Eps 1 Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo
Baca online Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo
Cersil Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo.
Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Dusun pangkur di kaki Gunung Kawi merupakan sebuah dusun yang cukup besar dengan penghuninya yang hidup tenteram.
Sawah ladang menghasilkan panen yang baik, hujan turun tepat pada waktunya dan sudah bertahun-tahun tidak ada gangguan hama.
Penghuni dusun itu merasa makmur hidup mereka, walaupun tentu saja kalau diukur dari pandang mata orang kadipaten atau kerajaan, kehidupan para petani di Dusun Pangkur itu terlalu sederhana dan miskin.
Gajahporo, seorang pemuda yang berasal dari Dusun Pangkur, merasa bahagia sekali karena dia berhasil mempersunting Ken Endok, gadis yang dikenal sebagai kembangnya Dusun Pangkur.
Seperti lazimnya perjodohan jaman itu, sebelum bersanding menjadi pengantin, Ken Endok belum pernah bertemu muka dengan suaminya.
Tentu saja Gajahporo sudah seringkali mencuri pandang dengan sembunyi-sembunyi dan dialah yang tergila-gila pada Ken Endok.
Berkat keadaan bapaknya yang merupakan petani yang memiliki sawah luas dan belasan ekor kerbau, maka pinangan diterima dan menikahlah Gajahporo dengan Ken Endok yang cantik jelita.
Ketika Ken Endok menitikkan air mata dan menahan isak pada saat kedua pengantin dipertemukan, semua orang termasuk Gajahporo hanya menduga bahwa gadis menangis karena malu, karena terharu atau mungkin juga karena bahagia, pendeknya, semua pengantin wanita harus menangis kalau tidak mau dijadikan buah celoteh para wanita yang menjadi tamu!
Akan tetapi hanya Ken Endok sendirilah yang tahu bahwa tangisnya bukan karena semua itu, melainkan karena kecewa dan berduka.
Beberapa pekan yang lalu, ketika mencuci pakaian di anak sungai luar dusun bersama kawan-kawannya, muncul seorang pemuda yang menunggang kuda.
Melihat pemuda itu menghentikan kudanya di tepi sungai, para dara dusun itu berlarian sambil menahan tawa.
Akan tetapi Ken Endok tiada dapat melarikan diri.
Cuciannya terlampau banyak sehingga tak mungkin ia membawanya pergi sambil berlari, apalagi cuciannya masih berceceran bahkan sebagian ada yang belum dicucinya.
Dan terpaksa ia mengangkat muka memandang ketika pemuda itu juga memandangnya tanpa turun dari kudanya.
Seorang pemuda yang luar biasa tampannya!
Seperti Sang Arjuna dalam pandangan Ken Endok yang biasanya hanya melihat laki-laki dusun, pemuda-pemuda yang belepotan lumpur dan dengan pakaian yang serba hitam dan kumal.
Akan tetapi pemuda ini mengenakan pakaian priyayi, dengan baju lengan pendek, celananya hitam tertutup sarung.
Kulit dadanya, lehernya, lengan dan kakinya yang tampak sedikit itu demikian bersih dan kuning.
Wajahnya demikian elok, seolah-olah mengeluarkan cahaya gemilang, seperti Dewa Kamajaya baru turun dari khayangan!
Ken Endok terpesona dan lupa bahwa ia menengadah dan memandang dengan mata terbelalak tanpa berkedip.
Pemuda itu pun terpesona.
Dia biasa melihat puteri kadipaten, cantik-cantik memang, akan tetapi kecantikan yang banyak dibantu oleh mangir, pemutih pipi dan pemerah bibir penghitam alis, dibantu oleh pakaian yang indah-indah.
Akan tetapi dara ini!
Hanya bertapih pinjung dan nampak lekuk dadanya karena tapih itu basah kuyup.
Rambutnya terurai basah pula, mukanya sama sekali tidak riasan, tubuhnya sama sekali tidak berhias, pendeknya seratus persen wanita!
Akhirnya Ken Endok sadar akan keadaan dan cepat-cepat ia menundukkan mukanya yang berubah menjadi kemerahan.
Dan pemuda itu pun tersenyum sadar bahwa ia pun tadi kehilangan semangat seperti orang yang tiba-tiba menjadi linglung!
"Jagat Dewa Bathara......!"
Pemuda itu berkata lirih sambil meloncat turun dari kudanya.
Kuda itu pun dibebaskan dari kendali dan dibiarkan makan rumput dan minum air tanpa melepaskan pandang matanya dari Ken Endok yang merasa gelisah, malu dan salah tingkah.
"Apakah aku sedang mimpi? Ataukah benar-benar aku sedang melihat seorang bidadari turun dari khayangan dan mandi di anak sungai?"
Tentu saja sukar dilukiskan bagaimana perasaan hati seorang perawan dusun yang menerima pujian seperti itu!
Berdebar-debar jantungnya, berdenyut-denyut darahnya sampai terasa di pelipis, dan tubuh pun gemetar.
Akan tetapi Ken Endok tetap menundukkan mukanya tidak berani memandang pemuda itu.
"Duhai Puteri Juwita, Siapa gerangan Anda? Apakah Sang Dewi Suprobo yang diutus Sang Hyang Guru untuk turun ke dunia dan menggoda hatiku? Ataukah Anda Dewi Penjaga Sungai ini?"
Melihat wajah yang dagunya meruncing manis itu masih belum juga diangkat, pemuda itu menambahkan.
"ataukah barangkali seorang bidadari yang gagu! Alangkah sayangnya kalau begitu!"
Mulut yang kecil manis itu tersenyum dan kembali pemuda itu terpesona.
Di mana ada perawan dusun dengan mulut seperti itu?
Ketika tadi tertutup, nampak indah dan manis sekali, benduk gendawa.
Akan tetapi ketika kini tersenyum, menjadi cerah suasana sekitarnya.
Bibir merah membasah dan tipis merekah seperti kembang wijayakusuma mekar di tengah malam nampak deretan gigi yang rapi dan putih dan rona mulut yang kemerahan, lidahnya seperti bermain-main di dalamnya, juga merah segar ujungnya.
Lebih jelita lagi, ada dua lesung pipi di kanan dan kiri bibirnya.
"Saya... saya bukan bidadari dan saya.... saya tidak gagu."
"Aduh para Dewata Yang Maha Kasih! Suaranya.....!"
Gadis itu tidak mengerti, memandang penuh perhatian.
"Apa.... apa kata paduka, Raden?"
"Tidak apa-apa. Aku girang kau tidak gagu,nona manis!"
Kedua pipi itu menjadi semakin merah.
Akan tetapi ia khawatir kalau-kalau ada orang yang melihat ia bercakap-cakap dengan seorang pria asing, maka ia akan berkemas.
Mengumpulkan pakaiannya ke dalam keranjang, tidak sadar betapa semua gerak-geriknya diperhatikan orang, kalau lengan yang halus itu, lereng bukit kembar dadanya yang membayang di balik tapih pinjungnya, dan bulu halus dari bawah pangkal lengannya.
Kemudian ia pun naik ke tepi sungai tidak sadar betapa pemuda itu menatap kakinya yang tertutup tapih sampai ke betis.
Masih nampak bagian bawah yang memadi-bunting dan halus.
Terutama sekali pemuda yang berpengalaman itu melihat betapa lekuk kaki di atas tumit itu begitu cekung dan kecil yang menurut pengetahuan tentang wanita yang diperolehnya, perawan ini, dengan lekuk tumit dan lesung pipit seperti itu, adalah wanita pilihan!
"Eh, eh, hendak ke mana, Nona?"
"Maaf, Raden. Saya harus pulang. Bapak akan marah-marah kalau saya terlambat pulang."
"Nanti dulu, Nimas.... Aku tidak melarang engkau pulang, akan tetapi perkenalkan dulu namamu dan engkau tinggal di dusun mana."
"Biarpun jantungnya berdebar mendengar sebutan "nimas"
Itu sehingga lehernya seperti tercekik rasanya, namun ia memaksa diri menjawab.
"Nama saya Ken Endok dari Dusun Pangkur....."
Setelah berkata demikian, saking malunya, dara itu pun melarikan diri.
Akan tetapi lelaki itu tidak mengejarnya, melainkan berdiri mengikuti bayangan gadis itu sampai lenyap di dusun depan.
Setelah bayangan itu lenyap, barulah ia merangkul leher kudanya, menepuk-nepuk punggung kuda itu sambil berkata.
"Dawuk, kalau aku tidak dapat memadu asmara dengan perawan itu, selama hidupku aku akan merana...."
Kuda yang sudah terbiasa dimanja dan diajak bercengkerama oleh majikannya itu hanya bunyi meringkik buruk.
Sejak pertemuaannya dengan pemuda itu, Ken Endok tidak dapat melupakan dia.
Wajah yang tampan itu, suaranya yang halus itu, selalu terbayang dan terngiang di dalam hatinya.
Siang menjadi kenangan dan malam menjadi impian.
Tentu saja ia tidak pernah berani bercerita tentang pemuda itu kepada siapa pun juga, kepada ayah ibunya pun tidak.
Keadaan perawan yang kini sering melamun itulah yang mendorong ayah ibunya untuk segera menerima pinangan Gajahporo terhadap Ken Endok.
Disangkanya bahwa anak mereka itu, yang sudah remaja puteri, suka termenung karena ingin kawin!
Sudah menjadi anggapan umum di jaman itu bahwa lewat usia enam belas tahun saja belum menikah, seorang dara akan diancam sebutan perawan tua.
Inilah sebabnya mengapa Ken Endok menitikkan air mata ketika di pertemukan sebagai pengantin dengan Gajahporo.
Bukan karena pemuda yang menjadi suaminya itu terlalu buruk rupa atau bercacat.
Tidak.
Menurut ukuran dusun, Gajahporo sudah cukup baik, tidak cacat tubuhnya, rajin, berkecukupan.
Namun dalam batin Ken Endok yang membuat perbandingan antara suaminya dan pemuda pujaannya itu, bagaikan melihat seekor burung gagak dan seekor burung merak!
Dan ini pula yang membuat Ken Endok segan melayani suaminya di pelaminan.
Pada zaman itu, seorang perawan yang menjadi pengantin tidak tergesa-gesa menyerahkan dirinya kepada pria yang menjadi suaminya, apa lagi menyerahkan diri sebelum menikah.
Penyerahan diri pertama kali di pelaminan itu bagi seorang perawan di jaman itu merupakan peristiwa yang teramat penting, juga menimbulkan rasa takut, ngeri dan malu.
Oleh karena itu sudah jamak, Gajahporo tidak menjadi marah dan khawatir.
Dia pun tidak menuntut haknya dengan kekerasan, dan menganggap bahwa isterinya belum mengenal benar keadaan dirinya maka masih malu-malu kucing.
Dia dan isterinya kini tinggal di Dusun Pangkur dan dengan mata rajinnya Gajahporo menggarap sawah mertuanya.
Sudah tiga bulan lewat sejak Ken Endok menjadi isterinya Gajahporo.
Ia sudah tidak begitu sungkan dan malu kepada isterinya, akan tetapi masih juga belum mau melayaninya di pelaminan.
Bagi Gajahporo, hal itu pasti akan terjadi, tinggal menanti saat baik saja sekarang.
Pada suatu hari yang cerah, pagi-pagi sekali Gajahporo telah berangkat ke sawah untuk membajak sawah milik mertuanya yang berada di luar Dusun Pangkur, yaitu di dusun kecil yang bernama Ayugo, agak jauh dari Pangkur.
"Gendok Ken Endok, aku akan berangkat ke sawah di Ayugo. Hujan sudah mulai turun dan sawah itu harus dibajak, nanti kau kirim makan ya?"
"Baiklah, kang,"
Jawab Ken Endok.
"Buatkan sayur jagung untukku, ya? Dan jangan lupa....."
Pria itu menahan kata-katanya dan tersenyum.
"Apalagi, Kang?"
"Jangan lupa malam nanti.... heh-heh, sudah terlalu lama aku bersabar dan engkau berjanji malam nanti...."
"Ihh, Kakang Gajahporo....!"
Ken Endok mengelak dengan kata-kata sambil menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.
Sambil tertawa-tawa Gajahporo berangkat ke sawah, dan diam-diam Ken Endok mengikuti bayangannya dengan pandang matanya.
Ia pun merasa kasihan kepada suaminya itu.
Bagaimana pun juga, Gajahporo seorang suami yang baik dan sabar.
Sayang, kalau saja seganteng pemuda yang dijumpai menunggang kuda itu!
Siapakah gerangan pemuda itu?
Dari mana dan mengapa pula sampai sekarang tak pernah dijumpainya lagi?
Perasaan kecewa dan duka melanda hatinya dan Ken Endok segera pergi ke dapur untuk memasakkan nasi dan sayur jagung pesanan suaminya sambil mencoba untuk mengusir kenangan tentang pemuda ganteng itu.
Pagi itu memang cerah sekali.
Matahari memancarkan cahanya dengan bebas tanpa ada awan hitam yang mengehalanginya.
Jagat raya nampak terang benderang dengan cahaya matahari pagi yang keemasan, dan segala sesuatu nampak baru dan hidup.
Baik yang bergerak maupun yang tidak, makhluk kasar mau pun makhluk halus, semua menyambut Sang Surya dengan penuh kegembiraan.
Burung-burung berkicau dan berlompatan dari dahan ke dahan, gerakannya mengguncangkan daun-daun yang menghujankan mutiara-mutiara embun.
Marga satwa yang baru saja terbebas dari cekaman malam gelap, meninggalkan sarang masing-masing untuk mulai dengan tugas hidup setiap makhluk, yaitu mencari pengisi perut agar tidak mati kelaparan.
Sinar matahari pagi yang sudah mulai naik di langit timur, menerobos di antara celah-celah daun, menciptakan garis-garis putih menembus sisa-sisa kabut pagi.
Keindahan alam di waktu pagi, senja atau kapan saja memang mengharukan bagi siapa saja yang membuka mata batinya untuk mengamati, tanpa penilaian.
Akan nampak oleh mereka yang mengamati tanpa menilai bahwa di mana-mana terkandung kebesaran, keajaiban dan keindahan yang tak tertuturkan kata-kata.
Di dalam sinar yang mengusir kegalapan itu, di dalam kicau burung, di dalam embun yang bergantungan pada ujung daun kemudian berhamburan jatuh, di dalam ulat yang memakan daun-daun, di dalam daun kering yang berguguran dan berserakan di bawah pohon.
Di dalam semua itu terkandung hikmah suci tentang hidup dan mati, dua serangkai yang takan pernah terpisahkan, hidup dan mati yang saling berkesinambungan, saling dorong, saling memberi pupuk.
Dara yang melangkah seenaknya melalui jalan itu tidak mempengaruhi suasana.
Bahkan nampak serasi, seolah ia memang sudah seharusnya di situ dan berjalan di tempat itu.
Ken Endok menggendong sebuah bakul berisi nasi, sayur jagung dan bakaran ikan lele, juga sambal dan sebuah kendi penuh air jernih.
Suasana pagi yang cerah itu juga mencerahkan hatinya yang sudah berhasil melupakan wajah yang selalu membayanginya.
Ia bersenandung kecil, dan begitu bersenandung, dara ini teringat lagi akan Ki Bagus yang selama ini dirindukannya.
Tembangnya pupuh Kinanthi.
Ana kupu kuning mabur, saya dhuwur saya mencit Kepireng tangise kembang, gage deniro marani Arsa jampeni kang lara, lara sajroning ati "Duhai, Nimas Ken Endok, betapa trenyuh hatiku mendengar rintihan hatimu itu.
Ah, agaknya aku telah bersikap kejam terhadap dirimu, Nimas....!"
Ken Endok terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja di depannya telah berdiri seorang pemuda yang bukan lain ialah Ki Bagus yang selama ini membuatnya tidak nyenyak tidur tak enak makan!
Dan kini pemuda itu nampak lebih elok daripada ketika ia melihat yang pertama kali.
Dada yang tak berbaju itu nampak bidang dan penuh, berkulit halus namun di dalamnya membayang kekuatan yang membuat jantungnya tergetar hebat.
Ken Endok merasa malu bukan main teringat akan tembangnya tadi.
Betapa tidak?
Tembangnya tadi berarti.
"Ada kupu-kupu kuning terbang makin tinggi, mendengar tangisnya kembang, segera menghampirinya untuk mengobati yang sedang sakit di dalam hatinya!"
Tembang itu, secara halus mengungkapkan rasa rindunya walaupun tidak ditujukan kepada suatu nama.
Kupu kuning lagi wuyung, mirsani kembang melati, Wus tinandur keboning wong, den klilingi pager adi, Gandane anggambar-ambar, arep melik ora wani!
Mendengar suara yang lembut itu juga kini bertembang Kinanti dengan kata-kata penuh sindiran.
Ken Endok menudukkan mukanya.
Bakul yang dibawanya hampir terlepas karena tangannya menggigil.
Tembang itu berarti.
"Kupu-kupu kuning sedang berduka, melihat kembang melati sudah ditanam orang lain. Dikelilingi pagar susila, baunya harum semerbak hati ingin memetik apa daya tiada keberanian!"
Berdegup-degup rasa jantung di dalam dada Ken Endok.
Sejak ia menjadi isteri Gajahporo belum pernah mereka sepelaminan.
Belum pernah mereka bermain cinta.
Semua ini terjadi karena ia belaka, rindu kepada pria ini.
Sekarang pria idamannya sudah berada di depannya, bahkan menembangkan kata-kata yang menyatakan keinginan hatinya.
Ia tahu bahwa kalau sekali ini ia tidak berani nekat, selama hidupnya ia akan menyesal dan hidupnya merana, sengsara.
Maka ia pun memberanikan dirinya dan mengangkat mukanya.
Dua pasang mata bertemu pandang terjadi getaran-getaran melalui sinar mata itu yang langsung mengusik hati.
Pandang mata mereka saling melekat, seperti melekatnya dua perasaan hati yang tidak nampak.
"Aduh, Raden, saya mohon agar Raden tidak mencabik-cabik hati saya. Biarpun saya telah dinikahkan dengan Gajahporo, namun demi para Dewata, sampai saat ini saya masih suci, masih menjadi isteri orang secara sah."
"Duh Jagat Dewa Bathara....!"
Pria itu melangkah dekat sehingga mereka kini berhadapan dekat sekali, dapat saling merasakan hembusan nafas yang keluar dengan tersendat-sendat.
"Benarkah itu, Nimas? Engkau......engkau masih perawan seperti dulu? Kenapa? Kenapa setelah engkau menjadi isteri Gajahpuro, engkau tidak mau melayaninya?"
Ken Endok sudah nekat. Rasa malu dibuang jauh-jauh.
"Duhai Raden, tidak tahukah Paduka ataukah hanya pura-pura tidak tahu saja? Semenjak pertemuan kita yang pertama kali itu, Raden, jiwa raga ini telah kujanjikan kepada diri sendiri untuk kuserahkan kepada Paduka, bukan kepada pria yang lain....."
"Nimas Ken Endok.....!"
Pria itu berseru dan merangkulnya.
Merasa betapa sepasang lengan yang kuat merangkulnya dan mendekapnya, Ken Endok hampir saja terkulai pingsan dan ia menyadarkan kepalanya pada dada yang bidang dan berbau cendana itu.
"Kau.... kau bersungguh-sungguh, Nimas? Tidak berbohong?"
"Saya bersumpah, demi para Dewata. Raden. Kalau saya berbohong, biarlah Sang Hyang Brahma yang mengutuk saya......emmmmmmm......"
Gadis itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kata-kata saja mulutnya yang masih bicara dan setengah terbuka itu telah ditutup oleh sepasang bibir pria itu dalam ciuman yang membuatnya kembali terkulai dan memejamkan mata, merasa seperti hanyut dan terseret gelombang samudera amat kuat.
"Kenapa..... kenapa kau lakukan itu.....? Kenapa..... kenapa kau lakukan itu?"
Setelah ciuman itu dilepaskan, gadis itu berbisik-bisik, mengulang-ulang kata-katanya sehingga seolah-olah pertanyaan itu bermaksud mengapa pemuda itu menghentikan perbuatannya!
"Nimas Ken Endok, jangan kau bersembarangan bersumpah, apalagi kepada Sang Hyang Brahma, karena ketahuilah bahwa aku adalah titisan Sang Hyang Brahma sendiri!"
Pemuda itu tertawa, maksudnya berkelakar saking girangnya hati.
Akan tetapi kelakar ini dianggap sunguh-sungguh oleh Ken Endok dan karena terkejut, dara itu hampir roboh pingsan, terkulai dan menjatuhkan diri berlutut, menyembah-nyembah kaki pemuda itu!
Sambil tertawa-tawa pemuda itu lalu memondong tubuh Ken Endok dan dibawanya ke arah sebuah gubuk di tengah sawah yang agak jauh dari jalan itu.
Pada waktu itu, orang baru saja selesai membajak dan menanam padi.
Belum ada padi yang perlu dijaga dari gangguan burung, maka sawah itu lengang dan gubuk-gubuk di situ kosong.
"Nimas, engkau benar-benar mau menyerahkan jiwa ragamu kepadaku?"
Bisik pria itu setelah dia merebahkan tubuh Ken Endok di dalam gubuk. Dara itu membuang muka saking malunya, akan tetapi mengangguk perlahan.
"Kalau engkau mau menjadi garwaku, engkau tidak boleh berdekatan dengan pria lain, termasuk suamimu, Bagaimana?"
"Sampai mati aku tidak mau dijamah pria lain, paduka adalah junjungan hamba, Paduka adalah suami hamba, Paduka adalah Sang Hyang Brahma...."
"Ha-ha-ha!"
Pria itu tertawa geli dan gembira dan tidak lama kemudian, tidak terdengar lagi percakapan mereka kecuali hanya desahan-desahan dan gubuk yang hanya terbuat dari bambu itupun terguncang-guncang.
Kalaupun pandang mata sudah berpadu senyum mengandung lautan madu Uluran tangan sudah pula disambut Segala sapa sudah dijawab Kalau dua hati sudah bersatu Segala pun bisa terjadi!
Melihat isterinya berkali-kali muntah-muntah tanpa mengeluarkan apa-apa dari mulutnya, Gajahporo terkejut dan merasa heran bukan main.
Sudah diusahakan pengobatan pada istrinya, namun sia-sia saja, bahkan istrinya menolak untuk dipanggilkan dukun.
Wajah istrinya nampak pucat, namun ada cahaya yang membuat wajah itu menjadi semakin cantik.
Karena kehabisan akal, Gajahporo lalu minta nasihat ibunya.
Ibunya segera datang menengok mantunya betapa kaget hati mereka berdua ketika nenek yang sudah berpengalaman itu berkata dengan girang.
"Kamu ini bagaimana, to, Le (nak)? Lha wong istrimu mengandung gitu kok kebingungan sendiri, hik hik!"
Ibu ini tentu saja girang melihat mantunya hamil. Akan tetapi yang terkejut adalah Gajahporo dan Ken Endok.
"Mengandung? Tidak!!"
Gajahporo berseru dengan kaget sambil memandang ke arah perut isterinya. Memang agak lain dari biasanya. Biarpun ditutup bengkung, masih nampak mengandung.
"Ken Endok katakan bahwa hal itu tidak benar!"
Akan tetapi Ken Endok tidak menjawab, menundukkan mukanya, kemudin malah lari memasuki biliknya dan menangis. Tentu saja Gajahporo dan ibunya terkejut dan cepat mengejar lalu memasuki kamar itu.
"Genduk, apa yang terjadi?"
Ibu mertua itu membujuk mantunya, sedangkan Gajahpuro berdiri dengan alis berkerut dan kedua tangan terkepal. Dia merasa terhina sekali.
"Aku....... aku agaknya memang.... mengandung....."
"Tidak mungkin!"
Kembali suaminya membentak.
"Sejak menikah dengan aku belum pernah satu kali pun campur, mana bisa mengandung?"
Ibunya terkejut mendengar ini dan menyadari gawatnya persoalan. Akan tetapi sebagai seorang wanita tua yang berpengalaman, ia tidak melampiaskan rasa penasaran dan marahnya. Ia merangkul Ken Endok.
"Genduk, benarkah apa yang dikatakan suamimu tadi bahwa engkau selama menikah ini belum pernah melayaninya?"
Ken Endok menubruk ibu mertuanya sambil menangis.
"Aduh ibu.....ampunkan saya..., apa yang dikatakan Kakang Gajahporo memang benar..."
"Ehh....?Kalau begitu, lalu bagaimana engkau bisa mengandung?"
"Huh, apa lagi kalau pelacur ini tidak bermaksud gila dengan laki-laki lain!"
Bentak Gajahpuro dengan mata merah.
"Perempuan seperti ini sepantasnya dibunuh saja!"
"Eh, jangan gila, anakku!"
Ibunya melarang dan melindungi Ken Endok dalam dekapannya.
Akan tetapi Ken Endok tidak takut.
Memang dara yang pernah menjadi kembang Dusun Pangkur ini memiliki ketabahan mengagumkan.
Ia bangkit dari dekapan ibu mertuanya.
"Kakang Gajahporo! Aku memang telah bersalah kepadamu, akan tetapi engkau bicara sembarangan saja! Aku memang telah berenang dalam lautan asmara dengan pria lain, akan tetapi tidak tahukah engkau siapa pria ini? Dia adalah Sang Hyang Brahma sendiri!"
"Bohong! Cuhh! Bohong!"
Dia meludah.
"Siapa percaya obrolanmu?"
"Sssttt..... jangan kurang ajar, Gajahpuro. Tidak boleh bicara seperti itu terhadap Sang Hyang Brahma....!"
Wanita tua itu cepat-cepat menyembah.
"Tapi ia bohong! Mana mungkin....."
"Diamlah dan biarkan Ken Endok menceritakan pertemuannya dengan Sang Hyang Brahma."
Pada jaman itu umumnya orang amat percaya kepada dewa yang menguasai jagat raya dan kehidupan manusia, maka sikap ibu dan Gajaporo ini sama sekali tidaklah mengherankan.
Sambil menangis dan suara terputus-putus ken Endok lalu bercerita betapa mula-mula ia bertemu dengan Sang Hyang Brahma yang menjelma menjadi seorang pemuda priyayi yang menunggang kuda.
Betapa kemudian dewa itu muncul kembali di tengah jalan ketika ia mengirim nasi suaminya ke ladang Ayugo dan di tengah perjalanan itulah ia menerima cinta kasih Sang Dewa.
"Pantas nasinya hambar dan sayurnya asam!"
Bentak Gajahporo marah.
"Hush, tutup mulutmu! Ibunya menghardik.
"Di mana terjadinya itu Ken Endok?"
"Di tegal Lalateng, aku.....aku dibawanya terbang ke langit ke tujuh....."
Terpaksa Ken Endok membohong karena ia takut kalau-kalau suaminya itu membunuhnya.
Kembali wanita itu hanya menyembah dan kini Gajapuro sendiri termangu-mangu, merasa gentar.
Kalau benar cerita istrinya, wah....jangan-jangan Sang Hyang Brahma akan menghukumnya.
"Sudah beberapa kali kau.... kau.... begitu?"
Akhirnya suami ini bertanya. Bagaimana pun juga, kedua pipi itu menjadi merah dan sambil menundukkan mukanya Ken Endok berterus terang.
"Tiga kali, Kakang.....dan beliau berpesan bahwa sebelum anak ini terlahir, aku tidak boleh disentuh pria lain, dan kelak kalau anak ini terlahir laki-laki agar diberi nama Ken Arok"
Hampir saja Gajahporo membentak "bohong"
Lagi, akan tetapi kini dia mulai agak takut.
"Jagat Wasesaning Bathara......!"
Ibunya mengeluh dan memanjatkan doa ke atas.
"Segala kehendak Sang Hyang Brahma pun terjadilah!"
Dan ia pun bergegas meninggalkan rumah anaknya dengan hati gembira.
Ada berita yang amat menggembirakan dibawanya.
Ia tidak akan merasa malu, malah bangga!
Anak mantunya dipilih oleh Sang Hyang Brahma.
Maka nenek inilah yang membawa berita menggembirakan itu bahwa Ken Endok anak mantunya, mengandung keturunan Sang Hyang Brahma!
Di dalam dunia ini, segala keadaan tidaklah dapat dikatakan baik atau buruk karena memang tidak ada sifat demikian.
Baru timbul sifat baik atau buruk kalau sudah dinilai orang.
Ketahyulan seperti yang menghuni batin ibu Gajahporo itu, baik atau burukkah?
Ketahyulan itu adalah suatu keadaan yang tak dapat diubah lagi pada saat itu, suatu keadaan yang terjadi dan timbul karena suasana, karena kebudayaan, karena lingkungan dan karena jamannya.
Baik atau buruk?
Bisa dibilang baik tentu bisa pula disebut buruk, karena penilaian itu mengandung unsur keduanya.
Kalau ada baiknya tentu saja ada buruknya, dan sebagainya lagi.
Sampah itu buruk, kotor, sarang penyakit, kan tetapi di pihak lain juga pupuk yang baik sekali!
Tahyul itu bodoh dan menimbulkan diri orang lain kadang-kadang, akan tetapi dilain pihak, tahyul merupakan suatu kekuatan iman yang kadang-kadang bermanfaat pula bagi diri sendiri.
Ada penyakit yang berat dapat sembuh begitu saja hanya dengan ditiup ubun-ubunnya!
Kalau mulai sekarang kita memandang segala sesuatu TANPA PENILAIAN, mungkin saja mata batin kita akan menjadi lebih waspada.
Mudah-mudahan!
"Tidak, bagaimanapun, malam ini engkau harus melayaniku!
Aku berhak atas dirimu, Ken Endok!
Bukankah engkau istriku dan aku sudah menyerahkan segala syarat ketika meminangmu?
Beberapa ekor kerbau dan sapi juga tenagaku beberapa lama diperas ayahmu mengerjakan sawah ladang.
Malam ini, mau tidak mau, kau harus melayani aku sebagai seorang istri!"
"Tapi, Kakang. Aku sedang dalam keadaan hamil!"
"Hamil atau tidak, peduli amat! Bukan aku yang menghamili! Hayo!"
Gajahpuro yang sudah merasa cemburu dan marah itu lalu menangkap lengan istrinya dan menariknya ke dalam bilik tempat tidur mereka.
"Kakang, engkau akan kualat, akan berdosa terhadap Sang Hyang Brahma!"
"Bohong! Hanya bualanmu saja...."
Tiba-tiba sepasang mata Gajahporo terbelalak ketika entah dari mana datangnya, seorang pemuda yang tampan tahu-tahu telah berdiri di dalam rungan itu!
Melihat pemuda itu, Ken Endok meronta dan melepaskan diri dari rangkulan suaminya dan lari menghempiri pemuda itu.
"Raden.....!"
Dan ia menjatuhkan diri di depan kakinya sambil menangis.
Gajahporo melihat bahwa yang datang itu sama sekali bukan Sang Hyang Brahma seperti yang pernah didengarnya dalam dongeng dan dilihatnya dalam bentuk arca, maka keberaniannya timbul.
"Keparat, jadi engkau yang telah merusak pagar ayuku dan menjinahi istriku? Engkau harus kubunuh!!"
Berkata demikian, Gajahporo yang sudah marah sekali itu menyambar sebatang arit yang terselip di bilik lalu menyerang dengan cepatnya.
Akan tetapi, pemuda itu tersenyum dan miringkan tubuh.
Ketika arit itu meluncur cepat, tangan kirinya dengan jari-jari terbuka miring menghantam tepat dan mengenai tengkuk Gajahpuro.
"Kekk.....! Tubuh Gajahporo tersungkur dan disusul sebuah tendangan yang mengenai lambungnya.
"Ngekkk....!"
Dan tubuh itu pun tidak bergerak lagi. Melihat ini, ken Endok ketakutan dan menangis.
"Ah, Raden, bagaimana ini.....?"
"Jangan khawatir. Dia tidak akan berani menggangumu lagi. Sekarang juga, kau pulanglah ke rumah orang tuamu, mari kuantar sampai di sini dan mulai besok, kau harus minta cerai darinya."
Ken Endok hanya menyetujui dan ia pun pulang ke rumah orang tuanya, diantar sampai dekat rumah oleh pemuda itu yang lalu sekali meloncat sudah lenyap dari situ.
Kecepatannya bergerak seperti terbang saja sehingga menyakinkan hati Ken Endok bahwa anak dalam kandungannya memang seorang Dewa!
Orang tuanya juga tak berani banyak cakap ketika menerima anak mereka karena mereka pun sudah mendengar yang disebarluaskan oleh ibu Gajahporo tentang anak mereka yang dipilih oleh Sang Hyang Brahma itu.
Siapakah sebenarnya orang muda tampan yang mengaku titisan Sang Hyang Brahma itu?
Tentu saja dia bukan dewa melainkan manusia biasa.
Tentang dia keturunan atau titisan Sang Hyang Brahma, atau Syiwa, atau Wisnu, siap tahu?
Namanya adalah Ginantoko, seorang yang masih keponakan dari seorang senopati di Kadipaten Tumapel.
Bukan darah adipati atau raja muda, akan tetapi juga termasuk seorang keluarga priyayi.
Ginantoko ini tinggal di Tumapel dan dia seorang yang memiliki aji kesaktian karena dia seorang murid dari Empu Gandring yang amat terkenal itu.
Sebetulnya, Ginantoko bukan seorang perjaka lagi.
Dia sudah mempunyai seorang istri yang pada waktu itu sedang mengandung.
Mungkin karena istrinya sedang mengandung itulah, maka ketika dia bertemu dengan Ken Endok yang merupakan seorang perawan dusun yang manis, dia tergila-gila dan menggodanya sehingga dia menghamili gadis itu dengan menyamar sebagai titisan Sang Hyang Brahma.
Hal itu dilakukan dengan dua maksud.
Pertama agar gadis tunduk dan rela menyerahkan diri, kedua agar perbuatannya itu dapat tersembunyi karena dia pun tidak pernah memperkenalkan dirinya.
Kalau sampai diketahui orang bahwa dia menjinai istri orang, tentu pamannya yang menjadi senapati akan marah sekali!
Memang, Ginantoko yang sakti itu dalam usianya yang belum ada tiga puluh tahun, memiliki kelemahan yang lazim pada kebanyakan pria, yaitu tukmis (batuk kelimis), alias mata keranjang!
Namun karena dia tampan dan sakti maka banyaklah wanita yang bertekuk lutut menyerahkan diri kepadanya tanpa dia pernah menggunakan pemaksaan.
Ginantoko menjadi murid Empu Gandring sejak berusia sepuluh tahun dan dia sesungguhnya masih terhitung keponakan Empu Gandring sendiri.
Seperti tercatat dalam sejarah, Empu Gandring adalah seorang pembuat keris yang kenamaan di Kerajaan Tumapel.
Akan tetapi selain ahli pembuat keris, dia juga memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan seorang yang sakti mandraguna.
Ginantoko mempelajari pembuatan keris sekedarnya saja akan tetapi lebih tekun mempelajari ilmu kanuragan dan aji kesaktian.
Karena dia seorang yang mata keranjang, tampan dan pandai merayu wanita, maka banyak wanita, baik gadis maupun sudah bersuami, yang pernah menjadi kekasihnya secara sembunyi-sembunyi.
Kalau tidak terpaksa sekali, jarang dia memperkenalkan namanya yang asli, seperti ketika merayu Ken Endok, dia pun bahkan mengatakan sebagai titisan Sang Hyang Brahma.
Akan tetapi, agaknya sudah lazim di dunia ini bahwa seorang pria yang memiliki watak mata keranjang, dia bukan seorang yang pecinta sejati dalam arti kata dia tidak mengenal apa yang dinamakan kesetiaan.
Dia mudah bosan dan melupakan yang lama begitu dia mendapatkan yang baru.
Demikian pula halnya dengan Ginantoko.
Dia selalu menghubungi seorang wanita untuk beberapa bulan saja, atau paling lama setelah wanita itu mengandung, maka dia pun tentu akan meninggalkannya!
Apalagi kalau matanya yang berminyak sudah memperoleh seorang calon mangsa baru.
Kalau dikaji benar, sifat mata keranjang agaknya memang sudah menjadi pembawaan setiap pria di dunia ini, atau bahkan mungkin menjadi pembawaan setiap makluk jantan di dunia ini yang condong untuk berwatak poligami, yaitu ingin memiliki lebih dari satu kawan hidup atau istri.
Hanya saja, manusia mengenal cinta atau kesetiaan dan inilah yang menjadi pengekangnya.
Hanya mereka yang tidak mempunyai cinta dan kesetian, maka dia akan menjadi liar dan condong oleh sifatnya yang mata keranjang.
Dalam hal ini, pria yang bernama Ginantoko tidak sadar bahwa kebiasaannya itu amat buruk.
Bahkan tidak menjadikannya merasa malu.
Sebaliknya malah, dia akan merasa bangga merasa seperti menjadi seorang Arjuna yang digilai banyak wanita.
Betapa tidak?
Bukankah Sang Arjuna yang di dunia pewayangan dijuluki "lelananging jagat" (jantan dunia) juga seorang pria mata keranjang dan mempunyai banyak sekali istri dan kekasih gelap?
Jahatkah sifat mata keranjang seperti yang dimiliki Ginantoko atau Sang Arjuna sekalipun itu?
Ini pun tergantung pada diri penilai.
Kalau saja dia berhubungan dengan wanita atas dasar suka sama suka dan wanita itu masih bebas , siapa dapat mengalahkan dia atau wanita itu?
Asalkan dia tidak diperkosa, mempergunakan kekerasan memaksa wanita, atau asal tidak menggoda wanita yang sudah bersuami sehingga rumah tangga suami istri itu jadi hancur.
Di sinilah letak kesalahan Ginantoko, seperti juga yang sering dilakukan oleh Sang Arjuna, Ginantoko tidak lagi memperhitungkan apakah wanita itu bersuami ataukah tidak.
Kalau bertemu seorang cantik yang berkenan di hatinya, lalu wanita itu membalas lirikannya, membalas senyumnya, tentu dia merayu sampai wanita itu berhasil tidur dalam pelukannya, tanpa memperdulikan apakah wanita itu istri orang atau bukan.
Dan hal ini tentu saja berakibat panjang Ginantoko dimusuhi banyak suami yang merasa cemburu!
Akan tetapi Ginantoko seorang murid Empu Gandring yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga ketika melihat Ken Endok hendak dipukul suaminya saja, dia yang memang melakukan pengamatan lalu turun tangan dan memukul roboh suami wanita itu!
Dan masih banyak suami-suami terdahulu yang dirobohkannya kalau berani menyerangnya karena cemburu.
Kalau sudah demikian, maka tentu saja petualangan asmaranya itu sudah termasuk jahat karena merugikan orang lain.
Pernah Empu Gandring menegur dan memberi nasihat kepada murid dan juga keponakannya ini.
"Ginantiko, kenapa engkau masih juga belum mau mengubah sepak terjangmu dalam hidup yang penuh dengan penyelewengan itu? Kemarin aku menerima pelaporan Ki Demang Gawangan yang mengabarkan bahwa seorang selirnya kau ganggu."
Ginantoko tersenyum menghadap gurunya dan juga pamannya itu.
"Paman, kalau selir Demang itu sendiri yang suka kepada saya, lalu melayani hasratnya, bukankah berarti saya yang telah menolongnya, juga membantu Ki Demang agar selirnya itu tidak menjadi terluka dan sakit hati karena Ki Demang yang sudah tua tidak mampu melayani hasratnya yang bernyala-nyala?"
Mau tidak mau Empu Gandring tersenyum juga.
Keponakannya ini memang pandai bicara, dan teringatlah dia akan nasib adiknya, ayah dari Ginantoko, yaitu Empu Krepo.
Adiknya itupun memiliki watak yang sama dengan Ginantoko, hanya karena adiknya itu tidak setampan Ginantoko, maka banyak wanita yang menolaknya sehingga pada suatu hari dia melakukan pemaksaan atas diri seorang wanita dan akibatnya dia harus menebus dengan nyawa karena dia dikeroyok oleh suami dari wanita itu bersama teman-temannya.
"Jangan begitu, Nantoko. Kalau kau lanjut-lanjutkan, akhirnya engkau pun akan terancam bahaya maut, karena pria mana yang tidak akan merasa sakit hatinya kalau melihat istrinya diganggu pria lain? Musuhmu menjadi bertambah banyak dan engkau tahu diri, ilmu kadigdayaan itu ada batasnya. Setinggi-tingginya Gunung Mahameru, masih ada langitnya dan bintang yang tak terhitung yang jauh lebih tinggi lagi. Sepandai-pandainya orang, tentu akan ada yang lebih pandai lagi."
Ginantoko mengerutkan alisnya.
"Maaf, Paman. Saya kira mati bukanlah urusan kita, setiap orang pada akhirnya maesti mati. Kalau Yang Maha Kuasa mneghendaki, saya tidak akan mati biar dikeroyok seribu orang sekalipun. Akan tetapi kalau Sang Hyang Syiwa sudah menghendaki, biar saya bersembunyi di lubang semut, maut akan datang juga menjemput. Ada yang mati dalam perang karena dia perajurit, mati dalam perkelahian karena pendekar, dan kalau saya mati karena urusan perempuan yang memang menjadi kesukaan saya, maka saya pun sudah rela."
Mendengar bantahan itu, Empu Gandring hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Kehendak Hyang Widhi tak dapat diubah oleh siapa pun juga...."
Keluhnya.
Bagi Ginantoko, ucapan itu dikiranya membenarkan pendapatnya tadi, padahal maksud Empu Gandring adalah lain.
Dia melihat dengan indra ke enamnya bahwa pemuda itu akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti mendiang ayahnya.
Dia sudah mencoba untuk mengingatkan.
Nasib seorang bergantung di dalam tangannya sendiri.
Kalau orang mau mengubah kebiasaan yang buruk, tentu nasibnya akan berubah pula.
Semenjak Ken Endok bercerai dari suaminya dan wanita yang sudah mengandung ini tinggal di Dusun Pangkur dan bekas suaminya Gajahporo tinggal di Dusun Cempoko, terdengar berita bahwa lima hari setelah perceraian itu, Gajahporo meninggal dunia!
Hal ini sebenarnya terjadi karena luka di sebelah dalam tubuhnya akibat pukulan dan tendangan Ginantoko yang sakti.
Akan tetapi karena berita bahwa Ken Endok dipilih Sang Hyang Brahma sebagai istri dan telah mengandung keturunan dewa itu, maka ramailah orang mempercakapkan kematian itu.
Sebagian besar mengatakan bahwa tentu Gajahporo telah melakukan pelanggaran, hendak menggauli istrinya, terkena kutuk dan kualat!
Dan malanglah bagi Ken Endok, sejak bercerai dan kematian bekas suaminya.
Sang Arjuna tidak pernah muncul lagi!
Agaknya setelah ia mengandung.
Laki-laki tampan itu tidak berminat lagi mendekatinya dan jadilah Ken Endok seorang janda yang mengandung tua tanpa suami!
Mulailah penyesalan datang dalam hati wanita ini.
Penyesalan yang sudah terlambat.
Dan memang sesal kemudian tidak ada gunanya sama sekali, hanya mengundang kedukaan dan kekeruhan pikiran yang akan menimbulkan perbuatan-perbuatan yang sesat pula.
Kadang-kadang, kesenangan sekelumit yang dinikmati akan mendatangkan penyesalan selama hidup.
Oleh karena itu, sekali lagi, orang bijaksana tidak akan MENGEJAR KESENANGAN, walaupun hal ini bukan berarti menolak kesenangan yang sudah menjadi hak setiap manusia untuk menikmatinya.
Kandungannya semakin tua dan hatinya semakin trenyuh.
Pria yang diidamkannya tak kunjung datang biar pun setiap malam ia sudah bersembahyang memohon kepada Sang Hyang Brahma agar berkenan mengunjunginya.
Tentu saja sebagai seorang yang percaya penuh akan anggapan bahwa ayah anak yang dikandungnya adalah Sang Hyang Brahma, Ken Endok tidak berani marah dan hanya tenggelam dalam kesedihannya saja.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tentu saja tidak lepas dari pada ikatan sebab dan akibat.
Ada akibat tentu ada sebabnya, dan ada sebab tentu saja ada akibatnya.
Pada suatu pagi, dua pasang manusia sedang berkasih-kasihan di tepi Sungai Brantas, di lembah yang hijau subur.
Mereka berdua saling berangkulan dengan asyik masyuk, lupa akan keadaan di sekeliling mereka.
Seolah-olah di dalam dunia hanya ada mereka berdua yang perempuan adalah seorang muda paling banyak dua puluh lima tahun, berkulit agak hitam, akan tetapi hitam manis.
"Ihh, kau nakal, Kakangmas!"
Si perempuan menepiskan tangan Ginantoko yang jahil dan mengakibatkan kemben wanita itu terlepas. Ginantoko merangkul dan mencium bibir itu dengan mesra, membuat si wanita hanya dapat merintih.
"kenapa nakal? Bukankah kita sudah sering melakukan?"
"Benar, akan tetapi di malam hari, dan di tempat yang tersembunyi. Bukan pagi-pagi hari begini."
"Apa bedanya? Di sini pun sunyi dan pagi ini cerah sekali, hawanya sejuk menimbulkan selera...."
"Ihh, kau tak puas-puasnya!"
"Mana bisa puas menghadapi seorang wanita sepertimu, Diajeng Galuhsari? Kalau bisa, kau ingin kutelan agar selamanya berada dalam diriku."
"Hiiih, apa kau mau menjadi Buto Ijo?"
Wanita itu cemberut dan mereka tertawa-tawa sambil bermesraan.
Dua insan itu sama sekali tidak mengira bahwa agak jauh dari tempat itu, di balik semak belukar, terdapat lima pasang mata yang mengintai semua gerak-gerik mereka.
Lima pasang mata yang semakin lama semakin merah menyala saking marahnya.
Andaikata dua insan itu tidak sedang tenggelam dalam nafsu birahi, tentu mereka akan dapat mengetahui bahwa mereka sedang diintai bahaya.
Ginantoko adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna dan pendengaran dan penglihatannya sudah terlatih dengan amat baik sehingga kedatangan orang yang mendatangkan sedikit suara saja sudah akan dapat ditangkapnya.
Juga wanita hitam manis itu bukan sembarangan.
Wanita yang bernama Galuhsari itu adalah istri dari ketua perkumpulan Sabuk Tembaga yang terkenal sebagai perguruan pencak silat yang terkenal.
Dan sebagai istri ketua perkumpulan itu, tentu saja Galuhsari juga pandai ilmu bela diri dan tidak sembarang orang, biar dia laki-laki, mampu mengalahkannya.
Kalau dia sampai jatuh hati dan mau saja dipermainkan dalam cinta oleh Ginantoko adalah karena pertemuan mereka yang pertama kali amat terkesan di hatinya karena ia dikalahkan oleh Ginantoko!
Pertemuan itu terjadi di dalam hutan ketika Galuhsari sedang memburu kijang.
Ketika ia melepaskan anak panah, tiba-tiba saja anak panahnya itu disambar orang dan Ginantoko menangkapkan kijang itu hidup-hidup untuknya.
Mula-mula Galuhsari marah dan terjadi perkelahian di antara mereka, namun Ginantoko mempermainkan wanita itu yang akhirnya terjatuh ke dalam pelukannya!
Siapakah lima orang yang sedang mengintai dari balik semak belukar itu?
Bukan lain adalah Ki Bragolo sendiri, ketua dari perkumpulan Sabuk Tembaga!
Dan yang empat orang adalah murid kepala yang sudah memiliki tingkat paling tinggi di antara para murid Sabuk Tembaga.
Mudah saja dibayangkan betapa perasaan hati Ki Bragolo menyaksikan istrinya bermain cinta begitu bebasnya di alam terbuka, tanpa malu-malu sama sekali!
Dan yang membuat dia semakin panas hatinya, belum pernah istrinya bersikap seberani dan segairah itu apabila bermain cinta dengan dia, suamiya!
Galuhsari telah menjadi istrinya selama hampir sepuluh tahun, ketika wanita itu baru menginjak usia enam belas tahun dan dia sendiri sudah lima puluh tahun, Kini usianya sudah enam puluh tahun.
Namun Ki Gragolo adalah seorang kakek yang betubuh tinggi besar seperti raksasa, dengan tenaga gajah dan senjatanya yang ampuh, yaitu sabuk tembaga, yang juga menjadi nama perguruannya, amat ditakuti orang!
Tentu saja Ki Bragolo tidak kuasa menahan lagi kesabaran hatinya.
Dia tidak rela membiarkan istrinya itu menikmati permainan cinta liar itu sampai puas, dan dengan penuh kemarahan dia meloncat keluar diikuti oleh empat orang muridnya, yaitu empat laki-laki yang usianya rata-rata sudah tiga puluh tahun lebih.
Mereka berempat juga merasa panas hatinya melihat betapa istri guru mereka bermain cinta demikian mesranya dengan Ginantoko.
Mereka semua diam-diam juga tergila-gila pada istri guru mereka yang cantik, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka pernah memperoleh kesempatan mencicipi madu kembang itu yang sama sekali memperlihatkan sikap ramah atau mesra kapada pria lain.
Dan kini tahu-tahu bermain cinta sedemikian mesranya dengan laki-laki lain.
Tentu saja Ginantoko dan Galuhsari terkejut bukan main melihat keluarnya lima orang itu, apalagi ketika mengenal bahwa yang keluar itu Ki Bragolo sendiri bersama empat orang murid cabang atas.
Wajah Galuhsari menjadi pucat, akan tetapi cepat ia membereskan pakainnya.
Ginantoko sendiri memperlihatkan sikap seorang petualang asmara yang tulen.
Dengan amat tenangnya, sambil tersenyum, dia membereskan pakaiannya, bahkan sempat membereskan gelungan rambutnya sebelum menghadapi lima orang itu sambil tersenyum ramah!
"Kiranya paman Ki Bragolo yang datang.
Selamat pagi, Paman."
Dapat dibayangkan betapa dada raksasa tua itu seperti akan meledak! Dengan mata melotot seperti akan keluar dari pelupuknya, Ki Bragolo membentak.
"Ginantoko, jahanam keparat! Engkau telah merusak pagar ayu, mengganggu istriku dan engkau masih bersikap seperti ini dan tidak lekas berlutut minta ampun?"
Ginantoko tersenyum lebar dan mengusap keringat di leher dan dahinya. Permainan asyik dan masyuk bersama kekasihnya tadi membuat dia berkeringat.
"Paman Ki Bragolo, seorang laki-laki tidak akan melarikan diri dari kenyataan, tidak akan melarikan diri dari tanggung jawab. Memang aku dan Diajeng Galuhsari saling mencintai. Itulah kenyataan dan sekarang terserah kepada Paman. Untuk apa aku minta ampun?"
"Babo-babo! Sumbarmu seperti dapat memecahkan batu hitam! Ginantoko, perbuatanmu yang laknat itu hukumannya hanya satu yaitu hukuman mati!"
"Hemmm, begitukah, paman? Dan siapa gerangan orang yang akan menghukum aku?"
"Akulah yang akan membunuhmu, keparat!"
Bentak seorang di antara murid Ki Bragolo, dan dia sudah menerjang ke depan setelah dia tadi melolos sabuknya.
Setiap murid perguruan Sabuk Tembaga selalu memakai sebuah sabuk terbuat dari tembaga di pinggangnya, dan tingkat mereka dapat diukur dari tebal tipis dan berat ringannya sabuk itu.
Kini penyerang yang tingkatnya sudah paling tinggi di antara murid-murid itu, sabuknya tebal dan besar, tidak kurang dari lima kilo beratnya.
"Wirr......!"
Sabuk yang berat dan panjangnya tidak kurang dari satu meter itu diayun di atas kepalanya lalu turun menyambar ke arah kepala Ginantoko.
Pemuda itu masih tersenyum, lalu dengan sedikit miringkan kepala, sambaran sabuk itu pun luput.
Penyerangnya penasaran dan sabuk itu tidak berhenti, terus membuat gerakan melengkung dan membalik, kini menyambar ke arah dada Ginantoko.
Ginantoko tidak beranjak dari tempat dia berdiri hanya kini tangan kirinya menangkis sambaran sabuk tembaga itu.
Sungguh perbuatan yang berani sekali, menangkis sambaran senjata itu dengan tangan kosong saja.
"Plakk! Desss!"
Dan tubuh murid pertama itu pun terpelanting.
Kiranya lengan kiri Ginantoko kebal dan dapat menangkis senjata itu dan berbareng dia sudah mengirim tendangan yang mengenai perut lawan, membuat lawan terjengkang dan terpelanting.
Marahlah Ki Bragolo.
Dia menggereng seperti seekor beruang marah, dan sabuknya yang beratnya belasan kilo itu pun sudah merada di tangan kanannya.
Juga tiga orang murid lainnya sudah marah dan mereka pun menyerbu.
Murid yang tadi tertendang jatuh juga bangkit lagi.
"Aha, kiranya ketua Sabuk Tembaga hanyalah seorang kakek yang beraninya hanya melakukan pengeroyokan!"
Ginantoko berseru mengejek sambil melakukan pengelakan dengan loncatan ke kanan dan ke kiri dengan amat lincahnya, kadang-kadang menangkis dengan kedua lengannya.
Memang hebat pemuda ini .
Hantaman sabuk tembaga di tangan Ki Bragolo yang beratnya belasan kilo pun berani dia menangkisnya.
Sementara itu, Galuhsari hanya nonton dengan hati tidak karuan rasanya.
Ia memang benar istri Ki Bragolo, sudah sepuluh tahun, akan tetapi mereka tidak mempunyai anak, dan pula, ia tidak pernah dapat mencintai suami yang sepak terjangnya seperti raksasa, kasar dan tidak pernah memperlihatkan kemesraan itu.
Di tangan Ki Bragolo, ia merasa seperti menjadi boneka yang dipermainkan saja.
Berbeda kalau ia bercinta dengan Ginantoko, ia benar-benar merasakan kenikmatan karena ia bukan hanya dicintai dan dipermainkan, melainkan ia pun mencinta dan memparmainkan, permainan cinta mereka bukan sepihak saja, melainkan permainan mereka bersama dan dinikmati bersama.
Hanya kini ia merasa menyesal karena ia telah menyeret Ginantoko ke dalam kesulitan.
Menghadapi suaminya kini, apalagi masih dibantu empat orang murid, sungguh merupakan hal yang amat berbahaya dan berat.
Namun, semakin lama ia menjadi semakin kagum terhadap kekasihnya.
Ginantoko benar-benar hebat.
Kini bukan saja ia dapat mengelak dan menangkis, bahkan mulai membalas.
Ketika ada sabuk tembaga menyambar ke arah perutnya dari samping, dia malah tersenyum dan tidak menangkis, membiarkan sabuk itu mengenai lambungnya.
"Bukk!"
Dan si pemegang sabuk itu menjerit kesakitan karena telapak tangannya sendiri lecet.
Seolah-olah sabuknya tadi menghantam lambung baja saja.
Ki Bragolo maklum bahwa pemuda murid Empu Gandring ini memang kebal, maka dia pun berseru.
"Serang kepalanya!"
Memang Ki Bragolo yang sudah tua itu, banyak pengalamannya.
Orang boleh kebal badannya, akan tetapi sukar untuk mempelajari ilmu kekabalan kepala!
Di kepala terdapat otak yang mudah terguncang, apalagi di bagian muka terdapat bagian-bagian lemah seperti mata, hidung, mulut, dan telinga.
Setelah kini lima batang sabuk tembaga menghujamkan serangan ke arah kepalanya, Ginantoko mulai terdesak.
Pukulan mengenai leher, pundak ke bawah, diterimanya dengan perlindungan kekebalan, akan tetapi yang menyerang kepala terpaksa harus ditangkis atau dielakkan.
Dia pun mulai marah dan sambil mengeluarkan pekik panjang, tiba-tiba tubuhnya meluncur ke depan dan dua orang murid Sabuk Tembaga jatuh terseungkur dan tidak ada yang mampu bangkit kembali terkena pukulan kedua tangan yang ampuh dari pemuda itu.
Melihat ini, Ki Bragolo terkejut, Ginantoko mendapat hati, dan kini ia mendesak lagi dua orang murid lainnya.
Dipikirnya, kalau empat orang murid mudah roboh, akan mudah baginya untuk menghadapi dan mengalahkan Ki Bragolo yang tangguh itu.
Melihat itu, Ki Bragolo khawatir kehilangan semua muridnya.
Pada saat Ginantoko melancarkan serangan dahsyat ke arah dua orang muridnya, diam-diam dia melolos sebatang keris dari pinggangnya dan menusukkan keris itu ke dada Ginantoko.
Pemuda itu masih tersenyum dan menerima tusukan keris itu sambil mengerahkan tenaga sakti di tubuhnya untuk membuat bagian dada yang tertusuk itu menjadi kebal.
Keris itu meluncur dan menghujam dada.
"Crapp.....!"
"Aduuuuuhhh...... heiiii, aduh.....!"
Ginantoko mengeluh keheranan dan ketika keris itu dicabut, darah muncrat-muncrat keluar dari dadanya karena ujung keris mengenai jantungnya.
"Kakangmas........!"
Galuhsari menjerit dan lari menubruk kekasihnya, kemudian ia pun melompat dan melolos sabuk tembaga dari pinggangnya.
"Engkau..... engkau..... curang, mengeroyok dan membunuhnya."
Dan istri ini pun seperti seekor singa betina telah menerjang suaminya sendiri. Akan (Lanjut ke
Jilid 02) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 tetapi, karena Ki Bragolo adalah guru juga dari Galuhsari, dengan mudah Ki Bragolo mengelak, lalu dengan keris yang masih basah oleh darah Ginantoko itu meluncur dan memasuki dada Galuhsari.
Wanita itu menjerit dan roboh terguling.
Ginantoko merangkak duduk dan memandang ke arah keris di tangan lawan.
Dia melihat sebatang keris panjang dengan lekukan lima belas, sebatang keris yang mengeluarkan sinar aneh dan melihat keris itu, dia menjadi pucat.
"Empu.... Empu Gandring..."
"Ha-ha-ha-ha, manusia hina. Memang benar, aku meminjam pusaka Nogopasung ini dari gurumu sendiri, ha-ha-ha-ha!"
"Ah, paman Empu Gandring...... aku mati oleh kerismu..... semoga engkau pun akan mati oleh kerismu sendiri....."
Dan Ginantoko pun terkulai dan menghembuskan napas terakhir, hampir bersamaan dengan kekasihnya.
"Kakang Empu, terima kasih atas pemberian pinjam keris pusaka Nogopasung ini. Terima kasih dan ini saya kembali dalam keadaan utuh,"
Kata Brogolo kepada Empu Gandring yang duduk dikelilingi cantriknya.
Empu Gandring menerima keris itu dan mencabutnya dari sarungnya.
Melihat betapa di ujung keris itu ada darah yang sudah kering, sepasang alis kakek itu berkerit dan Ki Bragolo cepat berkata.
"Maafkan saya, Kakang Empu. Sudah saya usahakan untuk mencuci bersih noda darah itu, namun tidak berhasil."
Kakek itu manarik napas panjang dan mengangguk-angguk.
"Kalau yang menodai hanya darah pria saja, atau darah wanita, tentu mudah dibersihkan. Akan tetapi kalau yang menodai darah campuran antara darah pria dan darah wanita, tak mungkin dilenyapkan, Adi Bragolo. Sekarang katakan saja terus terang, darah siapakah yang telah menodai Kyai Nogopasung ini?"
Ketika melihat Ki Bragolo nampak ragu-ragu dan wajahnya pucat, Empu Gandring berkata lagi.
"Tak usah ragu-ragu atau khawatir, Adi Bragolo. Segala peristiwa yang terjadi sudah dikehendaki oleh Hyang Widhi Wasa, yang penting kita berada dipihak yang benar. Tanpa kau ceritakan aku dapat mengetahui, akan tetapi aku tidak ingin mendahului kenyataan."
Mendengar ini, Ki Bragolo mengusap air matanya.
Ampun beribu ampun, Kakang Empu, terus terang saja, ketika meminjam keris pusaka itu, saya sudah mempunyai niat untuk membunuh murid dan keponakan Kakang sendiri, yaitu Ginantoko!
Dia telah berjina dengan istri saya, maka tidak ada jalan lain bagi saya kecuali membunuh mereka."
Sang Empu Gandring menarik napas panjang dan memejamkan matanya sejenak.
Dia amat mencintai Ginantoko, akan tetapi pemuda itu memang tewas oleh ulahnya sendiri dan hal ini beberapa bulan yang lalu pernah ia peringatkan.
"Ahh, engkau tidak bijaksana menjadi suami. Akan tetapi, mengapa untuk membunuhnya engkau harus meminjam pusakaku?"
"Maaf, Kakang Empu. Ginantoko adalah murid Kakang, memiliki kekebalan yang ampuh dan saya menduga bahwa kekebalannya itu hanya akan punah kalau diterjang pusaka ciptaan Empu Gandring. Bukan begitu, Kakang Empu?"
Empu Gandring menarik napas panjang.
"Dugaanmu yang tepat itu menjadi tanda bahwa memang sudah tiba saatnya Ginantoko harus meninggalkan dunia ini. Dan memang dia sudah mengatakan bahwa dia akan puas kalau tewas dalam melaksanakan kesukaannya dan dia tewas diujung keris yang sama dengan kekasihnya yang terahir. Aduhhh, dunia penuh dengan kesengsaraan yang dibuat oleh manusia sendiri."
Setelah Ki Bragolo dan murid-muridnya meninggalkan padepokan Empu Gandring, kakek ini lalu mengutus cantrik-cantriknya untuk mengambil jenazah Ginantoko dan Galuhsari, mengurus jenasah dengan seperlunya.
Untuk pembakaran kedua jenazah itu, dia memberi tahu kepada istri Ginantoko yang masih mengandung.
Istri Ginantoko juga bukan orang sembarangan.
Ia bernama Dyah Kanti, puteri tunggal dari panembahan Pronosidhi yang bertapa di lereng Gunung Anjasmoro.
Ketika pertam kali bertemu dengan Dyah Kanti yang menjadi istrinya itu, Ginantoko masih menjadi murid Empu Gandring dan belum nampak sifatnya yang mata keranjang.
Baru setelah dia menikah dan istrinya mulai mengandung, penyakit mata keranjang itu menghinggapinya dan makin lama makin meghebat.
Dyah Kanti menangis dan kalau saja ia tidak sedang mengandung, tentu akan ikut mati obong (bunuh diri dalam api) bersama jenasah suaminya.
Akan tetapi Empu Gandring, dan juga anembahan Pronosidi yang hadir, menasehatinya.
Bahkan ketika wanita itu menyatakan kemarahan dan dendamnya kepada Ki Bragolo, ayahnya sendiri menegurnya.
"Angger Kanti, anakku. Tenangkan dulu batinmu dan jernihkan pikianmu. Orang tidak harus melihat akibat saja tanpa menjenguk sebabnya. Kematian suamimu dibunuh orang hanyalah akibat, dan sebabnya terletak pada diri suamimu sendiri. Menuruti perasaan dan dendam hanya akan mercuni batinmu. Sekarang duduklah engaku dengan tenang dan bayangkan dirimu sendiri. Andaikata engkau seorang suami lalu melihat istrimu digoda pria lain, apa yang akan kau lakukan?"
Dyah Kanti tak mampu menjawab.
Andaikata aku, anakku, yang mengalami musibah seperti yang menimpa diri Ki Bragolo, aku akan mengalah dan membiarkan saja, bahkan aku akan menganjurkan mereka untuk bersatu menjadi sepasang suami istri.
Akan tetapi mungkin hanya beberapa orang seperti aku dan Adi Empu Gandring saja yang mampu melakukan hal itu.
Sebagian besar orang tentu akan dihinggapi amarah yang mebuat mata gelap dan terjadilah permusuhan dan pembunuhan.
Kematian suamimu sudah wajar, karena perbuatannya sendiri.
Dan ingat baik-baik, aku berpesan agar kelak engkau tidak menanamkan dendam dalam batin anakku!"
"Sadhu-sadhu-sadhu....! Apa yang diucapkan Kakang Panembahan itu sungguh tepat sekali. Lihat, angin pun berhenti besilir untuk mendengarkan wejangan yang amat suci itu, anakku yang baik. Dyah Kanti, engkau taatilah pesan ayahmu dan keris pusaka Nogopasung ini kuberikan kepadamu, agar kelak kau serahkan pada anakmu. Akan tetapi ingat, kalau sampai dipergunakan untuk mebalas dendam, akibatnya bisa mengutuk sendiri,"
Berkata demikian, Empu Gandring lalu menyerahkan keris pusaka yang panjang berlekukan lima belas itu.
Diingatkan oleh dua orang kakek sakti yang bijaksana itu, luluh semua kekerasan hati Dyah Kanti dan ia pun lalu ikut bersama ayahnya kembali ke padepokan ayahnya di lereng Gunung Anjasmoro.
Ken Endok mengalami penderitaan batin yang sama berat.
Memang masih ada yang percaya bahwa anak dalam kandungannya itu keturunan Sang Hyang Brahma, akan tetapi ada pula mulut usil para tetangga, terutama sekali para wanita, yang mulai menyindir-nyindir karena ia seorang janda muda yang mengandung tanpa ayah!
Karena merasa menderita batin, hampir saja ia tewas ketika melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat.
Untung ia ketulungan oleh seorang dukun beranak yang pandai dan teringat akan pesan "Sang Hyang Brahma", anak itu lalu diberi nama Ken Arok!
Sebelum pengarang melanjutkan cerita ini, patut kiranya diketahui oleh para pembaca bahwa cerita tentang Ken Arok -Ken Dedes dianggap sebagai dongeng dan hanya terdapat dalam kitab Pararaton yang barasal dari Pulau Bali.
Dalam Kitab Negerakertagama nama Ken Arok tidak disebut-sebut.
Pengarang sengaja menggubah lagi tentang kisah Ken Arok ini setelah mempelajari banyak kitab kuno, antara lain Negarakertagama, Babat Tanah Jawi, Sarwasastra, Sejarah Kerajaan Majapahit dan lain-lain, Lalu pengarang olah dengan hasil khayal sendiri.
Adapun cerita mengenai Ken Arok ini, hanya merupakan latar belakang sejarah saja, dan tokoh-tokoh lain yang muncul dalam cerita ini hanya khayali pengarang semata.
Mungkin karena malu melahirkan seorang anak tanpa bapak yang jelas, Ken Endok lalu membawa anak yang baru lahir itu ke kuburan di mana terdapat pula makam mendiang suaminya, Gajahpuro.
Bagaimanapun juga, yang menyebabkan keributan adalah mendiang suaminya itu, yang dengan tidak percayaan dan kecemburuannya telah mendatangkan aib pada dirinya dan agaknya memarahkan Sang Hyang Brahma sehingga tidak pernah muncul kembali!
Ia lalu meninggalkan bayi itu ditengah-tengah tanah kuburan pada malam hari.
Kalau segala hal terjadi seperti biasa, dapat dipastikan bahwa bayi Ken Arok itu akan meninggal dunia, ditinggalkan seorang diri saja di dalam kuburan seperti itu.
Namun, mati hidup manusia merupakan rahasia yang sampai kini belum juga terpecahkan oleh manusia.
Ken Arok ditakdirkan untuk tidak mati di waktu bayi.
Tanpa disengaja, seorang gembong pencuri yang biasa melakukan perjalanan melalui tempat-tempat sunyi seperti sawah-sawah, hutan-hutan dan kuburan-kuburan, lewat tengah malam sehabis melakukan pencurian, lewat di kuburan itu dan dia mendengar suara tangis bayi.
Cepat dihampirinya suara itu, sebagai seorang maling yang sudah biasa melakukan perjalanan malam melalui tempat-tempat yang keramat dan angker, dia tidak merasa takut.
Padahal bagi orang biasa, berjalan di malam hari melalui kuburan lalu mendengar suara bayi menangis, sembilan di antara sepuluh orang tentu akan lari tunggang langgang mencari teman untuk menjenguknya!
Lembong, demikian nama gembong maling itu, menemukan seorang bayi yang montok sehat dan dia pun girang sekali.
Dia sendiri sudah mendambakan seorang anak dan kini dia menmukan seorang bayi mungil di kuburan.
Dibawanya bayi itu pulang dan diakui sebagai anaknya.
Sekejam-kejamnya harimau, takkan makan anaknya sendiri.
Sekejam-kejamnya hati seorang ibu, tak mungkin ia dapat melupakan anaknya.
Setelah meninggalkan anaknya di kuburan, semalam suntuk Ken Endok tak mampu memejamkan matanya.
Ia merasa menyesal sekali, merasa berdosa.
Akan tetapi ada keyakinan di hatinya.
Bukankah anak itu keturunan Sang Hyang Brahma?
Kalau benar, tentu Sang Hyang Brahma tidak akan membiarkan anaknya mati kedinginan atau kelaparan atau dimakan hewan galak di kuburan itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke kuburan itu untuk melihat apa yang telah terjadi dengan bayi yang ditinggalkan semalam.
Dan bayi itu kini telah tiada!
Hati Ken Endok diliputi pertanyaan dan kecemasan, lalu ia pun pergi mencari di dusun-dusun yang terdekat.
Akhirnya ia mendengar bahwa seorang bernama Ki Lembong telah memungut seorang anak laki-laki.
Bukan main girang rasa hati Ken Endok dan semakin tebal keparcayaannya bahwa "bapak"
Anaknya itu ternyata tidak tinggal diam dan menolong anak itu.
Ditemuinya Ki Lembong.
Ki lembong dan istrinya menyambut kedatangan wanita muda yang jelita itu dengan penuh keheranan karena mereka tidak mengenalnya.
Setelah dipersilakan duduk, sambil memandang bayi yang dipondong Nyi Lembong dan dengan kedua mata basah, Ken Endok lalu berkata.
"Ki dan Nyi Lembong, ketahuilah bahwa namaku adalah Ken Endok dari Dusun Pangkur dan bahwa anak bayi itu adalah anakku."
"Ken Endok dari Dusun Pangkur.....? Ah aku, pernah mendengar tentang andika! Puteri yang dipilih oleh Sang Hyang Brahma....?"
Dan tiba-tiba saja Gembong maling itu menoleh kepada istrinya dan memandang jabang bayi yang malam tadi dibawanya pulang. Ken Endok mengangguk.
"Benar, Ki Lembong, dan anak inilah yang kulahirkan. Dia bernama Ken Arok, keturunan langsung dari Sang Hyang Brahma. Sudah menjadi kehendak Sang Hyang Brahma bahwa Ken Arok kini menjadi anak asuhmu. Periharalah baik-baik, karena anak ini akan mendatangkan berkah bagi keluargamu."
"Tapi...... tapi.... Andika...?"
"Oleh ayahku, aku akan dinikahkan lagi dan aku tidak ingin Ken Arok dipelihara oleh ayah tiri."
Ken Endok lalu menghampiri Nyi Lembong dan diciuminya anaknya untuk terakhir kalinya.
Ia lalu berpamit dan pergi sambil manahan isak tangisnya.
Tentu saja keluarga Lembong menjadi girang dan bangga bukan main dan Ken Arok menjadi kekasih mereka.
Demikianlah, mulai saat itu, Ken Arok menjadi anak KI Lembong dan Nyi Lembong, dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh keluarga yang pekerjaannya sebagai pencuri itu.
Ada orang yang mengatakan bahwa seorang manusia itu ketika masih bayi, bagaikan sebuah buku tulis yang masih bersih, belum ada tulisan atau gambarannya.
Apa akan jadinya dengan buku tulis itu kelak, atau apa yang akan terjadi dengan anak itu kelak setelah dewasa, ditentukan oleh isinya dan yang mengisi buku tulis kosong putih bersih itu adalah keadaan sekelilingnya, masyarakatnya, terutama sekali yang paling dekat dengannya, yaitu orang tuanya, saudara-saudaranya dan kawan-kawan dekatnya.
Kiranya pendapat seperti itu tidak banyak selisihnya dengan kenyataan.
Seorang bayi yang sejak kecil dibiarkan di antara kelompok monyet, dididik oleh monyet, tentu setelah dewasa akan bertingkah seperi monyet pula!
Karena itu, dapat dibayangkan apa jadinya dengan Ken Arok yang sejak kecil dipelihara oleh keluarga maling!
Setelah pengertian mulai memasuki batinnya, Ken Arok tahu bahwa pekerjaan orang tuanya adalah mencuri harta milik orang lain.
Tentu saja hal ini tidak dianggap buruk karena ayah ibunya juga menganggap bahwa "pekerjaan"
Itu adalah suatu usaha untuk dapat mencari makan guna menjaga kehidupan mereka.
Dan lebih celaka lagi bagi anak ini, setelah anak ini berusia tujuh tahun, dia pun diajak pergi oleh ayahnya untuk melakukan pencurian!
Memang amat berguna seorang anak kecil yang cerdik diajak pergi untuk mencuri.
Pertama, andaikata dia ditugaskan untuk berjaga di luar, tidak akan ada orang mencurigai seorang anak kecil menjadi maling.
Dan kalau dia ditugaskan ke dalam, mudah baginya memasuki lubang-lubang kecil atau memanjat genteng tanpa membuat banyak gaduh karena tubuhnya yang ringan, orang-orang akan tidak sekejam kalau yang ditangkap itu seorang dewasa yang melakukan pencurian.
Akan tetapi, karena lingkungan hidup, karena pergaulan, bukan hanya pekerjaan mencuri yang dikenal Ken Arok, melainkan terutama sekali juga perjudian.
Anak ini sejak ada pengertian, mulai gemar berjudi.
Bukan berjudi di antara kanak-kanak, memang demikian permulaannya, kecil-kecilan, akan tetapi karena Ken Arok pandai sekali, tak lama kemudian anak-anak tidak ada yang berani berjudi melawan dia dan mulailah dia terjun ke dalam kalangan perjudian yang lebih luas, di mana orang-orang dewasa yang bermain.
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan mencuri itu tentu saja tidak banyak.
Yang dimasuki adalah rumah-rumah orang dusun yang miskin sederhana dan yang dicuri pun hanyalah terbatas pada bahan-bahan makanan dan pakaian saja yang dipakai sendiri dan sebentar saja setelah Ken Arok gemar berjudi, ludeslah barang-barang ayah ibunya di meja perjudian.
Orang-orang tua memang banyak yang belum memperhatikan tentang pendidikan.
Orang-orang tua menyatakan cinta kasihnya terhadap anak-anaknya melalui pemberian-pemberian dan kemanjaan-kemanjaan.
Kalau mereka sudah mampu menuruti semua permintaan anak-anak, mereka menanggap bahwa mereka telah memenuhi kewajiban mereka sebagai orang tua dan mereka mengatakan bahwa mereka telah membuktikan cinta kasih mereka kepada anak-anak mereka.
Mereka jarang sekali memperhatikan pertumbuhan jiwa anak-anak mereka, yang diperhatikan hanyalah pertumbuhan badan dan mereka saja.
Yang terpenting, beri makan secukupnya, beri pakaian secukupnya, dan sudah selesailah tugas mereka.
Orang-orang tua seperti itu lupa bahwa pakaian robek kelak dapat ditukar dengan yang baik, dan perut yang agak kurang makan bahkan kadang-kadang mendatangkan kekuatan badan.
Akan tetapi budi pekerti robek, sekali watak rusak, sukarlah untuk mengubah atau memperbaikinya.
Bukan hanya makanan badan yang amat penting, melainkan juga makanan jiwa amat penting, bahkan lebih penting.
Keindahan budi pekerti dibawa sebagai modal sampai mati.
Kalaupun ada di antara kita yang katanya menyayang anak, dan melakukan pendidikan, maka kita mendidik anak-anak kita seperti mendidik anjing-anjing pemburu atau monyet-monyet untuk dipertontonkan dalam sirkus saja!
Kita mendidik anak-anak agar menurut semua kata-kata kita, mendidik mereka agar menjadi seperti bayangan yang kita ciptakan sehingga anak-anak itu banyak yang kenal menjadi manusia seperti robot!
Tidak boleh begini, harus begitu, lakukan ini, jauhkan diri dari ini dan itu, dan sebagainya.
Dan kalau kita berhasil,kalau anak itu menurut segala kehendak kita, kita menjadi bangga dan menganggap anak itu seorang ANAK YANG BAIK.
Benarkah anak itu menjadi anak yang baik?
Kita lupa bahwa anak-anak bukanlah benda mati, melainkan makhluk-makhluk hidup, calon-calon manusia dewasa yang memiliki dunia sendiri, memiliki akal budi sendiri, selera-selera dan pikiran-pikiran sendiri.
Akan tetapi kita hendak mengekang itu semua, hendak mengurungnya dalam sangkar emas yang kita ciptakan dengan nama "pendidkan"
Yang sesungguhnya keliru.
Biasanya, kita mendidik anak BUKAN DEMI SI ANAK, walaupun malu bersumpah demikian, melainkan DEMI KESENANGAN DIRI SENDIRI.
Kalau anak itu menurut kata-kata kita, kitalah yang senang.
Sedang anak itu?
Belum tentu senang.
Walaupun untuk menyenangkan orang tuanya, seperti yang diharuskan dan ditanamkan dalam jiwanya, dia akan memperhatikan muka senang agar orang tuanya senang!
Kalau anak itu tidak menurut?
Lalu di maki, dipukul, dianggap anak kurang ajar, tidak patut, murtad,tidak berbakti, dan sebagainya.
Mengapa?
Karena tidak menurut berarti TIDAK MEMBIKIN SENANG HATI ORANG TUA!
Biarpun anak itu sendiri senang, kalau tidak membuat hati orang tua senang, dia dianggap salah!
Kiranya inilah yang menimbulkan celah atau jurang di antara generasi muda dan generasi tua, walaupun tidak boleh dikatakan bahwa kesalahan selamanya kesalahannya selamanya berada di pihak orang tua, karena keadaan lingkungan atau pergaulan juga mempengaruhi pembentukan watak seseorang.
Lalu bagaimana caranya untuk menjadi pendidik yang baik, menjadi orang tua yag baik agar anak-anak itu menjadi calon manusia-manusia baik pula?
Pendidikan orang tua terhadap anaknya adalah suatu tindakan yang berdasarkan cinta kasih.
Di mana ada cinta kasih, maka segala tindakannya pasti benar!
Cinta kasih berarti memaksa si anak menjadi seperti dirinya atau seperti apa yang dikendakinya.
Cinta kasih berarti membiarkan orang yang dicintai itu berbahagia!
Bukan bahagia kelak, melainkan bahagia sekarang ini, saat ini, detik demi detik!
Nah, kalau sudah ada cinta kasih seperti ini di hati orang tua, maka pendidkan pun tidak perlu dibicarakan lagi secara muluk-muluk, karena CINTA KASIH ITULAH PENDIDIKAN.
Kalau kita melarang anak kita memaki dengan hardikan dan makian, apakah itu cinta kasih?
Kalau kita melarang anak melakukan apa yang kita juga lakukan, apakah itu juga cinta kasih?
Jelaslah, cinta kasih itu menyeluruh!
Setelah agak besar, Ken Arok lalu disuruh bekerja di sawah ladang, menggembala kerbau dan sebagainya.
Akan tetapi, saking gemarnya berjudi, Ken Arok bahkan menghabiskan semua raja-kaya (hewan ternak) milik orang tuanya ini, dihabiskan di meja judi pula.
Gembong maling Lembong jatuh miskin.
Kini dia sudah lanjut usia, untuk melakukan pekerjaan maling sudah merasa kurang kuat.
Kurang kuat membongkar rumah, pintu atau jendela, kurang kuat pula kalau harus membela diri, dan kurang cepat kalau terpaksa harus melarikan diri.
Dan semua hartanya yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, hasil pencurian, kelebihan dari yang dimakan sehari-hari,kini diludeskan oleh Ken Arok!
Apakah ini yang dikata orang bahwa uang yang mudah didapat akan mudah pula lenyap?
Entahlah.
Ki Lembong lalu mencari pekerjaan yang halal.
Dia menghadap Ki Lurah Lebak untuk minta agar dipercaya untuk menggaduh (memelihara kerbau orang dengan bagi hasil kalau kerbau itu sudah melahirkan anak-anak) ternak, yaitu sepasang kerbau yang baik dan gemuk.
Sepasang kerbau itu diserahkan oleh Ki Lembong kepada Ken Arok.
"Anakku yang bagus, engkau hati-hatilah, Nak. Sepasang kerbau ini milik Ki Lurah Lebak. Jangan sampai sakit apalagi hilang, dan engkau bertobatlah Nak, jangan berjudi lagi. Apalagi kerbau-kerbau ini bukan milik kita, jangan diperjudikan.
"Demikian pesan ayah dan ibu itu. Akan tetapi, cerita lama pun terulang lagi. Ken Arok yang sudah gila judi itu tidak mampu menahan godaan nafsunya sendiri. Sepasang kerbau itu pun diperjudikan dan dia pun kalah lagi! Dua ekor kerbau milik Ki Lurah Lebak itu pun hilang ke tangan orang lain! Di antara segala kebiasaan atau kesenangan yang oleh masyarakat umum dinamakan kemaksiatan, yang paling berbahaya adalah perjudian! Ada lima kemaksiatan yang dinamakan dalam Bahasa Jawa sebagai MA lima, yaitu. madat, mabok, maling, madon, dan main atau dalam bahasa indonesianya. menghisap madat, bermabuk-mabukan, mencuri, main perempuan dan berjudi. Untuk menghisap madat dan mabuk-mabukan, kalau tidak mempunyai uang tidak akan mampu melakukannya. Dan kalau sampai rusak, yang rusak adalah tubuh sendiri. Mencuri, kalau tertangkap, yang celaka juga dirinya sendiri. Main perempuan juga membutuhkan uang, kalau tidak punya uang, tidak akan bisa, dan kalau sampai dirinya terkena penyakit, maka yang menanggung adalah dirinya sendiri pula. Akan tetapi judi? Wah, perjudian itu benar-benar merupakan suatu kemaksiatan yang dapat mencelakakan semua orang. Satu orang saja berjudi, sekeluarga bisa berantakan. Dan untuk dapat berjudi, tak perlu pakaian yang baik bahkan kadang-kadang, tanpa uang sepersenpun dapat saja berjudi karena meminjam uang untuk berjudi jauh lebih mudah daripada meminjam uang untuk berdagang. Apalagi kalau sampai rakyat sudah dijangkiti penyakit perjudian ini, wah, sukarlah memberantasnya dan banyak keluarga akan menjadi sengsara karenanya. Habislah sepasang kerbau milik Ki Lurah Lebak itu, diperjudikan pula oleh Ken Arok. Tentu saja Ki Lembong dan Nyi Lembong menjadi marah dan berduka sekali. Mau diapakan anak mereka yang satu-satunya ini? Kerbau-kerbau itu sudah habis dan untuk menggantinya, mereka tidak punya uang. Semua barang sudah habis dijual untuk makan, dan sebagian besar diperjudikan anak mereka. Padahal, menurut perhitungan Ki Lurah di Dusun Lebak, sepasang kerbau itu dihargai delapan ribu keping uang! "Aduh, anakku, Ken Arok. Bagaimana pula ini? Celakalah kita sudah!"
"Kita minggat saja meninggalkan Pungkur, Pak,"
Kata Ken Arok.
"Hemm, ke mana? Dan pula, Ki Lurah Lebak tentu akan menyuruh tukang-tukang pukulnya untuk mencari kita dan kalau kita tersusul, kita akan celaka. Tidak ada jalan lain, kita harus berpisah anakku. Biarlah kita tidak menyuruh kamu pergi dari sini, akan tetapi kami berdua yang akan meninggalkan kamu. Kami harus pergi ke Dusun Lebak untuk meng-hambakan diri kepada Pak Lurah Lebak, bekeja untuk melunasi hutang dua ekor kerbau itu yang kita hilangkan."
Ken Arok hampir menangis mendengar ini, akan tetapi dia seorang yang amat tabah dan keras hati.
Sejak kecilnya, setelah timbul pengertian, hampir tak pernah dia menangis.
Biar dalam perkelahian mengalami babak bundas dan kesakitan, dia tidak pernah menangis, bahkan tidak mau mengeluh.
Kini pun hatinya menangis dan ada pula penyesalan besar di dalam hatinya bahwa dia telah membikin celaka ayah ibunya.
Akan tetapi dia tidak memperhatikan tangisnya itu.
"Kalau ayah dan ibu tidak mau pergi bersamaku, biarlah aku pergi sendiri."
"Ke mana, Ken Arok? Kau hendak pergi ke mana anakku?"
"Aku akan pergi mencari uang pengganti kerbau Pak Lurah Lebak!"
Katanya dan dia pun larilah meninggalkan rumahnya, Ki dan Nyi Lembong tak dapat menahannya, apalagi memang mereka pun harus pergi cepat-cepat berangkat ke Lebak sebelum Pak Lurah mengambil tindakan.
Lebih baik mendahuluinya menghadap ke Lebak, mengakui kesalahan dan menyediakan tenaga mereka untuk bekerja bakti membayar kerugian yang diderita Pak lurah.
Di dalam sebuah gua yang terpencil sunyi di daerah hutan Rabut Jalu, duduk seorang laki-laki yang sedang bertapa.
Dia bertapa bukan mencari kesaktian, juga bukan mencari kesucian atau kemajuan batin, melainkan dia bertapa karena putus asa.
Pria berusia lima puluh tahun ini bertubuh tinggi kurus, berkumis lebat, sekepal sebelah,matanya tajam agak kemerahan dan sikapnya seperti orang yang suka melakukan kekerasan.
Akan tetapi pada saat itu, dia putus asa dan ansibnya hampir sama dengan nasib yang menimpa diri anak belum dewasa Ken Arok.
Dia telah kalah judi habis-habisan di Dusun Karuman.
Demikian besar kekalahannya sehingga bukan hanya uangnya yang habis, juga semua harta bendanya, rumah dan sawah.
Yang tinggal hanya keluarga, dua orang istri dan beberapa orang anak yang tidak sehari pun boleh berhenti makan!
Maka, saking bingung dan kesal hatinya,juga putus asa, pergilah dia tanpa pulang lebih dahulu, ke gua Rabut Jalu yang terkenal angker, keramat dan jarang ada orang berani datang memasuki gua itu.
Tekadnya, kalau di tidak memperoleh petunjuk dewa dan menemukan jalan keluar untuk mengatasi keadaannya, biarlah dia mati di situ.
Berprihatin atau bertapa, juga berpuasa, amatlah baik bagi kejernihan batin.
Dalam keadaan bertapa, orang tidak memikirkan apa-apa lagi dan batin menjadi kosong, sehingga jernih dan waspada.
Berbeda dengan keadaan sehari-hari di mana batin selalu dibisingkan oleh pikiran.
Pada hari ke tiga setelah Ki Bango Samparan bertapa, pada suatu malam dia teringat kepada Ken Arok!
Dia mengenal anak itu karena sama-sama tukang judi!
Dan dia pun sudah mendengar desas desus tentang anak itu bahwa anak itu adalah keturunan Sang Hyang Brahma.
Jarang dia melihat anak seperti itu, masih belum dewasa akan tetapi telah pandai bermain judi, bahkan melawan penjudi-penjudi ulung yang sudah dewasa.
Kalau anak itu kalah, hanya karena para penjudi dewasa yang ulung itu menipunya dalam permainan judi.
Akan tetapi sesungguhnya anak itu mempunyai bakat yang baik dan juga mempunyai peruntungan yang baik sekali dalam perjudian.
Bango Samparan merasa terheran-heran mengapa semalam itu wajah Ken Arok selalu terbayang di depan matanya.
Seorang keturunan Sang Hyang Brahma, mustahil kalau tidak luar biasa dan tidak mendatangkan berkah, demikian bisikan hatinya.
Setelah malam lewat, pada keesok harinya, pagi-pagi sekali dia sudah keluar meninggalkan gua itu dengan wajah yang cerah, walaupun agak pucat karena perutnya terasa lapar setelah tiga hari tiga malam tidak kemasukan apa-apa.
Pikirannya tentang Ken Arok itu dianggapnya sebagai bisikan para dewa!
Itulah jalan keluarnya.
Dia harus mendekati dan menggandeng Ken Arok, keturunan Sang Hyang Brahma!
Dan setelah mengisi perut sekedarnya, mulailah dia pergi mencari Ken Arok.
Akan tetapi baik di Dusun Pangkur maupun di Cempoko, dia tidak dapat menemukan Ken Arok, bahkan ia mendengar bahwa orang tua Ken Arok telah menghambakan diri kepada Lurah Lebak, sedangkan anak itu sendiri entah pergi ke mana.
Dalam hati penuh keprihatinan Bango Samparan mulai mencari-cari dan akhirnya pada suatu malam, bertemulah di dengan anak itu di tengah jalan!
Bukan main girang rasa hati Bango Samparan.
Perjumpaann ini dianggapnya pula sebagai petunjuk para Dewata!
"Ken Arok, engkaukah itu?"
Tergurnya ketika mereka berpapasan di jalan.
"Paman Bango Samparan? Hendak ke manakah, Paman?"
"Mencarimu, anakku. Sudah beberapa hari mencarimu ke Pangkur dan Cempoko, kiranya bertemu di sini."
"Ada keperluan apakah Paman mencariku?"
Tanya Ken Arok, kedua kakinya siap untuk melarikan diri kalau orang ini diutus Paka Lurah Lebak untuk menangkapnya.
Bango Samparan bukan seorang bodoh.
Dia sudah mendengar tentang kekalahan-kekalahan Ken Arok yang menyebabkan Ki dan Nyi Lembong terpaksa menghambakan diri ke di Lebak.
"Aihh, anakku yang baik. Aku sudah mendengar tentang nasibmu yang amat buruk. Aku merasa kasihan kepadamu dan aku sudah bertemu dengan kedua orang tuamu. Mereka menyerahkan engkau kepadaku untuk memelihara dan mendidikmu. Marilah, Nak, kau ikut bersamaku ke rumahku dan mulai sekarang engkau kuanggap sebagai anakku sendiri."
Hampir Ken Arok tak dapat mempercayai pendengarannya sendiri.
Dia sudah berkeliaran ke sana sini, sudah sampai ke Dusun Kapundungan, mencari pekerjaan.
Akan tetapi siapa memberi pekerjaan kepada seorang anak kecil yang tenaganya belum beberapa kuat?
Seringkali dia menderita lapar dan haus, dan hanya betinya yang kuat dan tabah sajalah yang membuat dia masih dapat tertahan.
Dan kini, dalam perjalanannya menuju ke Dusun Karuman, tiba-tiba saja dia bertemu dengan Ki Bango Samparan, juga seorang penjudi besar, yang tiba-tiba saja menawarkan diri untuk memelihara dan mendidiknya, mengambilnya sebagai anak.
Serta merta dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Terima kasih Paman, terima kasih atas kebaikan hati paman kepada aku, anak yang malang ini..."
"Paman? Engkau sekarang menjadi anakku, harus menyebut bapak kepadaku, ibu kepada istriku dan saudara kepada anak-anakku!"
Kata Bango Samparan dengan girang, membangkitkan Ken Arok dan menggandengnya, membawanya pulang ke Karuman.
Ki Bango Samparan mempunyai dua orang istri.
Yang pertama bernama Genuk Buntu.
Nyi Genuk Buntu tidak mempunyai anak, oleh karena itu ketika suaminya membawa pulang Ken Arok menjadi anak angkat, Nyi Genuk girang sekali.
Apalagi Ken Arok adalah seorang anak yang berwajah tampan dan bertubuh sehat.
Tidak kalah oleh anak-anak tirinya.
Istri ke dua Bango Samparan bernama Tirtoyo dan istri muda inilah yang mempunyai banyak anak.
Ada lima orang anaknya, empat pertama laki-laki bernam Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal dan Panji Kenengkung, sedangkan yang bungsu seorang anak perempuan bernama Cucupuranti, yang sudah menjadi perawan cilik yang manis, sebaya dengan Ken Arok yang sudah berusia empat belas tahun.
Entah kebetulan, memang para dewa memberkahi Bango Samparan lewat Ken Arok, buktinya, ketika ada perjudian besar-besaran, Bango Samparan mengajak Ken Arok dan diapun memperolah kemenangan yang amat besar!
Memang tak dapat disangkal bahwa perjalanan hidup manusia ini banyak sekali dipengeruhi oleh "Hal-hal yang kebetulan!"
Yang dinamakan hal yang kebetulan adalah hal-hal yang terjadi di luar persangkaan kita, di luar perhitungan akal, bahkan kadang-kadang merupakan hal yang agaknya tidak mungkin.
Banyak manusia mengalami perubahan hidup yang amat besar hanya karena "kebetulan"
Itulah!
Dan yang kebetulan ini, yang tak dapat diperhitungkan dengan akal ini, itulah yang mujijat, yang gaib, yang tak terjangkau oleh akal pikiran, seolah-oleh sudah "ada yang mengeturnya".
Padahal, semua yang terjadi itu, betapa pun penuh rahasia, sesungguhnya bersumber dari diri pribadi.
Ada orang bicara tentang rejeki.
Orang boleh mencari makan, boleh mencari uang, akan tetapi rejeki orang tidaklah sama.
Seolah-olah pada diri setiap manusia sudah ada takaran dan ukurannya sendiri-sendiri.
Betapapun banyaknya kita mendapatkan hasil, kalau memang takarannya hanya segelas kecil, maka selebihnya akan tumpah dari gelas itu, meluap dan meluber akhirnya yang tinggal hanya satu gelas itu saja, entah melalui pembiayaan karena sakit, entah karena kehilanga, kebakaran dan lain lagi.
Kalau takarannya itu segentong besar, biar nampak air rejeki mengalir sedikit-sedikit, akhirnya akan penuh juga segentong besar karena tidak ada yang tumpah.
Dan besar kecilnya takaran atau ukuran inilah yang terletak pada diri sendiri!
Dengan cara hidup kita, dengan isi batin kita yang lahir menjadi perbuatan-perbuatan, maka "takaran"
Ini bisa saja membesar maupun mengecil!
Hasil yang diperoleh Bango Samparan dan yang dapat menolong keadaannya yang serba sulit itu mebuat dia dan istri pertamanya semakin cinta kepada Ken Arok.
Akan tetapi, hal ini menimbulkan iri dalam hati para anak istri muda itu, kecuali Cucupuranti tentu saja karena setelah berkenalan, segera nampak keakraban antara Cucupuranti yang manis dengan Ken Arok yang ganteng.
Justru keakraban agak mesra inilah yang membuat hati istri muda Bango Samparan semakin tidak suka.
Mulailah terjadi perselisihan dan bentrokan karena Ken Arok dalam keluaga Ki Bango Samparan.
Sejak kecil Ken Arok adalah anak yang miskin, hanya anak keluarga maling.
Akan tetapi justru dalam kemiskinannya itu tumbuh suatu keangkuhan yang bukan bersifat kesombongan melainkan harga diri yang tinggi, tidak mau tunduk dan tidak mau merendah terhadap orang lebih kaya.
Demikianlah watak Ken Arok.
Melihat betapa keluarga istri muda ayah angkatnya itu tidak suka kepadanya, pada suatu malam dia minggat dari rumah itu.
"Kakang Arok....!"
Tiba-tiba terdengar bisikan halus ketika dia sudah meninggalkan rumah itu dengan diam-diam, di sebuah jalan tikungan yang sunyi.
Dia berhenti dan menoleh.
Kiranya Cucupuranti yang memanggilnya dan dia pun membalikkan tubuhnya menghadapi perawan remaja itu.
"Kau kah itu, Puranti? Kenapa kau menyusulku? Katakan saja kepada Bapak Bango Samparan bahwa aku tidak mau lagi kembali ke sana, aku ingin merantau."
"Aku tidak disuruh oleh Bapak, Kakang."
"Habis, mau apa kau menyusulku?"
"Kakang Arok, aku mau ikut kalau kau pergi."
"Ikut? Ehhh..... kenapa? Bukankah kau tinggal senang-senang di rumah bersama saudara-saudaramu?"
"Tapi aku..... aku tidak mau kau tinggalkan, Kakang."
Sesuatu yang aneh terjadi dalam dada Ken Arok. Jantungnya berdebar keras dan dia pun melangkah maju.
"Puranti, kenapa begitu?"
"Kakang...... aku akan bersedih kalau kau tidak ada. Aku.... aku senang sekali bersamamu, Kakang Arok."
Dan anak itu pun menangis. Ken Arok merangkulnya dan Cucupuranti menangis di pundaknya. Ken Arok mengelus rambut yang panjang halus itu.
"Aku pun suka kepadamu, Puranti. Akan tetapi aku harus pergi merantau. Tak baik aku makan nasi orang begitu saja tanpa bekerja yang berarti. Aku akan merantau mencari pekerjaan, dan kalau kelak aku sudah menjadi orang yang berhasil, aku akan datang, menjumpaimu."
"Benar, Kakang? Dan kau akan mengajakku untuk hidup bersamamu?"
Ken Arok terkejut.
"Hidup.... bersamaku? Maksudmu... maksudmu menjadi.... istriku?"
Dari atas dada Ken Arok, dara itu mengangkat mukanya memandang. Kedua pipinya masih basah. Ia mengangguk.
"Apa engkau tidak mau, kakang? Katakanlah engkau suka padaku?"
"Yaaa..... ya.... aku suka, tapi..... ah, bagaimana nanti sajalah, Puranti. Pendeknya, aku berjanji bahwa kelak aku akan menjemputmu."
"Kau tidak akan lupa kepadaku?"
Tanya dara itu manja.
"Aku? Lupa padamu? Ah, siapa bisa melupakan perawan manis seperti engkau ini?"
Dan entah apa yang menggerakkan, tahu-tahu Ken Arok menundukkan mukanya dan bibirnya menyentuh bibir gadis itu, hidungnya menyentuh pipi.
Akan tetapi hanya sebentar saja lalu diangkatnya lagi mukanya yang menjadi merah dan dadanya gemetar.
"Kenapa, Kakang? Lagi, Kakang......!"
Bisik Cucupuranti. Ken Arok tidak menjawab, lalu kini mencium dengan hidungnya pada pipi kedua gadis itu dengan penuh kasih sayang, lalu melepaskan pelukannya.
"Aku pergi, Puranti!"
Dan seperti dikejar setan dia pun lari dari situ.
"Kakang Arok......!"
Puranti berteriak mengejar, akan tetapi Ken Arok tidak perduli dan berlari semakin cepat sampai lenyap dan gadis itu tidak mampu mengejarnya lagi, melainkan menangis dan pulang memberi laporan bahwa Ken Arok telah minggat.
Setelah lari agak jauh, Ken Arok berhenti.
Napasnya terengah-engah, bukan karena lari tadi melainkan hal lain.
Dia merasa terheran-heran dan tidak sadar bahwa dia mulai menginjal akhil balik, masa remaja yang mulai dewasa, sudah menginjak masa birahi.
Ken Arok yang melarikan diri itu sampai ke Dusun Kapundungan.
Hari sudah siang ketika memasuki dusun itu dan di sebuah tegalan yang sunyi dia melihat sebuah perkelahian.
Seorang pemuda remaja sedang dikeroyok olah enam pemuda lain, bahkan di antara para pengeroyok itu ada yang sudah besar dan dewasa.
Akan tetapi anak yang bertubuh tinggi kurus itu melakukan perlawanan dengan gigih.
Pakaiannya sudah robek-robek dan tubuhnya sudah babak-belur, akan tetapi dia masih terus melawan pengeroyokan enam orang itu.
"Tangkap dia!"
"Hantam saja pencuri itu!"
"Mentang-mentang anak pinisepuh desa mau main curi milik orang saja!"
Biarpun Ken Arok mendengar ucapan-ucapan itu yang menyatakan bahwa anak yang sedang dikeroyok itu agaknya mencuri sesuatu, namun jiwa keadilannya memberontak melihat seorang anak dikeroyok begitu banyak orang.
Apalagi kalau hanya mencuri, dia sendiri pernah melakukannya karena dia pun anak pencuri!
Maka timbul jiwa setia kawan dan tanpa banyak cakap lagi Ken Arok terjun ke gelanggang perkelahian iu membela anak tinggi kurus.
Semua anak yang mengeroyok tidak mengenal Ken Arok, akan tetapi Ken Arok yang tadi sudah memungut sepotong kayu dan kini mengamuk, mengejutkan dan membuat mereka gentar karena di antara mereka ada yang terkena pukulan di kepalanya sampai benjol-benjol dan larilah mereka berhamburan meninggalkan Ken Arok dan anak yang tadi dikeroyok.
"Terima kasih, Kawan,"
Kata anak tinggi kurus itu sambil tersenyum.
Ken Arok merasa semakin suka.
Anak ini tabah sekali, pikirnya.
Sudah pakaiannya robek-robek, badannya babak belur, hidungnya dan bibirnya berdarah, masih dapat tersenyum dan berterima kasih padanya.
"Tidak mengapa sobat. Sebetulnya kau mencuri apa sih sampai mereka itu begitu marah mengeroyokmu?"
Wajah pemuda kurus itu berubah agak khawatir dan sampai lama dia tidak menjawab, hanya memandang wajah Ken Arok penuh selidik. Melihat ini, Ken Arok tertawa.
"Jangan khawatir, aku pun kadang-kadang mencuri kalau terpaksa dan kalau kelaparan."
Wajah pemuda itu nampak lega dan tersenyum kembali.
"Aku tidak kelaparan dan keluargaku cukup mampu. Ketahuilah bahwa ayahku adalah Ki Ageng Sagenggeng, buyut (ketua dusun) di Sagenggeng."
Ken Arok membelalakkan matanya.
"Wah ini baru namanya aneh sekali! Anak seorang buyut kok nyolong! Apa sih yang kau curi?"
"Aku mencuri bukan karena kelaparan akan tetapi karena tidak dapat manahan keinginan mulutku. Aku mencuri ini......!"
Dia lalu lari ke balik semak dan keluar kembali membawa sebuah paha kambing yang sudah dikuliti, paha yang gemuk bergajih.
"Ha-ha-ha!"
Ken Arok tertawa bergelak.
"Aku setuju seratus persen kau mencurinya. Baru melihatnya saja sudah keluar air liurku. Mari kita cepat panggang dan makan bersama, sobat baik!"
Keduanya tertawa cekikikan dan segera membuat api unggun dan memanggang paha kambing itu lalu makan bersama tanpa banyak cakap lagi.
Setelah merasa puas, kenyang dan paha itu tinggal tulangnya saja, barulah ia bertanya.
"Sobat yang gagah, siapakah engkau?"
"Namaku Ken Arok."
"Dan namaku Tito, panjangnya Panji Tito."
"Namamu gagah seperti orangnya. Kau berani menghadapi pengeroyokan enam orang tanpa lari, sungguh gagah sekali."
"Kau lebih gagah lagi. Setelah kau mengamuk dengan kayu itu, tikus-tikus itu lari tunggang langgang, ha-ha-ha,"
Panji Tito tertawa girang lalu disambungnya.
"Eh, Ken Arok, engkau dari mana dan hendak ke manakah? Di mana rumahmu?"
"Rumahku?"
Ken Arok membentangkan kedua tangannya sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terentang.
"Semua inilah rumahku, lihat, langit itu atapku. Tanah ini lantai rumahku, pohon-pohon dan gunung-gunung itu dinding rumahku!"
Panji Tito tertawa geli.
"Wah, katakan saja engkau ini seorang gelandangan yang tak mempunyai rumah. Eh, Ken Arok, kalau begitu, mari ikut saja dengan aku. Akan kuhadapkan kau kepada ayahku dan akan kuminta agar dia suka menerimamu."
Tentu saja ini sangat menyenangkan hati Ken Arok dan berangkatlah kedua orang pemuda itu menuju ke rumah Panji Tito di Dusun Sagenggeng, sebuah dusun yang agak jauh juga dari tempat itu.
Ki Ageng Sahoyo, yaitu pinisepuh Dusun Sagenggeng menerima Ken Arok dengan senang hati.
Anaknya, Panji Tito, dikabarkan nakal di luaran maka ia mengharap agar Ken Arok, pemuda yang nampaknya pendiam dan cerdik itu, akan dapat menemaninya dan membawanya menjadi seorang anak yang baik.
Sama sekali dia tidak menduga bahwa Ken Arok adalah anak seorang pencuri, bahkan seorang penjudi besar!
Dia seolah-olah memasukkan seekor harimau untuk menghajar seekor kucing!
Di Dusun Sagenggeng itu terdapat seorang pendeta yang berjuluk Begawan Jumantoko seorang kakek yang usianya sudah lima puluh tahun lebih dan terkenal sebagai seorang ahli sastra, juga ahli pencak silat yang sakti mandraguna.
Bagawan ini hanya mempunyai sebuah cacat saja, yaitu dia suka sekali kepada wanita yang cantik sehingga sudah terkenallah kalau ada wanita yang cantik berguru kepadanya tentu wanita itu akan digodanya dan akhirnya, berkat kepandaiannya dan kesaktiannya, wanita itu menjadi kekasihnya.
Di padepokannya yang luas itu entah tedapat berapa wanita-wanita muda yang menjadi murid, juga pelayan, juga kekasihnya!
Namun karena pendeta itu memang pandai dan suka menolong orang, wanita-wanita itu dengan rela menyerahkan diri kepada pendeta itu, bukan karena paksaan.
Begawan Jumantoko ini memang bukan sembarangan orang.
Dia masih terhitung kadang (saudara seperguruan) dari Panembahan Pronosidi yang bertapa di Lereng Gunung Anjasmoro, dan sungguh pun dalam hal ilmu kanuragan dan kesaktian dia belum dapat menandingi kakak seperguruannya itu, namun dalam hal sastra dia jauh lebih menang.
Setelah Ken Arok menjadi anak angkat Ki Ageng Sahono, pinisepuh Dusun Sagenggeng, Ki Ageng Sahono lalu membujuk puteranya untuk suka menjadi murid dan mengabdi kepada Begawan Jumantoko.
Sudah berkali-kali dia membujuk tapi anak itu tidak suka berguru kepada kakek yang gila peerempuan itu.
Akan tetapi setelah kini Ken Arok menemaninya, akhirnya Panji Tito mau juga menerima bujukan itu.
Ken Arok sendiri merasa gembira bukan main ketika diajak pergi berguru.
Dia memang ingin memperlihatkan bahwa dia sesungguhnya keturunan Sang Hyang Brahma, pandai dan sakti, tidak kalah oleh orang lain!
Demikanlah, mulai hari itu, mereka berdua diterima menjadi murid dan atau cantrik dari Begawan Jumantoko yang tentu saja merasa girang memperoleh bantuan tenaga dua orang pemuda yang akan meringankan pekerjaan para pelayan atau muridnya.
Dan di tempat inilah, berbeda dengan Panji Tito yang tidak suka berdekatan dengan wanita genit, Ken Arok menjadi semakin dewasa dan cepat matang berkat asuhan dan bimbingan para murid perempuan yang cantik-cantik dan genit-genit itu.!
"Angger, Joko Handoko, bukan begitu caraya melakukan jurus itu.
Masih kurang "isi", karena yang kau mainkan itu hanya kulitnya saja, hanya nampak indah namun tanpa memiliki daya serang yang besar.
Lihat pohon di depanmu itu hanya bergoyang daunnya saja."
Ucapan itu keluar dari mulut Panembahan Pronosidhi yang duduk bersila di atas batu hitam, sedangkan di depannya, seorang pemuda yang berkulit kuning putih dan berwajah tampan sedang memperlihatkan latihan ilmu pencak silat.
Sejak tadi, panembahan itu hanya menonton saja, kadang-kadang mengangguk-angguk karena cucunya ini ternyata telah mampu mewarisi hampir seluruh ilmu pencak silat yang diajarkannya semenjak anak itu masih kecil sekali.
Joko Handoko adalah cucunya, putera dari anak perempuannya, Dyah Kanti.
Seperti yang kita ketahui, ayah anak ini adalah mendiang Ginantoko yang tewas ketika anak itu masih dalam kandungan ibunya.
Oleh Panembahan Pronosidhi, Dyah Kanti yang menjadi janda itu diajak pulang ke padepokannya di lereng Pegunungan Anjasmoro.
Setelah anak itu telahir, oleh kakeknya diberi nama Joko Handoko dan anak ini memang tampan sekali, seperti mendiang ayahnya.
Karena menerima gemblengan dari kakeknya sendiri penuh kasih sayang, apalagi karena memang Joko Handoko memiliki bakat yang amat baik, maka setelah kini berusia delapan belas tahun, Joko Handoko telah menjadi seorang pemuda yang sakti mandraguna, bukan hanya pandai memainkan jurus-jurus ampuh dari pencak silat aliran Hati Putih dari kakeknya, akan tetapi juga memiliki kekuatan sakti di dalam tubuhnya berkat latihan semadhi dan bertapa.
Akan tetapi diam-diam dia merasa penasaran karena hanya mendengar bahwa ayahnya telah meninggal dunia ketikia dia masih dalam kandungan tanpa diketahuinya apa sebab kematiannya karena baik ibunya maupun kakeknya tidak pernah bercerita tentang kematian ayahnya itu.
"Eyang Panembahan, jurus yang paling akhir Eyang berikan kepada saya ini memang sukar bukan main,"
Pemuda itu mengakhiri gerakan silatnya dan menyeka keringat yang membasahi leher, dada dan mukanya.
Sang panembahan tersenyum dan mengelus jenggotnya yang sudah putih semua walaupun usianya baru enam puluh tahun.
Ketika dia tersenyum, nampak bahwa giginya masih utuh dan putih bersih, tanda bahwa panembahan ini menjaga baik-baik kesehatan tubuhnya.
"Angger, cucuku, jangan merasa heran kalau jurus itu tidak mudah, karena jurus itu, walaupun pada dasarnya masih bersumber kepada aliran Hati Putih, yaitu aliran silat kita, akan tetapi jurus itu adalah ciptaanku sendiri yang kuberi nama Jurus Nogopasung!"
"Nogopasung......."
Pemuda itu terperanjat.
"Eyang, bukankah Nogopasung itu nama keris pusaka milik ibu yang katanya merupakan peninggalan dari ayah, dan ciptaan atau empaan dari Eyang Empu Gandring?"
Kakek itu menarik napas panjang.
"Tidak keliru, Joko Handoko. Eyangmu Empu Gandring adalah seorang empu yang sukar dicari tandingannya di jagat raya ini dalam keahliannya membuat keris pusaka. Karena aku sendiri merasa tidak ada se-kuku hitamnya dibandingkan denan dia dalam hal pembuatan keris, maka aku mencoba untuk mengimbangi keampuhan keris yang telah diberikan kepada ibumu untuk kelak menjadi milikmu itu dengan sebuah jurus yang kuberi nama Nogopasung."
Tentu saja Joko Hamdoko merasa gembira bukan main.
"Wah, pantas sekali begitu sukar kiranya menguasai jurus ini. Eyang. Kiranya Eyang sengaja membuatkan untuk saya."
"Selama hampir setahun aku mutih (makan nasi dan air putih saja), baru berhasil. Dan engkau pun baru berlatih selama tiga bulan. Sedikitnya setahun baru engkau akan mampu menguasai jurus ini. Itupun harus kau lakukan dengan jalan mutih dan juga berpuasa sepekan sekali."
"Hal itu sudah kutaati dan saya lakukan sejak mempelajarinya, Eyang. Akan tetapi hasilnya ternyata menurut Eyang masih kurang memuaskan."
"Jurus itu dapat dimainkan dengan tangan kosong sebagai pengganti keris, juga tentu saja amat tepat kalau dimainkan dengan menggunakan keris, terutama keris Kyai Nogopasung sendiri. Belajarlah dengan giat, latihlah jurus itu dengan tekun dan perkuat batinmu. Perbanyak samadhi menghimpun tenaga batinmu, kurangi makan dan tidur."
"Baik, Eyang, akan saya taati perintah Eyang. Akan tetapi Eyang, kalau boleh saya memohon....."
Kakek itu memandangnya dengan tersenyum.
"Apakah yang kau inginkan, Cucuku?"
"Saya masih penasaran karena selama tiga bulan ini saya sudah berlatih dengan sekuat tenaga. Kalau sampai sekarang masih belum baik hasilnya, lalu sampai yang bagaimanakah baiknya, Eyang. Sudilah Eyang memperlihatkan kepada saya jurus itu sampai pada puncak kesempurnaannya?"
"Heh-heh-heh, orang muda selalu memang ingin tahu. Akan tetapi memang demikianlah seharusnya. Kalau orang muda tidak memiliki keinginan tahu yang besar untuk mengerti segala hal di dunia ini, maka hidupnya seperti mandeg dan dia seperti sudah mati sebelum hayat meninggalkan badan. Hanya, kau nakal sekali, aku yang sudah setua ini masih disuruh menjual lagak! Ha-ha-ha!"
"Tapi, Eyang. Yang melihat hanya saya sendiri, tidak ada orang lain lagi, mana bisa dibilang menjual lagak?"
"Nah, nah, di sini letak kekuranganmu, cucuku. Jangan terlalu membiarkan dirimu terseret oleh suatu arus yang menyita seluruh kewaspadaanmu sehingga engkau tidak melihat datangnya dua orang menuju ke sini."
Kakek itu memandang arah kiri dan Joko Handoko juga memandang.
"Ibuuuu.......!"
Serunya, akan tetapi seruan yang disertai wajah gembira itu tiba-tiba saja ditahannya ketika dia melihat bahwa ibunya tidak datang sendirian, melainkan bersama seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, seorang pri yang dalam usia setengah tua itu masih nampak gagah dan tampan, dengan pakaian sebagai seorang priyayi, dengan sikap yang ramah dan senyumnya selalu menghias wajahnya yang tampan.
"Ah, Raden Pringgoloyo, sudah lamakah Raden mengunjungi padepokan kami yang sederhana ini? Baik-baik sajakah keadaan Raden?"
Pria yang bernama Raden Pringgoloyo itu tersenyum, melirik ke arah Dyah Kanti lalu menoleh kepada Joko Handoko yang masih berdiri dengan kepala menunduk.
"Terima kasih Paman, dengan berkah dan doa restu paman panembahan, saya berada dalam keadaan selamat dan semoga paman sudi menerima sembah bakti saya. Paman selalu menyebut padepokan ini sederhana, buruk dan sebagainya, padahal yang saya kunjungi bukanlah padepokannya, melainkan orangnya, Paman. Saya baru saja tiba dan kebetulan bertemu Diajeng Kanti di luar pintu padepokan."
Lalu dia menoleh kepada Joko Handoko.
"Wah, keringatmu masih membasahi tubuh. Agaknya engkau baru saja berlatih. Sudah memperoleh kemajuan pesat, anakku Handoko?"
Makin sebal rasa hati Handoko mendengar sebutan "anak", mengingatkan bahwa orang ini akan menjadi ayah tirinya.
Ibunya sudah mengambil keputusannya untuk menerima pinangan Raden Pringgoloyo ini, menjadi istri ke dua, dan kakeknya juga sudah menyetujuinya!
Akan tetapi dia sendiri, yang tidak pernah ditanya pendapatnya, diam-diam merasa iri dan tidak senang.
Bagaimana ibunya, seorang yang begitu lama menjanda, kini tiba-tiba saja ingin kawin lagi, dan menjadi istri ke dua?
Akan tetapi karena ditanya, dan karena dia sejak muda sekali sudah diajar sopan santun oleh eyangnya, lalu menjawab.
"Lumayan saja, Paman."
"Tidak seperti biasanya, Raden berkunjung begini pagi, biasanya di waktu senja. Apakah hanya akan anjang sono ataukah ada keperluan lain, Raden?"
Tanya Panembahan Pronosidhi dengan suaranya yang selalu halus dan sabar.
"Pertama untuk beranjang sono, dan kedua kalinya juga ada keperluan, paman panembahan. Saya (Lanjut ke
Jilid 03) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 datang untuk memohon persetujuan paman agar diperkenankan mangajak diajeng Dyah Kanti ke kadipaten hari ini karena saya akan memeperkenalkan kepada keluarga saya, sebelum pernikahan dilangsungkan dengan resmi."
Wajah kakek itu nampak berseri.
"Ah, suatu tindakan yang bijaksana sekali,raden. Akan tetapi perjalanan dari sini ke kadipaten bukan dekat."
"Kami mau naik kuda, Ayah,"
Kata Dyah Kanti cepat. Ia adalah seorang keturunan pendekar sakti, biarpun wanita, ia memiliki kesaktian dan juga kesigapan. Menunggang kuda bukan merupakan hal yang sukar atau asing baginya.
"Jadi kau telah membawa dua ekor kuda, Raden? Baiklah, hati-hati di jalan dan jangan terlalu malam pulangnya nanti."
Dyah Kanti lalu menghampiri Joko Handoko dan mengelus kepala anaknya.
"Handoko, ibu mau pergi dulu ke kadipaten. Engkau minta dibawakan oleh-oleh apakah, anakku?"
"Kalau ibu hendak pergi, pergilah saja, aku tidak ingin dibawakan apa-apa Ibu. Terima kasih,"
Kata Joko Handoko dan dia pun mulai bersilat lagi untuk latihan tanpa memperdulikan ibunya dan calon ayahnya itu.
Ibunya saling pandang dengan calon suaminya, lalu tersenyum masam dan berpemit dari ayahnya.
Tak lama kemudian terdengar derap kaki dua ekor kuda yang membalap keluar dari padepokan, menuruni Lereng Gunung Anjasmoro menuju Kadipaten Wonoselo, di mana Raden Pringgoloyo adalah keponakan dari adipati di Wonoselo.
Setelah derap kaki kuda itu tidak terdengar lagi, barulah Panembahan Pronosidhi menegur cucunya.
"Joko Handoko, hentikan latihanmu. Eyang mau bicara denganmu sebentar."
Pemuda itu menghentikan silatnya dan duduk bersimpuh di atas rumput, di depan batu hitam.
"Ada perintah apakah, Eyang?"
"Aku ingin bicara denganmu tentang ibumu, Cucuku!"
Wajah yang biasanya ceria dan penuh senyum itu kini menjadi muram.
"Apa lagi yang hendak dibicarakan, Eyang? Ibu akan menikah lagi dengan Raden Pringgoloyo keponakan Sang Adipati di Wonoselo, dan Eyang sudah memberi restu. Mau apa lagi?"
Sungguh pahit sekali nada yang terkandung di dalam ucapan sederhana itu dan sang panembahan menarik napas panjang, akan tetapi tetap tesenyum.
"Joko, baru saja aku melihat sikapmu tadi yang tak ramah terhadap ibumu dan terhadap Raden Pringgojoyo, hal itu menujukkan bahwa engkau pada hakekatnya tidak setuju kalau ibumu menikah dengan dia. Bukankah demikian, Cucuku?"
"Ampun, Eyang. Saya hanya anak-anak tidak tahu apa-apa. Akan tetapi sesungguhnya, saya kira tidak patut kalau ibu menikah, baik dengan Raden Pringgoloyo maupun dengan pria manapun juga!"
Suaranya berapi-api, tanda bahwa ucapan itu merupakan pendaman perasaan di dalam hatinya yang selama ini ditekan-teannya. Kakek itu mengengguk-angguk, maklum apa yang terpendam di dalam hati cucunya.
"Cucuku, kenapa engkau berpendapat demikian?"
"Tentu saja, Eyang! Sejak saya dalam kandungan ayah kandung saya telah memninggal dunia dan bagaimana dia meninggal dunia, masih belum saya ketahui sebabnya karena agaknya ibu maupun eyang masih merahasiakannya. Tak mungkin ayah mati begitu muda tanpa sebab. Dan sekarang, setelah ibu menjadi janda selama delapan belas tahun, tiba-tiba saja ibu hendak kawin lagi, menjadi selir! Bukankah hal itu amat memalukan?"
"Memalukan? Malu kepada siapa, Cucuku?"
"Malu kepada orang-orang tentu saja, Eyang."
"Ee, Lhadalah! Mengapa begini aneh pendapatmu, cucuku? Urusan kawin adalah urusan pribadi antara dua orang, kenapa harus ada rasa malu kepada orang lain? Apakah kehidupan kita, termasuk pernikahan, harus diatur oleh orang-orang lain? Siapa yang berhak mengatur dan menentukan?"
"Memang, merupakan urusan pribadi dan diri sendiri yang mengatur dan menentukan. Akan tetapi ada pendapat umum bahwa janda yang sudah tua, tidak patut kawin lagi. Dan andaikata tidak malu kepada orang lain, setidaknya juga malu kepada diri sendiri!"
"Wah-wah-wah, lebih aneh lagi ini, cucuku. Orang harus malu kepada diri sendiri kalau dia melakukan sesuatu yang tidak baik, kalau dia melakukan seuatu yang jahat dan jahat ini berarti merugikan orang lain, bagaimana ia harus malu terhadap diri sendiri?"
"Ampun, Eyang, bukan saya ingin berbantah-bantahan dengan Eyang atau tidak mentaati petunjuk Eyang. Akan tetapi, setidaknya ibu harus merasa bahwa sayalah orang yang dirugikan kalau ibu menikah lagi!"
"Aha! Begitukah? Ah, jadi itukah gerangan yang membuat engkau tidak senang hati, dan menggangap ibumu melakukan sesuatu yang salah, yang jahat karena merugikan dirimu? Sekarang jelaskan, kerugian apakah yang kau derita dengan kawinnya ibumu dengan Raden Pringgojoyo, cucuku"
Suara Panembahan itu masih penuh dengan kehalusan sehingga cucunya tidak merasa dimarahi dan tidak menjadi gugup atau takut.
"Tentu saja saya rugi karena menjadi anak tiri!"
"Bukankah malah menguntungkan karena engaku mendadak saja, engkau yang sudah tidak mempunyai seorang ayah, tiba-tiba kini mempunyai seorang ayah, walaupun ayah tiri?"
"Ayah tiri mana bisa menggantika ayah kandung , Eyang? Ayah tiri, mana ada yang baik?"
"Calon Ayah tirimu itu, Raden Pringgoloyo, adalah seorang yang baik, cucuku. Kalau aku tidak yakin akan kebaikannya, mana mungkin aku merestui rencana perkawinan mereka? Dia pernah menjadi muridku ketika masih muda, aku tahu wataknya. Dan ingatlah, ayah kandung sendiri belum tentu baik, Cucuku!"
Pendeta itu termangu, teringat akan keadaan mantunya, Ginantoko, seorang yang biarpun tadinya amat baik, kemudian menjadi seorang mata keranjang yang mendatangkan banyak permusuhan dan bencana.
"Maksud Eyang....... apakah mendiang ayah kandung saya tidak baik?"
Kakek itu sudah terlanjur bicara dan memang kini dianggap sudah saatnya untuk memperkenalkan cucunya kepada mendiang ayahnya, karena Joko Handoko sudah berusia delapan belas tahun, sudah cukup dewasa.
Maka dengan suara tenang, dengan halus dan sabar, kakek itu bercerita tentang petualangan Ginantoko sampai kemudian dia meninggal di tangan musuhnya.
Sejak tadi Joko Handoko mendengarkan dengan wajah yang tidak berubah.
Memang pemuda itu sudah menerima gemblengan yang hebat dari eyangnya sehingga apa yang terasa di hatinya tidak samapi mengguncang batin dan tidak nampak pada wajahnya.
Setelah eyangnya selesai bercerita, barulah dia berkata.
"Jadi, pembunuh mendiang ayah kandung saya adalah Ki Bragolo, ketua Sabuk Tembaga dari lembah Gunung Kawi, Eyang?"
"Benar, akan tetapi dia tidak mampu menewaskan ayahmu kalau saja dia tidak mempergunakan keris pusaka yang dipinjamnya dari eyangmu Empu Gandring, yaitu keris pusaka Nogopasung....."
"Apa....!!"
Kini pemuda itu terkejut akan tetapi segera dapat menguasai hatinya.
"Jadi keris pusaka peninggalan ayah itu.... keris itu malah yang telah membunuh ayahku?"
"Dengarlah baik-baik, cucuku. Mendiang ayahmu, Ginantoko, telah menjadi hamba nafsunya sendiri. Dia mengejar-ngejar wanita, bahkan tidak segan-segan mempermainkan wanita yang sudah menjadi bini orang. Dia merayu dan menjinai isteri Ki Bragolo, dan itulah sebabnya maka terjadi permusuhan sehingga ayahmu tewas di ujung keris Nogopasung. Akan tetapi bersama dengan darah ayahmu, keris itu pun ternoda darah Galuhsari..... sehingga percampuran darah pria dan wanita itu tidak dapat lenyap dan tetap menodai keris pusaka itu."
"Galuhsari.....?"
"Yaa, isteri Ki Bragolo sendiri."
"Ahh.......!"
Kini Joko Handoko termangu-mangu, kehilangan akal.
Ayahnya memang bersalah dan agaknya banyak hal yang perlu dibuat penasaran kalau Ki Bargolo membunuh ayahnya, bahkan orang itu telah kehilangan isterinya pula.
Akan tetapi yang membuat dia penasaran, kenapa justeru keris Nogopasung itu yang membunuh ayahnya?
Bukankah keris itu ciptaan Empu Gandring, dan bukankah ayah kandungnya itu keponakan dan murid Empu Gandring sendiri?
"Eyang, apakah eyang Empu Gandring demikian marah kepada mendiang ayahku sehingga beliau menyerahkan keris pusaka itu kepada Ki Bragolo agar ayah dapat dibunuhnya?"
"Hushh......! Jangan bicara yang bukan-bukan, cucuku! Eyangmu Empu Gandring adalah seorang sakti mandraguna dan arif bijaksana. Semua itu sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa, tidak ada dosa tak terhukum dan segala hal yang kebetulan itu hanya nampaknya saja kebetulan, akan tetapi sesungguhnya sudah ada yang mengaturnya. Karena itu, semua ini kuceritakan kepadamu agar engkau mengerti duduknya perkara. Kalau tidak, dan engkau mendendam kepada Ki Bragolo yang membunuh ayahmu, hal itu berarti engkau hendak membela yang bersalah, cucuku. Dan kini engkau tentu maklum betapa lama ibumu menderita. Ibumu telah menahan derita selama belasan tahun. Biarpun banyak sekali pria yang datang meminang, ibumu selalu menolak karena mengingat bahwa engkau masih kecil. Ibumu tidak ingin menyerahkan pendidikanmu ke dalam tangan ayah tiri. Akan tetapi, sekarang engkau telah dewasa dan ibumu hanya seorang manusia biasa saja, yang membutuhkan kasih sayang seorang pria. Apakah engkau kini tega hati untuk mencegah ibumu menikmati hidupnya setelah belasan tahun merana?"
Joko Handoko menundukkan mukanya.
Setelah mendengar cerita eyangnya, pandangannya tentu saja berubah.
Dia merasa terharu sekali dan dapat membayangkan betapa berat beban batin ibunya karena perbuatan ayah kandungnya yang memalukan itu sehingga mengakibatkan ayah kandungnya tewas.
"Setelah mendengar semua cerita eyang, saya tidak berani apa-apa lagi, eyang. Memang itu telah cukup lama menderita dan kalau sekiranya sekarang, dengan menjadi isteri paman Pringgojoyo, ibu menemukan kebahagiaan, saya tidak akan berani menghalanginya."
Kakek itu tersenyum, mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang panjang.
"Nah, kalau ucapanmu itu keluar dari lubuk hatimu, barulah benar, cucuku. Tidak benar kalau seorang menentukan jalan hidup orang lain, apapun hubungannya dengan orang lain itu. Setiap orang manusia memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri karena ia memiliki pendapat dan seleranya sendiri yang hanya dapat ia sendiri rasakan. Apalagi dalam hal memilih jodoh! Sudahlah, sekarang mari hentikan percakapan tentang ibumu dan mari kita berdoa saja ke hadirat Hyang Agung semoga ibumu akan memperolah kebahagiaan di samping Raden Pringgoloyo. Dan mari kita lanjutkan tentang ilmu silat yang sedang kau pelajari."
"Baik, Eyang,"
Jawab pemuda itu dengan wajah berseri dan perubahan pada wajahnya ini melegakan hati sang begawan karena menunjukkan bahwa tidak ada lagi ganjalan di dalam hati pemuda itu mengenai urusan ibu kandungnya.
"Nah, sekarang kita lanjutkan pelajaran jurus Nogopasung. Seperti engkau ketahui dan sudah kaupelajari dengan baik, inti dari ilmu silat aliran Hati Putih kita adalah Ilmu Silat Nogokredo. Ilmu silat kita bersumber kepada gerakan-gerakan seekor naga. Jurus Nogopasung ini juga bersumber pada ilmu silat Nogokredo kita, akan tetapi merupakan jurus yang khas dan amat cocok kalau dimainkan dengan sebatang keris, terutama Nogopasung sendiri. Gerakan tadi memang sudah baik, akan tetapi kebaikan yang kau peroleh itu hanya sampai pada kulitnya saja. Engkau belum menguasai tenaga intinya. Hanya dengan pengerahan tenaga sakti dari dalam tubuh dengan gerakan tertentu saja yang dapat membuat gerakanmu menjadi sempurna."
"Eyang, saya mohon eyang memberi petunjuk agar lebih mudah bagi saya untuk menangkapnya. Berilah contoh, Eyang."
"Ha-ha-ha, sudah setua ini aku harus berlagak? Akan tetapi baiklah. Nah, kau lihat baik-baik pohon di depan itu."
Pendeta itu lalu menghampiri sebatang pohon yang besarnya sebadan orang dewasa.
Dia berhenti dalam jarak dua meter dari pohon itu,kemudian dia pun memasang kuda-kuda jurus Nogopasung.
Tubuh yang kurus tua itu nampak kokoh dan mantap sekali ketika dia memasang kuda-kuda yang khas itu.
Kaki kirinya di depan, lutut ditekuk, kaki kanan terjulur ke belakang dengan lurus dan hanya ujung jari kaki kanannya saja yang menyentuh tanah, jari-jari lainnya terangkat, tangan kiri melintang di depan dada dengan jari-jari terbuka membentuk cakar naga, tangan kanan terlentang menempel pinggang dengan jari-jari membentuk cakar naga pula, muka menghadap ke depan, mata mencorong dan mulut terbuka.
Inilah kuda-kuda Nogopasung yang telah dilatih selama berbulan-bulan oleh Joko Handoko.
Ketika melihat kakeknya memasang kuda-kuda, Joko Handoko memandang dengan mata yang tidak pernah berkedip, penuh perhatian dan dia pun dapat melihat bahwa pengaturan pernapasan dari hidung dan mulut setengah terbuka itulah yang belum dikuasainya dengan benar?
Seperti pernah diajarkan oleh kakeknya, untuk menghimpun tenaga dalam jurus ini dia harus menghirup hawa dari hidungnya sebanyak tiga kali, dan mengeluarkannya dengan halus melalui mulut tiga kali.
Melihat cara kakeknya bernapas, dan kini dia tahu bahwa dia telah membuang napas melalui mulut terlampau banyak.
Kiranya tenaga yang terkumpul oleh isapan napas itu menghimpun hawa murni dalam tubuhnya yang siap dipergunakan untuk digerakkan dalam pukulan jurus Nogopasung.
"Heeiiikkkkk......!"
Terdengar kakek itu mengeluarkan bentakan dan tubuhnya menerjang ke depan, kedua lengannya yang membentuk cakar naga itu bergerak-gerak dengan cepat.
Terdengar bunyi desir angin keluar dari kedua telapak tangannya, menyambar ke arah pohon di depan.
"Krakkk.... bruuuukkkk....!"
Pohon itu pun tumbang, pecah dan patah di tengah-tengah batangnya!
Joko Handoko memandang kagum dan kakek itu sudah berdiri tegak dan memejamkan kedua mata, mengatur pernapasannya.
Dia sudah terlalu tua untuk mengeluarkan tenaga yang sedemikian besarnya.
"Hebat sekali, Eyang,"
Kata Joko Handoko setelah kakeknya membuka mata kembali. Kakek itu tersenyum lebar.
"Kalau sudah menguasai jurus ini benar-benar, karena engkau masih muda dan tenagamu lebih besar, maka akibatnya akan lebih hebat lagi. Hanya, engkau tentu tahu bahwa jurus ini hanya merupakan jurus terakhir untyk membela diri saja dan jangan sekali-kali kau pergunakan kalau kau tidak terpaksa untuk menyelamatkan diri. Jurus ini kuciptakan bukan untuk membunuh orang, Cucuku."
"Saya mengerti, Eyang."
"Sekarang ambil keris pusaka Nogopasung."
Pemuda itu lalu berlari memasuki pondok dan ketika dia keluar kembali, dia telah membawa keris yang tersembunyi dalam sarung keris pusaka sederhana.
Keris itu panjang dan ketika Panembahan Pronosidi mencabutnya, keris lekuk lima belas itu mengeluarkan sinar menyeramkan.
Di ujungnya masih terdapat noda hitam, bekas darah Ginantoko dan Galuhsari!
Bergidik juga Joko Handoko melihat keris pusaka yang tidak pernah dihunusnya itu karena ia tahu bahwa darah di ujung keris itu adalah darah ayah kandungnya!
"Kalau engkau menggunakan keris ini untuk memainkan jurus Nogopasung akibatnya akan lebih hebat bagi lawan.
Nah, sudah kepalang tanggung aku memberi petunjuk.
Kau lihat aku memainkan keris ini."
Bukan main gembiranya hati Joko Handoko.
Dia melihat kakeknya memasang kuda-kuda seperti tadi, hanya bedanya, kalau tadi tangan kanan membentuk cakar naga, kini tangan itu memegang keris Nogopasung yang terhunus, keris itu menuding ke depan lurus, sejurus dengan lengan kanan.
Mulailah kakek itu bersilat dengan keris, gerakannya lambatdan mantap, akan tetapi ketika dia menutup gerakan jurus itu, dia mengeluarkan bentakan dan keris Nogopasung itu menciptakan gulungan sinar yang amat menyilaukan mata.
Sinar itu menerjang ke depan.
"Trakkk....!"
Terdengar suara nyaring disusul bunga api berpijar menyilaukan mata dan ketika kakek itu menarik kembali tubuh dan kerisnya, tenyata sebongkah batu besar telah pecah berantakan terkena tusukan keris di tangan kakek itu!
"Bukan main.....!"
Joko Handoko memuji dan mulai saat itu, dia pun berlatih semakin tekun dan giat sekali.
Sampai setahun lamanya dia berlatih siang dan malam di bawah pengawasan yang keras dari kakeknya dan akhirnya pemuda ini dapat menguasai jurus Nogopasung dengan baik sekali dan ketika Panembahan Pronosidhi mengujinya, maka hasil yang diperoleh pemuda itu masih lebih hebat dari pada yang pernah diperlihatkan sang panembahan sendiri!
Sementara itu, Dyah Kanti telah resmi menjadi isteri Raden Pringgojoyo dan diboyong ke Wonoselo.
Perayaan pernikahan dilakukan secara sederhana sekali, karena bagaimana pun juga, Dya Kanti hanya menjadi selir ke tiga dari Raden Pringgojoyo!
Pada jaman itu, menjadi selir ke tiga dari seorang bangsawan seperti Raden Pringgojoyo merupakan suatu hal yang sama sekali tidak mendatangkan rasa malu, bahkan sebaliknya, seorang wanita akan menjadi bangga karena ia merasa derajatnya terangkat setelah menjadi selir seorang bangsawan!
Dan bagi Dyah Kanti, bukan derajat ini yang dipentingkan benar, melainkan karena ia telah jatuh cinta kepada pria yang gagah dan manis budi itu.
Raden Pringgojoyo dengan ramah mengajak Joko Handoko untuk ikut dengan ibunya, pindah ke Wonoselo.
Juga Dyah Kanti membujuk puteranya, akan tetapi, Joko Handoko menolak dengan halus.
"Eyang panembahan sudah berusia lanjut dan tidak ada yang menemaninya kecuali beberapa orang cantrik. Saya tidak tega untuk meninggalkannya. Biarlah saya menemani eyang di sini sambil memperdalam ilmu saya."
Demikian ia berkata dengan halus dan ibunya, juga ayah tirinya, tidak mendesaknya lebih jauh.
Demikianlah, semenjak ibunya pergi meninggalkan padepokan di lereng Gunung Anjasmoro, Joko Handoko semakin tekun mempelajari ilmu silat sampai ahirnya dia berhasil menguasai jurus Nogopasung.
Jurus Ini hanya dia seorang saja yang mempelajarinya dari kakeknya.
Para cantrik dan para murid, anggota aliran Hati Putih tidak ada yang mempelajarinya.
Aliran silat Hati Putih ini didirikan oleh Panembahan Pronosidhi semenjak tiga puluh tahun yang lalu.
Banyak sudah murid-murid atau cantrik-cantrik yang menjadi anggota aliran ini, dan menguasai ilmu pencak silat Nogokredo yang menjadi inti dari ilmu aliran Hati Putih.
Kini murid-murid itu banyak yang sudah meninggalkan lereng Gunung Anjasmoro dan menjalani kehidupan masing-masing.
Ada yang menjadi guru silat, menjadi buruh, petani atau ada pula yang menjadi perajurit-perajurit di kadipaten-kadipaten.
Mereka semua selalu menjunjung tinggi nama aliran Hati Putih, sesuai dengan namanya, tidak mempergunakan ilmu itu untuk melakukan kejahatan, sebaliknya mereka mempergunakan untuk menentang kejahatan.
Kertika Dyah Kanthi meninggalkan padepokan, yang masih berada di lereng Gunung Anjasmoro menjadi cantrik hanya ada lima orang saja.
Mereka itu rata-rata berusia tiga puluh tahun dan sudah memiliki ilmu silat tinggi.
Mereka tidak meninggalkan Sang Panembahan karena mereka berlima itu memperdalam ilmu kebatinan dan mereka sudah mengambil keputusan untuk menjaga dan membantu Sang Panembahan yang sudah berusia lanjut sampai kakek itu meninggal dunia.
Mereka berlima inilah yang melakukan pekerjaan sehari-hari, bertani dan membersihkan padepokan, mempersiapkan segala keperluan dan kebutuhan Sang Panembahan yang menjadi guru mereka.
Untung tak dapat diraih,malang tak dapat ditolak, demikian bunyi pepatah.
Untung atau malang ini hanya merupakan pendapat hasil penilaian saja akan hal-hal yang sudah terjadi.
Sebenarnya, yang terjadi pun terjadilah dan yang terjadi itu adalah sesuatu kenyataan, sesuatu kewajaran yang tidak mengandung malang atau mujur, untung atau rugi.
Segala macam peristiwa itu terjadi sebagai akibat dari sesuatu sebab, dan akibat ini pun dapat menjadi sebab baru untuk akibat berikutnya.
Maka terjadilah lingkaran setan atau rantai yang tak pernah putus dari sebab dan akibat, yang dikenal dengan hukum karma.
Putus atau tidaknya rantai sebab akibat ini hanya tergantung kepada kita sendiri, karena jalinan rantai itu melalui telapak tangan kita sendiri.
Kalau kita habiskan sampai saat itu saja, maka habis dan putuslah.
Sebaliknya kalau kita mendendam dan membalas, rantai itu akan bersambung terus.
Kalau kita menghadapi segala peristiwa yang terjadi seperti apa adanya, sebagai kenyataan, tanpa penilaian baik buruk dan untung rugi, maka peristiwa itu pun tidak akan bersambung.
Kalau terjadi suatu peristiwa menimpa diri kita yang kita anggap merugikan, maka kita sukar untuk dapat menerimanya.
Kita menganggap diri kita cukup baik sehingga tidak layak untuk menderita!
Hal ini timbul karena kita selalu mengajar senang dan selalu melarikan diri dari susah!
Kalau kita menghadapi segala sesuatu dengan kenyataan yang wajar, maka tidak ada lagi penilaian dan karenanya tidak ada lagi derita.
Jangan dikira bahwa orang yang dianggap baik akan terhindar daripada bencana!
Sakit dan mati adalah bagian dari hidup, juga bencana mengintai di mana-mana tanpa menilai baik buruknya orang.
Hidup ini sendiri sudah berarti menempatkan diri dalam intaian bahaya setiap saat.
Joko Handoko keluar dari dalam hutan, memanggul seekor kijang yang sudah mati.
Dia merobohkan kijang itu dengan lemparan batu yang tepat mengenai kepalanya.
Dengan hati gembira dia membawa pulang kijang yang muda dan gemuk itu dan mulutnya sudah menjadi basah ketika dia membayangkan betapa akan sedap dan gurihnya dia dan para Cantrik nanti menikmati daging kijang yang dipanggang atau dimasak.
Sayang, kakeknya sudah selama puluhan tahun tidak suka makan daging binatang, dan hanya makan sayuran saja.
Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, di padepokan terjadi hal-hal yang amat mengerikan.
Sejak tadi pagi dia sudah meninggalkan padepokan yang tadi nampak sunyi dan tenteram.
Eyangnya sudah bangun dan seperti biasa, setelah mencuci badan, eyang sudah duduk bersamadhi di luar pondok.
Lima orang kakek seperguruannya, yaitu para cantrik, sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Ada yang mengisi kolam air, ada yang menyapu pekarangan, membersihkan rumah, masak air dan sebagainya.
Mereka semua sudah biasa bagun pagi-pagi sekali, suatu kebiasaan yang amat baik bagi kesehatan lahir dan batin.
Mula-mula para cantrik yang sedang menyapu pekarangan yang melihat kedatangan lima orang asing itu.
Dua orang canrik yang bekerja di pekarangan dan serambi depan, menghentikan pekerjaan mereka ketika lima orang itu memasuki pekarangan dengan langkah lebar.
Mereka berdua memandang penuh perhatian.
Yang muncul adalah dua orang kakek berusia sekitar enam puluh tahun dan tiga orang berusia sekitar empat puluh tahun.
Mereka itu bertubuh tinggi besar dan nampak kuat, dengan pakaian serba hitam yang ringkas.
Karena ia merupakan orang-orang yang tak dikenal, dan melihat sikap mereka yang tegas ketika memasuki pekarangan, tanda bahwa mereka itu sengaja datang dengan maksud tertentu, dua orang itu pun cepat menyambut.
"Kisanak, apakah di sini padepokan aliran Hati Putih?"
Seorang di antara mereka, yaitu kakek yang kepalanya botak dan tidak tertutup kain kepala seperti teman-temannya, bertanya.
Suaranya kasar dan matanya yang besar itu melotot tanda bahwa dia sedang marah.
Seorang di antara dua cantrik itu mengangguk.
"Benar sekali. Siapakah Andika berlima dan dari mana, ada keperluan apakah?"
Akan tetapi si botak itu tidak memperdulikan pertanyaan orang, melainkan memandang dengan muka beringas dan dia pun melangkah maju mendekati cantrik yang menjawab itu.
"Dan kamu ini seorang cantrik, murid aliran Hati Putih?"
Sang cantrik tidak menduga buruk walaupun dia merasa heran mengapa orang-orang ini kelihatan seperti orang-orang yang sedang marah. Dia mengangguk.
"Benar, dan....."
"Kalau begitu mampuslah!"
Bentak si botak dan secepat kilat sudah menyerang dengan tangan kiri yang terbuka.
Pukulan itu mengarah ke dada.
Akan tetapi sang cantrik yang kurus kecil ini adalah murid Panembahan Pronosidhi yang sudah belasan tahun melatih diri dengan ilmu-ilmu pencak silat dari aliran Hati Putih.
Dia bukan orang sembarangan dan melihat datangnya pukulan yang demikian berbahaya, dia pun melempar tubuh ke belakang.
Dia selamat, akan tetapi angin pukulan itu masih terasa olehnya, panas dan kuat sekali, membuat dia terhuyung dan terkejut bukan main.
"Eh,eh tahan dulu.....!"
Cantrik ke dua yang bertubuh gemuk cepat melangkah maju melerai.
"Kalau ada urusan, dapat kita bicarakan dulu."
"Kau pun harus mampus!"
Bentak kakek ke dua yang cepat maju menyerang dengan pukulan tangan kosong yang terbuka jari-jarinya, menampar ke arah kepala. Cantrik itu menagkis dengan cepat dari samping.
"Duukk.....!"
Dua lengan bertemu dan akibatnya, tubuh cantrik itu terlempar dan terbanting keras.
Cantrik itu, yang juga memiliki kepandaian yang cukup kuat, terkejut bukan main.
Tangkisannya tadi telah dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti, namun tetap saja dia terlempar dan lengan yang beradu dengan lengan lawan tadi terasa ngilu dan panas seperti bertemu dengan besi panas saja!
Maklumlah dia bahwa dia menghadapi lawan-lawan tangguh, maka tanpa banyak cakap lagi dia meloncat berdiri dan lari memasuki pondok untuk memberitahukan kawan-kawannya.
Akan tetapi, cantrik pertama yang kurus kecil merasa penasaran dengan jurus-jurus pilihan Ilmu Silat Nogokredo.
"Huh, orang-orang Hati Putih ternyata berhati busuk!"
Bentak kakek botak yang cepat menangkis sambil mengeluarkan tenaga saktinya.
Kembali pertemuan dua lengan itu membuat sang cantrik terpental dan terhuyung.
Sebelum dia sempat mengatur keseimbangan tubuhnya, seorang di antara tamu-tamu tak diundang itu yang berada dekat dengannya, sudah memapaki tubuhnya dengan tamparan keras yang mengenai punggungnya.
"Buk....!"
Cantrik kurus kecil itu mengeluh, lalu muntah darah dan tubuhnya terjungkal roboh dan tidak dapat bangkit lagi.
Empat orang cantrik yang berlarian keluar terkejut sekali, juga marah melihat betapa saudara mereka telah roboh dan agaknya telah tewas melihat muka yang pucat dan mata yang terbelalak, mulut berlepotan darah itu.
"Kalian orang-orang jahat dari mana berani mengacau padepokan kami!"
Bentak mereka dan lima orang tamu tak diundang itu pun hanya tersenyum mengejek.
Lalu serentak maju menyambut dan menjawab kata-kata pihak tuan rumah dengan serangan-serangan kilat.
Empat orang cantrik yang sudah merasa marah sekali itu pun menyambut dan terjadilah perkelahian empat lawan lima orang.
Namun, para cantrik itu segera merasa terkejut bukan main karena mereka memperoleh kenyataan bahwa lima orang lawan itu, terutama dua orang kakek, sungguh, sungguh merupakan lawan yang amat tangguh.
Rata-rata lima orang itu memiliki tingkat kepandaian dan kekuatan yang lebih dari mereka, sehingga dalam belasan jurus saja mereka berempat sudah terdesak hebat.
Dua orang kakek pendatang itu sungguh menggiriskan.
Tadinya mereka lebih banyak nonton saja ketika tiga orang anak buah mereka menghadapi empat orang cantrik, dan mereka itu hanya membantu sedikit saja, dengan pukulan-pukulan jarak jauh yang cukup membuat yang diserang kerepotan.
Kini, setelah lewat belasan jurus dan tiga orang anak buah mereka itu belum mampu merobohkan lawan walaupun sudah mendesak, mereka berdua menjadi tidak sabar lagi.
"Hemm, kalian lihat baik-baik bagaimana kita merobohkan mereka!"
Kata si kakek botak dan bersama rekannya yang tinggi besar dan berjenggot panjang segera bergerak ke depan.
Cantrik tertua yang memiliki ilmu kepandaian paling tinggi di antara rekan-rekannya, cepat menyambut terjangan si botak yang telah membunuh temannya tadi dengan pukulan tangan kanan ke arah pusar sedangkan tangan kirinya membentuk cakar naga dan mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala botak itu.
Jurus ini amat berbahaya dan merupakan jurus pilihan dari ilmu Silat Nogokredo (naga marah).
Apalagi yang melakukan jurus ini adalah cantrik yang sudah matang ilmu kepandaiannya.
Terutama cakaran ke arah ubun-ubun itu amat hebat.
Batu pun akan remuk terkena cengkeraman itu, apa lagi ubun-ubun kepala manusia!
Akan tetapi, si Botak hanya tertawa saja melihat serangan ini.
Dia hanya mengangkat tangan kanan untuk menangkis cengkeraman ke arah kepalanya sedangkan pukulan tangan kanan lawan ke arah pusarnya itu dibiarkannya saja.
Bahkan ia membarengi ketika kepalan kanan lawan menghantam pusar, dia sendiri menampar dengan tangan kirinya ke arah dada lawan.
Datangnya dua pukulan itu berbareng.
Kepalan kanan si cantrik tepat mengenai pusar kakek botak, akan tetapi tamparan tangan kakek itu pun tepat mengenai dada lawan.
"Plak! Plak...!"
Akibatnya sungguh hebat.
Kakek itu terkena pukulan, pada dasarnya masih tetap berdiri sedikitpun tidak terguncang karena pusarnya telah dilindungi dengan aji kekebalan.
Sebaliknya, tamparan tangan terbuka pada dada sang cantrik itu membuat dia terjengkang, muntah darah dan tewas seketika!
Pada saat itu, kakek tinggi besar juga sudah berhasil menampar dengan tangan terbuka, tepat mengenai lambung seorang cantrik dan muntah darah, tewas tanpa sempat berteriak.
Melihat dua orang temannya roboh, dua orang cantrik lainnya menjadi terkejut.
Namun mereka telah dikepung dan sebuah tamparan yang kuat dari lawan membuat cantrik ke tiga roboh pula.
Cantrik terakhir meloncat dan bermaksud memberi tahu kepada gurunya.
"Bapak Panembahan....!"
Akan tetapi sebelum dia sempat melanjutkan teriakannya, sebuah tangan terbuka sudah menghantam punggungnya, dan dia pun tersungkur dan muntah darah.
Pada saat itu, muncullah Panembahan Pronosidhi dari dalam pondok.
Dia tadi sedang bersamadhi, tenggelam dalam samadhinya sehingga tidak memperdulikan segala sesuatu yang terjadi di luar dirinya.
Akan tetapi kegaduhan dan teriakan muridnya, membuat dia terpaksa menghentikan samadhinya dan berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi maka murid-muridnya itu membuat kegaduhan luar biasa.
"Duh jagat Dewa Bathara....!"
Kakek yang sudah tua renta itu membelalakkan matanya dan memandang ngeri, ketika melihat lima orang muridnya menggeletak tanpa nyawa lagi sedangkan di situ berdiri lima orang laki-laki yang bermuka beringas dan yang kini memandang kepadanya penuh kemarahan.
"Siapa Andika sekalian mengapa...... mengapa kalian melakukan ini semua? Apa kesalahan para cantrik ini maka kalian membunuh mereka dengan kejam...?"
Kakek botak dan kakek tinggi besar melangkah maju menghadapi Panembahan Pronosidhi. Kakek botak itu segera bertanya dengan suara kaku.
"Apakah Andika yang bernama Panembahan Pronosidhi, ketua dari aliran Hati Putih?"
"Benar sekali, dan siapakah Andika, mengapa pula Andika, membunuhi murid-muridku?"
"Hemm, engkau pendeta palsu yang jahat! Masih pura-pura lagi? Hayo keluarkan murid-muridmu yang melarikan diri dari Tumapel agar dapat kami bunuh. Barulah kami akan mengampunimu, mengingat engkau sudah begini tua!"
Tentu saja kakek itu manjadi terkejut dan heran.
"Aku tidak mengerti maksud kalian. Aku tidak menyembunyikan murid-muridku dan yang berada di dalam pondok ini sekarang hanyalah lima orang cantrik ini. Agaknya ada permusuhan antara kalian dengan murid-murid Hati Putih. Akan tetapi aku sama sekali tidak tahu akan hal itu. Apakah yang telah terjadi?"
Walaupun hatinya merasa berduka karena kematian lima orang cantriknya, namun kakek pendeta ini masih bersikap sabar.
Dia dapat menduga tentu ada murid-muridnya di luar yang menanam bibit permusuhan dengan lima orang ini sehingga mereka datang menyerbu padepokan Hati Putih untuk membalas dendam.
Dan melihat betapa lima orang cantriknya tewas dengan cepat, tentu lima orang ini memiliki kesaktian dan bukan lawan murid-murid Hati Putih di luar itu yang melarikan diri entah ke mana.
"Panembahan Pronosidhi, ketahuilah bahwa murid-muridmu, sebanyak tiga orang, telah berbuat dosa terhadap aliran Hastorudiro (Tangan Berdarah), karena itu mereka harus kami bunuh. Akan tetapi mereka telah melarikan diri dan karena kami tak berhasil mencari mereka, kami datang ke sini. Kalau engkau tidak mau menyerahkan mereka untuk kami bunuh, maka sebagai gantinya adalah nyawamu dan nyawa mereka yang berada di Padepokan Hati Putih!"
Panembahan Pronosidhi mengerutkan alisnya yang sudah berwarna putih.
Dia pernah mendengar akan nama aliran Hastorudiro itu, sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang terkenal bengis.
Biarpun orang-orang dari aliran ini memasukkan dirinya ke dalam golongan para ksatria dan pendekar, namun mereka terkenal angkuh, dan suka sekali mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka dan selalu mengangap diri mereka benar sendiri.
Dia tidak berani memastikan bahwa tiga orang muridnya itu, entah yang mana, berada di pihak benar.
Akan tetapi cara orang-orang Hastorudiro yang penuh dendam ini melampiaskan kemarahan mereka, dengan menyerbu padepokannya, membunuh lima orang cantriknya, kemudian mengancamnya saja sudah membuktikan bahwa mereka benar-benar bengis seperti srigala-srigala yang haus darah.
"Apakah Andika ini pimpinan dari Hastorudiro?"
Tanya dengan suara masih penuh ketenangan walaupun peristiwa itu tentu saja mengguncangkan batinnya.
Kakek botak dan kakek tinggi besar itu yang memimpin rombongan lima orang itu tertawa bergelak dan sekarang kakek tinggi besar itu yang menjawab.
"Ha-ha-ha, untuk memukul kirik (anjing kecil) tidak perlu mempergunakan tongkat besi! Untuk membereskan urusan sekecil ini tidak perlu menyusahkan dan membikin lelah guru kami. Kami berdua adalah dua oarng adik seperguruan ketua Hastorudiro dan tiga orang ini adalah murid-murid kepala. Panembahan Pronosidhi, sekarang tentukan pilihanmu sendiri. Kau serahkan tiga orang muridmu itu ataukah engkau mampus pula di tangan kami?"
"Hemmm, Andika adalah orang-orang yang haus akan kekuasaan dan kemenangan, mabok akan kekerasan. Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa dengan tiga orang murid itu, dan aku tidak tahu siapa yang kalian maksudkan, karena murid-murid Hati Putih amat banyak. Akan tetapi, setiap orang murid Hati Putih sewaktu belajar di sini, benar-benar telah diputihkan atau dibersihkan hatinya sehingga tidak akan melakukan kejahatan. Bagaimanapun juga, aku harus mendengarkan dulu keterangan dari mereka mengenai urusan dengan kalian, untuk menentukan apakah mereka salah ataukah tidak. Aku tidak dapat menyerahkan mereka kepada kalian. Akupun tidak pernah berkelahi atau mencari permusuhan dengan siapapun juga. Akan tetapi kalau kalian memaksa hendak melakukan kekerasan dan hendak membunuhku, silhkan. Sudah menjadi kewajibanku mempertahankan kehidupan dan melindungi tubuh yang sudah tua ini."
"Bagus! Memang akan kami basmi semua orang Hati Putih, dan membasmi rumput harus dengan akar-akarnya. Tua bangka, bersiaplah engkau untuk mampus!"
Kata kakek botak.
"Maju! Keroyok dan bunuh!"
Perintah kakek ke dua yang tinggi besar dan dia sendiri medahului dengan tamparan tangannya yang amat ampuh.
Orang-orang Hastorudiro ini memang terkenal memiliki telapak tangan yang ampuh.
Seperti dua orang kakek ini yang memiliki tinkat tinggi, sebagai adik-adik seperguruan ketua Hastorudiro, sdah memiliki kekuatan yang dahsyat.
Kalau mereka menyerang, maka kedua telapak tangan mereka berubah merah seperti dilumuri darah!
Inilah yang membuat perkumpulan itu dinamakan Tangan Berdarah atau Hastorudiro.
Juga nama itu sebagai ejekan pula karena memang mereka itu besikap keras dan ringan tangan, mudah membunuh orang seolah-olah tangan mereka berdarah dan berlepotan darah para korban.
Panembahan Pronosidhi melihat telapak tangan merah itu dan diam-diam dia pun terkejut.
Orang-orang ini sesungguhnya tidak dapat digolongkan kaum pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, penentang kejahatan.
Dia pun menggerakkan tangan kirinya menangkis.
"Plakk!"
Kakek tua renta itu merasa betapa lengannya dijalani hawa panas yang dapat ditekannya dengan kekuatan hawa sakti di tubuhnya, akan tetapi sebaliknya, kakek tinggi besar itu terpental dan terhuyung.
Tentu saja kakek tinggi besar itu terkejut!
Ternyata ketua Hati Putih ini, biarpun sudah tua sekali, masih memiliki tenaga yang bukan main kuatnya, Dia pun maju lagi dengan lebih hati-hati.
Kakek botak melihat betapa kawannya terpental tadi dan dia pun maklum bahwa Panembahan Pronosidhi bukan lawan yang lemah, maka diapun cepat membantu dan mengeroyok dari samping kiri, mulai melakukan penyerangan yang dahsyat.
Tiga orang murid keponakan mereka pun sudah mengepung dan menyerang dari belakang.
Terjadilah perkelahian yang amat seru.
Panembahan Pronosidhi memang bukan orang yang suka berkelahi, bahkan ia tidak pernah berkelahi.
Namun, dia seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Imu silat Nogokredo yang diciptakannya merupakan ilmu yang hebat dan langka, gerakannya gagah dan kedua tangannya membentuk cakar seperti cakar naga, tubuhnya juga meliuk-liuk seperti tubuh naga.
Bahkan ke sana-sini dan kadang-kadang dapat digunaan untuk menangkis serangan lawan atau menyerang dengan tendangan-tendangan ampuh!
Karena itu, biarpun dikeroyok lima orang yang memiliki tenaga besar dan ilmu-ilmu pukulan dahsyat, dia dapat melakukan perlawanan dengan cukup gigih, bahkan dapat pula kadang-kadang membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya.
Namun, dalam hal penggunaan tenaga badan, memang usia mempunyai pengaruh yang amat besar.
Baca Juga: Mutiara Hitam 3
Baca Juga: Si Bangau Merah 8