Eps 3 Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Keris Pusaka Dan Kuda Iblis - Kho Ping Hoo.
"Jarot, kini aku tahu mengapa kau sampai berani berlaku kurang ajar dan lancang. Ternyata kau benar dan kami berterima kasih kepadamu. Tapi, tadi kau bilang bahwa kau dapat menangkap penculik puteri kami, coba terangkan, siapakah penculik-penculik hina dina itu?"
Jarot memandang Tumenggung Suryawidura yang tampak gemetar ketakutan, tapi ketika ia mengerling ke arah Bratadewi, ia melihat puteri itu menggelengkan kepala.
"Perlukah hamba menyebutkan nama-nama penculik itu, Gusti?"
Biarpun pertanyaan ini ia ajukan kepada Sultan Agung, tepi sebenarnya ia maksudkan minta perkenan dari Bratadewi. Puteri inipun tahu akan maksudnya, maka segera ia berkata.
"Jarot, kurasa tak perlu kau sebutkan nama mereka. Janganlah kegirangan ini ternoda oleh pengaliran darah, biarpun hanya darah penculik-penculik hina. Tuhan telah memberi kurnia kepadaku dengan mempertemukan aku dengan anakku. Kurnia sebesar ini harus dibalas dengan amal perbuatan, maka biarlah amal pertama kulakukan dengan mengampuni mereka yang telah menculik anakku beberapa belas tahun yang lalu!"
Sultan Agung kagum mendengar ucapan selirnya itu dan menyetujui pendapatnya.
Maka berdatanganlah para selir dan pembesar memberi selamat kepada orang tua dan anak yang telah bertemu kembali itu.
Di antara sekalian pemberi selamat, Tumenggung Suryawidura dan anaknya yang juga menjadi selir Sri Sultan yaitu Maduningrum, memberi selamat dengan mesra dan terharu sekali.
Bahkan Maduningrum memeluk dan menciumi ibu dan anak itu.
Ketika memeluk Bratadewi, Maduningrum berbisik di telinganya.
"Terima kasih, Dewi."
Hanya tiga orang saja yang tahu atau sedikitnya dapat menduga bahwa Maduningrum dan Ayahnyalah yang dulu menculik Susilawati yang sekarang bernama Sekarsari.
Ketika itu Sultan Agung belum menjadi raja, tapi sudah mempunyai beberapa orang selir.
Di antaranya yang paling dicinta adalah Bratadewi dan Maduningrum.
Tapi selir kedua ini terdesak ke pinggir oleh Bratadewi karena terlahirnya seorang puteri.
Maduningrum merasa iri hati karena ia sendiri tidak mempunyai anak.
Ia khawatir kalau-kalau cinta suaminya akan dicurahkan seluruhnya kepada Bratadewi dan ia dilupakan.
Maka timbullah niat buruk di hatinya.
Dan dalam hal ini dibantu oleh Ayahnya yang gila kedudukan.
Kebetulan pada waktu itu di situ terdapat seorang perampok jahat bernama Surobalelo yang terkenal karena perampok yang berani ini seringkali membawa anak buahnya untuk mengacau di kota raja!
Kesempatan dengan adanya perampok ini digunakan oleh Maduningrum dan Tumenggung Suryawidura untuk menyuruh kaki tangannya menyerang biung emban yang mengasuh Susilawati dan menculik anak itu.
Tentu saja hal ini lalu dihubungkan dengan perampok Surobalelo dan semua orang, termasuk Sultan Agung sendiri, menyangka bahwa penculikan itu adalah perbuatan anak buah perampok itu.
Baiknya kaki tangan Suryawidura yang disuruh menculik anak itu masih menaruh belas kasihan dan tidak melempar tenggelam anak itu begitu saja ke dalam bengawan tapi memasukkan anak itu ke dalam sampan kecil dan melepaskan sampan bergerak mengikuti aliran air.
Akhirnya Ki Galurlah yang menemukan dan memelihara anak itu.
Kemudian Sultan Agung berkata kepada Jarot.
"Jarot, semenjak kau datang banyak hal telah Kau lakukan, sayang sekali tidak semua hal itu baik. Kau telah membela Mataram, kau telah berjasa dengan mempertemukan kembali kami dengan Susilawati, tapi ada juga hal-hal kurang baik yang kau perbuat. Misalnya perkelahian-perkelahianmu itu sungguh menggelisahkan kami. Paman Tumenggung telah melaporkan kepadaku akan hal perkelahianmu dengan Bahar hingga menewaskan jiwa Bahar. Namun, mengingat bahwa Bahar tewas di ujung pusakanya sendiri, kami berpendapat bahwa kau hanya membela diri, dan hal inipun diperkuat pula oleh keterangan Maduraras adik Bahar yang menjadi saksi perkelahian itu. Maka, melihat sikap Maduraras yang membelamu dan atas persetujuan Paman Tumenggung, kami bermaksud memberikan Maduraras untuk menjadi kawan hidupmu. Bagaimana pendapatmu, Jarot?"
Jarot menggigit bibirnya dengan bingung dan diamdiam ia mengerling ke arah Sekarsari yang memandangnya tak acuh.
"Kau boleh menerima usul ini dengan gembira, Jarot,"
Kata Bratadewi dengan ramah.
"Aku dapat meyakinkan kau bahwa Maduraras adalah seorang gadis yang baik, biarpun aku baru sekali bertemu dengan dia. Juga, untuk jasamu mempertemukan aku dengan anakku, katakan saja apa yang hendak kau minta, tentu akan kuberikan padamu!"
Untuk sesaat Jarot tak dapat menjawab, hanya menundukkan muka dengan hati sedih. Kemudian ia menyembah dengan hormatnya dan berkata perlahan.
"Hamba menghaturkan beribu terima kasih atas perhatian dan budi kecintaan Gusti sultan dan Gusti ayu. Sesungguhnya seorang gunung yang bodoh dan tak berharga seperti hamba ini sekali-kali tidak pantas mendapat kurnia paduka. Bukanlah hamba menampik kurnia paduka yang hendak menjodohkan hamba dengan puteri yang terhormat dari Gusti Tumenggung, tapi sesungguhnya hamba tidak ada keinginan untuk beristeri. Juga kepada Gusti ayu yang hendak memberi hadiah kepada hamba, bukan hamba tidak menghargai maksud yang mulia itu, tapi hamba tidak berani meminta sesuatu karena sebenarnya jasa apakah yang telah hamba lakukan? Sebaliknya hamba telah berdosa dan menghalangi dan mengacaukan kebahagiaan puteri paduka, Gusti Roro Sekar... eh, Susilawati. Jika diperkenankan, hanya satu hal yang hendak hamba ajukan sebagai permohonan."
"Apakah permintaanmu itu? Katakanlah,"
Sultan Agung bertanya.
"Tak lain yang hamba mohon ialah keris pusaka Margapati."
Sultan Agung terheran.
"Jarot, mengapa kau suka sekali akan keris itu? Mengapa kau tidak memilih lain pusaka? Di sini banyak sekali pusaka-pusaka ampuh yang lebih baik daripada keris Margapati itu."
"Memang tidak keliru sabda paduka, Gusti. Tapi, hamba berada di Mataram ini sebenarnya ada hubungannya dengan keris itu. Hamba telah menerima tugas untuk menjaga agar keris itu tidak menimbulkan bencana di kerajaan paduka. Kini, karena hamba hendak pergi, akan amanlah hati hamba jika keris maut itu hamba bawa serta."
Mendengar kata-kata terakhir ini, Sekarsari memandang wajah Jarot dan pada matanya terbayang kekecewaan besar.
"Pergi? Jadi kau hendak pergi meninggalkan Mataram, Jarot?"
"Betul, Gusti. Besok pagi hamba hendak meninggalkan Mataram dan pulang ke tempat asal hamba, jika paduka perkenankan."
Sultan Agung menghela napas.
"Aku tak dapat menghalangi kehendakmu, Jarot, sungguhpun kusayangkan sekali kamu ini. Baiklah, besok pagi-pagi akan kukirim keris Margapati padamu."
Setelah menyembah dan menghaturkan terima kasih, Jarot pamit undur.
Sekarsari memandang kepergian pemuda itu dengan mata mengembeng air mata.
Hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Sultan Agung yang waspada dan Bratadewi yang memperhatikan puterinya.
Keduanya bertukar pandang dengan penuh pengertian.
Pada saat itu, Ki Galur maju menyembah pula dan mohon diri dengan kata-kata terharu.
"Hamba... hamba juga mohon diperkenankan pulang, Gusti, karena... karena hamba tidak... tidak diperlukan lagi kiranya dan... dan hamba ingin berkumpul dengan Gus Jarot untuk saat terakhir ini..."
Orang tua itu tak berani memandang ke arah Sekarsari karena ia yakin bahwa sekali pandang saja akan hancurlah hatinya dan ia takut kalau-kalau ia takkan dapat mengendalikan perasaannya.
Sultan Agung berkata ramah.
"Baiklah kalau kau hendak pulang dulu, tapi kau takkan kulepas begitu saja, Paman. Mulai besok, setelah Jarot berangkat, kau tinggal saja di sini menjadi juru taman hingga kau akan selalu dekat dengan Susilawati."
Mata orang tua itu bersinar dan ia memandang kepada Sultan Agung dengan penuh rasa terima kasih. Ketika Ki Galur menyembah lagi dan hendak mundur, tiba-tiba Sekarsari memburu dan memeluknya.
"Ayah... Ayah..."
Bisiknya. Ki Galur kebingungan. Ia ingin sekali memangku dan memeluk gadis yang sejak kecil menjadi buah hatinya itu, tapi tidak berani. Ia hanya berkata gagap.
"Sudahlah, den roro... sudahlah... biarkan hamba pergi..."
Dan dengan cepat ia melepaskan diri lalu mundur.
Setibanya di luar istana, orang tua ini tak dapat menahan lagi gelora hatinya dan la berjalan pulang sambil menangis!
Ia merasa hancur hatinya karena mulai sekarang ia sudah bukan Ayah Sekarsari lagi!
Buah hatinya itu telah menjadi sekar kedaton, menjadi puteri sultan yang berkedudukan tinggi, dan ia yang sudah tua menjadi sebatangkara.
Kesedihannya bertambah karena Jarotpun hendak pergi meninggalkannya, sedangkan sejak pertemuannya pertama kali dengan pemuda itu, ia sudah mengharap-harapkan untuk memungut mantu pemuda itu.
Kini semuanya gagal, Sekarsari masuk Keraton, Jarot pulang ke gunungnya dan ia...
ia hanya akan menyapu dan mencangkul di tamansari dan harus cukup puas dengan kadang-kadang melihat bayangan Sekarsari sebagai Gusti sekar kedaton, Den Roro Susilawati!
Ketika tiba di pondoknya, ia mendapatkan Jarot tengah berdiri termenung sambil memeluk leher Nagapertala yang menggunakan lidahnya menjilat-jilat tangan pemuda itu.
Hati Ki Galur makin terharu karena ia tahu betapa hebat penderitaan batin pemuda itu.
"Gus Jarot..."
Jarot sadar dari lamunannya dan ia berpaling.
"Gus Jarot, percayalah, aku menyesal sekali hal ini telah terjadi padamu, Gus..."
Jarot memandang muka tua keriputan yang memandangnya dengan penuh bayangan iba hati itu, dan tak terasa ia tersenyum getir.
"Paman, kau sungguh seorang mulia. Mengapa kau malahan kasihan padaku? O, Paman, bukankah aku yang telah menghancurkan hatimu? Bukankah kau yang kehilangan anakmu? Aku telah berdosa padamu, Paman. Tapi, aku yakin kau akan dapat mengampuni aku, karena sungguh Paman, sampai matipun aku takkan membongkar rahasia Sekarsari seandainya tak terjadi hal perkawinan itu. Betapapun juga, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan Sekarsari kawin dengan kakak sendiri!"
Kembali ada dua butir air mata mengalir turun dari mata Ki Galur ketika ia mengangguk-angguk.
"Kau benar, Gus Jarot. Aku sendiri takkan tinggal diam kalau kuketahui sebelumnya bahwa Sekarsari adalah puteri Sri Sultan."
"Tapi... tapi aku penasaran dan heran, Paman. Bagaimanakah asal mulanya maka Sekarsari sampai hendak kawin dengan Pangeran? Dilamarkah ia? Dan mengapa Sekarsari mau? Dipaksakah kalian oleh Pangeran?"
Suara Jarot terdengar mengandung ancaman. Ki Galur menggeleng-geleng kepala.
"Semua karena salah paham, gus. Karena salah paham, dan sebagian besar karena... salahmu."
"Salahku? Apa maksudmu, Paman? Dalam hal apakah aku bersalah?"
Jarot bertanya penuh penasaran.
"Kalau saja dari dulu kau kawini Sekarsari. Kalau saja dari dulu kau nyatakan perasaan hatimu terhadapnya... ah, takkan begini jadinya..."
Orang tua itu menghela napas kecewa.
"Tapi... tapi aku pernah mengutarakan perasaan hatiku padanya, Paman dan dia... dia bahkan lari pergi meninggalkan aku, dia"
Dia menolak cintaku, Paman."
Kembali Ki Galur menggeleng-geleng kepala dan menghela napas.
"Itulah kalau seorang muda seperti kau tak mengenal hati wanita. Sekarsari telah mengaku terus terang kepadaku dan ia ceritakan segala hal padaku. Pernyataanmu padanya itu terlambat datangnya, Gus Jarot, ia sudah terlampau terluka hatinya, terlampau sakit perasaannya."
"Terluka? Sakit? Mengapa?"
"Inilah pokok permasalahannya dan inilah biang keladi segala perkara ini. Mengapa ia takkan terluka hatinya melihat hubunganmu dengan Maduraras? Ia menganggap kau telah lupa padanya dan bahwa kau cinta kepada Maduraras!"
"Ooo... demikiankah? Mengapa ia menyangka demikian?"
Ki Galur dengan suara yang menyatakan penyesalannya lalu menceritakan betapa Sekarsari melihat Jarot berkuda dengan Maduraras di depannya dan melihat pula betapa Jarot membela Maduraras dari tangan penjahat-penjahat yang dikepalai oleh Bahar.
Kini Jarot yang merasa kecewa dan penasaran.
"Tapi... semua itu terjadi bukan karena aku mencinta Maduraras, Paman."
Lalu ia menceritakan kepada orang tua itu betapa Maduraras terluka hingga terpaksa diboncengnya di atas kuda, dan bahwa ketika ia berkelahi dengan Bahar dan kaki tangannya, bukanlah karena menolong dan membantu Maduraras.
Ia ceritakan pula bahwa Maduraras adalah adik Raden Mas Bahar!
Maka jelaslah bagi mereka berdua duduknya persoalan dan mereka hanya dapat menghela napas menyatakan sayang dan sesal.
"Tapi, kalau hanya karena salah sangka, mengapa Sekarsari tidak menyatakan dengan terus terang padaku? Mengapa ia bahkan menerima lamaran Pangeran?"
"Kau agaknya belum mengenal betul watak Sekarsari, Gus Jarot. Ia memang seorang anak yang menurut dan berbudi halus selama hatinya senang. Tapi, sekali saja tersinggung perasaannya, maka timbullah keangkuhannya yang membuatnya keras kepala. Ini rupanya adalah pembawaan darah ningratnya. Ketika ia merasa bahwa kau sudah tidak suka padanya, ia menjadi angkuh dan sama sekali tidak suka memperlihatkan perasaan hatinya itu kepadamu walaupun di belakangmu ia selalu menangis dengan hati hancur. Semua ini ia ceritakan padaku dengan pesan agar aku tidak menyampaikan hal itu padamu. Ia tidak mau mengalah, lebih baik ia menderita daripada harus memperlihatkan kelemahannya padamu. Melihat kau berkelahi yang disangkanya membela Maduraras itu merupakan pukulan terhebat baginya dan menghancurkan seluruh pengharapannya. Timbullah sakit hati dan bencinya padamu dan ia menaruh dendam, ingin membalas dan membikin sakit hati padamu seperti yang telah kau lakukan padanya."
Jarot mengangguk maklum, hatinya sedih bukan main.
"Tapi, kalau hendak membalas... mengapa justru menerima Pangeran yang dibencinya itu?"
"Itulah! Ketika kau pergi, agaknya Pangeran menggunakan kesempatan untuk minta bantuan ramanya. Aku dipanggil oleh Gusti Sultan dan Sekarsari dipinang dengan resmi. Tentu saja hal ini merupakan kehormatan besar sekali terhadap aku, namun demikian, hatiku sedih karena sesungguhnya Kau lah orang yang kuharap-harapkan untuk menjadi suami Sekarsari."
"Dan Sekarsari menerima pinangan itu?"
Ki Galur mengangguk.
"Ya, dia menerima pinangan itu dengan menangis sehari semalam tanpa berhenti. Aku katakan bahwa jika ia tidak mau, aku takkan memaksanya dan tak seorangpun di dunia ini, biar Gusti Sultan sekalipun, akan dapat memaksanya selama aku masih hidup, tapi ia menerimanya! Ia berkata bahwa setelah kau tidak menghendakinya lagi, baginya tiada bedanya dikawin oleh laki-laki yang mana saja, dan ia tambahkan bahwa demi kebaikanku, lebih baik berbesan dengan Gusti Sultan daripada dengan orang lain."
Kembali Jarot mengangguk-angguk dan di dalam hatinya yang tadinya marah dan sakit hati sekali kepada Sekarsari, kini timbullah penyesalan kepada diri sendiri.
Marahnya terhadap gadis itu lenyap, terganti oleh rasa sayang dan iba yang besar.
Tapi apa yang dapat ia lakukan?
Kini Sekarsari sudah tidak ada lagi di dunia ini, Sekarsari telah lenyap.
Yang ada hanya Raden Roro Susilawati, sekar kedaton Mataram yang agung, mulia dan tak mudah didekati sembarang orang!
Demikianlah, hari itu Jarot duduk bercakap-cakap dengan Ki Galur, hatinya pilu dan sedih, lupa makan dan lupa mandi.
Sampai hari telah menjadi gelap mereka masih saja bercakap-cakap tentang Sekarsari.
Semenjak kembali ke gedung Tumenggungan, Maduraras tinggal bersama Ayahnya.
Sebenarnya, Maduraras adalah anak dari isteri pertama Tumenggung Suryawidura, seorang gadis kampung dari Sukowati.
Setelah mempunyai dua orang anak yakni Bahar dan Maduraras, Suryawidura menceraikan isterinya itu dan meninggalkan di Sukowati berdua dengan anaknya.
Tumenggung itu kawin lagi dan ia mendapat kedudukan baik ketika Sultan Agung yang ketika itu belum menjadi Sultan mengambil Maduningrum sebagai selir.
Maduningrum ini adalah anak angkat Suryawidura yang tadinya hendak diambil selir sendiri, tapi ia rela memberikan gadis cantik itu kepada Sultan Agung, Karena ia mengharap kelak mendapat kedudukan yang baik apabila Pangeran Mas Rangsang telah diangkat menjadi sultan.
Namun seringkali Suryawidura datang menengok kedua anaknya di desa Sukowati karena dari selir-selir lain ia tidak mendapat anak.
Setelah agak besar, Bahar dibawa ke Tumenggungan, tapi Maduraras tidak mau ikut kakaknya, ia lebih suka tinggal dengan ibunya.
Karena Sukowati terpisah hanya dekat dari Karta, maka Bahar seringkali datang mengunjungi ibu dan adiknya, hingga hubungan kakak beradik itu erat sekali.
Lebih-lebih Maduraras, ia mencinta kakaknya hingga ketika ibunya meninggal, ia menganggap Bahar sebagai orang tua pula yang selalu ditaatinya, Namun ia tetap tidak mau ikut ke Tumenggungan karena isteri Tumenggung sering menyakiti hatinya.
Ia tetap tinggal di Sukowati.
Ketika Bahar datang minta pertolongannya untuk menggoda Jarot, ia tak dapat menolak, walaupun dalam hati ia tidak setuju akan perbuatan itu.
Setelah Bahar tewas dalam perkelahiannya dengan Jarot, Maduraras diharuskan tinggal di Tumenggungan oleh Ayahnya.
Ketika dalam percakapan tentang Jarot yang hendak diadukan kepada raja oleh Tumenggung terlihat betapa Maduraras membela pemuda itu, tahulah Tumenggung Suryawidura apa yang terpendam dalam gadisnya.
Ketika didesak, mengakulah Maduraras bahwa ia mencinta Jarot.
Kenyataan inilah yang mendorong Tumenggung Suryawidura untuk meminjam tangan Sultan Agung menjodohkan anaknya kepada Jarot, tapi sungguh di luar persangkaannya, usul ini ditolak mentah-mentah oleh Jarot.
Maka ia pulang dengari wajah muram.
Kedatangannya disambut oleh Maduraras yang telah mendengar tentang perkawinan Sekarsari.
"Kanjeng rama, bagaimana dengan perkawinan Sekarsari dan Gusti Pangeran? Ramai dan indahkah?"
Tumenggung Suryawidura hanya menggeleng-geleng kepala, wajahnya makin muram.
"Apakah yang terjadi, kanjeng Rama? Mengapa rama bermuram durja?"
Dengan cekatan dan manis Maduraras menyiapkan minuman Ayahnya. Tumenggung Suryawidura menghela napas.
"Tidak ada perkawinan..."
"Apa... apa maksudmu, Rama?"
"Gadis yang kau sangka Sekarsari itu, sebenarnya ialah Gusti sekar kedaton, Den Roro Susilawati!"
Maduraras terkejut dan memandang Ayahnya dengan matanya yang lebar itu terbelalak.
"Sekar kedaton? Bagaimana maksudmu, Rama?"
"Jarot yang merusak segalanya. Perkawinan sedang berlangsung, tiba-tiba saja dia datang mengacaukan segala hal!"
Berkata Tumenggung Itu dengan sebal.
"Kang Mas Jarot?? Ia sudah kembali? Dan ia datang ke pesta perkawinan Sekarsari? Ya, Gusti! Lalu apakah yang terjadi, Rama?"
"Jarot membongkar rahasia... eh, rahasia Sekarsari yang ternyata puteri dari Bratadewi, jadi puteri Gusti Sultan sendiri dan masih adik sendiri dari Pangeran. Tentu saja perkawinan dibatalkan."
"Ya Jagat Dewa Batara! Jadi Sekarsari itu puteri Gusti Sultan malah... dan Kang Mas Jarot yang membongkar rahasia itu? Bagaimana ceritanya, Rama?"
Maduraras sangat ingin tahu.
"Dulu, ketika masih berusia satu tahun lebih, puteri Susilawati diculik berandal pengacau dan... dan dihanyutkan di bengawan dalam sebuah sampan. Sampan itu ditemukan oleh Ki Galur yang lalu memelihara anak itu dan diberi nama Sekarsari. Entah bagaimana, Jarot dapat membongkar rahasia ini hingga ia membatalkan perkawinan Pangeran."
"Dan... dan di mana Sekarsari kini berada dan dimana pula adanya Kang Mas Jarot?"
"Jangan kau sebut-sebut Sekarsari lagi, Raras. Dia adalah Gusti Den Roro Susilawati. Tentu saja ia tinggal di Keraton dan Jarot..."
"Bagaimana Kang Mas Jarot, Rama? Di mana dia??"
"Ah, anak kurang ajar itu! Ia... ia menolak ketika hendak dijodohkan dengan kau... dan ia bahkan hendak pergi meninggalkan Mataram besok!"
Wajah Maduraras memucat.
"Apa? Ia hendak meninggalkan Mataram? Meninggalkan Sekarsari?"
Dan gadis itu lari ke dalam kamarnya, diikuti pandang mata heran dan kasihan dari Ayahnya. Di dalam kamarnya Maduraras menangis sedih. Ia meratap menyebut nama ibu dan dewa.
"Ampunkan hamba, dewa yang agung, apakah yang telah hamba perbuat??"
Ia memukul-mukul dada sendiri dengan menyesal.
"Aku telah mencelakakan kehidupan dua orang manusia. Mas Jarot, kau benar-benar seorang, jujur. Kau laki-laki setia dan jantan. Cintamu terhadap Sekarsari suci dan mulia. Sekarang kau pergi membawa luka di hati yang mungkin akan mengantarmu ke lubang kubur! Ah, semua ini karena aku, karena aku..."
Demikianlah, sampai hari telah gelap Maduraras tidak keluar dari kamarnya, menangis dan menyesali perbuatan sendiri.
Ketika Ayahnya mengetuk pintu kamarnya dan menyuruh ia makan malam, ia jawab bahwa ia tidak mau makan dan mohon jangan diganggu malam itu.
Setelah hari menjadi gelap, Maduraras bangun dari pembaringan, mengambil pusaka ibunya yang menewaskan Bahar dulu lalu menyelipkan keris itu di sabuknya, lalu dengan hati-hati ia keluar dari jendela kamarnya, lari ke dalam gelap!
Gadis yang terdidik baik dalam hal keperajuritan oleh Ki Ageng Bendomiring di Sukowati itu lari di dalam gelap menuju ke alun-alun!
Setelah tiba di alun-alun dan hendak memasuki pintu gerbang Keraton, ia melihat dua orang penjaga di situ.
Dengan hati-hati Maduraras memutari tembok yang mengelilingi Keraton dan setibanya di belakang ia mengeluarkan tali yang telah tersedia dan yang tadi dibawanya.
Ujung tali itu ia pasangi kayu bercabang yang kuat kemudian ia ayun kayu itu ke atas tembok.
Beberapa kali kayu itu jatuh kembali hingga Maduraras gemas dan menggigit bibirnya.
Ia ulangi dan ulangi lagi usahanya.
Akhirnya ia berhasil dan kayu bercabang itu dapat terkait di atas tembok.
Ia tarik-tarik tambang yang menggantung ke bawah dan mendapat kenyataan bahwa kaitan itu kuat, ia lalu merayap naik dengan menggunakan tambang itu!
Hal ini mudah saja ia lakukan karena ketika kecil ia bersama Bahar sering sekali berlomba menaiki pohon melalui tambang, Dengan cara demikian pula ia menuruni tembok itu dan kakinya menginjak taman sari.
Sementara itu, seperti halnya Jarot dan Maduraras, Sekarsari juga merasa sedih dan menyesal.
Seperginya Jarot, pesta dilangsungkan, hanya saja sifat pesta itu berobah, dari pesta perkawinan menjadi pesta penyambutan untuknya.
Para ledek yang terpandai didatangkan untuk mengadakan pertunjukan dan Sekarsari dihujani makanan-makanan lezat yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, apa pula dirasainya.
Setelah pesta berakhir, ibunya mengajak ia mengaso di tamansari.
Bratadewi meminta anaknya menceritakan segala pengalamannya dan Sekarsari walaupun merasa sayang dan bahagia mempunyai ibu yang demikian cantik dan bijaksana serta halus tutur katanya, tetapi masih merasa canggung dan kaku dan sikapnya terlalu menghormat hingga beberapa kali ditegur oleh Bratadewi.
"Susilawati, ingatlah, aku ini ibumu, ibu kandung yang selalu merindukan kau, nak. Jangan anggap aku seorang priyayi agung yang harus kau hormati sedemikian itu, Wati. Aku ibumu... ibumu sejati..."
Dan untuk kesekian kalinya Bratadewi memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang hingga Sekarsari merasa sangat terharu. Dengan sikap yang halus Bratadewi bertanya.
"Wati, karena kau anakku dan aku ibumu, janganlah ada rahasia di antara kita, nak. Katakan saja terus terang padaku dengan hati yang berani dan yakin bahwa aku selalu tentu akan membela dan menolongmu. Coba katakan, nak, adakah, adakah kau mempunyai... hubungan sesuatu dengan... Jarot?"
Tiba-tiba tubuh Sekarsari menggigil dan wajahnya pucat.
"Tidak, kanjeng ibu!"
Jawabnya tegas, lalu mengatupkan bibirnya erat-erat. Bratadewi menatap wajah anaknya dengan pandangan tajam.
"Betul-betulkah, anakku? Ingat. Dalam hal ini, mata orang tua lebih tajam daripada mata anak muda, Wati. Tidakkah kau menaruh... cinta kepadanya?"
Biarpun dengan bibir gemetar, dapat juga Sekarsari menjawab tegas.
"Tidak, ibu! Kalau benar saya mencintanya, mengapa saya mau menerima pinangan Pangeran Amangkurat?"
Ibunya mengangguk-angguk, tapi keningnya dikerutkan.
"Aku lihat tadi bahwa kau sama sekali tidak merasa bahagia ketika hendak dilakukan upacara perkawinan,"
Katanya perlahan.
Sekarsari tak menjawab, hanya menundukkan mukanya karena tanpa dapat ditahan lagi dua butir air mata turut mengalir di kedua pipinya dan ia hendak menyembunyikan air mata itu dari pandangan ibunya.
Biarpun cuaca telah mulai gelap, Bratadewi masih dapat melihat keadaan puterinya, maka ia berdiri dan untuk sesaat mengusap-usap rambut kepala Sekarsari, lalu berkata.
"Susilawati, anakku. Sudahlah kau mengaso. Kau tentu lelah, kamarmu berada di sebelah kiri kamarku, nak, itu yang dipasangi janur dan kembang di pintunya. Aku sebagai ibumu hanya berdoa siang malam semoga kau selalu berbahagia, nak."
Bukan main terharu hati Sekarsari mendengar katakata ini yang belum pernah didengarnya dari mulut seorang ibu, maka ia menubruk ibunya dan memeluknya sambil menyembunyikan mukanya di dada ibunya.
"Wati, jangan khawatir, anakku, apapun yang terjadi, ibumu selalu berada di pihakmu. Nah, tidurlah, nak, besok saja kita bercakap-cakap lagi."
Dan Sekarsari memasuki kamarnya yang serba indah dengan sebuah pembaringan yang mewah dan empuk, dihias alas yang indah dan ditaburi bunga-bunga harum.
Namun semua itu tak dapat melenyapkan kesedihan dan keharuan yang memenuhi dadanya dan membuat ia membanting diri di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu!
Pada menjelang tengah malam belum juga ia dapat tidur.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya berbunyi dan dengan perlahan daun pintu itu terbuka.
Sekarsari menyangka bahwa yang datang tentu ibunya, maka ia pura-pura meramkan mata dan tidur.
Tapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa tangannya dipegang orang dengan kuat-kuat dan orang itu memanggil dengan perlahan tapi dengan tegas.
"Sari, bangunlah!"
Ketika ia membuka matanya hampir saja ia berteriak karena heran dan kaget.
Yang berdiri di situ dengan tangan kanan memegang keris dan tangan kiri memegang tangannya dan dengan wajah keren serta mata berapi bukan lain adalah Maduraras!
"Kau...
kau...
Maduraras??"
Mulut Maduraras menyeringai dengan mengandung hinaan.
"Hm, kau masih mengenal aku? Hayo bangun dan ikut dengan aku ke taman!"
Sambil berkata demikian Maduraras menarik tangan Sekarsari dan memaksanya keluar memasuki taman.
Hawa pada malam itu dingin dan bulan bersinar terang.
Setelah berada jauh dari kamar, Sekarsari bertanya.
"Maduraras, apa yang kau kehendaki?"
"Aku? Hm, aku datang hendak mengambil nyawamu!"
Tiba-tiba Sekarsari tertawa dengan suara tawa yang membuat bulu tengkuk Maduraras berdiri.
"Kau hendak membunuhku? Mari, cepat-cepat, Maduraras, ini dadaku, tusuklah dengan kerismu itu supaya cepat mengenai jantungku. Kau yang telah merusak hidupku, yang telah merampas kebahagiaan hidupku, yang telah membuat aku bosan hidup, Kau kira kau akan dapat menyiksa dan menakuti aku dengan kematian? Ini, Maduraras, bunuhlah aku, aku akan berterima kasih padamu!"
Sekarsari mengangkat-angkat dadanya dan mendekati Maduraras yang bertindak mundur dengan heran dari bingung.
"Kau... kau... apa maksudmu, Sari?? Masih cintakah kau kepada Kang Mas Jarot??" ' "Jangan sebut-sebut nama Jarot lagi! Kau telah merampasnya dariku! Kau telah memisahkan kami dan kau telah berhasil menggagalkan cita-cita kami. Ha, sekarang aku tahu, kau datang karena kau ditampik oleh Mas Jarot? Ha-ha-ha! Sungguh lucu! Kau memikat Jarot, kau memisahkannya dariku, setelah kau berhasil, kini kau sendiri ditampik olehnya! Ha-ha! Alangkah lucunya, aku mendengar penampikan Jarot dengan telingaku sendiri!"
"Sari, jawablah terus terang! Kenapa kau menerima pinangan Pangeran Amangkurat? Kalau kau benar masih cinta kepada Jarot, mengapa kau terima pinangannya?? Butakah matamu bahwa Jarot tidak cinta padaku, bahwa ia hanya mencinta kau seorang? Gilakah kamu maka kau mau menerima pinangan orang lain? Tidak tahukah kau bahwa hal itu menghancurkan hati Mas Jarot? Ah, Sari, di manakah kecerdasan otakmu?"
"Apa... apa katamu?? Mas Jarot tidak mencintamu?"
Tiba-tiba Maduraras melempar kerisnya ke tanah dan ia menangis.
"Aku... akulah yang tak tahu diri, Sari. Aku telah berdosa. Berdosa karena cintaku padanya. Aku... aku cinta padanya, Sari. Maka aku tidak tahan melihat ia sengsara, melihat dia hancur hatinya. Aku rela mengorbankan kebahagiaanku sendiri asalkan dia bahagia, Sari. Kau tahu, aku telah kehilangan kakakku yang kucinta, tapi kematiannya di tangan Mas Jarot tak dapat menghapus cintaku kepadanya. Aku telah mengorbankan kakakku, tapi ternyata Mas Jarot tak dapat membalas cintaku, buktinya dia telah menolakku. Kau..., kau seorang yang dicintanya, tapi kau bahkan menyakiti hatinya. Ah, mengapa hatimu sekejam itu, Sari?"
"Aku... aku masih tidak percaya, Raras."
Tiba-tiba Maduraras meloncat bangun dan memungut kerisnya, sikapnya menjadi keras dan beringas lagi.
"Sari, mudah saja bagiku untuk membunuhmu lalu membunuh diriku sendiri di sini. Tapi apa gunanya? Mas Jarot takkan bahagia karenanya. Bahkan mungkin ia akan makin bersedih. Kau tidak percaya bahwa ia cinta padamu? Ah, kau orang bodoh dan buta! Dia besok pagi-pagi hendak pergi, Sari. Pergi dengan membawa luka di hati. Ayoh, ikutlah aku. Kau harus tolong padanya!"
"Ikut padamu? Di tengah malam begini? Ke mana?"
"Ke rumah Jarot!"
"Ah, aku tidak sudi merendahkan diri macam itu!"
Maduraras memutar tubuh dan tangannya melayang. Sebuah tamparan keras memukul pipi Sekarsari.
"Aduh sombongnya. Sikapmu yang buruk macam inilah yang menyakiti hati Mas Jarot. Pendeknya, mau atau tidak, kau harus ikut, biarpun aku harus menyeretmu seperti domba!"
Akhirnya dengan cemberut Sekarsari menurut juga.
Dengan susah pAyah Sekarsari merayap di tambang dengan bantuan Maduraras dan mereka lalu berjalan menuju ke kampung Ki Galur, Setelah tiba di dekat pondok Ki Galur, tiba-tiba Sekarsari berhenti.
"Jalan terus, Sari."
Maduraras mendesak.
"Tidak, Raras. Kau harus terangkan dulu padaku. Apa maksudmu membawaku ke sini? Apa yang harus kulakukan di hadapan Mas Jarot?"
"Kau harus mencegah kepergian Mas Jarot. Kau harus menyatakan cintamu kepadanya dan kau harus menerangkan alasanmu mengapa kau menerima pinangan Pangeran. Kau harus mengobati luka di hatinya karenamu. Dan kalau dia berkeras hendak pergi, kau harus menyatakan hendak ikut padanya ke mana ia pergi!"
"Tapi, Raras..."
"Tidak ada tapi! Aku telah berdosa. Berdosa kepada Mas Jarot dan kepadamu. Aku telah memisahkan kalian, maka sekarang aku harus memaksa kau untuk memperbaiki hubungan kalian kembali. Siksaan hatiku baru lenyap kalau kalian sudah bersatu kembali, Sari. Turutilah permintaanku kali ini, Sari, demi kebaikanmu sendiri, kebaikan Mas Jarot, dan juga kebaikanku!"
Sekarsari berjebi dengan pandang menghina.
"Hm, kau hendak menebus dosa dengan jasa baik? Tapi ketahuilah, Raras, usaha yang dipaksakan bukanlah jasa baik lagi, dan dosamu takkan tertebus demikian mudah."
Maduraras menundukkan muka karena kata-kata itu menikam jantungnya, kemudian ia menghela napas.
"Sari, kau benar. Aku memang ingin menebus dosa, ingin melihat Mas Jarot bahagia dan juga ingin melihat kau... bahagia pula, Sari. Tapi, agaknya kau tidak suka, Sari. Salahkah dugaanku bahwa kau mencintai Mas Jarot? Benar-benarkah kau begitu rendah budi dan lebih memberatkan kedudukanmu sebagai sekar kedaton daripada pertalian kasihmu dengan Mas Jarot?"
Sekarsari menarik napas dalam.
"Biarlah aku turuti kehendakmu, Raras. Tapi aku akan malu sekali kalau sampai Mas Jarot tidak mau menerimaku dan kalau demikian halnya, maka semua ini salahmu, Raras. Percayalah, kalau sampai aku terhina kau akan lihat bahwa Sekarsari bukanlah seorang gadis lemah sebagaimana kau sangka, pembalasanku akan lebih hebat dari segala pembalasan yang kau harapkan!"
Maka mereka berjalan lagi menuju ke pondok Ki Galur. Dari jauh terlihat oleh mereka bahwa Jarot sedang duduk seorang diri di atas bangku bambu di luar rumah, duduk termenung sambil menopang dagu.
"Kebetulan dia duduk seorang diri, mungkin sedang memikirkan kau, Sari. Pergilah kau menemuinya, aku hendak bersembunyi!"
Kata Maduraras.
Sekarsari merasakan betapa dadanya berdebar keras.
Ketika ia melangkah maju, ia merasa kedua kakinya gemetar.
Jarot agaknya tak tahu akan kedatangannya dan pemuda itu tetap duduk tak bergerak bagaikan patung batu.
"Mas Jarot...!"
Bibir Sekarsari menggigil ketika menyerukan panggilan ini.
Jarot tersentak kaget lalu menengok.
Matanya terbelalak heran, lalu dengan kedua tangannya ia kucek matanya karena ia tak percaya bahwa yang berdiri di hadapannya itu benar-benar Sekarsari.
Kemudian ia berdiri dan sambil membungkuk hormat ia berkata.
"Oh, Den Roro Susilawati! Mengapa paduka datang pada waktu begini?"
Pertanyaan ini diucapkan dengan suara yang sangat menghormat hingga Sekarsari meramkan mata karena kata-kata itu bagaikan keris karatan menusuk hatinya, lebih-lebih sebutan Den Roro itu!
Ketika ia membuka kembali matanya, pandangan matanya menjadi suram karena mata itu penuh dengan air mata.
"Mas Jarot... jangan sebut aku seperti itu"aku... aku tetap Sekarsari, Mas..."
Jarot tersenyum pahit.
"Hamba tidak berani berlaku kurang ajar. Paduka adalah sekar-kedaton dan puteri Gusti Sultan. Sedangkan hamba... hamba... hanya seorang gunung."
"Mas Jarot, mengapa kau begitu kejam? Kau menyakiti hatiku..."
"Hamba hanya berkata sebenarnya."
"Mas, kudengar kau hendak pergi? Pergi meninggalkan Mataram, meninggalkan aku?"
Dari tadi Sekarsari menahan-nahan air mata yang hendak turun, kini titik-titik air mata itu tak dapat tertahan lagi, menuruni kedua pipinya yang halus.
Jarot menelan ludah melihat gadis pujaan hatinya itu menangis di hadapannya tapi ia menahan perasaan hatinya sedapat mungkin.
"Ya, hamba hendak pulang ke gunung tempat asal hamba."
"Mas Jarot, jangan kau pergi, Mas. Jangan kau tinggalkan Sekarsari... aku..."
Jarot tak dapat menahan gelora hatinya lebih lama lagi. Ia maju selangkah dan berkata terharu.
"Sari... benarkah kata-katamu ini? Benarkah kau masih tetap Sekarsari bagiku? Benarkah kau menghendaki agar aku tidak pergi meninggalkanmu?"
"Benar, Mas,... aku... takkan bahagia jika kau pergi, Mas..."
Jarot maju dan memegang tangan Sekarsari. (Lanjut ke
Jilid 06) Keris Pusaka dan Kuda Iblis (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06
"Sari, bilanglah terus terang. Cintakah kau padaku, Sari?"
Sekarsari menundukkan muka dengan wajah merah.
"Mas, belum pernah aku mencinta orang seperti aku mencintamu. Aku... aku terima pinangan Pangeran karena kukira..., karena..."
Jarot menggunakan telunjuknya menyentuh bibir Sekarsari.
"Diam, Sari. Aku sudah tahu semua itu. Tak perlu Kau ulangi lagi."
Untuk sejenak mereka diam, kemudian Sekarsari berkata.
"Mas Jarot, berjanjilah bahwa kau takkan pergi meninggalkan aku."
Jarot menghela napas.
"Menyesal sekali hal ini tak dapat kubatalkan, Sari. Aku telah mengajukan permohonan kepada Gusti Sultan untuk pergi dan telah mendapat perkenan. Pula, untuk apa aku tinggal terus di Mataram dan menyiksa hatiku dengan melihat kau sebagai puteri sekar-kedaton dan aku seorang kawula biasa?"
Sekarsari melepaskan diri dari pelukan Jarot.
"Tapi, bukankah kita saling mencinta, Mas? Aku akan minta kepada kanjeng rama untuk menahanmu, di kota raja. Apa salahnya kalau aku menjadi sekar-kedaton, Mas?"
Jarot tersenyum pahit.
"Lupakah kau bahwa di antara kita ada dinding tebal dan tinggi yang menghalang, Sari? Sebagai rakyat biasa, tak mungkin aku dapat mendekatimu, dan hal ini hanya akan merupakan derita dan siksa bagiku. Lebih baik aku pergi, Sari, pergi dari sini dan tidak mengganggu penghidupanmu yang mulai menanjak tinggi. Kau lupakanlah saja Jarot orang gunung yang miskin itu."
"Tidak, Mas, tidak! Kalau kau tetap hendak pergi, aku akan ikut, Mas. Bawalah aku serta ke gunungmu!"
Jarot menggeleng-geleng kepala.
"Tak mungkin, Sari."
Tiba-tiba dari dalam gelap meloncat bayangan seorang wanita dan wanita itu berkata keras.
"Mengapa tidak mungkin?"
Jarot heran dan terkejut melihat Maduraras.
"Mengapa tidak mungkin?"
Sekali lagi Maduraras mengulangi pertanyaannya.
"Mas Jarot, mengapa kau demikian pengecut? Sekarsari telah menyatakan cinta sucinya kepadamu, bahkan ia bersedia mengikutimu ke mana saja kau pergi. Mengapa kau tidak mau membawanya? Takutkah kau? Demikian tipiskah rasa cintamu kepada Sekarsari?"
Jarot terbelalak heran.
Serasa mimpilah ia mendengar kata-kata Maduraras ini.
Mulai mengertilah ia mengapa Sekarsari dapat keluar dari Keraton pada tengah malam itu.
Tak tahunya semua ini adalah Maduraras yang mendalangi di belakang!
Tapi, mengapa Maduraras membela mati-matian kepada Sekarsari?
Inilah yang membuat ia tak mengerti sedikitpun.
"Kau, Maduraras? Kau datang bersama Sekarsari?"
"Ya, aku yang meminta Sekarsari menemuimu. Karena aku tahu bahwa kau hanya mencinta Sekarsari dan bahwa Sekarsari hanya mencinta padamu seorang! Aku telah berbuat salah, aku telah berbuat dosa. Kini bersihkanlah dosaku itu dan bawalah Sekarsari untuk menjadi isterimu!"
Jarot mengangguk-angguk kagum.
"Jadi kau... kau menculik Sekarsari dari dalam Keraton? Kau lakukan itu hanya untuk mempertemukan kembali Sari dengan aku?"
"Ya, dan sudahlah jangan banyak rewel lagi, kau bawalah Sekarsari pergi ke tempat asalmu dan hiduplah beruntung dengan dia di sana. Tentang keributan di sini, biarleh aku yang menanggung. Akan kuakui bahwa aku yang melarikan Sekarsari."
"Dan kalau mereka menanyakan di mana aku berada?"
Sekarsari bertanya heran. Bibir Maduraras yang manis tersenyum mengejek.
"Apa susahnya? Aku bisa bilang bahwa aku telah membunuhmu, telah membuang mayatmu di bengawan! Apa sukarnya? Mereka takkan menyangka bahwa kau ikut pergi dengan Mas Jarot!"
"Tapi Raras! Mereka akan menghukummu! Mereka akan membunuhmu untuk itu!"
Maduraras tersenyum, kini senyum getir.
"Apa salahnya? Aku... aku hidup sebatangkara, biar aku dihukum mati sekalipun, takkan ada orang yang menangisiku, takkan ada orang yang kehilangan, bahkan... bahkan aku akan lebih cepat berjumpa dengan ibu dan Mas Bahar..."
Tiba-tiba di bawah mata gadis pemberani itu tampak air mata menitik turun.
"Raras... Raras...!"
Tiba-tiba Sekarsari menubruk dan memeluknya dengan mesra. Kedua orang gadis itu berpelukan dan lenyaplah segala ganjalan hati.
"Lihatlah, Mas Jarot. Tidak kasihankah kau kepadanya? Kalau kau meninggalkan dia, ah... aku tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Bawalah dia serta, Mas Jarot..."
Maduraras berkata dengan suara penuh permohonan. Jarot menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
"Raras, Sari, dengarlah baik-baik. Aku sangat beruntung mendengar pernyataan Sari tentang kasihnya kepadaku, dan aku sangat terharu dan berterima kasih atas pembelaanmu yang mulia, Raras. Tapi, untuk membawa lari Sekarsari, ah, ini tak mungkin kulakukan. Pertama kau akan terhukum dan tertimpa bencana karenanya. Kedua, Gusti Ayu Bratadewi akan sangat kehilangan dan hatinya akan hancur jika Sekarsari lenyap. Ketiga, aku tak dapat melakukan hal ini karena perbuatan melarikan Sekarsari ini sangat rendah dan tidak menaruh hormat kepada Gusti Sultan, Padahal Gusti Sultan sangat kupandang tinggi dan kuhormati karena kebijaksanaannya. tidak, tidak! Aku tak sampai hati melukai perasaan dan menyinggung kehormatannya."
"Kalau begitu pendapatmu, bagaimana baiknya, Mas? Lebih baik kau jangan pergi dan kau kawin dengan Sekarsari di sini,"
Kata Maduraras. Jarot mengerutkan keningnya.
"Kawin? Mudah saja kau bicara. Kau tahu siapa Sekarsari dan siapa aku! Kalau saja Sekarsari bukan sekar-kedaton dan aku bukan orang gunung!"
"Biar aku akan membantu mengusahakan dan kalau perlu, Sari bisa membujuk ibunya atau ramanya sekalipun!"
Maduraras mendesak.
"Tak mungkin demikian, Raras."
Kedua gadis itu menjadi gelisah dan putus asa, mereka tak tahu harus berbuat dan berkata apa, maka hanya isak mereka saja yang terdengar.
"Sudahlah, jangan kalian menangis dan bersedih. Percayalah, Sari, kalau memang Dewa menghendaki dan kalau memang kita berjodoh, pasti kelak kita bertemu kembali. Sekarang kalian kembalilah, jangan sampai di dalam Keraton kehilangan kau, Sari. Jangan kau gelisah, Sari, aku bersumpah bahwa selama hidup aku takkan kawin dengan orang lain dan bahwa aku takkan melupakan kau, Raras. Ketahuilah, aku besok berangkat pulang ke tempat asalku, ialah di desa Wangkai, di Tengger utara. Di sana pasti aku dapat ditemukan. Nah, selamat berpisah sampai jumpa kembali, Sekarang kalian kembalilah!"
Karena malam telah hampir berganti fajar, terpaksa Sari dan Maduraras kembali, setelah memandang kepada Jarot dengan sayu.
Jarot mengikuti kedua gadis yang berjalan dengan lemah itu dengan pandangan matanya.
Hatinya bagaikan disayat pisau ketika terdengar betapa kedua orang gadis itu berjalan sambil menangis.
Pada malam hari itu tidak hanya terjadi hal-hal ganjil seperti yang telah diceritakan di atas, tapi ada pula terjadi hal-hal lain yang tak kurang ganjilnya.
Di dalam kesunyian malam, tampak bayangan seorang laki-laki berjalan dengan hati-hati dan dengan gerakan-gerakan bagaikan seorang pencuri, memasuki kamar pusaka di mana tersimpan kumpulan senjata dan pusaka Sri Sultan.
Bayangan itu ternyata adalah Pangeran Amangkurat.
Pangeran itu mengeluarkan sebilah keris yang dicabutnya dari sarung keris, kemudian ia menurunkan keris pusaka Margapati dari tempatnya dan mencabut keris pusaka itu.
Ternyata keris pusaka itu bentuk dan warnanya sama benar dengan keris yang dibawanya tadi.
Dengan cepat ia menukar kedua keris itu, keris pusaka Margapati ia masukkan ke dalam sarung kerisnya sendiri yang terselip di pinggang, sedangkan keris yang lain ia masukkan ke dalam sarung Margapati!
Setelah melakukan hal yang ganjil itu, Pangeran Amangkurat segera meninggalkan kamar itu dengan senyum iblis menghias di mulutnya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, delapan orang penunggang kuda datang mengunjungi pondok Jarot.
Mereka itu bukan lain ialah Senopati Ki Ageng Baurekso, Tumenggung Suro Agul Agul, Adipati Mandurorejo, Adipati Uposonto, dan beberapa panglima lain.
Mereka datang untuk menghaturkan selamat jalan kepada Jarot, pahlawan muda yang telah bertempur membela Mataram dan yang telah berjuang bahu-membahu dengan mereka.
Hampir semua panglima Mataram merasa suka kepada Jarot.
Selain hendak memberi selamat jalan, juga Ki Ageng Baurekso sengaja diutus oleh Sultan Agung untuk mengantarkan keris pusaka Margapati kepada Jarot.
Kemudian Jarot menaiki kudanya, Naga pertala, dan setelah sekali lagi menyatakan terima kasihnya kepada mereka yang datang mengantar, ia membedal kudanya menuju ke timur.
Keris pusaka Margapati terselip, di pinggangnya.
Berbeda dengan ketika datang, kali ini Jarot pergi dengan berkuda dan berpakaian gagah.
Juga di dalam dadanya telah terjadi perubahan hebat.
Kalau dulu ketika datang ia merupakan seorang pemuda yang jenaka dan bahagia, adalah sekarang ia pulang membawa hati yang luka.
Ketika ia melalui sepanjang tepi bengawan, ia berhenti karena ia berniat untuk membuang keris pusaka maut itu ke dalam kedung bengawan yang dalam dan angker agar keris itu terbenam dan tiada kesempatan untuk memuaskan hausnya akan darah manusia.
Ia turun dari kudanya dan mendekati kedung yang curam di mana airnya tampak berputaran merupakan ulekan yang dalam mengerikan.
Ia mencabut keris pusaka Margapati dari sarungnya.
Tiba-tiba ia menjadi pucat dan menahan napas.
Ia pandang keris itu dengan tajam dan penuh perhatian.
Memang, keris itu sama benar dengan keris Margapati, baik warna maupun bentuk dan pamornya tapi dari mata keris itu tiada sinar kematian yang bercahaya bagaikan api.
"Celaka, ini bukan Margapati !"
Jarot merasa penasaran dan marah.
Ia lari dan mencemplak kudanya, tapi sebelum kudanya bergerak, ia meloncat turun lagi.
Ia meremkan mata dan bibirnya berkemak-kemik, pikirannya menimbang-nimbang.
Kemudian ia tersenyum dan menarik napas panjang.
"Ah, memang sudah kehendak Dewata. Mataram masih akan mengalami banyak malapetaka. Tapi aku yakin bahwa Gusti Sultan Agung akan dapat menguasai dan memusnahkan pengaruh jahat keris itu dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya. Hanya aku khawatirkan kalau-kalau keris itu terjatuh ke tangan Pangeran Amangkurat!"
Demikian ia termenung dan memikir seorang diri.
Kemudian ia menaiki kudanya kembali dan membalap menuju ke arah timur dari mana sang surya mulai menampakkan dirinya.
Ia berlomba dengan air bengawan yang juga mengalir ke timur tiada hentinya.
Pada malam hari itu, setelah meninggalkan Jarot, Sekarsari dan Maduraras kembali ke Keraton.
Kali ini mereka melalui gerbang depan.
Dua orang penjaga mencegat mereka dengan bentakan, tapi ketika melihat Sekarsari, segera mereka memberi hormat.
"Paman penjaga, biarkan kawanku ini masuk bersamaku,"
Kata Sekarsari dan kedua penjaga itu hanya dapat memberi hormat dan tak berani bertanya, sungguhpun mereka merasa heran sekali karena mereka tak pernah melihat puteri itu keluar.
Bilakah sekarkedaton itu keluar dan mengapa pada lewat tengah malam baru kembali, dari mana dan ke mana?
Tapi mereka tahu akan diri dan kedudukan hingga mereka tak berani meributkan persoalan yang menyangkut diri sekarkedaton yang baru saja diterima oleh Sri Sultan itu.
Pada keesokan harinya, Sekarsari minta kepada ibunya agar Maduraras diperkenankan tinggal bersama ia sebagai kawan bermain.
Tentu saja Bratadewi tidak menaruh keberatan karena menurut pandangannya, Maduraras adalah seorang gadis yang cukup baik dan pandai membawa diri.
Baiknya Maduraras tinggal bersama Sekarsari, kalau tidak, mungkin Sekarsari takkan dapat menahan kesedihan hatinya.
Demikianpun Maduraras.
Dalam diri Sekarsari ia mendapatkan seorang kawan yang agaknya lebih mesra daripada seorang kakak sendiri.
Diam-diam mereka mempertebal perasaan kasih mereka satu kepada yang lain dan mereka menganggap masingmasing bagaikan saudara sendiri.
Lambat laun berkuranglah luka hati dan kesedihan mereka.
Namun sedikitpun mereka tak dapat melupakan Jarot dan boleh dikata seharipun belum pernah mereka lupa untuk membicarakan soal pemuda itu.
Mereka gali semua pengalaman ketika Jarot masih berada di situ dan semua itu merupakan kenangan-kenangan indah dan bahan godaan bagi Maduraras yang jenaka untuk menggoda Sekarsari, seakan-akan Jarot masih berada di tempat itu dan seakan-akan di situ masih terdapat banyak harapan bagi Sekarsari untuk bertemu kembali dengan Jarot.
Tapi bilamana teringat bahwa Jarot telah pergi jauh dan belum tentu mereka dapat bertemu kembali, menangislah Sekarsari, dibantu oleh Maduraras yang tidak kalah sedihnya.
Hampir dua tahun kedua orang gadis itu hidup dalam Keraton dengan aman, di bawah lindungan Bratadewi.
Tapi keadaan segala apa di dunia ini tidak langgeng dan selalu ada perubahan yang tak tersangka-sangka.
Selama itu, bala tentara Mataram, terus melanjutkan penjelajahan ke timur, menaklukkan Pasuruan dan lain-lain adipati atau bupati yang membangkang dan tidak mau tunduk kepada Sultan Agung.
Maka makin banyaklah kini para adipati dan bupati yang mengunjungi Mataram untuk menyatakan sembah sujud dan hormatnya kepada Sultan Agung, raja sekalian raja yang bijaksana itu.
Di antara para adipati, bupati, dan lain panglima yang mengunjungi Mataram, terdapat Raden Panjibagus, keponakan adipati di Pasuruan yang menjadi panglima.
Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perwira.
Dalam pertempuran melawan tentara Mataram, ia hanya dikalahkan oleh Senopati Ki Ageng Baurekso.
Raden Panjibagus ketika menghadap Sri Sultan, dengan tak terduga dapat melihat sekar-kedaton, dan pada saat itu juga jatuhlah hati terhadap Raden Roro Susilawati yang cantik jelita itu.
Ia menjadi gandrunggandrung, makan tak sedap tidur tak nyenyak, rindu dan birahi kepada gadis juwita yang selalu terbayang di bulu matanya.
Maka pulanglah ia dengan menanggung sakit rindu asmara yang berat hingga Adipati Pasuruan, Pamannya yang sayang kepadanya, menanyakan sebabsebabnya.
Setelah mendengar akan hal kerinduan Panjibagus, Adipati Pasuruan segera mengirim utusan dan mengajukan pinangan.
Sultan Agung sedang menjalankan siasat mempersatukan semua adipati dengan Mataram, maka pinangan itu diterimanya dengan senang hati.
Apalagi karena iapun suka akan pemuda yang tampan dan perwira sebagai Panjibagus itu.
Bratadewi tak berani membantah kehendak Sultan Agung dan dengan halus ia membujuk Susilawati.
Tapi puterinya itu menolak dengan keras dan menangis sedih.
"Wati, anakku, Percayalah akan pandangan tajam dan kebijaksanaan ramamu. Ia cukup waspada dan dapat memilih, hingga tak mungkin pilihannya ini keliru. Aku pun mendengar bahwa Raden Panjibagus adalah seorang pemuda yang baik, tampan dan gagah. Wati, turutilah kehendak Ayahmu, karena akupun ingin sekali melihat kau kawin dan berbahagia."
Susilawati makin sedih dan tak dapat menjawab, hanya menangis saja.
"Wati, katakanlah terus terang, apakah... apakah kau berat karena teringat kepada Jarot?"
Tanpa mengangkat mukanya, Susilawati menjawab.
"Ibu... ampun, ibu... anakmu tak dapat kawin dengan lain orang... aku... aku telah saling berjanji dengan Mas Jarot untuk bersetia dan tidak kawin dengan orang lain."
Ibunya menghela napas dalam.
"Aeh, mengapa begitu, nak? Bukankah Jarot sudah kembali ke negerinya?"
"Tapi... tapi kami masih mengharap untuk saling bertemu pada suatu waktu, ibu."
"Susilawati, ingatlah baik-baik. Janjimu dengan Jarot itu hanyalah janji anak-anak yang dilakukan sewaktu kau terharu atau dibuai perasaan. Pinangan Raden Panjibagus telah diterima Ayahmu, maka hal ini tak dapat dibatalkan lagi, nak. janganlah membikin ibu dan ramamu bersedih, Wati, menurutlah saja. Ibumu yang akan tanggung bahwa kau tentu akan hidup bahagia di samping Panjibagus."
Namun Susilawati hanya menangis dengan sangat sedihnya hingga ibunya berkali-kali menghela napas dengan putus asa dan kehabisan akal.
Susilawati lari keluar dan masuk ke kamar sendiri di mana Maduraras telah menantinya.
Maduraras melihat betapa Sekarsari masuk kamar sambil menangis segera memeluknya.
"Sst, Sari. mengapa kau menangis seperti anak kecil?"
Maduraras yang biasa berjenaka itu mencoba menghiburnya dengan berkelakar, dan jika berada berdua ia memang selalu menyebut Sekarsari. Tapi Sekarsari tetap menangis sedih.
"Eh. eh, Sari, apakah yang telah terjadi? Percayalah, betapapun sulit persoalan yang kauhadapi, selama Maduraras masih dapat bernapas, tentu kesulitan itu dapat dipecahkan!"
Terhibur juga hati Sekarsari. Dengan mata basah ia pandang wajah kawannya, lalu memeluknya sambil mengeluh.
"Ah, Raras... celaka nasibku, aku... aku dipaksa kawin!"
"Apa? Kawin? Dengan siapa?"
"Dengan putera Kadipaten Pasuruan, namanya Panjibagus."
Maduraras mengangguk-angguk.
"Dan kau tidak suka?"
Sekarsari mengangkat mukanya dan memandang Maduraras dengan tajam.
"Kau kira demikian mudah aku berubah?"
"Maaf, Sari, aku hanya menggoda. Memang sudah sepantasnya kau bersetia kepada Mas Jarot, karena betapa gagah dan tampanpun Panjibagus seperti yang kudengar orang berkata, bila dibandingkan dengan Jarot, ia masih tidak nempil!"
"Raras, jangan berkelakar saja, pikirlah keadaanku, Raras. Apa yang harus kuperbuat? Aku tidak berani membantah kanjeng rama, sedangkan ibupun telah setuju dan memaksaku. Bagaimanakah, Raras? Aku lebih baik mati daripada harus dikawinkan dengan orang lain."
Maduraras mengerutkan keningnya yang halus, memutar otaknya yang cerdik.
Sepasang mata bintangnya mengerling ke sana ke mari dengan gesit dan bibirnya ditajamkan.
Beberapa lama kemudian ia melonjak dan tersenyum puas.
"Bagaimana, Raras? Dapatkah kau menolongku?"
"Sari, jalan satu-satunya bagimu tak lain ialah... lari minggat!"
"Tak mungkin!"
Sekarsari mundur dua tindak dengan kaget mendengar usul berbahaya ini.
"Kau kira mudah saja melarikan diri? Kanjeng rama tentu marah sekali dan mengerahkan semua perajurit untuk mencariku. Dan jika aku tertangkap kembali, selain mendapat marah dan merasa malu, akupun tetap harus menjadi isteri putera Pasuruan itu. Sia-sia, Raras."
Maduraras tersenyum.
"Kalau aku yang minggat dan lenyap, tentu takkan ada yang mencariku, bukan?"
"Bisa jadi, karena bukan kau yang akan dikawinkan!"
Jawab Sekarsari marah karena dianggapnya kawan itu menggodanya.
"Nah, kalau begitu, kita bertukar tempat, Sari. Aku menjadi engkau dan pergi mewakilimu diboyong ke Pasuruan, sedangkan kau menjadi aku, lari minggat dan takkan ada yang mencari dan mengejarmu. Bukankah jalan ini baik sekali?"
"Habis, kemana aku harus lari? Dan bagaimana selanjutnya?"
Tanya Sekarsari yang masih khawatir dan bingung.
"Begini, Sari. Kau minggat dan bersembunyi di Sukowati. Nanti kalau aku sudah diboyong ke Pasuruan dan berhasil lari dari sana, aku akan mencarimu, dan kita sama-sama minggat dari tempat ini."
"Kau? Pasuruan bukan dekat dari sini, Raras. Kau seorang perempuan, mana kau dapat melakukan semua itu?"
"Sari, kau kira semua perempuan selemah engkau?"
Maduraras berkata tertawa dan bangga.
"Lupakah kau bahwa ada seorang wanita bernama Srikandi?"
"Kau mau menjadi Srikandi kedua?"
Tanya Sekarsari yang terpengaruh kejenakaan kawannya.
"Kalau Srikandi dapat berlaku gagah berani, mengapa aku Maduraras tidak?"
"Hm, kalau kau Srikandi, habis aku siapa, Raras?"
"Kau... kau Subadra, ya... ya... kau Subadra!"
Maduraras begitu gembira dengan sebutan ini hingga ia bertepuk tangan.
"Hush, jangan keras-keras, Raras, Jadi, kau Srikandi dan aku Subadra, ya? Ingatkah kau bahwa Srikandi adalah madu Subadra?"
Merahlah wajah Maduraras mendengar ini.
"Sari... bukankah kita juga seakan-akan... madu, yakni dalam kenangan?"
Sekarsari tiba-tiba melihat wajah Maduraras menjadi muram dan bersedih. Segera dipeluknya gadis itu dan dengan suara sungguh-sungguh Sekarsari berkata.
"Raras, percayalah, aku akan merasa berbahagia sekali jika seandainya kau bisa menjadi maduku, seperti Srikandi dan Subadra!"
Sejenak kemudian, setelah keharuan agak reda, Maduraras berkata.
"Bagaimana, Sari. Setujukah kau akan rencanaku?"
"Terserah kepadamu saja, Raras. Aku bingung dan takut. Tapi, kalau aku minggat, bagaimana dengan kanjeng ibu? Tentu beliau akan sedih sekali, dan beliau sudah tua, Raras. Aku tidak tega..."
Maduraras menarik napas dalam.
"Memang, sifat Subadra juga sangat jujur dan berbakti, sama seperti kau. Beginilah, Sari, hal ini terpaksa harus kuserahkan kepadamu untuk mengaturnya, yaitu, kau harus dapat membujuk ibumu hingga beliau itu suka membantu kita, demi cintanya padamu."
"Akan kucoba, Raras."
Karena selalu dibujuk rayu oleh anaknya yang terkasih dan yang menyatakan bahwa jika dipaksa kawin tentu akan bunuh diri, akhirnya Bratadewi menyerah kepada kehendak Sekarsari.
Maka mereka bertiga, Bratadewi, Maduraras, dan Sekarsari mengatur rencana.
Hari perkawinan tiba.
Keraton dipajang indah.
Sejak tiga hari sebelumnya, gamelan berbunyi terus siang malam, Pada malam hari kawin, yaitu malam sebelumnya yang disebut malam midodaren, pengantin perempuan mulai dirias.
Dan pada malam hari itulah terjadi hal yang ganjil.
Di lain bilik, Maduraras dirias pula oleh Bratadewi.
Bratadewi demikian pandainya dalam hal ini hingga wajah Maduraras hampir sama benar dengan Sekarsari.
Pada waktu tengah malam, Maduraras memasuki kamar Sekarsari, sedangkan Sekarsari sudah menanggalkan pakaian pengantin, lalu keluar dari kamar itu.
Ia berpelukan sebentar dengan Maduraras dan dengan Bratadewi, kemudian dengan isak tertahan Sekarsari keluar dari pintu belakang.
Di tamansari telah menanti Ki Galur, Ayah angkatnya yang diberi tahu akan hal ini dan yang bersedia membantunya biarpun dengan taruhan jiwa demi kebahagiaan anaknya yang tercinta.
Ki Galur dan Sekarsari tidak lari menuju Sukowati sebagaimana yang direncanakan semula, karena menurut perhitungan Ki Galur, Sukowati terlalu dekat dengan kota raja hingga sangat berbahaya bila Sekarsari bersembunyi di situ.
Maka oleh Ki Galur, Sekarsari dibawa lari ke arah timur.
Semalam itu mereka berjalan terus keluar masuk hutan dan baru beristirahat setelah malam berganti pagi.
Demikianlah mereka berjalan terus, sungguhpun perjalanan mereka tak dapat maju pesat karena Sekarsari sering minta berhenti mengaso.
Setelah berjalan terus ke timur selama lima hari, mereka tiba di dalam sebuah hutan yang besar dan liar.
Pohon-pohon tinggi besar yang sudah berusia ratusan tahun memenuhi hutan itu dan suara segala macam binatang liar memenuhi udara dan membuat Sekarsari gemetar ketakutan.
Tapi Ki Galur dengan sebatang tombak di tangan menghiburnya.
"Jangan takut, Sari. Selama Ayahmu ini masih ada di sampingmu, kau takkan terganggu kecuali kalau dadaku sudah pecah!"
Ucapan yang gagah ini sedikitnya membuat Sekarsari merasa agak tenang.
Tapi pada saat itu terdengar teriakan dan suitan nyaring.
Sebelum rasa kaget mereka lenyap, dari semak-semak keluarlah belasan orang tinggi besar yang berwajah buas dan bersenjata ruyung, dikepalai oleh seorang pemuda tinggi besar yang bermata kejam.
"He, Paman tua, berhentilah!"
Teriak pemuda yang menjadi kepala rampok itu. Ki Galur menenangkan hatinya yang berdebar-debar dan bertanya.
"Saudara-saudara yang gagah, apakah maksud dan kehendak kalian menghentikan dan mencegat kami? Kami anak dan Ayah hanya orang-orang melarat yang sedang merantau mencari hidup di lain tempat."
"Ha-ha-ha! Paman, kami takkan mengganggumu. Kami orang-orang baik, bukan demikian, kawan-kawan?"
Empat belas orang anak buahnya tertawa dan menyeringai sambil menggemakan pernyataan.
"Betul... betul..."
Ki Galur menarik napas lega.
"Kami juga tahu bahwa kalian orang-orang gagah dan baik. Nah; selamat berpisah dan kami hendak melanjutkan perjalanan sebelum malam tiba."
"Nanti dulu, Paman,"
Kepala rampok itu mencegah.
"Perkenalkan dulu, aku si Klabangkoro dan mereka semua ini saudara-saudaraku, juga pembantu-pembantuku. Kau dan anakmu sudah lewat di wilAyahku, maka aku tak mau berlaku kurang hormat, Paman. Kami persilakan Paman dan anak Paman yang cantik molek ini untuk mampir di pondok kami."
"Sungguh cantik, sungguh jelita, sungguh manis."
Para anggauta rampok itu berkata campur aduk, membuat Sekarsari makin takut dan Ki Galur makin gelisah.
"Terima kasih, saudara. Tapi kami sangat tergesa-gesa, biarlah lain kali saja kami mampir."
Tiba-tiba senyum di bibir pemimpin rampok itu menghilang.
"Apa? Paman berani menolak undangan kami? Kalau begitu, biarlah kau tinggalkan saja anakmu ini. Kau sendiri boleh segera pergi!"
Ki Galur mempererat pegangannya pada tombaknya.
"Saudara, janganlah kau berlaku demikian. Kasihanilah kami yang tak berdosa dan jangan ganggu anakku."
"Siapa yang mau mengganggu anakmu? Aku hendak memuliakannya, hendak mengangkat ia menjadi ratu di rimba ini, menjadi permaisuriku, bukan begitu, kawan-kawan?"
Semua kawannya membetulkan sambil tertawa riuh-rendah. Ki Galur timbul nekatnya.
"Tidak bisa, saudara. Terpaksa aku tidak mau memberikan anakku padamu."
"Apa katamu?"
Teriak kepala rampok itu.
"Kawankawan, hayo serbu dan bunuh monyet tua ini!"
Tiga orang meloncat menerkam dengan ruyung di tangan.
Tapi Ki Galur meloncat ke kiri dan tombaknya menyerang lambung seorang perampok.
Namun perampok-perampok itu adalah orang-orang kasar yang sudah biasa berkelahi, maka perlawanan Ki Galur itu tak berarti.
Melawan perampok-perampok itu, ia bagaikan seorang kanak-kanak melawan orang-orang dewasa.
Pada saat itu terdengar suara gerutuan.
"Tidak adil... tidak adil..."
Dan dari belakang sebatang pohon besar muncullah seorang kakek berbaju putih yang bercambang bauk berwarna putih pula.
Pada saat itu Ki Galur telah terpeleset dan rebah di tanah sedangkan beberapa orang perampok telah mengangkat ruyung untuk mengirim pukulan maut ke arah kepala Ki Galur.
Sekarsari duduk di bawah pohon sambil menggigil dan menangis.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras "Tahan..!!!"
Bentakan ini demikian berpengaruh hingga semua perampok menunda pukulan mereka dan menengok ke arah datangnya suara.
Ki Galur menggunakan kesempatan Itu untuk merayap bangun dan menghampiri lalu memeluk tubuh Sekarsari yang menggigil ketakutan.
"He, kamu kakek tua mau mampus! Mengapa berani ikut campur?"
Kepala rampok membentak.
"Anak-anak, kenapa kalian demikian jahat? Lepaskanlah gadis dan Ayahnya itu, jangan kalian mengganggu orang yang tidak berdosa."
Suara kakek itu sabar dan lembut, tapi terdengar sangat berpengaruh.
"Aah, monyet tua jangan banyak mulut!"
Seorang anggauta perampok memaki lalu lari menghampiri kakek itu dengari ruyung terangkat.
Tapi aneh, ketika ia sudah tiba dekat dengan kakek itu, tiba-tiba ia merasa seakan-akan menginjak tanah becek yang licin sekali hingga ia kehilangan keseimbangan badannya dan tak ampun lagi ia jatuh terguling!
Kakek itu hanya menggeleng-geleng kepala dan menghela napas.
Kawan-kawan perampok yang jatuh itu menjadi marah dan tiga orang dari mereka lari menyerbu kakek tua itu.
Tapi sungguh heran, seperti halnya orang pertama, mereka ini ketiga-tiganya terpeleset dan roboh di depan kakek itu dan merayap bangun dengan bingung.
Kini kepala rampok menjadi marah.
Ia menuding kakek itu lalu berteriak mengajak kawan-kawannya.
"Hayo kita serbu dan hajar sampai mampus monyet tua ini!"
Maka lima belas orang perampok yang bertubuh tinggi besar dan dengan ruyung di tangan, maju perlahan menghampiri seorang kakek lemah dengan sikap mengancam dan nafsu membunuh di wajah mereka!
Ki Galur menahan napas dan Sekarsari menutup mukanya dengan tangan.
Tapi kakek itu tenang saja, bahkan ia tersenyum lalu menggunakan telunjuknya menuding ke arah mereka sambil berkata.
"Anak-anak, hati-hatilah kalian, ular di tangan kalian itu berbahaya!"
Mendengar kata-kata ganjil ini, semua perampok segera memandang ruyung di tangan mereka, tapi ah, tiba-tiba mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga, sedangkan wajah mereka tiba-tiba menjadi pucat dan mereka menahan tindakan mereka.
Ki Galur yang juga memandang ke arah tangan mereka menjadi terkejut hingga beberapa kali ia mengucek-ucek mata karena tidak percaya kepada apa yang dilihatnya.
Ia memegang lengan Sekarsari dan mengguncang tubuh gadis itu.
"Sari, Sari... lihat...!"
Bisiknya dengan suara gemetar.
Ternyata ruyung-ruyung di tangan kelima belas perampok itu telah berubah menjadi ular.
Kini ular itu membalik dan sambil membuka mulutnya mereka mendesis-desis hebat dan siap menerkam kepala orangorang yang memegang tubuh mereka.
Tentu saja para perampok itu menjadi takut sekali, tanpa diperintah lagi mereka menggerakkan tangan untuk melempar ular itu.
Tapi celaka bagi mereka, ular-ular itu tak mau terlepas dari tangan, seakan-akan telah melengket!
Maka larilah mereka tunggang-langgang ke dalam hutan sambil berteriak-teriak ketakutan.
Kakek baju putih itu tertawa perlahan lalu menghampiri Ki Galur yang segera menarik tangan Sekarsari untuk diajak berlutut dan menyembah.
Tapi kakek itu membangunkan mereka dan mengajak mereka duduk di bawah pohon yang rindang.
"Bolehkah aku bertanya ke mana kalian hendak pergi? Dan mengapa anak ini tampak sangat bersedih bagaikan mengalami sesuatu hal yang malang? Katakanlah padaku, barangkali aku dapat membantu."
Maka dengan menangis Sekarsari menceritakan pengalamannya.
Menghadapi kakek tua itu ia merasa seakan-akan berhadapan dengan Eyang sendiri hingga ia tidak ragu-ragu atau malu-malu lagi untuk menuturkan riwayatnya semenjak pertama sampai yang terakhir.
Ia menceritakan tentang dirinya, tentang Jarot, tentang Maduraras, pendeknya tentang segala yang diketahuinya.
Kakek itu mendengarkan dengan sabar dan dengan senyum di bibir.
Setelah habis bercerita, Sekarsari berkata.
"Eyang, saya kasihan sekali mengenangkan nasib Maduraras. Kalau memang Eyang sudi menolong, tolonglah saja dia, Eyang. Lepaskan dia dari bencana dan biarkan Maduraras berkumpul lagi dengan saya. Ia lebih-lebih daripada adik sendiri bagiku."
Kakek itu mengangguk maklum, lalu berkata kepada Ki Galur.
"Kau harus membantu memikirkan nasib anak angkatmu ini. Maka sekarang kau pergilah ke tempat kediaman Jarot dan rundingkan dengan ia tentang hal Sekarsari. Biarlah aku akan mengantar Sekarsari menjumpai Maduraras kembali."
Ki Galur bersangsi.
"Tapi... tapi..."
Kakek itu memandangnya tersenyum.
"Semua akan beres."
Heran, mendengar kata-kata ini, Ki Galur merasa hatinya demikian lega hingga semua kesangsian atau keragu-raguan lenyap seketika dari dadanya.
Ia mengangguk dan menyembah lalu mempersilakan kakek itu membawa Sekarsari pergi lebih dulu.
"Marilah, nak,"
Kakek itu berkata kepada Sekarsari. Setelah Sekarsari mohon diri dari Ki Galur, kakek itu memegang pergelangan tangan Sekarsari dan berkata kepada Ki Galur.
"Nah, kami pergi!"
Ketika Ki Galur memandang, lho!
Kakek itu dan Sekarsari sudah lenyap bagaikan ditelan bumi!
Ki Galur maklum bahwa ia telah bertemu dengan seorang pertapa sakti yang menolong mereka, maka sekali lagi ia menyembah, lalu berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk oleh pertapa itu, yakni lereng Gunung Tengger, tempat tinggal Jarot.
Marilah kita mengikuti keadaan Maduraras, Srikandi yang gagah berani membela Sekarsari dan rela mengorbankan diri sendiri menghadapi bencana di Kadipaten Pasuruan.
Setelah berada seorang diri dalam kereta yang membawanya ke Pasuruan, di sepanjang jalan gadis itu menangis dan mau tak mau ia merasa takut dan gelisah.
Nasib bagaimanakah yang menantinya di Pasuruan?
Sikap bagaimanakah yang harus ia perlihatkan di depan Panjibagus?
Menyerah saja dan mencoba memikat hati satria itu?
Ah, ia tak sudi!
Diamdiam ia telah bersumpah dalam hati bahwa hanya Jarot seoranglah yang berhak memiliki dirinya, biarpun ia tahu bahwa Jarot tidak cinta padanya.
Habis, bagaimanakah ia harus bersikap?
Berkata terus terang?
Ah, tentu satria itu akan marah.
Ia akan dibunuhnya.
Biarlah, kalau memang demikian nasibnya, ia akan menerima dengan rela.
Ia akan menganggap itu sebagai hukuman atas dosanya telah memisahkan Jarot dengan Sekarsari dulu.
Empat hari kemudian rombongan yang membawanya tiba di Pasuruan.
Kadipaten itu telah dihias indah karena di situpun diadakan perayaan menyambut pengantin yang terhormat karena pengantin itu datang dari Keraton Mataram.
Sampai pada saat mempelai perempuan turun dari kendaraan dan diarak masuk ke kamar di gedung kadipaten, belum ada yang menyangka akan adanya penggantian pengantin dan Maduraras dapat memasuki kamar pengantin dengan selamat.
Hal ini adalah karena gadis itu selain dihias sama benar dengan Sekarsari, juga karena ia memakai kerudung yang melambai menutupi mukanya, dan karena perawakannya memang sama benar dengan Sekarsari.
Pula, hanya para pengiring dan beberapa orang saja pernah melihat pengantin perempuan yang asli.
Ketika tiba saatnya mempelai lelaki memasuki kamar pengantin, barulah Maduraras merasa benar-benar takut dan ngeri.
Raden Panjibagus sebagai pengantin laki-laki tampak benar-benar tampan dan gagah.
Kalau saja hati Maduraras tidak sudah penuh terisi bayang-bayang Jarot, tentu gadis ini akan merasa kagum dan tertarik.
Tapi baginya tidak mungkin ada laki-laki yang dapat mempesonakannya lagi, betapapun tampan dan gagahnya laki-laki itu.
Melihat Panjibagus memasuki kamar, Maduraras semakin menundukkan kepala dengan hati berdebar dan kaki tangan terasa dingin.
Panjibagus maju mendekat dan duduk di atas pembaringan di sebelah Maduraras.
Dengan mesra dan halus ia memegang tangan gadis itu dan terkejut karena dinginnya.
"Diajeng, takutkah kau? Malukah? Tanganmu dingin benar."
Alangkah halusnya suara Panjibagus yang diucapkan dengan penuh perasaan.
Maduraras tak dapat menahan kekecutan hatinya lagi dan tiba-tiba ia menangis.
Panjibagus menggunakan tangan kiri menyingkap kerudung di depan muka Maduraras.
Ketika ia menatap wajah gadis itu, ia tersentak kaget dan mundur tiga tindak sambil mengucap.
"Ya Jagad Dewa Batara!"
Kemudian ia cepat maju memegang lengan tangan Maduraras dengan erat sambil bertanya keras.
"He, gadis. Siapa engkau dan dimana diajeng Susilawati?"
Melihat bahwa tiada jalan baginya untuk bersembunyi atau menyangkal pula, timbullah keberanian Maduraras. Ia bangun berdiri dan dengan gagah berkata.
"Susilawati telah dengan diam-diam keluar dari Keraton dan membunuh diri di bengawan. Tak seorangpun mengetahuinya kecuali saya, dan kami telah bermufakat untuk melakukan penggantian ini."
"Apa katamu?"
Panjibagus bertanya dengan wajah pucat.
"Mengapa ia membunuh diri? Dan tahukah Gusti Sultan akan hal ini?"
Suaranya mengandung penasaran besar karena ia merasa tertipu.
"Tak seorangpun mengetahui kecuali saya. Bahkan Gusti Ayu Bratadewi sendiripun tak mengetahuinya. Susilawati tidak mau dikawinkan dengan engkau maka dia membunuh diri."
"Dan kau... siapakah kau yang berani menggantikan tempatnya?"
"Aku bernama Maduraras dan kawan baik Susilawati. Aku menggantikan tempatnya bukan karena aku ingin diboyong ke sini dan menjadi isterimu. Tidak! Aku melakukan ini hanya untuk memenuhi permintaannya. Maka, jika engkau benar-benar seorang satria yang luhur budi, biarkan aku pergi meninggalkan Pasuruan."
Melihat sikap Maduraras yang tidak menghormat kepadanya itu, makin bertambahlah kemarahan Panjibagus.
"Hm, keparat! Kau wanita rendah! Setelah kau menipuku, kau minta aku melepaskanmu begitu saja? Keparat engkau!"
Raden Panjibagus lari keluar memanggil pengawal. Dua orang penjaga datang berlari.
"Tangkap perempuan ini. Masukkan dalam tahanan!"
Kedua orang penjaga itu saling pandang dengan heran.
"Bagaimana, Raden? Apa maksudmu...? Hamba harus... tangkap padanya? Masukkan dalam tahanan??"
Mereka berdua menyangka kalau-kalau Raden Panjibagus tiba-tiba menjadi gila! Raden Panjibagus mengertak gigi dan membantingbanting kakinya.
"Jangan banyak cakap! Tangkap dia dan jebloskan dalam tahanan! Hayo cepat!!"
Ia berteriak marah dan dengan heran dan takut kedua penjaga itu memegang lengan Maduraras yang menurut saja dibawa ke dalam tahanan.
Ia tidak takut dan berjalan dengan dada dan muka terangkat tinggi, gagah dan angkuh.
Tapi setelah ia didorong ke dalam sebuah kamar dari batu yang tak berjendela dan hanya mempunyai pintu besi yang kuat, ia terduduk di atas sebuah bangku batu dan menangis tersedu-sedu.
Ia merasa putus asa.
Bagaimana selanjutnya dengan nasibnya?
Apa yang dapat ia perbuat?
Ia tak berdaya sama sekali dan hanya derita dan bencana menanti di depannya.
Semalam penuh ia tidak dapat tidur sama sekali, pikirannya digoda segala macam bayangan seram dan ngeri.
Akan diapakan orangkah dia?
Pada keesokan harinya, dua orang laki-laki setengah tua memasuki kamar tahanannya.
Mereka ini adalah dua orang pemeriksa yang datang membujuk dan mengancamnya untuk mengaku dan menceritakan keadaan sebenarnya.
"Aku telah mengaku dan menceritakan keadaan sebenarnya. Mengapa harus mengaku pula?"
"Kau bohong! Raden Panjibagus tak mudah kautipu begitu saja! Kau tentu tahu di mana tempat puteri sekarkedaton. Kau tentu menyembunyikan dia. Mengakulah, Maduraras. Kalau kau mengaku terus terang dan memberi tahu tempat persembunyian sekar-kedaton, maka jika puteri Susilawati telah ditemukan, tentu kau akan diampuni. Mungkin kau akan diambil selir oleh Raden Panjibagus, karena kau cukup cantik jelita. Bukankah kau cinta pada Raden Panji? Bukankah karena cintamu itu maka kau menggantikan tempat sekar-kedaton?"
"Cih! Siapa yang tergila-gila padanya? Aku sudah mengatakan berkali-kali. Susilawati tidak sudi menjadi isterinya dan karenanya ia bunuh diri. Aku menggantikan tempatnya hanya karena sudah berjanji padanya! Sekarang terserah, mau kau bunuh, bunuhlah saja. Mau dilepaskan, lakukanlah sekarang juga agar aku dapat pergi dari neraka ini."
Kedua penyelidik itu tak berdaya.
Mereka segera meninggalkan Maduraras untuk memberi laporan kepada Raden Panjibagus, setelah memperdengarkan ancamanancaman untuk memberi hukuman yang seberat beratnya.
Tapi Maduraras hanya ganda ketawa semua ancaman itu.
Pada malam hari kedua dari penahanannya, pintu kamar tahanan terbuka dan Maduraras terkejut sekali ketika melihat bahwa yang datang kali ini adalah Raden Panjibagus sendiri!
Ia merasa khawatir dan cemas sekali.
Wajah satria yang tampan dengan senyumnya yang manis itu lebih menakutkannya daripada wajah para pemeriksa yang kejam dengan ancaman-ancaman mereka yang mengerikan!
"Maduraras, alangkah besar perbedaan kamar ini dengan penghuninya,"
Panjibagus berkata dengan senyum simpul dan kerling tajam penuh arti.
"Apa... apa maksudmu, Raden?"
"Kamar ini buruk dan gundul, sedangkan kau... kau begitu cantik. Heran aku memikirkan betapa gadis secantik kau dapat berlaku sekejam itu terhadap aku."
Maduraras hanya menunduk dan diam saja.
"Maduraras, kalau kuperhatikan wajahmu dan bentuk tubuhmu, kau tidak kalah cantik dan jelita dari Susilawati, bahkan menurut pandanganku, kau lebih manis, lebih berani dan lebih kenes menarik hati."
"Raden, katakan saja maksud kedatanganmu. Jangan memutar-mutar lidah yang tak bertulang itu. Tiada gunanya, Raden."
Panjibagus tertawa. Suara tawanya merdu dan sedap didengar. Maduraras berdebar ketika pemuda itu mendekatinya dan hampir ia berteriak ketika tiba-tiba Panjibagus memeluknya.
"Raden, lepaskan aku!"
Ia mencoba berontak.
"Tidak, takkan kulepas kau sebelum kau beri tahu padaku di mana kau sembunyikan Susilawati."
"Raden Panjibagus, jangan kau paksa aku. Sia-sia, Raden. Aku tidak mempunyai keterangan lain. Susilawati telah mati, di dunia ini tidak ada Susilawati lagi, Raden."
"Kalau begitu, biarlah... kau saja yang menjadi gantinya, Raras."
Panjibagus memancing lagi dengan bujukannya. Maduraras menggeleng-geleng kepala.
"Aku tidak sanggup menjalani, Raden. Lebih baik lepaskan saja aku."
Tiba-tiba timbul kemarahan dalam hati Panjibagus.
Dengan cepat tangannya menyambar dan sebuah tamparan keras mengenai pipi Maduraras yang halus.
Darah mengalir dari ujung bibir Maduraras; tapi gadis itu tetap tersenyum.
Melihat senyum itu Panjibagus menjadi menyesal akan perbuatannya tadi, tapi kemarahan hatinya belum lenyap.
"Keparat benar kau, Maduraras. Kau sengaja hendak menggoda dan menghinaku. Biarlah, kau telah menjatuhkan keputusan akan nasibmu sendiri. Besok aku akan menyuruh orang menggantungmu, kecuali kalau sebelum saat itu kau merobah pendirianmu!"
Setelah berkata demikian Raden Panjibagus keluar dari kamar itu sambil berpesan kepada para penjaga agar hati-hati menjaga gadis itu.
Menjelang tengah malam pikiran yang teraduk di kepala Maduraras mulai menyuram.
Tiba-tiba ia melihat pintu kamarnya terbuka dan sebuah bayangan berkelebat memasuki kamarnya.
Maduraras merasa kepalanya berat dan pandangan matanya kabur.
Ia hanya melihat sekilas betapa seorang kakek tua yang berbaju putih dan berjenggot panjang putih pula membungkuk, lalu mengangkatnya dan membawanya terbang!
Ya terbang, karena ia merasa betapa tubuhnya terayun tinggi dan betapa angin bersiutan di pinggir telinganya.
Tapi ia tak kuasa membuka mata lagi dan segala gelap di sekitarnya.
Ketika membuka matanya, Maduraras mendapatkan dirinya berada dalam sebuah bilik bambu yang terbuka jendelanya.
Ia memandang keluar jendela.
Hari telah siang dan dari jendelanya ia melihat sawah dan gunung.
Ia mengingat-ingat dan tiba-tiba ia mendengar suara pintu berderit.
Ia menengok dan melihat betapa pintu kamarnya terbuka perlahan dari luar.
Wajah seorang wanita muncul dari balik daun pintu, menjenguknya, dan serentak Maduraras meloncat bangun.
"Sari...!!!"
Panggilan ini merupakan jerit yang keluar dari lubuk hatinya, panggilan yang penuh diliputi kegirangan besar. Sekarsari maju dan memeluknya.
"Maduraras, kau... terima kasih, Raras..."
Sekarsari tak dapat berkata-kata lagi, hanya air matanya turun membasahi muka Maduraras yang diciumnya.
"Sari, jangan tipu aku, Sari. Katakanlah sejujurnya, tidakkah aku sedang mimpi?"
Maduraras bertanya sambil meramkan mata.
"Tidak, Raras. Kau betul berada di samping Sekarsari. Raras... Eyang Begawan yang menolongmu telah menceritakan kepadaku akan segala penderitaanmu, Raras, akan segala pengorbanan yang Kau lakukan untukku. Terima kasih, Raras..."
"Aah, jangan sebut-sebut itu lagi, Sari. Di mana Eyang itu? Aku harus menghaturkan terima kasih padanya."
"Ia sedang bersamadhi, Raras. Mari kuantar kau menjumpainya."
Dan keduanya lalu keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.
Seperginya dari Mataram, Jarot kembali ke desanya, yaitu desa Wangkal di lereng Gunung Tengger sebelah utara.
Ayahnya, Panembahan Cakrawala, kedatangan puteranya dengan girang tapi juga dengan cemas ketika melihat betapa wajah puteranya itu pucat dan tubuhnya kurus.
Ia tahu bahwa puteranya sedang menderita sakit, dan ia maklum pula bahwa itu adalah penyakit asmara yang sukar diobatinya.
Maka Ayah yang waspada ini tidak menanya sesuatu kepada Jarot mengenai penderitaannya ini, hanya semenjak saat itu Panembahan Cakrawala tekun bersamadhi dan memohon kemurahan Yang Agung untuk menguatkan batin puteranya itu.
Semenjak datang ke tempat asalnya, Jarot menjalani tapa-brata dan tekun bersamadhi, melepaskan diri dari segala ikatan dunia.
Tubuhnya makin kurus, kumis dan jenggotnya dibiarkan saja tak terawat.
Namun, dasar hatinya baik dan penuh sifat welas asih, ketika ada beberapa orang gunung datang minta pertolongannya karena penyakit atau rintangan lain, Jarot tak tega untuk membiarkan saja.
la memberi pertolongan, baik berupa obat maupun berupa nasihat dan petuah.
Ternyata bahwa pertolongannya selalu berhasil baik hingga sebentar saja Jarot terkenal sebagai seorang pertapa muda yang sidik dan waskita.
Makin banyaklah orang datang memohon pertolongannya.
Mendengar akan keadaan puteranya yang bertapa di puncak sebelah timur itu, pada suatu hari Panembahan Cakrawala mengunjungi puteranya.
Jarot menyambut kedatangan Ayahnya dengan sembah.
"Puteraku Jarot, harapanku timbul kembali ketika mendengar betapa kau mulai dengan berdarma-brata. Tadinya aku khawatir kau akan bertapa-brata untuk selamanya."
"Rama, memang sesungguhnya hamba sudah merasa tawar dan bosan akan keadaan dunia ramai. Hamba tadinya mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan dengan dunia ramai, tapi ternyata hamba tak tega untuk menolak kedatangan para sahabat yang minta pertolongan. Sanubari hamba tak mengijinkan hamba diam berpeluk tangan saja melihat kesusahan orang lain sedangkan hamba masih kuasa menolongnya."
"Itu bagus, Jarot. Karena kau masih muda, masih luas harapanmu untuk memajukan sesama, untuk membantu peredaran maya dengan perbuatan yang layak. Ketahuilah, Jarot, Ayahmu ini walaupun bertubuh pertapa, namun hatinya masih cukup mempunyai rasa perikemanusiaan seperti orang lain dan karenanya masih ingin memangku cucu. Kau suka menolong orang, Jarot, maka tak dapatkah kau menolong Ayahmu sendiri?"
"Pertolongan bagaimana, Rama?"
"Tolonglah beri kesenangan sedikit pada Ayahmu sewaktu aku masih dapat melihat dengari mata jasmani ini, Jarot. Kau carilah pasangan dan kawinlah agar aku dapat menikmati kurnia Yang Agung dengan menimang seorang cucu."
Jarot menghela napas dan menggeleng-geleng kepala.
"Sukar bagiku untuk mendapat pasangan, Rama."
Ayahnya memandang tajam.
"Jarot, di manakah hatimu tersangkut? Wanodya manakah yang demikian besar kuasanya hingga dapat mematahkan engkau seperti ini?"
"Jangan salah paham, Rama. la seorang gadis baik dan sempurna. Dan percayalah, rama, kalau memang Yang Agung mengijinkan, pasti kami akan bertemu kembali. Dan kalau datang saat itu, permintaanmu akan terkabul, Rama. Hanya itulah janjiku dan harap rama habiskan pembicaraan tentang ini sampai sekian saja."
Ayahnya menggeleng-geleng kepala dengan kecewa.
"Jarot... Jarot..."
Pada saat itu dari luar terdengar suara orang batuk-batuk dan tak lama kemudian terdengar suara orang minta pintu.
Mendengar suara itu, baik Jarot maupun Ayahnya menjadi girang.
Mereka bangkit berbareng dan keluar menyambut, karena mereka kenal suara itu.
"Eyang..."
Jarot berlutut menyembah.
"Paman Begawan..."
Panembahan Cakrawala pun memberi hormat.
Tamu yang datang itu, seorang tua yang tampak agung, berdiri tersenyum girang.
Ia bukan lain ialah Kyai Ageng Sapu jagat, guru Jarot, seorang pertapa suci yang tak tentu tempat tinggalnya.
"Eyang, sungguh besar hati hamba menerima kunjungan Eyang hari ini. Silakan masuk dan duduk di dalam, Eyang."
Panembahan Cakrawala juga mempersilakan tamu agung itu masuk, tapi Kyai Ageng Sapujagat menolak sambil tersenyum.
"Aku hanya menjenguk sebentar, tak perlu masuk, biar kita ngobrol di sini juga sama saja. Jarot, kulihat kau sudah mengenakan jubah pertapa dan kau mengikuti jejak ramamu."
"Itulah yang mengesalkan hatiku, Paman,"
Kata Panembahan Cakrawala.
"Mengapa kesal hatimu, Cakrawala? Kau ini seperti anak kecil saja. Siapa yang heran melihat keadaan hati seorang pemuda seperti Jarot ini? Ia masih muda, perlu ia mengalami bermacam-macam perubahan dalam hidup, ini namanya pengalaman. Biarkan sajalah, nanti kalau sudah tiba masanya tentu ada perubahan lagi."
"Mari, mari, Cakrawala, mari ikut aku jalan-jalan ke puncak Tengger. Sudah lama kita tidak mengobrol. Jarot, kami pergi dulu. Kulihat banyak orang datang mencarimu untuk minta pertolongan. Mereka juga tamu, sama saja dengan aku. Mereka lebih penting, layanilah."
Dan orang tua yang suci itu sambil menggandeng tangan Panembahan Cakrawala, lalu berjalan pergi, bercakapcakap sepanjang jalan.
Jarot memasuki pondoknya dan mempersilakan para tamunya masuk seorang demi seorang.
Dengan sabar dan ramah ia melayani mereka, memberi jamu-jamu yang telah disediakan olehnya, khusus untuk keperluan itu, memberi nasihat-nasihat bagi mereka yang bersedih, memberi peringatan-peringatan bagi mereka yang tersesat, Semua tamunya menerima pertolongan yang diberikan dengan hati ikhlas Ini dengan puas dan mereka pulang dengan hati ringan.
Tamu yang masuk paling akhir adalah dua orang gadis desa yang agaknya datang dari tempat jauh karena mereka nampak lelah.
Seperti biasa, tiap kali menghadapi tamu wanita muda, Jarot menundukkan kepala dan meramkan mata.
Sudah seringkali ia tergoda oleh gadis-gadis, yang ingin memikatnya.
Gadis-gadis itu datang dari berbagai tempat, dan sengaja datang untuk melihat pertapa muda yang tersohor tampan itu, dan tiap kali mereka datang, tentu mereka menggunakan segala macam akal untuk menarik perhatian Jarot.
Menghadapi godaan ini, Jarot merasa tak berdaya untuk berlaku keras, maka untuk menolaknya ia hanya menerima gadis-gadis muda yang berkunjung ke rumahnya dengan menundukkan muka dan meramkan mata.
Ada kalanya seorang gadis datang dengan maksud benar-benar minta pertolongan, tapi sebagian besar hanya karena ingin bertemu dengan pertapa muda yang tampan ini.
Demikianlah, sekilas saja memandang tubuh mereka ketika memasuki pintu pondoknya, Jarot maklum bahwa lagi-lagi ada dua orang gadis kampung yang hendak menemuinya, entah hendak minta pertolongan atau hendak menggodanya.
"Kulanuwun, Mas Kyai..."
Berkata seorang di antara mereka.
"Duduklah kalian dan pertolongan apakah yang dapat kulakukan untuk kalian?"
Jawab Jarot tanpa mengangkat mukanya.
"Kami Dinah dan Dini kakak beradik, Mas Kyai, dari desa Barat,"
Jawab seorang di antara mereka yang halus tutur bahasanya.
"Apa kehendakmu?"
"Saya... saya hanya mohon berkah, Mas Kyai."
"Yang Maha Agung akan memberkahimu."
"Bukan hanya itu, Mas Kyai, kami datang mohon diberi obat!"
Tiba-tiba gadis kedua menjawab, suaranya lantang dan genit. Jarot menghela napas. Hm, lagi-lagi datang penggoda, pikirnya. Tapi ia menjawab juga.
"Obat? Sakit apakah kalian?"
"Obat untuk sakit di hati, Mas Kyai!"
"Apa maksudmu?"
Jarot mengangkat muka, tapi belum membuka matanya. (Lanjut ke
Jilid 07 -Tamat) Keris Pusaka dan Kuda Iblis (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 (Tamat) "Benar, Mas Kyai, kami menderita sakit rindu asmara, mohon obatnya, Mas Kyai!"
Gadis pertama menyambung. Tiba-tiba tubuh Jarot menggigil dan wajahnya memucat. Ia serasa kenal akan suara ini. la membuka matanya dan...
"Sari...!! Raras...!!"
"Kang Mas Jarot...!!"
Mereka bertiga saling tubruk dan berpelukan. Air mata tak dapat ditahan lagi, membanjir keluar membasahi muka mereka.
"Sari... mengapa.. bagaimana kau bisa berada di sini?"
Setelah menceritakan semua pengalamannya, Sekarsari berkata.
"Mas Jarot, Eyang Kyai Ageng Sapujagat yang menolong aku dan Raras dan membawa kami ke sini. Mas, aku telah cukup menderita, telah cukup terhukum karena ketidakpercayaanku kepadamu dahulu. Sekarang aku datang, bukan sebagai puteri raja, Mas. Aku datang sebagai Sekarsari yang mohon belas kasihanmu. Terimalah diriku Mas, aku minta mondok di rumahmu, ingin bersuwita padamu, Mas."
Wajah Jarot berseri.
"Akhirnya kita berkumpul juga, Sari... Sari..."
Jarot memeluk gadis itu dengan mesra dan terharu.
"Mas Jarot dan kau, Sari. Aku merasa berbahagia sekali bahwa kalian telah bertemu dan berkumpul kembali. Kini tugasku sudah selesai. Aku telah menebus dosaku. Biarlah aku pergi, jangan sampai menjadi pengganggu kalian lagi... selamat tinggal, Mas Jarot... Sari..."
Dengan air mata mengalir di sepanjang pipinya Maduraras lari meninggalkan mereka.
"Raras... tunggu...!!"
Sari meloncat mengejar dan berhasil memegang lengannya dan terus saja ia memeluk tubuh Maduraras.
"Raras... jangan pergi, Raras..."
"Sari, aku pergi untuk kebaikan kita bersama. Aku hanya akan menjadi pengganggu..."
"Kau takkan menjadi pengganggu, Raras""
"Tapi... tapi tegakah kau menyiksa hatiku, Sari? Tegakah kau melihat aku menderita karena iri dan sengsara...?"
"Tidak, tidak, Raras. Kau salah paham. Lupakah bahwa kalau aku menjadi Subadra maka kau ialah Srikandinya?"
"Apa... apa maksudmu, Sari?"
"Maksudku sama dengan maksudmu, Raras. Cari saja sendiri artinya, aku Subadra, kau Srikandi, dan Mas Jarot ialah Arjuna..."
"Jadi kau... kau..."
"Ya, demikianlah kehendakku."
"Kalau Mas Jarot menolak bagaimana, Sari?"
"Tak mungkin! Aku tahu bahwa iapun kasih kepadamu. Tapi, kalau dia sampai berani menolak kau, maka aku... akupun akan menolaknya!"
Mata Maduraras terbelalak memandang Sari dan air mata turun dari mata itu.
"Demikian baikkah hatimu kepadaku, Sari?"
"Tidak sebaik kau kepadaku, Raras..."
Jarot keluar dari pondok dan menghampiri mereka.
"Hayo, Raras, kita sambut Arjuna kita..."
Dan Sekarsari menarik-narik tangan Maduraras yang memerah seluruh mukanya dan yang menggunakan sebelah tangan menutupi mukanya karena malu!
Maka berbahagialah mereka bertiga di atas Gunung Tengger.
Adapun Pangeran Amangkurat setelah memalsu dan mencuri Keris Pusaka Margapati, menjadi makin jahat dan kejam.
Sejarah menyatakan betapa ia kelak menjadi Sunan Amangkurat I yang terkenal kejam, yang membunuh banyak sanak keluarganya sendiri, yang menjadi iblis karena cemburu.
Dengan kejamnya ia membunuh puluhan selir hanya karena menyangka mereka itu membunuh seorang selir kekasihnya yang mati.
Betapa jahatnya terbayang kepada catatan sejarah ketika ia memperebutkan seorang wanita dengan puteranya sendiri.
Keris Pusaka Margapati memuaskan nafsu dengan darah manusia, keris maut itu kenyangakan darah dalam pegangan tangan Amangkurat yang lalim dan yang membuat orang mengutuk kejahatannya.
Demikianlah maka cerita ini diakhiri dengan peringatan yang sering disabdakan para arif bijaksana bahwat siapa menanam, ia sendiri yang akan memetik buahnya!
TAMAT Pdf created by.
Segoro Mas
http.//cersil-khopinghoo.blogspot.com
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 13
Baca Juga: Mutiara Hitam 8