalam hati kita semua tentu lebih mengerti daripada orang lain mengapa aku musti takut ditertawakan orang?"
Jawaban itu sama sekali diluar dugaan semua orang, tapi semakin jelas menunjuk kan betapa tangguhnya kekuatan yang dimiliki tiga kekuatan besar dunia dan bagaimana cerdasnya otak-otak para pemimpinnya, andaikata sampai terjadi bentrokan kekerasan, sudah pasti darah akan berceceran dan mayat akan menggunung, kepandaian orangorang keluarga Hoa untuk menduga sebelum terjadinya bencana juga mengagumkan, ini membuat mereka yang diamdiam mengomel atas ketidak hadiran Hoa Thian-hong merasa malu sendiri.
Tiba-tiba Hui Tong melompat ke laut untuk melarikan diri, Un Yong cian dengan gusar membentak keras dan siap mengejar, tapi Kiu-im-kaucu segera mengebaskan tangannya sambilberkata.
Un huhoat, tak usah di kejar, ada orang lain yang akan membereskan dirinya.
Dengan wajah hijau membesi Kok See-piau segera berseru.
"Bagus, bagus, pun sinkun tidak percaya kalau kau bakal berakhir dengan baik, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!"
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, perahu dari kedua belah pihak telah saling melintas, Goan cing taysu, keluarga Coa, Si Leng jin, Bwe Su-yok dan Hoa In-liong sekalian segera berlompatan keatas perahunya Kiu-im-kaucu, sedangkan pengemudi perahu tersebut tanpa dipesan lagi segera memutar kemudi dan berlayar balik kearah samudra.
Pertama-tama Coa Goan hau menjumpai dahulu diri Goan cing taysu.
Dengan suara lembut Goan cing taysu segera berkata.
"Tak usah banyak adat, jumpailah anak Sian!"
Coa hujin segera menitahkan putra putrinya untuk maju menjumpai ayahnya, setelah memberi hormat, Coa Cong gi menyingkir ke samping sedang Coa Wi-wi menubruk kepelukan ayahnya.
Menyaksikan putra putrinya sudah dewasa, Coa Goan hau merasakan hatinya bergetar keras, sambil memeluk sang putri dan memandang istrinya, ia cuma bisa menggetarkan bibirnya tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Agaknya suami istri berdua mempunyai beribu-ribu kata yang menyumbat didalam dada, tapi tak sepotong katapun bisa diucapkan, setelah termenung agak lama, Coa Goan hau baru berbisik dengan lirih.
"Bun sian, selama ini banyak tahun kau tentu amat menderita bukan?"
Bersamaan waktunya, Si Leng jin juga berpelukan dengan ayahnya, sambil mengusap rambut putrinya dengan perasaan menyesal, Si Seng tek berkata.
"Jin ji, aku sudah membuatmu menderita, aku merasa bersalah kepadamu"
Sedangkan Bwe Su-yok berlutut didepan Kiu-im-kaucu sambil me ngangsurkan tongkat kepala setannya kepada gurunya, dengan sedih ia berkata.
"Yok ji tak becus, tak pandai bekerja, harap im su menarik kembali tongkat kekuasaan ini dan menjatuhkan hukuman kepada Ku"
Kiu-im-kaucu agak tertegun, kemudian sambil tertawa katanya.
"Yok ji, semua perbuatan mu telah kuketahui, perbuatanmu selama ini bagus sekali, aku justru merasa gembira karena menemukan orang yang tepat, dengan demikian akupun bisa mengundurkan diri dengan hati yang lega"
Tapi dengan tekad yang sudah bulat, Bwe Su-yok kembali memohon.
"Suhu, Yok ji tak sanggup memikul beban yang sangat berat ini"
Kiu-im-kaucu segera mengerutkan dahinya sambi1 termenung sejenak, tiba-tiba dia meengganguk dan menerima kembali tongkat berkepala setan itu, katanya dengan lembut.
"Rahasia hatimu bukamnya tidak kupahami, tapi kedudukan seorang kaucu adalah berat dan agung, tidak mudah diganti semaunya sendiri, aku lihat lebih baik kau menerimanya dan melaksanakannya lebih lanjut, begini saja, untuk sementara waktu aku akan melaksanakannya untukmu, sedang kau boleh menggunakan kesempatan ini melatih diri, menanti perasaanmu menjadi tenang kembali, kedudukan kaucu ini baru kau tempati lebih jauh, bagaimana menurut pandanganmu Yok?"
Bwe Su-yok tahu bahwa permintaannya tak mungkin bisa dikabulkan, sikap gurunya sekarangpun sudah terhitung cukup baik, ia tahu bila mendesak kelewat batas bisa jadi kehidupan selanjutnya akan susah dipertahankan, maka dengan wajah sedih dia memberi hormat dan kemudian bangkit berdiri serta berdiri dibelakang Kiu-im-kaucu.
Dua bersaudara Hoa pun berdiri menonton dari samping sambil tertawa setelah berbicara sebentar.
Pertemuan antara keluarga Coa dan keluarga Si ini jauh sebelumnya telah berada dalam dugaan Hoa In-liong.
Ketika Hoa In-liong berhasil menyelamat kan Coa Goan hau dan Si seng tek tempo hari, dia menghantar mereka langsung ke keluarga Hoa.
Sesungguhnya ilmu silat Si seng tek telah punah karena pengaruh obat pembuyar tenaga, tapi dibawah perawatan dari Chin si hujin, kekuatannya telah dapat didapatkan kembali, sewaktu kedua orang itu tahu kalau Hoa In-liong hendak menghadapi Tang Kwik-siu, maka mereka segera menyusul tiba.
Dari sekian banyak orang, hanya Bwe Su-yok seorang yang merasa sedih bercampur murung, ia tak tahu bagaimana perasaannya waktu itu.
Sedangkan para jago dari Kiu-im-kau juga rata-rata tertegun oleh kenyataan didepan mata.
Angin malam yang kencang membawa perahu mereka bergerak lebih cepat kedaratan, menggunakan kesempatan sewaktu air sedang pasang mereka segera berlabuh dalam sebuah teluk.
Diatas darat tampak rombongan manusia yang sangat banyak berkumpul disekitar sana, ketika para jago turun dari perahu, de ngan cepat mereka lantas menggabungkan diri.
Begitu naik ke daratan, Kok See-piau cepat-cepat memutuskan untuk angkat kaki dari situ, dia berniat menghimpun dulu kekua tannya kemudian baru membalas dendam sakit hati ini dikemudian hari.
Siapa tahu teluk tersebut merupakan suatu kantor cabang rahasia dari Kiu-im-kau, tiga penjuru berupa gunung dengan satu arah menghadap ke lautan, situasi medannya amat strategis dengan tiap mulut jalan dijaga oleh sejumlah anggota Kiu-im-kau.
Dalam pada itu, para jago Kiu-im-kau yang baru naik kedaratpun dengan cepat menutup semua jalan pergi mereka, dengan demikian sekeliling tempat itu sudah terkepung rapatrapat.
Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu dengan cepat memahami siasat busuk dari Kiu-im-kaucu, rupanya andaikata pihak pendekar tidak membasmi mereka maka Kiu-im-kaucu pun tak akan melepaskan pihaknya keluar dari situ dengan selamat, karena itu diundangnya kekuatan para pendekar untuk berkumpul disitu dan bersama-sama membasmi Hianbeng-kau.
Tak terlukiskan rasa bencinya didalam hati, saking gemasnya sepasang gigi sampai bergemerutukan keras, sambil tertawa dingin teriaknya keras-keras.
"Kiu-im-kaucu, bagus sekali siasatmu ini, rupanya kembali ingin menjadi nelayan yang mujur?"
Kiu-im-kaucu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ...haaahh.......haaahh....... kau ini manusia seperti apa? Terserah apa yang hendak kaukatakan, pokoknya yang ada, kehadiran Hian-beng-kau didunia ini tak lebih cuma meninggalkan bibit bencana bagi umat persilatan"
Biau-nia Sam-sian paling mendendam terhadap pihak Hianbeng-kau, terutama setelah nyaris mampus ditangan Cho Thian hua. Mendengar perkataan itu dengan cepat Lan hoa siancu berseru.
"Betul, demi dunia persilatan kita tak boleh melepaskan orang orang Hian-beng-kau!"
"Liong ji!"
Seru Siau yau sian Cu Thong pula dengan dingin "
Bila Kok See-piau sampai lolos aku akan minta pertanggungan jawabmu!"
Si jago tua ini rupanya paling benci terhadap Kok See-piau.
Setelah menyaksikan keadaan yang dihadapinya itu, tahulah Kok See-piau bahwa mustahil baginya untuk meloloskan diri, dia menjadi sekad dan segera mengambil keputusan untuk melakukan perlawanan dengan punggung menghadap keair.
Tiba-tiba Go Tang cuan berbisik kepada Kok See-piau dengan ilmu menyampaikan suara.
"Sinkun, pihak Kiu-im-kau bertahan diluar, bila kita harus bertarung melawan pihak golongan putih, mustahil buat kita lolos, sebaliknya jika Kiuim-kau juga kita paksa untuk terjun dalam suatu pertarungan massal maka dalam kekalutan besar kemungkinan kita bisa lolos dari sini"
Dengan cepat Kok See-piau memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ternyata apa yang diucapkan memang benar, harapannya untuk hidup segera muncul, tak tahan lagi dia tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaahh.....haaahhh.... hhaaahh.... Go Hu kaucu, pun sinkun akan menggantungkan padamu!"
"Tidak berani, asal hamba pasti akan ku usahakan sedapat mungkin....."
Kecerdasan otak kedua orang itu sangat luar biasa, dalam keadaan terdesak pun mereka masih sanggup untuk melihat keadaan sambil menyusun rencana..
Tiba-tiba Go Tang cuan maju ke depan dengan langkah lebar kemuka Kiu-im-kaucu, katanya dengan dingin.
"Kiu-im-kau menghianati persekutuan, perbuatan kalian sungguh memalukan, aku Hu kaucu dari Hian-beng-kau ingin minta keadilan darimu!"
Kiu-im-kaucu tertawa hambar.
"Jika kau ingin cepat mampus, aku pasti akan memenuhi keinginanmu itu...."
Dia lantas mengulapkan tangannya memberi tanda, Sin Seng sam cepat melompat ke depan sambil berkata dengan dingin.
"Pun tongcu siap melayani dirimu!"
Go Tang cuan memang bermaksud kesitu, sambil mendengus dingin dia lantas maju sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke lambung lawan.
Ketika dilihatnya serangan dari Sin Seng sam tersebut sederhana tiada sesuatu yang aneh, dia lantas bergerak maju ke depan sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat, timbul pandangan rendahnya atas kemampuan lawan.
Sambil tertawa seram, katanya.
"Namanya saja seorang hu kaucu dari Hian-beng-kau......"
Belum habis dia berkata, desingan angin tajam telah menyambar lewat, tahu-tahu cakar musuh telah tiba diatas dadanya, Sin Seng sam amat terkejut, peluh dingin membasahi tubuhnya, untung saja ilmu langkah loan ngo heng mi sian tun huat yang dimilikinya amat sempurna, dalam keadaan kritis dia berhasil menghindari ancaman tersebut.
Terdengar Go Tang cuan tertawa nyaring, mendadak dari antara jurus-jurus serangan-nya muncul serangkaian ilmu pukulan yang aneh sekali.
Sin Seng sam tak sempat untuk menghindarinya, dengan memaksakan diri ia lantas menyambut kelima buah serangan lawan dengan keras lawan keras, akibatnya dia merasakan darah panas didalam dadanya bergolak keras, nyaris dia jatah terhuyung.
Sementara itu Go Tang cuan menggunakan kesempatan tersebut menerjang maju ke muka sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke dada lawan.
Pukalan yang dilepaskan ini sama sekali diluar kebiasaan, sulit buat Sin Seng sam untuk meloloskan diri, terpaksa dia harus miringkan badan sambil menjejakkan kakinya keras keras.
"Kraaak......."
Pukulan dari Go Tang cuan itu bersarang telak diatas bahu Sin Sang sam yang membuat tulang bahunya hancur berantakan, tubuhnya segera terlempar sejauh dua kaki lebih.
Khong Im sangat terperanjat dan buru-baru menyambut tubuhnya, ketika diperiksa tampak paras maka Sin Seng sam pucat pias seperti mayat, ia sudah berada dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Jelek-jelek begitu Sin Seng sam adalah Coanto tongcu dari perkumpulan Kiu-im-kau, kekalahan yang dideritanya dalam waktu singkat ini meski disebabkan oleh keteledorannya, namun semua orang lantas tahu kalau Go Tang cuan sebagai seorang Hu kaucu pasti memiliki ilmu silat yang luar biasa sekali.
Bukti yang tampak sekarang betul-betul diluar dugaan siapapun, saking marahnya Kiu-im-kaucu sampai tertawa dingin tiada hentinya, Kiu im suciat segera terjun kearena pertarungan sedangkan dari pihak Hian-beng-kau segera bermunculan pula Bu Beng san, Phoa Siu, Pi Cok liang dan lain-lainnya, suatu pertarungan masal agaknya segera akan berkobar.
Go Tang cuan yang menyaksikan siasatnya sudah hampir berhasil segera ter tawa terbahak-bahak, tapi pada saat itulah ia menyaksikan seorang tokoh setengah umur yang cantik dengan tangan kirinya mencengkeram seorang nona yang berwajah kuyu dan kurus melintas masuk kedalam arena, begitu tahu kalau mereka adalah istrinya Thia Siok-bi dan putrinya Go Hong giok, gelak tertawanya seketika berhenti.
Terdengar Thia Siok-bi berkata dengan nyaring.
"Tang cuan, mengapa kau tidak segera ikut kita mengasingkan diri? Apalagi yang hendak kau nantikan?"
Go Tang cuan tertegun, sementara wajahnya masih berubah-ubah, terdengar Go Hong giok berpekik sedih.
"Ayah!"
Begitu mendengar teriakan putrinya, Go Tang cuan merasakan darah panas didalam dadanya bergolak keras, cepat-cepat dia menjura kepada Kok See-piau sambil berkata.
"Bukan aku Go Tang cuan melarikan diri disaat bahaya, aku harap kau sudi memaklumi keadaanku!"
Kok See-piau segera mengulapkan tangannya sumbil menukas.
"Sebelum semuanya ini terjadi, kita sudah ada perjanjian lebih dulu, setiap saat kau boleh pergi, tak usah banyak bicara lagi!"
