Ceritasilat Novel Online

Harimau Kemala Putih 9

Eps 9 Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.

Tetapi dari atas rambut mereka yang awut awutan sampai bawah kakinya sudah digeledah, tapi tak sebuah tempatpun yang bisa digunakan untuk menyimpan senjata rahasia tersebut.

Tiba-tiba Bu ki teringat kembali dengan kue keras yang berada di tangan mereka itu.

Mereka selalu menggenggam separuh potong kue keras tersebut di tangannya, apakah karena dibalik kueh keras itu tersimpan senjata rahasia mereka?

Bu ki bertekad untuk mencarinya sampai ketemu.

Reaksinya selalu cukup cepat, dalam waktu singkat ia telah memikirkan kembali seluruh situasi dan keadaan yang sedang dihadapinya.

Tapi sungguh tak disangka pada saat itulah mendadak terdengar seseorang berkata dari peti mati itu.

Terdengar orang itu menghela napas panjang lalu berkata.

"Apakah kau ingin mempergunakan bahan peledak dari Pek lek tong untuk meledakkan peti mati ini? Kita tiada dendam tiada sakit hati? Kenapa kau musti mencelakai diriku?"

Suara itu lemah lembut dan amat merdu penuh dengan daya tarik seorang perempuan, kedengarannya sama sekali tidak mirip dengan suara Tong Giok.

Tapi ada sementara orang dapat mempergunakan tenaga dalamnya untuk mengendalikan tenggorokannya sehingga mengeluarkan suara yang orang lain jangan harap bisa mengenalnya.

Siapa tahu Tong Giok dapat melakukannya seperti itu?"

Dengan nada menyelidik Bu ki lantas bertanya.

"Benarkah kita tiada dendam, tiada sakit hati?".

"Kau belum pernah berjumpa denganku, akupun tidak kenal denganmu dari mana pula datangnya dendam atau sakit hati?"

Jawab orang dalam peti mati itu.

"Sungguh?".

"Asal kau membuka peti mati itu dan melihatnya sendiri, dengan cepat akan kau ketahui aku sedang berbohong atau tidak"

Tentu saja Bu ki tak akan melakukan perbuatan semacam itu.

Apa yang telah menimpa diri Hek thi han sudah merupakan suatu pelajaran yang sangat baik baginya.

Orang di dalam peti mati itu kembali berkata.

"Sesungguhnya akupun ingin sekali melihat kau, aku pikir kau pastilah seorang pemuda yang masih muda mana tampan lagi".

"Aku telah berdiri di sini asal kau keluar maka kau dapat melihat wajahku".

"Mengapa kau tidak membuka peti mati ini untuk melihat diriku?".

"Dan kau sendiri mengapa tidak keluar dari peti mati itu?". Orang di dalam peti mati itu segera tertawa.

"Tak kusangka dengan usiamu yang masih begitu muda cara kerjamu ternyata sangat berhatihati".

"Kalau kudengar dari suaramu", balas Bu ki.

"Usiamu juga tak akan terlalu tua lagipula pasti merupakan seorang gadis yang amat cantik jelita"

Orang di dalam peti mati itu segera tertawa.

"Oooh, rupanya kau juga pandai berbicara, aku pikir pasti akan ada banyak gadis yang menyukaimu". Tiba-tiba ia menghela napas panjang, terusnya.

"Sayang sekali aku sudah terlampau tua, aku sudah seorang nenek-nenek, aku sudah pantas untuk memelihara seorang putra sebesar kau". Tubuhnya masih berada di dalam peti mati, hal mana berarti sudah merupakan suatu keberuntungan daripada Bu ki.

"Darimana kau bisa tahu kalau usiaku masih muda?", Bu ki lantas bertanya setelah termenung sebentar.

"Kau adalah sahabatnya Tong Giok, tentu saja usianya tak akan selisih banyak dengan dirinya!".

"Darimana kau bisa tahu Tong Giok itu masih muda? Apakah kau pernah bersua dengannya?".

"Sekarang ia berbaring di sisiku, kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?". Peti mati yang berkwalitet baik memang selalu lebih lebar dan besar, dengan ruang selebar itu, memang bukan suatu masalah untuk memuat dua orang sekaligus.

"Darimana aku bisa tahu kalau Tong Giok benar benar masih berada di dalam peti mati itu?"

Kembali Bu ki bertanya.

"Oooh, jadi kau tidak percaya?"

Tiba tiba sebuah jari tangan menongol keluar lewat lubang hawa di bawah peti mati itu, serunya.

"Coba kau lihat, bukankah jari tangan ini adalah jari tangannya.....?"

Benar, jari tangan itu memang jari tangan Tong Giok. Mandadak Bu ki tertawa, serunya.

"Oooh rupanya kau adalah Tong Giok, rupanya kau......"

Belum habis dia berkata, dari lubang hawa yang lain telah menongol kembali sebuah jari tangan.

Jari tangan itu halus lembut dan ramping, di atas kukunya malah memakai cat warna yang amat indah.

Jelas tangan itu bukan tangan Tong Giok.

Ini membuktikan, di dalam peti mati itu benar benar terdapat dua orang manusia.

Selain Tong Giok, siapakah orang yang satunya ini?

Kenapa dia menyembunyikan diri di dalam peti mati?

Diam diam Bu ki menyelinap ke ujung lain dari peti mati itu, kemudian tangannya mencengkeram penutup peti mati itu serta menyingkapnya keras keras.

Begitu penutup peti mati itu terbuka, akhirnya ia menjumpai juga orang itu.

Sekarang dia baru mengerti, apa sebabnya Hek thi han menunjukkan mimik wajah yang aneh setelah melihat isi peti mati tadi.

Orang yang berbaring di sisi Tong Giok itu, ternyata bukan lain adalah seorang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan yang hampir berada dalam keadaan telanjang.

Cian cian adalah seorang gadis cantik.

Hong nio adalah seorang gadis cantik.

Hiang hiang juga seorang gadis yang cantik.

Bu ki bukan seorang laki laki yang belum pernah bergaul dengan perempuan cantik, tapi setelah ia jumpai perempuan ini tiba tiba saja dalam hatinya muncul suatu pergolakan emosi, suatu rangsangan napsu yang aneh sekali.

Perempuan ini bukan saja amat cantik,pada hakekatnya sedemikian cantiknya sehingga dapat membuat lelaki di dunia ini rela berbuat dosa baginya.

Kecantikannya boleh dibilang jauh lebih manis dari Cian cian, jauh lebih matang dari Hong nio dan lebih anggun daripada Hiang hiang....

Pinggangnya begitu ramping, sepasang pahanya begitu indah, payudaranya begitu montok dan padat berisi.

Kulit badannya putih mulus bagaikan susu, seakan-akan gading yang berharga, seperti juga manisnya susu sapi yang lembut dan halus.

Rambutnya hitam dan berkilat.

sepasang matanya berwarna hijau dan berkilauan memancarkan sinar jeli dan bening.

Pakaian yang dikenakan tidak lebih banyak daripada pakaian yang dikenakan seorang kanak kanak, tubuhnya yang indah dan ramping tapi penuh padat berisi itu hampir terpampang semua dengan jelasnya.

Ia sedang memperhatikan Bu-ki, lalu sambil tersenyum katanya.

"Aku bukan sengaja hendak merangsang napsu birahimu, cuma saja lantaran udara di dalam sini terlalu panas, mana sumpek, sesak lagi udaranya, ditambah lagi sedari kecil aku takut panas maka sudah mulai dari kecil dulu aku tidak begitu suka mengenakan pakaian yang terlampau banyak"

Bu ki menghela napas panjang, lalu tertawa getir, katanya.

"Untung saja Tong Giok tak dapat melihat kalau disisinya terdapat seorang perempuan macam kau sedang berbaring di sana? Perempuan itu segera tertawa.

"Sekalipun ia dapat melihat juga sama saja."

"Sama saja ?"

"Yah. Asal aku merasa kepanasan, maka pakaianku tetap akan kutanggalkan semua. Aku tak ambil peduli apa yang bakal dipikirkan orang lain, aku sama sekali tak acuh terhadap pendapat orang"

Senyumannya begitu menawan dan mempesonakan hati, katanya lebih lanjut.

"Aku hidup demi diriku sendiri, mengapa aku harus menyiksa diriku hanya demi kepentingan orang lain?"

Bu ki tak sanggup menjawab, diapun tak mampu untuk membantah perkataannya itu. Sambil menepuk nepuk pipi Tong Giok perempuan itu berkata lagi.

"Untung saja sahabatmu ini seorang yang suka akan kebersihan, selain itu tampangnya juga cukup ganteng"

Ia memperhatikan sekejap seluruh badan Bu ki dari atas sampai kebawah kemudian sambil tertawa katanya lagi.

"Seandainya orang yang berbaring disisiku adalah kau, hal itu jauh lebih baik lagi meskipun wajahmu tidak setampan wajahnya tapi kau jauh lebih berjiwa seorang lelaki daripada dirinya."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Lelaki yang tampan belum tentu disukai perempuan, lelaki macam kau baru menarik hatiku"

Dia sengaja menghela napas panjang kemudian terusnya.

"Sayangnya aku sudah menjadi seorang nenek keriputan aku sudah pantas untuk mempunyai seorang putra sebesar kau."

Bu ki hanya bisa mendengarkan pembicaraannya ia hakekatnya tak sanggup untuk turut menimbrung.

Perempuan semacam dia memang tidak banyak jumlahnya.

bila kau bisa bertemu seorang saja, maka kaupun tak akan sanggup untuk mengucapkan apa apa.

Tapi ia justru masih bertanya kepada Bu ki.

"Eeeh, mengapa kau tidak berbicara?"

"Semua perkataan sudah kau borong seorang diri, mana aku masih kebagian kata kata lagi?"

Perempuan itu kembali menghela napas panjang.

"Aaai.....! Sekarang aku baru tahu, kau benar benar seorang lelaki yang pintar"

"Mengapa?"

"Sebab hanya lelaki yang pintar baru mengerti untuk banyak melihat dengan mata, sedikit berbicara dengan mulut"

Bu ki sendiri mau tak mau harus mengakui juga, sepasang matanya memang tak bisa dikatakan terlalu jujur.

Tapi air mukanya sama sekali tidak memerah, diapun tidak nampak jengah atau tersipu sipu, malahan katanya sambil tertawa.

"Thian memberi sepasang mata dan sebuah mulut kepada kita, hal ini menunjukkan bahwa manusia hanya disuruh banyak melihat sedikit berbicara......."

Perempuan itu kembali tersenyum.

"Aku berjanji pasti akan seringkali mengucapkan katakata kepada orang lain di kemudian hari."

"Tapi Thian pun tidak terlalu adil!"

Kata Bu-ki lebih jauh.

"Apanya yang tidak adil?"

"Bila Thian itu adil, kenapa kau diberi sepasang mata semacam itu?"

Ditatapnya biji mata yang berwarna biru muda itu lekat-lekat, kemudian terusnya.

"Ketika Thian menciptakan sepasang matamu itu, bahan yang digunakan adalah intan permata dan zamrud, tapi ketika menciptakan mata orang lain, yang digunakan cuma tanah liat."

Senyuman perempuan itu semakin memikat hati, serunya.

"Walaupun ucapanmu itu sangat bagus, tapi sayang keliru besar......!"

"Bagaimana kelirunya?"

"Sepasang mataku ini bukan pemberian dari Thian, tapi ayahku yang memberinya padaku."

"Oya?"

"Ayahku adalah seorang Oh-cia!"

"Oh-cia?"

"Oh-cia artinya adalah seorang pedagang yang datang dari negeri Persia........"

Semenjak jaman dinasti Han tong, pedagang Persia memang seringkali mengadakan perdagangan di negeri Tionggoan.

Walaupun saudagar-saudagar yang datang dari Persia rata-rata menjadi kaya-raya dan jutawan, tapi kedudukannya dalam masyarakat sangat rendah.

"Oh-cia"

Bukanlah sesuatu sebutan yang mendapat penghormatan atau sanjungan dari orang lain. Kembali perempuan itu berkata.

"Walaupun ayahku kaya-raya dan punya uang banyak, tapi ia tak pernah mendapat istri, sebab gadis-gadis dari keluarga baik enggan menikah dengan seorang saudagar Persia, maka terpaksa dia harus mengawini perempuan macam ibuku itu."

Setelah berhenti sejenak, dengan suara hambar dia melanjutkan.

"Ibuku adalah seorang lonte, konon dulunya dia malah seorang lonte kenamaan dari kota Yang-ciu."

"Lonte"

Tentu saja sebutan yang lebih tak enak didengar lagi, akan tetapi ia sama sekali tidak merasakan rendah diri sewaktu mengucapkannya keluar, bahkan dia beranggapan bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang memalukan.

Dia malahan masih bisa tertawa dengan riang gembira, lanjutnya.

"Oleh sebab itu, ketika aku masih kecil dulu, orang lain seringkali menyebut aku sebagai si anak jadah!"

"Tentunya kau marah sekali, bukan?"

Tanya Bu-ki.

"Mengapa aku harus marah? Aku adalah aku, terserah orang lain mau menyebut apa saja kepadaku, bagiku sebutan tidak menjadi persoalan, manusia macam apakah aku ini meski diganti namanya juga tetap manusia semacam itu, toh tak mungkin karenanya mengalami perubahan, bukan?"

Setelah tersenyum, kembali dia berkata.

"Seandainya kau benar-benar seorang anak jadah misalnya, sekalipun orang lain menyebutmu nenek-moyangnya, kau toh masih tetap seorang anak jadah, bukan begitu?"

Bu-ki turut tertawa.

Bukan saja ia tidak memandang rendah dirinya karena persoalan itu, malahan sebaliknya timbul suatu kesan yang baik sekali terhadap dirinya.

Sebenarnya dia masih beranggapan bahwa pakaian yang dikenakannya terlalu sedikit, sehingga mirip sekali dengan seorang perempuan yang tidak genah.

Tapi sekarang dia beranggapan lain, dia merasa sekalipun ia tidak berpakaian pun juga tak menjadi soal, dia tetap bisa menghormatinya, ia pun tetap akan menyukainya.

Perempuan itu kembali tertawa, katanya lebih jauh.

"Akan tetapi namaku yang sebenarnya justru amat sedap didengar."

Dia menyebutkan namanya sendiri.

"Aku bernama Mi Ci, Mi berarti manis seperti madu, Ci berarti perempuan penghibur, jadi namaku Mi Ci berarti perempuan penghibur yang manis seperti madu."

Mi Ci.

Nama tersebut memang sebuah nama yang menarik, indah dan manis, semanis orangnya.

Berada di hadapan seorang gadis yang begitu menarik, begitu terbuka, hampir saja Bu-ki terpaksa menyebut nama sendiri.

Untung saja sebelum ia terlanjur berbicara Mi Ci telah berkata lebih dulu.

"Aku juga tahu akan namamu, kau bernama Li Giok Tong"

Tong Giok juga pernah menggunakan nama palsu itu, mungkin nama itu hanya disebutkan sekenanya saja.

Bu ki merasa nama itu sangat enak didengar, lagipula agak keren, maka dikala pemilik toko penjual peti mati bertanya kepadanya.

"Kek koan, siapa namamu?"

Tanpa ia sadari dia telah menyebutkan nama tersebut.

Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Mi Ci sudah mengetahui hal ini, manakah waktu itu ia mulai memperhatikan dirinya?

"Sudah semenjak lama sekali kami menaruh perhatian kepadamu"

Kata Mi Ci menerangkan.

"Kalian?"

Ulang Bu ki.

"Kami artinya aku dan Lui bersaudara, masih ada lagi seorang lo sianseng...."

Yang dimaksudkan sebagai lo sianseng tersebut sudah barang tentu adalah si kakek yang berilmu sangat lihay itu.

"Seandainya kukatakan namanya, kau pasti akan merasa terperanjat sekali, maka lebih baik tidak kukatakan saja siapa nama orang itu"

Kata Mi Ci. Bu ki juga tidak bertanya apa apa. Kembali Mi Ci melanjutkan.

"Dia adalah sobat lama ayahku, semenjak kecil dulu ia sudah melindungi keselamatan jiwaku. Ketika ayahku telah meninggal dunia, pada hakekatnya dia telah menganggap aku sebagai putrinya sendiri."

Setelah menghela napas panjang, terusnya.

"Aku benar-benar tidak habis mengerti, apa sebabnya secara tiba-tiba ia pergi meninggalkan aku"

Bu ki juga tidak habis mengerti, cuma saja ia merasakan ketika kakek itu pergi meninggalkan tempat itu, tampaknya ia sudah menderita luka yang cukup parah. Sambil tertawa Mi Ci berkata lagi.

"Kami semua memperhatikan dirimu bukan disebabkan kau memiliki wajah yang cukup menawan hati"

"Apa yang menjadi tujuan kalian?"

Tanya Bu ki.

"Tujuan kami yang sesungguhnya adalah Tong Giok"

"Tong Giok?"

"Ketika kami menemukan bahwa si nona bercelana merah yang sering kau bawa-bawa itu adalah Tong Giok, kamu sudah mulai memperhatikan gerak gerikmu"

"Kau kenal dengan dia?"

"Justru karena kami kenal dia, ia juga kenal dengan kami, maka sekalipun sudah memperlihatkan diri sendiri dulu, namun kau sama sekali tak pernah melihat bayangan tubuh kami semua"

"Kenapa?"

"Sebab, kami tak bisa memperlihatkan diri sehingga diketahui olehnya..."

"Mengapa begitu?"

Kembali Bu Ki bertanya.

"Sebab dia sangat ingin merenggut nyawa kami, kamipun ingin sekali merenggut nyawanya"

"Lui bersaudara adalah orang orang Pek Lek Tong, kini Pek Lek Tong telah bersekutu dengan Tong Giok"

"Tapi kami toh tidak bersekutu dengan Tong Giok"

Sambung Mi Cin dingin.

Kalau didengar dari ucapannya itu seolah-olah di dalam tubuh Pek Lek Tong sendiri telah terjadi perpecahan, lagipula perpecahan itu tampaknya disebabkan karena persekutuan dengan pihak keluarga Tong.

Bagi Bu ki, sudah barang tentu kejadian itu merupakan suatu berita baik, bisa terjadi perpecahan di tubuh organisasi lawannya, hal ini berarti suatu keuntungan baginya.

Sekalipun dia tidak bertanya lebih jauh, tapi dia menemukan bahwa di balik kejadian ini sudah pasti terdapat banyak sekali rahasia besar yang tak akan diketahui orang luar.

"Sejak melihat kemunculan tong Giok tempo hari kami sudah berniat untuk membunuhnya"

Kata Mi Ci menerangkan.

"Mengapa kalian tak pernah turun tangan?"

"Karena kau!"

"Aku?"

"Lo siangseng itu selalu beranggapan bahwa kau adalah lawan yang sangat menakutkan, dia bilang bukan saja ilmu silat yang kau miliki sangat tinggi, lagi pula cerdik, pandai menahan diri dan tenang"

Setelah tertawa riang, lanjutnya.

"Belum pernah kudengar dia memuji-muji orang lain seperti apa yang pernah dia katakan tentang dirimu"

Bu ki tertawa.

"Tampaknya ketajaman mata lo siangseng ini sangat mengagumkan sekali!"

Walaupun ia sedang tertawa namun tertawa tersebut tidak terlampau riang atau gembira, sebab dia tidak berharap orang lain memandang terlalu serius terhadap dirinya.

Semakin rendah orang lain menilai dirinya semakin tak perlu dia berjaga-jaga.

Dengan begitu, dia baru akan mendapat kesempatan yang baik untuk turun tangan.

Seorang yang betul-betul amat cerdik, tak akan memandang rendah terhadap musuhnya, dia akan berharap musuh memandang rendah terhadap kemampuannya.

Musuh yang sudah menilai rendah terhadap dirinya, sudah pasti akan mempunyai suatu kesalahan yang fatal dan akan mematikan.

Seseorang, apabila ia dapat membuat musuh dirinya mempunyai dugaan yang salah terhadap dirinya, itu berarti separuh dari usahanya telah berhasil.

Inilah nasehat-nasehat yang pernah dipelajari Bu ki dari Sugong Siau Hong, tak akan ia lupakan nasehat tersebut untuk selamanya.

"Sungguh tak disangka belum lagi kami turun tangan, Tong Giok telah berubah menjadi seorang cacat"

Kata Mi Ci.

"Aku sendiripun tidak menyangka!"

"Lebih tak kusangka lagi ternyata kau cukup bersetia kawan, ternyata kau hendak menghantarnya pulang ke benteng keluarga Tong"

Sesudah tersenyum dia melanjutkan.

"Yang lebih kebetulan lagi, ternyata kau hendak menghantarnya pulang dengan menggunakan peti mati, melihat kau membeli peti mati dan mencari tukang pikul, kami segera tahu bahwa kesempatan baik untuk kami telah tiba"

"Kesempatan baik apa?"

"Kami ingin juga berkunjung ke benteng keluarga Tong, tapi tak ingin sampai diketahui orang lain, kamipun tak dapat membiarkan orang lain mengetahuinya"

"Maka kau lantas teringat untuk menyuruh Lui bersaudara menjadi tukang pikul serta membawa kau dan Tong Giok kembali ke benteng keluarga Tong?"

Mi Ci segera tertawa.

"Bersembunyi di dalam peti mati meski rada panas sedikit, tapi aman sekali, jarang sekali ada orang yang bakal membuka peti mati untuk melihat isinya"

"Oleh karena itu Lui bersaudara hanya berharap aku jangan turun tangan, tapi tidak berniat untuk membunuhku menghilangkan saksi?"

Kata Bu ki.

"Ya, sebab mereka masih berharap agar kau bisa menghantar peti mati itu sampai di tempat tujuan"

"Kalian sendiri mengapa tak dapat pergi ke benteng keluarga Tong?"

"Agaknya mereka tidak terlampau senang menyambut kedatanganku di situ"

"Kenapa?"

Mi Ci segera tertawa manis.

"Sebab perempuan-perempuan keluarga Tong kuatir kalau kedatanganku di sana bakal menggaet suami-suami mereka" ***** Tentu saja jawaban tersebut bukan suatu jawaban yang jujur, jawaban yang sesungguhnya pasti tak bisa diutarakan dengan begitu saja, sebab masalahnya menyangkut suatu keadaaan yang amat besar, dan lagi bagaimanapun juta "Li Giok Tong"

Kan sahabatnya Tong Giok.

"Seandainya aku adalah orang lain, aku masih bisa menyusup ke dalam benteng keluarga Tong dengan jalan menyaru"

Kata Mi Ci.

"cuma sayangnya, Thian justru terlalu sayang kepadaku, ia telah menghadiahkan sepasang mata yang begini indah seperti apa yang kumiliki sekarang"

Sesudah menghela napas panjang, terusnya.

"Kecuali kalau kukorek keluar sepasang mataku ini, kalau tidak, kendatipun aku menyaru sebagai apa saja, orang lain toh tetap mengenali diriku dalam sekilas pandangan saja"

Akhirnya sekarang Bu ki baru tahu, apa sebabnya dia harus menyembunyikan diri di dalam peti mati.

"Sesungguhnya cara ini merupakan suatu cara yang jitu dan bagus, tak disangka ternyata cara inipun diketahui Tong Koat!"

"Manusia macam apakah Tong Koat itu?"

"Orang ini jarang sekali berkelana di dalam dunia persilatan, bukan saja jarang ada orang yang pernah bertemu dengannya, bahkan orang yang pernah mendengar namanyapun tidak banyak, tapi orang itu justru lebih lihay daripada apa yang pernah dibayangkan orang selama ini"

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Tong Giok?"

"Kalau Tong Giok dibandingkan dengannya maka pada hakekatnya dia seperti seorang anak kecil saja"

"Aku hanya tahu di antara anak keturunan keluarga Tong yang paling hebat dan menonjol adalah seseorang yang bernama Tong Ou!"

"Tong Ou memang orang yang berilmu paling lihay di antara saudara-saudaranya, namun nama besarnya juga paling tersohor di dunia ini, tapi Tong Koat benar-benar lebih menakutkan daripada Tong Ou"

Setelah menghela napas panjang,terusnya "Aku lebih suka berkelahi dengan Tong Ou daripada harus berbicara dengan Tong Koat."

Bu ki tertawa.

"Kalau didengar dari pembicaraanmu itu, bukankah orang itu lebih mirip seorang siluman daripada manusia?"

"Bila kau telah berjumpa dengan orang itu, maka akan kau ketahui apakah dia memang siluman atau bukan"

"Aku lebih senang kalau tak sampai bertemu dengannya"

"Sayang sekali cepat atau lambat pasti akan bertemu juga dengan dirinya"

"Kenapa?"

"Sebab dia dan Tong Giok adalah saudara yang paling akrab, setelah ia tahu aku berada di dalam peti mati sekarang, tentu saja diapun tahu kalau di sini masih ada seorang manusia lain seperti kau"

Sesudah tertawa hambar, terusnya.

"Sekarang, walaupun kau belum sampai bertemu dengannya, siapa tahu kalau dia sudah melihat dirimu?"

"Jadi kau beranggapan bahwa kedatangan Hek Thi Han sekalian, sesungguhnya adalah bertujuan untuk menghadapi dirimu?"

"Sudah pasti begitu!"

Mengapa dia sendiri tak pernah menampakkan diri? Karena ia tidak turun tangan sendiri untuk menghadapi dirimu?"

Sekali lagi Mi Ci tertawa manis.

"Sebab dia tahu, asal telah berjumpa denganku, maka dia bakal mati karena bakal terpikat oleh diriku"

Tentu saja, jawaban itupun bukan suatu jawaban yang jujur. Tampaknya antara dia dengan keluarga Tong seakan-akan terdapat suatu hubungan yang luar biasa sekali. Mi Ci telah berkata lagi.

"Ia juga tahu kalau adiknya belum mati dan sekarang lagi berbaring di sisiku, terhadap lelaki semacam Tong Giok akupun tidak mempunyai minat yang terlalu besar, bila sampai marah, bisa jadi aku mencekiknya hidup-hidup sampai dia mati"

Perkataan itupun sengaja ia ucapkan ke Bu ki, karena Bu ki, adalah sahabatnya Tong Giok.

Sekarang, Bu ki memang tidak berharap Tong Giok sampai mati tercekik, padahal melihat gelagat Mi Ci sekarang tampaknya setiap waktu setiap saat ia dapat mencekik Tong Giok sampai mati.

Terpaksa dengan nada menyelidik, dia bertanya.

"Kelihatannya kau sudah tak dapat menggunakan cara ini untuk menyelundup masuk ke dalam benteng keluarga Tong"

"Kelihatannya memang begitu...."

Sahut Mi Ci sambil menghela napas panjang.

"Lantas apa rencanamu selanjutnya?"

Mi Ci tidak menjawab, tiba-tiba tanyanya.

"Pernahkah kau mendengar suatu perkataan yang mengatakan tentang Indah dilihat tapi tak enak dimakan?"

Bu-ki memang pernah mendengan perkataan itu. Mi Ci berkata lebih lanjut.

"Ada sementara barang yang tampaknya meski indah dan menarik, sesungguhnya tak enak bila dimakan"

Bu ki juga mengerti akan arti dari perkataan itu, tapi tidak habis mengerti apa sebanya secara tiba-tiba dia mengucapkan perkataan itu.

"Ada sementara orangpun demikian keadaannya"

Kata Mi Ci.

"walaupun wajahnya kelihatan cantik, sesungguhnya tidak enak bila dimakan"

Sesudah berhenti sebentar dan tertawa dia melanjutkan.

"Aku adalah manusia semacam ini, indah dilihat tak enak dimakan"

Seandainya Bu ki masih kanak-kanak, dia tentu akan merasa keheranan mana mungkin manusia bisa dimakan?

Untung saja Bu ki telah dewasa, tentu saja ia mengerti apa yang diartikan dengan istilah dimakan itu.

Tapi iapun tidak habis mengerti, kenapa gadis cantik jelita yang bertubuh montok serta padat berisi ini bisa tak enak dimakan.

"Karena sedari bagian pinggang ke bawah aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi, kedua kakiku sama sekali tak bertenaga lagi, bahkan digerakkan sedikitpun tak bisa"

Sesudah tertawa cekikikan, dia melanjutkan.

"Seandainya kau adalah suamiku, kau pasti akan mati karena gemas, mati karena tak tahan"

Ternyata perempuan cantik itu adalah seorang cacat.

Gadis yang masih begitu muda dan begitu cantik ternyata lumpuh separuh badannya, sungguh kejadian ini merupakan kejadian yang tragis sekali.

Seandainya orang lain yang berada dalam keadaan seperti itu, entah betapa sedih dan menderita orang itu.

Tapi ia sama sekali tidak merasa sedih atau menderita, kejadian yang begitu tragis hanya dianggapnya sebagai suatu gurauan belaka.

Sebab, dia memang enggan menerima belas kasihan serta perasaan simpatik dari orang lain.

Ia tahu lelaki paling tidak tahan terhadap perempuan yang sepanjang hari selalu berkeluh kesah dan setiap saat bisa mengucurkan air matanya karena sedih.

Bu ki tidak berkata apa-apa, sedang di hati kecilnya sedang berpikir.

"Seandainya aku adalah dia, apa pula yang harus kulakukan?"

Dia tak tahu apa jawabannya.

Seorang gadis lumpuh berbaring di dalam sebuah peti mati, sementara rekan-rekannya meski berada di luar peti mati, namun mereka semua sudah mati....

Apa yang bisa ia lakukan sekarang?

Mi Ci memandang kearahnya, lalu berkata.

"Aku tahu, tadi kau pasti menganggap pula diriku sebagai seorang gadis yang berhati kejam, karena aku sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Hek Thi Han, begitu turun tangan aku lantas membinasakan dirinya....."

Tadi Bu ki memang berpendapat demikian.

"Sekarang"

Lanjut Mi Ci.

"kau tentunya tak akan berpendapat demikian bukan? Karena bila kau menjadi aku kaupun pasti akan berbuat demikian pula"

Bu ki mengakui.

Entah siapapun orangnya, bila berada di dalam keadaan seperti ini dia pasti akan turun tangan lebih keji, sebab kalau ia tidak membunuh orang maka oranglah yang akan membunuh dirinya.

Perebutan antara mati dan hidup, sesungguhnya memang merupakan kejadian yang keji.

Demi melanjutkan hidupnya di dunia ini, banyak sekali orang berhati mulia yang dipaksa untuk melakukan sesuatu perbuatan yang tak mungkin akan dilakukannya di waktu-waktu biasa.

"Oleh karena itu, seandainya aku menggunakan sahabatmu ini untuk menggertak dirimu, tentunya kau juga tak akan menyalahkan diriku bukan?"

Kata Mi Ci.

"Dengan cara apa kau hendak mengancam diriku?"

"Tong Giok belum mati, kau tentunya tidak menginginkan kematiannya bukan?"

"Tapi setiap saat kau dapat merenggut nyawanya!"

"Oleh sebab itu kalau seandainya aku minta kepadamu agar akupun dibawa serta, apakah permintaanku ini bisa dianggap kelewat batas?"

"Tidak, tak bisa dikatakan kelewat batas"

Mi Ci segera tersenyum.

"Aku memang tahu kalau kau adalah seorang yang berhati baik"

Katanya lembut.

"Tapi aku tak tahu harus mengantar dirimu sampai di mana?"

Sekali lagi Mi Ci tersenyum.

"Paling tidak, kau harusnya menghantar aku dulu ke suatu tempat yang tak ada orang matinya dan tak ada bau amis darah, agar aku bisa menghembuskan napas lega dan makan makanan yang lezat serta banyak gizinya....."

"Kemudian?"

Mi Ci menghela napas panjang, terusnya.

"Kemudian, kejadian apa yang bakal terjadi, siapakah yang bisa mengetahuinya?"

Sudah barang tentu mustahil bagi Bu ki untuk menggotong sendiri peti mati itu turun ke bawah bukit, untung saja ia melihat tandu yang dipakai si kongcu gemuk tadi masih berada di luar barak bambu.

Para penandu adalah orang-orang miskin.

Usungan yang terbuat dari dua batang bambu itu merupakan satu-satunya alat pencari makan yang mereka miliki, itulah mangkok nasi mereka.

Entah siapapun di dunia ini sudah barang tentu mereka tak akan meninggalkan alat pencari sesuap nasi mereka dengan begitu saja.

Bu ki percaya mereka pasti belum pergi terlalu jauh.

Orang yang bisa menggotong kongcu gemuk itu, tentu saja kuat pula untuk menggotong sebuah peti mati.

"Seandainya kau ingin mencari orang yang menggotong peti mati ini, silahkan saja pergi mencari dengan berlega hati"

Kata Mi Ci.

"Tapi kau....."

"Sekalipun kakiku tak bisa bergerak, aku toh masih mempunyai sepasang tangan"

Dengan mempergunakan sepasang tangannya yang lembut tak bertulang itu dia membelai pipi Tong Giok dengan halus, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.

"Aku pasti akan merawat dirinya secara baik-baik, sebab kini ia sudah menjadi mangkok nasiku, tanpa dia, aku tak akan bisa hidup lebih lanjut"

Tukang tandi itu dicarter oleh si kongcu gemuk, maka bila kau ingin mempergunakan tenaganya, lebih baik mencari dia lebih dulu untuk diajak berunding.

Untung saja tampaknya dia bukan seseorang yang sukar diajak berbicara, lagipula sekarang sekalipun belum sampai kabur karena ketakutan ia pasti sudah menyembunyikan diri jauh dari situ, sambil gemetar sambil menyeka keringat dingin yang bercucuran.

Bu ki sungguh tak pernah menyangka kalau dia masih mempunyai selera yang besar untuk mengisi perutnya, ternyata ia sedang bersembunyi di dalam dapur sambil makan bakpao.

Bukan bakpao yang kecil-kecil juga bukan sebiji bakpao besar tapi tujuh delapan biji bakpao yang sangat besar.

Di dalam setiap bakpao itu terselip sepotong daging babi yang sangat besar, setiap kali dia menggigiti, minyak babi segera meleleh keluar dari ujung bibirnya.

Menggunakan sepasang tangannya yang putih, halus dan terawat sangat baik itu dia memegang sebiji bakpao lalu dengan mimik wajah yang patut dikasihani dia sedang memperhatikan sepotong daging di tengah bakpao tersebut kemudian menggigitnya besarbesar.

Ketika minyak babi yang gemuk itu meleleh keluar dari ujung bibirnya, ia segera menghela napas dengan penuh perasaan puas.

Dalam detik tersebut, ia merasa seakan-akan semua kemurungan dan ketidakberuntungan yang ada di dunia ini sudah lenyap tak berbekas.

Semua rasa takut dan kaget yang dialaminya tadi juga tersapu bersih dari dalam benaknya.

Napsu makan Bu ki selamanya baik, tapi ketika melihat orang yang tidak bernapsu makan itu sedang melahap makanannya ia masih tetap merasa kagum sekali.

Setelah menyikat habis sebiji bakpao, si kongcu gemuk itu baru melihat akan kehadirannya, dengan cepat dia berseru.

"Bakpao ini lumayan rasanya, kau harus makan juga sebiji!"

Walaupun di mulut dia berkata demikian, mimik wajahnya menunjukkan sikap seakan-akan kuatir kalau ada orang yang datang merebut bakpaonya itu.

Dengan wajah penuh pengharapan, dia menatap wajah Bu ki, tentu saja pengharapan yang berbeda dengan kebanyakan orang, sebab dia cuma berharap agar Bu ki cepat cepat menampik maksud baiknya itu.

Tentu saja Bu ki tak akan membuat ia kecewa, sambil tersenyum ia menggeleng sahutnya.

"Aku pun mengetahui kalau bakpao itu rasanya sedap, sayang aku benar benar merasa tak ada napsu untuk memakannya"

Si kongcu gemuk itu menghembuskan napas lega. sikapnya terhadap Bu ki pun berubah menjadi lebih bersahabat. Maka dia mengambil sebiji bakpao lagi, kemudian digigit dengan lembut. setelah itu ujarnya.

"Padahal napsu makanku belakangan ini kurang baik, tapi Siao-po memaksa juga kepadaku untuk makan sedikit"

Yang dimaksudkan Siau-po berada pula disisinya.

"Yaa, kau memang seharusnya memaksakan diri untuk makan sedikit."

Kata Bu ki.

"Sebab manusia seperti kau, memang tidak seharusnya terlampau kurus"

Kesan si kongcu gemuk terhadap orang itu jauh lebih baik lagi, mendadak sambil merendahkan suaranya dia berbisik.

"Mari kuberitahukan satu rahasia kepada mu!"

"Rahasia apa?"

"Tauke rumah makan ini masih memelihara tujuh delapan belas ekor ayam gemuk, masih cukup buat kita makan barang dua tiga hari"

"Apakah kau telah bersiap siap untuk menyikat ayam-ayamnya itu sampai ludas?"

"Tentu saja harus dimakan sampai ludas!"

"Kenapa?"

Si kongcu gemuk itu segera memperhatikan dirinya, seakan akan sedang memperhatikan seorang tolol saja.

"aku benar-benar tidak habis mengerti, kenapa kita harus makan ayam yang berada disin sampai habis?"

Ucap Bu ki. Si kongcu gemuk segera menghela napas panjang.

"Aaaaii.... apakah kau juga tak dapat melihat, orang orang yang barusan kita jumpai tadi kalau bukan pembegal tentu pencoleng?"

"Yaaa, aku memang dapat melihat"

"Setelah dijalanan sini muncul pembegal dan perampok, masakah kita dapat melanjutkan perjalanan lagi?"

"Jadi kau berniat untuk tetap tinggal disini?"

"Bila ada pengawal barang yang lewati tempat ini, aku akan turut mereka pergi meninggalkan tempat ini"

"Betul, kalau bisa berhati-hati memang lebih baik kalau bertindak lebih berhati-hati sedikit"

Tiba-tiba si kongcu gemuk itu merendahkan kembali suaranya, bisiknya lirih.

"Akan kuberitahukan lagi suatu rahasia besar kepadamu!"

"Rahasia apa?"

"Aku tahu Tio toa piautau bakal pulang paling tidak dalam dua tiga hari mendatang. ia tentu akan lewat tempat ini"

"Aku benar-benar tidak kenal!"

Untuk kesekian kalinya si kongcu gemuk itu menghela napas panjang.

"Aaaiii... Tio toa piautau adalah Tio Kong, dia adalah seorang manusia yang berilmu sangat hebat"

"Ooooh... sekarang aku sudah tahu!"

Setelah berpikir sebentar tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Dalam sehari, kau butuh berapa ekor ayam untuk sarapan?"

"Belakangan ini napsu makanku kurang baik, sekali makan dua ekor ayam sudah lebih dari cukup bagiku."

"Sekali makan dua ekor ayam, dalam sehari makan tiga kali, itu berarti sehari kau butuh enam ekor ayam"

"Kalau sedang sarapan aku makan sedikit sekali, sehari dengan lima ekor ayampun sudah lebih dari cukup"

"Tidak banyak, tidak banyak!"

Kata Bu ki.

"Yaa, sesungguhnya memang tidak terlalu banyak"

"Kalau aku makan ayam pun tidak terlalu banyak"

Kongcu gemuk itu tampak seperti terkejut, segera serunya.

"Kau juga makan ayam?"

"Kalau tidak ada ayam, makan itikpun bolehnjuga!"

"Disini tidak ada itik!"

"Makan dagingpun masih bisa digunakan untuk mengganjal perut"

"Tapi dagingnya sudah kumakan semua sampai habis"

"Kala habis toh masih bisa beli lagi"

"Sayang nyali tauke rumah makan ini lebih kecil daripada nyaliku, ia sudah kabur sedari tadi dan tidak kelihatan batang hidungnya lagi, mana berani is pergi ke kota untuk membeli daging?"

"Yaa kalau memang begitu terpaksa akupun akan turut makan ayam saja."

"Kau bersikeras makan ayam?"

"Yaa, kala itik tidak ada, daging juga tak ada, kalau tidak makan ayam bagaiman mungkin aku bisa hidup lebih lanjut?"

Dengan kening berkerut karena murung, si kongcu gemuk itu segera menghela napas panjang.

"Yaa, ucapanmu itu memang benar!"

"Tapi untunglah napsu makanku belakangan ini juga tidak terlalu baik, tidak terlalu banyak yang kumakan setiap harinya"

Dengan penuh pengharapan kongcu gemuk itu memandang kearahnya, lalu bertanya.

"Dalam satu hari berapa ekor ayam yang kau butuhkan?"

"Hampir sama dengan yang kau butuhkan."

"Hampir sama dengan yang kubutuhkan? Jadi sehari kau membutuhkan lima ekor ayam"

"Pagi haripun aku butuh dua ekor!"

Kongcu gemuk itu menjandi terperanjat sehingga tertegun dibuatnya, serunya kemudian.

"Jadi kalau begitu, belasan ayam yang ada sekarang kan bakal habis pada esok hari? Jika Tio toa piautau belum datang juga, lantas bagaiman baiknya?"

"Cuma ada satu cara"

"Apa cara itu? cepat katakan!"

"Kuberikan semua ayam itu untukmu!"

"Dan kau sendiri?"

"Setelah semua ayam itu kuberikan kepadamu, tentu saja aku harus segera angkat kaki dari sini"

"Kapan baru akan pergi?"

"Sekarang juga!"

"Tapi diluar sana......

"Kau bersedia membeberkan semua rahasia itu kepadaku, ini menandakan kau telah menganggap aku sebagai teman, demi teman, apalah artinya untuk sedikit menyerempet bahaya?"

Kongcu gemuk itu memandang kearahnya, ia seperti merasa terharu sekali sehingga kalau bisa dia ingin segera menjatuhkan diri berlutut diatas tanah.

"Apalagi, kalau to kau telah menganggapku sebagai teman, aku tak boleh menyusahkan dirimu"

Kata buki lagi. Mendadak ia menghela napas panjang, lalu menambahkan.

"Cuma saja ada satu hal yang telah menyulitkan diriku"

"Persoalan apakah itu?"

Si kongcu gemuk segera bertanya.

"Aku membawa sebuah peti mati"

"Aku tahu"

"Tukang pikul peti mati itu sudah tak ada lagi, bagaimanapun juga toh tidak mungkin bagiku untuk menggotong peti mati sendirian?"

Mendengar perkataan itu, si kongcu gemuk segera tertawa.

"persoalan ini mah sama sekali bukan suatu kesulitan!"

"Sungguh?"

"Si tukang usungan yang kubawa masih berada disini, mereka dapat menggotong usungan, berarti bisa pula menggotong peti mati"

"Kau bersedia membiarkan mereka pergi bersamaku?"

"Bukankah kita adalah teman?"

"Benar!"

Maka kedua orang itu segera tertawa riang sekali. Kata Bu ki kemudia sambil tertawa.

"Sungguh tak kusangka aku bisa bertemu dengan orang yang begitu baik seperti kau, sunggu tak kusangka aku mempunya nasib yang begini mujur...."

Dia benar-benar tidak menyangka.

Yaa, ia benar-benar tak pernah menduga!

***** Bulan empat tanggal sembilan belas, malam.

Tempat itu adalah rumah penginapan Kit Siong.

Rumah penginapan Kit-siong merupakan sebuah rumah penginapan yang paling besar di kota itu, ji ciangkwe yang bertanggung jawab dalam menerima tamu bernama Siong ko.

Siong ko adalah seorang yang cukup berpengalaman, bahkan pandai pula berbicara dengan dialek orang berpangkat, akan tetapi ia toh kelihatan terperanjat juga setelah mendengar perkataan dari Bu ki itu.

Sudah hampir dua-tiga puluh tahun lamanya dia melakukan pekerjaan ini, sejak menjadi seorang pelayan kecil yang bertugas malam, kini ia sudah menjadi Ji ciangkwe yang bertugas menyambut tamu.

Tapi belum pernah menjumpai tamu seperti Bu ki.

Kata Buki.

"Aku menginginkan dua buah kamar, harus kamar yang paling baik, jendela harus besar dan peredaran udara harus baik"

Siong ko mengira kamar yang satunya hendak diberikan untuk tukang pikul itu maka katanya cepat.

"Biasanya mereka tidur didalam halaman sana!"

"Aku mengerti!"

"Dan kau tetap menginginkan dua buah kamar?"

"Yaa, dua buah kamar yang paling besar!"

"Apakah masih ada tamu lain yang akan datang kemari?"

"Tidak ada!"

"Lantas buat apa kamar yang satunya lagi?"

"Kamar itu untuk peti mati tersebut!"

Inilah alasan yang menyebabkan Siong ko merasa amat terperanjat.

"Peti mati juga akan dimasukan ke dalam kamar?"

Serunya. Jawaban dari Bu ki ternyata kedengarannya seperti sangat beralasan sekali. Dia bilang begin.

"Yang berada didalam peti mati itu adalah sahabatku, aku tak pernah menyia-nyiakan teman, entah dia masih hidup atau sudah mati, bagiku adalah tetap sama"

"Kongcu ini benar benar amat setia kawan!"

Siapakah sebenarnya perempuan yang bernama Mi Ci ini?

Apa hubungannya dengan keluarga Tong?

Mengapa dia hendak pergi ke benteng keluarga Tong?

Kenapa pula pihak keluarga Tong hendak membunuhnya?

Dari pembicaraannya itu, ada berapa patah kata yang sesungguhnya?

Berapa patah kata pula yang bohong?

Ketika sedang mencuci muka, Bu ki memikirkan persoalan ini, ketika minum teh dia pun berpikir demikian.

Sesungguhnya dia memang memikirkan persoalan ini terus menerus.

Seandainya kau bilang apa yang dia pikirkan bukanlah persoalan persoalan itu, melainkan Mi Ci sendiri, kaupun tidak keliru.

Kalau bertemu dengan seorang perempuan seperti Mi Ci sendiri, kau pun akan tak tahan untuk setiap waktu setiap saat memikirkan dirinya.

Ada sementara orang yang sedari dilahirkan seakan-akan memiliki daya tarik tersendiri, entah siapapun yang bertemu dengannya, pasti akan terpikat olehnya.

Tak bisa disangkal lagi Mi Ci adalah perempuan semacam ini.

Kalau bisa Bu ki ingin segera menjumpai dirinya lagi, tapi bagaimanapun juga ia tak bisa membuka peti mati dihadapan orang banyak, lalu berbincang-bincang dengan orang yang berbaring didalam peti mati itu.

Dia menyuruh siongko menghantar hidangan makan malamnya kedalam kamar.

Sayur dan nasi sudah dihantar masuk sedari tadi, akan tetapi menyentuh pun tidak.

Ia merasa seandainya dirinya makan minum disini sementara Mi Ci berbaring didalam oeti mati sambil menahan lapar, sesungguhnya kejadian ini merupakan suatu hal yang tidak tahu aturan.

Selain itu diapun merasa tak tega untuk makan sendiri.

Sayang tak dapat dibuka peti mati itu dihadapan umum dan menyuruh orang yang berada dalam peti mati itu untuk makan nasi.

Ia tidak takut Tong Koat bakal kesitu, sekarang Tong Giok belum mati.

Tong Koat tak akan berani untuk sembarangan bergerak.

Dia cuma kuatir kalau Mi Ci sampai kesepian.

Padahal mereka tidak saling mengenal, mengapa secara tiba-tiba ia bisa menaruh perhatian khusus terhadap perempuan itu?

Mungkinkah hal ini disebabkan dia sendiripun merasa terlalu kesepian?

Mungkin mereka sudah terbiasa dengan kesepian, tapi bila dua orang yang sedang kesepian tiba-tiba saling bertemu, ibaratnya dua buah bintang yang saling bertumbukan di angkasa raya, sedikit banyak pasti akan timbul cahaya tajam dan kilapan bunga api.

Sekalipun kilatan bunga api itu akan lenyap dalam sekejap mata.

Tapi sinar itu telah menyinari orang lain juga menyinari diri sendiri.

Apa akibatnya dikemudian hari?

Kejadian dimasa kemudian, siapa pula yang bisa mengetahuinya?

***** Kini suasana didalam rumah penginapan telah menjadi sepi dan hening.

Biasanya orang yang sedang melakukan perjalanan akan tertidur lebih awal.

Peti mati tersebut berada dikamar sebelah.

Bu ki mendorong pintu masuk ke dalam lalu memasang lampu, cahaya lentera menyinari peti mati yang hitam pekat itu dan menyinari pula seprei yang berwarna putih diatas pembaringan.

Tiba tiba ia merasa jantungnya berdebar keras.

Orang yang berada didalam peti mati itu apakah tahu kalau dia sudah datang?

ia berjalan mendekatinya dan mengetuk penutup pintu.

Ia berharap Mi Ci dapat mencari satu stel pakaian dan menutupi badannya lebih dahulu.

"Tok, tok, tok.......!"

Dia pun membalas ketokan dengan dua ketokan dari dalam peti mati, ini menandakan kalau ia sudah tahu akan kedatangannya.

Maka diapun segera membuka penutup peti mati itu.

Tapi dengan cepat jantungnya seolah-olah berhenti.

Didalam peti mati itu ternyata bukan lain adalah si kongcu gemuk yang sehari paling tidak membutuhkan lima ekor ayam untuk mengisi perutnya itu.

Dia sedang makan ayam, tulang-tulang sisa yang terbuang berserakan di sekeliling tubuhnya.

Waktu itu ditangannya masih memegang sebuah paha ayam, sambil memandang kearah BU ki sambil tertawa bodoh, katanya.

"Sekarang aku baru tahu, rupanya berbaring didalam peti mati jauh lebih nyaman dari pada duduk diatas tandu atau didalam kereta. Bu ki ikut tertawa. seandainya peristiwa ini terjadi pada setahun berselang, dia pasti akan merasa amat terperanjat, bahkan mungkin saja akan melompat saking kagetnya. Tapi sekarang, dia cuma tertawa belaka.

Jilid 25________ Bila ada orang ingin membuatmu terperanjat, cara yang terbaik untuk menghadapinya adalah balas memandang kearahnya sambil tertawa.

Sebab tertawa selain bisa membuat kau menjadi tenang dan pikiranmu mengendur, orang yang ingin membuatmu terkejut itu jika melihat kau masih bisa tertawa, mungkin saja dia malah akan dibikin terperanjat sendiri.

Asal kau bisa menggunakan tepat pada waktunya, tertawapun merupakan suatu senjata yang paling mujarab.

Sekarang Bu ki puns edang belajar untuk mau pergunakan senjata semacam itu.

Yang lebih benar lagi, ternyata sikongcu gemuk itupun sama pandainya mempergunakan senjata semacam itu.

Ia juga sedang tertawa.

Tertawanya itu kelihatan seperti agak ketolol tololan, jauh berbeda dengan senyuman Bu ki yang begitu menawan hati.

Sebab dagin diatas wajahnya itu sesungguhnya terlalu banyak, panca inderanya hampir boleh dibilang disatukan oleh dagin lebih, ini membuata tampangnya seakan akan murung dan sedih sepnajang masa, sepertinya ia tak pernah merasakan senang atau gembira.

Untung saja Bu Ki sudah tak akan dapat ditipu lagi oleh tampang wajahnya itu.

Katanya sambil tersenyum.

"Tentunya kau tidak menyangka bukan aku bisa berada didalam peti matimu?"

"yaa, aku memang sama sekali tidak menyangka"

Setelah tersenyum kembali ujarnya.

"Manusia semacam kau ternyata masih bisa masuk kedalam peti mati tersebut, sesungguhnya hal ini merupakan sesuatu kejadian yang tidak gampang"

"Untung saja belakangan ini tubuhku bertambah kurus"

"Aku bisa melihat wajahmu pasti sudah berubah kurus banyak, jika harus kurus terus, bagaimana jadinya nanti?"

"Sesungguhnya aku harus bertambah kurus sedikit lagi"

"Kenapa?"

Sambil bermuram durja si Kongcu gemuk menghela napas panjang.

"Aaai...karena meski aku bisa masuk kedalam, ternyata sekarang tak bisa keluar dari sini"

Bu ki memandang kearahnya dengan wajah menunjukkan simpatik, katanya.

"Sudah barang tentu kau tidak ingin berbaring terus didalam peti mati itu untuk selamanya bukan?"

"Yaa, aku tidak ingin!"

Sahut kongcu gemuk itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau harus segera mencari suatu akal yang baik untuk mengatasi kesulitan ini!"

"Aku lihat, agaknya kau tak akan menarikku bangun dari dalam peti mati ini?"

"Yaa, aku tak akan berbuat demikian..."

Bu ki harus emngakui kebenaran dari ucapan tersebut.

"Karena kau takut aku menyergapmu menggunakan kesempatan tersebut...?"

Bu ki kembali mengakuinya.

"Yaa, seorang harus berhati hati didalam melakukan pekerjaan apapun selama dia masih bisa berhati hati"

"Dapatkah kau membantu aku untuk mencarikan suatu akal lain?"

"Dapat!"

"Bagaimana caranya? Cepat katakan!"".

"Paha ayam itu segera akan habis kau makan, bila kau sudah tidak makan ayam nanti, kau pasti akan menjadi kurus karena kelaparan". Diawasi orang itu atas sampai kebawah, kemudian dengan wajah gembiria ia berkata lagi.

"Kalau dilihat dari bentuk badanmu sekarang, paling tidak harus menahan lapar selama tujuh delapan hari lamanya sebelum dapat merangkak bangun dari situ". Kongcu gemuk itu menjadi ketakukan setengah mati, sambil menunjukkan mimik wajah seakan -akan setiap saat bakal menangis", katanya.

"Kalau harus menahan lapar selama tujuh delapan hari, bukankah aku bakal mati karena kelaparan?".

"Apakah kau tak mampu?"

"Aku tak akan mampu cara semacam itu tak akan mampu kulakukan, kelaparan sehari saja aku bisa gila jadinya". Ditatapnya wajah Bu ki dengan muka minta belas kasihan, terusnya.

"Bukankah tadi kau masih bilang bahwa kita adalah teman, kau harus menolong aku". Bu ki menggelengkan kepalanya dan menghela napas.

"Akupun sangat ingin menolongmu, cuma sayang aku sendiripun tak menemukan suatu cara yang baik untuk menolong dirimu". Mendadak ia berkeplok tangan sambil tertawa, serunya.

"Aaaah!, aku punya akal bagus, aku masih mempunyai sebuah akal lagi untuk menolongmu".

"Akal apakah itu?".

"Asal daging badanmu kupotong sedikit saja, niscaya kesulitan ini bakal teratasi". Tapi berapa banyak yang harus dipotong?", seru kongcu gemuk itu lagi terkejut.

"Tak usah dipotong terlalu banyak, paling banter cuma tujuh delapan puluh kati saja!". Agaknya ia sendiripun merasa cara ini paling baik, sehingga tanpa bisa ditahan lagi dia tertawa terbahak-bahak. Belum lama dia tertawa, peti mati itu mulai gemerutukan nyaring. Kemudian, peti mati yang terbuat dari kayu jati itu tiba-tiba hancur berkeping-keping. Bu ki tak bisa tertawa lagi. Ia cukup mengerti bahwa kayu jati adalah kayu yang kuat, keras dan tahan lama, tapi sekarang dengan mata kepala sendiri, ia saksikan kemampuan orang itu untuk menghancurkan kayu jati tersebut dengan pancaran tenaga dalamnya, siapa saja yang menyaksikan kejadian ini pasti tak akan mampu tertawa lagi. Kongcu gemuk itu pelan-pelan sedang duduk diatas hancuran peti mati itu, kemudian katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Agaknya aku tak perlu diiris atau disuruh puasa lagi, nasibku benar-benar amat mujur". Sambil berdiri dan menepuk bajunya, dia melanjutkan.

"Sekarang, agaknya aku harus memperkenalkan diriku sendiri". Sambil menuding hidung sendiri dengan jari tangannya yang gemuk dan putih, dia meneruskan,"Aku she Tong, bernama Tong Koat!". KEJADIAN MASA LALU TONG KOAT? Si kongcu gemuk yang bebal, ketolol-tololan dan selalu bermuram durja itu ternyata bukan lain adalah Tong Koat. Rupanya itu bersih, luas dan udaranya segar. Bu ki duduk diam diatas sebuah kursi didekat jendela, tiba-tiba ia berkata.

"Tong Koat, apakah namau berasal dari huruf Koat, yang bernama kekurangan?".

"Tepat sekali!".

"Namamu sungguh merupakan sebuah nama yang sangat baik, baiknya bukan kepalang". Waktu itu Tong Koat juga telah duduk. Apabila manusia macam semacam dia itu bisa duduk tentu saja ia tak akan berdiri saja. Sayangnya ia tak sanggup untuk duduk di atas bangku, maka terpaksa ia cuma duduk di atas pembaringan, sambil menyeka keringat dan mengatur napas yang terengah-engah, katanya.

"Sedari dulu kau sudah pernah mendengar namaku?"

"Yaa, banyak sekali yang sudah kudengar tentang dirimu."

"Persoalan apa saja?"

"Ada orang berkata, kau adalah salah seorang manusia yang paling menakutkan di antara Tong bersaudara, ada pula yang mengatakan kau adalah siluman aneh, sebenarnya aku sama sekali tidak percaya."

"Bagaimana sekarang?"

"Sekarang aku suda percaya."

Tong Koat segera tertawa terbahak-bahak, sedemikian kerasnya suara tertawa itu sehingga napas pun ikut terengah-engah. Kembali Bu-ki berkata.

"Lo-sianseng yang pura-pura mabuk itu sebenarnya sudah mampu untuk menerima bidikan panah yang dipancarkan oleh Hek-thi-han, kenapa secara tiba-tiba ia melarikan diri? Sebenarnya selama ini pun aku merasa tidak habis mengerti dengan persoalan ini."

"Dan sekarang?"

Tanya Tong Koat lagi.

"Sekarang aku sudah mengerti."

"Kenapa ia melarikan diri?"

"Sebab walaupun dia tidak terkena anak panah yang dibidikkan oleh Hek-thi-han, tapi ia sudah terkena senjata rahasiamu."

"Oya?"

"Hek-thin-han memiliki tenaga yang besar dan kuat, sekali bidik panahnya bisa meluncur dengan disertai desingan angin yang amat tajam."

"Yaa, tenaga yang dimiliki saudara itu sesungguhnya memang tidak terlalu kecil,"

Tong Koat membenarkan.

"Waktu itu, Lo-sianseng tersebut cuma mendengar desingan angin tajam yang terbawa oleh anak panah tersebut, tapi tidak memperhatikan kalau senjata rahasiamu juga pada saat yang bersamaan dibidikkan keluar, menunggu ia merasakan akan hal ini, keadaan sudah terlambat."

"Yaa, memang sudah terlambat!"

"Tentu saja dia pun tahu sampai di manakah kelihaian dari senjata rahasia yang dimiliki keluarga Tong, demi menyelamatkan selembar jiwanya, mau tak mau terpaksa dia melarikan diri. Tong Koat segera menghela napas panjang.

"Aaai... sayang sekali selembar jiwanya juga mungkin sulit untuk dipertahankan lagi."

"Kau menyuruh Hek-thi-han menghadapi mereka, tujuannya adalah membiarkan mereka bertarung sendiri, sementara kau akan menjadi seorang nelayan yang beruntung."

"Tong Giok adalah saudaraku, kalau aku turun tangan sendiri, mereka pasti akan menggunakan Tong Giok untuk menggertak aku, terpaksa aku harus menggunakan cara ini agar mereka sendiri pun tidak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi."

Sambil bermuram durja, kembali ia menghela napas panjang, katanya.

"Kau adalah sahabat karibnya Tong Giok, tentunya kau juga harus mengerti akan kesulitan yang sedang kuhadapi, kau sepantasnya memaafkan diriku......"

"Kau juga tahu kalau aku adalah sahabat karibnya Tong Giok?"

"Tentu saja aku tahu, kalau bukan sahabat karibnya, mengapa kau musti bersusah-payah untuk mengantarnya pulang?"

"Sekarang, tentunya ia sudah kau antar pulang ke benteng keluarga Tong, bukan?"

"Luka yang dideritanya tidak enteng, aku harus berusaha keras untuk mencari orang serta menyembuhkan luka yang dideritanya itu."

Setelah tertawa, katanya lagi.

"Sebetulnya aku ingin meninggalkan perempuan yang tak suka memakai pakaian itu untukmu, tapi aku tahu kau pasti tak akan mampu untuk menghadapinya, maka terpaksa aku harus menggotong peti mati itu berikut kedua orang tersebut pulang ke benteng keluarga Tong, kemudian mengganti sebuah peti mati lain ke mari."

"Jadi kalau begitu, kau memang bermaksud baik kepadaku, sepantasnya kalau kuucapkan banyak terima kasih kepadamu."

"Yaa, aku memang bermaksud baik."

"Terima kasih."

"Tak usah sungkan-sungkan!"

"Selamat tinggal!!"

Tong Koat menjadi tertegun.

"Apa artinya selamat tinggal?"

Serunya.

"Selamat tinggal artinya adalah aku minta kepadamu untuk pergi meninggalkan tempat ini."

"Mengapa kau harus pergi?"

"Sebab aku sudah tiada perkataan lain-lain lagi untuk dibicarakan dengan dirimu?"

"Mengapa sudah tiada perkataan lain lagi?"

Bu-ki tertawa dingin, serunya.

"Kau toh sudah tahu kalau aku adalah sahabatnya Tong Giok, tapi di dalam persoalan apa pun kau selalu mengelabui diriku, selalu menggoda aku, membuat aku sendiri pun menganggap diriku sebagai orang bodoh, apalagi yang harus kukatakan lagi kepadamu?"

Semakin berbicara ia merasa semakin gusar, sehingga akhirnya dia berteriak keras.

"Selamat tinggal!"

Kali ini dia yang pergi lebih dulu, sambil beranjak tanpa berpaling lagi segera pergi meninggalkan tempat itu.

Ranjang sudah barang tentu tak akan diletakkan di depan meja.

Sebetulnya Tong Koat masih duduk di atas ranjang, tampaknya untuk berjalan selangkah saja sudah enggan.

Tapi, ketika Bu-ki sudah hampir sampai di depan pintu, ternyata Tong Koat sudah berdiri di sana.

Sekalipun di sana ada seorang yang bertubuh lebih kurus daripada Tong Koat, Bu-ki pun jangan harap bisa keluar dari sana.

"Apa arti dari kata selamat tinggal, tentunya kau cukup memahami, bukan.......?"

"Yaa, aku merasa paham sekali."

"Kalau toh kau enggan pergi, terpaksa aku yang harus pergi meninggalkan tempat ini."

"Kau jangan pergi dulu, jika kau pergi maka aku bisa payah."

"Kenapa?"

"Sebab nenek moyang kami menyuruh aku untuk membawamu pulang ke rumah."

"Siapakah nenek moyangmu itu?"

"Nenek moyang kami itu adalah nenek Tong Giok, atau ibu dari ayah kami.......!" ***** CIANGBUNJIN dari keluarga Tong di wilayah Seechuan adalah Tong Ciu. Hok-siu-siangcuan (rejeki dan umur semuanya sempurna) Tong toa-sianseng, Tong Ciu. Lo-sianseng ini selama hidupnya jarang sekali berkelana di dalam dunia persilatan, dia pun belum pernah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi orang lain, akan tetapi nama besarnya telah termashur di seantero jagad.... Orang semacam ini tentu saja seorang yang punya hok-ki, lagipula seorang yang bisa berumur panjang. Selama hidupnya dia mempunyai tiga orang istri dan mempunyai tiga orang putra, lotoa adalah Tong Koat, sedang si bungsu adalah Tong Giok. Masih ada seorang lagi adalah Tong Ou yang beberapa tahun belakangan ini nama besarnya makin lama semakin termashur di dalam dunia persilatan. Selama dua tahun belakangan ini, nama besar Tong Ou boleh dibilang hampir sejajar dengan nama besar dari Tong ji-sianseng di masa lampau. Sekarang, lambat laun Bu-ki mulai percaya bahwa di antara saudara keluarga Tong, sesungguhnya yang paling menakutkan bukan Tong Ou, melainkan adalah Tong Koat. Kata Tong Koat.

"Selama hidup, orang yang paling kutakuti bukan lain aadlah nenek moyang kami itu."

"Kau takut, aku tidak takut."

"Bukankah kau adalah sahabat karibnya Tong Giok?"

Tiba-tiba Tong Koat bertanya.

"Tentu saja!"

"Bila nenek dari sahabat karibmu ingin bertemu dengan kau, mengapa kau tidak pergi menjumpainya?"

Sesudah termenung sebentar, akhirnya Bu-ki menghela napas panjang.

"Seandainya dia orang tua benar-benar hendak menyuruh aku ke sana, terpaksa aku harus ke sana juga."

Tentu saja dia harus pergi, sesungguhnya dia memang akan ke sana, sebab tujuan yang sebenarnya adalah berkunjung ke benteng keluarga Tong.

Tadi sebetulnya dia sedang memasang perangkap maju kemudian mundur lebih dulu, sebab berhadapan dengan manusia seperti Tong Koat, tentu saja dia harus menggunakan sedikit akal.

Karena itu dia tetap berusaha untuk mendebat, katanya.

"Tapi, aku tak dapat pergi dengan begitu saja pada saat ini."

"Kenapa?"

"Sebab sekarang, bahkan aku sendiripun merasa diriku adalah seorang tolol, seorang tolong yang asli"

"Akhirnya Tong Koat memahami juga arti dari perkataannya itu, dia berkata.

"Apakah kau menginginkan diriku untuk menceritakan kejadian ini dari awal sampai akhir?"

Bu ki tidak menjawab. Tidak mnejawab biasanya berarti telah mengakuinya. Tong Koat segera berkata.

"Bukankah peti mati ini kau beli di sebuah toko penjual peti yang memakai mereka Lo an ki?"

"Benar!"

Tauke pemilik toko peti mati Lo an ki tersebut bukankah seorang she Ciu yang berasal dari Lui Ciu?"

"Benar!"

"Bukankah dia secara khusus mengirim dua orang putra untuk menghantar peti mati itu ke rumah penginapan yang kau tinggal itu, bahkan membantu dirimu pula untuk membaringkan orang itu kedalam peti mati..."

"Darimana kau bisa mengetahui tentang soal ini?"

"Terusterang kuberitahukan kepadamu, mereka tidak she Ciu melainkan she Tong. Ciu tauke tersebut adalah seorang saudara Tong yang agak jauh dari keluarga kami, mereka semua kenal dengan TOng GIok, maka begitu kau berangkat mereka lantas mengirimkan berita ini kepadaku lewat burung merpati"

Bu ki seperti agak tertgegun setelah mendengar perkataan itu.

Padahal persoalan tersebut adalah diketahuinya sedari dulu.

Ciu tauke sperti juga sigemuk she Ong yang menjual daging, mereka adalah mata mata keluarga Tong yang semuanya disiapkan disitu.

Itulah sebabnya mengapa ia sengaja membeli peti dirumah penjual peti mati tersebut kemudian sengaja membiarkan mereka melihat diri Tong Giok.

Tapi sekarang dia harus memperlihatkan wajah kekagetan yang luar biasa.

Sekarang, dia baru tahu kalau dirinya berbakat yang baik sebaiknya untuk bermain sandiwara bahkan dia sendiripun hampir tidak mempercayainya.

TIba tiba Tong Koat berkata.

"Kau tahu siapakah lo sianseng yang secara tiba tiba melarikan diri itu?"

Bu ki segera menggeleng. Sekarang dia masih dalam ekadaan terkejut, sepatah katapun tak sanggup dia ucapkan, maka dia hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dia she Sun!"

TOng koat menerangkan. Sekarang Bu ki sudah dapat berbicara lagi, dia berkata.

"Banyak sekali ornag she Sun di dunia ini!"

"Tapi pada generasinya nenekku dulu, orang yang paling termashur namanya di dalam dunia persilatan adalah orang she Sun"

"Tapi aku dengar orang yang paling tersohor di dalam dunia persilatan waktu itu bukan she Sun melainkan she Li"

"Kau maksudkan Siau li tam hoa?"

"Benar!"

Yang dimaksudkan sebagai Siau li tam hoa (Li kecil pengintip bunga) adalah Li Sun hoan.

Golok terbang SIau li, tak pernah meleset dari sasaran!

Bukan saja dia adalah seorang dewa golok, diapun dewa diantara manusia.

Seribu tahun kemudian mungkin manusia dapat menciptakan sejenis senjata yang jauh lebih cepat, tepat dan dahsyat daripada golok terbangnya Li Sun hoan.

Tapi di dunia ini, selamanya tak akan menemukan Siau li tam hoa kedua!

Bayangan dalam benak manusia, selamanya juga tak dapat digantikan oleh orang kedua.

TOng Koat tak bisa tidak harus mengakui akan tepatnya pandangan BU ki, siapapun di dunia ini mau tak mau harus mengakui akan kebenaran ucapan tersebut.

Menyinggung soal golok terbang Siu li, bahkan Tong Koat sendiripun menunjukkan sikap yang sangat menghormat.

"Sampai saat ini, belum pernah kudengar ada manusia lain yang jauh lebih mengesankan dan jauh lebih terhormat daripada dirinya di dnuia persilatan ini"

"Tapi didalam kitab senjata tajam yang disusun oleh Pek Siau Seng. Siau li hui to tidak tercantum pada barisan pertama. Tempat pertama diisi oleh Thian Ki It kun"

Hal ini merupakan kenyataan, Bu ki tak bisa tidak untuk mengakui kebenaran dari ucapan tersebut.

Pek Siau seng adalah seorang manusia yang pintar dan tersohor dalam dunia persilatan waktu itu, dia selain cerdik, pergaulannya luas dan lagi pula berpengetahuan luas.

Sekalipun ia pernah berbuat suatu kesalahan besar yang tak bisa diampuni di masa tuanya karena kecerdasan yang dimilikinya.

Tapi ketika ia menulis kitab senjata tajam, sikapnya sangat adil dan tidak berat sebelah.

Oleh karena itu orang persilatan pada waktu itu merasa bangga sekali bila namanya dapat turut tercantum di dalam kitab senjata tajam.

Dalam kitab senjata tajam itu, toya dari Thian ki lojin serta gelang dari Sangkoan Kim hong berada di urutan atas dari nama Siau li hui to.

Kemudian meskipun Thian Ki lojin tewas di tangan Sangkoan Kim hong, sedangkan Kim hong juga tewas di ujung golok terbang Siau li, akan tetapi tak ada orang yang beranggapan bahwa urutan nama dari Pek Siau-seng itu tidak adil.

Sebab unsur paling penting yang menentukan menang kalahnya suatu pertarungan, bukanlah pada ilmu silat belaka, tapi situasi, keadaan, kondisi badan serta perasaan mereka pada waktu itu, juga merupakan unsur penting yang menentukan kalah menang mereka.

"Thian ki lojin she Sun"

Kata Tong Koat.

"Lo sianseng yang pandai berpura-pura mabuk itu adalah keturunannya. Sekalipun kepandaiannya menotok jalan darah bukan tiada tandingannya di dunia ini, akan tetapi jarang sekali ada orang yang sanggup untuk menandinginya"

Pelan pelan dia melanjutkan.

"Sun lo sianseng itu bukan lain adalah paman dari Lui Ceng-thian, tongcu Pek lek tong!"

Bu-ki sama sekali tidak merasa tercengang atau diluar dugaan terhadap berita tersebut, sebab dia sudah menduga kalau kakek itu mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dengan keluarga Lui!"

"Lantas siapa pula perempuan yang tak suka memakai baju itu? Tentunya kau lebih-lebih tak akan bisa menduga"

"Oh yaa?"

"Dia bukan lain adalah istri Lui Ceng thian yang lama!"

Berita ini memang sedikit diluar dugaan.

"Setelah kukatakan kalau dia adalah bekas istrinya Lui Ceng thian, tentunya kau lantas beranggapan bahwa Lui Ceng thian telah memberi pensiun kepada istrinya, karena dia hendak mengawini adik perempuanku yang cantik jelita itu bukan?"

Kata Tong Koat.

"Memangnya bukan?"

Tong koat segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sejak lima tahun berselang, Lui Ceng thian telah memberi pensiun kepadanya. Waktu itu kami malah sama sekali belum menyinggung soal perkawinan tersebut"

"Mengapa Lui Ceng thian memberi pensiun kepada istrinya itu?"

Tanya Bu-ki. Tong koat menghela napas panjang.

"Jika seorang lelaki hendak memberi pensiun kepada istrinya, tentu saja dia mempunyai banyak alas an yang tak bisa diterangkan kepada orang lain, kalau dia sendiri tidak menerangkan, bagaimana mungkin orang lain bisa mengetahuinya"

Kemudian sambil memicingkan matanya, dia melanjutkan.

"Tapi aku rasa kau pasti dapat melihatnya sendiri, Lui hujin yang sudah dipensiun itu bukanlah seorang perempuan yang setia. Bila sampai mengawini perempuan semacam ini sebagai istrinya, jelas itu bukan suatu kemujuran"

Agaknya Bu-ki tak ingin membicarakan terus tentang persoalan ini, kembali dia bertanya.

"Apakah keinginannya untuk berkunjung ke benteng keluarga Tong adalah untuk pergi mencari Lui Ceng-thian?"

"Sejak meninggalkan Lui Ceng-thian, kehidupannya di luar tidak terlalu baik, maka dia ingin kesana untuk memberi kesulitan kepada Lui Ceng-thian"

Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan.

"Semua perempuan di dunia ini adalah sama saja, bila kehidupannya sendiri kurang baik, maka diapun tak ingin menyaksikan kehidupan orang lain dilewatkan dengan baik. Padahal seandainya dia sudah kawin lagi dengan seorang suami yang berkenan di hatinya, sekalipun Lui Ceng-thian belutut sambil memohon kepadanya, belum tentu dia akan memperdulikan"

Bu-ki tidak membantah. Perkataan tersebut bukannya sama sekali tak beralasan.

"Sekarang Lui Ceng-thian sudah menjadi menantunya keluarga Tong kami"

Kata Tong koat.

"diapun merupakan cucu mantu paling disenangi oleh nenek kami, tentu saja kami tak akan membiarkan orang lain memberi kesulitan baginya"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya lagi dengan hambar.

"Apalagi belakangan ini dia sudah tinggal di dalam benteng keluarga Tong, entah siapapun itu orangnya, jika dia berminat untuk mencari gara-gara di dalam benteng keluarga Tong, maka dia pasti sudah salah mencari tempat"

Itupun merupakan suatu kenyataan!

Nama besar benteng keluarga Tong dari wilayah Szechwan, sudah amat termasyur dalam dunia persilatan, sekalipun orang yang bermaksud mencari gara-gara itu bisa masuk dalam keadaan hidup, belum tentu ia bisa keluar lagi dalam keadaan hidup pula.

"Mengapa keempat saudara dari keluarga Lui juga mengikuti dirinya untuk mencari Lui Cheng-thian?"

Sekali lagi Tong koat memicingkan matanya sambil tersenyum.

"Agaknya bukan suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan bagi seorang perempuan semacam dia, untuk mencari beberapa orang lelaki yang bersedia untuk menjual nyawa baginya, tentu saja kau sendiri juga bisa memikirkannya sampai ke situ bukan?"

Bu-ki tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Dia seakan-akan terbungkam dalam seribu bahasa.

Ia tahu apa yang diucapkan Tong koat memang tidak bohong, ucapan itu sangat beralasan sekali.

Tanpa terasa dia terbayang kembali akan sepasang matanya yang jeli, kulit badannya yang putih bagaikan susu, sepasang pahanya yang langsing tapi kencang.

Diam-diam ia bertanya kepada diri sendiri, Seandainya dia menyuruh aku untuk melakukan sesuatu, apakah akupun akan melakukan baginya?

Dengan sepasang mata yang hampir dipicingkan semua, Tong Koat sedang memperhatikan dirinya, lalu katanya sambil tersenyum.

"Sekarang apakah kau sudah bersiap-siap untuk turut aku pulang ke benteng keluarga Tong?"

"Benar!" ***** Dalam benteng keluarga Tong Bulan empat tanggal dua puluh dua, udara cerah. Kejadian di benteng keluarga Tong. Bagaimanapun licik dan berbahayanya dunia persilatan, namun keadilan selalu ada selama seseorang berbakat dan berkemampuan, dia pasti akan ternama. Bila seseorang sudah ternama, maka apapun yang dikehendaki dapat diraihnya dengan mudah, jalan kehidupannya juga akan mengalami perubahan drastis, berubah menjadi mentereng, menjadi cerah dan besar, cuma sayang kehidupan mereka seringkali pendek bagaikan bintang kejora yang lewat di angkasa. Karena mereka semua adalah jago-jago persilatan. Kehidupan orang persilatan pada dasarnya memang tak berakar, bagaikan daun kering yang terhembus angin, bagaikan ..... yang diombang-ambingkan air. Dalam sejarah tiga ratus tahun belakangan ini, entah kenapa banyak enghiong yang bermunculan dalam dunia persilatan dan berapa banyak enghiong yang tenggelam dengan begitu saja. Di antaranya tentu saja ada sementara orang yang kehidupannya kekal dan abadi, mungkin dikarenakan semangat mereka tak pernah mati, meski badan sudah mati semangat tak pernah mati. Mungkin juga dikarenakan mereka sendiri meski sudah mati, tapi anak cucunya masih tetap merupakan suatu himpunan kekuatan yang tak tergoyahkan dalam dunia persilatan, maka nama besar mereka pun tak pernah punah dari dunia. Selama tiga ratus tahun ini, kekuatan yang masih bisa berdiri utuh dalam dunia persilatan tanpa tergoyahkan selain partai Siau-lim, Bu-tong, Kun-lun, Tiam-cong dan Khong Tong beberapa partai persilatan yang bersejarah cemerlang, masih ada pula beberapa buah keluarga persilatan yang besar. Di antara keluarga-keluarga persilatan ini meski di antaranya karena leluhur mereka mengorbankan diri demi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan sehingga mendapatkan rasa hormat orang lain terhadap mereka, tapi sebagian besar adalah disebabkan karena mereka sendiri memiliki semacam kemampuan dan kepandaian silat yang luar biasa dan tak terkalahkan, maka mereka tetap bertahan dalam dunia ini tanpa tergoyahkan.... Di antaranya ada yang tersohor karena ilmu pertabibannya yakni Tio Kian-cay, ada yang tersohor karena ilmu dalam airnya Thian Hi tong, ada pula keluarga Lamkiong yang mempunyai kekayaan luar biasa, ada pula Ngo-hou Phang-keh (keluarga Phang) yang hebat karena ilmu goloknya, juga Pek-lek-tong yang tersohor karena ilmu senjata apinya. Di antara keluarga-keluarga persilatan kenamaan ini, yang paling besar kekuatannya dan paling tersohor namanya, tentu saja keluarga Tong dari propinsi Szuchwan. Senjata rahasia dari keluarga Tong amat tersohor dalam dunia persilatan, hingga kini belum ada senjata rahasia kedua yang bisa menggantikan kedudukan ini. Semua anak keturunan keluarga Tong yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, semuanya merupakan jago-jago yang disegani orang. Benteng keluarga Tong yang berada di bawah bukit di luar kota Gi-sia tersebut, setelah melalui pembangunan selama banyak tahun, dari beberapa petak rumah biasa, kini telah berkembang menjadi sebuah kota kecil. Di tempat ini, dari sandang-pangan sampai hiburan ada secara komplit, bahkan termasuk juga penguburan atau perkawinan, setiap benda dapat diperoleh di sana, setiap benda bisa didapatkan secara berlimpah, hal mana sedikit banyak mengejutkan juga orang banyak. Yang lebih hebat lagi, rumah makan yang paling tersohor di wilayah Szuchwan, toko kain yang paling modern dan toko kelontong yang paling lengkap, semuanya dapat ditemukan dalam benteng keluarga Tong. Semua anak cucu keluarga Tong hampir seluruhnya memiliki kepandaian yang khusus, dengan menggunakan kemampuan sendiri mereka mencari uang lalu dihamburkan kembali di toko-toko tersebut. Semua kekuatan, semua kemampuan, harta kekayaan hanya terbatas boleh beredar di sekitar wilayah itu saja. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tentu saja benteng keluarga Tong makin lama semakin makmur, makin lama semakin bertambah besar dan megah. Akhirnya Bu-ki sampai juga di benteng keluarga Tong. Anehnya, ia sama sekali tidak merasa gejolak emosi yang hebat atau perasaan tegang yang luar biasa. Di dunia ini sebetulnya memang ada sejenis manusia yang semenjak dilahirkan sudah cocok untuk berpetualangan, menyerempet bahaya, di hari biasa mungkin dia akan tegang dan gelisah bila menghadapi urusan kecil, tapi bila sudah berjumpa dengan bahaya yang sungguh, mereka sebaliknya malah berubah menjadi tenang. Kebetulan Bu-ki adalah manusia semacam ini. Cuaca amat cerah, bukit berderet nan hijau, bangunan rumah yang berlapis-lapis dan genteng yang berwarna semu hijau tampak memanjang dari kaki bukit sampai tengah bukit sana. Berdiri memandang tempat Bu ki berdiri sekarang, siapa saja pasti akan terpesona oleh pemandangan alam yang sangat indah itu. Alam yang indah dapat memberikan perasaan megah, mentereng dan puas bagi siapapun yang melihatnya.

"Itulah benteng keluarga Tong!"

Tong Koat menerangkan. Nadanya penuh dengan rasa bangga dan angkuh.

"Coba kau lihat, bagaimana dengan tempat ini?"

Bu ki segera menghela napas panjang.

"Aaii, betul-betul luar biasa!"

Pujinya.

Ucapan tersebut benar-benar muncul dari dasar hatinya.

Cuma di kala mengucapkan kata-kata itu, dalam hatinya segera timbul perasaan ngeri yang dalam.

Sekalipun dia tak pernah menilai rendah musuhnya, tapi kehebatan dari musuhnya terbukti jauh di luar dugaannya semula.

Mau tak mau dia menguatirkan keselamatan Tay Hong tong, bila tidak muncul kemukjijatan, boleh dibilang mustahil baginya untuk mengalahkan seorang musuh seperti ini, padahal kemukjijatannya terang sulit bisa dijumpai.

Di ujung jalan sana adalah pintu gerbang keluarga Tong, masih bercat biru dan cat itu belum kering.

"Setiap tahun sebelum sembahyang Bakcang, kami selalu mengecat kembali pintu gerbang ini!"

Tong Koat menerangkan.

"Kenapa?"

"Karena di saat sembahyang Bakcang, kebetulan sekali adalah ulang tahun kakek moyang kami, dia orang tua suka akan keramaian, setiap tahun bila sudah sampai waktunya, kami semua akan mengucapkan selamat panjang umur kepadanya, menggunakan kesempatan itu semua orangpun akan berpesta pora dengan riang gembira"

Bu ki bisa membayangkan betapa ramainya suasana pada hari itu.

Biasanya di hari keramaian seperti ini setiap orang pasti akan mengendorkan kewaspadaannya pada diri sendiri, mereka pasti akan berusaha untuk mencari kesenangan, mencari kenikmatan dan minum-minuman sampai mabuk dan tak dapat dihindari lagi.

Asal ada kembang api, ada sandiwara opera, ada arak, tiga macam kesenagan tersebut, pasti pula akan terjadi keteledoran.

Bila mereka sampai teledor, itu berarti suatu kesempatan yang sangat baik buat Bu ki untuk beraksi.

"Sekarang, jaraknya dengan perayaan itu masih setengah bulan"

Kata Tong Koat lagi.

"inginkah kau tinggal di sini sambil ikut menghadiri keramaian tersebut?"

"Bagus sekali..."

Jawab Bu ki sambil tertawa.

Pintu gerbang terbentang lebar, tidak nampak suasana tegang, tidak nampak suasana serius, tiada pula penjagaan yang dilakukan dengan sangat ketat.

Setelah memasuki pintu gerbang, maka mereka menelusuri sebuah jalan raya beralaskan batu hijau yang rapi dan bersih, setiap batu hijau tersebut seakan-akan disikat sampai berkilat seperti cermin.

Di kedua belah sisi jalan terdapat beraneka ragam toko dan warung, bangunannya rapi dan mentereng, barang jualannya komplit dan selalu kelihatan penuh.

Sambil tersenyum Tong Koat berkata.

"Orang lain selalu mengira benteng keluarga Tong adalah suatu gua naga gua harimau, padahal kami sangat bergembira menerima kunjungan orang lain, siapa saja boleh datang kemari dan siapa saja akan kami sambut dengan senang hati"

"Sungguh?"

Tong Koat segera memicingkan matanya sambil tertawa, katanya.

"Kau juga seharusnya dapat melihat tempat ini adalah suatu tempat yang gampang untuk menghamburkan uang, bila ada orang yang menghamburkan uang di sini, kami baru ada untung untuk dipakai, setiap orang tentu akan menyambut kedatangan orang-orang yang bisa mendatangkan keuntungan baginya"

"Seandainya disamping menghamburkan uang, mereka juga ingin melakukan perbuatan yang lain?"

"Hal itu tergantung pada perbuatan apakah yang hendak dia lakukan"

"Seandainya datang untuk mencari gara gara?"

"Tempat kamipun tersedia toko penjual peti mati, bukan saja barangnya murah, kadangkala bahkan gratis tanpa dibayar"

Setelah tertawa, kembali katanya.

"Tapi selain peti mati, setiap barang yang dijual warung warung disini tidak murah harganya, kadangkala kami sendiripun kena digorok harganya oleh mereka"

Bu ki dapat melihat satu hal, setiap barang yang dijual di warung warung tersebut, hampir seluruhnya adalah barang barang yang berkwalitas tinggi.

Para pemilik dan pelayan toko semuanya menyambut di luar pintu dengan senyuman dikulum apalagi ketika melihat kedatangan Tong Koat dari kejauhan, mereka menyapa bahkan menunjukkan sikap yang hangat, ramah dan kegembiraannya yang tak terlukiskan dengan kata kata.

Bu ki segera tersenyum, katanya.

"Aku lihat setiap orang yang berada disini seakan akan pada suka denganmu"

Tong Koat menghela napas panjang.

"Aaai... kau keluru kalau berkata demikian"

Gumamnya. Sengaja dia merendahkan suaranya lalu berbisik.

"Mereka bukan suka dengan diriku, mereka hanya suka dengan uang dalam kocekku, bila kau menginginkan seseorang mempersembahkan seluruh isi koceknya kepadamu, maka kau harus menunjukkan dulu sikap gembira dan senangnya kepada orang itu"

Tampaknya dia mempunyai hubungan yang cukup baik dengan semua orang disitu.

Toko yang paling bagus, paling mentereng dan paling anggun diantara deretan toko itu adalah toko penjual benda antik serta bedak dan gincu, pada hakekatnya jauh lebih besar daripada Poo sik Kay diibukota.

Dua buah tandu besar berhenti diluar pintu yang terdiri dari enam buah itu, seorang lelaki muda yang sangat tampan dan memakai topi kecil berwarna hijau dengan menggunakan dialek yang halus sedang menyapa kearah Tong Koat.

Agaknya dialek yang paling sering digunakan ditempa ini adalah dialek ibu kota yang halus, terutama sekali pelayan pelayan toko, hampir tak pernah terdengar dialek dari wilaya sechuan sendiri, pada hakekatnya berjalan jalan disepanjang jalan raya tersebut, bagaikan sedang berjalan jalan di ibukota.

Tong koat memandang sekejap kearah ke dua buah tandu itu, kemudian katanya.

"Apakah Sam koh say say sedang melariskan daganganmu?"

Pemuda tampan itu segera tertawa paksa, sahutnya.

"Sam koh naynay (nyonya muda ke tiga) tak pernah melupakan kami, tidak seperti kau, dalam setahun belum tentu melariskan dagangan kami satu kali"

Tong Koat segera tertawa.

"Aku toh belum kawin, buat apa membeli pupur dan gincu? Untuk membedaki pantat?"

Tiba tiba dari dalam toko terdengar seseorang berseru.

"Siapa yang sedang berbicara diluar? Kenapa mulutnya tidak bersih? Cepat suruh orang untuk mencuci bersih mulutnya yang kotor itu"

Suaranya lemah lembut dan merdu sekali seperti bunga teratai yang masih segar saja. Tong Koat segera menjulurkan lidahnya dan tertawa getir, buru buru serunya.

"Aduh celaka, rupanya kali ini aku sudah mencari gara gara dengan sarang lebah...!"

Kali ini ia benar benar merendahkan suaranya, karena ia benar benar tak berani mengusik Koh naynay tersebut.

Dari dalam toko bedak muncul dua orang nyonya cantik yang bergaun panjang sekali.

Perawakan tubuh mereka cukup tinggi dan semampai, gaun yang dipakai sangat serasi, kalau berjalan juga lemah gemulai, ditengah kegenitan terbawa kegagahan, ditengah kelembutan terbawa kegenitan.

Yang berjalan dipaling depan itu berusia agak tua, kulit badannya putih bersih, matanya berbentuk bulat telur dan tampak beberapa titik burik diatas pipinya yang halus, sepasang matanya yang jeli dan bersinar tajam itu kelihatan bening dan sangat menarik sekali.

Ketika Tong Koat menjumpai kemunculannya, ternyata dengan sikap yang menghormat sekali dia membungkukkan badan sambil menjura, kemudian sambil tertawa paksa katanya.

"Koh nay-nay baik-baikkah kau?"

Dengan senyum tak senyum Koh nay-nay tersebut memandang ke arahnya, lalu menjawab.

"Aku masih mengira siapa yang datang, ternyata adalah kau! Hei, sedari kapan kau belajar menggosokkan pupur di atas pantatmu itu?"

Orangnya seperti juga dengan suaranya kedengaran merdu merayu, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada orang lain. Perempuan yang lain itu segera tertawa cekikikan.

"Hi..hi...hi..hiiih... seandainya toa koan betul -betul memakai pupur untuk menggosok... menggosok tempat itu...hi.hi..hi.. melihat itunya segede gajah, waaah... tiga kati pupur wangipun belum tentu cukup untuk membedaki rata itunya...."

Suara tertawa perempuan ini bagaikan bunyi keleningan, sepasang matanya juga seperti keleningan, mata bulat, besar lagi.

Tapi begitu dia mulai tertawa, matanya yang besar itu segera berubah menjadi sipit seperti sebuah garis, garis yang berliuk-liuk, cukup untuk membelenggu lelaki manapun juga.

Selama berada di hadapan mereka, Tong Koat berubah menjadi alim sekali, bukan cuma alim, malah kelihatan ketolol-tololan.

Dia selalu tertawa kebodoh-bodohan, kecuali tertawa kebodoh-bodohan, tak sepatah katapun yang diucapkan.

Bu ki juga tertawa.

Dia tak pernah menyangka kalau dalam benteng keluarga Tong masih terdapat perempuan yang begitu menarik dan begitu menawan hati.

Walaupun perempuan bermata segede keleningan ini masih kecil usianya, sesungguhnya juga tidak terlampau kecil, kelihatannya mirip sekali dengan seorang nona cilik, seorang nona cilik yang setiap orang merasa ingin menciumnya bila bertemu dengannya.

Koh nay-nay itu lebih menarik lagi.

Walaupun dia tak bisa dibilang terlalu cantik, tapi ia periang, segar cemerlang, bagaikan sebiji buah pir yang baru dipetik dari atas pohon....

Lagipula merekapun pandai sekali melihat gelagat, mereka sama sekali tidak memberikan suatu kejelekan buat Tong Koat.

Dengan cepat kedua orang itu sudah naik ke dalam tandunya, tandu itupun dengan cepat digotong pergi.

Menanti tandu-tandu itu sudah jauh dari pandangan mata, Tong Koat baru menghembuskan napas lega, kemudian sambil menghela napas katanya.

"Tahukah kau, siapakah Koh nay-nay itu?"

"Tidak tahu!"

"Dia adalah musuh tandinganku!"

"Kau takut kepadanya?"

"Bukan cuma takut saja, orang yang tidak takut kepadanya dalam benteng keluarga Tong ini boleh dibilang cuma beberapa gelintir manusia saja..."

"Ia kelihatannya tidak begitu menakutkan, mengapa kalian jeri kepadanya?"

"Dia adalah salah seorang yang paling disukai oleh nenek moyang kami, meski usianya tidak besar tapi tingkatannya sangat besar, kalau dihitung-hitung dia masih terhitung bibiku ditambah lagi adatnya yang suka mencampuri urusan orang, aiii.... persoalan apa saja dia tentu mencampuri, siapapun orangnya dia tentu merasa tak senang, bila ada orang berani mengusiknya, nenek moyang kami akan marah-marah!"

Sesudah menghela napas panjang, katanya lagi sambil tertawa getir.

"Coba bayangkan sendiri, menakutkan tidak manusia semacam itu?"

"Yaa, menakutkan sekali"

Jawab Bu ki.

"Untung saja dia toh akan kawin juga!"

"Siapa yang berani kawin dengan manusia yang begitu menakutkan itu....?"

"Sebenarnya sih tak ada yang mau, tapi akhirnya toh ada seorang juga yang mau"

"Siapa?"

"Aku tak boleh bilang"

"Cuaca hari ini sungguh nyaman"

Kata Bu ki kemudian.

"Hei, kita toh sedang membicarakan Koh nay nay kami yang hendak kawin, kenapa secara tiba-tiba kau bicarakan soal cuaca?"

"Ya, karena soal Koh nay-naymu yang akan kawin itu tak bisa dibicarakan lagi"

"Kau ingin tahu?"

"Ya, aku ingin tahu"

"Kalau memang begitu, kau harus memaksa kepadaku untuk mengatakannya keluar"

"Bagaimana caranya memaksa?"

"Bila kau memperingatkan kepadaku, bila tidak kukatakan maka kau tak akan bersahabat denganku, maka pasti akan kukatakan"

"Baik, kalau tidak kau katakan maka aku tak akan bersahabat dengan dirimu"

"Akan kukatakan!"

"Siapakah yang berani mengawininya?"

"Sangkoan Jin!"

Sangkoan Jin, Sangkoan Jin, Sangkoan Jin! Bu ki telah menaksir nama itu di dalam hatinya, menggunakan pisau yang dinamakan "dendam kesumat"

Untuk mengukirnya, sambil mengukir sambil melelehkan air mata dan sambil mengucurkan darah.

Tapi sekarang, ketika ia mendengar nama tersebut, ternyata sama sekali tiada reaksi apa-apa darinya, siapapun itu orangnya tak akan bisa menarik kesimpulan dari mimik wajahnya kalau dia dan Sangkoan Jin mempunyai hubungan yang akrab.

"Tahukah kau tentang manusia yang bernama Sangkoan Jin itu?"

Tanya Tong Koat.

"Aku tahu"

"Kau benar-benar tahu?"

"Dia adalah salah seorang di antara tiga pentoaln Tay Hong tong, ia telah membunuh sahabatnya yang paling akrab Tio Kian, kemudian menggunakan batok kelapa Tio Kian sebagai hadiah untuk musuh bebuyutan Tay Hong tong Lui Ceng Thian"

Ternyata ia tertawa lebar, kemudian melanjutkan.

"Sekalipun aku sangat jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tapi peristiwa ini pernah kudengar dari cerita orang"

"Kau pernah mendengarnya dari siapa?"

Tong Giok yang menceritakan hal ini kepadaku. Tong Koat segera menghela napas panjang.

"Aaaai... sekarang aku baru tahu, Tong Giok benar-benar baik sekali kepadamu, bahkan kejadian semacam inipun mau dia ceritakan kepadamu"

"Sekarangpun aku baru tahu kau memang benar-benar baik sekali kepadaku, ternyata kejadian semacam inipun mau menceritakannya kepada diriku"

Tong Koat segera tertawa. Bu ki juga tertawa.

"Tahukah kau di dalam benteng keluarga Tong, selain dia masih ada seorang siau Koh nay nay lagi?"

Tanya Tong Koat.

"Tidak tahu!"

"Siau koh nay nay itupun sama saja suka mencampuri urusan orang, dia juga merupakan seorang musuh tandinganku"

"Mengapa kau takut kepadanya?"

"Sebab dia adalah adik perempuanku"

Seorang kakak takut dengan adiknya, kejadian ini bukan suatu kejadian yang aneh, memang banyak kakak yang takut dengan adiknya.

Tentu saja hal ini bukan dikarenakan adiknya benar-benar menakutkan, melainkan karena adiknya itu binal dan sukar dikendalikan.

"Untung saja adikku inipun sudah kawin dengan orang!"

Ujar Tong Koat lebih jauh.

"Kawin dengan siapa?"

"Lui Ceng Thian!"

Lui Ceng Thian adalah musuh bebuyutannya Tay hong tong, Lui Ceng Thian adalah majikannya Pek lek tong.

Dendam kesumat antara Sangkoan Jin dengan Bu ki adalah dendam yang lebih dalam daripada samudra.

Sekarang, walaupun Bu ki belum bertemu dengan mereka, tapi tanpa disengaja telah bertemu dengan istri-istri mereka.

Ternyata ia merasa bahwa mereka amat cantik dan menarik hati.

Sikap mereka terhadap dirinya ternyata aneh sekali.

Kedua orang itu menatapnya beberapa kejap, kemudian saling berpandangan pula dengan suatu sinar mata yang sangat aneh.

Akan tetapi mereka sama sekali tidak bertanya kepada Tong Koat siapakah orang itu?

Apakah mereka sudah mengetahui dengan jelas tentang dirinya?

Sesaat sebelum pergi, adik Tong Koat bahkan masih sempat memandang ke arahnya sambil tertawa, sepasang mata besarnya yang indah kembali berubah menjadi sebuah garis yang berliuk-liuk, seakan-akan hendak membelenggu hatinya.

Gadis yang begitu muda, dengan sepasang mata yang besar dan jeli, sesungguhnya tidak cocok buat Lui Ceng Thian, sebab bagaimanapun juga Lui Ceng Thian sudah tua.

Dalam Tay hong tong tentu saja terdapat pula bahan data mengenai Lui Ceng Thian, seingat Bu ki, tahun ini agaknya dia telah berusia lima puluh delapan, sembilan tahunan.

Ia bisa mengawini seorang istri muda yang cantik dan menarik semacam ini sebetulnya merupakan kemujuran baginya atau bukan?

Tanpa terasa Bu ki teringat kembali akan Mi Ci.

Mendadak ia teringat kembali akan banyak urusan, baru saja dia akan memecahkan persoalan itu satu demi satu, mendadak ia mendengar suara bunyi keleningan yang sangat memekikkan telinga.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, maka terlihat serombongan burung merpati.

Langit nan biru, burung merpati yang putih dengan keleningan berwarna emas yang menyilaukan mata.

Setiap ekor burung-burung merpati itu semuanya memakai keliningan emas, serombongan burung merpati sedang terbang di angkasa nan biru dan terbang menuju ketengah bukit.

Suasana di atas jalan raya mendadak terjadi kegaduhan, setiap orang berlarian keluar dari dalam toko dan memandang rombongan burung merpati itu sambil bersorak-sorai.

"Toa sauya menang, toa sauya telah menang lagi!"

Setiap orang sedang tertawa, Tong Koat juga tertawa, cuma tertawanya tidak seriang orangorang yang lain. Agaknya Bu ki telah menaruh perhatian ke situ, segera dia bertanya dengan cepat.

"Yang dinamakan toa sauya itu sebetulnya toa sauya yang mana?"

"Tentu saja toa sauya dari keluarga Tong, Tong Au adanya"

"Kalau dia adalah toa sauya, maka bagaimana dengan kau?"

"Aku adalah toa koan!"

"Kalian adalah saudara sekandung?"

"Ehmm!"

"Di antara kalian berdua, sebetulnya siapa yang lebih besar?"

"Entahlah!"

"Aaah, masa sampai kau sendiripun tidak tahu?"

"Sebab ibuku mengatakan akulah yang lahir terlebih dahulu, tapi ibunya mengatakan dia yang lahir lebih dulu, sebenarnya siapa yang lahir lebih duluan tak akan seorang manusiapun yang tahu, tapi siapapun enggan menjadi loji, maka dalam keluarga Tongpun terdapat seorang toa sauya dan seorang toa koan"

Setelah memicingkan matanya dan tertawa, dia melanjutkan.

"Kalau ayahmu juga mempunyai beberapa orang istri, kau akan tahu dengan sangat jelas sesungguhnya apa yang telah terjadi"

Di balik senyumannya itu seolah-olah terdapat sebatang jarum, sebatang jarum yang tajam sekali.

Bu ki tidak bertanya lagi.

Ia sudah menyaksikan hubungan yang serba bertentangan dan retak di antara mereka berdua, dan penemuan itu sudah membuatnya merasa puas sekali.

"Burung merpati telah terbang kembali, itu menandakan kalau ia berhasil menang lagi dalam pertandingan kali ini"

Kata Tong Koat.

"secara beruntun berhasil menang empat kali dan mengalahkan empat orang jago pedang kenamaan dari dunia persilatan, sesungguhnya kejadian ini memang patut digirangkan, patut dirayakan"

"Empat orang jago pedang kenamaan dari dunia persilatan? Siapa-siapa sajakah mereka?"

"Pokoknya ilmu pedang mereka sangat lihay, namanya juga amat tersohor dalam dunia persilatan, kalau tidak juga tak akan sampai toa sauya dari keluarga Tong turun tangan sendiri"

"Ada dendam sakit hatikah antara dia dengan ke empat orang itu?"

"Tidak ada!"

"Lantas kenapa ia pergi mencari mereka?"

"Karena dia ingin agar orang lain tahu, anak cucu keluarga Tong belum tentu harus mengandalkan senjata rahasia untuk meraih kemenangan"

"Senjata apakah yang dia pergunakan untuk meraih kemenangan itu?"

"Dengan pedang"

Setelah berhenti sebentar, dengan hambar dia melanjutkan.

"Hanya menggunakan pedang untuk mengalahkan jago pedang kenamaan baru bisa memperlihatkan kelihayana toa sauya keluarga Tong yang sesungguhnya."

"Lihaykah ilmu pedang yang dimiliknya?"

Tong Koat tertawa.

"Kau juga menggunakan pedang", katanya.

"tunggu saja sampai dia pulang, kemungkinan besar diapun akan mencarimu untuk beradu ilmu pedang, waktu itu kau baru akan tahu sampai di manakah taraf kehebatan ilmu pedang yang dimiliknya itu"

Bu ki juga tertawa, katanya.

"Aaai....kelihatannya, jalan yang terbaik bagiku adalah tidak tahu untuk selamanya"

Baru saja burung-burung merpati itu terbang di angkasa, Sau poo teman Tong Koat yang ganteng dan gagah itu sudah menampakkan batang hidungnya di sana.

Ia sudah balik ke benteng keluarga Tong lebih dahulu, sudah jelas pulang sambil mengawal peti mati yang berisikan Tong Giok serta Mi Ci itu.

Dengan langkah lebar dia berjalan mendekat, wajahnya tampak giruang dan penuh bersemangat, seakan-akan sedang menghadapi suatu kejadian besar yang pantas untuk dirayakan.

Dari tempat kejauhan, ia sudah mulai berteriak-teriak dengan suaranya yang lantang.

"Kionghi, kionghi....kejadian ini sungguh merupakan suatu peristiwa besar yang patut diberi salam, pantas diberi ucapan selamat"

Tong Koat melirik sekejap ke arahnya dengan ujung mata yang tajam, lalu katanya.

"Kemenangan yang berhasil diraih toa sauya dari keluarga Tong, apa pula sangkut pautnya dengan dirinya?"

"Sama sekali tak ada sangkut pautnya"

"Lantas apa yang kau girangkan?"

Tegur Tong Koat dingin.

"Aku sedang merasa gembira bagi sam sauya dari keluarga Tong"

Sam sauya dari keluarga Tong adalah Tong Giok.

"Luka yang dideritanya telah berhasil disembuhkan nenek moyang. sekarang ia sudah dapat bangun untuk minum jinsom" ***** SEORANG TEMAN Tong Giok sudah dapat minum kuah jinsom. Bila seseorang sudah dapat minum kuah jinsom sendiri, tentu saja diapun bisa juga membicarakan persoalan. Bila banyak persoalan telah dia katakan, maka selembar nyawa Bu ki sudah pasti akan melayang. Tapi Bu ki sama sekali tidak merasa terkejut, atau panik atau gugup, peluh dinginpun tak mengucur keluar, Ternyata dia sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, seakan-akan kejadian ini tak ada hubungan dengannya. Tong Koat kembali melirik ke arahnya dengan ekor matanya yang tajam, tiba-tiba ia berkata.

"Tong Giok adalah sahabat karibmu?"

"Benar!"

"Sesudah tahu kalau sahabat karibmu sembuh dari lukanya, mengapa kau tidak nampak gembira barang sedikitpun juga?"

"Aku merasa gembira sekali baginya"

"Tapi kenapa tidak kulihat tanda-tanda di atas wajahmu itu...?"

"Sebab, akupun sama seperti kau, bagaimanapun gembiranya dalam hati atau bagaimanapun takutnya, orang lain tak akan bisa melihatnya dengan begitu saja"

"Sekalipun hatimu merasa takutnya setengah mati, wajahmu tetap tertawa, sekalipun aku tertawa dengan riang gembira, belum tentu hatimu merasa amat gembira"

"Tepat sekali!"

Tong Koat segera tertawa, tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh.. haaahhh... aku paling suka dengan manusia semacam ini, di kemudian hari kita pasti akan menjadi sahabat karib...."

"Belum pasti!"

Tukas Bu ki.

"Kenapa?"

"Sebab akupun seperti kau, di kala bibirku mengatakan "pasti", belum tentu hatiku sungguhsungguh berpikir demikian"

"Di mulut tak mengatakan "Belum pasti"

Mungkin kau telah menganggap diriku sebagai teman karibmu?"

"Belum pasti!"

Sekali lagi Tong Koat tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh...haaahhh...haaahhh.... sungguh tak kusangka, kecuali aku di dunia ini ternyata masih terdapat manusia semacam kau"

Bu ki tidak tertawa.

Ada sementara orang harus memegang peranan seseorang yang selalu tertawa, setiap waktu setiap saat harus tertawa, tapi ada juga yang harus memegang peranan tidak terlalu sering tertawa.

Menunggu Tong Koat telah selesai tertawa, pelan -pelan Bu ki bertanya.

"Sekarang, apakah kau sudah dapat membawaku menjumpai Tong Giok?"

Dari balik sinar mata Tong Koat yang penuh senyuman segera memancar sinar yang lebih tajam daripada sembilu, katanya kemudian.

"Ingkinkah kau pergi menjumpainya?"

Bu ki tidak menjawab, sebaliknya bertanya.

"Bila ia tahu aku telah datang, mungkinkah dia akan menyuruh kalian membawaku untuk menjumpainya?"

"Dia pasti ingin sekali bertemu denganmu"

Tong Koat harus mengakui akan hal itu.

"Maka dari itu, sekalipun aku benar-benar tak ingin berjumpa dengannya, mau tak mau juga harus pergi menjumpainya"

"Ya, tepat sekali"

Tiba-tiba ia tertawa lagi, tambahnya.

"Padahal orang yang menunggu untuk berjumpa dengan dirimu bukan hanya satu orang saja"

"Selain dia masih ada siapa lagi?"

Masih ada seorang teman, seorang teman yang sangat baik.

"Teman siapa?"

"Temanku!"

"Kalau memang temanmu, kenapa ingin berjumpa denganku?"

"Sebab dia kenal denganmu"

Dari balik matanya terpancar sinar mata yang tajam seperti jarum, sambil menatap Bu ki tajam-tajam, sepatah demi sepatah terusnya.

"Walaupun kau tidak kenal dengannya, justru dia kenal dengan dirimu..."

Jalan raya itu panjang sekali.

Di ujung sana merupakan sebuah ruang pemujaan yang anggun dan mentereng, di belakang ruang pemujaan merupakan sebuah hutan yang rindang dan hijau.

Dari balik dedaunan yang rimbun, kelihatan ujung dinding sebuah bangunan.

"Mereka semua sedang menantikan kedatanganmu di sana!"

Kata Tong Koat lagi.

"Yang dimaksudkan mereka adalah Tong Giok dengan temanmu itu?"

"Benar!"

Dari awal sampai sekarang, dia tak pernah menanyakan asal usul Bu ki, bahkan menyinggung soal itupun tak pernah.

Mungkinkah hal ini disebabkan temannya itu telah membeberkan asal usul Bu ki kepadanya?

Maka sekarang dia merasakan tiada suatu kepentingan untuk ditanyakan kembali?

Paras mukanya tak pernah berubah, dia selalu tertawa, karena dia tidak boleh menimbulkan kewaspadaan Bu ki, sebab itu pula dia baru akan mengikutinya datang ke sana.

Datang untuk menghantar kematiannya!

Siapakah temannya itu?

Apakah dia benar-benar mengetahui asal -usul Bu ki?

Sekarang, semua persoalan sudah tidak terlalu penting lagi, sebab Tong Giok telah "bangkit kembali dari kematiannya"

Tentu saja Tong Giok mengetahui siapakah Bu ki itu.

Sekarang, Bu ki seharusnya juga tahu, asal dia melangkah masuk ke dalam bangunan loteng itu, maka dia akan mati di situ, mati dalam keadaan mengenaskan.

Dia seharusnya cepat-cepat mengambil tindakan untuk melarikan diri dari sana.

Entah sekarang apakah dia masih punya kesempatan untuk kabur atau tidak, paling tidak dia harus mencobanya dulu.

Sebab, bagaimanapun juga berbuat demikian masih ada kesempatan untuk meloloskan diri.

Tapi ia tidak kabur, bahkan paras mukanya sama sekali tidak berubah.

Dia seakan akan merasa rela untuk mati disitu.

Hutan yang hijau dan rimbun dengan sebuah bangunan loteng kecil yang tenang dan anggun.

Musim semipun sedang menjelang tiba.

Baik seorang dapat mati ditempat yang begini indahnya, dalam musim yang begini cerahnya, siapapun akan menganggap bahwa kematiannya itu tidak sia sia belaka.

Dibawah bangunan loteng tampak aneka warna bunga, ada bunga yang masih kuncup, ada pula yang telah mekar.

Pintu gerbang dibawah bangunan loteng itu tertutup rapat.

Tong koattelah mengulurkan tangannya, entah hendak mengetuk pintu?

Entah hendak mendorong pintu?

Tiba tiba dia membalikkan badannya memandang wajah Bu ki, kemudian katanya.

"Aku sangat mengagumi dirimu!"

"Oya?"

"Kau berani mengikuti aku datang kemari, aku benar benar merasa kagum sekali kepadamu"

"Oya?"

"Karena aku tahu kau sudah pasti bukan sahabat Tong Giok!"

Paras muka Bu ki sama sekali tidak berubah, ia masih tenang tenang saja. Kembali Tong Koat berkata.

"Aku adalah saudara sekandung dari Tong Giok, sejak kecil dia bergaul bersamaku, aku jauh lebih memahami wataknya daripada orang lain, bilamana perlu, sekalipun dia menjual diriku untuk daging bakpoa punt ak akan dia lakukan dengan kening berkerut, dan akupun tak akan merasa heran"

Setelah tertawa, terusnya.

"Bayangkan saja, manusia semacam dia itu mana mungkin bisa punya teman? Bagaimana mungkin juga kau bisa menjadi temannya"

Bu ki masih tetap tenang tenang saja tanpa mengalami suatu perubahan apapun. Cuma tanyanya hambar.

"Kalau aku bukan temannya lantas aku adalah apanya?"

"Kalau bukan teman sudah barang tentu musuh!"

"Oh ya?"

"Musuhpun ada beraneka ragam, yang paling menggemaskan adalah mata mata"

"Menurut kau, aku adalah musuh yang bagaimana"

Tanya Bu ki lagi dengan tenang.

"Kau adalah musuh dari jenis yang paling menggemaskan itu"

Sesudah menghela napas, terusnya.

"Seorang mata mata, ternyata berani datang kemari, mau tak mau aku harus merasa kagum kepadamu"

"Padahal itupun tak perlu masuk dikagumi.

Jilid 26________ "OYA?"

"Sekalipun aku adalah seorang mata mata akupun akan tetap mengikutimu datang ke mari"

"Oya..".

"Karena aku tahu Tong Giok belum sadar kalian tak lebih hanya ingin menggunakan cara tersebut untuk mencoba diriku"

"Oooh...lantas?"

"Kalian saja masih harus menggunakan cara ini untuk menyelidikiku, itu menanda-kan kalau kalian, masih belum yakin seyakin-yakinnya babwa aku ini seorang mata-mata atau bukan"

Kembali Tong Koat tertawa. menggunakan sorot matanya yarg tajam seperti jarum menatapnya lekat lekat, kemudian katanya.

"Dari mana kau bisa tahu kalau Tong Giok belum sadar?"

"Sebab kuah jinsom adalah obat kuat,. bi la seseorang yang keracunan baru sadar da-ri pingsannya, maka dia tak boleh sekali-kali minum kuah jinsom kalau tidak maka sisa racun yang masih mengeram dalam tu-buhnya tak urung akan kambuh kembali"

Dengan hambar dia melanjutkan.

"Keluarga Tong adalah keluarga yang ahli dalam hal menggunakan racun, maka teori semacam inipun tidak dipahami?"

Mau tak mau Tong Koat harus mengakui juga akan kebcaaran itu, katanya kemudian.

"Yaa, teori semacam inii sepantasnya kalau dimengerti oleh kami"

"Cuma sayang dia tidak mengerti"

Dengan dingin diliriknya Siau Poo sekejap kemudian melanjutkan.

"Sobatmu ini ternyata tidak sepintar tampangnya!"

Selembar wajah Siau Poo yang sangat tampan itu segera berubah menjadi merah padam karena jengah, sepasang kepalannya digenggam kencang-kencang, seakan akan kalau bisa dia hendak meninju hidung Bu-ki.

Cuma sayang kepalanya itu tak mampu diayunkan ke depan, sebab Tong Koat juga menyetujui dengan pendapatnya itu.

Kembali Tong Koat menghela napas pan jang, lalu sambil tertawa getir katanya.

"Temanku ini memang tidak sepintar tampangnya,sebaliknya kau justru lebih pintar daripada tampangmu itu"

"Maka dari itu aku telah datang kemari!"

"Cuma sayang kau lupa, aku masih ada seorang teman yang mengenali dirimu"

"Oya?"

Kau tidak percaya?"

Bu-ki juga tak bisa, tidak harus percaya, karena Tong Koat telah membuka pintu bawah loteng kecil itu.

Begitu pintu dibuka, Bu-ki segera menjumpai seorang sahabat.

Orang yang dijumpainya itu bukan Cuma sahabatnya Tong Koat, sebenarnya diapun sahabatnya.

Ia telah menjumpai Kwik Ciokji.

Ternyata sahabat Tong Koat adalah Kwik Ciok ji.

SUASANA dalam ruangan itu nyaman, segar dan tenang.

Kwi Kiok ji sedang minum arak disana, dengan gaya yang seenaknya duduk dikursi sam bil minum arak.

Agaknya tidak banyak waktu orang ini berada dalam keadaan sadar.

Tapi begitu berjumpa dengan Bu ki, ia seperti segera sadar dari mabuknya sambil melompat bangun teriaknya "Betul dia!

Benar-benar memang dial"

Ditatapnya Bu-ki tajam-tajam,kemudian. sambil tertawa dingin dengan seramnya dia berkata.

"Sungguh tak kusangka kau punya keberanian untuk datang kemari!"

Paras muka Bu-ki sama sekali tidak berubah. Dari atas sampai ke bawah tubuhnya seakan akan tiap syarafnya terdiri dari otot kawat tulang besi, sama sekali tak terpengaruh oleh perubahan macan apapun.

"Kau kenal dengan orang ini?"

Tanya Tong-koat "Tentu saja aku kenal"

Sahut Kwik Ciok ji.

"kalau aku tidak kenal, siapa lagi yang mengenalinya"

"Siapakah orang ini?"

"Bunuh dulu orang itu, kemudian baru kuberi tahukan kepadamu"

"Katakan dulu, kemudian mau dibunuhpun belum terlambat"

"Aku kuatir waktu itu keadaan akan terlambat"

Sambil menuding kearah Bu ki, terusnya.

"Orang ini bukan saja licik dan keji juga berbahaya sekali, kau harus turun tangan terlebih dulu"

Tong koat tidak berniat untuk turun tangan.

Bu ki juga sama sekali tidak bergerak.

Sebaliknya Siau pao secara diam-diam menyelinap datang, kemudian secepat kilat turun tanga, bogem mentahnya langsung diayunkan ke atas batang hidung pemuda itu.

"Prryyaak......!"

Terdengar bunyi tulang hidung yang hancur termakan bogem mentah.

Ternyata tulang hidung yang hancur bukan tulang hidung Bu ki.

melainkan milik Siau poo.

Baru saja kepalan Siau poo diayunkan kemuka bogem mentah Bu ki telah mampir dulu diatas tulang hidungnya.

Seluruh badannya terlempar kearah belakang sehingga membentur diatas dinding.

Air mata ingus, dan darah bercucuran membasahi seluruh wajahnya, Kwik Ciok ji segera berteriak.

"Coba kau lihat apakah orang semacam ini tidak pantas untuk mampus? Terang terangan dia tahu kalau Siau poo mempunyai hubungan denganmu, tapi dia toh turun tangan keji juga, sekarang kalau tidak kau bunub dirinya masih akan menunggu sampai kapan lagi?. Ternyata Tong Koat masih belum ada maksud untuk turun tangan, dia malah sedang memandang Siau Poo sambil gelengkan kepalanya berulang kali dan menghela napas panjang.

"Tampaknya orang ini bukan saja tidak mempunyai kecerdikan seperti tampangnya, bahkan jauh lebih goblok dari pada apa yang pernah kubayangkan selama ini"

"Kenapa?"

Tanya Kwik Ciok ji mewakili Siau poo.

"Sudah diketahui olehnya kalau orang ini licik, keji dan berbahaya, kenapa dia masih mencoba untuk turun tangau lebih dulu?"

"Apakah......apakah tonjokan vang diterimanya itu hanya suatu tonjokan yang sia sia?"

"Yaa, agaknya dia memang harus pasrah pada keadaan"

"Kenapa kau tidak mambantunya untuk melampiaskan kemangkelan ini?"

Tanya Kwik Ciok Ji lagi. Sambil memicingkan matanya memandang Bu ki, sahut Tong Koat.

"Sebab makin lama aku merasa semakin tertarik dengan orang ini"

"Kau tahu, siapakah orang ini? "Tidak"

"Dia adalah seorang pembunuh, seorang pembunuh yang telah membunuh tiga belas Orang! "Ia benar benar telah membunuh tiga belas Orang?"

"Yaa, seorang pun tak ada yang kurang"

"Mengapa ia harus membunuh mereka?"

"Karena ada orang memberi lima laksa tahil perak kepadanya!"

"Oooh.....jadi barang siapa memberi lima laksa tahil perak kepadanya maka dia a-kan pergi membunuh orang?"

"Dia selamanya cuma kenal uang, tidak kenal manusia"

Tiba tiba Tong Koat membalikkan badan nya dan menatap Bu ki tajam tajam kemudian tanyanya.

"Benarkah apa yang dikataaan itu?"

"Hanya ada satu hal yaag tidak benar!"

"Hal yang mana?"

"Harga yang dikatakan tidak benar!"

Setelah berhenti sebentar dengan hambar terusnya.

"Sekarang nilaiku sudah meningkat, kalau tak ada sepulub laksa tahil perak, aku tak akan turun tangan"

Kembali Tong Koat menghela napas panjang.

"Aaaai...... minta bayaran sepuluh laksa tahil perak baru bersedia membunuh satu orang apakah harga itu tidak terla lu mahal?"

"Tidak mahal!"

Jawab Bu ki.

"Sepuluh laksa tahil perak tidak terhitung mahal?"

"Kalau ada orang berani mengeluarkan se-puluh tahil perak,itu berarti harganya tidak mahal"

"Kali ini, apakah ada orang yang bersedia membayarmu sepuluh laksa tahil perak menyuruhmu datang kemari membunuh orang?"

Selamanya aku hanya membunuh orang yang yakin bisa kubunuh, setelah membunuh aku pun harus mundur, dengan selamat tanpa cedera barang sedikitpun juga.

Dengan dingin lanjutnya "Orang yang bisa kubunuh amat banyak, tempat yang bisa kupakai untuk membunuh juga tak sedikit, aku masih belum ingin mati, kenapa harus datang ke benteng keluarga Tong untuk membunuh anggota keluarga Tong"

Tong koat tertawa terbahak bahak. Haaahhh...haaahhh.... haaahhh.... masuk diakal masuk diakal....!"

"Tapi dia sudah datang kemari, berarti diapun tidak mempunyai maksud tujuan yang baik"

Lagi lagi Kwik Ciok ji berteriak keras.

"Oya?"

"Ia membunuh orang,tentu saja orang lain juga akan membunuhnya, dia datang kemari pasti dengan tujuan untuk menghindar kan diri dari kejaran orang. Bila kau meng anggap dia benar benar adalah sahabatnya Tong Giok, dengan maksud tujuan yang baik menghantar Tong Giok pulang kemari, maka dugaanmu itu keliru besar, jika kau mena hannya disini, kau pasti akan menjumpai banyak kesulitan!"

Tong Koat segera tersenyum.

"Menurut pandanganmu apakah aku adalah seorang yang takut dengan kesulitan?"

Kwik Ciok ji agak tertegun, kemudian meng-hela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir.

"Yaa, kau memang bukan!"

"Padahal kalian semestinya adalah sahabat karib!"

"Kenapa aku harus bersahabat dengan pembu-nuh yang suka membunuh orang semacam dia?"

Seru Kwik Ciok ji dengan teramat gusarnya. Sambil memicingkan matanya, Tong koat sege-ra tertawa.

"Sebab kau sendiripun tak lebih cuma seorang pencuri,tidak lebih hebat daripada dirinya."

Kwik Ciok ji tidak berbicara lagi, tapi mata nya masih mendelik ke arah Bu ki dengan gemasnya.

Bu ki sama sekali tidak memperdulikan dirinya.

Tong koat segera tetawa terbahak bahak, dengan tangannya yang putih dan gemuk digenggamnya tangan Bu ki,kemudian katanya.

"Perduli karena apapun kau datang,setelah sampai disini aku tak akan mengusirmu pergi".

"Kenapa?"

Tanya Bu ki. Karena aku menyukaimu!"

Kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa, dia melanjutkan.

"Sekalipun tujuanmu datang kemari adalah untuk membunuh orang, asal orang yang hendak kau bunuh bukan aku, hal itu tidak menjadi soal"

Tangannya masih menggenggam tangan Bu ki, tapi pada saat itulah mendadak tampak cahaya pisau berkelebat lewat, kemudian langsung menusuk ke tubuh Bu ki.

Pisau itu dicabut keluar dari balik sepatu yang dikenakan Siau Poo.

Dia selalu mengawasi Bu ki dengan sinar mata bengis seakan-akan seorang istri pencemburu yang sedang mengawasi suaminya nyeleweng dengan perempuan lain.

Kemudian dengan menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya dia melancarkan sebuah tusukan ke depan.

Waktu itu sepasang tangan Bu ki masih tergenggam kencang.

Bu ki sama sekali tidak berpaling, tiba-tiba kakinya melayang ke depan melancarkan tendangan kilat, tubuh Siau Poo pun mencelat jauh ke belakang sana.

Di atas punggungnya seakan-akan mempunyai sepasang mata yang selalu mengawasi keadaan di sekelilingnya.

Kembali Tong Koat tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...haaahhh...haaahhh... orang yang berani mengajukan harga sebesar sepuluh laksa tahil perak untuk membunuh orang seharusnya dia memang musti punya kemampuan yang hebat"

Bu ki menyambut dengan dingin.

"Orang yang berani meminta sepuluh laksa tahil perak untuk membunuh orang, selain dia harus berkepandaian hebat, juga harus punya peraturan yang ketat..."

"Peraturan apa?"

"Bila orang ingin menghancurkan hidungku, aku harus menghajar hidungnya sampai hancur"

"Bila ada orang ingin membunuhmu, kaupun akan membunuhnya?"

Tanya Tong Koat.

"Aku tak akan membunuhnya?"

"Kenapa?"

"Sebab aku tak pernah membunuh orang secara gratis"

Siau Poo dengan ingus dan darah yang masih bercucuran keluar segera berteriak dengan suara parau.

"Tapi aku bersumpah akan membunuhmu"

Sambil menerjang ke depan, terusnya.

"Ingat saja baik-baik, cepat atau lambat pada suatu ketika aku hendak membunuhmu!"

Kemudian tanpa berpaling lagi dia menerjang keluar dari ruangan tersebut. Tiba-tiba Kwik Ciok ji tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh..haaahh...haahh.... Li Giok Tong, wahai Li Giok tong, tampaknya kemanapun kau hendak menyembunyikan diri, di situ toh ada orang juga hendak membunuhmu, bila manusia semacam kau bisa berumur panjang, itu baru dinamakan kejadian aneh"

Mendadak Bu ki membalikkan badannya, ditatapnya orang itu dengan dingin, lalu sepatah demi sepatah katanya.

"Kau merupakan pengecualian!"

"Pengecualian dalam hal apa?"

"Aku tak pernah membunuh orang secara gratis, tapi demi kau, kemungkinan besar aku dapat melanggar kebiasaanku itu"

Kwik Ciok ji tidak tertawa lagi, dengan pandangan yang dingin diapun menatapnya tajamtajam, lalu katanya ketus.

"Kau juga suatu pengecualian!"

"Oya?"

"Selamanya aku tak pernah mencuri barang-barang secara gratis, tapi demi kau, setiap saat setiap waktu kemungkinan besar akupun dapat melanggar kebiasaan itu"

Bu ki segera tertawa dingin.

"Apa yang bisa kau curi dari diriku?"

"Mencuri otakmu!"

Tapi di kala mereka bersama-sama membalikkan badannya, seakan-akan siapapun enggan untuk melihat musuhnya lebih lama lagi.

Tapi di kala mereka membalikkan badannya itulah, dengan cepat kedua orang itu saling bertukar kode mata.

Dalam waktu singkat dibalik senyuman licik dan menyeringai dari Kwik Ciok ji itu terlintas rasa gembira dan kagumnya yang luar biasa terhadap diri Bu ki.

Bu ki memang pantas dipuji dan dikagumi.

Sandiwara yang dibawakan olehnya kali ini sungguh luar biasa sekali, bahkan bisa dilangsungkan lebih jauh.

Dalam detik itu juga, dari balik mata Bu ki terpancar sinar mata yang berkilat, itulah rasa terima kasih yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Mau tak mau dia harus berterima kasih sekali atas bantuan dari rekannya ini.

Tanpa Kwik Ciok ji, tak mungkin dia bisa membawakan sandiwara tersebut, bahkan skenario dari sandiwara itupun disusun oleh Kwik Ciok ji baginya.

Sekarang ia sudah dapat melihat bahwa peranan yang dibawakan olehnya adalah suatu peranan yang bagus dan sangat menguntungkan....

paling tidak bisa bisa mencari muka di hadapan Tong Koat.

Manusia semacam Tong Koat memang memerlukan seorang pembantu setia yang setiap waktu setiap saat bisa digunakan olehnya untuk membunuh seseorang.

Tak bisa disangkal lagi Kwik Ciok ji telah dapat memahami akan titik kelemahan tersebut, titik kelemahan yang dapat dipergunakan bagi keuntungan mereka, maka diapun sengaja mengaturkan suatu peranan yang demikian itu untuk Bu ki.

Sekarang, tentu saja Bu ki sudah percaya dengan ucapan Tong Koat, di sini benar-benar ada seorang teman yang sedang menantikannya.

Untung saja sahabatnya ini bukan sahabat Tong Kat, melainkan sahabatnya.

Sahabat semacam ini, asal ada seorang saja, hal ini sudah lebih dari cukup.

Mimpipun Bu-ki tidak menyangka kalau di sini masih ada seorang temannya lagi yang sedang menunggu, bahkan diapun seorang teman karibnya.

SUATU KESALAHAN Bangunan loteng kecil ini tak bisa dianggap terlampau kecil, di atas loteng ternyata terdiri dari empat buah kamar, keempat buah kamar itupun tak bisa dianggap kecil.

Tong Koat mengajak Bu ki masuk ke kamar nomor satu di sebelah kiri, lalu tanyanya.

"Bocah, kau lihat kamar ini, boleh tidak?"

Di dalam kamar terdapat sebuah pembaringan yang besar, lebar dan empuk, di atas ranjang terdapat seprei yang bersih, di luar jendela terbentang hutang yang hijau, udara kering tapi segar.

"Bagus sekali"

Kata Bu ki.

"Inginkah kau tinggal di sini?"

Kembali Tong Koat bertanya.

"Ingin!"

"Akupun ingin sekali mempersilahkan kau berdiam di sini, berapa lama pula kau boleh tinggal di tempat ini....!"

"Bagus sekali!"

"Cuma sayang, ada satu hal yang tidak terlalu bagus"

"Hal yang mana?"

Tong Koat tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.

"Di kala kau berdian di rumah penginapan selalu akan bertanya dulu siapa she dan apa namamu? Datang dari mana? Mau kemana? Datang kemari ada urusan apa?"

"Benar!"

"Pernahkah aku bertanya kepadamu?"

"Tidak pernah"

"Tahukah kau mengapa aku tidak menanyakan soal itu?"

"Kenapa?"

"Karena aku tak dapat memberi kesempatan kepadamu untuk melatihnya...."

"Melatih apa?"

"Melatih berbohong!"

Kembali sepasang matanya dipicingkan kemudian lanjutnya.

"Bila terlampau sering berbohong, diri sendiri saja tidak percaya, apalagi orang lain"

"Yaa, masuk diakal"

"Oleh karena itu ada sementara persoalan kami cuma akan bertanya satu kali, entah kau sedang berbohong tidak, kami dapat mengetahuinya"

"Kalian?"

"Kami maksudnya selain aku masih ada orang-orang yang lain"

"Siapakah orang-orang yang lain itu?"

"Mereka yang dapat mengetahui apakah kau sedang berbohong atau tidak dalam sekilas pandangan saja"

Dengan sepasang tangannya yang putih dan gemuk menggenggam sepasang tangan Bu ki kemudian terusnya.

"Padahal aku tahu, kau tak akan berbicara bohong, tapi kaupun harus melewati pemeriksaan tersebut kemudian baru boleh tinggal disini dengan aman sentausa"

"Kalian bermaksud hendak menanyainya mulai kapan?"

"Sekarang!"

Begitu ucapan tersebut diucapkan, dia telah menotok jalan darah ditubuh Bu ki.

Bu ki membiarkan tangannya digenggam karena dia memang bertujuan agar jalan darahnya bisa ditotok.

Bu ki harus memberi kesan kapada Tong Koat bahwa dia sama sekali mempercayainya, dan seratus persen percaya kepadanya.

Seseorang yang dalam hati kecilnya tak punya tujuan dan maksud-maksud tertentu baru akan percaya seratus persen kepada orang lain.

Dia harus memberi kesan kepada Tong Koat bahwa hatinya benar-benar jujur dan terbuka.

Bila kau menginginkan orang lain mempercayai dirimu, maka kau harus membuat orang lain beranggapan bahwa kaupun mempercayainya.

Dia harus membuat Tong Koat percaya kepadanya, kalau tidak pada hakekatnya tak mungkin baginya untuk hidup disana.

Cahaya lampu yang sangat kuat menyoroti diatas wajah Bu ki.

Suasana di empat penjuru sekeliling tempat itu terasa gelap gulita.

Apapun tidak terlihat olehnya, dia hanya bisa mendengar suara napas yang lirih dibalik kegelapan itu, bahkan suara napas itu bukan hanya suara napas seorang saja.

Dia tidak tahu siapa-siapa sajakah orang-orang itu, dia juga tak tahu Tong Koat telah membawanya kemana.

Diapun tak tahu dengan cara apakah orang-orang itu hendak memeriksa dan menanyai dirinya.

Dari balik kegelapan kembali terdengar suara langkah manusia, kembali ada beberapa orang yang berjalan masuk dari luar.

Diantaranya ada seseorang yang mengucapkan beberapa patah kata lalu duduk.

"Aku datang terlambat!"

Ia sama sekali tak bermaksud memberi penjelasan atas keterlambatannya.

lebih-lebih tak bermaksud untuk meminta maaf.

Dia seakan-akan beranggapan bahwa orang lain harus memahaminya.

Bila ia sampai terlambat, sudah pasti ada alasan yang cukup kuat.

Dia seperti menganggap orang lain sudah sepantasnya menunggu akan kehadirannya.

Suara orang itu rendah, berat, dingin, hambar dan penuh rasa percaya pada diri sendiri, bahkan masih membawa juga sikap angkuh yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Mendengar suara orang itu, Bu ki merasakan darah yang mengalir disekujur badannya seolaholah mendidih dengan kerasnya.

Tentu saja dia mengenali suara orang itu.

Sekalipun ia dijebloskan ke dalam neraka tingkat delapan belas, sekalipun tubuhnya dicincang menjadi hancur berkeping-keping dibakar sampai tinggal abunya dia tak akan melupakan orang ini.

Sangkoan Jin!

Orang ini bukan lain adalah Sangkoan Jin.

Akhirnya Sangkoan Jin telah menampakkan diri.

Walaupun Bu-ki masih belum dapat melihatnya, tapi ia sudah dapat mendengar dengusan napasnya.

Dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra, air mata darah yang selamanya meleleh membasahi wajahnya, tak seorang manusiapun bisa membayangkan betapa penderitaannya dan tersiksanya dia selama ini....

Sekarang, musuh besarnya sudah bernapas dalam sebuah ruangan yang sama, tapi ia justru hanya bisa duduk dalam ruangan itu bagaikan mayat hidup.

Badannya sama sekali tak mampu berkutik.

Bagaimanapun juga, ia tak boleh berkutik.

Dia harus mempergunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk berusaha mengendalikan diri.

Sekarang saatnya belum tiba, bila sekarang dia bergerak, maka ia akan mati tanpa liang kubur.

Mati memang tak perlu dipikirkan.

Tapi bila dia harus mati sedang musuh besarnya masih hidup, bagaimana mungkin dia bisa menghadap arwah ayahnya dialam baka?

Dalam keadaan begini, bahkan perubahan mimik wajah yang anehpun sama sekali tidak terlihat diatas wajahnya.

Tak seorang manusiapun yang bisa memahami betapa menderita dan tersiksanya seseorang yang menahan sabar dan mengendalikan gejolak emosi didalam hatinya.

Tapi dia harus bersabar!

Dalam hatinya seakan-akan terdapat sebilah pisau tajam.

Sekujur badannya seakan-akan hendak disayat-sayat menjadi berkeping-keping kecil.....

Tapi dia harus bersabar dan bersabar terus.

Sangkoan Jin telah duduk.

Empat buah sinar lampu yang dibuat secara khusus dan mempunyai daya pancar yang kuat hampir seluruhnya ditujukan keatas wajah Bu ki yang pucat.

Peluh sebesar kacang telah membasahi seluruh wajah si anak muda itu.....

Walaupun ia tak dapat melihat Sangkoan Jin, tapi Sangkoan Jin sudah pasti dapat melihat kearahnya.

Melihat dengan jelas sekali.

Tak pernah dia sangka kalau ia akan berjumpa dengan Sangkoan Jin dalam keadaan seperti ini.

Ia percaya paras mukanya sudah banyak mengalami perubahan, bahkan kadang kala ia sendiripun hampir tidak mengenali dirinya sendiri bila berhadapan dengan cermin.

Akan tetapi, dia tidak mempunyai keyakinan yang bisa diandalkan bahwa Sangkoan Jin tak akan mengenalinya lagi.

Andaikata Sangkoan Jin sampai mengenalinya, maka akibatnya tak akan bisa dibayangkan lagi.

Bangku yang didudukinya meski besar dan lebar tapi sekarang, dia merasa seakan-akan sedang duduk diatas sebuah bangku yang berjarum.

Peluh dingin telah jatuh bercucuran membasahi seluruh bajunya.

***** Akhirnya terdengar juga suara yang berkumandang, ternyata bukan suara dari Sangkoan Jin, ternyata Sangkoan Jin belum mengenali dirinya lagi.

"Siapa namamu?"

Dari kegelapan terdengar suara menegur.

"Li Giok Thong!"

"Darimana dusunmu?"

"Wan lam, Sit si, desa Sit tau cung"

"Orang tuamu?"

"Li Im tam, Li Kwik si!"

Pertanyaan-pertanyaan itu datangnya sangat cepat.

Tiada kesempatan buat Bu ki untuk berpikir.

Dia harus menjawab dengan lancar dan cepat pula.

Sebab setiap pertanyaan yang kemungkinan besar akan ditanya oleh lawan entah sudah beberapa kali dia menanyai dirinya sendiri.

Dia percaya sekalipun pertanyaan-pertanyaan itu diajukan oleh seorang petugas pengadilan yang berpengalamanpun, belum tentu bisa mengetahui apakah ia sedang berbicara sejujurnya atau tidak.

Tentu saja bukan jawaban sesungguhnya yang dia berikan, juga bukan semuanya bohong.

Andaikata kau hendak membohongi orang, paling tidak dari sepuluh patah kata bohong ada tiga patah yang bohong tapi tujuh bagian yang jujur, dengan begitu orang lain baru mempercayainya.

Ia tak pernah lupa dengan nasehat ini.

Tempat yang diucapkan olehnya tadi memang benar-benar ada, di situlah letak desa kelahiran dari inang pengasuhnya, bahkan dia masih bisa berbicara dengan dialek daerah tersebut.

Tempat itu sangat jauh sekali letaknya, sekalipun mereka bakal mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, paling tidak pulang pergi membutuhkan waktu hampir dua puluh hari lamanya.

Untuk menyelidiki seseorang yang sebenarnya tidak pernah ada wujudnya, tentu saja jauh lebih membuang wakti lagi, menanti mereka berhasil mendapat tahu duduk persoalan yang sebenarnya, paling tidak kejadian itu akan berlangsung pada satu bulan kemudian, selama satu bulan yang tersedia, dia masih bisa melakukan banyak pekerjaan.

Dia harus berusaha keras untuk berlomba dengan waktu.

Dia bilang ayahnya adalah seorang siucay rudin yang gagal dalam ujian, sewaktu ia masih kecil, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Oleh karena itu ia berkelana dalam dunia persilatan, bertemu dengan seorang manusia aneh dalam sebuah peti mati dan ia diajak pulang ke dalam sebuah gua yang mirip kuburan dan memperoleh warisan ilmu silat serta ilmu pedang selama satu tahun lebih.

Tokoh aneh dalam peti mati itu menderita keracunan hebat dalam tubuhnya yang tidak memperkenankan dia tinggal terlalu lama di situ, maka terpaksa dia harus berkelana kembali di dalam dunia persilatan.....

Berulang kali manusia aneh itu berpesan kepadanya agar jangan mempergunakan ilmu pedangnya untuk mencari nama besar dalam dunia persilatan, maka diapun terpaksa menjadi seorang pembunuh tak ternama.

Seseorang yang memilih membunuh orang sebagai pekerjaannya, maka dia harus mengesampingkan soal nama, keluarga maupun perasaan.

Dia dan Tong Giok bisa berkawan akrab, karena mereka berdua sama-sama adalah manusia yang tak berperasaan.

Belakangan ini dia bertemu lagi dengan Tong Giok dalam hutan Say-cu lim, mereka berduapun melakukan perjalanan bersama menuju ke sebuah kota kecil di tepi perbatasan propinsi Szuchwan.

Suatu malam Tong Giok pergi memenuhi suatu janji, tapi lama sekali belum kembali, ketika ia pergi mencarinya, ternyata Tong Giok telah menjadi seorang cacat yang mati tidak hiduppun tidak.

Ia bertekad menghantar Tong Giok pulang, lantaran selain mereka adalah bersahabat, juga karena dia hendak mencari tempat untuk menghindarkan diri dari kejaran musuh-musuhnya.

Ia percaya sekalipun musuhnya tahu kalau dia berada dalam benteng keluarga Tong, tak nanti ia berani datang mencarinya.

Semua perkataan itu ada yang kenyataan dan ada pula yang bohong, tapi semua merupakan suatu rangkaian cerita yang enak sekali didengar dan dinikmati.

Ketika ia menyinggung soal tokoh aneh di dalam peti mati itu terdengar olehnya dengusan napas setiap orang yang berada dalam kegelapan itu seakan-akan berubah menjadi lebih berat dan kasar.

Tak bisa disangsikan lagi, merekapun pernah juga mendengar kisah cerita tentang orang itu.

Tapi mereka tak banyak bertanya mengenai masalah yang menyangkut orang itu seakan-akan tak seorangpun yang bersedia menyinggung masalah itu seakan-akan masalah itu merupakan penyakit menular yang menakutkan.

Merekapun tidak menanyakan lagi soal kota kecil di tepi perbatasan serta pertemuan yang dilakukan Tong Giok waktu itu sehingga mengakibatkan kelumpuhan itu.

Tak bisa disangkal lagi Tong Koat sudah pasti telah menyelidiki persoalan itu dengan sejelasjelasnya, itu semua persiapan yang dilakukan Bu ki dalam pertemuan tempo hari sesungguhnya sama sekali tidak sia-sia belaka.

Yang mereka ributkan sekarang adalah haruskah mereka memberi ijin kepada seseorang yang banyak mempunyai persoalan tetap tinggal di situ.

Dari balik kegelapan mendadak terdengar suara deheman pelan, semua perdebatanpun segera terhenti sama sekali.

Serentetan suara yang tua, lemah dan parau pelan-pelan mengemukakan kesimpulannya.

"Entah siapakah orang ini, bagaimanapun juga dia adalah teman Tong Giok, entah kenapa dia menghantar Tong Giok pulang, yang pasti ia telah menghantar Tong Giok sampai di sini"

"Oleh karena itu, dia boleh tetap tinggal di sini, berapa lama ia suka berada di sini, berapa lama pula dia boleh tinggal di tempat ini"

Maka Bu ki pun tinggal di situ.

Malam semakin kelam, Daun jendela dalam ruangan setengah terbuka, angin malam berhembus lewat dan membawa udara yang kering tapi segar.

Tong Koat telah pergi, sesaat sebelum pergi, sambil memicingkan matanya dia berkata kepada Bu ki.

"Kesan nenek moyang terhadapmu baik sekali, bahkan menganggap semua ucapanmu itu jujur, maka ia mengijinkan dirimu untuk tetap tinggal di sini"

Untuk mengelabuhi Sangkoan Jin, lebih-lebih tidak gampang lagi.

Mungkin saja hal ini disebabkan karena mimpipun mereka tak menyangka kalau Tio Bu ki berani mendatangi benteng keluarga Tong, mungkin juga karena suara, wajah maupun potongan badan Bu ki telah banyak mengalami perubahan.

Bu ki cuma bisa berpikir demikian.

Karena dia tak percaya kalau kejadian ini merupakan kemujurannya, lebih tak mungkin baginya untuk menemukan alasan lainnya.

Dia ingin sekali melihat apakah Sangkoan Jin juga mengalami banyak perubahan, sayang apapun tidak berhasil dia lihat.

Dia hanya merasakan tempat itu adalah sebuah ruangan yang besar sekali, selain Tong Koat dan Sangkoan Jin, paling tidak di tempat itu masih terdapat belasan orang lagi.

Tak bisa disangkal lagi belasan orang yang hadir di ruangan itu sebagian besar tentunya merupakan pentolan-pentoaln dari benteng keluarga Tong, dan tempat tersebut tak bisa disangkal lagi pastilah di dalam "kebun bunga", kemungkinan besar tempat itu merupakan pusat keluarga Tong dari mana perintah-perintah harian biasanya dikeluarkan....

Sewaktu berangkat, jalan darah tidurnya telah ditotok oleh Tong Koat, bahkan cara Tong Koat menotok jalan darahpun sangat tepat dan berat, apapun tidak dirasakan olehnya.

Tapi sewaktu kembali, sikap Tong Koat jauh lebih sungkan, dia hanya menutup matanya dengan secarik kain hitam, lagi pula menggotongnya dengan mempergunakan sebuah usungan.

Sekalipun dia tidak dapat melihat jalan masuk dan keluar di tempat itu, tapi dia dapat merasa bahwa perjalanan dari tempat dimana ia tinggal sampai di ruang tersebut, semuanya terdiri dari seribu tujuh ratus delapan puluh tiga langkah.

Setiap langkah yang ada, semuanya telah diperhitungkan dengan teliti dan seksama.

Pulang dari tempat itu, jalan yang ditempuh adalah jalan menurun, semuanya ada tiga tempat yang berundak-undakan, jumlah undak-undakannya mencapai sembilan puluh sembilah buah, melewati sebuah kebun bunga, sebuah hitan dan sebuah sumber mata air.

Ia dapat mengendus bau harumnya bunga, apeknya daun dan kayu, juga mendengar suara mengalirnya air.

Ketika melalui sumber mata air tersebut dia malah mengendus bau belerang yang amat menusuk penciuman, kemungkinan besar sumber mata air itu adalah air mata air panas.

Cuaca di propinsi Szhechwan amat hangat.

Di sana sini banyak terdapat mata air panas yang mengandung belerang.

Sekarang ia cukup mendorong daun jendela, maka tampaklah hutan yang telah dilaluinya tadi.

Setelah keluar dari hutan dan berbelok ke sebelah kanan, mereka akan melalui sebuah undakundakan batu yang terdiri dari tiga puluh delapan tingkat, kemudian berbelok melalui sebuah kebun bunga dan sesaat kemudian akan tiba di sumber mata air panas itu.

Bila sudah tiba di sumber air panas, itu berarti jaraknya dengan tempat yang dituju sudah tak jauh lagi.

Ia percaya dirinya sudah pasti dapat menemukan kembali tempat itu.

Tentu saja sepanjang jalan pasti akan menjumpai penjagaan yang ketat, tapi sekarang malam sudah semakin larut, penjagaan ditempat itupun sudah pasti akan jauh lebih mengendor.

Apalagi hari ini dia baru tiba, sekalipun orang lain menaruh curiga kepadanya, juga tak akan menyangka kalau malam ini juga ia sudah melakukan suatu pergerakan.

Dia menganggap inilah kesempatan yang terbaik baginya, di kemudian hari belum tentu dia akan menjumpai kesempatan sebaik ini.

Ia bertekad untuk mulai melakukan pergerakan..

Daun jendela masih terpentang lebar, di luar jendela adalah hutan yang dimaksud, jendela itu tak sampai tiga kaki tingginya dari atas permukaan tanah.

Tapi ia sama sekali tidak melompat turun melalui jendela.

Bila ada orang sedang mengawasinya, yang paling diperhatikan sudah tentu adalah daun jendela tersebut.

Maka ia lebih suka melalui pintu gerbang melalui anak tangga daripada lewat jendela, sebab sekalipun ketahuan orang, iapun masih bisa memberikan penjelasan.

"Berganti dengan pembaringan baru rasanya kurang terbiasa, maka aku tak bisa tidur dan ingin keluar rumah untuk berjalan-jalan"

Ia telah mempelajari banyak hal, dalam melakukan perbuatan apapun, ia selalu menyiapkan jalan mundurnya terlebih dahulu.

Di luar pintu terdapat sebuah jalan orang, selain itu masih ada lagi tiga buah ruangan yang semua pintunya tertutup rapat, entahkah ada seseorang yang berada di sana.

Rupanya tempat itu adalah tempat yang khusus dipakai untuk menyambut kedatangan tamu agung dari benteng keluarga Tong, kemungkinan besar Kwik Ciok ji tinggal pula di sana.

Tapi Bu ki sama sekali tidak berhasrat untuk mencarinya.

Dia tidak boleh melakukan sesuatu tindakan yang bisa menaruh kesan kepada orang-orang keluarga Tong, bahwa mereka sesungguhnya adalah sahabat karib.

Inipun merupakan salah satu jalan mundur yang telah dipersiapkannya lebih dulu.

Ternyata di dalam maupun di luar loteng tiada penjaganya.

Dalam hutan itupun tidak nampak adanya penjagaan.

Belakangan ini, sudah tiada jago persilatan yang berani mendatangi benteng keluarga Tong untuk mencari gara-gara, kehidupan mereka dilalui dengan aman tenteram, hal mana sedikit banyak membuat penjagaanpun menjadi lebih teledor, apalagi tempat itu sudah makin mendekati pusat kekuasaaan dari keluarga Tong, pada hakekatnya tak mungkin orang lain bisa memasuki wilayah tersebut.

Tapi Bu ki masih tetap bertindak sangat berhati-hati.

Hutan itu luas sekali menurut perhitungannya, paling tidak dia harus berjalan sejauh empat ratus tiga belas langkah untuk menembusinya sampai keluar.

Dia percaya perhitungannya itu pasti tepat sekali.

Sekalipun langkah tiap manusia berbeda mesti ada yang langkahnya lebar, ada pula yang langkahnya pendek, tapi dia yakin sekalipun ada selisihnya, selisih tersebut tidak akan beda tiga puluh langkah.

Setelah menentukan arahnya yang tepat, dia telah berjalan sejauh empat ratus tiga belas langkah.

Di dalam sana masih tampak sebuah hutan yang lebat sekali dengan pepohonan yang rimbun.

Karena itu, dia berjalan maju lagi sejauh tiga puluh langkah lebih.....

Tapi apa yang dijumpai?

Kembali ada sebuah hutan yang lebat dengan pepohonan yang rimbun membentang di depan mata.

Untuk kesekian kalinya Bu ki melanjutkan perjalanannya maju lima puluh langkah lagi ke depan.

Tapi sebuat hutan dengan pepohonan yang lebat kembali membentang di depan matanya.

Peluh dingin sudah mulai bercucuran membasahi sekujur badan Bu ki.

Hutan tersebut seolah-olah telah berubah menjadi suatu lautan hutan yang tak bertepian, dia seakan-akan tak pernah bisa keluar lagi dari cengkeraman hutan belantara itu.

Mungkinkah di dalam hutan belantara itu telah dipersiapkan semacam ilmu barisan yang sangat lihay?

Ia tak bisa menemukannya.

Dedaunan yang rimbun dan lebat telah menghalangi sinar rembulan di malam itu, bahkan cahaya bintangpun tak nampak sama sekali.

Ia bertekad untuk naik ke atas dahan pohon dan menengok dari atas.

Tapi keputusan tersebut justru keliru besar.

Berada dalam keadaan seperti ini, bagaimanapun kecilnya kesalahan yang dibuat, semuanya bisa mengakibatkan kematian yang mengerikan.

TEMAN KEDUA Seandainya dalam hutan itu tiada penjagaan, maka di atas puncak pohon lebih lebih tak mungkin ada.

Sesungguhnya inilah suatu jalan pemikiran yang amat serasi, kebanyakan orang tentu berpendapat demikian, sayang sekali pemikiran semacam ini justru salah besar.

Begitu Bu ki melompat naik ke atas dahan pohon, dia segera sadar kalau jalan pikirannya keliru besar, sayang keadaan sudah terlampau lambat.

Mendadak tampak cahaya api berkilauan dan percikan bunga api memancar ke empat penjuru, sebatang panah berapi yang memancarkan cahaya tajam dengan cepatnya melesat ke tengah angkasa yang gelap.

Pada saat yang bersamaan, dua baris anak panah yang gencar berhamburan datang dari manamana.

Dia bisa saja melompat turun dari dahan pohon dan mundur melalui jalan semula.

Tapi ia tidak berbuat demikian.

Dia percaya, setelah jejaknya ketahuan maka semua persiapan yang ada di sekitar tempat itu telah bergerak seluruhnya, hutan yang sesungguhnya aman tenteram kini telah berubah menjadi suatu hutan belantara yang penuh dengan hawa pembunuhan yang mengerikan, bila hutan ini dapat ditinggalkan mungkin keamanannya malahan terjamin.

Ia bertekad untuk menyusup keluar lewat batang pohon tersebut.

Itulah keputusan yang diambilnya pada kesempatan terakhir, ia sendiripun tidak tahu apakah keputusan yang diambilnya itu benar atau tidak.

Ujung kakinya telah menemukan sebatang dahan pohon yang jauh lebih kuat dan keras, dengan meminjam daya pantul dari dahan pohon tersebut, ia melesat ke depan.

Desingan angin yang tajam dan mengerikan menyambar lewat dari belakang tubuhnya.

Ia tidak berpaling untuk menengok desingan angin tajam itu.

Sekarang posisinya sudah berada dalam keadaan yang amat kritis, asal ia berpaling maka besar kemungkinan jiwanya akan melayang meninggalkan raganya.

Setiap kekuatan dan setiap tenaga yang dimilikinya tak boleh dihambur-hamburkan dengan begitu saja, tubuhnya juga berubah bagaikan sebatang anak panah yang melesat ke muka dengan menyerempet di atas dahan pohon.

Kembali ada dua buah baris hujan panah yang meluncur datang dan menyambar lewat dari atas kepalanya.

Ia belum menangkap suara bentakan, juga belum melihat kemunculannya sesosok bayangan manusia, tapi setiap jengkal tanah di sekililing tempat itu telah diliputi hawa pembunuhan yang mengerikan sekali.

Kehidupan yang tenang dan aman tenteram sama sekali tidak mengendorkan penjagaan dalam benteng keluarga Tong, nama besar keluarga Tong yang tersohor turun temurun juga bukan diperoleh dengan begitu saja.

Memandang dari atas dahan pohon, tampaklah hutan tersebut bukanlah sebuah hutang yang tak bisa ditembusi untuk selama-lamanya.

Di depan hutan sana terdapat sebuah lapangan kosong, dua puluh kaki kemudian baru terdapat tempat untuk menyembunyikan diri.

Barang siapa ingin melalui tanah kosong seluas dua puluh kaki itu, maka jejaknya sudah pasti akan ketahuan lawan.

Asal jejaknya sudah ketahuan lawan, maka ia segera akan menjadi sasaran dari hujan panah tersebut.

Dengan begitu, bukan saja Bu ki tak bisa mundur juga tak bisa maju ke depan.

Pada saat itulah tiba-tiba ia menyaksikan ada sesosok bayangan manusia sedang melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Gerakan orang itu tampaknya jauh lebih cepat dari pada gerakan Bu ki sendiri.

Di mana hujan panah itu menyambar datang, hanya dalam sekali tebasan saja anak panah tersebut sudah rontok ke tanah, sementara tubuhnya juga telah melesat sejauh sepuluh kaki lebih ke depan.

Siapakah orang itu?

Ia sengaja menampakkan diri, sudah pasti tujuannya adalah membantu Bu ki untuk memancing perginya jebakan-jebakan tersebut.

Tentu saja orang itu adalah temannya Bu ki.

Orang pertama yang diingat Bu ki adalah Kwik Ciok-ji, selain Kwik Ciok-ji tak mungkin ada orang lain.

Ia tidak berpikir lebih jauh, buru-buru tubuhnya tenggelam ke bawah, lalu secara beruntun mempergunakan gerakan Peng sah lok ing (manyar menukik menyambar pasir), Yan cu sam cau sui (burung lewat tiga kali menutul air) dan Hui nio to lim (burung terbang melintasi hutan), dengan menggunakan tiga kali perubahan tubuh, ia sudah menembusi tanah lapang dan menyusup ke dalam kebun.

Bersembunyi di bawah pepohonan, ia mendengar ada suatu langkah kaki yang ramai bergema lewat dari hadapannya.

Sekalipun penjaga di sekitar tempat itu sudah terpancing pergi oleh bayangan manusia tadi, tapi jelas kebun bunga itu bukan suatu tempat yang aman ditinggali terlalu lama.

Dia harus pergi kemana?

Ia tak berani mengambil keputusan secara gegabah lagi, sebab kemanapun dia akan pergi, ia tidak yakin bisa meloloskan diri dari tempat tersebut.

Pada saat itulah, mendadak ia menemukan suatu kejadian yang aneh sekali.

Bintang bertaburan di angkasa.

Tiba-tiba ia menyaksikan ada sekuntum bunga sedang bergerak-gerak, bukan daunnya yang bergerak melainkan tangkai berikut akarnya yang bergerak.

Akar berikut tanah tiba-tiba bergerak meninggalkan permukaan, seakan-akan ada sebuah tangan yang tidak tampak sedang mencabut bunga itu berikut akarnya.

Dari atas tanah muncul sebuah gua, dari dalam gua tiba-tiba muncul sebuah kepala.

Bukan kepala tikus juga bukan kepala kelinci, melainkan kepala manusia....., kepala manusia dengan rambutnya yang kusut serta beruban semua.

Bu ki merasa amat terkejut belum sempat ia melihat jelas raut wajahnya, tiba-tiba orang itu bertanya.

"Apakah kau hendak ditangkap oleh orang-orang keluarga Tong.....?"

Bu ki mau tak mau harus mengakuinya.

"Masuk, masuk, cepat masuk kemari!", kembali orang itu berseru. Selesai berkata, kepalanya segera ditarik masuk kembali kedalam gua tersebut, Siapakah orang ini? mengapa secara tiba-tiba muncul dari bawah tanah? Kenapa ia minta kepada Bu ki untuk masuk kedalam guanya? Rahasia apa yang terdapat didalam gua. Bu ki tidak habis mengerti juga tak punya waktu untuk memikirkannya.... Ia mendengar ada suara langkah manusia bergema datang, kali ini ternyata menuju kearah dimana ia berada. Dari balik kebun seakan-akan tampak cahaya api yang sedang berkedip-kedip. Dalam keadaan demikian, dia tidak punya pilihan lain lagi kecuali menyembunyikan diri kedalam gua tersebut. Sebab ia sudah mendengar teriakan dari Tong Koat.... Dalam gua tersebut terdapat lorong bawah tanah yang dalam sekali. Ketika Bu ki menerobos masuk kedalam, orang itu segera menutup kembali mulut gua dengan pohon bunga tadi. Suasana dalam gua seketika berubah menjadi gelap gulita, bahkan kelima jari tangan sendiripun sukar dilihat, Suara langkah manusia diatas kedengaran makin keras dan makin banya, lewat lama sekali ia baru mendengar orang itu berbisik dengan suara amat lirih.

"Ikutlah aku!". Bu ki terpaksa harus merangkak menelusuri lorong bawah tanah itu sambil meraba kesanakemari, lorong tersebut amat sempit dan lagi kecil, hanya seorang saja yang bisa menerobosnya sambil meliuk-liukkan badannya seperti ular. Orang yang berada didepan itu merangkak dengan pelan sekali. Mau tak mau dia musti bertindak berhati-hati, sebab bila dia merangkak lebih cepatan maka Bu ki segera akan mendengar suara bunyi gemerincingnya rantai yang saling beradu. Akhirnya Bu ki baru tahu kalau kaki dan tangan orang itu telah diborgol dengan rantai baja, rantai baja yang sedemikian kerasnya hingga bacokan golokpun tidak mempan. Benarkah dia anggota keluarga Tong. Andaikata dia adalah anggota keluarga Tong, kenapa kaki dan tangannya diborgol dengan rantai dan disekap didasar tanah?. Kalau dia bukan anggota keluarga Tong, lantas siapakah dia? Kenapa bisa sampai disitu/. Lorong bawah tanah itu dalam sekali, entah berapa dalamnya, terasa panjangnya bukan kepalang tapi tidak diketahui pula seberapa panjangnya. Bu ki hanya merasakan lorong bawah tanah yang sebelumnya dingin dan lembab, kini kian lama kian bertambah panas dan menyengat badan, malah lamat-lamat dia mendengar suara air yang mengalir, maka dia lantas menduga kalau tempat itu letaknya persis dibawah sumber air panas tersebut. Kemudian ia mendenar kakek itu berseru.

"Kita sudah sampai ditempat tujuan!". Sampai dimanakah mereka?"

Disitu tiada lampu juga tiada cahaya api Bu ki belum bisa melihat apa-apa. Tapi ia dapat bangkit berdiri, lagipula dia merasa tempat itu lebar dan luas. Kembali ia dengar kakek itu berkata.

"Inilah rumahku!". Tempat itu letaknya masih berada dibawah tanah, kenapa rumah sikakek itu berada dibawah tanah? Apakah ia tak bisa bertemu dengan orang? Ataukah tidak ingin bertemu dengan orang? Ataukah orang lain yang tidak memperkenankan dia berjumpa dengan orang....? Tempat ini letakknya masih berada dalam komplek benteng keluarga Tong, seandainya dia bukan anggota keluarga Tong, mengapa rumahnya bisa berada dalam komplek benteng keluarga Tong?. Seandainya dia adalah anggota keluarga Tong, mengapa pula dia berdiam dibawah tanah? Suara kakek itu kedengaran sangat rendah, berat dan parau, seolah-olah penuh dengan penderitaan, suatu penderitaan yang tak dapat diutarakan keluar. Bu ki merasa mempunyai banyak pertanyaan yang hendak diajukan kepadanya tapi sebelum pemuda itu sempat buka suara, dia telah bertanya lebih dahulu.

"Apakah kau membawa korek api?".

"Tidak"

"Juga tidak membawa batu api?"

"Tidak!"

Tiada api berarti tiada cahaya, tanpa cahaya berarti ia tak bisa melihat apa-apa.

Hidup didalam kegelapan uang melihat kelima jari sendiripun tak dapat, sesungguhnya merupakan suatu penderitaan yang luar biasa.

"Tempat ini adalah rumahmu, seharusnya kau memiliku benda untuk membuat api", kata Bu ki. Buat apa aku mempunyai benda untuk membuat api?.

"untuk memasang lentera!".

"Kenapa aku harus memasang lentera?".

"Kau tak pernah memasang lentera?". Selamanya aku tidak memasang lentera, disinipun tak boleh memasang lentera?". Bu ki menjadi tertegun. Ia tidak habis berpikir, kenapa orang ini bisa hidup sepanjang tahun didalam sebuah tanah yang tak pernah ada sinarnya?". Terdengar kakek itu bertanya lagi..

"Siapakah kau? Mengapa bisa sampai disini, Kau mencari keluarga Tong apakah dikarenakan ada suatu dendam kesumat?". Secara beruntun dia mengajukan tiga buah pertanyaan, tapi tak sebuah pertanyaanpun dijawab oleh Bu ki. Bahkan sepatah katapun tidak diucapkan olehnya.

"Mengapa kau tidak berbicara?"

Tanya kakek itu lagi.

"Sebab aku tak dapat melihatmu, aku tak akan berbicara dengan seorang yang tidak kulihat wajahnya".

"Seandainya aku tak dapat melihatmu, aku tak akan berbicara dengan seseorang yang tidak kulihat wajahnya".

"Seandainya kau tidak terlampau bodoh, sekarang tentunya kau sudah bisa menduga bukan bahwa aku adalah seorang yang buta". Bu ki memang telah berpikir sampai kesitu.

"Kau tidak dapat melihatku, akupun tak dapat melihatmu, bukankan hal ini sangat adil?". lagilagi kakek itu berkata. Bu ki tidak berkata apa-apa lagi. Tampaknya ia sudah mengambil keputusan, dia tak akan berbicara dengan seseorang yang tak dapat dilihat wajahnya. Kakek itupun tidak berbicara pula. Seorang anak muda, dibawa masuk kedalam sebuah tempat semacam ini oleh seorang kakek yang aneh dan misterius mungkinkah ia bisa menahan rasa ingin tahunya dan membungkam terus. Ia yakin cepat atau lambat Bu ki pasti tak dapat mengendalikan emosinya, ta tak menyangka kalau pemuda bernama Bu ki ini sesungguhnya jauh berbeda dengan orang lain. Bu ki sangat pandai mengendalikan diri. Entah berapa lama sudah lewat, kakek itu masih tak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba ia berseru.

"Aku merasa kagum sekali kepadamu, kau memang benar-benar seorang pemuda yang hebat. Bu ki tetap membungkam.

"Kau pasti ada dendam dengan keluarga Tong, tapi kau berani menyusup kedalam benteng keluarga Tong, apalagi bernyali untuk melakukan penyelidikan terhadap daerah terlarang benteng keluarga Tong berdasarkan hal ini, sudah terbukti sudah kalau kau memang seorang manusia luar biasa". Bu ki tidak berbicara lagi.

"Setelah berada dalam keadaan begini dan berada ditempat seperti ini, ternyata kau masih bisa menahan diri, seakan-akan sudah kau duga kalau tempat ini terdapat lampu dan kalau kau bersikeras tidak bersuara, maka aku bakal memasangkan lampu bagimu". Setela menghela napas terusnya..

"Bocah muda semacam kau ini tidak banyak lagi jumlahnya, sesungguhnya aku merasa butuk sekali seorang teman semacam kau". Bu ki masih saja belum berbicara. Entah apapun yang dikatakan kakek itu dia sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa. Pada saat itulah, cahaya lentera menerangi seluruh ruangan. Cahaya lentera itu muncul dari sebuah lentera kaca, walau berada dalam kejadian apapun walau ada angin yang bagaimana kencangnya, jangan harap bisa menggoncangkan cahaya api dalam lentera tersebut. Terhadap cahaya ini, dia musti berhati-hati dan selalu waspada, sebab disekeliling tempat ini penuh berserakan belerang, opotas dan bahan mesiu, bisla bertindak kurang berhati-hati maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Kakek itu duduk dibelakang sebuah meja yang sangat besar, diatas meja penuh berserakan alat-alat yang belum pernah dilihat Bu ki, ada benda yang mirip jarum, ada yang mirip pipa, ada yang mirip tabung kosong, ada yang bengkok-bengkok, adapula yang meliuk-liuk seperti tusuk konde. Suasana dalam ruangan bawah tanah itu gelap lagi lembab, selain sebuah meja disudut sana masih terdapat sebuah pembaringan. Kakek itu hidup dalam gua bagaikan hidup seekor tikus, tangan maupun kakinya diborgol orang dengan rantai yang sangat besar, mukanya yang pucat piat sudah tumbuh panu sebesar mata uang karena udara yang lembab, sehingga mukanya bagakan mengenakan topeng sebuah topeng saja. Bau busuk yang sangat menusuk hidung memancar keluar dari tubuhnya, paling tidak sudah ada setahun lamanya ia tak pernah mandi. Pakaian yang dikenakan itu sudah kumal dan robek-robek sehingga andaikata pengemis yang melihatnyapun akan mencemooh. Kehidupan orang itu pada hakekatnya jauh lebih tersiksa dari pada kehidupan seekor anjing. Tapi sikapnya, gerak-geriknya justru membawa hawa keangkuhan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Manusia semacam dia itu, masih mempunyai keangkuhan apa lagi yang dapat diperlihatkan? Bu ki sedang memperhatikan tangannya. Seluruh badannya bau lagi dekil, tapi anehnya sepasang tangannya putih bersih dan lagi halus, mana mantap lagi. Yaaa, suatu kemantapan yang luar biasa. Sekalipun ia buta seperti seekor kelelawae kehidupannya lebih jelek daripada kehidupan seekor anjing, tapi sepasang tangannya itu terawat sangat baik. Sepasang tangannya itu diletakkan diatas meja, entah tujannya demi menjaga kebersihan antaukah untuk dipamerkan kepada orang lain. Mau tak mau seluruh perhatian Bu ki tertuju juga diatas sepasang lengannya itu. Mimpipun tak pernah ia sangka kalau orang itu bisa mempunyai sepasang tangan yang begitu indah lagi bersih. Cahaya api dalam lentera kaca memancarkan sinar terang.

"Sekarang, tentunya kau sudah melihat diriku bukan?", kata sikakek tersebut.

"Ehmmm......!". Sekarang, tentunya kau sudah bersedia untuk berbicara bukan?". Siapa kau?". Sebenarnya sudah lama dia ingin mengajukan pertanyaan itu tapi ia selalu bersabar diri untuk menahan pertanyaan itu didalam hati, karena suatu jalan pemikirannya yang sangat aneh secata tiba-tiba muncul didalam hatinya. Bukan cuma suatu pemikiran yang aneh, menakutkan lagi. Tampaknya kakek itu seperti dibuat terkejut pleh pertanyaan itu, segera gumamnya.

"Siapakah aku?, Siapa aku...."

Betul wajahnya masih tanpa emosi, tapi suaranya membawa semacam penderitaan dan sindiran yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Mendadak ia menghela napas panjang lalu berkata.

"Selama hidup jangan harap kau bisa menyangka siapakah diriku, sebab aku sendiripun hampir melupakan siapakah diriku sebenarnya". Kembali Bu ki memperhatikan tangannya, semacam jalan pemikiran yang aneh tapi menakutkan kembali melintas didalam hatinya. Suatu jalan pemikiran yang ia sendiripun tak berani mempercayainya justru tak tahan muncul dan berkecamuk didalam benaknya. Karena sikap angkuh itu, karena sepsang tangannya yang mantap dan aneh, juga karena Mi Ci, Mengapa dia bersikeras akan mendatangi benteng keluarga Tong. Mengapa Tong Koat, bertekat untuk menghabisi nyawanya. Tiba-tiba Bu ki berkata.

"Aku tahu siapakah kau".

"Kau tahu?", jengek kakek itu sambil tertawa dingin.

"Yaa, kau she Lui!". Ditatapnya wajah kakek itu tajam-tajam, betul juga, paras muka kakek itu berubah hebat, berubah menjadi menakutkan sekali. Bu ki tak berani memperhatikan wajahnya lagi ia lantas berseru dengan lantang.

"Kau adalah Lui Ceng thian!". Mendadak sekujur bafan kakek itu mengejang keras, bagaikan secara tiba-tiba ada sebatang jarum yang menusuk tulang punggungnya. Lewat lama, lama sekali bagaikan sekujur badannya meledak, sepatah demi sepatah dia menjawab.

"Betul, akulah Lui Ceng thian!". Keluarga Lui dari Kanglam tersohot dan menjadi kaya raya dalam dunia persilatan karena senjata rahasia mesiunya, hingga kini sudah bersejarah dua ratus tahun. Sepanjang sejarah dua ratus tahun, banyak perubahan sudah terjadi didalam dunia persilatan, tapi nama serta kedudukan mereka didalam dunia persilatan tak akan pernah pudar.

Jilid 27________ Pek Lek Tong dari Kanglam selain sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan, pengaruhnya amat luas, lagipula mereka adalah orang kaya termashur didalam dunia persilatan, kemana anak keturuna keluarga Lui pergi, semua orang tentu, menyambutnya dengan segala kehormatan.

Terutama sekali Tongcu dari Pek lek tong generasi yang sekarang ini, selain Bun bu siang cu (menguasai ilmu silat maupun sastra) berambisi besar, juga termasuk lelaki tampan yang kenamaan didalam dunia persilatan.

Betulkah manusia yang buta bagaikan kelelawar dan dekil melebihi anjing budukan ini sesungguhnya adalah pemilik perkumpulan Pek lek tong dari Kanglam, Lui Ceng Thian yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan.

Siapa yang mau percaya dengan ucapan tersebut?

Dan siapa pula yang berani mempercayainya?

Buki percaya.

Sedari tadi ia sudah berpikir sampai kesitu, tapi mau tak mau toh dia merasa kaget bercampur tercengang juga, tanpa terasa ia lantas bertanya.

"Mengapa kau bisa berubah menjadi begini rupa? Apakah keluarga Tong telah menghianati dirimu?"

Padaha tak usah ditanyapun, ia juga tahu kalau hal ini merupakan tindakan dari keluarga Tong.

Walaupun ia juga telah menduga bahwa perkawinan antara pihak Pek lek tong dengan keluarga Tong bakal mengakibatkan peristiwa tragis semacam ini.

Tapi diapun tahun, harta kekayaan dan kekuasaan Pek lek tong tidak nanti akan dibagibagikan kepada orang lain.

Sekarang, kekayaaan maupun kekuasaan Pek lek tong sudah menjadi barang saku dari keluarga Tong, tentu saja Lui Ceng Thian menjadi kehilangan nilainya untuk dipergunakan.

Sekaran walaupun kehidupannya lebih buruk dari kehidupan seekor anjing, tapi ia hidup sudah merupakan suatu kejadian yang luar biasa.

Kembali Buki bertanya.

"Mengapa mereka belum membunuhmu?"

"Sebab aku masih mempunyai sepasang tangan"

Lui Ceng Thian menjulurkan sepasang tangannya, tangan itu masih kelihatan tenang, mantap, lincah dan bertenaga. Sambil membusungkan dada dan bersikap angkuh terusnya.

"Selama akau masih mempunyai sepasang tangan, mereka tak akan bisa membunuhku juga tak akan berani membunuhku"

"Kenapa tidak berani?"

"Sebab bila aku sampai mati, maka San hoa thian li (bidadari menyebar bunga) merekapun akan turut mati"

"San hoa thian li? Siapakah San hoa thian li itu?"

"San hoa thian li bukan seorang manusia, melainkan semacam senjata rahasia"

Pelan-pelan dia melanjutkan.

"Semacam senjata rahasia yang dulu tak pernah ada dan dikemudian hari tak ada keduanya, bila senjata rahasia semacam ini sudah muncul didalam dunia persilatan, maka semua senjata rahasia yang ada didunia ini akan berubah seperti permainan kanak-kanak"

Benarkah didunia ini terdapat senjata rahasia yang begini menakutkan?

Siapa yang akan mempercayainya?

Buki percaya Ia jadi teringat kembali dengan senjata rahasia Tong Giok yang berada di atas koceknya.

Walaupun kedua biji senjata rahasia itu belum sampai mencelakai orang, sebaliknya malah mencelakai diri sendiri, tapi daya kekuatan yang dimilikinya dapat disaksikan oleh setiap orang.

Padahal ujung jari Tong Giok hanya terobek sedikit sekali, tapi akibatnya ia menjadi orang cacad, ketika senjata rahasia itu dilemparkan sekenanya, seluruh bangunan kuil itu kena diledakan.

Dalam senjata rahasia tersebut selain ada racun yang jahat dari keluarga Tong, juga terdapat bahan peledak dari Pek lek tong.

Jika dua macam senjata rahasia mengunggal dari dua keluarga yang sudah lama termashur namanya dalam dunia persilatan dipersatukan, siapa lagi manusia didunia ini yang sanggup untuk melawannya.

Telapak tangan Bu Ki sudah basah oleh keringat dingin.

"Sudah sedari dulu keluarga Tong berambisi untuk merajai seluruh kolong langit, asal senjata rahasia ini berhasil diproduksi, maka itulah saat mereka untuk menjagoi seluruh dunia"

"Apakah sekarang belum sampai waktunya?"

Tanya Bu Ki "Belum!"

Kemudian dengan angkuh dia melanjutkan.

"Tanpa aku, tak mungkin ada San hoa thian li, justru karena sampai sekarang senjata rahasia tersebut belum selesai dibuat, maka mereka tak berani mengusik diriku"

"Seandainya mereka berhasil memproduksi benda itu?"

"Bila ada San hoa thian li, berarti tiada aku Lui Ceng Thian"

"Oleh karena itu kau tak akan membiarka mereka berhasil dengan cepat....?"

"Sudah pasti tidak!"

Akhirnya Bu Ki menghembuskan napas lega. Kembali Lui Ceng Thian berkata.

"Ada sementara orang tentu beranggapa bahwa lebih baik mati saja daripada hidup sengsara seperti aku sekarang, tapi aku masih belum ingin mati"

"Andaikata aku menjadi kau, akupun tak akan mati, asal kau masih sanggup untuk hidup lebih jauh, aku pasti akan hidup terus, sekalipun bisa hidup sehari lagi, aku juga akan hidpu sehari lebih lama!"

"oya?"

"Sebab aku masih harus menunggu datangnya kesempatan untuk membalas dendam, setiap saat kesempatan akan datang, asal orang masih hidup berarti kesempatan akan datang setiap saat"

"Betul!"

Mendadak suaranya berubah menjadi gembira sekali, lanjutnya.

"Ternyata memang aku tidak salah melihat, ternyata kau memang benar-benar adalah orang yang sedang kucari"

"Bu Ki masih belum dapat memahami ucapannya, dia menunggu orang itu menyelesaikan kata-katanya.

"Sekarang, mataku susah menjadi buta. Disekap pula ditempat ini seperti anjing liar, sekalipun ada kesempatan, belum tentu aku bisa memanfaatkannya, maka akau sangat membutuhkan bantuan seorang teman"

Dia meraba tangan Bu ki dan menggenggamnya kencang-kencang setelah itu lanjutnya.

"Kau benar-benar adalah teman yang sangat kubutuhkan, aku butuh sekali seorang teman seperti dirimu itu, kau harus menjadi temanku!"

Sepasang tangan Bu ki berubah menjadi dingin dan kaku. Ia tak menyangka kalau pemimpin Pek lek tong bisa mohon bersahabat dengannya. Tak tahan dia lantas bertanya.

"Tahukah kau, siapa aku ini?"

"Peduli siapa kau, semuanya adalah sama saja!"

"Dari mana kau tahu kalau aku bakal menjadi sahabatmu?"

"Aku tidak tahu, tapi aku tahu bahwa orang-orang keluarga Tong hanya mempunyai dua pendapat"

"Pendapat apa?"

"Kalau bukan sahabatnya adalah musuhnya!"

"Yaa, aku pernah mendengar perkataan ini"

"Aku pun mempunyai suatu pendapat, asal kau bukan teman keluarga Tong, kau adalah temanku"

Kemudian dia bertanya pada Bu ki.

"Apakah kau adalah temannya keluarga Tong?"

"Bukan"

"Kalau begitu, kau adalah temanku."

PERSOALAN PELIK Sinar lentera menyoroti wajah Lui Ceng Thian, wajahnya penuh memancarkan sinar pengharapan dan permohonan.

Dia sangat berharp bisa mendapat seorang teman semacam ini, ia memohon orang itu bersedia menjadi temannya.

Tapi siapakah orang inipun belum diketahui olehnya.

Akhirnya Bu ki menghela napas panjang, katanya.

"Benar, kalau aku bukan teman keluarga Tong, tentu saja adalah sahabatmu"

Ia lebih lebih tidak menyangka kalau dirinya bakal memenuhi permintaan LUi Ceng Thian, pemimpin dari Pek lek tong ini untuk menjadi sahabatnya.

Ia meluluskan permintaan, karena Lui Ceng Thian yang sekarang sudah bukan LUi Ceng Thian yang dulu, dia tak lebih hanya seorang kakek buta yang sudah kenyang menderita dan tersiksa, sudah banyak dihina, dicemooh dan dianiaya.

Ia benar-benar sudah tidak tega untuk menganggap kakek yang menggenaskan ini sebagai musuh besarnya.

Ia meluluskan, karena dia tahu sekarang mereka berada dalam satu tujuan yang sama, bila mereka bersahabat maka hal mana akan mendatangkan banyak kebaikan dan manfaat bagi kedua belah pihak.

Sekarang Tio Bu Ki sudah bukan seorang pemuda yang berangasan lagi, sekalipun ia belum sampai mempelajari cara untuk memperalat orang lain, paling tidak ia telah mampu untuk membedakan mana yang berbahaya dan mana yang menguntungkan, dia pun tahu bagaimana harus berbuat agar menguntungkan pihaknya.

Sebab hal itu merupakan suatu hal yang maha penting.

Pekerjaan yang menguntungkan diri sendiri tanpa merugikan orang lain pasti akan ditampik oleh orang yang berakal budi.

Sekarang Lui Ceng Thian telah melepaskan genggamannya, ia kelihatan gembira sekali, gumamnya.

"Kau tak akan menyesal, setelah bersahabat dengan seorang teman seperti aku, kujamin kau pasti tak akan merasa menyesal"

"Aku pikir, saat ini kau pasti merasa menyesal sekali"

Kata Bu ki dengan hambar.

"Apa yang kusesalkan?"

"Menyesal kau telah bersahabat dengan orang-orang semacam keluarga Tong!"

Paras muka Lui Ceng Thian segera berubah menjadi gelap dan murung, ujarnya dengan sedih. Tapi aku sama sekali tidak menyalahkan mereka, aku hanya membenci diriku sendiri.

"Kenapa?"

"Sebab aku terlalu menilai rendah kemampuan mereka"

Sambil mengepal sepasang tinjunya kencang kencang, sepatah demi sepatah dia melanjutkan.

"Barang siapa yang terlalu memandang rendah musuhnya, hal ini merupakan suatu kesalahan yang tak dapat dimaafkan lagi, kesalahan itu tak pantas untuk dikasihani"

Baca Juga: Bangau Sakti 9

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert