Eps 14 Anak Naga - Chin Yung
Baca online Anak Naga - Chin Yung
Cersil Anak Naga - Chin Yung.
Im sie Popo bersantap sambil tertawa-tawa gembira, bahkan sering mengambil makanan untuk seng Kiat Hiong.
Keesokan harinya, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu meninggalkan markas Kay Pang.
Mereka melakukan perjalanan tanpa arah tujuan, namun amat menggembirakan.
Bab 65 Pertandingan Di Pulau Khong Khong To Panorama di gunung Pek Yun san sungguh indah menakjubkan.
Tampak Thio Han Liong dan An Lok Kong cu berdiri di puncak gunung itu sambil menikmati keindahannya.
"Kakak Han Liong,"
Ujar An Lok Kong cu dengan suara rendah.
"Bukan main indahnya pemandangan di sini, rasanya kita berada di sorga."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Pemandangan di pulau Hong Hoang To lebih indah. Di sana banyak kabut, sedangkan di sini banyak awan putih."
"oh?"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Kalau begitu, bagaimana kalau engkau ajak aku ke sana?"
"Setelah kita resmi menjadi suami isteri, barulah aku akan mengajakmu ke sana."
Sahut Thio Han Liong.
"Lho? Memangnya kenapa?"
"Kita harus kembali ke Kotaraja untuk menikah, lalu berangkat ke pulau Hong Hoang To. Kalau sudah berada di pulau itu, kita sudah jarang ke Tionggoan lagi."
"oooh"
An Lok Kong Cu manggut-manggut.
"Tapi bukankah kita sekarang boleh ke pulau Hong Hoang To?"
"Memang boleh, namun...."
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Ada apa?"
Tanya An Lok Kong cu dengan penuh rasa heran.
"Aku sedang memikirkan Ban Tok Lo Mo dan muridnya,"
Sahut Thio Han Liong sambil menghela nafas panjang.
"Engkau khawatir mereka akan menyerang Bu Tong Pay?"
Tanya An Lok Kong cu mendadak.
"Memang itu yang kukhawatirkan,"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Sebab Sucouw sudah begitu tua."
"Kakak Han Liong,"
Ujar An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Aku punya usul."
"Usul apa?"
"Kita ke gunung Bu Tong saja."
"Itu...."
Wajah Thio Han Liong tampak berseri.
"Sebetulnya aku memang berpikir begitu, tapi aku khawatir engkau tidak mau, maka... aku diam saja, tidak berani bertanya padamu."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong Cu tersenyum.
"Lain kali kalau ada apa-apa, jangan disimpan dalam hati, curahkan saja"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Engkau memang berpengertian, aku gembira sekali."
"Kakak Han Liong, mari kita berangkat.Jangan buangbuang waktu di sini "
"Baik, Mari kita berangkat sekarang"
Kedatangan Thio Han Liong dan An Lok Kong cu, tentunya amat mengherankan Jie Lian Ciu, song Wan Kiauw dan lainnya, tapi juga menggembirakan mereka.
"Kakek...."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu memberi hormat.
"Han Liong "
Jie Lian ciu menatap mereka sambil tersenyum lembut.
"Tak kusangka kalian ke mari lagi"
"Han Liong,"
Tanya song Wan Kiauw.
"Engkau membawa suatu berita penting ke mari?"
"Cukup penting,"
Sahut Thio Han Liong dan bertanya.
"Apakah Ban Tok Lo Mo tidak pernah muncul di sini?"
"Ban Tok lo Mo?"
Song Wan Kiauw tercengang.
"Ban Tok Lo Mo adalah si iblis Tua itu."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Ban Tok Lo Mo memang orang yang diceritakan sucouw."
"oh?"
Song wan Kiauw mengerutkan kening.
"Karena itu kalian ke mari?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Duduklah"
Ucap Jie Lian ciu. Thio Han Liong dan An Lok Kong cu duduk, setelah itu barulah Thio Han Liong berkata.
"Kami bertemu seng Hwi dan su Hong sek, ketua Kay Pang. Mereka sedang mencari Putra mereka."
"siapa yang menculik seng Kiat Hiong?"
Tanya Jie Lian ciu.
"Tan Beng song, murid Ban Tok Lo Mo,"
Jawab Thio Han Liong, lalu menutur tentang kejadian itu "Kini im sie Popo tinggal di markas Kay pang."
"oooh"
Jie Lian ciu manggut-manggut.
"Tapi...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"ci Hoat dan Kang Tianglo sudah meninggal."
"oh?"
Jie Lian ciu dan lainnya terkejut.
"siapa yang membunuh mereka?"
"Ban Tok Lo Mo,"
Sahut Thio Han Liong.
"Racun telah menyerang jantung mereka, dan aku tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka."
"Aaah..."
Jie Lian ciu menghela nafas panjang.
"Tak disangka ci Hoat dan coan Kang Tianglo mati begitu mengenaskan"
"Han Liong"
Song Wan Kiauw menatapnya.
"Kalian datang ke mari karena urusan itu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Tapi juga khawatir Ban Tok Lo Mo dan muridnya menyerbu ke mari."
"oooh"
Song Wan Kiauw tersenyum.
"Han Liong, engkau sungguh baik sekali"
"Kakek song, jangan berkata begitu"
Ujar Thio Han Liong.
"oh ya bagaimana keadaan Sucouw?"
"Baik-baik saja,"
Jawab song Wan Kiauw.
"Tapi... guru telah berpesan, jangan ada yang mengganggunya."
"Kalau begitu aku tidak perlu menengoknya,"
Ujar Thio Han Liong.
"Agar tidak mengganggunya."
"Ngmm,"
Song Wan Kiauw manggut-manggut.
"Han Liong, tentunya engkau dan An Lok Kong Cu akan tinggal di sini. Ya, kan?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Sebab aku mau menunggu kemunculan Ban Tok Lo Mo dan muridnya, aku harus membasmi mereka."
"Han Liong,"
Ujar Jie Lian ciu.
"Ban Tok Lo Mo dan muridnya itu memang harus dibasmi, engkau tidak boleh memberi ampun kepada mereka."
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Han Liong,"
Ujar Jie Lian ciu.
"An Lok Kong cu tidur di kamar tamu, engkau tidur di kamar belakang,"
"Baik, Kakek Jie."
Thio Han Liong tersenyum.
"Hanya saja... kami telah merepotkan Kakek."
"Ha ha ha"
Jie Lian ciu tertawa gelak.
"sesungguhnya kamilah yang merepotkanmu, karena engkau dan An Lok Kong cu harus kemari melindungi Bu Tong pay."
"Kakek...."
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Jangan berkata begitu, membuat hatiku jadi tidak enak"
"Baiklah."
Jie Lian ciu tersenyum.
"sekarang antar-lah An Lok Kong cu ke kamarnya,"
"Ya."
Thio Han Liong mengantar An Lok Kong cu ke kamar tamu. sampai di sana, Thio Han Liong membuka pintu kamar itu.
"Adik An Lok, bagaimana? Engkau merasa cocok dengan kamar ini?"
"Cocok."
An Lok Kong cu mengangguk, lalu melangkah ke dalam lalu duduk di pinggir ranjang.
"Bersih sekali kamar ini, aku pasti bisa tidur nyenyak di sini."
"Syukurlah"
Ucap Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Nanti menjelang senja, aku akan mengajakmu ke puncak gunung ini untuk menikmati keindahan panoramanya."
"oh"
An Lok Kong cu girang bukan main.
"Kakak Han Liong, engkau baik sekali terhadapku."
"Engkau calon isteriku, tentunya aku harus baik dan menyayangimu,"
Ujar Thio Han Liong dengan suara rendah, kemudian menggenggam tangan gadis itu erat-erat.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu langsung mendekap di dadanya.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong membelainya.
Ketika hari mulai senja, Thio Han Liong menemani An Lok Kong cu pergi ke puncak gunung untuk menikmati panorama di senja hari.
oo Sementara itu, dalam sebuah kuil tua yang terletak di gunung Wu san, tampak dua orang sedang duduk.
seorang sudah tua sekali, dan yang seorang lagi berusia lima puluhan.
siapa mereka?
Mereka ternyata Ban Tok Lo Mo dan Tan Beng song muridnya.
"Ha ha ha"
Ban Tok Lo Mo tertawa gelak.
"Aku sudah membunuh ke dua Tianglo Kay Pang itu. Pihak Kay Pang pasti kalut sekali Ha ha ha..."
"Guru memang hebat-"
Ujar Tan Beng song.
"Tapi engkau malah tidak becus"
Sahut Ban Tok Lo Mo.
"sungguh memalukan gurumu"
"Guru, aku...."
"Diam"
Bentak Ban Tok Lo Mo.
"Tujuh delapan tahun yang lampau, kukira diriku sudah berkepandaian tinggi, maka aku pergi ke Tionggoan. Tak tahunya begitu banyak jago di sana, akhirnya aku dipaksa untuk pulang ke pulau Ban Tok To. sejak itu aku terus berlatih, dan kini aku telah berhasil menguasai berbagai macam ilmu pukulan beracun Ha ha ha..."
"Kalau begitu..,"
Ujar Tan Beng song dengan suara rendah.
"Guru harus membunuh para ketua partai besar, barulah Guru bisa disebut jago tanpa tanding di kolong langit."
"Ngmm"
Ban Tok Lo Mo manggut-manggut.
"Kudengar dalam rimba persilatan Tionggoan, muncul seorang pendekar muda, bernama Thio Han Liong. Betulkah itu?"
"Betul."
Tan Beng song mengangguk.
"Kepandaian-nya sungguh tinggi sekali, tiada seorang jago di Tionggoan dapat menandinginya."
"oh?"
Ban Tok Lo Mo tertawa dingin.
"Apabila bertemu aku, dia pasti mampus di tanganku"
"Aku yakin Guru dapat membunuhnya."
"Ha ha ha"Ban Tok Lo Mo tertawa terbahak-bahak.
"Siapa yang mampu menangkis ilmu pukulan beracunku? Begitu pula Thio Han Liong itu Ha ha ha..."
"Guru..."
Ujar Tan Beng song.
"Dulu aku pernah mendengar, Guru bermusuhan dengan pihak pulau Khong Khong To."
"Betul."
Ban Tok Lo Mo mengangguk.
"Beberapa puluh tahun yang lalu, aku pernah dikalahkan oleh ayah Tong Hai sianjin. Kami cuma bertanding sepuluh jurus, pada jurus ke sembilan, aku terpental beberapa depa, sedangkan ayah Tong Hai sianjin hanya terdorong beberapa langkah saja. Itu pertanda Lweekangku lebih rendah, maka aku mengaku kalah."
"Kalau begitu....,"
Ujar Tan Beng song hati-hati.
"Pihak pulau Khong Khong Tojuga berkepandaian tinggi."
"Tidak salah,"
Sahut Ban Tok Lo Mo.
"Tapi kini mereka semua sudah bukan tandinganku lagi."
"oh?"
Wajah Tan Beng song tampak berseri.
"Guru aku punya usul."
"Usui apa?"
Ban Tok Lo Mo menatapnya.
"Beritahukan Kalau usulmu itu bagus dan bisa dipakai, pasti kuterima."
"Guru"
Tan Beng song tersenyum.
"Alangkah baiknya kalau kita ke pulau Khong Khong To."
"Ke Khong Khong To?"
Ban Tok Lo Mo mengerutkan kening.
"Untuk apa kita ke sana?"
"Menaklukkan Tong Hai sianjin,"
Sahut Tan Beng song serius.
"Setelah Guru menaklukkan Tong Hai sianjin, sudah barang tentu pihak Khong Khong To di bawah perintah Guru."
Ban Tok Lo Mo manggut-manggut.
"Maksudmu menaklukkan pihak Khong Khong To untuk membantu kita?"
"Ya."
Tan Beng song mengangguk.
"Kalau pun pada waktu itu para ketua bergabung, kita sudah tidak takut kepada mereka."
Ban Tok Lo Mo tertawa gelak.
"Ha ha ha Usulmu tepat mengenai sasaran, maka kuterima dengan Baik,"
"Terimakasih, Guru,"
Ucap Tan Beng song dengan wajah berseri-seri.
"Aku yakin Guru pasti bisa meraih gelar sebagai jago tanpa tanding di kolong langit."
Tambahnya.
"Ha ha ha"
Ban Tok Lo Mo tertawa terbahak-bahak.
"Itulah tujuanku datang di Tionggoan"
"Guru, kapan kita berlayar ke pulau Khong Khong To?"
"Besok pagi kita berangkat ke pesisir Timur, lalu berlayar kepulau itu,"
Sahut Ban Tok Lo Mo.
"Ha ha ha Tong Hai sianjin pasti tidak menduga kita akan ke sana Ha ha ha..."
Keesokan harinya, berangkatlah Ban Tok Lo Mo dan muridnya kepesisir Timur untuk berlayar kepulau Khong Khong To.
Ban Tok Lo Mo dan Tan Beng song telah tiba di pulau Khong Khong To.
Mereka, guru dan murid itu duduk di hadapan Tong Hai sianjin, sedangkan di samping Tocu itu duduk Tong Hai sianli.
Gadis itu menatap Ban Tok Lo Mo dan Tan Beng song dengan dingin sekali.
"Sungguh menggembirakan kedatangan ciancwee"
Ujar Tong Hai sianjin.
"Bolehkah aku tahu, ada urusan apa Cianpwee datang ke mari?"
"Ha ha ha"Ban Tok Lo Mo tertawa.
"Aku ke mari tentunya punya suatu urusan penting."
"Harap cianpwee sudi memberitahukan"
"Puluhan tahun yang lalu, ayahmu pernah mengalahkan aku. oleh karena itu...."
Ban Tok Lo Mo memberitahukan.
"Tujuanku ke mari untuk menebus kekalahan itu."
"Maksud Cianpwee bertarung dengan aku?"
Tanya Tong Hai sianjin dengan kening berkerut.
"Bukan bertarung, melainkan bertanding,"
SahutBan Tok Lo Mo.
"Cukup bertanding sepuluh jurus saja."
"Cianpwee...."
"Jangan menolak"
Ban Tok Lo Mo menatapnya tajam.
"Kalau engkau dapat bertahan sampai sepuluh jurus, maka aku dan muridku akan meninggalkan pulau ini. Tapi apabila engkau kalah, maka kalian semua harus di bawah perintahku."
"omong kosong"
Bentak Tong Hai sianli.
"sok Ceng"
Tong Hai sianjin menatapnya.
"Jangan turut bicara"
"Ha ha ha"Ban Tok Lo Mo tertawa gelak.
"Putrimu amat cantik, tapi galak sekali."
"Cianpwee"
Kening Tong Hai sianjin berkerut-kerut.
"Jadi kita harus bertanding dengan syarat itu?"
"Ya."
Ban Tok Lo Mo manggut-manggut.
"Baiklah"
Tong Hai sianjin mengangguk, lalu berjalan ke tengah-tengah ruangan itu "Ha ha"
Ban Tok Lo Mo meloncat ke hadapannya.
"Kalau engkau dapat bertahan sepuluh jurus, aku pasti meninggalkan pulau ini Tapi apabila engkau kalah, kalian semua harus dibawah perintahku"
"Baik"
Tong Hai sianjin mengangguk sambil mengerahkan Lweekang.
"Bersiap-siaplah"
Ujar Ban Tok Lo Mo.
"Ilmu pukulanku amat beracun engkau harus berhati-hati"
"Terimakasih atas peringatan Cianpwee"
Sahut Tong Hai sianjin.
"Aku sudah siap menerima pukulan Cianpwee"
"Bagus"
Ban Tok Lo Mo tertawa, kemudian mendadak menyerang dengan ilmu pukulan beracun.
"Hati-hati, Ayah"
Seru Tong Hai sianli cemas.
Di saat bersamaan, Tong Hai sianjin berkelit.
Namun serangan susulan dari Ban Tok Lo Mo sudah mengarah kepadanya.
Apa boleh buat Tong Hai sianjin menangkis, sehingga menimbulkan suara benturan.
"Hah?"
Ban Tok Lo Mo tertegun.
"Engkau tidak apa-apa?"
"Terima kasih atas kemurahan hati Cianpwee"
Ucap Tong Hai sianjin.
"Karena tidak melukaiku dengan pukulan beracun"
"Hmm"
Dengus Ban Tok Lo Mo dingin.
"Tak kusangka engkau kebal terhadap racun Nah, coba tangkis Ban Tok ciang (ilmu Pukulan selaksa Racun)"
Tong Hai sianjin tidak menyahut, melainkan terus mengerahkan ilmu Ih Kin Keng yang belum lama dipelajarinya.
Mendadak Ban Tok Lo Mo menyerangnya.
Bukan main terkejutnya Tong Hai sianjin, sebab sepasang telapak tangan Ban Tok Lo Mo mengeluarkan asap kehijau-hijauan.
Tong Hai sianjin tidak berani menangkis, melainkan berkelit ke sana ke mari menghindari serangan-serangan yang dilancarkan Ban Tok Lo Mo.
Tak terasa pertandingan mereka telah melewati delapan jurus, dan itu sungguh membuat Ban Tok Lo Mo penasaran.
Tiba-tiba ia memekik keras, lalu menyerang Tong Hai sianjin dengan sepenuh tenaga.
Tong Hai sianjin masih dapat berkelit pada jurus kesembilan, namun terpaksa menangkis pada jurus ke sepuluh, karena tidak sempat berkelit.
Blaaam Terdengar suara benturan keras.
Blaaam.
Ban Tok Lo Mo terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, begitu pula Tong Hai sianjin.
setelah berdiri tegak Tong Hai sianjin berkata sambil tersenyum.
"Ban Tok Lo Mo Cianpwee, aku dapat bertahan sepuluh jurus,"
"Engkau...."
Ban Tok Lo Mo terbelalak.
"Engkau kebal terhadap racun?"
"Ya."
Tong Hai sianjin mengangguk.
"Sesuai dengan janji, maka Cianpwee harus segera meninggalkan pulau ini."
"Baik,"
Ban Tok Lo Mo mengangguk.
"Beng song, mari kita pergi"
Setelah mereka pergi, Tong Hai sianli segera melesat ke arah Tong Hai sianjin.
"Ayah Ayah"
Wajah gadis itu berseri-seri.
"Tak kusangka kepandaian ayah sudah begitu maju pesat.
"Nak, Tong Hai sianjin menggeleng-gelengkan kepala.
"Mari kita ke kamar, ayah ingin bicara"
"Ya."
Tong Hai sianli mengangguk, Mereka berdua menuju ke kamar. sampai di kamar itu, Tong Hai sianjin langsung membaringkan dirinya ke tempat tidur "Nak,..,"
Ujar Tong Hai sianjin dengan suara rendah.
"Ayah telah terkena pukulan beracun."
"oh?"
Bukan main terkejutnya Tong Hai sianli.
"Bagaimana keadaan ayah?"
"Aaah..."
Tong Hai sianjin menghela nafas panjang.
"Ayah menggunakan ilmu In Kin Keng, maka dapat menggeserkan racun itu kejalan darah Wan Kut Hiat dipergelangan tangan. Tapi, kalau dalam waktu dua bulan tidak memperoleh obat pemunah racun, racun itu pasti menjalar dan nyawa ayah pun pasti melayang."
"Ayah...,"
Wajah Tong Hai sianli berubah pucat pasi.
"Harus bagaimana?"
"Terus terang...,"
Ujar Tong Hai sianjin memberitahukan.
"Hanya ada satu orang yang dapat menyelamatkan ayah."
"Siapa orang itu?"
"Thio Han Liong."
"Dia?"
Tong Hai sianli terbelalak.
"Ya."
Tong Hai sianjin manggut-manggut.
"Dia mahir ilmu pengobatan, ayah yakin dia pasti dapat menyelamatkan ayah."
"Kalau begitu aku akan segera berangkat ke Tionggo.an mencarinya,"
Ujar Tong Hai sianli, yang telah mengambil keputusan itu.
"Baik."
Tong Hai sianjin manggut-manggut.
"Ajaklah beberapa orang dan ingat, jangan lewat dua bulan"
"Ya, Ayah."
Tong Hai sianli mengangguk.
"Kalau begitu, aku berangkat sekarang saja. Aku akan mengajak Bibi Ciu dan Bibi Gouw."
Tong Hai sianjin menatapnya, kemudian menghela nafas panjang.
"Tionggoan begitu luas, bagaimana mungkin engkau dapat mencarinya?"
"Ayah tenang saja Aku pasti dapat mencarinya, percayalah"
Ujar Tong Hai sianli, lalu meninggalkan kamar itu. Thio Han Liong, An Lok Kong Cu , Jie Lian ciu dan lainnya duduk bercakap-cakap di ruang depan.
"Heran"
Gumam Jie Lian ciu.
"Ban Tok Lo Mo dan muridnya tidak ke mari, bahkan tiada kabar beritanya. Bukankah itu sungguh mengherankan?"
"Memang mengherankan,"
Sahut Thio Han Liong sambil mengerutkan kening.
"Mungkinkah Ban Tok Lo Mo dan muridnya sudah pulang ke pulau Ban Tok To?"
"Mungkin."
Song Wan Kiauw manggut-manggut.
"Kalau tidak bagaimana mungkin tiada kabar beritanya?"
"Masuk akal."
Jie Lian ciu mengangguk.
"Tapi... kenapa mendadak mereka pulang ke pulau Ban Tok To?"
"Mungkinkah ada seorang jago mengalahkan mereka, maka mereka terpaksa pulang ke pulau itu?"
Ujar Thio Han Liong, menduga. Jie Lian ciu manggut-manggut.
"Itu memang mungkin...."
Mendadak salah seorang murid Jie Lian ciu me masuki ruangan itu, lalu memberi hormat dan melapor.
"Guru, Tong Hai sianli ingin bertemu Thio siauhiap"
"Apa?"
Jie Lian ciu tertegun.
"Kok dia tahu Thio Han Liong berada di sini? Ada urusan apa dia ingin bertemu Han Liong?"
"Katanya ada urusan penting,"
Sahut murid Jie Lian ciu itu.
"Baik."
Jie Lian ciu manggut-manggut.
"Undang dia ke mari"
"Ya."
Tak segerapa lama kemudian, tampak Tong Hai sianli berjalan ke dalam bersama Bibi ciu dan Bibi Gouw. Begitu melihat Thio Han Liong, berserilah wajah gadis itu.
"Han Liong"
Seru Tong Hai sianli tak tertahan, lalu memberi hormat kepada Jie Lian Ciu dan lainnya.
"Silakan duduk, ucap Jie Lian ciu sambit menatapnya tajam. Tong Hai sianli dan ke dua wanita itu duduk. sedangkan An Lok Kong Cu terus menatapnya.
"Nona,"
Tanya song Wan Kiauw.
"Ada urusan apa Nona ke mari menemui Han Liong?"
"Ayahku terluka, hanya Han Liong yang dapat mengobatinya,"
Sahut Tong Hai sianli.
"Maka aku ke mari mencarinya."
"Kok engkau tahu aku berada di sini?"
Thio Han Liong heran.
"Aku ke kuil siauw Lim sie bertanya kepada Kong Bun Hong Tio. Padri tua itu menyuruhku ke mari,"
Jawab Tong Hai sianli.
"Sungguh kebetulan engkau berada di sini"
"Siapa yang melukai ayahmu?"
Tanya Jie Lian ciu.
"Ban Tok Lo Mo."
Tong Hai sianli memberitahukan, lalu menutur tentang itu dan menambahkan.
"Ayahku mengeluarkan ilmu Ih Kin Keng, maka dapat menggeserkan racun itu ke jalan darah Wan Kut Hiat yang di pergelangan tangan. Tapi... itu cuma dapat bertahan dua bulan, setelah itu racun akan menjalar dan nyawa ayahku pasti melayang."
"Engkau sungguh beruntung"
Ujar Thio Han Liong.
"Kalau aku tidak berada di sini, ayahmu pasti tidak akan tertolong."
"Han Liong, cepatlah ikut aku ke pulau Khong Khong To"
Tong Hai sianli tampak tidak sabaran.
"Aku tidak perlu ikut ke sana,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku akan memberikanmu dua butir obat pemunah racun untuk ayahmu. setelah ayahmu makan obat pemunah racun ini, dalam waktu tiga hari pasti pulih."
"oh?"
Tong Hai sianli kurang percaya.
"Engkau tidak bohong?"
"Untuk apa aku membohongimu?"
Thio Han Liong tersenyum, kemudian memberikan dua butir obat pemunah racun kepada Tong Hai sianli.
"Terimakasih, Han Liong,"
Ucap Tong Hai sianli sambil menerima obat itu "Bungkus dengan kertas ini"
Thio Han Liong juga memberikannya selembar kertas.
"Terimakasih"
Tong Hai sianli membungkus ke dua butir obat pemunah racun itu, lalu disimpan ke dalam bajunya. setelah itu, ia memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Nona itu tunanganmu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk dan memperkenalkan mereka. Mereka berdua saling memberi hormat. Tong Hai sianli memandang An Lok Kong Cu sambil tersenyum.
"Engkau sungguh cantik, pantas Han Liong begitu mencintaimu"
"Engkau pun cantik sekali,"
Sahut An Lok Keng Cu dengan tersenyum lembut.
"Kakak Han Liong sudah menceritakan tentang dirimu kepadaku."
"oh?"
Tong Hai sianli tertawa kecil.
"Dia memang pemuda yang amat Baik, bahkan setia sekali. Dia sama sekali tidak mau menyeleweng di belakangmu. Terus terang, aku sudah jatuh hati padanya ketika pertama kali bertemu."
"oh, y a? "
An Lok Keng Cu tersenyum lagi.
"Tapi...."
Tong Hai sianli menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia memberitahukan kepadaku, bahwa dia sudah punya tunangan. Nah, itu membuktikannya amat setia. Kalau pemuda lain, mungkin sudah bermain cinta denganku. Namun Han Liong Tidak, itu sungguh mengagumkan"
"Kakak Han Liong juga sudah menceritakan kepadaku tentang itu...."
"An Lok Kong cu, engkau sungguh beruntung"
Ujar Tong Hai sianli.
"Punya calon suami yang begitu mencintaimu. Aku... aku jadi cemburu nih"
"Tong Hai sianli,"
Ujar An Lok Keng cu.
"Engkau adalah gadis yang cantik dan baik budi, aku yakin engkau akan bertemu pemuda idaman hatimu."
"Mudah-mudahan"
Sahut Tong Hai sianli. setelah itu ia bangkit berdiri sambil memberi hormat.
"Maaf, aku mohon pamit"
"Baiklah."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Engkau memang harus segera pulang. oh ya, simpan baikbaik obat itu"
"Ya."
Tong Hai sianli menatapnya.
"Han Liong, kami pihak pulau Khong Khong To berhutang budi kepadamu."
"Jangan berkata begitu"
Thio Han Liong tersenyum.
"Ketua Bu Tong...."
Tong Hai sianli memberi hormat kepada mereka.
"sampai jumpa"
Tong Hai sianli dan pengikutnya meninggalkan ruang itu sampai di pintu gadis itu menoleh untuk memandang Thio Han Liong. setelah itu barulah ia melesat pergi.
"Aaaah..."
Jie Lian ciu menghela nafas panjang.
"Tak disangka Ban Tok Lo Mo dan muridnya datang di Khong Khong To"
"Pantas sekian lama tiada kabar beritanya,"
Ujar Song wan Kiauw sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Entah ada permusuhan apa di antara Ban Tok Lo Mo dengan ayah Tong Hai sianli?"
"Han Liong,"
Tanya Jie Lian ciu.
"Engkau yakin, dua butir obat pemunah racun itu dapat menyelamatkan nyawa ayah Tong Hai sianli?"
"Aku yakin,"
Sahut Thio Han Liong manggut-manggut.
"sebab Tong Hai sianjin memiliki ilmu In Kin Keng, maka dia dapat bertahan dua bulan. setelah makan obat pemunah racun itu, dia pasti pulih."
"syukurlah"
Ucap Jie Lian Ciu.
"Kakek.."
Ujar Thio Han Liong.
"Kini Ban Tok Lo Mo pasti sudah berada di Tionggoan. Aku dan Adik An Lok terpaksa harus tinggal di sini lagi."
"Tidak apa-apa,"
Sahut Jie Lian Ciu sambil tertawa.
"Kami senang sekali kamu tinggal di sini."
"Terima kasih, Kakek Jie,"
Ucap Thio Han Liong.
"Aaah...."
Mendadak song Wan Kiauw menghela nafas panjang.
"Tak disangka Tong Hai sianli merupakan gadis yang baik, bahkan tahu diri dan bersikap terbuka pula."
"Benar."
Thio Han Liong mengangguk.
"Ketika dia sampai di pintu, kenapa menoleh lagi memandangmu?"
Tanya An Lok Keng Cu mendadak tidak bernada cemburu.
"Mungkin dia tahu..."
Sahut Thio Han Liong menduga.
"sulit berjumpa dengan kita lagi."
"oooh"
An Lok Kong Cu manggut-manggut.
"Kelihatannya dia amat mencintaimu lho"
"Kira-kira begitulah."
Thio Han Liong tersenyum.
"Tapi aku yakin dia akan bertemu pemuda idaman hatinya."
"Itu yang kuharapkan,"
Ujar An Lok Keng cu.
"Kini Ban Tok LoMo dan muridnya sudah berada di Tionggoan, entah apa yang akan terjadi lagi?"
Song wan Kiauw menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menghela nafas panjang.
"Aaaah..."
Tong Hai sianli telah tiba di pulau Khong Khong To. Tidak sampai satu bulan ia sudah pulang. Betapa gembiranya Tong Hai sianjin yang berbaring di tempat tidur. la memandang putrinya dengan rasa haru.
"Nak..."
"Ayah"
Panggil Tong Hai sianli dengan mata basah.
"Aku... aku sudah bertemu Han Liong"
"Kenapa dia tidak ikut ke mari?"
Tanya Tong Hai sianjin.
"Dia bilang tidak usah ke mari, tapi memberiku dua butir obat pemunah racun."
Tong Hai sianli memasukkan ke dua butir obat pemunah racun itu ke dalam mulutnya.
"Kata Han Liong, setelah ayah makan obat pemunah racun ini, Dalam waktu tiga hari ayah pasti pulih."
"oh?"
Tong Hai sianjin tersenyum, dan sekaligus menelan ke dua butir obat pemunah racun yang di dalam mulutnya.
"Ayah...."
Mendadak air mata Tong Hai sianli meleleh.
"Nak"
Tong Hai sianli tercengang.
"Kenapa engkau?"
"Aku... aku sudah berjumpa dengan An Lok Keng Cu, tunangan Han Liong,"
Sahut Tong Hai sianli terisak-isak.
"Gadis itu memang cantik sekali, bahkan lemah lembut pula."
"oooh"
Tong Hai sianjin menghela nafas panjang.
"Engkau menangis di hadapan mereka?"
"Tidak,"
Tong Hai sianli menggelengkan kepala.
"Di hadapan mereka aku justru bersikap biasa dan gembira, tapi... hatiku seperti tertusuk-tusuk ribuan jarum...."
"Nak"
Tong Hai sianjin tersenyum.
"Sudahlah Jangan dipikirkan lagi, kelak engkau pasti bertemu pemuda idaman hati, percayalah"
"Ayah"
Tong Hay sianli menggeleng-gelengkan kepala.
"Sulit bertemu pemuda seperti Han Liong."
"jangan khawatir"
Hibur Tong Hai sianjin.
"Ayah yakin engkau pasti akan bertemu pemuda seperti Han Liong. Engkau harus percaya itu"
"Aaah..."
Tong Hai sianli menghela nafas panjang.
"oh ya"
Tong Hai sianjin mengalihkan pembicaraan.
"Di mana engkau bertemu mereka?"
"Di gunung Bu Tong."
Tong Hai sianli memberitahukan.
"Begitu aku tiba di Tionggoan, aku langsung ke kuil siauw Lim sic bertanya kepada Keng Bun Hong Tio. Ketua siauw Lim Pay itu menyuruhku ke partai Bu Tong, maka aku segera berangkat ke sana. Kebetulan Han Liong dan An Lok Keng cu berada di sana."
"Nak"
Tong Hai sianjin membelainya.
"Kalau Han Liong tidak berada di sana, nyawa ayah pasti melayang."
"Ayah...."
Tong Hai sianli terisak-isaki "Aku baru jatuh cinta, tapi...."
"Nak,"
Tong Hai sianjin menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan dipikirkan lagi tentang itu"
Tong Hai sianli mengangguk, namun air matanya tetap berderai-derai membasahi pipinya. Dua hari kemudian, Tong Hai sianjin sudah sembuh. Betapa gembiranya Tocu itu, kemudian bangun dari tempat tidur.
"Ayah...."
Tong Hai sianli terkejut ketika melihat ayahnya bangun.
"Ayah sudah sembuh?"
Tong Hai sianjin mengangguk.
"Kini racun itu telah punah, ayah sudah pulih."
"Ayah...."
Tong Hai sianli menghela nafas panjang.
"Kita berhutang budi lagi kepada Han Liong. Entah bagaimana kita membalasnya?"
"Nak."
Tong Hai sianjin menarik nafas dalam-dalam.
"Dia tidak berharap kita membalas budinya. Dia pendekar muda yang berhati bajik,"
"Ayah kalau dia sudi menerima, aku pun rela menjadi pelayannya,"
Ujar Tong Hai sianli sungguh-sungguh.
"Nak...."
Tong Hai sianjin menggeleng-gelengkan kepala. Hatinya merasa iba terhadap putrinya.
"sudahlah jangan terus memikirkan Han Liong, anggaplah dia adalah kakakmu...."
Walau sudah dua bulan berlalu, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu masih tetap tinggal di gunung Bu Tong.
Dalam kurun waktu dua bulan, sama sekali tidak ada kabar beritanya mengenai Ban Tok Lo Mo dan muridnya, dan itu sungguh mengherankan Han liong, An Lok Kong Cu Jie Lian ciu dan lainnya.
"Tiada kabar beritanya mengenai Ban Tok LoMo dan muridnya, mungkinkah mereka sudah pulang ke pulau Ban Tok To?"
Ujar lie Lian ciu sambil mengerutkan kening.
"Alangkah baiknya kalau dia dan muridnya pulang kepulau itu,"
Sahut song Wan Kiauw.
"Rimba persilatan jadi aman."
"Apakah mungkin Ban Tok Lo Mo dan muridnya pulang kepulau itu?"
Gumam Thio Han Liong.
"Aku justru khawatir...."
"Apa yang engkau khawatirkan, Han Liong?"
Tanya Jie Lian ciu.
"Ban Tok Lo Mo dan muridnya sedang mengatur rencana busuk"
Sahut Thio Han Liong.
"itu tidak mungkin.
"jie Lian ciu menggelengkan kepala.
"Aku malah yakin dia dan muridnya telah pulang ke pulau Ban Tok To."
"Mudah-mudahan begitu"
Ucap song Wan Kiauw.
"Han Liong...."
Jie Lian ciu menatapnya seraya berkata.
"seharusnya kalian berdua pergi pesiar, tapi... tertahan di sini, sehingga waktu kalian tersita habis disini...."
"Kakek Jie, jangan berkata begitu,"
Ujar Thio Han Liong.
"sebaliknya justru kami yang merepotkan Kakek Jie."
"Han Liong "jie Lian ciu tersenyum.
"Menurut aku, Ban Tok Lo Mo dan muridnya tidak akan muncul di sini. Kalau kalian ingin pergi pesiar, tentunya kami tidak akan menahan."
"Lebih baik tunggu beberapa hari lagi,"
Sahut Thio Han Liong.
"setelah itu barulah kami akan pergi."
"Baiklah."
Jie Lian ciu manggut-manggut. Malam harinya Thio Han Liong dan An Lok Kong cu duduk di halaman sambil bercakap-cakap.
"Adik An Lok,"
Tanya Thio Han Liong lembut.
"Be-berapa hari lagi kita akan meninggalkan gunung Bu Tong ini. Kita mau pergi pesiar atau kembali ke Kota raja?"
"Itu terserah engkau saja,"
Sahut An Lok Keng cu sambil tersenyum.
"Aku menurut kemauanmu."
"Menurut aku...."Thio Han Liong berpikir, kemudian berkata.
"Rasanya pesiar kita sudah cukup, lebih baik kita kembali ke Kota raja menemui ayahmu."
"Baik,"
An Lok Keng cu mengangguk.
"Ayah pasti gembira sekali melihat kita pulang."
"Betul."
Thio Han Uong manggut-manggut.
"oh ya Adik An Lok Bagaimana kalau kita...."
"Kenapa kita?"
"Mohon restu ayahmu."
"Maksudmu kita menikah?"
Tanya An Lok Keng cu dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"setelah itu kita menikah di istana, barulah kita berangkat ke pulau Hong Hoang To."
"Aku setuju, Kakak Han Liong,"
Ujar An Lok Keng cu lembut.
"Tapi...."
Thio Han Liong menarik nafas dalam-dalam.
"Kita harus menunggu beberapa hari lagi, karena aku khawatir Ban Tok Lo Mo dan muridnya akan muncul di sini."
"Kakak Han Liong, sudah dua bulan tiada kabar berita tentang mereka, mungkin mereka sudah pulang ke pulau Ban Tok To,"
Ujar An Lok Keng cu.
"Aku justru khawatir...."
Thio Han Liong meng-gelenggelengkan kepala.
"Mereka sedang mengatur suatu rencana jahat."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu menatapnya lembut "Tidak perlu engkau mengkhawatirkan itu."
"Agar hatiku lebih tenang, maka kita harus menunggu beberapa hari lagi, barulah kita kembali ke Kota raja"
"Aku menurutimu saja."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menggenggam tangannya erat-erat.
"Engkau sungguh berpengertian, aku kagum kepadamu,"
Beberapa hari kemudian, mereka berdua lalu meninggalkan gunung Bu Tong, tujuan mereka kembali ke Kota raja.
Bab 66 Pak Hong Terluka Di dalam sebuah kuil tua yang terletak di gunung Wu san, tampak seorang tua renta duduk bersila dengan mata terpejam, di hadapannya duduk lelaki berusia lima puluhan.
siapa mereka berdua itu?
Ternyata adalah Ban Tok Lo Mo dan Tan Beng song, muridnya.
Lama sekali barulah orangtua renta itu membuka matanya, ditatapnya Tan Beng song dengan tajam sekali.
"suhu...."
"Aaaah..."
Ban Tok Lo Mo menghela nafas panjang.
"Tak kusangka Tong sianjin itu berkepandaian begitu tinggi, bahkan kebal terhadap racun."
"Suhu,"
Ujar Tan Beng song.
"Kenapa suhu tidak mau membunuhnya?"
"Kami cuma bertanding sepuluh jurus, kenapa aku harus membunuhnya?"
Sahut Ban Tok Lo Mo.
"Lagipula dia kebal terhadap racun, maka tidak gampang membunuhnya."
"Lalu apa rencana suhu sekarang?"
"Aku justru sedang memikirkan itu. Engkau masih punya suatu ide?"
"Kemarin suhu melukai Pak Hong, maka kaum rimba persilatan pasti tahu akan keberadaan kita di Tionggoan oleh karena itu...."
Tan Beng song melanjutkan.
"Kita harus segera bertindak agar para ketua partai itu tidak bergabung melawan kita."
"Maksudmu?"
"Kita turun tangan lebih dulu terhadap para ketua."
"Ngmmm"
Ban Tok Lo Mo manggut-manggut.
"Menurutmu, kita harus turun tangan dulu terhadap ketua mana?"
"Ketua Hwa san dan Khong Tong dulu, setelah itu barulah ketua Kun Lun, GoBi dan lainnya."
"Bagus"
Ban Tok Lo Mo tertawa gelak.
"Ha ha ha Dengan cara demikian, maka para ketua itu tidak akan dapat bergabung"
"Kalau suhu sudah membunuh para ketua itu, tentu suhu menjadi jago tanpa tanding di kolong langit."
"Betul"
Ban Tok Lo Mo tertawa terbahak-bahaki "Ha ha ha Tujuh delapan tahun yang lampau, aku pernah dihina oleh kaum rimba persilatan Tionggoan, kini sudah waktunya aku mencuci bersih penghinaan itu Ha ha ha..."
"Kenapa pada waktu itu kaum rimba persilatan Tionggoan menghina suhu?"
Tanya Tan Beng song.
"Karena kepandaianku masih belum begitu tinggi, maka mereka menghinaku yang ingin menjagoi rimba persilatan Tionggoan."
Ban Tok Lo Mo memberitahukan.
"Karena itu, aku pulang ke pulau Ban Tok To dan berlatih terus-menerus...."
"oooh"
Tan Beng song manggut-manggut.
"oh ya, aku justru tidak habis pikir tentang Tong Hai sianjin. Bagaimana dia bisa kebal terhadap racun?"
"Akupun tidak mengerti."
Ban Tok Lo Mo menggelenggelengkan kepala.
"Mungkin dia memiliki semacam ilmu yang dapat memunahkan racunku."
"Itu bagaimana mungkin?"
Tan Beng song meng-gelenggelengkan kepala.
"Ilmu pukulan suhu amat beracun, siapa yang terkena ilmu pukulan suhu, pasti tidak tertolong. Tapi... Tong Hai sianjin itu"
"Kepandaiannya memang sudah tinggi sekali."
Ban Tok Lo Mo menghela nafas panjang.
"sayang tidak dapat kukalahkan dia dalam sepuluh jurus. Kalau aku berhasil mengalahkannya, dia dan para anak buahnya pasti di bawah perintahku."
"suhu...."
Tan Beng song menatapnya.
"siauw Lim Pay amat terkenal, apakah kepandaian suhu dapat mengalahkan mereka?"
"Kong Bun dan Kong Ti masih bukan tandinganku, namun yang kusegani adalah Thio sam Hong, cikat bakal Bu Tong Pay itu."
"suhu tidak sanggup mengalahkan Thio sam Hong?"
"Biar bagaimana pun aku harus menghormatinya. Lagipula belum tentu aku sanggup mengalahkannya. oleh karena itu, kita tidak boleh membunuh ketua Bu Tong Pay itu."
"suhu...."
Tan Beng song tercengang.
"cukup melukainya saja,"
Ujar Ban Tok Lo Mo.
"oh ya Benarkah Thio Han Liong punya hubungan dengan Bu Tong Pay?"
"Kalau tidak salah kakeknya adalah murid Thio sam Hong,"
Jawab Tan Beng song memberitahukan.
"suhu, kepandaian Thio Han Liong sudah sulit diukur berapa tinggi...."
"oh?"
Ban Tok Lo-Mo mengerutkan kening.
"Kalau aku bertemu dia, pasti kubunuh"
"Suhu,"
Tanya Tan Beng song.
"Kira-kira kapan kita akan mulai membunuh ketua Hwa san Pay dan Khong Tong Pay?"
"Kapan aku mau membunuh mereka, aku pasti memberitahukanmu,"
Sahut Ban Tok Lo Mo.
"Jadi engkau tidak usah banyak bertanya."
"Ya, suhu."
Tan Beng song mengangguk.
Dengan adanya pembicaraan itu, maka tidak lama lagi rimba persilatan akan timbul suatu petaka.
Bagian 34 Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu terus melakukan perjalanan kembali ke Kotaraja.
Wajah gadis itu tampak cerah ceria.
Maklum mereka berdua kembali ke Kotaraja untuk menikah tentunya amat menggirangkan gadis itu.
Malam ini Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu menginap di sebuah penginapan.
Mereka bercakap-cakap di dalam kamar.
"Kakak Han Liong, perlukah kita mengundang para pejabat tinggi di istana?"
Tanya An Lok Kong Cu mendadak.
"Itu terserah engkau saja,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Tapi jangan menyelenggarakan pesta besar, cukup kitakita saja."
"Pasti kuberitahukan kepada ayah."
An Lok Kong Cu tersenyum manis.
"Oh ya, Kakak Han Uong, mungkinkah Ban Tok Lo Mo dan muridnya telah kembali ke pulau Ban Tok To?"
"Entahlah."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Mudah-mudahan mereka sudah kembali ke sana"
"Han Liong...."
Ketika An Lok Kong Cu ingin mengatakan sesuatu, mendadak terdengar suara rintihan di kamar sebelah. Suara itu membuat mereka berdua saling memandang.
"Sepertinya suara rintihan orang terluka,"
Ujar Thio Han Liong sambil mengerutkan kening.
"Entah siapa yang terluka itu?"
"Bagaimana kalau kita melihat sebentar?"
Tanya An Lok Kong Cu.
"Jangan"
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Sebab kita belum tahu siapa orang itu. Lebih baik jangan menimbulkan suatu urusan."
An Lok Keng Cu mengangguk. Di saat bersamaan terdengar suara ketukan pintu kamar, maka Thio Han Liong segera bertanya.
"Siapa?"
"Pelayan"
Terdengar suara sahutan di luar.
"Mengantar teh wangi"
"Masuklah"
Ujar Thio Han Liong.
"Pintu kamar tidak di kunci."
Pintu kamar terbuka. Tampak seorang pelayan masuk ke dalam kamar itu membawa teh wangi, lalu ditaruh di atas meja.
"Pelayan"
Panggil Thio Han Liong.
"Ya, Tuan."
Sahut pelayan.
"Tuan mau pesan apa?"
"Tahukah engkau siapa yang merintih-rintih di kamar sebelah?"
Tanya Thio Han Liong.
"Seorangtua."
Pelayan memberitahukan.
"Sudah beberapa hari dia terbaring di tempat tidur."
"Dia tidak memanggil tabib?"
"Semua tabib di kota ini sudah diundang, tapi tidak mampu mengobatinya. sebab orang tua itu terkena racun."
"Oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Terima kasih."
Ucapnya. Pelayan itu meninggalkan kamar tersebut. Kemudian Thio Han Liong memandang An Lok Kong cu seraya berkata.
"Adik An Lok, mari kita ke kamar sebelah menjenguk orangtua itu"
"Baik."
An Lok Kong cu mengangguk, Mereka berdua segera ke kamar sebelah.
Thio Han Liong mengetuk pintu kamar itu, tapi tiada sahutan hanya terdengar suara rintihan.
Perlahan-lahan Thio Han Liong mendorong pintu kamar itu, kemudian bersama An Lok Kong cu berjalan ke dalam.
Tampak seorang tua berbaring di tempat tidur.
Begitu melihat orangtua tersebut, terkejutlah Thio Han Liong, karena orangtua itu adalah Pak Hong (si Gila Dari Utara).
"Locianpwee..."
Panggil Thio Han Liong. Pak Hong membuka matanya. Ketika melihat Thio Han Liong, wajahnya tampak agak berseri.
"Han Liong..."
Katanya lemah. Thio Han Liong segera memeriksanya, kemudian menarik nafas lega seraya berkata.
"Masih dapat ditolong."
"Syukurlah"
Ucap An Lok Keng cu.
Thio Han Liong mengeluarkan sebutir obat pemunah racun, lalu dimasukkan ke mulut Pak Hong.
Berselang beberapa saat, wajah Pak Hong mulai tampak segar, bahkan setelah itu ia pun bangun duduk.
"Terima kasih, Han Liong,"
Ucapnya.
"Engkau telah menyelamatkan nyawaku."
"Jangan berkata begitu, Locianpwee"
Thio Han Liong tersenyum.
"oh ya, siapa yang melukai Locianpwee?"
"Aaah..."
Pak Hong menghela nafas panjang.
"Ban Tok Lo Mo."
"Haah?"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu tersentak.
"Ban Tok Lo Mo?"
"Ya."
Pak Hong mengangguk.
"Dia adalah guru Tan Beng song...."
"Ternyata Ban Tok Lo Mo dan muridnya tidak pulang ke pulau Ban Tok To, melainkan masih berada di Tionggoan."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Han Liong"
Pak Hong memberitahukan.
"Ban Tok Lo Mo sungguh licik, kepandaiannya pun amat tinggi sekali terutama ilmu pukulan beracunnya. Kalau aku tidak cepat-cepat kabur, aku pasti mati."
"Locianpwee terkena ilmu pukulan beracunnya?"
"Kalau aku terkena ilmu pukulan beracunnya, aku pasti sudah terkapar menjadi mayat."
Pak Hong menggelenggelengkan kepala.
"Aku cuma terkena hawa ilmu pukulan itu."
"Oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Pantas Locianpwee dapat bertahan sampai sekarang."
"Aaah..."
Pak Hong menghela nafas panjang.
"Dia memiliki ilmu pukulan Ban Tok Ciang yang amat beracun. Kalau engkau menghadapinya, haruslah berhatihati."
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Oh ya"
Pak Hong menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa engkau berada di kota ini?"
"Kami sedang menuju ke Kotaraja."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Kami dari gunung Bu Tong."
"Oooh"
Pak Hong manggut-manggut sambil tersenyum.
"Han Liong, gadis ini pasti An Lok Kong cu tunanganmu. Ya, kan?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"oh ya"
Tanya Pak Hong.
"Kalian ke Bu Tong Pay mengunjungi Guru Besar Thio sam Hong?"
"Ya, tapi juga menunggu kemunculan Ban Tok Lo Mo dan muridnya,"
Jawab Thio Han Liong.
"Aku sudah tahu mengenai sepak terjangnya, namun sekian bulan Ban Tok Lo Mo dan muridnya tidak memunculkan diri di sana. Maka kami mengambil keputusan untuk kembali ke Kotaraja."
"Aaah..."
Pak Hong menghela nafas panjang lagi.
"Kalau tidak kebetulan kalian berada di penginapan ini, nyawaku pasti melayang."
"Locianpwee mau ke mana?"
"Aku mau kembali ke tempat tinggalku, tapi justru bertemu Ban Tok Lo Mo. Dia langsung menyerangku dengan ilmu pukulan Ban Tok ciang. Aku bergerak cepat mengambil langkah seribu, namun tetap tersambar hawa pukulanya, sehingga membuat diriku keracunan."
"Kini Locianpwee sudah pulih, lalu Locianpwee mau ke mana?"
"Aku mau kembali ke tempat tinggalku."
Pak Hong memberitahukan.
"Oh ya, Lam Khie masih tetap berada di istana Tayli."
"Locianpwee,"
Ujar Thio Han Liong.
"Buah Im Ko hadiah dari Toan Hong Ya telah kuberikan kepada seseorang, orang itu yang makan buah Im Ko tersebut."
"Itu tidak apa-apa. Tentunya orang itu amat membutuhkan buah Im Ko itu, kalau tidak, bagaimana mungkin engkau memberikannya?"
"Benar."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Kalau tidak makan buah Im Ko dia tetap menjadi banci."
"Eh?"
Pak Hong terbelalak.
"Aku tidak mengerti. Bolehkah engkau menjelaskannya?"
"Orang itu masih muda, bernama Yo Ngie Kuang. Lantaran mempelajari kitab Lian Hoa Cin Keng, maka tubuhnya berubah...."
Thio Han Liong menutur tentang itu.
"Haah?"
Mulut Pak Hong ternganga lebar.
"Itu... itu merupakan suatu kejadian yang amat sulit dipercaya. Kedengarannya tak masuk akal sama sekali."
"Tapi nyata."
Thio Han Liong tersenyum.
"Kini dia bernama Yo Pit Loan dan berkepandaian amat tinggi."
"Han Liong,"
Tanya Pak Hong bergurau.
"Apakah kelak dia akan berubah menjadi anak lelaki lagi?"
"Tentu tidak,"
Sahut Thlo Han Llong.
"Kalau begitu...."
Pak Hong tertawa.
"Dia bisa punya anak?"
"Tentu."
Thio Han Liong mengangguk.
"Sebab kini dia sudah menjadi gadis tulen."
"Itu sungguh luar biasa siapa pun tidak akan percaya."
Pak Hong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau bukan engkau yang beritahukan, aku sendiri pun tidak akan percaya."
"Kalau dia tidak makan buah Im Ko yang kuberikan itu, dia tidak akan bisa berubah menjadi anak gadis,"
Ujar Thio Han Liong.
"Itu sudah merupakan takdirnya harus menjadi wanita."
"Dia berada di mana sekarang?"
"Entahlah."
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Alangkah baiknya aku bisa bertemu dia."
Ujar Pak Hong sambil tertawa.
"Aku ingin kenal pemuda yang berubah menjadi anak gadis."
"Mudah-mudahan Locianpwee bisa bertemu dia"
Thio Han Liong tersenyum dan bertanya.
"Kapan Locianpwee akan pergi?"
"Esok pagi. Kalian?"
"Sama,"
Sahut Thio Han Liong.
"Maaf, Locianpwee, kami mau kembali ke kamar...."
"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa gelak.
"Silakan, silakan"
Wajah Thio Han Liong dan An Lok Kong cu kemerahmerahan, kemudian mereka kembali ke kamar.
"Adik An Lok,"
Ujar Thio Han Liong sambil menghela nafas panjang.
"Tak disangka Ban Tok Lo Mo dan muridnya berada di Tionggoan."
"Ya."
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Itu memang di luar dugaan, bahkan dia melukai Pak Hong Locianpwee."
"Kalau kita tidak berada di penginapan ini, Locianpwee itu pasti binasa,"
Ujar Thio Han Liong.
"Sungguh hebat ilmu pukulan beracun itu Hanya tersambar hawa-nya saja menjadi begitu, bagaimana kalau terkena langsung? Pak Hong Locianpwee pasti mati seketika."
"Kakak Han Liong,"
Tanya An Lok Kong cu "Apakah kita dapat menahan ilmu pukulan beracun itu?"
"Tentu dapat."
Thio Han Liong mengangguk.
"Sebab kita kebal terhadap racun apa pun."
"Tapi...."
"Percayalah"
Thio Han Liong tersenyum.
"Ilmu pukulan beracun yang dimiliki Ban Tok Lo Mo tidak akan dapat melukai kita."
"oooh"
An Lok Kong cu menarik nafas lega.
"Kakak Han Liong...."
"Ada apa? Katakanlah"
Ujar Thio Han Liong lembut.
"Kini kita sudah tahu Ban Tok Lo Mo berada di Tionggoan, lalu apa rencana kita?"
"Maksudmu?"
"Kita terus melanjutkan perjalanan kembali ke Kotaraja atau kembali ke Bu Tong Pay?"
"Itu bagaimana menurutmu saja."
"Aku tahu...."
An Lok Kong cu menatapnya.
"Tidak mungkin engkau akan melanjutkan perjalanan kembali ke Kotaraja lagi. Ya, kan?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kalau begitu, mari kita kembali ke Bu Tong Pay saja"
Ajak An Lok Kong cu.
"Itu tidak mungkin, sebab sudah begitu jauh."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku jadi bingung...."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Jangan bingung, coba dipikirkan saja"
"Ng"
Thio Han Liong manggut-manggut dan mulai berpikir, lama sekali mendadak ia bersorak.
"Adik An Lok"
"Ada apa?"
"Kita ke markas Kay Pang saja,"
Sahut Thio Han Liong.
"Sebab dari sini ke sana hanya membutuhkan waktu dua hari, alangkah baiknya kita ke sana."
"Baik."
An Lok Kong cu mengangguk.
Keesokan harinya, Pak Hong kembali ke tempat tinggalnya, sedangkan Thio Han Liong dan An Lok Kong cu berangkat ke markas Kay Pang.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu singgah di sebuah rumah makan.
Kebetulan mereka berdua duduk di dekat beberapa kaum rimba persilatan yang sedang bersantap sambil bercakap-cakap.
Di saat Thio Han Liong dan An Lok Kong cu saling memandang ketika mulai bersantap.
Ternyata beberapa kaum rimba persilatan itu membicarakan tentang Ban Tok Lo Mo dan muridnya, maka Thio Han Liong dan An Lok Kong cu mendengarkan pembicaraan itu dengan penuh perhatian.
"Kini rimba persilatan sudah tidak aman lagi, sebab muncul Ban Tok Lo Mo dan muridnya."
"Betul. Mereka guru dan murid sering membunuh kaum rimba persilatan golongan putih. Entah apa tujuan mereka berbuat begitu?"
"Tentunya ingin menguasai rimba persilatan."
"Heran? Entah berasal dari mana Ban Tok Lo Mo dan muridnya itu? Kenapa mereka mendadak muncul dalam rimba persilatan?"
"Aku justru tidak habis pikir, kenapa tujuh partai besar tinggal diam? Apakah para ketua itu takut kepada Ban Tok Lo Mo dan muridnya?"
"Lagi pula... Thio Han Liong, pendekar muda itu pun tiada kabar beritanya, padahal kini dia amat dibutuhkan."
"Engkau kenal Thio Han Liong?"
"Tidak kenal. Engkau?"
"Aku pun tidak kenal. Kita orang-orang rimba persilatan golongan rendahan, bagaimana mungkin akan kenal pendekar muda itu?"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu saling memandang, kemudian tersenyum sambil mendengarkan pembicaraan mereka .
"Tapi... justru kita yang sering memperoleh berita baru dunia persilatan, sebab kita selalu pasang kuping ke sana ke mari Ha ha ha"
"Apakah ada berita baru lagi?"
"Kalau begitu, engkau pasti belum tahu."
"Tentang apa?"
"Belum lama ini, dalam rimba persilatan telah muncul seorang gadis yang cantik jelita, julukannya adalah Lian Hoa Nio Cu (Nona Bunga Teratai)."
Mendengar sampai di situ, mata Thio Han Liong terbelalak.
"Kakak Han Liong, engkau kenal Lian Hoa Nio Cu itu?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Tidak kenal, tapi... Lian Hoa...."
Thlo Han Liong menatapnya.
"Engkau tidak teringat sesuatu?"
"Tentang apa?"
"Lian Hoa Cin Keng."
"Oh? Maksudmu Lian Hoa Nio Cu itu adalah Yo Pit Loan?"
"Kukira memang dia."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kita dengar lagi pembicaraan mereka"
"Engkau kenal Lian Hoa Nio Cu itu?"
Beberapa kaum rimba persilatan itu mulai melanjutkan pembicaraan.
"Sama sekali tidak kenal. Tapi aku sudah mendengar tentang Lian Hoa Nio Cu itu. Dia selalu duduk di dalam tandu mewah, yang digotong oleh empat lelaki bertubuh kekar."
"Engkau tahu dia berasal dari perguruan mana?"
"Tidak tahu. Tapi kepandaiannya amat tinggi sekali, bahkan dia pun sering membasmi kaum golongan hitam."
"Kalau begitu, dia pasti musuh Ban Tok Lo Mo. sebab Ban Tok Lo Mo dan muridnya sering membantai kaum golongan putih. sedangkan Lian Hoa Nio Cu itu justru membasmi kaum golongan hitam. Mudah-mudahan Lian Hoa Nio Cu itu dapat membasmi Ban Tok Lo Mo dan muridnya"
"Kaum rimba persilatan memang berharap begitu. Tapi... Lian Hoa Nio Cu itu bersifat aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Tidak mau bergaul dengan jago yang mana pun. seorang jago yang cukup terkenal tertarik padanya, dan berusaha mendekatinya, namun Lian Hoa Nio Cu malah menantangnya bertanding, dan hanya dalam sepuluh jurus jago itu sudah dikalahkannya"
"Wuah bukan main Kalau begitu, tiada seorang pun jago muda yang sanggup menandinginya "
"Ada."
"Siapa?"
"Thio Han Liong."
"Ha ha ha Bagaimana mungkin Thio siauhiap mau bertanding dengan Lian Hoa Nio Cu itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Thio siauhiap adalah pemuda yang gagah, tentunya tidak mau bertanding dengan Lian Hoa Nio Cu. Lagipula bagaimana mungkin mereka akan berjumpa?"
Mendengar sampai di situ, An Lok Kong cu tersenyum sambil berbisik-bisik di dekat telinga Thio Han Liong.
"Engkau sudah mendengar bukan? Mereka berharap engkau bertanding dengan Lian Hoa Nio Cu. Kelihatannya mereka ingin menjodohkanmu dengan Lian Hoa Nio Cu."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tersenyum geli.
"Tak kusangka engkau suka bergurau juga."
"Kakak Han Liong, terus terang... aku ingin sekali berjumpa Yo Pit Loan,"
Ujar An Lok Kong cu sungguh-sungguh.
"Aku ingin tahu bagaimana parasnya, apakah betul cantik sekali?"
"Mudah-mudahan engkau berjumpa dia"
Ucap Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Agar hatimu puas dan tidak merasa penasaran lagi."
Bab 67 Lian Hoan Nio cu Thio Han Liong dan An Lok Kong cu melanjutkan perjalanan ke markas Kay Pang. Dalam perjalanan ini, mereka sering melihat mayat-mayat golongan hitam bergelimpangan di mana-mana.
"Adik An Lok,"
Ujar Thio Han Liong ketika beristirahat di bawah sebuah pohon.
"Aku yakin itu adalah perbuatan Lian Hoa Nio Cu."
"Heran"
Sahut An Lok Kong cu.
"Kenapa dia memusuhi kaum golongan hitam?"
"Entahlah."
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Sebab aku tidak tahu jelas mengenai riwayat hidupnya."
"Tapi itu ada baiknya juga. Kaum penjahat memang harus dibasmi."
"Itu... itu agak sadis."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kalau aku bertemu dia, akan kunasihati."
"Kakak Han Liong...."
Mendadak Thio Han Liong memberi isyarat agar gadis itu diam. Ternyata ia mendengar suara langkah.
"Engkau mendengar sesuatu?"
Tanya An Lok Kong cu dengan suara rendah.
Thio Han Liong mengangguk.
Berselang beberapa saat, barulah An Lok Kong cu mendengar suara langkah itu.
Tak seberapa lama, tampak sebuah tandu digotong empat orang bertubuh kekar yang tidak memakai baju.
Dada ke empat orang itu bertato harimau.
Tandu itu melayang cepat sekali.
Itu membuktikan bahwa ke empat penggotongnya memiliki ginkang yang amat tinggi.
Thio Han Liong kagum melihatnya.
"Kakak Han Liong, yang duduk di dalam tandu itu...."
"Lian Hoa Nio Cu?"
"Bukankah orang-orang tadi mengatakan, bahwa Lian Hoa Nio Cu duduk di dalam tandu?"
"Kalau begitu...."
Sebelum Thio Han Liong melanjutkan, mendadak tandu itu sudah berhenti.
An Lok Kong Cu dan Thio Han Liong mengarahkan pandangannya ke tirai tandu.
Tampak tirai itu terbuka dengan perlahan-lahan dan seorang gadis cantik jelita melangkah turun dengan lemah gemulai.
Terbelalaklah Thio Han Liong, sebab kulit muka gadis itu putih halus bagaikan saiju.
"Kakak Han Liong,"
Bisik An Lok Kong cu.
"Gadis itu adalah Yo Pit Loan?"
"Betul"
Thio Han Liong mengangguk.
"Tak disangka dia begitu cantik...."
An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau aku tidak mendengar duluan darimu, tentu tidak akan percaya, bahwa dulu dia anak lelaki."
Tidak salah. Gadis cantik jelita itu ternyata Yo Pit Loan. la berjalan lemah gemulai mendekati Thio Han Liong. setelah dekat, ia langsung memberi hormat dengan wajah berseri.
"Han Liong, terimalah hormatku"
"Pit Loan...."
Thio Han Liong sebera balas memberi hormat.
"Tak disangka kita berjumpa di sini."
"Memang tak disangka, tapi amat menggembirakan,"
Sahut Yo Pit Loan.
"Oh ya Gadis ini...."
"An Lok Kong cu, tunanganku."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Oooh"
Yo Pit Loan tersenyum.
"An Lok Kong cu, selamat bertemu"
"Selamat bertemu, Pit Loan"
Sahut An Lok Kong cu sambil menatapnya.
"Tak kusangka engkau sangat cantik,"
"Oh ya?"
Yo Pit Loan tersenyum lagi.
"Semua itu berkat bantuan Han Liong, yang memberiku buah Im Ko."
"Pit Loan, jangan berkata begitu"
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Aku berkata sesungguhnya. Kalau tiada buah Im Ko, kini aku masih tetap menjadi banci."
Yo Pit Loan menghela nafas panjang.
"Oleh karena itu, aku banyak berhutang budi kepada Han Liong."
"Pit Loan, buah Im Ko itu hadiah dari Toan Hong Ya...."
"Aku tetap berhutang budi kepadamu."
Yo Pit Loan tersenyum, kemudian memandang An Lok Kong cu seraya berkata.
"Engkau sungguh cantik, pantas Han Liong sangat mencintaimu. Engkau pasti bahagia, karena Han Liong adalah pemuda yang amat baik."
"Terima kasih."
An Lok Kong cu terkesan baik kepada Yo Pit Loan.
"Oh ya, kalau aku tidak mendengar dari Kakak Han Liong, aku tidak percaya apa yang telah terjadi atas dirimu."
"Jangankan engkau...."
Yo Pit Loan tertawa kecil.
"Aku sendiri pun hampir tidak percaya. Bayangkan. Dulu aku adalah seorang pemuda, tapi kini bisa berubah menjadi anak gadis. Bukankah itu sungguh ajaib sekali?"
"Memang."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Sikap dan gerak-gerikmu pun persis seperti anak gadis, begitu pula suara dan lain sebagainya."
"Terus terang, setelah makan buah im Ko pemberian Han Liong, aku pun tidak percaya bahwa diriku telah berubah menjadi anak gadis. oleh karena itu, aku segera memeriksa alat kelaminku, memang telah berubah menjadi alat kelamin wanita. Dapat dibayangkan, betapa gembiranya hatiku ketika itu."
"Pit Loan,"
Tanya An Lok Kong cu mendadak.
"Apakah engkau merasa menyesal atas perbuatan dirimu?"
"Tentu tidak,"
Sahut Yo Pit Loan jujur.
"Ketika aku menjadi banci, aku memang merasa menyesal sekali. Tapi setelah berubah menjadi anak gadis, itu sungguh menggembirakan."
"Oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Pit Loan"
Thio Han Liong memandangnya seraya bertanya.
"Lian Hoa Nio Cu adalah engkau?"
"Ya."
Yo Pit Loan mengangguk.
"Itu adalah julukanku."
"Kenapa engkau membunuh kaum rimba persilatan golongan hitam?"
Tanya Thio Han Liong lagi.
"Sebab..."
Mendadak Yo Pit Loan memandang jauh ke depan.
"Ayah, ibu dan kakak-kakakku dibantai oleh para penjahat. Kalau guru terlambat muncul, aku pun pasti mati. oleh karena itu, kini aku mulai membantai para penjahat."
"Oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Tapi... bukankah engkau boleh memusnahkan kepandaian mereka, tidak usah membunuh?"
"Han Liong"
Yo Pit Loan menatapnya lembut "Engkau memang berhati bajik, namun aku tidak akan memberi ampun kepada para penjahat.
Aku masih ingat, ibuku meratap-ratap mohon para penjahat itu jangan membunuh kakak-kakakku, tapi para penjahat itu tetap membunuh kakak-kakakku sambil tertawa, kemudian mereka pun memperkosa ibuku lalu membunuhnya.
Nah, apakah aku harus mengampuni para penjahat?"
Thio Han Liong diam, setelah itu menghela nafas panjang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan langsung bertanya.
"Kok kulit mukamu bertambah putih dan halus?" .
"Mungkin pengaruh dari buah Im Ko, parasku kian hari kian bertambah cantik,"
Sahut Yo Pit Loan sambil tersenyum.
"Aku... aku merasa girang sekali."
"Oh ya. Betulkah ada seorang jago muda jatuh hati kepadamu, tapi engkau malah menantangnya bertanding, dan tidak sampai sepuluh jurus dia sudah kalah?"
Tanya Thio Han Liong mendadak.
"Betul."
Yo Pit Loan mengangguk.
"Kepandaian mereka begitu rendah, tapi berani coba-coba mendekatiku. sungguh tak tahu diri mereka"
"Pit Loan"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau tidak boleh memilih lelaki berdasarkan ilmu silat, yang penting rasa cinta dan kesetiaan."
"Hi hi Hi"
Yo Pit Loan tertawa cekikikan.
"Tiada pemuda lain yang sepertimu, aku tidak akan menikah selama-lamanya."
"Pit Loan...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang "An Lok Kong cu"
Yo Pit Loan memandangnya sambil tersenyum lembut.
"Engkau sungguh beruntung, mendapatkan calon suami begitu baik, tampan dan berkepandaian tinggi pula."
"Pit Loan,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Kelak engkau pun akan bertemu lelaki yang seperti Kakak Han Liong."
"An Lok Kong cu"
Yo Pit Loan tersenyum.
"Aku sama sekali tidak memikirkan itu, hanya ingin membasmi para penjahat saja."
"Oh ya"
Thio Han Liong memandangnya.
"Engkau sudah mendengar tentang Ban Tok Lo Mo dan muridnya?"
"Aku justru sedang mencari mereka."
Sahut Yo Pit Loan.
"Aku ingin membasmi mereka."
"Tapi engkau harus berhati-hati"
Pesan Thio Han Liong.
"Sebab Ban Tok Lo Mo memiliki ilmu pukulan yang amat beracun."
"Ya."
Yo Pit Loan mengangguk. Thio Han Liong mengeluarkan dua butir obat pemunah racun, lalu diberikan kepada Yo Pit Loan seraya berkata.
"Ini adalah obat pemunah racun. Apabila engkau bertemu Ban Tok Lo Mo, cepatlah makan sebutir, agar tidak terkena racunnya."
"Terima kasih atas perhatianmu, Han Liong,"
Ucap Yo Pit Loan terharu sambil menerima ke dua butir obat pemunah racun itu, kemudian dibungkusnya dengan sapu tangan, setelah itu barulah dimasukkan ke dalam bajunya.
"Pit Loan,"
Tanya Thio Han Liong.
"Engkau mau ke mana?"
"Mencari Ban Tok Lo Mo dan muridnya,"
Jawab Yo Pit Loan.
"Aku harus membasmi mereka."
"Tapi biar bagaimanapun juga engkau harus berhati-hati, sebab Ban Tok Lo Mo berkepandaian tinggi sekali."
"Ya."
Yo Pit Loan mengangguk, lalu memandang An Lok Kong Cu.
"Tempo hari aku bilang rela menjadi pelayannya, tapi dia menolak. Kini aku di hadapanmu mengatakan itu, apakah engkau akan menerimaku?"
"Itu terserah Kakak Han Liong,"
Sahut An Lok Kong Cu sambil tersenyum lembut.
"Han Liong, bagaimana?"
Tanya Yo Pit Loan.
"Pit Loan"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kita adalah teman baik, tentunya aku menolak apabila engkau mau menjadi pelayanku."
"Aaaah..."
Yo Pit Loan menghela nafas panjang.
"Begini,"
Ujar An Lok Kong cu mengusulkan.
"Alangkah baiknya kalian menjadi kakak adik saja."
"Kakak adik?"
Wajah Yo Pit Loan berseri.
"Tapi... mana mungkin Han Liong akan menganggapku sebagai adiknya?"
Mendadak Thio Han Liong memegang bahunya, dan menatapnya dalam-dalam seraya berkata.
"Pit Loan, engkau adalah adikku."
"Kakak"
Betapa terharunya Yo Pit Loan.
"Han Liong, engkau adalah kakakku yang tercinta."
"Adik"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kakak...."
Yo Pit Loan mendekap di dadanya.
Thio Han Liong membelainya lembut, sedangkan An Lok Kong Cu manggut-manggut sambil tertawa gembira.
Setelah itu, Yo Pit Loan pun merangkul An Lok Keng Cu erat-erat seraya bertanya.
"Perlukah sekarang aku memanggilmu Kakak Ipar?"
"Kami... kami belum menikah lho"
Sahut An Lok Kong cu dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Kalau begitu, aku tetap memanggilmu An Lok Kong cu,"
Ujar Yo Pit Loan sambil tersenyum.
"Setelah kalian menikahi barulah aku memanggilmu Kakak Ipar."
An Lok Kong cu tersenyum. Di saat itulah mendadak Yo Pit Loan dan Thio Han Liong saling memandang dengan wajah serius. Itu sungguh mengherankan An Lok Kong cu.
"Ada apa, sih?"
"Ada orang datang,"
Sahut Thio Han Liong, lalu memandang ke atas sebuah pohon.
Tak seberapa lama kemudian, dari atas pohon itu melayang turun sosok bayangan.
sebelum bayangan itu menginjak tanah, Yo Pit Loan sudah siap menyerangnya.
"Tunggu"
Cegah Thio Han Liong.
"Dia adalah Pak Hong Locianpwee."
"Ha ha ha"
Ternyata benar, orang itu memang Pak Hong.
"Han Liong sungguh tajam matamu"
"Bukankah Locianpwee mau pulang? Kenapa malah ke mari?"
Tanya Thio Han Liong dengan rasa heran.
"Aku memang mau pulang, tapi di tengah jalan melihat sebuah tandu yang mencurigakan. Maka, aku terus mengikuti tandu itu dalam jarak tertentu agar tidak diketahui orang yang duduk di dalamnya. Akhirnya aku sampai di sini. Ha ha ha"
"Locianpwee"
Thio Han Liong tersenyum.
"Dia adalah Yo Pit Loan, yang pernah kuceritakan."
"Yo Pit Loan?"
Pak Hong terbelalak.
"Lelaki yang berubah menjadi wanita itu?"
"Betul."
Thio Han Liong mengangguk.
"Bukan main"
Pak Hong terus memandang Yo Pit Loan dengan mata tak berkedip. Itu membuat Yo Pit Loan tertawa geli, kemudian dengan sengaja bergaya di hadapan Pak Hong.
"Aduuh"
Pak Hong teriak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau aku masih muda, mungkin aku sudah jatuh berlutut di hadapanmu"
"Oh, ya?"
Yo Pit Loan tersenyum.
"Kalau tidak mendengar dari Han Liong, aku pasti tidak akan percaya, bahwa dulu engkau anak lelaki."
"Itu memang benar,"
Ujar Yo Pit Loan sambil menghela nafas panjang.
"Kalau Kakak tidak memberiku buah Im Ko, tentunya aku masih tetap menjadi banci yang amat menyiksa diriku."
"Oooh"
Pak Hong manggut-manggut.
"Eeeh? siapa kakakmu?"
"Han Liong."
"Kalian sudah mengangkat saudara?"
"Kira-kira begitulah."
"Kalau begitu, aku memberi selamat kepada kalian,"
Ucap Pak Hong lalu tertawa gelak.
"Ha ha ha..."
"Locianpwee,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Kini Locianpwee pasti tidak merasa penasaran lagi, bukan?"
"Betul."
Pak Hong mengangguk.
"Karena aku sudah berjumpa Yo Pit Loan."
"Mungkin Locianpwee belum tahu, bahwa dia adalah Lian Hoa Nio Cu."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Oh?"
Pak Hong tertegun.
"Dia adalah Lian Hoa Nio Cu yang sering membasmi para penjahat?"
"Tidak salah,"
Sahut Thio Han Liong.
"Dia memang Lian Hoa Nio Cu."
"Ha ha ha"
Pak Hong tertawa gelak. Ternyata engkau adalah Lian Hoa Nio Cu yang mulai terkenal itu"
"Terimakasih atas pujian Locianpwee,"
Ucap Yo Pit Loan.
"Tapi"
Pak Hong mengerutkan kening.
"Engkau harus lebih berhati-hati, sebab banyak golongan hitam ingin membunuhmu."
"Alangkah baiknya kalau mereka memunculkan diri mencariku, jadi aku tidak usah bersusah payah mencari mereka,"
Ujar Yo Pit Loan sungguh-sungguh.
"Locianpwee"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Dia pun sedang mencari Ban Tok Lo Mo dan muridnya. Dia ingin membasmi mereka berdua."
"Oh?"
Pak Hong tertegun.
"Kalau begitu, engkau harus berhati-hati, sebab Ban Tok Lo Mo memiliki ilmu pukulan yang amat beracun."
"Locianpwee"
YoPit Loan tersenyum.
"Kakak sudah memberiku obat pemunah racun, maka aku tidak takut akan ilmu pukulan beracun."
"Oooh"
Pak Hong manggut-manggut.
"Baiklah sekarang aku mau pulang ke tempat tinggalku, semoga kita berjumpa kembali"
Pak Hong langsung melesat pergi. Berselang sesaat, Yo Pit Loanpun berpamit kepada Thio Han Liong dan An Lok Keng Cu.
"Maaf, Kakak dan An Lok Keng Cu Aku mau mohon pamit melanjutkan perjalanan, mudah-mudahan kita akan berjumpa kembali"
"Adik"
Thio Han Liong menggenggam tangan Yo Pit Loan.
"Hati-hati kalau menghadapi Ban Tok Lo Mo"
"Ya."
Yo Pit Loan mengangguk.
"Kakak, An Lok Kong cu, sampai jumpa"
Yo Pit Loan melesat ke dalam tandu. Tak lama tandu itu pun melayang cepat meninggalkan tempat itu.
"Aaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Tak disangka kita bertemu Pit Loan dan Pak Hong di sini."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Aku sama sekali tidak menduga Pit Loan begitu cantik, padahal sebelumnya dia adalah lelaki."
"Kulit mukanya berubah begitu putih dan halus, itu adalah pengaruh khasiat buah Im Ko."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Kini dia betul-betul merupakan gadis yang cantik jelita."
"Tapi"
An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Apakah dia akan menikah kelak?"
"Entahlah."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Tadi dia sudah bilang, tidak mau menikah selamalamanya."
"Seandainya dia bertemu pemuda yang cocok, aku yakin dia pasti akan menikah,"
Ujar An Lok Keng cu.
"Mudah-mudahan"
Ucap Thio Han Liong.
"Oh ya, kini engkau sudah tidak merasa penasaran lagi, bukan?"
"Ya."
An Lok Keng cu mengangguk.
"Sebab aku sudah berjumpa Pit Loan. Namun rasa cemburuku sedikit timbul."
"Oh, ya?"
Thio Han Liong tersenyum.
"Mulai sekarang dia adalah adikku, engkau tidak usah merasa cemburu lagi."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Keng cu menatapnya lembut.
"Aku merasa bangga sekali, karena setiap orang pasti memujimu sebagai pemuda yang baik, bahkan juga mengatakan aku beruntung, dan pasti hidup bahagia di sisimu."
"Adik An Lok...."
Thio Han Liong menggenggam tangannya erat-erat, kemudian berbisik.
"Aku memang harus membahagiakanmu."
"Terima kasih, Kakak Han Liong,"
Ucap An Lok Kong cu dengan mesra.
setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju markas Kay Pang.
Betapa gembiranya seng Hwi dan su Hong seki ketua Kay Pang ketika melihat kedatangan Thio Han Liong dan An Lok Kong cu.
"Han Liong...."
Seng Hwi memegang bahunya.
"Aku tidak menyangka kalau kalian akan ke mari lagi. Ayoh, silakan duduk"
"Terima kasih,"
Ucap Thlo Han Liong lalu duduk. An Lok Kong cu duduk di sisinya dengan wajah berseri-seri.
"Kalian berdua dari mana?"
Tanya su Hong sek lembut.
"Kami dari gunung Bu Tong. sebetulnya kami ingin kembali ke Kotaraja, tapi di tengah jalan ketika kami bermalam di penginapan...."
Thio Han Liong menutur tentang itu.
"Karena itu, niat untuk kembali ke Kotaraja kami batalkan."
"Oh?"
Seng Hwi dan su Hong Sek mengerutkan kening.
"Ternyata Ban Tok Lo Mo dan muridnya masih berada di Tionggoan. Untung Pak Hong juga berada di penginapan itu. Kalau tidak, nyawanya pasti sulit ditolong."
"Tapi Pak Hong masih bisa bertahan sampai satu bulan, hanya saja... akan tersiksa sekali,"
Ujar Thio Han Liong.
"Locianpwee itu cuma tersambar angin pukulan Ban Tok Lo Mo, namun menjadi begitu."
"Sungguh beracun ilmu pukulan itu"
Su Hong sek menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Engkau sudah mendengar tentang Lian Hoa Nio Cu?"
"Sudah."
Thio Han Liong mengangguk dan menambahkan.
"Bahkan kami pun sudah bertemu dia."
"Oh?"
Su Hong sek tertegun.
"Engkau tahu siapa dia?"
"Tahu jelas sekali,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Dia adalah Yo Pit Loan, yang pernah kuceritakan itu."
"Yo Pit Loan?"
Su Hong sek dan seng Hwi terbelalak.
"Maksudmu adalah Yo Ngie Kuang yang berubah jadi anak gadis itu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kini dia bertambah cantik, karena terpengaruh oleh khasiat buah Im Ko."
"Bukan main"
Seng Hwi menggeleng-gelengkan kepala.
"Kini para penjahat akan menggigil begitu mendengar namanya, sebab dia tidak pernah memberi ampun kepada para penjahat."
"Han Liong,"
Tanya su Hong sek.
"Engkau tahu apa sebabnya dia begitu dendam terhadap para penjahat?"
"Ayah ibu dan kakak-kakaknya dibunuh oleh para penjahat,"
Jawab Thio Han Liong memberitahukan.
"Maka kini dia mulai membasmi para penjahat, bahkan dia pun sedang mencari Ban Tok Lo Mo dan muridnya. Dia ingin membasmi mereka."
"Oh?"
Su Hong Sek mengerutkan kening.
"Ban Tok Lo Mo amat beracun, apakah Lian Hoa Nio Cu sanggup melawannya?"
"Pasti sanggup,"
Sahut Thio Han Liong.
"Sebab aku sudah memberinya dua butir obat pemunah racun, agar dia tidak terkena racun."
"Oooh"
Su Hong sek manggut-manggut.
"Han Liong,"
Tanya seng Hwi.
"Apakah kepandaian Lian Hoa Nio Cu dapat mengalahkan Ban Tok Lo Mo?"
"Tentang itu, aku tidak begitu tahu,"
Jawab Thio Han Liong.
"Sebab aku tidak pernah menyaksikan kepandaian Ban Tok Lo Mo. Namun menurutku tidak gampang bagi Ban Tok Lo Mo mengalahkan Lian Hoa Nio Cu."
"Mudah-mudahan Lian Hoa Nio Cu dapat membasmi Ban Tok Lo Mo dan muridnya itu"
Ucap su Hong sek.
"Kalau tidak, rimba persilatan pasti dilanda banjir darah."
"Memang sudah mulai banjir darah,"
Ujar seng Hwi.
"Sebab Ban Tok Lo Mo dan muridnya telah membunuh begitu banyak kaum rimba persilatan golongan putih."
"Oh ya"
Thio Han Liong menengok ke sana ke mari.
"Kenapa tidak kelihatan Kiat Hiong?"
"Dia sedang belajar ilmu silat di halaman belakang."
Su Hong sek memberitahukan dengan wajah berseri-seri.
"Tak kusangka im sie Popo begitu menyayanginya. Kalau kami memarahi Kiat Hiong, nenek itu yang tidak senang dan sering membelanya."
"Oh?"
Thio Han Liong manggut-manggut "Syukurlah"
"Karena itu...."
Su Hong sek menggeleng-gelengkan kepala.
"Membuat Kiat Hiong semakin manja."
"Bagaimana kemajuan Kiat Hiong dalam hal ilmu silat?"
Tanya Thio Han Liong.
"Sudah cukup maju,"
Sahut su Hong seki "Aku justru tidak habis pikir, Kwee In Loan yang sudah tidak waras itu malah begitu sabar terhadap Kiat Hiong, juga mengajarnya dengan penuh perhatian."
"Dulu Kwee In Loan begitu jahat. Tapi setelah tidak waras ia malah menjadi baik hati. Itu sungguh di luar dugaan,"
Ujar Thio Han Liong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi aku agak tenang dia berada di sini, sebab dia masih sanggup melawan Ban Tok Lo Mo."
"Han Liong"
Su Hong sek menatapnya dengan penuh rasa terimakasih.
"Kedatangan kalian sungguh mengharukan kami"
"Su Pang cu"
Thio Han Liong tersenyum.
"Jangan berkata begitu, sebab akan membuat hatiku merasa tidak enak."
"oh ya"
Su Hong sek bangkit berdiri.
"Han Liong dan An Lok Keng cu, bagaimana kalau kita ke halaman belakang melihat Kiat Hiong belajar ilmu silat?"
"Baik."
Thio Han Liong dan An Lok Keng cu mengangguk.
Mereka semua lalu menuju ke halaman belakang.
Sampai di halaman tampak seorang anak kecil sedang berlatih ilmu pukulan dan seorang nenek terus-menerus memberi petunjuk.
Menyaksikan ilmu pukulan itu, An Lok Kong cu mengerutkan kening.
"Kakak Han Liong,"
Tanyanya heran.
"Kenapa ilmu pukulan itu kelihatan kacau balau sih?"
"Kelihatan kacau balau, namun amat lihay."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Itulah keanehan ilmu pukulan im sie Popo."
"Oh?"
An Lok Keng Cu tercengang.
"Tapi persis seperti gerakan-gerakan orang gila."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menjelaskan.
"Itu memang ilmu silat orang tak waras, maka gerakannya seperti itu."
"oh, ya?"
An Lok Keng cu tersenyum geli.
"Tapi Kiat Hiong tidak akan berubah menjadi gila, kan?"
"Tentu tidak,"
Sahut Thio Han Liong, kemudian berkata kepada seng Hwi.
"Kalau gerakan-gerakan itu dicampur dengan ilmu pukulan cing Hwee ciang, kelak Kiat Hiong pasti berkepandaian tinggi."
"Maksudmu aku harus mengajarnya ilmu pukulan cing Hwee Ciang?"
Tanya seng Hwi sambil memandang Thio Han Liong.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Tapi ingat Kiat Hiong tidak boleh belajar ilmu Lweekang im sie Popo"
"Justru amat mengherankan"
Seng Hwi memberitahukan.
"Im sie Popo sama sekali tidak mengajar Kiat Hiong ilmu Iweekang."
"Oh?"
Thio Han Liong tercengang.
"Dia sudah gila, tapi kenapa masih bisa berpikir panjang?"
"Maksudmu?"
"Apabila Kiat Hiong belajar ilmu Lweekangnya, akan membuat Kiat Hiong berubah menjadi tak waras,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Maka Kiat Hiong tidak boleh belajar itu."
"Han Liong...."
Su Hong sek tampak tersentak.
"Benarkah itu?"
"Benar."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kalau begitu...."
Su Hong sek berlega hati.
"Syukurlah Im sie Popo tidak mengajarnya ilmu Lweekang"
Mereka terus bercakap-cakap.
setelah itu Thio Han Liong memberi petunjuk kepada seng Kiat Hiong, dan itu amat menggembirakan Kiat Hiong.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu tinggal di markas Kay Pang beberapa hari.
Dalam kurun waktu itu, tiada kabar beritanya mengenai Ban Tok Lo Mo dan muridnya.
Itu sungguh mengherankan, maka hari ini Thio Han Liong, An Lok Kong cu, seng Hwi dan su Hong sek berbincang-bincang mengenai hal itu.
"Aku tidak habis pikir, kenapa tiada kabar beritanya lagi tentang Ban Tok Lo Mo dan muridnya?"
Ujar Thio Han Liong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Memang mengherankan."
Seng Hwi mengerutkan kening.
"Kelihatannya mereka guru dan murid sedang bermain kucingkucingan dengan kita."
"Aaaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kalau kami tahu berada di mana Ban Tok Lo Mo dan muridnya, kami pasti sudah pergi mencari mereka."
"Han Liong"
Su Hong sek tersenyum.
"Bersabarlah Tak lama lagi Ban Tok Lo Mo dan muridnya pasti muncul dalam rimba persilatan."
Tak terasa beberapa hari telah berlalu, namun tetap tiada kabar berita tentang Ban Tok Lo Mo dan muridnya.
Thio Han Liong sama sekali tidak mengerti, kenapa mereka berdua selalu timbul tenggelam seakan sedang mempemainkan kaum rimba persilatan Tionggoan.
"Kelihatannya..."
Ujar Thio Han Liong.
"Ban Tok Lo Mo dan muridnya memang sengaja mempermainkan kita."
"Kalau begitu.."
Sahut seng Hwi sambil mengerutkan kening.
"Kita biarkan saja. Tapi aku yakin Ban Tok Lo Mo dan muridnya pasti akan muncul."
Thio Han Liong manggutmanggut. Malam harinya, Thio Han Liong dan An Lok Keng cu berbicara serius di dalam kamar.
"Sudah hampir sepuluh hari kita tinggal di sini, namun tetap tiada kabar berita tentang Ban Tok Lo Mo dan muridnya,"
Ujar Thio Han Liong sambil memandang An Lok Kong Cu.
"Bagaimana menurutmu, kita harus terus menunggu atau lebih baik kita kembali ke Kotaraja?"
"Menurut aku, lebih baik kita kembali ke Kotaraja,"
Sahut An Lok Keng cu mengemukakan pendapat.
"Setelah itu, barulah kita mencari Ban Tok LoMo dan muridnya."
"Ngmm"
Thio Han Liong manggut-manggut.
Keesokan harinya, mereka berpamit kepada seng Hwi dan su Hong seki lalu menuju Kotaraja.
Bab 68 Mao san Tosu Thio Han Liong dan An Lok Kong cu tiba di kota Cin Lam.
Walau kota tersebut tidak begitu besar, namun penduduknya padat bahkan cukup indah.
Mereka berdua berjalan santai sambil menikmati keindahan kota tersebut.
Ketika menikung, tampak begitu banyak warga kota berbaris ke depan sebuah kuil.
"Ada apa, ya?"
An Lok Kong cu heran.
"Mungkinkah mereka mau sembahyang?"
Sahut Thio Han Liong.
"Tidak mungkin."
An Lok Kong cu menggelengkan kemala.
"Mereka sama sekali tidak pegang hio, tentu bukan mau sembahyang."
"Mari kita ke sana bertanya"
Ajak Thio Han Liong. An Lok Kong cu mengangguk, Mereka berdua mendekati kuil itu, ternyata adalah kuil Kwan Kong, seorang pahlawan di jaman sam Kok (Tiga Negara).
"Paman,"
Tanya Thio Han Liong kepada seseorang.
"Ada apa ramai-ramai di sini?"
"Aaaah..."
Orang itu menghela nafas panjang.
"Beberapa hari ini, terjadi suatu wabah penyakit. Para tabib tak mampu mengobati orang-orang yang terkena wabah penyakit itu, kemudian muncul Mao san Tosu (Pendeta Dari Gunung Mao san). Dialah yang dapat menyembuhkan para penderita wabah penyakit itu."
"Oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Wabah penyakit apa itu?"
"Muntah berak. Dalam waktu tiga hari orang yang terkena penyakit itu pasti mati."
Orang itu memberitahukan.
"Maka semua orang ke mari membeli obat buatan Mao san Tosu itu, tapi...."
"Kenapa?"
"Obat itu mahal sekali, sebungkus sepuluh tael perak. orang miskin tak mampu membeli obat itu, akhirnya mati begitu saja."
"Paman,"
Tanya An Lok Keng cu mendadak.
"Pembesar kota ini sama sekali tidak turun tangan membantu mereka yang terkena wabah?"
"Pembesar Yap pernah ke mari bermohon kepada Mao San Tosu, agar obatnya jangan dijual terlampau mahal. Tapi Mao san Tosu itu mengatakan, bahwa bahan obat itu amat sulit dicari, maka harus dijual dengan harga tinggi."
"Lalu bagaimana tindakan pembesar Yap?"
Tanya An Lok Keng cu penuh perhatian.
"Pembesar Yap tidak bisa berbuat apa-apa, tapi membantu fakir miskin dengan uang, agar mereka dapat membeli obat yang diperlukan itu. Tapi... akhirnya pembesar Yap kehabisan uang, bahkan putrinya terkena penyakit aneh pula."
"Penyakit aneh?"
An Lok Kong cu mengerutkan kening.
"Ya."
Orang itu mengangguk.
"Putri pembesar Yap sering duduk melamun, malah kadang-kadang menangis dan tertawa sendiri Banyak tabib yang diundang untuk mengobati, tapi seorang pun tiada yang dapat menyembuhkannya."
"oh?"
"Di saat itulah muncul Mao san Tosu ke rumah pembesar Yap. Katanya mampu mengobati Nona Yap. tapi pembesar Yap harus membayar lima ribu tael emas. Bagaimana mungkin pembesar Yap menyanggupinya? sebab beliau bukan pembesar korup, hanya mengandal pada gajinya."
"Jadi hingga saat ini Nona Yap masih begitu?"
Tanya Thio Han Liong.
"Ya."
Orang itu mengangguk.
"Sudah belasan kali pembesar Yap ke kuil bermohon kepada Mao san Tosu, tapi pendeta itu sama sekali tidak meladeninya."
"Paman"
Tanya Thio Han Liong.
"Di mana rumah pembesar Yap?"
"Di sana."
Orang itu menunjuk ke arah barat.
"Rumah itu cukup besar, tapi sudah tua."
"Terimakasih,"
Ucap Thio Han Liong, lalu menarik An Lok Kong cu untuk diajak ke rumah pembesar Yap.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di rumah pembesar itu.
Tampak dua penjaga berdiri di depan pintu pagar.
"Maaf."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu menghampiri mereka.
"Aku ingin bertemu pembesar Yap."
"Aaaah..."
Salah seorang penjaga itu menghela nafas panjang.
"Pembesar Yap sedang kacau, lebih baik kalian jangan menemui beliau."
"Kami ke mari justru ingin mengobati putrinya."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Tolong beritahukan kepada beliau"
"Baik."
Salah seorang penjaga segera berlari ke dalam, sedangkan yang lain menatap Thio Han Liong dengan penuh keraguan.
"Tuan dapat menyembuhkan Nona Yap?"
Tanyanya tidak percaya.
"Mudah-mudahan"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum. Di saat bersamaan, penjaga yang pergi melapor itu sudah kembali lalu memberi hormat ke Thio Han Liong seraya berkata.
"Pembesar Yap mempersilakan kalian masuk, Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong.
la bersama An Lok Kong cu berjalan memasuki halaman.
Mereka melihat seorang tua berdiri di depan rumah yang ternyata pembesar Yap.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu memberi hormat.
orangtua itu pun segera balas memberi hormat.
"Silakan masuk"
Ucapnya.
"Terimakasih."
Thio Han Liong dan An Lok Keng cu melangkah ke dalam.
"Silakan duduk"
Ucap pembesar Yap sambil menatap mereka dengan ragu-ragu.
Thio Han Liong dan An Lok Keng cu duduki Mereka berdua tahu akan keraguan pembesar Yap.
Maka, An Lok Keng cu menatap Thio Han Liong, seakan bertanya apakah Thio Han Liong mampu menyembuhkan Nona Yap?
Thio Han Liong manggut-manggut sambil tersenyum, dan itu amat melegakan hati An Lok Kong cu.
"Bolehkah aku tahu siapa kalian?"
Tanya pembesar Yap dengan ramah.
"Aku bernama Thio Han Liong. Dia adalah tunanganku bernama Cu An Lok,"
Jawab Thio Han Liong memberitahukan.
"Ngmmm"
Pembesar Yap manggut-manggut.
"Han Liong, engkaukah yang akan mengobati putriku?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Dapatkah engkau menyembuhkannya?"
Tanya pembesar Yap.
"Mudah-mudahan"
Sahut Thio Han Liong.
"Oh ya sebetulnya Nona Yap menderita penyakit apa?"
"Kata para tabib...."
Pembesar Yap menggeleng-gelengkan kepala.
"Putriku kerasukkan arwah penasaran. Mao san Tosu sudah ke mari, tapi minta lima ribu tael emas. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Kalaupun rumahku ini dijual, tidak mungkin aku mendapatkan uang sebanyak itu. Maka aku... aku...."
"Tenang, Pembesar Yap"
Thio Han Liong tersenyum.
"Aaah..."
Pembesar Yap menghela nafas panjang.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, kini putriku semakin parah ...."
"Maaf, Pembesar Yap Bolehkah kami menjenguk Nona Yap sebentar?"
Tanya Thio Han Liong.
"Boleh."
Pembesar Yap mengangguk, lalu mengajak Thio Han Liong dan An Lok Kong cu ke kamar putrinya.
Kamar tersebut digembok dari luar.
Ketika mereka mendekati kamar itu, terdengarlah suara tawa yang menyeramkan, membuat An Lok Kong cu langsung merinding.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Keng cu tampak agak takut.
"Jangan takut"
Bisik Thio Han Liong.
"Aaah..."
Pembesar Yap menghela nafas.
"Dengarkanlah sendiri, putriku sering tertawa seram dan menangis gerung-gerungan"
"Oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut dan bertanya.
"Pembesar Yap. di mana kunci gembok ini?"
"Mau membuka pintu ini?"
Pembesar Yap tampak terkejut.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Itu...."
Pembesar Yap menggoyang-goyangkan sepasang tangannya.
"Itu... lebih baik jangan"
"Pembesar Yap."
Ujar Thlo Han Liong.
"Kalau pintu ini tidak dibuka, bagaimana aku bisa mengobatinya?"
"Tapi...."
Pembesar Yap tampak ragu.
"Pembesar Yap."
Sela An Lok Keng cu.
"Jangan ragu, percayalah kepada Kakak Han Liong"
Pembesar Yap menatap Thio Han Liong sejenak, setetah itu barulah mengeluarkan kunci dan membuka gembok itu, talu berdiri di belakang Thio Han Liong.
Perlahan-lahan Thio Han Liong mendorong pintu itu, lalu melangkah ke dalam diikuti An Lok Kong cu dan pembesar Yap.
Tampak seorang gadis duduk dipinggir ranjang, rambutnya awut-awutan.
Begitu melihat mereka masuki ia langsung menuding dan menyeringai seraya berteriak-teriak.
"Aku akan telan kalian Aku akan telan kalian Hi hi hi Aku adalah arwah penasaran, aku akan menuntut balas"
"Nak..."
Panggil pembesar Yap dengan mata basah.
"Engkau sudah tidak mengenali ayah lagi?"
"Hik hik hik"
Gadis itu tertawa seram, lalu bangkit berdiri sambil menjulurkan sepasang tangannya ke depan, seakan mau mencekik pembesar Yap.
Di saat bersamaan, Thio Han Liong menatapnya dengan sorotan tajam, kemudian berkata lembut.
"Nona Yap. duduklah"
Gadis itu tampak tertegun. Dipandangnya Thio Han Liong lama sekali, kemudian barulah duduk, Itu sungguh mencengangkan An Lok Kong cu dan pembesar Yap.
"Nona Yap."
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Kuatkanlah batinmu dan bersihkan hatimu, pandanglah mataku"
Gadis itu segera memandang mata Thio Han Liong, kemudian mendadak menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. Thio Han Liong menjulurkan tangannya lalu ditaruh di atas kepala gadis itu seraya berkata.
"Kenapa engkau mengganggu keluarga pembesar Yap. apakah engkau punya dendam terhadap beliau?"
"Maaf. Maaf."
Suara gadis itu berubah parau.
"Mao san Tosu yang menyuruhku ke mari untuk mengganggunya, jangan hukum aku"
"Aku tidak akan menghukummu, sebab engkau hanya diperalat oleh Mao san Tosu itu. Nah, cepatlah engkau pergi"
"Aku...."
"Engkau tidak mau pergi?"
"Aku tidak tahu harus pergi ke mana, sebab Mao san Tosu pasti akan menangkapku lagi."
"Kalau begitu, aku akan membantumu ke suatu tempat,"
Ujar Thio Han Liong sambil mengibaskan tangannya ke arah badan gadis itu.
"Terima kasih Terimakasih...."
Suara itu makin tama makin kecil. Tiba-tiba gadis itu terkulai pingsan. Terkejutlah pembesar Yap dan langsung merangkulnya .
"Tenang, Pembesar Yap"
Thio Han Liong tersenyum.
"Dia akan tersadar sendiri."
Berselang beberapa saat, gadis itu membuka matanya perlahan-lahan. setelah itu, ia pun menengok ke sana ke mari dengan penuh keheranan.
"Ada apa? Eh? siapa kalian?"
"Nak...."
Pembesar Yap memeluknya erat-erat.
"Engkau sudah sembuh Engkau sudah sembuh...."
"Ayah, kenapa aku?"
Gadis itu terheran-heran.
"Oh ya, siapa mereka itu?"
"Thio Han Liong dan cu An Lok,"
Pembesar Yap memberitahukan.
"Thio Han Liong yang menyembuhkanmu."
"Ayah"
Kening gadis itu berkerut-kerut.
"Kenapa aku? Memangnya aku sakit? Kok aku tidak tahu sama, sekali?"
"Nak"
Pembesar Yap membelainya.
"Beberapa hari lalu, mendadak engkau pingsan. Ketika siuman, engkau...."
"Kenapa aku?"
"Engkau mulai tertawa seram dan menangis gerunggerungan."
Pembesar Yap memberitahukan.
"Bahkan sering mengoceh yang tidak karuan. Di saat itulah muncul Mao san Tosu. Dia bilang sanggup menyembuhkanmu, tapi ayah harus membayar lima ribu tael emas."
"Ayah mana punya uang sebanyak itu?"
"Ayah tidak sanggup membayar setinggi itu, maka terpaksa ke kuil Kwan Kong untuk bermohon kepada Mao san Tosu itu, tapi... dia sama sekali tidak meladeni ayah. Untung hari ini kedatangan Thio Han Liong dan cu An Lok," .
"Maksud Ayah... saudara Thio ini yang menyembuhkanku?"
"Ya."
"Saudara Thio"
Gadis itu segera memberi hormat.
"Terimalah hormatku"
"Jangan sungkan-sungkan"
Sahut Thio Han Liong sambil memberi hormat.
"Ayahmu seorang pembesar yang baik, kami amat kagum padanya."
"Ha ha ha"
Pembesar Yap tertawa geiak.
"Mari kita mengobrol di ruang depan saja"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu mengangguk. Mereka semua lalu pergi ke ruang depan, dan pelayan pun segera menyuguhkan teh wangi.
"Han Liong,"
Tanya pembesar Yap.
"Betulkah putriku kerasukan arwah penasaran?"
"Sebetulnya itu merupakan suatu ilmu hitam. Mao san Tosu menyuruh arwah penasaran untuk mengganggu Nona Yap. Itu cara Tosu jahat itu mencari uang. Aku pun yakin wabah penyakit itu diciptakan Tosu jahat tersebut,"
Jawab Thio Han Liong.
"Han Liong, engkau masih muda dan juga bukan Tosu maupun Hweeshio, tapi... kenapa engkau mampu menaklukkan arwah penasaran itu?"
Tanya pembesar Yap heran.
"Pembesar Yap"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Aku pernah belajar ilmu Penakluk iblis, maka aku dapat menyembuhkan Nona Yap."
"Oooh"
Pembesar Yap manggut-manggut.
"Bukan main"
"Saudara Thio,"
Tanya gadis itu mendadak.
"Cu An Lok adalah isterimu?"
"Dia tunanganku,"
Sahut Thio Han Liong.
"Kami akan ke Kota raja untuk melangsungkan pernikahan."
"Oooh"
Gadis itu manggut-manggut "Kalian berdua dari Kotaraja?"
Tanya pembesar Yap sambil memandang mereka.
"Apakah kalian putra dan putri pembesar di Kotaraja?"
Thio Han Liong hanya tersenyum, begitu pula An Lok Kong cu. Kemudian gadis itu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Pembesar Yap amat jujur dan tak pernah melakukan tindak korupsi, tapi kenapa belum naik pangkat?"
"Atasanku tak pernah melapor ke istana, maka pangkatku tidak pernah naik."
Ujar pembesar Yap sambil tersenyum.
"Itu tidak apa-apa, sebab penduduk di kota ini amat mencintaiku, itu membuatku betah di sini."
"Oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Oh ya"
Ujar pembesar Yap.
"Aku dengar Mao san Tosu itu mahir ilmu silat. Mungkin dia akan mencari kalian, karena putriku telah sembuh."
"Pembesar Yap"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Sekarang kami justru mau pergi mencarinya, karena dia yang menciptakan wabah penyakit itu, maka dia yang harus bertanggung jawab ."
"Maaf"
Pembesar Yap menatapnya.
"Engkau juga pandai bersilat?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Sungguh hebat engkau, anak muda"
Pembesar Yap memandangnya dengan kagum sekali, begitu pula putrinya.
"Sungguh tak disangka..."
Ujar Nona Yap.
"Engkau begitu hebat"
Thio Han Liong tersenyum, kemudian bangkit berdiri An Lok Keng cu ikut berdiri "Maaf, Pembesar Yap Kami mau mohon pamit,"
Ucap Thio Han Liong.
"Kalian mau ke kuil itu menemui Mao san Tosu?"
Tanya pembesar Yap sambil bangkit berdiri, begitu pula Nona Yap.
"Ya,"
Sahut Thio Han Liong.
"Pembesar Yap"
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Kami akan ke mari lagi."
"oh?"
Pembesar Yap tampak girang sekali.
"Aku... aku tunggu kalian, semoga kalian berhasil menundukkan Mao san Tosu"
"Permisi, Pembesar Yap"
Ucap Thio Han Liong, lalu bersama An Lok Keng cu meninggalkan rumah itu.
Pembesar Yap dan putrinya mengantar mereka sampai di depan rumah.
Setelah Thio Han Liong dan An Lok Keng cu tidak kelihatan, barulah mereka kembali masuk rumah.
"Nak,"
Pembesar Yap menatap putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Syukurlah engkau telah sembuh"
"Ayah,"
Ujar Nona Yap kagum.
"Pemuda itu amat hebat, sayang sekali sudah punya tunangan. Kalau tidak...."
"Nak"
Pembesar Yap menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayah pun amat menyukainya, tapi dia sudah punya tunangan. Kalau tidak, ayah pasti menjodohkan kalian."
"Aaah..."
Nona Yap menghela napas panjang.
"Sudahlah"
Pembesar Yap tersenyum.
"Engkau harus segera menyuruh pelayan masak sekarang, ayah mau menjamu mereka."
"Ayah, betulkah mereka akan ke mari lagi?"
Tanya Nona Yap girang.
"Mereka tidak akan ingkar janji, percayalah"
Sahut pembesar Yap.
"Maka engkau harus cepat menyuruh pelayan agar membuat masakan yang lezat."
"Ya, Ayah."
Nona Yap langsung masuk ke dalam. Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu sudah sampai di depan kuil itu. Masih banyak penduduk kota berbaris di situ untuk membeli obat.
"Adik An Lok, engkau tunggu di sini."
Bisik Thio Han Liong.
"Aku akan ke dalam menyeret Tosu itu keluar."
Bagian 35 An Lok Kong Cu mengangguk. Thio Han Liong berjalan memasuki kuil, tapi dihadang oleh beberapa orang penjaga.
"Mau apa engkau ke dalam?"
Tanya salah seorang penjaga sambil bertolak pinggang dan tersenyum dingin.
"Aku mau bertemu Mao San Tosu,"
Sahut Thio Han Liong.
"Kalau engkau mau membeli obat, harus antri,"
Bisik orang itu.
"Tapi bisa juga engkau langsung ke dalam, hanya saja...."
"Aku mengerti."
Thio Han Liong tersenyum, kemudian diselipkannya satu tael perak ke tangan orang itu.
"Bagaimana? Bolehkah aku masuk sekarang?"
"Silakan, silakan"
Ucap orang itu dengan wajah berseri-seri.
"Tuan muda boleh masuk sekarang"
"Terimakasih."
Thio Han Liong melangkah ke dalam.
Tampak seorang Tosu sedang duduk, Usianya sekitar lima puluh, bentuk mukanya segi empat dan berhidung besar.
la sedang sibuk menjual obatnya.
Laci mejanya sudah penuh dengan uang perak.
"Mao San Tosu"
Bentak Thio Han Liong. Mao San Tosu tersentak dan langsung menoleh. Wajahnya berubah bengis begitu melihat Thio Han Liong.
"Anak muda"
Bentaknya.
"Mau apa engkau ke mari?"
"Hem"
Dengus Thio Han Liong dingin.
"sungguh bagus sekali perbuatanmu, Engkau menciptakan wabah penyakit, lalu memeras penduduk kota ini oleh karena itu, aku harus membasmimu"
"Eh?"
Mao san Tosu mengerutkan kening.
"siapa engkau? Kenapa menuduh sembarangan?"
"Mao san Tosu, engkau kira aku tidak tahu semua perbuatanmu?"
Sahut Thio Han Liong dingin.
"Aku yang menyembuhkan putri pembesar Yap...."
"Apa?"
Mao san Tosu langsung bangkit berdiri "Engkau yang menyembuhkan Nona Yap?"
"Betul"
Thio Han Liong mengangguk.
"He he he"
Mao san Tosu tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau begitu, engkau ke mari cari mampus"
"Engkaulah yang akan mampus"
Sahut Thio Han Liong.
"Anak muda"
Mao san Tosu menatapnya tajam.
"Lihatlah Ada seekor macan buas menerkammu"
"Memang ada seekor macan buas, tapi macan buas itu sudah berbalik menerkammu"
Sahut Thio Han Liong. Ternyata ia telah mengerahkan Ilmu Penakluk iblis.
"Haaah..."
Betapa terkejutnya Mao san Tosu, sebab ia melihat seekor macan buas sedang menerkam ke arahnya. ia cepat-cepat meniup ke arah macan buas tersebut, dan macan buas itu sirna seketika.
"Mao san Tosu, percuma engkau mengeluarkan ilmu hitam"
Ujar Thio Han Liong.
"Lebih baik engkau membagi-bagikan obatmu kepada para penduduk. Uang yang sudah engkau terima itu harus dikembalikan pada mereka Kalau tidak, itu berarti engkau mau cari mampus"
"Omong kosong"
Bentak Mao san Tosu, lalu mendadak menyerang Thio Han Liong.
Cukup lihay dan dahsyat serangan itu, namun yang dihadapinya adalah Thio Han Liong yang berkepandaian amat tinggi, maka serangannya itu tiada artinya sama sekali.
"Aaaakh..."
Tiba-tiba Mao san Tosu menjerit dan tubuhnya terpental membentur dinding kuil.
"Aduuuh"
Ternyata Thio Han Liong mengibaskan lengan bajunya, sehingga membuat Mao san Tosu itu terpental membentur dinding kuil, lalu terkulai dengan mulut mengeluarkan darah.
Thio Han Liong mendekatinya selangkah demi selangkah dengan tatapan dingin sekali, maka pecahlah nyali Mao san Tosu itu.
"Ampunilah aku, siauhiap. Ampunilah aku...."
"Mao san Tosu"
Bentak Thio Han Liong.
"Bagaimana cara engkau menciptakan wabah penyakit itu?"
"Aku...."
Mao san Tosu menundukkan kepala.
"Aku menaruh racun ke dalam sumur penduduk kota, maka mereka keracunan...."
"Engkau sungguh kejam, maka aku tidak bisa mengampunimu"
"Siauhiap"
Mao san Tosu menyembah di hadapan Thio Han Liong.
"Ampunilah aku...."
"Aku bersedia mengampunimu, tapi engkau harus membagi-bagikan obat itu kepada mereka yang membutuhkan"
"Ya, siauhiap."
"Dan juga..."
Tambah Thio Han Liong.
"Uang yang ada di dalam laci itu harus diserahkan kepadaku, akan kuserahkan kepada pembesar Yap agar dikembalikan kepada para penduduk kota yang telah membeli obatmu"
"Ya, ya."
Mao san Tosu mengangguk. Mendadak tangan Thio Han Liong bergerak, dan itu membuat Mao san Tosu menjerit lagi.
"Aaaakh"
"Aku telah memusnahkan ilmu silatmu, bahkan juga ilmu hitammu"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Maka engkau jangan coba-coba mengeluarkan ilmu hitam sebab akan merusak dirimu sendiri"
"Haaah...?"
Mendengar ucapan itu, Mao san Tosu nyaris pingsan seketika.
"Engkau...."
"Ayoh"
Bentak Thio Han Liong.
"cepat bagi-bagikan obat itu kepada mereka yang antri di depan kuil"
"Ya."
Mao san Tosu segera membagikan obatnya itu.
Betapa girangnya para penduduk.
mereka bersorak-sorai penuh kegirangan.
sebaliknya wajah Mao san Tosu malah meringis-ringis, kemudian ia pun menyerahkan uang yang ada di dalam laci kepada Thio Han Liong.
Thio Han Liong berjalan ke luar, dan An Lok Kong cu menyambutnya sambil tersenyum-senyum.
"Kakak Han Liong,"
Tanya gadis itu.
"Engkau telah memusnahkan kepandaian Mao san Tosu itu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
Sementara para penduduk memandang Thio Han Liong dengan penuh rasa terima kasih dan Thio Han Liong manggutmanggut.
Mereka berdua lalu kembali ke rumah pembesar Yap.
Pembesar Yap dan putrinya berdiri di depan rumah menyambut kedatangan Thio Han Liong dan An Lok Kong cu.
Wajah mereka berseri-seri dan diliputi kekaguman.
"Pembesar Yap"
Panggil Thio Han Liong sambil memberi hormat.
"Han Liong...."
Pembesar Yap memegang bahunya.
"Aku tahu, engkau berhasil menundukkan Mao san Tosu itu."
"Ada yang ke mari melapor?"
"Ya, salah seorang penduduk,"
Sahut pembesar Yap sambil tertawa.
"Para penduduk kota amat kagum dan berterima kasih kepadamu."
"Itu kewajibanku,"
Ujar Thio Han Liong.
"Han Liong, mari kita ke dalam"
Ujar pembesar Yap. Thio Han Liong mengangguk. Mereka masuk ke dalam tapi pembesar Yap mengundang mereka berdua ke ruang makan.
"Pembesar Yap...."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu terheran-heran.
"Ha ha ha"
Pembesar Yap tertawa gelak.
"Aku mau menjamu kalian, mari makan bersama"
"Pembesar Yap."
Sahut An Lok Kong cu.
"Kami kembali ke mari bukan untuk dijamu, melainkan ingin bercakap-cakap saja."
"Kalau begitu...."
Pembesar Yap tersenyum.
"Usai makan, barulah kita bercakap-cakap."
"Baiklah,"
An Lok Kong cu mengangguk, Mereka makan bersama sambil bersulang.
Usai makan mereka kembali ke ruang depan.
Putri pembesar Yap juga ikut disana.
Thio Han Liong menaruh bungkusan yang dibawanya diatas meja, setelah itu berkata.
"Pembesar Yap. uang perak yang ada di dalam bungkusan ini adalah kepunyaan penduduk kota yang membeli obat. Harap pembesar Yap mengembalikan uang ini kepada mereka"
"Baik, baik."
Pembesar Yap manggut-manggut.
"Apakah Mao san Tosu itu tidak akan menuntut balas terhadap kami?"
Tanyanya.
"Tentu tidak."
Thio Han Liong tersenyum.
"Sebab aku telah memusnahkan kepandaiannya. Maka, kini dia sudah tidak bisa bersilat maupun mengeluarkan ilmu hitamnya."
"Oooh"
Pembesar Yap menarik nafas lega.
"syukurlah kalau begitu"
"Pembesar Yap"
An Lok Kong cu menatapnya seraya bertanya.
"Apakah pembesar Yap akan tetap menjadi pembesar kota ini?"
"Betul."
Pembesar Yap mengangguk.
"Karena kami turun-temurun menjadi pembesar di kota ini. Hanya saja aku tidak punya anak lelaki, maka selanjutnya...."
"Pembesar Yap punya anak perempuan, siapa tahu dia akan menikah dengan seorang sarjana yang akan menggantikan pembesar Yap."
Ujar An Lok Kong cu.
"Aku tidak berharap begitu,"
Ujar pembesar Yap sungguhsungguh.
"Aku cuma berharap putriku akan menikah dengan lelaki yang Baik, tidak perduli miskin atau kaya."
"Mudah-mudahan Nona Yap akan bertemu pemuda idaman hatinya"
Ucap Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Terima kasih,"
Sahut Nona Yap sambil menundukkan kepala.
"Nona Cu sungguh beruntung, punya tunangan yang begitu tampan dan hebat"
"Nona Yap"
An Lok Kong cu tersenyum lembut.
"Percayalah Kelak engkau pun akan bertemu pemuda yang seperti Kakak Han Liong."
"Mudah-mudahan"
Ucap Nona Yap sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Pembesar Yap."
Tanya Thio Han Liong mendadak.
"Betulkah pembesar Yap tidak berniat naik pangkat?"
"Sebetulnya aku tidak berniat naik pangkat, tapi. ..."
"Kenapa?"
"Atasanku itu selalu korupsi. Kalau aku bisa naik pangkat menggantikannya penduduk sekitar daerah ini pasti hidup makmur dan sejahtera."
"Ngmmm"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Oh ya, bolehkah kami mohon bantuan pembesar"
"Apa yang dapat kubantu?"
"Undang penjabat itu ke mari, kami ingin menemuinya."
"Apa?"
Pembesar Yap terbelalak.
"Itu... bagaimana mungkin?"
"Ayah"
Nona Yap tersenyum.
"Bukankah pejabat itu pernah minta giok milik leluhur kita?"
"Benar."
Pembesar Yap manggut-manggut.
"Maksudmu dengan alasan itu ayah mengundang dia ke mari?"
"Betul, Ayah."
Yap In Hong mengangguk.
"Kalau gubernur itu dengar giok tersebut, dia pasti mau ke mari?"
"Tapi...."
Pembesar Yap memandang Thio Han Liong.
"Untuk apa gubernur itu diundang ke mari?"
"Itu adalah rahasia kami,"
Sahut Thio Han Liong dengan serius.
"Ayah,"
Sela Yap In Hong.
"Percayalah kepada Kakak Han Liong, dia pasti tidak akan menyusahkan Ayah"
"Baiklah."
Pembesar Yap manggut-manggut.
"Kalian tunggulah di sini, aku akan pergi mengundang gubernur ke mari."
"Terima kasih, Pembesar Yap."
Ucap Thio Han Liong. Setelah pembesar Yap pergi mengundang gubernur, Yap In Hong mulai bercakap-cakap dengan An Lok Kong cu.
"Nona Cu,"
Tanya Yap In Hong. engkau bisa bersilat juga?"
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi,"
Ujar Yap In Hong sambil tersenyum.
"Dulu aku ingin belajar ilmu silat, tapi ditentang oleh ayahku. Alasannya anak gadis tidak boleh belajar ilmu silat, sebab akan membuat tangan menjadi kasar."
"Nona Yap."
Ujar An Lok Kong cu.
"Buktinya tanganku tidak kasar, kan?"
"Ya."
Yap In Hong mengangguk.
"Sebaliknya malah halus sekali. seandainya pada waktu itu aku diperbolehkan belajar ilmu silat, tentunya kini aku bisa melindungi ayahku."
"Adik Yap."
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Engkau berniat sekali belajar ilmu silat?"
"Betul. Kakak Han Liong bersedia mengajariku?"
Tanya Yap In Hong dengan wajah berseri.
"Aku tidak punya waktu. Tapi aku akan menulis semacam ilmu Lweekang untuk engkau pelajari, termasuk gerakgerakannya,"
Sahut Thio Han Liong, kemudian wajahnya tampak serius.
"setelah engkau berhasil menguasai ilmu itu, kertas yang berisi pelajaran ilmu itu harus dibakar, agar tidak terjatuh ke tangan penjahat."
"Kakak Han Liong, ilmu apa itu?"
Tanya Yap In Hong tertarik.
"Ih Kin Kong,"
Sahut Thio Han Liong memberitahukan.
"Itu merupakan ilmu Lweekang yang amat tinggi. Gerakangerakannya pun amat hebat, lihay dan dahsyat. Kalau tidak dalam keadaan yang membahayakan dirimu, engkau tidak boleh mengeluarkan ilmu itu."
"Ya."
Yap In Hong mengangguk.
"Kalau begitu..."
Ujar Thio Han Liong.
"Tolong sediakan kertas, pit dan tinta"
Yap In Hong manggut-manggut, lalu masuk ke dalam. An Lok Kong cu menatap Thio Han Liong, kemudian bertanya dengan suara rendah.
"Kakak Han Liong, dia akan berhasil mempelajari ilmu Ih Kin Kong itu?"
"Memang sulit,"
Jawab Thio Han Liong dan menambahkan.
"Namun aku akan membantunya."
"Maksudmu?"
"Aku akan memindahkan sedikit Lweekang ku kepadanya, sebagai dasar Lweekangnya. Engkau setuju, bukan?"
An Lok Kong cu mengangguk sambil tersenyum.
"Nona Yap dan ayahnya adalah orang baik, kita memang harus membantu mereka. Kalau Nona Yap berhasil menguasai ilmu itu, maka dia akan dapat melindungi ayahnya."
"Itu tujuanku,"
Ujar Thio Han Liong.
"Oh ya, Kakak Han Liong,"
Bisik An Lok Kong cu.
"Engkau ingin memecat gubernur korup itu?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Pembesar Yap akan kuangkat untuk menggantikan gubernur itu."
"Bagus"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Aku sependapat denganmu."
Thio Han Liong juga tersenyum. Di saat itulah muncul Yap In Hong dengan membawa beberapa lembar kertas, pit dan tinta hitam, kemudian ditaruh ke atas meja.
"Kakak Han Liong,"
Ujar gadis itu sambil tersenyum.
"Sudah kusiapkan semuanya."
"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong.
Ia duduk di belakang meja dan mulai menulis ilmu pelajaran Ih Kin Kong, termasuk semua gerakan-gerakannya.
Tak seberapa lama, ia telah selesai menulis, lalu diberikannya kertas-kertas itu kepada Yap In Hong.
Betapa kagumnya gadis itu akan keindahan tulisan Thio Han Liong.
la menerima kertas-kertas itu dengan wajah berseri.
"Terima kasih, Kakak Han Liong,"
Ucapnya dan sekaligus menyimpan kertas-kertas catatan itu.
"Adik Yap"
Thio Han Liong memandangnya seraya berkata.
"Engkau sama sekali tidak punya dasar ilmu Lweekang, maka sulit bagimu untuk mempelajari ilmu Ih Kin Kong. Aku sudah berunding dengan Adik An Lok, dan dia setuju aku membantumu."
"Terimakasih Kakak Han Liong, terimakasih Nona Cu,"
Ucap Yap In Hong.
"Wah Tidak boleh begitu iho"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Engkau memanggilnya Kakak Han Liong, tapi kenapa memanggilku Nona?"
"Aku... aku harus memanggil apa padamu?"
"Panggil saja namaku"
"Baik."
Yap In Hong manggut-manggut.
"Engkau pun harus memanggil namaku, tidak boleh memanggilku Nona lho"
An Lok Kong cu mengangguk. Di saat bersamaan, Thio Han Liong berpesan kepada Yap In Hong.
"Apabila ayahmu pulang bersama gubernur itu, engkau harus bilang bahwa kami baru datang, agar gubernur itu tidak membenci ayahmu. Tentunya engkau pun bisa memberi isyarat kepada ayahmu. Ya kan?"
"Ya."
Yap In Hong mengangguk sambil tersenyum.
"Adik Yap"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Engkau duduklah bersila di lantai, aku akan memindahkan sedikit Lweekang ku ke dalam tubuhmu Kalau merasakan adanya arus hangat mengalir ke dalam tubuhmu, janganlah engkau kaget"
Yap In Hong mengangguk, lalu duduk bersila di lantai.
Thio Han Liong duduk di belakangnya, setelah itu sepasang telapak tangannya ditempelkan dipunggung gadis itu, kemudian mengerahkan Kiu Yang sin Rang, sekaligus disalurkan ke dalam tubuhnya.
seketika juga Yap In Hong merasakan adanya aliran hangat menerobos ke dalam tubuhnya.
Karena sebelumnya Thio Han Liong sudah memberitahukan, maka gadis itu tidak merasa kaget.
Berselang beberapa saat, barulah Thio Han Liong berhenti menyalurkan Lweekangnya ke dalam tubuh gadis itu, lalu bangkit berdiri seraya berkata.
"Adik Yap. engkau sudah boleh bangun."
Yap In Hong bangun. Dirasakannya sekujur tubuhnya penuh tenaga, dan itu membuatnya terheran-heran.
"Kakak Han Liong Kenapa aku merasa sekujur tubuhku amat bertenaga?"
"Adik Yap"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Kini engkau sudah memiliki ilmu Lweekang, maka engkau harus giat belajar ilmu Ih Kin Kong."
"Oh ya Bagaimana kalau ayahku tahu?"
Tanya Yap In Hong dengan wajah cemas.
"Tentang itu, kami akan memberitahukan kepada ayahmu,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"Aku yakin beliau tidak akan memarahimu"
"Terimakasih, Kakak Han Liong,"
Ucap Yap In Hong. Di saat itulah terdengar suara tawa, dan tak lama masuklah pembesar Yap bersama seorang lelaki berusia lima puluhan, yang ternyata gubernur setempat.
"Ayah"
Seru Yap In Hong memberi isyarat.
"Ketika Ayah pergi, ke dua tamu ini datang"
"Oh?"
Pembesar Yap agak tertegun.
"Pembesar Yap"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu menghampirinya.
"Kami ke mari, tapi pembesar Yap tidak ada, maka Nona Yap yang menemani kami."
"Oooh"
Pembesar Yap manggut-manggut.
"Maaf, siapa kalian berdua?"
"Kami datang dari Kotaraja,"
Sahut Thio Han Liong.
"Kebetulan kami tiba di kota ini, maka mampir di sini."
"Ada urusan apa kalian mampir ke rumahku?"
Tanya pembesar Yap.
"Kami dengar dari penduduk kota ini, bahwa pembesar Yap merupakan pembesar yang amat jujur, sama sekali tidak pernah korupsi. oleh karena itu, kami berkunjung ke mari."
"Terimakasih, terimakasih"
Ucap pembesar Yap lalu memperkenalkan gubernur itu.
"Beliau ini adalah gubernur setempat...."
"Gubernur Kwa?"
Tanya Thio Han Liong. Ternyata tadi Yap In Hong memberitahukan kepadanya.
"Betul,"
Sahut pembesar Yap.
Sedangkan Gubernur Kwa mengeluarkan suara hidung, sama sekali tidak pandang sebelah mata kepada Thio Han Liong dan An Lok Kong cu.
Kalau ia memperhatikan An Lok Kong cu, tentunya ia akan segera menjatuhkan diri berlutut.
"Gubernur Kwa, silakan duduk"
Ucap Pembesar Yap.
Gubernur Kwa manggut-manggut sambil duduk, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu masih tetap berdiri Pembesar Yap juga mempersilahkan mereka duduk, akan tetapi mendadak Gubernur Kwa mencetuskan ucapan sindiran.
"Walikota Yap. mereka berdua itu apa? Kenapa engkau harus mempersilakan mereka duduk?"
"Gubernur Kwa...."
Pembesar Yap salah tingkah.
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu.
"Para penduduk di sini, semuanya mengatakan bahwa Gubernur Kwa selalu memeras rakyat dan melakukan tindakan korupsi. Pembesar Yap. apakah itu benar?"
"Aku...."
Pembesar Yap terkejut mendengar pertanyaan itu "Gadis kurang ajar"
Bentak Gubernur Kwa.
"Siapa engkau, kok berani kurang ajar terhadap seorang Gubernur?"
"Gubernur Kwa, engkau sudah buta barangkali"
Sahut An Lok Kong cu.
"Betulkah engkau tidak kenal aku?"
"Engkau gadis liar, bagaimana mungkin aku mengenalmu?"
Gubernur Kwa menatapnya dingin, kemudian membuang muka. Kalau ia tidak membuang muka, tentunya akan mengenali An Lok Kong cu yang pernah dilihatnya di istana.
"Gubernur Kwa"
Thio Han Liong mendekatinya, lalu memperlihatkan sebuah benda. Begitu melihat benda tersebut, wajah Gubernur Kwa langsung berubah pucat pasi dan ia sebera berlutut.
"Yang Mulia, terimalah hormat hamba"
Ucapnya sambil membenturkan kepalanya ke lantai.
"Hm"
Dengus Thio Han Liong. Ternyata ia memperlihatkan Medali Emas Tanda Perintah Kaisar.
"Gubernur Kwa, apa hukumanmu sekarang?"
"Hamba mohon ampun, Yang Mulia"
Ucap Gubernur Kwa dengan badan bergemetar seperti kedinginan.
Sementara pembesar Yap dan putrinya terbelalak menyaksikan itu.
Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, karena pembesar Yap tidak melihat Medali Emas tersebut.
"Gubernur Kwa, dongakkan kepalamu dan perhatikan gadis ini"
Ujar Thio Han Liong.
"Sebetulnya siapa gadis ini?"
Gubernur Kwa mendongakkan kepalanya perlahan-lahan, kemudian memperhatikan wajah Lok Kong cu dengan seksama. Tak lama wajah Gubernur Kwa bertambah pucat.
"Kong cu..."
Ujar gubernur Kwa tak tertahan.
"An Lok Kong cu...."
Pembesar Yap dan putrinya terkejut bukan main, dan mereka segera berlutut di hadapan An Lok Kong cu.
"Hamba memberi hormat kepada Kong cu"
Ucap pembesar Yap.
"Bangunlah pembesar Yap dan In Hong"
Ujar An Lok Kong cu.
"Terimakasih, Kong cu."
Pembesar Yap dan putrinya segera bangkit berdiri, kemudian bertanya.
"Kong Cu, siapa sebenarnya Thio Han Liong?"
"Wakil ayahku."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Haaah...?"
Pembesar Yap dan putrinya terkejut bukan main.
"Kami harus segera memberi hormat kepadanya"
"Tidak usah"
Sahut An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Sebab engkau adalah pembesar yang jujur, lagi pula Kakak Han Liong tidak akan menerima hormatmu."
"Aaah...."
Pembesar Yap menghela nafas.
"Tak disangka Thio Han Liong adalah wakil Yang Mulia"
Sementara Gubernur Kwa masih berlutut di hadapan Thio Han Liong dengan badan bergemetar, sedangkan Thio Han Liong menatapnya dengan tajam.
"Gubernur Kwa, mulai sekarang engkau dipecat dari jabatan"
Ujar Thio Han Liong.
"Engkau sekeluarga tidak boleh pergi ke mana-mana harus menunggu petugas dari istana ke rumahmu"
"Ya, Yang Mulia."
Gubernur Kwa berlega hati, karena Thio Han Liong tidak menghukumnya .
"Mulai sekarang, Pembesar Yap menggantikan kedudukanmu"
Ujar Thio Han Liong.
"Sekarang engkau boleh pulang"
"Terimakasih, Yang Mulia."
Ucap Gubernur Kwa sambil bangkit berdiri, lalu meninggalkan rumah pembesar Yap.
"Yang Mulia...."
Ketika pembesar Yap baru mau berlutut, mendadak ia merasakan adanya tenaga yang amat kuat menahannya, sehingga ia tidak sanggup berlutut.
"Pembesar Yap"
Thio Han Liong tersenyum.
"Tidak usah memberi hormat kepadaku. Mulai sekarang pembesar Yap adalah Gubernur setempat."
"Terimakasih, Yang Mulia,"
Ucap pembesar Yap. namun ia tetap tidak bisa berlutut.
"An Lok...."
Yap In Hong menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Tak disangka engkau Putri Kaisar."
"In Hong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Aku dan engkau sama saja. Maka engkau jangan bersikap terlampau hormat kepadaku."
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapian,"
Tandas An Lok Kong cu.
"Pokoknya engkau tidak boleh berlaku terlampau hormat kepadaku."
"Ya, Kong cu."
Yap In Hong mengangguk.
"Eeeh?"
An Lok Kong cu menggeleng-geleng kan. kepala.
"Panggil saja namaku"
"Ya."
Yap In Hong mengangguk lagi.
"Kakak Han Liong, urusan di sini sudah beres, kita harus segera melanjutkan perjalanan kembali ke Kotaraja,"
Ujar An Lok Kong Cu.
"Baik,"
Thio Han Liong manggut-manggut.
Mereka berdua berpamit kepada Pembesar Yap dan putrinya, lalu meninggalkan rumah itu untuk kembali ke Kotaraja.
Bab 69 Pernikahan Yang Sederhana Tapi Semarak Dan Bahagia Thio Han Liong dan An Lok Kong cu melanjutkan perjalanan kembali ke Kotaraja dengan santai, penuh kegembiraan dan canda ria .Sepanjang jalan, mereka sama sekali tidak mendengar tentang Ban Tok Lo Mo dan muridnya.
"Adik An Lok, engkau tidak merasa heran terhadap Ban Tok Lo Mo dan muridnya?"
Tanya Thio Han Liong.
"Memangnya kenapa?"
An Lok Kong Cu balik bertanya dengan heran.
"Mereka berdua muncul mendadak, lalu menghilang begitu saja. Bukankah itu aneh sekali? Lagipula tiada seorang kaum rimba persilatan yang tahu tempat tinggal mereka."
"Kakak Han Liong, jangan memikirkan itu, sebab akan mengganggu pikiranmu"
"Mereka berdua menghilang begitu saja.Justru amat mengganggu pikiranku,"
Sahut Thio Han Liong.
"Sebelum Ban Tok Lo Mo dan muridnya dibasmi, hatiku tidak akan bisa tenang sama sekali."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong Cu menggelenggelengkan kepala.
"Sudahlah tidak usah memikirkan itu, mereka berdua pasti bersembunyi di suatu tempat rahasia, maka tiada seorang pun mengetahuinya."
"Aaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Aku khawatir, Ban Tok Lo Mo dan muridnya akan mencelakai rimba persilatan."
"Mereka berdua memang sudah mencelakai rimba persilatan. sudahlah Kakak Han Liong, jangan memusingkan itu"
An Lok Kong Cu mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya ilmu Penakluk iblis khusus nya untuk melumpuhkan berbagai macam ilmu hitam, sihir dan ilmu sesat?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Pantas engkau dapat menyembuhkan Yap In Hong."
An Lok Kong Cu tersenyum.
"Kelihatannya gadis itu amat menyukaimu."
"Karena merasa berhutang budi kepadaku,"
Sahut Thio Han Liong.
"Ayahnya adalah seorang pembesar yang amat jujur, kini rakyat di daerah itu pasti akan hidup makmur."
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Kakak Han Liong...."
Ketika An Lok Kong cu ingin melanjutkan, tiba-tiba Thio Han Liong memberi isyarat, agar An Lok Kong cu diam.
"Ada orang datang."
Bisiknya.
"Oh?"
An Lok Kong cu mengerutkan kening.
"Heran Di tempat sepi ini kok ada orang lain?"
Berselang beberapa saat kemudian muncullah dua orang Tosu yaitu Mao san Tosu dan yang satunya adalah seorang Tosu yang sudah tua renta, namun tampak gagah dan sepasang matanya berkilat-kilat.
"Guru"
Mao san Tosu menunjuk Thio Han Liong.
"Orang itu...."
"Ngmmm"
Tosu tua renta itu manggut-manggut.
"Anak muda, wajahmu amat tampan, tidak mirip penjahat. Tapi... kenapa hatimu begitu kejam?"
"Tosu tua"
Bentak An Lok Kong Cu.
"Jangan bicara sembarangan"
"Diam"
Hardik Tosu tua renta dengan suara berwibawa.
"Mulai sekarang engkau menjadi bisu"
"Hah?"
An Lok Kong Cu terperanjat, karena ia langsung tak mampu berbicara lagi.
"Akh Ukh"
"Tosu tua"
Thio Han Liong memberi hormat.
"Sungguh tinggi ilmu sesatmu, tapi tak berguna di hadapanku"
"Anak muda"
Tosu tua renta itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Sayang sekali, padahal wajahmu sangat tampan"
"Tosu tua"
Thio Han Liong tersenyum.
"Bolehkah aku tahu siapa engkau?"
"Liang Goan Tosu dari Mao san"
Tosu tua renta itu memberitahukan.
"Mao san Tosu adalah muridku Kenapa engkau begitu kejam menyiksanya?"
"Tosu tua"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Aku yang kejam atau dia yang jahat?"
"Engkau memusnahkan kepandaiannya, bahkan merampok uangnya juga sungguh jahat engkau"
Sahut Liang Goan Tosu.
"Kami para Tosu dari Mao san, sama sekali tidak pernah mengganggu orang, juga tidak pernah mencampuri urusan rimba persilatan, hanya menekuni ilmu yang diturunkan leluhur Tapi ketika muridku mengobati para penduduk kota, engkau muncul dan memusnahkan kepandaiannya, bahkan juga merampok uangnya oleh karena itu, aku harus menuntut balas"
"Muridmu itu yang memberitahukan begitu?"
Tanya Thio Han Liong.
"Ya."
Liang Goan Tosu mengangguk. Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala. sementara An Lok Kong cu terus mengeluarkan suara "Akh akh ukh ukh"
Seperti gadis bisu. Thio Han Liong menatapnya sambil mengerahkan ilmu Penakluk Iblis, kemudian berkata lembut.
"Adik An Lok, engkau tidak bisu. Mulai sekarang engkau sudah bisa bicara. Ayoh bicaralah"
"Ka.... Kakak Han Liong."
An Lok Kong cu langsung bisa bicara lagi, dan itu sungguh menggirangkannya . Liang Goan Tosu terperanjat, karena tidak menyangka kalau Thio Han Liong memiliki batin yang begitu kuat.
"Anak muda, cukup hebat engkau. Baik, mari kita bertanding ilmu gaib"
Tantang Liang Goan Tosu.
"Tosu tua...."
"Diam"
Bentak Liang Goan Tosu dan mulai mengerahkan ilmu gaibnya.
"Anak muda, engkau telah berdosa maka harus dibakar dengan api"
Mendadak Thio Han Liong melihat api muncul dari bumi membakar dirinya. Maka, cepatlah ia meloncat ke belakang. Namun di mana kakinya menginjak di situ muncul api membakarnya .
"Ha ha ha"
Liang Goan Tosu tertawa gelak.
"Anak muda, engkau pasti terbakar hangus"
An Lok Kong cu tercengang. la tidak melihat api, namun melihat Thio Han Liong meloncat ke sana ke mari.
"Tosu tua"
Thio Han Liong berdiri tegak di tempat, kemudian menghempaskan kakinya tiga kali di bumi seraya berkata.
"Api dari bumi kembali ke dalam bumi"
Sungguh menakjubkan, api itu langsung masuk ke dalam bumi. Air muka Liang Goan Tosu berubah seketika, lalu ditatapnya Thio Han Liong dengan tajam sekali.
"Anak muda, siapa engkau?"
"Namaku Thio Han Liong"
"Engkau menggunakan ilmu apa melawan ilmuku?"
"Aku menggunakan ilmu Penakluk Iblis"
"Hah? Apa?"
Liang Goan Tosu tampak terkejut sekali.
"Engkau telah menguasai ilmu itu?"
"Ya"
Thio Han Liong mengangguk.
"Itu tidak mungkin ..tidak mungkin"
Liang Goan Tosu menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau masih muda, tidak mungkin telah menguasai ilmu yang teramat tinggi itu"
"Tosu tua"
Ujar Thio Han liong sungguh-sungguh.
"Aku memang telah menguasai ilmu itu"
"Orang yang berjiwa polos, berhati bersih dan memiliki batin yang kuat, barulah bisa berhasil mempelajari ilmu Penakluk Iblis itu. Engkau begitu kejam, bagaimana mungkin bisa berhasil...."
"Tosu tua"
Thio Han Liong tersenyum.
"Muridmu itu memfitnahku dan membohongimu. sebetulnya kejadian itu bukanlah seperti apa yang diceritakan muridmu"
"Oh?"
Liang Goan Tosu mengerutkan kening, kemudian menatap Mao san Tosu dengan tajam.
"Engkau membohongiku dengan cerita itu?"
"Guru, aku...."
Wajah Mao san Tosu pucat pasi.
"Jadi benar engkau membohongiku?"
Liang Goan Tosu tampak gusar sekali.
"Ayo jawab"
"Guru, ampunilah aku"
Mao san Tosu langsung berlutut di hadapan Liang Goan Tosu.
"Aku... aku sakit hati terhadap pemuda itu, maka...."
"Aaaah..."
Liang Goan Tosu menghela nafas panjang.
"Anak muda. Aku mohon maaf"
"Tidak apa-apa, Tosu tua"
Thio Han Liong tersenyum.
"Anak muda,"
Tanya Liang Goan Tosu.
"Bagaimana kejadian itu, bolehkah engkau menceritakannya? "
"Ketika kami tiba di kota Cin Lam..."
Tutur Thio Han Liong tentang kejadian itu.
Liang Goan Tosu mendengarkan dengan penuh perhatian.
wajahnya tampak gusar sekali.
seusai Thio Han Liong menutur, Tosu tua itu menatap Mao san Tosu dengan tajam.
"Engkau telah melanggar sumpah maka engkau harus bunuh diri"
Bentak Liang Goan Tosu.
"Guru...."
"Lakukanlah"
"Baik, Guru."
Ketika Mao san Tosu baru mau membunuh diri, tiba-tiba terdengar suara yang amat lembut.
"Engkau tidak usah bunuh diri, cukup bertobat saja"
Itu adalah suara Thio Han Liong menggunakan ilmu Penakluk iblis.
"Aku mau bertobat. Aku mau bertobat...."
"Bagus"
Thio Han Liong tersenyum.
"Mao san Tosu, bangunlah"
Mao san Tosu segera bangkit berdiri. Liang Goan Tosu menghela nafas panjang, kemudian memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Kenapa engkau menolongnya?"
"Dia sudah tidak bisa melakukan kejahatan lagi, maka harus diampuni,"
Jawab Thio Han Liong.
"Tosu tua, bawa dia pulang dan bimbing dia dengan ilmu kebatinan, agar dia mengamalkan ilmu itu kelak"
"Betul."
Liang Goan Tosu manggut-manggut, kemudian memandang Thio Han Liong dengan kagum sekali.
"Kalau engkau sempat, sudikah engkau mampir di gunung Mao san, tempat tinggalku?"
"Aku tidak berani berjanji. Tapi apabila aku punya waktu, aku akan ke gunung Mao san mengunjungi Locianpwee,"
Jawab Thio Han Liong.
"Terima kasih,"
Ucap Liang Goan Tosu.
"Anak muda, sampai jumpa"
Liang Goan Tosu menarik Mao san Tosu meninggalkan tempat itu. Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu memandang punggung mereka sambil menghela nafas panjang.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Ilmu gaib Tosu tua itu tinggi sekali. Hanya ilmu Penakluk iblis yang dapat mengalahkan ilmu gaibnya itu."
"Oh?"
Ujar An Lok Kong Cu.
"Untung Tosu tua itu tidak berhatijahat. Kalau dia berhati jahat seperti muridnya...."
"Kalau dia berhati jahat, tentunya ilmu gaibnya tidak akan begitu tinggi,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"Sesungguhnya tadi dia sama sekali tidak berniat jahat terhadapku, melainkan hanya ingin menjajal ilmu gaibku saja."
"oh?"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Pantas engkau begitu ramah terhadapnya."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menggandeng tangannya.
"Mari kita melanjutkan perjalanan"
Ajaknya.
An Lok Kong cu mengangguk, Mereka lalu melanjutkan perjalanan kembali ke Kotaraja.
Bukan main girangnya hati An Lok Kong cu, sebab begitu tiba di Kotaraja, ia akan segera menikah dengan Thio Han Liong.
Ketika sampai di sebuah rimba, mendadak Thio Han Liong dan An Lok Kong cu saling memandang, ternyata mereka mendengar suara rintihan.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Itu adalah suara rintihan orang terluka."
"Kalau begitu, mari kita ke sana melihatnya"
Ajak An Lok Kong cu.
"Baik,"
Thio Han Liong mengangguk. Mereka berdua melesat ke arah suara rintihan itu. sampai di sana mereka melihat seorang tua terkapar dan merintihrintih.
"Paman tua"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu mendekatinya.
"Engkau terluka?"
"Anak muda, aku... aku terluka...."
"Siapa yang melukaimu?"
"Aaaah..."
Orangtua itu menghela nafas panjang.
"Ban Tok Lo Mo yang melukaiku."
"Oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Kenapa dia melukaimu?"
"Dia... dia membunuh anakku. Aku mencarinya untuk membalas dendam, dan dapat menemukannya di sini. Namun aku tak menyangka kalau kepandaiannya sangat tinggi dan dapat melukaiku dengan ilmu pukulan beracunnya."
"Paman tua,"
Ujar Thio Han Liong.
"Jangan khawatir aku akan memeriksa lukamu."
"Terima kasih, Anak muda,"
Ucap orangtua itu.
"Terima kasih...."
Thio Han Liong membungkukkan badannya.
Di saat itulah mendadak orangtua itu mengayunkan tangannya ke arah Thio Han Liong dan An Lok Kong CU, dan tampak bubuk putih mengarah pada mereka.
Betapa terkejutnya Thio Han Liong, namun ia cepat-cepat menyambar An Lok Kong cu sambil meloncat ke belakang.
"He he he"
Orangtua itu tertawa terkekeh-kekeh, lalu melesat pergi.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu tidak sempat mengejarnya.
Ternyata orangtua itu tidak meninggalkan tempat tersebut, melainkan hanya bersembunyi di balik sebuah pohon.
la menahan nafas sambil mengintip.
"Adik An Lok, engkau tidak apa-apa?"
Tanya Thio Han Liong dengan rasa cemas.
"Aku tidak apa-apa."
Sahut An Lok Kong cu.
"Engkau?"
"Aku pun tidak apa-apa."
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Entah siapa orangtua itu? Dia menyerang kita dengan racun...."
"Kakak Han Liong, bukankah kita kebal terhadap racun apa pun?"
An Lok Kong cu memandangnya .
"Aku lupa."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Tadi aku amat terkejut dan mengkhawatirkanmu, maka aku menyambarmu sekaligus meloncat ke belakang. Kalau aku ingat diri kita kebal terhadap racun apa pun, aku pasti menangkap orangtua itu."
"Bagaimana kita pergi menyusulnya?"
"Percuma,"
Sahut Thio Han Liong.
"Orangtua itu sudah pergi jauh, sebab ilmu ginkangnya cukup tinggi."
"Heran"
Gumam An Lok Kong cu.
"Sebetulnya siapa orangtua itu? Kenapa dia ingin membunuh kita dengan racun?"
"Aku tidak habis pikir dan tidak dapat menduga siapa orangtua itu,"
Ujar Thio Han Liong dengan kening berkerutkerut.
"Sebab wajah orangtua itu amat asing bagiku."
"Kakak Han Liong, mulai sekarang kita harus berhati-hati,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Jangan sampai terjebak oleh penjahat."
"Ng"
Thio Han Liong mengangguk.
"Adik An Lok, mari kita melanjutkan perjalanan"
Mereka melanjutkan perjalanan lagi. setelah mereka pergi jauh, barulah orangtua yang bersembunyi di belakang pohon itu menarik nafas lega.
"Heran?"
Gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku menyerangnya dengan racun ganas, tapi... mereka kok tidak apa-apa? Mungkinkah mereka kebal terhadap racun?"
Siapa orangtua itu, ternyata adalah samaran Tan Beng song, yang diutus Ban Tok Lo Mo untuk membunuh Thio Han Liong dan An Lok Kong cu.
"Hmm"
Dengus Tan Beng Song.
"Di depan sana masih ada perangkap. mereka pasti akan mampus di dalam perangkap itu He he he..."
Sementara Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu terus melanjutkan perjalanan, mereka pun membicarakan tentang orangtua itu.
"Kakak Han Liong, mungkinkah orangtua itu adalah Ban Tok Lo Mo?"
"Tidak mungkin."
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Orang itu tampak belum begitu tua, maka aku yakin dia bukan Ban Tok Lo Mo."
"Heran?"
An Lok Kong cu menghela nafas panjang.
"Sebetulnya siapa orangtua itu?"
"Dia menyebut Ban Tok Lo Mo, berarti dia kenal si Iblis Tua itu,"
Gumam Thio Han Liong dengan kening berkerut-kerut.
"Dia ingin membunuh kita, tentunya tahu siapa diri kita. Jadi orangtua itu adalah... Tan Beng song, murid Ban Tok Lo Mo."
"Oh?"
An Lok Kong cu tersentak.
"Orangtua itu adalah murid Ban Tok Lo Mo?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Dia pasti menyamar, agar aku tidak mengenalinya."
"Maksudmu wajahnya dirias?"
"Ya."
"Kalau begitu, kita harus berhati-hati,"
Ujar An Lok Kong cu, kemudian bertanya.
"Kakak Han Liong, kejadian itu akan membuatmu batal kembali ke Kota raja?"
"Tentu tidak,"
Thio Han Liong tersenyum.
"Sebab dua hari lagi kita akan tiba di Kota raja, kenapa harus dibatalkan?"
"Oooh"
Lega rasanya hati An Lok Kong cu mendengar itu.
"Terimakasih, Kakak Han Liong."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kenapa engkau berterima kasih kepadaku?"
"Aku.."
Wajah An Lok Kong cu tampak kemerah-merahan.
"Engkau jahat ah"
Mendadak An Lok Kong cu mencubit lengannya, dan itu membuat Thio Han Liong menjerit kesakitan.
"Aduuuh"
"Rasakan"
"Adik An Lok"
Thio Han Liong ingin balas mencubitnya.
Tapi An Lok Kong cu langsung berlari ke depan.
Thio Han Liong terus mengejarnya, namun mereka justru tidak tahu bahwa ada perangkap di depan sana.
Di saat itulah mendadak Thio Han Liong berseru keras.
"Adik An Lok Cepat berhenti, ada sesuatu yang aneh"
An Lok Kong Cu segera berhenti, lalu berbalik menghampiri Thio Han Liong.
"Apa yang aneh?"
"Lihatlah rerumputan di sini"
Thio Han Liong menunjuk rerumputan yang kelihatan seperti pernah diinjak.
"Kenapa sih?"
An Lok Kong Cu tidak menyadari hal itu.
"Ada apa di sini?"
"Rerumputan itu seperti pernah diinjaki maka aku menjadi curiga,"
Sahut Thio Han Liong.
"Kenapa harus bercuriga?"
An Lok Kong Cu heran.
"Bukankah di sini terdapat binatang liar? Mungkin rerumputan terinjak binatang liar."
"Itu bukan bekas injakan binatang liar."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Melainkan bekas injakan kaki orang."
"Mungkin pemburu? "
"Tadi kita bertemu orangtua yang ingin membunuh kita, lalu engkau berpesan kepadaku agar berhati-hati. Nah, kita harus berhati-hati."
Thio Han Liong mengambil beberapa buah batu sebesar kepalan, lalu dilemparkan ke depan.
Tak lama setelah batu itu jatuh ke tanah, terjadilah ledakan dahsyat, kemudian asap dan api langsung membumbung tinggi.
"Haaah...?"
Wajah An Lok Kong cu berubah pucat pias seketika.
"Kakak Han Liong...."
"Adik An Lok...."
Thio Han Liong menggenggam tangan An Lok Kong cu erat-erat.
"Kakak Han Liong,"
Bisik An Lok Kong cu dengan suara bergemetar.
"Kita nyaris mati hangus di sana."
"Aaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kalau tadi aku tidak melihat rerumputan itu, kita pasti sudah mati hangus."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu menatapnya.
"Hampir saja kita menikah di alam baka."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong membelainya.
"Kita masih dilindungi Thian (Tuhan). Menyaksikan itu, aku...."
"Tidak berani berbuat dosa, bukan?"
"Ya."
"Engkau memang tidak pernah berbuat dosa, maka Thian (Tuhan) masih melindungi kita."
"Adik An Lok...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu pasti perbuatan Tan Beng song."
"Dia dan gurunya sungguh menghendaki kematian kita. Padahal... kita belum bermusuhan dengan mereka"
"Tapi mereka justru tahu, kalau kita akan membasmi mereka. oleh karena itu, mereka turun tangan lebih dulu."
"Oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Kalau begitu, kita harus lebih berhati-hati."
"Ng"
Thio Han Liong mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan dengan hati-hati sekali.
Setelah mereka meninggalkan tempat itu, muncullah seseorang dari balik sebuah pohon.
orang itu tidak lain Tan Beng Song, yang menyamar sebagai orangtua.
"Sialan"
Caci nya.
"Mereka masih terhindar dari perangkap itu Tapi kelak mereka pasti mampus di tanganku" -ooo00000ooo-Cu Goan Ciang menyambut kedatangan Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu dengan penuh kegembiraan. Kaisar itu memandang mereka dengan wajah berseri-seri "Ayahanda, kami sudah pulang."
"Yang Mulia"
"Ha ha ha"
Cu Goan Ciang tertawa gembira.
"Syukurlah kalian sudah pulang dengan selamat Duduklah"
Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu duduk, kemudian An Lok Kong Cu menutur semua yang mereka alami. Cu Goan Ciang mendengarkan dengan mata terbelalak, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Rimba persilatan memang begitu, bunuh membunuh dengan berbagai cara. Kini kalian sudah pulang, maka legalah hatiku."
"Terima kasih atas perhatian Ayahanda,"
Ucap An Lok Kong Cu.
"Nah"
Cu Goan Ciang menatap mereka dalam-dalam seraya berkata.
"Sudah saatnya kalian menikahi jangan ditunda-tunda lagi"
"Ya,"
Sahut An Lok Kong Cu dan Thio IHan Liong serentak.
"Bagaimana menurut kalian, perlukah aku menyelenggarakan pesta besar-besaran dan semeriahmeriahnya? "
"Tidak perlu,"
Jawab Thio Han Liong.
"Kami sudah bersepakat untuk menikah dengan cara yang paling sederhana, tidak ada pesta, musik maupun tarian apa pun."
"Oh?"
Cu Goan ciang menatap putrinya seraya bertanya.
"Setujukah engkau?"
"setuju."
An Lok Kong cu mengangguk sambil tersenyum.
"Itu merupakan contoh yang baik untuk para pejabat tinggi istana. Kalau kita tidak berfoya-foya, tentunya mereka pun tidak berani berfoya-foya pula."
"Bagus, bagus"
Cu Goan ciang tertawa terbahak-bahak.
"Tapi biar bagaimana pun, aku harus mengundang para pejabat tinggi dalam istana. Kalian jangan menolak"
"Ya, Ayahanda."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Kalau begitu..."
Pikir Cu Goan ciang dan melanjutkan.
"Lusa kalian harus menikah."
An Lok Kong cu memandang Thio Han Liong dengan wajah agak kemerah-merahan, dan agak malu-malu.
"Terimakasih, Yang Mulia,"
Ucap Thio Han Liong.
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang terus tertawa gembira.
"Ha ha ha..."
Malam harinya, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu duduk berdampingan di taman bunga. Wajah mereka tampak berseriseri.
"Adik An Lok,"
Tanya Thio Han Liong.
"Engkau merasa keberatan kita menikah dengan cara sederhana?"
"Aku tidak mempermasalahkan itu,"
Sahut An Lok Kong cu sungguh-sungguh.
"Yang penting kita saling mencinta dan hidup bahagia selama-lamanya."
"Betul"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Itu yang paling denting bagi kita, bukan pesta yang meriah."
"Kakak Han Liong,"
Tanya An Lok Kong Cu dengan suara rendah.
"Kalau aku sudah menjadi nenek-nenek, apakah engkau masih tetap mencintaiku?"
"Ha ha ha"
Thio Han Liong tertawa mendadak.
"Eh?"
An Lok Kong Cu tercengang.
"Kenapa engkau tertawa?"
"Adik An Lok, kalau engkau sudah menjadi nenek-nenek tentunya aku pun sudah menjadi kakek-kakek,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Aku tetap mencintaimu."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong Cu langsung mendekap di dadanya.
"Aku bahagia sekali."
"Sama-sama,"
Sahut Thio Han Liong sekaligus membelainya.
"Aku pun bahagia sekali."
"Kita tinggal di istana sekitar sepuluh hari, setelah itu barulah kita pergi ke pulau Hong Hoang To. Bagaimana?"
"Aku setuju."
"Terimakasih, Kakak Han Liong."
Hari itu Thio Han Liong dan An Lok, Kong Cu melangsungkan pernikahan.
sesuai dengan apa yang dikatakan cu Goan ciang, maka yang diundang hanya beberapa pejabat tinggi dalam istana.
Walau sederhana pernikahan itu, namun amat semarak dan bahagia.
Para pejabat tinggi dalam istana tak henti-hentinya memuji Thio Han Liong, sehingga membuat Cu Goan ciang terus tertawa gembira.
"Ha ha ha Aku sungguh gembira sekali hari ini, karena putriku menikah dengan Han Liong"
"Yang Mulia,"
Ujar salah seorang pejabat tinggi.
"Tak disangka Yang Mulia akan berbesan dengan pendekar besar Thio Bu Ki.Mari kita bersulang untuk itu Ha ha ha..."
Mereka mulai bersulang lagi sambil tertawa, sedangkan An Lok Kong cu tersenyum malu-malu.
Berselang beberapa saat kemudian, para penjabat tinggi itu berpamit.
setelah itu, cu Goan ciang berkata sambil tersenyum.
"Kalian boleh kembali ke istana An Lok. Nikmatilah hari pernikahan kalian"
"Ya, Ayahanda."
"Ya, Yang Mulia."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu berjalan ke istana An Lok, sedangkan cu Goan ciang masih tertawa gembira.
"Dik An Lok..."
Bisik Thio Han Liong setelah berada di dalam kamar.
"Engkau merasa bahagia?"
"sungguh bahagia sekali,"
An Lok Kong cu mengangguk.
"Engkau?"
"Juga bahagia sekali,"
Sahut Thio Han Liong sambil menatapnya lembut dan mesra.
"Hari ini adalah hari pernikahan kita. Walau tanpa musik dan carian, namun amat semarak dan bahagia."
"Benar oh ya, para pejabat tinggi itu terus memujimu. Itu... membuat aku merasa bangga sekali."
"Oh?"
Mendadak Thio Han Liong memeluknya erat-erat, kemudian mengecup bibirnya.
"Kakak Han Liong...."
"Ng?"
"Mulai sekarang, setiap hari engkau harus memelukku dan... mengecup bibirku"
"Baik,"
Thio Han Liong mengangguk.
"Aku pasti memelukmu sambil tidur. Boleh kan?"
"Tentu boleh."
An Lok Kong cu tersenyum manis.
"Dan jangan lupa mengecup bibirku"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu berdiri di dekat taman bunga.
Ketika mereka menikmati keindahan bunga yang baru mekar, tiba-tiba muncul Lie Wie Kiong menghampiri mereka, kemudian memberi hormat sambil melapor.
"Putri Hui mengantar upeti untuk kaisar, dan ingin bertemu Kong cu."
"Dia tahu aku berada di dalam istana?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Tidak tahu. Katanya ingin bertemu Cu An Lok, maka Yang Mulia menyuruhku ke mari untuk melapor.
"jawab Lie Wie Kiong pemimpin pengawal istana.
"Baik,"
An Lok Kong cu mengangguk.
"Aku dan Kakak Han Liong akan sebera ke sana."
"Ya, Kong cu."
Lie Wie Kiong memberi hormat lagi, lalu meninggalkan istana An Lok itu.
"Kakak Han Liong, tak disangka putri Hui itu ke mari mengantar upeti,"
Ujar An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Mari kita temui"
Thio Han Liong mengangguk, mereka berdua lalu berjalan ke ruang tamu istana kaisar.
Kemunculan Thio Han Liong dan An Lok Kong cu di ruang tamu itu, justru membuat Dewi Kecapi Putri Hui terbelalak.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu memberi hormat kepada Cu Goan ciang, setelah itu barulah mereka memandang Dewi Kecapi yang duduk bersama para pengawalnya.
"Dewi Kecapi Apa kabar?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Engkau...."
Dewi Kecapi menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Engkau An Lok Kong cu?"
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk sambil tersenyum lembut.
"Dewi Kecapi, aku tidak menyangka kalau engkau ke mari mengantar upeti."
"An Lok Kong cu...."
Dewi Kecapi tertawa gembira.
"Han Liong...."
"Dewi Kecapi,"
Ucap Thio Han Liong.
"Selamat bertemu"
"Han Liong...."
Dewi Kecapi memandangnya sambil tersenyum.
"Kita berjumpa di sini."
An Lok Kong cu memberi hormat kepada Cu Goan ciang, kemudian berkata.
"Ayahanda, perbolehkanlah Ananda mengajak Dewi Kecapi ke istana An Lok Kami ingin bercakap-cakap. sebab Ananda dan Kakak Han Liong adalah teman baiknya."
"Silakan, silakan"
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Terima kasih, Ayahanda,"
Ucap An Lok Kong cu, lalu bersama Thio Han Liong mengajak Dewi Kecapi ke istana An Lok. sampai di istana itu, Dewi Kecapi menengok ke sana ke mari dengan kagum sekali.
"Sungguh indah tempat ini"
Ujarnya.
"Ini adalah istana An Lok, tempat tinggalku."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Oh?"
Dewi Kecapi terbelalak.
"Pantas engkau mengajakku ke mari, ternyata istana ini tempat tinggalmu"
"Engkau menyukai tempat ini?"
Tanya An Lok Kong Cu.
"Suka sekali,"
Sahut Dewi Kecapi.
"Di tempat tinggalku hanya tenda dan gurun pasir, tiada pemandangan yang sedemikian indah."
"Dewi Kecapi,"
Tanya An Lok Kong cu.
"Bagaimana kalau engkau tinggal di sini beberapa hari?"
"Itu..."
Wajah Dewi Kecapi berseri.
"Apakah tidak akan mengganggumu?"
"Tentu tidak,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Sebaliknya aku malah merasa senang sekali."
"Kalau begitu...."
Dewi Kecapi berpikir sejenaki kemudian manggut-manggut.
"Baiklah."
"Dewi kecapi"
An Lok Kong cu memandangnya serada bertanya.
"Engkau sudah punya kekasih?"
"Ng"
Dewi Kecapi mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Syukurlah"
Ucap An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Kami mengucapkan selamat kepadamu."
"Terimakasih,"
Sahut Dewi Kecapi.
"Oh ya, kalian sudah menikah?"
"Kemarin dulu kami menikah."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Kalau kemarin dulu engkau ke mari, tentunya dapat menyaksikan pernikahan kami."
"Sayang sekali."
Dewi Kecapi menggeleng-gelengkan kepala.
"Kami terlambat tiba di sini."
"Dewi Kecapi,"
Tanya Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Dimana engkau bertemu pemuda idaman hatimu itu?"
"Dia adalah pemuda Hui juga. Hanya saja beberapa tahun yang lalu dia pergi merantau, akhirnya berguru pada seorang pertapa sakti. Beberapa bulan lalu dia pulang, kebetulan bertemu aku. Karena iseng maka aku menantangnya bertanding..."
Tutur Dewi Kecapi.
"Kami bertanding seri, itu membuatku kagum sekali. sejak itu kami pun menjadi teman, dan kini kami saling mencinta."
"Kok dia tidak ikut kemari?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Dia tidak sempat, karena harus mengurusi ini dan itu,"
Sahut Dewi Kecapi sambil tersenyum.
"Bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan, maka jika kalian sempat, hadirlah"
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk.
Dewi Kecapi menginap beberapa malam di istana An Lok, setelah itu barulah kembali ke daerah Hui.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu mengantarnya sampai di depan istana.
Betapa terharunya Dewi Kecapi atas kebaikan dan keramahan mereka berdua.
setelah Dewi Kecapi dan para pengawalnya berangkat, Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu pergi menghadap Cu Goan ciang.
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa gelak "Tak kusangka kalian adalah teman baik Putri Hui itu"
"Tapi dia tidak tahu ananda adalah An Lok Kong cu."
"Oooh"
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Pantas dia bertanya kepadaku, di mana tempat tinggal Cu An Lok? Ha ha ha..."
"Ayahanda,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Kami ingin ke pulau Hong Hoang To."
"Itu memang harus,"
Sahut Cu Goan ciang.
"Tapi jangan sekarang, tunggu beberapa hari lagi"
"Ya, Ayahanda."
An Lok Kong cu mengangguk.
"Kami mohon diri kembali ke istana An Lok."
"Baik."
Cu Goan ciang manggut-manggut sambil tersenyum.
An Lok Kong Cu dan Thio Han Liong memberi hormat, lalu kembali ke istana An Lok.
Mereka berdua sama sekali tidak tahu, bahwa dalam rimba persilatan akan terjadi sesuatu yang amat menggemparkan.
Bab 70 Ketua Hwa san Pay Dan Ketua Khong Tong Pay Tewas Di dalam kuil tua yang terletak di gunung Wu san, tampak Ban Tok Lo Mo clan muridnya sedang bercakap-cakap dengan serius sekali.
"Engkau memang tidak becus"
Caci Ban Tok LoMo.
"Racun yang begitu ganas tidak membinasakan Thio Han Liong dan kekasihnya itu, bahkan mereka dapat meloloskan diri dari perangkap itu Cara bagaimana engkau mengatur perangkap itu? Dasar goblok"
"Guru"
Tan Beng song menundukkan kepala.
"Mereka berdua kebal terhadap racun. cara bagaimana mereka berdua bisa lolos dari perangkap itu, aku pun tidak habis pikir."
"Eng kau memang gobLok, Ban Tok Lo Mo menudingnya.
Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 3
Baca Juga: Keris Pusaka Dan Kuda Iblis 2