"Terima kasih atas kebaikan sinkun!"
Go Tang cuan segera menjura, kemudian setelah memberi hormat keempat penjuru dia membalikkan badan siap pergi. Tiba-tiba terdengar Bu beng san berseru dengan penuh kegusaran.
"Penghianat yang tidak setia kawan, serahkan selembar nyawamu!"
Sepasang telapak tangannya segera diputar lalu segelung tenaga serangan yang maha dahsyat dengan cepat menggulung ke muka, Go Tang cuan mendengus tertahan, tubuhnya terpental sejauh beberapa kaki oleh sapuan tenaga serangan itu, lalu sambil muntah darah ia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, sebelum berhasil berdiri tegak.
Thian Siok-bi, ibu dan anak menjerit kaget, sementara Bu Beng san yang berhasil melukai musuhnya secara gampang juga tertegun tapi dengan cepat ia menggerakan badannya menyusul ke depan sambil bersiap-siap melepaskan serangan lagi.
Tampak Go Tang cuan membesut noda darah dari ujung bibirnya, kemudian seraya berpaling tegurnya keren.
"Saudara Bu jangan keterlaluan! Sebelum masuk menjadi anggata, aku orang She Go telah mengikat janji lebih dulu dengan sinkun, bahwasanya setiap saat aku bisa peroleh kebebasanku, serangan yang kau hadiahkan kepadaku tadi sebagai petunjuk bahwa aku merasa menyesal sekali"
"Kentut busuk!"
Seru Bu Beng san sambil menyeringai seram.
"enak betul jalan pemikiranmu itu"
Telapak tangannya segera diayunkan lagi ke depan dan sebuah serangan maut sekali lagi dilepaskan.
Dalam keadaan terluka parah, Go Tang cuan tak berani menerima ancaman itu dengan keras lawan keras, dengan cepat ia menggeserkan kaki sambil memutar badan, ia bersiap siap-siap untuk menghindarkan diri dari ancaman itu.
Mendadak terdengar Bu Beng san menjerit kaget, tangan kirinya segera nemegangi pergelangan tangan kanannya sambil melayang mundur dua kaki kebelakang, kemudian sambil menggigit bibir menahan diri serunya.
"Anjing cilik". Hebat betul kepandaianmu untuk main sergap"
Berhasil melukai pergelangan tangan Bu Beng san, Hoa Inliong hampir tidak ambil perduli atas omelan musuhnya, kepada Go Tang cuan dia menjura lalu serunya.
"Kami mempunyai cara penyembuhan yang sangat jitu untuk mengobati luka dalam yang diderita Hong giok, silahkan pindah kemari"
Hoa Si juga turut maju sambil menjura sambungnya.
"Boanpwe dengan segala tulus hati mengundang saudara bertiga untuk menginap selama beberapa hari dalam perkampungan Liok sat san ceng kami...."
Sejak melangkah ke tengah arena tadi, Go Hong giok selalu menga-lihkan sorot mata nya mengawasi wajah Hoa In-liong yang tampan itu, seolah-olah sesudah itu dia tak akan berjumpa lagi untuk selamanya.
Mendengar tawaran tersebut, tiba-tiba ia menyela.
"Luka yang kuderita tidak parah, ayah, mari kita pergi dan sini"
Ucapan itu tegas dan serius, seolah-olah gadis itu sudah mengambil keputusan yang bulat.
Tapi, ambisi Go Tang cuan waktu itu sudah punah, apa yang dipikirkan olehnya sekarang adalah masalah yang menyangkut ke sehatan Go Hong giok, sudah barang tentu dia enggan untuk menuruti perkataan putrinya itu.
Setelah termenung beberapa saat, ujarnya kepada Go Hong giok dengan suara lembut.
"Giok ji, ayah ingin memohon sesuatu ke padamu, bersediakah kau untuk mengabulkannya?"
"Oh ayah!"
Sahut Go Hong giok dengan sedih.
"kau membuat putrimu tak berani mengangkat kepala, apapun permintaan ayah, putrimu pasti akan menurutinya"
Go Tang cuan segera menghela napas panjang sambil berpaling, katanya kemudian, Istri dan anakku pasti akan mengganggu beberapa hari didalam perkampungan kalian, sekarang lohu masih ada sedikit urusan, biarlah aku lakukan hal ini lain waktu saji"
Setelah memberi hormat dan menengok sekejap kearah istri dan anaknya, ia membalikkan badan dan berlalu dari situ.
"Ayah!"
Go Hong giok segera menjerit keras. Titik air mata juga berlinang membasahi wajah Thia Siokbi, katanya kemudian.
"Giok ji ayahmu merasa amat menyesal sekali kepadamu, untuk menebus dosanya ia pasti berangkat ke bukit Tiang pek san untuk mencarikan jinsom bagimu, padahal pekerjaan ini bukan suatu pekerjaan yang gampang, mungkin belasan tahun kemudian usaha ini baru berhasil, mungkin juga lebih lama, tapi kau tak usah menghalangi niatnya itu, kalau tidak, sekalipun dia tetap tinggal tersama kita, hatinya akan menderita sepanjang masa, demi kau terpaksa akupun bersedia untuk tunduk dan memohon bantuan orang"
Go Hong giok merasa amat terharu sekali, sebenarnya ia memang tidak menaruh perasaan apa-apa terhadap ayahnya, tapi ketika dilihatnya ayahnya bersedia mendaki bukit yang tinggi, menahan siksaan hawa dingin, ancaman binatang buas dan berusaha untuk mencari obat baginya, ia merasa, rasa haru yang muncul dalam hatinya sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.
Dengan suara lembut, Hoa In-liong segera berkata"
"Hong giok, tak usah bersedih hati lagi, kini empok telah bertobat kembali dari jalan sesat semestinya kalau kejadian ini perlu dirayakan, betul kepergiannya kali ini hanya sementara, tapi hal mana bisa meringgankan siksaan dan penderitaan dalam hatinya, kalau tidak membiarkan dia pergi menuruti suara hatinya, mungkin sampai mati pun dia tak akan mati dengan mata meram"
Dengan terjadinya peristiwa ini, Kok See-piau betul-betul merasa gusar sekali, tapi Go Tang cuan memang berilmu tinggi, lagipula mereka mempunyai perjanjian lebih dulu, bila sampai disinggung maka hal mana justru akan mengurangi martabat serta kekuatan sendiri Maka dari itu, untuk sesaat dia menjadi apa boleh buat, terpaksa semua kemarahannya dilampiaskan ke tubuh Hoa Inliong, tiba-tiba bentaknya dengan geram.
"Orang she Hoa, kau tak usah berlagak sok?"
Hoa In-liong tertawa dingin, tiba-tiba ia menjura kepada Si Seng tek. Si Seng tek manggut-manggut lalu keluar dari rombongan, serunya dengan suara lantang.
"Kok See-piau, bila kau belum juga mau memadamkan pikiran sesatmu, aku orang she Si yang akan menjadi penyerang pertama"
Kok See-piau melirik sekejap kearahnya, lalu tertawa dingin.
"Kau sendiri masih belum cukup cekatan, mana bisa dibandingkan denganku? Sekarang, apakah kau hendak mengandalkan keluarga Hoa sebagai tulang punggungmu untuk datang menuntut balas?"
Si Seng tek tertawa hambar.
"Sekalipun aku katakan belum tentu kau percaya, sesungguhnya aku orang she Si ingin berterima kasih kepadamu karena tidak sampai tertimpa musibah ini, sampai akhirnya aku orang she Si sebelum sampai keblingar oleh hasutanmu"
Kok See-piau tidak menjawab, dia cuma tertawa dingin tiada hentinya. Dengan suara hambar, Si Seng tek berkata lagi.
"Kalau toh kau belum mau juga menyesal, aku orang she Si juga tak akan banyak berbicara lagi"
Dia memandang sekejap keseluruh arena kemudian serunya dengan suara lantang.
"Didalam perkumpulan Hianbeng-kau pasti masih terdapat saudara-saudara dari aku orang she Si dimasa lampau, bila kalian masih menginggat dengan hubungan persaudaraan kita dimasa lalu, silahkan datang kemari untuk mengadakan pembicaraan"
Semantara itu Hoa In-liong sedang berbisik sesuatu kepada Hoa Si, mendengar itu Hoa Si manggut-manggut, mendadak serunya dengan suara lantang, Dengarkanlah sahabat-sahabat dari Hian-beng-kau, situasi yang kalian hadapi sekarang rasanya tak perlu ku terangkan lagi, aku rasa kalian tentu juga cukup memahami bukan?
Go hu kaucu saja sudah pergi, aku rasa kalian semua tentu mempunyai juga anak istri bahkan orang tua, apalah artinya untuk berjuang demi yang sesat?
Kami tidak bermaksud melakukan pembatalan, kami bersedia untuk mengikat tali persahabatan dengan kalian, siapa saja yang ingin bersahabat dengan kami, akan kami sambut dengan senang hati, sedang mereka yang ingin pergi juga tak akan kami halangi, aku hanya berharap setelah kejadian ini, janganlah kalian membantu kaum laknat lagi untuk berbuat kejahatan, hal mana sudah terlebih dari cukup bagiku"
Seusai berkata, kembali dia menjura ke empat penjuru.
Begitu Si Seng tek menampilkan diri, anak buahnya dulu yang kini bergabung dengan Hian-beng-kau sudah berniat untuk lari keluar, tapi berhubung peraturan dalam Hian-bengkau sangat ketat, salah langkah bisa jadi akan berakibat kematian, maka sekalipun paras muka mereka telah berubah, tak seorangpun berani bersuara.
Dengan kepergian Go Tang cuan serta ucapan Hoa Si yang tepat pada waktunya, dengan cepat menggerakkan hati banyak orang, pikiran mereke mulai goyah, semangat bertempurpun sudah lenyap tak berbekas.
Menyaksikan pikiran anak buahnya sudah mulai goyah, Kok See-piau segara berpikir.
"Asal ada seorang saja yang berani memimpin, niscaya akan terjadi berubahan besar, perkumpulan kami pun akan musnah tak berbekas, aku harus menggunakan tangan keji untuk menguasahi mereka, asal pertarungan kembali berkobar, maka orangpun takkan berhianat lagi"
Ia berusaha keras untuk memutar otak dan menemukan cara yang terbaik untuk mengatasi kejadian ini, sementara hatinya masih gelisah, tiba-tiba dari sisi kiri bukit itu berkumandang suara panggilan yaag merdu tapi nyaring.
"Suhu!"
Mendengar panggilan itu, semua jago segera berpaling.
Waktu itu kentongan ketiga sudah lewat, rembulan masih berada diatas awang-awang, dan menerangi jagad.
Dalam keadaan demikian, para jago dapat melihat jelas seorang nona berbaju putih dengan membawa belasan orang lelaki berbaju merah sedang menembusi penghadangan dari Butim tojin suheng te beserta orang-orang Kiu-im-kau untuk menyerbu kebawah bukit.
Begitu mengetahui kalau orang itu adalah Kok Gi pek, Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya seraya berpikir.
"Aaai.......! Mau apa dia datang kemari?"
Kejut dan gusar menyelimuti pula perasaan Kok See-piau, dia segera membentak keras.
"Gi pek, kenapa kau tidak menuruti perkataanku? Apakah kau mengharapkan partai kita kehilangan ahli waris?"
Sambil memutar pedang mestikanya, dengan gagah Kok Gi pek menjawab lantang.
"Selama para suheng masih hidup, partai Kiuci tak akan kehilangan ahli waris, tecu bersedia untuk hidup dan mati bersama suhu"
Mendengar perkataan itu, diam-diam para jago merasa kagum sekali atas kesetiaan dan kebaktiannya kepada guru dan perguruan, sayang gadis secantik ini harus tersesat pada golongan yang salah.
Sebelah kiri jalan tembus marupakan jurang yang dalam, sebelah kanan merupakan suatu jeram, jalan setapak yang menghubungkan tempat itu hanya seluas beberapa depa saja, keadaannya berbahaya sekali.
Beberapa kali terjangan Kok Gi pek selalu kena dihadang oleh para jago yang bertahan disana, kegagalan yang berulang membuat gadis itu gelisah bercampur marah.
"Sreet! Sreeet! Sreet!"
Secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai yang ganas dan lihay.
Seorang anggota Kiu-im-kau tertusuk pedang nya, sambil menjerit kesakitan tubuhnya segera terlempar masuk kedalam jurang yang tak terkirakan dalamnya itu, sudah tentu selembar jiwanya tak bisa tertolong lagi.
Mendadak terdengar Bu tim tootiang berseru dengan suara dalam.
"Nona Kok, pinto berbuat demikian demi kebaikanmu, hari ini suhumu pasti mampus, sedang usiamu masih begitu muda, apalah gunanya harus turut mati bersamanya?. cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!"
Kok Gi pek hanya menggigit bibir tidak menjawab, dengan jurus Tong liong kiu ci (naga sakti berliuk sembilan kali) pedangnya menciptakan sembilan titik cahaya putih yang segera menyelimuti seluruh angkasa.
Seorang tojin yang sedang menggurungnya tidak berniat untuk mencelakainya, siapa tahu gadis itu begitu lihay, karena kurang begitu berhati-hati, bahunya segera tersambar hingga berdarah.
Bu tim tojin menjadi amat gusar setelah menyaksikan kejadian itu, dengan suara menggelegar bentaknya.
"Kalau toh kau begitu tak tahu diri, jangan salahkan kalau pinto tak akan sungkan-sungkan. Permainan pedangnya semakin diperketat dengan menyerang semakin gencar lagi. Kok Gi pek memutar pedangnya berahan terus dengan gigih, sementara kakinya bergeser mundur terus berulang kali. Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong menjerit kaget.
"Hati-hati dengan kakimu!"
Bong pay dan pek Soh gi bersamaan waktunya berteriak pula keras-keras.
"Tootiang, ampuni selembar jiwanya"
Mendengar seruan-seruan itu, Bu tim tojin segera mengendorkan serangannya.
Tapi sayang sudah terlambat selangkah, mendadak kaki Kok Gi pek tergelincir, tidak sempat menjerit lagi tubuhnya terperosok masuk ke dalam jurang yang tiada terkira dalamnya itu.
Paras muka Hoa In-liong segera berubah hebat, Bong pay suami istri menjadi sedih, sementara para jago lihay menjerit kaget.
Kok See-piau sendiri juga tertegun untuk beberapa saat lamanya, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara gelak tertawanya yang menyeramkan, suara gelak tertawanya itu keras, penuh kesedihan dan luapan perasaan dendam.
Dalam pada itu, Bu tim tootiang sendiri juga lagi memandang jurang yang sangat dalam itu dengan termangumangu, wajahnya kelihatan menyesal sekali, maka ketika didengarnya Kok See-piau terrawa seram, tiba-tiba ia membalikkan badannya sambil berseru dengan gemas, Kok See-piau, kau telah kehilangan murid mu yang setia, kenapa makin kelihatan gembira?"
Seperti sebutir peluru, tiba-tiba dia meluncur turun dari atas bukit tersebut.
"Haaahhh...aaahhh...haaahahh.... kenapa lohu tak boleh merasa bangga? Kenapa lohu tak boleh marasa gembira?"
Sahut Kok See-piau sambil tertawa seram terus menerus.
Para pendekar kaum lurus, para jago Kiu-im-kau maupun Hian-beng-kau sendiri sama-sama tertegun setelah mendengar jawaban tersebut bahkan Bu tim tojin sendiripun seketika terbungkam dengan wajah tertegun, ia menjumpai keadaan Kok See-piau seperti orang yang tidak waras......, Hoa In-liong yang cerdas segera merasakan sesuatu yang tak beres, pikirnya.
"Aduh celaka, jangan-jangan begitu.... Menggigil keras sekujur badannya, dengan lantang dia lantas berseru.
"Kok See-piau, apa yang kau gembirakan?"
Kok Seepiau berhenti tertawa, dengan suara menyeramkan katanya.
"Sekalipun tidak kau tanyakan, lohu juga akan menggutarakannya heeehh.......heeehh.........heeehhh, akhirnya aku orang she Kok menyaksikan juga manusia munafik yang berlagak sok mulia sok bijaksana menerima ganjarannya"
Dia adalah seorang gembong iblis yang berotak cerdas, ketika berbicara sampai disitu satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya, sambil tertawa dingin katanya kemudian.
"Orang she Hoa, ketika masih berada dibukit Ci san, kau pernah mendengar penuturan dari Jin Hian yang menceritakan kesengsaraannya, padahal apa yang dialaminya itu masih belum seberapa, apakah kau ingin mengetahui juga penderitaan yang kualami selama ini?"
Hoa In lioog tertegun, tapi ia segera tahu bahwa ucapan tersebut tentu ada sebabnya maka sambil menahan rasa sedih dan gusar katanya.
"Kalau toh kau mempunyai kegembiraan untuk berceritera, aku orang she Hoa akan mendengarkannya"
Sekali lagi Kok See-piau mendengarkan suara tertawa rendahnya yang mengerikan, kemudian berkata.
"Berbicara yang sesungguhnya, hal ini tak bisa dikatakan sebagai kisah penderitaan lohu, tapi lebih tepat kalau dikatakan sebagai kisah bagaimana caranya lohu melanjutkan hidup selama ini"
Kiu-im-kaucu segera tertawa terbahak-bahak, serunya.
"Aku rasa kehidupanmu tentu sengsara sekali. Tapi urusan ini tiada sangkut pautnya dengan kami, Kiu-im-kau merasa ogah untuk mendengarkan cerita usangmu itu"
Kok See-piau tidak ambil perduli perkataan itu, katanya kembali dengan lantang.
"Orang she Hoa, tentunya kau tak tahu bagaimana perasaanmu itu, demi melatih ilmu yang sakti, lohu harus mengarang tubuh ku diatas api yang panas, kedinginan ditengah salju yang tebal, harus menahan penderitaan berat yang tak akan bisa ditahan oleh orang lain, beberapa kali kegagalan yang ku alami hampir saja membuatku untuk bunuh diri, tahukah kau, kekuatan apa yang selama ini menunjangku sehingga dapat tahan sampai sekarang?"
Ia berhenti sejenak, dengan sepasang mata yang merah membara, terusnya lebih jauh, Itulah dendam kesumat, hanya dendam kesumat yang bisa membuat lohu memiliki kekuatan baru untuk melanjutkan hidup, bukankah kesengsaraan yang kualami selama ini adalah pemberian dari manusia munafik yang berlagak sok baik hati dan bijaksana?
Lohu bertekad tak akan melepaskan kalian dengan begitu saja, kalau hanya tersiksa melulu, hal mana masih terlalu keenakan bagi kalian, aku akan membuat kalian melakukan perbuatan yang melanggar hati naluri manusia, aku hendak menjerumuskan anak cucunya ke dalam neraka sehingga sepanjang masa menderita dan tersiksa....."
Tiba-tiba segulung awan hitam menutupi cahaya rembulan, membuat suasana di sana menjadi gelap gulita, hawa napsu membunuh yang mengerikan serasa menyelimuti seluruh permukaan bumi.
Ketika semua orang mendengar suara ucapannya yang begitu keji dan menyeramkan itu, tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan luapan perasaan dendam yang sedemikian dahsyatnya itu, sudah pasti dia mempunyai rencana yang busuk pula, malah ada yang secara lamat-lamat sudah merasakan apa yang telah terjadi meski selalu berharap agar kejadian itu bukan suatu kenyataan.
Hoa In-liong sendiripun merasakan jantungnya berdebar keras, diam-diam pikirnya.
"Sungguh tak kusangka dia mengandung perasaan dendam yang begitu dalam terhadap kami, tak heran kalau rasa bencinya terhadap keluarga Hoa sudah merasuk sampai ke tulang sungsum. Mendadak terdengar Cho Thian hua menimbrung.
"Sute, buat apa kau musti bersedih hati karena persoalan ini? Ih heng bersedia untuk membantumu membalas dendam"
"Lohu bersumpah sampai mati akan membantu sinkun untuk membalas dendam, sambung Leng lam it khi.
"Terima kasih banyak atas maksud baik kalian"
Kok Seepiau segera menjura dengan wajah serius.
Tiba-tiba dengan sorot mata tajam dia menyapu sekejap para jagonya yang bergabung dalam Hiang beng kau, kemudian serunya dengan suara lantang.
Semua anggota yang termasuk anak buah Saudara Si, silahkan balik keasalnya, seandainya saudara Si akan turun tangan untuk memusuhi kami, pun-sinkun juga tak akan menyalahkan, sedang sisanya bila ada yang ingin pergi meninggalkan tempat ini, silahkan pergi, pun-sinkun berjanji tak akan melacaki jejaknya, sedangkan pun-sinkun akan tetap tinggal disini untuk berduel dengan musuh sampai titik darah penghabisan"
Begitu ucapan tersebut diucapkan, baik jago dari golongan pendekar maupun jago dari Kiu-im-kau dan Hian-beng-kau menjadi tertegun, kejadian benar-benar diluar dugaan mereka.
000000000 Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya, Thian ki thamcu dari perkumpulan Hian-beng-kau, Beng Wi cian tiba-tiba menjura kepada Kok See-piau sambil berkata.
"Perintah dari sinkun, Beng Wi cian tak berani membangkang, kalau toh tidak setia kepada majikan lama, lebih susah setia kepada majikan baru, Wi cian sekalian segera akan mengundurkan diri dari sini, soal memusuhi tak mungkin akan kami lakukan"
Kok See-piau tertawa hambar.
"Kalau memang demikian adanya, bila kita bersua kembali dikemudian hari kita masih tetap bersahabat"
Beng Wi cian segera memberi hormat dan berlalu dari sana.
Para jago bekas anak buah Si Seng tek pun berbondongbondong memberi hormat kepada Kok See-piau dan meninggalkan barisan.
Dalam waktu singkat seratus orang lebih anggota Hianbeng-kau telah meninggalkan barisannya dan bersama-sama berdiri didepan Si Seng pek sambil memberi hormat.
"Menjumpai majikan lama!"
"Si Seng tek mengulapkan tangannya seraya berkata. Rupanya kalian semua masih belum melupakan diriku, bagus, mundur dulu kesamping dan siap menunggu perintah selanjutnya untuk bertempur!"
Beng Wi cian segera menunjukkan sikap keberatan, agak termenung sebentar dia, kemu dian sambil memberi hormat katanya.
"Cukong boleh menitahkan kami sekalian untuk terjun kelautan api atau naik bukit golok, sampai matipun hamba sekalian tak akan membangkang, tapi kami benar-benar tidak merasa leluasa untuk menghadapi Hian-beng-kau"
Mendengar perkataan itu, Si Seng tek menjadi naik pitam, sambil menarik muka ia siap membentak. Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Hoa Inliong telah berkata lebih duluan.
"Sudah sepantasnya demikian, Beng lo enghiong sekalian harap menonton di samping saja"
Beng Wi cian segera menjura kepada Hoa In-liong, katanya dengan penuh rasa berterima kasih.
"Terima kasih Hoa kongcu atas kebaikan mu"
Sambil membawa orang-orangnya, mereka lantas mengundurkan diri ke samping.
Si Seng tek mengerutkan dahinya rapat-rapat, tapi berhubung Hoa In-liong adalah tuan penolongnya, dan lagi diapun tahu akan hubungan pemuda ini dengan putrinya, diapun tidak mengucapkan apa-apa.
Kepada Coa Goan hau katanya kemudian, sambil tertawa getir.
"Siaute tak becus memimpin anak buah, harap Coa heng jangan mentertawakan"
Coa Goan hau segera tersenyum.
"Aaah, mana, mana, entah dimanakah letak tujuan Kok See-piau dengan tindakan itu, penampilan rasa setia kawan yang diperlihatkan anak buah Ji heng benar-benar mengagumkan....."
Sesungguhnya kedua orang ini masih terhitung famili, setelah bertemu muka dan mengetahui kalau derajat mereka seimbang, pembicaraan yang kemudian berlangsungpun mempererat hubungan mereka menjadi lebih akrab lagi.
Terdengar Kok See-piau berseru kembali "Masih adakah yang hendak pergi dari sini?"
Pi Cok liong sambil menghantamkan toya bajanya ke tanah, segera berteriak pula dengan lantang.
"Hayo, mereka yang takut mampus cepat enyah dari barisan!"
Termakan oleh ucapan Kok See-piau tersebut, semangat para anggota Hian-beng-kau segera berkobar kembali, seru mereka hampir bersama. Kami semua bersedia untuk mati dan hidup bersama Sinkun!"
Sesungguhnya perasaan hati para jago Hian-beng-kau sudah goyah dan setiap saat kemungkinan sekuli mereka akan memberontak, tapi dengan sikap dari Kok See-piau itu bukan saja bekas anak buah Si Seng tek yang meninggalkan barisan menunjukkan keengganannya untuk memusuhi mereka,bahkan jaga-jago perkumpulannya yang mulai goyah pikirannya pun menjadi bersemangat kembali, mau tak mau para jago merasa kagum juga oleh kecerdasan otaknya.
Dengan kening berkerut Hoa In-liong lantas berseru.
"Kok See-piau, kau masih ada urusan lain?"
Kok See-piau tertawa dingin dengan seramnya.
Jilid 21
"Heeehhh.... heeehhh...... heeehhh..... kalau toh kau begitu terburu napsu, baiklah, sekarang juga akan pun sinkun katakan."
Sesudah berhenti sejenak, dengan sepatah demi sepatah katanya lagi dengan suara menyeramkan.
"Terus terang kuberi tahu kepada kalian, sesungguhnya Kok Gi pek itu bukan lain adalah putrinya Bong pay serta Pek Soh gi!"
Begitu mendengar ucapan tersebut, Pek Soh gi menjerit sedih dan jatuh tak sadarkan diri, buru-buru Bong Pay memeluk tubuh istri nya, lalu dengan wajah sedih serunya kepada Kok See-piau penuh kebencian.
"Kok See-piau, kalau kau ingin membalas dendam, cari saja kami suami istri berdua, apa dosanya seorang gadis lemah?"
Kok See-piau menyeringai seram.
"Heehhh......heeeheeh.... heeehhhh.......lohu toh sayang dan mencintainya, orang yang telah mencelakainya justru adalah orangmu sendiri"
Bu tim lojin segera menghela napas panjang, katanya.
"Bong tayhiap, dosa pinto benar-benar tak terampuni!"
Tiba-tiba Ci wi siancu menukas dengan suara dingin.
"Kalau sudah tahu dosanya tak terampuni lebih baik cepat-cepatlah bereskan nyawamu sendiri, hmmm! Sengaja berbicara begitu padahal tujuannya hanya minta pengampunan"
Sejak bertemu dengan Kok Gi pek dikota Si ciu tempo hari, sampai sekarang Biau-nia Sam-sian masih belum tahu kalau dia adalah muridnya Kok See-piau, terhadap gadis itu boleh dibilang mereka amat menyukai dan menyayanginya.
Sekalipun hal ini mereka ketahui kemudian namun rasa sayangnya terhadap gadis itu bukan berkurang apalagi setelah mengetahui kalau gadis itu memang putrinya Bong pay suami istri, mereka makin getun lagi.
Sebagai manusia-manusia yang berasal dari suku Biau, cara kerja mereka hanya memandang pada soal baik dan buruk, ketika dilihatnya Kok Gi pek mati ditangan Bu tim tootiang, maka rasa benci mereka terhadap tosu itu pun boleh dibilang merasuk sampai ke tulang sungsum.
Pada dasarnya Bu tim tootiang memang merasa sedih bercampur menyesal atas terjadinya peristiwa itu, mendengar perkataan tersebut dia lantas tertawa pedih, katanya, Baik, baik!"
Mendadak ia membalikkan telapak tangan-nya dan ditabokkan keatas ubun-ubun sendiri.
Hoa In-liong yang berada disitu tentu saja tidak membiarkan ia menghabisi nyawa sendiri, dengan cepat ia menyelinap ke sisi Bu tim tojin dan menangkap sikutnya, dengan suara dalam dia berseru.
"Persoalan ini tak bisa menyalahkan tootiang, kalau ingin mencari biang keladinya maka kita harus mencari Kok See-piau"
Sebenarnya diantara para jago ada yang telah menduga bahwa antara Kok Gi pek dengan Bong Pay suami istri ada hubungannya, tapi ketika mendengar kalau Koi Gi pek mempunyai orang tua lain, lagipula banyak kejadian aneh yang mungkin bisa terjadi didunia ini, lambat laun rasa curiga tersebut makin menipis.
Siapa tahu memang demikianlah kenyataannya, hal ini benar-benar mencengangkan semua orang.
Bagaimanapun juga Kok Gi pek adalah murid Kok See-piau, walaupun para jago mencurigai kebenaran dari pengakuannya itu, namun tiada bukti nyata yang bisa menerangkan semua hal tersebut, baik Kok See-piau akan menang atau kalah yang pasti kematian gadis itu tidak akann mempengaruhi dirinya.
Atas kelicikan dan kekejian Kok See-piau ini, hampir boleh dibilang semua orang merasa marah dan kaget, Pek Soh gi telah pingsan sedari tadi, sedangkan Bong Pay saking gusarnya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Tam Si bin dan Yu Tiong in sudah tak sanggup menahan sabar lagi, ia segera maju menerjang ke arah Kok See-piau, Ui Sia leng dan Tang Bong liang segera maju menghalanginya, pertarungan sengit segera berkobar dalam dua arena.
Hoa In-liong sendiripun merasa gusar sekali, baru saja dia akan menegur Kok See-piau...........
Mendadak terdengar seorang gadis berseru dengan suara dingin bagaikan salju, Kok See-piau, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, sekalipun mampus juga belum dapat menebus semua kekejianmu itu, sekarang aku Suma Jin akan menuntut balas kepadamu"
Ditengah seruan tersebut, seorang gadis berpakaian berkabung menerjang ke arah Kok See-piau sambil memutar senjata pedangnya.
Diantara kelebatan tubuhnya itu, beberapa titik cahaya perak meluncur ke depan dan menyebar keempat penjuru.
Dalam keadaan demikian Hoa In-liong enggan untuk menghalanginya, dengan kening berkerut pikirnya, Bukankah toako bilang ia datang bersama ayah dan ibu?
Sekarang kenapa ia datang lebih duluan?"
Terdengar Seng Sin sam meraung kesakitan, sebatang pisau perak tahu-tahu sudah menancap diatas dadanya yang mengakibatkan kematian bagi gembong iblis itu.
Ketika bertarung melawan Go Tang cuan tadi, ia sudah menderita luka dalam yang cukup parah apalagi serangan senjata rahasia yang dilancarkan Suma Jin dilakukan dari jarak sedemikian dekatnya, sekalipun ia berniat untuk berkelit juga tak mampu lagi.
Beng Wi cian yang mendengar akan kehadiran, putri Suma Tiang cing sudah merasa menyesal sedari permulaan, baru saja ia sangsi, sebatang senjata rahasia telah menghajar dada kanannya.
Tapi ia sama sekali tak bersuara sambil menggertak gigi dicabutnya senjata rahasia tersebut yang telah dibubuhi obat, hanya Huan Tam seorang yang berhasil menghindarkan diri tanpa luka.
Kok See-piau juga menggerakkan tangannya, senjata rahasia yang mengancam tubuhnya itu seketika lenyap tak berbekas lalu tegurnya sambil terawa dingin.
"Kau adalah putrinya Suma liang cing?"
"Benar!"
Jawab Suma Jin dengan gusar.
"orang she Kok, serahkan jiwa anjing mu!"
Dengan jurus Thian ho seng san(bintang buyar disungai langit), pedangnya diputar sedemikian rupa menciptakan berjuta-juta titik ca haya pedang yang menyilaukan mata, lalu sebuah tusukan dilepaskan ke dada musuh dengan kecepatan luar biasa.
Kok See-piau berdiri tak berkutik, menanti serangan hampir mengenai tubuhnya dia baru menarik dadanya ke belakang sambi1 bergeser tiga depa begitu lolos dari ancaman lawan, kontan saja ia tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh....haahhh....haaahh.... budak cilik, dengan mengandal-kan kepandaian secetek itu juga berani mencari gara-gara, apakah kau tidak takut mampus?"
Walaupun diluar dia berkata dengan enteng padahal karena terlalu pandang rendah kemampuan yang dimiliki Suma Jin, hampir saja tubuhnya termakan oleh tusukan tersebut.
Diam-diam ia merasa terperanjat, akan tetapi rasa kagetnya itu tak sampai diperlihatkan diatas wajahnya.
Suma Jin sendiri meski terperanjat, dia tahu kalau ilmu pedang keluarga Hoa tiada tandingannya dikolong langit, sayang kesempurnaannya belum cukup hingga belum sanggup untuk mengapa-apakan diri Kok See-piau.
Tapi bila teringat akan dendam berdarah atas kematian orang tuanya, apa lagi bila teringat bahwa Kok See-piau adalah otaknya, sambil menggigit bibir mendadak ia mengejar kemuka sambil melepaskan serangan dengan serangan yang dahsyat.
Kok See-piau tertawa dingin baru saja dia akan turun tangan keji, mendadak dilihatnya Hoa In-liong yang berada beberapa kaki dari arena sedang mengawasi jalannya pertarungan dengan sorot mata tajam.
Sebagaimana diketahui, semenjak pertarungan dalam bukit Ci san, kawanan iblis dari golongan sesat hampir boleh dibilang pada menaruh rasa jeri terhadap kelihayan Hoa Inliong, yang paling ditakuti Kok See-piau selama ini juga dia seorang, maka begitu melihat keadaan tersebut dia lantas berubah pikiran.
"Meski ilmu silat yang dimiliki Goan cing amat lihay, suheng masih mampu untuk mengatasinya"
Demikian dia berpikir kemudian.
"tapi bocah keparat ini...."
Sebagai seorang manusia yang berotak licik dan banyak akalnya, dengan cepat dia berubah pikiran, serunya kemudian dengan lantang.
"Huan Tong, kau sambut budak ini!"
Mendengar perkataan itu, Huan Toag segera maju ke depan, sepasang telapak tangannya diayunkan bersama untuk menyambut datangnya serangan dari Suma Jin itu dengan keras lawan keras.
"Hmm, membunuh dirimu lebih dulu juga sama saja"
Pikir Suma Jin didalam hati.
Dengan kening berkerut dia lantas memperketat serangan pedangnya, dengan meninggalkan Kok See-piau, dia bertarung sengit me lawan Huan Thong.
Hoa In-liong tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki gadis itu masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian yang dimiliki Kok See-piau, maka melihat gadis itu telah bertarung dulu melawan Huan Thong, dia lantas beranggapan bahwa ada baiknya kalau gadis tersebut menuntut balas lebih dahulu terhadap orang ini.
Dalam keadaan dan situasi seperti ini, jelas tak mungkin buat Kok See-piau untuk melarikan diri, maka ia tidak menggubris ketua dari perkumpulan Hian-beng-kau itu lagi, seluruh perhatiannya ditujukan ke arah pertarungan sambil bersiap siaga menghadapi keadaan yang tidak diinginkan.
Dalam pada itu, Kok See-piau juga telah mendapat akal bagus, dia segera memutar biji matanya, kemudian ejeknya kepada Kiu-im-kaucu.
"Huuuh...! Sekarang kau baru tahu, ternyata orang orang Kiu-im-kau adalah manusia yang gampang dibunuh orang tanpa berani membalas....tak becus"
Ketika sergapan dari Suma Jin berhasil menewaskan Sin Seng sam tadi, sesungguhnya Kiu-im-kaucu sudah merasa amat gusar, tapi ia jeri akan kehebatan orang-orang keluarga Hoa, maka sedapat mungkin ia berusaha untuk menahan diri.
Berbeda setelah disinggung oleh Kok See-piau sekarang, berada dihadapan para jago dari seluruh kolong langit, sudah barang tentu ia tak bisa berdiam diri belaka, setelah agak merenggut sebentar, bentaknya kemudian.
"Suma Jin, ibumu dulu masih terhitung Yu ling tiamcu perkumpulan kami, berani benar kau bertingkah dihadapanku? Hmm, katakan sendiri sekarang, kau hendak mengakui salah atau tidak?"
Waktu itu Suma Jin yang sedang bertarung sudah berhasil menduduki posisi diatas angin dengan ketus segera sahutnya.
"Tidak!"
Diam-diam Hoa In-liong tahu bahwa urusan bakal runyam, tapi Suma Jin sedang menuntut balas atas dendam sakit hatinya, padahal Kiu-im-kaucu juga terlibat dalam peristiwa ini, bagaimanapun juga ia tak bisa menyalahkan gadis tersebut.
Sesungguhnya perkataan dari Kiu-im-kaucu juga hampir boleh dibilang telah memberi peluang bagi gadis itu untuk mundur secara hormat, asal Suma Jin mau mengaku salah, maka secara begitu saja dia akan sudahi masalah tersebut, Siapa tahu Suma Jin sama sekali enggan mengaku salah, hal mana membuat Kiu-im-kaucu segera tertawa seram saking gusarnya.
"Bedak ingusan"
Teriaknya.
"akan kulihat siapa yang kau andalkan sehingga berani begitu takabur dihadapanku"
Tiba-tiba Jin Yeng ciu menimbrung.
"Budak itu sangat tak tahu sopan santun, hamba mohon perintah untuk turun tangan memberi pelajaran kepadanya"
Dengan terjadinya peristiwa ini, suasana kembali mengalami pergolakan besar, padahal Kiu-im-kaucu sendiri juga tahu kalau Kok See-piau sengaja hendak mengadu domba, diapun tahu juga akan kelihaiyan keluarga Hoa, akan tetapi bila urusan dibiarkan begitu saja, bisa jadi nama baikknya akan ternoda didepan orang banyak.
Untunglah disaat yang kritis itulah tiba-tiba Hoa In-liong maju ke depan dan memberi hormat kepada Kiu-im-kaucu sambil berkata.
"Harap kaucu jangan gusar, biasanya orang yang sedang marah akan salah berbicara, harap kaucu suka memakluminya"
Tiba-tiba Suma Jin berterik keras.
"Kau tak usah mencampuri urusanku"
Tapi pada saat yang bersamaan, Hoa In lioag berseru pula dengan suara lantang.
"Bagaimana seandainya keluarga Hoa yang minta maaf?"
Tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini jauh lebih sempurna bila dibandingkan dengan Suma Jin, dengan cepat seruan dari gadis itu tertindih sama sekali.
Walaupun Suma Jin merasa tidak rela, tapi diapun tak bisa berbuat kelewatan, maka dia pun memperketat permainan pedangnya serta melampiaskan seluruh hawa amarahnya ke tubuh Huan Thong.
Menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi, Huan Thong segera terjebak dalam keadaan yang berbahaya sekali.
Tampak Kiu-im-kaucu termenung sebentar, kemudian manggut-menggut.
"Baiklah, aku juga kasihan kepadanya karena kehilangan orang tuanya, tak akan kutarik panjang persoalan ini"
"Kebesaran jiwa kaucu sungguh membuat aku merasa amat berterima kasih sekali"
Seru Hoa In 1iong kemudian sambil menjura.
Padahal semua orang juga tahu, berhubung pihak Kiu-imkau merasa ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong dan Hoa In-liong terlampau 1ihay dan jelas bukan tandingan, maka sengaja mereka menghindari yang berat dengan memilih yang enteng dengan tidak mempersoalkan kematian dari Le Kiu-it serta Seng Sin sam.
Padahal ucapan Suma Jin tadi terlampau kaku dan tak enak didengar, bila diungkap secara terus terang, bisa jadi pihak Kiu-im-kau akan kehilangan muka.
Kok See-piau tertawa dingin, rupanya dia sudah bersiapsiap untuk mengorek keterangan itu.
Mendadak Hoa In-liong berpaling ke arahnya, lalu berseru dengan suara dalam.
"Kok See-piau, kau cerdik dan berotak tajam, jarang ada manusia semacam dirimu, aku orang she Hoa merasa kagum sekali, bagai mana kalau kumohon beberapa petunjukan?"
Mendengar perkataan itu, Kok See-piau menjadi terkesiap, dia tahu kalau dirinya bukan tandingan, suruh anak buahnya juga belum tentu ada yang berani, sementara dia masih kelabakan setengah mati, Cho Thian hua segera tertawa, sambil berjalan menghampiri Hoa In-liong, katanya.
"Bocah muda dari keluarga Hoa, Goan cing bilang kau mampu menghadapi lohu, sekarang lohu ingin menjajal, apakah si hwesio cilik itu cuma mengibul atau tidak?"
"Aku orang she Hoa tak akan membuat kau menjadi kecewa"
Kata Hoa In-liong hambar.
Dalam waktu singkat, suasana dalam arena berubah menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, setiap orang menahan napas sambil memperhatiKan orang itu.
Tam Si bin berempat yang sedang bertarung pun untuk sementara waktu menghentikan pertarungannya, semua orang tahu pertempuran yang bakal berlangsung pastilah me rupakan suatu pertarungan yang mengerikan.
Hanya Suma Jin dan Huan Tong saja yang masih bertarung sengit tanpa ada pertanda kedua belah pihak akan mengakhiri pertempuran itu.
Sejuk pertarungan dibukit Ci san, siapa pun tahu kalau Hoa In-liong memiliki ilmu silat yang maha sakti, cuma saja Cho Thian hua sudah memiliki tenaga dalam sebesar seratus dua puluh tahun hasil latihan, tentu saja kepandaian silat yang dimiliki akan luar biasa sekali.
Sebelum pertempuran berkobar, siapapun tak berani mangambil dugaan siapa yang bakal menangkan pertarungan ini, hanya di hati kecil masing-masing orang beranggapan bahwa Hoa In-liong bisa menangkan pertarungan ini.
Tiba-tiba terdengar suara seruan nyaring seakan-akan berkumandang datang dari kahyangan.
"Liong ji mundur, Cho Thian hua bukankah kau selalu ingin baradu kepandaian dengan aku orang she Hoa? Silahkan datang ke bukit ini, aku orang she Hoa menunggu kehadiranmu ditempat ini"
Suara tersebut amat nyaring dan lantang, setiap patah katanya serasa menggetarkan sukma, barang siapa pernah berjumpa dengan Hoa Thian-hong, cukup mendengar dari suaranya, mereka seakan-akan membayangkan munculnya seorang lelaki berjubah hijau yang kekar dihadapan mereka.
Seketika itu juga sinar mata semua jago bersama sama dialihkan keatas puncak bukit sebelah utara.
Paras muka Kok See-piau berubah hebat, para jago dari golongan pendekar bergirang hati, jago-jago Hian-beng-kau menjadi gaduh dan Thian heng Tokoh tampak diliputi emosi.
Setelah hening sekian lama, akhirnya Cho Thian hua berseru dengan suara lantang.
"Hoa Thian-hong, mengapa kau sendiri tidak turun kemari?"
Terdengar dari suara Hoa Thian-hong menjawab.
"Kalau jangan bertanya dulu mengapa aku orang she Hoa tidak turun, aku orang she Hoa ingin bertanya dulu kepadamu apakah kau mempunyai keberanian untuk naik keatas bukit?"
Tiba-tiba Goan cing taysu berbisik kepada dua bersaudara Hoa dengan ilmu menyampaikan suara.
"Mengapa ayah kalian menantangnya untuk bertarung diatas puncak bukit dan bukannya menyelesaikan ditempat ini?"
Dua bersaudara dari keluarga Hoa itu saling beri pandangan sekejap kedua orang itu tampaknya sepikiran sehati, oleh Hoa Si segera jawabnya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Sudah pasti ayah ingin memaksa Cho Thian hua untuk mengasingkan diri, bila dipaksa didepan orang banyak dalam kalahnya Cho Thian hua tentu akan merasa malu dan menjadi gusar, bisa jadi dia akan beradu jiwa dengan ayah"
Cho Thian hua adalah seorang jagoan yang berilmu tinggi, setelah mendengar seruan tersebut dia lantas tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong sama sekali tidak berada dibawah kepandaiannya apalagi pihak lawan berjumlah banyak, ia merasa sulit juga untuk mengatasi keadaan, maka tanpa terasa sinar matanya dialihkan ke wajah Kok See-piau minta pertimbangan nya.
Sejak mengetahui akan kehadiran Hoa Thian-hong ditempat itu, Kok See-piau sudah merasa amat terkesiap dan takut, tapi ia berbeda dengan orang lain, sekalipun gugup pikiran tak sampai kalut, dengan cepat dia mengambil Keputusan didalam hatinya.
Dengan ilmu menyampaikan suara, serunya kemudian.
"Tangkap orang sebagai sandera untuk meloloskan diri dari kepungan, selama gunung nan hijau memangnya kita takut kehabisan kayu bakar...?"
"Agaknya aku memang harus berbuat demikian"
Pikir Cho Thian hua kemudian.
Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke utara, lagaknya seperti lagi bersiap-siap untuk naik ke puncak bukit dan melangsungkan pertempuran.
Tapi baru berjalan beberapa kaki, diincarnya Bwe Su-yok dan Si Leng jin yang sedang berdiri tak jauh disana, kemudian secepat sambarann kilat tubuhnya menerjang kemuka dan mencengkeram kedua orang itu.
Dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang, sulit bagi kedua orang gadis itu untuk meloloskan diri dari incarannya, dalam sekejap mata Cho Thian hua telah mencengkeram pergelangan tangan kedua orang itu.
Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong mendengus dingin, Cho Thian hua merasakan datangnya segulung angin pukulan yang maha dahsyat mengancam puunggungnya.
Seandainya orang lain yang melepaskan pukulan tersebut, sudah pasti Cho Thian hua tak akan takut untuk menerima pukulan tersebut, tapi berbeda keadaannya bila Hoa In-liong yang melepaskan serangan tersebut.
Dalam keadaan berbahaya dan terancam oleh serangan tersebut, terpaksa Cho Thian hua mengurungkan niatnya untuk menangkap orang dan buru-buru tubuhnya melejit ke tengah udara untuk menghindarkan diri.
Dengan demikian angin pukulan yang maha dahsyat itu segera menggulung kemuka dan tampaknya segera akan menghajar ditubuh kedua orang gadis tersebut.....
Belum habis gelak tertawa Cho Thian hua, tahu-tahu Hoa In-liong telah membalikkan telapak tangannya, seketika itu juga hawa serangan yang maha dahsyat itu punah tak berbekas.
Seandainya seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, sulit baginya untuk melakukan hal itu, maka setelah menyaksikan kelihayan si anak muda itu, kendatipun dia adalah seorang gembong iblis yang berilmu tinggi, tak urung dibikin terkesiap juga.
Terdengar Hoa In iiong mengejek dengan suara dingin.
"Cho Thian hua, walaupun kita saling berhadapan sebagai musuh, sebelum kejadian saat ini, aku orang she Hoa selalu menganggap dirimu sebagai seorang tokoh sakti yang pantas dihormati"
Merah padam selembar wajah Cho Thian hua karena jengah, tidak sampai ia menyelesaikan kata-katanya, dia telah berseru lantang.
"Hoa Thian-hong, tunggu saja, lohu segera datang!"
Ia segera menggerakkan badannya dan sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Diantara sekian banyak jago persilatan yang hadir di arena saat ini, kecuali Hoa In-liong dan Goan cing taysu, tak ada orang lain yang sempat melihat jelas bagaimana caranya ia berlalu dari situ, diam-diam semua orang merasa terkejut juga atas kelihayan ilmu silat yang dimilikinya.
Ketika Kok See-piau menyaksikan tindakan Cho Thian hua untuk menyergap orang itu mengalami kegagalan total bahkan sekarang pergi sambil menanggung malu, sadarlah dia bahwa keadaan yang membentang didepan matanya sekarang sangat tidak menguntungkan.
Sambil menggigit bibir dia lantas bersiap sedia untuk menitahkan anak buahnya agar melangsungkan pertarungan mati-matian.
Mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara merdu.
Kok See-piau, apakah kau masih juga tak mau sadar?"
Kok See-piau segera mendongakkan kepala nya, tapi dengan cepat hatinya bergetar keras, termasuk juga semua yang hadir di arena sama-sama menjerit kaget.
Entah sedari kapan, tahu-tahu ditengah arena telah muncul tiga orang manusia.
Dua orang diantaranya adalah nyonya setengah baya yang cantik dan anggun, mereka adalah Chin si hujin atau Chin Wan hong dan yang lain Pek si Hujin atau Pek Kun gi yang masih digilai Kok See-piau sampai sekarang.
Gadis berbaju putih salju yang mengikuti dibelakang kedua orang itu ternyata bukan lain adalah Kok Gi pek.
Tak terlukiskan rasa terkejut dan girang yang dialami Pek Soh gi waktu itu, dengan langkah cepat ia memburu ke depan dan memeluk Kok Gi pek erat-erat sambil berseru.
"yu ji, akhirnya kau kembali kepelukan ibumu!"
"Ibu....!"
Panggil Kok Gi pek lirih, kemudian membenamkan diri kedalam pelukan Pek Soh gi dan menangis tersedu-sedu.
Waktu itu, kembali Kok See-piau, yang lain ayu meski dia adalah orang yang berhati bengis, diam-diam merasa terharu juga setelah menyaksikan adegan tersebut.
Pada saat itulah, tiba-tiba Tiang heng Tokoh meninggalkan arena secara diam-diam.
"Enci Ku"
Chin si hujin segera berteriak.
Mendengar teriakan itu bukan saja Tian heng Tokoh tidak menghentikan gerakan tubuhnya malahan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk kabur lebih cepat lagi!
Dalam waktu singkat dia sudah berada ratusan kaki jauhnya dari tempat semula.
Tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Pek si hujin telah menghadang dihadapannya.
Melihat itu, Tiang heng tokoh segera menggerakkan senjata hud timnya siap mendesak mundur Pek si hujin dan berusaha merebut jalan untuk kabur dari situ.
"Siapa tahu Pek si hujin sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit katanya dengan sedih.
"Cici, Thian heng, Hong ci dan siau moay sudah banyak tahun memikirkan dirimu, tapi kau selalu bertega hati untuk menghindari pertemuan dengan kami"
Dengan perakaan apa boleh buat Tiang heng Tokoh menghentikan langkah tubuhnya sambil menarik kembali serta hud timnya, lalu dengan hambar berkata.
"Pinto sudah melupakan kejadian dimasa lalu, harap jangan menghalangi jalan pergiku lagi"
Sementara itu Chin si hujin juga telah memburu ke situ, sambil menggenggam tangan Tiang heng Tokoh katanya dengan air mata bercucuran.
"Cici, Thian hong telah datang kemari, paling tidak kau harus berjumpa dulu dengannya"
Mendengar perkataan itu, bagaikan dadanya terhantam oleh martil berat kontan saja sekujur badan Tiang heng Tokoh bergetar keras, sekuat tenaga ia berusaha untuk meronta dari cekalan, tapi sampai mati pun Chin si hujin tak mau lepas tangan.
Dalam keadaan begini, sikapnya secara tiba-tiba malah menjadi tenang kembali, katanya dengan suara hambar.
"Sekalipun kau akan berbicara beribu patah kata, usahamu itu juga akan sia-sia belaka, baiklah! Kalau tidak dicoba mungkin kalian tidak puas, akan kutunggu berapa saat lagi disini"
Mereka bertigapun berbalik kembali ketempat semula.
Dua bersaudara Hoa baru menghembuskan napas lega ketika melihat hal itu, Coan Goan hau suami istri dan Si Seng tek juga segera maju bertemu dengan Chin si hujin sekalian, terutama Coa hujin yang rupanya sudah berniat untuk mempererat hubungan kekeluargaan itu.
Menyusul kemudian Coa Cong gi, Coa Wi-wi dan Si Leng jin juga maju memberi hormat.
Kepada Coa Goan hau suami istri, Pek si hujin berkata sambil tertawa merdu.
"Putra putri kalian sangat menyenangkan sekali, tidak seperti Liong ji yang binal, bikin hati risau saja"
Coa Goan hau tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh......haaahhh......haaahhh....putra ku juga binal, tak jauh bedanya dengan putra nyonya, sedang putriku lebih condong keluar, cepat atau lambat akhirnya juga akan diberikan orang"
"Sementara itu Chin si hujin sedang berkata kepada Si Seng tek sambil tertawa.
"Putrimu begitu berbakti dan setia kawan, sudah lama Chisi mendengar tentang hal itu, rasanya tak sia-sia jerih payah saudara Si"
"Aaah, kesemuanya itu juga atas pemberian putra nyonya"
Jawab Si Seng tek sambil mengelus jenggotnya dan tertawa. Pek si hujin lantas melirik sekejap ke arah Bwe Su-yok, kemudian sambil mengalihkan sorot matanya kebawah Kiu-imkaucu, katanya seraya tertawa.
"Murid kaucu cantik dan pintar, bila tidak menyalahkan kelancangan Pek Soh gi, dikemudian hari dia pasti akan lebih cemerlang daripada si burung hong tua"
Mendengar perkataan itu, Kiu-im-kaucu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh.......haaahh.....haaahh.......bisa mendapat ucapan dari hujin tersebut, nilai Yok ji akan meningkat beratus-ratus kali lipat"
Bwe Su-yok sendiripun buru-buru memberi hormat seraya berkata.
"Boanpwe mana berani dibandingkan dengan insu!"
Biji matanya yang jeli dengan cepat mengerling sekejap ke arah Hoa In-liong.
Pek si hujin adalah seorang yang berpengalaman, terhadap soal muda mudi boleh dibilang memahami sekali, sudah barang tentu diapun dapat merasakan perasaan gadis itu.
Sesudah termenung sebentar, sinar matanya segera diarahkan kewajah Go Hong giok.
Waktu itu Go Hong giok bersembunyi kebelakang tubuh ibunya dengan perasaan rendah diri, ia merasakan takut untuk tampilkan diri.
Thia Siok-bi yang menyaksikan keadaan putri nya diamdiam merasa bersedih hati, tapi diapun tak tega mendesaknya untuk maju, maka dengan wajah penuh rasa hormat diamdiam dia perhatikan kedua orang Hoa hujin tersebut.
Tiba-tiba sepasang mata Pek si bujin yang jeli bagaikan bintang tidur itu beralih kearahnya, kontan jantungnya berdebar keras dan menunduk kan kepalanya rendah-rendah.
"Nona Go harap kemari...."terdengar Pek si hujin berseru dengan suara merdu. Go Hong giok hanya merasakan dibalik seruan dari Pek si hujin itu seakan-akan mengandung suatu kekuatan yang tak bisa dibantah, lagi hal itu membuatnya tanpa sadar maju menghampiri kehadapannya. Ketika tiba didepan pek si hujin, ia baru seakan-akan merasa sadar dari keadaan, dengan rikuh cepat-cepat gadis itu berusaha untuk menghindarkan diri lagi. Tapi dengan cepat Chin si hujin menangkap pergelangan tangannya kemudian sambil menghela napas katanya lembut.
"Semua persoalan yang menimpa dirimu sudah kami ketahui, baik, kau masih mempunyai masa depan yang cemerlang, perjalanan hidupmu pun masih amat panjang, yang sudah lewat biarkan lewat, kau tak usah memikirkannya kembali, keluarga Hoa dengan senang hati menyambut kedatanganmu untuk tinggal dirumah kami"
Go Hong giok tak kuasa menahan rasa pedih dan rasa harunya lagi, tiba-tiba ia bertekuk lutut dan memeluk kaki Chin si hujin sambil menangis tersedu-sedu.
Thia Siok-bi yang menyaksikan kejadian itu meski agak terhibur juga hatinya, tak urung diam-diam ia melelehkan juga air matanya.
Pek si hujin mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya kemudian kepada Chin si hujin.
"Enci Hong, bagaimana penyelesaianya terhadap persoalan yang menyangkut Liong ji?"
Chin si hujin tertawa, sahutnya sambil menggunakan ilmu menyampaikan suara pula.
"Anak itu kau yang melahirkan, aku mah enggan untuk turut mencarinya"
"Aaaa........! Aku sedang kebingungan setengah mati, bisabisanya enci Hong mengajakku bergurau"
Chin si hujin termenung sebentar, lalu dengan wajah serius katanya.
"Thian hong sudah memberi contoh lebih dahulu dengan beristri dua, bagaimanapun juga aku tak bisa memaksa Liong ji untuk mengambil seorang istri saja, disamping itu akupun tak ingin ada orang yang merasa menyesal dan kecewa sepanjang masa, maka kalau bisa setiap orang yang terlibat harus memperoleh bagiannya secara adil dan merata,............... Huuuh! Untung saja persoalan yang demikian peliknya ini tak usah diselesaikan dengan terburu-buru, lebih baik kita selesaikan dulu masalah yang berada didepan mata, kemudian baru merundingkan kembali persoalan tersebut..........."
Pek si hujin manggut-manggut, dia lantas berpaling dan ujarnya kepada Kok See-piau.
"Kejadian manusia bagaikan awan diangkasa, selama dua puluh tahun belakangan ini, kita sama-sama sudah makin menanjak tua"
Semenjak perempuan itu munculkan dirinya di dalam arena, Kok See-piau hanya membungkam diri belaka, ia merasa bukan saja kecantikan wajah Pek si hujin pada saat ini masih tetap seperti dulu, bahkan ia kelihatan lebih anggun matang, berbicara yang sejujurnya, Pek Kun gi tampak jaun lebih menarik ketimbang dulu.
Maka mendengar perkataan itu, tanpa terasa dia berseru, Tidak, kau tampak jauh lebih cantik dan menarik daripada dulu semasa masih muda"
Pek si hujin mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan hambar dia berkata.
"Perkataan yang tak berguna lebih baik jangan disinggung-singgung lagi, ada suatu hal ingin kutanyakan kepadamu, aku harap kau bersedia untuk menjawab dengan sejujurnya"
Berhadapan dengan Pek Kun gi, sikap Kok See-piau seakan-akan berubah menjadi lembut dan halus seperti semua kebengisannva telah lenyap tak berbekas, katanya kemudian.
"Tanyalah,"
"Ketika putri enciku menjumpai bahaya tadi, Kami sudah berada disekitar tempat itu, kami sengaja tidak menghalangi dan baru menolong jiwanya setelah ia terjatuh kedalam jurang, tujuan yang sebenarnya tak lain adalah ingin memaksa mu untuk berbicara sejujurnya. Ternyata dugaan kami tidak meleset, kenyataannya memang begitu. Cuma herannya, ketika ayahku dan suamiku berhasil menemukan ayah ibunya yang sekarang, bagaimanapun kami bertanya. mereka selalu bersikeras mengatakan bahwa Kok Gi pek adalah putrinya, malah ayahku sendiripun tidak menemukan kecurigaan apaapa atas diri mereka yang berakibat hampir saja beliau menjadi putus asa, yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah mengapa bisa sampai terjadi keadaan ini?"
Paras muka Kok See-piau berubah hebat sesudah tertawa seram serunya.
"Sungguh berotak tajam, Hoa Thian bong akhirnya aku orang she Kok kembali harus kalah ditangan kalian ayah dan anak berdua"
Sesudah berhenti sejenak tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi sangat hambar katanya.
"Kalau dibicarakan yang sebenarnya, hal itu sesungguhnya amat sederhana, tentu saja mereka mengira Gi pek adalah putri mereka, sebab ketika itu secara kebetulan merekapun mempunyai seorang bayi perempuan yang berusia hampir sebaya, malam harinya secara diam-diam aku telah menukar bayi mereka dengan bayi ini tak heran Pek Siau-thian yang berpengalaman sekalipun dapat memahami perasaan orang juga tak mampu untuk membongkar teka-teki ini"
Sementara itu air mata Kok Gi pek telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya, untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu apa yang musti dilakukan, Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar berulang kali diikuti suatu pekikan tertahan.
Tampaklah Ciu Thian hua telah bertarung melawan Leng lam it khi, sedang Haputule bertarung melawan Phoa Si.
Ditengah berkobarnya pertarungan yang amat seru itu, tiba-tiba Huan Thong tertusuk dadanya oleh serangan pedang lawan hingga tembus kepunggungnya, sesudah sempoyongan beberapa waktu, tiba-tiba ia menjerit keras dan roboh terkapar diatas genangan darah sendiri.......
Sedangkan Suma Jin dengan tangan kosong berdiri terengah-engah disitu, Hoa In-liong berdiri dibelakangnya sambil menempelkan telapak tangannya dipunggang gadis itu, rupanya ia sedang menyalurkan hawa murninya untuk membantu memulihkan kekuatan tubuhnya.
Tak lama kemudian, tenaga dalam yang dimiliki Suma Jin telah pulih kembali seperti sedia kala, dia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, kemudian tanpa berbicara lagi dia melompat ke depan dan mencabut keluar pedangnya dari dada mayat Hun Tong.
Setelah itu, dengan wajah sedingin es dan diliputi hawa napsu membunuh yang menyeramkan, dia menatap wajah Beng Wi cian tajam-tajam, tak sepatah katapun yang diucapkan.
Rupanya Beng Wi cian juga sudah tahu kalau hal itu tak bisa dihindari lagi, dengan langkah lebar dia maju ke depan, setelah memberi hormat kepada Si Seng tek, katanya pelan.
"Nona suma, aku tahu bahwa dendam kesumat harus dibayar, Beng Wi cian pasti akan memberi kesempatan kepada nona untuk menyelesaikan tugas baktimu itu, nah, silahkan untuk turun tangan"
Seusai berkata, sambil bergendong tangan dia lantas mendongakkan kepalanya dan tidak berbicara lagi. Suma Jin tertawa dingin, ejeknya.
"Bila kau ingin kuampuni selembar jiwa dengan bersikap demikian, maka perhitungan mu itu keliru besar, nonamu tak akan ambil perduli apakah kau akan memberi perlawanan atau tidak"
"Nona Suma!"
Seru Beng Wi cian dengan gusar.
"bila kau ingin turun tangan, silahkan kau lakukan dengan segera, janganlah bermaksud untuk membuat malu aku orang she Beng, sejelek-jeleknya aku orang she Beng paling tidak aku takkan merengek minta di ampuni darimu"
Si Seng tek yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian di urungkan.
Hoa In-liong segera menengok kearah ibunya, tiba-tiba Chin si hujin berkata.
"Adik keponakanku, bukannya encomu sengaja bermaksud untuk menghalangi niatmu untuk membalas dendam, cuma aku berharap agar kau suka berpikir tiga kali lebih dulu sebelum melakukannya"
Paras muka Sama Jin berubah, seakan-akan dalam waktu yarg amat singkat itu pelbagai ingatan telah berkecamuk dalam benaknya, tiba-tiba ia mendepakkan kakinya ditanah seraya berseru.
"Aaai......! Sudahlah!"
Dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari situ. Tiba-tiba Beng Wi cian berseru "Nona Suma, harap tunggu sebentar!"
Suma Jin menghentikan langkah kakinya, kemudian tanpa berpaling lagi, katanya dengan dingin. Perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan?"
Beng Wi cian menjura dengan wajah serius, katanya.
"Nona, tidak membunuh juga tidak menghalangiku, hal mana mencerminkan kau memang keturunan seorang kenamaan. Dalam peristiwa pembunuhan terhadap Suma tayhiap, meski lohu turut hadir namun tidak ikut turun tangan, apakah nona mau mempercayai perkataanku?"
Suma Jin memandang sekejap ke arahnya, lalu dengan alis mata berkenyit dia manggut-manggut.
"Aku percaya, untung saja Suma Jin tak sampai melakukan perbuatan yang salah"
Sinar matanya segera dialihkan ke wajah Kok See-piau, dengan sinar mata sedingin es katanya.
"Kok See-piau, sekarang tinggal kau"
Kok See-piau mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaahh.......hhaaaah......hhaaahh.......bagus, bagus sekali, ada dendam harus dibayar dengan dendam ada darah harus dibayar dengan darah, kita memang harus melakukan perhitungan terakhir"
Sesudah berhenti sejenak, kepada Pek si hujin katanya.
"Walaupun kita telah saling berhadapan sebagai musuh besar, tapi ijinkanlah aku untuk menyebutmu dengan sebutan yang lama Hian moay (adikku), putramu benar-benar sangat lihay, selama ia berada disini mungkin hari ini aku bakal mati, cuma akupun bukan seorang manusia yang gampang dibereskan dengan begitu saja, sekalipun hari ini aku harus mati, aku juga akan perlihatkan kepadamu, meski keluarga Hoa adalah enghiong, aku orang she Kok juga bukan manusia tak berguna"
Pek si hujin menghela napas panjang, bersama Chin si hujin dan Tiang beng Tokoh mereka mengundurkan diri ke sisi arena.
Menanti Pek si hujin sudah mundur kesisi arena, tiba-tiba paras muka Kok See-piau berubah menjadi amat mengerikan, sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu, serunya dengan suara keras.
"Semua anggota Hian-beng-kau dengarkan baikbaik......"
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang.
"Kok See-piau, benarkah kau ingin mencari kematian dan kehancuran buat dirimu sendiri?"
Seruan itu datangnya sangat mendadak dan bernada penuh kewibawaan, kecuali anggota keluarga Hoa, boleh dibilang hampir semua jago lainnya merasakan hatinya bergetar keras.
Tiba-tiba dari tengah arena muncul seorang lelaki berjubah hijau yang keren, gagah perkasa, berwibawa besar, berbaju sederhana dan penuh keramah tamahan.
Sedari kapan ia muncul disana?
Ternyata tak seorangpun yang merasakanny, seakan-akan sedari dulu dia memang sudah berdiri ditempat itu tanpa berkutik.
Mendengar suasana diseluruh arena berubah menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, setiap orang berdiri dengan wajah serius, bahkan Kiu-im-kaucu yang tak pernah pandang sebelah mata kepada orang lain serta Kok See-piau yang rasa bencinya sudah merasuk tulang juga dalam waktu singkat merasakan semua kecongka-kannya punah, suatu perasaan ngeri dan takut yang aneh, secara aneh menyusup keluar dari hatinya dan menyelimuti seluruh perasaannya.
Lelaki berbaju hijau yang sederhana tapi penuh kewibawaan ini tak lain adalah pemilik dari perkampungan Liok soat san ceng yang tersohor diseantero jagad karena kelihaiyan ilmu silatnya, dan merupakan tulang punggung dari para pendekar dari golongan lurus, Thiam cu kiam (pedang pangeran langit) Hoa Thian-hong adanya.
Suasana menjadi hening, sepi tak kedengaran sedikit suarapun, lama sekali Hoa In-liong berdua baru maju memberi hormat, sedang semua orang juga seperti baru mendusin dari impiannya.
Kecuali orang-orang dari perkumpulan Hian-beng-kau, para jago yang lain segera berdesakan maju sambil menyapa.
"Hoa tay hiap, baik-baikkah kau?"
Sambil tertawa Goan cing taysu berkata.
"Hoa tayhiap, aku pikir Cho Thian hua tentu sudah kabur bukan setelah menyaksikan gelagat yang sedang dihadapinya tidak menguntungkan baginya.....?"
Sambil tersenyum Hoa Thian-hong segera balas memberi hormat.
"Aaah......! Soal kalah menang belum lagi ketahuan, ternyata Cho Thian hua mengakhiri pertarungan sampai ditengah jalan, katanya ia bersedia mengundurkan dari dunia persilatan untuk melanjutkan sisa hidupnya dengan aman tenteram"
Sekalipun perkataan itu diicapkan sambil lalu dan menggunakan kata-kata yang enteng sekali, akan tetapi semua orang tahu, seandainya Cho Thian hua tidak menderita kekalahan atau berhasil dipecundangi, tak mungkin dia bersedia mengundurkan diri dengan begitu saja.
Diam-diam semua orang merasa sayang sebab pertempuran sengit yang luar biasa hebatnya itu tak sempat disaksikan dengan mata kepala sendiri........
Tampak Hoa Thian-hong berpaling ke arah Coa Wi-wi, kemudian katanya sambil tersenyum.
"Coa titli, sesaat sebelum meninggalkan tempat ini, Cho Thian hua telah menitipkan tiga biji buah merah Co ko kepadaku agar disampaikan kepadamu, katanya benda itu merupakan barang taruhannya yang kalah ditanganmu, harap kau suka menerimanya"
Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi segera tertawa merdu, katanya agak geli.
"Empek Hoa kau masih bisa-bisanya merendahkan diri, jelas Cho Thian hua sudah menderita kekalahan hebat, kau masih bilang menang kalah belum ketahuan, kalau tidak ia tak akan mengatakan kalau dia sudah kalah bertaruh. Tak kusangka ucapanmu yang iseng dan tidak bermaksud suugguh-sungguh ternyata ditanggapi secara sungguhan oleh orang tua itu........"
Hoa Thian-hong tersenyum, sinar matanya pelan-pelan dialihkan ke arah Kok See-piau.
Di waktu-waktu biasa kawanan gembong iblis itu selalu memperbincangkan bagaimana membasmi keluarga Hoa, bagaimana mengu asahi dunia persilatan dan menjadi jagoan tenar.
Tapi sekarang, setelah berhadapan muka sendiri dengan Hoa Thian-hong, mereka baru sadar bahwa kelihayan serta kehebatan yang dimiliki Hoa Thian-hong jauh daripada apa yang mereka pikirkan serta bayangan diwaktu-waktu biasa.
Banyak diantaranya segera menundukkan kepalanya rendah-rendah karena merasa jengah dan malu sendiri.
Rupanya Kok See-piau masih belum mau takluk dan mengaku kalah dengan begitu saja, tiba-tiba ia menjadi nekad, dengan suara lantang teriaknya keras-keras.
"Segenap anggota perkumpulan Hian-beng-kau, dengarlah baik-baik! Kuperintahkan ke pada kalian untuk maju bersama dan bertempur sampai titik darah penghabisan, barang siapa berani melanggar perintahku ini, akann kubunuh tanpa ampun!"
Seketika itu juga terdengarlah suara bentakan keras yang menggelegar di angkasa.....
Serentak para iblis dari perkumpulan Hian-beng-kau bergerak maju kemuka gulungan air bah......
Pertarungan antara Leng lam it khi (manusia aneh dari leng lam )melawan Ciu Thian hua serta Phoa Si melawan Haputule yang semula terhenti, kini berkobar kembali dengan serunya.
Sisanya yang lain seperti Cu Thong segera bertarung melawan Pi Cok bin, Ko Thay melawan Bu Beng san..........pokoknya setiap jago lihay dari Hian-beng-kau telah bertemu dengan tandingannya.
Murid-murid lainnya meski turut melancarkan serbuan pula ke arah kawanan jago dari golongan putih serta orang-orang perkumpulan Kiu-im-kau akan tetapi serbuan mereka segera terbendung dan diri mereka sendiri tetap terkepung ditengah arena, tak seorang manusiapun diantara mereka yang sanggup meloloskan diri dari serangan.
Dari sini dapat diketahui bahwa usaha orang-orang Hianbeng-kau untuk menerjang keluar dari kepungan, sesungguhnya cuma suatu usaha yang tak berguna, sebab toh akhirnya mereka bakal mampus juga ditempat itu.
Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya setelah menyaksikan kejadian itu, dengan suara yang dalam dan berat serunya kemudian kearah gembong iblis tersebut.
"Kok See-piau, rupanya kau sudah nekad untuk bertahan terus sampai titik darah penghabisan? Bagus, apakah pertarungan ini akan kau langsungkan disini juga"
"Benar!"
Jawab Kok See-piau sambil menyeringai seram "Hoa Thian-hong kalian ayah dan anak boleh maju bersamasama, pun sinkun masih sanggup untuk membantai kalian semua sehingga mampus tanpa tempat kubur"
Hoa In-liong yang mendengar perkataan itu, segera tersenyum.
"Apalah gunanya untuk berbicara takabur dan segede gajah? Bagus, jika kau memang sudah merasa gatal tangan dan ingin mencoba kepandaian silatku, akan kulayani keinginanmu itu, ingin ku lihat kau masih bertahan sebanyak berapa gebrakan di tangan ku?"
Berbicara sampai disitu dia lantas berpaling kesamping dan memohon ijin dari ayahnya untuk turun tangan.
"Dengan cepat Hoa Thian hong mengulapkan tanganya lalu berkata dengan lembut.
"Lebih baik kau menonton disamping arena saja, sebelum Kok See-piau bisa bertarung melawan diriku, sampai matipun dia tak akan mati dengan mata terpejam"
Seraya berkata dia lantas maju ke depan. Diam-diam Kok See-piau merasa kecewa sekali, tapi ingatan lain dengan cepat melintas dalam benaknya.
"Kenapa tidak kuhadapi saja satu lawan satu? Ada satu habisi satu, ada dua habisi dua?"
Berpikir demikian, ia lantas tertawa dingin, serunya kemudian dengan suara lantang.
"Hoa Thian-hong, mengapa tidak kau pergunakan pedangmu untuk menghadapiku?"
Hoa Thian-hong tertawa hambar, sahutnya.
"Seandainya aku pergunakan pedang, maka kesempatan bagimu untuk beradu jiwa akan semakin lenyap, ku pikir selama berapa tahun belakangan ini tentu banyak kepandaian beracun yang berhasil kau pelajari, nah, ingin kulihat sampai dimanakah kehebatan dari ilmu-ilmu beracun itu?"
Api kemarahan yang berkobar di dada Kok See-piau betulbetul memuncak dan hampir tak tertahan lagi, sambil berpekik nyaring dia menubruk ke muka sambil melepaskan sebuah pukulan.
Secara tiba-tiba saja telapak tangannya itu berubah seakan-akan panca warna yang amat menyilaukan mata, mana cahaya warnanya tajam, menyolok lagi.
Berbareng itu, segulung bau amis yang menusuk hidung dan amat memualkan perut menyelimuti angkasa, ini membuat para penonton yang berada di sekitar arena merasakan dadanya menjadi sesak dan panas bagaikan hangus terbakar, buru-buru mereka kabur ke belakang dengan perasaan terkesiap, tak seorangpun diantara mereka yang merasa sanggup untuk menyambut datangnya ancaman pukulan beracun sehebat itu.
Hoa Thian-hong tak berani berayali, sambil memutar badan, sebuah jari tangannya menyambar ke muka melepaskan ancaman ke atas nadi penting kepada pergelangan tangan Kok See-piau.
Menghadapi ancaman seperti itu, buru-buru Kok See-piau merendahkan lengannya ke bawah untuk memunahkan jurus ancaman tersebut, kemudian secara beruntun melancarkan serangkaian serangan berantai, semuanya dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa.
Sungguh hebat sekali rangkaian jurus ilmu telapak tangan yang dipergunakan itu, selain aneh dan sakti gerakkannya, juga ganas serta tak mengenal ampun.
Dalam waktu singkat selapis angin pukuan bagaikan puyuh di samudra menyelimuti sekujur badan Hoa Thian-hong, tubuh Kok See-piau sendiri seakan-akan sudah terlebur menjadi satu dengan angin pukulan nya, mana tubuh sudah lenyap, setitik jejak pun tidak kelihatan.
Pertempuran sengit yang berkobar ini sungguh mengerikan dan jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan, orang hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo tanpa tahu apa yang hendak dilakukannya pada waktu itu.
Selain dari pada itu, ilmu pukulan yang dipergunakan oleh Kok See-piau itupun hanya Hoa In-liong seorang yang bisa mengikutinya, dia betul kesemsem oleh gerakan-gerakan itu sehingga tanpa disadari dia telah memusatkan segenap perhatiannya untuk menyadap inti sari dari ilmu pukulan tersebut.
Sesungguhnya Hoa In-liong sudah pernah mempelajari ilmu tersebut dari catatan batas buku yang pernah diperolehnya, cuma keterangan yang tercantum disana tidak sebagus dan serta secermat apa yang digunakan Kok See-piau sekarang, menjumpai kesempatan semacam ini, sudah barang tentu ia enggan untuk melepaskannya dengan begitu saja.
Jago-jago lain sungguh merasa kejadian yang dihadapinya itu diluar dugaan, mereka tidak menyangka kalau kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Kok See-piau telah mencapai ke tingkatan sedemikian hebat, bahkan orang-orang Hian-beng-kau sendiripun tidak menyangka kalau kaucu mereka sesungguhnya memiliki kepandaian silat sedemikian tingginya.
Mereka-mereka yang berilmu silat agak rendah menjadi terkesiap sekali setelah menyaksikan kejadian ini, mereka mengira Thian cu kiam sudah didesak di bawah angin.
Berbeda sekali dengan kawanan jago yang berilmu tinggi, mereka tahu selihay-lihaynya Kok See-piau jangan harap dia bisa menandingi Hoa In-liong maupun Hoa Thian-hong, cuma semua orang merasa agak heran apa sebabnya Hoa Thianhong berbuat demikian?
Sementara itu Hoa In-liong juga sedang berpikir didalam hatinya.
"Kok See-piau bukannya tidak tahu kalau ilmu silat yang dimiliki ayah serta aku jauh diatasnya, mengapa dia berani bicara besar? Jangan-jangan dia mempunyai rencana busuk?"
Setelah dipikirkan sebentar, dengan cepat pemuda itu dapat menebak apa gerangan siasat buruk lawan itu.
Baru saja dia hendak menyampaikan peringatan kepada ayahnya, ingatan lain segera melintas dalam benaknya, ia merasa kecerdasan ayahnya jauh diatasnya, pengalamannya lebih luas, mana mungkin ia tak bisa berpikir sampai kesitu?
Berpendapat demikian, dia lantas memusatkan semua perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan itu.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertarung mencapai beberapa ratus jurus lebih.
Ketika Kok See-piau menyaksikan segenap kepandaian andalannya yang digunakan ternyata tidak mendatangkan hasil seperti apa yang diharapkan, bahkan Hoa Thian-hong masih tetap menangkis dan membendung serangannya dengan tenang dan mantap, sadarlah gembong iblis ini bahwa hasil latihannya selama banyak tahun masih jauh ketinggallan bila dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki Hoa Inliong.
Menyadari akan hal tersebut diatas, sambil menggigit bibir menahan diri dia lantas mengeluarkan sisa kepandaian sakti yang ma sih disimpannya itu untuk mengajak musuhnya mati bersama.
Mendadak terdengar Hoa Thian-hong berseru dengan suara yang nyaring dan lantang.
"Kok See-piau, kau tidak lebih cuma memiliki kemampuan sedemikian terbatasnya, mengapa kau begitu membikin keonaran dalam dunia persilatan? Hati-hatilah kau sekarang, aku orang she Hoa akan melancarkan serangan balasan"
Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat kemudian menerjang keluar dari kurungan bayangan telapak tangan Kok See-piau yang rapat dan berlapis-lapis itu.
Kemudian hanya dalam beberapa perputaran badan saja, tiba-tiba Kok See-piau mera sakan bawa iganya kesemutan tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok.
Sedemikian cepatnya peristiwa itu terjadi, sampai-sampai jurus beradu jiwa yang telah dipersiapkannya semenjak tadipun belum sempat digunakan.
Para anggota perkumpulan Hian-beng-kau yang menyaksikan kejadian itu menjadi sangat terperanjat tanpa terasa mereka menghentikan serangannya dan melompat mundur ke belakang.
Menyaksikan musuh-musuhnya mundur semua, para jago dari golongan putih pun segera ikut menghentikan serangannya dan mengundurkan diri, mereka tak ingin mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyergap musuh-musuhnya.
Tampak Hoa Thian-hong merogoh kedalam saku Kok Seepiau dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang terbuat dari kulit macan tutul, kemudian katanya.
"Kok See-piau, secara diam-diam kau menyembunyikan bahan peledak dalam sakumu, memangnya kau anggap aku orang she Hoa tidak tahu kalau kau bernia menyulutnya bila kesempatan baikmu telah tiba, sehingga kau bisa mati bersama dengan orangorang yang berada sepuluh kaki disekelilingmu?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas menggerakkan tangannya untuk membebaskan jalan darah Kok See-piau yang tertotok, katanya lagi dengan hambar.
"Pergilah kau dari sini! Aku orangg she Hoa tidak akan membinasakan dirimu"
Kok See-piau merasa malu sekali, kalau bisa dia ingin mari saja daripada menanggung aib tersebut.
Akhirnya sebagai pelampiasan, dia tertawa terbahak-bahak, serunya.
Hoa Thian-hong kau tak usah pura-pura berbuat bajik, aku orang she Kok tak akan menirukan cara pentolan tiga perkumpulan besar serta Kiu-im-kau yang menebalkan muka mencari kehidupan dibawah tekanan orang-orang keluarga Hoa"
Begitu berbicara sampai disitu, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya menghajar keatas jalan darah Pek bwe siat ditubuh sendiri.
Para anggota Hian-beng-kau yang menyaksikan kejadian itu menjadi gempar.....jeritan kaget, seruan tertahan segera berkumandang dimana-mana.
Disaat yang paling akhir, mendadak Hoa Thian-hong menyentilkan ujung jarinya ke depan, segulung desingan angin tajam segera meng hajar telak diatas jalan darah Ci ti hui dibadan Kok See-piau.
Seketika itu juga Kok See-piau merasakan lengannya menjadi kesemutan dan tak mampu digerakan lagi.
Ia menjadi marah bukan kepalang, dengan mata yang merah membara bagaikan semburan api, bentaknya keraskeras.
"Hoa Thian-hong, seorang lelaki boleh dibunuh jangan dihina, kau sudah memenangkan pertarungan ini, apa 1agi yang hendak kau peroleh dari diriku?"
"Aku orang she Hoa sama sekali tidak berniat untuk mencemooh atau menghinamu"
Ujar Hoa Thian-hong dengan suara dalam.
"aku hanya merasa heran mengapa kau bisa begitu mendendam dan sakit hati kepada kami? Cobalah pikirkan masalahnya dengan pikiran yang dingin dan tenang, bagian yang manakah kami keluarga Hoa telah membuat kesalahan kepadamu? Bagian yang mana pula telah dilakukan umat persilatan didunia ini terhadapmu?"
Sementara Kok See-piau belum sampai menjawab, tiba-tiba terdengar Kok Gi pek berpekik dengan nada merengek.
"Biarkan aku ke sana. biarkan aku kesana... Tapi Pek Soh gi memeluk putrinya erat-erat, dengan air mata bercucuran dia mengeluh.
"Oooah...anak Yu, apakah kau ingin melihat hati ibumu tercabik-cabik? Bila kau menghampirinya, sudah pasti kau akan dibunuh secara keji.....!"
Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu segera berkerut kening, lalu serunya.
"Bibi, biarkanlah adik misan kesana!.. Kemudian dengan ilmu menyampaikan suara dia melanjutkan.
"Jika kau terlalu memaksa untuk menahannya disitu, maka bisa jadi adik misan akan menanggung rasa menyesal bahkan rasa benci sepanjang masa kepadamu, tak usah kuatir, keponakan jamin akan keselamatan jiwanya......!"
Sementara Pek Soh gi masih tertegun dan berdiri termangu-mangu, mendadak Kok Gi pek meronta dari pelukan ibunya, dia melompat kemuka.
Gadis itu segera lari ke depan Hoa Thian-hong kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut, katanya sambil menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya.
"Oooh.......paman, lepaskanlah guruku! Ampunilah selembar jiwa guruku itu....."
Hoa Thian-hong menghela napas panjang.
Sedangkan Hoa In-liong yang berada disampingnya segera membimbingnya bangun dari atas tanah, kemudian dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang dia berkata.
"Adik misanku, tenangkan hatimu baik-baik! Bukan kami enggan melepaskan gurumu dari sini, juga bukan kami akan melenyapkan selembar jiwanya, adalah gurumu sendiri yang berniat busuk untuk menghabisi nyawa sendiri sambil mencelakai orang lain"
Mendengar ucapan tersebut Kok Gi pek menjadi tertegun dan berdiri termangu-manggu beberapa saat lamanya. Lama, lama sekali akhirnya dia menghela napas sedih, bisiknya dengan lirih.
"Terima kasih kakak misan, atas perhatiannya!"
Tiba-tiba ia membalikan badanya, lalu menubruk kehadapan Kok See-piau, sambil memeluk kakinya kencangkencang, pekiknya dengan penuh kesedihan.
"Oooh.....suhu! terbukalah sedikit jalan pemikiranmu......tecu bersedia mati untukmu, tapi kumohon kabulkanlah permohonan diri tecu ini...."
Paras muka Kok See-piau kaku tanpa emosi, dengan watak iblisnya yang keji dan tak mengenal perasaan itu, dia benarbenar tidak menyangka kalau sampai keadaan seperti itu pun Kok Gi pek masih enggan untuk meninggalkannya sendirian, bahkan rela mati deminya.
Sepanjang sejarah hidupnya, belum pernah dia dibikin terharu seperti hari ini, untuk sesaat lamanya dia menjadi termenungng dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian, ia baru berkata dengan suara keras dan nyaring.
"Hoa Thian-hong...! Apa yang hendak kau katakan sekarang......?"
Ketika mendengar ucapan tersebut semua orang menjadi tertegun dan bingung, semua orang tidak mengerti apa maksud yang sebenarnya dari Kok See-piau.
Tampak Hoa Thian-hong termenung beberapa saat lamanya, mendadak ia mendekati Bong Pay dan menjura dalam-dalam.
"Bong toako! Enso!"
Tadi sebelum ucapan itu dilanjutkan, Bong Pay telah menukas.
"Diantara keluarga kita berdua tiada kau dan aku, keputusanmu adalah keputusan dari kami suami istri berdua pula!"
Hoa Thian-hong segera manggut-manggut, sambil berpaling kearah Kok See-piau serunya.
"Dia masih tetap anak muridmu!"
"Itu mah belum cukup......"
Tukas Kok See-piau dengan cepat dan lantang. Hoa Thian-hong menjadi tertegun. Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Hoa In-liong telah menimbrung dari samping.
"Meskipun dia misanku, harus kembali keleluhur dan bapak ibunya sendiri, boleh saja ia menjadi anak angkatmu, nama Kok Gi pek juga boleh dipertahankan terus sehingga keluarga Kok tak sampai putus keturunan, aku rasa begini tentu sudah cukup bagimu bukan? Ketika berbicara sampai disitu, sinar matanya lantas dialihkan ke arah ayahnya dan memandang sekejap. Hoa Thian-hong segera manggut-manggut, dengan wajah berseri dia melirik sekejap ke arah putranya. Hingga detik itu, Kok See-piau baru mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.....hhaaahh.....haaahhh......bagus, bagus sekali cara kerja orang-orang keluarga Hoa, memang selamanya amat bijaksana sehingga musuh pun mau tak mau harus mengakui akan kebolehannya dan merasa kagum sekali"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling seraya berseru dengan suara dalam.
"Cu lo!"
Leng lam it khi segera mengiyakan.
"Lohu siap menerima perintah, katanya. Pelan-pelan Kok See-piau mengalihkan sinar matanya dan memandang pula wajah Phoa Si, Bu Beng san, Ui Siu ling dan Tang Bong liang, kemudian berkata.
"Phoa lo, Bu lo, Ui lo, Tang Thamcu!"
Yang dipanggil segera mengiyakan dengan perasaan bimbang, bingung dan tidak habis mengerti, mereka tak tahu apa tujuan Kok See-piau dan permainan apa yang sedang dipersiapkan olehnya.
Tanpa terasa timbul perasaan ingin tahu didalam hati mereka, dengan tenang mereka menantikan perkembangan selanjutnya.
Tampak Kok See-piau menatap sekali lagi orang-orang yang dipanggilnya itu, kemudian sepatah demi sepatah berkata.
"Pun sinkun sudah mati, apakah perkumpulan kitapun akan segera bubar sampai disini saja?"
Serentak semua orang menjawab.
"Kami sekalipun pasti akan berbakti dan membantu ahli waris dari sinkun tanpa membangkang, sampai mati tak akan menyesal, kami hanya bertujuan membangun kembali dasar-dasar kekuatan perkumpulan kita"
Suara mereka lantang hingga menembusi awan, sampaisampai orang yang berada di tempat kejahuan pun dapat mendengar suara mereka dengan nyaring dan jelas.
Menyaksikan kejadian ini, diam-diam para jago yang berada disekitar arena merasa kagum sekali atas kemampuan Kok See-piau didalam mengumpulkan anak buahnya.
Tampak Kok See-piau manggut-manggut,kemudian katanya.
"Kalian setia dan berbakti terus sampai kini, pun sinkun merasa terharu dan berterima kasih sekali!"
Tiba-tiba dia mengeluarkan se
Jilid kitab kuning dan sebuah panji kecil dari sakunya sambil diserahkan kepada Kok Gi pek, kembali katanya dengan nyaring.
"Gi pek, sambut dulu benda benda ini!"
Kok Gi pek bingung dan tidak habis mengerti, akan tetapi dia menurut dan menerima juga benda-benda tersebut. Sesudah kedua macam benda itu diterima oleh gadis tersebut, Kok See-piau baru berkata lagi.
"Gi pek, dimasa lalu kau selalu menyebutku sebagai suhu, kini apakah kau bersedia memanggil Gi hu (ayah angkat) kepadaku?"
"Mendengar ucapanya yang lembut serta penuh dengan kasih sayang itu, Kok Gi pek merasa terharu sekali, tak kuasa lagi dia berseru dengan keras.
"Gi Hu!"
Teriakan itu diucapkan dengan ketulusan hati yang muncul dari dasar hati kecilnya.
Tentu saja Kok See-piau dapat menyaksikan akan hal itu, tanpa terasa ia tertawa lebar, kemudian dengan penuh kasih sayang dibelainya rambut gadis itu lembut.
Beberapa saat kemudian, dia baru berseru kembali.
"Gi pek! Selanjutnya kau adalah penerus kedudukanku ini, dan aku harap kepada saudara sekalian jangan melupakan janji kalian sendiri!"
Kok Gi pek menjadi amat tercekat. Segera teriaknya keraskeras"
"Su.....Gi hu!"
Kok See-piau berpura-pura tidak mendengar, dia melirik sekejap ke arah Pek si hujin, kemudian mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haaahh........haaahh.......haaahh.........Keluarga Hoa memang sepantasnya bercokol terus dalam dunia persilatan, tiada orang yang bisa menandinginya lagi, aku orang she Kok sungguh sangat benci...."
Mendadak ucapanya terhenti sampai ditengah jalan, tubuhnya yang tinggi besar itupun pelan-pelan roboh ketanah.
Semua orang tahu bahwa ia telah memutuskan nadi-nadi penting didalam tubuhnya sendiri.
Meskipun para pendekar rata-rata merasa benci kepada Kok See-piau atas perbuatan yang pernah dilakukannya, akan tetapi diam-diam pun merasa kagum atas kegagahan dari Kok See-piau sekarang.
Kok Gi pek menjerit lengking, mendadak ia jatuh tak sadarkan diri diatas tubuh Kok See-piau.
Para jago yang tergabung dalam perkumpulan Hian-bengkau sama-sama tertunduk dengan wajah sedih, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka bersama-sama menjura dan memberi hormat kepada jenasah Kok See-piau yang membujur diatas tanah itu.
Hoa Thian-hong dengan memimpin kedua orang istrinya beserta Hoa Si dan Hoa In-liong segera memberi hormat pula kepada jenasah Kok See-piau sambil berkata.
"Kok See-piau, entah kau seorang pentolan liok lim ataukah seorang enghiong, aku orang she Hoa mengagumi akan kegagahan mu, orang mati dendampun hilang, sambutlah sebuah hormat dari aku orang she Hoa"
Tiba-tiba terdengar Kiu-im-kaucu tertawa tergelak, kemudian berkata.
"Hoa tayhiap, setelah Kok See-piau mati, maka mulai sekarang jika masih ada orang yang berani memusuhi keluarga Hoa, aku berani mengatakan jika orang itu bukan seorang sinting, sudah pasti ia termasuk orang bodoh"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar para jago dan golongan sesat segera timbul pula perasaan yang sama.
Hal ini buktan saja dikarenakan ilmu silat yang dimiliki ayah dan anak dari keluarga Hoa ini tiada taranya didunia ini, yang terpenting adalah kebesaran jiwa serta kebijaksanaan mereka didalam menanggulangi setiap persoalan.
Mereka merasa bahwa penampilan dari keluarga Hoa inilah baru benar-benar melambangkan keadilan didalam dunia persilatan, hal mana membuat kaum mengangkat topi, mereka merasa pecah nyali, apalagi yang paling penting lagi banyak diantara mereka yang mengagumi kelihayan ilmu silat mereka.
Sejak peristiwa itu, secara tiba-tiba saja semua orang merasa bahwa keluarga Hoa sesungguhnya bukan jauh tinggi diatas, dimana jaraknya amat jauh dari mereka, sebaliknya begitu dekat dan begitu akrab.
Sekalipun dunia persilatan itu besar, tapi kemanapun mereka pergi, disitulah semangat keluarga Hoa berada.
"Terdengar Hoa Thian-hong berkata lagi sambil menjura.
"Keluarga Hoa berharap dunia persilatan bisa aman dan tenteram, umat persilatan bisa hidup rukun dan damai, ucapan dari kau cu tersebut tidak berani kuterima. Setelah menjura ke empat penjuru, ia melanjutkan.
"Seng-sut-pay telah bersumpah tak akan menginjakkan kakinya kembali di wilayah Tionggoan, Jin Hian mengasingkan diri jauh diluar perbatasan, urusan disinipun telah selesai, dunia persilatan akan menjadi tenang kembali untuk beberapa waktu lamanya, aku harap saudara sekalian mau pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega, bila ada waktu silahkan mampir di perkampungan kami di bukit Im tiong san, setiap saat dengan senang hati keluarga Hoa akan menyambut kedatangan kalian semua..."
Ketika semua orang menyaksikan badai pembunuhan sudah lewat, dunia persilatan telah menjadi aman dan tenang kembali, dengan wajah berseri dan senyum dikulum masingmasing orang pun segera mengucapkan selamat berpisah dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Pihak Kiu-im-kau yang pertama-tama angkat kaki lebih dulu dari situ, ketika Bwe Su-yok melihat keadaan memaksanya tak bisa tinggal disana lebih lama Lagi, dengan kepala tertunduk ia melirik sekejap ke arah kekasih hatinya, kemudian mengikuti rombongan berlalu dari situ.
Tiba-tiba Coa Wi-wi dan Si Leng Jin mengejarnya, mereka bertiga lantas berbisik-bisik lirih, entah apa saja yang sedang dibicarakan oleh mereka bertiga?
Para pentolan Hian-beng-kau sebaliknya melakukan perundingan dengan keluarga Hoa serta Bong Pay suami istri, setelah berunding lama sekali dengan susah payah Pek Soh gi baru mengijinkan putrinya melaksanakan pesan terakhir dari Kok See-piau tapi dengan syarat setiap tahun Kok Gi pek harus pulang ke rumah untuk menengok ayah ibunya.
Tapi pada setahun yang pertama, karena kuatir Kok Gi pek masih diliputi kesedihan ia harus berdiam bersama orang tuanya.
Selain itu masa remajanya tak boleh dilewatkan soal memilih menantu semuanya adalah urusan Bong pay suami istri dan orang-orang Hian-beng-kau tak boleh mencampurinya.
Menhhadapi syarat-syarat semacam itu tentu saja Leng Lam it khi sekalian harus menyanggupinya, maka setelah mengambil keputusan merekapun mohon diri.
Hingga saat itu, Hoa Thian-hong baru mendapat waktu luang, dia lantas berpaling kearah istrinya yang sedang berbincang-bincang dengan Tiang heng Tokoh.
Ditatapnya Tian heng Tokoh lekat-lekat, lama sekali dia baru memanggil dengan lirih.
"Cici!"
"Jangan panggil aku.....pinto tidak pantas menjadi cicimu lagi"
Kata Tian heng Tokoh dengan cepat.
Sekalipun ucapan tersebut penuh dengan kekesalan, tapi suaranya gemetar, pergolakan emosinya susah disembunyikan.
Kesedihan menyelimuti pula wajah Hoa Thian-hong, bibirnya tampak bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan.
Untuk sesaat suasana menjadi kaku dan tak enak, membuat orang merasa susah bernapas.
Chin si hujin segera memberi tanda kepada Pek si hujin.
Sambil tersenyum Pek si hujin segera berseru.
"Liong ji, perlihatkan tulisan diatas telapak tanganmu itu kepada bibi Ku! Hoa In-liong agak tertegun, segera pikirnya.
"Ooh,.....jadi rupanya tulisan yang diukir ibu diatas telapak tanganku hanya dimaksudkan demikian!"
Maka tanpa mengucapkan sepatah katapun dia lantas berlutut dihadapan Tian heng Tokoh dan memperlihatkan telapak tangannya.
Dengan cepat Tiang heng Tokoh menundukkan kepalanya untuk memeriksa telapak tangan pemuda itu.
Ketika terbaca olehnya diatas telapak tangan itu tertera sebuah huruf "Heng"
Atau benci, bagaikan disambar geledek disiang hari bolong, sekujur badannya gemetar keras, badannya gontai seperti mau roboh, dengan air mata bercucuran membasahi pipinya, dia bergumam.
"Benci! Benci!"
Cia In sangat terkejut, buru-buru ia melompat ke depan dan memayang tubuhnya.
Pek si hujin memberi tanda kepada Hoa In-liong agar berdiri, kemudian mereka pun berdiri dengan sedih.
Beberapa saat kemudian, pelan-pelan paras muka Tiang heng Tokoh berubah menjadi tenang kembali, agaknya dia sudah mengambil suatu keputusan yang bulat.
Mendadak ia berpaling ke arah Cia In sambil bertanya.
"In ji, mau ikut aku?"
Tanpa berpikir panjang Cia In segerat menjawab.
"Hal ini merupakan pucuk dicinta, ulam tiba buat In ji mengapa harus kutampik?"
Tiang heng tokoh segera melirik sekejap kearah Pui Chegiok. Sambil tersenyum Pui Che-giok berkata.
"In ji bisa mempunyai rejeki sebesar ini, untuk merasa gembira pun aku tak sempat!"
Saat itulah Tiang heng Tokoh baru berpaling kearah Hoa Thian-hong, kemudian katanya.
"Aku akan membawa In ji menuju kepulau Si Soat to, urusan selanjutnya terserah kepadamu sendiri, tidak jelas tanya saja kepada Hong moay dan Kun moay bila sampai salah, jangan salahkan kalau selama hidup aku enggan berjumpa lagi denganmu"
Selesai berkata, dengan mengajak Cia In dan Pui Che-giok, ia segera berlalu dari situ.
Dalam pada itu, sang surya telah muncul di ufuk timur, langit terasa terang benderang bermandikan cahaya, seakanakan melambangkan ke jayaan dan kecemerlangan keluarga Hoa dimasa mendatang.
Sebagaimana apa yang diucapkan Thian Ik-cu serta Kok See-piau menjelang kematiannya sejak itu Hoa Thian-hong dan putra putranya menjagoi seluruh dunia persilatan dan menghormati setiap orang persilatan.
Sejarah keluarga mereka berlangsung sampai beratus-ratus tahun lamanya, selama mereka berkuasa, dunia persilatan aman tentetam tak pernah terjadi kekacaun, keadilan dan kebenaran selalu ditegakkan.
Sedangkan mengenai perkawinan Hoa In-liong, rasanya tak usah disinggung pun tentunya para pembaca dapat menebak sendiri..
Sebagaimana seorang pemuda yang romantis, sekalipun dirumah sudah punya istri-istri yang cantik, namun dia masih saja bermain cinta disana sini............
Tampaknya watak tersebut sudah mendarah daging hingga tak bisa dirubah lagi.
Untung saja dia muda dan tampan, siapa lagi yang tidak romantis bila dia berwajah tampan, gagah dan ternama lagi?
Dan dengan demikian, cerita inipun saya akhiri sampai disini, semoga para pembaca sekalian puas adanya, terima kasih.
TAMAT
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 7
Baca Juga: Si Racun Dari Barat Jin Yong