Eps 3 Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.
"Aku berharap harta kekayaan milik lopat jangan sampai berada di tangan perempuan itu".
"Menurut penglihatanku, lolak pasti mempunyai bagian juga dalam usaha perjudian di situ, ia pasti mempunyai sejumlah modal yang di tanamkan disana."
Lalu setelah menghela napas panjang kembali katanya.
"Siapa tahu kalau diapun mempunyai seorang perempuan yang ditugaskan disana."
Kalau dua orang perempuan yang menderita kalah, tentu saja jauh lebih cepat dari pada seorang perempuan saja.
Ketika Cia tauke muncul dalam ruangan itu, wajahnya hijau membesi, peluh sebesar kacang membasahi sekujur tubuhnya.
"Bagaimana?"
Tanya lelaki setengah umur itu. Cia tauke ingin tertawa paksa, sayang suara tertawanya tak mampu diutarakan ke luar.
"Dugaan loya-cu dan toako memang benar benar luar biasa!"
"Berapa banyak yang berhasil ia menangkan darisana?"
Limapuluh empat laksa tahil uang kertas dan dua buah gedung besar dalamkota!"
"Di antaranya berapa banyak yang merupakan uangmu?"
Tanya lelaki setengah umur itu lagi.
"Sepuluh laksa tahil perak."
Lelaki setengah umur itu memandang ke arah Losam, kedua-duanya saling berpandangan lalu tertawa getir. Dengan gemas dan penuh kebencian Cia tauke segera berseru.
"Tidak kusangka bajingan yang masih muda usia itu ternyata lihay bukan kepalang!"
Sambil picingkan matanya Ciau Jit tayya seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba ia bertanya.
""Apakah Lopat telah membawa orang untuk pergi mencari kesulitan baginya. .. ?"
"Ia telah merobohkan beberapa orang saudara petugas keamanan gedung tersebut, mau tak mau terpaksa kita harus mencarinya kembali."
"Sudah menangkan uang orang masih memukul orang, perbuatannya ini sedikit kelewat ganas dan keterlaluan,"
Kata Ciau Jit tayya.
"Benar!"
Tiba tiba Ciau Jit tayya tertawa dingin. *Aku takut yang garang dan keterlaluan bukan orang lain melainkan kita sendiri"
Jengeknya.
"Kita ..."
Tiba tiba Ciau Jit tayya menarik muka dengan wajah menyeramkan ia membentak.
"Aku hendak bertanya kepadamu, sesungguhnya siapa yang turun tangan lebih dahulu?"
Melihat paras muka Ciau Jit tayya sudah membesi, Cia tauke semakin gugup dibuatnya, dengan terbata-bata sahutnya ;
"Aku ... aku rasa ... saudara-saudara kita yang bertugas di ... di gedung yang turun tangan lebih ... lebih dahulu!"
"Mengapa mereka turun tangan ? Apakah lantaran orang lain berhasil menang banyak maka kalian tidak mengijinkan orang itu angkat kaki?"
Tegur Ciau Jit tayya ketus.
"Saudara-saudara kita menganggap dia sedang bermain curang!"
Hawa amarah telah menyelimuti seluruh wajah Ciau Jit tayya, setelah tertawa dingin katanya.
"Sekalipun dia bermain curang, selama kalian tidak berhasil memergokinya sendiri, hal ini harus diakui sebagai kemampuan orang, dengan dasar apa kalian tidak memperkenankan orang pergi?"
Dari balik matanya kembali mencorong ke luar serentetan sinar tajam, ditatapnya Cia Lak lekat--lekat kemudian tegurnya lebih jauh.
`Aku ingin bertanya kepadamu, tempat kaliansanasesungguhnya adalah gedung perjudian ataukah sarang penyamun?"
Cia tauke tak berani buka suara, ia menundukkan kepalanya rendah-rendah sambil menyeka keringat yang telah membasahi seluruh wajahnya.
Pergolakan emosi yang mencekam perasaan Ciau Jit Tayya dengan cepatnya mereda kembali.
Yang dibutuhkan oleh para penjudi bukan cuma "keberuntungan", melainkan harus ada "ketenangan".
Seorang penjudi yang mulai dengan kariernya sejak berusia belasan, bahkan sekarang telah menjadi "Raja judi", tentu saja ia harus pandai mengendalikan perasaan sendiri.
Sejak ia menerima orang-orang itu sebagai anak muridnya, ia telah menanamkan pengertian tersebut dalam benak mereka semua...
Sekalipun usaha perdagangan semacam itu tidak terlalu terhormat, tapi selalu mantap dan tenang, ...
Kita semua adalah pedagang, bukan pencoleng atau pembegal ....Untuk melakukan usaha dagang semacam ini, yang dipergunakan adalah kepandaian serta kecerdikan, bukan kekerasan.
Satu satunya perbuatan yang paling dibenci oleh Ciau Jit tayya selama hidupnya adalah mempergunakan kekerasan.
Kembali ia bertanya.
"Sekarang, apakah kau telah paham dengan maksud hatiku?"
"Yaa, aku telah paham!"
"Kalau begitu kau harus selekasnya memanggil Lopat agar segera kembali ke mari!"
Cia tauke menundukkan kepalanya sambil tertawa paksa.
"Kalau sekarang baru pergi, aku kuatir sudah tak sempat lagi!"
Katanya lirih.
"Kenapa?" `Sebab ia telah membawa serta tiga bersaudara dari keluarga Kwik!"
"Macam apakah tiga bersaudara Kwik itu?"
"Tiga orang manusia yang paling top di antara saudara-saudara kita lainnya."
Setelah berhenti sebentar, Cia tauke menjelaskan kembali.
"Mereka jauh berbeda dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya, mereka tak suka berjudi juga tak suka minum arak atau main perempuan, yang paling mereka sukai adalah menghajar orang, asal ada mangsa yang dapat dihajar, mereka tak pernah melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja "
""Top"
Di sini dalam arti kata bukan cuma ganas, agresip, pemberani dan liar, bahkan termasuk juga sedikit gila".
"Gila"
Adalah sesuatu kata yang sukar di lukiskan dengan sepatah dua patah kata saja.
Tentu saja gila di sini bukan mengartikan sungguh-sungguh gila, melainkan suatu penyakit histeris yang seringkali tanpa diketahui sebab musababnya mengadu jiwa tanpa memikirkan hal-hal yang lain.
Tiga bersaudara dari keluarga Kwik semuanya amat "Gila", apalagi setelah meneguk beberapa cawan arak.
Sekarang mereka semua telah minum arak, bukan cuma beberapa cawan saja, mereka telah minum banyak sekali.
Dari ketiga bersaudara Kwik tersebut, si Bungsu bersama Kwik Kau (anjing), loji bernamaKwikPa( si macan tutul ) serta lo ngo bernama Kwik Long ( si serigala ).
Kwik Kau sesungguhnya merupakan nama yang kurang sedap di dengar, ia sendiripun kurang begitu suka dengan nama itu, tapi lantaran bapaknya telah memberi nama tersebut kepadanya, maka mau tak mau nama itupun dipakainya terus sampai sekarang.
Bapak mereka adalah seseorang yang sangat garang, ia selalu berharap bisa memberikan nama yang garang untuk anak-anaknya, suatu nama binatang buas yang kedengarannya seram dan mengerikan.
Sayang sekali nama-nama binatang buas yang diketahuinya tidak terlalu banyak, sebaliknya putra yang dilahirkan tidak sedikit.
Kecuali nama-nama seperti Hou (macan), Pa (macan tutul), Him (beruang), Say (singa), Long (serigala) ...
dan lain-lainnya, ia tak dapat menemukan kembali nama-nama binatang buas lainnya yang dapat dipergunakan.
Maka terpaksa putra bungsunya diberi name "Kau"
Atau anjing, sebab paling sedikit anjing masih bisa menggigit orang.
Kwik Kau memang bisa menggigit orang, bahkan sangat suka menggigit orang, kalau menggigit dia paling garang ...
tentu saja bukan menggigit dengan moncongnya, tapi mempergunakan goloknya.
Dalam sakunya selalu menggembol sebilah pisau tipis yang terbuat dari baja murni, karena ditempa secara terus menerus dengan sistim yang istimewa maka bentuknya bukan saja pipih, dan lagi amat lemas, bisa disabukkan pada pinggang nya sebagai sebuah ikat pinggang.
Ilmu goloknya sendiri bukan termasuk warisan jurus golok kenamaan yang bisa diandalkan, tapi sangat ganas dan penuh bertenaga.
Sekalipun seorang jago kenamaan yang sungguh-sungguh lihay bertarung dengannya, seringkali merekapun mampus di ujung goloknya.
Karena seringkali dia beradu jiwa dengan orang lain tanpa diketahui sebab musababnya.
Karena dia sangat "Top".
Sekarang mereka semua telah tiba di rumah penginapan yang memakai merek Peng-an (selamat), sebab Tio Bu-ki menginap dalam rumah penginapan Peng-an.
Peng-an atau selamat adalah rejeki, setiap orang yang sedang melakukan perjalanan selalu berharap sepanjang perjalanan bisa aman tenteram, maka di setiap tempat hampir dijumpai rumah penginapan yang memakai merek Peng-an atau selamat.
Kendatipun belum tentu semua orang yang menginap di rumah penginapan Peng-an pasti akan selamat, tapi semua orang lebih suka memilih tempat yang bertuah.
Rumah penginapan Peng-an bukan saja merupakan rumah penginapan terbesar dikotaitu, lagipula merupakan rumah penginapan kuno yang paling termashur untuk wilayah di sekitarnya.
Ketika Lau lopat dengan membawa sekalian tukang pukulnya tiba di situ, kebetulan seorang asing sedang berdiri sambil bergendong tangan di luar pintu untuk berteduh dari hembusan angin, memperhatikan empat huruf emas yang terpancang di depan rumah penginapan, ia tertawa dingin tiada hentinya.
Orang ini berusia tigapuluh tahunan, berbahu lebar dengan pinggang ramping, mukanya licik dan cekatan, ia mengenakan baju hijau yang lebar dengan kaus putih sepatu rumput dan ikat kepala berwarna putih pula.
Semua perhatian Lau Lopat hanya tertuju untuk menghadapi orang she Tio, pada hakekatnya ia tidak memperhatikan kehadiran manusia tersebut di situ.
Tiba-tiba orang itu tertawa dingin sambil bergumam.
"Menurut penglihatanku, rumah penginapan Peng-an sedikitpun tidak peng-an (aman), setiap orang yang telah masuk kedalam, mungkin bukan pekerjaan yang gampang untuk ke luar lagi dalam keadaan Peng-an!"
Lau Lopat segera berpaling dan menatapnya tajam-tajam, lalu bentaknya dengan penuh kegusaran.
"Bangsat, apa yang sedang kau gerutukan?"
Laki-laki berikat kepala putih itu sama sekali tidak gentar, wajahnya berubahpun tidak, ditatapnya dua kejap orang she Lau itu dengan pandangan dingin, kemudian ejeknya.
*Aku berbicara sekehendak hatiku sendiri, apa pula sangkut pautnya dengan dirimu?"
Tidak sedikit jagoan kenamaan di wilayah sekitar situ yang dikenali Lau Pat, tapi orang itu tampaknya sangat asing, rupanya baru datang dari luar daerah, apa lagi dialeknya sewaktu berbicara jelas kedengaran membawa logat wilayah Shezuan yang amat tebal.
Lau Pat masih juga melotot ke arah orang itu, sebaliknya Kwik Kaucu (si anjing Kwik) telah menyerbu datang siap menghajar orang tersebut.
Orang itu masih juga mengejek sambil tertawa dingin.
"Heehh ... heeehhh ... heeehhh ... bukan sasaran yang dicari sebaliknya mau menggigit sembarangan orang di luar, hati-hati saja, jangan sampai mulutmu yang hancur karena salah gigit."
Kepalan baja Kwik Kaucu sudah menonjok ke luar, tapi segera ditarik oleh Lau Pat sambil serunya dengan suara dalam.
`Lebih back kita layani dulu manusia she Tio itu, kemudian baru kita bereskan bajingan keparat ini!"
Bagaimanapun berang dan berangasannyaLau Pat,iatoh tetap merupakan seorang jago kawakan yang sangat berpengalaman dalam dunia persilatan, rupanya ia sudah merasa bahwa asal usul orang itu tidak sederhana, tampaknya di balik ucapan tersebut terkandung pula maksud lain yang sangat mendalam, maka dia tak ingin menimbulkan banyak kesulitan dengan orang tersebut.
Anjing Kwik masih tidak puas, sebelum berlalu dari situ ia sempat melotot beberapa kejap kearahnya sambil menantang.
"Bangsat, kalau betul-betul bernyali, tunggu saja di situ"
Sambil bergendong tangan orang itu mendongakkan kepalanya sambil tertawa dingin, sekejappun ia tidak memandang kearahnya.
Menunggu rombongan itu sudah masuk semua, orang itu baru mengangkat sebuah bangku panjang dan diletakkan di tepi pintu masuk, lalu sambil duduk dan menepuk-nepuk paha sendiri, ia mulai bersenandung menyanyikan lagu daerah.
Sebuah lagu belum habis disenandungkan, dari dalam ruangan kedengaran suara jeritanjeritan ngeri yang menyayatkan hati, bahkan suara patahnya tulangpun secara lamat-lamat dapat kedengaran dengan jelas.
Orang itu mengernyitkan alis matanya sambil gelengkan kepala, sedang mulutnya mulai menghitung satu persatu.
"Seorang, dua orang, tiga orang, empat orang,limaorang, enam orang . Duabelas orang jago semuanya yang ikut Lau Pat masuk kedalam, tapi kini tinggal enam orang yang masih dapat ke luar dari ruangan tersebut dengan mempergunakan kaki sendiri. Lau Pat sendiri walaupun masih bisa berjalan, tapi tulang pergelangan tangannya sudah patah, ia sedang memegangi pergelangan tangan kanannya dengan tangan kiri, peluh dingin membasahi sekujur badannya karena menahan sakit. Kembali orang itu melirik ke arahnya sambil bergumam lagi.
"Tampaknya rumah penginapan Peng-an benar-benar tidak aman sedikitpun jua." ***** Dalam keadaan demikian Lau Pat hanya bisa pura-pura tidak mendengar ... Si Macan tutul yang mujur bukan cuma pandai melemparkan dadu, kenyataannya ilmu silat yang dia miliki jauh lebih tinggi dari pada apa yang diduganya semula. Baru saja tiga bersaudara dari keluarga Kwik turun tangan, mereka telah dihajar seperti seekor anjing sehingga tak mampu merangkak bangun lagi, dari antara mereka bertiga paling sedikit ada sepuluh buah jari tangannya yang telah patah dan remuk. Sebenarnya ia sendiri merasa amat yakin dengan ilmu Toa-eng-jiau-jiu (ilmu cakar elang) yang dimilikinya, siapa tahu orang lain justru menghadapinya dengan ilmu cakar elang pula, bahkan sekali gebrakan telah berhasil menghancur lumatkan pergelangan tangannya. Sekarang sekalipun dia ingin mencari gara-gara lagipun tak berguna, karena itulah meski ia mendengar setiap ucapan orang itu dengan jelas, terpaksa ia harus berpura-pura tidak mendengar. Siapa tahu orang itu justru tak mau melepaskannya dengan begitu saja, tiba-tiba ia bangkit berdiri lalu berkelebat dan menghadang di hadapan mukanya.
"Hey, mau apa kau?"
Tegur Lau Pat dengan paras muka berubah.
Orang itu cuma tertawa dingin, tiba-tiba ia turun tangan.
Lau Pat mencoba untuk mengibaskan serangan tersebut dengan mempergunakan tangannya yang tidak putus, tapi belum tahu apa yang terjadi, tiba-tiba sikutnya sudah menjadi kaku, bahkan lengan yang masih normalpun kini terjulai ke bawah tak mampu digerakkan lagi.
Dua orang jago segera menubruk dari belakang, tapi tanpa berpaling ia menyodokkan sikutnya ke belakang dan ...."Duk!
Dukl"
Dua orang itu segera mengaduh kesakitan dan roboh terguling di tanah.
Orang itu tidak berhenti sampai di situ saja, kembali ia cengkeram pergelangan tangan Lau Pat yang telah patah itu, lalu bentaknya nyaring.
"Kena!"
"Kreeek ....!"
Peluh dingin seperti air hujan membasahi sekujur badan Lau Pat, tapi pergelangan tangannya yang putus kini telah tersambung kembali.
Orang itu mundur beberapa langkah lalu bergendong tangan, tegurnya sambil tersenyum.
"Bagai mana?"
Lau Pat cuma berdiri tertegun di situ, tertegun sampai cukup lama, dilihatnya pergelangan tangan sendiri lalu digoyangkan keras-keras, kini ia baru mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, dan iapun sadar bahwa orang ini adalah seorang jago tangguh yang berilmu tinggi.
"Dapatkah aku mengundang kau minum beberapa cawan arak?"
Tiba-tiba tanyanya.
"Hayo berangkat!"
Ternyata jawaban orang itu cukup ringkas dan jelas.
Araktelah dihidangkan secara beruntun, Lau Pat dan orang itu mengeringkan tiga cawan arak kemudian baru menghembuskan napas panjang.
Tangannya yang semula patah pada bagian pergelangannya itu diluruskan ke muka, sambil acungkan jempolnya ia memuji.
"Bagus, suatu kepandaian yang amat jitu!"
"Sesungguhnya kepandaianku memang tidak jelek, tapi nasibmu justru jauh lebih bagus lagi."
Kata orang itu hambar. Lau Pat segera tertawa getir.
"Nasib bagus apa yang kuperoleh?"
Keluhnya.
"semenjak dilahirkan di dunia ini belum pernah aku Lau Pat menderita kekalahan total di tangan orang seperti apa yang kualami sekarang."
"Justru karena kau terjungkal di tangan orang itu dan menderita kekalahan tersebut, maka kukatakan bahwa nasibmu benar-benar amat bagus."
Kata orang itu lagi. Agaknya ia tahu kalau Lau Pat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan, maka sambungnya kembali.
"Seandainya kau berhasil mengalahkan orang she Tio itu, maka kau benar-benar akan tertimpa sial."
Lau Pat semakin tidak mengerti lagi. Orang itu meneguk dua cawan arak lagi sebelum bertanya lebih jauh.
"Engkau tahu, dari manakah si cucu kura-kura itu datang? Tahukah kau siapakah dia sesungguhnya?"
Lau Pat menggeleng.
"Aku tidak tahu!"
"Tio Kian, Tio jiya dariTayhong tong tentunya kau ketahui bukan?"
Sudah lama Tio Kian termashur dalam dunia persilatan, sejak dua puluh tahun berselang namanya sudah menggetarkan seluruh dunia, baik kedua pantai sungai Huang-ho, wilayah Kwan tiong maupun Kwan pak, semuanya termasuk daerah kekuasaanTayhong tong, tentu saja nama Tio jiya diketahui hampir oleh setiap orang di daerah tersebut.
"Kalau Tio jiya saja tidak kuketahui namanya, sia-sialah hidupku selama ini."
Kata Lau Pat.
"Nah, cucu kura-kura she Tio itu bukan lain adalah toa kongcunya Tio Kian ....!"
Paras muka Lau Pat kontan berubah hebat. Orang itu kembali tertawa dingin.
"Heehhh .., heeehhh ... heeehhh ..., bayangkan sendiri, seandainya kau berhasil merobohkannya, apakah pihakTayhong tong akan melepaskan dirimu dengan begitu saja?"
Sambil minum arak, Lau Pat menyeka tiada hentinya peluh yang membasahi jidat dan dagunya, tiba tiba ia gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak benar, tidak, jelas ini tidak benar!"
"Bagaimana mungkin tidak benar?"
"Seandainya ia benar benar adalah kongcu-nya Tio jiya, asal sebutkan saja nama besarnya ke manapun dia pergi, bukan suatu perbuatan yang menyulitkan baginya untuk memperoleh sokongan sebesar beberapa puluh laksa tahil perak."
"Benar, perkataanmu memang benar!"
"Kalau memang demikian, apa gunanya ia musti mencari uang dengan memasuki rumah perjudian?"
Orang itu cuma tertawa, bahkan tertawanya kelihatan begitu aneh dan misterius pula.
"Apakah ia bermaksud hendak mencari kesulitan untuk kami dan berusaha untuk meng-hancurkan rumah-rumah perjudian kami?"
Desak Lau Pat lebih jauh. Orang itu sedang minum arak, ternyata takaran araknya cukup hebat, sekalipun puluhan cawan sudah diteguk sekaligus, ternyata wajah nya sama sekali tidak berubah.
"Akan tetapi aku cukup mengetahui peraturan dalam lingkunganTayhong tong, dalam hal perjudian dan pelacuran mereka tak pernah mencampurinya."
Orang itu tersenyum.
"Peraturan tinggal peraturan, dia tetap adalah dia!"
Paras muka Lau Pat segera berubah hebat.
"Apakah hal ini merupakan ideenya sendiri untuk mengobrak abrik rumah-rumah perjudian kami? Apakah diapun ingin menancapkan pengaruhnya pula dalam soal perjudian dan pelacuran? Karena terbelenggu oleh peraturan Tay-hong-tong maka ia tak berani mengemukakan nama serta asal usulnya ......?"
"Hidup sebagai seorang anak muda yang gemar berfoya-foya, tidak sedikit tentu uang pengeluarannya sehari hari, terbentur oleh peraturan Tay hong tong yang amat besar dan ketat, bila ia tidak secara diam-diam mencoba untuk meraih sedikit keuntungan dengan cara lain, bagaimana mungkin penghidupannya bisa dilanjutkan terus?"
Kata orang itu ewa. Setelah berhenti sejenak, segera sambungnya kembali.
"Jika ingin meraih uang yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkat nya, tentu saja hanya dari dua cara itu saja paling gampang untuk mempe-rolehnya.
"Ditempat inipun Tay-hong-tong punya orang, aku dapat mengadukan kejadian ini kepada mereka,"
Kata Lau Pat dengan gusar.
Jilid 7________ BAGAIMANA caramu untuk mengadukan persoalan ini?
Dalam tubuh Tay-hong-tong, Tio jiya selamanya adalah seorang yang ternama, apakah mereka bersedia membantumu untuk menghadapi putranya sendiri?"
Lau Pat tidak berbicara lagi, peluh yang mengucur ke luar semakin banyak, tiba-tiba ia berteriak keras.
"Tidak, bagaimanapun juga tidak bisa, ini semua adalah hasil karya yang kami perjuangkan dengan keringat serta darah kami sendiri, tak mungkin kami rela untuk memberikan kepada orang lain dengan begitu saja."
Orang itu menghela napas.
"Sayang sekalipun tidak ingin kau serahkan juga percuma, kecuali ... Ya, kecuali ..."
"Kecuali kenapa?"
"Kecuali secara tiba-tiba Tio kongcu mengidap suatu penyakit yang sangat parah dan pergi menyusul bapaknya."
Ia penuhi cawan sendiri dengan arak dan meneguk habis dalam sekali tegukan.
"Hanya orang mati yang selamanya tak akan mencari uang untuk dipergunakan!"
Lau Pat menatapnya lama sekali dengan sinar mata tajam, tiba-tiba sambil merendahkan suaranya ia bertanya. Menurut pendapatmu, mungkinkah secara tiba-tiba ia akan terserang penyakit parah?"
"Kemungkinan besar!"
"Apakah kau mempunyai cara yang dapat membuatnya secara tiba-tiba terserang penyakit parah?"
"Hal ini tergantung kepadamu!"
"Tergantung kepadaku bagaimana maksudmu".
"Tergantung apakah kau mempunyai uang kontan sebesar lima laksa tahil perak?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Lau Pat setelah mendengar perkataan itu.
"Kalau aku bersedia menyiapkan uang kontan sebesar lima laksa tahil perak?"
"Kalau kau telah bersedia menyiapkan uang kontan sebesar itu maka tugasmu cukup hanya menyiapkan sebuah kartu undangan, undanglah kepadanya agar besok tengah hari bersedia datang ke rumah makan masakan Shucuan yang memakai merek "Siu oh khang"
Di tengah kota sana, karena kau hendak mengundangnya untuk makan siang bersama-sama."
Orang itu tersenyum, setelah menarik napas, panjang panjang terusnya lebih jauh.
"Bila ia selesai bersantap siang bersamamu, aku tanggung ia pasti akan kejangkitan suatu penyakit aneh, bahkan sakitnya makin lama akan semakin parah.
"Sampai di manakah parahnya penyakit yang bakal diderita orang she Tio itu?"
"Pokoknya parah setengah mati, bahkan mungkin juga segera akan merenggut jiwanya." `Bila kusebarkan undangan kepadanya, apakah dia pasti akan datang memenuhi undangan tersebut?"
"Dia pasti akan datang."
"Apakah aku harus mengundang pula orang lain.?"
Kembali Lau Pat bertanya.
"Kecuali Cia-tauke, kau jangan undang orang-orang lain, kalau t1idak ..."
"Kalau tidak mengapa?"
Dengan wajah membesi dan suara dingin kata orang itu.
"Kalau tidak bukan dia yang terjangkit sakit parah melainkan kau sendiri."
Lau Pat mulai minum arak, menyeka keringat dan menghabiskan tiga cawan, tiba-tiba sambil memukul meja teriaknya.
"Baik, kita lakukan seperti apa yang kita rencanakan!"
PERTARUNGAN BERDARAH RUMAH makan "Siu-oh-kang"
Merupakan rumah makan termashur di wilayah Siok-tiong, pemiliknya she Phang, bukan saja seorang pedagang yang pandai sekali melayani kebutuhan tamunya, diapun merupakan seorang koki yang sangat pandai membuat hidangan lezat.
Masakannya yang paling terkenal adalah masakan ikan gurame masak tausi, daging masak kecap, hati dan jerohan masak cabe, ikan masak terong serta ikan masak daging sapi.
Sekalipun hidangan-hidangan tersebut termasuk hidangan yang seringkali dijumpai dalam kehidupan rumah tangga, tapi hidangan yang ia masak justru terasa lebih harum, lebih sedap dan lebih enak rasanya ..Terutama seekor ikan gurame kalau dimasak dengan tausi ditambah dengan cabe, bukan saja empuk, segar, pedas bahkan boleh dimakan sebagai teman nasi atau teman minum arak, siapapun akan doyan makan masakan tersebut sekalipun harus ketinggalan kereta.
Kemudian Phang tauke punya anak, menarik menantu dan punya cucu, diapun mengangkat diri menjadi kepala keluarga sedang anak cucunya yang meneruskan usaha tersebut.
Sekalipun Phang tauke sudah mengundur-kan diri, tapi merek "Siu oh khang"
Masih tetap dipakai, setelah anak cucunya belajar memasak darinya, merekapun membuka rumah makan di tempat-tempat lain dengan tetap mempergunakan merek itu, kenyataan-nya setiap rumah makan yang dibuka dengan merek tersebut selalu ramai dikunjungi orang.
Rumah makan "Siau oh khang"
Di kota ini baru dibuka belum lama, kokinya konon masih keturunan langsung dari Phang tauke, hidangan ikan guramenya juga terbitung pedas, segar, enak dan empuk.
Sebab itulah meski baru dibuka setengah tahun, tapi namanya sudah tersohor sampai di manamana.
Bu-ki mengetahui pula tempat itu, ketika hari pertama ia datang ke kota itu, makan malamnya telah dilakuken di rumah makan Siu oh khang.
Kecuali masakan Ang sio leihi yang amat mahal harganya, ia memesan pula empat macam hidangan yang pedas, seporsi telur dimasak ikan, seporsi daging masak kecap dan semangkuk kuah tahu.
Ia bersantap dengan amat puas, peluh membasahi tubuhnya karena kepedasan.
Bahkan ia menghadiahkan tujuh uang tembaga untuk sang pelayan.
Seorang tamu yang datang bersantap seorang diri ternyata mampu menghadiahkan tujuh mata uang tembaga sebagai tip, hal ini sudah terhitung suatu yang luar biasa.
Oleh karena itulah, baru saja hari ini dan melangkah masuk.
"Mo sut telah menyambut kedatangannya dari kejauhan sambil membungkukkan badan. Mo-sut adalah kakak dialek Suchuan. Mo-su artinya pelayan, baik pelayan rumah makan atau pelayan warung ..... Konon semua pelayan yang bekerja di situ asli import dari Suchuan, sekalipun sudah tidak terdengar lagi kata kata seperti "Khek locu."
Cucu kura-kura2 dan lain sebagainya, tapi setiap orang mengenakan ikat kepala berwarna putih, ini sebagai pertanda bahwa mereka adalah orang asli Shucuan.
Orang Shucuan gemar mengenakan ikat kepala berwarna putih, konon sebagai peringatan untuk Cukat Hu ho (Khong Beng).
Setelah memasuki wilayah Shucuan, bila bertemu dengan orang yang tidak memakai ikat kepala putih, dia pasti adalah orang orang yang disebut sebagai "Orang udik"
Atau "orang di bawah telapak kaki"
Oleh orang-orang Shucuan, sekalipun ia cuma menghabiskan makanan seharga tigapuluh mata uang tembaga, paling sedikit yang dibayar harus satu tahil perak.
Untungnya tempat itu bukan wilayah Shucuan, hari ini Bu-ki pun tidak mengundang orang.
Maka ketika kakinya melangkah masuk dari pintu gerbing "Siu oh-khang", wajahnya me-nunjukkan perasaan yang riang.
Benarkah hati kecilnya ikut riang, hanya Thianlah yang tahu.
Tuan rumahnya ada dua orang, Cia Lak dan Lau Pat.
Sebaliknya tamunya cuma Bu-ki seorang.
Hidangan yang telah disiapkan di meja beraneka macam, sekilas pandangan saja dapat di ketahui bahwa semua masakan yang dipesan adalah hidangan-hidangan mewah yang mahal harganya.
Arakpun merupakan arak Tay mie yang paling enak dan tersohor.
Sambil tersenyum Bu ki lantas berkata.
"Kalian berdua betul-betul terlalu sungkan!"
Cia Lak dan Lau Pat memang teramat sungkan terhadap seseorang yang sudah hampir mati, sungkan sedikit memang tak ada artinya.
Sebelum datang ke sana, mereka telah merundingkan persoalan ini lama sekali, bahkan berunding secermat-cermatnya.
"Meskipun orang itu asal usulnya kurang begitu jelas bahkan amat misterius, tapi apa yang dikatakannya cukup dapat dipercaya."
"Percayakah kau bahwa orang itu sanggup menghadapi Tio Bu ki?"
"Aku yakin!"
"Kau pernah menyaksikan ilmu silatnya?"
Sebenarnya Cia Lak selalu menunjukkan sikap menaruh curiga.
"Bukan saja ilmu silatnya tidak menjadi soal, bahkan dari balik tubuhnya seakan-akan membawa sejenis hawa sesat yang menggidikkan hati."
"Hawa sesat bagaimana maksudmu?"
"Sulit bagiku untuk mengucapkannya, tapi setiap kali mendekati orang itu, aku selalu merasa hatiku mengkirik dan bulu kudukku tanpa terasa pada bangun berdiri, aku selalu merasa bahwa di balik badannya seakan-akan tersembunyi seekor ular beracun, yang setiap saat bisa menongol ke luar dan memagut orang."
"Dengan cara apakah dia hendak turun tangan?"
"Ia tidak bersedia memberitahukan kepadaku, ia cuma memesankan ruangan vip di rumah makan Siou oh khang tersebut."
"Kenapa musti memilih rumah makan Siou oh khang?"
"Ia berbicara dengan dialek Shucuan, sedang Siou oh khang adalah rumah makan yang khusus menghidangkan masakan Shucuan, aku rasa di rumah makan itu dia pasti mempunyai pembantu."
Pelayan yang bekerja di rumah makan Siou oh khang berjumlah sepuluh orang, lima di atas loteng dan lima di bawah loteng.
Secara diam-diam Cia Lak telah memperhatikan mereka semua, ternyata dari sepuluh orang tersebut ada empat orang yang bertubuh enteng dan cekatan, jelas merupakan seorang jago silat.
Menanti mereka sudah duduk di atas loteng telah bertambah lagi dengan seorang pelayan, dia adalah "sahabat"
Mereka itu.
"Kami telah berjanji, ongkos yang lima laksa tahii perak itu akan kubayar tiga laksa tahil lebih dulu, sedang sisanya akan dibayar setelah berhasil nanti".
"Kau telah membayar kepadanya?"
"Pagi tadi sudah kuberikan kepadanya".
"Surat undangannya?"
"Surat undangan itu telah kuberikan kepada orang she Tio itu, malah kusertakan juga sepucuk surat pendek".
"Siapa yang menulis surat itu".
"Engkuku"! Meskipun engku Lau Pat bukan seorang sastrawan, namun untuk menulis sepucuk surat jelas bukan persoalan yang menyulitkan. Dalam surat itu mula-mula dinyatakan rasa sesal dan kagumnya kepada Bu-ki, kemudian berharap kedatangan Bu ki untuk makan siang sambil menghilangkan rasa permusuhan di antara mereka.
"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia akan datang memenuhi janji?"
"Aku rasa dia pasti datang!"
"Kenapa? "
"Sebab pada dasarnya dia adalah seorang pemberani, terhadap persoalan apapun tidak mengambil perduli."
Tentu saja Bu ki telah datang. Ia tak pernah menampik undangan orang lain, entah siapapun yang mengundang kedatangannya.
"Sampai kapan mereka baru akan turun tangan?"
"Dikala Ang sio leihi dihidangkan dan kujepit kepala ikan dengan sumpit, mereka segeraa akan turun tangan!" ***** Kini hidangan utama belum ke luar, yang dihidangkan baru empat macam makanan dingin dan empat macam masakan panas. namun telapak tangan Lau Pat sudah di basahi oleh keringat dingin. Ia bukannya tak pernah membunuh orang, dia pun bukannya tak pernah melihat orang lain membunuh orang, tapi saat penantian adalah saat yang paling menegangkan urat syaraf, ia cuma berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan, agar manusia yang bernama Tio Bu ki selamanya lenyap dari permukaan tanah. Karena persoalan ini tak boleh sampai diketahui Ciau Jit Tayya, maka sekali turun tangan tak boleh sampai salah bertindak. Bu-ki selalu menunjukkan wajah riang, seakan-akan tak pernah dirasakan olehnya bahwa dalam persoalan ini terdapat kecurigaan yang perlu dikuatirkan. Meskipun ia tidak pernah minum arak disiang hari, tidak makan terlalu banyak, tapi per-kataannya tidak sedikit. Karena pada saat ia sedang berbicara, orang lainpun tidak akan menemukan bahwa selama ini dia terus menerus melakukan pengawasan. Ia tidak menemukan sesuatu yang tak beres tentang tempat itu, beberapa macam sayur yang dihidangkan jelas tidak pula mengandung racun! Buktinya Cia Lak dan Lau Pat makan sayur--sayur itu dalam jumlah yang tidak sedikit. Bahkan pengawal pribadipun tidak mereka bawa, jelas di luar di sekeliling rumah makan itu juga tidak disiapkan orang-orangnya yang siap melakukan sergapan. Jangan-jangan mereka memang betul-betul berniat menghilangkan rasa permusuhan dan mengikat diri menjadi sahabat. Hanya ada satu hal yang kelihatannya aneh, yakni beberapa orang pelayan rumah makan itu kelihatannya luar biasa bersihnya. Sewaktu mereka menghidangkan sayur tadi, Bu ki telah memperhatikan secara khusus jari jemari mereka, buktinya jangankan telapak tangan, kuku mereka yang terawat rapihpun tidak ditemukan tanda-tanda minyak ataupun kotoran. Jarang ditemukan manusia sebersih ini di tempat tempat rumah makan semacam ini. Tapi, bila dikatakan mereka benar-benar mempunyai rencana busuk, sudah seharusnya berpikir pula sampai ke situ, paling tidak tubuh mereka dibuat sedikit rada kotor. Ia merasa, salah seorang di antara pelayan-pelayan itu mempunyai bayangan punggung yang cukup dikenal olehnya, seakan-akan di suatu tempat ia pernah menjumpainya. Tapi sayang, justru pada saat seperti ini Bu ki tak dapat mengingatnya kembali. Ia ingin sekali menyaksikan raut wajah orang itu, tapi dia cuma bergerak lewat di pintu depan saja, lalu turun loteng.
"Heran, kenapa aku bisa kenal dengan pelayan di rumah makan ini? Tidak terlalu banyak manusia di dunia ini yang memiliki potongan badan sepersis itu."
Dia selalu mencarikan jawaban dan penjelasan bagi masalah pelik yang dihadapinya, karena ia tidak berniat sungguh-sungguh untuk mencari satroni dengan manusia macam Cia Lak dan Lau Pat.
Ia selama ini berbuat demikian tidak lebih karena dia ingin mempergunakan cara ini untuk mencari seseorang.
Menurut pendapatnya, hanya dengan cara ini saja jejak orang itu dapat ditemukan.
***** Masakan ikan leihi yang paling tersohor bagi rumah makan Siu oh khang akhirnya dihidangkan juga, masakan ikan tersebut dihidangkan khusus menggunakan sebuah baki besar yang panjangnya mencapai dua depa lebih, hawa panas menyiarkan bau harum dan pedas, suatu perpaduan bau yang menggelitik selera makan siapapun.
Selama ini ada dua orang pelayan yang secara khusus melayani kebutuhan mereka, setelah menghidangkan air teh, orang itu kembali mundur dengan kepala yang ditundukkan.
"Adakah di antara kalian yang suka makan kepala ikan?"
Tiba tiba Lau Pat berkata. Cia Lak segera tertawa.
"Kecuali kau, hanya kucing yang suka makan kepala ikan!"
Mendengar itu Lau Pat segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh...haaahhh....haaahhh...kalau begitu biar kunikmati sendiri kegemaranku ini."
Sambil berkata, dia lantas menyumpit kepala ikan tersebut. Pada saat itulah tiba-tiba meja perjamuan di tendang orang hingga terbalik, menyusul kemudian sambil menerjang ke muka Bu ki membentak keras.
"Oooh ....rupanya kau!"
Pelayan yang menghidangkan sayur itu baru saja mundur ke depan pintu, tubuhnya baru saja berputar setengah jalan, Bu ki telah menerkam ke depan.
Pada saat yang berbarengan itulah, dua orang pelayan yang selama ini berada dalam ruangan melancarkan serangan pula secara serentak.
Serangan yang mereka bertiga lancarkan semuanya merupakan senjata rahasia, secara terpisah dua orang melancarkan enam buah titik bintang berwarna hitam yang masing-masing mengancam kaki serta punggung Bu-ki.
Setelah serangan dilancarkan, barulah kelihatan kalau di tangan mereka masing-masing mengenakan sebuah sarung tangan yang terbuat dari kulit menjangan.
Laki-laki kekar yang merundingkan rencana tersebut dengan Lau Pat segera manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, di kala tubuhnya berputar ia lantas mengenakan sarung tangannya.
Maka ketika Bu ki menerjang kearahnya, ia lantas berkelit ke samping lalu dengan gerakan Hui tau wang gwat ( berpaling memandang rembulan ) segenggam pasir beracun yang berwarna hitam segera ditebarkan ke arah depan.
Cia Lak dan Lau Pat yang sebenarnya telah mengundurkan diri ke sudut ruangan segera berubah wajahnya.
tanpa sadar mereka berseru kaget.
Meskipun mereka belum tahu kalau senjata rahasia yang dipergunakan adalah Tok ci li (ilalang beracun) dan Toan hun sah (pasir pemutus nyawa) dari keluarga Tong yang sudah termashur di seluruh dunia, namun mereka tahu, biasanya bila seseorang mengenakan sarung tangan kulit menjangan sebelum melepaskan senjata rahasianya maka hal ini menunjukkan bahwa senjata rabasia yang dilancarkan pasti mengandung racun yang amat jahat.
Waktu itu tubuh Bu ki masih melambung di udara, jangankan untuk menghindari serangan beribu ribu-biji pasir beracun yang datang dari muka, berkelit dari keduabelas biji Tok ci li dari belakangpun sukarnya melebihi merangkak naik ke langit.
Di antara jenis-jenis senjata rahasia dari keluarga Tong, pasir beracun Toan hun sah terhitung senjata rahasia yang paling ampuh dan merupakan juga jenis yang paling menakutkan.
Pasir-pasir beracun itu lebih kecil bentuknya dari pada biji beras.
sekalipun tak bisa mencapai jarak yang cukup jauh, tapi begitu dilancarkan, langit akan berubah menjadi gelap gulita.
Dalam keadaan begini, jika musuh berada dalam radius satu kaki sampai dua kaki, maka jangan harap ia bisa menghindarkan diri, sebiji saja bersarang di tubuh akan mengakibatkan badan menjadi busuk dan racun itu meresap ke dalam tulang.
Ini semua sekali lagi membuktikan bahwa setiap langkah dari setiap kemungkinan yang bakal terjadi dalam operasi ini telah melalui suatu rencana serta pemikiran yang cermat.
Tentu saja persiapan-persiapan itu meliputi juga bagaimana penempatan posisi dari ketiga penyerangnya dan arah serta bagian tubuh manakah yang harus diserang sehingga sama sekali tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk menghindarkan diri.
Ya, jelas sudah bahwa semuanya itu telah mereka perhitungkan secara tepat dan masakmasak.
Tapi mereka tidak menyangka kalau Bu ki akan mengenali kembali laki-laki berikat kepala putih itu disaat terakhir menjelang dimulainya operasi mereka, mereka tidak mengira kalau Bu ki akan mengenali kembali lelaki itu sebagai salah seorang pengiring Sangkoan Jin tempo hari, atau pembunuh dari Tio Piau yang dikuatirkan akan membocorkan rahasia mereka.
Kendatipu Bu ki tindak terlalu memperhatikan manusia semacam ini, tapi paling tidak dalam benaknya telah mempunyai sedikit kesan yang cukup mendalam.
Dan kini justru karena kesannya itu, selembar jiwanya berhasil diselamatkan.
Ia telah turun tangan selangkah lebih duluan, sebelum pihak lawan mulai melancarkan serangan mautnya, ia telah menubruk ke depan lebih dahulu ....Sekalipun sambil memutar tubuhnya laki-laki itu masih sempat melancarkan serangan dengan pasir beracunnya, namun dalam keadaan kaget dan gugup serangan itu toh tetap masih agak lambat.
Ketika tanganya baru saja diayukan, Bu ki telah tiba di bawah iganya, kepalannya yang lebih keras dari baja itu tahu-tahu sudah bersarang di atas tulang iganya yang nomor satu dan nomor dua.
Bunyi gemeretuk remuknya tulang baru kedengaran, tubuhnya sudah terlempar ke belakang dan secara kebetulan menyongsong datangnya serangan Tok ci li yang datang dari belakang.
Diantara kedua belas batang Tok ci li tersebut adalah sembilan batang diantaranya telah bersarang di atas tubuhnya.
Tentu saja ia mengetahui sampai di manakah kehebatan dari senjata rahasia tersebut, ketakutan dan rasa ngeri telah menyumbat tenggorokannya membuat dia ingin berteriakpun tak sanggup berteriak lagi.
Selang sejenak kemudian, ia mulai merasa kehilangan seluruh daya kontrol dan daya kendali terhadap semua organ di dalam tubuhnya, air mata, ingus, air liur, air seni dan kotoran tubuh, serentak meleleh ke luar secara otomatis.
Menanti Bu ki melemparkan tubuhnya ke luar, sekujur badannya telah telah menjadi lemas dan tak bertenaga, tapi justru dia belum juga mau mati.
Bahkan ia masih sempat mendengar suara remuknya tulang belulang dari kedua orang rekannya itu, kemudian terdengar pula jeritan mereka yang memilukan hati.
Setelah itu dia merasakan juga sebuah tangan yang dingin bagaikan es menampar pipinya, lalu seseorang bertanya.
"Sangkoan Jin berada di mana?"
Tangan itu menampar tiada hentinya di kedua belah pipinya, tentu saja dengan harapan agar ia tetap mempertahankan kesadarannya, tapi sayang pada saat itulah ia merasa suara pertanyaan itu kedengaran makin lama semakin jauh makin lama semakin lirih ....Dia membuka mulutnya ingin berbicara, tapi yang mengalir ke luar cuma air liur yang getir rasanya, bukan cuma getir bahkan bau dan tak sedap rasanya.
Waktu itu ia mulai bisu, mulai buta dan tuli, bahkan perasaanpun ikut mati ...
Akhirnya pelan-pelan Bu ki bangkit berdiri, wajahnya dipalingkan ke arah Cia Lak dan Lau Pat.
Wajahnya pucat pias tiada pancaran cahaya darah.
tapi tubuhnya penuh berlepotan darah, entah darah siapa yang telah menodai tubuh serta bajunya itu?
Bukan darah orang lain saja yang terdapat di tubuhnya, darah sendiripun ikut terdapat di-antaranya.
Ia tahu beberapa biji pasir beracun sempat menggesek di atas wajahnya dan melukainya, malah ada sebatang senjata rahasia Tok ci li yang bersarang pada bahunya.
Tapi ia tak tahan membiarkan orang lain tahu.
Sekarang sari racun itu belum mulai bekerja, dia harus mempertahankan sedapat mungkin, kalau tidak maka diapun akan mampus secara konyol di tempat itu.
Telapak tangan Lau Pat telah basah, malah pakaian yang dikenakanpun ikut basah oleh peluh dingin yang mengucur ke luar dengan derasnya.
Apa yang berlangsung barusan seakan-akan hanya suatu impian buruk, suatu impian buruk yang mencekam perasaan siapapun.
Bunyi tulang yang remuk, jeritan kesakitan yang menyayat hati serta rintihan yang memilukan, kini hampir telah berhenti semua.
Tapi ruangan tersebut masih saja penuh diliputi oleh bau darah serta bau busuk yang membuat orang sukar untuk menahannya.
Ia sudab ingin tumpah.
Ia pingin menerjang ke luar dari situ, tapi tak berani berkutik.
Bu ki berdiri tepat di hadapan mereka, sedang memandang ke arahnya dengan pandangan dingin.
"Idee siapakah ini?"
Ia menegur dengan suara yang ketus dan menyeramkan hati orang. Tak seorangpun yang buka suara, tak seorangpun yang mengakuinya. Kembali Bu ki berkata sambil tertawa dingin.
"Bila kalian sungguh-sungguh ingin membunuhku, mau turun tangan pada saat inipun masih belum terlambat."
Tak seorang manusiapun berani berkutik. Bu ki memandangnya dengan dingin, tiba-tiba ia putar badan dan berjalan ke luar dari situ.
"Aku tak akan membunuh kalian, sebab kalian masih belum pantas kubunuh dengan tanganku sendiri."
Langkah kakinya masih begitu tenang, begitu mantap dan bertenaga.
Bagaimanapun juga ia tak akan membiarkan siapapun tahu kalau ia sudah hampir tidak tahan.
Mulut luka itu sedikitpun tidak sakit, hanya sedikit kaku, seperti kena digigit oleh semut.
Tapi kepalanya sudah pusing tujuh keliling, pandangan matanya sudah mulai menjadi gelap.
Senjata rahasia beracun dari keluarga Tong memang bukan cuma nama kosong, dalam rumah makan itu pasti masih ada orang-orang dari keluarga Tong, sebab pelayan yang tampak istimewa bersihnya itu paling tidak masih ada dua-tiga orang.
Biasanya orang yang suka menggunakan racun memang memiliki dandanan tubuh yang kelewat bersih.
Bu ki membusungkan dadanya dan berjalan ke luar dari rumah makan itu dengan langkah yang mantap.
Ia sama sekali tidak tahu apakah luka yang dideritanya masih bisa tertolong atau tidak, tapi bagaimanapun juga dia harus ke luar dari tempat tersebut.
Sekalipun bakal mampus, dia tak akan mampus di sini, apalagi mampus di hadapan musuhmusuh besarnya.
Tak seorang manusiapun berani menghalangi jalan perginya, sekalipun di sana terdapat orang--orang dari keluarga Tong, nyali mereka sudah dibuat pecah oleh kegagahan musuhnya.
Akhirnya ia berhasil juga ke luar dari pintu gerbang rumah makan yang tampak megah serta gagah itu.
Tapi berapa jauhkah ia masih sanggup berjalan?
Sinar matahari mencorong dengan teriknya, tapi pandangan matanya makin lama semakin gelap, orang yang berlalu lalang di sekeliling tempat itupun tampak olehnya bagaikan bayangan-bayangan hitam yang sedang melompat-lompat.
Dia ingin mencari sebuah kereta kuda tapi trak berhasil menemukannya, sekalipun ada sebuah kereta besar yang tepat berhenti di hadapannya, belum tentu ia sanggup melihatnya sendiri.
Entah berapa jauh sudah ia berjalan ..tiba-tiba ia merasa tubuhnya seperti menumbuk di atas tubuh seseorang.
Kemudian orang itu seperti lagi mengajaknya berbicara, apa mau dikata suara orang itu justru kedengaran begitu sayup-sayup sampai, begitu kabur dan seakan-akan datang dari tempat yang jauh sekali, ia tak dapat mendengarnya dengan jelas.
Tapi ..siapakah orang itu, sahabat atau musuh besarkah orang itu ...
Kenapa ia mengajaknya berbicara?
Sekuat tenaga ia berusaha membuka matanya lebar-lebar, raut wajah orang itu tepat berada di hadapannya, namun ia masih belum dapat melihatnya dengan teramat jelas.
Tiba-tiba orang itu berteriak dengan sepenuh tenaga .
"Hei ... ! Aku adalah Samwan Kong, masih kenalkah kau dengan diriku ini? Hei, masih kenal tidak?"
Bu-ki segera tertawa, ia tertawa lebar sekalipun suara tertawa sendiri tak begitu kedengaran lagi olehnya. Sambil mencengkeram bahunya, diapun berseru.
"Tahukah kau bahwa aku sedang bertaruh kepada diriku sendiri ....... ?"
"Apa yang sedang kau pertaruhkan?"
"Aku bertaruh kau pasti akan datang mencariku, pasti dan tak mungkin tidak."
Setelah tersenyum sebentar, ia menambahkan.
"Dan buktinya sekarang, kau benar-benar telah muncul di hadapanku, aku menang!"
Setelah mengucapkan kata kata tersebut, ia roboh tak sadarkan diri ....Setalah bertahan sekian lama, bertahan agar jangan diketahui oleh musuhnya bahwa ia terluka, kini ia tak sanggup mempertahankan diri lagi, terutama setelah mengetahui bahwa Samwan Kong berhasil ditemukan.
segenap tenaganya membuyar dan diapun roboh tak sadarkan diri.
Tinggal Samwan Kong seorang yang memandang kearahnya dengan wajah melongo.
RACUN DAN SENJATA RAHASIA KELUARGA Tong di wilayab Siok-tiong bukan suatu perguruan ilmu silat, bukan pula sebuah perkumpulan atau organisasi rahasia, melainkan adalah suatu keluarga persilatan.
Akan tetapi sudah hampir dua ratus tahun lebih keluarga persilatan ini menjagoi wilayah Suchuan, selama ini belum pernah ada perguruan lain atau anak buah dari perguruan lain yang berani sembarangan memasuki wilayah kekuasaan mereka.
Sebab obat racun dan senjata rahasia terlalu menakutkan.
Konon senjata rabasia mereka terdiri dari tujuh jenis, yang sering ditemui dalam dunia persilatan tak lebih hanya jarum beracun, Tok-ci li serta pasir Toan hun sah.
Kendatipun cuma tiga macam, namun sudah cukup menggetarkan sukma dan memecahkan nyali setiap umat persilatan, sebab barang siapa terkena sejenis saja dari senjata rahasia mereka itu, maka dia hanya menunggu saat datangnya ajal, menunggu hingga mulut lukanya membusuk dan hancur kemudian baru pelan-pelan mati, mati dalam keadaan yang jauh lebih menderita dan sengsara dari pada kematian macam apapun juga.
Racun jahat yang dipoleskan di ujung senjata rahasia mereka bukannya tiada obat penawarnya.
Cuma saja obat penawar dari keluarga Tong, seperti juga senjata rahasia beracun dari keluarga Tong, selamanya merupakan rahasia nomor satu bagi umat persilatan.
Kecuali anak cucu dan keturunan langsung dari keluarga Tong, tak nanti ada orang lain yang mengetahui rahasia tersebut, malahan diantara sekian banyak anak cucu keluarga Tong tak lebih dari tiga orang manusia belaka yang memiliki obat penawar bagi racun senjata rahasia mereka.
Oleh sebab itu bila kau sampai terkena senjata rahasia beracun dari keluarga Tong, berarti kau sedang menunggu tibanya ajal, menunggu mulut luka itu mulai membusuk lalu mati dengan pelan-pelan.
Yaa, pelan sekali .........
***** Bu-ki belum mati, dalam keadaan tak sadar ia selalu merasa tubuhnya terombang-ambing naik turun tiada hentinya, seakan-akan selembar daun yang sedang dipermainkan oleh gelombang samudra yang amat besar.
Akan tetapi dikala ia sadar kembali dari pingsannya, ditemukan tubuhnya sedang berbaring dengan tenang di atas sebuah pembaringan yang bagus dan nyaman.
Samwan Kong tepat berdiri di ujung pembaringan sambil memperhatikan ke arahnya dengan wajah yang kesemsem tapi tampak juga keseriusannya, sehingga wajahnya yang pada dasarnya memang aneh kelihatan lebih lucu dan menggelikan.
Ketika menyaksikan Bu-ki membuka matanya dan sadar kembali, manusia yang berwatak aneh ini segera tertawa terkekeh kekeh seperti seorang anak kecil.
Ia mengerdipkan sepasang matanya, lalu berkata.
"Tahukah kau bahwa akupun sedang bertaruh kepada diriku sendiri ?"
"Bertaruh apa?"
Tanya Bu ki dengan suaranya yang lemah dan lirih setelah membasahi bibirnya yang getir, kering dan merekah itu dengan ujung lidahnya.
"Aku bertaruh aku pasti dapat mempertahankan selembar jiwamu itu."
Mencorong sinar tajam dari balik matanya, senyum dan gelak tertawanya jauh lebih riang dari gelak tertawa seorang anak kecil, kembali ujarnya.
"Dan kali ini akupun berhasil menang!" ***** Bu ki sudah mulai bersantap sedikit bubur manis yang dibuat dari jinsom serta Yang oh. Tapi mulutnya masih terasa amat getir, sedemikian getirnya hingga ingin tumpah rasanya. Sehabis makan bubur manis itu, ia baru merasakan tubuhnya agak segar. Bubur itu dimasak deagan cara yang unik tapi lezat, seperti juga perabot dalam ruangan itu, unik tapi menyenangkan, tidak tawar pun tidak terlalu asin, persis dan sedap dirasakan. Ia percaya rumah ini bukan milik Samwan Kong, bagi seorang peujudi yang setiap kali berjudi selalu kalah, atau mungkin saja ia memiliki rumah sebagus ini, tapi tak mungkin akan memiliki sebuah keluarga seperti ini. Menanti kekuatan tububnya sudah mulai pulih kembali, tak tahan lagi dia pun lantas bertanya.
"Tempat manakah ini?"
"Inilah tempat yang ke delapan!"
Jawab Samwan Kong. Tempat ke delapan? Apa artinya?"
Tentu saja kau tak akan faham.
"Dalam semalaman kemarin, aku telah membawamu mengunjungi tujuh-delapan buah tempat yang berbeda,"
Samwan Kong menerangkan.
Ia telah menunggang kuda semalaman suntuk menunggangnya dengan sangat cepat ...
itulah sebabnya mengapa Bu ki selalu merasa tubuhnya seakan-akan sedang terombang ambing di tengah gelombang samudra yang maha dahsyat ........
Ia telah mencari tujuh delapan orang yang kemungkinan bisa menyembuhkan luka yang diderita Bu ki, tapi setelah orang lain mengetahui bahwa Bu ki, terkena senjata rahasia beracun dari keluarga Tong, mereka selalu memberi jawaban yang sama.
"Maaf!"
Kembali Samwan Kong bertanya.
"Tahukah kau, kenapa sampai sekarang kau masih dapat hidup segar bugar ... ?"
"Kenapa?"
Bu ki balik bertanya.
"Pertama, karena ketiga orang cucu kura-kura dari keluarga Tong itu bukan jago lihay dari keluarga Tong, senjata rahasia yang mereka pergunakanpun tidak lebih merupakan sisa-sisa senjata rahasia yang tak terpakai oleh anak cucu keturunan keluarga Tong". Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan kembali.
"Seandainya Tok ci li yang bersarang di tubuhmu itu adalah barang asli, sekarang kau sudah remuk dan hancur menjadi cairan yang amat busuk". Bu-ki cuma tertawa getir.
"Kedua, karena tuan rumah tempat ini secara kebetulan memiliki sebiji teratai salju dari Thian-san, dan kebetulan juga dia adalah sahabat karibku". Soat lian cu atau teratai salju dari bukit Thian-san merupakan obat mustajab yang paling manjur untuk memunahkan daya kerja racun jahat, kemujarabannya diakui secara umum oleh setiap umat persilatan di dunia, benda itu merupakan benda yang langka dan harganya jauh melebihi intan permata yang jumlahnya mencapai segudangpun. Ternyata tuan rumah gedung itu bersedia mengorbankan obat mustajabnya demi menyelamatkan seseorang yang masih asing baginya, maskipun sebagian besar karena memandang di atas wajah Samwan Kong, namun Bu kipun merasa amat berterima kasih kepadanya.
"Ketiga,"
Ujar Samwan Kong lebih lanjut.
"tentu saja karena aku telah bertaruh dengan diriku sendiri, aku tak akan membiarkan kau mati karena keracunan."
Tiba-tiba Bu ki mengangguk.
"Yaa, aku tahu, kau berbuat demikian pasti karena ingin tahu kenapa setiap kali kulemparkan daduku pasti akan ke luar angka enam tiga kali? Bukankah kau ingin mempelajari cara tersebut? Kaupun ingin tahu, apakah kekalahan yang kau derita kali ini merupakan kekalahan yang penasaran atau tidak?"
"Kau tahu?"
Tanya Samwan Kong sambil membelalakkan matanya. Yaa, tentu saja aku tahu."
"Apakah kau sengaja berbuat demikian?"
"Sudah barang tentu aku sengaja berbuat demikian.* Kenapa?"
"Sebab aku tidak berhasil menemukan kau, maka terpaksa musti kugunakan suatu akal agar kau yang datang mencariku."
"Kau tahu dengan pasti bahwa aku pasti akan datang mencarimu?"
Bu ki segera tertawa.
"Tentu saja, sebelum persoalan ini kau bikin terang, aku yakin selama ini kau pasti makan tak enak tidur tak nyenyak!"
Katanya. Mendengar itu Samwan Kong tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh ..haaahhh ..haaahh ..bagus, bagus, bocah muda, kau memang betul-betul sangat lihay!"
"Bukan cuma lihay saja!"
Tiba tiba Samwan Kong menghentikan gelak tertawanya, dengan wajah serius dan mata melotot ditatapnya wajah Bu ki lekat lekat, kemudian ujarnya bersungguh sungguh.
"Sesungguhnya kau telah mempergunakan kepandaian tangan atau tidak? Sebetulnya kekalahan yang kuderita waktu itu adalah kekalahan yang penasaran atau tidak?"
"Menurut dugaanmu?"
Bu ki bL"~ik bertanya sambil tersenyum. Tiba-tiba Samwan Kong meloncat ke udara, lompatan itu mencapai ketinggian satu kaki lebih, teriaknya keras keras.
"Bocah muda, dengan sudah payah kuselamatkan selembar jiwa kecilmu, demikianlah pem-balasanmu?"
Bu ki sama sekali tidak dibikin terkejut oleh teriakannya itu, dia malah tertawa semakin riang.
"Perduli bagaimanapun jalan pikiranmu waktu itu, pokoknya karena waktu itu kau tak dapat me-lihatnya, maka kau musti mengaku kalah!"
"Apakah tidak kau saksikan emas-emas yang kuserahkan karena kalah bertaruh?"
Teriak Samwan Kong lagi dengan marah.
"Itu kan kau kalah bertaruh dari Siau sianseng, jangan lupa kau masih kalah bertaruh sebuah benda kecil kepadaku!"
"Aku kalah apa lagi kepadamu?"
"Yaa, sepatah kata saja!"
Seakan akan daya ingatan Samwan Kong secara mendadak menjadi amat jelek, ia meng-gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sayang aku sudah tak mengingatnya lagi!"
"Aaah . .! Kau pasti masih ingat, kau bilang asal aku bisa melemparkan enam tiga kali maka terserah apapun yang kuminta!"
Sekalipun Samwan Kong ingin mungkir, ia tak mungkin mungkir lebih jauh, apalagi dia memang bukan seseorang yang gemar mungkir, daya ingatannyapun tidak sejelek apa yang diperlihatkan tadi.
Kembali dia melompat ke udara sambil mencak mencak, teriaknya dengan suara yang keras seperti geledek.
"Mau apa kau sekarang ? Mengawiniku sebagai binimu?"
"Aaah ... Tidak, masa kau akan kujadikan biniku? Aku hanya berharap agar kau bisa mencarikan seseorang bagiku."
Sorot mata pengharapan dan kehangatan segera terpancar ke luar dari balik matanya, kembali ia berkata.
"Kau pernah berkata, bukan cuma bertaruh saja kau memiliki kepandaian besar, kepandaianmu mencari orangpun nomor satu di dunia."
Rada senang Samwan Kong mendengar pujian itu, terutama kata kata seperti "nomor satu di dunia", yaa, setiap orang pasti suka mendengarkan pujian setinggi langit, siapakah yang tidak menyukainya?
Maka dia lantas bertanya.
"Siapakah yang kau cari?* Bu ki mengepal sepasang tangannya kencang-kencang dan berusaha mengendalikan pergolakan emosinya, sepatah demi sepatah kata ia menjawab. *Sangkoan Jin."
"Sangkoan Jin dari Tay hong tong?"
Seperti tersengat lebah, Samwan Kong menjerit kaget. Bu ki mengangguk, jidatnya telah dibasahi oleh peluh dingin yang penuh mengandung rasa benci, sedih dan dendam.
"Kau adalah putra Tio Kian, maka kau hendak mencari Sangkoan Jin untuk membalas dendam?"
Kata Samwan Kong lagi. Kembali Bu ki manggut manggut, jawabnya dengan sedih.
"Kau telah menyelamatkan jiwaku, selama hidup tak akan kulupakan budi kebaikanmu itu, aku bukan seorang manusia yang lekas melupakan budi kebaikan orang, tapi bagaimanapun juga aku harus menemukan Sangkoan Jin sampai dapat!"
"Setitik tanda terangpun tidak kau miliki?"
"Sama sekali tidak ada."
Samwan Kong tidak berbicara lagi, ia berjalan mengitari ruangan itu sampai sepuluh kali banyaknya, tiba-tiba ia berteriak keras.
"Baik, aku akan mencarikan untukmu, cuma ....."
"Cuma kenapa?""
"Setelah dia kau temukan, apa yang hendak kau lakukan? Dengan kepandaianmu sekarang, telur-telur busuk kecil yang merupakan kurcaci dari keluarga Tong saja tak mampu kau hadapi, bahkan nyaris nyawamu ikut melayang, apa yang hendak kau andalkan untuk menghadapi Sangkoan Jin?"
Bu-ki termenung, lama, lama sekali ia membungkam diri, akhirnya pelan-pelan ia baru berkata.
"Tentang masalah tersebut, aku telah memikirkannva!"
"Oya?"
"Sejak aku berkunjung ke rumahnya Siau sianseng, telah kuketahui bahwa orang pintar yang ada di dunia ini jauh lebih banyak dari pada apa yang kubayangkan semula, akupun tahu bahwa ilmu silatku masih teramat cetek daripada apa yang pernah kubayangkan sebelumnya! "Rupanya kau masih sedikit tahu diri!"
"Aku hanya ingin membalas dendam, bukan pergi untuk menghantar kematianku sendiri."
"Ehmm, kau memang tidak bodoh!"
"Oleh sebab itu asal kau dapat membantuku untuk menemukan Sangkoan Jin, akupun mem-punyai akal untuk menghadapinya!"
"Untuk menemukan jejak Sangkoan Jin, bukanlah suatu pekerjaan yang amat gampang!"
"Aku mengerti!"
"Dia sendiripun pasti tahu bahwa perbuatan yang dia lakukan adalah suatu perbuatan yang memalukan dan tak boleh diketahui orang, ia pasti akan berganti nama dan hidup mengasingkan diri di suatu tempat yang terpencil dan sulit ditemukan oleh siapapun!"
"Aku hanya berharap dalam jangka waktu satu tahun kau telah memberi kabar gembira kepadaku!"
"Kau dapat menunggu selama setahun ?"
Tanya Samwan Kong.
"Ada orang, demi terlaksananya cita-cita membalas dendam, sepuluh tahun saja dapat mereka tunggu, kenapa aku tak dapat menunggu hanya setahun saja?"
Sikapnya begitu tenang, begitu mantap dan meyakinkan, sedikitpun tidak memperlihatkannya sebagai seorang pemuda tak tahu diri yang matanya sudah dibuat melamur oleh baranya api dendam serta melakukan sepak terjang yang ngawur serta gegabah.
Jelas ia sudah mempunyai tekad yang besar serta rasa percaya pada diri sendiri yang tebal.
Sekali lagi Samwan Kong menatapnya lama sekali, tiba tiba ia menepuk bahunya keras-keras seraya berkata.
"Baik, setahun kemudian berkunjunglah kembali ke mari, aku pasti akan membawa berita baik untukmu!"
Ia tidak memberi kesempatan kepada Bu-ki untuk menyampaikan rasa terima kasihnya, dengan cepat katanya lagi.
"Sekarang dapatkah kau memberitahukan kepadaku, apakah kau telah mempergunakan kepandaian tangan atau tidak dalam permainan dadumu?"
"Aku memang sedikit mempergunakan kepandaian tangan tapi bukan kepandaian tangan yang biasa dipergunakan oleh para Long-tiong."
"Kepandaian tangan apakah yang sesungguhnya telah kau pergunakan?"
Desak Samwan Kong lebih jauh.
"Semacam kepandaian tangan tak mungkin bisa disingkap rahasianya oleh siapapun, sebab sekalipun kuberitahukan kepada orang lain bahwa aku telah mempergunakan semacam kepandaian tangan orang lainpun terpaksa harus mengaku kalah!"
"Kenapa demikian ?"
Sambil tersenyum Bu-ki manggut manggut, katanya.
"Kau membawa dadu ?"
"Tentu saja !"
Seperti juga sebagian besar setan judi lainnya, kemanapun ia pergi alat berjudi yang paling disukainya selalu dibawa dalam sakunya.
Yang paling disukai olehnya adalah permainan dadu, maka ketika tangannya merogoh ke dalam saku, ia telah mengeluarkan segenggam biji-biji dadu.
Bu-ki menimang sebentar sebiji dadu, lalu berkata.
"Setiap permukaan dadu terukir angka yang tertentu dan setiap angka jumlahnya tak sama, pada bagian permukaan yang berangka enam biasanya jauh lebih berat sedikit dari pada permukaan yang berangka lima."
"Kenapa ?"
"Karena cat yang melekat pada angka tersebut akan membuat permukaan dadu menjadi lebih berat ketimbang pada permukaan lain!"
Kemudian ia menjelaskan lebih jauh.
"Kalau dadu itu terbuat dari batu kemala, maka permukaan yang menunjukkan angka enam akan jauh lebih enteng dari pada permukaan yang menunjukkan angka lima !"
Pengamatannya terhadap dadu ternyata memang amat teliti dan seksama, belum pernah Samwan Kong berpikir sampai ke situ kendatipun setiap hari kerjanya hanya bermain dadu melulu.
"Sudah barang tentu perbedaan berat enteng setiap permukaan amat kecil dan minim sekali,"
Kata Bu-ki lebih jauh.
"pada hakekatnya sementara orang tak akan memperhatikan sampai ke situ, meski memperhatikannya belum tentu dapat merasakan secara tepat, tapi berbeda sekali bagi seseorang yang telah lama melatih kepandaian tersebut!"
"Apa bedanya?"
Tanya Samwan Kong.
"Jika kau seringkali melatihnya maka kau dapat mempergunakan selisih bobot yang amat minim itu untuk kepentingan sendiri, kau dapat mempergunakan selisih bobot itu untuk memperoleh angka yang diharapkan menghadap ke atas, atau dengan perkataan lain, angka berapa yang kau inginkan angka berapa pula kau dapatkan!"
Samwan Kong mendengarkan penjelasan itu dengan mata terbelalak lebar, seakan-akan ia sedang mendengarkan suatu cerita Hong sin pang yang amat tegang dan menarik.
"Sejak berusia delapan sembilan tahun aku sudah mulai berlatih, bahkan sewaktu tidurpun akan kubawa serta ketiga biji dadu itu untuk melatihnya di balik selimut, setiap hari entah berapa kali kulemparkan dadu tersebut, hingga mencapai usia duapuluh tahun, aku baru berhasil meyakini kepandaian khususku itu, aku baru yakin berapa angka yang kuminta, aku dapat memperolehnya dengan lemparan daduku itu!"
Hampir setengah harian lamanya Samwan Kong duduk termangu-mangu, selang sesaat kemudian pelan-pelan ia baru menghembuskan napas panjang.
"Kenapa kau bisa berpikir untuk melatih kepandaian semacam itu ?"
"Dalam keluargaku sudah tergaris suatu peraturan yang melarang setiap anggota keluarganya berjudi uang, hanya sebelum dan setelah tahun baru larangan itu dicabut selama beberapa hari, itupun masih tetap terlarang bagi anak kecil."
Ia manggut-manggut pelan, lalu terusnya.
"Justru karena kami anak kecil dilarang berjudi, maka semakin besar pula niat kami untuk diam-diam secara mencuri main judi!"
Tentu saja Samwan Kong dapat memahami teori ilmu kejiwaan semacam itu, makin dilarang seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, makin besar pula minatnya untuk melakukan perbuatan itu secara sembunyi-sembunyi.
Bu-ki berkata lebih lanjut.
"Waktu itu nasibku kurang begitu mujur, setiap tahun uang celenganku pasti ludas di meja judi, atas kejadian tersebut makin kupikir hatiku semakin tidak puas, aku bersumpah untuk menangkan kembali semua uang yang telah kukalahkan pada tahun-tahun sebelumnya!"
"Kemudian, kau pasti berhasil menangkan semua kekalahanmu bukan,"
Sambung Samwan Kong. Bu ki tertawa..
"Setelah berlatih dua tiga tahun, nasib mujurku baru kian lama kian kentara, tapi akhirnya setiap kali berlangsung permainan dadu, jika mereka melihat kemunculanku di situ, serentak orang-orang itu membenahi uangnya dan mengambil langkah seribu."
Samwan Kong bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak, saking geli dan senangnya ia sampai terbungkuk-bungkuk menahan perutnya yang menjadi mulas.
Asal ia mambayangkan kembali betapa keren dan gagahnya Bu-ki pada waktu itu, Setan judi yang pasti kalah setiap bertaruh dan namanya termashur sampai di mana-mana ini menjadi mencak-mencak sambil tertawa tergelak persis seperti seorang anak kecil.
Bu ki meliriknya sekejap dengan ujung matanya, kemudian ia berkata lebih jauh.
"Sayang sekarang kau baru mulai berlatih, sudah tidak sempat lagi!"
"Kenapa?"
Samwan Kong segera menghentikan gelak tertawanya dan berdiri melenggong.
"Sebab tangan orang dewasa tidak selemas tangan seorang anak kecil, kaupun tak mungkin bisa seperti seorang anak-anak, sepanjang hari hanya bersembunyi terus di bawah selimut sambil bermain lempar dadu."
Samwan Kong segera menggenggam tangan Bu ki sambil memohon.
"Coba pikirkanlah masak-masak, mungkinkah masih ada cara lain yang bisa dipergunakan untuk menutupi kekurangan ini?"
Bu-ki tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali .......
Samwan Kong tertegun setengah harian lamanya, mendadak ia tertawa tergelak lagi, seakanakan secara tiba-tiba teringat akan sesuatu kejadian yang amat lucu.
"Apakah kau telah berhasil menemukan satu cara untuk menanggulangi kekurangan ini?"
Tak tahan Bu-ki bertanya.
Kali ini Samwan Kong cuma tertawa dan tidak menjawab sepatah katapun.
Pintu kamar itu terbuka lebar, tiba-tiba ada orang terbatuk batuk pelan dari luar pintu, kemudian muncullah seorang perempuan setengah umur yang cantik jelita sambil menggandeng tangan seorang bocah perempuan.
yang mungil dan menawan hati.
"Persoalan apakah yang membuat kau tampak begitu gembira?"
Tegur perempuan itu kemudian. Sebelum Samwan Kong sempat menjawab, si bocah perempuan itu sambil memutar biji matanya yang jeli telah tertawa cekikan, kemudian katanya dengan manja.
"Barusan aku mendengar paman ini berkata hendak menjadi bininya Tio kongcu, sekarang Tio kongcu pasti telah mengabulkan permintaannya, maka ia tertawa senang!"
Perempuan cantik itu melotot sekejap kepada anaknya, kemudian tak tahan ia sendiripun ikut tertawa geli.
Menyaksikan kehadiran perempuan cantik itu sikap maupun gerak-gerik Samwan Kong ternyata berubah menjadi begitu sopan dan tahu aturan, bahkan gerak-geriknya tampak sedikit kurang leluasa.
Sementara Bu-ki masih menduga-duga hubungan apakah yang terjalin di antara mereka berdua.
Samwan Kong telah berkata kepadanya.
"Dia adalah Bwe hujin, tuan penolong yang benar-benar telah menyelamatkan jiwamu ...."
"Akulah yang benar-benar telah menyelamatkan jiwa orang ini,"
Sela bocah perempuan itu dengan cepat.
"sebab ibu telah menghadiahkan teratai salju tersebut kepadaku."
Sekali lagi Bwe hujin mendelik kepada putrinya, lalu sambil memberi hormat buru-buru katanya.
"Anakku tak tahu aturan, harap Tio kongcu jangan sampai tersinggung atau tak senang hati."
Buru-buru Bu-ki melompat bangun, dia ingin mengucapkan beberapa patah kata yang bernada terima kasih, tapi untuk sesaat tidak diketahui olehnya perkataan apa yang mesti dikatakan.
Yaaa, budi pertolongan yang besar dan menyelamatkan jiwanya ini sukar dilukiskan dengan kata kata, tentu saja rasa terima kasihnya tak bisa diutarakan hanya lewat perkataan belaka.
Bwee hujin lantas berkata lagi.
"Seandainya toako tidak memotong daging yang busuk di sekitar mulut luka Tio kongcu tepat pada waktunya, sekalipun tersedia teratai salju, belum tentu racun yang mengeram dalam tubuh Tio kongcu bisa dipunahkan hingga ludas."
Kemudian setelah tersenyum ujarnya kembali.
"Itulah yang dinamakan orang budiman selalu dilindungi Thian, karena Tio kongcu adalah orang yang baik barulah kau jumpai kejadian demi kejadian secara kebetulan."
Bocah perempuan itu lagi-lagi menimbrung.
"Sayang dikemudian hari sebuah codet besar pasti akan menghiasi pipinya. mukamu waktu itu tentu buruk dan jelek sekali."
Setelah tertawa cekikikan tambahnya.
"Untung kau tak usah kuatir tak punya bini, sebab paling tidak masih ada paman yang bersedia kawin denganmu."
Buki-tertawa geli.
Kecerdasan bocah perempuan ini sudah pasti tak ada di bawah kecerdasan dua bersaudara kembar yang saling bermusuhan itu, cuma agaknya bocah perempuan ini lebih nakal dan lebih pandai berbicara dari pada kedua orang saudara kembar tersebut.
Meskipun ibunya melotot kearahnya, memakinya tapi sorot mata serta nada pembicaraannya sama sekali tidak mengandung maksud menegur atau menyalahkan, yang ada hanya rasa sayang, rasa senang dan raga bangga.
Jangankan ibu kandungnya seadiri, bahkan Bu-ki sendiripun amat menyukai bocah itu, tak tahan lagi dia lantas bertanya.
"Adik kecil, siapa namamu?"
Bocah perempuan itu memutar sepasang biji matanya, tiba tiba ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak,aku tidak bisa memberitahukan kepadamu!"
"Kenapa? "Karena kau adalah seorang pria, padahal antara pria dan kaum wanita ada batas-batasnya, mana boleh seorang anak perempuan sembarangan memberitahukan namanya kepada orang lelaki lain?"
Samwan Kong tak dapat mengendalikan rasa gembiranya lagi, ia tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh.. haaabhh....haahhh...mestikaku, kau memang benar benar po pei (mestika) yang bagus! Tiba-tiba bocah perempuan itu melompat ke tubuh Samwan Kong dan menarik kumisnya.
"Kenapa kau memberitahukan namaku kepada orang lain"
Tentunya.
"hayo kau musti membayar ganti rugi!"
Ternyata bocah perempuan itu bernama Po pei, Lengkapnya Bwee Po pei.
Bu ki telah mengingat baik baik nama itu, mengingat pula nama nyonya cantik tersebut, budi kebaikannya, budi pertolongan mereka tak akan dia lupakan untuk selamanya.` "Akupun tahu kalau kau bernama Tio Bu ki,"
Seru Po pei kemudian. Bu ki tertawa kepadanya, ia berkata.
"Lain kali, apakah kau masih dapat mengingat diriku?"
"Tentu saja akan kuingat selalu dirimu, sebab di atas wajahmu pasti akan bertambah dengan sebuah codet yang sangat besar."
Dalam hati Bu-ki, secara tiba-tiba muncul pula beberapa persoalan yang membuatnya menjadi pelik.
Kesulitan tersebut bukan lantaran di wajahnya telah bertambah dengan sebuah codet besar bukan pula lantaran bahunya telah kehilangan sepotong daging ...
Persoalan semacam itu pada hakekatnya tak pernah diperdulikan olehnya, bahkan memikirkan-nyapun tidak.
Tapi ada persoalan lain yang mau tak mau harus dipikirkan juga.
Hidangan malam yang disiapkan Bwe hujin untuk mereka ternyata mewah dan lezat, akhirnya yang membuat Tio Bu-ki bertambah riang adalah ia tinggal di sana menemani mereka.
Seorang perempuan yang pintar selalu dapat menghindarkan diri disaat yang paling cocok dan serasi, agar kaum pria dapat membicarakan persoalan yang dapat mendatangkan kegembiraan bagi kaum pria sendiri.
Mungkin saja dia bukan termasuk seorang ibu yang sangat baik, karena terhadap anaknya ia kelewat memanjakannya.
Tapi tak bisa diragukan lagi kalau dia adalah seorang isteri yang ideal, seorang istri yang menjadi idaman setiap orang.
Tapi di manakah suaminya?
Bu-ki tak pernah bertemu dengan suaminya, belum pernah juga mendengar mereka membicara-kan tentang suaminya.
Apakah dia adalah seorang janda?
Ditinjau dari sikapnya terhadap Samwan Kong yang begitu lembut dan mesra, serta sikap Samwan Kong terhadapnya yang begitu menaruh hormat serta sayang, jelas dapat diduga bahwa hubungan di antara mereka berdua pasti bukan hubungan biasa.
Tapi hubungan apakah yang terikat diantara mereka?
Apakah terdapat hubungan cinta kasih yang dapat diberitahukan kepada orang lain?
Tentang persoalan-persoalan seperti ini Bu ki ingin sekali mengetahuinya.
Tapi ia tidak menanyakan persoalan itu, karena dalam hatinya masih ada persoalan lain yang membuat perasaannya masgul, bahkan sedikit agak ngeri dan takut.
Persoalan apakah itu?
Tak lain adalah senjata rahasia beracun dari keluarga Tong.
Jilid 8________ SENJATA rahasia sisa yang merupakan bekas-bekas yang tak bisa dipakai oleh anak cucu keluarga Tong pun sudah memberikan ancaman yang begini menakutkan, tiga orang manusia kurcaci yang tidak mempunyai kedudukan dalam keluarga Tong pun sudah hampir merenggut nyawanya, bisa dibayangkan betapa mengerikannya anak cucu keluarga Tong sendiri.
Setiap kali teringat akan persoalan itu, dia mulai merasa sedih dan bersusah hati.
Kini keluarga Tong telah bersekongkol dengan pihak Pek leng tong, diantara pengiring Sangkoan Jin terdapat pula orang orang keluarga Tong ...
Mungkinkah diantara mereka sudah terikat persekongkolan rahasia?
Mungkinkah Sangkoan Jin telah bersembunyi di gedung keluarga Tong?
Tentu saja ia tak dapat melakukan penggeledahan di rumahnya keluarga Tong, ia sama sekali tidak mempunyai bukti, apa lagi sekalipun dia mempunyai bukti juga tak mungkin pergi mencari nya.
Berbicara dari ilmu silat yang dimiliki sekarang, jangankan melakukan penggele-dahan, untuk memasuki pintu gerbang keluarga Tong pun belum tentu mampu.
Teringat sampai di situ, ia merasakan sekujur badannya menjadi dingin karena basah oleh peluh.
Dia cuma berharap Samwan Kong bisa menemukan jejak Sangkoan Jin yang sebenarnya, agar ia dapat menyusun rencana yang bagus untuk menyusup ke dalam gedung keluarga Tong serta berusaha melakukan sergapan.
Dendam sakit hatinya tak mungkin bisa di balas hanya mengandalkan keberanian serta semangat yang berkobar-kobar saja.
Di situ ada arak, arak yang sangat wangi.
Orang yang baru menderita luka tak boleh minum arak, orang yang gemar berjudi tak boleh terlampau suka minum arak, seorang diri minum arak lebih lebih tidak menarik hati lagi.
Maka arak yang tersedia hampir tak pernah disentuh oleh siapapun.
Bu-ki memenuhi cawan araknya dengan air teh, kemudian sambil di angkat ke hadapan Samwan Kong ia berkata.
"Kali ini kugunakan air teh sebagai pengganti arak untuk menghormatimu, lain kali aku pasti akan menggunakan arak sungguhan untuk menemanimu minum sampai puas"
"Asal lewat dua tiga hari lagi, kau boleh minum arak sungguhan,"
Kata Samwan Kong.
"Aku tak bisa mengendon terlalu lama di sini!"
"Hei, kau buru-buru hendak pergi? Ataukah buru-buru hendak mengusirku pergi untuk mencarikan jejak orang yang sedang kau cari?"
"Kedua-duanya perlu segera kulakukan!"
"Kau buru-buru hendak ke mana?* "Aku harus pergi ke bukit Kiu-hoa-san, menunggu orang datang mencariku ... !" *Menunggu siapa?"
"Aku tidak mengetahui namanya, tidak mengetahui pula asal-usulnya, tapi aku tahu, jika di dunia ini masih ada orang yang mampu memecahkan kelihayan keluarga Tong, maka orang itu pasti dia!"
"Dengan cara apa ia sanggup memecahkan kelihayan orang-orang keluarga Tong?* "Dengan pedangnya!"
Samwan Kong segera tertawa dingin.
"Pernahkah kau saksikan ilmu Boan thian hoa yu (seluruh langit penuh dengan air hujan) kepandaian melepaskan sen ata rahasia yang paling tangguh dari keluarga Tong?"
Bu-ki tak pernah menyaksikan, tapi ia pernah mendengar.
Konon, jika kepandaian tersebut telah dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, dalam waktu yang hampir bersamaan sepasang tangannya bisa melancarkan enampuluh empat macam senjata rahasia, yang secara bersamaan pula mengancam enam puluh empat buah jalan darah penting di tubuh seseorang.
Dalam keadaan demikian, kendatipun kau berusaha berkelit ke arah manapun, jangan harap bisa lolos dari ancaman senjata rahasia tersebut.
"Kecuali dia seorang mempunyai sepuluh buah tangan dengan sepuluh bilah pedang, kalau tidak jangan harap kepandaian Boan-thian-hoa yu dari keluarga Tong dapat kau pecahkann demikian Samwan Kong berkata"
"Dia hanya mempunyai sepasang tangan dengan sebilah pedang, tapi sudah lebih dari cukup untuk mengatasi kepandaian itu,"
Bu-ki kembali menegaskan dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Samwan Kong, agaknya iapun telah menduga siapa gerangan manusia yang dimaksudkan itu.
Setelah hening sejenak, kembali Bu-ki berkata.
"Kecepatan gerak dari ilmu pedangnya aku jamin belum pernah kau saksikan atau me dengar sebelumnya.!"
Samwan Kong sengaja tertawa dingin.
"Heehhh ... heeehhh ... heeehhh ....sekalipun ilmu pedangnya benar-benar sangat cepat, sekalipun jurus-jurus pedangnya cukup mampu untuk mengatasi ilmu Boan thian hoa yu dari keluarga Tong, belum tentu dia akan mewariskan ilmu pedangnya yang maha sakti itu kepada orang lain, apa lagi kepadamu.* "Tentu saja belum tentu ia wariskan ilmu pedang tersebut kepadaku, sebab setiap saat ia dapat membinasakan diriku."
"Bila ia tak ingin membinasakanmu, berarti dia akan mewariskan ilmu pedang itu kepadamu? Kalau dia tak ingin mewariskan ilmu pedangnya kepadamu, maka dia pasti akan membinasakan dirimu?"
"Yaa, memang begitulah kenyataannya!"
Samwan Kong tidak berbicara lagi, dia hanya menatap wajah pemuda itu dengan termangu--mangu, mungkin saja ia sedang merasapi makna dari kata katanya itu.
BUKIT KIU HOA-SAN CI PENG mengaca dulu di depan cermin yang besar di dalam ruangan depan perkampungan Ho hong-san-ceng, setelah merasa puas dengan dandanannya, ia baru melangkah masuk dengan tindakan lebar.
Dia adalah seorang pemuda yang tampan, tubuhnya jangkung dan gagah, selembar wajah "babyface"nya yang tak pernah memuakkan orang yang memandangnya selalu dihiasi oleh sekulum senyuman yang jujur dan mendatangkan simpatik bagi orang melihatnya.
Dandanannya tidak terlalu perlente, tapi tidak juga terlalu rutin, gerak-gerik maupun tingkah lakunya amat sopan dan terpelajar sehingga tidak akan mendatangkan kesan jelek lagi memuakkan bagi siapapun.
Dilihat dari luaran, ia adalah seorang pemuda yang tanpa cacad, asal usul serta sejarah hidupnya tidak pula mendatangkan kecurigaan atau bahan perbincangan bagi orang lain.
Ayahnya adalah seorang piausu yang namanya tidak begitu termashur, tapi sampai menjelang masa pensiun belum pernah barang kawalannya dibegal orang, setelah pensiun dan pulang ke kampung, ia membuka perguruan dan menerima murid, meski tiada seorang muridnya yaug berhasil punya nama besar dalam dunia persilatan, murid-muridnya tidak pula melakukan kejahatan yang menodai pamornya.
Ibunya amat ramah dan terpelajar, dia adalah seorang ibu bijaksana yang terkenal dalam kampung, dan lagi ilmu sulam menyulamnya amat bagus sekali.
Dimusim dingin yang membekukan badan, di atas badan bocah bocah fakir miskin dalam kampung, pasti akan ditemukan mantel-mantel hasil bikinan Ci to tay tay.
Sebab itu meskipun keluarga mereka tidak begitu ternama, tapi sikapnya yang begitu ramah dan bijaksana kepada orang membuat keluarga Ci selalu dihormati dan disanjung orang.
Tahun ini dia berusia dua puluh tiga tahun, masih jejaka dan belum punya istri, kecuali sedikit suka minum arak, boleh dibilang ia tidak mempunyai kegemaran lain yang sifatnya sebagai pemborosan uang.
Pada usia enam belas, ia telah bekerja di perusahaan pengawalan barang yang pernah di ikuti ayahnya selama banyak tahun, tiga tahun kemudian ia telah diangkat menjadi seorang piausu secara resmi.
Waktu itu dia sudah tahu kalau perusahaan pengawalan barang itu berada di bawah naungan perkumpulan Tay hong tong, maka serta merta diapun menggabungkan diri dengan perkumpulan Tay hong tong serta menjadi muridnya seorang Toucu di bawah pimpinan Sugong Siau hong.
Tak lama kemudian, bakat serta kemampuannya bekerja membuat ia menjadi pusat perhatian para pemimpin, oleh Sugong Siau hong pribadi diapun diangkat menjadi seorang Hun si.
Walaupun sebagai seorang "Hun si"
Ia tidak memiliki kedudukan yang tetap, tapi kedudukkan tersebut langsung berada di bawah pimpinan ketiga orang toa Tongcu, baik dalam soal gaji maupun dalam hal kedudukan sederajat dengan kedudukan seorang Toucu kantor cabang malah kadangkala hak kekuasaannya lebih besar.
Tugas serta tanggung jawabnya adalah dalam hal melakukan kontak hubungan serta penyampai-an berita, diantaranya termasuk juga dalam soal melakukan hubungan ke luar serta melakukan kunjungan-kunjungan.
Sebab bakat istimewa yang dimilikinya bukan melakukan pembunuhan, juga bukan menggunakan tenaga kekerasan.
Ia pandai bergaul dan mempunyai selembar mulut yang pandai berbicara, oleh sebab itu ke manapuu ia pergi, dengan cepat dapat mengikat tali persahabatan dengan siapapun.
Ia mempunyai cara penganalisa yang tajam terhadap suatu masalah, reaksi maupun cara berpikirnya cepat, melakukan pokerjaan tak pernah seadanya dan acuh, bila ia tugaskan uetuk melakukan pemeriksaan terhadap suatu persoalan, maka dia tak akan membuat orang menjadi kecewa.
Sugong Siau hong pernah berkata demikian kepadanya.
"Nak, suatu ketika kau pasti akan menjadi seorang Tongcu!"
Sudah dua kali ia pernah berjumpa dengan Tio Kian, Tio jiya, tapi hari ini baru untuk pertama kalinya ia berkunjung keperkampungan Ho hong san ceng.
Hari ini Sugong Siau-hong memanggilnya datang secara khusus, konon karena sedikit "urusan prihadi".
jika Tongcu pribadi ada persoalan yang memintanya untuk menyelesaikan, itu berarti ia sudah masuk ke dalam pusat organisasi tersebut.
Meskipun di luar wajahnya ia berusaha mengendalikan ketenangan hatinya, namun tak dapat menutupi pergolakan rasa gembira dalam hatinya.
Sudah lama ia mendengar orang berkata bahwa putri kesayangan Tio jiya adalah seorang gadis cantik yang ternama, lagipula sampai sekarang masih belum punya jodoh, sejak Tio jiya meninggal dunia, sejak Tio kongcu pergi menmggalkan rumah, Tio siocia inilah yang mengatur serta mengendalikan perkampungan Ho hong san ceng.
Jika aku dapat menjadi menantunya perkumpulan Hohong san ceng ...."
Sesungguhnya hal ini merupakan suatu pengharapannya yang paling rahasia, ia jarang berpikir sampai ke situ karena setiap kali teringat kembali, jantungnya pasti akan berdenyut lebih cepat.
Hari ini adalah bulan tujuh tanggal lima, jaraknya dengan saat kematian Tio Kian sudah mencapai empat bulan lebih.
Sejak bulan empat, tak seorang manusiapun yang pernah mendengar kabar berita tentang Tio Kongcu, Tio Bu ki lagi.
Tio Bu ki seakan-akan telah lenyap tak berbekas.
Hari ini udara sangat panas.
Walaupun ruang tengah perkampungan Ho hong san ceng tinggi lagi lebar, tapi bila duduk terlalu lama akan menyebabkan peluh bercucuran bagaikan hujan.
Wi Hong nio menghantarkan sendiri sebuah handuk kecil yang direndam dalam air sumur yang dingin ke hadapan Sugong Siau-hong serta mempersilahkannya menggosok keringat.
Ia selalu lemah lembut dan menyenangkan, tapi belakangan ini ia lebih menunjukkan ketekatannya serta keteguhan hatinya.
Secara diam-diam ia selalu membantu Cian-cian mengatur rumah tangga, sekalipundemikian, belum pernah ia memperlihatkan sikap angkuhnya sebagai seorang majikan perempuan.
Hampir semua kelebihan dan keindahan dari seorang perempuan, dapat kau temukan dari tubuhnya seorang.
Tapi, bakal suaminya ternyata telah "lenyap"
Tak berbekas.
Dalam hati kecilnya Sugong Siau-hong menghela napas panjang ...
mengapa gadis cantik selalu bernasib jelek?
Cian-cian masih mengenakan pakaian berkabung, setelah melewati penderitaan serta percobaan yang berbulan bulan lamanya, sekarang ia sudah benar-benar menjadi dewasa.
Sekarang ia bukan lagi seorang nona kecil yang binal dan liar seperti dulu, sekarang ia telah menjadi seorang gadis yang dapat berdiri sendiri.
Perubahan tersebut membuatnya tampak lebih matang, lebih berpengalaman dan lebih cantik.
Perkembangan tubuhnya memang sangat baik, semenjak dulu ia sudah mesti mengenakan selembar kain untulc menutupi bagian dadanya.
Hal ini membuatnya kelihatan bertambah menggairahkan dan mempesonakan, ia tampak seperti sekuntum bunga mawar yang indah tapi berduri Setiap kali dia merasakan ada sekelompok pemuda-pemuda tampan yang secara diam-diam memperhatikannya, lalu tanpa sebab dia akan marah-marah.
Dari luar kedengaran ada orang melapor.
"Hun-si di bawah pimpinan Tongcu dari Tit it tong, Ci Peng mohon menghadap."
Sugong Siau-hong segara memberi penjelasan.
"Aku yang menyuruhnya datang, dua bulan berselang aku telah menyuruhnya pergi mencari kabar tentang Bu ki."
Cian-cian segera bertanya.
"Sudahkah ia menemukan sesuatu kabar tentangnya?"
"Itulah yangingin kutanyakan,"
Sugong Siau-hong menerangkan.
"Maka dari itu kusuruh ia datang ke mari, agar kaupun ikut mendengarkan keterangannya."
Ketika Ci Peng berjalan masuk, senyuman yang menghiasi bibirnya begitu jujur dan sederhana.
sikapnya mantap dan cukup menyenangkan bagi siapapun yang melihatnya.
Tapi semenjak pandangan pertama, Cian-cian sudah mempunyai kesan yang kurang baik terhadap orang ini.
Ia kuraug begitu suka terhadap laki-laki yang gemar memakai baju yang begitu rapi dan rambut yang disisir dengan rapinya semacam ini.
Ia selalu manganggap bahwa laki-laki semacam ini terlalu berlebihan, terlalu tidak memiliki ke-pribadian.
Seperti kakaknya yang bebas merdeka tidak mengurusi soal dandan dan tubuh sendiri, ia merasa lelaki-lelaki semacam itulah baru betul-betul merupakan seorang lelaki sejati.
Untung Ci Peng tidak seperti pemuda-pemuda lainnya, menggunakan sorot mata yang memuakkan untuk memperhatikan wajahuya, lagi pula begitu buka suara yang dibicarakan adalah adalah pokok persoalan.
Ia berkata demikian.
"Bulan tiga tanggal duapuluh delapan, masih ada orang yang pernah menjumpai Tio kongcu, agaknya itulah penampilannya yang terakhir di depan umum!"
"Hari itu dia menampakkan diri di mana?"
Tanya Sugong Siau-hong.
"Disebuah rumah penginapan yang memakai merek Tay-pek-ki di bawah bukit Kiu-hoa-san."
Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan lagi.
"Mula-mula dia membeli arak dan rangsum kering lebih dulu di kota, kemudian menitipkan kuda tunggangannya di rumah penginapan Tay-pek ki dan berpesan kepada ciangkwee untuk merawat kudanya baik-baik, malah ia meninggalkan pula uang sebesar sepuluh tahil perak sebagai uang rumput untuk kudanya."
"Kalau begitu, dia pasti telah pergi ke bukit Kiu-hoa-san!"
Kata Sugong Siau-hong.
"Semua orang memang berpendapat demikian, cuma saja ... .cuma saja"
Menyaksikan ia berbicara terbata-bata, dengan suara menggeledek Cian-cian segera membentak.
"Cuma saja kenapa?"
Sikapnya itu kurang begitu baik, karena selamanya ia paling benci dengan segala manusia yang bicaranya terbata-bata. Ci Peng mengetahui akan persoalan itu, maka segera jawabnya.
"Setelah naik ke atas gunung, tak pernah ia turun kembali dari tempat tersebut!"
"Dari mana kau bisa tahu?"
Tanya Cian-cian.
"Sebab kota kecil itu merupakan jalan lintas yang paling fital untuk memasuki bukit tersebut, lagipula kuda tunggangannya hingga sekarang masih tertinggal di rumah penginapan Taypek-ki, dengan mata kepala sendiri kusaksikan bahwa kuda tersebut adalah sebuah kuda baik."
Buat seorang lelaki macam Bu-ki, nilai dari seekor kuda jempolan kadangkala hampir me-nyerupai seorang sahabat karib.
Oleh karena itu, aku pikir jika Tio kongcu sudah turun gunung, tak mungkin dia akan meninggalkan kuda sebagus itu dirumah penginapan, kata Ci Peng.
Setelah berpikir sebentar, kembali ia menambahkan.
"Akan tetapi Han ciangkwee pemilik rumah penginapan itu merasa tak perlu cemas, karena ongkos rumput sebesar sepuluh tahil perak itu paling tidak bisa memelihara kuda itu selama satu tahun."
"Satu tahun?"ujar Cian-cian sambil mengernyitkan alis matanya.
"apakah ia telah mempunyai rencana untuk tinggal selama satu tahun di atas bukit tersebut?"
"Oleh sebab itulah aku dengan membawa dua belas orang telah naik ke bukit untuk melakukan pencarian, setiap gua karang dan kuil Budha yang besar kecil tak terhitung banyaknya itu sudah kami geledah semua, tapi setitik jejakpun tidak berhasil kami temukan."
"Apakah setelah naik ke atas bukit, dia lantas lenyap tak berbekas dengan begitu saja?"
Ci Peng termenung dan berpikir sejenak, lalu sahutnya.
"Mungkin saja ia tak pernah naik keatas gunung, sebab semua hwesio yang ada di atas bukit telah kutanyai semua, tapi mereka semua mengatakan bahwa tak pernah menyaksikan seorang pemuda macam Tio kongcu "
Padahal manusia semacam Tio Bu-ki adalah seorang pemuda yang gampang meninggalkan kesan mendalam di hati orang, entah ke manapun dia pergi, pasti akan menarik perhatian orang banyak.
Sugong Siau-hong lantas bertanya.
"Hari itu manusia-manusia siapa saja yang telah menjumpai dirinya?"
"Tidak sedikit penduduk yang tinggal di sekitar tempat itu merasa kenal dengan Tio Kongcu."
"Kenapa mereka bisa kenal dengan dirinya?"
Tampaknya Ci Peng tidak bermaksud menerangkan alasannya, tapi setelah menyaksikan raut wajah Cian-cian yang cemberut, ia segera berubah pikiran semula. Secara ringkas ia menjelaskan.
"Sejak bulan tiga tanggal delapan sampai bulan tiga tanggal dua puluh tiga, selama setengah bulan saja Tio Kongcu telah menjadi orang yang ternama di tiga belas kota disekitar tempat itu."
Sinar matanya seakan-akan telah memancarkan kekaguman, lanjutnya lebih jauh.
"Karena dalam setengah bulan itu, seluruhnya ia sudah melemparkan tigapuluh sembilan kali angka "tiga kali enam,"
Hampir semua rumah judi berhasil dia kalahkan, bahkan Ciau Jit tayya yang punya julukan "Raja judipun"
Pernah jatuh kecundang di tangannya."
Sesungguhnya dia tak ingin membicarakan persoalan semacam itu, sebab iapun tahu kalau waktu itu Bu-ki masih mengenakan pakaian berkabung, tidak pantas bagi orang berkabung untuk mengunjungi rumah judi clan bermain dadu.
Tapi ia tak ingin Cian-cian menuduhnya sengaja menyembunyikan sesuatu, ia dapat menebak tabiat dari perempuan itu.
Dapat mengenali watak dan perangai seseorang dalam sekali dua kali pandangan saja, hal itu sudah merupakan salah satu kemampuannya yang luar biasa.
Paras muka Hong-nio segera berubah, Cian-cian ikut berteriak pula keras-keras.
"Kenapa ia berkunjung ke rumah judi untuk bertaruh? ia bukan manusia macam itu!"
Ditatapnya Ci Peng dengan mata melotot dan nada marah, kemudian ujarnya kembali.
"Kau pasti sedang ngaco belo sendiri!"
Ci Peng tidak membantahpun tak ingin membantah, dia tahu cara yang paling cerdik adalah mempertahankan ketenangannya. Betul juga, Sugong Siau-hong segera berkata untuknya.
"Dia tak akan berani berbohong, tentu saja Bu-ki bukan seorang manusia sembrono yang bodoh semacam itu, dia bisa berbuat demikian karena ia pasti mempunyai tujuan tertentu."
Padahal ia tahu, Bu ki berbuat demikian karena ingin "memancing"
Kemunculan Samwan Kong.
Diapun tahu kenapa Bu-ki bcrkunjung ke atas bukit Kiu-hoa-san, dia bahkan tahu siapa yang sedang dicari si anak muda itu.
Anehnya, ternyata ia tidak mengatakan kepada mereka, mungkin dia mengira bila persoalan tersebut diutarakan, mungkin Cian-cian akan lebih kuatir lagi.
Kembali Cian-cian melotot dua kejap ke atas wajah Ci Peng, kemudian baru tanyanya.
"Sebelum bulan tiga tanggal duapuluh tiga, ia berada di mana?"
"Tengah hari bulan ketiga tanggal duapuluh tiga, ia bersantap siang bersama dua orang tauke rumah judi dirumah makan Siu-oh-khang yang baru dibuka dan khusus menjual hidangan Suzhuan, pada waktu itu dia telah membinasakan tiga orang anggota keluarga Tong dari Suzhuan."
Seolah berhenti sejenak ia melanjutkan.
"Aku telah menyelidiki dengan jelas asal usul mereka, kecuali seseorang yang bernama Tong Hong adalah cucu keponakan dari Tong Ji sianseng, dua orang lainnya adalah famili jauh dari keluarga Tong.""
Cian-cian tertawa dingin tiada hentinya, kemudian katanya.
"Orang-orang keluarga Tong telah memasuki wilayah kekuasaan kita, ternyata kalian baru tahu setelah kakakku berhasil membinasakan mereka, sebetulnya apa pekerjaan kalian diharihari biasa?"
Ci Peng.
kembali menutup mulutnya rapat-rapat.
Akhirnya Cian-cian merasa bahwa perkataannya bukan hanya mmaki dia saja, bahkan Sugong Siau-hongpun ikut kena didamprat, maka cepat-cwpat dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain.
"Setelah membunuh ketiga orang itu, ke mana ia telah pergi .?"
Tanyanya kemudian.
"Sejak tanggal dua puluh tiga sampai tanggal dua puluh tujuh selama lima hari, tak seorang manusiapun yang pernah berjumpa dengan jejak Tio kongcu, hingga pada tanggal duapuluh delapan ia baru munculkan diri dibawah bukit Kiu-hoa-san."
"Dan kemudian secara tiba-tiba ia lenyap tak berbekas?"
"Benar!"
Tidak tahan lagi Cian-cian tertawa dingin.
"Inikah hasil penyelidikanmu selama ini?"
Tegurnya.
"Benar!"
Sugong Siau-hong yang berada di sampingnya segera tertawa ewa, timbrungnya dari samping.
"Sekalipun hanya soal-soal itu saja yang berhasil ia selidiki, aku pikir belum tentu orang lain dapat manyelidiki kabar sebanyak itu."
Tiba-tiba Cian-cian melompat bangun, lalu teriaknya keras-keras.
"Kenapa aku musti menyuruh orang lain yang mencari berita? Memangnya aku tak bisa pergi sendiri?"
"Tapi urusan di sini .........."
"Urusan kakakku jauh lebih penting dari persoalan apapun,"
Tukas Cian-cian sebelum Sugong Siau-hong menyelesaikan kata-katanya. Tentu saja Sugong Siau-hong dapat memahami wataknya, maka ia tidak bermaksud menghalangi niatnya, dia hanya bertanya.
"Siapa-siapa saja yang akan kau ajak pergi?"
Sebelum Cian-cian menjawab, tiba-tiba Hong-nio bangkit pula sambil berkata.
"Dia hanya mengajakku seorang!"
Meskipun sikapnya masih lembut, tapi memancarkan ketegasan dan tekad hatinya.
"Karena sekalipun ia tidak mengajakku, aku sendiripun bisa pergi seorang diri."
Dulu berada di sungai Kiu-kung.
Jauh memandang bukit Kiu-hoa.
Air terjun airnya jernih.
Tanganku menggapai.
Siapapun boleh ikut.
Tuan men jadi tukang traktir.
Berbaring di bawah awan nun tebal.
Itulah bait-bait syair dari dewa syair Li Pak, Kiu-hoa-sun erat sekali hubungannya dengan orang ini.
Ia pernah bilang begini.
"Dulu namanya bukit Kiu-cu-san, Li Pak bilang sembilan bukit bagaikan bunga teratai yang disayat-sayat, karenanya mengganti Kiu-cu-san menjadi di Kiu-hoa-san."
Kalau bukitnya erat hubungan dengan dewa syair ini, maka di atas bukit, di bawah bukit akan kau temui banyak tempat yang memakai nama Tay-pek.
Tay-pek-ki adalah salah satu diantaranya.
Kini Tio Cian-cian dan Wi Hong-hio telah berada di Tay-pek-ki.
***** "Inilah kuda milik Tio kongcu,"
Kata ciang-kwee dari Tay-pek-ki.
"kami belum pernah mengurangi rumput segar bagiannya barang sedikitpun jua. ...."
Tak bisa disangkal lagi ciangkwee yang gemuk dan putih itu adalah seorang lelaki jujur, Ciancian juga tahu kalau ucapannya itu adalah kata-kata yang jujur.
Kuda milik Bu-ki dipelihara dalam sebuah istal kuda yang tersendiri, kuda itu sangat gemuk, hanya saja selalu menunjukkan sikap acuh tak acuh, seakan-akan diapun sedang merindukan majikannya.
Berjumpa dengan Cian-cian, ternyata ia masih mengenalinya, ia meringkik dengan gembira dan membesutkan kepalanya di tubuh Cian-cian.
Hampir saja Cian-cian melelehkan air matanya karena pedih.
Ia berpaling menengok ke arah Hong Nio, ketika itu Hong-nio berdiri jauh seorang diri di bawah sebatang pohon, air matanya telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
Sesungguhnya ke mana perginya Bu-ki?
Ke mana ia pergi dan tak kembali lagi?
Waktu bersantap telah tiba.
Mereka tak ingin makan, pun tak tega untuk makan, sayur dan nasi telah dihidangkan di atas meja menantikan mereka.
Sayur yang mereka pesan terdiri dari enam macam sayur dengan semacam kuah, sepiring ayam masak tauge, sepiring cah sayur putih, sepiring hati babi masak kecap, sepiring sayur dimasak cabe, sepiring ikan gurame masak tauco, sepiring Ang-sio-hi dan semangkuk kuah gambas.
Sesungguhnya sayur semacam itu hanya sayur biasa, tapi mereka sangat terkejut dibuatnya.
Sebab keenam macam sayur itu justru merupakan kesukaan mereka dihari-hari biasa, dalam sepuluh kali bersantap paling tidak ada sembilan kali mereka bersantap dengan sayur-sayur tersebut.
Mengapa ciangkwee rumah penginapan ini bisa mengetahui sayur kesukaan mereka?
"Siapa yang suruh kalian membuatkan sayur-sayur itu?"
Tak tahan Cian-cian segera bertanya.
"Seorang tamu di ruang sebelah barat yang memesankan"
Jawab ciangkwee itu sambil tertawa paksa.
"katanya sayur-sayur itu adalah sayur kesukaan nona-nona sekalian."
Paras muka Cian-cian segera berubah menjadi merah padam karena marah dan mendongkol serunya.
"Bukankah tamu itu bernama Ci Peng?"
Ciangkwe segera mengangguk. Sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, Cian-cian telah melompat bangun sambil berteriak.
"Panggil dia ke mari, cepat sedikit, makin cepat semakin baik!"
Ci Peng telah datang, datang dengan sangat cepat. Ketika bertemu dengannya, Cian-cian menunjukkan sikap bagaikan berjumpa dengan musuh besarnya. Dengan wajah membesi ia berseru.
"Mau apa kau mengikuti kami sampai di sini?"
"Aku datang untuk menjalankan perintah!"
Jawab Ci Peng.
"Perintah siapa?"
"Sugong tongcu!"
"Mau apa dia suruh kau datang kemari?"
"Untuk menjaga nona berdua!"
Kontan saja Cian-cian tertawa dingin.
"Heeeh...Hee... heeehhh ... atas dasar apa kau menganggap kami membutuhkan perlindungan orang lain?"
"Aku hanya tahu melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan!"
"Dari mana kau bisa tahu kalau sayur-sayur itu adalah kegemaran kami?"
"Setelah Sugong tongcu melimpahkan tugas dan tanggung jawab itu kepadaku, sudah sepantas-nya kalau persoalan itupun harus kuketahui."
Dengan gemas Cian-cian melotot sekejap ke arahnya, lalu tertawa dingin tiada hentinya.
"Hehhhe... heehhe... heehhe... tampaknya kau memang sangat pandai melaksanakan tugas!"
Ci Peng tidak menjawab.
"Dapatkah kau melaksanakan sebuah pekerjaan untukku?"
"Silahkan diperintahkan."
Kembali Cian-cian melompat bangun, kemudian teriaknya keras-keras.
"Dapatkah kau menyingkir dari hadapan kami? Semakin jauh semakin baik !"
Malam telah tiba, sinar lentera menerangi seluruh ruangan. Tampaknya Cian-cian masih marah, sekalipun dihari-hari biasa diapun sering marah, tapi belum pernah selama ini marahnya.
"Apa yang membuat kau menjadi marah?"
Tanya Hong-nio lembut.
"Aku sangat benci dengan orang itu!"
"Aku tidak berhasil menemukan hal-hal yang membuatnya tampak amat menjemukan atau pantas dibenci!"
"Tapi aku dapat melihatnya!"
Hong-nio tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu seandainya dia bertanya lagi.
"Bagian manakah dari tubuhnya yang paling menjemukan?"
Serta marta Cian-cian pasti akan menjawab begini.
"Seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, tak sebagianpun dari tubuhnya yang tidak men-datangkan rasa jemu!"
Jika seseorang telah membenci orang lain, pada hakekatnya ia tidak memerlukan alasan apapun.
Seperti pula jika seseorang telah menyukai orang lain, diapun tidak memerlukan alasan apapun jua.
Kadangkala tanpa alasan memang jauh lebih baik dari pada ada alasan.
Maka dari itu Hong-nio hanya berkata dengan hambar.
"Entah bagaimanapun juga, dia toh diutus kemari oleh Sugong Tayya, paling tidak kau harus memberi muka untuk Sugong tayya!"
Manjur juga perkataannya itu.
Di hari hari biasa Hong-nio memang jarang berbicara, tapi bila ia sudah berbicara, maka seringkali ucapannya akan mendatangkan kemanjuran.
Sikap Cian-cian sudah banyak berubah, tapi pada saat itulah mereka mendengar suara jeritan kaget.
Itulah jeritan kaget yang diperdengarkan oraug banyak pada saat yang hampir bersamaan.
***** Tio Cian-cian dan Hong-nio tinggal di kamar tamu sebelah belakang, ke arah belakang sana adalah tempat tinggal dari ciangkwe pemilik rumah penginapan serta para pelayannya.
Jeritan ngeri itu berkumandang dari arah belakang sana.
Hong-nio bukan seorang perempuan yang suka banyak urusan, tapi mendengar jeritan itu, Cian-cian telah menerjang ke luar.
Terpaksa dia harus mengikuti di belakangnya, ia tak ingin berdiam seorang diri di dalam kamar yang sepi dan masih asing baginya ini.
Ruang bangunan di belakang sana jauh lebih buruk dari pada bangunan di depan sana, mana lebih kecil lagi, dalam ruangan hanya ada sebuah lentera yang menerangi sekeliling ruangan.
Rumah itu amat sempit, hanya memuat sebuah meja dan beberapa buah bangku, di atas meja tertera nasi dan sayur.
Tadi Ciangkwe suami istri dan keempat orang pelayannya sedang bersantap, makan punya makan, tiba-tiba ciangkwe itu roboh ke tanah.
Ia salah makan sebatang duri ikan, baru saja duri itu hendak dicabutnya dari dalam mulut, tubuhnya telah roboh terjengkang ke tanah.
Sewaktu orang lain memayangnya bangun, tiba-tiba saja sekujur badannya telah melingkar menjadi satu, mana mengejang pula tiada hentinya, bibir yang gemuk kini membengkak besar sekali, seperti baru saja kena sebuah pukulan keras.
Bininya sudah hampir gila saking paniknya, ia berlutut di tanah sambil berusaha keras merogoh ke dalam mulutnya dan suruh ia muntahkan ke luar duri ikan tersebut.
Setiap orang telah menduga kalau duri ikan itu beracun, tapi tidak menyangka kalau racun dari sebatang duri ikan ternyata begini lihaynya ......Ketika Cian-cian tiba di sana, paras muka sang ciangkwe yang gemuk itu telah menghitam, sepasang biji matanya melolot ke luar.
Menanti bininya berhasil mengorek ke luar duri ikan itu, sekujur tubuhnya telah kaku dan tak mampu berkutik lagi.
"Gara-gara duri ikan sialan!"
Dengan perasaan cemas, takut dan marah, istrinya menggigit duri ikan itu dan berusaha melumatnya sampai hancur.
"Cepat tumpahkan ke luar, cepat tumpahkan lee luar!"
Tiba-tiba Cian-cian membentak keras. Sekali lagi istrinya Ciangkwe merasa terkejut, duri ikan di mulutnya terjatuh lee tanah dan....
"Tring!"
Menimbulkan dentingan yang cukup nyaring.
Sekarang semua orang baru melihat, duri ikan itu bukan sembarangan duri ikan, duri ikan itu tak lebih hanya sebatang jarum, sabatang jarum yang lebih kecil dari pada jarum untuk menjahit.
Di bawah timpaan sinar lentera, ujung jarum itu memantulkan sinar hijau kegelapan yang agak kebiru-biruan.
Cian-cian mengambil sepasang sumpit dan menjepit jarum tadi, paras mukanya segera berubah hebat, tak tahan ia menjerit tertahan.
"Aaaah ... Jarum beracun dari keluarga Tong!"
"Haaah ... ? Mana mungkin jarum beracun?"
Jerit istri ciangkwe macam orang histeris.
"mana mungkin dalam ikan ada jarum beracunnya?"
Di tengah jeritan-jeritan histerisnya yang parau dan menyeramkan, tiba-tiba kulit mukanya mulai mengejang kencang, menyusul kemudian sekujur badannya melingkar menjadi satu, keidaannya persis seperti keadaan suaminya ketika roboh terkapar ke atas tanah tadi.
Menyaksikan keadaan majikan perempuannya, para pelayan merasa sangat ketakutan, mereka berdiri tertegun dan take tahu apa yang musti dilakukan ...."Siapakah diantara kalian yang telah makan ikan?"
Cian-cian berteriak dengan lantang, Paras muka para pelayan itu berubah hebat, dengan ketakutan dan perasaan ngeri yang bercampur aduk, semua orang berdiri kaku seperti patung, tubuh mereka gemetar keras, karena setiap orang telah makan ikan yang di maksud.
Mereka semuapun mulai berjongkok dan sekuat tenaga mengorek mulut sendiri, mereka ingin memuntahkan ke luar semua isi perut yang baru saja dimakannya itu.
Tapi apa yang berhasil mereka tumpahkan ke luar tak lebih hanya air asam, sekalipun duri ikan yang mereka makan berhasil dikocok ke luar, keadaanpun sudah terlambat.
Tiba-tiba tiga orang diantara keempat orang pelayan itu roboh terkapar di atas tanah, kemudian tubuhnya segera menyusut dan menggumpal menjadi satu.
Pelayan yang tidak ikut roboh itu sudah dibikin ketakutan setengah mati, sekujur badannya lemas tak bertenaga, bahkan celananya sudah ikut basah kuyup karena entah sedari kapan ia sampai terkencing-kencing.
"Kau tidak makan ikan itu?"
Tegur Cian-cian. Dengan gigi yang saling beradu karena takut, pelayan itu menjawab terbata-bata.
"Aku ..aku telah maa... makan ikan yang... yang tidak pakai ... pakai tauco"
Betul juga, di meja memang terdapat dua macam masakan ikan laut, yang satu adalah ikan gurame masak ang-sio sedang yang lain adalah ikan masak tauco.
Ia hanya makan Ang sio hi dan tidak makan ikan masak tauco.
Jarum beracun itu justru berada dibalik ikan masuk tauco tersebut, racun jahat dari ujung jarum telah merubah sepirng ikan masak tauco menjadi sepiring ikan beracun pencabut nyawa, asal orang makan sepotong saja maka jiwanya tak akan ketolongan, apalagi sang ciangkwe langsung menggigit jarum beracunnya tentu saja daya karja racun itu kambuh jauh lebih cepat.
Sekarang jelasnya sudah bahwa ada orang yang sengaja hendak mencelakai mereka, tak mungkin tanpa sebab musabab senjata rahasia beracun dari keluarga Tong bisa terjatuh kedalam sepiring hidangan ikan masak tauco .....
Tapi, siapakah yang menaruh jarum beracun itu dalam ikan?
Siapa pula yang sebenarnya hendak mereka racuni?
***** Di atas meja terdapat aneka macam sayur di tambah semangkuk kuah.
Kecuali dua macam hidangan ikan segar itu, masih ada lagi sepiring ayam masak tauge, sepiring cah sayur putih, sepiring hati babi masak kecap, sepiring sayur masak cabe dan semangkuk besar kuah gambas.
Sebenarnya sayur itu disiapkan untuk Cian-cian dan Hong nio.
Ciangkwee rumah penginapan itu selalu hidup menghemat, kalau di rumah tak ada orang, untuk memasang lampupun enggan, tentu saja lebih lebih tak mungkin untuk membuang uang guna memesan hidangan selezat dan semewah itu.
Karena Cian-cian berdua sama sekali tidak menjamahnya, maka diapun mengundang istri dan pegawai pegawainya untuk menikmati bersama hidangan tersebut.
Siapa tahu sayur semeja itu justru merupakan bencana pencabut nyawa bagi mereka semua.
Menyaksikan kematian mengerikan yang menimpa orang-orang tak bersalah itu, sekujur badan Hong nio gemetar keras, ia bersandar di dinding ruangan sambil mengucurkan air mata.
"Rupanya kami berdualah yang sebenarnya hendak ia racuni!"
Aneka macam sayur itu disiapkan secara khusus olah Ci Peng untuk mereka berdua, tapi mengapa Ci Peng hendak meracuni mereka berdua?
Jangan jangan ia telah betsekongkol secara diam-diam dengan keluarga Tong?
Dengan wajah hijau membesi Cian-cian menggigit bibirnya lalu berkata.
"Kau hendak ikut aku pergi? Ataukah menunggu di sini saja?"
Kau ... kau hendak kemana?* "Aku hendak membunuh orang !"
Kembali air mata Hong nio jatuh bercucuran, selamanya dia paling benci dengan segala macam kekerasan serta drama yang mengakibatkan mengalirnya darah kental, ia tak berani melihat orang lain membunuh orang, tapi ia lebih-lebih tidak berani untuk berdiam seorang diri di situ.
Tiba-tiba ia mulai membenci diri sendiri, ia membenci diri mengapa begitu lemah dan tak berguna?
Sambil menutupi wajahnya dia menerjang ke luar, baru saja ke luar dari pintu, ia telah menumbuk di tubuh seseorang.
Ternyata orang itu tidak lain adalah Ci Peng.
Malam itu malam bulan tujuh, beribu-ribu bintang memenuhi angkasa.
Sinar bintang yang redup memancar di atas wajah Ci Peng, senyumannya yang jujur dan polos kini lenyap tak berbekas, sebagai gantinya terlintaslah sikap buas, sesat dan jahat di atas wajahnya.
Ketika Cian-cian memburu ke luar setelah mendengar jeritan kaget dari Hong nio, Ci Peng telah mencengkeram pergelangan tangan gadis itu.
"Lepaskan dia !"
Ci Peng hanya memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, sama sekali tidak terlintas ingatan baginya untuk lepas tangan.
Cian-cian ingin menerkam ke muka, tapi niat tersebut segera dibatalkan, Hong nio masih berada di tangannya, ia tak boleh bertindak secara sembarangan.
Dengan susah payah ia berusaha mengendalikan perasaannya yang bergolak, lalu dengan suara rendah tegurnya.
"Kenapa kau lakukan perbuatan seperti ini?"
Sinar mata Ci Peng sama sekali tidak berperasaan, jawabnya dengan dingin dan ketus.
"Sebab aku ingin membuat kau tahu, bahwa sesungguhnya kau bukan seorang gadis yang luar biasa."
Suaranya kian lama kian bertambah tajam, ibaratnya sebilah pisau yang amat tajam, kau tidak lebih hanya seorang lonte kecil yang sudah terbiasa dimanja oleh bapakmu."
Siapapun tidak akan menyangka kalau ucapan semacam itu bisa diutarakan oleh seorang lelaki yang dihari-hari biasa tampak lemah lembut dan amat terpelajar.
Saking mendongkolnya, sekujur badan Cian-cian gemetar keras.
Tiba-tiba dari kegelapan sana kedengaran ada orang bertepuk tangan sambil tertawa cekikikan .
"Haaahhh ... haaahhh .., haaahh ..tepat sekali, bocah perempuan itu memang rada mirip lonte, wah, kalau dibayangkan gerakan tubuhnya sewaktu "gituan"
Di ranjang, tanggung pasti yahud !"
Dua orang manusia muncul dari balik kegelapan.
Yang rada tinggian berbahu lebar dan perut agak busung, senyumannya licik dan tengik sepasang matanya sedang mengawasi bagian bawah pinggang Cian-cian dengan sorot mata yang amat buas.
Sedang yang rada pendek bermuka licik dan serius, sepasang matanya yang kecil tapi tajam itu kelihatan seperti seekor ular berbisa.
Pada bagian pinggang kedua orang itu sama-sama tergantung sebuah kantung kulit, sedang pada tangan kanannya mengenakan sebuah sarung tangan yang terbuat pula dari kulit menjangan.
Tapi sepasang mata Cian-cian sudah berubah merah membara, ia tak ambil perduli apa yang bakal terjadi, ruyung lemas pada pinggangnya segera dilepaskan, kemudian sekali melompat ia telah menubruk ke muka.
Sekalipun Tio jiya kurang setuju kalau anak perempuannya belajar silat, tapi nona besar ini secara diam-diam telah melatihnya dengan tekun dan sungguh-sungguh.
Pada dasarnya dalam perkampungan Ho-hong-san-ceng memang banyak terdapat jago lihay, ditambah lagi kakaknya sering mewariskan ilmu silat kepadanya, dan diapun luar biasa cerdiknya,maka setelah berlatih banyak tahun, permainan ruyungnya boleh dibilang sudah amat lihay.
Cuma sayangnya kedua orang itu bukan anggota perkampungan Ho-hong san-ceng, merekapun tak perlu sengaja mengalah kepadanya.
Si pendek macam ular berbisa itu tiba-tiba menggetarkan tangannya yang bersarung tangan ke depan, lalu seperti lilitan seekor ular tahu-tahu ia cengkeram gagang ruyung itu.
Meski Cian-cian terkejut, ia tak berani gegabah, tendangan Yen yang siang hui tui (tendangan berantai burung meliwis) nya sudah banyak merobohkan lawan.
Serentak sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai ke depan.
Menanti ia mengetahui kalau ilmu silatnya tidak setinggi apa yang dibayangkan semula, keadaan sudah terlambat.
Kakinya tahu-tahu sudah kena ditangkap oleh sebuah tangan yang sangat besar.
Orang yang rada tinggi itu menggunakan tangannya yang besar untuk mencengkeram kakinya yang kecil mungil, lalu pelan-pelan mengangkatnya tinggi ke atas, senyuman yang menghiasi ujung bibirnya makin jalang dan cabul kemudian sambil tertawa terkekeh-kekeh ejeknya.
"Waaah ... gaya beyini meming sedap dilihat, apalagi kalau dipakai untuk gituan ....Ooh, sedap!"
Meskipun Cian-cian masih perawan dan suci bersih, bukan berarti kata-kata kotor tersebut tidak dipahami olehnya, sebab bagaimanapun juga manusia memang serba tahu, apalagi dalam masalah busuk ini?
semacam begitu.
Gadis itu merasa yaa malu, yaa cemas, yaa benci, akhirnya ia menyemburkan semulut riak kental ke wajah orang itu.
"Babi kau!"
Paras muka orang itu berubah hebat, berubah sedemikian hebatnya sampai kelihatan menyeringai seram dan menakutkan.
"Jangan!"
Tiba tiba Ci Peng berteriak.
Tapi orang itu sudah menyarangkan sebuah bogem mentahnya ke atas dada Cian-cian, rasa sakit yang aneh dan luar biasa membuat air mata gadis itu jatuh bercucuran, sekujur badannya mengejang keras, bahkan untuk berteriakpun tak sanggup.
Semakin mencorong sinar tajam dari mata itu, kembali ia tertawa terkekeh-kekeh, kepalannya telah disiapkan untuk melancarkan sebuah pukulan lagi.
Tapi kali ini kepalannya sudah kena ditangkap oleh laki-laki yang agak pendek itu.
Dengan gelisah orang itu berseru.
"Lo-sam, bolehkah kubereskan dulu lonte busuk ini"
"Tidak boleh!"
Jawab Lo-sam.
"Kenapa tidak boleh?"
"Karena aku mengatakan tidak boleh!"
Kembali orang itu berteriak.
"Hei, apakah kau harus menyuruh loco menyerahkan bocah perempuan yang halus dan lembut ini untuk si anak kura-kura itu?"
Sebenarnya mereka berbicara dengan dialek umum, tapi dalam berangnya orang itu telah memperdengarkan dialek aslinya.
Paras muka Lo-sam berubah menjadi hijau membesi, sambil menarik muka jawabnya ketus.
"Kau bukan loco, dan dia bukan anak kura-kura, kita semua adalah sahabat!"
Teman mereka sudah barang tentu Ci Peng.
Sekalipun lelaki itu tidak bermaksuk menganggap Ci Peng sebagai temannya, tapi rupanya ia takut juga terhadap Lo-sam, maka sekalipun mendongkolnya sudah mencapai ke otak, ia toh melepaskan juga cekalannya atas diri Cian-cian.
Tong Lip atau Si Lo sam kembali berkata.
"Jauh -jauh menembusi ribuan li dari wilayah Siok tiong sampai ke mari, tujuan kami tak lain adalah ingin membereskan sedikit perhitungan dengan Tio Bu ki.
"Perhitungan apa yang hendak kau bereskan dengannya?"
Tak tahan Cian-cian bertanya.
"Seorang saudaraku telah tewas di tangannya! Saudara mereka bukan lain adalah Tong Hong.
"Tong Hong hendak membunuh Tio Bu ki, maka Tio Bu ki membunuhnya,"
Tong Lip menerangkan.
"sebetulnya kejadian semacam ini adalah kejadian yang umum dan lumrah, tapi kematiannya benar-benar terlalu mengenaskan ... Terbayang kembali mayat Tong Hong yang hancur tak karuan, serta rasa ngeri dan yang ter-cermin di atas wajahnya menjelang kematian, tiba-tiba sorot matanya lebih buas dan kejam, terusnya.
"Aku tahu diantara kalian berdua, seorang adalah bininya Tio Bu-ki dan seorang yang lain adalah adik perempuannya, aku sebenarnya hendak membunuh kalian agar ia merasakan pula siksaan dan penderitaan tersebut ."
"Kenapa kau belum juga turun tangan?"
Tanya Cian-cian.
"Karena kami dengan sahabat she Ci ini telah mengadakan suatu kontrak barter."
"Barter apa?"
"Menggunakan kau untuk ditukar dengan Tio Bu-ki!"
Jawab Tong Lip. Kemudian setelah tertawa seram, ia melanjutkan.
"Barter ini akan berjalan sangat adil, yang kami inginkan adalah batok kepala Tio Bu-ki, sedang yang dia inginkan adalah kau, dia hendak mengajak kau untuk menemaninya tidur."
Cian-cian berpaling dan melotot ke arah Ci Peng dengan gemas, sinar mata yang membara memancar ke luar dengan seramnya.
Tapi Ci Peng melengos ke samping, seakan-akan tak pernah melihat sinar matanya itu.
Kembali Tong Lip berkata.
"Kami tidak bermaksud mencopoti celana dalammu dan memaksa kau untuk menemaninya tidur, dia musti mengandalkan kepandaiannya sendiri untuk melaksanakan keinginannya, tapi kuanjurkan kepada kalian agar lebih baik bertindaklah lebih jujur, jangan mencoba untuk menimbulkan keonaran, lebih-lebih lagi jangan mencoba untuk kabur, sebab kalau tidak, terpaksa kami akan serahkan kamu berdua kepada Tong Bong."
Lanjutnya kembali setelah berhenti sebentar.
"Cara Tong Bong dalam menghadapi kaum perempuan istimewa sekali, aku jamin mimpipun kalian belum pernah memikirkannya."
Teringat akan sepasang mata Tong Bong yang jalang, cabul dan mengerikan itu serta sepasang tangannya yang kotor, Cian-cian ingin sekali tumpah-tumpah.
Terdengar Tong-bong tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya pula.
"Akupun amat menyukaimu, terutama menyukai sepasang kakimu, coba lihatlah, kakimu begitu panjang, begitu kuat dan padat berisi, oh! bikin jantung berdebar saja."
Dipungutnya sebatang kayu bakar lalu dipencetnya pelan, seketika itu juga kayu kering itu hancur berkeping-keping.
"Jika kau berani bermain gila di hadapanku, maka kakimu yang indah akan berubah menjadi seperti kayu kering ini!"
Ancamnya.
Mau tak mau Cian-cian harus mengakui bahwa kekuatan tangan orang ini benar-benar mengerikan.
Tapi ia tahu Tong Lip pasti lebih menakutkan lagi, kalau seorang gadis sudah terjatuh ke tangan dua orang manusia macam begini, lebih baik memang mati saja daripada hidup menanggung derita.
Tong Lip kembali berkata.
"Aku harap kalianpun jangan mencoba-coba untuk mencari mati, karena kujamin untuk matipun kalian tak akan sanggup."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Teriak Cian-cian sambil menggigit bibir.
"Aku hanya minta agar kalian mengikuti kami dengan jinak, menanti Tio Bu-ki berhasil kami temukan, maka kalian akan kuserahkan kepada sahabat Ci ini, waktu itu terserah apapun yang hendak kalian lakukan, perbuatan kalian sama sekali tak ada hubungannya dengan kami."
"Kau sanggup untuk menemukan Bu-ki?"
Ia telah menyanggupi kepada kami bahwa dalam tiga hari, Tio Bu-ki pasti.sudah dapat ia temukan!
Lalu dengan sepasang matanya yang berbisa seperti ular beracun ia melotot sekejap ke arah Ci Peng, katanya lebih lanjut.
"Bukankah kau sendiri yang berjanji demikian?"
"Benar!"
"Aku harap apa yang bisa kau ucapkan, bisa pula kau laksanakan!"
"Aku pasti dapat melaksanakannya!"
Tong Bong tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeehhh ....heeehhh... heeehhhh... jika kau tak sanggup melaksanakannnya, bukan cuma tubuhmu saja yang secara tiba-tiba akan berubah menjadi sangat jelek dipandang tubuh, kedua orang bocah perempuan inipun akan beruhah menjadi amat tak sedap dinikmati."
Ia teristimewa menekan kata "badan"
Secara berat, seakan-akan minatnya terhadap tubuh orang lain besar sekali.
Cian-cian merasa seluruh bulu kuduk tubuhnya pada bangun berdiri, seakan-akan terdapat beribu-ribu ekor semut yang merambat di atas tubuhnya ....
Iapun berharap mereka bisa temukan Bu-ki, sebab ia percaya Bu-ki pasti mempunyai cara yang baik untuk menghadapi orang-orang itu, ia selalu mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan Bu-ki.
Tong Lip manatapnya tajam-tajam, kemudian berkata.
"Sekarang, apakah aku telah menerangkan setiap persoalan dengan sangat jelas?"
Terpaksa Cian-cian mengangguk.
"Kalau begitu bagus sekali!"
Seru Tong Lip, ia berpaling ke arah Ci Peng dan kembali tanyanya.
"Benarkah Tio Bu-ki bersembunyi di atas bukit Kiu-hoa-san?"
"Benar!"
"Besok pagi-pagi kita akan naik keatas gunung dan malam ini kita beristirahat di sini!"
Kemudian kepada Hong-nio katanya.
"Pergilah ke dapur dan siapkan makanan untuk kami, kalau dilihat tampangmu, aku sudah tahu kalau kau pandai sekali memasak sayur."
"Akan kutemani dia!"
Seru Cian-cian cepat.
"Tidak, kau tak boleh kesana!"
Cegah Tong Lip.
"Kenapa?"
"Karena kau sakit!"
Belum habis perkataannya itu, secepat sambaran kilat ia telah menotok jalan darah Cian-cian.
Sungguh cepat gerakan tubuhnya, ini membuktikan kalau kepandaian silat yang dimiliki telah mencapai tingkatan yang luar biasa.
Ilmu silat yang dimiliki Cian-cian memang termasuk hebat, tapi dihadapannya, ilmu silat Cian-cian bagaikan permainan seorang anak kecil yang tak ada arti baginya.
Tong Lip menunjukkan wajah yang sangat puas.
"Sekarang aku hanya ingin makan hidangan yang paling lezat, minum sedikit arak wangi dan beristirahat dengan nyenyak ..........
"Suatu idee yang bagus!"
Seru Tong Bong sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"heehh ....heehh..... memang suatu idee yang bagus sekali ."
Hong-nio bersembunyi disudut ruangan, seluruh tubuhnya melingkar menjadi satu, ia hanya merasa lelah, sedih dan putus asa.
Mereka tidak mengikat tubuhnya, tidak pula menotok jalan darahnya, mereka tidak takut ia kabur dari situ.
Babi yang cabul, tengik dan memuakkan itu selalu mengincarnya secara diam-diam, bahkan kemungkinan besar ia selalu berharap agar ia mencoba untuk kabur dari situ.
Dalam hati kecilnya ia telah bersumpah, ia tak akan kabur dari situ, diapun tak akan melakukan perbuatan apapun yang dapat menimbulkan kemarahan mereka.
Ia hanya berharap agar Cian-cian dapat pula berpendapat sepertinya, karena dalam keadaan demikian mereka harus tunduk dan menuruti saja, perkataan mereka.
"Tapi, bagaimana selanjutnya? Berapa lama mereka harus menahan diri ? Untuk berpikirpun ia tak berani. Dua buah pembaringan yang berada dalam kamar telah ditempati oleh Tong Lip dan Tong Bong, setelah minum arak mereka tidur ngorok persis seperti babi. Ci peng tak dapat bergerak bebas, karena jalan darahnya telah ditotok pula oleh mereka. Mereka mengikatnya menjadi satu dengan Cian-cian dengan mempergunakan seutas tali. Sambil tertawa terkekeh-kekeh Tong Bong berkata.
"Asal kau punya kepandaian untuk bergerak, silahkan bergerak dengan cara apapun, aku tak ambil perduli."
Ci Peng tak mampu bergerak. Tong Bong kembali berkata sambil tertawa.
"Bisa dilihat tak dapat dinikmati, siksaan tersebut tentu sangat tak enak dirasakan."
Ia merasa sangat bangga, karena idee ini berasal darinya, dialah yang bersikeras hendak menotok jalan darah Ci Peng.
"Sekarang kau masih belum serahkan Tio Bu ki kepada kami, kenapa kami harus percepat menyerahkan nona itu untuk kau nikmati?! Ci Peng masih juga tersenyum.
"Aaaah ... tidak menjadi soal, aku tidak terburu napsu!"
Sahutnya.
BUKAN ALAM MANUSIA CIAN-CIAN tak berani membuka mata.
Bila ia membuka matanya, maka akan terlihat tampang Ci Peng, si manusia munafik yang tak tahu malu itu tepat di hadapannya.
Selisih jarak antara muka Ci Peng dengan wajahnya hanya terpaut tidak sampai setengah depa.
Bagaimanapun, Cian-clan telah mencoba meronta, tubuh mereka berdua masih juga menempel satu sama lain.
Kalau bisa dia ingin sekali mencekik laki-laki itu sampai mampus, belum pernah ia jumpai laki-laki tak tahu malu memuakkan seperti ini.
Meski demikian, suatu hawa panas dan bau khas seorang lelaki yang terpancar ke luar dari tubuh Ci Peng, menyebabkan hatinya terasa aneh, kalut dan sukar dilukiskan dengan katakata.
Ia hanya berharap agar malam yang menyiksa ini dapat dilewatkan dengan cepat, tapi bagaimana pula dengan besok?
Ia benar benar tak berani berpikir lebih lanjut.
Rasa lelah dan sedih yang kelewat batas, akhirnya membuat Hong-nio terlelap tidur dengan amat nyenyak.
Tapi ...
tiba-tiba ia tersentak bangun karena kaget, seketika itu juga seluruh tubuhnya menjadi kaku dan mengejang keras.
Sebuah tangan yang besar dan kasar sedang meraba pahanya dan pelan-pelan bergerak naik ke atas pinggangnya, lalu dengan suatu cara yang kasar dan bodoh mulai melepaskan kancing bajunya satu persatu.
Dia ingin berteriak, dia ingin muntah.
Tapi ia tak dapat muntah, ia pun tak berani berteriak, tahu seandainya menggusarkan babi ini, akibatnya akan jauh lebih fatal.
Tapi tangan itu bergerak makin berani, makin lama makin brutal dan tak tahu aturan, ia makin lama merasa makin tersiksa, makin tak tahan...
Untuk pertama kalinya dia teringat akan kematian, sayang untuk matipun saat ini dia tak mampu.
Kancing sudah terlepas semua, kini tiba giliran pakaiannya yang dicopot satu demi satu...
Tangan yang besar dan kasar itu telah menyentuh kulit tubuhnya yang halus dan lembut, dengusan napas yang membawa bau arak pelan-pelan semakin mendekati tengkuknya, dagunya dan makin mendekati bibirnya ....Ia sudah tak dapat mengendalikan diri lagi mendadak sekujur badannya mulai gemetar keras.
Gemetar semacam ini rupanya semakin membangkitkan napsu birahi dari kaum pria, tangannya yang meraba, meremas dan memegang itu makin bekerja keras, makin bertenaga, makin bernapsu dan berani ...
Tiba-tiba, tangan ditarik ke luar dari balik celana dalamnya, menyusul kemudian tubuh yang berat seperti babipun ikut ditarik ke belakang ....
Terdengar Tong Bong meraung penuh kegusaran.
"Perempuan ini toh bukan milik anak kura-kura itu, kenapa loco tak boleh menyentuhnya?"
"Enyah kembali, ke pembaringanmu!"
Suara Tong Lip tetap sedingin es, baik-baik tidur di tempat, kalau tidak kukutungi sepasang tanganmu yang kotor itu!"
Ternyata Tong Bong tak berani membangkang.
Hong nio menggigit bibirnya keras-keras, menggigit hingga berdarah, sekarang sekujur tubuhnya baru terasa mengendor, akhirnya meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati.
Dari balik kegelapan, sepasang mata yang berbisa bagaikan ular beracun itu sedang menatap-tajam-tajam, ternyata dia mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Terhadap laki-laki ini, dia tak tahu haruskah merasa berterima kasih?
Benci?
Ataukah takut?
Ia takut laki-laki itu bertindak selangkah lebih ke depan, ia kuatir gerakannya diteruskan dengan gerakan lain.
Untunglah tangan Tong Lip setelah meraba pipinya tadi segera ditarik kembali, diapun segera bangkit berdiri.
Secara lambat-lambat ia seperti mendengar helaan napasnya yang panjang.
Keesokan hatinya, pagi-pagi sekali Hong nio telah bangun dan memasak sekuali besar bubur, ia mengambilkan semangkuk lebih dulu untuk Tong Lip.
Kali ini, ternyata Tong Lip berusaha menghindari tatapan matanya, bahkan memandang se-kejappun tidak, hanya ujarnya dengan dingin.
"Selesai makan bubur, kita akan segera naik gunung!"
Empat puluh delapan buah puncak bukit Kiu-hoa yang letaknya berjajar dengan membentuk lingkaran, bentuknya persis seperti sembilan kuntum bunga teratai.
Diantara empat puluh delapan buah puncak itu, Thian-ho merupakan puncak yang tertinggi, setelah naik ke atas gunung, tempat pemberhentian pertama dinamakan Soat-thian-bun, selewatnya tempat itu, jalan gunung makin sempit dan berbahaya.
Dalam waktu singkat mereka sudah melewati Yong swan-ting, Teng sim sik, Poan siau teng, menyeberangi jembatan Tay siau sian kiau, lalu melewati pula Wong kang lo, Hay tham lim, melewati lagi Peh cap si ti leng ci soat dan sampailah di pagoda tempat menyimpan jasad Tee-cong pousat.
Tapi mereka semua tidak terlalu berminat dengan pousat.
Akhirnya sampailah beberapa orang itu di puncak Thian tay hong, terlihatlah awan bergerak lewat, bukit menjulang ke angkasa, batu aneh berserakan di mana-mana dan diantara celahcelah batu cadas tumbuh pohon siong yang rindang.
Kaki Hong nio sudah robek dan pecah-pecah, rambutnya kusut dan pakaiannya basah oleh keringat.
Segulung angin dingin berhembus lewat, bagaikan sebuah anak panah menerpa tubuhnya dan membuat sekujur tubuhnya gemetar keras.
Tapi ia tidak menggerutu, tidak mengeluh atau pun menghela napas karena menyesal.
Tong Lip memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba ia berkata.
"Kita harus sampai ke atas puncak bukit itu!"
"Aku tahu!"
Jawab Hong-nio. *Kau harus pula sampai diatas!"
Hong-nio menundukkan kepalanya.
"Aku... aku boleh mencobanya!"
Ia berbisik.
"Tak perlu dicoba!" *Aku bersedia menggendongnya"
Seru Cian-cian.
"Tidak boleh!"
"Kenapa tidak boleh?"
Jilid 9________ KARENA aku pernah berkata kesempatan untuk matipun tak akan kalian temui!` Selama berada ditempat seperti ini, kearah manapun kau melompat turun, tubuhmu pasti hancur dan nyawamu pasti melayang.
"Masakan kau hendak meninggalkan dia di sini? jerit Cian-cian.
"Ia boleh mencari seseorang untuk membopongnya!"
"Mencari siapa?"
"Kecuali kau, terserah ia mau minta tolong kepada siapa!"
"Biar aku saja! "
Tong Bong segera berseru dengan penuh semangat. Tong Lip tertawa dingin, ia tidak menggubris rekannya itu, sebaliknya bertanya kepada Hong nio.
"Kau menginginkan siapa yang akan membopongmu?"
"Kau! "
Jawab Hong-nio tanpa berpikir panjang lagi.
***** Kabut yang menyelimuti wilayah sekitar tempat itu sangat gelap, dari jarak beberapa depa pun sulit untuk melihat bayangan manusia.
Berada di atas gendongan Tong Lip, tiba-tiba Hong-nio bertanya.
"Tahukah kau mengapa kupilih dirimu?"
"Tidak tahu!"
"Karena aku tahu bahwa kau sesungguhnya bukan seseorang yang terlalu jahat."
"Aku orang jahat!"
"Kalau begitu, mengapa kau harus menolongku."
Tong Lip termenung, lama, lama sekali ia baru bertanya.
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Yaa, aku benar-benar ingin tahu!"
Suara jawaban dari Tong Lip berubah menjadi begitu dingin dan kaku, jawabnya.
"Kulepaskan kau karena aku telah dikebiri orang, pada hakekatnya aku tak mungkin menyentuh dirimu lagi, oleh karena itu akupun tak ingin membiarkan orang lain menyentuh dirimu."
Hong nio tertegun. Mimpipun ia tak mengira kalau ada seorang pria yang berani mengutarakan rahasia besarnya kepada gadis asing yang belum lama dijumpainya.
"Kalau aku masih sanggup"
Lanjut Tong Lip dengan suara dingin.
"sekarang kau telah kugagahi sebanyak berpuluh-puluh kali banyaknya!"
Hong nio tidak tahu bagaimanakah reaksi gadis lain seandainya mereka mendengar perkataan itu.
Tapi baginya sekarang hanya ada perasaan iba, kasihan dan simpatik yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, sekalipun hakekatnya itulah luapan perasaan yang paling mulia dan agung dari makhluk yang disebut manusia .......
Ia tak tahu ucapan apakah yang harus dikatakan untuk menghibur hatinya, sementara pemandangan di depansanasudah samakin terang.
Akhirnya sampailah mereka dipuncak paling tinggi dari puncak Thian Tay hong.
Tempat itu merupakan sebuah dataran yang datar, pepohonan yang lebat, bukit bukit karang yang menjulang di mana mana serta sebuah tebing dengan ukiran tiga huruf yang amat besar.
"HUI-JIN KIAN" (Bukan alam manusia). ***** Tempat itu adalah alam semesta? Ataulah alam baka? Di atas sorga loka? Ataukah dalam neraka? Entah tempat apapun, yang pasti di situ tak ada kehidupan, sebab jauh memandang kesana, tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Tong Lip telah menurunkan Hong nio dari bopongannya, lalu dengan sepasang matanya yang berbisa seperti mata ular beracun menatap Ci Peng tajam tajam, katanya.
"Naik ke atassana, sudah tiada jalan lagi?"
"Yaa, tidak ada lagi!"
Jawab Ci Peng.
"Bukankah kau mengajak kami datang untuk mencari Tio Bu ki?"
"Benar!"
"Tio Bu ki berada di mana?"
Sambil menuding ke arah tebing terjal yang terukir tulisan "Hui jin kiam"
Tersebut jawab Ci Peng.
"Tuh, disana!"
Di sekitar tebing terjal tidak nampak bayangan manusia, pada hakekatnya tempat itu bukan alam manusia.
"Di belakangsanamasih ada sebuah gua rahasia, Tio Bu-ki bersembunyi di dalamsana"
Kata Ci Peng lagi.
"Mengapa ia musti bersembunyi ditempat seperti ini?"
"Karena dia takut!"
"Apa yang dia takuti?"
"Ia tahu selama ia masih hidup harus membalas dendam atas kematian ayahnya, kalau tidak maka siapapun tak akan menjumpai dirinya lagi."
Bagi orang persilatan, dendam sakit hati lebih dalam dari samudra, sebagai seorang putra yang berbakti ia musti membalas sakit hati tersebut.
"Ia sendiripun tahu bahwa ia sendiri bukan tandingan dari musuh besarnya Sangkoan Jin!"
Kata Ci Peng lagi. Maka ia takut pergi membalas dendam, takut menenukan jejak Sangkoan Jin"
"Yaa, ia ketakutan setengah mati!"
"Maka dari itu dia baru bersembunyi di sini?"
"Di alam kehidupan manusia sudah tiada tempat berpijak lagi baginya .."
Kata Ci Peng dingin.
"Aku harap kau berbicara sejujurnya"
Ancam Tong Lip.
"Baik jujur atau tidak, sebentar lagi persoalan ini akan tersingkap, kenapa aku musti membohongimu?"
"Baik, bawalah kami ke situ!"
Kata Tong Lip kemudian.
"Tidak, aku tak boleh ikut pergi!"
"Kenapa?"
"Aku telah menghianatinya, bila ia bertemu denganku, maka akulah yang pertama-tama akan dia bunuh."
Setelah tertawa getir kembali katanya.
"Sekalipun ilmu silat yang dimiliki Tio Bu-ki tidak terlampau lihay, untuk membunuhku bukan suatu pekerjaan yang sukar, waktu itu kalian pasti tak akan menolangku."
Tong Lip tertawa dingin, katanya.
"Kau anggap aku tak dapat membunuhmu?"
"Bagaimanapun juga asal kalian berputar menaiki batu cadas itu, benar atau tidaknya perkataanku segera akan terbukti, kenapa tidak kalian periksa dulu kebenarannya? Kalau ia memang tak ada di situ, toh belum terlambat bila kau datang kembali untuk membunuhku?"
Tong Lip menatapnya tajam-tajam, pelan-pelan ia menyodokkan kedua jari tangannya ke depan dan menotok jalan darah lemas pada pinggangnya.
Ci Peng sama sekali tidak bermaksud untuk menghindarkan diri.
Tiba-tiba jari tangan Tong Lip berputar lagi seperti gangsingan, kemudian tahu-tahu jalan darahSianki hiat di tubuh Cian-cian ikut ditotoknya pula.
Totokan tersebut tidak dilancarkan dengan tenaga yang terlampau berat, tapi sasarannya tepat sekali.
Seketika itu juga Cian-cian terkapar dengan lemas.
Ci Peng telah roboh terkapar pula di tanah, sebab jari tangan Tong Lip kembali berputar dan jalan darahSianki hiat di tubuhnya ikut tertotok juga.
"Kau harus tahu"
Kata Tong Lip dengan dingin.
"keluarga Tong bukan saja memiliki senjata rahasia yang manunggal, kamipun mempunyai ilmu totokan yang manunggal juga."
Ci Peng mengerti. Satu totokan dari keluarga Tong seperti juga senjata rahasia dari keluarga Tong, kecuali anak keturunan keluarga Tong, orang lain jangan harap bisa membebaskannya.
"Oleh sebab itu jika aku tak kembali lagi, kalianpun hanya akan menanti kematian di sini"
Sambung Tong Lip lebih lanjut. Menunggu kematian biasanya lebih mengerikan daripada menghadapi kematian itu sendiri. Tiba tiba Hong nio berkata.
"Seandainya kau berhasil menemukan Bu ki, bolehkah kujumpai wajahnya sekali saja?"
Sudah lama ucapan itu tersimpan dalam hatinya, selama ini ia tak berani mengucapkannya ke luar, karena ia tidak tahu apa akibatnya bila perkataan itu dia utarakan.
Tong Lip menatapnya tajam-tajam, sepasang matanya yang berbisa seperti ular beracun memancarkan sinar yang mengerikan, tiba-tiba saja mimik wajahnya mengalami parubahan yang sangat aneh.
Hong nio menundukkan kepalanya, dengan sedih ia berkata.
"Akupun tak tahu bagaimana penyelesaiannya atas dendam sakit hati yang terikat di antara kalian berdua, tadi aku hanya ingin bertemu sekali saja dengannya."
"Asal dapat bertemu sekali saja dengannya, relakah kau mati?"
Kata Tong Lip dingin.
Hong nio menggigit bibirnya keras-keras, kemudian pelan-pelan mengangguk.
Sorot mata Tong Lip semakin aneh, ia sendiripun tak tahu haruskah merasa benci?
Dendam?
Sedih?
Ataukah cemburu?
Cian-cian memandang ke arah mereka berdua, perubahan emosi dalam hatinya ikut pula mengalami suatu perubahan yang aneh.
Dia sendiripun sedang menunggu jawaban dari Tong Lip.
Tapi Tong Lip tidak mengucapkan apa-apa, sepatah katapun tidak, kantung kulit di pinggangnya segera dikencangkan, sarung tangan kulit menjangan dikenakan dan paras mukanya berubah menjadi begitu sinis dan seram bagaikan kabut dingin di puncak bukit.
Kemudian ia putar badan dan berjalan pergi, melirik sekejap ke arah Hong-nio pun tidak.
Tong Bong tiba-tiba berpaling, lalu katanya.
"Baik, kukabulkan permintaanmu itu, aku pasti akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertemu muka dengannya."
Kemudian, sambil menepuk kantung kulit di pinggangnya, ia tertawa terkekeh-kekeh.
Heeehh...
heeeh...
heeh..cuma saja, aku tidak berani menjamin masih hidupkah dia?
Ataukan sudah mati?" ***** Hari makin lama semakin gelap.
Hong-nio berdiri seorang diri di tengah hembusan angin barat yang kencang, dengan termangu-mangu ditatapnya tulisan "Hui jin-kian"
Yang besar di atas dinding tebing itu tanpa berkedip.
Sekalipun telah bulan ke tujuh, angin yang berhembus di puncak bukit itu terasa dingin sekali seperti sayatan pisau.
Dua bersaudara dari keluarga Tong telah membelok di tebing karang sebelah depan, dapatkah mereka berjumpa dengan Bu ki?
Apa yang bakal terjadi setelah mereka menemukannya?
Sekalipun ia tak pandai bersilat, tapi iapun tahu kalau senjata rahasia dari keluarga Tong menakutkan sekali.
Sesaat meninggalkan tempat itu mimik wajah Tong Lip kelihatan menakutkan sekali, apalagi masih ada seorang babi gila yang kejam, brutal dan buas .....
Sudah pasti mereka tak akan melepas Bu-ki dengan begitu saja, dan pertemuannya kembali dengan Bu ki, mungkin si anak muda itu sudah tiada lagi di dunia ini.
Pelan pelan Hong-nio memutar tubuhnya dan memandang ke arah Ci Peng, katanya dengan sedih.
"Tayhong tong bersikap sangat baik kepadamu, mengapa kau lakukan perbuatan seperti ini?"
Ci Peng tidak menjawab. Cian-cian segera tertawa dingin, serunya ketus.
"Pada hakekatnya dia bukan seorang manusia, apa gunanya kau mengajak dia untuk mem-bicarakan kata-kata manusia?"
Hong-nio menundukkan kepalanya, air mata telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
Cian-cian memandang ke arahnya, suata sinar mata yang sangat aneh kembali memancar ke luar dari balik matanya, tiba tiba ia bertanya.
"Kalau benar-benar sedang menguatitkan keselamatan Bu ki?"
Hong-nio berpaling dan memandang ke arahnya dengan terkejut, ke lututnya dengan nada agak gemetar.
"Masakah aku bakal menguatirkan keselamat dari orang lain?"
"Aku sama sekali tidak bermaksud lain. aku tak lebih hanya ..."
Hong-nio tidak membiarkan ia berbicara lebih jauh, tukasnya dengan cepat.
"Kau harus tahu, seandainya Bu-ki mati, akupun tak akan hidup lebih jauh!"
Cian-cian menghela napas ringan pula.
"Aaai....seandainya Bu-ki mati, siapa lagi yang sudi hidup lebih jauh ... .?"
Kembali ditatapnya Hong-nio lekat-lekat, lama, lama sekali ia baru berkata lebih jauh .
"Bagaimanapun juga, kau toh tetap masih merupakan ensoku!"
"Semasa masih hidup aku menjadi anggota keluarga Tio, setelah matipun aku menjadi setan ketuarga Tio!"
"Kalau begitu, aku ingin memohon satu hal kepadamu!"
"Apa yang kau inginkan?"
"Di balik sepatuku ada sebilah pisau belati, cabutlah ke luar pisau tersebut!"
Betul juga, di balik sepatunya memang ada sebilah pisau panjangnya mencapai tujuh nci, mana tipis, tajam lagi.
Hong-nio telah mencabut ke luar pisau belati itu.
Dengan gemas dan penuh kebencian Cian-cian melotot sekejap ke arah Ci Peng, kemudian katanya.
"Kau harus mewakili diriku untuk membunuh manusia pengecut yang terkutuk dan tak tahu malu ini!"
Hong-nio sangat kaget setelah mendengar perkataan itu, jerit nya tertahan.
"Apa? Kau ... kau suruh aku membunuh orang?"
"Aku tahu selama ini belum pernah kau bunuh orang, tapi membunuh orang bukan suatu pekerjaan yang sukar, asal pisau ini kau tusukkan ke dalam ulu hatinya, sekali tusukan saja sudah cukup untuk membereskan selembar nyawanya."
Saking takutnya paras muka Hong-nio telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tangan yang memegang pisau pun mulai gemetar keras, menyusul kemudian sekujur tubuhnya ikut menggigil.
"Kalau kau masih merasa dirimu adalah ensoku, kau harus melakukannya bagiku, bangsat itu harus kau bunuh sampai mampus!"
Sera Cian-cian penuh luapan dendam.
"Tapi ....tapi ....seandainya mereka balik ke mari ... -"
"Kalau mereka sampai kembali ke sini, kau harus bunuh juga diriku, sampai matipun aku tak akan membiarkan manusia pengecut yang tak tahu malu itu menyentuh tubuhku."
Air mata Hong nio sudah tidak bercucuran lagi, tapi keringatnya mengucur semakin deras, keringat dingin lagi. Sepasang mata Cian-cian sudah berubah menjadi merah membara, ia mulai menjerit keras.
"Mengapa kau belum juga turun tangan ? Apakah kau baru puas setelah menyaksikan mereka menganiaya diriku?"
Akhirnya Hong-nio menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu selangkah demi selangkah berjalan ke depan menghampiri Ci Peng, pisau yang berada ditangannya segera diarahkan ke ulu hati lawan.
Tapi secara tiba-tiba saja ia merasa keheranan.
Semestinya manusia pengecut yang terkutuk dan tak tahu malu sangat takut menghadapi kematian, tapi mengapa wajahnya sekarang sama sekali tidak dihiasi rasa takut atau ngeri barang sedikitpun ?
Sabaliknya ia malah kelihatan lega dan gembira ?
Hanya manusia yang merasa tak pernah melakukan perbuatan salah baru akan memperlihatkan sikap lega semacam itu.
Tak tahan lagi, Hong-nio bertanya.
"Apa lagi yang hendak kau ucapkan?"
"Hanya ada sepatah kata!"
Akhirnya Ci Peng menjawab.
"Katakanlah!"
"Kau musti berusaha keras untuk membuat setumpuk api unggun di sekitar kami!"
"Kenapa harus membuat api unggun?"
Hong-nio bertanya keheranan.
Tak ada orang lain yang bisa membebaskan totokan jalan darah keluarga Tong kecuali anggota keluarga Tong sendiri, tapi bagaimanapun jahatnya suatu ilmu menotok jalan darah, paling banyak hanya bisa bcrtahan selama satu jam, asal kita mempunyai api unggun maka kalian bisa melewati masa kritis itu dengan selamat."
Rupanya Cian-cian sudah tidak sabar lagi, kembali ia berteriak dengan suara keras.
"Mengapa kau belum juga turun tangan? Kenapa kau musti mendengarkan segala ocehannya yang tak berguna? Tidakkah kau melihat bahwa ia sengaja sedang mengulur waktu?"
Kali ini Hong nio tidak menggubrisnya lagi, kembali tanyanya kepada Ci Peng.
"Apakah mereka tak akan kembali lagi?"
Ci Peng tertawa, bahkan tampaknya sangat gembira.
"Tak mungkin bagi mereka untuk kembali dalam keadaan hidup!"
Tapi baru saja ia menyelesaikan perkataannya itu, Tong Bong telah muncul kembali di depan mata!
Sinar matahari sore memercikkan sinarnya dari balik bukit, senjapun telah menjelang tiba.
Tong Bong sudah melampaui tebing itu dan selangkah demi selangkah berjalan mendekat, sinar matahari sore persis menyinari raut wajahnya.
Mimik wajahnya kelihatan aneh dan sangat luar biasa, seolah-olah merasa sangat gembira, seakan-akan juga merasa ngeri dan takut.
Cian-cian segera berteriak keras.
"Kalau kau tidak turun tangan sekarang juga, nanti kau sudah tak sempat lagi!"
Hong-nio menggigit bibir, pisaunya segera ditusukkan ke depan.
Dikala mata pisaunya sudah menembusi ulu hati Ci Peng, seperti harimau terluka Tong Bong telah menubruk datang lalu roboh ke tanah.
Ia roboh terkapar seperti sebatang batok kayu yang sangat berat.
Hong nio tertegun.
Cian cianpun tertegun.
Sebaliknya Ci Peng tertawa, darah segar sudah mulai mengucur ke luar dari mulut luka di ulu hatinya, tapi gelak tertawanya masih begitu riang dan gembira.
Pada saat itulah dari belakang tebing yang curam meluncur kembali sesosok bayangan manusia, setelah berjumpalitan di udara orang itu langsung menubruk ke arah mereka.
Diantara percikan sinar matahari terakhir, tampaklah sepasang matanya yang berbisa seperti sepasang ular beracun itu.
Di balik sinar matanya itu seakan-akan penuh dengnn pancaran sinar benci, dendam dan menyesal.
Hong nio menjerit kaget, sambil melepaskan pisau di tangannya ia mundur ke belakang, sementara seluruh tubuh Tong Lip sudah menubruk tepat di atas tubuh Ci Peng.
Gelak tertawa Ci Peng masih kedengaran nyaring, bahkan kedengaran begitu gembira dan riangnya.
Napas Tong Lip terengah-engah, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan sinar mata kebencian, kemudian teriak keras keras.
"Bagus sekali kau, bagus sekali, sungguh tak disangka akupun ikut tertipu oleh siasatmu. Tiba-tiba ia menyaksikan pisau di ulu hati Ci Peng, segera dicabutnya senjata itu lalu menyeringai dan tertawa seram.
"Heehhh... heeehhh...heeehhh .. sayang kali toh akhirnya musti mampus juga di tanganku."
Ci Peng tersenyum.
"Untungnya sekalipun mati, aku bisa mati dengan hati yang puas."
Katanya lirih.
Pisau di tangan Tong Lip sudah siap ditusukkan ke bawah, tiba-tiba ia berpaling dan memandang sekejap lagi ke wajah Hong nio secara tiba-tiba mimik wajahnya menunjukkan suatu perubahan yang sangat aneh.
Pada saat itulah mendadak mukanya menjadi kaku dan napasnya berhenti.
Menyusul kemudian kepalanya terkulai dan roboh tak berkutik lagi di atas tanah.
Mereka memang sudah kembali, sayang bukan muncul kembali dalam keadaan hidup.
Paras muka Ci Peng pucat seperti mayat, darah kental sudah hampir menodai sebagian besar bajunya.
Tusukan dari Hong nio tadi tidak terhitung enteng, bila setengah inci lebih ke dalam, saat ini Ci Peng pasti sudah menjadi mayat.
Terbayang sampai ke situ, keringat dingin Hong-nio yang telah mengering kini mulai mengucur kembali dengan derasnya.
Sebab pada saat inilah ia baru terbayang, orang yang barusan hendak dibunuhnya itu kemungkinan besar justru adalah tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwa mereka.
Tapi ia masih juga tak habis mengerti, dia tak tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi, dia harus memaksa Ci Peng untuk menerangkannya bagi mereka.
Kata Ci Peng.
"Meskipun Tong Lip adalah cucu buyut dari keluarga Tong, ilmu silatnya justru diperoleh langsung dari Tong Ji sianseng .."
Konon keluarga Tong di wilayah Suchuan semuanya dibagi menjadi sepuluh bagian besar, di antaranya termasuk pula bagian pembuatan resep obat racun serta pembuatan bahan obatnya, pembuatan motif senjata rahasia serta penyimpanan senjata rahasia, bagian keamanan, melatih anak murid serta meronda keamanan wilayah.
Kesepuluh bagian ini secara terpisah masing-masing diurusi oleh sepuluh orang tianglo dari keluarga Tong.
Tong Ji siangseng adalah salah seorang diantara ke sepuluh orang tianglo tersebut.
Tiada yang tahu bagian manakah yang diurusi olehnya, orang hanya tahu dia angkuh, kejam dan berilmu tinggi.
Diantara ke sepuluh orang tianglo dari keluarga Tong, dia pula yang lebih sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, oleh sebab itu namanya pula yang paling termashur.
Sedemikian takutnya orang kepadanya bisa terbukti dari sikap orang persilatan bila bertemu dengan seorang kakek berjubah biru, berikat kepala putih dan mengisap sebuah huncwe, entah dia adalah Tong Ji sianseng atau bukan, mereka selalu berusaha menyingkir jauh-jauh.
Entah suatu kesengajaan atau tidak, barang siapa berani menyalahi Tong Ji sianseng, maka selama hidup jangan harap bisa melewatkan hari-hari dengan tenang.
Kata Ci Peng.
"Sejak muda sampai tua, tidak banyak murid yang diterima Tong Ji siangseng tapi Tong Lip tersebut bukan saja telah menyumbang banyak tenaga dan pikiran untuk keluarga Tong, lagi pula dia harus menerima dulu banyak siksaan dan penderitaan sebelum akhirnya dapat menerima warisan ilmu silat darinya"
Hong-nio menghela napas di hati, ia tahu penderitaan macam apa yang telah diterima oleh Tong Lip.
Buat seorang laki-laki, penderitaan apalagi yang lebih berat dari pada suatu penderitaan akibat dikebiri orang?
Dia memang selalu berhati lembut, penderitaan serta siksaan yang dialami orang lain, seringkali dia ikut merasakannya pula, meski hanya terbatas pada bersedih hati belaka.
Ci Peng berkata lebih jauh.
"Aku tahu, sudah terang kami bukan tandingan mereka, aku ..."
Ia tundukkan kepalanya dengan sedih, setelah berhenti sebentar baru terusnya.
"Asal usulku amat biasa dan umum, lagi pula akupun tak pernah peroleh pendidikan khusus dari seorang guru kenamaan, ditambah lagi selama banyak tahun belakangan, terlampau banyak urusan aneka ragam yang telah menyita waktuku, jangankan menangkan mereka, untuk melayani tiga gebrakanpun belum tentu aku sanggup."
Hong nio segera menaruh rasa simpati kepadanya, dengan lembut ia menghibur.
"Hebat atau tidaknya ilmu silat yang di miliki seseorang sesungguhnya bukan suatu persoalan yang penting, bagaimanapun juga kita bukan binatang buas, belum tentu kita harus mengandalkan kekuatan dan kekerasan untuk menghadapi pelbagai masalah yang kita hadapi."
Ci Peng tertawa paksa, sorot matanya penuh dengan pancaran rasa terima kasih.
"Akupun tahu bahwa Tong Bong ada seekor babi gila, aku tak boleh membiarkan kalian terjatuh ke tangannya, oleh sebab itu terpaksa aku harus mempergunakan akal untuk membawa mereka datang ke mari."
"Apakah kau tahu bahwa mereka bakal mampus bila berani datang ke mari ..... ?"
Tanya Hong-nio.
Tempo hari sewaktu aku datang ke mari untuk mencari Tio kongcu, dengan mata kepala sendiri kusaksikan ada tiga orang jago silat yang jauh lebih lihay dari mereka tewas di bawah tebing curam itu, baru saja aku hendak menyelidiki sebab kematian mereka, tiba-tiba kudengar ada orang memperingatkan bahwa tempat itu adalah daerah terlarang, barang siapa berani memasukinya berarti akan mampus!"
Meskipun kata-kata itu di ucapkan dengan sederhana, padahal setiap kali teringat kembali dengan peristiwa yang terjadi waktu itu, sampai sekarang pun hatinya masih terasa keder, ngeri dan takut sekali.
Tentu saja apa yang diketahui olehnya jauh lebih banyak dari pada apa yang dikatakan sekarang.
Tiga orang yang tewas di bawah jurang tempo hari rata-rata adalah jago pedang yang sudah kenamaan dan banyak tahun mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan.
Mereka datang ke situ adalah disebabkan untuk membalas dendam.
Musuh besar mereka konon adalah seorang jago yang sudah lama meninggal dunia, tapi menurut perkiraan Ci Peng, sampai sekarang orang itu pasti masih hidup, bahkan ia bersembunyi di belakang tebing curam yang disebut Hui jin kian tersebut.
Ilmu pedang yang dimiliki prang itu sudahmalangmelintang tiada tandingannya di kolong langit semenjak tigapuluh tahun berselang, tentu saja kepandaiannya sekarang sudah tak terlukidkan lagi kehebatannya.
Kalau memang ia tak ingin membiarkan orang lain tahu bahwa ia masih hidup di dunia ini, kenapa Ci Peng membocorkan rahasianya.
Membocorkan rahasia pribadi orang merupakan suatu perbuatan yang tercela, suatu perbuatan yang tidak baik.
Ci Peng telah bersumpah tidak akan mengutarakan rahasia tersebut kepada siapapun jua.
Hong-nio tidak bertanya lebih jauh, dia hanya menghela napas panjang lalu berkata.
"Aku tahu, hatimu waktu itu tentu menderita sekali!"
"Kenapa menderita?"
"Sebab bukan saja kami telah salah menuduhmu dengan tuduhan yang bukan-bukan, malah aku hendak membunuh dirimu."
Digenggamnya tangan pemuda itu erat-erat, kemudian menambahkan lagi".
"Akupun tahu mengapa kau tidak memberi penjelasan sejak tadi, sebab sekalipun kau terangkan kepada kami, belum tentu kami akan mempercayaiuya dengan begitu saja."
Tiba-tiba Cian cian tertawa dingin, katanya.
"Heeehhh ... heeehhh ... heeehhh. ... dari mana kau bisa tahu kalau apa yang diucapkan sekarang adalah kata-kata yang sejujurnya?"
Hong-nio berpaling memandang ke arahnya, lalu dengan lembut berkata.
"Aku tidak menyalahkan kau, sebab aku tahu hatimu tentu saja mempunyai perasan menyesal dan minta maaf kepadanya seperti apa pula yang kurasakan sekarang, oleh sebab itulah kau baru mengucapkan kata kata semacam itu."
Cian-cian menutup mulutnya rapat-rapat, malah sepasang matanya ikut pula dipejamkan rapat-rapat.
Matahari sore sudah tenggelam di langit barat, kegelapan malam pelan-pelan menyelimuti seluruh jagat, angin yang berhembus lewat terasa lebih dingin dan merasuk ke dalam tulang.
"Sekarang kau harus berusaha untuk membuat api unggun ....."
Kata Ci Peng kemudian. Hong-nio seakan-akan sedang termenung memikirkan sesuatu, ia tidak menjawab.
"Kemungkinan sekali dalam saku Tong-Lip terdapat bahan untuk membuat api ....."
Ci Peng kembali berkata. Tapi Hong-nio seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa yang dia bicarakan, mendadak gadis itu bangkit seraya berkata.
"Aku harus pergi menengoknya, aku harus menjumpainya walau apapun yang bakal terjadi!"
"Mau pergi ke mana kau? Apa yang hendak kau lihat?"
Ci Peng mendesak dengan cemas. Hong-nio alihkan sorot matanya ke arah tebing curam di depansana, tebing itu bagaikan seekor binatang buas di tengah kegelapan malam, katanya.
"Kalau toh disanaada orangnya, mungkin juga Bu-ki berada di situ."
Sambil bergumam selangkah demi selangkah gadis itu berjalan menuju ke arah bukit curamsana. Melihat perbuatan gadis itu, Ci Peng segera menjerit tertahan.
"Jangan kesana, tempat itu adalah daerah terlarang!"
Hong-nio sama sekali tidak mendengar, bahkan menggubrispun tidak. Menyaksikan gadis itu selangkah demi selangkah mendekati tebing curam yang bernama "Hui jin kian"
Tersebut, peluh dingin membasahi sekujur badan Ci Peng saking tegangnya. Cian-cian ikut gelisah, tak tahan ia berseru.
"Betulkah tempat itu adalah daerah terlarang yang tidak memperkenankan siapapun memasukinya?"
"Ehmm ... .!"
Ci Peng mengiakan.
"Dia adalah seorang anak gadis, mana tak pandai ilmu silat lagi, masakah orang di sans akan membunuhnya?"
"Tempat itu bukan alam manusia, mana mungkin ada manusia yang bisa hidup segar bugar di situ?"
Cian-cian menjadi amat gelisah, peluh dingin bercucuran pula membasahi sekujur tubuhnya.
"Kalau memang di situ bukan alam manusia, mana mungkin ia bisa mati dibunuh?"
"Jika seoraug manusia telah tiba di tempat yang bukan alam manusia, mana mungkin dia tak akan mati."
Malam semakin gelap, bukit yang terjal dan mengerikan ternyata bukan alam kahidupan manusia.
Selangkah demi selangkah Hong-nio berjalan menelusuri kegelapan, akhirnya ia telah lenyap dibalik kegelapan yang mencekam seluruh jagat itu ...
Meskipup paras muka Ci Peng tetap tenang, tanpa emosi, namun kelopak matanya telah berkaca-kaca, seakan-akan ia menyaksikan tubuh si gadis yang lemah lembut itu sudah terjatuh ke dalam jurang yang tiadataradalamnya itu, tapi apa lacur ia justru tak mampu menyelamatkan jiwanya ....Tiba-tiba Cian-cian bertanya.
"Apakah kau merasa bersedih hati bagi keselamatan jiwanya yang terancam ....?"
"Ehmm ....!"
Ci Peng tidak menjawab apa-apa cuma mengiakan.
"Seandainya aku yang pergi ke sana sekarang, sudah pasti takkan ada orang yang merasakan sedih bagi nasibku yacg buruk, sebab aku tidak lebih hanya seorang gadis yang binal, tak tahu aturan dan tak kenal baik buruknya manusia, tentu saja mati hidupnya tak akan diperhatikan pula oleh orang lain."
Ci Peng tidak menjawab, walau hanya sepatah katapun.
"Sebaliknya dia lemah lembut, berhati welas, cantik lagi, setiap pria yang bertemu dengannya pasti akan senang kepadanya dan terpesona oleh kelembutan hatinya."
Setelah tertawa dingin, ia meneruskan lagi.
"Bahkan manusia she Tong yang buas, kasar dan tak kenal peri kemanusiaan pun menyukainya, aku dapa tmenyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelasnya!"
Lama kelamaan Ci Peng tidak tahan juga katanya kemudian.
"Orang lain menyukainya karena ia baik berbudi pekerti dan lemah lembut hatinya, terlepas apakah dia cantik wajahnya atau jelek sekalipun...!"
"Betul, dia memang sangat baik budi pekertinya, lemah lembut perasaannya, sedang aku berhati busuk, dengki dan jahat, aku tak dapat menarik tangan orang lain sambil sengaja memperlihatkan sikapnya yang hangat dan lemah lembut, aku... aku..."
Makin berbicara suaranya semakin parau dan sesenggukan, tanpa disadari air matanya seperti bendungan yang jebol mengucur ke luar dengan amat derasnya.
Padahal ia sendiripun tahu bahwa tidak seharunya dia sebagai seorang anak gadis mengucapkan kata kata seperti itu, siapa pula yang mengatakan bahwa ia tidak bersedih hati?
Begitulah, diakala ia sedang merasa sedih dan kesal oleh perasaan dengki yang muncul secara membingungkan dalam hati kecilnya itu, tiba tiba ia saksikan ada sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa sedang bergerak emnuju kearah mereka.
Itulah sesosok bayangan putih yang amat samar, seakan akan seorang manusia, seorang manusia yang amat kecil.
Andaikata bayangan tersebut adalah sesosok bayangan manusia, maka orang itu sudah pasti adalah seorang bocah cilik.
Tapi mengapa seorang bocah cilik bisa terbang?
Kalau tidak terbang, kenapa ia bisa bergerak dengan kecepatan yang luar biasa?
Sementara ia masih kaget bercampur keheranan, tiba tia pinggannya menjadi kaku dan selapi kegelapan menutupi matanya.
Seketika itu juga ia merasa seakan-akan sudah sepuluh tahun lebih tak pernah tidur, ia merasa mengantuk sekali, matanya menjadi berat dan tak sanggup dipentangkan kembali ia betulbetul ingin tidur.
Akhirnya ia benar-benar tertidur.
***** ADASETAN SINAR matahari berwarna keemas-emasan memancar masuk lewat jendela.
Sinar itu menyorot di atas sebuah meja yang berkilat bagaikan sebuah cermin.
Semua barang yang berada di ruangan itu sama dengan meja tersebut, bersih, mengkilap dan sedikitpun tidak berdebu.
Ketika mendusin dari pingsannya, Cian-cian sudah berada dalam ruang tersebut.
Padahal dengan jelas ia merasa bahwa dirinya berada di atas sebuah bukit gersang yang gelap dan dingin, mengapa tahu-tahu sudah berada di sini ?
Jangan-jangan ia lagi bermimpi ?
Tapi ia bukan sedang bermimpi, ia benar-benar berada dalam keadaan sadar, diapun menyaksikan pula Ci Peng berada disana.
Sebenarnya Ci Peng sedang memandang ke arahnya, menanti gadis itu memandang pula ke arahnya, cepat-cepat ia menghindari tatapan sinar matanya itu.
Ia memandang sekuntum bunga kuning yang berada di atas daun jendela ...
Bunga kuning itu sedang mekar.
Kamar tidur Hong-nio selalu bersih tak berdebu, di atas jendela selalu pula terletak sekuntum bunga kuning seperti itu.
Tapi tempat ini bukan kamar Hong-nio.
"Di mana Hong-nio?"
Ci Peng tidak menjawab, tapi di balik sinar matanya justru terselip rasa sedihnya yang tak dapat diketahui oleh siapapun ....Kenapa kita bisa sampai di sini?
Di manakah kita berada?
Cian-cian tidak bertanya, semua persoalan semacam itu tidak penting baginya.
Ia tidak pernah melupakan perkataan dari Ci Peng, iapun tak pernah melupakan mimik wajah Tong Bong menjelang kematiannya.
Ia harus pergi mencari Hong-nio, entah tempat itu adalah alam manusia atau bukan.
Tapi sebelum dia pergi, Hong nio telah muncul di hadapannya.
oooo "Baru saja aku mencapai tebing curam itu, kusaksikan ada sesosok bayangan putih kecil meluncur kearahku, kemudian kudengar ada seseorang berkata kepadaku .
"Orang yang kau cari tidak berada di sini,"
Kemudian secara tiba-tiba saja aku merasa mengantuk sekali dan tertidur nyenyak."
"Ketika mendusin tadi, kau telah berada di sini?"
Tanya Cian-cian. Hong-nio mengangguk, sorot matanya penuh diliputi perasaan bingung dan tidak habis mengerti.
"Sesungguhnya tempat apakah ini?"
Ia berbisik.
"Siapapun tak ada yang tahu, tempat macam apakah di sini."
Terlepas tempat apakahsana, yang pasti tempat itu boleh dibilang merupakan sebuah tempat baik.
Di luar jendela terdapat sebuah halaman kecil, sinar matahari yang berwarna keemas-emasan sedang menyoroti kuntum bunga kuning ;yang sedang mekar itu.
Di luar rumah aneka bunga tumbuh subur, di luar pagar bambu adalah sebuah gunung gunungan dengan kolam ikan yang memelihara beberapa puluh ekor ikan leihi, di bawah wuwungan rumah bergelantungan sangkar burung nuri yang menyanyikan irama merdu.
Rumah itu cukup besar, perabotnya meski sederhana tapi amat bersih, selain ada kamar baca, kamar makan ada pula tiga buah kamar tidur, bahkan seprei di atas pembaringanpun tampak masih bersih.
Di belakang ada dapur, dalam dapur tersedia segentong penuh beras, di atas rak kayu tergantung pula segala macam daging babi, daging sapi, ikan asin dan ayam.
Paling belakangsanamerupakan sebuah kebun sayur yang menanam sayur putih, kedelai, kacang kapri serta lobak yang besarnya setangan bocah cilik.
Tak bisa disangkal tempat itu merupakan rumah tinggal seorang hartawan yang sedang menyepi, atau paling tidak merupakan rumah kediaman seorang jago silat yang telah mengasingkan diri dari keramaian dunia.
Setiap barang kebutuhan sehari-hari yang dapat kau pikirkan, dapat dijumpai dengan komplit disana, apa yang kau inginkan bisa segera didapatkan di situ.
Tapi di tempat itu justru tak ada orang.
Mungkin tuan rumah sedang pergi keluar?"
Tapi sekalipun mereka sudah menunggu lama sekali, belum juga kelihatan bayangan tubuh dari tuan rumahnya.
"Sebenarnya manusia-manusia macam apa yang tinggal dalam wilayah Hui-jin kian?"
Ciancian bertanya.. Jawaban Ci Peng masih juga jawaban yang semula.
"Kalau sudah tahu tenpat ini Hui-jin kian (bukan alam manusia), dari mana datangnya manusia?"
Sekarang bahkan Ci Peng sendiripun tahu bahwa orang lain pasti dapat mengetahui, bahwa ia sedang menyimpan.
suatu rahasia.
Ia telah bertekad, bagaimanapun juga rahasia tersebut tak akan dia utarakan.
Sebab siapapun yang mengetahui rahasia ini, hal tersebut tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa baginya.
Kata Ciao cian.
"Mereka adalah manusia juga boleh, setan juga tak mengapa, kalau toh mereka telah menghantar kita ke mari, maka kita boleh saja tinggal di sini dengan tenang."
Kenapa kita musti tinggal di sini terus menerus?.
"Sebab walaupun Bu-ki tidak berada di Hui jin-kian, sudah pasti ia masih berada di bukit Kiuhoa-san, asal kita selalu sabar maka cepat atau lambat kita pasti akan berhasil mendapatkan kabar beritanya!"
Demikian Hong-nio menyahut.
Ia jarang sekali mengemukakan pendapat-nya, tapi pendapat yang dia ungkapkan selalu jarang dibantah orang.
Walaupun Ci Peng tak ingin tinggal di situ, mau tak mau ia musti menutup mulutnya rapatrapat.
Untung saja kamar tidur di rumah itu terdiri dari tiga bilik, mereka setiap orang dapat menempati sebuah kamar yang tersendiri, atau mungkin kamar-kamar itu memang secara khusus disediakan untuk mereka?
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus Gan Kl
Baca Juga: Mustika Gaib 4