Ceritasilat Novel Online

Harimau Kemala Putih 8

Eps 8 Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.

"Dia adalah seorang manusia yang sangat berguna, hanya dia baru bisa membantu kami untuk membawa jalan."

"Membawa jalan?"

"Tempat ini adalah kekuasaan Tay-hong-tong, jika kami sampai di tempat ini, perlukah mencari seorang pembawa jalan?"

"Yaa, perlu!"

"Dapatkah kau mencari seorang pembawa jalan yang jauh lebih baik dan jauh lebih bisa diandalkan dari pada Sangkoan Jin?"

"Tidak bisa!"

Sekarang peristiwa itu agaknya sudah hampir mendekati akhir, Dewa harta sudah masuk ke dalam kuil, sang dombapun sudah berada dalam mulut sang harimau.

Anehnya ternyata Bu-ki masih dapat tertawa tergelak.

Gelak tertawanya itu tidak mirip suatu gelak tertawa karena ada seekor domba telah masuk ke dalam mulut harimau.

Tertawanya itu pada hakekatnya mirip sekali dengan senyuman seekor harimau.

Gelak tertawa itu pada hakekatnya membuat orang tak habis mengerti, sebenarnya siapa yang telah berada di mulut harimau?

***** SERANGAN TERAKHIR TONG GIOK sedang tertawa.

Ternyata Bu-ki juga sedang tertawa.

Suara tertawa Tong Giok sangat gembira, karena hatinya memang benar-benar sedang gembira.

Tapi gelak tertawa Bu-ki pun seperti sedang gembira, mungkinkah hatinya juga sedang gembira?

Tong Giok segera berhenti tertawa.

Tiba-tiba tanyanya kepada Huan Im-san.

"Dapatkah kau menyaksikan, apa yang sedang dilakukan oleh Tio-kongcu ini?"

"Dia agaknya sedang tertawa."

"Dalam keadaan seperti sekarang ini, kenapa dia masih sanggup untuk tertawa?"

"Entahlah, aku sendiripun tak tahu."

Tong Giok menghela napas panjang, kembali ujarnya.

"Selama ini aku selalu menganggap diriku seorang yang cerdik, orang lain juga menganggap diriku amat cerdik, tapi aku sendiripun tidak habis mengerti kenapa dia masih sanggup untuk tertawa dalam keadaan seperti ini?"

"Sebenarnya aku sendiripun tak ingin tertawa,"

Bu-ki menerangkan.

"tapi aku benar-benar merasa tak tahan untuk tertawa juga."

"Persoalan apakah yang membuat kau merasa begitu kegelian?"

"Oooh ... banyak, banyak sekali!"

"Dapatkah kau menyebut satu atau dua di antaranya kepadaku?"

"Dapat!"

"Katakanlah, akan kudengarkan!"

"Aku merasa geli belum tentu kaupun ikut merasa geli!"

"Itu tidak menjadi soal."

"Kau masih ingin untuk mendengarkan?"

"Ehmm!"

"Kalau aku mengatakan ada seseorang yang terang-terangan sudah kena ditotok jalan darahnya, bahkan masih diikat pula dengan tali, tapi setiap saat dapat bangkit berdiri kembali, kau merasa kejadian ini sangat menggelikan atau tidak?"

"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh ..."

"Kalau aku mengatakan ada seorang yang jelas sudah mati terbunuh, tapi setiap saat bisa berjalan masuk dari tempat luar, apakah kaupun merasa kegelian?"

"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh ..."

Kembali Tong Giok tertawa terbahak-bahak. Walaupun ia masih tertawa terbahak-bahak, namun senyumnya yang lembut dan menawan hati tadi sudah lenyap tak berbekas.

"Aku masih ingat dengan sepatah katamu,"

Ujar Bu-ki lagi.

"katanya ada sementara persoalan walaupun tidak lucu kalau diceritakan, tapi setelah kau saksikan dengan mata kepala sendiri, maka kau akan tertawa sampai pecah kulit perutmu."

Tentu saja Tong Giok masih teringat dengan gurauan tersebut. Kembali Bu-ki berkata.

"Ada sementara persoalan justru merupakan kebalikannya, walaupun kedengarannya menggelikan, tapi menunggu kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, maka kau tak dapat tertawa lagi."

Tiba-tiba ia bangkit berdiri.

Bukankah dengan amat jelas diketahui bahwa jalan darahnya telah tertotok?

Malah badannya sudah dibelenggu dengan tali, kenapa ia bisa berdiri tegak dengan leluasa?

Dengan mata kepala sendiri Tong Giok menyaksikan ia bangun berdiri.

Sekarang Tong Giok tak dapat tertawa lagi.

Kemudian iapun menyaksikan seseorang yang sudah jelas mati terbunuh sekarang lagi berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ia menyaksikan Ting Bau sedang menghampirinya.

Ternyata orang yang berjalan masuk kedalam ruangan adalah Ting Bau, sungguh kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan.

Gagang pisau belati itu masih menempel di atas pinggangnya, gumpalan darah di bawah gagang pisau dan pakaian masih jelas dan nyata seperti tadi.

Namun ia masih hidup dalam keadaan segar dan bugar, bahkan sedang melangkah masuk dengan langkah tegap.

"Kau belum mampus?"

Bu-ki segera menegurnya.

"Menurut penglihatanmu, aku ini mirip seorang yang sudah mampus atau tidak?"

Ting Bau bertanya. Dia memang tidak mirip! Air mukanya merah bercahaya, bukan saja tampaknya riang gembira, diapun sehat wal"afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

"Jadi tusukan belatiku tadi tak sampai merenggut selembar jiwamu?"

Tanya Bu-ki.

"Tusukan tersebut memang tak akan mampu untuk membunuh orang."

Tiba-tiba ia mencabut keluar pisau belati yang masih menempel di atas pinggangnya itu, mata pisau segera melejit keluar, tapi ketika ia menekan kembali dengan jari tangannya, mata pisau itu segera menyusup kembali.

"Ooooh ...! Rupanya pisau itu cuma pisau mainan yang biasa dipakai untuk membohongi bocah cilik,"

Bu-ki segera berpekik.

"Tapi permainan semacam ini bukan saja tak akan bisa membohongi anak kecil, seorang yang dungu sekalipun juga tak nanti bisa tertipu."

"Lantas permainan semacam ini hanya bisa membohongi manusia-manusia semacam apa saja?"

"Hanya bisa membohongi orang pintar, ada kalanya makin pintar seseorang justru bisa semakin mudah tertipu."

Bu-ki kembali tersenyum.

"Oooh ...! Jadi seorang pintarpun kadang kala bisa kena tertipu juga?"

"Kalau hendak menipu manusia semacam ini, gunakan permainan yang paling bodoh, ada kalanya permainan yang makin bodoh malah justru mendatangkan hasil yang semakin baik."

Padahal kalau dibicarakan sesungguhnya, permainan semacam ini bukan suatu permainan yang bodoh.

Itulah suatu yang membutuhkan perencanaan yang matang, rumit, teliti dan gesit.

Sekalipun Tong Giok adalah seorang manusia yang cerdik sekali, diapun membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum dapat memahami rahasia dibalik kesemuanya itu.

Tapi hebatnya ternyata ia masih dapat mempertahankan ketenangan serta kemantapan hatinya.

Hal ini bukan dikarenakan dia memang memiliki suatu kemampuan untuk bersabar dan menahan diri, yang lebih penting lagi dia masih memiliki suatu jurus pembunuh yang belum sempat digunakan.

Ia masih menaruh kepercayaan yang penuh atas kemampuan serta kehebatan dari dua biji senjata rahasia yang berada di dalam koceknya.

Ia percaya walau berada dalam keadaan apapun bila senjata rahasia tersebut digunakan maka situasinya akan segera berubah seratus delapan puluh derajat, dari pihak yang kalah dia akan menjadi pihak yang menang, sebab manusia macam apapun jika sampai berjumpa dengan senjata rahasia macam itu, badannya pasti akan hancur berantakan menjadi berkeping-keping dan mati tiada tempat kubur.

Ia benar-benar mempunyai keyakinan atas kemampuannya itu.

Siapapun bila berada dalam keadaan seperti ini mereka pasti akan menunjukkan reaksi ...

gugup, kaget, marah, takut, sinis, ribut, mohon belas kasihan atau tertawa rikuh.

Tapi reaksi semacam itu sama sekali tak berlaku baginya.

Justru karena ia tidak memiliki reaksi, maka selamanya orang lain tak akan bisa menebak apa yang sedang dipikirkan dalam hatinya, apa yang hendak dilakukan selanjutnya?

Ia benar-benar merupakan seorang musuh yang menakutkan, tapi Bu-ki telah bertekad untuk menghancurkannya.

Bu-ki menatap lekat-lekat, kemudian sambil tersenyum katanya.

"Mungkin kau telah menduga, di dalam permainan kita ini hanya ada satu hal yang paling penting."

"Coba katakan, akan kudengarkan baik-baik,"

Jawab Tong Giok masih juga tertawa.

"Padahal, sudah sedari dulu aku tahu kalau kau adalah Tong Giok!"

"Oya?"

"Ketika kau merobohkan si pincang Oh, aku sudah mulai curiga, cuma pada waktu itu aku masih belum merasa yakin atas kebenaran dari dugaanku itu."

"Ilmu silat Oh Po-cu tidak terhitung lemah, tapi sekali turun tangan kau berhasil merobohkannya, ini disebabkan karena dia kenali kau sebagai Tong Giok, tapi mimpipun ia tak mengira kalau Tong Giok pun bisa menghianatinya."

"Kau menghianati Oh Po-cu dan membawa pergi bocah itu, karena kau menginginkan agar aku percaya bahwa kau bukan orang keluarga Tong."

"Kau ingin bersahabat denganku, lantaran kau hendak mencari kesempatan untuk membunuhku."

"Kau mengatakan kedatanganmu ke perkampungan Ho-hong-san-ceng untuk menghindari pengejaran musuh, padahal yang benar alasan tersebut cuma kau pakai guna menutupi tujuanmu yang sebenarnya."

"Rencana ini sesungguhnya sangat indah dan jitu, sayang dibalik kesemuanya itu masih ada sebuah titik kelemahan yang amat besar,"

Demikian Bu-ki berkata.

"Oya?"

Tong Giok cuma mendesis.

"Kau dapat berpikir untuk membawa pergi bocah cilik itu, sesungguhnya tindakan ini merupakan suatu tindakan yang amat tepat, menghindarkan diri dari pengejaran musuh juga terhitung sebuah alasan yang sangat baik, cuma sayang kau lupa bahwa siapa yang berbohong, kebohongannya itu pasti akan terbongkar akhirnya."

Setelah menghela napas, dia melanjutkan.

"Bila seorang ingin melakukan suatu pekerjaan, tidak seharusnya kalau berbohong dalam beberapa masalah kecil, padahal kau tidak perlu untuk membawa pergi bocah itu aku toh tetap akan bersahabat denganmu, kau datang mencari aku juga tak usah harus beralasan sedang menghindari pengejaran musuh, sayang kau justru berlagak sok pintar, tapi jadi malah kebalikannya."

Tong Giok termenung, lewat lama sekali ia baru menghela napas panjang pula.

"Aaaai ...! Benar, bila seseorang ingin melakukan pekerjaan besar, dia memang tidak seharusnya berbohong di dalam hal-hal yang sepele, ucapan tersebut pasti akan kuingat terus."

Tiba-tiba ia baru menyadari bahwa ia memang sudah terlalu memandang rendah kemampuan Tio Bu-ki.

Pada waktu itu dia selalu beranggapan bahwa persoalan semacam itu bukan saja tidak penting, lagipula sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan Tio Bu-ki.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau persoalan-persoalan sepele pun Tio Bu-ki telah melakukan penyelidikan yang seksama.

Tempat itu masih merupakan wilayah kekuasaan Tay-hong-tong, manusia macam apapun terdapat dalam perkumpulan itu, sudah barang tentu tidak sulit untuk melakukan penyelidikan terhadap persoalan-persoalan semacam itu.

"Bila kau ingin tahu apakah seseorang sedang membohongi dirimu atau tidak, maka kau harus mulai dengan penyelidikanmu itu dari soal-soal sepele yang sama sekali tak ada sangkutHarimau Kemala Putih > karya Gu Long > disadur oleh Tjan >> published by buyankaba.com 605 pautnya dengan masalah tersebut, dengan begitu kau baru akan berhasil untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya,"

Kata Bu-ki lagi.

Sebab pada bagian-bagian persoalan yang penting dan gawat, orang lain pasti telah merencanakannya secara cermat dan sungguh-sungguh setelah merasa yakin bahwa kau tak akan berhasil mendapatkan keterangan apa-apa, ia baru akan mulai dengan operasinya.

Setitik api dari bintang dapat mengkibatkan kebakaran hebat di padang rumput, sering kali karena suatu kebocoran yang kecil pada sebuah bendungan yang beratus-ratus kilo meter panjangnya pun bisa mengakibatkan bobolnya bendungan itu.

Bagaimanapun kecilnya suatu keteledoran, semuanya mungkin bisa mengakibatkan terjadinya suatu kesalahan yang fatal.

"Setelah kubongkar semua kebohonganmu itu, sebenarnya masih belum berani memastikan bahwa kaulah Tong Giok,"

Ujar Bu-ki lagi.

"sayang sekali ..."

Sayang sekali Tong Giok telah menyamar sebagai seorang gadis, bahkan penyamarannya itu jauh lebih mirip seorang gadis dari pada gadis yang sesungguhnya.

Hanya orang yang pernah melatih ilmu dingin "Im-cin"

Baru bisa menyaru macam begitu, sebab ciri-ciri dari lelakinya lambat-laun akan lenyap tak berbekas. Tidak tahan Tong Giok kembali bertanya.

"Darimana kau bisa tahu kalau kepandaian yang kulatih adalah ilmu dingin Im-cin."

"Karena kau pernah menggunakan tenaga Im-cin untuk membunuh Kiau In ..."

Kemudian dengan hambar dia melanjutkan.

"Jika begitu banyak titik kelemahan berhasil kutemukan, tapi belum juga kuketahui kalau kau adalah Tong Giok, bukankah aku betul-betul manusia yang sungguh-sungguh ...?"

Kuil Dewa harta yang bobrok mana gelap, lembab, apek lagi baunya, bahkan menyiarkan pula suatu bau busuk yang bisa membuat perut orang menjadi mual.

Tapi siapapun di antara kelima orang itu tak seorangpun yang memperhatikan hal tersebut.

Tong Giok kelihatan jauh lebih tenang dan kalem, lagi-lagi dia bertanya.

"Kalau memang kau sudah tahu kalau aku adalah Tong Giok, mengapa tidak turun tangan lebih dulu untuk menaklukkan aku atau mencari suatu kesempatan guna membinasakan diriku lebih dahulu?"

"Sebab kau masih berguna."

"Kau hendak memanfaatkan diriku untuk menyelidiki siapakah penghianat di tempat ini?"

"Akupun hendak memanfaatkan dirimu untuk menemukan seluruh orang-orang keluarga Tong yang telah menyusup kemari."

Sekarang ia telah memanfaatkan kehadiran Tong Giok untuk menemukan si anjing cilik alias Siau-kau-cu, si gemuk Ong, si penjual jeruk dan pelayan dari warung teh Bu-gi-cun.

Dari mulut orang-orang ini, dia masih dapat menemukan orang-orang lain yang lebih banyak jumlahnya.

"Sudah sedari dulu kami telah mencurigai Huan Im-san, tapi kami belum berani memastikannya,"

Kata Bu-ki lagi. Itulah sebabnya dia bersekongkol dengan Ting Bau untuk mengatur perangkap tersebut.

"Penghianat yang sesungguhnya justru malah tak ingin membunuhmu untuk melenyapkan saksi hidup, karena hanya penghianat yang sebenarnya baru tahu akan kedudukanmu yang sebenarnya serta rahasia penyamaranmu ..."

Tutur Bu-ki.

Diapun telah memperhitungkan secara tepat, bahwa mereka pasti akan menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk membunuh rekan lainnya yang bukan penghianat, dengan begitu semua dosa dan kesalahan tersebut baru bisa dilimpahkan ke atas tubuhnya, agar penghianat yang sebenarnya bisa hidup dengan bebas tanpa harus merasa kuatir lagi.

Oleh sebab itu, diapun mengatur "kematian"

Dari Ting Bau, bahkan harus membuat Tong Giok percaya kalau Ting Bau benar-benar sudah mampus.

"Itulah sebabnya kecuali sebuah pukulan keras di belakang tengkuk kirinya, secara sengaja kutambah dengan sebuah tusukan belati lagi di atas pinggangnya,"

Bu-ki melanjutkan.

"Padahal, seandainya kau mau memperhatikan dengan seksama, tidak sulit untuk menjumpai titik-titik kelemahan dibalik semua persiapanku itu ..."

"Maka pada waktu itu kau cepat-cepat menyeret aku pergi,"

Tanya Tong Giok.

"Yaa, benar! Aku juga tahu kalau kau pasti punya minat yang besar terhadap si "dewa"

Tersebut, kau pasti mengikuti aku pergi dari situ ..."

Ia menyerahkan Ting Bao kepada Huan Im-san karena dia tahu Ting Bao pasti sanggup untuk membekuk Huan Im-san.

"Aku masih menyerahkan sebuah pekerjaan lagi kepada Ting Bau untuk dilaksanakan, pekerjaan inipun merupakan kunci yang paling penting untuk suksesnya operasi ini."

"Pekerjaan apakah itu?"

"Seorang yang terang-terangan diketahui telah tertotok jalan darahnya, bahkan dibelenggu tubuhnya dengan tali, mengapa secara tiba-tiba bisa bangkit berdiri sendiri?"

"Yaa, karena ikatan tali tersebut tidak terlalu kencang, sedang jalan darah yang ditotokpun bukan benar-benar ditotokkan pada sasaran yang sesungguhnya."

"Lantas siapa yang mengikat aku dengan tali?"

Tanya Bu-ki.

"Huan Im-san!"

"Siapa yang menotok jalan darahku?"

"Juga Huan Im-san!"

"Mengapa ia tidak mengikat aku kencang-kencang? Kenapa ia tidak benar-benar menotok jalan darahku?"

Sebab Huan Im-san sendiripun masih belum ingin mampus, Dia masih harus belajar ilmu pertapaan, masih harus bikin obat, masih berharap bisa awet muda, masih ingin ingin melanjutkan kehidupannya yang senang sambil menikmati "kehangatan permainan sorgawi".

"Padahal seharusnya kau juga bisa menduga sampai kesitu jauh sebelumnya kalau dia bisa menghianati Tay-hong-tong, mengapa tidak dapat menghianati pula dirimu?"

Lalu kepada Ting Bau tanyanya.

"Dengan cara apakah kau menggerakkan hatinya?"

Ting Bau tertawa, sahutnya.

"Aku cuma bertanya kepadanya, masih inginkah dia melanjutkan latihannya belajar ilmu pertapaan? Atau dia sudah ingin mampus saja?"

"Kalau begitu kau hanya menyediakan dua jalan saja baginya?"

Ting Bau manggut-manggut.

"Yaa, benar! Dia memang hanya ada dua pilihan saja."

"Aku pikir dia pasti mempertimbangkannya lama sekali sebelum memutuskan pilihannya, benar bukan?"

Ting Bau segera tertawa lebar.

"Sama sekali keliru besar!"

Serunya.

"belum lagi perkataanku selesai diucapkan, ia telah mengambil keputusan."

Jalan manakah yang telah dipilih Huan Im-san? Sekalipun orang yang paling bodoh juga bisa menebaknya.

"Ketika kulihat Huan Im-san berjalan mendatang, aku sudah tahu pilihan manakah yang telah diambil,"

Kata Bu-ki. Sebab dia masih hidup, masih bisa melanjutkan latihan pertapaan dan menikmati kehangatan sorgawi.

"Oleh karena itu, akupun sengaja membiarkan kau menarik tanganku, sebab aku harus membiarkan dia yang menotok jalan darahku."

Pada waktu itu si Dewa harta telah menerjang ke arah Tong Giok dengan gerakan yang garang melebihi harimau lapar yang sedang menerkam mangsanya, dalam keadaan begitu, Tong Giok harus melepaskan cekalannya pada diri Bu-ki untuk menghadapi si Dewa harta.

Sebab waktu itu cuma Huan Im-san yang "kebetulan masih luang"

Hanya dia yang sempat untuk melancarkan totokannya pada tubuh Bu-ki.

Rencana ini sesungguhnya merupakan suatu susunan rencana yang matang dan jitu.

Tampaknya terhadap setiap adegan, setiap bagian yang bakal terjadi dalam rangkaian peristiwa tersebut, mereka telah memperhtungkan secara tepat dan matang.

Agaknya mereka sudah menduga, apa yang bakal terjadi di dalam setiap adegan tersebut dan dimanakah posisinya waktu itu.

Terbukti semua hal bisa dilakukan secara lancar dan sempurna, sama sekali tidak nampak kaku atau terpaksa.

"Setelah Huan Im-san pun menjadi orang dari pihakku, sudah barang tentu semua orang yang diatur di sekeliling tempat ini adalah orang-orangku juga, jangan harap orang lain bisa menembusi penjagaan di sini dan datang kemari untuk menolong dirimu."

Kalau tiada orang lain yang bisa memasuki wilayah sekitar sana lagi, dus berarti tak mungkin ada orang yang bisa datang kesana untuk menyelamatkan Tong Giok.

Sekarang Tong Giok baru sadar bahwa dialah yang sesungguhnya berada seorang diri.

Bu-ki tersenyum kembali, ujarnya.

"Semua rencana bisa berjalan dengan begitu lancar, sehingga aku sendiripun merasa puas sekali. Nah, apa yang hendak kau katakan lagi sekarang ..."

Tong Giok tak bisa berkata apa-apa lagi.

Untung saja dia masih memiliki alat pembunuh yang terakhir!

***** GADIS LANGIT PENYEBAR BUNGA Keluarga Tong dari wilayah Siok-tiong merajai dunia persilatan karena senjata rahasia beracunnya yang tiada tandingan.

Setiap anggota keluarga Tong yang berkelana dalam dunia persilatan selalu menggembol senjata-senjata rahasia beracun mereka yang telah menggemparkan seluruh kolong langit itu.

Setiap anggota keluarga Tong sebagian besar adalah jago-jago lihay penyimpan senjata rahasia.

Boan-thian-hoa-yu (hujan bunga memenuhi angkasa) merupakan suatu kepandaian melepaskan senjata rahasia yang sudah lama punah dari peredaran dunia persilatan!

Tong Giok seratus persen adalah tokoh sakti yang berilmu tinggi dari keluarga Tong.

Kesemuanya itu adalah suatu kenyataan, setiap orang persilatan mengetahui akan hal ini, sudah barang tentu Bu-ki mengetahuinya.

Oleh karena itu dia seharusnya dapat menduga bahwa Tong Giok pasti memiliki senjata pembunuh terakhir yang ampuh dan mematikan.

Tapi dia seakan-akan tidak ambil perduli terhadap persoalan itu, dia seolah-olah acuh.

Dia semestinya memperhatikan sepasang tangan Tong Giok.

Sebab setiap saat kemungkinan besar tangannya itu akan melepaskan senjata rahasia yang bakal merenggut nyawanya.

Akan tetapi ia justru sedang memperhatikan si Dewa harta itu.

Tiba-tiba ia bertanya.

"Benarkah kau adalah si Dewa harta?"

"Aku bukan Dewa harta!"

Ternyata si Dewa harta itu menyangkal.

"Lantas siapakah kau?"

"Aku adalah seorang pencuri!"

Mencuri bukan suatu perbuatan yang terpuji, mengapa si Dewa harta ini mengakui sebagai seorang pencuri? "Biasanya pencuri tak akan mengakui dirinya sebagai seorang pencuri ..."

Kata Bu-ki.

"Tapi bagaimanapun juga, aku harus mengakuinya."

"Mengapa?"

"Sebab aku yang seorang pencuri ini jauh berbeda dengan pencuri-pencuri yang lain."

"Apa bedanya?"

"Bukan sembarangan barang yang kucuri dan jauh berbeda dengan orang lain, hanya mencuri barang-barang yang orang lain tak ingin mencurinya, tak berani mencurinya dan tak mampu untuk mencurinya."

Tiba-tiba ia balik bertanya kepada Bu-ki.

"Mungkinkah pencuri-pencuri lain pergi ke rumahmu hanya untuk mencuri tikus dalam ruangan tidurmu?"

"Tidak mungkin!"

"Tapi aku pernah mencurinya."

Kemudian ia bertanya lagi kepada Bu-ki.

"Beranikah pencuri-pencuri lain pergi mencuri seorang harimau yang dipelihara dalam kebun bunga orang?"

"Tidak berani!"

"Tapi aku berani untuk mencurinya."

Kembali dia bertanya kepada Bu-ki.

"Mungkinkah pencuri lain dapat mencuri kain pembalut kaki milik Huang-ho nio-nio (Sri Ratu) dalam istana kaisar?"

Bu-ki menggelengkan kepalanya.

"Tapi aku berhasil mencurinya!"

Kata pencuri itu.

"Rupanya kau bukan saja seorang pencuri bahkan seorang pencuri ulung ...!"

"Yaa, memang itulah aku!"

"Tapi, agaknya barang-barang seperti itu sama sekali tak ada harganya kalau dijual?"

"Yaa, karena pada dasarnya aku cuma mencuri barang-barang yang tak ada nilainya itu."

"Kenapa?"

"Sebab kesemuanya itu adalah atas permintaan orang lain, ada orang yang mengundangku untuk mencuri benda-benda tersebut."

"Aaah ...! Masa ada orang yang khusus mengundangmu untuk mencuri barang ...?"

"Bukan cuma mengundangku saja, lagipula mereka harus membayar lima puluh laksa tahil sebagai imbalannya."

"Lima puluh laksa tahil apa?"

"Tentu saja lima puluh laksa tahil perak, harus bayar dulu lagi!"

"Mengapa harus bayar dulu?"

"Karena nama baikku boleh sebagai jaminan kepercayaan, asal uang sudah kuterima entah barang apapun yang diminta orang lain untuk kucuri, kujamin pasti berhasil kudapatkan secara sempurna."

"Aku masih ingat, dahulu agaknya juga terdapat seseorang macam dirimu itu."

"Siapa?"

"Sugong Ti-seng!"

Mendengar nama itu, pencuri tersebut segera tertawa.

"Kau juga tahu dengan orang ini?"

Tanya Bu-ki.

"Aku bukan cuma tahu saja, bahkan kenal dengannya."

Ia tertawa lebar sampai mulutpun tak bisa dirapatkan kembali, tambahnya.

"Kebetulan sekali aku justru adalah muridnya." ***** Setiap generasi dunia ini pasti bermunculan manusia berbakat, demikian juga dengan dunia persilatan, hampir setiap generasi pasti bermunculan pendekar-pendekar kenamaan yang menjagoi dunia persilatan. Seperti misalnya. Seebun Cui-soat. Seorang jago pedang yang tiada keduanya dikolong langit, ilmu pedangnya tiada tandingan diseluruh dunia, ia angkuh, tinggi hati dan gemar mengenakan baju berwarna putih seperti salju. Yap Hu-shia. Thian-gwa-hui-sian (dewa terbang dari luar langit) ... Pek Im Siancu, menantang Seebun Cuisoat untuk berduel di puncak Ci-ceng-nia, belum lagi bertarung namanya sudah menggegerkan dunia. Lo si hwesio, si paderi jujur. Hwesio ini tak pernah berbohong, hanya makan bakpao dingin, mengenakan baju yang compang-camping. Hoa Boan-lo. Walaupun sepasang matanya buta, hatinya lebih bersih dari bulan yang sedang purnama. Bok tojin. Ilmu bermain caturnya nomor wahid, ilmu pedangnya nomor tiga, mana latah sok suci, lagi dia adalah seorang jagoan tersohor dari partai Bu-tong. Sekalipun mereka semua adalah pendekar-pendekar kenamaan dari generasi yang lalu, tapi nama pendekar mereka selalu dikenal orang dan turun-temurun sampai sekarang. Kecuali mereka, tentu saja masih ada Liok Siau-hong. Liok Siau-hong yang beralis mata empat, si pendekar empat alis! Liok Siau-hong yang kekayaannya melebihi suatu negeri. Satu-satunya orang dalam dunia persilatan yang sanggup menjepit pedang Yap Hu-shia dalam jurus Thian-gwa-hui-sian (dewa terbang dari luar langit) dengan kedua jari tangannya, hanya Liok Siau-hong. Satu-satunya sahabat karib dari Sebun Cui-soat juga hanya Liok Siau-hong. Orang yang paling dikagumi Bok tojin juga Liok Siau-hong. Orang yang paling dihormati Hoa Boan-lo adalah Liok Siau-hong. Lo si hwesio segera sipat kuping dan angkat kaki begitu bertemu dengan Liok Siau-hong. Tapi bila Liok Siau-hong berjumpa dengan Sugong Ti-seng, kepalanya lantas pusing tujuh keliling. Nama yang diberikan Liok Siau-hong kepada Sugong Ti-seng adalah ... Raja diraja dari segala raja pencuri, pencuri yang tiada tandingannya di seluruh kolong langit. Sugong Ti-seng mencuri segala apapun, dan mampu mencuri segala macam bendapun. Sugong Ti-seng mempunyai perawakan yang tinggi besar, berdada lebar dan berperut buncit, tapi justru memiliki serangkaian ilmu lincah yang tiada tandingannya di dunia ini. Liok Siau-hong pernah beradu salto dengannya, siapa yang kalah siapa yang harus mencari cacing. Tapi akhirnya orang yang mencari cacing adalah Liok Siau-hong, bahkan mencari selama sepuluh hari sepuluh malam, membuat sekujur badannya penuh dengan lumpur. Sekarang, pencuri ini mengakui dirinya sebagai murid Sugong Ti-seng, bisa dibayangkan berapa lihay orang itu.

"Oooh ... salut! Salut ...!"

Puji Bu-ki dengan cepat.

"Tak usah sungkan-sungkan, tak usah sungkan-sungkan!"

Pencuri itu menjawab.

"Siapa nama margamu?"

"Aku she Kwik!"

"Dan namamu?"

"Ciok-ji!"

"Kalau begitu kau adalah Kwik Ciok-ji, Raja diraja dari segala raja pencuri yang tiada tandingannya di seluruh kolong langit untuk generasi ini?"

"Betul sekali!"

"Salut! Salut!"

"Tak usah sungkan-sungkan, tak usah sungkan-sungkan!"

"Ada urusan apakah kau datang kemari?"

"Sebetulnya juga tak ada urusan lain yang penting artinya, aku cuma ingin mencuri sesuatu benda."

"Kali ini apakah kaupun diundang orang lain untuk datang mencuri?"

"Yaa, tapi kali ini aku tidak pungut ongkos alias gratis!"

"Peraturan tak bisa dilanggar mengapa kali ini kau justru gratis!"

"Karena Sugong Siau-hong dari Tay-hong-tong kalian secara kebetulan adalah adik tong dari guruku, sedang Ting Bau yang berdiri di sampingmu sekarang, kebetulan juga adalah sahabatku!"

"Oooh, jadi Ting Bau yang mengundang kedatanganmu?"

Kwik Ciok-ji menghela napas panjang.

"Aaaai ...! Sebenarnya diapun tak akan bisa menemukan aku, tapi belakangan ini nasibku kurang mujur dan terus-terusan lagi apes, kebetulan semalam aku sedang minum arak di sarang anjingnya."

"Kau diundang kemari untuk mencuri apa?"

Tanya Bu-ki.

"Yang dicuri hanya barang-barang tetek-bengek yang sesungguhnya tak ada harganya sama sekali."

"Dan kau telah berhasil mendapatkannya?"

Kwik Ciok-ji seperti agak marah, serunya.

"Mana mungkin ada barang di dunia ini yang tak mampu dicuri oleh Kwik Ciok-ji?"

"Kalau kau memang benar-benar berhasil mendapatkannya, mana barangnya ..."

"Itu dia, di sini!"

Tangan itu sebenarnya kosong melompong, tapi ketika dijulurkan ke depan sekarang tahutahu dalam genggamannya telah bertambah dengan dua macam benda.

Sebatang tusuk konde dan sebuah kocek bersulamkan bunga teratai.

Kocek itu terbuat dari kain halus, di atasnya terdapat sulaman dua kuntum bunga dari benang emas, di permukaan depan sekuntum dan dibaliknya sekuntum lagi.

Akhirnya Tong Giok berhasil dipukul roboh meskipun badannya belum roboh ke tanah, tapi kepercayaannya pada diri sendiri serta keyakinannya pada kemampuan sendiri sama sekali sudah hancur total.

Kehancuran yang berasal dari dalam tubuh ini jauh lebih menakutkan daripada kehancuran yang dialami di luar badan.

Bu-ki mulai tertawa lebar.

Ia selalu sedang memperhatikan reaksi wajah Tong Giok setelah menyaksikan kedua macam benda tersebut, sekarang walau siapapun juga dapat melihat bahwa orang ini betul-betul sudah rontok dan hancur total.

Yang masih tersisa tak lebih hanya sebuah wajah kasar yang kosong melompong ...

"Apakah cuma dua macam benda ini saja? Tiada yang lain?"

Bu-ki bertanya.

"Sebenarnya akupun mengira masih ada yang lain, sungguh tak disangka dalam saku Tong kongcu ini ternyata hanya terdapat dua macam mestika, ternyata tusuk konde emas ini kosong bagian tengahnya."

Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan.

"Aaai ... jika seorang pencuri bertemu dengan emas yang kosong bagian tengahnya, itu menandakan kalau dia lagi apes!"

"Darimana kau bisa tahu kalau tusuk konde emas ini kosong bagian dalamnya?"

"Begitu berada di tangan, aku lantas tahu karena bobotnya sama sekali tidak benar!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu-ki, katanya sambil tersenyum.

"Walaupun tusuk konde kosong bagian tengahnya, tapi aku berani jamin kalau isi tusuk konde itu jauh lebih berharga daripada emasnya."

Kembali dia menambahkan.

"Konon pasir pemutus nyawa Toan-hun-seh dari keluarga Tong juga dapat dibeli!"

"Akupun pernah mendengar orang berkata demikian, asal kau menemukan sasaran yang benar dan lagi mengajukan harga yang pantas sudah pasti ada orang yang akan menjualnya kepadamu."

"Begitupun masih belum bisa jalan,"

Sela Ting Bau tiba-tiba.

"Lantas harus bagaimana lagi?"

"Mereka masih akan menyelidiki dulu nenek moyangmu tiga generasi yang lalu secara teliti dan seksama, kemudian baru akan menjualnya kepadamu."

"Berapa harganya?"

"Konon lima ratus tahil uang emas murni untuk satu tahil pasir toan-hun-seh."

"Berapa untuk jarum beracunnya?"

Tanya Bu-ki pula.

"Mungkin juga mencapai beberapa ratus tahil untuk setiap batangnya."

Tiba-tiba Bu-ki mengeluarkan sebuah bungkusan kertas dari sakunya, ketika bungkusan itu dibuka maka tampaklah isinya adalah separuh batang jarum jahit yang sudah putus.

Sambil tersenyum dia lantas berkata.

"Bila lima ratus tahil emas murni untuk setiap batangnya, separuh batang jarum ini paling tidak juga semestinya laku tiga ratus tahil ..."

Ting Bau tertawa lebar, serunya.

"Meskipun hanya tiga ratus tahil emas, itu sudah cukup buat kita untuk menjadi orang kaya baru!"

"Darimana kau dapatkan jarum itu?"

Tanya Kwik Ciok-ji.

"Dari atas pelana kudaku!"

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"Aku tidak habis mengerti kenapa di tengah malam buta Tong kongcu menuju ke istal kuda, maka diam-diam akupun mengikuti dari belakang, dia hanya masuk sebentar lalu memutar satu lingkaran dan keluar lagi, sebaliknya aku membutuhkan waktu hampir satu jam lamanya."

Justru karena terlalu lama ia berada dalam istal kuda, maka dia tak tahu kalau Lian It-lian telah datang.

Sekarang, kelihatannya masalah itupun cuma suatu kejadian yang sepele, hakekatnya sama sekali tidak penting atau serius.

Tapi sering kali sesuatu urusan yang sepele, akhirnya justru merupakan suatu kepuasan yang akan merubah nasib seseorang.

***** SATU tahil pasir toan-hun-seh, lima ratus tahil emas murni, oh!

Suatu harga yang mahal sekali,"

Kata Kwik Ciok-ji. Tiba-tiba Tong Giok tertawa dingin, katanya.

"Kalau harga cuma sekian, ada berapa banyakpun akan kubeli semua ..."

"Masa dengan harga setinggi itupun masih belum bisa didapatkan?"

Tanya Kwik Ciok-ji.

"Masih selisih jauh sekali!"

"Lantas seharusnya berapa harganya?"

"Seribu tahil emas untuk seperseratus tahilpun masih bukan barang asli ...!"

"Padahal, harga sekianpun masih belum terhitung terlampau tinggi!"

Kata Bu-ki.

"Yaa, dengan satu che pasir pemutus nyawa, siapa tahu masih bisa merenggut beberapa lembar nyawa."

"Kalau cara penggunaannya benar, paling tidak juga dapat merenggut tiga lembar nyawa,"

Tong Giok menerangkan.

"Lagipula bila kau telah membunuh orang dengan pasir pemutus nyawa dari keluarga Tong, orang pasti akan membuat perhitungan tersebut dengan pihak keluarga Tong, itu berarti asal kau bersedia mengeluarkan uang sebesar seribu tahil emas, setelah membunuhpun tak perlu kuatir dengan ekornya,"

Bu-ki menambahkan. Setelah tertawa, dia melanjutkan.

"Bila kau dapat memahami teori tersebut maka kau akan merasa bahwa harga tersebut sesungguhnya tidak terlalu mahal."

Akhirnya Ting Bau mengakui juga.

"Yaa, agaknya harga tersebut memang tak bisa dihitung terlalu mahal!"

Sahutnya.

Sebenarnya benda tersebut memang merupakan salah satu sumber kekayaan dari keluarga Tong, untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari suatu keluarga yang demikian besarnya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Menciptakan senjata-senjata rahasia semacam inipun merupakan suatu pekerjaan besar yang amat boros.

Kwik Ciok-ji lantas berkata.

"Kalau begitu, tusuk konde ini bukankah bisa laku beberapa ribu tahil emas murni?"

Jilid 22________ "BENDA itu sama sekali tak ada harganya, karena tak akan bisa kau dapatkan di manapun,"

Jawab Tong Giok.

"Mengapa?"

"Sebab pasir Toan-hun-seh yang berada di dalamnya merupakan barang asli tanpa campuran, jarum-jarum di dalam kocek itupun semuanya barang asli."

"Kalau begitu aku harus bersikap lebih berhati-hati, jangan sampai ditemukan orang lain,"

Ujar Kwik Ciok-ji sambil tertawa.

"Tak usah kuatir, aku tidak akan melakukan perbuatan tolol seperi itu ..."

Ucap Tong Giok. Tiba-tiba ia menghela napas panjang, katanya lagi dengan sedih.

"Sekarang aku sudah mengaku kalah."

"Orang yang berani mengaku kalah barulah seorang yang benar-benar pintar."

"Pasir toanhun-seh di dalam tusuk konde emas dan jarum-jarum beracun dalam kocek itu boleh kalian ambil semua."

"Terima kasih!"

"Batok kepalaku juga setiap saat boleh kalian ambil!"

"Walaupun aku tak ingin batok kepalamu, tapi aku tahu masih ada orang yang membutuhkannya."

"Bagaimana dengan kocek itu? Apakah juga ada orang yang menginginkannya?"

Kwik Ciok-ji memandang ke arah Ting Bau, Ting Bau memandang ke arah Bu-ki, dan akhirnya Bu-ki berkata.

"Apakah kau mengharapkan agar kami bersedia mengembalikan kocek tersebut kepadamu?"

"Aku tidak berharap!"

Jawab Tong Giok. Setelah itu pelan-pelan dia melanjutkan.

"Karena aku tahu kau pasti tak akan mengembalikannya kepadaku, kau pasti akan beranggapan bahwa aku sedang mempersiapkan permainan lagi untuk menghadapimu."

Bu-ki sama sekali tidak menyangkal akan hal tersebut.

"Aku cuma berharap agar kalian dapat membantuku untuk memusnahkan kocek tersebut,"

Kata Tong Giok lagi. Walaupun permintaannya itu sangat aneh, namun belum terhitung sesuatu permintaan yang kelewat batas.

"Aku cuma berharap sebelum kematianku tiba, dengan mata kepalaku sendiri aku dapat menyaksikan kalian memusnahkan kocek tersebut di hadapanku."

"Mengapa?"

"Sebab ..."

Tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi amat menyedihkan sekali, terusnya.

"Sebab aku tak rela menyaksikan benda itu terjatuh ke tangan orang lain."

Walaupun ia tidak mengemukakan alasannya, tapi setiap orang dapat menduga bahwa kocek tersebut sudah pasti mempunyai suatu riwayat yang amat memedihkan hati, menyangkut seorang kekasih yang mungkin telah tiada lagi di dunia ini.

Bila seseorang sudah mendekati ajalnya, dia selalu akan berubah menjadi lebih pemurung dan berbicara soal kebaikan, rupanya Tong Giok juga manusia seperti ini.

Tampaknya perasaan Kwik Ciok Ji sudah mulai digetarkan oleh kata-katanya itu.

Walaupun tabiat Ting Bau sangat keras, hatinya tidaklah keras, bahkan Bu Ki sendiripun tidak menyangka kalau dibalik kesemuanya itu sebetulnya tersembunyi suatu siasat yang keji!

Siapapun tak akan menyangka kalau di balik putik bunga Botan di atas kocek tersebut masih ada rahasia lain.

Tak perduli menggunakan cara apapun kau hendak memusnahkan kocek tersebut, asalkan putik bunga Botan terbentur hancur, bukan saja orang itu akan hancur sama sekali, bahkan setiap orang yang berada satu kaki di sekeliling tempat itu juga akan tewas secara mengerikan.

Entah siapa itu orangnya yang akan turun tangan menghancurkan kocek tersebut.

Orang yang lain pasti akan berdiri di sekitar tempat itu.

Tentu saja terkecuali Tong Giok sendiri.

Dia pasti sudah jauh-jauh menghindarkan diri.

Sebab hanya dia yang mengetahui rahasia tersebut.

Mereka telah merencanakan selama banyak tahun, telah menghimpun kecerdasan dari banyak orang, mengorbankan banyak tenaga dan uang untuk menciptakan rahasia ini.

Rahasia tersebut mereka namakan sebagai...

San Hoa Thian Li, si gadis langit penyebar bunga.

Rencana pembuatan senjata rahasia ini bermula dari Tong Koat, kemudian setelah melewati persetujuan dari setiap manusia utama yang merupakan kekuatan keluarga Tong, baru kemudian diputuskan.

Langkah pertama dalam melaksanakan rencana ini adalah bersekongkol dengan pihak Pek Lek Tong, sebab mereka harus mendapatkan dulu rahasia resep pembuatan senjata api dari Pek Lek Tong.

Persoalan ini kelihatannya gampang untuk dibicarakan, sesungguhnya sulit untuk dilaksanakan.

Kui Ceng Thian, Tongcu dari perkumpulan Pek Lek Tong bukanlah seorang manusia yang gampang dihadapi Tiga tahun lamanya, bahkan seorang putri keluarga Tong yang tercantikpun harus dipersembahkan kepada Kui Ceng Thian sebagai hadiah, sebelum berhasil untuk menggetarkan hatinya.

Langkah kedua dalam melaksanakan rencana ini adalah mengkombinasikan senjata rahasia bahan peledak dari Pek Lek Tong dengan senjata rahasia beracun dari keluarga Tong untuk menciptakan sejenis senjata rahasia baru.

Senjata rahasia tersebut harus seperti senjata beracun Tok ci-li yang sanggup mencapai jarak yang amat jauh, tapi harus pula sebagai pasir beracun yang bisa menyebar ke suatu wilayah yang luas.

Tok ci-li dibuat dari tiga belas lembar daun, di atas setiap lembar daun tersebut semuanya mengandung racun yang keji, dan lagi sifat racun dari setiap daun tersebut tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya...

Seandainya mereka dapat memasukkan pula mesiu dari Pek Lek Tong ke dalam senjata rahasia tersebut, maka asal senjata rahasia itu dilepaskan, entah membentur benda apapun, akibatnya musiu itu akan meledak, ketiga belas daun itupun akan meluncur ke depan dan menyambar mangsanya secepat kilat.

Serangan semacam ini sungguh merupakan suatu serangan yang mengerikan, lagi pula orang tak akan menyangka sampai di situ.

Bila mereka benar-benar dapat menciptakan senjata rahasia sejenis ini, sudah dapat dipastikan keluarga Tong akan malang melintang di dalam dunia persilatan tanpa tandingan.

Ternyata mereka benar-benar berhasil membuatnya.

Maka senjata rahasia yang belum pernah ada dalam dunia ini mereka namakan ...

San hoa thian li, gadis langit penyebar bunga.

Di bawah sorot cahaya lampu, kedua kuntum bunga Botan itu bukan saja sangat indah, bahkan keindahannya sangat menyolok mata.

Kwik Ciok Ji menghela napas panjang, gumamnya.

"Kedua kuntum bunga ini indah sekali sulamannya!"

"Yaa, memang sangat indah!"

Kata Ting Bau pula sambil menghela napas panjang.

"Walaupun aku tak tahu siapa yang menyulam bunga-bunga ini, tapi aku dapat membayangkannya."

"Yaa, dia pasti seorang gadis yang romantis dan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan ..."

Seorang gadis yang lemah-lembut, cantik jelita dan romantis, tanpa sepengetahuan orang lain diam-diam menyulam kocek tersebut di bawah sorot cahaya lampu untuk diberikan kepada kekasihnya.

Tapi tak beruntung ketika kocek itu selesai disulam ia telah berpulang ke alam baka, karena itu sampai matipun kekasihnya selalu membawa serta kocek tersebut, sampai matipun tak rela untuk diberikan kepada orang lain.

Kejadian semacam ini sungguh memedihkan hati, sungguh merupakan suatu kisah cinta yang menggetarkan sukma.

Bila seorang pemuda yang penuh dengan perasaan menyaksikan sebuah kocek semacam itu, dengan mudah ia akan menghubungkan kejadian tersebut dengan suatu kejadian yang lain.

Kwik Ciok-ji dan Ting Bau secara kebetulan adalah manusia semacam ini.

Mereka bukan saja mudah terpengaruh oleh kejadian semacam ini, lagipula mudah menciptakan suatu rangkaian cerita yang bersifat melankolis.

Apalagi sebuah kocek toh sama sekali tidak penting artinya, kenapa tidak dipenuhi saja keingingan orang?

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanya Kwik Ciok-ji kemudian.

"Aku tak ada idee lain,"

Jawab Ting Bau. Tak ada pendapat lain, biasanya berarti tidak keberatan.

"Kalau begitu tolonglah Tong kongcu untuk memusnahkan kocek tersebut ..."

Pinta Kwik Ciok-ji.

"Mengapa harus aku."

"Karena aku tak tega untuk melakukannya!"

"Darimana kau bisa tahu kalau aku tega untuk melakukannya?"

Mereka tidak bertanya kepada Bu-ki.

Antara mereka dengan Tong Giok sama sekali tiada ikatan dendam kesumat, mereka sama sekali tak tahu manusia macam apakah Tong Giok itu.

Bahkan mereka mulai beranggapan bahwa Bu-ki terlampau Bu ki (banyak curiga) sebab tampaknya Tong Giok benar-benar terlalu mengenaskan, pantas dikasihani.

Tiba-tiba Kwik Ciok-ji mendapat suatu idee bagus, segera usulnya.

"Mengapa kita tidak mengembalikan saja kocek ini kepada Tong kongcu ...?"

Bagaimanapun juga tugasnya telah selesai, terserah Tio Bu-ki hendak menghadapi Tong Giok dengan cara apapun, terserah Tong Giok hendak mengapakan kocek tersebut, hal mana sudah tiada sangkut-pautnya lagi dengan dia.

Ting Bau segera menyetujuinya.

"Suatu usul yang bagus!"

Memang itu merupakan suatu usul yang bagus.

Bila mereka tahu betapa bagusnya usul tersebut, tidak menunggu orang lain turun tangan, mungkin mereka telah menumbukkan kepalanya lebih dulu ke atas dinding.

***** RUMAH KECIL KWIK CIOK-JI telah menuang keluar seluruh isi kocek tersebut, karena ia sudah mengambil keputusan untuk mengembalikan kocek tersebut, kepada Tong Giok.

Dapatkah ia merubah keputusannya?

Dapatkah Bu-ki menghalangi niatnya?

Jantung Tong Giok berdebar-debar dengan kerasnya.

Bukan cuma jantungnya yang berdebar-debar keras, bahkan ujung jarinya ikut menjadi dingin, bibirnya terasa mengering bahkan tenggorokanpun seolah-olah tersumbat.

Ketika untuk pertama kalinya ia merasakan keadaaan seperti ini, kejadian tersebut sudah berlangsung banyak, banyak tahun berselang.

Ketika itu bulan empat, juga musim semi, saat tersebut dia masih seorang bocah tanggung berusia empat lima belas tahunan.

Udara pada waktu itu lebih panas daripada hari ini, tiba-tiba ia merasakan hatinya sangat gundah.

Waktu itu malam sudah semakin larut, dia ingin tidur namun mata serasa tak mau memejam, maka seorang diri dia pun ngeloyor keluar dari kamarnya dan bermain kesana kemari.

Akhirnya ketika tiba di kebun belakang enci misannya, tiba-tiba ia mendengar suara nyanyian berkumandang datang dari sana.

Nyanyian itu berasal dari dalam sebuah ruang kecil di dalam kamar tidur kakak misannya, selain suara nyanyian juga kedengaran suara air.

Suara air tersebut berasal dari seseorang yang sedang mandi.

Dalam ruang kecil itu ada sinar lampu.

Bukan saja dari balik daun jendela ada cahaya lampu, dari celah pintupun juga ada.

Sebenarnya dia tak ingin menghampirinya, tapi hatinya waktu itu sedang gundah, semacam perasaan gundah yang tak pernah dirasakan sebelumnya, suatu perasaan gundah yang sangat aneh.

Maka diapun menghampirinya.

Di bawah pintu terdapat sebuah celah yang lebarnya hampir setengah inci, bila membaringkan tubuhnya ke tanah, ia pasti dapat melihat orang yang berada di dalam ruangan kecil itu.

Maka diapun membaringkan badannya ke atas lantai, menempelkan telinganya ke tanah dan matanya mengintip ke dalam melalui celah-celah tersebut.

Ia segera dapat melihat kakak misannya itu.

Waktu itu kakak misannya baru berusia enam belas tahun.

Pada saat itu, kakak misannya sedang mandi di dalam kamar kecil tersebut.

Seorang gadis yang berusia enam belas sudah terhitung cukup matang, ia sudah memiliki payudara yang kencang dengan sepasang paha yang putih dan halus ...

Inilah pertama kalinya ia menyaksikan tubuh telanjang seorang gadis yang baru dewasa, juga untuk pertama kalinya berbuat dosa.

Tapi debaran jantungnya ketika itu masih belum sekeras debaran jantungnya sekarang.

Kwik Ciok-ji telah melemparkan kocek tersebut ke arahnya.

Sejak ia mendengar Tong Giok hendak memusnahkan kocek tersebut sampai ia melemparkan kocek itu ke depan, waktu yang dibutuhkan hanya beberapa menit.

Tapi bagi Tong Giok, waktu yang amat singkat itu justru dirasakan jauh lebih panjang daripada enam puluh tahun.

Sekarang kocek itu sudah dilemparkan ke arahnya, sulaman bunga Botan dari benang emas itu berkelip-kelip di tengah udara.

Dalam pandangan Tong Giok ketika itu tiada cahaya yang lebih indah di dunia ini dari pada kilatan cahaya tersebut.

Ia berusaha keras untuk mengendalikan diri, agar jangan tampak terlalu tergesa-gesa.

Menanti kocek itu sudah terjatuh ke tanah, pelan-pelan ia baru membungkukkan badannya untuk mengambil.

Yang dipungut sekarang bukan cuma sebuah kocek saja, tapi sepasang senjata rahasia, sepasang senjata rahasia yang akan memungut kembali jiwanya yang hampir melayang.

Bahkan bukan cuma selembar nyawanya saja, masih ada nyawa dari Tio Bu-ki, Huan Im-san, Ting Bau dan Kwik Ciok-ji.

Pada saat itulah ia telah berubah menjadi orang yang paling berkuasa di tempat itu, sebab nyawa dari beberapa orang ini sudah berada dalam cengkeramannya.

Detik itu dirasakan begitu cemerlang, begitu agung dan menggembirakan!

Tong Giok tak dapat mengendalikan rasa geli dan gembiranya lagi, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Dengan terkejut Kwik Ciok-ji memandang ke arahnya, kemudian menegur.

"Apa yang sedang kau tertawakan?"

"Aku sedang mentertawakan kau!"

Sahut Tong Giok. Ia sudah memencet kedua batang senjata rahasia San-hoa-thian-li yang tiada tandingannya di kolong langit itu di dalam genggamannya. Sambil tertawa tergelak, katanya lagi.

"Kau tak akan menyangka bahwa perbuatan yang barusan kau lakukan sesungguhnya adalah suatu perbuatan yang amat bodoh, bukan saja kau telah mencelakai jiwa Ting Bau dan Tio Bu-ki, juga mencelakai jiwamu sendiri!"

Kwik Ciok-ji masih memandang ke arahnya dengan terkejut, semua orang memandang ke arahnya dengan terkejut.

Bukan karena gelak tertawanya, bukan pula karena ucapannya, melainkan karena raut wajahnya.

Tiba-tiba raut wajahnya telah mengalami suatu perubahan yang aneh sekali.

Tak ada orang yang bisa menerangkan bagian manakah yang telah berubah, namun setiap orang dapat melihat perubahan tersebut.

Dalam waktu yang amat singkat, sinar matanya tiba-tiba berubah menjadi sayu dan buram, kelopak matanya ikut menyusut kecil.

Kemudian bibirnya, ekor matanya seakan-akan mengejang keras dan kaku, selapis hawa hitam kematian yang sangat aneh mendadak muncul dan menghias wajahnya.

Tapi ia sendiri seakan-akan tidak merasakannya, sedikitpun tidak merasakannya.

Ia masih tertawa.

Tapi sorot matanya tiba-tiba menampilkan suatu perubahan yang amat aneh, seperti seorang yang merasa ngeri dan ketakutan, ia telah menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu kesalahan yang fatal.

Ia lupa kalau tangannya tidak mengenakan sarung tangan, diapun lupa kalau tangannya belum dilindungi oleh lapisan lilin yang melindungi kulit tangannya dari sengatan racun.

Ia terlampau gembira, dengan tangan telanjang meremas kedua biji senjata rahasianya, ia bertindak terlalu kuat sehingga ujung jarum yang tajam telah menusuk ujung jarinya itu.

Tidak terasa sakit, sama sekali tidak terasa apa-apa, bahkan perasaan kaku atau kesemutanpun tiada.

Racun yang dipoleskan di ujung senjata rahasianya itu adalah sejenis racun terbaru yang berhasil mereka ciptakan, bahkan obat penawarnyapun belum sempat dibuat.

Pada hakekatnya senjata rahasia tersebut masih belum mencapai taraf yang memperbolehkan setiap orang untuk mempergunakannya.

Menanti ia merasakan seluruh kulit badan serta persendian tulang dalam sekujur tubuhnya mulai mengalami suatu perubahan yang aneh dan menakutkan, waktu sudah terlalu lambat!

Ia sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi, bahkan untuk tertawapun sudah tak dapat dikendalikan, malah ia sudah tak dapat mempergunakan tangannya lagi.

Dia ingin sekali melepaskan kedua batang senjata rahasia itu kedepan, akan tetapi tangannya sudah tak mau menuruti perintahnya lagi.

Dalam waktu yang amat singkat, racun tersebut telah merusak jaringan syaraf yang berada di dalam tubuhnya.

Menyaksikan seseorang yang menunjukkan wajah ketakutan dan ngeri tapi masih tertawa tergelak tiada hentinya, sesungguhnya kejadian semacam itu adalah suatu kejadian yang amat menakutkan.

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

Tanya Kwik Ciok-ji.

"Racun!"

Jawab Bu-ki "Darimana datangnya racun?"

Belum lagi Bu-ki sempat menjawab, tiba-tiba tangan Tong Giok mengejang keras lalu mengangkat ke udara, gerak-geriknya sangat aneh dan lamban, persis seperti gerakan tubuh boneka kayu.

Perintah yang dipancarkan dari otaknya tadi, baru sekarang sampai di tangannya.

Sekarang dia baru melemparkan senjata rahasia tersebut ke depan.

Tapi sayang otot-otot di dalam tubuhnya serta persendian tulangnya sudah terlanjur kaku, syaraf yang mengatur ketepatan menimpukpun sudah sama sekali punah tak berbekas.

Kedua batang senjata rahasia itu meluncur ke depan dengan gerakan vertikal, seperti sejenis benda yang dilepaskan dari suatu alat berpegas tinggi, meski kekuatannya sangat besar namun arahnya sudah tak benar.

Dengan kecepatan luar biasa, benda-benda itu meluncur ke sudut dinding yang terjauh dari kuil dewa harta itu dan menumbuk di atas dindingnya.

Setelah itu ...

"Blaam ...!"

Terjadi ledakan keras.

Meski suaranya tidak sekeras ledakan bahan peledak yang lain, akan tetapi akibat yang dibuatnya benar-benar mengerikan sekali.

Untung saja Bu-ki sekalian berdiri di tempat kejauhan dan lagi reaksi merekapun cukup cepat.

Untung saja mereka tak sampai terhajar oleh hancuran batu dan kayu yang bermuncratan keempat penjuru itu.

Walaupun peristiwa itu berlangsung dalam sedetik, tapi pengalaman tersebut tak pernah mereka lupakan untuk selamanya.

Sebab dalam detik itulah, mereka merasa diri mereka seakan-akan telah berpesiar sejenak ke tepi neraka.

Hancuran batu bata dan debu yang berterbangan di angkasa serta hancuran lempengan besi yang menyilaukan mata, saat ini sudah mulai reda kembali.

Tapi peluh dingin yang membasahi mereka belum mengering.

Tubuh mereka semua basah oleh keringat dingin, sebab mereka telah menyaksikan kedahsyatan senjata rahasia tersebut dengan mata kepala sendiri.

Lewat lama sekali, Kwik Ciok-ji baru dapat menghembuskan keluar semua kekesalan dan kemurungan yang mengganjal dalam dadanya selama ini.

"Sungguh berbahaya!"

Pekiknya. Sekarang, sudah barang tentu dia sudah tahu kalau perbuatannya tadi adalah suatu perbuatan yang sangat tolol. Ia memandang ke arah Bu-ki, lalu tertawa getir, katanya.

"Barusan, hampir saja aku telah mencelakai jiwamu!"

"Yaa, betul-betul selisih sedikit sekali!"

Bu-ki mengangguk. Kembali Kwik Ciok-ji menatapnya setengah harian lamanya, setelah itu dia berkata lagi.

"Barusan, kau nyaris mampus di tanganku, sekarang, kau hanya mengucapkan sepatah kata itu saja kepadaku?"

"Apakah kau berharap aku bisa mendampratmu habis-habisan?"

"Benar!"

"Akupun sangat ingin mendampratmu habis-habisan, karena kalau aku tidak mendampratmu kau malah akan menganggap aku sebagai orang yang terlalu licik, terlalu menggunakan akal dan tidak gampang bergaul dengan teman ..."

"Siapa tahu aku memang benar-benar beranggapan demikian?"

Ternyata Kwik Ciok-ji mengakui juga. Bu-ki segera menghela napas panjang.

"Sayang aku tak dapat mendampratmu!"

Katanya.

"Kenapa?"

"Sebab aku masih belum kau celakai sampai mati."

"Kalau aku benar-benar telah mencelakaimu sampai mati, mana mungkin kau bisa mendamprat diriku lagi?"

"Kalau aku benar-benar sudah mati, tentu saja aku tak mungkin bisa memaki dirimu lagi."

"Kalau memang begitu, mengapa kau tidak mencaci-maki diriku sekarang ...? Bu-ki kembali tertawa.

"Aku toh belum sampai mati karena perbuatanmu, mengapa aku harus mencaci-makimu,"

Jawabnya. Kwik Ciok-ji menjadi tertegun, tertegun hampir setengah harian lamanya, mau tak mau dia harus mengakui juga atas kebenaran dari perkataan itu.

"Ternyata ucapanmu sedikit agak masuk akal juga,"

Katanya.

"Memang sangat masuk akal!"

Setelah tertawa terbahak-bahak, terusnya.

"Sekalipun kau menganggap teoriku ini macam kentut anjing yang busuk, aku rasa kau juga tak akan sanggup untuk berbantahan dengan diriku ..."

"Kenapa?"

"Karena perkataanku itu sangat masuk akal."

Kwik Ciok-ji ikut tertawa.

"Sekarang aku dapat memahami suatu hal!"

Serunya.

"Memahami apa?"

"Jangan sekali-kali membicarakan soal cengli denganmu, lebih baik berkelahi dengan kau daripada mengajakmu membicarakan soal cengli."

Setelah tertawa tergelak, terusnya.

"Karena siapapun tak akan mampu untuk menangkan dirimu."

Tadi, sebenarnya dia merasa amat menyesal dan penuh permohonan maaf tapi sekarang pikirannya benar-benar sudah terbuka.

Sekarang, hati kecilnya seratus persen telah mengakui bahwa apa yang dikatakan Bu-ki memang sangat beralasan.

Ucapan yang bisa membuat terbuka dan leganya perasaan orang, sekalipun tak masuk akal juga menjadi masuk akal.

Tong Giok belum mati.

Ternyata ia belum roboh ke tanah, masih seperti sedia kala berdiri tak berkutik di sana.

Tapi wajahnya sudah sama sekali kaku, kelopak matanya yang menyusut kencang tadi sekarang sudah membuyar, sepasang mata yang sebetulnya tajam dan jeli, sekarang telah berubah menjadi buram dan tak bercahaya, bahkan biji matanyapun tak dapat bergerak lagi sehingga sekilas pandangan mirip sekali dengan seekor ikan mati.

Ting Bau menghampirinya, menggerak-gerakkan tangan di depan matanya, tapi sepasang matanya itu masih melotot kedepan dengan kaku dan tanpa berkedip, maka Ting Bau mengeluarkan ujung jarinya dan pelan-pelan mendorong tubuhnya, kali ini ia roboh terkapar ketanah.

Tapi ia belum mati.

Dia masih bernapas, jantungnya masih berdetak, nadinya masih berdenyut ...

Setiap orang tentunya dapat melihat dihati kecilnya dia pasti lebih suka mati dari pada tersiksa selama hidup.

Sebab keadaan semacam ini sesungguhnya jauh lebih tersiksa daripada mati, dia merasa jauh lebih enak mati daripada berada dalam keadaan begini.

Tapi sayang, dia justru tak bisa mati.

Benarkah dibalik alam semesta yang luas ini terdapat suatu kekuatan yang adil tapi tak berperasaan yang mengendalikan seluruh kejadian di dunia ini?

Benarkah Thian sedang mengutuknya dan melimpahkan hukuman kepadanya?

Rupanya dalam hati kecil Ting Bau telah muncul suatu perasaan ngeri dan takut yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia bertanya.

"Mengapa dia belum mati?"

"Sebab dia adalah Tong Giok!"

Tiba-tiba Huan Im-san menjawab.

***** TAHUN ini Huan Im-san berusia lima puluh enam tahun, hampir separuh dari masa hidupnya dia habiskan untuk bergumul dalam dunia persilatan, manusia semacam ini entah dia itu bajik atau jahat, baik atau buruk, paling tidak dia masih memiliki suatu kebaikan.

Manusia semacam ini tentu tahu keadaan, tentu tahu diri.

Oleh karena itu dia sangat memahami kedudukan serta posisinya pada waktu itu, dia selalu berdiri di samping dengan mulut membungkam, sepatah katapun tidak bersuara.

Tapi dia masih ingin hidup terus, hidup lebih baik dan hidup lebih nyaman, kalau muncul suatu kesempatan di hadapannya, dia tak akan menyia-nyiakannya dengan begitu saja.

"Karena dia adalah Tong Giok, maka dia belum mati?"

Kata Ting Bau keheranan.

"Benar!"

Huan Im-san manggut-manggut.

"Apakah karena Thian sengaja hendak menggunakan cara ini untuk menghukum manusia seperti itu?"

"Bukan!"

"Lantas karena apa?"

"Karena dia adalah anggota keluarga Tong, yang terkenapun racun dari keluarga Tong, maka dalam tubuhnya terdapat semacam serum yang memiliki kekuatan untuk menghadapi sifat racun tersebut."

"Memiliki daya tahan terhadap racun itu?"

"Yaa, bila setiap hari kau minum endrin dan kadarnya setiap hari kau tambah, maka lamakelamaan kau tak akan mampus bila suatu ketika ada orang hendak meracunimu dengan endrin, karena tubuhmu sudah memiliki daya tahan terhadap daya kerja racun tersebut."

"Kalau memang Tong Giok sudah memiliki daya tahan terhadap racun yang dipoleskan di ujung senjata rahasia tersebut, mengapa ia dapat berubah seperti ini?"

"Obat racun yang dipakai keluarga Tong untuk memolesi senjata rahasianya adalah suatu rahasia besar, belum pernah ada orang di dalam dunia persilatan yang mengetahui rahasia mereka."

"Termasuk juga dirimu?"

"Tidak, aku mengetahui hal ini dengan pasti, bila obat racun yang dipoleskan pada ujung senjata rahasia itu adalah sejenis resep baru, sekalipun Tong Giok sudah memiliki daya tahan terhadap racun-racun yang lain, belum tentu daya tahannya itu bermanfaat untuk dipakai dalam menghadapi racun baru."

Setelah berpikir sebentar kembali dia melanjutkan.

"Apa lagi campuran bahan racun yang mereka gunakan bukan saja sangat rahasia lagipula amat hebat, ada sementara racun yang saling berlawanan, ada pula sementara racun yang dikombinasikan bisa berubah menjadi sejenis racun yang hebatnya bukan kepalang, racun semacam itu meski tak sampai merenggut jiwanya, tapi dapat menghancurkan seluruh jaringan syaraf dan perasaan yang berada di dalam tubuhnya, bahkan bisa membuat segenap otot, segenap nadi dan persendian tulangnya menjadi kaku dan hilang rasa."

"Oleh karena itu dia baru berubah menjadi seorang manusia yang setengah hidup setengah mati?"

Tanya Ting Bau.

"Yaa, oleh karena sebagian besar indera dan anggota badannya sudah hilang rasa dan terputus dari kendali syaraf di dalam otaknya maka badannya sama dengan sesosok mayat, hanya denyutan jantungnya yang masih bisa berdetak."

Ting Bau menatapnya tajam-tajam kemudian katanya.

"Tidak kusangka kalau kau memiliki pengetahuan yang demikian luas terhadap obat beracun, apakah kau juga pernah membuat racun?"

"Aku belum pernah membuat racun, tapi membuat racun atau membuat obat kuat teorinya adalah sama saja."

Setelah menghela napas panjang, kembali katanya.

"Bagi seseorang yang membuat obat kuat, asal dia teledor sedikit saja maka akibatnya juga bisa berubah seperti begini ini."

"Bukankah hal ini sama halnya dengan bermain api?"

"Orang yang bermain api tak akan menjumpai bahaya sebesar ini,"

Jawab Huan Im-san sambil tertawa getir.

"Kalau sudah tahu begitu mengapa kau masih melatihnya terus?"

Huan Im-san termenung, lewat lama sekali dia baru menjawab dengan wajah sedih.

"Sebab aku telah terlanjur melatihnya!"

Yaa, karena ibaratnya menunggang di punggung harimau, mau turun takut, tidak turunpun susah, benar-benar serba salah jadinya.

Dalam dunia ini masih terdapat kejadian lain yang serupa dengan kejadian seperti itu, asal kau sudah memulainya maka selama hidup jangan harap bisa dihentikan lagi.

***** BILA kau menghadapi seorang manusia yang setengah hidup setengah mati, entah dia itu sahabatmu ataukah seorang musuh bebuyutanmu, yang jelas kejadian ini merupakan suatu persoalan.

"Orang ini seperti sudah mati, seperti juga belum mati, aku benar-benar tak tahu bagaimana harus berbuat!"

Ting Bau mengeluh dengan nada mendatar.

"Aku tahu!"

Tiba-tiba Bu-ki menjawab.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku hendak mengantarnya pulang!"

"Pulang? Pulang kemana?"

"Dia adalah anggota keluarga Tong, sudah barang tentu aku harus mengantarnya pulang ke keluarga Tong."

Ting Bau tertegun. Telinganya maupun matanya masih cukup awas dan jeli, tapi sekarang hampir saja ia tak percaya dengan telinganya sendiri, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

"Apa kau bilang?"

Tak tahan tanyanya lagi. Sepatah demi sepatah kata Bu-ki mengulangi kembali jawabannya.

"Aku bilang, aku hendak mengantarnya pulang ke keluarga Tong."

"Kau hendak mengantar sendiri sampai ke benteng keluarga Tong?"

"Benar!"

Minyak dalam lentera telah mengering, sinar rembulan yang redup kembali memancar kedalam ruangan, kuil dewa harta yang kuno dan bobrok itu seakan-akan tampak lebih cantik.

Mereka belum pergi meninggalkan tempat itu.

Entah siapa yang mengusulkan.

"Kenapa kita tidak duduk-duduk saja di sini? Bercakap-cakap sambil minum sedikit arak?"

Maka Huan Im san segera berebut untuk pergi menyediakan arak.

Seorang kakek berusia lima puluh enam tahun ternyata berebut untuk pergi menyediakan arak bagi tiga orang pemuda ingusan, kalau dulu mungkin dia akan merasa bahwa kejadian ini terlalu brutal, ia pasti tak akan tahan.

Tapi sekarang keadaannya berbeda.

Ia percaya Bu Ki dan Ting Bau pasti tak akan mengingkari janji, juga tak akan menyinggung kembali kejadian lampau, membuat perhitungan dengannya atau merenggut selembar jiwanya, tapi hal tersebut bukan berarti mereka sudah sama sekali memaafkan kekhilapannya.

Ditinjau dari nada pembicaraan mereka, ia masih dapat menangkap perasaan pandang hina mereka terhadap dirinya.

Tapi sekarang ia sudah tak sanggup untuk mempersoalkan hal itu lagi.

Sekarang ia cuma berharap, mereka memperbolehkannya pulang ke desa, di sana siapa pun tak akan tahu kalau ia pernah menjadi pengkhianat, orang-orang desa masih akan seperti dulu menghormatinya dan menganggapnya sebagai teman.

Sekarang dia baru tahu, seseorang tidak seharusnya melakukan suatu perbuatan yang mengkhianati teman sendiri, kalau tidak maka diri sendiri pun mungkin tak akan memandang sebelah mata terhadap dirinya sendiri.

Ia sudah mulai menyesal.

Tong Giok sudah digotong ke atas meja altar dalam kuil dewa harta yang bobrok itu, bahkan Bu-ki telah merobek selembar kain tirai dalam kuil tersebut guna menyelimuti tubuhnya.

Entah dari mana datangnya beberapa buah bantal duduk, ternyata Kwik Ciok ji berhasil mendapatkannya dan sedang duduk bersila di situ sambil memandang Bu-ki.

Tiba-tiba ia bertanya.

"Tahukah kau, belakangan ini aku sering kali mendengar orang lain membicarakan tentang dirimu?"

"Sungguh tak kusangka, ternyata aku pun telah menjadi seorang yang ternama,"

Sahut Bu-ki sambil tertawa.

Bila seseorang sudah mulai ternama, sering kali dia sendiri malah tidak mengetahuinya, seperti pula di kala namanya sudah mulai runtuh dan mengalami kehancuran, dia sendiri juga tidak akan mengetahuinya.

"Ada orang menuduhmu sebagai seorang lelaki hidung belang, karena pada hari pernikahanmu kau masih pergi bermain lonte,"

Kembali Kwik Ciok-ji berkata. Bu-k segera tertawa, dia tidak mengakui akan kebenarannya, pun tidak bermaksud untuk menyangkal.

"Ada orang menuduhmu sebagai seorang penjudi, selama masih berada dalam masa berkabung kau telah pergi ke rumah perjudian untuk bermain gundu....."

Kembali Bu-ki cuma tertawa.

"Ada orang menuduh kau bukan saja tak berperasaan dan tak setia kawan, bahkan sangat egois, terlalu mementingkan diri sendiri bahkan terhadap anak kandung sendiri serta istri pun tidak menaruh perhatian, bahkan ada orang yang berani bertaruh, katanya sekali pun kau menyaksikan mereka berdua tewas di hadapanmu pun, kau tidak akan mengucurkan air mata."

Bu-ki masih belum bermaksud untuk menyangkal.

"Oleh karena itu semua orang beranggapan bahwa kau adalah seorang manusia yang amat berbahaya, sebab kau dingin, kaku dan tidak berperasaan, terlalu pandai menguasai diri dan pintar mengatur siasat licin, bahkan manusia semacam Ciu Jit sauya yang tersohor sebagai seorang rase tua pun pernah jatuh pecundang di tanganmu."

Setelah berpikir sebentar, kembali dia berkata.

"Tapi semua orang juga mengakui akan suatu kebaikan yang terdapat pada dirimu, kau sangat memegang janji, tak pernah berhutang kepada orang lain, pada saat perkawinanmu dulu, kau malah mengundang datang semua pemilik hutang untuk membereskan semua perhitungan baru maupun lama yang telah dibuat selama itu."

Bu-ki segera tersenyum, sahutnya.

"Mungkin hal itu dikarenakan aku telah menduga bahwa mereka pasti tak akan mendesakku terlalu terburu-buru dalam hari semacam itu, karena mereka semua bukan termasuk manusiamanusia bengis yang berhati busuk."

"Maksudmu, hal tersebut cuma menandakan kalau kau pandai sekali memanfaatkan kesempatan dan pandai mempergunakan titik kelemahan orang, maka sengaja kau memilih hari itu untuk mengundang mereka membuat perhitungan?"

"Ya, walaupun perbuatanku ini sedikit agak menyerempet bahaya, tapi paling tidak jauh lebih baik daripada harus menunggu kedatangan mereka dengan hati yang kebat-kebit tidak karuan."

"Entah bagaimana pun juga, sikapmu terhadap Ting Bau terhitung cukup baik, orang lain tidak memandang sebelah mata terhadap mereka, semua orang menganggapnya sebagai seorang anak jadah yang tidak berbakti, seorang pengkhianat perguruan, tapi kau telah menganggapnya sebagai seorang sahabat."

"Mungkin aku bersikap demikian karena aku ingin menggunakan dirinya untuk menyelesaikan persoalan yang sedang kuhadapi, oleh karena itu terpaksa aku harus mempercayainya, terpaksa harus mencarinya untuk minta bantuan, sehingga Tong Giok dan Huan Im san baru terperangkap oleh siasat yang kuatur."

Setelah tertawa, kembali dia berkata.

"Apalagi aku sudah tahu sedari dulu bahwa dia bukan seorang anak jadah, juga bukan seorang pengkhianat perguruan, dari sekian banyak kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan tentang dirinya, semuanya itu sebetulnya masih ada rahasia lain."

Tentu saja Kwik Ciok-ji juga mengetahui tentang persoalan ini.

Ting Bau meninggalkan rumahnya lantaran dia menemukan penyelewengan yang dilakukan ibu tirinya.

Ia telah membunuh kekasih ibu tirinya, memaksa ibu tirinya mengangkat sumpah untuk selamanya tidak melakukan perbuatan terkutuk lagi, tapi untuk menghindari rasa sedih ayahnya yang sudah tua, ia telah merahasiakan kejadian tersebut.

Atas peristiwa itu, ayahnya malah mengira dia berani berbuat kurang ajar dan kurang sopan terhadap ibu tirinya.

Maka terpaksa dia harus angkat kaki dari rumah.

Ia mengkhianati perguruan, karena ada orang mencemooh Kim ki tojin, ia tak tahan maka ditantangnya orang itu untuk berduel mewakili gurunya, tapi dalam pertempuran tersebut sebuah lengannya terpenggal sampai kutung, maka gurunya mengusir dia dari partai Bu-tong, karena ia sudah menjadi cacad dan tidak pantas untuk melatih ilmu pedang aliran Bu-tong-pay lagi.

"Siapapun juga yang mengalami peristiwa semacam ini, tabiatnya pasti akan berubah menjadi begitu,"

Kata Bu-ki.

"tapi justru manusia semacam ini, bila orang lain memberi sedikit kebaikan saja kepadanya, bahkan ia rela untuk memenggal batok kepala sendiri dan dipersembahkan kepada orang lain."

"Apakah lantaran siasat ini, maka kau baru berbuat baik kepadanya?"

Kembali Kwik Ciok-ji bertanya.

"Paling tidak itulah salah satu siasatnya."

"Kalau didengar dari perkataanmu itu, agaknya bahkan kau sendiripun menganggap dirimu bukan orang baik?"

"Aku memang bukan orang baik-baik!"

Kwik Ciok-ji menatapnya lekat-lekat, mendadak ia menghela napas panjang, gumamnya.

"Sayang ... sayang ...!"

"Apanya yang sayang?"

"Sayang terlampau sedikit orang jahat macam kau ada di dunia ini."

Ting Bau yang selama ini membungkam segera tertawa, timbrungnya dengan lantang.

"Walaupun Ciok-ji binal lagi latah, paling tidak ia masih memiliki suatu kebaikan, yakni baik atau buruknya seseorang ia masih dapat membedakan secara jelas."

"Ciok-ji ini malah masih bisa membedakan mana yang teman sejati mana yang bukan,"

Sambung Kwik Ciok-ji cepat-cepat. Bu-ki menatap kedua orang itu lekat-lekat, kemudian berkata.

"Kamu berdua betul-betul menganggap aku sebagai seorang sahabat sejati?"

"Jika kau bukan seorang sahabat kami, apa gunanya kuajak kau membicarakan soal tetekbengek macam begitu?"

Jawab Kwik Ciok-ji. Bu-ki menghela napas panjang.

"Sungguh tidak kusangka kalau di dunia ini masih terdapat seorang tolol semacam kau, ternyata bersedia mengikat tali persahabatan dengan seorang macam aku ini."

"Paling tidak orang tolol itu masih lebih mendingan daripada seorang sinting"

"Siapa yang sinting?"

"Kau?"

Bu ki segera tertawa tergelak.

"Sebenarnya aku mengira diriku ini tak lebih hanya seorang lelaki hidung bangor, seorang setan judi, tak kusangka ternyata aku juga seorang sinting"

"Kini, sekalipun Sangkoan Jin telah menjadi menantunya keluarga Tong, sedang tiba dimasa masa yang paling gembira baginya, tapi di hati kecilnya pasti masih terdapat persoalan yang tidak menggembirakan hatinya"

"Mengapa?"

"Karena kau belum mati!"

Bila membabat rumput tidak seakar-akarnya, angin musim semi berhembus lewat rumput itu akan tumbuh kembali. Mereka tidak sekalian membinasakan Bu ki, Sangkaon Jin pasti akan merasa amat menyesal.

"Bila orang orang keluarga Tong tahu atas semua perbuatan yang telah kau lakukan, merekapun pasti amat berharap dapat memenggal batok kepalamu, agar ayah ibu, paman, kakak dan adik Tong Giok ikut menyaksikan tampangmu itu"

Setelah menghela napas terusnya.

"Sekarang kau malah hendak mengantar Tong Giok pulang, agaknya kau kuatir kalau mereka tak berhasil menemukan dirimu, jika kau bukan seorang sinting, mengapa kau lakukan perbuatan semacam ini?"

Walaupun Bu ki masih tertawa, namun tertawanya tampak amat lirih, pedih dan mengenaskan.

Hanya seorang manusia yang banyak menyimpan rahasia hati namun tak dapat mengutarakannya keluar baru akan memperlihatkan senyuman semacam ini.

Lama sekali dia tertawa, sampai mukanya terasa linu semua lantaran kebanyakan tertawa.

Tiba-tiba ia tidak tertawa lagi, karena ia telah bertekad untuk menganggap kedua orang ini sebagai sahabatnya.

Walaupun terdapat banyak persoalan yang tak dapat diutarakan kepada orang lain, tapi tak usah dirahasiakan lagi di hadapan seorang sahabat karibnya.

Maka diapun berkata.

"Aku bukan seorang anak yang berbakti. Setelah mendiang ayahku tertimpa musibah, aku tidak bunuh diri di hadapannya, juga tidak mendirikan gubuk di sisi kuburan ayahku untuk menemaninya berkabung, tak pernah melelehkan air mata dan ingus, akupun tak pernah menangis sampai melelehkan darah atau meraung-raung untuk kesana kemari memohon bantuan orang guna membalaskan dendam bagi kematiannya"

Ia memang seperti seorang anak yang tidak berbakti, seakan-akan sudah lupa dengan dendam sakit hatinya.

Tapi dia menganggap menjadi seorang anak yang berbakti bukan dilakukan untuk diperlihatkan kepada orang lain.

Kembali katanya.

"Persoalan ini adalah persoalan pribadiku sendiri, aku tidak ingin merepotkan siapa saja, juga tak ingin membawa Tay hong Tong menuju ke suatu bentrokan secara langsung dengan keluarga Tong lantaran peristiwa ini, karena bila kejadian tersebut sampai berlangsung, tentu banyak darah yang akan mengalir. Siapa membunuh orang dia harus mati, Sangkoan Jin harus menerima hukumannya itu secara pribadi. Itulah sebabnya walaupun karena alasan apapun, aku tak akan melepaskannya begitu saja"

"Maka kau bertekad hendak berangkat ke sana dan mencarinya sendiri...?"

Tanya Kwik Ciok-Ji.

"Kalau memang tiada kekuatan lain yang bisa mencegah dan menghalanginya, terpaksa aku harus turun tangan sendiri"

Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi organisasi keluarga Tong terlalu ketat dan rapat, lingkungan kekuasaannya juga terlalu luas. Di dalam benteng keluarga Tong sendiripun terdapat beberapa ratus rumah penduduk, sekalipun aku berhasil menyusupnya ke dalam, belum berarti bisa menemukan langsung diri Sangkoan Jin"

"Konon, benteng keluarga Tong juga diatur seperti benteng kota terlarang, luar dalam semuanya terbagi dalam tiga bagian,pada lapisan yang paling dalam itulah merupakan tempat tinggal dari semua anggota keturunan langsung dari keluarga Tong beserta tokoh-tokoh paling pentingnya...."

Tutur Kwik Ciok Ji.

"Akupun dengar orang berkata, katanya semua rahasia besar dan keputusan penting dari keluarga Tong seluruhnya diputuskan di situ"

Ting-bau menambahkan.

"mereka sendiri menyebutkan wilayah tersebut sebagai "kebun", padahal letaknya jauh lebih berbahaya dari pada sarang naga gua harimau....."

"Sekalipun anak murid perguruan mereka sendiri, bila tidak mendapat perintah dari atasannya, siapapun dilarang untuk memasuki wilayah terlarang itu"

"Sekarang Sangkoan Jin telah menjadi Koa loya dari keluarga Tong, lagi pula sudah turut serta dalam perundingan-perundingan rahasia mereka, demi keselamatan jiwanya mereka pasti telah mengatur tempat tinggalnya di dalam kebun tersebut"

"Jadi sekalipun kau berhasil menyusup ke dalam benteng keluarga Tong, belum berarti bisa masuk sampai wilayah paling dalam, kecuali...."

"Kecualai aku bisa menemukan seseorang yang bisa mengajakku masuk ke dalam, bukan demikian?"

Sambung Bu ki.

"Tapi siapakah yang akan membawamu masuk?"

Seru Kwik Ciok ji.

"Tentu saja harus mencari seorang keturunan langsung dari keluarga Tong....!"

"Mana mungkin ada keturunan langsung keluarga Tong yang bersedia mengajakmu masuk ke dalam? Kecuali diapun turut sinting!"

"Sekalipun sinting juga tak mungkin akan mengajakmu masuk ke dalam..."

Sambung Ting Bau.

"Tapi bagaimana kalau orang itu sudah mampus?"

Tiba-tiba Bu ki menyela.

Perkataannya ini kedengarannya rada brutal, untung saja Ting Bau serta Kwik Ciok Ji adalah manusia-manusia yang cerdas.

Sebenarnya mereka sendiripun agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi dengan cepat kedua orang itu dapat memahami arti kata dari Bu ki.

"Tong Giok adalah keturunan langsung dari keluarga Tong"

Demikian Bu ki menerangkan.

"bila kuantar mayatnya pulang ke rumahnya, orang -orang keluarga Tong pasti akan mengundangku masuk ke dalam kebun belakang untuk ditanyai sebab sebab kematiannya, siapa yang membunuhnya, dan mengapa aku mengirim pulang mayatnya?"

Setelah tertawa dia melanjutkan.

"Tentu saja orang yang akan mememeriksa diriku itu adalah manusia manusia penting yang mengatur kehidupan keluarga Tong dewasa ini, maka pertanyaan semacam ini tak nanti akan mereka lepaskan dengan begini saja"

"Lantas apa hubunganmu dengannya?"

Tanya Kwik Ciok Ji.

"Tentu saja aku adalah sahabat karibnya!"

Setelah tersenyum, dia melanjutkan.

"Sepanjang jalan, pasti banyak orang yang menyaksikan aku berada bersamanya, sore tadi aku malah bersantap dan minum arak bersamanya. Siapapun juga yang berteman dengan kami pasti akan menganggap kami sebagai sahabat karib. Andaikata pihak keluarga Tong mengutus orang untuk melakukan penyelidikan, maka pasti akan terdapat banyak orang yang menjadi saksi"

"Oooh..., rupanya semua itu sudah berada dalam rencanamu, sampai -sampai bersantap dan minum arakpun berada dalam perhitungan"

"Sekarang, walaupun kita telah berhasil menemukan semua orang orang keluarga Tong yang menyusup kemari, tapi untuk sementara waktu kita tak akan turun tangan untuk menghadapi mereka sebab...."

"Sebab kau membutuhkan mereka untuk dijadikan saksi bagimu, membuktikan bahwa kau adalah sahabatnya keluarga Tong"

Sambung Kwik Ciok ji cepat.

"Ya, oleh karena mereka semua tidak kenal dengan diriku, tentu saja tak akan mereka ketahui kalau aku ini adalah Tio Bu ki"

Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan keterangannya.

"Dalam setahun belakangan ini, wajahku telah banyak mengalami perubahan, kalau namakupun kuganti, lalu sedikit berdandan agak aneh, tanggung sekalipun dulu ada orang pernah berjumpa denganku, mereka tak akan mengenali diriku lagi"

Kwik Ciok ji termenung sejenak, lalu manggut-manggut.

"Kedengarannya rencanamu itu memang bagus dan sempurna, agaknya kau telah melupakan sesuatu hal"

"Coba kau katakan!"

"Sampai detik ini Tong Giok kan belum mampus!"

"Belum mampus justru lebih baik lagi!"

"Mengapa?"

"Sebab dalam keadaan begini, orang-orang dari keluarga Tong tentu akan semakin percaya kepadaku, mereka lebih tak akan menaruh curiga kalau aku adalah Tio Bu-ki"

Setelah tersenyum terusnya,.

"Sebab kalau aku adalah Tio Bu-ki, mengapa kuantar dia pulang ke benteng keluarga Tong dalam keadaan hidup?"

"Masuk akal juga perkataanmu itu!"

"Inilah yang dinamakan orang sebagai "Sesuatu yang telah mati tahu-tahu bangkit kembali", walaupun dengan jelas diketahui bahwa tindakan semacam ini tak masuk akal, tapi aku justru dapat melakukannya, itulah disebabkan karena aku ingin orang lain sama sekali tidak menduganya....."

Kwik Ciok-ji menghela napas panjang, bisiknya kemudian.

"Aaaai,,,..! Sekarang agaknya bahkan akupun merasa rada kagum kepadamu....."

Bu-ki segera tertawa lebar.

"Jangankan kau, malah aku sendiripun kadang kala merasa kagum terhadap diriku sendiri"

"Oleh sebab itu, asal kau telah berangkat ke benteng keluarga Tong bersama Tong Giok, aku akan menangis tersedu-sedu selama tiga hari lamanya"

"Mengapa harus menangis?"

"Dengan pasti kau tahu kalau kepergianmu ini cuma mengantar kematian belaka, tapi aku justru tak bisa menghalanginya, mengapa aku tak boleh menangis?"

"Bukankah tadipun kau menganggap rencanaku ini sangat bagus? Mengapa sekarang mengatakan pula kalau kepergianku ini cuma pergi mengantar kematian?"

"Sebab Tong Giok belum mampus, walaupun ia sudah tak mampu berbicara lagi sekarang, juga tak bisa berkutik, tapi akhirnya penyakit yang dideritanya itu toh akan disembuhkan juga"

"Yaa betul!"

Ting Bau menambahkan.

"Racun yang bersarang dalam tubuhnya adalah racun dari keluarga Tong sendiri, sudah barang tentu pihak keluarga Tong memiliki obat penawar untuk menolongnya"

"Tentang masalah ini, aku bukannya tak pernah memikirkan"

"Lantas mengapa kau masih melanjutkan rencana itu?"

"Sebab kemungkinan untuk apa yang kalian katakan terlalu kecil, ia sudah keracunan hebat, sekalipun ada pil dewa juga belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya itu, sekalipun dibilang akhirnya penyakit itu bisa disembuhkan, paling tidak juga harus memakan waktu yang cukup lama, waktu itu kemungkinan besar aku telah berhasil membinasakan Sangkoan jin....."

"Kau hanya bisa mengatakan "kemungkinan besar"

Kau berhasil membunuh Sangkoan Jin?"

"Yaa betul!"

"Apakah Tong Giok juga "kemungkinan besar"

Bisa disembuhkan dengan cepat?"

"Mungkin saja!"

"Asal dia bisa membuka suara dan mengucapkan sepatah kata saja, bukankah kematianmu sudah pasti akan tiba?"

Buki segera tertawa lebar, katanya.

"Siapa yang mengatakan kalau pekerjaan ini bukan suatu pekerjaan yang menyerempet bahaya? Sekalipun kau sedang makan telur ayam juga "ada kemungkinan"

Untuk mati, apalagi dalam menghadapi manusia semacam Sangkoan Jin?"

Kwik Cik-ji segera tertawa getir.

"Tampaknya semua perkataan yang kau ucapkan selalu masuk akal!"

Serunya.

"Itulah sebabnya lebih baik kau berkelahi denganku, dari pada mengajakku untu membicarakan soal cengli"

Setelah tersenyum, kembali katanya.

"Tentu saja kau tidak akan berkelahi denganku, karena kita toh bersahabat"

"Kalau memang kita bersahabat, pantaskah kalau kamipun menemanimu untuk pergi menyerempet bahaya?"

Tiba-tiba Bu-ki menarik wajahnya lalu berseru.

"Kalau begitu, kalian bukan sahabatsahabatku!"

Ia dingin, ia ketus dan tidak berperasaan, bahkan terhadap Cian -cian dan Hong-nio pun begitu tak berperasaan, hal ini tak lain karena dia tak ingin menyusahkan pula orang lain.

Tiba-tiba Kwik Ciok-ji mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...haaahhh...haaaahhh.... padahal sekalipun kau memohon kepadaku untuk menemanimu, belum tentu aku bersedia. Aku masih ingin hidup secara baik-baik, mengapa harus menemanimu untuk pergi mengantar kematian?"

"Padahal akupun belum tentu pergi untuk mengantar kematianku"

"Sekalipun kau sanggup membinasakan Sangkoan Jin dan membalaskan sakit hati ayahmu, apakah kau anggap masih bisa lolos dari benteng keluarga Tong dalam keadaan selamat?"

"Mungkin saja aku mempunyai akal!"

"Satu satunya cara yang bisa kau lakukan hanya memasukkan dirimu ke dalam sebutir telur, lalu memasukkan telur itu ke dalam perut ayam serta membiarkan ayam tersebut membawamu keluar dari sana"

Ia tertawa tergelak tiada hentinya seakan-akan menjumpai suatu kejadian yang lucu sekali, tertawa terus sampai orang mengira dia hampir mati tersumbat baru menghentikannya.

Kemudian setelah mendelik ke arah Bu-ki, tiba-tiba serunya dengan suara keras.

"Sejak kini, kita sudah bukan sahabat lagi!"

"Kenapa?"

"Mengapa aku harus bersahabat dengan seseorang yang sudah hampir mampus? Kenapa aku harus bersahabat dengan seorang sinting yang sudah mendekati liang kuburnya?"

Kembali ia tertawa terbahak-bahak, tertawa sambil melompat bangun lalu tanpa berpaling lagi beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Ternyata Bu-ki sama sekali tidak berniat untuk menghalanginya.

Ting Bau menghela napas panjang, katanya pula sambil tertawa getir.

"Ia menuduh orang lain sinting, padahal dia sendiri baru sinting, seorang sinting yang seratus persen tidak waras otaknya"

Bu-ki masih saja tersenyum, katanya pula.

"Untung saja di sini masih ada seseorang yang belum sinting dan tak mungkin secara tiba-tiba akan menjadi sinting"

"Siapa?"

"Tong Giok?"

SARANG HARIMAU Bulan empat tanggal sembilan belas, hujan.

Tiada akhir jaman untuk penyair.Menunggang keledai saat hujan rintik menuju Kiam bun.

Sekalipun Bu-ki bukan seorang penyair, juga tak memiliki kesantaian seperti Liok Siau Hong yang suka membuat syair, tapi diapun di bawah hujan rintik, sambil membawa payung kertas dan menunggang keledai memasuki Kiam-bun di wilayah Szechwan.

Kiam-bun-kwan merupakan suatu tempat yang paling curam dan berbahaya, puncak bukit yang tajam dan lurus serasa menjulang ke angkasa.

Barisan bukit yang berdiri mengelilingi tempat itu sungguh membuat orang merasa bergidik untuk melaluinya.

Keluar dari Kiam bun kwan, pohon cemara tumbuh sepanjang jalan yang berpuluh puluh li jauhnya itu.

Seorang kuli panggul peti mati lantas memberi tahu kepadanya.

"Tempat inilah yang dinamakan Thio-hui pak, suatu barisan pohon cemara yang ditanam sendiri oleh Thio sam-ya di jaman Sam kok dulu..."

Orang Szechwan paling menghormati Cu-kat-Bu-ho atau yang lazim lebih dikenal sebagai Khong Beng.

sejak meninggalnya Cu-kat-Bu-ho tersebut, setiap orang Szechwan selalu mengenakan ikat kepala putih sebagai tanda berkabung, hingga kini kebiasaan tersebut tak pernah berubah.

Oleh karena semua orang menghormati Cu-kat Khong Beng, otomaatis Thio Hui juga turut dihormati orang.

Tapi mengapa Bu-ki bisa membawa sebuah peti mati datang ke situ...?

Peti mati yang baru tersebut dari kayu jati berkwalitas paling bagus, secara khusus Bu-ki mengundang empat orang kuli yang terbaik untuk menggotongnya dengan imbalan tinggi.

Sebab di dalam peti mati itu berbaringlah sahabatnya yang paling baik.....

sahabatnya ini pasti tak akan menjadi sinting.

Dalam peti mati itu bukan saja aman dan nyaman, lagipula tak bakal kehujanan, bila ada urusan ingin dipikirkan secara tenang orang lainpun tak akan mengganggunya.

Kalau boleh, Bu ki sendiripun ingin sekali berbaring di dalam peti mati.

Walaupun dia tidak seperti Sugong Siau hong, tidak takut memikul petinja, tidak takut kehujanan.

Tapi dia mempunyai banyak persoalan yang membutuhkan tempat sepi untuk dipikirkan.

Setibanya di Benteng keluarga Tong, cerita macam apakah yang harus dikarang olehnya?

Cerita tersebut selain harus bisa menarik perhatian orang-orang keluarga Tong, juga mesti membuat mereka mempercayainya seratus persen.

Sudah jelas pekerjaan semacam itu bukan suatu perbuatan yang gampang, yang bisa dipikirkan oleh setiap orang ....

Masih ada pula Harimau kemala putih tersebut.

Harimau kemala putih yang dititipkan kepadanya oleh Sugong Siau hong dan berpesan agar diserahkan sendiri ke pada Sangkoan Jin tersebut.

Mengapa Sugong Siau hong memandang begitu penting atas sebuah patung Harimau kemala putih?

Sugong Siau hong bukan seorang manusia yang tak tahu membedakan mana yang penting mana yang tidak, tak mungkin dia akan melakukan suatu perbuatan yang mengherankan.

Sesungguhnya rahasia apakah yang terkandung dibalik Harimau kemala putih tersebut?

Hujan gerimis dan angin kencang berhembus lewat menerpa di atas wajahnya, tanpa terasa Kiam bun kwan sudah jauh tertinggal di belakang sana.

Tiba-tiba Bu ki teringat dengan dua bait syair yang cukup memilukan hati.

"Setelah keluar dari Giok bun kwan. Air mata bercucuran tak pernah mengering"

Sekalipun tempat ini bukan Giok bun kwan, tempat ini adalah Kian bun kwan, tapi setelah keluar dari tempat tersebut, untuk kembali dalam keadaan hidup rasanya lebih sulit daripada naik kelangit.

Tiba-tiba Bu ki teringat kembali dengan Cian cian.

Ia tak berani memikirkan Hong nio, dia benar-benar tidak berani untuk memikirkannya.

"Rindu"

Saja sudah merupakan suatu siksaan yang merasuk tulang, apalagi "Tak berani merinduinya"

Entah bagaimana tersiksanya keadaan tersebut.....?

Cinta seringkali memang mendatangkan kesedihan dan kesengsaraan.

Kalau kau sudah tak dapat bercinta, juga tak berani bercinta, sekalipun rasa cinta tersebut merasuk sampai ke tulang, kau juga hanya dapat memendam perasaan tersebut di dalam hati, agar cinta tersebut membusuk di dalam hati dan mati di dalam hati.

Lalu bagaimana pula perasaannya waktu itu?

Tiba-tiba Bu ki membuang payung kertasnya, membiarkan air hujan yang dingin membasahi sekujur badannya.

Angin dan hujan tak berperasaan tapi ada berapa orangkah yang benar-bbenar merasakan ketidak berperasaan tersebut?

Tiba-tiba ia teringat untuk minum arak.

Arak itu sejenis arak yang keras, mana keras pedas lagi.

Minum arak sambil makan cabe, makan sebiji cabe minum seteguk arak, itu baru sedap rasanya.

Cabe itu berwarna merah mengkilap, butiran keringat yang membasahi jidatnya juga merah bercahaya.

Untuk dipandang, Bu ki memang merasa amat sedap, tapi setelah ia sendiri merasakannya, baru diketahui bahwa cara makan seperti ini tidaklah sesedap apa yang dibayangkan semula.

Ia sudah kepedasan sehingga seluruh rambutnya seakan-akan telah "berdiri"

Semua.

Di wilayah tersebut, hampir setiap orang minum arak dengan cara semacam itu.

Kecuali cabe merah, agaknya di wilayah tersebut seakan-akan tidak terdapat barang lain yang bisa dipakai sebagai teman minum arak.

Oleh karena itu, meski ia sudah kepedasan sehingga hampir saja rambutnya menembusi kopiah terpaksa ia musti menguatkan kepalanya untuk bertahan lebih jauh.

Dia tidak ingin memberi kesan kepada orang lain sebagai seorang manusia yang "tak becus".

***** PERJALANAN menuju ke Szechwan susah diliputi.

Hampir seluruh wilayah Szechwan terdapat tanah perbukitan yang tinggi dan curam, tempat dimana Bu ki berhenti sambil minum arak juga berupa suatu tanah perbukitan, sebuah barak yang dibangun dengan bambu sebesar lengan serta kain tenda berwarna putih.

Empat penjuru sekeliling tempat itu merupakan rumput nan hijau, ketika angin sejuk berhembus lewat, segera mendatangkan suasana yang amat nyaman.

Dalam suasana musim panas seperti ini orang yang melakukan perjalanan gampang menjadi lelah.

Bisa mencari tempat semacam ini untuk beristirahat, memang merupakan suatu hal yang lumayan.

Sekarang, walaupun udara tidak terhitung panas, tapi sebagian besar orang yang lewat disitu mesti akan berhenti sejenak untuk minum secawan dua cawan arak cabe sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.

Perjalanan terlalu bahaya, kalau terlalu curam dan susah dilewati, siapa yang tak ingin beristirahat sambil bersantai santai bila ada kesempatan untuk itu?

Kehidupan manusia ibaratnya melakukan suatu perjalanan yang jauh.

Dalam perjalanan hidup manusia yang penuh dengan kesulitan dan rintangan, ada berapa orangkah yang bisa menemukan tempat beristirahat sebagus ini?

Kadangkala sekalipun kau berhasil menemukannya, belum tentu dapat beristirahat dengan santai, sebab di belakangmu telah siap sebuah cambuk yang akan mengejarmu untuk bergerak lebih maju.

Kehidupan itu sendiri sesungguhnya adalah sebuah cambuk, tanggung jawab terhadap keluarga, tugas kehidupan, kejayaan pekerjaan, sandang pangan anak istri, simpanan untuk masa depan...

semuanya bagaikan sebuah cambuk yang mengejar dirimu dari belakang.

Dapatkah kau beristirahat barang sejenak saja dari kejaran kejaran tersebut?

Bu ki menghabiskan arak pedas dalam mangkuknya dalam sekali tegukan, baru saja akan memesan semangkuk lagi, tiba tiba ia menyaksikan ada sebuah "usungan mendaki ke atas bukit"

Yang dimaksudkan usungan bukanlah tandu.

Usungan adalah semacam alat tansport di wilayah Szechwan yang terhitung amat istimewa bentuknya, usungan itu terdiri dari dua batang bambu besar yang di atasnya terdapat sebuah bangku yang terbuat dari bambu.

Manusianya duduk di atas bangku tersebut.

Entah berapapun berat badan orang itu, betapa sulitnya perjalanan yang harus ditempuh, si pemikul usungan tersebut pasti sanggup untuk menggotongmu ke atas.

Karena orang orang yang melakukan pekerjaan semacam ini, bukan saja harus memiliki suatu kepandaian yang istimewa, lagipula mereka semua adalah orang orang yang sangat berpengalaman.

Semenjak dahulu kala, Bu ki sudah pernah mendengar kisah kisah tentang usungan tersebut tapi ia tak pernah mau mempercayainya.

Jilid 23________ Tapi sekarang dia telah percaya.

Karena ia menyaksikan ada orang yang duduk diatas usungan tersebut.

Seandainya ia tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dia tidak akan percaya kalau orang sebesar itu dapat duduk diatas usungan, lebih tak percaya lagi kalau dua orang tukang pikulnya yang kurus kering ibaratnya tinggal kulit pembungkus tulang itu sanggup untuk menggotong orang itu melalui jalan-jalan bukit yang curam.

Jarang sekali ia menjumpai orang segemuk oramg itu.

Orang itu bukan saja sangat gemuk, bahkan gemuknya luar biasa hingga kelihatan amat bodoh, bukan cuma bodoh biasa, bahkan bodohnya sudah kelewat batas.

Pada hakekatnya orang itu tak lebih seperti daging babi yang sedang bergerak, tapi pakaian seta dandanannya persis seperti seorang tuan tanah yang lalim, seakan-akan kalau bisa dia ingin memamerkan seluruh kekayaan yang dimilikinya seakan-akan takut kalau orang lain tak tahu jika dia kaya raya.

Rekan seperjalanannya adalah seorang lelaki tampan.

Tampan bukan dalam arti Tong Giok lemah gemulai serta membawa gerak gerik macam seorang banci.

Dia berperawakan tinggi besar tampan kekar, berbahu lebar pinggang ramping alis mata tebal, bermata besar dengan daya tarik seorang lelaki sejati.

Sekarang kedua buah usungan itu telah berhenti kedua orang penumpangnya juga sudah masuk ke dalam barak tersebut.

Sambil menghembuskan nafas lega, sigemuk itu duduk di bangku kemudian pelan-pelan meluruskan tangannya yang putih gemuk serta mengenakan aneka macam cincin bermata berlian dan zamrud yang tak ternilai harganya itu.

Pemuda tampan yang tinggi kekar itu segera mengeluarkan selembar handuk berwarna putih bersih dan diangsurkan kepadanya.

Si gemuk itu menyambut handuk tersebut, seperti seorang nona yang mengusap keringat di wajahnya yang berpupur, dia menyekanya dengan sangat hat-hati, kemudian baru menghela nafas panjang.

"Aku tahu belakangan ini aku pasti bertambah kurus lagi, malah kurus banyak sekali"

Rekannya segera menganggukkan kepalanya berulang kali, dengan wajah yang bersungguhsungguh dan penuh perasaan simpatik katanya.

"Belakangan ini mana kau repot, lelah, makannya sedikit lagi, siapa bilang tidak menjadi kurus?"

Dengan wajah murung dan sedih, kembali si gemuk itu menghela nafas panjang.

"Aaaaaai....! Jika aku harus terus menerus menjadi kurus, mana aku bisa tahan?"

"Ya, kau harus berusaha untuk makan agak banyak!"

Usul tersebut segera diterima oleh si gemuk, maka diapun segera meminta kepada pelayan untuk mengusahakan empat lima ekor ayam gemuk serta dua tiga ekor tie te (kaki babi).

Ia cuma bisa makan "sedikit"

Karena belakangan ini nafsu makannya selalu kurang baik.

Tapi dia harus memaksakan diri untuk makan sedikit, karena belakangan ini ia benar-benar terlampau kurus sehingga tak karuan lagi bentuk badannya.

Sedang mengenai daging gembur yang berada di atas tubuhnya itu, dia bersikap seakan akan daging lebih itu bukan miliknya, bukan saja oa telah melupakannya, rekannya yang gagah dan tampan itupun seolah-olah sama sekali tidak melihatnya.

Sayang orang lain telah melihatnya.

Sesungguhnya orang ini gemuk atau kurus ?

Daging lebih itu sebenarnya milik siapa?

Semua orang menertawakannya secara diam-diam.

Bu Ki tidak tertawa.

Ia sama sekali tidak merasa kejadian itu sebagai sesuatu yang menggelisahkan, dia merasa kejadian ini merupakan tragedi.

Tentu saja pemuda tampan itu juga tahu kalau perkataannya itu sangat menggelikan, akan tetapi dia toh berkata demikian, sebab dia harus hidup, dia membutuhkan si gemuk itu untuk menghidupkan dirinya.

Demi kehidupan, seringkali orang melakukan sesuatu yang mungkin akan menggelikan orang lain, mungkin ia sendiripun merasa sedih atas keadaan tersebut, tapi ia terpaksa untuk melakukannya juga, demi hidup, apapun terpaksa harus dilakukan.

Bukankah kejadian ini merupakan suatu tragedi ?

Si gemuk itu lebih menyedihkan lagi.

Orang yang ia tipu bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

Bila seseorang sudah tiba pada saatnya untuk menipu diri sendiri, sudah barang tentu kejadian itupun merupakan suatu tragedi.

Tiba-tiba Bu-ki merasa perutnya mual, ia merasa tak mampu untuk minum lagi.

Selain Bu-ki ternyata masih ada seorang yang tidak ikut tertawa.

Ia tidak turut tertawa bukan lantaran diapun mempunyai perasaan seperti apa yang di bayangkan Bu-ki, tapi dia sedang mabuk hebat.

Ketika Bu-ki datang kesana, dia sudah berbaring di atas meja, beberapa buah teko arak kosong berada di sekeliling mejanya.

Ia tidak mengenakan topi sehingga kelihatan rambutnya yang sudah berubah mengenakan sebuah baju berwarna biru yang sudah luntur warnanya hingga tinggal putihnya.

Bila seseorang berkelana dalam dunia persilatan bila ia sudah lanjut usianya, apa manfaatnya kalau mabuk oleh arak ?

apapula manfaatnya jika tidak mabuk ?

Tiba-tiba Bu-ki merasa ingin minum arak lagi.

Pada saat itulah dia menyaksikan ada enam orang manusia berjalan naik keatas bukit.

Mereka adalah enam orang manusia berbaju hijau, bersepatu rumput warna kuning berkaok abu-abu dan mengenakan enam buah topi yang sangat lebar sedemikian lebarnya sehingga separuh bagian wajahnya hampir tertutup.

Langkah mereka berenam cepat sekali gerakan tubuhpun sangat enteng dengan kepala tertunduk dan langkah lebar mereka masuk ke dalam barak tersebut.

Dalam genggaman keenam orang itu masing-masing membawa sebuah bungkusan berwarna hijau, ada yang panjang buntalannya, ada pula yang sangat pendek.

Yang pendek hanya satu jengkal enam tujuh inci, yang panjang mencapai enam tujuh jengkal, sewaktu di genggam tampaknya sangat enteng tapi setelah diletakkan di meja ternyata meja tersebut tertindih sampai berbunyi gemericit.

Tak ada orang yang tertawa lagi.

Entah siapa itu orangnya, mereka pasti dapat melihat bahwa kepandaian silat yang dimiliki ke enam orang ini amat luar biasa, mereka pasti adalah jago-jago kenamaan dari dunia persilatan.

Dalam ke enam buntalan yang mereka bawa itu sekalipun bukan senjata pembunuh, sudah jelas juga bukan barang mainan yang sedap di pandang.

Enam orang itu datang bersama dan memakai dandanan serta pakaian yang sama tapi justru mereka menempati meja yang berbeda.

Enam orang ternyata menempati enam buah meja yang berbeda dan secara kebetulan sekali menyumbat semua jalan keluar dari dalam warung arak tersebut.

Hanya jago-jago kawakan yang sudah banyak berpengalaman serta pernah mengalami beratus-ratus kali pertempuran baru bisa memilih posisi sedemikian baik dalam waktu singkat.

Enam orang itu semuanya duduk dengan kepala tertunduk sepasang tangan mereka masih memegang buntelan di atas meja itu kencang-kencang.

Orang pertama yang masuk lebih dahulu adalah seorang lelaki yang tinggi besar yang amat kekar perawakan tubuhnya jauh lebih tinggi dari sebagian besar orang, buntalan yang di bawa pun terpanjang.

Pada sepasang tangannya yang memegang buntalan itu terutama pada ruas-ruas ibu jari, jari tangannya serta jari telunjuk tangan kanannya terdapat kulit tebal yang sangat keras.

Orang kedua yang masuk ke dalam warung itu adalah seseorang yang jangkung ceking dan berbadan bongkok, agaknya dia adalah seorang kakek.

Buntalan yang dibawa paling pendek sepasang tangannya yang memegang buntalan itu kurus kering persis seperti cakar bukung elang.

Buki merasa seolah-olah pernah berjumpa dengan dua orang ini, tapi dia lupa dimanakah mereka pernah berjumpa.

Ia sama sekali tak berhasil melihat wajahnya.

Tapi diapun tak ingin melihatnya.

Kedatangan orang -orang ini tampaknya seperti bermaksud untuk mencari gara-gara denganorang entah mereka hendak mencari gara-gara kepada siapa, Bu-ki tak ingin mencampuri orang lain.

Tak nyana tiba-tiba kakek kurus kering yang berbadan bungkuk itu tiba-tiba menegur .

"Siapa yang membawa peti mati yang berada diluar itu?"

Orang yang semakin tak ingin mencari urusan biasanya urusan semakin gampang mendatanginya. Bu-ki menghela nafas panjang, terpaksa sahutnya.

"Aku!" ***** SEKARANG Bu-ki sudah dapat mengingat kembali siapa gerangan orang itu. WAlaupun ia belum menyaksikan raut wajahnya tapi dia sudah dapat mengenali suaranya. Kueh manis, kueh bergula pasir, pia kacang ijo .......... pia kacang hitam. Seorang kakek kurus kering, membawa sebuah pikulan penjajah kueh sambil menyanyikan lagu So-pak masuk kedalam hutan dan menuju ke sebuah tanah lapang. Kemudian si penjajah sayur asin, penjual arak, penjual wedang tahu, penjual cah kue, penjual bakpao, penjual telur dadar, penjual daging kambing serta beraneka macam penjajah makanan lainnya berdatangan dari empat arah delapan penjuru. Kejadian yang berlangsung pada malam itu tak pernah di lupakan Bu-ki untuk selamanya, terutama suara dari penjual kueh itu, dia masih dapat mengingatnya dengan jelas. Diapun masih teringat dengan perkataan Ban Tang Lo. Dulu mereka adalah bekas anak buahku tapi sekarang mereka hanya seorang pedagang biasa. Usaha dagang apakah yang dikerjakan si penjual kueh itu sekarang ? Mengapa ia bisa tertarik dengan sebuah peti mati ? ***** SI ORANG bertubuh tinggi kekar dan tiga jari tangan kanannya yang tumbuh kulit tebal itu mendadak mendongakkan kepalanya dan menatap Bu-ki lekat-lekat. Bu-ki segera mengenali orang itu. Sepasang matanya bersinar tajam, semangatnya berkobar-kobar dan tampak segar karena semenjak berusia sembilan tahun ia sudah mulai melatih ketajaman matanya. Kulit kerak yang tumbuh pada ke tiga buah jari tangannya bukan cuma tebal, kerasnya bukan kepalang, karena sejak berumur delapan sembilan tahun ia sudah mulai menarik gendewa dengan keriga buah jari tangannya itu. Sudah barang tentu Bu-ki kenal dengannya, bukan hanya satu kali mereka berjumpa muka. Kim kiong gin ciam ( Busur emas panah perak) Cu bu siang hui (tengah hari tidak bertemu tengah malam) lelaki kekar yang tinggi badannya mencapai delapan depa ini tidak lain adalah Hek Thi ban putra tunggal dari Hek Popo. Siapakah Hek Po po itu? Dia adalah seorang yang bisa membidik mata seekor lalat yang berada sepuluh kaki jauhnya dengan sebatang panah. Benda yang berada di dalam buntalannya itu sudah barang tentu adalah Kim pat thi tay kiong (busur berpunggung emas berbadan baja) serta Cio yu ciam (panah berbulu perak) andalannya. ***** Ternyata dia tidak mengenali Bu-ki. Dia hanya merasa seperti pernah kenal dengan pemuda bercodet ini, maka dengan nada menyelidiki ia bertanya.

"Dulu, bukankah kita pernah bersua ?"

"Tidak!"

"Kau tidak kenal dengan aku?"

"Tidak kenal!"

"Bagus sekali!"

Seru Hek Thi-ban kemudian.

"Bagaimana?"

Tanya si kakek penjual kueh.

"Ia tidak kenal aku, akupun tidak kenal dengannya!"

Jawab Hek Thi-ban pula.

"Bagus sekali!"

Mendengar mereka berdua mengucapkan dua kali kat "Bagus sekali", Bu-ki tahu kalau kesulitan telah datang.

Entah kesulitan macam apakah yang di bawa ke enam orang itu yang pasti kesulitan tersebut pasti tidak kecil.

Bu-ki dapat melihat akan hal ini, orang lainpun dapat melihatnya, maka sebagian besar tamu yang berada di dalam warung teh itu diam-diam beranjak, membereskan rekening dan ngeloyor pergi dari sana.

Hanya si kongcu gemuk yang kurang baik nafsu makannya itu yang masih bersantap dengan lahapnya disana.

tampaknya sekalipun langit bakal runtuh, dia baru akan angkat kaki bila ayam panggang tersebut sudah habis di makan.

Tentu saja manusia semacam ini tak akan senang untuk menyampuri urusan orang ini.

Tiba-tiba si penjual kueh itu mengambil buntalan dan pelan-pelan berjalan ke hadapan Bu-ki, lalu sapanya .

"Baik-baikkah kau?"

Bu-ki segera menghela nafas panjang.

"Aaai.....! sampai detik ini masih terhitung bagus, tapi sayang agaknya kesulitan sudah mulai berdatangan sekarang!"

Si penjual kueh itu segera tertawa lebar. Kau adalah seorang yang pintar, asal tidak melakukan pekerjaan tolol, tentu saja kesulitan tak akan datang."

Katanya.

"Aku jarang sekali melakukan pekerjaan tolol"

"Bagus sekali!"

Sambil meletakan buntalan itu keatas meja, da berkata lagi .

"Tentunya kau tidak kenal dengan diriku bukan ?"

"Yaa, tidak kenal"

"Kenalkah kau benda apakah ini ?"

Ia melepaskan simpul ikatan pada tali buntalannya, sinar tajam segera memancar keluar dari balik bungkusannya itu, ternyata benda itu adalah sebuah senjata aneh yang terbuat dari baja asli.

sekilas pandangan bentuknya mirip cakar ayam, tapi setelah diamati ternyata tidak mirip sebuah cakar ayam.

"Bukankah senjata itu adalah Thi eng-jiau (cakar elang baja) senjata andalan dari perguruan Eng Jiau-bun di wilayah Huay-lam?"

"Sungguh tajam penglihatanmu!"

Puji kakek penjual kueh itu.

"Telingaku juga selalu amat tajam."

"Oya.....!"

"Aku dapat menangkap dari nada pembicaraanmu bahwa kau bukan berasal dari wilayah Huay-lam atau sekitarnya."

"Selama belajar dalam perguruan di Huay-lam yang kupelajari memang bukan dialek untuk bercakap-cakap."

"Lantas apa yang kau pelajari?"

"Cara membunuh orang!"

Setelah berhenti sejenak, dengan suara hambar dia melanjutkan .

"Asal aku dapat mempergunakan kepandaian perguruanku untuk membunuh orang, entah dialekku sewaktu berbicara berasal dari wilayah mana, hal itu sudah tidak penting lagi artinya."

"Ehmm.... masuk diakal juga perkataan itu"

Tiba-tiba si penjual kueh itu mengambil senjatanya yang mirip cakar elang itu dengan sepasang tangan yang lebih mirip cakar elang tersebut.

Cahaya tajam berkelebat lewat, sepasang cakar elang tersebut telah meluncur ke depan dan ....

"Tringgg!", cawan arak dihadapan Bu-ki sudah bertambah dengan empat buah lubang kecil, sedangkan sebatang bambu yang didirikan sebagai tiangpun tahu-tahu sudah tersayat hancur oleh sambaran cakar elang itu. Cawan arak adalah benda yang terbuat dari tembikar, untuk menghancurkan bukan termasuk termasuk suatu pekerjaan yang susah, tetapi untuk membuat empat lubang kecil tanpa menghancurkannya jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang. Bambu adalah benda yang keras, untuk mematahkannya mungkin gampang, tapi untuk menyayat-nyayatnya menjadi lembaran yang kecil bukan suatu pekerjaan yang mudah. Apalagi kekuatan yang dipergunakan untuk melaksanakan kedua pekerjaan itu berbeda, tapi dalam kenyataannya sepasang tangannya turun tangan bersama, tapi kekuatan yang dipergunakan ternyata bisa berlainan. Bu-ki segera menghela nafas panjang-panjang, pujinya .

"Benar-benar suatu kepandaian yang sangat hebat!"

"Apakah kepandaian semacam ini termasuk juga kepandaian untuk membunuh orang ?"

"Yaa, benar!"

"Inginkah kau menyaksikan aku membunuh orang ?"

"Tidak ingin"

"Kalau begitu, cepat pergi dari sini!"

"Kau bersedia membiarkan aku pergi?"

"Yang kuinginkan bukanlah manusia semacam kau."

"Lantas apa yang kau kehendaki ?"

"Aku menginginkan peti mati yang kau bawa itu." ***** TEKA TEKI PETI MATI itu dibeli sendiri oleh Bu-ki, terbuat dari kayu jati yang berkwalitas nomor satu bahkan di buat pula oleh seorang tukang kayu kenamaan.

"Ketajaman mata saudarapun sungguh mengagumkan"

Kata Bu-ki.

"Peti mati ini memang sebuat peti mati yang bagus."

"Aku dapat melihatnya"

Kakek penjual kueh itu menyahut.

"Tapi bagaimanapun baiknya kwalitet peti mati ini tidak ada harganya bagimu untuk menggerakkan begitu banyak orang untuk mendapatkannya."

"Kau bilang tiada harganya, tapi aku justru mengatakan berharga sekali....."

"Bilamana kaupun sangat mengharapkan sebuah peti mati berkwalitet sebaik ini bisa saja kau suruh toko penjual peti mati itu untuk bikinkan sebuah lagi."

"Tapi sayang peti mati itulah yang kuinginkan."

"Apa peti mati ini mempunyai keistimewaan lain ?"

"Hal ini tergantung apakah isi peti mati itu?"

"Isinya hanya sesosok tubuh manusia."

Cepat Bu-ki menerangkan.

"Seorang manusia semacam apakah dia itu?"

"Seorang sahabat yang masih hidup, ataukah seorang sahabat yang telah mati?"

Bu-ki segera tertawa lebar.

"Meski aku belum bisa di bilang sangat setia kawan, tapi aku tak nanti akan masukkan seorang sahabatku yang masih hidup ke dalam peti mati."

Meskipun jabawan itu bukan jawaban yang jujur, namun tak bisa terhitun gpula sebagai sesuatu yang bohong.

Tong Giok memang belum mati.

Dengan tangannya sendiri ia memberikan tubuh Tong Giok ke dalam peti matu itu.

Tong Giok bukan sahabat karibnya.

Tapi dalam peti mati itu memang hanya Tong Giok seorang diri.

Ia menutup sendiri peti mati itu, menyewa tukang pikul dan dengan mata kepala sendiri mengiringi tukang pikul itu membawa peti mati tersebut sampai disini.

Agaknya penjual kueh itu belum mau mempercayai seratus persen, kembali ia bertanya .

"Sahabatmu itu sudah mati ?"

"Manusia hidup seratus tahun, akhirnya toh akan mati juga."

"Orang yang sudah mati apakah masih bisa bernafas ?"

Bu-ki segera menggelengkan kepalanya.

Ia sudah menjumpai titik kelemahan tersebut, tapi ia tak menyangka kalau orang lainpun telah menemukannya.

Sudah dapat dipastikan si penjual kueh tersebut telah menemukannya .....

Terdengar ia berkata sambil tertawa dingin.

"Kalau memang orang mati tak bisa bernafas lagi, mengapa kau harus membuat dua lubang hawa di atas peti mati itu ?"

Bu-ki segera menghela nafas panjang, sambil tertawa getir katanya .

"Karena aku benar-benar tak menyangka kalau ada orang yang menaruh perhatian terhadap peti mati ini."

Jawaban tersebut adalah suatu jawaban yang jujur.

Jika ada sebuah peti mati terpampang di hadapanmu, orang meski akan menengoknya sekejap, jarang sekali ada orang yang akan meneliti peti mati itu dengan lebih seksama.

Lain kalau lubang itu terdapat di pakaian gadis cantik, semua orang bisa melihat dengan jelas, semua orang bisa memperhatikannya lebih dari sekejap, tapi jarang rasanya ada yang memperhatikan libang diatas peti mati.

Kembali Bu-ki berkata .

"Tapi dalam peti mati ini benar-benar cuma satu orang, itu benar-benar adalah sahabatku, entah dia mati atau hidup, pokoknya dia adalah sahabatku."

"Mengapa kau masukkan tubuhnya ke dalam peti mati itu ?"

"Sebab dia mengidap suatu penyakit, bahwa penyakit itu sudah amat parah sekali."

"Apakah penyakit yang di terimanya itu adalah suatu penyakit yang tidak boleh diketahui orang ?"

"Jadi kau ingin melihatnya ?"

Bu-ki balik bertanya.

"Aku hanya ingin membuktikan apakah ucapanmu itu jujur atau tidak...."

"Andaikata isi peti mati itu benar-benar hanya satu orang ?"

"Maka dengan segala kehormatan aku akan menghantar kalian untuk menjalankan perjalanan, semua rekening arak disinipun akan kubayarkan untuk kalian!"

"Terlepas siapakah orang yang berada di dalam peti mati itu?"

"Sekalipun orang yang bersembunyi dalam peti mati itu adlaah biniku sendiri, asal dalam peti mati itu tiada orang yang laian, aku sama saja akan membiarkan kalian pergi."

"Bisa dipercayakah perkataanmu itu ?"

"Anak murid perguruan dari Huay-lam tak ada seorangpun yang mengingkari janji."

"Kalau begitu bagus sekali!"

Pemuda ini selalu merasa kuatir bahwa orang yang mereka cari adalah Tong Giok.

Dia tidak ingin bertarung dengan mereka lantaran Tong Giok, tapi diapun tidak bisa membiarkan mereka pergi sambil membawa serta diri Tong Giok.

Sekarang walaupun dia sudah tahu kalau kedatangan mereka bukan lantaran Tong Giok, tapi ia masih belum bisa menduga karena apakah mereka menginginkan peti mati itu?"

Peti mati itu berada diluar barak di bawah pagar pekarangan.

Empat orang kuli panggul itu setelah memesan air teh berjongkok disisi peti mati dan minum air teh sambil makan kueh kering yang mereka bawa.

Walaupun air teh dingin dan getir, walaupun kueh itu kering dan keras, tapi mereka masih menyantapnya dengan senang, minum dengan gembira.

Bagi manusia semacam mereka, kesenangan dalam kehidupan manusia sesungguhnya sudah tidak terlalu banyak, maka asal mereka bisa menemukan sedikit kegembiraan, kesempatan tersebut tak akan disia-siakan dengan begitu saja.

Itulah sebabnya mereka masih hidup.

Kegembiraan walaupun bukan merupakan sesuatu yang "mutlak", hanya asal kau merasakan gembira, maka bergembiralah sepuasnya.

Yang lebih aneh lagi, bukan saja si penjual kueh itu tertarik pada peti mati itu, agaknya diapun tertarik kepada keempat orang kuli panggul itu.

Pakaian yang mereka kenakan amat dekil, tubuhnya kurus kering bagaikan kilit membungkus tulang, rambut kusut maka mukanya hitam dan kotor lagi, sesungguhnya ke empat orang itu tidak memiliki sesuatu keistimewaan yang berharga untuk diperhatikan.

Si penjual kueh itu memeperhatikan terus diri mereka, sepasang matanya seakan-akan terpaku dan memantek di tubuh mereka, mengawasi terus lekat-lekat, seakan-akan ia merasa berat hati untuk mengalihkan ke arah lain.

Walaupun dia berkata ingin memeriksa apakah isi peti mati itu hanya satu orang atau tidak, namum sepasang kakinya seakan-akan terpantek diatas tanah, bergeser setengah langkahpun tidak.

Bu-ki yang kemudian menegurnya lantaran tidak sabar .

"Hey, peti mati itu berada disini!"

"Aku sudah tahu!"

"Mengapa kau tidak maju ke depan untuk memeriksanya ?"

Diatas wajah si Penjual Kueh yang kuning kepucat-pucatan dan kurus kering tersebut, tibatiba tersungging sekelum senyuman dingin yang aneh sekali.

kemudian sepatah demi sepatah dia mengucapkan serangkaian kalimat yang hakekatnya jauh diluar dugaan Bu-ki.

"Sebab aku masih tidak ingin mampus diujung peluru peledak Pek lek tong dari mepat bersaudara keluarga Lui"

"Bersaudara dari keluarga Lui ?"

Bu-ki segera bertanya.

"kau maksudkan Lui bersaudara dari Pek Leng tong?"

"Benar!"

"Apakah Lui bersaudara juga datang ?"

"Paling tidak ada empat orang yang telah datang."

"Dimana ?"

"Disini,, tepat dihadapanmu!"

Sesudah tertawa dingin, Si penjual kueh itu melanjutkan kembali kata-katanya .

"Empat saudara kita yang berjongkok di tepi peti mati sambil minum teh dan makan kueh itu bukan lain adalah Su toa kim kong (empat malaikat raksasa) dari Lui Ceng-thian!"

Paras muka Bu-ki segera berubah hebat.

Tentu saja ia tahu kalau dalam Pek lek tong terdapat Su toa kim kong, mereka adalah komplotan Lui Cheng-thian, musuh bebuyutan dari Tay hong-tong.

Betulkah ke empat orang kuli kasar yang miskin, kotor, dan bau itu tak lain adalah Su toa kim kong dari Pek Lek tong?

Mengapa mereka harus menurunkan derajat sendiri ?

Mengapa mereka bersedia menggotongkan peti mati itu baginya ?

Sekalipun mereka sudah mengetahui kalau dia adalah Tio Bu-ki, juga tidak perlu untuk berbuat begitu.

Paling tidak mereka masih mempunyai suatu cara lain yang lebih bagus, setiap saat mereka dapat merenggut selembar jiwanya.

Si Kuli panggul yang paling tua usianya itu tiba-tiba menghela nafas, kemudian pelan-pelan bangkit berdiri.

Tangan kirinya masih memegang cawan air teh, sedangkan tangan kanannya masih memegang separuh potong kueh kering, pakaian yang di kenakan masih tetap baju yang dekil dan penuh robekan itu, bahkan bagian pantatpun penuh dengan tambalan.

Tapi dalam sekejap mata itulah, potongan maupun mimik wajahnya sama sekali berubah.

Sorot matanya yang setajam sembilu dari seluruh badannya memancar kekuatan yang luar biasa, entah siapa itu orangnya, bila mereka bertemu dengan tampangnya sekarang, pasti tak seorangpun yang akan percaya kalau dia adalah seorang kuli kasaran yang paling rendah derajatnya serta kedudukannya dalam masyarakat.

Si Penjual kueh itu telah tertawa dingin, lalu ejeknya.

"Ternyata benar-benar memang kau, sedari kapan kau sudah berganti usaha menjadi seorang kuli panggul?"

"Selama setengah tahun belakangan ini kami bersaudara selalu melakukan pekerjaan ini."

"Apakah kalian selali memikulkan peti mati untuk orang lain ?"

"Bukan cuma peti mati, memikul tinjapun kami lakukan."

"Mengapa kalian harus melakukan pekerjaan semacam ini?"

Sebab kami dengar, bila pekerjaan semacam ini sudah dikerjakan cukup lama, maka watak sesorangpun akan mengalami perubahan."

"Aku melihat wajah kalian yang justru banyak mengalami perubahan."

"Itulah sebabnya aku merasa tak habis mengerti mengapa kau masih bisa mengenali kami."

Kata si tukang panggul itu sambil menghela nafas panjang.

"Mungkin saja hal ini dikarenakan kami memiliki ketajaman mata yang luar biasa, tapi mungkin juga ada orang yang telah membocorkan rahasia kalian."

Sahut si penjual kueh itu hambar. Paras muka si kuli panggul itu segera berubah hebat, bentaknya dengan suara keras .

"Yang mengetahui rahasia ini hanya beberapa orang, siapa yang telah mengkhianati kami?"

Si Penjual kueh itu tidak memandang lagi ke arahnya. Hek Thi-ban segera melompat maju kemuka, katanya dengan suara dalam yang berat.

"Kami bersaudara tiada perselisihan dengan keluarga Lui, asal kalian bersedia meninggalkan peti mati itu, entah kemanapun kalian akan pergi, entah apapun yang hendak kalian lakukan kami pasti tak akan turut campur atau memperdulikannya."

Setelah berpikir sejenak, kembali dia berkata.

"Bila orang lain menanyakan tentang kalian, kamipun tak akan membocorkannya akan kami anggap seakan-akan hari ini tak pernah berjumpa saja."

Ketika dihadapan Hek Popo, ia jarang sekali buka suara, tapi apa yang diucapkan kata-kata yang amat terlatih, malah tak kalah dari seorang jago kawakan, setiap perkataannya amat tajam tapi selalu memberi jalan mundur buat lawannya.

Sayang sekali kuli panggul itu tidak menerima kebaikannya itu, katanya dengan dingin .

"Kau membawa busur emas panah perak, seratus langkah membidik satupun takpernah meleset, sudah pasti kaulah si jago busur emas yang ternama dalam dunia persilatan dewasa ini, sedangkan orang yang berada di sisimu itu, meski logat bicaranya telah berubah, namum aku masih dapat mengenalinya sebagai ketua perguruan Huay-lam yang di namakan Eng Jiauong (raja cakar elang)!"

Ternyata si penjual kueh itu tidak bermaksud menyangkal. Kuli panggul itu kembali berkata .

"Ternyata kalian berdua bersedia untuk memberu sebuah jalan kehidupan kepadaku, seharusnya kamu merasa amat berterima kasih apalagi empat orang yang menemani kalian adalah jago-jago kelas satu, agaknya diantara mereka terdapat jago-jago dari Siang bun kiam yaiutu Ciong bersaudara dan Thi-ku (kepalan baja) Sun Hiong.

"Tajam amat pandangan matamu!"

"Dengan mengandalkan kemampuan dari kalian berenam, sesungguhnya tidak sulit bila ingin menahan kami berempat disini, cuma sayang seribu sayamg ...."

"Sayang kenapa ?"

Kuli panggul itu tertawa dingin terusnya.

"Sayang bila orangnya sudah mampus, kepalanya akan menjadi lemas dan merekapun tidak bisa memainkan pedang Siang bun Kiam lagi."

Si Penjual kueh itu segera tersenyum.

"Untung saja mereka belum mampus!"

Katanya.

"Mereka belum mampus ? Kenapa kau tidak berpaling untuk memeriksanya sendiri ?"

Si penjual kueh itu segera berpaling, tapi senyuman yang semula tersungging diujung bibirnya segera berubah menjadi kaku.

Ke empat orang rekannya yang sebetulnya duduk di belakang sana, kini telah roboh semua, di atas jalan darah Giok sin hiat di belakang kepalanya telah menancap sebatang sumpit bambu, sumpit itu panjangnya satu jengkal dan sudah menembusi batok kepala bagian belakangnya sedalam lima inci.

Sebenarnya batok kepala merupakan suatu daerah badan yang paling keras, bisa ditembusi oleh sebatang sumpit sekali tusukan, sesungguhnya kejadian ini sudah terhitung sebagai sesuatu kabar yang mengerikan sekali.

Yang lebih menakutkan lagi adalah keempat orang itu merupakan jago-jago kelas satu dalam dunia persilatan, ternyata mereka bisa direnggut nyawanya dalam sekejap mata tanpa menimbulkan sedikit suarapun, bahkan siapakah pembunuhnya juga tak tahu, bila bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri siapapun tak akan mempercayainya.

Kecepatan orang itu turun tangan, kejituannya dan kekejian benar-benar menakutkan.

Semua orang dalam warung teh itu sudah pada kabur, bahkan si pemilik warung beserta pelayannya entah sudah bersembunyi kemana.

Selain si penjual kueh, Bu-ki dan lelaki hitam pekat itu, dalam warung teh tersebut masih ada tiga orang yang masih hidup.

Si Kongcu yang gemuk yang katanya belakangan ini isi perutnya kurang baik itu meski masih hidup tapi ia sudah ketakutan setengah mati sehingga sekujur badannya hampir saja terperosok ke kolong meja.

Keadaan tak berbeda jauh dari rekannya itu.

Apalagi kedua orang itu selalu duduk dihadapan mejanya.

Tiong bersaudara serta Sun Hiong tak bisa diasangkal lagi sumpit bambu itu tentu meluncur dari belakang mereka.

Di belakang mereka berdua cuma ada satu orang.

Orang itu belum pergi karena sejak tadi ia sudah mabuk, ketika Bu-ki datang kesitu, orang itu sudah mendekam di atas meja, diatas meja penuh dengan guci-guci arak yang kosong.

Ia tidak mengenakan topi sehingga rambutnya yang beruban kelihatan jelas usianya sudah lanjut.

Pakaian yang di kenakan itu bukan saja warna birunya sudah luntur menjadi putih, disana sinipun telah kelihatan beberapa buah tambalan.

Apakah kakek rudin yang sedang mabuk itu seorang jago persilatan yang berilmu tinggi?

apakah dia yang telah merenggut nyawa dua manusia dari jarang sepuluh kaki lebih tanpa menimbulkan sedikit suarapun ?

Sambil memegang erat-erat senjata cakar elang bajanya, selangkah demi selangkah sipenjual kueh itu mendekati si kakek tersebut.

Ia tahu tangannya sedang mengucurkan keringat, keringat dingin tentunya.

Cakar elang baja yang berada di tangannya merupakan suatu alat pembunuh yang sangat hebat, entah sudah berapa banyak jago gagah dan enghing-hohan yang tewas terbunuh di ujung cakar elang bajanya ini.

Tapi sekarang tangannya sedang gemetar keras, mungkin orang lain tidak melihatnya, tapi ia sendiri dapat merasakan hal tersebut.

Orang yang bisa menembusi batok kepala manusia yang keras hanya dengan sambitan sebatang sumpit, jelas sudah bahwa dia bukan seorang manusia yang gampang dihadapi.

Seseorang yang sudah hampir tiga puluh tahun lamanya berkecimpung dalam dunia persilatan, paling tidak dia sedikit harus tahu diri.

Tapi dia wak dapat mundur dari sana dengan begitu saja.

Sekalipun saat ini Huay-lam pay sudah bukan termasuk sebuah perguruan besar yang kenamaan, toh di masa lalu mempunyai sejarah yang cemerlang dan terkenal.

Entah bagaimanapun juga, dia toh tetap merupakan seorang ciangbunjin dari partai Huay-lam, demi kehidupan, demi mempertahankan nama serta martabatnya, ia bisa saja merubah wajah dan suaranya untuk menjadi seorang pembegal, tapi ia tidak dapat membiarkan nama baik Huay-lam pay hancur dan ternoda di tangannya.

Itulah tragedi dari seorang jago persilatan.

Sejarah kejayaannya dalam dunia persilatan seringkali terbentuk dari pelbagai tragedi yang bertumpuk menjadi satu.

Busur telah ditangan, panah sudah diatas busur.

Sambil menarik tali busurnya siap membidik, sepasang mata lelaki hitam itu mengawasi si kakek yang berambut putih itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba kakek itu berbicara, kata-kata yang kacau tidak jelas, sepertinya lagi mengucapkan kata-kata mabuk, seperti pula sedang mengigau dalam impian.

"Kenapa semua orang menghendaki peti mati itu? Apakah semuanya sudah bosan hidup dan ingin berbaring ke dalam peti mati!"

Kelopak mata si penjual kueh itu menyusut kecil, tangannya yang menggenggam senjadi makin dipererat.

Sekarang ia telah merasa yakin bahwa si kakek inilah yang barusan telah menembusi batok kepala rekan-rekannya dengan sebatang sumpit bambu.

Tiba-tiba ia menegur dengan suara lantang.

"Cianpwe!"

Kakek itu masih tettelungkup di atas meja, nafasnya mendesis, agaknya tertidur lagi. Melihat itu, si penjual keuh tersebut segera tertawa dingin.

"Heeehhh...heeehhh...heehhhh,.... dengan usiamu yang sudah lanjut sekali, sesungguhnya aku harus menghormatimu sebagai seorang cianpwe, akupun belum melupakan peraturan dalam dunia persilatan maka lebih baik kau sendiripun jangan terlalu melupakan dirimu sendiri."

Tiba-tiba kakek itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...haaahhh...haaahhh... baik, baik, aku akan berbicara."

Diatas wajahnya yang kering dan penuh berkeriput itu penuh tumbuhan belang belang putih sebesar mata uang, bulu alis matanya sudah banyak yang rontok, matanya masih sipit karena mabuk, sewaktu tertawa tampangnya persis seekor kambing alas.

Ia mendongakkan kepalanya memandang si penjual kueh, kemudian ujarnya .

"Sungguh tak kusangka di dalam partai Huay-lam pay yang kecil masih terdapat seorang manusia macam kau, yang tahu akan peraturan dunia persilatan, bahkan masih membawa gaya dan kegagahan sebagai seorang ciangbunjin."

"Aku bukan ciangbunjin dari partai Huay-lam pay!"

Bantah sipenjual kueh itu dengan cepat.

"Kau bukan?"

"Ya, aku tidak lebih hanya seorang penjual kueh!"

"Oooh..., rupanya kau datang kemari untuk menjual kueh!"

Seru si kakek kemudian tertawa. Penjual kuehpun kadang kala bisa membunuh orang."

"Siapa yang hendak kau bunuh?"

"Kau!"

Sekali lagi kakek itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...haaahhh....haaahhh... kau sendiri juga harus mengerti."

Katanya.

"sudah jelas kau bukan tandinganku, buat apa mesti datang untuk menghantar kematian?"

Tiba-tiba si penjual kueh itu juga tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....haaahhh....haaahhh bila aku dapat membunuhmu, yang kubunuh adalah seorang Bu lim cian pwe yang nama besarnya menggetarkan seluruh dunia persilatan, sebaliknya jika kau bunuh diriku orang yang kau bunuh tidak lebih hanya seorang penjual kueh, kenapa aku musti takut mati ?"

Ditengah gelak tertawanya yang amat keras cakar elangnya telah diayunkan ke depan melancarkan serangan.

Dahulu Eng Jiau Ong (raja cakar elang) turun dalam dunia persilatan dari kota Huay-lam dan berhasil mengangkat nama besarnya dalam waktu singkat, dia selamanya hanya mengandalkan sepasang kepalan baja serta Toan eng jiau lip yang dilatihnya selama tiga puluh tahun lebih, begitu pula kekita mendirikan Huay-lam Eng Jiau Bun belum pernah ia memakai senjata.

Sayangnya anak murid perguruannya tidak terdapat seorangpun yang memiliki kepandaian sedasyat itu, juga tidak ada yang memiliki tenaga sakti seperti miliknya, maka merekapun menciptakan sepasang senjata khusus utnuk menutupi kelemahan mereka dalam tenaga dalam.

Sebelum meninggalkan dunia, ketika ia menyaksikan senjata tersebut, iapun lantas sadar, cepat atau lambat perguruan Huay-lam pay akan musnah di ujung sepasang cakar elang baja ini.

Sebab dia tahu bagaimanapun bagus dan hebatnya senjata tajam tidak akan lebih lincah dan gesit daripada sepasang tangan sendiri.

Bila ketiga puluh enam jurus toa eng jiau kangnya digunakan melalui senjata semacam itu maka kehebatan serta daya pengaruh yang terpancar keluar tak akan sesempurna bila di mainkan dengan tangan.

Diapun tahu, setelah ahli warisnya memiliki senjata semacam itu, mereka akan semakin enggan untuk melatik telapak tangan sendiri.

Tapi tak bisa disangkal lagi sepasang senjata itu memang semacam senjata tajam yang gesit dan dasyat.

cakar baja yang berbentuk cakar elang itu bukan saja memiliki ketajaman yang mampu merobek tubuh harimau, lagipula bisa digunakan secara hidup persis seperti cakar tangan manusia.

Apabila bisa digunakan secara sempurna bahkan cakar elang baja itu dapat pula dipergunakan untuk menangkap seekor kutu dari atas rambut orang.

Si penjual kueh itu sudah cukup banyak tahun melatih diri secara tekun dalam permainan senjatanya, serangan yang dilancarkan selain dilakukan dengan kecepatan luar biasa, cakar baja di tangan kiri bisa bergerak dengan lincah sementara cakar baja di tangan kanannya bisa dipakai secara kekerasan dengan memancarkan segenap kelihaian yang dimilikinya.

Dalam penggunaan tenaga, ada kalanya dipakai tenaga kasar untuk kekerasan, ada kalanya pula bertenaga lembut untuk kelincahan, serangan-serangan yang digunakan pun ada serangan tipuan, ada pula serangan sungguhan, tapi seluruhnya tertuju pada bagian-bagian yang mematikan di tubuh lawan.

Dari bali sinar mata si kakek yang masih sipit karena mabuk, tiba-tiba mencorong keluar cahaya tajam yang menggidikkan hati, dengan suara keras dia berteriak .

"Lepas!"

Di tengah bentakan nyaring, tubuhnya melejit ke tengah udara, sepasang ujung baja yang menggulung ke muka, dengan cepat cakar elang itu terlepas dari cekalan dan mencelat ke tengah udara, setelah melayang sejauh dua puluh kaki lebih akhirnya jatuh diatas bukit diluat pagar bambu sana.

Si penjual kueh itu sendiri ternyata tak sampai tergetar roboh, dia masih tetap berdiri tegak disana tanpa bergerak barang sedikitpun.

Tapi, sepasang biji matanya telah menonjol keluar, matanya merah berapi-api, sementara darah kental keluar dari ujung bibirnya.

Kakek itu menatapnya tajam-tajam mendadak ia menghela nafas panjang, katanya.

"Aaai...! Kau hendak membunuhku, maka aku pun tak bisa tidak harus membunuhmu juga."

Si Penjual kueh itu menggertak giginya kencang-kencang tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Sesungguhnya kau harus tahu siapakah diriku ini."

Kembali kakek itu berkata.

"aku pun tahu siapakah dirimu yang sebenarnya."

"Siapakah aku ?"

Tiba-tiba penjual kueh itu bertanya. Karena buka mulut dan bersuara, kembali ada darah kental menyembur keluar. Sambil menghela nafas, kakek itu menggeleng.

"Eng jiau ong, Ong Han bu, buat apa kau musti berkeras kepala terus... ?"

Tegurnya. Dengan cepat si penjual kueh itu menyeka noda darah di ujung bibirnya dengan pakaian, lalu berteriak keras.

"Aku bukan Eng Jiau Ong, aku bukan Ong Han bu!"

Darah yang baru saja di seka itu kembali menyambar keluar, dengan nafas tersengal -sengal katanya kemudian .

"Eng Jiau ong, Ong Han bu sudah lama mati, tak seorang manusiapun yang dapat membunuhnya, dia... dia mati karena sakit, aku,.... aku...."

Rasa kasihan dan iba segera memancar keluar dari balik mata kakek itu, ujarnya dengan lembut .

"Aku tahu, kau tidak lebih hanya seorang penjual kueh belaka...."

Pelan-pelan penjual kueh itu mengangguk, matanya segera terpejam dan tubuhnya pelanpelan roboh terkapar di atas tanah.

Apa yang diharapkan telah terwujud, diapun bisa mati tanpa harus membawa rasa sesal.

Sebab dia bukan Ong Han bu, nama besar partai Huay-lam pay yang tak terkalahkan sama sekali tidak hancur di tangannya.

Maka tidak ada orang pula yang bisa mengalahkan Eng-jiau-ong, dahulu tidak, di kemudian haripun lebih-lebih tidak......

Air mata yang selama ini mengembang dalam kelopak mata Hek-th han atau si lelaki hitam pekat itu akhirnya tak tahan dan meleleh juga membasahi pipinya, mendadak ia membentak dengan suara yang keras menggelegar bagaikan guntur.

"Lepas!"

Busur berbunyi dan sebatang anak panah berbulu perak yang tiga depa enam inci panjangnya itu segera meluncur dari atas busur dan menyambar kemuka dengan membawa suara desingan tajam yang memekikkan telinga.......

Hek thi ban tingginya mencapai delapan jengkal, kekuatan lengannya mencapai ribuan kati, busur baja berpunggung emas miliknya saja memiliki daya tempak lima ratus butir batu, meski panah berbulu peraknya masih belum sanggup untuk membelah rembulan, tapi cukup untuk menghancurkan batu karang.

Konon menurut berita yang tersiar di dalam dunia persilatan, jika ada tiga orang yang berdiri dengan punggung sampai punggung, dengan sekali bidikan dia sanggup menembusi badan ketiga orang itu sekaligus.

Tapi sekarang cahaya perak baru berkelebat lewat, tahu-tahu panah berbulu perak itu sudah berada di tangan si kakek, dia hanya menggunakan dua jari tangannya, panah yang mampu menembusi batu tersebut tahu-tahu sudah kena terjepit olehnya.

Dalam waktu singkat inilah air muka Hek thi han telah berubah menjadi pucat ke abu-abuan, sedangkan empat bersaudara dari keluarga Lui segera menunjukkan wajah berseri.

Sungguh tak disangka hanya dalam sekejap mata saja, secara tiba-tiba situasi telah mengalami perubahan kembali.

Mendadak paras muka si kakek menunjukkan suatu perubahan mimik wajah yang aneh sekali, seperti seorang nyonya muda yang terbangun di tengah malam dan tiba-tiba menemukan ada seorang lelaki asing sedang "menunggangi"

Tubuhnya.

Rasa kaget, seram dan takut yang luar biasa telah menyelimuti seluruh wajahnya.

Tiba-tiba ia melejit ke tengah udara, berjumpalitan beberapa kali dan melayang keluar dari tenda bambu itu, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Bila ingin belajar "membidik", maka pertama-tama yang harus dilatih dulu adalah ketajaman mata.

Sejak berusia tujuh delapan tahun Hek thi han sudah melatih ketajaman mata, Ia harus melatih sampai dapat melihat seekor nyamuk di dalam sebuah kamar gelasp sejelas melihat burung elang di angkasa, latihan itu baru bisa di anggap berhasil.

Ketajaman mata Bu-ki boleh di bilang tidak selisih jauh daripada ketajaman matanya.

Tapi mereka semua tak ada yang menduga apa sebabnya kakek itu secara tiba-tiba melarikan diri, jago lihay seperti dia tidak mungkin merupakan seorang manusia yang gampang dibikin takut, kecuali secara tiba-tiba ia bertemu dengan setan atau secara tiba-tiba dipagur oleh ular berbisa.

Tapi disana tidak ada setan, disanapun tak ada ular berbisa.

Apa pula yang dia takuti ?

Su kuli pikul itu berdiri dengan tangan sebelah memegang sepotong kueh keras, wajah mereka dari girang berubah menjadi kaget dan tercengang lalu dari kaget dan tercengang berubah menjadi seram akhirnya dari rasa seram berubah menjadi rasa curiga.

Sekarang paras muka mereka telah berubah menjadi dingin kaku tanpa emosi lagi, tiba-tiba serunya.

"Tauke....!"

Bu-ki bukan seorang tauke.

Tidak sedikit memang kejadian aneh dilihat, dirasakan, dan dialaminya sepanjang hidup tapi ia belum pernah menjadi seorang tauke.

Tapi selama ini keempat orang tukang pikul itu selalu menyebutnya sebagai tauke.

"Kau sedang memanggil aku?"

Tanya Bu-ki kemudian.

"Entah kami she apa yang pasti kami telah dicarter olehmu maka kau masih tetap merupakan tauke kami."

Mau tidak mau Bu-ki harus mengakui akan hal itu. Kembali si tukang pikul itu berkata.

"Kau membayar lima renca uang perak sehari untuk menjadi tukang pikul dan membawakan peti mati ini sampai wilayah Szechwan...."

"Benar"

"Sepanjang perjalanan sampai disini, pernahkah kami melakukan kelalaian atau pelanggaran ?"

"Tidak pernah!"

"Pernahkah kami malas atau mencuri waktu sehingga menunda perjalanan?"

"Tidak pernah!"

"Kau membayar lima rence uang perak sehari kepada kami, apakah kau merasa berat hati untuk membayarnya ?"

"Tidak, tidak berat!"

Ia tidak bisa tidak untuk mengakui hal ini, memang tidak gampang untuk menemukan tukang pikul macam mereka itu. Kembali si tukang pikul itu berkata.

"Kau mencarter kami untuk membawakan peti mati ini sampai diwilayah Szechwan. kamipun dengan bersungguh hati membawakan peti mati ini sampai ke tempat tujuan, bahkan kami berjanji pasti akan membawa peti mati ini sampai tempat tujuan dengan aman dan selamat."

"Bagus sekali!"

"Karenanya, aku harap kau jangan mengurusi persoalan-persoalan yang lain, sebab semua persoalan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan dirimu."

Ucapan tersebut sudah teramat jelas sekali maksudnya.

Mereka sama sekali tidak tahu akan asal usul dari taukenya ini, merekapun tidak ingin tahu, mereka hanya berharap taukenya ini juga tidak mencampuri urusan mereka.

Bu-ki hanya merasa kurang jelas akan satu hal.

Tak tahan lagi dia lantas bertanya.

"Tahukah kalian siapa yang berada di dalam peti mati itu?"

"Sahabatmu!"

"Tahukah kalian siapakah sahabatku ini?"

"Entah siapa pun sahabatmu itu, hal ini mana sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kami."

"Mengapa kalian bersedia memikulkan peti mati itu bagiku?"

"Karena kami bersedia!"

Sesudah berhenti sebentar, dengan suara hambar dia melanjutkan .

"Asal kami telah bersedia, entah apapun yang kami lakukan, hal mana sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu."

Bu-ki segera menghela nafas panjang.

"Yaa, ucapanmu memang sangat masuk di akal"

Mau tidak mau dia harus mengakui bahwa perkataan mereka memang cengli, masuk diakal tapi dalam hati kecilnya justru merasa bahwa perkataan itu sama sekali tidak masuk akal.

Semua perbuatan mereka hampir tak bisa masuk diakal karena setiap perbuatan yang mereka lakukan tak dapat dijelaskan dengan akal yang pada umumnya berlaku.

Tapi semua perbuatan tersebut benar benar telah terjadi...

malahan sudah ada lima orang yang mati lantaran persoalan ini.

Kehidupan adalah benar benar merupakan suatu kenyataan, demikian pula kematian.

Sekali lagi Bu ki menghela napas panjang, katanya.

"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku sebenarnya kalian ingin berbuatapa?"

Si tukang pikul itu mempertimbangkannya sebentar, akhirnya dia menjawab.

"Kami tak lebih hanya ingin membunuh seseorang yang sama sekali tak ada hubungan atau sangkut pautnya dengan kita"

"Kalian ingin membunuh diriku?"

Tiba tiba Hek thi han bertanya.

"Benar!"

Hek thin han tak bisa disebut sebagai sahabatnya Bu ki, tapi bagaimanapun juga Bu ki merasa masih berhutang budi kepada mereka ibu dan anak...

Empat orang tukang pikul itu sudah bersiap siap untuk turun tangan, dengan cepat mereka telah mendekati Hek thi han, lalu mengepungnya rapat rapat.

Busur besar anak panah panjang cuma bisa dipakai untuk menyerang jauh, makin dekat jaraknya makin terbatas daya kemampuan yang bisa dicapai.

Tak bisa disangkal lagi ke empat orang tukang pikul itu merupakan jago jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam menghadapi beratus ratus kali pertempuran.

Sudah barang tentu mereka cukup mengerti akan teori tersebut, dengan pengalaman serta ilmu silat yang mereka miliki, untuk membunuh manusia sperti hek thi han, pada hakekatnya hanya merupakan sesuatu pekerjaan yang dapat diselesaikannya dalam waktu sekejap mata.

"Tunggu sebentar!"

Tiba tiba Bu ki berteriak ekras. Sambil menarik muka si tukang pikul itu segera menegur.

"Apakah kau bermaksud untuk mencampuri urusan pribadi kami?"

Bu ki tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.

"Apakah kalian bersikeras akan membunuhnya?"

"Yaa, benar!"

Jawabannya amat tandas dan tegas terusnya.

"Jika ada orang ingin menghalangi niat kami, tak ada halangannya buat kami untuk membunuh seorang lebih banyak lagi"

"Apakah disebabkan ia sudah mengetahui asal usul kalian? Maka kalian bersikeras akan membunuhnya untuk menghilangkan saksi?"

Tukang pikul itu tidak menyangkal.

"Sekarang, akupun sudah mengetahui asal usul kamu sekalian"

Kata Bu ki kembali.

"Apakah kalian juga akan membinasakan diriku?"

"Aku telah berkata, asal kau tidak mencampuri urusan ini, kami akan memikulkan peti mati ini sampai ditempat tujuan dengan selamat"

Bu ki segera menghela napas panjang.

"Aaai...sekarang aku lebih tidak mengerti lagi"

Katanya.

"Sudah jelas disini ada dua orang yang mengetahui rahasia kalian, mengapa kalian hanya membunuh seorang?"

"Karena kami menyukai dirimu"

Sahut si tukang pikul itu sambil tertawa dingin. Tiba tiba paras muka Bu ki berubah hebat, ditatapnya wajah mereka dengan terkejut lalu serunya.

"Kau...kau..."

"Kenapa dengan diriku?"

Bu ki memandang sekejap kearahnya, kemudian memandang pula ketiga orang rekannya, sorot matanya penuh pancaran sinar kaget, tercengang dan seram.

Hek thi han yang memandang keempat orang itu juga menunjukkan mimik wajah yang sama, seakan akan dalam waktu singkat ke empat orang tukang pikul itu telah berubah menjadi setan yang menyeramkan.

Mimik wajah semacam ini, sudah pasti tak dapat diperlihatkan dengan pura pura.

Sebenarnya apa yang mereka saksikan?

Mengapa wajah mereka secara tiba tiba berubah menjadi begitu kaget?

Begitu ketakutan?

ORANG MATI KE SEPULUH SIKAP ke empat orang tukang pikul itu juga menunjukkan kegugupan, gelisah dan tak tenang, barang siapa yang ditatap orang dengan mimik wajah seperti itu, sikap mereka pasti akan berubah menjadi gugup dan gelagapan.

Sebenarnya sinar mata mereka berempat selalu tertuju ke wajah Hek Thi han dan Bu ki, tapi sekarang tak tahan lagi mereka saling berpandangan sendiri.

Cukup dalam sekilas pandang saja, paras muka mereka berempat segera menunjukkan pula mimik wajah seperti yang diperlihatkan Bu ki, malahan jauh lebih kaget, jauh lebih gugup dan jah lebih ngeri dari pada apa yang diperlihatkan Bu ki.

Salah satu orang diantara mereka tiba tiba membalikkan badan dan menerjang kemuka, tangannya dengan cepat mencengkeram poci air teh yang berada di sisi peti mati itu.

Pelk Lek thong tersohor dalam dunia persilatan karena senjata rahasia obat peledaknya yang amat dahsyat, tangan dari orang orang yang sering bermain senjata rahasia obat peledak sebagai senjata andalannya, paling tidak harus lebih mantap dari pada orang lain.

Tapi sekarang jangan toh senjata rahasia bahan peledak, sekalipun memegang poci air teh saja sudah tak sanggup lagi, mendadak mulutnya terbuka lebar, dia seperti mau menjerit tapi tak sepotong suarapun yang dapat diteriakkan.

Dari dalam tenggorokannya hanya terdengar suara desisan yang sangat lirih, menyusul kemudian tubuhnya ikut roboh terkapa diatas tanah, roboh tak berkutik lagi.

Rekan rekannya juga telah membalikkan badan lari kedepan, dua orang diantaranya segera terjungkal setelah keluar dari warung sedang seorang lagi roboh dalam warung itu juga.

Begitu roboh terkapar keatas tanah sekujur badan mereka mulai layu, bagaikan selembar daun yang terkena api, dalam waktu singkat menjadi layu dan kusut.

Sore telah menjelang datang.

Sinar matahari sore dimusim semi seperti ini, biasanya cahaya keemas emasan itu tampak indah dan menarik, akan tetapi tanah perbukitan tersebut seolah olah telah diselimuti oleh selapis bayangan hitam yang menyeramkan.

Itulah bayangan hitam dari kematian, maut seperti datang dari empat arah delapan penjuru.

Bahkan Bu ki sendiripun merasakan tangan serta kakinya menjadi dingin, apalagi Hek thi han, peluh dingin sebesar kacang telah membasahi jidatnya, ujung hidungnya dan sekujur badannya.

Detik terakhir menjelang kematiannya, mimik wajah yang diperlihatkan keempat orang tukang pikul itu sungguh menakutkan sekali.

Bukan untuk pertama kali ini Bu ki menyaksikan keadaan seperti itu.

Ketika Tong Giok keracunan, mimik wajahnya juga menunjukkan perubahan yang sama...

sinar matanya lambat laun menjadi buram dan redup, kelopak matanya makin menyusut kecil, lalu ujung bibirnya, ujung matanya serta kulit pipinya mengejang keras dan kering retak retak, setelah itu lapisan hitam yang menyeramkan menyelimut seluruh paras mukanya.

Yang paling menakutkan adalah, disaat wajah mereka mengalami perubahan, mereka sendiri sama sekali tidak merasakan apa apa, daya kerja racun jahat tersebut sedemikian mematikannya sehingga sampai saat menjelang tibanya ajalpun ia tak akan merasakan apa apa.

Bukan cuman tak akan merasakan apa apa dikala racun mulai bekerja, di kala daya kerja racunpun mulai menyebar keseluruh anggota badan juga tak akan merasakan apa apa.

Dalam keadaan tanpa terasa itulah racun jahat itu akan menyusup masuk ke dalam setiap rongga tubuhmu, menghancurkan urat syarap yang menghubungkan anggota badan dengan otak dan akhirnya merenggut selembar nyawamu.

***** Si KONGCU gemuk beserta rekannya yang semula duduk didalam warung, sekarang telah terjeglok dibelakang bambu, keempat tukang pikul tandunya saat itu juga secara diam diam tleah ngeloyor pergi.

Tak bisa disangkal lagi dibelakang warung itu terdapat sebuah jalan, bila bertemu dengan peristiwa semacam ini, asal orang itu punya kaki, mereka pasti akan mengambil langkah seribu.

Tiba tiba Hek thi han menghela napas panjang, katanya.

"Masakah dalam poci air teh itu benar benar beracun?"

Ia sedang bertanya kepada Bu ki.

Ditempat itu tinggal dua orang yang hidup dia serta Bu ki, hal mana membuat hubungan mereka seakan akan berubah menjadi lebih akrab dan dekat secara tiba tiba.

Seandainya kaupun pernah mengalami pengalaman seperti apa yang mereka alami itu, maka kaupun akan mempunyai perasaan demikan juga.

"Tampaknya dalam air teh tersebut pasti ada racunnya"

Sahut Bu ki sambil manggut manggut.

"Tapi bukan aku yang melepaskan racun itu"

Kata hek Thi han.

"Aku percaya"

"Tapi siapa yang melepaskan racun?"

"Aku tidak tahu"

Hek thi han termenung sambil membungkam. Wajahnya menunjukkan perasaan tersiksa dan menderita yang luar biasa, peluh dingin semakin banyak mengucur keluar dari tubuhnya.

"Apakah kau ada perkataan yang hendak disampaikan kepadaku?"

Tanya Bu ki kemudian. Hek thi han kembali termenung sampai lama sekali, mendadak serunya dengan suara lantang.

"Aku sama sekali tidak menginginkan nyawa mereka. Akupun tidak menginginkan peti mati ini. Aku sama sekali tak tahu kalau mereka berempat akan membawa sebuah peti mati"

Sedemikian kerasnya suara itu seakan akan sedang berteriak tapi ia bukan sedang berteriak kepada Bu ki, ia sedang berteriak kepada dirinya sendiri.

Bu ki dapat memahami perasaannya maka sepatah katapun tidak ia katakan, ia membiarkan dia sendiri mengucapkan kata kata tersebut.

Terdengar hek thian han berkata lagi.

"Ada orang memberitahukan kepada kami bahwa dalam peti mati itu tersimpan sejumlah "bungkusan merah"

Paling tidak nilainya mencapai lima puluh laksa tahil. Yang diartikan sebagai "bungkusan merah"

Oleh kalangan persilatan tak lain adalah sejumlah mestika dan harta kekayaan yang besar sekali jumlahnya.

"Tempo dulu kami mempunyai kebutuhan mendesak dan meminjam sejumlah uang kepada seseorang"

Hek thi han lagi.

"tapi ia minta kami membayar hutang tersebut dengan "bungkusan merah"

Ini, terpaksa kami hanya berusaha untuk mendapatkannya"

"Kebutuhan mendesak apakah yang kalian hadapi?"

"Bulan empat tanggal sebelas adalah ulang tahun seorang tuan penolong kami, setiap tahun kami harus mengirim sejumlah hadiah kepada dia orang tua"

Tentu saja Bu ki tahu siapakah tuan penolong yang dimaksudkan itu, sebab orang itu tak lain adalah Siau Tang lo yang misterius itu. Kembali Hek thi han berkata.

"Sejak dulu kami sudah ada perjanjian dengan orang lain, bila ia mengetahui ada "bungkusan merah"

Yang tidak jelas asal usulnya melewati daerah kekuasaanya, lantaran ia sendiri kurang leluasa untuk turun tangan, maka kabar itu selalu dia sampaikan kepada kami, bila berhasil maka hasilnya akan dibagi menjadi tiga tujuh"

Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.

"Sekalipun kami adalah perampok, tapi kami hanya mengerjakan "bungkusan merah"

Lagi pula harus suatu "bungkusan merah"

Yang tidak jelas asal usulnya.

Sebenarnya perkataan semacam ini tak akan diberitahukan kepada Bu ki, tapi dibawah tekanan kematian, kekuatan dan kengerian yang luar biasa, tiba tiba saja ia merasa harus mengucapkannya keluar.

Jika kau yang berada dalam keadaan dmeikian, sudah pasti kau sendiripun akan melakukan perbuatan yang sama.

Bu ki sama sekali tidak bertanya.

"Siapakah orang itu?"

Hal mana merupakan rahasia orang lain, ia tidak berhak untuk menanyakannya, selamanya dia enggan untuk menyelidiki rahasia pribadi orang lain...

Suara Hek thi han makin lama semakin rendah, makin bicara semakin sedih, akhirnya katanya dengan hati yang sedih.

"Sekarang walaupun aku sudah memahami apapun yang sebenarnya telah terjadi, sayang sekali keadaan sudah terlambat."

"Sebenarnya apa yang telah terjadi ?"

Tak tahan Bu-ki bertanya.

"Kesemuanya ini hanya merupakan suatu perangkap, perangkap busuk orang untuk menjebak kami!"

"Suatu perangkap ? Perangkap apa ?"

"Dia ingin membunuh keluarga Lui bersaudara, tapi dia sendiri tak dapat turun tangan, maka diapun ingin membunuh kami untuk menghilangkan saksi"

"Mengapa dia harus membunuh kalian?"

"Sebab hanya kami yang tahu akan rahasianya, markasnya, dan gudang penyimpanan harta rampokannya!"

Dari sedih ia berubah menjadi amat gusar, terusnya .

"Maka diapun menyiapkan siasat meminjam golok membunuh orang dan menjebak kami dengan rencana sekali timpuk dua ekor burung. Dia membiarkan kami saling bunuh membunuh, paling baik lagi jika kamu semua bisa mampus semua."

"tapi kau tidak punya bukti, kau tidak bisa membuktikan bahwa peristiwa ini pastilah suatu perangkap."

"Kau lah bukti yang paling jelas."

"Aku?"

Seru Bu-ki tercengang.

"Benar!"

"Apakah kau telah menyimpan sejumlah barang mestika di dalam peti mati ini?"

"Tidak!"

"Kalau toh dalam peti mati ini sama sekali tidak ada "bingkisan merah", kalau peristiwa ini bukan suatu perangkap ? lantas apa namanya ?"

Sepasang tangannya memegang kepalanya kencang-kencang, kemudian lanjutnya .

"Sekarang Lui bersaudara telah mati, saudara-saudara kamu juga telah mati, rencana merekapun telah berhasil, cuma sayangnya ...."

"Cuma sayang kau belum mati", sambung Bu-ki. Dengan penuh kebencian, Hek-thi han berseru. Selama aku masih bernafas, selama hayat masih dikandung badan, aku bersumpah untuk membongkar intrik busuknya yang amat licik dan keji ini. Bu-ki termenung sebentar lalu berkata .

"Sudah lama ku dengar akan nama besar Kim-kiong-gin-ciam, cu bu-siang hui (busur emas, anak panah perak, anak ibu terbang bersama), akupun tahu bukan saja ilmu memanah dari ibumu tiada ternyata, lagi pula seorang jago yang berotak cerdas, mengapa kau tidak mencarinya dan merundingkan persoalan ini dengannya ?"

Jilid 24________ "Penyakit yang diderita ibuku amat parah, persoalam semacam ini tak bisa kubicarakan lagi dengannya, aku tak ingin dia orang tua merasa risau dan cemas".

"Hek popo telah jatuh sakit? Mengapa kau tidak tinggal di sampingnya dan merawat penyakitnya itu?".

"Penyakit ibuku baru kambuh semakin parah setelah lewat hari ulang tahun dari tuan penolong kami itu, hari ini secara kebetulan kami telah bertemu dengan seorang nona yang baik hati, ia bersikeras hendak menahan ibuku untuk tinggal selama beberapa hari di sana agar ia bisa merawatnya sebab..."

"Sebab apa?".

"Sebab suaminya dengan kami, ibu dan anak pernah sedikit mempunyai sedikit persoalan". Jantung Bu ki berdebar-debar, ia berdebar dengan keras. Sekarang, tentu saja ia juga telah menduga si nona yang baik hati itu, tapi toh tak tahan lagi dia bertanya pula.

"Siapa nona itu?".

"Dia she Wi!".

"Ia telah membawa Hek popo pergi kemana?"

"Ketempat tinggal seorang jagoan Bu lim yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, bukan saja orang itu memiliki kepandaian ilmu pedang tiada taranya di kolong langit, lag pula pandai pertabiban, karena itu akupun merasa amat berlega hati". Bu ki tidak berkata apa-apa lagi, diapun tak dapat mengucapkan apa-apa lagi. Penderitaannya, kesedihannya, dan rasa rindunya tak mungkin bisa diutarakan di hadapan siapa saja. Bahkan untuk dipikirkan saja ia tak berani. Masih ada banyak pekerjaan yang harus dia lakukan, dia harus keraskan hati kerinduan merupakan titik kelemahan bagi manusia. Entah bagaimanapun juga, toh akhirnya ia berhasil mendapatkan kabar tentang Wi Hong nio, bagaimanapun juga dia dapat tahu bahwa dia sehat wal afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Menanti ia mendongakkan kepalanya lagi baru diketahui Hek thi han sudah berjalan keluar dari barak dan sedang menuruni bukit tersebut. Dengan cepat dia berseru.

"Eeh....tunggu sebentar!. Hek thi han tertawa paksa, sahutnya.

"Aku mempercayai dirimu, aku percaya dalam peti mati itu pasti tak terdapat apa-apa yang berharga".

"Aku sama sekali tidak kenal dengan Lui bersaudara, aku mencarter mereka dengan lima rence perak sehari untuk menggotongkan peti mati itu bagiku".

"Aku percaya!".

"Seorang kuli pikul yang dicarter orang untuk menggotong peti mati dengan upah lima rence perak sehari, mungkinkah rela beradu jiwa bagi seseorang?".

"Tidak mungkin, kecuali...."

"Kecuali dia juga tahu kalau dalam peti mati itu masih ada rahasia yang lain", sambung Bu ki. Mencorong sinar tajam dari balik mata Hek thi han setelah mendengar perkataan itu. Kembali Bu ki berkata.

"Meskipun aku tidak menyembunyikan "bingkisan merah"

Ke dalam peti mati ini, akan tetapi mereka....".

"Mereka memikulkan peti matimu itu, mungkin saja hanya ingin mempergunakan peti mati itu untuk melindungi penyaruan mereka dan menyelundupkan bingkisan merah itu sampai di wilayah Szuchuan...", seru Hek thi han cepat. Bila ingin membawa "bingkisan merah"

Orang memang sering kali mengirimkannya secara "gelap"

Terutama sekali bila "bingkisan merah"

Itu tidak jelas asal-usulnya. Cara orang persilatan mengirim barang "gelap"

Memang seringkali beraneka ragam, menggunakan orang mati dan peti mati sebagai pelindung bagi penyaruan mereka memang bukan baru pertama kali terjadi. Kata Bu ki kemudian.

"Akupun tahu bahwa saat ini kau tak akan tertarik lagi terhadap bingkisan merah itu, tapi kalau toh kau telah melakukan pekerjaan ini, paling tidak kau harus menyelidiki persoalan ini sampai menjadi lebih jelas lebih dahulu, anggap saja sebagai suatu pertanggung jawabmu terhadap saudara-saudaramu itu". Tak usah dia melanjutkan kata-kata tersebut, dengan langkah lebar Hek thi han telah berjalan balik. Jantung mulai berdebar-debar, makin berdebar semakin cepat. Sembilan orang dengan sembilan lembar nyawa tak lebih mereka korbankan demi sebuah peti mati. Sesungguhnya rahasia apakah yang tersimpan di balik peti mati itu?"

Peti mati yang terbuat dari kayu jati berkwalitas tinggi, indah dan amat berat.

Hek thi han telah menancapkan busur emasnya di atas tanah, kemudian membuka penutup peti mati itu dengan tangannya.

Dalam detik yang teramat singkat itu, secara tiba-tiba ia teringat akan banyak urusan, teringat banyak persoalan lama yang sebenarnya sudah lama ia lupakan.

Dia sendiri tidak tak tahu apa sebabnya dalam keadaan seperti ini secara tiba-tiba ia teringat akan berbagai persoalan itu.

Walaupun penutup peti mati itu sangat berat, tapi dengan tenaga dalam yang dimiliki Hek thi han, tentu saja secara mudah ia berhasil mengangkatnya tinggi-tinggi.

Bu ki telah berjalan keluar dari balik barak bambu itu.

Sebenarnya dia mengira kedatangan Hek thi han sekalipun kemungkinan besar disebabkan oleh Tong Giok, mereka tahu orang yang berada dalam peti mati adalah Tong Giok, tahu kalau Tong Giok belum mati dan mereka ingin merenggut nyawa Tong Giok.

Tidak bisa dikatakan lucu bila ia berpendapat demikian, sebab memang tidak sedikit orang yang ingin merenggut nyawa manusia yang bernama Tong Giok itu.

Tapi sekarang dia sudah tahu bahwa jalan pemikirannya itu salah besar....

Lantas, selain Tong Giok, sesungguhnya dalam peti mati itu masih terdapat barang apalagi?

Benarkah dalam peti mati itu, sungguh-sungguh terdapat sejumlah intan permata yang tak ternilai harganya?.

Dia sendiripun ingin sekali mengetahui jawabannya.

Karena peti mati itu, sudah banyak orang mengorbankan diri, pengorbanan yang harus dibayar sudah terlalu besar.

Dia sangat berharap Hek thi han bisa mendapatkan sedikit hasil yang bisa mengungkapkan keadaan tersebut.

"Sekarang, walaupun dia masih belum dapat melihat dengan jelas apa isi dalam peti mati itu, akan tetapi dia dapat membaca semuanya dari perubahan mimik wajah yang diperlihatkan oleh Hek thi han pada saat itu". Secara tiba-tiba saja, di atas paras muka Hek thi han telah memperlihatkan suatu perubahan mimik wajah yang tak bisa dilukiskan oleh siapapun juga. Mimik wajah itu bukan cuma rasa kaget, tercengang, takut dan ngeri saja, malahan terdapat pula suatu luapan emosi, gejolak perasaan dan nafsu serakah. Apabila barang yang dia saksikan cuma intan permata atau emas perak yang tak ternilai jumlahnya, tentu saja akan terjadi luapan emoasi, perasaannya bergejolak dan memperlihatkan nafsu serakah yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi, jika dilihat itu hanya intan permata atau benda mustika lainnya yang amat berharga, mustahil wajahnya akan menampilkan perasaan takut dan ngeri. Sebaliknya bila benda yang dilihat itu adalah suatu benda yang menakutkan atau menyeramkan hati siapapun yang melihatnya, maka jelas tak mungkin dia akan memperlihatkan mimik wajah orang yang lagi serakah atau bernafsu untuk mendapatkannya. Lantas, apa yang sesungguhnya telah dia saksikan? Apa yang sebenarnya terdapat di dalam peti mati yang telah menjadi incaran banyak orang itu?. Sebenarnya Bu ki ingin bertanya kepadanya, dia ingin bertanya apa gerangan yang telah disaksikannya dalam peti mati tersebut.

"Blaaammm....!"

Belum habis ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, mendadak penutup peti mati yang telah dibukanya itu tertutup kembali keras-keras, menutup kembali seperti secara tiba-tiba dihentakkan oleh orang keras-keras.

Sekujur badannya seolah-olah pada detik tersebut menjadi kaku membeku dan tak bisa bergerak lagi.

Menyusul kemudian dari atas tenggorokannya pelan-pelan menetes keluar setitik butiran darah yang dalam waktu singkat telah menjadi beku kembali.

Dengan suatu kecepatan yang luar biasa Bu ki menubruk kedepan lalu teriaknya keras-keras.

"Apa yang telah terjadi?". Napas Hek thi han telah terhenti, sepasang matanya yang semula bersinar tajam, kini telah berubah menjadi pucat keabu-abuan. Dengan mengucapkan segenap sisa tenaga yang dimilikinya, dia hanya sempat mengucapkan dua patah kata.

"Tong Koat......"

Setelah mengucapkan kedua patah kata itu butiran darah yang membeku di atas tenggorokannya tiba-tiba merekah, darah segar menyembur keluar dengan derasnya, badannya menyusut mundur ke belakang dan titik-titik darah menodai seluruh wajahnya.

MANUSIA DALAM PETI TONG KOAT, jelas kata-kata itu merupakan nama orang.

Bu ki seperti pernah mendengar nama ini, orang tersebut tak bisa disangkal lagi adalah anak keturunan dari keluarga Tong.

Sedetik menjelang saat kematiannya mengapa Hek thi han masih berusaha keras untuk menyebutkan nama orang itu?

Apakah dia ingin memberitahukan kepada Bu ki bahwa perangkap ini disiapkan oleh Tong Koat?

Mengapa Tong Koat menginginkan mereka dan Lui bersaudara mati bersama-sama?

Bukankah Pek lek tong telah bersekutu dengan keluarga Tong?

Mengapa Tong Koat hendak membinasakan Lui bersaudara?

Setelah membuka penutup peti mati tadi, sebenarnya apa yang telah dilihat Hek thi han?

Mengapa secara tiba-tiba tewas secara mengenaskan?.

Persoalan-persoalan itu tidak dimengerti oleh Bu ki.

Pada hakekatnya berpikirpun tak pernah ia pikirkan sebab dia telah menemukan suatu peristiwa yang jauh lebih menakutkan lagi....

Ia telah menemukan sebatang jarum.

Sebatang jarum perak sepanjang delapan hun,mengikuti semburan darah yang memancar keluar dari tenggorokan Hek thi han dan menyemprot keluar.

Tak bisa disangkal lagi, Hek thi han telah tewas di ujung jarum perak tersebut, sebatang jarum yang delapan hun panjangnya ternyata berubah menjadi sebatang senjata rahasia perenggut nyawa.

Senjata rahasia itu ternyata dipancarkan dari dalam peti.

Padahal dalam peti mati itu cuma Tong Giok seorang.

Seorang yang badannya sudah kaku dan mati rasa, mana mungkin bisa melepaskan senjata rahasia?

Ataukah racun yang menyerang tubuhnya telah punah?

Atau mungkin dia sudah mendapatkan kembali kekuatan hidup?

Bagi Bu ki, sepatah kata dari mulutnya berarti suatu senjata yang mematikan?

Asal ia masih dapat mengucapkan sepatah kata, berarti seluruh rencana Bu ki akan mengalami kegagalan total.

Peluh dingin telah membasahi telapak tangan Bu ki.

Bagaimanapun juga, ia tak dapat membiarkan Tong Giok tetap hidup, dia tak dapat membiarkan Tong Giok mempunyai kesempatan lagi untuk buka mulut dan berbicara.

Dia harus melenyapkan orang ini dari muka bumi, entah dalam peti mati itu ada rahasia apapun, dia sudah tak ingin mengetahuinya lagi.

Tiba-tiba ia teringat dengan Pek lek tan, peluru geledek dari kelompok Pek lek tong.

Senjata mematikan dari Pek lek tong sudah menggetarkan seluruh kolong langit, asal ia mendapatkan satu atau dua butir Pek lek tan saja, peti mati itu sudah dapat dipunahkan olehnya dan orang di dalam peti mati itu berikut rahasianya juga akan turut musnah tanpa bekas.

Lui bersaudara adalah empat Toa kim kong dari Pek lek tong, tentu saja dalam saku mereka terdapat senjata rahasia tunggal itu.

Baca Juga: Pendekar Bego 10

Baca Juga: Badik Buntung 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert