Eps 6 Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.
Karena mimpipun ia tak menyangka kalau orang itu bakal turun tangan sedemikian keji terhadapnya.
Yaa, siapapun tidak menyangka kalau orang itu bakal turun tangan sedemikian keji dan bengisnya!"
Kalau dilihat dari bentuk muka maupun bentuk badannya, diapun tidak akan percaya kalau dia adalah seorang manusia yang berhati bengis dan kejam.
Dia mana masih muda, sopan santun, lembut, tampan lagi, bahkan sekulum senyuman yang hangat dan lembut selalu tersungging diujung bibirnya yang mungil.
Si nona kecil yang secara diam-diam memetik sekuntum bunga mawar tadi, selalu memperhatikan wajahnya dengan lirikan mata yang tajam, seakan-akan ia sudah terkesima, dibuat terpesona oleh kelembutan dan kegantengannya.
Dia pun mamandang ke arahnya, menatap wajah si nona yang cantik dan mata kucing itu.
Seakan-akan pemuda tampan yang muda dan gagah itupun sudah tertarik kepadanya.
Lama kemudian, ia baru menggapai ke arah Bu-ki sekalian, lalu teriaknya dengan lembut.
"Siapakah diantara kalian yang akan kemari dan menggotong pergi nenek ini?" ***** RAHASIA SEKARANG, jenasah sinenek sudah digotong masuk, pemuda yang tampan dan halus budi itu ikut pula masuk. Begitu masuk ke dalam, ia lantas memperkenalkan diri.
"Aku she Li, bernama Li Giok tong! Nama itu suatu nama yang masih terasa asing, diapun seorang yang amat asing, tapi setiap orang bersikap bersahabat kepadanya. Karena ia telah membantu mereka untuk menangkap seekor ikan besar yang hampir lolos dari jaring.
"Nenek ini sesungguhnya tidak terlampau tua, tentu saja dia bukan seorang nenek sungguhan!"
Kata Li Giok tong. Kemudian sambil memandang wajah Bu-ki dan tersenyum, katanya lagi.
"Kalian tentunya sudah mengetahui bukan, bahwa seorang nenek yang sayang kepada Cucunya tak mungkin akan lupa untuk memakaikan sepatu untuk cucunya, hanya berdasarkan hal ini sebenarnya belum dari cukup untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang nenek gadungan, maka kalianpun belum turun tangan juga"
"Apa yang berhasil kau lihat atas dirinya?"
Tanya Bu ki tidak tahan.
"Padahal aku sendiripun tidak berhasil melihat apa-apa, aku hanya secara kebetulan saja mengetahui siapakah nenek yang sebenarnya dari bocah ini....."
"Kau kenal dengan dia?"
Li-Giok-tong manggut-manggut.
"Bukan cuma kenal, bahkan kenal-sekali!"
Ternyata tampak lebih riang dan gembira, lanjutnya.
"Kebetulan sekali nenek dari bocah ini adalah A-ih (bibi) ku!"
Bu ki segera menghembuskan napas lega, serunya. Ooh.....sungguh kebetulan sekali, lagipula bagus sekali!"
Walaupun bocah itu sudah lelah menangis dan untuk sementara waktu menjadi tenang kembali, akan tetapi selama ia berada dalam bopongannya maka dirasakan seakan-akan membopong ssbuah bungkusan besar yang berisi obat peledak yang setiap saat dapat meledak.
Selema hidup ada dua persoalan yang paling tak tahan dihadapinya, yakni laki-laki yang cerewet dan perempuan yang cengeng.
Tapi sekarang ia baru mengetahui bahwa seorang bocah yang cengeng sesungguhnya sepuluh kali lipat lebih susah dihadapi daripada perempuan yang cengeng.
Jika perempuan yang menangis, dia masih punya akal untuk membuat mereka tutup mulut, tapi kalau anak anak yang menangis, kepalanya segera terasa menjadi besar secara tiba-tiba.
Oleh karena itulah ketika Li Giok-tong membopong bocah itu dari dukungannya, ia seperti merasa berterima kasih sekali sehingga sepatah katapun tak mampu diutarakan lagi.
Sesaat kemudian dia baru berkata.
"Ada sepatah kata, bila sudah kuucapkan nanti, aku harap kau jangan marah!"
"Apakah aku mirip seseorang yang gampang menjadi marah?"
Tanya Li Giok tong sambil tertawa. Dia memang sedikitpun tidak mirip.
"Kami benar-benar tak tahu bagaimana musti mengucapkan terima kasih kepadamu"
Kata Bu ki.
"Dapatkah kau memberi tahukan kepada kami, dengan cara apakah kami harus menyampaikan keinginan ini?"
"Bila kalian bersikeras ingin menyampai-kan rasa terima kasihnya kepadaku, sebetulnya hanya ada satu cara"
"Coba katakan!"
"Angggaplah aku sebagai teman!"
Senyuman yang tersungging diujung bibirnya tampak lembut, hangat dan bersungguhsungguh.
"Aku suka sekali berteman, akupun sangat membutuhkan teman!"
Bu-ki segera mengeluarkan tangannya.
"Siapa yang bisa menampik untuk bersahabat dengan seorang seperti Li Giok tong? ***** AKHIRNYA Li Giok tong telah pergi membawa bocah itu, ia buru-buru hendak menghantar bocah itu ke rumah A-ih-nya, karena sekarang A-ih tentu kuatirnya setengah mati"
Tidak menunggu sampai ia berjalan lewat dari jalan kecil beralas batu itu, dengan tak sabar Samwan Kong telah bertanya kepada Bu ki.
"Kau benar-benar percaya kalau bocah itu adalah keponakannya? Kau benar-benar percaya ka-lau didunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan?"
"Aku percaya!"
"Kau benar-benar bersedia untuk bersahabat dengannya?"
"Aku bersedia!"
Walaupun jawaban itu sudah jelas dan meyakinkan, akan tetapi Samwan Kong seolah-olah masih merasa agak curiga.
Akan tetapi bahkan dia sendiripun tidak habis mengerti dengan alasan apakah Samwan Kong membohongi mereka.
Sekalipun ia benar-benar telah membohongi mereka, yang berhasil ditipupun tak lebih hanya seorang bocah yang cengeng.
Nenek itu ternyata belum mati, dari tenggorokannya yang remuk masih terdengar bunyi mendesis yang amat nyaring, seperti seekor ular yang sudah hampir sekarat.
Orang-orang yang menggotongnya kembali itu berhasil menemukan sebuah kantong kulit dari balik pakaiannya, isi kantong kulit itu tak lain adalah senjata rahasia khas dari keluarga Tong, meskipun jumlahnya tidak banyak tapi kwaliteitnya ternasuk lumayan.
Teringat kembali sorot mata Tong Ci-tham menjelang kematiannya, tak bisa diragukan lagi orang ini pastilah Tong Giok.
Samwan Kong kembali bertanya.
"Apakah kau telah memperhitungkan kalau Tong Giok pasti telah datang... ."
"Benar"
"Kaupun telah memperhitungkan bahwa ia pasti berusaha untuk memancing kemunculanmu lebih dulu sebelum turun tangan, karena sasarannya bukan aku, melainkan kau"
"Benar!"
"Dan kaupun hendak menunggu sampai ia munculkan diri lebih dahulu baru turun tangan, karena sasarnmu juga dia?"
Bu-ki manggut-manggut.
"Oleh sebab itu, terpaksa aku harus pergi mencari Thio jiko!"
Thio Yu hiong adalah seorang lelaki yang pendiam dan jarang sekali berbicara.
Seseorang yang mulai belasan tahun sudah mulai memegang tampuk kekuasaan besar, tentu saja ia tak akan seseorang yang banyak bicara.
Ia tak pernah menggunakan perkataan untuk memperlihatkan rasa persahabatannya dengan orang lain, sedikit bicara banyak bekerja barulah prinsip hidup yang sebenarnya.
Hingga sekarang ia baru buka suara.
"Bila seseorang mencari teman dikala ia sedang mengalami kesulitan, sesungguhnya hal itu bukan suatu perbuatan yang memalukan"
Ia maju kedepan menghampiri Bu ki dan menggenggam tangannya kencang-kencang, kemudian katanya lagi.
"Kau bisa berpikir untuk datang mencariku, aku merasa gembira sekali"
Sehabis mengucapkan perkataan itu, ia pun pergi dari situ, pergi sambil membawa serta segenap anak buahnya.
Tiga orang pedagang yang gemuk itu telah kembali pada kebebalan dan kelambanannya, pelayan berkaki besar bertangan kasar serta penjajah makanan yang bertelinga sepotong itupun berubah kembali menjadi biasa dan sederhana seperti sedia kala.
Dengan mulut membungkam mereka menggotong pergi jenasah rekannya.
Sorot mata tajam yang mereka perlihatkan dalam peristiwa menegangkan belum lama berselang?
kini sudah hilang dan lenyap tak berbekas.
Bagi mereka, peristiwa ini tidak ada harganya untuk dibanggakan atau disombongkan, tidak pula untuk disedihkan dan dimurungkan.
Setiap waktu setiap saat mereka bersedia untuk melakukan perjalanan apapun bagi majikannya, seperti pula majikan mereka yang setiap waktu setiap saat bersedia melakukan pekerjaan apapun untuk sahabatnya.
***** BU KI tidak berkata apa apa lagi.
Kalau toh mereka adalah sahabat, perduli bicara apapun juga adalah percuma saja.
Tak tahan lagi Samwan Kong menghela napas panjang, katanya..
"Bisa bersahabat dengan seorang teman semacam ini, hakekatnya ini merupakan kemujuran bagiku!"
"Bisa bersahabat dangan teman semacam kau, hal inipun merupakan keberuntunganku"
Sambung Bu-ki sambil menatapnya tajam-tajam.
"Tapi Li Giok-tong itu ............"
"Apakah dia adalah seorang sahabat yang baik atau bukan, dengan cepat kau akan mengetahui dengan sendirinya"
"Apakah dalam waktu yang amat singkat kau dapat berjumpa lagi dengannya.
"Seratus persen tak bakal salah!"
"Kau sangat yakin?"
"Sangat sekali!"
Samwan Kong menatapnya tajam-tajam, lama sekali ia baru menghela napas panjang.
"Tahukah kau, bahwa dirimu adalah seorang manusia aneh?"
"Tidak tahu!"
"Yang paling aneh dari dirimu agaknya adalah kau selalu memgetahui hal-hal yang orang lain tidak ketahui, bahkan aku sendiripun juga tak tahu kenapa kau bisa memiliki kepandaian semacam ini"
Bu ki tertawa.
"Kalau kaupun bisa mengetahuinya, maka hal itu pasti dikarenakan aku sama sekali tidak me-miliki kepandaian seperti itu"
Samwan Kong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ....haaahh....haaahh... perduli apapun yang kau katakan, paling tidak aku berhasil mengetahui akan satu hal"
"Hal yang mana?"
"Jika dikemudian hari masih ada orang yang menginginkan kau masuk perangkap, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang."
Sambil tertawa ia lantas bangkit berdiri, tapi tiba-tiba ia duduk kembali sambil berkata.
"Masih ada satu hal lagi yang tidak kupahami"
"Persoalan apa lagi?"
"Kau selalu mempunyai perhatian yang besar terhadap diri Tong Giok, sekarang ia sudah berada disini, kenapa kau tidak memperdulikannya lagi?"
"Sebab pada hakekatnya dia bukan Tong Giok"
Samwan Kong kembali merasa terperanjat.
"Dia bukan? Darimana kau bisa tahu kalau dia bukan?"
"Karena secara kebetulan kutahu siapakah dia"
"Siapa dia?"
"Dia adalah seorang pincang, orang lain menyebutnya sebagai Oh Po-cu... ." ***** SETIAP peristiwa yang terjadi dirumah makan Hoa gwat sian dapat diikuti oleh Oh Po-cu dengan jelas, karena ia berada disana. Ketika Tong Ci-tham sekalian belum sampai disana, ia telah tiba ditempat itu, membawa seorang bocah yang "dipinjam"
Nya dari rumah orang lain ....
Seorang nenek yang berwajah welas, membawa cucunya berjalan-jalan mencari angin karena lelah masuk warung minum teh dan makan kueh, sesungguhnya hal ini tak akan menarik perhatian orang lain.
Ia dapat mempergunakan cara ini untuk melindungi indentitas sendiri, bahkan ia sendiripun merasa amat bangga.
Ia percaya orang lain tak akan mengetahui rahasia penyamarannya.
sedang dia dapat melihat orang lain.
Satu-satunya yang paling mengesalkan hati adalah bocah itu terlalu cengeng, suka menangis, tangisannya bisa membuat pikiran dan perasaannya menjadi kalut.
Ketika Tong Ci-tham memandang kearahnya dengan sorot mata aneh tadi, iapun merasa amat tak enak.
Untung saja Samwan Kong tidak memperhatikan sampai ke hal-hal yang demikian.
maka hingga saat itu, ia selalu menganggap dirinya berada dalam keadaan yang aman.
Sungguh tak disangka jalannya peristiwa ternyata jauh diluar dugaannya semula, ia lebihlebih tak menyangka kalau Tio Bu-ki bakal mengetahui penyamarannya.
Untung saja ia tidak menjadi gugup dikala menghadapi bahaya, tindakan yang dilakukan pun cukup cekatan.
ia telah mempergunakan bocah yang cengeng dan suka menangis itu untuk menghadang pengejaran dari Tio Bu-ki.
Tampaknya dia bisa segera meloloskan diri dengan selamat dan menyelamatkan selembar jiwanya dari kematian, sungguh tak disangka muncul seorang Li Giok-tong ditengah jalan.
Mimpipun dia tak menyangka kalau Li Giok tong tersebut bakal turun tangan keji terhadap dirinya.
Ketika menyaksikan Tio Bu-ki menjulurkan tangannya pertanda kalau bersedia menjadi sahabat dengan Li Giok-tong, hampir saja ia tak tahan untuk tertawa terbahak-bahak, tapi hampir pula ia tak tahan untuk menangis tersedu-sedu.
Karena hanya dia seorang yang tahu kalau berteman dengan manusia semacam itu sesungguhnya adalah suatu kejadian yang menakutkan.
Karena mereka sebenarnya bukan teman saja, bahkan jauh lebih akrab daripada seorang teman.
Hanya dia seorang yang tahu bahwa Li Giok tong tersebut tidak lain adalah Tong Giok.
Sayang sekalipun pada saat ini dia ingin memberitahukan rahasia ini kepada Tio Bu-ki, ia sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Ia percaya cepat atau lambat Tio Bu-ki pasti akan mengetahui rahasia ini dan mungkin juga disaat ia sudah hampir mati nanti.
Ketika Oh Pocu menhembuskan napasnya yang penghabisan, suara tersebut kedengarannya seperti sebutir batu yang tercebur ke dalam kolam yang berisi lumpur.
Tiba-tiba Samwan Kong bangun berdiri, kemudian berjalan keluar dari situ.
Ia tak tahan menghadapi kejadian semacam ini, tapi ia justru tak tahan untuk berpaling kembali.
"Kau telah memperhitungkan bahwa Tong Giok, pasti telah datang kemari ?"
Katanya. Bu ki tidak menjawab, sekalipun demikian orang tahu bahwa ia telah mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut.
"Sekarang, dimanakah Tong Giok berada... ?"
Samwan Kong bertanya lagi. Bu ki memggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tidak tahu!"
Ia menjawab.
"Agaknya kau sama sekali tidak bermaksud untuk pergi mencarinya ........"
Bu ki mengakui atas kebenaran dari perkataan itu.
"Yaa, karena pada hakekatnya aku tak tahu kemana harus pergi mencari dirinya"
"Lalu apa yang telah siap kau lakukan sekarang?"
Samwan Kong coba untuk mendesaknya lebih jauh. Bu ki tertawa.
"Biasanya, jika aku berada dalam keadaan tak mampu menemukan jejak seseorang, maka aku selalu menggunakan sebuah cara ...."
"Apakah caramu itu?"
Tanya Samwan Kong ingin tahu. Bu-ki kembali tertawa.
"Apa lagi? Tentu saja menungu sampai dia yang datang mencari diriku!" ***** BAYANGAN SETAN BULAN empat tanggal enam, udara mendung. Diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain, Tio Bu ki telah kembali ke perkampungan Ho hong san ceng. Sesungguhnya ia tidak bermaksud pulang ke rumah, tapi setelah mempertimbangkannya lama, selama sekali ia telah berubah jalan pemikirannya ini. la sangat rindu dengan Hong nio, sangat rindu dengan Cian-cian, rindu kepada semua anggota keluarganya yang selalu setia kepadanya. Rasa rindu yang terasa terukir dalam hatinya ini ibaratnya sebaskom air hangat, walau pun dapat membuat seseorang melupakan penderitaan hidupnya yang sedang dihadapinya untuk sementara waktu dapat pula membuat semangat seseorang menjadi kendor. Maka ia selalu berusaha mengendalikan diri, berusaha keras untuk tidak memikirkan mereka. Tapi setiap malam yang sepi telah tiba, disaat tubuh sudah penat, rasa rindu seringkali menbelenggu hatinya bagaikan laba-laba yang membuat sarangnya. makin ia meronta makin kencang ia terlibat. Cuma saja hal itu bukan merupakan sebab utama darinya dalam mengambil keputusan untuk pulang ke rumah. Ia tak pernah mendengar berita tentang Hong-nio serta Cian-cian, tapi lamat-lamat ia telah merasa bahwa mungkin mereka semua sudah tidak ada lagi disitu. Waktu itu ketika Tee-cong membawa Hong-nio memasuki ruang rahasianya, ia tidak melihat akan kehadirannya. Ia tak berani berpaling. Karena secara lamat-lamat diapun merasa bahwa orang yang diajak Tee-cong memasuki ruang-an tersebut, mungkin adalah seorang sanak keluarganya. Ia kuatir kehadiran orang itu bisa membuat dirinya tak sanggup mengendalikan diri, ia tak boleh membiarkan Tee cong menaruh perasaan was-was kepadanya, walau hanya sedikitpun. Akhirnya, sekarang ia pulang kerumah, pulang secara diam-diam tanpa mengejutkan siapapun. waktu itu senja telah menjelang tiba. ***** PERKAMPUNGAN Ho-hong san-ceng sendiri sesungguhnya adalah suatu tempat yang pantas dikenang, terutama dikala senja menjelang tiba, keindahannya bagaikan sebuah lukisan. Ho hong san-ceng jauh berbeda dengan benteng Sangkoan Po, berbeda pula dengan Tay hong tong dari perkampungan Hui im ceng dimana lm Hui yang berdiam. Tay hong tong dibangun dengan suatu bangunan yang kokoh, kuat dan keren, persis seperti semangat Im Hui-yang yang berkobar-kobar. Benteng Sangkoan Po dibangun dalam medan yang membahayakan, dibalik kesederhanaan justru tersimpan semacam hawa pembunuhan yang dingin dan mengidikkan hati. Sebaliknya perkampungan Ho-hong-san-ceng adalah sebuah tempat yang tenang dan nyaman, tidak terlihat hawa menyeramkan apalagi diwaktu sore yang sejuk, dikala angin berhembus sepoi-sepoi, matahari senja memancarkan sinar akhirnya, waktu itu suasana amat tenang penuh kedamaian, membuat orang jadi terbuai ke alam impian. Oleh katena itu, Sugong Siau-hong yang hidup membujang, kecuali tinggal di Tay-hong-tong untuk sesuatu keperluan atau tugas, ia selalu menyisihkan waktunya untuk berdiam disitu, menjadi tamu selama berapa hari dan menikmati kedatangan dan kehangatan selama berapa waktu ...... Tapi semenjak Tio Jiya meninggal, Bu-ki kabur, Cian-cian serta Hong nio ikut pergi, tempat itupun ikut berubah. Seperti juga seorang manusia, bangunan gedung itupun dapat berubah menjadi tua, lemah, kusut, kesepian dan keletihan. Apalagi disuatu senja dalam hari yang mendung seperti ini. Setiap kali musim hujan telah tiba, encok Lo ciang pada tulang-tulang persendiannya akan berubah seperti seorang istri yang judas, jahat dan bengis. Ia mulai mempergunakan pelbagai cara dan akan untuk menyiksanya secara kejam dan tak kenal ampun. Walaupun ia sudah tak tahan menghadapi sakit semacam ini, apa lacur nyawanya belum mau juga terbang meninggalkan raganya. Hari ini dia merasa lebih menderita lagi, sepasang lutut kakinya seolah-olah ditusuk oelh beribu-ribu batang jarum yang sangat tajam, membuat ia sedemikian kesakitan sehingga hampir saja selangkahpun tak mampu berjalan. Ia ingin tidur lebih awal, apa mau dikata justru tak dapat tidur. Pada saat itulah pelan-pelan Bu ki membuka pintu kamarnya yang tertutup dan menyelinap masuk kedalam ruangannya. Lo Ciang segera melompat bangun dan menggenggam tangannya kuat kuat. Tak kusangka kau benar-benar telah kembali!"
Menyaksikan air mata Lo-Ciang yang membasahi wajahnya, hampir saja air mata Bu-ki ikut bercucuran.
Dulu ia selalu menganggap Lo-Ciang terlalu lamban, terlalu keras kepala, terlalu cerewet, bahkan agak memuakkan.
Tapi sekarang, dikala ia berjumpa dengan orang yang dibencinya ini, tiba-tiba ia merasa begitu terharu, begitu gembira.
"Setelah kau pergi, nona Hong dan Toa siocia ikut pergi, hingga kini belum ada kabar beritanya tentang mereka, semenjak Sugong toaya mengundang datang seorang yang bernama Ci Peng, mereka... ."
Mendengarkan keterangan yang digumankan Lo-Ciang, Bu-ki merasakan hatinya amat sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau.
Kemanakah mereka telah pergi?
Kenapa hingga kini tiada kabar beritanya?
Apakah orang yang diajak Tee cong masuk ke ruangan rahasia hari itu adalah Hong-nio?
Agaknya Lo-Ciang merasakan juga kepedihan hatinya, ia segera tersenyum seraya berkata.
"erduli bagaimana juga, kau toh telah kembali lagi kemari, sebenarnya aku masih tak percaya, sungguh tak disangka kau benar-benar telah kembali kemari"
Sudah dua kali ia mengulang perkataanya itu. Bu-ki menjadi keheranan, tak tahan ia bertanya.
"Apakah seseorang telah memberitahukan kepadamu, bahwa aku bakal pulang kerumah?"
"Yaa, sumoaymu dan sahabatmu semuanya berkata demikian, katanya paling lambat malam ini kau pasti sudah sampai dirumah"
Bu-ki tak punya sumoay, diapun tak bisa menebak siapa gerangan temannya itu. Tapi dia tak ingin membiarkan Lo-Ciang merasa kuatir, maka dengan suara hambar tanyanya.
"Kapankah mereka tiba disini?"
"Yang seorang kemarin sore baru sampai, sedangkan sumoaymu datang agak lambat"
Apakah sampai sekarang mereka masih berada disana"
"Agaknya sumoaymu itu lagi tak enak badan, setibanya disini lantas mengurung diri didalam kamarnya dan tidur sepanjang hari, ia melarang kami semua untuk mengganggunya"
Kemudian ia menambahkan lagi.
"Aku telah memberikan kamar yang biasanya dipakai Sugong toaya kepadanya "
"Bagaimana pula dengan sobatku itu?"
"Agaknya kongcu itu tak bisa tenang barang sekejap pun, tiada hentinya ia berjalan mondarmandir kesana kemari, sekarang..."
Ucapan tersebut tidak ia selesaikan, tiba-tiba wajahnya menampilkan suatu perubahan yang sangat aneh, seakan-akan ada orang yang menyumbat mulutnya dengan segumpal tanah liat.
Bu-ki menatapnya tajam-tajam, kemudian bertanya lagi.
"Sekarang, ia telah pergi ke mana?"
Lo Ciang masih tampak ragu, seakan-akan sangat tak ingin membicarakan persoalan itu, tapi ia tak bisa tidak harus berkata juga.
"Sebenarnya aku tidak membiarkan dia pergi, tapi dia bersikeras hendak pergi juga maka akupun tak bisa lain kecuali membiarkan ia pergi kesana"
"Pergi untuk apa?"
"Menghajar setan!"
Bu-ki berusaha keras untuk tidak menampilkan suatu sikap yang bisa membuat Lo-Ciang merasa malu dan serba salah.
Ia dapat menangkap sikap Lo-Ciang tersebut bukan saja amat bersungguh-sungguh, lagipula benar-benar merasa ketakutan sekali.
Tapi persoalan ini betul-betul tak masuk akal, mau tak mau ia musti bertanya juga sampai jelas.
"Maksudmu dia pergi menghajar setan?"
Lo-Ciang menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.
"Aku juga tahu, kau pasti tak akan percaya, tapi disini benar-benar ada setannya"
"Setan itu berada dimana?"
"Bukan satu setannya, tapi banyak sekali, mereka berada di halaman gedung di mana nona Hong berdiam dulu"
"Sedari kapan setan-setan itu datang kemari dan menghuni disana ?"
Tanya Bu-ki.
"Tak lama setelah kepergian nona Hong, sering kali orang mendengar serentetan suara yang sangat aneh di tempat itu, lebih-lebih kalau malam sudah menjelang tiba, bahkan kadangkala ada yang pernah melihat cahaya lentera dan bayangan manusia disana"
"Pernahkah ada orang yang kesitu dan melakukan pemeriksaan? "Sudah banyak orang yang masuk ke situ dan melakukan pemeriksaan, tapi perduli siapapun dia, asal sudah memasuki halaman gedung itu, maka tanpa sebab dia akan roboh tak sadarkan diri, ketika sadar kembali, kalau bukan badannya sudah digantung diatas pohon, tentu berbaring diatas air pencomberan beberapa li jauhnya dari sini, malahan ada pula yang pakaiannya dilepas sampai telanjang bulat, dan mulutnya disumpal dengan tanah liat"
Apa yang dikatakan adalah suatu kejadian yang benar-benar telah terjadi, diapun benar-benar merasa amat takut, karena diapun pernah mengalami pengalaman yang menakutkan itu.
Bu-ki sudah dapat menduga, kenapa mimik wajahnya menunjukkan sikap yang aneh sewaktu hendak berbicara tadi.
Terdengar Lo Ciang kembali berkata.
"Sikap mereka terhadap diriku ternyata cukup sungkan, aku tidak digantung diatas pohon, pakaianku juga tidak dilepaskan sampai telanjang bulat"
Tapi mulutnya sudah pasti dijejali dengan segumpal lumpur yang kotor. Setelah melampaui pengalamannya yang mengerikan itu, ia berkata lebih lanjut.
"Sewaktu aku sadar kembali, ketemukan secarik kertas ini"
Kertas itu merupakan secarik kertas surat yang langka sekali, diatasnya tercantumlah beberapa baris tulisan yang meliuk-liuk tak karuan hingga tampak aneh sekali, tapi maksudnya amat jelas.
"Kalau orang tidak mengganggu aku, Akupun tak akan mengganggu orang, Kalau masingmasing tidak saling mengganggu, Keluarga tentu akau aman dan bahagia."
Setiap orang mengharapkan keluarganya aman, senang dan bahagia, asal keluarganya aman dan bahagia, walaupum bertetangga dengan setan juga tak menjadi soal.
Setan-setan itu rupanya amat pandai mendalami perasaan manusia.
"Setanpun terdiri dari pelbagai macam jenis"
Kata Bu ki.
"agaknya setan-setan yang menghuni disini bukan termasuk jenis setan bengis"
"Perduli setan dari jenis maupun, mereka semua memiliki semacam kebaikan"
Sambung Lo Ciang "Apa kebaikannya?"
"Setan tak dapat membohongi orang, hanya orang baru bisa membohongi setan"
Bu ki tertawa getir. Benar juga perkataannya itu dan siapapun rasanya tak dapat meyangkal.
"Asal kita tidak berkunjung kehalaman gedung itu, merekapua tak akan keluar meninggalkannya, belum pernah mereka mengganggu tempat lain barang seuntai rumputpun"
Lo Ciang menerangkan.
Oleh karena itu merekapun tak pernah berkunjung lagi kehalaman gedung itu untuk melakukan pemeriksaan.
Bu-ki cukup memahami akan hal ini, ia tak akan menyalahkan mereka, sebab jika dia adalah Lo Ciang, diapun tak akan pergi kesana lagi.
Dia bukan Lo Ciang, maka dia harus kesana untuk melakukan pemeriksaan, bukan cuma mengunjungi setan-setan itu saja.
diapun akan mengunjungi temannya dan sumoaynya.
***** DI musim penghujan begini senja selalu berlangsung amat pendek, tiba-tiba saja hati menjadi gelap ketika angin dingin berhembus lewat.
orang akan merasa seolah-olah musim semi masih berada ditempat yang jauh sekali.
Bu ki menghindari tempat-tempat yang ada sinar lampunya, mengitari beranda yang sempit dan terpencil dari masuk ke kebun belakang lewat pintu samping.
Dia tak ingin mengganggu orang lain, lagipula bersikeras tidak membiarkan Lo Ciang menemaninya.
Seringkali ada banyak persoalan yang tak bisa kau lakukan jika ada orang lain menemanimu, sering juga ada hanya persoalan yang harus kau selesaikan seorang diri.
Ia tidak percaya kalau didunia ini benar-benar ada setan, tapi ia percaya didunia ini masih terdapat manusia yang justru jauh lebih menakutkan dari pada setan.
Ada kalanya seorang teman jauh lebih menakutkan dan berbahaya daripada sekawanan setan.
Selamanya ia tak suka membiarkan orang lain menemaninya menyerempet bahaya.
Halaman gedung, kebun bunga terasa lenggang, gelap dan dingin, kehangatan, ketenuangan dan kelembutan tempo hari kini telah berubah menjadi sepi dan menyeramkan.
Sejak ayahnya mati, bahkan tempat itupun seakan-akan diliputi oleh bayangan kematian.
Tapi bagaimanapun juga, tempat ini adalah tempatnya ia dibesarkan, terdapat banyak kenangan lama yang membuatnya tak akan melupakan untuk selamanya.
Jangkerik di musim panas, comberat di musim gugur, salju dimusim dingin, semua kenangan yang menggembirakan dan menyenangkan, sekarang hanya mendatang-kan perasaan sedih dan pedih saja untuk dikenang kembali.
Ia berusaha keras untuk tidak mengenang semua persoalan itu sekalipun hendak mengenangnya kembali, tak ada salahnya untuk dikenang kembali esok hari.
Ia tak ingin membiarkan siapapun manusia yang masih hidup di dunia ini menyaksikan kelemahan dan kesedihannya, diapun tak ingin membiarkan setan manapun mengetahui akan hal ini.
Gedung dimana Hong-nio berdiam dulu, letaknys di paling sudut perkampungan yang sepi dan terpencil, hakekatnya gedung itu berdiri sendiri, sehingga jalan lewat kesanapum tetap sama jauhnya.
Sejak ayah ibunya meninggal dunia, Tio jiya telah mengajaknya pindah kesana, sebelum mereka menikah secara resmi tentu saja antara dia dengan Bu ki harus dijaga suatu jarak tertentu.
Tapi itu bukan berarti Bu ki tak pernah berkunjung ke sana.
Dulu sewaktu ia datang kesana asal menyeberangi jembatan kecil ditepi hutan bunga Tho, dia akan menjumpai sinar lampu yang memancar ke luar dari balik jendela dan memantulkan bayangan manusia dibawah sinar lampu tersebut.
Jendela itu letaknya diatas loteng, loteng yang berada diantara beberapa ratus batang bambu dan beberapa puluh batang pohon bunga bwee.
Bayangan manusia itu selalu menantikan kedatangannya.
Jilid 16________ Sekarang ia menyeberangi kembali jembatan kecil itu, bunga Tho telah mekar, tiba tiba dari balik hutan bunga Tho berkumandang suara tertawa dingin.
Di suatu malam yang gelap, dingin dan mendung, disuatu halaman gedung yang luas dan lebar, apalagi disuatu tempat yang dikatakan banyak orang sebagai tempat setan berdiam, tiba tiba saja mendengar suara tertawa dingin semacam itu, siapapun pasti akan terkejut dibuatnya.
Tapi Bu ki seolah olah tidak mendengarnya.
Suara tertawa dingin kembali berkumandang keluar dari balik hutan bunga Tho, bila ingin menuju ke gedung yang dikatakan ada setannya, orang harus menembusi hutan bunga Tho itu.
Bu ki pun berjalan menembusi hutan bunga Tho tersebut.
Suara tertawa dingin itu berkumandang terputus putus, sebentar berasal dari timur, lalu dari barat sebentar berpindah ke kiri, sebentar ke kanan, sebentar dari atas pohon bunga Tho, sebentar pula datang dari balik semak belukar.
Bu ki masih belum juga mendengar.
Mendadak sesosok bayangan hitam tergantung diatas sebatang dahan pohon dan meniupkan sehembus angin dibelakang tengkuknya.
Bu ki seakan tidak merasakan apa apa, buka saja tidak pingsan karena ketakutan, diapun tidak berpaling untuk mengengoknya barang sekejappun.
Bayangan hitam itu malahan habis kesabarannya, tubuh yang semula tergantung dipohon mendadak melayang lewat dari atas kepala Bu ki.
Setelah berjumpalitan dengan indahnya ditengah udara, ia melayang turun tepat dihadapan Bu ki dengan enteng, sepasang tangannya bertolak pinggang, dengan sepasang matanya yang besar ia melotot ke arah Bu ki dengan gemas, meskipun sedang marah, masih bisa terlihat sepasang lesung pipinya yang manis diatas pipinya.
Pada hakekatnya Bu ki tak perlu berpalingpun ia sudah dapat menebak, siapa gerangan manusia itu.
Sebetulnya, dia mengira sahabatnya itu adalah Li Giok Tong, sungguh tak disangka Lian It lian si sukma gentanyangpun tak mau melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Sesungguhnya dia sudah tak ingin banyak ribut lagi dengan nona gede yang bukan saja tak tahu aturan, bahkan mempunyai banyak tipu muslihat yang licin ini.
Sayangnya si nona gede ini justru sedang cerewet dihadapannya, tiba tiba ia bertanya.
"Kau benar benar sedikitpun tak takut?"
"Takut apa?"
Tanya Bu ki.
"Taku setan!"
"Kau toh bukan setan, kenapa aku mesti takut keapdamu, kau seharusnya yang takut kepadaku!"
"Kenapa aku mesti takut kepadamu memangnya kau ini setan?"
"Apakah kau masih belum dapat melihat bahwa aku adalah setan?"
Lian it lian ingin tertawa, tapi tak tahan harus menarik muka juga, serunya kemudian.
"Kau ini setan apaan?Setan perempuan? Setan judi? Atau setan arak...?"
"Aku adalah setan yang lagi sial!"
Akhirnya Lian it lian tertawa juga.
"Sebenarnya aku masih mengira kau adalah manusia, kenapa tahu tahu bisa berubah menjadi setan yang lagi sial?"
"Karena lagi lagi aku berjumpa denganmu"
Ia menengok sekejap kebelakang punggungnya, kemudian berkata lagi.
"Kalau toh kau datang kemari dengan membawa seorang teman, kenapa tidak kau perkenalkan temanmu itu kepadaku?"
Lian it lian memeperhatikannya dari atas hingga kebawah sekejap, kemudian berkata.
"Hei, apakah kau sedang mabuk arak?"
"Setetes arakpun belum kuminum, darimana mungkin bisa mabuk oleh arak...?"
"Kau sudah tahu dengan jelas kalau akau datang seorang diri darimana pula datangnya teman?"
"Itu tuh... orang yang berdiri dibelakangmu sekarang, memangnya dia bukan temanmu?"
Lian it lian mulai tak bisa tertawa, ia bertanya agak menggigil.
"Mana mungkin dibelakangku ada orang?"
"Ahhh...! Bagaimana sih kau ini? Sudah jelas disana berdiri seorang manusia, kenapa kau mengatakan tidak ada?"
Tiba tiba ia menuding ke belakang tubuhnya sambil menambahkan.
"Coba lihat, bukankah dia adalah manusia?"
Paras muka Lian it lian berubah hebat, kemudian sambil tertawa dingin serunya.
"heeehhh.heeehhh...heeehhh...apakah kau hendak menaku nakuti aku? Kau kira aku bisa benar benar ketakutan?"
Bu ki memandang ke arahnya, seperti seorang yang merasa amat terkejut.
"Apakah kau tidak percaya kalau dibelakangmu ada seseorang?"
Ia berseru kembali. Lian it lian masih tertawa dingin, tapi suara tertawanya sudah mulai menggigil keras.
"Kenapa kau tidak berpaling untuk memperhatikan sendiri?"
Kata Bu ki lebih lanjut.
Padahal semenjak tadi Lian it lian sudah ingin berpaling ke belakang, tapi entah apa sebabnya, tengkuk serasa menjadi kaku, tiba tiba ia menerjang maju ke depan, lalu sambil menuding ujung hidung Bu ki serunya.
"Kau...kau harus bicara terus terang, sebenarnya dibelakangku benar benar ada orang atau tidak?"
Ujung jarinya terasa amat dingin, seperti es. Bu ki menghela napas panjang, kembali ia berkata.
"Sejak tadi aku toh sudah memberitahukan kepadamu, kalau kau sendiri yang kurang percaya, lantas apa pula dayaku?"
Lian it lian menggertak giginya kencang kencang, mendadak ia melompat ke tengah udara berjumpalitan dan mengitari sekeliling hutan bunga Tho itu sekali, meski masih cepat namun gerakkan tubuhnya jauh dari kelincahannya semula.
Hutan bunga Tho berada dalam kegelapan yang mencekam, jangankan sesosok bayangan manusia, setengah pun tak ada.
Dengan gemas dan jengkel dia melotot kearah Bu ki, dia ingin tertawa, ingin pula mengumbar hawa amarahnya.
"Sekarang, pada akhirnya kau sudah melihat sendiri bukan"
Kata Bu ki kemudian.
"Melihat apa?"
Jelas Bu ki merasa amat terkejut, serunya, .Apakah kau masih belum melihatnya? Jangan jangan matamu berpenyakitan?"
Sepasang mata Lian it lian sedikitpun tidak berpenyakitan, sayangnnya ia mempunyai nyali yang tidak bisa terhitung amat besar. Jika sekarang ia masih bersikeras mengatakan "tidak takut"
Bahkan dia sendiripun tahu kalau orang lain tak akan memepercayainya.
Bu ki gelengkan kepalanany berulang kali kemudian menghela napas panjang tampaknya ia sudah mulai bersiap sedia untuk meninggalkan tempat itu.
Tiba tiba Lian it lian menerjang maju kemuka, menarik tanganya dan berseru gugup.
.Kau...kau tak boleh pergi!"
"Kenapa aku tak boleh pergi!"
"Karena...karena..."
"Apakah dikarenakan kau sudah tahu kalau tempat ini ada setannya, maka kau mulai agak takut?"
"Ternyata Lian it lian mengakuinya.
"Tapi sekarang, dengan jelas kau toh sudah tahu kalau ada seorang telah menemanimu, apalagi yang mesti kau takuti?"
Kembali Bu ki berkata.
Paras muka Lian it lian berubah menjadi memucat, agaknya dia bakal jatuh semaput, Bu ki paling takut dengan perbuatannya ini.
Sekarang ia baru tahu, seorang perempuan yang setiap sat bisa jatuh semaput sebenarnya seratus kali lebih sulit dihadapi dari pada perempuan cengeng.
"Kau harus beritahu kepadaku dengan berterus terang, apakah kau sedang menakut nakuti aku?"
Tanya Lian it lian.
"Yaaa benar!"
"Dibelakangku ada orangnya atau tidak?"
"Tidak ada!"
Lian it lian menghembuskan napas lega, seakan akan sekujur badannya menjadi lemas semua, tiba tiba ia menjatuhkan dirinya keatas badan Bu ki.
Untung saja Bu ki telah menduga apa yang akan dilakukannya pada langkah selanjutnya.
Ternyata apa yang diduganya tidak salah.
Tubuh Lian it lian sama sekali tidak roboh kedalam pelukannya, tapi sebuah tempelengan yang keras telah diayunkan keatas wajahnya.
Tentu saja tempelengannya kali ini tidak mengena pada sasaran.
Sekali menyambar, Bu ki telah menangkap tangannya kencang kencang, kemudian sambil tertawa katanya.
"Akalmu sudah tidak manjur lagi, kenapa kau tidak mencoba untuk berganti dengan siasat yang lain?"
"Seorang kuncu hanya beradu mulut tidak beradu kekerasan, mau apa kau memengangi tanganku terus menerus?"
"karena aku sesungguhnya bukan seorang kuncu, kaupun bukan!"
Ia tidak lupa kalau dia masih mempunyai sebuah tangan yang lain, dengan kecepatan yang luar biasa ditangkapnya pula tangan tersebut.
Tapi ia lupa kalau dia masih mempunyai selembar mulut.
Tiba tiba ia membuka mulutnya dan dengan gemas menggigit kearah hidungnya.
Tindakan ini benar benar jauh diluar dugaan siapapun, ia tidka mengira kalau seorang nona ternyata berani menggunakan mulutnya untuk menggigit hidung seorang pria.
Terpaksa ia harus cepat cepat melepaskan tangannya sambil melompat mundur ke belakang, adaikata ia tidak mundur dengan cepat, siapa tahu hidungnya benar benar akan tergigit hingga kutung separuh.
Lian it lian tertawa keras, tertawa cekikikan katanya.
"Kau bukan seornag kuncu biar aku yang menjadi kuncu, kau tak mau turun tangan dengan kekerasan, maka biar aku saja yang menggunakan mulut"
Gelak tertawanya amat riang dan keras, ini menandakan betapa gembiranya dia saat itu.
Sepasang matanya yang sebetulnya amat besar, setelah tertawa sekarang berubah menjadi tinggal segaris, sepasang lesung pipinya tampak makin bulat dan dalam.
Terhadap perempuan semacam ini, apalagi yang bisa kau lakukan terhadap dirinya?
***** Bu Ki hanya mempunyai sebuah cara.
Agaknya Lian It Lian juga mengetahui caranya itu.
"Sekarang, bukankah kau ingin kabur dari sini?"
"Benar"
"Tapi sayang kau tak bakal berhasil untuk kabur dari sisiku!"
Diapun mempunyai sebuah cara untuk menghadapi Bu Ki.
"Kemanapun kau pergi, kesitu pula aku mengikuti!"
"Tahukah kau, aku hendak kemana sekarang?"
"Aku tak perlu untuk mengetahuinya!"
"Tapi aku merasa perlu untuk memberitahukan kepadamu, sebab aku hendak berkunjung kerumah yang konon dikabarkan ada setannya itu..."
Ucap Bu Ki.
"Aku ikut kesitu, sebab kedatanganku yang sebenarnya kemari adalah untuk berkunjung kesana, ke rumah yang dikatakan ada setan sebagai penghuninya"
Bu Ki gelengkan kepalanya berulang kali.
"Jika kau mau mendengarkan perkataanku maka kuanjurkan kepadamu, lebih baik kau tak usah ikut kesana"
"Kenapa...?"teriak Lian It Lian amat penasaran.
"Aku tidak percaya kalau penghuni rumah gedung itu benar benar adalah setan sungguhan!"
"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, sebab aku hanya bermaksud baik untuk menasehati dirimu saja, tapi...kalau memang kau tak mau menurut..."
Mendadak ia menutup mulut secara tiba tiba, kemudian terkejut memandang kebelakang punggungnya, seolah olah dibelakangnya tiba tiba saja muncul kembali sesosok bayangan manusia, sesosok...
manusia yang mengerikan.
Lian It Lian segera manggut manggut.
"Kali ini, kau tak akan berhasil menakut nakuti diriku lagi, caramu itu sudah pasti tidak manjur lagi! Kuanjurkan kepadamu, lebih baik tukarlah dengan cara lainnya yang lebih jitu sebelum ingin menakut nakuti diriku lagi"
Kemudian sambil tertawa cekikikan, pelan pelan ia berpaling ke arah belakang.
Walaupun ia mengetahui dengan jelas bahwa dibelakangnya pasti tak ada orang, tapi untuk menunjukkan bahwa dia tak akan dibikin ketakutan lagi, maka sengaja dia berpaling untuk melihat sendiri.
Baru saja kepalanya dipalingkan ke belakang, kontan saja ia tak mampu tertawa lagi.
Bukan saja Lian It Lian tak bisa tertawa lagi, bahkan kepalanya tak dapat berpaling pula, sebab tengkuknya telah menjadi kaku, sepasang kakinya mulai terasa lemas.
Kali ini ia benar benar menyaksikan sesosok bayangan manusia berdiri dibelakangnya.
***** Sesungguhnya orang itu tidak mirip dengan manusia.
Bahkan dia sendiri pun tak tahu apakah yang dilihatnya itu adalah manusia atau bukan?
Sebab dia tak lebih hanya menyaksikan sesosok bayangan berwarna putih berabu abuan.
Bayangan itu adalah sesosok bayangan yang panjang, panjang sekali, siapapun tak bisa membedakan dengan jelas apakah dia itu manusia?
Ataukah setan?
Tiba tiba bayangan itu lenyap tak berbekas,.
Akhirnya tengkuk Lian It Lian pelan pelan menjadi lemas kembali...
pelan pelan mulai bisa digerakkan kembali.
Untuk menunjukkan bahwa barusan ia sama sekali tidak merasa takut, sinona yang bernyali kecil tapi banyak tipu muslihatnya kini kembali bersiap siap untuk memberi pelajaran adat kepada Tio Bu Ki.
Kecuali dia sendiri, siapapun tak tahu kenapa ia bisa menaruh perhatian yang demikian khusus terhadap Tio Bu Ki.
Sayangnya ketika ia berpaling kembali kebelakang, ternyata Tio Bu Ki sudah tak nampak lagi batang hidungnya.
***** Ditengah malam yang sunyi, ditengah hutan yang gelap gulita, tiba tiba melintas lewat bayangan setan...
Hampir saja ia tak sanggup mepertahankan diri hampir saja ia menjerit keras.
Tapi sekalipun ia benar benar berhasil memanggil kembali Tio Bu Ki, rasanya hal ini terlalu menghilangkan gengsinya.
Ia menggigit bibirnya dengan sekuat tenaga.
"Kau anggap aku tak berani mendatangi tempat yang dibilang ada setannya itu? Aku justru sengaja akan kesitu untuk memperlihatkan kepadamu bahwa aku ini tak takut."
Bagaimanapun juga dimana mana ada setannya, apa bedanya kalau berkunjung kesana?
Dari kejauhan ia melihat jelas bahwa tempat yang dibilang ada setannya itu, entah sedari kapan sudah terang benderang bermandikan cahaya lampu.
Ia mulai menghibur diri sendiri.
Setan tak dapat memasang lampu.
Tempat yang ada cahaya lampunya, tak mungkin ada setan.
Sayang sekali pendapat tersebut dengan cepat telah dibantahnya kembali.
Sebenarnya ia sedang berjalan menuju kedepan, ketika pendapat yang pertama didapatkan, ia pun berhenti, ketika pendapat kedua melintas dalam benaknya, ia mulai mundur beberapa langkah ke belakang, mendadak ia seperti menumbuk diatas sebuah benda yang amat lunak.
Tempat itu adalah hutan bunga Tho yang ada hanya berbatang batang pohon bunga tho, pohon bunga tho tak mungkin selunak itu.
Untuk kali ini dia tidak menjerit, karena sewaktu tubuhnya menumbuk pada benda lunak itu, ternyata benda yang lunak itu menjerit sekeras kerasnya lebih dulu.
Ternyata benda yang lunak itupun seorang manusia, bahkan seorang perempuan lagi.
Itulah seorang nona bercelana merah yang berwajah ayu dan mempunyai kucir yang besar.
Ketika dilihatnya orang itu adalah seorang nona juga, Lian It Lian menghembuskan napas lega, apalagi setelah diektahuinya nona itu jauh lebih ketakutan daripadanya, ia merasa makin mantap hatinya.
Saking takutnya, nona bercelana merah itu menyusutkan tubuhnya menjadi satu, lalu memandang kearahnya dengan terperanjat.
"Kau...kau ini manusia atau setan?"
Serunya tergagap.
"Kau lihat aku mirip manusia? ataukah mirip setan?"
Lian It Lian balik bertanya "Kau tidak mirip setan!"
Lian It Lian segera tertawa merdu.
"Dari bagian yang manakah kau beranggapan demikian?"
Tanyanya cepat. Nona bercelana merah itu menundukkan kepalanya makin rendah, jawabnya dengan lirih.
"Setan tak akan berwajah menarik seperti kau!"
Lian It Lian tertawa senang.
"Tapi aku dengar orang bilang, disini ada setannya!"
Kata nona bercelana merah lagi.
"Aku kan berada disini, apalagi yang mesti kau takuti? Sekalupun betul betul ada setan yang datang, mungkin akupun masih sanggup untuk mengusirnya pergi!"
Sekarang sikapnya telah berubah menjadi lebih gagah dan lebih perkasa, karena pada akhirnya ia berhasil mengetahui bahwa disini masih ada seorang lagi yang bernyali lebih kecil daripadanya.
Agaknya nona bercelana merah itu merasakan juga kegagahan serta keperkasaan orang, sambil menundukkan kepalanya dan tertawa, ia bertanya kembali.
"Apakah kau adalah teman suko ku?"
"Siapakah suko mu?"
"Dia bernama Tio Bu Ki!"
Lian It Lian menatapnya tajam tajam, setengah harian kemudia tiba tiba ia menghela napas panjang, katanya.
"Sungguh tak kusangka Tio Bu Ki ternyata memiliki seorang siau sumoy yang begini cantik seperti kau"
Merah padam selembar wajah nona bercelana merah itu karena jengah.
Tampaknya bukan saja ia bernyali kecil, lagipun ia sangat pemalu.
Diam diam Lian It Lian tertawa geli dalam hatinya, agaknya nona itu seperti menaruh sedikit maksud kepadanya, hakekatnya seperti tertarik kepadanya.
Nona bercelana merah itu menundukkan kepalanya rendah rendah kemudian berbisik.
"Koncu, siapa...siapa namamu?"
"Aku she Lian!"
"Lian kongcu!"
Bisik nona bercelana merah itu lagi.
"Kau..."
"Jangan memanggil aku Lian kongcu, kau musti menyebut Lian toako kepadaku"
Paras muka nona itu berubah semakin merah, kepalanya tertunduk semakin rendah, dan hal itu justru membuatnya merasa semakin bangga, sambil sengaja menarik tangannya ia berkata.
"Kau adalah sumoynya, tentu saja pernah belajar silat bukan?"
"Ehmmm...!"
Si nona bercelana merah cuma mendesis lirih. Pelan pelan dengan penuh kasih sayang Lian It Lian membelai telapak tangannya, kemudian berkata lagi.
"Kalau dilihat dari kulit telapak tanganmu, kau tidak mirip seorang yang pernah belajar silat, tanganmu halus lagi lembut"
Nona bercelana merah itu seperti ingin sekali melepaskan diri dari cekalannya, tapi iapun seperti merasa berat hati untuk melepaskan diri dari gengaman tangan orang.
Hampir tertawa tergelak Lian It Lian mneyaksikan tingkah laku nona itu.
Pikirnya.
"...Seandainya dayang kecil ini mengetahui akupun seorang perempuan, entah bagaimana keadaannya nanti?"
Andaikata ia tahu kalau Tio Bu Ki pada hakekatnya tidak mempunyai sumoy, entah ia masih dapat menarik narik tangan sidayang kecil ini lagi atau tidak?
Akhnirnya nona bercelana merah itu membuka kembali mulutnya seraya berkata.
"Apakah kau telah berjumpa dengan suko ku? Aku dengar, begitu sampai dirumah ia langsung datang kemari"
"Apakah kau datang untuk mencarinya?"
"Ehmmm...!"
Nona bercelana merah itu mengangguk.
"Baru saja ia berada disini, tapi begitu mengetahui kalau disini ada setannya, ia menjadi ketakutan setengah mati dan segera kabur terbirit birit"
"Apa kau sedikitpun tidak merasa takut?"
Tanya nona bercelanan merah itu.
"Takut apa?"
"Takut setan!"
"Apa yang perlu ditakuti dengan setan? Barusan saja aku telah bertemu dengan satu diantaranya"
"Bagaimana kemudian?"
Tanya si nona bercelana merah itu dengan gelisah bercampur dengan cemas.
"Sebenarnya hendak kutangkap setan itu, akan kusuruh ia memperlihatkan beberapa muka setan kepadaku, siapa sangka bukan aku yang takut kepadanya, malahan dia yang rada takut kepadaku"
Pandai betul orang ini mengibul, tapi belum habis kibulannya itu, tiba tiba paras mukanya telah berubah hebat, senyuman di ujung bibirpun mendadak berubah menjadi kaku.
Ia telah menangkap kembali bayangan setan tadi.
Sesosok bayangan setan yang panjang dan panjang sekali, sambil bergelantungan diantara dahan pohon, ia tertawa seram tiada hentinya.
Si nona bercelana merah itupun melihat juga bayangan setan tersebut, entah karena ketakutan setengah mati ataukah karena terlalu gembira, sekujur badannya ikut gemetaran keras, teriaknya keras keras.
"Cepat kau maju kedepan dan tangkap setan itu, suruh dia memperlihatkan beberapa macam muka setannya untuk kita!"
"Baik...baik..."
Meskipun mulutnya mengatakan "Baik"
Tapi sekalipun kau palangkan mata golok diatas tengkuknya, diapun takan berani untuk maju lebih kedepan. TIba tiba bayangan setan itu tertawa seram.
"Heeehhh...heeehhh...heeehhh...aku tak pandai membuat muka setan, aku tak punya muka!"
Katanya.
ia benar benar tak punya muka!
Hidungnya, mulutnya, telinganya dan alis matanya sama sekali tak kelihatan.
Kecuali suatu permukaan yang data dengan batok kepala berwarna abu abu hanya sepasang matanya saja yang memancarkan sinar tajam yang berkilauan.
Diatas kepalanya ia mengenakan sebuah topi lancip yang tingginya tiga depa dan terbuat dari kain mori putih, ketika terhembus angin, tubuhnya begoyang kesana kemari tiada hentinya.
Tiba tiba nona bercelana merah itu berkata.
"Setanpun punya muka, kemana perginya mukamu itu?"
"Mukaku sudah kukembalikan kepada orang lain!"
"Hmmm, muka sendiripun tak punya, masih berani berlagak sok didepan kami, hanya cepatlah dikit enyah dari sini, enyah makin jauh semakin baik...!"
Ternyata ucapan tersebut manjur sekali, agaknya bayangan setan itu masih agak punya rasa malu, dengan ujung bajunya yang besar dan lebar, buru buru ia menutupi mukanya sendiri, kemudian menyelinap ketempat kegelapan dan lenyap tak berbekas, Akhirnya Lian It Lian dapat juga menghembuskan napas lega katanya.
"Mengapa nyalimu semakin lama tiba tiba saja semakin bertambah besar...?"
Nona bercelana merah itu tertawa manis.
"Bukankah kau berkata sendiri, asal ada kau disini, maka apapun tak perlu ditakuti lagi"
Ternyat sikapnya terhadap dirinya amat kagum begitu percaya seakan akan telah menganggap dirinya sebagai seorang manusia yang luar biasa...
Akan tetapi Lian It Lian justru tak sanggup bersikap gagah dan perkasa seperti tadi lagi, bahkan bayangan setan yang tak bermukapun tahu malu, apalagi dia?
Sepasang pipinya berubah agak merah karena jengah.
Nona bercelana merah itu tertawa, katanya lagi.
"Ternyata setan setan itu sedikitpun tidak menakutkan seperti apa yang telah kuduga semula"
"Tapi...tapi... ada sementara setan yang jauh lebih bengis"
"Asal berada disisimu, setan yang lebih bengispun tak akan kutakut!"
Kemudian sambil menarik tangan Lian It Lian ia berkata lagi.
"Hayo berangkat, kita harus segera berangkat!"
"Kau hendak kemana?"
"Menangkap setan!"
Lian It Lian menjadi amat terperanjat, serunya tergagap.
"Kau... kau bilang apa?"
"Kita pergi menangkap setan yang punya muka dan suruh ia pertunjukkan beberapa macam muka setannya kepada kita berdua"
Lian It Lian benar benar ketakutan setengah mati, sepasang kakinya seakan akan sudah terpantek diatas tanah, sedemikian kokohnya sampai dibelah delapan ekor kudapun belum tentu bisa berkutik.
"Apakah sekarang kau malahan yang merasa takut?"
Tiba tiba nona bercelana merah itu bertanya. 'Takut?"
Kenapa aku musti takut?"
Dia ingin tertawa, namun tak mampu bersuara, maka setelah mendehem beberapa kali katanya.
"Cuma saja, setan yang punya muka tak banyak jumlahnya, aku kuatir tidak gampang untuk menemukannya"
Dari balik kegelapan tiba tiba berkumandang suara tertawa yang menyeramkan.
"Heeehhhh... heeehhh... heeehhhh.... kau tak usah pergi mencari lagi, aku telah mencarikan satu untuk kalian!"
Setan tak bermuka itu ternyata muncul kembali bukan begitu saja malahan benar benar membawa seorang rekannya.
Bayangan setan yang dibawanya datang itu berambut panjang dan hitam, sedemkian panjangnya sehingga hampir saja mengenai tanah, sebagian besar wajahnya tertutup oleh rambut yang panjang itu.
"Kau benar benar punya muka?"
Tanya nona bercelana merah itu kemudian dengan suara lantang.
"Apakah kau ingin melihat wajahku?"
Tanya bayangan setan berambut panjang itu.
"Yaaa, aku ingin!"
Lian It Lian ingin menutup mulutnya, sayang terlambat!
Bayangan setan berambut panjang itu telah menggerakkan tangannya yang pucat untuk menyingkap rambut panjangnya yang menutupi wajah.
Setan itu adalah setan perempuan, bukan saja betulb etul punya muka, lagi pula amat cantik, cuma sayangnya muka yang dimilikinya hanya separuh bagian.
Wajah sebelah kirinya seakan akan sudah terbakar hangus, seperti juga segumpal tanah lumpur yang kotor, dibandingkan dengan separuh bagian muka sebelah kanannya yang cantik, hal mana justru menambah seram dan misteriusnya setan itu.
Lian It Lian merasakan isi perutnya teraduk aduk tak karuan.
sedemikian melilitnya sehingga hampir saja tumpah keluar.
Setan perempuan berambut panjang itu tertawa terkekeh kekeh, kemudian katanya.
"Walaupun aku cuma memiliki separuh bagian wajah, untun saja jauh lebih bagus daripada tak punya muka sama sekali"
"Jika kalian bernaggapan bahwa wajahnya terlamapu sedikit, biar kucarikan rekan lain yang berwajah lebih banyakkan"
Kata bayangan setan tak bermuka lagi. Dari balik kegelapan segera berkumandang kembali suara tertawa seram yang aneh dan mengerikan.
"Aku telah datang....!" ***** Setan yang munculkan dirinya kali ini bukan saja punya muka, lagipula punya mata, punya hidung, telinga dan mulut secara komplit. Setan ini sesungguhnya memang jauh lebih menarik daripada dua setan lainnya. Setan perempuan berambut panjang itu tertawa seram, kemudian katanya keras.
"Coba kau lihat, bagaimana dengan tampangnya?"
"Lumayan juga!"
Jawab nona bercelana merah itu. Setan perempuan berambut panjang itu tertawa makin menyeramkan.
"Padahal selembar wajahnya itu masih belum terhitung seberapa, dia masih memiliki selembar wajah lain yang jauh lebih menarik lagi!"
Setan itu tertawa terkekeh kekeh ke arah mereka, kemudian pelan pelan memutar badannya, ternyata dibelakangpun persis seperti keadaan dimuka.
Ternyata dibagian belakangnya masih terdapat lagi selembar wajah yang lebih "menarik".
Tampaklah tubuhnya berputar terus tiada hentinya, sehingga mana yang sesungguhnya depan dan mana yang sebenarnya belakang susah ditentukan secara pasti.
Setan yang punya muka ini pada hakekatnya jauh lebih menakutkan dariapada setan setan tak bermuka atau bermuka separuh lainnya.
Tiba tiba nona bercelana merah itu memutar badannya, lalu sambil menarik tangan Lian It Lian, teriaknya.
"Cepat kita kabur!"
Walaupun Lian It Lian sudah ketakutan setengah mati namun kata "lari"
Justru merupakan kata kata yang paling diharapkan olehnya.
Sejak tadi ia sudah ingin lari meninggalkan tempat itu.
Si nona bercelana merah itu bukan cuma ilmu meringankan tubuhnya saja yang lihay tangannya juga hebat sekali, sambil menarik tangan Lian It Lian dia lari seperti terbang, seakan akan berhasil meninggalkan tiga setan yang berada dibelakangnya.
Suara tertawa yang menyeramkan itu untung saja sudah makin jauh dari mereka.
Tapi kedua orang itu masih belum berani berhenti, mereka lari terus meninggalkan tempat itu jauh jauh.
Mereka memang tak kenal dengan jalan di situ, dalam kegelapan malam arah tujuanpun sukar ditentukan, maka lari punya lari tiba tiba mereka mendapatkan dirinya telah tersesat.
Yang tampak disekelilingan tempat itu hanya pepohonan yang gelap gulita, sekilas pandangan segala sesuatunya tampak seperti sama dan tiada bedanya.
Kalau berlarian dengan cara begitu terus menerus, bisa jadi mereka akan kembali ke tempat semula, kalau sampai begitu, penasaran baru namanya.
Kedua orang itu sama sama telah berpikir sampai kesitu betul nyali kedua orang nona ini rada kecil, tapi otak mereka tidak bodoh.
Tiba tiba Lian It Lian berhenti, sambil mengatur napasnya yang tersengkal ia berkata.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang!?"
"Menurut kau?"
Nona bercelana merah itu balik bertanya "Aku bukannya benar benar takut setannya ku cuma...aku cuma..."
Kini setannya sudah tidak kelihatan, maka dia berusaha mencari kembali mukalnya yang hilang, apa mau dikata ia justru tak tahu apa yang mesti dikatakan!
"Aku tahu kalau kau tidak takut dengan setan, bahkan aku sendiripun tidak takut"
Ucapan nona bercelana merah itu. Lian It Lian kembali ingin tertawa, ternyata nona ini seperti juga dia, suka mengibul. Ia lantas berkata.
"Jika kau tidak takut, kenapa kau menarik aku suruh lari?"
"Sebab aku sudah mengetahui bahwa mereka bukan setan, melainkan manusia!"
"ketiga tiganya adalah manusia semua?"
Ulang Lian It Lian rada tertegun.
"Yaaa, ketiga tiganya!"
"Kalau betul cuma manusia, apa pula yang kau takuti?"
"Siapa saja dari ketiga orang itu jauh lebih menakutkan daripada setan, kalau sampai mereka menjadi satu...hiiih! Mengerikan deh! Untung kita kabur rada cepat, coba kalau tidak begitu, wah... bisa jadi kita sudah menjadi setan sekarang!"
Sesudah menghela napas, kembali ia berkata.
"Kalau setan, paling banter dia cuma menakut nakutkan kita, tapi kalau dia manusia...hih!"
Ia tundukkan kepala yang digorok dengan telapak tangan.
"Botak kepala kita bisa dibeginikan olehnya...Ngeeek! Habis sudah nyawa kita!"
Lian It Lian membelalakkan matanya bulat bulat.
"Lantas kau tahu, siapakah mereka?"
"Tentu saja, pokoknya kalau sudah kusebutkan nama nama mereka, kau tentu ikut mengetahuinya juga"
"Kalau begitu, coba sebutkan!"
"Kau pernah dengar tidak tentang keluarga persilatan Kongsun yang berada di wilayah selatan?"
Kata sinona bercelana merah itu setelah termenung sebentar.
Yaa, yaaa, aku pernah mendengar tentang orang ini, katanya dia tersohor karena ilmu pat kwat kiamnya yang hebat, ilmu silatnya terhitung amat tangguh!"
Setelah berpikir sebentar, ia menambahkan.
"Konon keluarganya sudah dibunuh orang sampai ludes!"
"Kau tahu, kenapa mereka terbunuh semua sampai mampus?"
"Soal itu mah aku kurang terang!"
"Mereka semua telah mampus ditangan perempuan yang punya muka cuma separuh itu, konon mulanya dia meringkus semua anggota keluarga tersebut, lalu memotong separuh wajahnya, kemudian baru mengirim mereka ketengah sebuah gunung yang sepi untuk menunggu saat kematiannya disana!"
"Apakah sudah menjadi kebiasaan baginya untuk memapas separuh wajah orang lain sebelum membunuhnya?"
"Biasanya selalu memang demikian!"
Lian It Lian segera menghela napas panjang.
"Waaah... kejam betul perempuan itu"
Gumamnya "Kalau dia tak kejam, mana mungkin orang lain menyebutnya sebagai Poan bin losat (perempuan iblis berwajah separuh)?"
"Ooooh...! Jadi perempuan itu yang bernama poan bin losat? Kalau begitu, orang yang punya dua wajah itu adalah Siang bin jinmo (manusia iblis berwajah ganda)?"
"Yaa, aku pikir pasti iblis itu!"
Si nona bercelana merah itu manggut manggut lirih.
Yang seorang adalah Lo sat (iblis perempuan) sedang yang lain adalah jianmo (iblis manusia) kedua duanya memang lebih menakutkan daripada setan!
Lian It Lian sendiripun cukup mengetahui akan keseraman mereka, tapi ia tak habis mengerti kenapa iblis iblis tersebut bisa muncul bersamaan waktunya disini.
Tampak sinona bercelana merahpn tidak memahami akan persoalan itu.
"Rasa rasanya keluarga Tio tidak mempunyai perselisahan atau dendam kesumat dengan mereka"
Demikian ujarnya.
"Betul mereka jahat dan berbahaya, tapi tak mungkin mereka datang mencari gara gara dengan Tay Hong Tong tanpa sebab sebab tertentu"
Setelah menghela napas panjang, terusnya.
"Kecuali sukoku telah terbitkan keonaran di tempat luaran sehingga melakukan kesalahan terhadap beberapa orang makhluk aneh yang membunuh orang tanpa berkedip ini"
Jelas ia merasa sangat kuatir. Maka Lian It Lianpun sengaja berlagak tidak merasa kuatir barang sedikitpun juga, sambil tertawa dingin ia berkata.
"Siapa tahu kalau separuh wajahnya sudah kena dipapas olehnya saat ini? Entah li Lo sat tersebut bersiap siap hendak mengirimnya kemana untuk menantikan kematiannya?"
Maksud semula dia hanya ingin menakut nakuti nona itu, siapa tahu justru dia sendiri yang ketakutan lebih dulu.
Karena secara tiba tiba ia beranggapan, bahwa peristiwa semacam ini mungkin sekali bisa menimpa dirinya.
SIapa tahu kalau separuh wajah Tio Bu Ki telah disayat orang saat ini?
SIapa tahu ia sudah berbaring disuatu tempat yang terpencil untuk menantikan saat kematiannya?
Nona bercelana merah itu menatapnya lekat lekat, kemudian berkata secara tiba tiba.
"Aku dapat melihat, bahwa kau pasti adalah sahabat yang paling... paling akrab dari sukoku"
Lian It Lian masih berdiri tertegun. Nona bercelana merah itu tertawa, lalu berkata lebih lanjut.
"Karena aku dapat melihat, meskipun dimulut kau berbicara galak, padahal dalam hati kecilmu amat menaruh perhatian kepadanya"
"Betul kau bisa melihat bahwa aku sangat menguatirkan keselamatannya"
"Tentu saja!"
Lian It Lian segera tersenym.
Seaktu tertawa, sepasang matanya berubah menjadi satu garis yang lurus, sepasang lesung pipinya yang bulat dan dalam pun segera tertera dengan amat jelasnya.
Tapi siapapun tak tahu mengapa, ternyata senymannya kali ini tidak terlampau indah dilihat, hakekatnya tertawanya kali ini lebih mirip dengan tangisan.
"Bila sukoku tahu bahwa kau sangat memperhatikan dirinya, dia pasti akan mengaggapmu sebagai sahabatnya yang paling baik"
Nona bercelana merah itu berkata lagi.
"jika aku memberitahukan satu hal kepadamu, kaupun pasti akan merasa keheranan"
Lian It Lian cepat menyambung.
"Memberitahukan soal apa?"
"Sealama ini dia tak pernah menganggapku sebagai sahabatnya, dikemudian haripun dia tak akan bersahasabat pula denganku"
"Kenapa?"
Jelas sinona bercelanan merah itu merasa tercengang dan tidak habis mengerti.
Lian It Lian tidak berbicara lagi.
Sepintas lalu tampaknya dia seperti seorang yang berjiwa terbuka, tapi apa mau dikala lain agaknya ia justru memiliki banyak rahasia.
Banyak rahasia yang tak mungkin dia ucapkan kepada siapapun juga!
Suara tertawa yang sebenarnya sudah tidak terdengar lagi tadi, sekarang mulai tertangkap lagi secara lamat lamat.
Agaknya tiga orang manusia yang jauh lebih menakutkan dari setan itu masih belum bersedia melepaskan mereka dengan begitu saja.
"Menurut pendapatmu, sanggupkah kita menghadapi mereka bertiga...? tanya Lian It Lian kemudian.
"Tidak!"
"Aku lihat ilmu silatmu cukup tangguh, kenapa musti jeri terhadap mereka?"
"Karena selamanya aku tak pernah berani berkelahi dengan orang, asal melihat darah kepalaku langsung pusing dan bisa jadi jatuh semaput"
Kiranya diapun seorang gadis yang setiap waktu setiap saat jatuh semaput.
Satu satunya hal yang paling jelek dari pada seorang gadis yang setiap saat bisa jatuh pingsan adalah terdapatnya dua orang gadis yang setiap saat bisa jatuh pingsan.
Untung saja mereka belum sampai jatuh pingsan pada saat ini maka mereka berdua dapat mengendus segulung bau harum.
Bau harum dan masakan Hwe po yau hoa yang lezat.
Satu satunya hidangan yang bisa menyiarkan bau harum semerbak semacam in i hanya maskan Hwe po yau hoa.
Untuk mendapatkan hidangan Hwe po yau hoa, bukan saja harus ada daging bagian pinggul harus ada punya minyak garam tungku dan kuali besar.
Benda benda semacam ini biasanya hanya akan dijumpai dalam dapur.
Biasanya dapur adalah suatu tempat yang bisa mendatangkan perasaan nyaman, hangat dan aman bagi setiap orang.
Seorang yang sedang memasak hidangan Hwe po yau hoa, baisanya tak akan mempunyai ingatan untuk membunuh orang.
Seseorang yang ining membunuh orang, biasanya juga tak akan berkunjung ke dapur.
Maka mereka memutuskan untuk mendatangi dapur itu.
***** Dapur itu letaknya dibelakang dinding rendah yang terbuat dari batu bata merah,letaknya yang tepat berada dibalik sebuah halaman yang tidak begitu luas.
Luas dapur tidak terhitung kecil, tapi jendelanya justru amat sedikit.
Lampu lentera dalam dapur memancarkan cahayanya dengan terang benderang, tapi suasana dihalaman luar gelap gulita, hanya seititik cahaya lampu yang mencorong keluar lewat celah celah daun pintu dan jendela yang kecil dan persis menyoroti diatas tubuh seseorang yang sedang duduk dikursi bambu diluar pintu.
Orang yang berada dalam dapur agaknya tak sedikit jumlahnya, tapi diluar halaman hanya orang itu sendiri yang duduk di bangku bambu.
Ketika Lian It Lian dan sinona bercelana merah itu nyelonong masuk kedalam halaman lewat dinding yang pendek, bau harum masakan Hwe po yau hoa tersebut sudah tidak terendus lagi.
Karena semangkuk Hwe po yau hoa yang baru saja matang itu telah dibuang orang kedalam pecomberan.
Hidangan Hwe po yoau hoa yang baru saja matang, seharusnya dibuang keperut orang, mengapa harus dibuang kedalam pecomberan?
Karena ketika ada orang menghidangkan Yau hoa tersebut ke hadapan orang yang sedang duduk dibangku bambu itu, setelah mengendusnya sebentar dan menghela napas, ia telah menuangnya kedalam pecomberan.
Sesungguhnya semangkuk Yau hoa tersebut terhitung lezat juga, bahkan Lian It Lian serta nona bercelana merahpun menganggapnya harum sekali.
Tapi ketika orang itu mengendusnya barusan ternyata mimik wajahnya seakan akan baru saja mengendus semangkuk kotoran anjing yang berbau busuk.
Orang itu bertubuh kurus lagi kecil, wajahnya selalu bermuram durja, seolah olah setiap orang yang berada diseantero jagad telah berhutang beberapa ribu tahil perak kepadanya, seperti juga ia sudah dibikin muak oleh bau asap dari dapur hingga setiap saat hendak tumpah.
Sambil mengerutkan dahi dan menghela napas panjang, dia berseru.
"Apa sih isi dalam mangkuk ini?"
"Semangkuk Hew po yau hoa!"
Jawab koki yang membuat hidangan tersebut. Orang itu segera menghela napas panjang.
"Itu mah bukan Hwe po yau hoa namanya, yang benar adalah semangkuk Yau hoa yang diberi letupan api!"
Oleh karena itu, semangkuk He po yau hoa yang baru matang telah dituangnya kedalam pecomberan.
Orang itu kembali menghela napas, pelan pelan bangkit berdiri dan pelan pelan masuk kedalam dapur, lweat sesaat kemudian dari dalam dapur kembali terendus bau harum hidangan Hwe po yau hoa, hanya saja bau harum yang terendus kali ini memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan bau harum semula.
Lian It Lian sendiripun tak dapat membedakan dimanakah letak perbedaan tersebut, hanya saja ketika ia mengendus bau harum Yau hoa tersebut tadi, walaupun ia merasa harum dan lezat, namun sama sekali tidak berhasrat untuk mencicipinya.
Karena waktu itu perutnya sama sekali tidak lapar.
Tapi setelah mencium bau Yau hoa yang terendus kali ini, sekalipun ia tidak lapar, air liurnya toh tetap meleleh keluar.
Ternyata manusia ceking yang selalu bermuram durja dan seakan akan ingin tumpah bila mengendus bau asap dapur itu adalsh seorang koki jempolan.
Terdengar ia sedang bergumam didalam dapur sambil menghela napas panjang tiada hetinya.
"Sekarang kalian mulai menghitung dari angka satu sampai seratus dua puluh, waktu itulah minyak mulai diturunkan, kemudian disaat angka sudah mencapai sertus delapan puluh lima, daging sapi yang sudah dibumbu ini mulai dimasukkan kedalam kuali, gunakan sekop untuk membolak balik daging itu sebanyak tujuh kali, tak boleh lebih tak boleh kurang hanya tujuh kali, maka kuali ini musti diangkat dari api, dalam keadaan begini kau harus cepat cepat tuangkan daging itu kedalam mangkuk yang sudah dihangatkan. Dan suruh orang cepat cepat menghidangkannya. Waktu itu Hwe po yau hoa tersebut sudah tidak cukup segar; tidak cukup empuk dan tidak cukup panas lagi, persis saatnya untuk menikmati hidangan dagin sapi masak kecap ini! Sewaktu ia sedang berbicara, semua orang hanya mendengarkan dengan seksama, bahkan untuk menghembuskan napas besarpun tak berani. Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh.
"Dagin sapi masak kecap bukan sejenis hidangan yang terlalu mewah tapi hidangan ini justru baru akan terasa lezatnya jika dibuat dalam keluarga keluarga biasa, oleh karena itu kepandaianmu, ketepatan waktumu harus benar benar persis, sedikitpun tak boleh meleset, karenanya akibatnya bisa besar"
Ia berbicara didalam dapur, tapi dua orang gadis yang bersembunyi diluar dapur justru dibikin tertegun.
Mereka semua ingin mencicipi daging sapi itu, tapi mereka tak menyangka kalau untuk membuat semangkuk dagingpun harus menguasai kepandaian sebesar ini.l Sementara itu orang yang bermuram durja tersebut telah keluar dari dalam dapur, dua orang segera mengikuti dibelakangnya.
baru saja ia melangka keluar dari pintu, seorang diantaranya segera tampil kedepan menghaturkan ebuah sapu tangan putih yang hangat.
Menanti ia sudah menggosok wajahnya dengan handuk panas itu, seorang yang lain segera menghidangkan secawan air teh panas.
Tampaknya lagak si koki ini betul betul luar biasa.
Itu berarti orang yang bisa menggunakan koki semacam ini sebagai koki tetapnya, dia tentu jauh lebih hebat lagi.
***** Hampir saja Lian It Lian sudah melupakan ketiga orang manusia yang jauh lebih menakutkan daripada setan itu.
Sekarang semua perhatiannya sudah tertarik oleh tingkah laku sang koki yang sok, dia lebih ingin tahu lagi macam apakah majikan dari koki tersebut.
Ia tidak takut terhadap koki.
Sekalipun ditangan sang koki membawa pisau.
Pisau itu tak lebih hanya sebilah pisau dapur, sebilah pisau yang tak bisa dipakai untuk membunuh orang.
"Bagaimana?"
Bisik nona bercelana merah itu tiba tiba.
"Biar kukesana lebih dulu"
Jawsab Lian It Lian.
"Akan kutanyakan kepada koki itu, tempat apakah ini? Hayo ikut aku"
"Kali ini, kau seharusnya membiarkan aku kesana lebih dulu"
Protes sinona bercelana merah itu.
"Kenapa?"
"Karena dia adalah seorang lelaki, biasanya lelaki akan bersikap lebih sungkan terhadap perempuan"
Lian It Lian segera tertawa.
"Yaa, betul bila gadis cantik semacam kau yang bertanya kepadanya, sepatah kau bertanya, tak mungkin dia hanya menjawab sepatah kata"
Tentu saja dia tak dapat mengatakan kalau dia sendiripun seorang gadis yang cantik menarik, kalau bisa menipu nona itu habis habisan, apalagi bila berhasil membuat si nona jatuh hati kepadanya, itu baru suatu surprise namanya.
Dengan langkah yang sangat berhati hati kedua orang itu merangkak keluar dari balik dinding pekarangan.
Dari tempat kejauhan, nona bercelana emrah itu telah tersenyum manis kepada sang koki, sapanya.
"Baik baikkah kau?"
Ketika menjumpai seorang nona yang begitu cantik menghampirinya dan mengajak bercanda, ternyata koki itu masih bermuram durja.
"Tidak baik!"
Jawabnya sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kenapa tidak baik?"
Koki itu menghela napas panjang.
"Aaaai... orang lain berpesta pora, makan minum, sebaliknya aku macam cucu kura kura saja mendekam terus disini sambil membuatkan sayur untuk mereka, jangankan ikut berpesta, mencicipi satuupun tak mungkin, coba bayangkan sendiri, penghidupan semcam ini mana mungkin bisa dikatakan baik?"
Nona bercelana merah itu segera menampilkan sikap simpatik dan ikut terharu katanya.
"Padahal kau toh bisa menyisihkan sedikit sebelum hidangan itu dikeluarkan, dengan demikian kau toh bisa ikut pula menikmatinya"
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?"
Sambil bermuram durja, koki itu menghela napas panjang.
"Aku tak dapat menikmatinya, setiap kali mencium bau minyak, aku sudah ingin tumpah rasanya"
Seorang yang begitu mencium bau minyak lantas ingin tumpah ternyata menjadi seorang koki yang termashur, itu baru aneh namanya. Nona bercelana merah itu segera bertanya lagi.
"Siapa pula yang berpesta pora hari ini?"
"Kecuali dia, siapa pula yang bisa mengundangku kemari untuk membuatkan hidangan?"
"Siapakah dia yang kau maksudkan?"
Tak tahan Lian It Lian bertanya. Kontan saja koki itu melotot besar besar kearahnya, dengan dingin ia berkata.
"Kalau dia saja tak tahu, mau apa kau datang kemari?"
Lian It Lian tak berani berbicara lagi. Nona bercelana merah itu segera berkata.
"Orang yang diundangnya hari ini tentu seorang tamu terhormat, oleh karena itu kau disuruh membuatkan hidangan khusus buatnya"
Tampaknya perkataan itu dengan tepat menyentuh bagian yang gatal dari koki tersebut, dia segera manggut berualang kali.
"Tepat sekali, masakan ayam masakan itik siapapun dapat membuatnya, dimanapun bisa didapatkan, tapi kalau disuruh membuat hidangan khusus maka diperlukan pengetahuan yang cukup, dan lagi tidak mungkin bisa dirasakan setiap kali setiap saat"
"Hmm, benar juga perkataan itu!"
Kembali koki itu menghela napas panjang.
"Aaai...! Terhadap teori yang demikian sederhananya ini, ternyata masih ada juga yang tidak mau mengerti!"
"Entah tamu agung yang diundangnya hari ini ikut mengerti atau tidak...?"
"Semestinya ia dapat memahami akan hal ini, sebab jelek jelek begitu dia juga keturunan keluarga persilatan, tak mungkin yang dipikirkan hanya ingin makan ikan makan daging melulu"
"Sauya dari keluarga manakah dia?"
Tanya nona bercelana merah itu lebih lanjut.
"Darimana lagi? Tentu saja dari keluarga sini!"
Kembali Lian It Lian tak sanggup mengendalikan diri, tanyanya dengan cepat.
"Apakah Tio Bu Ki?"
Koki itu melotot sekejap kearahnya, lalu menjawab dengan dingin.
"Kalau bukan dia, lantas siapa?"
Lega juga perasaan Lian It Lian sesudah mendengar perkataan itu.
Tio Bu Ki terbukti tidak berbaring disitu untuk menantikan kematiannya.
Ia sedang duduk disana sambil menunggu untuk menikmati daging sapi masak kecap.
"Masih ada persoalan lain yang hendak kalian tanyakan kepadaku?"
Ujar si koki kemudian.
"Sudah tak ada lagi!"
Nona bercelana merah itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kalau begitu, gantian aku yang hendak mengajukan pertanyaan kepada kalian"
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Siapakah diantara kalian berdua yang malam ini tinggal disini untuk menemani aku tidur?"
Si koki yang selalu bermuram durja itu ternyata mengajukan pertanyaan yang luar biasa.
Hal mana sungguh membuat orang merasa terkejut.
Lian It Lian bukan cuma terkejut, bahkan saking marahnya wajahpun ikut menjadi merah padam.
"Kau sedang berkentut apa?"
Teriaknya gusar.
"Masakkah istilah mengajak tidurpun tidak kalian pahami?"
Buru buru si nona bercelana merah itu mencegah Lian It Lian mengumbar hawa amarahnya, dengan cepat dia berkata.
"Aku paham, tapi aku tidak mengerti kenapa kau tidak menahan kami berdua saja untuk bersama sama menemani kau tidur semalam?"
"Karena usiaku sudah lanjut dalam satu malam paling banyak aku cuma dapat memakai seorang"
"Siapa yang kau maui?"
"Yaa, pria muda yang cakeppun aku juga demen!"
"Lantas apa gunanya yang lain?"
"terpaksa yang lain akan kugunakan sebagai teman minum arak!"
Jawab koki itu.
"apa masak kau hendak menggunakan seorang manusia sebagai teman minum arak?"
"Tentu saja bukan seorang manusia secara keseluruhan, paling banter juga cuma beberapa potong dagingnya saja yang paling empuk dan muda"
Dengan sepasang matanya ayng tajam tiada hentinya ia perhatikan tubuh kedua orang itu dari atas sampai kebawah, dilihat dari mimik wajahnya itu seolah olah dia mengganggap kedua orang tersebut sudah berubah menjadi dua ekor domba yang telah dibelejeti sampai bugil semua.
Lian It Lian betul betul naik darah saking marahnya dia sudah hampir sinting, bukan cuma keki, bahkan ingin tumpah.
Ternyata sinona bercelana merah itu masih sempat bertanya lagi.
"Dengan cara apa kau hendak mendaharnya?"
"Tentu saja dimasak Angsio, kalau ingin masak daging orang maka api musti kecil dan tak boleh dimasak terlalu lama, kalau tidak maka dagingnya akan keras dan alot, wah, kalau sampai begitu rasanya tentu kurang lezat!"
"Oouw...! Tak kusangka kau memiliki pengetahuan yang begitu luas tentang cara memasak daging orang"
"Masakakan yang paling kubanggakan adalah daging orang masak Angsio, kebetulan kalian berdua memiliki daging yang putih lagi empuk, daging macam begini paling cocok kalau dimasak Angsiobak!"
Sesudah menghela naps panjang, tambahnya.
"Waaah, agaknya hari ini aku memang lagi mujur, sudah lama tidak kujumpai daging muda yang begini putih lagi empuk"
Ternyata nona bercelana merah itu tidak menjadi ketakutan, malah sebaliknya tertawa cekikikan.
"Yaa, hari ini kau memang mujur"
Katanya.
"Bukan mujur dalam selera makan, mujur pula dalam selera birahi!"
"Kalau kulihat tampangmu, agaknya bukan saja kau tidak merasa takut kepadaku, bahkan hendak menggunakan diriku sebagai bahan gurauanmu..."
Kata koki itu marah.
"Yaa, tentu saja aku merasa gembira bisa berjumpa denganmu, setiap orang persilatan tahu bahwa Biau jiu jiu sut (koki bertangan sakti) memiliki ketajaman mata yhang luar biasa, hari ini aku bisa menarik perhatian Biau jiu jiu sut, sudah barang tentu aku merasa gmebira bisa mengajakmu bergurau"
Tiba tiba koki itu tertawa dingin.
"Heeehhh.heeehhh.heeehhh... sungguh tidak kusangka kalau kaupun bermata tajam, ternyata bisa mengenali diriku"
Senyuman dari nona bercelana merah itu tampak lebih cantik dan manis.
"Aku bukan cuma kenal dengan dirimu saja"
Katanya.
"Bahkan akupun tahu harus mempergunakan cara apakah untuk merenggut selembar nyawamu itu!"
TIba tiba paras muka koki itu berubah hebat, kelopak matanya menyipit, kemudian jeritnya keras keras.
"Kau...!"
Hanya sepatah kata yang sanggup dia ucapkan, mendadak kelopak matanya terbelalak lebar, sorot matanya membuyar, dari balik tenggorokannya memancur keluar gumpalan darah kental, napasnya langsung berhenti.
Lian it Lian merasa terkejut sekali oleh peristiwa itu.
Ia yakin dirinya tidak turun tangan, agaknya sinona bercelana merahpun tidak turun tangan.
Ia benar benar tidak habis mengerti, mengapa secara tiba tiba orang itu bisa mati.
Nona bercelana merah itu telah memalingkan kepalanya dan menutupi wajah sendiri dengan tangan.
"Coba periksalah apakah dia sudah mati?"
Katanya lirih.
"Mengapa kau tidak memeriksanya sendiri?"
"Aku tak boleh melihat darah, sebab begitu melihat darah maka aku bisa jatuh tak sadarkan diri!"
Lian It Lian menatapnya tajam tajam, lam, lama sekali, tiba tiba ia baru bertanya lagi.
"Sewaktu membunuh orang, menagap kau tidak jatuh semaput?"
"Sebab ketika darah mulai mengucur keluar, aku telahmemalingkan wjaahku!"
Jawabnya begitu leluasa, begitu bebas, sedikitpun tiada maksud untuk mengelabuhi kejadian itu, seolah olah ia sama sekali tidak menganggap perbuatannya membunuh orang itu sebagai suatu kejadian yang sangat penting.
Lian It Lian menjadi amat terkeut.
"Jadi betul betul kau yang telah membunuhnya?"
Ia berseru.
"Kalau bukan kau, sudah barang tentu aku!"
Lian It Lian berusaha mengamati dirinya.
Namun ia tidak berhasil juga menemukan tanda yang menunjukkan bahwa nona yang lemah lembut dan halus ini pandai membunuh orang, bahkan yang dibunuh adalah seorang Ok-jin (orang jahat) yang sudah tersohor namanya dalam dunia persilatan.
Biau Jiu Jiu sut bukan cuma keji, bengis, dan jahat, diapun licin dan berwatak bajingan, beberapa kali para jago persilatan dari tujuh propinsi bekerja sama untuk menangkapnya tapi selalu tak berhasil, sebaliknya nona bercelana merah ini tanpa melakukan sesuatu gerakkan, dengan cara yang amat mudah berhasil merenggut jiwanya.
Tak tahan lagi Lian It Lian menghela napas panjang, sambil tertawa getir ia berkata.
"Kau betul betul hebat, aku merasa amat kagum kepadamu!"
Nona bercelana merah itu tertawa merdu.
"Seandainya,sepasang mata anjingnya tidak melotot terus bagian tubuhku yang tak pantas ia perhatikan terus, untuk membunuhnya mungkin tidak akan semudah itu"
Setelah berhenti sejenak dia bertanya kembali.
"Coba periksalah apakah dia benar benar sudah mati?"
"tentu saja benar benar sudah mati, dari kepala sampai kaki sudah mampus semua"
"Kalau memang begitu, buat apa kita musti mengendon terus disini...?"
"Kau ingin kemana?"
Tanya Lian IT Lian.
"pergi keruang depan dan menjadi teman duduk dari sukoku!"
Sesudah berhenti sejenak terusnya sambil tertawa.
"Bila gerak gerik kita cukup cepat, siapa tahu kita masih bisa mengejar daging sapi masak kecap itu serta mencicipinya"
"Kau masih tega untuk memakannya?"
"Sekalipun tak tega juga mesti makan sedikit hidangan dari Biau Jiu Jiu sut, dulupun tidak seringkali bsa mencicipinya, apalagi dikemudian hari, mungkin tak akan kita cicipi untuk selamanya" ***** Daun jendela diruang tamu terbentang lebar, mereka menelusuri ujung dinding dan masuk ketepi ruangan, kebetulan sekali dari balik daun jendela dbawah sebatang pohon Tong mereka dapat melihat Tio Bu Ki dapat melihat pula daging sapi masak kecap yang telah dihidangkan diatas meja itu. Mereka ingin sekali mengetahui siapa gerangan tuan rumahnya, sebab orang yang bisa mengundag Biau Jiu jiu sut untuk buatkan masakkan baginya, orang ini sedikit banyak berharga untuk dilihat. Ternyata tuan rumah tak ada dalam ruangan tamu. Sebab dalam ruang tamu itu cuma ada tiga orang, kecuali Tio Bu Ki, dua orang lainnya semua pada berdiri. Tentu saja tuan rumah tak akan menemai tamunya makan sambil berdiri, orang yang berdiri ditepi tamu tentu saja hanya pelayang pelayannya tuan rumah. Yang seorang berdiri membelakangi mereka, ia bertubuh tinggi, kurus dan mengenakan jubah panjang berwarna putih salju, rambutnya telah beruban semua. Yang lain adalah seorang nyonya berambut hitam yang digulung menjadi sebuah sanggul, waktu itu dia sedang memenuhi cawan Bu Ki dengan arak wangi. Tubuhnya tinggi semampai, bodynya aduhai bisa diduga dia adalah seorang prempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Apa lacur justru diatas wajahnya tergantung selapis kain caadar berwarna hitam, sehingga sulit bagi orang untuk melihat tampang wajah sebenarnya. TIba tiba nona bercelana merah itu bertanya dengan setengah berbisik.
"Coba kau lihat, siapakah perempuan itu"
"Aku tidak melihat raut wajahnya!"
Jawab Lian It Lian.
"Coba kau lihat rambutnya, lalu lihatlah tangannya!"
Rambut nyonya itu hitam lagi panjang dan banyak, sedangkan sepasang tangannya halus lembut tapi putih menakutkan. Mendadak Lian It Lian teringat akan seseorang, segera serunya dengan cepat.
"Apakah dia adalah Poan bin losat?"
"Yaa, itulah dia!"
Lian It Lian segera tertawa getir.
"Kita kabur kesana kemari berusaha menghindarinya, sungguh tak nyana kita menghantarkan diri sendiri pada saat ini"
"Tuan rumah tempat ini betul betul luar biasa sekali, ternyata ia sanggup menyuruh Poan bin losat menjadi pelayan yang memenuhi cawan arak tamunya"
"jangan jangan disnilah letak halaman yang dikabarkan ada setannya itu!"
Lian It Lian mengemukakan kekuatirannya.
Jilid 17________ "Yaa, sudah pasti benar!"
"Konon dulunya tempat ini adalah tempat tinggal calon ensomu Wi Hong Nio?"
"Akupun dengar orang berkata demikian!"
Lian It Lian segera tertawa dingin, serunya kembali.
"Lagak nona Wi tersebut sudah pasti amat luar biasa"
Keadaan dalam ruang tamu itu jauh lebih luar biasa lagi.
Asal benda tersebut merupakan benda yang seharusnya terdapat dalam ruangan tamu, maka akan mendapatkannya pula di sana, bahkan setiap benda sudah merupakan barang pilihan yang bermutu tinggi.
Nilai dari setiap benda yang berada di situ kalau dibicarakan mungkin akan membuat terkejut hati orang.
Barang barang yang seharusnya tidak terdapat dalam ruang tamupun bisa kau jumpai pula di sini, barang barang antik yang berharga, luksan lukisan kenamaan...
pokoknya nilai dari setiap benda yang berada di sini tiada mungkin bisa dilukiskan dengan kata kata.
Nona bercelana merah itu menghela napas panjang, katanya.
"Seandainya semua barang yang berada di sini adalah pemberian dari sukoku, bisa diduga kalau sukoku pernah menjadi seorang milyuner..."
"Sebaiknya jika semua barang barang yang berada di sini bukan pemberian dari sukomu, maka sukomu sudah pasti akan kegusaran setengah mati"
Padahal tempat yang sekarang telah berubah sama sekali bila dibandingkan dengan tempat disaat Hong nio masih tinggal di sana, bahkan perbedaannya boleh dibilang bagaikan langit dan bumi.
Semua barang yang berada di situ, jangkan pernah menyentuhnya, melihatpun Hong nio tak pernah.
Satu satunya tempat yang sama sekali tidak berubah adalah kamar tidur Hong nio, setiap benda yang berada di situ seakan akan tak pernah disentuh oleh siapapun.
Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Hong nio telah menjatuhkan sebatang tusuk konde di atas tanah, sampai sekarang tusuk konde tersebut masih berada di tempat semula.
Sebelum berangkat Hong nio sempat berbaring sebentar di atas pembaringannya, sampai sekarang bekas lekukan tubuhnya di atas pembaringan itu masih tertera jelas, bahkan rambutnya yang sempat rontok di atas bantalpun hingga kini masih berada di tempatnya semula.
"Apakah kau benar benar masih ingin mencicipi daging sapi masak kecap itu?"
Tanya Lian It lian tiba tiba. Nona bercelana merah itu kembali menghela napas.
"Aaai,...! Tampaknya, walaupun sekarang aku tak inginpun terpaksa harus ikut mencicipinya juga"
"Kenapa?"
"Berpalinglah sendiri!"
Lian It lian tak perlu berpaling lagi, sebab dari mimik wajahnya dia sudah tahu kalau bayangan setan tanpa muka serta bayangan setan berwajah ganda itu telah berada di belakang mereka.
Tiba tiba ia berteriak.
"Tio Bu Ki, harap hentikan dulu sumpitmu, tolong tinggalkan sedikit daging sapi itu untuk kucicipi!"
Kaisar Ji-Gi Pada hakekatnya Bu ki tak punya adik seperguruan, selama ini tak habis mengerti siapa gerangan yang telah menyaru sebagai adik seperguruannya itu.
Sekarang dia sudah tahu.
Ketika Lian it lian dan si adik seperguruannya yang mengenakan celana merah muncul dari halaman, dia sudah tertawa, tertawanya sangat riang, seakan akan ia merasakan betapa gembira hatinya karena berhasil mendapatkan seorang sumoay semacam dia.
Mereka melayang keluar dari bawah pohon waru tepat di tepi daun jendela tersebut, Lian it lian berada di depan sedang si nona bercelana merah mengikuti dari belakang.
Belum lagi tubuh mereka berdua mencapai permukaan tanah, sudah ada segulung desingan angin kuat yang menyongsong kedatangan mereka.
Seseorang dengan menggunakan suaranya yang parau dan kering membentak nyaring.
"Keluar..."
Kenyataannya mereka berdua sama sama tidak keluar.
Lian it lian segera berjumpalitan di tengah udara dan menempelkan sekujur tubuhnya di atas dinding bagaikan seekor cecak.
Sedangkan si nona bercelana merah itu tampaknya sudah terlempar keluar lewat daun jendela, tiba tiba ujung kakinya menggaet di atas ram jendela dan tubuhnya segera melayang kembali ke tempat semula.
Angin pakaian menderu deru, si manusia baju putih yang berdiri membelakangi jendela itu telah mengebaskan ujung bajunya yang lebar sehingga menerbitkan deruan angin yang memekikkan telinga.
Nona bercelana merah itu segera tertawa merdu katanya.
"Sungguh suatu ilmu Khikang yang sangat lihay!"
"Sayangnya ilmu khikang yang dilatihnya bukan ilmu khikang gede, melainkan cuma khikang kecilan saja."
Lian It-lian segera menambahkan dengan nada setengah mengejek.
"Masa ilmu khikang-pun dibedakan antara yang gedean dan kecilan?"
"Kalau ilmu khikang yang dilatihnya bukan ilmu khikang kecilan, mana mungkin sifatnya begitu jahat dan jiwanya begitu sempit, apa sih hebatnya menyediakan dua pasang sumpit yang lebih banyak dan mengundang dua orang lagi untuk bersantap bersama? Kalau dia bukan berjiwa sempit, kenapa pula kita musti diusir pergi dari sini?"
Nona bercelana merah itu tertawa, tapi menunggu orang itu sudah memalingkan kepalanya, mereka tak dapat tertawa lagi.
Ternyata di atas wajah orang ini telah tumbuh sebuah daging tumor yang lebih besar dari kepalanya sendiri, saking besarnya daging yang tumbuh keluar sehingga hampir saja menutupi seluruh wajahnya.
Setiap kali tubuhnya bergerak, daging itupun ikut bergerak-gerak, sepintas lalu bentuknya menyerupai sebuah gelembung udara yang sangat besar sekali.
Berdiri semua seluruh bulu kuduk dari Lian It-lian saking ngeri dan seramnya.
Sekalipun kau berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendesaknya, tak nanti dia berani bertarung melawan orang ini, apalagi jika kepalannya itu kebetulan menghantam di atas daging hidup tersebut, belum lagi musuhnya mengaduh, mungkin ia sudah jatuh semaput lebih duluan.
"Bagaimanapun juga kau tak boleh berkelahi dengan kami, aku adalah sahabat karibnya tamu agung itu!"
"Yaa, aku adalah sumoay-nya,"
Sambung nona bercelana merah itu.
"kau lebih-lebih tak boleh mencari gara-gara denganku."
Bu-ki segera tersenyum, katanya.
"Dua orang bocah cilik ini memang suka bergurau. Ting-sianseng, ampunilah mereka untuk kali ini!"
Menggunakan sebuah matanya yang menongol keluar dari balik daging hidupnya, Ting-sianseng melotot sekejap ke arah mereka berdua, tiba-tiba ia berkata.
"Silahkan duduk!"
MESKIPUN sudah duduk lama sekali, Lian It-lian merasakan jantungnya masih berdebar keras.
Ia betul-betul tak berani untuk menengok daging hidup milik Ting-sianseng yang mengerikan itu, apa mau dikata justru hatinya tak tahan untuk diam-diam meliriknya kembali.
Daging hidup sebesar itu tergantung di atas wajah, kejadian semacam ini memang terhitung suatu peristiwa langka, suatu peristiwa yang jarang bisa dijumpai didunia ini.
Tiba-tiba nona bercelana merah itu berkata.
"Aku tahu dari perguruan Cing-shia-bun terdapat seorang bernama Ting-siangseng, ilmu Kun-goan-it-khi-kang yang diyakininya tiada tandingan didunia ini ..."
"Akulah Ting Liu-cu (si daging hidup Ting),"
Tukas Ting-sianseng dengan suara dingin.
"ilmu Kun-goan-it-khi-kang yang kumiliki tidak terlalu bagus, maka dari itu muncul sebuah daging hidup di atas wajahku ini ... itulah gara-gara aku salah berlatih!"
Konon daging hidup itu muncul karena berlatih khikang yang disebut Kun-goan-it-khi-kang itu.
Sebetulnya daging hidup itu pada mulanya cuma kecil sekali, tapi semakin tinggi dia melatih ilmu khikang-nya, semakin besar pula daging hidup itu tumbuh.
Sekarang, meskipun khikang yang dimiliki masih belum mencapai nomor satu di dunia ini, tapi daging hidup yang dimilikinya sudah pasti merupakan daging hidup terbesar yang pernah dijumpai di dunia ini.
Si daging hidup Ting kembali berkata.
"Akupun bukan anak murid perguruan Cing-shia-pay, aku anak muridnya Ji-gi, dengan partai Cing-shia-pay sama sekali sudah tiada hubungannya lagi, walau cuma setitikpun!"
"Ji-gi-kau? Kenapa aku belum pernah mendengar tentang nama perkumpulan ini?"
Seru nona bercelana merah itu.
"Karena pengetahuanmu memang dasarnya amat cupat, maka dari itu tidak terlalu banyak masalah yang bisa kau pahami,"
Kata Bu-ki menimbrung dari samping.
Padahal pengetahuan nona bercelana merah itu tidak cupat, pengalamannya juga tidak sedikit, bahkan persoalan yang diketahui olehnya mungkin jauh lebih banyak dari siapapun juga.
Tapi, dikala sang suko memberi nasehat kepada sumoay-nya, sekalipun sumoay merasa tak puas, terpaksa dia harus mendengarkannya juga.
Lian It-lian bukan sumoay-nya, maka dia masih juga tak tahan diri untuk bertanya kembali.
"Siapa sih kaucu-nya?"
"Dia bukan lain adalah Kaisar Ji-gi Tay-tee yang menguasai seantero jagat dan langit serta bumi!"
Hampir tertegun Lian It-lian mendengar nama tersebut.
"Apakah nama yang kau sebutkan barusan adalah nama dari kaucu kalian ...?"
"Benar!"
Lian It-lian hampir saja tertawa tergelak mendengar nama tersebut.
Walaupun nama itu kedengarannya keren dan berwibawa, sesungguhnya bernadakan lelucon yang hampir saja membuatnya tertawa terbahak-bahak.
Namun nada suara si daging hidup Ting amat serius, bahkan sikapnya menunjukkan rasa takut, ngeri dan hormatnya.
Bisa membuat si daging hidup Ting, Poan-bin-lo-sat, Bian-jiu-jinsut, sekalian gembong-gembong iblis menaruh rasa takut dan hormat kepadanya, bisa diketahui bahwa Ji-gi Tay-tee tersebut sudah pasti bukan seorang manusia yang menggelikan.
Untung saja Lian It-lian tak sampai tertawa tergelak oleh nama tersebut, dia hanya berbisik.
"Panjang amat nama itu!"
"Aku pikir sudah pasti dia adalah seorang manusia yang sangat luar biasa!"
Nona bercelana merah itu menambahkan.
"Yaa, dia memang seorang manusia yang luar biasa,"
Si daging hidup Ting membenarkan.
"Dapatkah aku berjumpa dengannya?"
"Dapat."
Nona bercelana merah itu segera menghela napas panjang.
"Aaaai! Aku cuma berharap dia tak akan membenci diriku dan mengusir aku pergi lagi dari sini."
Poan-bin-lo-sat yang berkain cadar hitam dan selama ini tak pernah mengucapkan sepatah katapun itu, mendadak berkata.
"Dia tak akan membencimu, dia pasti akan menyukai dirimu!"
"Sungguh?"
"Dia bilang kau amat mirip dengan seseorang, terutama sekali dikala sedang tidur wajahnya mirip sekali."
Nona bercelana merah itu segera tertawa.
"Dari mana dia bisa tahu tampang wajahku dikala aku sedang tidur?"
Tanyanya.
"Semalam, bukankah tanpa melepaskan pakaian kau telah naik ke atas pembaringan untuk tidur?"
Nona bercelana merah itu manggut tanda membenarkan.
"Semalam kau pasti merasa lelah sekali,"
Kembali Poan-bin-lo-sat berkata.
"tapi kaupun tak ingin tidur terlalu nyenyak, maka kau sengaja mencari kayu bakar sebagai pengganti bantal dan menggunakan poci air teh untuk mengganjal daun jendela serta bangku untuk menindih pintu kamarmu."
"Darimana ... darimana dia bisa tahu?"
Nada suara si nona bercelana merah itu mulai agak gemetar. Poan-bin-lo-sat segera tertawa.
"Darimana dia bisa tahu? Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan kesemuanya itu, kenapa tidak tahu?"
Sahutnya. Kali ini, si nona bercelana merah itu tak sanggup tertawa lagi.
"Walaupun kalian tidak melihat dirinya, tapi dia sudah melihat kalian semenjak permulaan,"
Ujar Poan-bin-lo-sat lebih jauh.
"Apakah ia juga melihat aku?"
Tanya Lian It-lian sambil tertawa.
"Bukankah semalam suntuk kemarin kau tak pernah tidur?"
Tanya Poan-bin-lo-sat. Lian It-lian mengangguk tanda membenarkan.
"Bukankah kau selalu menangis tersedu-sedu? Bahkan isak tangismu amat memedihkan hati?"
Mendengar perkataan tersebut, berdiri semua bulu kuduk di sekujur badan Lian It-lian.
Kalau gerak-gerikmu ternyata bisa diketahui orang lain dengan begitu jelasnya, sedangkan kau sendiri sama sekali tidak berhasil menjumpai bayangan tubuhnya, maka kaupun pasti akan merasa ketakutan setengah mati.
Poan-bin-lo-sat berkata lebih jelas.
"Diapun mendengar kalian berkata bahwa hari ini Tio Buki kongcu pasti akan pulang, maka pagi ini dia telah mempersiapkan sebuah perjamuan untuk mengundang Tio-kongcu bersantap di sini."
"Apakah tamu yang diundang sekarang telah datang semua?"
Tanya nona bercelana merah itu.
"Mereka yang seharusnya datang telah datang, bahkan yang seharusnya tak datangpun telah berdatangan,"
Jawab Poan-bin-lo-sat sambil tertawa melengking.
"Lantas, dimanakah tuan rumahnya?"
"Kebetulan sekali tuan rumahnya sedang tidak berada di rumah."
"Mana mungkin tuan rumahnya tak ada di rumah?"
"Sebab secara kebetulan ada urusan lain dan dia harus pergi!"
Nona bercelana merah itu kembali tertawa.
"Aaaah ... kenapa begitu kebetulan?"
Katanya.
"dia toh sudah tahu dengan pasti bahwa hari ini ada tamu yang akan datang, mengapa secara begitu kebetulan dia telah pergi?"
"Karena ada seseorang yang secara kebetulan telah sampai di sekitar tempat ini, dan kebetulan juga dia hendak pergi berjumpa dengan orang tersebut."
Sesudah menghela napas panjang, katanya kembali.
"Di kolong langit memang seringkali terjadi peristiwa yang begini kebetulan, apa daya kita kalau sampai begini?"
"Yaa, apa daya? Aku sama sekali tak berdaya apa-apa."
"Oleh karena itu, terpaksa kalian harus duduk menunggu di sini!"
Lian It-lian kembali tak tahan, katanya.
"Sungguh tak nyana dikala Ji-gi Tay-tee hendak menjenguk seseorang, ternyata dia harus berangkat sendiri untuk pergi menjenguknya."
"Ia tahu bahwa orang itu tak mungkin akan datang kemari, terpaksa dia harus berangkat untuk menjenguknya sendiri,"
Poan-bin-lo-sat menerangkan.
"Kenapa orang itu tidak diundang saja untuk berkunjung kemari?"
"Sebab orang itu sama sekali tak ingin berjumpa dengannya."
"Kenapa ia tak mau menyuruh kalian saja yang membawa orang itu datang kemari?"
"Sebab ia tahu bahwa kami pasti tak akan berhasil untuk mengundangnya datang kemari."
"Masa bahkan kalianpun tak sanggup mengundangnya?"
Poan-bin-lo-sat menghela napas panjang.
"Aaaai ...! Dari tujuh propinsi di selatan, enam propinsi di utara, mungkin hanya beberapa orang saja yang mampu mengundangnya datang ..."
"Oooh ... rupanya dia mempunyai lagak yang luar biasa sekali,"
Seru Lian It-lian sambil menjulurkan lidahnya.
"Yaa, lagak orang itu memang luar biasa sekali karena asal-usulnya juga luar biasa."
"Rasanya dari tujuh propinsi di selatan dan enam propinsi di utara, mungkin tiada beberapa orang yang memiliki lagak sebesar dia."
"Betul, perkataanmu memang tepat sekali."
"Lantas siapakah sebetulnya manusia yang berlagak luar biasa itu? Boleh aku tahu?"
"Padahal orang itu sendiri sebetulnya tiada sesuatu yang luar biasa, diapun mempunyai sepasang mata, sebuah hidung, selembar mulut, cuma dibandingkan orang lain, ia berlatih ilmu pedangnya beberapa hari lebih awal saja."
"Kalau kudengar dari pembicaraanmu itu, agaknya dia memiliki ilmu pedang yang sangat hebat?"
"Kalau dibicarakan secara paksa, yaa lumayan juga ilmu pedang yang dimilikinya itu."
"Apakah dia juga terhitung seorang jago pedang?"
Poan-bin-lo-sat segera tertawa.
"Kalau dia masih belum pantas disebut sebagai seorang jago pedang, tentunya orang yang bisa dianggap sebagai seorang jago pedang akan sangat sedikit sekali,"
Katanya.
"Jago pedang macam apakah dia?"
Desak Lian It-lian.
"Dia adalah Siau-siang-kiam-khek!"
"Siau-siang-kiam-khek dari bukit Heng-san?"
"Benar!"
Lian It-lian tidak berbicara lagi.
Ia benar-benar tak tahu apa yang mesti dikatakan lagi, jika seseorang harus menunggu lama sekali karena orang lain sedang berjumpa dengan Siau-siangkiam-khek, maka bagaimanapun lamanya mereka harus menunggu juga tiada perkataan lagi yang bisa diucapkan.
NAMA dari Siau-siang-kiam-khek itu sendiri tidak terlalu istimewa.
Agaknya dari setiap generasi yang muncul dalam dunia persilatan, selalu akan kedapatan seseorang yang menggunakan Siau-siang-kiam-khek sebagai gelarnya.
Hakekatnya nama tersebut adalah sebuah nama yang sangat biasa, umum dan sederhana.
Tapi orang yang berhak mempergunakan Siau-siang-kiam-khek sebagai julukannya, sudah pasti bukan seorang manusia yang biasa dan sederhana.
Siau-siang-kiam-khek yang muncul setiap generasi tentu memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi bahkan seringkali bergaya lembut, anggun, romantis, bahkan kadang kala sedikit mendekati agak angkuh, tinggi hati.
Karena memang mereka memiliki sesuatu yang pantas untuk disombongkan.
Terutama Siausiang-kiam-khek dari generasi kali ini, mana orangnya gagah dan tampan, pedangnya juga ibarat naga sakti yang bermain di angkasa, bukan saja merupakan jago lihay dari partai Hengsan, diapun terhitung laki2 tampan yang ternama dalam dunia persilatan.
Tiba-tiba nona bercelana merah itu menghela napas panjang, katanya.
"Bahkan akupun sudah lama ingin sekali bertemu dengannya."
Mendadak dari luar jendela melayang masuk sesuatu benda, menyusul kemudian terdengar seseorang berseru.
"Nah, bertemulah sendiri sekarang!"
"Bluuuk!"
Ketika semacam benda terjatuh di lantai, dapat diketahui bahwa benda itu adalah sebuah kantong yang terbuat dari kulit kerbau.
Si daging hidup Ting maupun Poan-bin-lo-sat segera mengundurkan diri ke samping, dengan sikap yang sangat menghormat.
"Kaucu telah pulang!"
Meskipun tidak dapat bertemu Siau-siang-kiam-khek, bisa berjumpa dengan Ji-gi Tay-tee pun sama saja merupakan suatu kejadian yang cukup menggembirakan hati.
Setiap orang segera mementangkan matanya lebar-lebar untuk menantikan munculnya Kaisar Ji-gi Tay-tee tersebut.
Sesungguhnya manusia macam apakah Kaisar yang menamakan dirinya Tin-sam-sam-siango-gak, Sang-thian-ji-tee-kui-kiam-jiu, Ji-gi Tay-tee ini?
Tapi mereka hanya menyaksikan seorang bocah cilik yang agak kurus, berwajah pucat dan mengenakan jubah berwarna putih salju berjalan masuk kedalam ruangan, wajah bocah itu agak murung seperti lagi menderita sesuatu penyakit.
Tak tahan Lian It-lian segera bertanya.
"Dimanakah kaucu kalian?"
Meskipun bocah itu masih kecil, tapi lagaknya ternyata luar biasa sekali, sambil bergendong tangan dia melangkah masuk kedalam ruang, terhadap teguran tadi jangankan memperdulikan, melirik sekejappun tidak.
Bu-ki telah melompat bangun dan memandang ke arahnya dengan penuh rasa terperanjat, serunya tersebut.
"Haah, kau?"
"Yaa, aku!"
Jawab bocah itu. Bu-ki segera menghela napas panjang.
"Tentu saja kau, seharusnya aku bisa menduga sampai kesitu jauh sebelum ini!"
Lian It-lian kembali tak tahan untuk bertanya lagi.
"Siapakah dia? Apakah dialah Kaisar Ji-gi Tay-tee yang menguasai tiga bukit, mengurusi lima samudra, langit, bumi, setanpun, murung menjumpainya?"
"Benar!"
Seorang bocah cilik yang berusia dua-tigabelas tahunan, ternyata mengangkat dirinya sebagai kaucu dari perkumpulan Ji-gi-kau dengan julukan Kaisar Ji-gi Tay-tee.
Lian It-lian kaget, yaa tercengang yaa geli menghadapi kenyataan tersebut.
Tapi ia tak sampai tertawa, karena kecuali dia seorang, siapapun tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ikut merasa geli dan ingin tertawa tergelak.
Si daging hidup Ting maupun Poan-bin-lo-sat berdiri dengan kepala tertunduk rendah-rendah, mendongakkan sedikit kepalanyapun tak berani, sedangkan mimik wajah Bu-ki pun tampak sangat serius dan keren.
Karena dia tahu bocah cilik ini bukan saja sedikitpun tidak menggelikan, bahkan sungguh-sungguh rada menakutkan.
Poan-bin-lo-sat, si daging hidup Ting, semuanya terhitung manusia-manusia Ok-jin (orang jahat) yang termasyur dalam dunia persilatan, tapi mereka menunjukkan sikap begitu hormat, begitu takut, terhadap bocah cilik ini, sudah barang tentu kesemuanya itu bukan berarti tanpa sesuatu alasan yang kuat.
Bu-ki sangat memahami akan hal ini, diapun sangat memahami akan bocah itu.
Hanya bocah semacam dia juga baru akan menggunakan nama semacam itu bagi dirinya, sebuah nama yang panjang, amat aneh dan amat luar biasa.
Padahal nama asli yang dimilikinya hanya terdiri dari sepatah kata saja, yakni Lui.
Orang ini hakekatnya memang mirip guntur, siapapun tak sanggup menangkapnya, siapapun tak sanggup untuk mengendalikannya.
Kantong yang terbuat dari kulit kerbau itu masih tergeletak di atas lantai.
Tiba-tiba Siau-lui bertanya kepada Lian It-lian.
"Bukankah kau ingin sekali berjumpa dengan Siau-siang-kiamkhek?"
"Benar!"
Lian It-lian mengangguk.
"Sekarang kenapa kau tidak pergi menjenguknya?"
"Dia berada dimana?"
"Itu disini!"
Mengikuti arah yang ditunjuk, ternyata dia menuding ke arah kantong kulit kerbau tersebut.
Hanya kantong kulit kerbau yang ada di situ, namun tak tampak bayangan tubuh dari Siausiang-kiam-khek.
Mendadak Lian It-lian seperti teringat akan sesuatu peristiwa yang sangat menakutkan, ia segera menjerit tertahan dengan kagetnya.
"Apakah Siau-siang-kiam-khek, dia ... dia berada dalam kantong kulit itu?"
"Kenapa kau tidak membuka kantong tersebut dan memeriksa sendiri isinya?"
Lian It-lian telah menjulurkan tangannya, tapi dengan cepat ditariknya kembali. Ia tak berani melihat. Ia sudah tahu apa isi kantong kulit tersebut, sekujur badannya sudah mulai mendingin.
"Bukankah kau mengira isi kantong tersebut adalah sebuah batok kepala manusia?"
Siau-lui bertanya.
"Masakah bukan ..."
Tiba-tiba Siau-lui tertawa, tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhhh ... tampaknya meskipun nyalimu tidak terlalu besar, penyakit curigamu tidak terlalu kecil!"
"Sebenarnya apa sih isi dari kantong itu?"
Tiba-tiba Siau-lui berpaling dan bertanya kepada nona bercelana merah itu.
"Ia tak berani melihatnya, beranikah kau?"
Nona bercelana merah itu tidak menjawab, tapi dia maju kedepan dan memungut kantong kulit tersebut dari atas tanah.
Tangannya tampak agak menggigil keras, jelas hatinya juga diliputi oleh rasa takut dan ngeri.
"Tampaknya, lebih baik kau jangan melihat saja!"
Kata Siau-lui kembali.
"Tidak, aku ingin melihat isinya!"
Jawab nona bercelana merah itu cepat.
"Siapa tahu kalau isi kantong tersebut benar-benar adalah sebuah batok kepala, batok kepala dari Siau-siang-kiamkhek."
"Aku tidak takut!"
Sekalipun dia mengatakan tidak takut, tapi tangannya menggigil semakin keras, setelah menarik beberapa kali, dia baru berhasil melepaskan ikatan tali yang mengikat mulut kantong tersebut.
Beberapa macam barang dengan cepat terjatuh keluar dari dalam kantong tersebut ...
separuh potong pedang yang kutung, beberapa stel pakaian dan sepasang telinga.
Yaa itulah telinga manusia, telinga yang masih berlepotan darah kental.
AKHIRNYA Lian It-lian dapat juga menghela napas lega, untung saja isi kantong itu bukan batok kepala manusia.
Sekalipun sepasang telinga yang berlepotan darah itu tampaknya juga menakutkan, paling tidak jauh lebih enak dipandang daripada sebuah batok kepala manusia yang berlepotan darah.
"Adakah sepasang telinga ini milik Siau-siang-kiam-khek?"
Nona bercelana merah itu bertanya.
"Pakaian itupun miliknya,"
Siau-lui segera menerangkan.
"Buat apa kau membawa pulang pakaiannya?"
"Karena aku senang!"
"Apakah setiap tindakan yang kau senangi akan kau lakukan tanpa memandang resikonya?"
"Apakah kau tidak tahu yang diartikan sebagai Ji-gi?"
Nona bercelana merah itu segera menghela napas panjang, diambilnya separuh potong pedang kutung itu dan bertanya lagi.
"Apakah pedang inipun miliknya?"
"Diatas gagang pedang itu tertera beberapa huruf, apa salahnya kalau kau membacanya agar semua orang ikut mendengarkan?"
Dengan suara lantang, nona bercelana merah itu segera membaca sebaris tulisan yang tertera diatas kutungan pedang itu.
"Senjata mestika dari bukit Heng-san. Berpantang dalam membunuh. Pedang utuh manusia hidup. Pedang kutung manusia binasa."
"Apakah kalian semua telah mendengarkannya dengan jelas?"
Siau-lui bertanya. Yaa, setiap orang telah mendengar kata-kata tersebut dengan jelas dan terang.
"Apakah kalian semua tidak mengendus bau busuk?"
Kata Siau-lui kembali. Tidak tak ada yang mengendus bau busuk.
"Aku kan sedang berbicara bukan lagi kentut, dari mana datangnya bau busuk?"
Nona bercelana merah itu segera berseru.
"Kata-kata tersebut semuanya adalah kentut busuk, masakah kalian tidak mengendus bau busuk?"
Seru Siau-lui.
"Aku lihat kata-kata tersebut amat jelas dan sangat masuk akal, kenapa bisa berubah menjadi kentut busuk?"
"Orang yang dibunuh olehnya, tak mungkin jauh lebih sedikit dari pada orang lain, ketika kukutungi pedangnya, kutelanjangi pakaiannya, dan kupotong sepasang telinganya, ia masih juga belum mau mampus ...!"
Setelah tertawa dingin, lanjutnya.
"Bukankah itu berarti kata-kata tersebut jauh lebih busuk dari pada kentut?"
Nona bercelana merah itu menghela napas panjang.
"Yaa sekarang aku memang mulai mencium bau busuk itu, sudah pasti kata-katanya sebagai kentut busuk!"
"Bukan cuma sebagai kentut saja, bahkan jauh lebih busuk dari pada kentut yang paling busukpun didunia ini, sayang dia sendiri tidak mengendusnya, maka dalam gusarku sepasang telinganya segera kukutungi dan pakaiannya kutelanjangi."
Nona bercelana merah itu segera tertawa cekikikan suaranya merdu dan nyaring.
"Aku pikir hidungnya mungkin berpenyakit, hanya hidung yang berpenyakit membuatnya tak bisa mengendus apa-apa, karena itu bau busuknya kentutpun tak sampai terendus olehnya, kalau aku menjadi kau, seharusnya bukan sepasang telinga yang tak bersalah itu yang dikutungi, lebih tepat kalau hidungnya yang tak berfungsi itu yang dipapas sampai kutung ..."
"Kembali kau keliru besar,"
Kata Siau-lui.
"Jika hidungnya itu sudah tidak berfungsi lagi apapula gunanya untuk dikutungi? Toh dikutungi atau tidak dikutungi juga sama saja, tak mungkin ia bisa mengendus bau busuknya kentut yang dia lepaskan. Lantas apa gunanya aku musti memapas kutung hidung yang tak berfungsi itu?"
Nona bercelana merah itu segera bertepuk tangan dan tertawa cekikikan.
"Yaa, betul, betul sekali, memang perkataanmu masuk akal, teorimu memang tepat sekali."
"Tentu saja semua perkataanku masuk akal, tepat dan benar, karena setiap perkataan yang kuucapkan selalu mengandung kebenaran dan kenyataan yang tak dapat dibantahkan."
Ia mendongakkan kepalanya, lalu dengan angkuh melanjutkan.
"Sebab aku inilah Ji-gi Taytee yang tiada duanya di seantero jagad, akulah Kaisar agung yang menguasai bukit, mengurusi benua dan ditakuti oleh langit, bumi maupun setan!"
ANTARA SANG DEWI DAN IBLIS PERERMPUAN AKHIRNYA Lian It-lian menjadi paham juga, kenapa si daging hidup Ting dan sekalian orang-orang yang berada disitu sedemikian takutnya menghadapi bocah cilik tersebut.
Dapat mengutungi pedang Siau-siang-kiam-khek, menelanjangi dirinya dan mengutungi sepasang telinganya, sudah merupakan suatu peristiwa yang cukup mengerikan.
Tapi yang benar-benar paling mengerikan masih bukan terletak pada bagian tersebut.
Tiba-tiba Siau-lui bertanya kepadanya.
"Apakah kau merasa takut kepadaku?"
Lian It-lian tidak menjawab, karena dia tak dapat menyangkal, namun diapun tak ingin mengakui.
"Mengapa kau takut kepadaku?"
Kembali Siau-lui bertanya.
Lian It-lian masih belum juga menjawab, karena hakekatnya dia sendiripun tak tahu.
Tiba-tiba ia merasa bahwa mungkin disinilah letaknya bagian yang paling menakutkan dirinya, meskipun orang lain takut kepadanya, namun tidak diketahui kenapa ia merasa begitu takut kepada dirinya.
Siau-lui telah bertanya pula kepada nona bercelana merah itu.
"Bagaimana dengan kau? Apakah kau juga merasa takut kepadaku?"
"Tidak, aku tidak takut!"
Nona bercelana merah itu berseru.
"Orang lain pada takut semua kepadaku, kenapa kau tidak takut kepadaku?"
"Karena aku sama sekali tak mengerti, kenapa mesti takut kepadamu?"
Jawab nona bercelana merah itu. Siau-lui segera tertawa. Setengah harian kemudian, tiba-tiba ia bertanya kembali.
"Maukah kau kawin denganku?"
"Baik!"
Jawab nona bercelana merah itu cepat.
Ketika Siau-lui mengajukan pertanyaan itu secara tiba-tiba, semua orang sudah merasa terkejut.
Ternyata nona bercelana merah itu memberi jawaban yang tak kalah cepatnya, hal mana semakin membuat orang tercengang dan merasa diluar dugaan.
Bahkan Siau-lui sendiripun sedikit merasa diluar dugaan.
"Kau betul-betul bersedia kawin denganku?"
Tegasnya.
"Tentu saja!"
Mendadak nona itu menghela napas, terusnya.
"Sayang sekali, aku tahu bahwa kau bukan sungguh-sungguh menyukai diriku!"
"Lantas mengapa aku meminangmu untuk menjadi istriku?"
"Karena aku amat mirip dengan seseorang yang lain, yang kau sukai secara tulus ikhlas adalah orang itu, maka seandainya aku benar-benar menikah denganmu, dikemudian hari kau pasti akan menyesal."
"Kenapa?"
"Sebab bagaimanapun juga aku bukanlah dia, dikemudian hari kau pasti akan menemukan bahwa banyak terdapat ketidak samaan antara aku dengan dirinya, saat itulah kau akan mulai menjesal, andaikata suatu ketika kau berhasil menjumpai dirinya lagi, kemungkinan besar kau akan menyepakku dari sisimu."
Siau-lui berpikir sebentar, lalu jawabnya.
"Agaknya apa yang kau katakan rada masuk akal juga."
Nona bercelana merah itu segera tertawa manis.
"Sekalipun aku bukan Kaisar Ji-gi Tay-tee, tapi apa yang kuucapkan sedikit banyak masih bisa diterima juga oleh akal sehat."
"Oleh karena itu kau merasa lebih baik jangan kawin dengan diriku saja ...?"
Kata Siau-lui.
"Bukannya aku tak ingin menikah denganmu, cuma lebih baik kalau kau jangan mengawini diriku karena aku tak ingin menyusahkan dirimu."
Siau-lui berpikir sebentar, tiba-tiba ia berpaling ke arah Bu-ki sambil bertanya.
"Coba lihatlah, dia mirip siapa?"
"Aku tak dapat melihatnya,"
Sahut Bu-ki.
"Seharusnya kau dapat melihatnya dia mirip Hong-nio, Wi Hong-nio mu itu!"
"Kau suka dengan Hong-nio?"
"Apakah kau masih tidak mengerti kenapa aku harus datang kemari? Kenapa harus tinggal di tempat ini?"
Tentu saja kesemuanya itu lantaran Hong-nio.
Karena dulu Hong-nio berdiam di situ, setiap benda yang berada di tempat itu seakan-akan telah memantulkan bayangan indah dari Hongnio.
Sekarang pada akhirnya Bu-ki mengerti juga.
Dia hanya bisa tertawa getir.
Wajah Siau-lui yang sebetulnya masih menampilkan wajah seorang kanak-kanak itu mendadak menampilkan kesedihan hati seorang dewasa, ujarnya dengan murung.
"Sayang sekali sekarang dia sudah bukan milikmu, juga bukan milikku lagi."
Tiba-tiba kesedihan dan kemurungan tersebut berubah menjadi kemarahan dan luapan rasa benci.
"Karena orang mati hidup itu telah merampasnya dari tangan kita berdua ..."
Ia menambahkan. Orang yang dimaksudkan sebagai "orang mati hidup"
Itu sudah barang tentu adalah Tee-cong.
Sekarang Bu-ki baru yakin, bahwa orang yang diajak Tee-cong menjenguknya tempo hari bukan lain adalah Hong-nio.
Tak bia disangkal lagi, Bu-ki merasakan hatinya bagaikan ditusuk dengan pisau yang tajam, menusuk dalam ulu hatinya dan mendatangkan rasa sakit yang merasuk hingga ketulang sumsum.
Mungkin disebabkan rasa sedih yang terlalu mendalam, maka di atas wajahnya sedikitpun tidak menampilkan perubahan apa-apa.
Siau-lui melotot ke arahnya, tiba-tiba ia berteriak keras-keras.
"Aku lihat kau sedikitpun tidak merasa sedih, kenapa? Kenapa kau tidak sedih?"
Bu-ki tidak menjawab. Sebaliknya nona bercelana merah itu telah menghela napas panjang, katanya.
"Kalau kesedihan tersebut dapat dilihat dari wajahnya, mungkin kesedihan tersebut bukan suatu kesedihan yang benar-benar sedih."
"Yaa masuk akal juga perkataanmu itu,"
Kata Siau-lui.
"agaknya setiap perkataan yang kau ucapkan selalu masuk akal."
Nona bercelana merah itu tersenyum manis, baru saja dia hendak mencari sumpit untuk mengambil daging sapi masak kecap, mendadak terdengar Siau-lui berteriak keras.
"Haah, tidak mirip! Tidak mirip! Begitu kau tertawa, lantas saja tidak mirip, untung saja aku belum mengawinimu, kaupun belum jadi kawin dengan aku."
Sementara itu dari kejauhan sana berkumandang suara kentongan.
"Toong! Toong!"
Dua kali ketukan, berarti sudah kentongan kedua.
Kalau dihitung-hitung, sekarang memang sudah saatnya mendekati kentongan kedua.
Saat kentongan kedua tiba, terdengar bunyi kentongan berkumandang semestinya hal itu merupakan suatu kejadian yang lumrah, umum dan tiada suatu yang aneh.
Tapi paras muka Siau-lui telah berubah.
"Sungguh tak kusangka si buta sialan itu dapat mencari aku disini!"
Gumamnya.
Hanya Tio Bu-ki seorang yang tahu, siapa gerangan si buta sialan yang dimaksudkan itu.
Suara kentongan itu berasal dari tempat yang amat jauh, tapi kedengarannya seakan-akan si pemukul kentongan itu berada disisi telinga mereka.
Kecuali Toh-mia-keng-hu (si kentongan perenggut nyawa) Liu Sam-keng, siapa lagi yang bisa memiliki tenaga dalam sesempurna ini?
Kaisar Ji-gi Tay-tee yang tidak takut langit, tidak takut bumi ini meski tidak takut pula terhadap Liu Sam-keng, namun terhadap si orang mati hidup masih tersisa juga sedikit rasa takut.
Ditengah keheningan malam yang mencekam, terdengar bunyi tongkat yang mengetuk permukaan tanah bergerak dari tempat kejauhan menuju kemari, bahkan suaranya makin lama semakin nyaring.
Liu Sam-keng yang mengenakan celana hijau, membawa gembrengan kecil dan berjalan sambil mengetukkan tongkatnya ke tanah itu, akhirnya muncul dari balik kegelapan.
Siau-lui tidak berkutik, semua orang juga tak berkutik, Siau-lui membungkam, semua orang lebih-lebih terbungkam.
Bu-ki dapat memahami maksud hati Siau-lui.
Banyak orang persilatan pada tidak percaya kalau Toh-mia-keng-hu benar-benar buta, kadangkala ia dapat melihat jauh lebih tajam dan terang dari pada mereka yang tidak buta.
Namun Siau-lui tahu bahwa butanya mata orang itu bukan cuma pura-pura saja, tapi buta sungguhan.
Perasaan dan ketajaman pendengaran seorang buta jauh lebih tajam dan lihay dari segala-galanya, asal semua orang tidak bersuara, maka diapun tak akan tahu kalau ada sekian banyak orang berkumpul di situ.
Dengan tenang dan membungkam semua orang menyaksikan ia berjalan masuk setelah mengitari halaman, wajahnya yang kuning pucat sama sekali tidak menampilkan emosi, seakan-akan ia sedang memasuki rumah kosong yang sama sekali tak berpenghuni.
Begitu banyak pasang mata dari orang-orang yang berada dalam ruangan itu sedang mengawasinya, namun ia sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, tongkat bambu berwarna putihnya masih mengetuk tanah dan pelan-pelan ia berjalan kedepan meja.
Sesudah menarik napas panjang-panjang, gumamnya.
"Sungguh tak kusangka di sinipun ada arak, ada sayur, kalau orang lain memang segan makan, biar akulah yang akan menikmatinya. Sambil meraba-raba ia mencari sebuah bangku dan duduk, setelah menyandarkan tongkat bambunya di tepi meja, dia mencari sepasang sumpit, menyumpit sepotong daging sapi masak kecap dan dimasukkan kedalam mulutnya lalu dikunyah-kunyah. Kembali gumamnya.
"Daging sapi ini sedap sekali rasanya, cuma sayang sudah dingin!"
Dia makan minum seorang diri, bergumam seorang diri, seakan-akan seorang penyanyi solo yang sedang beraksi di atas panggung, ia seperti juga tidak merasa bahwa setiap kali ia menyuap hidangan ke mulutnya, mata-mata yang melotot disekelilingnya sedang melotot besar ke wajahnya.
Lian It lian yang menyaksikan kejadian itu, hampir saja mengucurkan air mata bercucuran.
Kejadian semacam ini mungkin akan dianggap suatu lelucon, dimata orang lain, tapi dalam pandangannya, peristiwa itu justru merupakan suatu peristiwa yang paling menyedihkan di dunia ini.
Hampir saja dia tak tega memberitahukan kepada si buta yang patut dikasihani itu, bahwa dalam ruangan itu bukan hanya dia seorang diri.
Mendadak Lui Sam keng meletakkan sumpit ke atas meja, lalu menghela napas panjang.
"Aaaai..! Sayang Siau lui tidak berada di sini. Hidangan Hwe po yau hoa dan daging sapi masak kecap kebetulan adalah hidangan kegemarannya, andaikata dia berada di sini aku pasti akan memberikan semuanya ini kepadanya"
Beberapa patah kata itu diucapkan seperti juga dengan kedua macam hidangan tersebut, walaupun biasa dan tiada sesuatu yang aneh, namun justru menampilkan suatu perasaan tertentu yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Hampir saja Lian it lian tak tahan mengendalikan diri.
Hampir saja dia hendak memberitahukan kepadanya, bahwa Siau lui duduk di sampingnya, bahkan asal mengulurkan tangannya maka ia dapat meraba tubuhnya.
Siapa tahu ternyata Siau lui justru dibikin terharu oleh ucapannya itu, tiba-tiba ia berkata.
"Kau tak usah memberikannya kepadaku, makanlah sendiri, aku tahu kaupun gemar sekali makan kedua sayur itu"
Paras muka Lui Sam keng yang kuning kepucatan itu segera memancarkan sinar tajam, serunya cepat.
"Oooh,,,,! Kiranya kaupun berada di sini"
"Sejak tadi aku sudah berada di sini, sebenarnya aku tak ingin kau tahu akan kehadiranku di sini, tapi kau begitu baik kepadaku, bagaimana mungkin aku merasa tega untuk mengelabui dirimu?"
"Semenjak kau pergi meninggalkan kami, bukan saja setiap hari aku memikirkan dirimu, suhumu juga amat rindu kepadamu"
"Masakah dia juga memikirkan aku?"
"Meskipun di luar wajahnya sangat dingin dan kaku, tapi rasa rindunya kepadamu mungkin jauh lebih besar daripada rasa rinduku kepadamu...!"
Siau lui segera menghela napas panjang.
"Sebenarnya aku masih mengira kalau dia ingin mempergunakan didirku saja untuk mengalahkan murid yang dididik oleh Ban Tang lo serta mengangkat nama baiknya"
"Kau keliru besar"
Ucap Liu Sam keng.
"asal kau bersedia pulang, ia sudah akan merasa gembira sekali!"
"Tapi aku masih tak ingin pulang!"
"Kenapa?"
"Aku masih sorang kanak kanak, bagaimana pun juga aku tak bisa menirukan cara hidupnya yang tiap hari hanya berbaring dalam peti matinya saja, aku masih ingin bermain main di luaran, sebab pemandangan di luar jauh lebih menyenangkan daripada di situ"
"Tunggu saja sampai ilmu pedangmu telah selesai kau pelajari, saat itu kau pasti boleh bermain sepuas-puasnya"
"Apakah kau tak dapat tinggal di sini dan menemani aku untuk bermain main selama beberapa hari lagi? Setiap hari aku tentu akan suruh orang buatkan daging sapi masak kecap untukmu"
"baik, aku akan menemanimu!"
Siau Lui sama sekali tidak menyangka kalau jawabannya diberikan secepat itu, saking gembiranya hampir saja dia melompat-lompat. Liu Sam keng juga sangat gembira, katanya.
"Kemarilah dahulu, biar kuraba dulu wajahmu, selama beberapa bulan ini kau bertambah gemu? Ataukah bertambah kurus?"
Siau lui segera maju menghampirinya, sambil tertawa ia menjawab.
"Aku lebih gemuk dari dulu, aku telah berhasil mendapatkan seorang koki yang hebat!"
Dihadapan si buta, ia sudah bukan kaisar Ji-gi Tay tee yang luar biasa lagi.
Bagaimanapun juga dia masih seorang kanak-kanak.
Pancaran kasih sayang yang diperlihatkan kedua orang itu, hampir saja membuat air mata Lian It lian bercucuran saking terharunya.
Ketika airmatanya sudah mulai meleleh keluar dari kelopak matanya, mendadak tangan Lui Sam Keng berputar cepat, lalu mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Siau Lui erat erat.
Lain It lian merasa ama terkejt, Siau lui lebih terkejt lagi, jeritnya tertahan.
"Hey, mau apa kau?"
"Kau sudah bermain cukup lama ditempat luar"
Kata Liu Sam keng dengan dingin.
"Lebih baik sekarang juga ikut aku pulang kerumah!"
"Jadi apa yang kau ucapkan tadi hanya untuk membohongiku?"
"Sekalupun kau anggap sebagai bohong, itupun kulakukan demi kebaikanmu!"
"Kalau begitu, sejak semula kau sudah tahu kalau aku berada disini, maka sengaja kau mengucapkan kata kata tersebut agar terdengar olehku dan membuat hatiku terharu, setelah itu kau baru menangkapku untuk diajak pulang"
Seru Siau lui. Liu Sam keng tak ingin menyangkal, pun tak perlu menyangkal, tiba tiba dia hanya berkata.
"Tio Bu ki, kaupun lebih baik ikut aku pulang, Hong nio masih selalu menantikan kedatanganmu"
Sekali lagi Lian It lian merasa terkejut.
Ternyata si buta itu bukan saja tahu kalau Siau lui berada disitu, diapun tahu kalau Bu ki juga berada disana.
Sebetulnya dia adalah seorang manusia yang memiliki banyak tipu muslihat.
Tapi sekarang, secara tiba tiba ia menemukan bahwa semua tipu muslihatnya itu kalau dibandingkan dengan si buta tersebut hakekatnya seperti permainan dari seorang kanak kanak.
Bu ki masih dapat mengendalikan perasaannya, ia bertanya.
"Kenapa akupun harus ikut kau pulang?"
"Karena ilmu pedangmu belum berhasil kau pelajari, kalau bergerak diluaran maka kau akan menderita kerugian"
"Jadi kalau begitu, kau suruh aku pulang kesitu hanya demi kebaikanku saja?"
"Tentu!"
Sebetulnya Siau lui sudah ketakutan setengah mati, tiba tiba ia tertawa tergelak.
"Haahh...haahhh......haaahhhh.... sayang sekali, sekalipun dia ingin mengikuti kau pulang juga tak mungkin"
"Kenapa?"
Tanya Liu Sam keng.
"Karena kalian berdua sudah tak mungkin bisa keluar lagi dari perkampungan Ho hong san ceng ini dalam keadaan hidup"
Setelah tertawa, ia melanjutkan.
"Kematianmu mungkin jauh lebih cepat darinya, karena arak yang kau minum jauh lebih banyak daripada arak yang dia teguk"
"Apakah arak dalam poci itu sudah kau campuri dengan sesuatu?"
Tegurnya.
"Kau tahu poci arak tersebut sudah tersedia di meja semenjak tadi, tentu saja tidak kau sangka kalau poci arak itu sudah kecampuri dengan sesuatu, apalagi aku memang menyiapkan arak itu bukan untuk kuminum sendiri, melainkan sengaja kupersiapkan untuk diberikan kepada Tio Bu-ki"
"Mengapa kau hendak mencelakainya"
Tanya Liu Sam keng.
"Bagaimanapun juga dia toh tetap suaminya Hongnio, jika aku atidak mencelakainya, lantas harus mencelakai siapa?"
Paras muka Liu Sam keng sudah rada berubah, dengan tangannya yang lain ia cengkeram poci arak tersebut kemudian diciumnya sebentar, setelah itu sambil tertawa dingin katanya.
"Kalau dalam poci arak ini benar-benar terdapat racunnya, maka bukan saja sepasang mataku Liu Sam keng telah buta, hidungkupun pantas dipotong juga"
"Sudah puluhan tahun Toh mia keng hun malang melintang dalam dunia persilatan, untk membohongi dirimu tentu saja tidak terlalu gampang"
Kata Siau Lui. Liu Sam keng segera tertawa dingin.
"Yaaa, tentu saja tidak terlalu gampang!"
Sahutnya.
"Persoalan yang kau ketahui tentu tidak sedikit bukan jumlahnya?"
"Memang tidak terlampau sedikit!"
"Kalau begitu kau tentu tahu bukan bahwa dalam dunia persilatan terdapat tujuh orang pendekar wanita yang disebut Jit Sian li (Tujuh dewi), mereka semua adalah perempuan-perempuan cantik yang ternama dalam dunia persilatan!"
Mendadak ia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain dan menyinggung tentang masalah lain yang sama sekali tiada sangkut pautnya dengan persoalan tersebut.
Walaupun orang lain merasa keheranan, tapi Liu Sam keng sama sekali tidak ambil peduli.
Jika kau telah mencengkeram urat nadi dari seseorang dan tahu dia sudah tiada harapan lagi untuk meloloskan diri dari cengkeramanmu, maka apapun yang dia katakan, tentu saja tak akan kau anggap peduli.
"Aku bukan saja tahu tentang mereka, bahkan kenal pula dengan beberapa orang diantaranya"kata Liu Sam keng.
"Diantara ketujuh orang dewi itu, bukankah ada seorang diantaranya juga she Liu?"
"Benar!"
"Kau juga kenal dengannya?"
Tiba-tiba Liu Sam keng menghela napas panjang.
"Liok soat sian cu seperti juga namanya, dia adalah seorang perempuan yang lemah lembut, halus berbudi dan cantik jelita, perempuan semacam itu sudah tak banyak ditemui lagi pada saat ini"
"Sekarang dimanakah orangnya?"
Tanya Siau lui.
"Walaupun sinar matahari senja amat indah, sayang sudah mendekati datangnya magrib!"
"Apakah dia telah mati?"
Kembali Liu Sam keng menghela napas panjang.
"Yaaa ia memang mati terlalu awal!"
Sahutnya.
"Sekarang walaupun kau tak dapat melihat wajahnya lagi, tentunya masih mengingat suaranya bukan?"
"Bukan hanya sehari dua hari kudengar suaranya, seperti juga wajahnya, suaranya merdu dan indah, siapapun yang pernah mendengar suaranya maka tak akan terlupakan lagi untuk selamanya"
Siau lui pun ikut menghela napas panjang.
"Aaaii...!Sayang ia mati terlalu awal!"
Katanya "Yaaa,, memang sayang sekali!"
Mendadak Siau lui tertawa tergelak, kemudian serunya.
"Liu Liok-soat, sesungguhnya kau sudah mati atau belum?"
"Belum!"
Jawab Poan-bin-lo-sat. Ketika secara tiba-tiba ia bertanya kepada seseorang yang jelas diketahui telah mati dengan pertanyaan.
"Sudah matikah kau?"
Semua orang sudah merasa terheran-heran. Sungguh tak disangka ternyata ada juga yang menjawab.
"Belum!"
Dan orang itu ternyata bukan lain adalah Poan-bin-lo-sat (iblis perempuan berwajah separuh).
Kejadian ini segera mencengangkan semua orang, membuat wajah mereka termangu, mata terbelalak dan mulut melongo.
Lebih tak disangka lagi ternyata paras muka Liu Sam-keng segera berubah hebat setelah mendengar suara jawaban itu.
Apakah Poan-bin-lo-sat yang bengis, kejam dan tak berperi kemanusiaan ini, bukan lain adalah Liok-soat siancu yang lemah-lembut dan berbaik budi itu?
Kembali Siau-lui bertanya.
"Benarkah kau adalah Liok-soat siancu?"
"Yaa, benar!"
Poan-bin-lo-sat menegaskan.
"Kau belum mati?"
"Aku tahu setiap orang mengira aku telah mati, sayang aku masih hidup segar bugar!"
Suara penuh dengan kepedihan dan kesedihan, seakan-akan ia betul-betul merasa sayang karena dirinya hingga kini masih hidup segar bugar.
"Sesungguhnya kau adalah seorang Dewi, mengapa saat ini bisa berubah menjadi iblis wanita?"
Lo-sat adalah sejenis Iblis perempuan yang bengis, jahat dan bertampang jelek. Poan-bin-losat segera menjawab.
"Semenjak wajahku rusak ditangan orang, aku telah berubah menjadi Iblis perempuan yang berhati keji!"
Lian It-lian pernah menyaksikan wajahnya, raut wajah yang dimilikinya sekarang memang sudah tidak mirip dengan wajah seorang bidadari lagi.
"Wajahmu rusak ditangan siapa?"
Tanya Siau-lui kemudian.
"Ditangan Kongsun Lan!"
"Siapakah Kongsun Lan itu?"
"Dia adalah putri tunggal dari Kongsun Kong-ceng, seorang tayhiap dari kota Yang-ciu!"
"Benarkah mereka adalah orang-orang dari keluarga persilatan Kongsun yang merupakan salah satu dari empat keluarga besar persilatan ...?"
Siau-lui bertanya lebih lanjut.
"Benar!"
"Kenapa Kongsun Lan merusak wajahmu yang cantik itu?"
"Karena ia telah mencintai Lim Tiau-eng!"
"Siapa pula Lim Tiau-eng tersebut?"
"Dia tak lain adalah Siau-siang-kiam-khek Lim Tiau-eng yang perkataannya bagaikan kentut busuk itu?"
Poan-bin-lo-sat menerangkan.
"Lantas apa pula hubunganmu dengannya?"
"Dia adalah suamiku!"
"Secara bagaimana Kongsun Lan bisa berkenalan dengannya?"
"Waktu itu ia seringkali bermain kerumah!"
"Jadi diantara kalian sebenarnya tiada ikatan dendam ataupun sakit hati?"
"Sama sekali tak ada."
"Lalu apa pula hubunganmu dengan Kongsun Lan?"
"Dahulu dia adalah saudara angkatku!"
Suara jawabannya selalu dingin dan hambar, tapi ketika berbicara sampai kesitu, nadanya baru kedengaran agak berubah.
Sayang wajahnya tertutup oleh selapis kain cadar hitam, bukan saja berwarna gelap, lagipula sangat tebal, sehingga sukar buat orang lain untuk mengetahui mimik wajahnya.
"Bagaimanakah hubunganmu dengan dirinya?"
Siau-lui kembali bertanya dengan suara nyaring.
"Sebenarnya aku selalu menganggap dia sebagai adik kandungku sendiri, dalam menghadapi persoalan apapun aku selalu mengalah untuknya."
"Tapi bagaimanapun juga kau tak dapat menyerahkan suamimu kepadanya ...?"
"Yaa, sesungguhnya aku sama sekali tak tahu akan kejadian tersebut, pada hari Tiong-ciu suatu tahun, ia mengundang kami untuk merayakan hari tersebut bersama dirumahnya, akupun berkunjung kesana, waktu itu ia berusaha keras untuk meloloh aku dengan arak, dan akupun minum terus tanpa rasa curiga."
Tiba-tiba suaranya menjadi parau, lewat lama sekali baru sambungnya lebih jauh.
"Sungguh tak kusangka, ketika aku telah dibikin mabuk dan tak sadarkan diri, ia telah naik keatas pembaringan bersama suamiku!"
"Kalau toh waktu itu kau sudah mabuk, darimana bisa kau ketahui jika ia sudah tidur dengan suamimu?"
"Sebab nyali mereka berdua terlalu besar, didalam kamar sebelahnya mereka lakukan perbuatan itu dan lebih-lebih tak mereka sangka kalau aku telah sadar kembali ditengah malam buta."
"Apakah kau telah mendengar suara mereka?"
"Tidak, tapi aku seperti sudah terpengaruh oleh ilmu sihir, tiba-tiba saja ingin memeriksa keadaan dalam kamar tersebut."
"Bila seorang wanita menjumpai peristiwa semacam ini, sedikit banyak sikapnya memang akan berubah menjadi agak aneh,"
Kata Siau-lui sambil manggut-manggut.
"Ketika kutangkap basah perbuatan mereka itu, hampir gila aku saking marahnya, Kongsun Lan segera melarikan diri terbirit-birit, sedang aku mengejarnya dari belakang, ketika itu aku benar-benar ingin menangkapnya dan mencekik lehernya sampai mati."
"Kemudian?"
"Kemudian akupun berubah menjadi begini."
"Kenapa?"
"Sebab rumah itu rumahnya, ketika orang tuanya dan saudara-saudaranya melihat aku hendak membunuhnya, serentak mereka turun tangan untuk membekuk diriku, setelah itu aku dikurung dalam rumah pembakaran batu bata, maksudnya hendak membakarku hidup-hidup."
"Apakah Lim Tiau-eng tidak munculkan diri untuk menolong jiwamu?"
Poan-bin-lo-sat menggelengkan kepalanya.
"Waktu itu ia sudah melarikan diri, jangankan orangnya, bayangan tubuhnya saja tak nampak." *** Berbicara untuk seorang perempuan, peristiwa semacam ini memang merupakan sebuah tragedi yang memilukan hati, jalannya peristiwapun penuh dengan liku-likunya masalah, kalau dibicarakan sesungguhnya, hal ini memang sangat tragis dan memilukan hati. Tapi semua orang masih tidak habis mengerti, mengapa Siau-lui mengisahkan kejadian tragis yang menimpa diri Poan-bin-lo-sat tersebut kepada mereka semua. Sebab peristiwa tersebut agaknya sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan masalah yang terjadi barusan, hanya saja kejadian itu telah merubah kesan mereka bahwa Siau-siang-kiamkhek memang pantas dihukum mati.
"Semenjak terjadinya peristiwa itu, semua orang persilatan lantas menjangka bahwa kau telah mati,"
Kata Siau-lui.
"Yaa, karena mereka tidak menyangka kalau aku ternyata masih hidup, bahkan keluarga persilatan Kongsun telah memberi muka kepadaku dengan menyelenggarakan suatu upacara penguburan yang sangat meriah."
"Mengapa kau belum mati?"
"Itulah yang dinamakan kalau saat ajalku belum tiba, dan aku memang ditakdirkan untuk hidup lebih jauh. Mimpipun mereka tak menyangka kalau malam itu, secara kebetulan ada orang hendak mencuri batu bata mereka."
"Apakah pencuri-pencuri batu bata itu yang telah menyelamatkan jiwamu ...?"
Tanya Siau-lui.
"Tapi bukan saja separuh wajahku sudah terbakar hancur, sekujur badankupun sudah terbakar sehingga tak keruan keadaannya."
"Maka dari itu kau lebih suka dianggap orang lain telah mati, karena kau tak ingin orang lain mengetahui bahwa wajahmu telah berubah menjadi begini rupa?"
Poan-bin-lo-sat kembali mengangguk.
"Bukan saja wajahku telah berubah, bahkan jalan pikiranku pun ikut berubah!"
Katanya.
"Oleh sebab itu setahun kemudian, secara tiba-tiba dalam dunia persilatan telah muncul seorang iblis perempuan yang bernama Poan-bin-lo-sat?"
"Ya, karena pada saat itu aku baru tahu jika ingin menjadi seorang manusia maka hatinya mesti kejam dan tak berperasaan, dengan demikian ia baru tak akan menderita kerugian."
"Konon setelah kejadian itu, kau telah meringkus empat puluh lembar jiwa keluarga Kongsun Lan untuk disayat dulu separuh wajah mereka, kemudian baru mengirim orang-orang itu kesuatu tempat yang tak mungkin ditemukan orang untuk menantikan kematiannya?"
"Ketika disekap dalam ruangan pembakaran batu bata, aku telah merasakan bagaimana tersiksanya seorang yang sedang menantikan tibanya saat kematian, maka aku harus membuat mereka pun ikut merasakan keadaan tersebut, karena dari keluarganya tak terdapat seorangpun yang terhitung orang baik."
"Kongsun Kong-ceng meski tidak gagah dan jujur, jelek-jelek diapun seorang jago didalam perguruan Pat-kwa-bun, ilmu silat yang dimiliki orang-orang sekeluarga mereka tak nanti lemah, dengan cara apa kau berhasil meringkus semua anggota keluarganya?"
Lian It-lian sudah pernah mendengar hal ini dari mulut nona bercelana merah, tapi dia masih keheranan juga, dengan kekuatan Poan-bin-lo-sat seorang, bagaimana caranya ia berhasil meringkus puluhan lembar jiwa anggota Kongsun secara dengan bersamaan waktunya mereka semua ...?"
Terdengar Poan-bin-lo-sat berkata.
"Dirumah mereka terdapat sebuah sumur yang khusus dipakai untuk minum orang sekeluarga, kebetulan sekali sumur yang berada dihalaman belakang dikenal oleh orang sekitar sana sebagai sumur air manis, air itu paling enak jika digunakan untuk membuat air teh."
Ia tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya dan kemudian melanjutkan.
"Mereka adalah keluarga persilatan yang ternama, sampai pelayannya semua orang gemar minum air teh."
"Maka kau mencampuri air sumur itu dengan obat?"
Sambung Siau-lui dengan cepat.
"Yaa, cuma sekali-sekali!"
"Obat apakah itu?"
"Obat tersebut bernama Kun-cu-san!"
"Obat macam apakah Kun-cu-san itu?"
"Semacam obat racun yang bisa membuat orang pingsan dan kehilangan tenaganya jika minum sedikit, dan merenggut nyawanya jika terlalu banyak ...!"
"Mengapa obat beracun itu dinamakan Kun-cu-san?"
"Sebab obat itu seperti juga seseorang Kuncu lemah-lembut dan berhati mulia tapi setelah mencelakai orang, bahkan sang korbanpun tidak mengetahuinja."
Siau-lui kontan saja tertawa terbahak-bahak.
"Haahh ... haahh ... haahh ... sebuah nama yang sangat baik, nama yang sangat tepat."
Setelah tersenyum, ia menambahkan.
"Tampaknya dikemudian hari kalian harus ingat untuk baik-baik menghadapi seorang Kuncu, sebab makin lemah-lembut orangnya makin berbahaya wataknya."
Poan-bin-lo-sat pernah mengalami nasib yang buruk dan musibah yang tragis, tak bisa disalahkan jika ia amat membenci orang persilatan.
Jilid 18________ Tapi dia masih begitu muda, namun jalan pemikirannya ternyata begitu sempit, tak heran kalau setiap perbuatannya selalu mendatangkan rasa terkejut bagi siapapun.
Kembali Siau lui bertanya.
"Barusan apakah kau pun telah mencampuri sedikit obat tersebut ke dalam poci arak itu?"
"yaa, cuma sedikit sekali!"
Poan bin lo sat membenarkan "Obat apa yang telah kau campurkan ke dalam arak itu?"
"Kun cu san!"
Kata kata yang terakhir itulah baru benar benar merupakan "melukiskan naga memberi mata"
Kunci rahasia dari kisah cerita tersebut letaknya dipaling belakang.
Sekarang semua orang baru mengerti kenapa secara tiba tiba Siau lui menyinggung tentang peristiwa tersebut.
Ilmu silat yang dimiliki KOngsung Kong Ceng sekeluarga ter-hitung amat tangguh, seandainya bukan dikarenakan terkena racun Kun cu san tak mungkin mereka bisa dibekuk semua oleh Poan bin losat dan mandah disiksa tanpa memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan.
Tentu saja bubuk Kun cu san adalah sejenis racun yang tidak berwarna dan berbau, semacam obat beracun yang amat hebat sekali daya kerjanya.
Kalau tidak demikian, sebagai jago-jago kawakan yang ber-pengalaman dalam dunia persilatan bagaimana mungkin Kongsun kon ceng sekeluarga yang terdiri dari empat puluh lembar jiwa bisa dipecundangi tanpa merasa?
Tiba-tiba paras muka Bu-ki berubah hebat.
Sambil memegangi perut sendiri menahan kesakitan yang luar biasa dia berseru.
"Aduuuuh......tidak benar!"
Mimik wajahnya menunjukkan sikap seorang yang kesakitan hebat, Matanya melotot besar, bibirnya memucat dan peluh sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.
Paras muka Liu Sam Keng kontan saja ikut berubah, jeritnya dengan suara tertahan.
"Apanya yang tidak benar?"
"Arak....arak dalam poci itu....."
"kenapa....kenapa dengan arak dalam poci itu.... apakah....apakah...."
Tapi sebelum perkataannya itu sempat diselesaikan, tahu tahu Siau-liui sudah melepaskan diri dari ceng-keramannya, menyusul kemudian secepat kilat ia menotok lima, enam buah jalan darah penting ditubuhnya.
Pada saat itulah.
si nona bercelana merah itu menghela napas panjang.
"Aaaai...! Sungguh lihay....sungguh lihay....manusia lihay, bubuk Kun-cu-sannya juga lihay!"
Siau-lui tertawa terbahak bahak.
"haaahhh...haaahhh...haaahhh...apakah kau juga merasa kagum kepadaku?"
"Yaaaa, aku merasa benar benar amat kagum kepadamu!"
Buki masih duduk tak berkutik ditempat semula, sepasang matanya terbelalak kaku, seakan akan sekujur badannya sudah tak mampu digerakkan lagi.
Lian it lian sangat terkejut, ia segera melompat bangun dan menyerbu ke sisinya.
"Benarkah arak itu beracun?"
Tegurnya.
"Tidak!"
"Kalau memang tidak beracun, kenapa kau menjerit tidak benar?"
"Justru karena tiada racun, maka aku baru mengatakan ridak benar!"
Sesudah menghela nanapas panjang, katanya kembali.
"Mereka bersikeras mengatakan arak itu beracun, bahkan caranya berbicara begitu hidup dan wajar, apa mau dikata dalam arak tersebut justru yiada racunnya, tentu saja ini menandakan kalau keadaan tidak benar!"
Siau lui tertawa terbahak bahak "haaahh....haaahh....haaahh....kalau aku tidak sengaja berbicara dengan hidup dan wajar, mana mungkin LIU Sam-keng si rase tua inibisa terjebak oleh siasatku?"
Ternyata Liat It-lian masih belum mengerti. ia bertanya lagi kepada Bu-ki.
"jikalu dalam arak itu memang tidak beracun kenapa kau bisa berubah menjadi begini rupa?"
"Aku telah berubah menjadi seperti apa?"
"Seperti orang keracunan berat"
"Bu-ki segera tertawa.
"Orang yang seperti keracunan belum tentu benar benar keracunan, tidakkah kau rasakan bahwa perbedaannya teramat besar?"
"Untunglah ia mau membantuku"
Seru Siau-lui kembali, coba kalau ia tak bersedia membantuku untuk bermain sandiwara ini, untuk berhasil seperti apa yang sekarang ini rasanya tak akan segampang ini"
"Darimana kau bisa tahu kalau dia pasti akan membantumu unruk bermain sandiwara ini?"
Tanya Lian It-lian.
"Karena aku tahu, diapun tak ingin membiarkan LIU Sam-keng mengajaknya pulang"
Lian It-lian segera bertanya lagi kepada BU-ki.
"Darimana kau bisa tahu kalau dia sedang berbohong?"
"Seandainya Liu Sam-keng benar2 benar keracunan maka dia pun tak usah mengatakannya dengan terang dan jelas"
"Yaa paling tidak memang seharusnya ia menunggu sampai Liu Sam-keng roboh dahulu baru menerangkan keadaan yang sebenarnya"
Lian It-lian manggut manggut tanda mengerti Bu-ki segera tertawa.
"Akhirnya kau berubah juga menjadi seorang yang pintar"
Lian It-lian memejamkan mulutnya rapat rapat.
Tadi ia merasa bahwa permainannya kalu dibandingkan dengan tipu muslihat bocah ini maka permainannya itu agaknya seperti permainan kanak kanak.
Tapi sekarang dia baru tahu kalu dugaannya itu ternyata keliru.
Yang benar bukan "agaknya"
Mirip lagi seperti permainan kanak] kanak, melainkan hakekatnya memang permainan kanak kanak..!
Tentu saja perbedaan antara kedua hal inipun teramat besar sekali POAN-BIN-LO-SAT kembali mengambil poci arak dan memenuhi cawan arak setiap orang.
Tak tahan Lian It-lian segera bertanya kembali "Benarkah di halaman belakang rumah Kongsung Kong-ceng terdapat sebuah sumur yang dinamakan sumur air manis?"
"Benar"
Poan bin-lo-sat mengangguk.
"Kau benar benar telah meracuni air dari sumur tersebut?"
"Betul!"
"Tapi kau tidak mencampuri arak dalam poci dengan arak?"
Poan bin-lo-sat memandang kearahnya mencorong sinar tajam dari matanya dibalik kaincadar, tiba tiba katanya sambil tertawa.
"Kau adalah seorang anak baik, akupun menyukai dirimu maka aku hendak memberitahukan kepadamu, ada dua hal yang musti kau ingatkan terus menerus...."
"Akan kudengarkan dengan seksama!"
"Seandainya kau ingin membohongi orang lain, pertama tama yang musti kau ingat adalah dikala membohongi orang, kau tak boleh sama sekali bicara bohong, sebelum itu paling tidak harus ada sepuluh kata merupakan kata kata jujur dan benar, agar setiap orang percaya bahwa kau sedang berbicara sejujurnya nah setelah semua orang percaya kau baru mulai berbohong, dengan demikin orang baru akan mempercayai seratus persen!"
"Masuk diakal!"
Seru Lian It-lian "Seandainya kau tak ingin di bohongi orang maka kaupun harus ingat, apakah dalam sumur ada racun atau tidak serta dalam arak ada racunnya atau tidak adalah dua masalah yang berbeda".
"Yaa, memang dua kejadian yang berbeda"
Kembali Lian It-lian membenarkan setelah menghela napas.
"Teori semacam ini sesungguhnya gampang dan sederhana, tapi justru amat sedikit orang yang memahaminya"
"Seandainya setiap orang bisa memahami teori tersebut masih ada siapa lagi yang bakal tertipu?"
Poan bin-lo-sat tersenyum.
"Justru karena amat jarang orang yang memahami teori itu, maka setiap hari tentu ada manusia di dunia ini yang ditipu orang"
"Betul!"
"Ya, memang tepat sekali!"
Nona bercelana merah itu ikut pula menghela napas panjang. SIAU LUI mengangkat cawannya Bu-ki pun mengangkat cawannya. Siau lui mengawasi wajahnya lekat lekat, mendadak berkata.
"Agaknya kau tidak terlalu gampang untuk tertipu?"
Bu-ki ikut tertawa.
"Wah ....kalau seringkali tertipu oleh siasat orang, itu baru tidak menarik namanya"
"Agaknya kau telah berubah menjadi begitu tak suka bicara?"
"Perkataan yang tidak seharusnya dikatakan lebih baik jangan dikatakan, sebab...."
"Sebab terlalu banyak berbicarapun, tidak menarik namanya"
Sambung Siau lui.
"Ya memang betul perkataanmu itu"
Sahut Buki sambil tersenyum dan manggut manggut.
"Kau adalah seorang yang pintar, jika kau bersedia ikut aku pergi, aku pasti akan mengangkat dirimu menjadi wakil kaucu". Bu-ki tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.
"Kau hendak pergi?"
Siau lui juga tidak menjawab, tapi bertanya kembali.
"Seorang yang sama sekali buta dan tak bisa melihat apa apa dari mana bisa tahu kalau aku berada disini? kenapa ia bisa menemukan diriku...?"
"Sebab ada orang yang telah memberitahukan hal ini kepadanya"
"Ya, pasti ada!"
"Tapi aku tak ingin kali sampai jejakku ditemukan kembali oleh orang lain"
"Kau tak ingin?"
"Ya, apakah aku harus cepat cepat angkat kaki meninggalkan tempat ini?"
"Aku rasa makin cepat semakin baik!"
"Apakah kau jadi ikut aku?"
"Kalu kau jadi aku, mungkinkah kau pergi mengikuti diriku?"
Bu ki balik bertanya.
"Tak mungkin!"
"Kenapa?"
"Karena kalau aku ingin jadi pemimpin, lebih baik aku mengangkat diriku sebagai kaucu, sebab menjadi wakil kaucu tentu tidak menarik hati"
"Kalau sudah tahu pekerjaan itu tidak menarik hati lalu manusia macam apa yang bersedia melakukannya?"
"Tentu saja hanya telur busuk goblok yang melakukannya"
"Sekarang, coba lihat apakah aku mirip seorang telur busk yang goblok?"
Tanya Bu ki.
"Kau tidak mirip"
Sesudah berhenti sebentar, pelan pelan ia melanjutkan.
"Jika aku mencari orang lain untuk bu-kaucu ku, dan ternya ia tak mau, tentu saja diapun tak bisa dianggap sebai seorang telur busuk goblok, sebab paling banter dia hanya bisa dianggap sebagai sesosok mayat belaka"
"Kenapa?"
"Sebab sekalipun pada waktu itu dia bukan sesosok mayat, tapi dalam waktu singkat dia pasti akan menjadi sesosok mayat!"
"Untung saja aku bukan orang lain"
Kata Bu ki "Siau lui kembali menatapnya lama sekali, akhirnya dia menghela napas panjang.
"Ya, untung saja kau bukan"
Bisiknya.
Ada semacam orang yang bilang datang lantas datang, bilang pergi lantas pergi.
Jika dia mau datang siapapun tak akan tahu kapan dia baru akan datang, setelah ia datang, siapapun tak dapat menghalangi dirinya.
Sebaliknya jika dia mau pergi, siapapun tak dapat menahan kepergiannya itu.
Kebetulan Siau lui adalah orang semcam itu.
Maka dia telah pergi, pergi sambil membawa Liu Sam-keng yang meskipun jaln darahnya tidak tertotokpun, saking gusarnya ia menjadi setengah mati.
Ia telah bertanya kepada BU ki.
"Perlukah kutinggalkan orang ini untukmu?"
Bu ki bukan orang bodoh, maka dia tak mau. Orang ini ibaratnya besi baja yang menyengat tangan,bahkan merupakan benda yang paling menyengat tangan didunia ini.
"Jika kau bersikeras untuk meninggalkan dirinya disini"
Kata Bu ki.
"kemungkinan besar aku akan membunuhnya"
"Kau tak ingin membunuhnya?"
Tanya Siau lui "Aku tak dapat membunuhnya"
"Kenapa?"
"Karena aku tahu, diapun tak akan membinasakan aku"
Oleh karena itu kau tahu kalau dia tak akan membunuhmu, maka waktu itu kau baru pergi mencarinya untuk membuat perhitungan Yang dimaksud kan waktu itu adalah bulan tiga tanggal dua puluh delapan tahun berselang, pada hari itu juga ia telah bersiap siap membayar hutangnya kepada Liu Sam-keng.
Siau lui mengetahui akan kejadia itu.
"Waktu itu sebenarnya adalah hari baik, hari penuh rejeki"
Katanya.
"kebetulan juga hari perkawinanmu. ternyata kau telah mencarinya membereskan hutang. Karana agaknya kau tahu bahwa manusia macam ini tak mungkin membunuhmu dihari sebaik itu guna menagih hutang....."
"Agaknya aku memang sedikit rada mengerti"
"Tampaknya, kau seperti sedikitpun tidak bodoh!"
Kata Siau lui kembali. Tiba tiba nona bercelana merah itu menghela napas panjang.
"Andai kata ia ada sedikit goblok, tak mungkin jiwanya bisa hidup sampai sekarang"
Akhirnya Siau lui pergi juga.
Tiada orang yang menanyakan diri Biau jiu-jiu-sut, agaknya beberapa orang itu sama sekali tidak menaruh perhatian terhadapnya.
Benarkah Siau lui punya cara yang bagus untuk mengendalikan mereka?
Ataukah karena mereka menaruh sesuatu rencana terhadap Siau lui?
Peduli bagaimanapun juga, Siau lui pasti dapat menjaga diri baik baik....
Oleh sebab itu Bu ki tidak menasehati apa apa kepadanya, dia hanya berharap agar dia jangan terlalu "ji-gi", sebab jikalau seseorang selalu menjumpai keadaan yang berhasil memenuhi seleranya itu akan berubah menjadi sebaliknya.
Agaknya Lian It lian sangat kuatir kalau Bu ki mengajukan pelbagai pertanyaan kepadanya, tidak menanti Bu ki membuka suara dia telah berkata lebih dulu.
"Aku tahu antara kalian suheng-sumoy pasti terdapat banyak persoalan yang hendak dibicarakan, aku tak dapat menemani kalian lebih jauh. Sekarang sekalipun langit mau ambruk, aku butuh tidur yang nyenyak lebih dahulu...."
Maka dalam ruanganpun tinggal mereka suheng-moay berdua. Nona bercelana merah itu tertawa paksa lau katanya.
"Kau tentu tak pernah menyangka bukan kalau secara tiba tiba bisa muncul seorang sumoay yang mencarimu, agaknya kau sama sekali tidak mempunyai seoarang sumoay?"
Ya, aku memang tidak menyangka"
Ditatapnya nona itu, lalu tersenyum.
"Kau benar benar lebih mirip seorang perempuan dari pada perempuan yang sesungguhnya!"
Apakah nona bercelana merah itu bukan seorang perempuan tulen? Ia menundukkan kepalanya rendah rendah lalu berkata.
"Aku berbuat demikian sesungguhnya karena terpaksa!"
"Apakah kau telah menjumpai sesuatu kesulitan?"
Nona bercelana merah itu menghela napas "Aaai...! kesulitan yang kujumpai hakekatnya besar bukan kepalang."
"Kesulitan apa?"
"Ada beberapa orang musuh yang sangat lihay telah berhasil melacaki jejakku, sekarang aku telah didesaknya sehingga tiada jalan lain untuk melarikan diri lagi, maka dengan perasaan apa boleh buat terpaksa aku datang mencarimu."
"Siapa siapa sajakah mereka itu?"
"Aku tidak bermaksud meminta bantuanmu untuk pergi menghadapi mereka"
Jawab nona bercelana merah itu dengan cepat.
"Kenapa?"
"Sebab mereka semua adalah manusia-manusia yang tidak gampang dihadapi, aku tak bisa membiarkan kau menempuh bahaya lantaran aku, aku pun tahu bahwa kau sendiri pasti masih ada persoalan lain yang harus dilakukan"
Bu-ki tidak menyangkal. Maka nona bercelana merah itu berkata lebih jauh.
"Oleh karena itu aku tidak lebih hanya berharap agar kau memperbolehkan aku berdiam untuk sementara waktu disini"
Sesudah menghela napas, katanya lebih jauh.
"Sebetulnya aku tak ingin mendatangkan banyak kerepotan bagimu, andaikata kau merasa menjumpai banyak kesulitan, maka setiap saat aku bersedia angkat kaki dari sini."
"Bersahabatkah kita berdua?"
Tanya Bu ki "Aku berharap demikian!"
"Dikala seseorang menjumpai kesulitan, kalau bukan datang mencari teman, siapa pula yang dicari?"
Nona bercelana merah itu memandang kearahnya, sinar matanya penuh pancaran terima kasih.
Tapi begitu Bu ki memutar badannya, sorot mata itu segera berubah, berubah menjadi begitu dingin menyeramkan dan pancaran sinar bengis yang menggidikkan hati.
Kedatangannya kemari, tentu saja bukan benar benar untuk menghindari kejaran musuh musuhnya, dia datang kemari untuk membunuh orang.
Orang yang hendak dibunuhnya sudah barang tentu adalah Tio Bu ki Sampai sekarang dia belum juga turun tangan, hal ini tak lain karana ia masih belum mempunyai keyakinan untuk mengatasi Bu ki.
Ia sedang menunggu datangnya kesempatan baik.
Karena "dia"
Bukan lain adalah "sahabat"
Bu ki yang baru saja dikenalnya, LI Giok-tong adanya.
Sedang Li Giok-tong, bukan lain adalah Tong Giok!
Tentu saja mimpipun Bu ki tak akan menyangka kalu sahabatnya ini adalah Tong Giok.
Ia memutar badannya memandang pohon waru diluar ruangan, setelha termenung sekian lama tiba tiba katanya.
"Kau tak dapat tinggal disini"
Tong Giok amat terkejut, tanyanya tanpa sadar.
"Kenapa?"
"Sebab besok pagi pagi sekali aku akan pergi, aku merasa tak tega meninggalkan kau seorang diri disini"
"Kalau begitu aku....."
"Kau boleh pergi bersamaku, akan kuanggap kau sebagai keluargaku, segera akan kuperintahkan orang untuk menyiapkan sebuah kereta besar untukmu, aku percaya siapapun tak akan mencari orang didalam keretaku"
"Kau bermaksud hendak kemana?"
Tanya Tong Giok setelah termenung dan berpikr sebentar.
"Ke wilayah Cuan-tiong!"
Setelah tersenyum, ia menambhakan.
"Orang orang itu sibuk mencari jejakmu disepanjang dua sungai besar, sedangkan kau telah pergi ke wilayah Cuan-tiong bukankah hal ini merupakan suatu tindakan yang sangat bagus?"
"Yaa memang bagus sekali"
Sorak Tong Giok sambil tertawa pula.
Ia benar benar merasa tindakan tersebut sebagai tindakan yang amat tepat.
Tentu saja disepanjang jalan dia akan lebih banyak memperoleh kesempatan untuk turun tangan, begitu melangkah masuk ke wilayah Cuan tiong, maka pemuda itu ibaratnya sang domba yang msuk ke mulut harimau, lebih tipis lagi harapannya untuk meloloskan diri.
Bahkan dia sendiripun tidak menyangka kalau nasibnya sedemikian mujur, ternyata segala sesuatunya berjalan lancar, dan semuanya diraih tanpa membuang banyak tenaga.
Tak tahan lagi dia bertanya.
"Kita bersiap siap akan berangkat kapan?"
"Besok pagi pagi sekali kita akan berangkat"
"Bagaimana dengan Lian kongcu itu? apakah diapun akan turut serta dalam perjalan ini?"
"Dia tak akan ikut"
"Kenapa?"
"Sebab dia takut kalau aku sampai memukul kepalanya hingga pecah."
Bu ki sendiripun merasa sangat gembira.
Sesungguhnya dia memang suka membantu teman, apalagi dalam perjalanannya menuju wilayah Kuan-tiong yang jauh dan lama, bisa mempunya seorang sahabat sebagai teman seperjalanan, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang menggembirakan.
Ia menghantar sendiri sahabatnya ini sampai ke pintu kamar tamu sebelum dia memohon diri dari situ.
Memandang bayangan punggung yang keluar dari kamar, hampir saja Tiong Giok tak kuasa menahan rasa gelinya, dia ingin sekali tertawa terbahak bahak,...
kali ini Tio Bu ki betul betul akan mampus!
Malam yang kelam terasa amat sepi, suasana disekitar situpun amat hening.
Kalu dimasa lalu, asal Bu ki pulang ke rumah maka dia pasti akan membangunkan setiap orang, mengajaknya bercakap cakap dan mengajak mereka minum arak.
Ia selalu suka akan keramaian, tapi sekarang ia telah berubah bahkan dia sendiripun merasa bahwa dirinya telah berubah.
Sekalipun bukan berarti ia selalu bermuram durja, bersedih hati dan kesal, sehingga membiarkan orang lain tahu kalau ia sedang susah dan sedih, tapi kelincahan dan kesegarannya yang dimiliki dulu kini sudah lenyap tak berbekas, Tio Bu ki yang sekarang bukan Tio Bu ki yang dulu, Tio Bu ki yang sekarang sudah tak suka berbicara secara blak blakan lagi.
Sekarang ia sudah belajar bagaimana menyimpan kata katanya didalam hati, apa yang dipikirkan dalam hati, hanya dia yang tahu.
Sebab dia tak ingin tertipu lagi, diapun tak ingin mati konyol.
Suasana dikebun amat sepi...
Dibalik kebun yang sepi, ternyata masih ada sinar lentera yang bergerak gerak dari sebuah ruangan tak jauh dari sana.
Cahaya lentera yang redup itu, ada kalanya terang benderang ada kalanya lenyap dan padam.
Ruangan itu adalah kamar bacanya Tio Kian, Tio jiya.
Sejak Tio jiya meninggal dunia, tempat itu selalu dibiarkan kosong jarang sekali ada orang yang kesitu, lebih lebih ditengah malam buta, semakin mustahil ada orang yang berkunjung kesana.
Tapi kalau tak ada orang,kenapa ada cahaya lentera yang berkedip kedip?
Ternyata Bu ki tidak merasakan sesuatu yang aneh, agaknya memang sudah tak ada kejadian yang bisa membuatnya merasa kaget bercampur keheranan.
Betul juga, ternyata dalam kamar baca ada orangnya, dan kebetulan sekali ternyata orang itu adalah Lian it lian.
Ia seperti lagi mencari sesuatu barang, setiap rak buku, setiap laci yang berada dalam ruangan itu telah dibongkar olehnya sehingga keadaannya menjadi porak poranda.
Pelan pelan Bu ki masuk ke dalam dan menyelinap ke belakang, lalu secara tiba-tiba menegur.
"Apa yang sedang kau lakukan? Sudah kau temukan sesuatu?"
Dengan terperanjat Lian it lian berpaling, saking kagetnya ia sampai berdiri tertegun.
"Andaikata kau belum berhasil menemukannya aku bersedia membantumu, sebab bagaimanapun aku jauh lebih hapal terhadap setiap barang disini daripada dirimu"
Kata Bu ki. Pelan pelan Lian It lian bangkit berdiri, menepuk bajunya yang kotor dan tertawa.
"Coba kau tebak, apa yang sedang kucari?"
"Aku tak bisa menebaknya!"
"Tentu saja aku sedang mencari intan permata atau barang berharga lainnya, apakah kau tak tahu kalau aku adalah seorang perampok yang bekerja seorang diri?"
"Kalau kau adalah seorang perampok ulung yang bekerja seorang diri maka kau kau pasti akan amti kelaparan"
"Oya?"
"Andaikata kau tidak mati kelaparan maka kau pasti sudah ditangkap orang, ditelanjangi dan digantung diatas pohon, atau paling tidak digebuki setengah mati"
Setelah tertawa dingin, katanya kembali.
"karena kau bukan saja tidak tajam dalam pengincaran, gerak gerikmu terlalu kasar dan bodoh, disini kau mencuri barang, orang yang berada satu li dari sinipun dapat mendengar suaramu"
"Sekarang, apakah kau hendak....hendak menggantung aku?"
Kata "menelanjangi"
Tersebut bukan saja tidak ia katakan, bahkan dibayangkan pun tak berani.
"Aku tak lebih hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, tapi setiap pertanyaan yang kuajukan harus kau jawab dengan sejujurnya, kalu tidak maka aku akan....."
"Kau akan apa?"
Tanya Lian It lian ketakutan.
"Kau paling takut aku berbuat apa? Nah, itulah yang yang akan kulakukan"
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 2
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 11