Eps 4 Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.
Cian-cian selalu riang gembira bagaikan seorang anak kecil, sesungguhnya ia selalu kuatir kalau tidak menemukan tempat yang baik di atas bukit sebagai tempat tinggal, sungguh tak disangka secara tiba-tiba saja dari langit muncul sebuah tempat nyaman seperti ini.
Pada hakekatnya kejadian tersebut adalah suatu kejadian yang menyenangkan, seperti anakanak kecil sedang bermain "Kee-kee-ciu."
Bahkan Hong-nio sendiripun ikut membuang jauh-jauh kerisauan hatinya, ia berkata. Mulai hari ini, menanak nasi memasak sayur adalah pekerjaanku!"
Mencuci pakaian, mencuci mangkuk adalah pekerjaanku!"
Sambung Cian-cian tak kalah gembira-nya. Mau tak mau Ci Peng mesti mengepos semangat sambil menambahkan.
"Dan tugasku adalah memotong kayu bakar dan mengambil air!"
Di sebelah kiri rumah di belakang bukit terdapat sebuah sumber mata air, di atas bukit merupa-kan sebuah kebun buah dengan aneka macam buah yang sudah masak, buah pear yang kecut, buah Tho yang manis dan banyak airnya merupakan buah-buah kesukaan para gadis remaja.
Hampir seluruh kebutuhan manusia yang diperlukan sehari-harinya dapat diperoleh di tempat itu, sayang diantara semua barang yang serba komplit masih kekurangan sebuah benda.
Ternyata tempat itu tak ada lampu.
Bukan saja tak ada lampu, malah lilin, lentera, obor, batu api dan lampu tengtengan pun tak ada, pokoknya semua benda yang berhubungan dengan api dan lampu tak akan dijumpai di situ.
Kalau bukan tuan rumah di sana terlalu awal sudah pergi tidur, maka satu-satunya kemungkinan adalah ia tak pernah pulang ke rumah di malam hari.
masih untung di dapur tersedia korek api untuk menanak nasi, Ci Peng segera membuat api dan Hong-nio memasak daging ayam dan sebaskom besar kacang kapri yang baru dipetik, lalu menanak pula sebakul penuh nasi putih.
Cian-cian menuang piring kecil dengan minyak babi lalu mencari seutas tali sebagai sumbu dan menyulutnya sebagai pengganti lampu.
Sambil tertawa bangga ia berkata.
Dengan lampu kecil ini paling tidak kita tak sampai keliru menghantar nasi ke dalam hidung "
"Pemandangan di luar rumah sangat indah, kalau kita biar mendapatkan beberapa buah lampu lentera yang terbuat dari kaca, tentu pemandangannya jauh lebih indah lagi,"
Kata Hong-nio.
Ia memang selalu menyukai hal-hal yang indah, ia selalu merasa bahwa dalam rumah kecil yang ada di bukit dengan kebun yarg indah akan terasa lebih syahdu jika diterangi oleh lentera-lentera kaca yang indah ....Tapi diapun tahu bahwa di tempat semacam ini jangan harap bisa memperoleh lampu lentera seindah itu.
Maka sore-sore mereka telah pergi tidur, mereka berharap keesokan harinya dapat pergi menjelajahi sekeliling bukit untuk mencari kabar berita tentang Bu-ki.
Malam itu Hong-nio menulis kembali buku hariannya di bawah penerangan lentera kecil yang terbuat dari piring minyak, dalam hati kecilnya ia masih mengharapkan lampu lentera semacam itu.
Keesokan harinya, ia bangun paling pagi.
Ketika ia membuka pintu, terlihatlah belasan buah lampu lentera yang indah tertera api di depan pintu, lentera itu semuanya terbuat dari kaca dan memantulkan sinar tajam di bawah sorotan sang surya.
***** "Siapa yang mengantar lampu lampu lentera itu ke mari?"
"Darimana dia bisa tahu kalau kau menginginkan lampu lampu lentera semacam ini?"
Hong nio tak mampu menjawab. Memandang lentera lentera sebanyak itu, ia termangu untuk beberapa waktu lamanya, kemudian sambil tertawa getir katanya.
"Padahal aku sama sekali tidak menginginkan sebanyak ini, asal setiap ruangan ada sebuah itu sudah lebih dari cukup, sebab terlalu banyak malah merepotkan saja"
Kemudian mereka ke luar rumah untuk mencari jejak Bu Ki, menanti ketiga orang itu kembali lagi kesitu, ternyata dari sepuluh buah lentera yang semula berada di situ, kini tinggal lima buah saja.
Menyaksikan kenyataan tersebut, semua orang merasa tertegun, mereka merasa seakan akan ada segulung hawa dingin yang menyusup masuk lewat telapak kainya danlangsung menerjang naik ke dalam tubuh.
...
Benarkah ada seseorang yang bersembunyi di dalam rumah dan selalu mendengar pembicaraan mereka?
Meskipun di mulut mereka tidak membicarakannya, tapi begitulah yang dipirkan di dalam hati.
Maka mereka mulai mengadakan pencarian secara besar besaran, setiap sudut ruangan diperiksa dengan seksama, bahkan di kolong ranjang, di dalam peti, di atas wuwungan rumah, di balik lubung dapur mereka periksa dengan teliti, tapi hasilnya tetap nihil, tak sesosok bayangan manusiapun yang ditemukan.
Tangan dan kaki Cian-cian mulai menjadi dingin, tiba tiba ia berkata dengan lirih.
"Kalian tahu apa yang sedang kupikirkan sekarang?"
"Apa yang kau pikirkan?"
Tanya Hong nio.
"Aku menginginkan sebuah boneka dari tanah liat!"
Kemudian ia bertanya kepada Hong nio.
"Dan kau? Hari ini apa yang kau inginkan?"
"Boneka tanah liat mudah pecah kalau jatuh, aku menginginkan boneka dari kain."
"Boneka kain mudah robek, bukankah boneka dari kayu jauh lebih indah dan kuat?"
Sela Ci Peng.
"Apakah kau menginginkan boneka kayu?"
Cian-cian berseru.
"Aku menginginkan kedua duanya!"
Jawab Ci Peng ***** Malam itu sebelum berangkat tidur sekali lagi mereka memeriksa setiap sudut rumah dengan teliti dan seksama, setelah yakin bahwa di sekitar tempat itu tiada orang yang bersembunyi, mereka baru mengunci baik-baik semua pintu dan jendela kemudian baru pergi-tidur.
Malam ini tidur mereka tidak nyenyak.
Keesokan harinya, ketika mereka membuka pintu, di luar pintu tak ada boneka tanah liat, tidak ada pula boneka kayu.
Tapi di luar pintu sana terdapat sebuah boneka kain, sebuah boneka kain yang besar sekali.
Kontan saja Cian-cian melotot besar-besar ke arah Hong-nio.
Hong nio sendiri walaupun merasa tertegun, namun diapun tahu apa yang sedang dipikirkan gadis tersebut.
.....
Apapun yang diinginkan orang lain agaknya sama sekali tidak diperhatikan oleh orang itu, tapi apa yang diminta Hong-nio segera diberikan dengan cepat....Mungkinkah dia adalah sahabatnya Hong-nio?
...
Sesungguhnya "sahabat"
Macam apakah dia?
Kenapa tak berani memperlihatkan diri?
Hong-nio sendiripun tak sanggup untuk menerangkan persoalan itu, karena ia sendiri juga tidak habis mengerti.
Jangankan sahabat, seorang kenalanpun tidak ia miliki di tempat itu.
Sepasang biji mata Cian-cian segera berputar kian ke mari, kemudian tiba-tiba ia berkata.
"Aku sudah bosan makan hidangan masakanmu, sekarang aku ingin mencicipi masakan yang lain !"
"Kau ingin makan apa?"
Hong nio segera bertanya.
"Aku ingio makan Ti tie masak kecap dan daging sapi masak kecap dari Gi hoa cay serta bakpao daging dari Gu put li !"
Hidangan yang disebutkan itu adalah hidangan-hidangan kenamaan dari ibukota.
Gi hoa cay terletak dikotasebelah barat, konon kuali yang dipakai untuk masak kecap daging sudah ada dua tiga ratus tahun tak pernah berhenti, daging kecap yang mereka jualpun mempunyai ciri khusus, asal masuk mulut maka orang dapat membedakan rasanya.
Gu put li terletak di Gang Soat say kang, bakpao yang mereka buat tak dapat ditandingi oleh siapapun.
Padahal jarak antara tempat itu dengan ibukotamencapai beberapa ribu li, sekalipun burung yang terbang di angkasa pun tak nanti bisa pulang pergi dalam setengah hari.
Hong nio tahu, rupanya Cian-cian sengaja hendak mengajukan persoalan yang sulit untuk mencoba orang itu, maka ia segera menyahut.
"Bagus sekali, malam ini akupun ingin masakan tersebut !"
Cian-cian masih tidak lega hati, sekali lagi dia bertanya.
"Kau ingin makan apa?"
Sepatah demi sepatah kata Hong nio menjawab.
"Aku ingin makan Titie masak kecap dan daging sapi masak kecap dari Gi Hoa cay di ibukotaserta bakpao daging dari Gu put li !"
Hari itu kembali mereka ke luar rumah untuk melakukan pencarian, sekali pun demikian di hati mereka hanya selalu memikirkan daging masak kecap serta bakpao daging.
Sekalipun orang itu memiliki kepandaian yang luar biasa, jangan harap bisa barangkat ke ibukotauntuk membeli barang-barang semacam itu dan kembali setengah harian kemudian.
Cian-cian tertawa dingin di dalam hati, pikirannya.
"Heeehh ... heeehhh....heeehhh ..aku ingin melihat apakah selanjutnya kau masih punya muka untuk melanjutkan permainan ini?"
Sebelum matahari terbenam, mereka telah buru-buru pulang ke rumah.
Benar juga, di atas meja telah siap sepiring besar Titie masak kecap, sepiring daging sapi masak kecap dan dua puluh biji bakpao yang masih panas.
Kalau hanya begini saja masih tidak termasuk aneh.
Yang lebih aneh lagi, ternyata daging kecap itu benar-benar membawa ciri khas masakan Gihoa-cay, kalau dimakan maka akan terasalah minyak kecap yang sudah berumur lama itu.
Yang lain mungkin bisa palsu, tapi kalau dalam hal ini tak mungkin bisa ditiru lagi.
Ci Peng gemar pula makan daging kecap macam begini, tapi ketika memakannya sekarang, ia tak tahu bagaimanakah rasa sebenarnya.
Sekali lagi Cian cian melotot ke arah Hong nio, kemudian sambil tertawa dingin sindirnya.
"Heeehhh...heeehhh...heeehhh... tampaknya kepandaian yang dimiliki sahabatmu itu betul betul luar biasa sekali"
Hong nio tidak menyalahkannya. Peristiwa ini memang terlalu aneh, memang sepantasnya kalau orang akan merasa curiga kepadanya.
"Siapa sih temanmu itu?"
Tanya Cian cian.
"Kalau toh sudah datang, kenapa tidak tampilkan diri untuk makan bersama kamu?"
Sengaja ia memperlihatkan tertawanya yang amat riang, terusnya.
"Bagaimanapun juga, makanan ini kan sengaja ia beli dari tempat yang sangat jauh...."
"Jauh sekali?"
Tiba tiba Ci Peng bertanya.
"Yaa, jauh sekali!"
"Dapatkah kau pergi ke tempat yang begitu jauhnya untuk membeli hidangan hidangan tersebut kemudian kembali lagi ke sini dalam setengah harian saja?"
"Tentu saja aku tidak mampu!"
"Pernahkah kau bayangkan manusia macam apakah di dunia ini yang sanggup berangkat ke ibu kota untuk membeli hidangan hidangan tersebut kemudian balik lagi kemari hanya dalam waktu setengah harian saja"
"Aku tidak dapat membayangkannya!"
"Aku sendiripun tak dapat membayangkan!"
Kata Ci Peng dengan cepat.
"Sebab pada hakekatnya tak ada seorang manusiapun di dunia ini yang sanggup melakukan perbuatan tersebut!"
"Tapi, bukankah semua hidangan yang kita minta sudah tertera didepan mata sekarang?"
Ci Peng segera menghela napas panjang.
"Aaaai.... aku toh hanya mengatakan bahwa tiada "manusia"
Di dunia ini yang sanggup melakukan pekerjaan itu!"
Katanya. Sengaja kata `manusia"
Diucapkan dengan tekanan yang lebih keras. Tiba tiba Cian-cian merasa ada hawa yang dingin yang menerobos masuk lewat dasar telapak kakinya.
"Maksudmu di sini ada setannya ? ia menjerit. ***** PEMILIK RUMAH SETAN SETAN dapat mengikuti semua pembicaraanmu, sekalipun suara pembicaraanmu amat lirih dan kecil, setan tetap dapat mendengarnya. Tapi sebaliknya kau tak akan mampu mendengar suara pembicaraan setan. Setan dapat pula menyaksikan dirimu, memperhatikan semua gerak gerikmu dan mengikuti semua perbuatanmu, sekalipun berada ditengah kegelapan diapun melihat dengan jelas. Tapi kau tak dapat melihat setan, sekalipun setan berada di sampingmu, kau toh tetap tak dapat melihatnya. Setan tak membutuhkan lampu. Semua barang kebutuhan tersedia di rumah itu, hanya lampu yang tak dimiliki. Setan pun bisa menempuh perjalanan sejauh ribuan li dalam waktu singkat, tapi kau harus menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam untuk bisa mencapainya. Mungkinkah "teman"
Hong nio bukan manusia melainkan setan?
Benarkah rumah itu adalah sebuah rumah setan?
oooo Malam telah tiba, bintang bertaburan memenuhi angkasa, air telaga yang jernih di bawah timpaan sinar bintang memantulkan sinar perak yang memanjang seperti sebuah ikat pinggang berwarna perak.
Menelusuri sumber air itu Hong nio pelan-pelan bergerak maju ke depan.
ia merasa tak dapat tidur, hatinya amat gundah, bukan saja kesal mana takut lagi, takutnya setengah mati.
Ia sama sekali tidak takut dengan setan..
Andaikata penghuni rumah itu benar-benar adalah setan, kalau toh ia baik kepadanya, diapun tak perlu takut kepadanya.
Sejak kecil ia tak pernah takut dengan setan, ia selalu merasa ada sementara orang justru lebih menakutkan dari pada setan.
Perduli apakah dia manusia atau setan, asal ia betul-betul sangat baik kepadanya, ia tetap merasa amat berterima kasih Ia menjadi takut, karena secara tiba-tiba ia teringat akan diri Bu-ki .....
Walaupun di dunia ini sungguh-sunggub terdapat sukma gentayangan, hanya sukma gentayangan dari Bu ki yang akan bersikap demikian baik kepadanya.
"Betulkah Bu ki sudah mati? Benarkah setan itu adalah sukma gentayangan dari Bu ki?"
Ia tak berani berpikir lebih lanjut, iapun tak berani mengungkap masalah tersebut di hadapan Cian-cian, ia telah merasakan bahwa antara mereka berdua sesungguhnya ada suatu selisih jarak.
Mungkin hal ini disebabkan karena sesungguhnya mereka bukan seorang sahabat yang akrab, mereka mempunyai hubungan satu sama lainnya karena Bu-ki lah yang menghubungkan tali perhubungan tersebut.
Cian-cian memang tak pernah memahami perasaan hatinya, diapun tak pernah mempercayai-nya,kalau diantara mereka sudah tak dapat saling memahami, mana mungkin bisa saling mem-percayai?"
Ujung dari sumber mata air itu adalah sebuah telaga kecil.
Sekeliling telaga penuh tumbuh pepohonan siong yang amat besar dan rindang, selain itu tumbuh pula aneka macam bunga liar yang menyiarkan bau harum semerbak.
Di atas langit penuh tersebar beribu ribu bintang, di atas permukaan telaga memantulkan pula cahaya bintang.
Tak tahan ia berjongkok di tepi telaga, mendayung segenggam air dan membasuh tangannya.
Penyerapan sinar matahari sepanjang siang membuat suhu air dalam telaga itu begitu sejuk, begitu lembut dan hangat .
Dibelakang bukit desa kelahirannya dulu, terdapat pula sebuah telaga sebesar telaga ini.
Sewaktu masih kecil dulu seringkali di tengah malam buta ia lari ke telaga dan berenang sepuasnya.
Sebenarnya ia memang seorang bocah perempuan yang nakal, hanya saja selama ini ia selalu mengekang kebinalan serta kebebasannya.
Sekarang, tanpa disadari terbayang kembali kenangannya dikala masih kecil dulu, saat saat kehidupannya yang paling bebas, paling senang dan tidak terikat oleh segala batas batas ketentuan.
Tak tahan lagi, ia mulai bertanya pada diri sendiri.
"Seandainya waktu bisa berulang kembali, dapatkah aku hidup sebebas dulu lagi?"
Mendadak dalam hati kecilnya muncul suatu dorongan yang amat misterius...
Seandainya seorang dapat membuang semua pikiran dan perasaannya yang mencekam perasaannya untuk sementara waktu, lalu mengenag kembalai kenangan indahnya dikala masih kanak kanak dulu, maka jalan pikiran semacam itu bagi siapapun akan merupakan suatu daya pancingan yang sukar dilawan.
Denyut jantungnya berdebar keras, makin lama berdebar semakin cepat...
Sudah terlalu lama ia mengenang diri sendiri, ia merasa sudah sewajarnya kalau saat ini ia mendorongkan sedikit seluruh perasaannya.
Malam yang sepi terasa begitu syahdu, bukit yang hening menambah mesranya suasana ditambah lagi air telaga yang begitu sejuk, begitu hangat dan merangsang hati...
Akhirnya tak tahan lagi dengan tangan yang gemetar ia mulai melepaskan kancing kancing bajunya...
***** Mungkin karena diusia mudanya dulu ia pernah mengalami suatu kehidupan yang bebas tanpa ikatan, maka perkembangan tubuhnya pun amat indah dan mempesona.
Kakinya yang panjang dan ramping kelihatan amat kencang, payudaranya mesti tidak terhitung besar tapi montok dan padat berisi, hanya saja lantaran sudah terlalu lama tak pernah kena matahari maka tampak sedikit pucat dan lembek, apalagi lekukan tubuhnya yang tinggi semampai dengan lekukan lekukannya yang indah, membuat gadis itu tampak semakin mempesona dalam keadaan bugil seperti sekarang ini.
Potong badang semacam ini justru merupakan potongan badang yang paling ideal dan pantas dibanggakan olehnya, belum pernah ada orang kedua yang pernah menyaksikan lekukan tubuhnya itu, bahkan ia sendiripun jarang sekali menikmatinya.
Setiap kali ia memandang tubuh sendiri yang padat dan indah, jantungnya selalu terasa berdebar keras.
Dengan cepatnya ia telah menyelam kedalam air, membiarkan air telaga yang segar serta kenangan dimasa kanak kanak dulu memeluk dan membuai tubuhnya.
Pada saat beginilah, tiba tiba ia merasa seperti ada sepasang mata sedang memperhatikannya.
Itulah sepasang mata yang besar dengan sorot mata yang tajam, mata itu bersembunyi di balik semak belukar yang lebar dan sedang mengawasinya tanpa berkedip, sorot mata itu penuh disertai rasa kaget, girang dan suatau perasaaan kagum yang disertai dengan kobaran napsu birahi.
Dengan cepat gadis itu merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin dan kaku, cepat cepat ia melindungi tubuh bagian terlarangnya denga sepasang tangan sementara badannya cepat cepat menyelam ke dalam air.
Ketika ia muncul kembali diatas permukaan air untuk ganti napas, ternyata sepasang mata itu masih menatap terus kearahnya, bahkan sedang tertawa terkekeh kekeh.
Ia tidak menjerit.
Ia tidak berani memanggil Cian cian serta Ci Peng, ia hanya membenci pada diri sendiri, membenci diri sendiri kenapa bertindak kurang hati hati.
Padahal dengan sangat berhati hati ia telah memeriksa sekeliling tempat itu, sesungguhnya diatas bukit yang sunyi dan malam yang sepi tak mungkin ada manusia yang datang ke sana.
Tiba tiba orang itu tertawa lalu berkata.
"Haahhh...haahhh...haahhh...kau tidak menyangka kalau di sini masih ada orang lain, bukan?"
Hong nio menutup mulutnya rapat rapt.
Ia benar benar tak tahu bagaimana harus menjawab, dia cuma berharap agar orang itu adalah seorang lelaki sejati dan segera meninggalkan tempat itu.
Rupanya orang itu bukan seorang lelaki sejati, bukan saja ia tidak bermaksud untuk pergi dari situ, malahan dengan cekatan tubuhnya melompat ke luar dari semak belukar.
Dia adalah seorang pemuda yang gagah dan kekar, bajunya adalah pakaian ringkas berwarna kuning telur, bukan saja mukanya ganteng, badannya kekar, bertenaga besar lagi.
Perasaan Hong-nio makin tercekat, jantungnya berdebar makin keras, ia benar-benar ketakutan setengah mati.
Pemuda semacam itu adalah pemuda berdarah panas, apalagi di tempat yang begini sepi tanpa orang ketiga, mustahil kalau dia akan membuang kesempatan, sebaik ini untuk melepaskan birahinya.
Menyaksikan rasa kaget, takut dan ngeri yang menghiasi wajah gadis itu, pemuda tersebut tertawa semakin riang, katanya.
"Aku sendiripun tidak menyangka kalau aku bakal mempunyai rejeki sebaik ini."
Untung permukaan air sangat gelap, dia tak dapat melihat tubuh bagian bawahnya yang tersembunyi di dalam air, tapi celakanya ternyata pemuda itu mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu .
Jangan-jangan diapun hendak terjun pula ke dalam air?
Sebelum dia melompat ke air.
Hong-nio sudah menjerit dengan perasaan takut.
"Tidak boleh?"
Orang itu sengaja mengerdipkan matanya berulang kali.
"Tidak boleh apa?"
Tanyanya pura pura tidak mengerti "Kau ....kau tidak boleh turun ke air."
Orang itu segera tertawa.
"Telaga ini toh bukan milikmu seorang, mengapa aku tak boleh turun ke air?"
Ia tidak buru-buru terjun ke air, perbuatannya sekarang ibaratnya seekor kucing sedang mempermainkan tikus tangkapannya, ia tidak terlalu buru-buru untuk menelannya.
Pemuda itu masih bermaksud untuk menggodanya dan mempermainkannya sepuas mungkin.
Hong-nio sudah tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia mulai berteriak-teriak.
Sambil tertawa orang itu segera berkata.
"Sampai pecahpun tenggorokanmu berteriak jangan harap ada orang yang bakal muncul di sini ... ., hayo berteriaklah terus! Di tempat semacam ini yang ada hanya setan, jangan harap kau temui manusia!"
Maksud pemuda itu sebenarnya hendak menakut-nakuti dara tersebut, tapi teriakannya itu justru mengingatkan Hong-nio kepada "temannya."
Mendadak ia teringat dengan "setan"
Yang selalu memenuhi apa yang diharapkan itu, segera teriaknya dengan suara lantang.
"Tahukah kau, apa yang kuinginkan sekarang?"
"Apakah menginginkan diriku?"
Sambil menggigit bibir teriak Hong nio.
"Aku hanya menginginkan kau menjadi seorang buta!"
Baru selesai perkataan itu, mendadak dari balik kegelapan menyambar lewat serentetan cahaya yang lebih cepat dari pada sambaran kilat.
Seketika itu juga sepasang matanya yang jeli dan tajam segera berubah menjadi dua buah lubang hitam yang penuh berlepotan darah kental ...
Agaknya ia masih belum tahu apa gerangan yang telah terjadi, setelah tertegun sejenak, wajahnya baru menunjukkan perasaan ngeri bercampur takut, ia mulai menjerit kesakitan dengan suara yang menyayatkan hati, sambil menutupi mukanya ia lari dari situ, tapi kepalanya segera menumbuk di atas dahan pohon dan terjungkal, cepat-cepat ia merangkak bangun lagi dan lari terbirit birit dari situ.
Hong-nio sendiripun merasa terkejut karena ngeri dan ketakutan.
Cahaya tajam yang menyambar lewat bagaikan sinar petir itu munculnya sangat tiba-tiba tapi perginya pun di luar dugaan.
Jilid 10________ DALAM waktu singkat, suasana di sekeliling tempat itu telah pulih kembali dalam keheningan, tak sesosok bayangan manusiapun yang tampak, seakan-akan disanatak pernah terjadi suatu kejadian apapun.
Tapi orang itu dengan jelas sudah roboh, secara tiba-tiba berubah menjadi seorang buta.
Tak tahan Hong-nio mengendalikan perasaannya yang tak keruan, ia berteriak keras.
"Aku ingin menjumpaimu, dapatkah aku bertemu muka denganmu?"
Suasana di sekeliling bukit itu masih tetap hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Hong-nio betul-betul sangat ketakutan, hampir gila rasanya dia menghadapi keadaan seperti itu, tanpa berpikir panjang lagi ia melompat bangun dan tanpa menyeka tubuhnya lagi yang basah kuyup, ia kenakan pakaiannya dan kabur pulang ke rumah.
Untungnya sepanjang perjalanan ia tidak menjumpai hal-hal di luar dugaan lagi, deogan selamat tibalah gadis itu di depan rumah kecil yang misterius.
Sekalipun ia merasa sangat takut, sangat lelah, tapi ia tak ingin membangunkan Cian-cian serta Ci Peng, menanti dengusan napasnya sudah mulai tenang kembali, ia baru membuka pintu dan kembali ke dalam kamarnya.
Suasana dalam kamar gelap gulita.
Untung gadis itu masih ingat di mans ia menyimpan korek api, dengan cepat ia telah memasang lampu, sinar lentera yang lembut dan terang selalu mendatangkan perasaan hangat dan aman bagi siapapun.
Tapi dikala sinar lentera mulai menerangi sekeliling ruangan, gadis itu kembali menjerit kaget.
Ternyata seseorang telah duduk di dalam kamarnya.
Dia adalah seorang manusia berbaju kasar yang bsrwajah pucat, orang itu duduk di atas kursi di sudut ruangan tak berkutik, sepasang matanya berwarna putih juga dan tak tampak biji matanya, juga jelas diapun tak dapat menyaksikan keadaan disekitarsana.
Ternyata orang itu adalah seorang buta.
Cian cian dan Ci Peng telah datang pula, sesungguhnya mereka sendiripun tidak tidur ketika Hong-nio pulang merekapun tahu.
Tapi tak ada yang tahu sejak kapan si buta itu muncul disana, kehadirannya yang tak di sangka dan tak dirasakan itu cukup mengejutkan hati mereka berdua.
"Siapa kau?"
Cian-cian segera berteriak keras. Dengan wajah tanpa emosi si buta itu balik bertanya dengan suara dingin.
"Dan siapa pula kau?"
"Mau apa kau datang ke mari?"
"Mau apa pula kau datang ke mari?"
Balas si buta. Cian-cian menjadi amat gusar, teriaknya.
"Sekarang akulah yang sedang bertanya kepada m u! "
"Akupun tahu bahwa sekarang kau lagi bertanya kepadaku, tapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu seharusnya akulah yang mengajukan kepada kalian ...!"
Dengan dingin ia melanjutkan.
"Rumah ini adalah rumahku, siapa kalian semua? Mau apa datang ke mari ... ?` Cian-cian tak bisa berbicara lagi, walaupun kadangkala diapun seorang gadis yang tidak tahu aturan, tapi kali ini ia betul-betul tak dapat berbicara apa-apa, tentu saja tak dapat pula mem-bantah. Sekarang mereka tak bisa berkata apa-apa lagi, sebab mereka memang tidak mempunyai alasan yang cukup untuk membantah atau menjawab pertanyaan si buta itu. Diapun percaya bahwa si buta itu tidak bohong.. rumah samacam ini tentu saja tak mungkin tak ada pemiliknya. Dalam rumah itu, benda apapun dapat kau jumpai, hanya lampu lentera yang tidak ada, karena tuan rumahnya adalah seorang buta, orang buta tentu saja tidak membutuhkan lampu. Yaa, apa gunanya seorang manusia buta menggunakan lampu? Toh ia tak dapat melihat apaapa. Sambil tertawa paksa Ci Peng berkata.
"Kami datang ke sini untuk berpesiar, rumah ini hanya ingin kami gurakan selama beberapa hari saja!" `Aku tak mau tahu ada urusan apa kalian datang ke mari, aku hanya berharap kalian segera pergi dari sini."
"Bolehkah kami berdiam beberapa hari lagi?* Ci Peng meminta.
"Tidak boleh!"
Kami bersedia membayar uang sewa yang tinggi, baik berapapun yang kau harapkan!* "Tidak, aku tak akan mengabulkannya, walau berapa saja yang akan kalian bayar!"
Kemarahan Cian-cian kembali berkobar, teriaknya dengan suara lantang.
"Apakah kau suruh kami pindah dari sini sekarang juga?"
Si Buta itu merenung sejenak, akhirnya ia menjawab.
"Baik, aku akan memberi waktu sehari lagi kepadamu, sebelum matahari terbenam besok, kalian sudah harus pergi meninggalkan tempat ini ...` Pelan-pelan ia bangkit berdiri, lalu dengan menggunakan tongkat berwarna putih sebagai pe-nunjuk jalan pelan-pelan ia ke luar dari situ, sementara mulutnya seakan-akan sedang bergumam.
"Padahal lebih cepat kalian tinggalkan tempat ini semakin baik, sebab kalau tidak pergi juga, kukuatirkan bencana besar, segera akan muncul di depan mata!"
Suasana di luar rumah masih tetap gelap gulita.
Setelah berada di luar, tiba-tiba bayangan tubuh si buta itu lenyap di balik kegelapan.
Mengapa seorang buta dapat tinggal di atas gunung yang terpencil?
Kenapa ia bisa membersihkan tempat sedemikian bersih dan rapinya?
Ci Peng menghela napas panjang, katanya.
"Si orang buta itu sudah pasti bukan manusia sembarangan, kita .. ."
"Heeehh...heeehh...heeehh... apakah kau hendak menasehati kami agar segera angkat kaki dari sini? "
Cian-cian menyindir sambil tertawa dingin. Ci Peng tidak menyangkal, memang begitulah tujuan sebenarnya.
"Tentu saja kita harus pergi dari sini"
Ujar Cian-cian lebih lanjut.
"sebab bagaimanapun juga aku sudah tak betah tinggal terus di tempat macam rumah setan ini.!"
Walaupun ia sedang berbicara dengan Ci Peng sepasang matanya mengawasi Hong nio lekat lekat.
Keadaan Hong nio sekarang persis seperti seseorang yang baru naik dari dalam air, keadaannya basah kuyup.
Mau apa ia ke luar rumah ditengah malam buta?
Kenapa ia sampai tercebur ke dalam air.
Tentu saja Hong-nio sendiripun mengeta-hui bahwa keadaannya sekarang memang gampang menimbulkan kecurigaan orang, namun Cian-cian tidak bertanya kepadanya, walau hanya sepatah katapun.
Tidak bertanya rasanya lebih runyam dari pada ditanya.
la tahu selisih jarak di antara mereka berdua kian lama kian bertambah jauh.
***** Malam semakin kelam.
Sebenarnya Hong-nio menganggap dirinya pasti tak dapat tidur malam itu, siapa tahu mendadak ia tertidur dengan begitu saja.
Tapi tidurnya tidak dapat dikatakan terlalu nyenyak, sebab ia masih dapat merasakan sesuatu.
Dalam lelap tidurnya itu, ia merasa seakan-akan di sisi tubuhnya telah bertambah dengan sesuatu dan sesuatu itu agaknya seperti seorang manusia.
Orang itu berbaring persis di samping tubuhnya, tapi orang itu mempunyai perawakan tubuh yang kecil dan pendek, lagi pula dari tubuhnya terendus semacam bau harum yang aneh sekali.
Dia ingin berteriak, namun tak sepotong suarapun dapat ke luar, ia ingin bergoyang namun tubuhnya tak mampu berkutik.
Orang itu seolah-olah sedang memeluk tubuhnya, mencium pipinya dan mencium bibirnya ......
Ia merasa amat gelisah, merasa amat takut, tapi tubuhnya segera menunjukkan suatu reaksi yang aneh sekali, dia ingin membuka matanya dan memeriksa siapa gerangan orang itu?
Dia ingin tahu, apakah orang itu adalah Bu ki?
Tapi ia tak sanggup membuka matanya, sekali pun sudah mengerahkan segenap kekuatan tubuhnya, mata terasa begitu berat dan tak mampu dibentangkan lagi.
Secara lamat-lamat iapun mendengar orang itu seakan-akan sedang bergumam.
"Kau adalah milikku, kecuali aku, siapapun tak boleh menyentuh dirimu lagi!"
Meskipun suara tersebut dengan jelas berkumandang dari sisi telinganya, tapi ia merasa suara tersebut seakan akan datangnya dari suatu tempat yang jauh sekali.
Apakah orang itu adalah Bu ki?
Kenapa suaranya tidak mirip suara dari Bu ki?
Tiba tiba ia tertidur lelap, ketika mendusin kembali sekujur badannya sudah basah oleh keringat dingin.
Dia dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang gencar, tentu saja Ci Peng yang ke luar membuka pintu.
Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah siorang buta yang semalam itu,kunjungannya yang mendadak ini sangat di luar dugaan Ci Peng.
"Apakah kau datang untuk mendesak kami agar lekas-lekas angkat kaki dari sini?"
Ci Peng segera menegur. Di luar dugaan, ternyata si orang buta itu menggelengkan kepalanya.
"Mulai sekarang kalian tak perlu pindah lagi!"
Katanya. Tak disangka begitu cepat si orang buta itu telah berubah pikirannya ....Hampir saja Ci Peng tidak percaya dengan kenyataan tersebut, serunya agak sangsi.
"Maksudmu, kami boleh berdiam terus di sini?"
"Yaa, terserah kalian suka betapa lama saja di sini, pokoknya kau boleh tinggal di sini sepuas puasnya."
"Kenapa secara tiba-tiba kau berubah pikiran?"
Tidak tahan Ci Peng bertanya lagi.
"Sebab rumah ini sudah bukan menjadi milikku!" *Lantas siapakah pemilik rumah ini?"
"Seorang sahabat!"
"Seorang sahabat? Sahabat siapa?"
Si orang buta itu tidak menjawab. Tapi dengan cepat Ci Peng telah teringat kembali dengan "orang"
Yang mengirim lentera kaca, boneka kain serta daging kecap dan Gi hoa cay tersebut. Ci Peng merasakan napasnya rada dingin, tapi mau tak mau dia musti bertanya lagi.
"Apakah sahabat itu mengijinkan kepada kami untuk tetap tinggal di tempat ini?"
"Yaa, tapi dia punya sebuah syarat!"
"Apa syaratnya?* "Malam ini dia akan datang bersantap bersama kalian."
Ucapan itu segera membuat Ci Peng menjadi tertegun.
Syarat semacam ini tak berani ia sanggupi secara gegabah, tapi bagaimanapun jua dia harus menyanggupinya.
Bagaimanapun jua, kau telah tinggal di rumah milik orang, kalau orang itu hanya ingin datang untuk bersantap, maka permintaan tersebut boleh dibilang merupakan suatu permintaan yang tidak terlampau keterlaluan.
Tapi persoalannya sekarang hanya satu.
"Sababat itu sesungguhnya adalah seorang sahabat macam apa? Sementara Ci Peng masih ragu ragu, Cian-cian sudah menyerbu ke luar sambil berseru.
"Dia ingin makan apa?"
"Apa saja bolehlah, ia tahu di tempat ini terdapat seorang nona Wi yang pandai memasak!"
Ooo0ooo Senja itu, Hong-nio sedang mempersiapkan sayur untuk makan malam.
Ayam, daging dan sosis sudah dinaikkan ke dalam kukusan, ikan asinpun sedang siap masuk kuali.
Lobak-lobak yang baru dicabut akan dimasak kuah, sekalipun tidak tersedia daging iga yang masih segar, paling tidak kalau dimasak dengan daging asinpun sama lezat rasanya.
Selain dari pada itu, dari kolam diapun menangkap dua ekor ikan leihi segar, sebetulnya ikan itu akan dimasak kuah tapi setelah berpikir kemudian akhirnya ikan itu dikukus.
ikan yang dimasak terlalu lama maka kesegaran dan kegurihannya akan hilang, ikan leihi yang tidak segar dan tidak gurih akan terasa hambar dan seperti makan kayu.
Coba kalau ikan mas, paling sedap tentu saja dimasak kuah karena kegurihannya akan lebih kentara.
Memasakpun harus ada suatu kepandaian khusus, terutarna untuk menjodohkan suatu bahan masakan dengan cara memasaknya.
Berbicara sesungguhnya, semua bahan yang tersedia bukan termasuk bahan masakan yang baik, tapi berada di tangan seorang ahli masak memasak maka ibaratnya sebilah pedang yang tidak terlalu baik berada di tangan seorang jago yang ahli dalam permainan pedang.
Terhadap soal itu, Hong-nio mempunyai keyakinan khusus.
Tapi sewaktu memasak sayur, tiba-tiba perasaan hatinya selalu merasa tidak tenang.
Siapakah pemilik rumah ini?
Sesungguhnya manusia macam apakah dia itu?
Dia adalah seorang "manusia"?
Apakah hanya setan atau sukma gentayangan?
Atau mungkin dia adalah Bu ki?
Kalau bukan Bu ki, siapa pula orang itu?
Kenapa begitu baik kepadanya?
Kenapa setiap per-mintaannya selalu dikabulkan dengan begitu saja?
Hong-nio sedang mencuci tauge.
Sosis masak tauge merupakan sejenis hidangan yang termasuk lumayan juga kelezatannya.
Waktu itu Cian-cian sedang memotong sosis, mendadak ia berpaling dan memandang wajahnya lekat-lekat, kemudian tegurnya.
"Benarkah kau adalah ensoku?"
Hong nio menghela napas panjang di dalamhati. Walaupun ia merasa Cian cian tidak pantas mengajukan pertanyaan semacam itu kepadanya, tapi ia menyahut juga.
"Selamanya aku adalah ensomu!"
"Kalau begitu sudah sepantasnya kalau kau memberitahukan kepadaku, siapakah orang yang akan makan malam bersama kita malam nanti!"
"Dari mana aku bisa tahu siapakah orang itu?"
Cian-cian mengiris sosis-sosis itu keras-keras, dengan menarik muka sindirnya.
"Aaaah ... ! Masa kau tidak tahu? Bukankah dia adalah sahabatmu?"
Hong nio memejamkan matanya rapat-rapat, ia kuatir air matanya jatuh bercucuran, sekalipun air mata serasa hendak meleleh ke luar, air mata itu hanya boleh meleleh dalam perutnya.
Tiba-tiba ia teringat pula dengan impian buruk yang dialaminya semalam, suatu impian buruk yang tak mungkin bisa diceritakan, kepada siapapun jua ...
Bau harum yang aneh ...
ciuman di atas bibirnya yang hangat dan mesrah ...
Sebenarnya dia adalah Bu-ki atau bukan?.
Kalau dia memang benar-benar adalah Bu-ki, kenapa dengan cara semacam itu dia bersikap kepadanya?
Walaupun sepasang tangan Hong-nio tidak berada dalam air dingin, tapi entah mengapa tibatiba saja sekujur badannya menggigil keras sekali, seperti orang ketakutan.
Pada saat itulah, ia mendengar di luar rumahsanaada orang sedang berseru, suara itu parau tapi nyaring sekali.
Itulah suara dari si buta, ia berteriak dengan lantang.
"Tamu kehormatan kalian telah datang!"
Hong-nio sedang menggorengtempe, ia memasaknya dengan irisan sosis yang tersedia, untuk pertama kalinya ia lupa memberi garam dalam masakannya.. Hati kecilnya selalu membayangkan "tamu"
Yang telah duduk di ruang depan itu ....
apakah ia lebih pantas disebut tamu ?
Ataukah sebagai tuan rumah?
Dia hanya berharap bisa lekas-lekas menyelesaikan masakan sayurnya yang terakhir dan keluar ke ruang depan untuk melihatnya sendiri.
Sesungguhnya manusia macam apakah dia?
Kenapa ia mempunyai kekuatan sebesar itu sehingga dapat melakukan pekerjaan yang sebenarnya sulit dilakukan orang lain.
Mimpipun ia tak menyangka kalau tamu misteriusnya itu, ternyata tidak lebih hanya seorang bocah cilik.
TAMU AGUNG BOCAH itu duduk di kursi utama, sedikit pun tidak menunjukan perasaan tak tenang, se akan-akan sudah terbiasa disanjung dan di hormati orang.
Dia mengenakan pakaian berwarna putih salju, bahannya dari bahan berkwalitet tinggi, bersih, putih dan sedikitpun tiada bernoda.
Sikap serta tingkah lakunya agung sekali, mukanya yang pucat memancarkan sinar serius, keren dan berwibawa seperti seorang raja muda.
Mukanya yang pucat serta sikapnya yang keren, serius dan berwibawa seakan-akan sudah merupakan ciri khas dari kaum bangsawan.
Walaupun ia sedang berusaha keras untuk memperlihatkan sikapnya sebagai seorang dewasa, tapi usianya toh tetap masih kecil, paling banter belum mencapai dua belas atau tiga belas tahun.
Ketika menyaksikan Hong-nio berjalan masuk ke dalam ruangan, di atas wajahnya yang keren, serius dan berwibawa itu tiba-tiba saja mengalami suatu perubaban yang sangat aneh, sorot matanyapun memancarkan sinar kehangatan.
Ci Peng sedang memperkenalkan bagi mereka berdua ...
"Saudara ini adalah Lui kongcu, tamu agung kita semua, sedangkan dia adalah nona Wi, tukang masak kita yang paling jempolan! Bocah cilik itu seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa yang sedang dia katakan. sepasang matanya yang memancar-kan sinar kehangatan menatap wajah Hong-nio tanpa berkedip. Seandainya ada seorang laki-laki dewasa yang memandang seorang gadis dengan sinar mata semacam itu, tak bisa disangkal lagi tindakannya itu adalah suatu tindakan yang kurang sopan. Tapi ia tak lebih hanya seorang bocah cilik. Walaupun Hong-nio merasa kaget dan keheranan, bahkan di luar dugaan, namun perasaan was-was dan beban yang menekan perasaannya jauh lebih berkurang. Tentu saja orang yang muncul dalam impian nya semalam juga tak mungkin adalah bocah cilik ini, mungkin juga apa yang terjadi benar-benar hanya suatu impian belaka. Suatu impian yang menakutkan dan memalukan sekali. Ketika terbayang kembali impiannya semalam, wajah gadis itu segera berubah menjadi merah, apalagi ketika mengetahui kalau dalam sayurnya lupa diberi garam, mukanya berubah semakin merah lagi. Tapi tamu agung kecil ini agaknya menaruh perhatian khusus terhadap hidangan semacam ini, sebab sayur yang lain hampir boleh dibilang tak pernah disentuh olehnya. Sedikit sekali yang dia makan, sedikit pula yang dibicarakan. Pada hakekatnya tak sepatah katapun yang pernah ia ucapkan, malah kecuali Hong-nio seorang yang selalu diperhatikan. seakan-akan orang lainnya dianggap seperti orang mati saja, sekejappun tak pernah ia perhatikan diri mereka. Sepasang matanya itu tak pernah meninggalkan wajah Hong-nio barang sekejappun, sekalipun dia tak lebih hanya seorang bocah cilik, tak urung Hong-nio dibikin tersipu-sipu juga. Cian-cian selalu memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, tapi lama kelamaan ia dibikin tak betah juga. Untung tamu agung itu sudah bangkit berdiri, rupanya hendak pergi meninggalkan tempat itu, atau dengan perkataan lain santap malam yang penuh keseraman dan kengerian itu segera akan berakhir. Baru saja Hong-nio menghembuskan napas lega, tiba-tiba bocah cilik itu berkata.
"Temanilah aku berjalan-jalan keluar!"
Apa yang dia inginkan selalu dilaksanakan dengan begitu saja, seakan-akan ia tak ambil perduli bagaimanakah pandangan orang terhadap dirinya.
Ia selalu menganggap setiap perkataannya merupakan perintah, suatu perintah yang tak boleh dibangkang oleh siapapun jua.
Hong-nio betul-betul tak tahu apa yang musti dia lakukan, ia berharap Cian-cian membantunya berbicara.
Tapi rupanya Cian-cian sudah ber tekad tak akan mencampuri urusan mereka.
Bocah cilik itu masih menatapnya tak berkedip, menantikan jawabannya, sorot mata itu penuh disertai dengan pengharapan yang menyala-nyala, seakan-akan dia kuatir kalau ajakannya ditolak.
Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam Hong-nio menghela napas panjang, akhirnya ia menyahut juga.
"Baiklah, akan kutemani kau untuk berjalan jalan di luar!"
Diapun seperti juga Bu-ki, selalu tak tega menampik permintaan orang, apalagi orang itu tak lebih hanya seorang bocah.
Apa yang bisa dilakukan seorang bocah berusia dua-tiga belas tahun kepadanya?.
Malam amat sepi, bintang-bintang bertaburan di angkasa.
Menelusuri sumber air yang berwarna ke perak-perakan mereka berjalan menuju kedepan.
lama sudah mereka jalan bersanding namun tak seorangpun yang buka suara.
Bocah ini benar-benar sangat istimewa dan aneh sekali.
Hong-nio betul-betul tak dapat menebak apa yang sedang ia pikirkan sekarang?
Kadangkala ia tampak masih amat kecil, tapi kadangkala ia tampak jauh lebih besar dari usia yang sebenarnya.
Sudah berapa lama mereka berjalan, kini mereka hampir tiba di ujung sumber air ter sebut yakni kolam air tersebut.
Tak tahan Hong-nio segera berbisik.
"Bagaimana kalau kita jangan maju lebih ke depansana?"
"Kenapa?"
Tanya si bocah.
Hong-nio tak sanggup mengucapkannya, ia pun tak berani mengatakannya, peristiwa semalam hingga kini masih membuatnya ketakutan, membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
Si bocah itu manatapnya lekat-lekat, tiba-tiba ia berkata.
"Kau tak usah takut, orang yang semalam berada di sini, kini sudah tidak berada di tempat itu lagi".
"Kau maksudkan manusia yang mana?"
Seru Hong-nio terkejut.
"Itu orang yang secara tiba-tiba berubah menjadi buta!"
Hong-nio lebih terkejut lagi.
"Dari mana kau bisa tahu?"
Serunya. Bocah cilik itu tertawa tergelak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kenapa aku tidak tahu?"
Senyumannya tampak begitu misterius dan berbangga hati. Dengan rasa amat terperanjat Hong-nio mengawasinya, lalu dengan nada menyelidik tanyanya.
"Apakah kau?"
"Tentu saja aku!"
"Kau yang telah melukai sepasang matanya sehingga menjadi buta?"
"Sesungguhnya dia adalah salah seorang yang diutus oleh musuh kami untuk mencari jejak kami, orang itu memang tidak seharusnya dilepaskan dengan begitu saja, apalagi ia berani ber-sikap begitu kurangajar kepadamu ........."
Paras mukanya segera menampilkan keseriusan dan kekerenan, lanjutnya lebih jauh.
"Selama aku masih ada, tak akan ada orang yang berani mempermainkan dirimu lagi". Dengan perasaan kaget, tercengang ya berterima kasih Hong-nio lantas berseru.
"Jadi kau yang mengirim lentera kaca untukku?"
Bocah itu manggut-manggut.
"Aku pula yang mengirim babi kecap dari Gi-hoa-cay untukmu!"
Ia menambahkan. Lama sekali Hong-nio menatapnya, mula-mula menghela napas panjang, kemudian katanya lagi sambil tertawa.
"Mengapa aku tak dapat melihat kalau kau berilmu kepandaian sehebat itu?"
"Kepandaianku jauh lebih besar dan hebat dari pada apa yang kau bayangkan dalam benakmu", kata bocah itu dengan angkuhnya. Tiba-tiba Hong-nio merasakan bahwa bocah ini bukan saja amat misterius, mana lucu lagi.
"Heee ... dari mana kau dapatkan daging masak kecap dari Gi-hoa-cay itu ?"
Tanyanya.
"Kau tak usah tahu dengan cara apa kudapatkannya, asal kau menginginkannya, asal kau menginginkan sesuatu, aku pasti dapat melakukannya untukmu". Hong-nio merasa lebih berterima kasih, lebih gembira lagi. Bocah ini benar-benar terlalu baik kepadanya, bila ia dapat dilindungi oleh seorang bocah ajaib semacam ini, sesungguhuya peristiwa itu betul-betul merupakan suatu peristiwa yang me-nyenangkan. Tak tahan lagi ia bertanya.
"Dapatkah kau memberitahukan kepada-ku, siapa namamu?"
"Namaku adalah Lui, Lui dari arti kata geledek".
"Siapa pula she mu?"
Tiba-tiba wajah si bocah itu menunjukkan rasa sedih yang amat sangat, tapi kemudian sahutnya dengan dingin.
"Aku tidak mempunyai nama marga!"
Kenapa ia bisa tak punyai nama marga?
Apakah dia adalah seorang anak yatim piatu yang semenjak dilahirkan sudah tak tahu nama marganya sendiri?
Segera timbul perasaan kasihan dan simpatik dalam hati kecil Hong-nio, ia merasa sudah se-harusnya melindungi bocah itu sebagaimana seorang ibu yang sayang kepada anaknya.
Dengan penuh kelembutan ia menarik tangan bocah itu lalu menggenggamnya dengan hangat, katanya lembut.
"Kalau begitu, untuk selanjutnya aku akan memanggil Siau-lui kepadamu !"
Tiba-tiba ia merasa tangannya berubah menjadi amat hangat, lalu tangannya tergenggam kencang, dengan suara yang lirih bocah itu bergumam.
"Kau adalah milikku, kau adalah milikku.."
Entah disebabkan telapak tangannya yang panas, ataukah sepasang matanya yang memancar-kan sinar kehangatan, tiba-tiba saja Hong-nio merasakan jantungnya ikut berdebar keras.
Tapi dengan cepat ia memberitahukan pada diri sendiri.
"Dia tak lebih hanya seorang anak kecil!"
Tapi tangannya, matanya, sedikitpun tidak mirip dengan seorang bocah cilik. Hong-nio ingin melepaskan diri dari genggamannya, tapi ia takut menyinggung perasaannya, maka dengan lembut katanya lagi.
"Aku mengetahui maksudmu, aku bersedia menjadi toa-cicimu!"
"Kau bukan enciku!"
Kata Siau-lui tiba-tiba.
"Aku bukan?"
"Apakah kau tak tahu bahwa kau adalah orangku? Semenjak kemarin malam, kau sudah menjadi milikku, kau telah menjadi istriku."
Hampir saja jantung Hong-nio melompat ke luar dari rongga dadanya karena kaget, kontan saja ia menjerit.
"Jadi kemarin malam adalah kau?"
Siau-lui manggut-manggut.
"Semua bagian tubuhmu dari atas sampai ke bawah telah kulihat, setiap bagian tubuhmu telah ku .telah ku.."
Tiba-tiba telapak tangannya terasa lebih panas, tangan Hong-nio digenggamnya semakin kencang.
Seandainya Cian-cian yang menghadapi kejadian itu, sekarang sudah pasti ia telah melepaskan diri dari genggamannya, bahkan mungkin telah menempeleng wajahnya.
Tapi Hong-nio bukan Cian-cian.
Hong-nio adalah seorang gadis yang lemah lembut dan berbudi luhur, itulah type dari seorang gadis bangsa Han yang sesungguhnya.
Ia sangat tak tega untuk melukai hati siapapun juga.
Baginya ia tak lebih hanya seorang bocah, apa yang dilakukanpun tak lebih dari dorongan emosi dari seorang bocah, karena ia terlampau menyendiri, terlampau kesepian, terlalu membutuhkan kasih sayang dan cinta kasih dari orang lain.
Ia sangat berharap agar bocah itu dapat menenangkan hatinya, maka katanya.
"Apa yang telah kau lakukan dapat kumaafkan bagimu, asal dikemudian hari kau harus ingat selalu agar jangan mengulangi kembali perbuatan semacam itu. Karena aku adalah seorang perempuan yang telah bersuami, aku bukan seorang gadis remaja lagi". Sekuat tenaga Siau-lui gelengkan kepalanya berulang kali, serunya dengan suara keras.
"Aku tahu bahwa kau tak punya suami, suamimu Tio Bu-ki yang belum pernah tidur bersamamu itu kini sudah mati, sekarang akulah suamimu, kecuali aku, siapapun tak boleh menyentuh dirimu lagi". Tiba-tiba Hong-nio dipeluknya erat-erat, seperti apa yang telah dilakukannya semalam, ia mencium bibirnya dengan mesra. Hong-nio merasakan pikirannya benar-benar sangat kalut. Suatu kelembutan dan kehangatan dari seorang ibu terhadap anaknya membuat ia tak tega mencelakai bocah tersebut, tak tega untuk mendorong tubuhnya dari situ. Apalagi sekalipun dia hendak mendorongnya juga tak akan mampu untuk melepaskan diri dari pelukannya. Tapi dengan cepat suatu reaksi lain sebagai seorang gadis membuat tubuhnya secara otomatis menimbulkan suatu reaksi yang sangat aneh, suatu reaksi yang membuat badannya menjadi menggigil. Ia mulai merasa hawa panas yang aneh mulai menyusup ke luar dari tubuhnya dan menjalar ke mana-mana, ia mulai menggigil, tapi apa mau di kata lawannya tak lebih hanya seorang bocah. Hakekatnya ia tak tahu apa yang mesti dilakukannya sekarang. Pada saat itulah, mendadak tubuh Siau-lui melompat ke udara lewat hadapan mukanya, seakan-akan sebuah boneka kayu yang tiba-tiba tali di belakang punggungnya diangkat seseorang ke atas. ***** Benarkah ada orang yang telah mengangkatnya ka atas? Hong-nio tak sempat melihat dengan jelas, Ia hanya menyaksikan sesosok bayangan berwarna putih kelabu berkelebat lewat dari hadapan mukanya kemudian lenyap dibalik kegelapan. Mengikuti lenyapnya bayangan manusia itu, tubuh Siau-luipun ikut lenyap tak berbekas. Segala sesuatunya kembali sudah lewat, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun disana, tapi benarkah Hong nio dapat menganggap apa yang telah terjadi selama ini atas dirinya hanya sebagai suatu persoalan yang seakanakan tak pernah terjadi? Berhadapan dengan bukit yang sepi, cahaya bintang yang berkilauan, tiba-tiba ia merasa ada suatu kepedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata menyelimuti perasaannya, hanya ia tak tahu kesedihan itu lantaran musibah yang telah menimpa dirinya selama ini? Ataukah karena kabar Bu ki yang tak kunjung sampai? Apakah Bu ki begitu tega meninggalkannya dengan begitu saja, bahkan pertemuan yang ter-akhirpun tak pernah ia lakukan? Tentu saja Bu ki tak mau mati, lebih lebih lagi tak ingin mati. Akan tetapi kematian sama pula seperti musibah lain yang ada dalam dunia ini, biasanya membuat orang tak berdaya, membuat orang harus menerima kenyataan dengan perasaan apa boleh buat. Hong nio bertekad tak akan menangis. Kalau harus menangis, dia akan menangis sepuasnya setelah berjumpa dengan Bu ki nanti. Entah ia sudah mati juga boleh, masih hidup juga boleh, pokoknya setelah bersua muka dengannya, dia akan menangis dengan sepuas-puasnya. Lantas, buat apa ia menangis? Sekalipun ia menangis sampai mati, juga tak akan ada gunanya. Pelan-pelan ia membesut air matanya dan bangkit berdiri, tiba-tiba ia menyaksikan ada se-seorang sedang berdiri di hadapannya sambil memandang ke arahnya dengan pandangan dingin. Tentu saja orang itu tak dapat memandang dengan sepasang matanya, sebab orang itu bukan lain adalah si buta yang pernah dijumpainya semalam. Tapi orang itu justru seakan-akan sedang memandang ke arahnya, memandangnya dengan se-pasang mata yang buta dan tak mungkin bisa dipakai untuk melihat orang itu. Tiba-tiba ia bertanya.
"Inginkah kau bertemu lagi dengan Tio Bu ki?"
Hong nio segera merasakan jantungnya berdebar dengan keras.
"Kau tahu sekarang dia berada di mana"!"
Serunya.
"Ikutilah aku!"
Pelan-pelan si buta memutar badannya, lalu dengan toya putihnya sebagai pe-nunjuk jalan, pelan-pelan maju ke depan.
Tanpa berpikir panjang lagi Hong-nio segera mengikuti di belakangnya.
Setelah menembusi sebuah hutan lebat, sampailah si manusia buta itu di ujung sumber mata air, yakni di tepi kolam kecil itu.
Dia berada di sini?"
"Benar!"
Di tepi kolam itu tak seorang manusiapun yang tampak, disanahanya ada sebuah peti mati, peti mati berwarna hitam dan tampak masih baru.
Apakah Bu ki berada dalam peti mati itu?
***** Peti mati itu kosong.
"Di manakah Bu ki?"
"Bila kau ingin bertemu dengan Bu ki, maka tidurlah di dalam peti mati itu!"
"Tidur di dalam peti mati itu?"
Kalau orang itu masih hidup segar bugar, kenapa ia harus tidur di dalam peti mati?
Apakah ia telah dianggap sebagai seorang yang telah mati?
Atau paling tidak sudah hampir men-dekati saat kematiannya.
Paras muka si orang buta itu tetap dingin, tanpa emosi, siapapun tak tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
Tapi Hong-nio tak mau ambil perduli terhadap kesemuanya itu, soal-soal semacam itu tak penting baginya, apa yang ia ketahui hanya ber temu dengan Bu ki secepatnya, sekalipun ia harus mati secara wajar ataukah harus mati secara mengerikan, ia tak ambil perduli, bahkan ia rela untuk melakukannya.
Sebab itu ketika si orang buta itu memintanya untuk tidur ke dalam peti mati itu, ia tidak membantah, bahkan mengucapkan sepatah kata pun tidak.
Ia sudah pasrah, ia hanya tahu berjumpa dengan Bu ki, walau apapun resikonya.
Maka iapun tidur ke dalam peti itu, membaringkan diri ke dalam peti mati hitam itu.
DIKUBUR HIDUP -HIDUP PENUTUP peti mati itu ditutupkan ke tempatnya semula, menyusul kemudian peti mati itupun digotong orang.
Apakah si orang buta itu hendak menguburnya hidup-hidup ?
Hong-nio masih berada dalam keadaan sadar, kengerian dan rasa seram selalu membuat orang berada dalam keadaan sadar.
Ia merasa bukan hanya seorang yang menggotong peti mati itu, karena gotongannya amat tenang dan jalannya amat cepat.
Pada mulanya mereka melalui jalan-jalan yang datar dan rata, tapi selanjutnya jalanan itu makin menanjak dengan tajamnya.
Meskipun sedang berbaring di dalam peti mati tapi ia masih dapat merasakan udara makin lama semakin dingin, jelas mereka sedang berjalan menuju ke atas, sekian lama dan sekian jauh sudah mereka lakukan perjalanan, akhirnya sampailah di dekat suatu puncak bukit rasanya.
Tapi mereka sama sekali tidak berhenti, malah perjalanan yang dilewati terasa aneh sekali, kadang kala mereka jalan naik ke atas tapi ada kalanya turun ke bawah, ada kalanya jalan itu lurus sekali, tapi ada kalanya pula berliku-liku.
Kalau didengar dari langkah kaki mereka, kadangkala mereka seakan-akan sedang berjalan melalui batu kerikil, ada kalanya pula berjalan melalui lapisan batu yang keras sekali.
Suhu udara di luarsanatiba-tiba saja mengalami perubahan lagi, kini udara terasa hangat dan nyaman, agaknya mereka sedang melalui sebuah gua karang.
Kembali mereka lanjutkan suatu perjalanan yang cukup jauh, tiba-tiba dari luarsanakedengaran beberapa suara yang aneh sekali.
Seolah-olah ada batu karang yang sedang bergesek, seakan-akan pula ada suatu roda yang sedang berputar.
Meskipun peti mati itu ditutup rapat sekali, tapi masih ada pula bagian yang tembus udara, tiba tiba saja ia mengendus bau harum yang semerbak.
Pada saat itulah peti mati itu sudah diletakkan pelan di atas tanah, agaknya di atas sebuah tanah berumput yang lembut dan lunak.
Seandainya mereka bermaksud untuk menguburnya hidup-hidup, kenapa harus melakukan perjalanan sekian lama dan memilih tempat di situ?, sebenarnya tempat apakah ini?
***** Suasana di sekeliling tempat itu amat hening, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.
Lama sudah ia menunggu dalam peti mati yang gelap gulita itu, tapi dari luarsanabelum kedengaran juga sesuatu gerakan, ia mencoba untuk mengetuk penutup peti mati, tapi tiada jawaban juga.
Rupanya para penggotong peti mati itu secara diam-diam telah mengundurkan diri dari situ setelah meletakkannya disana.
Setengah harian kembali ia menunggu, akhirnya ia tak sabar dan membuka penutup peti itu.
Betul juga, di luar tak tampak seorang manusia pun, bahkan si orang buta itupun tak kelihatan.
Sekuat tenaga ia menggeser penutup peti mati itu bangun, lalu duduk, tapi dengan cepat ia menemukan bahwa dirinya seakan-akan berada dalam alam impian seperti dalam cerita dongeng.
Tapi jelas tempat itu bukan alam impian, tempat itupun jelas bukan alam manusia.
Bangunan rumah itu terbuat dari batu granit yang keras dan berkilap seperti kaca, empat penjuru sekelilingsanapenuh dilapisi sutera merah yang berkembang emas, di depan pintu tergantung sebuah tirai yang terbuat dari kain halus.
Tepat di ruangan tengah berdiri sebuah meja sembahyang yang bentuknya seperti gua alam, cuma di atas meja sembabyang itu tidak di sembah patung Budha atau patung pousat, yang ada disanahanya sebilah pedang.
Pedang itu bentuknya panjang sekali tapi bentuknya antik, sama sekali tidak dihiasi oleh mutiara atau berlian sebagaimana pedang-pedang lainnya.
Bentuk sederhana seperti itu berbeda jauh sekali bila dibandingkan dengan perabot mewah yang berada di sekeliling tempat itu.
Apakah pedang itulah yang disembah-sembah oleh tuan rumah tempat misterius ini?" ***** Cahaya lampu menyinari seluruh ruangan itu, sinar lampu memancar ke luar dari aneka macam lentera kacaPersiayang berbentuk aneh-aneh.
Di atas sebuah meja kecil terdapat sebuah tungku terbuat dari emas, dari tungku itulah menyiar ke luar bau harum yang semerbak.
Permukaan tanah dilapisi oleh permadani buatanPersia, motifnya indah bahannya halus, membuat siapapun yang menginjakkan kakinya di atas permadani itu akan merasa bagaikan menginjak di tanah berumput dimusin semi yang indah.
Meskipun Hong-nio sendiripun berasal dari keluarga kaya, belum pernah ia jumpai tempat semewah dan semegah seperti tempat ini.
Rasa kejut dan cengang membuatnya hampir saja melupakan keseraman dan kengerian yang semula mencekam perasaannya.
Sambil melihat serta berjalan, tanpa terasa sudah amat jauh ia berjalan, mendadak ia mem-perdengarkan kembali suatu jeritan kaget.
Ternyata ia telah menjumpai sebuah peti mati lagi.
Peti mati itu terbuat dari tembaga, sesosok tubuh membujur di dalam peti mati tersebut, sepasang tangannya disilangkan di depan dada dan mengenakan baju berwarna putih bersih, mukanya yang kurus kering berwarna pucat sedikitpun tiada warna darah, tampaknya sudah mati agak lama ....
Hong-nio sendiri digotong masuk ke tempat itu di dalam sebuah peti mati dan sekarang kembali dijumpai sebuah peti mati lagi ditempat ini.
Apakah tempat yang mewah dan megah ini tak lebih hanya sebuah kuburan belaka?
Hong-nio merasakan kaki dan tangannya menjadi dingin seperti es, suatu reaksi serta merta muncul dalam hatinya, membuat gadis itu berusaha mencari suatu benda untuk melindungi dirinya.
Tiba-tiba ia teringat dengan pedang yang tergantung di atas meja sembahyangan itu.
Sambil memutar badannya ia memburu ke situ, tapi sebelum jari tangannya sempat menyentuh gagang pedang itu, mendadak terdengar seseorang berseru.
"Jangan kau sentuh pedang itu!"
Suara itu sangat dingin, kaku dan teramat asing sekali, yang lebih mengerikan lagi ternyata suara tersebut berasal dari dalam peti mati tembaga itu.
Saking ngerinya Hong-nio merasakan sekujur tubuhnya menjadi kaku seperti patung, lewat lama sekali ia baru memutar badannya untuk menengok ke arah peti mati itu.
Kini orang yang mati dan semula berbaring dalam peti mati itu telah bangkit berdiri, waktu itu dengan sapasang matanya yang jeli bagaikan cahaya kilat sedang memandang kearahnya, kemudian sepatah demi sepatah kata berkata.
"Kecuali aku seorang, tak seorang manusiapun di dunia ini yang boleh menyentuh pedang tersebut!"
Lalu diantara pembicaraan itu terdengar nada penuh kewibawaan yang membuat orang lain mau tak mau harus mempercayainya.
"Siapa berani menyentuhnya, dia harus mati!"
"Kau..."
"Aku bukan orang mati, juga bukan sesosok mayat hidup!"
Lalu dengan suara yang tinggi melengking dan penuh mengandung nada sindiran ia berkata lebih jauh.
"Ada banyak orang yang mengira aku telah mati sayang sampai sekarang aku masih belum mati"
Hong nio menghembuskan napas panjang, ia berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, tapi tak tahan, akhirnya ia bertanya.
"Tempat ini adalah milikmu?"
"Coba lihatlah, bagaimanakah keadaan tempat ini?"
"Aku tidak tahu, pada hakekatnya aku tak tahu bagaimana harus menjawab...!"
Kata Hong nio sambil bergumam. Sesudah berpikir sebentar, kembali katanya.
"Akupun tak pernah berkunjung ke keraton kaisar tapi aku percaya tempat ini pasti jauh lebih indah dan menarik daripada kertaonnya kaisar..."
Tiba tiba orang itu tertawa dingin, katanya.
"Keraton? Huuh... kertaon itu baru terhitung seberapa?"
Keraton yang indah dan megah, tempat Kaisar bertahta, ternyata dalam padangannya masih belum terhitung seberapa. Tiba tiba Hong nio memberanikan diri sambil berkata.
"Ada satu persoalan ingin kutanyakan pekadamu, cuma bersediakah kau untuk menjawabnya?"
"Tanyakanlah!"
"Sebenarnya siapakah kau?"
Orang itu termenung sejenak, kemudian pelan pelan memutar badannya dan menuding sepasang "lian"
Yang tercantum di luar peti mati itu. Lian tersebut berbunyi demikian.
"Tenang bersabar bagaikan langit dan bumi. Tenang mendalam seakan-akan menyimpan rahasia."
Berulang kali Hong-nio membaca sepasang "lian"
Tersebut dan berusaha untuk membahas arti-nya, tapi kemudian sambil tertawa getir katanya.
"Sayang aku tidak mengerti!"
"Bait tersebut merupakan dua bait dalam kitab sembahyangan milik Tee-cong-sip-lun-keng, karena hal itu pula Tee-cong pousat mendapat nama hingga tenar di mana-mana."
"Aaah, kalau begitu kau adalah Tee-cong pousat?"
Seru Hong-nio sambil memandangnya dengan terperanjat.
"Meskipun kedua patah tulisan itu berasal dari atas kitab Buddha, namun arti yang sebenarnya justru mengandung inti sari dari suatu ilmu pedang ......."
Pelan-pelan orang itu menerangkan. Sepasang matanya semakin memancarkan sinata tajam terusnya.
"Dalam dunia yang luas dewasa ini, hanya aku seorang yang benar-benar memahami arti dari kata-kata tersebut."
Hong-nio masih saja. menantikan jawaban dari pertanyaannya tadi. Kembali orang itu berkata.
"Di tempat inilah Tee-cong mendapatkan ilhamnya, sedang aku, walaupun sudah mendapat ilham sayang tak dapat menjadi Buddha, sebaliknya malahan hidupku sepanjang tahun ada dalam neraka."
Sinar matanya tiba-tiba memancarkan kesedihan, katanya lebih lanjut.
"Selama dua puluh tahun ini, kehidupanku selalu kulewatkan bagaikan berada dalam neraka saja."
"Kalau begitu kau ....."
Bisik Hong-nio. Akhirnya orang itu menjawab juga pertanyaannya.
"Aku bukan pousat, tapi namaku adalah Teo cong, soal lain lebih baik kau tak usah tahu, sebab tahupun tiada manfaatnya bagimu."
Hong-nio tak berani bertanya lagi.
Ia telah mengetahui bahwa orang ini pasti mempunyai pengalaman yang memedihkan hati dimasa silamnya, asal usulnya pasti pula menyelimuti suatu rahasia yang besar sekali.
Rupanya orang itu sudah lama tak pernah mengucapkan kata-kata sebanyak itu, seakan-akan pula secara mendadak merasa lelah sekali.
Baru saja Hang-nio ingin bertanya kepadanya.
"Apakah kau yang menyuruh si orang buta mengantarku kemari? Di manakah Bu-ki sekarang?"
Tapi orang itu keburu sudah masuk kembali ke dalam peti matinya, memejamkan mata, menyilangkan tangannya di depan dada dan tidak berkutik lagi..
Hong-nio tak berani mengganggunya .
....Dikala orang lain membutuhkan waktu untuk beristirahat, belum pernah ia mmgganggu siapapun meski dikarenakan pelbagai alasan apapun yang dapat dipertanggung jawabkan.
Iapun duduk, sementara sepasang matanya memperhatikan tirai sutera yang tergantung di depan pintu itu.
Ingin sekali ia berjalan ke luar dari ruangan itu untuk melihat-lihat, tapi tempat ini adalah rumah orang lain .
Belum pernah ia berjalan mondar-mandir seenaknya sendiri di rumah orang lain, entah di rumah siapapun sama saja.
Tentu saja iapun tak dapat duduk sepanjang masa di tempat itu dengan cara semacam ini.
Untunglah pada saat itulah si orang buta munculkan diri.
Sambil menyingkap tirai pintu dan berjalan masuk, ia hanya mengucapkan sepatah kata saja.
"Silahkan!"
Kata-kata tersebut ibaratnya suatu mantera sakti yang mengandung suatu kekuatan mujizat, serta merta Hong-nio bangkit berdiri dan tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi me-laksanakan perintahnya itu.
Di balik pintu merupakan suatu alam impian lain yang jauh lebih indah, kecuali perabot yang sama-sama megah dan mewah nya seperti perabot di ruang depan, di situ masih ada pula sebuah pembaringan.
"Mulai hari ini, kamar ini akan menjadi kamarmu"
Demikian si buta berkata.
"kalau lelah, kau boleh tidur di sini, kalau lapar bunyikan bel yang berada di ujung pembaringan, apapun yang ingin kau makan, segera akan ada orang yang mengantarkannya bagimu".
"Perkataan itu seperti dalam dongeng belaka. Setiap orang tak akan terlepas dari rasa ingin tahunya, tak tahan Hong-nio berkata.
"Terserah apapun yang ingin kumakan?"
Tiba-tiba ia teringat dengan daging masak kecap, segera katanya lebih lanjut.
"Andaikata aku ingin makan daging masak kecap dari Gi-hoa-cay, apakah kau dapat me-nyediakannya?"
Si buta segera memberikan jawabannya dengan suatu kenyataan, ia ke luar sebentar untuk mem-beri perintah dan tak lama kemudian hidangan yang diinginkan telah dihidangkan di depan matanya.
Hong-nio tak dapat mempercayainya dengan begitu saja, ia segera bertanya lagi.
"Benarkah daging masak kecap ini dibeli dari Gi-hoa cay yang berada di ibukota?"
"Daging masak kecap yang di jual di Gi-hoacay sekarang sudah tidak asli lagi, sebab kuali besi serta bumbu asli mereka telah kubeli dengan uang sebesar sembilan ribu tahil perak".
"Bagaimana pula dengan bakpao dari Ko-put-li?"
"Toa-suhu yang membuat bakpao ditempat itu, semenjak banyak tahun berselang sudah berada di dapur kami". Kalau dibicarakan, hal tersebut mirip sekali dengan cerita dongeng, tapi jelas bukan kata bohong, atau paling tidak telah menjelaskan banyak sekali persoalan yang sesungguhnya susah untuk dijelaskan.
"Aku sama sekali tak ingin tahu di manakah suhu pembuat bakpao dari Ko-put-li berada, aku hanya ingin tahu di manakah Bu-ki pads saat ini .........?"
Kata Hong-nio.
"Menanti kau sudah sampai waktunya untuk bertemu dengannya, kau akan mengetahui dengan sendirinya!"
Dibalik sepasang matanya yang kosong dan berwarna kelabu itu, entah berapa banyak rahasia yang telah disimpan olehnya.
Hong-nio tidak bertanya lagi.
Dia adalah seorang perempuan yang telah mengerti keadaan, ia tahu banyak persoalan di dunia ini adalah sama saja, semuanya harus menunggu sampai tiba saat yang dinantikan.
Bila saatnya belum tiba, sekalipun gelisah juga sama sekali tak ada gunanya.
Sekalipun demikian, ia toh bertanya kembali.
"Mengapa kau mengorbankan uang sebesar sembilan ribu tahil perak untuk membeli kuali besi itu?"
"Yang kubeli bukan kuali besinya, melainkan bumbu kecap yang sudah mengental di dasar kuali tersebut".
"Aku tahu bumbu di dasar kuali itu memang luar biasa sekali, konon sekalipun kita masukkan sebatang kayu balok ke dalam bumbu kecap itu, sewaktu dimakanpun rasanya juga nikmat".
"Sayang kami tak pernah memasak kayu balok masak kecap, yang kami masak adalah daging", kata si buta hambar.
"Jadi dengan uang sebesar sembilan ribu tahil perak,"
Tujuanmu hanya ingin membeli bumbu kecap yang telah mengerak di dasar kuali itu untuk membuat daging masak kecap sendiri?"
"Benar!"
Andaikata Cian-cian, dia pasti akan bertanya lagi.
"Apakah kalian hendak membuka rumah makan penjual daging kecap? Apakah kalian hendak menyaingi dagangan dari rumah makan Gi-hoa-cay"
Tapi Hong-nio bukan Cian-cian, maka dia hanya bertanya.
"Kenapa?"
"Sebab setiap saat kemungkinan besar majikan ku ingin makan daging masak kecap".
"Kenapa kau tidak berangkat untuk membelikannya?"
"Sebab sekalipun menunggang kuda yang paling cepat dan menempuh perjalanan siang malam tak berhentipun, paling tidak juga membutuhkan waktu selama dua sampai tiga puluh jam untuk berhasil memperolehnya".
"Kau pernah mencobanya?"
"Hanya pernah mencoba sekali saja!"
"Apakah pada kali itu juga kau telah membeli pula kuali yang berisi bumbu tersebut?"
"Benar!"
"Jadi kalau majikanmu ingin makan, maka setiap saat setiap waktu telah tersedia?"
"Benar!"
"Seandainya dia ingin makan ..."
Belum habis gadis itu berkata, si buta telah menukas dengan suara dingin.
"Sekalipun dia ingin makan hidungku, segera akan kupotong hidungku ini dan mempersembah-kan ke hadapannya". Hong-nio tak dapat berbicara lagi.
"Apakah kau masih ingin menanyakan sesuatu lagi?"
Tanya si buta kemudian. Akhirnya Hong-nio menghela napas panjang, katanya.
"Padahal aku tidak ingin menanyakan persoalan-persoalan tentang masalah tersebut".
"Aku sudah tahu persoalan apakah yang sesungguhnya ingin kau tanyakan . ."
"Kau tahu?"
"Ya, bukankah kau ingin bertanya kepadaku, siapakah sebenarnya dia? Kenapa mempunyai ke-kuasaan sebesar ini?"
Hong-nio tak dapat menyangkal kebenaran dari perkataannya itu.
Tiba-tiba ia menemukan bahwa si buta itu meski sudah buta dan tak berbiji mata lagi, sesungguhnya dapat menembusi hati orang.
Terdengar si buta berkata lagi.
"Kau adalah seorang perempuan yang sangat berpendidikan, amat lemah lembut, amat sopan dan tahu urusan, selamanya tak pernah membiarkan orang merasa jemu dengan perkataannya, apalagi melakukan perbuatan yang membuat orang menjadi jemu, demi orang lain kau rela menyiksa diri sendiri". Tiba-tiba ia menghela napas panjang dan berkata lagi.
"Sekarang, gadis semacam kau sudah tidak terlalu banyak bisa didapatkan lagi ............"
Sebenarnya perkataan itu adalah suatu kata-kata pujian dan kata-kata sopan santun, tapi ketika diucapkan olehnya ternyata mengandung perasaan sedih dan ketidak beruntungan yang amat tebal.
Sepasang matanya yang telah tak dapat melihat apa-apa itu, seakan-akan telah menyaksikan suatu musibah, suatu ketidak beruntungan yang segera akan menjelang tiba.
***** Ketika si buta muncul kembali untuk kedua kalinya, ini terjadi pada dua hari kemudian.
Hong-nio tak dapat memastikan secara pasti bahwa waktu sudah lewat dua hari, sebab tempat itu pada hakekatnya adalah lambung bukit, di tempat semacam itu sulit untuk membedakan siang ataupun malam.
Dia hanya tahu dari titik-titik bocornya air, dari teko tembaga disudut ruangansana, sudah hampir dua puluh jam lebih kebocoran itu terjadi.
Ia merasakan dirinya sangat lemah tak bertenaga.
Karena ia tak pernah menelan sebutir nasi atau setitik airpun.
Walaupun ia tahu asal bel di ujung pembaringan itu dibunyikan, maka makanan apapun yang diinginkan segera akan didapatkan.
Tapi ia tak pernah menyentuh bel tersebut, setiap benda yang berada dalam ruangan itupun tak pernah ia sentuh.
Sekalipun pintu itu tak dikunci, asal ia menyingkap tirai yang menutupi pintu tersebut, ia segera akan ke luar darisana, tapi ia lebih suka tinggal di tempat itu.
Sebab selamanya, ia tak pernah melakukan perbuatan yang sudah secara jelas diketahui olehnya bahwa hal tersebut tak akan mendatangkan hasil apa-apa.
Sekalipun dia lemah lembut, sangat tahu urusan dan dapat menyiksa diri, tapi apa yang sudah tak ingin dilakukannya, tak pernah ada orang yang akan memaksanya untuk melakukan.
***** Si buta seakan-akan sedang "memperhati-kan"
Pula dirinya.
Akan tetapi kali ini ia tak berhasil menebak suara hatinya.
Sikap Hong-nio kepadanya masih tetap lemah lembut, amat sopan dan begitu menyaksikan ke-datangannya ia segera bangkit untuk menyambutnya.
"Silahkan duduk!"
Si buta tidak duduk, dia hanya menyingkap tirai pintu seraya berseru pula.
"Silahkan! Hong-nio sama sekali tidak bertanya kepadanya hendak diajak ke manakah ia pergi, seakanakan terhadap kejadian apapun ia sudah bersiap sedia untuk menerimanya tanpa membantah. Baru berjalan ke luar dari pintu itu, ia telah menyaksikan manusia berbaju putih yang mengaku bernama "Tee-cong"
Itu sedang duduk di ruangan menantikan kedatangannya.
Di atas meja telah dihidangkan pelbagai masakan yang lezat dan menyiarkan bau harum, dua orang budak yang berdiri kaku di samping bagaikan patung, masing-masing membawa sebuah baki besar terbuat dari emas yang berisikan penuh dengan aneka buah-buahan yang tampak masak dan segar, di antaranya tampak buah pear dari Peng-ciu, buah kurma dari Lay-yang, semangka dari Hami, buah delima dari Peking, jeruk dari Lamhong dan pisang serta nanas dari pulau Lam hay.
Ia duduk di tepi meja makan, sekalipun tidak bangkit berdiri namun sikapnya sangat ramah dan lembut, bahkan sepasang matanya yang memancarkan sinar setajam sembilu itupun berubah jauh lebih lembut, halus dan tenang.
Sekarang ia sudah tidak mirip lagi sebagai sesosok mayat hidup yang misterius, melainkan lebih mirip seorang tuan rumah yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang soal hidangan dan buah-buahan.
Tepat di hadapannya masih tersedia sebuah kursi kosong yang berlapiskan kulit rase, sekalipun saat ini adalah musim panas yang amat gerah, tapi di tempat dasar bumi yang lembab dan basah, benda tersebut memang terasa sangat dibutuhkan.
"Silahkan duduk!"
Ia berkata.
Hong nio pun duduk di kursi tersebut.
Hidangan yang telah siap di mejapun merupakan aneka macam hidangan lezat yang selama hidupnya belum pernah ia jumpai.
Dengan sorot mata tajam, manusia berbaju putih itu mengawasinya sekejap, kemudian pelanpelan berkata.
"Kau adalah seorang manusia yang sangat aneh. Barang siapapun di dunia ini seandainya mengalami keadaan sepertimu sekarang, tak nanti mereka akan melakukan tindakan seperti apa yang telah kau lakukan sekarang ..."
Hong nio segera tertawa.
"Sesungguhnya apapun tidak kulakukan,"
Katanya. Hidangan apapun juga tak pernah kau makan,"
Sambung manusia berbaju putih itu cepat. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya lebih jauh.
"Seseorang bila sedang tak ingin makan, sekalipun ada yang memaksanya juga tak akan dapat untuk memaksanya menuruti kemauanmu ..."
"Aku sendiripun berpendapat demikian!"
"Bila kuberitahukan satu hal kepadamu, entah dapatkah kau berubah pikiranmu itu?"
Hong nio tidak berbicara, ia sedang menantikan pembicaraannya lebih jauh.
"Tio Bu-ki sama sekali belum mati"
Kata manusia-berbaju putih itu.
"cepat atau lambat kau pasti dapat berjumpa dengannya."
Hong-nio berusaha keras untuk mengendalikan diri, sebab ia tahu luapan rasa gembira yang diperlihatkan di meja makan adalah suatu perbuatan yang melanggar sopan santun.
"Aku jamin kalian pasti akan saling berjumpa muka, selama hidup belum pernah aku mengingkari janji,"
Kata orang berbaju putih itu lagi.
Hong nio tidak mengucapkan sepatah kata lagi, diapun tidak menanyakan persoalan apa-apa lagi.
Ia mulai menggerakkan sepasang sumpitnya.
***** Seperti juga Siau lui, manusia berbaju putih itu hanya makan sangat sedikit sekali.
Hong-nio juga tidak makan terlalu banyak.
Sebenarnya seseorang yang sudah dua tiga hari menderita kelaparan, kemudian secara tibatiba berhadapan muka dengan semeja penuh hidangan lezat, semestinya dia akan menunjukkan sikap yang kurang terkontrol dan agak rakus.
Tapi Hong nio adalah terkecuali.
Karena ia sadar bahwa dirinya sama sekali tak memiliki kekuatan untuk melawan orang lain, karenanya ia harus mempergunakan otak dan perasaannya untuk mengendalikan keadaan itu.
Dalam melakukan perbuatan apapun jua, ia setalu berusaha untuk mengendalikan luapan emosi sendiri.
Manusia berbaju putih itu sedang memandang ke arahnya, sinar mata yang tajam itu penuh dengan pancaran rasa kagum dan memuji, pelan-pelan katanya.
"Kau harus tahu bahwa aku adalah seseorang yang gemar sekali bermakan enak, tapi jumlah makanan yang bisa kumakan hanya sedikit sekali, lagi pula setiap waktu setiap saat aku membutuhkan waktu untuk beristirahat. Tiba-tiba ia berhenti sekian lama, sedang menantikan pertanyaan dari Hong-nio yang menanyakan alasannya. Betul juga, pada saat yang tepat Hong-nio sedang bertanya.
"Kenapa demikian?"
"Karena aku keracunan!" `Sejak kapan kau menderita keracunan?"
Paras muka Hong-nio agak berubah.
"Sudah hampir mendekati duapuluh tahun lamanya."
Tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi penuh kesedihan, kekesalan dan kemu-rungan, katanya lebih jauh.
"Racun itu benar-benar merupakan sejenis racun yang menakutkan sekali, selama duapuluh tahun terakhir ini selalu menggerogoti tubuhku dan menyiksa diriku, setiap tahun sekali aku harus pergi meminta sebutir obat pemunah untuk mempertahankan selembar jiwaku, sekalipun demikian aku masih tak boleh terlalu lelah apalagi mempergunakan hawa murniku untuk melakukan suatu pertarungan, kalau tidak, bila racun itu sampai kambuh kembali maka sekalipun bisa mendapatkan obat pemunahnya juga sama sekali tak berguna."
Siapapun juga, semua orang dapat melihat bahwa dia adalah seorang laki-laki yang sombong dan tinggi hati, tapi sekarang ia telah menceritakan musibah yang telah menimpa dirinya itu kepada Hong-nio.
Cerita tersebut bukan saja menimbulkan simpatik di hati Hong-nio, lagi pula membuatnya merasa sangat terharu, dengan suara yang lembut segera katanya.
"Aku rasa, selama banyak tahun ini kau pasti sudah banyak merasakan penderitaan dan siksaan."
Ternyata orang berbaju putih itu menghindari tatapan sinar matanya, lewat lama sekali ia baru berkata lagi setelah tertawa dingin.
"Obat penawar itu bukan kudapatkan dengan cara memohon kepadanya, tapi aku memperoleh-nya dengan jalan menukar memakai kepandaianku kalau tidak demikian, sekalipun harus mati akupun tak akan pergi memohon kepadanya. Walaupun Hong-nio tak tahu perselisihan-nya dengan Siau Tang-lo, tapi ia tidak menaruh curiga atas perkataannya itu. Kembali mencorong sinar tajam dari mata manusia berbaju putih itu, katanya.
"Dulu dengan mengandaikan sebilah pedang, aku telah malang melintang tanpa tandingan dalam dunia persilatan, tak terhitung jumlah manusia yang kubunuh selama ini, musuh besar ku tersebar dimana-mana, sekalipun orang yang tiada sakit hati dengankupun selalu berusaha menginginkan batok kepalaku, sebab siapapun yang dapat membunuhku, maka ia dapat mempergunakan darahku untuk mempolesi namanya hingga menjadi tenar."
Kembali ia tertawa dingin, katanya lebih jauh.
Jilid 11________ CUMA sayangnya, aku tak akan membiarkan harapan mereka terkabul sesuai dengan apa yang diinginkan."
Akhirnya Hong-nio baru sadar sekarang, rupanya tujuan orang itu berbaring kaku dan tak bergerak barang sedikitpun bukan lantaran ingin menakuti-nakuti orang, melainkan jika racun yang mengeram dalam tubuhnya tiba-tiba menjadi kambuh.
Seperti orang mati ia hidup di bawah tanah, tinggal dalam peti mati seperti mayat, itupun bukan dikarenakan sengaja berbuat sok misterius dan menyeramkan, melainkan untuk menghindari kejaran dari musuh besarnya.
Tiba-tiba saja ia merasa bahwa orang ini sedikitpun tidak menakutkan, bukan saja tidak menakutkan, lagi pula patut dikasihani.
Sebab walaupun ia belum mati, tapi keadaan tersebut sama halnya pula seperti dikubur hiduphidup.
KEBEBASAN HONG-NI0 ARAKPUN terdiri dari aneka macam jenis.
Adasemacam arak berwarna merah seperti darah, itulah arak anggur dariPersia.
Cawan terbuat dari kaca itu lebih anggun dan menawan hati.
Semacam keindahan yang misterius dan merangsang hati orang.
Pelan-pelan orang berbaju putih itu menghirup setegukan, di atas wajahnya yang putih ke pucat-pucatan seakan-akan diliputi pula oleh warna semu merah yang misterius dan merangsang hati.
Dengan suara yang lembut kembali ia berkata.
"Meskipun jejakku agak rahasia, tapi belakangan ini tampaknya sudah mulai bocor dan diketahui oleb khalayak ramai, anak muridmusuh musuhku dimasa lalu secara beruntun telah berdatangan ke bukit Kiu hoa san untuk mencari jajakku."
Sengaja ia tidak memandang ke arah Hong nio, terusnya.
"Orang yang beshasil dilenyapkan oleh Lui cu hari itu misalnya, dia adalah anak murid dari seorang musuh besarku yang paling lihay. Hong nio menundukkan kepalanya, berusaha keras menghilangkan bayangannya atas bocah aneh itu dan berusaha pula tidak membayangkan kembali kejadian pada malam itu. Sekarang ia sudah mengetahui hubungan antara dia dengan manusia berbaju putih itu.
"Meskipun aku tidak takut kepada mereka,"
Kata orang berbaju putih itu lebih lanjut.
"tapi racun yang mengeram dalam tubuhku setiap saat kemungkinan akan kambuh, bila sampai demikian adanya maka aku pasti akan tewas di tangan mereka"
Warna semu merah yang menyelimuti wajahnya lambat laun mulai luntur, akhirnya ia berpaling dan memandang ke arah Hong nio sambil berkata lebih jauh.
"Bila aku sampai tewas, malca semua pengikutku pasti akan mati semua, lagi pula mereka akan mati dalam keadaan yang mengenaskan sekali"
Hong nio tidak bersuara, ia betul-betul tak tahu apa yang musti dikatakan, sesungguhnya persoalan-persoalan semacam ini tak sepantasnya kalau diceritakan kepadanya.
Kembali orang berbaju putih itu berkata.
"Aku beritahu kesemuanya ini kepadamu, karena aku ... aku berharap agar kau tetap tinggal di sini menemani aku."
Ketika secara tiba-tiba ia mengucapkan kata-kata tersebut, Hong-niopun ikut merasa terkejut.
"Selama banyak tahun aku selalu kesepian, belum pernah kutemukan seseorang yang cocok menemani aku bercakap-cakap . Memang tidak banyak jumlah perempuan yang begitu balus budi seperti Hong-nio dalam dunia ini.
"Akan tetapi aku sama sekali tidak menaruh maksud lain kepadamu,"
Kata orang berbaju putih itu lebih jauh.
"seharusnya kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang manusia yang cacad."
Sekalipun dia juga berusaha keras untuk mengendalikan diri, tapi suatu perasaan sedih dan menderita yang sukir dikendalikan telah memancar ke luar dari sepasang matanya yang dingin dan tak berperasaan itu.
Hong nio tidak membiarkan ia berkata lebih lanjut, tiba tiba sahutnya.
"Kukabulkan permiataanmu itu!"
Tampaknya jawaban tersebut sangat mengejutkan hati orang yang berbaju putih itu, bisiknya gemetar.
"Kau...kau mengabulkan permintaanku?"
"Aku bersedia tinggal di sini untuk menemanimu!"
Sekarang ia masih belum dapat berjumpa dengan Bu ki, entah apapun alasannya, semuanya itu merupakan kenyataan yang tak bisa dirubah ataupun dibantah.
Ia percaya Cian-cian dan Ci Peng pasti dapat menjaga diri sendiri, mereka pasti tak akan ber-sedih hati karenanya.
Ia merasa bahwa satu-satunya pekerjaan yang dapat dilakukan olehnya sekarang adalah membuat orang yang sombong, tapi penuh penderitaan, penuh siksaan dan menakutkan serta mengenaskan ini hidup selama beberapa hari lagi dalam keadaan yang amat gembira.
Warna semu merah kembali menghiasi wajwh orang berbaju putih itu, katanya kemudian.
"Aku tidak bermaksud untuk memaksamu!"
"Tidak, kau tidak memaksaku, aku sendiri yang rela berbuat demikian, sebab perbuatan yang tak ingin kulakukan tak akan bisa dipaksakan oleh siapapun juga".
"Tapi kau..., Aku hanya berharap agar kaupun dapat menyanggupi sebuah permintaanku !"
"Katakanlah!"
"Asal Bu-ki sudah ada kabarnya, kau harus membiarkan aku pergi dari sini".
"Kau tidak mempunyai syarat lain?"
"Jika kau masih mengharapkan aku untuk mengajukan syarat lain, maka kau ... kau berarti sedang menghina diriku". Orang berbaju putih itu memandang ke arahnya, tiba-tiba saja di atas wajahnya yang pucat memancarkan cahaya tajam, seperti juga sebatang pohon yang telah layu tiba-tiba muncul kembali harapannya untuk hidup lebih lanjut. Bagi sejenis manusia.
"pemberian"
Selamanya jauh lebih senang dan bahagia dari pada "perampasan".
Hong-nio tak salah lagi adalah manusia semacam itu.
Si Buta masih berdiri agak jauh di tepi ruangansana, sekalipun sepasang matanya tak dapat melihat apa-apa lagi, tapi seakan-akan ia telah menyaksikan kembali suatu kesedihan dan ketidak beruntungan.
***** Sampai waktu itu, Hong-nio masih tak pernah lupa untuk menulis catatan hariannya setiap hari.
Ia mencatat hari mengikuti "titik-titik"
Air yang berbunyi, sekalipun tidak cocok seratus persen, paling tidak setiap bulannya hanya selisih antara setengah jam belaka.
Menurut perhitungan penanggalan waktu itu, maka setiap tahun hanya terdiri dari tiga ratus enampuluh hari.
Kehidupan di bawah tanah amat sederhana dan tawar, asal dapat memilih catatan dari tiga hari di antaranya, kita dapat memahami seluruh pengalaman serta kejadian yang telah menimpa dirinya selama beberapa bulan ini.
Tentu saja tiga hari tersebut adalah tiga hari yang terpenting dalam kehidupannya selama be-berapa bulan ini, sekalipun demikian sudah cukup untuk merubah nasib seseorang, dan perubahan tersebut justru terjadi dalam tiga hari itu.
Diantara kejadian-kejadian tersebut, tentu saja ada yang menguntungkan, tapi ada pula yang membawa ketidak beruntungan.
Peristiwa yang tidak beruntung terjadi pada bulan sembilan tanggal dua puluh tiga.
***** Bulan sembilan tanggal dua puluh tiga, hari terang.
Walaupun di tempat seperti ini sulit untuk mengetahui apakah cuaca sedang mendung atau cerah, tapi aku tahu bahwa hari ini udara pasti terang.
Sebab ketika si tuan buta pergi ke luar, ia mengenakan baju yang tipis sekali dan sewaktu pulang telapak sepatunya kering dan bersih.
Ia pergi untuk mencari Siau-lui.
Siau-lui telah minggat dari rumah.
Selama aku berada di sini, tak pernah satu kalipun kujumpai dirinya, Tee-cong seakan-akan secara sengaja menghindari pertemuan di antara kami berdua.
"Tee-cong"
Memang manusia aneh, Siau-luipun seorang bocah yang aneh pula...
Walaupun demikian, sesungguhnya hati mereka itu ramah dan baik hati.
Terutama sekali Siau-lui, belum pernah aku membenci dirinya, sekdipun ia bersikap demikian kepadaku, mungkin saja disebabkan pada masa yang lalu belum pernah ia memperoleh kasih sayang dari ibunya .....
mungkin juga wajahku agak mirip dengan wajah ibunya.
Dalam pandangan dan perasaan seorang bocah, ibu selamanya adalah perempuan yang paling cantik dan paling lembut di dunia ini.
Tapi, kenapa ia harus minggat dari rumah?
Aku ingin menanyakan persoalan ini kepada "Tee-cong,"
Tapi secara tiba-tiba saja wataknya berubah menjadi kasar dan berangasan, ia bersikap galak dan ganas kepadaku."
Tapi akupun tidak menyalahkan dirinya, aku tahu ia sedang marah dan bersedih hati karena kepergian Siau-lui yang tanpa pamit itu.
Terlalu besar dan tinggi pengharapannya terhadap Siau-lui dimasa-masa mendatang.
Ketika mereka sedang pergi mencari Siau-lui, tiba-tiba kutemukan kembali suatu kejadian yang sangat aneh..
Di tempat ini seluruhnya terdapat enam belas buah ruangan, di belakangsanaterdapat pula se-buah pintu batu, dihari-hari biasa pintu batu itu selalu tertutup rapat, kalau dugaanku tak salah tempat itu pasti merupakan gudang mestika yang paling rahasia milik "Tee-Cong".
Hari ini, di tempat apapun sudah mereka cari, tapi tak pernah memeriksa ruangan itu, apakah mereka beranggapan bahwa Siau -liu tak mungkin bersembunyi disana, karena tempat itu tak boleh didatangi oleh siapapun jua ?
Akhirnya tak tahan lagi kutanyakan persoalan ini secara diam-diam kepada Sia-sianseng (tuan buta), tapi begitu mendengar perkataan itu, bagaikan dipagut ular berbisa, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berlalu darisana.
Belum pernah kusaksikan ia menunjukkan sikap begini takutnya, tapi apa yang ia takuti?
Bulan sebelas tanggallimabelas.
Kalau dihitung-hitung maka hari ini semestinya bulan akan purnama lagi, entah di luar hari ini ada rembulan atau tidak?
Entah rembulan itu masih tetap bulat seperti dulu?
Sudah empat kali bulan purnama aku berdiam di sini.
Seringkali aku teringat akan diri Bu-ki, setiap hari bahkan mernikirkannya, yaa, setiap waktu setiap detik selalu memikirkannya, tapi tak pernah kubicarakan tentang dirinya.
Sebab aku tahu, dibicarakanpun tak ada gunanya.
Agaknya Bu-ki sedang berada dalam suatu keadaan yang amat istimewa, aku harus menunggu sampai suatu saat tertentu sebelum dapat bertemu dengannya.
Aku mempunyai perasaan semacam itu, maka aku harus menunggu dengan hati yang sabar.
Lagi pula akupun percaya bahwa "Tee-cong"
Bukanlah seseorang yang tidak pegang janji, iapun sangat baik kepadaku, belum pernah ia ungkapkan kepadaku kalau "mempunyai maksud lain", dalam hal ini dia benar-benar memegang janji.
Tapi semenjak kepergian Siau-lui tanpa pamit, wataknya makin lama berubah makin aneh, seringkali ia berbaring seorang diri di dalam peti matinya, sepanjang hari sepanjang malam tak mengucapkan sepatah katapun denganku, akupun hanya duduk termangu seorang diri di sana..Kehidupan semacam ini tentu saja bukan suatu kehidupan yang terlalu baik, tapi untunglah aku dapat melewatinya dengan baik.
Adaorang mengatakan bahwa aku terlalu lemah, ada pula yang mengatakan bahwa aku bagaikan sebuah benda antik, begitu dibentur segera akan hancur berantakan.
Selamanya aku tak pernah membantah atau mengucapkan sesuatu komentar tentang persoalan ini.
Benda paling lembek di tubuh manusia adalah rambut, sedang yang paling keras adalah gigi, tapi alat tubuh manusia yang paling mudah rusak justru adalah gigi, sebaliknya bila seseorang telah mati, sekujur tubuhnya telah membusuk dan hancur, rambutnya masih akan tetap utuh.
Benda paling lemah di tubuh manusia adalah mata, akan tetapi setiap hari setiap waktu dari pagi sampai malam yang selalu dipergunakan oleh manusia adalah mata, tak pernah orang me-ngatakan kalau matanya tak terpakai atau matanya tak digunakan lagi.
Matapun tak pernah lelah, kalau kau pergunakan mulutmu untuk berbicara terus tiada hentinya atau menggunakan tangan tak hentinya ataukah menggunakan kaki tak hentinya, maka sejak dulu-dulu kau sudah mampus karena lelah.
Oleh karena itu aku pikir bahwa "lemah dan lembut"
Serta "keras dan kuat"
Sesungguhnya bukan bisa dibedakan dengan nyata.
Hingga hari ini aku baru tahu bahwa kepergian Siau-lui sebenarnya adalah lantaran aku.
Kiranya sebelum pergi meninggalkan tempat itu, ia telah meninggalkan sepucuksurat, dalam suratnya ia hanya mengucapkan beberapa patah kata saja.
"Aku suka dengan Hong-nio, tapi kau telah merampasnya, maka aku pergi dari sini, aku ber-sumpah suatu hari aku pasti akan merampasnya kembali dari tanganmu". Siau-lui benar-benar seorang anak yang aneh, aku selalu tak habis mengerti kenapa ia bisa bersikap demikian kepadaku. Setiap bulan sedang purnama, tabiat Tee-cong pasti akan berubah menjadi begitu gundah, berangasan dan tak tenang. Lebih-lebih hari ini, wataknya benar-benar jelek sekali, apalagi setelah minum sedikit arak, oleh karena itulah ia mengeluarkansuratyang ditinggalkanSiau-lui dan memperlihatkannya kepadaku. Sekarang aku baru mengerti, mengapa si Sia sianseng memandangku dengan sinar mata macam itu. Ia pasti menganggap kedatanganku ke mari telah membawa bencana serta ketidak beruntungan, kepergian Siau-lui tanpa pamit tak lebih hanya salah satu contoh saja di antaranya. Aku sama sekali tidak menguatirkan keselamatan Siau-lui, sebab bocah semacam dia tak akan menderita kerugian ke manapun ia pergi. Aku hanya berharap agar ia jangan berjalan sesat, karena ia terlampau cerdik, ilmu pedangnya begitu lihay, kalau sampai jalan serong niscaya seluruh dunia akan kacau balau dibuatnya-. Pada bulan delapan tanggal limabelas aku mulai belajar pedang, hingga kini sudah ada tiga bulan lamanya. Aku sama sekali tidak memiliki dasar dasar belajar ilmu pedang, kecuali sewaktu kecil dulu aku pernah belajar sedikit ilmu semedi dan ilmu tenaga dalam dari paman Sam siok, hakekatnya sedikit kepandaian silatpun tidak kupahami. Akan tetapi "Tee-cong"
Justru mengatakan bahwa aku boleh belajar ilmu pedang.
Ia bilang akupun sangat aneh, siapa tahu kalau pada akhirnya bisa berhasil mempelajari ilmu pedang Giok li kiam hoat yang sudah lama punah dari dunia persilatan, karena katanya watakku agaknya sesuai dengan ilmu pedang tersebut.
Aku selamanya tak pernah tahu kalau untuk belajar pedangpun harus meninjau pula watak serta perangai seseorang, sudah tiga bulan aku melatihnya dengan tekun, entah sampai pada batas apakah kepandaian yang telah kulatih sekarang.
Cuma saja "Tee-cong"
Memang seorang manusia yang luar biasa, ia bilang dahulu "dengan sebilah pedang ia malang melintang, dan tiada tandingannya dikolong langit", aku lihat ia bukan sedang mengibul.
Ilmu pedang yang dimilikinya memang betul betul mengagumkan.
Suatu kali ia pernah berkata, ia dapat memutuskan kutung selembar rambut di kepalaku, kemudian mematas pula rambut yang telah terpapas itu menjadi dua bagian, dan kemudian ia dapat memapasnya pula beberapa bagian yang ia inginkan.
Ia tidak mengibul, ia benar benar dapat melakukannya.
Sengaja kusisir rambutku kencang kencang, aku hanya melihat cahaya pedangnya berkilauan dan tahu tahu selembar rambutku telah terpapas kutung, menanti rambut itu terjatuh ke tanah, ia telah berubah menjadi tigabelas bagian.
Hanya sekilas cahaya pedangnnya berkelebat, ternyata rambutku telah terpapas kutung tidak lebih dan tidak kurang dari selembar saja, bahkan kemudian mematasnya kembali menjadi tidak lebih dan tidak kurang dari tigabelas bagian.
Meskipun aku tidak mengerti tentang ilmu pedang, tapi aku dapat melihatnya bahwa ilmu pedang yang dimilikinya itu pasti jarang sekali yang bisa menandinginya.
Karena caranya turun tangan benar benar terlalu cepat, sedemikian cepatnya membuat orang benar benar tak dapoat mempercayainya.
Ia bilang aku telah mempelajari seluruh rahasia serta intisari yang terkandung dalam ilmu pedang Giok li hiam hoat, asal dikemudian hari sering melatihnya, maka sekalipun orang lain sudah berlatih selama sepuluh tahun belum tentu sanggup untuk menandingi diriku.
Aku percaya dia adalah seorang guru yang pandai, tapi tidak percaya kalau aku adalah seorang muridnya yang begitu baik.
Tapi terlepas dari semuanya itu, asal ia sudah berbaring kembali dalam peti matinya, akupun mencari sebilah pedang dan mulai melatihnya dengan tekun.
Tentu saja aku tak berani menyentuh pedang yang terletak di atas meja sembahyang itu, bahkan ia sendiripun belum pernah menyentuhnya.
Seringkali ia berkata bahwa kini ia tidak pantas untuk mempergunakan pedang itu lagi, sebab dahulu pedang tersebut tak pernah kalah, tapi sekarang ia sudah bukan jago pedang tak terkalahkan yang dulu lagi.
Bulan tiga tanggal duapuluh delapan.
Tanpa terasa aku sudah hampir delapan bulan lamanya tinggal disini, hari ini adalah hari peringatan kematian dari ayah Bu Ki.
Hari ini ditahu silam, adalah hari perkawinanku dengan Bu Ki, setiap orang bilang bahw ahari itu adalah hari yang baik, hari penuh keselamatan dan rejeki.
Aaaai!
Hari rejeki macam apakah itu?
Pada saat itulah telah terjadi peristiwa yang mengerikan, bukan saja telah mencelakai jiwa loyacu, emnghancurkan masa depan Bu Ki, telah menghacurkan pula kehidupanku ini.
Andaikata loyacu tidak mati, betapa bahagianya aku hari ini, betapa senangnya kehidupanku, bahkan siapa tahu kalau aku telah mendapatkan anak untuk Bu Ki.
Tapi hari ini...
Dibawah tulisan "hari ini"
Tampak ada bekas bekas basah yang lembab, agaknya ia telah banyak mengucurkan air matanya.
Apakah peristiwa yang telah terjadi hari ini jauh lebih menyedihkan dan lebih menakutkan dari pada hari ini ditahun silam?
Bila kau sempat membaca catatan rahasianya ini dan membaca sampai di sini, maka kau pasti akan membacanya lebih jauh.
Tulisan di bawah sana tampak jauh lebih awut awutan dari pada tulisan dihari hari biasa.
Pagi ini ternyata Tee-cong bangun jauh lebih cepat dariku, ketika aku bangun tidur, ia telah menungguku, sikapnyapun jauh lebih berbeda dari pada dihari hari biasa.
Ia mengatakan bahwa dalam istana bawah tanah ini masih ada satu tempat yang belum pernah ia mengajaknya kesana, maka hari ini dia akan mengajakku untuk meninjau tempat tersebut.
Tentu saja aku merasa sangat girang, sebab aku telah menduga bahwa tempat yang akan dikunjungi bersamaku ini pastilah gudang harta yang amat rahasia itu.
Ternyata dugaanku memang tak salah.
Ia benar benar memerintahkan orang untuk membuka pintu batu di sebelah belakang, ketika aku masuk mengikutinya, aku baru tahu bahwa dugaanku ternyata masih ada satu hal yang salah.
Tempat itu bukan saja bukan gudang harta, bahkan baunya minta ampun, ketika berjalan masuk ke gua itu, segera terendus bau busuk yang amat memuakkan tersiar ke luar dari sana, bau busuk itu macam bau busk dalam kandang babi.
Walaupun oleh bau busuk itu kepalaku dibikin pusing tujuh keliling dan rasanya ingin muntah, tapi rasa ingin tahuku semakin besar, dengan keraskan kepala aku ikut pula masuk ke dalam.
Tempat itupun merupakan sebuah ruangna yang terdiri dari batu granit, sebetulnya perabot di situ tidak jelek, tapi sekarang telah sama sekali berubah bentuknya, tirai merah berbunga emas yang semula melapisi dinding ruangan, kini hampir berubah menjadi hitam pekat, tong untuk buang air, tempolong untuk meludah serta sisa nasi dan sayur yang bercampur aduk hampir menumpuk dimana mana.
Di atas dinding, di atas permukaan tanah, diamanpun penuh dengan lukisan manusia yang sedang melakukan suatu gerakan pedang, setiap lembar lukisan itu semuanya sudah kuno dan kumal.
Seorang manusia berambut panjang, mana dekil mana bau lagi duduk di sana sambil memperhatikan lukisan-lukisan pedang itu, adakalanya seakan-akan ia terkesima, kadangkala juga melompat bangun dan menggerak-gerakkan tangannya, siapapun tak tahu jurus macam apakah yang sedang ia perlihatkan itu.
Orang itu kurusnya bukan kepalang hingga tinggal kulit pembungkus tulang, lagi pula sudah beberapa bulan tak pernah mandi, rambutnya, jenggotnya kotor dan bau busuk, hakekatnya tak berani aku memandang ke arah wajahnya.
Iapun seakan-akan tak pernah tahu kalau ada orang berjalan masuk ke dalam ruangan, bahkan memandang sekejap ke arah kamipun tidak, sebentar-sebentar ia mencengkeram segenggam kitab ilmu pedang dan memeluknya sambil tertawa terbahak-bahak, lalu menangis pula tersedu-sedu.
Aku rasa orang itu pastilah seorang sinting.
"Tee-cong"
Mengatakan bahwa ia belum sinting, cuma sudah menjadi "Tidak waras"
Karena terpikat oleh buku-buku ilmu pedang tersebut, sedemikian terpikatnya oleh ilmu, sampai makanpun enggan, tidurpun tak pernah, apa lagi mandi, ia terpikat sampai melupakan segalagalanya.
Aku sendiri tak dapat membedakan apa perbedaan antara "sinting"
Dan "Tidak waras". Entah dia sinting juga boleh, tidak waras juga boleh, yang pasti aku enggan berdiam lebih lama di tempat semacam itu.
"Tee-coug"
Masih juga mengawasinya lekat-lekat, seakan-akan menaruh perhatian yang khusus terhadap orang tersebut.
Diam-diam aku ngeloyor ke luar dari situ, sebab aku sangat mual dan benar-benar tak tahan untuk mau muntah, tapi akupun tak ingin muntah di hadapannya.
Sebab bagaimanapun jua, dia toh tetap seorang manusia.
Aku bersembunyi di dalam kamarku dan muntah hebat, setelah minum secawan air teh panas.
"Tee-cong"
Pun datang.
Ia kembali menatapku setengah harian lamanya sebelum memberitahukan kepadaku bahwa sekarang adalah saat baginya untuk pergi mohon obat penawar bagi mencegah bekerja racun di dalam tubuhnya, setiap tahun ia harus minta obat penawar sekali, katanya pula bahwa per-jalanan yang akan ditempuh tidak dekat, paling tidak satu bulan kemudian baru akan pulang kembali ke sana.
Ia bertanya kepadaku, bersediakah mengikutinya?
Ataukah ingin tetap tinggal di sini?
Sudah barang tentu aku lebih suka mengikutinya pergi, sudah terlampau lama aku berdiam di tempat ini, tentu saja aku ingin melihat lihat ke tempat luaran.
Siapa tahu setibanya di luar, aku akan mendapat kabar tentang Bu-ki, apalagi akupun ingin tahu keadaan dari Cian-cian serta Ci Peng.
Aku selalu merasa bahwa kedua orang itu adalah sepasang sejoli yang sangat ideal, watak Cian-cian kurang baik, Ci Peng pasti akan selalu mengalah kepadanya, Cian-cian selalu menerbitkan gara-gara di semua tempat dan Ci Peng pasti akan menyelesaikan semua kesulitan itu bagi dirinya ........
Sayang sekali Ciao-cian selalu bersikap dingin terhadap Ci Peng, selamanya tak pernah memberi kesan atau mimik wajah yang lebih baik kepadanya.
Ketika "Tee-cong"
Tahu bahwa aku bersedia mengikutinya pergi, ia merasa gembira sekali, aku diberi setengah cawan arak anggur untuk menghangatkan tubuh.
Setelah meneguk separuh cawan arak itu, akupun tertidur dengan nyenyaknya.
Menunggu aku telah sadar kembali dari tidurku, baru kuketahui bahwa kami telah meninggalkan gua dalam dasar bumi itu.
Aku duduk dalam sebuah kereta kuda dengan mengenakan pakaian berkabung, beberapa orang berbaju hitam sambil menggotong peti mati tembaga dari "Tee-cong"
Mengikuti di belakang kereta.
Aku tahu, ia pasti berada di dalam peti mati itu, dan akupun didandani demikian untuk mengelabui mata orang.
Malam itu kami mencari sebuah rumah penginapan yang kecil dan sepi untuk beristirahat seluruh penginapan itu kami borong semua.
Pelayan-pelayan dari penginapan tersebut samuanya mengira bahwa aku adalah janda yang baru kematian suami, pelayanannya terhadap segala keperluanku amat baik dan istimewa.
Aku menginap di dalam sebuah kamar besar seorang diri, aku selalu tidak tidur karena aku tahu bahwa "Tee-cong"
Pasti akan datang. Tengah malam itu, ia benar-benar telah datang, aku menemaninya makan semangkuk bubur dan diapun menatapku lekat-lekat.
"Kau benar-benar tidak kenali dia?"
Tiba-tiba ia mengajukan sebuah pertanyaan yang aneh sekali kepadaku.
Pada mulanya aku masih tidak mengerti, kemudian setelah menjumpai sikapnya yang aneh itu tiba-tiba saja aku merasa sedikit kalap, suatu ingatan yang menakutkan mendadak melintas di dalam benakku ..Mungkinkah manusia yang kotor, busuk dan aku tak berani memandang barang sekejappun kepadanya itu adalah Bu-ki yang membuatku rela berkorban asal dapat bertemu sekejap lagi dengannya?
"Tee-cong"
Dapat meraba suara hatiku, tiba tiba ia menerangkan.
"Apa yang kau duga memang benar, dia adalah Bu-ki."
Aku hampir saja gila karena gelisah, aku ingin menangis sekeras-kerasnya, ingin menjerit sekuat-kuatnya, dan ingin mencekiknya sampai mati, tapi apapun tidak kulakukan.
"Tee-cong"
Memang tidak mengingkari janji, ia telah menepati janjinya dan mengajakku menjumpai Bu-ki.
Ia sama sekali tidak salah, akulah yang salah!
ia tidak pantas mati, akulah yang pantas mati, akulah yang pantas mati!
Ternyata aku tak dapat mengenali kembali diri Bu-ki.
Siang malam aku ingin bertemu dengannya, tapi dikala aku telah berjumpa dengannya ternyata aku tidak mengenali lagi dirinya.
Apalagi yang bisa kukatakan kini?
Menanti perasaanku sudah jauh lebih tenang dan pergolakan darah dalam dadaku telah normal kembali.
"Tee cong"
Baru beritahu kepadaku bahwa Bu ki datang mencarinya untuk belajar pedang, diapun menganggap Bu-ki mempunyai bakat untuk belajar pedang.
Tapi diantara mereka berdua berlaku suatu perjanjian, yakni sebelum Bu ki berhasil selesai dengan pelajaran pedangnya, ia tak boleh berjumpa dengan siapapun.
Bu-ki telah setuju dengan perjanjian itu dan menepatinya, maka setiap kali aku ingin bertemu dengan Bu-ki.
ia selalu mengatakan belum sampai waktunya.
Tee-cong berkata kembali.
"Kami telah berjanji dengan batas waktu setahun, pada waktu itu aku akan pergi untuk mencoba ilmu pedangnya, asal ia berhasil mengalahkanku, maka aku akan mempersilahkan ia pergi meninggalkan tempat itu ... Setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut, aku baru tahu bahwa perjanjian di antara mereka berdua tidaklah sederhana. Aku amat memahami jalan pemikiran Bu-ki. Dia tahu bahwa "Tee-cong"
Tak nanti akan mewariskan ilmu pedangnya kepadanya, maka dia pasti telah mempergunakan suatu cara yang sangat istimewa untuk memaksa "Tee-cong"
Mau tak mau harus menyanggupi untuk mewariskan ilmu pedang kepadanya.
Oleh karena itu, ketika Tee-cong mengajukan syarat tersebut, diapun mau tak mau harus menerimanya.
Tapi dari mana mungkin ia bisa mengalahkan "Tee-cong"?
Pada hakekatnya ia sama sekali tak punya kesempatan untuk menang.
Agaknya "Tee-cong"
Telah berhasil menebak pula apa yang sedang kupikirkan di hati, dengan dingin katanya kepadaku.
Ia bukannya tak punya kesempatan, sebab ilmu pedangkupun kupelajari dari kitab-kitab dan lukisan-lukisan tersebut, selamanya aku selalu bekerja adil.
Kemudian ia berkata lagi.
"Tapi setelah menjumpai dirimu, jalan pikiranku tiba-tiba berubah, aku kuatir kalau ilmu pedangnya benar-benar telah berhasil dan merebutmu dari sisiku, aku ingin sekali membunuhnya agar selamanya kau tak dapat berjumpa lagi dengannya."
Akan tetapi ia sama sekali tidak berbuat demikian, karena ia bukan seorang siaujin yang tak tahu malu seperti itu.
Maka hatinya penuh dengan perasaan sedih, tersiksa dan serba bertentangan, oleh sebab itu pula kadang-kadang wataknya akan berubah menjadi begitu berangasan dan aneh.
Ternyata kesemuanya itu adalah lantaran aku.
Sekarang aku baru mengerti kenapa si buta selalu beranggapan bahwa aku akan mendatangkan ketidak beruntungan bagi mereka.
Tee-cong kembali berkata.
"Tapi, akupun tidak menyangka kalau ia dapat melatih ilmu pedang sehingga menjadi "tak waras,"
Seakan-akan sama sekali telah berubah menjadi seseorang yang lain!"
Mungkin lantaran dia tahu kalau Bu-ki telah berubah, maka ia baru membawaku untuk pergi menjumpai Bu-ki.
"Tee-cong"
Menatapku tajam tajam, kemudian berkata lagi.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan di dalam hati, tapi kau keliru kalau berpendapat demikian, karena aku telah bertekad untuk membiarkan kau kembali ke sisi Bu ki, sebab aku dapat melihat dan merasakan bahwa kau benar-benar telah mencintai dirinya, bila suatu hari kau tahu bahwa aku melarang kalian saling berjumpa, kau pasti akan membenciku sepanjang masa, aku tak ingin kau membenciku sepanjang masa!"
Kembali ia berkata.
"Tapi sekarang, setelah ia berubah menjadi begitu rupa, bila kau menjumpainya hari ini malah justru akan mencelakainya, bila ilmu pedangnya berhasil dikuasai maka belum terlambat rasanya bila kalian berjumpa kembali pada waktu itu. Aku tidak bersuara, karena aku telah merasa bahwa apa yang dikatakan itu bukanlah kata-kata yang seratus persen jujur. Aku tidak menyalahkannya, sebab tiap manusia tentu mempunyai watak serakah, lebih me-mentingkan diri sendiri dan ternyata diapun seorang manusia begini. Harus menunggu sampai kapankah Bu-ki baru akan berhasil dengan ilmu pedangnya? Sampai kapan pula baru dapat mengalahkannya? Hari seperti itu kemungkinan besar tak akan bisa dijumpai lagi untuk selamanya. Tapi aku dapat menanti sampai dia kembali ke guanya, waktu itu akupun dapat bertemu kembali dengan Bu ki. Perduli Bu ki sudah gila juga boleh, sinting juga boleh, tidak waras juga boleh, pokoknya setelah bertemu kembali dengannya, aku tak akan meninggalkannya lagi untuk selamanya. ***** Hong nio meninggalkan bukit Kiu hoa sun pada bulan tiga tangga duapuluh delapan. Pada malam bulan empat tanggal satu, ketika para hwesio kuil Bwee-sham-wan sedang bersembahyang malam, tiba-tiba mereka menjumpai seorang manusia aneh yang kotor, bau, kurus dan kelelahan hebat sedang berbaring di atas undak-undakan batu di depan altar besar sambil memandangi bintang-bintang di angkasa, seakan-akan sudah lama, lama sekali ia tak pernah melihat sinar bintang hingga memandangnya dengan terpesona. MENCOBA PEDANG BULAN empat tanggal dua, udara sangat cerah. Dihari-hari yang berudara segar seperti ini, perasaan Lau Pat selalu luar biasa baiknya. Terutama pada hari ini. Hari ini ia bangun pagi sekali, setelah bersarapan pagi dengan hidangan yang lezat, diapun pergi menunggang kuda mencari angin. Malam harinya ia terbiasa untuk minum banyak arak, kadangkala bahkan diwaktu makan siangpun akan minum, oleh karena itu dia selalu memperhatikan sarapan paginya ini. Pagi ini dengan makan seekor ayam, ayam yang dimasak dengan arak, seekor ikan leihi hidup yang dimasak Ang sio dan semangkuk besar sawi hijau yang dimasak udang. Kecuali dapat mempergunakan uang dalam jumlah besar, bermain perempuan cantik dan minum arak wangi, ayam, ikan leihi dan sawi hijau kemungkinan bssar adalah tiga macam hidangan yang paling disukai Lau Pat. Pagi ini dalam waktu setengah jam ia telah mengitari tembokkotasatu kali dan kembali ke rumah. Inilah rekor tercepat darinya dalam mengitari tembokkota. Tentu saja ia bukan lari, dengan mempergunakan sepasang kakinya, ia lari dengan menunggang kuda. Tentu saja kuda tunggangannya adalah seekor kuda cepat, sekalipun bukan kuda tercepat di-dunia, paling tidak merupakan kuda paling cepat di dalam wilayah delapan belaskotadi sekitarsana. Kuda itu sesungguhnya bukan miliknya. Sejak dengan mata kepala sendiri ia menyaksikanBu-ki membinasakan tiga orang saudara dari keluarga Tong di atas loteng Siu oh khang, tak seharipun ia dapat tidur dengan tenang. Iapun seorang jago persilatan, selama berkecimpungan dalam dunia persilatan, dendam sakit hati semalam ini ini harus dituntut balas. Jika Bu ki datang untuk membalas dendam maka pada hakekatnya ia tak bertenaga untuk melakukan perlawanan. Oleh karena itu selain ia mengutus orang untuk mencari jago lihay guna metindungi keselamatan jiwanya, diam-diam iapun menyelidiki jejak dari Bu ki. Menanti ia dengar orang berkata bahwa Bu-ki munculkan diri untuk terakhir kalinya diTaypek ki di bawah bukit Kiu hoa san, ia segera membawa orang memburu kesana, tapi suami istri pemilik penginapanTaypek ki ternyata telah tewas dibunuh sehari sebelumnya. Dia hanya menjumpai pelayan yang bernama Siau ting beserta kuda ini. Kuda dari Tio Bu ki. Ia merasa persengketaannya dengan Bu ki sudah pasti akan berlangsung, maka apa salahnya kalau perselisihan itu ditambah lagi dengan perselisihan lain? Maka kuda itupun menjadi kuda miliknya. ***** Selama setahun belakangan ini, kehidupannya boleh dibilang dapat dilewati dengan aman dan tenteram, Tio Bu ki yang dahulu merupakan momok baginya kini sudah makin dilupakan. Satu-satunya hal yang membuat ia menjadi pusing sekarang adalah tiga orang jago lihay yang dipeliharanya selama ini dengan beaya yang amat tinggi itu. Sesungguhnya dia ingin sekali menyuruh mereka pergi, tapi takut menyinggung perasaan mereka, terutama si Pincang Oh tersebut, ia paling takut untuk membuatnya menjadi tersinggung. Ia telah bertekad untuk menyelesaikan masalah tersebut dalam beberapa hari ini juga, sekalipun harus kehilangan sejumlah uang lagi, diapun rela. Beaya untuk memelihara tiga orang pelindungnya ini hakekatnya jauh lebih mahal dari pada memelihara tiga orang bini muda, ia sudah merasa agak kewalahan. Sekarang ia baru tahu, bahwa persoalan yang paling membuang beaya besar di dunia ini bukan mencari `kesenangan`, melainkan "Dendam sakit hati". Lantaran persoalan ini, dia telah kehilangan uang sebesar tigapuluh laksa tahil lebih, ditambah lagi uang yang dimenangkan Bu ki, walaupun sekarang ia tampaknya masih gagah dan mentereng, sesungguhnya isi koceknya sudah kian menipis. Untung saja "Tempat perjudian"nya masih ada, hasil yang dia perolehpun jauh lebih baik dari pada hasil tahun berselang, oleh sebab itu ia masih dapat bertahan sampai sekarang. Selesai membersihkan badan dengan air dingin, persoalan yang sebenarnya memusingkan kepala itu seakan-akan telah berubah menjadi bukan suatu persoalan lagi. Setelah berganti dengan satu stel baju yang bersih, ia bermaksud untuk memeluk bini mudanya dan mengajak ia tidur. Pada saat itulah, Hui Iotau tiba-tiba muncul di situ. ***** Hui lotau adalah pengurus dari tempat perjudiannya, dia adalah seorang rase tua yang ber-pengalaman dan boleh diandalkan, sudah puluhan tahun ia bekerja di tempat perjudian, permainan busuk macam apapun ia kenal dan pahami dan kejadian dan peristiwa macam apapun pernah ditemuinya. Tapi ia tampak agak kaget dan gugup pada hari ini, dengan napas tersengal-sengal ia lari masuk hampir saja jatuh terjerembab karena terkait palang pintu. Sambil tertawa Lau Pat segera mendamprat.
"Hei, coba kau lihat tampangmu yang begitu gelisah, apakah bini tuamu lagi-lagi dibawa kabur orang?"
Hui lotau menghela napas dan tertawa getir, sahutnya.
"Tidak aneh kalau cuma bini tuaku dibawa kabur orang, tapi kejadian yang berlangsung hari ini baru betul-betul dibilang kejadian yang aneh dan luar biasa"
"Apakah terjadi peristiwa lagi di dalam rumah perjudian kita?"
Tanya Lau Pat dengan dahi berkerut.
"Yaa, bahkan tidak terhitung kecil peristiwa yang telah terjadi disana... ."
Peristiwa yang paling ditakuti tempat perjudian adalah jika secara tiba-tiba kedatangan seorang penjudi yang mempunyai rejeki luar biasa bagusnya, seperti juga Heng ing pa cu (macan kumbang yang mujur) tahun berselang.
Tapi manusia seperti Heng ing pa cu sudah tak akan bisa dijumpai lagi untuk selamanya dalam masa seperti ini.
"Aturlah dulu pernapasanmu, duduk dan bicaralah pelan-pelan,"
Kata Lau Pat pelan.
"sekalipun langit bakal ambruk, kita masih sanggup untuk menahannya, buat apa kau musti gelisah?"
Agaknya untuk dudukpun Hui lotau tak sanggup, kembali katanya dengan gelisah.
"Hari ini rumah perjudian kita telah kedatangan lagi seorang jago lihay dan menggaet sejumlah uang kita secara meyakinkan."
"Menggaet,"
Artinya adalah memenangkan. Apapun tidak ditanya Lau Pat, dia cuma bertanya.
"Apakah sekarang orang itu telah pergi?` "Belum! "Heehhh "heeehhh ....heehhh....asal orang itu belum pergi, kita masih mempunyai cara untuk menghadapinya"
Kata Lau Pat sambil tertawa dingin tiada hentinya..Asal bertaruh itu bukan terhitung suatu kekalahan, Hui lotau adalah seoraog ahli di dalam bidang perjudian, sudah barang tentu diapun memahami akan teori tersebut.
Akan tetapi hari ini ia tidak berpendapat demikian, katanya lagi.
"Oleh karena ia belum mau pergi juga, maka baru ada kerepotan buat kita semua."
"Kenapa?"
"Sebab ia masih akan bertaruh terus, bahkan kelihatannya akan menang lebih jauh."
"Kau dapat melihatnya?"
"Tentu saja! Ketika datang, ia hanya bermodal sepuluh tahil perak, sekarang ia sudah memenangkan empat belas kali taruhan."
"Berapa banyak yang dia menangkan dari ke empat belas kali taruhan ini ..... ?"
"Enam belas laksa tiga ribu delapan ratus empat puluh tahil perak!"
Sahut Hui lotau. Paras maka Lau Pat segera berubah, sambil menggebrak meja keras keras teriaknya.
"Apa pekerjaanmu disana? Kenapa kau biarkan ia menang sebanyak empat belas kali?"
"Aku sama sekali tak berdaya untuk mencegahnya, karena setiap lemparan dadunya selalu menunjukkan angka enam tiga kali."
Kali ini Lau Pat melompat bangun saking kagetnya, dengan wajah berubah serunya.
"Apakah Heng in pa cu yang telah datang lagi?"
"Sebenarnya aku memang mencurigai dirinya, tapi tampangnya sedikitpun tidak mirip dengan si macan tutul yang mujur!"
Setelah berpikir sebentar, kembali katanya.
"Kalau Heng in pacu adalah seorang pemuda yang bertampang ganteng dan menarik, maka ini tampangnya seperti orang yang kena penyakit t. b.c.!"
"Cara apa yang telah ia pergunakan?"
Lau Pat meraung penuh kegusaran.
"Aku tidak melihatnya!"
Lau Pat semakin berang.
"Masa di dalam empat belas kali lemparan dadunya, kau sama sekali tak tahu dengan sistim apa ia melepaskan dadunya itu!"
"Tampaknya ia seperti tidak menggunakan sistim apapun!"
Padahal dalam hati kecilnya diapun tahu bahwa dalam dunia tiada seorang manusiapun yang memiliki rejeki semujur itu dalam empat belas kali lemparan semuanya menunjukkan angka enam tiga kali.
"Sekalipun ia menggunakan sistim permainan, orang yang ada di sanapun tak dapat melihatnya"
Kata Hui lotau lebih jauh.
"oleh sebab itu akupun tak berani mengusiknya, aku hanya membiarkan ia berdiam dulu untuk sementara disana."
Setelah berhenti sejenak, dengan wajah murung dan kesal katanya kembali.
"Sekarang dalam ruangan sudah tak punya uang lagi untuk membayar taruhannya itu, bukan saja ia sedang menunggu untuk mengambil uang bahkan masih akan berjudi terus.
"Pat-ya! Coba lihat apa yang musti kita lakukan sekarang?"
Masakah kau tak tahu apa yang musti kita lakukan sekarang?"
Lau Pat tertawa dingin.
"Tapi kalau dilihat dari keberaniannya untuk datang makan kita, sudah pasti ia mempunyai sedikit asal usul yang besar pula."
Lau Pat menjidi sangat gusar, serunya.
"Perduli amat ia mempunyai asal usul yang besar atau tidak, pokoknya kau harus melakukannya begitu lebih dulu!"
"Sekalipun kita akan menangkap dia, paling tidak taruhannya musti kita bayar dulu !"
Hal ini memang merupakan peraturan permainan, jika peraturan dirusak maka siapakah yang berani datang bertaruh lagi dilain waktu?
Tentang soal ini Lau Pat bukannya tidak mengerti, sayangnya ia tak punya uang untuk meng-gantinya.
***** "Kau pergilah untuk menahan dia lebih jauh, aku akan pergi mencari akal ...
Satu satunya jalan yang dapat ditempuh oleh nya adalah pergi mencari Cia lakkonya, tapi diapun tahu bahwa jalan tersebut belum tentu bisa ditembusi.
Hubungan mereka telah makin menjauh, sejak modal sebesar duapuluh laksa tahil perak yang di tanamkan dalam tempat perjudiannya kena dilalap oleh Heng-in-pa-cu, hubungan mereka sudah sedemikian renggangnya sehingga nyaris tek pernah berhubungan lagi.
Benar juga, jawaban Cia Lak adalah begini.
"Yaa, apa boleh buat, belakangan aku sendiripun agak kesulitan uang, malah akupun hendak mencarimu untuk mencari pinjaman."
Oleh karena itulah terpaksa ia harus pergi mencari Oh Po cu (si Pincang Oh).
Terhadap orang yang sudah mati, selamanya ia tak perlu membayar kemenangan dari taruh-annya lagi.
Sekalipun cara tersebut bukan peraturan dari rumah perjudian, tapi hal mana justru merupakan suatu kenyataan yang tak akan menimbulkan perdebatan orang.
Bila seseorang telah berada dalam keadaan tak punya uang, seringkali kenyataan tersebut dipandang jauh lebih dari pada peraturan macam apapun.
Dan terhadap banyak persoalan, diapun akan memandang jauh lebih penting dari peraturan.
Si Pincang Oh bukan cuma kakinya saja yang pincang sekali, bagian tubuh yang lainpun tumbuh kurang begitu sempurna.
Ia kurus kecil, berkepala botak, hidungnya agak bengkok dan telinganya kurang sebagian, bukan saja wajahnya tak sedap, dekilnya bukan main, sama sekali tidak bertampang seseorang yang pantas dihormati.
Orang ini hanya mempunyai suatu kebaikan, yaitu kurang begitu suka banyak bicara.
Sewaktu ia datang untuk pertama kalinya, bukan Lau Pat saja yang tak pandang sebelah mata kepadanya, dua orang jago yang diundang Lau Pat dengan bayaran tinggipun lebih lebih tak pandang sebelah matapun kepadanya, bahwa mereka tak sudi untuk bersantap bersama di satu meja.
Dulu, kedua orang itu katanya adalah jago-jago hebat dari wilayah Lau-pak, terutama di kalangan Liok lim.
"Ting Kang"
Dan "To Jiang"
Yang mereka pergunakan jelas bukan nama mereka yang sesungguhnya.
Ting Kang mempergunakan pedang Siang bun kiam sedang To Jiang menggunakan golok Yan ling to, ilmu silat yang mereka berdua miliki tergolong kepandaian "keras".
Tentu saja mereka tak sudi berada dalam satu pekerjaan dengan si pincang yang jelek dan memuakkan itu, maka bertekadlah kedua orang itu untuk baik-baik memberi pelajaran kepadanya, agar ia tahu keadaan dan mengundurkan diri.
Suatu malam setelah mereka minum beberapa cawan arak, dicarinya si pincang Oh untuk "ber-cakap-cakap"
Dalam lorong gelap di belakangsana.
Tapi keesokan harinya, Lau Pat menemukan bahwa sikap mereka terhadap si Pincang Oh telah berubah seratus delapan puluh derajat, bukan saja gerak geriknya amat sungkan dan munduk-munduk bahkan lebih mendekati ketakutan setengah mati.
Lau Pat bukan bodoh, tentu saja iapun dapat menerka sebab apa yang membuat sikap mereka berdua berubah menjadi begini rupa.
Maka, sikapnya terbadap si Pincang Oh pun seketika berubah pula seratus delapan puluh derajat.
Tapi si Pincang Oh sendiri sama sekali tak berubah, terserah bagaimana sikap orang lain ke-padanya, seakan-akan dia tak ambil perduli.
Sekalipun kau menempelengnya dua kali, mungkin diapun seakan-akan tak ambil perduli.
Sebulan setelah ia datang ke tempat itu seorang piausu yang telah kalah bertaruh dan mabuk karena arak benar-benar telah menoempelengnya ....
Malam itu, Piausu tersebut tahu-tahu sudah "lenyap"
Tak berbekas.
***** Sebenarnya Lau Pat mengira bahwa si Pincang Oh belum tentu akan bersedia untuk mengurusi persoalan tersebut, karena persoalan semacam ini sudah cukup diselesaikan oleh Ting Kang dan To Jiang.
Sungguh tak disangka si Pincang Oh secara sukarela menyatakan kesanggupannya untuk maju sendiri, sebab dia ingin melihat sepasang tangan yang dapat melemparkan empat belas kali angka enam tiga kali itu.
Bu-ki sedang memperhatikan sepasang tangannya.
Walaupun sepasang tangannya sedikitpun tak berubah, tapi ia tahu tampang wajahnya sekarang pasti telah mengalami banyak perubahan.
Itu terbukti dari tak seorang manusiapun di sana yang mengenali dirinya lagi.
Hanya sepuluh bulan lebih sedikit, ternyata seseorang telah mengalami banyak sekali perubahan.
Ia sudah bercermin, alhasil hampir saja ia tidak mengenali akan diri sendiri.
Wajahnya telah berubah menjadi pucat dan berkilat karena sudah amat lama tak pernah tertimpa sinar matahari, sepasang matanya telah cekung ke dalam karena kurang tidur dan penggunaan otak yang berlebihan, bahkan rambutnya pun jauh lebih sedikit dari pada dulu.
Tapi yang aneh, jenggotnya justru tumbuh dengan kelewat cepatnya, bahkan kadangkala dapat menutupi codet di atas wajahnya.
Dia harus berendam diri hampir satu jam lamanya dalam air panas sebelum pada akhirnya bau busuk yang tersiar ke luar dari badannya dapat dilenyapkan.
Tapi ia tahu bahwa selama hidup jangan harap ia dapat pulih kembali seperti dulu.
Ya, barang siapapun manusia di dunia ini, asal ia telah mengalami penghidupan selama tiga ratus hari dalam keadaan seperti itu, pada akhirnya ia pasti akan berubah menjadi seseorang yang lain.
Ia dapat mempertahankan diri lebih jauh lantaran dia masih mempunyai rasa percaya pada diri sendiri, ia percaya dirinya pasti dapat berjalan ke luar dari tempat itu dalam keadaan hidup.
Karena dia tahu, manusia macam mayat hidup itu pasti akan meninggalkan tempat itu untuk minta obat penawar setiap bulan empat.
Asal ia dapat meyakinkan manusia mayat itu bahwa ia benar benar sudah "tidak waras", maka dia pasti akan memperoleh kesempatan untuk melarikan diri.
Dalam hal ini tak bisa diragukan lagi ia telah melakukannya dengan sukses.
Oleh karena itulah di menang.
Dengan jelas dia tahu bahwa sekalipun berlatih sepuluh tahun lagi, belum tentu ia mempunyai kesempatan untuk mengalahkan mayat hidup itu, ia telah mempertaruhkan kebebasan hidupnya dengan manusia aneh itu.
Karenanya dia harus menang.
***** Sekarang, secara beruntun dia telah menangkan empat belas kali permainan, ia telah memenangkannya secara memuaskan.
Semua pertaruhan yang sedang berlangsung dalam rumah perjudian itu praktis telah berhenti, tapi tak seorangpun diantara mereka yang mampu pergi meninggalkan tempat itu.
Semua orang sedang menantikan perkembangan selanjutnya dari peristiwa tersebut.
Bu-ki pun sedang duduk menanti.
Ia sedikitpun tidak gelisah, bahkan jauh lebih tenang dari pada siapapun juga.
Ketika To Jiang dan Ting kang masuk ke dalam, ia segera tahu bahwa pemain-pemain sandiwara telah datang.
Ketika berjalan masuk ke dalam ruangan, Ting Kang merasakan lambungnya seakan-akan ada gumpalan bara api yang sedang membakar perutnya.
Setiap kali sebelum membunuh orang, dia selalu mempunyai perasaan seperti itu.
Dalam sekilas pandangan saja ia telah menemukan Bu-ki.
Rupanya Lau Pat telah melukiskan potongan tubuh orang itu dengan sejelas-jelasnya.
"Kalian harus pergi membunuhnya karena dia mempunyai dendam sakit hati dengan kalian bukan aku yang suruh kalian membunuhnya, tentang soal ini kalian harus mengingatnya baikbaik!"
Tentu saja Ting Kang dapat memahami maksud hati dari Lau Pat.
Jikalau kedatangan mereka untuk membunuh orang adalah dikarenakan hendak membalas dendam, itu berarti peristiwa tersebut sama sekah tiada hubungannya dengan rumah perjudian tersebut, maka siapapun tak bisa mengatakan bahwa Lau Pat telah merusak peraturan rumah perjudian.
Orang itu tampaknya tidak begitu keren atau mengerikan, seakan-akan seorang manusia yang sama sekali tak berguna.
Dia hanya berharap bisa menyelesaikan parsoalan ini dengan cepat, agar diapun dapat cepatcepat pergi mencari perempuan serta menyelesaikan persoalan sendiri.
***** Jalan pemikiran To Jiang jauh lebih sempurna lagi.
Ia sedang berpikir apakah orang ini masih mempunyai pembantu ataukah mungkin ada orang diantara penonton yang tiba-tiba turut campur di dalam urusan mereka.
Ketika diperhatikan, dalam ruangan itu hanya ada dua orang manusia yang tampaknya agak menyolok.
Orang pertama adalah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi, berwajah tampan dan berdandan perlente, walaupun usianya paling tidak sudah mencapai tiga puluh tahun, namun gayanya keren benar, tampaknya bukan saja sangat beruang, keluarganya pasti mempunyai kekuasaan besar.
Untung saja bila seseorang mempunyai asal usul yang besar, biasanya dia paling enggan untuk mencampuri urusan orang lain.
Lagi pula iapun dapat merasakan bahwa orang itu tidak mirip sahabat Bu-ki, maka To Jiang pun tak ingin mencari gara-gara dengannya.
Orang kedua tidak bertampang bagus, sewaktu tidak tertawa dapat pula kita temukan sepasang lesung pipitnya yang dalam, sepasang matanya besar dan lincah, dalam melihat benda apapun, ia selalu menunjukkan sikap seakan-akan ingin tahu.
Andaikata dia benar-benar adalah seorang pria, jelas ia merupakan seorang laki-laki tampan yang jarang ditemukan, cuma sayangaya rada kebanci-bancian.
To Jiang adalah seorang jago kawakan dari dunia persilatan, maka sekilas pandangan saja telah diketahui olehnya bahwa dia adalah seorang perempuan yang menyaru sebagai seorang pria.
Pandangannya terhadap kaum wanita, ia selalu mempunyai pendapat yang sama dengan Ting Kang ...
Yang paling menakutkan buat perempuan ada diatas ranjang, bukan diujung kepalan.
Oleh sebab itu ketika dengan sekali lompatan lebar Ting Kang melompat kehadapan Bu-ki, diapun segera menyusulnya, kemudian sambil tertawa dingin serunya.
"Oooh, rupanya kau!" ***** Bu-ki segera tertawa. Dua orang ini betul-betul pandai bermain sandiwara, sejak semula ia telah menduga permainan sandiwara macam apakah yang bakal dipertontonkan oleh kedua orang itu. Dengan wajah membesi Ting Kang berseru.
"Sudahlimatahun lamanya kami mencarimu, sungguh beruntung jejakmu berhasil kutemukan pada hari ini, apa lagi yang bisa kau katakan?"
Bu-ki segera tersenyum.
"Kalau begitu kalian datang mencariku, karena ada dendam sakit hati denganku?"
Katanya. Pertanyaan yang diajukan itu persis seperti ucapan yang hendak mereka utarakan. Dengan cepat Ting Kang menyahut.
"Tentu saja ada dendam, dendam sakit hati yang lebih dalam dari samudra ...."
"Oleh karena itu, kalian bertekad hendak membunuhku hari ini?"
Bu-ki menyambung lagi.
"Yaa, kami akan membunuhmu sampai mampus!"
"Bolehkah aku membalas?"
Ting Kang tertawa dingin.
"Asal kau mempunyai kepandaian, mau membunuh kami berduapun juga boleh ..."
Katanya.
"Sungguh?"
Ting Kang sudah enggan untuk ribut lagi dengannya, golok Yan leng to yang tersoren di pinggangnya telah diloloskan dari sarung.
To Jiang pun telah mencabut pula pedang Siang bun kiam miliknya.
Sesungguhnya dia tidak gemar membunuh orang seperti Ting Kang, tapi persoalan ini memang lebih cepat diselesaikan semakin baik lagi.
Bu-ki kembali berkata.
"Kalian ada yang menggunakan golok, ada pula yang menggunakan pedang, tentunya aku tak akan melayani dengan tangan kosong belaka bukan ..... ?"
Dengan sinar mata yang tajam dia celingukan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian serunya lagi.
"Apakah di antara kalian yang hadir ada yang membawa pedang? Bolehkah meminjamkan sebentar kepadaku?"
Tentu saja ada di antara mereka yang membawa pedang, tapi tak seorang manusiapun yang senang terlibat dalam persoalan semacam ini.
"Kaupun pandai menggunakan pedang?"
To Jiang bertanya.
"Yaa, bisa sedikit-dikit!"
To Jiang segera tertawa dingin.
"Ditanganku ada pedang, asal kau punya kepandaian, kau boleh mengambilnya sendiri!"
"Baik!"
Begitu, ucapan tersebut berkumandang keluar, pedang To Jiang telah berputar kencang di tangannya, cahaya pedang yang menyilaukan mata segera memancar ke udara.
Menyusul kemudian Ting Kang dan To Jiang pun roboh terkapar di atas tanah.
Ting Kang dan To Jiang sebenarnya bukan manusia yang gampang roboh ke tanah.
Sewaktu berada di wilayah Liau-pak, mereka sudah tersohor sebagai jago-jago aliran "keras", karena mereka benar-benar memiliki serangkaian kepandaian yang mengagumkan.
Tapi sekarang bukan saja mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menangkis ataupun menghindar, bahkan gerakan apakah yang dipergunakan lawannya tak sempat pula terlihat jelas, tahu-tahu seperti dua batang balok kayu yang dipegang orang, mereka roboh terkapar dengan begitu saja.
Dalam waktu singkat itulah mereka berdua sama-sama sudah tertusuk oleh dua buah tusukan menusuk persis di atas bagian tubuh mereka yang membuat kedua orang itu mau tak mau harus roboh ke tanah.
Setelah terkapar di atas tanah, mereka masih tidak percaya kalau peristiwa itu adalah suatu kenyataan.
Bu-ki sendiripun hampir-hampir tidak percaya dengan kenyataan itu.
Sebenarnya dia tidak ingin memperguna-kan pedang, tapi dia benar-benar tak tahan untuk menjajalnya.
Dia ingin mencoba kepandaian ilmu pedangnya.
Terlalu besar yang telah ia bayar untuk mendapatkan kepandaian tersebut, maka dia ingin tahu seberapa besar hasil yang telah diperolehnya itu.
Sekarang ia telah tahu.
Perasaan Lau Pat makin lama semakin tenggelam, ia masih belum tenggelam sama sekali, sebab masih ada sebercik harapan yang dimilikinya.
Satu-satunya harapan yang dimilikinya yakni si Pincang Oh.
Tiba-tiba si Pincang Oh berkata.
"Agaknya aku datang ke mari pada tahun berselang bulan tujuh tanggal duapuluh tiga bukan?"
"Yaa, agaknya memang benar!"
Lau Pat mengangguk. Pelan-pelan si Pincang Oh berkata lagi.
"Bukankah hari ini adalah bulan empat tanggal dua?"
"Benar!"
"Kalau begitu aku sudah berada di sini selama duaratus limapuluh hari tepat!" .
"Yaa, memang begitulah!"
"Setiap hari aku bersantap dua kali, nasi berikut arak paling tidak juga bernilai tiga tahil perak".
"Tapi aku tak pernah memperhitungkan-nya!"
Kata Lau Pat.
"Kau tak pernah memperhitungkannya, aku telah menghitung dengan sangat jelas, dari dulu sampai sekarang kau telah memberi delapan laksa tujuh ribu tahil perak, bila ditambah dengan tujuh ratus limapuluh tahil uang nasi berarti semuanya berjumlah delapan laksa tujuh ribu tujuh ratus limapuluh tahil perak""
Tiba-tiba ia mengambil ke luar setumpuk uang dari sakunya dan diletakkan di hadapan Lau Pat, kemudian katanya kembali.
"Semua uang itu berjumlah sepuluh laksa tahil perak, anggaplah aku telah mengembalikannya kepadamu, uang pokok berikut bunganya". Walaupun jumlah itu selangit banyaknya buat rakyat kecil, bagi seorang bandar judi sepuluh laksa tahil perak tidak terhitung sejumlah uang yang besar. Tentu saja Lau Pat merasa terkejut sekali dengan perbuatannya itu, cepat ia berseru.
"Kenapa kau mengembalikan semua uang itu kepadaku?"
"Karena aku takut mati!"
Ternyata jawaban dari si Pincang Oh cukup jelas dan gamblang. Setelah memandang sekejap ke arah Bu-ki, dia memberi penjelasan lebih jauh.
"Jika uang itu tidak kukembalikan kepadamu, berarti aku harus membantumu untuk membunuh orang, itu berarti aku harus pergi mengantarkan kematianku sendiri".
"Kau pergi mengantar kematian?"
Lau Pat berkata dengan nada tidak habis mengerti.
"Benar, siapapun yang berani maju ke depan, itu berarti dia sedang mengantar kematian sendiri". Paras muka Lau Pat berubah hebat. Kembali si Pincang Oh berkata lagi.
"Tahun ini aku telah berusialimapuluh tahun, sebenarnya aku mempersiapkan uang yang sepuluh laksa tahil perak itu untuk membeli tanah, mencari bini dan mempunyai beberapa orang anak sambil hidup selama beberapa tahun lagi "
Setelah menghela napas panjang, ia melanjutkan lebih jauh.
"Tapi sekarang aku lebih suka mengembalikannya kepadamu, karena aku benar-benar takut mati!"
Lau Pat dapat melihat, bahwa ia bukan sedang berbohong, untung saja uang yang diberikan kepadanyapun bukan uang kertas palsu.
Terhadap seseorang yang sudah hampir jatuh bangkrut, uang yang sepuluh laksa tahil perak itu tentu saja sangat berguna sekali.
Sekali cengkeram Lau Pat telah mencopot uang yang sepuluh laksa tahil perak banyaknya itu, keadaannya ketika itu ibarat seseorang yang hampir mati tenggelam tiba-tiba berhasil me-nangkap sebatang kayu balok untuk menyelamatkan diri.
Seharusnya uang modal yang berada dalam rumah judi ini masih ada tujuh delapan laksa tahil.
Maka dengan membusungkan dada, ia berjalan kehadapan Bu-ki dengan langkah lebar, katanya dengan suara keras.
"Taruhanmu segera akan kubayar, kemudian kita boleh berjudi lagi ........ ***** Sekali bertaruh, kembali ia kalah. Ia berusaha untuk melemparkan dadu lebih dulu, dia ingin sekali bisa meraih angka "Pa-cu"
Yakni tiga enam tiga kali, sayang sekali dadu yang digunakan bukan dadu palsu, maka kembali ia merasa tegang sekali.
Ketika dadunya dilempar maka angka yang berhasil diraihpun dua angka enam dan satu angkalima.
Limatidak terhitung sebuah angka yang kecil.
Tapi ketika Bu-ki melemparkan dadunya dengan begitu saja, segera muncullah enam tiga kali, dadunya tidak palsu, caranya bermainpun tidak palsu.
Tentu saja diapun tak bisa membayar taruhan itu dengan uang palsu pula.
"Kali ini kau harus membayar tiga puluh dua laksa tujuh ribu enam ratus delapan puluh perak"
Demikian Bu-ki berkata. Kali ini Lau Pat betul-betul sudah tenggelam, peluh dingin telah mengucur keluar dengan derasnya membasahi sekujur tubuhnya.
"Bila kau ingin bertaruh lagi, maka kau musti membayar dulu semua kekalahanmu itu kepadaku!"
Bu-ki kembali berkata. Setelah tertawa ewa ia menambahkan lebih jauh.
"Jika kau tidak bertaruh lagi, maka baik atau buruk kaupun musti membayar uang taruhan tersebut kepadaku."
Jilid 12________ LAU PAT sedang menyeka keringat.
Seseorang yang semakin tak punya uang keringatnya yang mengucur keluarpun semakin banyak, semakin tak mampu mengganti semakin tak kering keringat yang disekanya.
Setelah termenung dan ragu-ragu beberapa waktu lamanya, dengan perasaan apa boleh buat Lau Pat menggigit bibir dan berkata.
"Aku tak sanggup untuk membayar uang taruhanmu itu!"
Bu-ki tampak seperti tertegun setelah mendengar perkataan itu, sebab kejadian tersebut benarbenar di luar dugaannya.
"Masakan uang yang hanya berjumlah tiga puluh laksa tahil lebih sedikit pun tidak sanggup kau bayar? "
Katanya.
"Jangankan tigapuluh laksa lebih, tiga laksapun aku tak sanggup untuk membayar." *Kalau sudah tahu tak mampu membayar, kenapa kau masih juga bertaruh denganku?"
"Karena aku ingin menangkan kembali uangku."
Jawaban tersebut terhitung pula sebuah jawaban yang jujur.
Barang siapa yang sudah kalah bertaruh, siapakah yang tak ingin menangkan kembali modalnya?
Tapi siapa yang ingin menangkan kembali modalnya, siapa pula yang bisa tak kalah?
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan?"
Bu ki bertanya kemudian setelah termenung sebentar.
"Aku sendiripun tak tahu apa yang musti kulakukan sekarang ... ."
Lau Pat gelengkan kepalanya berulang kali. Kenapa kau tidak berusaha untuk pergi meminjam kepada orang lain ...?" `Tapi ke manakah aku harus pergi meminjam?.
"Pergilah mencari saudara-saudaramu, atau mungkin juga pergi mencari teman-temanmu.` Tiba-tiba Lau Pat tertawa keras, suara tertawanya seperti seseorang yang sedang menangis, katanya.
"Jika seseorang sudah hampir jatuh bangkrut, mana ada saudara lagi dan mana ada teman lagi?"
Inilah pelajaran dan pengalaman yang harus dialaminya dengan perasaan yang tertekan dan tersiksa, sebenarnya dia tidak ingin mengatakannya ke luar.
Tapi sekarang ia mengatakannya juga, karena hatinya benar-benar sudah dingin dan putus asa.
Semua orang lain telah menganggap pula bahwa ia benar-benar sudah menghadapi jalan buntu, tapi kecuali seseorang.
Tiba-tiba ia berkata .
"Kau keliru!"
KAU KELIRU KAU keliru !"
Orang yang mengucapkan kata-kata tersebut mempunyai logat yang istimewa, nada perkataannyapun istimewa.
Suara itu diucapkan dengan nada yang rendah, berat dan asing, sekalipun seseorang yang merupakan jago kawakanpun tak dapat membedakan suara itu berasal dari dialek propinsi mana.
Nada suaranya seakan-akan membawa semacam kekuatan yang memaksa orang lain harus menerima maksud hatinya itu.
Kalau dia mengatakan kau keliru, maka kau pasti keliru, bahkan kau sendiripun akan merasakan bahwa dirinya pasti telah keliru.
Hal ini memang sesuai sekali dengan gayanya yang anggun dan perlente, dandanannya yang necis dan sikapnya yang agung.
Dahulu ia jelas tak pernah berkunjung ke tempat itu, dulu diapun belum pernah berjumpa dengannya.
Lau Pat tidak kenal dengan orang itu, katanya kemudian.
"Kau mengatakan bahwa aku keliru?"
Manusia asing yang berasal dari tempat tak dikenal itu menyahut.
"Yaa, kau bukannya sudah tak punya teman, paling tidak kau masih ada seorang teman sekarang"
"Siapakah temanku itu?"
"Aku!"
Pelan-pelan ia berjalan kedepan.
Serta merta orang-orang yang berada di sekeliling ternpat itu menyingkir ke samping dan memberi sebuah jalan lewat baginya.
Setibanya di depan Bu-ki, ia hanya menggumankan sepatah kata.
"Aku akan membayarkan ketiga puluh dua laksa tujuh ribu enam ratus delapan puluh tahil itu bagimu!"
Ketika selesai mengucapkan kata-kata tersebut, setumpuk uang kertas telah berserakan di atas meja.
Di dalam melakukan pekerjaan ia selalu berbuat seperti waktu berbicara, sederhana, singkat lebih jauh, tapi jelas, sama sekali tidak bermain sabun.
Lau Pat tertegun.
Seorang manusia asing yang belum pernah dijumpai sebelumnya ternyata bersedia menjadi sahabatnya dikala ia sedang menghadapi jalan buntu, bahkan secara sakarela mengeluarkan pula sejumlah uang yang tak terhitung besarnya itu untuk membantunya.
Lau Pat bukan seorang manusia yang gampang dibuat terharu oleh kejadian apapun, tapi sekarang secara tiba-tiba saja ia merasakan matanya rada basah, tenggorokannya seakan akan tersumbat oleh suatu yang amat besar.
Lama sekali dia baru bertanya lagi.
"Benarkah kita adalah sababat?"
Orang asing itu menatapnya tajam tajam, lalu pelan-pelan men jawab.
"Setahun berselang, ada seorang sahabatku yang kalah ludas sewaktu berjudi di sini, kau membiarkannya berhutang, bahkan tidak memaksanya, malahan memberi sangu uang jalan kepadanya, masih ingatkah kau akan kejadian itu?"
Sambil menepuk bahu Lau Pat, dia berkata.
"Sejak hari itulah, kau adalah sahabatku!"
"Tapi ... tapi itukan suatu kejadian kecil!"
"Kejadian tersebut bukan suatu kejadian kecil saja, karena orang itu adalah sahabatku!"
Asal mengucapkan kata "sahabat,"
Maka nada suaranya segera akan berubah menjadi begitu serius dan menaruh hormat. Bukan saja ia memandang tinggi arti dari pada kata "hormat"
Tersebut, bahkan kata-kata itu dipandang jauh lebih berharga dari pada apa pun juga.
"Mari kite pergil"
Katanya lagi sambil menarik tangan Lau Pat.
"Pergi? Kenapa harus pergi?"
"Kau sudah bangkrut di tempat ini, karena itu sambil mendongakkan kepala kau harus keluar dari sini dan berjuang kembali untuk membangun usaha baru"
"Benar!"
Kata Lau Pat kemudian sambil mendongakkan kepalanya.
"kita harus pcrgi!"
"Tunggu sebentar!"
Tiba tiba Bu ki berseru. Sinar mata orang asing itu segera memancarkan sinar yang lebih tajam dari sembilu, dengan dingin tegurnya "Apakah kau masih akan bertaruh lagi?"
Bu ki tertawa .
"Sebenarnya aku memang ingin bertaruh lagi, karena hanya dengan bertaruh baru dapat membuat keluarga orang hancur berantakan dan sepanjang masa tak dapat mendongakkan kcpalanya kembali."
Begitu ia tertawa, maka codet di atas wajahnya itu seakan-akan merubah semuanya itu menjadi luar biasa seramnya, begitu seram dan sadisnya hingga sukar dilukiskan dengan katakata.
Pelan-pelan ia berkata lebih lanjut.
"Sebenarnya aku telah bertekad untuk bertaruh dengannya sehingga dia bangkrut dan mampus."
Orang asing itu sama sekali tidak bertanya.
"Kenapa?"
Karena ia tahu Bu ki pasti dapat menjelaskan sendiri.
"Karena setahun berselang, ada seseorang yang hampir mati di tangannya, dan kebetulan sekali orang itupun seorang sahabatku."
Setelah tertawa ewa Bu-ki melanjutkan.
"Ia pernah membantu sahabatmu, maka kau membantunya, tapi dia ingin merenggut nyawa sahabatku, maka sudah barang tentu akupun menginginkan pula selembar jiwanya."
Dengan gigi membayar gigi, dengan darah membayar darah, hal ini sudah lumrah dan berlaku pada saat itu.
Meskipun pembalasan semacam ini agak kejam dan liar, tapi dendam sakit hati antara umat persilatan hanya bisa diselesaikan pula dengan cara seperti itu.
Orang asing itu termenung beberapa waktu lamanya, lama sekali, dia baru bertanya.
"Sekarang apa yang ingin kau lakukan?"
Bu-ki menatap orang itu lama sekali, kemudian baru sahunya .
"Kau adalah seorang sahabat yang baik. Bisa berkenalan dengan seorang sahabat seperti kau, sedikit banyak memang ada juga hal-hal yang menyenangkan, make dari itu. ."
Pelan-pelan ia mendorong seluruh tumpukan uang yang berada di hadapannya itu ke hadapan orang tersebut.
"Maka dari itu sekarang juga aku minta kepada kalian untuk membawa pula semua benda tersebut pergi dari sini."
Selesai mengucapkan kata-kata itu dia putar badan dan pergi dirisana, ia pergi dengan langkah lebar dan sama sekali tidak berpaling kembali.
***** Cuaca hari ini sangat cerah, matahari bersinar indah, anginpun berhembus silir semilir.
Bu-ki menarik napas panjang-panjang, mendadak ia merasakan hatinya gembira sekali, sudah lama sekali dia tak pernah merasakan kcgembiraan seperti hari ini.
Dia selalu adalah seorang manusia yang berpikiran aneh.
Ia tak pernah memaksa orang lain, diapun tak ingin orang lain memaksanya, dia tak suka berhutang kepada orang lain, karena itu diapun tak suka orang lain berhutang kepadanya.
Itulah kebiasaan yang aneh baginya.
Seperti juga kebanyakan manusia yang berperasaan sama, ketika suatu hutang telah berhasil dibereskan, dia selalu akan merasakan betapa enteng dan senang hatinya.
Apalagi dia telah mencoba ilmu pedangnya, bahwa dia sendiripun merasa amat puas dengan hasil yang berhasil diperolehnya itu.
***** Tempat itu adalah sebuah lorong panjang yang sepi dan tiada manusia lain, ketika hampir sampai di mulut lorong, ia sudah mendengar ada ujung baju tersampok angin berkumandang dari atas atap rumah, gerakan itu sangat enteng dan cepat, jelas seseorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna.
Menanti ia sudah hampir tiba di mulut lorong tadi, orang itu sudah berdiri di bawah pohon Pek-yang di luar lorong tersebut dan sedang menantikan kedatangannya.
Ternyata orang itu tak lain adalah si nona yang tak usah tertawapun kelihatan sepasang lesung pipinya yang dalam itu.
Sekarang ia sedang tertawa.
Sambil bertolak pinggang dengan tangan sebelah dan memegang cambuk kuda dengan tangan yang lain, ia memandang ke arah Bu-ki sambil tertawa manis.
Bu-ki tidak tertawa, diapun tidak menengok ke arahnya.
Seakan-akan sama sekali tak terlihat olehnya bahwa disanaada seorang manusia seperti itu, ia berjalan lewat di hadapannya tanpa berkedip.
Sudah cukup banyak kesulitan yang dihadapinya, ia benar-benar tak ingin mencari kesulitan lagi bagi dirinya sendiri.
Kesulitan biasanya akan datang bersama-sama dengan perempuan, terutama seorang gadis cantik yang menyaru sebagai seorang pria.
Apalagi terhadap seseorang yang sudah jelas orang lain mengetahui bahwa dia adalah seorang gadis yang sedang menyaru sebagai seorang lelaki, tapi ia sendiri justru mengira bahwa orang lain tidak mengetahui kalau dia adalah seorang perempuan.
Jika perempuan semacam ini membawa pula sebuab cambuk, maka bila kau sampai bertemu dengannya, jalan terbaik adalah mengambil langkah seribu.
Bu-ki memilih sebuah cara yang baik, sayangnya sekali cara itu yang terbaik kadangkala bisa mendatangkan pula ketidak manjuran.
Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba bayangan manusia berkelebatan lewat, seorang manusia yang memegang cambuk kuda di tangan kanannya telah berdiri tepat dihadapan mukanya.
Asal kau maju satu dua langkah lagi ke depan, kemungkinan besar hidungmu akan saling beradu dengan hidungnya.
Entah dia itu seorang laki ataupun seorang perempuan, dia tak ingin hidung mereka saling beradu.
Maka terpaksa dia harus berhenti.
Si nona yang menyaru sebagai seorang laki-laki itu melotot ke arahnya dengan mempergunakan sepasang matanya yang besar dan jeli, lalu tegurnya.
"Apakah kau adalah seorang manusia bermata buta yang tak dapat melihat orang?"
Tentu saja dia bukan. Maka Bu ki menggeleng, karena dia bukan seorang buta.
"Apakah aku adalah seorang manusia yang tanpa wujud?"
Kembali gadis itu bertanya. Sekali lagi Bu ki harus menggelengkan kepalanya. Sambil menatap ke atas wajahnya dengan mata yang melotot besar, gadis itu berkata lebih jauh.
"Kalau memang begitu kenapa kau tidak menengok diriku?"
"Karena aku tidak kenal denganmu!"
Akhirnya Bu-ki harus menjawab pula dengan pelan.
Alasan tersebut memang suatu alasan yang paling baik, sebab barang siapa sudah terkena batunya, biasanya dia akan putar badan dan angkat kaki darisana.
Tapi hal tersebut ternyata terkecuali untuk si nona tersebut.
Dia malah tertawa tergelak, lalu serunya.
"Apa salahnya kalau memang tidak kenal? Siapakah yang akan saling mengenal sejak dilahirkan di dunia? Kau tak usah merasa tak enak hati, aku tak akan menyalahkan dirimu!"
Terpaksa Bu-ki harus membungkam diri dalam seribu bahasa.
Tiba-tiba ia merasa bahwa sekalipun kau mempunyai alasan yang bagaimanapun kuatnya, percuma saja bila dibicarakan dihadapan nona itu, sebab urusan tak bakal akan beres.
Sambil menuding ujung hidung sendiri dengan cambuk kudanya, nona itu memperkenalkan diri.
"Aku she Lian, bernama Lian It-lian, yang berarti sekuntum bunga teratai"
Setelah tertawa ia berkata-lagi.
"Jika kau beranggapan bahwa nama tersebut adalah nama seorang perempuan maka dugaanmu itu keliru besar, sebab pada jaman dahulu dalam dunia persilatanpun terdapat seorang jago gagah yang bernama It-to-lian-hoa (sekuntum bunga teratai) Liu Tek-tay!"
Bu-ki masih juga membungkam diri. Lian It-lian telah menunggu sekian lama, karena belum ada jawaban juga yang kedengaran, tak tahan ia berkata lagi.
"Aku telah selesai berkata, kenapa kau masih belum juga berbicara ...
"Aku hanya ingin mengucapkan dua patah kata saja!"
Ucap Bu ki kemudian.
"Due kata yang mana?"
"Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa"
Biasanya berarti tidak sampai berjumpa lagi.
Setelah mengucapkan sampai jumpa, sebetulnya ia benar benar akan "Sampai jumpa", siapa tahu ia benar benar telah berjumpa lagi.
Walaupun nona itu seakan akan tidak begitu mengerti tentang segala persoalan, tapi ilmu meringankan tubuhnya benar benar tak terkirakan hebatnya.
Baru saja Bu Ki memutar badannya, tahu tahu dia sudah menanti di hadapannya, sambil menarik muka tegurnya.
"Hei, sebearnya apa maksudmu?"
Sekalipun dia sedang menarik muka, tapi sepasang lesung pipitnya justru tampak makin jelas. Bu Ki sama sekali tidak menikmati sepasang lesung pipitnya itu, bahkan sambil menarik muka pula katanya.
"Aku sama sekali tidak mempunyai maksud apa apa, aku hanya ingin cepat cepat sampai jumpa!"
"Sekarang bukankah kita telah berjumpa lagi?"
Setelah tertawa dia menambahkan.
"Bil kau ingin cepat cepat sampai jumpa lagi, maka akupun segera pula berjumpa lagi denganmu, bukankah hal ini bagus sekali?"
Bu Ki benar benar dibikin bodoh.
Ia benar benar tidak menyangka kalau dalam dunia benar benar terdapat manusia semacam ini.
Terdengar Lian It lian berkata lebih jauh "Kalau toh kita sudah berjumpa lagi sekarang, maka kau harus mengakui pula akan hal ini, nah sekarang kau mesti beritahu kepadaku, siapa namau?
Darimana kau mempelajari ilmu pedangmu itu?"
Ternyata gadis itu bukannya benar benar tak punya aturan, diapun bukan sungguh sungguh bermuka tebal, dia hanya ingin mengetahui nama Bu Ki serta asal usul ilmu pedangnya.
Tentu saja Bu Ki sendiripun bukan sungguh sungguh menjadi bodoh.
Dia seperti sedang mempertimbangkan hal itu, lama sekali dia termenung, kemudian baru katanya.
"kupun ingin sekali memberitahukan kepadamu, sayangnya akupun merasa amat takut"
"Apa yang kau takuti?"
"Takut bini, aku takut sekali dengan bini aku"
Lian It lian segera tertawa.
"Bukan cuma kau seorang yang takut bini, katakan saja dengan berterus terang, aku takkanmentertawakan dirimu."
"Bila kau tidak mentertawakan aku, aku lebih-lebih tak boleh mengatakannya kepadamu."
"Kenapa?"
"Sebab aku selalu menuruti perkataan dari biniku, apa yang dia suruh aku lakukan, akupun segera melakukannya tanpa membantah, Jika dia melarang aku melakukan sesuatu, aku pasti tak akan melakukan apa yang telah dilarang kepadaku itu."
Bukan saja dia mengucapkan banyak sekali perkataan, bahkan kata-kata itu semrawut dan tidak jelas kedengarannya.
"Apakah dia melarang kau berbicara?"
Tanya Lian It lian kemudian dengan wajah tercengang.
"Ia mengizinkan aku berbicara, tapi tidak mengizinkan aku berbicara dengan laki tidak laki perempuan tidak perempuan dan manusia yang perempuan menyaru sebagai lelaki."
Lian It lian tidak tertawa lagi? Sepasang pipinya kontan berubah menjadi merah padam, sambil melompat bangun ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Kalau kau tak mau bicara, memangnya aku tak dapat melihatnya sendiri....? "
Bentaknya.
Lompatannya itu mencapai ketinggaan tujuh delapan depa lebih, belum lagi habis berbicara tahu-tahu ia sudah mengayunkan cambuknya ke bawah dari tengah udara.
Meskipun senyumannya manis, tapi caranya melancarkar seranganpun amat ganas, jika hal ini terjadi pada setahun berselang.
sekalipun Bu-ki dapat menghindari serangan cambuk yang pertama, belum tentu ia dapat menghindari serangannya yang kedua.
Serangan gadis itu sejurus demi sejurus menyambar ke bawah tiada hentinya, mana cepat ganasnya bukan kepalang.
Bila setahun berselang dia diserang semacam begini, kemungkinan besar Bu-ki sudah terhajar sebanyak tujuh-delapan puluh kali banyaknya.
Untung saja Bu-ki yang sekarang bukan lagi Bu-ki pada setahun berselang ....Sekalipan serangan cambuknya amat cepat, cara Bu-ki untuk menghindarpun jauh lebih cepat.
Sekalipun serangan cambuknya bagaikan ular berbisa yang mencari korban, jangankan melukainya, untuk menjawil ujung bajunyapun tak mampu.
Dia hanya menghindar terus, sama sekali tidak membalas.
Bila gadis itu ingin mengetahui asal usul dari ilmu pedangnya, maka diapun ingin pula mengetahui asal usul dari ilmu silatnya.
Sayang sekali ia tak berhasil untuk mengetahui hal tersebut.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki nona itu benar-benar terlampau kacau, macam gado-gado.
Mungkin saja hal ini dikarenakan ilmu silat yang dipelajarinya terlampau beraneka macam, maka dari itu tenaga dalamnya sukar ditingkatkan mutunya.
Secara lamat lamat Bu-ki dapat mendengar dengusan napasnya yang makin lama makin ter-sengal, wajahnya pun makin lama semakin memucat, tiba-tiba saja ia berdiri tak berkutik.
Tentu saja Bu-ki tiada maksud untuk menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari kemenangan.
Dia hanya ingin cepat-cepat pergi dari situ.
Ia belum juga pergi, karena secara tiba-tiba nona itu membuang cambuknya lalu mendekap ulu hatinya dengan sepasang tangan, dengusan napasnya makin lama makin menderu, paras mukanya makin lama pun semakin menakutkan, seakan-akan telah menderita luka dalam yang cukup parah.
Padahal Bu ki tahu, jangankan melukainya, menjawil seujung rambutnyapun tidak.
Lian It lian menatapnya tajam-tajam, seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat mengucapkan sesuatu, mendadak ia roboh terkapar ke tanah dan tak berkutik lagi.
Bu ki menjadi tertegun.
Dia bukannya seorang manusia yang terlalu menaruh curiga kepada orang lain, tapi mau tak mau dia musti bersikap lebih waspada dan berhati hati lagi .....
Apakah si nona itu sedang bermain sandiwara?
Ia tak ingin tertipu, tapi iapun merasa tak baik untuk berlalu darisanadengan begitu saja...
Kalau ia bukan lagi bersandiwara?
Kenapa pula tiba-tiba bisa berubah jadi begitu?
Jangankan memukul, menyentuhpun tidak, tapi kenapa ia roboh mendadak?
Sekalipun penyakit lamanya tiba tiba kambuh, toh mustahil kalau langsung berubah seserius itu.
Apalagi barusan ia tampak begitu gagah, sehat dan segar seperti sekuntum bunga mawar yang merah, segar tapi penuh berduri.
Bu-ki bersiap-siap akan pergi dari situ.
Ia tak ingin kena ditempelang olehnya sewaktu menundukkan kepala untuk memeriksa keadaannya nanti.
Sudah amat jauh pemuda itu pergi, tapi si nona tersebut masih berbaring tak berkutik dl tempat semula.
Bisa waspada dan berhati hati, meski merupakan tindakan yang bagus, tapi melihat orang kesusahan tanpa ditolong bukanlah watak yang dimilikinya......walaupun bakal tertipu, baik buruk dia harus menerimanya juga untuk kali ini saja.
Ia segera berjalan kembali, jauh lebih cepat dari pada sewaktu berlalu darisanatadi.
Ia membungkukkan badannya lebih dulu untuk memeriksa dengusan napasnya.
Napas itu lirih dan lemah.
Lalu ia meraba jidatnya, jidat itu dingin seperti es.
Dengan cepat ia menarik tangannya.
Tangan tersebut lebih dingin lagi, bahkan jari-jari tangannya telah membeku denyutan nadinya begitu lemah dan lirih hampir saja tak terdengar lagi.
Bu-ki mulai gelisah, ia tak tahu apakah jantungnya masih berdetak atau tidak?
Teringat sampai di situ, ia segera memeriksanya dengan seksama, dalam keadaan begini ia tak mau berpikir terlalu jauh, sebab dalam hatinya tak pernah terlintas niat jahat atau niat cabul lainnya.
Dengan sangat berhati-hati, telapak tangannya ditempelkan di atas dadanya dan kemudian dengan cepat ia berhasil membuktikan dua persoalan.
Jantungnya masih berdetak.
Dia adalah seorang perempuan, perempuan asli yang masih hidup segar.
Tapi si gadis yang lebih segar dari sekuntum bunga mawar tadi, kini telah berubah menjadi seuntai rumput kering yang layu dan nyaris tak bernilai lagi.
Lantas apa yang harus dia lakukan?
Tentu saja ia harus menghantarnya pulang, sayang ia sama sekali tak tahu di manakah tempat tinggalnya?
Iapun tak dapat membawa pulang ke tempat di mana ia menginap sekarang.
Dua hari terakhir ini ia tinggal di rumah penginapan, tapi membopong pulang seorang nona gede yang setengah hidup setengah mati ke dalam rumah penginapan, rasanya bukan suatu perbuatan yang baik.
Kalau ia membuangnya di situ dan tidak mengurusinya lagi, tentu saja hal ini lebih-lebih merupakan suatu perbuatan yang tak baik.
Bu-ki menghela napas panjang, dibopongnya nona itu dari tanah, ia bersiap-siap mencari seorang tabib untuk memeriksakan dulu penyakitnya..Waktu itulah tiba-tiba muncul sebuah kereta kosong yang sedang lewat.
Menjumpai kereta kosong tersebut, keadaan Bu-ki ibaratnya seorang yang hampir mati tenggelam tiba-tiba bertemu dengan sebuah perahu.
Buru-buru ia lari ke depan dan menghadang kereta tersebut.
"Tahukah kau ditempat mana aku bisa temukan seorang tabib di sekitar sini?"
Kakek tua si kusir kereta itu segera tertawa.
"Kau dapat mencari aku, sesungguhnya telah mencari orang yang paling tepat!"
Sekalipun si kusir kelihatannya sudah tua, loyo dan tak bertenaga lagi, namun ia dapat melarikan kereta tersebut secepat terbang.
Si nona gede sepetti mawar merah itu masih juga macam seuntai daun kering, begitu loyo, sayu dan dingin hingga sedikitpun tidak membawa tanda kehidupan lagi.
Tiba-tiba Bu-ki teringat, semestinya ia harus membawa nona itu untuk menjumpai Ciau In.
Perkumpulan Tay hong tong membuka kantor cabanya di sini, Ciau In adalah Tongcu dari kantor cabang itu, seperti pula namanya, dia adalah seorang mausia pilihan yang mantap dan tenang, paling cocok kalau ditugaskan mengurusi pelbagai persoalan penting.
Tapi kemudian iapun berpikir kembali, andaikata Ciau In sampai salah sangka akan hubungannya dengan nona tersebut, sudah pasti urusan akan bertambah runyam.
Seseorang bila telah bertemu dengan persoalan semacam ini, rasanya ia tak bisa berbuat lain kecuali menerima kesialan tersebut.
Baru saja ia menghela napa di hati, krereta itu telah berhenti, berhenti tepat di pinggir sebuah sungai yang sepi, bukan saja tak nampak si Tabib yang akan memeriksa penyakit si nona, malah setengah potong bayangan manusiapun tak nampak.
Jangan jangan kakek loyo kusir kuda itu adalah seorang anggota Liok lim yang biasa bekerja sebagai "totokan" (penodong dengan senjata)?
Tampak kakek loyo itu mengayunkan cambuk kudanya ke udara hingga berbunyi "Taaarr, taarrr....!", kemudian serunya dengan lantang.
"Telah kubawa ke mari dua ekor kambing gemuk, satu jantan satu betina, satu mampus satu hidup!"
"Kiriman kuterima..."
Dari balik alang alang sungai segera terdengar seseorang menyahut.
***** Bunga alang alang belum memutih, dari balik ilalang yang lebat tapi gundul itu, tiba tiba meluncur ke luar sebuah sampan kecil.
Seorang nelayan yang memakai topi lebar terbuat dari anyaman bambu dengan baju jas hujan, menutulkan sebuah galah panjang ke dasar sungai, meluncurlah sampan itu ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Topi lebarnya dikenakan sangat rendah hingga hampir menutupi sebagian besar wajahnya, Bu Ki tak dapat melihat raut wajah orang itu.
Bu Ki pun tidak kenal dengan nelayan tersebut.
Ternyata ia tidak menanyakan soal ini kepada si kakek kusir kereta, padahal seorang tabib yang dicari, kenapa ia membawa mereka menjumpai seorang nelayan.
Iapun tidak bertanya siapakah nelayan itu.
Sang nelayan hanya mengucapkan sepatah kata.
"Naiklah ke perahu!"
Bu-kipun membopong nona itu dan melompat naik ke atas sampan kecil tersebut.
Seorang yang tadi masih bertindak hati-hati dan penuh kewaspadaan, kenapa sekarang secara tiba-tiba bertindak begitu gegabah?
Galah panjang di tangan nelayan itu sedikit menutul di dasar sungai, sampan kecilpun meluncur ke tengah sungai.
Kakek kusir kereta menjalankan pula keretanya meninggalkan tempat itu, cuma ia sempat berteriak kembali.
"Kambing gemuk telah diantar datang, sampai kapan arak wangi bisa diambil?"
"Empat guci arak wangi, besok pasti sudah dikirim, segucipun tidak berkurang"
Jawab sang nelayan dengan suara lantang.
Kereta itu berlalu dengan cepat meninggalkan tempat itu, dalam sekejap mata hanya debu yang beterbangan di udara.
Sampan kecil itupun telah berada di tengah sungai.
Baru saja Bu-ki membaringkan si nona dalam ruang perahu, nelayan itu telah meletakkan galah panjangnya dan berjalan mendekat.
Sampan kecil mulai berputar-pu.tar di tengah sungai.
Nelayan itu menatap wajah Bu-ki, kemudian sambil tertawa dingin tiba-tiba tanyanya.
"Kau dapat berenang?"
"Bisa sedikit!"
Jawab Bu-ki.
"Apa artinya bisa sedikit?"
"Bisa sedikit artinya aku tak akan tenggelam bila tercebur ke dalam air, tapi bila ada orang menarik kakiku, maka tak mau tenggelampun terpaksa aku musti tenggelam juga."
"Sungguh tak kusangka kau begitu jujur dan berterus terang!"
"Aku memang jujur!"
"Tapi kadang kalapun orang jujur tak boleh berbicara jujur!"
"Kenapa?"
"Sebab bila terlampau jujur, maka ia bakal kebobolan uangnya!"
"Aah, baik-baik begini masa uangku bakal kebobolan? Yang benar saja!"
Nelayan itu tertawa dingin tiada hentinya.
"Kau tak usah berlagak goblok."
Katanya.
"aku ingin bertanya kepadamu, kau ingin harta atau nyawa?"
"Aku inginkan kedua duanya!"
"Kau tidak kuatir kuceburkan dulu dirimu ke dalam air, lantas menarik kakimu hingga tenggelam?"
"Aku kuatir!"
"Kalau begitu lebih baik serahkan saja semua uangmu tanpa melawan, aku tahu banyak juga hasil yang berhasil kau raih dari tempat Lau Pat-ya hari ini."
Bu-ki menghela napas panjang, kemudian tertawa getir.
"Aaaai, rupanya sudah semenjak tadi kau mengincar diriku!"
Pekiknya.
"Ah, tak usah banyak omong!"
Bentak nelayan itu keras.
"mau kau serahkan tidak?"
"Tidak!"
"Kau pingin mampus?"
"Tidak!"
"Lantas apa yang kau inginkan?"
Tanya sang nelayan tak tahan, rupanya ia merasa agak keheranan.
"Aku ingin keempat guci arak wangi itu kau hidangkan kepadaku, dan kita menikmatinya bersama,"
Ujar Bu-ki pelan. Nelayan itu jadi tertegun. Belum lagi penodong mendapatkan hasil todongannya, ia malah kena ditodong duluan, ini baru lucu namanya! "Hei, aku lihat kau punya penyakit mungkin?"
Seru nelayan itu kemudian tak tahan.
"Tidak! Aku sama sekali tidak mengidap penyakit apa-apa!"
"Dengan dasar apa kau anggap aku bukan saja tak akan menodong uangmu bahkan akan mengundangmu minum arak?"
"Dengan dasar apa pula kau anggap diriku ini seorang telur busuk yang goblok?"
Bu-ki balik bertanya sambil tertawa lebar.
Baca Juga: Pedang Wucisan 6
Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 6