Ceritasilat Novel Online

Neraka Hitam 7

Eps 7 Neraka Hitam - Khu Lung

Baca online Neraka Hitam - Khu Lung

Cersil Neraka Hitam - Khu Lung.

Ucapan tersebut segera membuat para murid Thian Ik-cu sama-sama berdiri tertegun kemudian saling berpandangan tanpa mengetahui bagaimana musti menjawab, malahan mereka menaruh curiga kalau jalan pikiran suhunya sudah tidak terang karena hampir mendekati ajalnya.

"Sudah jelas?"

Tanya Thian Ik-cu kembali. Seorang murid Thian Ik-cu yang bernama It Tin tojin dengan itu memberanikan diri segera bertanya.

"Suhu, tecu sekalian masih kurang begitu jelas!"

Thian Ik-cu menghela napas panjang, katanya, Sudah banyak tahun kita bertapa mengasingkan diri rupanya kalian masih juga tak dapat memahami jalan pikiranku.

Aaai......kematian gurumu adalah karma, jika lantaran persoalan ini sampai kalian melakukan pembalasan dendam, coba sayangkan sendiri berapa banyak pula korban yang telah mati dengan perkumpulan kita selama ini?

Dosaku ini tak bisa dibayar dengan apapun, meski tubuhku tercincang sampai hancur juga belum bisa membayarnya...bila bunuh membunuh di langsungkan terus-menerus, sampai kapankah hal ini baru berakhir?"

Setelah berhenti sejenak dan mengatur napas, ia menambahkan.

"Tapi jika Kok See-piau masih melakukan kejahatan terus, kalian boleh mendampingi Hoa kongcu untuk membasmi kaum laknat, dari muka bumi, mengerti?"

"Tecu mengerti!"

Semua murid Thian Ik-cu segera menyahut, Thian Ik-cu manggut pelan, sambil berpaling katanya kemudian kepada Hoa In-liong.

"Setelah pinco meninggal nanti, jika diantara anggota perguruanku ada yang berbuat kejahatan, harap kongcu bersedia mewakiliku untuk menghukumnya"

"Locianpwe tak usah kuatir"

Jawab Hoa In-liong sedih.

"urusan yang dihadapi muridmu sama halnya dengan urusan boanpwe"

Thian Ik-cu merasa lega sekali setelah mendengar janji itu.

kekuatannya menjadi buyar dan tubuhnya makin melemah, seketika itu juga daya tahannya menurun secara dratis, napasnya kian melemah dan matanya mulai memejam.

Tapi secara tiba-tiba ia membuka matanya kembali, seakan-akan teringat kembali suatu hal, serunya.

"Hoa kongcu!"

"Boanpwe siap menerima petunjukmu"

Dengan kepayahan Thian Ik-cu berkata.

"Pinto merasa berterima kasih sekali kepada ayahmu yang mana telah....... telah memberi ke..... kesempatan bua..... buat pinto untuk ber..... bertobat, pinto.... pinto merasa bersyukur sekali daaa.... dapat.... per....pergi den ..... dengan hati yang tee .... tenang....."

Tiba-tiba sepasang matanya terpejam, kepalanya terkulai dan berangkat meninggalkan alam semesta dengan sekulum senyuman dibibir.

Suara pembicaraannya itu kian lama kian bertambah lirih apa lagi ucapan yang terakhir, boleh dibilang bagaikan bisikan nyamuk, coba Hoa In-liong tidak memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, tak mungkin perkataan itu bisa didengar.

Air mata bercucuran membasahi pipi Hoa In-liong, dengan sangat berhati-hati ia membaringkan jenasah Thian Ik-cu diatas sebuah batu hijau, lalu setelah memberi hormat ia mengundurkan diri ke samping.

Bu tiam tojin sekalian tertegun untuk sesaat, setelah tersadar kembali dari lamunan, mereka segera mendekam ditanah dan menangis tersedu-sedu, ada pula yang memukul dada dan menyepak-nyepakkan kakinya ketanah, suasana penuh diliputi keharuan.

Pek Siau-thian berdiri dengan wajah murung, sedang Thia Siok-bi ikut melelehkan air mata seketika itu juga suasana kesedihan menyelimuti hati setiap orang.

Tong thian kuncu, salah seorang dari tiga besar yarg banyak melakukan kejahatan pada dua puluh tahun berselang, akhirnya ia bertobat pada akhir usianya, bagaimanapun juga akhirnya ia berhasil menebus dosa-dosanya yang telah diperbuat pada dua puluh tahun yang lalu, boleh dibilang kematiannya ini dilalui dengan perasaan yang tenang dan puas.

Setelah termenung sesaat lamanya, tiba-tiba Pek Siau-thian berkata.

"Hey hidung kerbau, melepaskan golok pembunuh kembali menjadi murid Buddha, kau betul-betul berhasil menebus dosa-dosamu, hari ini aku orang she Pek berdua takluk kepadamu, kau pantas menerima penghormatanku!"

Jago lihay dari Sin-ki-pang ini segera berlutut didepan jenasah Thian Ik-cu dan memberi penghormatan besar.

"Semua murid Thian Ik-cu buru-buru balas memberi hormat. Dengar, air mata bercucuran Bu tim tojin berkata.

"Pemberian dari locianpwe sungguh merupakan suatu kebanggaan buat perkumpulan kami. Perlu diketahui, kedudukan Pek Siau-thian didalam dunia persilatan tinggi sekali, orangnya tinggi hati dan tak pernah tunduk kepada siapa pun, hampir setengah abad lamanya ia bersama Thian Ik-cu dan Jin Hian menguasahi dunia serta saling bermusuhan, kini se telah Thian Ik-cu wafat ternyata ia mau berbuat demikian, meski dibilang yang mati adalah yang besar, namun peristiwa semacam ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian aneh yang diluar dugaan. Thian Siok-bi maju memberi hormat pula, murid-murid Thian Ik-cu buru-buru balas memberi hormat lagi, tiba-tiba ia mengebaskan hudtimnya dan membalikkan badan siap pergi dari situ. Hoa In-liong segera berpikir "Dengan kepergiannya, dikemudian hari pasti akan sulit untuk menemukan jejaknya kembali"

Berpikir demikian, ia lantas berseru.

"Cianpwe, harap tunggu sebentar!"

Sambil menarik muka, dengan dingin Thia Siok-bi menegur.

"Ada urusan apa?"

Hoa In-liong agak termenung sejenak, kemudian ujarnya.

"Senjata kemala milik cianpwe telah hilang, harap tunggu sejenak, boanpwe akan suruh orang untuk mencarikan kembali "Tidak usah"

Tukas Thia Siok-bi, setelah kehilangan senjata hari ini, pinni ada niat untuk meninggalkan dunia persilatan, disimpan juga tak berguna, lebih baik hilang saja"

Jawaban ini diluar dugaan Hoa In Iiong, ia menjadi tertegun ketika dilihat perempuan itu kembali bersiap-siap akan pergi, segera serunya lagi dengan cemas.

"Cianpwe, bagaimana keadaan Hong giok sekarang?"

Thia Siok-bi tertawa dingin.

"Hmm! Kalian keluarga Hoa suka mempermainkan cinta dan perasaan orang, buat apa kau menanyakan dirinya"

"Siapa bilang keluarga Hoa suka mempermainkan cinta dan perasaan orang.....?"

Tiba-tiba Pek Siau-thian menegur. Pelan-pelan Thia Siok-bi mengalihkan sinar matanya, lalu menjawab dengan dingin."

"Aku yang berkata, Pek lo pangcu bermaksud hendak membuat apa?"

Sambil mengelus jenggotnya Pek Siau-thian tertawa tergelak.

"Haaahhh ....haaahhh ...haaahh....tampaknya kau masih berangas sekali"

Katanya, aku lihat kau dengan Thian kiam sin kau (pedang baja kaitan sakti) Thia Tay ci yang pernah menggetarkan Tionggoan pada tiga puluh tahun berselang sama-sama dari satu aliran, tolong tanya apa hubunganmu dengannya?"

Sebenarnya Thia Siok-bi bermaksud melayani perkataan itu, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan angkuh sahutnya.

"Dia adalah mendiang ayahku!"

"Mendiang ayahmu?"

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, apakah Thia toako sudah berpulang kealam baka?"

Sesungguhnya Thia Siok-bi juga seorang perempuan yang tinggi hati dan berangasan, ia sudah tak senang hati ketika Pek Siau-thian muncul tanpa memandang sekejap pun kepadanya, seandainya tidak memandang diatas wajah Hoa In-liong dan kematian Thian Ik-cu, mungkin ia sudah angkat kaki semenjak tadi.

Apalagi setelah mendengar perkataan Pek Siau-thian yang angkuh, hampir meledak hawa amarah didalam dadanya.

Namun setelah mendengar ucapan yang terakhir, ia menjadi terperanjat, pikirnya dengan cepat.

"Apakah dia adalah sahabat karib dari ayah?"

Dalam hati ia berpikir demikian, diluar ujarnya.

"Mendiang ayahku belum pernah menyinggungsoal Pek.........cianpwe adakah sesuatu yang bisa kau gunakan sebagai bukti?"

Nada ucapan dibalik perkataan itu dengan sendirinya telah berubah menjadi lebih lunak. Pek Siau-thian segera tertawa tergelak.

"Haaahh.........haaahh........haaahh.........tak kusangka suatu ketika aku orang she Pek dianggap juga oleh orang lain sebagai seorang penipu...."

Merah padam selembar wajah Thian Siok-bi karena jengah, padahal diapun tahu, dengan kedudukan serta nama baik Pek Siau-thian, tak mungkin dia akan mengaku kenal kepada orang lain apalagi tiada suatu kepentingan baginya untuk berbuat demikian, yang benar adalah untuk sesaat ia merasa malu untuk mengakui orang itu sebagai sahabat ayahnya.

Terdengar Pek Siau-thian berkata kembali.

"Mungkin Thian heng terlalu dalam menyimpan rasa sesalnya kepadaku, maka sampai mati ia tidak memberitahukan kepadamu bahwa ia masih mempunyai seorang sahabat semacam aku ini"

Setelah berhenti sejenak dan termenung, lanjutnya.

"Sesungguhnya tiada benda berharga yang tertinggal dari hubungan persahabatan kami dua keluarga, yang ada cuma sebuah giok bei belaka yang diberikan ayahku kepadanya setelah ayahmu menolong jiwaku, aku pernah berpesan kepadanya, bila dikemudian hari menjumpai kesulitan, asal mengutus orang dengan membawa benda itu, sekalipun harus terjun kelautan api aku pasti akan menyusul kesana, mungkin benda itu belum hilang.....?"

"Macam apakah bentuk giok bei tersebut?"

Pek Siau lhian mengernyitkan alis matanya, lalu jawabnya setelah tertawa.

"Dipermukaan depan berlukiskan burung hong dan kilin, sedangkan pada permukaan dibaliknya tertera delapan huruf yang berbunyi Tong-sim ji lan, Ci lip toan kim. Kau masih ada pertanyaan lain?"

Thia Siok-bi tak berani kurang hormat lagi, buru-buru serunya sambil memberi hormat.

"Tit li tidak tahu, harap paman Pek bersedia memaafkan kesalahanku"

Selama ini Hoa In-liong hanya berdiri disamping tanpa ikut berbicara, setelah melibatnya perempuan itu mengakui teman ayahnya, diam-diam ia merasa bergirang hati.

Tiba-tiba Pek Siau-thian mengulapkan tangannya sambil berseru.

"Liong ji, tak ada gunanya kau tetap bercokol disini, yang paling penting adalah selamatkan orang-orang itu"

Hoa In-liong tertegun, setelah memandang sekejap jenasah Thian Ik-cu serta murid-muridnya yang sedang menangis kesedihan, dia berkata agak sangsi.

"Gwakong, Thian Ik cianpwe......"

"Aku yang akan menyelesaikan persoalan disini, hayo cepat pergi! tukas Pek Siau-thian. Hoa In-liong segera berpikir lagi.

"Dengan kehadiran gwakong disini, tak mungkin Thia Siokbi akan pergi tanpa pamit Maka cepat-cepat dia memberi hormat dan segera berlalu dari situ. Dalam waktu singkat dia sudah tiba ditempat tujuan, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun. Sebenarnya dia mengira setelah lewat sekian lama, sebagian orang orang yang terkurung dalam lembah sudah naik ke atas tebing, siapa tahu kecuali para anggota Cian li kau, dan bersaudara Kiong dan huan Tong sekalian yang sudah berada dipuncak tersebut, tak seorang manusiapun yang naik kesitu. Hoa In-liong segera menyelinap kesamping Huan Tong seraya bertanya.

"Huan lo enghiong, apa yang terjadi?"

Huan Tong sekalian sedang memandang ke tengah lembah dengan perasaan apa boleh buat, mendengar teguran itu ia berpaling, betapa girangnya setelah mengetahui kalau Hoa Inliong yang muncul.

Kiong Gwat hui cepat cepat berseru lebih dulu.

"Ketika kami lihat api telah padam, maka tali-tali kami turunkan, siapa tahu mereka yang berkumpul dibawah tebing sama-sama ingin naik tapi tak tega bila orang lain naik lebih dulu, akibatnya merekapun saling menunggu disitu"

"Pada mulanya masih ada bebera orang yang berbuat untuk naik ke atas... ."

Demikian Huan Tong menyambung, tapi baru sampai di tengah jalan, mereka sudah ditimpuk dengan senjata rahasia sehingga terjatuh dengan demikian, orang semakin takut untuk naik ke atas"

"Kami pun sudah menganjurkan, tapi orang tidak menggubris perkataan kami, tak seorangpun yang menurut"

Ujar Cia Yu cong pula.

"Sungguh berbahaya!"

Pikir Hoa In-liong dalam hatinya.

"seandainya Jin Hian memanfaatkan kesempatan ini untuk melancarkan serangan, akibat dari keteledoranku niscaya akan banyak korban yang kembali berjatuhan........"

Salah seorang yang bernama Yu Cing san segera menyambung.

"Kini Hoa kongcu telah datang, hal ini jauh lebih baik lagi"

"Biar aku mencoba untuk membujuk mereka!"

Kata Hoa Inliong kemudian sambil tersenyum. Ia berjalan ke tepi tebing dan berseru dengan lantang.

"Saudara-saudara sekalian, marabahaya hingga kini belum hilang, saat ini bukan waktu yang tepat untuk melangsungkan percekcokan, persoalan terutama adalah cepat-cepat meninggalkan lembah ini, aku orang she Hoa menjamin, sekalipun ada seorang manusia yang berhati busuk, atau mempunyai dendam sakit hati dengan kami tak akan kami lancarkan sergapan untuk mencelakainya, menunggu semuanya sudah lolos dari mara bahaya, saat itulah bila ada permusuhan bisa di selesaikan disini atau berjanji untuk ketemu disaat lain, aku harap kalian suka berpikir dulu tiga kali sebelum bertindak"

Oleh karena luas lembah itu jaub melebihi luat telaga diatas tebing, maka sampai kering air telaga tersebut, dalamnya permukaan air dalam lembah masih belum seberapa, apalagi daerah sekitar dinding tebing cukup tinggi, air hanya merendam sedada mereka, dengan demikian meski seseorang tak pandai ilmu berenang juga tak akan kuatir mati tenggelam.

Waktu itu beribu-ribu orang jago dari golongan hitam maupun putih yang bekumpul di bawah tebing, suasana yang sebenarnya amat gaduh, seketika menjadi hening setelah mendengar ucapan dari Hoa In-liong itu.

Bong Pay mengangkat tubuh Cu Tong yang terluka tinggitinggi ke atas sehingga tak sampai terendam didalam air, diam-diam ia berpikir.

"Luka yang diderita supek amat parah tak boleh terlalu lama berada disini"

Berpikir demikian, dia lantas berseru.

"Saudara sekalian, maaf aku orang she Hong tak bisa menunggu terlalu lama, aku harus naik lebih dulu untuk menghantar yang terluka naik ke atas"

Sekali melompat tubuhnya sudah berada lima enam kaki tingginya ke udara, dengan cepat ia menyambar tali yang tergantung ke bawah, mengempit tubuh Cu Tong dengan tangan kiri dan mulai merambat naik ke atas.

Tanpa berpikir panjang lagi, Pek Soh gi segera menyusul dari belakangnya.

Ketika Biau-nia Sam-sian melihat ada orang sudah mulai naik, tanpa berpikir panjang lagi mereka segera melompat ke atas, masing-masing dengan menyambar seutas tali mulai merambat pula naik ke atas.

Orang orang Hian-beng-kau, Kiu-im-kau serta Mo kau mengetahui bahwa mereka adalah keluarga dekat dari keluarga Hoa, apalagi Hoa In-liong berada diatas, tak seorangpun diantara mereka yang berani turun tangan melakukan sergapan.

Dalam waktu singkat suasana disana menjadi amat ramai, orang pada berteriak dan saling berebut untuk bisa naik ke atas.

Tiba-tiba Goan cing taysu berseru memuji keagungan sang Buddha, lalu serunya.

"Saudara sekalian, harap memberi jalan buat mereka yang terluka dan rendah ilmu silatnya untuk naik keatas lebih dahulu"

"Betul, yang terluka harus didahulukan"

Sambung Cu Im taysu. Dengan suara nyaring Bwe Su-yok segera berseru.

"Semua murid Kiu-im-kau perhatikan baik-baik, yang terluka boleh naik lebih dahulu, bila tak bertenaga boleh minta bantuan seorang rekannya untuk menggendong ke atas, tak usah saling berebut, naik secara teratur pun-kaucu dan para huhoat serta Tongcu akan naik belakangan, siapa berani melanggar akan dihukum sebagai pembangkang!"

Setelah melirik sekejap sekeliling arena dengan biji matanya yang jeli, ia berkata lebih jauh.

"Tali-tali itu jumlah seluruhnya ada tiga puluh sembilan buah, pihak kami hanya ber jumlah sedikit, akan kami gunakan lima buah tali dipaling kiri, ada usul lain dari k lian?"

Cara ini memang paling baik"

Seru Ciu Thian hau dengan lantang, jumlah kami banyak sekali maaf kami butuh lima belas buah tali yang berada disebelah kanan"

Para pemimpin golongan berpikir sejenak ketika dirasakan kalau cara ini sangat baik, masing-masing jago lantas setuju.

Seng-sut-pay mendapat bagian empat buah tali ditengah, sedangkan pihak Hian-beng-kau mendapat lima belas buah tali disamping golongan para pendekar.

Setelah pembagian jatah dilakukan, orang-orang dari keempat pihakpun mulai mengirim anggotanya yang terluka naik keatas tebing, Tiba-tiba Ko Thay berseru.

"Siapa tahu dalam lembah masih ada mereka yang terluka parah dan belum mati, mungkin juga mereka tak mampu datang sendiri kemari, lebih baik kalian mengutus orang untuk pergi mencarinya daripada mati penasaran disini"

Hong Liong mendengus dingin.

"Hmm, orang she Ko, ucapanmu itu seperti anak kecil saja, jangankan sudah diterjang air bah sekalipun tidak mati juga telah mati, berbicara dari luasnya lembah ini kemana kita harus mencari?"

Hoa Ngo tertawa dingin, serunya cepat.

Ko toako, buat apa kau musti berbicara dengan kawanan iblis?

Pokoknya masingmasing pihak mencari rekannya sendirikan beres, mereka enggan mencari biarkan saja rekan mereka mati penasaran"

Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang dia lantas berseru.

"Siapa yang bersedia untuk bersama-sama mencari?""

Yu Siau lam, Coa Cong gi dan Kongpeng sekalian segera menyahut bersama, Kami bersedia!"

Setelah muncul pemimpin, maka para jago dari golongan putih menyatakan bersedia, malah jago-jago seperti Tam Si bin sekalian yang terluka parahpun bersedia turut serta.

Tapi hasil perundingan kemudian memutuskan bahwa mereka yang terluka dilarang turut, mereka yang berilmu juga tak boleh turut semua, untuk mencegah pemainan buruk dari pihak tiga perkumpulan.

Itupun sisanya tinggal dua ratus orang lebih, maka dipimpin oleh Cuin taysu, mereka menetapkan setengah jam kemudian harus sudah kembali kesitu.

Dengan Suara lantang Kok See-piau berseru.

"Anggota perkumpulan kami lebih hapal dengan daerah disekitar sini, dari sini sampai ujung selatan lembah biar dicari oleh anggota perkumpulan kami"

Ia berlagak sosial padahal sebetulnya mempunyai maksud pribadi, dengan menggeledah separuh bagian lembah tersebut, berarti tempat itu mencakup pula tempat bekas istana Kiu ci piat kiong berada.

Bwe Su-yok menanti sejenak, ketika dilihatnya pihak Sengsut-pay tetap membungkam, sambil tertawa dingin ia mengetuk tongkat kepala setannya, kemudian berseru kepada Kek Thian tok.

"Kek tengcu, kau pimpin anak murid kita menggeledah lembah sebelah utara, bagai manapun hasilnya sepertanak nasi kemudian harus sudah kembali ke sini"

Untuk sementara waktu pihak golongan putih dan golongan hitam menghilangkan rasa permusuhan untuk menjadi sahabat dan bersama-sama bekerja keras, Hanya pihak Sengsut-pay tetap berada ditempat semula tanpa mengirim utusan untuk turut dalam operasi ini.

Sudah barang tentu tindakan mereka ini segera memancing caci makian banyak orang.

Kini suasana jauh lebih tertib dan teratur, suasana kalut dimasa yang lalupun bisa teratasi.

Para jago lihay bersama-sama berdiri dibarisan belakang, siapapun enggan untuk naik keatas lebih duluan.

Ketika Biau-nia Sam-sian berhasl mencapai atas tebing, dilihatnya pek Soh gi sedang mempergunakan jarum-jarum emasnya untuk mengeluarkan racun ditubuh Siau yau sian Cu Tong sedangkan para gadis berkerumun disana sembari menonton sembari melakukan pelindungan.

Sementara Hoa In-liong, Bong pay, Huan Tong dan Ciu Yu cong sekalian berjaga-jaga ditepi tebing.

"Kokon bertiga baik-baikkah?"

Hoa In-liong segera menyapa.

"Apanya yang baik?"

Seru Ci wi siancu dingin "hampir saja nyawa kami lenyap tak berbekas"

"Li hoa, Ci wi kalian berjaga-jaga diatas tebing"

Teriak Lan hoa siancu lantang.

"gembong iblis dari manapun yang berani naik keatas, kita beri hadiah kabut kiu tok ciang untuk mereka"

"Bagus sekali!"

Sahut Li hoa siancu "kita mampusi Cho Thian hua dan Kok See-piau, agar dunia aman sentosa"

"Itu masih belum cukup"

Seru Ci wi siancu.

"pokoknya semua anggota Hian-beng-kau, Kiu-im-kau dan Mo kau tak boleh dibiarkan hidup, walau cuma seorangpun"

Lan hoa siancu segera tertawa terkekeh-kekeh "Ucapan Ci wi memang tepat, bibit penyakit tersebut mesti dibasmi seakar akarnya, Li hoa!

Kau hadapi orang orang Kiuim-kau, aku dan Ci wi akan melayani Hian-beng-kau serta Mo kau"

Hoa In-liong menjadi terkejut sekali setelah mendengar perkataan itu, segera teriaknya.

"Kokoh bertiga kalian tak boleh berbuat demikian!"

"Aah, kau tak usah banyak ributt"

Tukas Ci wi siancu "pokoknya kau membantu untuk menyikat musuh!"

Kebetulan seorang anggota Hian-beng-kau telah mencapai atas tebing, sambil tertawa terkekeh-kekeh, Bi hoa siancu segera berseru.

"Ini dia orang pertama yang akan menghantar kematiannya. Jari tangannya segera menyentil ke depan melancarkan bubuk Mi hun san yang memabukkan. Anggota Hian-beng-kau itu segera menjerit kaget, dalam keadaan tak sadar ia lepas tangan dan terjatuh ke belakang. Untung saja pada saat yang amit kritis itu, Hoa In-liong melompat ke depan dan menyambar tubuh orang itu sehingga tak sampai terjatuh kembali ke dalam jurang. Kok See-piau yang mendengar suara itu segera mendongakkan kepalanya, kemudian teriaknya dengan lantang.

"Orang she Hoa, ucapanmu sebagai kentut busuk atau bukan? "Kok See-piau, pokoknya aku orang she Hoa menjamin keselamatan kalian, tak usah kuatir. Suara apa tadi?"

Bentak Kok See-piau.

"Seorang anggotamu terpeleset dan hampir jatuh, aku orang she Hosa telah menyelamatkan jiwanya, apa keliru?"

Sekalipun Kok See-piau agak curiga, tapi keadaan yang dihadapinya membuat ia tak banyak berkutik, maka setelah berpikir sejenak, katanya ssambil tertawa dingin.

"Moga-moga saja kau belum lupa bahwa kalianpun masih ada orang dibawah sini"

"Aku orang she Hoa juga berharap kalian bisa naik dengan hati-hati!"

Jawab Hoa In-liong di ngin. Mendadak terdengar Li hoa siancu membentak keras.

"Hey, mau apa kau? Mau mengacau permainan kami?"

Sambil membaringkan anggota Hian-beng-kau yang semaput itu keatas tanah, Hoa In-liong berkata sambil tertawa dingin.

"Keponakan mana berani berbuat lancang, cuma keponakan sudah terlanjur memberi jaminan kepada Kok Seepiau untuk tidak melukai orang-orangnya, aku mana boleh melanggar janji?"

"Yang memberi jaminan toh kau sendiri apa sangkutpautnya dengan kami.....?"

Kata Ci wi siancu.

Mendengar ucapan itu, para gadis dari Ciaw li kau segera tertawa cekikikan karena geli, sedang yang lainpun ikut tersenyum.

Hoa In-liong betul-betul dibikin menangis tak bisa tertawa pun sungkan, pikirnya.

"Kokoh bertiga memang manusia yarg paling tak tahu aturan didunia ini .... payah untuk berdebat dengan mereka. Berpikir demikian, dia lantas berkata.

"Kitapun masih ada orang yang tertinggal dibawah lembah, apakah kokoh bertiga menginginnkan mereka beradu jiwa dengan lawan?"

"Ngaco belo, telur busuk!"

Damprat Lan hoa siancu. Kepandaian beracun dari kokoh bertiga tiada tandingannya didunia ini, siapapun tak akan mampu untuk menghindarkan diri"

"Tak usah mengumpak. Kenapa tidak bicara terus terang saja?"

Hoa In-liong tersenyum, katanya.

"Coba kokoh bertiga pikirkan, jika pihak lawan mengetahui bahwa naik keataspun tiada harapan untuk hidup apakah mereka bersedia untuk naik keatas dan mengantar kematian"

"Bukankah hal ini lebih baik, kita kurung mereka sampai mampus"

Kata Ci wi siancu. Kembali Hoa In-liong tersenyum.

"Tapi Kok See-piau, Seng To cu dan Bwe Su-yok sekalian tak mungkin mau mati dengan begitu saja, mereka pasti akan menghalangi orang-orang kita untuk naik ke atas, merekapun akan menghalangi bantuan dari atas, dengan demikian bukankah kita akan sama-sama menderita kerugian besar?"

Biau-nia Sam-sian segera terbungkam dalam seribu bahasa, setelah termenung sekian lama, tiba-tiba Ci wi siancu berkata.

"Liong ji, ilmu meringankan tubuhmu masih terhitung lumayan, lebih baik setiap kali kita meracuni seorang, kau menyeretnya naik ke tebing, asal orang dibawah sana tidak merasa, bukankah hal ini bagus sekali?"

Hoa In-liong segera tertawa geli, sambil menggelengkan kepalanya dia berseru.

"Cara ini tidak baik. Kok See-piau sekalian bukan orang bodoh, cara ini tak mungkin bisa mengelabuhi mereka"

Li hoa siancu segera menggerutkan dahinya kencangkencang, serunya kemudian.

"Lantas menurut anggapanmu, bagaimana baiknya?"

Hoa In-liong tersenyum dengan wajah serius dia berkata.

"Menurut pendapat keponakan, lebih baik biar kan saja mereka naik kemari dengan selamat jika mereka masih mencoba untuk melakukan kejahatan, aku rasa mereka tak akan lolos dari tangan kita, entah bagaimana menurut pendapat kokoh bertiga?"

Sementara pembicaraan berlangsung secara beruntun para jago sudah mulai melompat naik keatas tebing.

Setelah dilihatnya tiada kemungkinan lagi bagi mereka untuk turun tangan, dengan uring-uringan Lan hoa siancu lantas berkata.

"Baik, kami menuruti perkataanmu, tapi kalau sampai telur busuk itu mencelakai orang lagi setelah lolos dari sini akan kulihat bagaimana pertanggungan jawabmu?"

Seraya berpaling serunya.

"Li hoa Ci wi mari kita pergi, lebih baik kita berpeluk tangan belaka!"

Buru-buru Hoa In-liong memberi hormat kepada ketiga orang itu, lalu sambil tertawa paksa, ujarnya.

"Kokoh bertiga harap beristirahat sebentar nanti keponakan tentu akan datang lagi untuk memohon maaf"

Biau-nia Sam-sian tidak ambil peduli, dengan mendongkol mereka segera berjalan keluar dari arena.

Dari beberapa rombongan itu pihak Seng-sut-pay paling sedikit jumlah anggotanya, tak lama kemudian mereka telah berkumpul semua diatas tebing.

Seng To cu melompat naik paling belakangan setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia mendengus dan melancarkan sebuah sergapan kepunggung Hoa In-liong.

Semua orang yang berada diatas tebing serentak menjerit kaget.

Selama ini Hoa In-liong cuma berdiri terus ditepi tebing untuk melihat keadaan, mendengar datangnya serangan tanpa berpaling telapak tanganya segera ditolak ke belakang.

Serangan ini tampaknya enteng seperti sama sekali tak bertenaga, tapi serangan Seng To cu yang begitu dahsyatnya seperti gulungan ombak ditengah samudra itu seakan-akan terhadang oleh semacam kekuatan yang sangat aneh, yang membuat tenaga serangannya terhisap dan terguling kesamping sehingga menerjang ke arah Lenghou ber saudara serta Hong Liong.....

Tiga orang jago itu segera membentak keras, enam buah telapak tangan diayunkan bersama untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Ujung baju Hoa In-liong berkibar terhembus angin, seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Pelan-pelan ia membalikkan badan.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Seng To cu, ditatapnya Hoa In-liong lekat-lekat, kemudian selang sejenak kemudian katanya.

"Bocah muda apa nama ilmu pukulan yang kau pergunakan itu?"

Sambil tersenyum Hoa In-liong menjawab.

"Jurus serangan ini sudah pernah kau saksikan di kota Kim leng, itulah jurus kedelapan dan ilmu pukulan Su siu huang heng ci ang warisan Bu seng (malaikat ilmu silat) Im locianpwe, yang dinamakan Ban wu kui kun (selaksa benda berasal dari bumi)........"

"Tapi Goan cing tidak mempergunakannya dengan gerakan semacam ini!"

Seru Seng To cu agak tertegun.

"Yaa, itulah dikarenakan aku telah melakukan perubahan dalam jurus serangan itu sahut Hoa In-liong sambil tersenyum lagi. Sinar mata Seng To cu segera menjadi redup, setelah termenung sekian lama, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

"Aai.....sudahlah! Sudahlah!"

Secara tiba-tiba usianya bagaikan lebih tua sepuluh tahun, ia seperti merasa putus asa dan lenyap semua kegembiraannya, sambil membalikkan badan ia memberi tanda kepada jago-jago Seng-sut-pay seraya berkata.

"Mari kita pergi!"

Walaupun Hong Liong dan dua bersaudara Lenghau masih tidak puas, tapi sebuas-buasnya mereka masih bukan terhitung bodoh, mereka tahu bahwa tiada keuntungan yang bisa diraih dalam keadaan seperti ini, maka setelah melotot sekejap kearah Hoa In-liong dengan gemas, mereka berlalu dari sana mengikuti dibelakang Seng To Cu.

"Song To cu, harap tunggu sebentar"

Tiba-tiba Hoa In-liong berteriak keras, Hong Liong membalikan badannya, kemudian berseru dengan gusar.

"Orang she Hoa, kau anggap Loya sekalian benar-benar jeri kepadamu....."

Hoa In-liong tersenyum, jawabnya.

"Yang kucari bukan kau, buat apa musti gelisah?"

Pelan-pelan Seng To cu memutar badan lalu menegur dengan suara dingin.

"Ada apa kau mencari lohu?"

"Seng To cu, jumlah anggota Seng sat pay yang masuk kedaratan Tionggoan berjumlah ribuan orang, tapi menghadiri pertemuan ini cuma seratus dua ratus orang belaka, aku tidak percaya kalau kau tak ta hu kemana perginya Tang Kwik-siu dengan membawa jago-jago lainnya?"

"Kau bilang apa?"

Seng To cu melototkan sepasang majanya bulat bulat.

Hoa In-liong agak tertegun, kemudian katanya lagi, Kalau benar-benar tak tahu, anggap saja Hoa In-liong sudah salah berbicara, tanya sendiri kepada sutemu nanti!

Hong Liong yang mendengar perkataan itu menjadi terkejut, diam-diam pikirnya.

"Anak jadah ini betul-betul berpendengaran tajam, tampaknya persoalan itupun berhasil diselidiki olehnya, wah, gelagatnya kurang baik..."

Tampaklah Seng To cu dengan sorot mata tajam berpaling ke arahnya, lalu dengan suara lantang membentak.

"Hong liong, apa yang dilakukan oleh gurumu?"

Hong Liong tak berani berbohong, setelah sangsi sejenak sahutnya.

"Toa supek, sebentar tecu akan melaporkan segala sesuatunya kepadamu, mari kita pergi dulu"

"Hoa In-liong tertawa dingin, segera ujarnya.

"Kau enggan bicara, biar aku orang she Hoa yang berkata, rupanya sudah semenjak lama sekali kalian menyelidiki keadaan dalam dunia persilatan sejelas jelasnya, siapa-siapa yang berada dalam tiap partai pun sekalian selidiki dengan jelas, menggunakan kesempatan dikala semua enghiong dari kolong langit menghadiri pertemuan disini, Tang Kwik-siu telah memimpin anak buahnya untuk menyergap partai-partai besar didunia, pertama bertujuan agar mereka yang kembali dari pertemuan tiduk punya tempat tinggal lagi, kedua merekapun ingin menyandera anggota keluarganya sebagai jaminan untuk memaksa mereka takluk. Wahai orang she Hong, perkataanku tidak salah bukan?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana segera menjadi gempar.

Jilid 18 Dengan suara lantang Lan hoa siancu segera berseru.

"Bagus sekali Rupanya Tang Kwik-siu mengandung maksud sekeji ini, sobat-sobat sekalian, hayo kita bereskan dulu nyawa bajingan-bajingan ini, kemudian menyerbu ke Cong hay dan membumi ratakan sarang Seng-sut-pay dengan tanah, biar anak cucu iblis itu tersapu bersih dari muka bumi....."

Seketika itu juga seruan itu mendapat tanggapan dari semua orang, caci maki dan dampratan sinis berkumandang dari mana-mana, semua jago dari Seng-sut-pay dikepung rapat-rapat, suara senjata yang beradu memecahkan keheningan, rupanya ada orang yang sudah mulai turun tangan.

Tiba-tiba terdengar Bwe Su-yok berseru setelah tertawa dingin.

"Kiranya pihak Seng-sut-pay ada niat unuk menyapu rata daratan Tionggoan, kalau begitu maaf"

Sementara itu semua jago dari pihak Kiu-im-kau telah naik keatas tebing, mereka lantas menyingkir ketepi arena dan bersikap masa bodoh...

Seng To cu yaa kaget yaa marah setelah mengetahui kejadian ini, ia melotot sekejap ke arah dua bersaudara Lenghou serta Hong Liong kemudian serunya dengan gusar.

"Kenapa tidak berunding dulu dengan aku?"

Toa suheng suka ketenangan maka...maka...."

Lenghou Ku menjadi gelagapan.

Semua usaha dan perjuangan perkumpulan kami hancur berantakan di tangan kalian semua teriak Seng To cu dengan gemas.

Saking gemasnya sulit baginya untuk berbicara lebih lanjut, tapi dia tahu bahwa Seng-sut-pay telah menjadi incaran setiap orang, sekali salah bertindak bisa jadi semua anggotanya akan tertumpas, bahkan lebih payah cousu-nya di daerah Cing hay pun kemungkinan akan tersapu lenyap.

Maka ia tak tempat untuk menegur dua bersaudara Lenghou serta Hong Liong lagi, sambil berpaling katanya dengan suara dalam.

"Hoa Yang, partai kami mengaku kalah, jika kau hendak berduel, aku orang she Seng pasti akan memberi keputusan untuk kalian, Hoa In-liong tertawa, dengan lantang ia berseru.

"Sobat-sobat sekalian, harap jangan turun tangan lebih dulu, dengarkanlah perkataanku"

Didalam menghadapi serangan api dari Jin Huan kali ini, seandainya tiada pertolongan dari Hoa In-liong, mungkin tak seo rangpun diantara mereka yang bisa hidup sampai sekarang, maka setelah ia membuka suara, serentak semua orang menghentikan gerakkannya, hanya tiga empat orang pemuda diantaranya yang belum juga mau berhenti.

Seorang kakek segera menyambar pergelangan tangan salah seorang diantaranya, lalu berkata, Hoa kongcu pasti dapat mencarikan keadilan untuk kita semua, kalian tak usah turun tangan"

Tiga orang lainnya yang menyaksikan kejadian itu terpaksa menghentikan pula tindakan mereka sambil mengundurkan diri.

Setelah dilihatnya tiada orang yang bertarung lagi, dengan suara lantang Hoa In-liong berkata.

"Kalian semua tak usah kuatir, Tang Kwik-siu dengan anak buahnya yang melancarkan sergapan telah dihadang oleh jago-jago lihay, mereka tak akan mampu melaksanakan niat busuknya lagi, tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang"

"Hoa kongcu, tolong tanya apakah ayahmu telah turun gunung?"

Hoa In-liong berpaling, sewaktu dilihatnya orang itu adalah rekan sekampungnya Tio Ceng tang, sambil menjuara dia lantas tertawa.

"Oooh.....rupanya Tio lo enghiong telah datang, selama banyak tahun belakangan ini kepandaian silatmu tentu sudah mendapat banyak kemajuan bukan?"

Tio Ceng tang buru-buru membalas hormat dengan rasa kaget, Oh, rupanya Hoa kongcu masih teringat dengan lohu, di masa lalu berkat kebaikan Hoa locianpwe aku berhasil memperoleh resep rahasia dan memperoleh badan yang sehat serta kemajuan yang pesat, tetapi soal anakku........"

"Bila urusan telah selesai nanti pasti akan kusambangi kalian lagi"

Tukas Hoa In-liong sambil tertawa.

"sebagai seorang putra, sudah sepantasnya kalau membantu ayah untuk menyelesaikan kesulitan, aku tak becus dan mendapat perintah untuk menyelesaikan persoalan ini, bagaimana mungkin berani kuganggu ketenangan dia orang tua"

Tio Ceng tang segera mengiakan berulang kali. Terdengar seseorang yang lain berkata kembali.

"Aku rasa Hoa kongcu pasti mempunyai persiapan yang matang, dapatkah kau jelaskan jago-jago lihay siapa saja yang telah menghalangi perbuatan Tang Kwik-siu itu?"

Hoa In-liong tertawa.

"Mereka adalah keturunan dari Bu seng Coa tayhiap beserta sekawanan Bu lim cianpwe yang sebenarnya sudah dikendalikan oleh racun jahat pihak Seng-sut-pay, diantaranya terdapat Giok suan ni (singa kemala) Can Ki an long, ciangbunjin keluarga Wi dari Seng ciu, Chia san it siu dan lainlainnya, tentang soal ini kalian boleh berlega hati!"

"Hmm! Tok liong wan memabukkan perasaan Sin hui si sim (ular berbisa menggigit hati) menguasahi badan, Kiu tok sian ci pun di bikin kelabakan, dengan kemampuan kau si bangsat cilik mana dapat memusnahkan kedua macam racun jahat itu!"

Seru Hong Liong dengan nada seram. Lan hoa siancu yang berada ditempat ke jauhan segera tertawa dingin, serunya.

"Orang she Hong, dengan ketololanmu macam babi itu kauanggap kemampuan yang dimiliki orang-orang Hu hiang kok bisa diduga dengan begitu saja? Huuh ...kepandaian beracun dari pihak Mo kau tak lebih cuma permainan kanak-kanak"

Lenghou Yu segera tertawa seram, katanya pula.

"Sekalipun kau berhasil menyelamatkan setan-setan tua yang sudah macam mayat hidup itu bila ingin menghalangi kekuatan dari jaga-jago partai kami ibaratnya walang hendak menahan pedati......hancur sendiri.....

"Bukan aku orang she Hoa terlalu pandang rendah ciangbunjin kalian, seandainya Coa tayhiap tidak terlalu memegang teguh perintah leluhurnya sehingga tidak melakukan perlawanan, tak mungkin ia bisa disekap oleh kalian bila sampai sungguh-sungguh terjadi pertarungan mungkin hanya toa suhengmu seorang yang masih sanggup menghadapinya asal dia yang memimpin jago-jago kelas satu itu, Tang Kwik-siu sudah pasti akan menderita kekalahan total"

"Kentut"

Dengus Hong liong amat gusar.

Sebelum hari ini, nama Coa Goan hau tak dikenal orang sebaliknya kelihaiyan Tang Kwik-siu diketahui oleh setiap orang.

Sekalipun demikian, nama besar Bu seng tampil hari ini masih dikenal orang apalagi ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki Coa hujin dan putrinya, bisa diketahui kalau kelihaiyan Coa Goan hau tak boleh dipandang remeh.

Sedangkan Cian sat it siu, Giok suan ni, Cau kiau long sekalian adalah nama dari jago-jago yang sudah tenar semenjak dulu, tentu orang kenal dengan mereka.

Disamping semuanya itu, Hoa In juga mustahil kalau berani bicara sembarangan dalam menghadapi persoalan besar ini, maka setelah mendengar jaminan darinya, diam-diam mereka menghembuskan napas lega.

Orang-orang Seng-sut-pay hanya mengatakan tak percaya dibibir, padahal hati kecil nya sudah kemat-kemit tak karuan.

Sesungguhnya mereka beranggapan meski dalam pertemuan besar ini menderita kekalahan total, asal Tang Kwik-siu berhasil dengan operasinya, mereka masih tetap bisa bercokol dalam dunia persilatan beradu kekuatan dengan keluarga Hoa, tapi selalu urusan menjadi begini mereka jadi putus asa dan murung sekali.

Dalam pada itu, dari pihak kaum pendekar telah tiba, pada giliran kaum muda untuk naik ke atas tebing.

00000O00000 Secara lamat-lamat Coa Wi-wi ikut mendengar pembicaraan tersebut, ketika menyinggung soal ayahnya ia menjadi berdebar, memanjat pun dipercepat, ketika masih berada enam tujuh kaki dari puncak tebing, tak sabar lagi dia menarik tali dan melambung keudara, dari situ segera serunya.

"Jiko kau telah bertemu dengan ayahku?"

Bagaikan seekor burung walet dia melayang turun disisi tubuh Hoa In-liong.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya silau tahu-tahu seorang gadis cantik telah muncul didepan mata.

Diam-diam semua orang membandingkannya dengan Bwe Su-yok segera terasa oleh semua orang bahwa kecantikan mereka berdua seimbang meski yang satu lincah sedang yang lain dingin.

Gadis itu sama sekali tidak menggubris hal-hal yang lain, dengan sepasang biji matanya yang jeli dia perhatikan Hoa Inliong dari atas sampai kebawah, wajahnya menampilkan perasaan yang kuatir sekali.

Hoa In-liong memutar biji matanya dan memandang gadis itu sekejap, lalu sambil tersenyum berkata.

"Adik Wi tak usah kuatir, empok dalam keadaan sehat wal"afiat, beberapa hari lagi kalian tentu akan saling bersama kembali"

Mereka saling berpandangan dan tertawa, semua rasa rindu dan kangen yang tak akan habis diutarakan dengan beribu kata-kata, ternyata telah tertebus dalam pandangan tertebut.

Tiba-tiba Bwe Su-yok mendengus, biji matanya yang jeli segera dialihkan ke arah lain.

Sementara itu, Coa Cong gi, Kongsun peng dan lain-lainnya secara beruntun telah naik ke atas dan berkumpul semua disekeliling Hoa In-liong.

Kongsun peng sembari menyapa Hoa In-liong, tak tahan dia berpaling uatuk mencari Kiong Gwat hui, kebetulan waktu itu Kiong Gwat hui juga sedang memandang kearahnya, pandangan mereka segera saling gemetar.

Dengan girang Kongsun Peng berseru.

"Nona Kiong....."

Kiong Gwat hui mendengus dingin lalu melengos.

Merah padam selembar wajah Kongsun Peng lantaran jengah, dengan wajah tersipu-sipu dia berjalan kembali ke sisi Hoa In-liong.

Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu, hatinya lantas tergerak, segera pikirnya.

Saudara Kongsun memang merupakan pasangan yang ideal untuk Kiong ji moay, sekalipun di wajahnya Kiong ji moay bersikap tak ambil perduli, jelas hatinya sudah setuju, bukan mustahil gara-gara pertarungan di kota Si ciu, mereka mengikat diri menjadi suami istri, aku musti mencari kesempatan untuk menjodohkan mereka, kalau tidak bukanlah terlalu sayang?"

Berpikir sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Seng To cu seraya berkata.

"Harap saudara mau tunggu sebentar. Kemudian sambil memberi hormat kepada Bong pay yang berada dibelakanugnya ia berkata.

"Paman......."

Aku tidak ada usul lain, terserah apa yang hendak kau lakukan!"

Tukas Bong Pay sambil tertawa.

"Keponakan bermaksud menunggu sampai semua cianpwe telah berkumpul semua, kemudian baru minta usul mereka dalam tindakan selanjutnya"

Diam-diam Bong Pay berpikir, Bocah ini masih muda tapi berjiwa besar, kalau aku berdiam diri saja mungkin dia akan menunjukkan sikap tinggi hati, tapi kalau aku turut campur dia akan ragu-ragu untuk bertindak......yaa, Thian hong bisa mempunyai seorang putra semacam dia, sesungguhnya tak sia-sia belaka hidup didunia"

Berpikir demikian segera ujarnya.

"Persoalan ini boleh kau putuskan sendiri, aku pikir para cianpwe lainnya tak akan ada usul lain cuma memang ada baiknya kalau menunggu sampai semua orang naik keatas.

"Baik!"

Jawab Hoa In-liong dengan wajah serius. Dia lantas berpaling kearah Seng To cu seraya berkata.

"Bagaimana pendapatmu?"

"Terserah keinginanmu!"

Jawab Seng To cu hambar.

Orang-orang Seng-sut-pay tahu bahwa usaha mereka untuk menyerang pelbagai partai mengalami kegagalan total, dalam keadaan demikian, Kok Se piau serta Bwe Su-yok pasti akan berpeluk tangan belaka membiarkan piaknya dibasmi oleh para pendekar.

Oleh sebab itu mereka bermaksud untuk menunggu saja sambil berharap bisa terjadi perubahan situasi untuk mereka.

Dalam waktu singkat para jago dari pihak golongan putih maupun dari golongan Hian-beng-kau telah tiba semua diatas tebing.

Pertemuan besar yang diadakan Hian-beng-kau kali ini berlangsung pada tengah hari Pek cun, pertemuan itu diadakan setelah lewat tengah hari sampai malam, lalu dari pagi sampai senja, maka saat ini waktu kembali menunjukan tanggal tujuh bulan lima, tengah malam buta.

Setelah mengalami pelbagai musibah, dari terserang oleh api sampai diserang air bah, pakaian yang dipakai semua orang boleh dibilang telah basah kuyup, keadaannya mengenaskan sekali, ada yang bajunya koyak, ada yang mukanya hitam kena hangus, jangan di bilang lagi mereka yang terluka.....

Demikianlah setelah keluar dari lembah, pemandangan terasa lebih segar dan nyaman, timbul kembali rasa gembira dalam hati masing-masing, napsu membunuh dalam hati mereka jauh berkurang sekali.

Dibawah sinar rembulan, terlihatlah manusia yang berdesakan memenuhi puncak tebing.

Para jago dari golongan putih telah mengepung rapat-rapat para jago dari pihak Seng-sut-pay, sebelah timur penuh berkumpul para jago dari Hian-beng-kau, waktu itu Kok Seepiau, Cho Thian hua dan Co Tang cuan sekalian sedang berbisik-bisik merunding kan sesuatu, sebaliknya anak murid Kiu-im-kau berada disebelah barat.

Banyak perubahan diluar dugaan yang terjadi dalam pertemuan kali ini, mula-mula Jin Hian meledakkan bukit untuk menyumbat mulut lembah, lalu melepaskan panah Lui hwe Ciam untuk mengurung para jago dengan api, setelah terjadi pertarungan sengit antara golongan putih dengan golongan hitam yang mengakibatkan jatuh banyak korban, banyak pula diantara kawanan jago yang tewas diserang oleh batu-batu karang dan api.

Dari sekian banyak jago, anak murid baju putih dari Hianbeng-kau serta para jago yang datang menonton meramaikan terhitung paling lemah, korban diantara merekapun paling parah, setiap orang boleh dibilang menaruh perasaan benci yang merasuk tulang terhadap diri Jin Hian.

Cian pek jin dari Tiam cong pay serta Im san ji koay dari pihak Hian-beng-kau telah tewas bersama.

Lau Ik liong dengan membopong jenasah sutenya berdiri dengan wajah sedih, Yau Tiong in yang bertarung melawan Tang Bong liang, sebuah pukulan kipasnya telah ditukar dengan sebuah pukulan tangan, tak enteng pula luka parah yang dideritanya, ditambah lagi hampir separuh bagian anak muridnya mati atau terluka dalam pertarungan tersebut.

Sute dari Cia Bu liang yang bertarung bersama Coa hujin pada saat yang terakhir termakan sebuah pukulan yarg cukup dahsyat, akibatnya sekalipun tak sampai mampus paling tidak dia baru beristirahat selama tiga empat bulan lamanya, ia dibopong oleh Bu Beng san.

Para bekas anggota Sin-ki-pang rata-rata berilmu tinggi dan berpengalaman luas setelah terjadi pertarungan sengit yang mati tak sampai sepuluh orang sedang yang terluka pun baru dua puluh orang lebih.

Diri pihak Kim Leng ngo congcu, Si Siong-peng dan Li Poseng paling parah menderita luka, mereka ditolong oleh Coa Cong gi serta Yu Siau lam setelah membunuh belasan orang musuh, mereka masih tetap tidur, hal mana benar-benar merupakan suata kemujuran.

Coa hujin dan Goan cing taysu telah naik pula ke atas tebing, Coa Wi-wi segera melaporkan tentang ayahnya kepada mereka.

Sekalipun Goan cing taysu adalah seorang pendeta yang berilmu tebal, tak urung terpengaruh juga oleh berita itu sehingga hatinya mengalami gejala keras.

Dengan air mata bercucuran.

Coa hujin berkata.

"Gwakong, anak Sian ingin segera membawa Gi dan Wi untuk pergi berjumpa dengan Goan hau"

Goan cing taysu segera tersenyum, sahutnya.

"Cepat atau lambat kalian pasti akan saling bersua, buat apa dan musti gelisah?"

"Tapi anak Sian sudah tak kuasa untuk menahan diri, hatinya sama gelisah susah terkendali"

Seru Coa Hujin sambil menangis sesenggukan.

"Anak Sian!"

Tukas Goan cing taysu, ajaran leluhur kita menganjurkan agar kita lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, selesai persoalan di sini belum terlambat bagi kita untuk ke sana.

Dalam keadaan demikian, terpaksa Coa hujin harus mengendalikan perasaannya yang gelisah untuk menunggu selesainya persoalan disini.

Sementara itu Hoa In-liong telah berpaling kepada Seng To cu setelah meninggalkan beberapa pesan kepada para cianpwe, katanya.

"Coa tayhiap adalah seorang ksatria yang berjiwa besar, sekalipun hampir belasan tahun ia tersekap didalam perkumpulan kalian, dendam sakit hati ini tak pernah dipikirkannya dalam hati, adapun maksudnya menghalangi Tang Kwik-siu dan murid-muridnya tak lebih hanya ingin memberi peringatan agar mereka jangan meneruskan perbuatannya itu, sudah barang tentu terhadap sampah masyarakat dari daratan Tionggoan, mereka tak akan bertindak sungkan-sungkan"

Sementara itu Kok See-piau serta Bwe Su-yok dengan memimpin masing-masing anak buahnya berkumpul disamping arena tanpa turut campur dalam persoalan itu, namun mereka tidak bermaksud pergi meninggalkan tempat itu, agaknya mereka hanya ingin menyaksikan jalannya pertarungan antara pihak pendekar dengan golongan Sengsut-pay.

Ci wi siancu yang mendengar perkataan dari Hoa In-liong itu segera berpikir dalam hati.

"Tidak beres, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, tampaknya dia bermaksud hendak melepaskan kawanan iblis ini"

Berpikir demikian, dengan gusar dia lantas berseru.

"Liong ji, bagaimana dengan janji kita tadi?"

"Janji apa?"

Tanya Hoa In-liong tertegun "Kita harus membasmi mereka sampai seakar-akarnya, jangan menjadi bibit bencana lagi dikemudian hari"

Mendengar itu Hoa In-liong mengerutkan dahinya lalu tertawa, jawabnya.

"Kokoh bertiga buat apa kita musti berbuat demikian, mengejar orang tak lebih hanya seratus langkah"

"Cis, kau suka mengampuni orang, apakah orang lain bersedia menggampuni dirimu"

Seru Ci Wi siancu dengan gusar.

"kalau perbuatan tolol semacam itu mah aku tak sudi untuk melakukannya"

Li hoa siancu segera menyambung. Jika kau enggan untuk turun tangan, biar kami melakukannya bagimu!"

Dia lantas berjalan lebih dulu menghampiri para jago dari Seng-sut-pay.

Semuaa orang segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat, tanpa terlibat apa yang di lakukan olehnya, tahutahu dua orang anggota Mo kau yang mendengus tertahan, lalu roboh ke tanah.

Menyaksikan kejadian itu paras muka Seng To cu sekalian berubah hebat, mereka mau menuruti perkataan orang karena didesak oleh keadaan, tapi bukan berarti mereka sudah tiada kekuatan lagi untuk memberi perlawanan desakan dari Biau

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ nia Sam-sian yang bertubi-tubi ini membuat mereka menjadi nekad.

Para jago dari pihak Mo kau segera bersiap-siap untuk turun tangan agaknya mereka berniat untuk beradu jiwa.

Gelisah sekali Hoa In-liong menyaksikan keadaan tersebut, segera pikirnya dalam hati.

"Sekalipun anggota Mo kau banyak melakukan kejahatan namun mereka bukan manusia sembarangan jika dibasmi seluruhnya hal mana itu, memang harus dihadapkan pada seorang yang tak tahu aturan pula. Setelah Biau-nia Sam-sian diajak pergi, diam-diam ia menghembuskan napas lega, katanya kemudian.

"Seng To cu, apa yang hendak kau katakan? Apakah berharap Tang Kwiksiu bisa merubah keadaan ini?"

Seng To cu berpaling dan memandang sekejap kearah dua bersaudara Lenghou serta Hong Liong, lalu katanya.

"Dalam urusan ini, ciang hujin yang berkuasa ataukah aku yang memutuskan?"

Tentu saja toa suheng!"

Sahut Lenghou bersaudara dengan cepat dan lantang.

Hong Liong agak termenung sejenak, kemudian dengan perasaan apa boleh buat dia berkata, Selama suhu tidak berada, memang seharusnya toa supek yang mengambil keputusan.

Dengan pandangan dingin Seng To ci memandang sekejap kearah Hong Liong, lalu katanya.

"Sekarang aku bisa saja mengambilkan keputusan, tapi setelah peristiwa ini apakah suhumu mau mengikutinya?"

"Soal ini sulit, tak berani menjamin!"

"Kalau memang demikian, bukan semua perkataan itu hanya ucapan yang tak berguna"

Seru Seng To cu dengan suara keras. Hong Liong menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tidak berbicara lagi. Seng To cu mendengus dingin, dia lantas berpaling seraya katanya.

"Sejak kini partai kami mengundurkan diri dari dunia persilatan, mulai sekarang, selama keluarga Hoa masih berada dalam dunia persilatan orang-orang Seng-sut-pay tak akan melangkah masuk ke daratan Tionggoan, Hoa Yang, puaskah kau dengan janjiku ini? Ucapan tersebut kontan saja membuat para jago Seng-sutpay merasa terperanjat, dua bersaudara Lenghou menggetarkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu tapi segera dibatalkan kembali.

"Toa supek, hal ini terlampau berat buat kita!"

Teriak Hoa liong cepat dengan suara Keras. Bersamaan itu pula, dari kawanan jago lainnya terdengar pula teriakan-teriakan yang amat gaduh. Terdengar Tio Ceng tang berseru.

"Kalau berbuat demikian, hal mana terlalu keenakan buat mereka, Hoa Kongcu, kau tak boleh menerimanya!"

Huan Tong berseru pula dengan lantang.

"Apa yang diucapkan Seng To cu belum tentu akan diakui oleh Tang Kwik-siu, Hoa kongcu harus meminta jaminan darinya!"

"Malah ada pula yang berteriak dengan lantang.

"Orangorang Mo kau paling tak pegang janji, ucapan mereka ibaratnya kentut busuk lebih baik dibunuh saja sampai mampus!"

Menyaksikan kemarahan dari masa banyak, para jago dari Seng sit pay menjadi murung dengan perasaan tak tenang, meski Hong Liong terkenal karena buasnya namun dalam keadaan demikian diapun tak berani banyak berbicara.

Seng To cu berusaha keras menenangkan hatinya, lalu berkata.

"Orang she Hoa, apakah pihak pendekar pun bisa melakukan perbuatan rendah dengan melakukan pembantaian secara besar-besaran?"

"Selamanya keluarga Hoa melakukan pekerjaan atas dasar kebaikan, kami tak akan memperdulikan soal nama atau tidak!"

Jawab Hoa In-liong dengan nada hambar. Perasaan Seng To cu menjadi berat sekali, serunya.

"Kalau begitu.....

"Harap Seng ciampwe memberi jaminan dulu"

Tukas Hoa In-liong, apakah janjimu"

Akan dituruti pula oleh Tang Kwiksiu?"

Seng To cu termenung agak lama, setelah menghela napas, jawabnya.

"Aaaai,...meskipun lohu sebagai Suhengnya, tapi dia adalah seorang ciangbunjin, maaf kalau aku tak bisa memutuskannya"

Hoa In-liong cuakup mengetahui akan keadaannya yang serba susah, dia tak ingin menyaksikan kekuatan Seng-sut-pay tertumpas disini, tapi perbuatan dari Tang Kwik-siu juga tak bisa dikekang olehnya, maka setelah berpikir beberara kali, dia mendongakkan kepalanya dan berkata dengan wajah serius, Aku rasa dipihak sutemu itu juga tak mungkin bisa melakukan banyak perbuatan lagi, memandang diatas wajah saudara, Hoa Yang bersedia menerima usulmu itu, cuma terhadap para jago yang sudah lama kalian sekap, paling tidak partai kalian harus memberikan pertanggungan jawab......"

Setelah ucapan tersebut diucapkan, baik golongan putih maupun golongan hitam sama-sama dibuat tercengang, sebab keputusan tersebut jauh di luar dugaan mereka.

Seng To cu sendiripun agak tertegun lama lalu dia mengganguk.

"Kalau Hoa kongcu memang bersedia mengabulkan permohonanku itu, partai kami pasti akan memberikan pertanggungan jawab yang secukupnya"

Dengan serius Hoa In-liong berkata lagi.

"Bila partai anda bersedia untuk melepaskan soal dendam dan sakit hati serta memikirkan soal kepentingan umat banyak, aku rasa kalian pun tak perlu mengurung diri,....."

"Terima kasih banyak atas maksud baikmu, tukas Seng To cu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, sayang sekali anggota kami terlampau bodoh dan liar, sulit rasanya untuk menerima maksud baikmu itu"

"Yaa, tiap manusia memang ada cita-cita sendiri, aku tak ingin terlalu memaksakan ke hendakku"

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh dengan suara dalam.

"Bila partai kalian merasa tak puas, setiap saat pintu gerbang keluarga Hoa di bukit In tiong san terbuka untuk kalian, silahkan saja datang untuk mengadu kekuatan, baik menang atau kalah keluarga Hoa menjamin tak akan mencelakai jiwanya, tetapi bila partai kalian sampai menimbulkan kembali badai darah yang mengerikan, demi te tegaknya keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, terpaksa keluarga Hoa akan berkunjung langsung ke Sengsut-pay untuk minta pertanggungan jawab"

"Soal ini, Seng To cu tentu akan berusaha keras untuk memperingatkan anggota kami"

Hoa In-liong lalu memandang sekejap sekeliling arena, kemudian pelan-pelan berkata.

Hoa Yang telah memberi keputusan terhadap pihak Sengsut-pay, harap para enghiong dan cianpwe suka memaklumi, entah adakah diantara kalian yang merasa tidak puas?"

Sekalipun semua orang merasa bahwa tindakan itu terlalu menguntungkan orang-orang Mo kau, tapi penampilan Hoa Inliong yang mencerminkan kegagahan serta kebijaksanaannya ini membuat banyak orang merasa sungkan untuk mengajukan keberatannya.

Apalagi membasmi rumput seakarnya merupakan perbuatan yang bertentangan dengan semangat seorang ksatria, maka oleh karena semua orang tiada cara lain yang lebih baik lagi, tak seorangpun yang buka suara.

Untuk sesaat suasana menjadi hening dan tak terdengar sedikit suarapun.

Hoa In-liong dapat membaca suara hati semua orang, dia menghela napas panjang, lalu berkata.

"Para enghiong, cianpwe sekalian, aku rasa kalian pasti sudah menyaksikan sendiri bukan bagaimanakah perbuatan ksatria dari Thian Ik locianpwe, bekas Tong thian kaucu yang baru saja meninggal dunia itu? Siapa yang menduga kalau Thian Ik locianpwe bersedia me-ngorbankan jiwanya demi menyelamatkan jiwa orang banyak? Sebelum ajalnya tiba, Thian Ik loci anpwe pun masih tak lupanya berharap agar semua orang jahat didunia ini mau bertobat atas dosa-dosanya, oleb sebab itu aku bertindak demikian kepada pihak Mo kau agar merekapun bisa mencontoh diri Thian Ik locianpwe dengan bertobat dari semua kesalahannya. Aaai......! Tapi jika kalian belum juga mau mengerti, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi"

Mendengar perkataan itu hati semua orang agak tergerak, bahkan tak sedikit anggota dari tiga pekumpulan besar yang diam-diam merasa amat terharu.

Ayah Kongsun Peng, Kongsun Yong cu dengan suara gemetar segera berseru;

"Hoa kongcu kenapa berkata demikian? Yang ada dalam hati kami cuma perasaan kagum, mana berani memperlihatkan perasaan tak puas atas keputusan kongcu itu?"

Setelah ia buka suara semua orangpun segera memberikan tanggapan pula sehingga suasana menjadi amat ramai. Hoa In-liong segera menjura ke empat penjuru, katanya dengan serius.

"Terima kasih banyak atas kasih sayang dari saudara sekalian, kalau memang kalian bersedia melepaskan pihak Seng-sut-pay maka bagaimana kalau kalian memberi jalan lewat agar mereka bisa meninggalkan tempat ini?"

Mendengar perkataan itu semua orang yang mengepung disekeliling arena segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat.

Bagaikan memperoleh pengampunan besar semua anggota Seng-sut-pay segera angkat kaki dan melarikan diri cepatcepat, rupanya mereka kuatir kalau para jago berubah pikiran.

Sebelum pergi, dengan ganas Hong Liong melotot sekejap ke arah Hoa In-liong jelas terlihat betapa dendam dan bencinya orang itu.

Seng To cu mendongakkan kepalanya lalu berkata.

"Hoa Yang, selama hidupku persoalan yaag paling menyesalkan hatiku adalah bermusuhan dengan keluarga Hoa kalian"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

Tapi perisalan yang paling menggembirakan hatiku juga bermusuhan dengan keluarga Hoa kalian.

Ucapan ini membuat semua orang tertegun, mereka merasa ucapannya yang pertama dengan kedua saling bertentangan satu sama lainnya atau jangan-jangan pikirannya sudah menjadi sinting atau kurang waras setelah menderita kekalahan total?

Hoa In-liong segera menjura, sahutnya sambil tertawa.

"Akupun mempunyai perasaan yang sama, baik-baik dijalan, maaf kalau aku tidak menghantarmu!"

Seng To cu memandang sekejap sekeliling tempat itu, setelah menghela napas panjang dia mengebaskan ujung bajunya dan beranjak dari sana untuk menyusul Hong Liong sekalian.

Pada saat pihak Mo kau pergi meninggalkan tempat itu, Kok See-piau serta Bwe Su-yok masing-masing memimpin pula anak buahnya meninggalkan tempat tersebut.

Dengan kecepatan gerak mereka, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kegelapan.

Oleh karena Hoi In liong telah menjamin keselamatan mereka semua, maka semua orang tidak ada yang menghalangi kepergian mereka, apalagi kekuatan dari kedua perkumpulan itu masih utuh dan tangguh, di tambah lagi hadirnya Cho Thian hua dipihak Hian-beng-kau, maka semakin tak berani bertindak secara gegabah.

Pertemuan besar ini sudah mendekati akhir, semua orangpun merasa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk pulang ke rumah.

Tiba-tiba dari tebing seberang sana terdengar suara teriakan dari Kok See-piau.

"Hey bocah muda dari keluarga Hoa!"

Dengan alis mata berkenyit Hoa In-liong berseru lantang.

"Mau apa Kau memanggil Hoa jiya mu?"

Sambil berdiri diatas tebing seberang, Kok See-piau berseru lagi.

"Orang she Hoa, meskipun kau yang menurunkan tali untuk menolong orang, dan meledakkan telaga untuk memadamkan api tapi perbuatan itupun setengahnya demi selamatkan sanak keluargamu, coba kalau pun sinkun tidak memberitahukan tempat disembunyikannya sumbu bahan peledak, belum tentu kau bisa meledakkan telaga untuk memadamkan api, seharusnya pun sinkun tidak berhutang apa-apa kepadamu bukan?"

"Kok See-piau kau betul-betul seorang manusia yang tak tahu malu!"

Teriak Hoa Ngo dengan mendongkol. Dengan suara lantang Hoa In-liong menjawab.

"Yaa kau memang tak berhutang apa-apa ke pada aku orang she Hoa, tapi ingat kau masih hu tang seorang dengan selembar nyawa"

Kok See-piau sepera tertawa.

"Selama hidupku sudah terlalu banyak nyawa yang pun sinkun hutangkan, tak menjadi soal untuk berhutang selembar nyawa lagi, tapi coba katakan dulu siapa yang kau maksudkan?"

"Thian Ik-cu!"

Gelak tertawa Kok See-piau segera terhenti, sesudah termenung sejenak ia baru berkata.

"Dendam sakit hati pun sinkun dengan keluarga Hoa kalian lebih dalam dari samudra, sudah sepantasnya kalau diatur jebakan untuk menggebuk dirimu, jika kau sampai mati maka hal ini cuma bisa dibilang kau kurang waspada, Thian Ik-cu telah mewakilimu mati, hal ini tak bisa menyalahkan orang lain, tapi kalau hendak mencatat dendam ini atas diriku juga tak apa!"

Ko Thay segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehhh.. ..heehh.....heeehhh.... memutar balikkan persoalan yang sebetulnya, mencari menangnya sendiri, apa-apaan itu?"

Kok See-piau berlagak tidak mendengar, dengan suara keras dia berseru.

"Bocah cilik dari keluarga Hoa, kalau kau beranggapan setelah markas besar perkumpulan kami musnah maka pun sinkun ikut kehi langan pamornya, maka dugaanmu itu keliru besar.

"Kalau begitu, kau masih hendak menciptakan bencana buat umat persilatan dan melakukan kejahatan lagi?"

Sambung Hoa In-liong dengan suara lantang.

"Heeehhh....heeehhh.....heeehhh.....itu kan ucapan dari kalian orang-orang keluarga Hoa dengan komplotannya, Pun sinkun tak pernah merasa bersalah, sampai matipun aku tak akan menyesal"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

Terus terang kukatakan kantor kantor cabang perkumpulan kami telah tersebar di mana-mana dan kini sudah didirikan semua asal pun sinkun menurunkan perintah, dari gelapgelapan mereka akan beralih menjadi terang terangan, dalam waku yang bersamaan mereka bisa membuat keonaran dimana-mana, Hmmm!

Sekalipun tak mampu melenyapkan manusia-manusia munafik macam kalian, paling tidak dunia persilatan pasti akan kacau balau tak karuan.........heehh.......heeehh......

heeeh.......

waktu itu kewibawaan bapakmu pasti akan sangat merosot"

"Terkesiap juga Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, pikirnya dengan cepat.

"Sudah hampir belasan tahun lamanya Kok See-piau menghimpun kekuatannya, jelas kekuatan yang dimilikinya tidak cuma dihimpun dalam markas besarnya ditebing Ui gou peng ini, bisa jadi apa yang dikatakan bukan cuma gertak sambal belaka"

Dalam hati ia berpikir demikian, di mulut sahutnya.

"Aku orang she Hoa bisa mengundang rekan-rekan persilatan untuk serentak menghancurkan kantor-kantor cabangmu itu, akan kulihat apakah kalian masih sanggup menerbitkan keonaran atau, tidak?"

"Haaahh. ...haaahhh. ...haaahhh....kalau ingin menumpas, silahkan saja menumpas"

Ejek Kok See-piau sambil tertawa tergelak.

"Kantor cabang Hian-beng-kau tidak terhitung jumlahnya, aku yakin kalian tak akan bernasil menemukan jejak mereka dalam waktu singkat, tapi suatu ketika mereka melakukan sergapan mendadak, tanggung kalian lah yang akan di buat kalang kabut sendiri"

"Kok See-piau sesungguhnya apa maksudmu itu dengan mengucapkan kata-kata itu?"

Kok See-piau tertawa dingin.

"Sama sekali tiada maksud apa-apa, aku cuma memberi tahu saja kepada kalian. Kini Jin Hian sudah melarikan diri terbirit-birit setelah menghinah kami, barat selatan luasnya mencapai puluhan laksa li dengan rakyat yang amat banyak, jejaknya sukar ditemukan kembali. Sedang di San see ada keluargamu, di Cing hay ada Mo kau, di lain tempat ada Hu hang kok dan Kiu-im-kau, ia sudah menerbitkan kemarahan orang. Mana berani mencari jalan kematian sendiri, menurut dugaan pun sinkun, hanya ada dua jalan saja yang bisa dia tempuh"

"Dua jalan yang mana?"

Tanya Hoi In liong dengan kening berkerut.

"Yan im merupakan bekas markas besar Hong im hwee, Jin Hian pasti masih mempunyai komplotan yang menetap disitu dan lagi bersembunyi disitu jauh lebih leluasa daripada ditempat lain, apalagi dari sanapun bisa langsung kabur keluar perbatasan, sedang jalan kedua adalah menuju ke Ci san, lantas kelaut bebas, jarak dari situ hanya dua ratus li, besar juga kemungkinan nya dia lari ke tengah samudra.

"Bila Jin Hian memilih naik perahu menuju samudra bebas dan selamanya tak akan kembali lagi, apakah kau juga akan mengikuti jejaknya?"

Tanya Hoa In-liong. Kok See-piau kembali tertawa dingin.

"Pun-sinkun duga dia tak akan berbuat demikian, sudah pasti dengan melalui samudra, dia menuju ke Liau tang"

"Kalau toh saudara begitu yakin dengan dugaanmu, mengapa tidak segara melakukan pengejaran?"

Tiba-tiba bayangan tubuh Bwe Su-yok yang ramping muncul ditebing seberang sana, terdengar ia berkata dengan suara sedingin es.

"Perkumpulan kami akan segera melakukan pengejaran bersama Kok sinkun, Hoa In-liong! Hu hoat perkumpulan kami telah menangkap Si Leng jin dan pelayannya, bila kau masih mengharapkan kedua orang ini harap segera menyusul datang di Teng cin, pun-kaucu akan meninggalkan sebuah perahu untukmu"

Mendengar seruan tersebut Hoa In-liong naik pitam, segera bentaknya keras-keras.

"Bwe Su-yok, apakah kau benar-benar hendak mencari gara-gara terus..?"

"Kalau benar mau apa kau?"

Kemarahan Hoa In-liong makin berkobar, tapi setelah berpikir sejenak kemarahan itu segera di padamkan, dia segera mengangguk.

"Baiklah sampai waktunya aku orang she Hoa pasti datang!"

"Akan kutunggu kedatanganmu!"

Kemudian sambil membalikkan badan bersama Kok See-piau lenyap dibalik tebing sana. Tiba-tiba terdengar suara Cho Thian hua berkumandang datang.

"Goan cing taysu, aku ingin sekali beradu kekuatan denganmu, tak ada salahnya kalau kau juga ikut datang, sedang bocah dari keluarga Hoa, kau cukup pantas untuk bertarung melawan lohu, tapi lebih baik lagi jika kau datang bersama bapakmu"

Suara itu makin lama semakin jauh, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sepanjang mengucapkan beberapa patah kata itu, mungkin tubuhnya sudah berada beberapa li jauhnya.

"Pinto pasti akan memenuhi harapan mu!"

Sahut Goan cing taysu dengan ilmu menyampaikan suara. Waktu itu Hoa In-liong telah membalikkan badan, setelah menjura kepada semua orang, katanya.

"Saudara sekalian, walaupun kita harus berjaga-jaga terhadap orang orang Mo kau yang mungkin akan mengingkari janji, pasti kekua tan mereka sudah tak perlu dirisaukan, itu pun tak lebih cuma gertak sambal, dia pasti akan membenahi tubuh organisasinya lebih dulu. Sedang maksudnya untuk membunuh Jin Hian rasanya bukan omong kosong belaka, aku harus segera menyusul kesana. Bila saudara kalian tiada urusan lain, silahkan untuk pulang ke rumah masing-masing, mungkin juga perkataan Kok See-piau bukan gertak sambal, maka aku mohon saudara sekalian dan Coa tahiap bisa saling membantu untuk mencari letak kantorkantor cabang Hian-beng-kau dipelbagai tempat"

Selesai berkata, dia lantas memberi hormat kepada semua jago. Tak seorangpun diantara kawanan jago itu yang bersedia pergi, terdengar Tio Ceng tang berkata dengan lantang.

"Setiap orang kewajiban untuk membasmi iblis melindungi kebenaran, jika Kok See-piau dan Bwe Su-yok tak mau bertobat dan kem bali ke jalan yang benar, sepantasnya kalau kita kejar mereka dan melenyapkannya dan muka bumi"

"Benar!"

Sambung Cia Yu cong keras.

"bila pohon tumbang, kera pun bubar, asal Kok See-piau kita bunuh, niscaya kantorkantor cabangnya akan bubar dengan sendirinya"

Dalam waktu singkat pelbagai seruan berkumandang dalam arena, banyak orang yang setuju untuk mengadakan pengejaran guna membasmi kedua perkempulan itu.

Akan tetapi Hoa In-liong tidak setuju dengan pendapat orang-orang itu, dengan perasaan menyesal dia berkata.

"Aku rasa Kok See-piau dan Bwe Su-yok bisa bersikap demikian karena ingin mencari gara-gara dengan keluarga Hoa kami, aku pikir sudah sepantasnya kalau persoalan ini pun diselesaikan sendiri oleh keluarga Hoa, aku tak berani mengganggu kalian lagi"

Belum habis ia berkata, suasana kembali menjadi gaduh, semua orang menuduh Hoa In-liong menganggap asing diri mereka, ada pula yang mengatakan bahwa persoalan dari keluarga Hoa adalah persoalan dunia persilatan yang tak bisa dipisah-pisahkan.

Tapi Ko Thay, Bong Pay dan Pek Soh gi tidak setuju dengan pendapat tersebut, sebaliknya Tiang heng Tokoh, Pui Chegiok, Cia giok bersama Cia lu, Hek Lotio dan anggota Cian li kau sekalian menyingkir ke samping sambil berbisik-bisik sendiri, mereka tidak terlalu memperdulikan urusan disana.

Dengan susah payah akhirnya Hoa In-liong berhasil juga untuk menenangkan suasana, kemudian dia lantas berkata.

"Kesedihan saudara sekalian untuk memberi bantuan sungguh membuat aku orang she Hoa merasa amat berterima kasih, baiklah kita bagi saja menjadi dua rombongan yang satu melalui Yae im sedang yang lain mengikuti samudra untuk akhirnya kita berkumpul kembali di....."

Tiba-tiba ia berhenti sejenak sambil melirik kearah Goan cing taysu yang berada disisinya. Goan cing taysu merenung sebentar kemudian berkata.

"Lolap pernah keluar perbatasan sekali, kota yang paling besar diwilayah itu boleh dibilang adalah Teng liau dan Tiong wi"

Hoa In-liong segera berpaling kembali, katanya lantang.

"Kalau begitu kita akan bersua kembali dikota Teng liau, cuma aku minta untuk rombongan yang melalui samudra harus pandai berenang atau paling tidak pandai berjalan diatas permukaan air sebab mara bahayanya jauh lebih besar daripada melalui darat"

Mendengar perkataan itu, dari sekian ribu orang yang berkumpul disitu segera saIing berpandangan.

Mereka yang datang dari pesisir laut boleh dibilang sedikit sekali jumlahnya, apalagi kalau disebut pandai didalam ilmu berenang, boleh dibilang sedikit sekali, sedangkan orang yang bisa berjalan di airpun hanya jago-jago kelas satu, dari antara dua ratus orang mungkin sulit ditemukan seorang.

Tiba-tiba Ko Thay berkata.

"Liong ji, kau berani menjamin kalau Kok See-piau bukan sedang melaksanakan siasat suara ditimur menyergap ke barat?"

Di hari-hari biasa dia jarang sekali berbicara tapi otaknya amat cerdas, setiap perkataannya pasti amat mengena sasaran.

Maka dari itu Hoa In-liong segera memikirkan kembali semua persoalan yang dihadapinya setelah mendengar perkataan itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berkata.

"Siautit pikir, kebanyakan Kok See-piau tentu hendak menantang kita untuk berduel diatas lautan, bila dia melakukan siasat suara ditimur menyerang ke barat, di daratan Tionggoan ada nenek serta ayahku, jangan dilihat ayah cuma berdiam diri belaka, sesungguhnya dia orang tua sudah melakukan persiapan yang seksama, aku pikir sulit buat Kok See-piau untuk bertingkah disitu, bila kita urusi pihak itu, sudah pasti lebih banyak kecelenya daripada berhasil"

Ko Thay lantas manggut-manggut! "Kau hendak menghimpun segenap kekuatan di Liau tang, itu berarti kau percaya penuh dengan perkataan dari Kok See-piau bahwa Jin Hiau berada disana?"

"Soal ini siautit telah mempertimbangkannya berulang kali"

Jawab Hoa In-liong setelah termenung sejenak.

"aku rasa perkataan dari Kok See-piau ini bisa dipercaya"

"Dengan dasar apa kau berani mengatakan begitu?"

Tanya Ko Thay sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal.

"Pertama, Jin Hian bila ingin menyembunyikan diri hanya tersedia dua jalan saja, sedang jalan manapun yang bakal dia pilih akhirnya pasti akan melalui Liau tang. Seorang jago yang bernama Nyo Ki ho tiba-tiba menyela.

"Pengetahuan Hoa kongcu amat luas, sudah barang tentu kami tak bisa menyamainya, cuma dari Yan tio menuju keutara, kau bisa sampai di Liau tang, bisa juga langsung menuju ke gurun pasir"

Hoa In-liong mengalihkan sorot matanya ke wajah orang itu, kemudian sambil mengulapkan tangannya dia berkata.

"Perkataan saudara Nyo memang ada betulnya, tapi bila Jin Hian kabur melalui selatan, dalam tergesa gesanya sulit bagi mereka untuk mendapat perahu, sudah barang tentu anak buahnya tak mungkin bisa kabur semua melalui laut, itu berarti mereka pasti berjanji akan berkumpul di Liau tang, kemudian baru meneruskan perjalanan menuju keluar perbatasan atau gurun pasir guna menyembunyikan diri, itu berarti bagaimanapun juga sudah pasti mereka akan berkumpul juga diwilayah Liau tang"

"Terima kasih atas petunjuk kongcu! Nyo Ki ho buru-buru menjura.

"Hmm! Sok pintar, tukas Ko Thay tiba-tiba.

"darimana kau bisa tahu kalau Jin Hian pasti melalui lautan? Hong im hwee adalah kelompok jago yang berasal dari utara"

"Siautit rasa Kok See-piau sudah pasti jauh lebih memahami kebiasaan Jin Hian daripada kita, dugaannya kebanyakan tak bakal salah lagi, sedang Kok See-piau termaksud memancing kita menuju ke samudra dan berencana hendak merebut kemenangan dari situ padahal diapun enggan melepaskan Jin Hian, siapa tahu keputusan Jia Hian kabur melalui lautan karena diantara anak buahnya terdapat jago lihay dari atas air?"

"Menebak secara sembarangan, sudah pasti akan menemui kegagalan total....."

Kata Ko Thay. Tiba-tiba terdengar seseorang menimbrung dengan suara nyaring.

"Hoa kongcu, dari tujuh orang kakek yang bertarung melawan kongcu diatas tebing tadi diantaranya terdapat manusia-manusia yang menamakan dirinya Pak hay sam hioag (tiga oraag gagah dari lautan utara) ketiga orang ini sudah puluhan tahun lamanya malang melintang diatas samudra sekitar wilayah Gi dan Liau"

Hoa In-liong segera berpaling, dia kenali orang yang berbicara itu adalah seorang jago dari sungai Huang hoa yang bernama Huang ho ciau (ular sakti dari sungai huang ho) Cing Siau siang.

Dulu sewaktu Hoa Thian bong mendapat perintah dari ibunya untuk turun gunung dan bertarung melawan orangorang Kiu-im-kau di sungai Huang ho, Cing Su siang pernah membantunya dengan mati-matian, kemudian Hoa Thian-hong pun pernah memberi petunjuk ilmu silat kepadanya sehingga kepandaiannya mendapat kemajuan pesat, semenjak itu hubungannya dengan keluarga Hoa boleh dibilang cukup akrab.

Hoa In-liong segera menjura seraya berkata.

Terima kasih banyak atas petunjuk locianpwe.

"Aaaah ....mana mana......"

Buru-buru si ular sakti dari sungai Huang ho ini balas memberi hormat.

"Baiklah, anggap saja jalan pemikiranmu itu benar"

Ujar Ko Thay lagi sambil tertawa.

"tapi menurut pendapatanmu tadi, semua jago lihay dari pihak kita akan melalui jalan air, beranikah kau menjamin bahwa pihak lawan tiada jago tangguh yang melalui jalan darat?"

Hoa In-liong menjadi tertegun. Siautit hanya menduga bahwa kekuatan inti lawan pasti akan melalui jalan air, bukan berarti aku berani menjamin tiada jago lihay yang melalui jalan darat"

Ko Thay segeta menarik muka, katanya.

"Nah, ini membuktikan kalau usiamu masih muda, pengalamanmu cetek dan rencana mu kurang matang, kau masih belum mampu untuk menanggung tanggung jawab sebesar ini, kini semua rekan persilatan percaya padamu, tapi bila kau sampai salah mengatur hingga terjadi kesalahan besar, dapatkah hatimu menjadi tenteram?"

Semenjak dulu, Ko Thay gemar bersikap demikian, dalam menghadapi setiap masalah dia selalu meneliti cara kerja Hoa In-liong sejelas jelasnya, tapi belum pernah menegur secara begini rupa, apalagi dihadapan jago-jago dari seluruh dunia, tak bisa disangkal lagi dia memang bermaksud untuk menegur pemuda itu agar lebih bersikap berhati-hati.

Hoa In-liong dapat memahami maksud pamannya, maka dia hanya manggut-manggut menerima dampratan itu.

Dari sekian banyak jago yang hadir di arena, kecuali mereka mengagumi didikan keluarga dari keluarga Hoa, tak seorang pun yang berbicara lagi.

Sejak awal sampai sekarang Coa hujin memperhatikan terus semua gerak-gerik dan tindak tanduk Hoa In-liong, setelah melihat kesemuanya itu, diam-diam ia lantas berpikir.

"Enci Chin dan enci Pek semuanya mengatakan dia binal, tapi aku rasa ia tidak binal seperti apa yang dikatakan......"

Dari kakek luarnya nyonya ini pernah mendengar pujipujiannya atas kehebatan Hoa In-liong, dengan keluarga Hoa pun dia mempunyai hubungan yang akrab, apalagi setelah menyaksikan hubungan pemuda itu dengan putrinya, dalam hati kecilnya, nyonya Coa diam-diam sudah menganggap Hoa In-liong sebagai bakal menantunya.

Tiba-tiba Yau Tiong in menjura kepada Hoa In-liong seraya berkata.

"Mengejar musuh adalah suatu tugas yang paling penting, Hoa kongcu aku orang she Yau hendak mohon diri lebih dulu, kita sampai berjumpa lagi di Liau tang"

Bersama Liau Ik tiong dan sekalian murid Tiam cong pay berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.

Kawanan jago yang hadir sekarang, sebagian besar adalah jago-jago yang suka berterus terang maka mereka yang tak ingin melakukan perjalanan melalui samudra, berduyun-duyun mohon diri untuk berangkat lebih dahulu.

Tiba-tiba Pek Soh gi berteriak.

"Saudara sekalian, bila ada yang terluka harap tetap tinggal disini, biar Pek Soh gi memberi perawatan seperlunya"

Sekalipun Pek Soh gi berkata demikian, akan tetapi kawanan jago itu kebanyakan adalah jago-jago yang perkasa, hanya sedikit luka yang diderita, sudah barang tentu mereka enggan merepotkan orang, kecuali lukanya terlalu parah, kebanyakan sudah angkat kaki meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu singkat sudah sebagian besar jago yang telah berangkat meninggalkan tempat itu.

Pek Soh gi segera turun tangan merawat para jago yang terluka parah di bantu oleh Bong Pay dan Biau-nia Sam-sian, sekalipun demikian mereka dibikin repot juga hingga tiada waktu untuk beristirahat.

Tiba-tiba Ko Thay berpaling kearah Hoa Ngo, kemudian katanya.

"Ngo te, mari kita juga lewat jalan darat"

Sekalipun dihati kecilnya Hoa Ngo enggan, namun ia tak berani membantah, maka dia cuma mendengus dan sama sekali tidak beranjak. Sambil tersenyum Haputule lantas berkata.

"Aku paling takut kalau melihat air, biar Ngo te bersama mereka, sedang aku akan me nemanimu untuk melakukan perjalanan bersama"

Kedua orang itupun tidak banyak berbicara lagi, mereka lantas berlalu meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba Hoa In-liong menyaksikan Tiang heng Tokoh dan Pui Che-giok diiringi para jago dari Cian Ii kau secara diamdiam meninggalkan tempat itu, Cia In liong mengikuti dibelakangnya tapi secara diam-diam berpaling sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

Pemudi itu menjadi amat gelisah, dengan cepat ia menghadang dihadapan Tiang heng Tokoh Kemudian katanya sambil tertawa paksa.

"Bibi ku, Liong ji sedang membutuhkan bantuanmu, kau tak boleh pergi dulu"

"Ilmu silat pinto sekalian amat cekak, tetapi tinggal disinipun tak ada gunanya"

Kata Thiang heng Tokoh dingin. Mendengar itu, Hoa In-liong lantas berpikir.

"Aku harus mencari suatu akal untuk menahan disini, paling tidak sampai kedatangan ayah dan ibu"

Berpikir demikian, dengan cepat dia lantas berkata.

"Bibi Ku, tolong tanya bagaimana dengan kepandaian cici sekalian dalam air?"

"Bukannya kami sengaja menyombongkan diri"

Timbrung Cia In tiba-tiba.

"kalau soal kepandaian dalam air mah kami terhitung nomor satu, apalagi suhu dan supek, mereka tak usah dibicarakan lagi"

"In ji, jangan banyak bicara"

Bentak Tiang heng Tokoh dengan nada tak senang. Cia In tersenyum dan segera membungkam. Seorang sumoaynya yang bernama Le ji segera mendekatinya sambil berbisik.

"Suci, kenapa kau membantunya? Bukankah suhu selalu berkata bahwa orang keluarga Hoa paling menggemaskan?"

Cia In tertawa hambar, sahutnya lirih.

"Aku sedang membantu supek, bukan membantunya"

"Aku tidak percaya!"

Seru Le ji sambil tertawa"

"Setan licik"

Tumpah Cia In dihati.

"cerewet amat kau, kalau caramu bicara melulu, urusan bisa bertambah berabe........"

Dalam pada itu Tiong heng Tokoh telah berkata dengan dingin.

"Terus terang kukatakan kepadamu, pinto tak akan mengijinkan mereka untuk melibatkan kembali diri mereka dalam masalah dunia persilatan"

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba ia memperlunak nada suaranya dan berkata lebih jauh.

"Lioig ji, bila kau benar-benar menganggap diriku sebagai bibi Ku, sudah sepantasnya jika kau pun dapat memahami kesulitan yang sedang dihadapi bibi Ku sekarang"

Hoa In-liong segera berlagak ikut sedih, katanya.

"Liong ji tidak berani, cuma......."

"Cuma kenapa?"

Seru Tiang heng tokoh tanpa terasa. Dangan dahi berkerut Hoa In-liong menghela napas panjang.

"Aaaai. .... Liong ji sudah tahu kalau urusan belum selesai, tapi tidak kusangka kalau urusan nya begini susah untuk di selesaikan"

Kebetulan Lan Hoa siancu sedang selesai mengobati seseorang, mendengar perkataan itu dengan gemas dia berseru.

"Semuanya ini salahmu, kenapa tidak manfaatkan kesempatan itu untuk turun tangan? Kalau kau menuruti anjuran kami, mana mungkin akan kau jumpai begini banyak kesulitan?"

Pek Soh gi yang sedang mengoleskan obat luka dilengan seorang yang kutung lengannya, segera menimbrung.

"Enci Lan, apa yang dilakukan Liong ji sesungguhnya tepat sekali, bagaimanapun juga sudah sepantasnya kalau kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertobat"

"Hmm.....memang tidak malu orang lain menyebut dirimu sebagai Cu sim siancu (si dewi yang welas kasih)"

Dengus Lan Hoa siancu, kalau bersikap sungkan kepada musuh, sama artinya dengan mencelakai diri sendiri, kau tahu apa akibatnya jika melepaskan harimau pulang ke gunung?

Akhirnya yang rugi juga kita sendiri"

"Omintohud!"

Sela Cu Im taysu.

"Buddha adalah maha pengasih, sekalipun menghadapi seorang yang jahatnya bukan kepalang asal dia mau bertobat kita wajib memberi kesempatan kepadanya untuk memperbaiki diri, mengerti nona besar?"

"Biar Buddha maha pengasih, yang pasti aku tak akan berbelas kekasihan kepada siapapun, jerit Lan Hoa siancu penasaran. Cu Im taysu tergelak sehabis mendengar perkataan itu, semua orang juga tak tahan untuk tertawa terbahak-bahak. Setelah Pek Soh gi mengambil alih pembicaraan, Hoa Inliong menjadi gembira sekali karena tak usah buka suara lagi, diam-diam dia mengatur siasat untuk menghadapi Tiang heng Tokoh. Sementara itu, Tiang heng tokoh sudah berkata kembali sesudah termenung sebentar.

"Keadaannya tidak terlalu jelek, sekali pun bakal terdapat beberapa kesulitan, rasanya juga tidak terlampau menyulitkan!"

Hoa In-liong tertawa getir.

"Bibi Ku, mana kau tahu? Aaai, tapi bibi Ku memang sudah bertekad tidak mencampuri urusan ini lagi, lebih baik tak usah ku bicarakan lagi"

Betul juga Tiang heng Tokoh segera tertipu oleh siasatnya itu, sambil tertawa dingin katanya.

"Kau tak usah tersendatsendat kalau berbicara asal kau bisa mengemukakan alasan yang kuat, pinto pasti akan menuruti per kataanmu""

Diam-diam Hoa In-liong merasa girang setelah mendengar perkataan itu, buru-buru serunya.

"Bibi Ku, tentunya kau juga mengerti, setelah berada diatas air, itu berarti Kiu-im-kau yang pegang kuasa, siapapun jangan harap bisa menandingi kehebatan mereka"

"Ciau li kau juga tak mampu menghadapi mereka!"

Hoa In-liong segera tertawa.

"Bibi Ku, kau jangan mengelabuhi diriku, kau dan bibi Pui adalah orang yang punya tujuan, apalagi selama banyak tahun belakangan ini melatih diri secara tekun, melatih anak murid secara cepat, aku tahu kalau kalian sudah mempunyai rencara yang masak"

Pui Che-giok segera mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Bocah, kau betul-betul cerdik dan licin, rupanya dalam persoalan apapun kita tak sanggup untuk mengelabuhi dirimu"

Dari kata-kata itu, Hoa In-liong tahu kalau Pui Che-giok bersedia membantunya, buru-buru ia memberi hormat"

"Bibi Pui terlalu memuji!"

Sesudah berhenti sejenak, ketika dilihatnya Tiang heng Tokoh masih membungkam diri, terpaksa sambungnya lebih jauh.

"Kok See-piau secara terang-terangan membeberkan jejaknya, memancing kita untuk melakukan pengejaran, sedang Bwe Su-yok menawan Si Leng jin dan pelayannya memaksa aku menyusul ke situ...."

"Liong ji!"

Tiba-tiba Hoa Ngo menukas sambil tertawa.

"yang diculik oleh Bwe Su-yok kan si dayang tersebut, darimana ia bisa tahu kalau kita pasti akan memberi pertolongan? Bukankah budak itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Jin Hian?"

Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar perkataan itu, lanjutnya.

"Jelaslah sudah bahwa tujuan mereka tak lain adalah ingin menghadang siautit ditengah jalan serta membunuhnya"

Tidak menanti pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa Tiang beng Tokoh telah menukas.

"Aku rasa dayang itu tak akan tega untuk berbuat demikian!"

Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karena jengah, tukasnya.

"Cobalah bibi Ku berpikir, dalam usaha mereka membunuh Jin Hian, tentunya semakin rahasia semakin baik, bila kulakukan pengejaran, para cianpwe dan sahabat pasti tak akan berpeluk tangan belaka, mereka tentu akan membantu diriku, padahal Kok See-piau dan Bwe Su-yok tahu bahwa mereka tak akan berhasil meraih kemenangan dengan pertarungan diatas daratan, maka mereka bermaksud memindahkan medan pertempuran ke tengah lautan, menurut dugaanku, bukan saja Bwe Su-yok sanggup membereskan kami maupun Jin Hian, bahkan Kok See-piau pun sudah termasuk dalam perhitungannya. Bukan Liong ji sombong, jika orang-orang dari ke tiga kelompok ini terbasmi, sama artinya dengan hilangnya separuh kekuatan dunia persilatan, apabila jika berhasil menawan kami, dia pasti akan memaksa ayahku untuk bertukar syarat, hal ini lebih mengerikan sekali kalau dipikirkan, justru lantaran kau hadir disini, Liong ji tidak terlalu kuatir terhadap mereka, jika kau tidak mau tahu dengan persoalan ini, bukankah Liong ji bakal kelabakan dan tak tahu apa yang musti dilakukan?"

Sebenarnya perkataan itu cuma diucapkan secara ngawur saja, tapi semakin berbicara semakin beralasan dan masuk diakal, membuat paras muka semua orangpun ikut berubah.

Pui Che-giok tertawa cekikikan setelah mendengar ucapan itu, dia lantas berpaling sambil tertawa.

"No......tootiang, coba lihatlah! Sungguh mengenaskan bocah ini, bagaimana kalau kita membantunya?"

Bagaimana mungkin Tiang heng Tokoh tidak memahami maksud hati Hoa In-liong?

Tapi ketika dilihatnya Pui Che-giok ke bawah semuanya telah setuju, apalagi hal itupun demi kebaikan keluarga Hoa, ia merasa terdesak dan tak dapat menghindarkan diri lagi dari kenyataan tersebut.

Karena itu, setelah termenung lama sekali, dengan kening berkerut dia mengangguk.

"Baiklah!"

Tak terlukiskan rasa girang Hoa In-liong mendengar hal itu, buru-buru ia memberi hormat.

"Terima kasih banyak Bibi Ku atas kesediaanmu!"

Cu Im taysu dan Hoa Ngo sekalian yang lebih rapat hubungannya dengan keluarga Hoa, merasa amat berlaga hati setelah dilihatnya Hoa In-liong berhasil menahan Tiang heng Tokoh.

Tiba-tiba Coa Cong gi berkata dengan suara lantang.

"Adik In liong, aku adalah seekor itik darat, mana tak pandai berenang juga tak memiliki ilmu meringankan tubuh sebangsa Teng peng tok sui, tapi justru ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya naik perahu menentang ombak, bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"

"Aku sendiri juga tak tahu"

Jawab Hoa In-liong sambil berpaling dan tertawa.

Jilid 19

"Kau tidak tahu?"

Seru Coa Cong gi dengan mata melotot.

"kalau begitu aku akan pergi juga, walaupun bagaimanapun juga"

"Anak Gi, jangan ngaco belo! "

Coa hujin segera membentak dengan suara nyaring. Dengan wajah serius Hoa In-liong segera menjura kepada Coa hujin, kemudian ujarnya.

"Pek bo, maaf siautit memberanikan diri untuk berbicara, ada baiknya kalau dengan membawa saudara Cong gi dan adik Wi berangkat ke Lok yang untuk berjumpa dengan Pek hu." 00000O00000 Padahal sedari tadi Coa hujin sudah ingin berangkat ke kota Lok yang untuk bertemu dengan suaminya, cuma saja dia rikuh untuk mengu-taerakannya keluar, maka setelah mendengar perkataan itu, dia lantas berpaling ke arah Goau cing taysu minta persetujuan. Tampak Goan cing taysu termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata.

"Liong ji, mungkin kau telah melupakan suatu hal"

"Apa lagi Kong kong?"

Seru Hoa In-liong setelah tertegun beberapa saat lamanya .

"Masalah Yu Siang tek suami istri!"

"Oooh......!."

Hoa In-liong berseru tertahan tanpa perdulikan sikapnya yang rada gugup, dia lantas berpaling ke arah Yu Siau lam dan berkata sambil tertawa.

"Saudara Siau lam, kau juga harus berangkat ke kota Liok yang, urusan di Liau teng tak bisa kau ikuti"

"Kenapa?"

Tanya Yu Siau lam tertegun, bukankah membasmi iblis menegakkan kebenaran adalah kewajiban setiap orang?"

Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh.... haaahhh ...haaahh. ..Pek hu dan Pek bo sekarang berada di Lok yang, kau sebagai seorang putra yang berbakti sudah sewajarnya kalau berkumpul dengan mereka, apalagi ayah ibumu baru lolos dari bahaya"

Yu Siau lam menjadi gembira sekali sesudah mendengar berita itu, belakangan ini dia selalu menguatirkan keselamatan ayah ibunya, maka bisa dibayangkan betapa terharunya pemuda itu setelah mendapat kabar tersebut, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia tak mampu mengu-capkan sepatah katapun.

"Hoa kongcu, sungguhkah ini?"

Seru Tam Si bin pula dengan cemas. Tapi setelah perkataan itu diutarakan tiba-tiba ia merasa ucapannya itu kurang tepat, maka buru-buru tambahnya.

"Sebab lohu....."

Sambil tersenyum Hoa Ia liong menukas.

"Berhubung pihak Mo kau hendak membuat phi tok liong wan, oleh pihak Hian-beng-kau Yu pek hu dan pek bo telah diserahkan kepada orang-orang Mo kau, untunglah didalam pembuatan obat-obatan tersebut Yu pek hu telah berbuat cerdik dengan melakukan sabotase secara diam-diam, coba kalau bukan lantaran hal itu, tak akan segampang ini boanpwe berhasil menyelamatkan para jago yang tertawan, malah besar kemungkinan boanpwe tak bisa ikut menghadiri pertemuan besar yang diadakan oleh pihak Hian-beng-kau"

Tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun Yu Siau lam membalikkan badan dan kabur meninggalkan tempat itu.

Ketika dilihatnya pemuda itu seperti terpengaruh oleh emosi, Hoa In-liong kuatir ia menjumpai hal-hal yang diluar dugaan, dengan cepat tubuhnya berkelebat kemuka dan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Yu Siau lam.

"Saudara Siau lam!"

Bentaknya.

"harap tenangkan hatimu, pek bu dan pek bo berada dalam keadaan sehat wal"afiat"

Sesungguhnya Yu Siau lam adalah seorang pemuda yang pandai menguasai diri, sekalipun perasaannya agak tergolak sewaktu mendengar kabar tentang orang tuanya, tapi setelah mendengar perkataan dari Hoa In-liong itu perasaannya seketika menjadi tenang kembali.

Kepada Hoa In-liong katanya sambil tertawa rikuh.

"Adik In liong, aku tidak apa-apa"

"Harap saudara Siau lam dapat mengendalikan diri, dengan begitu siaute pun bisa berlega hati"

Kata Hoa In-liong seraya melepaskan cengkeramannya, Yu siau lam tertawa getir, serunya kemudian.

"Hayo berangkat!"

Tiba-tiba ia membalikkan badan dan beranjak pergi. Tentu saja tindakannya itu membuat Hoa In-liong menjadi tertegun, dengan wajah melonggo dia menegur.

"Saudara Siau Lam, mau apa kau?"

Tanpa berpaling Ya Siau lam berkata dangan tenang.

"Dengan kepandaian berenangku, tanpa berhenti aku bisa berenang sejauh sepuluh li, tentu saja aku harus menyumbangkan dulu tenagaku sebelum pergi menyambangi orang tua, kalau tidak demikian dia orang tua pasti akan mendamprat diriku sebagai egois"

Tiba-tiba Coa hujin menghela napas panjang dan ikut berkata.

"Yu hiantit bisa mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, hal mana sungguh membuat aku yang menjadi pek bo nya merasa malu sendiri"

Ia lantas berpaling kearah Goan cing taysu sambil katanya.

"Sian ji bertekad untuk turut serta dalam rombongan menuju ke liau tang, nama cousu tak boleh ternoda oleh perbuatan Sian ji yang egois ini, soal Goan han, biarlah agak lambat sedikit juga tidak mengapa"

Goan cing taysu segera manggut-manggut.

"Kalau kau bisa berbuat demikian, hal ini memang lebih baik......."

Katanya.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu segera tahu, bahwa dibujuk terus juga tak berguna, maka ketika dilihatnya dua bersau dara Kiong masih berada disana, sambil menarik muka, dia lantas menegur.

"Kenapa kalian belum pulang ke gunung? Mau apa menunggu disini? Kalau terjadi sesuatu atas diri kalian, kau suruh aku bagai mana caranya bertemu dengan kakek kalian"

"Ilmu berenang yang kami miliki secara dipaksakan masih bisa pula dipakai untuk menghadapi lawan"

Kata Kiong Gwat hui.

"Tidak bisa!"

Kiong Gwat hui segera menuding kearah Kongsun Peng seraya berteriak manja.

"Dia kan belum tentu jauh lebih hebat dari pada diriku, kenapa ia boleh ikut? Hey, Kongsun sauhiap, bagaimana dengan ilmu berenangmu?"

Hoa In-liong segera berpaling ke arah Kongsun Peng sambil mengerdipkan matanya maksudnya dia minta Kongsun Peng sengaja menyombongkan ilmu berenangnya agar bisa menyumbat mulut kakak beradik dari keluarga Kiong itu.

Siapa tahu Kongsun Peng merasa gugup sekali sudah mendengar perkataan dari Kiong Gwat hui, hakekatnya ia sama sekali tidak memperhatikan kerdipan mata dari Hoa Inliong tersebut, dengan wajah merah padam seperti babi panggang dan suara tergagap dia berseru.

"Aku sendiripun tak mampu, cuma..... Tidak menanti ia menyelesailan kata-katanya, Kiong Gwat hui telah tertawa cekikikan karena geli. Hoa jiko, sudah dengar belum kata katanya itu?"

Serunya. Kalau budak ini ribut terus macam begini, entah sampai kapan selesainya........?"

Pikir Hoa In-liong. Maka diapun tidak memaksa mereka untuk pulang lagi. Sementara itu Goan cing taysu telah berkata sambil tersenyum.

"Baiklah! Siapa yang ingin ikut pergi, biarkan ikut perlu, Liong ji juga tak usah menghalangi niat mereka lagi"

Kiong Gwat hui merasa bangga sekali dengan ucapan itu, katanya sambil tertawa.

"Nah, sekarang apa yang hendak Kau katakan lagi? Bagaimanapun juga Goan cing locianpwe memang lebih adil, sedangkan Hoa jiko jahat dan kurang ajar, hmm! Jangan kau anggap ilmu silatmu sudah melebihi orang lain, kalau ada waktu dilain saat, aku pasti akan menantangmu uatuk berada kepandaian"

Hoa In-liong benar-benar dibuat amat rikuh, tapi Goan cing taysu telah berkata demikian, maka diapun merasa tidak leluasa untuk banyak berbicara lagi.

Sementara itu dalam hati kecilnya dia mulai menyusun rencana, dia bermaksud hendak meminta pertolongan Goan cing taysu untuk memberi petunjuk ilmu silat kepada Kongsun Peng sekalian, selain itu diapun ingin minta bantuan dari orang-orang Cian li kau untuk mengawasi para jago yang agak cetek ilmu silatnya.

Tiba-tiba terdengar Pek Soh gi berkata.

"Liong ji, bukankah kau selalu memperhatikan Kok Gi pek, apakah selama in ia tak pernah munculkan diri?"

Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak, kemudian sahutnya"

"Para Ciu Hoa juga tak seorang pun yang menampakkan diri. Aku pikir hal ini tak perlu diherankan, sang kelinci pun mempunyai sarang paling tidak tiga buah, sudah pasti sarang Kok See-piau juga bukan sebuah istana Kiu ci piat kiong di bukit Ci san ini saja, aku tahu kalau ambisinya untuk menguasahi dunia persilatan amat besar, setelah menderita kekalahan jelas mereka akan dibawa kabur ke suatu tempat rahasia untuk menghimpun kekuatan lagi seraya menunggu saat yang baik guna muncul kembali didalam dunia persilatan"

"Aaai......! Tampaknya kecerdasan Kok See-piau satu tingkat jauh lebih dalam bila dibandingkan dengan kawanan iblis lainnya"

Keluh Cu Im taysu sambil menghela napas.

"Kalau Thian hong mau menuruti perkataanku dan sadari dulu menjagal si bajingan tengik yang cabul itu, sudah pasti dia tak akan berhasil seperti sekarang ini dan menjadi bibit penyakit untuk kita semua"

Kata Ciu Thian hau dengan suara dingin.

"Tapi sekarang toh masih belum terlalu terlambat"

Kata Hoa In-liong sambil tertawa paksa.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba ada orang yang datang menyerahkan pedang mestika milik Hoa In-liong yang terjatuh ke dalam lembah tadi beserta senjata kaitan Pek giok kau milik Thia Siok-bi, buru-buru si anak muda itu mengucapkan terima kasih.

Hari itu udara dia atas lautan amat tenang, ombakpun tidak seberapa besar, sejauh pandangan ke depan, laut dan langit seakan-akan berhubungan antara yang satu dengan lainnya.

Berapa titik perahu layar sedang pelan-pelan bergerak menuju ketengah samudra yang seolah-olah tak pertepian itu.

Setelah bersembahyang untuk arwah Thian Ik-cu yang telah tiada, Hoa In-liong sekalipun berangkat menuju keutara dan menumpang dalam sebuah perahu amat besar.

Pek Siau-thian dan Thia Siok-bi ternyata tidak turut didalam rombongan tersebut.

Pada setiap tiang layar perahu-perahu pihak mereka, semuanya dikibarkan selembar panji hitam yang melukiskan seekor nasa emas yang sedang memantangkan kelima Jari cakarnya, itulah lambang perahu dari Mu Hay yu liang (naga sakti dari empat samudra).

Beng liong sin yang meraja lela sepanjang sungai Tiang sang ke utara, laut kuning laut utara dan sekitarnya.

Berbicara yang sebetulnya, Su Hay yu liong Beng Tiong sin susungguhuya berstatus setengah perampok, ia menarik pajak dari setiap perahu nelayan dan perahu saudagar yang melalui perairannya, cuma andaikata para nelayan itu menghadapi persoalan, merekapun bersedia memberi bantuan dengan melindungi nelayan-nelayan tersebut.

Adapun pajak yang harus dibayar adalah ditentukan oleh para nelayan itu sendiri, jumlahnya tidak terhitung terlampau tinggi dan masih boleh dibilang adil.

Sebaliknya jika terjadi perampokkan didaerah perairannya, maka dia akan menggunakan hitam makan hitam untuk menyikat barang rampasan perampok-perampok lain, sedang bila ada pembesar korup atau saudagar curang yang melalui tempat itu, diapun membegal mereka.

Untung saja sifat orang ini cukup bijaksana, selamanya dia hanya merampas harta, tidak melukai nyawa orang, dengan peraturan nya yang amat ketat, belum pernah anak buahnya melakukan sesuatu perbuatan yang melanggar hukum langit.

Justru karena sifatnya itu, maka para jago dari golongan pendekar pun tiada yang meng gubris perbuatannya itu.

Kali ini Hoa In-liong telah mendatangi mereka untuk memohon bantuannya, sebagaimana diketahui, nama keluarga Hoa sudah amat tersohor dalam dunia persilatan waktu itu, apalagi Beng Tiong sin memang sudah menguasai penuh daerah perairan disekitiarnya maka begitu mendapat kunjungan Hoa jiya, buru-buru ia menyambut kedatangannya dengan segala kehormatan.

Ketika maksudnya dikemukakan, sambil menepuk dada, Beng Tiong sin langsung saja menyatakan kesanggupannya.

Bukan saja dia telah menyediakan lima buah perahu perang yang terbagus, bahkan turun tangan sendiri untuk mengiringi keberang katan mereka.

Sesungguhnya Hoa In-liong tidak bermaksud demikian, dia hanya ingin meminjam perahu dan seorang yang hapal dengan daerah pengairan dilaut utara saja hanya sebagai petunjuk jalan, dia tak ingin memaksa orang itu harus bermusuhan secara terbuka dengan pihak Kok See-piau, Bwe Su-yok serta Jin Hian sekalian.

Seng Tiong sio ternyata bersikeras untuk turut serta didalam pergerakan itu, sepintas lalu ia membantu seperti karena didorong nalurinya untuk ikut menegakkan keadilan, padahal sesungguhnya diapun memiliki suatu maksud pribadi.

Sebagaimana diketahui, Pek hay sam liong yang berpihak kepada Jin Hian juga malang melintang dilautan utara selama ini, belum pernah mereka memberi muka kepadanya, setiap kali anak buahnya ketanggor mereka, selalu dihajar sampai kocar kacir tak karuan.

Beng Tiong sin cukup menyadari akan keterbatasan ilmu silatnya, maka selama ini dia hanya bisa menerima kenyataan tersebut deegan hati kecut.

Tapi skarang kesempatan baik untuk membalas dendam telah tiba, mungkinkah dia akan melepaskan peluang tersebut dengan begitu saja......?

Apalagi bisa bergaul dengan orang-orang keluarga Hoa merupakan sesuatu kejadian yang pantas dibanggakan dan bisa menambah pamornya di mata orang, sudah barang tentu dengan senang hati permintaan itu segera dikabulkan......

Berlayar diatas lautan sebagian besar adalah tergantung pada hembusan angin, beberapa hari belakangan ini ternyata angin ber-hembas sangat lemah sehingga perahupun berjalan sangat lambat.

Diam-diam Hoa In-liong gelisah sekali menyaksikan kenyataan itu, dia mulai menyesal mengapa harus melakukan pengejaran lewat lautan, coba kalau melalui daratan dengan mendahului didepan musuh, siapa tahu mereka masih memiliki sisa waktu untuk mengadakan persiapan di wilayah Liau tang.

Tapi berulang kali Beng Tiong sin menghibur hatinya, dia berkata bahwa rombongan Jin Hian dan dua perkumpulan lainnya juga tiba disana belum lama, hal tersebut sesungguhnya tak perlu dirisaukan.

Hoa In-liong juga tahu bahwa gelisahpun tak ada gunanya, maka ia pergunukan kesempitan selama beberapa hari ini untuk memperdalam ilmu silat sendiri.

Sementara Kongsun Peng, Yu Siau lam sekalian juga memohon petunjuk ilmu silat dari Coan cing taysu serta Ciu Thian hau sekalian.

Dengan senang hati para angkatan tua itu memberi petunjuk sejauh mana mereka butuhkan.

Menjumpai Kesempatan yang demikian baiknya ini, sudah barang tentu para jago muda itu menjadi bersemangat untuk melatih diri, tiap hari mereka memohon petunjuk dan melatihnya siaang malam dengan tekun, tak heran dalam beberapa hari yang amat singkat ini kepandaian silat mereka telahh mendapatkan kemajuan yang amat pesat.

Dalam pada itu, Beng Tiong sin sedang menemani Hoa Inliong sekalian berdiri diujung geladak sambil memandang jauh ke depan.

Tiba-tiba Hoa Ngo berkata.

"Liong ji, yakinkah kau bahwa Kok See-piau benar-benar sedang melakukan pengejaran terhadap Jin Hian dan rombongan?"

Mereka masuk kelautan lebih duluan, kita juga sudah mencari kabar sebelum, berangkat, apalagi ada orang yang menyaksikan pihak Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau telah berangkat berlayar menyusul rombongan dari Hong im hwe, masakah hal ini bisa salah lagi?"

Hoa Ngo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata.

"Seberapa orang itu yang satu jauh lebih licik daripada yang lain tanpa suatu ke yakinan yang kuat, tak mungkin mereka akan masuk kelautan, siapa tahu kalau mereka henya pura-pura berlayar, lalu setelah sampai ditengah jalan secara diam-diam merapat kembali kedaratan......?"

Hoa In liang termenung sebentar lalu jawabnya.

"Jin Hian sudah tiada jalan lain yang bisa di tempuh lagi kecuali jalan ini, dia pasti tak akan kembali kedaratan Tionggoan secara diam-diam, sebab hal itu justru akan membahayakan jiwanya. Dalam pertemuan besar Toan wu hwee, seandainya Jin Hian tidak menjegal kaki Kok See-piau dari belakang, usaha Hian-beng-kau untuk menjebak semua jago yang hadir dalam pertemuan itu pasti telah berhasil dengan sukses, dunia persilatanpun mungkin sudah terjatuh ketangannya. Tapi gara-gara Jin Hian semua harapannya buyar seperti terhembus angin, dendam sakit hati sebesar ini tak mungkin bisa dilupakan oleh Kok See-piau, malah mungkin dia belum akan puas sebelum mencincang dagingnya dan menghirup darahnya, coba di pikirlah sendiri, masa dia akan melepaskan musuh besarnya itu dengan begitu saja?"

Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.

"Apalagi bertarung diatas lautan, pihak mereka jauh lebih beruntung posisinya daripada orang lain"

"Kalau memang demikian, mengapa setelah kita kejar selama beberapa hari, masih belum tampak juga jejak mereka?"

Seru Hoa Ngo dengan mata melotot. Bong Pay segera tertawa, selanya.

"Ngo te apakah kau tidak merasa terlalu terburu napsu?"

Mendadak Hoa In-liong berteriak keras.

"Lihat! Didepan sana ada perahu!"

"Yaa, besar kemungkinan perahu itu adalah perahu orangorang Hian-beng-kau serta Kiu-im-kau. Beng Tiong sin setengah percaya setengah tidak ketika mendengar seruan itu sebab ia belum mendapat laporan dari petugasnya yang berada diatas tiang, bisiknya kemudian"

"Aaai, benarkah itu?"

Cepat dia mengeluarkan sebuah teropong dan memeriksa keadaan didepan sana.

"betul juga, diujung laut sebelah depan sana kelihatan ada beberapa titik hitam yang bergerakgerak seperti perahu. Hal mana segera mengejutkan hatinya, pikirnya kemudian.

"Heran, padahal jarak dari sini sampai ke situ masih jauh sekali, mengapa dengan mata telanjang mereka bisa menangkap titik se kecil itu? Pada hal aku yang melihat dengan teropongpun memakan waktu yang cukup lama?"

Sifat kekanak-kanakan Coa Wi-wi belum hilang, ketika dilihatnya Beng Tiong sin menempelkan matanya pada sebuah benda lonjong untuk memandang ke tempat kejauhan, tanpa terasa dia bertanya".

"Eeeh. ....benda apa sih itu? Bolehkah meminjamkannya kepadaku sebentar.....?"

Beng Tiong sin tentu saja tak berani menampik, sambil menyerahkan teropong itu sahutnya sambil tertawa.

"Benda ini bernama Cian li king (teropong seribu li) datang dari Persia, kegunaannya bisa mendekatkan benda yang berada ditempat kejauhan, bila nona suka dengan benda itu, ambil saja, aku masih memiliki beberapa buah lagi"

"Ooh...sesuatu yang luar biasa, coba aku lihat kata Coa Wiwi tertawa. Dia lantas menempelkan matanya pada ujung teropong dan melongok ke depan, mendadak jeritnya.

"Enci In, Enci Lian, enci Hui, kalian cepat kemari, betul juga, kita bisa melihat benda didepan sana dengan jelas. Sesudah berhenti sejenak, katanya lagi.

"Haah, betul juga! Didepan situ ada perahunya, satu, dua, tiga.....semuanya berjumlah delapan, diatas tiang bendera berkibar sebuah panji dengan sulaman......"

"Haahhh.....haaahhhh....haaahhh.....pasti sulaman kepala setan"

Sambung Hoa In-liong.

"Betul!"

Sahut Coa Wi-wi sambil manggut-manggut.

"enci In, aai....kheki betul aku, sudah dipanggil-panggil kenapa belum datang juga?"

Menyaksikan kepolosan dan kelincahan si nona yang cantik dan menarik itu, semua orang merasa hatinya lega dan nyaman, tanpa terasa semua orang ikut tersenyum.

Beng Tiong sin diam-diam merasa keheranan lagi, dengan teropong tersebut dia cuma bisa mengenali titik-titik hitam tersebut sebagai perahu, kenapa gadis itu bisa melihat lambang diatas panji perahu depan?

Sesungguhnya ia sudah memandang Coa Wi-wi terlalu rendah, ia tidak percaya kalau gadis secantik ini memiliki ilmu silat yang amat luar biasa, apalagi memiliki ketajaman mata yang berlipat kali lebih tajam dari manusia biasa.

Tiba-tiba terdengar kelasi yang berada di atas tiang berteriak keras.

"Sebelah utara condong ketimur delapan derajat ada perahu, kurang lebih....."

Ngo can, tak usah berbicara lagi!"

Bentak Beng liong sin keras-keras.

Orang yang berada diatas tiang itu segera tutup mulut dengan ketakutan bercampur keheranan, ia tak habis mengerti kenapa Beng liong sin gusar kepadanya.

Terdengar Beng Tiong sin berguman lagi setengah menggerutu.

"Goblok! Orang lain sudah melihat dengan jelas, kau masih cerewet melulu. ..."

Tiba-tiba Coa Wi-wi menyodorkan teropong Tian li cing tersebut kepada Hoa In-liong, kataanya.

"Jiko, kau juga lihatlah dengan benda ini"

"Haaahh.....haaahh......haahh......tidak usah"

Sahut Hoa Inliong sambil tertawa terbahak-bahak.

"ketika aku ulang tahun yang kesepuluh, ada orang menghadiahkan sebuah teropong cian li cing tersebut untuk ku, waktu itu aku membawanya setiap hari untuk bermain, tapi akhirnya aku menjadi jemu sendiri"

"Huuh, tidak mau melihat yaa sudah"

Seru Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya yang kecil. Dia lantas berpaling, ketika dilihatnya Cia In sekalian sedang keluar dari ruang perahu, ia lantas berteriak.

"Enci In, cepat kau lihat!"

Cia In tak tega untuk menampik maksud hatinya, maka diapun menerima teropong itu dan melihat sebentar, kemudian katanya hambar.

"Ehmm, betul juga!"

Dia lantas sodorkan ke tangan Kiong Gwat hui, setelah melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, diapun berjalan menuju ke buritan kapal.

Sementara itu gadis lainnya sedang saling berebut untuk melihat sambil tertawa cekikikan, suara pembicaraan mereka yang ribut membuat suasana bertambah ramai.

Coa Wi-wi malah sebaliknya, tidak tertarik lagi, dia mengejar ke mana Cia In pergi.

Hoa In-liong melirik sekejap ke arahnya dengan mulut membungkam, dihati kecilnya diam-diam ia menghela napas.

Mendadak ia tidak menjumpai Kiong Gwat hui hadir disitu, segera pikirnya dalam hati.

"Keramaian apapun pasti diikuti budak ini, mengapa kali ini terkecuali?"

Sesudah termenung sejenak, ia lantas memburu ke sisi perahu untuk mencari jejaknya, disuau tempat yang tertutup akhirnya ia menjumpai Kiong Gwat hui dan Kongsun Peng sedang duduk berdampingan dan bercakap-cakap dengan suara lirih, sikap mereka kelihatan amat mesra.

Dia-diam ia merasa girang sekali setelah menyaksikan keadaan itu, ia tidak mengganggu mereka berdua dan cepat kembali ke geladak, kepada Beng Tiong sin katanya.

"Beng tangkah, tahukah kau sampai kapan kita baru berhasil menyusul perahu dari pihak Kiu-im-kau itu?"

Beng Tiong sin berpaling dan memeriksa sejenak, kemudian sahutnya.

"Paling tidak juga satu hari lagi!"

Mendengar itu Hoa In-liong lantas berpikir.

"Cuma jarak perjalanan sedekat inipun membutuhkan waktu yang begini lama, betul-betul bikin hati orang menjadi jemu rasanya "Hoa Kongu!"

Terdengar Beng Tiong sin berkata lagi.

"meskipun perahu musuh sudah kelihatan, tapi jarak kita paling tidak juga masih lima enam puluh li, bila ada angin dalam tiga empat jam kita sudah bisa menyusul mereka, tapi tanpa angin seperti sekarang ini, seharipun belum tentu bisa menyusul mereka, itu menurut perhitungan dengan perahu milik aku orang she Beng, coba kalau perahu biasa, hal ini tak mungkin bisa dilakukan"

"Aku juga tahu kalau perjalanan di laut tidak sama dengan perjalanan didarat"

Kata Hoa In-liong sambil tertawa.

"aku mah belum sampai sebodoh itu"

Tiba-tiba angin sejuk berhembus lewat, membuat orang merasa lega dan semua kemangkelan serasa lenyap tak berbekas. Beng Tiong sin menjadi kegirangan serunya cepat.

"Bila hembusan angin ini tidak berhenti, tak sampai setengah harian, kita sudah akan berhasil menyusul mereka"

Selama beberapa bari belakangan ini hanya saat sekarang merupakan saat yang paling menggembirakan, Siau yau sian Cu Thong yang baru sembuh dari lukanya merasa kesal setelah mengurung diri selama beberapa hari dalam ruangan, saat itu diapun sudah keluar dari ruangan dan bercakap-cakap dengan Cia Thian hau serta Cu Im taysu sekalian diatas loteng perahu.

Sementara itu Coa Wi-wi yang menyusul Cia In berhasil menemukan gadis itu ada disisi kiri perahu sambil bermuram durja, waktu itu ia sedang memandang hutan nan hijau dikejauhan sana sambil termangu-mangu.

Dengan kening berkerut segera sapanya.

"Enci In! Cia In terkejut dan segera berpaling.

"Adik wi, kau sedang memanggil aku?"

Tegurnya. Aaaii ....! Coa Wi-wi menghela napas panjang sambil menghampirinya, kenapa sih enci In begitu murung? Sungguh membuat aku ikut merasa sedih dan kesal!"

Cia In mersa amat terharu sekali, sambil membenahi rambutnya yang kacau terhembus angin, ia menghela napas, katanya.

"Perhatian adik Wi sangat mengharukan hatiku, cuma.....aaai! Darimana kau bisa mengetahui isi hatiku"

"Tidak, aku tahu, enci In tentunya disebabkan.....

"Gadis ini terlalu pintar"

Cia In segera berpikir, lebih baik jangan kuucapkan katakata yang susah dihadap..... Berpikir demikian, sambil tertawa dia lantas menukas.

"Isi hatiku adalah ingin melihat kau dan jiko kawin serta hidup secara berbahagia sepanjang waktu, dengan begitu aku pun bisa berlega hati"

Merah padam selembar wajah Coa Wi-wi karena jengah, katanya.

"Akupun tahu kalau enci In sangat baik kepadaku, cuma isi hati enci In sudah jelas bukan..."

"Apa yang barusan kukatakan, sesungguhnya memang benar-benar merupakan isi hati enci In, cuma,........aku memang masih ada isi hati lain yang belum diucapkan"

"Lantas apakah isi hatimu itu?"

"Enci In sudah mulai jemu dan muak menghadapi dendam dan saling bunuh membunuh yang terjadi didalam dunia ini, enci bertekad untuk cukur rambut menjadi pendeta, tapi budi kebaikan guruku yang telah mendidik aku selama ini lebih tebal dari langit, bagaimanapun juga aku merasa tak tega untuk mengutarakannya keluar"

Coa Wi-wi menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya seraya berseru.

"Bibi Ku, bibi Pui, ucapan enci In toh sudah kalian dengar, mengapa kalian berdua tidak munculkan diri untuk membujuknya?"

Baru saja Cia In tertegun, tampak Tiang heng Tokoh dan Pui Che-giok telah melayang datang. Pui Che-giok segera menghela napas panjang, katanya.

"In ji, jadi kau tak mau meneruskan warisan perguruan kita ini?"

Tiba-tiba Cia In menjatuhkan diri berlutut, dengan air mata bercucuran katanya.

"Harap suhu bersedia mengampuni dosa tecu, tecu benarbenar ingin mengikuti supek untuk belajar agama"

Dengan kening berkerut Tiang heng tokoh berkata.

"Bertapa bukan sesuatu yang boleh dianggap sebagai bahan permainan, belum tentu kau bisa tahan untuk hidup terpencil dan jauh dari keramaian dunia, buat apa sih kau musti menyiksa diri?"

"In ji pasti bisa menerima semua penderitaan tersebut, harap supek mau mengabulkan permintaanku ini"

Rengek Cia In sedih.

"Untuk dibicarakan memang gampang, tapi sukar untuk dilaksanakan. Kau bangunlah lebih dulu, persoalan ini bisa kita rundingkan kembali dikemudian hari"

Tapi Cia In tetap berlutut diatas tanah.

"Supek, kumohon kau orang tua bersedia memenuhi keinginan In ji ini"

Pintanya. Tiang heng Tokoh mengerutkan dahinya, tapi setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ia tersenyum, sambil membangunkan gadis itu katanya.

"Keinginanmu itu supek tak mungkin bisa memenuhinya, tapi kalau keinginanmu yang lain, mungkin juga supek bisa mengusahakan agar berhasil......."

Mula-mula Cia In agak tertegun, kemudian merah padam selembar wajahnya karena jengah, dia ingin membantah tapi kuatir semakin dibantah keadaannya semakin runyam, setelah gelagapan sendiri, akhirnya sambil mendepakkan kaki ke lantai, dia menyelinap masuk kedalam ruangan.

Menyaksikan kesemuanya itu, Pui Che-giok gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam dengan suara lirih.

"Aaai.....!Siapa yang terlalu romantis, akhirnya pasti akan menanggung kekecewaan, tapi.....berapa orang didunia ini yang bisa terlepas dari soal cinta?"

Tiba-tiba terdengar suara dari Goan cing taysu bergema datang.

"Buddna maha pengasih datang kedunia dengan membawa kasih dan cinta, tak mungkin dunia ini kehilangan cinta, bila tak mampu dilakukan, janganlah terlalu memaksakan, sesuatu yang terlalu dipaksakan akan berakibat kurang nenyenangkan, mengerti kah kalian Heng toyu, dan Pui kaucu......?"

Dengan terkejut kedua orang itu berkerling, entah sedari kapan tahu-tahu Goan cing taysu telah berdiri dibelakang mereka.

Tiang heng Tokoh menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian niat tersebut diurungkan.

Sedangkan Pui Che-giok hanya berdiri tertegun seperti tak tahu apa yang mesti dikatakan.

Coa Wi-wi pun berdiri tertegun seperti mengerti seperti juga tidak, untuk sesaat suasana menjadi amat hening., Setelah melakukan pengejaran hampir satu jam lamanya, Hoa In-liong sekalian menjumpai lebih kurang dua tiga puluh li didepan barisan perahu-perahu Kiu im kiu terdapat rombongan perahu lain, mungkin itulah perahu yang ditumpangi Jin Hian sekalian.

Menjelang tengah hari, perahu yang di tumpangi Hoa Inliong sudah berada hanya sebelas dua belas li dari perahuperahu Kiu-im-kau, sebaliknya perahu yang ditumpangi Jin Hian sekalian tinggal sepuluh li dari perahu utama dari pihak Kiu-im-kau.

Jauh diujung depan sana, diwilayah sebelah utara tampak daratan nan hijau telah terbentang didepan mata, ternyata kejar mengejar yang berlangsung selama beberapa hari ini telah membawa ketiga pihak rombongan itu semakin mendekati wilayah Lian tang.

Ditengah samudra yang luas, para jago dari ketiga belah pihak mulai dapat menyaksikan gerak-gerik musuh diatas perahu masing-masing.

"Diatas kelima buah perahu besar milik Beng Tiong sin dilengkapi pula dengan meriam-meriam besar, empat diperahu utama dan dua diperahu lainya. Pada waktu itu belasan lelaki kekar yang bertubuh tegap sedang menggosok meriam, mengangkut musiu, mengisi meriam dan sibuk bekerja tampak peluh telah membasahi tubuh orang-orang itu. Tiba-tiba Hoa In-liong menjumpai pada setiap buritan perahu perahu Kiu-im-kau juga dilengkapi dengan sebuah meriam, dua orang lelaki berbaju hitam yang membawa obor berdiri serius disisi meriam tersebut. Menyaksikan ketenangan orang-orang itu serta bentuk meriam yang jauh lebih besar dan menyeramkan itu, satu ingatan segera melintas dalam benak anak muda itu, pikirnya.

"Agaknya gelagat tidak menguntungkan bila dilihat dari keadaan mereka, rupanya pihak Kiu-im-kau telah mempunyai rencana yang cukup matang, jauh berbeda dari pihak kami yang menjadi repot setelah persoalan menjelang didepan mata ..."

Berpikir demikian, dia lantas bertanya kepada Beng Tiong sin.

"Beng tangkeh, meriam-meriam mu itu bisa mencapai jarak berapa jauh.....? Tanpa berpikir panjang Beng Tiong sin segera menjawab.

"Kurang lebih tiga li, paling jauh pun bisa mencapai empat li"

"Lantas berapa jauh jarak yang bisa dicapai oleh meriammeriam pihak Kiu-im-kau? Apakah Beng tangkeh bisa memberi ancer-ancernya?"

Beng Tiong sin segera mengeluarkan teropongnya dan memeriksa sebentar, dia ia merasa amat terkejut tadi diluar, jawabnya.

"Meriam diatas perahu ku ini termasuk meriam kelas satu, aku pikir belum tentu meriammeriam Kiu-im-kau bisa menandingi kami"

Hoa In-liong segera tersenyum, ujarnya kemudian.

"Aku lihat ada baiknya kita jangan beradu meriam dengan mereka, cari saja akal lain untuk beradu kekuatan dengan mereka, entah bagaimana menurut pendapat Beng tangkeh?"

"Tidak usah"

Jawab Beng Tiong sin dengan angkuh.

"sekalipun harus berduel mati-matian, aku percaya meriam kita tak akan kalah dari meriam-meriam lawan"

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, pengalaman yang dimiliki Hoa In-liong sudah memperoleh kemajuan yang pesat, melihat keyakinan orang ini, dia lantas tahu jika pembicaraan dilanjutkan, bisa jadi orang akan salah mengira dirinya memandang hina, oleh sebab itu dia cuma tertawa hambar dan tidak berbicara lagi.

Sebenarnya perahu-perahu dari ketiga belah pihak berlayar dengan cara beriring, akan tetapi setelah menemukan jejak musuh mereka segera memerintahkan perahu di belakang untuk menyusul ke depan dan berganti formasi menjadi berlayar berjajar.

Hoa In-liong memperhatikan perahu-perahu di pihak Jin Hian sana, ia menyaksikan Jin Hian telah muncul dari ruang perahunya untuk memeriksa keadaan, tapi tidak nampak Bwe Su-yok maupun Kok See-piau muncul dari ruang perahunya.

Melihat itu, pemuda kita lantas berpikir.

"Berada dalam keadaan seperti ini, Kiu-im-kau terpaksa akan menghadapi dua arena pertarungan sekaligus, kenapa Bwe Su-yok begitu gegabah tanpa munculkan diri untuk melakukan pemeriksaan?"

Bukankah tindakan ini kurang cerdas?"

Baru selesai berpikir, tiba-tiba dari buritan sebuah perahu Kiu-im-kau berjalan keluar seorang gadis berwajah dingin yang membawa sebuah tongkat berkepala setan, orang itu tak lain adalah Kiu in kaucu Bwe Su-yok.

Disampingnya mengikuti pula Un yong ciau, Kek tian tok sekalian.

Menyusul kemudian dari perahu sebelah kiri kanannya segera bermunculan pula Kok See-piau, Che Thian hua, Gi Tang cuan sekalian jago-jago dari Hian-beng-kau.

Dengan sepasang biji matanya yang Jeli, Bwe Su-yok memperhatikan sekejap perahu yang ditumpangi Hoa In-liong kemudian sambil tertawa dingin katanya, Hoa In-liong kenapa kau bukan datang seorang diri, tapi mengajak begitu banyak orang untuk mengiringi kematianmu bersama?

"Menang kalah belum ditentukan, lebih baik kau jangan keburu bersenang hati lebih dahulu"

Sahut Hoa In-liong hambar. Setelah berhenti Sejenak, tambahnya.

"Bagaimana dengan Si Leng jin dan pelayannya?"

Tiba-tiba muncul perasaan dengki dalam hati Bwe Su-yok, dengan dingin, ia menjawab.

"Budak itu terlalu keras kepala, tak menuruti perkataanku, karena marah aku telah membuang mereka ke dalam lautan sebagai umpan ikan"

Meskipun tidak percaya, agak tergetar juga perasaan Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, bentaknya segera.

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Tentu saja sungguh!"

Diam-diam Hoa In-liong segera berpikir kembali.

"Makin lama budak ini semakin sok lagaknya, aku harus memberi pelajaran yang setimpal kepadanya, sialan!"

Tiba-tiba terdengar Kok See-piau terseru sambil tertawa.

"Bwe kaucu buat apa kau musti banyak bicara dengan kawanan manusia yang sudah hampir mampus itu? Lebih baik cepat-cepat dihantar pulang ke langit barat saja kan beres"

"Hmm, tidak akan semudah itu kawan!"

Teriak Beng tiong Jin dengan suara lantang.

Dalam pada itu, perahu masing-masing sudah berada pada jarak lima enam li dari perahu lawan.

Buat jago-jago lihay seperti Hoa In-liong, Kok See-piau dan sekalian jago lainnya berbicara dalam jarak sejauh ini masih bukan menjadi persoalan, tapi Beng Tiong sin harus mengerahkan tenaga yang cukup besar untuk mengutarakan kata-kata tersebut, itupun sebagian besar diantaranya buyar terhembus angin, sehingga apa yang dia ka takan hakekatnya tidak terlalu jelas.

Agaknya Bwe Su-yok maupun Kok See-piau berdua juga bisa menduga kedudukannya dalam perahu, kedua orang itu hanya menjengek sinis dan sama sekali tidak menggubris.

Tiba-tiba Lei Kiu-it dari Kiu-im-kau berseru lantang.

"Seng Tiong sin, kau tak lebih cuma seorang perampok, berani betul berlagak sok dengan mengandalkan keluarga Hoa, Hmm! Sebentar akan kubekuk dirimu dan suruh kau merasakan bagaimana enaknya disiksa oleh pun thamcu, agar kolong langit tahu bagaimana akibatnya jika ada orang berani bermusuhan dengan Kui im kaucu"

Setelah Beng Tiong sin mendengar ancaman lei Kiu-it yang menyeramkan itu, apalagi membayangkan kalau musuhnya adalah seorang gembong iblis, andaikata pihak pendekar membiarkan musuh terlepas seorang saja, itu berarti dirinya akan tewas tanpa tempat kubur, tanpa sadar ia menjadi bersin berulang kali dan membungkam dalam seribu bahasa.

Ketika para gadis dari Cian li kau menyaksikan orang itu terbungkam setelah bersikap sok gagah menjadi geli dan sama-sama tertawa.

Hoa In-liong segera melotot sekejap ke arah mereka, kemudian seraya berpaling katanya lantang.

"Beng Tongkeh bersedia meminjamkan perahunya lantaran atas permintaan dari aku orang she Hoa, Kiu-im-kau dan Hian-beng-kau adalah kumpulan orang gagah, mereka pasti tak akan membuat susahnya dirimu, selama keluarga Hoa masih utuh, pokoknya partai-partai tersebut tak akan menganggu seujung rambut Beng tongkeh, bila Lei tiamcu ada persoalan, silahkan diutarakan secara langsung kepadaku"

Mendengar ucapan tersebut, dengan perasaan berterima kasih, Beng Tiong sin melirik sekejap kearah Hoa In-liong. Kok See-piau segera tertawa dingin, ujarnya.

"Orang she Hoa, kau ini ibaratnya patung dewa terbuat dari lumpur yang ingin menyeberangi sungai, untuk melindungi diri sendiri saja sudah sulit, apa gunanya kau musti cabangkan pikiran untuk menguasahi keselamatan orang lain"

Sementara pembicaraan berlangsung, selisih jarak kedua belah pihak lebih mendekati hampir satu li lagi.

Tiba-tiba Bwe Su-yok tertawa dingin, tangannya lantas diulapkan memberi tanda.

Seorang lelaki kekar yang berada disisinya segera mengeluarkan terompet keong dan meniupnya bertaut-taut.

Pekikan panjang yang berat dan kasar berkumandang membelah angkasa, suara tersebut begitu keras hingga tersiar sampai ditempat kejauhan.

Belum lagi suara terompet itu selesai berbunyi, tiba-tiba dari atas perahu Kiu-im-kau melintas cahaya api, menyusul kemudian terdengar bunyi menggelegar yang amat memekikkan telinga.

"Celaka...bunyi meriam!"

Pekik semua orang dihati.

Ketika ledakan dahsyat itu menggelegar, peluru meriam yang ditembakkan dari perahu lawan segera meluncur ke depan dan meledak diatas air, suatu gelombang dahsyat segera terjadi, butiran air memancar setinggi tiang dan menyebar sampai empat lima kaki jauhnya, banyak orang yang basah kuyup bajunya akibat kejadian itu.

Perahu yang berada disebalah barat terkena tembakan yang mengakibatkan tiang layar mereka terjilat api, penumpangnya menjadi panik dan bekerja keras untuk memadamkan kebakaran yang lebih membesar, dengan susah payah api berhasil dipadamkan, tapi dengan patahya tiang layang utama, perahu itu menjadi melambat, untung saja yang terkena bukan lambung perahu sehingga keselamatannya tak sampai terancam.

Beng Tiong sin marah sekali setelah menyaksi kan kejadian itu dia segera turunkan perintah untuk balas melancarkan serangan dengan meriamnya, sayang waktu itu jaraknya masih ada empat li lebih, sehingga peluru-peluru yang ditembakkan segera terjatuh keair ketika tiba beberapa kaki dibelakang sasaran, sekalipun gagal menghajar perahu musuh, tapi akibatnya cukup membuat tim bulnya gelombang yang amat dahsyat.

Pihak Kiu-im-kau kembali melancarkan tembakan meriam, kali ini sasarannya adalah perahu di sayap kiri Beng Tiong sin, perahu tersebut terkena tembakan dan meledak, tubuh perahu merekah dan muncul sebuah lubang besar, air laut segera masuk kedasar ruangan, ini membuat penumpangnya harus menolong segera tergesa-gesa, sayang lubang bekas tembakan itu terlalu besar, sekalipun disumbat dengan kain selimut, toh akhirnya tertembus juga oleh arus air Beng Tiong sin betul-betul merasa gusar, ia merampas sebatang obor dan menyulut sendiri api meriamnya, kali ini tembakan tersebut menghajar di sisi perahu Kiu-im-kau yang mengakibatkan tubuh perahu lawan retak, tapi lubang itu segera bisa disumbat untuk melanjutkan perjalanan.

Hoa ln liong yang menyaksikan kejadian ini segera berkerut kening, dia tahu jika pertempuran diteruskan, kendatipun beberapa buah perahu lawan berhasil ditenggelamkan, paling tidak pihak mereka akan tertumpas semua, yang berilmu tinggi mungkin saja masih bisa selamat, tapi mereka yang rendah ilmu silatnya sudah pasti akan tenggelam berikut perahu yang mereka tumpangi.

Maka buru-buru dia berseru, Turunkan layar utama, kurangi kecepatan!"

Beng Tiong sin segera memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan perintah itu, sebab perkataan dari Hoa In-liong sama seperti perintah pribadinya, maka tak ada seorang kelasipun yang berani membangkang, cepat-cepat mereka bekerja keras dan menurunkan layar utama.

Dengan diturunkannya layar layar utama tersebut, gerak laju ke empat perahu itupun semakin berkurang.

Pihak Kiu-im-kau rupanya belum puas dengan hasil yang dicapai, tembakan-tembakan meriam mereka masih berlangsung dengan gencar, bunyi menggelegar yang memekakkan telinga serta muncratan air laut setinggi bukit membuat pemandangan disana bertambah menyeramkan.

Tiba-tiba sebuah tembakan meriam ditujukan ke arah ujung perahu yang ditumpangi oleh Hoa In-liong sekalian.

Sambaran peluru meriam itu cepatnya sukar dilukisan dengan kata-kata, untung saja Hoa In-liong memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, tangannya segera digetarkan, sekeping uang perak segera disambit kearah depan dan tepat mengena diatas peluru meriam tersebut lebih kurang tujuh kaki dari sasaran.

Suatu ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga menggelegar di udara, para kelasi tersebut sama-sama roboh terjengkang keatas geladak, meskipun peluru meriam itu meledak ditengah jalan, tapi ledakan tersebut cukup mengakibatkan timbulnya pecahan baja yang menyebar ke empat penjuru dengan kekuatan dahsyat.

Goan cing taysu cepat bertindak dengan mergebaskan ujung bajunya, menyusul kemudian Ciu Thian hua, Cu Im taysu dan Cu thong sama-sama membentak keras, enam buah telapak tangan mereka bersama-sama diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang luar biasa sekali.

Dalam waktu singkat pecahan baja akibat dari ledakan peluru meriam itu berhasil dihantam sehingga terpental ke depan dan jatuh ke dalam lautan.

Anak buah Beng Tiong sin belum pernah menyaksikannya, sekarang dalam kejut dan tertegunnya mereka semakin menaruh hormat ke pada Hoa In-liong sekalian yang kini dipandangangnya melebihi malaikat.

Sementara itu, Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu diam-diam berpekik sayang sedangkan Cho Thian hau segera bereru sambil tertawa terbahak-bahak.

"!Haaah....haaah......haaahh....bocah dari keluarga Hoa, Goan cing, untung saja lohu tak jadi kehilangan dua orang lawan tangguh seperti kalian!"

Bwe Su-yok sendiripun diam-diam mengucurkan peluh dingin karena kaget, diam-diam ia merasa gusar sekali, pikirnya.

"Aku hanya menitahkan kepada mereka untuk menembaki ke empat perahu yang berada di kiri kanannya, siapa yang begitu bernyali berani melanggar perintahku?"

Bibirnya baru saja bergetar hendak menegar, tiba-tiba satu ingatan lain melintas pula dalam benaknya.

"Melepaskan tembakan meriam dari atas perahu bukan sesuatu yang gampang, dan lagi perahunya juga turut bergerak kian kemari, tak bisa disangkal kalau suatu kesalahan mungkin bisa terjadi, lebih baik aku tak usah berkaok-kaok, kalau sampai semua orang tahu akan hal ini, urusan malah bertambah runyam!"

Berpikir demikian dia lantas menahan diri untuk tidak berteriak lagi.

Dalam waktu singkat, selisih jarak perahu-perahu ke dua belah pihak telah terpisah sejauh lima enam li, dalam keadaan begini peluru peluru meriam tak bisa menjangkau.

Dalam pada itu perahu yang terkena tembakan tadi sekarang sudah tenggelam separuh, sekalipun belum tenggelam meluruhnya namun para penumpang perahu itu memandang perahu mereka melebihi nyawa sendiri, sebelum mendapat perintah dari Beng Tiong sin untuk meniggalkan perahu, mereka tidak berani bertindak ssembarangan, orangorang diperahu itu kelihatan masih sibuk berusaha menyelamakan perahunya.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian segera berkata.

"Beng tangkeh, turunkan perintah agar orang-orang diperahu itu segera menyelamatkan diri!"

Agaknya Beng Tiong sin juga merasakan bshwa perahu tersebut tak bisa diselamatkan lagi, terpaksa dia berteriak.

"Semuanya, cepat tinggalkan perahu untuk mencari selamat, gunakan perahu-perahu penyelamat untuk berpindah perahu, beritahu kepada Li Tiong, tak menjadi soal biar perahu mereka untuk bergerak pelan-pelan di belakang sana. Dari atas perahu itu kedengaran ada orang yang mengiakan, menyusul kemudian sampan-sampan penyelamat diturunkan ke air, para penumpang perahu pun bersama-sama turun ke sampan kecil itu untuk menyelamatkan diri. Baru saja mereka selesai bekerja, perahu yang terkena tembakan itu sudah makin tenggelam, kini tinggal tiga jengkal saja dari permukaan air. Menanti sampai sampan kecil itu mulai mereka dayung pergi, perahu pertang yang besar itu tiba-tiba tenggelam ke dasar laut dengan menimbulkan gelombang yang cukup besar, andaikata terlambat satu detik saja niscaya sampan-sampan kecil itu berikut orangnya akan turut tenggelam kedasar laut. Begitu tegang dan berbahayanya suasana waktu itu, membuat para jago yang menyaksikan turut mengucurkan peluh dingin. Tiba-tiba bunyi tembakan meriam dari armada perahu lawan mulai berdentuman lagi, percikan api dan muncratan air tampak berhamburan jauh di muka sana, rupanya dari pihak Kiu-im-kau dengan pihak Hong im hwe telah terlibat dalam suatu duel meriam pula. Sementara itu sampan-sampan penyelamat tadi secara terpisah bergerak menuju ketiga buah perahu besar lainya, buru-buru Beng Tiong sin memerintahkan untuk menurunkan tangga tali agar orang-orang didalam sampan kecil itu bisa naik keatas perahu. Menyaksikan kejadian tersebut, semua orang hanya bisa mengeluh, dari lima buah perahu yang berangkat, sebuah tertembak hingga tenggelam, yang sebuah terkocar-kacir sampai keadaannya tertinggal jauh. Beng Tiong sin yang melihat hal ini amat gemas dan mendendam. Hoa In-liong segera menghibur hatinya yang risau itu.

"Beng tangkeh, buat apa kau musti marah, biarpun dalam pertarungan babak pertama pihak mereka yang menang, toh akhirnya siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah masih belum tahu, pokoknya kalau terjadi kerugian aku semua yang mengganti"

Mendengar itu Beng Tiong sin segera tertawa terbahakbahak.

"Haaahh.......haaahh......haaahh......Hoa kongcu terlalu pandang rendah diriku"

Serunya.

"betu1 aku orang she Beng bukan orang kaya, tapi kalau cuma beberapa buah perahu sih belum ku pandang sebelah mata pun, yang menjadi persoalan sekarang adalah rasa mangkelku yang tak tertahan rasanya"

Bong Pay segera tertawa, katanya.

"Kalah menang adalah suatu kejadian yang lumrah dalam setiap pertempuran, apa lagi bukan kepandaian asli yang diadu, kenapa kau musti risaukan ataupun murung, cuma kau memang bertindak terlalu gegabah sedikit, coba kalau kau turuti perkataan Liong ji, mungkin tidak begini akibatnya"

Beng Tiong sin segera menghela napas panjang.

"Aaai ....! Betul juga perkataan itu, padahal Hoa kongcu telah memperingatkan aku, adalah aku orang she Beng sendiri yang terlalu keras kepala sehinnga mengakibatkan terjadinya keadaan ini, setelah Bong tayhiap menyinggungnya, aku menjadi bertambah malu rasanya"

Hoa Ngo memandang sekejap pertempuran meriam yang sedang berlangsung antara Kiu-im-kau dengan Hong im hwe didepan sana, kemudian katanya dengan suara dalam.

"Tampaknya Bwe Su-yok hendak membereskan Jin Hian lebih dahulu kemudian baru menghadapi kita, masakah kita hanya akan berpeluk tangan menonton keramaian belaka?"

"Sekalipun kita sudah terkena tembakan dari pihak Kiu-imkau sehinga satu perahu kita tenggelam dan sebuah perahu rusak berat, tapi tak seorang jago pun yang menderita luka, kekuatan kita masih belum berkurang, hanya aku pikir bila mendekatkan perahu kita dengan mereka, hal ini kurang menguntungkan"

"Aaahh...,omong kosong!"

Seru Hoa Ngo ketus.

"Kita toh tak bisa menunggu sampai pihak Kiu-im-kau datang menyerang kita"

Seru Cu Thong pula. Hoa In-liong segera tersenyum katanya.

"Tentu saja, maka dari itu kita harus mencari akal lain, menurut pendapat boan pwe, harap cianpwe sekalian dengan menumpang sampan secara terang-terangan menye rang musuh, sedangkan siautit dengan jalan berenang akan melakukan sergapan, entah bagaimana menurut pendapat para cianpwe sekalian?"

"Jiko, apakah kali memiliki kemampuan untuk berenang sejauh itu?"

Seru Coa Wi-wi kuatir. Hoa ln liong kembali tertawa.

"Aku rasa tidak menjadi soal!"

Sahutnya.

Dalam perundingan itu, semua orang merasa rencana penyergapan tersebut terhitung juga sebagai suatu cara yang bisa dilaksanakan, maka merekapun tidak sangsi lagi untuk segera melaksanakamya.

Dalam pada itu pertempuran diatas laut antara Kiu-im-kau melawan Hong im hwe telah diketahui siapa pemenangnya dalam waktu singkat.

Bunyi tembakan meriam sudah kian bertambah jarang, tapi jilatan api yang membumbung tinggi ke angkasa terjadi di depan sana, keenam buah perahu Hong im hwe yang terlibat dalam pertempuran itu, ada ju ga diantaranya yang sudah terkena tembakan yang mengakibatkan terjadinya kebakaran hebat.

Para penumpangnya menjadi panik dan sama-sama berebut naik ke atas sampan penyelamat untuk menyelamatkan diri, bahkan ada pula yang saking gugupnya sampai tercebur ke laut, tapi dalam suasana begini siapapu tak mau tahu urusan orang Lain.

Dari pihak Kiu-im-kau sendiri ada dua buah perahu yang terkena tembakan dan pelan-pelan tenggelam, tapi anggota Kiu-im-kau sudah terbiasa dalam pertempuran laut, dengan teratur dan sama sekali tidak kacau balau, mereka bersama menyelamatkan diri ke atas perahu lainnya.

Hasil dari perrempuran laut antara Hong im hwe melawan Kiu-im-kau ini adalah tiga perahu ditukar dengan dua buah, cukup besar kerugian yang dideritanya, dibandingkan dengan pihak pendekar, keadaan mereka jauh lebih parah, tapi Jin Hian kuatir musuhnya mengejar lebih ke depan, dengan kepandaian dari Cho Thian hua jelas mereka akan kalah hebat, karenanya tanpa memperdulikan keselamatan anak buahnya, dia berlayar terus untuk kabur ke depan.

Bwe Su-yok yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa sinis,ternyata ia tidak melakukan pergejaran, tangan kanannya segera diulapkan.

Bunyi terompet keong, tiga pendek dua panjang segera berkumandang di udara.

Mendengar suara terompet tersebut, keenam buah perahu itu pelan-pelan memutar haluan dan bergerak dengan membelah ombak, ternyata mereka membentuk formasi setengah busur diatas permukaan laut.

Kok See-piau menjadi tertegun menyaksikan hal itu, serunya dengan lantang.

"Bwe kaucu, mengapa tidak kita basmi dulu Jin Hian dan rombongan kemudian baru menghadapi keluarga Hoa?"

"Orang she Jin itu tak bakal lolos dari cengkeraman kita, harap sinkun legakan hati"

Jawab Bwe Su-yok hambar. Kok See-piau adalah seorang yang teliti dan cerdik, terkesiap hatinya sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Bwe Su-yok berani berkata demikian, itu berarti didepan sana masih ada jebakan, siapa tahu pihak kamipun sudah termasuk dalam perhitungan mereka, hmm! Tiap hari memburu burung manyar, masa aku akan membiarkan burung manyar mematuk-matukku?"

Tiba-tiba terdengar Go Tong cuan berbisik dengan ilmu menyampaikan suara. Apakah sinkun menjumpai Bwe Su-yok seperti menyimpan suatu rencana besar?"

Kok See-piau mengangguk, sahutnya pula dengan ilmu menyampaikan suara.

"Tampaknya pendapat kita sama, jadi Go hu kaucu juga merasakannya? Andaikata diatas daratan Kiu-im-kau jelas bukan tandingannya kita, tapi selama berada diatas lautan hal ini benar-benar amat menjemukan"

Go Tang cuan melirik sekejap kearah para anggota Kiu-imkau yang berada disekeliling tempat itu kemudian katanya.

"Begitu melihat gelagat tidak baik, kita segera turun tangan untuk menguasahi Bwe Su-yok, dengan begitu maka kita pun tak usah kuatir orang-orang Kiu-im-kau main gila lagi.

"Tepat sekali sahut Kok See-piau sambil mengangguk.

"cuma jangan terlalu terburu napsu, setelah kita bereskan keluarga Hoa, entah dia bermaksud jahat atau tidak, kita tetap turun tangan antuk membekuknya"

Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan meriam dari Kiu-imkau kembali menggelegar diudara, pembicaraan mereka segera terputus sampai ditengah jalan.

Ketika mereka alihkan pandangan matanya ketengah lautan, tampaklah peluru-peluru meriam saling berledakan di atas air, sementara ada belasan buah sampan kecil bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi, ternyata sampan-sampan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh tembakan-tembakan meriam yang gencar itu.

Orang-orang Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau menjadi amat terperanjat, ketika mereka amati dengan lebih seksama, maka tampaklah diatas setiap sampan tersebut masing-masing duduk dua orang, satu orang memegang kemudi satu orang memegang dayung, hanya sekali mendayung sampan telah meluncur sejauh beberapa tombak, kece patannya bagaikan sambaran anak panah.

Ternyata penumpang-penumpang sampan itu semuanya adalah jago-jago lihay kelas satu dari dunia persilatan, bukan saja pengalamannya sangat luas, ketajaman mata merekapun luar biasa, mereka cukup mengetahui akan kelihayan tembakan meriam orang-orang Kiu-im-kau, maka sepanjang jalan mereka selalu memperhatikan arah dari moncong meriam itu.

Kebanyakan arah sasaran dari tembakan meriam itu bisa diduga sebe1umnya, ini disebabkan gerakan meriam itu lamban sedang sampan-sampan tersebut bisa bergerak lebih lincah untuk berkelit ke sana ke mari, akibatnya tembakantembakan meriam dari Kiu-im-kau sama sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Sungguh amat cepat gerak laju sarapan-sampan tersebut, dalam waktu singkat, jarak mereka sudah tinggal beberapa puluh kaki lagi.

Ketika Bwe Su-yok menyaksikan tembakan meriam sama sekali tidak mendatangkan hasil, dia lantas berteriak dengan kening berkerut.

"Lepaskan anak panah!"

Menyusul perintah itu, hujan panah berhamburan dari mana-mana, dengan amat dahsyatnya panah-panah tersebut menyambar ke arah para jago yang berada diatas sampan kecil.

Pada hakekatnya ilmu silat yang dimiliki para jago diatas sampan itu luar biasa lihaynya, mereka bisa memegang kemudi dengan kaki sementara sepasang tangannya diayunkan kesana kemari merontokkan panah-panah yang tertuju ke arah mereka, sedangkan pendayungnya sama sekali tidak ambil pusing, seakan akan mereka tidak menganggap serangan panah dari orang-orang Kiu-im-kau itu sebagai suatu ancaman yang serius.

Cho Thian hua yang menyaksikan kejadian itu merasa tangannya menjadi gatal, kebetulan ia menyaksikan disisinya ada sebuah sampan, maka ia sambar sampan itu kemudian diceburkan ke dalam laut, sementara tubuhnya sendiri bagaikan sambaran kilat meluncur turun ke atas sampan itu, sambil tertawa terbahak-bahak dia mengebaskan ujung bajunya dan menggerakkan perahunya menyongsong sampan-sampan yang ditumpangi para pendekar.

Kebetulan sampan yang sedang ia terjang adalah sampan yang ditumpangi oleh Hoa Ngo serta Tam Si bin, sambil tertawa tergelak Cho Thian hua melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Hoa Ngo serta Tam Si bin cepat-cepat mengayunkan pula keempat buah telapak tangan mereka dengan menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian.

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Cho Thian hua telah diketahui oleh setiap orang, Hoa Ngo cukup cerdik, dia enggan melakukan serangan beradu kekerasan, begitu serangan telah dilepaskan, kakinya segera menekan ke belakang sehingga sampan tersebut secara tiba-tiba bergerak muudur ke belakang.

Kendatipun begitu, ketika ke dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur satu sama lainnya, terjadilah suatu benturan keras yang mengakibatkan olengnya sampan, ombak menggulung-gulung dahsyat, sampan kecil itupun oleng ke sebelah kiri terpukul oleh ombak, sampan segera terbalik dan kedua orang perempuannya tercebur ke dalam air.

Goan cing taysu segera mendayung sampannya menyongsong ke arah Cho Thian hua.

Sambil tertawa terbahak-bahak Cho Thian hua mengebaskan ujung baju kanannya dan segera menyongsong kedatangannya itu.

Sementara itu pihak Kiu-im-kau telah menghentikan hujan panah mereka setelah melihat cara itu tidak mendatangkan hasil, jago-jago dari tingkat Tiamcu dan Tongcu serentak turun ke air bersama jago-jago dari Hian-beng-kau, kemudian sampan mereka di gerakkan untuk menyongsong perahuperahu para pendekar.

Ketika perahu sudah hampir dekat, para jago dari Kiu-imkau segera terjun kedalam air, jelas mereka berniat untuk menghancurkan sampan musuh dari bawah air.

Dalam waktu singkat, suatu pertarungan sengit telah terjadi diatas permukaan laut, bunyi bentakan dan bentrokan senjata berkumandang sampai ditempat kejahuan.

Goan cing taysu maupun Cho Thian hua yang sudah bertarung belasan jurus mulai merasakan sulitnya untuk bertarung diatas air, sebab kekuatan mereka tak bisa digunakan sepenuhnya, tanpa disadari perahu mereka telah bergerak maju meninggalkan rekan-rekan lainnya.

Mendadak Hua Ngo munculkan diri dari permukaan air, kemudian bentaknya keras-keras.

"Setan tua she Cho!"

Telapak tangan kanannya ditabok ke depan, segulung pancuran air menyambar kewajah Cho Thian hau.

Cepat-cepat Cho Thian hua mengayunkan tangannya untuk menyampok semburan air itu, dengan air memancar keempat penjuru dan membasahi seluruh pakaiannya, ini membuat naik darah dan segera melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Tapi dengan cepat Hoa Ngo telah menyelam kembali ke dalam air dan lenyap tak berbekas.

Dari pihak pendekar, meskipun jumlahnya lebih sedikit, ternyata kebanyakan adalah jago-jago kelas satu, yang pandai pula ilmu dalam air, karena itu meski sudah bertarung sekian lama mereka masih tetap mempertahankan posisi masingmasing.

Kiu-im-kau berusaha menenggelamkan sampan-sampan lawan, tapi begitu merasakan sesuatu gerakan di air, para jago segera menyerang dengan senjata rahasia, ia membuat para jago dari Kiu-im-kau tak berani banyak berkutik.

"Selain itu para jago dari pihak golongan putih juga mempunyai kerja sama yang cukup erat, bila sampan mereka tengelam maka mereka lantas melompat ke atas sampan lain, dengan begitu untuk sesaat usaha mereka tidak mendatangkan hasil apa-apa. Bwe Su-yok dengan biji matanya yang jeli berusaha mencari Hoa In-liong di antara jago-jago yang sedang bertarung, ketika ia tidak menemukan anak muda itu dan sedang tercengang, tiba-tiba terdengar bunyi air yang memisah kesamping, menyusul munculnya sesosok bayangan manusia secepat kilat. Ia menjadi amat terkejut, belum sampai menghindarkan diri, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah dicengkeram oleh Hoa In-liong. Padahal Kiu im su ciat berada disekeliling Bwe Su-yok, tapi serangan dari Hoa In-liong terlalu cepat sehingga waktu mereka berempat hendak memberi pertolongan, keadaan sudah terlambat dan Bwe Su-yok sudah terjatuh ketangan lawan. Un Yong ciau berdiri paling dekat, ia lantas berpekik nyaring seraya menerjang ke depan, ruyung lemas berserat emas ditangannya berputar kencang bagaikan seekor naga sakti, dengan cepatnya sebuah sergapan dilancarkan. Dengan cepat Hoa In-liong berputar ke samping sambil menarik tubuh Bwe Su-yok memutar setengah lingkaran, dia biarkan ruyung lemas berserat emas itu menyambar lewat dari sisi telinganya, kemudian tangan kanannya menyambar ke depan mencengkeram ujung ruyung tersebut dan membetotnya keras-keras. Un Yong ciau amat terkejut, sekuat tenaga dia berusaha untuk membetotnya kembali, tapi segulung tenaga bentakan keras membuat ruyung lemas ini terlepas dari cengkeramannya, bahkan tubuhnya ikut maju pula dengan sempoyongan. Tiba-tiba desingan angin tajam menyambar lewat dari belakang, sik Ban-cian dengan ilmu penotok jalan darahnya menyergap tiba dengan kecepatan luar biasa. Kiong lan tertawa seram pula, dengan jurus Ngo lui liat leng (panca geledek menyambar puncak) dia menyerang punggung orang secepat kilat, sedangkan Tu Cu yu dengan pedang nya yang menciptakan lima enam kuntum bunga pedang langsung menyerang jalan darah penting di pinggang dan iga Hoa In-liong. Sudah puluhan tahun lamanya Kiu im suciat turun tangan bersama, boleh, dibilang mereka sudah mempunyai hubungan batin yang erat, begitu turun tangan kerja sama mereka amat rapat dan sempurna, hampir tiada titik kelemahan yang bisa ditemukan. Tapi ketiga orang itupun tahu akan kelihayan Hoa In-liong, mereka sadar serangan tersebut sulit untuk melakukannya, tapi paling tidak mereka berusaha untuk memaksanya agar melepaskan Bwe Su-yok dari cengkeraman lawan. Hoa In-liong tertawa nyaring.

"Sreeet!"

Tiba-tiba ruyungnya berputar menggulung senjata penotok jalan darah dari Sik Ban-cian, sementara gagang ruyungnya lepas tangan dan ditimpuk ke arah Tu Cu yu.

Menyaksikan datangnya serangan tersebut, Sik Ban cuan tahu kalau dia tak akan sanggup untuk menahan serangan itu, buru-buru tubuhnya melompat lima depa kesamping untuk menghindarkan diri.

Tu Cu yu mendengus dingin, pedangnya disambar ke atas ruyung lemas itu, siapa tahu dari atas ruyung itu tiba-tiba memancar ke luar segulung tenaga yang berat bagaikan bukit karang.

"Cring!"

Pedangnya segera patah menjadi dua bagian, sementara ruyung le masnya itu dengan membawa desingan angin tajam menyambar keatas tubuhnya.

Jilid 20 Tu Cu yu menjadi teramat kaget, serasa sukmanya melayang meninggalkan raganya, cepat-cepat ia menjatuhkan diri kebelakang dengan gerak jembatan besi nyaris tubuhnya tertembus oleh sambaran ruyung tersebut.

Akibat dari kelitannya itu, ruyung lemas tadi menghajar diatas pinggiran perahu yang mengakibatkan terjadinya suatu retakan yang besar sekali.

Sementara itu, ketiga ruyung lemah tadi sudah diayunkan ke depan melancarkan serangan, sambil membalikkan badannya Hoa In-liong kembali melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Pukulan itu dilancarkan amat sederhana, tapi sulit buat Khong im untuk menghindarinya, terpaksa sambil mengertak gigi dia mengayunkan sepasang telapak tangannya berbareng.

"Blaam.....!"

Suatu benturan keras terjadi, hawa darah dalam dadanya bergolak keras dan mundur empat lima langkah dengan sempoyongan dengan kakinya melangkah lewat papan geladak tersebut segera hancur berantakan.

Bentrokan sebanyak beberapa gebrakan ini terjadi dalam waktu singkat, para jago Kiu-im-kau yang berada disekitar tempat itu sudah mengetahui akan kelihayannya, tapi kaucu mereka terjatuh ke tangan lawan, bagaimanapun juga mereka tak bisa berpeluk tangan belaka, bentakan keras berkumandang tiada hentinya, serentak mereka siap maju ke depan melancarkan serangan.

Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya, Bwe Su-yok cepat perintahkan anak buahmu untuk berhenti menyerang.......!"

Sambil miring ke samping menghindari serangan dari Un Yong ciau, tangan kanannya menyambar ke depan, mencengkeram tengkuk seorang ang gota Kiu-im-kau dan melemparkannya ke laut.

Bwe Su-yok tetap berdiri tegang, ia berlagak seakan-akan tidak mendengar ucapan itu.

Hoa In-liong menjadi naik darah, cengkeraman pada tangan kirinya segera diperhebat, seketika itu juga gadis itu merasakan tulang pergelangan tangannya sakit seperti tulangnya hancur, ia tak mampu berkutik lagi, tapi sambil menggertak gigi gadis itu tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Tu Cu yu merampas sebilah pedang dari anak buahnya dan maju sambil melancarkan tusukan, bentaknya.

"Hoa Yang, kalau punya kepandaian hayo lepaskan kaucu kami, kita boleh berduel secara jantan!"

Hoa In-liong tertawa dingin, tiba-tiba ia menggeserkan tubuh Bwe Su-yok ke hadapannya.

Tu Cu yu menjadi amat terperanjat, cepat-cepat pedangnya dimiringkan ke samping dan menyambar lewat disisi tubuh Bwe Su-yok, kendatipun tak sampai melukainya tak urung peluh dingin membasahi juga sekujur badannya.

Dengan gusar Hoa In-liong berseru.

"Aku tak ingin melakukan pembunuhan yang terlalu banyak maka aku bermaksud baik agar semua orang menghentikan pertarungan, bila kau tidak menurunkan perintah lagi, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam......"

Bwe Su-yok tetap menggigit bibir membungkam dalam seriba bahasa, Hoa In-liong dibuat apa boleh buat sehingga terpaksa harus mengayunkan kembali telapak tangannya untuk melawan musuh.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki Hoa In-liong, sekalipun yang dihadapi adalah anak buah Kiu-im-kau yang diantaranya terdapat pula Kiu im su ciat, tapi setiap serangan yang dilancarkan kalau bukan jago-jago Kiu-im-kau itu jatuh terbanting, tentu terlempar kelaut atau tertotok jalan darahnya, untung saja Hoa In-liong masih memandang wajah Bwe Su-yok sehingga tak ingin melakukan pembunuhan terlalu banyak, kalau tidak sudah pasti akan lebih banyak anggota Kiu-im-kau yang akan menjadi korban.

Kok See-piau sekalian juga telah mengetahui akan kejadian tersebut, kalau bisa dia ingin menyaksikan Hoa In-liong membunuh Bwe Su-yok, dengan alasan jaraknya terlalu jauh dan lagi sampan-sampan mereka sudah turun ke laut semua, mereka tidak memberikan pertolongan sebaliknya hanya menonton belaka dari kejauhan.

Dalam pada itu, para jago Kiu-im-kau yang sedang bertarung melawan para pendekar diatas lautan telah merasakan juga akan terjadinya suatu perubahan diatas perahu, dengan perasaan terkejut buru-buru mereka kembali ke perahu.

Lei Kiu-it melompat naik keatas perahu paling duluan, tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebatang jarum To kut teng untuk menyergap punggung Hoa In-liong.

Si anak muda itu segera menggerakkan tangan nya untuk menyambar ke belakang, setelah menangkap jarum tersebut, dia lantas berpikir.

"Sepanjang hidupnya entah berapa banyak perbuatan keji yang telah dilakukan Lei Kiu-it? Dia termasuk juga salah seorang pembunuh Suma siok ya, manusia macam ini tak boleh dibiarkan hidup lebih jauh....."

Hawa napsu membunuhnya segera berkobar di dalam dada, dia membalikkan tangannya dan segera menimpuk balik jarum To kut ciam tersebut ketubuh Lei Kiu-it.

Sudah barang tentu Lei Kiu-it tak akan termakan senjata rahasia sendiri, dalam gugupnya ia bekelit ke samping untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba Hoa In Hong membentak keras, tubuhnya meluncur ke depan dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Terdengar Lei Kiu-it menjerit ngeri, tubuhnya terpental keluar dari perahu dan tercebur ke laut, semenjak itu tubuhnya tak pernah muncul kembali ke dalam keadaan hidup.

Para jago dari Kiu-im-kau semakin keder dan pecah nyali menyaksikan kelihyaan orang itu, namun mereka tak dapat berpeluk tangan belaka, maka secara nekad serangan demi serangan dilancarkan secara bertubi-tubi.

Mendadak Hoa Inliong berpikir.

"Bagaimanapun juga, Bwe Su-yok adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, sudah barang tentu dia enggan memperlihatkan kelemahannya didepan anak buah sendiri, aku tak boleh membuatnya kehilangan muka. Pada dasarnya pemuda ini memang seorang yang romantis, bagaimanapun kondisinya dia tak pernah lupa untuk memikirkan sesuatu yang baik untuk sang gadisnya, maka dia lepas tangan sambil berkata.

"Suruhlah mereka menghentikan pertarungan, mari kita bercakap-cakap dalam ruangan "

Bwe Su-yok menguruti pergelangan tangan sendiri yang kaku, kemudian membentak nyaring.

"Kalian berhenti semua!"

Sejak tadi orang orang Kiu-im-kau sudah dibuat keder oleh kelihayan orang itu, maka begitu perintah diturunkan, serentak mereka menghentikan serangan.

Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu segera berpikir.

"Sudah lama aku dengar Bwe Su-yok mempunyai hubungan yang tidak jelas dengan kokoh itu, tampaknya mereka hendak menyingkirkan soal permusuhan untuk bersahabat..."

Hatinya sangat risau sekali, tapi ketika terbayang bahwa sebagian besar anak buahnya pasti membangkang bila Bwe Su-yok be nar-benar sampai berbuat demikian, hatinya rada lega juga".

Dengan mata yang jeli Bwe Su-yok melotot sekejap ke arah Hoa In-liong, kemudian sambil mengulapkan tangannya dia membalikkan badan dan masuk ke dalam ruang perahu.

Hoa In-liong kembali berpikir.

"Rupanya dia maksudkan untuk mengundang aku berbicara dalam ruang perahu....."

Kuatir kalau rasa harga dirinya sebagai seorang ketua tersinggung, pemuda itu merasa rada menyesal dengan apa yang telah dilakukan barusan.........

Kiu im suciat merasa tidak berlega hati, mereka siap mengikuti dari belakang, melihat itu sambil berpaling Bwe Suyok menegur dengan nada tak senang.

"Kalian toh tak mampu melindung diriku, tak usah ikut!"

Dengan wajah jengah kiu im suciat sama-sama menundukkan kepalanya dan berhenti.

Setelah masuk ke ruang perahu, Hoa In-liong mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dilihatnya lukisan orang ternama banyak menghiasi dinding, ruangan itu bersih dengan dekorasi yang indah, sama sekali tidak berbau orang persilatan.

Seorang dayang cilik menyongsong kedatangannya sambil memberi hormat, katanya.

"Ya tay, baik-baikkah kau? Kau tahu nona kami......

"Tak usah banyak bicara!"

Tiba-tiba Bwe Su-yok menukas.

"keluar dari sini!"

Hoa In-liong Segera mengenali dayang cilik itu sebagai Siau kian, menyaksikan wajahnya yang tertegun dan tidak habis mengerti, buru-buru dia mengulapkan tangan nya tanda tak usah banyak adat, katanya sambil tertawa.

"Nona mu sedang kurang enak badan, perasaannya juga kurang baik, keluarlah lebih dulu"

Agaknya Siau kian juga tahu kalau gelagat tidak beres, dia tak berani banyak bicara lagi dan segera mengundurkan diri.

Dengan wajah dingin dan kaku Bwe Su-yok duduk seorang diri disudut ruangan, sambil tersenyum Hoa In-liong turut ambil tempat duduk, mereka berdua sama-sama tidak bersuara sehingga suasana dalam ruangan itu terasa murung dan sesak.

Tak lama kemudian Siau kian muncul menghidangkan air teh kemudian mundur kembali, melihat Bwe Su-yok belum juga bersuara, Hoa In-liong lantas berpikir.

"Keadaan tak bisa dibiarkan begini terus, baik buruk persoalan harus dibikin jelas lebih dulu"

Maka dia lantas berkata.

"Dapatkah aku berjumpa dulu dengan Si Leng jin dan pelayannya"

Menyaksikan betapa kuatirnya pemuda itu atas keselamatan Si Leng jin, Bwe Su-yok merasa hatinya menjadi kecut dan buru-buru ber paling untuk menahan melelehnya air mata, sementara dimulut dia menjawab dengan dingin "Aku toh sudah berkata sedari tadi, ia sudah mampus!"

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat gusar, tapi setelah berpikir sebentar katanya lagi dengan suara dalam.

"Mengapa sampai kini kau belum juga mau sadar. Mengapa kau musti bergaul terus dengan Hian-beng-kau. Jangan kau anggap Kok See-piau adalah seorang yang baik"

"Aku toh bukan anak berusia tiga tahun, tak usah kau campuri urusanku!"

Tukas Bwe Su-yok ketus. Hoa In Hong mengerutkan dahinya, kemudian ia berkata lagi.

"Apakah kau masih ingin terus menerus terkecoh oleh orang lain tak enggan mendengarkan nasehat orang?"

"Kau itu apaku. Mengapa harus menasehati diriku?"

"Ini bukan nasehat, melainkan suatu peringatan bagimu"

Kata Hoa In-liong dengan wajah serius. Tidak sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Bwe Su-yok telah bangkit berdiri katanya dengan dingin.

"Mmm semua pembicaraan cuma kata-kata yang tak sedap didengar, maaf aku hendak mohon diri"

Sambil beranjak dia lantas membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat itu.

Melibat kekerasan kepala orang itu, Hoa In-liong tak kuasa menahan amarahnya, dia lantas menubruk kemuka sambil tertawa keras.

"Nona Bwe harap berhenti"

Waktu itu Bwe Su-yok telah bersiap sedia, dia pun tidak puas karena kena dibekuk dalam satu gebrakan tadi sambil membalikkan tangannya dia melepaskan sebuah totokan kemuka, bersamaan itu pula kakinya melangkah dengan ilmu Loan ngo heng mi sian tun hoat.

Baru saja badannya bergerak, tiba-tiba pinggangnya terasa kencang dan tahu-tahu ia sadar dipeluk oleh Hoa In liang.

Sebagai seorang gadis yang angkuh dan bersifat dingin, selama hidup boleh dibilang tak pernah berbenturan badan dengan pria lain, bahkan bicara saling berhadapanpun jarang, bisa dibayang kan bagaimana paniknya ketika pinggangnya dipeluk oleh Hoa In-liong, sekarang sehingga tubuhnya boleh dibilang bersandar diatas dada pemuda itu, bau lelaki yang aneh membuat jantungnya berdebar keras.

Tapi dengan cepat ia dapat menguasahi diri kembali, tibatiba timbul rasa malu dan gusar yang bercampur aduk dalam benaknya, dia segera menjerit lengking.

"Lepaskan aku!"

Hoa In-liong segera lepas tangan, katanya dengan suara dalam.

"Aku bertekad akan mencampuri urusan ini!"

Sedih dan kesal bercampur aduk dalam benak Bwe Su-yok ketika itu, mendadak satu ingatan muncul dalam benaknya, dengan ganas dia berkata.

"Aku ingin melihat dengan cara apa kau hendak mencampuri urusanku.....!"

Sambil membalikkan jari tangannya tiba-tiba ia menotok jalan darah Ciat ho niat sendiri.

Hoa In-liong merasa amat terperanjat, dengan cepat dia menangkap pergelangan tangan kanan nya dan berkata sambil menghela napas panjang.

"Su-yok mengapa kau harus menaruh salah paham terhadap maksud baikku?"

Sekujur badan Bwe Su-yok gemetar keras, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran dengan deras, sambil menubruk ke dalam pelukan Hoa In-liong katanya terbata-bata.

"Aku benci kepadamu.........kau tak pernah menaruh perhatian kepadaku.........aku.........aku.......makanya akupun tak berani mengutarakan rahasia hatiku..."

Kesedihan yang memuncak membuat gadis itu tak kuasa menahan diri, ia menangis tersedu-sedu. Dengan penuh kasih sayang, Hoa In-liong membelai rambutnya, lalu berkata dengan lembut.

"Sekalipun demikian, kau juga tak usah berbuat demikian!"

"Aku ingin membuatmu sedih dan menderita, agar menyesal sepanjang masa"

Timbul perasaan kasihan dan sayang dalam hati Hoa Inliong terhadap dara itu sambil menghela napas keluhnya.

"Aaai....! Kau ini si budak dungu....."

Tiba-tiba terdengar bunyi suara langkah manusia berkumandang datang dari ruangan pe rahu, sambil mengerutkan dahinya Hoa In-liong segera berpikir.

"Mungkin Un Yong ciau sekalian yang merasa tidak tenteram datang menjenguk!"

Berpikir demikian, dia lantas membimbing bangun Bwe Suyok sambil berbisik.

"Ada orang datang!"

Buru-buru Bwe Si yok berdiri tegak dan menyeka air matanya, tapi sebelum kering tiba-tiba seorang gadis cantik muncul di situ, ternyata dara itu tak lain adalah Si Leng jin.

Hoa In-liong menjadi tertegun menyaksikan ke munculan dara itu, serunya tanpa sadar.

"Kau tidak mengapa?"

Si Leng jin memutar biji matanya dan segera menangkap bekas air mata yang masih membasahi pipi Bwe Su-yok, katanya kemudian dengan wajah tercengang.

"Enci Su-yok, kau menangis?"

"Huuss, jangan sembarangan bicara!"

Buru-buru Bwe Suyok menukas dengan wajah berubah menjadi merah jengah. Si Leng jin segera berpaling kembali, omelnya.

"Engkoh Liong, aku dengar dari Siau kian katanya kalian sedang cekcok, maka aku buru-buru kemari, mengapa kau musti menganiaya enci Su-yok......?"

OoooooOoooooo Hoa In-liong tertawa getir dan tak bisa membantah, sementara dalam hatinya ia berpikir.

"Aneh, kalau didengar dari perkataan Leng jin ini, tampaknya ia condong kepadanya, agaknya hubungan kedua orang ini sudah cukup akrab, heran, apa yang telah terjadi?"

Sementara ia masih berpikir, si Leng jin telah berkata kembali.

"Aku tahu, sudah pasti beberapa ucapan dari enci Yok telah menggusarkan hatimu, yaa bukan?"

Setelah berhenti sajenak, sambil tertawa dia melanjutkan.

"Enci Yok sangat baik kepadaku, kami sudah mengikat diri sebagai saudara angkat, soal lain tak usah dibicarakan, namun dalam hati enci Su-yok hanya ada satu orang, cuma orang itu tidak memahami tindak handuk serta segala perbuatannya, sebaliknya malah justru merata tidak berkenan dengan segala perbuatannya, engkoh Liong coba menurut pendapatmu, manusia semacam ini menggemaskan atau tidak?"

Mendengar ucapan itu, Bwe Su-yok merasakan hati kecilnya tersentuh, kembali ia mengucurkan air mata dengan sedih.

"Adikku yang baik!"

Cepat-cepat katanya "buat apa dia musti tahu? Siapa suruh aku mencari penyakit buat diriku sendiri?"

Perkataan dari Si Leng jin ini sama sekali diluar dugaan Hoa In-liong, rasa sesal segera muncul dalam hatinya, ia menatap wajah Bwe Su-yok, bibirnya bergerak ingin mengucapkan beberapa patah kata minta maaf, tapi dia tak tahu darimana harus mulai dengan perka taannya itu.....

Si Leng jin ikut terbungkam, matanya berkaca-kaca sehingga tiba-tiba suasana dalam ruangan itu menjadi hening.

Tiba-tiba dari luar ruangan terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.

"Lapor kaucu, Kaucu generasi yang lalu telah membawa orang datang kemari!"

Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut, segera pikirnya.

"Kalau dilihat dari sini, jelaslah sudah bahwa mundurnya Kiu

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ im-kaucu dengan memberikan kedudukannya kepada Bwe Suyok tidak lebih hanya suatu siasat licik.

Bwe Su-yok sendiripun kelihatan agak tertegun, menyusul kemudian dengan suara lirih gumamnya.

"Yang bakal datang tak akan bisa lolos, buat apa musti menghindarkan diri? Setelah mantapkan hati dia lantas berseru kepada orang di luar.

"Aku segera akan menyambut kedatangan dia orang tua, harap kalian semua membuat persiapan!"

Tak lama kemudian mereka bertiga sudah tiba diatas geladak.

Tampak matahari yang merah telah tenggelam dilangit barat, diantara awan berwarna putih tampak pancaran sinar ke emas-emasan yang kelihatan sangat indah memancar ke empat penjuru.

Dari sudut utara sana muncul serombongan ar mada kapal laut, sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa armada itu terdiri dari suatu jumlah kekuatan yang besar sekali.

Dibawah sinar matahari, terlihat jelas panji kepala setan dari Kiu-im-kau berkibar terhembus angin sementara tiga buah perahu dari Jin Hian sudah tak nampak bayangan lagi.

Terkesiap juga Hoa In-liong menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam pikirnya.

"Ternyata Kiu-im-kau selalu menyembunyikan kekuatan mereka yang sesungguhnya, ditinjau dari situasi saat ini, mungkin saja kesemuanya ini adalah hasil rencana dari Kiu-im-kaucu yang memang berhasrat menjumpai para jago ditengah lautan. aai... gembong-gembong iblis ini betul-betul licik dan banyak tipu muslihatnya"

Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 6

Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert