Ceritasilat Novel Online

Neraka Hitam 6

Eps 6 Neraka Hitam - Khu Lung

Baca online Neraka Hitam - Khu Lung

Cersil Neraka Hitam - Khu Lung.

Tindakannya ini kelewat mendadak dan sama sekali diluar dugaan, seketika itu juga semua orang dibikin tertegun oleh sikapnya itu.

Dengan kening berkerut Li hoa Siancu berguman.

"Heran permainan setan apalagi yang sedang dilakukan Liong ji?"

Sesudah berhenti sejenak, tanyanya kepada Goan cing taysu.

"Taysu apakah kau tahu akan hal ini?"

Sambil tertawa Goan cing taysu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Lolap sendiripun dibuat tidak habis mengerti"

Jawabnya. Beng wi ciau tertegun pula oleh tindakan pemuda tersebut, dengan penuh kecurigaan, dia berbisik.

"Sinkun, keparat Hoa adalah manusia yang licik dan berbahaya, jangan-jangan tindakannya itu disertai dengan suatu rencana busuk?"

"Rencana busuk apakah itu?"

Tanya Kok See-piau dengan kening berkerut.

"Hamba sendiripun kurang jelas, apakah perlu kita lepaskan tanda rahasia agar orang-orang diluar lembah menghadang jalan perginya?"

Kok See-piau menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya.

"Jangan! Kawanan manusia itu belum tentu bisa mengapaapakan dirinya, dengan tindakan tersebut justru tempat persembunyian mereka akan ketahuan. Tiba-tiba Cho Thian hua menimbrung.

"Sute, kenapa kau musti risau oleh perbuatan bajingan cilik itu? Yang aneh itu tak aneh, kalau aneh pasti kalah, memangnya kau kuatir bajingan cilik itu bisa terbang ke langit?"

"Benar juga perkataan suheng!"

Kata Kok See-piau. Dia lantas ulapkan tangannya seraya berseru.

"Laksanakan seperti yang direncanakan semula!"

Beng Wi ciau bertiga segera mengiakan dan bersama-sama melompat turun dari atas mimbar, lalu mereka memberi tanda, puluhan orang anggota Hian-beng-kau anak buah ketiga orang thamcu tersebut serentak keluar dari barisan dan mengikuti mereka menuju ketengah arena.

Bwee Su-yok melirik sekejap kearah mereka dengan dingin, lalu serunya.

"Kalian bertiga....."

Sambi! menjura jawab Beng Wii ciau.

"Kami sekalian mendapat perintah dari sinkun untuk membantu perkumpulan anda!"

Tiba-tiba Bong Pay tertawa dingin, lalu serunya, Bagus sekali kalau memang ada orang luar yang ikut campur dalam persoalan ini, aku orang she Bong sekalipun tak akan berpeluk tangan belaka.

Bersama Cu Im taysu dan Coa Wi-wi, mereka segera tampil kembali keluar barak.

Tam Im bin tertawa tergelak.

"Dengan Kui Heng, aku mempunyai perjanjian untuk melangsungkan pertarungan, tentu saja akupun tak bisa berpeluk tangan belaka"

Katanya, Selesai berkata diapun beranjak.

Haputule bangkit berdiri dan tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berjalan keluar dari barak itu, Tiang heng Tokoh betul-betul merasa apa boleh buat, diapun sadar bahwa cepat atau lambat suatu pertarungan pasti akan berlangsung, setelah menghela napas, katanya kepada Pui Che-giok yang berada disampingnya dengan lirih.

"Akupun tak akan mengurusi dirimu lagi, kalau kau ingin turun tangan, turun tanganlah sehendak hatimu!"

Ketika Sik Ban-cian menyaksikan kemunculan Haputule, hawa amarah dalam hatinya segera berkobar, dengan penuh kegusaran bentaknya.

"Bangsat keparat, tempo hari kau berhasil melarikan diri, hari ini mari kita beradu kekuatan lagi"

Haputule tertawa dingin, dengan langkah lebar dia menghampiri Sik Ban-cian.

Agaknya Sik Ban-cian sudah tidak sabar lagi menghadapi sikap angkuh musuhnya.

sambil mendengus marah ujung bajunya segera dikebaskan ke depan melancarkan sebuah serangan, sementara tangan kanannya dengan jurus Im kay kian jit (awan menyingkir kelihatan matahari) dengan disertai tenaga pukulan Yu cing ciang, diam-diam dilontarkan ke depan dibalik kebutan ujung bajunya itu.

Jurus serangan ini teramat keji dan kejam kalau berganti dengan orang lain, mereka pasti akan berusaha untuk menghindari serangan yang datang lebih duluan.

Berbeda dengan Haputule, dalam tubuhnya mengalir darah ksatria dari suku Fibu lo, yang terkenal karena pantang mundurnya, sambil tertawa dingin cahaya emas di tangan kanannya berkelebat lewat dan langsung di bacokkan ke atas kepala Sin Ban-cian.

Ketika terjadi pertarungan diluar kota Gi sui shia tempo hari, nyaris lengan Sik Ban-cian terpapas kutung oleh jurus serangan tersebut, maka setelah menghadapi ancaman yang sama kini, cepat-cepat tubuh nya berkelebat ke samping, dari pukulan tangan kanannya berubah menjadi serangan jari yang langsung menusuk Ke dada kiri Haputule.

Menghadapi serangan itu, Haputule membentak keras, tubuhnya berputar kencang menghindari datangnya serangan jari tangan itu, lalu cahaya emas berkelebat lewat dan menyergap turun kebawah.

Sik Ban-cian tidak menyangka kalau musuhnya pantang mundur dan bertarung bukan dengan cara seorang jago lihay, melibat ujung pedang lawan sudah tiba didepan mata, terpaksa dia harus menyalurkan hawa murninya ke ujung baju sebelah kanan dan menyambut datangnya ancaman itu.

Begitu saling membentur, kedua belah pihak segera berpisah kembali, Sik Ban-cian mundur sejauh beberapa kaki dari posisi semula, tanpa menimbulkan sedikit suarapun, tahutahu ujung baju kanannya sudah terpapas kutung sebagian.

Belum lagi dua gebrakan, dia harus menelan kekalahan yang tragis, hal mana segera membangkitkan bawa amarah yang luar biasa dalam hatinya, bentaknya keras-keras.

"Haputule hari ini kalau ada kau tak akan ada aku!"

Senjata totokan jalan darahnya yang terbuat dari emas segera dicabut keluar, kemudian dengan garangnya menubruk ke depan.

Haputule tertawa dingin, ejeknya pula.

Tentu saja kalau ada aku tak akan ada kau!

Ketika dilihatnya serangan dari Sik Ban-cian sangat ganas dan hebat, ia tak berani bertindak gegabah, dihadapinya serangan musuh itu dengan penuh tenaga.

Senjata penotok jalan darah milik Sik Ban-cian ada dua depa panjangnya, sementara pedang emas dari Haputule cuma lima inci dan lebih mirip dengan sebuah mainan kanakkanak dari pada senjata pembunuh, meski begitu cahaya tajam yang memancar keluar amat menyilaukan mata.

Orang bilang.

Satu inci lebih panjang, satu inci lebih pendek, satu bagian lebih berbahaya.

Dengan sistim pertarungan bergerilya, Haputule selalu manfaatkan setiap kesempatan untuk melancarkan serangan mematikan.

Didalam genggamannya, pedang pendek itu berkembang seolah-olah sebilah pancuran cahaya tajam yang dua depa panjangnya, jurus-jurus serangan yang ampuh dan kekuatan yang dahsyat merubah senjata tersebut seakan-akan bukan sebilah pedang pendek saja.

Sebagaimana diketahui, pedang emas itu merupakan senjata paling tajam dalam dunia persilatan dewasa itu, ketika gurunya Sung Tang lay merajai daratan Tionggoan tempo hari, sebagian besar adalah berkat keampuhan pedang itu, hal mana pada akhirnya sampai memancing perhatian banyak jago silat yang bersama-sama mengincar senjatanya itu.

Sik Ban-cian termasuk diantara Kiu im su ciat (sembilan manusia bengis empat manusia sakti) semenjak lima tahun berselang telah menggetarkan sungai telaga, tenaga dalam nya bukan saja amat sempurna, jurus serangannya pun ampuh.

Muski demikian, pada saat ini ia tak berani bertindak gegabah, dengan wajah serius dan mengembangkan ilmu langkah Loan ngo heng sian tun hoat senjata penotok jalan darahnya diputar kian kemari mengkombina sikan serangan telapak tangannya dengan ilmu Yu cing cang.

Walaupun posisi tersebut hakekatnya seimbang dan tidak diketahui siapa lebih tangguh, namun bagi penglihatan orang lain, Haputule justru berada pada posisi diatas angin.

Diam-diam para jago dari tiga perkumpulan besar merasa terkejut bercampur keheranan, mereka tidak menyangka kalau Haputule sesungguhnya memiliki ilmu silat selihay ini.

Tam Sin bin melirik sekejap kearah Cui Heng, kemudian katanya sambil tertawa.

"Cui tham cu, kesempatan baik seperti ini jarang bisa ditemukan, bagaimana kalau sekarang juga kita laksanakan janji kita sewaktu berada di mulut lembah tadi?"

Cui Heng mengerutkan dahinya, tanpa berbicara lagi dia meloloskan senjata poan koan pitnya, kemudian maju ke depan sambil melancarkan serangan.

Tam Si bin tertawa terbahak-bahak, ia tidak menggunakan senjata, telapak tangan kanannya di ayunkan kemuka, sebuah pukulan yang amat dahsyat segera dilontarkan ke depan.

Sungguh dahsyat serangan tersebut, bukan saja tenaganya kuat, desingan angin serangannya juga tajam.

Cui Heng mendengus dingin, tubuhnya berkelebat kesamping, menggunakan kesempatan tersebut dengan jurus Ci thian hia tee (menuding langit menggaris bumi) dia berputar kesamping menyerang Tam Si bin dari sayap kiri.

Tam Si bin berdiri tak berkutik, telapak tangannya kembali diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan.

Tenaga pukulannya berat dan kuat, desingan tajam memekikkan telinga, Cui Heng tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat dia bergeser ke samping sambil buru-buru berganti jurus serangan.

Kok See-piau yang mengikuti jalannya pertandingan itu dari kejauhan segera mengerutkan dahinya setelah menyaksikan kejadian tersebut katanya kemudian.

"Tua bangka itu sudah berhasil dengan ilmu sakti Kui goat sinkangnya, Cui thamcu mungkin bukan tandingannya"

Tiba-tiba Pi Ci liang berkata.

"Lohu mempunyai sedikit perselisihan dengan setan tua itu, berilah perintah itu kepadaku"

"Harap Pi tianglo tunggu sebentar"

Cegah Kok See-piau mengulapkan tangannya. Pelan-pelan sorot matanya dialihkan kewajah Seng To cu. Melihat itu, Seng To cu segera tertawa terbahak-bahak.

"Samte, Sute, kalian turunlah ke arena. Dua bersaudara Lenghou segera mengiakan dan bersama-sama masuk ke dalam arena. Coa Wi-wi segera menghadang jalan pergi mereka, serunya sambil tertawa merdu.

"Saudara berdua, bagaimana jika pertarungan di bukit Tiong san tempo hari kita lanjutkan di sini saja!"

Lenghou Yu melototkan sepasang matanya dengan buas, serunya sambil menyeringai seram.

"Budak cilik, kau jangan sombong Lenghou loya mu akan segera menjumpai dirimu"

Tangan kanannya diayunkan ke depan, sebuah pukulan segera dilontarkan ke arah Coa Wi-wi dari kejauhan.

Coa Wi-wi memutar tangannya dan balas mencengkeram pergelangan tangan Lenghou Yu, sementara tangan kirinya diayun ke depan menolak tubuh Lenghou Ki, sembari bentaknya.

"Lebih baik kalian berdua maju ke depan bersama-sama saja"

Lenghou Ki tidak menyangka kalau gadis itu berani menentang mereka berdua, damprat nya dengan mendongkol.

"Budak busuk!"

Sebuah pukulan kembali dilontarkan ke depan.

Diam-diam Coa Wi-wi berpikir, Situasi semacam ini tak baik untuk melangsungkan pertarungan dengan beradu kekerasan..........

Maka sambil tertawa cekikikan dia lantas bertekuk pinggang dan menghindarkan diri dari sergapan kedua orang itu.

Gerakan tubuhnya amat lincah, enteng dan cepat, jauh melebihi dua bersaudara Leng hou, setelah ia mengambil keputusan untuk bertarung ala gerilya maka percumalah serangan gabungan dari bersaudara Lenghou, sekalipun lapisan telapak tangan mereka me nyelimuti seluruh angkasa dan tenaga serangan mereka bagaikan bukit ia tetap bisa bergerak kian kemari secara leluasa, malahan setiap kali sempat melancarkan pula sebuah pukulan balasan yang dahsyat.

Ketika Toan bok See liang dan Beng wi ciau menyaksikan Cui Heng makin terdesak dibawah angin setelah bergebrak dua puluh jurus melawan musuhnya, mereka saling bertukar pandangan sekejap, lalu Toan bok See liang maju ke depan menghampiri kedua orang itu.

Bong Pay mendengus gusar, baru saja ia hendak menghalangi jalan perginya, tiba-tiba terdengar Hoa Ngo membentak marah.

"Bajingan anjing!"

Ia melayang keluar dari baraknya dan langsung menyergap diri Toan bok See liang.

Semenjak melangkah ke depan tadi, Toan bok See liang sudah menduga kalau tindakannya ini pasti akan dihadang orang, ia telah bersiap siaga semenjak tadi, maka begitu disergap tiba-tiba saja sebuah pukulan dilontarkan ke depan Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Sebagai seorang jago yang berakal panjang, ketika Beng Wi cian menyaksikan Bong Pay serta Cu Im tayiu hanya berdiri disamping saja, ia tahu bahwa percuma untuk menolong Cui Heng yang keteter, maka dia lantas membatalkan niatnya untuk turun tangan dan mengalihkann kembali perhatian-nya untuk mengikuti jalannya pertarungan antara Cui Heng melawan Tam Si bin tersebut.

Berhubung pihak Hian-beng-kau, Kiu-im-kau maupun Mo kau tak ingin membiarkan jago-jago lihaynya mampus duluan ditangan para pendekat kaum lurus, maka berusaha keras menghindarkan diri dari pertarungan terbuka dengan lawannya, walaupun pertarungan ditengah arena berlangsung dengan seru, namun para pemimpin dari pelbagai ke lompok justru hanya menonton belaka dari sisi arena tanpa berniat untuk campur tangan.

Cuma setiap orang tahu bahwa suatu pertarungan terbuka tak akan terhindar, akhirnya salah satu pihak diantara mereka akan menjadi kelompok pertama menjadi bulan-bulanan musuh, tentu saja setiap kelompok berharap agar bukan kelompoknya yang menjadi sasaran.

Dalam padaa itu, Kiong Hau dan Gui Gi hong telah kembali lagi ke dalam barak sepeninggal Hoa In-liong, ternyata mereka betul-betul hanya berindak sebagi penonton belaka.

Jumlah manusia yang berkumpul di barak sebelah tengah merupakan jumlah yang terbanyak, tapi sembilan puluh persen merupakan kawanan manusia yang berilmu rendah.

Tentu saja semua pihak tahu bahwa diantara sekian banyak orang, pasti terdapat pula jago-jago lihay yang berilmu tinggi, namun mereka tidak tertalu mmemperhatikan, tentu saja pihak kaum lurus lebih lebih tidak memperhatikan pula.

Pihak Hian-beng-kau, Kiu-im-kau dan Mo kau masingmasing mempertinggi terus ke waspadaannya selama pertemuan ini berlang sung, mereka kuatir sejarah dalam pertemuan Kian ciau tay hwe dimasa lalu terulang kembali, mereka takut munculnya suatu kelompok baru secara tiba-tiba yang akan mengeruhkan suasana.

Itulah sebabnya selain selalu waspada mereka mempertahankan pula kekuatan inti masing-masing sebagai persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Diantara sekian banyak orang, Kok See-piau boleh dibilang paling sibuk, secara diam-diam ia mengutus orang orangnya pula untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam apakah ada jago lihay yang terlepas dari pengawasan mereka.

Suasana yang paling bertentangan dan saling curiga mencurigai ini tentu saja tak dapat mengelabuhi para pendekar, diam-diam semua orang mulai merundingkan dan mencari akal untuk membasmi jago lihay lawan sebanyakbanyaknya dengan pengorbanan sekecil mungkin.

Dalam pada itu, pertarungan sengit telah berlangsung hampir setengah jam lamanya, ketiga kelompok manusia yang sedang bertempur masih tetap memperhankan diri dengan seimbang, hanya posisi Cui Heng yang berhadapan dengan Tam Si bin saja kian lama kian bertambah gawat.

Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu, segera berseru dengan suara dalam.

"Mo tianglo, Ui Tianglo, harap kalian menggantikan kedudukan Cui thamcu! Im san tiang koay serta Lau san in siu Ki Shia leng yang menerima perintah segera beranjak, dan secepat kilat bergerak mendekati Ciu Heng serta Tam Si bin. Waktu itu, Tam Si bin telah berada diatas angin, ketika menyaksikan gelagat tak baik, dia lantas berpikir. Kalau aku tidak buru-buru melancarkan serangan mematikan, kesempatan baik ini pasti akan lenyap dalam sekejap"

Berpikir demikian, hawa napsu membunuhnya segera berkobar, tiba-tiba ia membentak keras.

"Ciu Heng!"

Dalam waktu singkat hawa pukulan yang terhimpun dalam telapak tangan Tam Si bin menjadi berkali-kali lipat lebih dahsyat desingan angin tajam yang memekikkan telinga, sungguh membetot sukma rasanya.

Inilah bertanda kalau tenaga sakti Kui goan sinkang dalam tubuhnya telah disalurkan hingga mencapai pada puncaknya.

Dalam waktu singkat, bayangan telapak tangan yang berlapis-lapis segera menyelimuti sekujur tubuh Cui Heng rapat-rapat.

Cui Heng sebagai Lee Ti thamcu dalam perkumpulan Hianbeng-kau sesungguhnya memiliki kepandaian silat yang cukup menjagoi dunia per silatan, tapi untuk melawan tenaga serangan dari Tam Si bin yang maha dahsyat itu, ia justru terdesak hebat dan berulang kali menjumpai mara bahaya.....

Beng Wi cian menjadi terkesiap menyaksikan kejadian itu, ia tak berani sangsi lagi, cepat tubuhnya bergerak ke depan.

"Sambut dulu sebuah pukulanku ini!"

Mendadak Bong Pay membentak keras. Tubuhnya maju ke depan menghadang jalan pergi orang itu, sebuah pukulan segera dilontarkan ke muka.

"Bong Wi cian membentak nyaring, sepasang telapak tangannya segera didorong pula ke depan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaam........!"

Suatu ledakan keras menggelegar di udara, kedua orang itu sama-sama tergetar keras akibat benturan tersebut.

"Pada saat yang bersamaan Tam Si bin telah membentak nyaring, dengan jurus Ban tiong tiau goan dia hajar bahu kiri Cui Heng keras-keras. Sedimikian dahsyatnya pukulan ini sehingga tubuh Cui Heng mencelat ke depan, isi perutuya hancur remuk, darah kental mengucur keluar tiada hentinya dari bibir. Cui Heng tidak berdiam diri belaka, dengan sisa kekuatan yang masih dimilikinya mendadak poa koan pit dalam genggamanya disambitkan ke ulu hati Tam Si bin.... Mengetahui akan datangnya ancaman bahaya, buru-buru Tam Si bin mengegos kesamping menghindarkan diri dari serangan itu, namun sayang bahunya tak sempat ditarik kebelakang...... Dengan tenaga sambitan yang begitu besar dari senjata poan koan pit tersebut, tak ampun lagi bahu kirinya terhajar telak sehingga tembus kedalam tulang. Detik itu juga Ui Sia ling telah menerjang tiba dengan wajah dingin membesi dan penuh perasaan dendam, jagoan dari bukit Lau San ini secara kilat melontarkan sebuah pukulan dashyat ke depan. Setelah bahu kirinya tertusuk poan coan pit, gerak-gerik Tam Si bin menjadi tidak leluasa, ditambah lagi rasa sakit yang menusuk tulang, membuat gerak-geriknya semakin lamban... Ketika dilihatnya serangan dari Ui Sia ling meluncur tiba, cepat-cepat ia memutar badannya lalu sambil menggigit bibir mundur dari posisi semula. Meleset dengan serangannya yang pertama, Ui Sia ling memburu ke depan dan siap melontarkan serangan yang kedua. Tiba-tiba cahaya tajam berkelebat lewat didepan mata, seorang kakek berjubah hijau telah maju sambil melepaskan sebuah tusukan kilat. Dengan dahi berkerut ia menegur.

"Apakah Lau Ik tiong yang telah datang?"

Begitu mundur tubuhnya bergerak maju kembali, pedangnya menyambar ke depan dengan tak kalah cepatnya.

"Benar, inilah Tiam cong siang kiam!"

Sahut Lau Ik tiong dingin.

Jilid 15 Di tengah pembicaraan tersebut, suara benturan senjata berkumandang berulang kali, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah saling menyerang sebanyak empat lima kali.

Dipihak lain, Co Im taysu telah terlibat dalam pertarungan sengit melawan Im san toa koay sedangkan Ciang Pek jin dari Tiam cong siang kiam bertarung melawan ji koay, pertempuran berlangsung amat seru.

Sesungguhnya Im san toa koay (manusia aneh pertama dari buku Im san) Mo Ciang lam bukan tandingan Cu Im taysu, apa mau dikata watak Cu Im taysu belakangan ini semakin lembut dan penuh welas kasih, apabila bukan karena terpaksa dia enggan melukai lawannya, sebab itu mereka berdua bertarung seimbang.

Dalam pada itu, Tam si bin telah mengundurkan diri keluar arena, dengan tangan kirinya mencekal gagang poan koen pit, sambil menahan sakit ia cabut keluar senjata tersebut, betul sudah menggetarkan gigi, namun tak urung mengucur juga peluh sebesar kacang kedelai dari jidatnya, darahpun mengalir keluar dengan amat derasnya.......

Buru buru Pek Soh gi menghampirinya sambil membubuhkan obat luka diatas mulut luka tersebut.

Dengan tewasnya Kui Heng, pertarungan berlangsung makin seru, walaupun sebagian besar kawanan jago dari Hianbeng-kau yang turun ke gelanggang saat ini, namun kekuatan Hian-beng-kau pula yang terhitung paling besar dan tangguh, karena sebagian besar jago lihaynya belum sampai turun tangan.

Kok See-piau yang pandai membawa diri, diam-diam merasa murung juga setelah menyaksikan kekuatan yang sebetulnya dari pihak kaum pendekar, pikirnya.

"Pihak keluarga Hoa saja belum menampilkan diri tapi pertarungan sudah demikian sulitnya, jika Hoa Thian-hong dan Bun Siau ih turun serta dalam pertarungan, bukankah kemenangan bagi pihak kami lebih tiada harapan lagi?"

Berpikir sampai disitu, kewaspadaannya makin meningkat, ia merasa jika antara tiga perkumpulan besar masih terdapat saling curiga mencurigai maka hal mana merupakan suatu kerugian besar bagi pihaknya.

Maka kepada Tang Bong liang dia berkata "Tang thamcu, kau cepat mengirim utusan untuk menghadap Seng To cu serta Bwe Su-yok..."

"Sinkun ada pesan apa?"

Tanya Tang Bong liang agak tertegun. Kok See-piau termenung sejenak, kemudian katanya.

"Utus orang untuk menyampaikan kata-kataku, katakan bahwa pun sinkun, beranggapan bahwa keadaan musuh saat ini jauh berbeda dari keadaan dulu, apalagi pihak keluarga Hoa sama sekali tak nampak batang hidungnya, kita butuh suatu kerja sama yang kuat, bila saling curiga mencurigai terus niscaya kita akan ditunggangi orang lain, keadaan tak bisa ditunda lagi, jika setuju harap mereka mengirim jago-jago lihay nya kedalam arena dan bersama-sama membasmi musuh, tanya kepada mereka bagaimana pendapatnya....?"

Selelah berhenti sejenak, terusnya.

"Hanya itu saja pesanku, nah sekarang boleh kau sampaikan kepada mereka!"

Tang Bong liang segera membungkukkan badannya memberi hormat, dan mengundurkan diri dari mimbar. Tak selang beberapa saat kemudian, Tang Bong liang muncul kembali dengan wajah berseri, katanya.

"Lapor Sinkun, Seng To cu dan Bwe Su-yok telah menyatakan kesanggupannya untuk mengangkat Sinkun sebagai pimpinan"

Kok See-piau tertawa hambar, katanya kemudian.

"Bwe Suyok serta Seng To cu adalah manusia-manusia pintar, tentu saja mereka dapat mempertimbangkan untung ruginya"

Berpaling kearah Cho Thian hua, dia berkata lagi.

"Harap suheng bersedia membantu dengan sepenuh tenaga!"

Cho Thian hua manggut-manggut.

"Tentu saja!"

Katanya.

"Orang-orang lainnya tak perlu dirisaukan, kuserahkan saja Goan cing si hwesio tua itu untuk suheng"

"Jangan kuatir sute, serahkan saja semuanya kepadaku!"

Jawab Cho Thian hua dengan angkuh.

Kok See-piau mengalihkan kembali sinar matanya kearah para pendekar dibarak barat, mendadak hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, tiba-tiba ia mendongakan kepalanya dan tertawa seram, serunya seperti orang kalap.

"Hoa Thian-hong! Hoa Thian beng Loh"

Akan ku papas kutung sayap-sayapmu, akan kulihat sekalipun kau berilmu tinggi, dengan cara apa akan kau kuasahi dunia persilatan?

Haaahhh..

.haahhhh........haaahhh...hari ini kalian kawanan manusia yang munafik, yang berlagak sok suci dan gagah akan kutumpas habis dari muka bumi......!"

Tiba-tiba ia menghentikan gelak tertawanya dan pulih kembali dalam ketenangan semula, sambil mengulapkan tangannya dia berkata.

"Harap kalian semua mengikuti pun sinkun!"

Selesai berkata ia berjalan turun lebih dulu dari mimbar diikuti Cho Thian hua, Leng lam it khi sekalian jago. Seng To cu yang menyaksikan hal itu dari kejahuan segera beranjak, seraya berkata.

"Semua murid Sang sut pay dengarkan baik-baik, separuh tinggal disini, separuh yang lain ikut diriku"

"Dengan memimpin Hu yan Kiong, Hong Liong, sekalian enam tujuh puluh orang mereka berjalan menuju ke tengah arena. Bwe Su-yok yang menyaksikan hal tersebut segera mengangkat pula toya kepala setannya ke udara, Hong Im, Lee Kiu-it sekalian yang berada dalam barak segera munculkan diri ke tengah arena, merekapun meninggalkan separuh bagian anggotanya ditempat semula. Situasi berubah dengan cepatnya, para pendekar kaum lurus yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat. Lan hoa siancu segera menyumpah.

"Cucu iblis, tampaknya mereka lebih cerdik daripada siapapun!"

Dengan suara keras Bong Pay berseru.

"Urusan telah berkembang menjadi begini, mari kita beradu jiwa dengan mereka!"

Tubuhnya berdiri kaku ditempat semula, hawa murni segera dihimpun kedalam telapak tangan dan melancarkan serangkaian serangan berantai.

Dalam waktu singkat, angin puyuh menderu-deru, desingan angin tajam yang disertai sambaran guntur lamat-lamat terdengar jelas, sungguh hebat serangan tersebut.

Benq Wi cian kontan terdesak hebat oleh serangan dahsyat dari Pek lek ciang tersebut, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, darah panas bergolak dalam dadanya ia merasa isi perutnya sudah terluka parah.

Tiba-tiba terdengar Cu Im taysu membentak keras, senjata sekop peraknya memancarkan sinar tajam yang menyilaukan mata, dalam waktu singkat Im sam toa koay Mo Ciong lam terbungkus dibalik kabut cahaya perak yang tebal dan berlapis-lapis itu.

Agaknya beberapa orang itu sudah bertekad untuk menyelesaikan pertarungan secepat mungkin, karena itu serangan-serangan yang dilontarkan semakin dahsyat dan menggila.

Separuh bagian jago-jago dari Kiu-im-kau dan Mo kau sudah terjun kearena sedangkan anak murid Hian-beng-kau dari tingkatan baju biru keatas sebagian besar sudah terjun ke gelanggang pertempuran, jumlah mereka mencapai tiga ratus orang lebih.

Serangan gabungan ini ibaratnya air bah yang menggulung datang, sedemikian dahsyatnya sehingga membuat para jago yang bernyali kecil sudah merasa keder dulu sebelum pertarungan berlangsung.

Dari pihak pendekar kaum lurus, dari Tian tay pay, Tiam cong pay serta bekas anak buah Sin-ki-pang bersama-sama sudah terjun ke dalam arena pertarungan.

Sebaliknya Goan cing taysu cuma duduk memejamkan mata seakan-akan tidak melihat akan terjadinya pertarungan tersebut, Coa hu jin menjadi tercengang setelah menyaksikan kejadian itu, dia ingin menegur tapi niat tersebut segera diurungkan, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun ia terjun pula dalam arena pertarungan.

Pek Soh gi tidak suka segala macam pertarungan, maka ia hanya bertugas menolong yang terluka dan mengobati mereka dalam barak.

Pihak Thian tay pay meninggalkan pula tiga orang muridnya yang terlemah dalam barak, sedang yang lain hampir sudah terjun semua ke arena pertarungan Coa Cong gi sekalian kaum muda yang paling bersemangat, mereka saling berebut terjun ke arena dan menyikat musuh yang dijumpainya.

Cahaya golok, hawa pedang serasa menyelimuti angkasa, teriakan dan bentakan keras menggelegar memecahkan kesunyian, suara bentrokan senjata, jeritan ngeri memekikkan telinga, sungguh mengerikan suasana pertempuran waktu itu......

Dalam waktu singkat darah telah berceceran membasahi lantai, tumpukan mayat bergelimpangan di sana sini menambah seramnya suasana disekitar tempat itu.

Tiang heng tokoh selalu berusaha untuk menghindari murid Kiu-im-kau, ia bergerak mendekati orang-orang Hian-bengkau, tapi saat itulah terdengar Khong Im membentak gusar.

"Ku Ing ing, berhenti kau!"

Segulung angin pukulan yang berat bagaikan bukit, langsung menindih keatas kepalanya.

Dengan cepat ia mengegos ke samping, tapi Khong Im menerjang lebih jauh, karena apa boleh buat terpaksa Tiang heng Tokoh mengebaskan senjata hudtimnya dan terlibat dalam pertarungan sengit melawan Khong Im.

Su kong tongcu Ke Thian tok dari Kiu-im-kau yang menyaksikan kejadian itu dengan cepat berpikir.

"Bagaimanapun juga, hari ini Ku Ing ing tak boleh dibiarkan pergi dengan selamat!"

Berpikir demikian dia lantas menerjang ke muka sambil melancarkan sebuah pukulan. Pui Che-giok yang selama ini mengikuti dibelakang Ku Ing ing, segera mengerutkan dahinya setelah melihat kejadian itu.

"Criiing!"

Pedang mustikanya diloloskan dari sarung, kemudian dengan jurus Pat boa hong yu (hujan angin di delapan penjuru) dia sergap diri Kek Thian tok.

Baru saja Kek Thian tok melepaskan serangan-nya, tibatiba ia merasakan matanya menjadi silau kemudian bayangan pedang memenuhi angkasa, dalam kagetnya cepat-cepat ia menjejakkan kakinya ke tanah dan melompat ke samping.

Pui Che-giok membentak keras, pedangnya kembali diayunkan ke depan melakukan pengejaran.

Kek Thian tok menjadi naik darah, bentaknya.

"Perempuan sialan, kau anggap pun tong cu jeri kepadamu?"

Sambil memutar telapak tangannya ia menerjang ke depan, dua orang itu segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Selama ini yang menjadi titik perhatian pihak Kiu-im-kau tak lain adalah Tiang heng Tokoh, maka begitu terjun ke arena, Le Kiu-it, Seng Yu san dan Huan Tong sekalian segera mengurung perempuan itu rapat-rapat.

Ho Ke sian dan Si Jin kiu yang menjumpai keadaan itu, dengan cepat memimpin para bekas anggota Sin-ki-pang untuk menyerbu kearah situ.

Tiba-tiba terdengar Bong Pay membentak keras, jurus serangannya berubah, deruan angin geledek mendadak terhenti, kemudian tubuhnya maju ke depan, sepasang telapak tangannya diayunkan kemuka dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Beng Wi cian menggetarkan sepasang bahunya karena tak kuat menahan tekanan lawan, sambil menjejakkan kakinya ke tanah, cepat-cepat dia melompat kesamping untuk menghindarkan diri.

Tujuan Bong pay dengan serangannya itu justru menginginkan musuhnya mundur, maka begitu lawan bergerak kebelakang, dia lantas membentak nyaring.

"Kena!"

Sepasang telapak tangannya dibalik, seperti seekor ular lincah, tiba-tiba menerjang ke depan.

Keempat buah serangan berantai yang di lancarkan ini tak lain adalah jurus serangan yang tercantum dalam kitab Ci yu jit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu) bagian bawah, nama aslinya adalah Liok cu hun dan terdiri dari empat jurus.

Kitab tersebut sudah lama hilang dari peredaran dunia persilatan, tapi dalam penggalian harta diistana Kiu ci kiong, kitab tersebut berhasil ditemukan kembali, bukan saja kekuatannya luar biasa, perubahan jurus nya sakti dan diluar dugaan, jauh lebih he bat dari pada tiga jurus "Menyerang sampai mati"

Sejak mendapatkan ilmu sakti ini, baru pertama kali ini Bong Pay mempergunakannya untuk menghadapi lawan, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

Ketika bertarung melawan Hoa In-liong di kota Si ciu beberapa bulan berselang, Beng Wi cian kehilangan jarinya justru dalam ketujuh jurus serangan ini, luka itu belum lama sembuh dan kesannya masih mendalam sekali, walaupun ia tahu kalau serangan itu lihay, namun ia toh tak sanggup untuk menahannya juga.

Dalam kejut dan gusarnya, tanpa memperdulikan ancaman musuh lagi, dia membentak gusar, telapak tangan kanannya langsung dibacokkan ke perut Bong Pay dengan tujuan saling beradu jiwa.

Bong Pay sudah memperhitungkan segala sesuatunya dengan tepat, tentu saja ia tak sudi membiarkan musuhnya meraih keuntungan, sambil mendengus, tiba-tiba tubuhnya berputar ke belakang Beng Wi cian, sebuah pukulan segera dilancarkan, Phoh Siu dari Po cu tam jian (tiga manusia cacad dari po cu) yang melihat gelagat tak baik, segera tertawa seram.

Tubuhnya menerjang maju ke belakang Bong Pay, lalu di sambarnya pinggang musuh dengan sebuah cengkeraman maut.

Dengan gerakan tubuhnya yang enteng seperti bayangan setan, ditambah lagi serangannya sedikitpun tidak membawa suara desingan, ancaman dari manusia semacam ini justru merupakan suatu ancaman yang sangat berbahaya, apa lagi dalam pertarungan massal seperti ini.

Tapi pendidikan keras yang diterima Bon Pay selama banyak tahun bukan saja membuat ilmu silatnya sangat lihay, perubahan sikapnya pun cukup hebat, betul ia tidak mendengar suara apa-apa, tapi dengan ke cerdasan otaknya ia bisa menduga bahwa ada seseorang sedang mendekati tubuhnya, maka tanpa berpikir lagi dia mengegos ke samping sambil melanjutkan serangannya.

Beng Wi cian bukan seorang jago sembangan, ketika Bong Pay menggeserkan tubuh sambil melepaskan serangan tadi, ternyata ia telah memanfaatkan peluang yang amat sedikit itu untuk menyusup mundur dari tempat semula...

Selisih waktu yang tersedia memang relatif kecil, betul ia bisa lolos dari serangan yang telak, namun punggungnya tak urung kena disapu juga oleh pinggiran angin pukulan yang tajam.

Dengan tenaga dalam Bong Pay yang begitu sempurna, tak ampun lagi tubuhnya terlempar sejauh beberapa kaki dari tempat semula, kemudian......

"Uaak!"

Ia muntah darah segar.

Detik berikutnya, Bong Pay telah memutar badannya dan terlibat dalam suatu pertarungan sengit melawan Pho Siu.

Tiba-tiba terdengar Im sam toa koay menjerit ngeri, pinggangnya tersambar telak oleh bacokan senjata sekop Co Im taysu sehingga mengakibatkan kematian yang mengerikan baginya.

Len lam it khi yang menyaksikan peristiwa itu menjadi amat gusar, sambil berpekik nyaring ia menerjang ke depan dan secara beruntun melepaskan delapan buah serangan berantai.

Serangan yang tiba secara beruntun dengan kekuatan bagaikan gelombang samudra ini segera mendesak Co Im taysu yang ketinggalan selangkah menjadi keteter hebat.

Para jago bekas anggota Sin-ki-pang, rata-rata adalah jago kawakan yang berpengalaman luas dan terbiasa melakukan pertarungan sengit, meskipun sudah berpisah banyak tahun ternyata kerja sama mereka dimasa silam masih tetap dipertahankan.

Kekuatan gabungan dari sekawanan jago kelas satu ini betul-betul mengerikan hati, begitu pertarungan berlangsung, anak murid tiga perkumpulan segera dibasminya habishabisan, jerit kesakitan berkumandang silih berganti, dalam waktu singkat banyak diantaranya yang tewas dan terluka parah.

Sebenarnya Cho Thian hua enggan turun tangan, tapi setelah menyaksikan kejadian itu dengan kening berkerut ia berseru.

"Bocah-bocah dari Sin-ki-pang, bersiap-siaplah, lohu akan turun tangan terhadap kalian. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu apapun pelan-pelan ia berjalan menghampiri kawanan jago dari Sin-ki-pang tersebut. Para jago dari Sin-ki-pang cukup mengetahui akan kelihayannya, melihat itu mereka jadi amat terkejut, sementara Cho Thian hua masih berada beberapa kaki jauhnya, semua orang telah mengayunkan telapak tangannya bersama......... Segulung tenaga pukulan gabungan yang tak terlukiskan dahsyatnya, dengan cepat menghantam ke depan........ Cho Thian hua betul-betul memiliki kepandaian yang mengerikan, sebelum semua orang sempat menyaksikan gerakan apa yang dia la kukan, tahu-tahu jago tua itu sudah menghindari serangan dahsyat itu dan tiba didepan dua orang jago, kemudian sepasang tangannya direntangkan, secepat kilat serangan dahsyat dilancarkan. Buru-buru dua orang jago itu mengangkat tangannya untuk menangkis, tapi jurus serangan belum sampai dilancarkan.......

"Kraaak"

Jalan darah Thian leng kay di ubun-ubun mereka sudah terhajar telak.

Tak ampun lagi tubuh mereka roboh terjengkang ke tanah dan tewas seketika itu juga.

Para jago dari kaum lurus menjadi terperanjat oleh peristiwa itu.

Coa Cong gi yang berangasan dan membenci kejahatan segera membentak dengan penuh kegusaran.

"Setan tua, rasakan pukulanku ini!"

Sepasang telapak tangannya bersama-sama dilontarkan ke depan. Cho Thian hua naik pitam, ia mengentak pula.

"Bocah muda, kau pingin mampus!"

Untuk menghadapi anak muda seperti ini, hakekatnya ia tak sudi turun tangan sendiri, tubuhnya segera berdiri tegak tak berkutik ditempat semula.

Bagi Coa Cong gi, jangankan berhasil membunuh Cho Thian hua dengan serangannya, kalau tak sampai dibikin mampus oleh tenaga pantulan yang memancar keluar dari tubuh lawanpun sudah boleh dikatakan mujur sekali.

Coa Wi-wi menjadi amat terperanjat, teriaknya kaget.

"Koko.......!"

Mendengar panggilan itu, Cho Thian hua cepat berpikir.

"Ooob........rupanya bocah ini adalah kakaknya dayang tersebut, kalau sampai kubunuh dirinya, sudah pasti dayang cilik itu akan beradu jiwa denganku......!"

Niatnya untuk mengangkat Coa Wi-wi sebagai anak angkatnya masih belum hilang, maka berpikir sampai disitu, mendadak ia cengkeram per gelangan tanggan Coa cong gi kemudian melemparkan tubuhnya ke belakang.

Sekalipun ia tidak berniat mencabut nyawa Coa Cong gi, namun jago tua ini berhasil memberi pelajaran kepada pemuda itu, karenanya bantingan itu dilakukan cukup keras, Coa Cong gi terlempar sejauh tujuh delapan kaki dari tempat semula, saking kerasnya bantingan itu sampai beberapa waktu ke mudian ia baru bisa bangkit secara paksa.

Sekujur tubuhnya segera terasa sakit melilit, tulang belulangnya seperti terlepas semua tapi dasar bandel dan keras kepala, ketika di liatnya Leng Wi cian ada disampingnya ia lantas menubruk ke depan sambil mengayunkan tinjunya, sedangkan sebuah tendangan menghajar pusat lawan.

Beng Wi cian merasa amat gusar, katanya.

"Walaupun lohu sudah terluka, untuk membereskan bajingan cilik seperti kau masih cukup punya tenaga!"

Ia mengegos kesamping menghindarkan diri dari tendangan tersebut kemudian kepalanya diayun ke depan menghantam dada lawan.

Sementara itu Coa hujin sedang bertarung melawan dua orang sutenya Bu liang sinkun, ketika melihat Coa Cong gi tercekam dalam mara bahaya, ia menjadi kuatir sekali sehingga pikirannya bercabang.

Dua orang sutenya Bu liang sinlun itu bernama Bu Beng san dan Khi Tiong kui, ilmu silatnya dimasa lalu hanya selisih setingkat ketimbang Bu liang Sinkun sendiri, kerja sama kedua orang ini cukup tangguh dan berbahaya sekali.

Betul Coa hujin berilmu sangat tinggi namun dia agak kewalahan juga menghadapi ancaman yang berat tersebut, apalagi setelah pikirannya bercabang, dari posisi diatas angin dengan cepat ia terdesak berada dibawah angin.

Setelah membanting Coa Cong gi, Cho Thian hua memutar kembali biji matanya memandang kesana-kemari, lalu dia bersiap sedia kembali untuk melancarkan serangan.

Goan cing taysu yang duduk bersila dalam barak, sepintas lalu ia tampak seperti lagi semedi, padahal semua kejadian dalam arena dapat diikuti olehnya dengan jelas.

Pendeta ini sadar bahwa ia tak bisa berpeluk tangan belaka, maka setelah menghela napas panjang, dia mengebaskan ujung bajunya dan menghadang jalan pergi Cho Thian hua.

Melihat kemunculan pendeta itu, Cho Thian hua melepaskan sebuah totokan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haashh.....haaahhh......haaahhh......lohu memang berniat untuk memaksa kau turun tangan!"

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki dua orang ini boleh dibilang jarang sekali bisa dijumpai didunia ini, begitu pertarungan ber kobar, daerah seluas lima kaki disekitar tempat itu segera diliputi oleh hawa tajam yang serasa menyayat badan, bagi orang yang berilmu agak cetek, untuk berdiri saja merasa sulit, tentu saja tiada seorangpun yang berani turut serta dalam pertarungan ini.

Dalam pada itu, Ko Thay telah bertarung melawan Yan Long, sedangkan ling Ji sau dengan sepasang gelang Jit gwat siang huan nya bertarung melawan Pi ci liang, Tam Si bin yang barusan terluka, sambil menahan rasa sakit, bertarung melawan Huyan Kiong, sisanya terlibat dalam suatu pertarungan massal.

Kok See-piau, Go Tang cuan, Bwe Su-yok, Un Yong ciu dan Seng To cu dari pihak Seng-sut-pay hanya menyaksikan jalannya pertarungan dari samping, mereka tidak melibatkan diri dalam pertarungan, sebaliknya dari pihak kaum lurus hampir seluruhnya sudah terjun ke arena.

ooooOoooo Dari barak sebelah tengah, manusia mulai menjadi gaduh, suara bisik-bisik mulai terdengar dari sana sini.......

Mendadak muncul beberapa puluh orang dari barak tersebut dan segera terjun pula ke dalam arena pertarungan membantu kaum lurus, cuma sayangnya ilmu silat mereka yang terhitung kelas satu tidak banyak jumlahnya, walau begitu situasi pertempuran menjadi lebih sengit dan ramai.

Tiba-tiba Go Tang cuan berbisik kepada Kok See-piau, Sinkun, menggunakan situasi sedang kalut tadi diam-diam Kiong Hau dan Gui Gi hong telah kabur dari situ, murid kita yang ditugaskan mengawasi mereka kehilangan jejaknya, sekarang mereka sedang menunggu dijatuhinya hukuman"

"Aaaah.....! Benarkah telah terjadi peristiwa ini?"

Seru Kok See-piau dengan wajah agak berubah.

"Padahal semua lembah sudah berada dibawah pengawasan kita"

Ucap Go Tang cuan lagi.

"sekalipun orang she Kiong dan si buta she Goi be rubah menjad semutpun sukar untuk menghilangkan jejaknya, kejadian ini cukup membuat hamba sendiripun merasa keheranan"

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan.

"Selain itu, sebagian besar manusia yang berkumpul dalam barak tengah lebih condong ke pihak keluarga Hoa, pada akhirnya mereka juga akan membantu pihak mereka, bagaimana kalau sekalian kita basmi saja dari muka bumi?"

"Jangan!"

Cegah Kok See-piau.

"kelompok manusiamanusia tersebut bukan merupakan suatu ancaman ynag serius, kalau dibunuh malahan justru akan mengundang ketidak puasan semua orang, apa lagi menaklukan mereka juga bukan urusan yang sulit, lebih baik dibiarkan saja. Tentang soal lenyapnya Kiong dan Gai berdua perintahkan para petugas untuk mencari sampai ketemu, suruh mereka membuat pahala untuk menebus dosa ini"

Kecerdasan orang ini memang luar biasa sekali, dia tahu kepergian Kiong Hau dan Gui Gi hong secara tiba-tiba ini pasti mengandung rencana busuk, hanya untuk sementara waktu ia tak bisa menduga rencana busuk apakah yang sedang mereka lakukan.

Maka setelah termenung sejenak pikirnya.

"Sekalipun mereka berdua punya komplotan juga tak mungkin bisa menangkan kekuatan, ku rasa nya tak mungkin mereka bisa melakukan banyak kerugian bagi pihakku. Justru pihak keluarga Hoa merupakan ancaman serius, kekuatan-kekuatan yang berpihak kepadanya ini musti dibasmi secepatnya sampai habis"

Setelah mengambil Keputusan, ia pun berseru dengan suara nyaring.

"Go hu kaucu pimpin murid kita baju ungu ke atas untuk terjun kearena..!"

"Terima perintah!"

Jawab Go Tang cuan sambi1 memberi hormat.

Dia lantas ulapkan tangannya memberi tanda, dengan memimpin enam tujuh puluh orang anggota baju ungu serta belasan orang kakek berbaju hitam, serentak mereka terjun kearena dan melibatkan diri dalam pertarungan.

Sejak semula para jago dari golongan lurus sudah Kepayahan menghadapi serbuan lawan, apalagi setelah menghadapi serangan massal kali ini, keadaan mereka bertambah runyam.

Bagi para jago yang berilmu tinggi, keadaan tersebut masih tidak terasa gawat tapi mereka yang terlibat langsung dalam pertarungan massal, segera keteter berat dan mundur berulang kali.

Menghadapi pertarungan kalut yang ramai dan kacau ini, Biau-nia Sam-sian tak dapat mempergunakan ilmu beracunnya, lama kelamaan hal mana menimbulkan rasa gusar dalam hati mereka.

Tiba-tiba Lan hoa siancu membentak nyaring.

"Kawan kawan sealiran harap mundur kebelakang, kalau tidak jangan salahkan jika aku akan pergunakan racun keji kami"

Para pendekar cukup mengerti akan tabiatnya yang tak tahu aturan, apa yang dikatakan bisa dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka begitu mendengar perintah tersebut, serentak para jago yang berada disekelilingnya pada bergeser dan menjauhi tempat itu.

Akan tetapi, para jago dari tiga perkumpulan besarpun bukan orang bodoh, mereka cukup kenal akan kelihayan racun mereka, kewaspadaannya segera dipertingkat, serentak merekapun menempel rapat-rapat disekitar para pendekar dan ikut bergerak menjauhi tempat itu, suasana menjadi kacau balau tak karuan.

Menyaksikan kejadian itu Lan hoa siancu mengernyitkan alis matanya, bagaimanapun juga ia harus bertindak pula dengan hati-hati, maka ketika dilihatnya ada dua orang anggota Hian-beng-kau secara kebetulan berada disampingnya, dengan cepat ia menyentilkan ujung jarinya sembari membentak.

"Roboh kamu!"

Kedua orang anggota Hian-beng-kau tersebut sedang enakenaknya bertempur ketika mendadak kepalanya menjadi pusing, gerakan tubuh mereka jadi lamban dan kontan saja pinggangnya terpapas kutung menjadi dua bagian, sedang yang lain lambungnya tertusuk telak hingga ususnya berserakan kemana-mana, keadaannya sungguh mengerikan sekali.

setiap orang yang belajar silat, mereka lebih suka mampus diujung senjata lawan daripada mati akibat keracunan, sebab keja dian seperti ini dianggapnya sebagai suatu kematian yang penasaran.

Para jago Hian-beng-kau, Kui im kau mau pun Mo kau yang melihat kejadian itu menjadi keder dan pecah nyali, mereka segera berusaha untuk menjauhi Biau nia sam siun daripada mendekati tiga perempuan yang cantik tapi amat beracun itu.

Diantara sekian banyak jago yang terlibat dalam pertempuran, para jago dari Hian-beng-kau paling banyak jumlahnya, Biau-nia Sam-sian pun lebih gampang mengincar seragam mereka, sebab itu jumlah korban yang tewas pun paling banyak.

Bila kawanan jago lainnya bertarung mati-matian dengan penuh resiko kematian maka hanya tiga orang perempuan dari suku Biau saja yang bisa bergerak kesana kemari dengan leluasa bahkan selalu duduk diatas angin.

Ketika Go Tang cuan terjun ke arena pertarungan, dari pihak kaum lurus sudah kehabisan jago lihay yang dapat menandingi ke pandaiannya lagi, dalam waktu singkat ia telah membunuh dua orang jago dari Tiam cong pay, untung saja seorang sute dari Tam Si bin segera maju membendung gerak majunya itupun dengan posisi yang amat berbahaya.

Kok See-piau memperhatikan sekejap situasi diarena pertarungan, kemudian sambil berpaling kearah Seng To cu serta Bwe Su-yok, teriaknya keras-keras.

"Jika kalian berdua tidak turun tangan lagi, hendak menunggu sampai kapan?"

Seng To cu termenung dan herpikir sejenak, ke mudian berjalan ketengah arena.

Tapi sebelum ia sempat melancarkan serangan, mendadak dari balik hutan sana muncul seorang laki-laki berbaju hitam yang kurus Kecil, sambil menyerbu tiba, bentak orang itu.

"Ciu Thian hau dari Hong san telah tiba, manusia she Seng! Berhenti kau!"

Sebetulnya Seng To cu merasa enggan untuk bertarung melawan kawanan jago kelas rendah maka kemunculan Ciu Thian hau justru amat berkenan dihatinya, sambil tertawa dingin ia berseru.

"Kebetulan sekali kedatanganmu!"

Secepat kilat ia menyongsongg datangnya Ciu Thian hau, ujung bajunya dikebaskan kemuka, segulung angin pukulan berhawa dingin yang merasuk tulang segera menyergap tiba tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Tampak Ciu Thian hau memutar goloknya, membentuk satu lingkaran, kemudian sambil membentak keras, goloknya dibacokkan ketengah udara.

"Sreet!"

Bagaikan terjadi retak-retak, angin pukulan dilancarkan Seng To cu itu segera membuyar dan lenyap tak berbekas, sedangkan golok tajam tadi melanjutkan sergapannya ke tubuh lawan.

Ilmu golok pembuyar angin pukulan yang dipergunakan ini betul-betul indah dan sempurna, tanpa terasa Seng To cu berseru memuji.

"Suatu jurus serangan yang bagus!"

Ketika dilihatnya serangan itu amat dahsyat, tubuhnya segera mengegos ke samping menghindarkan diri, lalu sebuah pukulan balasan segera dilancarkan.

Ciu Thian hau mendengus dingin, golok Han si to dalam genggamannya segera di kembangkan, kemudian langsung menyergap tempat kematian dipinggang dan iga Seng To cu.

Menghadapi ancaman tersebut, Seng To cu tertawa rendah, tiba-tiba tangan kanannya menusuk dan menjulur ke depan, dengan paksa ia berusaha merampas golok Han si to tersebut"

Ciu Thian hau segera berpikir didalam hati.

Golok Han si to milikku ini tajamnya luar biasa, rambutpun bisa terhembus putus, dengan dasar kemampuan apa Seng To cu si setan tua ini hendak merampas senjata dengan tangan kosong?"

Berpikir demikian, mendadak goloknya diayunkan ke bawah lebih jauh.

Seng To cu tertawa panjang dengan dinginnya, tangan kirinya diayun menotok jalan darah disikut lawan, sementara tangan kanannya meluncur ke bawah dan tiba-tiba menghantam pusar Ciu Thian hau.

Terkesiap Ciu Thian hau menghadapi ancaman tersebut, secara beruntun golok han si to nya diputar dengan jurus Kiu yu coan lay (sembilan irama pewaris sukma) dan Tok thian im (bayangan segenap langit), cahaya hitam segera menyelimuti seluruh angkasa, desingan angin tajam menderu deru.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Ciu Thian hau terhitung paling top diantara kaum pendekar, akan tetapi Seng To cu justru adalah kakak seperguruannya Tang Kwik-siu, bicara soal ilmu maka dia hanya berada setingkat dibawah Cho Thian hua, sebab itulah meski ia sudah menyerang berulang kali, toh tetap tak berhasil untuk merebut posisi diatas angin .......

Selama ini Bwe Su-yok berdiri dengan hati bimbang, sebaliknya Un Yong ciau yang melihat Haputule dengan pedang emasnya berhasil memaksa Sik Ban-cian keteter hebat, dengan hati terkejut segera membentak keras, tubuhnya menerjang maju ke muka, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan kearah lawan.

Haputule segera memutar pedangnya dengan cekatan, lalu makinya keras-keras.

"Anjing biadab, cucu kura kura, sungguh tak tahu malu!"

Bagaimanapun juga, Un Yong Ciau adalah seorang jago kawakan yang sudah tersohor semenjak puluhan tahun berselang, diam-diam merasa malu juga karena musti mengerubuti seorang dari anggota muda, karena sangsi gerakan tubuhnya menjadi lamban, tahu-tahu cahaya emas berkelebat lewat, pedang emas Haputule sudah menyerbu tiba dengan kecepatan luar biasa.

Meskipun ia putar badan dengan gugup tak untung jubahnya kena tersambar juga sehingga robek beberapa depa, untung ia masih sempat menghindar, coba kalau sedetik terlambat, niscaya pedang musuh sudah menembus ulu hatinya.

Sebagaimana diketahui, pedang emas milik Haputule adalah sebilah pedang mestika yang luar biasa sekali, gerakgeriknya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, kalau orang kurang waspada niscaya akan terkecoh oleh senjata itu.

Peluh dingin telah membasahi sekujur badan Un Yong ciau, dengan penuh kegusaran dia lantas berpekik nyaring, kemudian sekali lagi menubruk ke depan.

Tenaga dalam mereka berdua sebetulnya jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan kekuatan Haputule, dalam suatu kerja sama yang ketat, pada hakekatnya tiada harapan buat Haputule untuk meraih kemenangan.

Tapi pada dasarnya ia memang pemberani dan tak takut mati, keadaan tersebut justru semakin memancing kepongahannya, pedang emas segera diputar sedemikian rupa, jurus serangan yang digunakan rata-rata adalah jurus serangan beradu jiwa, ini semua membuat posisi mereka untuk sementara tetap dalam keadaan seimbang.

Un Yong ciau dan Sik Ban-cian yang harus menerima kenyataan tersebut, dari malunya mereka jadi marah, setelah bertukar pandangan sekejap, Sik Ban-cian dengan mengandalkan senjata penotok jalan darahnya segera menyerbu ke depan, sedangkan Un Yong ciau telah meloloskan pula ikat pinggangnya melancarkan serangan.

Ikut pinggang itu betul hanya ikat pinggang biasa, tapi dalam genggamannya benda itu justru berubah melebihi senjata mestika macam apapun ditambah lagi ilmu silatnya berasal dari aliran Hu wa im, ini semua membuat gerakan ikat pinggang nya menjadi dahsyat dan lebih berbahaya daripada seekor ular berbisa.

Dalam sistem penyerangan semacam ini tanpaknya tak sampai seratus gebrakan lagi, Haputule akan tewas dibawah kerubutan mereka berdua.

Pek Soh gi yang menjumpai keadaan tersebut menjadi gelisah sekali, kepada murid Tiam cong pay yang tinggal dalam barak katanya.

"Harap kalian berdua sudi menjaga diri Cu supek!"

Dua orang anggota Tim cong pay itu rata-rata berusia dua puluh tahunan, tiba-tiba salah seorang diantaranya berseru.

"Hujin!"

Pek Soh gi tertegun, sambil berpaling tanyanya.

"Ada urusan apa?"

"Boanpwe.......boanpwe ingin turut serta dalam pertarungan itu!"

Sahut sang pemuda tergagap. Pek Soh gi segera tersenyum, ujarnya.

"Aku tahu bahwa kalian tak betah untuk duduk sambil menonton terus, cuma perintah guru kalian tak boleh dibantah, apalagi meskipun turut dalam pertarungan juga tak akan bermanfaat banyak, keselamatan Cu locianpwe lebih penting dari segala-galanya, kalian harus tahu bahwa tanggung jawab kalian berdua pun tidak enteng"

Sambil berkata dia lantas berkelebat keluar dari barak dan langsung menghampiri Haputule yang sedang bertarung sengit melawan Un Yong ciau serta Sik Ban-cian itu.

Pergelangan tangan segera digetarkan, serentetan cahaya emas dengan cepat menyergapi punggung Un Yang ciau.

Dalam pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Un Yong ciau merasakan datannya desingan angin tajam dari belakang, tanpa berpikir panjang lagi ikat pinggangnya segera diayunkan ke belakang untuk merontokkan jarum emas tersebut.

Siapa tahu, ilmu yang digunakan Pek Soh gi adalab ilmu Hong hong ceng ciu jiu hoat (burung hong berebut sarang), ketika jarum pertama kena terpukul rontok, jarum kedua menyusul tiba, jarum kedua terpukul rontok, jarum berikutnya menyusul tiba, demikian kejadian itu berlangsung berulangulang sehingga dalam waktu singkat seluruh angkasa dipenuhi oleh kilatan cahaya emas yang menyilaukan mata.

"Kepandaiannya dalam permainan jarum emas memang luar biasa sekali, semenjak ia merobohkan delapan belas orang penyamun dari wilayah Lu tang dengan delapan belas batang jarum emas pada sepuluh tahun berselang, namanya semakin dikenal semua orang, setiap jago tahu kalau Cu sim siancu lihay dalam jarum emas, baik dalam ilmu menolong manusia, maupun dalam menaklukan lawan. Ketika Un Yong ciau mendengar suara desingan itu sangat aneh, ia tak berani menyambut dengan sambaran tangan, walaupun sapuan ikat pinggangnya berhasil juga merontokan jarum-jarum itu, tapi dengan demikian ia jadi tak punya kesempatan lagi untuk menyerang Ha putule. Menghadapi kenyataan ini, Heputule merasa semangatnya berkobar kembali, pedang emasnya digetarkan mcnciptakan beribu-ribu titik cahaya bintang, secara beruntun dengan tiga jurus serangan, ia paksa mundur Sik Ban-cian sejauh dua langkah kemudian sambil memutar badannya ia melepaskan kembali sebuah tusukan. Un Yong ciau segera menghentakkan ikat pinggangnya, dengan jurus Wu liong pa wi (naga hitam menggetarkan nadi) ia putar pergelangan tangan musuh. Mendadak desingan angin tajam menyambar lagi dari belakang, sebatang jarum emas lagi-lagi mengancam jalan darah pentingnya. Dengan gugup ia miringkan kepalanya ke samping untuk berkelit, tapi lantaran kurang berhati-hati, ikat pinggang ditangannya kena terpapas kutung sepanjang beberapa depa. Kenyataan ini sangat menggusarkan hatinya, ia membentak keras, kuningan ikat pinggangnya ditimpuk ke wajah Haputule, kemudian dengan tangan kosong ia maju menyerang. Sik Ban-cian memutar pula senjatanya sambil maju menyerang, teriaknya tiba-tiba.

"Lotoa, kau bereskan perempuan itu lebih dulu!"

Diam-diam Un Yong ciau berpikir.

"Setelah muncul kembali dalam dunia persilatan, kalau tak dapat mengharumkan nama Su kiat tak apalah, tapi kalau cuma beberapa orang angkatan muda pun tak sang gup berbuat apa-apa, jika hal ini sampai tersiar didalam Bu lim, akan ditaruh kemana wajah kami semua?"

Berpikir sampai disitu, mencorong sinar buas dari balik matanya, ia lantas meninggalkan Haputule dan langsung menubruk ke arah Pek soh gi.

"Haputule hendak menghalangi kepergiannya tapi tak sempat, buru-buru teriaknya.

"Toaci, cepat mundur!"

Pek Son gi sendiripun cukup menyadari bahwa ilmu silatnya masih jauh kalau dibandingkan Un Yong ciau, setelah berpikir sebentar tiba-tiba ia menyelinap ke balik kawanan jago lainnya.

Waktu itu seorang jago dari Kiu-im-kau sedang mengejar seorang jago dari Thian tay pay, ketika dilihatnya Pek Soh gi lari mendekat, pedangnya segera diayunkan menusuk ke punggungnya.

Pek Soh gi miringkan badan menghindarkan diri dari ancaman, kelima jari tangannya segera di ayunkan menyambar pergelangan tangan musuh.

Seketika itu juga jago dari Kiu-im-kau tersebut merasakan pergelangan tangan kanannya menjadi kaku, tahu-tahu pedangnya sudah dirampas oleh Pek Soh gi.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Pek Soh gi masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan para jago lihay lainnya, namun ia terhitung pula seorang jago yang tangguh, apalagi ilmu Lan hoa hud hiat jie-nya sangat lihay, untuk menghadapi anggota Kiu-im-kau tersebut sudah berang tentu jauh berlebihan.

Setelah berhasil merampas pedangnya, Pek Soh gi tidak melanjutkan serangan untuk melukai lawan tapi dengan pedang rampasan itu ditimpuknya Un Yong ciau yang sedang menubruk datang itu, kemudian badannya menyelinap kesamping dan menyusup kembali dibalik kawanan jago lainnya.

Menggunakan kesempatan dikala jago dari Kiu-im-kau itu masih tertegun, jago dan Thian tay pay itu segera mengayunkan senjatanya, tak ampun jago dari Kiu-im-kau tersebut segera roboh binasa dengan kepala terpisah dari badan.

Ketika itu, Hoa Ngo sedang bertarung sengit melawan Toan bok See liang, empat lima ratus jurus sudah lewat namun menang kalah masih belum ketahuan, maka ketika dilihatnya Un Yong ciau mengejar Pek Soh gi ia tak kuasa menahan diri lagi, dengan gusar bentaknya.

"Hoa Ngo berada disini setan tua! Kau berani bertindak kurang ajar..........?"

Telapak tangannya diayunkan dan segera membacok tubuh Un Yong ciau Menghadapi datangnya serangan tersebut, Un Yong ciau tak mengalah, dengan cepat telapak tangan kanannya dikibaskan pula untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaam......!"

Suatu benturan keras terjadi, akibatnya Un Yong ciau mundur selangkah, sedang kan Hoa Ngo dengan hawa darah bergolak keras secara beruntun mundur sejauh tiga langkah.

"Sungguh lihay setan tua ini!"

Pikirnya dihati.

Melihat ada kesempatan bagus, tanpa menimbulkan sedikit suara pun, Toan bok See liang mengayunkan senjata pitnya untuk menotok jalan darah Cing sut biat dan Ci tiong hiat dipunggung Hoa Ngo.

Sebagaimana diketahui Hoa Ngo adalah seorang manusia yang binal dengan tipu muslihat yang amat banyak, tentu saja ia tidak membiarkan dirinya tersergap musuh, kakinya bergeser kesamping, tahu-tahu sudah lepas dari cengkeraman musuh, lain telapak tangannya langsung disodok ke iga Toan bok See liang.

Tiba tiba terdengar Go Tang cuan membentak keras dengan sebuah pukulan dahsyat, ia berhasil membinasakan adik seperguruannya Tam Si bin, kemudian sorot matanya beralih ke sekitar sana, dengan suatu gerakan cepat ia menubruk ke arah Hoa Ngo.

Saat itu Coa hujin, Swan Bun sian sedang bertarung melawan dua orang sute dari Li Bu liang, setelah bertempur sekian lama, a khirnya ia berhasil juga merebut kembali posisinya diatas angin.

Ketika menyaksikan keadaan gawat mengancam Hoa Ngo, ia bergerak cepat melepaskan diri dari kerubutan kedua orang itu, kemudian telapak tangannya diayun ke depan, melancarkan serangan dahsyat ke arah Go Tang cuan, sedangkan tangan kirinya dikebaskan menotok jalan darah kematian seorang anggota Mo kau.

Go Tang cuan tidak menyangka dalam pertarungan seru tersebut, Coa hujin masih sempat meloloskan diri untuk menyerangnya, dalam keadaan gugup buru-buru dia mengegos ke kiri.

Kedua orang sutenya Li Bu liang tertawa seram karena gusar, sambil mergejar ke depan, pukulan dahsyat dilancarkan.

Pada saat yang bersamaan, Ci soat cu dari Hian-beng-kau berhasil pula menebas kutung lengan kiri salah seorang adik seperguruan Tam Si bin yang lain, darah segar segera mengucur keluar dengan derasnya.....

Meski pun ia telah terluka parah, tapi dalam situasi semacam ini terpaksa ia harus mempertahankan diri lebih jauh, meski bahayanya tentu saja kian lama kian bertambah besar.

Selama pertarungan sengit ini berkobar, hanya Kok Seepiau serta Bwe Su-yok dua orang yang tidak turut dalam pertempuran itu, mereka hanya mengikuti jalannya pertarungan dari tepi arena.

Diri sekian banyak pertarungan yang sedang berlangsung, boleh dibilang pertarungan antara Cho Thian hua melawan Goan cing taysu berlangsung paling seru, daerah sekitar beberapa kaki disekeliling tempat itu boleh dibilang diliputi deruan angin pukulan yang amat tajam.

Sedemikian cepatnya pertempuran itu berlangsung, yang tampak hanya bayangan manusia yang berputar-putar, tak seorangpun dapat melihat jelas jurus serangan apakah yang dipergunakan kedua orang itu, meski demikian agaknya tenaga dalam yang dimiliki kedua belah pihak seperti tiada batasnya, sejak awal sampai akhir pukulan-pu kulan yang dilontarkan selalu berkekuatan dahsyat, dilihat dari keadaan tersebut, tampaknya walaupun bertarung sehari semalam menang kalah sukar diketahui.

Yan Long bersenjata golok bergigi seberat empat puluh kati ditangan kirinya dan ikat pinggang serat emas ditangan kanannya, sa tu keras satu lembek ternyata bisa dikombinasikan secara sempurna dan rapat, kehebatannya tentu saja tak usah dibilang lagi .

Ko Thay yang bertarung melawannya hanya mengandalkan satu jurus Ku im sim ciang belaka, sekalipun keadaannya bahaya tapi menang kalahpun sukar ditentukan.

Bong Pay yang bertarung melawan Phoa Siu berlangsung seimbang.

Coa Wi-wi yang melawan dua bersaudara Lenghou pun berjalan seru, siapapun jangan harap bisa mencari kemenangan dalam waktu singkat, Cu Im taysu yang melawan Leng lam it khi pun berlangsung seru, hanya Tiang heng Tokoh yang bertarung melawan Khong Im mulai menunjukkan tanda-tanda kalah.

Diam-diam Kok See-piau memeriksa situasi pertarungan, ketika dilihatnya pihak kaum lurus mulai terdesak hebat, diapun berpikir.

"Pada akhirnya musuh-musuhku berhasil juga dibasmi dari muka bumi, betul Goan cing hwesio lihay tapi sekarang tak usah di kuatirkan lagi, seandainya Kiu-im-kau sampai bekerja sama dengan Mo kau pun, kekuatan mereka tak akan sanggup melawan kekuatan perkumpulanku, Hehehe....sejak kini dunia akan menjadi milik Hian-beng-kau... Hoa Thian-hong wahai Hoa Thian-hong, akan kulihat apakah keluarga Hoa kalian masih bisa berkutik lagi? Akan kusuruh kau tahu bahwa jerih payah aku orang she Kok selama dua puluh tahun ini bukan perjuangan yang sia-sia belaka....."

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa sekulum senyuman bangga yang menyeramkan tersungging diujung bibirnya.

Baru saja dia akan menurunkan perintah, untuk membasmi kaum pendekar dari muka bumi.

Mendadak dari atas tebing sebelah timur berkumandang suara bentakan yang amat keras.

"Tahan!"

Suara itu keras bagaikan guntur membelah bumi, setiap orang yang mendengar bentakan itu segera merasakan telinganya menjadi sakit, meski demikian setiap orang dapat mengenalii suara tersebut sebagai suara Hoa In-liong.

Kok See-piau merasa amat terperanjat mendengar bentakan itu, dengan cepat dia berpaling, ketika dilihatnya Hoa In-liong berdiri angker diatas puncak tebing, sambil tertawa dingin ia lantas berseru.

"Hoa Yang, kau sebentar datang sebentar pergi, sebetulnya permainan setan apa yang sedang kau persiapkan? Jika sudah bosan hi dup kenapa tidak segera turun kemari, biar punsinkun menggantar nyawamu pulang ke nirwana?"

Hoa In-liong tertawa tergelak dengan nada penuh ejekan dan sindiran, ejeknya.

"Kok See-piau, yang sudah bosan hidup adalah kau sendiri tahukah kau apa yang sedang dilakukan olah Jin Hian serta Kiong Hau sekalian?....."

Baru selesai ia berkata tiba-tiba dari tebing sebelah barat telah berkumandang suara pekikkan nyaring. Paras muka Hoa In-liong segera berubah hebat dengan cemas serunya.

"Jin Hian sudah mulai menyulut obat peledak nya, kenapa kalian masih saja,......"

Belum habis perkataan itu diucapkan mendadak dan arah mulut lembah berkumandang suatu ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh permukaan bumi, menyusul kemudian dari empat penjuru bukit itu lamat-lamat berkumandang suara gemuruh yang sangat keras.

Dalam waktu singkat dunia serasa bergoncang keras, batu karang berbamburan jatuh kebawah, bumi ikut bergetar keras, tanah merekah, bukit bergoyang keras dan batu besar beterbangan bagai hujan badai, dalam waktu singkat seluruh lembah sudah tersumbat oleh batu karang, pasir dan debu beterbangan.

Jeritan-jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul dari dalam lembah, sebagian besar terluka oleh timpaan batu cadas yang terbang dari atas.

Banyak diantara mereka yang berilmu silat lemah jatuh bertumbangan karena cemas, sedangkan mereka yang bernyali kecil mulai berteriak-teriak seperti orang kalap.

"Habis sudah riwayat kita....! Hayo cepat melarikan diri dari sini...."

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, dalam kaget dan gugupnya semua orang yang berada dalam lembah lari tunggang langgang berusaha menyelamatkan diri, tapi tiada pintu yang bisa digunakan untuk kabur, hal mana persis seperti pemandangan tibanya hari kiamat.....

Dengan terjadinya peristiwa ini, secara otomatis pertarungan yang sedang berlangsung antara pihak lurus dan sesaatpun ikut berhenti ditengah jalan, masing-masing pihak segera menyingkir dari situ dan berusaha menghindarkan diri dari kejatuhan batu cadas.

Dari sekian banyak orang, Kok See-piau boleh dibilang paling terkejut bercampur gusar, sambi mengebaskan ujung baju kirinya untuk mementalkan sebuah batu cadas, teriaknya keras-keras.

"Jin Hian!"

Dari atas tebing sebelah barat segera berkumandang suara gelak tertawa yang menyeramkan menyusul kemudian munculnya sekelompok manusia berbaju ringkas.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki kawanan jago disekitar situ, dengan cepat mereka dapat melihat jelas tampang-tampang dari mereka yang muncul diatas tebing itu.

Sebagai pemimpinnya adalah seorang lelaki kurus kering berbaju hitam yang berlengan kanan kutung sebatas bahu, mukanya suram tapi matanya tajam, dalam sekilas pandangan saja semua orang segera mengenali orang itu sebagai Jin Hian, bekas ketua Hong im hwe yang bercokol di utara pada dua puluh tahun berselang.

Kecuali rambutnya lebih panjang dari wajahnya lebih seram, sebagian bentuk tubuhnya tidak mengalami perubahan.

Disampingnya berdiri seorang kakek yang bertampang jelek, dia adalah salah seorang di antara empat tonggak penyangga perkumpulan Hong im hwee yang lebih dikenal sebagai Liong bun ji sat (manusia bengis kedua dari liong bun) Sim Ciu adanya, sementara Kiong Hiu dan Gui Gi hong sekalian berdiri disamping kiri kanannya.

Selain daripada itu, tampak pula manusia-manusia lain yang panjangnya mencapai puluhan li memenuhi atas puncak tebing tersebut, ini semua membuat suasana bertambah seram rasanya.

Jin Hian memandang sekejap suasana disekelilingnya, lalu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...haaahh.....haaahhhh,....Kok See-piau, apa lagi yang bisa kau katakan sekarang?"

"Jin Hian!"

Hardik Kok See pisu dengan marah.

"semenjak kau menggabungkan diri dengan perkumpulan kami dan mempunyai jabatan Tianglo, pun-sinkun toh bersikap sangat baik kepadamu, mengapa kau malah berhianat kepada kami semua dengan perbuatan terkutukmu itu?"

Apabila kau bersedia menyesali perbuaatanmu itu, pun sinkun bersedia pula untuk mengampuni selembar jiwamu"

Sementara itu, guguran batu cadas telah berhenti, meski masih ada dua tiga buah hancuran batu yang masih berterbangan, namun suasa na mulai pulih kembali dalam ketenangan.

Mereka yang berangasan, kini mulai berkaok-kaok sambil mencaci maki tiada hentinya, sedangkan kawanan jago lihay dari pelbagai kelompok hanya menyabarkan diri sambil menantikan perubahan selanjutnya.

Terdengar Jin Hian tertawa tergelak kembali dengan seramnya.

Suara tertawanya dingin dan memilukan hati, begitu keras suaranya tergelak sehingga dalam waktu singkat seluruh angkasa seolah-olah sudah digetarkan oleh gelak tertawanya itu.

"Kok See-piau!"

Terdengar Hoa In-liong berteriak secara tiba-tiba.

"kau telah berbuat untuk membunuh diri sendiri, apakah sampai sekarang belum juga sadar?"

Jin Hian berhenti pula tertawa, katanya dingin.

"Bocah keparat she Kok, tahukah kau apa yang selalu kumurungkan dan kupikirkan selama dua puluh tahun terakhir ini?"

Paras muka Kok See-piau telah berubah menjadi hijau membesi mimpipun ia tak mengira kalau obat peledak yang dipersiapkan olehnya sebagai senjata terakhir apabila tidak berhasil mendapat keuntungan apa-apa dalam pertarungan yang bakal berlangsung, kini menjadi senjata makan tuan.

Padahal ia telah berencana, seandainya gagal dengan siasatnya yang pertama, maka mereka akan cepat mengundurkan diri dari situ kemudian ledakkan bahan peledak tersebut untuk menyumbat jalan mundur semua orang dan menjebak semua jago iihay dari seluruh kolong langit dalam lembah tersebut.

Nyatanya sekarang, bukan saja siasat kejinya itu mengalami kegagalan total, yang lebih menggemaskan lagi adalah ternyata ren cana rapinya itu justru dipergunakan orang lain untuk menjebak mereka sendiri, ini baru tragis namanya.

Sebagai mana diketahui, sebelum segala sesuatunya dilaksanakan, ia telah mengatur semua persiapannya dengan matang, lembah yang dipilih sebagai tempat pertemuanpun merupakan sebuah lembah yang empat penjuru dikelilingi tebing curam.

Pada puncak tebing meski tumbuh beberapa batang pahon siong, itupun tak bisa membantu banyak bagi kawanan jago yang terkurung didasar lembah untuk melarikan diri, dengan demikian sekalipun seseorang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna juga tak mungkin bisa memanjat dinding tebing itu.

Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pada puncak tebing ia persiapkan pula batu dan kayu serta para ahli senjata rahasia, dengan demikian makin tipislah harapan semua jago untuk kabur dari situ.

Diam-diam ia berpikir kembali.

"Lorong rahasia yang kuhubungkan langsung dengan luar lembah pasti telah diledakkan pula oleh bajingan keparat she Jin tersebut, aaii! itu berarti orang-orangku yang ditugaskan disekitar puncak tebingpun tiada harapan bisa hidup lebih jauh....."

Pelbagai ingatan sudah melintas dalam benaknya, meski ia cerdik, toh untuk sesaat tak ditemukan cara terbaik untuk meloloskan diri dari kurungan tersebut, saking gemas dan jengkelnya dia hanya bisa menggertak giginya keras-keras, kalau bisa dia ingin mencincang tubuh Jin Hian menjadi berkeping keping.

Terdengar Hoa In-liong berkata kembali sambil tertawa.

"Jin lo tongkeh, apa sih yang kau pikirkan selama dua puluh tahun terakhir ini? Apa salahnya untuk diutarakan kepada kami semua?"

Jin Hian mengalihkan sinar matanya dan melirik sekejap ke wajah Hoa In-liong dengan dingin kemudian tegurnya.

"Kaukah yang bernama Hoa Yang, putra Hoa Thian-hong?"

Hoa In-liong segera tertawa tergelak.

"Haaah.......haaahn......haahhh......sungguh tak kusangka Jin lo tongkeh kenal juga dengan nama kecilku!"

"Kau telah apakan anak buah lohu?"

"Aaai.........! Tak usah kuatir lo tongkeh, aku hanya menotok jalan darah mereka saja"

Dengan gemas Jin Hian mendengus dingin, lain berkata.

"Sebetulnya lohu akan menunggu sampai kelompok-kelompok manusia bodoh itu saling bertarung sampai mampus semua, baru menyulut obat peledak ini, sayang kau telah memberi peringatan lebih dulu sehingga mau tak mau rencnaku harus diajukan lebih awal. Kalau kulihat dari cara kerjamu yang cekatan kuakui bahwa otakmu memang amat cerdas, lohu merasa amat kagum kepadamu"

Hoa In-liong segera menjura, sahutnya.

"Terima kasih banyak atas pujian lo tongkeh, aku merasa malu untuk menerima pujian tersebut"

Jin Hian mendengus gusar.

"Hmmm! Beruntung kau bisa lolos dari bencana ini, apa pula artinya kau berkata demikian?"

"Orang bilang, disaat manusia menghadapi musibah, berhasil atau tidak meloloskan diri dari bencana, semuanya telah ditakdirkan oleh Thian, memangnya kau bisa menentukan nasib mereka semua?"

Jin Hian segera tertawa dingin.

"Tentu saja!"

Sahutnya.

"heeehh......heeehh...... heeehh........... jangankan baru mereka, bapakmu Hoa Thianhong pun sama saja akan mampus pula ditanganku!"

Hoa In-liong tertawa hambar, ejeknya.

"Takdir sukar ditebak manusia, Lo tongkeh jangan terlampau cepat untuk merasa bangga lebih dulu"

Coa Wi-wi yang melihat Hoa In Hong hanya melulu bercakap-cakap dengan Jin Hian tanpa mcmperdulikan nasib sobat dan rekan-rekannya yang terkurung dalam lembah, hatinya mulai gelisah karena tak tahan, ia berteriak keras.

"Jiko!"

Hoa In-liong melongok ke bawah, kemudian jawabannya keras-keras.

"Harap sabar sebentar adik Wi, aku segera akan menolong kalian untuk menyelelamatkan diri, para cianpwe, para sobat, harap ka lianpun bersabar sebentar lagi"

"Hmm! Bocah keparat kau tak usah bermimpi disiang hari bolong!"

Jengek Jin Hian sinis. Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.

"Bocah muda dari keluarga Hoa, tahukah kau selama banyak tahun ini apa yang lohu pikirkan siang dan malam?"

Hoa In-liong mengalihkan sinar matanya ke arah orang itu kemudian sambil tersenyum menjawab.

"Aku bersedia mendengar semua perkataan mu!"

Jin Hian tertawa seram katanya.

"Selama banyak tahun ini, Lohu selalu berpikir bagaimana caranya untuk membantai kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai pendekar sejati satu persatu, aku selalu berpikir bagaimana pula caranya unuk mencincang tubuh Hek Siau-thian, Kiu-imkaucu dan Tang Kwik-siu sekalian menjadi berkeping-keping, bagaimana pula caranya mencincang tubuh Ku Ing lng dan menyiksanya sampai mampus secara mengenaskan..."

Secara beruntun sampai tiga kali dia mengucapkan kata "bagaimana caranya"

Nadanya yang menyeramkan semakin mendatangkan perasaan ber gidik bagi siapapun yang mendengarnya, seketika itu juga seluruh tebing Ui gou peng serasa diliputi suasana pembunuhan yang menyeramkan.

Sekalipun Tiang heng Tokoh sudah cukup banyak makan asam garam, tak urung bergetar juga perasaannya setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Putra Jin Hian mampus diujung belati Pui Che-giok atas perintahku, bisa dimaklumi betapa dendamnya ia kepadaku lantaran kehilangan satusatunya putra kesayangan-nya itu, tak heran kalau selama banyak tahun dia selalu putar otak dan berusaha menyusun rencana untuk mencelakai orang lain"

Tiba-tiba muncul seorang iman beralis mata putih dari balik tebing, sambil memberi hormat kepada Jin Hian, serunya keras-keras.

"Jin sicu, pinto Thian Ik-cu memberi hormat untukmu!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Jin Hian, diawasinya wajah Thian Ik-cu sekejap kemudian katanya dengan dingin".

"Oooh, kiranya tootiang sudah takluk kepada keluarga Hoa!"

"Jin sicu"

Ujar Thian Ik-cu lembut.

"bagaimanapun juga kita adalah manusia yang sudah berusia hampir seabad, sekalipun kita tidak teringat oleh budi kebaikan Hoa tayhiap dalam peristiwa penggalian harta karun dalam istana Kiu ci kiong, sepantasnya kalau kita membayangkan bahwa hidup kita didunia ini sudah tak lama lagi, dalam sisa waktu yang tak seberapa ini sepantasnya bila kita kekang kembali napsu mencari kemenangan yang berkobar dihati, toh akhirnya setelah masuk peti mati dan dikubur dalam liang lahat, segala sesuatunya juga kembali ke nol besar! Apa gunanya menerbitkan kembali badai pembunuhan yang tak ada artinya.. ..?"

Mendengar perkataan itu, Jin Hian tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehh......heehhh.....heehh......berita menarik! Berita aneh! Tong thian kaucu pintar pula berkhotbah untuk menjual welas kasihnya kepada umat manusia!"

Thian Ik-cu tersenyum, dengan wajah serius ia berkata lagi.

"Apa yang pinto ucapkan adalah kata-kata yang muncul dari hati yang sejujurnya, harap sicu bersedia memikirkan tiga kali sebelum bertindak lebih lanjut"

"Kentut busuk!"

Bentak Jin Hian dingin, putra tunggal lohu sudah mati, apa pula yang musti kutakuti? Hukum karma? Balas dendam? Hmm........bedebah semua! "Suhu........!"

Tiba-tiba terdengar seseorang dengan suara merdu.

Tampak dari belakang Hoa In-liong muncul seorang gadis berbaju hitam yang berparas muka cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Menjumpai kemunculan gadis itu, Jin Hian menjadi tertegun, kemudian serunya, Leng jin, walaupun lohu telah mewariskan ilmu silat kepadamu, aku bukan terhitung gurumu, kalau kau menang lebih suka bergabung dengan pihak lawan, mulai detik ini kita akan anggap asing terhadap masing-masing pihak"

Mengucur keluar titik-titik air mata dari kelopak mata Si Leng jin, ujarnya dengan sedih.

"Suhu, bagaimanapun juga kau pernah mewariskan ilmu silat kepadaku, aku merasa berhutang budi kepadamu, bila kau bersedia membatalkan perbuatanmu dan menyingkir jauh dari keramaian dunia untuk hidup mengasingkan diri, tecu bersedia pula untuk menemani kau sepanjang masa"

Ucapan tersebut jauh diluar dugaan Jin Hian, untuk sesaat lamanya ia merasa terharu sekali, hatinya tergerak dan lama sekali mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Jit set Sim Ciu merasakan gelagat yang kurang beres dari pemimpinnya, tiba-tiba ia menegur dengan dingin.

"Cong tongkeh!"

Sekujur tubuh Jin Hian bergetar keras. Setelah mendengar panggilan itu, akhirnya sambil menggerak gigi serunya.

"Tidak bisa! Hmm, jika aku orang she Jin tidak berhasil mengobrak abrik seluruh dunia sebelum ajalku tiba, aku tidak rela untuk mampus!"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba ujarnya lagi dengan suara yang lembut.

"Anak Jin, bila kau masih menganggap diriku sebagai gurumu, menyeberanglah ke mari, kujamin hidupmu sepanjang masa akan makmur dan bahagia, akupun bisa melatih ilmu silatmu hingga mencapai tingkatan yang paling tinggi"

Si Leng jin menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil menahan isak tangis.

"Terima kasih banyak atas budi kebaikan suhu, sayang bakat tecu jelek dan tidak cocok untuk melatih ilmu silat yang tinggi, aku lebih lebih tidak mengharapkan nama dan kekayaan terpaksa tecu hanya akan mengecewakan harapan suhu belaka"

"Lantas apa yang kau inginkan?"

Tukas Jin Hian dengan suara dingin. Si Leng jin menangis tersedu-sedu, sahutnya"

"Apabila kau tak mau berbaling, maaf tecu.......tecu terpaksa harus mengundurkan diri dari sini"

Begitu selesai berkata, ia lantas memutar tubuhnya dan berlalu dari situ sambil menutupi mukanya dengan kedua belah tangan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik tebing sana.

Jin Hian si jagoan dari Liok lim ini tertunduk dengan wajah yang amat sedih, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan, dia hanya bergumam seorang diri.

"Yaa, begitupun baik juga!"

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan cepat dia berseru lantang,

Jilid 16

"Leng jin, kau telah berusaha dengan sepenuh, jika gurumu tak mau menurut, hal ini merupakan suatu kejadian yang apa boleh buat, kau tak usah bersedih hati. Disekitar itu masih banyak jago tersembunyi, kau jangan terlalu jauh meninggalkan tempat ini!"

Selesai berpesan kepada Si Leng jin, dia berpaling kembali dan bersiap sedia untuk menolong mereka yang terkurung dalam lembah, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, pikirnya kemudian.

"Inilah kesempatan yang paling baik untuk menyelidiki soal pembunuhan atas diri suma giok ya, yaa, aku tak boleh lewatkan peluang ini dengan begitu saja"

Berpikir demikian, dengan suata lantang dia lantas berseru.

"Jin Hian, Kok See-piau, Seng To cu!"

Sinar matanya dialihkan ke wajah Bwe Su-yok, ketika sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata Bwe Suyok yang jeli, kedua belah pihak sama-sama merasakan hatinya amat pedih.

Dengan cepat Hoa In-liong menenangkan kembali hatinya, kemudian melanjutkan.

"Masih ada Bwe kaucu, mumpung hari ini semua jago dari pelbagai daerah berkumpul semua disini, aku ingin minta bertanggungan jawab kepada kalian semua atas kasus pembunuhan terhadap diri Suma siok ya ku!"

Kok See-piau tertawa tergelak sesudah mendengar perkataan itu, ujarnya.

"Hoa Yang, melihat cara kerjamu yang selalu berusaha menyelidiki dan mencari tahu tentang peristiwa pembunuhan tersebut, baiklah pun-sinkun memenuhi harapanmu itu, hari ini akan kuberikan keterangan yang sejelas-jelasnya kepadamu"

Bahwasanya Hoa In-liong sampai dikirim turun gunung, tak lain tujuannya adalah untuk menyelidiki soal pembunuhan atas diri Suma Tiang cing, dan kini meski situasi telah berubah, persoalan itupun sudah tidak penting lagi, namun pemuda itu merasa berkewajiban untuk mencari tahu latar belakang dari duduk persoalan yang sebenarnya.

Tak heran kalau hatinya segera berdebar keras setelah mengetahui bahwa hasil penyelidikannya segera akan diketahui, Seraya menjura dia lantas berseru.

"Aku mohon bisa mengetahui keterangan yang sebenarnya!"

Kok Sue piau tertawa dingin, katanya.

"Adapun yang menjadi sebab kematian Suma Tiang cing tak lain adalah ia mati sebagai korban ulah keluarga Hoa kalian, tentu saja disamping itu dikarenakan tindak tanduknya yang keji dan tak kenal ampun dimasa lalu, sedangkan kematian Kho Gi hun adalah disebabkan ia berhianat kepada Kiu-im-kau, hal ini menyangkut soal urusan pribadi perkumpulan yang bersangkutan"

Suma Tiang cing dikenal sebagai Kiu mia kiam khek (jago pedang bernyawa sembilan), dia merupakan manusia paling kejam dari kelompok kaum lurus, ilmu silatnya tinggi dan jarang ada yang bisa menandinginya.

Berita tentang kematiannya telah menjadi berita topik dalam dunia persilatan waktu itu, maka ketika latar belakang peristiwa pembunuhan ini segera akan terungkap, semua sobat-sobatnya maupun lawan-lawannya ikut merasa tegang untuk mendengarkan keterangan itu.

Untuk sesaat lamanya, suasana disekitar sana menjadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, Ciu Thian hau adalah sahabat paling akrab dengan Suma Thiang cing, ia tak kuasa mengendalikan emosinya lagi, dengan suara keras teriaknya.

"Siapakah otak dari pembunuhan ini?"

"Tentu saja aku, pun sinkun!""

Jawab Kok See-piau angkuh.

"Kho Gi hun adalah penghianat dari perkumpulan kami"

Ujar Bwe Su-yok dingin "sedang kami pun hanya bertindak untuk membersihkan perguruan dari manusia laknat, tindakan kami tidak terhitung suatu pembunuhan, tapi bila ingin mengetahui siapa otaknya, tentu saja orang itu adalah pun kaucu sendiri"

Jin Hian tertawa-tawa, ia berkata pula.

"Perkumpulan kami mempunyai dendam paling mendalam dengan Suma Tiang cing, bila ada yang ingin membalaskan dendam bagi kematiannya, silahkan menuntut langsung kepada lohu"

Seng To cu tertawa tergelak, katanya kemudian.

"Ciu lo kui (setan tua ciu), orang yang melaksanakan pembunuhan itu selain Bwe kaucu dan partai kami, Kok See-piau serta Jin Hoa pun terlibat secara langsung, maka jika kau punya kepandaian tak ada salahnya untuk membunuh kami semua untuk membalaskan dendam bagi kematian Suma Tiang cing. Beberapa orang ini semuanya adalah pemimpin-pemimpin dari suatu partai besar, di hari-hari biasa jarang sekali mereka mengatur siasat untuk mencelakai orang, tapi sekarang, dihadapan para enghiong dari seluruh kolong langit, ternyata siapapun tak mau mengalah, masing-masing telah mengakui bertanggung jawab dalam peristiwa itu. Ciu Thian hau mendengus dingin, sinar tajam memancarkan keluar dari matanya, tapi ia tetap tidak berkutik dari tempat semula. Dengan alis mata berkenyit, Cu Im Taysu berkata.

"Omintohud, putri Suma tayhiap bertekad hendak membalaskan dendam bagi kematian ayahnya, tapi peristiwa ini menyangkut orang yang terlalu banyak, jika pembunuh yang sebenarnya tak berhasil ditemukan, ini pasti akan menimbulkan kembali suatu badai pembunuhan besar besaran......"

"Hmm..."suatu sikap welas kasih yang mengagumkan!"

Ejek Kok See-piau sinis.

"lo siansu, dengan hati Buddhamu itu kau memang tak malu menjadi murid kaum beragama. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Semua peristiwa yang terjadi selama ini sejak awal sampai akhir boleh dibilang merupakan hasil ciptaan pun-sinkun, jika putri Suma Tiang cing punya kepandaian, silahkan saja membunuh diri lohu, Sebab itu berarti separuh dendam sakit hatinya sudah terbalas"

"Siapa yang turun tangan?"

Bentak Ciu Thian hau.

"Dari pibak kami yang turun tangan adalah Toan bok thamcu, Beng thamcu serta murid-muridku, siapakah mereka rasanya pun-sinkun tak usah menjelaskan lagi"

Sahut Kok Seepiau hambar.

"Walaupun ia berkata tak akan banyak bicara dalam kenyataan siapapun tak ingin menyembunyikan diri dari pertanggungan jawab ini, meski mereka tahu bahwa pembalasan dendam dari pihak keluarga Hoa sukar ditahan. Sebab kalau tidak mengaku sekarang, andaikata di kemudian hari diketahui orang, hal mana akan sangat mempengaruhi nama baiknya, sekalipun kau adalah seorang penjahat yang paling keji pun, akan tak punya muka untuk melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan. Dengan suara nyaring Hoa In-liong lantas berseru.

"Jia Hian dari pihak kalian tentunya tak mungkin tiada orang yang terlibat bukan?"

Sim Ciu tertawa seram.

"Heeehh.....heeehh..........heeehh......bocahkeparat, pertanyaan mu itu memang tepat bila diajukan kepadaku, sebab Suma tiang cing memang mampus ditangan lohu, haaahh...........haaahh............ ...........haaahh..........dalam kenyataannya Kiu mia kiam khek juga cuma bernyawa selembar!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ciu Thian hau seteleh mendengar perkataan itu, dia melotot sekejap ke arah Sim Ciu, kemudian bentaknya keras-keras.

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

Sim Ciau ikut tertawa seram, sahutnya.

"Ciu loji, bagaimanapun juga kalian semua sudah menjadi katak dalam tempurung, tak akan hidup lebih lama lagi didunia ini, jika tidak percaya, silahkan kau bertanya sendiri kepada Suma Thiang cing setibanya di akhirat nanti!"

Hoa In-liong menarik napas panjang dan menekan pergolakan emosi dalam hatinya, serunya kemudian.

"Masih ada siapa lagi? Sim Ciu, kaupun terhitung seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, mengapa tidak mengaku saja ber terus terang.........?"

Gua Gi hong tertawa dingin, katanya.

"Bocah keparat, kau tak usah banyak cerewet, Gui loya mu juga mempunyai andil, mau apa kau?"

Seng Shi sam dari Kiu-im-kau yang berada didasar lembah segera berseru pula dengan gusar.

"Bocah busuk, kau tak usah bertanya terus menerus, Seng kongcu mu terhitung pula punya andil!"

"Sudah semenjak dulu pun-tiamcu merasa tak leluasa menyaksikan tingkah laku Suma Tiang cing, membunuhnya merupakan perbuatan yang paling menggembirakan bagiku"

Sambung Le Kui it pula sambil tertawa tergelak.

"Sudah tiada orang lain?"

Teriak Hoa In-liong lantang. Huan Tong agak sangsi sejenak, lalu katanya.

"Pun tongcu juga termasuk ikut andil dalam peristiwa itu"

Lenghou Kiong agak ragu sejenak, ia seperti mau bicara tapi segera membatalkan kembali niatnya, Seng To cu yang melihat sikap tersebut dengan gusar.

"Ngo sute!"

Lenghou Kioang merasakan sekujur tubuhnya bergetar keras, akhirnya dia berkata juga "Tak ada salahnya kalau mencatat pula na ma lohu!"

Hoa In-liong segera tertawa terbahak bahak.

"Haaahh.....haahh.......haaahh....... kalau cuma kalian beberapa orang saja yang turun tangan, meski Suma siok ya suami istri bukan tandingan kalian, untuk menerjang keluar dari kepungan masih ada harapan, tak mungkin mereka akan tewas dalam semalam tanpa menimbulkan sedikit suara pun, aku yakin dibalik kesemuanya itu pasti ada sebab-sebab lainnya"

Sim Ciu Heng Liong dan Le Kiu-it sekalian adalah manusiamanusia bengis yang berhati keji, ketika mendengar perkataan itu, ternyata mereka hanya membungkam dalam seribu bahasa.

Jin Huan tertawa dingin, katanya kemudian.

"Bagaimanapun juga Suma Tiang cing sudah mampus lama, kalau hendak membalas dendam, hayolah turun tangan sekarang juga, kau orang she Hoa juga tak perlu cerewet lagi"

Hoa In-liong tertawa, katanya kembali.

"Padahal sekalipun tidak dikatakan juga tahu, Yu si tentu merupakan mata-mata yang sengaja diselunduptkan kedalam keluarga Suma, sebagai orang dalam, sudah barang tentu ia lebih mudah untuk turun tangan mencelakai Suma siok ya ku suami istri, apalagi setelah bersekongkol dengan orang luar, tak heran kalau Suma Siok ya ku su ami istri terbunuh dalam semalam. Kemudian rupanya kalian hendak menghilangkan jejak, maka disuruhnya kucing hitam milik Yu si meninggalkan bekas gigitan ditenggorokan mereka dan meninggalkan hiolo kumala hijau untuk memfitnah Hiok teng hujin. Hanya ada satu hal yang masih tidak kupahami, apa sebabnya kalian membiarkan putri Suma tayhiap melepaskan diri dari bencana pembunuhan itu?"

Sim Ciu terkekeh-kekeh dengan seramnya.

"Hmm. Kalau dilihat tampa ngmu sih cerdik, tak tahunya goblok seperti kerbau, sekalipun istrinya Suma setan mampus, dibiarkan hidup juga bukan suatu ancaman buat kami apalagi kalau suruh dia yang mengabarkan berita kematian ini kepada keluarga Hoa, hal ini merupakan suatu tindakan yang tepat, tentu saja kami biarkan ia hidup terus, bocah goblok, sudah mengerti sekarang?"

Ketika berbicara sampai disini, meski seluk beluk selanjutnya belum terungkap, namun Hoa Ngo sudah tak sabar menahan diri lagi, dengan gusar ia membentak.

"Toan bok setan tua, rupanya kau salah seorang pembunuh terkutuk itu, hari ini jika aku Hoa Ngo tidak berhasil menjagal dirimu, biar kutulis namaku dengan terbalik"

Dengan girangnya ia menerjang kemuka, kemudian dengan jurus Ku im sin ciang ia hantam musuhnya. Toan bok See liang mengengos kesamping dan melayang dua depa dari posisi semula, kemudian bentaknya.

"Orang she Hoa kau jangan jumawa dulu, pun thamcu akan suruh kau mampus tanpa tempat kubur!"

Begitu Hoa Ngo turun tangan, Ciu Thian hau tak dapat mengendalikan diri lagi, sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu kemudian diiringi suara pekikan nyaring yang membetot suk ma, golok Han si to-nya disertai desingan angin tajam langsung membacok ketubuh Lenghau Kiong dengan kecepatan luar biasa.

Melihat sinar mata Ciu Thian hou yang mengkilat penuh napsu membunuh, pun Lenghou Kiong sudah merasa terkejut, apalagi menghadapi tubrukannya yang dahsyat, ia merasa hatinya makin tercekat, sudah barang tentu ia tak berani menyambut dengan kekerasan.

Tanpa memperdulikan nama baiknya lagi, ia putar badan dan segera melarikan diri kebelakang.

Semisalnya dia putar badan untuk melakukan perlawanan, meskipun bukan tandingan Ciu Thian hau pun, jangan harap bisa menangkan dirinya dalam empat lima gebrakan, tapi dengan sikapnya tersebut maka sama artinya dengan ia mencari kematian buat diri sendiri.

"Anjing bangsat, kau bendak kabur kemana?"

Bentak Ciu Thian hau dengan suara lantang.

Ditengah bentakan tersebut terdengar Lenghou Kiong menjerit ngeri, darah segar berhamburan ke mana-mana, tubuhnya tahu-tahu sudah terbacok golok Ciu Thian hau sehingga kutung menjadi dua bagian, kematiannya sungguh mengerikan.

Walaupun dalam pertarungan berdarah yang berlanggung tadi, terdapat pula cara kematian seperti ini, tapi tadi tiada orang yang memperhatikan maka tidak sampai terjadi apa-apa berbeda dengan keadaan sekarang, peristiwa tersebut dengan cepat mendatangkan perasaan ngeri dan seram bagi siapapun.

Seng To cu tidak menyangka kalau Lenghou kiong begitu tak becus sehingga sejurus serangan dari Ciu Thian hau pun tak sanggup dilayani, mencorong sinar gusar dari balik matanya setetah me yaksikan peristiwa itu.

"Ciu Thian hau!"

Bentaknya dengan wajah menyeringai.

"lohu akan suruh kau mampus dalam keadaan yang serupa!"

Secepat kilat ia meluncur kemuka sambil melancarkan tubrukan.

Ciu Thian hau bertekad untuk membunuh musuhnya dari tingkat ilmu silat yang terendah lebih dulu, begitu selesai membereskan Lenghou Kiong ia lantas memutar badannya menerjang kearah Huan Tong.

Bayangan manusia berkelebat lewat.

Un Yong ciau dengan kecepatan luar biasa menerjang kemuka, lalu sebuah pukulan dilancarakan menghantam pergelangan tangan lawan.

Huan Tong tidak ambil diam saja, sambil membentak, kepalanya juga diayunkan ke depan.

Kebetulan Le Kiu-it berada disampingnya, dengan cepat pula ia maju menyerang.

"Criiing....!"

Sebuah totokkan dilancarkan kearah iga kanan Ciu thian hau.

Serangan gabungan dari ketiga orang ini sungguh dahsyat dan mengerikan, melihat itu Ciu Thian hau sadar bahwa ia bukan tandingan lawan, dengan cepat tubuhnya mencelat keudara, berputar membentuk satu lingkaran busur lalu melepaskan diri dari kepungan keempat orang tersebut.

"Ciu lo kui, mau kabur kemana kau?"

Bentak Seng To cu.

Ditengah bentakan itu, sepasang ujung bajunya dikebaskan ke depan, lalu tubuhnya mencelat ke udara dan menyusul kearah mana perginya Ciu Thian hau.

Terdengar bentakan nyaring menggelegar berulang kali, bayangan manusia saling menyambar, para jago dari kaum lurus maupun sesat yang sebetulnya sudah menghentikan pertarungan, kini mulai terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang jauh lebih seru.

Jin Hian yang berada di puncak tebing segera tertawa dingin setelah menyaksikan peristiwa itu, sebab itulah keadaan yang di harapkan olehnya.

"Aku tak boleh menunda lagi......"pikir Hoa In-liong kemudian. Dengan cepat ia mengulapkan tangannya sambil berseru.

"Turunkan tali!"

Tiba-tiba dari atas tebing sebelah timur muncul puluhan sosok bayangan manusia, di antaranya terdapat dua bersaudara dari keluarga Kiong, Cia In sekalian jago-jago perkumpulan Cian li kau, Thian Ik-cu dan murid kepercayaannya Huan Tong, Cia Yu cong serta sekawanan jago persilatan lainnya.

Dari sekelompok manusia tersebut tampak dua orang menggotong segulung tali temali yang beratnya mencapai ratusan kati, begitu tiba di tepi tebing tali-tali tersebut segera diturunkan ke bawah.

Ternyata gerak-gerik mereka tenang dan mantap, tak sedikitpun tampak sikap gugup atan tergopoh-gopoh.

Bila dilihat pula tali yang panjangnya ratusan kaki itu, bisa diketahui juga bahwa persediaan itu sudah disiapkan semenjak semula, itu berarti Ho In liong telah merencanakan segala sesuatunya dengan sempurna sebelum bertindak.

Sorak sorai yang gegap gempita segera berkumandang dari dasar lembah itu, kecuali Ciu Thian hau sekalian beberapa orang yang sedang bertarung sengit, yang lain buru-buru kabur ke arah dinding sebelah timur.

Mendadak terdengar Kok See-piau membentak keras.

"Semua anggota Hian-beng-kau tetap berdiri ditempat masing-masing!"

Hian-beng-kau memang terkenal sebagai suatu perkumpulan dengan peraturan yang ketat, sekalipun berada dalam keadaan seperti ini, tak seorangpun berani membangkang perintahnya, maka mendengar bentak an itu serentak mereka berhenti, kemudian dengan sinar mata yang keheranan mereka awasi kaucunya.

Bwe Su-yok merasakan hatinya tergerak, pikirnya kemudian.

"Tebing Ui gou peng merupakan markas besar Hian-bengkau, sudah barang tentu Kok See-piau jauh lebih mengerti tentang keadaan disini dari pada orang lain"

Karena berpikir demikian, ia lantas menghimpun tenaga dalamnya sambil membentak keras.

"Setiap anggota Kiu-imkau dilarang sembarangan bergerak sebelum mendapat perintah dari pun-kaucu!"

Karena teriakan dari kedua orang pemimpin ini, timbul kecurigaan dalam hati setiap orang, maka serta merta mereka pun ikut berhenti semua.

Coa hujin segera menarik tangan Coa Wi-wi, sedang Bong pay pun mencegah Coa Cong gi, hanya sebagian kecil saja diantara mereka yang melanjutkan gerakannya lari ke depan.

Tampak paras muka Jin Hian berubah hebat Kemudiaa sambil tertawa seram serunya.

"Bocah muda dari keluarga Hoa, kau terlalu pandang rendah diri lohu. Setelah berhenti sejenak, bentaknya.

"Pasukan pemanah Lui hwe siam (panah api geledek) bersiap sedia, bidik tebing seberang!"

Kiranya diatas kedua puncak tebing tersebut, berdiri puluhan jago yang masing-masing menyandang busur dan anak panah, bentuk panah itu istimewa sekali, ujungnya tidak tajam seperti panah biasa melainkan berbentuk bulat telur seperti terbuat dari besi dan berwarna hitam pekat.

Hoa In-liong memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, walaupun jarak antara tebing timur dengan tebing barat selisih beberapa li, namun ia dapat menyaksikan semua keadaan tersebut dengan jelas, diam-diam hatinya merasa terperanjat.

Kepada Thian Ik-cu bisiknya.

"Tootiang harap kau mencarikan akal untuk ledakkan pinggiran telaga disebelah sisi tebing tersebut."

"Apakah Jia Hian mempergunakan senjata api?"

Tanya Thian Ik-cu sambil mengerutkan dahinya."

"Benar!"

Hoa In-liong mengangguk.

"Ciang siok ya pernah membicarakan soal panah Lui hwe cien itu denganku"

OoooOoooo Luas lembah ini cukup lebar ujar Thian Ik-cu, para jago pun memiliki gerakan tubuh yang enteng dan lincah, ketajaman matanya melebihi orang lain, ditambah pula jumlah Lui hwe ciam tidak banyak, aku rasa tak mungkin bisa meledakkan banyak orang.

Aku pikir Jin Hian pasti ada persiapan!

kata Hoa In-liong dengan paras muka serius.

Thian Ik-cu tidak bertanya lagi, dia memandang sekejap ke bawah tebing kemudian memutar badannya dan berlalu dari situ.

Terdengar Jin Hian tertawa terbahak-bahak lalu berseru.

"Hoa Yang, coba kau lihat kelihayan lohu"

Tangannya lantas diulapkan, dan bentaknya.

"Lepaskan panah!"

Kawanan jago pemanah yang menarik gendewa masingmasing itu segera mengarahkan anak panahnya ke arah tebing sebelah timur begitu Jin Hian menurunkan perintah, anak panah bagaikan hujan gerimis segera berhamburan ke mana-mana.

Meskipun jarak antara tebing timur dan barat selisihnya cukup jauh, panah Lui hwe ciam pun tidak mudah mencapai sasaran, namun puluhan orang pemanah tersebut semuanya merupakan kekuatan inti dari Jin Hian, tentu saja kepandaiannya luar biasa dan tenaga bidikannya kuat, dalam waktu singkat seluruh lembah sudah berubah menjadi bulanbulanan anak panah mereka.

"Blaam......! Blaam......."suara ledakan menggelegar tiada hentinya, bumi mulai bergetar kembali, perasaan setiap orangpun ikut menjadi tegang dan tercekat. Diantara kilatan panah berapi yang meledak disana sini, pepohonan bertumbangan, pasir dan batu beterbangan memenuhi angkasa, bah kan menyusul kemudian terjadi kembali ledakan dahsyat yang memekikan telinga, jilatan angin yang kuat memancar hingga mencapai mencapai ketinggian tujuh delapan kaki lebih. Tak bisa disangkal lagi, dalam hutan tersebut telah ditanam sejumlah bahan peledak yang sangat banyak, ketika terkena panah api geledek itu maka meledaklah obat peledak tersebut. Kobaran api yang membubung keangkasa sungguh amat dahsyat dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, padahal sejak Hoa In-liong memerintahkan untuk menurunkan tali hingga kini hanya beberapa saat saja, baru saja tali itu mencapai ditengah jalan, hutan yang lebat itu sudah berubah menjadi lautan api. Dengan terjadinya perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini, mereka yang berlarian menuju ketepi tebing itu tak sempat lagi untuk menyelamatkan diri, ditengah jeritan ngeri yang menyatkan hati, jilatan api dahsyat menggulung tubuh mereka dan seketika itu juga lenyaplan tubuh-tubuh mereka. Sebenarnya Hoa In-liong berniat mengorbankan beberapa puluh utas talinya untuk meayelamatkau orang itu lebih dahulu, sayang tak sempat, akhirnya dia hanya bisa menghela napas dan menitahkan untuk berhenti menurunkan tali, dari pada benda-benda itu terbakar dengan percuma. Agaknya Jin Hian belum puas dengan hasil karyanya itu, sekali lagi ia memberi tanda sambil berseru.

"Separuh mengarah lapangan batu, separuh mengarah istana!"

Sreet!

Sreet!

Desingan angin tajam menderu-deru, puluhan batang panah Lui hwe cian tersebut serentak ditujukan kearah kawanan jago yang berada dilapangan serta istana Kiu ci piat kiong.

Dari sekian ribu jago persilatan yang berkumpul disitu, ada sembilan puluh persen yang berkumpul ditengah lapangan, tentu saja mereka enggan untuk menyerah dengan begitu saja.

Goan cing taysu dan Cho Thian hua merupakan, tokohtokoh persilatan yaag bertenaga dalam paling sempurna, ketika dilihatnya panah api geledek itu tertuju semua kearah mereka, serentak kedua orang itu melompat keudara, kemudian telapak tangan masing-masing melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah depan, tujuh delapan batang panah Lui hwe ciam yang sedang meluncur tiba segera terguling ke udara dan terjatuh ditengah hutan pohon siong sana.

Para jago lainnya juga sama-sama bertindak, mereka melompat ke udara seraya melepaskan pukulan-pukulan dahsyat untuk menghantam panah itu dari sana, dengan demikian hanya beberapa batang saja yang terjatuh ditengah lapangan.

Ada pula diantaranya meski berhasil menangkap panah itu, tapi lantaran panah Lui bwe ciam itu sendiri sudah cukup berat, lagipula dibidikkan dari ketinggian ribuan depa, ini membuat bobotnya puluhan kali lipat lebih besar, karena tak tahan, akhirnya mereka ikut terjungkal pula ke atas tanah.

Ledakan-ledakan dahsyat kembali menggelegar diangkasa, diantara percikan bunga api, asap tebal yang disertai cahaya hitam yang beribu-ribu jalur banyaknya memancar ke empat penjuru.

Jeritan ngeri berkumandang dari sana-sini korban api menjilat setiap benda yang dijumpainya, mereka yang berada dipaling depan kontan terlempar dengan tubuh hancur berantakan sedang yang terluka tergeletak sambil merintih kesakitan, pemandangan waktu itu sungguh mengerikan sekali.......

Sementara itu, para jago yang berhasil merangkap panahpanah itupun merasa kuatir untuk memegang terus benda yang mudah meledak itu, tanpa diperintah, masing-masing segera melemparkan benda itu kedalam hutan.

Dengan demikian, secara beruntun terjadi ledakan demi ledakan dalam hutan itu, suara gerumuh yang memekikkan telinga membuat bumi mulai bergoncang kembali, api menjilat kemana-mana.

Pada saat yang bersamaan, istana Kiu ci piat kiong yang indah dan megahpun ikut terjilat si jago api dan mulai terbakar dengan hebatnya.

Dalam waktu singkat, beranda dan bangunan berlotengpun tertelan dibalik lautan api.

Suara peletuk-peletuk yang nyaring menggema dari sekeliling hutan, suara rintihan dan jerit kesakitan menambah seramnya suasana.

Kobaran api yang membara telah menjulang tinggi ke angkasa, asap tebal membuat napas setiap orang terasa sesak, kecuali beberapa orang jago lihay yang berhasil menyelamatkan dirinya, hampir semua orang lain menjadi gugup gelagapan dengan sendirinya.

Kini semua hutan dan bangunan telah terjilat oleh kobaran api, dalam keadaan demikian jika Jin Hian mengarahkan lagi anak buahnya untuk membidik lapangan tengah, maka jangan harap semua jago bisa lolos dari situ dalam keadaan selamat.

Hoa In-liong yang berdiri diatas puncak tebing mengerutkan dahinya rapat-rapat, walau pun ia mengambil keputusan untuk meledak kan tepi telaga untuk mengalirkan air telaga guna memadamkan api, tapi besarnya kobaran api dalam lembah tersebut sungguh jauh diluar dugaannya.

Diam-diam ia berpikir.

"Tidak sedikit waktu yang dibutuhkan untuk meledakkan pinggiran tepi telaga itu, kalau dilihat dari situasi saat ini......."

Mendadak terdengar Ci wi Siancu berteriak keras.

"Liong ji!"

Hoa In-liong tertegun, kemudian sahutnya.

"Sam kokoh ada urusan apa?"

"Jika kami telah mati nanti, aku rasa Jin Hian pun tak akan lolos dari ujung pedang ayahmu, cuma aku minta kau yang mem binasakan dirinya!"

"Jangan kuatir Sam kokoh"

Tukas Hoa In-liong.

"keponakan pasti akan berhasil untuk menyelamatkan kalian semua"

Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, dengan gusar Ci wi siancu berseru kembali"

"Kau jangan menukas dulu, ingat! Kau harus memenggal batok kepala Jin Hian untuk bersembahyang didepan pusara kami, selain itu kau pun selanjutnya harus membasmi kaum laknat dari muka bumi, jangan seperti ayahmu, haram! Seandainya pada waktu itu dia bunuh habis semua cucu iblis ini, darimana mungkin bisa terjadi bencana seperti hari ini?"

"Yaa, kau harus mewakili kami untuk mencaki maki ayahmu"

Sambung Li Hoa siancu.

"Liong ji, sudah kau dengar belum?"

Sementara itu suara hiruk pikuk hampir menyelimuti seluruh lembah tersebut, walaupun Hoa In-liong telah memusatkan perhatian-nya untuk mendengarkan pembicaraan dari Biau-nia Sam-sian, sedangkan Biau-nia Sam-sian pun telah mengerahkan segenap tenaga nya untuk menindas suaranya hiruk pikuk itu, namun suara mereka yang melengking semakin membuat kacaunya suasana.

Tiba-tiba terdengar seseorang menjerit keras.

"Sobat-sobat semua, tanpa sebab kita sudah terjerumus dalam suasana seperti ini, tahukah kalian kenapa hal ini bisa terjadi? "Kenapa?"

Seseorang bertanya dengan suara lantang.

"Coba bayangkan sendiri, seandainya Hian-beng-kau tidak ribut mengadakan upacara peresmian, tak mungkin kita bisa terjebak dalam suasana seperti ini?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, para jago merasakan api amarah berkobar dalam dadanya, suara teriakan keras dengan cepat berkumandang dari sana sini.

"Benar! Hian-beng-kau adalah biang keladinya semua peristiwa ini.....!"

"Sebelum mati kita harus membunuh semua orang Hianbeng-kau sampai mampus, kita harus membalas dendam atas sakit hati ini"

"Kok See-piau manusia laknat, dia harus dicinsang sampai berkeping-keping!"

Oleh karena semua orang tak bisa malampiaskan rasa dendamnya kepada Jin Hian, apalagi kematian sudah berada diambang pintu, maka rasa gusar dan dendam mereka segera dilampiaskan kepada para anggota dari perkumpulan Hianbeng-kau.

Untuk sesaat suasana menjadi gempar, para jago Hianbeng-kau menjadi sasaran kemarahan orang banyak bahkan mereka diserbu dan diserang secara membabi buta.

Diantara para penyerang itu ternyata termasuk juga para jago dari Kiu-im-kau maupun Seng-sut-pay.

Tiga orang jago persilatan yang berilmu biasa, dalam gusarnya ternyata tak tahu diri dan maju menyerang Kok Seepiau.

Untung saja para jago kelas satu tidak terlalu menghiraukan masalah itu dan memusatkan perhatian mereka untuk meloloskan diri, maka dengan begitu pihak Hian-bengkau pun masih dapat memper-tahankan diri dari kemusnahan.

Diam-diam Coa Wi-wi berpikir."

"Yaa, betul juga, kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk membasmi Hiau beng kau dari muka bumi?"

Dengan cepat ia menggerakkan tubuhnya siap menubruk kearah Kok See-piau.

Tiba-tiba lengannya terasa kencang, ternyata ia sudah dicengkeram oleh ibunya.

Dengan alis mata berkenyit dan senyuman paksa tersungging diujung bibirnya, Coa Hujin berkata.

"Anak Wi, kita dari keluarga Coa tak usah melibatkan diri dalam pertarungan masalah seperti ini, coba kau lihat para jago lainnya, siapakah yang ikut dalam pertarungan tersebut?"

"Tidak ibu!"

Seru Coa Wi-wi dengan gelisah.

"jika kesempatan baik ini kita sia-siakan, kemungkinan besar Kok See-piau akan melarikan diri dari sini"

Coa hujin segera tersenyum katanya.

"Anak bodoh, kecuali malaikat atau dewa, siapapun jangan harap bisa lolos dari sini, aai.......!Kalau aku yang mati masih mendingan, kau dan anak Gi tidak sepantas nya"

Setelah menghela napas panjang, tiba-tiha ia menutup mulutnya rapat-rapat. Coa Wi-wi segera gelengkan kepalanya berulang kali, katanya ngotot.

"Tidak ibu, aku percaya jiko pasti berhasil menolong kita semua, tapi musuh-musuh itupun pasti akan ikut kabur juga"

Coa hujin tertawa getir.

"Oooh....apakah ia sanggup menolong kita?"

Keluhnya.

"Pasti dapat!"

Coa hujin mencoba untuk mengawasi keadaan disekitar sana, kobaran api telah menjilat seluruh penjuru lembah tersebut, bunyi peletukan yang keras menambah seramnya susana.

Jilatan api tersebut telah merambat dengan cepatnya ke depan, tampaknya sejenak kemudian seluruh tanah lapang itu akan tertelan oleh lautan api.

Suhu udara yang panas, asap yang tebal dan napas yang sesak membuat keadaan benar-benar menjadi amat kritis, untung saja semua orang yang berkurung adalah jago-jago silat yang bertubuh tangguh coba kalau tidak begitu, pasti banyak korban yang telah berjatuhan.

Ia mencoba mendongakkan kembali matanya, ia saksikan Hoa In-liong dergan sorot matanya yang tajam seakan-akan sedang memperhatikan pula ke arah mereka, diam-diam ia lantas berpikir.

"Kalau dilihat keadaan tersebut, sekalipun Jin Hian tidak manfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan, kami semua juga bakal mati terbakar, sekalipun jiko mu ada diatas lembah, apa pula yang dapat ia lakukan?"

Akan tetapi ketika dilihatnya gadis itu menunjukkan rasa percaya dan yakin yang tebal, ia merasa tak tega untuk menghilangkan rasa gembiranya maka sambil tertawa ia bertanya lirih.

"Anak wi, apakah kau suka dengan jiko mu?"

Paras muka Coa Wi-wi segera berubah menjadi merah jengah, serunya dengan wajah tersipu-sipu.

"Ibu........"

Menyaksikan wajah putrinya yang tersipu-sipu itu Coa hujin kembali berpikir.

"Aaaaaai..........tampaknya putriku telah dewasa, sifat kekanak-kanakannya tempo hari, kini sudah lenyap tak berbekas"

Dalam hati dia berpikir demikian, dimulut katanya sambil tertawa.

"Anak Wi, ketika empek Hoa mu kembali ke gunung, ia menyingguug pula soal dirimu kepada kedua orang hujinnya, bocah kau tebak apa yang ia katakan? Apa pula yang di katakan dua orang hujin dari keluarga Hoa itu kepadaku?"

"Apa yang mereka katakan?"

Tanya Coa Wi-wi sambil membelalakkan matanya lebar-lebar. Coa hujin sengaja pura-pura berpikir, kemudian jawabnya.

"Lebih baik tak usah ibu katakan, sebab setelah diucapkan nanti kau pasti akan membuat ibu menggodamu lagi"

"Ibu, katakanlah!"

Rengek Coa Wi-wi dengan manja.

"Baik, baik, akan ibu katakan"

Jawab Hoa hujin kemudian sambil tertawa.

"empek Hoa mu tentu saja memuji-muji dirimu, dan kedua orang hujinnya?"

Sengaja ia berhenti sebentar, ketika dilihatnya gadis itu memandang dengan wajah cemas-cemas harap, diapun melanjutkan.

"Kedua orang hujin dari keluarga Hoa itu sambil tertawa lantas menuntut seseorang menantu kecil kepada ibu untuk mereka semua!"

Paras muka Coa Wi-wi kontan saja berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, sambil menyandarkan kepalanya dalam pelukan ibunya, ia membisik manja.

"Ibu nakal, ibu menggoda aku.......ibu nakal, ibu suka amat menggodaku......"

"Sementara itu, kobaran api telah merajalela sampai dimana-mana, jilatan api yang ganas membakar benda apapun yang dijumpainya, suasana digelanggang kacau balau tak karuan, benturan senjata jeritan ngeri menggetarkan hampir seluruh angkasa, tapi ibu dan anak dua orang itu bersikap seakan-akan tidak melihatnya, gelak tertawa dan pembicaraan berlangsung amat santai, seolah-olah hal tersebut berlangsung didalam rumah sendiri saja. Ketika Kok See-piau menyaksikan semua persiapan yang diaturnya dengan susah payah untuk menjebak segenap enghiong dari kolong langit ternyata terbalik malah digunakan oleh musuh, rasa gusar yang berkobar dalam hatinya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Namun bagaimanapun juga memang tak malu di sebut sebagai seorang tokoh persilatan yang berbakat, sekalipun menghadapi situasi yang buruk, pikirannya tidak menjadi kalut, dia tahu bila dalam keadaan demikian membunuh musuh maka hal ini akan memancing kemarahan khalayak umum yang akan mengakibatkan suatu keadaan yang fatal. Maka dergan cepat ia mengebaskan ujung bajunya untuk menotok jalan darah ketiga orang itu kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berteriak keras-keras, Hoa Yang, apakah kau ingin menolong rekan-rekanmu?"

"Kok See-piau"

Jawab Hoa In-liong hambar.

"apa yang ingin kau katakan, aku orang she Hoa telah menyuruh orang untuk melakukan-nya, lebih baik jangan banyak bicara dari pada memberi peringatan dan mempertingkat kewaspadaan musuh!"

Mendengar perkataan itu, Kok See-piau segera berpikir.

"Bocah ini benar-benar amat pintar!"

Kecerdikan orang itu tiba-tiba menimbulkan kobaran rasa iri yang amat besar dalam hati kecilnya, sekuat tenaga ia berusaha me ngendalikan perasaan tersebut, kemudian berkata.

"Kau begitu cerdik dan cekatan, ini membuat pun sinkun merasa amat berlega hati, cuma persiapanmu yang terburu-buru tentu kurang begitu cermat, perhatikanlah dibawah ada sebuah batu hijau ditepi sebatang pohon bwe tua"

Walaupun tanya jawab diantara mereka berdua dilakukan dengan penuh teka-teki dan tanda tanya, sehingga tak seberapa orang yang memahaminya namun dalam menghadapi mara bahaya, perasaan mereka memang lebih tajam daripada biasanya, ketika bisa dirasakan bahwa jalan keluar sudah terbentang maka sebagian besar jago yang sedang bertarung segera ikut pula terhenti, Diam-diam Hoa In-liong berpikir.

"Kok See-piau bisa berpikir panjang dengann mempersiapkan bahan peledak ditepi telaga lebih dulu, membuktikan kalau dia memang berotak luar biasa. Siapa tahu sekali salah selangkah, kekalahan yang dihadapinya jadi makin runyam, itulah yang disebut perhitungan manusia tak bisa menangkan perhitungan Thian, asal.........! Ingin mencelakai orang, dirinya yang tercelaka lebih dulu, inilah yang dinamakan senjata makan tuan"

Sementara ia masih berpikir, tiba-tiba Cia In menghampirinya sambil berbisik.

"Sim Ciu sekalian yang berada ditebing seberang, tiba-tiba lenyap tak berbekas"

Berita ini sangat mengejutkan Hoa In-liong, ketika ia mendongakkan kepalanya tampaklah kecuali Jin Hian yang masih melongok keadaan sambil tiada hentinya memperhatikan gerak geriknya, Sim Ciu, Kiong Hau serta Gui Gi hong tiba-tiba telah lenyap tak berbekas.

Tapi setelah dipikir sejenak, ia lantas tahu apa yang terjadi, betul juga ketika ia mencoba untuk memasang telinga, maka terdengarlah suara bentakan dan bentrokan senjata telah berkumandang dari tujuh delapan li dari situ, tapi berhubung suara dari lembah amat membisingkan telinga maka tanpa tenaga dalam yang sempurna memang sulit untuk menangkap suara itu.

Dalam kejutnya ia tak berani berayal lagi, buru-buru serunya.

"Perhatikan musuh baik-baik!"

Sekali melompat dengan kecepatan luar biasa ia meluncur ke arah selatan.

Lembab bukit di Ui gou peng ini luasnya mencapai beberapa li, pada sisi timur sampai kebarat, sedangkan dari selatan sampai ke utara panjangnya sampai mencapai belasan li, dimana Hoa In-liong berada sekarang terletak dibagian tengah dari dinding selat yang agak datar permukaannya, luas permukaan itu mencapai puluhan kaki sehingga membentuk sebuah bukit kecil yang menonjol keluar.

Diatas puncak bukit terdapat sebuah telaga kecil, sekalipun tidak terhitung besar, itupun mencapai setengah dari puncak bukit itu, karena letaknya berdekatan dengan lembah maka dinding sebelah situ terhitung paling tipis.

Ditepi telaga merupakan bukit-bukit karang yang terjal dan naik turun tidak rata, sulit bagi orang bisa untuk melalui tempat tersebut, sekalipun bisa melampaui tempat itu, paling tidak satu jam lebih baru akan menyelesaikan perjalanan tersebut.

Namun bagi Hoa In-liong yang memiliki ilmu meringankan tubuh amat sempurna, dalam sekejap mata ia sudah berhasil tiba ditempat tujuan.

Terlihatlah ditepi pantai telaga tersebut, Thian Ik-cu dengan pedang terhumus sedang bertempur sengit melawan Sim Ciu, sedangkan murid-muridnya dengan membentuk barisan pedang Han lei kiam tin sekuat tenaga membendung gempuran-gempuran dari Kiong Hau serta beberapa orang kakek, sedangkan seorang tokoh setengah umur yang berwajah bersih dengan senjata hud tim ditangan kiri dan kaitan ditangan kanan, sekuat tenaga melangsungkan pertarungan seru mela wan Gui Gi hong.

Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong menjadi tertegun, pikirnya.

"Ternyata ia juga sudah datang, kenapa tidak nampak Hong giok?"

Jalan tanah perbukitan tersebut menyempit pada bagian situ, jaraknya dengan dinding bukit seberang mencapai beberapa kaki lebar nya waktu itu dinding bukit telah merekah sebagian sehingga air telaga memancur turun kebawah sayang terlalu kecil air yang mengalir turun sehingga tiada gunanya untuk mengatasi semua keadaan disana.

Disekitar dinding tersebut tersebarlah bungkusanbungkusan yang berisi bubuk yang berwarna hitam, jelas bubuk-bubuk hitam tersebut adalah bahan peledak.

Sim Ciu gembong iblis itu sungguh lihay sekali, ilmu Tay im sim jiau andalannya telah dikerahkan sehingga jari tangannya beberapa inci menjadi lebih panjang besarnya juga satu kali lipat dari keadaan semula, setiap kali serangan dilancarkan maka muncullah li ma gulung hawa putih yang menyelimuti angkasa.

Thian Ik-cu dengan menganyunkan pedangnya sedang memberikan perlawanan dengn sepenuh tenaga, tapi ia terdesak terus menerus sehingga harus mundur kebelakang.

Pertarungan antara Thian Siok-bi melawan Gui Gi hong berlangsung agak seimbang, sebaliknya Bu tim tojin sekalian belasan orang yang sedang bertarung melawan Kiong Hau beserta enam tujuh orang kakek itu berada rada posisi yang amat gawat.

Bu tim tojin sekalian sesungguhnya terhitung jago-jago kelas satu dari dunia persilatan, dibawah barisan Kan lei kiam tin yang tangguh, belasan bilah pedang tersebut berkelebat silih berganti memancarkan sinar yang amat menyilaukan mata, cahaya pedang yang tajam, hawa serangan yang dahsyat serta perubahan barisan pedang yang luar biasa membuat Hoa In-liong benar-benar merasakan kejadian tersebut jauh diluar dugaan.

Namun ilmu silat yang dimiliki Kiong Hau sekalian bertujuh pun lebih hebat lagi, di bawah serangan-serangan yang demikian gencar, ternyata mereka sanggup mempertahankan diri tanpa kelihatan kepayahan atau menunjukkan pertanda kalau ngotot.

Ditinjau dari keadaan tersebut, dapatlah diketahui bahwa andaikata Bu tim tootiang tidak tertarung secara berkelompok, maka jika sampai berkobar pertarungan satu lawan satu tak sampai seperminum teh kemudian mereka sudah akan mati semua.

Dalam pertarungan sengit itu, tiba-tiba seorang kakek yang bersenjata toya melancarkan serangan dengan jurus Heng sau cian kun (menyapu rata selaksa prajurit) untuk memaksa mundur dua bilah pedang, kemudian toyanya mencukil kebawah dan sekantong obat mesiu melayang keudara melewati batok kepala semua orang dan.....

"Plung!"

Tercebur kedalam telaga kemudian tenggelam kedasarnya.

Kejadian semacam ini jelas bukan hanya berlangsung satu kali saja, anak murid Thian Ik-cu menjadi amat gelisah sekali menyaksikan peristiwa tersebut, apalagi ketika dilihatnya kantong-kantong berisi mesiu yang hendak digunakan untuk menolong jiwa rekan-rekannya kian lama kian menipis tanpa sanggup untuk mencegahnya, ini semua membuat mereka bertambah panik.

Seorang tosu menjadi nekad, sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dia maju ke muka dan melancarkan sebuah tusukan kilat ke dada kakek tersebut.

Dengan dilancarkannya serangan yang mematikan ini, meski serangan tersebut amat dahsyat, namun pertahanan pada dada kiri nya menjadi terbuka lebar.

Kakek bersenjata toya baja itu segera mendengus, sambil maju badannya berputar kencang, toyanya diputar menggetarkan pedang lawan, kemudian telapak tangan kanannya diayunkan ke depan sambil membentak.

"Pergi kau dari sini!"

Sebuah pukulan dahysat dengan telak bersarang di dada kiri iman tersebut.

Tosu itu meraung keras dan muntah darah segar, tubuh berikut pedangnya mencelat sejauh beberapa kaki dan tewas seketika itu juga.

Baru saja membunuh orang itu dan tubuhnya belum sempat berdiri tegak tiba-tiba beberapa gulung desingan angin dingin menyambar tiba dari belakang punggungnya.

Sambil memutar toyanya dia segera melancarkan pertahanan.

"Traaang.....!"

Bentrokan nyaring berkumandang memecahkan keheni ngan, pedang-pedang lawan yang sedang menyergap tibapun segera terpental kebelakang semua.....

Seorang murid Thian Ik-cu yang mendendam karena saudara seperguruannya terbunuh membentak keras, ia lupa akan keadaan dirinya yang terancam, secara nekad tubuhnya bergerak ke muka menusuk punggung kakek tersebut.....

Serangan ini betul bertenaga tangguh, tapi ia lupa bahwa keberhasilan mereka menahan serangan Kiong Hau sekalian adalah berkat keampuhan dari ilmu barisan tersebut, dengan tindakan ini bukan saja barisan menjadi kalut, diapun kehilangan peluang untuk ditolong oleh rekan-rekannya.

Terdengar seorang kakek yang bersenjatakan sepasang gelang Cu bu siang cuan tertawa tergelak, gelangnya tiba-tiba dilemparkan ke depan.

"Traaak!"

Batok kepala tojin itu segera terhajar hancur sehingga isi benaknya berceceran ditanah, keadaannya betulbetul mengerikan.

Pada gelang tersebut rupanyn diikat pula dengan sebuah rantai perak, sehabis membinasakan musuhnya, kakek itu menarik kembali tangannya dan menyimpan kembali senjata andalannya.

Setelan rekan seperguruannya terbunuh secara berulang kali, Bu tim tojin sekalian segera tercekam dalam perasaan dendam yang meluap, sepasang mata mereka menjadi merah membara, setiap orang mulai berniat untuk beradu jiwa.

Tiba-tiba terdengar Thian Ik-cu berseru.

"Cing lian kalian harus tenangkan dulu pikiran dan bertarung secara mantap..."

Baru saja berbicara sampai setengah jalan Sim Ciu telah mendengus dingin, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai.

Dalam keadaan demikian, mana mungkin buat Thian Ik-cu untuk melanjutkan kata-katanya, terpaksa ia telan kembali ucapan selanjutnya dan memusatkan semua perhatiannya untuk siap menghadapi lawan.

Ciong Hau tidak terhitung, ketujuh orang kakek yang tidak diketahui asal usulnya ini sungguh hebat bukan kepalang, sekalipun Bu tim tojin sekalian bertekad untuk melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga, itu pun tak lebih hanya akan menambah melayangnya jiwa secara percuma.

Situasi menjadi amat kritis, agaknya sebentar lagi barisan Kao lei kiam tin tersebut akan menjadi berantakan......

Andaikata barisan Kao lei kiam tin serta Thia Siok-bi, dalam keadaan begitu, kematian orang itu hanya tinggal menunggu waktu belaka.....

Setelah itu asal mereka musnahkan sumbu bahan peledak yang tertanam disepanjang tepian telaga itu, sehingga air telaga tak sampai mengalir kebawah, tak bisa disangkal lagi para jago yang terkurung dibawah lembah pasti akan musnah semuanya.

Tempat dimana Thian Ik-cu beserta anak muridnya dan Thia Siok-bi bertarung melawan Sim Ciu, Kiong Hau sekalian letaknya berada diatas sebuah bukit yang menonjol keluar, Jin Hian yang berada diseberang dapat mengikuti semua jalannya pertarungan itu dengan jelas, sedangkan pemandangan dibawah tebing pun sebagian besar dapat ter lihat dengan nyata, satu-satunya tempat yang tak bisa dilihat olehnya justru adalah tempat dimana orang-orang Cian li kau, dua bersaudara Kiong, Huan Tong dan Hoa In-liong berada.

Tapi jarak antara dasar lembah dengan tebing curam itu kelewat jauh, tanpa tenaga dalam yang sempurna sulit buat mereka untuk melihat jelas jalannya pertarungan itu, walaupun demikian delapan sembilan puluh persen dari kawanan jago itu berusaha juga mengikuti jalannya pertarungan dengan seksama.

Bayangan manusia tampak saling berkelebat, sambaran senjata menyilaukan mata, rupanya pertarungan yang sedang berlangsung disana amat sengit......

Betul orang yang sedang terlibat dalam pertarungan tiada hubungannya dengan mereka, tapi semua jago didasar lembab sadar bahwa menang kalahnya pertarungan yang sedang berlangsung sangat mempengaruhi mati hidup mereka semua.

Cia In dan dua bersaudara Kiong sekalian yang ada ditebing sebelah timur tak dapat mengikuti pula jalannya pertarungan tersebut, dalam keadaan demikian merekapun hanya bisa mengikuti perubahan sikap orang-orang yang berada didasar lembah sambil menduga-duga sendiri keadaan yang sesungguhnya.

Jin Hian yang melihat bahwa semua rencananya hampir berhasil, tak tahan lagi segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, sedang para jago diatas tebing berubah hebat mukanya, para jago didasar lembah samasama menjerit kaget, keadaan menjadi bertambah kalut.........

Disaat yang kritis itulah, mendadak dari tempat kejauhan sana berkumandang suara pekikan nyaring yang memekikkan telinga, semua orang mengenali pekikan tersebut berasal dari Hoa In-liong.

Dalam waktu singkat, gelak tertawa Jin Hian bagaikan dipotong orang secara paksa, seketika itu juga gelak tertawanya terhenti di tengah jalan.......

Sorak sorai dan tempik sorak segera berkumandang kembali memenuhi seluruh lembah.

Kejadian ini sangat mangherankan orang-orang di tebing sebelah timur, tapi mereka tahu, situasi tentu sudah mengalami lagi pe rubahan yang amat besar.

Dengan cemas Kiong Gwat lam bertanya.

"Cici, apa yang telah terjadi?"

Kiong Gwat hui ulapkan tangannya sambil tertawa getir, ini pertanda kalau dia sendiripun tak tahu. Kiong Gwat lan kembali berpaling serunya.

"Enci In!"

Cia In sendiripun tak dapat mengendalikan perasaannya yang kalut, sambil tersenyum ia segera mendahului.

"Kalau kau bertanya kepadaku, aku musti bertanya kepada siapa?"

Kiong gwat lan menjadi panik sekali, gumamnya kemudian.

"Tempat ini betul-betul tempat seperti setan..!"

Dengan perasaan kalut ia berjalan mondar-mandir seorang diri seperti semut dalam kuwali panas.

Semua kejadian yang berlangsung secara beruntun ini memang panjang untuk diceritakan, pada hal sejak Hoa Inliong pergi sampai kini, waktu hanya berlangsung beberapa menit saja.

Hoa In-liong yang menyaksikan semua kejadian tersebut ditebing itu menjadi naik darah, sambil berpekik nyaring ia segera menerjang kedalam arena pertarungan.

Tubuhnya masih berada ditengah udara, pedangnya telah diloloskan dari sarung, kemudian dengan memantulkan sinar putih bagaikan pelangi, dia menerjang tiba dengan kecepatan luar biasa.

Semua orang yang sedang bertempur menjadi amat terperanjat ketika secara tiba-tiba menyambar datang cahaya pedang yang menusuk pandangan serta tenaga serangan yang kuat bagaikan tindihan bukit Taysan, baik musuh maupun teman segera mengangkat senjata masing-masing untuk membendung datangnya serangan itu.

Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan.

Ketika cahaya pedang sirap kembali, kakek bersenjata toya baja itu sudah tergeletak ditanah dengan bermandikan darah segar.

Seorang pemuda tampan berjubah perlente tahu-tahu sudah berdiri muncul ditengah arena, pedangnya menuding kelangit dengan wajah serius, wibawanya besar sekali bagaikan malaikat yang baru turun dari kahyangan.

Semua orang segera menghentikan pertarungan dengan perasaan bergetar keras, dengan mata terbelalak mereka awasi wajah Hoa In-liong tanpa berkedip.

Setelah suasana hening sejenak, Hoa In-liong baru menatap sekejap wajah semua orang, kemudian ujarnya kepada Tnian Ik-cu.

"Thian Ik cianpwe harap kau bongkar batu hijau ditepi pohon bwe itu, sulutlah sumbuhnya"

Dengan semangat berkobar kembali, Thian Ik-cu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, benar juga seratus kaki didepan sana tumbuh sebatang pohon bwe, disisinya terdapat sebuah batu hijau yang besar bagaikan baskom dan berkilat.

Bagi orang yang berpengalaman dalam sekilas pandangan saja tentu akan tahu kalau sumbu mesiu terebut tentu ditanam dibawah batu ini.

Sim Ciu adalah seorang manusia bengis yang telah terkenal selama tiga jaman, pengalamannya luas pengetahuannya juga cukup ketika mendengar perkataan dari Hoa In-liong tersebut kebengisannya segera berkobar kembali, dia berpikir.

"Hoa Goan siupun sudah lohu jagal, masa seorang cucunya musti kutakuti? Kalau cecunguk seperti inipun memecahkan nyaliku, lebih baik aku bunuh diri saja"

Maka ketika dilihatnya Thian Ik-cu mulai bergerak, dengan mata bengis melotot besar teriaknya seram.

"Tua bangka hidung kerbau, kau anggap pekerjaan tersebut bisa kau lakukan seenaknya?"

Dengan kelima jari tangannya yang terpentang bagaikan kaitan, ia cengkeram dada Thian Ik-cu.

Melihat datangnya ancaman tersebut, Thian Ik-cu berkerut kening, pedangnya segera diputar untuk menyambut datangnya ancaman tadi.

Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong mendengus dingin, Sim Ciu hanya merasakan matanya menjadi pedas karena silau oleh cahaya merah, tahu-tahu bayangan hitam sudah melintas didepan mata.

Dengan perasaan terkesiap ia menarik kembali serangannya sambil melompat kesamping untuk menghindarkan diri.

Ketika ia berdiri tegak kembali, tampaklah Hoa In-liong dengan sikap yang tenang bagaikan tak pernah terjadi apa

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ apa telah berdiri kembali ditempat semula, seolah-olah serangan tersebut bukan dia yang melancarkan. Dalam kejut dan malunya, ia menjadi naik pitam, dengan suara keras bentaknya.

"Bocah keparat, aku tidak percaya kalau kau memang berilmu tinggi!...."

Sambil berpekik nyaring,ilmu Tay im sin jiau nya dengan membawa suara pecahan bambu yang memekikkan telinga segera menyambar ke tubuh Hoa In-liong.

Tujuh orang kakek yang lain kebanyakan bersenjatakan senjata aneh, setelah terbunuh seorang, kini tinggal enam orang.

Sesungguhnya merekapun sudah dibikin terkejut oleh kelihayan Hoa In-liong, maka ketika dilihatnya Sim Ciu sudah turun tangan, merekapun tak berani berayal, senjata masingmasing segera disiapkan untuk menyerang anak muda itu.

"Anjing laknat!"

Bentak Thia Siok-bi dengan marah.

Senjata kaitan kemalanya diputar, ia siap menerjang pula ke depan.

Gui Ci hong dengan cepat mengayunkan telapak tangannya ke depan melepaskan sebuah pukulan hawa dingin yang merasuk tulang, inilah pukulan Sui sim ciang (pukulan penghancur hati) yang diandalkannya selama ini.

Barusan nyaris Thia Siok-bi tewas ditangannya oleh pukulan tersebut, ketika dilihatnya orang itu kembali melancarkan serangan dengan ilmu Sui sim ciang, ia mendengus gusar, sambil berkelit ke samping, senjata hud timnya menggulung ke depan dengan senjatanya mencukil keatas melepaskan serangan balasan.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, sekali mengayunkan pedangnya seketika itu juga Hoa In-liong telah mengu rung Sim Ciu ber-enam ke dalam lapisan hawa pedangnya, ia segera berteriak nyaring.

"Tootiang, cepat pergi!"

Setelah menyaksikan kehebatan Hoa In-liong didalam melancarkan serangannya Thian Ik-cu menjadi berlega hati, ia tahu meledakkan tanggul telaga lebih penting dari segalagalanya, maka dengan cepat ia memutar badan dan lari menghampiri pohon bwe tersebut.

Waktu itu hanya Kiong Hau berdua yang belum turun tangan, menyaksikan perkembangan situasi tersebut dia lantas berpikir.

"Ilmu silat yang dimiliki bocah keparat ini sungguh lihay sekali, lebih baik lohu jangan keburu-buru menghalanginya, aku musti mencari akal untuk menghancurkan sumbu-sumbu mesiu tersebut"

Sebagai orang yang berakal licik dan banyak tipu muslihatnya, setelah berpikir sejenak, dia lantas membentak.

"Thian Ik-cu hidung kerbau, sambut peluru ini!"

Diantara getaran tangannya, sebutir peluru pek lek tan segera disambit.

Dengan ilmu silat yang dimiliki Thian Ik-cu, peluru Pek lek tan dari Kiong Hau tidak akan menyusahkan dirinya, karena itu sewaktu didengarnya senjata rahasia Kiong Hau tersebut tidak menyambar kearahnya, diapun tidak mengambil perduli akan tibanya sambaran Pek lek tan yang nyambar lewat dari samping itu.

Namun setelah diketahui Pek lek tan yang dilepaskan tersebut mengarah pada batu hijau dimana sumbu mesiu terdapat, ia menjadi terperanjat sekali, untuk mencegah jelas sudah tak mungkin lagi.

Anak muridnya dan Thia Siok-bi juga tak sanggup berkutik menghadapi kejadian ini, mereka hanya terbelalak dengan hati terkejut.

Jeritan kaget segera berkumandang memecahkan keheningan, sementara para jago di buat terkejut oleh peristiwa itu.

Jin Hian dan konco-konconya menjadi bergirang hati.

Dengan gemas Go Tang cuan memaki.

"Thian Ik-cu, goblok kamu!"

Dalam pada itu pedang Hoa In-liong sedang berputar mengurung Sim Ciu beserta ke enam orang jago lainnya, namun semua kejadian yang berlangsung seakan-akan tidak terlepas dari pengamatannya, dalam situasi demikian, tiba-tiba ia tertawa seraya berseru.

"Kiong Hau, kau memang amat cerdik!"

Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan, segulung tenaga pukulan angin berpusing dengan cepat membawa serangan dari Sim Ciu sekalian nyelonong kesamping sedangkan tangan kanannya segera diputar mengayunkan pedangnya ke depan.

Sesungguhnya peluru Pek lak tan itu menyambar duluan ke depan, ternyata sebelum benda tadi menghancurkan batu hijau dan melenyapkan harapan para jago untuk meloloskan diri, pedang Hoa In-liong sudah keburu menyambar lebih duluan, cahaya tajam berkelebat lewat, tahu-tahu benda itu sudah tertumbuk sehingga tercebur kedalam telaga.

Padahal peluru Pek lek tan adalah semacam benda yang mudah meledak bila tersentuh, tapi entah gerakan apa yang telah digunakan Hoa In-liong, kenyataannya meski tersentuh oleh pedang yang menyambar cepat, benda itu sama sekali tidak sampai meledak.

Ketika pedang itu sudah menumbuk jatuh peluru Pek lek tan, dengan kecapatan tinggi senjata itu segera menyambar ke depan sana dan tampaknya segera akan terjatuh kedalam lembah yang telah be rubah menjadi lautan api.

Siapa tahu, disaat yang terakhir itulah mendadak pedang itu berputar satu lingkaran besar dan meluncur kembali ke tepi tebing.

Sambil tertawa nyaring Hoa In-liong melambung ke udara dan menyambar kembali senjatanya.

Semua kejadian tersebut dapat diikuti oleh setiap orang dengan amat jelasnya, paras muka Jin Hian segera berubah hebat, sedangkan para jago yang berada dalam lembah betempik sorak memuji kehebatan si anak muda itu.

Walaupun begitu, bukan berarti para jago itu bisa mengikuti semua jalannya pertarungan dengan amat jelasnya, diantara sekian banyak orang, boleh dibilang hanya Cho Thian hua dan Goan cing taysu yang dapat mengikuti kejadian ini paling jelas.

Sambaran tangan Hoa In-liong yang berhasil mengesampingkan serangan dari Sim Ciu sekalian itu ternyata tak lain adalah jurus Lui tiong ban wu (menggetarkan selaksa benda) dari ilmu pukulan Su siu hua heng kang yang maha dahsyat itu.

Goan cing taysu yang menyaksikan kehebatan dari perubahan jurus itu kontan saja bersorak memuji, meski dia adalah seorang pendeta yang beriman tebal, kenyataannya tak dapat membendung juga luapan emosi dalam hatinya.

"Anak bagus, kau memang tidak menyia-nyiakan harapanku!"

Demikian gumamnya. Tiba-tiba paras muka Cho Thian hua berubah hebat, sambil berpaling ia lantas berseru.

"Hwesio cilik, apakah bocah muda itu yang kau maksudkan sebagai orang yang sanggup menandingi lohu?"

"Betul!"

Jawab Goan cing taysu sambil tersenyum.

"bagaimana menurut pendapat lo sicu?"

Cho Thian hua segera mendengus dingin.

"Hmmm.....! Ilmu pedangnya memang lumayan, cuma ilmu pukulannya masih ketinggalan jauh"

Goan cing taysu hanya tertawa hambar, ia tahu dari jalannya pertarungan tersebut gembong iblis itu telah berhasil mengetahui kalau ilmu pukulan yang digunakan Hoa In-liong adalah hasil pelajar annya, sebab itu sengaja dia berkata demikian.

Sedikit banyak hati kecilnya merasa kagum juga oleh ketajaman pandangan matanya.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Hoa In-liong telah menyambar kembali pedangnya sambil melayang turun kebawah, katanya dengan suara lantang;

"Saudara sekalian serahkan saja mereka semua kepadaku!"

Baru saja Thia Siok-bi hendak msnyerang dengan senjata kaitan kemalanya, tahu-tahu Gui Gi hong telah terkurung oleh hawa pedang Hoa In-liong, yang lebih hebat lagi, ternyata dia yang berada dihadapannya tidak merasa bagaimana caranya pemuda itu bertindak.

Kiong Hau serta Gui Gi hong lebih lebih kebingungan lagi, mereka hanya merasakan serangan dari Hoa In-liong menyambar datang, tahu-tahu tubuh mereka berdua sudah terkurung oleh lapisan pedang lawan.

Dengan demikian Hoa In-liong seorang diri harus bertempur melawan Sim Ciu sekalian delapan orang jago, kenyataannya ia tak nampak ngotot ataupun tertekan, semua gerak-geriknya bisa dilakukan dengan enteng, gesit dan cekatan.

Ketika harus bertarung melawan Gui Gi hong tadi, Thia Siok-bi telah merasakan tekanan yang luar biasa hebatnya, ia cukup menyadari akan kehebatan musuhnya, maka tak heran kalau dia menjadi terkejut sekali setelah dilihatnya Hoa Inliong harus bertarung melawan delapan orang musuh dengan gerakan yang santai.

Padahal dia tahu, jangankan Sim Ciu serta Kiong Hau yang berilmu dahsyat, keenam orang kakek inipun memiliki kepandaian tidak berada dibawah Gui Gi hong, dari kesemuanya ini terbuktilah sudah sampai dimanakah kelihaiyan Hoa In-liong yang sesungguhnya.

Tak kuasa lagi semua kegagahan dan semangat tempurnya hilang lenyap tak berbekas, pikirnya.

"Aaaai... mulai sekarang lebih baik aku Thia Siok-bi tidak membicarakan soal dunia persilatan lagi....."

Dari sekian banyak jago yang terkurung didasar lembah, pihak para pendekarlah yang paling gembira menyaksikan adegan pertarungan itu.

Ciu Thian hau sekalian jago-jago tua merasa berlega hati karena keturunan keluarga Hoa terbukti tangguh sekali, Hoa Ngo berdiri dengan wajah berseri, sedangkan Bong Pay dan Kho Thay saling berpandangan sambil tersenyum, semuanya menyambut kehebatan pemuda itu dengan hati riang........

"Bocah ini....."gumam Tiang heng Tokoh. Tiba-tiba ia merasakan kesedihan yang meluap, titik-titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya. Pui Che-giok maju menghampirinya sambil menggunakan saputangan untuk menyeka air matanya, sedang tokoh tersebut hanya berdiri kaku tanpa bermaksud menghalanginya.

Jilid 17 Biau-nia Sam-sian paling tidak puas dengan keadaan itu, mereka berteriak keras bersama-sama.

"Anak Liong kenapa musti sungkan-sungkan? Sikat saja sampai ludes......"

Sementara itu, ketika Hoa In-liong menyaksikan Sim Ciu masih melakukan perlawanan dengan ganas, diam-diam pikirnya dihati.

"Tenaga dalam yang dimiliki orang ini sudah mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun bibi Jin berlatih sepuluh tahun lagi juga belum tentu bisa menandinginya, apalagi di masa lampau ia telah mencelakai kakekku, lebih baik kubunuh saja bangsat ini!"

Berpikir sampai disitu, pedangnya segera diputar dan......

"Sreet!"

Sebuah tusukan dengan telak bersarang didada Sim Ciu.

Termakan oleh totokan tersebut, Sim Ciu mendengus tertahan, dalam keadaan terluka parah ini sifat buasnya berkobar kembali, denpan sepuluh jari tangan terpentang lebar ia menubruk ke depan sambil melepaskan cengkeraman dengan dua belas bagian tenaga serangan Tay im ain jiau miliknya.

Hoa In-liong mendengus dingin, tubuhnya miring ke samping, kaki kanannya segera menyambar ke muka.

Sreeet......!

Sreeet.....!

Steeet.......!

Tay im sin jiau dari Sim Ciu tersebut menimbulkan sepuluh buah lubang besar diatas tanah, tapi tubuhnya terlempar ke jurang dan terjatuh ke dalam lautan api.

Manusia kejam yang sudah banyak melakukan kejahatan ini, pada akhirnya tewas ditangan Hoa In-liong, dendam sakit hati terbunuhnya sang kakek pun berhasil dituntut pula oleh pemuda tersebut.

Coa Wi-wi paling bersemangat diantara sekian banyak orang, mulutnya bercuwit-cuwit tiada hentinya menerangkan situasi pertarungan seakan-akan kuatir kalau orang lain tidak mengetahui akan kelihayan dari Hoa In-liong.

Coa Cong gi sekalian anak-anak muda pun menuding kesana-kemari sambil berteriak-teriak memberi semangat.

Keadaan para jago di tebing sebelah timur yang paling kocak, dasar bersifat perempuan, para jago dari Cian li kau serta Kiong Gwat lan paling repot, sekali sebentar mereka mengejek Jin Hian yang ada ditebing seberang, sebentar memperhatikan keadaan para jago didasar lembah, sebentar kemudian mencaci maki Hoa In-liong yang dikatakan tolol sehingga salah memiliki tempat yang mengakibatkan mereka tak dapat mengikuti jalannya pertarungan tersebut.

Mereka ingin pula menyusul ke medan pertarungan tapi kuatir dihadang oleh Jin Hian dan komplotannya, sehingga untuk sesaat mereka menjadi serba salah dibuatnya.

Cia In berusaha menasehati mereka agar tetap tenang, ketika anjuran tersebut tidak digubris, terpaksa diapun hanya tersenyum belaka sambil menyaksikan tingkah laku mereka.

Perasaan Bwe Su-yok paling serba salah, ketika menyaksikan kelihayan Hoa In-liong ia merasa girang sekali, tapi bila terbayang kembali akan tugas yang dibebankan gurunya, dadanya kembali bergolak, ini membuat paras mukanya berubah berulang kali.

Beribu-ribu orang jago persilatan mulai menari-nari dengan riang gembira sedangkan para jago dari Kiu-im-kau, Hianbeng-kau dan Seng-sut-pay hanya berdiri dengan wajah terkejut.

Kok See-piau merasa dendam bercampur marah, diamdiam ia menyumpah dihati.

"Bocah busuk!"

Tapi ingatan lain segera melintas kembali dalam benaknya, dia berpikir lagi.

Kehebatan keluarga Hoa apakah benar benar melebihi aku Kok See-piau?

Thian sungguh tidak adil.......heee......heee.....heeehh tapi aku orang she Kok tak akan menyerah sampai disini saja!"

Berpikir sampai disini ia menggertak giginya kencangkencang untuk mengendalikan golakan emosinya, rasa benci dan dendamnya ternyata jauh melebihi Jin Hian.

Satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh kemunculan Hoa In-liong mungkin hanya Go Tang cuan seorang, ketika dilihatnya Thia Siok-bi munculkan diri diatas tebing, ia merasa sedih bercampur girang.

Ia gembira karena istrinya telah muncul kembali disitu, sedih karena terbayang kembali akan musibah yang menimpa putrinya Wan Hong giok, dengan penuh kepedihan ia berpikir.

"Anak Giok.... aku telah berbuat salah kepadamu, aku telah membuat kau menderita.. .. Makin dipikir ia merasa makin sedih, sehingga akhirnya ia menundukkan kepalanya rendah-rendah. Semua orang baik yang berada diatas tebing maupun mereka yang berada dibawah tebing seakan akan lupa dengan kobaran api yang sedang membara dengan hebatnya itu. Mendadak terdengar ledakan dahyat yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, lamat-lamat terdengar pula beberapa jeritan ngeri mengikuti ledakan tersebut. Dalam keadaan seperti ini, siapapun tak ada yang memperhatikan suara jeritan tersebut hanya Kok See-piau seorang yang segera menyumpah dihati.

"Setan-setan sialan, mampus kau!"

Pada tebing sebelah tenggara tampak muncul sebuah celah sebesar puluhan kaki yang merekah lebar, air telaga berikut batu kerikil segera mengalir ke bawah dengan derasnya menciptakan sebuah air terjun yang sangat lebar.

Tonjolan tebing dimana Hoa In-liong sedang bertarung melawan Kiong Hau sekalian, tiba-tiba retak dan gugur ke bawah akibat terkena getaran oleh gempa yang dihasilkan oleh ledakan tersebut.

Dalam keadaan demikian, baik musuh mau pun teman sama-sama menjerit tertahan karena kaget.

Jika orang biasa yang mengalami musibah semacam itu, tipis harapan mereka untuk meloloskan diri, berbeda dengan kawanan jago yang berada di atas tebing sekarang, kecuali murid murid Thian Ik-cu yang terhitung lemah, semuanya rata-rata terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan.

Dalam keadaan kritis, serentak mereka berlompatan keudara dan mendaki keatas tebing baru yang tidak ikut gugur.....

Bu tim tojin serta dua orang sutenya berdiri dipaling ujung di tebing tersebut, mereka agak terlambat untuk bertindak, sekalipun sudah melonpat sejauh tiga empat kaki jauhnya, jarak dengan tebing lain masih cukup jauh.

Melihat hal ini, mereka sama-sama menjerit kaget, sambil memejamkan matanya bisiknya dihati!"

"Habis sudah riwayatku!"

Ketika itu Hoa In-liong sedang menghempit tubuh Thian Ikcu yang berpelepotan darah dengan napas yaug lemah, ketika menyaksikan kejadian itu, dia lantas berpikir.

"Demi menyelamatkan umat persilatan, Thian Ik-cu telah mengorbankan dirinya, aku harus melindungi keselamatan anak muridnya. Berpikir demikian, tiba-tiba ia melemparkan tubuh Thian Ik-cu ke atas tebing sambil berseru.

"Sambutlah ini!"

"Seorang murid Thian Ik-cu segera bertindak cepat dengan menerima tubuh gurunya. Dengan suatu gerakan cepat Hoa In-liong segera memutar badan dan melayang ke arah tojin lainnya. Tindakannya yang menyerempet bahaya ini segera menimbulkan rasa gelisah dan cemas bagi semua orang yang ada diatas tebing maupun dibawah lembah. Murid-muridnya Thian Ik-cu yang selamat buru-buru berteriak.

"Hoa kongcu, cepat naik keatas!"

Sekalipun mereka menyadari akan bahaya yang mengancam saudara seperguruannya, namun mereka lebih rela mengorbankan rekan-rekannya daripada mengorbankan pemuda itu.

Biau-nia Sam-sian serta Hoa Ngo yang berada didasar lembahpun ikut berteriak.

"Jangan urusi persoalan orang lain!"

Sayangnya teriakan mereka tak ada yang terdengar oleh Hoa In lioag, sebab air telaga yang mengalir kebawah itu menimbulkan suara gemuruh yang memekikkan telinga.

Dimana air itu melanda, kobaran api segera padam seluruhnya.

Kiu ci piat kiong, istana yang megah itu sudah terbakar hangus sebagian besar ketika terjadi kebakaran tadi, sekarang setelah diterjang oleh air bah tak bisa dicegah lagi ambruklah bangunan yang berjuta-juta tail perak harganya itu hingga hancur tak ber bekas.

Air bah turun dengan dahsyatnya, dalam waktu singkat tinggi air sudah makin meningkat keatas.

Dalam keadaan demikian para jago dari golongan Hek to maupun Pek to sama-sama bertahan diri dari gempuran air, tapi sebagian besar masih mengikuti jalannya peristiwa diudara dengan seksama, seakan-akan mereka tidak menyadari akan datangnya air bah tersebut.

Tampaklah tubuh Hoa In-liong bagaikan seekor burung raksasa menyambar ke belakang tubuh tosu itu, dengan sebuah pukulan ia hantam kaki orang tersebut.

Ketika terdorong oleh segulung tenaga pukulan yang kuat, tojin itu segera terlempar lagi keudara dan meluncur keatas tebing.

Hoa In-liong putar badannya mendekati orang kedua, ia sambar tumit orang itu dan melemparkannya lagi keudara, dengan tenaga lemparan yang kuat iman itupun berhasil mencapai daratan dengan selamat.

Kini Hoa In-liong menyambar bahu kanan Bu tim lojin sambil melemparkan pula tubuhnya ke udara, ia membentak.

"Naik!"

Tubuh Bu tim lojin yang tinggi besar itu bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur ke depan yang mana segera ditolong oleh rekan-rekan seperguruan nya.

Hoa In-liong sendiri, akibat dari usahanya menolong ketiga orang itu, dengan sangat cepat badannya meluncur kebawah.

Sementara itu tubuhnya sudah berada sepuluh kaki lebih dibawah permukaan tebing semua orang tahu, dengan tenaga yang dimilikinya, tak mungkin pemuda itu akan menderita luka meski terjatuh kebawah, tapi jika ia tidak berada diatas tebing, maka Jin Hian pasti akan mempergunakan segala tipu dayanya untuk mencelakai mereka semua.

Itulah sebabnya dengan perasaan kuatir dan cemas, mereka sama-sama menantikan perkembangan selanjutnya.

Tiba-tiba Hoa In-liong mambuang pedangnya kebawah, ujung kakinya dengan menutul diatas tubuh pedang itu, sambil berpekik nyaring segera melambung kembali keudara.

Kejadian ini tidak seperti yang terdahulu setiap orang dapat menyaksikannya dengan amat jelas.

Mereka hanya menyaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu pemuda itu sudah berada kembali diatas tebing.

Peristiwa ini hanya berlangsung dalam waktu singkat, setelah Hoa In-liong tiba diatas tebing, semua orang baru menghembuskan napas lega.

Sementara itu air bah telah menggenangi seluruh lembah tersebut, banyak diantara mereka yang hingga terseret jauh dari tempat semula, hanya mereka yang berilmu tinggi saja tetap berdiri ditempat.

Untung lembah tersebut adalah lembah bebatu, sehingga meski terseret air hingga membentur dinding, kecuali luka lecet mereka tak sampai menderita luka parah atau kematian, meski keadaan boleh dibilang mengenaskan sekali.

Berada dalam keadaan begini, sudah barang tentu ada yang bersorak sorai, beberapa orang yang ingin bersorak pun mengalami nasib yang mengenaskan, karena begitu mulut dibuka, air segera masuk kemulut.

Dalam pada itu, Siu sim jiu (tangan sakti peng hancur hati) Gui Gi bong yang berada ditebing telah bertindak nekad, ketika tubuh Hoa In-liong masih berada diudara, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan.

"Bajingan laknat!"

Bentak Thia Siok-bi dengan gusar, Senjata kaitan kemalanya segera disambit ke depan, dengan membawa kilatan cahaya hijau senjata tersebut kontan saja menyambar punggung Gui Gi hong.

Siapa tahu Gui Gi hong sudah bertekad untuk beradu jiwa, ia sama sekali tidak ambil perduli terhadap datangnya sergapan tersebut, sepasang telapak tangannya didorong kemuka, gulungan angin pukulan berhawa dingin yang dahsyat dengan cepat menghantam tubuh Hoa In-liong.

Sesungguhnya, tanpa membuang senjata pun Hoa In-liong masih sanggup untuk naik keatas, ia sengaja berbuat begitu karena memang berjaga-jaga atas terjadinya peristiwa ini.

Cepat sepasang telapak tangannya ditekan kemuka, tubuhnya kembali berjumpalitan dan melayang turun setelah melewati kepala Gui Gi hong.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, kaitan kemala yang tajam itu tahutahu sudah menembusi punggungnya hingga tembus di ulu hatinya, dengan darah bercucuran tubuhnya segera roboh terkapar ditanah.

Jin Hian yang berada ditebing seberang, segera menyadari bahwa kesempatan baik baginya sudah hilang, dengan penuh kebencian ia mendepakkan kakinya ke tanah.

Batu cadas segera berhamburan kemana-mana, sebuah bekas telapak kaki sedalam empat lima inci segera muncul disana dengan jelasnya.

Ia berpekik nyaring memanggil kembali semua anak buahnya, kemudian dengan penuh kebencian berseru.

"Orang she Hoa, ku anggap kau yang menang kali ini, tapi persoalan tak akan selesai sampai di sini, kita lihat saja perkembangan selanjutnya...."

Sambil mengulapkan tangannya dengan memimpin sisa anak buahnya buru-buru kabur meninggalkan tempat itu.

Hoa In-liong menghela napas panjang, ketika ia berpaling kembali kesekeliling tempat itu dilihatnya Kiong Hau sekalian sudah kabur tak berbekas.

Thian Ik-cu berbaring dibawah sebatang pohon, semua muridnya sedang berdiri disekelilingnya sambil mengucurkan air mata, melihat itu Hoa In-liong segera menjura kepada Thia Siok-bi, kemudian tanpa mengucapkan sepatuh katapun dia membangunkan Thian Ik-cu, menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Mia bun hiat serta me nyalurkan tenaga dalam ketubuhnya.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang Thian Ikcu yang sesungguhnya sudah amat lemah itu dapat bernapas kembali dengan lancar serta membuka kelopak matanya.

Bu tim totiang sekalian yang menyaksikan kejadian itu segera bersorak-sorai, mereka mengira gurunya bakal tertolong.

Sebaliknya Hoa In-liong sadar kalau nadi Thian Ik-cu sudah putus, sekalipun ada Leng ci berusia seribu tahun atau benda mestika lainnya, jangan harap jiwanya bisa tertolong, seandainya tiada bantuan tenaga dalamnya, mungkin jiwanya tak dapat diperpanjang beberapa saat lagi.

Maka ketika dilihatnya Thian Ik-cu telah membuka matanya, dengan suara dalam ia lantas oerkata.

"Cianpwe, kau ada pesan apa?"

Wajah Thian lk cu ketika itu sudah berubah menjadi kuning kepucat-pucatan, matanya redup tak bersinar, setelah memperhatikan keadaan disitu sekian lama, pelan-pelan dia baru dapat mengenali kembali orang-orang disekitar sana.

"Hoa kongcu!"

Bisiknya parau.

Bu tim tootiang sekali yang menyaksikan suhunya menjadi begini lemah dan tak bertenaga, padahal dulunya begitu hebat dan berilmu tinggi, tak bisa membendung air matanya lagi, titik-titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Napas Thian Ik-cu kembali memburu, agaknya ia sedang menahan suatu penderitaan hebat, tapi senyunan segera tersungging kembali dibibirnya, ia berkata.

"Demi menolong umat manusia, aku bersedia berkorban apapun, seharusnya kalian ikut bergembira atas keberhasilanku ini, apalagi yang musti ditangisi?"

"Suhu.........!"

Bisik Bu tim tojin dengan sedih.

Ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat sehingga kata-kata selanjutnya tak sanggup diutarakan lagi.

Ketika Thian Ik-cu menyaksikan muridnya menangis melulu, sambil menarik muka segera berkata.

"Apakah murid Thian Ik-cu begini tak berguna?"

Dia adalah bekas seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, kewibawaannya memang melebihi siapapun, sekalipun sudah terluka parah dan bicaranya lemah, namun dalam menghadapi ajalnya tersebut ia masih mampu memperlihatkan ke wibawaannya hingga membuat orang tak berani membangkangnya.....

Buru-buru semua anak muridnya menyeka air mata dan berusaha menahan isak tangisnya namun kadangkala masih terdengar juga suara sesenggukan yang menambah harunya suasana.

Dengan perasaan apa boleh buat Thian Ik-cu menghela napas panjang, katanya sambil berpaling.

"Murid-murid pinto memang berjiwa perempuan, harap Hoa kongcu dan toyu ini jangan mentertawakan-nya"

Thian Siok-bi yang menyaksikan adegan tersebut tak kuasa menahan rasa haru dihatinya, sambil tertawa paksa, ia berkata.

"Berpisah dikala masih hidup....hal itu sudah lumrah!"

Sebetulnya ia hendak mengatakan kalau "perpisahan untuk selama lamanya memang suatu hal yang berat", ketika dirasakan perkataan itu kurang cocok, buru-buru ia menutup kembali mulutnya.

Dengan air mata bercucuran Hoa In-liong berkata, Sebenarnya orang yang hendak dicelakai Kok See-piau adalah boanpwe, tidak seharusnya boanpwe suruh cingpwe yang pergi menyulut sumbu bahan peledak tersebut, Thian Ik-cu segara tertawa.

Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir, rejeki atau nasib semua ada ditangan Thi an, buat apa Hoa kongcu harus menyalahkan diri sendiri?"

Setelah berhenti sejenak, dia lanjutkan.

"Pinto dengan tubuh yang lemah ini dapat mewakili konsen yang bermasa depan cemerlang dan berjuang demi kepentingan umat manusia untuk menerima kesemuanya itu, pinto justru merasa amat bangga!"

Ketika mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tak dapat membendung air matanya lagi, Bu tim tojin sekalipun menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.

Thia Siok-bi dengan air mata mengembang dalam kelopak matanya, diam-diam berpikir.

"Beginilah Thong tian kaucu yang pada dua puluh tahun berselang mempunyai nama paling busuk dan jahat dalam dunia persilatan!"

Terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali.

"Hoa kongcu ada suatu hal ingin memohon bantuan mu"

"Katakan saja cianpwe, boanpwe pasti akan melaksanakannya dengan bersungguh hati"

Jawabpe muda itu serius. Mendengar perkataan itu, Thia Siok-bi kembali berpikir.

"Aiaaah...........ternyata Thian Ik-cu mengharapkan sesuatu, jiwa kaum sesatnya ternyata belum hilang seratus persen....."

Sementara Thia Siok-bi masih termenung, Thian Ik-cu telah mendongakkan kepalanya memandang langit nan biru sambil menghem buskan napas panjang, lama, lama sekali, ia baru berkata, Kejadian masa lalu sudah lewat bagaikan asap, semuanya tak akan kembali lagi, meski demikian pinto tak pernah tak dapat melupakannya, setiap kali teringat akan perbuatan keji vang pernah dilakukan perkumpulan Tong thian kau, pinto merasa hatinya bagaikan dipagut oleh ular berbisa, sungguh, tersiksa hatiku.

Perbuatan cianpwe pada hari ini telah melenyapkan semua kebusukan yang lama!"

Kata Hoa In-liong Serius.

"apalagi atas pertolonganmu, beribu-ribu lembar jiwa manusia dapat diselamatkan, jasamu tak terlukiskan dengan kata hati. Thian Ik-cu tertawa hambar, tukasnya.

"Semuanya ini adalah Hoa kongcu seorang, pinto tak lebih hanya melaksakan apa yang telah ada, siapa bilang aku yang berjasa"

Ia berhenti sejenak dengan napas tersenggal.

Sebetulnya Hoa In-liong ingin mencegah tosu itu berbicara lebih banyak lagi, tapi bila teringat kalau nyawanya sudah berada ditepi liang kubur, ia merasa tak tega untuk memotong pesan-pesan terakhirnya itu.

Ia hanya merasa gemas kenapa obat Yau ti wan yang mustajab itu tinggal sebutir belaka dan itupun telah dipakai untuk mengobati para jago yang keracunan, kalau tidak, jiwa Thian Ik-cu pasti akan tertolong.

Telapak tangannya segera ditempelkan kembali ke atas jalan darah Leng tay hiat ditubuh Thian Ik-cu dan menyalurkan tenaga dalam ketubuhnya.

Setelah menerima tenaga dalam itu, Thian Ik-cu merasakan semangatnya berkobar kembali, pelan-pelan ia berkata.

"Hoa kongcu, ilmu silat ayahmu lihay sekali, nama besarnya bagaikan matahari disiang hari, dialah tulang punggung dari dunia persilatan........"

OoooOoooo Bu Tim tojin tidak tega membiarkan gurunya berbicara terus, tak tahan ia lantas menukas.

"Setelah menyaksikan kehebatan kongcu hari ini, bisa dipastikan kaulah harapan dunia persilatan yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia ini"

"Aku tak bisa apa-apa, tootiang tak perlu membicarakan lagi"

Tukas Hoa In-liong. Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Inilah permintaan pinto", harap Hoa kongcu mendengarkan dengan bersungguh-sungguh!"

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan.

"Dalam mengadakan pertemuan kali ini rupanya Kok See-piau berniat membasmi semua umat persilatan yang ada di dunia ini, siapa tahu hal tersebut telah dimanfaatkan Jin Hian, sedangkan Jin Hian sendiri setelah kegagalan yang dihadapinya, ia pasti akan kabur ke tempat terpencil untuk menyembunyikan diri, pihak Kiu-im-kau dan Mo kau sukar melawan kekuatan para pendekar. Hian-beng-kau meski tangguh, namun setelah kekalahan yang dideritanya hari ini tentu mengalami pukulan berat yang mengakibatkan mereka bubar sendiri, mulai sekarang selama ayahmu masih hidup, gembong iblis yang bagaimanapun lihaynya tak akan berani berkutik, sehari keluarga Hoa bercokol dalam dunia persilatan, sehari pula dunia akan damai, anak cucu keluarga Hoa pas ti dapat selalu memimpin dunia persilatan untuk selamanya"

Setelah mengucapkan sekian banyak kata-kata, meskipun ditunjang oleh hawa murni yang disalurkan Hoa ln liong, lelah juga tosu tua itu hingga napasnya tersengkal.

Semua perkataannya yang panjang lebar, diutarakan secara beraturan, jelas sudah lama disusun olehnya tapi orang yang mendengarkannya menjadi kurang begitu mengerti dengan maksud dan tujuan yaag sebenarnya.......

Tapi Hoa In-liong memang cerdik, setelah berpikir sebentar, ia segera memahami apa pemintaan Thian lk cu, dengan sikap yang hormat dia berkata.

"Jangan kuatir cianpwe sejak kini asal boanpwe bertemu dengan orang jahat, bila bukan orang yang betul-betul laknat, pasti akan kuberi tiga kali kesempatan baginya untuk bertobat, ajaran tootiang tak akan kulupakan untuk selamanya"

Berbicara sampai disitu, dia lantas menyembah dengan penuh rasa hormat, katanya nyaring.

"Sejak kecil aku orang she Hoa memang binal dan berjiwa sempit, bila sejak kini ada kemajuan, semuanya ini berkat pelajaran dari cianpwe, harap cianpwe bersedia menerima sebuah hormatku"

"Seharusnya pinto yang musti berterima kasih kepadi kongcu atas kebijaksanaanmu"

Cepat-cepat Thian Ik-cu menjawab.

Sayang tubuhnya terlampau parah, karena ingin meronta bangun, sekujur tubuhnya menjadi sakit sekali.

Dalam keadaan begini, tepaksa dia harus berpaling kearah Bu tim tojin sambil berkata.

"Cing lian, wakililah gurumu untuk berterima kasih kepada Hoa kongcu........!"

"Baik!"

Jawab Bu tim tojin dengan hormat, ia segera menjatuhkan diri berlutut keatas tanah. Buru-buru Hoa In-liong membimbingnya bangun sambil berseru.

"Tootiang, kau tak boleh berbuat begini!"

Thia Siok-bi tidak menyangka kalau persoalan inilah yang diminta oleh Thian Ik-cu, diam-diam ia lantas berpikir.

"Tak kusangka aku Thia Siok-bi telah menilai kebajikan seorang kuncu dengan jalan pikiran orang siaujin"

Karena merasa malu sendiri, tiba-tiba ia maju ke depan sambil memberi hormat kepada tosu itu, katanya dengan serius.

"Tootiang bisa meninggalkan kejahatan untuk kembali kejalan benar, inilah keberuntungan buat kita umat persilatan, silahkan menerima pula sebuah hormatku!"

Karena tak bisa membalas hormat, buru-buru Thian Ik-cu berseru kembali.

"Cing lian cepat wakili gurumu untuk membalas hormat!"

Sekali lagi Bu tim tootiang memberi hormat ke pada Thia Siok-bi. Dengan kening berkerut Hoa In-liong lantas berkata.

"Tootiang dengan perbuatanmu ini bukankah..."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba sambil berpaling bentaknya.

"Siapa?"

Baru saja semua orang merasa terkejut, terdengar gelak tertawa berkumandang memecahkan keheningan, lalu seorang berkata dengan suara parau tapi keras.

"Liong ji, tenaga dalammu benar-benar telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, sehingga kedatanganku pun tak berhasil mengelabuhi dirimu......."

Ditengah pembicaraan tersebut seseorang munculkan diri dari balik sebatang pohon.

Orang itu adalah seorang kakek berjubah ungu dan berambut uban, tapi wajahnya segar dan tampan dengan sepasang mata yang memancarkan sinar tajam, tidak dijumpai kerutan pada wajahnya hingga sepintas lalu seperti seseorang yang baru berusia tiga puluh tahunan Hoa In-liong segera berteriak kegirangan sambil menyembah, serunya keras-keras.

"Gwakong!"

Sampai disini, meskipun orang yang belum pernah berjumpa dengan Sin-ki-pang kaucu dimasa lalu pun akan segera mengetahui kalau pen datang tersebut adalah Pek si hujin, atau kakek luar Hoa In-liong yang merupakan salah seorang tokoh termashur dalam dunia persilatan, Pek Siauthian adanya.

Sambil tersenyum Pek Siau-thian munculkan dirinya sambil memayang bangun Hoa In-liong, katanya.

"Hayo bangun, bangun, kaupun terhitung juga jago kenamaan, kenapa masih bersifat kekanak-kanakan?"

Sinar matanya pelan-pelan dialiakan kewajah Thian Ik-cu kemudian berjalan menghampirinya. Thian Ik-cu segera merasakan semangatnya berkobar kembali, sambil tertawa katanya.

"Saudara Pek, selamat bertemu kembali!"

Ia lantas meronta dan berduduk dengan punggung menyandar pada batang pohon, muridnya ingin membimbingnya bangun tapi mesti sudah kritis keadaannya, keangkuhan Thian Ik-cu masih utuh, ia segera mendorong mereka ke samping.

Menyaksikan kejadian tersebut Pek Siau-thian tahu bahwa saat ajalnya sudah hampir tiba, diam-diam ia berkerut kening lalu katanya sambil tertawa, Hidung kerbau, sebelum bicara sudah tertawa duluan, tampang kelicikanmu masih tetap seperti sedia kala"

"Haaahhh.....haaa hhh.....hsaahhh......ucapan Pek heng selalu menyudutkan orang, kau memang pantas menjadi pentolan bajingan"

Sahut Thian Ik-cu sambil tertawa terbahakbahak.

Setelah saling mengejek dan mencemooh, kedua orang itu sama-sama bertepuk tangan sambil tertawa tergelak.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam ikut tersenyum dihati, sedangkang Thia Siok-bi dan Bu tim tojin sekalian malah dibikin tertegun kebingungan.

Selang sesaat kemudian Thian Ik-cu baru berkata lagi dengan wajah bersedih hati.

"Bila dalam hidupnya seorang manusia bisa mendapatkan seorang teman akrab, maka sekalipun mati juga tak menyesal, sudah setengah abad kita saling bermusuhan, tak disangka Pek heng adalah sahabat pinto, sayang disini tiada arak, kalau tidak tentu akan kuajak Pek heng untuk minum sampai mabuk"

Pek Siau-thian ikut merasa sedih, tapi diluaran katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.......haaahh.......haaahh..........hidung kerbau, orang bilang tahu diri sendiri tahu orang lain maka setiap pertarungan akan berhasil dimenangkan, aku orang she Pek kalau memang menjadi musuh bebuyutanmu masa tidak mengetahui tentang dirimu?"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Baru begitu kau sudah menantang aku untuk minum arak, tampaknya sekalipun kau sudah bertapa menyucikan diri, kesucianmu masih belum bisa dipertanggung jawabkan"

Thian Ik-cu tertawa geli oleh perkataan tersebut.

"Ucapan saudara Pek memang benar, sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan!"

Tiba-tiba diatas wajahnya terlintas rasa kesakitan hebat.

In liong segera mengerutkan dahinya dan buru-buru maju ke depan, telapak tangan nya dengan cepat ditempelkan diatas jalan darah Hoa kay hiat ditubuh Thian Ik-cu sambil mengerahkan kembali tenaga dalamnya.

Dengan suara lirih Thian Ik-cu segera berkata.

"Pinto sudah pasti mati, Hoa kongcu tak perlu menghamburkan tenaga dalam dengan percuma"

"Tapi Hoa In-liong berlagak seakan-akan tidak mendengar, hawa murninya pelan-pelan disalurkan kedalam tubun Thian Ik-cu tanpa berhenti.... Mengunakan tenaga dalam untuk menyambung usia orang sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang sangat merugikan tenaga dalamnya, tapi dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, ia tak perlu menguatirkan hal tersebut. Tapi kenyataannya, sekalipun tenaga dalamnya sudah tersalur ke dalam tubuhnya, seakan-akan batu yang tenggelam didasar samudra, kekuatan tersebut seolah-olah lenyap dengan begitu saja. Sadarlah pemuda itu kalau Thian Ik-cu sudah tiada harapan untuk hidup lagi, atau dengan perkataan lain, asal ia menghentikan penyaluran hawa murninya, nyawa tosu tua itu pasti akan melayang meninggalkan raganya. Tak terlukiskan rasa sedih yang mencekam perasaan Hoa In-liong ketika itu, sebab bagaimanapun juga keadaan yang dialami Thian Ik-cu sekarang sebagian besar ada lah akibat dari perintahnya. Sementara itu terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali.

"Cing Lian, kalian tak boleh membalaskan dendam bagi kematianku. kaupun tak boleh pergi mencari Kok See-piau!"

Baca Juga: Pedang Hati Suci 7

Baca Juga: Walet Besi 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert