Ceritasilat Novel Online

Harimau Kemala Putih 7

Eps 7 Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.

Merah padam selembar wajah Lian It lian karena jengah, sedangkan jantungnya berdebar semakin cepat.

"Aku tahu kau tidak she LIan, kaupun bukan bernama Lian It lian!"

Kata Bu ki lebih jauh Kemudian sambil menarik muka dan tertawa dingin, katanya kembali.

"Lebih baik kau mengaku saja secepatnya, apa sebetulnya she mu? Dan siap namamu? Mau apa kau datang kemari? Kenapa seperti sukma gentayangan saja selalu membuntuti diriku?"

Lian It lian menundukkan kepalanya rendah rendah, diam diam biji matanya berputar kesana kemari, mendadak ia menghela napas panjang dan berkata.

"Masakah kau tak dapat menduganya?"

"Aku tak dapat!"

"Kalau seorang gadis tidak mencintai dirimu, mungkinkah dia datang mencarimu?"

"Tak mungkin!"

Lian It lian menundukkan kepalanya semakin rendah, sikapnya kemalu maluan, dengan suara lirih sahutnya.

"Sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan, kenapa aku datang mencarimu?"

"Aku masih belum mengerti!"

Hampir saja Lian It lian melompat bangun saking jengkelnya, dengan suara keras teriaknya.

"Apakah kau adalah seekor babi?"

"Sekalipun aku adalah seekor babi, tentunya aku bukan seekor babi yang telah mampus."

Tiba tiba Lian It lian tertawa Pada saat ia mulai tertawa itulah, tubuhnya telah melompat ketengah udara, tangannya diayunkan dan melepaskan senjata rahasia andalannya.

Orang yang sering kali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, hampir sebagian besar membawa senjata rahasia, sayang senjata rahasianya tidak beracun, caranya menyambitpun kurang jitu, bila dibandingkan dengan senjata rahasia andalan keluarga Tong, tentu saja selisihnya jauh sekali.

Kalau senyumannya itu sangat manis, sangat memikat hati, membuat orang lain tidak menyangka kalau secara tiba tiba dia akan turun tangan, maka sergapannya itu pasti lihay sekali.

Apa lacur senyumannya itu tidak terlalu bebas, senyumannya terlalu dipaksakan.

Dia sendiripun tahu bila ingin mempergunakan cara ini untuk menghadapi Tio Bu ki, maka harapannya untuk berhasil pasti tak akan terlalu besar.

Sayang dia justru tidak berhasil menemukan cara lain yang jauh lebih baik daripada cara itu.

Siapa tahu kenyataannya sekarang, ternyata cara itu manjur sekali, ternyata Tio Bu ki tidak melakukan pengejaran.

Angin dingin menerpa wajah, kegelapan mencekam seluruh permukaan jagad, bangunan rumah yang tinggi besar itu telah ditinggalkan jau di belakang sana.

Mendadak suatu perasaan aneh muncul dalam hatinya, ia merasa seakan akan sangat berharap agar Tio Bu ki dapat mengejar dirinya.

Karena dia tahu, asal dirinya sudah pergi meninggalkan tempat itu maka selamanya jangan harap kembali lagi kesana, diapun selamanya jangan harap bisa berjumpa lagi dengan pemuda yang bercodet diatas wajahnya, terutama sewaktu tertawa....

Mungkin sebenarnya ia tak pantas datang ke situ, mereka sebenarnya tak pantas untuk bertemu.

Tapi sekarang dia telah datang, dalam hatinya telah tertera bayangan Bu ki yang tak mungkin bisa dilupakan untuk selamanya.

Tak tahan dia mulai bertanya kepada diri sendiri.

Seandainya ia mengejar datang dan menangkapku kembali, mungkinkah aku menceritakan rahasiaku kepadanya?

Kalau dia sudah mengetahui akan rahasiaku, bagaimana sikapnya terhadap diriku?

Ia tidak berpikir lebih lanjut.

Bahkan untuk berpikir kembali pun dia tak berani Sekarang, dia akan pergi ke suatu tempat yang sangat asing sekali baginya, setibanya disana maka mereka pun tak akan mempunyai kesempatan untuk saling berjumpa kembali.

Aiiiii....!

Tidak ketemu juga lebih baik daripada setelah ketemu hanya akan mendatangkan kemurungan dan kekesalan belaka, mendingan kalau hatinya tidak ikut gundah.

Pelan-pelan ia menghela napas panjang sambil menghimpun tenaganya kembali, ia berlarian menuju ke depan, melawan hembusan angin dingin dan keluar dari perkampungan Ho-hongsan-ceng.

Ia bertekad untuk tidak memalingkan kepalanya lagi, ia bertekad membuang jauh jauh semua kejadian yang mendatangkan perasaan kesal dan murung dalam hatinya itu.

Tapi apa mau dikata justru dalam hatinya mendadak muncul perasaan sedih dan kesepian yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Karena untuk selamanya ia tak dapat mengutarakan perasaannya itu kepada orang lain.

Senjata rahasia itu sudah itu sudah terpukul rontok keatas lantai, itulah beberapa batang senjata rahasia So cu piau yang dibuat amat indah, Ditengah kegelapan yang mencekap seluruh ruangan, benda itu memantulkan sinar keperak perakan yang menyilaukan mata.

Senjata rahasia semacam itu bukan cuma enteng lagi pula sangat indah dilihat, kadangkala bahkan dipakai sebagai perhiasan rambut.

Ada banyak sekali anak gadis yang suka mencari orang untuk membuatkan sedikit perhiasan yang bentuknya menyerupai senjata rahasia, meraka bukan sungguh sungguh ingin menggunakan senjata rahasia itu untuk melukai orang, mereka hanya merasa bahwa benda itu menarik dan indah.

Senjata rahasia yang begini menarik dan menyenangkan ini, tentu saja tak akan mampu merobohkan manusia seperti Tio Bu ki Ia tidak pergi mengejarnya, karena ia sama sekali tak ingin mengejarnya.

...Sekalipun berhasil disusul, apa pula yang bisa dilakukan?

Apakah dia benar benar hendak menelanjangi dirinya lantas menggantungnya di pohon dan menyiksanya?

Peduli dari manapun asal usulnya, peduli rahasia apapun yang dimilikinya, yang jelas ia tidak menaruh maksud jahat kepada Bu ki.

Dalam soal ini, tentu saj Bu ki dapat melihatnya Oleh karena itu bukan saja dia tak ingin menyusulnya, bahkan diapun tak ingin mengetahui rahasianya.

....Terhadap seorang anak gadis seperti dia, bagaimanapun juga tak mungkin dia memiliki rahasia yang luar biasa.

Dikemudian hari dia baru tahu kalau dia telah keliru, bahkan suatu kekeliruan yang menakutkan.

Keadaan dalam kamar bca itu porak poranda, ibaratnya segerombol musang yang baru saja mengobrak abrik kandang ayam.

Bu ki tidak memasang lampu.

Dia tak ingin mencari bahan api ditempat yang porak poranda semacam ini, dia hanya berharap bisa duduk sebenta disana dengan tenang, membayangkan kembali semua peristiwa yang telah dialaminya selama ini, karena dikemudian hari mungkin dia tak akan menjumpai kesempatan semacam ini lagi.

Ia teringat akan ayahnya, teringat pula "hari baik hari rejeki"

Yang mengerikan dan mengenaskan, teringat akan Hong nio, teringat akan Su-gong Siau-hong, teringat pula akan Long-Giok serta Siangkoan Jin.

Dia selalu merasa bahwa dibalik sekian banyak persoalan, masih terdapat suatu simpul mati yang belum berhasil dibuka olehnya.

Jika simpul mati itu sehari tak berhasil di bukanya, maka cepat atau lambat simpul mati tersebut pasti akan menjirat tengkuk sendiri dan menggantungnya hidup-hidup sampai mati Yang lebih tak beruntung lagi, ternyata meski dia tahu akan simpul semacam itu, namun ia selalu gagal untuk mengetahui dimanakah letak simpul mati tersebut?

Tak tahan lagi ia menghela napas ringan, dari dalam halaman tedengar pula seseorang menghela napas ringan.

Meskipun helaan napas tersebut amat lirih, namun kemunculannya secara tiba tiba ditengah kegelapan malam begini masih cukup mengejutkan hati orang.

Tapi Buki berkutik pun tidak.

Ia seakan akan telah menyadari kalau malam ini masih ada orang lain yang akan mencarinya.

Betul juga, dari balik kegelapan telah muncul sesosok bayangan manusia, sewaktu didepan pintu, tiba tiba ia bertanya.

"Apakah kau sedang menunggu orang?"

"Darimana kau bisa tahu kalau aku sedang menunggu orang?"

Bu ki balik bertanya.

"Sebab dikala menunggu orang maka lentera tak usah dipasang, siapapun orang yang bakal datang, tanpa dilihatpun kau juga tahu...."

Ia tertawa lebar, kemudian menambahkan.

"Tentunya kau tidak menyangka bukan kalau dalam saat seperti ini masih ada orang bakal datang kemari, lebih lebih tak akan menyangka bukan kalau yang datang adalh aku?"

Bu ki mengakuinya "Ya aku memang tidak menyangka!"

Orang yang barusan datang ini adalah Lian It lian, ternyata ia telah muncul kembali.

"Dalam hati kecilmu kau tentu sedang berpikir bukan bahwa aku ini betul betul bagaikan sukma gentayangan saja, dengan susah payah melarikan diri, mengapa mau kembali kesini?"

"Aku memang ingin bertanya padamu, mau apa kau kembali lagi kemari..."

Ucap Bu ki Lian It lian segera menghela napas panjang.

"Aaai.....kali ini sesungguhnya bukan atas kemauanku sendiri aku kembali kemari"

"Apakah ada orang memaksamu kembali kesini?"

"Kalau bukan orang, pastilah aku telah ketemu dengan setan setan hidup lagi"

"Tampaknya kau sering sekali berjumpa dengan kawanan setan hidup lagi"

Sekali lagi Lian It lian menghela napas panjang.

"Aaai...! itulah dikarenakan tempat ini terlalu banyak setannya, ya setan laki laki ya setan perempuan, ada setan tua ada pula setan muda, agaknya beraneka macam setan berkumpul semua disini"

"Setan macam apa pula yang telah kau jumpai kali ini?"

"Setan tua!"

Sesudah tertawa getir ia melanjutkan.

"Kepandaian yang dimiliki setan tua iyu tampaknya jauh lebih hebat dari pada si setan kecil, kemanapun aku hendak pergi, ia selalu menghalangi perjalananku, membuat aku betul betul kehabisan akal untuk menghadapinya"

Meskipun nyalinya rada kecilan, meskipun caranya bertindak rada lemah, tapi ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya terhitung lumayan juga kehebatannya.

Orang yang telah dijumpai kali ini, entah manusia atau setan, ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tentu jauh lebih tinggi dari pada apa yang dimilikinya.

Tidak banyak orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh selihay itu.....

"Apakah ia memaksamu untuk balik kemari menjumpaiku?"

Tanya Bu ki kemudian.

"Dia mengira aku telah membohongimu, dia suruh aku balik kemari dan bicara terus terang kepadamu."

"Kau bersedia bicara terus terang?"

"Apa yang kuucapkan selam ini sesungguhnya adalah kata kata yang sejujurnya"

"Kau adalah seorang perampok ulung yang datang kemari hanya untuk menggaet sejumlah uang?"

"Jadi kau tidak percaya?"

Bu ki menghela napas panjang.

"Aaai...kau betul betul menginginkan aku mempercayaimu?"

Ia balik bertanya.

Lian It lian tertawa dingin tiada hentinya "Heehh...heehh...heehh...kenapa kau tak mau percaya?

Apakah hanya seorang pria yang boleh menjadi bandit ulang?

Perempuan toh sama sama manusianya, kenapa kaum perempuan tak bisa menjadi seorang bandit ulung?"

Ternyata Bu ki tidak menentang pendapatnya itu, malah katanya.

"Tentu saja perempuan boleh menjadi seorang bandit, sebab ini termasuk persamaan hak antara kaum pria dan akum wanita, bahkan kecuali menjadi Jay hoa cat(penjahat pemetik bunga) yang tukang menggagahi orang, mau jadi bandit macam apapun perempuan boleh melakukannya!"

Ia menghela napas panjang, lalu katanya.

"Aku cuma merasa bahwa kelihatannya secara tiba2 kau tidak mirip seorang bandit"

"Bagaimana sih tampang seorang bandit ulung? Apakah dia musti memasang papan nama diatas batok kepalanya? Apakah dikepalanya musti terpancang huruf yang berbunyai. Aku adalah seorang bandit ulung! Agar semua bisa tahu kalau aku ini memang seorang bandit profesional? Heran entah ditaruh kemana otak orang ini?"

"Oooh....jadi kau benar benar adalah seorang bandit? Seorang bandit ulung."

"Tentu saja kalau kau masih belum juga percaya, aku juga tak bisa berbuat apa apa lagi"

"Aku percaya!"

Lian It lian segera mengembangkan naps lega.

"Kalau kau mau percaya memang itu lebih baik lagi"

Katanya.

"Tidak baik!"

"Apanya yang tidak baik?"

"Tahukah kau dikala kami berhasil menangkap seorang bandit, dengan cara apakah kami akan menghadapinya?"

Lian It lian menggelengkan kepalanya.

"Ada kalnya kami akan menelanjangi tubuhnya lalu menggantungnya diatas pohon, ada kalanya kami bahkan mengorek sepasang matanya, memotong telinganya dan mengutungi sepasang kakinya"

"Paras muka Liab It lian segera berubah hebat sekulum senyuman paksa dengan cepat ditampilkan diujung bibirnya.

"terhadap kaum wanita, tentu saja kau tak akan berbuat demikian bukan?"

"Kau ...... kau tak akan menelanjangi......"

Kembali ia terbungkam dengan wajah berubah menjadi merah padam lantaran jengah bercampur takut.

"Aaaah, perempuan kan sama dengan orang, ini persamaan hak lho antara laki-laki dan perempuan, kalau perempuan bisa jadi bandit, kenapa kami tak bisa menghadapinya dengan cara begitu?"

Liat It lian tak sanggup berbicara lagi, walau hanya sepatah katapun.

"tentu saja aku tak akan berbuat demikian terhadapmu", Bu ki lebih lanjut.

"sebab kita toh terhitung seorang sahabat". Liat It lian cepat-cepat tertawa.

"Betul, betul, kita memang sahabat!, Sejak semula aku sudah tahu kalau kau bukan seorang manusia yang buas dan bengis!"

Serunya kegirangan. Bu ki juga tertawa, tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Pernahkah kau mendengar nama Sugong Siau hong?"

"Orang yang belum pernah mendengar nama orang ini sudah pasti adalah seseorang tuli!"

Jawab Liat It lian. Betul, Sugong Siau hong memang seorang ternama dalam dunia persilatan, benar-benar ternama.

"Tahukah kau, manusia macam apakah dia itu?"

Tanya Bu ki lafi.

"Konon sewaktu masih mudanya dulu dia adalah seorang lelaki tampan, tapi siapapun tak tahu lantaram apa dia tak pernah mau kawin, bahkan belum pernah berhubungan pula dengan perempuan macam apapun".

"Yang paling dikuatirkan , paling diperhatikan kaum wanita selalu memang persoalan semacam ini".

"Sebaliknya buat apa seorang lelaki persoalan semacam ini tak mungkin dianggap penting baginya".

"Apalagi yang kau ketahui?", tanya Bu ki selanjutnya.

"Konon tenaga dalamnya, ilmu pukulan lembeknya dan ilmu pedang Sip-ci-hui-kiamnya boleh dikata termasuk kepandaian nomor satu dalam dunia persilatan, sehingga ketua dari Butong-pay pun pernah berkata ilmu pedangnya sudah pasti dapat dideretkan di antara namanama sepuluh jago pedang utama dalam dunia persilatan dewasa ini, bahkan kedudukannya masih lebih tinggi sedikit daripada Bang-sut-liong siangseng dari Butongpay"

"Selain itu?"

Liat It lian berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Konon diapun termasuk salah seorang di antara sepuluh manusaia paling berkuasa dalam dunia persilatan dewasa ini"

Setelah berhenti sejenak, ia menjelaskan lebih lanjut.

"Karena dia sesungguhnya adalah salah seorang dari empat pentolan dalam perkumpulan Tay hong tong, semenjak Cong-tongcu dari Tay hong-tong yaitu Im Hui yang, Im locianpwe menutup diri untuk berlatih pedang, semua persoalan dalam Tay hong-tong telah terjatuh di tangannya, setiap komandonya paling tidak akan mengakibatkan dua tiga puluh laksa orang akan munculkan diri untuk menjual nyawa baginya"

"Selain daripada itu?"

"Masih belum cukupkah semuanya itu?"

"Belum cukup, karena beberapa hal yang kau ucapkan barusan, sama sekali bukan bagian yang paling menakutkan dari dirinya"

"Oh ya?"

"Meskipun ilmu pedang yang dimilikinya juga terhitung ampuh, tapi jika kau telah berjumpa dengannya, entah kemanapun kau hendak melarikan diri, ia selalu dapat menghadang di hadapanmu, membuat kau kehabisan akal dan tak mampu banyak berkutik lagi"

Akhirnya Liat It lian mengerti juga akan duduk persoalannya.

"Kalau begitu, orang yang memaksaku kembali barusan adalah Sugong Siau-hong?"

Dia bertanya.

"Aku juga tak tahu benarkah dia atau bukan, aku cuma tahu kalau ia telah datang"

"Darimana kau bisa tahu?"

"Karena aku tahu Liu Sam-keng betul-betul seorang yang buta, dia searang buta tulen yang tak bakal salah"

"Liu Sam keng apakah seorang buta atau tidak, apa pula hubungannya dengan Sugong Siauhong?"

Tanya Lian It lian.

"Dari mana seorang buta bisa tahu kalau Ji-gi-Tay-tee adalah Siau lui yang sedang dicari? Dari mana pula dia bisa tahu kalau Siau lui berada di sini? Sekalipun daya pendengarannya jauh lebih tajam daripada orang lain, apakah persoalan itu juga dapat didengarnya dengan telinga? "Oleh sebab itu kau beranggapan bahwa tentu ada orang lain yang memberitahukan hal ini kepadanya?"

"Pasti!"

"Apakah orang yang kau maksudkan pasti adalah Sugong Siau hong?"

"Pasti!"

"Kenapa?"

"Sebab aku tak dapat memikirkan orang kedua selain dirinya"

Sekalipun alasan tersebut tak dapat dianggap sebagai alasan yang baik, namun bagi Lian It lian hal mana sudah terhitung lebih dari cukup.

Lian It lian bukan searang manusia yang biasa diajak membicarakan soal cengli.

"Walaupun aku tak akan menggantung dirimu, tak akan memotong telingamu atau menelanjangimu, orang lain mungkin saja dapat melakukan hal tersebut atas dirimu"

Ujar Buki lagi.

"Yang kau maksudkan "orang lain"

Apakah Sugong Siau-hong?"

Bu ki tidak mengakui pun tidak menyangkal, hanya ujarnya dengan hambar.

"Anak murid dalam perguruan Tay hong tong bukanlah orang orang yang terlalu penurut, bila ada seseorang memberikan perintahnya, maka ia sanggup membuat mereka untuk beradu jiwa deminya..... Ia tertawa dan menambahkan.

"Siapa orang ini, rasanya meskipun tak kuberitahukan kepadamu, kau juga semestinya tahu". Suara tertawanya begitu lembut dan halus, tapi codet di atas wajahnya membuat senyuman itu tampak lebih dingin, keji dan mengerikan. Setelah berhenti sejenak, dia berkata kembali.

"Sejak aku berusia tiga belas tahun, setiap tahun ayahku tentu memerintahkan kepadaku untuk berdiam selama setengah bulan di rumahnya, hal ini berlangsung terus hingga aku berusia dua puluh tahun baru berhenti"

"kalau begitu kau pasti dapat memainkan pula ilmu pedang Sip ci hui kiam miliknya"

Kata Lian It lian.

"Aku bukan disuruh ayahku mempelajari ilmu pedangnya, tapi belajar sikapnya menghadapi orang, serta cara kerjanya memecahkan setiap persoalan"

"Oleh karena itu, kau lebih memahami tentang dirinya daripada orang lain"

"Yaaa, itulah sebabnya aku tahu bahwa dia yang menyuruh kau kembali ke sini, bukan betulbetul menginginkan agar kau berbicara sejujurnya kepadaku...!"

"Kenapa?"

"Karena diapun tahu kalau kau tak akan mengatakannya kepadaku"

"Kalau memang demikian, kenapa ia memaksaku kembali ke sini, agar bertemu kembali denganmu?"

"Ia tahu kalau dia adalah sahabatku, ia tak ingin turun tangan sendiri menghadapimu, maka sengaja ditinggalkan untukku"

Lian It-lian ingin tertawa, namun suara tertawanya tak sanggup dikumandangkan.

"Apakah dia ingin melihat dengan cara apakah kau hendak menghadapi diriku?"

"Iapun cukup memahami tentang diriku, walaupun aku tak akan menelanjangi tubuhmu dan menggantungmu di pohon, akupun tak akan memotong telingmu atau mematahkan kakimu, ia tahu bahwa aku tak akan melakukan perbuatan semacam itu"

Lian It-lian segera menghembuskan napas lega, katanya cepat.

"Aku juga tahu, kau tak akan berbuat demikian!"

Bu-ki menatapnya tajam-tajam, kemudian sepatah demi sepatah ia berkata kembali.

"Tapi aku dapat membunuhmu!"

Sikapnya masih tetap lemah lembut dan halus.

Tapi sikap yang lembut dan serius ini justru menambah perasaan yang lebih mengerikan, lebih manis dan seram bagi penglihatan orang lain.

Paras muka Lian It-lian telah berubah menjadi pucat pasi seperti mayat.

Kembali Bu-ki berkata.

"Ia suruh kau kembali ke sini, karena dia suruh aku membunuhmu, sebab kau memang mempunyai banyak hal yang patut dicurigai, sekalipun aku bakal salah membunuhmu, ini jauh lebih baik dari pada melepaskanmu pergi dari sini"

Dengan terkejut Lian It-lian memandang ke arahnya, seakan-akan baru pertama kalinya melihat jelas wajah orang ini.

"Sekarang walaupun kita tidak melihat dirinya, ia pasti dapat melihat kita berdua"

Ucap Bu-ki lebih jauh, bila aku tidak membunuhmu, dia pasti akan merasa terkejut dan keheranan, jauh di luar dugaan, tapi ia pasti tak akan menghalangimu lagi".

Tiba-tiba ia tertawa berderai, lalu pelan-pelan melanjutkan.

"Oleh karena itu aku akan membuatnya merasa terkejut dan keheranan sekali lagi"

Lian It-lian tertegun dibuatnya.

"Oleh karena itu lebih baik cepatlah kau tinggalkan tempat ini"

Kata Bu-ki, lebih baik jangan biarkan aku bertemu lagi denganmu, untuk selamanya"

Lian It-lian makin terkejut lagi. Tadinya dia mengira dirinya telah melihat jelas akan orang ini, sekarang ia baru tahu kalau dia telah salah melihat. Tiba-tiba Liat It-lian bertanya.

"Aku hanya ada sepatah kata yang hendak kutanyakan kepadamu"

"Tanyalah"

"Kenapa kau melepaskan aku pergi?"

"Karena aku senang"

Alasan tersebut tentu saja tak bisa terhitung sebagai alasan yang terbaik, tapi bagi Lian It-lian, hal tersebut sudah lebih dari cukup.

Malam semakin gelap, cuaca semakin pekat.

Ketika Sugong Siu-hong memunculkan diri dari kegelapan, Bu ki masih duduk di situ dengan tenangnya.

Ia sudah tahu kalo Sugong Siau hong pasti akan datang.

Sugong Siau hong juga duduk tepat di hadapannya, lama sekali ia menatap wajahnya, kemudian menghela napas panjang.

"Ucapanmu memang benar", demikian katanya.

"memang aku yang mengajak Liu Sam keng datang kemari, aku memang sangat berharap kau bisa membunuh perempuan itu".

"Aku mengerti!"

"Siau lui adalah seorang bocah yang sangat berbahaya, jalan yang terbaik adalah membiarkan Liu Sam-keng membawanya pulang"

"Aku mengerti!"

"Tapi aku tak habis mengerti mengapa kau tidak membunuh perempuan itu tadi?"

Bu ki tidak menjawab.

Hakekatnya ia memang menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Ia percaya Sugong Siau hong pasti juga tahu, bila ia sudah menolak untuk menjawab siapapun tak akan mampu untuk memaksanya buka suara.

Sugong Siau hong telah menunggu sekian lama, ketika belum juga ada jawaban tiba-tiba ia tertawa.

"Ada banyak persoalan yang ingin kutanyakan kepadamu, jika kau merasa senang untuk menjawab, maka jawablah, bila tidak senang untuk menjawab, anggap saja tidak mendengar pertanyaanku itu"

"Cara ini memang paling baik!"

Sahut Bu ki sambil tertawa pula.

"Apakah engkau sudah tahu jejak dan kabar berita Siangkoan Jin.....?"

"Sudah!".

"Apakah engkau sudah bertekad hendak mencarinya sampai ketemu?"

"Benar!"

"Kau bersiap-siap, kapan kau berangkat?"

"Besok pagi!"

"Apakah kau bermaksud berangkat seorang diri?"

"Tidak!"

"Masih ada siapa lagi?"

"Li Giok tong"

"Apakah kau sudah tahu tentang asal-usulnya?"

"Tidak!"

"Dapatkah kau menahannya saja disini?"

"Tidak dapat"

"Mengapa kau bersikeras hendak mengajaknya pergi?"

"Pertanyaanmu kali ini tidak kudengar!"

Sugong Siau hong tertawa.

"Sekarang aku tinggal satu pertanyaan terakhir yang ingin kutanyakan kepadamu, lebih baik kau dapat mendengarnya".

"Aku sedang mendengarkan!".

"Adakah suatu cara yang dapat menahanmu tetap tinggal di sini serta merubah rencanamu semula?".

"Tidak ada". PELAN-PELAN Sugong Siau hong bangkit berdiri, pelan-pelan berlalu dari situ. Benar juga, ternyata ia tidak bertanya apa-apa lagi, ia hanya menatap Bu ki tajam, seakanakan masih ketinggalan satu persoalan yang hendak diberitahukan kepada Bu ki. Tapi ia tidak mengutarakannya keluar. Di dunia ini mungkin tak ada orang yang kedua yang bisa merahasiakan isi hatinya sendiri serapat dan secermat dia, pun tak akan ada orang kedua yang bisa merahasiakan rahasia orang lain lebih rapat darinya. ..........Rahasia apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hatinya? Tampaknya dia ingin sekali mengutarakan keluar, kenapa justru tak jadi mengucapkannya? ..........Apakah karena ia segan mengucapkannya? Atau ia memang tak dapat mengucapkannya. Ia berjalan lambat sekali, tubuhnya yang jangkung dan ceking itu tampak agak membungkuk, seakan-akan terdapat beban-beban berat yang tak kelihatan sedang menindih di atas tubuhnya. Menyaksikan bayangan punggungnya yang membungkuk, tiba-tiba Bu ki merasa ia sudah cukup tua, julukan Bi-kiam-khek (jago pedang tampan) yang dimilikinya dahulu, kini telah berubah menjadi seorang kakek yang banyak pikiran dan berperasaan berat. Perasaan semacam ini masih terhitung perasaan pertama yang pernah dialami Bu ki. Bila seseorang terlalu banyak memiliki rahasia hati dan rahasia orang lain, maka proses penuaannya akan berlangsung lebih cepat. Karena dia pasti akan merasa terlalu kesepian hidup sebatang kara. Terhadap kakek yang penuh dengan pikiran ini meski Bu ki juga menaruh simpatik, namun tak tahan juga ia harus bertanya pada diri sendiri. ..........Sebenarnya persoalan apa yang tertanam dalam hatinya sehingga ia pun harus dikelabui? ..........Selama ini aku selalu gagal untuk menemukan simpul mati tersebut, apakah simpul mati itu harus kutemukan dari atas tubuhnya? SETELAH keluar dari pintu tiba-tiba Sugong Siau hong berpaling kembali sambil berkata.

"Tak perduli Sangkoan Jin pada saat ini telah berubah menjadi manusia apapun, dulu kita toh pernah menjadi sahabat senasib sependeritaan yang mati hidup bersama", suaranya penuh dengan luapan rasa sedih.

"sekarang kami telah tua semua, selanjutnya mungkin sudah tiada kesempatan lagi bagi kita untuk bertemu kembali, ada semacam barang, aku harap kau dapat mewakiliku untuk mengembalikan kepadanya"

"Kau berhutang kepadanya?"

"Di antara persahabatan yang telah berlangsung banyak tahun, sedikit banyak di antara kami memang sering terjadi hubungan timbal-balik. Sayang sekarang kami bukan sahabat lagi, sebelum kami mati semua aku harus membayar dulu semua hutang-hutang ini"

Ditatapnya Bu ki lekat-lekat, kemudian katanya kembali.

"Oleh karena sebab itu kau harus berjanji kepadaku, benda itu harus kau serahkan kepadanya sebelum ia meninggal dunia"

Bu ki termenung dan berpikir sejenak lalu berkata.

"Kalau yang bakal mati bukan dia melainkan aku, akupun pasti akan menyerahkan kepadanya sebelum napasku berhenti"

Pelan-pelan Sugong Siau hong menghela napas panjang.

"Aku percaya kepadamu....!"

Katanya.

"setelah kau menyanggupinya maka kau pasti dapat melakukan dengan sebaik-baiknya". Agaknya ia tidak terlalu mengkuatirkan mati-hidupnya Bu ki, diapun sengaja tidak memperlihatkan sikap kuatirnya terhadap keselamatan si anak muda itu.

"Benda apa yang harus kubawa?"

Tanya Bu ki kemudian.

"Seekor harimau!". Ia benar-benar mengeluarkan seekor harimau dari sakunya, kemudian melanjutkan.

"Kau harus mengabulkan permintaanku, apapun yang bakal terjadi, kau tak boleh menyerahkan harimau ini kepada orang lain, dalam keadaan apapun, kau juga tak boleh membiarkan benda ini jatuh ke tangan orang lain"

Bu ki tertawa getir. Tiba-tiba ia merasa bahwa Sugong Siau hong telah menganggap harimau itu jauh lebih penting daripada nyawa sendiri. Maka diapun menjawab.

"Baik kusanggupi permintaanmu itu!"

Harimau itu terbuat dari sebuah batu kumala putih.Itulah Harimau kumala putih.

Bulan empat tanggal tujuh, cuaca cerah.

Akhirnya Bu ki berangkat meninggalkan tempat itu, ia berangkat meninggalkan perkampungan Ho hong san ceng dengan membawa seorang manusia serta seekor Harimau kumala putih.

Tujuannya adalah benteng keluarga Tong, sumber dari segala macam senjata rahasia paling beracun yang paling tersohor di seluruh kolong langit.

Anak murid keluarga Tong tak terhitung jumlahnya, jago-jago lihaypun tak bisa dihitung dengan jari, baginya tempat itu tak lebih dari sebuah sarang naga gua harimau.

Dia hendak menerjang masuk ke dalam sarang naga, mengobrak-abrik gua harimau dan mengambil anak harimau.

Selain daripada itu diapun harus mengantar Harimau kumala putih tersebut ke dalam sarang harimau.

Sedang orang yang mendampingi perjalanannya tak lain adalah seekor harimau yang setiap saat mengawasinya dan bersiap-siap menerkamnya dengan ganas.

MENGANTAR DIRI KE MULUT HARIMAU BULAN empat tanggal sebelas, udara cerah.

BUlan empat di daratan Tionggoan bagaikan bulan tiga di wilayah Kanglam, burung beterbangan dengan riangnya, inilah musim semi yang indah, sayang dikala musim semi telah mencapai puncaknya, iapun akan berlalu dengan begitu saja.

Setelah sinar senja yang indah memancar kelangit magribpun menjelang tiba.

Banyak persoalan di dunia ini adalah demikian, terutama segala hal yang tampak indah dan menawan.

Oleh karena itu, kau tak perlu besedih hati, kaupun tak usah merasa sayang, sekalipun keindahan bisa dikejar, kau tak akan mampu untuk menahannya.

Sebab inilah kehidupan manusia, ada sementara persoalan yang ingin kau tahan pun belum tentu bisa menahannya.

Kau harus dapat belajar untuk menahan ketidak berperasaannya, sebelum dapat memahami bagaimana caranya menikmati kehangatannya.

JENDELA kereta terbuka lebar, angin sejuk menghembus muka melalui jendela dan menyiarkan bau harum semerbak ke seluruh ruang kereta itu.

Tiong Giok bersandar di dalam ruang kereta, angin sejuk kebetulan menghembus di atas wajahnya.

Ia merasa hatinya amat senang, mukanya bersinar terang, sehingga ia tampak lebih mirip seorang perempuan daripada perempuan sesungguhnya.

Ketika tirai bergoyang terhembus angin, dari dalam ruang kereta dapat pula terlihat Tio Bu ki yang menunggang kuda dan berjalan mengikuti di sisi kereta.

Mereka telah melakukan perjalanan bersama, andaikata ia tidak sedang gembira, sekarang Tio Bu ki sudah menjadi sesosok mayat.

Selama empat lima hari ini, paling tidak ia sudah menjumpai sepuluh kali kesempatan baik untuk turun tangan, bahkan sekarangpun terhitung suatu kesempatan yang baik sekali.

Melongok dari luar jendela, hakekatnya Tio Bu ki bagaikan sebuah sasaran bidikan hidup, dari belakang kepala sampai ke pinggang, dari nadi besar di belakang leher sampai ke persendian tulang punggung, setiap bagian sudah berada dalam lingkungan sasaran senjata rahasianya, asal dia turun tangan, bagian mana yang akan menjadi sasaran di situlah dia akan temui sasarannya.

Jilid 19________ Ia belum sampai turun tangan, karena ia belum mempunyai keyakinan untuk berhasil dengan serangannya.

Bukan saja ilmu silat yang dimiliki Tio Bu ki sangat lihay, reaksinya juga sangat cepat, lagi pula tidak terlalu bodoh, untuk menghadapi manusia semacam ini, ia tak boleh teledor barang sedikitpun juga, ia tak boleh membuat kesalahan walau hanya sedikitpun juga.

Karena manusia semacam ini tak akan menyediakan kesempatan baik untuk kedua kalinya kepadanya.

Oleh sebab itu kau harus menunggu sampai saat dimana kau merasa amat yakin bahwa seranganmu itu pasti akan mendatangkan hasil baru melancarkan serangannya.

Tong Giok sedikitpun tidak merasa geli.

ia percaya kesempatan semacam itu pasti akan muncul setiap saat, diapun percaya dugaannya pasti tak bakal salah.

Ia tidak bermaksud memandang rendah kemampuan Tio Bu Ki.

Sejak terjadinya peristiwa di hutan Say-cu lim dalam rumah makan Hoa gwat-sian, tentu saja diapun dapat mengetahui manusia macam apakah Tio Bu ki itu.

Tentu saja iapun tak akan memandang rendah diri sendiri.

Rencananya kali ini dapat berlangsung dengan begitu lancar, tampaknya hal tersebut dikarenakan nasibnya yang sedang mujur, oleh sebab itu baru dijumpainya kesempatan yang baik dan Tio bu ki masuk ke dalam perangkap sendiri.

Tapi ia tak pernah beranggapan keberhasilannya selama ini tergantung pada kemujuran nasibnya.

Ia beranggapan bahwa istilah "nasib yang mujur"

Sama artinya dengan "dapat memanfaatkan kesempatan yang ada".

Bila seseorang dapat memanfaatkan kesempatan yang ada, maka dia pastilah seseorang yang bernasib sangat baik!

Ia memang tak pernah melepaskan setiap kesempatan yang ada.

Operasi yang diadakan di Hoa gwat-sian tempo hari telah mengalami kegagalan total, bahkan kekalahan yang dialaminya terlampau tragis.

Tapi dengan cepat ia dapat memanfaatkan kembali kesempatan yang ada, ia telah menghianati Oh Po-cu, oleh sebab itu ia baru mempunyai kesempatan untuk bersahabat dengan Tio Bu-ki, sebab itu ia baru bisa mendapat kepercayaan dari Tio Bu-ki dan bersedia mengikat tali persahabatan dengannya.

Berbicara baginya, menghianati seseorang hakekatnya sama gampangnya dengan makan sepotong tahu, apakah dapat memanfaatkan kesempatan yang ada, itu baru paling penting.

Asal bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, iapun merasa tak sayang untuk menghianati bapaknya sendiri sekalipun.

Sebab di situlah terletak kunci dari dunia keberhasilan atau kegagalan dari suatu usaha.

Ia percaya pada hari itu pasti tak akan ada orang yang menaruh curiga bahwa dia sekomplotan dengan Oh Po cu, lebih tak mungkin lagi kalau dialah Tong Giok.

Jika ada orang yang menganggap hal ini merupakan kemujurannya, maka kemujuran inipun atas hasil ciptaannya sendiri.

Terhadap diri sendiri ia merasa puas sekali.

Kuda yang ditunggangi Bu ki tentu saja seekor kuda yang termasuk dalam predikat Cian tiong sian it.

Arti dari Cian tiong sian it adalah di antara seribu ekor kuda jempolan yang tersedia, paling banter hanya bisa terpilih seekor kuda semacam itu.

Dalam istal kuda di markas besar perkumpulan Tay hong tong, terbagi pula tingkatantingkatan "atas menengah dan bawah"

Tiga buah tingkatan seperti dalam rumah pelacuran di kebanyakan kota. Perempuan-perempuan dari rumah pelacuran tingkat atas tak mungkin bisa "ditunggangi"

Oleh orang-orang biasa. Kuda dalam istal kuda tingkat ataspun demikian juga. Anak murid perkumpulan Tay hong tong jangan harap bisa menunggangi kuda dari "istal tingkat atas"

Bila tiada urusan yang maha penting atau tugas yang sangat berbahaya.

Bu ki bukan manusia sembarangan.

Bu ki adalah putra tunggal dari Tio Kian, Tio Jiya, sedangkan Tio jiya adalah pendiri dari perkumpulan Tay hong tong, juga merupakan tonggak dari Tay hong tong.

Seandainya tiada Tio jiya kemungkinan besar perkumpulan Tay hong tong sudah akan ambruk sedari dulu, kalau tiada Tio jiya mungkin di dunia ini tak akan ada perkumpulan yang bernama Tay hong tong.

Mungkin Bu ki masih belum memahami bagaimana caranya memilih teman, tapi terhadap kuda ia selalu mempunyai pengetahuan yang luas, diapun memiliki ketajaman mata yang melebihi siapapun.

Caranya memilih seekor kuda bahkan jauh lebih jitu daripada seorang hidung belang yang berpengalaman dalam memilih lonte.

Kuda ini adalah salah seekor kuda pilihan yang berhasil ditemukannya dari tiga puluh dua ekor kuda Cian tiong sian it yang tersedia.

Tong Giok juga tahu kalau kuda ini adalah seekor kuda pilihan, tapi yang menarik seleranya bukan kuda jempolan tersebut.

Agaknya ia lebih tertarik dengan kulit pelana yang berada di punggung kuda tersebut.

Itulah sebuah pelana yang terbuat dari kulit kerbau, potongannya amat indah dan rapi jahitannya juga rumit dan rapat.

Andaikata tidak diperhatikan secara cermat, rasanya memang tidak gampang untuk menjumpai jahitan pada pelana tersebut.

Tapi pelana kuda macam apapun tentu akan dijahit pinggirannya dengan bahan yang kuat, kemudian menggunakan lilin yang telah digosok mengkilap untuk menutupi bekas jahitan itu agar orang tak dapat menjumpai bekas bekas jahitan dan pakunya.

Mendengar Tio Bu ki yang duduk di atas pelana kudanya itu, mendadak tong Giok teringat akan suatu kejadian yang amat menarik hati.

Seandainya tukang kulit yang membuat pelana itu ketika sedang menjahit telah mematahkan sebatang jarum karena kurang hati-hati.

Jika ia kurang cermat dan tidak mengeluarkan jarum yang putus di dalam pelana itu kemudian telah menggosokkan lilin di atasnya sehingga tidak tampak dari luar.

Seandainya pada suatu hari, kutungan jarum itu tiba-tiba muncul dari balik pelana.

Seandainya waktu itu secara kebetulan ada orang yang duduk di atas pelana tersebut.

Seandainya kebetulan waktu itu musim panas sehingga pelana yang digunakan tidak terlalu tebal.

Maka kutungan jarum yang sedang menongol keluar itu tentu akan melubangi celananya dan melukai tubuhnya.

Ternyata jarum memang bukan suatu kejadian yang serius, mungkin ia tak akan merasa sakit, sekalipun andaikata sakit, rasanya juga tak seberapa.

Tapi andaikata secara kebetulan ujung jarum itu mengandung racun bahkan kebetulan pula jarum tersebut telah diolesi racun keji dari keluarga Tong, maka orang yang duduk di atas pelana itu pasti akan merasa gatal-gatal di sekitar mulut luka bekas tusukan jarum tersebut.

Setelah melakukan perjalanan sekian waktu, dia pasti akan mulai menggaruk garuk mulut luka tadi.

Jika ia sudah mulai menggaruk, maka dua tiga ratus langkah lagi orang sedang naas itu tentu akan terjungkal dari atas kudanya tanpa diketahui sebab musababnya, bahkan orang itu akan mati begitu saja.

Lebih kebetulan lagi seandainya orang yang sedang naas itu adalah Tio Bu ki.

Tong Giok mulai tertawa.

Semua andaikata yang terbayang dalam benaknya bukan tak mungkin bisa terjadi, sekalipun jarum si tukang kulit tidak kebetulan putus.

Tong giok juga bisa menyusupkan sebatang kutungan jarum di atas pelana tersebut, karena hal itu bukan perbuatan yang terlalu sulit.

Tong Giok benar benar tak tahan untuk tertawa, sebab ia merasa jalan pemikirannya benar benar terlalu menarik hati.

Tiba tiba Bu ki berpaling dan memandang kepadanya, kemudian menegur.

"Apa yang sedang kau tertawakan?"

"Aku teringat akan sesuatu lelucon!"

Jawab Tong Giok "Lelucon apa?"

"Lelucon tentang seorang tolol!"

"Bersediakah kau menceritakan kepadaku?"

"Tidak bisa"

"Kenapa?"

"Karena lelucon itu benar benar terlalu menggelikan, ketika kuceritakan kepada orang tempo hari, orang itu tertawa terbahak bahak samapai perutnya pecah dan muncul sebuah lubang besar, lubang yang besar sekali"

Bu ki ikut tertawa.

"Benarkah ada orang yang bisa tertawa sampai bisa pecah perutnya?"

Ia bertanya.

"Hanya manusia macam dia yang bisa!"

"Manusia macam apakah dia?"

"Diapun seorang yang tolol"

Setelah berhenti sebentar ia menambahkan.

"Hanya orang tolol baru suka mendengarkan lelucon tentang orang tolol, dan hanya orang tolol juga baru suka menceritakan lelucon tentang orang tolol"

Tong Giok masih tertawa, tapi Bu ki sudah tak mampu tertawa lagi. Seorang tolol mendengarkan seorang tolol lain yang menceritakan tentang "lelucon seorang tolol"

Persoalan semacam ini sebenarnya memang sebuah lelucon.

Tapi seandainya kau memikirkannya kembali dengan seksama, maka kau akan merasa bahwa lelucon itu bukan saja mengandung sindiran, bahkan penuh mengandung kesedihan.

Semacam kesedihan yang dirasakan oleh setiap manusia.

Semacam kesedihan yang bernada apa boleh buat.

Jika kau mau memikirkannya secara cermat, bukan saja kau tak bisa tertawa, mungkin ingin menangispun tak bisa.

"Itu mah bukan lelucon namanya!"

Kata Bu ki.

"Memang bukan!"

Tong Giok membenarkan.

"Aku masih ingin mendengarkan leluconmu itu"

"Baik, aku akan bercerita kembali"

Kata Tong Giok Setelah berpikir sejenak, ia baru bercerita.

"Dulu ada seorang tolol membawa seorang nona yang cantik jelita berjalan-jalan di sebuah jalan raya, tiba tiba nona itu terpeleset dan jatuh terlentang di atas tanah"

"Selanjutnya?"

"Selanjutnya sudah tak ada lagi"

"Inikah leluconmu?"

"Ya, benar!"

"Leluconmu ini tidak menggelikan"

"Jika kau melihat seorang nona yang berdandan sangat cantik berjalan jalan dengan seorang tolol, si tolol tidak terpeleset, si nona malah jatuh terjengkang masakah waktu itu kau tidak merasa geli?"

"Seandainya aku menyaksikan sendiri kejadian tersebut mungkin saja aku akan ikut tertawa geli"

"Semua cerita leluconku sama semua nadanya, meskipun kedengarannya tidak menggelikan, tapi seandainya benar benar ada orang melakukan lelucon itu, maka orang pasti tertawa terbahak bahak karena geli"

Ia sudah mulai tertawa, tertawa dengan riangnya.

"Waktu itu siapa tahu perutmu benar benar akan muncul lubangnya karena geli, mungkin juga hanya sebuah lubang yang kecil sekali"

"Tak perduli lubangnya besar atau kecil, yang penting kedua duanya tetap berupa lubang"

"Tepat sekali"

Tong Giok tertawa. ........... Malam semakin gelap. Setelah membicarakan soal "lelucon orang tolol"

Dengan Tio Bu ki dalam perjalanan sore tadi, hingga kini Tong Giok masih merasa sangat riang dan gembira.

Bila sang kucing berhasil menangkap tikus, dia tak akan segera menelannya.

Tong Giok mempunyai banyak hal yang sama seperti seekor kucing.

Sekarang Tio Bu ki ibaratnya seekor tikus yang sudah terjatuh ke dalam cengkeramannya, diapun hendak mempermainkan tikus itu sepuasnya sebelum akhirnya ditelan.

Kejadian seperti ini baru terhitung kejadian yang paling menggembirakan hatinya.

...........

Rumah penginapan ini adalah sebuah rumah penginapan yang terhitung lumayan, setiap daun jendela dari kamar kamar tamunya berada dalam keadaan rapat, di atas jendela tak akan dijumpai sebuah lubang sekecil jarumpun.

Tio Bu ki yang berada dalam kamar sebelah sudah lama tak kedengaran suaranya lagi, agaknya ia telah tertidur.

Tong Giok bangun terduduk, dari kepalanya ia meloloskan sebatang tusuk konde emas.

Kemudian dari saku kecil pakaian dalamnya ia mengeluarakan sebuah kantong uang yang bersulamkan sekuntum bunga.

Sekarang dia masih mengenakan gaun berwarna merah dan berdandan sebagai seorang perempuan, kedua macam benda itu merupakan benda yang seringkali dibawa dalam tubuh seorang nona, sehingga siapapun tak akan menaruh curiga sampai ke situ.

Tapi setiap malam tiba, ketika suasana telah hening dan semua orang sudah tertidur lelap, dia selalu akan mengeluarkan kedua macam benda itu dan diperiksanya dengan seksama, bahkan jauh lebih berhati hati daripada seorang hartawan sedang menghitung rekeningnya.

Setiap kali sebelum melakukan perbuatan itu, dia selalu akan menutupi pintu dan jendela rapat rapat, mencuci tangannya dengan air hangat dan menyeka tangannya dengan selembar kain putih yang bersih.

Setelah itu dia baru duduk di bawah lentera mencabut keluar tusuk konde itu dan menggunakan dua jari tangannya yang lembut dan panjang untuk memegang ujung tusuk konde serta memutarnya dengan pelan.

Ternyata bagian tengah dari tusuk konde itu kosong, isinya adalah semacam bubuk halus berwarna keemas-emasan, inilah Tong hun sah (pasir pemutus nyawa) yang amat tersohor dari keluarga Tong, bubuknya lembut dan halus tapi beratnya luar biasa sekali.

Makin kecil bentuk senjata rahasia tersebut, makin susah orang untuk menghindarinya, makin berat bobotnya semakin jauh pula daya timpuknya.....

Tak bisa disangkal lagi, senjata rahasia yang dipergunakan ini adalah senjata rahasia pilihan dari keluarga Tong.

Kepala tusuk konde itupun kosong, di dalamnya berisikan semacam lilin yang bening dan tanpa warna, bila bertemu angin lantas mengering.

Asal kepala tusuk konde itu diremasnya sampai hancur,maka lilin itu akan mengalir di tangannya dan melindungi telapak tangannya.

Selamanya dia paling tidak suka menirukan cara cara saudara yang lain dengan menggembol senjata rahasianya di dalam sebuah kantong kulit yang tergantung di pinggangnya, cara semacam itu seakan akan takut kalau orang lain tidak tahu bila mereka adalah murid dari keluarga Tong.......

Iapun paling tak suka menggunakan sarung tangan kulit menjangan yang tebal lagi berat itu.

Ia beranggapan bahwa melepaskan senjata rahasia dengan mengenakan sarung tangan, seperti halnya seorang laki laki meraba tubuh gadis bugil dengan sarung tangan.

Bukan saja tangannya tak akan merasakan apa-apa, tidak menarik pula.

Persoalan semacam ini ia enggan untuk merayakannya.

Isi Kantong uang itu adalah segulung tali emas, sebungkus jarum, dua biji mata uang yang bertuliskan Kit-siong Ji-gi dan sebiji batu kristal yang memantulkan sinar.

Gulungan benang itu terbuat dari rantai emas murni yang tipis dan kuat, bahkan setiap saat bisa dipergunakan untuk mematahkan tengkuk orang, lagi pula kuat untuk menggantung seseorang di pohon, seandainya ia terkurung dalam sebuah tebing yang curam diapun bisa menggelantung pada rantai emas tanpa kuatir tali itu putus di tengah jalan.

Batu kristal tersebut adalah semacam batu mustika yang disebut Kim kong sik, konon dibandingkan dengan batu kumala yang paling bersih pun nilainya lebih tinggi, benda itu bisa digunakan untuk membeli manusia yang tidak serakahpun untuk berpihak kepadanya.

Ada uang bisa membuat setan menggiling tahu, bilamana keadaan memerlukan, batu kristal tersebut mungkin bisa digunakan untuk menyelamatkan jiwanya.

Sayang orang yang tahu soal mutu barang tidak terlalu banyak, nilai dari benda tersebut belum tentu bisa diketahui oleh setiap orang.

Oleh karena itu dia membawa pula dua biji mata uang emas sebagai persiapan.

Setiap benda, setiap persoalan dan setiap keadaan hampir seluruhnya telah dipersiapkan dengan cermat.

***** KOCEK atau kantong uang itu terbuat dari kain sutera halus, di permukaan depan maupun belakang masing masing bersulamkan sekuntum bunga botan dan daunnya terbuat dari benang emas dan mutiara.

Putik bunganya ternyata bisa bergerak, setiap saat benda itu dipetik.

Tiba tiba sekulum senyuman bangga yang misterius tersungging di ujung bibir Tong Giok, inti bunga dari kedua kuntum bunga botan itulah terletak rahasia yang sesungguhnya, di sanalah terdapat senjata rahasia yang paling dibanggakan olehnya.

Daya kekuatan dari senjata rahasia tersebut bukan saja belum pernah disaksikan oleh orang orang persilatan, bahkan mimpipun tak pernah mengiranya.

Sekalipun Tio Bu ki berhasil mengungkap rahasia asal usulnya dengan mengandalkan kedua biji senjata rahasia tersebut, diapun bisa membuat tubuh Tio Bu ki hancur lebur berkeping keping sehingga mati tanpa tempat kubur.

Cuma saja apabila belum tiba saat yang diperlukan, dia takkan menggunakan kedua macam senjata rahasia tersebut.

Sebab hingga sekarang, mereka belum berhasil menguasai sepenuhnya rahasia pembuatan senjata rahasia macam itu.

Modal yang telah mereka tanamkan didalam pembuatan senjata rahasia tersebut, jumlahnya sudah luar biasa mengejutkan.

Bahkan telah mengorbankan pula nyawa dari tujuh delapan orang ahli, malah seorang ahli mereka yang paling hebat dan secara khusus diserahi tanggung jawab oleh keluarga Tong untuk pembuatan senjata rahasia tersebut nyaris tewas pula oleh senjata tersebut.

Hingga ia meninggalkan benteng keluarga Tong, senjata rahasia semacam itu seluruhnya baru berhasil diproduksi sebanyak tiga puluh delapan batang, setelah dilakukan percobaan, ternyata yang terjamin bisa digunakan secara menakjubkan hanya dua puluh biji.

Menurut perhitungan mereka sendiri, nilai dari setiap benda tersebut bisa mencapai seribu tahil emas lebih.

Untung saja kepercayaan mereka terhadap senjata rahasia macam itu lambat laun sudah mulai dapat dikendalikan, tehnik pembutan mereka pun makin lama berubah semakin tinggi dan hebat.

Menanti mereka bisa memproduksi senjata rahasia tersebut dalam jumlah yang banyak, pada saat itulah Tay hong tong akan hancur musnah untuk selama lamanya dari muka bumi.

Terhadap hal itu ia mempunyai rasa percaya yang tinggi.

***** Sekarang Tong Giok telah memeriksa setiap benda itu sekali, setiap macam benda tersebut masih tetap utuh sempurna seperti sedia kala.

Ketika ia merasa amat puas, diambilnya selelehen lilin dari tempat lilin dan dipoleskan pada ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah tangan kanannya, setelah itu dengan menggunakan tiga buah jari tangannya ia mencabut keluar sebatang jarum dari dalam kantongnya.

Jarum itu bentuknya tidak jauh berbeda dengan jarum jarum biasa, tapi bahkan dia sendiripun tak berani menyentuhnya secara sembarangan.

Ia harus memoleskan lilin untuk menutupi pori pori kulit badannya terlebih dahulu sebelum memegang, kalau tidak walupun kulitnya tidak terluka, hawa beracun bisa meresap masuk melalui pori pori di atas badannya, itu berarti ketiga jari tangannya harus dipotong untuk menghindarkan dari keracunan berat.

Oleh karena si tukang kulit yang diharapkan bisa meninggalkan kutungan jarum pada pelana tersebut, ternyata tidak melakukannya, Tong Giok bertekad hendak membantu pekerjaannya.

Meskipun rencana ini tidak terhitung sangat bagus, pun belum tentu mendatangkan hasil seperti yang diinginkan, tapi rencana itu mempunyai sedikit kebaikannya....sekalipun tidak berhasil, Tio Bu ki juga tak akan menaruh curiga kepadanya.

Karena setiap orang bisa ngeloyor masuk ke istal kuda di tengah malam buta, siapapun bisa pula menancapkan sebatang jarum di atas pelana kudanya kemudian menutup bekas jarum itu dengan lilin.

Pekerjaan semacam ini bisa dilakukan setiap musuh Tio Bu ki yang macam apapun.

Padahal musuhnya tidak terhitung sedikit, mana mungkin dia akan mencurigai sahabatnya sendiri.

Apalagi "sahabat"nya ini pernah membantunya untuk menangkap seorang musuh yang sudah hampir berhasil melarikan diri.

Bahkan Tong Giok telah memikirkan pula keadaan yang paling buruk.

Sekalipun Tio Bu ki menaruh curiga kepadanya, diapun mempunyai alasan yang sangat baik untuk membantah.

"Setiap hari aku berada bersamamu, andaikata aku ingin mencelakaimu, setiap saat setiap waktu aku bisa mencari kesempatan untuk melakukannya kenapa aku harus mempergunakan cara ini? Toh cara ini tak bisa dibilang merupakan cara yang terbaik?"

Alasan semacam itu walaupun diucapkan kepada siapapun sudah lebih dari cukup, apa yang dipikirkan Tong Giok memang benar benar amat sempurna.

Setiap masalah, setiap keadaan dan setiap bagian selau dipikirkannya dengan cermat, hanya ada satu hal yang tak pernah diduga olehnya.

Ia tidak menyangka kalau masih ada seekor domba lain yang bersikeras menghantarkan diri ke mulut harimau.

Setelah mempunyai rencana yang cukup cermat sewaktu dikerjakan ternyata tak terlalu sulit.

Kemanapun kau berada, istal kuda dari setiap rumah penginapan tak mungkin merupakan sebuah tempat yang ketat penjagaannya.

Istal kuda Tio Bu ki seperti halnya pula dengan istal istal lain, letaknya hanya berada di suatu sudut ruangan bagian belakang.

Berbicara buat manusia seperti Tong Giok, melakukan pekerjaan ini hakekatnya jauh lebih mudah daripada makan sawi hijau.

Malam sudah semakin kelam.

"Sebelum malam tiba mencari penginapan, setelah ayam berkokok berada di perjalanan", tentu saja para tamu dalam rumah penginapan itu sudah pada tidur. Ketika Tong Giok berjalan kembali dari istal, ternyata ia masih mempunyai kegembiraan untuk meikmati keindahan malam di bulan keempat yang sejuk ini. Rembulan hampir purnama, bintang bertaburan di angkasa, udara malam sungguh indah menawan, tiba tiba ia merasa seperti ada keinginan untuk membuat syair. Semacam syair yang sesungguhnya bertolak belakang dengan rencananya untuk membunuh orang. Tapi menunggu ia balik kembali ke halaman di luar kamar tidurnya perasaannya telah berubah menjadi hawa pembunuhan! ***** DALAM kamar ada lampu. Padahal sewaktu meninggalkan kamarnya tadi, lentera telah dipadamkan, pekerjaan semacam ini tak pernah dilakukannya dengan teledor, tak mungkin ia lupa untuk memadamkan lentera. Lalu siapakah yang telah memasang lampu di dalam kamarnya? Di tengah malam buta begini, siapakah yang telah berkunjung ke dalam kamarnya? Seandainya orang ini adalah musuh besarnya mengapa ia memasang lentera sehingga meningkatkan kewaspadaannya? Jangan jangan orang ini adalah sahabatnya? Di sini dia hanya mempunyai seorang "teman"

Dan hanya temannya ini yang tahu dia berada dimana.

Ditengah malam buta begini, kenapa Tio Bu ki berkunjung ke kamarnya?

Apakah dia telah menaruh curiga kepadanya?

Langkah kakinya tidak berhenti, bahkan sengaja memberatkan langkah kakinya agar orang yang berada di dalam kamar bisa mendengarnya dengan jelas.....

Oleh sebab itu diapun segera mendengar ada seseorang menjawab dari dalam kamar.

"Ditengah malam buta begini, kau telah pergi ke kamarnya?"

Suara itu bukan suara Bu ki.

Tong Giok segera dapat mendengar suara siapakah itu, tapi ia benar benar tidak menyangka kalu orang itu bisa datang kemari.

..................

Siapapun tidak menyangka kalau Lian It lian bisa datang ke situ, lebih tidak mengira kalau bukan Tio Bu ki yang dicari, sebaliknya malah datang menjumpai Tong Giok.

Tapi apa mau dibilang ia telah datang, apa mau dibilang justru ia berada dalam kamar Tong Giok.

Melihat si nona bercelana merah itu masuk kamar, ia mulai menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Di tengah malam buta begini, mau apa seorang nona pergi keluyuran di tempat luaran? Apakah tidak takut diperkosa orang?"

Sewaktu mengucapkan kata "diperkosa", ternyata wajahnya tidak memerah, dia benar benar merasa bangga sekali.

Kulit mukanya benar benar lebih tebalan, lebih tuaan pula.

Sayang di bagian yang lain masih terlalu halus, bukan saja ia masih mengira orang lain tak tahu kalau dia adalah perempuan menyaru lelaki, diapun tak tahu orang lain seorang lelaki atau perempuan?

Ia masih percaya kalau nona bercelana merah ini benar benar adalah seorang nona.

Tong Giok tertawa.

Wajahnya sewaktu tertawa, seperti seekor harimau menyaksikan seekor domba yang sedang mengantarkan diri ke mulutnya.

***** PENGALAMAN ANEH Senyuman Tong Giok lembut tapi genit, membawa pula tiga bagian rasa kemalu maluan, entah apapula yang sedang dipikirkan dalam hatinya, sewaktu tertawa wajahnya selalu demikian.

Senyuman secamam ini entah telah mencelakai berapa banyak orang.

Lian It lian kembali menghela napas, katanya.

"Sungguh beruntung kau dapat kembali dengan aman dan selamat, kalau tidak sungguh membuat orang hampir mati karena cemas"

"Siapa yang hampir mati karena cemas?"

Tanya Tong Giok.

"Tentu saja aku!"

Jawab Lian It lian sambil menuding hidung sendiri.

"Apa yang kau gelisahkan?"

Tanya TOng Giok dengan senyum manis dikulum.

"Kenapa aku tidak gelisah? Apakah kau tidak melihat betapa kuatirku atas keselamatanmu?"

Ternyata wajah Tong Giok berubah agak memerah, padahal dalam hatinya merasa geli sekali, saking gelinya sehingga hampir pecah perutnya.

........Ternyata budak cilik ini hendak mempergunakan SI-lam-ki (siasat lelaki tampan) untuk merayu aku, seorang gadis suci dari keluarga baik baik.

Tong Giok tak tahan untuk tertawa, sambil menundukkan kepalanya ia bertanya.

"Apakah kau melihat suko ku?"

Dengan cepat Lian It lian gelengkan kepalanya.

"Aku sama sekali tidak mencarinya, aku secara khusus datang kemari untuk menjenguk dirimu"

Kepala Tong Giok tertunduk semakin rendah.

"Menjenguk aku? Apanya yang menarik dari aku? "Aku sendiri tidak tahu apa yang menarik darimu, aku hanya merasa tak tahan untuk datang menjengukmu, keinginanku ini boleh dibilang sudah mendekati gila"

Tong Giok semakin merasa malu, perkataannya semakin berani, nyalinya juga makin lama makin besar.

Ternyata ia mulai menarik tangan Tong Giok.

........Kalau toh semua orang adalah perempuan apa salahnya untuk menarik narik tangannya?

Tentu saja ia tak ambil peduli.

Tong Giok lebih lebih tak ambil peduli .

Walaupun ia masih belum tahu apa yang sedang dipikirkan budak tersebut di dalam hatinya, tapi entah apapun yang sedang dipikirkan olehnya, dia tak akan ambil peduli.

Bagaimanapun yang bakal rugi bukan dia.

Sekalipun dia hanya berniat untuk menggoda nona bercelana merah ini saja, yang bakal rugi kali ini tetap dia.

Menyaksikan rasa "malu"

Dari Tong Giok hampir saja Lian It lian meledak perutnya saking geli.

...........Agaknya nona ini sudah mulai tertarik kepadaku, kalau tidak kenapa ia bersedia digenggam tangannya olehku?

Lian It lian tak tahan untuk tertawa, katanya.

"Bagaimana kalu kita keluar untuk berjalan jalan?"

"Ditengah malam buta begini kenapa kita musti keluar?"

"Suko mu tinggal di kamar sebelah, aku tak ingin membiarkan dia tahu kalau aku telah datang"

"Kenapa?"

"Aku kuatir dia merasa cemburu"

Tong Giok sudah mulai agak mengerti.

...........Ternyata budak ini sudah tertarik kepada Tio Bu ki, lantaran kuatir kalau aku bermain kasak kusuk dengan Tio Bu ki, maka ia bermaksud merayuku, kalau aku benar benar tertarik kepadanya, tentu saja Tio Bu ki akan kutinggalkan dan ia segera akan memungutnya di tengah jalan.

Walaupun dalam hatinya Tong Giok merasa geli, wajahnya menunjukkan sikap seperti lagi marah, katanya.

"Aku tidak lebih hanya sumoaynya, ia sama sekali tak berhak untuk mengurusi diriku, atas dasar apa dia harus merasa cemburu?"

Senyuman Lian It lian masih tetap ringan.

"Padahal aku juga tahu kalau kau tak akan tertarik kepadanya"

Dia berkata.

"Darimana kau tahu?"

Sambil tertawa jawab Lian It lian.

"Bagian mana dariku yang tidak lebih hebat darinya? Mana mungkin kau bisa tertarik kepadanya? Paras muka Tong Giok berubah menjadi semakin merah lagi.

"Bagaimana? Mau ikut aku keluar atau tidak?"

Tanya Lian It lian. Dengan wajah memerah Tong Giok menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku takut!"

"Kau takut apa?"

"Takut diperkosa orang!"

"Aku toh selalu mendampingimu, apalagi yang musti kau takutkan?"

"Yang kutakuti justru kau!"

Lian It lian kembali tertawa. Tiba tiba ia "menemukan"

Bahwa si nona yang kelihatan kemalu maluan ini sesungguhnya adalah siluman rase.

Dia adalah seorang perempuan.

Tapi sekarang, bahkan dia sendiripun agaknya mulai tertarik, seorang perempuan bisa tertarik hatinya, apalagi seorang laki-laki?

Bila ada seorang lelaki yang setiap hari selalu berkumpul dengannya, dan tak sampai terpikat baru aneh namanya.

Tio Bu-ki adalah seorang laki-laki.

Tio Bu-ki setiap hari selalu berada bersamanya.

Lian It-lian mulai bertekad, dia tak akan membiarkan siluman rase manapun berhasil memikat diri Tio Bu-ki.

Bila ada orang mengatakan kalau ia tertarik kepada Tio Bu-ki, maka sampai matipun dia tak akan mengakuinya.

Ia berbuat demikian tak lebih karena sikap Tio Bu-ki kepadanya terhitung masih lumayan juga, bahkan telah melepaskannya.

Ia tak ingin berhutang budi kepadanya, kebetulan sekarangpun dia tak ada pekerjaan lain, maka sekalian dia akan membantu Tio Bu-ki untuk melakukan pemeriksaan, apakah nona ini adalah seekor siluman rase atau bukan.

Si nona yang tanpa berubah wajah dapat membunuh orang ini bukan cuma menakutkan, bahkan sedikit agak mencurigakan.

***** Hal ini adalah perkataannya sendiri.

Maka sekalipun ada orang merasa curiga terhadap katakata "kebetulan".

"kebenaran".

"sekalian"

Dan lain-lainnya, diapun tidak ambil perduli.

Karena semuanya itu dia katakan untuk didengar oleh diri sendiri, asal dirinya merasa puas, itu sudah lebih dari cukup.

Bulan empat yang lembut, hembusan angin yang sejuk....

Dengan lemasnya Tong Giok berbaring di atas tubuhnya, seakan-akan sedikit tenagapun tidak dimilikinya.

Dengan bernafsu Lian It-lian memeluk nona itu kencang-kencang, memeluknya dengan hangat dan mesra, bahkan dapat dirasakannya pula debaran jantung nona itu.

Agaknya jantung dalam tubuhnya juga berdebar agak keras.

Nona itu seperti akan mendorongnya, tapi tidak mendorong dengan tenaga sungguh-sungguh.

"Kau hendak membawaku kemana?"

"Ke suatu tempat yang baik"

"Aku tahu tempat itu bukan suatu tempat yang baik"

"Kenapa?"

"Karena kau bukan orang baik"

Lian It-lian sendiripun tak bisa tidak mengakui kalau dirinya tak bisa dihitung sebagai orang baik .

Perbuatannya tak bisa disangkal lagi lebih mendekati seorang penjahat yang berhati kejam.

Tapi tempat ini benar-benar adalah sebuah tempat yang baik....

semacam tempat yang biasa ditemukan hanya oleh penjahat semacam dia dengan membawa seorang gadis.

Permukaan tanah berlapiskan rumput nan hijau, keadaan itu tak ubahnya seperti pembaringan, empat penjuru berupa pepohonan dan bunga yang segar, persis menutupi pemandangan sana dari pandangan luar, udaranyapun harum semerbak karena bau bunga yang segar.

Jika seorang anak gadis bersedia diajak seorang lelaki untuk berkunjung ke tempat seperti ini, biasanya hal ini menandakan kalau ia telah bersiap-siap untuk melepaskan kesempatannya untuk melawan.

Lian It-lian sendiripun merasa sangat bangga, katanya.

"Berbicara menurut suara hatimu, bagaimanakah pendapatmu tentang tempat ini?"

Dengan wajah merah karena jengah Tong Giok menjawab.

"Hanya orang jahat seperti kau, baru bisa menemukan tempat semacam ini...."

Lian It-lian segera tertawa.

"Aaah.....! Bahkan manusia semacam akupun harus menggunakan waktu yang cukup lama sebelum berhasil mendapatkan tempat semacam ini"

"Apakah kau telah merencanakan kesemuanya ini sejak permulaan dan memang berniat untuk mengajakku datang kemari?"

Lian It-lian tidak menyangkal perkataan itu.

Memang kali ini dia telah merencanakan segala sesuatunya dengan sempurna, bahkan apa yang harus dilakukan pada langkah selanjutnya juga telah direncanakan secara terperinci.

Tiba-tiba ia menarik tubuh Tong Giok dan mencium bibir merah dari si nona gadungan itu.

Kontan saja Tong Giok merasakan sekujur badannya menjadi lemas.

Sekujur badannya telah berbaring di dalam pelukan si penjahat gadungan, maka mereka berduapun segera menjatuhkan diri ke atas tanah berumput yang empuk bagaikan kasur busa di atas pembaringan itu.

Kalau dibilang Lian It-lian tidak sedikitpun merasa tegang, itu bohong namanya.

Bukan saja ia tak pernah memeluk seorang pria, diapun belum pernah memeluk seorang gadis.

Napasnya terasa agak memburu, mukanya terasa panas dan tangannya menjadi dingin.

Si nona gadungan itu tertawa cekikikan bersandar dalam pelukannya, ia meletakkan kepalanya di atas dada orang, membuat ia merasa jantungnya berdebar keras.

Kalau dibilang siapa yang bajingan, maka si nona gadungan itulah bajingan besar, setelah menjumpai kesempatan sebaik ini, tentu saja dia tak akan melewatkannya dengan begitu saja.

Sebaliknya si bajingan gadungan justru adalah seorang nona tulen, ia benar benar merasakan sekujur badannya menjadi lemas.

Bila seorang bajingan ingin membuat seorang nona merasakan sekujur badannya menjadi lemas, maka perbuatan itu bukan suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan.

Tentu saja dia tahu bagian mana dari tubuh seorang nona yang merupakan bagian yang "mematikan".

Lian It-lian juga sudah tahu sekarang dia harus mengambil suatu tindakan yang tegas.

Tangan "nona"

Tersebut sudah mulai menggerayangi tubuhnya, malah makin lama gerayangannya makin tak sopan. Walaupun ia tidak takut "dia"

Menggerayangi bagian tubuhnya yang "mematikan", tapi ia tak ingin membiarkan "dia"

Tahu kalau dia adalah seorang lelaki gadungan, seorang lelaki yang tak "bersenjata".

Tiba-tiba ia turun tangan, dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mencengkeram jalan darah penting pada tulang persendian lengan Tong Giok.

Sekalipun serangannya itu bukan dilakukan dengan ilmu Hun cing cuat kut jiu ( ilmu memisahkan otot merenggangkan tulang), tapi kelihayannya hampir sepadan dengan kepandaian tersebut.

Kali ini Tong Giok benar-benar tak berkutik lagi, ditatapnya lelaki gadungan itu dengan terkejut, kemudian tegurnya.

"Mau apa kau?"

Jantung Lian It-lian masih berdebar keras, napasnya masih tersengal-sengal.

"Apakah kau benar-benar hendak memperkosa aku?"

Teriak Tong Giok Lagi. Setelah mengatur napas sejenak, Lian It-lian berhasil menenangkan kembali hatinya, sambil tertawa ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau tidak memperkosa aku, aku sudah merasa sangat gembira, mana berani kuperkosa dirimu!"

"Lantas mengapa kau harus menggunakan cara semacam ini untuk menghadapiku, aku....aku toh tidak mengajakmu"

Lian It-lian segera menghela napas panjang.

"Aku juga tahu kalau kau tidak mengajakku, kaupun tak dapat memperkosa diriku, tapi kuharap kau bisa berbuat sedikit agak jujur, karena aku tak ingin seperti nasib Biau jiu jin kut. Tanpa diketahui apa sebabnya tahu-tahu sudah mati di tanganmu"

"Mana mungkin aku akan bersikap demikian terhadapmu? Masa kau tidak tahu kalau aku...aku menaruh perhatian kepadamu?"

Dia seakan-akan merasa sakit hati dan terhina oleh perkataan itu, sehingga setiap saat bisa jadi akan meledak isak tangisnya.

Lian It-lian merasa hatinya menjadi lunak kembali, dengan lembut dia berkata.

"Jangan kuatir, akupun tak akan berbuat apa-apa kepadamu"

"Sebenarnya kau mau apa?"

"Ilmu silat Tio Bu-ki berasal dari ajaran orang tuanya, aku belum pernah mendengar dia punya sumoay, heran, kenapa secara tiba-tiba bisa muncul seorang sumoay seperti kau?"

Tiba-tiba Tong Giok menghela napas panjang, sahutnya.

"Kau tampaknya seperti tidak bodoh, kenapa urusan semacam inipun tidak kau pahami?"

"Urusan ini adalah urusan apa?"

"Sumoay itu banyak jenisnya, belum tentu harus belajar dari satu perguruan baru terhitung sumoay"

"Lantas kau adalah sumoay dari jenis yang mana?"

"Kenapa kau tidak tanya sendiri kepadanya?"

Ia seperti agak marah, terusnya.

"Pokoknya dia sendiri mengakui aku adalah sumoaynya perduli aku adalah sumoay dari jenis yang mana, orang lain lebih baik tak usah turut campur"

Perkataannya memang sangat masuk akal, Lian It lian dibuat tertegun dan tak tahu bagaimana harus menjawab. Tong Giok kembali menghela napas, katanya lagi.

"Padahal kau tak usah cemburu, antara aku dengan dia sesungguhnya tak ada hubungan apaapa bahkan menyentuh tangannyapun tak pernah...."

"Oooh, jadi kau mengira aku sedang cemburu?"

"Memangnya kau tidak cemburu?"

Lian It lian merasa rada marah. Bila rahasia hatinya secara tiba-tiba dibongkar orang, biasanya rasa marah memang segera akan timbul. Sambil menarik muka katanya kemudian.

"Bagaimanapun juga, pokoknya aku merasa asal usulmu sangat mencurigakan, maka dari itu aku ingin ...

"Kau ingin apa?"

"Aku ingin menggeledahmu"

"Baik, geledahlah, kau boleh menggeledah sekujur badanku"

Wajahnya memerah, bibirnya digigit kencang-kencang, seakan-akan ia sudah siap untuk menerima penganiayaan tersebut.

Bila Lian It lian betul-betul adalah seorang lelaki tulen, bila nyalinya agak besaran sedikit dan ia benar-benar menggeledah "sekujur tubuhnya"

Dari atas sampai ke bawah, maka ia segera akan membuktikan kalau nona itu sesungguhnya adalah seorang nona gadungan.

Sayang seribu kali sayang, Lian It lian terlalu jujur, nyalinya kurang besar, diapun tidak berniat untuk bermain sabun.

Itulah sebabnya bagian "mematikan"

Dari Tong Giok sama sekali tidak digerayangi malah disentuhpun tidak.

Karena itu dia cuma berhasil menggeledah sebuah kocek bersulamkan bunga teratai, sudah barang tentu ia tak akan menduga kegunaan dari kocek itu.

Sesungguhnya kocek bersulamkan bunga teratai itu merupakan senjata yang paling diandalkan dan dibanggakan Tong Giok, sayang jangankan seorang macam Lian It lian, sekalipun jago kawakan yang pengalamannya sepuluh kali lebih hebatpun belum tentu bisa mengetahui rahasia dibalik kocek tersebut.

Sambil menggigit bibir menahan diri, dengan gemas Tong Giok melotot sekejap ke arahnya, kemudian menegur.

"Sudah selesai belum geledahmu?"

"Ehmmm!"

"Ehmmm itu apa artinya?"

Padahal ia sendiri juga tahu.

"ehmm!"

Tersebut berarti ia sudah menunjukkan perasaan agak menyesal. Karena ia memang tidak berhasil menemukan sesuatu benda yang mencurigakan. Sambil tertawa dingin Tong Giok berkata.

"Akupun tahu kalau kau bukan sungguh-sungguh hendak menggeledahku, kau .... kau cuma .... cuma ingin menggunakan kesempatan ini untuk mempermainkan aku, mencari alasan untuk menggerayangi tubuhku .... kau cuma ingin mencari keuntungan buat diri sendiri ..."

Makin berbicara mukanya semakin merah, seakan-akan air matanya setiap saat bakal meleleh keluar. Tiba-tiba Lian It lian tertawa.

"Hmm ....! Sudah mempermainkan orang, menggerayangi badan orang, sekarang tertawa, tak kusangka kau masih punya muka untuk tertawa, itu namanya nyengir kuda"

Seru Tong Giok.

"Kau kira aku benar-benar mendapat untung dengan menggerayangi badanmu itu?"

"Memangnya tidak?"

"Baik akan kuberikan kepadamu"

Seakan-akan ia sudah mengambil suatu keputusan besar dia bertekad hendak menguarkan rahasia pribadinya.

"Aku juga seorang perempuan, mana mungkin aku bisa mendapat keuntungan dari perbuatan itu"

Dengan terkejut Tong Giok memandang ke arahnya, seakan-akan "rahasia"

Tersebut benarbenar telah mengejutkan hatinya. Sambil tertawa Lian It lian berkata lagi.

"Aku suka sekali menyaru sebagai laki-laki dan sering kali kulakukan, tak heran kalau kau tidak menyangkanya"

Mendadak tong Giok menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Aku tidak percaya, aku tidak percaya!"

Serunya.

"sampai matipun, aku tetap tidak percaya"

Sekulum senyuman menghiasi wajah Lian It-lian, mukanya berseri-seri, ia seperti merasa sangat bangga dengan perbuatannya itu. Sampai sekarang dia baru "menemukan"

Bahwa ilmu menyarunya benar-benar sangat sempurnya.

"Lantas bagaimana baru bisa membuatmu percaya?"

Tanyanya kemudian sambil tersenyum.

"Aku ingin menggerayangi tubuhmu dulu"

Walaupun sedikit merasa rikuh dan mukanya menjadi merah, tapi pikirnya toh sama-sama perempuan, sekalipun badannya akan digerayangi seorang perempuan, agaknya persoalan ini juga bukan suatu persoalan yang terlalu hebat.

Oleh sebab itu, setelah mempertimbangkan sejenak, diapun setuju.

"Baiklah, tapi kau hanya boleh meraba pelan-pelan!"

Bahkan dia memegangi tangan Tong Giok dan merabakan ke atas payudaranya, karena ia kuatir tangan orang itu akan menggerayangi pula bagian "mematikannya".

Tong Giok segera tertawa lebar.

Dengan muka merah padam karena jengah Lian It lian segera melepaskan tangannya.

"Sekarang kau sudah tidak marah lagi bukan?"

"Tidak marah lagi!"

Sambil tertawa Tong Giok gelengkan kepala. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya untuk meraba kembali payudara orang. Lian it lian segera menjerit kaget.

"Hey, mau apa kau?"

"Aku ingin merabanya lagi!"

"Aaaah ....! Masa kau masih belum percaya kalau aku ini seorang perempuan?"

Tong Giok segera tertawa tergelak.

"Justru karena aku percaya kalau kau adalah seorang perempuan asli, maka aku ingin meraba lagi"

Akhirnya Lian It lian baru merasa kalau gelagat sedikit kurang beres .... Tiba-tiba ia merasa sorot mata si "nona"

Itu berubah menjadi aneh sekali, sayang terlalu lambat ia mengetahui akan hal itu.

Secepat sambaran kilat Tong Giok telah mencengkeram jalan darah pada persendian tulang sikunya, lalu sambil tertawa cekikikan katanya.

"Karena walaupun kau adalah seorang lelaki gadungan, kebetulan akupun seorang perempuan gadungan!"

Lian It lian segera menjerit kaget.

"Apakah kau adalah seorang lelaki?"

Teriaknya. Tong Giok tertawa terbahak-bahak.

"Kalau tidak percaya, kaupun boleh meraba sekujur badanku!"

Sahutnya nyaring.

Lian It lian hampir saja jatuh semaput.

Si nona gede itu ternyata seorang laki-laki.

Barusan ia masih memegangi tangan laki-laki itu untuk dirabakan pada payudaranya, malah ia telah memeluknya dan mencium bibirnya.

Membayangkan kembali semua kejadian tersebut Lian It lian merasa menyesal sekali, sehingga kalau bisa dia ingin menumbukkan kepalanya ke atas dinding untuk menghabisi nyawa sendiri.

***** TONG GIOK masih tertawa, tertawanya seperti seekor musang yang baru saja mencuri tiga ratus ayam kecil.

Sebaliknya Lian It lian mau menangispun tak sanggup menangis.

"Kau tak dapat menyalahkan aku"

Demikian Tong Giok berkata. kau merayuku lebih dulu, kau juga yang telah membawa aku datang kemari .... Gelak tertawanya makin riang terusnya.

"Tempat ini memang suatu tempat yang sangat baik, tak mungkin ada orang yang akan menemukan tempat ini"

"Kau...kau...apa yang ingin kau lakukan?"

Tanya Lian It lian dengan suara gemetar.

"Akupun tak ingin berbuat apa-apa, aku hanya ingin mengulangi sekali lagi apa yang telah kau lakukan kepadaku barusan"

Apa yang telah diucapkan ternyata benar-benar telah dilakukan.

Baru selesai dia berkata, bibir Lian It lian telah diciumnya dengan amat mesra.

Lian It lian merasa yaa malu!

yaa gelisah, yaa mendongkol, yaa takut ...

Yang lebih menjengkelkan lagi, ternyata dari hati kecilnya justru timbul suatu perasaan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Kalau bisa dia ingin mati saja daripada hidup.

Sayangnya, is justru tak bisa memenuhi harapannya untuk mati.

Tang Tong Giok sudah mulai merogoh ke balik bajunya.

Ia pernah menggerayangi tubuhnya, tentu saja diapun akan menggerayangi tubuhnya, cuma sewaktu dia balas menggerayangi tubuhnya sekarang, sudah barang tentu tangannya tidak sesungkan Lian It lian tadi.

"Lebih baik bunuhlah aku"

Lian It lian berteriak keras.

Padahal dia sendiripun tahu bahwa kata-katanya itu tak berguna, mustahil Tong Giok akan memenuhi keinginannya itu.

Sekalipun pada akhirnya Tong Giok akan membunuhnya juga, dia pasti akan melakukan banyak pekerjaan yang lain lebih dulu sebelum membunuhnya.

Justru pekerjaan yang lain itulah yang paling ditakuti, justru hal itulah yang mengkilik-kilik hatinya.

Lian It lian mulai terisak amat sedih.

Sebenarnya dia tak ingin menangis, sayang air matanya sudah tak mau menuruti perkataannya lagi.

Tangan Tong Giok mulai bergerak-gerak, gerakannya sangat lembut, sangat lambat.

Bahkan sewaktu meremas-remas bagian tertentu dari tubuhnya, ia melakukannya dengan begitu lembut, halus dan penuh kehangantan.

"Aku tahu apa yang kau takuti"

Katanya sambil tersenyum,"

Karena akupun tahu kau pasti masih seorang gadis perawan". Mendengar sebutan "Gadis perawan"

Isak tangis Lian It lian semakin sedih dan menjadi-jadi.

"Tapi kaupun seharusnya dapat melihat sendiri, bahwa lelaki semacam aku sebenarnya tidak terlalu tertarik kepada kaum wanita"

Kata Tong giok lebih jauh,"itulah sebabnya, asal kau bersedia mendengarkan perkataanku, siapa tahu kalau kau akan kulepaskan"

Kata-kata tersebut, seolah-olah bukan diucapkan secara sengaja untuk menghibur hatinya.

Lelaki ini memang terlalu mirip dengan seorang perempuan, siapa tahu kalau ia sungguhsungguh tidak begitu tertarik dengan kaum wanita?

Akhirnya timbul juga setitik harapan dari hati kecil Lian It lian, tak tahan diapun bertanya.

"Kau suruh aku menuruti perkataan apa?"

"Ada beberapa persoalan ingin sekali kutanyakan kepadamu, apa yang kutanyakan harus kau jawab dengan sejujurnya, asal aku mendengar kalau kau sedang bohong maka terpaksa aku akan ....."

Ia berhenti sebentar untuk tertawa kemudian baru melanjutkan.

"Waktu itu, apa yang ingin kulakukan, rasanya tak usah kuterangkan pun kau sendiri juga tahu"

Tentu saja Lian It lian tahu. Justru karena dia tahu, maka dia baru merasa ketakutan. Kembali Tong Giok berkata.

"Aku hendak bertanya kepadamu, sebenarnya siapa kau? Apa hubunganmu dengan Tio Bu ki? Darimana kau bisa tahu kalau dia tak punya sumoay? Kenapa kau mengetahui begitu banyak tentang persoalannya? Kenapa pula kau hendak menyelidiki asal usulku"

"Bila kujawab semua pertanyaanmu itu dengan sejujurnya, benarkah kau akan melepaskan aku?"

"Aku pasti akan melepaskan kau!"

"Kalau begitu lepaskanlah aku lebih dulu, nanti pasti aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu"

Tong Giok tertawa. Dikala ia mulai tertawa, tangannya telah bekerja untuk merobek sebagian dari pakaian yang dikenakan gadis itu, katanya sambil tersenyum.

"Selamanya aku paling tak suka untuk tawar menawar dengan orang lain, kalau kau masih enggan berbicara, akan kutelanjangi dirimu lebih dahulu...."

Bukannya bertambah menangis, Liat It-lian malah menghentikan isak tangisnya.

"Mau bicara tidak?"

Bentak Tong Giok.

"Tidak!"

Jawab Lian It-lian tiba-tiba dengan suara lantang. Jawaban ini agaknya sedikit diluar dugaan Tong Giok, dia lantas bertanya.

"Kau tidak takut?"

"Aku takut, takutnya setengah mati, tapi aku tak akan menjawab semua pertanyaanmu itu"

"Kenapa?"

Tong Giok makin keheranan. Sambil menggigit bibirnya kencang-kencang, jawab Lian It-lian.

"Karena sekarang aku sudah tahu kalau kau adalah seorang laki-laki, bila tujuanmu adalah hendak mencelakai Tio Bu-ki, tak peduli aku akan menjawab atau tidak, kau tak akan melepaskan aku"

Ternyata dalam hal ini dia telah dapat memahaminya. Mendadak Tong Giok menemukan, meskipun gadis itu bernyali agak kecil, tapi otaknya sangat cerdas.

"Tak perduli aku akan berbicara atau tidak, kau toh bakal..... bakal memperkosaku"

Kata Lian It-lian lagi.

Diluar dugaan, ternyata gadis itu berani pula mengucapkan kata-kata seperti itu.

Rupanya ia telah mengambil keputusan dalam hatinya, ia telah bertekad untuk menghadapi persoalan itu secara gagah.

Teriaknya dengan suara lantang.

"Kalau mau turun tangan, cepat lakukan! Aku tak akan takut, akan kuanggap seperti tergigit anjing gila, tapi ingat! Sampai matipun aku tak akan melepaskan dirimu!"

Mimpipun Tong Giok tidak menyangka kalau secara tiba-tiba ia dapat berubah menjadi begini rupa, seandainya lelaki lain yang menyaksikan keadaannya itu, mungkin dia tak akan melepaskannya dengan begitu saja.

Sayang sekali Tong Giok bukan lelaki lain.

Hakekatnya ia masih belum bisa dianggap sebagai seorang lelaki tulen.

Akhirnya Lian It-lian jatuh tak sadarkan diri.

Ia jatuh tak sadarkan diri dikala tangan Tong Giok mulai melepaskan tali pinggangnya.

Dikala Lian It-lian sudah sadar kembali, peristiwa tersebut telah terjadi dua hari berselang.

Ternyata ia masih belum mati, dapat membuka kembali sepasang matanyapun sudah dianggap suatu kejadian yang aneh.

Ada sementara kejadian yang jauh lebih menakutkan daripada mati, mungkin lebih baik mati daripada mengalami kejadian semacam itu.

Tapi anehnya, ternyata kejadian yang amat dikuatirkan itu sama sekali tidak terjadi.

Dia masih seorang gadis perawan, apakah kejadian seperti itu pernah terjadi atas dirinya atau tidak, sudah barang tentu ia jauh lebih jelas dari siapapun.

Kenapa orang ini melepaskan dirinya?

Ia benar-benar tak habis mengerti.

Ketika tersadar kembali dari pingsannya, ia berada dalam sebuah kereta berkuda, sekujur badannya masih tetap lemas tak bertenaga, sama sekali tak punya kekuatan, malah untuk dudukpun ia tak mampu.

Siapakah yang telah mengirimnya ke dalam kereta berkuda ini?

Sekarang ia hendak dikirim kemana?

Baru saja dia hendak mencari seseorang untuk ditanya, dari balik jendela tahu-tahu sudah nongol keluar sebuah kepala manusia.

"Toa siocia baik baikkah kau?"

Sapa orang itu sambil tersenyum. Orang itu bukan si nona gadungan itu, diapun bukan Tio Bu-ki, walaupun ia tak kenal dengan orang itu, ternyata orang itu kenal dengan dirinya.

"Siapakah kau?"

Tegur Lian It-lian kemudian.

"Seorang sahabat!"

"Sahabat siapa?"

"Sahabat Toa siocia, juga sahabat Lotay-ya"

"Lotay-ya yang mana?"

"Tentu saja Lotay-ya dari Toa-siocia"

Paras muka Lian It-lian segera berubah hebat.

Orang ini bukan saja kenal dengan dirinya, seakan-akan diapun mengetahui semua seluk beluknya.

Seluk beluknya tidak diliputi kesedihan atau tragedi yang memedihkan hati, tapi justru hal mana merupakan suatu rahasia besar, dia tak ingin orang lain mengetahui rahasia ini, lebihlebih tak ingin Tio Bu-ki mengetahuinya.

Dengan cepat dia bertanya lagi.

"Apakah kau juga sahabat Tio Bu-ki?"

Orang itu tersenyum dan menggeleng.

"Mengapa aku bisa sampai di sini?"

Kembali Lian Itlian bertanya dengan keheranan.

"Seorang sahabat yang mengantarmu kemari, dia suruh aku mengantar Toa-siocia pulang ke rumah"

"Siapakah sahabat yang kau maksudkan itu?"

"Dia she Tong, bernama Giok!"

Mendengar nama "Tong Giok"

Sekali lagi LIan It-lian jatuh tak sadarkan diri.

***** Bulan empat tanggal dua belas, udara cerah.

Sewaktu Tong Giok terbangun dari tidurnya, matahari telah jauh di awang-awang dan menyorot masuk lewat daun jendela.

Biasanya pada saat seperti ini, mereka telah berangkat melanjutkan perjalanan, tapi pada hari ini belum ada orang yang membangunkannya, apakah Bu-ki seperti dia, agak terlambat bangun dari tidurnya,?

Padahal ia tidur tak terlalu lama, ia pulang amat lambat, ketika naik ke tempat tidur, fajar sudah hampir menyingsing.

Paling banter dia cuma tidur barang satu jam lebih sedikit, tapi wajahnya sekarang kelihatan begitu segar, begitu bersemangat dan berseri-seri.

Bila seseorang sedang gembira dan riang hatinya, selalu wajahnya bersinar terang dan semangatnya kelihatan segar.

Tentu saja perasaannya sedang riang gembira, sebab semalam dia telah melakukan suatu perbuatan yang patut dibanggakan.

Terbayang kembali mimik wajah Lian It-lian setelah mengetahui bahwa dia adalah seorang laki-laki, hingga sekarangpun ia masih merasa geli sekali.

Dia percaya dikala Lian It-lian telah sadar nanti, dia pasti akan merasa sangat keheranan, dia pasti tak habis mengerti kenapa ia telah melepaskan dirinya.

Sesungguhnya diapun tak ingin melepaskan dirinya.

Tapi dikala dia menarik tali pinggangnya tadi, tiba-tiba ada semacam benda yang terjatuh dari atas badan Lian It-lian.

Menyaksikan benda tersebut dengan cepat ia telah dapat menebak asal usul Lian It-lian yang sebenarnya.

Dia bukan saja mengetahui asal usul dari gadis itu, lagi pula mengetahui akan hubungannya dengan Tio Bu-ki.

Tapi dia tak dapat membunuhnya, diapun tak ingin membinasakan dirinya.

Sebab membiarkan gadis itu tetap hidup jauh lebih berguna dari pada membiarkannya mati, tapi diapun tak melepaskannya pergi, sebab dia tak bisa membiarkannya sampai bersua kembali dengan Tio Bu-ki.

Sesungguhnya persoalan ini adalah suatu masalah yang pelik, untung saja dia berada di situ, maka persoalan yang pelik inipun dengan cepat dapat diselesaikan.

Walaupun tempat ini masih merupakan wilayah kekuasaan Tay hong tong, namun sudah mendekati ke perbatasan .......

perbatasan antara wilayah yang dikuasai Tay hong tong dengan wilayah yang diperintah oleh Pek lek tong....

Sejak Pek lek tong bersekutu dengan keluarga Tong, perbuatan pertama yang hendak dilakukan adalah membasmi kekuasaan Tay hong tong dari muka bumi.

Sekarang, walaupun operasi mereka masih belum dimulai, tapi di berbagai tempat telah dipersiapkan jebakan-jebakan dan perangkap.

Terutama di tempat seperti ini.

Tempat ini adalah daerah kekuasaan yang paling ujung dari Tay hong tong, tapi justru merupakan pos pertama yang akan mereka serang.

Walaupun untuk sementara waktu mereka masih belum dapat seperti Tay hong tong secara resmi membuka kantor cabang di situ, namun persiapan yang diam-diam mereka atur amat sempurna, bahkan dari pihak kantor cabang Tay hong tong di tempat itupun sudah disusupi dengan orang-orang mereka.

Tay hong tong tak akan menyangka siapa di antara anggotanya yang merupakan pengkhianat.

Karena orang ini bukan saja selalu setia dan dapat dipercaya, lagi pula dia masih terhitung salah seorang yang bertanggung jawab atas keutuhan Tay hong tong di tempat itu.

Orang yang telah mereka beli ini, ibaratnya merupakan sebatang rumput beracun di dalam jantung Tay hong tong.

Tong Giok tersenyum, kembali ia kenakan celana gaunnya yang berwarna merah.

Sekarang tentu saja Lian It-lian sudah dikirim kembali oleh orang-orang keluarga Tong yang telah bersiap siaga di sekitar wilayah itu.

Cara kerja mereka selamanya cepat; bersih dan bisa dipercaya.

Semalam ketika ia mengantarnya pergi, bukan berarti dalam hati kecilnya tidak terlintas rasa sayang atau kecewa.

Dia masih seorang gadis perawan.

Dia muda, cantik, sehat dan padat berisi.

Payudaranya begitu kencang, putih dan kenyal, kulit badannya putih mulus dan halus, terutama sepasang pahanya yang putih dengan belahan merah ditaburi warna hitam di antara bagian tengahnya, di tengah kegelapan malam tampak begitu indah dan mempesona.

Kalau dibilang ia sama sekali tidak tertarik, itu hanya kata-kata bohong belaka.

Walaupun ia tak dapat membunuhnya, tapi untuk memakainya terlebih dahulu, mungkin baginya malah akan mendatangkan keuntungan.

Seorang gadis perawan, bagi setiap laki-laki di dunia ini selalu dianggap menarik, aneh dan mendatangkan suatu perasaan yang luar biasa.

Jilid 20________ Bila nasi telah menjadi bubur, biasanya para gadis itu akan menyerah dan menuruti semua perkataannya.

Sayang sekali ia sudah tak bisa lagi dianggap sebagai seorang lelaki tulen lagi.

Semenjak mempelajari ilmu berhawa dingin setiap bagian tubuhnya yang bersifat kelakilakian mulai pudar dan berubah.

Lambat laun nafsu birahinya tak dapat disalurkan lagi melalui cara yang normal, dia harus menggunakan cara lain untuk melampiaskannya, serentetan cara yang sadis, keji dan memuakkan.

Ketika Tong Giok berjalan menuju ke halaman luar, kereta telah disiapkan dan kudapun sudah dipasang pelana.

Menyaksikan pelana di atas kuda, terbayang pula jarum di atas pelana, tentu saja hatinya bertambah riang hampir saja ia tak dapat menguasai diri untuk tertawa tergelak.

Bila Tio Bu ki mengetahui kalau dia adalah Tong Giok, perubahan mimiknya wajahnya pasti menarik sekali.

Tetapi anehnya, Tio Bu ki yang selalu bangun pagi, sampai saat sekarang masih juga belum menampakkan diri.

Dia ingin sekali bertanya kepada sang kusir kepala, tapi sebelum niatnya diwujudkan Tio Bu ki telah muncul, dia bukan keluar dari kamarnya melainkan masuk dari tempat keluar.

Ternyata hari ini dia bangun kelewat pagi, cuma begitu bangun lantas keluar rumah.

Kemana ia pergi sepagi ini?

Apa yang telah ia lakukan?

Tong Giok tidak bertanya.

Ia tak pernah menanyakan soal pribadi Tio Bu ki, Ia tak boleh membuat Tio Bu ki menaruh curiga kepadanya, walau hanya sedikit saja.

Ia selalu menjaga baik-baik suatu prinsip hidupnya.

Melihat dan mendengarlah sebanyak-banyaknya, berbicara dan bertanyalah sedikit-dikitnya.

Bagaimana juga pelana toh sudah disiapkan di atas punggung kuda, Tio Bu ki juga sudah hampir naik ke atas kudanya.

Operasinya kali ini dengan cepat sudah hampir berhasil.

Tentu saja suatu akhir yang bahagia, bahagia baginya.

Sungguh tak disangka, setelah masuk ke dalam halaman, perbuatan pertama yang dilakukan Tio Bu ki adalah berseru kepada kusir kereta itu.

"Turunkan pelana kuda itu!"

Tong Giok sedang bernapas, pelan-pelan lembut-lembut dan menarik napas dalam-dalam, bila ia sedang tegang maka beginilah keadaannya.

Ia tak bisa tidak merasa amat tegang.

Karena Tio Bu ki sendiripun tampak seperti amat tegang, air mukanya, mimik wajahnya dan sikapnya jauh berbeda dari keadaan biasa.

Jangan-jangan ia telah mengetahui rahasianya?

Sambil tersenyum pelan-pelan Tong Giok maju kemuka dan menghampirinya.

Deruan napasnya telah pulih kembali seperti sedia kala, senyumannya masih begitu ramah dan menawan hati tapi dalam hati kecilnya telah membuat persiapan yang paling buruk.

Asal paras muka Tio Bu ki menunjukkan sedikit gejala yang tidak beres, dia segera akan turun tangan lebih dulu untuk merobohkan musuh bebuyutan ini.

Setiap saat setiap waktu ia dapat melancarkan serangan yang terakhir itu.

Serangan tersebut pasti akan mematikan.

Paras muka Bu ki memang kelihatan murung dan sangat berat, jelas ia mempunyai persoalan dalam hatinya.

Tapi sikapnya terhadap sahabatnya ini sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, pun tidak memperlihatkan gejala yang mencurigakan, hanya sambil menghela napas panjang dia berkata;

"Kuda ini adalah seekor kuda yang baik"

"Yaa, memang seekor kuda yang baik", Tong Giok membenarkan.

"Bila kau sudah berada di saat seorang temanpun tak dapat menolongmu, siapa tahu seekor kuda baik masih dapat menyelamatkan jiwamu"

"Aku percaya"

"Setiap ekor kuda yang baik tentu mempunyai perasaan yang tajam bila kau baik kepadanya. Dia pun dapat baik pula kepadamu, asal kau bisa membuatnya merasa senang dan nyaman. Jadi aku selalu akan membiarkannya merasa senang dan nyaman"

Tiba-tiba ia tertawa lebar dan serunya.

"Kalau aku adalah seekor kuda, dan dikala tak ada perkerjaan harus memanggul pelana pelana yang berat, aku sendiripun pasti merasa tak nyaman dan tak senang hati"

Tong Giok ikut tertawa Bu ki menerangkan lebih jauh.

"Hari ini kita toh tak akan meneruskan perjalanan, biarkan saja ia beristirahat sehari lagi dengan nyaman"

Padahal sekalipun tak usah ia jelaskan Tong Giok juga dapat mengetahui maksudnya.

Ia sama sekali tidak mencurigai dirinya sendiri sebagai seorang sahabat, ia berbuat demikian tak lain karena menyayangi kudanya itu.

Tapi mengapa ia tak jadi berangkat hari ini?

"Kita harus berdiam sehari lagi di sini"

Kata Bu ki menerangkan.

"sebab pada malam nanti ada seseorang yang akan datang pula kemari"

Mimik wajahnya mendadak berubah agak tegang lanjutnya.

"Aku harus berjumpa dengan orang itu! Walau apapun yang akan terjadi..."

Tentu saja orang itu adalah orang yang sangat penting, pertemuan kali ini tentu hendak membahas suatu masalah yang sangat penting artinya.

Tapi siapakah orang itu?

Persoalan apa yang hendak mereka rundingkan?

Tong Giok tidak bertanya, Mendadak Bu ki bertanya kepadanya.

"Apakah kau tak ingin tahu siapakah orang yang hendak kutemui malam nanti?"

"Aku ingin tahu"

"Kenapa kau tidak bertanya?"

"Karena persoalan itu adalah urusan pribadimu dengan aku sama sekali tak ada sangkut pautnya"

Setelah tertawa kembali ia melanjutkan.

"Apalagi bila kau ingin memberitahukan kepadaku, sekalipun tidak kutanyakan kau toh sama saja akan memberitahukan juga kepadaku"

Bu ki ikut tertawa. Atas kecerdasan sahabatnya yang tahu urusan dan pandai melihat gelagat ini, bukan saja ia merasakan kagum, bahkan puas sekali. Tiba-tiba ia tertawa lagi.

"Kalau pagi, kau minum arak tidak?"

"Biasanya aku mah tidak minum, tapi kalau ada teman hendak minum, dalam dua belas jam sehari aku akan mengiringinya"

Bu ki menatapnya lekat-lekat, kemudian menghela napas panjang.

"Aaaai....!. Bisa berteman dengan seorang macam kamu sungguh merupakan suatu kemujuran bagiku"

Tong Giok kembali tertawa, Karena ia benar-benar tak tahan untuk tertawa, hampir meledak perutnya saking gelinya.

Untung saja dia sering tertawa, lagi pula suara tertawanya selalu begitu lebut dan halus.

Oleh sebab itu siapapun tak ada yang bisa mengetahui apa sesungguhnya yang sedang ia pikirkan.

Ada arak ,ada orang tapi tak ada yang minum arak bahkan mereka sama sekali tak punya gairah barang sedikitpun juga untuk minum arak.

Kata Bu ki demikian.

"Sebenarnya aku bukan sungguh-sunguh mencarimu untuk minum arak..!". Tong Giok tersenyum.

"Aku dapat melihatnya!"

Dibalik senyuman tersebut penuh dengan pancaran sinar persahabatan dan memahami perasaan orang.

"akupun tahu bahwa kau pasti mempunyai suatu persoalan yang hendak dibicarakan denganku"

Tangan Bu ki masih memegangi cawan arak. Walaupun tak setetes arakpun yang diteguk, namun dia selalu lupa untuk meletakkannya kembali ke atas meja.

"Kemurungan dan kekesalan apapun yang sedang memenuhi benakmu, tak ada salahnya kau beritahukan kepadaku"

Kata Tong Giok lagi dengan lembut, Bu ki termenung lagi lama sekali, setelah itu pelan-pekan dia baru berkata.

"Aku pikir, kau sudah tahu bukan apa hubunganku dengan Tay hong tong"

Tong Giok sama sekali tidak menyangkal, dia menjawab.

"Nama besar ayahmu memang sudah kudengar semenjak kecil dulu......!"

"Tentunya kau juga pernah mendengar orang berkata Tay hong tong sesungguhnya adalah organisasi macam apa"

"Aku tahu Congtongcu dari perkumpulan Tay hong tong adalah Im Hui yan Im loya cu, selain itu masih ada tiga orang tongcu lagi, ayahmu adalah salah satu di antara ketiga orang tongcu tersebut"

Masalah semacam itu adalah persoalan yang umum diketahui setiap umat persilatan, dia berusaha keras untuk menjauhkan Tio Bu ki dari rasa curiga terhadapnya, dia berusaha agar orang itu tak tahu jika dia jauh lebih mengetahui masalah tentang Tay hong tong daripada siapapun di dunia ini.

Siapa tahu ia berhasil mengetahui masalah-masalah yang sebenarnya tak diketahui olehnya dari mulut Tio Bu ki.

"Padahal organisasi Tay hong tong jauh lebih besar dan rumit daripada apa yang dibayangkan orang lain", kata Bu-ki lagi.

"Dengan mengandalkan mereka berempat, jelas tak mungkin bisa mengurusi dan mengatasi persoalan yang begitu banyaknya". Ternyata memang tidak membuat Tong Giok merasa kecewa, lanjutnya lebih jauh.

"Misalnya saja, walaupun Tay hong tong selalu mempunyai pemasukan tapi pengeluarannya justru lebih besar, Im loya er, Sugong Siau hong, Sangkoan Jin serta ayahku semuanya bukan seorang yang ahli dalam masalah keuangan. Kalau bukan orang lain yang secara diam-diam membantu kami untuk mengurusi soal keuangan serta menutup kerugian yang diderita, pada hakekatnya Tay hong tong tak mungkin bisa bertahan sampai sekarang ini". Itulah masalah yang paling menarik hati Tong Giok. Entah melakukan pekerjaan apapun, orang memang membutuhkan uang, kalau memang Tay hong tong tak ingin menjadi seperti perkumpulan yang lain, menarik pajak dari perjudian, pelacuran dan pajak perlindungan, tentu saja mereka harus menombok untuk menutup biaya pengeluaran yang sangat besar. Mencari uang bukan suatu pekerjaan yang gampang, mengatur keuangan jauh lebih tidah mudah lagi. Para jago-jago persilatan yang menganggap uang bagaikan kotoran, tentu saja bukan seorang yang ahli dibidang keuangan. Merekapun sudah lama menduga, dibalik kesemuanya itu pasti ada seorang lain yang secara diam-diam mengurusi bidang keuangan dari perkumpulan Tay hong tong.

"Dalam dunia persilatan tak akan seorangpun yang tahu akan nama serta kedudukannya"

Kata Bu ki lebih jauh.

"malah dalam Tay hong tong sendiripun tidak banyak yang mengetahui akan hal ini, karena dikala dia menyanggupi kami untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, dia telah membuat perjanjian dengan Im loya cu....." -Siapapun tak dapat mengurusi pekerjaan dan jumlah angka keuangan yang dikerjakannya. -Siapapun tak boleh menggunakan uang dengan sesuka hati dan membuat perjanjian keuangan dengan orang lain tanpa sepengetahuannya. -Asal usulnya harus dirahasiakan.

"Setelah Im loya cu setuju untuk menerima ketiga syarat tersebut, iapun bersedia menerima tugas yang berat dan berbahaya ini"

Bu ki melanjutkan.

Tong Giok mendengarkan penuturan itu dengan tenang, di atas wajahnya sama sekali tidak nampak pancaran sinar senang atau gembira karena berhasil mendengar rahasia tersebut.

Kembali Bu ki berkata.

"Karena dia sebetulnya bukan seorang anggota dunia persilatan, kalau ada orang mengetahui kalau dia mempunyai hubungan dengan Tay hong tong, bisa jadi akan banyak kesulitan yang akan datang mencarinya". Tong Giok menghela napas panjang kemudian.

"Aaaai...! Siapa tahu bukan orang persilatan saja, jika aku adalah musuh bebuyutan dari Tay hong tong, maka aku pasti akan menggunakan pelbagai cara yang bisa kulakukan untuk membunuh orang lebih dulu". Perkataan itu benar-benar diutarakan tepat pada saatnya. Orang yang dapat mengucapkan kata-kata semacam itu, menandakan bahwa hatinya lurus dan terbuka, tak nanti dia bisa melakukan perbuatan seperti apa yang telah ia ucapkan. Bu ki menghela napas panjang.

"Aaai.... terus terang, seandainya ia sampai ketimpa sesuatu kejadian yang diluar dugaan, bagi Tay hong tong sesungguhnya hal ini adalah suatu kerugian yang besar sekali, oleh sebab itu........"

Tiba-tiba sikapnya menunjukkan jauh lebih tegang dan serius, suara pembicaraannya juga makin merendah.

"Oleh sebab itu hari ini, mau tak mau aku harus bertindak lebih waspada dan berhati-hati lagi"

"Ooooo...h! Jadi orang yang akan datang kemari hari ini adalah orang itu?"

"Yaa, sebelum tengah malam nanti, dia pasti akan sampai di sini". WALAUPUN Tong Giok selalu tenang dan pandai menguasai diri dalam masalah apapun, tapi sekarang ia merasa bahkan jantungnya pun ikut berdebar dengan kerasnya. Apabila ia dapat melenyapkan orang ini, pada hakekatnya seperti memenggal sebuah kaki dari Tay hong tong. Orang itu bakal datang kemari pada malam ini juga. Terhadap Tong Giok, kejadian ini benar-benar merupakan rangsangan yang besar sekali. Tapi dia terus-menerus memperingatkan diri sendiri, janganlah sekali-kali memperlihatkan perubahan di atas wajahnya, janganlah membuat suatu gerak-gerik yang bisa menimbulkan kecurigaan lawan.

"Walaupun ia bukan seorang anggota dunia persilatan, tapi ia ternama sekali", kata Bu ki lebih jauh.

"rumah-rumah uang yang berada di sekitar wilayah Kwan tiong, paling tidak ada separuh di antaranya yang mempunyai hubungan dengannya, oleh sebab itu orang lain selalu menyebutnya sebagai Cay Sin (Dewa harta)!".

"Dewa Harta"

Ketika dua patah kata itu masuk ke dalam pendengaran Tong Giok, seakan-akan digores dengan pisau segera melekat dalam-dalam di lubuk hatinya.

Asal ia sudah menemukan titik terang tersebut, tidak sulit untuk melacak jejaknya dan menemukan orang itu.

Tong Giok memperlihatkan paras muka yang amat serius, katanya dengan nada bersunggusungguh.

"Persoalan ini adalah rahasia paling besar dari Tay hong tong kalian, tidak seharusnya kau memberitahukan kepadaku"

"Aku harus memberitahukan kepadamu!"

Seru Bu ki.

"Kenapa?"

"Sebab kau adalah sahabat karibku, aku amat percaya kepadamu dan lagi....."

Ditatapnya Tong Giok lekat-lekat, kemudian pelan-pelan dia melanjutkan lebih jauh.

"Ada suatu persoalan, terpaksa aku harus minta bantuanmu"

"Asal aku dapat melakukannya, aku pasti akan melakukannya untukmu!", Tong Giok segera berjanji.

"Persoalan ini pasti dapat kau lakukan dan cuma kau seorang yang dapat melakukannya". Tong Giok tidak berkata apa-apa lagi, secara lamat-lamat ia mulai merasa bahwa ada seekor domba yang lagi menghantarkan dirinya ke mulut harimau. Cawan arak itu masih berada di tangan, masih belum dilepaskan kembali ke meja. Akhirnya Bu ki menghirup setegukan, arak Toa mi yang wangi dan pedas menelusuri lidahnya dan pelan-pelan mengalir masuk ke dalam tenggorokannya. Bagaimanapun juga, sekarang ia merasa jauh lebih bersemangat, ia telah mengemukakan semua kemurungan dan kemasgulamn yang telah bersarang dalam dadanya selama ini...... Di tempat ini Tay hong tong juga mempunyai kantor cabang. Karena tempat ini adalah pos terakhir dari Tay hong tong, juga merupakan garis depan yang berhadapan dengan lawan, inilah sebabnya bukan saja kantor cabang di sini agak besar, jumlah anggotanya juga jauh lebih banyak. Di atas bukit tak dapat memuat dua ekor harimau. Tapi kedua orang tocu itu bisa hidup dengan rukun dan damai, sebab mereka hanya tahu untuk bekerja bagi Tay hong tong, mereka tidak memiliki ambisi pribadi untuk merebut kekuasaan dan kedudukan. Dalam kitab catatan paling rahasia Tay hong tong tercantum beberapa keterangan tentang mereka, di antaranya bisa terbaca sebagai berikut. Nama . Huam Im san Julukan . Giok bin kim to kek (Jago golok emas berwajah pualam) Poan san-To jin (Tosu di tengah gunung) Usia . lima puluh enam tahun. Senjata . Golok Ci kim to, tiga puluh enam batang Ci kim piau. Perguruan . Ngo hau toa bun to Istri . Phong Siong tin (telah meninggal) Putra . Tidak ada Hobby . Waktu muda suka nama besar, usia pertengahan belajar agama to Pujian dari Sugong Siau hong terhadapnya. Pintar, teliti memegang teguh peraturan perguruan, bertanggung jawab, disiplin dan sangat berguna. Sedangkan yang lain adalah. Nama . Ting Bau Julukan . To pit-sin eng (Elang sakti bertangan tunggal). Usia . Dua puluh sembilan tahun. Senjata . Pedang (pedang kutung) Perguruan . Tidak ada Istri . Tidak ada Putra . Tidak ada Hobby . Suka berjudi, suka minum arak. SUGONG Siau hong tersohor karena pandai melihat orang, diapun seorang ternama karena pandai memilih pembantu, di dalam setiap catatan yang berada dalam Tay hong tong, di bagian belakangnya selalu dicantumkan pujian atau kritikan. Hanya Ting Bau serang yang terkecuali. Siapapun tak tahu, apakah dikarenakan Sugong Siau hong enggan memberikan penilaiannya terhadapa orang ini, ataukah ia tak dapat memberikan penilaiannya terhadap orang ini.

"Aku tahu tentang orang ini", Tong Giok berkata.

"Kau juga tahu?"

"Yaa, beberapa tahun belakangan ini, To pit sin eng termashur sekali namanya dalam dunia persilatan, lagipula dia telah melakukan beberapa pekerjaan yang sangat besar ' Setelah tertawa, dia menambahkan.

"Tidak kusangka ia telah menjadi anggota Tay hong tong!". Sebab walaupun Ting Bau memiliki nama yang terkenal, sayang sekali nama besarnya itu sama sekali tak ada harganya untuk menerima pujuan serta sanjungan. Sebetulnya ia mempunyai nama keluarga yang baik Ayahnya adalah seorang murid preman dari perguruan Bu tong pay, keluarga Ting merupakan keluarga persilatan yang tersohor di wilayah Kanglam. Punya nama, kedudukan, punya harta kekayaan. Tapi ketika berusia lima belas tahun, ia telah diusir ayahnya dari rumah. Di antara empat jago pedang Bu tong pay, yang paling termashur namanya adalah Kim ki tojin, dia adalah kakek seperguruan dari ayahnya, memandang di atas wajah ayahnya ia telah menerimanya sebagai murid. Tak disangka, selama berada dalam kuil Hian tian koan di atas bukit Bu tong san yang dikenal orang persilatan sebagai tempat suci itu, sikap maupun ulahnya masih ugal-ugalan ia masih suka bertindak menuruti suara hati sendiri, minum arak dan mabuk-mabukan sudah bukan suatu kejadian yang aneh di sana. Suatu ketika, dikala ia sedang mabuk hebat, ternyata dia telah menantang seorang sahabat karib gurunya untuk berduel di bawah gunung. Lengan kanannya kutung dalam pertarungan sengit itu, dia sendiri juga diusir dari Bu tong pay, bahkan pedangnya patah menjadi dua bagian. Tak disangka, tujuh delapan tahun kemudian, ternyata ia muncul kembali, muncul sambil membawa pedang kutungnya. Walaupun lengannya telah kutung, pedangnya telah patah namun ia berhasil melatih serangkaian ilmu pedang aneh, ganas dan luar biasa. Seorang diri dia mendatangi bukit Butong san dan mengalahkan Kim ki tojin bekas gurunya. Oleh sebab itu, ia menyebut dirinya sebagai Sin eng (si elang sakti). Setelah ternama ulahnya masih ugal-ugalan, ia masih bergelandangan seorang diri tanpa tujuan, perbuatannya masih menuruti suara hati, selama banyak tahun ia memang telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Sayang semua perbuatan yang pernah dilakukan olehnya, seperti pula wataknya, tak bisa membuat orang merasa kagum dan menaruh hormat. Untung saja ia sendiri acuh terhadap semuanya itu dia tak pernah ambil perduli. Bu ki dapat memahami perasaan Tong Giok, diapun dapat menangkap ejekan serta cemoohan di balik senyumannya itu. Tapi pandangan Bu ki sendiri justru jauh berbeda.

"Tak peduli dahulunya dia adalah seorang manusia macam apa, yang pasti sejak menjadi anggota Tay hong tong, ia betul-betul menyumbangkan semua pikiran dan tenaganya demi kesejahteraan dan kejayaann Tay hong tong....."

Tong Giok tersenyum.

"Mungkin saja ia telah berubah", demikian ia berkata,"mungkin juga ia telah melepaskan golok pembunuh dan kembali ke jalan yang benar".

"Ia memang telah bertobat!".

"Mengapa Giok bin kim to khek disebut juga Poan san tojin? kedua nama itu seharusnya melambangkan dua orang yang sama sekali berbeda".

"Sudah banyak tahun Huam Im san kehilangan istrinya, semenjak itulah dia mulai belajar ilmu agama To, maka dari Giok bin kiam to julukannya berubah menjadi Poan san tojin". Tong Giok segera tertawa tergelak.

"Tidak kusangka di antara tocu dari Tay hong tong ternyata masih ada yang suka belajar agama To". Bu ki tertawa pula. Tapi tertawanya itu dengan cepat telah lenyap kembali, ujarnya lebih jauh.

"Walaupun peraturan Tay hong tong sangat ketat, namun selamanya tak pernah mencampuri urusan pribadi orang lain, Ting Bau yang suka mabuk-mabukan, Huam Im san yang suka belajar agama To sama sekali tidak mempengaruhi tugas dan kewajiban mereka selama melaksanakan pekerjaan partai, selama ini mereka selalu merupakan dua orang yang paling setia dan paling berguna di antara tuocu-tuocu lainnya dalam perkumpulan Tay hong tong. Tiba-tiba suaranya direndahkan, kemudian pelan-pelan berbisik.

"Tapi sekarang aku telah menjumpai salah seorang di antara mereka berdua ternyata adalah penghianat"

"Apa?"

Tong Giok seperti terperanjat dibuatnya.

"Penghianat!"

Dengan wajah sedih dan marah Bu ki melanjutkan.

"ternyata salah seorang di antara mereka berdua telah menghianati Tay hong tong dan menjual rahasia kepada musuh Tay hong tong!". Tong Giok seperti belum mau percaya dengan perkataan itu, tak tahan dia bertanya lagi.

"Darimana kau tahu?". Pelan-pelan Bu ki mengangguk, katanya.

"Sebab semua orang yang kami kirim ke pihak lawan sebagai mata-mata, telah dikhianati olehnya!". Kemudia ia memberi penjelasan lagi.

"Sesungguhnya mereka semua memiliki perlindungan yang sangat baik, bahkan ada yang sudah lama sekali menyusup ke tubuh lawan tanpa berhasil ditemukan, tapi belakangan ini.......". Mendadak suaranya menjadi sesenggukan, lewat lama sekali dia baru melanjutkan.

"Belakangan ini, secara tiba-tiba mereka semua telah dibunuh mati , ternyata tak seorangpun di antara mereka yang berhasil lolos dalam keadaan selamat!". Tong Giok ikut pula menghela napas. Padahal terhadap persoalan-persoalan semacam itu bukan saja dia tahu semuanya, bahkan jauh lebih jelas dari siapapun juga. Dalam pembunuhan yang dilakukan waktu itu, bukan saja ia turut ambil bagian, bahkan ornag yang dibunuh olehnya tidak lebih sedikit dari siapapun. Bu ki berkata lebih jauh.

"Semua masalah yang menyangkut diri mereka selama ini hanya diketahui oleh Huan Im san serta Ting Bau, kedua orang itu pula yang melakukan kontak dengan mereka, semua gerakgerik serta rahasia mereka juga hanya diketahui oleh mereka berdua, maka...."

"Maka hanya mereka berdua pula yang ada kemungkinan telah menghianati mereka", sambung Tong Giok cepat.

"Benar !".

"tapi di antara mereka berdua, siapakah yang menjadi penghianatnya? Huan Im san? atau Ting Bau?"

Pertanyaan seperti itu ternyata diucapkan dari mulut Tong Giok, bahkan Tong Giok sendiripun merasa sangat geli.

Orang yang menemukan penghianat itu adalah dia, orang yang bertanggung jawab mengadakan kontak dan hubungan dengan penghianat itu juga dia, siapa lagi yang bisa lebih jelas mengetahui persoalan ini dari padanya?"

Kalau Tio Bu ki mengetahui akan persoalan ini, entah bagaimana mimik wajahnya nanti?, Entah bagaimana pula perasaannya.

Dalam keadaan seperti ini, ternyata Tong Giok masih sanggup menahan diri agar jangan tertawa, kepandaiannya memang terbukti hebat luar biasa.

Bu ki menatap terus setiap perubahan wajahnya, tiba-tiba ia bertanya.

"Siapakah di antara kedua orang ini yang sesungguhnya adalah penghianat, hanya kau seorang yang dapat memberitahukan kepadaku". Seandainya orang lain yang mendengar perkataan itu, dia pasti akan merasa amat terperanjat, Namun Tong Giok sedikitpun tidak bereaksi, ia tahu ucapan tersebut nanti ada kelanjutannya. Benar juga Bu ki segera melanjutkan kata-katanya.

"Karena hanya kau baru bisa membantuku untuk menemukan si penghianat di antara mereka berdua".

"Kenapa?".

"Kau tidak kenal dengan kedua orang ini bukan?"

"Tentu saja tidak kenal".

"Kalau aku mengatakan kau adalah orang dari keluarga Tong, dapatkah mereka mempercayainya?". Paras muka Tong Giok masih tetap tenang tanpa perubahan.

"Agaknya mereka tak punya alasan untuk tidak mempercayainya", ia menjawab.

"Kalau toh orang-orang keluarga Tong bisa membeli Toucu dari Tay hong tong, apakah Tay hong tong juga sama saja dapat membeli orang-orang keluarga Tong?"

"Agaknya dapat?"

Jawaban yang diberikannya kali ini diucapkan dengan sangat berhati-hati, setiap kali menjawab dia selalu menambahkan kata "agaknya"

Di depan jawaban tersebut, sebab ia masih belum bisa memahami maksud dan tujuan Tio Bu ki yang sebenarnya.

"Oleh sebab itu, sekarang baik Huan Im san maupun Ting Bau kedua-duanya mengira aku telah berhasil membeli seorang penghianat dari keluarga Tong", kata Bu ki lebih jauh.

"Aku datang kemari disebabkan karena aku ingin berjumpa dengan orang itu, kami telah berjanji akan bertemu hari ini".

"Kalau kau berkata demikian, agaknya mereka tak punya alasan lagi untuk tidak mempercayainya".

"Bahkan berulang kali aku telah berpesan kepada mereka agar hati-hati, sebab orang ini adalah seorang yang penting sekali, ada semacam benda yang sangat penting hendak diserahkan kepadaku, maka kita harus sekuat tenaga untuk melindunginya, jangan biarkan dia sampai jatuh ketangan orang lain!"

"Tahukah mereka, siapa orang itu?".

"Tidak tahu".

"Kalau mereka tak tahu, bagaimana caranya untuk melindungi orang itu?".

"Karena aku sendiripun tak pernah berjumpa dengan orang itu, maka kami telah menjanjikan cara untuk mengenal identitasnya".

"Asal dia sudah datang maka orang itu akan pergi ke rumah obat Jin tong yang ada di jalan besar sana untuk membeli empat Chee Tan pi dan empat chee Tang kwee, setelah itu dia akan pergi ke toko penjual daging di seberang jalan untuk membeli empat tahil ayam goreng dan empat tahil daging sapi, dia bersikeras untuk menimbangnya secara tepat, sedikitpun tak boleh lebih, sedikitpun tak boleh kurang.....".

"Manusia semacam ini memang tidak banyak jumlahnya, gampang sekali untuk mengenali", kata Tong Giok.

"Yaaa, kemudian orang itu akan menenteng Tan pi dan ayam goreng di tangan kiri, Tang kwee dan daging sapi di tangan kanan, dari jalan besar dia akan menuju timur laut, lalu belok ke kiri kemudian berjalan menuju hutan, menggantungkan Tan pi dan ayam goreng di atas pohon, membuang Tang kwe dan daging sapi di atas tanah, pada saat itulah kami baru munculkan diri untuk bertemu dengannya". Tong Giok tertawa.

"Menggunakan cara semacam ini untuk bertemu, betul-betul menarik sekali", katanya. Bukan cuma menarik, lagi pula aman sekali. Kemudian menjelaskan lagi.

"Kecuali orang yang telah berjanji denganku, siapapun tak akan sanggup untuk melakukan perbuatan semacam ini".

"Kalau masih ada orang lain dapat melakukan pekerjaan semacam ini, orang itu pasti ada penyakitnya, lagipula penyakitnya pasti parah sekali", kata Tong Giok tertawa.

"Oleh karena itu, aku percaya Huan Im san dan Ting Bau pasti tak bakal salah!".

"Kalau memang orang itu ada janji dengan kau, sepantasnya kalau kau yang menunggu di sana, kenapa malah suruh mereka yang pergi?".

"Karena aku cuma tahu dia akan datang sebelum matahari terbenam hari ini, tapi tidak mengetahui waktu yang persis".

"Jejakmu sangat rahasia, tentu saja mustahil bagimu untuk menunggunya sepanjang hari di tepi jalan, maka kaupun suruh mereka yang pergi ke sana?".

"Betul!", Bu ki manggut-manggut membenarkan.

"Sebenarnya barang apakah yang akan dibawa kemari?".

"Sebuah nama!".

"Nama dari penghianat tersebut?".

"Benar!".

"Jadi sampai sekarang, kau masih belum tahu nama yang bakal dibawa datang itu mencantumkan nama Hua Im san atau Ting Bau!".

"Meskipun aku tidak tahu, dalam hati si penghianat tersebut pasti tahu dengan jelas!".

"Tentu saja dia tak akan membiarkan orang itu menyerahkan nama tersebut kepadamu!".

"Yaa, tentu saja tidak".

"Oleh karena itu begitu ia menjumpai kemunculan orang itu, ia tentu akan mencari akal guna membunuhnya dan melenyapkan saksi dari muka bumi".

"Pasti, dia akan menggunakan cara apapun untuk mewujudkan cita-citanya, apapun yang bakal terjadi, orang itu pasti akan bikin bungkam untuk selamanya".

"Padahal dari keluarga TOng tak pernah ada masalah semacam ini yang akan datang", kata Tong Giok.

"Yaaa, benar!".

"Oleh karena itu, orang tersebut adalah aku!".

"Yaa terpaksa kau harus menerima untuk membantuku, sebab mereka tidak kenal denganmu, apalagi mereka hanya tahu kalau rekanku adalah seorang nona bergaun merah".

"Oleh karena itu asal aku mau berganti pakaian dan berdandan sebagai seorang pria, kemudian diam-diam ngeloyor keluar, membeli sedikit Tan pi, Tang kwe, ayam goreng dan daging sapi di jalanan, aku segera akan membantumu untuk memancing kedatangan pengghianat tersebut". Setelah menghela napas dan tertawa getir terusnya..

"Cara ini memang sebuah cara yang sangat baik, hakekatnya tak bisa dibilang ada jeleknya, cuma ada satu hal yang perlu dikuatirkan andai kata ikan itupun melahap aku menjadi umpan lantas aku bagaimana jadinya?".

"Aku juga tahu kalau pekerjaan ini sedikit banyak tentu ada bahayanya tapi aku tak berhasil menemukan cara yang lain, padahal aku harus berhasil menemukan penghianat tersebut sebelum si dewa harta sampai di tempat ini dan mengadakan pertemuan denganku".

"Maka kau terpaksa datang mencariku".

"Yaa terpaksa aku harus mencarimu". Sekali lagi Tong Giok menghela napas panjang.

"Aaai.....sesungguhnya kau memang tepat sekali mencariku". Di luar dia menghela napas, padahal perutnya hampir pecah saking gelinya, dia tak pernah mengira kalau Tio Bu ki bakal menyodorkan seekor domba yang begitu gemuk kepadanya, bahkan menuntun pula domba yang lain untuk dihantar ke mulut macan. Rencana dari Tio Bu ki sesungguhnya sangat sempurna, kecuali mempergunakan cara itu, memang agak sulit untuk menemukan penghianat tersebut. Sayang ia telah salah memilih orang. Sudah barang tentu Tong Giok tak akan mencarikan penghianat tersebut, sedangkan penghianat itupun pasti tak akan benar-benar ingin membunuh Tong Giok untuk membungkam mulutnya. Justru mereka dapat mempergunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk membunuh dan membungkam mulut orang yang bukan penghianat tersebut. Kemudian, mereka dapat melimpahkan semua dosa dan tuduhan ke atas tubuh orang itu, sementara penghianat yang sesungguhnya bergoyang-goyang kaki sambil melanjutkan kariernya menghianati teman-teman yang lainnya, karena selanjutnya tak mungkin ada orang yang bakal menaruh curiga kepada dirinya lagi. Setelah itu, bahkan mereka bisa manfaatkan pula kesempatan yang sangat baik itu untuk membasmi Tio Bu ki serta si Dewa harta tersebut dari muka bumi. Tindakan tersebut ibaratnya sekali tepuk dua lalat, satu kali bekerja dua hasil besar yang berhasil diraih. Sudah barang tentu prestasi semacam ini adalah suatu prestasi yang luar biasa sekali. Jangankan orang lain, bahkan Tong Giok sendiripun tidak menyangka kalau nasibnya sedang begitu baik. Demikian, bukankah si penghianat itupun seakan-akan telah berubah menjadi seekor domba yang seakan-akan oleh Tio Bu ki telah disodorkan ke depan mulut macan Tong Giok?. Jika seseorang berhasil menghadapi keadaan semacam ini, merasa yakin kalau setiap persoalan sudah terjatuh ke tangannya, kemenangan pasti berasa di tangannya, siapa yang tidak senang? Siapa yang tak gembira...?. Itulah sebabnya Tong Giok tertawa geli di hati, tersenyum bangga secara diam-diam ia merasa bangga akan hasil yang bakal diraihnya tak lama kemudian. Bulan empat tanggal dua belas, pagi. Biasanya di saat seperti ini Huam Im san telah menyelesaikan "pelajaran"nya dan keluar dari kamar obat untuk sarapan pagi. Hari ini dia agak lambat dari keadaan biasa, karena pagi-pagi sekali telah kedatangan seorang tamu yang sama sekali tak pernah disangka olehnya dan mengajaknya berbicara sampai lama sekali, membicarakan hal-hal yang mendatangkan kemasgulan hatinya. Dalam kantor cabang ini ternyata ada penghianat, bahkan putra Tio Kian pun mengetahui akan soal ini. Sudah banyak tahun ia memerintah dalam kantor cabang lain, tapi sekarang ternyata ia harus diberitahu oleh seorang pemuda ingusan tentang masalah tersebut, bahkan diajarkan pula apa yang akan harus dilakukan selanjutnya, dalam hal ini dia merasa tidak puas. Terhadap anak muda, ia selalu tak memiliki kesan baik ia selalu beranggapan bahwa kaum muda tak pandai bekerja tak seorangpun yang bisa dipercaya. Mungkin hal ini disebabkan karena ia sendiri sudah tidak terhitung muda lagi, walaupun dalam hal ini ia tak pernah mau mengakui akan kebenarannya. Sikapnya terhadap Tio Bu ki sudah barang tentu masih amat sungkan dan hormat, ia menghantar sendiri tamunya sampai ke pintu gerbang sebelum kembali ke kamar obat. Ruangan itu adalah tempat baginya untuk membuat obat. Berbicara yang sesungguhnya, tempat itu merupakan pula sorga baginya, sebelum mendapat ijin darinya, siapapun dilarang memasuki tempat itu. Membuat obat bukan membuat emas. Walaupun ada sementara orang beranggapan bahwa membuat obat sama brutalnya dengan membuat emas, akan tetapi dia selalu acuh, tak ambil perduli. Membuat obat disebut pula "membakar air raksa"

Atau disebut juga "makan batu", itulah suatu pekerjaan yang anggun dan aneh, sangat anggun sekali dan sangat aneh sekali orang awam tentu saja tak akan mengerti.

Hanya orang-orang terhormat seperti Lau An atau seniman seperti Han Yat baru akan memahami pengetahuan serta kehebatan dari ilmu tersebut.

Ia sering kali bersantap dalam pesanggrahan Poan san-sian, biasanya Hong wi dan Ci lan yang menemaninya, Hong wi dan Ci lan meski masih muda namun mereka sangat disiplin dan tahu peraturan, Tapi hari ini, dari kejauhan ia sudah mendengar gelak tertawa mereka yang merdu, di antaranya bahkan terdengar suara seorang laki-laki.

Siapa yang begitu bernyali, berani mendatangi ruang pribadi Huan toaya untuk bergurau dengan dayangnya.

Tak usah dilihat lagi, dia sudah tahu kalau orang itu pastilah Ting Bau.

Karena siapapun tahu kalau Ting Bau adalah sahabat karibnya, hanya Ting Bau seorang yang boleh masuk keluar ruangan pribadinya secara bebas dan merdeka, bahkan bersarapan dengannya.

Sewaktu dia masuk ke situ Ting Bau sudah menghabiskan separuh mangkuk lebih Yan oh yang disediakan untuknya bersarapan pagi, ketika itu ia sedang bergurau dengan kedua orang dayangnya yang muda lagi cantik itu.

Kalau orang lain berbuat demikian, mungkin sekali Huam Im san akan menghajar kakinya sampai kutung.

Tapi Ting Bau terkecuali.

Mereka bukan saja bersahabat karib diapun merupakan rekan-rekannya yang terbaik.

Menyaksikan ia berjalan masuk ke dalam ruangan, Ting Bau segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....haaahhh....haaahhhhh....tidak kusangka ternyata kaupun makan barang berjiwa, bahkan santapanmu begitu mewah dan lezat sekali". Huan Im san ikut tertawa.

"orang yang belajar agama juga manusia, setiap manusia tentu membutuhkan makanan".

"Dahulu aku masih beranggapan asal kau makan sedikit batu saja sudah lebih dari cukup", seru Ting Bau lagi sambil tertawa. Huan Im san tidak bergurau lebih jauh meskipun mereka bersahabat, bagaimanapun juga mereka tak bisa bergurau mengenai "kepandaian membuat obat"

Yang sedang diyakininya. Persoalan itu tak boleh disinggung oleh siapapun. Untung Ting Bau telah mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. Tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah Tio kongcu juga telah berkunjung kemari?".

"Yaa, ia telah kemari!".

"Kau juga sudah tahu tentang peristiwa itu?". Huan Im san manggut-manggut. Tentu saja dia harus tahu, sebab paling tidak dia juga merupakan salah seorang Toucu di tempat itu. Sambil tertawa Ting Bau berkata.

"Kedatanganku kemari bukan bermaksud untuk kuah ayammu saja".

"Jadi sekarang juga kau akan pergi menunggu kedatangan orang itu...?", tanya Huan Im san.

"Kau tidak ikut?".

"Aku harus menunggu sebentar lagi, jangan lupa akupun harus bersantap dulu?".

"Baik, bersantaplah dulu, aku akan berangkat duluan!", seru Ting Bau kemudian sambil tertawa. Huan Im san juga merasa geli, kini warung obat Tong jin tong serta toko makanan itu belum buka pintu, sekalipun orang itu telah datang, ia juga belum dapat membeli Tan pi, Tang kwee serta daging sapi dan ayam goreng. Selamanya anak muda memang tak sabaran dalam melakukan pekerjaan apapun selalu terburu napsu dan hantam kromo, sepasang mata anak muda juga tidak terlalu jujur. Tiba-tiba ia menemukan kalau ia harus membelikan beberapa stel pakaian baru lagi untuk Hong wi dan Ci lan. Pakaian yang dibuat setahun berselang, sekarang sudah terlalu kecil dan ketat, sedemikian ketatnya sehingga bagian-bagian badan yang seharusnya tak boleh diperlihatkan, dapat terlihat dengan amat jelasnya. Tentu saja hal ini bukan dikarenakan pakaiannya menjadi kecil, sebaliknya karena belakangan ini, pertumbuhan badan mereka semakin matang dan lebih dewasa, sehingga setiap pria yang berjumpa dengan mereka, tanpa terasa harus menoleh sampai beberapa kali. Ting Bau adalah seorang laki-laki. Sepasang matanya tak bisa dibilang terlalu jujur. Ketika dia sudah sampai di pintu depan, mendadak ia berpaling seraya berkata.

"Tiba-tiba aku menemukan bahwa orang yang belajar ilmu To, bukan saja bisa makan seperti orang yang lain, bahkan masih mempunyai pula suatu keuntungan lain.

"Keuntungan apa?"

"Perbuatan apapun yang dilakukan orang yang belajar agama To, mungkin akan dibicarakan orang lain, coba kalau aku seperti kau sekarang ada beberapa orang nona muda yang cantik melayani diriku, orang lain pasti akan menuduh aku sebagai seorang serigala perempuan". Selesai berkata sambil tertawa terbahak-bahak berjalan pergi dari situ. Walaupun mereka mempunyai kedudukan yang sama, tapi bagaimanapun juga usianya jauh lebih tua darinya, paling tidak Ting Bau harus menaruh sikap hormat dan sopan kepadanya. Yang lebih celaka lagi, ternyata manusia yang bernama Ting Bau ini seakan-akan tidak mengerti apa yang sebetulnya dimaksudkan dengan "sopan santun". Sekarang ia sudah mulai bersarapan pagi. Hong wi dan Ci lan berdiri terus di sampingnya sambil memandang ke arahnya dengan wajah merah dan senyum kemalu-maluan, kedua orang gadis itu memperhatikan terus majikannya. Tentu saja ia memahami apa arti dari lirikan itu. Seorang gadis yang sempurna, dalam masa puber dan berbadan sehat, apalagi belum lama merasakan bagaimana nikmatnya "perbuatan itu"

Biasanya mereka akan menunjukkan gairah yang luar biasa sekali.

Apalagi sejak dia makan batu, bukan saja sangat membutuhkan segala sesuatu yang bersifat panas, bahkan ia berubah menjadi luar biasa jantannya, bahkan jauh lebih jantan dari seorang pengantin lelaki, dengan kondisi semacam itu, ia sanggup memberikan kepuasan kepada perempuan manapun.

Setiap hari selesai sarapan pagi, biasanya akan mengajak kedua orang gadis muda itu masuk ke kamar latihannya dan di situ mereka diajarkan sedikit ilmu untuk menambah kenikmatan sorgawi.

Sekarang kedua orang gadis itu mulai gelisah, agaknya mereka sudah agak tak sabar untuk menunggu lebih lama.

Pelan-pelan Huan Im san meletakkan sumpitnya, bangkit berdiri dan berjalan kembali ke kamar latihannya......

Ketika muncul untuk kedua kalinya dari dalam kamar latihan, walaupun ia tampak sedikit letih namun perasaannya jauh lebih baik, bahkan terhadap kekurang ajaran Ting Bau tadi, iapun merasa tidak terlalu menjemukan lagi.

Barang siapa telah menikmati sorga dunia dan kehangatan tubuh perempuan, perasaannya pasti akan berubah menjadi riang gembira dan lebih luwes.

Sekarang dia hanya membutuhkan sepoci teh wangi, lebih baik lagi kalau ada sepoci teh Thi koan im dari bukit Bu gi-san di propinsi Hek-kian.

Dengan cepat ia teringat dengan "Bu gi cun"

Bu gi cun adalah nama sebuah warung penjual teh.

Warung teh ini dibuka oleh seorang Hok kian, seorang Hok Kian selalu suka teh "Thi koan im".

Thi koan im yang dijual di warung teh ini konon benar-benar dihasilkan di puncak bukit Bu gi yang secara khusus dikirim kesana.

Letak warung teh itu bersebelahan dengan Cay ci cay.

Cay ci cay adalah nama dari sebuah toko penjual kueh dan makanan kecil teman minum teh, tempat toko itu berada bersebelahan dengan toko obat Tong jing tong, sedang warung penjual daging milik si gendut Ong letaknya tepat di seberang jalan.

Oleh karena itu jika hari ini Huan Im san tidak minum teh di warung Bu gi cun, kejadian ini baru aneh namanya.

Kejadian aneh di dunia ini selamanya tak akan terlalu banyak, oleh karena itu diapun muncul di sana, Tentu saja tidak sedikit orang-orang dalam warung teh itu yang kenal dengan Huan toaya, tapi hanya beberapa orang yang tahu kalau dia adalah seorang Toucu dari Tay hong tong.

Kalau ia seringkali pasang di luar dengan mencatut nama Tay hong tong, mungkin sekarang ia sudah menjadi mayat.

Ting Bau juga sudah datang, dia pasti berada di sekeliling tempat itu, tapi ia tidak melihat Ting Bau, ia melihat Siau kau cu (si anjing kecil).

Si anjing kecil atau Siau kau cu bukan anjing, dia manusia.

Walaupun orang lain memanggilnya seperti seekor anjing saja, namun bagaimanapun juga dia tetap seorang manusia.

Dia adalah seorang di antara sebelas pelayan dari rumah penginapan Ko Seng yang paling banyak melakukan pekerjaan tapi paling sedikit menerima uang.

Sekarang, entah tamu darimana yang sedang menyuruhnya beli sayur asin di warung dagingnya Ong gendut.

Huan Im san tahu, Tio Kongsu berdiam di rumah penginapan Ko Seng, bahkan dia membawa serta seorang nona bergaun merah.

Ternyata Tio Kongcu juga seorang pemuda yang romantis.

Si anjing kecil dengan menenteng beberapa bungkus sayuran asin telah pulang ke rumah penginapan.

Seorang penjual jeruk dengan membawa pikulan dagangannya lewat di muka warung daging si gemuk Ong.

Si gemuk Ong membeli sekati jeruk untuk putrinya.

Putrinya tidak gemuk seperti dia, karena ia hanya suka makan jeruk, tidak suka makan daging.

Si Gemuk Ong adalah langganan tetap dari penjual jeruk itu.

Penjual jeruk itu keletihan, ia merasa letih dan haus, maka diapun mendatangi warung teh dan minta secawan air teh dari pelayan warung itu.

Teh itu tentu tak bisa diminum secara gratis.

Ia menggunakan dua biji jeruk untuk ditukar sepoci air teh.

Pelayan itu membawa jeruk tadi ke belakang, dia membagi sebiji untuk putra majikannya, lalu dengan membawa poci besar pergi melayani tamunya.

Huan toaya adalah langganan lama, juga merupakan langganan yang baik, sudah barang tentu dia harus melayani secara istimewa.

Pertama-tama pelayan itu mendatangi Huan toaya untuk mengisi pocinya dengan air panas, malah membawa pula sebuah sapu tangan panas untuk membersihkan muka.

Huam Im san merasa puas sekali.

Ia suka orang lain menyanjung dan menghormatinya, maka ia selalu memberi tip yang cukup besar untuk pelayan ini.

Dengan penuh rasa terima kasih pelayan itu telah pergi.

Ketika membuka sapu tangan itu, sebuah benda segera jatuh ke dalam tangannya, benda itu seperti segulung kertas.

Orang yang terlalu banyak minum teh, tak bisa dihindari tentu akan pergi kencing, maka setelah meneguk beberapa cawan teh, diapun bangkit berdiri ke belakang untuk buang hajat kecil.

Semua kejadian itu lumrah dan umum.

Walau siapapun yang menyaksikan kejadian tak mungkin ada yang merasa curiga.

Sekalipun diketahui oleh seorang nenek yang curigapun tak akan pernah menduga, kalau dalam kejadian yang berlangsung barusan ada suatu berita penting yang telah disampaikan ke tangan Huan Im san dari si nona bergaun merah yang berada dalam rumah penginapan Ko seng.

Pakaian yang dipakai Tong Giok sekarang sudah bukan gaun merah lagi.

Pakaian yang dikenakan adalah satu stel pakaian dari Tio Bu ki, sepatu hijau, kaus putih dan jubah biru, Walaupun bahan kain potongannya sangat baik, namun tak akan mendatangkan perasaan menyolok bagi yang melihat.

Keluarga Tio bukan keluarga yang kaya mendadak, Bu ki selalu pandai menggunakan bahan yang baik, dalam hal ini Tong Giok tak bisa tidak harus mengakuinya.

Tong Giok belum pernah menyukai seseorang yang bakal mati di tangannya, tapi ia suka dengan Tio Bu ki.

Ia merasa Tio Bu ki itu orang yang sangat aneh, ada kalanya ia kelihatan seperti bodoh, padahal pintar sekali, adakalanya meski ia kelihatan seperti pintar, justru bodohnya bukan kepalang.

Tong Giok telah mengambil keputusan untuk membelikan sebuah peti mati yang paling baik baginya dan menyuruh Huam Im san untuk mengantar jenasahnya pulang ke perkampungan Ho hong san ceng.

Bagaimanapun juga mereka toh "teman".

"Aku hendak membeli empat tahil ayang goreng dan empat tahil daging sapi". Tong Giok dengan mempergunakan bahasa yang paling baik mengutarakan isi hatinya kepada si gemuk Ong, kemudian menambahkan.

"Sedikitpun tak boleh lebih banyak, sedikitpun tak boleh kurang....."

Sewaktu pulang membeli Tan-pi serta Tang kwe dari rumah obat Tong jin tong, ia telah melihat Huan Im san sedang duduk minum teh di warung teh Bu gi cun.

Seorang yang selalu pegang aturan, selalu bekerja giat rajin dan tak pernah melakukan kesalahan barang sedikitpun ternyata adalah seorang "penghianat".

Sesungguhnya kejadian ini betul-betul merupakan suatu peristiwa yang tak pernah disangka oleh siapapun.

Sebenarnya sasaran mereka adalah Ting Bau tapi Tong Koat beranggapan bahwa Huan Im san lebih mudah digerakkan hatinya daripada Ting Bau.

Tong Koat mempunyai alasan sebagai berikut.

Manusia seperti Huan Im san pasti akan merasa tak puas terhadap pemuda yang tak tahu aturan dan acuh tak acuh semacam Ting Bau.

Tempat itu sebenarnya adalah daerah kekuasaan Huan Im san seorang, kini pihak Tay hong tong mengutus kembali seorang pemuda macam Ting Bau, bahkan dengan kedudukan yang seimbang dan sejajar dengannya, tak perduli pekerjaan apapun hendak dilakukan, harus dirundingkan dulu dengan seorang pemuda ingusan.

Bagi seorang yang sudah terbiasa menjadi lotoa, pastilah kejadian ini merupakan suatu kejadian yang susah ditahan.

Ternyata Tong Koat juga mempunyai pengetahuan yang cukup dalam tentang ilmu pertapaan.

Dia tahu banyak sekali resiko bagi orang yang menjalani latihan tersebut, diapun tahu barang siapa yang melatih kepandaian itu, bukan saja waktunya akan mengalami banyak perubahan akibat suhu panas badannya yang makin meninggi, bahkan nafsu birahinya pun akan berubah, lebih bergairah dan lebih besar.

Itulah sebabnya banyak orang yang ingin mencapai keadaan seperti itu, kenapa rela menyerempet bahaya untuk berlatih kepandaian itu, Maka Tong Koat beranggapan demikian.

Kalau kita bisa memberikan sedikit obat mujarab serta rahasia ilmu pertapaan untuk Huam Im san, lalu menghadiahkan pula beberapa orang gadis perawan yang setiap saat bisa dipakai olehnya untuk "membuyarkan hawa panas", bahkan berjanji pasti akan membantunya menghajar adat kepada Ting Bau, pekerjaan apapun yang kau sodorkan kepadanya, pasti akan dia terima dengan senang hati.

Kenyataannya kemudian, ternyata membuktikan bahwa pandangan tersebut memang tepat sekali.

Ketajaman mata Tong KOat dalam menilai orang memang sangat luar biasa, dalam hal ini mau tak mau Tong Giok harus ikut merasa kagum pula.

Tong Giok pun telah menjumpai Ting Bau.

Ting Bau sesungguhnya boleh dihitung sebagai orang pemuda yang menarik sayangnya ia terlalu ugal-ugalan, sehingga sekilas pandangan, tindak tanduknya lebih mirip dengan berandal kota atau seorang pemuda urakan.

Dalam bulan ke empat ini, ternyata ia mengenakan jubah musim panas, ujung baju sebelah kanannya yang kosong diikat pada pinggangnya dengan sebuah kain hijau, rambutnya awutawutan sehingga kacau balau tak karuan, seperti sudah beberapa hari tak pernah disisir.

Bahkan dia menyisipkan pula kutungan pedangnya pada ikat pinggang, sebuah sarung pedangpun tak dikenakan.

Huan Im san yang selalu memandang tinggi soal kerajinan dan kebersihan dalam cara berpakaian, tentu saja merasa tak leluasa menyaksikan potongannya itu.

Setiap kali bertemu dengannya, Huan Im san selalu merasakan sekujur badannya menjadi tak segar, tak enak.

Empat tahil daging sapi dan empat tahil ayam goreng telah dipotong-potong dan dibungkus dengan kertas minyak menjadi bungkusan kecil.

Dengan tangan kiri Tong Giok menenteng Tau pi serta ayam goreng, tangan kanan menenteng Tang kwe dan daging sapi, ia berjalan menelusuri jalan raya dan berbelok ke kiri.

Ia percaya Huan Im san tentu sudah menerima kabar yang dikirimnya lewat si anjing kecil.

Untuk menghindari kecurigaan ia menemani Tio Bu ki terus di dalam kamarnya.

Hanya satu kali ia kembali ke kamarnya yaitu ketika mengawasi si anjing kecil membuang tempolong ludah.

Mimpipun Tio Bu ki pasti tak akan menyangka kalau si anjing kecil telah dibeli oleh pihaknya.

Bila seseorang merasa tak puas dengan kehidupan sendiri, kau pasti mempunyai kesempatan untuk membelinya.

Ini teori dari Tong Koat.

Sekarang Tong Giok percaya Huan Im san tentu akan "membunuhnya untuk membungkam mulut", tapi merekapun tak akan turun tangan lebih dahulu untuk menghadapi Ting Bau.

Sudah dapat dipastikan, secara diam-diam Tio Bu ki tentu sedang mengawasi gerak-gerik mereka.

Oleh sebab itu, yang menjadi persoalan bagi mereka sekarang adalah bagaimana caranya untuk memancing Ting Bau agar ia turun tangan lebih dahulu.

Asal Ting Bau sudah turun tangan lebih dahulu, berarti dia adalah seorang penghianat, bagaimanapun dia menyangkal atau membantah juga sama sekali tak ada gunanya.

Sekalipun mereka tidak membunuhnya, Tio Bu ki tak akan mengampuninya dengan begitu saja.

Tong Giok mulai tersenyum.

Ia sudah mempunyai cara yang bagus untuk memaksa Ting Bau turun tangan lebih dahulu.

Untuk melindungi "orang yang sangat penting ini", Ting Bau serta Huan Im san juga mengikuti datang ke sana.

Ting Bau bukan seorang penghianat.

Ting Bau pasti sudah mulai menaruh curiga kepada Huan Im san.

Jika orang "yang sangat penting sekali"

Ini mempunyai hubungan dengan Huan Im san, nama yang ia serahkan kepada Tio Bu ki tentu saja bukan nama si penghianat yang sebenarnya.

Kalau nama yang dia serahkan adalah Ting Bau, Ting Bau sendiripun tak akan sanggup menyangkal.

Tentu saja Ting Bau juga akan berpikir sampai ke situ, maka asal dia menjumpai kalau antara "orang yang sangat penting"

Ini mempunyai gerak-gerik yang kurang beres dengan Huan Im san, dia pasti akan turun tangan lebih dahulu.

Walaupun hubungan antara persoalan-persoalan ini tampaknya sangat kalut, padahal sama mudahnya seperti "satu tambah satu adalah dua".

Oleh sebab itu tiba-tiba Tong Giok berlega hati.

Langit amat jernih, sinar matahari cahayanya menerangi seluruh jagat.

Mungkin Ting Bau mempunyai banyak sekali penyakit lain yang kurang baik, tapi sepasang matanya sama sekali tak berpenyakit, apalagi dalam cuaca yang begini cerah.

Jantan atau betinanya burung gereja yang satu li jauhnya di depan sanapun masih sanggup ia bedakan dengan nyata.

Mungkin ia terlalu mengibul dengan kehebatannya itu, tapi senyuman Tong Giok bagaimanapun pasti dapat dia lihat dengan jelas.

Sewaktu berpaling, ia jumpai Huan Im san juga sedang tertawa, maka tak tahan dia lantas menegur.

"Kau kenal dengan orang itu?". Huan Im san segera menggeleng.

"Tapi aku rasa ia seperti kenal kau?", kata Ting Bau. Huan Im san masih tertawa, walaupun tidak mengakui ternyata diapun tidak berusaha untuk menyangkal. Ia sedikitpun tidak merasa takut bila hubungan rahasia mereka sampai ketahuan Ting Bau, karena dia sebenarnya memang sedang memancing Ting Bau untuk turun tangan lebih dahulu. Sungguh diluar dugaan, ternyata serangan yang dilancarkan Ting Bau jauh lebih cepat dari dugaannya. Belum lagi senyuman itu lenyap dari ujung bibirnya, ujung telapak tangan Ting Bau telah memenggal di atas nadi besar di belakang tengkuknya sebelah kiri. Baru saja tangan kiri Tong Giok yang membawa Tan pi dan ayam goreng, hendak menggantungkan kedua bungkusan itu di atas dahan pohon, Huan Im san telah roboh. Dia tahu Ting Bau telah turun tangan, tapi dia tidak menyangka kalau Huan Im san bakal dirobohkan oleh Ting Bau hanya dalam sekali gebrakan saja. Bukan saja serangan itu dilancarkan dengan cepat dan sangat tepat, yang lebih menakutkan lagi, sebelum melancarkan serangan, ia sama sekali tidak memperlihatkan sedikit gejala atau tanda apapun. Setelah mengambil keputusan untuk melancarkan serangan diapun tidak bertindak kepalang tanggung, ia sama sekali tidak sangsi, bahkan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk melakukan persiapan. Tiba-tiba Tong Giok menemukan kalau dahulu ia terlalu menilai rendah orang ini, dalam kenyataan, ternyata orang ini jauh lebih berbahaya daripada apa yang dibayangkan orang lain. Ternyata Ting Bau sama sekali tidak menubruk datang, dia masih berdiri tegak di tempat kejauhan dan mengawasinya dengan sepasang mata elangnya yang tajam. Pelan-pelan Tong Giok menggantungkan Tan pi dan ayam goreng itu ke atas dahan pohon kemudian dia baru berpaling sambil menegur.

"Kau adalah To pit sin eng (Elang sakti berlengan tunggal)!".

"Yaa, akulah orangnya".

"Kau tahu siapakah aku?".

"Aku tahu !".

"Kau juga tahu kalau aku mempunyai semacam barang hendak diserahkan kepada Tio Bu ki?".

"Aku tahu!".

"Kau tak ingin membiarkan aku untuk menyerahkannya kepada dia?".

"Aku tak ingin!".

"Kau ingin membunuh aku untuk membungkam mulutku?". Kali ini Ting Bau tidak menjawab, namun diapun tidak bermaksud menyangkal. Tong Giok menghela napas panjang, dia membanting bungkusan Tang kwe dan daging sapi itu keras-keras ke tanah, kemudian berseru.

"Kalau mau turun tangan, hayo cepatlah lakukan".

"Kenapa kau tidak turun tangan?"

Ejek Ting Bau sambil tertawa dingin,"kalau toh kau adalah orang dari keluarga Tong, kenapa kau belum juga mengeluarkan senjata rahasia andalan kalian?".

Sekarang Tong Giok mengerti, Kiranya Ting Bau tak berani mendekatinya karena dia takut dengan senjata rahasia andalannya.

.........kalau memang orang "yang penting sekali"

Ini datang dari keluarga Tong, sudah barang tentu dia membawa pula senjata rahasia andalan dari keluarga Tong.

Sesungguhnya Tong Giok memang datang dari keluarga Tong, sebenarnya diapun membawa senjata rahasia andalan keluarga Tong.

Andaikata dia mengeluarkan senjata rahasianya untuk menyerang, sekalipun ada sepuluh Ting Bau akhirnya orang itu juga akan mampus dengan badan hancur lebur tak berwujud lagi.

Sayang ia tak dapat mengeluarkan senjata rahasia andalannya itu.

Sebab ia telah melihat Tio Bu ki muncul dari tempat persembunyiannya......

Tio Bu ki munculkan diri dari belakang sebatang pohon waru yang besar dan kekar, kini ia sudah menghampiri Ting Bau.

Gerakan tubuhnya tak bisa dibilang sangat berhati-hati dan sama sekali tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Ting Bau waspada.

Waktu itu, segenap perhatian Ting Bau telah ditujukan ke atas tubuh Tong Giok.

Berhadapan dengan seorang yang mungkin sekali di sakunya menggembol senjata rahasia andalan keluarga Tong, siapapun di dunia ini tak ada yang berani kelewat gegabah.

Tiba-tiba Tong Giok menghela napas panjang.

"Aaai...! sayang"

"Kenapa sayang?"

Tanya Ting Bau.

Jilid 21________ "Sekarang kau tampak seperti sebuah sasaran pembidik hidup, andai kata di sini benar-benar ada jago dari keluarga Tong, sekalipun seorang bocah yang berusia tiga tahun juga sanggup untuk menghajar tubuhmu sehingga muncul tujuh delapan buah lubang di atas badan".

Setelah menghela napas panjang, kembali terusnya.

"Sayang sekali di dalam sakuku sama sekali tidak menggembol senjata rahasia, karena aku sesungguhnya bukan orang dari keluarga Tong."

Paras muka Ting Bau berubah hebat, seakan-akan seekor domba yang mendadak mengetahui bila dirinya telah terjatuh ke mulut macan, bukan saja kaget dan gugup, dia pun menunjukkan wajah ketakutan.

Dia ingin meloloskan pedangnya.

Baru saja jari-jari tangan itu meraba di atas gagang pedang, telapak tangan baja dari Bu-ki telah memenggal di atas nadi besar pada tengkuk sebelah kirinya, cara yang dia gunakan sama cepatnya dan sama tepatnya seperti apa yang telah dilakukan Ting Bau terhadap Huan Im-san tadi.

Satu-satunya yang berbeda adalah Bu-ki mempunyai dua tangan, di tangan yang lain membawa sebuah pisau, sebilah pisau belati yang terhunus.

Mata pisau yang tiga inci enam hun panjangnya itu telah menembusi pinggang Ting Bau.

***** MULUT HARIMAU GAGANG pisau masih menempel pada pinggang Ting Bao, tempat itu persis merupakan suatu tempat yang mematikan, mata pisau sama sekali terbenam di dalam perutnya.

Tong Giok mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah Tio Bu-ki dengan terkejut, dia sama sekali tidak menyangka kalau cara kerja Tio Bu-ki ternyata begitu keji dan kejam.

Sepintas lalu ia sama sekali tidak mirip dengan seseorang yang berhati sekejam itu.

Bacokan telapak tangan di belakang tengkuk sebelah kirinya sudah cukup mematikan, kenapa ia masih menambah dengan tusukan belati lagi?

Tiba-tiba Tio Bu-ki berkata.

"Sebenarnya aku tak ingin membinasakan dia."

Jelas ia telah dapat membaca suara hati Tong Giok, maka lanjutnya lebih jauh.

"Aku juga tahu seharusnya membiarkan dia tetap hidup."

"Lantas kenapa kau telah membunuhnya?"

Tanya Tong Giok dengan wajah keheranan.

"Karena orang ini terlalu berbahaya!"

Dalam hal ini Tong Giok pun merasa setuju dengan pandangannya.

"Untuk menghadapi manusia semacam ini jangan sekali-kali beri kesempatan baginya untuk melancarkan serangan balasan,"

Bu-ki kembali menerangkan.

"Karena dia sendiripun tak akan memberi peluang bagimu untuk melancarkan serangan balasan,"

Tong Giok menambahkan.

"Yaa, andaikata dia mempunyai dua buah tangan, diapun pasti akan memberi sebuah tusukan belati lagi keperut Huan Im-san!"

Untung saja Ting Bau hanya mempunyai sebuah tangan.

Dada Huan Im-san tampaknya masih bergerak naik turun, agaknya dia masih bernapas, tapi tidak diketahui apakah jantungnya masih berdetak atau tidak?

Bu-ki membungkukkan badannya sambil mengangkat tubuh orang itu, menempelkan telinganya pada dada orang, dia berharap bisa mendengar debaran jantungnya.

Tong Giok sedang mengawasi pula diri Bu-ki.

Sekarang Bu-ki berdiri membelakanginya, jaraknya dari tempat ia berdiri hanya tiga depa saja.

Dalam keadaan begini Bu-ki sudah menjadi sebuah sasaran pembidik yang paling baik, jangankan dia seorang ahli, sekalipun bocah yang berumur tiga tahun juga bisa menimpuk sasaran itu dengan telak.

Tangan Tong Giok sudah mulai merogoh ke dalam sakunya.

Sekarang ia sedang berdandan sebagai seorang pria, tentu saja ia tak dapat mengenakan tusuk konde emas itu di atas sanggulnya.

Maka tusuk konde emas itu disisipkan ke dalam ujung bajunya.

Ketika tangannya menyusup ke balik pakaian, dia bersiap-siap untuk mematahkan tusuk konde emas itu, asal ujung jarinya menekan dengan keras, dari ujung tusuk konde emas itu akan meleleh keluar selapis minyak lilin yang segera akan melindungi telapak tangannya, kemudian diapun dapat mematahkan tusuk konde itu menjadi dua bagian.

Dengan cepat tangannya akan dipenuhi dengan segenggam pasir beracun, itulah pasir beracun Ngo-tok-toan-hun-see (pasir lima racun pemutus nyawa) yang paling tenar dari keluarga Tong.

Bila pasir beracun itu ia sebarkan kemuka, sekalipun menyebarkan dengan mata terpejam, tak bisa diragukan lagi Bu-ki pasti akan mati konyol di tangannya.

Untung saja pasir beracun itu tidak jadi disebarkan keluar, sebab dia masih belum melupakan si Dewa harta.

Dalam hatinya sekarang, domba yang paling besar dan paling diharapkan saat ini sudah bukan To Bu-ki lagi, melainkan si Dewa harta.

Hanya Tio Bu-ki yang dapat menuntun domba tersebut menuju ke mulut macannya.

Sebelum si Dewa harta munculkan diri, dia mana boleh dibikin mampus duluan?

Tangan Tong Giok pelan-pelan dikeluarkan lagi dari balik pakaiannya, bagaimanapun juga si Dewa harta segera akan tiba, bagaimanapun Tio Bu-ki sudah terjatuh dalam cengkeramannya.

Ia sama sekali tidak gelisah atau terburu napsu, dia hanya merasakan semacam rangsangan, semacam dorongan napsu yang aneh sekali, seakan-akan seorang janda yang mengharapkan pelukan hangat dan tindihan mesra dari seorang lelaki.

Ternyata jantung Huan Im-san masih berdetak, sebenarnya masih lambat dan lemah debarannya, tapi lambat laun telah pulih kembali seperti sedia kala.

Bahkan dia sudah bisa bangkit berdiri.

Menyaksikan keadaan Ting Bau yang mengenaskan, dia masih memperlihatkan rasa sedih dan pedihnya yang tebal, katanya dengan lirih.

"Sebenarnya dia adalah seorang yang pintar, sayang dia terlalu pintar, coba kalau dia bodoh sedikit saja, mungkin nasibnya tak akan menjadi begini rupa."

Ucapan tersebut masih bisa diterima dengan otak, tapi Bu-ki enggan membicarakan persoalan semacam itu dengannya.

"Dia adalah seorang penghianat!"

Kata Bu-ki.

"Aku tahu!"

Pelan-pelan Huan Im-san mengangguk.

"Dia ingin membunuh, kalau dia masih hidup maka kau pasti akan dibunuhnya sampai mati!"

"Aku tahu!"

"Tapi sekarang dia sudah mati."

"Bagaimanapun juga dia toh sudah mati sekalipun semasa masih hidupnya sudah banyak melakukan kesalahan, segala sesuatunya sekarang boleh dihapus dan menjadi impas, aku pasti akan mengurusi layonnya dengan sebaik-baiknya."

Bu-ki tersenyum, sambil menepuk-nepuk bahunya dia berkata.

"Masih ingatkah kau kalau malam nanti masih ada sebuah pertemuan lagi ..."

"Aku tak akan melupakannya."

"Dan masih ingat siapa yang berjanji dengan kita untuk bertemu?"

"Yaa masih ingat, dia adalah Dewa harta."

"Gerak-geriknya tak pernah diketahui orang, diapun paling benci kalau jejaknya diketahui terlalu banyak orang, kali ini besar kemungkinan diapun akan datang sendirian."

"Aku mengerti!"

"Oleh karena itu, terhadap keselamatan jiwanya kita harus bertanggung-jawab serta menjaminnya."

"Aku pasrti akan berusaha keras untuk menggerakkan semua saudara-saudara dari perguruan kita untuk melindungi keselamatan jiwanya, akan tetapi ..."

"Tapi kau masih belum tahu dimanakah kita berjanji akan berjumpa malam nanti, bukan begitu?"

"Benar!"

"Padahal, kau seharusnya dapat memikirkan sendiri tempatnya."

Setelah tertawa, dia menambahkan.

"Biasanya Dewa harta hanya bisa dijumpai di mana?"

Huan-Im-san segera mengerti, jawabnya.

"Yaa, Dewa harta bisa dijumpai dalam kuil Dewa harta!"

Tong Giok sedang mengawasi terus diri Bu-ki.

Ia menemukan, selama pembicaraan Bu-ki dengan Huan Im-san, dalam setiap patah katanya selalu membawa nada memerintah, sebaliknya Huan Im-san menerimanya sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ada sementara orang yang seakan-akan semenjak dilahirkan sudah berbakat menjadi pemimpin, Tio Bu-ki agaknya adalah manusia dari jenis seperti ini.

Untung saja ia sudah hampir mati, bahkan pasti akan mati.

Dikala Tong Giok memandang ke arahnya, ia seakan-akan sudah memandang dirinya sebagai sesosok mayat.

"Hayo berangkat!"

Kedengaran Bu-ki mengajak.

"sekarang juga kita berangkat ke kuil Dewa harta."

"Kita?"

Tong Giok berusaha keras untuk mengendalikan perasaan gembira yang meluap dalam hatinya.

"Aku juga boleh ikut?"

Bu-ki segera tersenyum.

"Apakah kau tak ingin pergi menjumpai si Dewa harta?"

Balik tanyanya. Tong Giok ikut tertawa.

"Adakah orang yang tak ingin bertemu dengan Dewa harta?"

"Tidak ada!"

Gelak tertawa Tong Giok semakin gembira, terusnya.

"Aku berani menjamin tak seorangpun yang tak mau, bukan saja dulu tak ada, dikemudian haripun tak ada."

Setiap orang ingin bertemu dengan Dewa harta, oleh karena itu di setiap tempat tentu ada sebuah kuil Dewa harta.

Konon semua harta kekayaan yang berada di langit maupun di bumi, dikuasai oleh Dewa harta, barang siapa bisa bertemu dengan Dewa harta ini, maka mereka pasti akan menjadi kaya-raya.

Yang aneh, Dewa harta itu sendiri justru seakan-akan seorang dewa yang amat miskin, bahkan tampaknya jauh lebih miskin daripada Khong Lo-hucu yang sepanjang tahun lari kesana kemari, dan hampir sesuap nasipun sukar dicari itu.

Kuil Khong bio selalu mentereng dan merupakan kuil yang besar, megah dan keren.

Sebaliknya kuil Dewa harta justru merupakan sebuah kuil yang miskin, mana miskin, bobrok, kecil lagi.

Hal mana benar-benar merupakan suatu sindiran, suatu sindiran yang baik sekali.

Karena kejadian itu paling tidak bisa membuat orang memahami akan sesuatu ...

walaupun harta kekayaan itu menarik, tapi bukan merupakan suatu hal yang pantas dihormati.

Kuil Dewa harta yang ada ditempat inipun tak jauh berbeda daripada tempat-tempat yang lain, kuilnya mana miskin, bobrok, sempit lagi.

Si Dewa harta yang menunggang macan hitam seperti pantat kuali itu duduk di tengah altar dengan cat yang sudah mulai rontok malah bajunya banyak yang sudah robek dan lepas.

"Ada suatu persoalan aku selalu merasa tak paham,"

Kata Tong Giok setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu.

"kenapa Dewa harta selalu kelihatan begitu miskin dan sengsara?"

Pertanyaan tersebut diutarakan hanya sekenanya hati, dia sama sekali tidak berharap bisa peroleh jawaban. Bu-ki segera tertawa, sahutnya.

"Kalau kau telah bertemu dengan orang yang benar-benar berduit, kau akan memahami teori tersebut."

"Kenapa?"

"Sebab walaupun orang-orang itu mempunyai uang yang tak terhitung jumlahnya, namun ia sendiri memandang uang bagaikan nyawa sendiri, biar pakaiannya penuh tambalan dan dekil, biar makannya cuma nasi kerak dan sayur asin, tapi dalam sakunya penuh berisikan kuncikunci besar untuk membuka gudang uangnya."

"Kenapa di sakunya penuh dengan anak kunci?"

"Karena mereka kuatir orang lain meminjam atau meminta kekayaannya, malah kadang kala beras, minyak, garam dan kayupun dikunci dalam almari, malah ada juga di antara mereka yang baju dalamnya sudah baupun masih dikenakan terus."

"Kenapa?"

Kembali Tong Giok bertanya dengan perasaan ingin tahu. Bu-ki segera tersenyum.

"Sebab pakaian sering dicuci, maka pakaian itu akan cepat menjadi robek!"

Tong Giok ikut tertawa.

"Apakah Dewa harta juga seperti mereka itu, memandang setahil perak lebih berat dari papan kayu pintu?"

"Kalau bukan orang memandang harta melebihi nyawa sendiri, bagaimana mungkin ia bisa disebut sebagai Dewa harta?"

Sekarang waktu sudah mendekati senja.

Barusan mereka menyelesaikan suatu santapan yang sangat enak dan lezat, di bawah sinar matahari senja di musim semi yang hangat, pelan-pelan mereka berjalan kesitu.

Perasaan mereka semua amat riang dan gembira.

"Kalau aku adalah Dewa harta, aku tak akan membuang beberapa tahil perak untuk bersantap satu kali,"

Ujar Bu-ki.

"Karena Dewa harta tak akan menghambur-hamburkan uang dengan begitu saja,"

Sambung Tong Giok sambil tertwa.

"Yaa, bagaimanapun juga memang tak mungkin."

Tong Giok segera menghela napas panjang.

"Aaaai ...! Untung saja kita semua bukan Dewa harta."

"Tapi dalam waktu singkat kau akan bertemu dengan seorang Dewa harta, seorang Dewa harta hidup."

"Hari ini, dia pasti akan datang kemari?"

Tanya Tong Giok.

"Yaa pasti!"

Sesungguhnya Tong Giok ingin sekali memberi tahu kepada Tio Bu-ki bahwa dewa-dewa hartanya itu adalah dewa penyakit pembawa mautmu, asal dia sudah datang maka nyawamu akan melayang.

Dia benar-benar ingin melihat bagamanakah mimik wajah Tio Bu-ki pada waktu itu.

Huan Im-san telah datang.

Paras mukanya tidak terhitung begitu baik, pukulan Ting Bau di atas tengkuknya sampai sekarang masih mendatangkan perasaan yang kurang nyaman, tapi hal mana untung saja tidak mempengaruhi gerak-geriknya untuk melaksanakan pekerjaan lain.

"Aku telah mengumpulkan semua jago lihay dari saudara-saudara perkumpulan kita di tempat ini, sekarang ini setiap jalan yang menuju kemari telah dijaga oleh orang kita."

Bu-ki segera menunjukkan perasaan puas atas pekerjaan yang telah dilaksanakan dengan baik itu.

Tong Giok lebih merasa puas lagi.

Orang-orang yang diundang datang Hua Im-san, sudah barang tentu adalah orang-orang mereka sendiri, di antaranya terdapat beberapa orang jago yang tangguh.

Sekarang Tio Bu-ki sudah berada di dalam kepungannya, ia tak usah menunggu kesempatan lagi, cukup mengandalkan kekuatannya dan kekuatan Huan Im-san, mereka sudah lebih dari cukup untuk merenggut nyawanya.

Apalagi dalam sakunya masih terdapat sebuah kocek ...

kuntum bunga Botan di atas kocek, terutama sari bunganya.

Setiap kali teringat akan kekuatan dari senjata rahasianya itu, dia pasti menunjukkan perasaaan senang dan gembira seperti seorang anak kecil, bahkan hampir saja tak tahan untuk memasukkan tangannya ke dalam saku dan meraba kocek itu.

Tapi dia harus bersabar, dia harus pandai menahan diri.

Kedengaran Bu-ki kembali bertanya.

"Apakah saudara-saudara kita yang berjaga di sekitar tempat ini sudah tahu siapa yang sedang kita nantikan kedatangannya?"

"Aku hanya memberi tahu kepada mereka kecuali seseorang yang memakai mantel hitam sambil membawa tentengan berwarna merah, siapapun dilarang melewati tempat ini, siapa yang membangkang dibunuh tanpa ampun."

Kemudian dia memberikan jaminannya lagi.

"Kecuali dia seorang, jangan kuatir ada manusia kedua yang dapat menyusup ke tempat ini."

Jaminan tersebut bukan hanya tertuju untuk Bu-ki saja, diapun memberikan jaminannya untuk Tong Giok.

Kalau memang tak seorang manusiapun yang bisa menyusup ke tempat itu, berarti tak bakal ada manusia lain yang bisa datang ke situ untuk menolong jiwa Tio Bu-ki.

Sekarang ia sudah terpojok dan berada seorang diri.

Diam-diam Tong Giok menghela napas di hati, rencana ini benar-benar berjalan sempurna dan sesuai dengan kehendak hatinya, bahkan dia sendiripun merasa puas sekali.

Lambat-laun cuaca makin gelap, baru saja Huan Im-san memasang lampu lentera, dari luar kuil telah berkumandang suara lirih seakan-akan bunyi tonggeret yang mendesis.

"Dewa harta telah datang!"

Dewa harta ini kelihatan tidak miskin pun tidak pelit.

Ia memiliki perawakan badan yang tinggi besar, berambut putih, bermuka merah bercahaya dan tampak gagah perkasa sekali, pakaian yang dikenakan juga perlente dan necis, itulah seorang Dewa harta yang bisa menarik kepercayaan siapapun yang melihatnya.

Kalau kau punya uang, kau pasti akan percaya untuk menyimpan uangmu dalam rumah uangnya.

Tapi, waktu Bu-ki memperkenalkannya dengan Huan Im-san serta Tong Giok, paras mukanya segera menunjukkan sesuatu perubahan yang kurang sedap dipandang.

"Mereka semua adalah sahabat-sahabat karibku!"

Bu-ki coba menerangkan. Sambil menarik muka, ujar si Dewa harta itu dingin.

"Bukankah aku telah berpesan, kecuali kau aku tak ingin bertemu dengan siapapun?"

"Benar!"

"Mereka ini manusia atau bukan? Kalau mereka adalah manusia, silahkan mereka pergi dari sini."

Bu-ki menjadi tertegun, dia tidak menyangka kalau si Dewa harta ini sama sekali tidak memberi muka kepadanya, untung saja Huan Im-san dan Tong Giok adalah orang yang tahu diri, mereka sudah mengucapkan kata-kata "Sampai jumpa".

Bu-ki merasa amat menyesal dan rikuh, dia ingin sekali mengucapkan beberapa patah kata yang bisa membuat mereka agak enak perasaannya...

Sebelum kata-kata tersebut diucapkan, Tong Giok telah menghampirinya sambil menggenggam tangannya erat-erat, ujarnya sambil tersenyum.

"Kau tak usah berkata apa-apa lagi, karena kita adalah sahabat karib ...!"

Dia memang betul-betul seorang sahabat karib.

Ia mencengkeram tangan Bu-ki erat sekali.

Agaknya Bu-ki juga merasakan gelagat yang kurang baik, baru saja dia hendak melepaskan diri dari cekalannya, ada sebuah tangan yang lain telah menghantam di atas nadi besar yang berada di belakang tengkuk sebelah kirinya.

Tentu saja bacokan itu dilakukan oleh tangan Huan Im-san.

Ketika tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah, dia menyaksikan si Dewa harta sedang membentak gusar sambil melakukan terjangan ke tubuh Tong Giok.

Tapi ia tahu perbuatan itu sama sekali tak ada gunanya.

Dewa harta bukan tandingan Tong Giok, hanya satu jurus serangan dari Tong Giok pun tak sanggup dihadapinya.

Ketika Bu-ki membuka kembali matanya, benar juga si Dewa harta telah diikat orang dengan tali.

Tentu saja dia juga diikat dengan tali, bahkan jalan darahnya telah ditotok pula ...

sewaktu Tong Giok lepas tangan untuk menghadapi si Dewa harta tadi.

Huan Im-san telah turun menotok jalan darahnya.

Melihat sepasang matanya telah terpentang lebar, si Dewa harta segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehh ... heeehh ... heeehh ... kedua orang sahabat karibmu itu benar-benar seorang sahabat yang sangat baik,"

Ejeknya. Bu-ki menghela napas panjang.

"Aaaai ...! Sekalipun demikian, jadi kaupun tidak perlu untuk mempersilahkan mereka keluar!"

"Kenapa?"

"Karena mereka sama sekali bukan manusia!"

Tong Giok tertawa, tertawa terbahak-bahak. Gelak tertawanya benar-benar amat gembira, katanya.

"Aku adalah seorang manusia, sayang selama hidup kau tak akan menyangka siapakah aku ini."

"Oya?"

Sambil menunjuk kehidung sendiri, Tong Giok berkata lebih jauh.

"Aku adalah Tong Giok, akulah Tong Giok yang kau benci dan ingin kau cekik hidup-hidup sampai mati itu."

Bu-ki tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah berada dalam keadaan begini, apalagi yang masih bisa dia katakan?

Sekarang, Tong Giok dapat menyaksikan perubahan mimik wajahnya, tapi sedikit perubahan emosipun tak ada.

Setelah berada dalam keadaan demikian, dia masih mempunyai perubahan apa lagi?

"Sesungguhnya aku tidak harus membinasakan dirimu, sebab aku juga tahu orang hidup pasti jauh lebih berguna daripada orang mati."

"Sekarang, mengapa kau telah berubah pikiran?"

"Karena ada seseorang yang memberitahu kepadaku, bahwa kau harus dibunuh mati."

"Siapa yang memberitahukan kepadamu?"

"Kau sendiri!"

Gelak tertawa Tong Giok amat riang, terusnya.

"Kau sendiri yang mengajarkan kepadaku, bila sedang menghadapi seseorang yang sangat berbahaya, kau tak boleh memberi kesempatan kepadanya untuk melancarkan serangan balasan, kebetulan sekali kau adalah seorang manusia yang berbahaya sekali, dan kebetulan lagi aku adalah seorang yang amat penurut."

"Mengapa kau masih belum turun tangan?"

"Karena aku tak ingin kau mati sebagai setan yang bodoh, bagaimanapun kita kan teman."

Setelah tikus itu tertangkap olehnya, kenapa dia harus sekaligus menelannya ke dalam perut?

Kucing menangkap tikus belum tentu untuk mengisi perutnya yang lapar, kadang kala hal mana dilakukan hanya sebagai suatu hiburan, suatu permainan belaka.

Sekarang ia sedang menikmati permainan tersebut.

"Sebenarnya masih ada kemungkinan orang lain akan kemari untuk menolongmu, sayang justru kau sendiri telah berpesan berulang kali, kecuali si Dewa harta, siapapun dilarang kemari!"

"Ia bukan berpesan kepadaku tapi memerintah diriku, sekalipun bapakku sendiri yang datang juga tak boleh dibiarkan masuk kemari,"

Kata Huan Im-san pula. Sengaja dia menghela napas panjang kembali, katanya.

"Kebetulan sekali akupun seseorang yang sangat penurut!"

Tong Giok ikut menghela napas panjang.

"Aaaaai ...! Tay-hong-tong bisa mempunyai seorang anggota semacam kau, sesungguhnya hal ini merupakan kemujuran mereka."

Ditatapnya Bu-ki sekejap, lalu katanya kembali.

"Namun bagaimanapun juga kau toh bersikap sangat baik kepadaku selama ini, urusan penguburanmu pasti akan kusuruh Huan Im-san laksanakan dengan sebaik-baiknya, nah, sebelum mati apa yang ingin kau lakukan? Asal katakan kepadaku, siapa tahu aku bisa mengabulkannya."

Bu-ki termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia berkata.

"Aku hanya ingin mengajukan sebuah pertanyaan saja."

"Pertanyaan apa?"

"Benarkah Sangkoan Jin berada dalam benteng keluarga Tong?"

Tanya Bu-ki pelan-pelan.

"Benar!"

Tanpa dipikir dan dipertimbangkan lebih jauh dia telah menjawab, sebab keadaan Bu-ki sekarang tak jauh berbeda dengan sesosok mayat.

Berada di hadapan seseorang yang sudah hampir mati, ia beranggapan bahwa persoalan apapun rasanya tak perlu dirahasiakan lagi.

Terdengar Tong Giok berkata kembali.

"Sangkoan Jin bukan saja berada dalam keluarga Tong, bahkan dalam waktu singkat dia akan menjadi anggota keluarga Tong kami."

"Kenapa?"

"Karena dengan cepat dia akan masuk kedalam anggota keluarga keluarga Tong kami, dia akan menjadi menantunya keluarga Tong."

"Mengapa kalian hendak menariknya menjadi menantu?"

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 9

Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert