Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 2

Eps 2 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

"Ayah dan ibu telah ditawan pergi oleh kedua penjahat dari Jing-sia-pay itu, tentu lebih banyak celaka daripada selamatnya, aku harus lekas-lekas menyusul untuk menolongnya. Meski aku bukan tandingan kedua musuh itu, tapi diam-diam aku dapat menyergap mereka dan mungkin berhasil. Bilamana gagal, toh ayah-ibu akan mati, buat apalagi aku hidup sendirian."

Terpikir betapa pentingnya menolong ayah-bundanya, ia menjadi gelisah dan bersemangat pula.

Ia pikir agar bisa mengelabui mata musuh, paling baik kalau dirinya menyamar saja.

Karena tekadnya hendak menolong kedua orang tua, seketika rasa sakit ubun-ubun kepalanya menjadi terlupa.

Soalnya sekarang adalah cara bagaimana dia harus menyamar?

Ia coba menuju ke dapur.

Dalam kegelapan ia meraba-raba, akhirnya dapat digerayanginya pisau ketikan api dan batunya.

Segera ia mengetik api dan menyalakan pelita minyak.

Dengan penerangan itu, ia masuk ke kamar tidur si pemilik warung dengan maksud mencari seperangkat pakaian.

Siapa tahu, dasar miskin, orang gunung lagi, kemiskinannya benar-benar luar biasa, sampai seperangkat pakaian pengganti saja tidak ada.

Di dalam kamar memang ada beberapa potong baju dan celana yang penuh tambalan, tapi semuanya adalah pakaian wanita, rupanya milik istri tukang warung itu.

Setelah merenung sejenak, akhirnya Peng-ci keluar lagi dengan membawa pelita minyak, dilihatnya jenazah suami istri pemilik warung itu masih menggeletak di situ.

Mendadak angin dingin berkesiur, pelita minyak itu lantas padam.

Berada di tengah-tengah mayat dalam keadaan gelap gulita, mau tak mau Peng-ci sampai mengirik, kaki pun terasa lemas.

Dengan langkah setengah diseret Peng-ci kembali ke dapur untuk menyalakan pelita pula.

Lalu mayat pemilik warung itu diseretnya ke sana untuk dilucuti pakaiannya.

Coba kalau hari-hari biasa, jangankan memegang mayat, baru melihat saja tentu dia sudah menyingkir jauh-jauh.

Tapi sekarang demi untuk menolong ayah-bundanya, biarpun pekerjaan yang sukar bagaimanapun juga dilakukannya.

Setelah menanggalkan pakaian orang mati, mendadak ia pencet hidungnya sendiri, baunya jangan ditanya lagi.

Mestinya ia ingin mencuci bersih dahulu pakaian itu, tapi tentu akan makan tempo lama sehingga kehilangan kesempatan untuk menolong ayah-ibunya, bila demikian tentu dirinya akan menyesal untuk selama hidup.

Dengan nekat ia lantas membuka bajunya sendiri hingga bersih, lalu memakai baju bekas orang mati dengan menahan napas karena baunya.

Untunglah pakaian itu cukup pas baginya.

Kemudian ia bungkus mayat telanjang bulat itu dengan pakaiannya sendiri tadi, bersama mayat wanita lantas dimasukkan ke dalam liang, lalu diuruknya dengan tanah.

Pikirnya.

"Belatiku sudah dibawa pergi nona itu, aku harus mencari suatu senjata lagi."

Ia coba memeriksa sekitarnya, tertampak pedangnya sendiri dan pedang ayahnya serta golok ibunya, semuanya sudah patah menjadi dua dan terlempar di atas tanah.

Tanpa pikir ia jemput pedang patah ayahnya itu dan dibungkus dengan sepotong kain kotor, lalu diselipkannya di pinggang.

Ketika melangkah keluar warung nasi itu, terasalah kesunyian yang demikian memilukan, hampir-hampir ia ingin menangis sekeras-kerasnya.

Sekuatnya ia lemparkan pelita itu.

"plung" , pelita itu jatuh ke dalam kolam dan padam seketika, sekelilingnya kembali gelap gulita lagi.

"Lim Peng-ci, wahai Lim Peng-ci! Jika kau kurang waspada dan tidak sabaran sehingga jatuh ke dalam cengkeraman bangsat-bangsat Jing-sia-pay lagi, maka nasibmu akan serupa dengan pelita yang kecemplung ke dalam kolam itu,"

Demikian ia memperingatkan dirinya sendiri.

Tanpa merasa ia angkat lengan baju untuk mengucek-ngucek mata, tapi mendadak ia menyengir dan hampir-hampir muntah-muntah, kiranya terciumlah bau lengan baju yang bacin itu.

"Wahai Lim Peng-ci, jika cuma bau busuk begini saja kau tidak tahan, percumalah kau menjadi manusia, apa lagi hendak menolong ayah-ibumu?"

Demikian ia berteriak sendiri.

Segera ia angkat kaki menuju ke depan.

Tidak berapa jauhnya, ubun-ubun kepalanya terasa kesakitan lagi.

Ia mengertak gigi dan bertahan sekuatnya sehingga jalannya menjadi tambah cepat malah.

Ia terus berjalan tanpa kenal arah di lingkungan jalan pegunungan yang naik turun itu.

Sampai fajar menyingsing, tiba-tiba matanya menjadi silau oleh cahaya sang surya yang memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang.

Seketika hati Peng-ci terkesiap.

"Kedua bangsat itu hendak menggiring ayah-ibuku ke Jing-sia-san yang terletak di Sucwan. Padahal Sucwan terletak di daerah barat, mengapa aku malah menuju ke arah timur?"

Maka cepat ia putar tubuh dan ganti haluan dengan berjalan membelakangi sinar matahari. Pikirnya.

"Ayah-ibu sudah digiring pergi setengah malaman, aku telah berjalan salah arah pula, jarak dengan mereka menjadi semakin jauh. Aku harus membeli seekor kuda saja, entah berapa harganya?"

Tapi ia lantas mengeluh ketika merogoh saku.

Kiranya keberangkatannya kali ini seluruh barang bekalnya tertaruh di kantong kulit yang digantungkan di samping pelana kuda.

Maka keadaannya sekarang benar-benar bokek, tidak punya barang sepeser pun.

Ini namanya sudah sial tertimpa malang lagi.

"Wah, bagaimana ini, bagaimana baiknya ini?"

Demikian ia menjadi bingung.

Setelah termangu-mangu sejenak, akhirnya ia pikir paling penting harus menolong ayah bundanya dahulu, masakah dirinya khawatir mati kelaparan?

Maka dengan langkah lebar segera ia meneruskan perjalanan ke depan dan menuruni bukit.

Menjelang tengah hari, saking laparnya perutnya mulai berkeruyukan.

Tiba-tiba terlihat di tepi jalan ada belasan pohon lengkeng dengan buahnya yang besar, walaupun belum masak, tapi sudah cukup sekadar buat tangsel perut.

Segera ia menuju ke bawah pohon, tangan terangkat ke atas hendak memetik buah lengkeng itu.

Tapi baru saja jarinya menyentuh buah yang bundar-bundar itu, sekilas teringat olehnya.

"Hok-wi-piaukiok kami adalah keluarga yang terhormat, buah lengkeng ini ada yang punya, jika aku mengambilnya tanpa permisi, ini berarti aku telah mencuri. Turun-temurun keluarga Lim melakukan pekerjaan mengawal dan menjaga harta benda milik orang, selama itu selalu menjadi lawan kaum penjahat, sekarang aku sendiri mana boleh melakukan perbuatan mencuri? Jika perbuatanku kepergok orang, lalu aku dimaki sebagai pencuri di depan ayah, lantas ke mana ayah akan menyembunyikan mukanya? Hok-wi-piaukiok tidak sukar untuk dibangun kembali, tapi sekali anggota keluarga Lim menjadi pencuri, maka merek Hok-wi-piaukiok pasti susah dipasang lagi."

Sejak kecil Peng-ci telah mendapat didikan dan petuah-petuah, ia tahu kawanan perampok asalnya adalah pencuri kecil, pencuri itu mula-mula cuma menggerayangi benda-benda kecil yang tak begitu berharga, akan tetapi dari sedikit kemudian menjadi banyak, dari kecil kemudian menjadi besar dan akhirnya lantas menjadi biasa.

Kalau kaki sudah kejeblos ke dalam lumpur, maka sukarlah ditarik keluar.

Teringat demikian, tanpa merasa keluarlah keringat dinginnya.

Segera ia menetapkan tekad.

"Pada suatu hari akhirnya aku dan ayah pasti akan menegakkan kembali nama baik Hok-wi-piaukiok. Seorang laki-laki sejati harus berpijak pada tempat yang betul, aku lebih baik menjadi pengemis daripada menjadi pencuri."

Begitulah ia segera meneruskan perjalanan dengan langkah lebar dan tidak mau mengincar sekejap pun pada buah lengkeng di tepi jalan itu.

Setelah beberapa li lagi, sampailah dia di suatu desa kecil.

Ia coba mendatangi rumah seorang petani, dengan rasa kikuk ia ingin minta sedikit makanan.

Padahal selama hidupnya dia sudah biasa dilayani, segala apa serbakecukupan, belum pernah dia minta-minta kepada orang lain.

Sebab itulah baru saja bicara beberapa kata, belum-belum mukanya sudah merah jengah.

Dasar perempuan desa itu baru saja bertengkar dengan suaminya, habis dihajar oleh suaminya, memangnya rasa dongkolnya belum terlampiaskan, sekarang datang Lim Peng-ci hendak mengemis, kontan saja ia menyambutnya dengan dampratan habis-habisan, dia sambar sebatang sapu dan membentak.

"Kau maling kecil ini, tentu kau yang telah mencuri ayamku yang baru saja hilang itu, sekarang kau datang hendak menggerayangi lagi. Biarpun aku ada nasi sisa juga tidak memberi sedekah kepada maling kecil seperti kau. Kau mencuri ayamku, akibatnya lakiku keparat itu marah-marah dan menggebuki aku sampai babak belur dan matang biru sekujur badanku ...."

Setiap kali perempuan desa itu memaki satu kalimat, kakinya juga lantas mendesak maju, sebaliknya Peng-ci lantas mundur satu langkah.

Semakin memaki perempuan itu semakin bersemangat, sampai akhirnya mendadak dia mengangkat sapu terus hantam ke muka Peng-ci.

Peng-ci menjadi gusar, sambil mengegos sebelah tangannya lantas balas memukul.

Tapi mendadak terpikir olehnya.

"Aku mengemis dan tidak diberi, sebaliknya aku lantas menyerang perempuan desa yang bodoh ini, bukankah terlalu menertawakan?"

Karena itu, sekuatnya ia lantas menarik kembali pukulannya itu.

Tak tersangka dia terlalu nafsu mengeluarkan tenaga, untuk menarik kembali tangannya menjadi rada kagok, apalagi kepalanya masih cekot-cekot, gerak-geriknya kurang gesit, sedikit terhuyung, sekonyong-konyong sebelah kakinya menginjak di atas setumpuk tahi kerbau dan terpeleset.

"syurrr ... bluk" , ia jatuh terjengkang. Sudah begitu sapu si perempuan desa tidak urung sempat mampir juga di atas mukanya. Melihat kelakuan Peng-ci yang lucu itu, perempuan desa itu mengakak geli. Dampratnya pula.

"Maling busuk, berdiri saja tidak kuat, ingin memukul nyonya besarmu. Huh!"

Habis itu kembali ia angkat sapu terus memukul lagi dan mengusruk-usrukkan ujung sapu itu di muka Peng-ci.

Ia tambahi lagi dengan meludahi pemuda itu, kemudian barulah dia balik ke dalam rumah.

Alangkah gusar dan penasaran Peng-ci mengalami hinaan demikian, ditambah lagi ruas tulang seluruh tubuhnya sakit tidak kepalang.

Maklumlah bagian "Pek-hwe-hiat"

Di ubun-ubun kepalanya ditendang oleh Pui Jin-ti, kalau tidak mati saja sudah mujur baginya, ditambah lagi entah berapa lamanya dia dikubur hidup-hidup di dalam liang, memangnya keadaannya sudah sekarat, sebabnya dia dapat merangkak keluar liang kubur hanyalah berkat tekad baktinya yang ingin menolong ayah-ibunya.

Sekarang dia terbanting jatuh lagi, maka terasalah badannya yang payah itu dan sukar merangkak bangun lagi.

Beberapa kali ia bermaksud merangkak bangun, tapi saking laparnya tenaga pun tak ada, setiap kali baru saja setengah tubuh terangkat, segera jatuh lagi sehingga muka dan tangan berlumuran kotoran kerbau.

Selagi Peng-ci berkutetan hendak bangkit, tahu-tahu si perempuan tani tadi telah keluar lagi dengan membawa empat batang jagung rebus yang masih panas, agaknya baru saja diambil dari dalam kuali.

"Ini makanlah, setan!"

Omel perempuan tani itu dengan tertawa sambil menyerahkan jagung-jagung rebus ke dalam tangan Peng-ci.

"Kau dikaruniai dengan muka yang tampan, bahkan lebih cantik daripada menantu perempuan orang. Tapi kau justru tidak berkelakuan baik, suka makan malas kerja. Huh, apa gunanya?!"

Peng-ci menjadi gusar, segera ia hendak membanting jagung-jagung rebus yang diterimanya itu. Tapi si perempuan tani lantas berseru dengan tertawa.

"Baik, boleh kau banting saja, lekas buang semua! Jika kau tidak takut mati kelaparan, hayolah lekas banting semua jagung itu, biar kau maling cilik ini mati kelaparan!"

Diam-diam Peng-ci membatin.

"Kalau tidak tahan soal kecil, tentu akan bikin runyam urusan besar. Asal aku dapat menyelamatkan ayah dan ibu serta membangun kembali Hok-wi-piaukiok, apa sih halangannya jika cuma dihina oleh seorang wanita desa saja?"

Karena itu ia lantas mengucapkan terima kasih, lalu jagung-jagung rebus itu digerogotinya.

"Hm, aku sudah menduga kau takkan membuangnya,"

Jengek perempuan tani itu dengan tertawa. Lalu ia putar balik ke dalam rumah pula sambil menggumam sendiri.

"Setan cilik ini kelihatan sangat kelaparan, tampaknya ayamku itu bukan dicuri olehnya."

Karena laparnya, dengan cepat sekali Peng-ci sudah menghabiskan empat batang jagung rebus itu, sebutir pun tidak ketinggalan dilalap olehnya.

Maka terasalah sudah setengah kenyang, semangatnya lantas terbangkit.

Segera ia merangkak bangun dan meneruskan perjalanan ke arah barat.

Sepanjang jalan ia hidup dengan mengemis, terkadang juga menangsel perut dengan buah-buahan bilamana berada di tengah jalan pegunungan yang sunyi.

Untunglah tahun ini provinsi Hokkian lagi makmur, panen berlimpah-limpah, rakyat ada kelebihan bahan makanan.

Walaupun Peng-ci telah poles mukanya sehingga kotor, tapi tutur katanya cukup sopan dan menyenangkan orang, maka untuk mengemis makan saja tidak sampai mengalami kesukaran.

Sepanjang jalan ia pun mencari berita tentang ayah-bundanya, tapi tiada mendapatkan sesuatu kabar apa-apa.

Beberapa hari kemudian sampailah dia di wilayah provinsi Kangsay.

Setelah tanya jelas arahnya, langsung Peng-ci menuju ke kota Lamjiang.

Ia pikir di kota itu ada kantor cabang Hok-wi-piaukiok, di sana tentu akan bisa diperoleh berita tentang ayah-ibunya, paling tidak juga dapat mengambil sedikit uang bekal dan untuk membeli kuda.

Siapa duga, setiba di kota Lamjiang, ketika dia tanya di mana letak Hok-wi-piaukiok, tiba-tiba orang yang ditanya menjawab.

"Untuk apa kau tanya Hok-wi-piaukiok? Perusahaan itu sudah terbakar habis menjadi runtuhan puing, bahkan tidak sedikit tetangga di kanan-kirinya juga ikut terbakar ludes."

Diam-diam Peng-ci mengeluh. Ia coba mendatangi tempat kantor cabang itu. Benar juga puing memenuhi sepanjang jalan. Ia coba tanya anak di tepi jalan, kiranya kebakaran itu terjadi enam hari yang lalu.

"Belasan orang Piaukiok ikut terbakar mati, baunya tidak keruan!"

Demikian anak kecil itu menambahkan.

Dihitung dari harinya, Peng-ci menduga tentulah perbuatan Pui Jin-ti dan kawan-kawannya yang telah datang lebih dahulu dengan menunggang kuda.

Ia tertegun sejenak, diam-diam ia bersumpah.

"Kalau sakit hari ini tidak kubalas, percumalah aku menjadi manusia."

Ia coba tanya kepada seorang tukang kereta tentang jalan menuju ke Sucwan.

Kiranya kalau dari Kangsay hendak ke Sucwan dapat ditempuh dua jalan, melalui sungai Tiangkang atau dengan jalan darat yang lebih sukar ditempuh karena mesti banyak melintasi lereng bukit yang sunyi.

Peng-ci pikir kalau menumpang kapal, pertama ia tidak punya bekal, pula sukar mencari jejak ayah-ibunya.

Maka tanpa sangsi lagi, segera ia berjalan ke arah barat.

Suatu hari, sampailah dia di kota Tiangsah, ibukota provinsi Oulam.

Di kota ini pun terdapat kantor cabang Hok-wi-piaukiok, tapi ia menduga kantor cabang itu pun pasti sudah dibakar musuh.

Tatkala itu hawa rada hangat, di undak-undakan batu di depan sebuah kelenteng di tepi jalan tertampak berduduk tiga orang pengemis dengan tubuh bagian atas telanjang, mereka sedang menjemur sambil membalik-balik baju mereka.

Rupanya mereka sedang mencari kutu sambil terkadang-kadang memasukkan kutu yang diketemukan ke dalam mulut terus dikertak sehingga mengeluarkan suara.

Dengan tersenyum yang dibuat-buat, Peng-ci mendekati mereka dan bertanya.

"Numpang tanya kepada ketiga Toako, apakah kalian mengetahui bilakah Hok-wi-piaukiok di sini telah terbakar?"

Rupanya ketiga pengemis itu tidak jelas terhadap logat bahasa Hokkian yang diucapkan Peng-ci itu, dengan mata melotot mereka menghardik.

"Kau bilang apa?"

Terpaksa Peng-ci mengulangi lagi pertanyaannya. Maka seorang di antaranya yang lebih tua lantas berkata.

"Jangan ngaco-belo segala! Jika didengar oleh tuan-tuan dari Piaukiok itu mustahil kau tidak diberi hajaran yang setimpal!"

Sungguh girang Peng-ci tidak terhingga mendengar jawaban itu, cepat ia menjawab.

"Ya, ya! Entah Piaukiok itu terletak di jalan mana?"

"Itu bukan?"

Kata pengemis itu sambil menuding sebuah gedung yang terletak beberapa puluh meter dari situ.

"Jika kau ingin minta sedekah, lebih baik ikut kami saja. Jika kau mengira akan mendapatkan apa-apa dari Piaukiok itu, hm, jangan-jangan pantatmu bisa pecah ditendang orang."

Karena mendapat tahu cabang Piaukioknya tidak berhalangan, Peng-ci tidak mau gubris lagi kepada pengemis-pengemis itu.

Segera ia berjalan ke tempat Piaukiok dengan langkah lebar.

Sampai di depan kantor cabang itu, dilihatnya gedungnya walaupun tidak semegah kantor pusat di Hokciu, tapi juga cukup mentereng, kedua daun pintu besar dicat merah, kanan-kiri terdapat dua ekor singa-singaan batu yang angker.

Ia coba melongok ke dalam, tapi tiada tertampak seorang pun.

Ia menjadi ragu-ragu, kalau dirinya masuk begitu saja dalam keadaan tak ubahnya seperti pengemis, apakah takkan dipandang hina oleh para Piauthau di dalam kantor cabang itu?

Ketika mendadak ia mendongak, tiba-tiba tertampak papan merek yang berhuruf emas itu tidak terpasang sebagaimana mestinya, papan merek yang bertuliskan "Hok-wi-piaukiok cabang Oulam"

Itu ternyata terbalik pasangnya.

Tentu saja ia heran, apakah para Piauthau di sini sedemikian sembrono sampai-sampai papan merek yang harus dijaga baik-baik itu terpasang terbalik?

Waktu ia menoleh dan memerhatikan panji perusahaan yang terpancang di tiang bendera, seketika ia terkesiap.

Ternyata tiang bendera sebelah kiri terpancang sepasang sepatu rusak, sedangkan tiang bendera sebelah kanan terpancang sehelai celana wanita yang robek dan melambai-lambai tertiup angin.

Selagi bingung, tiba-tiba dari dalam Piaukiok berjalan keluar seorang dan membentak padanya.

"Anak kura-kura, kerja apa longak-longok di sini? Mau mencuri ya?"

Mendengar logat orang sama dengan rombongan Ih Jin-gan, Keh Jin-tat dan lain-lain, terang adalah orang Sucwan, maka Peng-ci tidak berani bertingkah lagi di situ, segera ia hendak menyingkir.

Tapi mendadak angin menyambar dari belakang, pantatnya telah didepak orang itu sehingga dia jatuh terjerembap.

Dengan murka segera Peng-ci bermaksud merangkak bangun untuk melabrak orang itu.

Tapi lantas teringat olehnya.

"Cabang Piaukiok di sini terang juga telah dikangkangi oleh orang Jing-sia-pay, aku masih harus mencari ayah dan ibu, mana boleh sembrono mengumbar nafsu marah?"

Segera ia pura-pura tidak mahir ilmu silat dan meringis kesakitan, sampai lama sekali masih tidak sanggup berdiri.

Untung ilmu silat orang itu pun tidak tinggi sehingga tidak tahu lagak Peng-ci yang pura-pura itu.

Sebaliknya ia bergelak tertawa sambil memaki "anak kura-kura"

Pula lalu tinggal masuk ke dalam.

Perlahan-lahan Peng-ci merangkak bangun, dengan jalan terpincang yang dibuat-buat ia menyingkir ke suatu gang kecil dan mengemis semangkuk nasi kepada seorang penduduk.

Pikirnya.

"Di sekelilingku sekarang banyak musuh, aku harus waspada dan hati-hati."

Segera ia mencari sedikit debu hangus untuk mengusap mukanya sehingga kelihatan hitam kotor.

Kemudian ia berbaring di pojok dinding rumah sana untuk mengaso.

Akhirnya hari pun menjadi gelap.

Ia ringkaskan pakaiannya, pedang patah yang terselip di dalam bajunya disiapkan di pinggang.

Lalu ia putar ke pintu belakang cabang Piaukiok.

Setelah tiada mendengar sesuatu suara apa-apa di balik dinding barulah dia melompat ke atas pagar tembok.

Ternyata di dalamnya adalah sebuah kebun sayur.

Dengan perlahan-lahan ia melompat turun, selangkah demi selangkah ia merayap maju menyisir tembok.

Sebenarnya kantor cabang di kota Tiangsah itu adalah cabang yang terbesar, seluruh pegawainya meliputi 60-70 orang.

Tapi sekarang keadaan di dalam gedung itu ternyata gelap gulita, tidak ada sinar lampu, juga tidak ada suara orang.

Dengan hati berdebur-debur Peng-ci merayap maju terus dengan sangat hati-hati agar tidak menerbitkan suara sedikit pun.

Setelah melintasi pekarangan dalam, tertampaklah jendela di kamar serambi timur sana ada sinar lampu, sayup-sayup terdengar ada suara orang pula.

Dengan nekat Peng-ci mendekati jendela itu dengan berjinjit-jinjit dan menahan napas.

Sesudah merunduk sampai di bawah jendela, dengan hati-hati ia meringkuk di situ untuk mendengarkan.

Baru saja ia duduk di kaki dinding di bawah jendela itu, segera terdengar suara seorang sedang berkata.

"Besok pagi-pagi kita lantas membakar habis Piaukiok kura-kura ini, supaya tidak mencolok mata saja."

Tapi seorang lagi lantas menjawab.

"Jangan! Sekali ini kita tak boleh bakar lagi. Piaukiok kura-kura di Lamjiang itu telah kita bakar sehingga merembet pada belasan rumah tetangga di sekitarnya, kejadian demikian akan kurang menguntungkan nama baik Jing-sia-pay kita."

Maka jelaslah bagi Peng-ci bahwa terbakarnya kantor cabang di Lamjiang itu memang sengaja dilakukan oleh orang Jing-sia-pay, tapi sekarang mereka masih berpikir tentang nama baik apa segala.

Dalam pada itu terdengar orang pertama tadi telah berkata pula.

"Tidak dibakar, apakah dibiarkan begini saja?"

"Sifatmu yang keras ini rupanya tidak bisa berubah, Kiat-sute,"

Ujar kawannya dengan tertawa.

"Kita telah jungkir balikkan papan Piaukiok ini, telah menggantung celana wanita dan sepatu rusak di tiang benderanya, selanjutnya apakah nama Hok-wi-piaukiok mereka takkan runtuh habis-habisan di dunia Kangouw. Kita biarkan celana robek itu tetap melambai-lambai di tiang benderanya, buat apa mesti membakar lagi?"

"Betul juga, Sin-suko,"

Kata si orang she Kiat dengan tertawa.

"Hehe, celana wanita itu benar-benar membikin sial Hok-wi-piaukiok mereka, tanggung selama 300 tahun mereka akan selalu celaka."

Maka tertawalah kedua orang itu dengan terbahak-bahak. Lalu si orang she Kiat berkata pula.

"Besok kita akan pergi ke Heng-san untuk mengucapkan selamat kepada Lau Cing-hong, sebaiknya kita membawakan hadiah apa untuknya? Berita ini kita terima secara tiba-tiba sehingga tidak keburu melapor kepada Suhu, jika kado kita ini kurang bernilai tentu akan merendahkan derajat Jing-sia-pay kita."

"Kado ini siang-siang sudah kusediakan,"

Kata orang she Sin dengan tertawa.

"untuk ini harap kau jangan khawatir, tanggung takkan membikin malu Jing-sia-pay kita. Boleh jadi dalam perjamuan merayakan 'cuci tangan' Lau Cing-hong nanti, yang akan paling menonjol mungkin adalah hadiah kita ini."

"He, kado berharga apakah itu? Mengapa sedikit pun aku tidak tahu?"

Seru si orang she Kiat dengan senang.

"Ya, Sin-suko memang banyak akal, mungkin Pui-suheng yang terkenal cerdik pandai itu pun tidak dapat membandingi kau."

Si orang she Sin tertawa gembira. Katanya.

"Hadiah ini sebenarnya juga cuma meminjam milik orang lain saja. Coba kau lihat, apakah barang ini cukup mentereng atau tidak?"

Lalu terdengarlah suara keresek-keresek, suara orang membuka bungkusan apa-apa. Kemudian terdengar orang she Kiat sampai berseru kaget, katanya.

"Wah, hebat, hebat sekali. Sungguh mahasakti kepandaian Sin-suko, dari manakah kau mendapatkan benda-benda berharga seperti ini?"

Mestinya Peng-ci ingin mengintip melalui celah-celah jendela untuk mengetahui benda apa yang diributkan itu, tapi khawatir perbuatannya itu diketahui orang, terpaksa ia mengekang maksudnya itu.

Maka terdengar si orang she Sin telah menjawab.

"Memangnya apakah usaha sia-sia saja kita merebut Hok-wi-piaukiok ini? Sepasang kuda kemala dan sepasang merak zamrud ini mestinya hendak kubawa pulang untuk dipersembahkan kepada Suhu, tapi sekarang agaknya si tua Lau Cing-hong yang akan terima benda-benda ini."

Kembali hati Peng-ci merasa gemas, pikirnya.

"Kiranya dia telah merampok benda mestika Piaukiok kami, sebaliknya digunakan untuk mengambil hati orang lain, perbuatan mereka ini bukankah tiada ubahnya seperti bandit kalangan Lok-lim? Ya, kantor cabang Tiangsah sini memangnya tersimpan tidak sedikit harta benda yang merupakan barang langganan yang harus dikawal. Sepasang kuda kemala dan merak zamrud itu tentu tidak terhingga nilainya, jika sampai hilang tentu ayah yang harus ganti kerugian ini."

Dalam pada itu terdengar si orang she Kiat lagi berkata.

"Sin-suko, hubungan Lau Cing-hong dengan Suhu agaknya tidak terlalu akrab, kukira hadiah kita ini cukup satu macam saja, sisanya lebih baik kita persembahkan kepada Suhu."

Bab 8. Harta Karun di Dalam Peti "Rupanya kau tidak mengetahui persoalan ini,"

Ujar si orang she Sin dengan tertawa.

"Sekali ini Lau Cing-hong merayakan pesta 'cuci tangan', tentu tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai golongan dan aliran akan ikut hadir. Maka hadiah kita ini bukan untuk mengambil hatinya Lau Cing-hong, tapi lebih tepat adalah untuk menonjolkan nama Jing-sia-pay kita agar mereka lebih kenal siapakah Jing-sia-pay."

"O, ya, betapa pun memang Sin-suko lebih dapat berpikir panjang,"

Kata si orang she Kiat.

"Hanya saja kalau ... kalau kita pulang dengan tangan kosong, walaupun Suhu takkan marah, tapi kita ... kita sendiri ...."

"Jangan khawatir,"

Ujar si orang she Sin.

"Biasanya benda-benda begini saja takkan berharga dalam pandangan Suhu. Kukira justru ibu-guru muda yang harus kita persembahi apa-apa. Dan hadiah baginya juga sudah kusediakan. Untuk ini kau pun jangan khawatir, Kiat-sute. Hadiah ini menggunakan atas nama kita berdua, tidak nanti Suhengmu ini melupakan dirimu."

"Banyak terima kasih, Sin-suko,"

Sahut si orang she Kiat dengan girang.

"Terima kasih apa? Kita berdua yang telah merebut Piaukiok ini, kita mengeluarkan tenaga bersama, sudah tentu kita menerima pahala bersama pula,"

Kata orang she Sin. Maka bergelak tertawalah kedua orang itu. Habis itu, terdengar si orang she Sin menyambung lagi.

"Nah, Kiat-sute, di sini telah kusediakan empat buntal, satu buntal kita persembahkan kepada para Susiok, sebuntal lagi untuk para Suheng dan Sute, dan kedua buntal ini adalah bagian kita berdua. Boleh kau pilih sendiri saja!"

"Barang apakah itu?"

Tanya si orang she Kiat. Keadaan lalu sunyi, menyusul hanya terdengar suara keresek-keresek seperti tadi. Habis itu mendadak terdengar orang she Kiat itu berseru kaget. Katanya.

"Wah, kiranya emas intan seluruhnya. Waduh, sekali ini kita benar-benar kaya mendadak. Anak kura-kura, selama ini Hok-wi-piaukiok ini ternyata tidak sedikit mengumpulkan harta benda. Sin-suko, dari mana kau menemukannya? Padahal aku sudah mencari belasan kali, sampai-sampai ubin juga hampir kugali, tapi yang kudapatkan hanya ratusan tahil perak saja. Tapi diam-diam kau malah dapat menguras keluar harta pusaka mereka."

Si orang she Sin sangat senang dan merasa bangga, jawabnya dengan tertawa.

"Harta benda perusahaan Piaukiok mana boleh ditaruh di tempat sembarangan? Haha, selama beberapa hari ini diam-diam aku telah mengikuti caramu membongkar lemari, mendongkel dinding, membalik meja dan membobol laci, sibuknya tidak keruan!"

"Ya, kagum, kagum! Sebenarnya dari mana kau menemukannya, Sin-suko?"

Tanya pula si orang she Kiat.

"Kiat-sute,"

Jawab si orang she Sin.

"kita mengembara Kangouw, ilmu silat memang penting, tapi yang lebih penting adalah ini ...."

Ia ketok-ketok dahi sendiri dengan jari, lalu menyambung.

"Coba kau pikir, adakah sesuatu yang tidak masuk di akal dalam Piaukiok ini?"

"Yang tidak masuk di akal? Hahaha! Kukira banyak sekali hal-hal yang tak masuk di akal dalam Piaukiok ini, mana aku dapat menyelidikinya satu per satu?"

"Sebab itulah, maka kau, Kiat-sute, kukira untuk selanjutnya kau harus lebih banyak menggunakan otak,"

Ujar si orang she Sin dengan tertawa.

"Misalnya, gedung Piaukiok mereka yang megah ini kenapa di ruangan samping ditaruh sebuah peti mati yang besar, apakah ini masuk di akal?"

"Ah, aku tidak punya tempo senggang untuk mengurusnya, apakah mereka suka menaruh peti mati atau menaruh telaga tahi di situ, peduli apa dengan aku?"

"Makanya, sekali lagi kubilang kau harus menggunakan otak, Kiat-sute,"

Kata orang she Sin.

"Coba pikirkan, untuk apa mereka taruh peti mati di kamar sebelah, memangnya dia sayang menguburnya karena yang mati adalah anaknya atau bininya? Haha, kukira tidak. Lalu apakah tiada tersimpan sesuatu di dalam peti mati itu untuk mengelabui orang lain ...."

"Aha, benar!"

Seru si orang she Kiat sambil melonjak bangun.

"Engkau benar-benar lihai, Sin-suko. Tentunya harta yang kau ketemukan itu tersimpan di dalam peti mati itu, bukan? Haha, bagus, bagus! Para Piausu anak kura-kura ini memang macam-macam dan ada-ada saja. Mereka sengaja menyimpan harta karun ini di dalam peti mati, tentu saja sukar diketemukan biarpun Piaukiok ini kedatangan garong. Eh, Sin-suko marilah kita mencuci kaki, lalu tidur saja."

Habis berkata ia menguap kantuk, lalu membuka pintu dan keluar.

Dengan mendekam di bawah jendela Peng-ci tidak berani bergerak sedikit pun, ia coba melirik ke dalam melalui celah-celah jendela, dari bayangannya kelihatan orang she Kiat itu berperawakan pendek gemuk, besar kemungkinan adalah orang yang mendepaknya siang tadi.

Selang tak lama, si orang she Kiat telah masuk kembali ke kamar dengan membawa satu baskom air panas, katanya.

"Sin-suko, kali ini Suhu telah mengutus kita berjumlah 16 orang keluar, tampaknya kita berdua yang mendapatkan rezeki paling banyak, berkat kelihaian Sin-suko aku pun ikut berjasa. Bak-sute bertugas menyerang cabang Kwiciu, Kong-suko menyerang cabang Hangciu, tapi biarpun mereka melihat peti mati juga belum tentu tahu di dalamnya tersimpan harta karun sebanyak ini."

"Tapi Pui-suko dan Uh-sute yang ditugaskan mengubrak-abrik kantor pusat di Hokciu, hasil mereka tentu jauh lebih besar daripada kita,"

Sahut orang she Sin dengan tertawa.

"Cuma jiwa putra kesayangan ibu-guru itu telah melayang di Hokciu, jasa mereka mungkin dapat menutupi kesalahan mereka di hadapan Suhu, namun ibu-guru muda tentu tak mau mengampuni mereka."

"Ya, aku pun heran,"

Demikian kata si orang she Kiat.

"Pada waktu Suhu mengirim kita keluar, katanya Hok-wi-piaukiok sudah tiga turunan melakukan usaha pengawalan, orangnya banyak, pengaruhnya besar, kepandaian warisan keluarga Lim berupa 72 jurus Pi-sia-kiam-hoat, 108 gerakan Hoan-thian-ciang dan 18 batang panah tidak boleh dipandang enteng, kita disuruh menyerang secara mendadak dan serentak baik di kantor pusat maupun di kantor cabangnya. Siapa duga Hok-wi-piaukiok hanya punya nama kosong saja, dengan mudah Pui-suko sudah menangkap Lim Cin-lam dan istrinya. Tampaknya sekali ini Suhu sendiri pun salah mata."

Keringat dingin sampai memenuhi dahi Peng-ci yang mendengarkan di luar jendela itu. Pikirnya.

"Jika demikian jadi Jing-sia-pay memang mempunyai rencana untuk mencari perkara kepada Piaukiok kami dan bukanlah lantaran aku salah membunuh orang she Ih itu. Menurut rencana mereka, andaikan aku tidak membunuh keparat she Ih itu juga mereka tetap akan menghancurkan Piaukiok kami. Tapi entah kesalahan apa yang telah kami perbuat terhadap Jing-sia-pay sehingga mereka turun tangan sekeji ini?"

Berpikir sampai di sini, rasa menyesalnya semula atas diri sendiri yang telah menimbulkan malapetaka ini menjadi berkurang, sebaliknya rasa dendam dan gusar lantas bergolak.

Kalau tidak sadar bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan lawan, sungguh dia ingin menerjang masuk untuk membinasakan kedua jahanam itu.

Sementara itu terdengar suara gemerciknya air di dalam kamar, rupanya kedua orang itu sedang mencuci kaki.

Terdengar si orang she Sin lagi berkata.

"Bukanlah Suhu salah mata, sesungguhnya Hok-wi-piaukiok memang mempunyai kepandaian sejati, kalau tidak masakah namanya selama ini sedemikian disegani di provinsi-provinsi antarpantai. Besar kemungkinan keturunan mereka yang tidak becus, tidak mampu mewariskan kepandaian leluhur sendiri. Padahal Pi-sia-kiam-hoat dan Hoan-thian-ciang benar-benar sangat ternama di kalangan Bu-lim dan bukanlah omong kosong."

Muka Peng-ci sampai merah jengah dalam kegelapan demi mendengar orang mencerca "keturunan mereka yang tidak becus dan tidak mampu mewariskan kepandaian leluhur".

Diam-diam ia harus mengakui akan kebenaran ucapan lawan.

Sementara itu orang she Sin telah menyambung.

"Waktu kita hendak berangkat Suhu telah mengajarkan cara-cara mematahkan Pi-sia-kiam-hoat dan Hoan-thian-ciang pada kita, walaupun dalam waktu belasan hari saja sukar mempelajarinya dengan sempurna, tapi tampaknya ilmu pedang dan ilmu pukulan itu memang mempunyai kekuatan tersembunyi yang tidak mudah untuk dimainkan. Kau sendiri dapat memahami berapa banyak, Kiat-sute?"

"Ah, Suhu sendiri mengatakan bahwa sampai-sampai Lim Cin-lam sendiri pun tidak memahami intisari ilmu-ilmu pedang dan pukulan leluhurnya itu, maka aku pun malas untuk menyelaminya lebih mendalam,"

Sahut orang she Kiat.

"Eh, Sin-suko, sesudah Pui-suko berhasil menawan Lim Cin-lam dan istrinya, mengapa mereka tidak terus pulang ke Jing-sia, tapi membawanya ke Heng-san malah?"

"Pada waktu Lau Cing-hong mengadakan perayaan 'cuci tangan' nanti, tentu banyak tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai golongan akan hadir untuk mengucapkan selamat padanya. Sekarang Pui-suheng dan Uh-sute dapat membekuk pemimpin Hok-wi-piaukiok yang termasyhur, dengan sendirinya mereka ingin pamer sedikit di tengah perjamuan besar itu."

"Pui-suheng dan Uh-sute sih masih boleh, tapi Keh Jin-tat si keparat itu kutu busuk macam apa, masakah dia juga ada harganya untuk membual dan pamer di depan orang banyak?"

Kata orang she Kiat.

"Ada harganya atau tidak, habis siapa yang suruh kita menjadi saudara seperguruan dengan dia? Sudahlah, tidur saja!"

Sahut orang she Sin dengan tertawa.

"Dasar anak kura-kura!"

Terdengar orang she Kiat memaki.

Habis itu mendadak daun jendela dibuka olehnya.

Keruan Peng-ci terperanjat dan mengira jejaknya telah dipergoki.

Baru saja dia bermaksud lari, sekonyong-konyong "byuurrrr", kepalanya tersiram sebaskom air hangat, saking kagetnya hampir-hampir Peng-ci menjerit.

Syukurlah daun jendela itu lantas tertutup pula.

Menyusul pandangannya menjadi gelap, kiranya pelita di dalam kamar telah dipadamkan.

Belum lagi tenang perasaan Peng-ci, terasalah air menetes-netes dari atas kepala dan mukanya, baunya jangan ditanya.

Baru sekarang diketahuinya air itu adalah air kotor bekas air cuci kaki yang telah disiramkan oleh orang she Kiat sehingga dia basah kuyup, walaupun tidak disengaja, tapi Peng-ci sudah terhina.

Namun begitu ia menjadi girang malah sebab berita tentang ayah-ibunya telah diperoleh, jangankan cuma disiram air bekas cuci kaki, biarpun air kencing sekalipun takkan berhalangan baginya.

Suasana selanjutnya menjadi sunyi senyap, kalau dia lantas pergi saja khawatir didengar oleh kedua orang di dalam kamar.

Ia pikir biarlah tunggu sesudah mereka tidur dahulu.

Maka ia tetap duduk bersandar di dinding, di bawah jendela.

Selang tak lama, terdengarlah suara mendengkur yang sahut-menyahut di dalam kamar.

Perlahan-lahan barulah Peng-ci berdiri.

Tapi mendadak ia kaget dan cepat mendak ke bawah lagi ketika melihat sesuatu bayangan orang tersorot di atas jendela oleh cahaya bulan, bahkan daun jendela itu tampak tergoyang-goyang perlahan.

Sesudah ditunggu sejenak dan diperhatikan pula barulah Peng-ci tahu duduknya perkara, rupanya sesudah membuang air kotor tadi si orang she Kiat telah lupa memasang palang jendela sehingga daun jendela itu masih terbuka sedikit.

"Inilah kesempatan bagus untuk menuntut balas!"

Demikian pikir Peng-ci.

Segera ia melolos pedang patah yang terselip di pinggang itu, perlahan-lahan ia menolak daun jendela itu hingga terpentang, dengan gerakan "Leng-niau-hi-tiap" (kucing lincah menggoda kupu-kupu), dengan enteng sekali ia melompat masuk ke dalam kamar.

Dari sinar bulan yang remang-remang dapatlah dilihatnya dua dipan di kanan-kiri kamar itu tertidur dua orang.

Tatkala itu baru permulaan musim semi, nyamuk masih jarang-jarang, kelambu tempat tidur tidak terurai, maka dapat tertampak jelas seorang berbaring miring menghadap ke dinding, kepalanya rada botak.

Seorang lagi tidur telentang, alisnya tebal dan berewok pendek kaku.

Di tengah-tengah tempat tidur terdapat sebuah meja di mana tertaruh lima buntalan, di samping itu ada sebatang golok dan sebatang pedang.

Golok itu lantas dipegang Peng-ci, pikirnya.

"Sekali bacok satu nyawa, gampangnya seperti memotong sayur."

Dan baru saja goloknya hendak membacok ke leher si berewok, tiba-tiba terpikir lagi olehnya.

"Cara kubunuh mereka begini apakah perbuatan seorang kesatria? Kelak kalau aku sudah berhasil meyakinkan ilmu silat leluhur sendiri barulah akan kugunakan untuk menumpas kawanan bangsat Jing-sia-pay ini."

Maka dia batalkan maksudnya membunuh orang, ia kumpulkan golok, pedang dan kelima buntalan itu di atas meja depan jendela.

Dilihatnya di atas meja ada alat tulis, segera ia angkat pit (pensil) dan membasahi dengan sedikit tinta, lalu dia menulis di atas meja.

"Lim Peng-ci dari Hok-wi-piaukiok baru saja pesiar ke sini."

Selesai menulis, didengarnya suara mendengkur si berewok semakin keras.

Seketika timbul sifat kanak-kanaknya dan bermaksud mencoret-coret muka si berewok.

Tapi akhirnya ia dapat menahan maksud jahilnya itu, pikirnya.

"Jika dia sampai terjaga bangun, tentu celakalah aku!"

Begitulah perlahan-lahan ia melompat keluar jendela, ia selipkan golok dan pedang di pinggang sendiri, tiga buntalan itu digendongnya, setiap tangan membawa satu buntalan pula, lalu dengan langkah berjinjit-jinjit ia berjalan ke pekarangan belakang.

Sampai di kandang kuda, ia tuntun keluar seekor kuda yang paling tinggi besar, ia membuka pintu belakang dan keluar dari Piaukiok itu.

Setelah agak jauh meninggalkan Piaukiok barulah dia mencemplak ke atas kuda dan dilarikan ke pintu selatan.

Tatkala itu masih terlalu pagi, pintu kota belum dibuka.

Ia tuntun kudanya ke belakang sebuah gundukan tanah.

Di situlah ia pindahkan buntalan-buntalan yang digendongnya untuk digantungkan pada pelana kuda.

Khawatir kalau kedua orang Jing-sia-pay itu mengejarnya, hati Peng-ci menjadi berdebar-debar.

Syukurlah tidak lama kemudian fajar pun menyingsing, pintu kota telah dibuka, segera ia mencemplak ke atas kuda dan dilarikan keluar kota.

Sekaligus ia melarikan kudanya sejauh belasan li barulah merasa aman.

Lalu melambatkan kudanya.

Sejak meninggalkan kota Hokciu baru sekarang perasaannya terasa longgar.

Waktu melihat di tepi jalan ada sebuah warung makan, ia berhenti untuk sekadar menangsel perut.

Ia tidak berani berhenti terlalu lama, ia hanya makan semangkuk bakmi, lalu merogoh buntalan untuk mengambil uang.

Tapi ketika dikeluarkan, ia terperanjat.

Ternyata yang dirogoh keluar itu adalah sepotong lantakan emas.

Lekas-lekas ia masukkan lagi ke dalam buntalan dan meraba barang lainnya.

Akhirnya dapat dikeluarkan sepotong lantakan perak.

Ia gunakan pedang untuk memotong ujung lantakan perak itu guna membayar bakmi.

Tapi meski penjual bakmi itu telah mengumpulkan seluruh uang receh hasil jualannya juga masih belum cukup buat mengembalikan uang perak Peng-ci itu.

"Sudahlah, ambil semua!"

Kata Peng-ci dengan royal.

Sepanjang jalan dia telah kenyang dihina orang, baru sekaranglah untuk pertama kalinya dia pulih kembali sebagai juragan muda yang royal.

Setelah melanjutkan perjalanan beberapa puluh li lagi, sampailah dia di suatu kota besar.

Ia mencari suatu hotel dengan kamar yang terpilih.

Setelah menutup rapat pintu kamar, segera ia membuka kelima buntalan itu dan memeriksa isinya, ternyata seluruhnya terdiri dari emas perak, perhiasan batu permata.

Pada buntalan kelima isinya adalah sepasang kuda-kudaan buatan batu yade putih serta sepasang merak zamrud, semuanya sebesar belasan senti tingginya.

Sejak kecil dia sudah biasa melihat benda-benda mestika, namun kedua pasang kuda-kudaan dan merak-merakan itu membuatnya terpesona juga.

Ia pikir di kantor cabang Piaukiok tersimpan benda-benda berharga demikian, pantas juga kalau Jing-sia-pay mengincarnya.

Segera ia keluarkan sedikit pecahan perak untuk bekal, isi keempat buntalan tadi dia bungkus lagi menjadi satu dan digendongnya.

Ia pikir seekor kuda saja tidak cukup, sebaiknya beli lagi dua ekor kuda bagus agar dapat memburu perjalanan lebih cepat untuk mencari ayah-ibunya.

Begitulah ia lantas pergi ke pasar untuk membeli dua ekor kuda bagus, dengan tiga ekor kuda ia dapat bergantian menunggangnya tanpa berhenti.

Setiap hari ia hanya tidur dua-tiga jam saja, siang malam ia menempuh perjalanan secara nonstop.

Hari itu sampailah dia di Heng-san.

Begitu masuk kota, lantas melihat banyak sekali orang-orang Kangouw berlalu-lalang di jalanan.

Khawatir kalau ketemu dengan Pui Jin-ti dan rombongannya, Peng-ci berjalan dengan menunduk untuk mencari rumah penginapan.

Tak terduga beruntun-runtun tiga hotel yang didatangi selalu menyatakan kamar sudah penuh.

Terpaksa Peng-ci mencari ke jalan yang agak sepi, setelah mencari lagi beberapa tempat akhirnya barulah mendapatkan sebuah kamar sederhana di suatu hotel kecil.

Ia pikir agar tidak dikenali orang, paling baik kalau menyamar saja.

Maka datanglah ia ke rumah obat untuk membeli tiga helai koyok (obat tempel).

Dua helai ia tempelkan di ujung dahi sehingga kedua alisnya tertarik ke atas, lalu yang sehelai ditempel di atas pipi sehingga bibirnya tertarik sampai terbuka dan kelihatan giginya yang menyengir.

Ia coba bercermin, ia merasa rupanya sendiri jeleknya tak terkatakan, sampai dirinya sendiri juga merasa muak, jangankan orang lain.

Kemudian ia membungkus emas perak dan batu permata itu secara gepeng memanjang, lalu diikat rapat di punggungnya dan ditutup dengan baju luar, sedikit membengkok seketika jadilah dia seorang bungkuk yang punggungnya membungkuk.

"Dalam keadaan demikian, sekalipun ayah dan ibu juga takkan mengenali diriku lagi,"

Demikian ia merasa puas atas penyamarannya sendiri. Sesudah makan semangkuk bakmi, lalu ia keluar pesiar ke-pelosok-pelosok kota. Pikirnya.

"Paling baik kalau bisa memergoki ayah dan ibu, kalau tidak, asalkan bisa memperoleh sedikit kabar tentang orang-orang Jing-sia-pay tentu juga akan berfaedah bagiku."

Setelah berjalan ke sana kemari sampai setengah harian, tiba-tiba turun hujan gerimis.

Memang daerah selatan Oulam paling banyak air hujan, sekarang lagi permulaan musim semi, kalau sudah hujan terkadang sampai beberapa hari tidak berhenti-henti.

Peng-ci membeli sebuah caping bercat minyak di tepi jalan dan dipakai sebagai payung.

Hari mendung semakin gelap, tampaknya hujan takkan berhenti.

Ia coba membelok ke jalan sebelah sana, tiba-tiba dilihatnya sebuah rumah minum yang banyak berjubel-jubel para tamu.

Pada umumnya kalau rumah makan dan minum sampai penuh tetamu, soalnya cuma ada dua kemungkinan, yakni kalau bukan daharan yang dijualnya terkenal lezat, tentulah karena harganya murah.

Maka Peng-ci lantas masuk juga ke rumah minum itu, ia mencari suatu tempat kosong dan minta dibuatkan suatu poci teh enak, pelayan lantas membawakan pula satu piring kecil kuaci dan satu piring kacang goreng.

Setelah minum satu cangkir teh, selagi Peng-ci menyisil kuaci untuk menghilangkan rasa kesal, tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Bungkuk, kita duduk bersama ya?"

Dan tanpa menunggu jawaban Peng-ci, orang itu lantas duduk di sebelahnya, menyusul ada dua orang berduduk pula di samping.

Semula Peng-ci tidak mengira kalau yang diajak bicara oleh orang itu adalah dirinya.

Tapi segera teringat bahwa yang disebut "bungkuk"

Itu adalah dirinya. Maka cepat ia menjawab dengan ramah.

"Boleh, boleh! Silakan!"

Ia lihat ketiga orang itu semuanya berpakaian hitam, pinggang bergantungkan golok.

Ketiga laki-laki itu lantas minum teh dan mengobrol sendiri tanpa menggubris Peng-ci lagi.

Terdengar seorang di antaranya yang lebih muda mulai berkata.

"Peng-toako, kali ini Lau-samya mengadakan pesta 'Kim-bun-swe-jiu', tampaknya tidaklah sederhana cara merayakannya, lihat saja, waktunya masih tiga hari, tapi kota Heng-san ini sudah penuh dengan tamu-tamu yang akan memberi selamat padanya."

Kim-bun-swe-jiu, cuci tangan di baskom emas, maksudnya sebagai upacara menyatakan dirinya telah cuci tangan dan meninggalkan lapangan kerja yang pernah dilakukannya.

Maka seorang kawannya yang buta sebelah telah menjawab.

"Tentu saja. Heng-san-pay sendiri sudah cukup terkenal, ditambah lagi gabungan nama Ngo-gak-kiam-pay, sudah tentu pengaruhnya sangat besar di dunia persilatan, siapa orangnya yang tidak ingin bersahabat dengan mereka? Pula Lau Cing-hong, Lau-samya, sendiri juga seorang tokoh Kangouw terkemuka, dia punya 36 jurus 'Hwe-hong-lok-gan-kiam' terkenal sebagai jago kedua dari Heng-san-pay, dia hanya kalah setingkat daripada Ciangbunjin sendiri, yaitu Bok-taysiansing. Biasanya orang ingin bersahabat dengan dia, tapi tiada kesempatan. Sekarang dia mengadakan pesta 'cuci tangan', dengan sendirinya orang-orang gagah dari Bu-lim sama berkumpul di sini, kukira besok suasana kota tentu akan lebih ramai daripada sekarang."

"Tapi jika dikatakan semua orang datang buat menyatakan persahabatan dengan Lau Cing-hong, kukira juga tidak tepat seluruhnya, misalnya tujuan kedatangan kita bertiga kan tidak demikian maksudnya, bukan?"

Ujar kawannya lagi yang berjenggot putih.

"Padahal orang yang menyatakan 'cuci tangan', artinya sejak kini di dunia Kangouw takkan terdapat lagi tokoh seperti dia. Jika sudah demikian, biarpun ilmu silatnya setinggi langit juga tiada gunanya lagi. Buat apa orang lain mesti mendekati dia dan menyatakan persahabatan segala?"

"Soalnya bukan begitu, Peng-toako,"

Kata yang muda.

"Walaupun resminya Lau-samya sudah 'cuci tangan', tapi apa pun juga, dia adalah tokoh nomor dua dari Heng-san-pay, siapa-siapa yang bersahabat dengan Lau-samya akan berarti bersahabat dengan Heng-san-pay dan berarti pula bersahabat dengan Ngo-gak-kiam-pay!"

"Ngo-gak-kiam-pay? Hm, apakah kau memenuhi syarat?"

Ejek si jenggot putih she Peng.

"Bukan demikian soalnya, Peng-toako,"

Si buta juga menyanggah.

"Sesama orang Kangouw, apa jeleknya kalau bisa tambah seorang sahabat. Biarpun ilmu silat Ngo-gak-kiam-pay teramat tinggi, tapi rasanya mereka tidak sampai memandang rendah pada pihak lain. Sebab kalau mereka itu merasa angkuh dan sombong, masakan sekarang ada sekian banyak tetamu yang datang memberi selamat padanya?"

"Hm,"

Si jenggot putih mendengus, selang sejenak barulah ia berkata dengan suara perlahan.

"Sebagian besar adalah manusia-manusia penjilat belaka, bila melihat mereka hatiku lantas gemas!"

Mestinya Peng-ci ingin ketiga orang itu mengobrol lebih banyak tentang Ngo-gak-kiam-pay, tak terduga pembicaraan mereka ternyata tidak sepaham sehingga tidak dilanjutkan.

Bila teringat kepada si nona burik yang pernah memaksanya minum arak berbisa itu, diam-diam Peng-ci membatin.

"Ya, apa yang dikatakan si jenggot putih ini memang betul juga. Seperti Jing-sia-pay dan Hoa-san-pay, bukankah mereka adalah setali tiga uang? Apalagi Ngo-gak-kiam-pay segala? Huh, gagak sama hitamnya, kukira mereka juga bukan manusia baik-baik."

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar ada orang bicara dengan suara perlahan di bagian belakang.

"Ong-jicek, kabarnya usia Lau-samya dari Heng-san-pay itu baru 50-an tahun, ilmu silatnya seharusnya lagi meningkat ke puncaknya, mengapa mendadak 'cuci tangan' segala? Bukankah percuma saja kegiatannya selama ini?"

"Banyak sekali alasannya bagi orang Bu-lim yang cuci tangan pada usia masih muda,"

Sahut seorang tua.

"Jika seorang bandit besar dari kalangan Hek-to merasa sudah terlalu banyak berdosa, setelah 'cuci tangan' berarti dia telah meninggalkan perbuatan membegal dan membunuh, ini namanya kembali ke jalan yang bajik, sedikitnya akan meninggalkan nama baik bagi anak-cucunya, pula dapat menghindarkan tuduhan andaikan terjadi lagi sesuatu perkara besar di tempat kediamannya. Tapi keluarga Lau turun-temurun sudah terkenal kaya raya, sudah tentu hal ini tidak ada hubungannya dengan dia. Lain soal lagi adalah untuk menghindari permusuhan lebih jauh, misalnya Lau-samya mengumumkan di depan tamu-tamu undangannya bahwa sejak kini ia telah 'cuci tangan' dan tidak main senjata lagi, itu berarti musuh-musuhnya boleh tak usah khawatir akan dituntut balas lagi olehnya, sebaliknya juga diharapkan musuh-musuh itu tidak datang mencari perkara lagi padanya."

"Ong-jicek, kukira cara demikian akan merugikan dia sendiri,"

Ujar si orang muda.

"Rugi apa?"

Ong-jicek, paman kedua Ong, bertanya.

"Lau-samya boleh menyatakan takkan menuntut balas lagi, tapi orang lain toh setiap saat dapat mencari perkara padanya?"

Ujar si orang muda.

"Jika orang hendak membunuhnya dan karena dia sudah menyatakan takkan bermain senjata lagi bukankah dia akan terima disembelih orang sesukanya?"

"Kau ini memang hijau pelonco,"

Omel paman Ong itu.

"Jika orang hendak membunuh kau, apakah kau terima saja dan takkan membela diri? Padahal tokoh semacam Lau-samya dengan Heng-san-pay yang begitu besar pengaruhnya, kalau dia tidak merecoki orang lain saja sudah untung, masakah ada orang lain berani mencari perkara padanya?"

Tiba-tiba si jenggot putih yang duduk di depan Peng-ci itu menggumam sendiri.

"Ah, yang pandai ada yang lebih pandai, siapa yang berani mengaku paling jempolan?"

Karena ucapannya itu perlahan, kedua orang di meja belakang itu tidak mendengarnya. Terdengar orang yang dipanggil Ong-jicek itu berkata pula.

"Umpamanya ada pengusaha Piaukiok yang telah cukup mengeduk keuntungan, kalau dia bisa tahu batas dan mengundurkan diri pada waktunya, cuci tangan saja daripada adu nyawa dengan senjata, cara demikian boleh dikata cukup cerdik. Cuma Lau-samya sendiri toh bukan Piausu, pula tidak menjadi bandit. Sudah tentu lain soalnya."

Hati Peng-ci tergetar mendengar ucapan orang itu. Pikirnya.

"Apa yang dia maksudkan ialah kakek-besarku? Jika kakek-besarku tahu batas dan mencuci tangan pada waktunya yang tepat, lantas bagaimana jadinya?"

Pada saat itu, sekonyong-konyong seorang laki-laki setengah umur di meja pojok kiri sana telah berkata.

"Beberapa hari yang lalu di Bu-han aku telah mendengar cerita dari kawan Bu-lim, katanya sebabnya Lau-samya mencuci tangan dan mengundurkan diri dari Bu-lim sesungguhnya mempunyai alasannya sendiri yang sukar diterangkan."

"Bagaimana cerita kawan-kawan Bu-lim di sana? Apakah sobat ini dapat memberi penjelasan?"

Si mata satu bertanya sambil menoleh.

"Ah, penyakit kebanyakan datang dari mulut, urusan begini hanya boleh dibicarakan di kota Bu-han, berada di kota Heng-san sini tidak boleh lagi sembarangan diceritakan,"

Sahut orang itu dengan tertawa. Mendadak seorang pendek gemuk dengan suara kasar lantas menanggapi.

"Ala, tidak kau katakan juga banyak orang sudah tahu. Kabarnya karena ilmu silat Lau-samya terlalu tinggi, orangnya suka bersahabat, makanya terpaksa Kim-bun-swe-jiu. Mungkin orang lain akan merasa heran, akan tetapi bagi yang tahu latar belakangnya tentu tidak perlu heran lagi."

Karena suaranya sangat keras, maka pandangan semua orang sama dipusatkan ke arahnya. Beberapa orang di antaranya lantas tanya.

"Mengapa ilmu silatnya tinggi dan orangnya suka bersahabat berbalik mesti cuci tangan dan mengundurkan diri dari Bu-lim? Bukankah ini terlalu aneh? Apa sih latar belakangnya?"

Akan tetapi si pendek gemuk hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

"Ah, buat apa kalian tanya padanya?"

Tiba-tiba seorang kurus di meja sebelah menyela dengan nada mengejek.

"Padahal dia sendiri pun tidak tahu, dia hanya omong kosong saja."

Rupanya si pendek gemuk tidak tahan olok-olok itu, teriaknya kasar.

"Siapa bilang aku tidak tahu? Sebabnya Lau-samya mengundurkan diri adalah demi kebaikan orang banyak agar tidak terjadi pertengkaran di dalam Heng-san-pay sendiri."

"Pertengkaran apa?"

"Masakan di antara saudara seperguruan Heng-san-pay mereka juga terjadi percekcokan?"

Demikian beramai-ramai orang banyak menegas. Si pendek gemuk sengaja jual mahal, ia melirik hina kepada si kurus tadi. Kemudian menjawab.

"Meski orang luar mengatakan Lau-samya adalah jago nomor dua dari Heng-san-pay, tapi setiap orang Heng-san-pay sendiri cukup tahu bahwa ke-36 jurus 'Hwe-hong-lok-gan-kiam' (ilmu pedang angin puyuh menjatuhkan belibis) Lau-samya sebenarnya sudah jauh lebih tinggi daripada Ciangbunjin mereka, yaitu Bok-taysiansing. Bahwasanya sekali tusuk pedang Bok-taysiansing dapat menjatuhkan 3 ekor belibis, tapi pedang Lau-samya sekali tusuk dapat menjatuhkan 5 ekor. Malahan anak murid Lau-samya rata-rata juga lebih pandai daripada murid Bok-taysiansing. Keadaan sekarang saja sudah begitu, lewat beberapa tahun lagi pengaruh Bok-taysiansing tentu akan kalah besar daripada Lau-samya. Konon kedua pihak diam-diam sudah pernah bentrok. Harta milik keluarga Lau cukup besar, Lau-samya tidak sudi berebut nama kosong dengan Suheng sendiri, makanya lebih suka 'cuci tangan' saja untuk menikmati hari tua di rumah sendiri."

"O, kiranya demikian. Sungguh bijaksana sekali Lau-samya itu,"

Ujar beberapa orang peminum teh. Lantas ada pula yang berkata.

"Ya, tindakan ini terang salahnya Bok-taysiansing, setelah Lau-samya mengundurkan diri, bukankah berarti melemahkan kekuatan Heng-san-pay sendiri?"

"Segala urusan di dunia ini mana ada yang sempurna, asalkan kedudukanku sebagai Ciangbunjin aman tenteram, peduli apa dengan lemah atau kuat golongannya sendiri?"

Jengek laki-laki setengah umur berbaju sutera tadi. Dalam pada itu si pendek gemuk telah menghabiskan tehnya, lalu ketok-ketok poci di atas meja sambil berseru.

"Tambah air lagi! Lekas!"

Lalu ia menyambung uraiannya.

"Maka dari itu, peristiwa ini terang adalah urusan penting Heng-san-pay sendiri, dari golongan lain sudah banyak yang datang buat mengucapkan selamat, sebaliknya orang Heng-san-pay sendiri ...."

Baru sampai di sini, tiba-tiba di ambang pintu bergemalah suara orang bernyanyi dalam lakon drama opera diiringi suara rebab yang digesek dengan nada yang panjang.

Lagunya sedih mengharukan.

Waktu semua orang berpaling, tertampaklah di samping meja tempel panjang dekat pintu itu berduduk seorang tua tinggi kurus, mukanya cekung, berbaju hijau panjang yang sudah luntur, jelas seorang tua miskin tukang minta-minta.

"Hus, membisingkan telinga seperti jeritan setan. Mengganggu orang bicara saja!"

Bentak si pendek gemuk. Seketika orang tua itu merendahkan suara rebabnya, tapi masih bernyanyi-nyanyi kecil meneruskan lagu dramanya yang mengharukan itu.

"Sobat, tadi kau bilang orang-orang Heng-san-pay bagaimana?"

Demikian seorang lantas bertanya kepada si pendek gemuk.

"Kumaksudkan selain anak murid Lau-samya sendiri yang sibuk menerima tamu, apakah kalian ada melihat anak murid Heng-san-pay yang lain di kota ini?"

Jawab si buntak. Untuk sejenak semua orang saling pandang-memandang lalu berkata.

"Ya, memang, seorang pun tidak tampak."

"Maka dari itu, kubilang kalian ini janganlah takut, biarpun kita membicarakan urusan Heng-san-pay toh takkan didengar oleh mereka,"

Sela laki-laki setengah umur berbaju sutera tadi. Pada saat itulah mendadak suara rebab si orang tua tadi digesek keras sehingga nadanya meninggi, lalu orang tua itu pun menyanyi dengan lebih lantang.

"Ah, hanya mengacau saja! Ini, ambillah!"

Bentak si orang muda sambil mengayun sebelah tangannya.

"Plok" , serenceng uang tembaga tepat jatuh di atas meja di depan si orang tua. Sambil mengucapkan terima kasih orang tua itu memasukkan uang tembaga itu ke dalam bajunya, tapi ternyata tidak berlalu dari situ. Dalam pada itu si pendek gemuk telah memuji.

"Wah, kiranya saudara muda ini adalah ahli senjata rahasia, timpukanmu barusan ini boleh juga!"

Si orang muda tertawa senang, sahutnya.

"Ah, permainan kecil saja! Eh, menurut uraian Toako tadi, jadi Bok-taysiansing juga takkan datang ke Heng-san sini?"

"Mana dia mau datang kemari?"

Sahut si buntak.

"Bok-taysiansing dan Lau-samya boleh dikata sudah mirip api dan air, bila bertemu tentu akan main senjata. Jika sekarang Lau-samya mau mengalah padanya, sepantasnya dia harus merasa puas."

Tiba-tiba si orang tua tadi bangkit, perlahan-lahan ia mendekati si pendek gemuk dan memandangnya dari sisi kanan dan sisi kiri.

"Kurang ajar! Kau mau apa, tua bangka?"

Bentak si buntak dengan gusar.

"Kau ngaco-belo!"

Sahut si orang tua sambil geleng-geleng kepala.

Lalu putar tubuh hendak menyingkir.

Si buntak menjadi murka, segera punggung orang tua itu hendak dicengkeramnya.

Tapi mendadak matanya menjadi silau, sinar hijau berkelebat, sebatang pedang tipis telah menyambar ke permukaan meja, berbareng terdengarlah suara "tring-tring"

Beberapa kali.

Dengan kaget si buntak lantas melompat mundur, khawatir kalau-kalau pedang orang bersarang di tubuhnya.

Tapi lantas tertampak orang tua itu sudah memasukkan kembali pedangnya ke dalam rebabnya sehingga lenyap seluruhnya.

Kiranya pedang orang tua itu tersimpan di dalam rebab, batang pedang menembus melalui badan rebab sehingga dilihat dari luar siapa pun tidak tahu bahwa di dalam rebab yang sudah tua itu tersembunyi senjata yang lihai.

Lalu si orang tua menggeleng kepala dan berkata pula.

"Kau ngaco-belo belaka!"

Habis itu perlahan-lahan ia lantas tinggalkan rumah minum diiringi pandangan semua orang sampai bayangannya menghilang di tengah hujan.

Menyusul suara rebab yang sedih merawankan hati sayup-sayup terdengar lagi dari jauh.

"Hahh! Lihatlah kalian!"

Demikian mendadak ada orang berseru kaget.

Waktu semua orang memandang ke arah yang ditunjuk, kiranya tujuh buah cangkir teh yang terletak di atas meja si pendek gemuk tadi, setiap cangkir itu sudah tertebas putus setinggi dua senti.

Tujuh buah cincin porselen jatuh di samping cangkir, tapi cangkir teh itu sebuah pun tidak jatuh atau pecah.

Bab 9.

Suara Rebab Bok-taysiansing Mengejutkan Orang Banyak Melihat keadaan yang luar biasa itu, serentak beberapa puluh orang yang berada di rumah minum itu berkerumun maju dan beramai-ramai membicarakan kelihaian ilmu pedang orang tua itu.

Segera seorang di antaranya berkata kepada si pendek buntak tadi.

"Untunglah tuan tua itu bermurah hati, kalau tidak buah kepalamu tentu sudah berpisah dengan tubuhmu seperti cawan ini."

Tapi seorang lagi lantas menanggapi.

"Ah, kukira seorang kosen seperti Losiansing ini tentu sungkan untuk berurusan dengan orang kecil sebagai kita."

Dalam pada itu si pendek gemuk hanya termangu-mangu saja memandangi ketujuh cawan kutung itu, wajahnya pucat sebagai mayat, apa yang dibicarakan orang-orang itu hakikatnya tidak masuk ke dalam telinganya.

Si lelaki berbaju sutera tadi lantas berkata.

"Nah, apa kataku tadi? Penyakit kebanyakan timbul dari mulut, tapi kau masih suka mencerocos saja. Di kota Heng-san sekarang entah terdapat berapa banyak orang kosen. Seperti orang tua barusan ini tentu adalah sahabat baik Bok-taysiansing, karena kau sembarangan mengoceh tentang Bok-taysiansing, maka dia sengaja memberi sedikit ajaran padamu."

"Huh, sobat baik Bok-taysiansing apa? Justru dia sendiri adalah 'Siau-siang-ya-uh' Bok-taysiansing!"

Demikian tiba-tiba si jenggot putih she Pang tadi menjengek. Kembali semua orang terkejut.

"Apa katamu? Dia ... dia sendiri adalah Bok-taysiansing? Da ... dari mana kau tahu?"

Beramai-ramai mereka menegas.

"Sudah tentu aku tahu,"

Sahut si jenggot putih.

"Bok-taysiansing suka main rebab, dia punya lagu 'Siau-siang-ya-uh' (hujan gerimis di waktu malam) sedemikian bagus dan mengharukan sehingga membuat pendengarnya dapat mengucurkan air mata. 'Di dalam rebab tersimpan pedang, pedang mengeluarkan suara rebab', kata-kata ini adalah gambaran ilmu silat yang dimiliki Bok-taysiansing, kalian sudah berada di kota Heng-san, masakah kalian tidak tahu hal ini? Tadi saudara itu mengatakan Lau-samya sekali tusuk pedangnya dapat menjatuhkan lima ekor belibis dan Bok-taysiansing cuma dapat tiga ekor. Sekarang dia sengaja menebas tujuh cawan sekaligus agar kalian tahu. Makanya dia mendamprat saudara itu ngaco-belo belaka."

Rupanya si pendek gemuk masih belum tenang kembali dari rasa kejutnya tadi, dia menunduk dan tak berani menjawab.

Lekas-lekas si lelaki berbaju sutera membayar rekening dan menarik kawannya meninggalkan rumah minum itu.

Semua orang menjadi ngeri juga sesudah menyaksikan 'Siau-siang-ya-uh' Bok-taysiansing memperlihatkan kepandaian saktinya yang mengejutkan itu.

Ketika si pendek gemuk memuji-muji Lau Cing-hong dan mengolok-olok Bok-taysiansing tadi, sedikit banyak mereka pun memberi suara setuju, jangan-jangan lantaran itu akan menimbulkan bencana bagi dirinya sendiri.

Maka demi tampak si baju sutera menarik pergi si pendek gemuk, segera mereka pun beramai-ramai membayar rekening, dalam sekejap saja rumah minum yang tadi penuh sesak itu lantas menjadi sepi.

Diam-diam Peng-ci membatin sambil memandangi tujuh cawan dengan tujuh cincin kutungannya yang terletak di atas meja itu.

"Sekali tebas saja orang itu dapat memotong tujuh buah cawan, jika aku tidak keluar dari Hokciu tentu tidak tahu bahwa di dunia ini ternyata ada orang yang sedemikian lihainya. Aku benar-benar seperti katak di dalam sumur yang tidak tahu luasnya jagat ini, tadinya kukira orang yang paling lihai di dunia ini juga tidak lebih hebat daripada ayahku. Ai, jika aku dapat berguru kepada orang kosen ini dan belajar dengan giat, mungkinlah aku dapat membalas sakit hatiku. Kalau tidak, selama hidup ini tentu tiada harapan buat menuntut balas lagi."

Kemudian terpikir pula olehnya.

"Mengapa aku tidak pergi mencari Bok-taysiansing itu dan mohon dengan sangat agar beliau mau menolong ayah-bundaku serta menerima aku sebagai murid?"

Begitulah serentak ia berbangkit hendak berangkat. Tapi mendadak terpikir lagi.

"Dia adalah Ciangbunjin dari Heng-san-pay, agaknya Ngo-gak-kiam-pay setali tiga uang saja dengan Jing-sia-pay, masakan dia sudi membela seorang yang tak pernah dikenalnya untuk bercekcok dengan kawan sendiri?"

Berpikir demikian ia menjadi lemas dan duduk kembali dengan lesu. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang nyaring merdu sedang berkata.

"Jisuko, hujan ini tidak berhenti-henti, bajuku sampai basah kuyup. Marilah kita minum teh dulu di sini."

Seketika Peng-ci terkesiap, suara itu dikenalnya sebagai suara si nona penjual arak di luar kota Hokciu itu.

Cepat ia lantas menundukkan kepala lebih rendah supaya tidak dikenali orang.

Maka terdengarlah suara seorang tua menjawab.

"Baiklah, kita minum satu cangkir teh hangat untuk membuat panas perut."

Lalu masuklah dua orang ke dalam rumah minum itu dan mengambil tempat duduk di sebelah muka-samping Peng-ci.

Ketika Peng-ci meliriknya, benar juga dilihatnya si nona penjual arak itu berpakaian hijau berduduk membelakangi dirinya, di sebelahnya duduk orang tua yang mengaku she Sat dan menyaru sebagai kakek si nona.

Diam-diam Peng-ci mendongkol, pikirnya.

"Rupanya kalian berdua adalah saudara seperguruan, tapi sengaja menyaru sebagai kakek dan cucu untuk melakukan sesuatu muslihat keji di Hokciu. Dasar mataku sudah buta, masakah secara ngawur membela dua orang ini sehingga keluargaku sendiri berantakan tak keruan, bahkan jiwaku sendiri hampir-hampir melayang."

Dalam pada itu pelayan telah membersihkan meja kedua orang itu dan membawakan teh baru.

Sekilas si kakek melihat di atas meja sebelah terdapat tujuh buah cawan yang cuma tinggal setengah potong.

Ia bersuara kaget dan berkata kepada sang Sumoay.

"Lihatlah, Siausumoay!"

Nona burik itu pun terkejut. Katanya.

"Ya, hebat benar kepandaian ini, siapakah yang mampu sekali tebas dapat memotong tujuh buah cangkir?"

Ia lihat di dalam rumah minum itu selain Peng-ci hanya ada dua orang lagi yang sedang mengantuk sambil mendekap kepala di atas meja.

Mestinya ia hendak tanya Peng-ci, tapi kelihatan Peng-ci menghadap keluar seperti sedang merenungkan sesuatu, maka ia urung bertanya.

"Siausumoay, coba aku akan menguji kau,"

Demikian si kakek berbisik-bisik pula.

"Sekali tebas tujuh gerakan, tujuh buah cangkir ini siapakah yang memotongnya?"

"Aku toh tidak menyaksikan, dari mana tahu ...."

Demikian omel si nona. Tapi mendadak ia berseru sambil tertawa.

"Aha, tahulah aku! Tiga puluh enam jurus Hwe-hong-lok-gan-kiam, pada jurus ke-17 dengan gaya berantai sekaligus tujuh menjatuhkan sembilan ekor burung belibis. Tentu ini adalah perbuatan ... 'Siau-siang-ya-uh' Bok-taysiansing!"

Sekonyong-konyong bergemuruhlah suara tertawa beberapa orang, semuanya berseru.

"Tajam benar pandangan Siausumoay!"

Peng-ci sampai terkejut dan heran, dari manakah mendadak muncul orang sebanyak ini?

Waktu ia melirik, ternyata dua orang yang sedang mengantuk tadi juga sudah berbangkit.

Selain itu ada lima orang lagi tampak muncul dari ruangan dalam rumah minum, ada yang berdandan sebagai kuli, ada yang membawa Swipoa seperti pedagang kecil, ada pula yang membawa seekor kera kecil di atas pundaknya seperti pengamen topeng monyet.

"Aha, kiranya serombongan kaum gelandangan bersembunyi di sini sehingga membikin kaget padaku!"

Seru si nona burik dengan tertawa.

"He, di manakah Toasuko?"

"Baru bertemu mengapa sudah memaki kami sebagai kaum gelandangan?"

Omel si pemain kera.

"Habis main sembunyi-sembunyi, kan sama seperti perbuatan kaum gelandangan Kangouw yang rendah?"

Sahut si nona dengan tertawa.

"Di manakah Toasuko, mengapa tiada bersama kalian?"

"Tidak tanya soal lain, yang ditanya hanya Toasuko melulu,"

Ujar si pemain kera dengan tertawa.

"Baru saja bicara tiga kalimat, dua kalimat di antaranya berturut-turut menanyakan diri Toasuko. Aneh, mengapa tidak tanya tentang diri Laksuko (kakak-guru keenam) saja?"

"Fui, kau si monyet ini kan baik-baik saja berada di sini, tidak mampus dan tidak sekarat, buat apa bertanya tentang dirimu?"

Sahut si nona dengan uring-uringan.

"Haha, dan Toasuko toh juga tidak mampus dan tidak sekarat, mengapa kau menanyakan dia?"

Kata si pemain monyet dengan tertawa menggoda.

"Sudahlah, aku tak mau bicara padamu,"

Omel si nona.

"Eh, Sisuko (kakak guru keempat), hanya engkau saja orang yang baik. Di manakah Toasuko?"

Belum lagi orang yang berdandan sebagai kuli itu menjawab, beberapa orang kawannya sudah lantas tertawa dan berkata.

"Hanya Sisuko saja orang baik, jadi kami ini adalah orang busuk semua? Losi, jangan katakan padanya."

"Tidak katakan ya sudah, memangnya aku kepingin?"

Omel si nona dengan mendongkol.

"Kalian tidak mau bicara, maka aku pun tidak mau menceritakan pengalaman anehku dengan Jisuko dalam perjalanan kami."

Lelaki yang berdandan sebagai kuli itu sejak semula tidak berkelakar dengan si nona, rupanya dia seorang yang jujur dan pendiam, baru sekarang dia membuka suara.

"Kemarin kami baru saja berpisah dengan Toasuko di kota Heng-yang, dia suruh kami berangkat lebih dulu. Saat ini besar kemungkinan mabuknya juga sudah sadar dan dapatlah menyusul kemari."

"Kembali dia minum sampai mabuk?"

Si nona menegas sambil mengerut kening. Orang yang berdandan sebagai kuli itu mengiakan. Sedangkan orang yang membawa Swipoa lantas berkata.

"Sekali ini dia benar-benar minum dengan sepuas-puasnya, dari pagi minum sampai siang, dari siang minum lagi hingga petang, kukira paling sedikit juga ada dua-tiga puluh kati arak bagus yang masuk ke dalam perutnya."

"Cara minum begitu apa takkan merusak kesehatannya? Mengapa kalian tidak menasihati dia?"

Omel si nona. Orang yang membawa Swipoa itu meleletkan lidahnya, lalu berkata.

"Toasuko mau terima nasihat orang? Haha, tunggu nanti jika matahari sudah terbit dari barat! Ya, kecuali Siausumoay yang menasihati dia, mungkin dia mau mengurangi sedikit minumannya itu."

Maka tertawalah semua orang. Segera si nona berkata pula.

"Mengapa dia minum besar-besaran? Apakah dia mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan lagi?"

"Pertanyaan ini harus diajukan kepada Toasuko sendiri,"

Ujar orang yang membawa Swipoa.

"Besar kemungkinan dia mengetahui akan bertemu dengan Siausumoay di sini, saking senangnya dia terus minum besar-besaran."

"Ngaco-belo!"

Semprot si nona. Namun tidak urung kelihatan rada senang. Lalu katanya pula.

"Dari mana kalian mengetahui aku dan Jisuko akan datang ke sini? Kalian toh bukan malaikat dewata."

"Kami memang bukan malaikat dewata, tapi Toasuko adalah malaikat dewata,"

Kata si pemain monyet dengan tertawa. Mendengar kelakar sesama saudara seperguruan itu, diam-diam Peng-ci merasa heran, pikirnya.

"Dari pembicaraan mereka, agaknya nona itu menaruh hati kepada Toasuhengnya. Namun Jisuhengnya saja sudah begitu tua, tentu Toasuheng lebih-lebih tua lagi. Padahal usia nona ini paling-paling cuma 16-17 tahun, masakah dia mencintai seorang kakek-kakek berusia lanjut?"

Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Ya, tentulah nona ini merasa mukanya sendiri burik dan jelek, terpaksa ia mencintai seorang tua yang sudah duda. Hm, dasar nona ini memang berhati buruk, katanya Toasuhengnya juga seorang pemabuk, mereka benar-benar setimpal satu sama lain."

Dalam pada itu si nona burik telah bertanya pula.

"Apakah kemarin pagi-pagi Toasuheng sudah lantas minum arak?"

Si pemain monyet itu menjawab.

"Kalau tidak dijelaskan, tentu kau masih terus bertanya. Kejadiannya adalah begini. kemarin pagi-pagi waktu kami berdelapan hendak berangkat, tiba-tiba Toasuko mengendus bau arak yang harum, seketika ia celingukan ke sana kemari, akhirnya dilihatnya seorang pengemis sedang menenggak arak dari sebuah Houlo (buli-buli dari sejenis buah labu) besar. Seketika Toasuko ketagihan arak, ia coba maju mengobrol dengan si pengemis dan memuji araknya sangat harum, ditanyanya pula arak apakah itu? "

Si pengemis menjawab, 'Ini adalah arak kera!' "'Kok aneh namanya arak kera?' tanya Toasuko.

Maka pengemis itu menerangkan bahwa di tengah hutan pegunungan Oulam barat ada kawanan kera yang mahir membuat arak dari buah-buahan, araknya sangat enak, kebetulan pengemis itu memergoki simpanan arak itu kawanan kera kebetulan tidak ada, segera ia mencuri tiga buli-buli arak, bahkan menangkap pula seekor monyet kecil.

Nah inilah dia!"

Ia mengakhiri ceritanya sambil menunjuk kera yang hinggap di atas pundaknya. Pinggang binatang itu terikat oleh seutas tali yang digandeng di atas lengannya, gerak-geriknya sangat jenaka.

"Lak-suko,"

Kata si nona sambil memandangi kera itu dengan tertawa.

"pantas kau berjuluk 'Lak-kau-ji' (si kera keenam), tampaknya kau dan binatang cilik ini akrab benar seperti saudara sekandung."

"Bukan, kami bukan saudara sekandung, tapi saudara seperguruan,"

Sahut si pemain monyet dengan menarik muka.

"Binatang cilik ini adalah Sukoku, aku Sutenya."

Serentak bergelak tertawalah semua orang. Si nona juga tertawa sambil mengomel.

"Awas, secara berputar kau memaki Toasuko sebagai monyet, biarlah akan kulaporkan padanya kalau kau ingin dihajar dengan beberapa bogem mentah!"

Lalu ia tanya pula.

"Dan cara bagaimana saudaramu ini sampai di tanganmu?"

"Saudaraku? O, apakah kau maksudkan binatang cilik ini?"

Si pemain monyet alias Lak-kau-ji menegas.

"Wah, panjang sekali kalau diceritakan dan memusingkan kepala saja."

"Tidak kau ceritakan juga aku dapat menerka,"

Ujar si nona dengan tertawa.

"Tentulah Toasuko telah menyerahkan monyet ini padamu supaya kau mendidiknya untuk membuatkan arak bagi Toasuko, bukan?"

"I ... iya ... tepat sekali kau menerka,"

Sahut Lak-kau-ji.

"Toasuko memang suka main-main dengan urusan yang aneh-aneh,"

Kata si nona.

"Di gunung barulah monyet dapat membuat arak, kalau sudah ditangkap orang masakah mampu membuat arak lagi?"

Sesudah merandek sejenak kemudian ia menyambung pula.

"Kalau tidak, masa selama ini Lak-kau-ji kita tidak pernah membuat arak?"

"Sumoay, janganlah kurang ajar kepada Suheng, ya!"

Mendadak Lak-kau-ji berlagak marah.

"Aduuh, baru sekarang berlagak kereng sebagai Suheng,"

Sahut si nona dengan tertawa.

"Eh, Lak-suko, ceritamu belum selesai. Coba teruskan, cara bagaimana sampai Toasuko minum arak terus-menerus siang dan malam?"

"Begini,"

Tutur Lak-kau-ji.

"Waktu itu sama sekali Toasuko tidak pikirkan kotor atau tidak, dia terus minta arak kepada pengemis itu. Padahal, idiih! Daki di badan pengemis sedikitnya ada tiga senti tebalnya, kutu berkeliaran di atas bajunya, ingusnya meleleh menjijikkan, besar kemungkinan di dalam buli-buli araknya itu sudah banyak bercampur dengan ludah riaknya ...."

Si nona menjadi ikut-ikutan jijik, ia mengerut kening dan menutup hidung, katanya.

"Sudahlah, jangan dibicarakan lagi, membikin orang muak saja."

"Kau muak, tapi Toasuko justru tidak muak,"

Ujar Lak-kau-ji.

"Malahan waktu si pengemis menolak permintaannya, segera Toasuko mengeluarkan tiga tahil perak, katanya bayar tiga tahil perak hanya untuk minum satu ceguk saja."

"Cis, dasar rakus!"

Omel si nona dengan mendongkol dan geli pula.

"Karena itu barulah si pengemis meluluskan permintaan Toasuko. Sesudah menerima uang ia berkata, 'Baiklah, kita berjanji hanya satu ceguk saja dan tidak lebih!' Toasuko menjawab, 'Ya, sudah janji satu ceguk sudah tentu satu ceguk kalau lebih bayar lagi nanti!' Siapa duga, begitu buli-buli itu menempel mulut Toasuko, isi buli-buli itu lantas seperti dituang ke dalam tenggorokannya, sekaligus ia telah habiskan sisa arak yang lebih dari setengah buli-buli itu tanpa ganti napas.

"Kiranya Toasuko telah menggunakan 'Kun-goan-it-ki-kang' ajaran Suhu yang hebat itu sehingga tanpa ganti napas sekaligus ia telah hirup habis seluruh isi buli-buli. Coba kalau Siausumoay waktu itu ikut berada di sana, tentu kau pun akan kagum tak terkatakan menyaksikan ilmu sakti Toasuko yang sedemikian hebatnya itu."

Saking geli si nona tertawa terpingkal-pingkal, katanya.

"Dasar mulutmu memang kotor, sedemikian caranya kau melukiskan kerakusan Toasuko."

"Habis memang begitu sih, kelakuannya,"

Sahut Lak-kau-ji dengan tertawa.

"Sekali-kali aku tidak membual, para Suheng dan Sute ikut menjadi saksi. Boleh kau tanya mereka apakah Toasuko tidak menggunakan 'Kun-goan-it-ki-kang' untuk menenggak arak kera itu."

"Ya, Siausumoay, sesungguhnya memang begitu,"

Kata beberapa orang Suhengnya. Si nona menghela napas, katanya setengah menggumam.

"Alangkah sukarnya ilmu itu, kita tak dapat mempelajari semua, hanya dia seorang yang dapat, tapi dia justru menggunakannya untuk menipu arak si pengemis."

Nadanya menyesalkan tapi juga mengandung rasa memuji.

"Karena araknya dihabiskan Toasuko, dengan sendirinya pengemis itu tidak mau terima,"

Demikian Lak-kau-ji menyambung.

"Dia pegang baju Toasuko sambil berteriak-teriak, 'Katanya sudah janji hanya minum satu ceguk, kenapa sekarang seluruh isi Houlo dihabiskan!' Tapi Toasuko telah menjawab dengan tertawa, 'Ya aku memang benar-benar cuma minum satu ceguk, apakah kau melihat aku berganti napas? Tidak ganti napas berarti hanya satu ceguk. Sebelumnya toh kita tidak berjanji apakah satu ceguk besar atau satu ceguk kecil. Padahal barusan aku juga cuma minum setengah ceguk saja. Kalau satu ceguk harganya tiga tahil perak, maka setengah ceguk hanya satu setengah tahil saja. Nah mana uangnya, kembalikan satu setengah tahil perak.'"

"Hihi, sudah minum arak orang, hendak anglap uang orang lagi,"

Ujar si nona dengan tertawa.

"Ya, keruan saja si pengemis itu hampir-hampir menangis,"

Sambung Lak-kau-ji.

"Toasuheng lantas berkata, 'Lauheng (saudara), janganlah khawatir, tampaknya kau juga seorang tukang minum arak. Marilah, mari, biar kutraktir kau untuk minum sepuas-puasnya.' "

Segera si pengemis diseretnya ke dalam sebuah warung arak di tepi jalan, kedua orang itu lantas minum besar-besaran.

Kekuatan minum pengemis itu lumayan juga, semangkuk demi semangkuk mereka terus menenggak tanpa berhenti.

Kami menunggu sampai siang, dari siang sampai petang, mereka masih terus minum.

Akhirnya pengemis itu menggeletak dan tak sanggup bangun lagi.

Tapi Toasuko sendiri masih terus menuang dan menenggak, cuma bicaranya juga sudah mulai pelo.

Kami disuruh berangkat ke sini dahulu dan dia akan menyusul kemudian."

"O, kiranya demikian,"

Kata si nona. Dan sesudah merenung sejenak, kemudian ia bertanya pula.

"Apakah pengemis itu dari Kay-pang?"

"Bukan!"

Sahut orang yang berdandan sebagai kuli.

"Dia tidak mahir ilmu silat, punggungnya juga tidak membawa kantong."

Si nona memandang keluar rumah minum, hujan masih rintik-rintik tak berhenti-henti. Ia menggumam sendiri.

"Jika kemarin dia ikut berangkat tentu hari ini tidak perlu kehujanan lagi."

Kemudian Lak-kau-ji berkata pula.

"Suhu memberi pesan pada kami agar sesudah mengantarkan kado dan memberi selamat kepada Lau-samya di sini, lalu berangkat ke Hokkian untuk mencari kalian. Tak terduga kalian malah sudah datang ke sini lebih dulu. Eh, Siausumoay, tadi kau bilang mengalami kejadian-kejadian aneh di tengah jalan, sekarang menjadi gilirannya untuk menuturkan pengalamannya kepada kami."

"Buat apa buru-buru?"

Sahut si nona.

"Nanti saja kalau Toasuko sudah datang barulah kuceritakan supaya aku tidak capek mengulangi lagi. Kalian telah berjanji akan berkumpul di mana?"

"Tiada perjanjian,"

Sahut Lak-kau-ji.

"Heng-san toh tidak terlalu besar, tentu kita dapat bertemu dengan mudah. He, kau menipu aku menceritakan kejadian Toasuko minum arak kera, tapi pengalamanmu sendiri sengaja dijual mahal dan tidak diceritakan."

Pikiran anak dara itu tampaknya agak melayang, ia berkata.

"Jisuko, silakan kau saja yang bercerita."

Ia pandang sekejap ke arah Peng-ci yang duduk mungkur itu, lalu sambung pula.

"Di sini terlalu banyak mata dan telinga, sebaiknya kita mencari hotel dahulu baru nanti kita bicara lagi."

Seorang di antaranya yang berperawakan tinggi sejak tadi tidak ikut bicara, baru sekarang ia berkata.

"Hotel di dalam kota Heng-san sudah penuh semua, kita pun tidak ingin membuat repot keluarga Lau, biarlah sebentar lagi jika Toasuko sudah datang, kita lantas mencari pondok di kelenteng atau rumah berhala lain di luar kota saja. Bagaimana Jisuko?"

Karena Toasuko belum datang, dengan sendirinya si kakek sebagai Jisuko adalah pemimpin mereka. Maka dia mengangguk dan menjawab.

"Baik, bolehlah kita menunggu di sini saja."

Dasar julukannya monyet, maka watak Lak-kau-ji juga tidak sabaran seperti kera, dengan bisik-bisik ia berkata.

"Bungkuk itu besar kemungkinan adalah seorang linglung, sudah duduk di situ sejak tadi tanpa bergerak, buat apa kita urus dia? Nah, Jisuko, engkau dan Siausumoay pergi ke Hokciu, bagaimana hasil penyelidikan kalian? Hok-wi-piaukiok sudah dibabat habis oleh Jing-sia-pay, apakah keluarga Lim benar-benar tidak mempunyai kepandaian sejati?"

Mendengar nama keluarganya disinggung, segera Peng-ci lebih memusatkan perhatian untuk mendengarkan. Tak terduga si kakek malah balik bertanya.

"Sebab apakah mendadak Bok-taysiansing muncul di sini dan mengeluarkan kepandaiannya Kin-lian-hoan dan sekali tebas mengutungkan tujuh cangkir? Tadi kalian ikut menyaksikan semua, bukan?"

"Ya,"

Sahut Lak-kau-ji. Lalu ia mendahului bercerita apa yang terjadi tadi.

"Oh, begitu,"

Kata si kakek. Selang sejenak baru sambungnya.

"Orang luar semua mengatakan Bok-taysiansing dan Lau-samya tidak akur, sekali ini Lau-samya hendak 'cuci tangan' dan mengundurkan diri, tapi Bok-taysiansing muncul pula di sini secara rahasia dan mencurigakan, sungguh sukar untuk diraba apa sebab musababnya."

"Jisuko, kabarnya Ciangbunjin dari Thay-san-pay, Thian-bun Cinjin sendiri juga telah hadir di rumah Lau-samya?"

Tanya orang yang membawa Swipoa. Si kakek rada terkejut, sahutnya.

"Thian-bun Cinjin sendiri juga datang? Wah, sungguh suatu kehormatan besar bagi Lau-samya. Dengan hadirnya Thian-bun Cinjin, bila benar-benar terjadi percekcokan antara Lau-samya dan Bok-taysiansing, rasanya Lau-samya tidak perlu gentar lagi kepada Bok-taysiansing."

"Jisuko, lalu Ih-koancu dari Jing-sia-pay akan membantu siapa?"

Tiba-tiba si nona burik bertanya. Dada Peng-ci seperti dihantam godam demi mendengar nama "Ih-koancu dari Jing-sia-pay". Dalam pada itu Lak-kau-ji dan yang lain beramai-ramai telah tanya juga.

"He, Ih-koancu juga datang?"

"Tumben ada orang dapat mengundang dia turun dari Jing-sia!"

"Wah, sedemikian banyak tokoh-tokoh terkemuka yang berkumpul di kota Heng-san ini, mungkin akan terjadilah pertarungan sengit."

"Eh, Siausumoay, dari mana kau mendapat tahu kedatangan Ih-koancu?"

"Kenapa mesti mendapat tahu dari mana? Aku sendirilah yang melihat kedatangannya,"

Sahut si nona.

"Kau telah melihat Ih-koancu?"

Lak-kau-ji menegaskan.

"Di Heng-san sini?"

"Bukan saja aku melihatnya di sini, di Hokkian juga aku melihatnya, di Kangsay juga aku melihatnya,"

Sahut si nona.

"Oo, Ih-koancu sudah pergi ke Hokkian?"

Tukas si orang pembawa Swipoa.

"Kali ini secara besar-besaran Jing-sia-pay merecoki Hok-wi-piaukiok, sampai-sampai Ih-koancu juga maju sendiri, kukira pasti ada sebab yang amat penting. Siausumoay, untuk ini kukira engkau tentu tidak tahu."

"Gosuko, kau tidak perlu membikin panas hatiku,"

Sahut si nona.

"Mestinya aku hendak cerita, tapi kau sengaja mengipasi, maka aku justru tidak jadi cerita lagi."

Lak-kau-ji memandang sekejap pula ke arah Peng-ci, lalu berkata.

"Mengenai Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok, andaikan didengar oleh tamu juga tidak menjadi soal. Jisuko, untuk apakah Ih-koancu pergi ke Hokkian? Cara bagaimana kalian memergoki dia?"

Ia tidak tahu bahwa diam-diam Peng-ci merasa sangat berterima kasih atas pertanyaannya itu. Sebab memang demikianlah yang ingin diketahui Peng-ci.

"Bulan 12 yang lalu,"

Demikian si kakek melanjutkan.

"ketika di kota Hantiong, Toasuko telah menghajar Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong dari Jing-sia-pay ...."

Mendengar nama kedua orang itu, mendadak Lak-kau-ji tertawa terkekeh-kekeh.

"Apa yang kau tertawakan?"

Semprot si nona dengan mendelik.

"Aku menertawai kedua manusia yang sombong itu, nama mereka pakai 'Jin-eng' (pahlawannya manusia) dan 'Jin-hiong' (jantannya manusia) segala, haha, malahan orang Kangouw menyebut mereka sebagai 'Eng-Hiong-Ho-Kiat, Jing-sia-su-siu', kan lebih baik pakai nama 'Liok Tay-yu' seperti aku saja dan habis perkara,"

Demikian kata Lak-kau-ji dengan tertawa.

Kiranya nama Lak-kau-ji yang sebenarnya adalah Liok Tay-yu.

Liok artinya Lak atau enam, kebetulan urut-urutannya dalam perguruan juga nomor enam, maka orang lantas memberi julukan Lak-kau-ji, si kera keenam, padanya.

Segera seorang lagi mengomeli.

"Sudahlah, jangan kau ganggu cerita Jisuko."

"Baiklah,"

Sahut Liok Tay-yu, tapi tidak urung ia terkekeh-kekeh pula.

"Sebenarnya apa sih yang kau gelikan? Kau memang suka mengacau!"

Omel si nona.

"Aku jadi teringat pada waktu Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong itu dihajar oleh Toasuko sampai jungkir balik dan terguling-guling, tapi mereka masih belum tahu siapakah orang yang menghajar mereka, lebih-lebih tidak tahu lantaran sebab apa kok menerima hajaran,"

Sahut Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji.

"Kiranya Toasuko menjadi geregetan bila mendengar nama mereka, maka sambil minum arak Toasuko lantas berteriak-teriak, 'Anjing liar babi hutan, empat binatang dari Jing-sia'. Sudah tentu Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong menjadi marah, segera mereka hendak melabrak Toasuko, tapi belum apa-apa mereka sudah didepak terguling ke bawah loteng rumah arak itu. Hahaha, sungguh sangat lucu!"

Hati Peng-ci sangat terhibur mendengar cerita itu.

Timbul juga rasa simpatiknya kepada Toasuko dari Hoa-san-pay ini.

Meski dirinya belum kenal Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong, tapi kedua orang itu adalah Suheng Pui Jin-ti dan Uh Jin-ho, mereka telah ditendang terguling-guling oleh "Toasuko"

Orang-orang Hoa-san-pay ini, paling tidak rasa dendamnya sudah terlampiaskan sedikit.

Padahal kejadian itu adalah bulan 12 tahun yang lalu, jadi belum terjadi permusuhan antara Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok.

Dalam pada itu si nona burik telah mengolok-olok Lak-kau-ji.

"Kau cuma pintar menonton saja, bila kau yang berkelahi dengan orang, rasanya belum tentu kau mampu menandingi 'Jing-sia-su-siu' (empat jago muda Jing-sia-pay)."

"Ah, juga belum tentu begitu,"

Sahut Lak-kau-ji.

"Kau toh belum kenal siapa-siapa Jing-sia-su-siu itu."

"Dari mana kau mengetahui bahwa aku belum kenal mereka? Malahan orang Jing-sia-pay sudah merasakan hajaranku,"

Sahut si nona.

Mendengar itu, para Suhengnya lantas bertanya cara bagaimana nona itu pernah menghajar orang Jing-sia-pay?

Tapi si nona sengaja jual mahal dan tidak mau cerita.

Maklumlah, Keh Jin-tat yang dia lemparkan ke dalam kolam lumpur itu terhitung jago nomor buntut di antara murid-murid Jing-sia-pay, kalau dia ceritakan rasanya juga kurang gemilang.

Maka Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji lantas berkata.

"Siausumoay, kepandaianmu rasanya selisih tidak jauh daripadaku, jika orang Jing-sia-pay dapat kau hajar, tentu aku pun mampu menghajar mereka."

"Hihi, tentang Jing-sia-su-siu sih aku belum tentu mampu menandingi mereka, cuma saja mereka yang gentar padaku,"

Ujar si nona sambil tertawa.

"Inilah aneh,"

Kata Liok Tay-yu.

"Kau tidak dapat menandingi mereka, tapi mereka malah gentar padamu. Ini ma ... mana bisa terjadi?"

"Sudahlah, Lak-kau-ji, jangan menimbrung saja, dengarkan dulu ceritanya Jisuko,"

Kata si jangkung. Biasanya Lak-kau-ji memang agak jeri kepada Samsuko si jangkung itu, maka ia tidak berani cerewet dan tertawa-tawa lagi.

"Meski Toasuko telah menghajar Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong, tapi waktu itu dia pun tidak tahu persis siapakah mereka itu, sesudah itu barulah dia mengetahuinya,"

Demikian tutur si kakek lagi.

"Sebab itulah Ih-koancu lantas menulis surat kepada Suhu, isi suratnya sih sangat ramah, dia bilang kurang keras mendidik muridnya sehingga membikin marah muridmu, maka sengaja menulis untuk minta maaf segala."

"Hah, orang she Ih itu sungguh sangat licin,"

Sela Liok Tay-yu.

"Tampaknya dia menulis surat dan minta maaf, padahal maksudnya adalah mengadu kepada Suhu. Keruan Toasuko yang terima akibatnya dengan dihukum berlutut tujuh hari tujuh malam, sesudah para Suheng dan Sute memintakan maaf baginya, barulah Suhu mau mengampuni dia."

"Ampun apa, bukankah tetap dihukum rangket 30 kali?"

Ujar si nona.

"Ya, aku pun ikut-ikut dipersen 10 kali rangketan,"

Kata Liok Tay-yu.

"Hehe, cuma cara Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong terguling-guling ke bawah loteng rumah arak itu keadaannya benar-benar sangat konyol. Biarpun dirangket 10 kali aku merasa tidak rugi. Hahahaha!"

"Hm, macammu ini, sudah dirangket 10 kali toh masih belum kapok,"

Kata si jangkung.

"Waktu itu mestinya kau dapat mencegah Toasuko. Memang dugaan Suhu tidak salah, beliau cukup kenal watakmu, bukannya mencegah, tentu kau malah mengadu dan mendorong dari belakang. Makanya pantas kau dirangket juga."

"Ai, sekali ini Suhu benar-benar telah salah menaksirkan diriku,"

Ujar Liok Tay-yu.

"Jika Toasuko mau tendang orang, apakah aku mampu mencegahnya? Apalagi betapa cepat Toasuko mengayun kakinya, belum sempat aku melihat jelas, tahu-tahu kedua 'kesatria besar' yang menubruk dari kanan-kiri itu sudah terguling ke bawah loteng tanpa berhenti. Mestinya aku hendak memerhatikan kepandaian Toasuko yang istimewa, supaya aku pun dapat belajar tendangan 'Pah-bwe-kah' (tendangan ekor macan tutul) itu, namun sama sekali aku tidak sempat menyaksikan dengan jelas, jangankan hendak belajar."

Bab 10.

Jing-sia-pay Ternyata Pernah Dikalahkan Pi-sia-kiam-hoat "Lak-kau-ji, ingin kutanya kau, pada waktu Toasuko berteriak-teriak tentang 'empat binatang dari Jing-sia', tatkala itu kau ikut-ikut berteriak atau tidak?"

Demikian tanya seorang Suhengnya yang berbadan gede.

"Haha, jika begitu cara teriakan Toasuko, sudah tentu aku ikut-ikut memberi suara,"

Sahut Liok Tay-yu.

"Memangnya kau malah ingin aku membantu pihak Jing-sia-pay dan memaki Toasuko?"

"Jika begitu hukuman rangket Suhu atas dirimu itu sedikit pun tidak keliru,"

Ujar si badan gede.

"Ya, peringatan Suhu terhadap Toasuko itu memang perlu juga diingat baik-baik oleh kita semua,"

Kata si kakek pula.

"Menurut Suhu, banyak orang persilatan memang suka memakai julukan yang muluk-muluk dan berlebihan, tapi masakah kita dapat mengurusnya satu per satu? Orang mau menyebut dirinya sebagai 'kesatria' atau 'pahlawan' boleh biarkan saja, buat apa ambil pusing. Tentang perbuatannya, tingkah lakunya, apakah betul-betul kesatria atau pahlawan atau cuma 'jual kecap' melulu, tentu orang persilatan umumnya akan memberi penilaian sendiri, kita tidak perlu ambil tindakan sendiri-sendiri."

Semua orang mengiakan uraian sang Jisuko. Maka dengan tersenyum kakek itu meneruskan.

"Setelah kejadian Hau-Jin-eng dan Ang Jin-hiong dihajar oleh Toasuko, tentu saja hal mana bagi Jing-sia-pay merupakan suatu hinaan besar dan sangat memalukan, maka sama sekali mereka tidak berani membicarakannya, bahkan anak murid mereka sendiri jarang yang mengetahui kejadian itu. Suhu juga wanti-wanti memperingatkan kita agar jangan menyiarkan kejadian itu keluar untuk menghindari percekcokan kedua pihak. Maka selanjutnya kita pun jangan membicarakannya lagi, awas kalau didengar orang luar dan disiarkan."

"Ah, padahal kepandaian Jing-sia-pay kukira juga cuma membual belaka,"

Ujar Liok Tay-yu.

"Biar kita menyalahi mereka juga tidak menjadi soal ...."

"Laksute,"

Bentak si kakek.

"jika kau sembarangan omong lagi, awas kalau kulaporkan kepada Suhu, tentu kau akan terima rangketan lagi. Dapatnya Toasuko menggulingkan kedua lawan dengan gerakan 'Pah-bwe-kah', pertama adalah karena pihak mereka sama sekali tidak siap, kedua, Toasuko adalah jago muda yang paling menonjol dari golongan kita yang sukar dibandingi orang lain. Coba kau sendiri saja, apakah kau mampu menendang orang sehingga terguling ke bawah loteng?"

Liok Tay-yu melelet-lelet lidah, jawabnya.

"Ya, jangan bandingkan Toasuko dengan aku, dong!"

"Maka dari itu janganlah kita tinggi hati. Ih-koancu, ketua Jing-sia-pay, sesungguhnya adalah tokoh pilihan di dunia persilatan pada zaman ini, siapa berani memandang enteng padanya tentu akan merasakan akibatnya,"

Kata si kakek dengan sungguh-sungguh.

"Kau, Siausumoay, kau sudah pernah melihat Ih-koancu, coba bagaimana pendapatmu tentang dia?"

"Tentang Ih-koancu maksudmu?"

Si nona menegas.

"Aku ... aku menjadi takut bila melihatnya. Lain ... lain kali aku tidak ingin melihat dia lagi."

"Bagaimana sih macamnya Ih-koancu itu sehingga Siausumoay kita sampai ketakutan padanya? Apakah mukanya sangat bengis dan jahat?"

Tanya Liok Tay-yu. Anak dara itu agaknya masih merasa ngeri, maka badannya agak mengkeret dan tidak menjawab pertanyaannya. Si kakek lantas menyambung ceritanya.

"Karena Toasuko masih belum juga datang, daripada iseng biarlah kuceritakan sekalian dari awal mula. Sesudah kita mengetahui seluk-beluk urusan ini, kelak bila bertemu dengan orang-orang Jing-sia-pay dapatlah kita dapat berjaga-jaga sebelumnya dan tahu bagaimana cara bagaimana menghadapi mereka. Hari itu sesudah Suhu terima suratnya Ih-koancu, dengan marah beliau lantas memberi hukuman rangket kepada Toasuko dan Laksute. Besoknya beliau lantas menulis surat balasan dan menyuruh aku mengantarkannya ke Jing-sia-san ...."

"O, makanya hari itu kau turun gunung dengan tergesa-gesa, kiranya kau diutus pergi ke Jing-sia?"

Seru beberapa Sutenya.

"Benar,"

Sahut si kakek.

"Suhu suruh aku jangan mengatakan kepada kalian supaya tidak timbul hal-hal yang tak diinginkan."

"Hal-hal yang tak diinginkan apa sih? Itu kan cuma pikiran Suhu yang biasanya memang sangat hati-hati,"

Ujar Liok Tay-yu.

"Kau tahu apa?"

Omel Samsuhengnya.

"Bila Jisuko mengatakan padamu, tentu kau akan usil mulut dan menyampaikannya pula kepada Toasuko. Andaikan Toasuko tidak berani membangkang perintah Suhu, tapi dia tentu akan menggunakan akal aneh-aneh untuk mengacau pihak Jing-sia-pay."

"Benar juga ucapan Samte,"

Kata si kakek.

"Toasuko mempunyai banyak sekali sahabat Kangouw, untuk melakukan sesuatu tidak perlu mesti dia sendiri yang melaksanakannya. Menurut Suhu, dalam surat mengatakan kedua murid yang nakal telah diberi hukuman yang setimpal, mestinya akan dipecat dari perguruan, tapi khawatir hal ini akan menimbulkan salah sangka orang Kangouw seakan-akan kedua aliran kita telah terjadi keretakan, maka sekarang kedua murid nakal itu sudah diberi hukum rangket sehingga tidak mampu berjalan, sebab itulah sengaja menyuruh Jitecu bernama Lo Tek-nau untuk minta maaf. Urusan yang ditimbulkan oleh murid nakal ini hendaklah Ih-koancu mengingat hubungan baik kedua pihak dan janganlah marah dan macam-macam ucapan merendah lagi."

Mendengar uraian isi surat itu, diam-diam Peng-ci membatin.

"Hubungan Hoa-san-pay kalian dan Jing-sia-pay ternyata sangat akrab, pantas nona burik itu tidak mau menyalahi mereka hanya untuk membela aku dan ayah saja."

Dalam pada itu si kakek yang bernama Lo Tek-nau telah meneruskan ceritanya.

"Sesampainya aku di Jing-sia-san, masih mendingan si Hau Jin-eng itu, yang kurang ajar adalah si Ang Jin-hiong, beberapa kali dia mengejek dan mencemooh, bahkan menantang aku untuk berkelahi ...."

"Keparat! Labrak saja, takut apa, Jisuko? Masakah keparat she Ang itu mampu menandingi kau?"

Seru Liok Tay-yu dengan gemas.

"Tapi Suhu menyuruh aku ke Jing-sia-san untuk meminta maaf dan bukan untuk mencari perkara,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Maka sedapat mungkin aku hanya bersabar saja. Aku menunggu enam hari di sana, sampai hari ketujuh barulah Ih-koancu menemui aku."

"Hm, lagaknya!"

Omel Liok Tay-yu.

"Selama enam hari enam malam itu tentu engkau sangat tersiksa, Jisuko."

"Ya, sudah tentu aku kenyang disindir dan diejek,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Syukurlah aku cukup sadar akan tugas yang dibebankan Suhu kepadaku, bahwasanya aku yang diutus ke Jing-sia bukan lantaran ilmu silatku melebihi orang lain, beliau tahu usiaku paling tua dan jauh lebih sabar daripada para Sute. Sesudah menemui aku, Ih-koancu juga tidak bilang apa-apa, dia hanya menghibur aku beberapa patah, malamnya lantas mengadakan perjamuan untukku. Besok paginya dia sendiri yang mengantar keberangkatanku, sedikit pun tidak kurang adat. Tapi mereka tidak menduga bahwa selama enam hari aku dibiarkan tinggal di Siong-hong-koan mereka tanpa digubris sesungguhnya malah merugikan mereka sendiri."

Karena aku belum dapat bertemu dengan Ih-koancu, dengan sendirinya aku menjadi menganggur saja.

Hari ketiga pagi-pagi sekali aku telah bangun dan keluar jalan-jalan, sampai di lapangan berlatih di belakang kuil mereka itu, terlihat ada beberapa puluh murid Jing-sia-pay sedang latihan.

Kita mengetahui orang Bu-lim paling pantang kalau mengintip orang lain yang sedang berlatih, maka cepat-cepat aku memutar balik ke kamar.

Akan tetapi hanya sekilas pandang itu saja aku sudah lantas timbul rasa curiga.

Kulihat beberapa puluh murid Jing-sia-pay itu semuanya menggunakan pedang dan sedang berlatih sesuatu ilmu pedang baru, sebab tampaknya gerakan mereka masih kaku.

Cuma sekilas saja aku pun tidak jelas ilmu pedang apa yang mereka latih itu.

"Sepulangnya di kamar, hatiku semakin curiga. Aku tidak habis mengerti mengapa murid-murid Jing-sia-pay itu tanpa kecuali sekaligus telah latihan bersama sebuah ilmu pedang. Apalagi di antara mereka juga termasuk empat tokoh muda yang terkenal sebagai Jing-sia-su-siu, yaitu Hau Jin-eng, Ang Jin-hiong, Uh Jin-ho dan Lo Jin-kiat. Coba para Sute, jika kalian yang memergoki keadaan begitu, bagaimana dugaan kalian?"

"Mungkin Jing-sia-pay baru menciptakan semacam ilmu pedang,"

Ujar orang pembawa Swipoa.

"Semula aku pun berpikir begitu,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Tapi setelah kupikir lagi kukira tidak tepat. Ilmu pedang Ih-koancu sudah cukup terkenal, jika dia berhasil menciptakan ilmu pedang baru, maka ilmu pedang ini pasti luar biasa dan tidaklah mungkin serentak diajarkan kepada semua muridnya tanpa membedakan tingkatan. Paling-paling dia cuma pilih dua-tiga muridnya yang paling pandai untuk melatihnya. Maka pagi hari berikutnya kembali aku memutar ke belakang kuil lagi, lewat di lapangan berlatih, kembali kulihat mereka masih latihan ilmu pedang. Sekilas pandang pula aku dapat mengingat baik-baik dua jurus di antaranya dengan maksud sepulangnya di Hoa-san akan kuminta keterangan kepada Suhu. Maklumlah aku menjadi curiga jangan-jangan Jing-sia-pay hendak memusuhi Hoa-san-pay kita, bukan mustahil ilmu pedang mereka yang baru itu khusus akan ditujukan untuk mengalahkan kita, untuk mana kita harus siap siaga sebelumnya."

"Jisuko, apakah tidak mungkin mereka sedang berlatih semacam Kiam-tin (barisan pedang)?"

Tiba-tiba si badan gede ikut tanya.

"Hal ini pun sangat mungkin. Cuma dari cara latihan mereka itu kukira bukanlah sebuah Kiam-tin apa-apa,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Ketika esok paginya aku pura-pura lalu di lapangan latihan itu, namun keadaan sunyi senyap tiada seorang pun. Kutahu mereka sengaja menghindari aku, maka rasa curigaku semakin menjadi. Malamnya selagi aku hampir pulas, tiba-tiba dari jauh terdengar suara saling benturnya senjata. Aku terkejut, apakah Siong-hong-koan mereka telah kedatangan musuh? Pikiranku yang timbul pertama adalah. jangan-jangan Toasuko yang sengaja menyatroni mereka karena merasa dendam habis dimarahi Suhu? Jika demikian halnya, seorang diri tentu Toasuko sukar melawan orang banyak, aku harus keluar untuk membantunya. Karena aku tidak membawa senjata, terpaksa dengan bertangan kosong aku lantas keluar ...."

"Wah, tabah benar, Jisuko,"

Puji Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji.

"Jika aku tentu tidaklah berani melawan Ih Jong-hay, ketua Jing-sia-pay itu dengan bertangan kosong" .

"Kau omong melantur saja, monyet,"

Semprot Lo Tek-nau.

"Aku toh tidak mengatakan akan menempur Ih-koancu. Aku cuma khawatirkan keselamatan Toasuko, biarpun berbahaya juga terpaksa ikut maju. Memangnya kau suruh aku enak-enak tidur dan mengkeret di dalam selimut seperti kura-kura?"

Mendengar itu, para Sutenya lantas bergelak tertawa. Liok Tay-yu menyengir, sahutnya.

"Aku kan memuji kau, kenapa kau marah malah?"

"Terima kasih saja, pujianmu itu tidak enak didengar,"

Ujar Lo Tek-nau.

"Sudahlah Jisuko, lanjutkan saja ceritamu, jangan gubris Lak-kau-ji yang mengacau melulu itu,"

Kata Sute-sutenya yang lain.

"Ya, maka diam-diam aku lantas keluar dari kamar, kudengar suara senjata itu makin lama makin ramai, hatiku semakin berdebar juga. Kedengaran suara senjata itu datang dari ruangan belakang, terlihat pula di balik jendela ruangan belakang itu memang terang benderang, segera aku menuju ke sana. Waktu kuintip ke dalam ruangan melalui celah-celah jendela, maka legalah hatiku. Kiranya curigaku itu tidaklah beralasan, hanya lantaran Ih-koancu tidak menemui aku sampai beberapa hari, maka aku selalu berpikir hal-hal yang buruk. Ternyata di dalam ruangan pendopo belakang itu ada dua pasangan sedang bertanding pedang, yang satu partai adalah Hau Jin-eng melawan Ang Jin-hiong, partai lain adalah Pui Jin-ti melawan Uh Jin-ho."

"Wah, giat amat anak murid Jing-sia-pay itu, sampai malam hari juga berlatih,"

Liok Tay-yu mengolok-olok. Lok Tek-nau melototinya sekali, lalu menyambung dengan tersenyum.

"Kulihat di tengah ruangan itu duduk seorang Tojin pendek kecil berjubah hijau, usianya sekitar 50-an tahun, mukanya kurus ciut, melihat macamnya itu bobot badannya paling-paling cuma 60-70 kati saja. Orang-orang Bu-lim memang mengetahui ketua Jing-sia-pay adalah seorang Tojin yang pendek dan kecil, tapi kalau tidak menyaksikan sendiri tentu tidak tahu sampai begitulah pendek dan kecilnya, apalagi percaya bahwa dia adalah Ih-koancu yang namanya termasyhur. Di sekeliling ruangan itu berdiri beberapa puluh anak muridnya, semuanya sedang mengikuti pertandingan ilmu pedang di tengah kalangan itu. Sesudah mengintip beberapa jurus saja aku lantas tahu bahwa ilmu pedang yang dimainkan mereka itu tak lain dan tak bukan adalah ilmu pedang yang pernah kulihat di lapangan latihan itu.

"Kutahu keadaanku waktu itu sangat berbahaya, jika sampai ketahuan orang Jing-sia-pay, bukan saja aku akan mengalami hinaan, bahkan akan merugikan nama baik perguruan kita. Peristiwa Toasuko menendang terguling kedua jago muda Jing-sia-pay itu walaupun mengakibatkan Suhu menghukum Toasuko, tapi di dalam hati Suhu mungkin juga ada perasaan senang. Sebab apa pun juga Toasuko toh sudah menonjolkan namanya, apa yang disebut Jing-sia-su-siu itu ternyata tidak tahan oleh sekali tendang murid utama Hoa-san-pay kita. Akan tetapi lain soalnya jika aku ketangkap basah selagi mengintip orang lain berlatih, maka dosaku pastilah tak terampunkan, bukan mustahil aku akan diusir keluar dari perguruan kita.

"Namun menghadapi pertandingan orang yang menarik itu, boleh jadi ada sangkut pautnya pula dengan kepentingan Hoa-san-pay kita, masakah aku mau tinggal pergi begitu saja? Diam-diam aku berjanji hanya akan melihat beberapa jurus saja, lalu pergi. Tapi beberapa jurus ditambah beberapa jurus lagi, makin melihat makin tertarik sehingga aku tetap mengintip terus. Kulihat ilmu pedang yang dimainkan mereka itu agak aneh, tapi toh tiada sesuatu yang lihai, mengapa orang Jing-sia-pay sedemikian tekun melatihnya? "

Sesudah mengintip beberapa jurus lagi, aku tidak berani mengintip terus, perlahan-lahan aku pulang ke kamar.

Kukhawatir bila pertandingan mereka sudah berhenti, dalam keadaan sunyi, asal sedikit aku bergerak saja pasti akan diketahui oleh Ih-koancu.

Maka untuk dua malam selanjutnya aku tidak berani pergi mengintip lagi.

Padahal jika sebelumnya aku tahu mereka berlatih di hadapan Ih-koancu betapa pun aku tidak berani mengintipnya.

Soalnya cuma secara kebetulan saja aku memergoki mereka.

Maka dari itu pujian Laksute tentang ketabahanku sebenarnya aku tidak berani terima.

Malam itu bila Laksute melihat mukaku yang pucat takut itu mustahil takkan mengatakan Jisukomu ini sebagai seorang pengecut nomor satu yang takut mati."

"Ah, mana berani aku berkata begitu,"

Ujar Liok Tay-yu dengan tertawa.

"Paling-paling Jisuko adalah penakut yang nomor dua. Sebab bila aku yang mengintip waktu itu, aku sih tidak takut dipergoki Ih-koancu, karena saking takutnya aku tentu menjadi kaku dan tak bisa bergerak, bernapas pun tak dapat, maka tak perlu khawatir diketahui oleh Ih-koancu, tidak nanti Ih-koancu mengetahui di luar jendela ada 'tokoh' nomor satu sebagai diriku ini sedang mengintip."

Serentak tertawalah semua orang mendengar ucapan Lak-kau-ji yang lucu itu. Lalu Lo Tek-nau melanjutkan lagi.

"Akhirnya Ih-koancu menerima aku juga. Dia bicara dengan sangat sungkan, katanya hubungan Hoa-san-pay dan Jing-sia-pay biasanya sangat baik, kalau anak murid bertengkar adalah seperti anak kecil berkelahi saja, buat apa orang tua ambil pusing. Malamnya aku lantas dijamu, besoknya waktu berangkat Ih-koancu mengantar sendiri keluar Siong-hong-koan. Sebagai kaum muda waktu mohon diri sudah seharusnya aku berlutut untuk menjura padanya. Tapi baru sebelah kakiku berlutut, tangan kanan Ih-koancu sudah lantas menyanggah perlahan sehingga aku terangkat bangun.

"Tenaga Ih-koancu benar-benar luar biasa, seketika badanku terasa enteng, sedikit pun tak bisa mengeluarkan tenagaku, kalau dia mau melemparkan aku, tentu aku akan terguling-guling beberapa meter jauhnya. Dengan tersenyum dia tanya padaku, 'Toasukomu masuk perguruan lebih dahulu beberapa tahun daripadamu? Apakah kau berguru sudah memiliki ilmu silat?' "

Aku mengiakan dan mengatakan Toasuko masuk perguruan 12 tahun lebih dulu. Maka Ih-koancu tertawa lagi, katanya, 'O, jadi lebih dulu 12 tahun!' "

"Apa maksudnya dia menanyakan hal itu?"

Tanya si nona burik.

"Aku pun tidak tahu, cuma wajahnya sangat aneh ketika menanyakan hal itu padaku,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Kukira dia hendak mengatakan kepandaianku toh tidak tinggi, biarpun Toasuko belajar lebih lama 12 tahun rasanya juga tidak berbeda banyak."

"Hm!"

Si nona mendengus, lalu tidak tanya pula. Lo Tek-nau lantas melanjutkan.

"Sepulangnya di rumah aku lalu mengaturkan surat balasan Ih-koancu kepada Suhu. Isi suratnya ternyata sangat ramah dan merendah hati. Suhu sangat senang sesudah membaca. Beliau lantas tanya padaku tentang pengalamanku di Siong-hong-koan. Kuceritakan tentang ilmu pedang yang dilatih anak murid Jing-sia-pay itu, segera Suhu suruh aku untuk mempertunjukkan jurus-jurus yang kulihat itu. Karena aku cuma ingat lima-enam jurus saja, aku lantas memainkan apa yang kuketahui itu. Sesudah melihat, Suhu lantas berkata, 'Ilmu pedang ini adalah Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok!'"

Hati Peng-ci tergetar mendengar ucapan terakhir itu.

Untunglah orang-orang Hoa-san-pay itu lagi asyik mendengar cerita Jisuko mereka sehingga tidak memerhatikan orang-orang di sekitarnya.

Dalam pada itu terdengar Lo Tek-nau lagi menyambung.

"Waktu itu aku lantas tanya Suhu, 'Apakah Pi-sia-kiam-hoat ini sangat hebat? Mengapa Jing-sia-pay mempelajarinya sedemikian tekun?' "

Namun Suhu tidak menjawab, sesudah merenung sejenak barulah beliau berkata, 'Tek-nau, sebelum berguru padaku kau sudah pernah berkelana beberapa tahun di Kangouw, apakah kau pernah mendengar orang Bu-lim memberi komentar tentang ilmu silatnya Lim Cin-lam, itu pemimpin Hok-wi-piaukiok di Hokkian itu?'"

Aku menjawab, 'Ya, menurut cerita kawan-kawan Bu-lim, katanya tangan Lim Cin-lam sangat terbuka dan suka menolong, maka setiap orang suka memberi muka padanya tanpa mengganggu barang kawalannya.

Adapun mengenai kepandaiannya yang sejati sebaliknya tidak terlalu jelas.' "

Lalu Suhu berkata pula, 'Memang perkembangan Hok-wi-piaukiok beberapa tahun terakhir ini sebagian besar adalah berkat bantuan kawan-kawan Kangouw.

Tapi kau tidak tahu bahwa Ih-koancu punya Suhu, yaitu Tiang-jing-cu, pada waktu mudanya pernah terjungkal di bawah Pi-sia-kiam-hoatnya Lim Wan-tho.' "Aku tanya siapakah Lim Wan-tho itu, apakah ayahnya Lim Cin-lam.

Tapi Suhu menjawab, 'Bukan, Lim Wan-tho adalah kakeknya Lim-Cin-lam.

Dialah yang mendirikan Hok-wi-piaukiok.

Dia punya 72 jurus Pi-sia-kiam-hoat, 108 gerakan Hoan-thian-ciang, dan 18 batang panah yang boleh dikata tiada tandingannya di kalangan Hek-to pada masa itu.

Lantaran melihat Lim Wan-tho terlalu menonjol di kalangan Kangouw, ada juga kawan kalangan Pek-to yang sengaja pergi mencari dia untuk minta bertanding, lantaran itulah Tiang-jing-cu telah dikalahkan oleh Pi-sia-kiam-hoat.' "'Jika begitu, jadi Pi-sia-kiam-hoat memang sangat lihai?' demikian tanyaku.

"Suhu menjawab, 'Tentang kalahnya Tiang-jing-cu itu kedua pihak telah tutup mulut rapat-rapat, maka orang Bu-lim tiada yang tahu. Kakek gurumu adalah sobat kentalnya Tiang-jing-cu, pada waktu bertemu Tiang-jing-cu telah menceritakan kekalahannya itu kepada beliau, katanya hal itu merupakan hinaan terbesar selama hidupnya, tapi dia pun merasa tidak dapat melawan Lim Wan-tho, dendam itu tentu sukar dibalas. Kakek gurumu pernah coba-coba mengikuti permainan Pi-sia-kiam-hoat yang diperlihatkan Tiang-jing-cu dengan maksud akan membantu dia menemukan kelemahan ilmu pedang itu.' "

Akan tetapi ke-72 jurus ilmu pedang itu memang luar biasa, tampaknya saja tiada sesuatu yang aneh, tapi di dalamnya ternyata mengandung kemukjizatan yang sukar diraba orang.

Kedua orang tua itu menyelaminya sampai beberapa bulan dan tetap tidak dapat memecahkan cara mengalahkan Pi-sia-kiam-hoat.

Tatkala mana aku pun menunggui mereka di samping, aku ingat betul gerakan Pi-sia-kiam-hoat itu, maka begitu kau memainkannya tadi aku lantas tahu ilmu pedang apa.

Ai, sang tempo lalu dengan cepat sekali, peristiwa itu sudah terjadi beberapa puluh tahun yang lampau!"

Sebenarnya sejak Lim Peng-ci dihajar habis-habisan oleh anak murid Jing-sia-pay, dia sudah kehilangan kepercayaan atas ilmu silat warisan leluhurnya sendiri, maka diam-diam ia berharap akan dapat mencari guru pandai untuk menuntut balas.

Tapi sekarang demi mendengar cerita Lo Tek-nau tentang betapa gagah perwira kakek besarnya, Lim Wan-tho itu, tanpa merasa semangatnya lantas terbangkit.

Katanya di dalam hati.

"Kiranya Pi-sia-kiam-hoat leluhurku sedemikian hebat, sampai-sampai gembong-gembong Hoa-san-pay di masa dulu juga tidak mampu menandingi. Tapi mengapa ayah sekarang malah tidak mampu melawan anak murid Jing-sia-pay yang masih hijau pelonco itu? Ai, besar kemungkinan ayah belum lagi berhasil menyelami saripati dan kelihaian ilmu pedang kakek-besar itu."

Ia dengar Lo Tek-nau sedang berkata pula.

"Waktu itu aku telah tanya Suhu, 'Lalu Tiang-jing-cu dapat menuntut balas atau tidak?' "

Kata Suhu, 'Sebenarnya kalah menang dalam pertandingan ilmu silat juga tak dapat dianggap sebagai permusuhan sehingga mesti merasa dendam segala, apalagi Lim Wan-tho pada masa itu sudah lama termasyhur, dia adalah Locianpwe yang dikagumi kawan-kawan Bu-lim, sebaliknya Tiang-jing-cu adalah Tosu muda yang baru saja mulai menonjol.

Seorang muda dikalahkan kaum tua sebenarnya tidaklah menjadi soal.

Sebab itulah kakek-gurumu telah menghibur dengan menasihati dia supaya persoalan itu jangan dipikirkan lagi.

Kemudian Tiang-jing-cu telah meninggal dalam usia cuma 36 tahun, boleh jadi soal kekalahannya itu masih tetap menjadi ganjalan hatinya sehingga dia mati dengan kurang tenteram.

Kejadian yang sudah berselang beberapa puluh tahun, kini mendadak Ih Jong-hay giat melatih Pi-sia-kiam-hoat bersama murid-muridnya, sebenarnya apakah sebabnya?

Ya, apa sebabnya!' "Aku coba mengemukakan pendapatku, apakah tak mungkin Ih-koancu hendak mencari perkara kepada Hok-wi-piaukiok secara besar-besaran untuk menuntut balas sakit hati gurunya?

Suhu tampak mengangguk, katanya, 'Aku pun berpikir demikian.

Agaknya jiwa Tiang-jing-cu itu sangat sempit, orangnya tinggi hati pula, soal kekalahannya tentu membuatnya dendam sampai saat ajalnya, besar kemungkinan dia telah meninggalkan pesan apa-apa kepada Ih Jong-hay.

Namun Lim Wan-tho sudah wafat lebih dulu daripada Tiang-jing-cu, jika Ih Jong-hay mau menuntut balas terpaksa mesti mencari keturunan Lim Wan-tho.

Tapi entah mengapa tertunda hingga sekarang baru mau bertindak.

Ih Jong-hay itu sangat licin, tentu dia sudah mengatur rencana dulu baru mulai bergerak.

Sekali ini Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok tentu akan berhadapan dengan sengit.' "

Waktu aku tanya Suhu bagaimana pendapatnya atas perselisihan itu, pihak mana yang akan menang?

Dengan tertawa Suhu menjawab, 'Ilmu silat Ih Jong-hay sudah jauh melebihi gurunya, yaitu Tiang-jing-cu, sebaliknya kepandaian Lim Cin-lam walaupun orang luar tidak tahu persis, tapi jelas tidak dapat memadai kakeknya.

Yang satu maju dan yang lain mundur, ditambah lagi Jing-sia-pay di pihak yang gelap sedangkan Hok-wi-piaukiok berada di pihak yang terang, sebelum mulai bertarung Hok-wi-piaukiok sudah kalah separuh.

Apabila sebelumnya Lim Cin-lam mendapat kabar dan dapat meminta bantuan Kim-to-bu-tek Ong Goan-pa dari Lokyang, yaitu ayah-mertuanya, mungkin dia masih dapat melawan Jing-sia-pay.

Tek-nau, apakah kau tidak ingin pergi melihat keramaian itu?' "Sudah tentu aku mau saja.

Tapi Suhu suruh aku diam-diam saja, jangan sampai diketahui oleh para Sute.

Dasar Siausumoay memang setan cerdik, akhirnya diketahui olehnya, dia merengek dan minta Suhu mengizinkan dia ikut padaku.

Begitulah kami berdua lantas berangkat ke Hokkian, kami menyamar sebagai kakek dan cucu, dan membuka warung arak di luar kota Hokciu.

Setiap hari kami tentu pergi menyelidiki keadaan Hok-wi-piaukiok.

Kami tidak melihat apa-apa yang menarik, hanya sering melihat Lim Cin-lam sedang mengajar ilmu pedang kepada putranya yang bernama Lim Peng-ci.

Melihat ilmu pedang mereka itu Siausumoay geleng-geleng kepala terus, katanya padaku, 'Apakah begitu itu namanya Pi-sia-kiam-hoat (ilmu pedang penghalau iblis), haha, jika iblis benar-benar datang, mungkin Lim-kongcu itu sudah lebih dulu terhalau!

....'"

Di tengah gelak tertawa orang-orang Hoa-san-pay itu, muka Peng-ci juga merah jengah, malunya tak terlukiskan. Pikirnya.

"Kiranya mereka berdua lebih dahulu mengintai ke rumahku, tapi kami sekeluarga tidak tahu sama sekali, sungguh tidak becus."

Terdengar Lo Tek-nau lagi menyambung.

"Tidak seberapa hari kami tinggal di luar kota Hokciu lantas datanglah anak murid Jing-sia-pay berturut-turut. Yang datang paling dulu adalah Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong, setiap hari mereka pasti mondar-mandir di sekitar Hok-wi-piaukiok. Khawatir kepergok, aku dan Siausumoay lantas tidak pergi ke sana lagi.

"Pada hari itu benar-benar sangat kebetulan, tiba-tiba Lim-kongcu itu berkunjung ke warung yang kubuka bersama Siausumoay itu. Terpaksa Siausumoay mengantar arak yang mereka minta. Tadinya aku menyangsikan jangan-jangan penyamaran kami telah diketahui, maka dia sengaja datang untuk membongkar rahasia kami. Tapi sesudah ajak bicara barulah diketahui Lim-kongcu itu sama sekali tidak sadar, pemuda perlente yang hidupnya aman tenteram itu ternyata tidak paham apa-apa, tiada ubahnya seperti anak tolol. Pada saat itulah tiba-tiba kedua orang Jing-sia-pay yang paling berengsek, yaitu Ih Jin-gan dan Keh Jin-tat, juga berkunjung ke tempat kami ...."

"Haha, Jisuko, perusahaan yang kau buka bersama Siausumoay itu benar-benar subur dan makmur, laris sebagai menjual pisang goreng. Wah, tentu kalian telah kaya mendadak di Hokkian!"

Demikian Liok Tay-yu alias Lak-kau-ji bersorak.

"Tentu saja, masakah masih perlu tanya?"

Sela si nona dengan tertawa.

"Sudah lama Jisuko menjadi hartawan, berkat rezekinya aku pun ikut-ikut memperoleh bagian."

Maka tertawalah semua orang. Dengan tertawa Lo Tek-nau lantas melanjutkan.

"Ilmu silat Lim-siaupiauthau itu teramat rendah, menjadi muridnya Siausumoay saja tidak memenuhi syarat, tapi jiwanya ternyata kesatria. Dasar putra mestika Ih Jong-hay itu sudah buta, dia berani main gila dan mengganggu Siausumoay, eh, Lim-kongcu itu ternyata tidak tinggal diam, ia terus tampil ke muka untuk membela Siausumoay ...."

Diam-diam perasaan Peng-ci bergolak, pikirnya dengan gusar.

"Kurang ajar, rupanya secara berencana Jing-sia-pay sengaja mencari perkara dengan Hok-wi-piaukiok kami untuk menuntut balas angkatan tua mereka yang dikalahkan kakek-besarku. Jika demikian yang datang ke Hokciu tentu tidak cuma Pui Jin-ti berempat saja. Andaikan aku tidak membunuh Ih Jin-gan juga mereka akan merecoki aku."

Karena pikirannya melayang, maka apa yang diceritakan Lo Tek-nau tentang caranya dia membunuh Ih Jin-gan menjadi tidak jelas baginya, hanya saja cerita Lo Tek-nau itu diselingi dengan suara tertawa semua orang, terang mereka menertawakan kepandaiannya yang rendah itu.

Kemudian terdengar Lo Tek-nau lagi berkata.

"Sesudah kusaksikan cara Lim-siaupiauthau itu membunuh Ih Jin-gan, diam-diam aku tukar pikiran dengan Siausumoay tentang Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim, andaikan ilmu pedang itu benar-benar lihai, paling sedikit Lim-siaupiauthau itu terang belum mempelajarinya. Malamnya aku beserta Siausumoay lantas pergi lagi ke Hok-wi-piaukiok, tertampak Hau Jin-eng, Ang Jin-hiong, Uh Jin-ho, Pui Jin-ti dan belasan kawannya sudah datang semua.

"Khawatir dipergoki mereka, kami menonton saja dari jauh. Kami menyaksikan mereka menghabisi para Piauthau dan petugas-petugas Piaukiok yang lain seorang demi seorang, setiap Piauthau yang keluar Piaukiok selalu dibinasakan oleh mereka dan mayat mereka dikirim kembali, cara mereka benar-benar sangat keji. Kupikir permusuhan antara Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok hanya disebabkan Tiang-jing-cu dikalahkan oleh Lim Wan-tho, jika mau membalas sakit hati leluhur itu cukuplah Ih-koancu merobohkan keturunan keluarga Lim saja, mengapa mesti menggunakan cara sekejam itu? Aku menduga, mungkin karena tewasnya Ih Jin-gan, anak murid Jing-sia-pay itu terpaksa mesti main bunuh secara besar-besaran supaya bisa bertanggung jawab kepada guru mereka. Akan tetapi mereka justru membiarkan hidup Lim Cin-lam dan istrinya beserta Lim Peng-ci bertiga, mereka dipaksa kabur dari Hok-wi-piaukiok mereka."

"Tentang kepandaian, Lim-congpiauthau itu memang jauh lebih tinggi daripada Lim-siaupiauthau, tapi juga belum terhitung jago pilihan,"

Ujar si nona.

"Menurut Jisuko, Jing-sia-pay persiapkan diri dengan giat berlatih di waktu malam segala, sesungguhnya jerih payah mereka juga terlalu berlebihan."

"Tapi kalau mengingat mendiang Tiang-jing-cu dikalahkan Pi-sia-kiam-hoat, dengan sendirinya Ih Jong-hay tidak berani memandang enteng ilmu pedang itu, maka tidaklah heran jika mereka giat berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik,"

Kata Lo Tek-nau.

"Hanya saja sesudah Lim Cin-lam dan anak istrinya dipaksa kabur, akhirnya toh Ih-koancu masih datang pula ke Piaukiok itu, bahkan tinggal selama tiga hari di sana, hal inilah yang kurasakan agak luar biasa."

Peng-ci terkejut juga, tanyanya di dalam hati.

"Aneh, mengapa bangsat tua Ih Jong-hay itu mendatangi Piaukiok kami? Untuk apa maksudnya?"

Ternyata pertanyaannya itu pun segera telah diucapkan oleh beberapa murid Hoa-san-pay itu. Maka terdengar Lo Tek-nau telah menjawab.

"Cerita ini cukup panjang. Sesudah Lim Cin-lam dan anak istrinya melarikan diri, Pui Jin-ti dan lain-lain lantas membayangi mereka. Karena Siausumoay ingin mengetahui apa yang akan terjadi, segera kami membayangi di belakang murid Jing-sia-pay pula. Sampai di sebuah warung nasi di daerah pegunungan selatan Hokciu, di situlah Pui Jin-ti, Uh Jin-ho dan Keh Jin-tat bertiga lantas muncul dan dapat menawan ketiga anggota keluarga Lim itu. Karena Siausumoay merasa terbunuhnya Ih Jin-gan oleh Lim-kongcu adalah disebabkan gara-gara Siausumoay sendiri, maka mau tak mau ia hendak menolong Lim-kongcu untuk sekadar membalas budi. Aku mencegahnya sedapat mungkin, kukatakan jika kita ikut campur tentu akan mengganggu hubungan baik antara Jing-sia-pay dan Hoa-san-pay kita, apalagi orang-orang Jing-sia-pay boleh dikata berkumpul semua di Hokciu, kami berdua tentu sukar melawan mereka, kalau ikut makan getahnya kan bisa runyam malah."

"Dasar usia Jisuko lebih lanjut, segala apa selalu berpikir secara panjang, tentu saja sangat mengecewakan keinginan Siausumoay,"

Ujar Liok Tay-yu.

"Tapi sekali Siausumoay sudah mau begitu, betapa pun aku hendak mencegahnya juga tidak dapat lagi,"

Kata Lo Tek-nau.

"Segera Siausumoay tampil ke muka dengan tetap berdandan sebagai gadis penjual arak. Sudah tentu Keh Jin-tat lantas mengenalnya, maka belum banyak bicara kontan dia sudah dijungkalbalikkan oleh Siausumoay, malahan yang terakhir Siausumoay telah melemparkan dia ke dalam kolam lumpur sehingga manusia she Keh itu kenyang menyedot air kencing dan ampas perut."

"Haha, bagus, bagus!"

Sorak Liok Tay-yu dengan tertawa.

"Kutahu maksud Siausumoay itu bukanlah hendak menolong bocah she Lim itu, tapi dalam hati kecilnya mempunyai tujuan lain. Hm, bagus, bagus!"

"Aku mempunyai tujuan lain apa? Kembali kau ngaco-belo lagi!"

Semprot si nona.

"Bukankah lantaran aku dihukum rangket oleh Suhu, maka Siausumoay ikut penasaran dan melampiaskannya bagiku dengan menghajar orang Jing-sia-pay itu? Nah, terima kasih, ya ...."

Sambil berkata Liok Tay-yu terus berbangkit dan memberi hormat. Si nona melotot dengan tersenyum, omelnya.

"Huh, kan kau tidak percuma merasakan rangketan itu. Sesudah dirangket, bukankah kau telah terima ganti rugi dari Toasuko?"

"Aneh, sudah dirangket, cara bagaimana memberikan ganti rugi?"

Ujar Liok Tay-yu dengan heran.

"Ala, pura-pura dungu, tapi jangan kau kira dapat mengelabui aku,"

Kata si nona.

"Hari itu secara sembunyi-sembunyi kau berlatih gaya tendangan itu di belakang gunung sampai beberapa pohon Tho roboh malang melintang, bukankah tendangan itu adalah ajaran Toasuko?"

Muka Lak-kau-ji menjadi merah, sahutnya.

"Ya, saking kagumnya atas tendangan Toasuheng yang sekaligus dapat membikin Hau Jin-eng dan Ang Jin-hiong terguling, maka aku telah tanya dia cara bagaimana menggunakan tendangan itu. Hal ini juga tak dapat dikatakan Toasuko mengajarkan padaku."

"Dan sekarang kau sudah pandai tendangan itu atau belum?"

Tanya si nona dengan tertawa. Muka Liok Tay-yu kembali merah jengah, sahutnya.

"Wah, masakah begitu cepat? Jika Sumoay juga ingin belajar, tentu Toasuko akan memberi petunjuk padamu."

"Kau sudah belajar lebih dulu, buat apa aku mengekor kau?"

Kata si nona.

"Lalu bagaimana Jisuko, sesudah Siausumoay menghajar orang she Keh itu?"

Tanya Samsuhengnya. Maka Lo Tek-nau menyambung lagi ceritanya.

"Mata Pui Jin-ti itu ternyata sangat lihai, segera ia mengenali gerakan Siausumoay adalah orang kita, tutur katanya menjadi agak jeri. Tetapi waktu Siausumoay membuka Hiat-to pemuda she Lim dan hendak melepaskan dia, namun Pui Jin-ti dan Uh Jin-ho menyatakan keberatan. Maka Siausumoay lantas berguyon dengan mereka, ia campur arak dengan bedak dan gincu dan menyatakan arak itu berbisa, lalu paksa mereka minum. Ternyata orang she Pui dan Uh itu tidak berani, di luar dugaan, Lim-siaupiauthau itu ternyata sangat gagah perwira, sekaligus ia lantas habiskan arak Siausumoay itu."

Kembali Peng-ci merasa malu, pikirnya.

"Nona burik itu benar-benar telah mempermainkan aku. Kiranya arak itu dicampur bedak, pantas berbau pupur. Sungguh sial aku kena dibohongi dan kenyang minum arak begitu!"

"Pui Jin-ti tidak berani minum arak itu anggaplah tidak menjadi soal, tapi dia justru membual, katanya dia memiliki obat penawar yang tidak takut segala macam racun,"

Demikian Lo Tek-nau melanjutkan.

"Dasar Siausumoay juga jahil, segera ia keluarkan 'Hang-liong-hok-hou-wan' (pil penakluk naga dan harimau) dan dicampurkan ke dalam arak, lalu suruh orang she Pui dan Uh itu minum. Coba kalian pikir betapa lihainya Hang-liong-hok-hou-wan itu, biasanya kalau kita campur dengan air dan mencekoki babi atau kambing, lalu dibuang di tanah pegunungan, makan betapa pun buasnya harimau maupun ular raksasa jika makan babi atau kambing itu juga akan roboh oleh obat itu selama sehari semalam tak bisa berkutik. Maka kalau orang-orang Jing-sia-pay itu berani meminumnya, pasti celakalah mereka dan akan dibikin malu."

Bab 11. Murid Pertama Hoa-san-pay Namanya Lenghou Tiong "Lalu mereka minum atau tidak?"

Tanya Lak-kau-ji.

"Sudah tentu mereka tidak berani minum,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Dengan mengendus bau arak yang sengak menusuk hidung itu, siapa lagi yang berani minum. Tapi, e-e-eh, Lim-siaupiauthau itu benar-benar tidak takut langit dan tidak gentar bumi, sekaligus dia telah menghabiskan tiga cawan arak itu. Para Sute, biarpun ilmu silat Lim-kongcu itu tidak seberapa tingginya, tapi dengan diminumnya tiga cawan arak itu aku lantas menghormati dia sebagai seorang laki-laki sejati. Sikap kesatria begitu benar-benar jarang terdapat di dunia persilatan. Waktu itu jika aku yang dihadapkan kepada ketiga cawan arak itu tentu aku tidak mau juga tidak berani minum."

Seketika semua orang terdiam, air muka mereka menampilkan rasa kagum kepada keberanian Lim Peng-ci.

"Dan sesudah habiskan tiga cawan arak itu tentu dia lantas menggeletak mabuk?"

Ujar Lak-kau-ji.

"Tentu saja,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Kontan dia roboh terkulai seperti orang mampus. Tapi Pui Jin-ti itu benar-benar sangat licin dan cerdik, dia masih curiga dan coba-coba memeriksa napas dan nadi Lim-kongcu itu barulah mau percaya dia sudah mati. Habis itu barulah mereka berangkat dengan menggiring Lim Cin-lam dan istrinya. Kemudian aku dan Siausumoay lantas menggali sebuah lubang untuk mengubur Lim-kongcu, namun yang kami uruk di atas badannya hanya daun-daun kering, tangkai kayu dan batu saja, agar supaya dia dapat bernapas dengan longgar, bila dia siuman tentu dapat merangkak keluar. Dengan cara kami mengubur dia itu, andaikan orang-orang Jing-sia-pay kembali lagi ke situ juga terpaksa percaya akan kematian Lim-kongcu. Pula kalau dia tak dikubur, tentu akan berbahaya jika dibiarkan menggeletak di situ, bila dia dimakan binatang buas kan percumalah maksud Siausumoay hendak menolongnya."

Mendengar sampai di sini barulah Peng-ci paham duduknya perkara.

Rupanya si nona burik justru bermaksud menyelamatkannya dengan menguburnya di bawah tanah.

Diam-diam ia berterima kasih, rasa dongkolnya dulu lantas lenyap seketika.

Dalam pada itu hujan bukannya mereda, sebaliknya malah semakin lebat.

Tiba-tiba terlihat ada seorang penjual pangsit berteduh di bawah emper di depan rumah minum itu.

Penjual pangsit itu seorang tua, tiada hentinya memukul kedua keping bambu sehingga mengeluarkan suara "tek-tok-tek-tok".

Memangnya sejak tadi anak murid Hoa-san-pay itu sudah kelaparan, cuma warung minum itu tidak menjual barang daharan, terpaksa mereka menahan lapar.

Kebetulan sekarang datang penjual pangsit, tanpa disuruh lagi Liok Tay-yu lantas berseru.

"He, pangsit, buatkan beberapa mangkuk, tambahkan telur pada tiap-tiap mangkuk."

Penjual pangsit itu mengiakan dan segera membuka tutup kuali yang berisi air mendidih itu.

Ia masukkan pangsit mentah ke dalam kuali untuk direbus, kemudian diciduklah pangsit itu serta diberi bumbu, selang tak lama lima mangkuk pangsit kuah yang masih panas sudah disuguhkan.

Kali ini Liok Tay-yu ternyata sangat taat pada peraturan, mangkuk pertama ia aturkan kepada Jisuko Lo Tek-nau, mangkuk kedua kepada Samsuko Nio Hoat, lalu berturut-turut kepada Sisuko Si Cay-cu dan Gosuko Ko Kin-beng.

Mangkuk kelima mestinya adalah bagiannya sendiri, tapi dia memberikannya kepada si nona burik dan berkata.

"Silakan kau makan dulu, Siausumoay."

Di waktu bergurau si nona suka memanggil "Lak-kau-ji"

Padanya, tapi sekarang ia lantas berbangkit dan menjawab dengan hormat.

"Terima kasih, Laksuko."

Mungkin tata tertib perguruan mereka sangat keras, di waktu biasa mereka boleh bergurau sesukanya, tapi tidak boleh mengurangi peraturan dan tata krama.

Begitulah Lo Tek-nau lantas mulai makan pangsitnya, sebaliknya si nona sengaja menunggu sampai pangsit bagian Liok Tay-yu diantarkan oleh si penjual pangsit barulah mereka makan berbareng.

"Jisuko,"

Demikian sambil makan Nio Hoat mulai bertanya pula.

"tadi kau bilang Ih-koancu mengunjungi Hok-wi-piaukiok sendiri, sebenarnya apa maksud tujuannya?"

Maka Lo Tek-nau menjawab.

"Sesudah Siausumoay berhasil menyelamatkan Lim-kongcu, mestinya ia masih hendak mengintil di belakang rombongan Pui Jin-ti untuk mencari kesempatan buat menolong Lim Cin-lam dan istrinya. Tapi aku telah mencegahnya, kubilang kebaikan Lim-kongcu itu sudah cukup terbalas dengan menyelamatkan jiwanya. Tentang permusuhan Jing-sia-pay dan Hok-wi-piaukiok yang sudah berjalan sejak angkatan tua sebaiknya kita jangan ikut tersangkut. Nasihatku ini telah diturut oleh Siausumoay dan kami lantas kembali ke Hokciu.

"Kami menjadi heran ketika mengetahui belasan murid Jing-sia-pay masih berada di sekitar Hok-wi-piaukiok di kota itu, tampaknya sedang berjaga dengan ketat. Padahal Piaukiok itu sudah kosong, sampai-sampai Lim Cin-lam dan istrinya juga sudah kabur, lalu apa lagi yang dikehendaki oleh pihak Jing-sia-pay? Karena merasa tertarik, malamnya aku dan Siausumoay lantas pergi menyelidiki.

"Kami merasa tidak mudah untuk menyusup ke dalam Piaukiok itu mengingat penjagaan ketat yang diadakan oleh murid-murid Jing-sia-pay. Tapi pada waktu mereka berganti penjaga ketika makan malam, kami berhasil menyelundup ke dalam kebun sayur di belakang, kami sembunyi di situ. Kemudian waktu kami merunduk ke dalam Piaukiok, kami terkejut sekali. Ternyata banyak sekali murid Jing-sia-pay yang sedang mengubrak-abrik seluruh isi Piaukiok itu sampai-sampai dinding juga dikorek dan jubin dibongkar. Hok-wi-piaukiok sebesar itu hampir seluruhnya dijungkirbalikkan. Sudah tentu di dalam Piaukiok itu masih banyak harta benda yang berharga yang tidak sempat dibawa pergi. Tapi orang-orang Jing-sia-pay itu ternyata tidak tamak harta, barang-barang berharga yang diketemukan hanya ditaruh begitu saja. Saat itu juga, aku lantas berpikir bahwa yang dicari oleh mereka tentu adalah suatu barang yang sangat penting dan barang apakah itu?"

"Tentu adalah Kiam-boh (rumus) dari Pi-sia-kiam-hoat!"

Seru beberapa orang Sutenya serentak.

"Benar, aku dan Siausumoay pun berpendapat begitu,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Melihat gelagatnya terang mereka sengaja memaksa orang-orang Hok-wi-piaukiok supaya kabur dari tempat itu, lalu mereka dapat mengubrak-abrik dengan sesuka hati. Tapi meski mereka kelihatan sibuk sekali sehingga mandi keringat toh tetap tiada sesuatu yang diketemukan."

"Akhirnya mereka berhasil atau tidak?"

Tanya Liok Tay-yu.

"Aku dan Siausumoay juga ingin tahu akan hal itu, akan tetapi orang-orang Jing-sia-pay itu bongkar sini dan gali sana, sampai-sampai kakus juga hampir-hampir mereka bongkar, khawatir kalau-kalau akhirnya kami kepergok, terpaksa aku dan Siausumoay lekas-lekas meninggalkan tempat itu,"

Jawab Lo Tek-nau.

"Jisuko, kali ini sampai-sampai Ih Jong-hay juga maju sendiri, menurut pandanganmu apakah tidak berlebihan?"

Tanya Gosutenya, Ko Kin-beng.

"Soalnya leluhur Jing-sia-pay pernah dikalahkan Pi-sia-kiam-hoatnya Lim Wan-tho, sekarang kepandaian Lim Cin-lam entah lebih tinggi atau lebih tidak becus dari leluhurnya tidaklah diketahui dengan pasti oleh orang luar. Maka rasanya tidak berlebihan jika Ih-koancu merasa perlu tampil ke muka sendiri. Cuma dari gerak-geriknya itu kukira maksud tujuan kedatangannya ke Hokciu itu bukanlah untuk menuntut balas melulu, yang lebih penting adalah dia ingin mendapatkan buku Kiam-boh itu."

"Jisuko,"

Kata Sisutenya yang bernama Si Cay-cu.

"kau telah menyaksikan mereka berlatih Pi-sia-kiam-hoat di Siong-hong-koan. Jika mereka sudah dapat memainkan ilmu pedang itu buat apa mesti mencari Kiam-boh dari Kiam-hoat itu? Boleh jadi yang hendak mereka cari adalah barang lain."

"Tidak,"

Sahut Lo Tek-nau sambil menggeleng.

"Tokoh besar sebagai Ih-koancu itu, di dunia ini hanya rumus ilmu silat saja yang dapat menarik perhatiannya. Kemudian waktu di daerah Kangsay aku dan Siausumoay telah memergoki rombongannya lagi. Terdengar Ih-koancu menanyakan kepada anak muridnya yang datang melapor dari Oulam dan Kwitang, tapi dari sikapnya yang lemas dan gelisah itu agaknya barang yang mereka cari itu belum diketemukan."

"Tapi kau bilang mereka telah mahir memainkan ilmu pedang itu, buat apa lagi mereka mencari Kiam-bohnya? Sungguh aneh bin ajaib!"

Kata Si Cay-cu dengan tetap tidak mengerti.

Lo Tek-nau tahu otak sang Sisute itu memang agak puntul, suatu urusan yang sederhana terkadang sukar dipahami sampai sekian lamanya.

Cuma dia paling giat berlatih, kegiatannya ternyata dapat menambal kekurangan kecerdasannya sehingga dalam ilmu silat dia malah lebih bagus daripada para Suheng dan Sutenya yang lain.

Maka jawabnya.

"Coba Sisute pikir saja, dahulu Li Wan-tho dapat mengalahkan Tiang-jing-cu, sudah tentu ilmu pedangnya sangat hebat, sebaliknya sekarang Ih-koancu menyaksikan ilmu Lim Cin-lam dan putranya ternyata tidak becus. Bukankah di balik ini pasti ada sesuatu yang tidak beres?"

"Mengapa tidak beres?"

Tanya Si Cay-cu dengan tetap bingung.

"Sudah tentu karena di dalam Pi-sia-kiam-hoat itu pasti ada rahasianya yang belum diketahui, walaupun gerakan pedangnya begitu-begitu saja, tapi daya tempurnya seharusnya sangat kuat, dan rahasia inilah yang belum sampai dipelajari oleh Lim Cin-lam,"

Ujar Tek-nau. Untuk sejenak Si Cay-cu termenung-menung. Katanya kemudian.

"O, kiranya begitu. Tapi tentang rumus Kiam-hoat biasanya diajarkan oleh sang guru secara lisan. Padahal Lim Wan-tho sudah mati beberapa puluh tahun yang lalu, andaikan peti matinya dibongkar juga tiada gunanya."

"Menurut peraturan golongan kita memang rumus ilmu silat diajarkan secara lisan antara guru dan murid tanpa tertulis, tapi ilmu silat golongan lain belum tentu sama,"

Kata Tek-nau.

"Tapi aku masih tetap tidak jelas, Jisuko,"

Ujar Si Cay-cu.

"Mungkin akan beralasan jika dahulu mereka mencari rumus Pi-sia-kiam-hoat, yaitu supaya mereka dapat mengetahui rahasia ilmu pedang itu dan dapat mengalahkannya. Akan tetapi sekarang Lim Cin-lam dan istrinya juga sudah mereka tawan, Hok-wi-piaukiok dan segenap kantor cabangnya juga sudah diubrak-abrik mereka, lalu mereka mau menuntut balas apa lagi? Andaikan di dalam Pi-sia-kiam-hoat itu betul ada rahasianya, lalu guna apa mereka mencarinya?"

"Coba jawab, Sisute,"

Tanya Tek-nau dengan tertawa.

"Ilmu silat Jing-sia-pay kalau dibanding dengan Ngo-gak-kiam-pay kita, kira-kira bagaimana?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Si Cay-cu. Tapi lewat sejenak ia menambahkan lagi.

"Mungkin belum memadai?"

"Benar, mungkin belum memadai,"

Tukas Tek-nau.

"Tapi Ih-koancu itu adalah orang yang berambisi besar dan tinggi hati, masakah dia mau berdiri di bawah orang untuk selamanya? Bilamana di dalam Pi-sia-kiam-hoat itu memang betul ada sesuatu rumus rahasia yang dapat membikin jurus ilmu pedang yang tampaknya sepele itu menjadi mahalihai, lalu ilmu pedang yang mukjizat itu dikombinasikan di dalam Jing-sia-kiam-hoat, lantas bagaimana akibatnya?"

Si Cay-cu termangu-mangu sejenak, mendadak ia menggebrak meja lalu berbangkit sambil berseru.

"Aha, baru sekarang aku paham! Kiranya Ih Jong-hay ingin menjadi 'Ban-kiam-bengcu' (raja dari segala ilmu pedang)!"

Karena meja digebrak olehnya, sebuah mangkuk wadah pangsit tadi lantas mencelat dan jatuh ke bawah.

Namun cepat Ko Kin-beng mengayun sebelah kakinya, ujung kakinya mencukit perlahan sehingga mangkuk itu mencelat kembali ke atas, maka dengan gampang mangkuk itu kena ditangkapnya kembali.

Pada saat itulah sekonyong-konyong si kakek penjual pangsit berkata kepada mereka dengan suara tertahan.

"Awas, lawan kalian telah datang, lekas lari!"

Mendengar kakek penjual pangsit itu mendadak bicara demikian, keruan semua orang terkejut. Cepat Ko Kin-beng menegas.

"Apakah Ih Jong-hay telah datang?"

Tapi penjual pangsit itu tidak menjawab, hanya ujung mulutnya mengerot memberi tanda, lalu ia memukul-mukul kepingan bambunya lagi.

Waktu semua orang memandang keluar, tertampaklah di tengah hujan lebat itu ada belasan orang sedang mendatangi dengan langkah cepat.

Orang-orang itu semuanya pakai mantel.

Sesudah dekat barulah terlihat jelas, kiranya adalah serombongan Nikoh (biksuni).

Yang berjalan paling depan adalah seorang Nikoh tua yang berbadan sangat tinggi.

Begitu sampai di depan rumah minum itu ia lantas berhenti dan berseru dengan suara kasar.

"Lenghou Tiong, hayo keluar!"

Melihat Nikoh tua itu, serentak Lo Tek-nau dan para Sutenya berbangkit serta memberi hormat. Dengan suara lantang Tek-nau menyapa.

"Terimalah sembah bakti kami, Ting-yat Susiok."

Kiranya Nikoh tua itu bergelar Ting-yat Suthay, dia adalah Sumoaynya Ting-sian Suthay, itu ketua Hing-san-pay yang bersemayam di Pek-hun-am (biara awan putih) di gunung Hing.

Nama Ting-yat bukan saja sangat berwibawa di dalam Hing-san-pay, bahkan orang Bu-lim umumnya juga sangat segan padanya.

Terdengar dia berteriak-teriak pula dengan suara kasar.

"Di mana Lenghou Tiong bersembunyi, suruh dia keluar!"

"Lapor Susiok, Lenghou-suheng tidak berada di sini,"

Demikian kata Lo Tek-nau dengan hormat.

"Sejak tadi Tecu sekalian telah menunggunya dan tetap belum datang."

Mendengar percakapan itu, diam-diam Peng-ci membatin.

"Kiranya Toasuko yang mereka bicarakan tadi bernama Lenghou Tiong. Orang ini benar-benar suka cari gara-gara, entah mengapa dia telah membuat marah Nikoh tua ini?"

Dalam pada itu Ting-yat telah melangkah ke dalam rumah minum itu. Tapi di antara tamu-tamu itu tiada diketemukan Lenghou Tiong, tiba-tiba ia menatap si nona burik dan bertanya.

"Apakah kau ini Ling-ji? Mengapa menyamar begini aneh?"

"Ada orang jahat yang hendak membuat susah Ling-ji, terpaksa menyamar untuk menghindarinya,"

Sahut si nona.

"Orang jahat macam apa itu? Katakan padanya bahwa segala apa yang kau lakukan adalah suruhanku, jika perlu suruh dia mencari padaku saja,"

Kata Ting-yat.

"Terima kasih, Susiok,"

Sahut si nona alias Ling-ji.

"Susiok, entah sebab apa Toasuko membikin marah padamu? Biarlah aku menjura dan minta maaf baginya, harap engkau jangan gusar lagi."

Habis berkata ia lantas berlutut dan menyembah.

"Hm, pengawasan Hoa-san-pay kalian makin lama makin tak keruan dan membiarkan muridnya main gila sesukanya,"

Jengek Ting-yat.

"Sudahlah, jika urusan di sini sudah beres segera aku akan pergi ke Hoa-san untuk mencari bapakmu."

"Eh, janganlah Susiok ke sana,"

Cepat Ling-ji mencegah.

"Baru saja Toasuko dirangket 30 kali oleh Ayah sehingga berjalan pun tidak dapat. Jika Susiok mengadu lagi pada ayah, tentu Toasuko akan dihajar lebih berat, jangan-jangan akan dirangket sampai mati."

"Binatang begitu lebih baik dihajar mampus saja daripada hidup lebih lama lagi,"

Kata Ting-yat.

"Hm, kau pun berani berdusta padaku, Ling-ji! Kau bilang Lenghou Tiong tidak dapat berjalan, tapi mengapa dia dapat membawa lari muridku yang terkecil?"

Ucapan ini membuat anak murid Hoa-san-pay itu terperanjat, lebih-lebih Ling-ji, hampir-hampir ia menangis, cepat ia bertanya.

"Susiok, rasanya hal itu ti ... tidaklah mungkin. Betapa pun binalnya Toasuko juga takkan berani menyalahi para Suci dari golongan kalian. Besar kemungkinan ada orang yang sengaja memfitnah dan mengadu domba."

"Kau masih coba menyangkal dan membelanya?"

Semprot Ting-yat.

"Coba, Gi-kong, ceritakan apa yang kau saksikan di Hengyang?"

Seorang Nikoh setengah tua lantas tampil ke muka, katanya.

"Tecu telah menyaksikan sendiri di kota Hengyang, di mana Lenghou-suheng dan Gi-lim Sumoay berduduk bersama sedang minum arak di Cui-sian-lau. Terang kelihatan Gi-lim Sumoay berada di bawah ancaman Lenghou-suheng sehingga terpaksa menurut saja, sikapnya tampak sangat cemas dan takut-takut."

Meski sudah mengetahui hal itu, sekarang untuk kedua kalinya Ting-yat mendengar, kembali rasa gusarnya memuncak, mendadak ia menggebrak meja sehingga beberapa mangkuk pangsit sampai mencelat.

Sekali ini tiada seorang pun yang berani menangkap kembali mangkuk-mangkuk itu sehingga terjatuh semua ke lantai dan pecah berantakan.

Diam-diam para murid Hoa-san-pay itu menjadi serbasalah, mereka anggap perbuatan sang Suheng sekali ini agak kelewatan, kalau minum arak bersama seorang pengemis sih tidak menjadi soal, tapi mana boleh memaksa seorang Nikoh cilik minum bersama di rumah arak secara terang-terangan di depan umum.

Apalagi Nikoh itu adalah murid Hing-san-pay.

Sekarang menghadapi Ting-yat Suthay yang wataknya sangat keras, jika dilaporkan, sekalipun Toasuheng tidak dibunuh Suhu juga pasti akan diusir dari perguruan.

Air mata Ling-ji sampai berlinang-linang mendengar hal itu, tanyanya kemudian dengan suara gemetar.

"Susiok, apakah ... apakah Gi-kong Suci tidak salah lihat?"

"Masakan aku bisa salah lihat?"

Sahut Gi-kong dengan dingin.

"Gi-lim Sumoay adalah saudara seperguruanku, masakah aku keliru mengenalnya? Apalagi macamnya Lenghou-suheng itu juga tidak mungkin aku pangling."

"Jika ... jika begitu, mengapa engkau tidak panggil Gi-lim Sumoay supaya ikut pergi bersama engkau?"

Tanya Ling-ji.

"Aku tidak berani,"

Sahut Gi-kong.

"Tidak berani? Apakah engkau takut Toasuko memaksa kau ikut minum sekalian bersama dia?"

Tanya Ling-ji pula. Pertanyaan ini membuat para Suhengnya merasa geli, tapi tiada yang berani tertawa. Ting-yat juga lantas membentak.

"Ling-ji, jangan sembarangan omong!"

Lalu Gi-kong menjawab.

"Sebab di antara mereka terdapat pula seorang lagi dan aku tidak berani menemuinya."

"Siapakah dia?"

Tanya Ling-ji.

"Dian Pek-kong!"

Jawab Gi-kong.

Serentak semua orang bersuara kaget sambil berbangkit.

Rupanya Dian Pek-kong itu dijuluki "Ban-li-tok-heng" , si kelana tunggal berlaksa li, seorang bandit yang sangat memusingkan tokoh-tokoh, baik dari kalangan Pek-to maupun Hek-to.

Ilmu silat Dian Pek-kong sangat tinggi, tipu akalnya banyak dan macam-macam, datang pergi selalu seorang diri tanpa bekas.

Caranya kejam pula, segala kejahatan dapat diperbuatnya, membunuh, merampok, menculik, memerkosa wanita, semuanya adalah dikerjakannya yang biasa.

Beberapa kali juga jago-jago persilatan secara besar-besaran menggerebeknya, tapi dia selalu menghilang.

Bila para pengepungnya sudah bubar, lalu satu per satu dia menyergap mereka, selama ini sudah banyak sekali orang-orang gagah yang menjadi korban keganasannya.

Yang paling celaka adalah Dian Pek-kong ini berjiwa cabul, setiap wanita yang agak lumayan parasnya tentu diincar olehnya.

Sebab itulah orang Bu-lim merasa sangat benci padanya dan setiap orang ingin membinasakan dia.

Lebih-lebih kaum wanita, bila mendengar namanya sangat ketakutan.

"Gi-kong Sumoay, apakah kau kenal keparat Dian Pek-kong itu?"

Demikian tiba-tiba Lo Tek-nau bertanya.

"Pada jidat sebelah kiri orang itu ada tembong (toh) hijau serta tumbuh bulu yang panjang,"

Sahut Gi-kong. Kiranya tembong hijau berbulu di atas jidat adalah ciri khas Dian Pek-kong sehingga diketahui oleh setiap orang Kangouw. Maka dengan gusar Ting-yat lantas memaki.

"Coba, binatang Lenghou Tiong itu telah bergaul bersama penjahat tak terampunkan sebagai Dian Pek-kong itu, bukankah dia sudah terjeblos ke dalam lumpur sedemikian dalamnya? Biarpun Suhu kalian masih membela muridnya sendiri, jika aku ketemukan dia, pasti tak ampun lagi, aku harus memenggal kepalanya. Hm, orang lain gentar kepada Ban-li-tok-heng Dian Pek-kong, tapi aku justru hendak melabraknya mati-matian. Sayang waktu aku mendapat laporan dan memburu ke sana, sementara itu Dian Pek-kong dan Lenghou Tiong sudah kabur dengan membawa lari Gi-lim. Ai, kasihan Gi-lim anak ini!"

Segera di antara murid-murid Pek-hun-am itu ada yang menangis khawatir.

Mereka yakin Gi-lim yang masih muda belia dan lemah lembut itu sekali sudah jatuh di bawah cengkeraman Dian Pek-kong pastilah sukar terhindar dari kecemaran.

Lo Tek-nau dan yang lain juga berdebar-debar khawatir.

Pikir mereka.

"Sekalipun Toasuko melulu minum arak berduaan bersama Gi-lim di rumah minum, hal ini saja sudah sangat mencemarkan nama baik dan kesucian orang beribadat dan telah melanggar undang-undang perguruan, sekarang dia bergaul pula dengan manusia kotor sebagai Dian Pek-kong ini, benar-benar dosa ditambah dosa lagi."

Selang sejenak barulah Tek-nau berkata.

"Susiok, boleh jadi Lenghou-suheng cuma bertemu secara kebetulan saja dengan Dian Pek-kong dan tiada persahabatan apa-apa. Selama beberapa hari ini Toasuheng selalu minum sampai mabuk, pikirannya menjadi linglung sehingga tindak tanduknya sukar diduga ...."

"Hm, mabuk apa? Mabuk juga ada batasnya!"

Bentak Ting-yat dengan gusar.

"Dia toh bukan anak kecil, masakah tidak bisa membedakan hal-hal yang baik dan yang busuk?"

"Ya, ya,"

Sahut Tek-nau.

"Cuma tidak diketahui Toasuheng sekarang berada di mana. Sutit sekalian juga ingin mencarinya dan menegur perbuatannya yang tidak pantas itu. Sekarang biarlah Sutit menjura dan minta maaf dulu kepada Susiok, nanti akan kami laporkan kepada Suhu agar menghukum Toasuheng secara setimpal."

"Hm, aku peduli apa dengan Suhengmu?"

Damprat Ting-yat dengan marah. Sekonyong-konyong tangannya menjulur, kontan pergelangan tangan Ling-ji kena dipegang olehnya. Seketika Ling-ji merasa tangannya seperti dibelenggu, ia menjerit kaget.

"Su ... Susiok!"

"Toasuhengmu telah menculik muridku Gi-lim, maka sekarang aku pun hendak menculik kau sebagai sandera,"

Kata Ting-yat.

"Asal kalian mengembalikan Gi-lim, segera aku pun akan melepaskan Ling-ji!"

Habis berkata ia memutar tubuh, Ling-ji diseretnya keluar rumah minum itu.

Tanpa ampun lagi setengah badan bagian atas Ling-ji terasa kesemutan dan tak bertenaga, tanpa kuasa ia ikut berjalan dengan sempoyongan.

Cepat Lo Tek-nau dan Nio Hoat melompat maju dan mengadang di depan Ting-yat Suthay.

Kata Tek-nau dengan menghormat.

"Ting-yat Susiok, andaikan Toasuko berbuat apa-apa yang tidak pantas juga tidak ada sangkut pautnya dengan Siausumoay, harap Susiok suka mengampuni dia."

"Baik, akan kuampuni dia!"

Sahut Ting-yat.

Mendadak ia angkat lengan kanan lalu menyampuk ke samping.

Kontan Lo Tek-nau dan Nio Hoat merasa didorong oleh suatu tenaga mahakuat, sampai napas pun terasa sesak, tanpa kuasa lagi tubuh mereka mencelat ke belakang.

"Blang"

Punggung Lo Tek-nau menumbuk daun pintu rumah minum itu, papan pintu itu sampai-sampai pecah.

Sedangkan Nio Hoat mencelat ke arah si penjual pangsit, tampaknya pikulan pangsit itu pasti hancur tertumbuk dan bukan mustahil Nio Hoat akan terluka parah terkena air mendidih.

Syukurlah mendadak si kakek penjual pangsit telah menjulurkan sebelah tangannya untuk menahan di punggung Nio Hoat sehingga dia dapat berdiri kembali dengan tegak.

"Kiranya kau!"

Kata Ting-yat Suthay sambil melotot sesudah mengenali siapa kakek penjual pangsit itu.

"Ya, akulah adanya,"

Sahut si penjual pangsit dengan tertawa.

"Perangai Suthay rasanya terlalulah diumbar!"

"Peduli apa dengan kau?"

Semprot Ting-yat. Pada saat itu juga tertampak dua orang berpayung dan membawa lentera sedang mendatangi dengan cepat sambil berseru.

"Apakah di sini ini adalah Sin-ni dari Hing-san-pay?"

Mendengar dirinya disebut sebagai "Sin-ni" (Nikoh sakti), Ting-yat menjadi senang hatinya. Segera ia menjawab.

"Ah, tidak berani terima pujian demikian. Ting-yat dari Hing-san memang berada di sini."

Sesudah dekat, tertampak kerudung lentera yang dibawa kedua orang itu tertulis huruf "Lau"

Merah. Seorang di antaranya lantas berkata.

"Wanpwe diperintahkan Suhu untuk mengundang Ting-yat Supek dan para Suci supaya mampir dulu, harap dimaafkan keterlambatan penyambutan kami atas kedatangan Supek ke kota Heng-san ini."

"Ah, tak perlu banyak adat,"

Sahut Ting-yat.

"Apakah kalian adalah murid Lau-samya?"

"Betul,"

Sahut orang itu.

"Wanpwe bernama Hiang Tay-lian, dan ini adalah Bi Wi-gi Sute. Terimalah sembah bakti kami."

Dasar Ting-yat memang suka dipuji sanjung, maka ia menjadi sangat senang atas sikap Hiang Tay-lian dan Bi Wi-gi yang ramah dan merendah itu. Sahutnya.

"Baiklah, kami memang hendak mengunjungi Lau-samya."

"Dan siapakah saudara-saudara ini?"

Hiang Tay-lian lantas tanya Nio Hoat dan lain-lain.

"Cayhe Nio Hoat dari Hoa-san,"

Sahut Nio Hoat.

"Aha, kiranya adalah 'Kiu-ting-jiu' Nio-samko dari Hoa-san,"

Seru Hiang Tay-lian dengan gembira.

"Sudah lama kami mengagumi nama Nio-samko, silakan mampir sekalian. Kami telah dipesan oleh Suhu untuk menyambut kedatangan para tamu, cuma kami kekurangan tenaga sehingga banyak kekurangan dalam penyambutan, untuk mana harap dimaafkan. Marilah silakan mampir semua!"

Dalam pada itu Lo Tek-nau juga sudah mendekati mereka dan berkata.

"Sebenarnya kami sedang menunggu datangnya Toasuko baru akan berkunjung dan menyampaikan salam hormat kepada Lau-samya."

"Yang ini tentulah Lo-jiko adanya?"

Sahut Hiang Tay-lian.

"Suhu sering memuji para murid Gak-supek betapa gagah perwiranya, Lenghou-suheng dan Lo-jiko lebih-lebih adalah kesatria angkatan muda yang jarang ada bandingannya. Jika Lenghou-suheng masih belum tiba, bolehlah saudara-saudara silakan mampir dulu."

Diam-diam Lo Tek-nau membatin.

"Siausumoay sudah dicengkeram oleh Ting-yat, tampaknya dia tak mau melepaskannya. Kami terpaksa mengikut mereka pergi ke sana."

Maka ia lantas berkata.

"Jika begitu terpaksa mesti mengganggu."

"Ah, kedatangan kalian ke Heng-san sini berarti suatu kehormatan bagi kami, masakah kalian masih mengucapkan kata-kata sungkan demikian?"

Sahut Hiang Tay-lian.

"Dan dia ini juga kau undang atau tidak?"

Tiba-tiba Ting-yat bertanya sambil menunjuk si kakek penjual pangsit. Hiang Tay-lian memandang sejenak kepada penjual pangsit itu, mendadak dia sadar, katanya dengan menghormat.

"Ah, kiranya Ho-supek dari Gan-thang-san juga berada di sini, maafkan keteledoran kami. Silakan, silakan Ho-supek juga ikut mampir ke tempat kami."

Kiranya kakek penjual pangsit ini bernama Ho Sam-jit, seorang tokoh terkemuka dari Gan-thang-san di Ciatkang Selatan.

Sejak kecil hidupnya dari menjual pangsit, sesudah berhasil menjadi jago silat dia masih tetap berkelana dengan pikulan pangsitnya, maka pikulan pangsitnya itu boleh dikata adalah "tanda pengenalnya".

Cuma saja di setiap kota banyak sekali terdapat penjual pangsit, dengan sendirinya sukar dikenali.

Tapi jika mahir ilmu silat, maka terang penjual pangsit itu pasti Ho Sam-jit adanya.

"Ya, baiklah, aku memang hendak mengganggu ke tempat kalian,"

Demikian sahut Ho Sam-jit dengan tersenyum sambil mengemasi mangkuk pangsitnya. Mendengar disebutnya Ho Sam-jit, cepat Lo Tek-nau memberi hormat juga dan berkata.

"Wanpwe punya mata tapi tidak bisa melihat, harap Ho-supek jangan marah."

"Tidak marah, tidak marah!"

Sahut Ho Sam-jit dengan tertawa.

"Kalian telah membeli pangsitku, kalian adalah pemberi sandang pangan padaku, masakah aku berani marah kepada kalian?"

Dalam pada itu hujan ternyata sudah mereda. Segera Hiang Tay-lian berkata pula.

"Silakan sekalian berangkat!"

Lalu ia mendahului berjalan di depan sebagai penunjuk jalan dan diikuti orang banyak dari belakang.

Peng-ci juga lantas berbangkit dan mengikut di belakang orang-orang Hoa-san-pay.

Tidak lama sampailah mereka di depan sebuah gedung yang megah, di depan pintu gerbang terpajang lampion dan kertas berwarna-warni sehingga menambah semarak sekali.

Banyak orang Kangouw tampak masuk keluar dengan ramai.

Hiang Tay-lian membawa para tamunya ke ruangan tengah, tertampak di ruangan yang sangat luas itu sudah penuh tamu.

Mereka lantas mencari tempat duduk yang luang.

Kemudian Hiang Tay-lian mengundang Ting-yat dan Ho Sam-jit masuk ke ruangan dalam.

Selagi suasana di ruang tamu itu riuh ramai orang berbicara, tiba-tiba Hiang Tay-lian keluar lagi dan mendekati Lo Tek-nau serta mengundangnya ke ruangan dalam.

Tek-nau mengiakan dan segera ikut masuk ke belakang.

Sesudah menyusur sebuah serambi yang panjang, akhirnya sampailah di sebuah ruangan berjubin kembang.

Di tengah ruangan itu kelihatan berjajar lima buah kursi besar, empat di antaranya kosong, hanya kursi ujung kanan berduduk seorang Tojin bermuka merah dan berbadan kekar.

Tek-nau tahu kelima kursi besar itu disediakan bagi kelima Ciangbunjin dari Ngo-gak-kiam-pay, lima aliran ilmu pedang dari lima gunung, yaitu Ko-san, Hing-san, Hoa-san, Heng-san dan Thay-san.

Ternyata empat di antara lima aliran itu belum ada yang datang, hanya Ciangbunjin Thay-san-pay saja yang sudah hadir, yaitu Tojin muka merah tadi yang bergelar Thian-bun Tojin.

Di samping kanan-kiri juga sudah banyak tetamu angkatan tua, di antaranya terlihat Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay, Ih Jong-hay dari Jing-sia-pay dan Ho Sam-jit, si kakek penjual pangsit.

Pada kursi tempat tuan rumah terlihat berduduk seorang setengah umur yang pendek gemuk berjubah sutera warna cokelat.

Itulah dia, Lau Cing-hong, tuan rumah yang berpotongan sebagai hartawan.

Lebih dulu Lo Tek-nau mendekati tuan rumah dan memberi hormat, lalu menyembah kepada Thian-bun Tojin sambil menyapa.

"Anak murid Hoa-san-pay Lo Tek-nau memberi sembah kepada Thian-bun Supek."

Air muka Thian-bun Tojin tampak guram, seperti penuh menahan rasa gusar yang setiap saat dapat meledak. Mendadak ia gebrak di atas pegangan kursi dan membentak.

"Di manakah Lenghou Tiong?"

Suaranya yang keras mengguntur ini sampai-sampai terdengar juga oleh orang-orang yang berada di ruangan depan.

Keruan para murid Hoa-san-pay sama terkejut.

Walaupun Peng-ci duduk di tempat paling terpencil, tapi suara Thian-bun Tojin yang mengamuk itu pun dapat didengarnya.

Pikirnya.

"Kembali mereka mencari si Lenghou Tiong itu. Wah, si tua Lenghou Tiong itu benar-benar suka bikin gara-gara."

Dalam pada itu Lo Tek-nau juga tergetar oleh suara Thian-bun Tojin tadi, selang sejenak barulah dia dapat menjawab.

"Lapor Supek, Lenghou-suheng sementara telah berpisah dengan rombongan Wanpwe di Hengyang dan berjanji untuk berkumpul kembali di Heng-san ini, jika hari ini belum datang tentu besok juga akan tiba."

"Dia masih berani datang? Berani datang?"

Demikian Thian-bun mengulangi dengan gusar.

"Lenghou Tiong adalah Ciangbun-tay-tecu (murid pewaris) Hoa-san-pay kalian, betapa pun terhitung dari golongan yang baik. Tapi mengapa dia bergaul dengan bangsat keparat Dian Pek-kong yang terkutuk itu?"

"Setahu Tecu selama ini Toasuko tidak mengenal Dian Pek-kong,"

Sahut Lo Tek-nau.

"Hanya Toasuko paling gemar minum arak, boleh jadi Toasuko tidak tahu siapakah Dian Pek-kong itu dan secara kebetulan bertemu dengan dia di rumah minum."

"Kau masih berani mengoceh untuk membela keparat Lenghou Tiong itu?"

Bentak Thian-bun dengan gusar sambil berbangkit.

"Sute, coba kau ceritakan padanya, cara bagaimana kau sampai terluka dan Lenghou Tiong apakah kenal Dian Pek-kong atau tidak?"

Ternyata di samping kiri terdapat dua papan daun pintu, yang sebuah berbaring sesosok mayat, sebuah lagi merebah seorang Tojin berjenggot panjang.

Ialah Te-coat Tojin dari Thay-san-pay, Sutenya Thian-bun.

Keadaan Te-coat tampaknya cukup payah, mukanya pucat, jenggotnya juga penuh berlepotan darah.

Cuma tadi dia sudah diberi obat luka oleh Ting-yat Suthay, maka jiwanya tidak menjadi soal lagi.

Ketika mendengar pertanyaan sang Suheng, dengan suara lemah ia lantas berkata.

"Pagi ... pagi tadi waktu aku menemui Tang-sutit di ... di rumah makan Cui-sian-lau, kulihat Leng ... Lenghou Tiong berada di sana ber ... sama Dian Pek-kong dan se ... seorang Nikoh kecil ...."

Sampai di sini napasnya sudah tersengal-sengal dan terpaksa berhenti.

"Sudahlah, Te-coat Toheng, biarlah aku mewakilkan kau menceritakan apa yang kau uraikan tadi,"

Kata Lau Cing-hong. Lalu ia berpaling kepada Tek-nau dan berkata pula.

"Lo-hiantit, kalian jauh-jauh datang untuk mengucapkan selamat padaku, sungguh aku sangat berterima kasih. Cuma entah mengapa Lenghou-hiantit dapat berkenalan dengan keparat Dian Pek-kong, hal ini harus kita selidiki dengan jelas. Jika memang Lenghou-hiantit yang salah, mengingat Ngo-gak-kiam-pay kita adalah orang sekeluarga, maka kita harus menasihati dia dengan baik-baik ...."

"Menasihati apa? Harus membikin pembersihan dan penggal kepalanya!"

Seru Thian-bun dengan gusar.

Melihat betapa murkanya Thian-bun, diam-diam Lo Tek-nau sangat takut.

Dilihatnya Ih Jong-hay dan Ting-yat Suthay sedang mengikuti tanya jawab itu.

Ih Jong-hay tampak tersenyum-senyum senang seakan-akan menyukurkan apa yang terjadi, sedangkan Ting-yat tampak ikut-ikut memberi angin dan membakar Thian-bun Tojin.

Diam-diam Tek-nau mendongkol pula.

Pikirnya.

"Lenghou-suheng tidak ada di sini, sementara aku adalah kepala murid-murid Hoa-san-pay yang hadir di sini, sekali-kali aku tak boleh menurunkan derajat Suhu."

Maka ia lantas berkata.

"Para Supek dan Susiok adalah sahabat karib Suhu kami, terhadap murid yang bersalah biasanya Suhu kami tidak pernah melindungi dan mengampuni begitu saja."

Sampai di sini ia lantas berpaling ke arah Ih Jong-hay dan bertanya.

"Untuk ini Ih-susiok dapat memberi saksi bahwa ucapan Tecu tidaklah dusta."

Pertanyaan Lo Tek-nau ini benar-benar lihai.

Seketika Ih Jong-hay mendengus dan tidak berani menjawab.

Ia tahu ucapan Lo Tek-nau ini mengandung ancaman dan pemerasan, maksudnya jika persoalannya ditanyakan terus, tentu akhirnya akan menyinggung tentang kejadian dua orang murid utama Jing-sia-pay yang ditendang terguling ke bawah loteng oleh Lenghou Tiong, hal ini tentu akan membikin malu pihak Jing-sia-pay.

Maka terdengar Lau Cing-hong berkata pula.

"Tata tertib Gak-suheng yang keras itu sudah tentu kami cukup tahu. Cuma perbuatan Lenghou-hiantit kali ini harus dianggap keterlaluan."

Bab 12. Si Gi-lim Cantik Berkisah "Buat apa kau masih sebut dia sebagai 'Hiantit' (keponakan yang baik) segala, Hian ... Hian kentut!"

Teriak Thian-bun dengan gusar.

Tapi segera ia merasa ucapannya itu kurang sopan di hadapan seorang Nikoh sebagai Ting-yat Suthay.

Namun kata-kata itu sudah telanjur dikeluarkan dan tak mungkin ditarik kembali, terpaksa ia hanya marah-marah dan duduk kembali ke tempatnya.

"Lau-susiok, sebenarnya bagaimana duduk perkara ini, harap engkau sudi menjelaskan,"

Tanya Tek-nau kemudian.

"Ya, seperti yang dikatakan Te-coat Toheng tadi,"

Demikian Cing-hong menutur.

"Pagi ini dia dan murid Thian-bun Toheng, yaitu Tang Pek-sing, pergi ke rumah makan Cui-sian-lau. Begitu mereka naik ke atas loteng lantas melihat ada tiga orang sedang makan-minum besar. Mereka adalah si maling cabul Dian Pek-kong, Lenghou-sutit dan murid kesayangan Ting-yat Suthay, yaitu Gi-lim. Melihat mereka, Te-coat Toheng lantas merasa ada sesuatu yang ganjil. Sebenarnya dia tidak mengenal mereka bertiga, cuma dari dandanan mereka diketahui yang seorang adalah murid Hoa-san-pay, yang wanita adalah murid Hing-san-pay. Untuk ini harap Ting-yat Suthay jangan marah. Gi-lim adalah karena dipaksa orang, mau tak mau dia mesti menurut saja karena dalam keadaan tak berkuasa. Menurut Te-coat Toheng, katanya Dian Pek-kong itu adalah seorang laki-laki berpakaian perlente dan berumur 30-an tahun. Semula dia tidak tahu siapakah maling cabul itu, kemudian sesudah mendengar Lenghou-hiantit berbicara dan menyebutnya, 'Dian-heng, marilah kita habiskan satu cawan lagi! Ginkangmu terkenal tiada bandingannya di dunia ini, tapi kekuatan minum kau pasti kalah jauh daripadaku.' "

Jika orang itu she Dian, dikatakan Ginkangnya tiada bandingannya pula, apalagi dari mukanya yang ada ciri-ciri tertentu itu, maka Te-coat Toheng lantas tahu keparat itu pastilah Ban-li-tok-heng Dian Pek-kong adanya.

Dasar Te-coat Toheng biasanya pandang kejahatan sebagai musuhnya, demi melihat mereka bertiga minum bersama, dengan sendirinya ia naik darah ...."

Diam-diam Lo Tek-nau membatin.

"Tiga orang minum bersama, seorang adalah bangsat cabul yang terkenal dan seorang Nikoh cilik yang sudah menyucikan diri, sedangkan seorang lagi adalah murid utama Hoa-san-pay, pemandangan demikian memang tidak sedap."

"Kemudian Te-coat Toheng mendengar Dian Pek-kong itu menjawab, 'Aku Dian Pek-kong selamanya datang pergi seorang diri dan malang melintang di dunia ini, selama hidupku aku paling memandang hina kepada manusia-manusia yang suka mengaku sebagai seorang Beng-bun-cing-pay (keluarga ternama dan golongan baik). Lenghou-heng, meski kau adalah murid Hoa-san-pay, tapi jiwamu sangat cocok dengan diriku, tidaklah mengecewakan jika aku berkawan dan minum bersama kau. Marilah, boleh kita berlomba minum, kurasa kekuatan minumku pasti lebih banyak daripadamu. Eh, Nikoh cilik, kau mau mengiringi kami minum atau tidak? Jika tidak mau biar aku mencekoki kau ....'"

Sampai di sini Lau Cing-hong bicara, Tek-nau mencoba memandang sekejap kepadanya, lalu memandang Te-coat Tojin pula, wajahnya menampilkan rasa sangsi dan tidak percaya.

Cing-hong lantas paham, segera ia menerangkan.

"Dalam keadaan terluka sudah tentu Te-coat Toheng tidak dapat bercerita sedemikian jelasnya padaku, tapi apa yang kututurkan ini pada garis besarnya adalah begitu. Betul tidak, Te-coat Toheng?"

"Ya, be ... betul, betul!"

Sahut Te-coat Tojin.

"Waktu itu juga Te-coat Toheng tidak sabar lagi, segera ia menggebrak meja dan memaki, 'Kau adalah maling cabul Dian Pek-kong, bukan? Setiap orang Bu-lim tentu ingin membinasakan kau, tapi kau malah berani berlagak di sini, apa barangkali kau sudah bosan hidup?' "

Keparat Dian Pek-kong itu ternyata sangat sombong, dia telah bicara secara kasar sehingga Te-coat Toheng menjadi marah dan segera lolos senjata untuk melabraknya.

Mungkin karena ingin lekas-lekas membinasakan bangsat itu sehingga agak lena, suatu ketika Te-coat Toheng telah dibacok sekali di bagian dada oleh musuh.

Dengan mati-matian Tang-sutit bermaksud menolong sang Susiok, akhirnya dia malah menjadi korban.

Seorang kesatria muda akhirnya tewas di tangan maling cabul itu, sungguh sayang.

Tatkala mana Lenghou Tiong tetap berduduk saja di tempatnya, sama sekali tidak memberi bantuan apa-apa, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa setia kawan di antara Ngo-gak-kiam-pay kita.

Lantaran itulah Thian-bun Toheng merasa marah."

"Huh, setia kawan apa?"

Ejek Thian-bun dengan gusar.

"Orang yang belajar silat sebagai kita ini harus dapat membedakan secara tegas antara yang baik dan yang jahat. Tapi bergaul dengan seorang maling cabul begitu ...."

Begitulah karena marahnya sampai napasnya menjadi sesak dan jenggotnya seakan-akan berdiri. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang berkata di luar pintu.

"Suhu, Tecu ingin memberi laporan!"

Dari suaranya, Thian-bun mengenalnya adalah muridnya sendiri yang bernama Ong Gun. Segera ia menjawab.

"Masuk! Ada urusan apa?"

Maka muncullah seorang pemuda gagah berusia 30-an.

Lebih dulu ia memberi hormat kepada Lau Cing-hong sebagai tuan rumah, lalu memberi hormat kepada para hadirin yang lebih tua, akhirnya barulah memberi hormat kepada Thian-bun Tojin dan berkata.

"Suhu, ada berita dari Jin-jing Susiok, katanya beliau bersama para Suheng dan Sute telah mencari ke segenap pelosok kota Heng-san ini, tapi tetap tidak menemukan jejak kedua maling cabul Dian Pek-kong dan Lenghou Tiong."

Diam-diam Lo Tek-nau dongkol karena Toasuhengnya juga dianggap sebagai "maling cabul".

Tapi apa mau dikata lagi kalau memang Toasuhengnya terbukti berada bersama Dian Pek-kong?

Terdengar Ong Gun sedang menyambung laporannya.

"Akan tetapi di luar kota Hong-san Susiok telah menemukan serangka mayat yang bagian dadanya tertusuk pedang. Pedang itu ... pedang itu ternyata adalah milik ... milik si maling cabul Lenghou Tiong ...."

"Dan yang mati itu siapa?"

Cepat Thian-bun menyela. Ong Gun menatap Ih Jong-hay sambil menjawab.

"Dia adalah seorang Suheng dari murid Ih-susiok. Tatkala itu kami tidak mengenalnya, sesudah kami mengusung jenazah itu ke dalam kota barulah ada orang yang kenal, kiranya adalah Lo Jin-kiat, Lo-suheng ...."

"Hah, Jin-kiat katamu? Di mana jenazahnya?"

Teriak Ih Jong-hay sambil berbangkit. Segera terdengar suara jawaban orang di luar.

"Berada di sini!"

Ih Jong-hay itu benar-benar seseorang yang dapat menahan perasaannya, walaupun mendadak mendengar kematian muridnya, bahkan adalah salah satu di antara murid terkemuka dari "Eng Hiong Ho Kiat", yaitu Lo Jin-kiat, namun dia masih tetap berlaku tenang.

Katanya.

"Harap tolong dibawa masuk ke sini."

Orang di luar itu mengiakan.

Lalu dua orang menggotong sebuah daun pintu di mana menggeletak sesosok jenazah yang di atas dadanya masih menancap sebatang pedang.

Ujung pedang itu tertusuk masuk melalui perut terus miring ke atas.

Pedang yang panjangnya hampir satu meter itu tinggal sepertiga saja yang kelihatan di luar sehingga ujung pedangnya terang menembus sampai di bagian tenggorokan sang korban.

Gaya serangan keji yang menusuk secara miring dari bawah ke atas demikian benar-benar jarang terlihat digunakan oleh orang Bu-lim.

Dalam pada itu Ong Gun bicara lagi.

"Menurut berita Jin-jing Susiok, katanya beliau masih meneruskan pencarian atas diri kedua maling cabul itu. Paling baik kalau dari sini dapat dikirimkan bala bantuan satu-dua orang Supek atau Susiok lagi."

"Aku yang pergi ke sana!"

Ting-yat dan Ih Jong-hay berseru serentak. Tapi tepat pada saat itu juga tiba-tiba dari luar ada orang berseru dengan suara yang lemah lembut.

"Suhu, aku sudah kembali!"

"Apakah Gi-lim? Masuk!"

Bentak Ting-yat dengan muka merah padam.

Seketika semua orang memandang ke arah pintu untuk melihat bagaimana rupanya Nikoh cilik yang minum arak bersama kedua maling cabul di atas rumah makan itu.

Waktu kerai pintu terbuka, pandangan semua orang serasa terbelalak.

Ternyata Nikoh cilik ini berparas putih molek, memang benar-benar seorang wanita cantik yang jarang ada tandingannya.

Cuma usianya baru 16-17 tahun, perawakannya yang menggiurkan itu terselubung di dalam pakaian Nikoh yang longgar, namun toh tetap tidak mengurangi potongannya yang cantik.

Dengan langkah lemah gemulai Nikoh muda itu mendekati Ting-yat dan menyembah, katanya.

"Suhu ...."

Tapi baru sekian saja ucapannya, mendadak ia sudah menangis.

"Hm, bagus benar per ... perbuatanmu, ya? Cara bagaimana kau bisa pulang?"

Kata Ting-yat dengan muka merengut.

"Suhu, kali ini ... kali ini Tecu hampir-hampir tak dapat bertemu pula dengan engkau,"

Kata Gi-lim hampir menangis. Dari suaranya yang lembut dan merdu itu, diam-diam semua orang berpikir.

"Dara secantik ini mengapa terima menjadi Nikoh?"

Saat itu kedua tangan Gi-lim sedang memegangi ujung baju sang guru sehingga kelihatan tangannya yang putih halus laksana salju itu.

Tanpa terasa hati Ong Gun dan kedua kawannya yang menggotong masuk mayatnya Lo Jin-kiat itu terguncang.

Ih Jong-hay hanya memandang sekejap saja pada Nikoh muda cantik itu, lalu sorot matanya berpindah kepada pedang yang menancap di dada Lo Jin-kiat.

Dilihatnya gagang pedang itu terikat seuntai benang hijau, di atas batang pedang dekat dengan gagang pedang berukir lima huruf yang berbunyi.

"Hoa-san Lenghou Tiong" . Ketika pandangannya beralih, dilihatnya pada pinggang Lo Tek-nau juga bergantungkan pedang yang serupa. Mendadak ia melangkah maju, kontan tangan kirinya mencolok mata Lo Tek-nau. Keruan Lo Tek-nau terkejut, cepat ia gunakan jurus "Ki-hwe-liau-thian" (angkat obor menerangi langit), tangannya menyampuk ke atas untuk menangkis. Ih Jong-hay mendengus sambil tangannya memutar sedikit, kontan kedua tangan Lo Tek-nau telah kena dicengkeramnya. Menyusul tangan yang lain lantas menjulur.

"sret" , pedang yang tergantung di pinggang Tek-nau itu telah dilolos olehnya. Sekuatnya Tek-nau meronta, akan tetapi kedua tangannya seperti terjepit oleh tanggam, sedikit pun tak bisa berkutik. Dalam pada itu ujung pedang sudah mengancam di dadanya sendiri. Diam-diam ia mengeluh bisa celaka. Di atas batang pedang rampasannya itu Ih Jong-hay melihat ada lima huruf juga yang berbunyi.

"Hoa-san Lo Tek-nau" , besarnya huruf mirip benar dengan huruf di atas pedang yang menancap di tubuh muridnya yang sudah tak bernyawa itu. Mendadak ia tekan ujung pedang ke bawah dan mengancam di perut Lo Tek-nau, katanya dengan menyeringai.

"Hm, tusukan dari bawah ke atas begini termasuk jurus apa dalam ilmu pedang Hoa-san-pay kalian?"

Dahi Lo Tek-nau sudah mulai berkeringat dingin, tapi sedapat mungkin ia tabahkan diri, jawabnya.

"Hoa ... Hoa-san-kiam-hoat kami tiada ... tiada jurus serangan demikian ini."

Memangnya Ih Jong-hay juga merasa heran.

Yang menyebabkan kematian Lo Jin-kiat itu adalah serangan pedang yang ditusukkan melalui perutnya terus miring ke atas hingga mencapai tenggorokan, apakah mungkin Lenghou Tiong berjongkok lebih dulu untuk kemudian melakukan serangan?

Dan sesudah membunuh orang mengapa pedang dibiarkan menancap di tubuh sang korban sehingga mudah dijadikan bukti?

Hm, terang sekali dia sengaja hendak main gila kepada Jing-sia-pay.

Selagi Ih Jong-hay merasa ragu-ragu, tiba-tiba Gi-lim berseru.

"Ih-susiok, harap engkau mengampuni dia. Tipu serangan yang dilakukan Lenghou-toako itu besar kemungkinan bukanlah Hoa-san-kiam-hoat."

Jong-hay tidak menjawab, sebaliknya ia berpaling ke arah Ting-yat Suthay, katanya dengan muka guram.

"Suthay, coba dengarkan apa yang diucapkan muridmu yang baik ini, dia panggil apa kepada bangsat keparat Lenghou Tiong itu?"

"Memangnya aku tidak punya telinga sehingga kau perlu mengingatkan aku?"

Sahut Ting-yat dengan gusar.

Kiranya Ting-yat Suthay ini wataknya sangat aneh, dia paling suka membela orangnya sendiri walaupun tahu pihaknya sendiri yang salah.

Sebenarnya dia juga sudah marah ketika mendengar Gi-lim menyebut Lenghou Tiong sebagai "Lenghou-toako", kalau Ih Jong-hay tidak mendahului menegur tentu dia sudah mendamprat muridnya itu.

Celakanya Ih Jong-hay yang lebih dulu bicara sehingga dia berbalik mengeloni muridnya sendiri.

Segera ia menyambung pula.

"Dia mengucapkan begitu secara wajar saja, apa halangannya? Kami Ngo-gak-kiam-pay telah berserikat dan mengangkat saudara, setiap murid dari kelima golongan kami adalah saudara perguruan, apanya yang perlu diherankan?"

Di balik kata-katanya ini dia seperti hendak mengolok-olok Ih Jong-hay bahwa Jing-sia-pay kalian tidak termasuk di dalam Ngo-gak-kiam-pay, hakikatnya aku memandang rendah padamu.

Sudah tentu Ih Jong-hay paham maksud ucapan Ting-yat itu, segera ia balas menjengek dan berkata.

"Ya, bagus! Dan Lenghou Tiong itu entah termasuk murid Ngo-gak-kiam-pay atau bukan?"

Habis berkata, sekali dorong, kontan Lo Tek-nau mencelat ke belakang dan menumbuk dinding, bentaknya pula.

"Hm, kau ini pun bukan manusia baik-baik. Sepanjang jalan kau terus main sembunyi-sembunyi dan menguntit diriku, apa maksud tujuanmu?"

Karena tertumbuk dinding, isi perut Lo Tek-nau serasa terjungkir balik, sekuatnya ia hendak berbangkit dengan menahan dinding, tapi kedua kakinya terasa lemas linu, akhirnya ia jatuh terduduk lagi.

Ia tambah mengeluh pula saat mendengar dampratan Ih Jong-hay itu, pikirnya.

"Wah, celaka! Rupanya gerak-gerikku bersama Siausumoay yang mengintai perbuatan mereka itu akhirnya ketahuan Tojin kerdil yang licin ini."

Dalam pada itu Ting-yat telah berkata.

"Gi-lim, coba kemari, cara bagaimana kau sampai ditawan oleh mereka, ceritakanlah sejelas-jelasnya kepada Suhu."

Habis berkata, muridnya itu terus digandeng menuju ke luar ruangan.

Semua orang maklum, seorang Nikoh muda jelita demikian sekali sudah jatuh di dalam cengkeraman Dian Pek-kong yang cabul itu maka pastilah sukar mempertahankan kesuciannya.

Tentang pengalamannya itu sudah tentu tidak leluasa diceritakan di hadapan orang banyak.

Tapi mendadak bayangan orang berkelebat, Ih Jong-hay telah melompat ke depan pintu merintangi jalan keluar mereka, katanya.

"Urusan ini menyangkut dua nyawa, hendaklah Gi-lim Siausuhu bicara di sini saja."

Setelah merandek sejenak, lalu sambungnya.

"Tang-hiantit adalah orang Ngo-gak-kiam-pay, di antara orang-orang Ngo-gak adalah saudara seperguruan semua, jika mereka ada yang dibunuh Lenghou Tiong mungkin Thay-san-pay takkan terlalu memikirkannya. Akan tetapi muridku Lo Jin-kiat ini tiada harganya untuk saling mengaku sebagai Suheng dan Sute dengan Lenghou Tiong."

Nyata ucapannya ini langsung mengolok-olok kata-kata Ting-yat yang membela muridnya tadi.

Dasar watak Ting-yat memang sangat keras dan berangasan, mana dia mau dirintangi oleh Ih Jong-hay, apalagi dengan kata-kata yang menyinggung itu, seketika ia naik pitam, kedua alisnya sampai menegak.

Orang-orang yang kenal perangai Ting-yat begitu melihat alisnya menegak segera mengetahui akan terjadi pertarungan.

Ih Jong-hay juga terhitung tokoh kelas satu, bila kedua orang sampai bergebrak, tentu sukar dilerai dan urusan bisa meluas.

Cepat Lau Cing-hong melompat maju, ia memberi hormat dan berkata.

"Kalian berdua adalah tamuku yang terhormat, betapa pun hendaklah mengingat diriku, janganlah sampai bercekcok. Memang layananku yang kurang baik, harap kalian memaafkan."

"Ha, aneh juga ucapan Lau-samya ini,"

Sahut Ting-yat.

"Aku marah kepada 'hidung kerbau' (istilah olok-olok kepada kaum Tojin) itu, apa sangkut pautnya dengan kau? Dia melarang aku pergi, aku justru mau pergi. Jika kau tidak merintangi jalanku dan ingin aku tetap tinggal saja di sini juga boleh."

Sebenarnya Ih Jong-hay juga rada jeri terhadap Ting-yat.

Apalagi ilmu silat Ting-sian, Ciangbunjin dari Hing-san-pay, terkenal juga sangat lihai.

Andaikan sekarang dirinya dapat mengalahkan Ting-yat, apakah orang-orang Hing-san-pay yang lain bisa tinggal diam?

Berpikir begitu terpaksa ia mundur teratur, sambil tertawa ia pun berkata.

"Yang kuharapkan ialah Gi-lim Siausuhu mau bercerita dengan jelas kepada kita bersama. Ih Jong-hay orang macam apa masakah berani merintangi jalan tokoh Pek-hun-am dari Hing-san-pay?"

Habis berkata, sekali lompat, segera ia kembali ke tempat duduknya pula.

"Asal kau tahu saja!"

Ujar Ting-yat. Lalu ia pun kembali ke tempat duduknya dengan menarik Gi-lim. Katanya kemudian.

"Bagaimana pengalamanmu sesudah kau tersesat kemarin? Coba ceritakan yang penting-penting saja, yang tidak perlu jangan diuraikan."

Gi-lim mengiakan, lalu bercerita.

"Tecu tidak berbuat sesuatu yang melanggar ajaran Suhu, hanya Tecu mohon Suhu supaya membunuh keparat Dian Pek-kong itu, sebab dia ... dia ...."

"Ya, aku sudah tahu, tak perlu kau katakan lagi,"

Sela Ting-yat.

"Aku pasti akan membunuh Dian Pek-kong dan Lenghou Tiong berdua bangsat keparat itu ...."

"He, Lenghou Tiong, Lenghou-toako maksud Suhu?"

Gi-lim menegaskan dengan heran.

"Mengapa Suhu hendak membunuh Lenghou-toako? Dia ...."

Mendadak air matanya berlinang-linang dan sambungnya dengan suara terguguk-guguk.

"Dia ... dia sudah meninggal dunia!"

Keruan semua orang melengak mendengar keterangan demikian. Dengan suara keras Thian-bun Tojin lantas tanya.

"Cara bagaimana dia mati? Siapa yang membunuhnya?"

"Pembunuhnya adalah ... adalah orang jahat Jing ... Jing-sia-pay ini,"

Sahut Gi-lim sambil menunjuk jenazah Lo Jin-kiat. Mendengar bahwa Lenghou Tiong sudah mati, seketika rasa murka Thian-bun Tojin lenyap. Sebaliknya Ih Jong-hay merasa senang pula, pikirnya.

"Kiranya keparat Lenghou Tiong itu terbunuh oleh Jin-kiat. Jika demikian, mereka berdua telah bertarung mati-matian dan gugur bersama. Baik, memang aku sudah tahu Jin-kiat adalah anak yang jantan, ternyata dia memang tidak membikin malu nama Jing-sia-pay."

Tapi lantas ia melototi Gi-lim, katanya dengan menjengek.

"Hm, jika orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kalian adalah orang baik, hanya orang Jing-sia-pay kami adalah orang jahat semua!"

"Aku ... aku tidak tahu,"

Sahut Gi-lim dengan menangis.

"Aku tidak maksudkan Ih-supek, tapi kumaksudkan dia."

Kembali ia tuding mayat Lo Jin-kiat.

"Kau mau apa menakut-nakuti anak kecil?"

Semprot Ting-yat pada Ih Jong-hay.

"Jangan takut, Gi-lim! Bagaimana jahatnya, coba ceritakan semua. Suhu berada di sini, coba siapa yang berani membikin susah padamu?"

Habis berkata ia melirik sekali kepada Ih Jong-hay. Tiba-tiba Jong-hay berkata.

"Cut-keh-lang (orang yang sudah meninggalkan rumah, maksudnya orang yang sudah masuk biara) tidak boleh berdusta. Siausuhu, apakah kau berani mengangkat sumpah terhadap Buddha?"

"Di hadapan Suhu, sekali-kali aku tak berani berdusta,"

Kata Gi-lim. Lalu ia berlutut menghadap keluar, kedua tangannya terkatup di depan dada, sambil menunduk ia bersumpah.

"Tecu Gi-lim akan melaporkan segala sesuatu kepada Suhu dan para Supek, sedikit pun takkan berdusta, Buddha mahasakti tentu akan maklum."

Melihat gerak-gerik Gi-lim yang halus dan pantas dikasihani itu, mau tak mau timbul juga rasa simpatik orang banyak.

Seorang Susing (pelajar) berjenggot hitam yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, sekarang tiba-tiba menyela.

"Jika Siausuhu sudah bersumpah begitu, tentu semua orang akan percaya."

Orang ini she Bun, namanya tidak diketahui, hanya orang biasa menyebutnya sebagai Bun-siansing. Dia bersenjata sepasang Boan-koan-pit, terkenal sebagai ahli Tiam-hiat yang sangat disegani.

"Nah, dengar tidak, hidung kerbau?"

Kata Ting-yat.

"Bun-siansing saja berkata demikian, apakah kau masih sangsi?"

Tadi Ih Jong-hay khawatir kalau-kalau Gi-lim sengaja disuruh oleh Ting-yat untuk menceritakan perbuatan-perbuatan Jin-kiat yang tidak baik.

Sebaliknya Jin-kiat sudah mati, tentu tidak dapat membantah lagi.

Tapi sekarang demi melihat wajah Gi-lim yang jelita laksana batu kemala yang tak bercacat itu, mau tak mau ia pun mau percaya Nikoh cilik ini tentu bukanlah pendusta.

Maka terdengar Gi-lim mulai menutur lagi.

"Kemarin ketika berangkat ke Hengyang bersama rombongan Suhu, di tengah jalan kami kehujanan sehingga kakiku berlepotan kotoran lumpur. Aku telah meninggalkan rombongan untuk mencuci kaki di sungai kecil di tepi jalan yang agak jauh. Tengah asyik mencuci, sekonyong-konyong aku melihat di samping bayanganku sendiri yang tercermin di dalam air sungai itu telah bertambah suatu bayangan orang laki-laki. Aku terkejut dan cepat berdiri, tapi mendadak punggung terasa sakit, aku punya Hiat-to sudah tertutuk. Aku sangat takut dan bermaksud menjerit untuk minta tolong kepada Suhu, namun aku sudah tak dapat bersuara lagi. Tubuhku diangkat oleh orang itu dan di bawa ke dalam sebuah gua. Aku menjadi rada lega sesudah melihat wajahnya ternyata tidak begitu bengis.

"Selang tak lama kudengar tiga orang Suci sedang mencari aku sambil memanggil-manggil namaku. Orang itu hanya tertawa-tawa saja, katanya dengan suara tertahan, 'Jika mereka mencari ke sini, biar kutangkap mereka sekalian!' "

Namun ketiga Suci tidak mencari ke tempat gua itu, mereka telah memutar ke tempat lain.

"Kemudian orang itu telah membuka Hiat-to sehingga aku dapat bergerak, segera aku hendak lari ke luar gua. Tak terduga gerakan orang itu teramat cepat, tahu-tahu kepalaku menyeruduk di dadanya, dia bergelak tertawa, cepat aku melompat mundur dan lolos pedang. Mestinya aku hendak menusuk dia, tapi lantas teringat Cut-keh-lang harus mengutamakan welas asih, buat apa membikin celaka orang lain? Maka aku tidak jadi menyerangnya, aku bertanya, 'Mengapa kau mengganggu aku? Lekas menyingkir, jika tidak segera pedangku ini akan melukai kau!' "

Orang itu tertawa, katanya, 'Baik juga hati nuranimu, Siausuhu. Kau merasa sayang untuk membunuh aku, bukan?' "Aku menjawab, 'Kita tiada permusuhan apa-apa, buat apa aku membunuh kau?' "

Dengan menyengir orang itu berkata pula, 'Jika begitu, marilah duduk dulu untuk bicara.' "Aku menolak, tapi orang itu masih terus merecoki aku.

Akhirnya aku mengancamnya, 'Lekas kau lepaskan diriku.

Apakah kau tidak tahu Suhuku sangat lihai?

Jika beliau mengetahui kekurangajaranmu ini, mustahil kedua kakimu tak dihantam patah olehnya.' "Tapi dia malah berkata, 'Jika kau suka menghantam kakiku, bolehlah silakan, tapi kalau Suhumu, ha, dia sudah tua, aku tidak suka ....'"

"Hus, ocehan gila begitu buat apa kau ceritakan?"

Bentak Ting-yat mendadak.

Ia tahu muridnya itu masih kekanak-kanakan dan tidak kenal soal-soal kehidupan manusia, tentang hubungan laki-laki dan wanita lebih-lebih masih hijau.

Kata-kata kotor yang diucapkan maling cabul itu hakikatnya tak dipahami olehnya, maka dia hanya menirukan dan menguraikannya di depan orang banyak.

Sudah tentu semua orang merasa geli sekali, cuma segan pada Ting-yat Suthay, maka siapa pun tidak berani tertawa.

"Tetapi ... tapi memang begitulah katanya,"

Demikian Gi-lim masih memperkuat penuturannya itu.

"Ya sudahlah, omongan gila yang tak penting itu tak perlu kau ulangi, ceritakan saja cara bagaimana kemudian bertemu dengan Lenghou Tiong,"

Kata Ting-yat.

"Baiklah,"

Sahut Gi-lim.

"Dan sesudah orang itu mematahkan pedangku ...."

"Dia mematahkan pedangmu?"

Tegas Ting-yat.

"Ya,"

Sahut Gi-lim.

"Waktu itu dia omong macam-macam pula dan tetap tidak mau melepaskan diriku. Katanya ... katanya aku sangat cantik dan suruh aku tidur bersama dia ...."

"Tutup mulut!"

Bentak Ting-yat.

"Anak kecil sembarangan omong."

"Tapi dialah yang omong dan bukan aku, aku pun tidak menerima ajakannya ...."

"Diam!"

Bentak Ting-yat dengan lebih keras.

Rupanya karena tidak tahan, pada saat itu juga salah seorang murid Jing-sia-pay yang ikut mengusung mayat Lo Jin-kiat tadi mendadak tertawa geli.

Ting-yat menjadi murka, ia sambar mangkuk teh yang terletak di atas meja lalu disiramkan ke arah murid Jing-sia-pay.

Siraman yang disertai tenaga dalam itu menjadi sangat cepat lagi tepat, murid Jing-sia-pay itu tidak sempat menghindar, keruan ia tersiram teh panas itu sehingga berkaok-kaok kesakitan.

"Kau ini apa-apaan? Masa boleh omong tapi tidak boleh tertawa? Benar-benar mau menang sendiri saja!"

Demikian kata Ih Jong-hay dengan gusar.

"Sudah puluhan tahun Ting-yat dari Hing-san-pay memang suka menang sendiri, masa baru sekarang kau tahu?"

Jengek Ting-yat dengan melirik hina, berbareng mangkuk teh itu sudah diangkat dan siap untuk disambitkan ke arah Ih Jong-hay.

Tapi Ih Jong-hay malah sengaja melengos, pandang saja dia sungkan, ia anggap sepi saja ancaman Ting-yat itu.

Melihat Ih Jong-hay sedikit pun tidak gentar, pula memang diketahui ilmu silat ketua Jing-sia-pay itu sangat hebat, maka Ting-yat juga tidak berani sembrono.

Perlahan-lahan ia taruh kembali mangkuk teh itu di atas meja.

Katanya kepada Gi-lim.

"Coba teruskan ceritamu. Kata-kata yang tidak penting tak perlu diuraikan!"

"Baik, Suhu,"

Sahut Gi-lim. Lalu ia menutur pula.

"Beberapa kali aku hendak melarikan diri, tapi selalu kena dicegat oleh orang jahat itu. Sementara itu hari sudah mulai gelap, aku semakin gelisah. Suatu ketika aku telah menusuknya dengan pedangku, tapi entah cara bagaimana tahu-tahu pedangku telah kena dirampas olehnya. Penjahat itu sungguh sangat lihai, dengan tangan kanan pegang gagang pedang, tangan kiri lantas pencet ujung pedang dengan jari jempol dan jari telunjuk, sekali tekuk dengan perlahan, 'krek', ujung pedang itu lantas patah dua-tiga senti panjangnya."

"Kau bilang cuma patah sepanjang dua-tiga senti saja?"

Ting-yat menegaskan.

Mereka tahu jika Dian Pek-kong itu mematahkan pedang bagian tengahnya, hal itu tidak perlu diherankan.

Tapi dengan dua jari dapat menekuk patah ujung pedang sepanjang dua-tiga senti saja, maka betapa hebat tenaga jarinya sungguh bukan main-main.

"Sret" , mendadak Thian-bun Tojin melolos pedang yang tergantung di pinggang seorang muridnya, ia gunakan jari jempol dan telunjuk untuk pencet ujung pedang. Ketika ditekuk perlahan.

"krek", kontan pedang itu patah sebagian sepanjang dua-tiga senti.

"Apakah begini caranya?"

Ia tanya.

"Kiranya Supek juga bisa!"

Sahut Gi-lim.

"Cuma caranya mematahkan ada lebih rata sedikit daripada bagian pedang yang dipatahkan Supek ini."

Thian-bun mendengus sambil mengembalikan pedang kepada muridnya.

Ketika tangan kirinya yang masih memegang potongan kecil ujung pedang itu digabrukkan ke atas meja, kontan potongan ujung pedang itu ambles menghilang ke dalam meja.

"Wah, kepandaian Supek yang hebat ini aku yakin pasti tak dapat ditandingi oleh penjahat Dian Pek-kong itu,"

Sorak Gi-lim. Tapi wajahnya mendadak murung lagi, ia menunduk sambil menghela napas perlahan, lalu berkata pula.

"Ai, cuma sayang waktu itu Supek tidak berada di sana, kalau tidak, tentu Lenghou-toako tak sampai terluka parah."

"Terluka parah apa? Bukankah kau bilang dia sudah mati?"

Tanya Thian-bun.

"Benar, justru karena terluka parah maka Lenghou-toako kena dibunuh oleh penjahat Lo Jin-kiat dari Jing-sia-pay itu,"

Sahut Gi-lim. Kembali Ih Jong-hay mendengus gusar demi mendengar muridnya juga disebut sebagai "penjahat"

Seperti Dian Pek-kong yang terkutuk itu.

Melihat paras Gi-lim yang cemas-cemas sedih itu, tanpa merasa semua orang menaruh belas kasihan padanya.

Coba kalau dia bukan Nikoh, tentu tokoh-tokoh angkatan tua sebagai Thian-bun, Lau Cing-hong, Ho Sam-jit, Bun-siansing dan lain-lain sudah menjulurkan tangan untuk mengelus-elus punggungnya atau membelai-belai rambutnya untuk menghiburnya.

Dalam pada itu Gi-lim berkata pula sambil menggunakan lengan baju untuk mengusap air matanya yang berlinang-linang.

"Keparat Dian-Pek-kong itu akhirnya hendak memaksa diriku, dia telah tarik-tarik dan hendak merangkul, tanpa pikir aku hendak menamparnya. Tapi mendadak kedua tanganku kena dipegang olehnya. Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar gua ada suara orang tertawa. Setiap kali tertawa 'hahaha' lalu berhenti, kemudian tertawa 'hahaha' lagi.

"Segera keparat Dian Pek-kong itu membentak, 'Siapa itu?' "

Namun orang di luar itu kembali tertawa.

Dian Pek-kong lantas memaki, 'Kurang ajar!

Lekas enyah kau!

Jika tuanmu sampai marah, tentu jiwamu bisa melayang!' Tapi orang itu masih terus terbahak-bahak.

Dian Pek-kong tak menggubrisnya lagi, segera ia hendak membelejeti pakaianku, tapi orang di luar itu lagi-lagi bergelak tertawa sehingga Dian Pek-kong menjadi murka.

Waktu itu aku benar-benar sangat mengharap orang itu dapat menolong diriku, tapi rupanya orang itu pun jeri terhadap Dian Pek-kong dan tidak berani masuk ke dalam gua, dia hanya tertawa terus di luar gua."

"Akhirnya Dian Pek-kong tidak tahan rasa gusarnya, ia menutuk aku punya Hiat-to, lalu melompat keluar secara mendadak. Tapi lebih dulu orang di luar itu sudah menyembunyikan dirinya. Karena tidak menemukan orang itu, Dian Pek-kong masuk kembali ke dalam gua. Tapi baru saja dia mendekati diriku, kembali orang itu terbahak-bahak lagi di luar gua. Karena tingkahnya yang lucu itu hampir-hampir saja aku ikut tertawa.

"Saking geregetan, akhirnya Dian Pek-kong menuju ke luar gua, asal orang itu bersuara lagi tentu akan disergapnya. Tapi orang itu ternyata sangat cerdik dan tidak tertawa. Kulihat Dian Pek-kong terus merunduk ke mulut gua, kupikir kalau orang itu sampai kena disergap olehnya tentu aku akan ikut celaka. Maka, ketika melihat Dian Pek-kong hampir menerjang keluar, cepat aku berteriak, 'Awas, dia hendak keluar!' "

Tiba-tiba terdengar orang itu tertawa di tempat agak jauh, katanya, 'Terima kasih, tapi jangan khawatir, dia tak mampu mengejar. Ginkangnya terlalu rendah!' "

Diam-diam semua orang berpikir, Dian Pek-kong itu justru sangat terkenal karena Ginkangnya yang jarang ada bandingannya, tapi orang itu mengolok-olok Ginkangnya, terang sengaja hendak membikin marah saja padanya.

Dalam pada itu Gi-lim lalu meneruskan.

"Mendadak keparat Dian Pek-kong itu mendekati aku dan mencubit pipiku, aku menjerit kesakitan, pada saat itu juga ia lantas melompat keluar gua sambil membentak, 'Bangsat, kita coba-coba berlomba Ginkang masing-masing!' "

Tak tersangka sekali ini dia telah kena ditipu, orang itu ternyata sudah sembunyi di samping gua, begitu Dian Pek-kong menguber keluar, segera orang itu menyelinap masuk, katanya kepadaku dengan suara tertahan, 'Jangan takut, aku akan menolong kau.

Hiat-to mana yang ditutuk olehnya?' "Aku memberitahukan tempat Hiat-to yang tertutuk dan tanya siapa dia.

Tapi dia mengatakan nanti saja bicara lagi dan segera memijat Koh-cin-hiat dan Goan-tiau-hiat, bagian-bagian Hiat-to di tubuhku yang tertutuk itu."

Ting-yat mengerut kening mendengar sampai di sini.

Ia tahu Goan-tiau-hiat itu letaknya di bagian paha, padahal antara laki-laki dan wanita dilarang bersentuhan, apalagi seorang Nikoh, hal itu benar-benar kurang pantas.

Cuma saat itu dalam keadaan berbahaya dan kepepet, daripada tercemar oleh keparat Dian Pek-kong itu, tentu orang Bu-lim akan dapat memakluminya.

Maka terdengar Gi-lim menutur pula.

"Tak terduga tenaga jari bangsat Dian Pek-kong itu ternyata sangat lihai, meski orang itu telah memijat sebisanya tetap sukar membuka Hiat-to yang tertutuk itu. Sementara itu terdengar suaranya Dian Pek-kong sudah berlari kembali lagi. Aku berkata kepada orang itu, 'Lekas lari, jika kau kepergok tentu kau akan dibunuh olehnya.' "

Tapi orang itu menjawab, 'Ngo-gak-kiam-pay laksana daun dan tangkai, Sumoay ada kesulitan, masakah aku boleh tinggal pergi?'"

"Dia juga orang dari Ngo-gak-kiam-pay?"

Ting-yat menegaskan.

"Ya, Suhu, dia bukan lain adalah Lenghou-toako, Lenghou Tiong!"

Sahut Gi-lim.

"Oo,"

Serentak Ting-yat, Thian-bun, Ih Jong-hay, Ho Sam-jit, Bun-siansing, Lau Cing-hong dan lain-lain bersuara lega. Begitu pula Lo Tek-nau.

"Rupanya Dian Pek-kong masih terus mencari di luar gua, lambat laun suaranya kedengaran menjauh,"

Demikian Gi-lim melanjutkan.

"Tiba-tiba Lenghou-toako mengatakan maaf, lalu aku dipondong olehnya dan dibawa lari ke luar gua serta sembunyi di tengah alang-alang yang lebat. Baru saja kami bersembunyi, cepat sekali Dian Pek-kong sudah kembali dan masuk ke dalam gua. Tentu saja dia marah-marah demi tidak menemukan diriku lagi, dia lantas mencaci maki dengan macam-macam ucapan yang kotor, aku pun tidak paham apa artinya. Dengan menggunakan pedang dia terus membacok dan menebas serabutan di antara semak-semak rumput. Bab 13. Asal Judi Tentu Kalah "

Untung juga udara mendung, keadaan gelap gulita, dia tak dapat melihat kami.

Tapi mungkin dia pun menduga kami pasti masih sembunyi di sekitar situ, maka dia masih terus membacok dan menebas tak berhenti-henti.

Suatu kali pedangnya menyambar lewat di atas kepalaku, wah, hampir-hampir saja aku terluka, sungguh sangat berbahaya.

Sesudah menebas kian kemari tanpa hasil, bangsat itu masih terus mencaci maki dan mencari ke sebelah sana.

"Sekonyong-konyong ada benda cair hangat menetes di atas mukaku, berbareng aku lantas mengendus bau anyirnya darah. Aku terkejut dan bertanya dengan suara perlahan, 'Apakah engkau terluka?' "

Tapi cepat ia mendekap mulutku sambil berbisik, 'Ssst, aku tak apa-apa, jangan bersuara.' "Selang sejenak suara Dian Pek-kong semakin menjauh, lalu dia membuka tangannya.

Aku merasa darah yang menetes di mukaku itu semakin banyak, tanyaku khawatir, 'Apakah lukamu parah?

Darah harus dibikin pampat dulu.

Aku membawa obat luka.' "

Tapi kembali dia mendekap mulutku sambil mendesis supaya aku jangan bersuara.

Pada saat itulah mendadak Dian Pek-kong berlari kembali sambil menghardik, 'Hahaha!

Kiranya sembunyi di sini.

Hayo lekas keluar, aku sudah melihat tempat sembunyi kalian!' "Mendengar tempat sembunyi kami telah dilihat Dian Pek-kong, diam-diam aku mengeluh,"

Demikian Gi-lim melanjutkan.

"segera aku bermaksud berdiri, cuma kakiku tak bisa bergerak sama sekali .…"

"Kau tertipu, Dian Pek-kong hanya menggertak kalian, sebenarnya dia tidak melihat apa-apa,"

Kata Ting-yat Suthay.

"Memang betul,"

Kata Gi-lim.

"Waktu itu Suhu tidak berada di sana, mengapa bisa tahu persis?"

"Itu terlalu gampang untuk ditebak,"

Kata Ting-yat.

"Jika dia betul-betul melihat kalian, buat apa dia bergembar-gembor, dia dapat mendekati kalian dan sekali tebas binasakan Lenghou Tiong saja kan beres. Rupanya bocah Lenghou Tiong itu pun masih hijau."

"Tidak, Lenghou-toako juga dapat menerka maksud Dian Pek-kong itu, cepat dia tekap mulutku agar tidak bersuara,"

Tutur Gi-lim.

"Sesudah berkaok-kaok sekian lamanya dan tidak mendengar suara apa-apa, Dian Pek-kong memotong dan membabati rumput lagi untuk mencari ke lain tempat. Setelah pergi jauh, kemudian Lenghou-toako berbisik padaku, 'Sumoay, asal kita dapat tahan lagi setengah jam, sesudah Hiat-tomu yang tertutuk lancar kembali jalan darahnya tentu dapat aku dapat menolong dirimu. Cuma sebentar lagi keparat Dian Pek-kong itu pasti akan putar kembali dan tentu kita akan diketemukan. Terpaksa kita harus mengambil risiko, biarlah kita sembunyi ke dalam gua saja."

Mendengar sampai di sini, serentak Bun-siansing, Ho Sam-jit dan Lau Cing-hong berseru berbareng.

"Bagus! Tabah dan cerdik!"

"Tapi aku menjadi takut demi mendengar akan masuk ke dalam gua lagi,"

Tutur Gi-lim pula.

"Namun tatkala itu aku sudah sangat kagum kepada Lenghou-toako, jika begitu keinginannya, kuyakin pasti benar. Maka aku lantas menyatakan setuju. Segera aku dipondongnya dan menyusup ke dalam gua. Sesudah aku diletakkan di atas tanah, aku berkata, 'Di bajuku ada Thian-hiang-toan-siok-ko, obat luka yang sangat mujarab, silakan ... silakan ambil untuk dibubuhkan pada lukamu.' "

Tapi Lenghou-toako mengatakan kurang leluasa, tapi akan menunggu setelah aku dapat bergerak barulah mau terima obatku. Lalu dia memotong ujung baju sendiri untuk membalut lukanya.

"Baru sekarang aku tahu bahwa demi untuk melindungi diriku, pada waktu sembunyi di semak-semak alang-alang tadi golok Dian Pek-kong telah kena menebas di bahunya, tapi dia tetap tidak bergerak dan tidak bersuara walaupun rasa sakitnya pasti bukan buatan. Syukurlah dalam keadaan gelap Dian Pek-kong tidak memergoki kami. Sungguh aku merasa sedih dan tidak paham mengapa dia bilang tidak leluasa mengambil obatku .…"

"Hm, jika begitu, jadi Lenghou Tiong adalah kesatria dan laki-laki sejati,"

Jengek Ting-yat Suthay. Sepasang mata Gi-lim yang besar dan bening itu memancarkan perasaan heran, katanya.

"Ya, Lenghou-toako sudah tentu seorang baik pilihan. Selamanya dia tidak kenal padaku, tapi tanpa menghiraukan keselamatan sendiri sudi tampil ke muka untuk menolong diriku."

"Meski kau tidak pernah kenal dia, tapi bukan mustahil sudah lama dia telah kenal wajahmu, kalau tidak masakan dia mau berbuat begitu?"

Ujar Ih Jong-hay dengan dingin. Di balik kata-katanya itu seakan-akan menuduh sebabnya Lenghou Tiong mau menolong Gi-lim adalah lantaran kesengsem pada muka Gi-lim yang sangat cantik itu.

"Tidak, Lenghou-toako mengatakan selamanya tak pernah melihat diriku,"

Kata Gi-lim.

"Lenghou-toako pasti tidak berdusta padaku, pasti tidak!"

Mendengar jawaban Gi-lim yang tegas dan pasti itu, mau tak mau semua orang percaya juga terhadap keyakinan Nikoh jelita yang suci bersih itu. Ih Jong-hay juga membatin.

"Perbuatan Lenghou Tiong yang gila-gilaan itu besar kemungkinan sengaja hendak menempur Dian Pek-kong agar namanya bisa berkumandang di dunia persilatan."

Dalam pada itu Gi-lim telah melanjutkan.

"Sesudah Lenghou-toako membalut luka, dia lantas menolong aku pula dengan mengurut Koh-cing-hiat dan Goan-tiau-hiat di tubuhku. Tidak lama kemudian terdengarlah suara gemeresak rumput dibabat di luar gua itu berjangkit pula, makin lama makin dekat. Nyata Dian Pek-kong masih terus mencari kami dan sekarang telah kembali lagi di depan gua. Kudengar dia melangkah masuk ke dalam gua dan duduk mengaso di mulut gua tanpa bersuara."

Hatiku berdebar-debar, sedapat mungkin aku menahan napas.

Sekonyong-konyong Koh-cing-hiat di bahuku terasa sakit mendadak, karena secara mendadak sehingga aku meringis dan menghela napas.

Tapi sedikit suara ini saja sudah membikin keadaan menjadi runyam.

Dian Pek-kong lantas bergelak tertawa dan melompat bangun, segera dia mendekati aku.

Lenghou-toako tetap meringkuk di samping tanpa bergerak sedikit pun.

"Dengan tertawa Dian Pek-kong berkata, 'Haha, kiranya kau masih sembunyi di sini, domba cilik!' "

Berbareng tangannya lantas hendak meraih tubuhku.

Tapi mendadak terdengar suara 'cret' satu kali, dia telah kena ditusuk oleh pedang Lenghou-toako.

Cuma sayang tusukan itu tidak mengenai tempatnya yang berbahaya sehingga Dian Pek-kong sempat melompat mundur terus melolos golok yang terselip di pinggangnya.

Dalam kegelapan segera dia balas membacok Lenghou-toako.

Maka terdengarlah suara 'trang' yang nyaring, kedua orang lantas bertempur."

"Berapa babak Lenghou Tiong menempur Dian Pek-kong itu?"

Mendadak Thian-bun Tojin menyela.

"Entahlah, dalam keadaan bingung Tecu juga tidak tahu mereka telah bertempur berapa lamanya,"

Sahut Gi-lim.

"Kudengar Dian Pek-kong tertawa dan berseru, 'Aha, kau adalah orang Hoa-san-pay! Hoa-san-kiam-hoat bukanlah tandinganku. Siapa namamu?' "

Lenghou-toako menjawab, 'Ngo-gak-kiam-pay adalah pancatunggal, baik Hoa-san-pay atau keempat golongan lain, semuanya adalah musuhmu maling cabul ini ...' "Belum habis ucapannya, Dian Pek-kong sudah lantas menerjang maju pula.

Kiranya dia sengaja memancing Lenghou-toako bersuara agar tahu persis tempatnya, lalu menyerangnya.

"Setelah saling gebrak beberapa jurus lagi, mendadak Lenghou-toako menjerit kesakitan, rupanya dia terluka lagi. Terdengar Dian Pek-kong mengejeknya dengan tertawa, 'Sedari tadi sudah kukatakan Hoa-san-kiam-hoat bukanlah tandinganku, sekalipun gurumu Gak-loji datang sendiri juga tak mampu melawan aku.' "

Namun Lenghou-toako tidak gubris padanya.

"Waktu aku merasa kesakitan tadi kiranya disebabkan Koh-cing-hiat yang tertutuk telah lancar kembali. Sekarang Goan-tiau-hiat juga terasa sakit, tapi perlahan-lahan aku lantas dapat bergerak, aku merangkak bangun dan bermaksud mencari pedangku yang patah itu. Rupanya mendengar suaraku, dengan girang Lenghou-toako berseru, 'He, kau sudah dapat bergerak. Lekas lari, lekas!' "

Tapi aku menjawab, 'Tidak, Suheng dari Hoa-san-pay, biarlah aku membantu kau melabrak penjahat itu!' "Dia berkata, 'Tidak, kau lekas lari saja, kekuatan kita berdua juga bukan tandingannya.' "

Dengan tertawa Dian Pek-kong ikut menimbrung, 'Asal kau tahu saja!

Makanya buat apa kau mengorbankan jiwa percuma?

Eh, aku kagum juga pada jiwamu yang gagah perwira ini.

Siapakah namamu?' "Lenghou-toako menjawab, 'Jika kau secara hormat tanya namaku tentu akan kuberi tahukan.

Tapi kau tanya secara kasar begini, tidak sudi aku menggubris.' "Habis itu Lenghou-toako lantas berseru pula kepadaku, 'Sumoay, lekas lari ke Heng-san, kawan-kawan kita telah berkumpul semua di sana, rasanya bangsat ini tidak berani mencarimu ke sana.' "

Tapi aku menjawab, 'Jika aku sudah pergi, lalu dia membunuh kau, lantas bagaimana?' "Lenghou-toako berkata, 'Tidak, dia tak mampu membunuh aku!

Aku akan merintangi dia, mengapa tidak lekas pergi?

Hayo, lekas!

Aduh!' "Kiranya sedikit lengah saja kembali Lenghou-toako terluka pula.

Dia menjadi khawatir dan gelisah, segera ia berteriak lagi, 'Hayolah, lekas lari!

Kalau tidak lekas pergi akan kumaki kau!' "Dalam pada itu aku sudah menemukan pedang patah, aku berseru, 'Biarlah kita berdua mengeroyoknya.' "

Sebaliknya Dian Pek-kong malah tertawa mengejek, 'Bagus! Biarlah hari ini Dian Pek-kong seorang diri menempur Hoa-san-pay dan Hing-san-pay!'"

Rupanya Lenghou-toako menjadi marah benar-benar, dia memaki diriku, 'He, Nikoh cilik yang tidak tahu urusan, kau sudah linglung barangkali?

Kalau tidak lekas pergi, lain kali bila bertemu lagi tentu aku tempeleng kau!' "Keparat Dian Pek-kong itu lantas menertawakan diriku lagi, 'Rupanya Nikoh cilik ini merasa berat berpisah dengan aku!' "

Lenghou-toako tambah gelisah, dia berteriak padaku, 'Apakah kau benar-benar tidak pergi?' "Aku menjawab, 'Tidak!' "

Mendadak Lenghou-toako mengomel, 'Dasar Ting-sian si Nikoh tua itu sudah pikun, makanya mempunyai murid linglung sebagai kau ini.' "Aku lantas berkata, 'Ting-sian Supek bukanlah guruku.' "'Hah, jadi kau masih tetap tidak mau pergi?

Biarlah kumaki Ting-yat yang tua pikun itu .…'"

Mendadak muka Ting-yat bersungut menahan marah. Cepat Gi-lim berkata.

"Suhu, harap engkau jangan gusar. Maksud Lenghou-toako itu adalah demi kebaikanku dan tidak sungguh-sungguh memaki padamu. Aku telah menjawabnya, 'Aku sendirilah yang linglung dan bukan lantaran Suhuku.' "

Pada saat itulah mendadak Dian Pek-kong menubruk ke tempatku dan menutuk. Dalam keadaan gelap aku putar pedang patah menebas dan membacok serabutan, dengan demikian barulah dia terpaksa mundur.

"Kemudian Lenghou-toako berkata pula padaku, 'Lekas lari! Kalau tidak aku akan memaki gurumu, apakah kau tidak takut?' "

Aku menjawab, 'Engkau jangan memaki, marilah kita lari bersama saja!'"

Tapi Lenghou-toako berkata, 'Kau berada di sini hanya mengganggu aku saja sehingga aku tidak leluasa memainkan Hoa-san-kiam-hoatku yang paling lihai.

Tapi bila kau sudah pergi, pasti akan dapat membinasakan bangsat keparat ini.' "

Tiba-tiba Dian Pek-kong bergelak tertawa, katanya, 'Kasih sayangmu kepada Nikoh cilik ini boleh juga, cuma sayang namamu siapa saja dia tidak mengetahui.' "Kupikir apa yang dikatakan jahanam itu ada benarnya juga, segera aku bertanya, 'Suheng dari Hoa-san-pay itu, siapakah namamu?

Akan kupergi lapor kepada Suhu di kota Heng-san bahwa engkau yang telah menyelamatkan jiwaku.' "'Ya, lekas pergi, lekas!

Mengapa ceriwis tidak habis-habis.

Aku she Lo bernama Tek-nau!'"

Mendengar sampai di sini, Lo Tek-nau melengak. Ia tidak habis paham sebab apa Toasuko memalsukan namanya. Sedangkan Bun-siansing telah berkata sambil manggut-manggut.

"Lenghou Tiong itu berbuat bajik tapi tidak menonjolkan namanya yang asli, ini benar-benar perbuatan seorang kesatria tulen dari kaum kita."

Sebaliknya Lo Tek-nau berpikir.

"Watak Toasuko biasanya memang sangat aneh dan banyak tipu akalnya, dia tentu mempunyai maksud tujuan tertentu dengan menggunakan namaku. Cuma sayang, tokoh muda yang berkepandaian tinggi sebagai dia mesti tewas di tangan Lo Jin-kiat dari Jing-sia-pay yang jahat ini."

Ting-yat Suthay lantas melotot kepada Lo Tek-nau dan bertanya.

"He, apakah orang yang memaki aku sudah tua dan pikun dalam gua itu adalah kau ini?"

Melihat sikap Ting-yat yang galak itu, cepat Tek-nau memberi hormat dan menjawab.

"Tidak, mana Tecu berani!"

Dengan tersenyum Lau Cing-hong ikut berkata.

"Ting-yat Suthay, memang beralasan juga Lenghou Tiong sengaja memalsukan nama Sutenya. Kita tahu Lo-hiantit ini berguru dalam keadaan sudah mahir ilmu silat, tingkatannya meski rendah, tapi usianya sudah lanjut, jenggotnya saja sudah sepanjang itu, dia pantas menjadi kakeknya Gi-lim Sutit."

Mendengar penjelasan itu barulah Ting-yat sadar.

Kiranya Lenghou Tiong sengaja hendak membela kehormatan Gi-lim.

Dalam keadaan gelap gulita bercampur di dalam gua itu dan tidak saling mengenal muka, bila kemudian Gi-lim dapat meloloskan diri dan mengatakan kepada orang lain bahwa penolongnya itu adalah Lo Tek-nau dari Hoa-san-pay yang sudah kakek-kakek, maka orang lain tentu takkan mencemoohkannya, dengan demikian nama baik Gi-lim dapat dibersihkan, begitu pula kehormatan Hing-san-pay.

"Ehm, boleh juga pikiran bocah itu,"

Kata Ting-yat kemudian dengan tersenyum puas.

"Lalu bagaimana, Gi-lim?"

"Waktu itu aku masih tetap tidak mau pergi,"

Tutur Gi-lim.

Aku berkata, 'Lo-toako, Ngo-gak-kiam-pay kita adalah senapas dan sehaluan, kau mengalami bahaya lantaran hendak menolong aku, mana boleh aku melarikan diri malah?

Jika Suhu mengetahui perbuatanku yang pengecut ini tentu aku akan dibunuhnya.'"

"Bagus! Tepat sekali ucapanmu!"

Seru Ting-yat memuji.

"Kaum persilatan kita memang harus mengutamakan setia kawan sesama orang Kangouw, tak peduli laki-laki atau perempuan, sama saja halnya."

"Akan tetapi Lenghou-toako terus mencaci maki diriku,"

Sambung Gi-lim.

"Dia bilang, 'Nikoh cilik keparat, persetan kau! Kau di sini hanya membikin repot padaku saja sehingga aku tidak dapat mengeluarkan Hoa-san-kiam-hoat yang tiada tandingannya di dunia ini. Rupanya jiwaku yang tua ini sudah ditakdirkan harus mati di tangan Dian Pek-kong ini. Dasar sial, aku Lo Tek-nau hari ini ketemu Nikoh, bahkan seorang Nikoh cilik celaka sehingga ilmu pedangku yang mahasakti tak dapat kumainkan. Sudahlah, aku terima nasib saja. Dian Pek-kong, boleh kau binasakan aku!'"

Diam-diam semua orang geli melihat Gi-lim yang cantik jelita itu menirukan kata-kata kasar yang diucapkan Lenghou Tiong itu. Terdengar Gi-lim melanjutkan pula.

"Sudah tentu aku tahu dia tidak sungguh-sungguh memaki diriku, tapi mengingat kepandaianku yang rendah memang tidak sanggup membantu dia, beradanya diriku di dalam gua situ hanya merintangi dia sehingga Hua-san-kiam-hoat yang hebat itu sukar dikembangkan ...."

"Hm, bocah itu ngaco-belo belaka, Hoa-san-kiam-hoat paling-paling juga cuma begitu saja, masakah bilang tiada tandingannya di dunia ini?"

Jengek Ting-yat.

"Suhu, dia hanya untuk menakut-nakuti Dian Pek-kong saja supaya mundur teratur,"

Kata Gi-lim.

"Karena dia memaki semakin hebat, terpaksa aku berkata, 'Baiklah, Lo-toako, aku akan pergi, sampai bertemu pula!' "

Tapi dia masih memaki padaku, 'Ya, lekas enyah kau Nikoh busuk, lekas enyah!

Setiap kali melihat Nikoh, bila judi pasti kalah.

Selamanya aku tidak pernah melihat kau, selanjutnya juga takkan melihat kau.

Selama hidupku paling gemar berjudi, buat apa melihat kau lagi?' "

Ting-yat menjadi murka, ia menggebrak meja dan berteriak.

"Anak keparat itu seharusnya kau tusuk dia sehingga tembus! Lalu kau pergi atau tidak?"

"Khawatir membikin dia marah, terpaksa aku pergi dari situ,"

Sahut Gi-lim.

"Begitu keluar gua aku lantas mendengar suara benturan senjata bertambah gencar di dalam gua. Kupikir kalau Dian Pek-kong yang menang, tentu dia akan mengejar dan menangkap aku lagi. Jika Lo-toako itu yang menang, bila dia keluar dan melihat aku, jangan-jangan akan membikin sial dia, asal berjudi pasti kalah. Sebab itulah aku lantas lari secepatnya dengan maksud menyusul Suhu dan minta engkau pergi membinasakan keparat Dian Pek-kong itu."

Sampai di sini mendadak Gi-lim tanya kepada Ting-yat.

"Suhu, kemudian Lenghou-toako telah tewas, apakah disebabkan ... disebabkan dia melihat aku sehingga sial baginya?"

"Apa yang dikatakan bila melihat Nikoh tentu kalah judi hanya ngaco-belo belaka,"

Kata Ting-yat dengan gusar.

"Bukankah di sini banyak sekali orang melihat kita, masakah mereka semua juga sial dan akan celaka?"

Semua orang merasa geli atas tanya jawab Ting-yat dan Gi-lim itu, tapi tiada seorang pun yang berani tertawa.

Baca Juga: Bara Naga 8

Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert