Ceritasilat Novel Online

Dewi Maut 11

Eps 11 Dewi Maut - Kho Ping Hoo

Baca online Dewi Maut - Kho Ping Hoo

Cersil Dewi Maut - Kho Ping Hoo.

Terdengar suata ketawa Ang-bin Ciu-kwi.

"Memang kau pintar, putera Cin-ling-pai. Racun itu berada dalam arak tadi dan kalian sudah meminumnya. Kalian tahu racun apa? Eh, isteriku yang cantik dan cerdik, kau ceritakan agar mereka itu dapat bersenang sepuasnya, ha-ha!"

"Hi-hik, sebetulnya bukan racun berbahaya, kalian boleh tenang-tenang saja. Lebih baik dinamakan obat, dan arak itu kuciptakan sendiri, namanya Arak Malam Pengantin! Bersenanglah kalian!"

"Coa-tok Sian-li iblis betina cabul!"

In Hong membentak marah.

"Kalau sekali aku dapat berhadapan denganmu, akan kuhancurkan kepalamu!"

"Jangan harap kau dapat mempermainkan kami!"

Bun Houw juga berteriak, namun jantungnya berdebar aneh dan ada suatu kekhawatiran besar timbul di dalam hatinya.

"Ha-ha, mari kita sama lihat! Binatang-binatang seperti kuda dan kerbau saja tidak kuat menahan pengaruh obat ciptaan isteriku itu, apalagi manusia, dan masih muda seperti kalian! Ha-ha, ingin kulihat putera ketua Cin-ling-pai berjina di dalam kamar tahanan!"

Kata pula Ang-bin Ciu-kwi.

"Dan aku ingin sekali melihat Yap In Hong perawan sombong yang telah membunuh sahabatku Hwa Hwa Cinjin itu menyerahkan kehormatannya secara murah seperti seorang pelacur!"

Terdengar suara Hek I Siankouw.

Mendengar ini, terkejutlah Bun Houw.

Kiranya itulah rencana mereka!

Dia dan In Hong sengaja diberi minum racun yang agaknya merupakan racun perangsang nafsu berahi agar mereka berdua dalam keadaan tidak sadar melakukan hubungan kelamin, berjina di dalam kamar tahanan itu dan disaksikan oleh mereka.

Maksud mereka tidak lain tentu agar mereka dapat menyebarluaskan peristiwa itu untuk menghancurkan nama dan kehormatan dia sebagai putera ketua Cin-ling-pai dan Yap In Hong sebagai seorang puteri yang dipercaya oleh Kaisar!

"Manusia-manusia iblis!

Jangan mengharap kalian akan dapat memaksa kami melakukan perbuatan hina!

Kami bukanlah manusia-manusia macam kalian!"

Bun Houw membentak marah.

"Hayo masuklah kalian ke sini kalau berani!"

In Hong juga berteriak.

"Akan kuhancurkan kepala kalian satu demi satu!"

"Hi-hik, malam pengantin kenapa diisi dengan ribut-ribut? Yang tidak tahu akan menyangka pengantinnya cekcok!"

Coa-tok Sian-li mengejek.

"Sssttt... isteriku, diamlah. Kita beri kesempatan mereka bermesra-mesraan,"

Terdengar suara Ang-bin Ciu-kwi dan akhimya mereka bertiga itu tidak bersuara lagi, akan tetapi dua orang muda itu merasa yakin bahwa mereka, setidaknya suami isteri cabul itu, tentu diam-diam mengintai dari luar!

Mereka berdiri berhadapan, hati mereka penuh ketegangan, akan tetapi juga penuh dengan gelora nafsu berahi yang menyesakkan dada.

"Hong-moi... bagaimana rasanya tubuhmu...?"

In Hong yang merasa kepalanya pening itu duduk di tepi pembaringan.

"Kepalaku pening, Houw-ko, dan tubuhku panas sekali... seolah-olah ada api yang membakar di dalam tubuh... hampir tak tertahankan rasanya, Houw-ko..."

"Demikianpun keadaanku, Hong-moi. Kita tahu bahwa ini adalah akibat racun mereka. Kita harus melawannya, Hong-moi. Duduklah dan atur pernapasan, masukkan hawa murni sebanyaknya, pergunakan sin-kang untuk mengusir hawa yang memabokkan."

Bun Houw sendiri lalu duduk bersila di atas lantai, sedangkan In Hong duduk bersila di atas pembaringan, keduanya memejamkan mata dan melawan dorongan hasrat nafsu berahi yang makin kuat.

Akan tetapi dua orang muda itu tidak tahu bahwa arak beracun buatan Coa-tok Sian-li itu memang amat luar biasa.

Arak seperti itu terkenal dimiliki oleh para raja kuno di Sailan.

Seperti raja-raja di negara manapun juga di dunia ini di jaman kuno, mereka tidak hanya memiliki seorang isteri, melainkan memelihara banyak selir.

Tentu saja jika mereka mendapatkan seorang selir baru, seorang perawan yang usianya baru belasan tahun, raja itu tidak dapat mengharapkan pelayanan yang baik dari dara remaja itu.

Pertama-tama karena anak itu memang belum tahu apa-apa, kedua kalinya karena tentu saja wanita muda itu tidak suka melayani seorang pria tua, sungguhpun pria itu seorang raja.

Karena ini, untuk menyenangkan hati raja yang pada masa itu dianggap sebagai utusan Tuhan atau manusia pilihan, maka para ahli pengobatan lalu membuatkan minuman arak yang mengandung racun atau obat perangsang yang amat kuat.

Obat ini juga sekaligus merupakan racun, kalau pada ukuran tertentu merupakan obat mujarab untuk mendatangkan rangsangan berahi sehingga raja yang tua itu akan memperoleh pelayanan istimewa dari seorang gadis yang masih perawan sekalipun, juga untuk raja sendiri yang sudah kekurangan gairah itu dapat dirangsang kembali oleh pengaruh obat.

Akan tetapi kalau melewati ukuran tertentu akan dapat mematikan orang yang bagaimana kuatpun.

Coa-tok Sian-li adalah seorang ahli racun, maka tentu saja dia dapat membuat obat perangsang ini yang dibuatnya dari sebangsa lalat istimewa yang hanya terdapat di rawa-rawa di daerah utara Sailan.

Lalat-lalat ini dikeringkan dan ditumbuk halus, dicampur beberapa macam akar yang mempunyai daya panas, lalu dicampur arak.

Sama sekali tidak merobah rasa arak sehingga mudah saja meracuni orang lain.

Bun Houw dan In Hong adalah dua orang muda yang sudah memiliki dasar sin-kang kuat.

Kalau hanya terkena pukulan beracun saja, atau hawa beracun mengeram di tubuh, tentu mereka akan dapat menyelamatkan diri dengan pengerahan sin-kang mengusir hawa beracun itu.

Akan tetapi, arak itu langsung menyerang darah dan otak, langsung menembus bagian otak yang menggerakkan nafsu berahi sehingga biarpun mereka mengerahkan sin-kang, tetap saja tidak mampu mengusir rangsangan berahi itu.

Makin malam, makin tersiksalah mereka berdua.

Lebih-lebih lagi In Hong yang pada dasarnya sebetulnya memiliki gairah yang menggelora dan darah yang panas, hanya sejak kecil semua itu ditutupi oleh sikap dingin akibat didikan gurunya.

Keadaan dara ini seperti gunung api tertutup salju, kelihatan dingin luarnya, akan tetapi di sebelah dalam menggelora dan panas sekali!

Kini, beberapa kali In Hong mengeluh dan merintih dan duduknya sudah tidak tetap lagi.

Beberapa kali dia membuka mata memandang ke arah Bun Houw dengan mata sayu dan setengah terpejam, seperti mata orang mengantuk, agak basah, hidungnya kembang-kempis, mulutnya setengah terbuka, bibirnya bergerak-gerak dan napasnya memburu, terdengar rintihan halus dari dalam kerongkongannya.

Semua ini merupakan tanda-tanda seorang wanita yang sedang diamuk rangsangan berahi!

Bun Houw juga sukar dapat mempertahankan dirinya.

Diapun sudah membuka mata, memandang ke arah In Hong, melihat gadis itu kini merebahkan diri, menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas.

"Oohhhh... Houw-ko... ahhhh... Houw-ko... tolonglah aku, tolonglah..."

In Hong merintih-rintih memelas sekali.

"Pertahankanlah, Hong-moi. Memang, pengerahan sin-kang tidak menolong, jalan satu-satunya hanya bertahan sampai pengaruhnya lenyap kembali bersama waktu. Kita harus mempertahankan... harus ahhh..."

Dan Bun Houw cepat memejamkan matanya kembali karena dalam keadaan terangsang hebat seperti itu, melihat In Hong menggeliat-geliat merupakan pemandangan yang menambah rangsangan makin hebat.

"Houw-koko... aku tidak tahan lagi... Houw-koko... panas sekali... ah, panas sekali tubuhku..."

Dan In Hong mulai melepaskan bajunya, direnggutnya begitu saja sehingga ada yang robek dan nampaklah sebagian dari dadanya yang putih mulus!

"Hong-moi...

jangan, Hong-moi!"

Bun Houw meloncat, hampir jatuh karena dia terhuyung dan mendekati pembaringan itu, cepat dia menutupkan kembali baju In Hong yang setengah terbuka.

"Houw-koko, panas sekali... aku tak tahan..."

In Hong mengeluh dan setengah terisak.

"Pertahankan, adikku, pertahankan..."

"Ohhh, Houw-ko..."

In Hong merintih dan terisak, merangkul leher pemuda itu.

Bun Houw memejamkan matanya dan memalingkan mukanya agar jangan sampai mukanya menyentuh muka dara itu.

Akhirnya In Hong terisak dan menyembunyikan mukanya di dada Bun Houw.

"Houw-koko..."

Suaranya memelas sekali, tergetar dan berbisik serak.

"Bagaimana, Hong-moi..."

"Houw-koko... selama hidupku... belum pernah aku mengalami seperti ini... aku tidak kuat, koko... ah, aku tidak perduli... kaulakukanlah sekehendak hatimu..."

Kedua lengan In Hong yang merangkul itu makin menguat dan mukanya dibenamkan di dada pemuda itu, tubuhnya tergetar dan panas sekali, matanya terpejam dan ada beberapa titik air mata di atas kedua pipinya.

Bun Houw merasakan suatu dorongan yang amat kuat dan diapun merangkul akan tetapi dia menekan perasaan hatinya sedemikian rupa agar tidak sampai melakukan hal yang lebih jauh daripada berpelukan itu.

"Tidak, Hong-moi, tidak...! Kita harus kuat...! Hong-moi, betapa aku cinta padamu, Hong-moi. Aku cinta padamu...!"

"Houw-ko..."

In Hong terisak, tidak karuan perasaan hatinya mendengar pengakuan ini.

Dia masih memejamkan matanya karena kepalanya pening dan dia dalam keadaan hampir tidak sadar, sama sekali tidak ingat lagi berada di mana dan berada dalam keadaan bagaimana "Kalau kau cinta padaku...

apa salahnya lagi...

ah, aku...

aku rela...

menyerahkan jiwa ragaku..."

"Hong-moi, tidak...!"

Bun Houw yang hampir tidak kuat lagi itu melepaskan pelukannya dan meloncat jauh ke belakang, sampai tubuhnya menabrak dinding dan dia roboh terguling.

Dia lalu duduk bersila dan memejamkan mata, berusaha sekuatnya untuk melawan dorongan hasrat yang bernyala-nyala itu.

In Hong terisak di atas pembaringan.

Selama hidupnya, belum pernah dia menangis, dan baru sekarang ini dara perkasa yang biasanya berhati baja itu terisak dan merintih-rintih.

"Kau benar... Houw-ko, kau benar..."

Hening kini di kamar itu, yang terdengar hanya isak tertahan dari In Hong yang masih rebah di atas pembaringan.

Pakaian gadis itu sudah tidak karuan, di sana-sini terbuka karena dia menggeliat-geliat tadi.

Beberapa kancing baju terbuka didiamkannya saja karena memang dia pun tidak menyadarinya.

Rambutnya morat-marit kondenya terlepas dan rambut yang panjang itu awut-awutan, Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi kecantikannya kalau tak dapat dikatakan bahkan menambah keaslian wajah yang amat jelita itu.

Bun Houw sendiri masih berjuang dengan diri sendiri, karena setelah dia berdiam diri duduk di lantai, dia merasa tubuhnya seperti dibakar dan keadaannva malah makin menderita lagi.

Mendengar suara rintihan dan isak tangis tertahan dari In Hong, Bun Houw membuka mata dan mengangkat muka memandang.

Dia melihat betapa In Hong rebah terlentang, dadanya agak diangkat dan terengah-engah, kedua tangan menutupi muka dan gadis itu jelas kelihatan tersiksa sekali.

Dia tidak tahan untuk mengawasi saja dan Bun Houw bangkit berdiri, terhuyung menghampiri pembaringan itu, lalu berdiri di dekat pembaringan sambil memandang gadis itu dengan perasaan kasihan sekali.

"Hong-moi, ah, Hong-moi..."

Perasaan kasihan mempunyai daya yang kuat sekali mendorong berahi.

Kini Bun Houw yang sudah tidak kuat lagi dan dia lalu memeluk In Hong.

Gadis itupun otomatis menggerakkan kedua lengan memeluknya.

Bun Houw mendekatkan muka, seperti orang mabok dia berada di antara sadar dan tidak dan akhirnya dorongan nafsu membuat pertahanannya bobol dan dia mencium mulut dara itu.

Begitu bibir mereka saling bertemu, naluri kewanitaan In Hong bangkit dan untuk sekilat cepatnya dia sadar.

Dia menjerit dan cepat mendorong dada Bun Houw, lalu bangkit dan kepalanya bergoyang-goyang.

"Tidak...! Jangan, Houw-ko...! Tidak boleh...!"

Teriaknya.

"Hong-moi... aku tidak tahan lagi... Hong-moi..."

Bun Houw kembali hendak merangkul, akan tetapi untuk kedua kalinya In Hong mendorong dadanya sehingga Bun Houw terjengkang dan jatuh dari atas pembaringan, berdebuk ke atas lantai seperti orang yang sama sekali tidak memiliki kepandaian atau tenaga.

"Houw-ko...!"

Melihat pemuda itu terbanting jatuh, In Hong cepat turun dan berlutut.

"Kau... kau tidak apa-apa...?"

Dengan mulut mengigau seperti orang mabok Bun Houw kembali memeluknya.

Sejenak In Hong membiarkan pemuda itu memeluknya, akan tetapi ketika Bun Houw hendak menciumnya, dara ini sekuat tenaga menekan gairahnya sendiri dan dia memalingkan muka.

"Houw-koko... kau begitu kuat, kenapa sekarang berbalik menjadi lemah? Koko, kita tidak boleh... kita harus mempertahankan sekuat tenaga..."

"Ah, Hong-moi..."

"Maafkan, aku, koko..."

In Hong meronta dan melepaskan pelukan pemuda itu, kemudian dia menjauhkan diri.

Bun Houw menjambak rambutnya sendiri.

"Ah, apa yang kulakukan tadi? Kau benar, Hong-moi... lebih baik mati daripada tunduk kepada mereka..."

Untung bagi Bun Houw bahwa In Hong pada saat terakhir itu disadarkan oleh naluri kewanitaannya yang sejak kecil memang jauh daripada penghambaan nafsu berahi sehingga dara itu menolak ketika pemuda ini sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Dan untung bagi In Hong bahwa tadi, ketika dara ini memuncak nafsunya sehingga dia tidak sadar, Bun Houw yang masih ingat dan yang menyadarkannya.

Dengan demikian, tidak sampai terjadi perjinaan atau hubungan kelamin seperti yang diharapkan oleh dua orang suami isteri di luar tempat tahanan itu dan oleh Hek I Siankouw yang tidak ikut mengintai karena tokouw ini sama sekali tidak cabul seperti mereka, Sungguhpun di waktu mudanya Hek I Siankouw juga tidak dapat menahan godaan nafsu sehingga sebagai pendeta dia melakukan perjinaan dengan mendiang Hwa Hwa Cinjin dan hidup seperti suami isteri tidak sah saja dengan pendeta itu.

Waktu itu hampir tengah malam.

Pengaruh obat perangsang ttu sudah mencapai puncaknya sehingga kedua orang muda itu mengerang dan menggeliat-gellat di tempat masing-masing!

In Hong di atas pembaringan dan Bun Houw di atas lantai.

In Hong sudah hampir telanjang dan dara ini merosot turun dari pembaringan, tidak kuat lagi berdiri dan dengan merangkak dia menghampiri Bun Houw, tangannya meraba-raba karena matanya terpejam dan dia hanya dapat menghampiri karena mendengar suara rintihan Bun Houw saja.

"Koko..."

"Hong-moi..."

Mereka otomatis saling berdekapan dan kini adalah In Hong yang mendahului, mencium atau lebih tepat merapatkan mukanya dengan muka Bun Houw karena dorongan hati hendak membelai pemuda itu dan merapatkan tubuhnya sedekat mungkin.

Bun Houw tidak tahan, lalu dia mencium mulut In Hong.

Hanya satu kali saja mereka berciuman sampai napas mereka hampir putus, lalu Bun Houw cepat merenggut dirinya lepas.

"Hong-moi, hanya ini satu-satunya jalan, maafkan aku..."

Tangannya bergerak dan menotok tengkuk In Hong.

Karena dia sudah hampir pingsan, maka tentu saja totokannya tidak tepat dan In Hong mengeluh, terkulai.

Begitu melihat dari itu terkulai, Bun Houw bangkit, terhuyung menjauhi dan roboh dalam keadaan setengah pingsan pula.

"Terkutuk!"

"Keparat!"

Suami isteri di luar tempat tahanan itu menyumpah-nyumpah karena kecewa.

Mereka telah menanggung resiko dimarahi oleh kakek dan nenek iblis itu hanya karena mereka mempunyai kesukaan yang luar biasa, yaitu menonton kecabulan.

Dan kini, setelah mereka berhasil meracuni dua orang muda itu, ternyata mereka gagal!

Hampir pada umumnya manusia memiliki kesukaan yang sama atau mirip dengan kesukaan Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li!

Hal ini dapat kita selidiki sendiri, karena merupakan kenyataan.

Hampir semua orang, secara berbeda tentunya, ada yang terang-terangan ada pula yang sembunyi-sembunyi, ada yang kasar ada pula yang halus, suka menonton berlangsungnya kecabulan, baik itu berupa tontonan atau mendengar penuturan orang maupun membaca.

Kalau toh ada yang menyangkal, penyangkalan itu timbul dari penekanan kemauan yang didasari oleh pengetahuan bahwa hal itu adalah tidak baik, maka terjadilah penyangkalan bahwa dia tidak suka melihat atau mendengar itu.

Namun kenyataannya, rasa suka itu ada!

Dicobanya dilenyapkan dengan keyakinan atas dasar pelajaran, kesusilaan, agama dan lain-lain bahwa hal itu tidak baik dan tidak seharusnya dilakukan!

Namun, cara demikian tidak akan melenyapkan kesukaan itu.

Seperti api, kesukaan itu belum padam!

Hanya ditutup saja.

Bersembunyi di balik pelejaran-pelajaran tentang kesusilaan dan sebagainya tidak akan ada gunanya.

Lari dari kenyataan ini tidak ada gunanya.

Yang penting adalah menghadapinya sebagai suatu kenyataan!

Menghadapinya, mendekatinya dan memandangnya penuh kewaspadaan.

Pandangan penuh kewaspadaan tanpa mencelanya, tanpa menerima atau menolaknya, akan menimbulkan pengertian akan segala hal-ihwal mengenai kesukaan aneh ini.

Dari manakah timbulnya rasa suka melihat kecabulan?

Sesungguhnya, kecabulan bukan berada di luar diri kita!

Tidak ada kecabulan dalam hubungan kelamin (sex).

Cabulkah kalau kita melihat binatang, terutama yang kecil sedang mengadakan hubungan kelamin?

Kiranya tidak!

Akan tetapi mengapa kalau melihat binatang yang besar, teruhama manusia, metakukan hubungan sex, lalu timbul istilah cabul?

Barangkali karena melihat binatang besar terutama manusia melakukan hubungen sex mempunyai daya rangsang yang merangsang gairah dan nafsu berahi kita!

Inilah sebabnya mengapa timbul istilah cabul.

Yaitu pemandangan yang merangsang gairah nafsu berahi dianggap cabul!

Padahal, tidak ada peristiwa apapun di dunia ini yang merangsang gairah nafsu berahi.

Hubungan sex adalah sesuatu yang wajar dan sama sekali tidak merangsang gairah nafsu berahi.

Yang merangsang adalah PIKIRAN KITA SENDIRI!

Pikiran kitalah yang menambah penglihatan itu dengan bayangan-bayangan yang mendatangkan kenikmatan lahir batin kita, mengenang kembali semua pengalaman sex kita, atau bagi yang belum pernah mengalaminya secara badaniah, tentu membayangkan pengalaman yang pernah dibacanya, dilihatnya, atau didengarnya dari orang lain.

Permainan pikiran kita sendiri itulah yang merangsang dan membangkitkan gairah berahi kita sendiri.

Dan bagi orang-orang seperti Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, perbuatan menonton kecabulan itu yang menimbulkan semacam kerikmatan tertentu, menjadi suatu kebiasaan yang telah mencandu sehingga sukar untuk dihentikan kembali dan telah menjadi sesuatu yang dicari-cari.

(Lanjut ke

Jilid 38) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 38 Kenyataan itu hanya dapat terlihat oleh siapa saja yang mau membuka mata mempelajari dan mengenal diri pribadi, sehingga akan tampaklah bahwa segala hal yang oleh umum dianggap yang buruk-buruk, seperti kecabulan, kemaksiatan, kepalsuan, kemunafikan, kemarahan, kebencian, iri hati dan segalanya itu tidak terletak di tempat jauh di luar kita, melainkan terletak di dalam diri kita sendiri!

Dan semua itu pasti timbul karena kita selalu mengejar kesenangan dalam bentuk apapun juga, kesenangan lahir maupun kesenangan batin.

Pengejaran kesenangan menjadi sumber daripada semua kesengsaraan hidup yang timbul karena pertentangan dan kedukaan.

Bukan KESENANGAN yang merusak hidup, melainkan PENGEJARAN kesenangan!

In Hong rebah pingsan di atas lantai, sedangkan Bun Houw juga sudah setengah pingsan.

Karena inilah maka mereka berdua tidak mendengar suara apa-apa, bahkan tidak melihat ketika lantai di sudut belakang kamar itu dibobol dari bawah dan tak lama kemudian muncullah sebuah kepala orang.

Kepala seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Liong Si Kwi!

Seperti kita ketahui, gadis murid Hek I Siankouw ini telah diselamatkan oleh Bun Houw ketika dia hampir diperkosa oleh Ang-bin Ciu-kwi dan gadis ini selain merasa utang budi, juga gadis itu sekaligus jatuh cinta kepada pemuda itu.

Apalagi ketika pemuda itu, yang telah dikurung dan diancam keselamatannya, namun masih juga membelanya di depan subonya, benar-benar membuat hati gadis ini jatuh!

Diam-diam dia mengambil keputusan nekat untuk menolong pemuda itu.

Kini terbuka matanya betapa demi untuk memuaskan nafsu dendam dan sakit hatinya, subonya tidak segan-segan untuk bersekutu dengan manusia-manusia iblis!

Dia harus menyelamatkan Bun Houw, dia harus membebaskan putera ketua Cin-ling-pai yang gagah perkasa itu, kalau perlu dengan taruhan nyawanya.

Hatinya makin kagum, akan tetapi juga iri sekali melihat betapa pemuda yang gagah perkasa itu telah mengorbankan dirinya, menyerah untuk menebus Yap In Hong yang dibebaskan.

Kemudian, diapun iri kepada In Hong yang ternyata juga merupakan seorang gadis yang amat gagah, yang datang kembali dengan nekat untuk membebaskan pemuda itu.

Dia merasa iri karena dia dapat menduga bahwa tentu ada hubungan cinta kasih antara pemuda dan dara itu.

Namun, rasa cemburu dan iri hati ini tidak menghentikan tekadnya untuk menolong Bun Houw dengan cara apapun juga.

Ketika dia melihat bahwa yang menjaga kamar tahanan adalah Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya, dan betapa Cia Bun Houw serta Yap In Hong dimasukkan dalam kamar tahanan tanpa dibelenggu dan bebas, timbullah harapannya.

Asal saja dia dapat mengeluarkan mereka itu dari dalam kurungan, tentu dua orang yang memiliki kesaktian luar biasa itu akan mampu membebaskan diri, atau lebih penting baginya, asal Bun Houw dapat keluar dari kurungan, tentu pemuda itu akan dapat melarikan diri!

Demikianlah, karena kebetulan sekali kamar yang ia dapat sebagai tamu Lembah Naga itu berdekatan dengan kamar tahanan, Sore-sore dia telah menutup diri di dalam kamarnya, memberi alasan bahwa dia merasa tidak sehat, dan diam-diam dia telah menyelundupkan sebuah cangkul ke dalam kamarnya.

Mulailah dia menggali lantai kamarnya, membuat terowongan di dalam tanah menuju ke kamar tahanan.

Dia bekerja keras sampai kedua tangannya lecet-lecet berdarah, namun tidak pernah dia berhenti sebentarpun.

Dengan penuh semangat dia terus menggali dan akhirnya, lewat tengah malam, dia dapat menembus kamar tahanan dan muncul di dalam kamar itu di waktu In Hong masih pingsan dan Bun Houw dalam keadaan setengah sadar karena saat itu pengaruh racaun perangsang sudah mencapai puncak kekuatannya yang hampir tak tertahan olehnya.

Baiknya In Hong telah menggeletak pingsang, kalau tidak entah apa yang akan terjadi antara dia dan gadis itu!

Liong Si Kwi yang sudah berhasil masuk ke kamar itu, ketika melihat Bun Houw menggeletak seperti orang yang bernyawa lagi, segera meloncat mendekati dan berlutut di dekat pemuda itu, memeriksa dan legalah hatinya ketika melihat Bun Houw ternyata masih bernapas, bahkan bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara lemah yang tak dimengertinya karena pada saat itu hati Si Kwi tegang bukan main, khawatir kalau-kalau perbuatannya diketahui penjaga sebelum dia berhasil membebaskan Bun Houw dihalangi oleh orang-orang berkepandaian tinggi di tempat itu.

Dia tidak tahu akan apa yang dilakukan oleh suami isteri majikan Padang Bangkai itu, maka dia bingung melihat Bun Houw yang siang tadi masih sehat kini menggeletak di lantai dalam keadaan seperti orang yang tidak sadar.

Juga dia melihat In Hong pingsan.

Tadinya memang dia berniat untuk membebaskan mereka berdua, karena dengan adanya mereka berdua yang berilmu tinggi, kesempatan atau harapan untuk lolos lebih banyak lagi.

Kini, melihat keadaan Bun Houw setengah pingsan dan gadis perkasa itu malah pingsan sama sekali, Si Kwi menjadi bingung, akan tetapi akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bun Houw saja.

Cepat dia mendukung tubuh Bun Houw dan membawanya masuk ke dalam lubang terowongan yang dibuatnya.

Biarpun tidak mudah membawa Bun Houw yang merangkulnya, dan yang mengelus rambutnya, mendekapnya dan kadang-kadang mencium pipi dan lehernya sepertu orang mabok itu, namun akhirnya berhasil jugalah Si Kwi membawa pemuda itu keluar dari lubang terowongan dan tiba di dalam kamarnya.

"Eh... eh, Taihiap...!"

Si Kwi terkejut sekali karena kini Bun Houw membuka matanya yang merah dan pemuda itu langsung merangkul dan menciumi bibirnya dengan penuh nafsu.

Si Kwi telah lama merindukan seorang pria yang akan memeluk dan menciumi seperti itu, maka kekagetan dan perlawanannya hanya sebentar saja, dan tak lama kemudian dia balas memeluk dan balas menciumi, tidak kalah hebatnya dengan orang yang terpengaruh obat perangsang.

Keduanya lalu terguling di atas pembaringan Si Kwi dan mereka melupakan segala-galanya.

Kalau tadi Bun Houw masih tidak melanggar keyakinannya dan dapat bertahan sehingga dia tidak melakukan hubungan dengan In Hong seperti yang dikehendaki oleh mereka yang sengaja meracuninya, adalah karena di fihak In Hong masih ada penolakan dan memang di lubuk hati Bun Houw, dia sama sekali tidak melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap dara yang dicintainya itu.

Akan tetapi sekali ini, selagi pengaruh obat perangsang itu memuncak dan sepenuhnya menguasainya, dia mendapat pelayanan dari Si Kwi, bahkan gadis itu lebih hebat merayunya seperti orang mabok pula, maka tentu tidak ada lagi yang menahan Bun Houw dan Si Kwi!

Berlangsunglah hubungan kelamin seperti yang dikehendaki oleh Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, Hanya bedanya, putera ketua Cin-ling-pai itu tidak melakukannya dengan In Hong, melainkan dengan murid He I Siankow!

Pada saat itu, Bun Houw sudah lupa segala-galanya, hampir tidak sadar sama sekali dan yang ada hanyalah keinginan untuk memenuhi desakan nafsu berahinya yang bernyala-nyala itu.

Andaikata Si Kwi menolaknya seperti yang dilakukan oleh In Hong tadi, tentu sedikit sisa kesadaran yang masih membekas itu cukup untuk membuat pemuda ini sadar dan menghentikan perbuatannya.

Akan tetapi kenyataannya tidak demikian.

Si Kwi yang sudah jatuh hati benar-benar itu dan yang maklum bahwa perbuatannya menolong pemuda itu merupakan permainan yang mempertaruhkan nyawa, ingin dalam saat terakhir dan kesempatan selagi dia masih hidup itu untuk menyerahkan jiwa dan raganya kepada pemuda yang dikagumi dan dicinta ini.

Terjadilah hubungan dan bagaikan sebuah gunung berapi yang penuh dengan api dan uap, meledaklah Bun Houw.

Menjelang pagi, barulah dia sadar karena pangaruh racun perangsang itu menipis.

Begitu dia sadar dan melihat bahwa dia memeluk tubuh Si Kwi yang memandangnya dengan penuh kemesraan, pemuda ini terkejut bukan main, terkejut karena dia tahu apa yang telah terjadi.

Sambil berteriak nyaring pemuda ini yang tadi bangkit duduk, terguling dan roboh pingsan!

Penyesalan yang amat hebat, ditembah rasa kaget yang luar biasa besarnya, dan pemborosan tenaga yang didorong oleh racun, ketegangan-ketegangan yang dideritanya sejak dia menghadapi In Hong dalam keadaan keracunan, penggerahan tenaga kemauan yong amat hebat ketika dia menekan dorongan nafau bersama In Hong, semua itu menghantamnya di sebelah dalam sehingga dia roboh pingsan.

"Ha-ha-ha-ha! Sungguh hebat... sungguh hebat bukan main!"

Tiba-tiba terdengar suara tertawa Ang-bin Ciu-kwi di luar jendela kamar itu.

Si Kwi yang tadinya terlena oleh kepuasan hasrat yang terpenuhi, yang makin menebal rasa kasih sayangnya kepada pemuda itu yang kini dianggapnya sebagai miliknya dan yang memilikinya, sebagai suaminya walaupun tidak secara sah, kini seperti disiram air dingin.

Dia sadar akan semua yang telah terjadi.

Dia tidak menyesal, hanya khawatir karena dia telah ketahuan dan akan celakalah Bun Houw!

Dengan cepat dia melompat dan kembali terdengar suara Ang-bin Ciu-kwi di luar jendela.

"Liong Si Kwi, engkau sungguh hebat! Akan tetapi sayang, dia keburu pingsan! Biarlah aku yang akan memuaskan dirimu, manis. Bukalah jendela ini, biarkan aku masuk."

Si Kwi menyambar pakaiannya, memakai pakaian itu secepatnya dan segera disambamya siang-kiam di atas mejanya dan dicabutnya sepasang pedang itu lalu menghadapi jendela dengan beringas, siap untuk mengadu nyawa dengan Ang-bin Ciu-kwi.

"Ha-ha-ha, tenanglah, manis. Aku datang untuk menonton pertunjukan menarik yang berlangsung di dalam kamar ini tadi, sungguh asyik sekali... hemm, dan kau membangkitkan gairahku. Bukalah jendela ini, manis dan mari kita bermain-main sebentar. Atau kau lebih suka kalau aku pergi kepada Hek I Siankouw dan melaporkon apa yang telah terjadi di sini?"

Si Kwi yang sudah siap menerjang ke luar jendela itu menjadi terkejut.

Maklumlah dia bahwa kalau sampai Setan Arak ini yang melapor kepada gurunya, nyawanya tidak tertolong lagi, demikian pula nyawa Bun Houw.

Oleh karena itu, dia mengambil keputusan untuk mandahului laporan orang lain, apalagi laporan Ang-bin Ciu-kwi yang tentu akan memberi bumbu-bumbu lain yang lebih memanaskan hati subonya lagi.

Memang, kalau dia menuruti kehendak Ang-bin Ciu-kwi, boleh jadi peristiwa antara dia dan Bun Houw tadi akan tertutup, akan tetapi, lebih baik dia mati saja daripada harus menuruti permintaan Ang-bin Ciu-kwi!

Pula, setelah kini keadaannya sama sekali berubah daripada keadaan asyik-masuk seperti tadi, dara ini sadar pula bahwa adanya Bun Houw tadi melakukan perbuatan seperti itu adalah karena pemuda itu berada dalam keadaan tidak sadar, seperti orang mabok.

Kini mengertilah dia halawa pemuda itu tentu terkena bius, terkena racun yang menyebabkan pemuda itu mudah saja melakukan perbuatan tadi bersama dia.

Dia dapat menduga kini mengapa dia mendapatkan diri Bun Houw menggeletak hampir tidak sadar dengan tubuh panas dan sikap begitu hangat, merangkul dan hendak menciuminya, dan mengerti pula dia mengapa In Hong juga pingsan.

Kiranya mereka berdua itu telah diberi racun, dan siapa lagi yang memberi racun kalau tidak suami isteri Padang Bangkai yang terkenal sebagai ahli-ahli tentang racun itu?

Dia teringat akan pengalamannya sendiri ketika hampir diperkosa oleh Ang-bin Ciu-kwi.

Diapun diberi minum arak dan segera dia diserang oleh racun perangasang yang amat hebat sehingga hampir-hampir saja dia menyerahkan diri secara suka rela kepada setan itu!

"Aku harus cepat melapor kepada subo!"

Pikirnya dan dara itu cepat meloncat, bukan ke jendela melainkan ke pintu yang didorongnya terbuka dan cepat dia melarikan diri ke kamar subonya.

Dia terpaksa meninggalkan Bun Houw, karena dia maklum bahwa melarikan diri sendiri saja belum tentu dia selamat, apalagi kalau harus membawa tubuh Bun Houw.

Lebih baik dia cepat pergi ke subonya dan minta tolong subonya.

Siapa tahu kalau dia sudah memberi tahu subonyo akan semua hal dengan terus terang, subonya suka menolong Bun Houw dan suka mengakuinya sebagai mantu!

"Subo...!

Subo...

tolonglah teecu, subo...!"

Katanya sambil mengetuk pintu itu dengan kuat.

Daun pintu terpentang lebar dan Hek I Siankouw telah berdiri di ambang pintu sambil memegang pedang hitamnya.

Alisnya berkerut ketika dia melihat muridnya berdiri di situ dengan muka pucat sekali dan dengan siang-kiam di kedua tangan.

"Si Kwi, apakah yang terjadi?"

Tanyanya dan dia membiarkan muridnya memasuki kamamya.

Dia menjenguk keluar dan karena tidak melihat siapapun juga di luar, tokouw itu lalu menutupkan kembali pintu kamarnya.

Tiba-tiba Si Kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan gurunya sambil menangis!

Gurunya adalah satu-satunya orang yang selama ini dianggap sahabat, guru, juga orang tua!

Sekarang, dalam keadaan seperti ini, terancam bahaya hebat, bukan hanya untuk dia, terutama untuk Bun Houw, tidak ada orang lain kecuali gurunya ini yang dapat diharapkan untuk menolongnya dan menolong Bun Houw.

"Subo... sebelumnya harap subo mengampunkan dosa teecu..."

"Si Kwi, jangan seperti anak kecil. Katakan apa yang telah terjadi!"

Gurunya membentak.

"Subo, teecu telah jatuh cinta... semenjak teecu diselamatkan oleh Bun Houw putera ketua Cin-ling-pai... ketika teecu akan diperkosa oleh Ang-bin Ciu-kwi, teecu telah jatuh cinta kepada putera ketua Cin-ling-pai itu..."

Gurunya mengerutkan alisnya.

"Memang kalau begitu mengapa engkau menangis?"

Gadis itu mengangkat muka, memandang wajah subonya dengan penuh harapan.

"Jadi... subo... setuju...?"

"Dia seorang pemuda yang tinggi ilmunya, putera ketua Cin-ling-pai, kalau memang dia cinta padamu, kenapa aku tidak setuju? Sayangnya, dia berada di fihak lawan."

"Ah, terima kasih, subo...!"

Si Kwi berseru girang dan memberi hormat.

"Sesungguhnya... teecu... teecu telah menjadi isterinya..."

Tiba-tiba saja wajah tokouw itu menjadi merah sekali dan matanya mengeluarkan sinar marah.

"Apa? Jadi kalau begitu benar laporan Ang-bin Ciu-kwi?"

Bentak gurunya.

"Ah, tidak...! Tidak, subo...! Bukankah subo sendiri sudah tahu, juga Hek-hiat Mo-li locianpwe, bahwa teecu... teecu masih perawan? Akan tetapi malam tadi..."

"Malam tadi mengapa? Hayo katakan!"

"Malam tadi, lewat tengah malam... teecu... teecu telah menjadi isterinya."

"Eh, Apa maksudmu? Pemuda itu berada di dalam kamar tahanan bersama In Hong, dan mereka..."

Dia teringat akan minuman yang diberi racun perangsang oleh Coa-tok Sian-li, maka timbul kecurigaannya.

"Si Kwi!"

Dia membentak.

"Ceritakan, apa yang terjadi!"

Dengan suara terputus-putus Si Kwi lalu menceritakan betapa dia telah membuat jalan terowongan dari kamarnya ke dalam kamar tahanan, dan berhasil menolong Bun Houw keluar dari kamar tahanan memasuki kamarnya sendiri.

"Akan tetapi, subo... ketika tiba di kamar teecu... dia... dia seperti mabok atau terbius... dan dia... dia merayu... ah, teecu cinta padanya, subo, teecu tidak mampu menolongnya dan... dan teecu menyerahkan diri kepada Cia Bun Houw... kemudian pagi tadi, muncul di luar jendela kamar teecu, si keparat Ang-bin Ciu-kwi, dia ternyata telah melihat peristiwa itu dan dia... dia menuntut agar teecu suka menyerahkan diri kepadanya. Teecu tidak sudi dan teecu lari ke sini... teecu menyerahkan nyawa teecu ke tangan subo..."

"Desss...!"

Tubuh Si Kwi terlempar oleh tendangen gurunya.

Muka gurunya sebentar pucat sebentar merah dan hati tokouw ini terasa panas dingin karena terjadi perang di dalam perasaan hatinya.

Ada perasaan marah yang amat hebat mendengar penuturan muridnya itu yang telah menyerahkan diri begitu saja dengan amat mudahnya kepada seorang pria, dan biarpun pria itu adalah seorang pemuda yang harus dia akui pilihan, akan tetapi pemuda itu betapapun adalah seorang lawan, atau yang berada di fihak lawan.

Akan tetapi di lain fihak, hatinya juga terharu karena dia telah menganggap Si Kwi sebagai puterinya sendiri dan sesungguhnya ada pertalian batin yang kuat antara dia dan gadis itu.

Sekarang dia tahu bahwa kalau tidak dia lindungi, nyawa dara itu berada dalam ancaman bahaya hebat!

"Murid murtad, engkau hanya akan mencelakakan gurumu saja!"

"Harap subo sudi mengampuni teecu!"

Kata pula Si Kwi.

"Teecu bersedia untuk mati di tangan subo, untuk menebus kesalahan dan dosa besar teecu, akan tetapi, teecu mohon dengan sangat, mengingat akan hubungan antara kita sebagai guru dan murid, dan sebagai orang tua dan anak, teecu mohon sukalah subo menolong dan menyelamatkan Cia Bun Houw. Teecu sungguh cinta kepadanya, subo, teecu mencintanya, melebihi nyawa teecu sendiri!"

Dan murid ini menangis lagi, menangis dengan penuh kesedihan.

Sepasang mata Hek I Siankouw menjadi basah ketika dia mendengar dan melihat keadaan muridnya itu.

Teringatlah dia ketika dia dahulu bermain cinta dengan Hwa Hwa Cinjin dan diapun amat mencinta Hwa Hwa Cinjin.

Adanya dia tidak menjadi isteri yang sah dari Hwa Hwa Cinjin adalah karena sebagai pendeta-pendeta, tentu saja mereka tidak dapat menikah.

Namun rasa cinta di hatinya terhadap Hwa Hwa Cinjin amat mendalam sehingga mereka berdua itu seperti suami isteri saja!

Mereka saling setia dan tidak pernah mencinta orang lain sampai keduanya menjadi kakek dan nenek.

"Akupun mencinta Hwa Hwa Cinjin melebihi nyawaku sendiri..."

"Ahhh, subo, ampunkan teecu... teecu telah mengecewakan hati subo..."

Kembali Si Kwi meratap dengan suara pilu.

"Teecu rela mati di depan kaki subo, akan tetapi kalau subo sudi menyelamatkan Cia Bun Houw, biarlah roh teecu akan selalu membantu subo..."

"Bocah yang bodoh! Mana mungkin menyelamatkan nyawa pemuda itu? Apa kau kira kita dapat menghadapi Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko? Tentang pemuda itu, tak perlu kita ributkan, yang penting, lekaslah kau pergi dari sini. Sekarang juga!"

"Akan tetapi... subo..."

"Tutup mulut! Tidak ada tapi lagi. Pergilah kau dari sini dan selamanya jangan kau memperlihatkan muka kepadaku!"

"Subo...!"

"Aku tidak mempunyai murid macammu! Pergiiiii...!"

Hek I Siankouw membentak dan mengusir.

Si Kwi terisak, akan tetapi terpaksa dia bangkit dan pergi dari kamar itu, diikuti oleh Hek I Siankouw yang kini basah kedua matanya.

Tokouw ini sengaja mengusir muridnya karena dia tidak ingin muridnya terlibat dalam kesukaran.

Dan dia sengaja membayangi muridnya itu agar dapat keluar dari Lembah Naga dengan selamat.

Di tengah jalan, murid dan guru yang membayanginya itu bertemu dengan Hek-hiat Mo-li, Pek-hiat Mo-ko, Ang-bin Ciu-kwi, dan Coa-tok Sian-li.

Dari wajah kedua orang kakek dan nenek Lembah Naga itu mengertilah Hek I Siankouw bahwa keduanya tentu telah tahu akan perbuatan Si Kwi.

Akan tetapi Si Kwi sendiri berdiri dengan tenang dan air mata masih membanjiri pipinya.

"Mo-ko dan Mo-li, karena perbuatan muridku yang mencemarkan namaku, terpaksa aku mengusirnya pergi dari sini!"

Hek I Siankouw memecahkan kesunyian yang mencekam hatinya itu.

"Hemm... agaknya banyak terjadi hal-hal hebat di sini semalam."

Kata Hek-hiat Mo-li.

"Dan kejadian-kejadian itu adalah gara-gara muridmu yang baik ini!"

Ucapan lanjutan itu bernada keras.

"Kalau aku boleh berterus terang, Mo-li, bukan hanya gara-gara muridku, melainkan gara-gara aku juga, dan Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li!"

"Eh-eh, Hek I Siankouw, kenapa kau begitu pengecut membawa-bawa nama kami dalam persoalan ini? Sudah jelas bahwa muridmu hendak meloloskan dua orang tawanan itu, untung masih terlihat oleh kami, karena muridmu tidak dapat menahan nafsunya! Kalau tidak, bukankah tawanan-tawanan itu sudah lolos semua oleh muridmu ini?"

Kata Coa-tok Sian-li.

"Coa-tok Sian-li, aku hanya bicara apa adanya dan sama sekali bukan hendak membela muridku secara membuta. Memang muridku bersalah, akan tetapi kita bertigapun bersalah, bukan? Setelah akibat dari perbuatan kita seperti ini, mengapa kita tidak berani berterus terang saja kepada Mo-ko dan Mo-li?"

"Hemm... apakah sebetulnya yang telah terjadi dan apa yang kalian bicarakan ini, Siankouw?"

Pek-hiat Mo-ko membentak marah.

"Terus terang saja, Mo-ko. Kami bertiga, yaitu aku, Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li telah main-main dengan dua orang tawanan itu. Karena aku ingin melihat gadis keparat itu tercemar, dan karena Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya ingin pula menonton hal-hal yang mereka berdua sukai, maka kami bertiga telah bersepakat untuk mencampuri racun perangsang, yaitu Arak Malam Pengantin buatan Coa-tok Sian-li ke dalam hidangan yang disuguhkan kepada dua orang tawanan itu."

Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li mengerutkan alis mereka, akan tetapi tidak kelihatan marah.

"Hemm, lalu?"

Tanya Hek-hiat Mo-li.

"Sementara itu, muridku yang murtad ini jatuh cinta kepada Bun Houw. Sama sekali dia tidak berniat untuk membebaskan tawanan, melainkan dia membuat terowongan dari kamarnya ke tempat tahanan, mengajak Cia Bun Houw yang sedang mabok oleh racun Arak Malam Pengantin itu ke kamarnya dan menyerahkan dirinya kepada pemuda itu. Hal ini diketahui oleh Ang-bin Ciu-kwi yang menyangka muridku hendak melarikan tawanan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Buktinya tawanan itu ditinggalkan pingsan di kamarnya dan muridku lalu melapor kepadaku. Dia sama sekali tidak hendak melarikan tawanan, karena kalau benar demikian, tentu dia telah mengajaknya pergi dari sini."

Hek I Siankouw berhenti sebentar untuk melirik ke arah Ang-bin Ciu-kwi.

Dia sengaja tidak menceritakan tentang ancaman Ang-bin Ciu-kwi yang hendak menuntut agar Si Kwi menyerahkan dirinya kepada Setan Arak itu dan hal ini dilakukan sebagai "pukulan simpanan"

Kalau-kalau Ang-bin Ciu-kwi tidak mau bekerja sama melindungi muridnya!

Ang-bin Ciu-kwi bukan seorang bodoh.

Dia melihat bahwa yang dikemukakan oleh Hek I Siankouw memang cukup kuat dan beralasan, dan memang harus diakuinya bahwa dia mendapatkan Si Kwi dan Bun Houw sama sekali bukan dalam keadaan hendak melarikan diri.

Sama sekali bukan, bahkan mereka itu bermain cinta sampai pagi!

Dan diapun tahu bahwa Hek I Siankouw sengaja tidak menceritakan niatnya memaksa Si Kwi untuk menyerahkan diri dan dia maklum apa kehendak tokouw berpakaian hitam itu.

"Keterangan yang diberikan Siankouw itu memang benar, ji-wi locianpwe,"

Katanya mendahului isterinya karena dia khawatir kalau-kalau isterinya tidak mengerti akan uluran tangan Hek I Siankouw.

"Memang kami tadinya hanya ingin main-main karena Arak Malam Pengantin itu tidak menyakitkan dan tidak membunuh, malah dapat dikata menyehatkan, heh-heh... dan kalau tadi kami melapor kepada ji-wi locianpwe adalah karena kami kurang mengerti akan niat nona Liong Si Kwi. Kiranya dia hanya ingin begituan dengan pemuda itu."

"Memang harus kuakui bahwa muridku telah bersalah dan karena cintanya dia menjadi murtad terhadap gurunya yang dianggap orang tuanya. Oleh karena itu, sebagai hukumannya aku mengusirnya dan tidak mengakuinya lagi sebagai murid. Harap saja kalian berdua tidak mencampuri urusan antara guru dan murid ini, karena jelas bahwa tawanan tidak dilarikan. Dan harap kallan orang-orang tua cukup bijaksana terhadap orang muda yang gila cinta!"

Setelah dua orang kakek dan nenek itu mendengar keterangan Hek I Siankouw dan Ang-bin Ciu-kwi, kemarahan mereka mereda, akan tetapi Hek I Siankouw maklum bahwa tidaklah begitu mudah untuk memuaskan hati dua orang kakek nenek itu, maka dia masih tetap waspada.

Biarpun dia marah sekali kepada muridnya atas perbuatan muridnya itu, namun rasa kasih sayang dalam hatinya membuat dia masih selalu ingin melindungi dan agar muridnya itu menerima hukuman yang seringan mungkin atas kesalahan yang dilakukannya.

Benar saja dugaannya, Hek-hiat Mo-li terdengar berkata nyaring.

"Mendengar semua keteranganmu, Siankouw, kami boleh memandang mukamu untuk mengampunkan muridmu, akan tetapi tidak ada budi yang tidak terbalas. Oleh karena itu, sebelum kami membebaskan muridmu, dia harus meninggalkan sesuatu sebagai tanda bahwa dosanya sudah terhukum dan lunas, ditambahi janji bahwa engkau akan terus membantu kami sampai selesai."

Hek I Siankouw mengerutkan alisnya, lalu tiba-tiba dia berkata.

"Si Kwi, kau sudah merasa berdosa terhadap aku?"

"Teecu menyerahkan jiwa raga teecu ke tangan subo."

"Ke sinilah!"

Gadis itu menghampiri gurunya dan menjatuhkan diri berlutut.

"Singgg...crattt!"

Nampak sinar hitam berkelebat dan pedang hitamnya menyambar ke depan.

Si Kwi menjerit dan tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang telah terbabat pedang dan buntung sebatas pergelangan tangannya!

Dia masih berlutut dan mukanya pucat sekali memandang tangan kirinya yang sudah buntung itu.

Dengan tenang Hek I Siankauw mengambil tangan muridnya itu, lalu menghampiri Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li sambil menyodorkan tangan berdarah itu.

"Mo-ko dan Mo-li, harap kalian puas dengan tangan yang ditinggalkan muridku ini, dan aku berjanji akan membantu kalian sampai selesai."

"Ha-ha-ha, engkau sungguh mencinta muridmu. Sebenarnya, harus kedua tangannya dibuntungi, akan tetapi karena kau bertindak sendiri dengan suka rela, biarlah inipun cukup,"

Kata Hek-hiat Mo-li sambil menerima tangan yang berkulit halus itu.

Hek I Siankouw menghampiri muridnya, menotok jalan darah di siku dan pundaknya, menggunakan obat bubuk ditaruh di lengan yang buntung, lalu membalutnya dengan saputangannya.

Setelah selesai, diapun berkata dengan suara gemetar.

"Nah, pergilah! Mau tunggu apa lagi?"

Si Kwi maklum bahwa nyawanya telah ditolong oleh subonya dan sebagai penggantinya, subonya membuntungi tangan kirinya dan yang lebih berat lagi, subonya berjanji akan membantu kakek dan nenek iblis itu sampai selesai, berarti subonya telah mempertaruhkan nyawa demi untuk menyelamatkannya.

Maka sambil menangis dia berlutut dan mencium kaki subonya sambil berkata.

"Subo, terima kasih... sampai mati teecu tidak akan melupakan budi subo..."

"Pergilah! Pergilah...!"

Hek I Siankouw menjerit dan membalikkan tubuh, memalingkan muka tidak mau memandang muridnya dan dengan cepat tangannya menghapus dua butir air matanya.

Si Kwi bangkit lalu pergi dari situ dengan cepat.

Air matanya bercucuran di sepanjang kedua pipinya.

Ketika Bun Houw siuman dari pingsannya, dia melihat In Hong telah duduk di tepi pembaringan dengan muka penuh kekhawatiran.

Pemuda ini lalu teringat akan semua pengalamannya yang hanya setengah disadarinya itu, seperti sebuah mimpi yang hampir terlupa.

Akan tetapi teringat bahwa dia telah bermain cinta dengan seorang gadis, dia cepat bangkit berdiri dengan gerakan kuat.

"Ah, kau mengasolah dulu, Houw-ko... kau agaknya terserang sakit, wajahmu pucat sekali dan tubuhmu lemah."

In Hong memegang pundaknya dan dengan halus menyuruh pemuda itu berbaring kembali.

Akan tetapi Bun Houw tidak mau rebah dan terus duduk di tepi pembaringan itu, matanya dipejamkan dan alisnya berkerut.

"Hong-moi... apa yang terjadi...? Bagaimana aku bisa berada di sini lagi?"

Dia membuka mata dan memandang ke sudut kamar tahanan itu.

Ternyata di situ terdapat bekas galian yang telah ditutup kembali.

Jantungnya berdebar penuh penyesalan.

Tadinya dia mengharapkan bahwa apa yang diingatnya itu hanya mimpi belaka, akan tetapi begitu melihat bekas lubang yang berada di sudut kamar tahanan dan yang telah ditutup kembali itu, tahulah dia bahwa semua pengalaman itu bukan sekedar mimpi!

Melainkan kenyataan!

Dan dia telah bermain cinta dengan seorang gadis, kalau dia tidak salah, Liong Si Kwi!

Dia telah berjina!

"Ohhh...!"

"Kenapa, Houw-ko?"

In Hong memegang lengan pemuda itu ketika melihat pemuda itu menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya, seolah-olah hendak mengusir sesuatu dari depan matanya.

Tanpa melepaskan kedua tangan dari depan mukanya, Bun Houw berkata lagi.

"Hong-moi... demi Tuhan... kau ceritakanlah padaku, apa yang telah terjadi semalam?"

"Houw-ko, aku sendiripun tidak mengerti. Bahkan aku yang hendak bertanya kepadamu. Engkau tahu, setelah kita tersiksa semalam, aku lalu... tertidur atau pingsan dan aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Akan tetapi, ketika aku siuman, aku melihat engkau telah rebah di lantai dan..."

Wajah gadis itu menjadi merah sekali dan lehernya seperti tercekik, dan dia tidak dapat melanjutkan ceritanya.

Bun Houw menurunkan kedua tangannya dan menoleh.

Melihat wajah itu menjadi merah dan bibir gadis itu tersenyum menahan rasa malu, dia cepat mendesak.

"Dan bagaimana, Hong-moi? Ceritakanlah... ceritakanlah...!"

"Kau... kau dalam keadaan... ahhh... telanjang, Houw-ko. Dan pakaianmu bertumpuk di dekatmu. Tentu saja aku terkejut sekali dan melihat bahwa aku tidak apa-apa, hatiku lega. Maka selama engkau masih pingsan aku lalu mengenakan pakaian pada tubuhmu, memindahkanmu ke atas pembaringan dan aku menjagamu sampai kau sadar..."

"Dan lubang itu..."

Bun Houw bertanya, menoleh ke arah bekas lubang di sudut kamar.

"Entahlah, sudah begitu ketika aku siuman. Houw-ko, apakah yang terjadi sebetulnya ketike aku sedang pingsan atau pulas?"

Kembali In Hong memegang lengan pemuda itu dan tiba-tiba Bun Houw mengelak dan mundur menjauhi.

"Aku tidak tahu... tidak tahu, Hong-moi... aku... aku terbius dan seperti orang gila..."

Bun Houw kembali menggunakan kedua tangan menutupi mukanya.

Akan tetapi tetap saja terbayang pengalaman remang-remang yang tak mungkin dapat dia lupakan selamanya itu, di dalam sebuah kamar asing, di atas pemberingan, bersama Liong Si Kwi!

Dia menduga-duga apa yang terjadi dengan gadis itu!

Dan mengapa pula Si Kwi membuat terowongan dari kamarnya ke kamar tahanan?

Tentu untuk menolongnya keluar!

Dan dia sedang dalam keadaan terbius dan di bawah pengaruh obat atau racun perangsang yang amat hebat.

Tentu dia dan Si Kwi telah...

ah, ingin dia mengusir semua bayangan dan kenangan itu.

Dia merasa malu, malu dan menyesal sekali!

"Aku malu...

aku malu...!"

Tak terasa lagi bibirnya berbisik.

"Houw-koko, sudahlah. Memang amat memalukan kalau mengenangkan kembali peristiwa semalam yang hanya samar-samar teringat olehku. Akan tetapi perbuatan kita itu terjadi karena di luar kesadaran kita, bukan? Kita berdua telah minum arak beracun! Karena itu, biarlah kita lupakan semua itu. Pula, bukankah tidak terjadi sesuatu di antara kita? Kita patut bersyukur bahwa kita tidak sampai terseret... ah, dan semua ini berkat kekuatan batinmu, koko."

"Tidak...! Tidak...! Engkaulah yang kuat dan hebat, Hong-moi. Dan aku... aku berterima kasih kepadamu, dan aku minta maaf..."

"Sudahlah. Yang penting sekarang, kita harus mencari akal bagaimana dapat keluar dari tempat tahanan ini. Kalau kita menggabungkan tenaga dan berusaha untuk membongkar pintu ini..."

"Hemm, sudah kupertimbangkan hal itu, Hong-moi, ketika engkau menolongku dahulu, mencarikan obat untukku, engkau bertemu dengan keponakanku, Lie Seng, putera enciku yang dibawa oleh seorang Pendeta Lama. Dan engkau pernah dapat mainkan Thian-te Sin-ciang, engkau belajar dari suhu Kok Beng Lama. Hong-moi, engkau sumoiku."

"Bukan. Suhumu sudah kuberikan janji bahwa aku tidak mengangkatnya segai guru. Betapapun juga, mengingat bahwa mendiang ibuku adalah sumoi dari ayahmu, maka kitapun boleh saja terhitung kakak dan adik seperguruan."

"Hong-moi coba kautampar telapak tanganku ini dengan Thian-te Sin-ciang!"

"Apa maksudmu? Apa gunanya?"

"Aku hendak mengukur sampai di mana tingkat ilmu itu pada dirimu."

Bun Houw lalu berdiri dan mengulur tangannya, dengan telapak tangan terlentang.

Biarpun belum mengerti sepenuhnya apa yang dimaksudkan selanjutnya oleh pemuda itu, namun karena tahu bahwa pemuda itu hendak menguji kekuatannya, In Hong lalu mengerahkan tenaga dan menghantamkan telapak tangannya ke arah telapak tangan Bun Houw, tanpa ragu-ragu karena dia tahu bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang jauh lebih lihai daripada tingkatnya.

"Tarrrr...!"

Terdengar bunyi seperti ledakan ketika dua telapak tangan itu bertemu.

In Hong merasakan tangannya panas dan membalik sehingga dia terhuyung.

"Engkau hebat, Hong-moi. Baru mendapat petunjuk sebentar saja dari suhu, telah dapat menguasai Thian-te Sin-ciang hampir seperempat bagian"

"Baru seperempat bagian?"

In Hong bertanya dengan mata terbelalak dan kecewa.

"Kukira sudah hampir sempurna!"

Bun Houw tersenyum dan hatinya girang melihat kenyataan bahwa berbicara dengan In Hong, dia mulai melupakan peristiwa di dalam kamar bersama Si Kwi yang mendatangkan penyesalan amat besar di hatinya itu.

"Hong-moi, engkau belum tahu benar kehebatan dari Thian-te Sin-ciang. Hanya suhu seoranglah yang telah memiliki ilmu itu dan menguasai secara sempurna. Kalau suhu berada di sini, pintu ini bukan apa-apa. Engkau memiliki hampir seperempat bagian sudah hebat, Hong-moi."

"Dan engkau sendiri, koko. Engkau sudah begitu hebat!"

"Ah, mana bisa aku menandingi suhu? Paling-paling aku baru menguasai setengahnya atau lebih sedikit. Karena itu, biarpun kita menggabungkan tenaga, tidak akan mungkin dapat menjebol pintu ini. Akan tetapi ada kemungkinan kecil kalau engkau dapat memperkuat tenagamu di sini, dengan latihan-latiban khusus."

"Pikiran itu baik sekali, Houw-ko."

Bun Houw lalu menyuruh gadis itu duduk bersila di depannya, di atas pembaringan.

Mereka berdua duduk bersila dengan kaki melintang di atas kedua paha, punggung mereka lurus dan kedua lengan mereka dilonjorkan sehingga kedua telapak tangan mereka saling bertemu, dengan jari-jari tangan lurus ke atas.

"Sekarang kendurkan seluruh urat syarafmu, Hong-moi, sedikitpun jangan melakukan perlawanan dan kau ikuti saja dorongan hawa dariku, kemudian terus ikuti sampai kau dapat melakukan latihan ini sendirl."

Bun Houw lalu memberi tahu tentang teori-teorinya melatih diri untuk memperkuat tenaga sin-kang Thian-te Sin-ciang.

"Mula-mula gerakkan hawa melalui sepanjang Ci-kiong-hiat, lalu naik ke Koan-goan-hiat, turun lagi ke Tiong-teng-hiat dan akhirnya berhenti dan dipusatkan di Thian-te-hiat-to,"

Demikian Bun Houw mulai memberi petunjuk sambil mengerahkan sin-kangnya melalui telapak tangan gadis itu.

In Hong merasakan hawa yang hangat mengalir ke dalam tubuhnya melalui telapak tangannya.

Perasaan ini mendatangkan kenikmatan dan rasa nyaman menyelimuti seluruh tubuhnya itu, apalagi ketika dia teringat bahwa hawa itu datang dari Bun Houw, jantungnya berdebar keras dan tubuhnya terguncang!

Hal ini terasa oleh Bun Houw dan pemuda ini menjadi terkejut karena ada hawa melawan dari In Hong, bukan melawan melainkan "menyambut", akan tetapi hal itu sama saja karena dapat menghalangi penembusan jalan-jalan darah itu dengan hawa murninya.

"Harap kau jangan membiarkan pikiran berkeliaran, Hong-moi. Pikiran harus kosong dan seluruh perasaan berpusat kepada perjalanan hawa sakti..."

"Maaf, Houw-ko... aku tidak sengaja,"

In Hong menjawab dan kedua pipinya merah sekali karena merasa jengah.

Melihat sepasang pipi yang begitu kemerahan dan halus menyegarkan, cepat-cepat Bun Houw memejamkan matanya agar jangan melihat sepasang pipi yang demikian dekatnya!

Demikianlah, dua orang muda itu mulai dengan latihan mereka dan mereka hampir tidak perduli akan hidangan yang disuguhkan melalui lubang kecil.

Hanya kalau mereka sudah merasa lelah dan lapar saja mereka berhenti, makan dan mengaso.

Setelah menerima petunjuk dari Bun Houw dan sudah hafal benar akan cara berlatih untuk memperkuat tenaga sakti Thian-te Sin-ciang, dua hari kemudian In Hong sudah mulai berlatih sendiri, dan Bun Houw juga mempergunakan kesempatan itu untuk berlatih, karena diapun perlu memperkuat tenaganya agar kelak dapat digabung dengan tenaga In Hong untuk mencoba membobolkan pintu baja itu.

Meriah sekali pesta yang diadakan oleb Raja Sabutai di tempat tinggalnya yang baru itu, di tepi sungai yang bergabung dengan Sungai Nun-kiang di utara.

Pesta besar itu dirayakan karena lahirnya sang putera, hal yang amat dinanti-nantikan dan diidam-idanikan selama bertahun-tahun oleh Sabutai.

Isterinya yang tercinta, Khamila, telah melahirkan seorang putera yang sehat dan montok, dan yang tangisnya amat nyaring dan terdengar sebagai nyanyian yang paling merdu bagi telinga Sabutai dan Khamila.

Pesta untuk merayakan kelahiran putera Sabutai itu dihadiri oleh semua kepala Suku Nomad yang banyak terdapat di luar tembok besar utara, dari suku-suku kelompok kecil sampai yang besar, dan di antara para tamu itu terdapat pula orang-orang Han dari dalam tembok besar.

Mereka ini adalah pedagang-pedagang yang suka membawa barang-barang dagangan dari selatan, untuk diperdagangkan dan ditukar dengan barang-barang dari utara.

Biarpun perjalanan yang mereka tempuh amat jauh dan sukar, namun karena keuntungannya cukup baik, maka banyak pula yang berani menempuhnya.

Selain para pedagang, juga banyak hadir tokoh-tokoh persilatan di perbatasan, karena Sabutai selain terkenal sebagai seorang raja atau kepala suku yang besar, juga dia terkenal pula di antara tokoh-tokoh kang-ouw sebagai seorang ahli silat yang lihai.

Selain hidangan yang berlimpah-limpah dan tari-tarian serta nyanyian daerah yang diselenggerakan untuk menghibur para tamu, juga Sabutai mengadakan pertandingan silat dan gulat dengan hadiah-hadiah yang menarik.

Hal ini dilakukan dengan harapan agar kelak puteranya menjadi seorang gagah perkasa, maka kelahirannya disambut dengan pertandingan-pertandingan ketangkasan, yaitu yang umum di antara mereka adalah silat terutama sekali gulat.

Banyak juga yang mendaftarkan diri untuk mengikuti pertandingan itu.

Akan tetapi, Raja Sabutai kecewa melihat bahwa yang bertanding adalah orang-orang yang memiliki kepandaian biasa saja.

Maka ketika menurut giliran maju seorang pegulat yang sudah cukup terkenal di antara para Suku Nomad, seorang pegulat yang tubuhnya seperti gajah, kokoh kuat dan kekar, berhadapan dengan seorang ahli silat bangsa Han di antara para tokoh perbatasan, Sabutai menjadi girang dan tertarik sekali.

"Akan kutambah hadiahnya!"

Dia berseru girang.

"Siapa di antara kalian yang menang, selain hadiah yang telah disediakan untuk tiap pemenang, akan kutambah dengan sebuah hadiah lagi yang boleh dipilih oleh si pemenang di antara barang-barang sumbangan yang kuterima hari ini!"

Dia menudingkan telunjuknya ke arah meja besar yang penuh dengan barang sumbangan yang ditumpuk di situ setelah dicatatkan satu demi satu oleh pembantu yang menerimanya.

Tentu saja semua orang menjadi gembira dan tegang.

Jarang dipertandingkan seorang ahli silat melawan seorang ahli gulat, dan kini timbullah pertaruhan-pertaruhan di antara mereka.

Bagi yang belum mengenal kebiasaan mereka, tentu akan merasa heran mendengar betapa di antara para kepala Suku Nomad itu, selain mempertaruhkan kuda mereka yang terbaik, atau ternak mereka, juga ada yang mempertaruhkan anak perempuan mereka, bahkan ada pula yang mempertaruhkan isteri atau selir mereka!

Sabutai memandang penuh perhatian.

Dia sudah mengenal jago gulat itu dan tahu akan ketangguhannya.

Tentu saja bagi dia sendiri, jago gulat itu bukan apa-apa, karena dia tahu bahwa jago gulat itu hanya mengandalkan tenaga besar dan cara-cara meringkus dan melontarkan lawan, Di samping memiliki tubuh yang kuat dan kebal seperti gajah.

Akan tetapi yang menarik perhatiannya adalah ahli silat itu.

Dia tidak mengenal tokoh-tokoh kang-ouw perbatasan ini secara dekat, dan melihat cara jago silat itu memasang kuda-kuda, dia maklum bahwa akan terjadi pertandingan yang seru dan menarik.

Ahli silat itu mempunyai kuda-kuda yang kuat dan sikapnya begitu meyakinkan, dengan kedua lutut ditekuk seperti orang menunggang kuda, lengan kanan ditekuk di depan dada dengan tangan miring di depan dada, lengan kiri di depan pusar, juga ditekuk dan tangan kirinya miring di depan pusar.

Dengan kuda-kuda seperti itu, maka bagian tubuh atas bawah telah terjaga rapat dan kedua tanganpun sudah siap untuk dipergunakan sewaktu-waktu melakukan penyerangan dari atas atau bawah.

Seorang wasit yang mewakili Raja Sabutai, yaitu seorang di antara panglimanya yang juga merupakan seorang ahli, baik dalam ilmu gulat maupun silat, memberi tanda dengan tangannya ke arah pembantunya yang segera membunyikan canang tanda dimulainya pertandingan itu.

Si wasit lalu berdiri di sudut dan mulailah dua orang itu bergerak.

Memang menegangkan sekali pertandingan ini.

Bukan seperti pertandingan antara dua orang jago gulat yang saling tubruk dan saling cengkeram, bprusaha saling banting, mengandalkan ketepatan saat dan gerak reflex dibantu oleh penggunaan tenaga besar yang tepat pada waktunya, atau seperti pertandingan antara dua orang jago silat yang saling serang mengandalkan kecepatan dan ketepatan pukulan atau tendangan, Akan tetapi karena masing-masing menghadapi lawan yang memiliki kepandaian berbeda, mereka berdua menjadi hati-hati sekali.

Si jago gulat berdiri dengan kedua lengan dikembangkan di kanan kiri tubuhnya, tangannya siap untuk menangkap atau mencengkeram di depan, kedua kakinya agak terpentang dan dia agak membungkuk, sikapnya seperti seekor orang hutan besar menghadapi lawan.

Ke manapun lawan bergerak, dia memutar tubuh menghadapinya!

Sedangkan si jago silat masih menanti-nanti saat yang tepat, memilih-milih sasaran untuk serangannya dan dia mengatur langkah, digesernya dan perlahan-lahan memutari tubuh si jago gulat dengan perlahan, merobah-robah kedudukan kedua tangannya sesuai dengan kedudukan kedua kakinya, apakah menghadapi lawan dengan miring ataukah langsung berhadapan.

"Hyaaaattt...!"

Tiba-tibe si jago silat itu menyerang dari samping setelah dengan cepat dia melangkah ke samping kiri lawan, dengan pukulan cepat ke arah lambung.

"Hehhh!"

Si jago gulat mengelak dan tangannya yang panjang mencengkeram ke arah rambut kepala lawan.

Akan tetapi jago silat itupun sudah cepat melompat ke belakang menghindarkan diri, memutar tubuhnya dan menendang dari depan ke arah perut lawan.

"Dukkk!"

Lengan yang besar itu menangkis dan ketika tangannya menyambar, kembali lawannya dapat menarik kaki sehingga sambaran itu luput.

Kembali ahli silat itu bergerak mengitari si ahli gulat yang tetap tenang, sama-sama mencari kesempatan.

Tiba-tiba, sekali ini tanpa mengeluarkan teriakan, jago silat itu meloncat ke atas, kakinya melayang ke arah muka jago gulat itu dengan kerasnya.

Jago gulat itu menghindarkan diri dengan elakan, akan tetapi dengan cepat sekali tangan kanan jago silat itu menghantam tengkuknya.

Jago gulat yang melihat kecepatan ini kaget, dia miringkan tubuh mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya terkena pukulan.

"Bukkk!"

Dia terhuyung, akan tetapi pemukulnya juga cepat meloncat ke belakang karena tangannya bertemu dengan daging yang tebal dan keras!

Karena berbesar hati telah dapat menghantam pundak, jago silat itu kini melakukan serangan bertubi-tubi dengan gerak cepat dan ternyata siasatnya berhasil baik.

Berkali-kali dia dapat menggunakan kedua tangan atau kakinya untuk menghantam dan menendang lawan dan ada beberapa di antaranya yang mengenai tubuh lawan.

Terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan-pukulan itu mengenai tubuh si jago gulat, akan tetapi pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan itu tidak merobohkan lawan, hanya membuat si jago gulat terhuyung.

Sorak-sorai dan tepuk tangan mulai terdengar, ada pula ejekan-ejekan terhadap si jago gulat, terutama mereka yang bertaruh memegang ahli silat itu.

Tentu saja di depan Raja Sabutai, para tamu tidak berani bersikap melampaui batas, akan tetapi di dalam kesempatan seperti ini di tempat ini, bukan hal mustahil kalau gelanggang pertandingan menjadi gelanggang pertempuran antara para penjudi itu yang tentu saja dibela oleh anak buah masing-masing!

Pertandingan dilangsungkan terus dengan serunya.

Jago silat itu telah berhasil memukul beberapa kali sehingga pukulan yang mengenai muka jago gulat itu membuat bibirnya pecah dan berdarah.

Akan tetapi si ahli silat ketika menendang tulang kering kakinya bertemu dengan tulang kaki si jago guiat yang besar dan kuat, sehingga biarpun tulang kakinya yang kecil itu tidak patah, cukup mendatangkan rasa nyeri dan membuat dia agak terpincang!

Jago gulat itu menjadi marah sekali.

Seperti seekor kerbau yang terluka, dia kini mulai aktip menyerang.

Namun serangan-serangannya yang berupa cengkeraman dan tangkapan kedua tangan itu selalu dapat dialakkan oleh si jago silat yang lincah, selalu menubruk atau menangkap angin kosong belaka, dan sebagai jawabannya, tentu terdengar suara "Tak!"

Atau "Plak!"

Karena tangan jago silat itu berhasil memukul atau menampar.

Kini lebih banyak darah lagi keluar ketika sebuah pukulan si jago silat tepat mengenai hidung si jago gulat sehingga muncratlah darah segar dari lubang hidung raksasa itu.

Bagaikan serigala-serigala yang haus darah, para penonton berteriak-teriak penuh nafsu menjagoi pilihan masing-masing.

Yang menjagoi ahli silat menjadi besar hati karena melihat jagonya lebih banyak membagi pukulan, Sedangkan yang menjagoi si ahli gulat juga tidak putus harapan karena biarpun seringkali dipukul, si jago gulat yang kokoh kuat itu belum juga roboh, sedangkan si jago silat sebaliknya malah kelihatan lelah sekali.

Hal ini karena si jago silat lebih banyak bergerak, sedangkan si jago gulat hanya berdiri dan bergerak sedikit sekali.

Setelah beberapa kali menerima hantaman dan tendangan berturut-turut, tiba-tiba si jago gulat berhasil menangkap pergelangan lengan lawannya!

Si jago silat meronta, namun percuma saja karena pegangan itu bukan main kuatnya.

Karena maklum bahwa dia tidak akan mampu melepaskan diri, si jago silat lalu menggunakan sebelah tangannya lagi untuk menusuk mata lawan dengan jari tangan.

Jago gulat itu miringkan mukanya, akan tetapi tetap saja pipinya kena ditusuk dan kembali darah mengucur.

"Haarrgghhh...!"

Jago gulat mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang.

Dia maklum betapa bahayanya untuk terus memegang lengan lawannya itu, maka sekali dia merendahkan diri dan mengerahkan tenaga sambil memegang pinggang lawan, dia telah mengangkat tubuh si jago silat tinggi-tinggi di atas kepalanya.

Terdengar pekik dan sorak-sorai menyambut kemenangan si jago gulat ini ketika tiba-tiba si jago gulat melontarkan tubuh jago silat yang tak berapa besar itu sehingga terlempar sampai jauh ke arah para tamu!

Jago silat itu berteriak kaget, maklum bahwa nyawanya terancam bahaya.

Tubuhnya sudah tidak dapat dikuasainya lagi dan dia dilontarkan seperti peluru cepatnya, menimpa ke arah dua orang tamu yang duduk semeja di sudut yang agak sunyi.

Akan tetapi, tiba-tiba seorang di antara dua tamu itu, yang berpakaian sederhana, berbangsa Han, bertubuh tinggi kurus dan bermata sipit, pakaiannya yang berwarna kuning itu penuh debu tanda bahwa dia telah melakukan perjalanan jauh, bangkit berdiri dan dengan tenangnya dia mengulur tangan kirinya dan ketika tubuh si jago silat itu menimpa ke arah mejanya, dia menggerakkan tangan kirinya dan tahu-tahu tubuh itu mencelat ke atas mematahkan daya luncurnya, dan ketika turun kembali, disambutnya dengan tangan kiri dan si jago silat itu dapat turun dengan lunak dan sama sekali tidak terluka.

Si jago silat memandang pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang berpakaian kuning sederhana itu dengan mata terbelalak, kemudian dia menjura sambil berkata perlahan.

"Terima kasih,"

Dan berjalan terhuyung kembali ke tempatnya, disambut oleh penyesalan dan celaan teman-temannya yang merasa kecewa mengapa ahli silat yang sudah lebih banyak membagi pukulan itu sampai dapat terpegang kalah, dan lain-lain.

Sabutai bermata tajam sekali, dan dia mengenal orang pandai ketika melihat pemuda pakaian kuning tadi menerima tubuh si jago silat secara demikian mudahnya.

Biarpun sebagian besar para tamu tidak tahu akan hal itu, Namun dia sendiri mengerti bahwa orang yang memiliki sin-kang amat kuat saja yang akan mampu menyambut tubuh yang dilontarkan demikian kuatnya itu secara demikian rupa.

Maka Sabutai lalu memberi perintah kepada seorang pengawalnya dan pengawal ini lalu cepat menghampiri dua orang tamu tadi tanpa diketahui orang lain.

Pengawal itu dengan suara perlahan menyampaikan perintah atau pesan Sabutai bahwa dua orang itu dipanggil menghadap Raja Sabutai itu karena hendak ditanya tentang suatu urusan penting sekali.

Dua orang pemuda itu saling pandang dan merasa girang karena memang kedatangan mereka di tempat ini adalah untuk bicara dengan Sabutai.

Hanya kebetulan saja ketika mereka datang, tempat itu sedang penuh tamu karena Sabutai mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran puteranya.

Siapakah mereka itu?

Tentu saja dari pakaian pemuda yang tadi secara mengagumkan menerima tubuh si jago silat, mudah diduga bahwa dia bukan lain adalah Tio Sun, sedangkan pemuda kedua yang berambut agak kuning keemasan sedangkan matanya agak biru itu bukan lain adalah Souw Kwi Beng atau Richardo de Gama!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tio Sun "ditangisi"

Oleh Kwi Beng agar pemuda ini suka menolongnya, yaitu untuk dapat menemaninya mencari In Hong yang dicinta oleh Kwi Beng dan untuk membantu perjodohannya dengan In Hong karena orang tuanya menyatakan tidak setuju.

Sebetulnya, permintaan seperti ini jauh lebih berat daripada andaikata pemuda keturunan Portugis itu minta kepadanya membantu menghadapi musuh yang lihai.

Akan tetapi, baru saja Tio Sun sendiri menderita "patah hati"

Karena ternyata gadis yang dicintanya, Yang diam-diam dicintanya, yaitu Kwi Eng saudara kembar Kwi Beng, telah ditunangkan dengan Cia Bun Houw!

Karena itu, dia merasa tidak tega kepada Kwi Beng dan dia memenuhi permintaan pemuda itu.

Apalagi karena diapun ingin cepat-cepat menjauhi Kwi Eng sebelum luka di hatinya menjadi makin parah.

Mereka berdua pergi ke kota raja ketika mendengar bahwa Yap In Hong telah berada di kota raja, bahkan telah menjadi seorang puteri!

Akan tetapi, seperti halnya Bun Houw yang datang ke kota raja, mereka mendengar akan peristiwa penculikan atas diri In Hong yang dilakukah oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li.

Tentu saja mereka menjadi terkejut bukan main dan karena Tio Sun pernah membantu Bun Houw dan Cia Keng Hong, maka dia sudah tahu ke mana harus mencari Sabutai.

Menurut perkiraannya, kakek dan nenek yang menjadi guru Sabutai itu tentu berada bersama raja itu, maka dia lalu mengajak Kwi Beng untuk langsung pergi keluar tembok besar di utara dan mencari di mana adanya Sabutai dan kedua orang gurunya itu.

Inilah sebabnya mengapa dua orang muda itu kini berada di tempat pesta itu, dan secara tidak disengaja Tio Sun dapat menarik perhatian Sabutai sehingga kini dia dan Kwi Bang dipanggil oleh Sabutai yang tertarik menyaksikan kelihaian Tio Sun tadi.

Pertandingan masih berlangsung terus, akan tetapi Sabutai tidak memperhatikan lagi karena memang dianggapnya tidak begitu menarik.

Dia kini dihadap oleh dua orang pemuda itu, dan dengan ramah Sabutai lalu menanyakan nama mereka, juga dia amat memperhatikan Kwi Beng yang matanya agak biru dan rambutnya agak keemasan itu.

"Nama saya Tio Sun dan sahabat saya ini bernama Souw Kwi Beng,"

Jawab Tio Sun setelah memberi hormat.

"Karena kebetulan kami berdua lewat di sini dan mendengar akan perayaan yang diadakan oleh paduka di sini, maka kami lalu memberanikan diri datang menonton keramaian. Atas kelancangan ini, harap paduka sudi memaafkan kami."

"Ahh...!"

Sabutai makin tertarik karena ternyata bahwa pemuda itu amat hormat kepadanya dan pandai membawa diri.

"Kami malah merasa girang dan beruntung menerima kedatangan ji-wi sicu yang pandai. Kalau boleh kami mengetahui, ji-wi hendak ke manakah dan ada keperluan apa sampai jauh-jauh ke tempat ini?"

"Kami berdua hendak mencari kedua locianpwe Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li,"

Kata Tio Sun dengan terang-terangan.

Dia sudah mendengar bahwa Raja Sabutai ini sudah berbaik derigan Kaisar, maka dia tidak khawatir memberitahukan maksud kedatangan mereka kepadanya.

Apalagi karena mereka tadi tidak melihat adanya dua orang guru raja ini, bahkan ketika mereka bertanya-tanya kepada beberapa orang tamu, merekapun tidak ada yang tahu mengapa guru-guru raja itu tidak muncul di dalam pesta.

Maka, terpaksa dia mengaku terus terang dengan harapan akan memperoleh keterangan dari raja ini.

"Ha...? Tahukah kalian siapakah dua orang tua yang kausebut tadi, Tio-sicu?"

Tanyanya, memandang dengan tertarik.

"Kami telah mendengar bahwa kedua locianpwe itu adalah guru-guru paduka. Oleh karena itulah maka sekalian kami mohon petunjuk paduka, di mana kami kiranya akan dapat bertemu dengan mereka."

Sabutai menggeleng-geleng kepala dan memandang kagum.

"Tio-sicu dan Souw-sicu, sungguh aku kagum sekali kepada kalian! Masih begitu muda sudah memiliki nyali harimau dan hati naga! Kalau tahu bahwa yang kalian cari itu adalah guru-guruku, akan tetapi kalian terang-terangan menanyakannya kepadaku, seolah-olah kalian berani menghadapi kami dengan bala tentara kami yang ribuan orang jumlahnya!"

Tio Sun menjura lagi dan berkata.

"Adanya kami berdua berani datang ke sini, karena kami sudah mendengar akan nama paduka yang besar sebagai seorang yang dapat menghargai kegagahan."

"Ha-ha, jangan kira kami tidak tahu akan maksud kedatangan kalian. Bukankah kalian mencari kedua orang guruku itu berhubung dengan diculiknya nona Yap In Hong?"

Tio Sun tidak terkejut mendengar ini karena dia sudah menduga akan kecerdikan Raja Sabutai.

Akan tetapi Souw Kwi Beng terkejut sekali dan karena dia merasa bahwa "rahasia"

Mereka sudah ketahuan, maka dia segera berkata dengan gagah dan nyaring.

"Benar! Nona Yap In Hong telah diculik dan kami sengaja datang mencari untuk menolongnya dan kalau perlu kami akan mengadu nyawa dengan para penculiknya, siapapun adanya mereka itu!"

Tio Sun kaget bukan main.

Tak disangkanya bahwa pemuda itu akan mengeluarkan kata-kata yang begitu sembrono.

Dia khawatir kalau-kalau Raja Sabutai menjadi marah dan berbahaya kalau begitu, maka dia cepat berkata.

"Maafkan, sahabat saya ini amat mengkhawatirkan nona Yap yang amat dicintanya. Tentu paduka maklum..."

Memang tadinya muka Raja Sabutai sudah memperlihatkan kemarahan ketika mendengar kata-kata Kwi Beng, akan tetapi begitu mendengar ucapan Tio Sun, dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, apa yang tidak akan dilakukan oleh orang-orang muda yang mabok cinta! Lautan api akan ditempuhnya, barisan golok akan diterjangnya! Apakah kalian ini utusan pribadi Kaisar untuk menyelamatkan nona Yap In Hong?"

Tio Sun cepat-cepat mendahului Kwi Beng.

"Dapat dikata demikianlah, sri beginda. Ayah saya adalah seorang bekas pengawal yang amat setia dan karenanya, sayapun seorang yang selalu akan membela Kaisar. Karena, nona Yap In Hong telah menjadi seorang puteri istana yang dipercaya oleh Kaisar, maka tentu saja Kaisar amat marah mendengar puteri itu diculik orang. Di antara banyak utusan Kaisar yang mendapat perintah untuk mencari dan menyelamatkan nona Yap, termasuk kami berdua."

Kwi Beng tentu saja merasa heran sekali mendengar ucapan ini.

Mereka menjadi utusan Kaisar?

Heran dia mengapa Tio Sun harus membohong seperti itu.

Dianggapnya perbuatan ini tidak bijaksana dan tidak gagah!

Menunjukkan rasa takut dan hendak bersembunyi di balik nama Kaisar.

Akan tetapi dia segera mengerti ketika mendengar raja itu berkata.

"Ah, Kaisar Ceng Tung memang seorang yang mengenal budi! Aku telah memberitahu kepada beliau bahwa urusan culik-menculik ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, sungguhpun yang melakukannya adalah guru-guruku. Namun dalam hal ini, mereka berdiri sendiri, dan nanti kita bicarakan lebih lanjut tentang di mana kalian dapat bertemu dengan mereka, kalau kupandang kalian memang pantas untuk bertemu dengan mereka!"

Sabutai lalu memerintahkan pelayan untuk menambah tendangan makanan dan arak, kemudian raja ini menjamu mereka.

Ini merupakan suatu kehormatan yang besar sekali dan banyak pandang mata para tamu diarahkan ke meja itu dan menduga-duga siapa adanya dua orang muda yang tadinya diundang oleh Raja Sabutai dan kini mereka dijamu itu.

Setelah dua orang muda itu makan dan minum sampai kenyang, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan ternyata para tamu menyambut kemenangan seorang pegulat yang berkulit hitam, bertubuh seperti raksasa dan karena dia hanya mengenakan cawat saja maka kulit hitam yang berkeringat itu kelihatan berkilauan mengkilap.

Nampak otot-otot membelit-belit seluruh tubuh yang amat kuat itu dan si pegulat hitam ini dinyatakan sebagai pemenang karena berturut-turut dia telah menangkan lima pertandingan dan kini dia mengangkat kedua tangan ke atas membuat isyarat menantang siapa lagi yang berani bertanding melawan dia di atas panggung!

Raja Sabutai memandang kepada pegulat hitam itu dan dia tersenyum.

Dia mengenal pegulat itu yang berjuluk Biruang Hitam, seorang pegulat yang selain memiliki tenaga yang amat kuat, juga telah menguasai ilmu gulat dengan baiknya sehingga dalam hal ilmu gulat, dia sendiri akan sukar mengalahkan Biruang Hitam itu.

Maka timbullah pikirannya untuk mempergunakan si Biruang Hitam itu menguji utusan Kaisar Ceng Tung ini.

"Tio-sicu, seperti kukatakan tadi, tidak sembarang orang dapat bertemu dengan kedua orang guruku itu. Apalagi menyelamatkan nona Yap In Hong! Hal itu merupakan tugas amat besar yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang pandai yang mempunyai tekad dan keberanian besar saja."

"Kami berdua tidak berani mengaku sebagai orang-orang pandai, akan tetapi kalau paduka suka memberi tahu di mana kami dapat menjumpai locianpwe Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, kami bertekad untuk menolong nona Yap In Hong dengan taruhan nyawa seperti yang dikatakan oleh adik Souw Kwi Beng tadi."

"Ha-ha-ha, tidak begitu mudah, sicu. Untuk dapat berjumpa dengan kedua orang guruku itu sedikitnya harus mempunyai kepandaian seperti si Biruang Hitam itu. Nah, mampukah Tio-sicu menandingi dia?"

Tio Sun menoleh dan memandang ke arah raksasa hitam yang masih berdiri tegak dan memandang ke sekeliling menantang dengan sikap angkuh itu.

Dia maklum bahwa betapapun (Lanjut ke

Jilid 39) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 39 juga, dia harus dapat meyakinkan hati raja ini agar dia dapat diberi petunjuk.

Diapun sudah mendengar bahwa Sabutai paling suka nonton orang bertanding silat dan merasa simpati kepada orang yang pandai ilmu silat.

Agaknya, tanpa memperlibatkan kepandaian, dia tidak akan bisa memperoleh petunjuk dari raja ini.

Maka dia mengangguk dan berkata perlahan.

"Akan saya coba untuk menandingi dia, Sri Baginda."

Sabutai tertawa gembira dan dia bertepuk-tepuk tangan dengan keras sehingga semua orang menoleh kepadanya.

Juga raksasa hitam itu cepat membalik ke arah Raja Sabutai dan memberi hormat.

"Saudara sekalian, kebetulan sekali ada seorang utusan dari selatan detang menghadiri pesta ini dan dialah yang sanggup untuk menandingi si Biruang Hitam!"

Mendengar ini, semua tamu bertepuk dan bersorak gembira.

Tadi mereka sudah merasa khawatir bahwa pertunjukan adu silat dan gulat itu akan berakhir sampai di situ saja karena munculnya Biruang Hitam yang sudah berturut-turut mengalahkan lima orang lawan dan agaknya sudah tidak ada lagi yang berani maju.

Maka mendengar bahwa ada utusan dari selatan yang hendak menandingi Biruang Hitam, tentu saja mereka menjadi gembira sekali, maklum bahwa mereka akan menyaksikan pertandingan yang hebat dan mungkin mati-matian karena jagoan dari selatan tentulah seorang ahli silat dan Biruang Hitam paling benci kepada orang selatan yang pandai silat!

"Nah, Tio-sicu, silakan,"

Kata Sabutai kepada Tio Sun.

Tio Sun bangkit, menjura kepada Sabutai dan memandang kepada Souw Kwi Beng.

Pemuda ini mengerutkan alisnya dan berkata.

"Tio-twako, hati-hatilah... dia kelihatan kuat sekali."

Tio Swi mengangguk dan setelah sekali lagi menjura ke arah Sabutai, dengan langkah tenang dia lalu menghampiri panggung dan meloncat ke atas panggung, berhadapan dengan Biruang Hitam.

Raksasa hitam ini menyeringai dan mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang ketika melihat bahwa calon lawannya hanyalah seorang tinggi kurus dan berpakaian sebagai orang Han!

Dia amat membenci orang Han, apalagi seorang Han yang pandai silat!

Dan calon lawannya ini bertubuh kecil, terlalu kecil baginya!

Tiga kali tubuh lawan ini dijadikan satu barulah sama dengan dia.

Tio Sun juga memandang lawannya dengan penuh perhatian.

Seorang lawan yang berbahaya, pikirnya.

Jelas bahwa Biruang Hitam ini mempunyai tenaga otot yang amat besar, mungkin lima kali lebih besar daripada tenaga manusia biasa.

Dan kedua lengan yang hitam berbulu itu amat kuat dan panjang, dengan jari-jari tangan yang panjang dan yang dia dapat menduga tentu mempunyai kekuatan mencengkeram atau menangkap yang amat kuat.

Celakalah kalau sampai kena dicengkeram oleh jari-jari tangan itu.

Dia harus mengandalkan kecepatan gerakannya, karena betapapun kuatnya, raksasa hitam ini karena besarnya tubuh tentu lamban gerakannya dan dengan mengandalkan kegesitannya, mungkin dia akan menang.

Pula, dia adalah putera seorang yang berjuluk Ban-kin-kwi (Iblis Bertenaga Selaksa Kati).

Ayahnya, Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, terkenal memiliki tenaga yang amat besar dan diapun telah mempelajari penghimpunan tenaga itu sehingga diapun merupakan seorang yang bertenaga besar.

Namun, dalam hal tenaga luar, jelas bahwa dia tidak mungkin dapat menandingi raksasa di depannya itu.

"Aku telah siap!"

Katanya kepada raksasa itu yang kelihatan ragu-ragu.

Agaknya Biruang Hitam itu mengerti maksud kata-katanya, karena dia segera mengeluarkan suara menggereng dahsyat dan kedua lengannya bergerak menyambar ke depan dari kanan kiri seperti terkaman seekor biruang yang marah.

"Wuuutttt...! Wuuutttt...!"

Kedua tangannya yang lebar dengan jari-jari terbuka itu sampai mengeluarkan angin saking kuatnya dia menggerakkan kedua tangan dari kanan kiri yang mengadakan serangan cengkeraman itu.

Namun dengan langkah ke belakang, Tio Sun dapat mengelak dengan mudah dan ketika raksasa hitam itu melanjutkan serangannya dengan menubruk ke depan, dia juga sudah dapat mengelak ke samping dengan lincahnya.

Biruang Hitam menggereng marah dan kini dia menerjang lagi dengan pukulan kepalan tangan sebesar kepala Tio Sun sedangkan tangan kiri mencengkeram ke bawah, hendak menangkap kaki pendekar itu.

Kembali Tio Sun cepat mengelak dan dari samping dia sengaja memasang diri untuk ditubruk.

Melihat betapa pemuda itu mengelak dengan tubuh terhuyuhg, si raksasa menjadi girang dan cepat dia menubruk dengan kedua lengan terpentang untuk mencegah pemuda itu mengelak ke kanan atau ke kiri.

Memang ini yang dikehendaki oleh Tio Sun.

Melihat betapa dada itu "terbuka", secepat kilat dia menghantam dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga dengan maksud membuat raksasa itu roboh dengan satu kali pukulan.

Tentu saja gerakan Tio Sun ini amat cepatnya sehingga tidak tersangka-sangka oleh si Biruang Hitam yang lamban, maka sebelum dia tahu apa yang terjadi, dadanya sudah kena dipukul lawan.

"Bukkk!"

Pukulan yang keras bukan main mendarat di dada yang bidang itu.

Akan tetapi akibatnya bukan tubuh tinggi besar itu yang roboh terjengkang, sebaliknya malah tubuh Tio Sun sendiri terdorong ke belakang dengan kerasnya!

Pukulannya yang mengenai dada itu seolah-olah memukul bola karet yang amat kuat sehingga membalik dan akibatnya dia yang mencelat ke belakang dan tentu dia akan roboh terbanting kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik sampai bersalto tiga kali ke belakang, baru dia dapat turun ke atas papan panggung dengan baik.

Sorak-sorai menyambut peristiwa ini karena semua orang melihat betapa si raksasa kena pukulan keras namun yang terlempar malah yang memukul!

Si Biruang Hitam tertawa bergelak dan sudah maju lagi dengan kedua lengan dikembangkan, persis seperti seekor biruang yang berjalan dengan dua kaki belakangnya, hidungnya mendengus-dengus dan bibirnya yang tebal itu menyeringai.

Souw Kwi Beng yang melihat ini menjadi gelisah bukan main dan diam-diam dia meraba ke pinggangnya di mana terselip sebuah pistol kecil.

Perbuatannya ini tidak terlepas dari pandang mata Raja Sabutai yang hanya tersenyum-senyum menonton pertandingan di atas panggung itu.

Semua mata ditujukan ke atas panggung dan semua jantung berdebar tegang melihat raksasa hitam itu kini telah menghampiri Tio Sun yang mundur-mundur dan memandang dengan sikap waspada sampai akhirnya pendekar itu tersudut.

Biruang Hitam menggereng dan menubruk lagi, namun Tio Sun jauh lebih cepat, tubuhnya telah menyelinap melalui bawah lengan kiri lawan dan dia sudah melesat ke belakang raksasa itu.

Biruang Hitam membalik dan menubruk lagi, kedua lengan yang panjang itu menyambar-nyambar ganas, namun selalu dapat dielakkan oleb Tio Sun yang mengasah otak bagaimana dia dapat merobohkan Biruang Hitam yang amat kuat dan tubuhnya kebal ini.

Mungkin dia tadi kurang mengerahkan tenaga, pikirnya.

Setelah memperhitungkan dengan masak-masak, untuk kesekian kalinya kembali dia mengelak ketika Biruang Hitam itu menubruk, akan tetapi sekali ini dia menggunakan gin-kangnya, mengelak sambil meloncat ke atas, kemudian sebelum lawan membalik, dari atas dia telah menghantamkan kedua kakinya ke tengkuk lawan.

"Bresss!"

Kembali tubuh Tio Sun terlempar akan tetapi dia dapat melayang turun sedangkan Biruang Hitam kini terhuyung ke depan.

Tio Sun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, cepat dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan menghantam dari belakang ke arah punggung dan lambung lawan.

"Bukk! Desss!"

Hantaman-hantaman itu hebat bukan main dan lawan biasa tentu akan roboh dan tewas.

Akan tetapi Biruang Hitam memang kuat bukan main seolah-olah tubuhnya dilindungi oleh karet yang tebal.

Dia tidak roboh, bahkan dia berhasil membalik dan meraih sehingga pundak Tio Sun kena dicengkeram oleh jari-jari tangan yang panjang dan kuat itu.

Tentu saja Tio Sun yang tidak mengira sama sekali bahwa lawan tidak roboh, bahkan terguncangpun tidak oleh dua pukulannya tadi, terkejut ketika tahu-tahu pundaknya dicengkeram.

Bukan main nyerinya, seolah-olah tulang pundaknya akan hancur oleh jari-jari tangan yang kuat itu.

Maka dia cepat mengerahkah ilmu melemaskan badan, semacam Ilmu Jiu-kut-kang, membuat kulit pundaknya licin seperti belut dan dengan gerakan lincah dia merenggutkan tubuhnya dan meloncat mundur.

"Breetttt...!"

Pundaknya terlepas dari cengkeraman akan tetapi baju di pundak itu robek dan hancur di tangan Biruang Hitam yang tertawa-tawa.

Tio Sun terkejut.

Kiranya lawan ini lebih hebat daripada yang disangkanya.

Timbul kemarahannya.

Tadinya, dia hanya ingin mengalahkan lawan ini tanpa melukainya, karena dia memang tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan siapa juga di tempat itu.

Akan tetapi pendekar ini maklum bahwa kalau dia tidak sungguh-sungguh dan berhati-hati dia sendiri bisa celaka, bahkan mungkin saja bisa tewas oleh manusia raksasa yang bertenaga gajah dan cara berkelahinya buas seperti harimau ini.

Di antara para tamu sudah ramai orang mengadakan pertaruhan pula, taruhan yang berjumlah tinggi dan tentu saja raksasa hitam itu menjadi jagoan unggul sehingga yang bertaruh atas diri Biruang Hitam berani mempertaruhkan isterinya untuk selir seorang lawan bertaruh!

Ini berarti bahwa dia sudah yakin akan kemenangan Biruang Hitam.

Akan tetapi hanya sebentar mereka yang bertaruh ini ramai menambah taruhan mereka karena seluruh perhatian mereka segera dicurghkan lagi ke atas panggung di mana Biruang Hitam sudah menghujani serangan kepada Tio Sun yang kembali hanya mengelak ke sana-sini mengandalkan kelincahan tubuhnya.

Makin lama, Birulang Hitam menjadi makin marah karena semua pukulan, tendangan dan cengkeramannya hanya mengenai tempat kosong belaka.

Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya akan tetapi tenaganya tidak menjadi kendur, bahkan dia makin bersemangat karena terdorong oleh kemarahannya.

Souw Kwi Beng yang menonton pertandingan itu kini bernapas lega.

Tahulah dia bahwa kini Tio Sun berhati-hati sekali dan berganti siasat, mengandalkan kecepatan gerakannya untuk menghabiskan tenaga lawan.

Dan melihat betapa lamban gerakan Biruang Hitam yang amat kuat itu, dia tidak khawatir bahwa Tio Sun akan dapat tertangkap lagi seperti tadi.

Dugaannya ini memang benar.

Tio Sun yang maklum akan berbahayanya apabila sampai dirinya tertangkap lawan menggunakan gin-kangnya dan dengan mudah dia mengelak terus sambil menanti datangnya kesempatan.

Kesempatan itu tiba selagi si Biruang Hitam menghentikan serangan dan menghapus keringatnya yang menetes dari dahi memasuki matanya.

Saat itu Tio Sun memekik keras dan tubuhnya berkelebat, dengan jari tangan terbuka dia menampar ke arah muka lawan.

"Plakkk!"

Hantaman telapak tangannya sengaja dijatuhkan ke atas hidung Biruang Hitam itu.

"Currr...!"

Darah segar muncrat dari dalam hidung Biruang Hitam.

Betapapun kebalnya, tidak mungkin bagi raksasa ini untuk membikin kebal hidungnya maka begitu kena dihantam dengan keras, darahnya mengucur.

"Oauurrgghh...!"

Dia menggereng seperti binatang terluka dan mengamuklah Biruang Hitam.

Dengan membabi buta dia menyerang sambil menggereng dan mendengus-dengus penuh kemarahan.

Kalau saja kedua tangannya yang besar itu berhasil menangkap tubuh Tio Sun, tentu tubuh itu akan dicabik-cabik, tulang-tulangnya akan dipatah-patahkan dan otot-ototnya akan dicabuti!

Namun Tio Sun tidak membiarkan dirinya disentuh, terus dia berkelebatan dan meloncat ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari semua terkaman dan selain mengelak, juga dia selalu menggunakan setiap kesempatan untuk menghantam bagian-bagian yang dianggapnya tidak kebal.

"Plakkk!"

Kini telinga kiri raksasa itu digaplok keras sekali.

Tubuh raksasa itu terputar karena dia merasa kepalanya pening dan ada suara mengiang-ngiang memenuhi telinganya.

Rasa nyeri membuat dia mengeluh dan menggereng, lalu menyerang lagi.

Tio Sun mengelak menjauhi, kemudian ketika raksasa itu menubruk, dia melompat ke samping dan dari samping kakinya melayang ke bawah pusar, ke bagian tubuh yang paling penting dan berbahaya bagi seorang pria.

"Dukkk!"

Tio Sun meringis dan menarik kembali kakinya yang merasa nyeri.

Kakinya bertemu dengan benda yang keras seperti besi!

Mungkinkah anggauta kelamin si Biruang Hitam ini sudah mengeras seperti besi?

Tidak mungkin!

Dan Tio Sun mengerti bahwa tentu di bawah cawat itu dipasangi alat pelindung dari besi.

Biruang Hitam menubruk dan kembali Tio Sun mengelak, kini memukul lagi ke arah telinga kanan.

"Plakkk!"

Kembali tubuh itu terputar-putar dan kini tiba saatnya bagi Tio Sun untuk menghajar lawannya dan dia mengerahkan tamparan-tamparan pada kedua telinga, hidung, dan mata.

Mulailah para tamu yang menjagoi pendekar ini bersorak-sorak dan tubuh Biruang Hitam kini sudah mulai lemah.

Dengan kecepatan kilat, Tio Sun yang melihat kelemahan lawan, cepat menggunakan dua jari tangan menotok.

Tadi, selagi lawan amat kuat, dia khawatir totokannya akan tidak mampu menembus kekebalan.

Kini, setelah lawannya mulai lemah, dia mengerahkan tenaga dan dengan mudah dia menotok kedua pundak lawan yang telanjang tepat mengenai jalan darah dan dua lengan panjang itu kini tergantung lumpuh!

Tio Sun yang juga merasa lelah dan penasaran, lalu memperlihatkan tenaganya.

Setelah kedua tangan yang berbahaya itu dibikin lumpuh, dia berani menerjang maju, menendang lutut lawan sehingga tubuh tinggi besar itu terguling, seperti kilat dia menangkap pinggang orang itu, mengerahkan tenaga dan mengangkat tubuh reksasa itu dengan kedua tangannya ke atas kepala dan melemparkannya ke bawah panggung.

Tubuh raksasa itu jatuh berdebuk di atas tanah di luar panggung dan rebah pingsan di situ!

Sorak-sorai memenuhi tempat itu menyambut kemenangan Tio Sun dan wajah mereka yang menang bertaruh berseri-seri dan mereka membayangkan kesenangan-kesenangan yang didapatkan atas kemenangan itu.

Raja Sabutai bangkit dari tempat duduknya ketika Tio Sun kembali ke situ, dan sambil mengangguk-angguk, Sabutai memuji.

"Sungguh Tio-sicu amat lihai!"

Tio Sun menjura.

"Biruang Hitam itu kuat sekali dan hanya kebetulan saja saya dapat mengalahkan dia."

Lalu dia menatap wajah raja itu tajam-tajam sambil berkata.

"Saya harap sekarang paduka suka memberi petunjuk di mana adanya..."

"Nanti dulu, sicu. Duduklah. pesta belum berakhir. Kepandaian Tio-sicu sudah kami saksikan dan memang sicu seorang yang memiliki kepandaian hebat. Akan tetapi kami belum melihat kepandaian Souw-sicu."

Tio Sun merasa khawatir kalau-kalau Kwi Beng akan diadukan.

Dia tahu bahwa Kwi Beng sebagai putera pendekar wanita Souw Li Hwa tentu saja memiliki kepandaian yang tinggi juga dan sudah boleh diandalkan, akan tetapi Kwi Beng masih muda dan dia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan membunuh lawannya sehingga menimbulkan suasana tidak enak terhadap Raja Sabutai.

Maka cepat dia berkata.

"Sri Baginda, tidakkah cukup dengan semua pertandingan itu? Para tamu juga tentu menjadi bosan karenanya. Bagaimana kalau adik Souw ini memperlihatkan kepandaiannya mainkan hui-to (pisau terbang) dan senjata rahasianya yang amat hebat, yang dapat memuntahkan peluru baja sedemikian cepatnya sehingga tidak dapat terlihat oleh mata? Tentu saja untuk permainan ini, tidak diperlukan adu kepandaian yang merupakan lawan karena dapat membunuh orang."

Sabutai mengangguk-angguk sambil tertawa.

"Seorang ahli senjata rahasia, heh? Bagus, nah, aku sendiri yang akan mengujinya."

Tio Sun terkejut.

Dia sudah mendengar bahwa raja ini, sebagai murid kakek dan nenek lihai Mo-ko dan Mo-li, memiliki kepandaian tinggi dan agaknya Kwi Beng bagaimanapun juga bukanlah lawannya.

"Mana bisa adik Souw harus menghadapi paduka yang memiliki kepandaian amat tinggi?"

Dia mengajukan keberatan. Raja Sabutai tertawa.

"Kami hanya menguji kepandaiannya mainkan senjata rahasia, bukan bertanding."

Raja itu lalu bangkit berdiri dan melangkah ke atas panggung.

Semua tamu kini memandang dengan mata terbelalak.

Apakah Raja Sabutai yang sakti itu kini hendak bertanding?

Semua mata memandang ke arah pemuda tampan berambut agak keemasan yang mengikuti di belakang Sri Baginda dengan sikap tenang.

"Saudara-saudara sekalian. Pemuda inipun seorang utusan dari selatan yang lihai. Anda sekalian tadi telah menyaksikan betapa lihainya Tio-sicu yang telah mengalahkan pegulat hebat kita Si Biruang Hitam. Dan sekarang, Bouw-sicu akan memperlibatkan kemahirannya menggunakan senjata rahasia."

Semua orang bertepuk tangan, menyambut dengan gembira karena bagi mereka, senjata yang mereka kenal hanyalah anak panah dan tombak yang dilontarkan, atau batu yang disambitkan.

Akan tetapi mereka semua maklum bahwa Raja Sabutai juga mahir menggunakan bermacam senjata rahasia, terutama menggunakan anak panah.

Kabarnya, sekali menarik gendewa, raja ini mempu meluncurkan tujuh batang anak panah, semua menuju ke sasaran dengan tepatnya!

Atas isyarat raja, seorang pengawal datang berlari bersama dua orang pembantunya yang datang membawa sebuah alat yang biasa dipakai untuk berlatih ilmu memanah, yaitu sasaran terbuat dari kayu tebal yang sudah diberi lingkaran-lingkaran dan di tengah-tengahnya digambar kepala orang dengan mulut terbuka berwama hitam.

Atas perintah Sabutai, sasaran itu dipasang dalam jarak seratus langkah.

Kemudian Sabutai menerima gendewa dan tempat anak panah dari seorang pengawal lain, dan dia menoleh ke arah Kwi Beng sambil tersenyum.

"Souw-sicu, kami di daerah ini hampir semua orang mahir bermain anak panah, oleh karena itu ingin sekali kami melihat apakah senjata rahasiamu dapat menandingi anak panah kami dan mengenai sasaran itu dengan sama tepatnya."

Sebelum pemuda itu menjawab, Sabutai sudah memasang tiga batang anak panah sekaligus di gendewanya, lalu menarik tali gendewa dan ketika dia melepaskan tali sehingga terdengar suara menjepret, meluncurlah tiga batang anak panah dengan cepatnya menuju sasaran.

Menggunakan tiga batang anak papah sekaligus dapat dilakukan oleh pemanah-pemanah ahli, akan tetapi untuk ditujukan kepada tiga buah sasaran.

Kalau tiga batang anak panah ditujukan kepada sasaran yang sama, sungguh merupakan hal yang amat sukar dan jarang dapat dilakukan orang.

Akan tetapi, ketika tiga batang anak panah itu meluncur ke arah sasaran, tahulah semua orang dengan kagum bahwa sang raja itu menujukan ketiga batang anak panahnya kepada sasaran yang sama!

"Cep-cep-cepp!"

Bagaikan berebut saja, tiga batang anak panah itu menancap di sasaran, dan tiga-tiganya tepat pada mulut hitam gambar kepala di tengah lingkaran itu.

Tepuk sorak gemuruh menyambut kemahiran yang luar biasa ini.

Raja Sabutai sambil tersenyum mengangkat kedua tangan ke atas untuk meredakan kebisingan itu, kemudian dia menghadapi Kwi Beng sambil berketa.

"Nah, Souw-sicu, dapatkah senjata rahasiamu mengenai sasaran dengan tepat seperti anak-anak panahku?"

"Akan saya coba, Sri Baginda,"

Kata pemuda ini sambil memandang tajam ke arah sasaran yang jaraknya seratus langkah itu.

Dia melihat betapa sasaran inti, yang merupakan mulut hitam kecil dari gambar kepala orang itu, telah penuh oleh tiga batang anak panah sehingga tidak ada tempat lagi bagi senjata rahasianya, Maka tahulah dia bahwa Sabutai sengaja mempersulit dia.

Akan tetapi, Kwi Beng memiliki kelihaian melepas hui-to seperti juga saudara kembarnya dan memiliki kelihaian ibunya dan kecerdasan otak ayahnya, maka setelah mengincar dengan seksama, tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan pekik dahsyat dan tangan kirinya bergerak ke pinggang, diikuti oleh tangan kanannya, kemudian kedua tangan itu bergerak cepat ke depan dan meluncurlah tiga sinar berkilauan ke arah sasaran.

Pemuda ini berturut-turut, hampir sama saat pelemparannya saking cepatnya, telah menyambitkan tiga batang hui-to (pisau terbang) ke arah sasaran itu, diikuti oleh pandang mata semua tamu.

Diam-diam Sabutai kagum juga menyaksikan cara pemuda itu melemparkan pisau, demikian cepatnya.

"Cap-cap-cappp!"

Tiga batang pisau itu menancap dan tiga bateng anak panah bergoyang-goyang.

Ketika semua mata memandang, sejenak suasana hening saking herannya, kemudian lepaslah tepuk sorak dan pujian ketika mereka melihat bahwa tiga batang pisau itu dengan tepatnya telah menancap di ujung gagang anak panah yang tiga tadi!

Raja Sabutai mengangguk-angguk akan tetapi dahinya berkerut.

Dia kagum sekali akan tetapi juga ada rasa tidak senang, karena pemuda ini telah membikin rusak tiga batang anak panahnya.

Maka timbul keinginannya untuk mengalahkan pemuda ini dan dia lalu mengambil lagi sebatang anak panah, dipasangnya di gendewa yang masih dipegang di tangan kirinya, lalu dia berkata lagi setelah semua tamu diam.

"Souw-sicu, kepandaianmu ternyata hebat. Akan tetapi yang menjadi sasaranmu adalah benda tidak bergerak. Sekarang ingin aku mengujimu satu kali lagi, yaitu ingin aku melihat apakah dengan senjata rahasiamu, engkau dapat mengenai anak panah yang kulepas di udara."

Kalau saja pemuda tampan berambut keemasan itu menyatakan tidak sanggup, hati Sabutai sudah akan merasa puas dan tidak akan mendesak lagi karena hal itu sudah menyatakan bahwa pemuda itu masih kalah olehnya dalam hal menggunakan senjata rahasia.

Akan tetapi, pemuda itu mengangguk dan berkata tenang.

"Akan saya coba, Sri Baginda."

Sabutai menjadi penasaran.

Benarkah pemuda ini akan dapat menjatuhkan anak panahnya?

Betapapun mahirnya menggunakan pisau terbang, tentu saja luncuran pisau yang disambitkan tidak akan dapat lebih cepat daripada luncuran anak panahnya, dan pisau itu sampai bagaimanapun tidak akan mampu menyusul anak panahnya, apalagi mengenainya.

Dan memang pemuda inipun tahu bahwa pisau terbangnya tidak akan mungkin dapat mengenai anak panah yang diluncurkan, akan tetapi dia sudah bersiap untuk tantangan ini.

Semua mata para temu kini memandang dengan penuh perhatian dan ketegangan, karena merekapun kesemuanya adalah ahli-ahli panah yang tahu belaka bahwa luncuran anak panah, apalagi yang dilepaskan oleh tangan Raja Sabutai yang kuat, tidak mungkin dapat dikejar oleh sambitan biasa.

Gendewa menjepret ketika Sabutai melepaskan tali gendewa dan meluncurlah sebatang anak panah ke angkasa!

Pada saat itu, tangan kanan Kwi Beng sudah bergerak mencabut senjata apinya, yaitu sebuah pistol kecil yang tadi memang sudah dipersiapkan dan diisinya, lalu dengan ketepatan seorang jago tembak terlatih dia membidikkan pistolnya dan menarik pelatuknya.

"Darr...!"

Semua orang terkejut bukan main mendengar ledakan ini dan semua mata, Termasuk mata Sabutai, memandang dengan penuh kagum, kaget, dan heran melihat anak panahnya yang masih meluncur itu tiba-tiba runtuh dan patah menjadi dua, jatuh di depan kaki raja itu!

Dalam keadaan biasa, tentu Raja Sabutai akan menjadi penasaran dan marah sekali melihat anak panahnya runtuh dan patah menjadi dua itu.

Akan tetapi pada saat itu dia terlalu kaget dan heran menyaksikan kehebatan senjata kecil yang aneh itu sehingga dia melongo memandang kepada pistol di tangan Kwi Beng yang masih mengepulkan asap.

Barulah ketika para tamu yang tadi juga tercengang kini bertepuk tangan dan bersorak gemuruh memuji kehebatan senjata rahasia pemuda itu.

Sabutai menjadi sadar dan dengan muka jelas membayangkan kekaguman dia memandang senjata api di tangan kanan Kwi Beng sambil bertanya.

"Apakah itu?"

Melihat sikap raja yang jelas sekali kelihatan amat tertarik dan kagum kepada senjata apinya, Kwi Beng lalu memperlihatkan pistolnya sambil berkata.

"Ini adalah senjata api, Sri Baginda."

Sabutai menyentuh pistol yang masib hangat itu dan memuji.

"Hebat bukan main..."

Sambil tersenyum dan menyodorkan pistolnya, Kwi Beng berkata.

"Kalau paduka suka memberi petunjuk agar kami dapat tahu di mana adanya nona Yap In Hong, sebagai tanda terima kasih saya menghaturkan pistol ini kepada paduka."

Sepasang mata Sabutai terbelalak dan wajahnya berseri.

"Benarkah? Akan tetapi tidak ada gunanya, aku tidak bisa mempergunakannya."

"Saya akan mengajar paduka sampai dapat mempergunakannya."

Sabutai tertawa girang, memegang tangan Kwi Beng dan dituntunnya pemuda itu kembali ke tempat duduk kehormatan dan Tio Sun menyambut temannya itu dengan senyum puas karena dia maklum bahwa temannya telah mendatangkan kesan baik kepada Sabutai yang juga tersenyum-senyum.

Seperti seorang anak kecil meminang-minang permainan baru, Sabutai memegang dan meneliti pistol itu, kemudian dia mempelajarinya dan Kwi Beng menjadi gurunya.

Cara mengisi peluru dan obat, cara menembakkan dan lain?lain.

Sabutai yang memang cerdas itu sebentar saja sudah menguasainya dan ketika dia mencobakan pistol itu pada sasaran, ditonton oleh semua tamu, tiga kali tembakan saja Sabutai sudah dapat mengenai mulut kepala dalam gambar sasaran, disambut tepuk tangan para tamu.

Kwi Beng menyerahkan semua peluru yang dibawanya, sebanyak beberapa puluh butir mesiu dan pistol itu kepada Sabutai.

Raja ini girang sekali, menyimpan pistol dan peluru-pelurunya, lalu dia berkata.

"Tio-sicu dan Souw-sicu, kalian ternyata adalah tamu-tamu yang amat menyenangkan dan kurasa cukup gagah dan berharga untuk berusaha menolong nona Yap In Hong, biarpun kami merasa sangsi sekali apakah kalian akan dapat berhasil. Kami kira kalian tidak akan mampu melawan kedua orang guru kami. Bahkan sekarang, setelah kedua orang guru kami itu berhasil melatih ilmu baru mereka, jangankan baru kalian berdua, biarpun ketua Cin-ling-pai sendiri dan puteranya yang lihai itu pasti tidak akan dapat menangkan suhu dan subo. Mereka telah memiliki kekebalan yang luar biasa sekali sehingga semua pukulan sakti, semua senjata pusaka tidak akan mampu melukai mereka luar dalam!"

"Kami bukan hendak melawan siapapun kalau tidak terpaksa, yang kami kehendaki hanya agar nona Yap In Hong dibebaskan,"

Kata Tio Sun. Sabutai tersenyum dan menarik napas panjang.

"Kami rasa tidak begitu mudah. Ilmu baru dari suhu dan subo ini amat hebat, dan baru saja diciptakan sehingga kami sendiripun belum pernah mempelajarinya. Akan tetapi sesuai dengan janji kami, biarlah ji-wi mengetahui di mana suhu dan subo menahan nona Yap In Hong, yaitu di kaki Pegunungan Khing-an-san, di Lembah Naga dekat tikungan Sungai Luan-ho. Nah, di sana ji-wi akan dapat menemui suhu dan subo, juga di sanalah nona Yap ditawan."

Tio Sun dan Souw Kwi Beng menjadi girang sekali.

Mereka bangkit dan menjura sambil mengucapkan terima kasih lalu berpamit untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Lembah Naga sekarang juga!

Raja Sabutai juga bangkit berdiri dan berkali-kali dia menarik napas panjang.

"Sayang... sungguh saya akan selalu menyayangkan bahwa dua orang pemuda sehebat ji-wi ini harus membuang nyawa secara sia-sia saja di Lembah Naga. Akan tetapi, kami tidak berhak untuk mencegah dan selamat jalan, Tio-sicu dan Souw-sicu..."

Pada saat itu, seorang pengawal datang dengan cepat dan memberi hormat, lalu melapor dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh dua orang pemuda itu.

Mendengar laporan itu, Sabutai berseri wajahnya dan berkata.

"Tio-sicu dan Souw-sicu, tunggu sebentar! Baru saja pengawal kami melaporkan bahwa isteri kami mendengar akan kunjungan utusan Kaisar dan kini beliau minta kepada ji-wi untuk menjenguk putera kami. Kami adalah sahabat Kaisar, maka ji-wi sebagai utusan Kaisar tentu juga merupakan sahabat kami pula. Bagaimana ji-wi dapat bercerita di kota raja tentang putera kami kalau ji-wi tidak menjenguknya? Nah, isteri kami telah mengundang, harap ji-wi suka masuk ke dalam sebentar."

Tentu saja Tio Sun dan Souw Kwi Beng tidak berani menolak undangan yang ramah ini dan mereka berdua lalu diantar oleh empat orang pengawal menuju ke dalam yang ternyata suasananya tenteram dan tenang, tidak seramai di tempat pesta itu.

Mereka melalui ruangan-ruangan dan lorong-lorong, akhirnya mereka tiba di tempat kediaman Puteri Khamila.

Di dalam sebuah kamar yang bersih dan sejuk, terdapat sebuah ayunan bayi yang dijaga oleh lima orang pelayan wanita.

Agaknya, para pelayan itu sudah menerima perintah dari Puteri Khamila, karena begitu melihat empat orang pengawal yang mengantar dua orang pemuda asing itu, mereka lalu mundur dan mempersilakan mereka masuk.

"Ji-wi (tuan berdua) dipersilakan masuk dan menjenguk pangeran,"

Kata seorang di antara empat pengawal itu dengan bahasa yang lancar akan tetapi kaku.

Tio Sun dan Souw Kwi Beng lalu melangkah memasuki kamar itu dan menghampiri ayunan bayi.

Mereka menjenguk dan melihat seorang bayi yang amat sehat dan mungil, sedang tidur terlentang dengan nyenyaknya.

Dua orang pemuda itu tentu saja memandang dengan penuh perhatian dan diam-diam mereka memuji bahwa putera Sabutai ini memang seorang anak bayi yang sehat dan tampan, juga biarpun masih bayi sudah membayangkan keagungan.

Pada saat itu, terdengar suara kaki melangkah dari dalam dan semua pelayan, juga empat orang pengawal itu cepat menjatuhkan diri berlutut.

Souw Kwi Beng dan Tio Sun menengok dan mereka terkejut melihat seorang wanita yang berpakaian indah, keluar dari pintu dalam dan mereka dapat menduga bahwa tentu inilah permaisuri atau isteri Raja Sabutai, maka mereka cepat memberi hormat dengan menjura sampai dalam.

"Saya mendengar bahwa ji-wi adalah utusan dari Kaisar, benarkah?"

Suara Khamila yang halus dan merdu itu terdengar tidak kaku sehingga dua orang muda itu menjadi kagum.

Tidak mereka sangka bahwa isteri dari raja liar Sabutai itu seorang wanita yang begini muda, cantik jelita dan juga terpelajar.

Tio Sun yang tadi sudah terlanjur mengaku sebagai utusan Kaisar, tentu saja tidak berani menyangkal lagi.

"Benar, kami berdua datang dari kota raja."

"Kalian diutus untuk menghadiri pesta perayaan kelahiran puteraku?"

Kembali sang puteri bertanya, dan aneh, suaranya agak tergetar.

"Maaf, harap paduka suka memaafkan kami. Sesungguhnya... eh, agaknya Sri Baginda Kaisar belum mendengar akan kelahiran putera Sri Baginda Sabutai, dan kami diutus untuk menyelamatkan nona Yap In Hong, sedangkan kami hanya kebetulan mampir ketika mendengar akan perayaan ini untuk menyelidiki di mana kami dapat mencari nona Yap."

"Dan kalian sudah tahu tempatnya?"

"Berkat kemurahan hati Sri Baginda Sabutai, kami telah diberi tahu."

Hening sejenak.

Para pengawal dan pelayan masih berlutut dan pelayan tidak berani mengangkat muka memandang sang puteri.

"Saya mendengar bahwa keturunan raja-raja di negerimu sana adalah manusia-manusia utusan Tuhan yang ketika lahir ada tanda-tanda tertentu di tubuh mereka. Sampaikan kepada Kaisar dan keluarga kerajaan di negerimu bahwa puteraku inipun mempunyai tanda tahi lalat merah di sebelah kanan pusar. Ingin aku mendengar apakah itupun merupakan tanda dari Tuhan."

Tio Sun dan Souw Kwi Beng terharu mendengar ini.

Harapan scorang ibu di manapun sama saja, tidak perduli ibu itu seorang petani biasa atau seorang permaisuri, yaitu harapan agar puteranya kelak menjadi orang yang mulia dan bahagia!

"Kami menghaturkan selamat atas kelahiran putera paduka dan semoga sang pangeran diberi berkah dan penjang usia.

Kami akan menyampaikan semuanya ke kota raja,"

Jawab Tio Sun tanpa berani menyebut Kaisar karena bagaimana dia berani menghadapi Kaisar untuk menyampaikan semua ini?

"Terima kasih.

Kalian menghadapi tugas yang amat berat.

Nah, kalian pergilah,"

Sambil berkata demikian, puteri itu menyerahkan sehelai kertas terlipat dan berbisik.

"Bukalah jika menemui kesulitan."

Lalu puteri itu memberi perintah kepada pengawal untuk mengantar dua orang tamu itu keluar.

Sambil menggenggam kertas itu dengan hati penuh pertanyaan, Tio Sun memberi hormat, diturut oleh Kwi Beng, kemudian keduanya lalu mundur dan meninggalkan kamar itu.

Tio Sun cepat mengantongi kertas itu dan ketika Sabutai menyambut mereka, Tio Sun cepat memberi hotmat dan berkata.

"Putera paduka sungguh sehat dan tampang semoga diberkahi Tuhan dan dikurniai usia panjang."

"Ha-ha-ha, terima kasih, sicu. Kelak dia tentu akan menjadi seorang yang lihai seperti sicu."

Dua orang pemuda itu lalu berpamit dan pergilah mereka meninggalkan tempat itu, langsung keluar dari tembok benteng dan melanjutkan perjalanan mereka menceri tempat yang kini telah mereka ketahui, yaitu Lembah Naga, yang sudah mereka ketahui dari Raja Sabutai.

Di tengah perjalanan, Tio Sun mengeluarkan secarik kertas yang diterimanya dari Puteri Khamila tadi.

Ternyata ada tulisannya, dua baris huruf-huruf indah.

"Menemukan kelemahan Hek Pek tidaklah mudah, harus dicari dari lutut ke bawah!"

Tio Sun dan Kwi Beng menjadi girang bukan main.

Mereka sudah khawatir mendengar keterangan Raja Sabutai bahwa dua orang gurunya itu memiliki ilmu baru yang hebat, yaitu kekebalan yang tak terlawan oleh pukulan sekti atau senjata pusaka.

Mereka percaya akan keterangan itu karena seorang seperti Sabutai tidak nanti membohong atau menyombongkan sesuatu yang tidak ada kenyataannya.

Maka kini, membaca tulisan Puteri Khamila mereka selain terheran-heran juga merasa girang sekali.

Diam-diam mereka menghafal bunyi tulisan itu lalu merobek-robek kertas itu dan mereka menduga-duga mengapa puteri itu mau membuka rahasia kakek dan nenek iblis itu kepada mereka.

Tentu saja dua orang pemuda itu tidak tahu bahwa Puteri Khamila sendirl merasa kaget, bingung dan penasaran ketika mendengar bahwa nona Yap In Hong diculik oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li.

Dia telah berhutang budi kepada In Hong, bahkan bersama dengan In Hong dia telah meloloskan Kaisar Ceng Tung dari tahanan.

Kini, mendengar bahwa In Hong diculik oleh kakek dan nenek iblis yang menjadi guru suaminya, dia merasa penasaran sekali.

Akan tetapi, diapun maklum bahwa suaminya sendiri sebagai murid tentu tidak akan berdaya menghadapi kakek dan nenek itu, maka secara cerdik puteri ini lalu membujuk suaminya untuk bercerita tentang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li.

Sabutai yang amat cinta kepada isterinya dan tidak melihat bahaya kalau rahasia guru-gurunya diketahui isterinya, tidak menyimpan rahasia sesuatu dan menceritakan bahwa kedua orang gurunya itu telah menguasai semacam ilmu kekebalan yang amat mujijat dan bahwa kelemahannya dia sendiri tidak tahu dengan past!, hanya tahu bahwa kelemahannya itu terdapat di bagian tubuh dari lutut ke bawah.

Maka, ketika Khamila mendengar bahwa ada dua orang utusan Kaisar hadir dalam pesta, cepat dia menuliskan rahasia kelemahan itu pada secarik kertas, kemudian dia mengundang dua orang utusan itu untuk menjenguk puteranya.

Dalam peristiwa ini, dia mempunyai dua maksud.

Pertama, mengabarkan tentang keadaan puteranya pada ayah kandungnya, yaitu Kaisar Ceng Tung, dan kedua, dia dapat membocorkan rahasia kekebalan dua orang kakek dan nenek yang menculik In Hong.

Tio Sun dan Kwi Beng telah tiba di sebelah selatan Padang Bangkai.

Lembah Naga telah nampak dari jauh ketika mereka tadi meloncat ke atas pohon tinggi dan mengintai.

Akan tetapi jalan menuju ke Lembah Naga itu terhalang oleh padang rumput dan alang-alang yang luas sekali.

Mereka tidak tahu bahwa itulah Padan Bangkai yang amat berbahaya, pintu masuk ke Lembah Naga yang merupakan pintu neraka.

Hari masih pagi ketika mereka mulai memasuki daerah Padang Bangkai.

Tio Sun yang berwatak hati-hati itu tidak sembrono, melakukan perjalanan perlaban-lahan dan dengan penuh kewaspadaan dia selalu melihat ke kanan kiri menjaga segala kemungkinan.

Tiba-tiba dia memberi isyarat kepada Kwi Beng yang berjalan di belakangnya.

Mereka berhenti dan menahan napas.

Siliran angin dari depan membawa pula suara tangis lirih.

Kalau tidak ada angin bersilir, agaknya suara itu tidak akan terdengar oleh mereka.

Dengan isyarat tangan Tio Sun memberi tahu kepada temannya untuk maju perlahan dan tidak mengeluarkan suara berisik.

Berindap-indap mereka lalu maju menghampiri ke arah suara tangis wanita itu.

Sungguh menyeramkan mendengar suara tangis itu, di tempat yang demikian sunyi, penuh dengan rumput alang-alang tinggi dan tidak nampak orangnya yang menangis.

Ketika mereka tiba di rumpun alang-alang yang berada di tepi jalan setapak, mereka terkejut karena melihat bahwa yang menangis itu adalah seorang wanita muda yang cantik, yang menangis sambil menelungkup di atas tanah yang tertutup batang dan daun alang-alang yang malang melintang menjadi alas tubuhnya.

Wanita itu menangis sedih sekali, sesenggukan dan air matanya membasahi seluruh wajahnya yang cantik, tangan kanannya menutupi sebagian mukanya sedangkan tangan kirinya...

buntung sebatas pergelangan tangan dan dibungkus dengan kain putih yang masih membekas darah merah, tanda bahwa luka atau buntungnya tangan itu terjadi belum lama.

Dua orang pemuda itu tercengang dan merasa kasihan sekali melihat ke arah lengan kiri yang tidak bertangan lagi itu.

"Apa yang terjadi, nona?"

Kwi Beng yang memang berperasaan halus dan mudah terharu itu bertanya sambil melangkah mendekati.

Gadis itu terkejut, menurunkan tangan kanannya dan dengan mata merah dia memandang.

Ketika melihat bahwa di depannya berdiri dua orang laki-laki yang tak dikenalnya, seperti seekor harimau yang marah, dia berteriak keras dan tubuhnya mencelat ke atas, langsung dia menyerang Kwi Beng dengan pukulan tangan kanannya.

Cepat sekali gerakan tubuhnya, seperti terbang saja dan tubuhnya berkelebat menjadi bayangan merah karena gadis itu memakai pakaian serba merah.

"Ehh...?"

Kwi Beng terkejut dan cepat dia menangkis karena kecepatan serangan gadis itu membuat dia tidak sempat lagi mengelak.

"Dukk...!"

Dua lengan bertemu dan akibatnya Kwi Beng hampir terjengkang kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik.

Kiranya gadis itu memiliki tenaga yang amat kuat biarpun tangannya tinggal satu!

"Eh, nanti dulu, nona!"

Tio Sun berseru mencegah, akan tetapi tiba-tiba dia berseru.

"Beng-te, awas...!"

Kwi Beng cepat menggulingkan tububnya ke atas tanah.

Sebagai seorang ahli melempar pisau terbang, tentu saja dia maklum apa artinya benda-benda hitam kecil yang menyambar ke arahnya.

Ternyata paku hitam itu meluncur lewat dan juga Tio Sun sudah berhasil mengelak dari sambaran paku hitam yang disambitkan oleh gadis berpakaian merah itu.

Akan tetapi, gadis itu sudah menyerang lagi, kini menyerang Tio Sun dengan tangan tunggalnya.

Tio Sun cepat mengelak dan sambil mengelak tiga kali, dia tiba-tiba menangkap pergelangan tangan kanan gadis itu sambil berkata.

"Tahan dulu, nona. Mari kita bicara!"

"Bicara apalagi, kau kaki tangan kakek dan nenek iblis!"

Nona itu membentak, meronta dan merenggutkan tangannya sambil menendang.

Kakinya mencuat ke arah bawah pusar Tio Sun.

Tentu saja pendekar ini terkejut sekali.

Maklum akan bahayanya tendangan maut itu, terpaksa dia melepaskan tangan gadis itu.

"Plakk!"

Kembali gadis itu menghantam ke arah Kwi Beng dan ditangkis oleh Kwi Beng yang menjadi terhuyung.

"Twako, gadis ini gila...!"

Kwi Beng berseru kaget.

Tio Sun cepat meloncat ke depan menghadang dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat ketika gadis itu mencabut sebatang pedang dan tanpa banyak cakap lagi dia telah menyerang Tio Sun dengan pedangnya!

"Hemmm...!"

Tio Sun cepat mengelak dan melihat betapa gadis itu menyerang kalang-kabut dan nekat, dia mulai percaya akan ucapan Kwi Beng tadi.

Harus diakuinya bahwa gadis ini bukan sembarangan orang, melainkan seorang ahli ilmu silat yang selain memiliki sin-kang yang lebih kuat daripada Kwi Beng, juga memiliki kecepatan yang luar biasa sekali dan ilmu silatnyapun tinggi.

Akan tetapi melihat caranya menyerang begitu nekat dan kalang-kabut, dia tahu bahwa kalau tidak gila tentu gadis ini sedang bingung dan kacau pikirannya.

"Minggir, Beng-te!"

Serunya karena dia tahu betapa bahayanya menghadapi seorang lawan yang kacau pikirannya karena lawan seperti ini hanya tahu menyerang dengan nekat saja sehingga kelihaiannya menjadi bertambah.

Diapun cepat mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang dan melolos pula sabuknya yang dapat dipergunakan sebagai pecut.

"Tringg-cringgg... tarrr...!"

Dua pedang bertemu berkali-kali dan pecut di tangan kiri Tio Sun menyambar-nyambar.

Namun gadis itu sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan menyerang makin nekat.

Tio Sun adalah seorang pemuda yang berpandangan luas dan tidak mau sembrono dalam segala tindakannya.

Maka, menghadapi gadis yang nekat dan mengamuk ini, tentu saja dia tidak mau menurunkan tangan besi, tidak mau melukai apalagi membunuh orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak diketahui mengapa mengamuk seperti itu.

Dengan hati-hati dia selalu menghalau pedang lawan dan mencari kesempatan baik.

Memang dalam hal tenaga dan ilmu silat, Tio Sun masih menang banyak, maka kecepatan gerakan wanita itu tidak membuat pemuda ini menjadi bingung.

Dengan tenang dia membiarkan gadis itu menyerang terus dan tiba-tiba dia menangkis sambil mengerahkan tenaga Ban-kin-kang (Tenaga Selaksa Kati).

"Trangggg... aihhhh...!"

Wanita itu menjerit dan pedangnya terlepas deri tangannya.

Akan tetapi, betapa kaget hati Tio Sun melihat lawan yang sudah dilucuti senjatanya itu tiba-tiba menubruknya dan menyerang terus dengan tangan tunggalnya secara nekat!

"Ahh, kau sungguh nekat...!"

Kata Tio Sun dan cepat sabuknya menyambar.

Dua kali ujung sabuknya menotok dan wanita itupun mengeluh dan roboh tertotok, lemas tubuhnya dan tidak mampu bergerak lagi karena kaki tangannya seperti lumpuh!

Akan tetapi matanya masih melotot memandang dan ketika dua orang pemuda itu menghampirinya, tiba-tiba gadis itu berteriak.

"Kalian bunuhlah aku dan aku akan berterima kasih kepada kalian! Akan tetapi kalau kalian memperkosa aku, ingatlah, biar sampai matipun arwahku akan menjadi setan dan terus mengejar kalian untuk membalas dendam!"

Wajah kedua orang pemuda itu menjadi merah dan Tio Sun lalu berkata.

"Nona, kau ini menganggap kami berdua orang macam apakah? Kami tidak sudi melakukan perbuatan terkutuk itu dan kalau aku merobohkanmu, itu adalah karena terpaksa melihat engkau begitu nekat menyerang kami mati-matian."

Kini pandang mata gadis itu berobah seperti orang baru sadar dan terheran.

"Siapakah kalian? Bukankah kalian diutus oleh Mo-ko dan Mo-li untuk membunuh aku?"

Tio Sun menggeleng kepala.

"Kami sama sekali bukan diutus oleh Mo-ko dan Mo-li, bahkan kami datang untuk mencari Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, untuk menolong nona Yap In Hong. Apakah kau tahu tentang itu?"

"Ohhh...!"

Gadis itu kelihatan terkejut, memandang mereka berdua bergantian penuh perhatian.

"Ahhh... kalau begitu lekas... lekas kalian selamatkan Cia Bun Houw...!"

Setelah berkata demikian dia menangis lagi.

Tentu saja Tio Sun dan Kwi Beng terkejut mendengar ini dan Tio Sun cepat membebaskan totokannya sehingga dara itu dapat bergerak kembali.

Dia bangkit duduk dan berkata berulang kali.

"Maafkan aku... maafkan aku..."

Sambil menangis.

Tio Sun dan Kwi Beng juga duduk.

Dengan duduk begitu, mereka kalah tinggi oleh rumpun ilalang dan tidak nampak dari jauh.

"Nona, agaknya ada kesalahfahaman antara kita. Nona mengira bahwa kami adalah anak buah kakek dan nenek iblis di Lembah Naga itu, dan kami mengira bahwa nona adalah kaki tangan mereka yang hendak membunuh kami. Sekarang ceritakanlah dengan jelas, siapa nona dan mengapa mengira kami anak buah mereka? Bagaimana pula dengan saudara Bun Houw yang kau sebut-sebut tadi?"

"Ah, dia tentu celaka... kalau kalian ada kepandaian, harap lekas selamatkan dia. Dengar, aku adalah Liong Si Kwi, murid dari Hek I Siankouw. Guruku itu sekarang juga berada di Lembah Naga, membantu nenek dan kakek iblis itu. Yap In Hong memang ditawan di sana untuk memancing datangnya musuh-musuh kakek dan nenek itu. Akan tetapi yang muncul adalah Cia Bun Houw dan karena hendak membela nona Yap In Hong, Cia Bun Houw kinipun tertangkap dan mereka kini ditawan. Aku... aku... mencoba untuk membebaskan Cia Bun Houw, akan tetapi gagal dan ketahuan... dan aku..."

Dia bicara tergagap-gagap dan memandang lengan kirinya yang buntung.

"Engkau lalu dibuntungi tangan kirimu?"

Tio Sun bertanya dan gadis itu mengangguk.

"Betapa kejamnya!"

Kwi Beng berseru marah dan mengepal tinju.

Gadis itu memandang kepada mereka berdua bergantian, seperti hendak menaksir apakah benar dua orang pemuda itu boleh diandalkan.

"Kalian hanya berdua saja dan hendak menyerbu Lembah Naga?"

Tanyanya.

"Benar! Kami berdua akan menyerbu dan membebaskan nona In Hong, kalau perlu dengan taruhan nyawa kami!"

Kwi Beng berkata dengan penuh semangat.

Si Kwi, gadis yang bernasib malang itu, memandang tajam kepada Kwi Beng, lalu menarik napas panjang dan berkata lirih.

"Aihh... engkau agaknya juga menjadi korban cinta..."

Kwi Beng menjadi merah mukanya dan mengerutkan dahinya.

"Apa? Apa maksudmu?"

"Tidak apa-apa, hanya kiranya amat berbahaya kalau kalian berdua menyerbu Lembah Naga. Kalian tidak tahu betapa berbahayanya itu."

Kini sikap Si Kwi sudah tenang kembali dan dia lalu menceritakan keadaan Padang Bangkai yang penuh dengan tempat-tempat berbahaya itu.

Dengan jelas dia memberi petunjuk tentang jalan menuju ke Lembah Naga yang harus melewati Padang Bangkai.

"Akan tetapi, anak buah Padang Bangkai telah dibasmi oleh Cia Bun Houw dan ketua mereka suami isteri kini berada di Lembah Naga juga, maka akan mudahlah bagi kalian untuk menyeberangi padang ini. Biarpun begitu, di Lembah Naga kalian akan menghadapi bahaya besar. Kakek dan nenek itu sudah amat lihai dan berbahaya seperti iblis. Pula, selain mempunyai anak buah sebanyak seratus orang, juga mereka dibantu oleh orang-orang pandai seperti Bouw Thaisu, guruku Hek I Siankouw, kemudian Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li suami isteri ketua Padang Bangkai! Maka kalau hanya kalian berdua yang menyerbu Lembah Naga, bukankah hal itu sama artinya dengan mengantar nyawa sia-sia belaka?"

Akan tetapi Kwi Beng masih tetap bersemangat dan Tio Sun tenang saja mendengar cerita itu, sungguhpun di dalam hati masing-masing mereka mengambil keputusan untuk bersikap hati-hati sekali setelah mendengar penuturan ini.

"Aku tidak takut. Bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk menolong dan menyelamatkan nona In Hong!"

Tio Sun memandang kepada nona itu dan berkata.

"Nona Liong Si Kwi, kami berterima kasih sekali atas segala petunjukmu dan engkau ternyata adalah seorang sahabat yang baik sekali. Bahkan engkau telah mengorbankan sebelah tanganmu untuk menolong Cia-Taihiap."

Mendengar ucapan itu, Si Kwi menunduk dan tidak menjawab, kelihatan berduka sekali.

Melihat ini, Tio Sun lalu memberi isyarat kepada Kwi Beng dan mereka berdua lalu bangkit berdiri.

"Nona Liong, kami hendak melanjutkan perjalanan ke Lembah Naga. Sekali lagi terima kasih,"

Kata Tio Sun, akan tetapi kini Si Kwi sudah mulai menangis lagi, menelungkup dan memeluki rumput-rumput di tempat itu.

Tio Sun menghela napas dan mengajak Kwi Beng meninggalkan tempat itu, melanjutkan perjalanan ke utara untuk menyeberangi Padang Bangkai yang ternyata amat berbahaya menurut petunjuk Si Kwi tadi.

Kwi Beng juga diam saja mengikuti Tio Sun meninggalkan gadis yang masih menangis, dan setelah jauh baru dia bertanya.

"Tio-twako, dia kenapakah?"

Kembali Tio Sun menarik napas panjang, tidak menjawab langsung melainkan berkata lirih seperti kepada dirinya sendiri.

"Betapa banyaknya di dunia ini manusia dipermainkan dan menjadi korban cinta..."

"Eh, kenapa ucapanmu seperti nona Liong Si Kwi tadi? Dia juga mengatakan bahwa aku menjadi korban cinta. Apa maksudnya dan apa maksudmu?"

"Aku tidak tahu bagaimana kenyataannya, akan tetapi menurut dugaanku, melihat keadaan gadis itu, agaknya tidak salah lagi bahwa dia jatuh cinta kepada Cia-Taihiap. Karena cintanya maka dia berkhianat dan berusaha menolong Cia-Taihiap akan tetapi dia ketahuan sehingga dia dibuntungi tangan kirinya. Sungguh kasihan dia."

Tio Sun menghentikan kata-katanya karena hatinya seperti ditusuk karena dia teringat akan keadaannya sendiri yang juga gagal dalam cintanya.

Dia memandang kepada Kwi Beng dan diam-diam dia mengharapkan agar kegagalan yang menyedihkan itu jangan menimpa pemuda tampan ini yang dia tahu benar-benar cinta dan tergila-gila kepada Yap In Hong.

Biarpun mereka telah memperoleh petunjuk yang amat lengkap dari Si Kwi, namun kedua pemuda itu melakukan perjalanan dengan hati-hati sekali melewati Padang Bangkai dan benar-benar seperti cerita gadis tadi, dusun Padang Bangkai itu telah kosong dan ditinggalkan penghuninya sehingga tanpa banyak kesukaran mereka dapat melewatinya dan menuju ke Lembah Naga.

Pohon di tepi padang rumput itu besar dan rimbun sehingga enak duduk beristirahat di dalam bayangannya di siang hari yang terik itu.

Akan tetapi kakek tua renta yang sedang duduk di bawah pohon itu agaknya tidak lagi dapat menikmati kesejukan yang diberikan oleh kerindangan pohon itu kepada siapa saja yang berlindung dari panas matahari di bawahnya, karena seluruh perhatian kakek tua renta itu dicurahkan ke atas sebuah papan catur, dan tangannya menjalankan biji-biji catur putih dan hitam silih berganti.

Dia sedang bertanding catur dengan diri sendiri!

Kadang-kadang kakek tua renta itu menarik napas panjang seperti orang yang kecewa sekali karena tidak memperoleh musuh bertanding yang tentu akan menggembirakan sekali.

Kakek itu sudah amat tua, sukar ditaksir usianya karena sedikitnya tentu sudah ada seratus tiga puluh tahun!

Seluruh rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua, mukanya penuh keriput, pakaiannya serba putih sederhana dan tubuhnya kurus sehingga kelihatan tulang terbungkus kulit yang sudah tipis.

Segala sesuatu pada diri kakek ini kelihatan tua sekali, kecuali sepasang matanya!

Sepasang mata itu lembut dan masih jernih, memandang dunia secara terbuka dan seolah-olah tidak ada rahasia lagi bagi sepasang mata yang sudah amat lama memandang dunia ini.

Seorang dara remaja yang cantik duduk di dekatnya.

Dara ini usianya kurang lebih lima belas tahun, cantik manis dan pakaiannya juga amat sederhana, bahkan sudah ada dua tambalan di bagian pundaknya.

Wajah gadis ini membayangkan bahwa dia memiliki watak yang jenaka dan gembira, Namun pandang matanya yang tajam itupun menunjukkan kekerasan hati yang sukar ditundukkan.

Sejak tadi, dara remaja ini menjadi penonton, melihat betapa kakek itu bermain catur sendiri.

Akan tetapi lama-kelamaan dia menjadi bosan dan tidak sabar.

Kakek ini adalah seorang pemain catur yang ahli, maka biarpun dia sendiri sudah bisa bermain catur, namun dia bukan lawan kakek itu dan dia tidak mau menandingi kakek itu karena akan dapat dikalahkan dengan amat mudah.

Kini, sebagai penontonpun dia bosan.

Kembali kakek tua renta itu menarik napas panjang dan wajahnya yang tua itu kelihatan berduka.

Kerut-merut di dahinya bertambah dan sepasang matanya ditujukan ke atas papan catur seperti orang melamun.

Dia tidak tahu bahwa sejak tadi dara remaja itu memandang wajahnya dan kelihatan makin tidak sabar.

"Suhu, kalau suhu tidak senang bermain-main catur sendiri, mengapa suhu memaksa diri?"

Teguran ini membuat si kakek seperti orang terkejut dan dia menoleh ke arah dara itu.

"Hemm...? Apa...?"

Katanya pikun.

"Teecu tahu bahwa suhu suka sekali bermain catur, akan tetapi sudah beberapa hari ini kalau suhu bermain catur, selalu kelihatan berduka dan berulang kali menarik napas panjang. Kalau permainan itu hanya mendatangkan kekecewaan dan kedukaan, mengapa suhu tidak berhenti saja?"

Kakek itu memandang kepada muridnya dan kembali dia menghela napas panjang, lalu bersandar ke batang pohon besar itu dan pandang matanya melayang jauh ke depan.

Kakek tua renta ini bukan lain adalah Bun Hoat Tosu, seorang tosu tua sekali yang puluhan tahun yang lalu pernah menjadi ketua Hoa-san-pai, Akan tetapi kemudian mengundurkan diri dari dunia ramai dan hidup berkelana ke tempat-tempat sunyi.

Di dalam cerita Petualang Asmara diceriterakan bahwa tosu yang amat lihai ini pernah menjadi guru dari pendekar Yap Kun Liong, kemudian dia menghilang dan tidak ada kabar ceritanya lagi, bertapa di puncak-puncak gunung dan di guha-guha tepi laut.

Akan tetapi, seperti telah diceritakan di bagian depan, kakek ini muncul dan telah menolong Yap Mei Lan, puteri dari Yap Kun Liong.

Dara remaja itu adalah Yap Mei Lan yang telah setahun lebih lamanya ikut kakek ini dan menjadi muridnya, sama sekali tidak tahu bahwa kakek yang menjadi gurunya ini adalah guru dari ayahnya sendiri!

Mendengar ucapan muridnya itu, Bun Hoat Tosu menarik napas panjang.

Kemudian terdengar dia berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri.

"Melihat kelemahan diri sendiri, siapa yang tidak menjadi sedih? Sudah puluhan tahun aku berhasil melepaskan keduniawian, tidak membutuhkan apa-apa lagi, tidak menginginkan apa-apa lagi, hidup dengan bebas dan bahagia karena tidak dirongrong oleh pikiran dan keinginan sendiri. Akan tetapi sekarang...!"

"Sekarang bagaimana, suhu?"

Dara itu mendesak sambil menatap wajah tua yang menimbulkan rasa iba di dalam hatinya itu.

"Kau lihat sendiri, aku kegilaan bermain catur! Aku rindu akan adanya seorang lawan bertanding catur, seorang lawan yang kuat, persis seperti kesenangan yang kucari-cari puluhan tahun yang lalu ketika aku selalu mencari-cari seorang lawan bermain silat yang kuat. Dan perasaan ingin ini selalu mengejar-ngejarku, bahkan dalam mimpi! Akan tetapi sampai sekarang aku belum juga mendapatkan lawan yang seimbang dan menyenangkan. Bukankah itu menyedihkan sekali? Ini tandanya bahwa aku sebenarnya belum mati, dan kebebasan yang lalu itu bukan lain hanya mimpi belaka. Kini aku terbangun dan melihat bahwa yang lalu itu hanya merupakan mimpi, maka betapa menyedihkan itu!"

"Memang suhu belum mati."

Kata si dara yang menjadi bingung oleh kata-kata yang dianggapnya tidak karuan artinya itu.

"Kalau saja sudah, alangkah baiknya!"

Kakek itu menghela napas panjang.

"Akan tetapi kematian jasmani tidaklah terlalu penting, yang terpenting adalah mati dari semua keinginan dan kehendak, mati aku-nya, mati keinginannya mengejar kesenangan."

Dara remaja yang cantik itu mengerutkan alisnya yang bentuknya indah seperti dilukis.

"Akan tetapi, suhu. Kalau sudah mati keinginannya, sudah mati kehendaknya mengejar kesenangan, kalau sudah tidak butuh kesenangan lagi, bukankah hal itu sama saja dengan hidup seperti sebatang pohon yang suhu sandari itu? Bukankah hidup lalu tidak ada gunanya lagi?"

Kakek itu tersenyum, senyum yang sudah lama tidak nampak oleh dara itu.

"Justeru sebaliknya, muridku. Hanya orang yang sudah tidak ingin mengejar kesenangan sajalah yang dapat menikmati kesenangan yang sesungguhnya! Hanya orang yang sudah tidak ingin mengejar kebahagiaan sajalah yang benar-benar bahagia. Orang yang tidak puas saja yang mengejar kesenangan yang dianggapnya akan mengisi kekosongannya, akan memuaskannya. Akan tetapi setelah yang dikejarnya terdapat, ketidakpuasan itu tetap akan menghantuinya, dirinya akan selalu penuh ketidakpuasan dan hidupnya menjadi sengsara selalu."

"Akan tetapi, apakah kita lalu harus memantang kesenangan dan menjauhi kepuasan?"

Dara itu mengejar terus, wajahnya membayangkan penasaran.

"Sama sekali bukan, Mei Lan. Bukan memantang kesenangan, bukan menolak kesenangan, melainkan TIDAK MENGEJAR, tidak memanjakan dan tidak memusuhi. Kalau sudah begitu, barulah segala saat dalam hidup merupakan kesenangan karena htdupnya adalah kesenangan itu sendiri! Bukan menjauhi kepuasan, melainkan tidak menginginkan kepuasan karena kalau sudah demikian, barulah setiap saat merasa puas karena hidupnya adalah kepuasan itu sendiri!"

"Akan tetapi, kalau tidak mempunyai keinginan apa-apa lagi, bukankah itu sama saja dengan mati?"

"Nah, itulah! Mati dalam hidup! Jasmaninya memang hidup dan baru benar-benar hidup kalau semua keinginan yang timbul dari si aku yang selalu mengejar keenakan dan kesenangan itu telah mati. Dan celakanya, aku sendiri belum mati, yang kusangka sudah mati puluhan tahun ini hanya mimpi belaka! Dan semua gara-gara papan catur ini!"

Dia berkata gemas memandang ke arah papan caturnya.

"Aku menjadi kegilaan bermain catur, menjadi pecandu catur, bahkan di dalam hati aku telah bersumpah bahwa aku tidak akan mau mati sebelum bertemu dengan seorang lawan catur yang setingkat! "Aihhh, sungguh aku seorang tua yang tolol!"

Bun Hoat Tosu yang biasanya bersikap halus itu, kini menengadahkan mukanya ke atas, mengepal tinju dan berteriak keras.

"Haii, segala dewa! Turunlah dan mari bertanding catur melawan aku!"

Tiba-tiba terdengar suara yang bergema, tidak jelas dari mana datangnya.

"Bagus! Aku datang memenuhi tantanganmu, tua bangka sinting!"

Tentu saja Mei Lan menjadi terkejut bukan main dan biarpun dia tergolong seorang anak yang pemberani dan tidak mudah merasa ngeri atau takut, sekali ini dia merasa betapa bulu tengkuknya meremang.

Benarkah muncul setan atau dewa di tengah hari yang terang dan terik itu?

Benarkah suara dewa dari angkasa yang menyambut tantangan suhunya itu?

Dia bangkit dan memandang ke kanan kiri, namun sunyi saja.

Ketika dia menoleh kepada suhunya, dia melihat kakek itu tersenyum memandang ke depan.

Mei Lan mengikuti arah pandang mata gurunya dan dia melihat betapa rumpun ilalang jauh di depan itu bergerak-gerak ujungnya dan nampak bayangan (Lanjut ke

Jilid 40) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 40 orang berkelebat seperti terbang melayang di atas rumpun ilalang itu!

Dia memandang terbelalak penuh kekaguman.

Manusiakah yang datang itu?

Ataukah dewa?

Dia tahu bahwa gurunya adalah seorang manusia sakti yang sudah pandai terbang di atas rumput, semacam ilmu gin-kang yang sudah mencapai puncak, akan tetapi kiranya kalau yang datang itu manusia, tentu orang itu memiliki kepandaian yang setingkat dengan gurunya!

Setelah tiba dekat, ternyata orang itu gerakannya memang bukan main cepatnya dan tahu-tahu di situ telah meloncat turun seorang kakek raksasa berkepala gundul, jubahnya yang butut dan rombeng itu berwarna merah.

Seorang pendeta!

Pendeta miskin agaknya, menuntun seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga belas tahun, bertubuh tegap dan kuat, wajahnya bundar dan membayangkan keberanian dengan sepasang mata tajam.

Begitu tiba di situ, pendeta Lama itu tertawa bergelak.

Sepasang matanya yang lebar itu agak liar pandangannya, sikapnya menakutkan karena bunyi ketawanya aneh, dan dia sudah melangkah lebar menghampiri Bun Hoat Tosu yang duduk bersila menghadapi papan caturnya.

Tosu itu memandang dengan senyum di mulutnya, pandang matanya penuh perhatian ditujukan ke arah pendeta Lama itu.

"Sobat, benarkah engkau demikian baik hati untuk menemani aku bermain catur?"

Bun Hoat Tosu bertanya dengan suaranya yang halus sambil menentang pandang mata yang aneh, tajam dan agak liar itu.

"Ha-ha-ha, kalau tidak mendengar orang sinting menantang dewa, siapa sudi bermain catur denganmu? Setelah mendengar engkau menantang dewa, tentulah engkau pemain catur jagoan dan patut dilawan."

"Ha-ha, sobat baik, agaknya engkau seorang ahli main catur,"

Bun Hoat Tosu berkata, girang sekali.

"Ahli? Bukan, hanya bisa sedikit-sedikit, akan tetapi di seluruh Tibet tidak ada yang dapat mengalahkan aku!"

Bun Hoat Tosu memandang dengan sinar mata berseri karena merasa bahwa sekali ihi dia benar-benar menemukan seorang tandingan yang pandai.

Inilah yang dirindukannya selama ini!

Dan sejenak, dua orang kakek itu saling pandang setelah pendeta Lama itu juga duduk bersila menghadapi Bun Hoat Tosu.

Sedangkan anak laki-laki yang datang bersama dia juga duduk tidak jauh dari Mei Lan, setelah melempar pandang ke arah gadis cilik ini dengan sikap acuh tak acuh!

Dua orang anak itu sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya, antara orang tua mereka masih terdapat hubungan yang amat erat.

Anak laki-jaki yang baru datang itu bukan lain adalah Lie Seng, putera dari mendiang Lie Kong Tek dan isterinya, Cia Giok Keng.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lie Seng diculik oleh Giok-hong-cu Yo Bi Kiok dan kemudian ditolong dan dibebaskan oleh Kok Beng Lama.

Biarpun Lie Seng hampir saja tewas karena serangan pasir beracun dari Yo Bi Kiok, namun akhirnya gurunya dapat memperoleh obat dari Yap In Hong di tempat tinggal Yok-moi (Setan Obat) di puncak Gunung Cemara, dan semenjak saat itu, Lie Seng menjadi murid dari Kok Beng Lama.

Seperti kita ketahui, setelah mendengar akan kematian puterinya, Pek Hong Ing, Kok Beng Lama menjadi sinting dan setengah gila.

Maka pada tengah hari itu, secara kebetulan dia lewat di dekat tempat itu bersama Lie Seng dan mendengar tantangan Bun Hoat Tosu kepada dewa, maka dia menjadi tertarik dan menyambut tantangan itu.

Adapun di antara Bun Hoat Tosu dan Kok Beng Lama, biarpun keduanya merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, namun karena keduanya sudah puluhan tahun tidak pernah mencampuri urusan dunia kang-ouw, mereka tidak pernah saling mengenal dan baru satu kali ini mereka bertemu muka di tempat sunyi itu secara kebetulan saja.

Andaikata keduanya tidak mempunyai kesenangan yang sama, yaitu bermain catur, agaknya kedua orang tokoh besar ini tidak akan dapat saling berjumpa.

"Ha-ha, kiranya engkau adalah jagoan main catur dari Tibet. Lama yang baik, sungguh hatiku girang sekali, dalam keadaan kesepian seperti ini muncul seorang jago catur seperti engkau."

"Tosu tua bangka, tak perlu puji-memuji dan sungkan-sungkanan ini. Kita sudah sama-sama tua bangka, sama-sama ahli, hanya belum dapat dilihat siapa yang lebih unggul sebelum bertanding. Nah, sebagai tuan rumah tentu engkau suka mengalah dan membiarkan aku memainkan biji putih dan melangkah lebih dulu."

Sambil berkata demikian, Kok Beng Lama menggerakkan tangan kanannya untuk meraih biji catur yang berwarna putih.

"Jangan sungkan-sungkan. Silakan saja, Lama. Kau boleh mengumpulkan biji-biji putih itu kalau bisa."

Sambil berkata demikian, Bun Hoat Tosu menggunakan tangan kanan memegang papan catur pada pinggirnya dan diam-diam dia menyalurkan sin-kangnya.

"Ehhh?"

Kok Beng Lama yang mengambil biji catur, terkejut karena biji catur itu melekat pada papan, seolah-olah berakar.

Dia mengangkat mukanya memandang dan dua pasang mata saling bertemu dan kedua pasang mata itu seperti mata anak-anak yang tiba-tiba memperoleh permainan baru yang penuh kegembiraan.

Kok Beng Lama maklum bahwa tosu tua renta ini ternyata lihai bukan main, dan tahu pula bahwa tosu itu agaknya tidak hanya ingin menguji kepandaiannya bermain catur, akan tetapi juga ingin menguji kekuatannya.

Maka diapun lalu menyalurkan tenaga sin-kang melalui lengan dan jari-jari tangannya dan dengan pengerahan sin-kang dia berusaha mengambil biji catur putih yang sudah dipegangnya itu, yaitu biji catur raja.

Akan tetapi, Bun Hoat Tosu yang tiba-tiba merasa betapa papan catur itu tergetar hebat dan suatu tenaga sakti yang amat kuat bergelombang menyerangnya, timbul kegembiraannya karena dia tahu bahwa pendeta Lama ini benar-benar merupakan tandingan yang amat tangguh, maka dia pun menghimpun tenaga saktinya mempertahankan raja putih itu dengan tenaga membetot.

Maka terjadilah pertandingan yang amat aneh dan luar biasa, pertandingan yang tidak kelihatan oleh mata namun yang terjadi amat serunya karena masing-masing telah mengerahkan tenaga sin-kang yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah amat tinggi tingkat kepandaiannya.

Baik Bun Hoat Tosu dan Kok Beng Lama, keduanya bukan main kaget dan herannya karena masing-masing sama sekali tidak mengira bahwa lawan ini sungguh tangguh, seorang yang telah mencapai puncak dari tingkat kepandaiannya!

Benar-benar mereka tidak pernah mimpi akan dapat saling bertemu di tempat sunyi ini.

Sementara itu, Mei Lan yang sejak kecil digembleng oleh ayahnya, Yap Kun Liong si pendekar sakti, dan Lie Seng juga mcrupakan putera suami isteri pendekar dan dari keluarga pendekar sakti ketua Cin-ling-pai, biarpun keduanya belum banyak mewarisi kepandaian dua orang kakek sakti ini, namun sebagai keturunan orang-orang pandai dua bocah itu telah menduga apa yang terjadi ketika melihat Kok Beng Lama dan Bun Hoat Tosu duduk bersila berhadapan, Pendeta Lama itu memegang biji catur raja putih sedangkan tosu tua itu memegang atau menyentuh papan catur dan keduanya diam saja tanpa bergerak, akan tetapi dari kepala mereka mengepul uap putih!

Keadaan menjadi sunyi, sunyi sekali dan menegangkan karena dua orang kakek itu kelihatannya tidak mau saling mengalah!

Dan biarpun mereka tidak saling menyerang secara langsung, namun mengadu kekuatan sin-kang untuk memperebutkan biji catur itu juga amat berbahaya, tidak kalah bahayanya dengan mengadu pukulan!

Bchkan lebih berbahaya lagi karena kalau pukulan atau tendangan dapat dielakkan, akan tetapi getaran sin-kang ini tak dapat dielakkan, harus dihadapi langsung dengan mengadu kekuatan.

Tiba-tiba kesunyian yang mencekam perasaan itu dipecahkan oleh suara nyaring Mei Lan.

"Ji-wi suhu sedang apakah? Katanya hendak bertanding catur! Apakah acara pertandingan telah dirobah?"

Mendengar suara ini, kedua orang kakek itu sadar dan keduanya tertawa dan otomatis keduanya menghentikan saluran sin-kang mereka.

"Ha-ha-ha, pantas berani menantang dewa! Kiranya engkau lihai sekali, tosu!"

"Dan tak kusangka di tempat ini aku dapat bertemu dengan kepala gundul yang sakti seperti engkau, Lama!"

Kata Bun Hoat Tosu dengan kegembiraan yang tidak disembunyikan lagi.

"Mari kita mulai mengatur biji-biji catur!"

Dengan berbareng tangan kanan mereka memunguti biji-biji catur di atas papan, Kok Beng Lama memunguti yang putih sedangkan Bun Hoat Tosu memunguti yang hitam.

Begitu tangan mereka bergerak, keduanya segera berlomba pula, bercepat-cepatan mengatur biji-biji catur di atas papan sehingga biarpun masing-masing hanya menggunakan sebelah tangan saja, namun dilihat oleh mata orang biasa, satu tangan itu seperti berubah mbnjadi banyak sekali.

Banyak tangan bergerak di atas papan catur itu dan keduanya menyelesaikan pekerjaan mengatur biji-biji catur itu dalam waktu yang sama.

Tepat pada saat Bun Hoat Tosu melepaskan biji terakhir, demikian pula Kok Beng Lama melepaskan biji terakhir.

Kembali mereka tertawa, saling pandang dan wajah mereka berseri gembira sekali.

Gembira karena sekaranglah mereka merasa menemukan tanding yang amat menyenangkan dan berharga!

"Kita bertanding catur dengan taruhan apa?"

Tiba-tiba Kok Beng Lama menantang. Bun Hoat Tosu tersenyum.

"Lama, apa sih yang dapat kita pertaruhkan? Pakaianku kumal, jubahmupun butut. Aku tidak mempunyai uang sepeserpun!"

"Dan akupun tidak mempunyai harta secuwilpun!"

Keduanya tertawa lagi dengan gembira.

"Aku sudah tidak menginginkan apa-apa, Lama."

"Akupun tidak butuh apa-apa. Akan tetapi engkau mempunyai murid."

"Dan kau juga."

"Nah, kita berdua tidak butuh apa-apa, akan tetapi murid-murid kita yang masih muda itu tentu membutuhkan sesuatu. Hai, muridmu, gurumu akan bermain catur menandingi tosu tua bangka ini. Kau ingin bertaruh apa?"

Tanya Kok Beng Lama kepada Lie Seng.

Lie Seng mengerutkan alisnya.

Apa yang dapat diharapkan dari tosu tua berpakaian sederhana dan muridnya itu, anak perempuan yang pakaiannya juga tambal-tambalan?

Akan tetapi Lie Seng adalah seorang anak yang cerdas dan juga berpandangan tajam.

Dari sikap gurunya yang biasanya memandang rendah dan tidak perduli terhadap semua orang, yang kini kelihatan amat bergembira bertemu dengan tosu tua itu, dia dapat menduga bahwa tosu itu adalah seorang tua yang memiliki kesaktian hebat.

Maka dengan cepat dia menjawab.

"Teecu ingin agar kalau locianpwe itu kalah dari suhu, dia mengajarkan satu macam ilmu silat kepada teecu!"

"Dan teeeu juga bertaruh demikian, suhu. Kalau locianpwe itu kalah, dia harus mengajarkan semacam ilmu kepada teecu!"

Kata Yap Mei Lan sambil memandang kepada Kok Beng Lama.

Dua orang kakek itu saling pandang, lalu sama-sama tertawa bergelak.

"Murid-murid kita memang cerdik, bisa mempergunakan kesempatan. Bagaimana pandapatmu, Lama?"

Tanya Bun Hoat Tosu. Kok Beng Lama mengangguk-angguk dan tiba-tiba pandang matanya bersinar aneh.

"Mewarisi ilmu dari orang seperti engkau, sungguh amat berguna bagi orang muda, tosu. Eh, tosu tua! Apa yang kau lakukan terhadap aku tadi? Setelah mengadu sin-kang denganmu, aku merasa aneh! Eh, siapakah engkau, orang tua? Dan bagaimana dengan kematian puteriku? Apakah sudah dapat ditemukan pembunuhnya?"

Bun Hoat Tosu memandang tajam, lalu menarik napas panjang.

"Siancai... kiranya baru sekarang engkau dapat pulih kembali ingatanmu, Lama. Terus terang saja, tadi aku melihat sinar aneh di pandang matamu. Aku menduga bahwa tentu engkau menderita semacam penyakit atau keracunan, maka aku tadi sengaja mengerahkan sin-kang untuk membantumu mengusir hawa beracun. Akan tetapi, ternyata sin-kangmu amat kuat, tanda bahwa engkau tidak keracunan. Dan ternyata, tidak gagal sama sekali usahaku, karena ternyata engkau mengalami himpitan batin, pukulan batin yang amat kuat sehingga engkau seperti kehilangan sebagian ingatanmu."

"Omitohud!"

Kok Beng Lama baru sekarang teringat untuk memuji nama Buddha dan dia memandang kakek tua itu dengan mata lebar.

"Dan itu berarti bahwa betapapun juga, sin-kangmu masih lebih tinggi setingkat daripada aku, totiang, sehingga tenagamu dapat menyelinap ke dalam tubuhku, akan tetapi bukannya merusak malah menyembuhkan! Ahhh, aku teringat semua sekarang! Puteriku terbunuh orang... hemm, dan kau... bocah, kau menjadi muridku selama ini?"

Tanyanya kepada Lie Seng.

"Benar, suhu. Setelah suhu menolong saya dari iblis betina itu dan menyerahkan saya dari luka akibat pasir beracun."

Kok Beng Lama kini bangkit berdiri dan menjura ke arah Bun Hoat Tosu.

"Aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganinu, sobat. Aku tidak akan melupakan budimu."

Bun Hoat Tosu cepat balas menjura, lalu duduk bersila kembali dan mengomel.

"Lama yang baik, aku tidak melepas budi apa-apa dan tidak minta balasan apa-apa. Asalkan engkau suka menemani aku main catur dengan taruhan seperti yang sudah dikatakan oleh murid-murid kita tadi, cukup senanglah hatiku. Hayo, kaumulai dan jangan banyak main sungkan-sungkan dan hutang-pihutang budi lagi!"

Kok Beng Lama memandang tosu itu dan tertawa girang.

"Aha, tidak mudah di dunia bertemu dengan seorang luar biasa seperti engkau, sahabat. Baiklah, mari kita buktikan, siapa yang lebih unggul mempermainkan biji-biji catur."

Mulailah dua orang kakek itu bermain catur dan mulai pulalah dua orang anak itu menjadi tidak tenang dan bosan.

Mereka memang ingin sekali melihat guru masing-masing menang agar bisa mendapatkan pelajaran ilmu silat tinggi, akan tetapi menonton mereka bermain catur begitu lambat, dua orang anak ini merasa bosan.

Kadang-kadang sampai hampir satu jam lamanya seorang di antara dua kakek yang bergiliran jalan, hanya termenung memandang papan caturnya, tidak juga menggerakkan biji catur.

Akan tetapi di samping kebosanan mereka, dua orang anak itu tidak berani mengganggu guru masing-masing, Maka mereka hanya duduk gelisah, hanya kadang-kadang saja memandang ke arah papan catur, akan tetapi lebih sering mereka memandang ke kanan kiri, dan beberapa kali mereka saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata.

Ketika matahari telah condong ke barat, dua orang bocah itu sudah tidak lagi nonton guru-guru mereka yang bermain catur.

Sampai matahari condong ke barat, sudah setengah hari mereka bermain catur, namun belum juga ada yang kalah atau menang, satu permainan juga belum habis!

Kini dua orang anak itu sudah duduk berhadapan, tak jauh dari tempat guru-guru mereka bermain catur.

Karena merasa dikesampingkan dan tidak diperhatikan lagi oleh guru-guru mereka, otomatis dua orang anak itu saling memperhatikan.

Ketika Mei Lan memetik setangkai bunga merah, Lie Seng berkata, nada suaranya mencela.

"Sayang sekali bunga itu dipetik."

Mei Lan memandang kepadanya, memegang setangkai bunga itu dan mencium baunya yang harum.

Bunga itu adalah bunga mawar hutan.

"Kenapa sayang?"

Tanyanya.

"Bunga itu sudah baik-baik tumbuh di tangkainya, mengapa dipetik? Kalau dipetik bukankah akan cepat layu dan mati?"

"Hemm, memang bunga sepatutnya dipetik dan dinikmati, dan aku suka sekali kepada bunga. Anak-anak perempuan sudah biasa suka memetik bunga."

Lie Sang tidak membantah lagi.

Dia menoleh kepada suhunya yang masih tenggelam bersama lawannya dalam dunia tersendiri, dunia perang catur yang amat mengasyikkan bagi mereka berdua.

"Gurumu suka sekali bermain catur,"

Kata Lie Seng pula.

"Gurumu juga,"

Jawab Mei Lan.

"Biasanya, guruku tidak pernah main catur, juga membicarakan soal caturpun tidak pernah. Heran sekali mengapa dia ternyata suka sekali bermain catur. Apakah kau bisa main catur?"

Mei Lan mengangguk.

"Aku bisa akan tetapi aku tidak begitu suka, tidak enak menanti lawan berlama-lama memikirkan jalan berikutnya, sampai kesal hati menunggu. Lebih senang bermain silat. Apa kau bisa main catur?"

Lie Seng menggeleng.

"Tidak. Akan tetapi aku juga senang bermain silat."

Mereka berdua sampai lama tidak berkata-kata lagi dan ternyata mereka menjadi makin kesal.

Mereka sudah lelah dan lapar, akan tetapi dua orang kakek itu terus saja bermain catur tanpa memperdulikan dua orang anak itu, bahkan mereka itupun sama sekali tidak kelihatan lelah atau lapar atau mengantuk.

Ketika hari berganti malam dan cuaca sudah terlalu gelap untuk dapat bermain catur, dua orang kakek itu menyuruh murid-murid mereka untuk mencari kayu dan daun-daun kering dan agar mereka membuatkan dua api unggun di kanan kiri dua orang kakek yang terus melanjutkan permainan mereka itu.

Setelah membuatkan api unggun untuk guru-guru mereka, Mei Lan dan Lie Seng lalu membuka bungkusan bekal mereka, yaitu roti kering dan air minum, dan tanpa menawarkan kepada guru-guru mereka yang asyik bermain catur itu karena tidak berani mengganggu mereka, dua orang anak ini makan minum sendiri!

Dan ternyata, dua orang kakek itu tanpa makan atau minum atau mengaso, melanjutkan permainan catur mereka sampai semalam suntuk!

Tentu saja Mei Lan dan Lie Seng menjadi kesal sekali dan mereka tidur di atas rumput di dekat api unggun.

Dua orang kakek itu melanjutkan permainan mereka dan kadang-kadang menambahkan kayu yang ditumpuk sebagai persediaan oleh dua orang murid mereka itu ke dalam api unggun sehingga api unggun di kanan kiri itu bernyala sampai pagi.

Setelah matahari naik dan sinarnya mulai menyusup di antara celah daun pohon, Mei Lan dan Lie Seng terbangun oleh suara Kok Beng Lama yang amat nyaring.

Mereka bangun dan duduk dengan kaget, lalu memandang ke arah dua orang kakek itu yang masih saling berhadapan dan mereka kini mulai mengatur lagi biji-biji catur, tanda bahwa baru saja mereka menyelesaikan satu permainan dan hendak mulai lagi dengan permainan berikutnya.

Kok Beng Lama kelihatan girang bukan main.

"Ha-ha-ha! Kekalahanku semalam tertebus dengan kemenangan ini, tosu! Semalam engkau mengalahkan aku dan aku berjanji akan memberikan ilmu pedangku yang tidak ada keduanya di dunia. Sekarang, setelah engkau kalah, ilmu apa yang akan kau berikan kepada muridku?"

Bun Hoat Tosu kelihatan gembira sekali pula, akan tetapi wajahnya kelihatan tegang dan juga lelah, sungguhpun semua itu tertutup oleh kegembiraan yang terpancar dari pandang matanya dan senyumnya.

"Permainan caturmu hebat, Lama, dan sesuai dengan janji taruhan, biarlah untuk kekalahanku ini aku akan memberikan ilmu tongkat yang tiada duanya di jagad ini, yaitu Siang-liong-pang-hoat."

"Bagus, bagus! Aku percaya bahwa tua bangka seperti engkau ini tentu menyimpan banyak ilmu yang hebat-hebat. Memang sudah nasib muridku yang baik. Dalam permainan berikutnya, engkau tentu akan kalah terus dan semua ilmumu terkuras habis dalam pertaruhan ini, tosu."

"Belum tentu, Lama. Pertandingan kita masih ramai, baru satu-satu. Kita lihat saja nanti!"

Dan mereka berdua sudah bermain lagi dengan asyiknya.

Mula-mula, mendengar akan kemenangan guru masing-masing satu kali, dua orang murid itu menjadi tertarik dan beberapa lamanya mereka menonton.

Masing-masing mengharapkan agar gurunya menang terus agar mereka memperoleh tambahan ilmu silat tinggi sebanyak mungkin.

Akan tetapi menonton permainan itu tidaklah begitu menyenangkan seperti kalau mendengar kemenangannya.

Dua orang kakek itu seperti arca-arca yang sama sekali tidak bergerak, seluruh perhatian ditujukan ke atas papan catur.

Mereka itu bersikap seolah-olah dunia di sekitar mereka tidak ada dan mereka seperti sudah pindah ke dunia di atas permukaan papan catur itu.

Tentu saja hal ini kembali mendatangkan kebosanan pada Mei Lan dan Lie Seng.

Mei Lan mengerutkan alisnya, bangkit berdiri dan melangkah pergi.

Melihat ini, Lie Seng juga bangkit dan cepat mengejarnya.

"Kau hendak pergi ke mana?"

Mei Lan menoleh.

Dalam keadaan kesepian dan seperti tidak diperdulikan lagi oleh gurunya itu, dia memang membutuhkan seorang kawan, dan anak laki-laki inipun lumayan untuk dijadikan teman.

"Mau mandi."

"Mandi? Di mana ada air di sini?"

"Di depan sana. Kemarin ketika suhu dan aku berjalan ke sini, aku melihat ada anak sungai kecil di sana, airnya jernih."

Lie Seng memandang girang.

"Ah, suhu membawa aku datang begitu cepat sehingga aku tidak sempat melihatnya. Mari kita pergi, akupun ingin mandi."

Sambil berjalan, mereka memandang ke kanan kiri di mana tumbuh rumput dan ilalang yang amat luasnya.

"Di bawah pohon di depan itulah tempatnya,"

Kata Mei Lan menuding ke depan.

Mereka mempercepat jalan ke arah pohon itu dan tak lama kemudian setelah tiba di situ, benar saja di situ terdapat anak sungai yang airnya bersih, mengalir sunyi namun gembira dengan dendangnya sambil bermain-main dengan batu-batu yang diterjangnya.

Anak sungai itu mengalir menuju ke perkampungan Padang Bangkai dan di daerah ini memang merupakan daerah sebelah selatan Padang Bangkai yang belum berbahaya.

"Kau tunggulah dulu di bawah pohon dan jangan melihat ke sini. Aku akan mandi dulu,"

Kata Mei Lan sambil menuruni tebing sungai yang tidak begitu curam.

"Eh, kenapa? Air itu cukup banyak dan tempatnya juga cukup lebar!"

Lie Seng membantah. Sepasang pipi itu menjadi kemerahan dan mulut Mei Lan cemberut.

"Kau bocah laki-laki tahu apa? Mana boleh wanita mandi bersama dengan seorang laki-laki? Hayo kau tunggu dulu di situ, jangan bergerak. Setelah aku selesai, baru engkau yang turun mandi dan aku akan menanti di situ."

Lie Seng bersungut-sungut akan tetapi lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol ke luar tanah.

"Baiklah, kalau tidak ingat bahwa engkau yang menemukan sungai ini, tentu aku tidak mau mengalah dengan peraturanmu yang aneh ini!"

Mei Lan hanya tersenyum mendengar ini.

Bocah kecil tahu apa engkau, pikirnya.

Agaknya biarpun usianya sudah tiga belas tahun, pikiran Lie Seng masih terlalu polos sehingga dia merasa heran mengapa anak perempuan itu tidak mau mandi bersama, bahkan diapun dilarang melihat!

Setelah Mei Lan melihat bahwa Lie Seng benar-benar duduk membelakangi sungai dan sama sekali tidak pernah menengok, dia lalu menanggalkan semua pakaiannya dan turun ke dalam air yang setinggi paha, lalu dia duduk sehingga tubuhnya terbenam sampai ke leher.

"Aihh, dinginnya...!"

Mei Lan berseru dan ketika dia melihat betapa kepala Lie Seng yang kelihatan dari situ sebatas dada itu hendak menoleh, dia cepat berseru.

"Awas, tidak boleh menoleh dan melihat ke sini!"

Lie Seng mendengus dan karena hatinya keras, dia sama sekali tidak sudi menoleh.

"Akupun tidak ingin melihat engkau mandi!"

Katanya marah.

Makin meradang lagi rasa hati Lie Seng ketika dia menanti sampai lama.

Apa saja sih yang dilakukan bocah itu, pikirnya.

Mandi sampai begitu lama belum juga selesai!

"Heii, masa belum juga selesai?"

Teriaknya tanpa menoleh karena hatinya sudah kesal menanti.

"Sebentar lagi! Aihh, betapa tidak sabaran engkau!"

"Habis, lama benar sih! Memangnya engkau mau berendam di situ sampai sehari penuh?"

Mei Lan tidak menjawab, akan tetapi mempercepat mencuci rambutnya yang hitam panjang itu.

Setelah selesai dan berpakaian, dia lalu naik ke atas, rambutnya masih terurai dan dikibas-kibaskannya agar kering.

Wajahnya segar kemerahan karena digosok-gosoknya tadi, seperti sekuntum bunga yang sedang mulai mekar.

"Nah, ambillah olehmu seluruh air sungai itu!"

Katanya kepada Lie Seng yang cemberut. Lie Seng bangkit dan memandang marah.

"Mandi saja sampai berjam-jam, dasar anak perempuan!"

"Huh, dan kau menunggu begitu saja tidak sabar, dasar anak laki-laki!"

Mei Lan membalas.

Lie Seng tidak menjawab, menuruni tebing dan menanggalkan semua pakaiannya lalu masuk ke dalam air.

Mandinya mendatangkan suara bising, berkecipak di dalam air.

Dia tidak pernah menengok apakah anak perempuan itu masih berada di tepi sungai atau tidak, dan memang dibandingkan dengan waktu yang dipergunakan oleh Mei Lan untuk mandi tadi, Lie Seng hanya menggunakan waktu singkat saja.

Ketika dia sudah berpakaian dan naik ke tepi sungai dengan rambut basah, dia melihat Mei Lan masih duduk di bawah pohon sambil menyisiri rambutnya.

"Eh, kau masih di sini?"

Tanya Lie Seng, rasa mengkal hatinya agaknya sudah lenyap, larut oleh air sungai atau sudah menjadi dingin oleh air.

"Tentu saja. Bukankah aku tadi berjanji akan menunggu di sini sampai kau selesai?"

Hati Lie Seng menjadi girang.

Kiranya anak perempuan ini baik juga, bersahabat dan memegang janji.

Maka ketika Mei Lan menyerahkan sisirnya, dia menyambut tanpa berkata-kata, menyisiri rambutnya.

Dan kiranya Mei Lan sudah mengeluarkan roti kering yang tadi dibawanya, mengajak Lie Seng untuk sarapan roti kering, Lie Seng duduk di atas akar pohon dan mereka makan roti kering.

"Siapa namamu?"

Tanya Mei Lan.

"Namaku Lie Seng, dan kau?"

"Mei Lan. Berapa usiamu?"

"Tiga belas tahun."

"Dan aku lima belas tahun."

"Kalau begitu kau lebih tua dari aku, enci Mei Lan."

"Tentu saja! Semua orangpun dapat melihatnya."

"Oh, belum tentu. Aku tidak kalah tinggi olehmu."

"Benar, karena kau laki-laki. Akan tetapi kau masih kanak-kanak."

"Hemm, dan kau sudah tua, ya?"

"Setidaknya, lebih tua daripada engkau."

Lie Seng tidak dapat membantah.

Hening sejenak sampai mereka selesai makan roti kering yang tentu saja tidak enak di mulut karena setiap hari mereka memakannya, akan tetapi berguna bagi perut mereka yang lapar.

"Mengapa kau ikut bersama hwesio aneh itu?"

Lie Seng memandang.

"Tentu saja. Dia guruku dan... dia yang telah menolongku dari bahaya. Kau sendiri, mengapa ikut bersama kakek yang sudah amat tua itu?"

"Sama denganmu. Karena dia guruku. Di mana orang tuamu?"

Tanya Mei Lan.

Ditanya demikian, Lie Seng mengerutkan alisnya dan sepasang matanya penuh dengan sinar kedukaan, wajahnya menjadi muram dan dia menggeleng kepala, tidak menjawab.

Mei Lan menarik napas panjang.

"Maafkan aku, adik Seng. Agaknya di dunia ini banyak terdapat anak-anak seperti kita... yang terlantar..."

"Eh, apakah engkau sendiri tidak berayah ibu lagi?"

Mei Lan menggeleng kepala juga.

"Pertanyaan itu tak dapat kujawab..."

Tiba-tiba gadis cilik itu memegang lengan Lie Seng dan berbisik.

"Ssttt, di sana ada dua orang mendatangi tempat ini...!"

Lie Seng cepat memandang dan diapun melihat dua orang datang dari selatan, dua orang laki-laki yang bersikap gagah dan berjalan sambil memandang ke kanan kiri.

Seorang di antara mereka bertubuh jangkung, berpakaian sederhana dengan warna kuning, sedangkan yang seorang lagi amat mengherankan hati Lie Seng karena pemuda itu memiliki rambut yang agak keemasan tertimpa sinar matahari, dan setelah dekat, dia melihat bahwa matanyapun agak kebiruan!

Dua orang pemuda itu bukan lain adalah Tio Sun dan Souw Kwi Beng.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua orang ini sengaia mencari Yap In Hong dan mereka baru saja meninggalkan benteng Raja Sabutai di mana mereka mendapatkan petunjuk dan bahkan menerima petunjuk rahasia dari Permaisuri Khamila.

Kemudian, mereka bertemu dengan Liong Si Kwi, wanita yang bernasib malang itu dan memperoleh petunjuk yang amat penting, yaitu tentang jalan rahasia menyeberangi Padang Bangkai yang amat berbahaya itu.

Karena itu, maka mereka memasuki daerah ini dengan hati-hati dan menoleh ke kanan kiri, tidak berani bersikap sembrono karena dari Si Kwi mereka memperoleh keterangan betapa bahayanya memasuki Padang Bangkai.

Ketika mereka melihat ada seorang dara remaja dan seorang anak laki-laki berada di bawah pohon, yang memandang mereka dengan sikap heran dan penuh curiga, tentu saja dua orang pemuda ini mengira bahwa tentu dua orang anak itu adalah anak-anak dari penghuni Padang Bangkai!

Menurut penuturan Si Kwi, di tempat berbahaya itu tidak ada orang luar, yang ada hanya anggauta-anggauta Padang Bangkai yang semua sudah dibasmi oleh Cia Bun Houw dan sebagian melarikan diri ke Lembah Naga.

Maka, adanya dua orang anak di situ tentu saja menimbulkan kecurigaan mereka dan mereka menyangka bahwa dua orang anak itu tentulah anggauta-anggauta Lembah Naga atau Padang Bangkai.

"Kita tangkap mereka untuk menunjukkan jalan, twako,"

Kata Kwi Beng.

"Jangan sembrono, Beng-te. Kita tanya dulu..."

Kata Tio Sun yang memang selalu berhati-hati dalam sepak terjangnya.

Akan tetapi Kwi Beng sudah mendekati dan memandang dua orang anak itu penuh perhatian.

Dia merasa heran mengapa anak-anak dari para penjahat begitu tampan dan cantik, terutama sekali dara remaja itu.

Begitu cantik manis dengan sepasang mata bersinar-sinar penuh keberanian, sungguhpun bajunya tambalan.

Dan anak laki-laki itupun jelas menunjukkan bahwa dia bukan seorang anak biasa saja.

"Siapa kalian dan di mana adanya orang-orang Lembah Naga?"

Kwi Beng bertanya, nada suaranya tidak manis karena tentu saja menghadapi anak-anak dari fihak musuh dia tidak bisa bersikap manis.

Mei Lan dan Lie Seng memandang tajam, kemudian Mei Lan menggandeng tangan Lie Seng sambil berkata.

"Huh! Mari, Seng-te, jangan layani orang sinting ini!"

Setelah berkata demikian, Mei Lan lalu menarik tangan Lie Seng dan lari meninggalkan Kwi Beng yang menjadi bengong sejenak.

"Heiii, hendak lari ke mana kalian?"

Kwi Beng mengejar.

"Hati-hati, Beng-te, jangan-jangan ini merupakan pancingan!"

Tio Sun berseru dan juga mengejar.

Ketika Mei Lan dan Lie Seng sudah tiba di tempat yang tidak jauh dari tempat guru mereka bertanding catur dan sudah kelihatan dari situ, kemudian mendapatkan kenyataan bahwa dua orang itu mengejar, mereka lalu berhenti.

"Engkau ini orang jahat mau apa mengejar kami?"

Mei Lan membentak marah.

Kwi Bang mengerutkan alisnya.

Anak perempuan ini galak sekali, dan tentu memiliki kepandaian juga, sebagai anak dari tokoh-tokoh sesat di tempat itu.

"Bocah sesat, kami hanya ingin bertanya jalan kepadamu!"

"Kami tidak tahu. Hayo lekas pergi, laki-laki ceriwis dan jangan menggangguku!"

Mei Lan mengusir, telunjuk kirinya menuding ke depan dan tangan kanannya menolak pinggang, sikapnya angkuh sekali, angkuh dan juga cantik!

"Sombong!"

Kwi Beng membentak dan dia sudah menerjang untuk menangicap dara remaja yang galak itu.

"Haiiittt...! Ahh!"

Kwi Beng terkejut bukan main karena selain anak perempuan itu dapat mengelakkan tubrukannya dengan cepat dan mudah, juga sambil mengelak ke kiri, anak perempuan itu langsung saja mengirim tendangan ke arah lambungnya.

Gerakan tendangan itupun cepat dan kuat sehingga dia terkejut dan cepat meloncat mundur.

Kemudian, dengan penasaran dia sudah menerjang lagi dengan cepat, disambut oleh Mei Lan dengan tangkisan, elakan dan serangan balasan yang secara kontan dan bertubi-tubi dia lancarkan, membuat Kwi Beng untuk kedua kalinya terkejut dan cepat dia merobah gerakan menyerang menjadi gerakan bertahan dan melindungi dirinya karena ternyata olehnya betapa serangan-serangan gadis itu bukannya tidak berbahaya.

"Beng-te, jangan berkelahi...!"

Tio Sun meloncat ke depan, maksudnya hendak melerai perkelahian itu, karena dia melihat gerakan-gerakan aneh dan hebat dari gadis itu.

Akan tetapi pada saat dia meloncat ke depan, dari samping berkelebat bayangan yang langsung menyerangnya.

"Ehh...!"

Dia berseru kaget melihat bahwa yang menyerangnya adalah anak laki-laki tadi, dan bukan main kagetnya melihat bahwa pukulan anak laki-laki itupun hebat bukan main sehingga terpaksa dia menangkisnya.

"Dukkkk!"

Tubuh Lie Seng terpental, akan tetapi Tio Sun juga merasa betapa lengannya tergetar.

"Hebat...!"

Otomatis dia memuji karena seorang bocah sekecil itu dapat membuat lengannya tergetar, hal ini sudah amat luar biasa.

Akan tetapi sebelum dia sempat mencegah, Lie Seng yang menganggap bahwa dua orang itu tentu orang-orang jahat, sudah menerjang lagi dengan pukulan-pukulan yang hebat, karena baru saja dia melatih pukulan Thian-te Sin-ciang yang biarpun masih mentah dan tenaga sin-kangnya belum kuat, namun berkat ilmu mujijat itu, ternyata sudah membuat Tio Sun terheran-heran dan terkejut.

Terjadilah pertandingan yang seru antara Mei Lan dan Kwi Beng yang makin lama makin menjadi penasaran karena dia tidak mampu mendesak dara remaja itu.

Dan tentu saja Lie Seng bukanlah lawan Tio Sun, sungguhpun pendekar ini tentu saja enggan untuk menjatuhkan tangan kejam terhadap seorang anak yang usianya belum dewasa itu.

Tio Sun cepat mengelak dan menangkap pergelangan tangan Lie Seng, dipegangnya keras-keras pergelangan tangan itu dan dia mengerahkan sedikit tenaga Ban-kin-kang yang amat kuat.

Dipegang dengan tenaga itu, Lie Seng tidak mampu bergerak lagi, sungguhpun dia sudah meronta-ronta dan pada saat itu, tiba-tiba Tio Sun berseru lirih dan pegangannya terlepas sehingga Lie Seng dapat meloncat jauh ke belakang!

Tio Sun terkejut karena dia maklum bahwa tadi ada batu kecil menyambar lengannya dan membuat lengan itu lumpuh.

Dia cepat menoleh ke arah dua orang kakek yang sedang asyik main catur, agaknya tidak memperdulikan pertempuran itu, akan tetapi yakinlah dia bahwa batu kerikil itu datang dari arah dua orang kakek itu.

Pada saat itu, Kwi Beng juga mengeluh dan terhuyung, terpincang-pincang kakinya dan terpaksa dia menjauhi Mei Lan.

Ada batu kerikil menyambar mata kakinya, dan biarpun kakinya dilindungi kaos kaki dan sepatu, namun tetap saja terasa nyeri bukan main sehingga dia terpincang dan menjauhi Mei Lan.

Mei Lan dan Lie Seng juga mengerti bahwa diam-diam mereka dibantu oleh guru mereka, maka mereka menjadi girang sekali.

Sebaliknya, Kwi Beng makin marah bukan main.

Dia memandang ke arah dua orang kakek yang bermain catur, maklum bahwa dua orang kakek itulah yang membantu lawannya tadi dan dia menduga bahwa pasti mereka itu adalah tokoh-tokoh jahat dari tempat itu, kawan-kawan dari mereka yang menculik In Hong.

Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu lagi dia mencabut enam hui-to dan melontarkan enam batang pisau terbang itu ke arah dua orang kakek yang bermain catur sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena dia maklum bahwa tentu dua orang kakek itu memiliki kepandaian tinggi.

"Jangan...!"

Tio Sun berseru, namun terlambat dan karena diapun menduga bahwa dua orang kakek itu tentulah fihak musuh, maka diapun akhirnya diam saja, memandang ke arah mereka yang diserang oleh enam batang pisau terbang itu sambil mendekati Kwi Beng.

"Sing-sing-singgg...!"

Enam batang pisau terbang itu meluncur dengan cepat, berubah menjadi sinar berkilauan ditimpa sinar matahari pagi menuju ke arah tubuh dua orang kakek itu.

"Mengganggu saja!"

Terdengar Bun Hoat Tosu berkata dan kakek ini menggunakan ranting kecil di tangan kirinya untuk menyampok.

"Menjemukan!"

Kok Beng Lama juga menyampok dengan ranting kecil.

Tiga batang pisau terbang yang menyambar ke arah Bun Hoat Tosu kena disampok ranting kecil di tangan tosu itu, runtuh ke atas tanah dan patah-patah.

Sedangkan ketika Kok Beng Lama menyampok dengan rantingnya, tiga batang pisau terbang lainnya membalik dan kini meluncur dengan kecepatan kilat menuju ke arah dua orang pemuda itu, yang satu menyambar ke arah Tio Sun sedangkan yang dua batang ke arah Kwi Beng!

"Celaka...!"

Tio Sun berseru kaget sekali melihat sinar-sinar berkelebatan yang demikian cepatnya.

Dia meloncat ke atas, menendang dari samping pisau yang menyambar ke arahnya dan menggunakan tangannya menyampok pisau yang menyambar ke arah Kwi Beng, sedangkan pisau ketiga dielakkan oleh Kwi Beng yang juga kaget itu dengan jalan melempar tubuh ke belakang dan bergulingan!

Ternyata, nyaris saja Kwi Beng dimakan oleh senjatanya sendiri!

"Berbahaya...

kita pergi, Beng-te...!"

Tio Sun lalu menarik tangan Kwi Beng, diajak pergi dari situ, melanjutkan perjalanan, karena pendekar tinggi kurus ini maklum bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan dua orang kakek yang masih tekun bermain catur itu.

Untung ketika mereka menengok, dua orang kakek itu masih terus bermain catur, agaknya tidak memperdulikan mereka dan sama sekali tidak mengejar.

Mereka tidak tahu bahwa ada dua bayangan kecil yang membayangi mereka, menyusup-nyusup di antara rumpun alang-alang yang tinggi.

"Bukan main..."

Kata Tio Sun setelah mereka pergi jauh.

"Dua orang kakek itu memiliki kesaktian yang amat luar biasa."

"Heran sekali, siapakah mereka? Kalau musuh, mengapa membiarkan kita pergi? Kalau bukan musuh, kenapa di tempat ini?"

Tanya pula Kwi Beng.

"Akupun tidak tahu dan tidak dapat menduga, Beng-te. Yang jelas, kita berada di tempat berbahaya dan jangan sembarangan turun tangan. Mudah-mudahan saja dua orang kakek itu bukan orang-orang fihak Lembah Naga, karena kalau fihak musuh mempunyai orang-orang seperti mereka, agaknya tidak mudah untuk mengharap dapat menolong nona Yap In Hong yang tertawan di sini."

"Aku tidak takut! Kita harus dapat menyelamatkan dia!"

Kwi Beng berkata dengan kukuh. Tio Sun tersenyum dan menyentuh lengan sahabatnya.

"Tentu saja akan kita usahakan sedapat mungkin, saudaraku. Kalau tidak, masa kita berada di tempat berbahaya ini?"

Agaknya Kwi Beng sadar akan kata-katanya, maka cepat dia menjura dan memberi hormat kepada pemuda tinggi itu.

"Maafkan aku, twako. Aku terlalu memikirkan keselamatan dia, sehingga lupa akan keselamatan orang lain. Keselamatanku sendiri tidak ada artinya bagiku, akan tetapi keselamatanmu, twako. Kau sudah memasuki bahaya besar di sini karena hendak membantuku menolongya..."

"Ah, sudahlah. Perlu apa hal itu dibicarakan lagi, Beng-te? Tanpa kau minta sekalipun mendengar bahwa Yap-lihiap tertawan orang jahat, tentu aku akan berusaha sedapatku untuk menolongnya."

Dia berhenti sebentar, lalu menyambung.

"Apalagi setelah mendengar dari nona Liong Si Kwi bahwa Cia-Taihiap tertawan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong mereka, betapapun bahayanya."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati sekali, meneliti seluruh tempat dan menuruti petunjuk yang diberikan oleh Si Kwi.

Dan memang mereka tidak bertemu dengan seorangpun manusia sampai mereka berhasil melewati perkampungan Padang Bangkai.

Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa dari jauh, Mei Lan dan Lie Seng terus mengikutinya dengan mengambil jalan yang mereka lewati tadi sehingga dua orang anak inipun terbebas dari malapetaka yang terdapat di sepanjang perjalanan itu!

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Cia Giok Keng, puteri ketua Cin-ling-pai yang sejak berpisah dari Yap Kun Liong tidak pernah kita ikuti itu.

Dalam pertemuannya yang terakhir dengan Kun Liong, dia merasa betapa semua peristiwa yang menimpa keluarga Kun Liong dan keluarganya dimulai dengan sikapnya terhadap Yap In Hong.

Dia merasa menyesal sekali karena seolah-olah dia melihat betapa tangannya sendirilah yang menyalakan api pertama yang kemudian membakar keluarga Kun Liong dan keluarganya, yang menyebabkan Kun Liong kematian isterinya dan kehilangan puterinya, dan kemudian menyebabkan pula sebagai rangkaiannnya, dia kematian suaminya dan kehilangan Lie Seng, puteranya.

Karena penyesalan ini, dia dapat membayangkan betapa sengsaranya hati Kun Liong dan dia bertekad untuk mencari pembunuh Pek Hong Ing isteri Kun Liong dan terutama sekali mencari jejak Yap Mei Lan yang lenyap melarikan diri itu.

Untuk mencari jejak Yap Mei Lan, akhirnya Giok Keng menuju ke Leng-kok, tempat tinggal Kun Liong dari mana anak perempuan itu mula-mula lenyap.

Pada suatu hari dia berjalan seorang diri di lereng pegunungan sebelah selatan Leng-kok.

Berjalan seorang diri di tempat sunyi itu dengan melamun.

Padahal, matahari tersenyum dengan cerahnya, menghidupkan semua yang berada di permukaan bumi, bermain-main dengan kelompok bunga dan pucuk daun, menimbulkan bayang-bayang aneh dan luar biasa di bawah-bawah pohon, menciptakan suasana gembira dan pemandangan indah yang abadi dan selalu berubah setiap saat.

Namun, Giok Keng berjalan sendirian seperti tidak melihat semua itu.

Matanya memandang jauh tanpa menangkap apa-apa karena pikirannya melayang-layang jauh di masa lampau.

Dia seorang janda yang usianya sudah tiga puluh enam tahun, seorang wanita yang matang dan belum dapat dibilang terlalu tua untuk menyendiri.

Di dalam perjalanan selama ini, kadang-kadang timbul perasaan rindu yang amat mendalam terhadap suaminya, Lie Kong Tek yang telah meninggal dunia, dan kadang-kadang pula, secara mendadak, seperti cahaya halilintar menerangi mendung gelap, timbul pula bayangan wajah Yap Kun Liong.

Akan tetapi setiap kali dia teringat kepada Kun Liong, cepat diusirnya lagi bayangan itu.

Dia seorang janda, dan dia tahu bagaimana kedudukan dan keadaan seorang janda di jamannya.

Akan rusaklah nama seorang janda apabila dia membiarkan dirinya berdekatan dengan seorang pria.

Apalagi dia adalah puteri ketua Cin-ling-pai!

Akan cemar namanya, akan ternoda pula nama keluarga Cin-ling-pai.

Giok Keng mengepal tinjunya erat-erat.

Tidak, dia harus dapat menahan hatinya, dia harus mematikan perasaan hatinya.

Sebagai seorang janda, sudah tertutup baginya untuk berhubungan dengan seorang pria, apalagi untuk memadu kasih!

Dia sudah mati, mati kebahagiaannya, mati bersama matinya suaminya.

Yang terpenting baginya sekarang adalah menebus kesalahannya, dia harus dapat menemukan Mei Lan kembali!

Tiba-tiba teidengar suara tangis wanita.

Buyar semualah lamunan Giok Keng dan dia menghentikan langkahnya, memasang telinga untuk mendengarkan lebih teliti.

Ternyata suara tangis itu terdengar dari jauh, di sebelah kiri, maka diapun lalu menggerakkan kedua kakinya menuju ke tempat itu.

Setelah dekat, dia melihat seorang wanita tua dipegangi oleh seorang laki-laki tua yang membujuk dan menghiburnya.

"Tidak, biarkan aku mati saja!"

Wanita itu meronta dan agaknya dia hendak melempar dirinya ke dalam jurang di depannya.

"Ah, mengapa engkau begini? Belum tentu anak kita celaka, mengapa engkau berputus asa? Tidak ingatkah kau kepadaku, kepada suamimu?"

Wanita itu memandang kepada laki-laki tadi dan mereka saling rangkul dan menangis sedih sekali.

Giok Keng merasa tertarik dan cepat dia menghampiri.

Melihat ada orang datang, dua orang itu saling melepaskan rangkulan dan dengan masih terisak-isak mereka memandang kepada wanita muda yang cantik jelita dan bersikap gagah penuh wibawa itu.

Melihat ada pedang tergantung di punggung wanita cantik itu, si nenek cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Lihiap, mohon lihiap menolong kami..."

"Bangunlah, lopek. Apakah yang terjadi? Mengapa isterimu hendak membunuh diri? Apa yang terjadi dengan anakmu?"

Kakek yang usianya lima puluh tahun lebih itu lalu berkata.

"Lihiap, kami hanya mempunyai seorang anak perempuan saja yang kami harapkan akan dapat menyambung keturunan dan dapat membahagiakan kami di hari tua. Akan tetapi, tiga hari yang lalu anak kami itu lenyap."

"Lenyap? Apa yang terjadi?"

"Anak saya diculik siluman keparat itu, lihiap!"

Kini nyonya tua itu berkata dengan nada suara penuh kebencian.

"Siluman? Apa maksud kalian?"

Giok Keng bertanya heran.

"Begini, lihiap. Di kota kami sudah kurang lebih satu bulan ini terjadi hal-hal yang aneh. Beberapa orang gadis lenyap di waktu malam, juga banyak hartawan kehilangan hartanya. Anehnya, gadis-gadis yang hilang itu semua adalah gadis yang cantik. Dan karena belum pernah ada yang melihat maling itu, maka dia dijuluki siluman. Katanya ada yang melihat bayangan siluman itu, dan bahkan para hwesio di Kuil Ban-hok-tong juga mengatakan bahwa ada hawa siluman di kota kami."

Giok Keng merasa tertarik sekali.

Tentu saja dia dapat menduga bahwa yang dianggap siluman itu adalah seorang maling yang berkepandaian tinggi, dan selain maling agaknya penjahat itu juga merangkap seorang jai-hoa-cat (penjahat pemerkosa wanita).

Jantungnya berdebar keras.

Tidak jauh dari Leng-kok terdapat jai-hoa-cat!

Jangan-jangan Yap Mei Lan menjadi korban pula!

"Di mana kota kalian?"

Dia bertanya penuh gairah karena dia ingin cepat-cepat dapat menangkap penjahat itu, bukan hanya untuk menolong penduduk kota ini, akan tetapi terutama sekali untuk menyelidiki kalau-kalau Mei Lan menjadi korban penjahat itu!

"Kota Heng-tung tak jauh dari sini, di sebelah utara itu, lihiap."

"Baik, jangan kalian khawatir dan jangan putus asa, aku akan pergi mdnangkap siluman itu."

Setelah berkata demikian, Giok Keng meloncat dan mempergunakan kepandaiannya berlari cepat sehingga dalam sekejap mata saja dia telah lenyap dari depan dua orang suami isteri tua itu.

Suami isteri itu terkejut dan mereka menjatuhkan diri berlutut, lalu mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk menghaturkan terima kasih kepada para dewa, karena mereka percaya bahwa yang muncul tadi tentulah utusan Kwan Im Pouw-sat, seorang dewi untuk menangkap siluman jahat!

Memang agak mengherankan hati Giok Keng bahwa di Leng-kok, atau setidaknya di dekat Leng-kok, ada seorang penjahat berani muncul di kota besar.

Padahal nama Yap Kun Liong di Leng-kok amat terkenal sehingga sampai jauh di sekeliling daerah itu tidak ada penjahat berani melakukan operasi mereka.

Akan tetapi janda ini tidak tahu bahwa keadaanya telah berubah banyak.

Semenjak peristiwa perebutan kedudukan Kaisar di kota raja, yaitu ketika Kaisar Ceng Tung ditawan oleh pasukan liar di utara, keamanan di kota raja memang telah dapat dipulihkan kembali dengan pulangnya Kaisar Ceng Tung dan dengan diangkatnya dia menjadi Kaisar kembali.

Para thaikam yang tadinya memegang kekuasaan mutlak, telah banyak berkurang kekuasaan mereka, bahkan amat dibatasi.

Suasana tertib dapat dipulihkan.

Akan tetapi ketertiban ini hanya terdapat di lingkungan istana, atau paling besar hanya terasa di kota raja saja.

Di luar kota raja, apalagi di kota-kota yang jauh dari kota raja, para pembesar kehilangan wibawa mereka dan para penjahat mulai berani beroperasi secara terbuka.

Bahkan banyak penjahat yang menggunakan pengaruh uang, memikat para pejabat sehingga ada semacam "kerja sama"

Di antara mereka!

Tentu saja kalau hal seperti ini sudah terjadi, rakyat yang menjadi korban dan hal itu berarti bahwa kewibawaan pemerintah telah mulai surut.

Malam hari itu, Giok Keng melakukan penyelidikan.

Dengan pakaian ringkas, dia menggunakan kepandaiannya, berloncatan di atas genteng-genteng rumah dan akhirnya dia memilih daerah rumah-rumah gedung tempat tinggal orang-orang kaya dan mendekam di balik wuwungan, melakukan pengintaian dari tempat yang dipilihnya sebagai tempat paling tinggi di sekitar tempat itu.

Dia mengintai dan menanti dengan sabar dan menjelang tengah malam, di bawah sinar bintang-bintang di langit, dia melihat ada bayangan hitam berkelebatan di sebelah depan.

"Hemm, itu dia silumannya!"

Pikir Giok Keng dengan jantung berdebar tegang.

Dia merunduk di balik wuwungan-wuwungan, berloncatan dengan hati-hati dan membayangi sosok bayangan di depan itu.

Karena cuaca yang agak suram, hanya diterangi sinar bintang-bintang, dia tidak dapat melihat jelas muka orang, hanya dapat menduga bahwa bayangan itu adalah bayangan seorang laki-laki yang tubuhnya kurus namun gerakannya gesit sekali, yang berloncatan dari rumah ke rumah dan agaknya mencari-cari.

Akhirnya, dia melihat maling itu meloncat turun ke dalam taman sebuah rumah besar.

"Bagus! Dia tentu akan merampok harta atau menculik wanita. Biar kutunggu di sini dan kutangkap basah dia!"

Pikir Giok Keng yang menanti di atas rumah itu dan bersikep waspada.

Tak lama kemudian, kelihatan kembali bayangan itu berkelebat dari bawah, meloncat ke atas genteng dan kini tangan kirinya memanggul sebuah bungkusan yang berat.

Giok Keng merasa kagum juga.

Ternyata maling ini adalah seorang yang telah ahli, buktinya dalam waktu singkat saja dia telah berhasil menyikat haria dari pemilik gedung di bawah.

"Maling rendah! Kiranya engkau orangnya?"

Giok Keng membentak dan tampak jelas betapa maling itu tersentak kaget dan cepat membalikkan tubuhnya.

Giok Keng tercengang melihat bahwa maling itu seorang laki-laki yang usianya lima puluh tahun lebih, dan pakaiannya seperti pakaian sasterawan, kepalanya ditutup topi lucu.

"Heh-heh, sampai kaget setengah mati aku!"

Maling itu berseru dan sikapnya demikian aneh dan lucu sehingga Giok Keng merasa geli.

Mengapa maling yang disohorkan sebagai siluman ini sikapnya begitu pengecut dan penakut?.

"Ah... aku bukan..."

"Pengecut!"

Giok Keng menerjang dengan pukulannya, tangan kirinya menghantam langsung dari depan ke arah dada maling itu.

"Ehhh...?"

Maling itu cepat menghindarkan diri dengan meloncat ke belakang.

Giok Keng mendesak dengan pukulan tangan kanan disambung hantaman dari samping dengan tangan kirinya.

Wanita cantik ini sekarang jauh bedanya dengan dahulu.

Kalau dahulu, Giok Keng selalu berhati keras dan setiap orang musuhnya tentu langsung akan menghadapi serangan-serangan maut dari pendekar wanita itu.

Akan tetapi, semenjak peristiwa hebat yang menimpa keluarganya, dia berubah banyak.

Kini dia tidak lagi sembrono dan tidak menggunakan pedangnya, juga tidak menggunakan sabuknya yang lihai atau pukulan-pukulan maut, melainkan hanya menyerang dengan pukulan-pukulan San-in-kun-hoat yang amat lincah untuk menundukkan maling ini dan untuk ditanyanya tentang para gadis itu, terutama tentang Yap Mei Lan.

Bertubi-tubi Giok Keng menyerang dan biarpun maling itu berusaha untuk mengelak, tetap saja pundaknya kena disambar jari tangan kiri Giok Keng.

"Aduhh...!"

Maling itu terguling di atas genteng dan ketika Giok Keng hendak menyusul dengan tendangan, tiba-tiba maling itu berseru.

"Ampunkan saya, lihiap. Lihiap sebagai puteri ketua Cin-ling-pai tentu tidak membunuh orang seperti saya..."

Tentu saja Giok Keng terkejut bukan main.

Maling ini telah mengenalnya sebagai puteri ketua Cin-ling-pai!

Sementara itu, di dalam gedung telah terdengar suara ribut-ribut, tanda bahwa tuan rumah telah terbangun dan agaknya telah tahu bahwa ada maling bertanding di atas genteng.

"Hayo kau ikut bersamaku!"

Giok Keng berkata dan meloncat ke depan.

"Baik, lihiap!"

Maling itu berkata dan mengikuti Giok Keng, berlompatan dari genteng ke genteng dan akhirnya tiba di tempat yang sunyi di luar kota itu.

Giok Keng berhenti dan maling itupun berhenti, memandang dengan sinar mata takut.

"Nah, hayo ceritakan siapa kau dan bagaimana engkau mengenal aku!"

Bentaknya.

"Sudah beberapa kali saya melihat lihiap, dan pernah kita saling bertemu di tempat pesta Phoa Lee It, piauwsu di Wu-han."

Segera Giok Keng teringat!

Ketika itu, dia juga menerima undangan dari piauwsu tokoh Go-bi-pai itu dan dia datang bersama mendiang suaminya, Lie Kong Tek dengan membawa sumbangan berharga.

Akan tetapi, bungkusan sumbangannya itu ditukar oleh seorang maling tua, dan itulah orangnya!

"Ah...!

Jadi engkaulah orangnya dahulu itu yang menukar barang sumbanganku?"

Maling itu cepat menjura dengan penuh hormat.

"Sampai sekarang saya menyesal sekali kalau teringat akan kelancangan saya yang dimaksudkan untuk main-main itu, lihiap, sehingga menimbulkan bentrokan antara lihiap dan Yap In Hong lihiap,"

Dia berhenti karena tiba-tiba melihat wajah yang cantik itu berubah, sinar matanya berapi-api.

Maling itu bukan lain adalah Can Pouw, maling tunggal yang terkenal di daerah Tai-goan, berpakaian sasterawan dan bertopi, maling yang jenaka dan cerdik sekali dan yang berjuluk Jeng-ci Sin-touw (Maling Sakti Berjari Seribu)!

Seperti telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, maling tua ini pernah menjadi teman seperjalanan Yap In Hong dan menggegerkan pesta dari Phoa Lee It.

Akan tetapi, kemarahan Giok Keng hanya sebentar.

Memang tadi dia marah sekali karena teringat bahwa awal segala peristiwa dimulai di pesta itu!

Di tempat itulah dia bentrok untuk pertama kalinya dengan In Hong sehingga menimbulkan kemarahannya yang mengakibatkan hal-hal yang amat hebat menimpa keluarga Kun Liong dan keluarganya.

Akan tetapi, sebagai seorang yang sudah matang digembleng peristiwa-peristiwa hebat, dia dapat teringat bahwa sesungguhnya maling tua ini tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu dan bahwa sesungguhnya dia sendirilah yang tidak dapat menguasai kemarahannya sehingga terjadi hal-hal yang hebat.

Dia menarik napas panjang dan wajahnya kembali biasa.

Hal ini menyenangkan hati Can Pouw karena sejak tadi dia memperhatikdn dengan hati kebat-kebit.

Kalau sampai nyonya pendekar ini marah, dia sudah siap untuk mengambil langkah seribu, sudah mencari tempat-tempat gelap di sekitar situ untuk bersembunyi, karena untuk melawan mana dia mampu?

"Saya memang Can Pouw, lihiap.

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw dari Tai-goan..."

"Hayo katakan di mana kau menyembunyikan semua harta yang kau curi itu dan di mana pula kau sembunyikan gadis-gadis yang kau culik!"

Tiba-tiba Giok Keng membentak dan "sratttt...!"

Tahu-tahu ada kilat berkelebat dan sebelum Can Pouw tahu apa yang terjadi, tahu-tahu ujung pedang bersinar perak telah ditodongkan di depan dadanya!

Dia tidak melihat kapan nyonya itu mencabut pedangnya dan tahu-tahu ujung pedang sudah menodong dada, terasa olehnya ulung runcing itu menembus baju menyentuh kulitnya!

Dia bergidik, karena kalau sudah begini, laripun akan percuma saja.

"Eh... ohhh... maaf, lihiap... saya bukan maling dan penculik itu..."

"Hemm... aku mendengar ada siluman yang mencuri dan menculik gadis-gadis di kota Heng-tung, ketika aku menyelidiki, aku melihat engkau mencuri dari gedung itu. Setelah jelas aku menangkap basah, engkau masih hendak menyangkal?"

Ujung pedang itu makin keras menyentuh kulit dadanya, tepat di tempat jantungnya berdenyut.

Kedua kaki Can Pouw menjadi lemas dan dia cepat menjatuhkan diri berlutut dan mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Ya ampunnn... lihiap, ada kesalahfahaman di sini! Sungguh lihiap telah salah sangka. Kalau lihiap baru sekarang menyelidiki, saya sudah lebih dari satu minggu menyelidiki maling yang disebut siluman itu! Dan malam ini saja melakukan pencurian hanya untuk memancing dia keluar. Sungguh mati, saya mau bersumpah tujuh turunan..."

Pedang itu ditarik kembali akan tetapi masih dipegang di tangan kanan nyonya pendekar itu.

"Ceritakan yang jelas!"

Bentak Giok Keng sambil memandang tajam karena dia tidak percaya sepenuhnya kepada orang tua yang pandai bicara ini.

(Lanjut ke

Jilid 41) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 41

"Saya akui bahwa saya memang maling, dan di Tai-goan nama saya cukup dikenal. Akan tetapi, lihiap, saya adalah seorang maling yang terhormat! Haram bagi saya untuk menculik orang, apalagi perawan-perawan cantik! Coba lihiap periksa baik-baik, apakah tampang saya ini tampang seorang jai-hoa-cat? Biarpun saya maling, akan tetapi saya seorang siucai (sasterawan) gagal, lihiap, dan saya mampu membaca susi ngo-keng!"

Giok Keng menahan senyumnya.

Maling ini benar-benar seorang yang lincah bicaranya, dan juga lucu.

Betapapun juga, sikapnya menimbulkan kepercayaan.

"Tidak perlu banyak ngoceh. Ceritakan sejelasnya tentang siluman itu!"

"Begini, lihiap. Saya mendengar tentang gangguan siluman itu. Saya menjadi marah karena perbuatan siluman itu sungguh melanggar kehormatan dan kesopanan dunia kang-ouw (kode ethik permalingan?)! Maling ya maling saja, masa pakai menculiki perawan-perawan cantik pula! Itu namanya merendahkan dan mencemarkan nama maling-maling terhormat seperti saya. Tentu saja saya tidak mau terima begitu saja dan mulailah saya menyelidiki di kota Heng-tung. Akan tetapi sial dangkalan, sampai seminggu saya setiap malam menyelidiki, tidak pernah maling siluman itu muncul, sampai mata saya bengkak-bengkak karena seminggu tidak pernah tidur! Maka saya lalu mencari akal. Dan dalam hal mencari akal, Jeng-ci Sin-touw adalah gudangnya, lihiap! Saya lalu mengambil keputusan untuk memancing siluman itu keluar, yaitu dengan melakukan pencurian di rumah seorang hartawan. Dengan pencurian itu, tentu siluman tadi akan merasa tersinggung karena bukan dia yang mencuri akan tetapi sudah pasti perbuatan itu dijatuhkan atas namanya, dan dia pula yang dituduh melakukan pencurian lagi. Biasanya, hal ini akan membikin marah orangnya dan dia pasti akan muncul untuk mencari saingannya itu. Siapa kira, bukan dia yang muncul, melainkan lihiap yang menyangka saya siluman itu, sebaliknya, saya menyangka lihiap siluman itu pula kalau saja saya tidak cepat mengenal wajah lihiap yang terhormat."

Dia menjura dengan dalam sehingga kembali hati Giok Keng merasa geli.

Mulai dia percaya akan cerita ini, akan tetapi dia masih ragu-ragu dan memandang wajah tua itu dengan tajam.

"Hemm... ceritamu amat menarik, terlalu menarik sehingga aku mana bisa percaya begitu saja? Bagaimana kalau kau membohong?"

Tiba-tiba maling tua itu membusungkan dadanya, kelihatan penasaran.

"Lihiap, di dunia ini hanya ada seorang saja Jeng-ci Sin-touw dan saya tidak sembarangan saja membohong! Terhadap pendekar-pendekar sakti seperti lihiap, bagaimana saya berani membohong? Kalau saya orang pembohong rendah, mana mungkin seorang pendekar wanita seperti Yap-lihiap mau bersahabat dengan saya? Ahhh, sungguh kasihan sekali... sungguh menyedihkan sekali, mendengar sahabat baik itu mengalami bencana namun saya tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya."

Giok Keng makin tertarik.

"Apa maksudmu? Apakah terjadi sesuatu dengan Yap In Hong?"

Can Pouw mengerutkan alisnya.

"Mengingat bahwa lihiap pernah bentrok dengan dia, agaknya lihiap akan girang mendengar berita ini, akan tetapi sungguh mati saya berduka sekali, lihiap. Baru beberapa hari ini saya datang dari kota raja dan mendengar bahwa Yap-lihiap telah diculik oleh guru-guru dari Raja Sabutai, dibawa ke utara di luar tembok besar. Nah, bukankah itu menyedihkan sekali? Apa yang dapat dilakukan seorang macam saya menghadapi penculik-penculik keji itu?"

Kakek itu menghela napas panjang, dengan sungguh-sungguh dan bukan pura-pura.

Giok Keng juga terkejut sekali, akan tetapi diapun merasa bahwa dia tidak dapat berbuat sesuatu, apalagi dia kini sedang menyelidiki lenyapnya Yap Mei Lan yang dianggapnya jauh lebih penting daripada urusan In Hong.

"Can Pouw, aku masih belum percaya benar akan ceritamu tentang siluman itu."

"Kalau begitu, mari kita bersama menyelidiki dan menangkapnya, lihiap! Akan saya buktikan bahwa saya bukanlah siluman penculik perawan, melainkan seorang maling terhormat!"

"Hemmm, bagaimana caranya? Kalau kau membohong, tentu engkau akan lari bersama uang curianmu itu!"

Dengan pedangnya Giok Keng menuding ke arah bungkusan berat yang oleh maling itu diletakkan ke atas tanah.

"Biarlah saya tidak akan meninggalkan lihiap, agar lihiap dapat mencegah saya melarikan diri. Dan besok malam, mulai kita menyelidiki. Siluman itu pasti keluar setelah mendengar ada orang menyainginya dan mencuri sejumlah uang yang banyak sekali."

Can Pouw menepuk-nepuk kantong itu dan terdengar suara berkerincingnya uang emas di dalamnya.

"Baik, kalau begitu kau ikut dengan aku ke rumah penginapan."

Can Pouw menurut dan pergilah mereka berdua ke rumah pengingapan di mana Giok Keng menyewa kamar.

Mereka memasuki kamar melalui jendela dan tidak ada orang lain yang mengetahui.

Setelah tiba di kamar, Giok Keng lalu menotok roboh maling itu dan melemparkan tubuhnya di atas dipan kecil di sudut kamar, kemudian diapun rebah di atas pembaringan, menutupkan kelambunya dan tidur!

Can Pouw mengomel panjang pendek, akan tetapi dia tidak mampu bergerak dan akhirnya diapun memejamkan mata dan tidur, atau pura-pura tidur.

Pada keesokan harinya, Giok Keng membebaskan totokannya.

Kemudian mereka keluar untuk mencari keterangan tentang perbuatan Can Pouw semalam dan legalah hati mereka karena berita tentang pencurian itu sudah tersebar luas dan seperti yang mereka harapkan, tentu saja yang dituduh adalah "siluman"

Itu.

Setelah melihat sikap Can Pouw, Giok Keng mulai percaya kepada maling tua ini, maka, dia lalu mengajak Can Pouw kembali ke penginapan di mana dia menyewa lagi sebuah kamar di samping kamarnya sendiri untuk Can Pouw.

Kemudian, malam itu mereka berdua meninggalkan kamar masing-masing dengan melalui jalan jendela dan melompat ke atas genteng, mulai dengan penyelidikan mereka.

Seperti malam yang lalu cuaca remang-remang karena di langit hanya diterangi oleh sinar redup bintang-bintang.

Mereka melakukan penyelidikan dengan hati-hati dan dengan diam-diam, dan dalam penyelidikan ini, Giok Keng menurut saja kepada Can Pouw yang dianggapnya lebih pengalaman dalam hal mencari jejak maling!

Dengan hati kesal Giok Keng mendapat kenyataan bahwa sampai tengah malam, tidak ada bayangan orang lain di atas genteng-genteng rumah di kota Heng-tung kecuali bayangan mereka berdua.

Mulailah dia melirik ke arah Can Pouw karena timbul pula kecurigaannya bahwa jangan-jangan dia dipermainkan oleh Can Pouw yang sesungguhnya adalah sang siluman itu sendiri!

"Aku akan pancing dia!"

Pikir Giok Keng dan mulailah pendekar wanita ini menjauhi Can Pouw, sikapnya seolah-olah menyelidik ke sana-sini, akan tetapi sesungguhnya tidak pernah dia melepaskan bayangan maling tua itu dari sudut matanya.

Akan tetapi, Can Pouw malah cepat mengikuti dan mendekatinya dan terdengar Can Pouw berkata.

"Lihiap, mari kita menanti di gedung hartawan Gui di sebelah barat. Selain kaya raya, dia juga kabarnya mempunyai seorang anak gadis yang cantik."

Giok Keng mengangguk dan mereka lalu menuju ke gedung besar itu, dan kembali Giok Keng sengaja menjauh untuk dapat mengawasi gerak-gerik Can Pouw lebih baik dan memberinya kesempatan untuk "melakukan sesuatu".

Dan saat yang dinanti-nantinya itu tiba!

Mendadak dia mendengar maling itu mengeluh dan tubuhnya roboh bergulingan di atas genteng rumah gedung itu.

Nah, si maling tua sudah mulai memperlihatkan dirinya, pikirnya.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia mendengar Can Pouw berteriak.

"Tolong, lihiap...!"

Dan Giok Keng melihat bayangan hitam yang menggunakan sebatang pedang sedang menyerang Can Pouw yang menghindarkan diri dengan terus bergulingan di atas genteng!

Giok Keng cepat mencabut Gin-hwa-kiam dan meloncat ke arah bayangan hitam itu, sambil meloncat dia terus menikam dengan geraken cepat bukan main karena pendekar wanita itu telah menggunakan Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut ciptaan ayahnya.

"Ehhh...?"

Bayangan hitam itu terkejut ketika ada angin dahsyat menyambar dan melihat sinar perak berkilat menikam dadanya.

Dia cepat menarik kembali pedangnya yang dipakai menyerang Can Pouw, lalu menangkis keras.

"Tranggg...!"

Orang itu terhuyung dan pedang Giok Keng terus menghujankan serangan kilat.

"Ahhh...!"

Orang itu kembali berseru dan cepat meloncat ke belakang.

Gerakannya cepat akan tetapi gerakan Giok Keng lebih cepat lagi sehingga dia sudah menyusul dan menyerang lagi.

"Cring-trang-triinggg...!"

Kembali orang itu terhuyung-huyung.

Orang itu kuat sekali, akan tetapi menghadapi serangan-serangan kilat itu agaknya dia terkejut dan agak jerih.

"Siluman, hendak lari ke mana kau?"

Giok Keng membentak dan cepat mengejar ketika dia melihat bayangan hitam yang ternyata memakai topeng hitam dan hanya kelihatan dua matanya di balik dua lubang itu melarikan diri.

Can Pouw merayap bangun, mukanya pucat dan dadanya bergelombang.

Hampir saja dia mampus, pikirnya.

Cepat dia bangkit, mencari-cari sepatunya yang copot sebelah ketika dia menghindarkan bacokan-bacokan pedang siluman itu tadi sambil bergulingan, dengan kedua tangan menggigil mengenakan lagi sepatunya, mencari topinya yang juga terjatuh, memakai topi lalu ikut pula mengejar, Akan tetapi dia sudah kehilangan bayangan siluman dan Giok Keng yang mengejarnya.

Dia menjadi bingung, mencari ke sana-sini tidak berhasil.

Dengan hati cemas dia lalu kembali ke hotel dan menanti di dalam kamarnya dengan hati kebat-kebit.

Ke manakah perginya Giok Keng?

Ketika siluman itu lari dengan kecepatan tinggi pendekar wanita inipun menggunakan gin-kangnya melakukan pengejaran terus.

Lawanpya itu agaknya sudah hafal akan keadaan di atas rumah-rumah penduduk sehingga dapat bergerak lebih leluasa dan akhirnya, ketika bayangan itu berkelebat meloncat ke atas wuwungan sebuah kuil besar yang letaknya berada di sudut kota, bayangan siluman itu lenyap.

Tentu saja Giok Keng merasa penasaran dan diapun meloncat ke atas wuwungan itu dan terus memasuki halaman kuil.

Akan tetapi baru saja dia meloncat turun, terdengar teriakan.

"Tangkap siluman!"

Dan muncullah beberapa orang hwesio yang memegang toya dan pedang mengepung dan mengeroyoknya!

"Aku bukan siluman, aku malah mengejar dan mencarinya!"

Giok Keng membentak sambil memutar pedangnya menangkis hujan senjata yang menimpa ke arah dirinya.

"Omitohud, wanita pembohong!"

Tiba-tiba terdengar suara hwesio membentak dan hwesio ini masih memakai pakaian hitam-hitam, akan tetapi kedoknya sudah dilepas sehingga nampak kepalanya yang gundul.

"Dia dan seorang kawannya laki-laki adalah siluman-siluman yang mengacau dan maling-maling yang selama ini mengeruhkan kota Heng-tung!"

Giok Keng tidak diberi kesempatan untuk membela diri kecuali dengan pedangnya.

Tiba-tiba hwesio yang bertubuh tinggi besar, yang ilmu pedangnya amat kuat dan agaknya menjadi pimpinan dari para hwesio lainnya, membentak keras dan begitu tangan kirinya bergerak, dia mengebutkan saputangan merah dan nampaklah debu kemerahan mengepul dan menyerbu ke arah Giok Keng.

Pada saat itu, Giok Keng sedang sibuk menangkisi semua senjata dan tentu saja dia tidak mau melukai para hwesio yang agaknya salah mengira dialah sebetulnya maling yang dicari-cari.

Dia melihat bubuk debu halus kemerahan itu dan terkejut bukan main.

Akan tetapi melihat bahwa para pengepungnya juga tidak menghindar, maka dia menahan napas dan menangkis terus.

Akan tetapi celakanya debu itu agaknya tebal dan amat halus, sampai lama tidak juga lenyap dan ketika satu kali saja dia menarik napas, dia mencium bau harum dan kepalanya menjadi pening.

Dalam keadaan pening itu, gerakannya menjadi kacau dan tiba-tiba pundaknva kena ditotok maka robohlah pendekar wanita ini dalam keadaan setengah pingsan.

Ketika Giok Keng sadar, dia mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar yang besar, terbelenggu kaki tangannya dan terlentang di atas sebuah pembaringan.

Di dalam kamar itu duduk tiga orang hwesio dan bau di kamar itupun harum dengan dupa wangi.

Giok Keng membuka matanya dan memandang ke arah hwesio yang duduk dekat pembaringan.

Seorang hwesio tinggi besar yang usianya tentu hampir enam puluh tahun, tersenyum dengan pandang matanya yang tajam penuh selidik.

Di belakang hwesio tinggi besar ini duduk dua orang hwesio lain, usianya juga rata-rata lima puluh tahun, yang seorang wajahnya penuh bekas penyakit cacar (bopeng) dan yang seorang lagi mukanya hitam seperti pantat kuali.

"Omitohud... seorang wanita yang masih muda dan cantik, pula berkepandaian tinggi, ternyata telah menjadi siluman keji... semoga Sang Buddha mengampuni dosa-dosamu...!"

Hwesio tinggi besar itu berkata sambil merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.

"Losuhu, kalian salah sangka. Aku bukanlah siluman itu, akan tetapi aku bersama temanku itu bahkan menyelidiki siluman yang mengacau kota Heng-tung."

Giok Keng berkata.

"Harap losuhu suka membebaskan aku."

Hwesio tinggi besar itu tertawa, juga dua orang hwesio lainnya tertawa.

"Sudah sejak manusia mengenal istilah mencuri, tidak ada pencuri yang mau mengakui perbuatannya. Daripada engkau dipaksa dengan siksaan oleh yang berwajib untuk mengakui perbuatanmu, lebih baik engkau mengaku kepada pinceng di mana kausembunyikan harta dari hartawan Ciong yang kaucuri malam kemarin."

"Losuhu, memang benar temanku yang melakukan pencurian malam kemarin, akan tetapi dia melakukan hal itu hanya untuk memancing keluarnya siluman yang selama ini mengganggu kota ini. Aku sungguh bukan maling, losuhu."

"Hemm, siapa dapat menjamin bahwa bukan engkau maling atau siluman itu?"

Sepasang mata yang besar itu memandang tajam penuh selidik dan Giok Keng merasa ngeri.

Sepasang mata itu besar dan amat berpengaruh, juga menakutkan.

"Losuhu, kalau kau tidak percaya kepadaku sebaiknya engkau tahu siapa aku sebenarnya. Nama keluargaku merupakan jaminan. Aku bernama Cia Giok Keng, puteri dari ketua Cin-ling-pai..."

"Ohhhhh...!"

Hwesio tinggi besar itu, juga dua orang hwesio lainnya, serentak bangkit dan mengeluarkan seruan kaget.

Mata mereka terbelalak memandang kepada Giok Keng, dan mulut mereka terbuka, sampai beberapa lama mereka tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

Akhirnya, hwesio tinggi besar itu duduk lagi, mukanya menjadi merah dan dia berdehem beberapa kali untuk menenangkan jantungnya yang tadi berdebar keras sepasang matanya masih melotot dan memandang tajam penuh selidik ke arah muka yang cantik dan gagah itu.

"Omitohud...!"

Akhirnya dia menarik napas panjang.

"Sungguh berani sekali engkau penjahat wanita mengaku sebagai puteri ketua Cin-ling-pai!"

"Aku tidak bohong, losuhu!"

Giok Keng berkata marah.

"Siapa dapat menjamin kebenaran kata-katamu? Akan tetapi untuk menguji apakah benar engkau puteri ketua Cin-ling-pai, pinceng ingin mendengar apakah engkau kenal dengan nama Thian Hwa Cinjin?"

"Ah, pendeta terkutuk itu?"

Giok Keng cepat menjawab untuk meyakinkan hati hwesio ini bahwa dia benar puteri ketut Cin-ling-pai.

"Tentu saja aku tahu. Thian Hwa Cinjin adalah ketua Pek-lian-kauw di wilayah timur, dahulu bertempat di muara Sungai Huai, di pantai Laut Kuning, seorang kakek yang tinggi jangkung dengan jenggot panjang, orangnya pesolek!"

"Hemm, banyak orang tahu akan ketua Pek-lian-kauw itu, akan tetapi pengetahuanmu tentang dia belum meyakinan pinceng bahwa engkau benar puteri ketua Cin-ling-pai..."

"Losuhu, aku yang telah membunuh pendeta keparat itu! Tanganku yang menganter nyawanya ke neraka!"

Giok Keng berkata penuh semangat. Memang pengakuannya ini benar. Dalam cerita "Petualang Asmara"

Dituturkan betapa kakek yang lihai, Thian Hwa Cinjin ketua Pek-lian-kauw wilayah timur itu tewas di tangan pendekar wanita ini!

Hal itu terjadi sudah belasan tahun yang lalu ketika Cia Giok Keng masih seorang gadis perkasa yang keras hati.

Mata hwesio tinggi besar itu terbelalak dan sejenak dia dan dua orang temannya itu diam saja, memandang kepada Giok Keng dengan sinar mata penuh perhatian.

Giok Keng menanti, tidak tahu apa yang terpikir oleh tiga orang hwesio tua itu.

Kalau saja dia tahu, tentu pendekar wanita ini akan terkejut setengah mati.

Siapakah hwesio tinggi besar ini?

Dia ini bukan lain adalah Kim Hwa Cinjin, seorang tosu Pek-lian-kauw dan seorang tokoh karena dia ini adalah ketua Pek-lian-kauw wilayah selatan!

Juga dua orang "hwesio"

Bermuka bopeng dan hitam di belakangnya itu adalah dua orang sutenya.

Tokoh-tokoh Pek-lian-kauw pula!

Bersama belasan orang anak buahnya, Kim Hwa Cinjin hendak meluaskan pengaruh Pek-lian-kauw ke pedalaman dan tibalah mereka di kota Heng-tung itu.

Seperti biasa, anak buah Pek-lian-kauw yang tadinya adalah orang-orang dari golongan hitam ini melakukan pekerjaan mereka dengan diam-diam dan rahasia.

Untuk itu, Kim Hwa Cinjin lalu menyergap para hwesio di Kuil Ban-hok-tong di sudut kota itu, dan menggantikan pekerjaan para hwesio dengan anak buahnya yang sudah terlatih.

Tentu saja mereka semua menggunduli kepala dan kepada para tamu mereka memberitahukan bahwa mereka adalah hwesio-hwesto pangganti yang dikirim dari kuil pusat karena hwesio-hwesio lama sedang digembleng di kuil pusat!

Dan bersama dengan datangnya rombongan Pek-lian-kauw ini di kota Heng-tung, mulailah kota itu diganggu "siluman".

Tentu saja siluman itu bukan lain adalah orang Pek-lian-kauw yang dipimpin oleh Kim Hwa Cinjin yang lihai.

Dan gadis-gadis itu diculik untuk "makanan"

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 2

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert