Ceritasilat Novel Online

Keris Pusaka Dan Kuda Iblis 2

Eps 2 Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo.

Sebagian barisan akan menyerang dari timur dan sebagian pula menyerang dari utara.

Penyerangan dari timur merupakan serangan pancingan atau serangan palsu sedangkan sebenarnya tenaga terkuat dikerahkan dalam barisan yang menyerang dari utara.

Ki Ageng Baurekso girang sekali mendengar pembukaan rahasia ini, dan setelah tawanan itu habis bicara, senapati yang terkenal gagah berani itu menggerakkan tangannya yang memegang keris, maka tawanan itu tak sempat berteriak dan matilah dia!

Hal ini tak mengherankan para pahlawan lain karena mereka semua sudah kenal akan watak Ki Ageng Baurekso yang sangat benci akan segala macam pengkhianatan.

Sekali waktu pernah tertangkap seorang penyelidik musuh yang bersikap gagah dan rela dibunuh daripada harus membongkar rahasia barisannya.

Ki Ageng Baurekso tidak membunuh tawanan yang setia itu, bahkan memberinya seekor kuda dan membebaskannya!

Tapi jika ada tawanan yang bersikap pengecut seperti tawanan dari Surabaya ini, biarpun keterangan-keterangannya menguntungkan Mataram, namun sikap tawanan itu demikian menjijikkan hati senapati hingga selalu dia sendiri yang turun tangan menghabisi nyawanya.

Sikap ini sungguh cocok dengan sikap Sultan Agung yang menghargai kegagahan dan kesetiaan.

Dengan cepat Ki Ageng Baurekso memberi perintah kepada para panglima untuk menjaga kedatangan musuh.

Kemudian ia beri tanda kepada Jarot untuk mendekat.

Setelah pemuda itu menghampirinya, senapati itu berbisik.

"Nak Jarot, kau cepatlah pulang dan tengok Ki Galur serta anaknya. Kalau semua dalam keadaan baik, barulah kau bantu kami, Gusti Pangeran baru saja menuju ke kampungmu!"

Mendengar kisikan ini, tanpa pamit lagi Jarot terus cemplak kudanya dan membalap ke arah kampung Ki Galur dengan hati tidak enak.

Benar saja, ketika kudanya memasuki gerbang kampung, ia mendengar jeritan-jeritan ngeri dan melihat orang-orang kampung lari ke sana ke mari dalam keadaan kacau.

Ia pegang seorang kampung yang lari di dekatnya lalu bertanya keras.

"Apa yang telah terjadi?"

Orang itu terkejut dan pucat ketika merasa lengannya ada yang memegang, tapi setelah dilihatnya bahwa yang memegangnya Jarot, ia jatuh berlutut dan "Den Jarot, celaka...

celaka...

Gusti Pangeran mengamuk...

dia dan beberapa orang pengawalnya...

marah-marah mencari Sekarsari, kami diamuknya, dikira menyembunyikan Sekarsari, bahkan ada beberapa orang kawan yang terbunuh.

Tolong, den Jarot, tolonglah..."

Jarot tak sempat menjawab, segera berlari ke arah pondok Ki Galur.

Ia melihat segala barang isi pondok telah mawut dan rusak, pintu-pintu terbuka dan pondok itu kosong!

Timbul kemarahan hebat di hati Jarot.

Ia lari keluar.

dan melihat betapa seorang pengawal Pangeran sedang menyeret seorang laki-laki dan membentak-bentak.

"Hayo mengaku, di mana mereka?"

Orang kampung itu menyembah-nyembah minta ampun, tapi pengawal itu menendangnya hingga ia roboh terjengkang. Jarot membentak.

"Manusia rendah!"

Pengawal itu cepat membalik sambil mencabut kerisnya, tapi Jarot yang sedang marah tak memberi waktu padanya, sekali serang saja pengawal itu terpukul roboh dan kerisnya terampas!

Karena sedang bingung, maka Jarot menjadi kejam.

Keris yang terampas itu diayun ke arah tubuh lawannya yang rendah.

Keris menancap jitu di dada kiri dan pengawal Pangeran itu menjerit, berkelojotan dan diam, tak berkutik lagi!

Jarot lalu lari pula ke arah di mana terdengar jerit wanita meminta tolong.

Dilihatnya Pangeran Amangkurat memimpin enam orang pengawalnya menyeret-nyeret Sulastri kawan Sekarsari yang meronta-ronta dan berteriak-teriak minta tolong!

"Jahanam kalian!"

Jarot memaki keras.

Suaranya demikian keras mengguntur hingga para pengawal terkejut.

Ketika mereka menengok dan melihat wajah Jarot, mereka kaget sekali.

Wajah pemuda yang biasanya tampan dan sabar itu kini sangat menakutkan.

Sepasang matanya memancarkan cahaya ganas dan tajam hingga dengan rasa takut keenam pengawal itu mencabut keris masing-masing dan tak terasa pula mereka melepaskan Sulastri yang hendak dipaksa diboyong ke Keraton untuk dijadikan selir Amangkurat!

Kemudian, sambil mengeluarkan suara geraman hebat, Jarot menerjang.

Enam orang pengawal itu mengangkat senjata menyerang dan berbareng menghadapi terjangan Jarot, tapi mereka sendiri tak tahu entah bagaimana, tahu-tahu senjata mereka telah terlepas dari tangan dan cepat bagaikan kilat menyambar pukulan Jarot menimpa tubuh mereka.

Pukulan-pukulan yang dilakukan dengan tenaga penuh dengan hawa marah ini hebat sekali.

Enam orang pengawal Pangeran itu rebah tak dapat bergerak lagi dan empat orang di antara keenamnya mati di saat itu juga!

Keder juga hati Amangkurat melihat kehebatan sepak terjang Jarot, tapi la tak dapat menghindari pemuda yang sedang kalap itu.

Terpaksa ia cabut kerisnya dan menghadapi Jarot dengan hati berdebar.

Jarot melangkah mundur dua tindak ketika melihat, keris itu.

Ternyata keris itu adalah keris pusaka Margapati!

Sinar kilat berapi keluar dari mata keris itu, hingga Jarot merasa bulu tengkuknya berdiri.

Tapi hawa marah yang memenuhi dadanya lebih kuat lagi menguasai dirinya hingga tanpa memperdulikan bahaya ia loncat menerjang.

Amangkurat mengangkat keris pusaka dan mengirim tusukan maut.

Tapi Jarot gunakan kelincahannya berkelit cepat menghindari tusukan.

Ia sama sekali tidak berani menangkis atau merampas keris itu karena ia maklum betapa ampuh dan jahat keris itu.

Karena Amangkurat juga pandai sekali mainkan senjata keris, Jarot terdesak juga.

Tiba-tiba Jarot mendapat akal.

Ketika Amangkurat menyerangnya dengan tusukan bertubi-tubi, Jarot gulingkan tubuhnya di atas tanah dan sambil bergulingan itu tangannya mengepal tanah pasir.

Kemudian ia meloncat bangun dan sambil berseru keras tangannya terayun ke arah muka Amangkurat!

Pangeran itu sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan luar biasa ini hingga tak keburu berkelit.

Tak ampun lagi kedua matanya terserang pasir hingga ia tak dapat membuka matanya lagi.

Kesempatan ini digunakan oleh Jarot untuk mengirim tendangan keras ke arah pergelangan lengan Amangkurat hingga keris Margapati terlepas dari pegangan dan terpental ke udara.

Jarot menyambut keris itu dengan cekatan sehingga kini Margapati berada dalam tangannya.

Dengan pandangan penuh kegemasan ia menghampiri Amangkurat yang tidak berdaya.

Maksudnya, dengan sekali tusuk saja tamatlah riwayat Pangeran itu.

Tapi pada saat itu ia ditubruk orang dari belakang dengan jeritan halus.

"Mas Jarot... jangan, Mas..."

Mendengar suara Sekarsari, seketika itu juga lenyaplah semua napsu marah yang menguasai hati Jarot.

Tubuhnya terasa lemas seakan-akan lolos semua urat bayunya.

Ia pandang Pangeran yang telah pucat itu dan berkata lemah.

"Pangeran, pergilah sebelum hamba berobah pikiran..."

Dan Amangkurat lalu pergi dengan menundukkan kepala.

Ia demikian malu hingga tiada muka untuk meminta kembali keris Margapati dari tangan Jarot.

Jarot melihat tubuh para pengawal yang rebah malang-melintang di tempat itu, lalu menghela napas.

Kemudian ia merasa betapa lengan tangannya menjadi basah.

Ia menunduk dan melihat Sekarsari masih merangkul lengannya dan menangis.

Juga Sulastri yang terlepas dari bencana berjongkok sambil menangis.

Berangsur-angsur orang-orang kampung yang lari kini datang kembali dan tubuh serta mayat para ponggawa Pangeran diangkat orang.

Tiba-tiba terdengar titiran dipalu keras.

Semua orang maklum apa artinya ini.

Perang!

Musuh telah tiba dan mulai menyerbu.

Peperangan dimulai!

Jarot yang tadinya masih berdiri sambil tangan kanan menggenggam keris pusaka Margapati dan tangan kiri mengelus-elus rambut kepala Sekarsari dan merasa seakan-akan dalam mimpi, tiba-tiba tersadar dan insyaf bahwa tenaganya dibutuhkan.

Keris pusaka Margapati tergetar dalam tangannya.

Perlahan-lahan ia tunduk dan cium kepala Sekarsari.

"Sari, lepaskan aku. Aku harus bantu mengusir musuh. Masuklah ke pondok.'' Sekarsari memandangnya sesaat dengan pandang mata mesra, lalu pergi. Jarot cemplak Nagapertala dan kerahkan kuda itu keluar kota. Ia menuju ke gerbang utara karena tahu bahwa di situlah adanya musuh yang terkuat. Dari jauh ia telah mendengar sorak-sorai yang ganas dari para perajurit yang bertempur hebat. Setelah tiba di tempat pertempuran, tiba-tiba Nagapertala si kuda iblis meringkik keras dan menyeramkan dan setelah mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, kuda itu lalu loncat menyerbu ke dalam medan pertempuran. Keris Margapati seakanakan telah mencium bau darah yang amis hingga menjadi haus dan tergetar-getar dalam tangan Jarot. Serbuan Jarot di atas kuda iblis Nagapertala dengan keris maut Margapati di tangan menimbulkan kegemparan di kalangan musuh. Keris pusaka Margapati menyambar-nyambar bagaikan halilintar, seakan-akan hidup dan menjadi liar dalam tangan Jarot, berpesta-pora darah dan daging manusia, tak terkendali lagi. Entah berapa banyak nyawa dilayangkan dari tubuh oleh keris maut ini. Mayat bertumpuk-tumpuk, jerit tangis dan pekik liar saling tindih, gaduh hiruk-pikuk bagaikan dunia kiamat! Barisan musuh tak kuasa membobolkan pertahanan tentara Mataram yang kuat di bawah pimpinan para pahlawan yang demikian sakti dan gagah berani. Maka barisan musuh segera mundur sambil meninggalkan mayat bertumpuk-tumpuk. Juga di gerbang timur musuh terpukul mundur. Barisan Surabaya mengalami kegagalan dan kekalahan, mundur dan kembali ke tempat asal dengan jumlah yang banyak berkurang. Para perajurit dan Senapati Mataram kagum dan ngeri melihat sepak terjang Jarot yang demikian hebatnya. Pada saat Jarot menusuk kanan kiri dengan Margapati yang berkilat-kilat dan seakan-akan berapi-api di tangan kanannya, pemuda itu tiada ubahnya seperti seorang malaikat maut sendiri mencabut nyawa para korban! Bahkan ketika pemuda itu bertempur dekat Ki Ageng Baurekso, panglima tua ini merasa seram melihat wajah dan pandangan mata Jarot! Namun, dalam perjalanan kembali dengan lagu-lagu kemenangan, tiada habisnya mereka bicarakan tentang kegagahan Jarot. Jarot sendiri setelah semua musuh terpukul mundur, segera bedal kudanya pulang. Sekarsari menyambutnya dengan senyum bangga, tapi ketika Jarot turun dari kuda dan berdiri di depannya, gadis itu tak tahan melihat pemuda yang seluruh tubuhnya berlumuran darah musuh dengan keris di tangan yang masih basah dengan darah pula! Sekarsari menengok ke arah Nagapertala, juga tubuh kuda itu penuh darah sampai ke bibir-bibirnya, seakan-akan kuda itu baru saja minum darah manusia! Sekarsari menggunakan kedua tangan menutup mukanya untuk melenyapkan pemandangan mengerikan itu.

"Sari... aku... aku... kejam sekali!"

Sekarsari membuka matanya memandang dan keraskan hatinya, lalu geleng-geleng kepala dan berkata keras.

"Tidak... tidak, kau hanya menjalankan tugas kewajiban membela negara!"

Jarot mencoba tersenyum dengan lemah.

"Bukan, Sari..."

Ia geleng-geleng kepala.

"Ketika bertempur tadi, tiada teringat olehku tentang membela negara, yang teringat hanya darah, aku seakan-akan gila dan haus darah."

Ia memandang ke arah keris di tangan kanannya.

"Hm, Margapati telah menguasai jiwaku seluruhnya."

Jarot masukkan keris itu dalam werangka yang dipungutnya dari medan pertempuran tadi, lalu tanpa berkata sesuatu ia bawa kudanya ke bengawan untuk mencuci bersih semua noda darah.

Ketika ia kembali, Sekarsari dan Ki Galur telah menyediakan makan dan mereka makan tanpa banyak bercakap.

Kemudian, setelah minum beberapa teguk air dari kendi, Jarot berpamit.

"Kau hendak ke mana lagi, Mas Jarot?"

Tanya Sekarsari dengan khawatir melihat wajah yang muram itu.

"Aku... aku akan menyerahkan diri kepada Gusti Sultan."

"Apa? Mengapa?"

"Aku telah berdosa, telah berani melawan Pangeran, bahkan hampir saja membunuhnya dengan keris ini, dan telah membunuh beberapa orang pengawal Pangeran. Dosa ini besar sekali, Sari. Sudah sepatutnya aku dihukum mati."

"Mas Jarot...!"

Sekarsari menjerit sambil memandangnya dengan terbelalak takut.

"Jangan... jangan kau menghadap Gusti Sultan. Larilah dari sini, Mas. Kau kuat, kau gagah, tak mungkin kau dapat tertangkap!"

Jarot geleng-geleng kepala.

"Gus Jarot, biarpun kau telah melawan Pangeran, tapi kau membela orang kampung. Tak perlu kau sesali perbuatanmu itu,"

Ki Galur berkata, kemudian menghela napas.

"Agaknya benar juga usul Sari tadi. Kau larilah saja, Gus Jarot."

Sekali lagi Jarot menggeleng-geleng kepala.

"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, itulah sifat jantan. Dan aku percaya kalian tidak ingin melihat aku kehilangan sifat jantanku, bukan?"

Ki Galur hanya menghela napas dan Sekarsari tak dapat menahan keluarnya air mata dari sudut matanya.

Jarotpun merasa terharu, maka tidak mau duduk di situ, setelah berpamit sekali lagi, ia berjalan cepat ke kandang Nagapertala.

Dengan tak ragu-ragu lagi Jarot naik ke atas punggung kudanya.

Ki Galur dan Sekarsari mengantar ia sampai di luar.

"Mas Jarot, aku selalu menanti kembalimu,"

Sekarsari berkata perlahan dan Ki Galur hanya geleng-geleng kepala.

Ketika Jarot meloncat turun dari kudanya di pintu gerbang Keraton, ia disambut dengan hormat sekali oleh penjaga gerbang yang telah mendengar akan kegagahannya.

Suasana di dalam dan luar Keraton masih penuh diliputi kegembiraan dan pesta kemenangan.

Sultan Agung telah memberi perintah untuk mengadakan perayaan tiga hari tiga malam guna merayakan kemenangan gemilang itu.

Jarot dengan mudah saja diperkenankan menghadap karena kebetulan sekali Sultan Agung sedang membuka persidangan dengan segenap senapati dan hulubalang.

Semua mata memandang ke arah pemuda yang gagah itu, juga Sultan Agung yang sudah mendengar akan perjuangan Jarot, memandangnya dengan senang.

Tapi Pangeran Amangkurat menatap wajah Jarot dengan mata merah.

Setelah menghaturkan sembah bakti, Jarot berkata.

"Mohon diampunkan hamba telah berlaku lancang, menghadap tanpa dipanggil. Maksud hamba maka menghadap dan mengganggu persidangan paduka, tak lain ialah bahwa hamba hendak menyerahkan diri dan mohon diadili karena dosa-dosa yang telah hamba perbuat, Gusti."

Tidak hanya Sultan Agung saja merasa heran, tapi semua senapati dan hulubalang juga terkejut sekali mendengar pengakuan ini.

"Jarot, mengapa kau berkata demikian? Menurut yang kudengar, engkau tidak berdosa bahkan telah membuat banyak jasa dalam pertempuran tadi."

"Hamba telah berbuat dosa sebelum terjadi pertempuran, Gusti, dan jika paduka belum dengar tentang dosa hamba itu, hamba persilakan bertanya kepada Gusti Pangeran Amangkurat."

Sultan Agung merasa heran sekali dan ia pandang wajah puteranya dengan mengandung pertanyaan.

"Amangkurat, coba ceritakan, apakah dosa yang dimaksud oleh Jarot? Apa yang telah terjadi?"

"Hamba tak dapat menceritakan, kanjeng rama, biarlah Jarot sendiri yang bercerita,"

Jawab Amangkurat. Mendengar ini Sultan Agung menjadi marah.

"Apa artinya ini?"

Bentaknya marah dan memandang berganti-ganti kepada Amangkurat dan Jarot. Tumenggung Suryawidura menyembah.

"Ampunkan jika hamba lancang, Gusti. Bolehkah hamba menceritakan peristiwa yang dimaksud itu?"

Sultan Agung mengangguk.

Lalu dengan licin sekali Tumenggung Suryawidura yang membenci Jarot menuturkan betapa Jarot telah membunuh dan melukai pengawal-pengawal Pangeran dan bahkan hampir saja membunuh Pangeran Amangkurat.

Selain dari itu Jarot juga merampas keris pusaka Margapati.

Tentang kejahatan Pangeran dan kaki tangannya sama sekali tidak disebut-sebut oleh Tumenggung itu.

Sultan Agung mendengar laporan ini dengan heran.

Biarpun Tumenggung Suryawidura tidak menyebut hal kesalahan Pangeran, namun Sultan Agung dapat menduga bahwa tindakan Jarot itu pasti ada latar belakangnya dan ia hampir yakin bahwa betapapun juga Pangeran Amangkurat tentu telah melakukan suatu pelanggaran, maka diam-diam ia merasa menyesal mengapa ia telah kabulkan permintaan Pangeran Amangkurat untuk diberi ijin mengambil keris pusaka Margapati.

Melihat Sultan Agung termenung, Tumenggung Suryawidura berkata lagi.

"Menurut pendapat hamba, dosa Jarot sungguh besar. Pertama ia telah memberontak dan melawan Pangeran, kedua ia telah membunuh pengawal-pengawal Gusti Pangeran Amangkurat, ketiga ia telah berani merampas keria pusaka Margapati. Hamba usulkan untuk menghukum picis padanya."

Sultan Agung agaknya baru sadar dari lamunannya. Ia maklum betapa berat dosa-dosa ini, tapi sebenarnya hatinya tidak tega untuk menghukum pemuda yang gagah perwira dan telah berjasa itu.

"Jarot, kau kuberi kesempatan dan hak membela diri. Benarkah segala tuduhan yang dikemukakan oleh Tumenggung tadi?"

Sultan Agung bertanya kepada Jarot. Jarot menyembah dan berkata tetap.

"Benar, Gusti."

"Mengapa Kau lakukan hal itu, Jarot?"

Tanya pula Sultan.

"Karena hamba telah gelap mata, terlampau menuruti dorongan napsu hati yang menggelora, Gusti."

"Tapi mengapa kau menjadi gelap mata, apa alasanmu maka kau berani melawan Pangeran?"

Sultan mendesak. Jarot menyembah hormat.

"Ampun Gusti. Hamba hanya ingin menebus dosa, ingin menerima hukuman karena dosa-dosa ini. Hamba bersedia menerima hukuman apa saja yang paduka jatuhkan pada diri hamba."

Diam-diam Sultan Agung menyesali puteranya sendiri, tapi karena Jarot sendiri yang tidak mau mengaku, iapun tak terlalu mendesak, karena ia yakin bahwa latar belakang peristiwa ini tentu sesuatu yang memalukan keluarga Keraton.

Tiba-tiba Ki Ageng Baurekso tak dapat menahan hatinya yang gemas mendengar laporan Tumenggung Suryawidura yang berat sebelah itu dan ia maju menyembah.

"Gusti Sultan, perkenankan hamba menyatakan pendapat hamba dalam hal ini. Hamba tidak tahu peristiwa apa yang terjadi antara Gusti Pangeran dan Jarot, tapi karena Jarot sendiri telah mengakui akan kedosaan-kedosaan yang dituduhkan padanya, hambapun tak dapat berkata apa-apa. Hanya hendaknya paduka tidak lupa bahwa Jarot telah berjasa besar dalam melawan musuh, bahwa dia telah membela Mataram dengan gagah beraninya. Maka, hamba sama sekali tidak setuju dan tak dapat menerima usul Tumenggung akan hukuman picis yang dijatuhkan kepada Jarot. Hamba mengharap keadilan paduka."

Sultan Agung menghela napas.

Biarpun dalam hati ia tak senang untuk memberi hukuman kepada Jarot, namun di depan sidang ia tak boleh memperlihatkan kelemahannya dan harus menunjukkan keadilan.

Siapa yang berdosa, harus dihukum, betapapun besar jasanya yang telah dicurahkan demi kepentingan Mataram.

Kalau keadilan ini tidak dilaksanakan, maka para pahlawan yang sudah berjasa tentu dapat melakukan penyelewengan dengan mengandalkan kedudukan dan jasa mereka.

"Karena sudah nyata bahwa Jarot berdosa sebagaimana pengakuannya, aku jatuhi hukuman cambuk seratus kali dan pengasingan dari kota raja!"

Mendengar keputusan hukuman ini, wajah Amangkurat dan Tumenggung Suryawidura berseri puas, tapi para senapati yang kagum dan sayang kepada Jarot menjadi pucat.

Ki Ageng Baurekso cepat menyembah dan berkata.

"Maaf, Gusti. Hamba merasa penasaran sekali jika Jarot diberi hukuman seberat itu. Bukan semata-mata rasa sayang hamba kepadanya yang mendorong hamba majukan keberatan ini, tapi terutama mengingat akan peri keadilan dan kepentingan Mataram sendiri. Jarot telah berjasa banyak dalam pertempuran dan biarpun dia telah berbuat dosa, namun belum tentu perbuatannya itu semata-mata berdasarkan hati jahat, hamba yakin bahwa tentu ada apa-apa yang membuat ia lupa dan mengamuk demikian rupa hingga tak ingat bahwa yang dilawannya adalah Gusti Pangeran sendiri. Mohon paduka jangan lupa pula bahwa kita masih banyak membutuhkan tenaga panglima-panglima gagah perkasa seperti dia ini, karena bukankah rencana paduka masih banyak dan luas? Tidakkah tenaga seorang pemuda seperti Jarot ini akan sangat dibutuhkan oleh Mataram kelak? Maka hamba usulkan sebuah pengampunan untuknya. Jika tidak mungkin dibatalkan semua hukuman yang dijatuhkan padanya, hamba mohon supaya hukuman pengasingan dibatalkan, supaya Jarot tetap diperkenankan tinggal di tempat ini. Adapun jika kelak dia melakukan pelanggaran-pelanggaran lagi, biarlah hamba Baurekso yang menanggungnya!"

Ki Ageng Baurekso besar sekali pengaruhnya dan terkenal sebagai seorang senapati yang berjasa besar dan berwatak jujur dan keras, maka terhadap usul ini biarpun Tumenggung Suryawidura sendiri maupun Pangeran Amangkurat, tidak berani mencelanya.

Sedangkan Sultan Agung sendiri yang memang tadi mengeluarkan keputusan hukuman itu hanya karena ingin memperlihatkan sikap adil, mendengar nasihat dan usul senapatinya, mengangguk-angguk dan berkata dengan suara tetap.

"Mendengar usul dan pendapat Paman senapati, maka hukuman dikurangi menjadi hukuman cambuk seratus kali. Adakah pendapat lain di antara kalian?"

Tapi tak seorangpun majukan usul hingga hukuman bagi Jarot sudah tetap, yakni dicambuk seratus kali.

Sedangkan keris pusaka Margapati dirampas kembali.

Ki Ageng Baurekso tersenyum puas ketika sidang dibubarkan dan ia mendekati Jarot.

"Gusti Sultan sungguh bijaksana, bukan? Aku yakin beliau juga maklum bahwa hukuman seratus kali cambukan itu tiada artinya bagi kulitmu yang kebal! Bukankah kau memiliki aji kebal dan tidak dapat terluka oleh senjata tajam? Apa artinya cambukan pecut kulit bagi kulit tubuhmu atau kulit tubuhku? Ha-ha-ha!"

Ki Ageng Baurekso tertawa bergelak-gelak sambil mengeluarkan air mata.

Tapi Jarot hanya tersenyum dan tak terbawa gelombang kegembiraan senapati tua itu.

Sementara itu, dua orang petugas yang biasa menjalankan hukuman yang dijatuhkan kepada seorang hukuman maju menghampiri dan bersiap hendak melakukan hukuman cambuk seratus kali kepada Jarot.

Ki Ageng Baurekso berkata kepada mereka sambil tertawa geli.

"Eh, kalian algojo tua! Sebelum mencambuk punggung Jarot, makanlah dulu kenyang-kenyang! Kalau tidak, kalian akan kehabisan tenaga. Cambuk yang keras, sekeras-kerasnya, ha-ha!!"

Dan kedua algojo itu tersenyum, lalu tuntun Jarot dengan sikap hormat ke alun-alun untuk menjalankan tugas mereka.

Semua senapati berkumpul untuk menyaksikan Jarot menjalani hukuman.

Jarot diikat kedua tangannya ke atas, dihubungkan dengan sebuah tiang dan tubuhnya bagian atas telanjang.

Kedua algojo sudah memegang dua batang cemeti, yakni pecut dari kulit kerbau yang panjang dan kuat.

Setelah tanda dibunyikan, maka pecut-pecut itu berputaran di udara dan sambil mengeluarkan bunyi nyaring pecut pertama menyabet punggung Jarot yang telanjang.

Para senapati memandang tenang karena mereka yakin akan kesaktian Jarot, tapi para rakyat yang melihat dari jauh merasa ngeri, bahkan terdengar pekik wanita di sana-sini.

Ketika pecut yang menyabet kulit punggung itu terlepas, maka terdengar seruan kaget dan ngeri di kalangan senapati dan perajurit.

Kulit Jarot yang putih kuning dan bersih halus itu mengeluarkan darah.

Dari batas leher sampai ke pinggang tampak bekas pecut memanjang, berwarna merah mengerikan karena darah mulai mengucur keluar!

Ki Ageng Baurekso meloncat dari tempat duduknya dan berdiri di depan Jarot yang menggigit bibir menahan sakit.

"Jarot! Kau gila? Kenapa kau terima saja derita ini tanpa perlawanan? Betul-betulkah kau tidak memiliki kekebalan?"

Kata-kata ini mengandung ketidakpercayaan dan keheranan.

Namun Jarot hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Panglima-panglima lain yang dulu menjadi lawan Jarot dalam sayembara dan kini telah mendapat pangkat, yaitu Suro Agul-Agul yang telah menjadi Tumenggung, Madurorejo yang telah menjadi adipati, dan Uposonto menjadi adipati pula, juga berada di situ dan mereka mendesak kepada Jarot untuk gunakan kesaktian melawan siksaan hukuman itu.

Tapi Jarot hanya berkata perlahan.

"Aku telah berdosa, aku telah banyak membunuh dengan kejam, hukuman ini cukup ringan,"

Dan berbunyilah cemeti itu berkali-kali, menimpa kulit punggungnya hingga kini menjadi matang biru dan penuh darah.

Pada pukulan cambuk keseratus kalinya, Jarot jatuh pingsan!

Orang-orang segera menolongnya dan melepas tali pengikat lengannya, lalu menggotongnya ke rumah Ki Galur.

Alangkah kagetnya Ki Galur dan penduduk kampung melihat Jarot digotong pulang dengan mandi darah dan pucat lemah.

Sekarsari melihat keadaan Jarot sedemikian itu, berlari-lari sambil menangis lalu menubruk tubuh yang berbaring di atas pikulan bambu dianyam.

"Mas Jarot..."

Katanya lirih dengan hati hancur luluh.

Ia tak dapat menangis, hanya memandang keadaan pemuda itu dengan mata terbelalak dan wajah sepucat mayat, lalu buru-buru ia mendahului masuk pondok dan menyiapkan balai bambu di mana Jarot direbahkan orang.

Belum juga Jarot sadar dari pingsannya.

Menjelang senja Jarot siuman.

Ia bergerak dan merintih lirih.

Punggungnya terasa perih dari sakit, sedangkan seluruh tubuhnya terasa kaku.

Ia buka matanya.

Sekarsari berlutut di dekat pembaringannya sambil memandangnya sayu, air mata membasahi kedua pipinya.

"Bagaimana, Mas...?"

Jarot tersenyum.

Hatinya girang bahwa hukuman itu telah lewat.

Memang sakit dan perih, tapi perasaan dan hatinya lega karenanya.

Dadanya terasa lapang.

Ia telah berlaku salah tapi telah pula menjalani hukuman.

Ia paksa diri bangun dan duduk.

Sekarsari cepat-cepat membantunya.

Sentuhan tangan yang halus itu mengurangi rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Air mata Sekarsari mengalir lagi ketika ia melihat punggung Jarot, Sambil menahan isak gadis itu menggunakan jari tangan yang dicelup minyak dengan ramuan jamu untuk mengobati luka-luka di punggung.

Jarot menggigit bibir.

"Bagaimana, Mas? Sakitkah??"

Suara Sekarsari penuh iba. Sekali lagi Jarot tersenyum.

"Sakit sedikit, tapi tanganmu lembut dan lunak, mengurangi rasa perih."

Makin deras keluarnya air mata di mata Sekarsari, tapi isaknya ditahan di dada dan di bibirnya bergerak ke arah senyum.

"Tidak sakitkah punggungmu kujamah?"

"Tidak, Sari, bahkan kini hilang rasa panasnya dan hampir tak terasa lagi perihnya."

"Kasihan kau, Mas Jarot! Jahat sekali Gusti Sultan!"

Jarot bergerak cepat dan gunakan tangannya menutup bibir manis yang sedang cemberut itu.

"Ssst... Jangan berkata demikian, Sari."

"Baik... baik, aku takkan berkata begitu lagi. Tapi kau berbaliklah, jangan menghadap ke sini saja. Perlihatkan punggungmu."

Jarot dengan hati gembira memutar tubuhnya.

Ia merasa bahagia dan girang sekali hingga sudah terlupalah olehnya segala siksa yang dideritanya tadi.

Sekarsari dengan hati-hati sekali dan dengan sentuhan jari tangan yang mengandung penuh rasa sayang dan iba, setelah melumuri seluruh punggung dengan minyak lalu menggunakan daun menutup luka-luka itu.

Pada saat itu Ki Galur masuk mengiringkan seorang hulubalang utusan Sultan Agung.

Ternyata utusan itu membawa sekantung emas dan sebungkus obat luka, hadiah dari Sultan Agung!

Jarot merasa berterima kasih sekali.

Harta pemberian Sultan Agung itu oleh Jarot diberikan kepada Ki Galur untuk membuat sebuah rumah yang agak besar dan pantas.

Semua ini dilakukan oleh Jarot untuk menyenangkan hati Sekarsari.

Karena mengandung harapan untuk memperisteri gadis itu, maka Jarot sampai pada waktu itu tak pernah mengandung niat untuk menyelidiki lebih jauh rahasia yang menyelubungi diri Sekarsari, Karena la khawatir kalau kalau terbongkar rahasia itu akan menjauhkan Sekarsari dari padanya!

Senapati Ki Baurekso yang menghargai kejujuran merasa kagum dan sayang kepada Jarot.

Panglima tua yang tadinya tidak sangat perdulikan keadaan anak muda itu, kini seringkali memanggil Jarot ke gedungnya dan kadang-kadang ia sendiri datang berkunjung ke pondok Jarot untuk bercakap-cakap.

Jarot juga menaruh hormat dan kagum kepada senapati yang gagah berani itu.

Mereka suka sekali bercakap-cakap tentang ilmu kesaktian dan keperwiraan.

Dalam hal ilmu batin dan ketata negaraan.

Jarot diam-diam mengakui keunggulan senapati itu dan dalam hati mengakui senapati sebagai guru.

Pernah Ki Ageng Baurekso bentangkan tentang cita-cita dan politik Sultan Agung kepada Jarot.

"Gusti Sultan sangat benci akan kelicikan bala tentara bule yang siwer matanya. Beliau selalu curiga dan tak pernah percaya kepada Belanda belanda yang mendatangi Pulau Jawa, sungguhpun mereka itu manis tutur sapanya dan halus gerak-gayanya. Memang, aku sendiripun tidak suka kepada orang-orang bule siwer matanya itu. Mereka bukanlah pedagang-pedagang biasa. Mereka menghendaki tanah kita yang loh jinawi. Mereka ini berbahaya!"

Jarot yang masih hijau dalam hal keadaan tanah air, setelah mendengar ucapan ini serentak timbullah rasa bencinya kepada orang-orang asing yang bermaksud jahat Itu.

"Bagaimana cita-cita Gusti Sultan?"

Tanyanya tertarik.

"Gusti Sultan cukup waspada dan maklum bahwa Belanda bukanlah lawan yang ringan, bahkan kuat sekali. Mereka mempunyai senjata-senjata api yang ampuh dan berbahaya sekali. Senapan-senapan dan meriam-meriam mereka bukanlah lawan tombak dan keris kita. Maka untuk melawannya, seluruh rakyat di Pulau Jawa harus bersatu-padu dan di mana-mana harus ada gerakan perlawanan terhadap Belanda hingga kerbau bule itu akan tidak betah tinggal lebih lama di pulau kita."

"Tapi, saya mendengar bahwa banyak pula adipati yang bersahabat baik dengan mereka karena kata orang, orang-orang putih bermata biru itu memberi banyak hadiah barang-barang indah,"

Kata Jarot. Ki Ageng Baurekso menghela napas.

"Itulah celakanya! Belanda pandai mengambil hati, pandai membujuk para adipati dan bupati untuk memberontak terhadap rajanya, untuk saling pukul. Siasat mereka yang licik ini sudah diketahui oleh Gusti Sultan yang waspada, maka Gusti Sultan telah menetapkan untuk mempersatukan semua adipati dan bupati, dan mulai tahun ini atau tahun depan, Gusti Sultan akan mengirim bala tentara, menjelajah seluruh pulau dan mempersatukan seluruh kadipaten, memperkuat sekutu dan mentaklukkan mereka yang membangkang untuk maksud baik ini. Setelah kita bersatu-padu dan cukup kuat, barulah kita menyerang dan mengusir kerbau-kerbau bule itu!"

Demikianlah, sedikit demi sedikit terbukalah mata Jarot dan pandangannya akan keadaan tanah air menjadi agak terang.

Ia berjanji kepada Ki Ageng Baurekso untuk membantu perjuangan Mataram, Raden Mas Bahar, putera Tumenggung Suryawidura yang merasa dendam dan benci kepada Jarot, selalu masih ingin membalas sakit hatinya.

Tapi melihat kedudukan Jarot demikian kuat ia tak berdaya dan dendamnya makin mendalam.

Namun apakah yang dapat ia lakukan terhadap Jarot yang gagah itu?

Tiada hentinya ia memutar otak mencari daya muslihat untuk membalas dendam dan mencelakakan Jarot, atau sedikitnya menghancurkan kebahagiaannya.

Pada suatu senja, seperti kebiasaannya tiap hari, Jarot pergi mandi di bengawan.

Karena ia telah memilih dan mendapat tempat yang agak jauh dan sunyi, maka ia boleh mandi dan berenang sesuka hatinya tanpa khawatir terganggu oleh kehadiran orang lain.

Sambil bersenandung gembira ia tanggalkan pakaiannya lalu terjun ke air yang sejuk dan mengalir perlahan.

Ketika ia tengah berenang hilir-mudik dengan hati senang dan perasaan segar, tiba-tiba ia melihat seorang wanita berdiri di tebing yang tinggi dan curam di pinggir bengawan.

Jarot terkejut karena melihat sikap wanita itu mencurigakan sekali.

Ia tengah menangis tersedu-sedu sambil menutup muka dengan kedua tangannya, kemudian ia bergerak hendak meloncat dan, membuang diri ke bawah!

Jarot kaget sekali, lalu berteriak keras.

"Hei! Tunggu dulu! Hati-hatilah!!"

Mendengar seruan ini wanita itu berpaling dan Jarot melihat wajah seorang gadis muda yang cantik.

Ketika melihat ada seorang lelaki di situ, gadis itu segera ayun dirinya, terjun ke dalam air yang menerima tubuhnya dengan percikan tinggi.

"Celaka!"

Jarot berseru dan segera berenang cepat ke arah di mana tubuh itu jatuh, la sama sekali lupa bahwa pada saat itu ia sedang bertelanjang bulat!

Yang teringat olehnya di saat itu hanya bahwa ia harus bertindak secepat mungkin tanpa ragu-ragu lagi karena di depan ada jiwa terancam maut.

Agaknya memang belum nasibnya gadis itu harus mati di bengawan.

Ketika terjun tadi kainnya mengembung dan kemasukan hingga ketika tubuhnya tenggelam yang mengembung itu menariknya kembali ke permukaan air.

Hal ini memudahkan Jarot untuk mendapatkannya.

Kalau saja tubuh itu tenggelam terus akan sukarlah bagi pemuda itu untuk menolongnya.

Jarot pegang lengan yang sudah lemas itu dan menarik tubuh itu sambil berenang ke pinggir.

Dengan ringan ia pondong tubuh yang masih hangat dan lemah itu ke tepi, lalu dengan sekali loncat ia naik ke darat.

Baru pada saat itu ia teringat dan merasa bahwa ia tak berpakaian sama sekal!!

Dengan malu dan gugup ia pandang muka gadis yang berada dalam pondongannya.

Tubuh gadis Itu bergerak dan mulutnya mengerang perlahan.

Melihat betapa bulu mata yang lentik itu mulai bergerak gerak hendak terbuka, tanpa menanti sampai mata itu terbuka dan melihatnya, Jarot segera turunkan gadis itu dari pondongan dan meletakkan tubuh itu di atas rumput kemudian secepat kilat ia lari pergi bagaikan sedang dikejar setan!

Setelah dengan cepat memakai kembali pakaiannya, Jarot lari kembali ke tempat gadis itu dan melihat bahwa ia telah siuman dan tengah duduk dengan wajah bingung dan memandang kedatangannya dengan mata terbelalak heran.

"Siapa... siapa kau? Di mana aku berada...?"

Ketika melihat pemuda itu memandang ke arah bengawan dengan mulut menahan senyum, gadis itu berkata lirih.

"Oh... sudah...Sudah matikah aku...?"

Jarot menghampiri dan duduk di atas rumput.

"Tidak, nona. Kau tidak mati, belum lagi. Masih hidup seperti aku."

"Bagaimana? Apa yang terjadi?? Bukankah aku tadi..."

Ia pandang wajah Jarot dengan heran, lalu palingkan muka memandang ke arah bengawan.

"Memang, kau tadi terjun ke sungai untuk bunuh diri, tapi sayang terlihat olehku hingga tak mungkin aku diam saja melihat kenakalanmu itu."

Jarot mencoba berjenaka.

Untuk sejenak tampak bayangan kecewa pada wajah yang cantik itu dan alis matanya yang hitam dan panjang melengkung di atas mata bintang itu bergerak-gerak.

Kemudian ia menarik napas panjang.

"Jadi... jadi aku masih hidup? Oh... mengapa kau begitu lancang dan suka mencampuri urusan orang lain?"

Dan tiba-tiba saja dia menangis!

Jarot bingung dengan muka bodoh!

Ia memandang ke arah langit yang telah mulai gelap dan ia biarkan saja gadis itu menangis karena ia tahu bahwa menangis adalah jalan terbaik bagi seorang wanita untuk melepas sedihnya.

Setelah isak tangis gadis itu mereda, Jarot bertanya.

"Kalau aku boleh bertanya, siapakah namamu dan di mana kau tinggal?"

Gadis itu gunakan sepasang mata bintangnya yang agak merah karena tangis Itu untuk menatap wajah tampan yang berada tak jauh di depannya.

"Saya Maduraras dari kampung Duku."

"Mengapa kau yang masih begini muda belia mengambil keputusan nekat dan terjun ke dalam sungai?"

Tiba-tiba wajah yang cantik itu menjadi merah dan cepat-cepat Maduraras menundukkan muka, tapi Jarot masih sempat melihat betapa sepasang mata itu kembali mengeluarkan air mata.

Gadis itu menahan isak, tubuhnya bergoyang-goyang dan tak dapat berkata-kata.

"Nona, tahanlah tangismu dan ceritakan padaku segala kesusahanmu. Segala macam kesulitan di dunia ini pasti dapat diatasi. Tiada persoalan yang tak dapat dipecahkan asalkan orang mau berikhtiar. Dan percayalah, aku takkan berlaku setengah-setengah dalam segala usahaku. Aku telah melepaskanmu dari cengkeraman maut di tengah bengawan, maka tentu aku akan melanjutkan usahaku membantu kau dan akan kucoba melepaskan kau dari segala kesulitanmu."

"Raden, siapakah kau yang begitu baik hati dan sudi memperdulikan nasib gadis sengsara seperti aku ini?"

"Namaku Jarot, nona."

"Oh...!"

Gadis itu memandangnya dengan mata terbelalak heran.

"Jadi Raden ini adalah pahlawan gagah berani yang terkenal itu?"

"Ah, itu hanya omong kosong saja. Aku bukan pahlawan, hanya orang biasa. Nah, sekarang ceritakanlah padaku mengapa kau tadi hendak membunuh diri."

Wajah gadis yang tadinya keruh dan sedih itu setelah mendengar bahwa pemuda yang menolongnya itu adalah Jarot, kini menjadi berseri-seri dan matanya yang indah bercahaya penuh harapan.

Wajah yang memang cantik itu menjadi tambah jelita hingga diam-diam Jarot menjadi kagum memandangnya.

Alangkah halus dan bersih kulit muka itu.

Alangkah indah bentuk alisnya yang hitam panjang, sepasang mata yang bersinar bagaikan bintang pagi dengan bulu mata lentik panjang.

Alangkah manis hidung yang bangir kecil dan bibir yang merah berbentuk gendewa terpentang itu.

Potongan tubuhnya indah menarik, lebih nyata bentuknya yang menarik dengan lekuk lengkung yang menggairahkan karena pakaiannya basah.

"Raden Jarot! Setelah bertemu dengan kau, maka besarlah harapanku. Hanya Kau lah agaknya yang dapat menolongku! Ibuku telah meninggal ketika aku masih kecil dan Ayah kawin lagi dengan seorang janda. Ibu tiriku ini kejam sekali hingga semenjak Ayah kawin, hidupku penuh derita dan sengsara, namun selama Ayah masih ada, setidak-tidaknya aku masih terlindung. Celaka bagiku, beberapa bulan yang lalu Ayah meninggal pula hingga nasib hidupku tergenggam dalam tangan ibu tiriku. Dan... akhirnya hal yang paling kutakuti terjadilah. Aku... dijual kepada Pak Demang Batuluwih,..."

"Dijual...??"

Jarot bertanya heran.

"Maksudku... akan diserahkan sebagai selir yang entah keberapa belas, tapi karena hal ini semata-mata terjadi karena ibu tiriku menerima sejumlah uang, bukankah diriku sama saja dengan dijual?"

Jarot mengangguk-angguk dan diam-diam ia merasa heran dan kagum akan keberanian dan kenekatan gadis yang berani memberontak kepada kehendak ibu tirinya.

"Lalu apa yang terjadi?"

Tanyanya.

"Aku mengambil keputusan lebih baik mati daripada diselir pak Demang tua bangka yang lebih pantas menjadi kakekku itu. Maka malam tadi aku melarikan diri. Aku terlunta-lunta, tiada kawan tiada keluarga, tiada orang mau menolong hingga aku tiba di sini dan karena putus asa aku hendak membunuh diri..."

Jarot mengangguk-angguk lagi, lalu berkata gemas.

"Biar kuhajar pak Demang yang hendak memaksa anak gadis orang itu!"

"Jangan, Raden. Apa gunanya? Kalau aku kembali ke rumah ibu tiriku, pasti aku akan mengalami banyak siksa. Aku tidak sudi kembali ke sana, lebih baik mati, Raden!"

Jarot merasa bingung dan tak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menolong gadis yang buruk nasib ini.

"Habis, bagaimana baiknya? Bagaimana aku harus menolongmu?"

"Raden Jarot. Kalau kau sudi, kalau kau kasihan kepadaku, kalau kau memang berhati mulia dan gagah sebagaimana kudengar disohorkan orang, bawalah aku, Raden. Aku hendak suwita kepadamu, aku lebih rela menjadi bujangmu, menjadi pelayanmu. menjadi pesuruhmu, rela kaujadikan apa saja asal aku jangan dipulangkan ke rumah Ibu tiriku..."

Dan Maduraras menangis lagi dengan sedih. Jarot duduk bingung dengan wajah bodoh dan bingung. Kemudian ia geleng-geleng kepala dengan keras dan berkata.

"Tidak bisa... tidak mungkin... tak bisa jadi!!"

Jawabannya demikian keras, cepat dan kaku hingga Maduraras memandangnya dengan kaget dan khawatir.

"Jadi kau tidak sudi, Raden? Ah nasib"

Memang kau Benar... apa perlunya menolong seorang gadis hina-dina seperti aku ini...? Biarlah... biarlah aku mati saja..."

Dan Maduraras bangun berdiri dan lari ke arah tebing lagi! Jarot dengan sekali loncat menangkap lengannya dan menariknya kembali duduk di atas rumput.

"Jangan kau putus asa dulu, nona"

Katanya bingung.

"Jadi, maukah kau menerima aku Raden Jarot, jangan kau khawatir, aku pandai masak, pandai mencuci, rajin bekerja dan aku pandai memijit urat-uratmu kalau kau lelah, aku pandai bernyanyi dan menari untuk menghiburmu kalau kau bersedih, sedangkan aku tak mengharap upah apa-apa... hanya asal mendapat makan saja... dan makanku... makanku tidak banyak, Raden..."

Mendengar kata-kata terakhir ini mau tak mau Jarot tertawa bergelak hingga sekali lagi Maduraras memandangnya heran.

"Ah, jangan kau anggap aku begitu kikir hingga penolakanku akan suwitamu adalah karena takut kau makan terlalu banyak! Tidak demikian, Maduraras, tapi ketahuilah, aku sendiri masih mondok di rumah orang lain. Sedangkan aku adalah seorang pemuda yang belum berumah tangga, seorang jejaka yang hidup sebatang kara, maka kalau aku terima suwitamu, apakah akan kata orang nanti?? Aku menolak suwitamu bukan karena aku tidak suka menolongmu, tapi karena hal ini memang tak mungkin kuterima."

Maduraras tunduk dengan muka muram.

"Tapi, bukan hal yang aneh kalau seorang muda seperti Raden ini mengambil seorang dua orang selir sebelum kawin..."

"Aku...? Mengambil selir...??"

Jarot mengulangi dengan mata terpentang lebar.

"Apa salahnya, Raden? Gusti Pangeran sendiripun telah mempunyai belasan orang selir sungguhpun beliau belum kawin..."

"Ah, Gusti Pangeran lain lagi halnya..."

"Barangkali aku terlampau buruk hingga kau tidak sudi menerimaku, Raden..."

"Bukan... bukan begitu, Maduraras. Kau cukup cantik bahkan sangat cantik..."

"Habis, mengapa kau tetap saja menolak?"

"Belum waktunya bagiku, Maduraras. Sekarang baiknya begini, adakah kau mempunyai keluarga atau kenalan yang kiranya bisa Kau mintai tolong, dan yang suka menerimamu tinggal di pondoknya? Kalau ada, akulah yang akan memintakannya, dan berapa saja ia minta akan kubayar."

Setelah tunduk dan geleng-gelengkan kepala sambil berkali-kali menghela napas akhirnya Maduraras menangis lagi.

Tubuhnya mulai menggigil dan cuaca makin gelap.

Melihat keadaan gadis itu, Jarot maklum betapa gadis itu menderita karena kedinginan.

Dapat ia bayangkan betapa dinginnya dalam pakaian yang basah kuyup itu.

Tiba-tiba ia mengambil keputusan.

"Berdirilah, Maduraras, dan marilah kau ikut aku!"

Gadis itu serentak bangun berdiri dan mengulurkan kedua lengan kepada Jarot sambil berkata lirih.

"Den Mas Jarot... terima kasih.. terima kasih..."

Gadis itu sungguh cantik jelita dan keadaannya demikian mengharukan hingga Jarot seakan-akan terpesona dan kedua kakinya tak terasa lagi bertindak maju.

Ketika gadis cantik itu maju menubruknya Jarot terima tubuh hangat itu dalam pelukan dan merangkul dengan terharu.

Beberapa lama mereka diam dalam keadaan saling peluk, tak bergerak bagaikan patung.

Kemudian setelah rasa haru agak reda menguasai kalbunya, Jarot lepaskan pelukannya dan berkata perlahan.

"Marilah kita pergi, pakaianmu basah semua, kau bisa terserang penyakit."

"Kang Mas Jarot, kita... ke mana?"

Jarot berdebar mendengar sebutan mesra ini.

"Akan kucoba minta tolong kepada Mbok Rondo Gendingan. Ia seorang janda yang baik hati dan hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Sulastri. lapun seorang gadis yang baik. Kau tentu suka tinggal di sana."

"Tapi... kau sendiri?"

"Aku tinggal di rumah Ki Galur."

"Jauhkah dari rumah mbok rondo itu?"

"Dekat saja. Masih sekampung."

Terdengar Maduraras menarik napas lega.

"Kau tentu akan sering datang menengokku ya, Kang Mas?"

Suaranya terdengar mesra dan manja, dan kembali dada Jarot berdebar, la hanya mengangguk dan percepat langkahnya sambil menggandeng tangan Maduraras yang hangat dan halus.

Bukan main herannya Mbok Rondo Gendingan dan Sulastri ketika mereka membuka pintu dan melihat Jarot datang dengan seorang gadis cantik yang berpakaian basah dan rambut basah kusut tak karuan.

Tapi setelah dengan singkat Jarot menceritakan keadaan Maduraras, Mbok Rondo dan Sulastri segera memeluk gadis itu, bahkan ketika gadis itu menangis, Sulastri Juga ikut menangis.

Tentu saja mereka suka menerima Maduraras dengan suka hati hingga Jarot merasa terhibur dan lapanglah dadanya melihat persoalan ruwet itu akhirnya dapat terpecah dengan baik.

Ketika ia hendak tinggalkan mereka, Maduraras berkata padanya dengan suara yang halus merdu penuh perasaan.

"Kang Mas Jarot, jangan lupa untuk sering datang menjenguk ke sini."

Melihat pandang mata Sulastri berkilat menggoda, Jarot hanya mengangguk kepada Maduraras dan segera bertindak pergi cepat-cepat tanpa menengok lagi!

Sekarsari telah menanti-nanti dengan tidak sabar.

Gadis itu telah siap dengan makan malam untuk Jarot.

Ketika Jarot memasuki pintu Sekarsari biarpun ingin sekali bertanya, namun ditahannya perasaannya itu dan hanya melempar senyum lalu cepat pergi ke dapur menghangatkan sayur.

Sebentar lagi keluarlah dia dan mengatur makanan di atas tikar.

"Makanlah, Mas Jarot."

"Mana Paman? Kita makan bersama,"

Jawab Jarot.

"Ayah pergi ke rumah kawannya dan tadi sudah makan lebih dulu karena terlalu lama menunggu-nunggu kau."

Memang Jarot menghendaki agar Ki Galur tidak berlaku sungkan kepadanya dan menganggap ia seperti anak kemenakan sendiri. Maka tidak heran bila orang tua itu berani mendahului makan. (Lanjut ke

Jilid 04) Keris Pusaka dan Kuda Iblis (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Kau tidak makan, Sari?"

Sekarsari menggeleng kepala dengan senyum, lalu berkata,"Lupakah kau ini hari apa, Mas Jarot?"

Pemuda itu mengingat-ingat dan tahulah dia bahwa hari itu jatuh hari pasaran ketiga dan pada tiap hari ketiga dan kelima, Sekarsari selalu berpuasa sehari semalam penuh. Maka iapun tertawa.

"Mas Jarot, mengapa kau agak terlambat tadi? Kemanakah kau pergi setelah mandi, Mas?"

Pertanyaan ini wajar dan tidak mengandung penyesalan sedikitpun.

"Aku telah menolong seorang yang hampir mati tenggelam, Sari,"

Sekarsari terkejut dan ngeri.

"Adu kasihan, siapakah dia, Mas? Laki-laki atau perempuan?"

"Seorang gadis, Sari, seorang gadis dari kampung Duku."

"Ah, kasihan sekali. Kenapa ia sampai hampir tenggelam, Mas? Mandikah dia? Atau sedang mencuci pakaian?"

"Tidak, Sari. Ia memang sengaja terjun dari tebing, sengaja hendak bunuh diri."

Sekarsari hampir menjerit dan menggunakan tangan menutup mulut. Matanya terbelalak memandang Jarot dengan ngeri.

"Bunuh diri? Kenapa, Mas? Kenapa?"

Maka sekali lagi dengan singkat Jarot menceritakan riwayat Maduraras yang ditolongnya.

Sekarsari mendengarkan dengan penuh perhatian dan sementara itu hatinya merasa tidak enak.

Entah mengapa, tapi pikirannya menjadi kacau dan bimbang, kasihan, bangga, curiga dan cemburu mengaduk-aduk perasaan dan hatinya.

Setelah Jarot habis bercerita, maka bertanyalah Sekarsari.

"Jadi Maduraras sekarang mondok di rumah Sulastri?"

Jarot mengangguk. Sunyi sejenak, kemudian Sekarsari bertanya tiba-tiba.

"Cantikkah ia, Mas?"

Mendengar pertanyaan tiba-tiba dan tak tersangkasangka itu, Jarot agak gelagapan.

"Cantik? Siapa, Sari?"

"Siapa lagi? Itu, lho, Maduraras! Cantikkah dia, Mas?"

Jarot yang masih belum sadar akan perasaan gadis itu, mengangguk membenarkan.

"Dia memang cantik, Sari."

Sunyi lagi sejenak.

"Kasihan betul nasibnya, ya Mas?"

Kembali Jarot mengangguk.

"Memang kasihan, Sari."

"Dia tentu lebih cantik daripada aku, ya. Mas?"

Kini Jarot dapat menangkap nada suara Sekarsari dan ia menengok.

Ketika pandang mata mereka bertemu, Jarot terkejut sekali melihat betapa mata Sekarsari berkaca-kaca dan hampir meneteskan air mata!

"Sari...

kau kenapa, Sari...?"

Pertanyaan ini bagaikan mendorong keluar air mata dari mata Sekarsari.

Gadis itu serentak bangun berdiri dan lari ke kamarnya!

Untuk kesekian kalinya semenjak pertemuannya dengan Maduraras, Jarot dibikin heran oleh wanita dan ia duduk bengong dengan muka bodoh, lebih bodoh daripada ketika dia menghadapi Maduraras tadi!

Ia tak mengerti akan sikap Sekarsari.

Maka ia lalu rebahkan diri telentang di atas balai-balai, sepasang matanya memandang langit-langit dan pikirannya melayang-layang jauh meninggalkan raganya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mandi, Sekarsari tidak membuang waktu lagi, segera mengunjungi Sulastri untuk melihat sendiri Maduraras, gadis yang bernasib buruk.

Ketika dilihatnya bahwa benar-benar Maduraras adalah seorang gadis yang cantik jelita, hatinya makin cemburu dan khawatir.

Tapi ia tak dapat membenci gadis itu yang menerimanya dengan ramah-tamah dan yang sebentar saja dapat memikat hati gadis-gadis lain dan menjadi kawan baik.

Mbok Rondo Gendingan yang berwatak peramah dan baik hati, menerima Maduraras dengan hati terbuka.

Janda yang berkeadaan serba cukup dan punya sawah beberapa patok itu tidak mau menerima uang kerugian dari Jarot, bahkan ia menjawab tak senang.

"Gus Jarot mengapa demikian sungkan? Kau telah begitu baik untuk menolong seorang gadis yang sama sekali tidak kau kenal sebelumnya apa kau kira aku demikian kejam untuk menolak gadis yang demikian buruk nasibnya itu? Jasa baik jangan kau borong sendiri!"

Jarot tak dapat membantah apa-apa hanya menyatakan terima kasihnya.

Maduraras ternyata seorang gadis lincah dan pandai bergaul hingga sebentar saja semua orang kenal padanya sebagai anak angkat Mbok Rondo Gendingan.

Sulastri juga merasa suka dan bangga mempunyai seorang saudara yang selain cantik, juga pandai dalam seni tari dan seni suara, juga ahli dalam pekerjaan kerajinan tangan.

Dengan cepat Maduraras dapat menyenangkan hati Sekarsari dan segera mereka menjadi kawan baik.

Hampir setiap hari Maduraras berkunjung ke rumah Sekarsari.

Sikapnya kepada Jarot makin mesra dan secara terang-terangan ia perlihatkan perasaan hatinya kepada pemuda itu.

Tentu saja sikap ini membuat Jarot merasa bingung dan likat, sedangkah diam-diam Sekarsari merasa sakit hati.

Jarot dapat pula meraba dan memaklumi perasaan yang terkandung dalam dada Sekarsari, maka sedapat mungkin ia berusaha menjauhkan diri dari Maduraras yang seakan-akan mengejar-ngejarnya itu.

Beberapa hari kemudian, Jarot berjalan perlahan sambil tuntun kendali Nagapertala.

Telah beberapa hari kudanya itu gelisah saja, meringkik-ringkik dalam kandang dan tak suka makan.

Sekarsari sengaja mencari rumput hijau yang gemuk segar dari seberang bengawan, namun tetap Nagapertala hanya mencium-ciumnya saja tapi tak mau memakannya.

"Barangkali dia sakit, mas!"

Kata Sekarsari cemas. Tapi Jarot tidak melihat tanda-tanda sakit pada tubuh kuda itu.

"Mungkin dia kesal karena terlalu menganggur di kandang saja. Biarlah besok akan kucoba dia berlari."

Benar saja, ketika Jarot meloncat ke atas punggungnya, kuda itu meringkik gembira dan lari ke depan dengan liarnya.

Jarot belokkan kuda itu ke arah hutan dan Nagapertala dengan cepat sekali lari sekuat tenaga.

Keempat kakinya seakan-akan tak menginjak tanah dan bulu surinya berkibar tertiup angin.

Kegembiraan Nagapertala itu mempengaruhi Jarot hingga ia pun menjadi gembira dan lupa pulang.

Demikianlah, Jarot dan Nagapertala berlomba melawan angin.

Setelah cuaca mulai gelap, barulah mereka menuju pulang.

Kini berubahlah watak kuda itu, tidak gelisah dan lesu lagi.

Ketika mereka sudah mendekati kampung, Jarot membiarkan Nagapertala berjalan congklang.

Tiba-tiba kuda itu menahan kaki depannya dan mengeluarkan ringkik perlahan.

Jarot memperhatikan keadaan sekitarnya dan tampaklah olehnya bayangan seorang wanita duduk di atas gelengan sawah sambil menutupi mukanya dengan tangan, menangis.

Alangkah herannya ketika la melihat bahwa wanita itu bukan lain ialah Maduraras!

Ia cepat turun dari punggung Nagapertala dan menghampiri gadis itu, membiarkan Nagapertala terlepas dan makan rumput di pinggir sawah.

"Maduraras, mengapa kau berada seorang diri dan menangis di sini?"

Maduraras tampak terkejut mendengar suara ini.

Ketika ia angkat muka memandang dan melihat bahwa yang bertanya itu adalah Jarot, ia tutup mukanya lagi dan tangisnya makin menjadi.

Jarot ikut duduk di atas gelengan.

"Maduraras, kau kenapakah? Siapa yang telah mengganggumu?"

Maduraras hanya geleng-geleng kepala, tapi tak menjawab.

"Bilanglah terus terang. Kenapa kau menangis?"

Jarot mendesak.

"Aku... aku... ah, biarlah, memang nasibku yang malang..."

"Apa maksudmu? Hayo kita pulang saja, mbok rondo tentu mencarimu."

"Aku tidak mau kembali, aku... aku malu"."

Jarot makin penasaran dan ingin tahu.

"Kau mengapakah? Apa yang telah terjadi?"

Tiba-tiba Maduraras angkat mukanya yang cantik dan pandang wajah Jarot dengan mesra.

"Kang Mas Jarot... kau... kau kasihankah padaku?"

Jarot mengangguk.

"Kau tahu betapa aku kasihan padamu."

"Dan... dan kau... cintakah kau padaku?"

Pertanyaan ini membuat Jarot merasa mukanya panas dingin. Ia tak berani bergerak untuk beberapa lama, pikirannya bingung. Kemudian ia tetapkan hatinya dan menjawab juga.

"Jangan kautanyakan tentang cinta, Maduraras. Aku... kasihan dan suka padamu, tapi tentang cinta...ah, aku tak dapat mencintaimu, Maduraras."

Maduraras palingkan muka seakan-akan hindarkan sebuah pukulan.

"Kalau begitu... dia berkata benar..."

"Dia siapa?"

"Sekarsari... dia... pagi tadi telah cekcok dengan aku..."

"Apa yang kalian ributkan?"

"Tentang... tentang kau!"

Jarot merasa mukanya panas.

"Apa? Tentang aku?"

"Kami bertemu di bengawan dan,... Sulastri menyindir dan menggodaku tentang hubunganku dengan kau... dan mengatakan bahwa... kau dan aku saling mencinta. Sekarsari yang mendengar godaan Sulastri itu hanya tampak marah tapi diam saja. Aku coba menghiburnya dengan berkata bahwa Sulastri menyangka salah, bahwa sebenarnya Sekarsarilah yang menjadi sasaran godaan itu. Tapi Sekarsari bahkan menjadi marah. Ia berkata persetan dengan engkau dan ia tidak perduli sedikitpun juga dengan siapa kau bercinta dan ia katakan aku... aku memikatmu, ia katakan aku tak bermalu, katanya aku gadis terlantar tak tahu diri, ia tuduh aku datang membuat kacau dan susah orang lain saja Aku menjadi marah dan... dan hampir berkelahi..."

Jarot bangun dan berdiri diam bagaikan patung.

Ia bingung dan menyesal.

Mengapa Sekarsari sebodoh itu?

Tidak percayakah gadis itu padanya?

Maka teringatlah olehnya bahwa selama itu belum pernah ia menyatakan cintanya kepada Sekarsari!

Tiba-tiba sentuhan tangan halus pada lengannya menyadarkannya.

"Mas Jarot. benar-benarkan kau begitu kejam? Benarkah kau tidak mau terima persembahan hatiku? Mas... aku akan cukup berbahagia untuk menjadi... selirmu. Kau kawinlah dengan Sekarsari kalau itu yang kau kehendaki. Aku... aku... asalkan aku boleh ikut padamu, Mas. Biar aku menjadi pelayan Sekarsaripun akan kujalani, asal kau mau membalas kasihku..."

Jarot berkata lirih penuh haru.

"Maduraras, kau adalah seorang gadis yang cantik jelita. Banyaklah kiranya satria gagah dan tampan yang akan berbahagia untuk menyunting bunga seindah kau ini. Jangan kau curahkan perhatianmu padaku. Aku... aku miskin tak berharga, dan... terus terang saja aku hanya bisa mencinta seorang gadis di dunia ini, Maduraras."

"Sekarsari?"

Jarot mengangguk dan tiba-tiba Maduraras lepaskan pegangannya pada lengan Jarot seakan-akan lengan itu panas membara.

"Kau... kau kejam? Kalau begitu, mengapa kau tolong aku dulu? Untuk apa aku tinggal di sini menerima hinaan? Biarlah, biarlah aku pergi saja!"

Lalu dengan tak tersangka-sangka, gadis jelita itu dengan sigap dan cekatan meloncat ke atas punggung Nagapertala!

Jarot berdiri kesima melihat gerakan terlatih itu, sungguh tak disangka bahwa gadis itu demikian gesit.

Maduraras dengan gemas dan marah menarik kendali dengan sentakan keras hingga Nagapertala yang merasa asing dengan perlakuan kasar ini timbul sifat liarnya.

Ia angkat kedua kaki depan, meringkik-ringkik dan menggoyang-goyangkan punggungnya hingga tak mungkin bagi gadis itu untuk bertahan lebih lama!

Maduraras terlempar dari punggung kuda itu dan menjerit.

Untung baginya, Jarot berlaku cepat dan dapat menyambar tubuh yang terlempar itu, tapi tidak urung kaki gadis itu masih membentur batu hingga berdarah.

"Sabar, Maduraras. Engkau hendak kemana?"

"Biarkan aku pergi! Biarkan aku pergi!!"' gadis itu menjerit-jerit dan meronta-ronta, Jarot lepaskan tangannya dan Maduraras lari pergi! Tapi baru saja maju beberapa tindak, ia mengaduh dan roboh terguling. Jarot cepat memburu.

"Kenapa, Maduraras... kau kenapa?"

"Aduh... kakiku..."

Gadis itu merintih.

Jarot merasa betapa akan sia-sianya berunding dengan gadis yang sedang nekat dan panas hati itu.

maka tanpa banyak cakap lagi ia pondong tubuh itu dan naikkan ke atas punggung Nagapertala.

Kemudian ia sendiri lalu meloncat dan duduk di belakang gadis itu.

Maduraras hanya meramkan mata dan air mata membasahi kedua pipinya.

Dengan perlahan Nagapertala berjalan menuju kampung mereka.

Sementara itu Sekarsari duduk melamun seorang diri di kebun belakang rumahnya.

Ia heran mengapa Jarot belum juga pulang.

Hatinya makin tak senang, wajahnya makin keruh.

Ia masih merasa marah semenjak pertemuannya dengan Maduraras pagi tadi.

Tadi, pagi-pagi sekali ia telah pergi ke bengawan untuk mencuci pakaian dan mandi seperti biasa.

Kawan-kawannya belum datang dan kesunyian di situ membuat ia duduk melamun, mendengarkah bunyi riak air dan kicau burung.

Hatinya diliputi kesedihan dan keraguan.

Ia tahu bahwa ada terjadi sesuatu pada diri Jarot semenjak Maduraras datang ke kampungnya.

Mula-mula ia merasa marah, kecewa dan cemburu.

Ingin ia dapat membenci Jarot.

Ingin ia dapat mengajak Maduraras berkelahi!

Tapi cintanya yang selalu terpendam terhadap pemuda itu terlampau besar hingga tak mungkin ia dapat membencinya.

Sedangkan untuk marah dan mengajak berkelahi Maduraras, ah, gadis itu terlampau baik dan ramah-tamah.

Maka ia hanya dapat menyiksa hati sendiri dengan pikiran yang bukan-bukan karena cemburu.

Ketika ia sedang melamun, datanglah Sulastri dan Maduraras.

Memang gadis yatim-piatu ini seringkali membantu Sulastri mencuci pakaian.

Maka mereka bertiga lalu mulai mencuci.

Maduraras tampak gembira sekali dan dengan suaranya yang merdu gadis itu menembang lagu Sinom Parijoto.

Kata-kata dalam tembang itu menceritakan kerinduan seorang gadis kepada kekasihnya.

Setelah Maduraras selesai menembang.

Sulastri menggodanya dengan tertawa.

"Aah, kalau Mas Jarot sedang berjalan kaki tentu akan tersandung-sandung dan kalau ia sedang makan tentu akan keseduan!"

Mendengar nama Jarot disebut-sebut, Sekarsari yang sedang berhati murung itu bertanya sambil lalu.

"Mengapa?"

"Tentu saja, karena barusan Maduraras merindukannya dalam tembang Sinom. Siapa lagi yang dirindukan oleh Maduraras selain Jarot??"

Sulastri tertawa dan Maduraras segera gunakan kedua tangannya menyiram muka gadis yang menggodanya itu dengan air.

Sekarsari makin tak senang dan di dalam hati ia merasa panas dan mendongkol yang bukan-bukan!

Maduraras dengan wajah merah tudingkan telunjuknya kepada Sulastri.

"Mengobrol? Kau hendak menyangkal? Tak tahukah aku betapa tiap malam kau bermimpi dan dalam mimpimu kau bertemu dengan Mas Jarot?"

"Ah, bohong...! Mana kau bisa tahu akan mimpi orang lain!"

"Mengapa tidak tahu? Dalam mimpi kau selalu mengigau dan menyebut-nyebut nama Mas Jarot!"

Maduraras tundukkan kepala dengan wajah merah, dan matanya yang jeli dan tajam itu mengerling ke arah Sekarsari, lalu berkata.

"Lastri, jangan kau terlalu menggodaku dengan Kang Mas Jarot, Sekarsari bisa marah..."

Sebutan "Kang Mas"

Yang diucapkan dengan gaya mesra itu menambah besar nyala api kemarahan dalam hati Sekarsari. Ia berhenti mencuci dan sambil bertolak pinggang ia menghadapi Maduraras dan berkata angkuh.

"Tutup mulutmu! Kenapa kau bawa-bawa aku dalam percakapanmu yang rendah tak tahu malu itu? Memang Mas Jarot itu apaku maka aku harus marah? Aku bukanlah wanita serendah engkau, mudah saja mengaku-aku seorang laki-laki sebagai kekasihnya!"

Senyum kesukaan menghias mulut Maduraras ketika ia melihat kemarahan Sekarsari. Jawabnya.

"Eh-eh, Sari, kenapa kau marah? Aku tidak mengaku-aku. Aku memang cinta kepada Kang Mas Jarot, tapi belum tentu ia mencintaku sungguhpun dari sikapnya aku tak ragu-ragu lagi. Tapi, boleh jadi dia mencintamu, karena bukankah kau serumah dengan ia?"

"Perempuan rendah! Perempuan terlantar yang hanya mengacau kebahagiaan orang! Kau anggap aku orang macam apa? Jangan kau berani singgung singgung namaku lagi dalam percakapan gila dan tak tahu malu ini!"

Maduraras pun timbul napsu marahnya. Ia turunkan cuciannya dan memandang lawannya dengan mata bernyala.

"Eh-eh, Sari. Mengapa kau memaki orang? Kau ini siapakah maka mau menghina orang seenaknya dan mau menang sendiri saja?"

Tegurnya. Sekarsari makin marah.

"Kau mau tahu aku siapa? Majulah! Kalau sudah kurobek mulutmu baru kau tahu aku siapa!"

Dan dengan sikap mengancam Sekarsari maju hendak menyerang. Sulastri cepat memisah mereka.

"Sudahlah, sudahlah, Sari, maafkan Maduraras kalau kau anggap dia menggodamu. Kenapa kau sekarang mudah sekali marah, Sari, Ada apakah? Sakitkah kau?"

Pertanyaan ini diucapkan oleh Sulastri dengan halus sambil pegang pundak gadis yang sedang marah itu hingga lenyaplah kemarahan dari hati Sekarsari, terganti oleh rasa sengsara hati.

Sekarsari tutup muka dengan kedua tangan lalu menangis sedih.

"Sari, maafkan aku... aku berdosa padamu..."

Maduraras berkata lirih sambil peluk Sekarsari, lalu ia naik ke atas tebing dan lari meninggalkan tempat itu, membuat Sulastri heran sekali, karena ia sama sekali tidak mengerti akan sikap ini.

Sehari itu Sekarsari tak dapat bekerja seperti biasa.

Hatinya terlalu sakit dan pikirannya terlalu bingung.

Mengapa ia harus marah kepada Maduraras dan seakanakan mengukuhi Jarot sebagai hak miliknya?

Berhak apakah ia atas diri pemuda itu?

Cintakah Jarot padanya?

Belum pernah pemuda itu menyatakan cinta padanya dengan kata-kata, walaupun sikap dan perhatian Jarot terhadapnya tak meragukan lagi.

Tiba-tiba Sekarsari tersadar dari lamunan ketika mendengar ringkik kuda dari jauh.

Itu ringkik Nagapertala tak salah lagi!

Maka berlari-larilah ia ke arah bunyi itu datang.

Tapi setelah bunyi kaki kuda terdengar dekat, ia merasa malu untuk menyambut kedatangan Jarot sedemikian rupa.

Bagaimana kalau sampai terlihat oleh Maduraras atau Sulastri?

Alangkah akan malunya dia!

Pikiran ini mendorongnya untuk menyelinap ke dalam kegelapan bayang-bayang pohon.

Matanya tajam memandang bayangan orang dan kuda yang makin mendekat.

Hampir saja ia perdengarkan seruan terkejut ketika kuda itu lewat perlahan, tak salahkah penglihatannya?

Tak mungkin!

Jelas tampak olehnya Maduraras duduk di depan Jarot dan gadis itu sandarkan kepalanya di dada Jarot.

Biarpun cuaca sudah mulai gelap, namun masih tampak olehnya betapa Maduraras menangis perlahan dan betapa muram tampak wajah Jarot!

Sekarsari tak merasa lagi detak jantungnya yang seakan-akan berhenti.

Dadanya menjadi panas seakanakan hendak meledak.

Pipinya terasa terbakar dan kepala pening.

Cepat-cepat ia berpegang pada dahan yang tergantung rendah untuk mencegah tubuhnya yang limbung dan akan roboh itu.

Jiwanya menjerit, hatinya hancur.

Setelah dapat kumpulkan kekuatannya kembali, perlahan-lahan ia berjalan terseok-seok kembali ke pondoknya.

Tapi Sekarsari adalah seorang gadis yang berhati kuat dan pada dasarnya ia berwatak angkuh dan tinggi hati.

Biarpun merasa sengsara dan sangat bersedih, tak sudi ia memperlihatkan sikap lemah dan ia mengambil keputusan untuk tidak memperlihatkan kehancuran hatinya kepada Jarot.

Sebelum masuk pondok, ia pergi ke belakang rumah dan mencuci mukanya dari bekas air mata dengan air persediaan di gentong.

Kemudian ia masuk rumah, dan menyiapkan hidangan malam untuk Ayahnya dan Jarot seperti biasa.

Ki Galur yang cukup mengenal watak dan keadaan gadisnya, maklum bahwa tentu terjadi sesuatu yang luar biasa pada diri Sekarsari.

Belum pernah ia melihat Sekarsari berwajah seperti itu, muram dan dingin.

Ia tahu akan perasaan hati Sekarsari terhadap Jarot, bahkan ia merasa bersyukur kalau anak gadisnya dapat menjadi isteri Jarot, pemuda yang ia kagumi itu.

Tentu kemuram-durjaan itu ada hubungannya dengan Jarot, pikir Ki Galur.

Dipanggilnyalah anaknya mendekat dan mereka duduk di atas sebuah bale-bale.

"Sari, kulihat kau mempunyai ganjelan hati. Apakah yang kau sedihkan, nak?"

Sekarsari menggigit bibirnya dan sambil menunduk ia menggeleng kepala. Kemudian, bibirnya bergerak perlahan dan berkata lirih.

"Tidak apa-apa, Ayah."

Ki Galur memandang wajah yang menunduk itu dengan penuh perhatian dan kasih sayang, lalu berkata perlahan, suaranya penuh kesabaran.

"Sari, aku sudah tua, nak. Harapanku satu-satunya hanya ingin melihat kau berbahagia dan kalau mungkin... sebelum aku mati, aku ingin sekali melihat kau... kau duduk di samping Gus Jarot sebagai isterinya."

Sekarsari mengangkat muka dan memandang wajah Ayahnya dengan terharu, ia tahan-tahan hatinya, tapi kemudian bagaikan ada yang mendorongnya dari belakang ia menubruk Ayahnya dan menjatuhkan kepala di atas pangkuan Ki Galur sambil menangis terisak-isak.

"Ayah... Ayah.."

Suaranya membisikkan rintihan hatinya yang terluka.

Ki Galur terkejut.

Ia mengusap-usap rambut yang lebat halus di kepala anaknya sambil menghela napas dan diam-diam ia menyapu kering dua butir air mata yang menetes turun dari pelupuk matanya.

"Sari, anakku, apakah yang terjadi antara kau dan Gus Jarot? Bercekcokkah kalian?"

Kembali Sekarsari menggeleng kepala.

"Dia... dia... cinta kepada Maduraras, Ayah""

"Apa? Gadis yang ditolongnya itu? Ah, tak bisa jadi. Itu hanya dugaanmu saja. Gus Jarot bukanlah macam pemuda yang mudah jatuh hati."

Sekarsari tak menjawab, hanya menangis terisak-isak. Ia merasa terhibur oleh kata-kata Ayahnya dan dipangkuan Ayahnya ia merasa aman.

"Sari, kau cinta kepada Gus Jarot, bukan?"

Sekarsari gerakkan kepala mengangguk perlahan tanpa melihat Ayahnya.

"Dan". dia belum melamarmu?"

Kembali gadis itu menggeleng kepala, lalu berkata malu-malu dan perlahan.

"Kalau melamar juga tentu kepadamu, Ayah, bukan langsung padaku."

Ki Galur menghela napas.

"Aah, sebetulnya sudah waktunya bagi Gus Jarot untuk mengajukan lamaran. Biarlah, Sari, nanti kalau dia datang, aku akan bicarakan urusan ini dengan dia."

Serentak Sekarsari bangun dan memandang Ayahnya.

"Apa? Ayah hendak bicara padanya tentang aku? Tidak, tidak! Jangan kau lakukan hal itu, Ayah!"

Ki Galur memandangnya heran.

"Kenapa, Sari?"

"Perlukah kita merendah sedemikian rupa? Jangan, Ayah, aku tidak sudi ditawar-tawarkan, aku tak sudi memaksa dia mengawiniku! Aku tidak sudi seperti Maduraras, memikat-mikat hatinya!"

Dan dengan marah Sekarsari lari ke dalam biliknya.

Ia tidak keluar lagi biarpun ia mendengar Jarot datang dan makan bersama Ayahnya.

Ia mendengarkan baik-baik, siap untuk mencegah dan membantah, jika Ayahnya menawarkan dirinya.

Tapi Ki Galur cukup kenal wataknya yang keras.

Orang tua itu hanya bercakap-cakap tentang soal biasa dan tidak menyinggung-nyinggung dirinya.

Penutup percakapan mereka adalah sebuah pertanyaan dari Jarot.

"Sari ke mana, Paman? Aku tidak melihatnya sejak tadi."

Pertanyaan itu dijawab oleh Ki Galur sambil lalu.

"Ia sudah tidur. Agak pusing barangkali, atau terlampau lelah."

Dan Jarot tak berkata apa-apa lagi, lalu masuk ke biliknya.

Malam itu keadaan Jarot dan Sekarsari sama.

Mereka gelisah dan tak tenang.

Baik Sekarsari maupun Jarot tak dapat meramkan mata barang sesaat.

Hawa malam itu panas.

Agaknya mendung tak juga mau memberi jalan kepada air yang hendak menghujan.

Setelah dapat menenteramkan pikiran dan agak mereda gelisahnya, Jarot merasa betapa panas hawa dalam biliknya dan keluarlah dia dari bilik.

Hawa di luar lebih sejuk karena angin malam bertiup perlahan bagaikan kipas raksasa yang bergerak tak tampak.

Dengan tak sengaja kakinya melangkah ke arah bengawan.

Cahaya ribuan bintang di langit yang suram tertutup mendung di beberapa tempat membuat pohon-pohon tampak bagaikan raksasa-raksasa mengerikan menghadang di tengah jalan.

Ketika tiba dekat bengawan, tiba-tiba Jarot mendengar suara seorang wanita berkata marah.

"Tidak, tidak mau!"

Dan suara itu disusul tangisan sedih.

Hati Jarot tercekat.

Itulah suara Maduraras!

Ia cepat bersembunyi di belakang alang alang dan mengintai.

Alangkah herannya ketika ia melihat bahwa Maduraras sedang duduk di atas sebuah batu sambil menangis sedih, sedangkan di depannya berdiri seorang laki-laki yang bertolak pinggang.

Ketika ia memandang tajam, ternyata bahwa laki-laki itu bukan lain ialah Raden Mas Bahar!

Jarot menjadi marah sekali dan hasratnya besar sekali untuk segera meloncat dan memberi hajaran kepada laki-laki jahanam itu!

Tapi karena ia tak melihat Bahar berbuat sesuatu yang jahat, maka ia sabarkan hati dan terus mengintai.

"Raras, apakah kau tidak mau membantu kakakmu? Bukankah di dunia ini hanya kau seorang yang mau membantuku, mau membelaku? Kalau bukan kau yang menolong, siapakah lagi, Raras? Ayah tentu tak sudi memperdulikan aku atau kau!"

"Kurang apakah aku membelamu? Kurang apakah aku membuktikan sayangku sebagai adikmu? Kau suruh aku lakukan sesuatu yang jahat, kau suruh aku bermain sandiwara, menipu Mas Jarot, merusak perhubungan Jarot dan Sekarsari, kau suruh aku menghancurkan hati Sekarsari, dan semua itu telah kulakukan! Bukankah itu sudah cukup membuktikan sayangku kepadamu, Mas Bahar? Tapi, untuk mencelakai jiwa Mas Jarot. Aah, jangan Mas. Jangan kau sekejam itu, aku... aku tak sanggup melakukan permintaanmu ini..."

"Raras! Tak tahukah kau betapa sakit hatiku kepadanya belum juga terbalas? Aku telah dipukulnya, dihinanya, direndahkannya di hadapan Sekarsari. Kau tahu betapa rinduku kepada gadis itu. Kalau Jarot tidak disingkirkan, ia merupakan rintangan besar, Raras. Tidak maukah kau berusaha membantu kakakmu supaya terlaksana keinginanku kawin dengan Sekarsari?"

Maduraras mendengarkan dengan menunduk dan masih terisak-isak.

Sementara itu Jarot seakan-akan mendengar suara setan-setan berbicara dari neraka ketika ia mendengar percakapan itu.

Demikian jahatkah Maduraras?

Jadi selama ini, semua perbuatan gadis jelita itu hanya pura-pura dan gadis itu telah berusaha memikatnya, agar hubungannya dengan Sekarsari terputus?

Ah, jahatnya!

Jarot merasa betapa tubuhnya menggigil karena marah kepada kakak beradik jahanam yang tengah bercakap-cakap di depannya itu.

"Aku sudah berusaha, kak, tapi... apa dayaku? Kang Mas Jarot tidak... cinta padaku... Aku tak sanggup memisahkannya dari Sekarsari..."

"Nah, kalau begitu, tiada jalan lain, Raras. Mudah saja, besok kau pergi mengunjungi mereka dan carilah kesempatan untuk menyuguhkan minuman kepada Jarot. Kau masukkan saja bubuk ini ke dalam minumannya, dan... akan terbalaslah dendam hatiku!"

"Jangan...! Tidak mau, Mas Bahar! Aku tak sanggup!"

"Kau... setan alas! Kau beratkan dia daripada kakakmu sendiri?"

"Bukan demikian, tapi... aku... aku... Mas Jarot..."

Tiba-tiba Bahar melayangkan tangan menempeleng kepala Maduraras.

"Keparat! Jadi rupa-rupanya kau jatuh cinta kepada pemuda jahanam itu, ya?"

Pada saat menerima pukulan itu, timbullah perlawanan dalam hati Maduraras. Memang sungguhpun ia sangat sayang kepada kakaknya, namun ia berani melawan jika merasa dirinya benar.

"Memang! Aku cinta padanya! Aku cinta padanya! Dan Kau lah yang kejam, Kau lah yang membuatku begini! Kalau bukan karena muslihatmu yang buruk, aku selamanya takkan kenal padanya! Sekarang aku telah mengenalnya, telah mengetahui kebaikannya, dan... dan aku jatuh cinta. Cinta sia-sia, Mas Bahar, cinta sengsara, karena dia tidak membalas cintaku! Dan aku, adikmu yang kau sayang ini sekarang menderita, selama hidup akan menderita karena kau! Ah, aku menyesal... bunuhlah saja aku, Mas Bahar...!"

"Kau juga cinta kepada Jarot? Ha ha! Sungguh gila. Kau yang menolak pinangan Pangeran sekarang jatuh hati kepada anak melarat itu?"

"Ya! Memang aku cinta pada Kang Mas Jarot! Ia lebih jantan daripada Pangeran, lebih jantan daripada kau, lebih bijaksana daripada siapa juga. Aku tidak malu jatuh hati padanya!"

Bahar mencabut kerisnya.

"Raras, lihat ini, masih ingatkah kau pusaka ini?"

"Kau bawa-bawa pusaka ibu mau apa?"

"Ketika akan menutup mata, ibu meninggalkan pusaka ini untuk kita. Ingatkah kau akan pesan beliau? Bahwa kita harus saling bantu, saling bela. Sekarang kau tidak mau membantuku, Raras. Inginkah kau melihat aku mati di ujung pusaka ini?"

"Mas Bahar... kau kejam, Mas. Mintalah yang lain, suruhlah aku menyerbu api menyelami samudra, akan kujalani dengan patuh. Tapi jangan... jangan minta aku membunuh Kang Mas Jarot..."

Ratap tangis Maduraras.

"Jahanam! Perempuan tak kenal budi...!"

Dengan wajah beringas Bahar maju dengan keris di tangan. Melihat sikap kakaknya, Maduraras tidak gentar bahkan ia maju setindak mengangkat dadanya.

"Kau mau membunuh aku? Bunuhlah, Mas. Aku rela mati di tangan kakak sendiri. Ini, tusuklah dadaku..., biar aku menyusul ibu..."

Melihat sikap Maduraras dan mendengar kata-katanya, lemaslah tangan Bahar. Kemudian dengan suara menyeramkan ia berkata.

"Baiklah, aku tak sampai hati membunuhmu, tapi aku takkan sudah sebelum Jarot mampus dan Sekarsari menjadi isteriku."

Sampai pada saat itu Jarot tak dapat menahan lagi kemarahannya. Dengan sekali loncat ia telah berdiri di depan Bahar sambil bertolak pinggang.

"Pengecut! Macam inikah watak seorang satria? Bahar, alangkah rendahnya budimu. Kau tidak malu menaruh dendam padaku, padahal permusuhan kita kau sendirilah yang membuatnya. Dalam dendam kesumatmu yang buta dan sesat ini kau bahkan menyeret-nyeret adikmu sendiri yang suci hingga membuatnya menjadi gadis penipu dan pemikat yang rendah!"

Terdengar jerit Maduraras disusul tangis mendengar kata-kata yang menusuk kalbunya ini.

"Jarot, jangan kau banyak tingkah!"

Bahar berseru marah lalu ia bertepuk tangan tiga kali.

Dari belakang batang-batang pohon muncullah empat orang tinggi besar, kaki tangan Bahar!

Tanpa banyak cakap mereka berlima menyerang Jarot dengan ruyung dan keris.

"Mas Bahar... jangan, Mas..."

Teriak Maduraras sambil maju menubruk kakaknya untuk menghalangi, tapi sekali dupak saja robohlah gadis itu. Jarot menjadi marah sekali.

"Kalian mencari mampus?"

Bentaknya dan dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan kecepatan tangan kakinya ia melayani lima orang lawan yang bersenjata itu dengan tangan kosong!

Biarpun Bahar dulu pernah merasai kekerasan tangan Jarot, namun kini ia tidak takut karena ia dibantu oleh empat orang yang terkenal cabang atas dan ahli-ahli silat kelas satu.

Sambil mengirim serangan ia berseru.

"Pukul mati keparat ini. Habisi dia!"

Tapi Jarot tak gentar sedikitpun.

Tubuhnya bergerak cepat hingga seakan-akan ia terpecah menjadi lima dan dapat melayani masing-masing lawannya.

Kelima lawan itu berkunang-kunang melihat kecepatan Jarot dan seorang di antara.mereka menjadi gentar dan menyangka pemuda itu menggunakan ilmu iblis.

Hal ini membuat gerakannya menjadi lambat dan sapuan kaki kiri Jarot membuat sambungan lututnya terlepas dan ia jatuh terduduk dengan meringis-ringis dan mengurut-urut dengkulnya yang tiba-tiba menjadi lumpuh!

Ketika seorang lawan lain dari kanan mengayun ruyung ke arah kepala Jarot, pemuda ini dengan sigapnya berkelit ke kiri dan dengan jari tangan terbuka ia menyodok lambung lawan itu.

Orang tinggi besar itu berteriak kesakitan, ruyungnya terlepas dan ia menggunakan kedua tangan menekan-nekan perutnya karena sodokan jari tangan Jarot tadi membuat perutnya tiba-tiba menjadi mulas dan sakit sekali.

Sambil mengerang dan merintih ia mundur, duduk di bawah sebatang pohon sambil memegangmegang dan menekan-nekan perutnya!

Jarot tidak mau berlaku kejam kepada empat jagoan itu, karena ia maklum bahwa mereka ini hanya diperalat oleh Bahar.

Kepada Bahar seoranglah kebenciannya meluap.

Maka dengan beruntun ia robohkan dua pembantu Bahar yang lain dengan hanya memberi hadiah tendangan dan pukulan yang tidak membahayakan jiwa mereka tapi yang cukup membuat mereka rebah tak kuasa bangun lagi.

Maka tinggal Bahar seoranglah yang masih berlaku nekat.

"Jarot, kalau bukan kau, tentu akulah yang hari ini menjadi mayat!"

Geramnya sambil maju menyerang dengan nekat.

"Kau yang mulai, bukan aku!"

Jawab Jarot sambil berkelit dengan mudahnya.

Dengan keris pusaka ibunya Bahar menyerang bertubi-tubi, tapi sambil tersenyum mengejek Jarot mempermainkannya dengan berloncatan ke sana ke mari, kadang-kadang tangannya menowel pundak, menjiwir telinga dan menjambak rambut.

Tentu saja dipermainkan demikian Bahar makin marah dan nekat.

Dadanya terasa panas dan matanya gelap.

"Mas Jarot, ampunkan padanya, Mas..."

Tiba-tiba terdengar suara Maduraras memohon. Sambil berkelit Jarot berkata kepada Bahar.

"Kau masih tidak kapok? Hentikan seranganmu dan aku ampunkan padamu. Kalau bukan aku kasihan kepada Maduraras, tidak nanti aku sudi ampunkan jiwamu yang rendah."

Pada saat itu terdengar isak tertahan di balik batang pohon kelapa dan sesosok bayangan seorang gadis lari menyelinap ke dalam gelap.

Dia ini bukan lain ialah Sekarsari!

Gadis ini yang gelisah dan tak dapat tidur, keluar dari biliknya dan dengan pikiran ruwet ia menuju ke bengawan.

Melihat Jarot sedang berkelahi dikeroyok dan ada beberapa orang lawan Jarot rebah merintih-rintih, ia terkejut sekali.

Tapi tiba-tiba terlihatlah olehnya Maduraras menangis, maka diam-diam ia bersembunyi.

Ketika ia melihat bahwa yang memimpin pengeroyokan itu bukan lain ialah Bahar, maka mengertilah ia.

Tentu Maduraras diganggu oleh Bahar dan Jarot datang menolong!

Atau, pikirnya dengan hati panas, mungkin Jarot dan Maduraras sedang membuat pertemuan di situ dan diganggu oleh Bahar!

Kini ia melihat betapa Jarot dengan mudahnya mengampuni Bahar hanya karena diminta oleh Maduraras.

Sekarsari tak dapat menahan panas hatinya lebih lama lagi dan sambil menahan isak tangisnya, ia lari meninggalkan tempat itu!

Bahar mendengar kata-kata Jarot bukannya menghentikan serangannya, bahkan ia mundur beberapa tindak dengan napas terengah-engah dan mata terbelalak marah.

Kemudian, sambil mengeluarkan geraman hebat, ia ayun keris pusaka ke arah Jarot!

Serangan ini berbahaya sekali karena Bahar memang mahir melempar keris.

Keris pusaka itu dengan lajunya bagaikan anak panah menyambar leher Jarot.

Jarot maklum betapa berbahaya serangan gelap ini karena cuaca yang gelap tak memungkinkan ia melihat datangnya keris dengan jelas.

Baiknya telinga Jarot sudah terlatih hebat hingga ia dapat menangkap suara angin yang terbawa keris itu.

Karena sudah tiada waktu untuk berkelit pula, ia menggunakan jari tangan kanannya menyampok ke arah keris.

Keris pusaka itu terpental sedemikian rupa hingga senjata itu membuat gerakan membalik dan langsung melayang ke arah Bahar.

Terdengar teriakan ngeri ketika keris itu menancap di dada Bahar yang roboh berkelojotan dan menghembuskan napas terakhir setelah beberapa kali menyebut ibunya!

Karena kelalimannya, pusaka mendiang ibunya telah menghabisi riwayatnya dengan tak terduga dan tak disengaja.

Melihat kejadian ini Maduraras menyerbu tubuh kakaknya dan sambil menangis dan menjerit-jerit ia peluki tubuh itu.

Dan Jarot berdiri kesima dan lesu.

Ia menyesal sekali hingga ia hanya dapat memandang gadis yang menangis sedih itu tanpa dapat bergerak maupun berkata-kata.

Karena sedih dan putus asa, Maduraras jatuh pingsan di samping mayat kakaknya.

Dan pada saat itu, jatuhlah air hujan menimpa dan membasahi segala apa di permukaan bumi.

Kilat menyambar-nyambar, guntur menggelegar, dan udara penuh dengan gema hiruk-pikuk menyeramkan, seakanakan semua iblis, demit, dan setan bekasakan keluar dari tempat persembunyian masing-masing pada saat itu, siap untuk mencari korban.

Jarot masih berdiri bagaikan patung.

Kemudian ia mengambil keputusan untuk membawa mayat Bahar dan mengantarkan Maduraras ke Tumenggungan, tempat tinggal Tumenggung Suryawidura, yang ia kini tahu, adalah Ayah Maduraras!

Tapi, pada saat kakinya bergerak maju, tiba-tiba dari belakangnya datang berloncatan tiga orang yang memegang tombak.

"Hordah! Berhenti kamu. Siapa di situ?"

Tiga orang membentak berbareng dan tiga batang tombak dipalangkan mencegat majunya Jarot!

Jarot menggunakan kedua tangan menolak tombak itu, tapi alangkah terkejutnya ketika tiga tombak itu tidak terpental karena pemegang-pemegangnya ternyata bertenaga besar sekali.

Semua urat dalam tubuh Jarot menegang dalam persiapan, karena ia maklum bahwa kali ini ia harus menghadapi lawan-lawan yang tak mudah dikalahkan!

Secepat kilat ia loncat berbalik menghadapi ketiga pemegang tombak itu dan ia saling pandang dengan Adipati Uposonto dan dua orang pahlawan Keraton lain!

"Dimas Jarot!"

Uposonto berseru tercengang.

"Kau sedang apa di sini?"

Kemudian di antara menyambarnya kilat, tampak oleh adipati itu tubuh Bahar membujur kaku dan tubuh Maduraras yang rebah tak bergerak di dekatnya.

"Eh, mereka siapa dan kenapa?"

Tanya Uposonto kepada Jarot.

"Kang Mas Uposonto, sekarang bukan waktunya bicara, bantulah aku mengangkat mereka. Mereka adalah Denmas Bahar dan adiknya."

Tanpa banyak cakap lagi Uposonto dan dua orang kawannya mengangkat dua tubuh itu dan menaruh mereka di atas kuda.

"Dimas Jarot. Kami datang sengaja mencarimu atas perintah Paman senapati Baurekso. Kami disuruh memberitahumu, bahwa balatentara Mataram hendak mulai dengan penjelajahannya, pertama-tama ke Wirasaba. Kau tidak diharuskan, tapi kami akan merasa girang sekali kalau kau suka ikut."

Mendengar hal ini Jarot merasa girang sekali.

"Tentu saja, Kang Mas Uposonto, aku akan ikut. Nah, tolonglah kau antar mereka ini pulang ke Tumenggungan lebih dulu, aku hendak mengadakan persiapan. Bila kita berangkat?"

"Besok pagi-pagi pada saat fajar menyingsing."

"Baik."

"Tapi, dimas Jarot, bagaimana kalau nanti Paman Tumenggung bertanya tentang mereka ini? Apakah sebenarnya yang telah terjadi?"

"Kematian denmas Bahar ini karena berkelahi dengan aku. Lihatlah, kerisnya sendiri masih tertancap di dadanya. Ia sambitkan keris itu padaku, karena gelap, terpaksa aku menyampoknya dan dengan tak kusengaja keris itu tersampok kembali dan menancap di dadanya. Adapun Madu... eh, adiknya ini, kukira ia hanya pingsan karena sedih dan kaget."

Uposonto mengangguk maklum.

"Persoalan dapat diurus kemudian, kini yang perlu harus mengantar mereka ini ke Tumenggungan. Mari kita berpisah, dimas Jarot."

Kemudian, ketiga pahlawan Keraton itu membawa kedua tubuh itu sambil melarikan kuda mereka.

melawan serangan angin dan hujan.

Sedangkan Jarot dengan cepat berlari pulang.

Dengan cepat ia menengok kudanya di kandang sebentar, lalu bertukar pakaian kering.

Ketika ia memasuki biliknya, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis tertahan dari kamar Sekarsari.

Ia merasa heran sekali mengapa Sekarsari menangis pada saat lewat tengah malam.

Mimpikah gadis itu?

Tapi ia tak berani mengganggu.

Ia lalu duduk bersamadhi.

Besok ia akan pergi berjuang membela Mataram.

Ia akan meninggalkan Sekarsari.

Tapi, kepergiannya ini ada baiknya, karena pertama ia akan dapat bertempur melawan musuh, kedua ia akan menjauhkan diri dari segala hal yang tak menyedapkan hati, seperti urusannya dengan Bahar, dengan Maduraras, dan dengan Sekarsari yang kini agaknya berobah sikap terhadapnya!

Biarlah ia meninggalkan kota raja untuk beberapa lama dan mudah-mudahan saja sekembalinya nanti keadaan akan menjadi lebih baik.

Sementara itu Adipati Uposonto telah tiba di Tumenggungan dan menggedor pintu gerbang.

Penjaga muncul dengan marah, tapi ketika melihat siapa orangnya yang menggedor pintu, ia berlaku sangat hormat dan menanyakan maksud kedatangan Adipati Uposonto yang dijawab dengan singkat dengan perintah agar pintu dibuka dan Tumenggung Suryawidura diberi tahu akan kedatangannya.

Penjaga itu merasa ragu-ragu dan takut untuk membangunkan Tumenggung pada saat seperti itu, tapi ketika ia melihat tubuh Raden Mas Bahar terkulai di atas punggung kuda, ia terkejut sekali dan, setelah membuka pintu gerbang, ia berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak!

Alangkah terkejutnya hati Tumenggung Suryawidura melihat mayat anaknya, dan ia heran melihat tubuh gadis yang pingsan itu, karena sesungguhnya ia lupa dan tidak mengenali Maduraras.

Dengan singkat Uposonto menuturkan tentang perkelahian antara Bahar dengan Jarot.

"Anak bedebah itut Awas, besok akan kulaporkan kepada Sri Sultan!"

Tumenggung tua itu mengutuk. ''Saya rasa Paman Tumenggung hendaknya bersabar sedikit. Lebih baik tanyakan lebih dulu duduknya hal kepada puteri Paman jika ia telah siuman."

"Ia... Maduraras?"

Dan Tumenggung Suryawidura lari ke dalam untuk melihat Maduraras. Uposonto menanti sebentar dan tak lama kemudian Tumenggung keluar kembali, wajahnya tampak sedih dan marah.

"Ia telah siuman tapi belum mau bicara, hanya menangis saja."

"Paman Tumenggung, saya ulangi lagi bahwa sebaiknya Paman jangan mengganggu Sri Sultan pada waktu ini. Paman sendiri maklum betapa sibuk pikiran Sri Sultan dengan rencana penjelajahan bala tentara Mataram ini. Janganlah hendaknya Sri Sultan diganggu dengan urusan-urusan pribadi."

Tumenggung Suryawidura memandang marah.

"Habis, harus diam sajakah aku dihina oleh Jarot anak desa itu?"

"Bukan demikian, Paman. Urusan ini masih dapat diselesaikan kelak bila perjuangan ini sudah. dikerjakan dengan hasil baik. Ketahuilah bahwa dimas Jarot sendiripun ikut dengan kami membela Mataram. Maka, kalau Paman melaporkan hal ini sekarang, berarti Paman mendatangkan dua kerugian. Pertama, Sri Sultan akan terganggu dan kedua barisan kami akan kehilangan tenaga Jarot yang sangat kami andalkan itu. Ingatlah, Paman. Belum terlambat agaknya hal ini diurus lebih lanjut jika kami telah kembali kelak. Pula, belum tentu kesalahan berada di pihak dimas Jarot, hal ini sebaiknya Paman pertimbangkan dulu setelah Paman mendengar keterangan dari puteri Paman nanti."

Akhirnya Tumenggung Suryawidura hanya mengangguk-angguk dengan penasaran dan kecewa, dan Adipati Uposonto lalu minta diri untuk mengadakan persiapan guna pemberangkatan besok.

Hari itu, pagi-pagi sekali Jarot sudah sadar dari samadhinya dan ia segera mendahului Sekarsari ke bengawan, di mana ia sengaja bersembunyi dan menanti kedatangan Sekarsari.

Betul saja, tak lama kemudian tampak gadis itu mendatangi dengan kelenting tempat air di tangan kanan dan pakaian cucian di tangan kiri.

Jarot kaget juga melihat wajah yang muram dan sedih dengan tubuh yang kelihatan lemah-lunglai itu.

Sekarsari tampak bagaikan seorang yang tidak sehat, mukanya demikian pucat dan matanya kemerah-merahan karena banyak menangis.

Ketika tiba di pinggir bengawan, Sekarsari menurunkan bawaannya lalu pergi duduk di atas sebuah batu.

Di situ ia duduk melamun, diam tak bergerak bagaikan patung sambil memandangi air bengawan yang mengalir tiada hentinya.

Ia tidak mendengar betapa seorang pemuda menghampirinya dari belakang.

"Sari..."

Gadis itu tersentak kaget dan cepat ia menengok, tapi segera ia membuang muka ketika melihat Jarot.

"Sari, kau kenapa? Agaknya kau marah padaku."

Gadis itu tidak menjawab, tapi matanya telah penuh air mata yang ditahan-tahannya dengan menggigit bibir.

Jarot meloncat ke atas sebuah batu di depan Sekarsari hingga mereka duduk berhadapan.

Gadis itu menundukkan muka menyembunyikan air matanya.

"Sari, jangan kau marah padaku. Kalau aku bersalah, katakanlah terus terang, aku akan menerimanya dan minta maaf..."

Kata-kata ini dikatakan dengan halus hingga untuk beberapa lama gadis itu menatap wajah Jarot, kemudian ia menangis tersedu-sedu.

"Sari, kenapakah? Jangan kau terus marah padaku, Sari. Aku tak kuat menahan jika kau bersikap seperti ini..."

Gadis itu mengangkat muka dan dari sepasang matanya yang merah terpancar sinar kemarahan.

"Kau... kau kira aku,.,, akupun senang dan dapat menahan melihat... sikap dan kelakuanmu?"

Jarot mengerutkan kening.

"Kau maksudkan... Maduraras?? Kalau begitu, kau... kau... cemburu? Kalau begitu, kau...kau... cinta padaku?"

Wajah Jarot berseri, tapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat perubahan air muka gadis itu.

Sekarsari menjadi pucat bagai mayat dan sepasang matanya bagaikan bernyala.

Jarot insyaf dan menyesali kebodohannya.

Ia terlampau jujur dan ceroboh hingga kata-katanya itu tentu saja menyinggung perasaan halus gadis itu.

"Apa katamu? Cemburu? Cinta...,.? Siapa... siapa yang cemburu? Apa perduliku akan hubunganmu dengan Maduraras? Aku tidak,... tidak berhak untuk merasa cemburu!! Dan cinta? Aku... aku...!"

Tiba-tiba Sekarsari menutup mukanya dan lari meninggalkan tempat itu, lupa untuk membawa cucian dan kelentingnya. Ia lari pulang sambil menangis.

"Sari... Sari..., aku cinta padamu, Sari...!"

Jarot berdiri dan berteriak-teriak.

Tapi Sekarsari lari terus, bahkan isaknya makin mengeras.

Pengakuan Jarot ini dilakukan bukan pada saat yang tepat, dan Sekarsari mendengar ucapan itu bagaikan bernada penuh ejekan.

"Sari... kembalilah, aku cinta padamu, Sari..."

Dan Sekarsari lari terus, kini menggunakan dua jari telunjuknya untuk dipakai menutupi telinganya!

Setibanya di rumah, Sekarsari terus memasuki biliknya, membanting dirinya di atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu.

Tuduhan Jarot bahwa ia cemburu dan mencintai pemuda itu terlalu tepat dengan isi dadanya hingga sangat menusuk rasa keangkuhannya.

Hatinya telah luka karena persangkaannya bahwa Jarot mempunyai hubungan dengan Maduraras kini Jarot memberi obat pada lukanya itu, tapi obat yang sangat perih hingga ia tak kuat menahannya.

Jarot yang masih bodoh untuk dapat menyelami perasaan dan hati wanita, sangat canggung dalam pernyataannya tadi, hingga ia baru menyatakan cintanya setelah terlambat, setelah tuduhannya yang tepat itu menyinggung dan menyakiti hati Sekarsari.

Kalau saja ia menyatakan cintanya lebih dulu, takkan begitu jadinya!

Kini melihat Sekarsari lari darinya dan tak mau menerima pernyataan cintanya, hatinya menjadi tawar dan dingin.

Ia tersenyum pahit dan senyum ini membuat wajahnya tampak lebih tua dan matang.

Tanpa diketahuinya, peristiwa ini menimbulkan garis-garis baru pada kulit mukanya.

Dengan tubuh lesu ia kembali ke pondok, tak lupa untuk membawa pakaian dan tempat air Sekarsari yang ditaruhnya di depan bilik gadis itu.

Kemudian ia pergi ke kandang, menuntun Nagapertala keluar dan sebentar lagi ia sudah berada di alun-alun di mana para perajurit telah siap berangkat, dikepalai oleh Uposonto dan beberapa orang panglima lain.

Setelah mendapat doa restu dari Sri Sultan, maka berangkatlah bala tentara Mataram yang gagah itu, diiringi gamelan selamat jalan.

Rakyat berdesak-desakan di tepi jalan untuk mengucapkan selamat jalan dan menyampaikan doa-doa mereka.

Di antara rakyat yang berdesak-desakan, Jarot melihat bayangan Maduraras disuatu tempat dan bayangan Sekarsari di tempat lain.

Kedua orang gadis itu memandangnya dengan sinar mata yang sama, kedua-duanya mesra dan penuh api cinta!

Expedisi penjelajah Sultan Agung tidak menemui rintangan, karena ternyata para kepala daerah kecil-kecil tahu sampai di mana kekuasaan dan kebijaksanaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung dan mereka ini dengan senang hati menyatakan tunduk dan taat.

Tapi di Wlrasaba, Lasem, bala tentara menemui perlawanan yang hebat juga.

Dalam pertempuran dengan mereka, selain para panglima yang gagah perkasa di bawah pimpinan Uposonto, Jarot pun berjasa besar.

Terutama ketika barisan Laseni mengeluarkan seorang pertapa dari Gunung Muria bernama Kyai Sidik Permono.

Para panglima Mataram tidak ada yang kuat melawan Kyai ini, karena pertapa ini menggunakan aji kesaktian yang tak dapat dilawan dengan mengandalkan kekebalan kulit dan kekerasan tulang belaka.

Bahkan Uposonto terpaksa mundur setelah mengadu kemahiran tenaga batin dengan Kyai Sidik Permono dan pertapa itu menggunakan ajinya Ciptoguno yang hebat.

Apa saja yang dipegang oleh pertapa itu, baik batu, daun, atau kayu, setelah dilempar ke arah lawan lalu berubah menjadi tentara siluman yang mengerikan!

Akhirnya Jarotlah yang maju menandingi pertapa itu.

Melihat kedatangan pemuda yang tampan dan halus itu, Kyai Sidik Permono terkesiap juga karena dari sinar matanya ia maklum bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan.

"Satria perwira, belum pernah aku melihat panglima Mataram seperti kau. Siapakah namamu, Raden?"

Tanya Kyai Sidik Permono.

"Saya bernama Jarot dan bukan panglima. Saya perajurit sukarela biasa saja."

Maka heranlah pertapa itu mendengar jawaban Jarot.

"Hm, kau perajurit biasa? Kau lihat betapa semua panglima Mataram yang gagah perkasa tak kuat melawanku. Apakah kau juga hendak mencoba kesaktianku, Raden? Ah, kau takkan kuat, mundurlah saja, Raden Jarot, sayang kalau sampai kau kena bencana."

"Paman Kyai, kau menyuruh saya mundur. Mengapa tidak kau saja yang mundur? Betapapun juga, aku adalah seorang pemuda yang telah sengaja menjadi perajurit untuk berperang membela Mataram. Tapi kau, Paman Kyai, kau adalah seorang pertapa suci yang seharusnya menjauhi pertumpahan darah dan berdiam saja di padepokanmu menyucikan diri dan mengajar ilmu, memberi penerangan kepada yang kegelapan dan memberi nasihat kepada yang tersesat. Mengapa kau bahkan memperbesar peperangan ini dengan mengeluarkan aji kesaktianmu?"

Sepasang mata pertapa tua itu mencorong dengan kagum dan penasaran.

"Raden, pandanganmu biarpun ada benarnya tapi hanya memihak sebelah. Kau hanya mempersoalkan kedudukan seorang dan pekerjaannya. Itu kurang luas, Raden. Pandanganku lebih luas lagi. Aku adalah rakyat atau penduduk sini. Sudah menjadi kewajibanku untuk membela negeri di mana saya tinggal. Aku tidak mengurus tentang sebab dan akibat perang ini. Aku hanya patuh kepada panggilan tugas, tugas seorang kawula. Ingat, yang kulawan bukanlah kau dan kawan-kawanmu, tapi aku melawan penyerang Lasem, siapa saja mereka itu adanya."

"Kau betul, Paman Kyai. Kalau demikian luas pandanganmu, nah, sekarang kita sebagai petugas hanya memenuhi kewajiban saja. Majulah, aku akan mencoba untuk melawan kesaktianmu. Menang kalah itu hanya akibat kecil. Mati atau hidup itupun hanya perpindahan sederhana saja."

Kyai Sidik Permono tertawa bergelak.

"Ah, tak salah lagi. Kau panglima sesungguhnya. Aku takkan merasa malu jika nanti jatuh dalam tanganmu. Nah, majulah, Raden!"

"Kau dulu, Paman Kyai."

Melihat Jarot berlaku sungkan, Kyai Sidik Permono segera maju menyerang.

Biarpun ia sudah tua, namun gerakannya gesit dan pukulan tangannya ampuh dan berat.

Jarotpun tahu bahwa orang tua ini tak boleh dipandang ringan, maka ia melayaninya dengan hati-hati dan mengandalkan kegesitan dan keringanan tubuhnya.

Setelah bertempur puluhan jurus, Kyai Sidik Permono tak tahan lagi, dan hanya dapat menangkis sambil mundur.

Tiba-tiba Kyai Sidik Permono menyaut sebatang tombak dari tangan perajuritnya, dan Uposonto yang sudah siap lalu memberi Jarot sebatang pula.

Kini pertempuran dilanjutkan dengan tombak di tangan.

Para perajurit kedua pihak bersorak-sorak ramai untuk memberi semangat kepada jago mereka.

Namun ternyata bahwa dalam permainan tombak, Kyai Sidik Permono bukanlah lawan Jarot.

Pada satu saat terdengar bunyi keras dan tombak di tangan pertapa itu patah!

Kalau saja saat itu digunakan oleh Jarot untuk menyerang dengan tombaknya, tentu celakalah pertapa itu.

Tapi Jarot melempar tombaknya hingga tertancap di atas tanah, dan menghadapi pertapa itu dengan tangan kosong.

"Raden Jarot, kau sungguh gagah perkasa!" (Lanjut ke

Jilid 05) Keris Pusaka dan Kuda Iblis (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Mari Paman Kyai, lanjutkanlah, saya layani!"

"Tapi aku belum kalah, Raden. Cobalah lawan ajiku ini!"

Dengan gerakan cepat Kyai Sidik Permono melempar potongan gagang tombak di tangannya ke atas dan aneh, potongan kayu itu lenyap dan tiba-tiba di depan Jarot berdiri seorang siluman tinggi besar yang menyeramkan, hingga para perajurit di pihak Jarot mundur ketakutan.

Juga Uposonto yang tadi telah merasai kehebatan aji ini, mundur beberapa tindak dan mengkhawatirkan keselamatan Jarot.

Namun Jarot hanya tersenyum dan berkata kepada pertapa itu.

"Aji ini hanya baik untuk menakut-nakuti anak-anak saja, Paman Kyai!"

Marahlah Kyai Sidik Permono mendengar ini.

Ia menggunakan jari tangannya menunjuk kepada Jarot dan pada saat itu juga siluman itu menubruk ke arah Jarot dengan gerengan hebat.

Tapi Jarot sudah siap.

Kedua matanya mengeluarkan cahaya tajam dan sambil mengucap.

"Asal kayu kembali menjadi kayu"

Ia memukul dada siluman itu.

Ajaib!

Sambil berteriak kesakitan siluman itu lenyap ditelan bumi dan di atas tanah menggeletak potongan gagang tombak yang lenyap tadi.

Kyai Sidik Permono merasa penasaran dan berkali-kali ia matak aji dan mencipta siluman-siluman dari batu, daun, dan tanah, tapi selalu Jarot dapat memunahkan dengan mudah!

Akhirnya Kyai Sidik Permono mengalah.

"Raden Jarot, sungguh kau gagah. Aku mengaku kalah. He, para perajurit Lasem, dengarlah. Aku Kyai Sidik Permono bukan tak kenal kewajiban dan tidak mau membantu perjuangan kalian tapi hari ini aku dikalahkan oleh Raden Jarot. Aku telah membantu tapi gagal. Perkenankan aku kembali ke gunungku!"

Dan pertapa itu lalu meninggalkan medan pertempuran dengan langkah lebar, diikuti pandangan kecewa oleh para perajurit Lasem.

Maka pecahlah pertempuran hebat.

Tapi karena seperginya pertapa sakti itu semangat perajurit Lasem telah mengurang, mana mereka dapat menahan serbuan bala tentara Mataram yang bersemangat baja dan terpimpin oleh panglima-panglima gagah perkasa.

Terutama Jarot di atas Nagapertala merupakan lawan berat hingga di mana saja pemuda itu tiba dengan kudanya, di situ bergelimpangan mayat tentara musuh.

Akhirnya, tanpa dapat mengadakan perlawanan yang berarti, Lasem jatuh ke dalam tangan bala tentara Mataram dengan mudah.

Barisan Mataram pulang dengan gembira sebagaimana biasa tentara menang perang.

Ketika memasuki kota raja, matahari telah naik tinggi.

Jarot dan Nagapertala merasa lelah, terutama kuda itu yang telah lari tiada hentinya sepanjang malam.

Tubuhnya yang kuat menjadi licin karena peluh dan ketika Jarot menghentikannya di depan pondok Ki Galur, dari punggung dan mulut Nagapertala keluar uap putih.

Jarot heran melihat kampungnya sunyi.

Pondok Ki Galur tertutup pintunya.

Ia cepat meloncat turun dari punggung kudanya dan mengetuk pintu, lalu berjalan memutar dari belakang.

Namun ternyata bahwa pondok itu kosong.

Ketika ia sedang berdiri termenung di depan pondok, tiba-tiba seorang tetangga menegurnya.

"He, Den Mas Jarot, kau baru kembali?"

Jarot bagaikan tak mendengar teguran orang dan balas bertanya.

"Paman, ke manakah mereka pergi?"

Kakek yang ditanyanya tersenyum.

"Kau maksudkan Ki Galur dan Sekarsari? Belum tahukah kau? Pagi tadi mereka pindah ke Keraton!"

Terkejutlah hati Jarot.

"Ke Keraton? Mengapa??"

"Eh, bukankah Sekarsari diboyong oleh Pangeran? Hari ini pesta kawinnya,"

Jawab kakek itu dengan heran melihat perobahan muka Jarot.

"Apa katamu? Sekarsari diboyong oleh Pangeran? Celaka!"

Lalu tanpa memperdulikan kakek yang menjadi heran dan memandangnya dengan mata terbelalak itu, Jarot cemplak kudanya lagi dan membalapkan Nagapertala menuju ke istana.

Benar saja, gapura-gapura di alun-alun telah dihias indah.

Banyak orang hilir mudik memasuki gerbang halaman Keraton sambil membawa barang-barang antaran untuk memberi selamat.

Bunyi gamelan menggema sampai ke alun-alun.

Hati Jarot makin berdebar dan tubuhnya yang telah lelah gemetar di atas kuda.

la tidak turun dari kuda seperti biasa kalau orang hendak menghadap ke istana, tapi terus saja memasuki pintu gerbang dengan Nagapertala.

Banyak orang mengikutinya dari belakang karena semenjak memasuki alun-alun, orang-orang telah heran melihat Jarot membalapkan kudanya hingga hampir-hampir menabrak orang-orang yang berada di situ.

Penjaga pintu gerbang dengan tombak di tangan hendak mencegah Jarot memasukkan kudanya, tapi ketika penjaga itu melihat Nagapertala dan Jarot yang pada saat itu berwajah menyeramkan, ia mundur ketakutan!

Jarot meloncat turun dan lari ke dalam istana, melewati beberapa orang pengawal Keraton yang tak kuasa mencegahnya karena merasa segan dan takut menghalang-halangi pemuda yang terkenal gagah berani itu.

Pada saat itu, di ruang pesta sedang sibuk diadakan upacara sebagaimana layaknya jika Pangeran atau pembesar lain mengawini seorang gadis untuk menjadi selirnya.

Sekarsari duduk di atas sebuah bangku dalam pakaian pengantin yang indah dan rambut kepalanya terhias bunga-bunga dan cunduk beraneka warna dan ragam.

Gadis itu duduk diam dan menundukkan kepala.

Pangeran Amangkurat dengan wajah gembira dan lagak gagah duduk di sampingnya.

Karena hendak memenuhi syarat dan permintaan Sekarsari, maka perkawinan itu diadakan secara sah dan dalam upacara itu dihadiri pula oleh Sultan Agung sendiri dan oleh semua penghuni istana!

Peristiwa ini adalah luar biasa karena belum pernah seorang selir diboyong ke Keraton dengan upacara demikian resmi bagaikan mengawini seorang isteri atau permaisuri saja.

Pada saat Upacara mencuci kaki pengantin pria dilakukan, dan Sekarsari sudah berjongkok dengan bokor kencana berisi air kembang, tiba-tiba seorang pemuda meloncat memasuki ruang itu dan suaranya keras menggema.

"Batalkan perkawinan ini!"

Sultan Agung tak senang melihat sikap Jarot ini. Dengan perlahan Sultan berdiri dan berkata tenang.

"Jarot, alangkah kurang ajar kamu!"

Jarot kaget mendengar suara Sri Sultan, karena tidak disangkanya sama sekali bahwa Sultan Agung berada pula di situ. Buru-buru ia maju berlutut dan menyembah.

"Ampunkan hamba, Gusti, hamba mengaku telah berlaku lancang, tapi mohon perkawinan ini ditunda dulu dan sudi kiranya paduka mendengar keterangan hamba."

Sultan Agung memberi tanda agar upacara ditunda sebentar dan sepasang mempelai duduk kembali di kursinya.

Sekarsari menundukkan kepala makin dalam hingga dagunya menempel di dada, sedangkan Pangeran Amangkurat duduk dengan perasaan tegang dan memandang ke arah Jarot dengan marah.

"Sekarang, sebelum kau bicara tentang sebab-sebab kelakuanmu yang aneh ini, terlebih dulu ceritakanlah tentang hasil bala tentara Mataram. Kau baru kembali dari Lasem, bukan?"

Jarot merasa terpukul dan malu kepada diri sendiri.

Nyata bahwa Sri Sultan yang bijaksana itu jauh lebih mementingkan persoalan negara daripada persoalan-persoalan pribadi yang remeh.

Maka dengan singkat ia menuturkan tentang kemenangan bala tentara Mataram di Lasem dan bahwa barisan sedang menuju pulang.

Wajah Sultan Agung berseri mendengar hasil baik ini, demikianpun seisi ruangan, di sana-sini terdengar tarikan napas lega.

"Untung bagimu kau membawa kabar baik, Jarot. Hal ini setidaknya mengurangi pengaruh buruk dari sikap dan tindakanmu yang lancang tadi. Nah, sekarang katakanlah terus terang, mengapa kau berani mengganggu upacara perkawinan Pangeran,"

"Ampunkan hamba, Gusti. Kalau tidak ada sesuatu yang akan mendatangkan aib dan mencemarkan nama baik kerajaan, tidak sekali-kali hamba berani mengganggu perkawinan ini. Tapi ada satu hal pelik yang harus paduka ketahui tentang diri pengantin wanita."

Terdengar suara-suara bisikan memenuhi ruang itu, Sekarsari mengangkat kepala sekejap lalu menunduk kembali, sedangkan Pangeran memandang penasaran.

"Jarot, kau sungguh berani mati. Jangan kau berani mengganggu nama baik Sekarsari!"

Pangeran membentak marah dan mencabut keris, tapi dengan sinar matanya Sultan Agung melarang puteranya, hingga Pangeran terduduk kembali dengan muka merah dan pandangan mata penuh kebencian.

"Jarot, apa maksudmu?"

Sri Sultan bertanya.

"Gusti Sultan,"

Jarot berkata dengan suara keras dan tetap hingga terdengar jelas oleh semua yang hadir.

"sesungguhnya, Gusti Pangeran adalah masih kakak sendiri dari mempelai wanita!"

Semua orang terkesiap dan untuk sejenak keadaan di ruang itu sunyi.

Semua mata tertuju kepada sepasang mempelai itu yang kini saling pandang dengan heran.

Sri Sultan memandang Jarot dengan heran dan tak senang, lalu cepat bertanya.

"Apa katamu? Alasan apa yang kau pakai untuk memperkuat omongan ini?"

"Hamba persilakan Gusti Ayu Bratadewi tampil ke depan."

"Eh-eh, apa maksudmu?"

Sri Sultan makin terheran.

"Hamba hendak memperlihatkan bukti, Gusti,"

Jawab Jarot tabah. Bratadewi yang hadir pula di situ dan yang sejak tadi sudah mendengar ucapan Jarot dengan hati berdebar, segera maju ke depan dan berlutut di depan Sri Sultan.

"Sekarang hamba mohon juga supaya mempelai wanita dipersilakan duduk di dekat Gusti Ayu Bratadewi dan membuka penutup mukanya supaya paduka dapat memeriksa persamaan mereka,"

Kata Jarot.

Sekarsari yang sejak tadi memandang wajah Bratadewi dengan terkejut dan heran, mendengar kata-kata Jarot ini, tanpa menanti perintah lagi dari Sri Sultan lalu maju dan berlutut di depan Sultan Agung sambil membuka penutup wajahnya.

Sultan Agung terbelalak melihat wajah Sekarsari karena gadis yang sedang menyembah ini tiada bedanya sedikitpun dengan Bratadewi ketika masih gadis dan yang pernah menggoncangkan dan mencuri hatinya.

Juga lain-lain orang yang berada di ruang itu menahan napas karena baru sekarang mereka dapat melihat persamaan wajah kedua wanita itu.

Bratadewi sendiri memandang dengan tercengang dan muka pucat.

Wanita setengah tua yang cantik ini menekan dada dengan kedua tangan dan bibirnya gemetar.

"Apa artinya ini?"

Kata-kata ini diucapkan hampir berbareng oleh Sultan Agung dan Bratadewi.

"Gusti Sultan, kalau hamba tak salah sangka, bukankah dulu beberapa belas tahun yang lalu, Gusti Ayu Bratadewi telah kehilangan puterinya yang masih kecil? Bukankah puterinya itu hilang tak meninggalkan jejak dan tak tentu rimbanya?"

"Benar, benar.... kau maksud gadis ini...."

Bratadewi bertanya sambil memandang tajam kepada Sekarsari yang juga memandangnya.

"Sabar, Gusti, hamba sendiripun belum tahu pasti karena belum tahu duduknya peristiwa, Tapi ada seorang yang akan dapat memecahkan rahasia ini."

"Siapa dia?"

Sultan Agung bertanya cepat.

"Bukan lain ialah Paman Galur yang kebetulan hadir pula di sini."

Kini semua mata tertuju kepada Ki Galur yang menjadi pucat dan tubuhnya gemetar karena kini terbukalah matanya akan kemungkinan dan kenyataan yang luar biasa ini.

"Ki Galur, majulah ke sini dan ceritakanlah sejujurnya, siapakah sebenarnya Sekarsari yang kau aku sebagai anakmu."

Ki Galur maju dan menyembah, lalu bercerita.

"Ampunkan, Gusti, tadinya hamba sama sekali tidak ada persangkaan sedikitpun bahwa Sari mempunyai hubungan dengan dalam Keraton. Memang, hamba bukanlah Ayah Sekarsari..."

Suaranya terdengar lemah terharu hingga Sekarsari maju menubruk padanya.

"Ayah..."

Ki Galur mengusap-usap rambut anaknya dan membiarkan gadis itu menangis sambil menyandarkan kepala di pundak Ayahnya.

"Tujuh belas tahun yang lalu, ketika hamba dan bini hamba sedang menjala ikan di bengawan pada senja hari, tiba-tiba hamba mendengar tangis seorang anak kecil. Ternyata anak itu berada dalam sebuah sampan kecil yang hanyut terapung-apung di tengah bengawan. Hamba berdua segera menolongnya dan ternyata dalam sampan itu terdapat seorang anak perempuan berusia kurang lebih satu tahun. Pada waktu itu juga hamba hendak melaporkan hal itu kepada yang berwajib, tapi bini hamba melarangnya karena kami memang tidak punya anak dan dia sayang sekali melihat anak yang cantik itu. Sayang sekali setahun kemudian bini hamba terkena penyakit dan meninggal dunia, hingga hamba harus memelihara anak itu seorang diri. Anak itu ialah Sekarsari yang hamba anggap sebagai anak sendiri. Sekali-kali hamba tidak tahu dan tidak ada persangkaan bahwa anak itu datang dari Keraton, kalau demikian halnya tentu hamba takkan berani tinggal diam saja. Maka ampunkanlah hamba, Gusti."

"Tapi apakah buktinya bahwa Sekarsari adalah puteri yang hilang itu? Bukankah itu hanya suatu hal yang kebetulan saja?"

Tanya Pangeran dengan penasaran.

"Aku juga tidak dapat yakin akan hal ini kalau tidak terdapat bukti-bukti, Jarot. Dapatkah kau membuktikan bahwa gadis ini benar-benar puteri yang hilang itu?"

Jarot berpaling kepada Bratadewi dan berkata.

"Gusti Ayu, dapatlah kiranya paduka ingat tanda-tanda yang ada pada tubuh puteri paduka yang hilang itu dan yang kiranya dapat dijadikan bukti bahwa gadis inilah puteri paduka? Dan tidakkah jiwa seorang ibu itu lebih dapat merasakan untuk mengenal anak sendiri?"

Bratadewi termenung sambil memandang wajah Sekarsari. Ia tak ragu-ragu lagi, tapi apakah buktinya? Ia mengingat-ingat. Jarot berkata lagi.

"Jika kiranya Gusti ayu tak dapat mencarikan tanda bukti, hamba masih mempunyai jalan, yakni hamba akan menangkap penculik-penculik itu dan memaksa mereka mengaku!"

Sambil berkata demikian Jarot memandang tajam ke arah Tumenggung Suryawidura.

Tumenggung tua itu kebetulan memandang ke arah Jarot dan ketika mata mereka bertemu pandang, Tumenggung Suryawidura tiba-tiba menjadi pucat karena pandangan mata Jarot menudingnya dengan kata-kata.

"Kau lah penculiknya!"

Tumenggung Suryawidura menjadi gugup dan sambil memandang lemah kepada Bratadewi ia berkata.

"Angger Bratadewi, cobalah ingat-ingat barangkali kau masih ingat akan tanda-tanda anakmu dulu."

Suara ini bagi Bratadewi mengandung permohonan dan belas kasihan. Tiba-tiba biung emban yang selalu berada di belakang Bratadewi untuk melayaninya, berbisik perlahan.

"Gusti ayu, bukankah puteri kita dulu ada tanda tembong biru di telapak kaki kirinya?"

Maka teringatlah Bratadewi dan cepat-cepat ia berkata kepada Sri Sultan.

"Puteri kita yang hilang dulu mempunyai tanda tembong biru di telapak kakinya yang kiri!"

"Betulkah?"

Wajah Sultan Agung menjadi gembira, sementara itu Sekarsari yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka dengan perhatian mendalam, tiba-tiba melepaskan dirinya dari Ki Galur dan langsung berlutut memeluk kaki Bratadewi sambil menyebut dengan suara gemetar.

"Kanjeng ibu..."

Alangkah sedapnya sebutan itu bagi Sekarsari dan Bratadewi.

Namun kesabaran Bratadewi sudah cukup teruji selama belasan tahun itu hingga ia tidak buru-buru mengutarakan perasaan harunya, namun dengan halus ia pegang kaki Sekarsari dan membalikkan telapak kaki kirinya.

Betul saja, di tengah telapak kaki itu terdapat tanda belang warna biru yang bundar.

Sekarang, Bratadewi tak dapat menahan gelora hatinya lagi.

Ia peluk Sekarsari dan menggunakan kedua tangan untuk memegang kepala gadis itu, menatapnya dan memandanginya bagaikan seorang memandangi barang pusaka yang tak ternilai harganya.

Sekarsari membiarkan saja mukanya dipegang dan dipandang oleh ibunya, ia balas memandang dan dua wajah yang sama bentuknya itu saling pandang dengan mesra.

Perlahan-lahan dari dua pasang mata itu mengalirlah air mata dan bagaikan tertarik oleh besi sembrani mereka saling peluk dan saling cium sambil menangis.

"Anakku... anakku... berilah hormat kepada ramamu."

Sekarsari memandang Sultan Agung yang merasa terharu juga.

"Anakku, majulah ke mari..."

Kata Sri Sultan. Sekarsari maju dan berlutut mencium ujung jari tangan Sultan Agung yang diulurkan.

"Kanjeng rama, hamba menghaturkan sembah bakti..."

Sultan Agung dengan mesra mengusap-usap rambut Sekarsari, sebagaimana tadi dilakukan oleh Ki Galur yang kini memandang kesemuanya itu dengan bibir gemetar dan air mata mengucur membasahi pipinya yang kempot.

"Amangkurat, tidak salah lagi, dia ini adikmu, dia adalah Susilawati yang dulu hilang diculik orang. Ah, baiknya Jarot segera datang membuka rahasia ini, kalau tidak..."

Amangkurat menyembah.

"Kanjeng rama, hampir saja hamba membuat dosa besar. Ah, hamba menyesal dan malu, rama, perkenankan hamba mengundurkan diri."

Ayahnya memberi perkenan dan calon pengantin yang urung kawin itu kembali ke dalam kamarnya dengan murung dan kecewa.

Dendamnya kepada Jarot makin menjadi, karena ia menganggap Jarot telah menghancurkan kebahagiaannya, menghalangi citacitanya.

Sultan Agung berkata kepada Jarot.

Baca Juga: Istana Pulau Es 3

Baca Juga: Petualang Asmara 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert