Ceritasilat Novel Online

Keris Pusaka Nogopasung 2

Eps 2 Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo.

Usia tua merupakan penyakit yang menggerogoti kekuatan badan dari sebelah dalam, sedikit demi sedikit digerogoti sehingga yang mempunyai badan sendiri tak merasakannya.

Usia semakin meningkat, tanpa dirasakan, tahu-tahu badan sudah menjadi semakin loyo dan lemah!

Kenyataan ini, merupakan hukum alam, tidak dapat dielakkan pula oleh seorang sakti seperti Panembahan Pronosidhi sekali pun.

Setelah melakukan perlawanan dengan gigih selama puluhan jurus, napasnya mulai terengah-engah dan tenaganya mulai berkurang.

Tenaga yang berkurang ini mengakibatkan gerakannya menjadi lamban pula.

"Plakk......!"

Sebuah tamparan yang cukup keras dari tangan kakek botak dengan telah mengenai lambung panembahan itu.

"Hukkh.....!"

Sang Panembahan menahan napas, akan tetapi tetap saja darah segar muncrat dari dalam perut ke tenggorokannya, dan ada yang keluar dari bibirnya.

Dia tahu bahwa pukulan maut itu telah mengakibatkan luka parah di sebelah calam tubuhnya.

Maka dia pun teringat akan ilmu baru yang diciptakannya khusus untuk Joko Handoko.

Cepat dan otomatis tubuhnya membuat kuda-kuda Jurus Nogopasung.

Tubuhnya merendah, kaki kiri ditekuk di depan, kaki kanan melurus ke belakang badan.

Ibu jari di atas tanah, kedua tangan membentuk cakar naga di depan dada dan di pinggang, kemudian mulutnya mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya bergerak maju dan berputar.

"Heiiiiiiiikkk.....!"

Lima tokoh Hastorudiro itu seperti dilanda angin badai yang amat kuat.

Tubuh mereka tak dapat mereka pertahankan lagi, terlempar dan terbanting ke kanan kiri.

Dua orang di antara murid-murid Hastorudiro tak mampu bangkit kembali karena nyawa mereka telah putus.

Mereka yang paling dekat dan paling hebat menerima hantaman jurus Nogopasung.

Murid ke tiga muntah-muntah darah sedangkan dua orang kakek itu pun bangkit dengan napas terengah-engah dan muka pucat sekali.

Mereka telah menderita luka di sebelah dalam tubuh mereka.

Melihat betapa Panembahan Pronosidhi berdiri dengan tegak, dengan mata mencorong dan mulut agak terbuka dua orang kakek itu sudah kehilangan nyali mereka.

Tanpa banyak cakap lagi, dibantu oleh seorang murid keponakan yang tidak tewas, mereka lalu pergi sambil membawa tubuh dua orang murid yang sudah tek bernyawa lagi, pergi Suasana menjadi sunyi di sekitar tempat itu.

Hanya desir angin bermain dengan daun-daun pohon yang terdengar, selebihnya hening bersih dan tenteram.

Seperti inilah keadaan alam kalau hawa nafsu angkara murka dari manusia tidak merajalela.meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Kakek panembahan itu masih berdiri tegak beberapa lama.

Setelah orang-orang itu pergi tak kelihatan bayangan mereka lagi, barulah dia menarik napas panjang, memuntahkan darah dari mulutnya dan tubuhnya terguling dan terkulai lemas, jatuh di dekat mayat-mayat lima orang cantriknya.

Suasana menjadi sunyi di sekitar tempat itu.

Hanya desir angin bermain dengan daun-daun pohon yang terdengar, selebihnya hening bersih dan tenteram.

Seperti inilah keadaan alam kalau hawa nafsu angkara murka dari manusia tidak merajalela.

Sesosok tubuh yang menggendong bangkai seekor kijang nampak datang barlari dengan cepat seperti terbang.

Joko Handoko tadi mendengar pekiki kakeknya dan dia mengenal pekik itu.

Pekik Nogopasung!

Mungkinkah kakeknya sedang berlatih seorang diri?

Ah, tak mungkin kiranya.

Dia tahu bahwa bagi kakeknya berlatih ilmu Nogopasung menghabiskan tenaganya.

Karena ingin sekali tahu, Joko Handoko lalu mempergunakan ilmunya meringankan tubuh dan di berlari secepat lari kijang, menuju pulang.

Kini dia berhenti dan matanya terbelalak ketika dia memandang kepada tubuh yang berserakan di atas tanah itu.

Sampai beberapa lama dia tidak mampu mengeluarkan suara, bahkan tidak mampu bergerak seolah-olah tubuhnya sudah menjadi patung.

Penglihatan itu terlalu hebat baginya sehingga dia tidak mau percaya bahwa semua itu merupakan hal yang sungguh-sungguh dan nyata.

"Eyanggg....!!"

Akhirnya dia menjerit, melepaskan bangkai kijang dan menubruk tubuh eyangnya.

Dilihatnya eyangnya memejamkan mata dan napasnya empis-empis, mukanya pucat dan mulutnya masih mengalir darah.

Dia lalu memeriksa keadaan lima orang cantrik dan dia terkejut mendapat kenyataan bahwa mereka berlima itu tewas sama sekali.

"Eyaaaanggg......!"

Kembali dia menjerit dan sekali lagi memeriksa tubuh eyangnya, mengangkat dan memangku kepala yang terkulai lemas itu.

Perlahan-lahan Sang Panembahan membuka kedua matanya, lalu berusaha untuk tersenyum ketika dia mengenal wajah cucunya.

"Joko....."

Bisiknya lemah.

"Eyang Panembahan! Apakah yang telah terjadi? Siapa yang melakukan semua ini? Dan mengapa?"

Kakek itu sudah hempir tidak kuat bicara, wajahnya sudah pucat sekali dan terlalu banyak darah keluar dari mulutnya tadi.

"Joko.... ini perbuatan...... Hastorudiro.....ingat pesanku......"

Dia berhenti dan memejamkan mata.

"Eyaaaaanggg.....! Apakah pesan Eyang?"

Joko Handoko menjerit dan iar matanya sudah bercucuran.

Dia memang sudah mempelajari ilmu memperkuat batinnya, akan tetapi peristiwa ini terlalu hebat baginya dan dia tidak ingin menahan kedukaannya lagi.

"Joko..... jangan.... jangan....menden...dam...."

Kepala itu terkulai dan nyawanya melayang.

Joko Handoko seperti dapat merasakan hal ini karena tubuh bagian atas yang dipangkunya itu tiba-tiba saja kehilangan seluruh kekuatannya, menjadi lemas dan berat walaupun masih hangat.

"Eyaaaaaaagggg........!"

Dia menjerit lagi dan menagisi mayat eyangnya.

Sambil menahan kedukaannya, Joko Handoko mengangkat tubuh eyangnya dan lima orang cantrik, dibawanya masuk ke dalam pondok dan direbahkan berjajar dengan rapi.

Kemudian, dia mengerahkan seluruh tenaganya menuju ke Wonoselo, menghadap ibunya.

Dengan air mata bercucuran dia menceritakan akan keadaan di padepokan lereng Gunung Anjasmoro.

Ibunya, Dyah Kanti, terkejut dan menangis pula.

Raden Pringgoloyo lalu menyertai isterinya dan Joko Handoko, juga belasan orang pembantu, naik kuda menuju ke padepokan.

Hujan tangis terdengar di padepokan itu ketika Dyah Kanti tiba.

Jenazah Panembahan Pronosidhi dan lima orang cantriknya itu diperabukan, diiringi tangis Dyah Kanti dan Joko Handoko.

Pemuda yang sejak kecilnya dididik oleh kakeknya itu merasa kehilangan sekali.

Kakek itu baginya bukan hanya sebagai kakek, melainkan juga sebagai guru dan pengganti ayah yang sejak lahir tak pernah dikenalnya itu.

Kembali Joko Handoko menolak ketika ibunya dan ayah tirinya mebujuk agar dia ikut ke Wonoselo.

Bahkan ayah tirinya membujuk bahwa kalau pemuda itu mau ikut ke sana, dia akan membantu agar Joko Handoko memperoleh kedudukan di kadipaten.

Setidaknya, demikian Raden Pringgoloyo, pamuda itu telah memiliki modal, yaitu kepandaian dan kekuatan, untuk menjadi seorang senopati muda.

"Maaf dan terima kasih,"

Jawab pemuda itu.

"Bukan saya menolak budi kecintaan Kanjeng Romo, akan tetapi saya ingin merantau dan meluaskan pengalaman. Juga saya ingin melakukan penyelidikan mengapa mendiang eyang dan para cantriknya dibunuh orang seperti itu."

"Handoko,"

Kata ibunya dengan suara lembut.

"Aku yakin bahwa eyangmu tidak akan setuju kalau engkau hendak melakukan balas dendam."

Wanita ini tahu benar akan watak ayahnya. Ketika suaminya, ayah kandung Handoko, dibunuh orang pun, ayahnya melarang ia untuk mendendam. Pemuda itu mengangguk.

"Saya mengerti, Ibu. Saya melakukan penyelidikan bukan untuk karena dendam, hanya ingin tahu duduknya persoalan. Kalau aliran Hastorudiro bertindak sesat dan angkara murka, saya akan bertindak, bukan dengan alasan dendam, melainkan sudah menjadi kewajiban saya untuk menentang kelaliman dan kejahatan."

Dyah Kanti maklum bahwa biarpun kelihatan tenang dan sabar, namun puternya itu memiliki kekerasan dan ketabahan hati yang amat besar.

Karena Joko Handoko bukan anak kecil lagi, melainkan sudah menjadi seorang laki-laki dewasa dan di samping itupun sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup sebagai bekal dan pelindung dirinya, maka ibunya dan ayah tirinya tidak dapat melarangnya lagi.

Raden Pringgoloyo membekali uang cukup banyak dan seekor kuda yang baik.

Mula-mula Joko Handoko menolaknya, akan tetapi ayah tirinya berkata.

"Anakku Joko Handoko. Aku tidak, bermaksud meremehkanmu dengan bekal dan kuda ini, akan tetapi ketahuilah, Nak, bahwa bagaimanapun juga, kita tidak dapat melepaskan diri kebutuhan hidup sehari-hari yang memerlukan penggunaan benda berharga ini. Untuk membeli nasi, membeli pakaian kalau rusak, keorluan lain-lain lagi, bahkan dapat dipergunakan untuk menolong sesama hidup yang dilanda kekurangan. Terimalah, anakku. Aku menyerahkan suka rela dan demi kepentinganmu."

Ibunya juga membujuknya dan akhirnya Joko Handoko terpaksa, menerimanya juga karena merasa tidak enak kalau menolaknya terus.

Lalu berangkatlah dia menunggang kuda meninggalkan lereng pegunungan Anjasmoro, diikuti pandan mata ibu kandungnya dan ayah tirinya yang sengaja datang ke situ untuk mengantarkan bekal-bekal itu.

"Semoga dia berbahagia...."bisik Dyah Kanti ketika derap kaki kuda yang ditunggangi puteranya itu makin menjauh. Ada dua titik air mata membasahi kedua matanya. Lengan suaminya merangkulnya dari belakang dengan lembut. Sang surya tersenyum cerah di ufuk timur, memancarkan cahaya kemerahan yang semakin lama menjadi semakin cerah dan berubah menjadi cahaya keemasan, dengan hangat dan lembut, sinar sang surya membelai dan membangunkan segala sesuatu dengan cahayanya yang mujijat. Rumput-rumput yang malam tadi basah kedinginan, kini bersemi dengan mutiara menghias pucuknya, juga daun-daun di pohon, digantungi mutiara embun yang cemerlang. Garis-garis cahaya menerobos celah-celah daun pohon, menciptakan garis-garis cahaya lembut dan hangat. Burung-burung menyambut datangnya fajar dengan kicau yang riang gembira, sibuk membuat persiapan untuk mencari makan di hari itu. Demikian pula, orang-orang di dusun sudah bangun, dibangunkan oleh kokok ayam jantan dan biarpun tidak segembira burung-burung pohon, mereka juga membuat persiapan untuk keperluan hari itu. Kaum prianya memanggul cangkul menuju ke sawah ladang, kaum wanitanya sibuk mengurus rumah tangga. Setiap orang sibuk dan memulai pekerjaan sehari-hari. Apakah atinya hidup kalau tidak diisi dengan pekerjaan, dengan kesibukan? Setiap manusia membutuhkan kesibukan, dan kalau sudah terendam kesibukan lalu mengeluh. Aneh dan lucu tetapi nyata. Kiranya, jarang dapat ditemukan orang yang dapat bertahan untuk hidup tanpa melakukan apa pun juga. Dia akan merasa hampa, tidak berarti, dan penuh kegelisahan dan kekecewan. Derap kaki kuda itu meninggalkan dusun. Joko Handoko meninggalkan dusun di mana dia semalam menginap. Di rumah ketua dusun yang amat ramah dan yang dapat menjadi tuan rumah yang baik, menyambut kedatangan seorang pendatang asing yang melakukan perjalanan jauh. Setelah meninggalkan Pegunungan Anjasmoro, Joko Handoko merantau dan tanpa diketahuinya, dia telah tiba di kaki Pegunungan Kawi. Dia merasa bersyukur akan kebijaksanaan ayah tirinya. Ternyata bekal uang dn kudanya amat menolongnya. Bukan saja dia dapat melakukan perjalanan tanpa banyak lelah, akan tetapi juga dia dapat mempergunakan uang bekalnya untuk membeli makanan, bahkan perlu pula untuk membalas kebaikan orang-orang dusun yang memberinya tempat menginap dengan membelikan sesuatu untuk mereka. Kalau dia tidak mempunyai uang, biarpun ada di antara para penduduk dusun yang mau menerimanya dan memberinya tempat menginap,namun dia akan merasa rikuh karena tidak mampu membalas keramahan dan kebaikan hati mereka. Suasan pagi yang amat cerah itu mendatangkan kegembiraan di dalam hati Joko Handoko. Perjalanannya menuju ke Tumapel karena dia ingin berkunjung ke tempat tinggal kakek gurunya, yaitu Ki Empu Gandring. Mendiang ayah kandungnya, Ginantoko, sudah tidak mempunyai ayah lagi dan Joko Handoko merasa enggan untuk mengunjungi keluarga ayahnya yang terdiri dari bangsawan-bangsawan di Kadipaten. Dia lebih suka berkunjung kepada Empu Gandring yang sudah didengar namanya, yang dipuji-puji oleh mendiang kakeknya, pembuat keris Pusaka Nogopasung yang sekarang disimpan di balik bajunya. Juga Empu Gandring adalah guru mendiang ayah kandungnya, seorang sahabat baik sekali dari mendiang kakeknya. Dia dapat mengabarkan tentang kematian kakeknya kepada Empu Gandring sekalian mohon petunjuknya. (Lanjut ke

Jilid 04) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 Pagi itu indah.

Kadang-kadang Joko Handoko terpesona oleh keindahan pagi itu sehingga seringkali dia menghentikan kudanya, hanya untuk dapat lebih menikmati apa yang dilihatnya.

Cahaya sinar matahari yang membuat garis keemasan lembut di permukaan air rawa, kemudian rumpun padi muda menghijau seperti lautan yang nampak menjadi hijau pupus kekuningan tertimpa sinar matahari pagi.

Melihat burung-burung berterbangan di angkasa sambil mengeluarkan bunyi menuju ke arah tertentu dengan terbang berbondong-bondong, atau seekor burung elang melayang sendirian jauh tinggi di angkasa, meluncur dengan terbang layang tanpa menggerakkan sayap, kepalanya menoleh ke kanan kiri penuh perhatian, agaknya mencari mangsa untuk mengisi perutnya yang lapar.

Melihat bapak-bapak tani memanggul cangkul atau menggembala kerbau menuju ke sawah ladang.

Melihat ibu-ibu menggendong senik (keranjang bambu) berisi hasil kebun atau sayuran, keranjang berisi penuh beban di punggung, dan anak bayi menetek dan bergelantung di dada.

Ada pula, dara-dara ayu dengan sikap kenes berlomba jalan dengan teman-temannya sambil berkelakar, suara ketawa mereka itu melengking nyaring di pagi cerah.

Setelah meninggalkan jalan raya dan membelok menuju hutan yang sunyi untuk memotong jalan menuju ke Tumapel, Joko Handoko mulai melarikan kudanya.

Akan tetapi, ketika dia tiba di tepi hutan yang sunyi, tiba-tiba belasan orang laki-laki bermunculan dari balik semak-semak dan pohon-pohon atau batu-batu besar.

Mereka itu kelihatan kasar dan bengis, dan masing-masing memegang sebatang senjata, golok dan keris.

Ada pula yang memegang tombak.

Mereka itu seperti sekelompok orang yang siap untuk pergi bertempur.

Joko Handoko baru sadar bahwa mereka itu bukan orang yang hendak, bertempur untuk perang, melainkan sekawanan perampok yang ingin merampok-nya ketika mereka itu tiba-tiba menghadang di tengah perjalanan dan ketika dia menghentikan kudanya, mereka mengepung!

"Eh, andika sekalian ini mau apa menghentikan perjalananku?"

Dia bertanya, pura-pura tidak tahu apa kehendak mereka.

Gerombolan perampok itu tertawa bergelak dan seorang di antara mereka, yang berkumis tebal panjang sekepal sebelah dan berjenggot pendek seperti sapu, melangkah maju dan suara ketawanya paling keras di antara mereka.

Orang ini berpakaian serba hitam, bertubuh pendek akan tetapi besar dan perutnya gendut kedua lengannya yang telanjang memperlihatkan otot-otot di balik kulit yang penuh bulu.

Sepasang matanya melotot lebar, dan ketika dia tebelalak, nampaklah giginya yang hitam semua karena dia biasa mengunyah tembakau.

"Hua-ha-ha-ha! Anak bagus, engkau yang masih setengah kanak-kanak dan tidak berpengalaman, sudah berani melakukan perjalanan jauh seorang diri. Engkau ingin tahu mengapa kami menghentikanmu? Ha-ha-ha! Kami adalah begal!"

"Begal? Apakah itu, Paman?"

Tanya Joko Handoko dengan sikap masih pura-pura karena dia sedang mencari akal bagaimana dapat lolos dari kepungan orang-orang ini tanpa harus berkelahi dengan mereka.

Mendengar pertanyaan ini, si jenggot pendek kumis tebal itu tertawa semakin keras.

Demikian geli dia sampai dia tidak mampu bicara, hanya tertawa sambil menudingkan telunjuknya ke arah pemuda di atas kudanya itu.

"Ha-ha-ha-ha.....! Kau tidak tahu artinya begal? Perampok! Dan aku adalah kepalnya, namaku Kolowiryo. Kami adalah perampok, begal atau kecu. Serahkan kudamu yang bagus ini, dan buntelan di pinggangmu itu, juga pakaian yang ada di tubuhmu. Ha-ha-ha, dan engkau sendiri boleh menjadi kekasihku, menghiburku di kala kesepian, ha-ha-ha!"

Kepala perampok itu tertawa dan tiga belas anak buhnya ikut pula tertawa geli.

Apalagi melihat tarikan muka pemuda itu begitu keheranan sehingga nampak bodoh, membuat mereka menjadi semakin geli.

Memang Joko Handoko merasa terheran-heran.

Mendengar dia berhadapan dengan kawanan perampok, tentu saja tidak mengherankan hatinya.

Sudah banyak dia mendengar penuturan ibunya dan kakeknya bahwa di dunia ini banyak terdapat orang-orang jahat, dan terdapat pula perampok-perampok yang mengganggu orang-orang di sepanjang jalan yang sunyi.

Akan tetapi, yang membuat dia melongo keheranan sehingga nampak bodoh adalah ketika kepala perampok itu menyakan keinginannya untuk mengambil dia sebagai kekasih ini merupakan hal baru baginya.

Tadinya dia mengira bahwa kepala perampok itu sengaja mempermainkan dan menghinanya, akan tetapi ketika melihat betapa sepasang mata yang melotot lebar itu ditujukan kepadanya dengan penuh gairah, Joko Handoko merasa bulu tengkuknya meremeng saking ngerinya.

Pemuda itu belum berpengalaman, dan baru saja keluar dari tempat di mana sejak kecil dia mempelajari ilmu.

Ibu dan kakeknya tentu saja belum pernah bercerita kepadanya tentang pria-pria yang suka berksih-kasihan dan bermain cinta dengan sesama pria.

"Jangan main-main, Paman. Aku adalah seorang laki-laki sejati,"

Katanya, heran dan juga memancing karena dia ingin sekali mendengar apakah benar-benar orang itu tidak main-main.

"Ha-ha-ha, siapa main-main, bocah bagus? Engkau begini tampan, kulitmu halus seperti kulit perempuan, tentu nikmat sekali tidur bersama engkau dalam pelukan. Ha-ha, engkau mau, bukan? Jangan khawatir, kalau engkau menjadi kekasihku, tak seorang pun di dunia ini akan berani mengganggumu. Bahkan, aku akan melarang anak buahku untuk mengambil barang-barangmu atau mengganggumu. Mau, bukan? Turunlah dan kesinilah, sayang."

Joko Handoko bergidik, terang-terangan dia menggerak-gerakkan pundaknya dengan seluruh bulu pada tubuhnya meremang.

"Tidak..... aku tidak mau.....!"

Katanya tegas. Wajah si kumis tebal menjadi keruh dan matanya melotot semakin lebar.

"Kalau begitu, engkau memilih mampus?"

"Kakang Kolo, seret saja dia dari atas kuda itu!"

Teriak seorang di antara mereka dan kepungan terhadap Joko Handoko menjadi semakin rapat.

Belasan orang itu kini menghampiri kuda yang ditunggangi Joko Handoko dengan wajah bengis.

Agaknya kuda itu pun dapat mencium tanda bahaya dan dia mengangkat kaki depannya ke atas, mengeluarkan suara ringkik ketakuan dan kemarahan.

Tiba-tiba terdengar bentakan halus.

"Perampok-perampok jahat jangan ganggu orang!"

Semua perampok terkejut dan cepat menoleh, Joko Handoko memandang terkejut dan heranlah dia melihat bahwa yang membentak itu seorang gadis yang entah dari mana tiba-tiba sudah muncul di tempat itu.

Kepala perampok bernama Kolowiryo segera membalik dan menghadapi gadis itu, memandang penuh perhatian lalu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, wah, mimpi apa kalian semalam, kawan-kawan? Baru saja kita mendapatkan seekor kambing gemuk, sekarang muncul seekor kelinci gemuk. Gadis ini biar pun masih amat muda, nampak bersemangat dan kuat, tentu kalian semua bisa mendapatkan bagian, sedangkan pemuda itu untukku seorang, ha-ha-ha!"

Diam-diam Joko Handoko memandang gadis itu penuh perhatian.

Seorang gadis yang usianya kira-kira lima belas tahun, bertubuh singset, tegap berisi, kulitnya hitam lembut dan halus, wajahnya manis bukan main, dengan mulut yang panas dan mata yang memancarkan sinar tajam penuh keberanian.

Pakaiannya mewah dan pinggangnya yang kecil ramping itu diikat dengan sabuk tembaga yang berukir indah.

Diam-diam Joko Handoko mengeluh.

Tadi dia masih tenang saja karena yakin akan dapat melindungi dirinya terhadap para perampok ini.

Akan tetapi sekarang, muncul seorang gadis yang tentu saja harus dilindunginya.

Bagaimana pun juga, dia merasa kagum melihat keberanian anak perawan itu.

Gadis-gadis lain tentu sudah menangis ketakutan melihat gerombolan perampok yang bengis dan ganas itu.

"Tikus-tikus pecomberan! Maut sudah menghadang di depan mata dan kalian masih berani membuka mulut besar!"

Perawan tanggung itu membentak dengan suara penuh tantangan. Tentu saja belasan orang itu memandang rendah kepadanya.

"Kawan-kawan, siapa yang dapat lebih dulu menangkapnya, dialah yang memperoleh bagian pertama!"

Kata Kolowiryo dan seruan ini disambut suara ketawa dan sorakan, kemudian bagaikan segerombolan anjing serigala, tiga belas orang itu mengepung dan menubruk untuk memperebutkan gadis hitam manis itu.

Joko Handoko sudah siap untuk menolong gadis itu, seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang.

Akan tetapi dia menahan diri ketika melihat sikap gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut, bahkan dia melihat betapa lincah kedua kaki gadis itu menyambut serangan lawan.

Kini dia dapat menduga bahwa tentu gadis itu memiliki kepandaian maka sikapnya seberani itu dan hal ini menimbulkan keinginan tahunya untuk melihat begaimana gadis itu akan mampu melawan pengeroyokan tiga belas orang yang ganas itu.

Dan dia pun tertegun penuh kagum ketika melihat betapa tubuh yang kecil langsing itu bergerak dengan amat cepatnya, mendahului sebelum para pengeroyok itu datang dekat, melocat ke depan dan empat kaki tangannya bergerak cepat sekali membagi tamparan dan tendangan yang ternyata merupakan serangan-serangan seorang ahli karena tangan dan kaki itu tiba di bagian-bagian tubuh yang lemah.

"Plak! Buk! Plak! Dess....!"

Dan empat orang pengeroyok terpelanting sambil mengaduh karena tamparan-tamparan mengenai leher dan pelipis, tendangan-tendangan memasuki lambung dan dada!

Melihat ini, sembilan orang lainnya terkejut, akan tetapi mereka menjadi marah dan kini mereka menerjang dengan maksud bukan hanya untuk menangkap, melainkan menyerang!

Betapapun lincahnya, menghadapi sengaran penuh kemarahan dari sembilan orang yang rata-rata memiliki tenaga kerbau, gadis itu merasa kewalahan juga.

Ia mengelak sambil berloncatan ke belakang.

Yang membuat ia semakin kewalahan adalah bau keringat dan bau napas para pengeroyoknya.

Mereka itu adalah orang-orang kasar yang kotor dan tidak pernah mandi sehingga tubuh mereka mengeluarkan bau yang ledis dan apak, sedangkan mulut yang tak pernah dibersihkan itu bau tuwak{arak} sehingga memuaskan perut gadis yang dikeroyok.

Tiba-tiba saja nampak sinar berkelebat dan dua orang roboh mandi darah.

Semua orang terkejut dan memandang dengan mata terbelakak melihat betapa dua orang kawan mereka roboh dengan dada dan perut robek!

Kiranya gadis hitam manis itu telah melolos sabuk tembaga yang tadi melilit pinggangnya dan sekali sabuk itu bergerak, dua orang pengeroyok telah roboh!

Melihat ini, Kolowiryo terkejut sekali dan juga marah.

Tadi, melihat gadis itu merobohkan empat orang anak buahnya dengan tamparan dan tendangan, dia masih merasa yakin behwa anak buahnya akan mampu membekuk gadis liar itu.

Akan tetapi melihat betapa dua orang anak buah roboh lagi dengan luka parah, marahlah dia.

"Setan betina yang bosan hidup, berani kau melukai kawan-kawanku!"

Bentaknya dan Kolowiryo yang gendut pendek ini sudah mencabut sebatang golok yang tergantung di pinggangnya.

Dengan gemas dia mengayunkan goloknya mambacok ke arah kepala gadis.

Sampai terdengar suara berdesing saking kuatnya golok itu dibacokkan.

Namun dengan gesit gadis itu miringkan tubuh sehingga golok menyambar lewat, dan kaki gadis itu sudah menyambar dari samping dengan sebuah tendangan melintang, mengarah lambung lawan.

"Hehh!"

Kolowiryo menggerakkan siku kiri ke bawah untuk menangkis tendangan.

Demikian kuatnya gerakan Kolowiryo ini sehingga ketika sikunya bertemu kaki, tubuh gadis itu terdorong dan agak terhuyung.

Melihat kemenangan tenaga ini, Kolowiryo terkekeh dan timbul kesombongannya.

Dia pun menubruk sambil memutar goloknya, merasa yakin bahwa kini dia akan berhasil menyembeleh gadis yang membuat perutnya merasa panas itu.

Memang sejak muda, Kolowiryo tidak suka kepala wanita, lebih suka kepada pria-pria ganteng untuk menjadi kekasihnya.

Karena itu, kini dia sama sekali tidak merasa sayang untuk membantai dan membunuh gadis hitam manis yang akan menggerakkan gairah hati setiap pria biasa itu.

Kembali Joko Handoko yang sejak tadi hanya menjadi penonton di atas kudanya, menjadi tegang dan seluruh urat syaraf di tubuhnya siap siaga untuk menggerakkan tubuhnya menolong gadis itu kalau-kalau terancam bahaya.

Namun, sikap gadis itu yang membuat dia menahan diri.

Diserang secara hebat, si gadis manis nampak tersenyum dan tetap tenang, bahkan kini tubuhnya meluncur ke depan, tubuhnya diputar cepat sehingga membentuk gulungan sinar keemasan yang menyilaukan mata.

Kolowiryo terkejut karena bagi dia tiba-tiba tubuh gadis itu lenyap terbungkus atau tertutup gulungan sinar keemasan.

Hal ini membuat dia ragu-ragu dan goloknya menyambar ke depan dengan sinar.

"Trangg.... siingg.....crottt.....!"

Kolowiryo mengeluarkan pekikan kesakitan dan dia melotot ke belakang sambil memandang terbelalak ke arah pangkal lengan kirinya yang terluka.

Darah mengalir keluar dari baju yang robek di bagian itu.

Sementara itu, anak buahnya sudah menyerang dari belakang.

Tujuh orang itu sudah menyerang dengan senjata mereka sehingga keris, golok dan tombak meluncur dan menghujani tubuh gadis hitam manis itu.

"Sing-sing-singgg.....!"

Sinar keemasan itu bergulung-gulung dan kadang-kadang, ada sinar mencuat dari dalamnya, disusul robohnya seorang pengeroyok, lalu seorang dan seorang lagi!

Tiga orang berturut-turut roboh dengan mandi darah!

"Wah......!

Sabuk Tembaga......!"

Terdengar teriak seorang di antara sisa pengeroyok, agaknya baru teringat melihat kehebatan sabuk dari tembaga yang dipegang gadis itu.

Mendengar itu, Kolowiryo terkejut bukan main dan mukanya berubah pucat.

"Kau..... kau..... masih terhitung apakah dengan Ki Bragolo ketua Sabuk Tembaga?"

Tanyanya gagap.

Gadis itu tersenyum berdiri tegak dengan tangan kanan memegang sabuk tembaga yang tipis dan diukir indah itu, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang, sikapnya manis, lucu akan tetapi juga gagah perkasa.

"Dia adalah ayahku,"

Jawabnya tenang saja. Sepasang mata yang lebar dari Kolowiryo terbelalak dan dia mengeluh.

"Celaka....."

Kemudian tanpa banyak cakap lagi dia memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk pergi dari situ sambil membantu teman-teman yang terluka.

Gadis itu hanya memandang dengan senyum mengejek dan tidak menghalangi mereka pergi.

Tempat itu menjadi sunyi dan tenang kembali setelah para perampok itu melarikan diri.

Gadis itu masih tetap berdiri tegak dan Joko Handoko juga masih duduk di atas kudanya.

Pemuda itu tertegun ketika mendengar pengakuan gadis hitam manis itu.

Puteri Ki Bragolo!

Teringatlah dia akan penuturan mendiang eyangnya bahwa ayah kandungnya yang bernama Ginantoko telah tewas di ujung Nogopasung yang ditusukan oleh Ki Bragolo!

Dan gadis itu mengaku puterinya, puteri dari orang yang membunuh ayah kandungnya.

Sejak mendengar nasihat dan penuturan Panembahan Pronosidhi, hatinya sama sekali tidak disentuh oleh dendam terhadap Ki Bragolo.

Dia merasa yakin bahwa kematian ayahnya itu adalah akibat ulah ayahnya sendiri.

Bukanlah ayahnya telah merusak pagar ayu, menggoda isteri Ki Bragolo bernama Galuhsari yang juga kemudian tewas di ujung keris pusaka Nogopasung?

Biarpun demikian, secara tiba-tiba dia berhadapan dengan puteri Ki Bragolo, sungguh merupakan hal mengejutkan dan membuatnya tertegun.

Kalau begitu, gadis ini adalah puteri Ki Bragolo dan Galuhsari!

Ibu gadis ini adalah kekasih ayah kandungnya.

"Heii, apakah engkau gagu?"

Tiba-tiba terdengar suara gadis itu memecah kesunyian dan sekali meloncat, tubuhnya berada di depan kuda yang terlonjat kaget.

"Siapa gagu? Aku tidak gagu,"

Jawab Joko Handoko dan suaranya tidak ramah karena masih teringat bahwa gadis ini adalah puteri pembunuh ayahnya, dan sikap gadis ini yang galak, yang mengatakan dia gagu membuat hatinya jengkel juga.

"Kalau tidak gagu, kenapa sejak tadi kau terdiam saja di atas kuda? Kenapa sekarang tidak cepat turun dan menghaturkan terima kasih kepadaku?"

Gadis itu menyerang dengan kata-kata, alisnya berkerut tanda bahwa hatinya merasa tidak puas dengan sikap pemuda yang sudah dibebaskannya dari melapetaka itu.

"Kenapa aku harus berterima kasih kepadamu?"

Joko Handoko bertanya.

"Wah! Bukankah baru saja aku telah menolongmu?"

"Akan tetapi aku tidak pernah minta tolong kepadamu."

"Ih kiranya engkau seorang yang tak tahu terima kasih! Kalau tadi aku tidak turun tangan, bukankah engkau kini sudah menjadi mayat?"

"Belum tentu!"

"Hemm, engkau angkuh dan sombong, penuh keberanian. Apakah ada yang kau andalkan?"

Joko Handoko menggeleng kepala.

"Aku mungkin tidak sepandai dan segagah engkau, akan tetapi belum tentu kalau aku akan mati akan mati sekiranya engkau tidak muncul. Mati hidup di tangan para Dewa, bukan di tangan perampok-perampok itu, bukan?"

"Hus, engkau memang pandai berdebat. Aku sudah bersusah payah menolongmu, menyelamatkanmu dari bencana, dari ancaman orang-orang jahat. Dan dalam menolongmu itu aku pun terancam bahaya. Dan sekarang, engkau bersikap angkuh, berterimakasih pun tidak. Kalau tahu begini......"

"Engkau tentu takkan menolongku dan membiarkan aku terbunuh. Bukankah begitu?"

"Mungkin saja......"

"Kalau begitu, aku ingin bertanya. Apakah ketika engkau turun tangan menyerang mereka itu, engkau berpamrih untuk mendapatkan pernyataan terima kasihku?"

Joko Handoko memandang tajam dan sejenak gadis itu termangu-mangu. Kemudian ia menggeleng kepala.

"Tidak, aku tidak mengharapkan apa-apa, hanya merasa bahwa sudah menjadi kewajibanku untuk membela yang lemah dan penentang yang jahat."

"Nah, kalau begitu, kenapa engkau menuntut terima kasih dariku? Bukankah kalau aku berterima kasih, maka pertolonganmu itu menjadi ternoda oleh pamrih?"

Gadis itu nampak bingung, kemudian manarik napas panjang.

"Sudahlah, engkau memang aneh! Tidak berkepandaian, lemah, melakukan perjalanan seorang diri menunggang kuda begini baik, membawa buntalan besar. Tentu saja menarik perhatian kaum perampok! Kemudian, sudah dikepung perampok-perampok ganas engkau masih, enak-enak saja duduk di atas kuda, sedikitpun tidak merasa takut. Dan setelah ditolong orang, engkau pun tidak peduli. Orang macam apa sih engkau ini? Siapa namamu dan di mana tempat tinggalmu?"

Merasa tidak enak bicara dengan seorang gadis muda duduk di atas kudanya, Joko Handoko lalu turun dari atas punggung kuda.

Gadis itu memandang, dan sinar kagum memancar dari pandang matanya melihat pemuda tampan yang memiliki bentuk tubuh tegap itu.

"Namaku Joko Handoko dan tempat tinggalku.... ah, aku seperti sehelai daun yang tertiup angin, terbang ke mana saja angin meniupku, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap."

"Hemm, semakin aneh penuh rahasia saja engkau. Akan tetapi namamu indah sekali. Joko Handoko! Biarpun engkau tidak memiliki tempat tinggal, setidak-tidaknya engkau mempunyai tujuan perjalanan. Hendak kemanakah engkau?"

"Aku hendak pergi ke Tumapel,"

Jawab Joko Handoko sejujurnya dan dia pun semakin kagum kepada gadis ini.

Setelah dia turun dari kuda dan berdiri dekat gadis itu, makin jelas nampak betapa manisnya gadis itu, betapa padat dan ramping tubuhnya dan dari tempat dia berdiri dia dapat mencium bau sedap keluar dari tubuh di depannya itu.

Seorang gadis remaja yang luar biasa, pikirnya.

Belum pernah dia bertemua dengan seorang gadis seperti ini!

Dan memang pemuda itu masih amat hijau dalam pergaulannya dengan wanita.

Hanya wanita-wanita dusun saja yang pernah dijumpainya.

Bahkan baru sekali ini dia berhadapan langsung dengan seorang gadis dan bercakap-cakap demikian bebasnya!

Mendengar bahwa pemuda itu hendak pergi ke Tumapel, gadis itu nampak girang.

"Bagus! Kalau begitu kita dapat jalan bersama karena aku pun akan pergi ke sana. Dengan demikian, aku tidak akan mengkhawatirkan lagi engkau akan diganggu orang di tengah perjalanan. Perjalanan ke Tumapel masih melewati beberapa bukti yang cukup berbahaya."

Diam-diam Joko Handoko harus memuji bahwa gadis ini memiliki pribadi yang gagah dan baik, suka menolong orang di samping kegagahan dan kecantikannya.

"Nanti dulu! Engkau sudah mengenal namaku dan tujuan perjalananku, sedangkan aku hanya mengetahui bahwa engkau adalah puteri Ki Bragolo dari perkumpulan Sabuk Tembaga. Siapakah namamu dan ceritakan tentang dirimu. Dengan demikian baru kita saling mengenal dan patut melakukan perjalanan bersama."

Gadis itu tersenyum.

Sejak tadi dia terheran-heran melihat sikap pemuda ini.

Demikian anggun, akan tetapi lemah dan di dalam kelemahannya, pemuda ini memiliki sikap yang tegas dan keberanian yang luar biasa.

"Namaku Wulandari."

"Wah, indah sekali namamu itu. Wulandari....! Bukankah nama itu artinya Bulan Purnama, bulan yang dikelilingi garis cerah di sekelilingnya? Akan tetapi engkau mengingatkan aku kepada bunga, bikan kepada bulan."

Wajah Wulandari berseri.

Gadis mana yang takkan berseri mukanya mendengar dirinya dipuji orang?

Disamakan dengan bunga merupakan pujian yang menyenangkan karena ia pun menyukai bunga!

"Seperti bunga apa menurut pendapatmu?"

Tanyanya, mendesak dan ingin tahu.

Ia suka bunga cempaka yang menjadi lambang kebersihan, bunga kamboja lambang kesucian, bunga melati lambang keharuman dan keluwesan wanita dan mengharapkan pemuda yang menarik hatinya ini akan menyebut satu di antara bunga-bunga itu.

"Engkau mengingatkan aku akan bunga mawar berduri."

Wulandari mengerutkan alisnya.

"Bunga mawar masih bolehlah, akan tetapi mengapa berduri? Tidak enak sekali!"

"Engkau manis seperti bungan mawar, akan tetapi engkau gagah perkasa dan memiliki kepandaian sehingga tidak sembarangan orang boleh menyentuhmu. Siapa berani kurang ajar berusaha memetik dan mengganggu bunga mawar, pasti akan tertusuk duri. Engkau manis dan gagah seperti bunga mawar berduri!"

Wulandari tidak marah. Ia tersenyum dan mukanya yang manis itu menjadi merah agak gelap, tandan bahwa darah naik ke mukanya karena merasa malu-malu senang.

"Ih, engkau tukang merayu ya? Engkau pun seorang pemuda aneh, Joko Handoko. Engkau seorang pemuda yang tidak meiliki kepandaian beladiri, aka tetapi engkau penuh keberanian dan ketabahan."

"Kalau aku tukang merayu, engkau ahli memuji, Wulan."

Joko Handoko tersenyum. Keduanya tersenyum dan merasa akrab.

"Aku suka padamu, Joko,"

Kata Wulandari dan ucapannya itu demikian terbuka dan jujur, sama sekali, tidak mengandung maksud apa-apa kecuali suatu pernyataan yang apa adanya.

Joko Handoko senang sekali mendengar dan melihat ini.

"Dan aku pun suka kepadamu, Wulan."

"Mari kita lanjutkan perjalanan. Hutan di depan ini cukup lebat dan gelap. Apakah engkau sudah mengenal jalannya?"

Joko Handoko menggeleng kepalanya.

"Selama hidup baru pertama kali ini aku ikut lewat di sini."

"Wah, sungguh engkau sembrono sekali. Aku sendiri yang sudah sering lewat di sini, dan yang memiliki kepandaian cukup untuk mengelola dia, masih harus berhati-hati sekali melewatinya. Hutan besar ini terkenal keangkerannya, bahkan ada yang menggambarkan bahwa siapa berani memasuki berarti menantang maut. Dan engkau enak-enak saja hendak pergi memasukinya dengan segala kelemahanmu. Mari kita berangkat dan jangan khawatir, aku akan melindungimu."

"Baik, marilah."

Dan Joko Handoko menuntun kudanya.

"Eh? Kenapa dituntun? Naiklah ke punggung kudamu."

"Tidak, aku jalan kaki saja. Kalau engkau mau, engkau boleh menungganginya."

"Itu kan kudamu."

"Tapi aku laki-laki. Malu kalau harus menunggang kuda sedangkan engkau perempuan berjalan kaki. Biar kau yang menunggang dan aku yang jalan kaki."

"Biarpun perempuan, aku lebih kuat darimu,"

Bantah Wulandari.

"Aku baru mau menunggang kuda kalau bersamamu. Kita menunggang bersama, atau jalan kaki bersama!"

Joko Handoko berkeras.

"Engkau ini memang aneh! Kalau tidak ditunggangi sayang. Kuda ini kuat, tidak akan keberatan membawa beban kita berdua. Akan tetapi kalau dilihat orang, bukankah kita akan ditetawakan? Kita bukan apa-apa, tapi menunggang kuda dengan hati bersih, bukan?"

"Baiklah kalau begitu. Nah, kau naiklah, aku akan membonceng di belakangmu,"

Kata gadis itu.

Joko Handoko lalu menunggang kudanya tiba-tiba, dengan gerakan ringan dan cekatan sekali, gadis itu sudah meloncat ke atas punggung kuda, di belakang Joko Handoko.

Pemuda itu merasa aneh, akan tetapi untuk mengusir perasaan ini, dia lalu membedal kudanya yang lari congklang ke depan.

"Kau ikuti saja jalan setapak ini,"

Kata Wulandari.

"Aku sudah mengenal jalan, jangan khawatir."

Joko Handoko hanya mengangguk dan mereka pun memasuki hutan yang lebat itu.

Mula-mula Joko Handoko merasa canggung sekali.

Bagaimanapun juga, dia dapat merasakan ketika kudanya lari congklang, kedua paha gadis itu bersentuhan dengan pinggulnya, dan dua tonjolan payudara kadang-kadang menyentuh punggungnya.

Jantungnya berdebar tidak karuan dan dia bingung sendiri, merasa risi dan canggung, akan tetapi dia mengeraskan hatinya dan mematikan rasa.

Dia sama sekali tidak tahu betapa kadang-kadang gadis di belakangnya itu memejamkan matanya, tidak tahu betapa semenjak saat mereka menunggang kuda berbocengan itu, tertanam perasan cinta kasih yang mendalam di hati gadis itu terhadap dirinya!

Kita tinggalkan dulu Joko Handoko dan Wulandari yang berboncengan naik kuda menuju ke Tumapel dan mari kita mengikuti keadaan Ken Arok yang telah lama kita tinggalkan.

Seperti telah kita ketahui, Ken Arok bertemu dengan Panji Tito putera Ki Ageng Sahoyo yang menjadi pinisepuh di Sagenggeng.

Pendeta di Sagenggeng ini masih terhitung adik seperguruan dari Panembahan Pronosidhi, di Gunung Anjasmoro, maka tentu saja dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Biarpun dalam hal ilmu silat, dia tidak sehebat Panembahan Pronosidhi, namun dalam ilmu kesusasteraan dan kesenian, dia mengungguli kakak seperguruannya itu.

Dan berbeda dengan Panembahan Pronosidhi yang hidup sebagai seorang pertapa yang saleh, Begawan Jumantoko tidak memantang kesenangan duniawi dan behkan terkenal sebagai seorang yang tergila-gila kepada wanita cantik!

Karena kepandaiannya, maka banyaklah wanita muda yang menjadi muridnya, terjatuh ke dalam pelukannya dan banyak sekali wanita muda tinggal di padepokannya, ada yang belajar silat, belajar kesusatraan atau kesenian, akan tetapi juga diam-diam mereka menjadi selir-selir yang tidak sah dari pendeta itu!

Ken Arok dan Panji Tito dengan tekun mempelajari ulah keperajuritan dari Begawan Jumantoko yang merasa girang memperolah murid-murid yang pandai itu.

Dan di tempat itu pula Ken Arok memperoleh pelajaran dan pengalaman baru yang amat mengasikkan hatinya, yaitu bergaul dan berdekatan dengan wanita-wanita muda yang cantik dan genit, selir-selir yang juga menjadi murid-murid Begawan Jumantoko.

Berbeda dengan Panji Tito yang tidak suka berdekatan dengan wanita-wanita genit itu, Ken Arok seperti seekor harimau kelaparan bertemu dengan sekumpulan domba jinak.

Dalam waktu singkat saja dia sudah bermesraan dengan mereka, dengan lahap menerima pelajaran tentang permainan cinta yang mengasikkan dari para selir itu.

Begawan Jumantoko bukan seorang bodoh dan dia sudah dapat menduga akan adanya hubungan antara murid yang tampan dan gagah ini dengan beberapa orang selirnya.

Akan tetapi, dia pura-pura tidak tahu saja.

Dia pun merasa bahwa dirinya sudah terlalu tua sehingga tidak mengherankan apabila murid-muridnya itu tertarik kepada Ken Arok.

Akan tetapi, setelah semakin lama para selirnya bersikap semakin dingin terhadap dirinya, dia menjadi marah.

Apa lagi ketika selirnya yang paling disayangnya, Lasmini, juga mulai mengadakan hubungan dengan Ken Arok.

San Begawan merasa kehormatannya dilanggar.

Dia sudah menyindirkan kepada Ken Arok dan Lasmini bahwa wanita yang satu ini tidak boleh diganggu.

Dalam kemarahannya, Sang Begawan Jumantoko ingin membunuh Ken Arok dengan diam-diam.

Pada suatu malam dia bahkan menangkap basah Ken Arok yang sedang berkasih-kasihan dengan Lasmini di taman bunga.

Dia tidak mengganggu mereka dan baru setelah kedua orang yang berjina itu berpisah, diam-diam dia mengikuti Ken Arok ke kamar orang muda itu.

Dia menanti sampai Ken Arok tidur pulas.

Dibukanya pintu kamar dengan kepandaiannya dan dengan keris di tangan, dia memasuki kamar, bermaksud membunuh Ken Arok selagi tidur.

Tentu saja dia berani menyerang murid ini dalam keadaan sadar, hanya dia tidak sampai hati berbuat demikian.

Pula, kalau Ken Arok terbunuh selagi tidur, tidak akan ada yang tahu siapa pembunuhnya, mungkin seorang di antara selir-selir atau murid-murid perempuan yang saling cemburu.

Tiba-tiba kakek itu menghentikan langkahnya dan memandang dengan mata terbelalak ke arah Ken Arok yang tidur mendengkur di atas balai-balai, pulas karena kelelahan.

Senyum kepuasan membayang di wajahnya.

Yang membuat Begawan Jumantoko tenganga adalah karena dia melihat sinar memancar dari kepala pemuda itu!

"Jagat Dewa Bathoro.....!"

Dia berbisik.

Dia sudah mendengar dari desas-desus yang ditiup oleh Ken Arok bahwa pemuda itu adalah keturunan Sang Hyang Brahma.

Kini, melihat cahaya di kepala Ken Arok, timbul rasa takutnya dan dia pun menyembah, lalu mundur dan menutupkan kembali pintu kamar itu, tidak berani mengganggu pemuda yang kini dia yakin tentu keturunan Sang Hyang Brahma itu!

Peristiwa ini mengubah sikap Begawan Jumantoko.

Beberapa hari kemudian, setelah membari wejangan-wejangan tentang ilmu bela diri yang romit-rumit kepada Ken Arok dan Panji Tito, dia memanggil Ken Arok untuk diajak bicara empat mata.

"Ken Arok, aku ingin bertanya. Sebenarnya, siapakah nama orang tuamu?"

Ken Arok memandang heran.

"Bopo Begawan, bukankah pernah hal itu Paduka tanyakan? Dan saya pun sudah menerangkan bahwa ayah ibu saya adalah Ki Lembong dan Nyi Lembong yang tinggal di dusun Pangkur, dan sekarang menjadi budak di rumah kepala desa Lebak. Kenapa paduka menanyakan lagi?"

Begawan Jumantoko menggelang kepala.

"Ceritamu itu tidak benar, muridku. Cobalah engkau tanyakan kepada Ki Lembong dan Nyi Lembong, siapa sebenarnya ayah ibumu. Sekarang engkau telah dewasa, sudah sepatutnya engkau mengenal siapa sebenarnya orang tuamu."

Ucapan pendeta itu amat mengganggu hati dan pada saat hari itu, dia pamit dari gurunya dan Panji Tito untuk pulang ke Dusun Pangkur mengunjugi Ki Lembong dan Nyi Lembung.

Ternyata kedua orang telah kembali ke rumah mereka setelah beberapa tahun lamanya bekerja kepada kepala Desa Lebak untuk menebus hutang mereka, yaitu hewan yang dihabiskan Ken Arok di meja judi.

Tentu saja hati kedua orang tua ini amat girang melihat Ken Arok pulang.

Dirangkulnya Ken Arok dan dikaguminya karena kini Ken Arok telah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah.

Nyi Lembong yang menganggap Ken Arok sebagai anak kandung sendiri, merangkul sambil menangis dengan terharu.

Akan tetapi, betapa heran hati mereka melihat bahwa Ken Arok bersikap dingin saja.

Dan mereka terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok berkata.

"Ki dan Nyi Lembung, katakanlah secara terus terang, sebenarnya aku ini anak siapa? Siapakah ayah dan ibuku yang sejati?"

Mendengar ini, dengan muka berubah, suami isteri itu saling pandang dan Nyi Lembong masih mencoba untuk mempertahankan.

"Angger Ken Arok anakku! Mengapa engkau mengajukan pertanyaan seaneh itu? Tentu saja kami berdua ini ayah dan ibunya yang sejati!"

Ken Arok mengerutkan alisnya dan memandang kedua orang tua itu dengan bengis.

"Tak perlu kalian berbohong lagi! Lihatah baik-baik diriku ini. Pantaslah aku menjadi anak seorang maling biasa? Pantaskah ayahku maling dan ibuku perempuan dusun yang bodoh?"

"Ken Arok! Sudah kami beritahukan bahwa engkau keturunan Sang Hyang Brahma, hanya melalui kami sebagai orang tua yang memeliharamu....."

Kata Ki Lembong.

"Sudahlah, Ki Lembong. Tak perlu banyak mengelak lagi. Aku yakin bahwa kalian bukan ayah ibuku yang sejati. Katakan saja yang sebenarnya atau aku akan marah dan lupa bahwa kalian pernah memeliharaku sejak kecil."

Ken Arok yang berwatak keras itu sudah mengancam dengan suara bengis.

Hal ini tentu saja mengejutkan hati dua orang tua itu.

Bagaimana pun juga, di lubuk hati suami isteri ini memang sudah mempunyai rasa takut dan hormat kepada Ken Arok yang mereka yakin tentu keturunan Sang Hyang Brahma.

Maka Ki Lembung lalu menceritakan kepada Ken Arok tentang riwayat anak itu.

Diceritakannya betapa dia menemukan Ken Arok sebagai seorang bayi di tengah kuburan dan betapa pada keesokan harinya, seorang wanita bernama Ken Endok mengakuinya sebagai anak kandung yang berayah Sang Hyang Brahma.

Girang hati Ken Arok mendengar ini.

"Jadi, ibu kandungku bernama Ken Endok? Di mana ia sekarang?"

Ken Endok sudah menikah lagi dan tinggal di dusun Pangkur itu juga, sudah mempunyai dua orang anak lagi dengan suaminya yang baru.

Ken Arok lalu pergi mengunjunginya dan berkeras minta jumpa dengan wanita yang bernama Ken Endok.

Akhirnya, bertemu jugalah ibu dan anak itu.

Sejenak mereka berdiri saling pandang dan biarpun Ken Endok belum tahu siapa gerangan pemuda tampan yang berdiri di depannya itu, namun dia merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Terbayanglah wajah Ginantoko belasan tahun yang lalu, yang serupa benar dengan pemuda ini.

Bahkan hampir dia percaya bahwa bekas kekasihnya itu, titisan Sang Hyang Brahma, kini muncul lagi di depannya!

"Saya Ken Arok,"

Tiba-tiba pemuda itu berkata, membuyarkan semua lamunan Ken Endok.

"Apakah ibu yang bernama Ken Endok?"

"Ken Arok...? Kau... kau... anak Ki Lembong....?"

"Benar, aku anak yang kau titipkan kepada Ki dan Nyi Lembong. Benarkah aku ini anak kandungmu?"

"Ken Arok....!"

Ken Endok tak dapat menahan tangisnya dan ia pun merangkul pemuda itu, anak kandungnya sendiri yang terpaksa dipisahkan darinya semenjak bayi itu lahir.

Akan tetapi Ken Arok menyambut keharuan ibu kandungnya itu dengan dingin.

Betapa pun juga, wanita yang mengaku ibu kandungnya itu tidak pernah mengasuhnya dan tidak ada perasaan kasih sayang kepadanya.

Maka dia dengan lembut melepaskan diri dari pelukan.

"Ibu aku datang untuk bertanya, siapa sebenarnya ayah kandung saya. Saya dikabarkan keturunan Sang Hyang Brahma. Hanya engkau seoranglah yang tahu akan keadaan sebenarnya. Siapakah ayahku?"

Kalau saja Ken Endok belum menyelidiki sebelumnya, tentu ia akan bingung sekali menghadapi pertanyaan yang mendesak dari anaknya sendiri itu.

Untung bahwa setelah menjadi isteri suaminya yang sekarang, hidupnya serba kecukupan dan ia mempunyai banyak waktu untuk melakukan penyelidikan.

Dan ia pun dapat mengetahui dari hasil penyelidikannya bahwa pemuda tampan yang menjadi kekasihnya itu, atau titisan Sang Hyang Brahma, adalah seorang pemuda bangsawan dari Tumapel yang bernama Raden Ginantoko.

Bahkan ia mendengar berita yang lebih dari itu, ialah bahwa Raden Ginantoko telah tewas oleh seorang bernama Ki Bragolo ketua Sabuk Tembogo dari lereng Gunung Kawi ketika pria ganteng itu tertangkap basah berjina dengan isteri Ki Bragolo!

Kini mendengar pertanyaan puteranya, ia lalu bermaksud untuk menceritakan semuanya karena diam-diam di lubuk hatinya mengandung niat agar puteranya ini membalas dendam dan menuntut atas kematian ayah kandungnya!

Tentu saja sebagai wanita yang diam-diam masih amat mencintai Ginantoko, hatinya sakit sekali mendengar kekasihnya dibunuh orang.

Selama ini, ia hanya menahan perasaan dendamnya.

Sebagai isteri dari suaminya yang sekarang, ia sama sekali tidak berdaya.

Mana mungkin ia terang-terangan menyatakan sakit hati atas kematian kekasihnya yang dulu?

Juga, apa daya suaminya atau ia sendiri terhadap seorang yang bernama Ki Bragolo itu, yang menurut kabar, merupakan kepala sebuah perkumpulan pencak silat yang amat jagoan?

"Anakku Ken Arok, duduklah dan dengarkan ceritaku.

Ayahmu yang menjadi titisan Sang Hyang Brahma itu sebenarnya bernama Raden Ginantoko, seorang pria bangsawan yang tampan dan gagah perkasa........"

"Ahh, akhirnya aku tahu juga siapa ayahku!"

Ken Arok berseru gembira dan diapun duduk menghadapi ibunya.

"Bagaimana selanjutnya, ibu?"

"Ketika itu, terdapat hubungan cinta kasih antara Raden Ginantoko dengan aku, dan walaupun aku dikawinkan dengan seorang bernama Ki Gajahporo, namun aku tidak mau disentuh oleh suamiku karena sejak perawan aku telah jatuh cinta kepada Raden Ginantoko. Akan tetapi, agaknya sudah menjadi kehendak para dewata, anakku. Ketika engkau masih berada di dalam kandungan, ayahmu itu, Raden Ginantoko telah tewas di tangan seorang yang bernama Ki Bragolo, ketua perkumpulan Sabuk Tembogo yang berada di lereng Gunung Kawi...."

Ken Arok mengerutkan alisnya.

"Hemmm, Ki Bragolo ketua Sabuk Tembogo? Dan bagaimana aku lalu dapat menjadi anak angkat dari Ki dan Nyi Lembong, pencuri itu?"

"Aku...... aku yang menyerahkanmu kepada mereka untuk dipelihara, Nak. Aku..... suamiku, Ki Gajahpuro juga tewas dan aku menjanda.... dan aku tidak kuat menahan desas-desus dan omongan orang bahwa aku sebagai janda mempunyai anak tanpa bepak."

Ken Endok menangis. Ken Arok bangkit berdiri, memandang kepada wanita yang menjadi ibu kandungnya itu dengan muka menyatakan tidak senang.

"Dan ibu meikah lagi, kini sudah mempunyai dua orang anak lalu melupakan bayi yang ibu titipkan kepada keluarga maling itu, ya? Baiklah selamat inggal ibu, aku pergi mencari pembunuh ayah kandungku!"

"Ken Arok......!"

Akan tetapi pemuda itu telah lari meninggalkan ibu kandungnya.

Ken Endok hanya dapat menangis dengan sedih, akan tetapi diam-diam ia mengharapkan putera kandungnya itu akan berhasil menuntut balas atas kematian mendiang Raden Ginantoko.

Dengan hati yang puas akan tetapi juga marah terhadap ibu kandungnya, Ken Arok lalu meninggalkan Dusun Pangkur dan kembali ke Sugenggeng.

Semanjak hari itu, dia melatih diri dengan tekun lagi sehingga memperoleh kemajuan pesat, hal itu yang membuat gurunya semakin mengaguminya.

Sebagai seorang pendeta, Begawan Jumantoko maklum bahwa pemuda yang mencorong kepalanya itu adalah keturuna dewa dan kelak tentu akan menjadi orang besar.

Maka diapun tidak pelit untuk mengajarkan semua ilmunya sehingga dalam waktu singkat, tingkat kepandaian Ken Arok dalam hal ilmu kanuragan melonjak cepat dan melampui tingkat panji Tito atau murid-murid lainnya yang telah lebih dahulu menjadi orang digdaya, kini dia belajar dengan ada tujuan.

Pertama, dia ingin membalas dendam kematian ayah kandungnya terhadap Ki Bargolo, dan ke dua, dia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia benar-benar keturunan Sang Hyang brama dan akan menguasai dunia!

Saking sayangnya bahkan mengajarkan kepada Ken Arok, Begawan Jumantoko bahkan mengajarkan dua macam ilmu yang diajarkannya kepada siapapun juga dan merupakan ilmu simpanannya, yaitu pertama adalah ilmu Silat watak Sakti dan kedua adalah aji Joyo kawaco.

Yang pertama merupakan ilmu silat yang amat dahsyat berdasarkan kekerasan bagaikan seekor binatang badak sakti yang mangamuk, sedangkan yang kedua merupakan ilmu kekebalan yang hebat, sesuai dengan namanya.

Joko Kawoco (Dara berbaju Besi) Akan tetapi, ganguan Ken Arok terhapat para selir semakin menjadi-jadi, dan para selir itu bahkan secara terang-terangan menyatakan tergila-gila kepada pemuda itu.

Ha ini membuat sang begawan akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri masa belajarnya kepada kedua orang pemuda itu.

"Murid-muridku yang baik, Ken Arok dan Panji Tito,"

Katanya setelah dia memanggil kedua orang muda itu menghadap.

"Tibalah saatnya kalian tamat dari belajar di sini. Kalian sudah mempelajari berbagai ilmu dan bagaikan seekor burung, sudah memiliki sayap yang kuat untuk mengarungi dunia ini memperluas pengetahuan. Kalian sudah cukup dewasa untuk turun gunung dan mempergunakan ilmu-ilmu yang kalian pelajari. Sudah tiba saatnya kalian terjun di dunia ramai dan mencari kedudukan yang tinggi, kemuliaan yang besar. Aku hanya mendoakan semoga kalian berhasil."

Ken Arok dan Panji Tito lalu menghaturkan terima kasih dan berpamit.

"Kalau sampai saya berhasil, saya tidak akan melupakan jasa-jasa bopo guru begawaan yang mulia,"

Kata Ken Arok dan janji ini membuat Begawan Jumantoko merasa girang bukan main.

Dia merasa yakin bahwa Ken Arok inilah yang kelak akan menjunjung tinggi namanya dan menariknya ke atas, ke tempat yang mulai.

Kepergian Ken Arok mengundang tangis dan keluh kesah para murid perempuan.

Banyak di antara mereka yang menyatakan hendak ikut, akan tetapi tentu saja semua ditolak oleh Ken Arok.

Bagaimanapun juga, Ken Arok berjina dengan mereka bukan karena jatuh cinta, melainkan hanya karena dorongan nafsunya yang dikobarkan oleh para gadis genit pengejar cinta itu.

Selain mempelajari ilmu silat dan kesusasteraan, di tempat tinggal Begawan Jumantoko itu Ken Arok juga telah mempelajari ilmu bermain cinta dengan guru-gurunya yang pandai, yaitu murid-murid perempuan sang begawan itu sendiri!

Akan tetapi, kalau saja Begawan Jumantoko tahu apa yang terjadi dengan murid-muridnya yang diharapkannya itu, tentu dia akan kecewa bukan main.

Setelah pergi meninggalkan Sagenggeng dan berpamit pula kepada dari Ki Bango Samparan yang memberi bekal secukupnya kepada Panji Tito dan Ken Arok, kedua orang pemuda itu lalu pergi ke timur dan akhirnya keduanya membuka sebuah pedukuhan, yaitu dusun yang kecil, di sebelah timur yang diberi nama Dusun Sanja.

Dan apa yang yang mereka kerjakan menjadi penyamun!

Mula-mula Panji Tito memang merasa tidak setuju dan tidak cocok dengan pekerjaan menyamun ini.

Akan tetapi Ken Arok menekannya.

"Kakang Panji, apa salahnya menjadi perampok? Kita merampok dengan melihat siapa yang kita rampok, bukan sembarangan merampok. Dan lihat, betapa banyaknya rakyat dusun yang hidup serba kekurangan. Kita merampok dari para hartawan yang kuat, kemudian hasil rampokan kita bagi-bagikan kepada orang-orang dusun yang miskin! Bukankah itu merupakan pekerjaan yang baik dan gagah?"

Panji Tito tidak berani membantah lagi karena sejak lama dia sudah kalah pengaruh oleh Ken Arok.

Dia kalah wibawa, kalah pula dalam tingkat kepandaian sehingga seolah-olah menjadi pembantu dan bawahan Ken Arok.

Setelah tinggal di Sanja selama beberapa bulan, terkenallah Ken Arok sebagai seorang perampok yang ditakuti orang.

Pernah serombongan pedagang dengan iringan pengawal yang belasan orang jumlahnya, dihadang oleh Ken Arok dan Panji Tito, dan biarpun para pengawal itu mengeroyok mereka, tetap saja para pengawal dihajar cerai berai dan barang-barang bawaan para pedagang itu dirampok habis-habisan!

Akan tetapi, bagi para penduduk dusun-dusun di sekitarnya yang miskin, Ken Arok dianggap sebagai dewa penolong karena pemuda ini suka membagi-bagikan harta yang dirampoknya kepada para fakir miskin.

Akan tetapi, nafsu keserakahan Ken Arok bukan hanya ditujukan untuk merampok harta benda.

Nafsu birahinya juga berkobar, sebagai akibat permainannya dengan para selir atau murid perempuan Begawan Jumantoko.

Setiap dia melihat wanita cantik, biarpun wanita itu masih perawan atau sudah menjadi isteri orang-orang di dusun itu, dia selalu mengganggunya.

Hampir semua wanita yang menarik hatinya, akhirnya terjatuh dalam pelukannya.

Hal ini adalah karena suami atau ayah takut menghadapinya, pula karena memang para wanita itu kagum kepada pemuda yang tampan dan gagah ini.

Pada suatu hari, ketika Ken Arok pergi seorang diri ke dalam hutan dengan maksud berburu binatang, dia melihat seorang kakek pencari tuak, yaitu minuman dari pohon aren sedang mencari tuak di dalam hutan, diikuti oleh seorang perawan remaja, puteri tunggalnya.

Melihat anak perawan ini, tersirap darah Ken Arok dan dia langsung tergila-gila.

Dihampirinya kakek dan anak perempuannya itu dan disapanya dengan halus.

"Paman, siapakah adik manis ini?"

Langsung saja Ken Arok bertanya.

Kakek itu sudah mendengar akan watak pemuda ini yang mata keranjang, maka jantungnya berdebar gelisah.

Dia tidak ingin anak perempuannya menjadi korban pemuda yang gila perempuan ini.

"Ia Witri, anak saya, Raden. Permisi, kami hendak pulang agar tidak kemalaman di jalan."

"Dimanakah rumah andika, Paman?"

"Di dusun Lahat, sebelah barat sungai."

"Aih, jauh juga. Kasihan anak perempuan diajak bekerja sejauh ini. Kalian tentu lelah, marilah singgah di pondokku dan sebaiknya bermalam di sana saja, besok baru kalian pulang."

"Terima kasih, Raden. Kami hendak langsung pulang saja, karena ibunya Witri tentu akan merasa khawatir kalau kami tidak pulang. Mari, genduk Witri, kita pulang.

"Ayah itu lalu menggandeng tangan puterinya untuk diajak pergi secepatnya dari tempat itu. Akan tetapi, tiba-tiba Ken Arok meloncat dan menghadang di depan mereka.

"Paman, kalau paman tidak mau mampir juga tidak mengapa, akan tetapi adik Witri ini harus singgh di pondokku semalam. Biarlah besok kuantar ia pulang."

Berkata demikian, Ken Arok mengulur tangan untuk menangkap lengan perawan itu.

"Jangan, Raden. Jangan ganggu anakku......!"

Kakek itu menarik anaknya yang menjadi ketakutan dan merangkulnya.

"Harap jangan ganggu anakku....!"

Ken Arok mengerutkan alisnya dan senyumnya menjadi bengis.

"Paman, tahukah paman siapa aku?"

Orang tua itu mengangguk.

"Engkau adalah Raden Ken Arok.....!"

"Nah, kalau sudah mengenal aku, tentu tahu bahwa kehendakku tidak mungkin dapat dibantah. Bukankah aku penolong rakyat miskin di dusun-dusun? Bukankah aku selalu memperoleh wanita mana saja yang kusenangi? Dan bukankah wanita yang kusenangi mendapat kehormatan besar?"

"Tapi.... tapi.... maafkan kami, harap jangan ganggu anakku, Raden...."

Orang tua itu meratap, tidak mampu membantah semua kata-kata Ken Arok. Ken Arok menjadi marah karena merasa malu bahwa dirinya ditolak oleh seorang kakek penyadap aren.

"Hemm, tua bangka tak tahu diri! Berani engkau membantah dan menolak keinginanku? Gadis ini harus menemaniku untuk malam ini, baik engkau setuju atau tidak!"

Dan dengan cepat dia menubruk maju, menangkap lengan Witri dan merenggutnya dengan sentakan kuat. Gadis itu menjerit dan terlepas dari pelukan ayahnya.

"Jangan ganggu anakku! lepaskan anakku"

Kakek itu mencoba untuk merampas kembali anaknya, akan tetapi. Ken Arok mengerakkan kakinya, menyamping, dengan kekutan penuh.

"Dukkkk!"

Tubuh kakek itu terjengkang dan terbanting keras. Dia hanya menggeliat kesakitan dan tak mampu bengkit kembali. Melihat ini, Witri menjerit.

"Bapak.......!!"

Akan tetapi Ken Arok sudah menariknya. Ketika gadis remaja itu meronta-ronta hendak melepaskan tarikan tangannya, Ken Arok lalu memondongnya dan mambawanya pergi dari situ.

"Lepaskan aku... ohh, lepaskan...."

Ia meronta-ronta akan tetapi apa dayanya manghadapi dekapan kedua lengan Ken Arok yang berotot dan kuat itu?

Ia melakukan perlawanan sejadi-jadinya, namun akhirnya ia harus menyerah dan hanya menangis ketika Ken Arok memaksa dan menggagahinya, memperkosanya di atas rumput, tak jauh dari tempat di mana ayahnya masih merintih kesakitan.

Pada keesokan paginya, sambil menangis, dengan rambut awut-awutan, pakaian tidak karuan, muka pucat Witri terhuyung-huyung menghampiri ayahnya yang masih mengaduh-aduh lemah.

Mereka bertangisan dan Witri yang mengalami penderitaan hebat lahir batin itu membantu ayahnya, sedapat mungkin mereka tertatih-tatih pulang ke dusun mereka.

Akan tetapi, hanya dua hari setelah peristiwa itu, ayah Witri meninggal dunia.

Witri dengan hati yang sakit lalu menceritakan kejahatan Ken Arok sehingga orang-orang semakin takut akan tetapi mulai merasa benci kepada pemuda itu.

Memang benar Ken Arok suka menderma dan membagi-bagikan harta, akan tetapi agaknya semua itu bukan dilakukan karena memang hatinya penuh welas asih, melainkan untuk mencari nama.

Buktinya dia dapat berbuat keji dan kejam sekali terhadap Witri dan ayahnya.

Karena semakin ditakuti dan merasa betapa pengaruh dan kekuasaannya semakin meluas, Ken Arok bersikap semakin ganas dan jahat.

Kalau tadinya dia masih memilih korban, kini dia tidak peduli lagi.

Banyak sudah orang dusun yang sudah menjadi korban keganasannya.

Juga beberapa kali dia memperkosa wanita yang tidak mau melayaninya, membunuh keluarga wanita yang tidak mau menyerahkan isterinya atau anak perempuannya.

Melihat ini, beberapa kali Panji Tito menegur dengan halus dan memperingatkan Ken Arok.

Karena ternyata Ken Arok makin menjadi-jadi jahatnya, pada suatu hari Panji Tito menjumpainya dan menyatakan bahwa dia hendak pulang saja ke rumah orang tuanya di Sagenggeng.

Barulah Ken Arok menjadi terkejut.

"Ah, kenapa engkau hendak meninggalkan aku, Kakang Panji? Aku mengerti, engkau tidak setuju dengan sepak terjangku tentang..... tentang wanita. Aku tidak berdaya, (Lanjut ke

Jilid 05) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 karena memang itu kesukaanku. Ah, sebelum engkau pergi meninggalkan aku, aku ingin minta bantuan dulu, Kakang."

"Bantuan apakah, Dimas Ken Arok? Tentu saja aku mau membantu kalau memang tidak berlawanan dengan hatiku."

"Ketahuilah bahwa ayah kandungku telah terbunuh orang dan kini aku ingin membalas dendam terhadap orang itu. Hanya engkau yang kiranya dapat membantuku menghadapi musuh yang tangguh itu."

"Ayah kandungmu? Bukankah ayahmu Sang Hyang..."

"Benar!"

Ken Arok memotong dengan wajah serius.

"Ayah kandungku adalah titisan Sang Hyang Brahma. Karena sudah menitis menjadi manusia, maka tentu saja ayahku tidak terlepas dari maut. Dia dibunuh oleh Ki Bragolo ketua dari perkumpulan Sabuk Tembogo yang bertempat tinggal di lereng Gunung Kawi. Nah, sekarang aku hendak mencarinya dan membalas dendam atas kematian ayah. Maukah engkau membantuku, Kakang Panji?"

Betapapun juga, Ken Arok adalah anak angkat ayahnya dan dia sendiri memang sayang kepada Ken Arok yang menjadi sahabat dan saudaranya selama bertahun-tahun.

Kalau disuruh membantu melakukan hal-hal yang jahat, seperti menganggu penduduk dusun yang memperkosa wanita, tentu dia tidak sudi.

Akan tetapi sekarang, adik angkatnya itu hendak membalas dendam atas kematian ayah kandungnya yang terbunuh orang.

"Tentu saja aku akan membantumu, Dimas Ken Arok!"

Maka berangkatlah kedua orang muda itu meninggalkan dusun mereka, yaitu Dusun Sanja, menuju ke Gunung Kawi untuk mencari musuh besar Ken Arok.

Dusun itu dan desa-desa di sekitarnya menjadi aman untuk sementara.

Lega hati para penghuni dusun-dusun itu ketika mereka melihat bahwa Ken Arok telah meninggalkan tempat itu.

Berita tentang Witri dan ayahnya sudah tersebar luas, ditambah lagi berita-berita kejahatan lain sehingga nama Ken Arok semakin dikenal sebagai seorang penjahat muda yang ganas.

Bahkan nama ini tersebar sampai jauh memasuki tapal batas Kadipaten Tumapel.

"Nah, kau lihat, buktinya hutan itu kita lewati dengan selamat tidak ada gangguan apa-apa, Wulan,"

Kata Joko Handoko.

Wulan tersenyum.

Mereka sudah turun dari kuda dan jalan berdampingan, Joko Handoko menuntun kudanya.

Mereka turun karena kasihan kepada kuda yang selama ini telah mereka tunggangi berdua.

"Agaknya peruntunganmu memang baik, Joko. Biasanya, hutan ini penuh dengan perampok jahat. Akan tetapi, begitu kau lewat, mereka tidak memperlihatkan batang hidung mereka."

"Hem, atau barangkali karena mereka sudah tahu bahwa aku melakukan perjalanan dengan puteri ketua Sabuk Tembogo?"

Beralasan juga ucapan Joko Handoko itu dan Wulandari mengangguk. Ia lalu mengangkat muka memandang wajah Joko Handoko.

"Kita sudah dekat dengan Kadipaten Tumapel. Lihat di depan sana itu, tembok-temboknya sudah nampak."

Joko Handoko memandang ke depan. Di bawah lereng itu memang nampak tembok-tembok, samar-samar tertutup pohon-pohon jati.

"Ah, betapa aku ingin segera sampai ke sana,"

Katanya gembira.

"Akan tetapi, kita.... akan segera saling berpisah......"

"Apakah engkau tidak merasa kecewa dan.... sedih, Kakang Handoko?"

Joko Handoko memandang wajah gadis itu, agak heran mendengar perubahan dalam penggilan gadis itu. Agaknya Wulandari sadar akan hal ini. Wajahnya menjadi kemerahan dan disambungnya pertanyaannya tadi.

"Engkau tentu tidak keberatan kalau aku menyebutmu Kakang Handoko, bukan? Bagaimanapun juga, engkau lebih tua dariku sehingga tidak patut rasanya kalau aku menyebut namamu begitu saja."

Joko Handoko tersenyum senang.

"Tentu saja tidak, Wulan. Akan tetapi mengapa aku harus kecewa dan bersedih?"

"Karena kita akan saling berpisah. Aku merasa sedih membayangkan harus bepisah darimu, Kakang. Aku senang sekali bertemu dan berkenalan denganmu."

Joko Handoko tersenyum, menganggap ucapan gadis itu kekanak-kanakan.

"Ah, Wulan, di dunia ini mana ada yang abadi? Ada pertemuan tentu ada perpisahan. Akan tetapi, di Tumapel engkau hendak melakukan apakah? Hendak pergi ke mana?"

Nampak gadis itu ragu-ragu, kemudian menjawab dengan elakan.

"Ada urusan keluarga yang amat penting dan berbahaya. Akan tetapi engkau sendiri, hendak kemanakah, Kakang Handoko?"

"Aku hendak mencari dan mengunjungi Eyang Empu Gandring,"

Jawab Joko Handoko dengan jujur. Wulandari terkejut dan memandang tajam.

"Empu Gandring? Apamukah dia dan mau apa engkau mencarinya?"

"Bukan apa-apa, hanya beliau adalah seorang kenalan baik mendiang kakekku. Aku ingin menyampaikan kematian kakekku kepadanya,"

Joko Handoko yang tidak ingin menonjolkan diri tidak mau mengaku bahwa mendiang ayahnya adalah murid Empu Gandring.

Setelah mereka tiba di pintu gerbang Kadipaten Tumapel yang ramai, keduanya berenti.

Wulandari memandang kepada pemuda itu dengan tajam.

Ia merasa berat sekali harus berpisah dari Joko Handoko.

Wajah yang tampan, tubuh yang tegap dan biarpun pemuda itu tidak memiliki kepandaian namun ia berwatak satria yang gagah dan tabah, membuat gadis ini jatuh cinta.

Ditambah lagi pengalaman berboncengan kuda yang takkan terlupakan selamanya oleh Wulandari.

"Kakang, kapan kita akan saling berjumpa lagi?"

Tanyanya dengan suara memelas.

"Kalau memang kita berdua dalam keadaan sehat, lain waktu tentu kita akan dapat saling berumpa."

"Aku ingin sekali mengajakmu mengunjungi tempat tinggal kami di lereng Kawi, Kakang. Maukah engkau berkunjung ke sana?"

Joko Handoko mengangguk-angguk, dalam hatinya dia bertanya-tanya apa yang akan menjadi sikap gadis ini kalau mengetahui bahwa ayah gadis ini adalah pembunuh ayahnya!"

"Kalau saja semua urusanku sudah selesai aku tidak keberatan untuk berkunjung ke tempatmu, Wulan."

"Kalau begitu, mengapa tidak setelah engkau mengunjungi Empu Gandring? Kita pergi bersama dan...... ah, aku harus menyelesaikan tugasku dulu!"

Katanya memotong ucapannya sendiri dengan nada menyesal.

Hati Joko Handoko tertarik.

Dia memang tidak mempunyai urusan lain kecuali mengunjungi Empu Gandring.

Dia memang bermaksud merantau untuk meluaskan pengalaman dan pengetahuan.

Mengapa dia tidak pergi mengunjungi Sabuk Tembogo untuk melihat bagaimana keadaan orang yang menjadi pembunuh ayahnya itu?

Bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk mengenal orang itu dan melihat begaimana keadaan dan wataknya.

Melihat Wulandari yang gagah perkasa dan baik hati, kesan dalam hatinya terhadap Sabuk Tembogo sudah menjadi lebih baik.

"Kalau begitu, mengapa tidak melakukan tugasmu itu bersamaku, kemudian kita berdua mengunjungi Empu Gandring dan baru bersama menuju ke tempat tinggalmu di Kawi?"

Sepasang mata yang indah itu berseri, agaknya usul Joko Handoko itu menggembirakan hatinya. Akan tetapi hanya sebentar karena alisnya berkerut lagi dan ia menggelang kepala.

"Tidak mungkin, Kakang Handoko. Tugasku ini berbahaya sekali, mempertaruhkan nyawa dan aku tidak ingin melihat engkau terancam bahaya. Sebaiknya, kita mengambil jalan masing-masing dan kalau engkau sudah selesai dengan urusanmu di sini, dan engkau berkunjung ke lereng Kawi, tentu aku akan menantimu di sana."

Joko Handoko mengangguk-angguk. Baiklah, Wulan."

Ketika itu senja telah larut dan cuaca sudah mulai gelap. Wulandari sekali ini menatap wajah Joko Handoko, lalu berkata.

"Selamat berpisah, Kakang, sampai jumpa pula."

Setelah berkata demikian, dengan gesitnya, ia lalu meloncat dan memasuki pintu gerbang Kadipaten Tumapel.

Joko Handoko menuntun kudanya keluar kembali membawa kuda itu ke tempat yang gelap dan sunyi, mengikat kuda di sebatang pohon dan membiarkan kuda itu makan rumput di bawah pohon.

Kemudian tubuhnya berkelebat dan di sudah cepat melakukan pengejaran dan membayangi gerakan Wulandari dengan diam-diam.

Dia merasa khawatir sekali mendengar ucapan Wulandari hendak melaksanakan tugas yang berbahaya, bahkan mempertaruhkan nyawa!

Dia harus tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis perkasa itu.

Bayangan tubuh Wulandari dengan cepat berkelebat dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan pohon-pohon.

Akhirnya, dengan loncatan ringan, Wulandari memasuki sebuah kebun dari gedung yang megah itu, meloncati pagar yang cukup tinggi tanpa terlihat oleh para penjaga di depan gedung.

Ia tidak tahu bahwa tak jauh di belakangnya, ada sesosok tubuh lain yang selalu membayanginya sejak tadi.

Bayangan ini bukan lain adalah Joko Handoko.

Dengan heran Joko Handoko menyelinap dan mengintai untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Wulandari di rumah gedung besar itu.

Dia tidak tahu rumah siapa itu, akan tetapi melihat betapa di depan rumah terdapat perajurit yang berjaga, dapat diduganya bahwa tentu penghuni gedung itu seorang pejabat atau bengsawan tinggi.

Ketika dia melihat gadis itu menyelinap masuk setelah membongkar pintu belakang sehingga terbuka tanpa mengeluarka suara bisik, Joko Handoko hanya menanti di luar pintu itu, tidak berani masuk karena dia tidak ingin ketahuan oleh Wulandari.

Dia lalu meloncat naik ke atas wuwungan rumah gedung itu, dan mengintai dari genteng yang dibukanya perlahan-lahan ke bawah.

Hati sudah menjadi gelisah karena dia tidak melihat apa-apa di dalam ruangan belakang rumah itu yang amat luas.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dan ketika dia mengintai dia melihat Wulandari muncul dari sebuah kamar sambil menggandeng seorang gadis lain.

Jantung dalam dada Joko Handoko berdebar tegang ketika dia melihat gadis ini.

Seorang gadis yang sebaya dengan Wulandari, akan tetapi yang berbeda dari Wulandari seperti bumi dengan langit.

Gadis itu lemah gemulai berkulit kuning putih, wajahnya cantik jelita dan agak pucat, sepasang matanya yang lebar itu terbelalak ketakutan, rambutnya awut-awutan, juga pakaiannya kusut.

Gadis ini cantik bukan main menurut penglihatan Joko Handoko, kecantikan yang lembut tak berdaya, sungguh berbeda dengan Wulandari yang keras dan kuat.

Jelas nampak bahwa Wulandari setengah memaksa gadis itu ikut bersamanya, apa lagi ketika terlihat bahwa Wulandari sudah melolos sabuk Tembogonya dan mengancam gadis cantik itu agar ikut tanpa banyak suara.

Wulandari lalu mengeluarkan sehelai kertas tertulis yang agaknya sudah dipersiapkannya, menaruh kertas itu di atas meja dan tangan kirinya mencabut pisau belati, ditancapkannya pisau itu di atas kertas.

Semua itu terjadi tanpa ada seorang pun penghuni rumah itu yang tahu dan Joko Handoko dapat menduga bahwa tentu Wulandari, gadis perkasa itu, telah menggunakan aji penyirepan untuk membuat seisi rumah itu tidur nyenyak.

Makin kagumlah dia kepada Wulandari, akan tetapi dia juga terheran-heran melihat Wulandari memaksa gadis cantik itu pergi bersamanya.

Apa yang sedang dikerjakan gadis itu?

Perbuatan jahat ataukah baik?

Sepasang mata yang indah itu berseri, agaknya usul Joko Handoko itu menggembirakan hatinya.

Akan tetapi hanya sebentar karena alisnya berkerut lagi dan ia menggelang kepala.

"Tidak mungkin, Kakang Handoko. Tugasku ini berbahaya sekali, mempertaruhkan nyawa dan aku tidak ingin melihat engkau terancam bahaya. Sebaiknya, kita mengambil jalan masing-masing dan kalau engkau sudah selesai dengan urusanmu di sini, dan engkau berkunjung ke lereng Kawi, tentu aku akan menantimu di sana."

Joko Handoko mengangguk-angguk.

"Baiklah, Wulan."

Ketika itu senja telah larut dan cuaca sudah mulai gelap. Wulandari sekali ini menatap wajah Joko Handoko, lalu berkata.

"Selamat berpisah, Kakang, sampai jumpa pula."

Setelah berkata demikian, dengan gesitnya, ia lalu meloncat dan memasuki pintu gerbang Kadipaten Tumapel.

Joko Handoko menuntun kudanya keluar kembali membawa kuda itu ke tempat yang gelap dan sunyi, mengikat kuda di sebatang pohon dan membiarkan kuda itu makan rumput di bawah pohon.

Kemudian tubuhnya berkelebat dan di sudah cepat melakukan pengejaran dan membayangi gerakan Wulandari dengan diam-diam.

Dia merasa khawatir sekali mendengar ucapan Wulandari hendak melaksanakan tugas yang berbahaya, bahkan mempertaruhkan nyawa!

Dia harus tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis perkasa itu.

Bayangan tubuh Wulandari dengan cepat berkelebat dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan pohon-pohon.

Akhirnya, dengan loncatan ringan, Wulandari memasuki sebuah kebun dari gedung yang megah itu, meloncati pagar yang cukup tinggi tanpa terlihat oleh para penjaga di depan gedung.

Ia tidak tahu bahwa tak jauh di belakangnya, ada sesosok tubuh lain yang selalu membayanginya sejak tadi.

Bayangan ini bukan lain adalah Joko Handoko.

Dengan heran Joko Handoko menyelinap dan mengintai untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Wulandari di rumah gedung besar itu.

Dia tidak tahu rumah siapa itu, akan tetapi melihat betapa di depan rumah terdapat perajurit yang berjaga, dapat diduganya bahwa tentu penghuni gedung itu seorang pejabat atau bengsawan tinggi.

Ketika dia melihat gadis itu menyelinap masuk setelah membongkar pintu belakang sehingga terbuka tanpa mengeluarka suara bisik, Joko Handoko hanya menanti di luar pintu itu, tidak berani masuk karena dia tidak ingin ketahuan oleh Wulandari.

Dia lalu meloncat naik ke atas wuwungan rumah gedung itu, dan mengintai dari genteng yang dibukanya perlahan-lahan ke bawah.

Hati sudah menjadi gelisah karena dia tidak melihat apa-apa di dalam ruangan belakang rumah itu yang amat luas.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dan ketika dia mengintai dia melihat Wulandari muncul dari sebuah kamar sambil menggandeng seorang gadis lain.

Jantung dalam dada Joko Handoko berdebar tegang ketika dia melihat gadis ini.

Seorang gadis yang sebaya dengan Wulandari, akan tetapi yang berbeda dari Wulandari seperti bumi dengan langit.

Gadis itu lemah gemulai berkulit kuning putih, wajahnya cantik jelita dan agak pucat, sepasang matanya yang lebar itu terbelalak ketakutan, rambutnya awut-awutan, juga pakaiannya kusut.

Gadis ini cantik bukan main menurut penglihatan Joko Handoko, kecantikan yang lembut tak berdaya, sungguh berbeda dengan Wulandari yang keras dan kuat.

Jelas nampak bahwa Wulandari setengah memaksa gadis itu ikut bersamanya, apa lagi ketika terlihat bahwa Wulandari sudah melolos sabuk Tembogonya dan mengancam gadis cantik itu agar ikut tanpa banyak suara.

Wulandari lalu mengeluarkan sehelai kertas tertulis yang agaknya sudah dipersiapkannya, menaruh kertas itu di atas meja dan tangan kirinya mencabut pisau belati, ditancapkannya pisau itu di atas kertas.

Semua itu terjadi tanpa ada seorang pun penghuni rumah itu yang tahu dan Joko Handoko dapat menduga bahwa tentu Wulandari, gadis perkasa itu, telah menggunakan aji penyirepan untuk membuat seisi rumah itu tidur nyenyak.

Makin kagumlah dia kepada Wulandari, akan tetapi dia juga terheran-heran melihat Wulandari memaksa gadis cantik itu pergi bersamanya.

Apa yang sedang dikerjakan gadis itu?

Perbuatan jahat ataukah baik?

Gadis cantik itu terpaksa mengikuti Wulandari keluar dari dalam rumah, dan setelah keluar dari pintu belakang, Wulandari lalu menariknya dekat pagar kebun itu dan tiba-tiba Wulandari memondong gadis itu dan membawanya loncat keluar pagar.

Gadis itu mengeluarkan suara menjerit kecil karena ngeri ketika dibawa loncat, akan tetapi ia segera diturunkan lagi dan setengan diseret, diajak berlari oleh Wulandari, menyusup-nyusup dan menyelinap di antara pohon-pohon dan rumah-rumah menuju ke pintu gerbang kota Kadipaten Tumapel.

Ketika Wulandari yang menggandeng tangan gadis itu keluar dari pintu gerbang dan tiba agak jauh dari tembok kota Kadipeten Tumapel, di dalam cuaca yang remang-remang itu tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki yang menuntun kuda menghadang di depan perjalanannya.

Mula-mula dara itu terkejut, akan tetapi hatinya berubah girang ketika ia mengenal siapa adanya pria itu.

"Kakang Handoko! Engkau di sini?"

Teriaknya girang.

"Wulan, aku girang dapat bertemu dengan engkau disini. Eh, siapakah gadis ini?"

"Panjang ceritanya, Kakang. Kenapa engkau bisa berada di sini? Bukankah engkau akan pergi mengunjungi Empu Gandring?"

"Aku sudah pergi ke sana dan beliau sedang pergi ke luar kota, aku lalu kembali ke sini untuk mencarimu."

Joko Handoko membohong.

"Bagus sekali! Dan engkau mau melakukan perjalanan bersamaku ke Kawi?"

"Memang aku ingin ke sana. Akan tetapi siapakah gadis ini?"

"Nanti dulu. Ia seorang gadis lemah, biar menunggang kudamu. Nanti kuceritakan semua ini kepadamu, Kakang Handoko."

"Silahkan,"

Kata Joko Handoko. Wulandari lalu berkata kepada gadis itu.

"Naiklah ke punggung kuda agar tidak lelah, perjalanan kita masih jauh."

Gadis itu memandang kepada Wulandari, kemudian kepada Joko Handoko.

Biarpun ia nampak lemah tak berdaya, namun kini ia tidak memperlihatkan rasa takut.

Sikapnya masih lembut dan suaranya amat halus ketika ia bertanya.

"Kalian hendak membawaku kemanakah?"

"Sudahlah, naik dan jangan banyak bertanya. engkau adalah tawananku dan engkau harus melakukan semua perintahku."

Wulandari membentak.

Gadis itu menarik napas panjang lalu naik ke atas punggung kuda.

Ternyata ia seorang gadis yang biasa menunggang kuda karena biar pun tubuhnya kelihatan lemah, cekatan juga ia dapat naik ke punggung kuda yang besar itu.

Melihat ini, Wulandari cepat memegang kendali kudanya.

"Awas, jangan coba untuk melarikan diri. Kakang, sebaiknya engkau duduk di atas punggung kuda pula bersamanya untuk mencegah agar ia jangan melarikan diri."

"Tidak!"

Kata gadis di atas punggung kuda itu."

Kalau aku harus menunggang kuda bersama dia, lebih baik aku jalan kaki!"

"Ihh, banyak lagak kau! Apa salahnya menunggang kuda berboncengan dengan Kakang Joko Handoko?"

Bentak Wulandari marah. Ia sendiri senang sekali berboncengan naik kuda dengan pemuda itu dan kini gadis ini, sebagai seorng tawanan, banyak lagak menolaknya.

"Biarkan ia sendiri menunggang kuda, Wulan. Bukankah kendalinya berada di tanganmu? Tanpa kendali, ia tidak akan dapat menguasai kuda. Dan pula, aku sudah biasa berjalan kaki."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan, kuda dituntun oleh Wulandari dan Joko Handoko berjalan di sampingnya.

Malam itu sore-sore bulan telah menampakkan diri sehingga cuaca tidak gelap benar, cukup terang untuk melakukan perjalanan meninggalkan kota Kadipaten Tumapel.

"Nah, sekarng ceritakan, Wulan. Siapa gadis ini dan mengapa pula engkau menawannya?"

Joko Handoko bertanya dengan tidak sabar.

Dia merasa tidak puas dengan perbuatan Wulandari kali ini.

Gadis itu demikian lemah lembut, sama sekali tidak kelihatan sebagai orang jahat.

Kenapa Wulandari menawannya?

Dia sudah merasa kasihan kepada gadis itu.

"Gadis ini puteri Raden Pamungkas, seorang senopati dari Tumapel,"

Wulandari mulai bercerita.

"Aku menawannya untuk ditukar dengan tiga orang saudara seperguruanku yang kini ditawan oleh ayahnya."

"Hemm, kenapa tiga orang murid Sabuk Tembogo itu ditawan oleh Senopati Pamungkas?"

Joko Handoko menjadi semakin penasaran.

Seorang senopati adalah seorang perwira tinggi dan kalau sampai tiga orang anggota Sabuk Tembogo itu ditawan, tentu mereka telah melakukan suatu pelanggaran atau kejahatan sehingga tidak layak kalau Wulandari kini menculik puterinya untuk ditukar dengan tawanan itu.

"Kami difitnah"

Wulandari berkata lantang.

"Dari kesaksian Puteri Pusporini inilah yang menjadi gara-garanya. Karena itu ia kutawan karena ia yang menjadi bianang keladi sehingga tiga orang anggota kami ditangkap. Mula-mula, rombongan keluarga senopati itu bersama Pusporini ini melakukan perjalanan. Mereka dihadang olah tiga orang perampok dan dirampok habis-habisan, juga beberapa orang perajurit pengawal tewas oleh tiga orang itu. Senopati Pamungkas marah, apa lagi mendengar keterangan dari Pusporini bahwa yang merampok adalah tiga orang yang bersenjata sabuk Tembogo. Ketika tiga orang kakak seperguruanku pergi ke Tumapel, mereka langsung ditangkap dan dijebloskan penjara dengan tuduhan merampok, Kami difitnah!"

"Wuladari, siapakah yang melakukan fitnah, Dan untuk apa aku melakukan fitnah terhadap murid-murid ayahmu yang selama ini menjadi sahabat dan pembantu yang baik dari Kadipaten Tumapel? Aku sendiri mengenal ayahmu, mengenalmu sebagai orang-orang yang selalu membela kebenaran dan sudah banyak berjasa terhadap Tumapel. Akan tetapi, ketika terjadi perampokan. Aku melihat sendiri bahwa tiga orang perampok yang menutupi muka dengan topeng itu memainkan sabuk-sabuk tebaga mereka. Siapa lagi kalau bukan murid-murid ayahmu yang melakukan penyelewengan? Karena itulah, ketika mereka bertiga muncul di Tumapel mereka ditangkap. Apakah sekarang engkau hendak membela orang-orang yang bersalah, walaupun orang-orang itu saudara-saudara seperguruanmu sendiri?"

Gadis bernama Dewi Pusporini itu bicara dengan suara lembut dan merdu, walaupun ditujukan untuk menegur Wulandari.

"Aku tidak pecaya!"

Wulandari membentak.

"Tiga orang kakak seperguruanku itu terkenal sebagai orang gagah yang tidak akan sudi melakukan perampokan. Pendeknya, engkau harus menjadi tawananku dan tadi aku sudah meninggalkan sepucuk surat pemberitahuan kepada ayahmu bahwa engkau baru akan kubebaskan setelah tiga orang saudaraku itu pun dibebaskan!"

Dewi Pusporini tidak menjawab dan tidak bicara lagi, melainkan menunggang kuda sambil termenung.

Diam-diam Joko Handoko mempertimbangkan percakapan itu dan dia pun menjadi ragu-ragu dan bingung.

Jelas bahwa tindakan Wulandari ini bukan suatu kejahatan, akan tetapi bagaimana kalau gadis yang halus lembut itu bicara benar?

Bagaimana kalau memang tiga orang anggota Sabuk Tembogo itu melakukan penyelewengan?

Berarti gadis lembut itu menjadi korban.

Bagaimanapun juga, dia harus melindungi gadis yang sama sekali tidak berdosa ini!

Dan gadis itu kelihatan demikan tenang, sama sekali tidak takut!

Joko Handoko mendekati kudanya, memandang wajah puteri itu dan berkata.

"Apakah Andika tidak merasa takut menjadi tawanan?"

Tanyanya sambil lalu.

"Kenapa mesti takut?"

Jawab Dewi Pusporini.

"Aku tidak bersalah, dan ayahku memiliki banyak pembantu yang sakti sehingga aku yakin mereka akan membebaskan aku, mungkin sebelum aku tiba di sarang Sabuk Tembogo."

"Hemm, justru karena ayahmu mempunyai pasukan dan pembantu-pembantu yang sakti maka aku menawanmu, Dewi! Hendak kulihat mereka aka mampu berbuat apa kalau engkau terjatuh ke tangan kami,"

Kata Wulandari sambil tersenyum mengejek.

Joko Handoko mengerti dan dia kagum.

Siasat Wulandari memang cerdik menghadapi Senopati Tumapel memang bukan main-main.

Maka Wulandari menggunakan siasat ini, lebih dulu puteri senopati itu untuk melumpuhkan semangat perlawanan Sang Senopati, memaksanya menukar tawanan.

Akan tetapi dia pun tahu bahwa tindakan Wulandari ini sembrono sekali, karena berarti telah menanam bibit permusuhan dengan Tumapel.

Bagaimana kalau kelak, setelah tawanan ditukar, Senopati Pamungkas melakukan tindakan kekerasan, menggunakan pasukannya menyerang Sabuk Tembogo?

Hal ini agaknya tidak diperhitungkan oleh gadis perkasa itu.

Dewi Pusporini tidak menjawab ucapan Wulandari tadi, akan tetapi tiba-tiba terdengar derap langkah kuda yang agaknya mewakili gadis itu untuk menjawab.

Joko Handoko terkejut dan Wulandari meloncat dan mencabut sabuk Tembogonya.

"Kakang Handoko, tolong kau awasi gadis itu agar jangan sampai melarikan diri. Aku akan menghadapi mereka!"

Katanya dengan sikap gagah sekali, berdiri menghadang di belakang kuda.

Tak lama kemudian muncullah belasan orang berkuda yang melakukan pengejaran dan ternyata mereka itu memang pasukan dari Tumapel, para perajurit pengawal Senopati Pamungkas yang melakukan pengejaran.

Senopati Pamungkas melakukan pengejaran dengan pasukanya yang dipencar-pencar dan kebetulan sekali pasukan yang terdiri dari lima belas orang ini berhasil menyusul Wulandari di tengah hutan itu.

Mereka berada di bagian hutan yang terbuka sehingga memperoleh sinar bulan secukupnya, membuat cuaca di situ cukup terang.

Pemimpin pasukan, seorang laki-laki yang tinggi kurus berseru, menghentikan pasukannya dan diapun sudah meloncat turun dari kudanya diikuti oleh anak buahnya.

Sekali pandang saja dia dapat mengenal Dewi Pusporini di atas kuda yang dituntun oleh seorang pemuda, sedangkan Wulandari berada di depannya dengan sabuk Tembogo di tangan kanan, berdiri tegak dengan sikap menantang.

Tentu saja para perajurit itu sudah Mengenal Wulandari karena selama ini perkumpulan Sabuk Tembogo yang dipimpin oleh Ki Bragolo merupakan sahabat baik dari Sang Senopati, bahkan perkumpulan itu banyak membantu Tumapel.

Wulandari dikenal sebagai seorang gadis perkasa puteri ketua Sabuk Tembogo.

Dan juga kepala pasukan itu tadi sudah mendengar bahwa penculik Dewi Pusporini menghendaki penukaran tawanan maka tahulah dia bahwa orang Sabuk Tambogo yang melakukan penculikan.

"Wulandari!"

Bentak perwira itu.

"Kiranya engkau telah menculik Sang Putri. Hayo engkau menyerah untuk kami tangkap atau kau serahkan kembali Sang Puteri kepada Kanjeng Senopati!"

"Tidak akan kuserahkan Dewi Pusporini sebelum kalian membebaskan tiga orang saudaraku yang ditawan!"

Wulandari membentak dengan penuh tantangan.

"Kau... Kau berani menentang dan melawan perajurit-perajurit Tumapel?"

"Akan kulawan siapa saja yang mengganggu perkumpulan kami. Saudara-saudaraku itu tidak berdosa, kami difitnah,maka kami menuntut agar mereka dibebaskan!"

"Kepung dan serbu! Tangkap pemberontak ini!"

Perwira tinggi kurus itu membentak dan pasukannya lalu menyerbu.

Akan tetapi, mereka disambut oleh gulungan sinar yang keluar dari sabuk Tembogo yang diputar dengan dahsyat oleh Wulandari.

Terjadi perkelahian yang hebat.

Wulandari mengamuk, dikeroyok oleh belsan orang itu.

Akan tetapi, biarpun ia sedang marah dan mengamuk, Wulandari agaknya masih ingat bahwa ia tidak boleh membunuh perajurit-perajurit Tumapel karena hal ini hanya akan memperhebat kesalahpahaman di antara perkumpulannya dengan Kadipaten Tumapel.

Sabuk Tembogo di tangannya hanya dipergunakan untuk menangkis senjata lawan, sedangkan ia merobohkan para pengeroyok hanya dengan tamparan-tamparan tangan kirinya, cukup membuat lawan terpelanting akan tetapi tidak sampai membunuh.

Sementara itu, melihat betapa para perajurit pengawal ayahnya sudah menyusul sampai di situ dan mengepung Wulandari, Dewi Pusporini lalu berkata kepada Joko Handoko.

"Mendengar percakapanmu dengan Wulandari tadi, engkau tentu bukan anggota Sabuk Tembogo. Orang muda, kenapa engkau ikut-ikut melakukan dosa terhadap Tumapel? Engkau dapat terlibat pemberontakan. Oleh karena itu, bebaskanlah aku dan aku akan mengatakan kepada ayah bahwa engkau tidak berdosa."

Suara itu demikian lembut dan ramah, juga mengandung kebenaran, memiliki daya tarik yang kuat sehingga hampir saja Joko Handoko menanti atau memenuhi permintaannya.

Betapa mudahnya beginya untuk membebaskan puteri dan membiarkannya pulang menunggang kudanya.

Akan tetapi, setelah tadi bercakap-cakap dengan Wulandari, hatinya tertarik, dan ingin dia melihat apa yang sebanarnya terjadi.

Dia telah dimintai tolong oleh Wulandari untuk menjaga gadis ini agar tidak melarikan diri.

Kalau sampai dia membiarkan gadis ini pergi, tentu akan terjadi hal yang tidak enak antara dia dan Wulandari.

"Sang Puteri, memang aku bukan anggota Sabuk Tembogo dan aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan permusuhan di antara Sabuk Tembogo dan Kadipaten Tumapel. Akan tetapi justeru karena tidak tersangkut dan tidak tahu urusannya, maka aku tidak boleh memihak. Aku telah mendapat kepercayaan Wulandari untuk menjaga agar Andika tidak akan melarikan diri, oleh karena itu, maaf bahwa aku tidak mungkin dapat memenuhi permintaanmu itu. Akan tetapi, percayalah bahwa aku akan menjaga agar engkau tidak akan diperlakukan sewenang-wenang oleh siapapun juga."

Puteri itu tidak membantah lagi, maklum bahwa percuma saja ia membujuk pemuda ini.

Dan ia memandang ke arah pertempuran dengan hati gelisah.

Wulandari sungguh hebat.

Biarpun dikeroyok belasan orang, ia dapat menandingi mereka dan berkali-kali terdengar suara berdenting keras ketika senjata-senjata tajam para pengeroyok bertemu dengan sabuk Tembogonya, dan sudah ada beberapa orang yang terpelanting roboh oleh tamparannya, mengaduh-aduh dan untuk sementara tak mampu melanjutkan pengeroyokan.

Akan tetapi, karena gadis perkasa itu tidak membunuh lawan pengeroyokan menjadi semakin ketat.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras dan beberapa orang pengeroyok terpelanting roboh.

Nampak dua orang yang mengenakan topeng tahu-tahu sudah mengamuk dan memukuli para pengeroyok dengan tamparan-tamparan keras.

Melihat ini, Wulandari terkejut.

Ia tidak mengenal siapa dua orang bertopeng itu, akan tetapi melihat betapa tamparan-tamparan mereka demikian kuatnya, ia merasa takut kalau-kalau orang-orang yang membantunya itu melakukan pembunuhan.

"Hai, tahan! Jangan membunuh orang?"

Bentaknya dan ia menerjang ke depan menghadapi dua orang yang datang membantunya itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dua orang itu membalikkan dirinya dan lennyap di antara pohon-pohon.

Dan para prajurit yang juga gentar menghadapi dua orang pendatang baru yang tangguh, yang mereka anggap tentu teman-teman Wulandari, cepat melarikan diri, meninggalkan empat orang yang telah roboh dan tidak dapat bergerak kembali akibat tamparan-tamparan yang ampuh dari dua orang bertopeng tadi.

Wulandari tidak melakukan pengejaran, bahkan cepat menghampiri empat orang yang roboh itu untuk memeriksa.

Alangkah kaget hatinya melihat betapa empat orang itu telah tewas semua, dengan mulut mengeluarkan darah!

"Ahhh.....

Hastorudiro.......!"

Wulandari menengok dan ternyata Joko Handoko telah berdiri di belakangnya dan pemuda inilah yang mengeluarkan ucapan itu.

"Apa maksudmu?"

"Lihat itu.....!"

Kata pula pemuda itu sambil menunjuk ke arah dada sesosok mayat.

Wulandari memandang dan melihat bahwa baju dada itu robek dan nampak kulit dadanya di mana terdapat bekas telapak tangan merah darah.

Gadis itu teringat dan terkejut.

"Kau maksudkan Hastorudiro, perkumpulan Tangan Berdarah itu?"

Joko Handoko termenung, teringat akan kematian kakeknya dan para cantrik yang juga tewas di tangan orang-orang dari Hastorudiro. Dia mengangguk. Wulandari makin terkejut dan heran, lalu bengkit.

"Eh, kami tidak pernah berhubungan dengan mereka, bagaimana mereka itu tiba-tiba membantuku? Dan mereka telah melakukan pembunuhan. Sungguh celaka....., tentu kami akan semakin dianggap pemberontak oleh Kadipaten Tumapel!"

"Jangan khawatir Wulan. Engkau sendiri tidak pernah melakukan pembunuhan, dan dua orang Hastorudiro itu dating membantumu tanpa kau minta. Bahkan engkau mencegah mereka melakukan pembunuhan. Hal ini disaksikan oleh aku dan juga sang puteri itu!"

Akan tetapi Dewi Pusporini berkata halus.

"Hemm, kalian adalah pemberontak-pemberontak dan kini telah membunuh empat orang perajurit. Dua orang bertopeng tadi jelas membantu kalian dan bisa saja kalian pura-pura tidak mengenal mereka!"

Mendengar ini, Wulandari nampak gelisah "Ayah tentu akan marah sekali mendengar ini.

Aku menculik Dewi Pusporini tanpa sepengetahuan ayah, dalam usahaku untuk memaksa Senopati Raden Pamungkas membebaskan tiga orang saudara seperguruanku.

Dan kini terjadi pembunuhan, bukan olehku, akan tetapi mereka itu bermaksud membantuku.

Sungguh celaka!"

"Keadaan sudah terlanjur begini,"

Kata Joko Handoko.

"Sesal kemudian tiada gunanya. Sebaiknya sekarang melaporkan semua ini kepada ayahmu, lihat apa yang akan beliau lakukan."

Wulandari mengangguk dengan lemas.

"Usahamu memang baik dan agaknya tidak ada jalan lagi."

Tiba-tiba ia memandang tajam kepada Joko Handoko seperti teringat seuatu berseru.

"Heii, Kakang Joko Handoko! Bagaimana engkau bisa mengetahui ini semua?"

Joko Handoko memandang dengan mata terbelalak.

"Mengetahui apa maksudmu?"

"Engkau segera mengenal korban pukulan orang-orang Hastorudiro! Padahal engkau seorang lemah yang asing tentang ilmu silat......."

Joko Handoko tersenyum dan diam-diam memuji kecerdikan Wulandari. Dia harus bersikap hati-hati terhadap gadis yang cerdik ini, pikirnya.

"Ah, apa anehnya? Di dalam perantauanku, aku pernah melihat korban pembunuhan seperti ini dan orang-orang mengatakan bahwa para pembunuhnya adalah orang-orang dari perkumpulan Hastorudiro. Apa sukarnya melihat tanda tapak tangan darah itu?"

Wulandari mengangguk-anggukdan termenung.

"Aku hanya pernah mendengar saja tentang Hastorudiro, akan tetapi belum pernah berhubungan. Menurut berita perkumpulan Hastorudiro adalah perkumpulan orang-orang gagah yang seperti juga kami, biasanya setia dan membantu Tumapel. Heran sekali mengapa mereka kini tanpa Tanya-tanya telah turun tangan membantuku dan membunuh perajurit Tumapel, padahal kami dari Sabuk Tembogo sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk memusuhi Tumapel?"

Percakapan itu didengarkan dengan penuh perhatian oleh Dewi Pusporini dan diam-diam gadis ini pun merasa heran.

Ia merasa bahwa Wulandari tidak berpura-pura.

Mengapa para pembunuh perajurit ketika rombongan keluarganya dirampok itu pun mengenakan topeng walaupun mereka itu membunuh dengan senjata sabuk Tembogo?

Dan sekarang, dua orang yang membunuh empat orang perajurit dengan meninggalkan tanda pukulan dari orang-orang Hastorudiro, juga mengenakan topeng.

Mengapa ada persamaan dengan pembunuhan terdahulu dan seolah-olah semua ini diatur agar ia menyaksikannya?

"Sudahlah, lebih baik kita berangkat cepat-cepat agar tidak ada gangguan lagi di tengah perjalanan,"

Kata Joko Handoko.

"Kalau begitu, engkau naiklah ke atas punggung kuda, berboncengan dengan Dewi Pusporini. Aku akan berlari cepat mengikuti kuda agar kita dapat segera tiba di tempat tinggal kami di lereng Kawi."

Joko Handoko memandang kepada Dewi Pusporini dan gadis ini menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.

Gadis itu tidak membantah seperti tadi, akan tetapi jelas bahwa gadis itu akan merasa malu dan sungkan sekali kalau harus duduk berdua dengan dia.

Dia merasa tidak tega untuk membikin malu Sang Puteri.

"Biarlah aku juga lari saja, Wulan."

"Mana engkau kuat mengikuti larinya seekor kuda kalau aku sudah biasa berlari cepat dan untuk itu sudah kupelajari suatu ilmu berlari cepat."

Bantah Wulandari.

"Kau jangan hiraukan puteri itu. Kalau engkau berboncengan dengannya, hal itu bukan berarti kau mau kurang ajar, melainkan karena keadaan mendesak. Pula, apa salahnya duduk berbocengan kuda begitu saja? Kita juga sudah melakukannya, kan tidak apa-apa!"

Dewi Pusporini menoleh dan memandang kepada Joko Handoko dengan sepasang matanya yang indah itu penuh teguran dan penolakan. Joko Handoko kembali berkata.

"Sudahlah, aku akan mencoba sekuatku!"

Terpaksa Wulandari lalu memegang kendali kuda dan berlari.

Kuda itu berlari congklang dengan cepat.

Joko Handoko mengikuti dari belakang.

Wulandari tidak terlalu cepat karena takut pemuda itu tertinggal, akan tetapi biarpun demikian, nampak betapa pemuda itu berlari dengan susah payah dan napasnya terengah-engah, kadang-kadang tersandung batu dan tersuruk-suruk.

Terpaksa Wulandari sering menghentikan lari mereka untuk membiarkan Joko Handoko beristirahat memulihkan pernapasannya yang memburu.

Bagaimanapun juga, dengan berlari-larian seperti itu, tentu saja jauh lebih cepat daripada kalau hanya berjalan seenaknya.

"Wulandari! Apa yang kau lakukan ini!"

Bentak Ki Bragolo dengan mata melotot kepada puterinya ketika Wulandari datang menghadap padanya pada hari itu bersama Joko Handoko dan tawanannya, yaitu Puteri Dewi Pusporini.

Tentu saja kakek itu segera mengenal, Sang Puteri dan dia terkejut bukan main melihat anaknya telah menawan puteri Senopati Raden Pamungkas.

Sementara itu dengan jantung berdebar Joko Handoko memandang kepada kekek itu dengan penuh perhatian.

Ini kiranya orang yang telah menikam dada ayah kandungnya dengan pusaka Nogopasung yang kini berada padanya.

Inilah pembunuh ayahnya.

Akan tetapi dia merasakan dengan jelas betapa hatinya tidak diliputi kebencian atau dendam, dan dia pun merasa lega.

Di bawah gemblengan Panembahan Pronosidhi, dia senatiasa mengamati keadaan hatinya sendiri dan sekarang pun, di samping mengamati keadaan Ki Bragolo dia pun melakukan pengamatan terhadap dirinya sendiri.

Seorang kakek yang gagah perkasa, tinggi besar dan usinya tentu sudah hampir tujuh puluh tahun.

Rambutnya sudah hampir putih semua, bahkan kumis dan jenggotnya, juga alisnya, sudah berwarna putih.

Akan tetapi wajahnya masih segar penuh semangat dan harus diakui bahwa wajah itu gagah dan berwibawa.

Seluruh tubuh dan pembawaannya membayangkan kekuatan besar yang menggiriskan.

Juga banyak laki-laki tua muda yang hadir di situ, para anggota Sabuk Tembogo rata-rata nampak gagah perkasa dan walaupun mereka itu membayangkan watak yang kasar namun mereka itu gagah dan terbuka.

Hal ini dapat dilihat dari sinar mata mereka ketika mereka memandang kepada Wulan atau Dewi Pusporini.

Tidak terdapat pandang kurang ajar seperti orang-orang kasar yang menjadi hamba nafsu dan sudah biasa melakukan kejahatan.

"Ayah, aku sudah tidak tahan lagi membayangkan betapa tiga orang saudara seperguruanku yang tidak bedosa itu ditawan oleh Senopati Pamungkas, mungkin disiksa atau dibunuh! Karena itu, setelah ayah gagal meminta mereka dibebaskan dengan jalan membujuk dan minta kepada enopati, aku lalu mengambil keputusan ini. Harap ayah maafkan, akan tetapi aku tidak melihat jalan lain untuk memaksa Sang Senopati untuk membebaskan tiga orang anggota kita kecuali menculik puterinya."

"Bodoh! Ini merupakan pemberontakan dan perang terbuka terhadap Tumapel! Apa kau kira Sang Akuwu Tunggal Ametung akan tinggal diam saja mendengar betapa kita memusuhi Senopati Pamungkas yang berarti juga memusuhi Tumapel? Kita akan dianggap pemberontak dan ke mana kita akan menyelamatkan diri kalau begitu? Engkau tahu bahwa pendirian Sabuk Tembogo adalah membela kebenaran dan mengabdi kepada Tumapel!"

Kakek itu marah sekali.

"Hayo, kembalikan sekarang juga Sang Puteri kepada ramandanya dan engkau harus minta maaf kepada Sang Senopati!"

"Akan tetapi, Ayah...."

"Tidak ada tapi! Jangan engkau menambah kesalahpahaman antara kita dengan senopati menjadi semakin parah dan menjadi permusuhan! Hayo kembalikan Sang Putri ini sekarang juga dan sampaikan maafku kepada Sang Senopati!"

Wulandari cemberut.

"Ayah, enak saja ayah bicara. Keadaannya tidak sesederhana itu. Ada empat orang perajurit senopati yang tewas, bagaimana aku dapat menghadap ke sana?"

"Apa?"

Kakek itu membanting kaki dan mengepal tinju dengan marah, memandang anaknya dengan mata terbelalak.

"Kau.... kau malah membunuh empat orang perajurit Tumapel?"

"Tidak, Ayah. Peristiwanya begini. Tanpa menjatuhkan korban, bahkan tanpa ketahuan aku mempergunakan aji penyirepan, aku berhasil melarikan Dewi Pusporini keluar dari gedung senopati. Aku bertemu dengan Joko Handoko ini yang kukenal dalam perjalanan dan dia pun membantuku dan memijamkan kudanya. Kami melarikan Sang Puteri dan ketika kami tiba di hutan, muncl sepasukan perajurit Tumapel yang melakukan pengejaran. Aku melayani mereka akan tetapi sudah kujaga benar agar aku tidak sampai membunuh mereka. Tiba-tiba muncul dua orang yang membantuku dan mereka berdua itulah yang menurunkan tangan maut membunuh empat orang perajurit. Aku mencegahnya dan mereka melarikan diri. Melihat tanda tapak tangan berdarah, aku tahu bahwa mereka adalah orang-orang Hastorudiro, Ayah."

"Ah....!! Adi Kebosoro membantu kita melawan Tumapel? Rasanya tidak mungkin! Adi Kebosoro yang menjadi ketua Hastorudiro selamanya setia kepada Tumapel. Siapa mau percaya keteranganmu itu? Tetap saja disangka engkau yang menculik sang puteri. Celaka..... celaka....engkau anak celaka, mendatangkan malapetaka kepada kita semua!"

Melihat Wulandari hanya menundukan muka dengan sedih dan bingung, Joko Handoko merasa kasihan.

"Maaf, paman. Saya sendiri melihat sebagai saksi bahwa Wulandari sama sekali tidak membunuh orang."

Kakek itu mengangkat muka memandang kepada Joko Handoko dan agaknya baru sekarang ia memperhatikan pemuda itu karena tadi seluruh perhatiannya, didorong kemarahan ditujukan kepada putrinya.

Dan tiba-tiba dia terbelalak, memandang dengan muka berubah.

Sampai lama dia menatap wajah Joko Handoko kemudian terdengar suara perlahan dan lrih,"

Kau.... kau....., Siapakah engkau....?"

"Nama saya Joko Handoko, paman,"

Jawab pemuda itu dengan hati tidak enak karena sikap tuan rumah itu sungguh aneh.

"Joko Handoko.....? Belum pernah aku mendengar nama itu, akan tetapi di mana kita sudah pernah saling jumpa?"

"Belum pernah, Paman, baru pertama kali ini....."

"Tidak! Pernah kita saling bertemu.... entah di mana...."

"Ayah, aku bertemu dan berkenalan di tengah hutan ketika aku menolongnya dari kepungan perampok. Joko Handoko ini tidak pernah bertemu dengan ayah."

"Sudahlah!"

Kakek itu teringat lagi akan perbuatan Wulandari. Sekarang, engkau cepat kembali ke Tumapel, mengembalikan sang puteri."

"Tapi.... Mereka tentu akan menangkapku, ayah."

"Salahmu sendiri. Biar menjadi pelajaran bagimu!"

Kini Dewi Pusporini yang sejak tadi menaruh perhatian dan mendengarkan, mulai berubah pandangan terhadap keluarga Sabuk Tembogo.

Ia mengerti bahwa agaknya memang telah terjadi rahasia yang aneh di balik semua peritiwa itu yang seolah-olah hendak menaruh Sabuk Tembogo di tempat gelap dan tersudut sehingga dimusuhi oleh Tumapel.

Dari percakapan itu dan sikap ayah dan anak itu,ia merasa yakin bahwa Sabuk Tembogo sama sekali tidak berniat memberontak atau memusuhi Tumapel.

"Sudahlah, Paman Ki Bragolo. Saya sudah mendengar semuanya dan saya yakin bahwa terjadi kesalahpahaman antara Sabuk Tembogo dan kami. Memang benar bahwa aku melihat sendiri orang-orang bertopeng mempergunakan senjata Sabuk Tembogo merampok keluarga kami, akan tetapi kini aku mulai ragu-ragu apakah benar mereka adalah orang-orang Sabuk Tembogo, ada orang golongan lain yang menyamar. Biarlah aku di sini dulu, nanti kalau pasukan Tumapel datang, aku yang akan memberi penjelasan kapada mereka. Aku akan minta, kepada ayah untuk melakukan penyelidikan seksama dan tidak menimpakan kepada Sabuk Tambogo begitu saja."

Mendengar ucapan Sang Puteri ini, wajah Ki Bragolo menjadi berseri. Hatinya lega sekali.

"Ah, sungguh Andika seorang putri yang bijaksana sekali. Terima kasih, dan kami setuju sekali dengan pendapat Andika. Hayo, Wulandari, ajak Sang Puteri ke dalam, beri kamar terbaik dan layani dengan baik sebagai tamu agung kita!"

"Baik Ayah, dan Joko Handoko ini sudah banyak membantuku, Ayah. Biar dia mengaso dan menjadi tamu kita pula. Marilah, Raden Ajeng Dewi,"

Kata Wulandari dengan sikap hormat dan bersukur karena bagaimana pun juga, Dewi Pusporini telah menolongnya dari kemarahan ayahnya tadi.

Setelah mereka berdua itu memasuki rumah, Joko Handoko lalu diajak oleh murid kepala menuju ke pondok di sekeliling rumah besar Ki Bragolo, diberi sebuah kamar untuk beristirahat dan kudanya pun dimasukkan ke dalam kandang kuda dan diberi makan.

Semantara itu, di Kadipaten Tumapel, Senopati Raden Pamungkas menjadi marah bukan main mendengar pelaporan para prajurit yang berhasil menyusul penculik puterinya.

Laporan itu mengatakan bahwa yang menculik puterinya adalah Wulandari, puteri Ki Bragolo ketua Sabuk Tembogo.

Lebih marah lagi dia ketika laporan itu mengatakan bahwa ketika pasukannya telah berhasil menyusul Wulandari dan mengeroyoknya, muncul dua orang berkedok yang mempergunakan ilmu pukulan berdarah membunuh empat orang perajurit.

Pasukan itu telah menemukan empat mayat teman mereka dan melihat tapak tangan merah yang menewaskan mereka.

"Keparat! Sabuk Tembogo dan Hatorudiro telah berbalik haluan dan menjadi pemberontak? Kita harus menghajar mereka!"

Bentaknya dan dia pun memerintahkan perwira bawahannya, membagi pasukan menjadi dua, dan masing-masing pasukan disuruh menyerbu ke sarang perkumpulan Sabuk Tambogo di lereng Kawi dan perkumpulan Hastorudiro yang berada di kaki Pegunungan Arjuna.

Dia sendiri tidak ikut dalam penyerbuan itu, karena selain hal itu menurunkan derajatnya sebagai senopati, juga dia harus cepat-cepat membuat pelaporan tentang pemberontakan dua perkumpulan itu kepada Sang Akuwu Tunggul Amentung yang menjadi atasannya.

Yang melakukan penyerbuan menuju ke lereng Kawi berjumlah lima puluh orang perajurit, dikepala oleh seorang perwira bernama Ranunilo, seorang perwira berusia empat puluh tahun yang memiliki kepandaian tinggi dan tenaga yang kuat.

Oleh sang senopati , Ranunilo diberi tugas khusus untuk menyelamatkan puterinya yang tertawan di sarang Sabuk Tambogo.

"Kalau mereka mau membebaskan Dewi, dan Ki Bragolo beserta puterinya mau menyerahkan diri,maka Sabuk Tambogo akan diampuni dan tidak perlu dibasmi. Akan tetapi kalau mereka tidak mau menyerahkan Dewi, gempur dan habiskan mereka!"

Demikian pesan Sang Senopati dengan marah...

Pagi-pagi hari sekali, pasukan di bawah pimpinan komandan Ranunilo telah tiba di kaki Gunung Kawi.

Selagi perwira itu mengatur pasukan untuk mendaki gunung dengan berpencar arag mereka langsung mengepung sarang Sabuk Tembogo kalau sudah tiba di lereng, tiba-tiba muncul dua orang, laki-laki yang menarik perhatian karena mereka itu langsung dating menghadap Ranunilo.

"Kami mendengar tentang pemberontakan Sabuk Tembogo terhadap Tumapel, maka kami kakak beradik seperguruan siap untuk membantu pasukan Tumapel, untuk menghajar Sabuk Tambogo,"

Kata mereka.

Ranunilo mengerutkan alisnya dan mengamati dua orang laki-laki itu penuh perhatian.

Yang bicara adalah orang pertama yang bertubuh seperti raksasa, bermuka putih dan halus tanpa, kumis, berjenggot pendek.

Adapun orang ke dua yang lebih muda, bertubuh tinggi kurus dan bemuka hitam.

Usia mereka kurang lebih empat puluh dan tiga puluh lima tahun.

"Hem, kami tidak membutuhkan bantuan. Siapakah kalian?"

Tanya perwira itu dengan pandang mata curiga.

"Kami adalah dua orang kakak beradik dan datang dari pantai Segoro Kidul. Nama saya Gajah Putih dan adik seperguruan saya ini bernama Gajah Ireng. Kami berdua meninggalkan pantai untuk bekerja dan mengabdi kepada Kadipaten Tumapel. Mendengar bahwa Sabuk Tembogo kini memberontak, kami menjadi penasaran dan ingin membantu,"

Kata Gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu.

"Hemm, kami pasukan Tumapel tidak membutuhkan bantuan dan kalau kalian ingin mengabdi, sebaiknya dating saja ke Tumapel dan menghadap yang bertugas di sana,"

Kata pula Ranunilo.

"Maafkan kmi berdua,"

Kata Gajah Putih sambil tersenyum.

"Andika akan menyesal kalau tidak meneria bantuan kami, karena kami sudah mengenal siapa adanya Ki Bragolo dan perkumpulannya Sabuk Tembogo. Dia seorang yang sakti dan murid-muridnya pun rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau sampai Andika gagal menyerbu Sabuk Tambogo, selain Andika akan menerima kemarahan dari Sang Senopati dan Sang Akuwu, juga Tumapel akan merasa malu sekali."

Ranuniro memandang dua orang kakak beradik seperguruan itu dengan alis berkerut.

"Hemm, kalau kalian mengira aku akan kalah, apakah kalian berdua akan mampu mengalahkan Ki Bragolo?"

"Tentu saja kami berdua akan mampu mengalahkan Ki Bragolo!"

Jawab Gajah Putih dengan tersenyum lebar dan sombong.

"Kalau tidak, kami tidak akan berani mengajukan diri membantu pasukan Tumapel."

"Bagaimana aku dapat yakin bahwa kalian berdua memiliki kemampuan sebesar itu?"

Perwira itu mendesak, tertarik juga.

"Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa andika akan minta bukti!"

Katanya kepada adiknya, Gajah Ireng yang sejak tadi hanya mendengarkan saja dan menyerahkan kepada kakak seperguruannya menjadi juru bicara. Gajah Ireng lalu berkata kepada Ranunilo.

"Apakah andika melihat burung emprit di puncak pohon itu?" (Lanjut ke

Jilid 06) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Ranulniro mengangkat muka dan melihat adanya seekor burung emprit yang berloncatan dari ranting ke ranting di puncak sebatang pohon randu alas yang tinggi. Dia mengangguk.

"Ya, aku melihatnya."

"Saya akan menangkap burung itu untuk andika seperti saya akan menangkap Ki Bragolo untuk andika."

Berkata demikian, tiba-tiba kedua kaki Gajah Ireng menekan dan menendang tanah dan....

Tubuhnya sudah mencelat ke atas dengan cepatnya, seperti seekor burung garuda saja tubuh itu melayang ke arah puncak pohon.

Ranuniro memandang dengan mata terbelalak ketika tubuh Gajah Ireng sudah meloncat turun dan memperlihatkan emprit yang menggelempar di telapak tangannya!

"Hebat......!

Engkau hebat.....!"

Katanya penuh takjub.

Orang ini memiliki kecepatan gerakan yang luar biasa, pikirnya.

Kalau kecepatan seperti itu dipakai dalam perkelahian, tentu menggiriskan sekali.

Gerakannnya sukar diikuti saking cepatnya dan berbahaya sekali melawan orang yang memiliki ketangkasan seperti ini.

Melihat kecepatannya saja, maklumlah dia bahwa dia sendiri bukanlah lawan Gajah Ireng itu.

"Ha-ha-ha, memang adik seperguruanku itu memiliki keringanan tubuh yang menakjubkan. Dan untuk mengalhkan Ki Bragolo, urusan mudah saja. Saya akan menumbangkan kekuasaan Sabuk Tembogo seperti ini."

Kata Gajah Putih sambil menghampiri pohon randu alas tadi.

Dia menggunakan kedua lengannya yang panjang dan besar untuk memeluk batang pohon sebesar dua kali tubuh orang itu, mengerahkan tenaga dan menarik.

Terdengar suara keras dan pohon itupun jebol akar-akarnya dan tumbang, mengeluarkan suara gemuruh dan para prajurit cepat berloncatan dan berlarian agar jangan sampai tertimpa pohon itu!

Kini para prajurit bersorak memuji karena demontrasi yang diperlihatkan Gajah Putih ini sungguh amat menganggumkan hati mereka.

Bukan main girangnya hati Ranunilo.

Tadinya dia memang sudah agak gentar dan ragu-ragu ketika mengatur pasukannya untuk mendaki dan mengepung sarang Sabuk Tembogo.

Dia sudah mengenal Ki Bragolo dan tahu bahwa kakek itu sakti mondroguno.

Kini, tiba-tiba muncul dua orang kakak beradik seperguruan yang memiliki kesaktian hebat dan ingin membantunya.

Hal ini meyakinkan hatinya bahwa dia pasti akan berhasil membawa kembali Dewi Pusporini dan menaklukkan Ki Bragolo.

Setelah menerima kakak beradik itu, dengan hati lapang dan semangat besar, Ranunilo lalu memimpin pasukannya untuk mendaki naik dan tak lama kemudian dia sudah tiba di depan pintu gerbang pedukuhan yang menjadi sarang Sabuk Tembogo, dilereng Gunung Kawi.

Tentu saja Ki Bragolo sudah tahu akan kedatangan pasukan Tumapel ini, maka dengan sikap tenang diapun keluar menyambut ke pintu gerbang.

Dia sudah memesan kepada para murid Sabuk Tembogo yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh orang agar berdiam saja di dalam dan tidak menimbulkan keributan dengan pasukan Tumapel.

Dia hanya keluar bersama Wulandari, Joko Handoko, dan Dewi Pusporini.

Kehadiran puteri Senopati Pamungkas itulah yang membesarkan hatinya.

Dan memang, Ranunilo tertegun melihat betapa puteri atasannya itu keluar pula menyambut bersama Ki Bragolo dan sama sekali tidak kelihtan sebagai seorang tawanan!

Akan tetapi, dia bersikap angkuh dan begitu berhadapan, segera dia berkata dengan suara lantang.

"Heh, Ki Bragolo yang memberontak! Kami diutus oleh Sang Senopati Raden Pamungkas agar engkau menyerahkan kembali Sang Puteri Dewi Pusporini dan engkau sekeluargamu menyerahkan diri untuk kami tangkap dan kami bawa sebagai tawanan ke Tumapel. Kalau sudah begitu, barulah tempat ini tidak akan kami ganggu. Sebaiknya kalau kalian membangkang, terpaksa kami akan membuat tempat ini menjadi lautan api dan seluruh penghuninya kami bunuh!"

"Ranunilo, semenjak dahulu engkau mengenal Ki Bragolo bukan sebagai pemberontak! Agaknya terjadi kesalahpahaman dan biarlah Sang Puteri Dewi Pusporini sendiri yang akan menjelaskan kepadamu,"

Jawab Ki Bragolo dengan sikap tenang.

Jawaban ini tentu saja tidak disangka-sangka oleh Ranunilo yang menduga bahwa hanya ada dua jawabanm, yaitu Ki Bragolo melawan atau menyerah.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara sang puteri dan terpaksa dia harus hormat mendengar penuh perhatian.

"Paman Ranunilo,"

Kata Dewi Pusporini dengan suara Halus dan karena semua orang menahan napas untuk mendengarkan penuh perhatian, biarpun suaranya lembut namun terdengar jelas.

"Apa yang dikatakan oleh paman Ki Bragolo itu memang benar. Ada kesalahpahaman antara Sabuk Tembogo dan Tumapel. Aku dating ke sini bukan sebagai tawanan melainkan sebagai seorang tamu agung yang dihormati. Karena itu, janganlah bersikap keras. Aku akan pulang dan paman Ki Bragolo, juga Wulandari, akan ikut bersamaku menghadap kanjeng romo."

Tentu saja hal ini tidak disangka-sangka oleh Ranunilo.

Dia merasa kurang puas karena setelah kini memiliki dua orang jagoan, dia ingin menunjukkan kemampuannnya.

Akan tetapi di situ terdapat Dewi Pusporini, tentu saja dia tidak berani membantah.

"Baik, baiklah, saya akan mentaati perintah Paduka,"

Jawabnya. Ki Bragolo tertawa gembira.

"ha-ha-ha, girang sekali hatiku, adi Ranunilo. Andika pun bersama pembantu-pembantu andika menjadi tamu agung kami. Marilah masuk dan kita makan bersama!"

Ranunilo terpaksa pula memenuhi undangan Ki Bragolo.

Bersama Gajah Putih dan Gajah Ireng yang nampak tidak puas dengan hasil penyerbuan itu, dia masuk ke dalam ruangan makan yang luas di mana telah disediakan hidangan-hidangan yang mewah.

Sang Puteri Dewi Pusporini mengundurkan diri ke ruangan dalam bersama Wulandari, akan tetapi Wulandari keluar lagi untuk menemani ayahnya menjamu para tamu itu.

Juga Joko Handoko hadir di samping murid-murid kepala Sabuk Tembogo dan pembantu-pembantu perwira yang jumlahnya bersama Ranunilo dan dua orang pembantu barunya itu seluruhnya ada dua belas orang.

Ki Bragolo ditemani oleh puterinya dan Joko Handoko bersama tujuh orang murid itu bekerja sebagai pelayan-pelayan walaupun mereka juga ikut berpesta.

Setelah diberi kesempatan berkumpul tanpa kehadiran Dewi Pusporini, Gajah Putih yang suka bicara dan berwatak sombong itu, tidak dapat menahan lagi hatinya yang sejak tadi diliputi perasaan tidak puas karena dia dan adik seperguruannya sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk mencari jasa dan memamerkan kepandaian.

"Ah, suasana begini gembira! Kalau di waktu dahulu, di dalam pertemuan antara orang-orang yang menjujung tinggi kegagahan, setiap peserta makan minum tentu saja disertai pameran ilmu kesaktian. Apa lagi kalau yang mengadakan pesta seorang gagah perkasa dan sakti seperti Ki Bragolo, ketua dari Sabuk Tembogo. Ha-ha-ha!"

Ranuniro agaknya maklum ke mana tujuan ucapan pembantu barunya itu.

Di lubuk hatinya, dia pun amat tidak puas dengan hasil tugasnya.

Walaupun sang puteri akan diajaknya kembali bersama Ki Bragolo dan Wulandari, namun kedua orang ini bukan ikut sebagai tawanan.

Hal ini tentu saja menurunkan nilai jasanya.

Maka, tahu bahwa pembantunya barunya yang pandai bicara itu sedang "cari-cari", dia pun lalu tertawa.

"Ha-ha-ha, kakang Gajah Putih, dalam suasana damai ini, mana ada kesempatan untuk mencoba ilmu kepandaian masing-masing?"

Gajah Ireng yang pendiam itupun menyambut.

"Kakang Putih, tuan rumah telah bersembunyi dan berlindung di balik bayangan sang puteri, awas kau jangan mengganggunya. Salah-salah dia bisa melapor kepada sang puteri dan engkau dihukum!"

"Ha-ha-a-ha!"

Gajah Putih tertawa, pura-pura mabuk, lalu menuangkan tuak ke dalam mulutnya. Suaranya menggelogok ketika tuak itu melewati kerongkongannya.

"Aku sudah lama mendengar bahwa Ki Bragolo adalah seorang laki-laki sejati yang gagah perkasa. Sayang, hari ini dia lebih suka mengambil jalan aman dan damai."

Lalu dia bangkit berdiri.

"Heh! Menggunakan wanita untuk berlindung sama sekali bukan tindakan laki-laki perkasa!"

Ki Bragolo adalah seorang laki-laki kasar yang sejak muda berkecipung di dalam dunia kekerasan dan kegagahan.

Wataknya gagah perkasa dan sifat pengecut atau penakut merupakan pantangan besar baginya.

Kini, mendengar ucapan tiga orang itu, telinganya sudah berubah menjadi merah dan melihat Gajah Putih bangkit, diapun kini bangkit berdiri, memandang kepada raksasa itu dengan sinar mata berkilat.

"Gajah Putih, jangan engkau sembarangan bicara! Apakah engkau sengaja hendak mencari keributan di sini? Jangan sekali-kali menyangka bahwa kami takut kepadamu atau kepada siapa saja! Kami tidak minta perlindungan sang puteri, melainkan beliau sendiri yang tidak menghendaki kesalahpahaman ini menjadi berlarut-larut!"

Melihat kesempatan ini Ranunilo lalu bangkit berdiri.

"Maafkan kami, Ki Bragolo! Sama sekali kami tidak bermaksud untuk membantah perintah sang puteri. Hanya saja engkau tentu mengerti betapa kecewa perasaan orang-orang gagah yang pada saat berada di tepi gelanggang pertempuran, lalu dihentikan begitu saja. Tidak biasa bagi kami untuk bermanis-manis dan berdamai begini saja. Karena itu, biarpun kini permusuhan tiada lagi untuk sementara, di antara orang-orang yang suka mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit, bagaimana kalau pesta ini diramaikan dengan adu ilmu secara persahabatan? Tidak perlu sampai ada korban, cukup untuk melihat siapa yang kalah dan siapa yang menang, siapa yang kuat dan siapa lemah. Bagaimana pandapatmu?"

Ki Bragolo juga merupakan orang yang biasanya mengunggulkan diri sendiri dan percaya akan kepandaian sendiri. Maka, tentu saja tantangan ini sempat membuat perutnya menjadi panas.

"Ranunilo, engkau adalah seorang perwira yang sudah cukup mengenal watak Ki Bragolo yang pantang mundur menghadapi tantangan adu ilmu. Apakah engkau sendiri yang ingin mengadu ilmu?"

Ki Bragolo belum mengenal Gajah Putih dan dia, maka tentu saja dia mengira bahwa di antara semua tamunya, Ranunilo merupakan orang yang paling tangguh karena dialah pemimpin pasukan itu.

"Adimas perwira Ranunilo adalah pemimpin pasukan. Sebelum dia sendiri yang turun tangan, di sini masih ada kami dua orang pembantunya yang akan maju menjadi jagoan-jagoannya. Nah, kami berdua maju, siapakah di antara perkumpulan Sabuk Tembogo yang akan maju?"

Kembali Gajah Putih berseru.

"Kalau kami berdua keok, barulah dimas Ranunilo yang akan turun tangan sendiri!"

"Manusia sombong, sebelum ketua dan guru kami maju, biarlah kami yang akan maju lebih dulu mewakili Sabuk Tembogo!"

Terdengar bentakan keras dan dua orang laki-laki berusia empat puluh tahun bangkit berdiri.

Mereka tadi memimpin para murid Sabuk Tembogo yang menjadi pelayan dan juga tuan rumah, dan mereka ini bernama Sentono dan Sentanu dua orang murid kepala dari Ki Bragolo, mereka berdualah yang memiliki tingkat tertinggi.

Hanya Wulandari seoranglah kiranya yang mampu mengungguli ilmu kepandaian mereka."

"Ha-ha-ha!"

Gajah Putih tertawa bergelak.

"Di dalam pertandingan adu ilmu persahabatan ini, harus diajukan lawan-lawan yang sepadan kepandaiannya agar lebih seru dan menarik. Tingkat kepandaian dua orang saudara anggota Sabuk Tembogo ini agaknya tidak akan lebih tinggi daripada tingkat adikku. Adi Ireng, majulah menghadapi mereka!"

Gajah Ireng hanya mengangguk dan tersenyum mengejek, lalu dengan sekali menggerakkan tubuh, tubuhnya sudah mencelat ke tengah ruangan itu yang kosong dan merupakan ruang yang baik sekali untuk mengadu ilmu.

Melihat ini, semua orang memandang dan kini, para anak buah Sabuk Tembogo dan pasukan tamu yang sudah mendengar bahwa akan diadakan adu ilmu, sudah ramai memenuhi luar pintu dan jendela-jendela ruangan makan itu untuk menonton.

"Kalian berdua majulah, mari kita main-main sebentar!"

Kata Gajah Ireng dengan berdiri tegak dan kedua tangan bertolak pinggang, sikapnya sombong sekali.

Sentono dan Sentanu saling pandang.

Tentu saja mereka tidak sudi maju berdua untuk melakukan pengeroyokan.

Pertandingan adu ilmu adalah suatu peristiwa di mana orang di dunia persilatan memperlihatkan kegagahan.

Mengeroyok berarti akan membuat mereka hina dan dapat dianggap pengecut.

Agaknya pihak lawan sengaja menantang agar mereka mengeroyok, hanya untuk melontarkan ejekan dan hinaan saja.

Sentanu lalu melangkah ke arah tengah ruangan itu setelah memperoleh anggukan setuju dari Ki Bragolo.

Tuan rumah inipun merasa amat penasaran dan untuk mempertahankan nama dan kehormatan perguruannya, tentu saja dia tidak dapat menolak tantangan para tamu yang mengajak mengadu kepandaian.

Dan memang tidak ada yang lebih tepat untuk melayani dua orang pembantu Ranunilo itu kecuali Sentono dan Sentanu.

Dua orang murid kepala yang sudah boleh diandalkan kepandaiannya itu.

Setelah berhadapan dengan lawan, Sentanu lalu melolos sabuk tembogo yang menjadi ikat pinggangnya.

Sabuk itu beratnya ada sepuluh kati, menunjukkan bahwa dia merupakan murid Sabuk Tembogo yang sudah mahir dan tangguh.

"Karena aku merupakan murid Sabuk Tembogo yang sedang mempertahankan nama dan kehormatan perkumpulan Sabuk Tembogo, maka untuk menguji kepandaian, aku harus mempergunakan sabuk ini yang menjadi lambing perguruan kami,"

Kata Sentanu, memperlihatkan senjatanya itu kepada calon lawannya. Gajah Ireng tersenyum.

"Bagi aku, Gajah Ireng, lawan bersenjata apapun tidak ada bedanya, dan kalian berdua maju bersama atau maju satu demi satu juga tidak ada bedanya. Akan tetapi perlu aku mengetahui nama dari calon lawanku."

"Hemm, engkau agak besar mulut, sobat. Namaku Sentanu dan aku murid kedua dari guruku, juga ketua perguruan kami. Nah, aku sudah siap, engkau majulah!"

Sentanu memasang kuda-kuda dan sabuk tembaga itu sudah diputar-putarnya dengan tangan kanan.

Di antara para anak buah Sabuk Tembogo dan pasukan Tumapel terjadi kesibukan sendiri karena ada pula yang bertaruhan!

Mereka memang sudah saling mengenal karena sudah sering anak buah Sabuk Tembogo membantu Kadipaten Tumapel.

Bahkan ketika beberapa tahun yang lalu terdapat kerusuhan yang diakibatkan oleh merajalelanya para bajak Kali Berantas, para pendekar Sabuk Tembogo berjasa besar, berkelahi bahu-membahu dengan pasukan Tumapel untuk membasmi para bajak.

Tadinya memang ada ganjalan di antara mereka sehubungan ditawannya tiga orang anggota Sabuk Tembogo, akan tetapi setelah kini di antara mereka ada perdamaian berkat perintah sang puteri, mereka bercakap-cakap dengan akrab dan kini meraka menganggap adu ilmu itu suatu kegembiraan yang bersahabat.

Karena itu mereka lalu saling bertaruh.

Para anak buah Sabuk Tembogo yang percaya penuh akan ketangguhan Sentanu, berani mempertaruhkan semua uang saku mereka, sedangkan para perajurit juga tadi sudah menyaksikan kehebatan Gajah Ireng yang dapat "terbang", tentu saja berani mempertaruhkan uang mereka.

Gajah Ireng yang tadinya memakai ikat kepala berwarna ungu, kini melolos ikat kepalanya itu dan agaknya hendak mengimbangi senjata lawan yang terbuat dari tembaga itu dengan senjata kain ikat kepala!

Hal ini oleh Sentanu dianggap suatu sikap yang amat memadang rendah kepadanya dan sombong sekali.

"Lihat senjata!"

Bentaknya dan Sentanu sudah menyerang dengan gerakan ganas dam dahsyat sekali ke depan.

Senjata sabuk tembaga itu diputarnya dengan cepat bagaikan kitiran sehingga tidak nampak lagi bentuknya melainkan berubah menjadi segulungan sinar dan tiba-tiba saja ada sinar mencuat ke arah dada Gajah Ireng.

Akan tetapi, Sentanu mengeluakan seruan kaget ketika tiba-tiba saja lawannya itu lenyap!

Hanya nampak bayangannya berkelebat dan tahu-tahu lawan itu lenyap dan tib-tiba ada angin menyambar ke arah tengkuknya dari belakang.

Dia seorang murid kepala Sabuk Tembogo, tentu saja sudah banyak pengalaman dalam bertanding.

Tahulah dia bahwa lawannya memiliki ajian kecepatan yang sangat hebat dan tentu angin yang bertiup itu merupakan serangan lawan.

Cepat dia memutar tubuh dan menggerakkan senjatanya menangkis.

"Tukk!"

Benar saja dugaannya.

Ikat kepala yang merupakan kain lemas itu ternyata dapat menyambar ke arah tengkuknya tadi dan berubah menjadi benda yang keras.

Bukan main hebatnya lawan itu.

Ketika sabuknya menangkis, terjadi bentrokan tenaga melalui kedua macam senjata itu dan sabuk tembaga di tangan Sentanu terpental.

Terdengar Gajah Ireng tertawa kecil.

Sentanu menjadi penasaran dan dia pun mempercepat gerakan sabuk di tangannya sehingga nampak gulungan sinar yang menyilaukan mata, yang melindungi seluruh tubuh Sentanu dan kadang-kadang dari gulungan sinar itu mencuat sinar yang merupakan serangan ujung sabuk ke arah lawan.

Namun, Gajah Ireng memang memiliki kecepatan yang laur biasa.

Setiap kali diserang, tubuhnya berkelebat lenyap dan diapun membalas serangan lawan dari tempat-tempat yang tidak terduga.

Tentu saja Sentanu yang jauh kalah cepat itu menjadi kewalahan dan setelah lewat dua puluh jurus, dia menjadi repat dan bingung karena gerakan cepat lawan membuat dia tidak tahu kemana harus menyerang sedangkan serangan lawan datang bertubi-tubi dari segenap penjuru secara tidak terduga sama sekali.

Bagi para penonton, jelas nampak betapa Gajah Ireng mempermainkan Sentanu.

Para penonton dapat melihat gerakan Gajah Ireng karena jarak mereka dari orang itu agak jauh, tidak seperti Sentanu yang berada dekat sekali.

Nampak oleh mereka betapa Gajah Ireng berloncatan dengan cepat bukan main mengintari Sentanu, selalu tak terjangkau oleh gulungan sinar sabuk di tangan murid Ki Bragolo itu, sebaliknya dari sudut-sudut bebas dia menyerang lawan dengan lecutan kain kepalanya.

Melihat betapa Gajah Ireng mempermainkan lawan dan berada di pihak yang selalu mendesak, para perajurit Tumapel, terutama mereka yang bertaruhan, mulai bersorak-sorak gembira sebaliknya para murid Sabuk Tembogo memandang dengan hati gelisah.

Mereka pun dapat melihat bahwa kakak seperguruan mereka terdesak dan berada di ambang kekalahan.

Joko Handoko yang berdiri di pinggiran juga melihat semua ini.

Dia menandang ke arah Wulandari yang berdiri di samping ayahnya.

Gadis itu, juga Ki Bragolo, memandang ke arah perkelahian sambil mengepal-ngepal tinju.

Jelas bahwa ayah dan anak itu merasa penasaran sekali.

"Pergilah!"

Tiba-tiba terdengar bentakan Gajah Ireng disusul bunyi ledakan kain ikat kepalanya yang menyambar dengan kecepatan kilat.

Sentanu tidak mampu mengelak atau menangkis lagi dan terdengar bunyi kain robek ketika letusan itu mengenai pundak dan dadanya, merobek baju dan juga merobek sedikit kulit dada dan pundak.

Nampak guratan merah pada pundak dan dada itu.

Walaupun tidak terluka parah, hanya lecet-lecet pada kulit itu, namun ini merupakan bukti bahwa Sentanu telah kalah.

Dia pun tahu akan kekalahannya dan segera mengundurkan diri.

Kini Sentono melangkah maju menghadapi Gajah Ireng.

"Adikku telah kalah, biarlah aku minta sedikit petunjuk darimu!"

Berkata demikian, Sentono memutar sabuk tembaga di tangannya.

Dibandingkan dengan Sentanu, Sentono yang menjadi murid kepala itu hanya sedikit lebih tinggi tingkatannya, yaitu dalam hal tenaga saja.

Ilmu silatnya tiada bedanya dengan Sentanu.

Dia sendiri tadi telah menyaksikan perkelahian antara Sentanu dengan Gajah Ireng, maklum bahwa dia sendiri takkan menang menghadapi lawan ini.

Namun dia tidak takut, bahkan merasa penasaran sekali dan ingin menebus kekalahan adiknya, walaupun dia tahu hal itu sama sekali tidak mudah.

"Hem, sudah kukatakan, kalian lebih baik maju bersama!"

Gajah Ireng berkata dengan nada mengejek. Ucapan ini membuktikan kesombongannya. Sentono tidak menjawab, melainkan memutar senjatanya dan menubruk ke depan.

"Lihat sabukku!"

Namun seperti halnya adiknya tadi, tiba-tiba tubuh lawannya berkelebat lenyap.

Dia tadi sudah menonton pertandingan antara adiknya dan lawan ini, maka dia sudah memutar dan menggerakkan sabuknya, menyerang ke bagian belakang dan kanan kiri dengan cepat.

Akan tetapi kembali Gajah Ireng dapat mengelak dengan amat mudahnya dan balas menyerang.

Pasar taruhan di luar ruangan itu kini sepi.

Para anak buah Sabuk Tembogo tidak ada yang berani bertaruh karena mereka semua jerih melihat gerak cepat yang luar biasa dari Gajah Ireng dan memang rasa khawatir mereka beralasan.

Sebentar saja, seperti halnya Sentanu tadi, Sentono juga hanya mampu melindungi dirinya, tidak sempat lagi untuk balas menyerang dan bahkan agaknya Gajah Ireng ingin cepat mengakhiri pertandingan itu.

Lewat lima belas jurus, tiba-tiba ujung sabuk tembaga itu terlihat ujung kain ikat kepala dan selagi Sentono berusaha manarik kembali sabuk tembaganya, tiba-tiba kaki Gajah Ireng meluncur dan menendang.

"Dess....!"

Tubuh Sentono terpelanting keras dan biarpun dia juga tidak terluka parah, namun karena tubuhnya sudah terbanting, berarti dia sudah kalah.

Dia bangkit dengan muka merah dan tanpa berkata apa-apa lagi dia mengundurkan diri.

"Biarlah aku yang mewakili Sabuk Tembogo!"

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Wulandari telah meloncat ke tengah ruangan menghadapi Gajah Ireng.

Ki Bragolo hendak mencegah namun tidak keburu sehingga terpaksa diam saja, hanya memandang dengan hati gelisah.

Dia tahu bahwa puterinya itu memiliki kepandaian lebih tinggi dari Sentono, dan terutama sekali memiliki garakan yang jauh lebih lincah.

Akan tetapi dia masih meragukan apakah puterinya akan mampu menandingi Gajah Ireng yang tangguh itu.

Akan tetapi, tiba-tiba Gajah Putih melangkah maju.

"Adi Ireng, engkau sudah cukup berjasa mengalahkan dua orang jagoan lawan. Mengasolah dan biarkan aku yang menghadapi anak perempuan yang manis itu."

Gajah Ireng tersenyum lalu mengundurkan diri dan gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang lebar, berhadapan dengan Wulandari yang nampak kecil.

Wajah gadis ini sudah menjadi merah mendengar ucapan Gajah Putih yang mengatakan ia seorang anak perempuan yang manis dengan demikian mengejek.

"Kalau tidak salah, andika adalah puteri Ki Bragolo. Sungguh bahagia sekali Ki Bragolo memiliki seorang anak yang begitu cantik manis dan gagah perkasa."

Kata Gajah Putih dengan wajah penuh senyum menyeringai.

"Akan tetapi, anak manis. Lebih baik engkau mundur saja. Sayang kalau sampai kulitmu yang halus itu lecet atau tubuhmu yanmg kecil ramping dan padat ini terbanting babak bundas. Engkau sama sekali bukan lawanku!"

"Manusia sombong! Kamu yang tadi mengusulkan pertandingan adu ilmu secara persahabatan, antara tuan rumah dan tamunya yang dihormati. Akan tetapi kata-kata kotor dan beracun melebihi senjata seorang mush. Majulah dan jangan kira aku takut menghadapi kebesaran tubuhmu dan kelebaran mulutmu!"

Ucapan Wulandari ini sungguh pedas dan tajam menusuk, akan tetapi Gajah Putih tetap tersenyum menyeringai.

Dia memang seorang mata keranjang dan kini menghadapi seorang dara remaja yang demikia manisnya, hatinya gembira sekali.

Apalagi dia memperoleh kesempatan untuk mengadu ilmu dengan gadis ini, hatinya senang bukan main.

Inilah kesempatan baik baginya untuk bersentuhan kulit, dan mempermainkan gadis ini sesuka hatinya tanpa ada yang dapat melarang karena bukankah mereka itu akan bertanding mengadu ilmu?

Pula, andaikata ada yang melarang, diapun tidak takut.

"Hem, sudah kukatakan, kalian lebih baik maju bersama!"

Gajah Ireng berkata dengan nada mengejek. Ucapan ini membuktikan kesombongannya. Sentono tidak menjawab, melainkan memutar senjatanya dan menubruk ke depan.

"Lihat sabukku!"

Namun seperti halnya adiknya tadi, tiba-tiba tubuh lawannya berkelebat lenyap.

Dia tadi sudah menonton pertandingan antara adiknya dan lawan ini, maka dia sudah memutar dan menggerakkan sabuknya, menyerang ke bagian belakang dan kanan kiri dengan cepat.

Akan tetapi kembali Gajah Ireng dapat mengelak dengan amat mudahnya dan balas menyerang.

Pasar taruhan di luar ruangan itu kini sepi.

Para anak buah Sabuk Tembogo tidak ada yang berani bertaruh karena mereka semua jerih melihat gerak cepat yang luar biasa dari Gajah Ireng dan memang rasa khawatir mereka beralasan.

Sebentar saja, seperti halnya Sentanu tadi, Sentono juga hanya mampu melindungi dirinya, tidak sempat lagi untuk balas menyerang dan bahkan agaknya Gajah Ireng ingin cepat mengakhiri pertandingan itu.

Lewat lima belas jurus, tiba-tiba ujung sabuk tembaga itu terlihat ujung kain ikat kepala dan selagi Sentono berusaha manarik kembali sabuk tembaganya, tiba-tiba kaki Gajah Ireng meluncur dan menendang.

"Dess....!"

Tubuh Sentono terpelanting keras dan biarpun dia juga tidak terluka parah, namun karena tubuhnya sudah terbanting, berarti dia sudah kalah.

Dia bangkit dengan muka merah dan tanpa berkata apa-apa lagi dia mengundurkan diri.

"Biarlah aku yang mewakili Sabuk Tembogo!"

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Wulandari telah meloncat ke tengah ruangan menghadapi Gajah Ireng.

Ki Bragolo hendak mencegah namun tidak keburu sehingga terpaksa diam saja, hanya memandang dengan hati gelisah.

Dia tahu bahwa puterinya itu memiliki kepandaian lebih tinggi dari Sentono, dan terutama sekali memiliki garakan yang jauh lebih lincah.

Akan tetapi dia masih meragukan apakah puterinya akan mampu menandingi Gajah Ireng yang tangguh itu.

Akan tetapi, tiba-tiba Gajah Putih melangkah maju.

"Adi Ireng, engkau sudah cukup berjasa mengalahkan dua orang jagoan lawan. Mengasolah dan biarkan aku yang menghadapi anak perempuan yang manis itu."

Gajah Ireng tersenyum lalu mengundurkan diri dan gajah Putih yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang lebar, berhadapan dengan Wulandari yang nampak kecil.

Wajah gadis ini sudah menjadi merah mendengar ucapan Gajah Putih yang mengatakan ia seorang anak perempuan yang manis dengan demikian mengejek.

"Kalau tidak salah, andika adalah puteri Ki Bragolo. Sungguh bahagia sekali Ki Bragolo memiliki seorang anak yang begitu cantik manis dan gagah perkasa."

Kata Gajah Putih dengan wajah penuh senyum menyeringai.

"Akan tetapi, anak manis. Lebih baik engkau mundur saja. Sayang kalau sampai kulitmu yang halus itu lecet atau tubuhmu yanmg kecil ramping dan padat ini terbanting babak bundas. Engkau sama sekali bukan lawanku!"

"Manusia sombong! Kamu yang tadi mengusulkan pertandingan adu ilmu secara persahabatan, antara tuan rumah dan tamunya yang dihormati. Akan tetapi kata-katau kotor dan beracun melebihi senjata seorang mush. Majulah dan jangan kira aku takut menghadapi kebesaran tubuhmu dan kelebaran mulutmu!"

Ucapan Wulandari ini sungguh pedas dan tajam menusuk, akan tetapi Gajah Putih tetap tersenyum menyeringai.

Dia memang seorang mata keranjang dan kini menghadapi seorang dara remaja yang demikia manisnya, hatinya gembira sekali.

Apalagi dia memperoleh kesempatan untuk mengadu ilmu dengan gadis ini, hatinya senang bukan main.

Inilah kesempatan baik baginya untuk bersentuhan kulit, dan mempermainkan gadis ini sesuka hatinya tanpa ada yang dapat melarang karena bukankah mereka itu akan bertanding mengadu ilmu?

Pula, andaikata ada yang melarang, diapun tidak takut.

"Ha-ha-ha, sungguh andika seperti seekor kuda betina liar yang amat cantik. Semakin liar semakin menarik untuk ditundukkan! Kalau tidak salah, nama andika tadi adalah Wulandari. Nama yang amat manis, semanis orangnya. Wulandari, sebagai puteri Ki Bragolo, aku yakin bahwa semua ilmu dari Sabuk Tembogo tentu telah kau warisi sehingga dengan melihat ilmu silatmu, sama saja dengan menjajagi tingginya tingkat kepandaian ketua Sabuk Tembogo. Nah, perlihatkan kepandaianmu, manis!"

Baca Juga: Dewi Maut 11

Baca Juga: Suling Emas 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert