Eps 5 Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.
"Siapa yang menuduhmu sebagai telur busuk yang goblok?"
"Kalau aku bukan seorang telur busuk yang goblok, memangnya aku suka menaiki sampanmu secara begitu ceroboh dan gegabah?"
Nelayan itu jadi tertegun dibuatnya.
"Jadi kau sudah kenali diriku semenjak tadi?"
Ia bertanya.
"Tentu saja!"
"Lantas siapakah aku ini?"
"Kau adalah si setan judi paling sial yang tiada tandingamnya di kolong langit, karena jumlah kekalahan yang pernah kau alamipun tak pernah bisa disusul orang lain!"
Nelayan itu jadi bodoh dibuatnya. Bu ki tertawa terbahak-bahak, tapi pada saat ia sedang tertawa paling gembira itulah , tibatiba....
"Plok!"
Bunyi amat nyaring bergema memecahkan kesunyian. Suara itu berasal dari pipinya, ternyata sebuah tamparan paling halus, tapi paling keras telah mampi di situ"
Bu-ki ikut dibikin bodoh jadinya.
Ternyata menggunakan kesempatan dikala mereka sedang tidak menaruh perhatian, nona Lian itu sudah melompat bangun, waktu itu ia sedang melotot ke arahnya dengan sepasang matanya yang besar seperti gundu, lalu sambil tertawa dingin ujarnya.
"Dengan dasar apa kau berani meraba tubuhku lalu membopong aku? Kalau bukan aku yang menempelengmu siapa pula yang akan menempelengmu?"
Bu-ki tidak berdebat.
Dia sendiri seharusnya sudah tahu, ia meraba dadanya karena dia hendak menolongnya.
Ya, apa lagi yang dapat dibicarakan bila menghadapi seorang perempuan tak tahu aturan itu?
Belum lagi sang nelayan memahami duduk perkaranya, tiba-tiba berkumandang kembali sebuah suara nyaring ...."Plok!"
Kali ini suara tersebut bukan berasal dari wajah Bu-ki, tapi muncul dari atas wajah si nona itu.
Diapun kena ditempeleng satu kali.
Nona itu terbodoh dibuatnya, dengan kaget ia memandang ke arah Bu-ki, lalu serunya tergagap.
"Kau , ..kau berani memukul orang?"
"Kalau kau berani memukul, kenapa aku tak berani? "Aku boleh memukulmu, kau tak boleh memukulku."
"Kenapa?"
Karena ... karena ..."
Saking gelisahnya nona Lian mendepak depakkan kakinya ke lantai perahu.
"kaukansudah tahu bahwa aku adalah seorang perempuan."
"Perempuan itu manusia atau bukan sih"
"Tentu saja manusia!"
"Nah, kalau memang perempuan boleh memukul lelaki, kaum lelaki kan boleh juga memukul perempuan?"
Lian It-lian gelisah bercampur mendongkol tapi apa mau dikata ia tak sanggup menghadapi ketajaman mulut orang.
Bila seorang perempuan tak mampu menandingi orang lain, seringkali mereka akan pergunakan cara yang sama ...
nekad !
Tiba-tiba ia melompat lompat seperti orang gila, kemudian teriaknya dengan gemas.
"Kau berani meraba dadaku, membopong aku sekarang menempeleng aku pula, aku tak ingin hidup, aku ingin mati saja dihadapanmu!"
Tiba-tiba ia lari kedepan dan.."Pluung!"
Menceburkan diri ke dalam sungai. ***** BUNGA TERATAI BERDURI ARUS sungai yang amat deras! Begitu melompat ke air, tubuhnya tak pernah muncul kembali di atas permukaan. Tak tahan Bu-ki bertanya.
"Dalamkah air di sini?"
"Tidak terhitung terlampau dalam,"
Sahut sang nelayan.
"cuma, kalau untuk menghanyutkan beberapa orang nona seperti dia sih masih belum menjadi persoalan."
Bu-ki tertawa dingin.
"Toh bukan aku yang mendorongnya mencebur ke air, mati hidupnya apa pula sangkut pautnya denganku?"
"Oh, tentu saja tak ada sangkut pautnya, sedikitpun tak ada sangkut pautnya."
"Apalagi perempuan tak tahu aturan macam dia memang lebih baik mampus saja daripada hidup."
"Bagus, bagus sekali, memang bagus sekali!"
Perkataannya itu belum lagi selesai diucapkan, tiba-tiba ...."Plung!"
Bu-kipun menceburkan diri ke sungai.
Air itu bersih sekali, namun dinginnyapun bukan kepalang..
Bisa berenang dalam sungai yang berarus deras dalam udara semacam ini memang terhitung pula satu kejadian yang menyenangkan.
Sayang Bu-ki sedikitpun tidak merasa gembira.
Baru saja tubuhnya tercebur ke air, ia lantas merasa ada orang yang sedang menarik kakinya, dalam waktu sekejap ia sudah meneguk air sungai beberapa tegukan.
Walaupun air sungai itu bersih lagi dingin, namun meneguk air deagan cara semacam itu memang kurang begitu nyaman.
Apalagi ketika air diminum lewat mulut, kemudian harus disembur ke luar lewat lubang hidung, oh!
Betapa tersiksanya perasaan semacam itu.
Bahkan ia sendiripun tak tahu berapa teguk sudah air sungai yang ia teguk, iapun tak tahu berapa banyak yang masuk ke perut dan berapa banyak yang tersembur ke luar lagi lewat hidung.
Sekarang dia baru tahu, bagaimanapun tenangnya seseorang, bila sudah tercebur ke sungai dan meneguk beberapa teguk air sungai, maka ia lantas akan berubah jadi pusing tujuh keliling, sedemikian pusingnya sehingga tak sanggup lagi membedakan mana timur mana barat, utara atau selatan...
Dengan susah payah tangannya berhasil juga menyambar sebuah benda, agaknya sebuah galah bambu yang panjang, akhirnya muncul juga kepalanya dari permukaan air.
Si nona Lian telah berada di pantai, ia sedang memandangnya seakan-akan lagi menertawakan dan mengejeknya.
"Di atas tanah aku tak sanggup mengalahkanmu, terpaksa aku musti memberi sedikit pelajaran dalam air, akan kulihat dikemudian hari kau berani memukuli perempuan lagi atau tidak?"
Menunggu ia tersadar sama sekali, nona itu sudah lenyap, sebaliknya si nelayan itu sedang memandang ke arahnya sambil tertawa.
"Ternyata kaupun seorang setan yang lagi sial, kalau aku adalah si setan judi yang sial, maka kau adalah si setan perempuan yang sial, tampaknya kau jauh lebih siap dari pada aku."
Si Setan bertaruh yang sial ini sudah barang tentu adalah Samwan Kong.
***** Bu-ki mengaku bahwa dirinya sedang sial.
Tapi ia sama sekali tak marah.
Memang begitulah romantikanya orang hidup, kadangkala apes, kadangkala mujur.
Dikala lagi mujur, ia tak pernah bersikap terlalu gembira hingga lupa daratan, dikala sial diapun tak pernah terlalu marah dan sedih.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh Samwan Kong sedang memandang kearahnya, lalu berkata.
Biasanya kesialan seseorang seringkali datang karena dicari sendiri ...
.!"
"Kalau sialku ini bukan kucari sendiri!"
"Dia toh seorang nona muda, masakah tanpa sebab tanpa musabab ia datang mencari mu?"
Seru Samwan Kong tertawa. Tapi memang begitulah kenyataannya, nona itu bersikeras mencarinya tanpa sebab musabab. Tapi Bu-ki sudah tak ingin membicarakan lagi persoalan itu, katanya.
"Kenapa kau tidak bertanya kepadaku, kenapt aku dapat mengenali diriku ?"
"Ya, aku memang hendak menanyakan persoalan ini kepadamu!"
Topi lebar yang dipakai rendah-rendah hingga menutupi sebagian besar wajahnya itu segera dilepaskan, sekarang Bu-ki baru bisa melihat bahwa raut wajahnya sama sekali telah berubah, kini wajahnya berubah menjadi begitu suram menggidikkan hati dengan sepasang mata mati yang mendirikan bulu roma orang.
"Raut wajahmu itu tampaknyapun tidak terlalu hebat, lebih baik kenakan saja topi lebarmu itu!"
Ujar Bu-ki..
"Tapi raut wajahku ini jauh lebih berharga dari pada raut wajahku yang dahulu."
"Oya?"
"Apakah tidak kau lihat bahwa aku sedang mengenakan selembar kulit manusia?"
Setelah tertawa tergelak, ia berkata lebih jauh.
"Aku rasa kulit wajah ini mungkin sekali adalah kulit wajah yang paling mahal di dunia saat ini, konon buatan dari Jit-kiau-tongcu (bocah berkepandaian sakti) pribadi, coba lihatlah ! Bagaimana pendapatmu?"
"Bagus sekali!"
Topeng kulit manusia itu memang amat sempurna pembuatannya, seandainya ia tidak me-ngatakannya sendiri, sekalipun berada di bawah cahaya matahari, orang lainpun sulit untuk me-lihatnya dengan jelas.
"Tapi sebelum naik ke atas sampan, kau telah mengenali diriku,"
Seru Samwan Kong.
"Aku tak usah mesti melihat dulu wajahmu!"
Bu-ki menerangkan.
"Kau dapat mengenali suaraku?"
"Tepat sekali!"
"Sudah hampir setahun lamanya kita tak pernah bersua muka, tadipun aku cuma mengucapkan sepatah kata, masakah kau dapat menangkap suara siapakah itu?"
"Sekalipun sepuluh tahun tak pernah bersua, aku tetap dapat mengenali suaramu!"
Samwan Kong segera menghela napas panjang "Aaai ....tampaknya bukan cuma kepandaianmu saja yang hebat, lagi pula permainan setanmu juga tak sedikit jumlahnya".
"Apakah raut wajahkupun banyak berubah?"
Tanya Bu-ki kemudian!.
"Yaa, banyak sekali perubahannya!"
"Apakah kau yang menyuruh kereta kuda itu pergi menjemputku?"
"Betul!"
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku berada disana? Apakah masih ada orang yang dapat me-ngenali aku sebagai Tio Bu-ki?"
"Kalau di tempat lain aku tak tahu, tapi di sekitar tempat ini tampaknya memang masih ada seorahg".
"Siapakah dia?"
"Aku!"
Jawab Samwan Kong cepat. Sesudah tertawa lebar, ujarnya lebih jauh.
"Meskipun wajahmu telah berubah, codet di atas wajahmu masih belum berubah, codet tersebut adalah tanda khusus, yang kutinggalkan sendiri di atas wajahmu, mana mungkin aku tidak kenal?" . Wajah Bu-ki pernah tersambar robek oleh pasir beracun yang amat jahat, waktu itu memang dialah yang turun tangan sendiri memotong daging beracun yang ada di atas pipinya itu, sehingga sampai sekarang tertinggallah sebuah codet besar seakan-akan sebuah senyuman. Tentu saja selama hidup Bu-ki tak akan melupakan peristiwa tersebut ........ Sambil tertawa Samwan Kong kembali berkata.
"Kalau kau masih ingat bahwa kepandaianku kalah dalam bertaruh nomor satu di kolong langit, maka seharusnya kaupun tak akan lupa kalau kepandaianku dalam mencari orangpun nomor satu di kolong langit, bahkan Siau Tang lo pun kutemukan, kenapa kau tak dapat kutemukan?"
"Apakah tahun ini kau kembali pergi mencarinya?"
"Tahun ini tidak!"
"Kenapa?"
"Sebab aku tak ingin membawa kesulitanku kepadanyasana, sudah terlampau banyak kesulitan yang dia hadapi."
"Oleh karena itu kaupun tidak pergi ke tempat tinggalnya Bwe hujin?"
"Aku lebih-lebih tak boleh mendatangkan segala kesulitan baginya."
"Sesungguhnya kesulitan apakah yang kau maksudkan?"
Samwan Kong tidak langsung menjuwab, dari sakunya ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang terbuat d.ri kertas minyak.
Ia mengelupas kertas minyak bagian luar, di dalamnya masih terdapat dua lapis bungkusan dari kain kasar, setelah kedua lapisan tersebut dilepas maka tampaklah sebatang senjata rahasia yang memancarkan sinar gemerlapan.
Itulah senjata rahasia duri beracun dari keluarga Tong yang telah menggetarkan seluruh kolong langit.
Keluarga Tong dari wilayah Suchuan yang tersohor karena senjata rahasia beracunnya!
***** Sang surya telah tenggelam dilangit sebelah barat.
Di bawah timpaan sinar matahari menjelang senja, Tok-ci-li atau Duri beracun tersebut tampak terbuat dari tigabelas lembar daun baja yang kecil dan lembut sekali, bukan cuma cara buatannya saja yang indah dan bagus lagi pula setiap lembar daun baja tersebut memancarkan cahaya yang berbeda, hingga tampak seperti sekuntum bunga iblis yang indah.
Meski indah menarik, tapi keindahan tersebut membawa suatu rasa ngeri dan seram bagi siapa-pun yang melihatnya.
Entah sudah berapa kali Samwan Kong memperhatikan senjata rahasia tersebut, tapi sekarang kembali ia terpesona dibuatnya oleh senjata rahasia penyebar maut tersebut.
Seakan-akan senjata rahasia tersebut telah membawa suatu daya kekuatan iblis yang bisa membetot sukma setiap orang.
Ia menjulurkan tangannya seolah-olah hendak merabanya, tapi sebelum ujung jarinya menyentuh lembaran daun baja yang kecil tersebut, tiba-tiba ia menariknya kembali seakanakan terkena aliran listrik yang bertegangan tinggi.
Akhirnya ia menghela napas panjang, sambil tertawa getir katanya .
"Inilah kesulitanku!"
"Apakah pihak keluarga Tong mengutus orang untuk mencari gara-gara denganmu?"
"Bukan mereka yang hendak datang mencariku, adalah aku yang telah pergi mencari mereka"
"Kau pernah berkunjung ke keluarga Tong?"
"Aku telah berkunjung ke situ dan merekapun telah datang pula kemari .....!"
Samwan Kong membenarkan. Paras muka Bu-ki agak berubah.
"Keluarga Tong telah mengutus orangnya ke mari?"
Ia menegaskan.
"Sepanjang jalan paling tidak ada tiga orang yang selalu membuntutiku, dari wilayah Suchuan mereka menguntit terus sampai di sini."
Matahari senja masih belum tenggelam di balik bukit, Tok-ci-li yang berada di tangannya masih memantulkan sinar yang gemerlapan.
Tiga belas lembar daun baja memantulkan tigabelas macam sinar yang gemerlapan, seakan--akan setiap saat warna cahaya tersebut berubah selalu dengan teraturnya.
"Benda ini merupakan salah satu senjata rahasia paling ampuh dari senjata rahasia yang dimiliki keluarga Tong, hanya jago-jago kelas tinggi dari keluarga Tong yang pantas mempergunakan senjata rahasia tersebut."
Samwan Kong menerangkan. Sesudah menghela napas, ia melanjutkan.
"Sewaktu berada dalam rumah penginapan kecil di sebelah barat wilayah Suchuan, hampir saja benda itu merenggut selembar nyawaku".
"Kalau begitu salah satu di antara tiga orang yang menguntitmu itu, paling tidak ada seorang yang merupakan keturunan langsung dari keluarga Tong yang memiliki ilmu tinggi".
"Aaai ! Siapa tahu kalau ketiga-tiganya adalah jago lihay semua!"
Keluh Samwan Kong.
"Kau tidak menjumpai mereka?"
"Tiga orang telur busuk cilik itu bukan cuma memiliki sepasang kaki yang lebih cepat dari kelinci, hidung yang lebih tajam dari anjing pemburu, bahkan pandai pula sedikit ilmu merubah wajah, sepanjang perjalanan paling tidak ketiga orang itu telah berubah sebanyak empat puluh enam kali, malah suatu kali ia pernah merubah dirinya menjadi seorang perempuan yang sedang bunting tua!"
Sesudah tertawa terbahak-bahak, ia berkata lebih lanjut.
"Untung saja kebetulan sekali aku adalah seorang kakek moyangnya permainan macam begitu, meskipun mereka telah merubah diri dengan cara apapun, aku selalu berhasil menangkap ekor rase nya! Haaahh...haaahh....haaahhh...."
Padahal sepanjang jalan ia sendiripun telah merubah diri sebanyak delapan belas kali, bahkan suatu kali dia merubah dirinya menjadi seorang gadis dusun yang berkaki besar.
Akan tetapi bagaimanapun ia merubah diri, orang lain sama saja selalu berhasil menangkap ekor rasenya.
Hakekatnya ilmu merubah wajah memang bukan ilmu sihir atau ilmu sulap, bagaimanapun sempurnanya seseorang merubah diri, tak mungkin mereka bisa merubah dirinya menjadi seseorang yang lain.
"Aku rasa jumlah keturunan langsung dari keluarga Tong selamanya tidak begitu banyak, dari ketiga angkatan yang masih hidup sekarang, terhitung dari sang kakek sampai sang cucu, yang betul-betul telah mencapai dewasa hanya tiga puluh orang lebih, sedang kaum lelakinya paling tidak cuma dua puluh orang lebih."
Terhadap segala sesuatu yang menyangkut soal keluarga Tong, tidak sedikit yang dia fahami.
Terhadap setiap perguruan dan keluarga yang mungkin akan mendatangkan ancaman bagi per-guruanTayhong tong, ia selalu memahami dan mendalaminya secara bersungguhsungguh.
"Meskipun jumlah keturunan mereka tidak terlampau banyak, tapi dalam sepuluh orang, paling tidak tujuh orang diantaranya adalah jago-jago tangguh,"
Ucap Samwan Kong. Gemerlap sorot mata Bu-ki setelah mendengar ucapan tersebut, segera ucapnya.
"Menurut pendapatmu apakah diantara tiga orang yang datang kali ini terdapat pula Tong Oh dan Tong Giok diantaranya?"
Ketika mendengar nama `Tong Oh` disinggung, Samwan Kong seperti merasa terperanjat, segera serunya.
"Kaupun tahu bahwa dalam keluarga Tong terdapat dua orang manusia macam itu?"
"Aku pernah mendengar orang membicarakannya"
"Kali ini mereka tidak datang?" *Dari mana kau bisa tahu?"
"Bila mereka telah datang, masa aku bisa hidup sampai sekarang?"
Sekali lagi mencorong sinar tajam dari balik mata Bu-ki, tanyanya dengan cepat.
"Benarkah mereka sedemikian lihaynya?`` "Benar,"
Jawaban dari Samwan Kong ternyata amat singkat dan begitu terbuka. Bu-ki termenung beberapa saat lamanya, lewat lama sekali pelan-pelan ia baru berkata.
"Jika mereka betul-betul sedemikian lihaynya, maka dikala kau anggap mereka belum datang, kemungkinan besar mereka telah datang ke mari."
Kau bisa hidup sampai sekarang, mungkin dikarenakan tujuan mereka yang sesungguhnya sama sekali bukan kau.
Ucapan tersebut tidak diutarakan oleh Bu-ki, ia hanya menyimpannya dalam hati saja.
Tiba tiba sambil tertawa dingin kembali ucapnya.
"Perduli mereka cuma tiga orang yang datang, setelah sampai di sini, bagaimanapun juga aku tak akan membiarkan mereka pulang dengan tangan hampa..."
"Apakah yang kau inginkan ketika mereka pulang nanti?"
"Semoga saja mereka bisa pulang dengan menenteng batok kepala"
"Batok kepala siapa?"
"Batok kepala mereka sendiri!"
Dengan terkejut Samwan Kong memandang ke arahnya, tiba tiba ia bertepuk tangan keras keras dan tertawa tergelak.
"Bagus, bagus sekali, bocah muda! Kau memang punya semangat!"
"Dimanakah mereka bertiga sekarang?"
Tanya Bu Ki kemudian "Setelah bersusah payah, aku berhasil meloloskan diri dari pengawasan mereka semalam"
"Tapi aku yakin mereka pasti berada di sekitar tempat ini!"
Bu Ki menandaskan.
"Ya, kemungkinan tersebut memang selalu ada"
"Asal kau menampakkan diri, maka dengan cepat mereka akan berdatangan kemari"
Samwam Kong seakan akan merasa terperanjat sekali, dengan suara tertahan ia berseru.
"Apakah kau hendak menggunakan aku sebagai umpan untuk memancing ikan...?"
"Benar!"
Jawaban dari Bu Kipun cukup singkat dan jelas.
"Dahulu akupun mempunyai seorang teman yang gemar memancing ikan, suatu kali ia berhasil mendapatkan seekor ikan yang besar sekali"
Ditatapnya Bu Ki dengan mata melotot, lalu meneruskan.
"Tapi bagaimana kahirnya? Kau bisa tebak?"
"Yaa, apalagi? Akhirnya dia pasti malah kena ditelan oleh ikan besar tersebut!"
"Tepat sekali!"
Kata Samwan Kong.
"Ketiga ekor ikan yang hendak kita pancing itu bukan cuma besar, lagipula beracun, bahkan racunnya hebat sekali"
"Kau takut?"
"Yaa, tentu saja aku takut.!"
"Kau tak berani pergi?"
Samwam Kong kembali menghela napas panjang.
"Takutnya sih sebetulnya takut, tapi perginya juga harus tetap pergi!"
Bu-ki segera merasakan semangatnya berkobar kembali, katanya.
"Sekarang masih ada dua persoalan yang hendak kuajukan kepadamu!"
"Tanyalah!"
"Siapakah kakek loyo si kusir kereta itu?"
"Dia adalah seorang sahabatku!"
"Bisa dipercaya?"
Samwan Kong tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia hanya menyebutkan nama kakek tersebut.
"Dia she Ciau bernama Ciau In."
"Ciau In dari perkumpulan,Tayhong tong?"
"Benar!"
"Kau tidak beritahu kepadanya siapakah aku bukan?"
Tanya Bu ki lebih jauh dengan cemas.
"Aku cuma mengatakan kepadanya bahwa kau adalah sahabatku, tapi kau juga penagih hutangku."
"Oleh sebab itu kecuali kau, di tempat ini tiada orang lain yang tahu lagi bahwa aku adalah Tio Bu ki!"
"Yaa, aku rasa memang tak ada!"
Bu ki menghembuskan napas panjang, dengan sorot mata tajam ditatapnya Samwan Kong lekat-lekat.
Sekarang tinggal satu pertanyaan yang harus diajukan kepadanya, tapi persoalan yang terakhir ini biasanya justru merupakan yang terpenting.
Akhirnya ia bertanya juga.
"Kepergianmu ke keluarga Tong apakah demi menemukan jejak Sangkoan Jin? "Benarkah ia bersembunyi disana?" ***** Lorong itu panjang dan dalam sekali. Menurut hasil sensus dari pemerintahan setempat, dalam lorong yang panjang itu seluruhnya terdapat penghuni sebanyak seratus tiga puluh sembilan keluarga. Ke seratus tiga puluh sembilan keluarga itu hampir memiliki kegemaran yang sama,yakni setiap keluarga gemar makan lombok. Maka dari itu lorong itupun disebut orang sebagai Gang lombok. Adaorang bilang.
"Keluarga yang miskin gemar makan lombok, karena mereka tak mimpi membeli sayur lain, maka kebanyakan makan nasi dengan lombok (cabe), demikian pula dengan keluarga di lorong tersebut, mereka gemar makan lombok berhubung mereka semua amat miskin."
Adaorang bilang.
"Orang-orang dari wilayah In-lam, Suchuan dan Ou-lam gemar makan lombok, karena wilayah sekitar tempat itu berhawa amat lembab, keluarga yang menghuni di lorong tersebut gemar makan lombok berhubung mereka berasal dari wilayah-wilayah tersebut yang kemudian hijrah ke mari, Tapi sesungguhnya kenapa keluarga dalam lorong itu pada gemar lombok, tak seorangpun yang tahu. Tapi semua orang tahu kalau lorong itu bernama Gang lombok. Ketika senja telah lewat, si pincang oh dengan langkah yang terpincang-pincang berjalan masuk ke Gang lombok. Ting Kang dan To Jiang dengan langkah yang terpincang-pincang pula, mengikuti di belakangnya, bahkan mereka jauh lebih pincang dari pada rekannya yang benar-benar pincang. Karena kaki mereka semua telah terluka, terluka tepat di atas tempurung lututnya yang kini dibalut dengan kain. Mereka mengikuti Oh Po cu (si pincang 0h) ke mari bukan lantaran mereka ingin makan lombok, melainkan mereka ingin melampiaskan rasa dendam sakit hatinya, mereka beranggapan hanya Oh Po-cu yang bisa membalaskan dendam sakit hati mereka. Karena dengan mata kepala sendiri mereka telah menyaksikan kepandaian sebenarnya dari Oh Po-cu. Malam itu, ketika mereka suruh ia ke luar untuk "bercakap-cakap", meskipun Oh Po-cu tidak memberi pelajaran kepada mereka, tapi telah mendemonstrasikan suatu kepandaian yang sangat lihay di hadapan mereka. Mereka percaya, kepandaian silat yang di miliki Oh Po-cu sama sekali tidak berada dibawah si setan t.b.c. yang secara beruntun melemparkan angka enam tiga kali sebanyak empat belas kali itu. Oh Pocu lebih suka mengembalikan sepuluh laksa tahil peraknya dari pada turun tangan, jelas disebabkan oleh maksud lain. Maka mereka selalu mengikuti di belakangnya. Pada mulanya, Oh Po cu masih berlagak pilon, tapi sampai akhirnya ia menyanggupi juga.
"Baik, aku akan membalaskan dendam buat kalian,"
Demikian ia berjanji.
"bahkan akupun akan menghajar putus sepasang kaki anjing kecil itu, tapi aku punya syarat."
Syaratnya adalah.
"Peduli apapun yang kuminta kalian lakukan, kalian harus melaksanakannya dengan mulut membungkam."
Arti dari pada membungkam, tentu saja tak boleh banyak bertanya.
Syarat tersebut kedengarannya memang rada sedikit janggal dan tak masuk di akal, tapi mereka toh menyetujuinya juga.
Bagaimanapun mereka tak akan membiarkan seorang prajurit tanpa nama pergi dari situ dengan bebas merdeka, setelah menusuk kaki mereka masing-masing dengan dua tusukan.
Apapun yang harus dilakukan, berapapun yang harus dibayar, mereka tetap akan me-lakukannya.
Dendam sakit hati sedalam lautan ini musti dibalas berikut rentenya, walau bagaimanapun caranya.
Oh Po-cu segera memperlihatkan wajah yang puas, katanya kemudian.
"Sekarang, kalian harus mengundang aku untuk bersantap lebih dulu, aku ingin makan ikan leihi masak tausi serta ayam panggang masak lombok ...."
Setelah berhenti sebentar, ia bertanya kembali.
"Sukakah kalian makan hidangan-hidangan yang pedas dan berlombok ..... ?"
"Kami suka sekali!"
Buru buru Ting Kang berseru. Oh Po-cu tertawa lebar, kembali katanya.
"Kalau begitu bagus sekali, aku tahu di tempat manakah kita musti menikmati panggang ayam masak Cabe, tanggung saking pedasnya air mata akan bercucuran membasahi wajah dan peluh dingin membasahi sekujur badan."
Oleh sebab itulah, merekapun berkunjung ke Gang lombok.
WARUNGLOMBOK MENJELANG malam adalah saat orang bersancap malam, seluruh Gang lombok dipenuhi oleh bau harum lombok yang semerbak dalam kuali, tiap keluarga hampir semuanya sedang memasak lombok.
Dalam anggapan orang-orang itu, kalau makan tak ada lombok, ibaratnya seperti lagi berjalan tanpa bercelana, suatu hal yang serasa tak sedap di hati.
Bila kau tak pernah makan lombok, lebih baik jangan memasuki lorong tersebut, kalau tidak maka air matamu segera akan bercucuran karena kepedasan.
Diam-diam To Jiang sedang menyusut air matanya.
Ia tak habis mengerti mengapa Oh Po-cu membawa mereka untuk bersantap di tempat seperti ini?
Karena pada hakikatnya ia tak percaya kalau dalam lorong tersebut bisa di jumpai warung makan.
Pada hakekatnya ia tak dapat membayangkan bakal ada orang yang mendatangi tempat semacam itu untuk bersantap.
Tapi pada saat itulah ia telah menjumpai sebuah warung makan.
Itulah sebuah warung makan yang sangat kecil, di depan pintu tergantung sebuah lombok berenteng-renteng banyaknya yang berwarna merah darah, tentu saja rentengan lombok merah itu digunakan sebagai papan nama.
Oleh karena itu warung makan itu disebut orang sebagai Warung lombok.
Pemilik warung lombok adalah seorang laki-laki gemuk yang bertubuh pendek, ia she Cu dan mempunyai tabiat yang baik sekali.
Sekalipun ada orang memakinya sebagai "Ti Pat-kay" (siluman babi ) tepat di depan hidungnya, diapun tak akan marah.
Bila pada setahun berselang kau pernah berkunjung ke rumah makan Siau-oh khong itu, rumah makan paling besar dan paling megah dalamkota, maka kau pasti akan merasa keheranan.
Karena ciangkwe dari warung lombok ini tak lain adalah Toa tauke dari rumah makan Siu oh khong setahun berselang.
Menurut pengakuannya, ia jatuh pailit dengan amat cepatnya lantaran terjadinya peristiwa pembunuhan pada bulan empat tahun berselang.
Tiga orang kawan sedesanya yang khusus datang dari wilayah Suchuan untuk membantunya, tiba-tiba tewas secara mengerikan pada saat yang bersamaan dalam ruang utama di atas lotengnya.
Sejak peristiwa itu, semakin jarang tamu berkunjung ke situ, maka rumah makan Siu oh khong pun terpaksa harus tutup pintu.
Maka dari itu, terpaksa ia harus pindah ke mari dan membuka sebuah warung lombok yang kecil.
Ternyata usaha di warung lombok tidak termasuk jelek, dari tujuh-delapan buah meja yang tersedia, ada separuh diantaranya sudah di tempati para tamu.
Yang paling mengherankan Ting Kang adalah kehadiran Cia-Lak, itu toa tauke dari rumah perjudian yang selalu memperhatikan soal makanan dan minuman di tempat itu.
Belum lama mereka duduk di situ, Cia Lak telah datang, ia datang ditemani seorang pemuda yang kurus kering lagi kecil seperti seekor monyet.
Baik dia maupun Oh Po-cu, mereka sama-sama pernah berjumpa dengan Cia tauke, tapi Cia Lak berpura-pura tidak kenal dengan mereka.
Si pemuda kurus kering macam monyet itu pun memesan ikan leihi masak tausi serta ayam panggang masak lombok.
Jilid 13________ CIA-LAK sedang menundukkan kepalanya sambil bersantap, air mata telah bercucuran, peluh telah membasahi sekujur tubuhnya karena kepedasan.
Keadaan Ting Kong lebih payah lagi, karena kepedasan hampir saja ia tak mampu menahan diri.
Ia benar-benar merasa tak habis mengerti, mengapa orang-orang itu baru merasa puats setelah makan hidangan yang pedas sehingga kepedasan seperti itu, ia lebih lebih tidak mengerti kenapa Oh-Po cu mengajak mereka bersantap ditempat semacam ini.
Tapi ia tak berani bertanya, karena inilah syarat dari mereka dengan Oh-Po cu yang telah disetujui bersama.
Oh Po cu betul-betul tak takut pedas, bukan saja setiap sayur yang dipesan selalu diberi cabe yang berlipat kali banyaknya, bahkan diapun masih makan lombok mentah, minum arak dan sebutir keringatpun tidak membasahi wajahnya.
Tapi dengan cepat Ting Kang menemukan bahwa masih ada orang lain dalam warung itu yang jauh lebih tak takut pedas dari padanya.
Orang itu adalah seorang kakek, pinggangnya ke lewat panjang dengan punggung yang lurus dan tegap, ia memakai sebuah jubah panjang warna biru yang sudah mulai memutih karena tuanya, sebuah huncwe panjang terselip pada pinggangnya.
Seorang pemuda yang duduk semeja dengannya ternyata tidak makan cabe sedikitpun, dia hanya memesan semangkok mi kuah yang dimasak dengan telur ayam.
Mereka duduk dimeja tepat disamping meja Ting Kang tepat berhadapan muka dengan pemuda tersebut.
Kalau dilihat usianya maka paling banter baru berkisar dua puluh tahunan, wajahnya halus dan tampan, kulitnya yang putih kemerah-merahan mirip sekali dengan kulit badan seorang nona.
Bahkan tingkah lakunya jauh lebih malu-malu kucing daripada seorang nona.
Asal orang lain memandang dua kejap kearahnya, kontan saja pipinya berubah menjadi merah jengah, andaikata Ting Kong tidak memperhatikan lebih dulu kalau dadanya datar tanpa tonjolan, dan lagi tidak diikat dengan selembar kain, hampir saja dia akan menganggap orang itu sebagai seorang perempuan yang menyaru sebagai laki-laki.
Sekarang mereka telah selesai bersantap, kakek itupun mulai menghisap huncweenya.
Beruntun para tamupun membayar rekening dan berlalu, kini dalam warung tinggal tiga meja saja yang berisi tamu.
Kecuali mereka dua meja, Cia Lak beserta pemuda yang kurus seperti monyet pun masih belum angkat kaki dari situ.
Cu tauke yang ramah tentu saja tidak mengusir mereka, sebaliknya malah menutup pintu besarnya.
Sekarang sudah saatnya warung ditutup, tapi kenapa para tamunya belum juga meninggalkan tempat itu?
Ting Kong kembali merasa keheranan.
Tiba-tiba saja suasana dalam warung itu berubah menjadi hening, sepi dan tak kedengaran se-dikit suarapun, hanya kakek itu saja yang sedang pelan-pelan menghisap huncwenya.
Cia Lak masih juga kegerahan, peluh mencucur keluar tiada hentinya dan iapun menyeka keringat tiada habisnya.
Mendadak Ting Kang merasakan suatu suasana yang sangat aneh.
ia merasa warung lombok yang kecil dan bobrok itu secara tiba-tiba berubah menjadi begitu menyeramkan dan mengerikan, seakan-akan suatu bencana besar segera akan menjelang tiba.
Pada saat itulah pemuda kurus kering seperti monyet itu berteriak secara tiba-tiba.
"Cia tauke!"
Seperti merasa terperanjat Cia Lak segera melompat bangun, kemudian sambil tertawa paksa ia bertanya.
"Ada urusan apa?"
Si Bandar judi yang dihari-hari biasa selalu meletakkan sepasang matanya di atas kepala itu, ternyata bersikap luar biasa sungkannya terhadap pemuda ceking seperti monyet tersebut.
Dengan suara pelan, pemuda ceking bertampang monyet itu berkata lagi.
"Aku secara khusus mengundang kehadiranmu kemari, tak lain hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu"
"Tanyalah!"
Kata Cia Lak.
"Bulan empat tahun berselang, benarkah kau bersama Tio-Bu-ki bersama-sama pergi ke rumah makan Siu-oh khong?"
"Paras muka Cia Lak segera berubah hebat.."Tapi aku......"
"Aku hanya bertanya benar atau tidak"
Tukas pemuda ceking itu dengan suara ketus.
"soal lain kau tak perlu memberi penjelasan lagi!"
"Baik!"
"Hari itu, benarkah kau melakukan perjalanan bersama-sama Tio Bu ki ........?"
Tanya pemuda itu kemudian.
"Benar!"
"Benarkah dengan mata kepala sendiri kau menyaksikan ia membunhuh mati tiga orang itu?"
"Benar!"
"Setelah peristiwa tersebut, Apakah ia sendiri menderita luka atau tidak.?"
"Agaknya tidak!"
"Kau betul-betul yakin kalau ia tidak terluka?"
"Aku ....aku tidak begitu yakin"
"Kalian berdiri saja disana sambil menyaksikan ia pergi meninggalkan tempat itu, bukankah kalian tak berani turun tangan menghadapinya meskipun ia sudah terluka sekali pun..."
"Waktu itu kami ......."
"Aku hanya bertanya kepadamu, benar atau tidak?"
Bentak pemuda ceking itu sambil menarik wajah.
"Benar!"
Pemuda itu memandang kearahnya tiada emosi diatas wajahnya, kemudian pelan-pelan berkata.
"Sebenarnya adalah kalian yang ingin membunuh dia, tapi tidak menyaksikan ia pergi meninggalkan tempat itu untuk berkentutpun kalian tak berani"
Tiba-tiba ia menghela napas panjang, sambil ulapkan tangan katanya kembali.
"Pertanyaanku telah selesai kuajukan sekarang pergilah dari tempat ini ....!"
Agaknya Cia Lak tidak mengira kalau ia bakal lolos dari situ dengan demikian gampangnya, dengan rasa kejut bercampur girang ia lantas bangkit berdiri dan siap berlalu.
Sambil tertawa meringis, Cu ciangkwe memperhatikan wajahnya, tiba-tiba ia berkata.
"Apakah Cia tauke tidak melupakan sesuatu persoalan?"
"Persoalan apa?"
Tanya Cia Lak keheranan.
"Apakah kau tidak lupa untuk melunasi dahulu rekeningmu .....?"
"Oooh .....yaa, yaa, yaa"
Seru Cia Lak sambil tertawa paksa.
"segera akan kulunasi, segera akan kulunasi, berapa jumlah seluruhnya?"
"Rekening hari ini ditambah rekening tahun berselang, total jenderal semuanya adalah dua tahil perak ditambah selembar nyawa"
"Selembar nyawa?"
Bisik Cia Lak dengan wajah berubah.
"nyawa siapa?"
"Tentu saja nyawamu!"
Kemudian sambil pincingkan matanya dan tertawa lirih, ia julurkan tangannya ke depan sambil berkata.
"Harap dua tahil perak itu di bayar lebih dulu!"
Dengan paras muka hijau membesi Cia Lak segera mengeluarkan sekeping uang perak dan mem-bantingnya keras-keras ke wajah Cu ciangkwe, bentaknya keras-keras.
"Tak usah dikembalikan lagi sisanya! Ditengah bentakan keras tubuhnya menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, dia bermakud hendak menerjang keluar lewat selembar daun jendela disisinya. Tapi Cu ciangkwe yang gemuk pendek yang sebenarnya masih duduk dibelakang meja kasir itu, mendadak telah menghadang didepan jendela sambil memandang kearahnya sambil tertawa cekikikan, katanya.
"Uang kembalinya apakah kau berikan kepada ku sebagai tip?"
"Benar!"
"Uang kembalinya masih ada delapan tahil perak, terima kasih banyak, terima kasih banyak!"
Selangkah demi selangkah Cia Lak mundur terus kebelakang, tiba-tiba ia roboh terjengkang ke tanah tanpa sebab tanpa musabab langsung roboh terjengkang dengan begitu saja.
Begitu roboh ke tanah, tubuhnya masih melejit-lejit beberapa kali, kemudian tak berkutik lagi untuk selamanya.
Ketika memeriksa wajahnya, ternyata paras mukanya telah berubah menjadi hitam pekat seperti arang, lidahnya menjulur ke luar, sepasang biji matanya melotot keluar.
Seakan-akan lehernya dicekik oleh sutas tali yang tidak terlihat oleh mata.
Suasana dalam warung pulih kembali dalam keheningan.
Cu ciangkwe yang pendek lagi gemuk itu telah kembali ke belakang meja kasirnya sambil duduk dengan tenang.
Si kake pun masih duduk tenang ditempat semula sambil menghisap huncwenya penuh kenikmatan.
Ting Kang dan To Jiang tak berani berkutik lagi, saking takutnya kedua orang itu merasakan sepasang kakinya menjadi lemas semua.
Mereka selalu mementangkan matanya lebar-lebar, tapi tidak diketahui apa yang menyebabkan kematian Cia Lak.
Pelan-pelan pemuda ceking bertampang monyet itu bangkit berdiri, ia membawa sepasang sumpit dan menuju kehadapan Cia Lak, tiba-tiba sumpitnya bergerak kedepan dan menjepit ke atas tenggorokan Cia Lak.
Tahu-tahu ia telah menjepit keluar sebatang jarum.
Sebatang jarum yang lebih kecil dari pada jarum pentul, pada ujung jarum masih tersisa noda darah.
Diatas tenggorokan Cia Lak pun terbentik keluar setitik gelembung darah yang amat sedikit.
Sebatang jarum dengan Setitik darah dan selembar nyawa!
Suatu jarum beracun yang sungguh lihay, suatu gerakan serangan yang sungguh amat cepat.
Pemuda ceking bertampang moyet itu memperhatikan jarum beracun dalam jepitan sumpitan sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Setelah menghela napas panjang, ia pun bergumam.
"Sayang.....sayang... ."
Pelan-pelan ia berjalan kembali ketempat semula, dicucinya jarum tersebut dalam cawan araknya, lalu mengeluarkan selembar sapu tangan yang putih bersih untuk menyekanya sampai kering, setelah itu membungkusnya dengan kain tadi dan dimasukkan ke dalam sakunya.
la tidak berpaling lagi kearah Cia Lak, bahkan memandang sekejap kearahnya pun tidak.
Yang dia sayangkan adalah jarum tersebut, bukan selembar nyawa dari Cia Lak.
***** TELAPAK tangan Ting Kang dan To Jiang telah basah oleh peluh dingin, mereka benarbenar ingin sekali meninggalkan tempat itu secepatnya.
APA mau dikata Oh Po-cu justru tak bermaksud untuk meninggalkan tempat itu, bahkan sikap maupun gerak-geriknya masih begitu santai dan tenang.
Tiba-tiba kakek tua itu menyodorkan huncwe ditangannya kepada sipincang Oh.
Oh Po cu juga tidak berbicara, ia menerima huncwe tersebut dan menghisapnya sekali, lalu menyodorkan kembali huncwe tersebut kepada kakek tadi.
Kakek itu menyedot kembali huncwenya sekali sedotan, lalu untuk kedua kalinya diberikan kepada Oh Po-cu.
Begitulah kejadian tersebut berlangsung berulang-ulang, kau satu sedotan aku saju sedotan, mereka berdua sama-sama menyedot dengan mulut membungkam.
Percikan api dalam tabung huncwenya berkelip-kelip tiada hentinya, asap tembakau yang menyelimuti ruanganpun makin lama semakin menebal, kedua orang itu seakan-akan sedang menunggu pihak lawannya untuk buka suara lebih dulu..Akhirnya Oh Po cu berkata juga.
"Orang yang kutunggu-tunggu telah munculkan diri!"
"Bagus sekali!"
Kakek itu menyahut.
"Tahun ini secara beruntun ia telah melepaskan kembali empat belas kali angka emam tiga kali!"
"Sungguh tak disangka kemujurannya tahun ini masih seperti juga kemujurannya tahun berselang"
"Benar"
"Cuma sayang selama hidup ini tak akan memiliki kemujuran semacam itu lagi."
Ia menerima huncwe tersebut dan menyedotnya sekali, kemudian sambil disodorkan kembali ke tangan Oh Po-cu, ia melanjutkan.
Sebab pada saat ini sudah barang tentu dia adalah seorang mati, tentu saja orang mati tak akan memiliki kemujuran lagi"
"Dia belum mampus!"
Oh Po-cu menukas.
"Kau belum membunuhnya?"
"Belum!"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak memiliki keyakinan yang menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sama seperti tahun berselang"
"Kau tidak yakin?"
"Ya, wajahnya sama sekali telah berubah, bahkan Lau Pat sendiripun tidak lagi mengenalinya"
"Raut wajah seseorang memang sesungguhnya seringkali dapat berubah-ubah ."
"Ilmu silatnya juga ikut berubah!"
Oh po-cu menambahkan.
"Darimana kau bisa tahu kalau ilmu silatnya juga ikut berubah"
"Aku telah pergi memeriksa mayat dari Tong Hong sekalian, dilihat dari mulut luka ditubuh mereka yang mematikan itu dapat diketahui bahwa meski serangan orang itu cukup ganas, namun tenaganya masih kurang dengan tenaga yang kurang tentu saja tak akan terlalu cepat gerakannya?"
"Bagaimana pula dengan orang yang kau jumpai pada tahun ini?"
Oh Po-cu tidak menjawab, ia berpaling ke arah Ting Kang serta To Jiang, kemudian perintahnya.
"Berdirilah kalian, biar dia orang tua memeriksa mulut luka ditubuh kalian itu"
Mulut luka itu tidak terlalu dalam, maka dengan cepat mereka dapat bangkit berdiri dan berjalan.
Kakek itu memeriksa mulut mereka dengan seksama, paras mukanya masih belum menunjukkan perubahan apa-apa.
Api pada tabung huncwenya telah padam.
Pelan-pelan ia mengeluarkan batu api dan selembar kertas untuk menyusut tabung huncuwenya itu, kemudian pelan-pelan ia baru bertanya.
"Apakah ketika itu kalian hanya bertangan kosong belaka?"
"Tidak!"
Jawab Ting Kong.
"Aku membawa pedang Siang bun kiam, dan ia membawa golok Yan leng to ..."
To Jiang me-nambahkan.
"Kalian tidak melancarkan serangan?"
Ting Kong tertawa getir.
"Pada hakekatnya kami tak sempat untuk turun tangan!"
Sahutnya.
"Siapa yang terkena tusukan lebih dulu?"
Ting Kong memandang kearah To Jiang, ToJiang balik memandang kearah Ting Kong, lalu mereka berdua sama-sama gelengkan kepalanya.
"Kami tak dapat mengingatnya lagi, sahut kedua orang itu kemudian.
"Tak dapat mengingatnya kembali? Ataukah memang tak dapat membedakannya dengan jelas?"
Sekali lagi To Jiang memandang kearah TingKong dan Ting Kong balas memandang To Jiang, kedua orang itu terpaksa harus mengakui kebenaran dari perkataannya itu.
Sesungguhnya mereka memang bukan tak ingat lagi, tapi memang tak dapat mengetahuinya dengan jelas.
sambaran pedang itu terlampau capat, mereka merasa seakan-akan terkena tusukan pada saat yang bersamaan.
Bahkan kaki manakah dari kedua belah kaki mereka yang terkena lebih dulu pun tidak diketahui oleh mereka berdua.
Tiba-tiba kakek itu menghembuskan napas panjang, lalu pujinya berulang kali.
"Bagus, ilmu pedang yang bagus! Ilmu pedang yang bagus!. Kembali ia sodorkan huncwenya ke tangan Oh Po cu, kemudian bertanya.
"Apakah kau dapat melihat, ilmu pedang apakah yang ia pergunakan?"
Oh Po-cu gelengkan kepalanya berulangkali.
"Aku hanya dapat melihat bahwa ilmu pedang yang ia pergunakan itu bukan ilmu pedang Hhe-hong wu li-kiam-hoat dari Tio Kian, juga bukan ilmu pedang Sip-ci-hwe kiam dari Sugong Siau-hong"
"Oleh karena itu kau merasa yakin bahwa dia bukan Tio Bu ki?"
Kakek itu menambahkan. Oh Po cu termenung agak lama, kemudian baru jawabnya.
"Aku tak berani memastikan!"
Kakek itu tidak berbicara lagi.
Huncwe itupun bergerak dari tangan yang satu kembali ke tangan yang lain, asap huncwe yang disembur keluar kian lama kina bertambah tebal sehingga ruangan tersebut seolah-olah diselimuti oleh selapis kabut yang tipis.
Diantara kerlipan api yang berkedip-kedip peluh sebesar kacang lambat-lambat sudah membasahi jidat Oh Po-cu.
Kembali lewat cukup lama, akhirnya kakek itu berkata lambat-lambat.
"Agaknya kau tidak membawa serta Lau Pat kemari!"
"Aku tak membawa dia kemari"
Oh Po cu segera menerangkan.
"Kenapa?"
"Karena ia telah dibawa pergi oleh seeorang sahabatnya"
"Siapakah sahabatnya itu?"
"Giok-bin siau-beng siang (Beng siang kecill berwajah pualam) Thio Yu hiong, Thio jiko dari antara tujuh bersaudara keluarga Thio dari Lam-hay!"
Walaupun paras muka kakek itu masih tetap tanpa emosi, tapi sesudah mendengar nama tersebut, biji mata mulai melompat-lompat.
Betul jejak kependekaran dari tujuh bersuadara keluarga Thio dari Lam-hay sangat jarang bertemu dalam dunia persilatan, tapi jika pendekar mereka, kekayaan keluarga mereka, kekuasaannya dan kehebatan ilmu silatnya jarang yang tidak diketahui dalam dunia persilatan.
Terutama sekali Thio jiko tersebut, begitu sosial dan ksatrianya siapapun juga merasa amat bangga dan gembira bila dapat bersahabat dengannya.
Tak seorang manusiapun yang suka berbuat kesalahan atau menyinggung sahabat semacam ini.
Pelan-pelan kakek itu berkata lagi!
"Sudah hampir setahun lamanya kau tiba disini, kejadian yang seharusnya kau lakukan ternyata tak satupun yang telah kau kerjakan"
"Aku tak dapat mengerjakannya!"
Kakek itu kembali menutup mulutnya rapat-rapat.
Huncwe tersebut sudah cukup lama berada ditangannya, tapi kali ini ia sama sekali tidak menyerahkannya kembali ke tangan Oh Po cu.
Ting Kong sudah mulai bermandi keringat dingin karena menguatirkan keselamatan dari Oh Po-cu.
Ia pernah menyaksikan ilmu silat milik Oh Po-cu, ia percaya Oh Po cu dapat disebut sebagai seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan.
Akan letapi orang-orang yang berada dalam warung lombok saat ini, seakan-akan setiap orang-nya memiliki semacam kekuatan yang misterius tapi jahat yang dapat merubah niat serta jalan pikiran mereka untuk menentukan mati hidup seseorang..
Mereka seakan-akan seperti setiap saat menginginkan seseorang roboh dihadapan mereka secara mengerikan.
Malam sudah amat larut.
Tiba-tiba Cu ciangkwe bangkit berdiri, lalu sambil menarik suara dia berkata.
"Aku tak tahu apakah orang yang dijumpai Po-ko hari ini adalah Tio Bu ki atau bukan, tapi aku yakin bahwa hari itu dia pasti sudah terluka"
Kakek yang menghisap huncwee itu tak bersuara lagi."
Pemuda ceking bertampang monyetpun membungkam diri dalam seribu bahasa..Apalagi pemuda tampan yang pemalu itu, tentu saja lebih-lebih tak mungkin buka suara.
Oh Po-cu memandang sekejap ke arah mereka, lalu memandang pula ke arah Cu ciangkwe, tiba-tiba ia bertanya lagi.
"Kau yakin?"
"Yaa, aku yakin"
"Tapi pada waktu itu toh kau tidak hadir diatas loteng?"
"Walaupun waktu itu aku tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi aku mempunyai keyakinan bahwa dia pasti telah terluka"
"Atas dasar apakah kau berani berkata demikian?"
"Ketika Tong Hong datang waktu itu, aku telah memeriksa kain pas jalannya sehari sebelum keluar rumah ia baru berhasil mendapatkan dua puluh tiga batang senjata rahasia Ci li beracun dan sepuluh tahil tiga rence pasir Toan huan sah!"
Kemudian ia menambahkan kembali.
"Dua macam senjata rahasia yang diperolehnya itu termasuk senjata rahasia kelas sembilan, engkoh Koat lah yang memberi kain pas jalan kepadanya!"
"Betul!"
Oh Pa-cu mengangguk tanda membenarkan.
"Ketika mengikuti Sangkoan Jin berkunjung keperkampungan Ho-hong-san-ceng, untuk membunuh seorang centeng dari keluarga Tio guna merahasiakan jejaknya, ia telah pergunakan sebatang senjata Tok-ci-li!"
Kata Cu ciangkwe lebih jauh.
"Ia tidak membawa pergi Tok ci li yang telah dilepaskan waktu itu?"
"Merurut pengakuannya, waktu itu keadaan mendesak sekali, ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbuat demikian!"
"Yang ia bunuh ketika itu tak lebih cuma seorang centeng, kenapa ia musti mempergunakan senjata rahasia dari perguruan kita?"
"Oleh sebab itulah aku telah menghukumnya menurut peraturan perguruan kita, aku telah menyuruhnya berbaring hampir setengah bulan lamanya diatas pembaringan"
"Bagus, lanjutkan lebih jauh!"
Cu ciangkwe mendehem sebentar, kemudian meneruskan.
"Kecuali sebatang Tok ci li yang telah terpakai itu, dalam sakunya masih sisa dua puluh dua batarg senjata Tok ci li, sedangkan pasir beracun yang sepuluh tahil tiga rence tersebut masih tetap segelan dan sama sekali tidak digunakan"
"Sehari sebelumnya terjadinya peristiwa itu, dia minta kepada kami untuk carikan orang guna membuat dua perangkat sarung tangan yang terbuat dari kulit menjangan, katanya sarung tangan tersebut hendak dipergunakan oleh dua orang saudara dari keturunan mak inang tua"
"Kau mengabulkan permintaannya?"
Tanya Oh Po-cu.. Cu ciangkwe manggut-manggut.
"Yaa, karena ia bilang orang yang hendak dihadapinya adalah Tio Bu ki, putra Tio Kian"
"Kenapa mereka dari golongan lo-nay ma bisa mempunyai senjata rahasia dari perguruan kita"
Tanya Oh Po cu.
"Ia telah membagi empat belas batang senjata rahasia tok ci-li miliknya kepada mereka dan menitahkan kedua orang itu menyergap bersama dari depan dan belakang, sehingga dalam sekali penyerangan Tio Bu ki bisa dibereskan jiwanya"
"Kemudian?"
"Setelah mereka gagal melaksanakan tugas aku segera menutup tempat itu dan pencarian di-lakukan, tapi hanya lima belas batang tok ci li yang berhasil ditemukan kembali".
"Padahal enam belas batang yang mereka lancarkan bukan?"
"Benar!"
"Waktu itu Cia Lak maupua Lau-pat hadir pula ditempat kejadian, jangan-jangan dibawa kabur mereka?"
Oh Po cu mengemukakan kecurigaannya.
"Ah, hal ini tak mungkin terjadi, jangankan membawanya kabur, untuk menyentuhpun mereka tak berani"
"Oleh sebab itu kalian lantas menduga bahwa sebatang tok ci li yang tidak ditemukan kembali itu, sudah pasti bersarang ditubuh Tio Bu-ki?"
"Waktu itu dia pergi meninggalkan tempat tersebut dengan langkah tergesa-gesa, dan orang yang melihat kalau langkahnya sudah gontai sewaktu meninggalkan tempat itu, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sepasang matanya sudah terbelalak kaku!"
Setelah berpikir sebentar, ia berkata lagi.
"Tapi anehnya, beberapa hari kemudian ada yang mengatakan pernah melihatnya muncul di Tay-pek-ki dibawah bukit Kiu-hoa-san, kemudian engkoh Lip dan engkoh Bong pergi kesana mencarinya, siapa tahu setelah ke sana merekapun telah kembali lagi"
"Seandainya ia memang sudah terkena senjata rahasia perguruan kita. kenapa tidak mati?"
Tanya Oh Po-cu.
"Yaa. itulah sebabnya aku sendiripun tidak habis mengerti!" ***** SEKARANG tentu saja Ting Kang dam To Jiang telah mengerti, kecuali mereka berdua hampir semua orang yang hadir dalam warung lombok saat ini adalah orang yang berasal dari sekeluarga. Ob Po-cu sudah pasti bukan she Oh, Cu ciangkwe pun pasi bukan she Cu, sebab mereka semua bukan lain adalah jago-jago dari keluarga Tong di wilayah Zuchuan. tentu saja sudah lama mereka mengetahui tentang kelihayan senjata rahasia beracun dari keluarga Tong, tapi mereka tidak menyangka kalau susunan organisasi dari keluarga Tong, ternyata sedemikian rahasianya, sehingga setiap orang yang diutus keluar tampaknya tidak sederhana, semua gerak geriknya terorganisir dengan suatu kerja sama yang amat rapi. Kelihayan dari pemuda bertampang monyet itu sudah cukup mengejutkan hati mereka, tapi ketelitian Cu ciangkwe lebih-lebih mengagumkan hati mereka berdua. Si kakek tua itu masih saja duduk tak berkutik ditempat semula sambil menghisap huncweenya, ia duduk setangguh sebuah bukit karang, cukup ditinjau dari ketenangan dan kemantapannya ini, sudah bisa diketahui bahwa orang inipun pasti tidak sederhana. Kecuali pemuda tampan yang pemalu itu, kini hampir setiap orang telah memberikan pertanggungan jawabnya atas tugas yang harus dilaksanakan.."
Tugas Oh Po-cu adalah mengawasi Lau Pat, sambil menunggu kemunculan kembali dari Heng-in-Pa-cu, (si Macan tutul yang mujur).
Tugas si pemuda bertampang monyet itu membereskan Cia Lak, tugas Cu ciangkwe adalah bercokol disitu sambil melakukan kontak dengan orang-orangnya.
Dari tugas-tugas yang harus mereka laksanakan, ada yang berhasil dengan sukses, ada pula yang gagal total, tapi baik itu berhasil atau gagal, suatu laporan resmi harus dibereskan kepada atasannya.
Orang yang akan memberikan penyelesaian atas tugas-tugas tersebut semestinya adalah kakek yang duduk sambil menghisap huncwe itu, tapi diapun tidak berbicara walaupun sepatah katapun.
Apakah ia sedang menunggu orang juga?
Siapa yang sedang ditunggunya?
Tiba-tiba suatu perasaan aneh muncul dari dasar hati Ting Kong, ia merasa kakek berhuncwe itu agaknya bukanlah sang pemimpin yang sebenarnya.
Sang pemimpin yang sebetulnya pasti orang lain, seseorang yang tak dapat mereka lihat.
Hanya orang inilah baru-betul-betul memiliki kekuasaan yang bisa menentukan mati hidup orarg lain.
Sejak awal sampai sekarang, orang itu lah yang sesungguhnya telah mengendalikan suasana di tempat ini.
Setiap orang harus melaporkan semua perbuatan, semua perjuangan dan semua peristiwa yang dialaminya kepada orang itu, untuk selanjutnya menunggu keputusannya.
Tapi siapakah orang ini?
.......
Kenapa hingga saat ini, mereka masih belum melihat orang tersebut?
Jantung Ting kong mulai berdebar keras.
Lamat-lamat perasaannya seperti sedang berkata, tak lama kemudian orang itu akan munculkan diri dihadapan mereka..
***** MALAM sudah semakin larut.
Tiba tiba angin puyuh berhembus kencang diluat kedai, angin itu sedemikian kencangnya sehingga menjebolkan kertas jendela yang mulai lapuk dan berkibar-kibar menimbulkan suara gemerisik yang sangat gaduh..
Kakek itu masih saja menghisap huncwenya dengan penuh kenikmatan, percikan api yang berkelip-kelip sayup-sayup menerangi raut wajahnya yang kaku bagaikan peti mati itu.
Angin diluar tak dapat berhembus masuk ke dalam ruangan, asap huncwenya tak dapat pula menyebar keluar.
Ini membuat asap tersebut memenuhi seluruh ruangan warung lombok, sehingga bagaikan selapis kabut yang tebal.
***** JAGO LIHAY KABUT asap menyelimuti seluruh ruangan.
Ting Kang menyaksikan bocah muda yang ayu tapi pemalu itu seperti sudah sedikit tak tahan, ia mulai mendengus berulang kali.
Pemuda itu tidak menghisap huncwe, tidak minum arak, pun tidak makan lombok.
Apakah dia juga bukan anggota keluarga Tong?
Yang lebih aneh lagi, baru saja ia mulai terbatuk-batuk, kakek yang perokok hebat itu segera menurunkan huncweenya, bahkan menggunakan ibu jarinya yang dibasahi sedikit dengan air ludah untuk memadamkan api dalam mangkuk huncwee tersebut.
Bocah muda yang ayu itu memandang sekejap kearahnya sambil tertawa, kemudian berkata.
"Terima kasih!"
Suara pembicaraannya lembut dan halus pula, bahkan membawa dialek dari ibu kota malah sama sekali tidak terbawa logat orang Zuchuan sebagaimana yang lainnya.
Ia mengeluarkan secarik sapu tangan berwarna putih bersih, lalu dipakai untuk menyeka tangannya.
Ia memiliki jari jemari yangpanjang, ramping dan halus, tingkah lakunya sangat lembut dan halus bagaikan seorang gadis perawan.
Ting Kong memandang kearahnya, hampir saja ia dibikin terpesona.
Padahal Ting Kong bukan seorang Homo, dia bukan seorang laki laki yang tertarik dengan kaum jenisnya.
Tapi setelah berjumpa dengan seorang laki laki ayu seperti ini, bahkan diapun mulai terpikat hatinya, mulai tergetar oleh keayuannya itu.
Ternyata bocah muda yang ayu itupun sedang memandang kearahnya sambil tertawa, tiba tiba ia berkata.
"Aku dapat melihatnya kalau kaupun tidak suka yang peda pedas, tadi, kau tentu bleum kenyang!"
Ting Kong tak berani mengaku, tak berani pula menyangkal.
"Akan kusuruh Cu ciankwe buatkan beberapa macam sayur yang tak pedas lagi, kalian boleh pelan pelan bersantap disini, menanti aku selesai bercakap cakap dengan mereka, pasti akan kutemani kalian berdua lagi, mau bukan?"
Suaranya masih tetap begitu lembut, sikapnya masih begitu tulus, sekalipun terhadap seorang asing, sikapnya tetap lemah gemulai dan menawan hati.
Dalam keadaan seperti ini, Ting Kong mana berani menampik?
Cu ciankwe telah menitahkan orang untuk menyiapkan beberapa macam sayur yang tidak pedas, tapi bocah ayu itu tiba tiba menghela napas panjang, lalu berkata.
"Aku benar benar tidak habis mengerti, kenapa setiap hari masih ada juga orang orang kita yang melakukan pekerjaan yang salah?"
Perkataan itu masih diucapkan olehnya dengan lemah lembutnya, tapi setelah mendengar perkataannya itu, paras muka Cu ciangkwe segera memperlihatkan rasa ngeri dan takut yang amat tebal.
Apalagi Oh Pocu, peluh sebesar kacang telah membasahi seluruh jidat dan tubuhnya.
Pemuda ayu itu berpaling ke arah Cu ciangkwe, lalu bertanya.
"Hari itu, setelah keluar dari pintu Tio Bu ki telah berbelok ke arah mana?"
"Ia berbelok ke sebelah kanan!"
Buru-buru Cu ciangkwe menjawab.
"Pada deretan sebelah kanan, berapa banyak rumah yang berada disana... .?"
Cu ciangkwe agak tertawa, kemudian sahutnya.
"Tentang soal itu... aku belum pernah menghitungnya!"
Aku telah menghitungnya! Pemuda ayu itu menyambung cepat. Kemudian tanpa berpikir lagi, ia berkata lebih jauh.
"Rumah pertama sebelah kananmu adalah sebuah kedai penjual barang kelontong, rumah kedua sebelah pegadaian, rumah ketiga penjual barang antik dan lukisan kenamaan..."
Sepanjang jalan ia menghapal terus, sehingga pada akhirnya ia berkata.
"Rumah yang terakhir adalah sebuah toko penjual peti mati, besar kecil seluruhnya terdiri dari seratus dua puluh enam buah toko"
Peluh sudah mulai membasahi wajah Cu ciangkwe.
Sudah hampir setahun lebih ia berdiam di situ, tapi tidak banyak yang diketahui, sebaliknya pemuda ayu itu baru datang dua hari, tampaknya jauh lebih memahami daripadanya.
Pemuda ayu itu berkata kembali.
"Ketika keluar rumah makan Siu oh khong hari itu, waktu menunjukkan tengah hari baru lewat, setiap toko sedang buka untuk berjualan, setiap toko pasti ada orangnya, apakah kau telah bertanya kepada mereka semua?"
"Tidak!"
Sahut Cu ciangkwe sambil menyeka keringat pada jidatnya dengan ujung baju.
"Aku telah bertanya kepada mereka!"
Kata pemuda ayu itu. Pelan-pelan ia melanjutkan.
"Ketika Tio Bu ki tiba di depan rumah yang ke delapan belas, sebuah kedai penjual wangiwangian, ia sudah hampir roboh ke tanah. Nyonya majikan kedai tersebut menyaksikan kejadian ini dengan mata kepala sendiri, ia sering duduk dibelakang meja kasir sambil menonton laki-laki yang lewat didepan rumahnya, karena suaminya masih memiliki tiga orang gundik. diluar rumah"
Bahkan persoalan semacam inipun berhasil ia selidiki sedemikian jelasnya, bukan saja Cu ciangkwe merasa terkejut, diapun merasa kagum sekali. Pemuda ayu itu berkata lagi.
"Waktu itu adalah musim semi, agaknya setiap orang tak ingin mampus dimusim semi, maka usaha penjual peti mati diujung jalan itu kurang begitu baik. Pelayan dan para tukang kayunya sering main kartu dalam toko, ketika itu ada seorang tukang kayu yang sedang kalah bertaruh dan berdiri di depan pintu dengan wajah murung, dialah yang telah melihat Tio Bu ki berjalan lewat didepan tokonya" .....Tukang kayu itu she Yu, hari itu total jendral ia kalah tiga rencee lima hun. .....Hari itu, kebetulan majikan mereka sedang keluar rumah, maka sehabis bersantap siang merekapun mulai bermain gaple. menurut penuturan tukang kayu she Yu itu, baru saja Tio Bu ki berbelok ketikungan jalan, ia sudah menumbuk diatas tubuh seseorang. Orang itu memiliki parawakan tubuh yang tinggi besar, wajahnya bengis bukan cuma kenal dengan Tio Bu-ki, malahan ia seperti datang kesitu khusus untuk mencarinya, dengan cepat ia memanggil sebuah kereta kuda dan membawa Tio Bu-ki pergi dari situ. Setiap adegan, setiap kejadian, ia telah selidiki semua dengan teliti dan jelas, maka pada akhirnya diapun dua kesimpulan. .... ..Tio Bu-ki memang betul-betul termakan oleh sebatang Tok ci li kita, bahkan baru keluar dari rumah makan Siu oh khong racun jahat itu sudah mulai bekerja.......Orang yang menyelamatkan dirinya tak lain adalah orang yang kita kuntit terus semenjak dari wilayah Cuan tiong. Maka sekarang, tinggal satu persoalan yang belum terpecahkan. ......Barang siapa terkena senjata rahasia dari keluarga Tong, maka satu jam kemudian dia pasti akan mati tak ketolongan lagi, kenapa Tio Bu ki bisa muncul kembali di bukit Kiu hoa san? Apakah ia belum mati! ***** SELESAI mengutarakan semua keterangannya, pemuda ayu itu memandang ke arah Cu ciangkwe dan menantikan pendapatnya. Peluh dingin telah membasahi sekujur tubuh Cu ciangkwe semenjak ia mendengarkan keterangan tersebut, bahkan Ting Kang dan To Jiang pun dibuat termangu oleh keterangan itu. Sebetulnya mereka selalu beranggapan bahwa cara kerja Cu ciangkwe sudah merupakan cara kerja dari seorang yang teliti, tapi kalau dibandingkan dengan pemuda ayu itu sekarang, pada hakekatnya Cu ciangkwe betul-betul mirip Ti pat kay (siluman babi)....Sayur yang tidak pedas telah dihidangkan ternyata makanan tidak pedas yang dibuat warung lombok ini lezat juga rasanya. Sayang Ting Kang dan To Jiang sudah tak dapat makan lagi, sekalipun bisa makan, merekapun tak bisa membedakan bagaimana rasanya. Karena pada waktu itu, Cu ciangkwe telah bersembunyi di sudut ruangan dan diam-diam tumpah. Ia betul-betul terpampau ketakutan, saking takutnya sampai air pahit dalam lambungpun ikut ditumpahkan keluar. Kakek penghisap huncwe itu kelihatan agak ragu, tapi akhirnya berkata juga.
"Putra-putrinya terlalu banyak, beban keluarganya sangat berat, apalagi di rumah masih ada seorang ibu yang tua"
"Aku tahu!"
Jawab pemuda ayu itu.
"Meskipun dia agak sedikit bodoh, tapi tugas tersebut toh sudah ia lakukan dengan segala kemampuan yang dimilikinya"
"Aku tahu!"
Kakek penghisap huncwe itu menghela napas panjang, ia tidak berbicara lagi. Tiba-tiba pemuda ayu itu berseru.
"Monyet kecil, kemari kau!"
Pemuda bertampang monyet itu segera beranjak dan menghampirinya, kemudian dengan sikap penuh hormat berdiri hadapannya.
"Apalah Cia Lak adalah orang kenamaan di kota ini?"
Pemuda ayu itu mulai bertanya..
"Benar"
"Seandainya secara tiba-tiba ia lenyap tak berbekas, apakah akan ada banyak orang yang mencarinya?"
"Benar"
"Ketika kau mengajaknya datang kemari tadi, apakah ada orang dijalan yang berjumpa dengannya?"
Tentu saja ada!, Cia Lak adalah searang kenamaan, tentu saja tidak sedikit jumlah orang yang kenal dengannya.
"Kecuali mempergunakan senjata rahasia dapatkah kau membunuhnya denigan mempergunakan cara yang lain?"
Kembali pemuda ayu itu bertanya.
"Dapat!"
"Kalau memang begitu, kenapa kau musti mempergunakan senjata rahasia dari perguruan kita? Apakah ingin membiarkan orang lain tahu, kalau dari perguruan kita sudah ada orang yang tiba di sini? Bahkan tinggal di Gang Lombok?"
Pemuda bertampang monyet yang sesungguhnya bernama Tong Kau itu tak sanggup berbicara lagi, raut wajahnya yang bertmpang monyet itu mulai mengejang keras, bahkan penuh diliputi oleh rasa takut dan ngeri yang amat tebal.
Padahal pemuda ayu itu sama sekali tidak mengatakan hendak msngapakan diri mereka, tapi ia dari Cu ciangkwe sudah ketakutan setengah mati sehingga untuk berbicarapun tak mampu lagi.
Sekarang, tentu saja Ting Kang dan To Jiang telah tahu, siapakah sesungguhnya pemimpin di-tempat ini.
Sesungguhnya mimpipun mereka tak menyangka kalau orang itu adalah si pemuda ayu yang lebih mirip banci ini.
Perasaan Ting Kang yang sebenarnya sudah mejadi "tertarik"
Itu, tentu saja saat ini telah padam. Sekali lagi pemuda ayu itu tertawa kepadanya, tiba-tiba ia bertanya dengan lembut.
"Tahukah kau, mengapa mereka demikian ketakutan?"
Ting Kang menggeleng. Pemuda ayu itu tertawa manis, sahutnya.
"Sebab mereka tahu kalau diri mereka telah melakukan kesalahan, merekapun tahu macam apakah diriku ini"
Sambil tersenyum ia melanjutkan.
"Aku pikir, kau tentu tidak tahu bukan manusia macam apakah aku ini ?"
Ting Kang mengakuinya.
"Dahulu, ada orang yang pernah menghadiahkan sebait kalimat kepadaku untuk melukiskan diriku yang sebenarnya"
Ujar pemuda tersebut.
"dan kalimat tersebut berbunyi. Kejam tak berperikemanusiaan tak punya perasaan tanpa emosi, orang tua sendiripun tidak kenal"
Gelak tertawanya semakin riang dan gembira, lanjutnya.
"Orang itu benar-benar amat memahami keadaanku yang sebenarnya, kalimat yang ia lukiskan tentang diriku itu memang sangat bagus sekali ......"
Dengan perasaan terkejut Ting Kang memandang kearahnya, tapi bagaimanapun ia memandang, tidak ditemukan juga kengerian seperti apa yang telah ia lukiskan tentang dirinya sendiri itu.
"Kau tidak percaya?"
Tanya pemuda ayu itu. Ting Kang menggeleng. Pemuda ayu itu tertawa.
"Yaa, jangankan kau, akupun kadang kala juga tak percaya!"
Tiba-tiba ia mangalihkan pembinaraannya ke soal lain, katanya.
"Sayur yang telah dihidangkan itu tidak pedas mengapa kalian berdua tidak mendahar lebih banyak lagi?"
"Kami semua telah kenyang?"
Jawab To Jiang.
"Benar-benar telah kenyang?"
"Yaa benar-benar telah kenyang?"
Pemuda ayu itu segera menghela napas panjang, katanya.
"Aaai, .....kalau begitu akupun bisa berlega hati, aku selalu beranggapan bahwa membiarkan seseorang mati dalam keadaan lapar, hal itu salah sauatu peristiwa yang kejam dan tak berperi kemanusiaan, lagipula sangat tidak sopan"
Diiringi helaan napasnya yang ringan, tiba tiba ia merentangkan ketiga buah jari tangannya dan menotok tenggorokan To Jian dengan ujung jarinya.
Ting Kang segera menangkap suara remukkan tulang tenggorokan yang amat nyaring, bersamaan itu pula dia melihat juga sepasang biji mata To Jiang tiba tiba melotot keluar, napasnya tiba tiba berhenti dan sekujur tubuhnya tiba tiba mengejang kaku.
Kemudian, ia mendengus bau busuk yang menusuk hidung dan sangat memuakkan.
Pemuda ayu itu kembali memandang ke arahnya sambil tersenyum, lalu bertanya.
"Sekarang kau sudah percaya bukan?"
Ting Kang merasa tubuhnya seakan akan menjadi beku dan kaku, untuk bergerak pelanpun tak sanggup.
Akhirnya ia paham juga kenapa CU cciangkwe ingin muntah muntah tadi, sebab saat ini diapun ingin muntah.
Keseraman seolah olah suatu tangan besar yang tak dapat dilihat dengan mata sedang meremas remas usus dan lambungnya dengan kekuatan yang sangat besar.
Kini ketiga buah jari tangan sang pemuda ayu yang panjang dan lembut itu telah tiba pula diatas tenggorokannya.
Mendadak ia kerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk berteriak keras.
"Siapa kau?"
Seseorang dikala mengetahui bahwa kematian tak akan dihindari lagi, seringkali berharap agar ia tahu sebetulnya dirinya telah mati ditangan siapa.
Sebetulnya hal ini merupakan suatu kebiasaan yang menggelikan, suatu perbuatan goblok yang lucu dan mentertawakan orang, bahkan bisa membuat seseorang tertawa sehingga empedu, air pati dan air matanya meleleh keluar.
"Aku adalah Tong Giok!"
Pemuda ayu itu menjawab.
***** TONG GIOK Setelah mendengar nama itu, Ting Kangpun segera menghembuskan napasnya yang penghabisan lewat tenggorokannya yang telah remuk, seakan akan ia merasa bahwa kematiannya tidak terlalu penasaran.
Bila seseoraag entah bertemu dengan Tong Giok, tentu saja dia akan tewas ditangan Tong Giok dan pendapat ini seakan-akan sudah tercamkan dalam hati setiap orang, suatu pendapat yang telah mendarah daging dan tak bisa dihapus lagi.
Tong Giok kembali mempergunakan selembar sapu tangan putih itu membersihkan tangannya, caranya membersihkan tangan tak akan berbeda dari cara seorang pengumpul barang antik sedang membersihkan benda antik kesayangannya yang bernilai amat tinggi.
Tangannya memang kelihatan seperti sebuah barang antik, sebuah benda porselen yang mengkilap, halus dan licin.
Tapi siapapun tak akan menyangka kalau sepasang tangannya itu sanggup meremukkan tulang tenggorokan orang hanya dengan sebuab pencetan yang ringan sekalipun.
Tiba-tiba Tong Kau berseru.
"Kalau ingin turun tangan, cepatlah turun tangan! Aku sendiri yang telah melakukan perbuatan salah, aku tak akan menyalahkan dirimu"
"Kau telah melakukan perbuatan salah?"
Ujar Tong Giok.
"kenapa aku sama sekali tidak teringatnya kembali?"
Dengan terkejut Tong Kau memandang ke arahnya, lalu berbisik.
"Kau....."
Tong Giok tersenyum. kembali katanya.
"Kadangkala ada sementara persoalan memang cepat kulupakan lagi, jika ada orang yang menyinggung kembali masalahnya, mungkin selama hidup aku tak akan teringatnya kembali"
Wajah Tong Kau yang diliputi rasa kaget dan tercengang, segera berubah menjadi berseri karena kegirangan, Tong Giok kembali bertanya pula kepada Cu ciangkwe.
"Masih ingatkah kau, apa yang telah kau lakukan tadi?"
Dengan cepat Cu ciangkwe gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tidak teringat lagi, sedikitpun tidak teringat lagi"
Sahutnya. Tong Giok menepuk-nepuk bahu Oh Po cu, talu berkata lagi.
"Sedang tentang kau, dirimu sama sekali tak pernah bersalah, jika aku adalah kau maka akupun akan berbuat demikian, sebab aku tak ingin menyalahi Thio ji kongcu, aku lebih lebih tak ingin mati diujung pedang orang lain"
Oh Po cu memandang kearahnya, rasa hormat dan penuh luapan rasa terima kasih terpancar keluar dari balik matanya.
Meskipun orang lain yang telah dibunuh tapi hal itu sekaligus telah memberi pelajaran kepada Cu ciangkwe dan Tong Kau yang tak akan dilupakan mereka selamanya.
Sekarang ia sedang membutuhkan pembantu, mereka semua adalah saudara-saudaranya, ia membutuhkan tenaga-mereka untuk setiap saat membiarkan mereka beradu jiwa demi kepentingannya.
Sekalipun cara kerjanya terhitung aneh, eksentrik, tapi sama saja dapat mencapai tujuan, bahkan seringkali jauh lebih mujarab dibandingkan dengan cara-cara yang lain.
Tong Giok merasa puas sekali dengan penampilan rasa hormat dari orang-orang itu.
Menghormat, biasanya dapat diartikan juga sebagai kesetiaan dan ketaatan melakukan perintah.
Ia sangat membutuhkan kesetiaan dan ketaatan orang lain terhadapnya, karena ia tahu jika dia ingin menggantikan kedudukan ayahnya yang telah tua untuk memegang tampuk pimpinan tertinggi dalam keluarga Tong, maka dia masih harus merangkak keatas melewati kepalakepala orang yang setia kepadanya itu.
Saingannya yang paling besar sesungguhnya bukan Tong Oh.
Tong Oh terlalu sombong, sedemikian sombongnya dia sehingga segan untuk memperebutkan kursi kebesaran tersebut dengannya.
Orang yang benar-benar ia kuatirkan adalah orang lain, setiap kali teringat akan orang itu, bahkan dalam hati kecilpun ia akan merasakan sedikit kedinginan dan menggigil.
Tapi apa mau dikata, justru ia tak tahan untuk memikirkannya juga sampai kesitu!
Seandainya Tong Koat berada disini, entah bagaimana caranya menyelesaikan persoalan ini?
Dengan cara apa pula dia hendak menghadapi Tio Bu ki?" ***** KAKEK penghisap huncwe itu sedang menatapnya lekat-lekat, dari balik matanya seakanakan telah muncul kembali sesosok bayangan manusia lain.
Selama ini kakek tersebut tidak begitu suka dengan Tong Giok, tapi ia tak bisa tak setuju dengan cara kerjanya.
Sebab cara kerja Tong Giok, hampir persis satu sama lainnya dengan cara kerja Tong Koat.
Ia masih ingat ada orang pernah berkata begitu.
"Profil Tong Giok seperti Tong Koat yang diperkecil, hubungan antara mereka berdua tak jauh berbeda seperti hubungan Tong Ci tham dengan jikonya"
Tong Ci tham adalah kakek penghisap huncwe itu, sedang jikonya tak lain adalah Ji sianseng yang amat termashur dalam dunia persilatan itu.
Dalam hati kecilnya kakek itu mulai tertawa getir.
Selama ini dia memang selalu menirukan lagak jikonya, tapi ia tahu selama hidup tak mungkin ia tdapat menandingi jikonya itu.
Jika Tong Ji siangseng berada disini, tak nanti Tong Giok akan berani bersikap begitu sombong dan jumawa seperti ini.
Walaupun dalam hati kecilnya kakek ini merasa sedih dan meneyesali nasib dirinya yang jelek, namun perasaan tersebut tak sampai ditampilakn diatas wajahnya.
Paras mukanya selalu dan sepanjang masa kaku macam sebuah peti sebab itulah ia baru bernama Tong Ci tham.
Kwalitet kayu terbaik untuk membuat peti mati adalah kayu dari jenis Ci tham, karena itu ia bernama Tong Ci tham.
Hanya dia tak tahu, setelah mati nanti apakah dia akan memeproleh pula sebuah peti mati yang terbuat dari kayu Ci tham.
Sudah berulang kali persoalan dia renungkan di dalam hati.
Seandainya Tong Ji sianseng sedang menghisap huncwe, Tong Giok tak akan berbatuk batuk, sekalupun benar benar ingin batuk, diapun akan berusaha untuk menahannya.
Tong Ci tham sekali lagi menyusut huncwenya.
Ia tak ingin menyalahi Tong Giok...
Siapa pyang tak ingin menyalahi seorang manusia tak berperasaan yang bapaknya sendiripun kau kenal?
Tapi diapun tak ingin membiarkan Tong Giok menganggap dirinya benar-benar seorang kakek bangkotan yang tidak berharga untuk dihormati.
Seorang kakek loyo yang sudah mendekati akhir hayatnya, harus bergaul menjadi satu dengan Tong Giok, Seorang pemuda berillian yang sinarnya mulai memancar ke empat penjuru, bagaimanapun juga timbul pula sedikit rasa sedih dan serba salah yang tak wajar.
***** KALI ini bukan saja Tong Giok tidak batuk dia malah membantunya mengambil kertas dan menyulutkan api untuk huncwenya.
Bagaimanapun juga, Tong Ci-tham merasa hatinya jauh lebih lega dan nyaman.
Maka Tong Giok pun berkata kembali.
"Apakah sekarang kita sudah dapat memastikan hari itu Tio bu-ki benar-benar telah terkena senjara rahasia dari perguruan kita atau tidak?"
Untuk memperlihatkan rasa hormatnya terhadap orang tua, tentu saja pertanyaan ini diajukan kepadanya.
"Ya, sudah!"
Tong Ci-tham mengangguk.
"Tapi kitapun telah memastikan kalau Tio Bu-ki belum mati!"
Lanjut Tong Giok.
"Benar!"
"Orang yang kita kuntit mulai dari wilayah Cuan-tiong sampai disini, memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay, lagi pula pandai ilmu merubah wajah, bahkan kadang kala perawakan tubuhnya yang tinggi atau pendekpun bisa dirubah-rubah, jelas diapun memahami pula ilmu Sut-kut-kang (ilmu menyusut tulang) yang merupakan ilmu paling sulit untuk dipelajari"
"Benar!"
"Orang ini sudah pasti gemar bertaruh, walaupun dengan jelas tahu kalau kita sedang menguntitnya, tapi seringkali diam-diam mengeloyor pergi untuk bertaruh, bahkan tiap kali bertaruh tentu aklah, sedemikian kalahnya sampai seringkali harus mencuri untuk menutupi ongkos perjalanannya."
Setan judi semacam dia memang amat jarang dijumpai dalam dunia dewasa ini."
Kata Tongci-tham.
"Untuk bisa memenuhi semua syarat sebagai seorang setan judi macam dia, rasanya meamng ada seorang di dunia saat ini."
"Kau maksudkan Samwan Kong?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Tong Ci-tham.
"Betul, memang dialah yang kumaksudkan!"
"Apakah orang ini ada permusuhan atau perselisihan dengan pihak kita... .?"
Tanya Tong Citham lagi.
"Tiada perselisihan, ia berkunjung ke benteng keluarga Tong tak lain hanya membantu Tio Bu-ki mencari seseorang"
"Apakah Sangkoan Jin yang sedang ia cari?"
"Benar!"
"Oleh karena itu, kau beranggapan bahwa orang yang telah menyelamatkan Tio Bu-ki hari itu juga dia?"
"Seratus persen pasti dia!" ***** SEKARANG mereka telah mengancingkan kancing yang pertama kuat-kuat, dikala berhasil mengancingkan setiap kancing, mereka pun melepaskan pula suatu tali simpul yang memusingkan mereka. Sekarang mereka sedang bersiap-siap untuk membebaskan tali simpul yang kedua. Tong Giok segera mengajukan kunci dari persoalan tersebut, katanya.
"Di sini Samwan Kong tidak berteman, tidak pula memiliki tempat untuk menyembunyikan diri, kenapa ia musti kabur ke sini?"
Sepintas lalu persoalan ini kelihatannya gampang dan sederhana, padahal tidak mudah untuk memecahkannya.
Tong Ci-tham memang seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, dengan cepat ia telah mengutarakan jawabannya.
"Yaa, karena Tio Bu ki sedang menantikan kedatangannya disini!"
Kemudian ia menjelaskan lebih jauh.
"Ia pergi kesana untuk mencarikan berita buat Tio Bu ki, tentu saja ia harus kembali kemari untuk melaporkan hasil penyelidikannya kepada Tio Bu ki, siapa tahu kalau mereka sebenarnya memang telah berjanji untuk bertemu muka disini"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Tong Giok, dengan wajah kagum dan memuji, katanya.
"Yaa, keteranganmu memang tepat dan bagus"
"Berbicara sebaliknya, kalau toh ia sudah sampai disini, berarti Tio Bu ki pasti berada disini pula"
Kata Tong Ci tham lebih lanjut.
"Tepat sekali!" .
"Orang yang dijumpai si pincang hari ini, meski tampangnya telah banyak berubah, tapi toh tiada orang yang mengatakan bahwa dia bukan Tio Bu ki!"
Oh Po-cu, si pincang she Oh ini amat setuju dengan pendapat tersebut. Tong Ci tham berkata lagi.
"Jika dia adalah Tio Bu ki, maka dengan pelbagai cara ia pasti akan berusaha untuk bertemu muka dengan Samwan Kong"
Setelah berpikir sejenak, katanya kembali.
"Sebaliknya, jika mereka sudah saling berjumpa muka, maka orang itu sudah pasti adalah Tio Bu ki"
"Tepat sekali!"
"Oleh karena itu ........"
Oleh karena itu bagaimana?
ia tidak melanjutkan lagi.
Persoalan ini sebenarnya merupakan suatu masalah yang penuh liku-liku dan suatu masalah yang perlu otak yang kuat untuk menelusuri serta memecahkannya, tapi ia sudah tua, makin hari otaknya makin lemah, tampaknya agak kewalahan juga kakek itu untuk mengatasi semua masalahnya.
Dengan cepat Tong Giok membantunya untuk berbicara lebih lanjut.
"Oleh karena itu asal kita dapat menemukannya, berarti dapat pula menemukan Tio Bu ki!"
"Masa kita masih dapat menemukan dirinya?"
Tanya Tong Ci tham agak keheranan"
Tong Giok tertawa.
"Sekalipun kita tak mampu menemukan dirinya, diapun akan membuat kita dapat menemukan kembali jejaknya!"
Tong Ci tham semakin tidak berhasil mengerti, terutama terhadap perkataannya yang terakhir itu.
"Aku sengaja membiarkan dia dapat meloloskan diri dari penguntilan kita, tujuannya tak lain agar ia dapat berjumpa dengan Tio Bu ki dan menyelidiki apa tujuan sebenarnya dari kunjungannya kebenteng keluarga Tong"
"Kenapa?"
Tong Ci tham mesib juga tidak mengerti.
"Sebab bilamana mereka telah berjumpa, maka Tio Bu ki akan segera tahu kalau dari pihak keluarga Tong sudab ada tiga orang yang menguntil sampai disini"
"Betul!"
"Bila kau adalah Tio Bu ki dan mengetahui kalau dari pihak keluarga Tong ada tiga orang telah sampai di wilayah kekuasaan Tay-hong-tong, dapat kah kau biarkan ketiga orang itu pulang lagi dalam keadaan selamat?"
"Tidak mungkin!"
"Diapun berpendapat demikian, maka jika dia ingin membunuh kita, maka pertama-tama ia harus menemukan diri kita?"
Kata Tong Ci tham cepat.
"Oleh sebab itulah dia pasti akan pergunakan Samwan Kong sebagai umpan untuk memancing kita tiga ekor ikan besar!"
Seperti baru menyadari akan hal itu, dengan cepat Tong Ci-tham berseru lagi.
"Oleh sebab itu sekalipun kita tak berhasil menemukan Samwan Kong, diapun pasti akan membiarkan kita dapat menemukannya kembali!"
Tong Giok tersenyum.
"Oleh sebab itu juga, asal kita dapat menemukan Samwan Kong, kitapun dapat menemukan pula diri Tio Bu-ki. Sekarang simpul mati yang kedua telah terbuka, kancing kedua pun telah dikaitkan kencangkencang.
"Didalam keadaan seperti ini, Tio Bu-ki seperti akan mengatur suatu jebakan dan membiarkan kita masuk perangkap!"
Tong Giok lagi-lagi berbicara.
"Betul!"
Tong Ci-tham mengangguk.
"Dia pasti akan bersembunyi ditempat kegelapan, menanti Samwan Kong berhasil memancing kemunculan kita, maka dari balik kegelapanpun dia akan melancarkan sergapan kilat, asal sergapannya itu mematikan dan salah seorang diantara kita berhasil dibunuhnya lebih dulu, maka dua orang sisanya, dengan kekuatan ilmu silat yang mereka miliki tentu dapat mengatasi secara mudah. Apalagi mereka bisa minta bantuan dari kantor cabang Tayhong-tong disini untuk membantu pihaknya."
"Itukan menurut perhitungannya!"
Kata Tong Ci-tham sambit tertawa dingin.
"Berbicara dari sudutnya, perhitungan semacam ini tidak termasuk perhitungan yang salah, sebab dia tak akan menyangka kalau kita berhasil memperhitungkan kehadirannya di sini"
"Padahal hal tersebut justru sangat penting!"
Ucap Tong Ci-tham lagi .
"Yang lebih penting lagi, ia sama sekali tak tahu kekuatan yang sebenarnya kita miliki"
Sambung Tong Giok.
"Tapi paling tidak dia kan sudah tahu kalau dari pihak kita sudah ada tiga orang yang datang!"
"Tapi ia tak tahu siapakah ketiga orang itu? Hal mana masih belum cukup untuk memperhi-tungkan kekuatan kita yang sebenarnya"
"Tentu saja mereka lebih lebih tak menyangka kalau Tong Giok pun telah ikut datang"
Tong Ci-tham menambahkan dengan suara tawar. Tong Giok tetap santai, seolah-olah sindiran tersebut sama sekali tak terdengar olehnya, katanya kembali.
"Sewaktu berada di rumah penginapan kecil di wilayah Cuan see tempo hari, aku sengaja menyerangnya tanpa mengena pada sasaran, bukan cuma membiarkan ia berhasil kabur, bahkan membawa lari juga sebatang Tok ci li kita, hal tersebut tak lain bermaksud agar ia menilai rendah kekuatan kita yang sebenarnya, agar dia mengira kalau Tok ci li tersebut sudah merupakan senjata rahasia terlihay yang kita miliki"
Setelah tersenyum, pelan-pelan dia melanjutkan.
"Mengetahui diri mengetahui lawan, dengan begitu setiap pertempuran baru bisa dimenangkan, jika ia sampai menilai rendah kekuatan kita, maka itu berarti mereka sedang mencari jalan kematian buat diri sendiri!"
Pelan-pelan Tong Ci-tham menghembuskan napas panjang, ucapnya.
"Oleh sebab itu pula, dalam pertarungan yang akan kita hadapi nanti, hanya kemenangan yang bakal kita raih"
"Tapi merekapun bukan berarti sudah tidak memiliki prasyarat lagi yang sekiranya bisa menguntungkan pihaknya!"
Kata Tong Giok.
"Prasyarat apakah itu?"
"Tempat ini adalah wilayah kekuasaan Tay-hong-tong, paling tidak mereka sudah menang dalam soal daereh!"
Tong Ci-tham mengakui kebenaran dari perkataan tersebut.
"Tentu saja merekapun menaruh rasa was-was terhadap kehebatan dari senjata rahasia keluarga Tong, oleh sebab itu mereka pasti akan mencari suatu tempat yang paling menguntungkan bagi pihaknya untuk Mempersiapkan jebakan tersebut.
"Tempat yang bagai manakah baru akan menguntungkan bagi pihaknya?"
"Pertama, tempat itu harus merupakan sebuah tanah lapang yang luas, agar mereka mempunyai tempat yang cukup untuk menghindarkan diri"
"Ehmm, betul!".
"Kedua, tempat tersebut harus memiliki banyak tempat yang dapat membuat mereka menyembu-nyikan diri secara baik"
Setelah berhenti sejenak, ia menjelaskan lebih jauh.
"Seperti misalnya pohon, benda ini merupakan suatu tempat yang baik untuk bersembunyi, jika pepohonannya rindang dan lebat maka sulitlah buat senjata rahasia untuk mencapai sasaran"
"Ehmm, betul!"
"Ketiga tempat itu harus masih berada dalam wilayah kekuasaannya, dengan demikian mereka dapat menyiapkan orang-orangnya disekitar tempat tersebut secara aman dan rahasia terjamin misalnya saja jika tempat itu adalah sebuah rumah makan maka mereka dapat mengganti semua pelayan dan ciangkwe rumah makan tersebut dengan anak murid Tay-hong tongnya ."
"Inipun betul juga!"
"Tapi sayangnya, setiap hal yang ada untungnya pasti ada ruginya, jika mereka berbuat demikian maka ada pula kejelekan-kejelekannya yang merugikan pihak mereka"
"Apa kejelekan-kejelekannya"
Kembali Tong Ci-tham bertanya dengan perasaan tak habis mengerti.
"Tempat semacam itu sudah pasti tidak terlalu banyak jumlahnya, jika kita menebak secara jitu tempat macam apakah yang bakal dipilihnya, maka asal kita pergunakan cara yang sama dengan menyembunyikan juga orang-orang kita disana habis sudah rencana bagus mereka tersebut ....."
"Aku tahu tempat manakah yang memiliki syarat-syarat seperti itu!"
Tiba tiba Cu ciangkwe berkata.
Jilid 14________ TONG GIOK segera tersenyum, katanya.
"Aku memang sedang menunggu jawaban darimu !"
"Disebelah selatan kota terdapat sebuah hutan lebar yang dinamakan Say cu lim (hutan singa), bukan cuma tanahnya yang luas, banyak pula pepohonannya, tempat itu merupakan sebuah rnmah makan di alam terbuka, dan kebetulan juga tauke rumah makan itu adalah sahabat karib Ciao In, itu ketua cabang kantor Tay hong tong disini!"
Setelah berhenti sejenak, ia menerangkan lebih jauh.
"Sudah cukup lama Ciau In bercokol dikota ini menjabat kedudukannya sebagai kepala kantor cabang Tay hong tong!"
Tong Giok tertawa lebar, katanya kemudian.
"Buat mereka, tempat semacam itu memang terhitung suatu tempat yang paling bagus!"
Agaknya Cu ciangkwe ingin menebus dosanya dengan membuat pahala, penampilannya sekarang tampak begitu bersemangat dan begitu menjual tenaga. Terdengar ia bertanya kembali dengan cepat.
"Sekarang dengan cara bagaimanakah kita akan mempersiapkan orang-orang kita?"
"Aku harus berkunjung lebih dulu ke tempat lokaasinya sebelum mengambil keputusan"
"Peninjauan akan dilakukaa kapan?"
"Aku pikir mereka pasti akan memilih besok sebelum senja untuk mulai melancarkan operasi ini, oleh karena itu kitapan tak perlu terlalu tergesa-gesa untuk melakukan pekerjaan ini"
Setelah tertawa, kembali ujarnya.
"Mulai sekarang sampai senja besok, hampir ada sepuluh jam lamanya waktu yang kita miliki aku pikir sepuluh jam yang tersedia tersebut sudah cukup buat kita untuk mengerjakan banyak urusan"
Sepuluh jam memang merupakan suatu jumlah waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan banyak persoalan, tapi apa saja yang telah mereka kerjakan selama ini?
"Operasi kita selama ini merupakan operasi yang pertama kalinya buat kita dipusat wilayah kekuasaan Tay hok-tong karena itu kalau tidak bergerak masih tidak mengapa, sekali bergerak hasilnya harus mengejutkan sehingga paling tidak harus menyuramkan ke wibawaan mereka dimata orang banyak!"
Sepasang mata yang sebenarnya begitu lembut, halus dan menawan itu, mendadak berubah menjadi begitu tajam melebihi tajamnya sembilu. Dengan suara hambar ia berkata lebih jauh.
"Kali ini bukan saja kita akan membunuh Samwan Kong, membunuh T"io Bu ki, membunuh Ciau In, kitapun akan membunuh semua orang Tay hong-tong yang berada disini ...."
Setelah mengucapkan empat kali kata "membunuh", namun senyuman lembut kembali menghiasi ujung bibirnya.
Angin berhembus kencang, tiba-tiba dari tengah udara berkumandang suara guntur yang menggelegar memekikkan telinga.
Sambil tersenyum Tong Giok kembali berkata.
"Kali ini kita akan membasmi orang-orang Tay hong tong ke akar-akarnya!"
Sementara itu, Samwan Kong telah memberikan jawaban yang pasti untuk Bu-ki.
Benar Sangkoan Jin memang berada di Benteng keluarga Tong!" ***** SALING BERHADAPAN BUNYI guntur menggelegar diudara, hujanpun turun dengan amat derasnya ......
Bu ki masih saja duduk diujung perahu tidak bergerak, dengan cepat curahan hujan deras membasahi sekujur tubuhnya.
Sejak kecil ia sudah amat membenci dengan hujan, bila tiap kali hujan sedang turun, ia selalu mengurung diri dalam kamar dan menbaca kitab-kitab sembahyangan yang hingga kini pun belum pernah dipahami olehnya .........
Tapi sekarang ia tidak terlalu membenci dengan hujan tersebut, sebab paling tidak air hujan bisa membuat kepala dan otaknya menjadi lebih dingin.
"Sangkoan Jin ternyata ada di Benteng keluarga Tong!"
Sekarang ia telah mengetahui jejak dari musuh besarnya, dengan cara apakah dia hendak menuntut balas atas sakit hatinya ini?
Bangunan benteng keluarga Tong luas sekali, aku tak dapat memastikan ia sebenarnya berada dimana, aku hanya pernah mendengar bahwa ia sudah kawin dengan seorang adik perempuan pocu, bahkan kini sudah menjadi salah seorang diantara beberapa orang anggota staf terpenting yang mengurusi kelurga Tong"
Sangkoan Jin sudah lama kehilangan istrinya karena ditinggal mati.
Politik keluarga Tong terhadap pihak luar, persis seperti taktik politik yang pernah di pergunakan pihak pemerintah Han dimasa lalu, yakni gemar menggunakan hubungan "berbesan"
Untuk mengikat tali hubungan. Perkawinan dari Sangkoan Jin ini pada hakekatnya telah menjadi semacam bukti bahwa antara dia dengan keluarga Tong sudah terikat suatu hubungan yang erat.
"Belakangan ini, jumlah anggota keturunan keluarga Tong bertambah makmur, jago lihaynya bertambah banyak, sejak berserikat dengan pihak Pek-lek tong, kekuasaannya bertambah besar, Tong ji siangseng dan Tong Oh, Tong Giok sekalian meski bernama lebih termashur dalam dunia persilatan tapi dalam benteng keluarga Tong sesungguhnya masih terdapat banyak sekali jago-jago lihay tak ternama yang mungkin jauh lebih menakutkan dari pada mereka"
Padahal persoalan-persoalan semacam ini tak perlu Samwan Kong terangkan, karena Bu-ki pun telah memahaminya..
Setelah melewati suatu masa penderitaan yang cukup sengsara, ia jauh lebih matang daripada dugaan siapapun atas dirinya.
***** SAMWAN KONG telah barsembunyi dibalik ruang perahu, ia tak tngin kehujanan, tapi diapun tidak keberatan orang lain kehujanan.
Akhirnya Bu ki menengadah juga dan memandang ke arahnya, tiba-tiba ia berkata sambil tertawa.
"Aku tahu, apa yang sedang kau pikirkan sekarang".
"Oya ?"
Samwan Kong agak terkejut. Kembali Bu-ki tertawa.
"Kau kuatir aku pergi ke benteng keluarga Tong untuk menghantar kematianku!"
Katanya. Samwan Kong mengakui kebenaran dari ucapan tersebut.
"Tapi kau tak usah kuatir"
Kata Bu-ki lagi "Akue sudah bukan manusia dungu yang bisanya cuma terbelalak dengan muka tertegun lagi, aku bukannya seorang bocah cilik yang cuma tahu mengadu jiwa dengan musuh besarnya.
Akupun tak akan menangis sampai air mataku bercucuran, atau mata menjadi merah karena sedih, tak nanti aku akan menyusup ke dalam benteng keluarga Tong dengan begitu saja untuk mencari Sangkoan Jin"
Sikapnya berubah menjadi mantap dan tenang, terusnya.
"Karena sekarang aku telah tahu, menderita dan terburu napsu hakekatnya tak akan mampu untuk menyelesaikan pelbagai persoalan, semakin menderita kau, musuhmu semakin senang, semakin terburu napsu kau, musuhpun semakin girang"
Kali ini Samwan Kong tertawa, ujarnya.
"Aku memang sudah tahu kalau kau bukan manusia sejenis telur busuk kecil yang pura-pura berlagak seperti seorang berbakti kepada orang tuanya."
"Tadi kau masih melihat aku tertipu, tapi aku jamin peristiwa tersebut merupakan kejadian yang terakhir kalinya bagiku"
"Semoga saja betul-betul memang untuk terakhir kalinya "
Samwan Kong kembali tersenyum.
"Akupun dapat menjamin kepergianku kali ini bukan untuk menghantar kematian dengan percuma, selama Sangkoan Jin masih hidup, aku tak akan mati duluan."
Ia tidak menggertak gigi mengangkat sumpah, diapun tak mengtarakan kata-kata sesumbar, penampilannya yang tenang tersebut sebaliknya malah justru lebih mencerminkan kebulatan tekadnya.
"Aku pun tak akan membiarkan tiga orang yang sepanjang jalan menguntil dirimu terus menerus itu pulang dari sini dalam keadaan hidup!"
Kata Bu ki dengan tegas.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Samwan Kong bertanya. Bu ki cuma termenung, tiada jawaban.
"Kalau ingin memancing ikan, kita harus memilih tempat yang baik"
Kata Samwan Kong.
"aku tahu ditempat ini terdapat sebuah hutan yang bernama Say cu lim, tempatnya luas dan banyak pepohonannya.. ...."
"Aku tahu tentang tempat itu, aku pernah kesana!"
Tukas Bu ki sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.
"Tempat yang luas dan lebar lebih mudah digunakan untuk menghindari senjata rahasia, tempat yang banyak pepohonannya lebih gampang dipakai untuk tempat persembunyian"
"Tapi tempat yang luaspun lebih gampang buat mereka untuk melarikan diri, lagi pula mereka berada dalam kegelapan sekarang, sedang yang membantu kita masih terlalu minim"
"jadi menurut anggapanmu tempat itu tidak bagus?"
"Tidak bagus!"
"Jadi kalau begitu kau ....."
"Bagaimana caranya kau menyusup kedalam benteng keluarga Tong?"
Tiba-tiba Bu ki menukas pembicaraanya sambil mengajukan pertanyaan semacam itu.
"Sekilas pandangan, keluarga Tong ibaratnya suatu kota yang amat ramai, didalamnya terdapat beberapa buah jalan raya, beberapa puluh buah toko dan rumah makan, asal kau dapat mengatakannya maka disanapun akan kau jumpai"
"Kalau memang ada toko disana, itu berarti tak bisa dihindari lagi mereka tentu mempunyai hubungan dengan orang luar dalam soal perdagangan"
Samwan Kong tertawa.
"Tepat sekali"
Katanya.
"oleh karena itu akupun menyamar sebagai seorang pedagang besar yang datang dari Liau tang dengan membawa separtai besar Jinsom asal tiang pek san dan separtai besar dagangan kulit domba, dengan gaya pedagang yang murni aku memasuki benteng keluarga Tong"
"Kemudian, secara bagaimana mereka bisa mengetahui kalau toa tauke ini sesungguhnya seorang tauke gadungan?"
"Dalam keluarga Tong terdapat seorang telur busuk kecil, ketika sedang kalah bertaruh diapun hendak main gila denganku, perbuatan itu ketahuan aku maka kuhajar dirinya habishabisan, kemudian ia tidak melanjutkan kembali kata-katanya. Dalam keadaan seperti ini, ia masih bertaruh, masih juga memukuli orang, tentu saja ia merasa agak rikuh untuk menceritakan kesemuanya secara terus terang. Bu-ki tersenyum, katanya.
"Aku jadi teringat dengan sepatah kata lama yang sering dipakai oleh para setan judi."
"Kata-kata lama biasanya adalah kata-kata yang baik, sedikit banyak tentu punya alasan yang cukup kuat"
"Seringkali, arti kata dari suatu kalimat belum tentu hanya menunjukkan satu hal saja."
"Tapi, bagaimanakah bunyi dari ujar-ujar lama tersebut?"
Tanya Samwan Kong ingin tahu.
"Apa yang dihabiskan dalam perjudian harus dirampas kembali pula lewat perjudian!"
Haaahhh....haaahhh....haaahhh....yaa, kata-kata ini memang amat cocok, ucapan tersebut memang sangat masuk di akal!"
Seru Samwan Kong sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tempo hari, mereka berhasil menangkap ekormu dari meja perjudian, maka kali ini apa salahnya jika kau biarkan mereka menangkap ekormu sekali lagi."
"Selama tugas itu diembel-embeli dengan judi, aku pasti akan setuju!"
Kata Samwan Kong tertawa.
"Walaupun pepohonan merupakan tempat persembunyian yang baik, tapi masih ada sesuatu yang jauh lebih baik lagi dari pada pepohonan tersebut."
Benda apakah itu?"
"Manusia!"
Setiap tempat yang ada tempat judinya, disitu pasti ada orang, asal pertaruhannya berlangsung seru, maka manusia yang berkumput di sana pasti tak sedikit jumlahnya.
Dimana Samwan Kong hadir, tentu saja tempat itu tak mungkin tak akan ramai.
Tiba-tiba Samwan Kong mcnggelengkan kepalanya sambil berseru.
"Cara ini tidak baik!"
"Kenapa tidak baik?"
"Senjata rahasia dari keluarga Tong tidak bermata, andaikata sampai menghajar ditubuh orang lain, bukankah orang-orang itu akan mati dengan penasaran?"
"Keluarga Tong bukan komplotan urakan yang bertindak secara ngawur, bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang dari keluarga persilatan, merekapun memiliki peraturan rumah tangga yang ketat, apalagi senjata rahasia mereka berharga sekali, tak nanti mereka akan sembarangan mempergunakan senjata rahasianya, apalagi sebelum yakin jika serangannya akan memberikan hasil yang diharapkan!"
Setelah tertawa, kembali ujarnya.
"Oleh karena itu semakin banyak orang disana semakin kalut suasananya, mereka semakin tak berani melepaskan senjata rahasianya secara sembarangan!"
"Tapi didalam kekalutan suasana seperti itu bukankah kitapun sama saja sulit untuk menemukan mereka?"
"Kita pasti akan berhasil menemukan mereka!"
"Kenapa?"
"Sebab Tay hong tong mempunyai kantor cabangnya disini, paling tidak dalam sebuah kantor cabang tentu teedapat puluhan orang saudara yang bersedia membantu kita"
Akhirnya Samwan Kong paham juga, katanya kemudian.
"Oleh karena itu, orang yang akan berjudi denganku, semuanya adalah saudara-saudara dari Tay hong tong"
"Yaa betul, setiap orang adalah orang sendiri!"
"Tapi kau harus memperlihatkan lebih dulu wajah-wajah mereka semua kepadaku!"
"Bahkan akupun bisa meninggalkan tanda rahasia di tubuh mereka yang hanya dipahami oleh mereka sendiri, orang lain tak akan melihat tanda rahasia tersebut, maka jika orang-orang dari keluarga Tong muncul disitu....."
"Maka keadaaaaya seperti tiga ekor tikus yang kecebur dalam tepung, bahkan seorang butapun dapat menanggap mereka keluar!"
Sambung Samwan Kong sambil tettawa tergelak.
"Benar, benar sekali!"
Bu ki ikut tertawa. Tiba-tiba Samwan Kong menggelengkan kepalanya lagi.
"Cara ini tidak baik, paling tidak ada sedikit yang tidak baik !"
Katanya.
"Bagaimana yang kurang baik?"
Samwan Kong tertawa terbahak-bahak.
"Kalau orang yang bertaruh denganku semuanya adalah saudara-saudara sendiri, aku kan menjadi rikuh untuk menangkan uang mereka!"
Suara guntur membelah bumi, hujan kembali turun dengan derasnya seperti diguyurkan dari langit.
Cia In sedang berdiri ditepi jendela sambil memandang hujan deras yang mirip sebuah tirai tersebut, sebenarnya dia bermaksud hendak menutup jendela, tapi entah mengapa, tiba tiba saja ia menjadi berdiri terkesima disana.
Tempat ini adalah suatu tempat yarg kering, sudah lama sekali belum pernah turun hujan sede-ras ini.
Dia masih ingat, hujan deras terakhir turun pada bulan sembilan tahun berselang.
Dia masih ingat jelas hal itu, karena pada malam tersebut ia telah kedatangan dua orang tamu agung, yaitu satu adalah Ci Peng sedang yang lain adalah Toa siocia dari keluarga Tio, Tio Cian-cian.
Sebenarnya waktu itu adalah musim gugur yang berhawa kering, disiang hari panasnya bukan kepalang, sedang hujan deras pada malam harinya segera mengguyur panas disiang harinya, ia telah menyiapkan sedikit sayur arak ditambah buah untuk menikmatinya seorarg diri.
Pada saat itulah.
Ci Peng dan Cian-cian telah datang, bahkan keadaan mereka mengenaskan sekali.
Kemudian ia baru tahu kalau mereka sudah berdiam selama due bulan diatas bukit Kiu hoasan demi menemukau jejak Bu ki, siapa tahu bukan saja Bu ki tidak ditemukan, malah sebalikmpa Hong nio ikut lenyap tak berbekas....Watak toa siocia tersebut betul-betul jelek sekali, terhadap Ci Peng selalu saja ia membentak atau mengahrdik seenaknya, sedikitpun tidak bermaksud memberi muka kepadanya.
Tapi Ci Peng sedikitpun tidak marah.
Semenjak Hong-nio lenyap tak berbekas, sepasang muda-mudi ini hidup sendirian di atas bukit yang terpencil, apa yang kemudian terjadi atas diri mereka berdua?
Tentu saja Cia In tidak bertanya, dia tak berani untuk menanyakan persoalan semacam itu.
Selamanya dia adalah seorang manusia yang bersikap teliti dan tahu diri, walaupun tak pernah melakukan suatu pakerjaan besar, dia pun tak pernah melakukan pelanggaran besar.
Sekalipun ia selalu merasa bahwa Ci Peng terlalu lemah dan mengalah, bukan berarti ia jemu terhadap pemuda yang mau berjuang untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi ini, bahkan diapun akan merasa gembira sekali bila Ci Peng dapat mempersunting Tio-siocia ini.
Maka dari itu, dia menitahkan orang untuk menambah arak, menambah sayur dan menyiapkan kamar tamu.
Tapi Tio toa-siocia bersikeras hendak berangkat lagi pada malam itu juga, mereka berkunjung kesana tak lebih karena ingin mencari ongkos jalan, nona itu minta tiga ribu tahil perak.
Tiga ribu tahil bukan termasuk suatu angka yang kecil, jumlah tersebut sudah cukup bagi mereka untuk pergi kc tempat yang jauh sekali, hendak kemanakah toa siocia?
Ciau In pun tidak bertanya.
Banyak yang dikerjakan banyak pula kesalahannya, banyak bicara hanya mengundang datangnya bencana, semakin banyak persoalan yang diketahui, semakin banyak juga kesulitan yang dihadapi.
Itulah merupakan dasar teori paling penting yang harus dicamkan oleh setiap manusia.
Justru karena ia selalu dapat memegang teguh teori tersebut, maka dalam jabatannya yang sekarang ini ia bisa bercokol selama dua puluh tahun lamanya.
Dua puluh tahun bukan suatu jangka waktu yang terlampau singkat.
Dalam peristiwa "Heng-in Pacu"
Si macan tutul yang mujur tahun berselang, ia bukannya tidak mendengar tentarg hal tersebut, diapun bukannya tidak tahu kalau Heng-in pocu tak lain adalah Toa-kongcu dari Tio Kian, Tio Jiya.
Tapi oleh karena Bu ki tidak datang mencarinya, maka diapun berlagak seolah-olah tidak tahu.
Hari ini Samwan Kong datang berkunjung, ia disuruh menyambut kedatangan seseorang, siapakah orang itu?
Sedikit banyak dalam hati kecilnya telah ada perhitungan.
Tapi, kalau toh orang lain tidak mengatakannya, buat apa pula ia mesti banyak urusan?
Lebih banyak yang dikerjakan lebih banyak pula kesalahan yang akan dilakukan, makin sedikit yang dkerjarkan makin sedikit pula kesalahannya, apalagi kalau tiada sesuatu yang dikerjakan, pasti tiada kesalahan juga yang akan dilakukan.
Seseorang yang telah berusia enam puluh tahun lebih, apakah masih ingin terlalu menonjolkan diri?
Apakah dia masih ingin melangkak lebih ke atas lagi, menjadi seorang Tongcu?"
Sekarang ia sudah mempunyai sedikit tabungan, di luar kotapun memiliki beberapa hektar sawah yang penanamannya diserahkan kepada dua orang buruh tani untuk mengerjakannya, tiap tahun ia tinggal memungut hasil penanamannya saja.
Sejak istrinya mengidap penyakit asma, mereka tidur berpisah kamar, tapi tak pernah terlintas dalam ingatannya untuk mencari bini muda lagi, apalagi terhadap dayang-dayang dalam rumahnya, ia lebih-lebih tak pernah menyentuhnya.
Peraturan dalam Tay-hong tong sangat ketat, ia tak boleh membiarkan orang lain membicarakan soal isengnya secara diam-diam.
Akan tetapi setiap kali dalam Liu cun wan didalam kota sana datang seorang nonva cilik yang masih baru dan orisinil!
dari pihak rumah pelacuran tersebut pasti akan mengirim orang untuk memberi kabar kepadanya, kemudian diapun akan mengatur suatu tempat pertemuan yang sangat rahasia, untuk menikmati malam syahdu tersebut dengan penuh kenikmatan.
Barter semacam itu merupakan suatu transaksi perdagangan yang sama-sama tidak saling merugikan, dia tak perlu malu atas perbuatannya itu, diapun tak perlu kuatir atas terjadinya banyak kesulitan atas kejadian tersebut .....
Apalagi didalam usianya yarg lanjut seperti ini, ternyata ia masih cukup "bertenaga"
Untuk melakukan pekerjaan semacam ini, sedikit banyak timbul juga perasaan girang dalam hatinya.
Setiap kali selesai "bekerja", ia selalu merasakan semangatnya menjadi segar dan berkobar kembali, semangat kerja pun akan berlipat ganda.
Oleh karena itu ia sudah merasa puas sekali dengan cara hidupnya yang sekarang ini.
***** UDARA kembali terasa agak dingin, dia ingin menyuruh Po-hok menyiapkan sedikit arak dan sayur, sebab pada setiap malam yang sedang hujan deras, ia selalu suka minum dua cawan arak.
Popohok adalah pelayan kepercayaannya, sudah hampir dua puluh tahun lebih ia bekerja mengikutinya, dihari-hari biasa jarang sekali ia berpisah dari sisinya.
Tapi hari ini sudah dua kali ia berteriak memanggil namanya, namun belum ada juga suara jawabannya.
Usia Po-hok tidak terhitung kecil, telinganya sudah tidak setajam dahulu lagi, lewat beberapa waktu kemudian, sudah sepantasnya kalau ia diberi kesempatan untuk menikmati sisa hidupnya dengar aman, tenang dan penuh kebahagiaan.
Po hok, po-hok, hanya mereka yang tahu bagaimana caranya melindungi (Po) rejekinya (Hok), baru benar-benar akan mendapat rejeki sepanjang waktu ......
Ciau In menghela napas dalam hatinya kemudian pelan-pelan berjalan kedepan pintu dan berteriak kembali memanggil nama pelayannya"
Dari luar segera terdengar suara sahutannya.
"Aku sudah datang!"
Baru saja jawaban itu terdengar, seseorang telah melayarag masuk dengan kecepatan luar biasa.
Ia bukan berjalan masuk, pun bukan berlarian tapi melayang, melayang masuk bagaikan sebatang balok kayu kemudian seperti pula sebatang batok kayu tergeletak diatas tanah, tak berkutik lagi.
Orang itu memang Po hok, cuma ia sudah tak bernapas lagi, sebab tulang tengkuknya sudah dipatahkan orang.
Sekujur tubuh Ciau In menjadi dingin dan kaku, dan merasa tubuhnya seakan-akan tercebur ke dalam gudang es yang dingin sekali.
Suara guntur kembali menggelegar di angkasa, kilat ikut menyambar-nyambar.
Ia menjumpai seseorang sambil membawa sebuah payung berdiri dibawah wuwungan rumah, tepat dihadapannya sana.
Tapi menunggu suara guntur menggelegar untuk kedua kalinya, tahu-tahu orang itu sudah berdiri persis didepan matanya.
Dia adalah seorang pemuda yang masih muda belia, mukanya halus dan ayu, kulitnya putih kemerah-merahan sehingga sepintas lalu lebih mirip seorang gadis daripada seorang pemuda.
Tentu saja ia tak tahu kalau orang ini tak lain adalah orang yang paling keji dan perbuatannya paling kejam diantara anak keturunan keluarga Tong lainnya....Tong Giok adanya.
Namun dengan pengalaman yang dimilikinya selama banyak tahun ia sudah merasa bahwa dengan kemunculan orang ini, maka kehidupannya yang aman dan tenang selama inipun akan berakhir.
Ia saksikan orang itu pelan-pelan melipat payung kertasnya dan meletakkan dibelakang pintu, ia selalu berusaha mengendalikan perasaannya, berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
Akhirnya Tong Giok mendongakkan juga kepalanya dan memandang kearahnya sambil tertawa.
"Bukankah Po hok telah datang?"
Demikian ia berseru.
"siapa lagi yang hendak kau cari?"
Gelak tertawanya bertambah riang, katanya lebih jauh.
"Empat puluh tiga orang saudaramu dalam kantor cabang ini telah datang semua dan kini sedang menunggu diluar halaman sana, bila aku memanggil mereka akan datang, cuma ...tentu saja mereka tak bisa datang sendiri tanpa bantuanku"
Ciau In merasakan hatinya tertekan seakan-akan terjatuh dari atas bukit yang puluhan ribu kaki tingginya.
Walaupun orang itu berbicara dengan suara yang lembut dan senyuman manis menghiasi seluruh bibirnya, namun ia membawa hawa pembunuhan yang menggidikkan hati.
Bila manusia semacam ini berkata bahwa ia telah membunuh empat puluh tiga orang, maka sudah pasti ke empat puluh tiga sosok mayat itu telah berbaring dalam halaman, tak mungkin akan kurang walau hanya sesosokpun.
Ciau In tahu peluh dingin telah membasahi sekujur tubuhnya, bahkan kerutan diatas wajahnya yang mulai mengejang keraspun tak sanggup dikendalikan lagi.
Empat puluh tiga orang dengan empat puluh tiga lembar nyawa, mereka semua adalah saudara-saudara seperkumpulannya yang berkumpul dan bergaul selama banyak tahun.
Siapakah orang ini?
Kenapa ia turun tangan sekeji ini terhadap mereka semua?
Tong Giok tersenyum.
"Kau tak akan bisa menebak siapakah diriku ini, sebab ditanganku tidak mengenakan sarung tangan kulit menjangan yang berat dan tebal itu, senjata rahasiaku pun tak akan kusimpan dalam kantung kulit yang menjemukan, aku tak ingin orang lain segera mengetahui asal usulku hanya dalam sekilas pandangan saja"
"Kau berasal dari keluarga Tong?"
Ciau In bertanya.
"Akulah Tong Giok !"
Ciau In pernah mendengar nama ini, bahkan bukan cuma satu kali ia mendengar nama tersebut.
Konon orang ini pernah menciptakan rekor pembunuh orang paling banyak dalam semalaman suntuk .
Seratus tiga orang anggota Hu tau pang yang banyak tahun berselang bercokol di wilayah Cuan-tang telah disikat habis semua olehnya hanya dalam satu malam.
Tiba-tiba Ciau In bertanya.
"Kau benar-benar pernah membunuh seratus tiga orang dalam semalaman suntuk?"
"Aaah, itu mah bohong!"
Sahut Tong Giok, dengan suara tawar ia melanjutkan.
"Aku hanya membunuh sembilan puluh sembilan orang, sedang sisanya yang empat orang mampus lantaran ketakutan!"
Ciau In segera menghela napas.
"Aaai ..... kelihatannya akupun bukan tandinganmu!"
Ia berbisik.
"Yaa, sudah pasti kau bukan tandinganku!"
"Sampai kapan kau baru akan membunuhku?"
Aku belum tentu akan membunuhmu!"
Apakah aku masih agak berguna bagimu"
"Yaa, sedikit saja!"
"Apakah aku harus melaksanakan perintahmu sebelum peroleh pengampunan darimu?"
"Apa yang bisa kau lakukan bagiku?"
Tong Giok balik bertanya.
"Semua orang dari Tay-hong tong percaya kepadaku, walaupun saat ini semua saudaraku telah mati tapi aku bisa mengarang sebuah cerita palsu untuk mereka dan merekapun tak akan mencurigai diriku, karena itu aku masih bisa menjadi seorang Taucu dari kancor cabang ini, aku dapat mempersembahkan semua rahasia Tay hong-tong kepada kalian, jika ada dari orang-orang kalian yang datang kemari, akupun bisa mencarikan akal untuk melayaninya"
"Oooh, itu terlampau baik!"
"Aku bahkan bisa membatu kalian untuk memancing Tio Bu ki datang kemari, aku tahu bahwa kalian tentu ingin sekali membunuhnya, membabat rumput sampai seakar-akarnya".
"Tepat sekali"
"Meskipun aku seorang tua bangkotan yang loyo, tapi orang yang semakin tua sebenarnya semakin takut mati"
"Aku mengerti!"
"Aku amat senang untuk melewati kehidupan seperti sekarang ini, aku benar-benar enggan untuk mati duluan, maka dikala senggang aku sering kali berpikir, kalau aku berjumpa dengan keadaan seperti hari ini, apa yang harus kulakukan?"
"Menurut pendapatmu?"
"Ilmu silatku sudah lama terbengkalai, sekalipun bertarung melawanmu, paling banter hanya akan membuat malu diri sendiri"
"Ehmm ..! Kau benar-benar scorang manusia yang tahu diri"
"Maka dari itu sudah lama aku bertekad, seandainya menjumpai keadaan seperti ini maka aku hanya bisa menghianati Tay hong-tong untuk menyelamatkan jiwa sendiri"
Berbicara sampai disitu, pelan-pelan ia melanjutkan.
"Seorang manusia hanya mempunyai selembar nyawa, apapun juga persoalannya, tak akan lebih berharga dari pada nyawa sendiri"
"Yaa, perkataan itu memang tepat sekali"
"Maka jika seseorang bersedia mangorbankan jiwanya hanya dikarenakan persoalan lain, maka orang itu sudah pasti adalah seorang telur busuk yang goblok!"
Tong Giok tersenyum.
"Tentu saja kau bukan seorang telur busuk yang goblok bukan?"
Katanya.
"Aku adalah telur busuk goblok yang kumaksudkan tadi!"
Agaknya Tong Giok merasakan jawaban tersebut sama sekali diluar dugaannya, cepat ia bertanya lagi.
"Kau adalah seorang telur busuk yang goblok?"
"Hingga kini aku baru benar-benar menjumpai keadaan seperti ini, sekarang aku baru tahu bahwa kematian dari seseorang sesungguhnya bukan suatu hal yang terlalu penting, bahkan kadang kala daripada hidup lebih enakan mati!"
"Apakah kan bersedia menjadi seorang telur busuk yang goblok"
"Aku bersedia!" ***** CIAU IN malah menubruk kedepan, menubruk ke muka dengan menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, kepalannya yang keras seperti baja langsung diayunkan ke wajah Tong Giok. Seseorang yang bisa menjabat sebagai ketua cabang Tay-hong-tong selama banyak tahun, tentu saja dia bukan seorang manusia yang sama sekali tak berguna. Ia pun pernah berlatih ilmu silatnya dengan tekun, ilmu Tay-hong-kun yang dilatihnya cukup bisa diandalkan. sekalipun sudah banyak waktu tak pernah turun tangan, tapi serangan tersebut masih dapat dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, apalagi disertai dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, tentu saja serangan tersebut benar-benar amat dahsyat. Ia benar-benar sedang beradu jiwa! Tapi sayang, tandingannya kali ini adalah Tong Giok. Baru saja kepalannya diayunkan ke depan, jari-jari tangan Tong Giok yang halus telah mematahkan tulang tenggorokkannya. Pelan-pelan ia mundur kembali dua langkah, lalu pelan-pelan roboh terkapar keatas tanah, seperti seorang yang amat lelah sedang membaringkan tubuhnya diatas pembaringan, ia roboh dengan begitu pelan dan tenang. Sesaat menjelang elmaut merenggut selembar nyawanya, orang yang takut mati ini tiba-tiba saja menjadi sedikitpan tidak takut. Sebab siapa menginginkan kebajikan dia akan menerima kebajikan, dan kini apa yang diharapkan telah terpenuhi. Ia merasa dirinya telah menunjukkan rasa baktinya kepada Tay hong-tong, iapun menunjukkan kesetiaannya kepada empat puluh tiga orang saudaranya yang berada diluar halaman. Ia tak usah malu pula terhadap dirinya sendiri. ***** MENYAKSIKAN orang yang rela menjadi seorang telur busuk yang bodoh itu terkapar ditanah, entah apa yang dipikirkan Tong Giok? Dikala membunuh orang, sekulum senyuman selalu akan menghiasi ujung bibirnya, tapi kali ini senyuman tersebut hampir boleh dibilang lenyap tak berbekas. Setelah membunuh orang, ia selalu akan merasakan suatu kegembiraan dan kepuasan yang sadis dan mengerikan. Tapi yang ini dia merasa begitu kosong, hambar dan tiada perasaan apa-apa. Bahkan ia merasa begitu tidak bernapsu. tidak senang hati. Sekarang ia baru mengerti apakah seseorang benar-benar pemberani atau tidak, tak akan diketahui dihari-hari biasa. Seseorang yang dihari biasa kelihatan lemah dan tak berguna, seringkali menun-jukkan keberanian yang mengagumkan dikala menghadapi kematian. Sebaliknya seseorang yang dihari-hari biasa selalu bertepuk dada sambil mengatakan tak takut mati, biasanya setelah berada dalam keadaan demikian malah sebaliknya akan ketakutan dan barusaha melarikan diri dari ancaman tersebut. Tidak terasa lagi Tong Giok bertanya kepada diri sendiri. Andaikata aku adalah Ciau In dan aku berada dalam keadaan seperti hari ini, apa pula yang akan kulakukan?"
Dia tak ingin mengetahui jawabannya.
Dengan langkah lebar, cepat-cepat ia berjalan keluar dari ruangan dan meninggalkan tempat itu.
***** SEANDAINYA Ciau In benar-benar bersedia menghianati teman-temannya untuk menyelamatkan jiwa sendiri, Tong Giok tetap saja akan membunuhnya.
Cuma perasann Tong Giok setelah membunuh orang waktu itu akan jauh berbeda sekali.
Dia akan merasakan kegembiraan yang meluap-luap, merasa sangat puas dan senang karena ia kembali telah mempermainkan watak atau perangai manusia.
Tapi sekarang diapun mulai mengerti, disuatu saat perangai manusiapun akan berubah, sering kali orang akan merasakan pula harga dirinya.
Sering kali orang akan merasa bahwa harga diri jauh lebih bernilai beratus-ratus kali dari apapun didunia.
Jika seseorang telah berpendapat demikian, maka siapapun jangan harap bisa membuat malu dirinya lagi.
Hal mana sedikit banyak telah menimbulkan pula rasa hormatnya terhadap "manusia"......
atau paling tidak, dikala ia berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut ia mempunyai perasaan demikian.
Walaupun belum tentu perasaan tersebut akan berdiam terlalu lama didasar hatinya..
Yaa, begitulah keadaan dari Tong Giok.
seorang manusia super aneh dari keluarga Tong.
***** ILMU HAWA DINGIN BULAN empat tanggal tiga, udara cerah.
Semalaman suntuk Tong Ci tham tak tidur nyenyak, ketika bangun keesokan harinya ia merasa pinggangnya linu dan tulangnya sakit, ia merasa perasaannya masgul sekali, ia menyesal kenapa kali ini mengikuti Tong Giok keluar rumah dan melakukan perbuatan yang sama sekali tidak disukai olehnya.
Setiap kali melakukan perjalanan, ia selalu akan menginap dirumah penginapan yang termahal dan paling nyaman, tapi kali ini Tong Giok bersikeras menolak usulnya itu.
Maka terpaksa mereka harus menyiapkan tiga lembar pembaringan dalam rumah kayu kecil yang gelap dan pengap dibelakang warung lombok yang kotor dan bobrok itu.
Pembaringan dari Tong Giok agaknya semalam dibiarkan kosong, sebaliknya Tong Kau yang bertampang seperti monyet tidur begitu nyenyak sehingga mendengkur macam babi.
Cu ciangkwe serta Oh Po cu yang berada dikamar sebelah selalu berbolak balik pula diatas pembaringannya, jelas tidur merekapun tidak nyenyak.
Hingga mendekati fajar, ia baru terlelap tidur sebentar, ketika bangun Tong Giok sudah mulai sarapannya.
Semangkuk besar nasi goreng telur yang panas sudah dihabiskan separuh mangkuk lebih.
Napsu makannya seperti selalu baik dan besar ia selalu makan sangat banyak dan tak pernah memilih bahan makanan.
Tong Koat yang amat memperhatikan soal makanan pernah berkata begini.
"Sekalipun kau memasak sebatang balok kayu, dia toh sama saja akan melahapnya sampai habis"
Berbeda dengan pendapat Tong Oh, ia berkata begini.
"Sekalipun kau tidak memasaknya hingga matang, ia tetap bisa menghabiskannnya dengan tenang"
Keluarga Tong bukanlah suatu keluarga yang kaya mendadak, semua anak keturunan keluarga Tong amat menaruh perhatian terhadap pakaian dan makan minum mereka.
Satu-satunya yang terkecuali adalah Tong Giok.
Seringkali Tong Ci tham merasa heran.
Kenapa manusia semacam ini masih bisa hidup?
Apakah dia hanya hidup untuk membunuh orang?
Ia tahu, semalam Tong Giok pasti telah membunuh orang, sebab biasanya setelah membunuh orang dia tentu mempunyai selera makan yang sangat baik.
Ketika Tong Kau dan Oh Po-cu masuk ke dalam ruangan, ia sudah menghabiskan mangkuk yang ke tujuh.
Akhirnya ia turunkan juga sumpitnya.
kemudian sambil memandang ke arah mereka dengan senyuman dikulum, katanya.
"Aku yang menggoreng sendiri nasi itu, telah kugunakan minyak babi setengah kati serta sepuluh butir telur ayam, rasanya sih tidak terlalu jelek, apakah kalian punya minat untuk makan barang dua mangkok saja?"
Sepagi ini, siapa yang tega makan nasi goreng telur dengan minyak sebanyak itu?"
Tiba-tiba Tong Ci tham bertanya.
"Siapa yang telah kau bunuh semalam?"
"Kau tahu kalau aku telah membunuh orang .........?"
Tong Giok balik bertanya sambil tertawa.
"Tapi aku tak dapat menduga manusia berharga manakah yang pantas kau bunuh ditengah malam buta seperti itu?"
"Tidak sedikit orang yang pantas dibunuh di tempat ini"
Jawab Tong Giok kembali.
"sayang aku hanya membunuh empat puluh empat orang!"
Waktu itu Cu ciangkwe baru saja akan menghirup air teh, tapi setelah mendengar jawaban tersebut, saking kagetnya air teh itu sampai muncrat keluar lagi lewat lubang hidungnya.
Agaknya Tong Ci-tham sudah terbiasa oleh berita semacam itu, dia hanya bertanya.
"Empat puluh empat orang?"
"Yaa, mereka adalah Ciau In beserta ke empat puluh tiga orang anggotanya dalam kantor cabang!"
Paras muka Tong Ci-tham segera berubah hebat.
"Apakah kau tak dapat menunggu sampai kita membunuh Tio Bu ki lebih dulu baru membunuh mereka?"
"Tidak bisa!"
"Kau tidak kuatir mengusik rumput mengejutkan sang ular?"
"Tidak takut!"
Tong Ci-tham tidak berbicara lagi, diapun tiada perkataan yang bisa diucapkan lagi.
Tong Giok memenuhi sendiri cawannya dengan air teh panas.
kemudian pelan-pelan meneguknya, setelah itu sambil tersenyum dia baru berkata.
"Kemarin malam sebenarnya aku telah berencana untuk tidur nyenyak, aku pun tak ingin menempuh hujan badai untuk pergi membunuh orang"
"Kemudian, mengapa kau berubah pikiran?"
Tak tahan Tong Ci-tham bertanya.
"Karena secara tiba-tiba aku telah teringat akan suatu hal"
"Apakah itu?"
"Tiba-tiba saja terpikir olehku bahwa pepohonan bukanlah suatu tameng atau tempat perlindungan yang paling baik, masih ada semacam pelindungan lagi yang jauh lebih baik."
"Apakah itu?"
"Manusia!"
Tong Ci-tham melongo, jelas ia tidak habis mengerti.
"Bila Tio Bu-ki cukup pintar, maka dia pasti dapat menduga bahwa kita tak akan menghamburkan senjata rahasia perguruan kita yang jauh lebih berharga dari emas ini pada tubuh sekawanan manusia yang sama sekali tiada sangkut paut dengannya"
Kata Tong Giok.
"Yaa, senjata rahasia perguruan kita memang tak boleh digunakan secara sembarangan bilamana keadaan tidak terlalu mendesak!"
Tong Ci-tham manggut-manggut tanda membenarkan.
"Maka dari itu, jika Tio Bu-ki cukup cerdik, dia pasti akan menyaruh anggota Tay-hong tong untuk menyamar sebagai manusia-manusia tersebut, sementara dia dan Samwan Kong akan menyusup diantara orang orang itu, dengan demikian kita pasti tak akan berani melepaskan senjata rahasia kepada mereka"
Sekalipun Tong Ci tham tidak menjawab, tapi mau tak mau dia harus mengakui juga ketelitian serta kesempurnaan jalam pemikirannya itu.
"Orang orang itu semua dalah orang orang mereka sendiri"
Kata Tong Giok lebih jauh.
"Maka bila kita ikut membaurkan diri diantara mereka, ibaratnya tiga ekor musang diantara sekelompok ayam dalam seklias padnagan saja mereka tentu akan mengenali diri kita"
Setelah menghela napas panjang, kembali berkata.
"Waktu itu, bukan saja kita tak dapat menghajar mereka dengan senjata rahasia, malah sebaliknya kita akan menjadi umpan anak panah mereka..."
Tong Ci tham ikut menghela napas panjang, akhirnya dia mengakui juga.
"Yaa, jika Tio Bu Ki cukup ceridk, dia pasti akan berbuat demikian..."
"Aku rasa dia bukan mirip seorang tolol!"
"Yaa, memang tidak mirip!"
"Oleh sebab itulah terpaksa aku harus menempuh hujan badai untuk membunuh orang pada malam itu juga"
Tong CI tham berpikir sebentar, kemudian tak tahan ia bertanya lagi.
"Tapi bukankah sekarangpun mereka masih bisa membaurkan diri ditengah kerumunan orang banyak?"
"Keadannya akan berbeda!"
"Kenapa?"
"Sebab asal orang orang itu bukan orang orang mereka sendiri, maka jika mereka dapat membaurkan diri, kitapun bisa pula membaurkan diri, mereka takan akan mengenali kita, sebaliknya kita kenali diri mereka..."
Setelah tertawa, ia menambahkan.
"Bila Tio Bu Ki cukup pintar, dia tak akan melakukan tindakan berbahaya seperti ini"
Tentu saja!
Bila orang itu berbuat seperti itu, berarti dia kurang cerdik.
Tong Ci tham bukannya tidak mengerti atas perkatannya tersebut, tapi paras mukanya macam peti mati itu masih tetap kaku tanpa emosi, tanyanya lagi dengan suara ewa.
"Menurut pendapatamu, apa yang bakal dia lakukan?"
"Setelah kita membunuh Ciau In beserta konco-konconya, maka dia pasti akan makin bernapsu untuk membunuh kita!"
"Tentu saja!"
Tong Ci-tham manggut-manggut.
"Maka dari itu, paling lambat malam nanti, Samwan Kong pasti sudah munculkan diri."
"Dia bakal munculkan diri dimana?"
"Dalam hutan Say-cu-lim?."
"Yaa, mungkin saja merekapun menganggap tempat itu kurang sesuai, tapi mereka tak akan menemukan tempat lain yang jauh lebih baik lagi!"
"Tapi hutan Say-cu-lim itu luas sekali ....."
Tak tahan Cu Ciangkwe menyela. Tong Giok sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih jauh, segera tukasnya.
"Pagi tadi aku telah berkunjung kesana, sekarang baru saja kembali ke rumah!"
Cu Ciangkwee segera membungkam, ia tidak berkata apa apa lagi... Tong Giok kembali berkata lebih jauh.
"Dalam hutan Say-cu-lim seluruhnya terdapat tiga buah pintu, aku pikir dia pasti akan melewati beberapa buah jalan yang terang dan masuk melewati pintu yang paling ramai pula, karena tujuan mereka yang sebenarnya adalah agar kita menemukan jejaknya.
"Setelah masuk?"
"Aku pikir dia pasti akan mencari tempat duduk di warung teh yang bernama Hoa swat-sian"
Kenapa?"
"Sebab tempat itu berlatar belakang telaga dengan sisi kiri kanannya berupa kebun bunga, karena itu meskipun empat penjuru berupa pagar pagar bambu yang terbuka, namun hanya ada sebuah jalan masuk kearah sana, karena itulah bila kita masuk ke luar, dia dapat memperhatikan gerak gerik kita dengan seksama"
Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata.
"Orang itupun mempunyai suatu kepandaian yang paling hebat, yakni bagaimanapun kita menyaru, dia dapat segera mengetahui hanya dalam sekilas pandangan saja"
"Banyak tahun berselang aku pernah mendengar tentang orang ini! "kata Tong Ci-tham, konon dia berasal dari perguruan Hoa Ngo koh, baik dalam ilmu meringankan tubuh, senjata rahasia menyaru serta ilmu lembek semuanya terhitung jagoan kelas satu."
Tong Giok manggut-manggut, ia mengalih-kan kembali pembicaraannya kepokok pembicaraan semula katanya.
"Waktu itu kemungkinan sekali Tio Bu ki sudah bersembunyi disekitar tempat itu, mungkin juga ia telah berada dalam warung penjual teh"
"Aku dapat mengenalinya dengan cepat!"
Tak tahan Oh Po cu menukas dari samping.
"Yaa, andai kata Tio Bu ki masih berwujud seperti apa yang telah kau jumpai kemarin!"
Oh Po cu seketika itu juga terbungkam dalam seribu bahasa.
"Seandaipya ia sudah menyaru diri, toh kau tetap tak akan mengenalinya juga"
Tong Giok me-lanjutkan. Oh Po cu tak berani membantah, ia cuma diam saja. Maka Tong Giok pun berkata lebih jauh.
"Tempat itu ramai sekali, biasanya banyak penjajah makanan yang hilir mudik disitu, peminta-mintapun tak sedikit jumlahnya, salah satu diantara orang-orang itu kemungkinan besar adalah Tio Bu ki, maka kita harus menunggu sampai dia turun tangan lebih dahulu"
Setelah tertawa, katanya kembali.
"Asalkan dia telah turun tangan, maka wajah aslinya akan segera diketahui secara jelas dan pasti!"
Tong Ci tham termenung sebentar, kemudian katanya.
"Bila kita tinjau dari mulut luka dua orang itu, ilmu pedang yang dimilikinya bukan saja sangat cepat, lagipula amat tepat, bila kita biarkan ia turun tangan lebih dulu apakah hal ini tidak terlampau berbahaya ?"
Tong Giok kembali tertawa hambar.
"Untuk memotong dagingpun ada resiko-nya, apalagi membunuh orang!"
Tong Ci-tham telah mengeluarkan batu apinya dan siap menyulut tabung huncwe. Tiba-tiba Tong Giok berkata lagi.
"Ia tahu kalau kita ada tiga orang, karena itu kita biarkan mereka menjumpai tiga orang."
Siapapun tidak mengerti akan kalimat dari perkataannya itu tapi siapapun tak ingin bertanya, Tong Giok berkata lebih jauh.
"Begitu Samwan Kong duduk, paman Tham, monyet kecil dan Lo Cu segera mengurungnya, bahkan boleh perlihatkan asal-usul kalian agar dia tahu bila orang-orang dari keluarga Tong telah datang"
"Akupun harus pergi?"
Tak tahan Cu ciangkwe bertanya.
"Yaa!, Tio Bu ki pernah berjumpa dengan engkoh Po, karena itu terpaksa hau harus menggantikanya!"
"Tapi aku..."
"Aku tahu kau terpaksa dimasukkan kedalam hitungan karena keadaan yang mendesak, tapi Tio Bu-ki tak akan tahu, dia hanya tahu kalau dari pihak keluarga Tong sudah datang tiga orang munculkan diri lagi, pula setiap saat mungkin akan merenggut nyawa Samwan Kong, maka dia pasti akan turun tangan"
Setelah tertawa, ia menambahkan.
"Waktu itu, tentu saja akupun sudah hadir disitu, asal Tio Bu ki turun tangan maka dia pasti akan mampus!" ***** RENCANA ini tersusun amat rapi, setiap bagian, setiap langkah boleh dibilang telah diperhitungkan secara tepat, bahkan boleh dikatakan amat cermat dan teliti. Hanya ada satu hal, satu bagian yang tidak ia terangkan kepada mereka semua... ."
Tong Ci tham, Tong Kau dan Cu ciangkwe, entah siapakah diantara mereka bertiga ini yang pasti ada seorang diantara mereka yang bakal mampus diujung pedang Tio Bu ki.
Dengan kecepatan pedang yang dimiliki Tio Bu ki, kemungkinan semacam itu boleh dibilang be-sar sekali.
Baginya hal ini merupakan suatu bagian yang tidak terlalu serius, asal ia dapat membunuh TioBu ki, persoalan yang lain dianggapnya sama sekali tak penting, mati hidup orang lainpun lebih-lebih tak akan dipikirkan dalam hatinya.
Ia tahu, Tong Ci-tham semua mungkin saja akan berpikir juga sampai kesitu, sayang sekali pada hakekatnya mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali berbuat demikian.
Karena mereka sudah pasti tak akan sanggup untuk mendapatkan rencana lain yang jauh lebih baik, karena ia jauh lebih pintar dari mereka semua.
Mengetahui kalau dirinya jauh lebih pintar dari pada orang lain, tak bisa diragukan lagi hal ini merupakan suatu persoalan yang pantas digirangkan..Dengan wajah berseri Tong Giok menghembuskan napas panjang, kemudian katanya.
"Selesai bersantap nanti, kalian boleh mulai mempersiapkan diri!"
"Kau sendiri?"
Tanya Tong Ci tham.
"Sekarang aku ingin tidur dulu, tapi dikala kalian telah sampai dirumah makan Hoa gwat sian, aku pasti telah berada pula disana"
Setelah tertawa sejenak, ia berkata lagi.
"Cuma bila kalian tidak melihat diriku, kalian pun tak usah merasa kuatir!"
"Kenapa?"
"Sebab aku pasti akan berusaha keras untuk menyaru diriku sedemikian rupa, sehingga bahkan kalian sendiripun tidak mengenalinya kembali"
"Kenapa?"
Kembali Tong Ci-tham bertanya.
"Bila kalian masih bisa mengenaliku, setelah melihat aku nanti, sedikit banyak wajah kalian akan menunjukkan pula sedikit perubahan, siapa tahu kalau pelubahan wajah kalian, itu justru akan digunakan oleh Tio Bu ki sebagai petunjuk yang jelas"
Sesudah tersenyum ia menambahkan.
"Tio Bu ki adalah seorang yang pintar, kemungkinan sekali ia jauh lebih pintar dari pada kita semua"
Walaupun dibibir ia berkata demikian, tentu sajaa dalam hatinya tidak berpikir demikian, Sudah barang tentu ia jauh lebih pintar daripada Bu ki, bahkan lebih pintar dari siapapun juga, Terhadap kemampuannya itu, dia mempunyai rasa percaya pada diri sendiri yang sangat tebal.
***** SEWAKTU melihat Mayat Ciau In tergeletak ditanah Tio Bu ki tidak melelehkan airmata, diapun tidak muntah.
Kesedihan dapat membuat orang melelehkan air mata, ketakutan bisa membuat orang muntah.
Yang ada didalam hatinya sekarang hanya kemarahan.
Dia bukannya tak tahu kalau kemarahan paling mudah membuat orang melakukan kesalahan, tapi setiap orang tentu akan menjumpai suatu saat dimana ia tak dapat menguasahi diri sendiri.
Pelan-pelan Samwan Kong membelai tulang tenggorokan Ciau In yang hancur, tiba-tiba ia bertanya.
"Tahukah kau bahwa dalam tenaga dalam pun terdapat semacam ilmu yang dinamakan ilmu hawa dingin?"
Bu ki mengetahui akan hal ini.
Ilmu hawa dingin adalah sejenis ilmu tenaga dalam yang paling sulit dipelajari, tapi merupakan pula ilmu tenaga dalam yang paling menakutkan didunia ini.
Orang yang membunuh Ciau In adalah seseorang yang melatih diri dengan ilmu hawa dingin"
Kembali Samwan Kong berkata.
"Aku dapat melihatnya!"
"Sekalipun kepandaian ini merupakan sejenis kepandaian yang sangat lihay, namun siapapun enggan untuk melatihnya"
"Kenapa?"
"Karena siapa yang melatih ilmu hawa dingin, biasanya dirinya akan berubah pula menjadi laki tidak lelaki, perempuan tidak perempuan, jadinya seorang banci yang tulen!"
"Apakah kau berhasil mengingat seseorang yang pernah melatih kepandaian semacam ini?"
"Yaa, aku pernah mendengar orang mengatakannya!"
"Siapakah itu?"
"Tong Giok!"
Bu-ki segera mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, kemudian berbisik.
"Aku sangat berharap kalau diapun ikut datang!"
"Apakah kau masih ingin mempergunakan diriku untuk memancing kemunculannya?"
"Yaa!"
"Kapan?"
"Hari ini!"
"Dimana?"
"Hutan Say-cu-lim!"
"Masih di hutan Say-cu-lim?"
"Yaa! sebab aku tak bisa menemukan tempat yang jauh lebih baik daripada tempat itu!"
Setelab tertawa, pelan-pelan ia melanjut-kan.
"Aku masih ingat kalau disitu terdapat sebuah warung penjual teh yang memakai merek Hoa Gwat sian!"
"Ehmm, tempat itu memang suatu tempat yang sangat baik!"
Samwan Kong manggutmanggut".
"Sore nanti, kau boleh berjalan-jalan lebih dulu mengitari jalan raya, kemudian pergilah kesitu untuk menunggu sang ikan menubruk umpan, sebelum aku munculkan diri tak mungkin mereka akan turun tangan!"
"Dan kau?"
Tanya Samwan .Kong.
"Aku akan menunggu lebih dulu disana!"
Dalam kamar Ciau In tergantung sebilah pedang, meski hanya dipakai sebagai tumbal untuk mengusir hawa sesat, mata pisaunya masih tajam sekali.
Bu ki meloloskannya dari atas dinding dan membelai mata pedang yang dingin dan tajam itu.
Bunga akan tumbuh dengan segar bila seringkali disirami air, demikian pula dengan pedang, bila telah menghirup darah maka pedang itu akan tampak lebih bercahaya dan lebih tajam.
Pelan-pelan Bu ki berkata.
"Hari ini aku akan meminjam dirimu, aku pasti akan membuat kau mencicipi darah musuhmu aku tak akan menyia-nyiakan harapanmu"
Ia menyentuh pedang dan bergumam mengemukakan suara hatinya. Sayang meskipun pedang itu berisi, ia tak dapat bersuara, kalau tidak dia pasti akan memberitahukan kepadanya.
"Walaupun aku tak akan menyia-nyiakan harapanmu, sayang semua rencanamu sudah berada didalam perhitungan orang lain, kau sudah pasti akan mampus!" ***** SEBELUM matahari tenggelam di langit barat, saat itulah sinar matahari bercahaya dengan terangnya. Cahaya matahari meninggalkan bayangan tubuh yang menajang dari Tong Ci-tham, Cu ciangkwe serta Tong Kau di atas tanah, memanjang lagi melengkung, sehingga mirip dengan tiga sosok sukma gentayangan. Ketika Oh Po-cu menyaksikan ketiga orang itu berjalan keluar, sorot matanya seakan-akan sedang melihat ada tiga sosok mayat sedang berjalan....Ia percaya Tio Bu0ki pasti akan mati kali ini, tapi ketiga orang itupun jangan harap bisa pulang kembali dalam keadaan hidup. Untung ia tak perlu menguatirkan bagi keselamatan dirinya sendiri, tugas yang harus diselesaikannya kali ini amat ringan. Tong Giok hanya menyuruh dia untuk melakukan pengintaian belaka di sekitar tempat itu, bahkan makin jauh dari Hoa gwat sian makin baik. Tugas semacam ini tak mungkin akan menjumpai bahaya. Maka sambil tersenyum, selangkah demi selangkah ia berjalan keluar dari Gang lombok. ***** HUTAN SINGA BULAN empat tanggal tiga senja. Udara disenja itu masih secerah siang harinya, baru saja sang surya mulai tenggelam dilangit barat, udara terasa bersih dan membiru, sinar matahari sore meman-carkan keindahan warna menyejukkan hati. Perasaan Samwan Kong ketika itu tidak terlalu sejuk. Seperti orang tolol, ia berjalan menyusuri dua buah jalanan yang konon merupakan jalanan terindah disekitar tiga ratus li dari tempat itu, selama hampir setengah jam lamanya, diapun menyaksikan banyak nona dan isteri-isteri muda yang diam-diam keluar dari rumahnya untuk pergi secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka berbuat demikian hanya untuk membeli pupur atau gincu ditoko pupur sambil membuang beberapa lirikan untuk para penjaga toko yang masih muda itu, sebab kecuali berbuat demikian, tiada pekerjaan lain yang bisa menimbulkan kegembiraan mereka. Kemudian diapun berkunjung ke sebuah rumah penjual barang antik untuk menikmati serangkaian lukisan yang indah sambil pura-pura menjadi seorang calon pembeli yang serius. Bahkan diapun sempat membeli sebungkus gula-gala untuk kemudian secara diam-diam membuangnya kedalam selokan. Ia sendiripun tak tahu kenapa ia bisa melakukan perbuatan-perbuatan semacam ini. Sesungguhnya ia sama sekali tidak terlibat atau punya sangkut paut perselisihan antara Tio Bu ki dengan keluarga Tong. Tapi dia amat menyukai Tio Bu ki. Seringkali seseorang bila pergi melakukan serangkaian perbuatan yang belum tentu menyenangkan hatinya, hanya demi orang-orang yang disenanginya. Demikian pula halnya dengart Samwan Kong. Sekarang, untunglah dia sudah duduk dan memesan sepoci air teh kegemarannya. Air yang mengalit dalam sungai amat bersih dan jernih, aneka bunga yang tumbuh di sekitar taman menyiarkan bau harum yaug semerbak, ia duduk dengan punggungnya menempel diatas sebuah tiang penyangga besar, dengan begitu iapun tak usah kuatir kalau ada senjata rahasia beracun dari pihak keluarga Tong yang akan menyambar ke arahnya dari belakang ...... Tangannya diletakkan, sangat dekat dengan kaki meja, sehingga setiap saat ia bisa mempergunakan meja tersebut sebagai tameng untuk melindungi dirinya. Untung saja ia mulai merasa agak nyaman dan segar. Apakah tiga orang dari keluarga Tong telah menjumpainya? Dapatkah mereka datang kemari mengikutinya? Berbagai ragam penjaja kecil berjalan mondar mandir dalam warung teh itu, mereka membawa keranjang yang berisikan aneka macam buah-buahan segar serta aneka macam kueh kering serta manisan. Delapan sembilan orang pengemis tua yang loyo duduk termenung dipinggir pagar, sambil menunggu pemberian sedekah dari orang lain. Mereka sama sekali tidak memperlihatkan sikap tengik, sikap rendah yang menimbulkan rasa muak bagi siapapun yang melihatnya, orang-orang itu hanya bersandar sambil menunjukkan keletihan yang amat, suatu keletihan ysag telah merasuk ke tulang sumsum akibat keputus asaannya menghadapi kehidupan. Mungkinkah diantara mereka terdapat pula orang keluarga Tong yang sedang menyamar? Dari tiga puluhan tempat duduk yang tersedia disana, hanya belasan orang tamu yang menempatinya. Seorang nenek bungkuk sedang menggunakan sebiji kueh untuk menghentikan tangisan cucunya yang makin menjadi. Tiga orang pedagang yang gemuk-gemuk sedang ribut soal harga hingga wajah pun ikut berubah menjadi merah padam. Dua orang kakek sedang duduk bermain catur. Sepasang suami istri muda duduk dikejauhan sana sambil berbisik-bisik membicarakan kata cinta. Disamping sebelah lain sepasang suami istri setengah umur yang duduk disitu seperti orang asing, sepatah katapun tidak berbicara. Sang suami sedang menikmati sebiji bak pao dengan penuh kenikmatan, sebaliknya sang istri sedang memperhatikan suami istri muda jauh dipojok sana dengan terpesona.
Jilid 15________ MUNGKIN iapun teringat bahwa dimasa lalupun ia pernah mengalami masa indah seperti itu, tapi musim semi lewat musim gugurpun tiba, masa seindah itu sudah lewat lama, kini yang tinggal hanya masa ketuaan yang makin mendekat.
Selama masa-masa begini, mungkin saja suaminya mencari hiburan perempuan lain di luaran, sedang ia harus duduk dalam dapur dengan pakaian yang kotor sambil melewatkan hidupnya.
Selain mereka, terdapat pula seorang laki-laki berpakaian perlente yang tinggi besar sedang berdiri bergendong tangan dibelakang pagar sambil menikmati air telaga yang jernih seakanakan ia sedang menikmati keindahan senja itu.
Diantara orang-orang itu tak mungkin ada orang-orang dari keluarga Tong, tidak ada pula diri Tio Bu-ki.
Selama ini ia tak berhasil menemukan Bu-ki, diapun tak ingin mencarinya dengan teliti, pokoknya ia tahu bahwa Bu-ki pasti berada disekitar tempat itu.
Sepoci air teh sudah hampir habis diminum, setelah menempuh perjalanan sejauh itu, sedikit banyak ia merasa haus juga.
Baru saja dia hendak memanggil orang untuk menambah air.
Pada saat itulah, ia menyaksikan ada tiga orang munculkan diri dari jalanan sempit beralas batu itu dan berjalan dan menghampiri kearahnya.
Ketiga orang itu semuanya mengenakan baju berwarna hijau dengan celana putih, yang seorang bertubuh gemuk sedang yang lain bertubuh kurus seperti monyet.
Orang ketiga adalah seorang kakek ceking yang amat tinggi dengan membawa sebuah huncwe, pinggangnva amat panjang lagi lurus seperti kayu, ketika berjalan tubuhnya sama sekali tak bergoyang, mukanya yang hitam kelihatan serius dan tanpa emosi.
Menyaksikan kemunculan ketiga orang itu, kelopak mata Samwan Kong segera berkerut kencang.
Ia telah mengenali kembali orang-orang tersebut, diantara mereka bertiga paling tidak ada dua orang diantaranya adalah mereka yang menguntilnya sejak dari Cuan-tiong.
Terutama sekali pemuda bertampang monyet itu, sekalipun ia menyaru sebagai seorang perempuan yang lagi meteng tua, dalam sekilas pandangan saja ia pasti dapat mengenalinya kembali.
Sekarang rnereka benar-benar telah datang.
Pemuda maupun si gemuk itu tak perlu dia risaukan, jelas orang yang paling sukar dihadapi adalah kakek pembawa huncwe tersebut.
Bahkan Samwan Kong merasa agak kuatir.
Sebab ia mencurigai kakek pembawa huncwee itu kemungkinan bear adalah Tong Jisiangseng yang namanya amat menggetarkan dunia persilatan itu ...............
***** WALAUPUN kakek itu bukan Tong Ji siangseng, dia adalah Tong Ci-tham.
Dalam hati kecilnya ketika itu ia sedang tertawa dingin tiada hentinya.
Sebab sekalipun Tong Giok bertekad tak akan membiarkan mereka untuk mengenalinya juga hanya dalam sekilas pandangan.
Dalam sekali pandangan saja, ia telah menyaksikan dua buah titik kelemahan yang pantas dicurigai.
bocah kecil yang menangis terus menerus itu hanya memakai kaus dan tidak bersepatu ...
tangis bocah itu terlalu keras.
Seorang bocah yang keluar rumah bersama neneknya, tidak semestinya kalau menangis sekeras itu.
Seorang nenek yang berhati welas dan teliti, tak akan mengajak cucunya bermain tanpa memakai sepatu, apalagi hanya mengenakan kaus kaki belaka.
Oleh sebab itu, dengan cepat Tong Ci-tham mengambil kesimpulan.
Nenek itu adalah penyamaran dari Tong-Giok .
Bocah itu sedang tertidur nyenyak ketika "dipinjam"
Oleh Tang Giok.
Tong Ci-tham ingin sekali menghampirinya dan memberi pelajaran yang setimpal kepada pemuda itu, agar ia sedikit mengetahui sopan santun, agar ia tahu bahwa orang yang berusia lanjut pantas menerima penghormatannya.
Tentu saja perbuatan semacam ini tak akan ia lakukan secara sungguh-sungguh, karena bagaimanapun juga mereka sama-sama adalah orang-orang dari keluarga Tong.
Walaupun dalam keluarga Tong seperti juga keluarga keluarga lain, tak akan terhindar dari suatu perebutan kekuasaan.
Tapi dikala mereka sedang menghadapi orang luar, selamanya mereka akan bersatu padu.
Sekarang orang yang harus mereka hadapi adalah Tio Bu ki.
Entah bagaimana pun juga, ia bisa mempunyai idee untuk "meminjam"
Seorang anak kecil milik orang lain untuk melindungi diri, hal ini terhitung pula sebagai suatu perbuatan yang cerdik.
Tong Ci-tham percaya baik Tio Bu ki maupun Samwan Kong, tak nanti akan menduga sampai ke situ.
Oleh sebab itu ia lebih mantap dan yakin atas keberhasilan operasinya kali ini.
Tetapi diapun tidak mengetahui siapakah diantara sekian banyak orang adalah Tio Bu ki.
Tiga orang yang sedang membicarakan soal dagangan terlampau gemuk, dua orang kakek yang sedang bermain catur terlalu tua dan loyo.
Mereka-mereka itu tak mungkin bisa ditirukan .
Dua pasang suami istri itupun tidak mirip.
Dua orang istri itu betul-betul perempuan tulen, sedangkan dua orang suami itu yang muda terlalu loyo dan seram sinar matanya, jelas karena pengantin baru terlalu banyak "bekerja keras", sebaliknya yang berusia setengah umur bermuka kaku, jelas bukan manusia-manusia yang tahu akan ilmu silat.
Sisanya tinggal dua orang penjajah makanan serta seorang pelayan yang membawa sepoci besar air panas.
Dari tiga orang yang bersisa, seorang bermuka burik, yang seorang kehilangan separuh telinganya, sedang pelayan yang siap menambah air panas dalam poci Samwan Kong itu bertangan kasar berkaki besar, jelas merupakan seseorang yang sudah terbiasa kerja keras.
Tio Bu-ki bukan berasal dari pekerja keras, telinganya tidak tinggal separuh bagian, dia lebihlebih tidak bermuka burik.
Lantas siapakah sebenarnya Tio Bu-ki.
Tong Ci-tham ingin sekali memeriksa orang-orang itu sekali lagi dengan teliti, sayang pada saat itulah mereka sudah tiba dihadapan Samwan-Kong.
Seandainya ia tahu keadaan yang sebenarnya, maka ia pasti akan merasa amat terperanjat.
Sebab pada saat itu hakekatnya Tio Bu ki sama sekali tidak hadir di Hoa gwat-sian.
***** SAMWAN KONG memperhatikan terus diri Tong Ci-tham dengan seksama.
Langkah kaki kakek itu enteng dan mantap sepasang keningnya menonjol amat tinggi, sewaktu berjalan sepasang bahunya sama sekali tak bergoyang.
Itu semua adalah ciri-ciri khas dari seorarg jago yang berilmu sangat tinggi.
Jika seorang jago persilatan berpengalaman bersiap sedia akan menghadapi seseorang, tentu saja seluruh perhatian dan pikirannya akan terhimpun pada tubuh orang itu.
Sekarang sasarannya adalah Samwan Kong, tapi ia tidak terlalu memperhatikan Samwan Kong, sebaliknya ia amat tertarik sekali untuk memperhatikan sang nenek yang bermain dengan cucunya itu.
Peduli bagaimana tuanya seorang kakek, tak nanti dia akan tertarik terhadap seorang nenek.
Biasanya hanya anak-anak gadis remaja yang akan menimbulkan rasa tertarik bagi seorang kakek.
Apakah nenek itu mempunyai sesuatu keistimewaan.
Samwan Kong tak sempat lagi untuk memperhatikan dengan teliti, karena pada waktu itu Tong Ci-tham sekalian telah tiba dihadapannya.
***** AGAKNYA pelayan sedang menambah air dalam poci itu merasakan juga maksud jahat dari kedatangan ketiga orang itu, dengan terperanjat ia melompat mundur ke belakang.
Ternyata Samwan Kong amat sebat dan tenang sambil tertawa kepada mereka katanya "Silahkan duduk"
Tentu saja mereka tak akan duduk. Dengan suara dingin Tong Ci-tham berkata.
"Tahukah kau, mau apa kami datang kemari?"
"Tidak tahu!"
Setelah tertawa, ia berkata lagi.
"Seandainya kau adalah seorang nona, aku pasti akan mengira kau telah tertarik kepadaku, maka dari tadi menatapku terus menerus, sayang kau lebih tua daripadaku lagipula tampangmu jelek amat. Paras muka Tong Ci-tham yang kaku seperti peti mati, belum juga menunjukkan reaksi apaapa, dia bukan seseorarg yang gampang dibuat marah, karena itu diapun tak ingin bersilat lidah. Tong Kau sebaliknya tak tahan, tiba-tiba ujarnya.
"Kami memang tertarik sekali oleh semacam benda milikmu dan kami bersiap-siap untuk membawanya pulang"
"Bukankah kalian tertarik oleh batok kepalaku ini?"
"Tepat sekali!"
Samwan Kong segera, tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhhh..... haaahhh....haaahhh....sudah cukup lama aku bosan dengan batok kepalanya itu, kalau kalian menginginkan, ambit saja secepatnya, lebih cepat lebih baik!"
Tapi mereka sama sekali tidak turun tangan.
Tiba-tiba saja mereka lepaskan jubah luarnya yang berwarna hijau, sehingga tampaklah sebuah kantong kulit Yang tergantung disisi pinggangnya ........
Disamping kantong kulit itu, tergantung pula sebuah sarung tangan dari kulit menjangan, milik Tong Ci-tham sudah tampak mengkilap dan halus.
Itulah lambang dari keluarga Tong, kebanyakan orang persilatan akan ketakutan setengah mati bila menjumpai kantong-kantong kulit semacam itu, mungkin saja nyawa mereka serasa melayang saking takutnya.
Samwan Kong tiduk takut, ia malah tertawa tergelak.
Dugaan Bu ki ternyata sama sekali tak meleset, sasaran mereka bukanlah dia, melainkan Tio Bu ki.
Sekarang mereka seperti juga dirinya, sengaja mengulur waktu sambil menunggu Tio Bu ki munculkan diri.
Mengapa Bu ki masih belum turun tangan?
Apalagi yang sedang ia nantikan?
Sambil tertawa Samwan Kong kembali berkata.
"Apa isi dari kantong-kantong kalian itu? Apakah..."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, hatinya mulai tercekat dan seakan-akan terjatuh kedalam jurang yang beratus-ratus kaki dalamnya.
Akhirnya ia menemukan juga diri Tio Bu-ki.
Ternyata Tio Bu-ki tidak berada di warung Hou gwat sian, ternyata ia berdiri jauh di atas gunung-gunungan sana, seakan-akan sedang siap menyaksikan suatu adegan seram.
Ia tidak habis mengerti menapa Bu-ki harus berbuat demikian?
Dia hanya tahu cepat atau lambat ketiga orang itu pasti akan turun tangan.
Asal mereka telah turun tanagn, itu berarti dia bakal mati konyol....!
***** SISA SISA matahari sore masih memancarkan sinarnya memenuhi seluruh udara.
Permukaan air telaga bergoyang keras, seorang gadis remaja diam-diam sedang memetik sekuntaum bunga Botan.
Waktu itu, Oh Po cupun berada disekitar sana berada di suatu tempat yang aneh, yang istimewa dan sama sekali tak terduga oleh siapapun.
Ia percaya tak akan ada orang yang dapat melihat dirinya, tapi ia dapat melihat orang lain dengan jelas.
Setiap orang dapat ia lihat dengan amat jelasnya.
Ia melihat Tong Ci-tham bertiga masak ke dalam warung Hoa gwat sian, iapun melihat Tong-Ci-tham memandang kearah nenek tersebut dengan sinar mata yang sangat aneh.
Diam-diam ia merasa geli sekali.
Satu-satunya hal yang tidak ia pahami adalah mengapa hingga kini Tio Bu ki masih belum juga munculkan diri.
Sekarang Tong Ci-tham bertiga telah mengenakan sarung tangan kulit menjangan mereka, wak-tu sudah tak bisa diulur lebih jauh.
Perduli apakah Tio Bu ki akan turun tangan atau tidak, mereka bertiga akan melancarkan serangannya.
Pada saat seperti itulah tiba-tiba berlangsung suatu kejadian yang sangat aneh, suata peristiwa yang mimpipun tak pernah disangka oleh Po cu.
Selama hidup belum pernah ia merasakan rasa kaget yang sedemikian hebatnya seperti sekarang.
Hampir saja ia tak tahan dan ingin melarikan diri.
Tapi ia tak boleh berkutik, iapun tak boleh menunjukkan wajah kaget yang luar biasa.
Kalau tidak, diapun akan mati konyol!
Pelan-pelan Tong Ci-tham telah mengenakan sarung tangan kulit menjangan.
Kulit lama yang terasa hangat lagi empuk.
Sarung tangan itu terbuat dari kulit menjangan, kulit dari seekor anak menjangan.
Pada usia tujuh belas tahun, ia membunuh sendiri anak menjangan tersebut.
Dan seorang nona kecil yang gemar mengikat sepasang kuncirnya dengan pita kupu merah menjahitkan sendiri sarung tangan itu baginya.
Dia dan jikonya sama-sama menyukainya.
Kemudian meskipun ia berhasil mempersunting nona itu, tapi jikonya berhasil mendapatkan nama dan kedudukan dalam dunia persilatan.
Sekarang si nona kecil yang suka mengikat kuncirnya dengan pita kupu merah itu sudah berada di dalam tanah, sebaliknya nama besar dan kejayaan Tong Ji-sianseng makin cemerlang bagaikan matahari di tengah hari.
Waktu itu seandainya nona berkuncir itu bersedia kawin dengan jikonya, entah bagaimana pula keadaannya sekarang?
Mengapa begitulah kehidupan manusia, di saat kau mendapatkan suatu benda, sering kali kau pun akan kehilangan benda yang lain.
Oleh karena itu ia tak pernah menyesal.
Setiap kali ia kenakan sarung tangan itu, segera akan timbul suatu perasaan yang aneh dalam hatinya, ia selalu akan terbayang kembali kenangan-kenangan lama yang tak akan terlupakan untuk selamanya, teringat bagaimana syahdunya suasana ketika itu, dikala nona kecil terkuncir itu menjahitkan sarung tangannya dibawah sinar lentera.
Dalam keadaan seperti itu, seberanrnya ia tidak memiliki hasrat untuk membunuh orang.
Tapi setiap kali ia kenakan sarung tangan tersebut, dia harus pula membunuh orang.
***** Pada saat itulah, suatu perubahan yang mengerikan tiba tiba saja berlangsung.
Pelayan bertangan kasar berkaki besar itu, mendadak mengankat poci air panasnya dan digurukan keatas kepala Cu ciangkwe.
Si muka burik penjajah makanan kecil tiba tiba meloloskan sebuah pisau tajam dari balik keranjangnya danlangsung ditusukkan ke pinggang Cu ciangkwe.
Orang yang kehilangan separuh teligannya mengangkat keranjang isi gula gulanya dan diguyurkan ke wajah Tong Kau, ternyata dibawah gula gula itu adalah batu kapur.
Tong Kau meraung keras, tubuhnya melompat keudara, tangannya segera meraup segenggam pasir beracun.
Belum sempat pasir beracunnya ditebarkan keudara, tiga orang pedanga gemuk yang bersitegang tadi telah menubruk tiba dengan kecepatan luar biasa.
Ternyata gerakkan tubuh ketiga orang itu cepat dan gesit, kerja sama mereka sungguh bagus sekali, seorang menggunakan meja sebagai tameng, yang kedua membawa kolongan tali yang siap menjirat kaki Tong Kau, sedangkan yang ketiga menghimpun tenaga dalamnya dan....
"Duuuk!"
Sebuah pukulan dahsyat bersarang telak diatas punggung Tong Kau, kekuatannya mengerikan sekali.
Seketika itu juga tulang punggung Tong Kau terhajar remuk, ketika tubuhnya terjatuh ketanah, sekujur tubuhnya telah terkulai lemas seperti segumpal daging.
Pada detik itu juga, dua orang kakek yang sedang bermain catur telah turun tangan pula, ternyata mereka pergunakan ilmu timpuk mengarah jalan darah untuk menghajar jalan darah penting ditubuh Tong Ci tham dengan ketiga puluh dua biji caturnya.
Serangan itu bukan cuman cepat saja, mana berat, ganas, tepat lagi, tak malu disebut sebagai seorang tokoh sakti didalam melepaskan senjata rahasia.
Dalam pada saat itu, sebuah sikutan Tong Ci tham berhasil merobohkan laki laki bermuka burik itu, bunyi tulang yang terhajar remuk berkumandang memecahkan keheningan.
Tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya telah meluncur kedepan selapis pasi beracun yang hitam pekat dengan membawa empat batang Tok ci li bersama waktunya ditebarkan ke depan.
Apakah serangannya itu akan medapatkan hasil atau tidak, saat itu sudah tak terpikirkan lagi olehnya, tujuannya sekarang bukan untuk melukai orang, melainkan untuk menolong diri sendiri.
Otot otot badan orang tua ini meski sudah mulai kaku, tapi mungkin dikarenakan latihannya yang tekun selama banyak tahun, membuat gerakan tubuhnya tetap gesit dan lincah.
Sesudah berkelejitan ditengah udara bagaikan ikan ynag terpancing, segesit seekor burung ia telah melayang keluar melewati pagar pagar kebun disekitarnya.
Ia sudah memperhitungkan dengan tepat, hanya sungai kecil dibelakangnya merupakan satu staunya jalan mundur yang bisa ia pergunakan.
Ia amat yakin dengan ilmunya bermain dalam air, keyakinan tersebut sama seperti keyakinannya didalam ilmu meringakan tubuh, ia percaya tak akan kalah dari pemuda manapun juga, asal ia dapat melompat masuk ke air, maka selembar jiwanya pasti selamat.
Siapa tahu, pada saat itulah tiba tiba terdengar bentakkan nyaring menggelegar diudara.
"Kembali!"
Laki laki berpakaian perlente yang selama ini berdiri ditepi sungai sambil bergendong tangan itu memutar tubuhnya secara mendadak, lalu tangannya dikebaskan ke depan, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat segera berhembus keluar dari balik ujung bajunya yang lebar itu.
Waktu itu tenaga lompatannya telah habis termakan oleh pukulan yang maha dahsyat tersebut, serta merta tubuhnya mencelat kembali ke belakang, bahkan ketika melayang turun kembali keatas permukaan tanah, tubuhnya sudah mulai sempoyongan.
Simuka burik yang benar dihajar tulang iganya hingga parah itu masihb erbaring disana, skaing sakitnya peluh dingin sebesar kacang telah membasahi seluruh wajahnya, pada saat itulah tiba tiba ia menggigit bibir dan berguling diatas tanah, pisaunya bagaikan seekor ular berbisa langsung ditusukkan ke ats pinggangnya.
Mata pisau yang dingin dan keras, bagaikan ujung lidah sang kekasih dengna mudah dan licin langsung menembusi kulit tubuhnya, bahkan ia sama sekali tidak merasa kesakitan.
Tapi hatinya sudah mulai dingin.
Dengan pengalamannya selama banyak tahun, tentu saja ia tahu tempat manakah merupakan tempat mematikan yang fatal, tusukan tersebut hakekatnya jauh lebih beracun daripada seekor ular beracun.
Serangan dari simuka burik itu betul betul amat keji.
Setelah berhasil menyarangkan pisaunya dipinggang musuh, siburik telah melepaskan pedangnya dan berguling kembali ketempat semula.
Ia tahu kakek itu tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, tapi ia tak menyangka kalau senjata rahasia tersebut bakal datang secepat ini, cahaya kilat baru saja berkelebat lewat, dua biji Tok ci li telah bersarang telak dileher bagian kirinya.
Diapun merasa sakit, tapi hatinya ikut menjadi dingin.
Bagaimanakah akibat dari mereka yang terkena senjata rahasia beracun itu, sudah cukup banyak ia dengar selama ini.
Mendadak tubuhnya menubruk kembali kedepan, dirampasnya golok yang berada di tangan si telinga kutung dan sekali ayun ia menggorok leher sendiri.
Bukan saja ia keji kepada orang lain, ternyata diapun keji terhadap diri sendiri.
Seperti sebatang tombak, Tong Ci-tham masih berdiri tegak disitu, saat golok itu tidak segera dicabut, maka diapun tak akan roboh.
Asal dia masih bisa berdiri, ia tak sudi membiarkan tubuhnya roboh ke tanah.
Tiada seorangpun yang melancarkan serangan lagi.
Biasanya terhadap orang yang berhati keras, baik dia menang atau kalah, hidup atau mati, akan menerima rasa kagum dan hormat dari orang lain.
Tiba-tiba laki-laki perlente yang tinggi besar itu menghela napas, katanya.
"Kau betul-betul seorang lelaki jantan, baik kau mati atau hidup orangku tak akan mengusik dirimu lagi."
Tong Ci-tham menatapnya lekat-lekat lalu bertanya.
"Siapa kau?"
"Aku she Thio, bernama Thio Yu hiong!"
"Thio Yu hiong dari Lam-hay jit heng-te (Tujuh bersaudara dari laut selatan)?"
Tong Ci-tham menegaskan dengan suara parau.
"Benar."
"Apakah diantara kita ada dendam?"
"Tidak ada!"
"Jadi kau berbuat demikian demi Tio Bu-ki"
"Benar!"
"Kenapa kau musti melakukan perbuatan semacam ini baginya?"
Kau tidak takut pembalasan dendam dari keluarga Tong?"
"Yaa, lantaran dia telah menganggapku sebagai sahabat, maka demi sahabat apapun akan kulakukan"
Bagi umat persilatan, alasan tersebut sudah merupakan suatu alasan yang kuat dan lebih dari cukup. Tiba-tiba Tong Ci-tham menghela napas panjang.
"Aaai... sayang sekali aku tidak bisa berkawan dengan seorang sahabat seperti kau!"
Dia sudah hampir mati ditangan orang ini, anehnya ia sama sekali tidak merasa dendam atau benci terhadap orang itu.
Yang benar-benar ia benci adalah seorang yang lain, seorang manusia yang mundur secara pengecut dari medan pertarungan, seorang yang telah menghianati dirinya.
Agaknya sang cucu itu sudah ketakutan setengah mati sehingga menangispun tak berani lagi, sang "nenek"
Pun tampaknya ketakutan setengah mati hingga seluruh tubuhnya menggumpal menjadi satu.
Sebenarnya untuk memandangpun Tong Ci-tham sudah merasa segan sekali, coba kalau ia turun tangan pula, tadi, sebenarnya mereka bukannya sama sekali tiada kesempatan lagi.
Sebenarnya Tong Ci-tham masih menaruh harapan kepadanya, sungguh tak disangka ternyata dia adalah seorang pengecut.
Sekarang Tong Ci-tham benar-benar merasa putus asa, tapi dia masih tak ingin menghianati dirinya.
Bagaimanapun juga mereka toh sama-sama berasal dari keluarga Tong, kalau memang begitu takut mati, kenapa tidak ia penuhi saja keinginannya itu?
Tapi bagaimanakah perasaannya ketika menyaksikan mereka mati konyol lantaran dia?
Dikemudian hari, apakah dia tak akan menyesal hidup seorang diri didunia ini?
Akhirnya Tong Ci-tham tak tahan juga untuk tidak menengok sekejap kearahnya, pandangan terakhir ini penuh pancaran rasa dendam, marah dan mendongkolkan, tapi tercakup pula rasa kasihan dan sayang.
Pada saat itulah ia mulai merasa bahwa darah dalam jumlah banyak mulai mengalir keluar dalam tubuhnya, darah tersebut tidak meleleh keluar lewat mulut lukanya, tapi mengalir keluar melalui mulutnya.
Tiba tiba ia tertawa.
Karena pada saat itulah ia berhasil mendapatkan suatu jawaban atas suatu pertanyaan yang selama ini tak sanggup dijawab oleh nya .....
Dia tak akan memperoleh sebuah peti mati yang terbuat dari kayu Ci-thaw sebagai tempat beristirahat.
Maka diapun mencabut keluar pisau yang menghujam diatas pinggangnya itu!
Ketika pisau itu dicabut keluar, darah segar bagaikan sebuah pancuran segera menyembur keluar, hampir saja menodai baju yang dikenakan Bu ki.
Samwan Kong melihat ketika ia masuk, walaupun tidak ia jelaskan mengapa sampai sekarang baru datang, tapi Samwan Kong yakin bahwa ia pasti menjumpai alasan yang sangat baik.
Sekarang, Ketiga orang jago dari keluarga Tong telah roboh terkapar, peristiwa yang mengerikan pun akhirnya telah barakhir.
Sang bini yang masih muda itu bersembunyi dalam pelukan suaminya, muka yang pucat pias tiba-tiba berubah menjadi semu merah.
Ia mana takut, mana malu, gelisah lagi sehingga hakekatnya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Ia tak boleh membiarkan orang tahu kalau celananya telah basah kuyup.
Sang suami yang berusia setengah umur itu lebih payah lagi keadaannya, hampir setiap orang yang berada disekitar sana dapat mengendus bau busuk yang keluar dari pantatnya.
Istri laki-laki itu ternyata malah jauh lebih tenang dan tabah, waktu itu ia sedang mencari akal untuk mengajak suaminya bangun berdiri.
Si nenek telah membopong cucunya dan selangkah demi selangkah sedang berjalan meningalkan tempat itu.
"Harap tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Bu-ki berseru.
Nenek itu seakan-akan tidak mendengar teriakan itu, ia masih melanjutkan langkahnya menuju kedepan.
Tapi dengan suatu lompatan, tahu-tahu Bu ki telah menghadang dihadapannya.
Dengan terkejut nenek itu mendongakkan kepalanya memandang ke wajah Bu ki.
"Nenek tua, siapa namamu?"
Bu-ki telah menyapa sambil tertawa. Nenek itu menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tak sepotong suarapun yang terdengar.
"Apakah bocah ini adalah cucumu .?"
Bu-ki kembali bertanya. Nenek itu manggut manggut ia memeluk bocah itu semakin erat.
"Udara malam makin lama semakin dingin, kenapa kau tidak memberi sepatu kepadanya?"
Tanya Bu-ki.
Nenek itu tampak sangat terkejut, seolah-olah sampai sekarang ia baru tahu kalau cucunya tidak bersepatu..Bocah itu kembali menangis dalam pelukannya, meski senyuman menghiasi wajah Bu ki, namun sepasang matanya lebih tajam dari sebuah mata pisau.
Nenek itu membungkukkan badannya, mendadak dia mengangkat bocah itu dan di timpukkan ke wajah Bu-ki dengan sekuat tenaga.
Bu-ki hanya menyambut timpukan itu dengan sepasang tangannya, sementara si nenek yang bungkuk itu sudah melesat kearah pagar bambu dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Bocah itu yaa, menangis, yaa berteriak, yaa memukul, yaa menendang dalam bopongan Bu ki."
Ketika melesat kedepan tadi, ternyata nenek itu telah mengeluarkan ilmu meringankan tubuh Cing ting-sam sau sui (kecapung menutul air tiga kali), dalam tiga lompatan saja menyeberangi pagar kebun bunga, ia telah barada enam tujuh kaki jauhnya dari tempat semula."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring.
"Ikan didalam jaring hendak kabur kemana kau?"
Ditengah bentakah, sesosok bayangan manusia melompat keluar dari balik kebun bunga dan menyongsong kedatangan nenek itu, kepalanya langsung di jotoskan ke muka.
Berjumpa dengan orang itu, nenek itu seperti ketakutan setengah mati sehingga tenaga untuk menangkis dan menghindarpun tak punya, belum lagi jeritan kagetnya berkumandangan, tulang lemas dan tulang leher dibawah tenggorokarnya sudah terhajar remuk.
Sekarang, walau rahasia apapun yang diketahui olehnya, selamanya tak akan bisa diceritakan lagi.
Ketika roboh ke tanah, air mata ternyata bercucuran keluar membasahi pipinya.
Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 1
Baca Juga: Pendekar Gunung Lawu Kho Ping Hoo