Ceritasilat Novel Online

Keris Pusaka Dan Kuda Iblis 1

Eps 1 Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo.

Keris Pusaka dan Kuda Iblis (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Semenjak dunia berkembang, segala mahluk dan benda baik yang dapat bergerak maupun yang tidak, harus mengakui keunggulan tenaga alam, harus mengakui bahwa mereka tak kuasa melawannya, tak kuasa menolaknya, hanya kuasa lari menjauhinya atau pergi sembunyi mencari tempat perlindungan, jika sewaktu-waktu tenaga alam memperlihatkan keunggulannya, jika tenaga alam bangkit dan mempermainkan segala apa yang ada di muka bumi ini.

Demikian pula penduduk ibu kota Karta, ibu kota Kerajaan Mataram dengan daerahnya yang terkenal subur makmur gemah ripah loh Jinawi itu, dimana rakyat hidup penuh kebahagiaan karena murah sandang pangan, tata tenteram reja raharja, karena kendali pemerintah berada dalam sepasang lengan yang kuat dari Sultan Agung, Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Agung Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman, seorang penata praja yang arif bijaksana, sakti mandraguna dan luhur budi pekertinya.

Namun demikian, sewaktu-waktu, penduduk ibu kota Karta terpaksa menyerah kepada kekuasaan alam yang maha besar, hingga Sri Sultan sendiri yang terkenal sakti dan perkasa, tak kuasa menentang dan menghentikan kemurkaan alam berupa hujan badai, banjir, gunung meletus, dan lain-lain.

Suatu senja yang basah.

Air hujan turun dari angkasa bagaikan sengaja dituang atau seakan-akan mega mendung yang tebal menghitam itu merupakan kantung air yang banyak berlubang dan membocor.

Hujan mengamuk dari siang tadi.

Baiknya, berkat pengalaman musim hujan tahun lalu, atas perintah raja yang bijaksana, rakyat telah beramai-ramai memperdalam sungai dan membuat tanggul untuk membendung Bengawan Solo yang mudah mengamuk di musim hujan.

Pada senja itu tak seorangpun berani keluar dari rumah.

Mereka berlindung dalam rumah sambil memandang keluar jendela atau pintu dengan hati risau, mengkhawatirkan sawah ladang mereka.

Tapi pada saat itu, dari jurusan timur, seorang pemuda berjalan memasuki pintu gerbang ibu kota dengan langkah tenang.

Hujan telah agak reda tapi masih cukup besar untuk membuat pemuda itu menjadi basah kuyup.

Pengikat kepala warna putih itu basah dan air telah menembusinya, membuat rambut yang panjang hitam itu basah pula.

Butir-butiran air saling udak di sepanjang hidungnya yang mancung, terus ke bibir dan dagu yang berbentuk tampan dan keras.

Dari pinggang ke atas ia telanjang.

Bidangnya lebar, pinggang kecil dan buah dadanya membusung, tanda bahwa tubuh itu didiami tenaga yang kuat sekali.

Ia memakai celana hitam sebatas betis dan sehelai kain keabu-abuan diikatkan di pinggang.

Perhatian anak muda itu seluruhnya tertarik oleh pemandangan di sebelah dalam pintu gerbang hingga ia tidak melihat betapa dua orang penjaga yang berlindung dari hujan di bawah gapura sedang memandang padanya dengan mata curiga.

"Hordah! Siapa di situ?"

Tiba-tiba seorang penjaga menegurnya dengan suara keras dan ujung sebuah tombak yang runcing mengkilap muncul dari balik dinding gapura.

Biarpun pakaiannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang kampung, namun pemuda itu ternyata tabah dan sikapnya tenang sekali.

Bentakan suara keras dan tajamnya mata tombak tak membuatnya gentar atau gugup.

Dengan senyum di bibir ia menengok ke arah penegurnya lalu berkata tenang.

"Maaf, kawan-kawan, aku tidak melihat kalian tadi hingga tidak memberi salam. Aku seorang pengembara dari tempat jauh yang telah lama mengagumi nama dan kebesaran Gusti Sultan dan yang sekarang datang hendak menyaksikan keindahan dan keagungan ibu kota Mataram yang jaya ini."

"Bohong kamu! Masak seorang pelancong datang pada waktu hujan besar begini? Kamu tentu mempunyai maksud Jahat. Hayo ke sini, kami akan geledah dulu."

Pemuda itu tersenyum manis.

"Mau geledah sih boleh saja, tapi kalian harus ke sini, bukan aku yang harus ke situ."

"Eh-eh, banyak tingkah! Hayo kesini kamu!"

Teriak penjaga sambil mengamang-amangkan tinjunya.

"Kau saja ke sini!"

Pemuda itu tetap berkeras tapi mulutnya selalu tersenyum.

"Tidak kau lihat air hujan masih turun? Kami tak sudi kehujanan,"

Jawab penjaga.

"Akupun kehujanan dari tadi. Lagi pula, siapakah yang butuh akan penggeledahan ini? Kalian atau aku? Kalau aku yang butuh digeledah, tentu aku akan ke situ. Tapi sekarang kalianlah yang butuh menggeledahku, maka kalianlah yang harus ke sini."

"Jangan banyak cakap. Lekas kau ke sini, kalau bandel, jangan menyesal nanti jika kami gunakan kekerasan."

Penjaga kedua yang lebih tua dan sabar memberi peringatan.

"Aha, kalian berani gunakan kekerasan? Aku tidak percaya, sedangkan terhadap air hujan saja kalian sudah takut,"

Pemuda itu terus saja berjenaka, tapi suaranya sekali-kali tidak mengandung maksud menghina, bahkan ia seakan-akan ingin bersendau-gurau dengan kedua penjaga itu.

"Bangsat kecil jangan lari!"

Penjaga pertama berseru marah dan meloncat keluar dari tempat meneduhnya dan mengulur tangannya untuk menjambak rambut pemuda itu.

Tapi dengan tenang pemuda itu miringkan kepala hingga si penjaga menjambak angin!

Penjaga yang bertubuh tinggi besar itu marah sekali.

Kini ia menyerang dengan pukulan ke arah dada lawannya yang kembali berkelit tenang.

Demikianlah, penjaga itu dipermainkan dengan kelitan dan gerakan lincah hingga ia menjadi pusing.

Ketika ia ayun kepalan tangannya untuk kesekian kalinya dengan sepenuh tenaga, pemuda itu berkelit sambil menyindir.

"Sayang, pukul angin lagi!"

Pukulan itu keras sekali dan dilakukan dengan sepenuh tenaga, maka ketika dikelit, tak ampun lagi tubuh si penjaga menjadi limbung dan kakinya terpeleset hingga tubuhnya jatuh berdebuk di atas tanah yang basah dan licin!

"Eh, hati-hati kawan, tanah licin kau nanti jatuh!"

Kata pemuda itu dengan suara demikian jenaka dan lucu hingga penjaga kedua mau tak mau ikut tertawa juga.

Penjaga yang jatuh melihat dirinya dipermainkan dan ditertawakan pula oleh kawannya, menjadi arah sekali.

Dengan cepat ia meloncat bangun dan lari ke dalam tempat penjagaan dan mengambil tombaknya.

"Bangsat rendah, jangan lari, lihat tombakku!"

Katanya dan cepat ia menyerang lambung lawan dengan tombaknya.

"Hai, jangan main-main dengan senjata tajam."

Pemuda itu masih saja berjenaka sambil loncat berkelit.

"Awas, kutarik keluar ususmu yang jahat!"

Penjaga itu makin marah.

Melihat lawannya sudah berlaku nekat dan marah, pemuda itu agaknya kasihan juga.

Ketika ujung tombak menyerang ke arah perutnya ia tidak berkelit, tapi gunakan tangannya memapaki senjata itu.

Ia gunakan pinggir telapak tangannya menebas bagaikan sebilah parang dan "Krakk!!"

Gagang tombak terbuat dari kayu asam yang keras dan ulet itu patah menjadi dua!

Sementara itu, si penjaga melepaskan gagang tombak yang telah patah karena tenaga sabetan itu membuat telapak tangannya terasa sakit sekali dan ketika dilihatnya, ternyata telapak tangannya luka kulitnya dan berdarah, rasanya perih dan sakit sekali.

Penjaga kedua telah keluar dari tempat penjagaan dan memandang pemuda itu dengan bimbang dan kagum.

"Hai, pemuda yang gagah. Raden ini siapa dan dari mana. Menurut aturan yang telah ditentukan, kami para penjaga harus mengetahui keadaan setiap orang asing yang memasuki kota ini."

Mendengar ucapan penjaga tua yang halus ini, pemuda itu berlaku hormat.

"Maafkan aku, Paman. Bukan maksudku mencari keributan. Tadi aku hanya melayani kawan yang suka main-main ini. Aku bernama Jarot dari desa Wangkal di Tengger Utara. Aku seorang pengembara dan ingin sekali melihat Kerajaan Mataram yang telah mashur ini dari dekat. Harap Paman penjaga sudi memaafkanku."

Sikap dan tutur katanya sopan dan menarik hingga penjaga itu hilang kecurigaannya.

"Kalau begitu silakan, anak muda. Hanya saja janganlah kau berjalan seorang diri dalam hari hujan seperti ini, karena hal ini dapat menimbulkan kecurigaan penduduk padamu. Meneduhlah dimana saja, penduduk kota kita akan menerimamu dengan baik."

Jarot mengucap terima kasih dan setelah minta maaf kepada penjaga yang tadi dipermainkannya itu, ia lanjutkan perjalanannya memasuki kota.

Dua orang penjaga itu memandangnya dari belakang dengan heran dan kagum.

"Kalau ia ikut memasuki sayembara di alunalun, pasti ia akan menang,"

Kata penjaga tua itu.

Pemuda itu membelok ke kiri memasuki sebuah perkampungan yang banyak ditumbuhi pohon pisang.

Sebenarnya ia masuk ke kampung itu karena tertarik oleh bunyi irama besi tertempa, menandakan bahwa di kampung situ terdapat seorang pandai besi.

Dan pandai besi pada masa itu terpandang tinggi sebagai seorang berkepandaian tinggi, barangkali sama halnya dengan orang sekarang memandang seorang guru ahli.

Pandai besi, terutama yang khusus membuat senjata tajam, dianggap berjasa sekali, dan biasanya seorang pembuat keris dianggap seorang suci yang berderajat penembahan atau pertapa sakti dan disebut empu.

Dengan perlahan dan hati-hati Jarot mengetuk daun pintu rumah pandai besi itu.

Suara tang-ting-tong berhenti sejenak dan terdengarlah suara orang dari dalam.

"Anak muda yang di luar masuklah saja, pintu pondokku tak pernah diganjal atau dipalang. Buka saja!"

Suara ini halus dan besar.

Jarot mendorong daun pintu dengan perasaan heran mengapa orang di dalam tahu bahwa ia adalah seorang pemuda.

Ternyata isi gubuk itu melarat sekali.

Selain tungku api dan besi landasan serta perabot-pandai sederhana, di sudut terdapat sebuah bale-bale bambu.

Seorang orang tua berpakaian jubah putih yang panjang dan tergulung lengan bajunya, tidak bersorban hingga rambutnya yang panjang dan putih yang hanya diikat dengan lawe terurai di atas bahunya, dan bertelanjang kaki sedang berdiri membelakanginya, tangan kiri memegang sebilah keris luk tiga dan tangan kanan memegang sebuah besi pemukul.

Ketika mendengar Jarot memasuki pondoknya, orang tua itu balikkan tubuh menghadapinya.

Dan sekali pandang saja tahulah Jarot bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang tua ahli tapa yang suci.

Maka tanpa ragu-ragu lagi ia bersila dan menyembah.

"Mohon kemurahan hati Eyang untuk mengampuni saya yang lancang dan berani memasuki pondok Eyang."

Orang tua itu menggunakan lengan kanannya untuk melindungi matanya dari sinar api tungku yang terang dan sepasang matanya yang dilindungi alis putih menatap wajah anak muda yang bersila dengan kepala tunduk di depannya.

"Angger, siapakah kau dan ada apa kau masuk ke dalam gubukku yang miskin dan kotor ini?"

"Saya bernama Jarot dari Pegunungan Tengger, Eyang. Saya seorang perantau yang tak mempunyai tujuan tertentu, hanya ingin menikmati tamasya alam dengan segala pemberian alam yang pengasih, sambil meluaskan pengetahuan yang dangkal. Mohon ampun jika saya mengganggu kepada Eyang. Suara besi landasan terpukul menimbulkan bunyi nyaring dan merdu hingga membetot perasaan saya dan membuat kedua kaki saya dengan tak terasa bergerak ke arah suara. Ampunkan saya, Eyang."

"Hm, agaknya kau juga tergolong manusia pengolah baja?"

"Saya tak berani mengaku seperti itu, Eyang, hanya saya pernah melihat dan membantu Paman Empu Jayagung sebagai penggerak puputan selama beberapa tahun."

"Begitu? Pantas saja kau tertarik oleh suara dentingan landasan. Eh, Jarot, jika kau pernah membantu Empu Jayagung, coba terangkan, dengan apakah orang dapat menguasai kekerasan?"

"Kekerasan hanya dapat ditundukkan dengan kehalusan."

"Syarat apakah untuk dapat menjadi penempa keris?"

"Kekerasan baja hanya dapat dibentuk dan dikalahkan dengan ketekunan, kesabaran, dan kekuatan."

"Bagus, angger. Mari, mari duduk di sana denganku."

Jarot menyatakan terima kasih dan mereka menuju ke bale-bale lalu duduk berhadapan.

Sebenarnya Jarot merasa berat untuk duduk bersanding, dan hendak duduk bersila di bawah, tapi hal ini dicegah oleh orang tua itu yang berkata.

"Angger Jarot, jangan kaurendahkan diri di depanku secara berlebih-lebihan. Kau masuk ke rumahku sebagai tamu, dan sebagai orang segolongan, tak perlu kita sungkan-sungkan. Kau lihat dan periksalah keris ini dan coba nyatakan pendapatmu."

Jarot menerima keris luk tiga yang semenjak tadi dipegang oleh orang tua itu.

Keris itu sudah hampir selesai dibuat, tinggal menghaluskan saja.

Pamornya berkembang bagaikan kulit ular Sanca, warnanya hitam kehijau-hijauan, dan matanya tajam sekali.

Jarot kagum melihat keris itu dan diam-diam ia akui bahwa orang tua di hadapannya itu setingkat kepandaiannya dalam pembuatan keris jika dibanding dengan Empu Jayagung, Paman gurunya.

Satu hal yang membuat ia heran dan tercengang ialah logam yang dijadikan keris itu.

Belum pernah ia melihat logam dengan warna seperti itu dan yang mengeluarkan cahaya seakan-akan logam itu menyemburkan bunga api.

"Pusaka ampuh, Eyang... sungguh saya tidak pernah melihat waja seganjil ini, seakan-akan mengandung hawa... hawa..."

Ia ragu-ragu untuk melanjutkan katakatanya.

"Teruskan, angger."

"Maaf, Eyang, keris ini seakanakan mengandung hawa maut!"

"Kau betul, angger, kau benar. Biarlah sekarang aku perkenalkan diri. Aku adalah Empu Madrim, masih seperguruan dengan Kiai Gede Pemanahan dan ketika Raden Sutawijaya menjadi bupati dengan gelar Senapati Ing Alaga Saidin Panatagama sampai pada waktu satria yang gagah perwira itu membangun Kerajaan Mataram, aku sudah menjadi empunya. Semenjak Raden Sutawijaya tewas dan puteranya, yakni Mas Jolang atau ramanda Sri Sunan yang sekarang, menjadi penggantinya, aku merasa sudah bosan berurusan dengan dunia ramai, maka aku mengasingkan diri di puncak Gunung Sumbing. Dan sebulan yang lalu, tibatiba saja Sri Sultan memanggil aku dan aku diserahi tugas yang berat ini, bukan berat untuk dikerjakan, tapi berat menekan batin."

Jarot mengangguk-angguk. Ia pernah mendengar nama Empu Madrim ini dari gurunya, tapi ia tak menyatakan ini, hanya bertanya.

"Tugas berat apakah itu, Eyang?"

"Begini, angger. Beberapa bulan yang lalu, pada suatu malam Jum'at Kliwon, penduduk kampung Dadapan menjadi geger karena dengan tiba-tiba saja rumah seorang petani terbakar. Petani itu dengan isteri dan lima orang anaknya, semua binasa termakan api. Hanya bujangnya yang selamat dan menurut keterangan bujangnya itu, pada kira-kira tengah malam tepat, terdengar suara mengaung dari atas. Ia lari keluar dan melihat bintang jatuh. Tapi bintang itu tidak lenyap seperti biasa, bahkan makin hebat cahayanya yang merah bagaikan darah. Dan benda yang bernyala-nyala itu tepat jatuh di rumah itu, menembus atap dan segera rumah itu terbakar habis! Setelah api padam, rumah dan tujuh orang penghuninya telah menjadi abu, orang kampung Dadapan ketemukan sebuah logam yang hitam kehijauhijauan sebesar tangan orang. Mereka ambil benda itu dan menyerahkan ke hadapan Sri Sultan. Melihat logam yang ganjil itu, Sri Sultan berhasrat keras untuk membuat keris pusaka, tapi tak seorangpun empu yang berada di Mataram ini kuasa melebur logam itu. Karena itulah maka aku dicari dan diutus ke sini membuatnya."

"Memang tepat, Eyang, karena selain Eyang, siapa pulakah yang sanggup?"

Jarot memuji.

"Tapi aku tak rela, angger, aku tak rela. Tanganku menjadi kotor karenanya, angger. Logam ini pertama kali terjelma telah makan tujuh jiwa dan aku tahu... aku tahu... masih banyak darah yang akan diminumnya... dan aku... tangankulah yang membentuknya menjadi keris..."

"Eyang hanya menjalankan titah sri baginda."

Jarot menghibur.

"Karena itulah, angger. Sri Sultan Agung adalah seorang raja yang bijaksana dan luhur budinya. Tidak pantas beliau memelihara keris Margapati ini. Siapa memegang keris ini, ia akan terlibat dalam soal pembunuhan terus-menerus, dan aku tidak rela kalau Sri Sultan sampai terkena malapetaka ini. Maka, memang Dewata adil, angger. Tanpa dipanggil angger datang."

"Kau lah orangnya yang sanggup menghindarkan raja dari kutukan keris ini. Jarot, akuilah, bukankah kau ini putera Panembahan Cakrawala dan pernah berguru kepada Kyai Ageng Sapujagat?"

Terkejutlah Jarot mendengar ini. Bagaimana orang tua ini bisa tahu? Ia hanya memandang dengan tercengang dan mengangguk perlahan.

"Tak usah heran, angger. Akupun pernah diberi berkah oleh Kyai Ageng Sapujagat yang tuturkan padaku akan halmu. Kita bukanlah orang luar, angger."

Jarot rangkapkan tangan menyembah.

"Maaf, Eyang, saya tadinya tidak tahu bahwa Eyang mempunyai hubungan dengan Eyang guru, maka saya tidak berterus terang. Sekarang terserahlah kepada Eyang, saya hanya menurut saja segala petunjuk Eyang."

"Begini, angger. Kau tundalah perantauanmu dan hentikanlah dulu darma-brata-mu. Kini telah tiba saatnya bagimu untuk mengabdi kepada Sri Sultan yang mulia hingga dengan demikian akan lebih luaslah darmabaktimu kepada Ibu Pertiwi. Kerajaan Mataram menghadapi bermacam-macam percobaan Yang Kuasa, angger, dan yang dapat menolong hanya kau dan si Margapati ini."

"Apa yang harus saya lakukan, Eyang?"

"Besok adalah hari sayembara perang-perangan yang diadakan tiap pekan sekali oleh Sri Sultan. Sayembara ini selalu diadakan oleh Sri Sultan yang memang suka akan olah keprawiraan, dan dengan demikian maka dapat dikumpul dan dipilih satria-satria yang gagah perkasa.

"Kau masukilah sayembara itu, angger. Setelah kau mengabdi raja, maka lindungilah raja dari keris maut ini, buktikanlah hawa maut yang dikandungnya hingga raja percaya akan pengaruh jahat keris ini dan suka menjauhinya."

Jarot menyatakan kesanggupannya hingga Empu Madrim menjadi demikian girang dan lega hingga ia berkenan memberi wejangan-wejangan ilmu dan aji kesaktian kepada Jarot dan semalam suntuk mereka berdua tidak tidur sama sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Empu Madrim membawa keris Margapati ke Keraton.

Sebelum berpisah ia pesan kepada Jarot supaya berhati-hati dan waspada dalam segala sepak terjangnya.

Seperti biasa pada tiap hari Sabtu, pagi-pagi sekali Sri Sultan Agung telah turun dari tempat peraduannya dan bersiap-siap pergi ke alun-alun menyaksikan pertandingan-pertandingan adu kegagahan.

Teristimewa pagi ini, karena di alun-alun akan lebih ramai daripada hari-hari Sabtu biasa dengan adanya pengumuman bahwa hari ini akan diadakan sayembara pemilihan seorang kepala pahlawan Keraton, yakni para perajurit gagah perkasa yang bertugas menjaga dan melindungi keselamatan raja dan seisi Keraton.

Sambil mengenakan busana yang indah dan istimewa, Sri Sultan Agung tersenyum gembira memandang bayangannya di dalam sebuah cermin besar.

Sri Sultan Agung pada waktu itu telah berusia empat puluh tahun, tapi masih tampak gagah dan tampan bagaikan seorang jejaka teruna.

Tiba-tiba ia melihat dari bayangan cermin betapa Gombak, abdi pelayannya yang setia, menolak daun pintu dan memasuki kamar dengan jalan berjongkok, lalu berhenti di belakangnya dan menyembah.

"Ampunkan hamba berani menghadap tanpa dipanggil,"

Kata Gombak.

"Ada apa, Gombak?"

Tanya Sang Sultan Agung dari bayangan cermin.

"Di luar Empu Madrim mohon menghadap, Gusti."

"Silakan dia menanti sebentar, aku akan menerimanya di ruang luar,"

Jawab Sri Sultan dengan sabar.

Ketika Sri Sultan keluar, Empu Madrim berdiri dari kursi yang didudukinya dan membungkukkan badan sebagai tanda menghormat.

Sebagai seorang pertapa golongan tua, ia tak perlu bersila dan menyembah kepada raja muda ini.

Dengan wajah berseri-seri dan suara halus, Sri Sultan Agung mempersilakan Empu Madrim duduk dan ia sendiri duduk di atas kursi gading terukir.

"Angger Sultan, sekarang adalah saatnya hamba menghaturkan keris yang paduka kehendaki. Inilah keris Margapati, angger."

Dengan gembira Sultan Agung menerima keris Margapati dan dalam hatinya ia terkejut melihat betapa keris luk tiga itu bercahaya bagaikan mengeluarkan api.

"Ah, benar-benar senjata pusaka keramat,"

Katanya perlahan.

"Tapi keampuhannya mendatangkan kebinasaan, angger Sultan. Yakni kalau terjatuh ke dalam tangan seorang tak berbudi. Maka, mohon angger berlaku waspada terhadap keris ini. Kuberi nama keris ini Margapati, karena memang dia telah menjadi sebab kebinasaan dan jika tidak terjaga baik-baik, di kemudian hari dia masih akan menimbulkan maut dan malapetaka."

Tapi Sri Sultan Agung terlampau tertarik dan suka kepada keris pusaka yang betul-betul indah itu hingga pesan dan peringatan Empu Madrim seakan-akan tak terdengar olehnya.

Berkali-kali Sri Sultan memuji-muji keahlian Empu Madrim dan tak lupa menyatakan terima kasihnya, bahkan sebagal hadiah, ia perintahkan pelayan untuk mengambil pakaian indah serta barang-barang berharga lain untuk diberikan kepada pertapa itu.

Tapi Empu Madrim menolaknya dengan halus dan tersenyum lebar.

"O, angger Sultan, hamba seorang tua tiada guna yang hanya menanti datangnya saat pembebasan dari raga yang sudah lapuk ini. Untuk apa semua barangbarang yang hanya indah bagi raga itu? Sedangkan ragaku sudah lemah dan rusak. Kalau hendak memberi anugerah, janganlah memberi benda, ya angger junjunganku, berilah saja sebuah janji."

Sri Sultan tertawa heran.

"Janji? Boleh, Paman Empu, janji apakah itu? Tentu akan kuberi janji itu asalkan pantas dan dapat kulaksanakan."

"Janji yang sederhana saja, angger. Berjanjilah kepadaku bahwa angger seterusnya akan melindungi rakyat jelata, akan memerintah dengan adil dan bijaksana dan akan menggunakan keris Margapati hanya untuk membela keadilan belaka."

Tentu saja Sri Sultan Agung yang terkenal arif bijaksana itu merasa girang sekali mendengar permintaan ini dan tanpa ragu-ragu ia berikan janji itu kepada Empu Madrim.

Empu Madrim mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang lalu mengangguk-angguk senang.

"Semoga Yang Maha Kuasa selalu melindungi Paduka Sultan dan Kerajaan Mataram serta sekalian rakyatnya."

Kemudian Empu Madrim bermohon diri dan kembali ke tempat pertapaannya, yakni di puncak Gunung Sumbing.

Sri Sultan Agung lalu kembali memasuki kamarnya, menanti datangnya para punggawa yang akan datang menyongsong dan mengantarkannya ke alun-alun tepat pada waktunya.

Sementara itu, Jarot yang ditinggalkan Empu Madrim, merasa perutnya lapar sekali.

Semenjak kemarin ia belum makan.

Selain lapar, iapun ingin sekali mandi karena sudah menjadi kebiasaannya semenjak kecil untuk mandi air dingin di waktu pagi.

Ia ingat bahwa ketika kemarin memasuki kota ini, ia melihat kali bengawan yang jernih airnya.

Maka ia segera meninggalkan pondok kecil itu dan pergi mencari sungai untuk mandi.

Agak jauh dari kampung itu ia dapatkan sungai yang besar dengan airnya yang bening, maka ia merasagirang sekali.

Pada saat ia hendak membuka pakaian dan mandi, tiba-tiba terdengar suara merdu beberapa orang wanita yang bercakap-cakap sambil tertawa.

Cepat ia meloncat menyingkir dan bersembunyi di balik serumpun alang-alang.

Ternyata yang datang adalah tiga orang gadis yang membawa pakaian untuk dicuci dan agaknya mereka hendak mandi pula.

Jarot biasanya tidak tertarik hatinya melihat wanita muda, tapi kali ini melihat gadis yang berjalan di tengah, tiba-tiba hatinya berdebar.

Wajah gadis sederhana dengan mulutnya yang tersenyum-senyum itu seakan mempunyai daya tarik yang luar biasa hingga ia menatap gadis itu bagaikan kehilangan semangat!

Pula, di dasar hatinya ia merasa seakan-akan gadis itu tidak asing baginya, dan timbullah perasaan yang mesra sekali terhadap anak gadis itu.

Ketiga orang gadis itu sambil tertawa-tawa masuk ke dalam air sungai yang hanya sampai sebatas paha dalamnya dan mereka menaruh pakaian yang dibawa ke atas batu-batu hitam yang banyak terdapat di situ.

"Sari, cucianmu paling banyak, kami akan membantumu agar lebih cepat selesainya, tapi kau harus menembang untuk kami,"

Kata seorang di antara mereka kepada gadis yang menarik hati Jarot. Gadis itu tersenyum.

"Kau ini aneh, pagi-pagi orang disuruh menembang. Kan malu kalau terdengar orang lain."

"Ah, sepagi ini takkan ada orang di sini. Kami suka sekali mendengar suaramu yang merdu, Sari. Nyanyikanlah lagu Asmaradana!"

Gadis kedua ikut mendesak.

Setelah melihat ke kanan kiri dan jelas bahwa di situ tidak ada orang lain, gadis itu mengangkat mukanya yang ayu memandang ke atas mengingat-ingat, lalu ia bernyanyi tembang Asmaradana.

Kata-kata tembangnya melukiskan keadaan Dewi Sinta yang sedang menangis dalam taman Kerajaan Ngalengkadiraja, yakni kerajaan raja raksasa Dasamuka atau Rahwana raja yang menculiknya dari suaminya yang tercinta, Prabu Ramawijaya.

Dewi Sinta menangis meratap-ratap merindukan suaminya yang tak kunjung tiba untuk menolongnya dan membebaskannya dari cengkeraman Dasamuka, si durjana.

Suara gadis itu merayu-rayu dan Jarot merasa sangat terharu mendengar tembang itu yang maksudnya demikian .

Wahai murai, angin, dan surya...

sampaikanlah sembah rinduku kepadanya duh, suamiku, pujaan kalbu...

lihatlah betapa isterimu merindu.

Raden Rama...

satria kekasih hati, bilakah kau datang menolong rayi...?

tubuhku kurus, hatiku hancur jiwaku sengsara hanya wajahmu yang selalu terbayang depan mata duh Raden Rama...

suamiku...

kekasihku...!

Setelah tembang itu habis dinyanyikan kedua kawan gadis itu tak tahan untuk menahan air matanya, mereka merangkul gadis itu dan seorang di antara mereka berbisik terharu.

"Sinta... Sinta... jangan berduka, Rama tentu akan segera datang..."

Beberapa lama mereka berpelukan, kemudian gadis yang menembang tadi memecahkan hikmat tembangnya dengan tertawa nyaring dan merdu.

"Eh-eh, kalian ini bagaimana sih? Mau mandi dan mencuci pakaian, atau mau menangis?"

Mereka tertawa-tawa lagi dan mencuci pakaian sambil bersendau gurau, saling menyiram dengan air dan busa buah lerak yang mereka gunakan untuk mencuci pakaian.

Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa darj balik semak-semak ada dua pasang mata laki-laki yang mengintai dengan pandangan kagum.

Mengapa dua pasang?

Ya, karena dari belakang semak-semak tak jauh dari tempat Jarot bersembunyi, terdapat pula seorang pemuda hitam tinggi besar yang berwajah menyeramkan.

Matanya bulat besar dan kulit mukanya habis dimakan cacar.

Ia adalah Raden Mas Bahar, putera tunggal Tumenggung Suryawidura yang sudah tua tapi cukup terkenal karena kekayaannya dan karena anak perempuannya menjadi selir Sri Sultan.

Telah lama Bahar rindu dan tergila-gila akan Sekarsari, gadis yang sedang bersenda gurau dengan kedua kawannya di sungai itu.

Berkali-kali Bahar membujuk rayu menggoda Sekarsari, tapi gadis itu tidak menghiraukannya, bahkan memperlihatkan muka membenci dan sebal.

Kini, melihat gadis kenangannya itu berada di sungai dengan dua orang gadis lain, serta mendengar tembangnya yang merdu merayu, Bahar tak dapat menahan gelora hatinya lagi.

la keluar dari tempat persembunyiannya dan dengan langkah lebar ia menghampiri mereka.

Alangkah terkejutnya Sekarsari dan kawan-kawannya.

Mereka cepat membereskan kain yang diangkat dan diikatkan di dada setinggi mungkin, lalu mengambil pakaian yang mereka cuci dan siap hendak lari.

Tapi Bahar sengaja berdiri mencegat di jalan kecil yang menurun ke sungai itu hingga ketiga orang gadis itu tak berdaya, karena selain melalui jalan kecil itu, sukar juga untuk naik ke tebing.

"Den Mas, berilah kami jalan."

Seorang kawan Sekarsari berkata dengan sikap menghormat. Bahar geleng-geleng kepala dan menyeringai.

"Tidak, sebelum Sekarsari menembang sebuah lagu untukku!"

Tentu saja Sekarsari tidak sudi melakukan permintaan ini, tapi ia tak berani menjawab, hanya palingkan mukanya yang menjadi merah ke arah lain.

"Den Mas, jangan ganggu kami, biarkan kami pulang"

Kedua gadis kawan Sekarsari mendesak.

Bahar memberi jalan, kepada mereka, tapi ketika Sekarsari hendak maju, ia mencegat pula dan mengulurkan tangan hendak menangkap.

Terpaksa gadis itu mundur dan turun kembali ke sungai.

Sedangkan kedua kawannya lari keras sambil angkat kain sebatas lutut.

Sekarsari yang ditinggal berdua dengan Bahar menjadi takut dan cemas.

Ia memandang ke arah pemuda hitam itu dengan mata terbelalak.

Bahar tertawa bergelak.

"Ha-ha, Sekarsari, juwitaku, sekarang kau hendak lari ke mana? Hayo bernyanyilah barang selagu untuk Kang Masmu."

Sambil berkata begini Bahar melangkah turun ke atas batu kali yang besar, mendekati gadis itu. Sekarsari makin takut dan cepat maju ke tengah sungai di mana air lebih dalam hingga mencapai dadanya.

"Eh, jangan terlalu jauh, Sari, kau nanti terbawa air,"

Bahar berkata sambil tertawa. Tapi Sekarsari tak takut akan air karena ia pandai berenang.

"Sari, kemarilah mari kita bercakap-cakap."

Segala bujuk dan rayu keluar dari mulutnya, namun gadis itu tetap tidak sudi menghiraukannya, bahkan berenang makin ke tengah.

"Sari! Awas, ada buaya di sana!"

Tiba-tiba Bahar berteriak.

Gadis itu terkejut sekali.

Tanpa menengok lagi ia berenang ke tepi dan tubuhnya menggigil takut ketika tangan Bahar memegang lengannya dan membantunya naik ke atas batu.

Sekarsari menengok ke arah sungai untuk melihat buaya yang mengancamnya, tapi ia tidak melihat apa-apa di air yang mengalir perlahan itu, kecuali beberapa potong ranting kayu yang hanyut perlahan.

"Mana buayanya?"

Ia bertanya.

"Ha-ha! buayanya berada di kedung, Sari. Di sini tidak ada buaya, di sungai ini paling ada juga ikan lele!"

"Kau... kau... kurang ajar! Lepaskan aku!"

Sekarsari berontak dan berusaha melepaskan lengan kirinya yang dipegang Bahar.

Tapi ia kalah tenaga dan Bahar menariknya ke tepi.

Ia melawan dengan menyepak, memukul, mencakar, dan menjerit-jerit.

Jarot melihat peristiwa itu dengan mata bernyala dan ia sudah siap bertindak.

Tapi ditahannya napsu marahnya karena pada saat itu datanglah seorang tua berlari-lari ke tempat itu.

Ia adalah Ki Galur, Ayah Sekarsari yang diberi tahu oleh kedua gadis kawan Sekarsari yang lari pulang tadi.

"Ayah...!"

Sekarsari berteriak dan Bahar terpaksa melepaskan pegangannya. Gadis itu lari menubruk Ayahnya sambil menangis.

"Raden Mas Bahar, mengapa kau selalu mengganggu anakku?"

Orang tua itu menegur. Suaranya penuh penyesalan tapi sikapnya tetap menghormat karena ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan putera Tumenggung Suryawidura.

"Kau perduli apa?"

Teriak Bahar yang merasa malu dan penasaran atas teguran itu.

"Aku suka pada anakmu, besok kau harus antar ia ke Tumenggungan!"

"Ampun, Den Mas, jangan Den Mas memaksa..."

"Apa katamu? Aku cinta pada Sekarsari dan ingin mengambil dia sebagai selir, kau berani menampik aku? Kau orang tua jangan banyak cakap!"

"Ayah... aku tak sudi, Ayah. Lebih baik mati..."

"Den Mas bagus, ampunkan kami Ayah dan anak. Biar kami tinggalkan tempat ini dan pergi, selanjutnya kami tak berani mengganggu Den Mas pula. Tapi jangan... jangan kau paksa anakku..."

"Diam!"

Bentak Bahar yang maju dua langkah dan ia ayun tangannya menampar kepala Ki Galur. Orang tua yang lemah itu kena tampar terhuyung-huyung ke belakang.

"Kau pengecut... jahanam!"

Sekarsari berteriak dan meloncat menghadang di depan Ayahnya ketika Bahar hendak memukul pula.

"Orang tua sombong, banyak cerewet. Biar kuhajar dia!"

"Jangan... jangan Den Mas..."

Akhirnya Sekarsari berkata lemah, penuh kecemasan ketika Bahar melangkah perlahan ke depan hingga iapun melangkah mundur dengan wajah pucat.

Pada saat itu Bahar merasa bahunya ditepuk orang dengan cara yang berani dan kurang ajar.

Ia cepat memutar tubuhnya dan berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang berkulit halus bersih.

Jarot memandang Bahar dengan mata menghina dan mulut tersenyum.

"Siapa kau? Mengapa berani pegang-pegang pundakku?"

Bentaknya.

"Mengapa tidak berani? Kau juga berani menghina orang tua dan anak gadisnya,"

Jarot balas mengejek.

"Bangsat! Tak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa?"

"Tentu tahu! Aku sedang berhadapan dengan seorang pemuda tidak sopan, seorang yang sombong dan mengandalkan pangkat dan kedudukan untuk menghina orang-orang lemah."

"Anjing keparat! Aku adalah Raden Mas Bahar, putera Tumenggung Suryawidura, kau tidak lekas menyembah?"

"Hm, tak pantas... sungguh tak patut..."

"Apa yang tak patut, keparat?"

"Tak pantas kalau kau putera Tumenggung, pantasnya kau ini seorang perampok hina!"

"Keparat jahanam!"

Dan kepalan Bahar melayang ke arah dada Jarot.

Putera Tumenggung ini sebenarnya bukanlah seorang pemuda lemah.

Ia pernah belajar pencak silat dan ilmu aji kesaktian, bahkan hari inipun ia berrnaksud memasuki sayembara yuda lumba di alunalun.

Maka Jarot pun segera merasa betapa pukulan itu berat dan mendatangkan angin.

Tapi dengan gesit Jarot miringkan tubuh dan tangan kirinya membabat dalam tangkisan kuat.

Lengan kanan Bahar terpental dan ia merasa kulit dan tulang lengannya sakit sekali.

Ia terkejut karena sama sekali tak disangkanya pemuda yang tampaknya seperti petani desa ini memiliki tenaga sebesar itu.

Namun, ia merasa malu untuk mundur, maka segera ia menyerang lagi dengan ganas.

Tangan kanan memukul lambung dan tangan kiri menempiling kepala.

Dua macam pukulan yang dilakukan dengan sekali gerak dan cepat sekali datangnya itu membuat Jarot diam-diam merasa kagum, tapi dengan mudah dan tak gentar sedikitpun Jarot menundukkan kepala berkelit dari serangan tangan kiri.

Sedangkan serangan ke arah lambungnya ia tangkis dengan kepretan tangan.

Ia tidak berhenti sampai sekian saja, karena secepat kilat kaki kanannya bergerak menyapu pergelangan kaki lawan hingga tak ampun lagi Bahar berseru kaget dan tahu-tahu tubuhnya terpelanting dan jatuh berdebuk ke atas tanah!

Sungguh malang baginya, tanah di situ basah dan penuh lumpur hingga ketika ia merayap bangun, mukanya penuh tanah lumpur dan menjadi makin buruk!

Terdengar suara tertawa nyaring dan merdu.

Ternyata Sekarsari tak dapat menahan tawanya karena geli hati melihat keadaan lucu itu dan karena gembiranya melihat orang yang dibencinya mendapat hajaran.

Juga Ki Galur tersenyum puas, sungguhpun matanya masih membayangkan kecemasan.

Bahar makin marah dan panas hati.

Sekali tangannya bergerak maka gagang kerisnya telah tergenggam erat.

Napasnya terengah-engah, hidungnya kembang-kempis, matanya merah setengah dikatupkan, giginya dikertakkan dan mulutnya mengeluarkan suara berdesis.

Sikapnya merupakan ancaman maut.

"Beri tahu namamu, keparat. Jangan mati tak bernama!"

Geramnya.

Suaranya parau menyeramkan.

Tapi Jarot hanya tersenyum dan memandang rendah.

Sikapnya ini membuat Ki Galur dan terutama Sekarsari, khawatir sekali.

Dengan melupakan bahaya, gadis itu lari menghampiri Jarot.

"Raden... larilah... kau tentu akan dibunuhnya... lari... lari, Raden!"

Teriak gadis itu.

"Terima kasih, jangan kau khawatir. Keras bunyi tak berisi. Laki-laki ceriwis ini hanya gayanya saja hebat, tapi ia tak berbahaya sama sekali. Kau lihatlah saja dari sana."

Dengan perlahan ia dorong bahu gadis itu, tapi sungguhpun hanya perlahan saja, cukup membuat Sekarsari merasa terdorong oleh tenaga yang kuat sekali hingga terpaksa ia lari kembali kepada Ayahnya.

Jarot bertolak pinggang dan memandang lawannya dengan tenang.

"Bahar, kau betul-betul hendak berkelahi? Aku bernama Jarot dan sebelum terlambat, kunasihatkan kau lebih.baik pulang saja agar takkan menderita lebih hebat lagi!"

"Sombong, rasakan tajamnya kerisku!"

Bahar membentak keras dan ia meloncat menerjang dengan kerisnya yang besar dan hebat.

Sekarsari menjerit lirih dan menggunakan kedua tangan menutupi matanya, tapi Jarot dengan cekatan dapat kelit serangan itu mudah sekali.

Lebih lima kali Bahar menerjang, tapi selalu dapat dikelit oleh Jarot.

Serangan berikutnya dilakukan dengan gerakan nekat.

Kerisnya menusuk ke kanan kiri, ke atas bawah, hingga tak dapat diduga sebelumnya hendak menyerang bagian mana.

Kalau lawannya bukan Jarot, tentu ia akan gugup dan bingung karenanya.

Tapi dengan masih tenang Jarot gerakkan tangan kanannya mendahului dan menangkap pergelangan tangan Bahar yang memegang keris.

Sekali ia kerahkan tenaga, genggaman tangan Bahar terbuka dan kerisnya jatuh ke tanah.

Pada saat itu, dengan jari terbuka tangan kiri Jarot melayang dan sebuah tamparan keras sekali tiba di pangkal telinga Bahar!

Bahar menjerit.

"Aduh!!"

Dan merasa semrepet, matanya berkunang-kunang, kepalanya berdenyut-denyut, dan ketika ia buka matanya segala apa di kelilingnya berputar dan bergelombang, Tubuhnya terhuyung-huyung dan ia tak dapat menahan diri lagi ketika tubuhnya terguling dengan lemas!

Inilah tamparan tangan Bayusakti yang hebat dan luar biasa!

Jangankan sampai tertampar, baru terkena angin tamparan itu saja, kulit terasa pedas dan sakit.

Masih untung bagi Bahar bahwa ia telah mempelajari ilmu kekuatan tubuh, dan Jarot tidak menggunakan seluruh tenaganya, kalau tidak demikian halnya, pasti Bahar akan rebah untuk tak bangun kembali!

Setelah mengeluh kesakitan, Bahar merayap bangun lalu menjumput kerisnya, tapi sebelum ia sempat berdiri, Jarot ulur tangannya memegang bahunya.

Bahar merasa seakan-akan bahunya terjepit dua batu karang yang kuat hingga kerisnya terlepas lagi.

Ia masih membungkuk dan tubuhnya menggigil menahan sakit karena tulang bahunya seakan-akan terasa remuk.

"Hayo kau minta maaf kepada Paman ini dan puterinya."

Jarot memerintah sambil mendorong Bahar ke tempat Ki Galur. Karena tak tertahan sakitnya, Bahar terpaksa berkata gemetar.

"Paman... Sari... maafkan aku..."

"Dan berjanjilah bahwa kau tak akan mengganggu mereka lagi."

"Aku... aku berjanji takkan... mengganggu mereka."

Jarot melepaskan pegangannya dan dengan terhuyung-huyung Bahar meninggalkan tempat itu. Ki Galur dan anak gadisnya memandang Jarot dengan kagum dan berterima kasih.

"Raden, terima kasih atas pertolonganmu. Tapi saya harap Raden lekas-lekas pergi dari sini, kalau tidak, saya khawatir Raden akan menemui bencana. Saya yakin Den Mas Bahar tentu akan menuntut balas."

"Biarlah, Paman. Biar aku yang akan bertanggung jawab. Apapun yang akan menimpaku, akan kuhadapi sendiri."

"Kau... kau gagah sekali, Raden. Apakah yang harus kami lakukan sebagai... pembalas budi?"

Kata Sekarsari dengan kerling kagum. Jarot pandang wajah yang ayu jelita itu dengan senyum gembira, lalu ia menjawab.

"Pembalas budi? Aku... aku tak ingin dibalas... tapi..."

Ia teringat akan perutnya yang lapar.

"Aku... lapar...!"

Wajahnya memerah malu.

Ki Galur tertawa dan mulut yang tak bergigi lagi itu terbuka, lekas-lekas ia tutup mulut dengan tangannya.

Sebaliknya Sekarsari tertawa memperlihatkan dua deret gigi yang indah bagaikan mutiara tersusun rapi.

"Lapar? Kau suka akan ketan, Raden?"

Tanya Sekarsari.

"Ketan...?"

"Ya, ketan putih, dan kelapa, dan juruh.."

"Ketan kelapa dengan juruh?"

Mulut Jarot membasah.

"Ah, enak sekali."

"Kalau kau suka, mari kita pulang..."

"Pulang...?"

Ulangan kata-kata ini diucapkan demikian mesra hingga si gadis bermerah durja.

Ia telah lupa sama sekali bahwa orang yang diajak pulang adalah seorang pemuda yang sama sekali asing baginya!

Maka teringat akan hal ini, ia tertawa perlahan dan mengambil cuciannya terus lari!

"Mari, Raden."

Ajak Ki Galur.

"Tunggu sebentar, Paman, aku hendak mandi dulu."

Tanpa malu-malu di depan orang tua itu, Jarot menanggalkan pakaiannya dan terjun ke air.

Ia berenang ke sana ke mari, diikuti pandangan mata Ki Galur yang kagum sekali melihat kebagusan tubuh yang bersih halus dan membayangkan tenaga hebat itu.

Kemudian, bersama-sama mereka menuju ke sebuah rumah bilik dekat sungai.

Sebuah sampan terikat di pinggir bengawan dan selembar jala ikan terjemur di depan rumah.

Sekarsari telah bersalin baju dan wajahnya berseri ketika ia mengeluarkan hidangan ketan dengan kelapa dan juruh yang terbuat dari gula kelapa.

Sambil makan ketan Jarot tuturkan dengan singkat kepada Ki Galur bahwa ia adalah seorang perantau yang menjalankan darma brata dan mencari pengalaman di kota praja.

Ia memberi tahu bahwa tempat tinggalnya adalah jauh di timur.

Dari kakek ini ia mendengar bahwa Ki Galur hanya hidup berdua dengan anaknya, Sekarsari, dan bahwa sumber hasilnya ialah mencari ikan di sepanjang bengawan dan hidup sebagai nelayan.

Tiba-tiba terdengar bunyi gong dipukul nyaring berkalikali.

Ki Galur meloncat bangun.

"Aduh, hampir aku lupa. Hari ini di alun-alun ada sayembara perang tanding, ramai sekali! Hayo, Raden, kita nonton yuda lumba! Lihat betapa satria-satria dan pahlawan-pahlawan gagah perkasa berlaga di alun-alun!"

Dan Jarotpun teringat akan pesan Empu Madrim, maka iapun menjawab.

"Baik, Paman."

"Ayah, aku ikut!"

Tiba-tiba Sekarsari berkata.

"Huss! Tidak boleh. Masak seorang gadis ikut nonton sayembara perang!"

Sekarsari cemberut, tapi ia tak berani membantah Ayahnya.

"Sayang aku tidak dilahirkan sebagai laki-laki."

Terdengar gerutunya yang membuat Ki Galur dan Jarot tersenyum geli.

Alun-alun yang lebar terpajang indah.

Janur kuning dan kembang dipasang orang di pintu gerbang.

Tanah telah disiram air hingga tidak ada debu dan tanah yang basah menghitam itu menimbulkan hawa sejuk menyenangkan.

Orang-orang telah berkumpul mengelilingi tempat yang khusus disediakan untuk mengadu kegagahan, yakni di tengah-tengah.

Penjaga-penjaga dengan tombak panjang menjaga di sekeliling tempat itu dan bambu-bambu panjang dipasang melintang sebagai pencegah penonton mendesak ke depan.

Sebuah setinggil yang dihias indah didirikan orang dekat tempat perlombaan dan sebuah kursi terbuat dari kayu cendana yang harum dan terukir halus berdiri di situ.

Ini adalah tempat yang disediakan untuk Sri Sultan.

Tak lama kemudian.

Sri Sultan keluar dari Keraton menuju ke alun-alun dengan diiring para hulubalang.

Lagu Kebogiro dimainkan oleh para yogo untuk menyambut rajanya.

Para penonton jongkok menyembah di kala Sri Sultan lewat dengan tindakan agung.

Tiada suara orang berbisik ketika Sri Sultan menuju ke setinggil, kecuali suara gamelan yang riang gembira itu.

Setelah Sri Sultan duduk di atas kursi cendana, maka ramailah kembali suara para penonton.

Di sudut alun-alun berkumpul para muda dan satria yang berpakaian indah.

Mereka inilah yang hendak memasuki sayembara.

Kurang lebih ada tiga puluh orang yang hendak ikut dan mereka semua tampak gagah dan kuat.

Menurut acara, pertandingan itu diadakan dalam lima babak.

Pertama .

tiap pengikut sayembara harus dapat mengangkat sebuah besi yang terdapat di bawah pohon waringin di alun-alun itu.

Besi itu adalah sebuah jangkar kapal yang besar dan berat, Hingga untuk membawanya ke tempat itu dibutuhkan tenaga empat orang laki-laki kuat yang menggotongnya!

Besi jangkar itu harus diangkat di atas kepala dan dibawa berjalan mengelilingi pohon waringin yang besar itu.

Inilah syarat pertama bagi yang hendak mengikuti sayembara.

Siapa yang tidak dapat memenuhi syarat pertama ini berarti gagal dan harus mengundurkan diri.

Syarat kedua tidak kalah sukarnya, yakni .

para pengikut sayembara, sesudah dapat memenuhi syarat pertama, harus dapat menaiki kuda liar Nagapertala dan bertahan duduk di punggung kuda itu sampai lagu Kebogiro selesai dimainkan oleh para pemain gamelan yang sudah siap.

Syarat ini bukannya mudah, karena kalau untuk menempuh syarat pertama orang hanya membutuhkan tenaga besar, syarat kedua ini membutuhkan kekuatan, kesigapan, keuletan, dan kepandaian menunggang kuda.

Sedangkan kuda liar yang diberi nama Nagapertala ini sudah terkenal sebagai kuda iblis berbulu hitam yang ganas dan liar hingga belum pernah ada pahlawan yang sanggup bertahan lama duduk di atasnya, kecuali Senapati Ki Ageng Baurekso dan beberapa senapati lain yang terkenal akan kesaktian mereka.

Babak sayembara selanjutnya ialah berlomba memanah, bermain tombak, dan bermain keris dan tameng.

Orang-orang yang datang menonton telah mengelilingi pohon waringin sejauh sepuluh tombak lebih.

Mereka berjongkok untuk menyatakan hormat mereka kepada Sri Sultan Agung.

Wajah semua orang tampak gembira.

Tiba-tiba gong berbunyi dan kurang lebih tiga puluh orang muda yang gagah-gagah itu memasuki kalangan, lalu berjalan jongkok dan duduk bersila dalam tiga jajar di depan Sri Sultan Agung, setelah menyembah tanda hormat.

Sri Sultan Agung menggerakkan tangan kanan ke atas sebagai tanda bahwa sayembara dapat segera dimulai.

Maka bertalu-talu bunyi gong tiga kali, disambut pekik sorak dan tepuk tangan penonton.

Ksatria yang duduk terdepan menyembah kepada Sri Sultan, lalu pergi menuju ke bawah waringin di mana telah menanti besi jangkar pengukur tenaganya.

Dengan lagak gagah ksatria muda itu membungkuk, pegang-pegang dan timang-timang gagang jangkar dengan kedua tangannya, lalu kerahkan tenaga mengangkatnya.

Besi jangkar yang berat itu terangkat ke atas, diikuti sorak-sorai penonton, tapi ternyata hanya sampai di atas pundak pemuda itu!

Karena tidak kuasa mengangkatnya lebih tinggi, ia lepaskan besi sambil meloncat mundur hingga jangkar itu jatuh berdebuk ke atas tanah!

Pemuda pertama telah gagal.

Dengan keoewa ia menyembah ke arah Sri Sultan Agung yang memandangnya dengan senyum menghibur dan pemuda itu lalu keluar dari kalangan, kini bercampur dengan orang-orang, menjadi penonton.

Pengikut kedua adalah seorang yang brewok dan bertubuh tinggi besar.

Ia membuka bajunya hingga tampak urat-urat seperti tambang membelit tubuhnya yang besar.

Kemudian dengan berseru keras ia angkat besi itu dengan kedua tangan, terus diangkat ke atas kepala!

Penonton berteriak-teriak memuji dan si brewok melangkah maju untuk mengelilingi waringin.

Tapi baru saja bertindak lima langkah, kedua kakinya gemetar dan terpaksa ia lepaskan besi itu yang jatuh di atas tanah dengan suara keras.

Penonton berseru kecewa dan si brewok setelah menyembah raja lalu cepat-cepat pergi menghilang di antara ribuan penonton.

Demikianlah, berganti-ganti mereka menempuh syarat pertama, dan setelah semua calon mencoba tenaga mereka, ternyata bahwa yang lulus dalam syarat pertama ini hanya lima belas orang saja.

Penonton menyambut kelima belas pemuda kuat itu dengan tempik-sorak gemuruh; termasuk Jarot yang merasa gembira sekali hingga timbul keinginan hatinya untuk mencoba berat besi yang menggagalkan banyak pemuda gagah itu.

Karena tempat berdirinya tidak jauh dari pohon itu, maka dengan beberapa kali loncat ia sudah tiba di bawah pohon.

Ia tadi melihat betapa sukar mereka mengangkat besi itu dan hanya dua orang saja kuat mengangkat dengan tangan kanan, sedangkan yang lain mengangkatnya dengan kedua tangan.

Ia membungkuk dan menggunakan tangan kanan memegang gagang jangkar dan terus mengangkatnya ke atas.

Ia merasa bahwa besi Itu ternyata tak berapa berat, maka ia pindahkan besi itu di tangan kirinya lalu diangkat pula ke atas kepala.

Tentu saja gerakan ini menimbulkan sambutan yang hebat.

Tadinya orang-orang melihat seorang pemuda sederhana mendekati besi itu, menjadi heran dan khawatir bahwa Sri Sultan akan menjadi marah kepada pemuda sembrono itu.

Tapi setelah melihat betapa Jarot permainkan besi di tangan kiri dengan ringannya, mereka merasa kagum sekali karena sepanjang pengetahuan mereka, yang dapat mengangkat besi itu dengan tangan kiri seringan itu hanya Sri Sultan Agung sendiri dan Senapati Ki Ageng Baurekso saja.

Dari mana datangnya pemuda tampan sederhana yang luar biasa ini?

Juga Sri Sultan Agung bertanya kepada para hulubalang yang berada di situ.

"Dari mana datangnya pemuda itu?"

Beberapa orang pahlawan menyangka raja marah dan bersiap menangkap pemuda lancang itu, tapi Sultan Agung bersabda.

"Jangan ganggu dia, biarkan dia ikut dalam sayembara ini."

Sementara itu, seperti seorang anak kecil, Jarot bawa lari besi itu memutari waringin, tidak sekali, tapi tiga kali!

Tampik-sorak ramai menyambutnya.

Setelah menaruh besi itu ke tanah kembali tanpa memperlihatkan sedikitpun kelelahan Jarot menengok ke kanan kiri dengan bingung, tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Baiknya seorang hulubalang menghampirinya dan berbisik.

"Raden, kau diperkenankan mengikuti sayembara, maka lekaslekaslah duduk berkumpul dengan lima belas orang yang lulus dan menyembah menghaturkan terima kasih kepada Gusti Sultan."

Jarot menurut nasihat ini.

Gong dipukul lagi dan seekor kuda bulu hitam dituntun masuk ke dalam kalangan.

Melihat kuda yang besar itu meronta-ronta, maka penonton mundur setombak lebih dengan takut kalau-kalau kuda iblis itu mengamuk.

Benar saja, mendengar suara orang banyak, kuda Nagapertala memberontak dan berhasil melepaskan diri dengan merenggut kendali dari tangan penjaganya yang tak berdaya.

Kuda itu lari mengitari kalangan dengan mendengus-dengus dan meringkik-ringkik marah.

Sultan Agung melihat lagak kuda itu tersenyum geli lalu berbisik memerintah kepada Ki Ageng Baurekso yang berdiri di dekatnya.

Ki Ageng Baurekso yang bertubuh tinggi besar dan bermata bundar berkulit hitam itu meloncat ke dalam kalangan.

Ketika kuda Nagapertala lari lewat dekatnya, ia bergerak menyambar kendali dan sekali sentak saja leher Nagapertala tertahan ke belakang hingga kuda itu berdiri di kedua kaki belakangnya!

Kuda itu merontaronta sebentar tapi ia tidak berdaya melawan tenaga tangan Ki Ageng Baurekso yang kuat.

Nagapertala maklum akan tangguhnya lawan, maka ia-pun tunduk tak melawan lagi.

Semua penonton kagum akan kehebatan senapati tua ini.

Setelah Sri Sultan Agung memberi tanda, maka mulailah diuji ketangkasan para muda yang lulus dalam syarat pertama tadi.

Karena Jarot duduk terbelakang, maka gilirannyapun terakhir pula.

Dari lima belas orang calon, hanya lima orang yang lulus, sedangkan yang sepuluh terpaksa keluar dari kalangan dan dinyatakan gagal.

Ketika tiba giliran Jarot, pemuda ini menghampiri Nagapertala dengan khawatir karena sesungguhnya ia belum pernah belajar ilmu naik kuda.

Nagapertala yang sudah lelah menjadi pemarah sekali.

Begitu ia merasa ada orang mendekatinya dari belakang, ia angkat kedua kaki belakang dan menyepak ke arah dada Jarot!

Baiknya pemuda itu selalu waspada dan gesit sekali, maka dengan mudah ia loncat berkelit.

Namun kejadian ini membuat hatinya makin khawatir.

"Aduh galaknya!"

Diam-diam ia mengeluh.

Nagapertala menoleh dan membuka mulutnya hendak menggigit!

Tapi Jarot tak membuang waktu lagi, cepat dan sigap ia meloncat ke atas punggung Nagapertala tanpa memegang kendali yang masih tergantung dan berada di atas tanah!

Orang-orang terkejut melihat hal ini juga Sri Sultan dan Senapati Baurekso cemas juga.

Tak mungkin orang dapat tetap duduk di atas punggung Nagapertala tanpa pegang kendali untuk menguasai kuda liar itu!

Seperti yang sudah-sudah, begitu merasa punggungnya diduduki orang.

Nagapertala segera meringkik marah dan berdiri di atas kaki belakang.

Hampir saja Jarot terlempar ke belakang kalau ia tidak cepat-cepat peluk leher kuda yang kuat itu.

Tapi Nagapertala goyang-goyang tubuhnya dan geleng-gelengkan kepala.

Para penonton, termasuk raja dan hulubalang semua, melihat perjuangan hebat itu dengan hati berdebar dan perasaan tegang.

Sementara itu gamelan mainkan lagu Kebogiro yang gagah dan bersemangat.

Jarot mengeluh dan merasa bahwa tak mungkin ia dapat bertahan.

Maka diam-diam ia kerahkan ilmunya Gelap Seyuto dan tiba-tiba para penonton merasa bulu tengkuknya berdiri ketika terdengar Jarot menggeram keras dan menyeramkan.

Geram ini lebih hebat daripada auman harimau dan mengatasi ringkik si Nagapertala.

Mendengar geraman itu dan merasa betapa kedua tangan yang memeluk lehernya menekan dengan tenaga yang luar biasa hebatnya, Nagapertala gemetar seluruh tubuhnya dan kuda liar itu berdiri diam dengan keempat kaki menggigil, seakan-akan ia sedang menahan muatan yang berat sekali!

Jarot duduk dengan tenang di atas punggung Nagapertala yang berdiri tak bergerak, sedangkan lagu Kebogiro terus dimainkan sampai habis.

Setelah lagu habis dimainkan, Jarot meloncat turun, sedangkan Nagapertala (Lanjut ke

Jilid 02) Keris Pusaka dan Kuda Iblis (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 tampak lemas tak bertenaga lagi hingga mudah saja dituntun keluar, lebih jinak dari pada kuda-kuda biasa!

Melihat kesaktian pemuda itu, diam-diam Sri Sultan merasa kagum, sedangkan Ki Ageng Baurekso terkejut dan menduga-duga siapakah gerangan pemuda aneh itu dan siapa gurunya?

Kelima orang lain yang lulus menghadapi syarat kedua ini ialah .

Pangeran Pati Amangkurat, putera Sri Sultan sendiri, Suro Agul-Agul, Uposonto, Madurorejo, dan yang kelima adalah seorang berusia kurang lebih empat puluh tahun dan mengaku berasal dari Jawa Timur dan bernama Priolelono.

Kemudian perlombaan memanah dimulai.

Pangeran Amangkurat memanah lebih dulu dan bidikannya tepat mengenai sasaran dan tertancap di tengah-tengah.

Juga keempat calon lain dapat menancapkan anak panah mereka di sekitar anak panah Pangeran Amangkurat, tapi tidak di luar garis sasaran!

Ketika tiba giliran Jarot, pemuda ini merasa tenang sekali, berbeda dengan tadi ketika menghadapi Nagapertala.

Ini disebabkan karena ia memang telah terlatih dan digembleng dalam hal ilmu memanah oleh guru dan Ayahnya.

Ia melihat betapa tempat sasaran itu telah penuh oleh lima batang anak panah hingga tiada tempat lagi agaknya bagi anak panah yang akan dilepasnya.

Ia berpikir sebentar, lalu ia ambil lima batang anak panah.

Beruntun-runtun lima batang anak panah terlepas dari gendewa yang dipegangnya dengan cepat sekali.

Demikian cepat lajunya anak-anak panah ini hingga orang-orang hanya melihat lima kali sinar berkelebat dan tahu-tahu kelima batang anak panah itu telah menancap di belakang kelima anak panah yang sudah tertancap lebih dulu di atas sasaran!

Kejadian ini membuat semua penonton bengong terheran hingga untuk sesaat keadaan menjadi sunyi seakan-akan di tempat itu tak terdapat seorangpun.

Kemudian riuh-rendah dan bergemuruhlah sorak-sorai yang memuji kepandaian Jarot.

Sri Sultan Agung bertukar pandang dengan Ki Ageng Baurekso dan Jarot segera dipanggil menghadap.

Pangeran Amangkurat dan lain-lain calon merasa tak senang sekali.

Sri Sultan Agung bertanya dengan suara halus.

"Hai anak muda! Apa maksudmu melepas anak panah di belakang anak-anak panah yang telah menancap di sasaran?"

Jarot menyembah khidmat.

"Ampunkan hamba, Gusti. Karena hamba lihat bahwa semua anak panah mengenai sasaran dengan tepat, maka adalah kewajiban hamba untuk mendorong mereka itu dari belakang agar semua anak panah tidak menancap di luar garis sasaran. Andaikata ada anak panah yang menancap di luar garis yang ditentukan, tentu anak panah hamba takkan mengenainya, Gusti."

Kembali Sri Sultan mengerling dan bertukar pandang dengan Ki Ageng Baurekso.

Raja yang arif bijaksana ini maklum akan maksud Jarot yang hendak menyatakan bahwa sebagai seorang calon senapati dalam perlombaan itu, ia berjanji hendak setia dan mengerahkan tenaga membantu tindakan yang tepat dan benar, seperti tepatnya ujung anak panah mengenai sasaran, dan bahwa ia takkan membantu usaha-usaha yang keliru dan salah.

Tapi Amangkurat tetap merasa penasaran karena Pangeran ini tidak mengerti maksud Jarot.

Ia menganggap pemuda itu sombong dan menghinanya.

Sementara itu, Tumenggung Suryawidura yang sudah diberitahu oleh anaknya betapa Jarot telah menghinanya, segera menyembah dan berkata.

"Gusti, betapapun juga, pemuda ini ternyata terlalu memandang rendah para calon lain, terutama kepada Gusti Pangeran.! Maka, untuk mencoba apakah benar-benar ia sakti, hamba usulkan agar dalam perlombaan main tombak dan keris, ia dihadapkan dengan kelima calon lain. Hamba rasa ia tentu berani seperti halnya dengan anak panah tadi. Kecuali kalau ia tidak berani, boleh digunakan cara lain."

Sambil berkata demikian, Tumenggung yang tua ini mengerling kepada Jarot.

Pemuda ini heran sekali mengapa priyayi tua ini seperti membencinya!

Mendengar usul hulubalang tua yang juga menjadi mertuanya ini, Sultan Agung tersenyum.

Ia merasa tidak setuju, tapi ingin pula ia mendengar jawab dan pendapat Jarot.

lalu tanyanya.

"Bagaimana pendapatmu dengan usul Paman Suryawidura tadi?"

Mendengar nama ini, tahulah Jarot bahwa Raden Mas Bahar telah menggunakan tangan Ayahnya untuk membalas dendam. Maka ia merasa malu kalau mundur terhadap usul ini. Sembahnya.

"Kalau memang demikian yang dikehendaki, tentu hamba akan mentaati semua, Gusti."

Diam-diam Sultan Agung juga merasa betapa sombong pemuda ini. Akan melawan kelima pahlawan gagah perkasa itu? Ah, tak mungkin ia menang. Juga Pangeran Amangkurat merasa panas sekali, teriaknya.

"Kalau begitu, mari kita keluar dan mulai bertanding!"

Sultan Agung melepas kerling tajam kepada puteranya untuk menegur dan persiapan lalu diadakan.

Orang-orang yang mendengar bahwa pemuda aneh tadi hendak bertanding dikeroyok lima menjadi berdebar-debar dan perasaan mereka tegang sekali.

Sementara itu, ketika bertanya dan dijawab bahwa pemuda itu bernama Jarot dan datang dari Gunung Tengger, Sultan Agung dan Ki Ageng Baurekso mengangguk-angguk dan menduga-duga.

Biarpun Jarot sudah sanggup untuk menghadapi mereka berlima, namun Pangeran Amangkurat tidak sudi untuk mengeroyoknya.

Pangeran yang masih muda dan berdarah panas ini merasa terlalu rendah untuk mengeroyok.

Ia hanya berdiri di pinggir dengan tombak di tangan kanan dan tameng di tangan kiri.

Demikianpun Priolelono, orang gagah ini merasa malu untuk mengeroyok seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya.

Maka mereka berlima bermufakat untuk maju seorang demi seorang.

Jarot dengan tombak di tangan kanan berdiri menanti tenang.

Ia sengaja melepas tamengnya di atas tanah dan berdiri tanpa.tameng!

Orang-orang perdengarkan seruan tertahan dan menganggap dia benar-benar sombong dan bodoh.

Sebenarnya tidak sekali-kali Jarot hendak menyombong.

Kalau dia melempar tamengnya adalah karena.dia tidak biasa menggunakan perisai dan dilatih bermain tombak dengan kedua tangan tanpa tameng.

Madurorejo mendapat giliran pertama.

Dengan berseru keras ia menyerang Jarot.

Tombaknya meluncur ke arah dada Jarot yang telanjang.

Jarot hanya miringkan tubuh dan tiba-tiba tombak di tangan Jarot bergerak demikian cepat hingga Madurorejo terkejut sekali lalu menangkis dengan tamengnya.

Tapi Jarot putar-putar tombak di kedua tangannya hingga lawannya sama sekali tiada kesempatan untuk balas menyerang, hanya repot menangkis saja sambil mundur.

Riuh-rendah suara orang memuji-muji Jarot.

Uposonto melihat kawannya terdesak demikian rupa, segera maju membantu.

Ia tidak merasa malu untuk melakukan pengeroyokan, karena memang Jarot telah menyetujuinya, pula ia tahu bahwa Madurorejo bukanlah lawan pemuda yang hebat itu.

Jarot berlaku tenang dan kedua tangannya seakan-akan memegang dua tombak yang dapat melayani kedua lawan itu.

Suro Agul-Agul marah sekali melihat kedua kawannya tetap tak berdaya terhadap Jarot, maka sambil berseru keras ia loncat menerjang.

Pertempuran ramai sekali dan Jarot terpaksa gunakan kelincahannya.

Ia meloncat kesana kemari seakan-akan seekor tupai meloncat-loncat dan bermainmain di antara daun-daun kelapa.

Tombak ketiga lawannya sedikitpun tak dapat melukainya, bahkan tak lama kemudian, sontekan tombaknya membuat tameng Madurorejo terlepas dari pegangan tangan kiri dan sebuah tendangan ke arah pergelangan tangan kanan membuat tombak di tangan Uposonto terlempar pula!

Pada saat itu ujung tombak Suro Agul-Agul menusuk cepat.

Jarot putar tombak dan gunakan gagang tombak menangkis keras hingga terdengar suara.

"Krak!"

Dan tombak Suro Agul-Agul patah di tengah-tengah!

Tentu saja para penonton heran dan Kagum melihat betapa dalam beberapa gebrakan saja Jarot telah membuat tak berdaya ketiga lawannya!

Juga Ki Ageng Baurekso terkejut dan kagum.

Bukan kagum karena Jarot dapat mengalahkan ketiga lawan yang belum tinggi ilmu kepandaiannya itu, tapi kagum betapa Jarot dapat mengalahkan mereka tanpa melukai sedikitpun!

Diam-diam ia puji sifat welas asih pemuda itu.

Tapi Pangeran Amangkurat merasa marah sekali.

Ia berteriak kepada ketiga orang itu.

"Minggir!"

Dan ia sendiri maju menerjang dengan tombak dan perisai di tangani Ilmu tombak Pangeran Ini memang cukup tinggi dan tenaganya juga besar, tapi menghadapi Jarot la bertemu dengan tandingan yang kuat.

Jarot juga merasa betapa tangguh Pangeran ini, maka ia putar tombaknya dalam gerakan "Payung Waja"

Hingga tubuhnya terlindung kuat oleh ujung tombak yang berputar cepat!

Pangeran Amangkurat merasa betapa tangannya tergetar dan panas kulit telapak tangan-nya pada tiap kali ujung tombaknya kena tertangkis.

Jarot memang telah mengalah padanya, karena kalau ia mau, Jarot dapat menggunakan serangan mematikan.

Cuma saja, pemuda ini tidak begitu bodoh untuk melukai Pangeran Amangkurat di depan Sri Sultan, maka ia hanya berdaya untuk membuat Pangeran itu tak berdaya tanpa melukainya.

Tapi untuk dapat berbuat demikian, sungguh tidak mudah.

Pangeran yang berdarah panas itu berkelahi dengan nekat, walaupun ia telah lelah sekali dan napasnya sudah terengah-engah.

Melihat keadaan itu, Sri Sultan Agung berseru keras.

"Berhenti!"

Suaranya keras dan berpengaruh sekali hingga Jarot menjadi kaget dan meloncat mundur dengan gerakan Kidang Melompat, Sri Sultan Agung memerintahkan puteranya mundur dan minta supaya Priolelono maju melawan Jarot, Pendekar setengah tua itu memandang Jarot dengan tersenyum kagum, lalu ia lempar pula tamengnya ke tanah sambil berkata.

"Anak muda, mari kita main-main sebentar dengan tombak."

Maka setelah berkata demikian, menyeranglah ia dengan hebatnya.

Para penonton sampai lupa bersorak melihat pertandingan kali ini.

Mereka samasama kuat, sama-sama lincah dan cekatan, dan samasama pandai mainkan tombak!

Jarot merasa terkejut melihat betapa ilmu permainan tombak lawannya ini sama gerakannya dengan ilmu tombaknya sendiri!

Ia merasa heran sekali dan putar tombaknya lebih cepat, tapi lawannyapun dapat mengimbangi permainannya.

Diam-diam Jarot mengakui kegagahan lawannya dan ia mengandalkan kekuatannya yang ternyata leblh besar daripada lawannya.

Demikianlah tiap serangan dan tangkisan dilakukan dengan tenaga kuat hingga beberapa kail ujung tombak lawannya terpental dan Priolelono berseru memuji.

"Sungguh digdaya kau!"

Pada saat mereka sedang bertempur ramai tiba-tiba Senapati Ki Ageng Baurekso meloncat dan gunakan tombaknya memisah mereka.

Gerakannya kuat dan cepat hingga mendatangkan angin dan memaksa kedua orang yang sedang bertempur itu mundur.

Ki Ageng Baurekso memandang Priolelono dengan mata terbelalak marah dan mukanya merah padam.

"Bukankah kau Pangeran Pekik? Apa maksudmu datang ke Mataram?"

Terkejutlah semua orang mendengar bahwa lawan Jarot yang tangguh itu bukan lain adalah Pangeran Pekik, putera Adipati Surabaya yang menjadi musuh besar Sultan Agung!

Mendengar seruan Ki Ageng Baurekso, semua pahlawan datang dengan sikap mengancam.

"Dia musuh besar, dia bermaksud jahat! Bunuh... bunuh!!"

Demikian beberapa orang berteriak dan berbareng mereka maju mengeroyok.

Demikian pula Pangeran Amangkurat, Suro Agul-Agul, Uposonto dan Madurorejo juga ikut mengeroyok, karena sebagai orang-orang Mataram, mereka benci sekali kepada Adipati Surabaya yang memang telah lama menjadi musuh besar Mataram.

Melihat lawannya yang dikagumi dan yang ilmu tombaknya secabang dengan ilmunya sendiri itu kini dikeroyok oleh para pahlawan Mataram, Jarot merasa kasihan dan penasaran sekali.

Ia putar tombaknya menangkis serangan-serangan itu dan berseru.

"Biarpun kau Pangeran Pekik atau siapa saja, jangan takut, aku Jarot membantumu!"

Dan kedua orang yang baru saja saling serang itu kini berkelahi bahu-membahu melawan puluhan pahlawan yang menyerang dengan marah! Tiba-tiba terdengar teriakan Sri Sultan Agung.

"Berhenti semua!"

Dan memang suara Sri Sultan berpengaruh besar dan berprabawa luar biasa. Serentak orang-orang yang berkelahi menahan tombak masing-masing dan berlutut menyembah.

"Para pahlawanku, tidak malukah kalian? Coba pikir, para pahlawan Mataram yang terkenal jagoan dan gagah perwira sakti mandraguna ternyata kini mengandalkan jumlah besar untuk menghina dan mengeroyok seorang musuh! Coba tengok anak muda desa ini. Dia lebih gagah dari pada kalian. Dia tidak tahu-menahu duduknya perkara, tapi dia serta merta membela yang pantas dibela. Memang, sekiranya aku menjadi dia, akupun akan membela Pangeran Pekik! Jadikanlah perbuatannya itu sebagai contoh, hai para pahlawanku!"

Mendengar sabda raja bijaksana ini, semua pahlawan menundukkan kepala dengan wajah merah.

Tapi Tumenggung Suryawidura dan Pangeran Amangkurat merasa penasaran dan diam-diam mereka menaruh dendam kepada Jarot anak gunung yang dipuji-puji oleh Sultan itu, namun mereka tidak berani membantah.

Sultan Agung lalu berkata kepada para hulubalang.

"Bubarkan semua penonton dan umumkan bahwa sayembara sudah berakhir dengan terpilihnya empat orang calon pahlawan baru. Kemudian adakan perjamuan untuk menghormat empat orang gagah ini di dalam Keraton. Dan engkau, hai Pangeran Pekik, aku hargai keberanianmu dan kegagahanmu. Biarpun Ayahmu berkeras kepala dan membangkang padaku, namun belum tentu engkau sekhilaf dia. Aku bebaskan kau, pulanglah kau dan ceritakan pada Ayah dan rakyatmu betapa gagah perkasa para pahlawan Mataram dan betapa kuat pertahanan Mataram!"

Pangeran Pekik menyembah hormat dan pamit undur.

Perlombaan dibubarkan karena pahlawan-pahlawan telah terpilih dan Sultan Agung memasuki Keraton, diiringkan para hulubalang.

Keempat pahlawan yang terpilih, yakni.

Jarot, Suro Agul-Agul, Uposonto, dan Madurorejo, dijamu oleh para dayang Keraton atas perintah Sri Sultan.

Hidangan-hidangan lezat belaka yang disuguhkan untuk dinikmati oleh keempat orang gagah itu.

Setelah makan dan beristirahat, pada sore harinya Sri Sultan bersiniwaka, membuka persidangan dan panggil menghadap keempat calon pahlawan yang terpilih itu.

Juga Pangeran Amangkurat yang tadi mengikuti sayembara hanya untuk berlatih dan mencoba kesaktian saja, kini hadir pula di situ.

Pare hulubalang dan senapati pun sudah lengkap duduk bersila di hadapan yang dipertuan.

Kemudian dengan resmi Sri Sultan mengangkat keempat orang gagah itu sebagal pahlawan dan diperbantukan kepada Ki Ageng Baurekso.

Tapi dengan sangat hormat Jarot menyembah dan berkata.

"Mohon beribu ampun, Gusti junjungan hamba. Bukan sekali-kali hamba berani membantah dan bukan sekali-kali hamba tidak berterima kasih atas kurnia paduka yang mulia ini, tapi perkenankanlah kiranya hamba mengajukan sebuah permohonan dan sebuah hadiah."

Semua orang terheran mendengar keberanian anak muda ini. Dan Sultan Agung yang juga merasa heran menahan perasaannya lalu tersenyum ramah. Ia angkat tangan kanannya dan bersabda.

"Boleh sekali. Coba engkau katakan dua macam permintaanmu itu untuk kami pertimbangkan."

Jarot menyembah lagi.

"Ampunkan hamba yang lancang, Gusti. Sebenarnya bukanlah hamba tak suka menerima kurnia paduka dengan pemberian pangkat sebagai pahlawan Keraton, hanya karena hamba telah berjanji tak akan memegang jabatan maka hati hamba menjadi bingung. Hamba menyediakan jiwa raga untuk mengabdi dan membela paduka dan Kerajaan Mataram, tapi tidak sebagai seorang berpangkat, hanya sebagai rakyat biasa, Gusti. Maka perkenankanlah hamba menghaturkan permohonan hamba pertama, yaitu. Hamba tidak menjadi pahlawan Keraton tapi sebagai penduduk biasa dan tinggal di kampung, namun setiap saat hamba bersedia untuk menjalankan segala titah tuanku."

Sultan Agung memandangnya tajam lalu tiba-tiba bertanya.

"Engkau putera pendeta?"

Jarot menyembah.

"Tidak salah, Gusti. Ayah hamba ialah Panembahan Cakrawala di bukit Tengger."

Sultan Agung mengangguk-angguk.

"Boleh, kuterima permintaanmu ini, tapi janganlah engkau tinggalkan Mataram tanpa memberi tahu, hingga jika sewaktu-waktu engkau dibutuhkan, engkau tak berada jauh dari Keraton."

"Hamba akan tinggal di rumah Ki Galur yang berada dekat, Gusti."

Semua orang yang mendengar permintaan ini merasa heran.

Gilakah pemuda ini?

Mengapa ia menolak pangkat dan menolak tinggal dalam sebuah istana tersendiri, tapi sebaliknya memilih tinggal di pondok seorang miskin?

Tapi Sultan Agung tidak merasa heran, hanya berkata ramah.

"Baiklah kalau demikian. Dan apakah adanya permintaanmu kedua?"

Jarot melirik ke arah gagang keris yang menonjol dari ikat pinggang Sultan Agung. Lalu dengan tenang ia berkata.

"Tak lain hamba mohon sudilah kiranya Gusti memberikan keris Margapati sebagai hadiah untuk hamba."

Semua hadirin memandangnya dengan terkejut dan khawatir. Ini adalah permintaan yang gila dan mustahil! Juga Sultan Agung merasa curiga dan agak tak senang, tapi wajahnya tetap sabar, tenang dan ramah.

"Beritahukanlah dulu padaku mengapa engkau minta hadiah keris pusaka baru ini?"

Tanyanya halus.

"Hamba tak bermaksud buruk, Gusti. Semata-mata demi keselamatan padukalah maka hamba berani mengajukan permintaan ganjil dan kurang ajar ini. Keris Margapati tidak cocok untuk paduka, keris itu mengandung hawa maut dan dapat menimbulkan malapetaka. Maka hamba mohon supaya diberikan kepada hamba agar hamba dapat mengekang pengaruh jahat yang keluar darinya."

Diam-diam Sultan Agung menggunakan jari tangannya meraba-raba gagang Margapati dan jari-jarinya agak gemetar.

Melihat bahwa Sultan Agung agaknya hendak memenuhi pula permintaan Jarot, Tumenggung Suryawidura segera memperingatkan junjungannya.

"Maaf, Gusti. Hamba rasa tidak semestinya kalau Kyai Margapati diberikan kepada Jarot. Hal ini seakan-akan menyatakan bahwa paduka takut akan keris pusaka itu. Kalau kiranya memang betul bahwa paduka tidak suka dan tidak cocok memakai Margapati, lebih baik pusaka itu disimpan saja dalam kamar pusaka. Hamba rasa, keangkeran Mataram akan berkurang bila pusaka Mataram ada yang terjatuh ke dalam tangan orang lain."

Jarot mengerling ke arah Tumenggung tua yang tinggi kurus itu. Ia melihat betapa Sultan Agung menjadi ragu-ragu, maka segera ia berkata.

"Hamba rasa usul Tumenggung sepuh ini baik juga, karena memang sedikitpun hamba tak bermaksud hendak memiliki keris itu dan semata-mata hamba tujukan semua ini guna kepentingan dan keselamatan paduka, Gusti."

Sri Sultan Agung menghela napas panjang.

Ia merasa lega bahwa Jarot dapat menyatakan kebersihannya dalam hal ini dan tidak bermaksud minta keris Margapati untuk kepentingan sendiri.

Maka berkatalah Sultan Agung dengan ramah.

"Aku menurut nasihatmu, Jarot. Keris takkan kupakai lagi dan akan kusimpan dalam kamar pusaka dengan pusaka-pusaka yang lain. Adapun permintaanmu akan kuganti dengan sebuah hadiah lain. yaitu kuda si Nagapertala kuberikan kepadamu."

Jarot merasa girang sekali karena memang ia sangat kagum dan suka melihat kuda liar yang bagus dan kuat itu.

Persidangan dibubarkan dan Jarot meninggalkan Keraton dengan menuntun Nagapertala.

Di luar Keraton telah menanti Ki Galur yang dengan wajah girang menyambutnya.

"Bagaimana, Raden? Kau diberi pangkat apa? Senapati, bupati, atau adipati dan akan tinggal di gedung mana? Ah, kau sungguh gagah, Raden Jarot. Aku tadi lihat betapa mudah kau kalahkan mereka semua. Lihat, telapak tanganku masih merah dan pedas karena bertepuk tangan terus, dan suaraku masih parau karena bersorak-sorak!"

Orang tua itu dengan wajah berseri dan mata bersinar memandang Jarot dengan kagum. Tapi Jarot hanya tersenyum sederhana.

"Paman Galur, jangan kau kecewa, Paman. Pertama, aku tidak menjadi senapati, bupati atau adipati sekalipun. Aku tetap menjadi rakyat biasa. Kedua, aku tidak akan tinggal di gedung atau istana, aku akan tinggal mondok di rumahmu, yakni jika kau sudi menerimaku. Dan ketiga, jangan Paman panggil Raden padaku. Aku anak gunung biasa, putera pendeta melarat, bukan ningrat, sebut saja namaku seperti biasa, yaitu Jarot tak kurang tak lebih, Paman."

Sukar untuk melukiskan perasaan yang membayang di wajah tua keriputan itu. Heran, tak percaya, kecewa, girang dan menyesal silih berganti menguasai kulit mukanya.

"Tidak menjadi senapati? Tapi... tapi kau tadi menang...!"

"Aku sengaja tidak mau menerima pangkat, Paman."

Lalu dengan singkat, Jarot menceritakan pengalamannya. Ki Galur mengangguk-angguk.

"Sayang, Raden,..."

Akhirnya ia berkata sambil menarik napas panjang.

"Jangan sebut Raden padaku, Paman."

"O ya, ya... aku kata sayang, Gus Jarot. Sayang kau tidak mau menjadi senapati. Tapi aku girang bahwa kau sudi mondok di gubukku yang bobrok."

Demikianlah, sambil bercakap-cakap mereka berjalan pulang Nagapertala dituntun oleh Ki Galur.

Tadinya kuda itu hendak membangkang, tapi mendengar suara Jarot, Ia tunduk dan takut, lalu mandah saja digiring oleh Ki Galur.

Kedatangan mereka disambut oleh Sekarsari.

Gadis itu baru saja pulang dari bengawan.

Rambutnya yang masih basah terurai ke belakang menutup punggung, memanjang sampai ke pangkal paha, kainnya tapih pinjung sebatas dada, tak cukup rapat untuk menyembunyikan tanda kewanitaannya yang menonjol di dadanya.

Tubuhnya yang sempurna lekuk lengkungnya dan yang berkulit putih kuning dan bersih itu sungguh sedap dipandang dan menimbulkan dendam berahi dan kasih.

Ketika Jarot menatap wajah gadis itu, ia merasa seakan-akan sedang berhadapan dengan seorang dewi yang baru saja turun dari kahyangan.

Betari Komaratih yang disohorkan sebagai Dewi Asmara yang cantik jelita itu agaknya seperti inilah manisnya.

Ah, tak mungkin, bantah hati Jarot.

Tak mungkin begini ayu dan luwes, tak mungkin begini manis merak ati.

Bibir gadis yang sedang cemberut itu tak mengurangi keayuannya, bahkan membuat ia lebih manis dan jelita sekali.

"Wah, Gus Jarot hebat sekali, Sari! Semua pahlawan dikalahkannya!"

Datang-datang Ki Galur berkata kepada anaknya, kemudian ia mulai bercerita.

Tapi wajah yang tadinya cemberut karena masih marah tak diajak nonton sayembara tadi, kini tidak menjadi gembira mendengar kemenangan Jarot, bahkan kulit dahinya yang halus licin itu dikerutkan.

"Kalau begitu, Raden Jarot sekarang tentu menjadi priyayi besar, menjadi senapati?"

Tanyanya sambil memandang Jarot.

"O, tidak... tidak, Gus Jarot tidak gila pangkat."

Dan Ki Galur ceritakan kepada anaknya akan segala pengalaman pemuda itu.

Mendengar bahwa Jarot masih menjadi orang biasa dan tinggal mondok di rumahnya, wajah Sekarsari berobah girang.

Ia tersenyum manis dan mukanya merah.

Kemudian ia lari ke belakang sambil berkata.

"Aku mau berkenalan dengan Nagapertala dan memberinya makan rumput!"

Jarot layangkan pandangnya ke arah tubuh gadis yang berlari-lari itu. Ki Galur tertawa girang melihat kenakalan dan kegembiraan puterinya yang tercinta.

"Aku terlalu memanjakan si Sari."

Katanya perlahan.

Pangeran Amangkurat yang tadinya merasa iri hati kepada Jarot dan khawatir kalau-kalau pemuda itu terlalu mendesak dan menjadi kesayangan Ayahnya, merasa lega dan berbalik suka kepada Jarot ketika pemuda itu ternyata tidak mau menerima pangkat.

Ia juga diam-diam merasa kagum akan kegagahan pemuda itu dan mendengar keterangan Jarot tentang keris pusaka Margapati, timbullah hati ingin memiliki keris ampuh itu.

Berbeda dengan Ayahnya yang bijaksana dan adil.

Pangeran Amangkurat adalah seorang pemuda yang bersikap berandalan dan lalim.

Satu di antara sifatsifatnya yang kurang baik ialah sifat mata keranjang.

Semenjak masih muda ia telah mempunyai banyak selir.

Pada waktu itu ia telah mempunyai lima belas orang selir, namun ia masih belum puas dan sering keluar dari Keraton untuk mencari mangsa di desa-desa.

Amangkurat suka pula akan berburu di hutan.

Ia memang pemuda cekatan, kuat dan gagah perwira.

Telah dua kali ia membunuh harimau dengan tombaknya.

Berbeda dengan Pangeran-Pangeran lain, ia tak suka membawa pengiring di waktu berburu maupun bermain ke desa-desa daerah kerajaan Ayahnya.

Semenjak kenal kepada Jarot, beberapa kali Amangkurat mengajak Jarot menemaninya berburu di hutan.

Pangeran itu makin suka kepada pemuda yang sederhana dan pandai membawa diri itu.

Ketika diminta, Jarotpun dengan senang hati memberi pelajaran memanah dan mainkan tombak hingga Amangkurat makin maju dalam ilmu kedigdayaannya.

Pada suatu senja ketika mereka berdua sedang berkuda di dalam hutan, Jarot duduk di atas punggung Nagapertala, dan Amangkurat di atas punggung kuda putihnya, tiba-tiba terdengar geraman harimau dari dalam alang-alang yang tinggi di dekat jurang.

Jarot siap dengan tombaknya, tapi Amangkurat mencegah dan berbisik.

"Biarkan dia keluar, aku hendak mencoba lawan dia dengan tangan kosong."

"Tapi itu berbahaya sekali,"

Cegah Jarot yang merasa khawatir akan kesembronoan Pangeran yang jumawa itu.

"Tidak sama sekali, kau lihat saja."

Amangkurat lalu turun dari kuda dan memberikan kendali kudanya kepada Jarot yang ikut turun dari punggung Nagapertala yang meringkik keras sambil gerak-gerakan ujung hidungnya dan perlihatkan giginya, tapi Jarot membentaknya.

"Sstt Diam, Naga!"

Kuda itu lalu diam dengan tenang dan Jarot bawa kedua kuda itu ke bawah pohon jati lalu menambatkan kendalinya di situ.

Sementara itu Amangkurat telah mempererat ikatan kainnya dan menanggalkan baju Pangerannya.

Pangeran muda dan pemberani itu telah berdiri memasang kuda-kuda dengan sikap gagah dan mata tajam menentang tengah alang-alang yang mulai bergerak perlahan.

Melihat sikap Amangkurat ini, mau tak mau Jarot tersenyum.

Ia cukup tahu akan kedigdayaan Pangeran itu, dan ia percaya bahwa jika Amangkurat tidak menjadi lalai karena kejumawaannya, pasti ia akan dapat mengalahkan harimau itu.

Terdengar geraman keras dan tiba-tiba kepala seekor harimau yang besar tersembul keluar dari alang-alang, sepasang matanya yang bundar memandang pemuda yang berdiri tenang menghadapinya.

"Hati-hati, Gusti Pangeran. Berlakulah tenang tapi cepat!"

Jarot memberi nasihat.

Pada saat itu tubuh harimau telah keluar semua dari alang-alang dan mulai mengambil sikap untuk menyerang.

Kemudian, tiba-tiba binatang buas itu menggereng dan loncat menerkam.

Loncatannya tinggi dan kedua kaki depannya terulur dengan kuku mencakar ke arah kepala Amangkurat!

Tapi Pangeran muda itu dengan sigapnya meloncat ke samping dan mengirim sebuah tendangan ke arah lambung tubuh harimau yang meluncur lewat di dekatnya.

Harimau itu menggereng keras karena tendangan itu tiba dengan kerasnya di lambung hingga la terpental hampir setombak jauhnya.

Cepat binatang itu berbalik dan menubruk kembali, kini langsung ke depan, sambil perlihatkan cakar dan caling yang menyeramkan.

Amangkurat meloncat ke atas melampaui tubuh harimau dan ketika kakinya turun di belakang harimau, secepat kilat tangan kanannya menyambar ekor harimau yang panjang itu.

Maka terjadilah pergulatan seru.

Binatang itu sambil menggereng-gereng berusaha melepaskan ekor yang dipegang oleh tangan yang sangat kuat itu, tapi Amangkurat mempertahankannya dengan keras sambil tertawa-tawa.

"Awas, Gusti Pangeran! Tendang pantatnya sebelum ia berbalik!"

Jarot memperingatkan dengan khawatir melihat betapa Pangeran itu dengan sembrono mempermainkan harimau.

Tapi Amangkurat ternyata terlalu jumawa dan tetap membetot-betot ekor harimau seakan-akan harimau itu hanya seekor kambing belaka!

Binatang itu yang merasa betapa sukar dan sia-sianya untuk membetot dan melepaskan ekornya dari pegangan lawan, tiba-tiba gulingkan tubuhnya ke tanah.

Karena bergulingan itu, maka ekornya seperti dipuntir dan cepat sekali ia bisa balikkan tubuh dan kaki depannya berhasil mencakar lengan Amangkurat!

Pangeran itu berteriak kesakitan dan terpaksa melepaskan ekor harimau.

Dari lengan tangan kanannya mengucur darah.

Sedangkan harimau itu sudah siap untuk menubruknya pula!

Jarot melihat keadaan berbahaya ini cepat pungut sebutir batu yang tajam ujungnya dan ayun tangannya.

Batu meluncur cepat dan tepat mengenai mata kanan harimau itu yang menggerung-gerung sambil gunakan kaki depan menggaruk-garuk mata kanan yang berlumuran darah!

Amangkurat maju dan ayun kakinya menendang ke arah perut harimau sekuat tenaga.

Harimau mengerang lalu lari terbirit-birit memasuki alang-alang.

Suara aumannya masih terdengar jauh, bergema di dalam hutan.

Jarot cepat lari menghampiri Pangeran itu.

Baiknya luka itu tidak sangat parah, tapi darah terus keluar.

Jarot melepaskan ikat kepalanya dan menggunakan kain itu untuk mengikat lengan yang terluka dalam balutan yang kuat hingga darah berhenti mengalir.

Amangkurat sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit, bahkan ia masih dapat tertawa sambil berkata.

"Sayang aku tidak keburu membantingnya hancur! Lain kali aku takkan buang-buang waktu dengan betot-betot ekornya, begitu ekor terpegang ia akan segera kuangkat dan kubanting di atas batu!"

Jarot kagum melihat ketabahan Pangeran itu.

"Kau sungguh tangkas dan kuat, Gusti Pangeran,"

Pujinya dengan jujur.

"Dan lemparanmu tadi jitu benar, tepat menghancurkan mata kanannya."

Amangkurat balas memuji. Keduanya lalu pungut tombak masing-masing dan naik kuda menuju ke kota raja.

"Jarot, mari kita singgah di pondokmu. Aku ingin sekali melihat tempat tinggalmu."

"Ah, tempat tinggal hamba kotor dan buruk, Gusti. Paduka membuat hamba merasa malu saja,"

Jawab Jarot.

"Jangan berkata demikian. Bukankah kita sudah menjadi kawan baik? Hayo, tunjukkan jalan ke pondokmu."

Terpaksa Jarot membawa Pangeran itu menuju ke rumah Ki Galur dengan hati tak sedap, sungguhpun ia tak mengerti mengapa ia harus merasa tak enak hati membawa Amangkurat ke pondoknya.

Ia seperti mendapat firasat tidak baik.

Ketika mereka berdua memasuki kampung Ki Galur, dari jauh mereka mendengar suara orang menumbuk padi.

Sudah menjadi kebiasaan para wanita di situ, apabila mereka sedang menumbuk padi, mereka menumbuk dengan berirama hingga suara alu yang memukul lesung terdengar bagaikan iringan gamelan yang berirama riang gembira.

Di antara semua penduduk kampung, Sekarsari dan kawan-kawannya terkenal ahli dan pandai sekali menciptakan irama-irama gembira yang mengiring nyanyian mereka.

Pada saat Jarot dan Amangkurat tiba di depan rumah Ki Galur yang menyambut Pangeran itu dengan sembah sujud penuh hormat, terdengar penyanyi tunggal yang diiringi irama Kodok Ngorek.

Jarot segera kenal suara itu, dan Amangkurat memandang Jarot dengan penuh pertanyaan, karena Pangeran itupun merasa kagum sekali mendengar suara yang merdu dan sedap itu.

"Bagus benar irama mereka, hayo kita nonton,"

Ajak Amangkurat kepada Jarot.

Jarot merasa ragu-ragu tapi tak berani membantah, maka mereka lalu pergi ke belakang rumah di mana Sekarsari dan empat orang kawannya sedang menumbuk padi yang baru saja dikeluarkan dari lumbung.

Melihat kedatangan Jarot, kelima gadis itu tertawa-tawa karena mereka sudah mengenalnya, tapi ketika melihat seorang pemuda asing yang berwajah tampan dan berpakaian indah, mereka merasa heran lalu menunda pekerjaan mereka, siap untuk lari.

Tapi tiba-tiba Sekarsari berbisik.

"Ah, dia adalah Gusti Pangeran Pati!"

Tergopoh-gopoh kelima orang gadis itu berjongkok dan menyembah. Amangkurat mengangkat tangannya dengan tersenyum ramah.

"Jangan merasa terganggu, lanjutkanlah permainan kalian. Siapakah yang bernyanyi tadi?"

"Hamba, Gusti,"

Jawab Sekarsarl tanpa berani mengangkat muka.

Amangkurat merasa betapa jantungnya berdenyut ketika ia melihat wajah gadis jelita itu.

Matanya bersina-rsinar dan bibirnya tersenyum, hatinya tertarik sekali.

"Kau? Siapakah namamu dan kau anak siapa?"

Terkejut hati Sekarsari mendengar suara yang manis dibuat-buat ini.

Hatinya tercekat karena ia teringat akan suara Bahar yang selalu berkata manis kepadanya.

la merasa tak senang dan ketakutan, maka hatinya berdebar-debar dan ia menjadi gagap ketika menjawab.

"Hamba... hamba..."

Ia lalu diam dan tundukkan kepala!

Terdengar suara ketawa di belakang Sekarsari.

Amangkurat layangkan pandangannya ke arah gadis yang tertawa itu dan melihat seorang gadis hitam manis yang tak kalah menariknya.

Gadis itu adalah sahabat baik Sekarsari dan bernama Sulastri, anak Mbok Rondo Gendingan, seorang janda yang keadaannya cukup karena mempunyai sawah beberapa bau.

"Eh, kau, hitam manis. Coba katakan siapa nama dewi ini dan siapa namamu sendiri,"

Amangkurat bertanya genit. Sulastri memang berwatak gembira dan pemberani. Ia tersenyum dengan manis dan berkata dengan lagak kenes.

"Dia ini bernama Sekarsari dan terkenal sebagai sekar kampung ini, Gusti Pangeran. Sedangkan hamba, nama hamba Sulastri. Sari adalah puteri tunggal Ki Galur, sedangkan hamba adalah puteri tunggal Mbok Rondo Gendingan, jadi sebenarnya dia dan hamba ada persamaan."

Amangkurat merasa gembira mendengar dan melihat gadis yang jenaka itu.

"Apa persamaannya?"

Tanyanya.

"Persamaannya ialah bahwa Sari puteri seorang duda sedangkan hamba puteri seorang janda!"

Amangkurat tertawa dan Jarotpun ikut tersenyum walaupun hatinya tetap merasa tak sedap melihat lagak Pangeran mata keranjang ini.

"Sekarsari, cobalah kau bernyanyi lagi,"

Amangkurat berkata.

"Hamba tak dapat bernyanyi, Gusti,"

Sekarsari menjawab.

"Bukankah tadi kau yang bernyanyi? Hayo, nyanyikanlah sebuah lagu saja untuk kudengar, yang lain mengiringi dengan klotekan."

Suara Amangkurat mengandung perintah.

Sekarsari mengerling ke arah Jarot dan pemuda itu mengangguk sebagai tanda bahwa gadis itu lebih baik menurut saja.

Maka segera terdengar suara klotekan yang riang dan Sekarsari sambil duduk menyanyikan sebuah lagu dengan muka tunduk.

Amangkurat mendengarkan sambil duduk di atas sebuah bangku kayu, sedangkan Jarot berdiri di sebelahnya dan Ki Galur duduk bersila di atas tanah di belakang Pangeran itu.

Sambil bernyanyi, beberapa kali Sekarsari melirik ke arah Pangeran Amangkurat dan ia makin bingung dan takut melihat betapa Pangeran itu memandangnya dengan kagum dan mesra.

Maka, setelah lagu yang dinyanyikan selesai, ia cepat menyembah, berdiri dan lari meninggalkan tempat itu!

Jarot melihat betapa Sekarsari berlari sambil menangis, segera lari mengejar sambil memanggil-manggil namanya.

Amangkurat tak senang melihat hal ini, lalu katanya kepada Ki Galur.

"Hei pak Galur, anakmukah Sekarsari itu?"

Ki Galur menyembah hormat.

"Betul, Gusti. Sekarsari adalah anak hamba."

"Berapa usianya sekarang?"

"Usianya enam belas tahun, Gusti Pangeran."

Amangkurat mengangguk-angguk sambil menanti orang tua itu membuka mulut menawarkan anak perempuannya seperti yang sering dilakukan oleh banyak orang-orang tua yang menginginkan puterinya jadi selir Pangeran.

Tapi Ki Galur tak bergerak dan diam saja.

"Adakah ia sudah dijodohkan dengan orang lain, pak?"

"Belum, Gusti."

"Tapi kulihat hubungannya dengan Jarot baik sekali."

"Benar, Gusti. Agaknya mereka saling mengasihi."

"Apa?"

Amangkurat memandang marah, tapi segera ia menahan gelora hatinya.

Sementara itu, Jarot yang tahu kemana Sekarsari pergi, telah dapat menyusul gadis itu dan mereka berdua duduk di tepi bengawan.

Sekarsari masih terisak dan Jarot menghiburnya.

"Mas Jarot, aku takut kepadanya."

"Mengapa mesti takut, Sari?"

"Matanya, Mas... ia mengingatkan daku akan Den Mas Bahar yang kurang ajar itu."

"Jangan pikir yang bukan-bukan, Sari. Bukankah aku berada di sini dan aku selalu akan membelamu."

Sekarsari memandang wajah pemuda itu dengan penuh pernyataan terima kasih.

"Mas, bagaimana kalau aku... aku diboyong ke Keraton untuk dipaksa menjadi selirnya? Banyak orang bilang bahwa Pangeran Amangkurat suka memaksa gadis menjadi selirnya."

Hati Jarot terkejut, karena sebelum mendengar ucapan ini ia sama sekali tidak mempunyai sangkaan demikian. Kini ia merasa curiga dan khawatir juga namun dengan tenang ia berkata.

"Jangan khawatir. Aku kenal baik padanya dan aku akan mencegahnya."

"Kau berani, Mas? Berani kepada Pangeran Amangkurat?"

"Kalau terpaksa, mengapa tidak berani? Jangankan Pangeran Amangkurat, biarpun siapa juga jika berani mengganggu kau, tentu akan kulawan dan kuhajar!"

Mereka saling pandang dan warna merah menjalar di wajah Sekarsari yang tundukkan pelupuk mata dan tersenyum malu.

"Ah, kau... kau baik sekali, Mas Jarot."

Jarot sentuh tangan Sekarsari dengan mesra dan tiba-tiba berkata.

"Hayo kita kembali, Sari. Mungkin Pangeran telah menanti-nanti aku. Jangan takut, ia bukan harimau yang makan orang, Sari."

Gadis itu tersenyum dan lenyaplah rasa takutnya.

Wajah Amangkurat menjadi masam melihat betapa Jarot datang berdua dengan gadis jelita itu.

Tanpa banyak kata ia memberi tanda kepada Jarot untuk naik kuda dan mengantar ia pulang ke Keraton seperti biasa.

Sambil jalankan kuda perlahan Amangkurat bertanya kepada Jarot yang jalankan kudanya di sebelahnya.

"Apamukah Sekarsari tadi, Jarot?"

Jarot mengangkat pundak perlahan.

"Dia anak Paman Galur dan hamba mondok di rumah mereka. Kami hanya sahabat, Gusti."

"Dia cantik benar, ya?"

Kata Amangkurat lagi. Jarot hanya mengangguk.

"Dan suaranya merdu pula, bukan?"

Sekali lagi Jarot mengangguk, kini wajahnya agak merah.

"Sayang gadis secantik itu tinggal di gubuk."

"Habis, memang rumah Ayahnya gubuk, Gusti!"

"Kan bisa dipindahkan?"

Kata Amangkurat sambil mencambuk kudanya yang lalu jalan congklang dan Jarotpun menyusul.

"Dipindahkan? Ke mana Gusti?"

"Misalnya... ke istanaku, yakni kalau tidak ada orang yang akan menghalangi."

Kata-kata ini dibarengi kerlingan tajam menyambar wajah Jarot yang tiba-tiba membungkuk dan mencambuk Nagapertala hingga kuda itu lari cepat dan Pangeran Amangkuratpun cepat mengejar.

Mereka berendeng lagi.

"Hamba rasa... hal itu tergantung..."

Kata Jarot.

"Tergantung apa, Jarot?"

"Tergantung keadaan."

"Apa maksudmu?"

"Orang bukan benda mati, Gusti, ia mempunyai akal budi dan pertimbangan. Maka, untuk dipindahkan harus ada persetujuan yang bersangkutan. Kalau yang akan dipindahkan mau, siapakah pula yang berani menghalangi kehendak paduka?"

Amangkurat mengangguk-angguk.

"Kalau... kalau misalnya ia tidak mau?"

"Tidak baik untuk memaksakan sesuatu yang tidak disetujui kepada seseorang, Gusti, biarpun orang itu hanya orang kecil dan perempuan pula. Lebih-lebih tidak baik kalau yang dipaksa itu seorang yang dekat dengan hamba."

Bukan main marah hati Amangkurat mendengar sindiran ini, tapi ia cukup cerdik untuk menutupi napsu marah, terutama kepada seorang muda gagah perkasa seperti Jarot ini.

Maka ia hanya tersenyum dan berkata perlahan, namun cukup tajam dan mengiris perasaan Jarot.

"Hm, sama-sama kita lihat saja nanti."

Pangeran Amangkurat segera balapkan kudanya dan masuk ke gapura Keraton tanpa menoleh kepada Jarot lagi, dan pemuda inipun lalu putar kudanya dan membalap menuju ke rumah Ki Galur.

Pada masa itu, terdengar berita angin sejumlah besar pasukan dari Surabaya tengah dalam perjalanan untuk menyerang Mataram.

Ketika itu jatuh pada permulaan tahun 1614 dan hujan mulai banyak turun, sungguhpun bulan yang lalu sudah berkurang turun hujan.

Mendengar berita itu, Sultan Agung mengadakan persidangan dari diambil keputusan untuk mengirim seorang penyelidik ke arah timur.

Tiga orang pahlawan muda yang gagah dipilih untuk berangkat melakukan tugas penting ini.

Biarpun tersiar berita akan kedatangan musuh negaranya, Amangkurat bersikap tak perduli, bahkan ia membuat gara-gara dengan Jarot.

Seminggu setelah bertemu dengan Sekarsari, ia mengutus enam orang pahlawannya mendatangi rumah Ki Galur.

Pada waktu itu, Ki Galur sedang memperbaiki jalanya yang banyak putus.

Ia terkejut melihat datangnya enam orang pahlawan yang bersikap galak dan gagah.

"Kau kah yang bernama Ki Galur?"

Seorang di antara mereka bertanya sambil bertolak pinggang.

"Betul, Raden. Apakah yang hendak diperintahkan kepada hamba?"

Jawab Ki Galur.

"Kami datang atas perintah Pangeran Amangkurat untuk memboyong anakmu si Sekarsari, dan inilah hadiahnya untukmu."

Pahlawan itu mengeluarkan sekantung perak yang dilempar ke atas bangku di mana Ki Galur tadi duduk.

"Ampun, Raden. Bukannya hamba membantah, tapi hal ini harus hamba tanyakan dulu kepada Sekarsari."

"Panggil saja anakmu ke sini."

Ki Galur lalu berteriak memanggil nama anaknya.

Sekarsari keluar dari belakang dan ia merasa sangat heran dan terkejut melihat kehadiran enam orang pahlawan yang bersikap sombong itu.

Ia tundukkan kepala ketika melihat betapa keenam orang itu memandangnya dengan kagum dan tersenyum simpul.

"Ada apa, bapak?"

Tanya Sekarsari kepada Ayahnya.

"Sari... ini... para Raden ini diutus oleh Gusti Pangeran, maksudnya... maksudnya hendak memboyong kau ke Keraton, Sari..."

Wajah gadis itu seketika menjadi pucat dan tubuhnya menggigil, la memandang kepada enam orang pahlawan itu dengan mata terbelalak, lalu berkata marah.

"Tidak mau... aku tidak mau, bapak..." ''Eh, Sekarsari, kau tidak boleh membantah kehendak Gusti Pangeran! Pula, seharusnya kau bergembira terpilih menjadi selir beliau."

"Tidak, tidak sudi!!"

Jawab Sekarsari yang lari ke dalam pondoknya.

Seorang pahlawan hendak lari mengejar, tapi Ki Galur lebih cepat.

Orang tua ini meloncat dan sudah berdiri di ambang pintu pondoknya, menghalangi pengejar tadi.

"Nelayan busuk! Menghindar kau"

Pahlawan itu mendorong dada Ki Galur hingga orang tua itu terhuyung-huyung. Tapi Ki Galur cepat menubruk lagi dan dari belakang memegang kain pengawal yang hendak mengejar Sekarsari itu.

"Breett!!"

Dan robeklah kain pengawal Keraton hingga ia menjadi marah sekali.

"Orang tua edan! Kau cari mampus?!"

Dan kakinya terayun ke arah lambung Ki Galur.

Serangan ini sangat kejam dan sekiranya tendangan itu mengenai sasarannya, maka dapat dipastikan orang tua lemah itu takkan kuat menahannya dan mungkin jiwanya akan melayang!

Tapi pada saat itu terjadi keanehan.

Ketika kaki pengawal itu tampaknya telah "makan"

Lambung Ki Galur, bukan orang tua itu yang roboh, sebaliknya si pengawallah yang menjerit kesakitan dan jatuh terjengkang ke belakang!

Betis kaki yang menendang tadi mengeluarkan darah bercucuran karena sebilah pisau belati telah menancap di daging betis itu!

Kelima pengawal Keraton yang lain terkejut sekali melihat hal ini.

Mereka tidak tahu bagaimana belati itu dapat tertancap di betis kawan mereka.

Mereka sangka bahwa Ki Galur tentu mempergunakan ilmu gaib, maka sambil mencabut keris mereka maju berbareng dan mengancam Ki Galur dengan hebat!

Orang tua yang lemah itu ternyata tidak gentar menghadapi kelima lawannya yang muda dan gagah, bahkan ia bermaksud untuk nekat dan melawan sampai titik darah terakhir untuk membela puterinya!

Ia cabut sebilah arit yang terselip di bilik, lalu menanti serbuan lawan-lawannya dengan mata terbelalak merah.

Pada saat itu, sebelum lima orang pengawal itu sempat menyerang Ki Galur, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dari dalam dan Jarot telah berdiri menghalang di depan orang tua itu, menghadapi kelima pengawal dengan senyum sindir dan tolak pinggang.

"Sungguh tak tahu malu! Beginikah kegagahan pahlawan-pahlawan Keraton yang menghadapi seorang tua lemah saja harus mengeroyoknya? Hm, kalian tak pantas menjadi pengawal Keraton dan terkenal dengan sebutan pahlawan-pahlawan!"

Kelima orang itu biarpun sudah tahu akan kegagahan Jarot, namun mengandalkan jumlah banyak dan nama Pangeran Amangkurat yang mengutus mereka, mereka tidak takut.

"Den Mas jangan ikut-ikut! Kami harus tangkap orang tua yang berani membangkang terhadap perintah Gusti Pangeran."

"Jangan banyak cakap! Mundur dan pergi dari sini!"

Jarot mengancam, tapi hal ini membuat mereka marah.

"Eh-eh, kau pun hendak memberontak? Berani melawan utusan Pangeran? Jarot, jangan kau sombong. Kau kira kegagahanmu itu cukup untuk menjagoi di Mataram? Minggir kau!!"

Mereka berlima menyerang dengan keris terhunus.

Jarot menjadi marah dan menerjang ke kanan kiri.

Gerakan kedua kaki dan sepasang kepalan tangan Jarot luar biasa cepatnya, hingga kelima lawannya hanya melihat berkelebatnya tangan atau kaki dan tahu-tahu senjata mereka telah terpental entah ke mana kemudian sebelum mereka dapat melihat jelas, masing-masing telah menerima pukulan atau tendangan yang membuat mereka jatuh bangun, kepala benjol dan tulang patah!

Mendapat hajaran keras ini mereka, termasuk juga orang pertama yang terluka oleh belati yang dilepas Jarot, meninggalkan tempat itu sambil mengaduh-aduh dan terhuyung-huyung!

Orang-orang kampung melihat perkelahian itu merasa khawatir akan keselamatan Jarot dan Ki Galur karena telah berani menentang Pangeran Amangkurat yang disegani.

Namun Jarot tetap tenang dan tabah.

"Lebih baik kalian lekas lari saja,"

Seorang tetangga memberi nasihat.

"Pangeran Amangkurat tentu akan segera datang. Dan kalau beliau sendiri yang datang membalas dendam, celakalah kampung ini! Kenapa tidak kau berikan saja Sekarsari untuk menjadi selirnya?"

Hampir saja Ki Galur memukul mulut orang itu kalau tidak cepat-cepat dicegah oleh Sekarsari yang memeluk Ayahnya sambil menangis.

"Ayah, biarlah aku terjun ke bengawan saja daripada diselir Pangeran..."

Ratapnya kemudian sambil memandang Jarot ia berkata lagi.

"Lebih baik mati daripada dipaksa menjadi selirnya, tapi kalau aku menolak, kau dan Mas Jarot tentu akan mendapat bencana... ah, lebih baik aku mati saja""

Jarot segera menghibur semua orang dengan kata-katanya yang tenang.

"Janganlah kalian khawatir dan bersedih. Aku yang tanggung jika Pangeran Amangkurat marah dan datang ke sini. Biarlah aku yang menghadapinya. Kalau ada apa-apa, aku seoranglah yang akan memikul tanggung jawab dan akibatnya!"

Ucapan yang gagah berani ini membuat orang-orang merasa kagum dan berterima kasih, tapi Sekarsari mendengarkan dengan air mata mengalir.

Tapi sungguh mengherankan mereka karena sampai malam tiba, tidak juga ada berita sesuatu dari Pangeran Amangkurat.

Hal ini melegakan dada orang-orang kampung.

Sebaliknya, Jarot merasa tak enak hati.

Ia akan lebih senang kalau urusan itu lekas-lekas selesai.

Maka, malam hari itu tanpa diketahui seorangpun, ia berjalan cepat di bawah sinar bulan purnama menuju ke Keraton.

Ia bermaksud menyelidiki keadaan Pangeran yang telah dikenal banyak akalnya itu.

Jarot ambil jalan memutar dan masuk ke tamansari dengan jalan meloncati tembok yang mengelilinginya.

Ia belum pernah melihat taman bunga Keraton itu, hingga ia tercengang dan kagum melihat keindahan tamansari dimana beraneka macam bunga sedang mekar dan tertimpa cahaya bulan yang gilang-gemilang.

Juga harum bunga yang sedap menyambut hidungnya.

Dengan hati-hati dan perlahan Jarot memasuki tamansari.

Taman itu luas sekali.

Tiba-tiba Jarot mendengar suara tangis yang sedih, tangis seorang wanita yang terisak-isak.

Suara itu datang dari sebuah bangunan kecil di tengah tamansari.

Ia merasa tertarik dan ingin tahu, maka segera ia lari menghampiri dan bersembunyi di belakang pintu ruang di mana suara itu berada, lalu mendengarkan.

"Sudahlah, Gusti ayu, jangan terlalu bersedih. Hal itu sudah lalu belasan tahun lamanya dan percayalah, Yang Maha Kuasa akan memberkahi mereka yang benar dan baik,"

Terdengar suara seorang wanita tua menghibur.

"Kau benar, biung emban, tapi betapa hatiku takkan sedih dan sakit. Aku yakin betul bahwa ini tentu perbuatan yayi Maduningrum dan Ayahnya, Tumenggung Suryawidura, tapi karena tiada bukti, aku harus menerima nasib dan menyimpan sakit hati. Betapa hatiku takkan sakit, melihat orang membawa pergi anakku yang hingga kini tak kuketahui hidup matinya, sedangkan terhadap orang-orang jahat itu aku tak berdaya menuntut balas sama sekali?"

Kembali terdengar isak tangis.

"Sudahlah, Gusti Bratadewi, marilah kita berdoa saja kepada Yang Maha Agung. Sekarang sudah jauh malam, lebih baik Gusti mengaso di peraduan, kalau nanti Gusti Sultan datang dan paduka tidak ada, tentu beliau akan marah."

Jarot loncat bersembunyi di belakang pohon mawar dan melati ketika mendengar suara kaki mereka menuju keluar.

Tak lama kemudian tampak olehnya wanita yang menangis dan bernama Bratadewi itu berjalan perlahan, diiringi oleh biung emban.

Ketika cahaya bulan tepat menimpa wajah puteri itu.

hampir saja Jarot berseru karena terkejut dan heran.

Bukankah wanita yang sedang berjalan itu Sekarsari?

Tubuhnya, lenggangnya, raut wajahnya, mata hidung mulut itu...

Jarot menggosok-gosok matanya dan memandang lagi.

Bukan, bukan Sekarsari, tapi seorang wanita setengah tua yang serupa benar dengan Sekarsari!

Otak Jarot yang cerdas dengan cepat merangkai segala hal yang didengarnya tadi, Puteri Bratadewi kehilangan anaknya, yang menurut sangkaan puteri itu telah dibawa pergi oleh Tumenggung Suryawidura dan anak perempuannya bernama Maduningrum.

Dan puteri Bratadewi ini serupa benar dengan Sekarsari!

Kalau demikian, mungkinkah Sekarsari puteri yang hilang dicuri itu?

Dan Ki Galur?

Apakah hubungan Ki Galur dengan peristiwa ini, kalau memang benar demikian halnya?

Ah, ia harus minta keterangan dari Ki Galur!

Hatinya berdebar, mungkinkah ia akan membongkar sebuah rahasia Keraton yang terpendam?

Ia tidak merasa bahwa telah lama juga ia termenung di situ dan ketika ia berdiri lagi, di tamansari telah sunyi.

Ketika ia hendak mulai penyelidikannya ke kamar Pangeran Amangkurat yang berada di sebelah barat Keraton, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan ribut di luar Keraton.

Jarot segera meloncat ke atas tembok dan keluar dari tamansari itu untuk melihat apakah yang telah terjadi.

Ternyata seorang di antara tiga utusan penyelidik telah kembali dengan tubuh penuh luka.

Di bawah penerangan bulan dan obor, penyelidik yang mandi darah itu dengan terengah-engah menutur betapa ia dan dua orang kawannya telah bertemu dengan barisan pelopor musuh di luar kota dan terbukalah rahasia penyelidikan mereka hingga terjadi perang tanding.

Jumlah musuh terlalu banyak hingga dua orang kawannya gugur dan ia sendiri berhasil menerobos kepungan dan melarikan diri pulang ke dalam kota.

Setelah habis ceritanya, penyelidik yang telah terlampau banyak mengeluarkan darah itu menjadi lemas dan jatuh pingsan.

Orang-orang berusaha menolongnya namun sia-sia, karena di sepanjang jalan setengah bagian darahnya mengalir keluar dari tubuh melalui lukalukanya.

Tak lama kemudian ia menghembuskan napas terakhir.

Mendengar cerita itu, seorang pengawal pribadi Sultan segera masuk ke dalam dan minta seorang pengawal dalam membangunkan Sultan.

Tapi pada saat itu tampak dua orang maju mencegahnya, seorang keluar dari dalam dan yang lain masuk dari luar.

Mereka adalah Pangeran Amangkurat dan Jarot.

"Tidak usah mengganggu ramanda Sultan karena urusan kecil ini. Musuh masih jauh, biar kita perkuat penjagaan di luar kota,"

Kata Amangkurat.

"Itu benar. Keadaan tidak sangat berbahaya, tidak perlu mengganggu Gusti Sultan dari tidurnya. Biarlah aku sendiri perigi melihat-lihat keadaan musuh, menggantikan tugas tiga orang penyelidik yang gugur,"

Kata Jarot sambil memandang kepada Amangkurat yang kebetulan sedang menatapnya dengan pandang tajam. Dua pasang mata bertemu dan Amangkurat tersenyum lebih dulu lalu anggukkan kepala.

"Baik, Jarot. Aku setuju. Pergilah kau melakukan penyelidikan sementara aku berunding dengan para senapati."

Jarot lalu meloncat keluar dan berlari cepat ke pondoknya untuk berkemas dan mengambil Nagapertala.

Maksudnya hendak pergi diam-diam dan tidak akan mengganggu Ki Galur dan Sekarsari yang masih tidur.

Tapi ketika la telah selesai berkemas dan sedang menuntun Nagapertala keluar dari kandang, tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya.

"Mas Jarot, ke mana kau pergi tadi dan sekarang ke mana pula kau hendak pergi dengan Nagapertala?" (Lanjut ke

Jilid 03) Keris Pusaka dan Kuda Iblis (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Jarot terkejut dan gugup. Tak disangka-sangkanya bahwa Sekarsari tahu akan kepergiannya tadi.

"Aku... aku hendak menyelidik keadaan musuh, Sari."

"Apakah yang telah terjadi?"

Tanya Sekarsari. Jarot lalu menuturkan dengan ringkas tentang kembali dan gugurnya penyelidik. Namun Sekarsari tidak tampak takut mendengar bahwa musuh hendak menyerang Mataram.

"Biar mereka datang! Kita pasti akan dapat memukul mundur dan menghancurkan mereka! Panglima-panglima kita gagah perkasa, apalagi sekarang ada kau di sini Mas Jarot..."

Katanya dengan gagah. Jarot tersenyum.

"Sari, kau seperti Srikandi..."

Tiba-tiba ia teringat akan puteri dalam tamansari tadi.

"Sari, pernahkah... pernahkah kau melihat ibumu?"

Sekarsari memandangnya heran, lalu melihat ke arah bulan purnama yang telah menurun ke barat.

"Menurut kata Ayah, ibu telah meninggal dunia semenjak aku masih bayi,"

Jawabnya perlahan.

"Mengapa kau tanyakan hal ini, Mas?"

Tiba-tiba ia bertanya sambil putar tubuh menatap wajah Jarot.

"Tidak apa-apa, Sari. Nah, jaga diri baik-baik. Aku berangkat sekarang."

Jarot meloncat ke atas punggung Nagapertala dengan sigapnya.

"Mas Jarot...!"

"Ya?"

Jarot tahan kendali kudanya. Sekarsari ragu-ragu.

"Mas... kalau kau pergi... bagaimana kalau Pangeran datang mengganggu kami...?"

Hati Jarot berdebar. Hampir ia lupa akan hal itul Tapi ia teringat akan keberanian Ki Galur membela anaknya. Pula, perginya takkan lama.

"Jangan takut, Sari. Paman Galur akan menjagamu. Juga, aku takkan pergi lama. Besok siang aku tentu sudah kembali, laginya, dalam keadaan seperti sekarang, kurasa Pangeran Amangkurat takkan mengganggumu."

Sekarsari mendengar dengan bimbang tapi tiba-tiba ia kedikkan kepala dan berkata tetap.

"Pergilah, Mas. Pergilah lakukan tugasmu. Aku tidak takut kepada Pangeran!"

Mendengar kata-kata dan melihat sikap ini Jarot tersenyum girang lalu membungkuk di atas kudanya dan mencubit dagu yang manis dari gadis itu.

Kemudian ia kaburkan kudanya ke arah timur.

Setelah keluar kota, Jarot bertemu dengan rombongan-rombongan pengungsi dari kampung-kampung sebelah timur.

Menurut penuturan mereka, barisan yang besar dari Surabaya telah bergerak menuju ke kota raja.

Tiba-tiba seorang kakek-kakek menghampiri Jarot dan berkata.

"Raden, tolonglah. DI kampung sana itu terdapat musuh yang mengganas dan merampok."

Jarot segera melarikan kudanya.

Benar saja, terdengar teriakan minta tolong seorang wanita.

Ia balapkan Nagapertala memasuki kampung dan meloncat turun.

Dalam sebuah pondok ia melihat seorang gadis muda meronta-ronta dalam pelukan seorang laki-laki brewokan.

Jarot marah sekali dan sekali loncat ia telah berada di belakang laki-laki itu dan tangan kanannya bekerja!

Laki-laki itu merasa pundaknya terkait dan ia tak dapat mempertahankan tubuhnya ketika ditarik ke belakang oleh sebuah tenaga yang kuat sekali.

Dengan marah la melepaskan korbannya dan putar tubuhnya.

Tapi sebelum ia jelas benar melihat pemuda yang berani mengganggunya tinju kiri Jarot sudah mampir ke pangkal telinganya, membuat kepalanya pening dan segala apa di depannya tampak berputar-putar!

Sekali lagi Jarot ayun tangannya kali ini menumbuk dada, maka laki-laki biadab itu terpental jauh dan tubuhnya menabrak dinding hingga dinding bambu itu menjadi jebol.

Dengan dua kali pukulan saja Jarot membuat lawannya rebah dengan napas empas-empis.

Ia lalu meloncat keluar.

Ternyata kampung itu dimasuki belasan perajurit musuh, yang bertugas sebagal pelopor penyelidik.

Karena agaknya terpimpin oleh seorang yang berwatak rendah, maka regu musuh ini menyeleweng dari tugasnya dan mengacau kampung.

Mereka inilah pula yang membunuh tiga orang penyelidik Mataram.

Melihat seorang pemuda keluar dari pondok segera lima orang perajurit mengepungnya.

Jarot bersikap tenang dan menanti serbuan musuh.

Tanpa bertanya sesuatu kelima orang itu terus saja menghantam.

Tapi alangkah terkejut mereka ketika kepalan mereka beradu dengan tubuh yang keras bagaikan waja hingga tangan mereka terasa sakit sekali.

Sebelum mereka dapat tenangkan pikiran dari rasa heran dan bingung, Jarot sudah bergerak cepat.

Kaki dan tangannya bekerja bagaikan empat daun kitiran angin dan kelima lawannya hanya dapat mengaduh kesakitan dan rebah, tak dapat bangun lagi!

Teriakan teriakan ini terdengar oleh perajurit-perajurit lain.

Seorang perajurit memberi tanda dan berkumpullah tujuh orang perajurit dengan tombak di tangan.

Mereka membuat gerakan dan sebentar saja Jarot terkurung di tengah-tengah.

Pemuda itu dengan mata tajam bergerak perlahan memutar-mutar tubuh ke kanan kiri dengan waspada, seakan-akan seekor harimau jantan yang dikurung.

Ia tahu bahwa kali ini ia menghadapi tujuh perajurit yang bersenjata tajam sedangkan ia sendiri bertangan kosong, maka ia harus berkelahi mati-matian.

Sementara itu, cahaya matahari telah mulai menggantikan kedudukan sang ratu malam yang turun tahta hingga cuaca menjadi remang-remang menyeramkan.

"He, siapakah kau berani melukai kawan-kawan kami?"

Pemimpin regu itu membentak dengan suara galak. Jarot tersenyum, karena dari irama ucapan itu tahulah dia bahwa para lawannya ialah orang-orang dari Jawa Timur.

"Kita satu asal, tapi berlainan paham,"

Katanya tenang. Ketujuh orang lawannya saling pandang.

"Kamu juga orang wetan? Mengapa berani melawan kami?"

"Aku bukan anak buahmu. Aku membela Mataram!"

"Setan alas engkau! Beritahukan namamu sebelum putus lehermu!"

"Namaku? Akulah Jarot anak Tengger, pembela keadilan dan kebenaran, sekarang bertugas sebagal penyelidik dari Mataram."

Maka setelah mendengar keterangan ini marahlah ketujuh orang itu dan menyerbulah mereka dengan tombak mereka.

Jarot menggerakkan tubuhnya dan sekali berkelebat ia telah menyerang ke depan, miringkan tubuh hindarkan tusukan tombak dari depan dan cepat bagaikan kilat kempit tombak itu di bawah lengan terus gerakkan kaki menendang.

Terdengar jeritan ngeri dan lawannya Itu terlempar jauh dengan tombak tertinggal dalam tangan Jarot, Terjadilah kini perang tanding antara enam orang melawan seorang.

Permainan tombak enam orang perajurit itu cukup kuat dan cepat, tapi menghadapi Jarot mereka itu bagaikan kanak-kanak yang baru belajar jalan!

Kalau dibicarakan memang aneh dan tak masuk di akal tapi benar-benar tombak di tangan Jarot yang hanya sebatang itu telah membuat enam batang tombak lawan-lawannya hanya mampu menangkis saja tanpa kuasa menyerang sedikitpun!

Jarot percepat gerakannya dan seorang demi seorang para lawannya berteriak dan roboh karena tendangan atau sabetan gagang tombak.

Kepala regu melihat semua perajuritnya roboh, menjadi takut dan timbul watak pengecutnya.

Ia lempar tombaknya dan berlutut menyembah meminta ampun.

Jarot tersenyum menghina dan seret orang itu pada rambutnya.

Dengan ringan ia kempit tawanannya dan meloncat ke atas punggung Nagapertala dan kaburkan kudanya kembali ke kota raja.

Ternyata di alun-alun telah disiapkan perajurit-perajurit Mataram di bawah pimpinan para senapati.

Pada saat itu Senapati Ki Ageng Baurekso sedang mengadakan rapat dengan para senapati lain untuk merundingkan cara yang sebaiknya untuk menahan serangan musuh dari Surabaya.

Semua panglima dan senapati maju menyambut Jarot yarig datang dengan seorang perajurit musuh sebagai tawanan.

Jarot melemparkan kepala regu musuh itu ke atas tanah dan berkata kepada Ki Ageng Baurekso.

"Paman senapati, tawanan ini adalah seorang kepala regu musuh yang sengaja kutawan untuk ditanyai keterangan tentang keadaan barisan musuh."

Ki Ageng Baurekso mengangguk-angguk senang dan ia merasa kagum ketika Jarot dengan ringkas menuturkan pengalamannya.

Kemudian di bawah ancaman ujung keris, tawanan itu mengaku dan membuka rahasia kesatuannya yang sedang bergerak dalam penyerangan ke Mataram.

Ternyata bahwa barisan dari Kadipaten Surabaya itu menggunakan siasat menyerang dari dua pihak!

Baca Juga: Si Bangau Merah 9

Baca Juga: Dara Baju Merah 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert