Ceritasilat Novel Online

Harimau Kemala Putih 2

Eps 2 Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.

Kata Sugong Siau hong lagi.

"Meskipun ia sendiri selalu tinggal dalam keretanya, namun paling sedikit ada tiga puluh orang lebih yang siap sedia menantikan perintahnya setiap saat kurang lebih lima ratus langkah dari kereta ini, diantaranya termasuk juga empat orang ko-ki terbaik yang belum tentu bisa diundang oleh istana kaisar, dan empat orang ahli kuda yang pernah menjadi penanggung jawab perawatan kuda dari Tay ciangkun yang melakukan operasi penyerbuan ke barat!"

Bukan empat, tapi enam orang!"

Tuan rumah membenarkan kesalahan tamunya sambil tersenyum.

Diantara senyuman itu tidak terselip nada sombong atau tinggi hati, pun nada pula nada membanggakan diri.

Ia mengucapkan perkataan itu tak lebih hanya bermaksud untuk membenarkan kesalahan yang di buat oleh tamunya.

"Baik ruang kereta maupun roda kereta yang berada disini dibuat secara khusus oleh ahli-ahli kenamaan"

Kembali Sugong Siau-hong menerangkan.

"bukan indah saja bentuknya, bahkan jauh lebih kokoh daripada bangunan rumab biasa, maka dari itu bobotnyapun lebih berat dari kereta biasa, delapan ekor kuda penghela keretanya meski merupakan kuda-kuda jempolan, tapi setiap kali setelah menempuh perjalanan sejauh tiga-lima ratus li, harus diganti satu kali"

"Bagaimana cara untuk menggantinya?"

Tanya Bu-ki keheranan.

"Asal tempat yang disinggahi adalah tempat-tempat yang sering dikunjungi, maka setiap jarak tiga sampai lima ratus li tentu terdapat sebuan pos untuk nengganti kuda"

Ia menghela napas panjang, katanya lagi.

"Menurut penilaianku, paling sedikit kuda yang dipeliharanya mencapai delapan ratus ekor lebih, bahkan diantaranya separuh bagian merupakan kuda-kuda pilihan kelas satu"

Seorang cacad ternyata memelihara delapan ratus ekor kuda, inilah kejadian sensasi yang jarang dijumpai didunia ini.

Tapi Sugong Siau-hong mengucapkan kata-kata itu dengan wajah bersungguh-sungguh, Bu-ki tahu ia tak mungkin sedang mengibul atau sengaja membesar-besarkan keadaan.

"Hanya khusus untuk membeayai hidup ke tiga puluh orang pengiringnya serta delapan ratus ekor kuda ini setiap bulan ia memerlukan untuk mengeluarkan beaya paling sedikit lima laksa tahil perak ! "Akan tetapi kau belum pernah melihat ia mendapat untung barang sepeser uang pun? lanjut Bu-ki.

"Jangankan mendapat untung, sejengkal tanahpun ia tidak memiliki"

"Siapa tahu kalau ia mempunyai banyak rumah pegadaian? Aku dengar rumah pegadaian merupakan suatu usaha perdagangan yang paling cepat mendapatkan untung"

Tiba-tiba tuan rumah menghela napas, katanya.

"Apakah kau telah menganggap diriku sebagai seorang pengusaha? Apakah aku mempunyai tampang sebagai seorang pengusaha?' Mau tak mau Bu-ki harus mengakui, orang ini memang tidak mirip sebagai seorang pengusaha, bahkan tampang untuk ke situpun tidak ia miliki .... Kembali tuan rumah menghela napas.

"Barang siapa tega menganiaya seseorang yang sudah menjadi cacad, Thian pasti akan menurunkan kesialan seumur hidup kepadanya, bahkan kemungkinan besar akan menjatuhkan hukuman mati kepadanya!"

Sugong Siau-hong segera menimbrung.

"Aku selalu merasa tak habis mengerti, Thiankah yang telah melimpahkan hukuman ini kepada orang-orang itu, ataukah dia sendiri yang melakukannya?"

Setelah tersenyum lanjutnya.

"Aku cuma tahu, diantara ke tiga puluh orang pengiringnya, paling sedikit ada belasan orang di antaranya merupakan jago persilatan kelas satu dalam dunia dewasa ini"

Bu-ki yang mendengarkan pembicaraan itu seakan-akan merasa seperti mendengarkan suatu cerita dongeng yang menarik.

"Sekarang sudahkah kau tahu manusia macam apakah dirinya itu?"

Tiba-tiba Sugong Siauhong bertanya.

"Tidak tahu!"

Sugong Siau-hong tertawa getir.

"Padahal aku sendiripun tak tahu, sudah banyak tahun aku menjadi sahabat karibnya, tapi hingga kini belum pernah kuketahui siapakah namanya yang sesungguhnya, tapi setiap kali aku mengetahui kalau dia berada disekitar sini, maka aku dapat meninggalkan semua pekerjaaaku untuk menyusul kemari dan menjenguk dirinya!"

"Yaa, kita memang sudah lama tak bersua, maka kau ingin sekali bertemu denganku"

Kata tuan rumah sambil tersenyum. Kepada Bu-ki kembali katanya.

"Tapi aku percaya pemuda ini belum tentu ingin datang kemari untuk menjenguk manusia cacad macam aku ini, siapa tahu perasaan hati kecil nya sekarang sudah timbul perasaan muak atau bosan"' "Siapapun tak akan merasa muak atau bosan bila dapat berjumpa dengan manusia macam kau!"

Katanya dengan nada bersungguh-sungguh,"sayang aku masih ada urusan lain, terpaksa aku harus mohon diri lebih dahulu!"

"Bila kau setuju untuk tetap tinggal disini, aku jamin pada malam ini nanti kau dapat melihat lebih banyak manusia yang menarik dan lebih banyak peristiwa yang menawan hati!"

Bu-ki ragu sejenak, tapi akhirnya, ia lebih dicekam oleh perasaan ingin tahunya, ia tak dapat menampik undangan yang sangat menarik hatinya itu...

Gelak tertawa tuan rumah kedengaran lebih nyaring dan melengking.

Seseorang yang sepanjang tahun hidup menyendiri dalam alam suka dan siksaan, kadangkala memang lebih pandai untuk menyenangkan hati tamu-tamunya.

Sekali lagi ia memberi jaminan kepada Bu-ki.

"Aku tak akan membuat kau kecewa!" ***** Sesungguhnya siapa saja yang akan berdatangan kesitu malam nanti? Bila duduk dalam sebuah kereta yang berbentuk aneh dan duduk dihadapan seorang tuan rumah yang aneh pula, hal ini sudah cukup meninggalkan kesan istimewa yang sulit untuk dilupakan selamanya. Bu-ki benar-benar tak dapat menebak peristiwa menarik apa lagi yang bisa ia temui pada malam nanti! Ditepi pembaringan bambu tempat bersandar tangan tergantung sebuah lonceng emas kecil, tuan rumah mengambil sebuah pemukul lonceng kecil yang terbuat dari emas dan memukulnya. Kemudian sambil tersenyum ia menjelaskan.

"Lonceng ini kugunakan untuk memanggil orang-orangku bila kubunyikan satu kali berarti yang kuundang datang adalah pengurus rumah tanggaku Oh-Ki!"

Baru saja lonceng dibunyikan, dan ucapannya belum habis diutarakan Oh-Ki sudah muncul didepan pintu, seakan-akan dia adalah sesosok siluman raksasa yang setiap saat siap menantikan perintah.

Oh Ki adalah seorang manusia raksasa yang tinggi badannya mencapai sembilan depa lebih, sepasang matanya cekung ke dalam, rambutnya lurus dan kaku seperti kawat, mukanya hitam berminyak dan membawa sifat garang dari seekor binatang buas, ia mempunyai sepasang tangan yang besar dan penuh berotot hijau, sebilah golok lengkung model persia tersisip dipinggangnya, membuat raksasa ini kelihatan amat berbahaya dan menakutkan orang.

Kendatipun tampangnya garang dan perawakan tububnya menakutkan namun dihadapan majikanna ia memperlihatkan sikap hormat, tunduk dan takluknya yang tulus ikhlas.

Setelah menampakkan diri, serentak ia menjatuhkan diri dibawah kaki majikannya dan dengan sikap yang hormat ia cium sepatu majikannya.

Baginya, bisa mencium kaki majikannya sudah merupakan suatu kehormatan yang amat besar.

Dengan sikap yang dingin, angker dan serius tuan rumah berkata.

"Bukankah sekarang sudah mendekati tengah malam?"

"Benar!"

"Sudah selesai kau siapkan segala sesuatunyal"

"Sudah!"

Walaupun majikannya merasa sangat puas, namun ia tidak menunjukkan sikapnya untuk memuji atau memberi pahala, hanya pesannya lagi dengan suara hampa.

"Kalau begitu, kita mulai sekarang juga"

"Baik!"

Sekali lagi Oh Ki menjatuhkan diri menyembah di kaki majikaunya, kemudian baru mengundurkan diri, Sekalipun dia hanya mengucapkan sepatah kata setiap kali menjawab pertanyaan majikannya, namun Bu-ki dapat menangkap betapa kaku, aneh dan lucunya logat orang itu.

Rupanya tuan rumah dapat meraba keheranan tamunya, ia lantas menerangkan.

"Ayahnya adalah seorang pedagang persia dan ia sendiri sesungguhnya adalah soorang penjaga dari Tay-ciangkun, suatu kali lantaran ia telah melanggar peraturannya militer. Tayciangkun menitahkan menjatuhi hukuman mati kepadanya"

Perintah Tay-ciangkun (sang jenderal) lebih berat dari bukit karang, semua orang mengetahui hal ini dan belum pernah ada orang yang mampu meloloskan diri dari cengkeramannya.

Akulah yang telah menukar jiwanya dari cengkeraman Tay ciangkun dengan seekor Han-hiatbe (kuda keringat darah), tuan rurnah menerangkan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Tay-ciangkun sangat menggemari kuda-kuda jempolan, bahkan kegemarannya itu membuat ia tergila-gila, dalam pandangannya nilai dari seekor kuda jempolan jauh lebih tinggi dan berharga dari pada nilai manusia macam apapun.

Sugong Siau-hong segera menghela napas panjang katanya pula.

"Untung mempunyai seekor kuda jempolan yang tak ternilai harganya sehingga dapat ditukar dengan seorang pembantu yang begini setianya kepadamu"

Dia bukan pelayanku, dia adalah budakku, setiap saat aku dapat suruh dia pergi mati!"

Perkataan itu diucapkan dengan suara yang hambar, tiada nada untuk membanggakan diri, melainkan hanya mengucapkan suatu kenyataan belaka.

Tapi bagi pendengaran orang lain, pada hakekatnya ucapan tersebut lebih mirip dengan suatu kisah dongeng.

Pada saat itulah dari kegelapan hutan belantara tiba-tiba memancarkan keluar sinar terang yang aneh sekali, Sesungguhnya Bu-ki tak pernah melihat sebuah lenterapun disekitar tempat itu, akan tetapi sekarang sinar terang memancar dari empat penjuru membuat sesuatu disana lebih terang dari siang hari.

Pepohonan yang tumbuh berderet-deret dimuka kereta, tiba-tiba pada bertumbangan kemanamana.

dan semua pohon yang tumbang dengan cepatnya diseret pergi oloh seutas tali yang luar biasa besarnya.

Dalam sekejap mata hutan yang berada disekitar kereta telah berubah menjadi sebuah tanah datar.

Kendatipun selama ini Bu-ki menyaksikan semua adegan tersebut dengan mata kepala sendiri, namun hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya didepan mata.

Diatas wajah sang tuan rumah yang pucat pias, akhirnya tersungging juga sekulum senyuman bangga.

Terhadap kebaktian dan kehebatan anak buahnya untuk melaksanakan perintah seperti yang di harapkan, tak ada seorang manusiapun tidak merasa bangga dan puas.

Sekali lagi Sugong Siau-hong menghela napas, ia selalu berharap anak buahnya bisa melaksana kan pekerjaan sehebat dan setepat orang-orang itu ...

Tak tahan lagi ia berkata.

"Kalau aku bisa mendapatkan manusia macam Oh Ki, harus membayar dengan sepuluh pasang kuda mestika pun aku rela!"

Tuan rumah hanya tersenyum.

Meskipun orang ini bukan seorang pengusaha, tapi belum pernah ia melakukan suatu barter yang merugikan pihaknya.

Hujan telah berhenti, udara menjadi cerah kembali.

Tiba-tiba dari luar hutan sama kedengaran suara ketukan kayu yang nyaring, menyusul kemudian seseorang berteriak lantang.

"Daging sapi masak bumbu Ngo-hiang... daging sayur sari Tay-im-tun"

Menyusul teriakan itu, seorang laki-laki gemuk yang mengenakan topi lebar dari anyaman bambu dengan memikul pikulan jualan masuk ke tanah lapang itu.

Pada pikulannya yang depan terdapat sebuah tungku api dengan kuah penuh kuah yang masih panas, sedang pada bagian belakangnya dipakai untuk lemari penyimpan mangkuk sumpit dan sumbu, bentuk pikulannya tak ubahnya seperti tukang cangkring penjual bakso sapi.

Bila kau kebetulan berada di wilayah kanglamdan tengah malam tak dapat tidur, setiap saat di setiap tempat dapat kau jumpai tukang penjual daging ngo-hiang macam ini untuk ngiras.

Tapi mimpipun Bu-ki tak pernah menyangka kalau ditempat seperti ini ia dapat bertemu dengan penjajah makanan macam ini.

Ditempat seperti ini sinpakah yang bakal jajan daging Ngo-hiang?

Baru saja orang itu menurunkan pikulannya, dari luar hutan kembali kedengaran seseorang berteriak menjajakan dagangannya, ia berteriak dengan logak propinsi Shezuan.

"Kueh lapis gula putih .... kueh lapis gula merah, pia isi kacang ijo..."

Seorang kakek kurus jangkung sambil membawa pikulan yang ditutup dengan kain hijau masuk ke dalam lapangan.

Orang ini khusus berjualan aneka macam kue basah dan kueh kering, semuanya merupakan kueh-kueh manis yang paling disukai orang di wilayah Shezuan....Tapi, aneh benar!

mengapa mereka berdatangan kesitu untuk menjajakan barang dagangannya?

Yang lebih hebat lagi, ternyata yang datang bukan hanya mereka berdua, mesyusul kemudian kedatangan dua orang pertama, secara beruntun berdatangan pula penjual-penjual sayur asin, penjual arak, penjual kulit kedelai dari propinsi Oh-pak, penjual Cah-kwee, penjual bak-pao model Shoa-tang, penjual pia yang dari Hok-kian, Penjual tepung telur ikan dari Leng-jam.

penjual ayam goreng, penjual daging kambing bakar, penjual ikan gurami, penjual wedang tahu, penjual kueh-kueh hidangan kecil serta aneka ragam penjualan makanan lain yang tak dapat disebutkan satu-persatu.

Pokoknya dalam waktu singkat telah berdatangan dari empat penjuru penjaja-penjaja makanan yang pada berteriak menawarkan dagangannya dengan logak daerah masing-masing ........

Tentu saja suasana disekitar tanah lapangpun berubah menjadi ramai dan sangat gaduh, macam dalam pasar malam saja.

Sampai melongo Bu-ki menyaksikan kesemuanya itu.

Belum pernah ia saksikan begitu banyak penjaja makanan kecil yang berkumpul menjadi satu di satu tempat, lebih lebih lagi tak pernah ia sangka kalau mereka akan berkumpul semua ditempat seperti ini.

Mau apa sesungguhnya kedatangan mereka semua ke tempat seperti ini ?

Siapakah yang akan membeli barang dagangan mereka itu.

Kalau dikatakan bukan barang jualan lantas apa kah makanan sebanyak itu hendak dimakan sendiri.

Yaa, tampaknya dugaan ini memang tak salah, mereka memang sengaja menyiapkan makanan untuk dimakan sendiri?

Namun sebelum mereka mulai bersantap, setiap orang telah menyiapkan semangkuk hidangan barang penjualannya yang terbaik untuk dipersembahkan kepada pemilik kereta berkuda yang misterius itu.

Pertama-tama masuk dulu penjual daging ngo-hiang sambil membawa semangkuk penuh dagiug ngo-hiang yang terbaik, ia berlutut didepan pintu dan berkata dengan penuh rasa hormat.

"Hanya ini yang bisa tecu persembahkan untuk majikan, semoga majikan selalu diberi badan yang sehat dan sukses selalu dalam segala pekerjaan ....."

Tuan rumah cuma tersenyum sambil manggut-mangut, kata terima kasih tak pernah meluncur keluar dari mulutnya.

Kendatipun demikian, anggukan tersebut sudah cukup membuat penjual daging ngo-hiang kegirangan setengah mati, sebab ia telah melihat senyuman dari majikannya.

Menyusul kemudian penjual kueh, penjual sayur asin, penjual arak penjual wedang tahu, penjual pia dan semua penjajah makanan lainnya maju mempersembahkan barang dagangannya untuk majikan mereka .

Yaa, mereka satu persatu maju ke muka secara teratur, bahkan sambil berlutut mengucapkan selamat untuk majikannya dengan logat daerah masing-masing, tentu saja apa yang mereka ucapkan adalah kata-kata yang bisa mendatangkan rasa gembira buat majikannya.

Bila didengar dari logat mereka, semua bukan saja dari utara selatan bahkan dari setiap pelosok dunia telah berdatangan semua kemari.

Jauh-jauh dari ribuan li mereka datang secara bersama-sama ketempat ini, apakah tujuannya hanya ingin mempersembahkan semangkuk daging ngo-hiang atau semangkuk wedang tahu"

Bu-ki benar-benar dibuat tercengang.

Apalagi ketika ia menyaksikan si nenek penjual wedang kacang tanah sedang mempersembahkan barang dagangannya, hampir saja ia menjerit saking kagetnya.

Ia kenal baik dengan nenek tersebut, sebab sinenek penjual wedang kacang tanah itu bukan lain adalah Hek Popo yang tersohor di dunia persilatan sebagai Kim-kiang-gin-tan( busur emas panah perak) Hek Popo seperti sama sekali tidak melihat ke hadirannya disana.

bahkan seperti tidak kenal dengan sikap yang sangat hormat ia berlutut ditanah sambil mempe sembahkan hadiahnya, lalu dengan perasaan yang gembira mengundurkan diri dari sana setelah mendapat sekulum senyuman dari majikannya.

Dalam keadaan seperti ini, Bu-ki hanya dapat menyimpan semua perasaan heran dan ingin tahunya didalam hati, sebab dia adalah seerang pemuda yang mempunyai pendidikan, dia tak ingin bersikap kurang hormat didepan tuan rumah.

***** Para penjajan makanan itu sudah mulai berpesta pora, caranya arak yang menjadi miliknya dibe-rikan kepada orang lain, dan ia mengambil barang dagangan orang, pokoknya kau makan wedang kacangku, aku makan daging sapimu, ternyata pesta semacam ini jauh lebih menarik dan berkesan dari pada makan semeja yang lebih komplit hidangannya.

Orang-orang itu bukan saja saling mengenal satu sama lainnya, bahkan tampaknya merupakan sahabat-sahabat yang paling karib.

Cuma lantaran semua orang harus lari kesana kemari untuk menyambung hidup, maka dihari biasa sangat jarang mereka dapat berjumpa muka.

Didalam satu tahun hanya satu kali dapat berkumpul menjadi satu dalam suasaha semacam ini, tak heran kalau pesta berjalan sangat meriah dan penuh dengan gelak tertawa.

Yang lebih aneh lagi, si penjual daging ngo-hiang hakekatnya tidak mirip seorang penjual daging ngo-hiang, yang menjual pia pun tidak mirip dengan seorang penjual pia.

Sekalipun asal-usul orang lain tak bisa diketahui dengan pasti, paling sedikit Bu-ki tahu kalau Hek popo bukanlah seorang nenek penjual wedang kacang tanah.

Apakah orang lainpun sama semua seperti dirinya?

Mereka hanya menggunakan penjaja makanan kecil untuk merahasiakan asal-usul yang sebenarnya.

Lantas apa pekerjaan mereka diwaktu-waktu biasa?

***** Bu ki telah menghabiskan beberapa kacang, arak, mencicipi bubur kedelai, hidangan dari Oupak dan mencicipi pula aneka macam hidangan yang berpuluh-puluh jumlahnya itu, yang jelas semua hidangan tersebut tak mungkin bisa ia cicipi sekaligus di hari biasa.

Tuan rumah memandangnya dengan senyuman di kulum.

"Aku paling suka dengan pemuda yang kuat takaran makannya, sebab hanya orang yang kuat perkasa dan tak pernah melakukan perbuatan yang merugikan orang saja yang dapat mempunyai takaran makan yang besar ...... Apa yang dia katakan selalu kedengaran aneh dan janggal, tapi justru dibalik kejanggalannya itu terselip suatu kebenaran yang tak mungkin bisa di bantah. Kembali ia bertanya kepada Bu-ki.

"Coba lihatlah, bukankah mereka semua amat menarik hati?"

Bu-ki mengakuinya.

"Tapi aku masih belum melihat sesuatu kejadian yang menarik, mencicipi aneka macam makanan bukan termasuk suatu kejadian yang amat menarik hati"

Tuan rumah tersenyum.

"Sebentar lagi kau akan menyaksikannya sendiri"

Jilid 4________ SEBELUM Bu-ki sempat menikmati suatu yang menarik hati, orang orang itu sudah pada meng-undurkan diri.

Sebelum berangkat, sekali lagi orang-orang itu menyembah pada tuan rumah yang misterius sambil mengucapkan selamat.

Setelah itu diantara mereka sendiri baru saling mengucapkan selamat berpisah.

Sampai jumpa tahun depan!' Suaranya itu masih berdengung ditepi telinga tapi orang-orang itu sudah berlalu semua hingga tak berbekas, hanya pikulan-pikulan penjaja makanan mereka yang ditinggal semua ....'Mungkinkah mereka sudah sedemikian mabuknya sampai alat peraga pencari makanpun kelupaan untuk dibawa serta ?"

Sugong Siau-hong tak dapat menahan rasa ingin tahunya, tiba tiba ia bertanya.

'Mengapa kau tidak suruh mereka membawa pergi semua barang barang miliknya?'' 'Benda-benda itu memang khusus mereka bawa untuk diberikan kepadaku, masa barang yang telah dipersembahkan mereka bawa pulang lagi?' "Mengapa mereka harus mengirim barang-barang seperti ini kepadamu?"

"Karena mereka tahu aku harus memelihara tiga puluh orang pengiring dan delapan ratus ekor kuda! Sugong Siau-Kong tak dapat menahan rasa gelinya, ia terbahak-bahak.

"Haaahh ..baaahhh ..haaahhh apa gunanya barang-barang semacam itu untukmu ? Masa kaupun ingin bertukar usaha dengan berjualan daging bumbu ngo-hiang?"

Tuan rumah ikut tertawa bergelak.

SETAN JUDI DAN MAYAT HIDUP TlBA -TIBA dari luar hutan berkumandang suara teriakan seseorang, suara itu keras seperti guntur yang membelah bumi, membuat telinga orang mendengung tajam.

'Haaahh ..haaahhh ...

haaahhh ...

aku sudah tahu kalau kau pasti berada di sini, kau tak dapat menghindari pencarianku!"

Kata orang itu sambil terbahak-bahak.

Ketika gelak tertawa itu mulai kedengaran, suaranya masih berada ditempat yang sangat jauh, tapi ketika gelak tertawa itu terhenti, orang itu sudah berada dihadapan mereka.

Seorang laki-laki tinggi besar yang hampir menandingi besarnya Oh Ki dengan memanggul sebuah karung goni yang amat besar di pangung dan menenteng sebuah lagi ditangan, bagaikan burung walet terbang di udara meluncur datang dengan cepatnya.

Bu-ki cuma merasakan berkelebatan bayangan manusia, tahu-tahu orang itu sudah berdiri di muka pintu kereta.

Seandainya tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, orang tak akan percaya kalau seorang laki-laki sebesar ini ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh yang lincah dan gesit.

Udara di bulan keempat ini sudah mulai panas, tapi laki-laki itu mengenakan sebuah baju tebal yang terbuat dari kulit kambing, rambutnya yang awut-awutan macam rumput kering diikat dengan seutas tali.

kakinya segede gajah mengenakan sepasang sepatu rumput yang sudah butut.

Belum lagi kakinya berdiri tegak, ia sudah menuding hidung tuan rumah sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ... haaahh ... haaahh ... bocah keparat, kau memang hebat sekali, sampai akupun tidak menyangka kalau tahu ini kau bakal memilih suatu tempat pertemuan yang begini dekat dengan jalan raya, akupun tak mengira kalau kau telah menitahkan anak cucu muridmu untuk menyaru sebagai penjaja makanan kecil."

Kalau orang lain bersikap amat hormat kepada tuan rumah, maka orang ini bukan saja tidak menaruh sikap hormat, bahkan mencaci maki seenaknya dengan kata kata yang paling kasar.

Tapi tuan rumah tidak menegur atau kurang senang hati, bahkan diapun ikut tertawa dengan gembira.

''Akupun tidak menyangka kalau tahun ini masih dapat bertemu lagi denganmu.

Laki laki itu tertawa.

"Meskipun aku Samwan Kong setiap kali berjudi tentu kalah, tapi kepandaianku mencari orang adalah nomor satu di dunia!' Kepandaianmu untuk kalah berjudipun merupakan nomor satudi dunia!' tuan rumah menambahkan. Samwan Kong tergelak gelak.

"Haahhh....haaahhh...haahh. ... betul betul, neneknya kura-kura, tepat memang perkataanmu itu!' 'Kalau kau sudah tahu bila berjudi pasti kalah, mengapa tahun ini datang ke mari lagi."

"Setiap orang pasti mempunyai saat beruntung dan saat sial, siapa tahu setelah kalah habishabisan tahun lalu, tahun ini nasibku akan mengslami perubahan? "Jadi tahun ini kau betul-betul ingin berjudi lagi? Siapa yang tak mau berjudi dia adalah cucu kura-kura ! Samwan Kong berteriak. Tiba-tiba ia menumpahkan seluruh isi karung goninya ke atas tanah, lalu katanya lagi.

"Akan kugunakan benda-benda ini untuk mempertaruhkan pikulan pikulan penjaja makanan milik anak cucu muridmu ! Untuk kesekian kalinya Bu-ki tertegun. Meskipun semua benda yang berhamburan ke luar dari karung goni itu termasuk juga barang acak-acakan yang beraneka ragam, namun diantara sekian banyak barang itu tak ada satupun yang bukan merupakan benda berharga. Cahaya gemerlapan memantul dari atas tanah, diantara benda-benda yang berserakan di tanah itu tampak tempat lilin yang terbuat dari emas, tungku emas patung emas, perhiasan-perhiasan dari emas, kopiah emas, ikat pinggang emas, lantakan emas, poci emas, cawan emas dan aneka macam benda lain yang keseluruhannya terbuat dari emas murni. Pokoknya semua benda yang bisa dibuat dari emas, dapat ditemukan semua dari atas tanah, malahan diantara gemilangnya sinar emas terdapat pula butiran butiran intan permata, berlian dan mutiara yang tak ternilai harganya. Jangan-jangan orang ini sudah edan? Demikian Bu-ki berpikir. Sebab hanya orang edan saja yang akan menggunakan begini banyak emas murni dan benda berharga lainnya untuk mempertaruhkan beberapa puluh buah pikulan penjaja makanan itu.

"Tidak, aku tak mau bertaruh!"

Ternyata tuan rumah lebih edan, ia telah menolak tawaran tersebut. Paras muka Samwan Kong segera berubah menjadi merah padam seperti kena ditampar, teriaknya dengan penasaran.

"Kenapa kau tak mau bertaruh?"

"Karena barang yang kau pertaruhkan belum cukup!"

Jawab tuan rumah tenang. Tak seorangpun yang beranggapan bahwa modal taruhannya kurang memadahi, siapa tahu ia sendiri ternyata mengakuinya. Dengan wajah masam ia berkata.

"Sekalipun modal taruhan yang kubawa kali ini masih belum memadahi, tapi bagaimanapun juga kau harus bertaruh denganku!"

"Kenapa?"

"Sebab selama sepuluh tahun terakhir, sekalipun aku tak pernah menangkan dirimu, kau musti memberi satu kesempatan kepadaku untuk menangkan taruhan ini."

Tuan rumah masih juga mempertimbangkan hal ini, lama sekali ia termenung sambil menghitung untung ruginya, akhirnya secara terpaksa dia menyetujui juga .

"Baiklah, kuberi kesempatan yang baik untukmu guna mencari kemenangan ..... bersiapsiaplah!"

Belum habis kata-kata itu, Samwan Kong lelah berjingkrak kegirangan.

"Cepat ambil dadu ..... cepat ambit dadu ....mari kita bertaruh sekarang juga."

Dadu telah dipersiapkan sejak tadi, seakan-akan tuan rumah memang telah persiapkan benda itu semenjak tadi.

Dadunya terbuat dari batu kemala putih, sedang mangkuknya dibuat dari emas murni.

Dengan semangat yang menyala-nyala Samwan Kong berseru.

"Setiap kali aku bisa melihat ketiga biji dadu ini, belum-belum hatiku sudah merasa puas sekali, sekalipun musti kalah, akupun tetap puas sekali !"

"Siapa yang akan melemparkan dadu ini lebih dulu?"

Tanya tuan rumah kemudian.

"Aku !"

"Pertaruhan ini hanya berlangsung antara kau melawan aku, perlu tidak seorang bandar?"

"Tidak, tidak perlu bandar!"

Samwan Kong gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, sekalipun kau berhasil melemparkan dadumu dengan angka empat lima dan enam, aku masih sanggup untuk menyusulnya.

"Baik, kalau begitu akan kulempar dadu ini dengan angka empat, lima dan enam, ingin kulihat dengan cara apa kau hendak menyusulnya!"

Sekali comot dia ambil dadu dadu itu dari mangkuk, kemudian dengan jepitan jari tengah, jari telunjuk dan jari manisnya ia angkat dadu-dadu itu lalu diketukkan tiga kali di tepi mangkuk ..... ."

"Ting, ting, ting!"

Diiringi dentingan nyaring dadu itupun disebarkan dalam mangkuk.

Gaya tangannya bukan cuma berpengalaman bahkan sangat indah, tampaklah ketiga biji dadu yang putih mulus itu bergelinding lalu berputar tiada hentinya di dalam mangkuk.

Akhirnya dadu yang pertama telah berhenti, dadu itu menunjukkan angka "empat,"

Menyusul kemudian dadu keduapun berhenti, dadu ini menunjukan angka "enam". Samwan Kong segera membentak nyaring "Lima!"

Dadu ketiga yang berhenti berputar benar-benar menunjukkan angka "lima,"

Dengan begitu maka ia benar benar berhasil meraih angka "empat, lima dan enam."

Dalam perjudian dadu, kecuali tiga angka kembar maka angka tertinggi yang bisa diraih orang adalah angka "empat lima enam"

Tentu saja untuk mendapatkan angka "macan tutul"

Atau angka kembar itu jauh lebih sulit dari pada mengharapkan pohon besi berbunga. Samwan Kong segera tergelak gelak dengan riangnya.

"Haaahhh ... huaahhh ... haaahhh ....agaknya nasibku tahun ini telah mengalami perubahan besar, coba lihat hasil angka yang berhasil kuraih ... rasa-rasanya untuk menderita kalah kali ini bukan suatu hal yang gampang terjadi."

Tuan rumah menghela napas panjang.

"Aaaai ... yaa, memang tidak mudah!"

Keluhnya. Tiba-tiba ia berpaling ke arah Bu-ki, kemudian tegurnya.

"Kau pernah bermain dadu?"

Tentu saja Bu-ki pernah bermain dadu. Ia bukan termasuk seorang anak baik-baik, perjudian macam apapun pernah ia lakukan seringkali uang sakunya ludas di meja judi.

"Bagaimana kalau kau membantu aku untuk menyebarkan dadu-dadu itu?"

Pinta tuan rumah lagi.

"Baik!"

Sudah menjadi kebiasaan baginya, setiap masalah yang belum tentu bisa ditolak olehnya, serta merta dia akan menyanggupi dengan begitu saja. Jarang sekali ia tolak permohonan orang lain.

"Bolehkah kuminta bantuannya untuk memutarkan biji-biji dadu itu?"

Tanya tuan rumah kemudian kepada lawan judinya.

"Tentu saja boleh!"

Samwan long segera menyetujui.

"Andaikata ia mampu meraih tiga angka kembar si macan tutul, kaupun tak akan menyesal?"

Desak tuan rumah lagi.

"Kalau dia mampu meraih tiga angka kembar, maka aku akan ...."

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Terserah apa yang dia minta! pokoknya semua yang dia harapkan akan kulaksanakan."

Tukas Samwan Kong cepat.

"Oooh ....jadi maksudmu, apapun yang ia minta kau lakukan, akan kau laksanakan tanpa membantah?"

"Betul !"

"Tahukah kau bahwa perkataan semacam ini tak boleh diutarakan secara sembarangan?"

"Kenapa?"

"Dahulu aku pernah kenal dengan seorang anak gadis yang gemar bertaruh dengan seorang kawanku, seringkali ia mengucapkan kata-kata seperti apa yang barusan kau katakan!"

"Dan akhirnya?"

"Akhirnya dia menjadi bininya temanku"

Tiba-tiba Bu-ki tertawa lebar.

"Tapi kau tak usah kuatir"

Selanya.

"bagaimanapun juga, tak nanti kupaksa kau untuk menjadi biniku!"

Seperti juga apa yang dilakukan Samwan Kong, dengan ketiga jari tangannya ia mencekal dadu-dadu itu, lalu diketukkan tiga kali ditepi mangkuk emas.

"Ting ting, ting ... !"

Dentingan nyaring menggema di udara dan ..... Kerontang .., !"

Tiga biji dadu itu tersebar di dalam mangkuk dan berputar tiada hentinya.

Samwan Kong menatap tajam ketiga biji dadu yang sedang berputar itu, matanya terbelalak lebar dan berkedip pun tidak.

Tiba tiba tuan rumah menghela napas panjang.

"Aaaai... lagi-lagi kau yang kalah!"

Bisiknya. Belum habis kata-katanya itu, ketiga biji dadu tersebut telah berhenti berputar, benar juga, dadu-dadu itu menunjukkan ke angka "enam"

Semuanya.

"Lak pa atau kembar enam merupakan angka paling top dari dadu. Untuk sesaat lamanya Samwan Kong berdiri tertegun, lama, lama sekali, tiba-tiba ia berteriak penasaran. Maknya, bikin mendongkol hati orang saja!' Tanpa banyak komentar ia berjumpalitan tiga kali di udara dan tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas. Begitu berkata akan pergi, dia lantas pergi bahkan sewaktu pergi jauh lebih cepat gerakannya ketimbang sewaktu datang, andaikata cawan emas mangkuk emas, lantakan emas dan batangan emas yang berserakan di tanah tidak masih tersebar di atas tanah, orang akan mengira bahwa di sana tak pernah kedatangan seorang manusia semacam dia. Sugong Siau-hong selalu duduk di samping dengan senyuman dikulum selama adegan demi adegan berlangsung, dia hanya duduk menikmati dengan mulut membungkam, saat itulah tiba-tiba ia berkata. Setelah menyaksikan semua adegan yang berlangsung barusan, aku jadi teringat dengan Captoa-ok-jiu (sepuluh orang paling jahat) di dunia yang pernah menggetarkan sungai telaga belum lama berselang, terutama si Ok-to-kui (si setan judi) Samwan Kong! Tentu saja kejadian itu diketahui siapapun juga didunia persilatan, sebab tokoh tokoh persilatan yang terlibat di dalamnya merupakan tokoh tokoh sakti yang punya nama besar. Yaaa, siapa yang tidak kenal dengan Ok-to-kui (setan judi) Samwan Kong, Hiat-jiu (si tangan darah) To Sat, Put-si-jin-tan (tidak makan kepala manusia) Li Toa jui, Put-lam-put-li (setengah laki setengah perempuan) To Kiau kiau, Mi-si-jin-put-bei-mia (memikat orang sampai mati tidak ganti nyawa) Coa Mie mie, Sian-li-cong-to (senyuman dibalik golok) Ha ha ji ... Masih ada lagi Siau Hi ji yang tersohor karena kecerdikannya beserta saudara kembarnya Hoa Bu koat, semuanya merupakan tokoh-tokoh persilatan yang menggempaikan seluruh dunia. Walaupun kini, sepuluh orang jahat Cap-toa-ok-jiu sudah punah, Siau Hi ji dan Hoa Bu koat telah mengasingkan diri dari dunia persilatan, tapi nama mereka masih terkenang selalu dalam ingatan semua orang. 'Aku menjadi curiga, mungkinkah Samwan Kong yang kujumpai sekarang adalah saudara kembar dari Samwan Kong yang dulu?' Tuan rumah segera tersenyum. Tentu saja kau tak akan tahu kalau mereka adalah satu orang yang sama ...!"

Katanya. 'Kenapa?' 'Karena kau tak pernah berjudi!` 'Apakah dia masih segila dulu?"

Tentu saja, bahkan cara berjudinya lebih garang lagi ketimbang dulu, dan kalahnya tentu saja lebih besar ketimbang dulu.' Yaa, dia memang biasanya cuma kalah dalam bertaruh.' Sugong Siau-hong mengakui.

'Kalau Samwan Kong dimasanya Siau Hi-ji baru akan ludas uang dan hartanya bila fajar telah menyingsing ...

'Bagaimana sekarang?"

"Sebelum fajar menyingsing, sebelum penjudi buyar, uangnya sudah ludas lebih duluan, bahkan ludas dalam sekali bertaruh! "Kayakah dia", tanya Sugong Siau-hong lagi. Tuan rumah tidak menjawab, sebaliknya sambil berpaling ke arah Bu-ki ia balik bertanya. 'Menurut pandanganmu, dia kaya tidak? 'Tentu saja!' Terpaksa Bu ki harus mengakui. Selamanya dia pasti tak akan melupakan dirimu, sebab orang yang bisa meraih tiga angka enam dalam satu kali putaran dadu tidak terlampau banyak jumlahnya' Yaa, manusia dengan kepandaian khusus ini memang tidak banyak jumlahnya . 'Kau bisa meraihkan kemenangan besar bagiku berarti nasib mujur memang masih berada di pihakku, tentu saja aku harus memberi persen atas jerih payahmu itu"

Bu ki tidak menyatakan sikap keberatan.

"Kau boleh memilih beberapa buah pikulan di antara pikulan-pikulan yang berserakan di luar sana"

Kata tuan rumah lagi.

'Baik!' jawab Bu ki singkat.

Pemuda itu tidak banyak komentar, diapun tidak berkata demikian.

'Aku toh tak akan menjadi penjual daging ngo-hiang, gunanya pikulan sebanyak itu bagiku?"

Dalam anggapannya persoalan semacam ini tidak perlu ditampik, tidak ada gunanya pula untuk ditanyakan.

Ketika tuan rumah menyaksikan di balik sinar matanya memancarkan cahaya riang, kembali katanya .

'Kau boleh memilih lima batang pikulan!" 'Baik?"

Ia segera maju menghampiri pikulan-pikulan itu dan sembarangan mengambil satu diantaranya, tapi begitu pikulan itu diangkat, rasa kaget dan tercengang segera menghiasi wajahnya.

Ternyata pikulan itu beratnya bukan kepalang hampir saja dia tak kuat untuk mengangkatnya ke atas.

Ketika ia memilih sebuah pikulan lagi, rasa kaget dan tercengangnya makin menjadi, akhirnya tak tahan lagi ia bertanya.

'Apakah semua pikulan pikulan ini terbuat dari emas murni?

'Betul, semuanya terbuat dari emas!' 'Emas murni?"

Yaa, seratus persen emas murni!' Bukan pikulannya saja yang terbuat dari emas murni, agaknya benda benda yang lainnya pun sama saja, sekalipun bukan terdiri dari emas murni semua paling sedikit yang bukan terdiri dari perak.

Sekarang Bu ki baru sadar, Samwan Kong tidak edan, tuan rumah juga tidak edan, yang edan justru adalah pedagang-pedagang kecil itu.

'Padahal mereka semua tidak edan!

tuan rumah menerangkan sambil tertawa.

Tidak edan?' 'Mereka tahu aku musti menghidupkan tiga puluh orang pembantu dan delapan ratus ekor kuda jempolan, mereka juga tahu biaya hidup sehari-hari ku sangat besar, padahal pemasukan hampir tak ada, maka setiap tahun pada hari ini mereka selalu berkumpul di sini sambil memberi sedikit hadiah untukku.

Tentu saja orang orang itu bukan penjual makanan kecil, sebab berjualan selama tiga ratus tahun penuhpun belum tentu bisa mendapat laba sebentar satu pikulan emas murni.

Dahulu mereka adalah bekas-bekas bawahanku,"

Demikian tuan rumah menerangkan."

Tapi sekarang sebagian besar dari mereka sudah menjadi pedagang pedagang besar' "Agaknya dagangan mereka pada saat ini bagus sekali, tentu laba, yang diperolehpun berlimpah ruah."

Ia tak ingin bertanya terlalu banyak, diapun tak ingin mengetahui terlalu banyak. Kau kenal dengan Hek popo? tiba tiba tuan rumah bertanya lagi.

"Kenal!" ''Tahukah kau pekerjaan apa yang ia lakukan?' Tidak tahu "Kau juga tak ingin tahu?"

"Tidak ingin!' 'Mengapa tak ingin?' Sebab setiap orang mempunyai hak untuk menyimpan sedikit rahasia pribadinya, kenapa aku musti mengetahui rahasia pribadi orang lain ?` Kembali tuan rumah tertawa.

"Mereka sedikitpun tak ingin rahasia pribadinya diketahui orang, maka bila mereka akan datang ke mari setiap tahun, jejak mereka pasti dirahasiakan dengan sebaik baiknya' 'Aku dapat melihatnya!"

Tempat pertemuan yang kami adakan setiap tahun selalu berbeda dan rahasia sekali, tiap tahun kami selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain"

Bu-ki termenung untuk berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata.

"Tapi yang pasti setiap tahun Samwan Kong selalu berhasil menemukan tempat pertemuan kalian!"

"Yaa, karena itulah saat yang paling bagus baginya untuk bertaruh sampai puas, tak pernah ia sia-siakan kesempatan yang paling baik itu barang satu kalipun!"

Bu-ki tersenyum.

"Kepandaiannya untuk kalah bertaruh memang sangat hebat sekali!"

Pujinya lirih. Bukan cuma hebat saja, hakekatnya nomor satu di dunia' 'Apakah kepandaiannya untuk mencari orang juga nomor satu di dunia...?"

"Benar!"

Mencorong sinar terang dari balik mata Bu-ki, ia menundukkan kepalanya dan sembarangan me-milih lima batang pikulan, lalu dibopong dengan kedua belah tangannya.

Lima batang pikulan itu sungguh-sungguh berat sekali.

Tuan rumah memandang sekejap ke arahnya lalu tertawa tawa.

"Jika dia ingin mencari jejak seseorang, kemanapun orang itu menyembunyikan diri, ia mampu untuk mencarinya sampai ketemu, sayangnya jika orang lain yang ingin mencari jejaknya, kalau dia belum ingin menampakkan diri, jangan harap kau bisa menemukannya,"

Demikian ia berkata.

Bu-ki bersikap seolah-olah tidak mendengar apa yang sedang ia katakan, pelan-pelan pikulan itu diletakkan ke lantai kemudian katanya secara tiba-tiba.

Meskipun kudaku bukan termasuk jenis kuda kenamaan yang mahal harganya, tapi aku tak ingin, menggencetnya sehingga mati karena keberatan."

Tuan rumah segera memahami maksud hatinya, ia berkata.

"Masa kelima batang pikulan itu dapat menindihnya hingga mati karena keberatan?"

"Jangankan dia, akupun hampir mati keberatan karena musti menggotong kelima batang pikulan ini!' "Tentu saja kau tidak ingin mati bukan? sambung tuan rumah sambil tertawa lebar.

"Sebab itulah benda-benda ini terpaksa kutinggalkan dulu di sini, apabila aku sangat mem-butuhkannya, pasti, akan kucari dirimu untuk memintanya kembali." 'Masa kau bisa menemukan jejakku? "Sekalipun aku tak berhasil menemukan jejakmu, yang pasti kau punya cara untuk membuat aku bisa menemukan kembali jejakmu, bukankah demikian?"

"Apakah kau selalu jarang sekali menampik keinginan orang lain ? Yaa, jarang sekali!! Tuan rumah segera menghela napas panjang. Aaaai ... kalau begitu tampaknya akupun tak punya cara lain untuk menampik keinginanmu itu' keluhnya. Bu-ki mengangkat kepalanya dan menatap wajah orang itu, lalu katanya pula.

"Maka dari itu, kau harus mencarikan sebuah akal bagiku, agar setiap saat akupun bisa me-nemukan jejakmu". Tuan rumah segera tertawa, sambil berpaling ke arah Sugong Siau-hong katanya. 'Aku lihat tampaknya pemuda ini jauh lebih cerdas dalam segala-galanya dari pada dirimu. Yaa, dia memang tidak bodoh!"

Sugong Siau-hong membenarkan sambil tersenyum. 'Aku suka dengan orang-orang yang cerdik, aku selalu mengharapkan orang-orang yang cerdik bisa hidup lebih panjang."

Lagi-lagi perkataan itu diucapkan secara aneh, seakan-akan dibalik kata katanya itu terkandung suatu maksud tertentu.

Entah Bu-ki dapat memahami perkataan itu atau tidak?

Tiba-tiba tuan rumah mengambil lonceng emas yang berada pada sandaran tangannya dan dilemparkan kepada pemuda itu.

"Jika kau ingin mencari jejakku, bunyikan saja lonceng emas ini sebanyak tujuh kali, lalu ketuk tujuh kali untuk masa berikutnya, segera akan muncul seseorang yang akan menghantarmu untuk menjumpai diriku"

Bu-ki tidak bertanya lagi, dia pungut lonceng emas itu dan disimpan ke dalam sakunya, bahkan disimpan secara teliti dan rahasia sekali ... ."

Sekulum senyuman puas segera menghiasi wajah Sugong Siau-hong, agaknya ia puas sekali dengan apa yang dilihat barusan.

Pada waktu itulah dari tempat ke jauhan berkumandang suara kentongan, rupanya kentongan kedua sudah menjelang tiba.

***** Bila malam sudah menjelang tiba suara kentongan memang sudah umum terdengar di manamana, sesungguhnya hal itu bukan suatu peristiwa yang patut diherankan atau dikejutkan.

Tapi Bu-ki seperti merasa kaget bercampur tercengang.

Sekalipun suara dua kali kentongan itu berasal dari tempat yang jauh sekali, tapi cukup nyaring dalam pendengaran mereka, seakan-akan kentongan itu dibunyikan orang dari sisi telinganya.

Tak kuasa lagi dia bertanya.

Benarkah pada saat ini kentongan ketiga belum menjelang tiba?"

Tiada seorangpun yang menjawab pertanyaannya itu.

Semua lampu-lampu yang semula menyinari sekelilingnya, kini sudah dipadamkan semua.

Seketika itu juga suasana dalam hutan berubah menjadi gelap gulita.

di tengah kerdipan sinar lirih yang memancar ke luar dari sela-sela ruang kereta, lamat-lamat ia saksikan munculnya serombongan manusia yang menggotong sebuah peti kotak yang besar sekali.

Kalau dilihat dari kejauhan, maka kotak itu mirip sekali dengan sebuah peti mati.

***** Tiba tiba tuan rumah menghela napas sambil bergumam.

"Aaaai ... akhirnya ia datang juga!' "Siapa yang telah datang?' tanya Bu-ki keheranan. Suatu perubahan mimik wajah yang sangat aneh tercermin di wajah tuan rumah, lewat lama sekali, sepatah demi sepatah dia baru menjawab.

"Dia adalah seseorang yang telah mati!' Pada umumnya orang mati selalu berada dalam peti mati ! Ternyata kotak itu memang bukan sebuah kotak, melainkan sebuah peti mati, peti mati tempat mayat disimpan. Delapan orang laki laki berbaju hitam yang kurus dan jangkung menggotong peti mati berwarna hitam itu dan selangkah demi selangkah menghampiri kearah mereka. Di atas peti mati itu ternyata duduk seseorang, dia adalah seorang bocah berusia sepuluh tahunan yang mengenakan baju serba putih. Dikala sinar lampu menyorot di atas wajah bocah itu, tiba tiba Bu-ki merasa terkejut sekali. Ternyata bocah itu tak lain adalah bocah yang membawanya datang ke sana, cuma kali ini dia telah mengganti pakaiannya dengansatu stel pakaian berwarna putih bersih. Mengapa secara tiba-tiba bocah itu duduk di atas peti mati? Ketika Bu-ki masih berpikir dengan perasaan tidak habis mengerti, tiba-tiba ada seseorang men-jawil ujung bajunya sambil bertanya dengan suara lirih. Hei, coba lihatlah! Bukan bocah yang duduk di atas peti mati itu mirip sekali dengan wajahku?!"

Sekali lagi Bu-ki merasa terkejut.

Ternyata bocah yang menarik ujung bajunya adalah bocah yang membawanya datang ke sini, ia masih mengenakan baju warna merahnya yang menyala.

Yaa, hakekatnya dua orang bocah itu mempunyai wajah maupun potongan badan yang lama, ibaratnya pinang yang dibelah dua.

Tok!

Tok!

Tok!` Bunyi kentongan kembali terdengar, akhirnya Bu-ki sempat melihat si tukang kentongan itu, dia memakai baju warna hijau, kaus putih sepatu dari rumput kering dan bermuka pucat pias, di tangan yang satu membawa gemberengan kecil, pemukul kecil tangan yang lain memegang tambur, bambu dan sebuah pemukulnya berwarna putih.

Toh mia keng hu (tukang kentongan perenggut nyawa) Liu Sam keng telah datang pula!

Ia tidak melihat kehadiran Bu ki di sana apapun tidak terlihat olehnya ....

Ia masih memusatkan segenap perhatiannya untuk memukul kentongan mautnya...

Walaupun sekarang belum sampai kentongan ketiga, tapi kentongan kedua sudah lewat mungkin-kah kentongan ketiga masih jauh?

Tapi, sampai kapankah kentongan ketiga baru tiba?

Nyawa siapa yang kali ini hendak direnggutnya?

***** Bocah berbaju putih duduk tegak dan kaku di atas peti mati, bergerak sedikitpun tidak.

Sedang si bocah "berba ju merah sedang"

Memandang ke arah bocah yang lain sambil men-tertawakannya.

Dengan muka cemberut bocah berbaju putih itu diam dalam seribu basa berkutik tidak mem-perdulipun juga tidak.

Bocah berbaju merah itu segera memburu ke muka dan menunjukkan muka setan ke arahnya.

Tapi dengan cepat bocah berbaju putih itu melengos ke arah lain, melirik sekejappun tidak.

Meskipun kedua orang bocah cilik itu mempunyai raut wajah bagaikan pinang dibelah dua, tapi watak mereka tampaknya jauh berbeda antara satu dengan lainnya.

Lama kelamaan Bu-ki tak dapat mengendalikan diri, diam-diam ia berbisik lirih.

"Kau kenal dengan dia?' Tentu saja kenal!"

Sahut, bocah berbaju merah itu.

'Apakah dia adalah saudaramu?

Bukan, dia adalah musuh bebuyutanku!

Bu-ki lebih terkejut lagi sesudah mendengar jawaban itu, katanya lagi.

Kalian ber dua sama-sama masih bocah, kenapa bisa menjadi musuh bebuyutan?' Kami memang sudah ditakdirkan menjadi sepasang musuh bebuyutan, semenjak dilahirkan sudah menjadi musuh bebuyutan!' jawab bocah berbaju merah itu.

Siapa pula yang berada dalam peti mati itu?' Tiba-tiba bocah berbaju merah itu menghela napas sambil mengeluh.

Kenapa makin lama kau semakin bodoh?

Yang berada dalam peti mati tentu saja orang mati, masa persoalan semacam inipun tidak kau pahami?

Peti mati itu sudah diturunkan dan diletakkan di muka pintu kereta, warna hitam yang berkilauan dari peti mati itu terasa makin bercahaya ketika tertimpa sinar lampu.

Sinar itu bukan pantulan sinar karena cairan minyak!

Mungkinkah peti mati ini seperti juga dengan pikulan-pikulan itu?

Terbuat pula dari emas murni.

Delapan orang laki laki berbaju hitam yang gotong peti mati itu meski berdiri dengan muka hijau membesi dan tanpa emosi, namun butiran peluh telah membasahi jidat mereka.

Jelas peti mati itu beratnya bukan kepalang, seakan-akan memang terbuat dari emas murni.

Dengan menggunakan sebuah peti mati yang terbuat dari emas murni, hendak digotong ke manakah orang mati itu?

Bocah berbaju putih yang masih duduk di atas peti mati itu tiba-tiba menggape ke arah Liu Sam keng.

Seakan-akan melihat gapean tersebut Liu Sam keng segera menghampirinya sambil membungkuk kan badan.

Pelan-pelan bocah berbaju putih itu bangkit berdiri, kemudian melangkahkan kakinya menginjak di atas bahunya.

Kelihatan sekali betapa jeri dan hormatnya Toh mia keng hu si tukang kentongan perenggut nyawa yang tersohor namanya dalam dunia persilatan ini terhadap bocah cilik tersebut, ia mem-biarkan bocah itu berdiri diatas bahunya, sedang ia sendiri sama sekali tidak menunjukkan perasaan tak senang hati.

Lagi-lagi bocah berbaju merah itu berbisik kepada Bu ki, katanya.

Percayalah kau, sejak dilahirkan belum pernah kakinya menginjak debu atau pasir barang satu kalipun" 'Aku percaya!' Bocah berbaju merah itu segera menghela napas.

'Aaaai .....

tapi, sepasang kakiku justru penuh dengan pasir, debu dan lumpur!" 'Aku lebih suka anak-anak yang kakinya berlumpur, sewaktu masih kecil dulu bukan cuma kaki saja yang berlumpur, mukakupun ikut berlumpur .....

Bocah berbaju merah itu segera tertawa riang, tiba tiba digenggamnya tangan pemuda itu lalu katanya.

Akupun amat suka kepadamu, meski kadangkala kau bisa berubah menjadi bodohnya luar biasa, tapi aku masih tetap menyukai dirimu .....

percaya tidak?

Bu-ki ingin ikut tertawa, tapi ia tak sanggup tertawa lagi.

Penutup peti mati itu sudah diangkat orang, terlihatlah sesosok tubuh berbaring membujur dalam peti mati itu, sepasang tangannya disilangkan di depan dada, bajunya yang putih mulus tampak sangat bersih dan tak berdebu, mukanya pucat pias seperti tak ada warna darah barang sedikitpun juga, sehingga kelihatan seperti orang yang sudah mati lagi, sesosok mayat yang sudah lama menjadi kaku.

Peti matinya berwarna hitam pekat, sedang wajah mayatnya berwarna putih seperti kertas, warna kontras yang sangat berlawanan ini tampak lebih menyeramkan dan menggidikkan di bawah timpaan sinar lampu yang redup ....Mengapa mereka membuka peti mati itu?

Mungkinkah mereka bermaksud agar mayat itu dapat melihat si tuan ramah?

Atau mungkin mereka menghendaki agar tuan rumah bisa melihat mayat itu?

Mayat kering itu memejamkan sepasang matanya.

Mayat kering memang tak ada yang menarik, malah menyeramkan bagi siapa yang melihatnya.

Tapi tuan rumah benar-benar sedang memperlihatkan mayat itu, lalu secara tiba-tiba menghela napas panjang.

"Aaaai ... setahun kembali sudah lewat, baikkah penghidupanmu selama ini?"

Masakan mayat kering bisa mendengar pembicaraan manusia?"

Aneh betul tuan rumah itu, ternyata dia mengajak berbicara si mayat kering tersebut! ***** Mayat kering itu bukan saja dapat mendengar, bisa berbicara malah. Tiba tiba ia menjawab. 'Aku tidak baik"

Ketika mendengar jawaban tersebut sepatah demi sepatah diucapkan oleh sesosok mayat kering, bahkan Sugong Siau-hong pun ikut merasa terperanjat sekali.

Mau tak mau dia jadi teringat kembali dengan dongeng-dongeng kuno yang ada hubungannya dengan mayat hidup pula.

'Bagaimana dengan kau?' mayat itu bertanya.

"Akupun tidak baik!" 'Tiba-tiba mayat itu menghela napas panjang. Aaaai ... Siau Tanglo wahai Siau Tanglo, kau telah mencelakai diriku, dan akupun telah mecelakai dirimu' ***** Hingga sekarang Bu-ki baru tahu bahwa nama tuan rumah yang misterius itu ternyata bernama Siau Tang lo. Lantas siapa pula mayat hidup itu? Meskipun suaranya serak-serak basah dan kedengaran ketus sekali, namun dibalik kesemuanya itu terselip suatu perasaan sedih dan menyesal yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Seseorang, apabila ia benar-benar sudah mati, benar-benar telah berubah menjadi mayat, tidak mungkin dalam tubuhnya masih mengalir segala perasaan, apalagi emosi. Tapi kelihatannya ia justru lebih mirip dari pada sesosok mayat, seorang manusia yang tidak membawa hawa kehidupan lagi, lebih-lebih lagi semangat dari hidup. Sekalipun dia masih hidup, bukan berarti dialah yang ingin tetap hidup di dunia ini. Karena ia sudah tidak memiliki kesenangan atau gairah untuk melanjutkan hidup. Raut wajah Siau Tang lo yang selalu dihiasi sekulum senyuman, dalam detik itu pula seakanakan telah berubah menjadi sedih, benci dan menyesal, tapi luapan emosi itu hanya berlangsung sebentar, sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya. Sudah kuduga, begitu datang di sini kau akan segera menyebutkan namaku' katanya sambil tersenyum. 'Apabila kau tidak menghendaki orang lain mengetahui namamu, aku boleh mewakilimu untuk membunuh semua orang yang ikut mendengarkan namamu itu!' "Tahukah kau siapakah mereka ini? Perduli siapapun orangnya, bagiku adalah sama saja! Sepasang matanya belum juga dipentangkan, seakan-akan tiada seorang manusiapun yang terpandang olehnya di dunia ini. Sekalipun ia sendiri cuma sesosok mayat hidup yang sepanjang tahun berbaring dalam peti mati sepanjang tahun tak dapat menyaksikan indahnya sinar matahari, tapi ucapannya begitu besar, begitu sombong dan menggelilan hati. Bu-ki tak dapat mengendalikan perasaannya, tiba-tiba ia tertawa tergelak, tertawa dengan suara yang melengking dan tak sedap didengar. Selamanya dia tak ingin menampik kebaikan orang lain, tapi selamanya diapun tak ingin me-nerima dampratan atau cemoohan dari orang lain. Meskipun mayat hidup itu berbaring dengan mata yang terpejamkan rapat, bukan berarti telinganya tersumbat.. tentu saja ia dapat menangkap maksud dibalik kata-katanya itu. Benar juga, mayat hidup itu segera bertanya. Siapa yang sedang kau tertawakan? 'Kau! Aku sedang mentertawakan kau!"

Jawaban Bu-ki ternyata gamblang dan langsung.

Kelucuan apa yang kumiliki sehingga kau tertawakan?

'Bukan cuma perkataanmu saja yang lucu dan menggelikan, bahkan hakekatnya seperti dagelan saja.* Tiba-tiba mayat hidup itu membuka matanya dan memancarkan sinar tajam yang melebihi tajamnya sembilu, siapapun tak akan menyangka kalau mayat hidup yang hakekatnya sudah mati banyak tahun ini ternyata memiliki sepasang sorot mata yang tajamnya bukan kepalang.

Sorot mata itu langsung ditujukan ke atas wajah Bu-ki.

Bu ki sendiri sedang melototkan pula sepasang matanya, sama sekali tak berubah paras mukanya walau menjumpai kejadian seperti itu.

Tahukah kau siapakah aku ini?' Tegur mayat hidup itu.

Perduli amat siapakah kau, bagiku semua orang itu sama"

Jawab Bu-ki ketus.

Baru saja ia menyelesaikan kata katanya, mendadak mayat hidup itu sudah bangkit dari peti matinya.

Yang aneh ternyata sewaktu menggerakkan tubuhnya untuk bangkit tadi, sekujur badannya sama sekali tak berkutik, siapapun tidak sempat melihat dengan cara bagaimana ia bangkit dari peti matinya.

la tidak menggerakkan kakinya, tidak pula mengangkat kakinya, tapi tahu-tahu orangnya sudah berada di luar peti mati..

ketika sepasang tangannya yang kurus kering itu diayunkan ke tengah udara, beberapa jenis benda emas yang semula berserakan di tanah segera terbang dan terjatuh ke dalam cengkeramannya.

Baik poci, cawan maupun mangkuk emas Itu semuanya terbuat dari emas murni, tapi setelah berada dalam cengkeramannya, benda benda itu berubah seperti barang rongsokan, ketika dipencet dan digencet menjadi satu, benda benda emas itu segera remuk dan ketika diremasremas maka terbentuklah emas-emas tadi menjadi sebuah tongkat emas yang lurus dan panjang.

Peluh dingin mulai membasahi telapak tangan Bu ki.

Kalau dibilang ia sama sekali tidak takut setelah menyaksikan demonstrasi kekuatan hawa murni dan kekuatan telapak tangan yang dilakukan mayat hidup itu, hakekatnya pengakuan tersebut adalah pengakuan yang tidak jujur.

Tentu saja, walaupun hatinya ketakutan setengah mati, hal ini tak sampai membuat anak muda itu mundur dengan badan gemetar atau putar badan mengambil langkah seribu.

Mayat hidup itu lagi lagi bertanya.

"Sekarang kau sudah percaya bukan bahwa setiap saat aku dapat membinasakan dirimu?"

"Aku percaya!' Bu-ki mengakuinya.

"Lantas siapa yang barusan kau tertawakan?" 'Kau!' Tiba-tiba mayat hidup itu menengadah dan berpekik nyaring, toya emasnya segera disodok ke muka dengan kecepatan serta tenaga serangan yang tiada bandingannya di dunia, rasanya tak seorang manusiapun di dunia ini yang sanggup menghindari serangan tersebut. Tapi tusukan toya itu bukan tertuju ke tubuh Bu ki. Yaa, sasaran dari sodokan toya emasnya ternyata adalah Siau Tang lo. Tentu saja lebih lebih tak mungkin bagi Siau Tang lo untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut. Tampak cahaya emas berkilauan memenuhi angkasa, menyelusuri jalan darah Sau yang hiat di atas telapak tangan, dalam waktu singkat ia telah menotok enam puluh empat jalan darah besar dan kecil di tubuh tuan rumah ... Tiba-tiba toya emasnya kembali dijungkit ke atas membuat tuan rumah terjungkit dengan enteng kemudian sambil memutar telapak tangannya secara beruntun dia lancarkan kembali enampuluh empat buah totokan diatas punggung tuan rumah. Semua gerak serangannya bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, gayanyapun aneh sekali bukan cuma seram rasanya bahkan hakekatnya belum pernah kedengaran dalam dunia persilatan. Diantara tiga puluh enam buah jalan darah besar dan tujuh puluh dua jalan darah kecil di tubuh manusia, sesungguhnya paling sedikit ada separuh di antaranya merupakan jalan darah ke-matian. tapi totokan yang dilancarkan mayat hidup pada saat ini justru semuanya ditujukan pada bagian-bagian yang mematikan. Anehnya, ternyata Siau Tang lo tidak tewas akibat serangan tersebut. Dengan tubuh yang enteng dan lembut tubuhnya melayang kembali ke atas pembaringannya yang empuk, bukan pen-deritaan yang terlihat sebaliknya justru ia kelihatan lebih segar dan enteng, seakan-akan seseorang yang baru sembuh dari penyakit parah. seperti juga seseorang yang baru saja menurunkan beban yang berat sekali. Setelah menghembuskan napas panjang, ia bergumam. 'Aaaai.. tampaknya aku bisa bertahan selama satu tahun lagi! 'Bagaimana pula dengan aku?"

Tanya si mayat hidup. 'Asal aku tidak mampus, kau tentu saja tak akan sampai mampus.!"

"Yaa, tentu saja! Sebab kau tahu cuma aku seorang yang dapat mampertahankan kehidupanmu' "Oooh ..tentang soal ini, aku tak akan melupakan untuk selamanya ... 'Di mana obat pemunah bagiku?' Pelan-pelan Siau Tang lo merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol hijau kecil yang berbentuk panjang. Setelah minum obat itu paras muka mayat hidup itu menunjukkan pula perubahan mimik wajah seperti apa yang dialami Siau Tang lo barusan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia masuk ke dalam peti matinya dan berbaring membujur dalam peti mati, matanya terpejam rapat-rapat seakan-akan sudah tertidur pulas. Selama kejadian itu berlangsung, bocah berbaju merah itu menggenggam terus tangan Bu ki erat-erat, dia seperti kuatir kalau pemuda itu tak bisa mengendalikan emosinya dan mencampuri urusan tersebut. Menanti si mayat hidup itu telah berbaring kembali di dalam peti matinya, bocah itu baru merasa amat lega, bisiknya kemudian. 'Barusan aku benar-benar merasa agak takut! "Apa yang kau takuti?" 'Aku takut kau menyerbu ke muka dan coba menolong guruku, bila kau sampai berbuat demikian maka tindakanmu itu sama halnya dengan mencelakai selembar jiwanya."

"Kenapa?' 'Aku sendiripun kurang begitu jelas,"

Kata bocah berbaju merah itu, 'aku cuma tahu bahwa hawa murni dalam tubuhnya telah membeku, hawa yang beku itu hanya dapat ditembusi oleh mayat hidup itu dengan ilmu totokan menunggalnya, sebab dengan tubuhnya yang lemas dan setengah lumpuh, hakekatnya tak mungkin baginya untuk mengalirkan sendiri hawa murni dalam tubuhnya, kecuali mayat hidup ini seorang, tak mungkin ada orang kedua di dunia ini yang mampu menembusi ke seratus duapuluh delapan buah jalan darahnya dalam sekejap mata.

Setelah berpikir sebentar, kembali katanya.

"Yang paling penting adalah hawa murninya tak boleh putus, sebab satu kali terputus berarti jiwanya tak tertolong lagi` "Sebetulnya soal itu merupakan rahasia pribadi dari gurumu, tidak seharusnya kau menceritakan rahasia tersebut kepadaku.* "Kita sudah berteman, kenapa aku tak boleh memberitahukan rahasia ini kepadamu?* bantah bocah berbaju merah itu. Bu-ki tidak berbicara apa-apa lagi. Dia adalah seorang pemuda yang gampang dibikin terharu oleh keadaan yang dijumpainya, bila hatinya sedang terharu, seringkali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Bocah berbaju merah itu memutar sepasang biji matanya, tiba tiba ia bertanya.

"Seandainya mayat hidup itu bertanya lagi kepadamu, siapa yang kau tertawakan tadi, bagaimana jawabanmu?"

"Aku sedang mentertawakan dia!"

Jawab Bu-ki tanpa berpikir panjang lagi. Bocah berbaju merah itu kembali bertanya.

"Dapatkah kau saksikan gerakan apa yang digunakan olehnya ketika melancarkan totokan tadi?" 'Bukankah ilmu pedang?" 'Betul, memang gerakan ilmu pedang! bocah berbaju merah itu membenarkan.

"bila meng-gunakan gerakan pedang untuk menotok jalan darah orang, hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang gampang"

Bu-ki mengakui keheranan dari perkataan tersebut.

Yang diutamakan dalam gerakan ilmu pedang adalah gaya yang enteng dan lincah, dengan gerakan semacam ini tidak gampang baginya untuk mengincar dengan tepat jalan darah orang lain.

Kembali si bocah berbaju merah itu berkata.

"Pernahkah kau saksikan ilmu pedang dengan gerakan secepat ini?' Belum pernah!' jawab Bu ki. 'Akupun belum pernah menyaksikan gerakan ilmu pedang setepat ini', ia menambahkan, 'bukan saja sekaligus dapat menusukkan seratus dua puluh delapan buah tusukan, lagi pula setiap tusukan tersebut dapat mengarah jalan darah secara tepat, setengah milipun tidak meleset "Jangan jangan kau sudah kagum kepadanya?' bisik bocah berbaju merah itu lagi.

"Aku hanya mengagumi ilmu pedangnya!"

Bocah berbaju merah itu segera tertawa.

'Tahukah kau kenapa aku sangat menyukai dirimu?' katanya.

Ia percaya sekalipun Bu-ki tahu, belum tentu dia akan mengucapkannya ke luar.

Maka ia menerangkan lebih lanjut.

"Sebab tulang-belulangmu sungguh keras sekali, kerasnya bukan kepalang ... ! Bu-ki sama sekali tidak bermaksud membantah atau menyangkal, sebab dalam hal inilah seringkali ia merasa bangga. Tiba-tiba si bocah berbaju merah itu bertanya lagi. 'Coba lihatlah, bukankah bocah itu terus menerus mendelik kepadaku ... ?"

Sejak pertama kali tadi, Bu-ki telah memperhatikan tentang hal itu.

Si bocah berbaju putih yang selama hidup tak pernah menginjak tanah itu sejak tadi sampai sekarang selalu melotot ke arah mereka dengan sepasang matanya yang bulat, jeli dan terang.

'Dia pasti mendongkolnya setengah mati!' demikian bocah berbaju merah itu berkata lagi.

'Kenapa ia marah kepadamu?' "Sebab ia sedang menunggu diriku, sebaliknya aku tidak menggubrisnya malahan mengajak kau bercakap cakap" 'Apa yang sedang ia nantikan?* 'Ia menunggu untuk berkelahi dengan diriku!' "Berkelahi?" *Kedatangan suhunya kemari disamping untuk mendapatkan obat pemunah baginya, bocah itu memang sengaja datang untuk berkelahi dengan diriku ....!"

Bocah itu tertawa sejenak, lalu terusnya.

Semenjak kami berusia delapan tahun, setiap tahun tentu akan berkelahi satu kali, kami sudah melangsungkan pertarungan semacam ini selama lima tahun 'Kenapa kalian musti berkelahi?"

Tanya Tio Bu-ki dengan perasaan tak habis mengerti.

"Sebab suhunya dan suhuku sudah tak mungkin untuk berkelahi lebih jauh, maka dari itu masing-masing pula menerima seorang murid, kalau suhunya tak mampu melanjutkan pertarungan. tentu saja muridnya yang harus melanjutkan, murid siapa yang berhasil menangkan pertarungan, kepandaiannya pula yang terhitung nomor satu di dunia' Bu-ki memandang sekejap ke arahnya, lalu memandang pula bocah yang kakinya tak pernah menempel tanah itu, kemudian tak tahan lagi ia bertanya.

"Apakah kaliau adalah saudara kembar ?"

Bocah berbaju merah itu segera menarik wajahnya.

"Kami bukan saudara kembar, kami adalah musuh bebuyutan yang sudah ditakdirkan sejak dilahirkan' 'Kalau memang dia sedang menunggu dirimu, kenapa tidak suruh kau menghampirinya!"

Sebab dia musti bergaya seolah-olah seorang yang terpelajar, seseorang yang berwibawa dan mempunyai iman yang tebal, karena itu dia musti sabar dan mengendalikan emosinya"

"Maka dari itu, kau sengaja memanasi hatinya agar cepat menjadi mendongkol dan mangkel ? tanya Bu-ki.

"Yaa, yang dia pelajari adalah ilmu pedang, sedang aku belajar ilmu tenaga dalam, apa bila ia tidak kubikin mendongkol lebih dahulu, mungkin sudah lima kali aku dikalahkan olehnya "

Bu-ki dapat memahami maksud hatinya.

Bagi siapa yang belajar ilmu pedang maka dia lebih menitik beratkan pada kecerdasan, sebaiknya bagi yang mempelajari tenaga dalam lebih menitik beratkan soal pondasi, walaupun kedua-duanya mempunyai perjalanan yang sama, namun kemajuan yang dicapai bagi orang yang mempelajari ilmu pedang biasanya jauh lebih cepat.

Cuma, walau apapun yang dipelajari, sebelum pertarungan dilangsungkan orang tak boleh marah.

Marah akan menciptakan keteledoran, bagai manapun kecilnya keteledoran itu bisa mengakibatkah kematian yang fatal.

Bocah berbaju putih itu sudah mulai tak sanggup mengendalikan diri, tiba-tiba teriaknya.

"Hei !"

Tapi bocah berbaju merah itu masih juga tidak memperdulikan dirinya.

Suara teriakan dari bocah berbaju putih itu semakin lantang, kembali dia berseru.

Hei, semenjak kapan kau menjadi tuli?

Bocah berbaja merah itu berpaling dan memandang sekejap kearahnya, kemudian ia bertanya.

"Eeeh ... kau lagi berbicara dengan siapa?' "Dengan kau"

Jawab bocah baju putih itu gemas.

"Keliru mungkin kau, sebab aku tidak merasa bernama hei !"

Tiba-tiba bocah berbaju putih itu mengenjotkan badannya, dari atas bahu Liu Sam-keng tahutahu ia sudah berada di atas atap kereta.

"Apapun namamu aku tak ambil perduli, pokoknya ke mari dulu kau!' bentaknya. Akhirnya dengan ogah-ogahan bocah berbaju merah itu melangkah maju kedepan.

"Sekarang aku sudah datang!' katanya lirih. 'Naik ke mari !" 'Ogah, aku ogah naik ke atas!"

Tampik bocah berbaju merah itu sambil gelengkan kepalanya berulang kali. 'Kenapa'? "Bagaimanapun juga tidak mungkin bagiku untuk berkelahi dengan dirimu di atas kepala guruku"

Lalu setelah tertawa sebentar katanya lagi.

"Kau boleh saja tak tahu aturan, tapi aku tak bisa menuruti cara berandalmu yang tak tak tahu aturan itu!"

Paras muka bocah berbaju putih itu sudah berubah menjadi merah padam, tiba-tiba ia meloncat turun.

Sebagaimana diketahui, waktu itu hujan baru saja berhenti, bagai manapun sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya.

tak urung berlepotan lumpur juga kakinya.

"Adduuh mak!"

Bocah berbaju merah itu pura-pura berteriak.

"Hei, kenapa kau aduh-aduh?"

Tegur bocah berbaju putih itu semakin mendongkol. 'Aku lagi aduhkan kakimu itu, manusia terhormat macam kau mana boleh berlepotan lumpur kakinya?"

Bocah berbaju putih itu kontan saja tertawa dingin.

"Kau tak perlu menguatirkan bagiku, setiap saat aku membawa sepatu cadangan untuk di tukar! katanya.

"Waaah ... berapa banyak sepatu yang kau miliki?' tanya bocah berbaju merah pura-pura ingin tahu. Kembali bocah berbaju putih tertawa dingin. 'Paling sedikit juga mencapai tujuh-delapan puluh pasang!' 'Haaahhh ... haaahhh ... baaahhh ... bagus, bagus sekali!"

Bocah berbaju merah itu terbahak-bahak.

"hakekatnya sepatumu jauh lebih banyak dari pada sepatu yang dimiliki permaisuli Nyo Kui-hui!"' Lalu pura-pura menunjukkan sikap ber sungguh-sungguh, kembali katanya. 'Cuma bagaimanapun juga, aku masih rada kuatir bagimu!" 'Apa lagi yang kau kuatirkan?"

Tanya bocah berbaju putih itu tak tahan lagi, pucat pias sudah wajahnya karena gemas bercampur mendongkol.

"Aku kuatir kau tak bisa tumbuh lebih tinggi! kata si bocah berbaju merah. Sepintas lalu dua orang bocah itu bagaikan pinang dibelah dua, baik wajahnya maupun tinggi badan dan perawakannya, tapi setelah mereka berdiri bersama, oracg lain baru bisa melihat dengan jelas bahwa tinggi badan bocah berbaju merah itu dua inci lebih tinggi daripada bocah berbaju putih itu. Lagi-lagi bocah berbaju merah berkata. 'Bocah manapun yang kakinya enggan menempel tanah, badannya tak bakal bisa tumbuh menjadi tinggi, apalagi kau terlalu gampang naik darah ... wah, wah, sulit ... sulit ..."

Bocah yang satu sengaja menggoda bocah yang lain, meski bocah yang digoda telah berusaha untak menunjukkan gaya dari seorang dewasa, walaupun ia berusaha untuk tidak ribut dengan bocah yang menggodanya, akan tetapi justru ia tak sanggup mengendalikan emosinya, justru kata-kata yang ditujukan kepadanya adalah olok-oloknya yang sangat mengena, hampir saja ia tak bisa mengendalikan diri lagi.

Yaa, sewaktu saling olok mengolok, dua orang bocah kembar itu kelihatan menarik sekali, tapi begitu mereka mulai turun tangan, tak ada yang merasa menarik lagi.

DUA ORANG BOCAH DUA orang bocah sedang bermain.

Wajah mereka mirip satu sama yang lain.

Yang satu tertawa terkikik.

Yang lain marah mendelik.

Yang satu naik kuda.

Yang lain naik kaki dua.

0h sayang !

Kalau tahu bersaudara kembar.

Kenapa harus bertengkar ?

***** Senjata yang mereka pergunakan adalah pedang, dua bilah pedang yang sama bentuknya, sama panjangnya, sama beratnya dan sama bahannya.

Bocah berbaju merah itu memilih sebilah lebih dulu, kemudian berkata.

"Kau adalah seorang ahli dalam ilmu pedang, sudah sepantasnya kalau mengalah tiga jurus untukku."

Tapi kenyataannya, satu juruspun bocah berbaju putih itu tidak mengalah .....

Gerakannya dikala meloloskan pedang jauh lebih cepat daripada gerakan bocah berbaju merah itu, sewaktu melancarkan serangan, gerakannya juga cepat, dalam sekejap mata ia sudah melepaskan sebelas buah tusukan berantai.

Bocah berbaju merah itu segera tertawa.

Lagi-lagi .

bocah berbaju putih itu terperangkap dalam siasatnya, dia memang sengaja memancing bocah itu agar melancarkan serangan terlebih dahulu.

Sebab ilmu pedangnya bukan termasuk ilmu pedang yang sanggup merebut kemenangan dengan kecepatan.

"Dengan tenang mengendalikan gerak, dengan lambat membendung cepat, meski menyerang belakangan tapi merobohkan lebih duluan", itulah menjadi inti pokok dari ilmu pedang yang dipelajarinya. Akan tetapi, ilmu pedang dari bocah barbaju putih itu tidak berhasil dikendalikan olehnya. Kecepatan, ketepatan serta keganasannya sewaktu melancarkan serangan benar-benar me-rupakan serangan mematikan yang luar biasa, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak berkutik. Walaupun kedua orang bocah itu kelihatan menarik sekali, tapi ilmu pedang yang mereka miliki jauh lebih menakutkan dari pada apa yang dibayangkan orang sebelumnya. Siau Tang lo sempat menangkap rasa kaget dan tercengang di atas wajah Sugong Siau-hong, sambil tersenyum tanyanya.

"Coba lihatlah, bagaimana pendapatmu dengan ilmu pedang yang mereka miliki?"

"Seandainya Pek Siau-seng masih hidup di dunia, ilmu pedang yang dimiliki kedua orang bocah ini tentu akan tercantum pula dalam deretan nama orang-orang terkenal dalam kitab catatan senjatanya!"

Atau dengan perkataan lain, ilmu pedang yang dimiliki kedua orang bocah itu sudah berhak untuk tercantum pula dalam deretan nama dari kelima puluh orang jago kenamaan.

Padahal usia mereka sakarang belum lagi mencapai sebelas dua belas tahun.

Tiba tiba Sian Tang lo menghela napas panjang, lalu katanya.

"Cuma sayang selamanya mereka tak mungkin bisa menjadi jago nomor satu di kolong langit."

"Kenapa?"

Tanya Sugong Siau-hong keheranan.

"Sebab mereka berdua terlampau cerdik."

"Apa jeleknya menjadi orang cerdik?"

"Untuk menjadi seorang jagoan nomor wahid di kolong langit, kecuali ilmu pedangnya harus mengungguli orang lain, merekapun harus mempunyai jiwa yang besar serta keberanian dan niat yang tak pernah lumer atau rontok, agar bisa berhasil mendapatkan kesemuanya itu maka mereka harus meraihnya dari pelbagai pengalaman dan penderitaan yang luar biasa."

Ia tertawa getir lalu melanjutkan.

"Biasanya orang yang terlalu cerdik tak tahan untuk menerima siksaan dan penderitaan semacam ini, mereka pasti akan menggunakan kecerdikan otaknya untuk menghindarkan diri dari penderitaan tersebut, lagi pula biasanya mereka selalu berhasil menghindarinya."

"Barang siapa tidak pernah merasakan penderitaan dan siksaan yang sungguh-sungguh, selamanya jangan harap ia bisa berhasil dengan sukses"

Kata Sugong Siau-hong kemudian.

"Yaa, tak mungkin bisa!"

Siau Tang lo membenarkan.

"Akan tetapi mereka yang pernah merasakan penderitaan dan siksaan, belum tentu pada akhirnya bisa menjadi sukses pula."

"Oleh sebab itulah selama puluhan tahun belakangan ini pada hakekatnya dalam dunia persilatan tak pernah ada orang yang bisa meraih gelar Thian-he tit it ko jiu (jago tangguh nomor wahid di kolong langit)!"

"Bagaimana pendapatmu dengan See bun kongcu yang pernah bertarung sengit melawan Liok Siau-hong, Liok tayhiap di puncak bukit Kun lun itu ?"

"Tahukah kau bagaimana akhir dari pertarungan itu?"

Siau Tang lo balik bertanya.

"Konon mereka berdua sudah terjatuh ke dalam jurang yaug tak terhingga dalamnya keduaduanya tewas!"

"Seandainya See bun kongcu memang jago tangguh nomor wahid di kolong langit, siapakah yang sanggup untuk mendesaknya hingga terjatuh ke dalam jurang dan mati bersama?"

Berkilauan sepasang mata Sugong Siau-hong setelah mendengar perkataan itu, katanya lagi.

"Bagaimana pula dengan sahabat yang kini sedang berbaring di dalam peti matinya?"

Siau Tang lo tertawa hambar.

"Apabila dia adalah seorang jago tangguh nomor satu di dunia, bagaimana mungkin keadaan sekarang bisa berubah menjadi begini?"

Sugong Siau-hong tidak bertanya lebih lanjut.

Dalam beberapa waktu yang amat singkat, kedua orang bocah itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang kian lama kian bertambah sengit.

Serangan demi serangan yang mereka lancarkan makin lama semakin berbahaya, bila dilihat dari cara pertarungan itu berlangsung, akhirnya mungkin akan mengulangi kembali tragedi yang telah dialami See-bun kongcu serta Liok Siau-hong, yakni kedua belah pihak sama-sama terluka parah dan tewas.

Akan tetapi keadaan mereka pada saat ini sudah tidak terkendalikan lagi, sebab kedua belah pihak sama-sama tak mungkin menarik kembali serangannya.

Dalam keadaan yang kritis itulah, tiba tiba ...

"Triiing!"

Sekilas cahaya putih menyambar lewat dan mematahkan ujung pedang dari dua orang bocah itu.

Jilid 5________ MENGIKUTI rontoknya kutungan pedang tersebut, rontok pula sebatang tongkat pendek berwarna putih, tubuh kedua bocah itu segera tergetar keras dan terpisah satu sama lainnya.

Ternyata orang yang berdiri diantara mereka berdua tak lain adalah Liu Sam-keng, si buta yang tidak melihat apa-apa itu.

Paras muka bocah berbaju putih itu kontan saja berubah menjadi hijau membesi, dengan suara nyaring bentaknya.

Hei, apa-apaan kau ini?' Dengan ogah-ogahan Liu Sam-keng memungut tongkat pendeknya dari tanah, lalu dengan kepala tertunduk dan mulut membungkam ia mengundurkan diri dari situ.

Sambil tersenyum Sian Tang lo segera menegur.

'Liu sianseng.

kenapa kau membungkam saja?

*Aku tak lebih cuma seorang budak belaka, mana aku berani ikut ambil bicara?

jawab Liu Sam keng.

Toh mia keng hu, si tukang kentongan perenggut nyawa yang sudah termashur namanya di kolong langit, mana mungkin bisa menjadi budaknya orang lain?' kata Sian Tang lo lagi sambil tertawa.

Dia memang seorang budak, tiba-tiba mayat hidup itu menyela.

***** Hingga detik ini, Bu-ki masih belum percaya kalau Liu Sam keng telah mengakui dirinya sebagai budak orang lain.

Akan tetapi Liu Sam keng serdiri telah mengakuinya, bahkan paras mukanya sama sekali tidak menampilkan rasa marah atau penasaran.

'Jiwanya, tubuhnya dan darahnya sudah menjidi milikku!

demikian mayat hidup berkata, setiap saat aku bisa memintanya untuk mati bagiku, putraku pun setiap saat bisa menyuruhnya untuk pergi mati!' Paras muka Liu Sam keng tawar dan sedikitpun tiada emosi, katanya pula dengan suara datar.

Setiap waktu, setiap saat, aku selalu bersiap sedia untuk mati bagi Ho ya!' 'Kalau begitu matilah sekarang juga!' ejek bocah berbaju putih itu sambil tertawa dingin.

Tanpa mempertimbangkan lebih jauh, Liu Sam keng segera mencabut keluar pedang pendek dalam tongkatnya, lalu menggorok leher sendiri.

Bu ki ingin menerjang maju ke muka dan menolong jiwanya, sayang waktu sudah tidak mengijinkan lagi.

Mata pedang yang tajam telah merobek lehernya, darah segar segera menyembur ke luar bagaikan sumber mata air.

Paras muka bocah berbaju putih itu berubah hebat, ia cuma berdiam diri dengan mata terbelalak `Tahan!' tiba tiba mayat hidup membentak.

Gerakan nekad dari Liu Sam kengpun segera ikut berhenti.

"Sekarang, apakah kau masih menghendaki kematiannya? tegur mayat hidup dengan suara dingin . Tentu saja pertanyaan itu diajukan kepada bocah berbaju putih itu. Sambil menggigit bibirnya menahan emosi, bocah berbaju putih itu gelengkan kepalanya berulangkali. *Bagus sekali! seru mayat hidup. Pedang pendek di tangan Liu Sam keng telah terkulai ke bawah, meskipun sebuah mulut luka yang panjang dan dalam telah muncul di atas tenggorokannya, tapi paras mukanya masih tetap tenang dan tanpa emosi. Mayat hidup kembali bertanya kepada bocah berbaju putih itu. Sekarang, fahamkah kau bahwa setiap patah kata yang kau ucapkan karena dorongan emosi, bisa mengakibatkan orang lain mati di tanganmu!"

"'Aku mengerti!' 'Kalau sudah mengerti, itu lebih bagus lagi! "Akan tetapi jika lain kali dia masih berani memutuskan ujung pedangku, aku masih akan menghendaki dia mati!"

Bagus sekali!' Rupanya rasa marah dan mendongkol yang menggelora dalam dada bocah berbaju putih itu belum mereda, dengan suara penasaran kembali ia bertanya.

Barusan, siapa yang suruh dia turun tangan?

"Aku!"

Jawab si mayat hidup.

Jawaban yang sama sekali tak terduga ini kontan saja membuat bocah berbaju putih itu tertegun.

'Lain kali, sekalipun sudah jelas kau tahu bahwa akulah yang suruh dia turun tangan, asal ia mematahkan kembali pedangmu, kau masih boleh membinasakan dirinya,' kata mayat hidup lagi.

Kemudian setelah tertawa dingin, ia menambahkan.

'Baik siapapun itu orangnya, asal dia telah mematahkan pedangmu, walau apapun sebabnya, sekalipun kau tahu bila tidak melepaskan dirinya kau bakal mati, kau harus membinasakan dulu orang itu ..."

Sambil membusungkan dadanya, bocah berbaju putih itu segera lantang berkata dengan suara.

"Aku mengerti aku pasti akan melakukannya! ....Pedang, adalah kehormatan dari seorang pendekar pedang ..... Kehormatan dari seorang pendekar pedang jauh lebih berharga dari pada selembar nyawa, entah nyawa siapakah itu. Itulah nasehat serta pelajaran yang telah diwariskan mayat hidup itu kepada si bocah berbaju putih, Dia mengharapkan bocah itu bisa menjadi seorang jago pedang yang tiada taranya di dunia ini, dia ingin menggunakan keberhasilan bocah itu untuk menjadikan kebanggaan baginya. ***** Tiba tiba Siau Tang lo berkata. 'Kau ke marilah! `Tentu saja yang dia panggil adalah bocah berbaju merah itu. 'Apakah pedangmu juga dipatahkan orang?' ia bertanya.

"'Benar!' bocah berbaju merah membenarkan. Sekarang apa yang siap kau lakukan?' 'Bagaimanapun juga pedang itu toh mereka yang bawa, mereka mematahkan pedangnya sendiri"

"Siapakah mereka berdua?, apa pula sangkut pautnya dengan diriku?' 'Seandainya pedangmu sendiri yang dipatahkan orang?' tanya Siau Tang lo lagi. 'Maka aku akan membeli sebilah pedang lagi untuk latihan, aku akan berlatih terus sehingga orang lain tak mampu mematahkan pedangku lagi' Mendengar jawaban tersebut, Siau Tang lo segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak. Haaahhh....haaahhh...haaahhh....bagus, bagus sekali! pujinya dengan bangga. Ia menginginkan bocah itu menjadi seorang manusia yang berjiwa besar, jangan dikarenakan suatu menang kalah yang dideritanya, lantas mempersoalkan masalah sepele itu secara serius. Apabila tak dapat menjadi seorang laki laki yang jujur dan bijaksana, mana mungkin bisa menjadi seorang pendekar pedang yang tiada taranya di dunia ini?' Tanpa sadar Bu ki mulai bertanya pada diri sendiri. Walaupun hari ini, kedua orang bocah tersebut tak dapat menentukan menang kalahnya, bagaimana pula dengan dikemudian hari? Fajar telah menyingsing di ufuk timur, bunyi kokok ayam kedengaran dari tempat kejauhan sana. 'Fajar sudah hampir menyingsing, kau sudah sepantasnya segera pergi!"

Kata Siau Tang lo tiba-tiba.

Hanya mayat hidup yang takut bertemu dengan sinar matahari, mungkinkah mayat tersebut benar-benar adalah sesosok mayat hidup?

Dengan mata melotot bocah berbaju putih itu mendelik ke arah bocah berbaju merah itu, katanya kemudian .

'Tahun depan aku pasti berhasil mengalahkan dirimu, tunggu saja tanggal mainnya!' Bocah berbaju merah itu tertawa.

'Aku tidak mengharapkan apa-apa, aku hanya berharap tahun depan kau bisa tumbuh lebih tinggian sedikit."

Kali ini Bu-kl tidak tertawa.

Dia tahu, mayat hidup itu pasti tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, selama ini dia sedang menanti terus.

Ternyata apa yang diduganya meleset sama sekali.

Mayat hidup itu sudah berbaring kembali ke dalam peti matinya, lalu pejamkan matanya dan seakan-akan sudah lupa kepadanya.

Tiba-tiba Bu ki menyerbu ke depan, kemudian teriaknya keras-keras.

'Hei, tadi aku sedang mentertawakan dirimu!' 'Aku tahu' jawab si mayat hidup itu, 'aku mengetahuinya cukup jelas, karena kau telah menyebutnya dua kali' 'Apakah kau akan pergi dengan begitu saja?l 'Apakah kau memaksa aku untuk membunuh dirimu?' si mayat hidup balik bertanya.

"Benar!' Akhirnya si mayat hidup itu membuka kembali matanya, bagaimanapun juga belum pernah ditemui di dunia ini bahwa ada orang ingin mencari mati, maka barang siapapun jua yang men-dengar perkataan itu dia pasti akan membuka matanya serta menengoknya sebentar.

Aku tahu, kau tidak bersedia turun tangan karena pada hakekatnya kau tidak memandang sebelah matapun kepadaku' teriak Bu ki keras-keras, 'hidup sebagai seorang manusia di dunia, apa artinya kehidupan itu jika ia dipandang rendah dan hina oleh orang lain?

'Jadi kau tidak takut mati?"

Sebagai seorang lelaki sejati kenapa aku musti takut menghadapi kematian, padahal waktu dilahirkanpun aku tikak takut dan mengharapkan itu ... .?"

Si mayat hidup menatapnya lekat lekat, dari balik sepasang matanya tiba-tiba memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati.

Bu ki melirik pula kearahnya, ia tidak tampak takut atau jeri, bahkan niat untuk mundurpun tak ada.

Dengan dingin mayat hidup itu berkata lagi.

'Jika kau benar benar ingin mati, selewatnya bulan purnama nanti datang saja ke bukit Kiuhoa-san, aku pasti akan memenuhi harapanmu" 'Aku pasti akan ke sana!

jawab Bu ki dengan segera tanpa berpikir panjang lagi.

***** Sepasang mata si mayat hidup itu kembali dipejamkan, penutup peti matipun sudah ditutupkan kembali di tempatnya semula .....

mayat yang bangkit dan hidup kembali, pada umumnya akan balik kembali ke neraka sebelum fajar menyingsing.

Si bocah berbaju putih itu masih saja mendelik ke arah si bocah berbaju merah dengan penuh kemarahan, tiba-tiba ia berseru.

Dapatkah kau lakukan sebuah pekerjaan bagiku?' 'Pekerjaan apa?' 'Hari ini pada tahun depan, dapatkah kau bersihkan dulu seluruh badanmu ...

Selesai mengucapkan kata kata itu dia lantas melompat naik ke atas peti mati dan duduk bersila di situ.

Para lelaki berbaju hitampun segera menggotong peti mati tersebut, diiringi bunyi kentongan dari si tukang kentongan pemutus nyawa mereka berjalan ke luar dari hutan itu dan tiba-tiba saja lenyap di antara remang-remangnya cuaca dan tebalnya kabut menjelang pagi.

Bocah berbaju merah itu masih memandang ke depan dengan termangu-mangu, seolah-olah dia masih ingin mencari si bocah berbaju putih itu untuk diajak berkelahi.

Bu-ki sedang memperhatikan pula tingkah lakunya itu, lalu sengaja ia menghela napas seraya berkata.

'Aaaaai ....tampaknya kalian benar-benar memang sepasang bocah kembar yang menarik hati!"

Suatu perubahan mimik wajah yang sangat aneh melintas di atas wajah si bocah berbaju merah itu, tiba tiba ia menggelengkan kepalanya.

'Kami bukan musuh bebuyutan, sesungguhnya kami adalah saudara kembar, seandainya aku tidak dilahirkan setengah jam lebih duluan darinya dia adalah kakakku!' Ternyata mereka berdua adalah saudara kembar.

Ternyata Sian Tang lo dan si mayat hidup telah menggunakan murid-muridnya untuk mengadu kepandaian silat mereka, agar terjamin kehebatannya tentu saja mereka harus mencari dua orang bocah yang sama bakatnya, sama usianya dan sama pula kecerdasan otaknya.

Saudara kembar pada hakekatnya memang merupakan suatu pilihan yang paling tepat.

Walaupun demikian, meski dua biji yang sama bila ditanam dan dibesarkan dalam suasana lingkungan yang berbeda, belum tentu akan meng hasilkan pula bunga yang sama.

Bu ki diam-diam menghela napas di hati, ia merasa nasib dari kedua orang saudara kembar itu kurang baik, takdir yang kejam mengharuskan mereka berpisah bahkan saling bermusuhan.

Tiba-tiba bocah berbaju merah itu tertawa.

'Apa lagi yang kau tertawakan?

Lagi-lagi sedang mentertawakan diriku ...

?' tegur Bu-ki Bocah berbaju merah itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kali ini aku sedang mentertawakan diriku sendiri, aku selalu salah menilai dirimu', katanya.

"O, ya? "Aku selalu menganggap kau rada bodoh dan ketolol-tololan, tapi sekarang aku baru tahu ternyata kau jauh lebih pintar dari siapapun juga..!' Sepasang matanya dibelalakkan lebar lebar, kemudian sambungnya lebih lanjut.

"Sewaktu kau akan pergi mencari si mayat hidup itu, bukankah kau telah menduga bahwa dia tak akan turun tangan kepadamu dan orang lain pun, tak akan membiarkan ia membunuhmu?"

Bu ki tidak menjawab, dia hanya membungkam dalam seribu basa.

Kelihatanlah sekarang kalau kaupun tidak mempunyai keyakinan yang sungguh-sungguh aman.

kata bocah berbaju merah itu lebih jauh.

'Kau pernah bertaruh uang?

tiba tiba Bu ki bertanya.

Si bocah berbaju merah itu melirik sekejap ke arah gurunya.

kemudian berbisik.

`Secara diam-diam aku pernah bertaruh!

'Kalau begitu kau harus tahu, jika kau ingin memenangkan uang milik orang lain maka diri sendiripun harus berani berspekulasi.

Ia tertawa lebar, lalu terusnya .

"'Dalam kehidupan manusia di dunia ini, banyak persoalan adalah sama dengan bertaruh di meja judi, bila kau tak berani berspekulasi maka jangan harap kau bisa memperoleh apa yang kau inginkan ...' Fajar telah menyingsing. Pohon-pohon besar yang tercabut semalam kini sudah berdiri kembali seperti sedia kala, benda-benda yang kotor dan memenuhi permukaan tanah kinipun telah dibersihkan. Bila kemarin pagi ada orang berkunjung ke situ dan pagi ini datang kembali ke sana, dia tidak akan mengetahui bahwa di tempat tersebut semalam telah berlangsung banyak sekali peristiwa yang seram, aneh dan mendebarkan hati .....Apa yang telah terjadi bukan dongeng, melainkan suatu peristiwa yang benar benar telah terjadi. Siau Tang lo menitahkan orang untuk buatkan sepoci teh Thi koan im dari bukit Bu gi, lalu sambil tersenyum katanya. 'Kejadian ini bukan suatu keajaiban, di dunia hakekatnya tidak terdapat keajaiban, seandainya ada, jelas itupun hasil bikinan manusia sendiri .... Di balik setiap ucapannya selalu membawa nada falsafah hidup yang membuat orang mau tak mau harus meresapinya sedikit demi sedikit.

"Hanya makhluk yang disebut manusia yang dapat menciptakan keajaiban, kembali katanya.

"menggunakan daya ciptanya, kecerdasannya serta kemampuannya untuk berkarya apapun bisa dibuat olehnya, apalagi kalau ini ditambah dengan latihan yang ketat serta ... ."

"Serta uang emas yang melimpah ! sambung Bu-ki. Siau Tang lo segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh ... haaahhh....luaaahhh ... benar, benar sekali, tentu saja uang emas selamanya merupakan benda yang tak boleh ketinggalan dalam usaha untuk melakukan apapun jua.' "Untungnya uang emas masih bukan merupakan benda kebutuhan utama yang paling dibutuhkan oleh umat manusia,"

Kata Sugong Siau-hong pula.

"dan belum tentu semua orang yang punya uang dapat melakukan apa yang hendak kau lakukan itu.' Setelah berhenti sejenak, ia menambah-kan. Uang seperti juga sebilah pedang, harus diperhatikan dulu berada di tangan siapakah benda tersebut ! Ternyata di balik ucapan tersebut terkandung arti falsafah hidup yang amat mendalam. Akan tetapi Bu ki tak ingin memutar otaknya untuk mendalami makna dari kala-kata tersebut. Sebab kedatangannya ke situ bukan untuk mendengarkan kuliah mengenai falsafah hidup dari orang lain.' Siau Tang lo seolah-olah dapat menebak suara hati tamunya, tiba-tiba ia berkata. 'Aku mengerti, bukankah kau ingin pergi?' Bu ki segera bangkit berdiri, ia menggunakan gerakan badan sebagai jawaban dari pertanyaan itu.

"Aku pikir kau pasti akan mendatangi bukit Kiu hoa san !"

Kembali Siau Tang lo berkata.

'Aku pasti akan berkunjung ke sana !

"Bukit Kini hoa san berada di selatan kota Lang yang, sebelah barat kota Ciu boh, berhubungan dengan Ngo si toa thong di utara dan berdempetan dengan bukit Siang liong hong di timur, ada empat puluh delapan puncak bukitnya yang ternama, selain itu terdapat dua sumber mata air, empat belas tebing, lima gua, sebelas puncak dan delapan belas sumber air bawah tanah, tempat tersebut adalah suatu tempat yang besar, besar sekali ...

"Aku tahu ! "Kalau sudah tahu, kenapa tidak kau tanyakan ke manakah dia akan pergi ....?"

"Aku tidak perlu bertanya." 'Kau saaggup menemukan dirinya?"

"Aku pasti berhasil menemukannya Tiba-tiba pemuda itu bertanya lagi. 'Seandainya kau ingin mendaki sebuah bukit, dan kau suruh gunung itu mendekat, dapatkah gunung itu menghampiri dirimu,"

"Tidak dapat ! Lantas apa yang harus kau lakukan?"

Tentu saja aku yang mendatangi bukit!"

Kata Siau Tang lo.

Seringkali kugunakan cara ini untuk melakukan pekerjaanku, bila aku tidak dapat me-nemukannya, aku bisa mencari akal agar dia yang datang mencariku.

Bu ki telah pergi.

Apabila dia berniat untuk pergi, jarang sekali ada orang yang bisa menghalangi kepergiannya itu ...

bahkan hampir boleh dibilang tak seorang manusiapun dapat menghalangi niatnya.

Memandang hingga bayangan tubuhnya pergi menjauh, Siau Tang lo baru bertanya.

'Kau mengatakan pemuda itu bernama Tio Bu ki?" 'Benar!' Sugong Siau-hong manggut-manggut.

Tampaknya dia pun seorang manusia yang amat pintar!"

Yaa, dia memang seorang yang pintar!"

Tapi aku lihat dia seperti juga mempunyai banyak persoalan hati yang tak mampu dipecahkan, orang cerdik tidak seharusnya memiliki begitu banyak persoalan yang mencekam di hatinya.' 'Aku mengharapkan kedatangannya ke mari karena aku ingin agar dia berubah menjadi jauh lebih cerdik.' Kemudian katanya lebih jauh.

Satu-satunya persoalan hati yang tak terpecahkan olehnya adalah karena hingga sekarang ia masih belum berhasil menemukan jejak musuh besar-nya ...

"Siapakah musuh besarnya?' "Sangkoan Jin!"

Apakah manusia emas yang terbuat dari emas murni itu?' "

Benar!' Siau Tang lo segera menghela napas panjang.

"Aaaaai ..tampaknya dia memang masih kurang pintar, dengan ilmu silat yang dimilikinya, asal ia mampu menahan sepuluh jurus serangan dari Sangkoan Jin hal ini sudah tidak mudah!' "Sebab itulah aku suruh dia ke mari, agar dia tahu bahwa dunia persilatan penuh dengan manusia-manusia pintar yang tak terhitung jumlahnya, agar dia tahu bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih belum cukup untuk berkelana dalam dunia persilatan, apalagi pergi membalas dendam?' Tiba-tiba ia menghela napas pxojing, lalu katanya lagi. 'Aaaai...! Tapi sekarang aku baru tahu bahwa aku keliru besar!"

"Di manakah letak kesalahanmu itu! tanya Siau Tang-lo.

"Aku tidak seharusnya menyuruh dia datang ke mari!"

"Kenapa? Sangkoan Jin licik dan banyak tipu muslihatnya, setelah dia mengambil langkah seribu dan kabur ke ujung langit, untuk menemukan kembali jejaknya hal ini akan jauh lebih sukar dari pada mendaki ke langit."

Bukankah itu berarti Bu-ki tetap akan mengalami kesulitan untuk menemukan jejaknya? Yaa, tapi sekarang Bu-ki telah berkenalan pula dengan Samwan Kong ....!"

Keluh Sugong Siau-hong.

Apabila Samwan Kong hendak mencari jejak seseorang, kendatipun orang itu bersembunyi di ujung langit, ia tetap akan menemukannya kembali...

Hal ini bukan hanya berita sensasi belaka, tapi memang demikianlah kenyataannya.

Kembali Sugong Siau-hong berkata.

"Sangkoan Jin sudah berpengalaman dalam menghadapi beratus ratus kali pertempuran, baik tenaga dalamnya maupun tenaga luarnya telah mencapai puncak kesempurnaan, pada hakekatnya Bu-ki sama sekali tidak mempunyai keyakinan untuk bisa menghadapinya, sekalipun ia tahu di manakah musuhnya berada, belum tentu ia berani bertindak secara sembarangan dan gegabah ....'' 'Bagaimana sekarang? tanya Siau Tang lo. Sekarang ia telah memiliki keleningan emasmu, diapun mempunyai sepatah kata janji dari sahabat yang berdiam dalam peti mati tadi."

Ehmm.

..!

Apabila ia benar-benar berkunjung ke bukit Kiu-hoa-san, jikalau tidak sampai mampus di ujung pedang sahabat yang menyebut dirinya Kin Yu ho tersebut, sedikit banyak pasti ada kebaikan yang berhasil dinikmatinya.

Sugong Siau-hong tertawa getir.

"Sebab itulah nyalinya pasti akan bertambah besar!' keluhnya. Tapi kejadian ini bisa pula dikatakan sebagai nasibnya yang memang bagus! "Aaaai.. tapi kami tidak berharap ia bisa mempunyai nasib mujur seperti itu,' kata Sugong Siau-hong lagi sambil menghela napas. 'Aku jadi teringat kembali dengan ucapan seorang manusia pintar dijaman dulu kala."

"Apa yang dia katakan?" `Ia bilang bagaimanapun cerdiknya seseorang, atau bagaimanapun beraninya orang itu, ia masih kalah jauh bila dibandingkan dengan seseorang yang pada dasarnya mempunyai nasib yang baik.' Kemudian setelah tersenyum katanya lagi `Setelah Bu-ki memiliki nasib sebaik dan semujur ini, apa lagi yang perlu kau kuatirkan?* Sugong Siau-hong tidak berkata apa-apa lagi, namun wajahnya kelihatan tambah murung dan masgul, seakan-akan dalam hatinya tersimpan suatu rahasia besar yang tidak ia uarkan kepada siapapun. JUDI MAKAN dan berahi adalah watak manusia. Ucapan itu berarti bahwa setiap orang harus makan, setiap orang harus pula melakukan "pekerjaan"

Yang telah diwariskan oleh leluhurnya turun temurun ....entah dia merasakan kesenangan dan kenikmatan ataupun tidak ...

Oleh karena itulah disetiap tempat pasti ada rumah makan, disetiap tempat pasti pula ada perempuan yang hanya menjadi milik seorang lelaki saja, tapi ada pula perempuan yang bisa dibeli oleh setiap pria.

Selain dari pada itu ada pula sebagian perempuan yang hanya bisa dibeli oleh sebagian pria saja ...

sebagian pria yang mempunyai uang agak banyak dan sebagian pria yarg rela mengeluarkan uang lebih banyak.

Kecuali 'Makan dan perempuan', konon makhluk yang disebut manusia itu masih memiliki pula watak judi Atau paling sedikit manusia yang mempunyai watak 'berjudi"

Jauh lebih banyak dari pada manusia yang tidak memiliki watak tersebut.

Ada banyak manusia yang seringkali berjudi di dalam rumah, entah di rumah sendiri, entah pula di rumah teman.

Sayangnya berjudi di rumah biasanya kurang begitu leluasa, kadangkala si bini kurang senang hati, kadangkala konsentrasi dibuyarkan jeritan anak-anak yang berkelahi, kadangkala susah juga mencari partner yang mau diajak berjudi.

Untungnya di dunia ini selalu tersedia suatu tempat yang tak akan membuat kau merasakan ketidak leluasaan tersebut ....Dan tempat itu tak lain adalah rumah perjudian.

Oleh karena itu di setiap tempat tentu akan kau jumpai rumah perjudian ....Adakah rumah perjudian yang terletak di atas tanah, ada yang terletak di bawah tanah, ada pula rumah perjudian yang terbuka untuk umum, ada yang tidak terbuka untuk umum, ada yang besar jumlah taruhannya tapi ada pula rumah perjudian dengan taruhan yang kecil.

Tapi bila kau sampai berjudi di tempat semacam itu, maka setiap saat kemungkinan besar binimupun akan kalah bertaruh dan ikut tergadaikan.

Di dalam beberapa kota yang agak besar, di balik rumah-rumah perjudian yang agak besar jumlah taruhannya, belakangan ini telah muncul seorang penjudi yang amat mujur.

Dalam istilah rumah perjudian si penjudi yang mujur biasanya diartikan sebagai penjudipenjudi yang berhasil menarik keuntungan duri meja perjudian, atau istilah lain disebut 'pemenang .

Terlepas dari apapun yang dikatakan orang lalu tentang "'Judi", sedikit banyak selalu ada orang yang berhasil mendapatkan keuntungan dari meja perjudian, meski jumlahnya itu cuma beberapa tahil atau bahkan sanpai ratusan atau ribuan tahil perak.

Sekalipun jumlah orang yang kalah di meja judi jauh lebih banyak kau temui di rumah rumah perjudian tersebut, tapi seringkali kau akan temukan juga para pemegang itu.

Cuma saja, pemenang yang akan diceritakan di sini mempunyai beberapa keistimewaan ...

Dia hanya berjudi dadu.

Setiap kali dadu-dadu itu berada di tangannya lalu ditebarkan ke meja, maka angkanya selalu 'enam, enam, enam.' Itu berarti "Lak-pa!' Lak-pa, merupakan angka tertinggi dalam judi dadu, menurut penilaian dari sementara penjudi ulung dan penjudi berpengalaman, kira-kira orang harus melemparkan sembilan puluh laksa kali gundu sebelum bisa mendapatkan angka keramat tersebut.

Bahkan ada pula yang berjudi selama hidupnya, setiap hari berjudi, setiap hari melemparkan dadu akan tetapi belum pernah ia berhasil mendapatkan angka 'keramat tersebut.

Tapi si mujur itu, bukan saja dapat meraih angka keramat tersebut, bahkan setiap kali melemparkan dadunya, ia selalu berhasil mendapatkan angka "enam, enam, enam* tersebut.

Tio Bu-ki menghela napas panjang.

'Jangan-jangan dia adalah seorang Long tiong?

banyak orang yang mulai curiga.

Istilah 'Long -tiong di arena meja judi bukan berarti si Tabib yang memeriksa orang sakit, melainkan istilah orang yang selalu menipu di meja judi dengan menggunakan permainan kotor.

Tentu saja Long-tiong yang sesungguhnya tidak akan berbuat sedemikian brutal sehingga menimbulkan sensasi, apa lagi menarik perhatian begitu banyak orang.

Sebab perbuatan semacam itu merupakan pantangan terbesar bagi setiap long-tiong.

Long-tiong yang sebenarnya tak akan melanggar pantangan tersebut, andaikata angka tiga yang berhasil kau capai dalam pelemparan dadumu, maka paling banyak dia hanya mengeluarkan angka lima saja dalam giliran pelemparan dadunya.

bukankah angka lima sudah dapat menangkan angka tiga?

Bagi seorang Liong-tiong yang sesungguhnya, asal ia dapat menangkan uang mu, hal ini sudah lebih dari cukup baginya.

Kadangkala bahkan ia sengaja akan pura-pura kalah satu-dua kali, sebab ia takut kau tak berani bertaruh lagi.

Berbeda dengan si mujur ini, dia belum pernah kalah walau satu kalipun ....Asal ia menebarkan dadu-dadunya maka angka yang berhasil di raih tentu tiga angka enam, belum pernah ia dapatkan angka kurang dari itu.

***** 'Benarkah terdapat seorang manusia macam begini?"

"Benar!"

"Benarkah setiap kali melemparkan dadunya ia selalu berhasil meraih tiga angka enam?" 'Benar!"

"Apakah kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri?" 'Bukan cuma aku yang menyaksikan sendiri, banyak orang juga melihat hal itu."

"Dengan cara apakah ia malemparkan dadu-dadu itu?' "Ya, begini! Dia pegang ketiga biji dadu tersebut kemudian ditebarkan dengan seenaknya."

"Tidakkah kau lihat gerakan tangan yang dipergunakan orang itu ...."

"Bukan aku saja yang tidak mengetahuinya, bahkan Toa-you pun tidak tahu .... !"

Toa-you she Thio, dia adalah seorang penjudi ulung yang amat tersohor, ia pernah menangkan sisa setahil perak yang dimiliki sahabat yang besar bersamanya itu dengan hanya mengundang sababatnya itu untuk minum semangkuk wedang tahu.

Orang-orang yang pada mulanya masih menaruh curiga kepada si mujur tersebut, sekarang sudah tidak curiga lagi.

"'Bila Toa-you pun tidak mengetahuinya, siapa lagi yang dapat mengetahuinya ..... ? demikian orang-orang berpendapat. Yaa, siapa lagi? Tentu saja tak ada yang lain!' "Masa sejak dilahirkan orang itu memang ditakdirkan menjadi orang yang mujur? Orang yang memang sudah takdir menjadi pemenang?"

Aaaaai ...

sukar untuk dikatakan!

"Bila ia benar-benar mempunyai nasib sebaik ini, aku bersedia untuk memotong sepuluh tahun usiaku untuk mendapatkan nasib yang sama dengannya.' `Jangankan baru sepuluh tahun, aku bersedia umurku duapuluh tahun lebih pendek.' "Aaaaai ...

!' dan orangpun hanya bisa menghela napas.

"Aaaai!"

Adalah tanda orang sedang menghela napas.

Bukan menghela napas lantaran dirinya tidak memiliki rejeki sebaik itu, sedikit banyak timbul juga perasaan kagum dan iri di hati masing-masing orang.

'Kau pernah bertemu dengannya?"

"Tentu saja pernah bertemu! 'Manusia macam apakah dia?' Seorang pemuda yang masih muda belia dan berwajah tampan, konon dia dari keluarga orang kaya, dan sekarang tentu uangnya sedemikian banyak sehingga ia sendiripun tidak tahu bagaimana caranya untuk menghambur-hamburkan uang tersebut."

"Tahukah kau siapa nama orang itu?" *Aku dengar ia bernama Tio Bu-ki!" ***** Gedung ini merupakan sebuah gedung model kuno yang sudah di makan usia, dipandang dari luar, bentuknya mirip sekali dengan sebuah kelenteng desa. Tapi bagi orang yang berpengalaman, mereka tahu bahwa bangunan kuno itu bukan kuil desa melainkan sebuah rumah perjudian. Sebuah rumah perjudian paling besar yang tiada tandingannya di sekitar limaratus li seputar daerah tersebut. Seperti juga rumah-rumah perjudian lainnya, tauke pemilik rumah perjudian inipun merupakan seorang komandan dari suatu perkumpulan rahasia. Ia she Cia, kebanyakan orang menyebutnya sebagai Cia toaya, sedang sahabat-sahabat yang agak akrab hubungannya menyebut dia sebagai Lo-cia, oleh karena itu nama sebenarnya dari orang ini kian lama kian tidak diketahui oleh orang. Bagi seorang tauke yang menyelenggarakan sebuah arena perjudian besar, nama dan she bukan suatu hal yang terlalu penting baginya. Meskipun ia she Cia, namun tak ada orang yang berani berbuat curang di rumah perjudiannya, kalau tidak maka tukang-tukang pukul yang dipeliharanya itu dengan amat sungkan akan mem-persilahkan orang itu untuk ke luar dari ruangan. Menanti orang itu tersadar kembali dari rasa sakit di sekujur badannya, seringkali ia akan menjumpai tubuhnya sedang terkapar dalam sebuah selokan dengan air pecomberannya yang sangat bau. Kemudian dia akan menemukan juga bahwa tiga biji tulang iganya sudah patah. ***** Ruang dalam dari bangunan tersebut sudah barang tentu jauh lebih megah dan mentereng dari pada bentuk luarnya, tempat itupun jauh lebih menawan hati. Ditengah ruangan besar yang terang benderang bermandikan cahaya kelihatan begitu banyak manusia dari pelbagai lapisan masyarakat yang saling bardesak-desakan, tumpukan uang kertas, tumpukan uang perak dan uang emas berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain mengikuti menggelindingnya dadu-dadu tersebut. Diantaranya tentu saja sebagian besar masuk ke tangan sang bandar pada akhirnya, maka tangan si bandar selamanya tetap kering, tenang dan mantap. Tio Bu-ki dengan mengenakan satu stel baju baru yang indah, pelan-pelan menembusi hembusan angin malam yang sejuk dan nyaman melangkah masuk ke dalam ruang besar yang benderang dan mentereng itu. Pada mulanya ia merasa sedikit kegerahan, tapi suasana panas dalam ruangan tersebut dengan cepat membuat ia melupakan segala sesuatu yang kurang menyenangkan itu. Untuk memasuki ruang besar ini, prosedurnya tidak termasuk terlalu gampang. Tentu saja diapun harus diajak datang oleh seorang "sahabat"

Yang cukup berpengalaman, dia harus menghamburkan uang sebesar limapuluh tahil perak dan suatu perjamuan makan malam yang mewah dan megah untuk berkenalan dengan sahabat ini.

Pakaian yang baru dan pas membuat ia tampak lebih mentereng, lebih tampan dan perlente, persis saperti seorang kongcu romantis yang kelebihan uang saku.

Pada umumnya manusia-manusia semacam inilah yang paling menarik perhatian orang lain walau ke manapun kau pergi.

Apalagi belakangan ini ia berhasil pula mendapatkan suatu julukan istimewa yang belum pernah ada dari rumah-rumah perjudian...Heng-in-pacu (si macan tutul yang mujur)!

Itulah julukan yang diam-diam dihadiahkan oleh para penjudi kepadanya, karena ia khusus pandai melemparkan tiga angka enam dalam permainan judi dadu.

Biasanya para penjudi tidak menetap di suatu tempat tertentu, mereka biasa berpindah-pindah tempat dari satu rumah perjudian ke rumah perjudian yang lain.

Tidak heran kalau diantara penjudi-penjudi yang berada dalam rumah perjudian tersebut ia jumpai pula para penjudi yang pernah dijumpainya di rumah perjudian lain.

Belum lama ia melangkah masuk ke dalam rumah perjudian tersebut, suasana gaduh sudah menyelimuti seluruh ruaugan, suara bisikan dan kasak kusukpun kedengaran di mana-mana.

"Si macan tutul yang mujur telah datang!"

Demikian orang-orang mewartakan kehadirannya.

"Coba terka, hari ini dapatkah ia melemparkan tiga angka enam lagi dalam pelemparan dadunya?"

"Apakah kau ingin bertaruh denganku?"

"Bagaimana bertaruhnya?"

"Kugunakan seratus tahil perak untuk mempertaruhkan limapuluh tahil perakmu, aku memegang ia masih bisa mendapatkan angka tiga kali pada hari ini."

"Hey, mengapa kau seyakin itu?"

"Karena aku sudah menyaksikan ia melemparkan dadunya sebanyak sembilan kali!"

"Apakah sembilan kali ia selalu berhasil meraih angka enam tiga kali?"

"Yaa, sembilan kali selalu tiga angka enam!" ***** Orang-orang yang sedang mengerubung di sekitar meja perjudian terbesar dalam ruangan itu tiba-tiba menyingkir ke samping dan mempersilahkan Bu-ki berjalan lewat. Setiap orang mengalihkan perhatian mereka ke tangannya. Sesungguhnya kekuatan hitam apakah yang dimiliki sepasang tangannya itu? Kenapa setiap kali ia dapat melemparkan tiga angka enam? Jari-jari tangannya kelihatan begitu ramping, panjang dan bertenaga, kukunya terawat rapi dan bersih, tampaknya tidak jauh berbeda dengan jari-jari tangan orang lain. Pemilik sapasang tangan itupun kelihatannya masih begitu muda, begitu tampan dan terpelajar lagi. Terserah bagaimanakah pandanganmu terhadap pemuda tersebut, ia sama sekali tidak mirip seperti seorang Long-tiong, seorang penjudi yang bermain curang dalam perjudiannya. Semua orang benar-benar tidak berharap bahwa ia dipersilahkan ke luar oleh tukang-tukang pukul yang mulut tersenyum, kulit tidak ikut tersenyum itu. Dalam hati kecil setiap penjudi selalu berharap, agar mereka dapat menyaksikan seorang pahlawan yang dapat menguras habis harta kekayaan dari sang bandar. Begitulah, dibawah tatapan beratus-ratus pasang mata, Bu-ki melangkah masuk ke dalam ruangan dengan senyuman dikulum, seperti seorang bintang tenar yang sedang naik ke panggung kehormatan, Ia memperlihatkan sikap yang begitu tenang dan wajar, begitu tebal rasa percayanya pada diri sendiri, seakan-akan ia merasa yakin bahwa penampilannya kali inipun tak bakal gagal. Sang bandar mulai merasa tegang, lamat-lamat peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi jidatnya. Bu-ki tersenyum tenang, katanya dengan lembut.

"Apakah meja ini adalah meja perjudian dadu?"

Tentu saja ucapannya benar.

Sebab di tengah meja terdapat sebuah mangkuk besar, tiga biji dadu tergeletak dalam mangkuk tersebut dan memantulkan sinar tajam ketika tertimpa cahaya lampu.

Kembali Bu-ki bertanya lagi.

"Apakah disinipun tidak membatasi besar kecilnya jumlah taruhan?"

Sang bandar belum men-jawab, orang-orang disekitarlah telah menimbrung.

"Di tempat ini tak pernah membatasi jumlah besar kecilnya taruhan!"

"Akan tetapi di tempat ini hanya bertaruh dengan uang kontan serta uang-uang kertas dari San see-piau-hau, bila hendak bertaruh dengan perhiasan atau mutiara maka benda-benda itu musti ditukarkan dulu dengan uang uang kontan."

"Bagus sekali!"

Sambil tersenyum Bu-ki merogoh sakunya dan mengeluarkan setumpuk uang kertas, semuanya uang kertas keluaran bank terkenal pada jaman itu. Katanya kemudian.

"Pertama kali ini aku akan bertaruh sepuluh laksa tahil lebih dahulu!" ***** Pepatah kuno berkata.

"Uang berada di meja judi, manusia berada di meja pengadilan."

Artinya, bila seseorang sudah berada di meja pengadilan maka ia tak bisa dianggap sebagai se-orang manusia lagi, sebaliknya bila uang sudah berada di meja perjudian, maka uang tersebut tak bisa dianggap sebagai uang yang bisa dihambur-hamburkan lagi.

Akan tetapi, bagaimanapun juga sepuluh laksa tetap merupakan sepuluh laksa, bukan sepuluh laksa tahil besi tembaga, melainkan sepuluh laksa tahil perak.

Apabila uang yang sepuluh laksa tahil perak itu dipergunakan untuk menindih orang, paling sedikit bisa menindih mati beberapa orang....

Suasana dalam ruang perjudian kembali terjadi kegaduhan, para penjudi yang sebelumnya sedang berjudi di meja lain, kini berdatangan semua ke situ dan mengerubung meja judi tersebut untuk menonton keramaian.

Sang bandar mulai mendehem, kemudian bertanya.

"Apakah kau pertaruhkan uangmu sekaligus dalam sekali lemparan?" . Bu ki mengangguk sambil tersenyum. Masih ada orang lain yang ikut bertaruh?"

Teriak sang bandar. Tiada yang menyahut. Bagus!' kata bandar itu lagi.

"bila dua orang bertaruh, maka siapa yang berhasil meraih enam, tiga kali lebih dulu, dialah yang menang."

"Siapa yang akan melempar dulu?"

Tanya Buki lembut.

Butiran keringat sebesar kacang sudah membasahi ujung hidung sang Bandar, setelah men-dehem beberapa kali, akhirnya meluncur juga sepatah kata yang sesungguhnya enggan ia ucapkan.

'Kau!' Jika terjadi pertaruhan yang melibatkan dua orang, maka bandar akan selalu mengalah buat tamunya.

Hal ini sudah merupakan peraturan di dalam setiap rumah perjudian, tidak terkecuali pula rumah perjudian di tempat ini.

Dengan senyuman dikulum Bu ki mengambil ketiga biji dadu itu kemudian dilemparkan sekena-nya ke dalam mangkuk.

Ketika dadu-dadu itu mulai berputar, orang-orang yang berada disekitar meja perjudian itu mulai berteriak memberi angin kepadanya.

'Enam tiga kali !

Macan tutul besar !"

Teriakan-teriakan itu belum sirap, biji-biji dadu itu sudah berhenti berputar, betul juga, angka dadu menunjukkan enam tiga kali ....macan tutul besar !

Suara teriakan-teriakan itu seketika berubah menjadi tempik sorak yang gegap gempita, se-demikian kerasnya sorak sorai tersebut membuat atap rumah nyaris ikut ambruk.

Sang bandar mulai menyeka keringat, makin diseka makin banyak keringat yang bercucuran.

Bu-ki sama sekali tidak memperhatikan dadu-dadu dalam mangkuk tersebut, seakan-akan hasil yang dicapainya itu sudah berada dalam dugaannya semula.

Seakan-akan ia sudah mengetahui sejak awal bahwa dadu-dadu yang dilemparkan itu sudah pasti akan menunjukkan tiga angka enam.

***** Sang bandar sudah mulai menghitung uang untuk membayar pertaruhan tersebut, tapi sepasang matanya justru masih juga celingukan ke sana ke mari dengan liarnya.

Pada saat itulah sebuah tangan mampir di atas bahu Bu-ki, sebuah tangan yang besar dan kasar, punggung tangan penuh dengan otot-otot hijau yang menonjol ke luar, keempat buah jarinya hampir mempunyai ukuran yang sama panjangnya, jari itu kelimis tanpa kuku barang secuwil-pun.

Sekalipun seseorang yang tak pernah berlatih ilmu silat, juga akan mengetahui bahwa tangan tersebut pasti sudah pernah digunakan untuk melatih ilmu Thiat sah ciang (pukulan pasir besi) -atau sebangsanya.

Sekalipun seseorang yang belum pernah merasakan kerasnya pukulan tangan itu, mereka pasti dapat pula membayangkan bahwa akibat dari pukulan itu pasti sangat tak sedap.

Sorak sorai dan suara tertawa yang gegap gempita seketika sirap dan lenyap dengan begitu saja, suasana menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Hanya satu orang yang masih tertawa, sambil senyum senyum katanya kepada Bu ki.

"Toaya, kau she apa?"

"Aku she Tio!" 'Oooh ... .! Rupanya adalah Tio kongcu, selamat bertemu, selamat bertemu . , , haaahhhh ... haaahhh ... haaahhh ... Meskipun ia mengucapkan "Selamat ber-jumpa", akan tetapi mimik wajahnya sama sekali ticiak menunjukkan maksud "selamat berjumpa' itu sendiri, bahkan menggunakan ibu jarinya yang amat besar itu ia menuding ke ujung hidung sendiri sambil berkata.

"Aku she Sun, orang lain menyebut diriku sebagai Thiat pa ciang (pukulan pasir besi)!"

"Selamat berjumpa, selamat berjumpa!' kata Bu ki pula. 'Aku ingin sekali mengundang Tio kongcu untuk bercakap-cakap sebentar di luar!' "Membicarakan soal apa?' "Aaah, membicarakan apa saja yang dapat dibicarakan!" 'Baik, kalau begitu tunggulah aku setelah bertaruh beberapa kali lagi ...!"

Mendengar perkataan itu, Thiat pa ciang segera menarik muka, kemudian bentaknya.

"Aku minta sekarang juga kau ke luar sebentar!"

Mengikuti perubahan wajahnya itu, tangan yang semula hanya menempel di atas bahu Bu ki pun ikut mencengkeram kencang.

Setiap orang merasakan peluh dingin membasahi tubuh mereka, setiap orang menguatirkan keselamatan Bu ki.

Apabila bahu seseorang dicengkeram oleh sepasang tangannya yang kuat secara demikian rupa, sekalipun tulang bahu itu tak sampai hancur remuk, rasanya tentu sangat tak sedap.

Akan tetapi Tio Bu ki sama sekali tidak merasa kesakitan, keningnya juga tidak berkerut, sebaliknya sambil tersenyum ia berkata.

"Apabila kau ingin sekarang juga berbicara denganku, nah, bicarakanlah di tempat ini saja! Paras muka Thiat pa ciang berubah hebat, dengan geramnya ia membentak.

"Aku memberi muka untukmu, tapi kau tak mau muka, baik, jangan salahkan kalau kubongkar semua kecurangamu dihadapan umum. Huuuh! Jika kau bukan seorang Long tiong, dengan mengandalkan apakah kau "berani bertaruh sepuluh laksa tahil perak dalam sekali pertaruhan?"

"Pertama karena aku punya uang, kedua karena aku senang dan ketiga karena kau tak berhak mencampuri urusanku!"

"Kalau aku sengaja mau mencampuri urusanmu, lantas mau apa kau?"

Teriak Thiat-pa ciang semakin geram.

Telapak tangan bajanya segera diangkat ke udara, kemudian sekali sapu ia hantam batok kepala Bu-Ki.

Sayang pukulan dahsyatnya itu tidak mengenai sasaran.

Yaa, pukulannya tentu saja tidak mengenai sasaran, sebab sebelum pukulan tersebut bersarang telak di tubuh si anak muda, tubuhnya sudah keburu melayang dulu ke tengah ke udara.

Bu Ki hanya mencenkeram pergelangan tangannya dengan enteng, kemudian mengangkat dan melemparkannya ke depan, seperti layang layang putus benang, tubuhnya segera melayang ke udara, melewati puluhan batok kepala manusia dan..."Blaaang!"

Menumbuk di atas sebuah tiang besar, kepalanya segera terluka dan darah bercucuran ke luar dengan derasnya.

Peristiwa ini segera mengundang kehebohan, suasana menjadi amat kacau dan ramai, tujuh delapan belas orang laki laki kekar yang bertubuh tinggi besar berorot bagaikan harimau kelaparan segera bermunculan dari empat penjuru.

Akan tetapi, rombongan harimau harimau kelaparan tersebut pada hakekatnya tak lebih hanya serombongan anjing berpenyakitan dalam pandangan Bu Ki.

Baru saja ia bersia sedia memberikan sedikit pelajaran untuk segerombolan anjing anjing berpenyakitan itu ketika kain tirai di belakang ruangan sana disingkap orang, menyusul seseorang membentak keras.

"Tahan!"

Tirai di depan pintu itu terbuat dari kain sutera halus yang mahal harganya, di atas kain tersebut terdapat pula sebuah sulaman bunga Botan yang besar dan sangat indah.

Seorang laki laki botak berbaju perlente, sambil membawa sebuah huncwee yang terbuat dari batu batu pualam berdiri angker di depan pintu.

Semua suara teriakan dan bentakan yang semula memenuhi ruangan itu seketika menjadi reda, diam-diam orang mulai menguatirkan keselamatan jiwa Bu-ki.

Kini bahkan Cia tauke sendiripun sudah campur tangan, itu berarti sulit sekali bagi Bu-ki untuk ke luar dari ruangan perjudian itu dalam keadaan utuh.

"Mundur semua! bentakan nyaring kembali bargeletar memecahkan kesunyian. Cia tauke memang memiliki wibawa sebagai seorang tauke besar, cukup dia mengulapkan tangannya dengan pelan, gerombolan anjing anjing berpenyakitan itu segera mengundurkan diri dengan munduk-munduk. 'Tak ada urusan lagi, tak ada kejadian apa-apa... hayo semua orang silahkan melanjutkan permainan, kalau ada yang ingin minum arak, hari ini kuundang kalian untuk minum sampai puas. teriak Cia tauke dengan suara lantang. Di mulut dia berkata demikian, sementara ia sendiri pelan-pelan menghampiri Tio Bu-ki, setelah mengamatinya dari atas hingga ke bawah, tiba-tiba sekulum senyuman tersungging menghiasi wajahnya yang lebar. Saudarakah yang disebut sebagai Tio kongcu,"

Ia menegur.

"Benar, aku she Tio! "Aku she Cia, sahabat-sahabat menyebutku Lo-cia, rumah perjudian kecil ini adalah milikku!"

"Apakah Cia tauke juga ingin mengundangku untuk bercakap-cakap di luar ....?"

"Tidak usah di luar, di dalam saja!"

Jawab Cia tauke. Kemudian sambil menuding ke ruangan di balik tirai tersebut dengan huncwe kemalanya, ia berkata lebih jauh.

"Di dalam sana ada seorang teman yang ingin sekali bertaruh dengan Tio kongcu!"' "Berapa besar jumlah taruhannya?"

Cia tauke segera tertawa.

"Jumlah taruhannya tidak dibatasi makin besar tentu saja semakin baik"

Bu-ki ikut tertawa.

"Seandainya aku diajak bercakap-cakap, mungkin tiada waktu luang bagiku, tapi kalau ingin bertaruh denganku, setiap saat aku pasti akan melayaninya."

"Kalau begitu bagus sekali !"

Kata Cia tauke sambil manggut-manggut. Bu-ki dan Cia tauke sudah masuk ke balik pintu, kain tirai di depan pintu telah menutup kembali. Semua orang mulai kasak kusuk, semua orang mulai berbisik bisik.

"Siapakah orang yang berani bertaruh dengan si macan tutul yang mujur itu? Bukankah hal ini bagaikan seekor babi gemuk yang mengantarkan diri?"

Disisinya segera ada seseorang yang menanggapi sambil tertawa dingin, bisknya pula.

"Dari mana kau bisa tahu kalau di dalam sana benar benar ada orang yang hendak bertaruh dengannya? Siapa tahu yang sedang menunggu di dalam sana adalah sebilah golok? Begitu si macan tutul yang mujur masuk ke dalam, maka ia akan segera berubah menjadi si macan tutul yang mampus...?"

Di dalam ruangan tak ada golok, yang ada hanya manusia.

Termasuk Cia tauke, di situ ada sembilan orang manusia, delapan orang berdiri dan seorang duduk.

Delapan orang yang berdiri tidak mengenakan baju mentereng atau dandanan yang mewah dan perlente, mereka adalah delapan orang laki laki kekar yang berperawakan tinggi besar dengan sepasang mata yang memancarkan sinar amat tajam.

Kalau dilihat dari gerak gerik mereka yang cekatan dan gesit, jelas orang orang itu mempunyai kepandaian yang hebat pula.

Sedangkan orang yang duduk di atas sebuah kursi terbuat dari kayu cendana yang beralaskan permadani berwarna merah itu adalah seorang kakek kurus kecil macam orang penyakitan.

Raut wajahnya berwarna kuning dan kering, dia mempunyai sepasang mata yang kecil dan sipit, pada dagunya memelihara beberapa lembar jenggot kambing gunung yang telah memutih, sedang rambutnya telah beruban bahkan banyak yang telah mulai berguguran.

Kalau dibilang kakek kecil itu mirip seekor kambing hutan, maka jauh lebih pantas bila dikatakan ia lebih mirip dengan seekor monyet.

Sekalipun demikian, justru ia mempunyai kedudukan serta daya pengaruh yang luar biasa, bahkan jauh di atas dari siapapun dalam ruangan tersebut.

Jangan dilihat ke delapan orang yang berdiri di hadapannya itu berperawakan tinggi besar, bermata tajam bahkan mungkin berilmu silat sangat tinggi, akan tetapi sikapnya terhadap kakek kurus kecil macam moneyt kekeringan amat hormat dan munduk-munduk, sedikitpun tidak berani menunjukkan sikap gegabah atau kurang hormat.

Ditinjau dari semuanya ini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa kakek kurus kecil yang sama sekali tidak bertampang orang kenamaan itu sesungguhnya adalah seorang ternama yang mempunyai kedudukan, nama serta pengaruh yang besar sekali.

Diam-diam Tio Bu ki mulai menarik napas dingin, jantungnya terasa berdebar keras dan peluh serasa mulai membasahi tubuhnya.

Bagaimanapun bodohnya Bu-ki, lamat-lamat ia mulai merasakan juga bahwa manusia yang dihadapinya bukan manusia sembarangan, tapi siapakah orang ini ?

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, iapun berpikir.

'Jangan-jangan kakek kurus kecil macam monyet ini adalah si Raja Judi yang nama besarnya telah menggetarkan tujuh propinsi di selatan dan enam propinsi di utara?"

RAJA JUDI DALAM setiap bidang pekerjaan selalu ada raja nya, demikian pula dalam bidang judi.

Si Raja judi she Ciau, entah orang yang kenal dengannya atau tidak, mereka semua selalu menyebutnva Ciao jit-tayya.

Dalam judi menjudi Ciau Jit-tayya bukan saja sangat ternama, tapi juga ia mempunyai kedudukan yang sangat terhormat.

Selama hidupnya, sudah beribu-ribu laksa kali Ciau Jit tayya melangsungkan perjudian baik yang kecil maupun yang besar, konon ia belum pernah kalah walau satu kalipun ....atau paling sedikit semenjak berusia tigapuluh tahun ia sudah tak pernah kalah.

Tahunini Ciau Jittayya berusia tujuh puluh dua tahun.

Bukan dalam soal judi saja Ciau Jittayya sangat lihay, sepasang matanya juga luar biasa, baik Long tiong kelas kakap, Long tiong kelas teri, long tiong main kartu atau Long tiong profesional, belum pernah ada orang yang berani bermain gila dihadapannya, sebab dengan permainan busuk macam apapun, Ciau Jittayya segera akan mengetahuinya dalam sekejap pandangan mata.

Semenjak ulang tahunnya yang ke enam puluh enam, Ciau Jittayya sudah cuci tangan di baskom emas dan mengundurkan diri dari bidang perjudian.

Konon kemunculan kembali Ciau Jit tayya kali ini adalah atas permohonan dari pat toa kim kong (delapan orang kim kong), delapan orang murid utamanya .

Dengan usianya yang setua itu, dengan kedudukannya yang begitu tinggi pula, mau apa ia munculkan diri kembali ?

...

Konon ia muncul kembali karena ingin menghadapi si macan tutul yang mujur, dia orang tua ingin sekali mengetahui kemujuran apakah yang sedang dilakukan oleh si macan tutul itu?

Kenapa setiap kali melemparkan dadunya selalu berhasil meraih tiga angka enam?

Semenjak semula Bu-ki sudah mendengar berita tersebut, tentu saja ia mendengar soal tersebut dari sahabatnya.

Sekalipun demikian, ia tetap tidak menduga kalau si Raja judi yang namanya sudah termashur di tiga belas propinsi itu sesungguhnya hanya seorang kakek kecil yang kurus macam monyet.

Menggunakan jari-jari tangannya yang memelihara kuku sepanjang tiga inci itu Ciau Jit tayya mengangkat huncwe peraknya dan menghisap asap tembakau beberapa kali, setelah itu sambil tertawa baru katanya.

"Duduk, silahkan duduk!"

Tentu saja Bu-ki segera duduk, ia tak pernah mempunyai kebiasaan untuk berdiri dihadapan orang lain. Dengan sepasang matanya yang kecil Ciau Jittayya memperhatikan Bu-ki, lalu katanya sambil tertawa.

"Engkaukah yang disebut Tio kongcu?"

"Siapa namamu?"

Bu-ki balik bertanya.

"Aku she Ciau, lantaran di rumah aku menempati urutan ke tujuh maka orang lain memanggilku sebagai Ciau Jit! ' Bu-ki sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seakan-akan sepanjang hidupnya belum pernah ia mendengar nama tersebut. Ciau Jittayya tertawa ringan, kembali katanya.

"Konon belakangan ini Tio kungcu selalu mujur?"

"Yaa, biasa-biasa saja!"

"Entah apakah Tio kongcu bersedia memberi muka kepada aku si kakek kecil dan menemani aku bertaruh beberapa kali?"

"Mau berjudi apa?"

"Tentu saja berjudi dadu!"

Bu-ki segera tertawa lebar.

"Seandainya berjudi dalam soal lain mungkin aku tak berani melayaninya, akan tetapi kalau berjudi dadu, aku tak pernah menampik keinginan orang lain."

"Kenapa?"

"Sebab setiap kali aku berjudi dadu, aku merasa nasibku selalu mujur ..."

Tiba-tiba Ciau Jittayya mementangkan sepasang matanya yang kecil dan sipit itu untuk menatap wajah Bu-ki tajam-tajam.

Setelah sepasang matanya dipentangkan lebar-lebar maka terasalah seperti ada dua jalur sinar tajam yang menyorong keluar, bila orang menjumpai sinar mata semacam itu untuk pertama kalinya, dia pasti akan merasa sangat terperanjat.

Akan tetapi Bu-ki sama sekali tidak terperanjat, jangankan baru sinar mata Ciau Jittayya, sekalipun ketika si mayat hidup mementangkan matanya untuk menatap ke arahnya, dia juga tidak terperanjat.

Semenjak dilahirkan dia memang bukan seorang manusia yang gampang merasa terperanjat.

Setelah mengawasinya beberapa kejap dengan mata melotot besar, Ciau Jittayya kembali me-nyipitkan kembali matanya, kemudian berkata.

"Akan tetapi nasib yang mujur kadangkala bisa berubah juga, orang yang bernasib mujur kadangkala bisa menjadi sial, sebaliknya orang yang sial kadangkala bisa pula berubah menjadi mujur,"

Ia tertawa ringan, kemudian katanya lagi.

"Hanya ada seorang manusia yang selamanya tak akan terpengaruh oleh perubahan tersebut."

"Manusia macam apakah itu?"

"Manusia yang tak menggantungkan pada kemujuran tangan!"

Jawab Ciau Jittayya.

"Kalau tidak menggantungkan pada kemujuran tangan lantas menggantungkan dalam hal apa?"

"Mmggantungkan pada soal kepandaian!"

Dengan menggunakan sebuah tangan yang terawat sangat baik, ia melakukan suatu gerakan yang sangat indah, setelah itu plan-pelan baru berkata lagi.

"Asal menggunakan sedikit kepandaian saja maka bereslah sudah!"

Bu-ki seperti orang yang sama sekali tidak memahami perkataannya, dengan agak ketololtololan ia bertanya.

"Kepandaian apakah itu?"

Sepcrti orang yang sedang memberi penjelasan kcpada seseorang yang benar-benar tidak faham Ciau jittayya berkata kembali.

"Kepandaian untuk mengendalikan perputaran dadu!"

Setelah tersenyum kembali katanya.

"Dadu alalah suatu benda yang amat sederhana, benda tersebut tidak bernyawa juga tak berotak, asal kau mempunyai sedikit kepandaian saja maka apa yang kau kehendaki dia akan berbuat seperti yang kau kehendaki itu ...."

Bu-ki tertawa, ia seperti kurang percaya dengan penjelasan tersebut, kembali tanyanya.

"Benarkah di dunia ini terdapat kepandaian semacam itu?"

"Yaa, pasti ada!"

"Dapatkah kau untuk melakukannya? Ciau Jittayya tertawa lirih.

"Jadi kau ingin membuktikannya?"

Ia bertanya.

"Yaa, aku ingin sekali."

"Baik!"

Ciau Jittayya segera bertepuk tangan, dengan sikap hormat Cia tauke segera mengangsurkan sebuah mangkuk besar dengan tiga biji dadu indah di dalamnya.

"Mangkuk ini adalah hasil pecah belah kenamaan dari kota Keng-tek-tin di wilayah Kang-see, sedang dadunya adalah dadu hasil karya Po-sik-cay yang berdiam di pcrempatan jalan Ong Kua-hu di ibukota."

Tampaknya Ciau Jittayya sangat puas dengan benda tersebut, katanya dengan segera.

"Bagus sekali, berjudi bukan saja merupakan suatu kepandaian yang tiada taranya, termasuk juga suatu kenikmatan yang menyenangkan, tentu saja alat-alat yang dia gunakan tak boleh terlampau biasa."

"Aku sangat setuju dengan pandapatmu itu!"

Sambung Bu-ki dengan cepat. Ciau Jittayya manggut-manggut, kembali katanya.

"Yang lebih penting lagi adalah merek dagang Po Sik-cay marupakan merak dagang terpercaya, semua dadu hasil bikinannya selalu mempunyai bobot yang tepat dan seimbang, dan lagi tak mungkin merupakan dadu-dadu palsu yang di dalamnya diisi dengan air raksa hingga timpang beratnya."

"Aku percaya!"

Kembali Ciau Jittayya mengeluarkan tangannya yang halus dengan jari-jari tangan yang terawat itu untuk mengambil ketiga biji dadu tersebut.

Dadu yang berada di tangannya, seakan-akan berubah menjadi sebilah pedang di tangan seorang ahli pedang kenamaan di kolong langit, sebab tampaklah gerakannya yang begitu matang, berpengalaman dan indah.

Dalam soal berjudi, Ciau Jittayya memang tak malu disebut sebagai seorang Raja Judi.

Dengan gerakan yang begitu sederhana, begitu matang dan indah, ketiga biji dadu itu sudah di-lemparkan ke dalam mangkuk.

Tanpa dilihat lagi Bu-ki juga tahu bahwa hasil lemparan dadu itu sudah pasti adalah tiga angka enam.

***** Dadu telah berhenti berputar, benak juga angka menunjukkan tiga angka enam.

Bu-ki segera menghcla napas panjang, katanya.

"Aku lihat kemujuran tanganmu belakangan ini juga sangat bagus!"

"Ini bukan termasuk kemujuran tangan tapi kemujuran kepandaian, setiap orang dapat melemparkan dadu-dadu itu dengan tiga angka enam!"

"Oya?"

"Kau tidak percaya?' Bu-ki masih tertawa.

"Baik kalau begitu kalian cobalah satu kali agar dilihat oleh Tio kongcu!"

Kata Ciau Jittayya.

Cia tauke mencoba paling dulu.

Dia mengambil dadu-dadu itu dan menebarkannya, betul juga ia berhasil meraih tiga angka enam.

Menyusul kemudian tujuh orang lainnya juga melemparkan dadu-dadu itu, ternyata merekapun berhasil meraih tiga angka enam semua.

Bu-ki seakan-akan tertegun menyaksikan adegan tersebut.

"Sudahkah kau ketahui apa gerangan yang telah terjadi?"

Tanya Ciau Jittayya kemudian. Bu-ki menggeleng. Ciau Jittayyapun menganggap dia benar-benar tak tahu, katanya kemudian dengan lembut.

"Di dalam dadu ini telah diberi air raksa, asal seseorang yang mengerti sedikit kepandaian maka dengan sangat mudah ia akan berhasil mendapatkan tiga angka enam."

Lalu sambil picingkan matanya dan tertawa ia berkata lebih jauh.

"Sekalipun dadu-dadu merek Po Sik-cay tidak ada yang palsu, tetapi asal kita beri sedikit hadiah untuk lo-suhu yang membuat dadu itu, maka keadaannya tentu berbeda."

Bu-ki seakan-akan tertegun mendengarkan kesemuanya itu. Ciau Jittayya berpaling dan tanyanya kepada seorang laki-laki setengah umur berdahi tinggi dan bermuka kuning yang berdiri di belakangnya.

"Tempo hari, hadiah apakah yang telah kau berikan kepada lo-suhu itu untuk dadu buatannya?"

"Sebuah gedung megah di barat kota yang komplit dengan segala perabot dan peralatan yang dibutuhkan, ditambah lagi seribu tahil perak setiap tahunnya sebagai ongkos hidup."

"Selama ia bekerja di Po sik-cay, berapa banyak uang bisa dia dapatkan dalam setahunnya?"

Tanya Ciau Jittayya lagi.

"Tigaratus enampuluh tahil perak uang gaji ditambah uang pembagian laba, semuanya kalau ditotal tak sampai mencapai tujuhratus tahil."

Ciau Jittayya lantas berpaling kembali ke arah Bu-ki, lalu sambil tertawa katanya.

"Sekarang kau pasti sudah mengerti bukan?"

Bu-ki menghela napas panjang.

"Aaai,seandainya tiada petunjukmu, dulu aku benar-benar tidak menyangka kalau di balik sebiji dadu sesungguhnya masih terkandung suatu pengetahuan serta kepandaian yang begini besar."

"Setiap penjudi di dunia ini, asal ia mengetahui bahwa dadu tersebut buatan Po Sik-cay, maka dengan hati lega dan berani mereka akan bertaruh sebab itulah meski binipun ikut digadai untuk membayar hutang, mereka masih bersikeras mengatakan bahwa mereka kalah dengan puas, meski kalah tidak penasaran."

Setelah menghela napas panjang, katanya lagi.

Jilid 6________ "PADAHAL diantara sepuluh penjudi sembilan adalah penipu, orang yang tidak berjudilah yang benar-benar merupakan pemenang!"

"Tapi kau ..."

Ciau Jit tayya menghela napas panjang.

"Aaaai ... aku sudah terjerumus ke bidang itu, sekalipunhendak merangkak bangun, tubuhku sudah keburu berlepotan lumpur!"

Kemudian ia melanjutkan kembali.

"Meski pun begitu, putra-putriku dan cucu-cucuku tak seorangpun yang akan berani berjudi lagi"

"Apakah mereka tidak suka berjudi?"

Tanya Bu-ki keheranan.

"Setiap manusia suka berjudi, cuma mereka lebih suka tangan sendiri!"

Setelah mendehem pelan, lanjutnya dengan hambar.

"Diantara tigabelas orang putraku, ada enam orang diantaranya yang memiliki sebuah lengan!"

"Kenapa?"

"Karena secara diam-diam mereka telah berjudi!"

"Dan kaupun memenggal kutung sebuah lengan mereka?"

Sambung Bu-ki dengan cepat.

"Yaa, untuk anak cucu keluarga Ciau, barang siapa berani berjudi maka pertama kali berjudi kupenggal kutung sebuah lengannya, jika ketahuan berjudi untuk kedua kalinya maka akupun akan memotong sebuah kakinya."

"Jika mereka berjudi untuk ketiga kalinya?"

Tanya Bu ki. Ciau Jit tayya tertawa ewa.

"Tak seorang manusiapun berani berjudi untuk ketiga kalinya, yaa, seorangpun tak ada!"

Bu-ki tertawa getir.

"Andaikata aku adalah anak cucu keluarga Ciau, aku pasti berani berjudi untuk ketiga kalinya,"

Demikian ia berkata. Ciau Jit tayya tersenyum.

"Akan tetapi aku tidak keberatan bila orang lain berjudi, sebab semakin banyak orang berjudi di dunia ini, maka semakin baik pula penghidupan dari kami !"

Tiba-tiba ia berpaling ke arah Cia tauke sambil bertanya.

"Kau punya berapa orang anak ?"

"Tidak banyak !"

Jawab Cia tauke sambil tertawa paksa.

"Yang dimaksudkan tidak banyak itu berapa?"

"Tujuhbelas orang !"

"Setiap tahun berapakah pengeluaran yang dibutuhkan mereka setiap orangnya?"

"Kecuali Lo toa, setiap orang rata-rata mendapatkan limaratus tahil perak setiap tahunnya."

Kemudian tambahnya lagi.

"Sedang sang Lo toa mendapat seribu tahil perak !"

"Jadi kalau begitu berapa besar ongkos pengeluaran rumah tanggamu setiap tahunnya?"

"Wah, hal ini sulit untuk dikatakan, tapi kalau dihitung secara kasarnya paling sedikit juga diantara tujuh sampai delapan ribu tahil perak ....!"

"Apakah sudah termasuk juga pengeluaran-pengeluaran pribadimu setiap harinya?` Kembali Cia tauke tertawa paksa.

"Hampir setiap hari aku harus mengeluar-kan uang untuk ini itu, teman-teman dari petugas keamanan negara dan pegawai pengadilan harus kulayani, engkoh-engkoh dari gedung pembesar harus juga kulayani, jadi paling sedikit tiap tahunnya kami butuh uang sebesar sepuluh laksa tahil perak lebih untuk menutup semua perongkosan.` Mendengar itu Ciau Jit tayya menghela napas panjang. `Aaaai ... akan tetapi bagi keluarga keluarga biasa, beberapa ratus tahil perakpun sudah cukup bagi mereka untuk hidup dengan tenang dan berbahagia! ` Ia berpaling ke arah Bu-ki dan tanyanya lagi. `Tentunya kau bisa berpikir bukan, dari manakah biaya-biaya tersebut didapatkan untuk menutup semua kebutuhan tersebut?` Bu-ki manggut-manggut, mendadak ia tertawa dan berkata.

"Akan tetapi ongkos pengeluaranku justru harus didapatkan dari tempatnya itu."

"Oleh karena itulah aku menganggap kau sebagai seorang manusia yang berbakat, asal tidak terlalu kelewat batas, dikemudian hari penghidupanmu pasti akan jauh lebih baik dari pada mereka semua.!"

"Aku bukan seorang manusia yang berbakat, akupun tidak mempunyai kepadaian apa-apa, cuma kemujuran tanganku mungkin rada baik.."

Kembali Ciau Jit-tayya picingkan matanya dan tertawa, tiba-tiba diambilnya dadu-dadu itu dan dilemparkan kembali ke dalam mangkuk.

Ternyata hasil yang diraih dalam pelemparannya kali ini bukan tiga angka enam, melainkan angka yang terkecil ...

Satu, dua dan tiga.

`Hey, tampaknya kemujuran tanganmu telah berubah menjadi jelek!` kata Bu ki sambil tertawa.

`Tidak, sama sekali tidak berubah!` Tangan yang sesungguhnya kosong itu tiba-tiba melemparkan kembali tiga biji dadu.

Ketika ketiga biji dadu itu berputar dalam mangkuk, dadu-dadu yang menunjukkan angka "satu, dua, tiga"

Itu segera tertumbuk hingga berguling, dengan demikian maka keenam biji dadu itu segera berubah semua menjadi enam buah angka enam.

Ciau Jit tayya mengayunkan kembali tangannya, tangan yang kosong tiba-tiba berisi kembali dengan enam biji dadu, ketika ditebarkan ke mangkuk, dua belas biji dadu itu segera berputar bersama, ketika berhenti kemudian ternyata semuanya menunjukkan angka enam.

Tampaknya Bu ki tertegun menyaksikan semua adegan itu.

Ciau Jit tayya tersenyum, katanya kemudian.

"Inipun termasuk kepandaian tangan, bagi seseorang yang betul betul ahli dalam berjudi, maka dalam tangannya sekaligus bisa tersimpan beberapa biji dadu-dadu cadangan, dan lagi orang lain tak akan melihat permainan kotornya itu."

"Bahkan akupun tidak melihatnya", keluh Bu ki sambil tertawa getir.

"Oleh sebab itulah sekalipun dadu-dadu yang berada dalam mangkuk adalah dadu-dadu asli, asal dirubah olehnya dengan sedikit kepandaian maka dadu yang asli segera akan berubah menjadi dadu palsu, dan berapa yang ingin didapatkan, dia akan dapat meraih angka tersebut".

"Apakah kedua belas biji dadu itu semuanya telah diberi air raksa?"

Tanya Bu ki.

"Silahkan dicoba!"

Bu ki menengok sekejap ke arah Cia Tauke, dan Cia Taukepun menjepit dadu tersebut dengan kedua jari tangannya, ketika ditekan dadu tadi, dadu yang lebih keras dari batu itu segera hancur dan air raksapun menetes keluar membasahi meja.

"Bagaimana pendapatmu?"

Tanya Ciau Jit Tayya kemudian.

"Bagus, bagusnya bukan kepalang!"

Sahut Bu ki sambil menghela napas panjang.

"Bagi orang yang melatih ilmu khikang, kepandaiannya jauh lebih hebat lagi, sekalipun kau jelas mengetahui bahwa angka yang diraih adalah angka enam, asal ia menggetarkan meja dengan ilmu khikangnya maka angka tersebut mungkin segera berubah menjadi angka satu."

Setelab tersenyum, tambahnya.

"Tetapi berbicara dari sudut berjudi, cara semacam ini adalah cara curang yang tak boleh ditiru, sebab bagi seseorang yang benar-benar ahli, tak nanti dia menggunakan cara-cara semacam itu."

"Kenapa?"

Tanya Bu ki.

"Sebab berjudi adalah suatu perbuatan yang harus disertai dengan pengetahuan yang cukup, juga merupakan suatu kenikmatan yang tersendiri, sekalipun hendak mempergunakan sedikit kepandaian tangan di balik perjudian itu, hal ini perlu dilakukan secara halus dan lembut, tak boleh memakai sistim keras lawan keras, sehingga meskipun orang kalah, orang akan kalah dengan puas"

Sambil tersenyum lanjutnya.

"Jika orang lain kalah dengan hati yang puas dan lega, lain kali mereka baru mau datang untuk berjudi lagi."

Bu ki menghela napas panjang.

"Aaaai ... rupanya memang harus disertai dengan pengetahuan". Dari balik sepasang mata Ciau Jit Tayya yang sipit kembali mencorong ke luar sinar tajam yang menatap wajah Bu-ki lekat-lekat, kemudian katanya.

"Akan tetapi dalam pertaruhan kita nanti, tentu saja tak boleh menggunakan kepandaian tangan untuk memperoleh kemenangan". Bu-ki tertawa.

"Sekalipun aku pingin mempergunakannya, sayang aku tak mampu untuk melaksanakannya. Ciau Jit Tayya menarik wajahnya, lalu berkata lagi.

"Bila kita ingin bertaruh, maka kita harus bertaruh secara adil, sama sekali tak boleh bermain curang atau memakai segala macam akal bulus ....!"

"Tepat!"

"Baik!"

Sekali lagi Ciau Jii Tayya memicingkan sepasang matanya, kalau begitu aku akan menemani Tio kongcu untuk bermain beberapa kali"

"Buat apa musti bermain beberapa kali?"

Lebih baik sekali bertaruh ditentukan siapa bakal menang dan siapa bakal kalah, itu baru sedap namanya Sekali lagi Ciau jit tayya mementangkan sepasang matanya lebar-lebar, lewat lama sekali dia baru bertanya.

"Kau benar benar hanya ingin bertaruh sekali saja?"

"Asal bisa diketahui siapa menang dan siapa kalah, aku rasa satu kalipun sudah lebih dari cukup,"

Berapa besar yang hendak kau pertaruhkan?"

"Harus kuperiksa dulu, tampaknya tidak terlalu banyak uang yang kubawa kali ini."

Dari sakunya ia mengeluarkan setumpuk uang kertas, selain itu terdapat pula setumpuk daun emas yang dibuat tipis-tipis.

Sambil menghitung jumlahnya, dia menghela napas panjang dan bergumam seorang diri.

"Sasungguhnya tidak terlalu banyak yang kubawa kali ini, termasuk daun-daun emas yang tak ada artinya ini, paling banter juga cuma tigapuluh delapan laksa limaribu tahil perak!"

Kecuali Ciau Jit tayya, hampir dibilang paras muka setiap orang berubah hebat.

Sekalipun setiap orang di antara delapan orang yang hadir dalam ruangan itu merupakan jagojago paling top dalam soal berjudi, akan tetapi sekaligus mempertaruhkan harta sebesar tigapuluh laksa tahil perak lebih dalam sekali taruhan adalah sesuatu yang luar biasa, belum pernah mereka temui kejadian semacam ini sebelumnya.

Tiba tiba Bu ki tertawa lebar, lalu katanya dengan cepat.

"Oh ..teringat aku sekarang, di meja. luarsanamasih ada dua laksa tahil perak, jadi jumlahnya persis mencapai empatpuluh laksa tahil perak ... !"

Di luarsanamasih ada dua laksa tahil perak?"

Ulang Cia tauke dengan wajah berubah.

"Yaa, satu laksa tahil perak sebagai modalku dan si bandar wajib membayar selaksa tahil perak lagi sebagai taruhannya."

Paras muka Ciau Jit tayya sama sekali tidak berubah, segera ia menitahkan.

"Kalau begitu keluarlah kesanadan ambit dua laksa tahil perak untuk Tio kongcu ini."

"Baik!"

Sahut Cia tauke.

"Sekalian pergilah ke kas uang dan coba lihat di situ ada uang berapa banyak, ambil semuanya ke mari!"

"Baik!"

Seorang laki-laki bermuka merah yang tinggi kekar tiba-tiba menyela dari samping.

"Bagaimana kalau kutemani Lak ko untuk pergi ke luar?"

"Memang ada baiknya kalau Lau Lo pat bersedia menemaninya,"

Kata Ciau Jit tayya.

"apalagi kau memang punya usaha pula di tempas ini, bila kas hanya ada uang sedikit, kau boleh menambahkan sedikit lagi!"

"Baik"

"Menanti mereka sudah pergi, Ciau Jit Tayya baru berpaling k6 arah Bu-ki seraya berkata dengan senyuman dikulum.

"Tio kongcu, inginkah kau menghisap huncwe lebih dulu?"

Begitu ke luar dari ruangan, dengan kening berkerut Lau Lo pat lantas berkata.

""Aku benar benar tidak habis mengerti apa yang hendak dilakukan oleh tua bangka itu?"

"Dalam bagian yang mana kau tidak mengerti?"

Tanya Cia tauke.

"Kenapa tua bangka itu menceritakan semua perkembangan dan taktik permainan kita kepada penyakit itu? Kenapa tidak gunakan saja cara tersebut untuk menghadapinya?"

"Karena tua bangka tahu bahwa penyakit itu sesungguhnya bukan penyakit"

Kata Cia tauke.

"Tapi cara permainan si tua bangka sebenarnya tidak diketahui sama sekali olehnya"".

"Yaa, karena ia sedang menyamar sebagai babi untuk memakan harimau"

Setelah tertawa, kembali katanya.

"Akan tetapi si tua bangka juga bukan orang sederhana, sekalipun dia tahu bahwa cara itu tak akan mengelabuinya, maka didemonstrasikan kepandaian-kepandaian simpanannya di hadapan orang itu, dia berharap agar ia tahu lihay dan mengucapkan sepatah dua patah kata yang enak didengar, siapa tahu si tua bangka akan melepaskannya dengan begitu saja."

"Akan tetapi bajingan cilik itu justru tak tahu diri,"

Sambung Lau Lopat cepat.

"Oleh sebab itu menurut pendapatku, kali ini lo yacu telah bersiap sedia untuk turun tangan menghadapinya."

"Tapi sudah tujuh delapan tahun si tua bangka tak pernah turun tangan, sedangkan bajingan cilik itu ..."

Cia tauke segera tertawa.

"Jangan kuatir, jahe selamanya lebih tua lebih pedas, sekalipun siluman monyet Sun Go khong mempunyai ilmu tujuhpuluh dua merubah, ia tak mampu kabur dari telapak tangan Ji lay Hud!"

Kemudian tanyanya pula.

"Sudah hampir duapuluh tahun kau mengikuti si tua bangka itu, pernahkah kau saksikan dia kalah bertaruh? "

Belum pernah!"

Jawab Lau lo-pat. Akhirnya sekulum senyuman tenang dan hati lega tersungging di ujung bibirnya, dan diapun menambahkan.

"Yaa, selamanya memang belum pernah!"

Kecuali suara "Bluup! Bluupl"

Bunyi asap huncwee yang berbunyi bagaikan peluit, dalam ruangan tidak terdengar suara apapun.

Dalam hati masing-masing sedang terlibat dalam suatu pemikiran yang serius..Semua orang sedang berpikir, harus mengunakan cara apakah untuk menangkan.

"si macan tutul yang mujur"

Itu?

Tapi mereka gagal untuk menemukan sesuatu cara.

Setiap macam cara yang berhasil mereka bayangkan, tidak menjamin kemenangan seratus persen buat pihak mereka.

Si anak muda itu terlalu tenang, membuat orang susah menduga jalan pemikirannya, bahkan membuat orang merasa sedikit rada takut.

Mungkinkah tangannya benar-benar lagi sangat mujur?

Atau mungkin karena dia percaya bahwa Ciau Jit tayya tak akan dapat mengetahui dengan cara permainan apakah dia berjudi?

Bagaikan motor uap, Ciau Jit tayya menghembuskan asap huncweenya secara beruntun, begitu nikmat ia merasakan harumnya tembakau, hampir saja matanya yang sipit terpicing rapat-rapat.

Mungkinkah ia telah mempunyai keyakinan menang dalam dadanya?

Ataukah ia masih me-mikirkan dengan cara apakah dia akan menghadapi si anak muda itu?

Bu-ki cuma tersenyum sambil memandang ke arahnya, seperti seorang pengumpul barang kuno sedang mengamati sebuah benda antik dan memastikan keasliannya, seperti juga seekor rase kecil sedang mengamati gerak gerik dari seekor rase tua dan berharap dari gerak geriknya dapat mempelajari sedikit ilmu rahasia yang berguna bagi bekal hidupnya.

Apakah Ciau Jit tayya juga sedang memperhatikannya secara diam-diam?

Akhirnya Cia tauke dan Lau lo-pat muncul kembali sambil membawa setumpuk uang kertas, mereka sisihkan dulu dua tumpuk untuk diserahkan kepada Bu-ki.

"Ini dua laksa tahil perak!"

Katanya.

"Kalian berhasil mengumpulkan empat puluh laksa tahil perak?"

"Yaa, dan ini semua jumlahnya persis empatpuluhlaksa tahil perak!"

Cia tauke meletakkan uang kertas di meja dan menampilkan sekulum senyuman bangga di wajahnya.

Bisa mengumpulkan uang kontan sebanyak empat puluh laksa tahil perak dalam waktu singkat, hal ini merupakan suatu pekerjaan yang tidak gampang ....Bu-ki segera berkata sambil tertawa.

"Rupanya usaha Cia tauke memang maju amat pesat dan mendatangkan keberuntungan yang melimpah.! Cia tauke segera tertawa tergelak.

"Haahhh.... haahhh ... haahhh ... usaha semacam ini memang merupakan suatu usaha yang mendatangkan keberuntungan paling melimpah!"

"Bagus, sekarang bagaimana cara kita bertaruh?"

Lelaki setengah umur yang berwajah kuning kepucat-pucatan itu mendehem lebih dahulu, lalu katanya;

"Setiap permainan ada peraturan permainan, setiap pertaruhan ada pula peraturan pertaruhan!"

"Untuk melakukan suatu pekerjaan, kita memang harus melakukannya menurut aturan, apalagi dalam bertaruh uang, petaturannya tentu akan lebih besar lagi."

"Akan tetapi, terlepas dari peraturan macam apakah itu, kedua belah pihak harus menyetujuinya lebih dahulu,"

Sambung laki-laki setengah umur berwajah kuning itu.

"Benar!"

"Bila hanya ada dua orang yang akan bertaruh, maka pertaruhan akan berlangsung tanpa bandar."

"Tepat!"

"Oleh karena itu barang siapa yang berhasil meraih angka tertinggi dalam pelemparannya yang pertama, pihak kedua harus angkat kaki."

"Andaikata jumlah angka yang diraih kedua belah pihak sama?"

Tanya Bu ki.

"Kalau sampai begitu, maka dalam pelemparan itu tak ada yang menang atau kalah, kita anggap seri dan harus diulang kembali.""

"Aku pikir cara ini kurang baik"

Tiba-tiba Bu ki menampik sambil menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana kurang baiknya?"

"Kalau kedua belah pihak memperoleh jumlah lemparan yang sama terus menerus, bukankah pertaruhan itu akan berlangsung tiada habisnya? Wah, kalau begini caranya, Sekalipun bertaruh selama tiga hari tiga malampun belum tentu bisa menentukan siapa pemenangnya-"

"Lantas sistim judi yang bagaimanakah yang kau inginkan?"

"Barang siapa berhasil melemparkan dadunya dengan memperoleh angka paling tinggi, maka pihak yang lain harus mengaku kalah."

Angka yang paling besar adalah tiga angka enam, asal ia melemparkan dadunya maka angka yang bakal diraih adalah tiga angka enam.

Serentak delapan orang itu membelalakkan matanya lebar lebar, hampir dalam waktu yang bersamaan mereka bertanya.

"Siapa yang akan melempar lebih dulu?"

"Aku lihat Loya cu ini sudah tua dan lebih tinggi tingkatannya dariku, tentu saja sudah se-pantasnya kalau kupersilahkan kepadanya untuk melempar lebih dulu."

Perkataan itu bukan saja membuat setiap orang merasa terperanjat, bahkan Ciau Jit Tayya sendiripun merasa sedikit di luar dugaan.

Jangan-jangan bocah muda itu sudah edan?

Atau mungkin ia merasa mempunyai keyakinan yang amat besar?

Dengan paras muka sedikitpun tidak berubah, Bu-ki tersenyum dan berkata lagi.

"Silahkan kau melempar lebih dulu !"

Kembali Ciau Jit tayya menatap lawan judinya lekat-lekat, setengah harian kemudian tiba-tiba ia berseru.

"Lo toa, ambil seperangkat dadu !"

Dari sakunya lelaki setengah umur berwajah kuning itu mengambil ke luar sebuah kotak kecil yang terbuat dari batu kemala putih.

Dalam kotak berlapiskan kain sutera berwarna kuning dan isinya hanya tiga biji dadu yang terbuat dari batu kemala putih.

"Dadu batu kemala putih ini adalah dadu yang dipakai oleh para utusan dari negeri asing, asli buatan pribadi dari pemilik tokoPosik cay, benda ini ditanggung tak akan palsu."

"Berikan kepada Tio kongcu agar diperiksa!"

Perintah Ciau Jit Tayya.

Dengan menggunakan sepasang tangannya, laki laki serengah umur itu mengangsurkan dadunya kepada anak muda itu.

Bu-ki segera menolaknya dengan tangan sebelah, katanya sambil tersenyum lirih.

"Tak usah diperiksa lagi, aku percaya dengan Loya cu ini !"

Sekali lagi Ciau Jit tayya menatapnya setengah harian, kemudian baru pelan-pelan mengangguk.

""Bagus, punya semangat !"

Pujinya. Dengan mempergunakan sepasang jari tangannya yang berkuku panjang tiga inci itu diambilnya dadu tersebut satu demi satu, lalu sambil diletakkan dalam telapak tangannya kembali ia bertanya.

"Sekali lemparan menentukan menang kalah?"

"Benar !"

Pelan pelan Ciau Jit tayya bangkit berdiri, tangannya diluruskan ke depan tepat mengarah di atas mangkuk, lalu dadu-dadu itu diletakkannya dengan seksama.

Cara pelemparan ini merupakan cara yang paling memakai aturan, barang siapa menyaksikan cara tersebut maka siapapun tak akan menaruh curiga walau sedikitpun.

*Triing .....

Diiringi bunyi dentingan, ketiga biji dadu itu sudah terjatuh ke dalam mangkuk.

Putaran dadu yang kencang membuat jantung tiap orang serasa ikut berputar pula.

Akhirnya dadu dadu itu berhenti.

Tiga angka enam, benar benar tiga angka enam.

angka yang paling top yang berarti tiada bandingannya.

Bu-ki pun tertawa, sambil menepuk sakunya pelan-pelan ia bangkit berdiri.

"Aku kalah!"

Setelah mengucapkan kata tersebut, tanpa berpaling ia segera angkat kaki dari situ.

AKAL BULUS RUANGAN itu sudah lama berada dalam keadaan hening.

Padahal ada sembilan orang berada dalam ruangan itu, biasanya ruangan dengan sembilan orang di dalamnya tak akan setenang itu.

Ke sembilan orang tersebut bukan saja tidak bisu bahkan mereka pandai sekali berbicara, orang-orang yang pandai bersilat lidah dengan segala kelicikan serta kecerdasannya.

Mereka semua tidak berbicara karena dalam hati kecil masing-masing sedang memikirkan satu hal ....Mengapa si macan tutul yang mujur berbuat demikian ?

Siapapun tidak menyangka kalau dia hanya mengucapkan dua patah kata saja.

"Aku kalah!"

Dan kemudian ambil langkah seribu.

Penyelesaian dari suatu pertaruhan ini datangnya terlalu mendadak, terlalu di luar dugaan.

Lama sekali setelah ia pergi, Ciau Jit tayya baru mulai mengisi huncwenya dengan tembakau, lalu ...."Bluup!

Bluuup!

Bluuup!"

Menghisapnya dengan penuh kenikmatan. Kembali lewat lama sekali, akhirnya baru kedengaran ada orang yang menyatakan pendapatnya, tentu saja orang pertama yang baka suara adalah Lau Lo pat.

"Kuberitahukan kepada kalian atas apa yang sesungguhnya telah terjadi, kalah yaa kalah, menang yaa menang, ia kalah maka dia harus angkat kaki."

"Sekalipun kekalahannya cukup manis, waktu pergipun manis juga, setelah terbukti kalah, kalau tidak pergi lantas mau apa lagi ia tetap mengendon disitu?"

Tak seorangpun yang menjawab, kecuali dia seorang hakekatnya tak ada orang lain, yang buka suara.

Ciau Jit Tayya menghisap huncwenya dengan penuh kenikmatan, selang sejenak kemudian setelah tertawa dingin katanya tiba-tiba.

"Lo-toa, menurut pendapatmu apa yang telah terjadi?"

Lo-toa adalah laki-laki setengah umur yang berwajah kuning itu, dia she Pui, diantara delapan orang Kim kong di bawah pimpinan Cian Jit tayya, ia merupakan Lo-toa.

Pui lo-toa ragu-ragu sejenak, kemudian jawabnya .

"Aku tidak mengerti .."

"Kenapa tidak mengerti?"

"Apa yang dikatakan Lo pat memang ada benarnya juga, setelah kalah kalau tidak pergi lantas mau apa lagi?"

Tapi setelah berpikir sebentar kembali ujarnya.

"Tapi aku selalu beranggapan bahwa kejadian tersebut tampaknya tak akan sederhana itu."

"Kenapa?"

"Sebab kekalahannya terlalu memuaskan!"

Itu memang kata-kata yang jujur.

Sesungguhnya Bu-ki memang tak perlu kalah secepat itu, apa lagi sedemikian mengenaskan, sebab sebetulnya ia tak perlu mempersilahkan Ciau Jit tayya turun tangan lebih dulu.

Lau lo-pat tak dapat mengendalikan perasaannya, ia segera berseru.

"Menurut pendapatmu, apakah dia mempunyai tujuan lain?"

Pui lotoa mengakuinya. Kembali Lau lo-pat berkata.

"Kalau memang demikian, tadi kenapa kita tidak menahannya saja di sini?"

Pui lotoa segera tertawa dingin.

"Orang lain sudah menderita kalah, lagi pula kalah dengan semanis dan seindah itu, dengan dasar apa kita hendak menahannya tetap berada di sini?"

Lau lopat tak sanggup berbicara lagi. Ciau Jit tayya segera berkata .

"Apakah kaupun dapat menebak kenapa ia berbuat demikian?"

"Aku tak sanggup menebaknya"

Jawab Pui lotoa.

Orang lain telah kalah dalam berjdi, ludas seluruh uang taruhannya dan telah angkat kaki, apa lagi yang dapat kau lakukan terhadapnya?

Ciau Jit tayya kembali mengisi huncwenya dengan tembakau, tapi dalam beberapa hisapan asap tembakau kembali padam, ia sendiripun tidak mengerti.

Sesungguhnya ia bukan lagi menghisap huncwe, ia sedang berpikir.

Lewat lama, lama sekali akhirnya diatas wajahnya yang kurus dan kuning mendadak melintas suatu perubahan mimik wajah yang sangat aneh.

Delapan orang yang berdiri dihadapannya sudah dua puluh tahun lebih mengikutinya, mereka tahu hanay diakala teringat akan sesuautu urusan yang menakutkan dia baru menujukkan perubahan wajah semacam itu.

Tapi siapapun tidak tahu apa yang sednag dipikirkan olehnya?

Bagi seorang kakek yang telah berusia tujuh puluh dua tahun dan sudah kenyang mengalamai pelbagai badai serta percobaan, sesungguhnya tiada masalah yang menakutkan lagi baginya.

Oleh sebab itu perasaan setiap orang serasa ditarik ke atas dan tergantung di tengah awang awang, mereka semua merasa dag dig dug dan tidak tenteram.

Akhirnya Ciau Jit tayya berkata juga.

Ditatapnya Lau Lo Pat sekejap, kemudian katanya.

"Aku tahu, hubunganmu dengan Lolak paling akrab, kau punya modal dalam rumah perjudiannya, tentu saja diapun punya modal di rumah perjudianmu, bukan?"

Lau lopat tidak berani menyangkal, dengan kepala tertunduk sahutnya.

"Benar!"

"Aku dengar modalmu ditempa ini tidak terhitung sedikit?"

"Benar!"

"Berapa besar modal yang kau ikut sertakan dalam usaha di sini?"

"Enam laksa tahil perak!"

Berada di hadapan Ciau Jit tayya, persoalan macam apapun tak berani ia rahasiakan, maka kembali ujarnya lebih jauh.

"Kami sudah bekerja hampir empat tahun lebih dan selama ini berhasil meraih keuntungan sebesar dua puluh laksa tahil perak lebih, kecuali untuk pengeluaran sehari-hari, semuanya masih tersimpan di sini tanpa berkutik."

Ia sedang tertawa, namun suara tertawanya kelihatan kurang begitu leluasa, sambungnya lebih jauh.

"Karena perempuanku ingin mempergunakan uang tersebut untuk membuka beberapa buah rumah pelacuran!"

"Konon perempuan yang paling kau sayangi diantara perempuan-perempuan yang berada di sekelilingmu bernama Bi-go?"

Kembali Ciau Jit tayya bertanya.

"Benar!"

"Konon diapun suka sekali berjudi?"

Lau lopat tertawa paksa.

"Judinya jauh lebih garang dari pada diriku, cuma lebih banyak menangnya dari pada kalah."

Tiba-tiba Ciau Jit tayya menghela napas panjang.

"Aaai...! Kalau memangnya lebih banyak urusan akan bertambah runyam...!"

Demikian keluhnya.

"... Bila seseorang mulai berjudi, makin sering dia menang makin runyamlah keadaannya, sebab dia selalu akan beranggapan bahwa tangannya amat mujur, mempunyai rejeki besar untuk berjudi, dalam keadaan demikian ia akan semakin ingin berjudi, bahkan makin berjudi taruhannya semakin besar, kendatipun suatu ketika menderita kalah sedikit, dia tak akan ambil perduli, sebab ia merasa kekalahan tersebut pada akhirnya toh akan tertebus kembali."

Manusia macam beginilah yang dinamakan seorang penjudi, karena manusia dari jenis ini seringkali bisa kalah habis habisan, bahkan sampai modalpun ikut ludas.

Itu termasuk nasehat dari Ciau Jit tayya juga merupakan pembicaraan atas dasar pengalaman, entah sudah berapa ratus kali mereka berdelapan mendengar nasehat itu, siapapun tak akan melupakan untuk selamanya.

Tapi siapapun tidak habis mengerti kenapa dalam keadaan seperti ini Ciau Jit tayya menyinggung kembali persoalan tersebut.

Kembali Ciau Jit tayya bertanya.

"Berikut modal ditambah bunga berapa banyak yang bisa dibayar setiap saat dari meja perjudianmu itu?"

"Kalau seluruhnya dijumlahkan menjadi satu, mungkin ada duapuluh laksa tahil perak lebih"

"Bila kau tak ada di rumah, siapa yang mengurusi gedung perjudianmu itu...?"

"Perempuanku itu!"

Jawab Lau lopat. Kemudian sambil tertawa paksa kembali ujarnya.

"Tapi kau orang tua jangan kuatir, sekalipun ia dapat makan cuka (ccemburu), selamanya belum pernah makan aku"

"Bagaimanapun jua, sedikit banyak dalam genggamannya tentu ada sedikit uang kontan bukan"

Tukas Ciau Jit tayya dengan suara dingin. Lau lopat tak berani membantah lagi. Ciau Jit-tayyapun mendesak lebih jauh.

"Menurut perkiraanmu, berapa banyak uang yang dia miliki"

Lau lopat agak ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menjawab juga.

"Paling sedikit mungkin juga ada tujuh-delapan laksa tahil perak lebih ........."

"Paling banyak?"

Desak Ciau Jittayya lebih lanjut.

"Sukar untuk ditetapkan, mungkin saja ia memiliki uang sebesar tujuh belas sampai delapan belas laksa tahil perak, tapi mungkin juga lebih dari itu."

Ciau-Jittayya termenung beberapa saat lamanya sambil memandangi tumpukan uang kertas di meja lewat lama sekali pelan-pelan ia baru berkata lagi.

"Lotoa, loji, losam, losu, longo dan lojit masing-masing mendapat dua laksa tahil perak."

Serentak keenam orang itu maju ke muka sambil menyatakan rasa terima kasihnya atas pemberian dari Ciau Jittayya, selamanya mereka tak berani menampik perintah orang tua itu.

"Lolak yang mengeluarkan modal, dia pula yang menanggung rasikonya, maka Lolak pantas mendapat bagianlimalaksa tahil perak."

Cia taukepun maju mengucapkan terima kasih, sedang dalam hatinya diam-diam merasa keheranan kalau memang setiap orang mendapat bagian, kenapa lopat sendiri yang tidak memperoleh bagian?

Akan tetapi berhubung Ciau Jittayya tidak menyinggung soal itu, siapapun tak berani menyinggungnya pula.

"Tiga laksa tahil perak kubagikan untuk orang-orang yang kubawa kali ini,"

Kata Ciau Jittayya lebih jauh, sedangkan sisanya yang duapuluh laksa tahil perak untuk Lopat semua!

Ciau Jittayya selalu bertindak secara adil, bijaksana dan tidak berat sabelah, terhadap ke delapan orang muridnya boleh dibilang ia tak pernah pilih kasih, tapi kali ini Lau lopat hakekatnya tidak mengeluarkan tenaga apa-apa, tapi justru dia yang memperoleh bagian terbesar, sedikit banyak semua orang merasa tercengang juga.

Lau lopat sendiripun merasa amat terperanjat, buru-buru serunya.

"Kenapa bagianku yang paling banyak!"

Ciau Jittayya segera menghela napas panjang.

"Aaai, karana dengan cepat kau akan membutuhkan uang tersebut!"

Jawabnya lirih. Sebelum Lau Lopat sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba lelaki setengah umur yang berwajah kuning itu sudah berseru tertahan.

"Oooh, sungguh amat lihay, sungguh amat lihay.. ...!"

"Siapa yang kau katakan amat lihay?"

Cia tauke segera bertanya. Sambil menghela napas panjang lelaki setengah umur itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Pemuda she Tio itu benar-benar amat lihay!"

Katanya.

"Sesungguhnya akupun sudah berpikir sampai ke situ barusan, jalas ia berbuat demikian karena kuatir loya-cu berhasil mengetahui rahasia permainannya, diapun tak ingin merusak nama baik "si macan tutul yang mujur"

Tersebut, maka ia lebih suka mengalah pada permainan kali ini agar orang lain selamanya tak akan mengetahui dengan permainan apakah ia berhasil sukses dalam perjudiannya selama ini"

Kata Cia tauke. Pelan-plan lelaki setengah umur itu mengangguk.

"Berbicara dari perbuatannya ini sudah cukup membuktikan bahwa dia memang cukup lihay!"

"Akan tetapi bagaimanapun jua ia toh tetap kalah empat puluh laksa tahil perak, jumlah tersebut bukan suatu jumlah yang sedikit!"

Kata Cia tauke kemudian.

"Asal orang lain tidak berhasil mengetahui rahasia permainannya, kesempatan baginya untuk meraih kembali kekalahan tersebut masih selalu tersedia."

"Bagaimana cara meraihnya?"

"Ia kalah dalam perjudian tentu saja kekalahan tersebut akan diraihnya pula dari meja perjudian."

Losam yang selama ini cuma membungkam dan tidak ikut berbicara apa-apa mendadak menghela napas, lalu katanya.

"Di sini dia kalah empat puluh laksa tahil perak, apakah jumlah tersebut tak bisa ia menangkan kembali dari tempat lain?"

"Dia akan meraihnya kembali di mana?"

Tanya Lau lopat. Lelaki sctengah umur itu, hanya memandang kearahnya sambil tertawa getir dan gelengkan kepalanya berulang kali. Tiba-tiba Cia tauke melompat bangun sambil berteriak.

"Jangan-jangan ia telah menyantroni gedung perjudian milik lopat?"

"Aaaah ...tentunya sekarang kau mengerti bukan, apa sebabnya loya-cu menyisihkan bagian yang paling besar untuk lopat,"

Sela Losam.

"Tapi aku masih tidak percaya secepat itu gerakan tubuhnya, masa dalam sekejap mata gedung perjudian milik Lopat telah ludas ditangannya?"

Ciau Jittayya mengerdipkan matanya lalu tertawa dingin.

"Kalau tidak percaya, mengapa kau tidak menyusul ke situ untuk membuktikannya sendiri?"

Demikian ia berkata. Lau lopat telah menyerbu ke luar dari ruangan tersebut, disusul Cia tauke dibelakangnya. Lelaki setengah umur itu masih saja menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Seandainya ia tidak menyerahkan gedung perjudiannya ke tangan seorang perempuan, mungkin tak akan secepat itu hartanya menjadi ludas, sayang kini ....."

Setiap orang dapat memahami maksud perkataannya itu.

Kalau perempuan sudah kalah berjudi, hatinya pasti amat sakit, bila hati sudah sakit maka dia akan berusaha meraih kembali kekalahannya, apabila bertemu dengan seorang ahli berjudi, maka makin kalah tentu semakin banyak, dia baru berakhir bila harta kekayaannya sudah ludas semua.

"Memburu kembali modal yang hilang"

Merupakan pantangan terbesar bagi penjudi, kalau seorang penjudi yang benar-benar ulung maka begitu kalah dia lantas angkat kaki, tak nanti dia akan mengendon terus di tempat tersebut.

"Sekali kalah segera angkat kaki, mendapat hasil mujur lantas berhenti". Kata-kata nasehat tersebut selalu dipegang teguh oleh Ciau Jit Tayya, sebab sebagai seorang ahli dalam berjudi, dia tak akan melupakan kata kata nasehat tersebut. Sekali lagi Losam menghela napas, katanya.

Baca Juga: Anak Rajawali 9

Baca Juga: Anak Naga 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert