Ceritasilat Novel Online

Bangau Sakti 9

Eps 9 Bangau Sakti - Chin Tung

Baca online Bangau Sakti - Chin Tung

Cersil Bangau Sakti - Chin Tung.

Kaisar Bu Cong baru ingin melihat lagi Giok Taj setelah lewat dua tahun, Tetapi ia datang hanya dapat melihat Lan Tai Kong Cu didampingi Cui Tiap, Bu Cong tertarik oleh Cui Tiap.

Tetapi Cui Tiap menolak dengan mengatakan bahwa tubuhnya s^dah noda.

Berkali-kali Bu Cong ingin memperkosa ia, tetapi selalu dirintangi oleh Lan Tai Kong Cu yang menangis keras-keras jika Cui Tiap diganggu, sehingga Bu Cong yang masih mempunyai perasaan kasih sayang terhadap darah dagingnya, tak dapat berbuat apa-apa.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Paling akhir, sebagaimana telah diceritakan Cui Tiap dicambuk oleh Lauw Kin, ,dan jika tidak ditolong oleh Lan Tai Kong Cu, mungkin juga sudah tewas oleh siksaan tersebut.

Menutur sampai djsini.

Nai Hai Peng memukul dadanya dan berseru.

"Na Haj Peng! Na Hai Peng! Karena aku, Cui Tiap telah menderita!"

Pek Yun Hui berkata "Jika ayahku masih ada, aku akan membujuk dia. jika Lauw Kin masih ada, aku tentu akan bunuh dia mati!"

Si gadis berbaju sutera biru menanya "Ayah mengapa tidak mencari ibu setelah dia pergi?"

Na Hai Peng meneruskan.

"Aku sedang mengajarkan ilmu silat kepada Long Tai Kong Cu, aku tidak dapat pergi untuk mencari ibumu, Setelah Long Tai Kong Cu mahir ilmu silat, delapan tahun telah berlalu. Barulah pada waktu aku berkesempatan pergi untuk mencari Cui Tiap. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan kembali ke puncak Pek Yun Siat jika aku tidak dapat cari Cui Tiap, dan rela mati diluar jika tidak menjumpai padanya, Tetapi ketika aku tunggangi bangau dan berlalu dari puncak Pek Yun Siat, aku segera ingat kepada Long Tai Kong Cu yang baru berusia tiga belas tahun, Bagaimanakah aku sampai hati meninggalkan dia seorang di atas puncak yang terpencil ini? Aku menjadi gelisah lagi, Aku kembali untuk memikirkan jalan pemecahan yang terbaik, karena jika aku tinggalkan Long Tai Kong Cu sendirian, ibumu juga tak akan setuju, Setelah aku berpikir semalaman, aku dapatkan jalan pemecahannya. Aku segera pergi ke ibukota, Di istana aku menangkap seorang pengawal yang ilmu silatnya tinggi sekali, dan juga telah culik seorang selir yang termuda dari istana itu, Aku paksa kedua orang itu menjadi suami istri dan turut aku pergi ke puncak Pek Yun Siat. Di Pek Yun Siat, aku menceritakan riwayat dari Long Tai Kong Cu, dan membujuk mereka bersumpah bahwa mereka akan terus tinggal di puncak Pek Yun melayani Long Tai Kong

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Cu yang akan mengajarkan mereka ilmu silatnya, tetapi juga jujur dan setia, Setelah aku merasa pasti bahwa mereka akan setia melayani Long Tai Kong Cu, aku baru merasa hatiku tenteram meninggalkannya untuk mencari Cui Tiap, Mulamula aku ingin menunggangi bangau, tetapi aku ingat akan penderitaannya Cui Tiap karena aku, akupun rela menderita pula, Aku tinggalkan mereka bersama bangau di puncak Pek Yun Siat, dan berangkat mencari istri ku.

Aku telah berkelana ke utara, ke selatan, ke barat, maupun ke timur, mengunjungi banyak kota-kota, desa-desa, kuil-kuil, dan paling akhir aku tiba di lembah Pek Hua Kok di pegunungan Bing Soa..."

Ia berhenti dan melirik ke arah gadis yang berpakaian baju biru.

"Ketika itu, kau baru berusia tiga belas atau empat belas tahun, dan kau sedang mengejar kupu-kupu bersama empat gadis kecil lainnya, Karena wajahmu mirip sekali dengan ibumu, menampak kau itu, aku menjadi curiga, Aku mengetahui bahwa ibumu sangat membenci aku, jika aku terang-terangan minta bertemu padanya, dia pasti tidak sudi menemui aku. Oleh karena itu, aku hanya bersembunyi dan menunggu sampai kau pulang untuk aku mengikutinya, Dengan demikian, aku mungkin dapat mengetahui tempat tinggal ibumu, Aku bermaksud masuk ke rumah ibumu dengan mendadak sehingga ia tak dapat mengelakkan aku lagi, jika betul-betul aku akan menemui Cui Tiap, aku akan berlutut dihadapannya dan minta ia memaafkan aku, Jika orang itu bukan ibumu, aku akan segera berlalu, Tetapi, siapa sangka, dengan tindakanku yang demikian itu, aku telah menjerumuskan dia masuk ke lubang kubur.,."

Pek Yun Hui bertanya.

"Mungkin bibi Cui Tiap sedang berlatih silat Tetapi mengapa dengan ilmu-ilmu yang Suhu telah pelajari, Suhu tak berhasil menolong dia?"

Na Hai Peng menghela napas dan meneruskan.

"Ilmu-ilmu yang tereatat didalam kitab-kitab Kui Goan Pi Cek itu sangat banyak, ilmu silat yang sedang diyakini oleh Cui Tiap adalah ilmu Toa Pan Yo Hian Kong (llmu Silat Ajaib), ialah gabungan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dari ilmu silat Hian Men It Goan Kong Ki (Tenaga Dalam Dahsyat yang melumpuhkan Lawan) dari Tian Ko Cin Jin dan ilmu silat Pan Yo San Kong (Tenaga Luar Ajaib yang menggempur dan mengegoskan serangan-serangan dahsyat) dari San Im Shin Ni.

ilmu silat ini jika sudah dipelajari sampai mahir, maka tiada seorang lawan yang dapat luput dari kebinasaan Mungkin juga Cui Tiap telah mengetahui bahwa tanpa ilmu silat Toa Pan To Hian Kong itu, dia tak dapat menaklukkan aku, Tetapi dia pelajari ilmu itu tanpa dasar-dasar yang kuat, dia belum mahir mengendalikan peredaran darahnya atau menahan hawa dalamnya.

Ketika aku menerobos masuk kedalam rumahnya, dan melihat padanya, justru ia sedang berlatih ilmu iba Pan Yo Hitfn itu.

Aku yang telah pengeni dia selama sepuluh tahun lebih, dan berkelana mencarinya lima tahun lebih, alangkah girangnya menjumpai dia.

Dengan kegirangan seperti orang yang dapatkan kembali mustika yang hilang, aku tubruk dan rangkul padanya sambil memanggil nama-nya!

Tetapi aku tidak duga bahwa perbuatanku itu telah membahayakan jiwanya, ia buka kedua matanya lebar-lebar dan segera memuntahkan dari mulutnya, Dia jatuh pingson, Kejadian itu membuat aku terpaku, dan untuk beberapa saat aku merangkul dia seperti satu patung!

Lalu dengan semua kepandaianku aku berusaha menolong dia.

Tetapi setelah setengah jam dia belum juga sadar Aku menjadi gelisah sekali, tiba-tiba dia buka matanya dan setelah melihat aku, dia memaki.

"Hm! Kau takut aku menjadi mahir berlatih Toa Pan To Hian Kong, dari kau tak akan menjadi jago silat nomor wahid dikolong langit... maka kau berusaha mencari aku.,."

Lalu dia jatuh pingsan lagi.

kemudian dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek di sampingku, aku berusaha menyembuhkan menurut pe-tunjukpetunjuk yang tereatat di dalam kitab-kitab itu.

Dan pada halaman terakhir aku membaca.

Bila orang gagal atau diganggu diwaktu melatih ilmu Toa Pan Ya Hian Kong, maka

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

orang itu akan jatuh pingsan karena jalart-jalan darahnya dan urat-urat sarafnya akan menjadi kaku, Orang itu akan tewas setelah satu tahun, Untuk menolongnya hanya ada satu jalan, Orartg itu harus makan Leng Tan (pil mujijat) di dalam tubuhnya Ban Lian Hwe Kwi (Kura sakti), dan binatang ini berada di pegunungan Ngo Bi San,., dan seterusnya tidak ada tulisan lagi, Mungkin juga Tian Ki Cin Jin dan San Im Shin Ni Pada ketika itu sudah tak tahan menulisnya lagi Dalam keadaan putus asa dan sedih hati itu, aku ingin memusnahkan kitabkitab Kui Goan Pit Cek itu, tetapi aku sayangi jerih payahnya Tian Ki Cin Jin dan San Im Shin Ni yang menyusun kitab-kitab itu, sebetulnya aku ingin berdiam di situ untuk menjelaskan sesuatu ke-padanya, dan kemudian pergi mencari Ban Lian Hwe Kwi, Tetapi ketika aku ingat dia sangat membenci kepadaku aku khawatir dia akan menolak pertolonganku Maka aku taruh kembali kitab-kitab sakti itu dan berlalu dari tempat kediamannya untuk menuju ke pegunungan Ngo Bi San mencari Ban Lian Hwe Kwi, pegunungan Ngo Bi San sangat luas dan banyak sekali puncak-puncak dan lembahlembahnya.

Setelah aku mencari selama setengah tahun, aku masih juga seperti orang mencari jarum di dasar laut yang luas.,., Aku sangat khawatir keadaannya Cui Tiap, yang mungkin bertambah hebat selama waktu satu tahun itu, Maka aku kembali lagi ke lembah Pek Hua Kok di pegunungan Bin Soa.

Aku tak berani langsung pergi menemuinya, aku hanya bersembunyi di dekat tempat kediamannya, Tetapi, setelah aku mengintainya sehari dan semalam aku tak tampak dia.

Keesokan harinya aku menerobos masuk, ternyata tempat itu sudah kosong-Apakah dia telah meninggal dunia atau pindah kelain tempat?"

Gadis berbaju biru berkata.

"Kami telah pindah ke hutan di belakang lembah Pek Hua Kok. ibu mengatakan bahwa orang yang dia sangat benci telah ketahui tempat kediamannya, dan untuk menghindarkan gangguannya, kami harus pindah, ibu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

melarang aku keluar dari hutan, Aku tidak menduganya bahwa orang yang ibu sangat benci itu adalah ayahku sendiri"

Na Hai Peng menghela napas dan melanjutkan kisah-nya.

"Aku menjadi nekat, dan ingin membunuh diri Tetapi setelah melihat beberapa barang di dalam rumah itu, aku yakin bahwa Cui Tiap hanya berpindah tempat Lalu aku pergi lagi ke pegunungan Ngo Bi San untuk mencari Ban Lian Hwe Kwi Tetapi setelah setengah tahun aku mencarinya, masih juga aku tak berhasil dapatkan kura sakti itu, Aku tidak menduga bahwa aku akan gagal mencarinya dalam jangka waktu satu tahun!"

Gadis berbaju sutera biru berkata sambil menangisi "Waktu ibu meninggal dunia, dia memesan nya, jika aku sudah besar, aku harus segera bunuh laki-laki yang aku cintai, dan menganjurkan agar aku rajin berlatih ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, dan setelah dapat menghafalkan semua, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu harus dibakar musnah, Lalu ia pesan aku pergi ke Koat Cong San mencari ayah untuk dibinasakan Oh, ibu!

Mengapa kau suruh aku membunuh mati ayahku sendiri?"

Lalu ia bangun dan bermondar-mandir seolah-olah hendak menenangkan kegelisahan nya.

Pek Yun Hui menghampiri dan menghiburnya.

Ke-tika itu Na Hai Peng sedang memejamkan kedua matanya melakukan penyembuhan luka-luka di dalam tubuhnya, dan ia tak memperhatikan gerak gerik puterinya, Lie Ceng Loan yang belum pernah mendengarkan kisah yang memilukan hati itu tak tahan mengucurkan air matanya, Si gadis berteriak-teriak.

"lbu! Ibu! Aku tak dapat membunuh ayahku! Akupun tak dapat melupakan pesan ibu! Aku harus berbuat apa sekarang?"

Lalu ia mengeluarkan pisau belati hendak tancapkan ke dadanya sendiri Pek Yun Hui yang mendampinginya selalu memperhatikan gerak-gerik gadis itu.

Maka ketika gadis itu hendak menancapkan pisau belati ke atas dadanya, Pek Yun Hui

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

secepat kilat segera merampasnya sambil membentak "Lepaskan pisau itu!"

Si gadis lalu mengawasi Pek Yun Hui dan berkata dengan suara sedih..

"lbuku juga pesan bahwa aku harus mendengar dan turut perintahmu!"

Pek Yun Hui mengusap-usap rambutnya gadis itu dan sambil mengawasi ia berkata, dengan suara yang sabar.

"Bibi Cui Tiap adalah seperti ibu kandungku sendiri, karena dialah yang memelihara aku. Suhu telah banyak mempersakiti bibi Cui Tiap, akan tetapi Suhu telah insaf akan kekeliruannya, dan telah disiksa oleh penyesalannya selama sepuluh tahun lebih, jika bibi Cui Tiap tidak mati, aku yakin sekarang dia tentu akan mau tinggal bersama-sama Suhu dengan hidup bahagia di puncak Pek Yun Siat itu. Gadis itu setelah dibikin insaf lalu mencari ayahnya, ia berseru.

"Kemana ayah pergi? Ayah menderita luka parah!"

Na Hai Peng yang mendapat luka parah telah berhasil bertahan dengan ilmunya yang tinggi itu.

ia telah berlalu tanpa diketahui oleh siapapun!

Pek Yun Hui menjadi gelisah, karena ia datang mencari gurunya terutama untuk menolong Bee Kun Bu.

Lalu ia berlarilari menuju ke jurang di depannya sambil memanggil-manggil.

"Suhu! Suhu."

Tidak ada suara jawaban, hanya bangau putih yang segera terbang turun menghampiri ia. ia berpikir.

"Lie Ceng Loan sangat polos, dia tak dapat mengurut urusan besar. Dan puteri dari Suhu yang telah tinggal lama di lembah Pek Hua Kok tidak mempunyai pengalaman Sam Sou Lo Shi (Pang Siu Wie) dengan pengalamannya aku masih belum dapat mempereayai nya. jika aku tidak bertindak maka bahayabahaya yang mengancam tak dapat dihindarkan, dan Bee Kun Bu tak dapat ditolong..."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Maka ia lalu turun kembali dan menghampiri gadis itu dan berkata.

"Suhu memiliki ilmu sakti. Meskipun dia menderita luka parah, dia dapat menolong dirinya, Aku yakin Suhu pergi untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya, Bibi Cui Tiap mempunyai hanya seorang anak dan kau harus hidup untuk berbuat sesuatu sebagai jasa yang dapat menyenangkan padanya. Moi-moi, siapakah namamu?"

Si gadis berbaju sutera biru menyeka air matanya, dan menjawab.

"Aku bernama Siao Tiap, Kong Cu dari turunan ningrat, tidak harus panggil aku Moi-moi (adik)."

"Janganlah kau berkata demikian,"

Kata Pek Yun Hui.

"Aku dipelihara oleh bibi Cui Tiap yang aku pandang seperti ibu kandungku Maka sangat pantas jika kau menjadi adikku, bukan? Loan Tai Kong Cu sudah tidak ada di dunia ini. Yang ada hanya Pek Yun Hui, Cicimu!"

Na Siao Tiap agaknya masih bimbang dan ragu-ragu, tetapi Pek Yun Hui tarik tangannya, dan mereka menghampiri Bee Kun Bu, Pek Yun Hui meraba dadanya, lalu mengerutkan kening dan kedua matanya berlinang.

Tiba-tiba Na Siao Tiap berseru.

"Cici, aku kenal pemuda ini! Dia bernama Bee Kun Bu!"

Pek Yun Hui terperanjat dan menanyai "Kau mengenal dia dimana? Bagaimanakah kau tahu juga namanya ?"

"Ketika aku berlalu dari lembah Pek Hua Kok, aku berjumpa dia di atas perahu, ilmu silatnya baik sekali, Empat bujangku tak mampu melawan dia seorang. Kemudian aku mainkan lagi Bi Cin Li Hun (Menghamburkan sukma) dengan alat musikku, dan lagu itu adalah dari catatan kitab Kui Goan Pit Cek, dan dia segera terluka hebat setelah mendengarnya..."

Seterusnya Na Siao Tiap menuturkan peristiwa diatas perahu yang belajar disungai Bin Kang."

"Jika kau telah menghafalkan semua catatan di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, apakah kau dapat juga untuk mengobatinya?"

Tanya Pek Yun Hui.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Na Siao Tiap berpikir sejenak lalu ia menjawab.

"Di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah tereatat banyak cara-cara menyembuhkan luka-luka, tetapi harus dilakukan oleh orang yang mahir ilmu silatnya, Aku tak faham ilmu silat, aku tak dapat membebaskan jalan-jalan darahnya."

Dengan terperanjat Pek Yun Hui menanyai "Ha! Kau tak pandai ilmu silat?"

"Aku tak akan berdusta terhadap Cici,"

Jawab Na Siao Tiap.

"Aku pernah diajarkan ibu tentang ilmu menenangkan semangat, dan mainkan Kim menurut lagu-lagu yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek."

"Apakah namanya ilmu itu?"

Tanya Pek Yun Hui.

"Aku hanya menurut cara ibu berlatih, dan setelah aku menghafalkan betul catatan-catatan Kui Goan Pit Cek, aku baru mengetahui bahwa ilmu yang aku dapat fahami Toa Pan Yo Hian Kong."

Kata Na Siao Tiap, Pek Yun Hui yang telah dapat belajar banyak ilmu dari gurunya, Na Hai Peng, namun ia belum perah lihat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan ia tak mengetahui bahwa ilmu Toa Pan Yo Hian Kong adalah ilmu yang paling dasyat dari semua ilmu yang tereatat di dalam kitab Kui Goan Pit Cek.

Dengan bersenyum ia berkata.

"Moi-moi telah dapat menghafalkan semua ilmu-ilmu dari kitab Kui Goan Pit Cek, dan dari kecil mendampingi bibi Cui Tiap, Jika Moi-moi bilang tidak bisa silat siapa yang dapat pereaya? Caramu mengegos dari cengkramanku tadi saja sudah membikin aku tunduk, Ha! Ha! Ha!"

Sambil menarik napas Na Siao Tiap berkata.

"Aku tak berani berdusta terhadap Cici, ibuku hanya mengajarkan ilmu silat kepada empat bujangku itu. Aku sering-sering mohon ibu mengajarkannya, tetapi ibu mengatakan bahwa meskipun aku pandai silat, aku tak dapat membalas dendam terhadap orang yang aku paling benci. ibuku hanya menyuruh aku duduk diam empat jam sehari, dan setelah aku berusia sembilan tahun,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

jangka waktu berduduk diam itu diperpanjang, Sepuluh tahun lebih aku diajarkan duduk diam, sedangkan keempat bujangku itu makin hari makin lihay ilmu silatnya, Aku kagumi mereka yang dapat meloncat seperti menjangan, dan menerkam seperti hari mau.

Lagi-lagi aku minta diajarkan silat, tetapi ibu menjadi murka sehingga dia menangis tersedu-sedu, Aku tak berani minta lagi, Aku hanya berlatih duduk diam.

Kemudian ibu mengajarkan aku mainkan lagu-lagu yang tereatat di beberapa halaman kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan suruh aku menghapalkan semua catatan di dalam kitab-kitab itu.,."

Ia berhenti sejenak, lalu meneruskan.

"tetapi ibu pesan juga bahwa jika aku dapat mengendalikan urat saraf yang bekerja dan urat sarat yang menahan, aku dapat mempelajari semua ilmu-ilmu silat dengan mudah, Tapi pada suatu hari yang tak di sangka-sangka, ketika ibu sedang berlatih ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, ayah telah menerjang masuk dan membahayakan jiwanya ibu, dan selang satu tahun kemudian, ibu meninggalkan aku untuk se!ama-lamanya. Betul aku telah dapat mengendalikan kedua urat saraf itu, tetapi aku tak mengetahui cara berlatih ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Mengingat pesan ibuku, aku berlalu dari lembah Pek Hua Kok untuk pergi ke puncak Pek Yun Siat Aku tidak menduga bahwa di perjalanan aku menjumpai beberapa orang-orang jahat yang ingin merampas kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, keempat bujangkulah yang melawan mereka, karena aku tak pandai silat Ketika itu, kebetulan aku ketemu ayah yang ketika itu aku tidak mengenalinya, dia segera membantu aku membasmi semua perampok-perampok itu, Memang aku belum pernah jumpa dan kenal kepada ayah, tambahan pula ayah bereat kan muka, Tetapi aku telah memberitahukan maksud sejatiku..."

Pek Yun Hui menarik napas panjang dan berkata.

"Betul, aku kira setelah Suhu merampas Ban Lian Hwe Kwi dari

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

puncak Ngo Hauw Leng, dia segera datang ke lembah Pek Hua Kok mencari kau.

Meskipun dia telah megetahui bahwa bibi Cui Tiap telah mali, dia masih berharapan dapat menolong bibi Cui Tiap dengan Leng Tan dari Ban Lian Hwe Kwi itu.

Suhu tiba di Pek Hua Kok, tapi kau telah berangkat menuju ke puncak Pek Yun Siat, dan ia menjumpai kau waktu kau diserang oleh perampok-perampok..."

"Cici betul-betul cerdas,"

Kata Na Siao Tiap.

"Tafsiran Cici semuanya cocok. Setelah perampok-perampok dihajar babak belur, ayah bilang bahwa dia tinggal di pegunungan Koat Cong San tidak jauh dari puncak Pek Yun Siat, dan dia sudah menyertai aku pergi ke pegunungan Koat Cong San. Di sepanjang jalan dia se-nantiasa memperhatikan aku. Aku yang sedari kecil dibesarkan di lembah Pek Hua Kok, selainnya ibu dan keempat bujangku, tidak mengenal orang, Dia perlakukan aku baik sekali, tetapi aku masih tidak menduga kepada ayah, Dia tidak bersihkan cat yang dipuIaskan dimukanya. Ketika sudah tiba di pegunungan Koat Cong San, dia kata bahwa esok harinya dia akan ajak aku menemui orang yang menyakiti hatinya ibu. Dia ambil Leng Tan dari dalam tubuhnya Ban Lian Hwe Kwi dan berikan itu untuk aku makan, Setelah aku makan aku merasa seluruh tubuhku menjadi panas dan sakit sekali sehingga aku menjadi curiga, Empat bujangku juga mengira aku relah diracuni, mereka segera menyerang ayah, Tetapi keempat bujang itu tak berdaya menghadapi ayahku, Aku jatuh pingsan, dan entah berapa lama aku tertidur Ketika aku buka kedua mataku, tampak ayah duduk disampingku, dan berkata dengan penuh kasih sayang.

"Jangan takut Pil dari kura sakti itu suka diperolehnya dan adalah obat yang sakit sekali."

Lalu dia pergi untuk datang lagi diwaktu petang, Dia mengatakan bahwa orang yang menyakiti hati ibuku sudah tahu aku datang untuk membalas dendam dan besok aku boleh menemui kepadanya,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pada keesokan harinya, aku dan empat bujangku pergi ke tempat yang ditunjuk itu.

Betul saja aku tampak seorang kakek berjubah sedang duduk di atas rumput Aku keluarkan gambar yang telah dilukis oleh ibuku, dan benar bahwa kakek itu serupa dengan orang yang terlukis dalam gambar Aku segera mainkan lagu "Hiam Hao Sim"

Apabila pada waktu itu jika Cici tidak keburu datang, mungkin aku telah betul-betul membunuh ayahku dengan lagu ajaib yang aku mainkan itu...H Pek Yun Hui terperanjat Dan berkata.

"Akupun telah dipengaruhi oleh lagu ajaib itu, Tetapi aku tidak menduga bahwa lagu ajaib itu kau dapat pelajari dari kitab Kui Goan Pit Cek."

Lagu Him Im Hao Sim dan Bi Cin Li Hun adalah sebahagian diantara catatan tetang ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, dan kedua lagu itu betul-betul hebat dapat membinasakan lawan dengan pertama mengacaukan uraturat sarafnya.,."

Jelaskan Na Siao Tiap.

"Mungkin Bee Kun Bu sudah binasa jika aku kejam ketika berada di atas perahu, dan mungkin juga ayahku telah mati, jika Cici tidak buru-buru datang merintanginya... Unlung dan aku merasa bersyukur sekali Cici keburu datang..." -ooo0oooIlmu menyembuhkan luka-Iuka menurut petunjuk-petunjuk Kui Goan Pit Cek Tiba-tiba Pek Yun Hui berjingkrak, dan menanyai "Moi-moi setelah Suhu potong kura sakti itu untuk diambil pil nya, dimanakah Suhu taruh sisanya ?"

Dengan menggelengkan kepala Na Siao Tiap men-jawab.

"Aku tidak tahu, karena waktu itu aku telah jatuh pingsan!"

Pek Yun Hui mengawasi Bee Kun Bu, lalu berpaling kepada Na Siao Tiap dan berkata.

"Moi-moi, apakah kau sudi membantu aku?"

"Cici sebut sajalah, aku pasti membantu!"

Kata Na Siao Tiap dengan sungguh-sungguh,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Aku minta pinjam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek untuk mencari cara atau petunjuk tentang penyembuhan luka-luka guna menolong Bee Kun Bu"

Kata Pek Yun Hui.

Na Siao Tiap tersenyum, ia berbalik dan jalan menghampiri seorang bujangnya, Dari bujang itu ia ambil satu kotak yang dibuat dari batu Giok, lalu diberikan nya kepada Pek Yun Hui seraya berkata.

"Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek berada di dalam kotak itu. Cici dapat periksa sendiri."

Dengan terharu Pek Yun Hui menyambut kotak itu.

ia buka dan melihat tiga kitab dengan huruf KUI GOAN PIT CEK di atas tiap-tiap kulit buku.

Segera ia mencari halaman-halaman yang melukiskan cara menyembuhkan tulang patah, melampiaskan peredaran darah, membebaskan jalan-jalan darah yang mampet, memunahkan racun di dalam tubuh, membangkitkan semangat menenangkan urat-urat saraf dan sebagainya.

Dan semuanya itu harus dilakukan semuanya j ia tak tahu apakah ia harus bergirang atau bersedih hati, karena semua cara-cara itu dapat menyembuhkan luka-lukanya Bee Kun Bu, ia masukkan kitab-kitab itu ke dalam kotak dan dikembalikan kepada Na Siao Tiap serta berkata.

"Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek ini patut dibuat perebutan oleh para jago silat."

Lalu ia duduk bersila untuk melakukan penyembuhan dengan jalan menenangkan urat-urat saraf untuk menolong Bee Kun Bu yang berbaring terlentang di atas rumput ia memejamkan kedua matanya, dan mulai menggosok gosok kedua tinjunya...

Lie Ceng Loan, Na Siao Tiap, Pang Siu Wie dan keempat bujangnya Na Siao Tiap berdiri diam mengawasi Pek Yun Hui.Sejenak kemudian mereka tampak wajahnya Pek Yun Hui menjadi merah, dan tiba-tiba membuka matanya dan menotok dadanya Bee Kun Bu dengan tinju kanannya, setelah itu Pek Yun Hui membalikkan tubuhnya Bee Kun Bu dan menotok punggungnya dengan tinju kirinya, lalu ia mengawasi

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menantikan akibat usahanya, dan sekonyong-konyong ia berseru.

"Loan moi, Bu Koko mati!"

Lie Ceng Loan menjadi kaget, ia tubruk dan memeluk tubuhnya Bee Kun Bu yang diam tak berkutik nafasnya pun berhenti dan matanya mendelik Semua orang yang menyaksikan menjadi terpaku Lie Ceng Loan tidak menangis tetapi hatinya ia rasakan hancur ia yang selalu khawatir keselamatan dan jiwanya Bee Kun Bu boleh dikatakan berhari-hari tidak pernah tidur Ketika ia kira Bee Kun Bu betulbetul telah mati, iapun tak ingin hidup lagi.

Keringat membasah di seluruh tubuhnya Pek Yun Hui, karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menolong mengobati Bee Kun Bu.

Bukan main menyesalnya ketika ia melihat usahanya gagah Na Siao Tiap mengingat cara-cara menyembuhkan lukaluka yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek.

ia telah menghafalkan betul semua catatan-catatan dan tidak satu huruf terluput dari ingatannya.

Entah berapa lama mereka semua diam terpaku, Lalu dengan penuh kasih sayang, Pek Yun Hui menegur Lie Ceng Loan.

"Loan-Moi kau bangunlah, Mari kita angkat Bee Kun Bu ke dalam kamar di dalam goa, dan aku akan mencari daya upaya untuk menolong dia."

Tetapi Lie Ceng Loan diam saja, Tiba-tiba terdengar suaranya bangau, yang tak !ama kemudian segera terbang mrun.

Na Siao Tiap menjambret kedua kakinya bangau itn.

Bangau itu terkejut dan terbang naik pula, membawa Na Siao Tiap yang bergelantungan memegangi kedua kakinya, Semua orang terperanjat melihat perbuatan yang ganjil itu.

Pek Yun Hui yang khawatir akan keselamatannya Na Siao Tiap segera loncat mengejar, Baru saja kedua tangannya hendak menjambret kedua kaki bangaunya, ia merasa kedua tangannya terhempas, dan ia segera jatuh kembali ke tanah, Sejenak kemudian terlihat juga Na Siao Tiap turun dengan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tenang ke atas tanah, ia menghampiri Pek Yun Hui dan berkata.

"Aku telah dapat ingat cara menolong Bee Kun Bu, tetapi tentang hasilnya aku belum dapat memastikan."

Pek Yun Hui yang telah menyaksikan dengan kepala mata sendiri cara Na Siao Tiap menjambret kedua kaki bangau, lalu mendampar ia segera mengetahui bahwa Na Siao Tiap itu yang telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong telah memiliki ilmu yang dahsyat, hanya Na Siao Tiap tidak mengetahuinya, karena belum pernah dipraktekkan, Dengan bernapsu ia menanya.

"Cara bagaimana, coba lekas-lekas bilang!"

"Barusan aku pikir akan ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, aku ingat akan petunjuk yang berbunyi. jika terlampau penuh akan menjadi luber. Jika urat-urat saraf yang bekerja dan yang menahan dapat dibebaskan maka yang luber dapat menambal yang kurang,.,"

Kata Na Siao Tiap.

Segera kedua pipinya menjadi merah dan Pek Yun Hui mengerti bahwa Na Siao Tiap sedang mengerahkan tenaga dalamnya.

Sebetulnya orang yang telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong tersebut dapat menyembuhkan luka-luka apapun dengan tenaga dalamnya.

Na Siao Tiap yang telah memahami ilmu itu tidak insyaf akan kepandaiannya sendiri, karena belum pernah ia praktekkan sendiri, Dan setelah menyaksikan usaha yang gagal dari penolong ibunya, timbullah pikirannya untuk membalas budi.

Pek Yun Hui mendesak.

"Moi-moi, tetapi cara bagaimana kita membebaskan kedua urat-urat sarafnya itu?"

"Setelah dia menderita luka parah, dia masih bisa bertahan demikian lamanya, Aku yakin bagian-bagian tubuhnya belum rusak. Jika kita dapat mengirim tenaga dalam kita ke dalam tubuhnya agar ia dapat mengerahkan tenaga itu untuk menyembuhkan luka-lukanya, maka kedua urat sarafnya itu dapat bebas, dan diapun tertolong."

Jawab Na Siao Tiap,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pek Yun Hui geleng-geleng kepalanya dan berkata.

"Aku telah mengerahkan seluruh tenaga dalamku untuk dikirim ke dalam tubuhnya, tetapi aku masih tidak berhasil, dia tetap tak sadarkan diri...."

"Jika luka-lukanya Bee Kun Bu tidak parah, cara Cici yang demikian itu memang akan berhasil tetapi terhadap luka yang parah, usaha Cici sebaiknya hanya menyumbat jalan-jalan darahnya sehingga dia seolah-olah sudah mati!"

"Tetapi caraku tadi toh menuruti apa yang tertera di dalam kitab itu dengan mengalirkan tenaga dalamku ke dalam tubuhnya.,."

Bantah Pek Yun Hui.

"Betul! Tetapi Cici menyalurkannya dengan meniup mulutnya,"

Kata Na Siao Tiap. Pek Yun Hui menjadi merah mukanya karena merasa malu harus menempelkan mulutnya kepada mulutnya seorang pria, dan ia berkata.

"Aku tak peduli apa orang akan kata, asalkan aku dapat menolongnya!"

Dengan kedua mata terbelalak Na Siao Tiap menanya.

"Apakah Cici menyukai dia?"

Mendengar pertanyaan itu Pek Yun Hui merasa canggung, tetapi ia harus menjawabnya, Maka ia lalu mengangguk dan berkata.

"Betul, Dia orang baik.-"

Sebetulnya ia ingin menjelaskan mengapa ia menyukai pemuda itu, tetapi dalam keadaan terdesak itu, ia harus lekas-lekas menolong jiwanya Bee Kun Bu.

Na Siao Tiap juga tidak menanya lagi.

ia berlutut dan mulutnya berkemak-kemik sambil memejamkan kedua matanya, Lalu ia berkata kepada Pek Yun Hui.

"Barusan aku telah memberitahukan ibu bahwa aku harus tolong pemuda ini! Aku menolong dia, karena Cici menyukai padanya, Untuk menolong dia, harus orang yang paham ilmu Toa Pan Yo Hian Kong."

Pek Yun Hui berdiri mengawasi Na Siao Tiap, ia berpikir "Dia dapat menghafaikan semua catatan-catat an dari kitab

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Kui Goan Pit Cek, dan telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, Tidak salah jika Suhuku pernah memperingatkan aku jangan melawan dia jika aku tidak ingin binasa.

ia mengawasi terus dengan perasaan kagum.

"Apakah yang Cici sedang pikirkan,"

Tegur Na Siao Tiap.

"Aku telah berjanji akan menolong dia, Cici jangan kecil hati!"

Ketika itu Pek Yun Hui juga memperhatikan bahwa mukanya Na Siao Tiap menjadi merah sekali, dan ia menanya.

"Kau mengapa nampaknya gugup?"

"Aku khawatir.,."

Jawab Na Siao Tiap.

"Apa yang membuat kau khawatir?"

Tanya Pek Yun Hui.

Dengan suara rendah Na Siao Tiap menjelaskan "Mungkin Cici tidak mengetahui bahwa pemuda itu sudah habis semangatnya karena telah menderita luka agak lama.

Untuk menolong dia, aku harus menggunakan semangatku sendiri selama tiga hari tiga malam..."

Dengan air mata berlinang Pek Yun Hui melihat Bee Kun Bu yang masih terus dipeluki oleh Lie Ceng Loan, Lalu dengan suara memohon ia berkata kepada Na Siap Tiap.

"Moi-moi, aku minta kau pandang aku. Tolonglan dia!"

"lbuku pernah pesan bahwa aku harus turut perintah Cici, karenanya aku pasti akan menolongnya!"

Lalu Pek Yun Hui menotok jalan darahnya Lie Ceng Loan, dan gadis itu segera berjengit dan bangun untuk segera berkata.

"Pek Cici, setelah kita kubur jenazahnya, aku minta Cici membunuh mati orang yang menganiaya dia..."

"Janganlah kau memikir yang bukan-bukan"

Berkata Pek Yun Hui.

"Bu Kokomu masih dapat ditolong."

Dengan berjingkrak Lie Ceng Loan berseru.

"Aku tahu Pek Cici memang seorang yang sakti, Pek Cici dapat menghidupkan orang yang sudah mati!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pek Yun Hui lalu angkat Bee Kun Bu untuk di-pindahkan ke dalam ruang di dalam gua batu, ia berkata kepada Lie Ceng Loan.

"Aku sendiri tidak dapat menolong dia, tetapi Na Moi-moi itu yang akan menolongnya!"

Lie Ceng Loan menjadi terperanjat, dan ia menatap Na Siao Tiap, lalu menghampiri dan menghaturkan terima kasih, Pek Yun Hui angkat Bee Kun Bu dan dipanggulnya di atas pundaknya, diikuti oleh Na Siao Tiap, Lie Ceng Loan dan lainlainnya masuk ke dalam goa batu, Pang Siu Wie yang berjalan paling belakang selalu nengok kiri dan kanan ia yang telah lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw merasa curiga ketika bangaunya Pek Yun Hui terbang menghampirkan.

ia tidak merasa bahwa ia curiga oleh bangau putih itu.

Tidak lama kemudian mereka tiba di dalam goanya Pek Yun Hui setelah mereka melalui satu tegalan berumput Goa tersebut terletak di lereng gunung kira-kira seratus depa tingginya dari kaki gunung, tetapi Pek Yun Hui dapat memanggil Bee Kun Bu dengan tanpa ke-sukaran, Pek Yun Hui lalu taruh Bee Kun Bu di ruang yang ia biasa gunakan sebagai kamar tidur Lalu sambil tersenyum ia berkata kepada Na Siao Tiap.

"Moi-moi, dia telah menderita terlampau lama, Kita jangan menunda lebih lama lagi, Sebutlah apa-apa yang kita perlukan."

"Sebetulnya aku tak usah minta bantuan orang lain, hanya ada suatu hal aku minta Cici menyanggupkannya."

Sambil tersenyum Pek Yun Hui berkata.

"Sebutlah, apapun aku akan menyanggupkannya."

Dengan suara yang tetap dan bersungguh-sungguh Na Siao Tiap berkata.

"Di dalam kamar ini, aku harus menemani dia selama tiga hari dan tiga malam. Lagi pula usaha menyembuhkan dia masih mendatangkan beberapa kesulitan Tetapi demi untuk membalas budi Cici, aku akan melakukannya Oleh karena itu, aku minta Cici, menemani aku di dalam kamar ini selama tiga hari tiga malam untuk

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menyaksikan Apabila dia setelah ditolong timbul niatan busuknya terhadapku, aku terpaksa harus menusuk dia mati, dan aku minta Cici bisa maafkan perbuatanku dan Cici tak boleh mencegah aku menikam dia mati, Jika permintaan ini Cici dapat menyanggupinya, aku segera menolong, Jika tidak..."

Pek Yun Hui tidak segera menjawab ia berpikir "Bagaimanakah aku dapat ketahui dia mempunyai niatan busuk?"

Lalu ia menjawab.

"Sepanjang pengetahuanku dia adalah seorang pemuda yang luhur dan sopan, Kita hanya dapat mengetahui dia mempunyai niatan busuk jika dia berbuat yang dalam pandangan kita melanggar kesusilaan!"

"ltulah yang aku artikan,"

Kata Na Siao Tiap.

"O! Jika dia berbuat demikian, kau boleh lantas bunuh dia!"

Kata Pek Yun Hui.

"Bukan saja aku dapat memaafkan nya, bahkan mungkin juga aku akan membantu kau membunuh dia!"

Lalu Na Siao Tiap keluarkan sebuah pisau belati dari sakunya seraya berkata.

"Cici, jika aku terpaksa harus membunuh dia, aku minta kau jangan datang menolong, karena aku khawatir aku tak dapat mengendalikan diri dan melawan Cici!"

Melihat sikapnya Na Siao Tiap yang sungguh-sungguh itu, Pek Yun Hui menjadi sedikit heran.

ia telah mengetahui bahwa Na Siao Tiap adalah seorang gadis yang lemah lembut dan luhur wataknya, lebih kurang sama seperti Lie Ceng Loan, Maka sikap dan suara yang berlainan itu membikin Pek Yun Hui merasa sedikit heran, ia mengawasi mukanya keempat bujangnya gadis itu, tetapi ia tak bisa melihat sesuatu yang menyelami isi hatinya Na Siao Tiap, Keempat bujang itupun menunjukkan perasaan cemas atas sikap majikannya.

Sebetulnya Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan tak dapat dikatakan serupa wataknya, Na Siao Tiap masih polos dan berotak tajam, cerdas dan tangkas jujur hati, tak pernah mencurigai orang lain.

Meskipun ia lama tinggal terpencil di

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

lembah Pek Hua Kok dan tak mengetahui kejadian-kejadian di luar, tetapi setelah ia keluar dari tempat bertapanya, ia senantiasa memperhatikan gerak-gerik orang lain dan besar curiganya.

Lalu Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui masuk ke dalam kamar di mana Bee Kun Bu telah diletakkan Na Siao Tiap memesan keempat bujangnya.

"Aku dan Pek Cici akan berada di dalam kamar ini untuk menolong mengobati pemuda itu. Selama tiga hari dan tiga malam aku harus mencurahkan semua semangat dan tenagaku dalam usaha pengobatan itu, kalian tak boleh mengganggu!"

Lalu bersama-sama Pek Yun Hui ia masuk ke dalam, sebetulnya goa tersebut adalah tempatnya Tian Ki Cin Jin bertapa, Goa itu luas sekali dan mempunyai lima kamar, kamar yang paling belakang digunakan sebagai kamar dapur Pek Yun Hui berkata kepada Na Siao Tiap.

"Moi-moi tunggu sebentar Aku hendak pergi ke dapur menyediakan sedikit sarapan dulu."

Lalu ia pun ke kamar paling belakang, Ketika ia tiba di kamar dapur, ia melihat bahwa tempat Tan Pao dan istrinya, Hiong Yun (pengawal istana dan selir raja yang Na Hai Peng paksa, datang tinggal ke puncak Pek Yun Siat untuk menjaga Pek Yun Hui) Kedua-duanya menggeletak di lantai ia memeriksanya.

Ternyata mereka telah ditotok jalan darahnya, Mereka telah dibikin pusing dan luka karena mendengar lagu "Hian Im Hao Sim"

Yang dimainkan oleh Na Siao Tiap, untuk kemudian ditotok jalan-jalan darahnya.

Pek Yun Hui berusaha membebaskan totokan itu, dan sesaat kemudian mereka telah sadar kembali Mereka bangkit, dan setelah melihat Pek Yun Hui, mereka berlutut dihadapannya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pek Yun Hui menegur.

"Apa yang telah terjadi di sini?"

Tanya Pek Yun Hui.

"Pada dua hari berselang Na Loya (Tuan besar Na) ada ajak satu gadis berpakaian sutera biru kesini.,, Hamba...."

Pek Yun Hui goyang-goyang tangannya dan berkata.

"Sudahlah, aku sudah mengetahui Kalian lekas-lekas menyediakan sarapan, dan bawa ke depan, karena aku menerima beberapa tanrn jangan lambat!"

Lalu iapun lari ke depan lagi, Sebelum ia masuk ke dalam kamarnya, ia telah pesan sesuatu kepada Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie.

Dengan cepat Tan Pao dan Hiong Yun menyiapkan sarapan, dan mereka menjadi terperanjat melihat demikian banyak orang telah datang ke goa itu, Pang Siu Wie dan Lie Ceng Loan yang sudah merasa lapar segera makan sarapan itu, lalu yang lain-lainpun turut Pek Yun Hui mengambil banyak kue dan buah-buahan ke dalam kamarnya, Lalu ia tutup pintu kamar, ia berkata kepada Na Siao Tiap.

"Moi-moi apakah kau tidak makan dulu sebelumnya kau menolong mengobati dia?"

"Aku tidak merasa lapar, karena hatiku bimbang."

Jawab Na Siao Tiap.

"Jika Cici sudah lapar, makanlah dulu!"

Pek Yun Hui juga tak dapat makan karena ia selalu khawatir akan keadaannya Bee Kun Bu.

ia hanya makan satu kue dan minum secangkir teh.

Na Siao Tiap duduk di atas sehelai tikar di atas lantai dengan dua tangannya memegang lututnya, Matanya menatap kedepan, seolah-olah ia tak menghiraukan soal mengobati Bee Kun Bu.

Melihat sikapnya yang acuh tak acuh Pek Yun Hui tak sabar lagi.

ia menegur.

"Siao Tiap Moi-moi, mengapa kau masih belum memulai, Aku khawatir jika ditunda, dia tak dapat ditolong lagi!

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Dengan tenang dan pelahan Na Siao Tiap bangun dan menghampiri Pek Yun Hui. ia berkata dengan suaranya yang rendah sekali.

"Aku telah menyanggupi mengobati dia, aku tentu akan menolongnya!"

Pek Yun Hui masih tak puas dengan jawaban itu, ia menegur lagi.

"Mengapa kau mundur maju lagi?"

Na Siao Tiap menghampiri Bee Kun Bu dan mengangkat tubuhnya seraya berkata.

"Sebetulnya aku tidak boleh mengobati dia, Tetapi aku telah berjanji kepada Cici untuk menolong dia, aku tak harus menyesal!"

Pek Yun Hui tak berkata-kata lagi, ia khawatir menyinggung perasaannya Na Siao Tiap, Dalam keadaan terdesak itu ia harus mengalah ia duduk diam mengawasi cara-cara Na Siao Tiap menolong Bee Kun Bu.

Ia menyaksikan Bee Kun Bu dibaringkan terlentang di atas tempat tidur, sedangkan seluruh tubuhnya Na Siao Tiap terlihat gemetar tak henti nya.

Dengan mata terbelalak ia menyaksikan sikapnya Na Siao Tiap, seolah-olah orang yang sedang diserang demam panas.

Ia bangun menghampiri Na Siao Tiap dan berkata dengan suara yang lemah lembut "Siao Tiap Moi-moi, untuk aku, kau harus menderita demikian hebatnya, Aku sangat berterima kasih."

Na Siao Tiap tidak menyahut ia pejamkan kedua matanya, Hanya dari celah-celah kulit matanya molos keluar air matanya, yang bagaikan mutiara sebutir-se-butir, ia berkata.

"Sebentar ketika aku kerahkan tenaga dalamku, seluruh semangatku akan berkumpul Aku minta Cici jangan mengganggu atau menyentuh tubuhku!"

Lalu ia duduk bersila di pinggir tempat tidur, dan tangan kirinya ditaruh di atas batang hidungnya Bee Kun Bu, sedangkan tangan kanannya memeluk pinggangnya Bee Kun Bu.

ia memejamkan kedua matanya untuk mengerahkan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

seluruh tenaga dalamnya, Ternyata ia telah berhasil mengerahkan urat-urat sarafnya Bee Kun Bu karena keringatnya mulai terasa ke tenggorokan dada sampai ke pusarnya.

Lalu ia letakkan Bee Kun Bu terlentang di atas tempat tidur untuk dipijat-pijat kaki tangannya, Demikianlah semua bagianbagian penting di dalam tubuhnya Bee Kun Bu telah dapat dipulihkan olehnya dengan ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, dan darahnya mulai beredar dengan wajar diseluruh tubuh-nya.

Pek Yun Hui juga memperhatikan bahwa kaki tangannya Bee Kun Bu tidak kaku lagi, kelihatan segar dan bergerakgerak, Sejenak kemudian keringatpun mulai keluar dari pembuluh-pembuluh pada kaki tangannya, Bukan main girangnya Pek Yun Hui menyaksikan perubahan yang ajaib itu!

Malam itu Pek Yun Hui dapat tidur nyenyak di dalam kamar itu, Satu hari dan satu malam telah lewat, akan tetapi Bee Kun Bu masih belum sadarkan diri, dan Na Siao Tiap yang telah mengerahkan banyak tenaga dan semangat, nampaknya sangat letih sekali Pada malam kedua, ketika Pek Yun Hui menyalakan lilin di atas meja, tiba-tiba ia mendengar Na Siao Tiap menguap, ia menoleh, dan melihat Na Siao Tiap yang harus tidur di samping Bee Kun Bu mengulurkan tangan kanannya meraba badannya Bee Kun Bu, lalu ia tersenyum dan berkata.

"Cici, tenaganya disemua bagian tubuhnya sudah pulih, Malam ini aku dapat membebaskan semua jalan-jalan darahnya yang tersumbat."

Pek Yun Hui menghampiri dan sambil tersenyum ia berkata.

"Semua ini karena pertolongan Moi-moi. Aku yakin nanti jika dia mengetahui bahwa kau yang telah menolong jiwanya, dia pasti akan berterima kasih kepadamu!"

"Aku sebetulnya menolong dia karena ingin membalas budi Cici."

Kata Na Siao Tiap, Lalu ia duduk bersila untuk memulai mengerahkan tenaga dalamnya pula, sebentar saja segera

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

terlihat wajahnya menjadi merah, dan seluruh tubuhnya mengeluarkan uap.

Pek Yun Hui merasa kagum melihat caranya gadis itu mengumpulkan tenaga dalamnya, dan ia yakin hanya orang yang telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong dapat melakukan itu.

Mungkin Suhunya pun tak dapat menandinginya dalam ilmu Toa Pan Yo Hian Kong itu, pikirnya, Terlihat pula uap yang keluar dari tubuhnya Na Siao Tiap makin lama makin tebal, dan setelah seperempat jam kemudian seluruh kamar itu telah diliputi uap yang keluar dari tubuhnya gadis itu.

Tiba-liba ia letakkan kedua tinjunya di atas dadanya Bee Kun Bu, dan lalu secepat kilat menotok jalanjalan darah di bagian dada itu, tetapi kedua tinjunya tidak diangkat ia tetap tempelkan tinjunya di atas dadanya Bee Kun Bu untuk secepat kilat menotok pula yang diulanginya sampai enam kali, dengan demikian berhasil membebaskan dua belas jalan-jalan darah yang terpenting di seluruh tubuhnya Bee Kun Bu.

Yang aneh ialah, tiap-tiap kali ia menotok dengan kedua tinjunya, uap di dalam ruang itu agak berkurang ia baru mengulangi totokannya setelah uap berkumpul lagi, Malam itu, Pek Yun Hui tidak tidur ia terus memperhatikan cara Na Siao Tiap menyembuhkan Bee Kun Bu dengan perasaan kagum, Berkali-kali ia ingin menghampiri tempat tidurnya Bee Kun Bu untuk melihat keadaannya dari dekat, tetapi berkali-kali juga ia batalkan niatnya, karena khawatir mengganggu Na Siao Tiap, Kira-kira sejam kemudian setelah Na Siao Tiap berhasil membebaskan jalan-jalan darah yang terpenting di seluruh tubuhnya Bee Kun Bu, tiba-tiba ia berseru.

"Pak Cici, dengan tenaga ajaibku aku telah berhasil membebaskan dua belas jalan-jalan darahnya yang penting, dan juga menyembuhkan luka-luka yang terus menyerang perkakas-perkakas di dalam

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tubuhnya.

Dia harus beristirahat sebentar, dan aku akan menyembuhkan urat-urat sarafnya untuk membikin ia sadar!" -ooo0oooNA SIO TIAP BERHASIL MENOLONG BEE KUN BU Pek Yun Hui bertindak perlanan-lanan menghampiri tempat tidur dan menanya sambil tersenyum.

"Siao Tiap Moimoi, bolehkah aku memeriksa denyutan jantungnya sekarang?"

"Boleh. Tapi karena darahnya baru saja beredar, lebih baik dia tidak banyak bergerak."

Jawab Na Siao Tiap. Lalu Pek Yun Hui meraba dadanya Bee Kun Bu dengan tangan kanannya, Betul saja jantungnya mulai berdenyut lagi seperti biasa.

"Siao Tiap Moi-moi, terima kasih, Kau telah berhasil menolong jrwanya, Dia pasti akan berterima kasih kepadamu.,."

Pek Yun Hui berkata dengan girangnya Tiba-tiba Na Siao Tiap memotong.

"Aku tidak ingin dia menghaturkan terima kasih kepadaku Aku menolong dia karena memandang kepada Cici."

Sebetulnya Pek Yun Hui masih ada banyak omongan, akan tetapi setelah melihat sikap Na Siao Tiap, ia hanya berkata. Tentu saja aku berterima kasih kepadamu."

Na Siao Tiap pejamkan kedua matanya, dan terlihat air matanya mengucur keluar ia berkata.

"Sebelumnya ibuku menutup mata, dia telah memesan kepadaku bahwa aku jangan sayang seorang laki-laki, meskipun laki-laki itu seorang yang baik. Aku telah menolong dia, dan aku telah melanggar pesan ibuku, Oleh karena itu, setelah aku berhasil menyembuhkan dia, aku akan berpisah dari Cici untuk pergi kembali ke lembah Pek Hua Kok agar aku dapat menangis di depan kubur ibuku!"

Pek Yun Hui menghibur. Tapi ketika bibi Cui memberi pesan itu, ia sedang bersedih hati, sudah tentu pesannya itu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tidak wajar Kau tak boleh anggap semuanya beralasan Moimoi adalah seorang yang cerdas, Cobalah pikir masak-masak dengan otak yang dingin."

Na Siao Tiap belum menjawab, ketika di luar terdengar suara orang. Pek Yun Hui segera loncat dan ingin buka pintu, tetapi Na Siao Tiap membentak.

"Cici, jangan buka pintu!"

"Mengapa tidak boleh membuka pintu?"

Tanya Pek Yun Hui. Na Siao Tiap mengawasi Bee Kun Bu dan sambil menarik napas ia berkata.

"Luka-luka dalam tubuhnya baru saja sembuh, dan peredaran darahnya baru saja mulai lancar. Jika ada orang menerjang masuk ke dalam kamar ini, aku khawatir dia terkejut dan darahnya terhalang kembali sehingga jerih payah kita selama satu hari dan satu malam menjadi sia-sia belaka!"

"Tapi jika ada musuh datang ke sini, aku terpaksa harus keluar membantu.!"

Kata Pek Yun Hui.

"Jika Cici membuka pintu dan Lie Ceng Loan datang masuk, dia hanya akan mempersulit usahaku untuk menyembuhkannya"

Na Siao Tiap menjelaskan.

Ketika itu terdengar suara yang jelas dari Lie Ceng Loan yang memanggil "Pek Cici, ada musuh datang ke lembah Pek Yun Siat!".

Pek Yun Hui yang telah diperingatkan oleh Na Siao Tiap tidak berani membuka pintu dan keluar, ia hanya menjerit dari dalam kamar.

"Bu Koko sedang dalam keadaan kritis, aku tak dapat keluar membantu menjaga musuh, Kau harus menjaga agar musuh itu tidak masuk ke dalam goa!"

Lie Ceng Loan lari menjaga jalan masuk ke dalam goa.

Ketika Pek Yun Hui berbalik lagi, ia tampak Na Siao Tiap sedang membebaskan urat-urat sarafnya Bee Kun Bu.

Dan caranya berlainan sekali dengan cara yang ia pernah lakukan.

Na Siao Tiap menolong membebaskan urat-urat sarafnya Bee Kun Bu selama dua jam baru berhenti, terlihat tegas akan keletihannya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Menampak itu, Pek Yun Hui merasa kasihan.

Tiba-tiba Na Siao Tiap mengambil pisau belati yang ia taruh di dekat bantal kepala ketika Bee Kun Bu mulai bergerak.

Pek Yun Hui terkejut dan lalu mendebati Na Siao Tiap.

"Tiap-moi, apakah dia sudah sadar?"

Ia berbisik.

"Semua jalankan darah dan urat-urat sarafnya telah bebas. Sebentar beberapa jam lagi aku akan membantu dia memulihkan tenaga dalamnya dan setetusnya ia dapat mengumpulkan tenaga dalamnya sendiri. Mendengar kata-kata yang ramah dan sikap yang lunak itu, Pek Yun Hui seger mengerti bahwa dicekalnya pisau belati itu hanya sebagai tindakan pencegahan saja. Pek YunHui berkata "Tiap Moi-moay karena menolong dia, kau telah menjadi letih sekali."

Sambil tersenyum Na Siao Tiap menjawab.

"Aku dapat menolong jiwanya berkat ilmu Toa Pan Yo Hian Kong (Ilmu tenaga dalam ajaib) yang aku telah dapat pelajarkan dari kitab-kitab Kui Goan Pie Cek."

Na Siao Tiap tersenyum.

"Aku tahu maksud cici, cici takut aku akan melukai dia dengan pisau belati ini, betulkah?"

Pek Yun Hui yang selalu jujur hanya mengangguk. Ia berkata.

"Kau telah menerka jitu, Aku khawatir kau masih saja ingin menunaikan pesan ibumu untuk membunuh mati segala laki-laki yang kau sayang!"

Na Siao Tiap tidak menjawab, ia duduk di pinggir tempat tidur Lalu Pek Yun Hui menggantikan ia memulihkan tenaga dalamnya Bee Kun Bu... Sejenak kemudian Na Siao Tiap berkata.

"Cici, setelah kau berhasil memulihkan tenaga dalamnya. kau harus segera angkat dia duduk."

Pek Yun Hui hanya mengangguk dan tersenyum. ia terus mengurut-urut tubuhnya Bee Kun Bu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pada suatu ketika Bee Kun Bu membuka kedua matanya, dan Pek Yun Hui terkejut ia memberitahukan hal itu kepada Na Siao Tiap.

"Cici, dia sudah mulai sadar Ayo terus urut, dan aku membantu!"

Kata Na Siao Tiap.

Segera Pek Yun Hui merasa bahwa telapak tangannya Na Siao Tiap yang ditaruh di punggungnya sangat hangat, dan hawa yang hangat itu dirasakan seperti juga aliran listrik, Pek Yun Hui berpikir.

"Tenaga dalam ajaibnya ini betul-betul hebat Mungkin gurukupun tak akan dapat menandinginya!"

Segera juga terlihat mukanya Bee Kun Bu, yang tadinya pucat perlahan-lahan menjadi merah, hidungnya bergerak, dadanya berdenyut-denyut lebih cepat, dan setelah menarik napas panjang, kedua matanya terbuka dan mengawasi Pek Yun Hui.

Na Siao Tiap berbisik.

"Na, sekarang Cici harus membantu angkat dia agar dia dapat duduk!"

Belum lagi ucapannya selesai, Bee Kun Bu sudah mulai bergerak, dan kedua tangannya meronta-ronta, Mukanya sangat merah, agaknya ia hendak muntah-muntah.

Pek Yun Hui menjadi terpesona, tetapi Na Siao Tiap segera memegang erat-erat kedua bahunya Bee Kun Bu.

Dengan kedua mata membelalak ia berkata.

"Cici, dia telah tertolong. sebentar lagi dia akan sadar Tapi kita masih harus membantu dia mengerahkan tenaga dalamnya selama lebih kurang dua jam. Aku akan tahan dia jangan sampai dia meronta, dan Cici harus duduk di-sampingku mengawasi segala perubahan.."

Lalu dengan satu telapak tangan ia tahan Bee Kun Bu dan tangan lainnya mengambil pisau belatinya, ia melakukan segala pertolongan itu dengan tenang dan cerdas, sedangkan Pek Yun Hui yang menyaksikan segala perubahan-perubahan atas dirinya Bee Kun Bu menjadi agak gelisah.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu tak dapat meronta lagi, ia memejamkan matanya lagi, tapi ia dapat bernapas dengan wajar seolaholah seorang yang sedang tidur dengan nyenyak.

Demikian kedua gadis berusaha keras menolong jiwanya Bee Kun Bu, dan entah sudah berapa lama ketika terdengar lagi suara Lie Ceng Loan diluar kamar.

"Meskipun kau sahabat karibnya Bu Koko, kau tak diperkenankan masuk!"

Terdengar jawaban yang mengejek.

"Mengapa tidak boleh masuk?"

"Sebab di dalam kamar itu Pek Cici sedang sibuk menolong Bu Koko, Aku pun tak diperkenankan masuk ke dalam!"

Mendengar jawaban Lie Ceng Loan itu, Pek Yun Hui terperanjat. Lalu terdengar Pang Siu Wie yang memperingatkannya.

"Kamar itu adalah kamar majikanku, kau tak dapat masuk."

Mendengar suara Pang Siu Wie itu, kekhawatirannya Pek Yun Hui menjadi sedikit lega, ia berpikir.

Pang Siu Wie mempunyai banyak pengalaman, dan telah mengetahui segala tipu muslihat dari banyak jago-jago silat Meskipun Co Hiong cerdik dia tak akan luput dari pengawas annya!

Terdengar lagi Lie Ceng Loan berkata.

"Cici, janganlah perlakukan dia demikian Dia adalah sahabat Bu Koko."

Co Hiong tertawa gelak-gelak dan menanyai "Bu Kokomu dilukai oleh siapakah?"

Mendengar pertanyaan itu, Pek Yun Hui memaki di dalam hatinya.

"Hm! kau betul-betul busuk dan cerdik..."

Ketika itu, tiba-tiba Na Siao Tiap memegang pisau belati di depan dadanya Bee Kun Bu seolah-olah hendak menikam, kedua matanya mengawasi Bee KunBu dengan beringas. Dengan cemas Pek Yun Hui menanya.

"Moi-moi, apakah dia telah berbuat tak sopan terhadaprnu?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Tidak!"

Jawab Na Siao Tiap.

"Dia akan lekas menjadi sadar. Dan jika dia melihat pisau belati terhunus ini, dia tentu menjadi kaget dan tak berani berbuat sesuatu yang tak sopan, bukan?"

Pek Yun Hui menarik napas lega dan berkata lagi.

"Jika kau terpaksa menikam dia, sudilah memberitahukan aku!".

"Sebelum Na Siao Tiap menjawab, diluar terdengar lagi suaranya Co Hiong.

"Jika Bee-Heng menderita luka parah, aku sebagai kawan karibnya, mengapa tidak boleh masuk?"

"Pek Yun Hui telah menebak bahwa Lie Ceng Loan yang jujur telah memberitahukan tentang lukanya Bee Kun Bu kepada Co Hiong, Harus diketahui bahwa ketika Pek Yun Hui menolong Bee Kun Bu di pegunungan Ngo Bi San dari tangannya Co Hiong yang ingin mengubur Bee-Kun Bu hiduphidup, Pek Yun Hui tak pernah menceritakan hal itu kepada Lie Ceng Loan sehingga Lie Ceng Loan tidak mengetahui betapa kejamnya Co Hiong. Terdengar lagi Lie Ceng Loan menarik napas lalu berkata.

"Kau sebagai kawannya Bu Koko, tentu saja boleh menengoki keadaannya, tapi sekarang Bu Koko sedang diobati, dia tak dapat diganggu Pek Cici telah memberitahukan aku bahwa Bu Koko harus diobati selama tiga hari tiga malam. Jika kau ingin tengok dia, kau harus bersabar untuk menunggu tiga hari, Jika kau sekarang memaksa masuk, bukan saja kau dapat membahayakan Bu Koko, kau juga akan membikin gusar Pek Cici."

Dengan terperanjat Co Hiong berseru.

"Hah, Dia terluka demikian parah, masihkah dapat diobati?"

Sambil tertawa Lie Ceng loan berkata.

"Pek Ciciku memiliki ilmu yang sakti, dia dapat menyembuhkan dan menolong Bu Koko!"

"Rupanya Pang Siu Wie telah dapat menyelami akan kebusukan hatinya Co Hiong, maka ia berkata sambil mengejek.

"Kau mengapa demikian dungu? Kau tak dapat mengerti penjelasan atau keterangan orang! Li Siocia telah menjelaskan bahwa Bee Kun Bu harus tenang Tidak boleh diganggu! Tapi kau masih juga mendesak minta masuk!

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

jangankan di dalam kamar ada orang, meskipun tidak ada orangpun, kau tak berhak masuk ke dalam!"

Co Hiong yang kejam itu dan yakin bahwa ilmu silatnya tinggi menjawab sambil mengejek.

"Ada apakah kau melarang aku masuk? Jika, aku memaksanya masuk juga, aku ingin lihat apa yang kau akan perbuat?!"

"Ha! Ha!"

Tertawa Pang Siu Wie.

"Kau boleh rasai pasir beracunku dulu!"

Lie Ceng Loan yang menyaksikan kedua orang itu semakin bertegang, ia berusaha meredakannya "Kalian jangan berselisih di sini! Jika kau ingin tengok Bu Koko, kau harus tunggu dua hari lagi!"

Lalu terdengar tindakan kaki yang makin lama makin menjauh.

Rupanya mereka telah berlalu dari luar kamar Pek Yun Hui yang telah mendengar bahwa Lie Ceng Loan minta Co Hiong tunggu dua hari lagi, berpikir "Ai!

Lie Ceng Loan!

Lie Ceng Loan!

Mengapa kau tak dapat melihat bahwa Co Hiong itu adalah satu manusia yang kejam dan busuk?

Dengan ilmu silatnya yang tinggi dia telah datang kesini, Dia pasti datang dengan maksud yang busuk, Kau minta dia menunggu di sini dua hari lagi, sama juga kau mengundang maut ke dalam rumah!"

Ketika itu Bee Kun Bu sudah duduk di atas tempat tidurnya dengan kedua matanya terbuka lebar, seolah-olah orang baru sadar dari pingsannya.

Dengan pisau belati terhunus di depan dadanya, Na Siao Tiap berkata kepadanya.

Tenaga dalammu belum pulih, kami harus membantu kau mengerahkan itu.

Ayo, kau lekas-lekas pejamkan matamu dan berusaha mengerahkan tenaga dalammu dengan bantuan kami, Jika kau dapat melakukan itu selama empat jam, kau akan sudah sembuh, dan semua tenaga dalammu pulih kembali

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Ucapan itu dikeluarkan dengan tegas, tetapi dengan nada yang mengancam Sikap itulah yang membikin Pek Yun Hui gelisah.

Setelah Bee Kun Bu membuka kedua matanya, ia mengawasi Na Siao Tiap yang berada dihadapannya, kemudian menatap Pek Yun Hui, ia tersenyum, dan baru saja ia ingin membuka mulutnya untuk bicara, lantas Na Siao Tiap mengancam ia untuk lekas-lekas memejamkan kedua matanya.

"Ayo, tutup matamu jika tidak ingin mati! Mulailah kerahkan tenaga dalammu!"

Sebetulnya Bee Kun Bu ingin bicara kepada Pek Yun Hui, tetapi ancaman Na Siao Tiap membikin ia tak berdaya, ia hanya pejamkan kedua matanya lagi, dan berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, setelah mendengar ancaman dan melihat pisau belati terhunus di dadanya.

Pek Yun Hui tidak sampai hati melihat Na Siao Tiap demikian galaknya terhadap Bee Kun Bu, ia berkata dengan bisik-bisik.

Tiap Moi-moi, dia telah lama tak sadarkan diri.

Meskipun dia telah sadar, akan tetapi semangatnya belum kumpul.

Kau terlampau galak terhadap dia..."

Setelah mendengar peringatan itu, Na Siao Tiap makin beringas, ia tekan pisau belatinya pada dadanya Bee Kun Bu sehingga keluar darah.

Pek Yun Hui berusaha pegang pergelangan tangannya Na Siao Tiap, tetapi Na Siao Tiap lebih cepat menarik kembali tangannya.

Ketika itu Bee Kun Bu telah memejamkan kedua matanya, dadanya berdenyut cepat, dan seluruh tubuhnya bergetar karena ia sedang menuruti petunjuk Na Siao Tiap mengerahkan tenaga dalamnya, Lalu Na Siao Tiap duduk kembali di pinggir tempat tidur dan taruh lagi pisau belatinya di sisi bantal kepala nya.

Sambil mengawasi Pek Yun Hui ia berkata.

"Jika dia membuka mulut bicara atau terus memandangi kita, mungkin dia lupa

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mengerahkan tenaga dalamnya dan jalan-jalan darahnya akan menjadi mampet lagi, Dengan demikian jerih payah kita selama dua hari dua malam menjadi sia-sia belaka,"

Tetapi apakah artinya darah yang keluar karena tikaman?"

Sambil tersenyum Na Siao Tiap menjawab.

"Aku sengaja menikamnya agar dia tidak berani membandel Luka itu pun tak ada artinya, aku harap Cici tidak buat pikiran."

Pek Yun Hui tidak menanya lagi, iapun duduk mengawasi perubahan yang sedang berlangsung di tubuhnya Bee Kun Bu.

Demikianlah kedua gadis itu menunggu dengan sabar sambil matanya terus mengawasi Bee Kun Bu, Setelah selang hampir satu jam, Na Siao Tiap mulai memijat tengkuk lehernya Bee Kun Bu, Segera Bee Kun Bu menarik napas panjang sebelum ia membuka matanya.

Tiba-tiba Bee Kun Bu bangun dan meloncat turun dari tempat tidurnya, Pek Yun Hui lekas-tekas menahannya sambil berkata.

"Kau baru saja sembuh, kau tidak boleh bangun, itulah Na Siocia yang telah menolong kau. Ayo, lekas-lekas menghaturkan terima kasih kepada-nya!"

Lalu ia tarik tangannya Bee Kun Bu dibawa ke-depannya Na Siao Tiap, Tetapi Na Siao Tiap menghadapi Bee Kun Bu dengan beringas sambil memegangi pisau belatinya. Sambil tersenyum Pek Yun Hui berkata.

"Tiap Moi-moi, ketika bibi Cui masih hidup, dia sayang aku seperti anak kandungnya, Selama sepuluh tahun lebih ini aku senantiasa ingat akan kasih sayangnya, Bagaimanakah jika beberapa hari lagi kita bersama-sama pergi ke kuburannya, untuk menghaturkan terima kasihku di hadapan roh nya ?"

Na Siao Tiap taruh kembali pisau belati nya dan menundukkan kepala nya. Terlihat pula air matanya mengucur Lalu ia berlutut di hadapan Pek Yun Hui serta berkata.

"Aku bersalah, dan aku rela dihukum oleh Kong Cu!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lekas-lekas Pek Yun Hui mengangkat bangun, dan memeluknya sambil berkata.

"lbumu seperti juga ibu kandungku, Seterusnya kita harus menjadi saudara kandung Aku lebih tua darimu, dan kau harus panggil aku Cici, Lagipula ayahmu adalah guruku, Seterusnya kau tak boleh panggil aku Kong Cu lagi, Aku adalah Cicimu!"

Lalu dengan mengawasi Bee Kun Bu ia membentak.

"Hai! Kau mengapa diam saja? Dia sudah menolong jiwamu dengan telah mengeluarkan banyak tenaga, Kau masih juga belum menghaturkan terima kasih kepada-nya!"

Bee Kun Bu lalu berlutut di hadapan Na Siao Tiap seraya berkata.

"Aku Bee Kun Bu menghaturkan banyak-banyak terima kasih karena Siocia telah menolong jiwaku!"

Tanpa mengawasi Bee Kun Bu, Na Siao Tiap menjawab "Aku menolong kau karena Pek Cici!"

Bee Kun Bu terperanjat mendengar jawaban itu, ia bangun dan jalan ke sudut kamar Lalu Pek Yun Hui ajak Na Siao Tiap duduk di tempat tidur dan dengan ramah ia berkata.

"Tiap moi, aku harap kau pandang aku, dan tidak menyesal karena kau telah menolong jiwanya...."

Sebetulnya ia ingin membela Bee Kun Bu tetapi setelah melihat sikapnya Na Siao Tiap, ia tidak meneruskan. Na Siao Tiap bangun dari tempat duduknya dan berkata.

"Cici setelah dia dapat beristirahat sebentar, dia akan menjadi sembuh betul. Aku ingin keluar memerintahkan bujangbujangku untuk membikin persiapan kembali ke lembah Pek Hua Kok."

Pek Yun Hui terperanjat mendengar ucapan itu. Sambil tersenyum ia berkata.

"Tiap-moi, kini di lembah Pek Yun Siat telah datang banyak musuh. Aku hendak keluar memeriksanya. Kau boleh tunggu di dalam kamar ini mengajarkan Bee Kun Bu ilmu mengumpulkan semangat

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Na Siao Tiap menoleh kepada Bee Kun Bu yang sedang berdiri di suatu sudut kamar itu seperti seorang dungu, Melihat sikapnya itu, ia menjadi kasiham Lalu dengan ramah ia berkata.

"Kau hanya perlu duduk beristirahat sebentar, segera kau akan menjadi sembuh betul sementara itu, kau harus mengerahkan tenaga dalammu untuk mengumpulkan semangatmu!"

Pek Yun Hui menghampiri Bee Kun Bu.

"Ayo, kau turut melaksanakan petunjuk-petunjuknya. sebentar lagi aku akan ajak Lie Ceng Loan datang melihat kau."

Bee Kun Bu tersenyum, dan ia segera duduk di lantai melaksanakan petunjuk-petunjuknya Na Siao Tiap.

Sebetulnya Pek Yun Hui ingin suruh Bee Kun Bu duduk di atas tempat tidurnya, tetapi ia merasa malu mengatakan itu dihadapannya Na Siao Tiap, ia hanya menarik tangannya Na Siao Tiap untuk diajak keluar dari kamar itu bersama ia.

Dengan pertolongan Na Siao Tiap yang menggunakan ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, Bee Kun Bu telah luput dari maut, Luka yang disebabkan perbuatan Co Hiong dengan ilmu Tai Ki Kongnya juga telah disembuhkan oleh ilmu Pun Sin Cin Ki (Tenaga ajaib dari semangat dalam) dari Na Siao Tiap.

Maka setelah ia beristirahat mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan semangat nya, ia telah sembuh betuL Baru saja ia membuka kedua matanya, ia dibikin kaget oleh berkelebatnya bayangan orang setelah pintu kamar ditendang terbuka, Lalu dihadapannya tampak Co Hiong yang berdiri dengan wajah berseri-seri.

Co Hiong menatap Bee Kun Bu, dan kemudian sambil tertawa ia berkata.

"Bee Heng betul-betul beruntung, Aku tak menduga bisa bertemu lagi!"

Bee Kun Bu menarik napas panjang sambil bangun dari lantai.

"Selama satu tahun belakangan ini, aku merasa seperti sudah seratus tahun, Aku telah menjumpai banyak sekali rintangan-rintangan, Jika aku pikir sekarang, aku seperti juga

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tengah bermimpi."

Ia berhenti, lalu menanya Co Hiong.

"Coheng, bukankah kita pernah berjumpa di pegunungan Ngo Bi San? Disitu aku ingat aku telah terluka,.,"

Kata Bee Kun Bu. Co Hiong yang pintar tetapi busuk lalu tersenyum dan berkata.

"Betul! Betul! Ketika itu Bee-heng sedang ditawan oleh seorang wanita berpakaian hitam, Dan.., aku pernah bertarung melawan wanita itu."

"Wanita berpakaian hitam itu adalah Giok Siu Sian Cu yang terkenal di kalangan Kang-ouw, Co-heng mungkin bukan tandingannya."

Kata Bee Kun Bu.

Melihat bahwa Bee Kun Bu tidak menaruh curiga kepadanya, dan karena yakin bahwa Bee Kun Bu tidak ingat lagi tentang peristiwa-peristiwa setelah dia pingsan, maka jawabnya Co Hiong dengan berlagak.

"Ya, akupun merasa malu tak dapat melawan seorang wanita yang telah terluka dan aku telah dipukul jatuh terjerumus ke dalam suatu telaga!"

"Giok Siu sian Cu sangat terkenal lihay ilmu silatnya, Jika Co-heng kalah melawan dia, Co-heng tak usah merasa malu!"

"Kalah atau menang bagiku tidak menjadi soal."

Kata Co Hiong, berkata dengan wajan "Karena hendak menolong aku, Co-heng telah kecebur ke dalam telaga, Meskipun Co-heng tak berhasil menolongnya, akan tetapi aku sangat berterima kasih."

Co Hiong tersenyum, lalu berkata lagi.

"Barusan Lie Sumoymu telah memberitahukan bahwa Bee-heng telah menderita luka parah, Aku hanya dapat menunggu di luar dengan hati cemas.,."

"Aku hanya perlu beristirahat sedikit lagi, dan kita segera boleh keluar mencari tempat untuk bereakap-cakap,.,"

Kata Bee Kun Bu, Selagi Co Hiong hendak berkata pula terdengar suaranya Pek Yun Hui diluar yang mengatakan "Hm! Orang yang berpakaian demikian, dan yang hatinya sangat buruk itu,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Loan-moi lain kali jangan sembarangan beritahukan hal-hal yang sebenarnya. Kau harus hati-hati menghadapi manusia yang jahat itu.,."

Tapi dia adalah kawannya Bu Koko! Aku harus layani dia.,."

Terdengar kata-katanya Lie Ceng Loan, Pereakapan kedua gadis itu makin lama makin dekat terdengarnya, Co Hiong lalu loncat dibelakangnya Bee Kun Bu, dan sambil mengangkat tinjunya ia berseru.

"Bee-heng, biarlah aku menolong membebaskan jalan darahmu di punggung."

Baru saja ia ucapkan perkataan itu, lalu pintu terbuka, dan Pek Yun Hui lari masuk.

ia terkejut melihat Co Hiong ingin menjotos punggungnya Bee Kun Bu.

Harus diketahui bahwa jalan darah dipunggung adalah satu dari kedua belas jalan-jalan darah yang sangat berbahaya, Satu jotosan yang jitu saja dapat membunuh mati Bee Kun Bu!

Melihat Pek Yun Hui terperanjat Co Hiong tertawa gelakgelak dan berkata.

"Bee-heng rupanya sudah sembuh, Hanya satu jotosan di punggung ini, maka kau akan sembuh betul!"

"Hm! Kau jangan berlagak!"

Bentak Pek Yun Hui.

"Kau hanya pura-pura ingin menolong!"

Co Hiong mengawasi Pek Yun Hui yang sekarang telah mengenakan pakaian perempuan Co Hiong yang bermata keranjang tertarik oleh potongan tubuhnya yang langsing dan wajahnya yang cantik.

Untuk sementara waktu Co Hiong telah lupa bahwa ia sedang menghadapi satu musuh yang sangat membenci padanya, Dengan gerak yang sangat lincah Pek Yun Hui loncat ke sampingnya Co Hiong dengan maksud memukulnya, tetapi ketika melihat Co Hiong menekan punggungnya Bee Kun Bu, ia segera batalkan maksudnya, dan loncat mundur Iagi.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Sambil mengejek Co Hiong berkata.

"Satu jotosan di punggung ini dapat segera menyembuhkan Bee-heng! Maka itu, janganlah kau coba-coba mengganggu aku!"

Tinju yang ditekan di punggungnya membikin Bee Kun Bu merasa sakit ia lekas-Iekas mengerahkan tenaga dalamnya menahan sakit itu sambil memejamkan kedua matanya, dan sejenak kemudian ia baru merasa seluruh tubuhnya menjadi hangat, dan sakit tersebut mulai lenyap!

Pek Yun Hui pernah bertempur melawan Co Hiong dua kali, ia yakin bahwa ilmu silatnya Co Hiong lebih tinggi dari pada Bee Kun Bu.

Kini tinjunya jahanam itu ditekan di punggung Bee Kun Bu.

jika ia menyerang, Bee Kun Bu pasti dibunuh oleh Co Hiong, Karena kawatir akan jiwanya Bee Kun Bu, maka ia mengalah sambil berkata.

"Jika kau tidak melukai dia, aku rela berunding dengan kau!"

Dengan kesempatan itu, Co Hiong berkata sambil tersenyum.

"Ke satu, aku minta kau tidak mengorek-mengorek peristiwa yang lampau untuk menghindarkan salah faham!"

"Baik,"

Jawab Pek Yun Hui.

"tetapi sarat itu harus diberi batas tempo!"

"Ya, aku beri jangka waktu satu bulan."

Kata Co Hiong.

"Dan ke dua, dalam jangka waktu satu bulan ini, kita tak boleh saling menyinggung!.

"Apakah kau tidak bermaksud berlalu dari sini?"

Tanya Pek Yun Hui.

"Betul!"

Jawab Co Hiong.

"Aku bermaksud berdiam disini selama satu bulan, dan kita dapat bermain-main bersamasama di sini selama satu bulan itu, bukan?"

Melihat sikapnya yang kurang ajar dan mendengar ejekannya Co Hiong itu, Pek Yun Hui menjadi gusar dan hendak memukulnya.

Tetapi mengingat jiwanya Bee Kun Bu yang terancam.

Pek Yun Hui terpaksa mengalah!

"Baiklah!"

Jawabnya,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Dengan tertawa gelak-gelak Co Hiong mengangkat tinjunya dan Bee Kun Bu pun segera merasa napasnya menjadi lega!

Harus diketahui bahwa Co Hiong sekarang sudah beda jauh sekali daripada Co Hiong dulu, sebelum dia dapat belajar dari Kok Gie Taysu yang dia telah bunuh mati dengan kejam.

Bee Kun Bu membuka kedua matanya, dan melihat Pek Yun Hui berdiri di dekat ia.

Sambil tersenyum ia berkata.

"Aku merasa aku sekarang betul-betul sembuh!" -ooo0oooPang Siu Wie menjaga Co Hiong seorang diri Sebelum Pek Yun Hui menjawab, Co Hiong telah berkata.

"Luka-luka Bee-heng sudah sembuh betul Kau hanya perlu beristirahat beberapa hari saja, dan segera akan dapat menjadi jago lagi, Ha! Ha! Ha!"

Bee Kun Bu yang belum kumpul betul semangatnya, ketika Co Hiong menekan tinjunya di atas punggungnya, mengira Co Hiong telah membantu mengobati padanya, karena setelah tinju tersebut diangkat, ia segera merasa reda dan lega, Maka ia berkata.

"Jika Co Hiong tak membantu, mungkin aku tidak demikian cepat sembuhnya, Terima kasih!"

Co Hiong menyengir "Aku hanya berbuat selayaknya sebagai seorang kawan."

Bee Kun Bu melanjutkan "Kali ini aku telah menderita luka parah, jika tidak ada Pek cici yang datang menolong, aku tak dapat hidup.".

"Kau harus berterima kasih kepada Na Siao Tiap, Tanpa dia yang menolong, aku tak berdaya, Kau berhutang jiwa terhadap Na Siocia."

Kata Yun Hui. Bee Kun Bu ingat akan sikap yang dingin dari Na Siao Tiap, maka ia hanya menundukkan kepalanya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Untuk sementara waktu keadaan di dalam kamar itu sunyi senyap, Lalu Co Hiong mengejek lagi.

"Nah, aku mewakili Bee Heng menghaturkan terima kasih atas pertolongan Pek Siocia!"

Iapun mengangkat kedua tangannya dan menyoja kepada Pek Yun Hui. Pek Yun Hui merasa jemu sekali melihat lagaknya manusia yang busuk itu. ia membentak.

"Fui! janganlah kau berlagak Kelak jika ada kesempatan, aku akan memberitahukan perbuatan-perbuatan busukmu kepadanya."

Bentakan tersebut hanya dijawab dengan tertawa gelakgelak. Ketika itu Lie Ceng Loan juga sudah masuk ke dalam dan lari menubruk Bee Kun Bu seraya berseru.

"Bu Koko, kau sudah sembuh?"

Selama hampir satu bulan ia selalu khawatir penderitaannya Bee Kun Bu.

Maka ketika melihat Bee Kun Bu sudah sembuh, bukan main girangnya, ia duduk di samping Bee Kun Bu, dan air matanya mengucur deras sekali, ia pegangi kedua tangannya Bee Kun Bu sambil berkata.

"Jika kau tidak sembuh dan tak dapat hidup, aku dan Pek cici akan menyertai kau bersama, dan kita masih juga dapat melihat kau setiap hari!"

Bee Kun Bu mengusap-usap rambutnya Lie Ceng Loan dan berkata sambil tersenyum.

"Ai, aku telah membikin kau turut menderita juga!"

Lie Ceng Loan seka air matanya, lalu menjawab.

"Aku tidak letih, tetapi Pek cici menjadi letih sekali, Untuk menolong kau, Pek cici harus bertarung melawan banyak musuh, Tanpa pertolongannya, mungkin kau sudah mati."

Co Hiong yang berdiri dekat mereka dan menyaksikan betapa mesranya Lie Ceng Loan melayani Bee Kun Bu merasa iri hati, Meskipun ia bermaksud membunuh mati Bee Kun Bu, tetapi wajahnya tetap tenang,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu menoleh kepada Pek Yun Hui dan berkata.

"Pek cici, kau telah berulang kali menolong aku. Aku khawatir aku tak dapat membalas budimu yang sebesar itu!"

Pek Yun Hui hanya tersenyum meskipun ada banyak perkataan yang ia ingin ucapkan.

"Tetapi Bee-heng menderita luka tidak pereuma, aku sebagai kawan karibnya..."

Co Hiong mengejek. Pek Yun Hui meneruskan.

"Telat mencelakakan dia bukan?"

"Jika aku pandai, aku tentu berhasil menolong dia keluar dari pegunungan Ngo Bi San.,."

Kata Co Hiong.

"Jangan bilang "kawan"

Lagi!"

Bentak Pek Yun Hui.

"Betul aku telah berjanji tak saling menyinggung selama satu bulan, tetapi kau harus hati-hati. jika kau berbuat sesuatu yang gilagilaan di Pek Yun Siat ini kau jangan kira kau dapat keluar hidup-hidup dari pegunungan Koat Cong San ini!"

Co Hiong tetap menantang.

"Aku hanya khawatir kau tak mampu membunuh mati aku!"

Bee Kun Bu merasa gelisah, dan ia berusaha meredakan.

"Co-heng telah datang sebagai tamu, Pek Siocia, aku minta kau pandang aku, dan jangan terlampau beringas."

Pek Yun Hui menarik napas dan memperingatkan Bee Kun Bu.

"Aku hanya minta kau berhati-hati terhadapnya, jangan sampai dianiaya lagi!"

Bee Kun Bu yang telah mengetahui wataknya Pek Yun Hui, setelah mendengar peringatan itu, lalu mengawasi Co Hiong, Tetapi Co Hiong masih tetap tenang, dan sambil tersenyum ia berkata.

"Aku dan Bee-heng tetap sahabat sebagaimana sediakala, Aku dengan tak menghiraukan perjalanan yang jauh telah datang menengoki kau. Tetapi Pek Siocia mengucapkan kata-kata yang menusuk hati, sebetulnya apa maksud nya ? Kita di kalangan Bu Lim selalu mentaati

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

janji, bukan?"

Ia sengaja mengucapkan itu untuk mengejek Pek Yun Hui akan janjinya, dan untuk mencegah Pek Yun Hui membuka semua kebusukannya, Lalu Pek Yun Hui tarik tangannya Lie Ceng Loan dan diajaknya keluar Di dekat pintu ia berbalik dan berkata kepada Bee Kun Bu.

"Kau harus berhati-hati. Paling baik kau jangan berlalu dari kamar!"

Bee Kun Bu memperhatikan sikap dan pesannya Pek Yun Hui yang sangat benci Co Hiong, dan iapun menjadi waspada. Setelah kedua gadis itu berlalu, sambil tertawa Co Hiong berkata.

"Bee-heng, kau tak usah khawatir terhadap aku."

Ia berhenti sejenak, lalu menanyai "Kamar ini sangat rapi. Kamar siapakah ini?"

Dengan perasaan malu Bee Kun Bu menjawab.

"Aku telah menderita luka parah, dan telah dibawa ke dalam kamar ini. Kamar ini adalah kamarnya Pek Siocia."

"Jika ia rela mengobati kau di dalam kamarnya, ia tentu telah jatuh hati terhadapmu.,."

Kata Co Hiong menyindir ia berhenti ketika ia melihat sebuah kotak dari batu giok di atas tempat tidur ia berpikir "Di dalam kotak itu pasti tersimpan barang yang berharga, Aku harus mencari akal mengambil.,."

Bee Kun Bu menjadi merah mukanya ketika Co Hiong mengatakan bahwa Pek Yun Hui telah jatuh hati kepadanya, tapi ia tak perhatikan matanya Co Hiong yang menatap kotak batu Giok, ia menjadi bisu sebentar, lalu ia menanya.

"Coheng, Suciku, Liok Giok Pin, sekarang ada dimanakah?"

Co Hiong telah siap dengan jawabannya.

"Dia sedang bersembunyi diluar puncak Pek Yun Siat ini ia mengharapkan kau dapat menengoki dia.-."

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan lagak kecewa. Tapi mungkin ia tak mempunyai harapan itu.,."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Mengapa dia tak mempunyai harapan. Aku dapat segera pergi menengoki dia sekarang juga!"

Kata Bee Kun Bu kemudian Dengan girangnya Co Hiong berkata.

"Dengan melalui banyak rintangan dan bahaya aku datang menengok kau yang menderita luka parah dan maksud ke dua ialah, karena dia minta aku memberitahukan kepadamu bahwa dia ingin menjumpai kau untuk penghabisan kali."

Keterangan yang palsu itu segera terlihat hasilnya Bee Kun Bu nampaknya terperanjat dan menanya dengan perasaan heran.

"Mengapa untuk penghabisan kali?"

Dengan menghela napas Co Hiong berlagak bersedih hati.

"Betul untuk penghabisan kali, jika aku tidak mencegah ia telah membunuh diri!"

Jawabnya, Bee Kun Bu yang kena diabui menjadi sedih. ia tundukkan kepalanya untuk berpikir Kemudian ia ber kata.

"Liong Suci sangat sederhana, Aku minta kau perlakukan dia dengan kasih sayang."

"Sudah tentu! Kau tak usah mengatakannya pula Tetapi aku tak bisa selalu mencegah maksudnya untuk membunuh diri!"

Jawab Co Hiong pura-pura.

"Karena kau, dia telah melanggar peraturan partai Kun Lun, dan melarikan diri mengikuti kau."

Kata Bee Kun Bu.

"Jika dia tidak tergila-gila kepadamu, dia tak akan melakukan perbuatan yang nekat itu."

"Karena dia melanggar peraturan partai Kun Lun dan melarikan diri, dia menjadi ketakutan selalu. Partai Kun Lun yang terkenal sebagai salah satu sembilan partai silat yang sangat dimalui di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini, tentu tak akan memberi ampun kepadanya, Kau sebagai murid partai Kun Lun mungkin juga diperintahkan untuk menangkap dia!"

Berkata Co Hiong. Bee Kun Bu berpikir "Jika aku diperintahkan oleh guru untuk menangkapnya, aku harus melakukannya.,."

Lalu ia

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

berkata.

"Jika guruku memerintahkan aku menangkapnya, aku tentu tak dapat menolak. Tetapi sampai sekarang aku belum diperintahkan untuk menangkapnya, Oleh karena itu, anggap saja aku tidak mengetahui urusan ini. Menurut pendapatku, lebih baik kau lekas-lekas bawa dia pergi!"

"Oh, jadinya kau tidak ingin melihat dia lagi?"

Tanya Co Hiong. Teguran ini menggelisahkan hatinya Bee Kun Bu. ia menjawab.

"Aku minta kau memberitahukan kepadanya bahwa karena satu alasan, aku tak dapat menengoki dia."

"Baiklah,"

Jawab Co Hiong.

"Aku akan beritahukan ini kepadanya sebelumnya ia menghabiskan jiwanya.,."

Ketika itu Lie Ceng Loan telah masuk lagi membawa makanan. ia taruh semua makanan itu didepannya Bee Kun Bu seraya berkata.

"Semua makanan ini dibuat oleh Pek cici, dan dia pesan kau jangan makan terlampau kenyangkenyang."

Lie Ceng Loan mengawasi Co Hiong sejenak, lalu berkata dengan wajan "Pek Cici kata bahwa kau adalah seorang yang jahat, dan aku harus waspada terhadap kau, Tetapi kau baik sekali terhadap Bu Koko, Jika aku tak bersikap ramah lerhadapmu, aku merasa tidak enak."

Co Hiong menyengir dan menjawab.

"Mungkin Pek Cicimu mengatakan hal yang benar. Aku Co Hiong pun tidak suka orang mengatakan aku seorang baik!"

"Jika dia dapat menceritakan perbuatan-perbuatan busuk yang kau telah lakukan, aku baru pereaya perkataan nya. Tetapi sehingga seorang, aku tak dapat melihat kebusukanmu."

Kata Lie Ceng Loan. Sambil membereskan piring mangkok bekas Bee Kun Bu dahar, Lie Ceng Loan menjawab.

"Pek Cici belum pernah berdusta, dan aku harus turuti pesannya!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong tertawa terbahak-bahak dan berkata kepada Bee Kun Bu.

"Hai! Bee-heng, persahabatan kita ini rupanya banyak durinya. Dan Sumoymu yang cantik jelita ini anggap aku sebagai seorang ular berbisa! Rupanya persahabatan kita putus sampai disini! Ha! Ha! Ha!"

Bee Kun Bu tidak menjawab, ia berpikir.

"Kau telah membawa lari Liong Giok Pin. Kau tentu bukan orang yang baik. Tetapi kau pernah menolong aku, d,an aku harus ingat budimu."

Lalu ia berkata sambil tersenyum.

"Sumoyku itu sangat polos, aku harap Co-heng tidak taruh di dalam hati."

Lie Ceng Loan pun berkata.

"Co-heng, jika aku bicara salah, aku minta maaf."

Melihat kasih sayang yang diberikan oleh Lie Ceng Loan kepada Bee Kun Bu, Co Hiong menjadi sangat iri hati, timbullah hatinya yang jahat untuk merenggangkan mereka, Dengan tersenyum ia berkata kepada Lie Ceng Loan.

"Lie Siocia, kau jangan kecil hati, Meskipun kau maki, aku takkan menjadi gusar"

Lie Ceng Loan menjawab dengan senyumnya, lalu ia bawa bekas makanan Bee Kun Bu keluar dari kamar, Kemudian Co Hiong berbisik.

"Bee-heng, apakah kau benar-benar tidak sudi melihat Liong Giok Pin?"

Bee Kun Bu segera bangun dari tempat duduknya dan berseru.

"Jika Liong suci ingin melihat aku, mari kita berangkat sekarang!"

"Aku yakin jika dia melihat kau, dia pasti akan menjadi gembira."

Kata Co Hiong.

"Selama setengah bulan ini, dia senantiasa bermuram dan bersedih Sia-sia aku menghiburkannya, Bee Kun Bu telah dibikin tergerak hatinya.

"Ayo, kita berangkat sekarang juga!"

Katanya mendesak.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Dengan berlagak alim, Co Hiong lalu berjalan keluar dari kamar itu, diikuti oleh Bee Kun Bu, Baru saja mereka berjalan beberapa tindak, Co Hiong tibatiba berhenti dan berkata.

"Harap Bee-heng turun di sini sebentar Sapu tanganku ketinggalan di dalam kamar."

Co Hiong lari dan masuk kembali ke dalam kamar Meskipun Bee Kun Bu menaruh curiga akan gerak-geriknya Co Hiong, akan tetapi ia tak dapat mengetahui maksud Co Hiong yang sebenarnya.

Tak lama kemudian, Co Hiong keluar dari dalam kamar dan menarik tangannya Bee Kun Bu untuk lekas-lekas berlalu.

Mereka berjalan belum jauh, terdengar Lie Ceng Loan memanggil.

"Bu Koko kau berdua hendak pergi ke mana? Aku turuti Bee Kun Bu menoleh ke belakang dan menjawab.

"Aku dan Co Hiong angin pergi menengoki seseorang, dan segera akan kembali Kau jangan ikut!"

Tetapi Lie Ceng Loan sudah datang mengejar, dan ia berkata.

"Bu Koko, kau baru saja sembuh, Jika kau menjadi letih, aku boleh menggendong kau pulang! Co Hiong berkata sambil tersenyum.

"Kau jangan khawatir Jika dia letih, aku akan gendong dia!"

Lie Ceng Loan ingin berkata lagi, akan tetapi ia membatalkan maksudnya. Bee Kun Bu menegur.

"Mengapa kau tidak menjawab?"

"Jika aku menjawab, aku khawatir akan menyinggung Bu Koko,"

Jawab Lie Ceng Loan.

"Hm!"

Kata Bee Kun Bu.

"Aku mengerti, kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tetapi di hadapan Co Hiong kau malu mengucapkannya, Sudahlah."

Lalu Lie Ceng Loan lari kembali dan Bee Kun Bu mengikuti Co Hiong berjalan terus.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah mereka keluar dari lembah dan tiba di suatu tikungan, tiba-tiba Pang Siu Wie loncat keluar dari belakang satu batu besar Mereka terkejut, dan berhenti sambil menegur.

"Siapa...?"

Baru saja Co Hiong ingin menyerang, Bee Kun Bu menahan sambil berkata.

"Co-heng, tahan! Dia adalah kawan kita!"

Ketika Bee Kun Bu berada di puncak Ngo Houw Leng di pegunungan Ngo Bi San, ia pernah menyaksikan Pang Siu Wie dan Lie Ceng Loan bersama-sama menahan seranganserangan musuh, ia masih ingat karena mukanya Pang Siu Wie sangat je!ek.

Co Hiong terpaksa tidak menyerang, dan Pang Siu Wie memperoleh kesempatan untuk mengambil kantong pasir beracunnya, dan berdiri mengawasi Co Hiong.

Sambil menghadapi Bee Kun Bu, ia berkata.

"Bee Siang-kong, lebih baik kau kembali lagi dan beristirahat karena kau baru saja sembuh, Orang ini mengajak Siangkong keluar dengan maksud yang busuk!"

Bee Kun Bu mengerutkan kening seolah-olah berpikir tetapi Pang Siu Wie segera meneruskan sambil tersenyum.

"Bee Siangkong jangan menaruh curiga terhadapku Aku datang atas perintah Pek Siocia dan aku telah menunggu di sini agak lama."

Co Hiong merasa tersinggung, ia berkata.

"Aku adalah kawan karibnya Bee-heng, kau tak perlu turut campur urusan kami berdua..."

Pang Siu Wie, yang sudah diberitahukan oleh Pek Yun Hui bahwa Co Hiong yang busuk itu memiliki ilmu silat tinggi, lalu mundur dua langkah, dan sambil memegang kantong pasir beracunnya, ia mengancam.

"Jika kau berani maju satu tindak lagi, kau akan rasai pasir beracunku ini!"

Co Hiong telah melihat kelincahan wanita yang jelek itu, dan dengan kantong pasir beracun di dalam tangan, wanita itu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

merupakan lawan yang berbahaya baginya, ia yakin ia tak mudah menghindarkan pasir beracun lawannya jika ia disambit Lalu dengan akal bulus ia menoleh ke belakang dan berkata kepada Bee Kun Bu,"Bee-heng, kau lekas-lekas kembali ke kamarmu, Kita berpisah di sini!"

"Tidak,"

Jawab Bee Kun Bu.

"Aku harus tengok Liong Suci!"

Sambil mundur lagi tiga langkah, Pang Siu Wie berkata.

"Bee Siangkong, harap lekas-lekas mundur Dia bermaksud busuk!"

Maksud keji Co Hiong tak tereapai ia berlagak tertawa dan mengawasi Bee Kun Bu, lalu berkata.

"Co-heng ini adalah kawanku, Aku minta Siocia memandang aku, dan kasih kami lewat."

Bee Kun Bu menjadi gusar, dan ia membentak.

"Mengapa aku diperlakukan seperti anak kecil?!"

Tapi kemudian ia berpikir.

"Pek Siocia senantiasa menjagai aku, Tindakan yang dia ambil tentu ada manfaatnya bagiku, jika tidak ada rintangan, dia tak akan menyuruh wanita jelek ini mencegat aku.,."

Tiba-tiba Co Hiong tertawa gelak-gelak dan berkata.

"Bee-heng, waktu ini sangat berharga, jika kita terus menerus menarik urat disini, kita tak akan dapat menjumpai Liong Sucimu, Ayo kita menerjang saja, dan kemudian menjelaskan tindakan ini kepada Pek Siocia..."

Belum lagi habis ucapannya, ia telah meloncat ke depan untuk menyerang Pang Siu Wie dengan jurus Ouw Liong Tiong Tian atau Naga Hitam Melonjak ke langit Tapi Pang Siu Wie bukannya anak kemarin dulu, ia mengegos secepat kilat, lalu meloncat ke samping, ia menjerit "Bee Siangkong, aku minta kau minggir agar aku dapat menghajar manusia keji ini dengan leluasa!"

Co Hiong lekas-lekas pegangi tangannya Bee Kun Bu agar tidak terpisah, dan mengirim lagi tiga jotosan bertubi-tubi untuk membuka jalan,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Dengan demikian Co Hiong dapat membuka jalan, dan ia lari sambil menyeret Bee Kun Bu. Pang Siu Wie mengejar, tetapi ia ditahan oleh suaranya Pek Yun Hui yang mendatangi.

"Jangan kejar! Lekas-lekas kembali Kini di sekitar puncak Pek Yun Siat telah bersembunyi banyak musuh, Bangauku telah dipukul luka oleh orang, dia tak dapat terbang lagi untuk melakukan pengintaian. Na Siocia dan Lie siocia belum berpengalaman Tan Pao dan Siong Yun aku telah suruh keluar membantui. Co Hiong itu tinggi sekali ilmu silat nya, kau tak dapat me-lawannya, Biarlah aku yang mengintai gerakgeriknya."

Baru saja Pang Siu Wie hendak menjawabnya, Pek Yun Hui telah loncat lagi entah kemana.

Melihat cara Pek Yun Hui meloncat, Pang Siu Wie sangat kagum.

ia simpan kantong pasir beracunnya dan jalan kembali ke goa.

Sambil menyeret Bee Kun Bu, Co Hiong berlari-lari sampai lima Iie.

Kemudian ia berjalan dan berkata sambil tersenyum.

"Bee-heng, harap kau maafkan karena aku Sambil lari Co Hiong menyeret Bee Kun Bu. menyeret-nyeret kau. Jika aku tidak menerjang, mungkin kita masih juga tak dapat lewat."

Bee Kun Bu telah merasa bahwa ilmu silatnya Co Hiong jauh lebih maju daripada dulu iapun merasa heran, tetapi ia sungkan menanya, ia hanya mengangguk dan berkata.

Tentu saja aku tak dapat mempersalahkan Co-Heng.

Aku pun ingin lekas-lekas ke sebuah Liong Suciku!"

Sambil menunjuk ke sebuah pohon cemara yang tumbuh diatas sebuah puncak, Co Hiong berkata.

"Dia sedang bersembunyi diatas puncak itu. Ayo kita lari lagi!"

Lalu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mendaki lereng gunung menuju ke atas puncak, Bee Kun Bu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

yang baru saja sembuh dari lukanya segera menjadi letih, dan terpaksa mereka berjalan lagi.

Ketika mereka tiba didekat sekelompok semak-semak Co Hiong berhenti, karena ia melihat ada sesuatu didalam semak belukar itu.

Mereka menghampiri dan betul saja di dalam semak itu ada seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata golok sedang bertiarap.

Co Hiong mengenali bahwa orang itu adalah orangnya partai Thian Liong.

ia loncat dan menyentuh orang itu dengan kaki kanannya, Tetapi ketika orang itu terbalik, ia menjadi terperanjat karena orang itu sudah menjadi mayat!

Bee Kun Bu juga melihat bahwa orang itu terluka, tetapi dari tubuhnya atau mulut dan hidungnya tidak kelihatan darah, Orang itu terbunuh karena bukan senjata tajam, akan tetapi dengan tenaga dalam lawannya!

Co Hiong memeriksa lagi sebentaran, lalu menendang kembali mayat itu ke dalam semak Sambil berpaling kepada Bee Kun Bu ia berkata.

"Dia terbunuh oleh lawan yang memiliki tenaga dalam yang luar biasa tingginya, Coba lihat, diluar tidak kelihatan bekas-bekas pukulan atau darah."

"Guruku pernah mengatakan bahwa, jika orang terluka sehingga tewas, tetapi tidak kelihatan bekas-bekas pukulan atau darah, dia tentu dibunuh mati oleh ilmu pukulan Bian Ciang (Pukulan kapas). Jago silat yang memiliki Bian Ciang itu tentu adalah seorang jago silat yang tinggi sekali ilmu silatnya, Mungkin dewasa ini telah datang banyak jago-jago silat ke puncak Pek Yun Siat?"

Kata Bee Kun Bu.

Lalu ia memandang matanya ke sekitarnya, Diantara jago-jago silat dari kesembilan partai yang terkenal dika)angan Bu Lim memang banyak yang memiliki ilmu tinju Bian Ciang.

sebetulnya ilmu itu tidak berlainan daripada ilmu Judo, Misalnya ilmu tinju Im Kong Ciang (tinju angin puyuh) dari partai silat Kong Tong, ilmu tinju Ciok Yap Ciang (tinju sabetan bambu) dari partai silat Hua San dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sebagainya, Semuanya dapat memukul mati lawan tanpa bekas!

Lalu mereka meneruskan perjalanannya, Tidak lama kemudian mereka tiba diatas puncak dimana tumbuh banyak pohon disamping pohon cemara yang tinggi besar Baru saja Co Hiong ingin mendaki satu goa batu, ia mendengar suara benda beradu, dan ia berhenti Bee Kun Bu yang baru sembuh tidak mendengar suara itu.

ia hanya mengawasi keadaan sekitarnya, dan ia tertegun ketika melihat dua mayat tergantung di cabang pohong ter-ombang-ambing dihembus angin!

Tiba-tiba Co Hiong meloncat ke atas untuk menjambret kedua mayat yang tergantung di cabang pohon itu.

Hanya terlihat ia menjambret dan memeluk satu mayat dengan tangan kirinya, dan melempar ke bawah mayat yang lain dengan tangan kanannya sambil berseru.

"Bee-heng, sanggapi mayat ini, jangan sampai dia jatuh hancur!"

Bee Kun Bu berhasil menyanggapi mayat yang dilemparkan itu, dan ia melihat bahwa kedua matanya mayat itu mencelot keluar, dan lidahnyapun melelet keluar Terang sekali orang itu telah menggantung diri!

Setelah melepaskan mayat yang dipeluknya Co Hiong menghampiri Bee Kun Bu.

ia berkata.

"Dia telah ditotok jalan darahnya, lalu digantung di atas, Setelah itu baru dibebaskan totokannya, kelihatannya dia seperti juga menggantung diri. Hm! Orang yang melakukan ini pandai betuI! "Menurut pendapat Co-heng, mereka ini sudah mati belum lama...

"Belum lama,"

Jawab Co Hiong.

"Aku yakin di sekitar puncak Pek Yun Siat ini segera akan terbit pertempuran yang dahsyat Mungkin juga kita sekarang telah dikurung oleh musuh! Ayo kita lekas-lekas berlalu, Liong Sucimu sedang menantikan kau!"

Bee Kun Bu hanya menurut saja dan berjalan dibelakangnya Co Hiong, Daerah dimana mereka berada sangat

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

lebat dengan rumput dan pohon-pohon.

Tetapi di atas puncak terlihat daerah yang tandus seluas beberapa depa persegi, Co Hiong membungkukkan tubuh dan menjemput tanah merah.

Merah, ia mencium-ciumnya lalu berjalan terus.

Setelah berjalan beberapa langkah lagi.

Co Hiong berkata kepada Bee Kun Bu.

"Segera kita akan menjumpai Liong Sucimu."

Ketika itu Bee Kun Bu melihat sebuah kolam kecil, dan ia berkata.

"Co-heng, mari kita berhenti sebentar untuk mencuci muka di kolam itu."

"Kolam ini dalam sekali, kita harus dapat loncat menyebranginya."

Lalu dengan enteng sekali Co Hiong meloncati kolam yang kecil itu.

Bee Kun Bu merasa kagum melihat ilmu meringankan tubuhnya Co Hiong yang meloncat dengan ilmu It Hok Ciong Thian atau Bangau Sakti Melonjak ke langit iapun menggunakan ilmu Hui Yan Liu Po atau Burung Walet Menyeberangi Ombak, dan dengan satu loncatan yang indah ia berhasil loncat menyeberangi kolam kecil itu, Tiba-tiba Co Hiong membentak.

"Siapakah yang berani menyerang aku dengan curang?"

Lalu ia berbisik kepada Bee Kun Bu.

"Bee-heng! Kita sedang diintai oleh musuh! Mari, lekas-lekas berlalu!"

Lalu iapun berlari ke depan.

Setelah mereka berlari-lari dan telah melewati beberapa pengkolan, mereka tiba di sebidang tegalan rum-put, dan di ujung tegalan rumput itu terlihat satu jalanan sempit di antara dua lereng gunung yang curam, Mereka lari masuk ke jalan kecil itu sampai kesatu batu karang, Tiba-tiba Co Hiong meloncati batu karang itu, dan ketika Bee Kun Bu menyusup Co Hiong sudah tak tampak lagi.

Dibalik batu karang yang besar itu terdapat satu mulut goa yang tingginya lebih kurang tiga kaki, Co Hiong tentu telah

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

masuk ke dalam goa itu, pikir Bee Kun Bu.

Maka iapun berjalan masuk ke dalam goa itu, Co Hiong yang telah pergi menemui Bee Kun Bu di puncak Pek Yun Siat telah lupa membawa senjata, Di dalam goa itu sangat gelap, dan jalannya sukar ditempuh Dengan pengalaman nya, akhirnya Bee Kun Bu berhasil menembusi jalan goa itu dan keluar lagi ke tempat yang terang, Disitu ia menyaksikan Co Hiong sedang berdiri sambil memegangi lingkaran-lingkaran emasnya seolah-olah penuh dengan pikiran.

Melihat sikapnya Co Hiong itu, Bee Kun Bu berpikir.

"Goa ini adalah suatu tempat persembunyian yang baik sekali, jika mulut goa tadi ditutupi dengan semak-semak siapapun tak dapat mencari tempat persembunyian ini. Tetapi apakah yang sedang dipikiri Co Hiong itu? Bukankah aku diajak untuk melihat Liong Suciku? Ah, setelah aku terluka dan tak sadar hampir satu bulan, aku telah menjadi tolol!"

Ia ingin menegur Co Hiong, tetapi ia tak berani, karena dengan wataknya yang luhur dan agung, ia senantiasa tak suka menyinggung orang lain.

ia lebih suka berkorban daripada menyusahkan orang lain.

-ooo0oooBee Kun Bu disangka mencuri Kui Goan Pit Cek Sebetulnya ujung daripada goa itu bukannya satu lembah, tetapi sebidang tanah yang luasnya hanya lima depa persegi dan dikitari oleh lereng gunung yang curam, Bee Kun Bu menghampiri Co Hiong dan menanya.

"Coheng, Liong Suciku ada dimana?"

"Setelah aku mengantar dia sampai disini, aku segera pergi mencari kau. Aku berjanji bertemu disini..."

Jawab Co Hiong, Dengan terperanjat Bee Kun Bu berseru.

"Mengapa dia tidak ada disini?",

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Mungkin dia telah tak sabar menunggu."

Jawab Co Hiong, Bee Kun Bu masuk kembali ke dalam goa dan memeriksa satu kamar dari batu di dalam goa itu, tetapi ia hanya melihat rumput-rumput kering digunakan sebagai tempat tidur, seorang-o!ah baru saja ditiduri...

Dari luar Co Hiong berkata.

"Mungkin dia telah menunggu terlampau lama, Karena merasa lapar, dia keluar mencari makanan, Ayo kita bersama-sama mencari dia! Setelah melihat tiga mayat, Bee Kun Bu menjadi khawatir akan keselamatannya Liong Giok Pin, Atas ajakan nya Co Hiong untuk pergi mencari, ia lekas -lekas keluar dari kamar goa itu.

"Aku telah pesan dia untuk menunggu kedatangan kita disini, Jika dia tidak keluar mencari makanan, mungkin dia pergi ke puncak Pek Yun Siat mencari kita."

Kata Co Hiong.

"Aku khawatir dia menjumpai rintangan..."

Kata Bee Kun Bu.

"Harap Bee-heng jangan terlampau khawatir,"

Berkata Co Hiong.

"Dengan ilmu silatnya, aku yakin dia dapat menjaga diri Meskipun harus melawan seorang jago silat, dia masih dapat meninggalkan tanda-tanda, Coba lihat keadaan disni, bukankah tidak ada yang mencurigakan kita?"

Bee Kun Bu tersenyum dan berkata.

"Aku terlampau khawatir akan keselamatannya, Lagipula aku ada sedikit omongan yang hendak diucapkan kepadamu,.,"

"Apakah itu? Sebutlah!"

Kata Co Hiong, Setelah menarik napas, Bee Kun Bu memulai.

"Sebetulnya Liong Suciku itu sangat disayang oleh Susiokku, tetapi mengapa ia berani melanggar peraturan partai silat kami dan melarikan diri? Co-heng yang telah menyertai dia tentu telah diberitahukan sebabnya mengapa dia melarikan diri, sebetulnya aku tak seharusnya mengatakan ini, karena sama juga menegur Co-heng..."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong terperanjat, tapi ia masih dapat terus bersandiwara, Dengan tenang ia berkata.

"Apakah Bee-heng mencurigai aku yang membujuk dia kabur?"

Sambil menundukkan kepala Bee Kun Bu menjawab.

"Meskipun aku mempunyai anggapan demikian, akupun tak dapat mempersalahkan Co-heng. Dia telah dididik semenjak kecil, dan ia harus mentaati peraturan partai silat Kun Lun!"

"Dengan demikian, Bee-heng pun mungkin sangat benci terhadap perbuatannya itu?"

Tanya Co Hiong, Tidak! Meskipun aku tidak sudi melihat dia berbuat demikian, tetapi aku tidak membenci Bahkan aku akan berusaha minta Susiok mengampuni kepadanya."

Kata Bee Kun Bu.

"Aku hanya khawatir aku tak berhasil Aku berniat minta Pek Susiokku agar supaya memberi ampun kepada Liong Suciku."

"Tetapi dalam soal ini kau harus tanya dia dulu, apakah dia mau kembali ke partai Kun Lun."

Kata Co Hiong.

"Jika dia tidak ingin kembali, siapapun tak dapat memaksanya!"

Ucapan itu mengejutkan Bee Kun Bu. ia mulai insyaf bahwa Co Hiong tak menghiraukan keselamatannya Liong Giok Pin. ia tidak bicara lagi, tetapi Co Hiong meneruskan.

"Selama aku menyertai dia, aku yakin aku tak berbuat sesuatu yang dapat dipersalahkan!"

Sebetulnya Bee Kun Bu ingin menanya dengan maksud apa Co Hiong datang ke puncak Pek Yun Siat, akan tetapi setelah ia mulai melihat kebusukannya, ia batalkan maksudnya untuk menanya, ia hanya berkata.

"Marilah kita pergi mencari Liong Giok Pin..."

Baru saja ucapannya selesai, mereka mendengar suara tindakan kaki orang. Co Hiong berbisik.

"Lekas-lekas bersembunyi di dalam kamar batu!"

Lalu dengan membetot Bee Kun Bu ia meloncat masuk ke dalam kamar Baru saja mereka bersembunyi orang itu telah masuk ke dalam goa. Orang itu berjubah, janggutnya putih dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

bersenjatakan toya bambu, Dia adalah Tu Wee Seng, pemimpin partai silat Hua San.

Dibelakangnya tampak seorang pendeta, berusia lebih kurang lima puluh tahun, janggutnya hitam dan bersenjata pedang, Terdengar Tu Wee Seng berkata sambil tertawa.

"Tojin datang diwaktu yang tepat Aku telah bermufakat dengan pemimpin partai silat Siat San. jika Tojin pun mufakat, maka tenaga kita akan lebih kuat daripada partai silat Thian Liong, Kita tak peduli apakah berita tentang kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu betul atau bohong, kita dapat menggunakan kesempatan ini membinasakan orang-orang yang dikirim oleh partai Thian Liong."

Si tojin menjawab.

"Pendapat Tu Heng aku setuju, Di dalam beberapa tahun ini, partai silat Thian Liong senantiasa meluaskan pengaruhnya dan mendirikan ca-bang-cabang hampir disemua tempat Rupanya mereka ingin menyapu bersih partai-partai silat lainnya, dan menjagoi di kalangan Bu Lim. Akupun telah mendengar bahwa pemimpinnya, Souw Peng Hai siap mengundang jago-jago silat dari kesembilan partai datang ke markas besarnya di sebelah utara propinsi Kwiciu untuk mengadu silat Aku telah tinggal terpencil selama dua puluh tahun, aku tak sangka selama itu telah terjadi perubahan sebesar ini."

Sambil tertawa Tu Wee Seng berkata.

"Tentang niatan mengundang jago-jago silat dari kesembilan partai mengadu silat pedang, akupun telah mendengarnya, karena para pemimpin cabang partai Thian Liong itu selalu mempropagandakan soal tersebut Aku yakin tiap-tiap jago silat yang aktif di kalangan Kang-ouw sudah mengetahuinya."

Mereka bereakap-cakap sambil berjalan dan segera berada di mulut kamar batu,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Kamar yang kecil itu tak ada tempat untuk bersembunyi Bee Kun Bu melihat bahwa Co Hiong sedang mengumpulkan tenaga dalamnya siap sedia bertempur Bee Kun Bu pun menuruti kawannya mengumpulkan tenaga dalam.

Tiba-tiba terdengar Tu Wee Seng menegur dengan suara yang keras.

"Siapa disitu?"

Dan teguran itu disambut dengan suara tertawa gelak-gelak. Tu Wee Seng pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata.

"Ha! Ha! Teng-heng datang tepat! Aku memperkenalkan Tengheng kepada kawan karibku!"

Ketika itu Bee Kun Bu dan Co Hiong berdiri merapat di tembok kamar batu, mereka tak dapat melihat mukanya ketiga orang diluar itu. Tapt"

Mereka dapat mengetahui siapa mereka itu dengan mendengarkan per-ca kapan nya. Terdengar Teng Lee berseru sambil tersenyum.

"To-jin ini apakah bukannya pemimpin dari partai silat Tiam Cong yang terkenal sebagai Poan Thian Yen Hia Totiang (Pendeta yang dapat membalikkan langit)?"

Si tojin tertawa "Janganlah terlampau memuji Aku bernama Hia Yun Hong, tetapi kawan-kawan di kalangan Bu Lim menjuluki aku Poan Thian Yen.

Apakah aku diperkenalkan dengan saudara Teng Lee dari partai Siat San dengan julukan Pek I Shin Kun (Dewa baju putih)?"

Kata tojin itu. Teng Lee juga menjawab sambil tersenyum.

"BetuI, dan kita adalah kawan karib, bukankah?"

"Ha! Ha! Ha!"

Kata Tu Wee Seng sambil tertawa.

"Mengapa masing-masing merendahkan diri, Hia Totiang jarang berkelana di kalangan Kang-ouw semenjak memimpin partai silat Tiam Cong, Teng-heng juga jarang berkecimpung disebelah selatan dari sungai Yo-ciu. Te-tapi kali ini kita beruntung dapat berkumpul Sayang di tempat yang terpencil ini, kita tak dapat merayakan pertemuan ini!"

Hia Yun Hong berkata.

"Aku sangat berterima kasih atas pelayanan Tu-heng. Aku dapat ke propinsi Ciatkiang kali ini

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

karena aku mendapat kabar bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dapat mengajar kita banyak ilmu-ilmu silat yang ajaib, Dan perlu untuk membikin perhitungan dengan Souw Peng Hai yang telah membikin malu kedua Sutee-ku!"

"Aku tak bermaksud memuji ilmu silatnya para jago dari partai.Thian Liong, Hia tojin dengan ilmu silat yang tinggi mungkin juga sukar menoblosi penjagaannya partai Thian Liong. Disamping orang-orangnya dengan bendera-bendera merah, kuning, biru, putih dan hitam adalah orang-orang yang sangat dimalui di kalangan Kang-ouw. Jika Hia tojin datang sendiri menggempur mereka, sama juga masuk ke dalam goa macan. Selama hampir sepuluh tahun, partai silat Thian Liong berusaha menggempur dan membasmi kesembilan partai silat yang terkenal di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini. Jika Hia tojin masih juga berkeras seorang diri pergi menggempur mereka, berarti musuhnya partai Thian Liong berkurang satu, karena aku yakin Hia lojin akan terbunuh."

Kata Tu Wee Seng, Pendapat Tu-heng tepat dengan pendapatku, dan aku minta Hia tojin mempertimbangkan."

Menyambung Teng Lee. Hia Yen Hong berpikir sejenak, lalu ia menanyai "Menurut pendapat Tu-heng, aku harus bertindak bagaimana?"

Dengan perasaan puas Tu Wee Seng berkata.

"Partai Thian Liong selalu bermusuhan terhadap kita, dan tipu muslihat mereka itu lihay, Mereka berusaha memecah belah partai-partai lain, dan kita tak dapat memperingatkan mereka dengan peraturan-peraturan Bu Lim..."

Ia berhenti sejenak, dan rupanya tak ingin meneruskan.

"Apakah Tu Heng ada sesuatu yang sukar diucapkan ?"

Mendesak Hia Yen Hong, Tu Wee Seng tersenyum dan berkata.

"Aku telah berunding dengan Teng-heng. Untuk menghadapi partai silat Tian Liong, kita tak usah menghiraukan peraturan Kang-ouw. Maka kita telah menggunakan kesempatan ini untuk membinasakan semua orang-orang yang dikirim ke pegunungan Koateong San oleh partai Thian Liong!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Hia Yen Hong terperanjat mendengar penjelasan itu, dan ia menanya Teng Lee.

"Bagaimana pendapat Teng-heng?"

Teng Lee menjadi cemas ditanyakan pendapatnya, tetapi sambil menyengir ia menjawab.

"Aku sudah lama tinggal bertapa di puncak Cui-kiat-hong, dan jarang datang ke tanah datar Aku sendiri belum mempunyai keputusan Aku hanya turut saja, Mungkin Hia tojin mempunyai pendapat lain?"

"Selama dua puluh tahun aku tidak pernah berlari dari pegunungan Tiam Cong, oleh karenanya, aku asing terhadap perubahan-perubahan di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini. Aku hanya nurut pendapat kedua sau-dara."

Kata Hia Yen Hong, Harus diketahui bahwa mereka ketiga-tiganya adalah pemimpin partai silat yang terkenal, dan masing-masing sungkan menyatakan maksudnya untuk menganiaya seorang lawan Dalam hatinya Teng Lee dan Hia Yen Hon^ setuju akan maksudnya Tu Wee Seng untuk membunuh mati semua orang-orangnya partai Thian Liong yang dikirim ke pegunungan Koat Cong San.

Dan Tu Wee Seng sudah dapat baca isi hati kedua pemimpin itu, Dalam hatinya ia berkata.

"Hm! Kalian berlagak menjadi orang yang luhur, sebetulnya kalian pun sama busuknya seperti aku!"

Namun ia berkata sambil tersenyum "Karena kedua saudara baru saja keluar dari tempat pertapaan, karenanya menjadi asing terhadap perubahan-perubahan di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini, maka segala tindakan yang kita akan ambil untuk menghadapi partai Thian Liong dapat diserahkan kepadaku."

"Betul!"

Berkata Teng Lee dan Hia Yen Hong berbarengan "Jadinya kedua saudara pun setuju kita membunuh mati orang-orangnya partai Thian Liong yang dikirim ke pegunungan Koat Cong San ini?"

Tu Wee Seng menegasi.

"Betul! Kami setuju siasat ilu!"

Jawab Teng Lee dan Hia Yen Hong,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lalu Tu Wee Seng menjelaskan siasatnya.

"Menurut pendapatku partai Thian Liong telah menyebarkan orangorangnya di sekitar puncak Pek Yun Siat, tetapi sehingga kini mereka belum bergerak Dugaku mereka menunggu datangnya Souw Peng Hai dan pemimpin-pemimpin me-reka. jejakku telah diketahui oleh mereka, Oleh karena itu, aku terpaksa membinasakan beberapa orang-orangnya partai Thian Liong!"

"Orang-orangnya partaiThian Liongbanyak sekali."

Kata Teng Lee.

"Jika hanya beberapa orang terbunuh, kita masih juga menjumpai rintangan!"

"Justru itulah yang aku sedang pikirkan!"

Kata Tu Wee Seng.

"karena mereka berjumlah banyak, kita selalu terbelakang, Kita harus mencari daya untuk mendahului mereka dengan jalan membunuh orang-orangnya yang disebar untuk menjadi mata dan kuping-kuping peminv pinpemimpin partai Thian Liong, Jika kita berhasil dalam usaha ini, kita sudah dapat mendahului pemimpin-pemimpin partai Thian Liong!"

Sambil tertawa Hia Yen hong berkata.

"Bagus! Bagus! Siasat itu bagus!"

Tu Wee Seng meneruskan.

"Dan setelah membunuh mati orang-orangnya, dengan menggabungkan ketiga partai kita, kita membasmi pemimpin-pemimpinnya...!"

Teng Lee memotong pembicaraan "Pendapat Tu Heng meskipun bagus, tetapi kita harus ingat bahwa pemimpinpemimpin partai Thian Liong bukannya anak kemarin dulu, Disamping memiliki ilmu silat yang tinggi, mereka semua berotaL Maka kita harus merancangkan dengan teliti sebelumnya kita laksanakan siasat itu!"

Tu Wee Seng tertawa dan berkata.

"Cara Teng Heng berlainan daripada caraku, Jika kita dapat menjumpai pemimpin-pemimpinnya itu di satu lempat, kita sukar melawan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mereka semua.,., Dan aku akan berusaha memencarkan pemimpin-pemimpin itu. Dalam usaha ini aku perlu bantuan Hia Tojin."

"Sebut saja apa yang aku harus lakukan,"

Kata Hia Yen Hong. Tu Wee Seng menanyai "Bagaimana pendapat kedua saudara tentang tempat kita yang sekarang ini?"

Teng Lee mengawasi keadaan di sekitarnya sebelumnya menyahut.

"Tempat bersembunyi ini baik sekali! Lalu Tu Wee Seng menjelaskan siasatnya.

"Aku ingin menggabungkan tenaga dari ketiga partai silat kita untuk bersembunyi di dalam kamar batu itu. Kemudian kita pasang umpan agar pemimpin-pemimpin partai Thian Liong terpencar lalu Teng-heng dan Hia tojin berlagak bertempur merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek supaya dilihat oleh orangorangnya partai Thian Liong...."

"Siasat yang bagus!"

Kata Hia Yen Hong.

"Pemimpinpemimpin partai Thian Liong setelah mengetahui tentang perebutan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek tentu datang memburu secepat mungkin, dan mereka tak berkesempatan berunding lagi,., Tetapi manakah umpannya ?"

Dari dalam sakunya Tu Wee Seng keluarkan beberapa kitab yang pada kulitnya tertulis dengan nyata empat huruf "KUI GOAN PIT CEK,"

Dan kitab-kitab tersebut ditaruh di dalam sebuah kotak dari batu Giok, Lalu ia berkata.

"Hia Tojin khawatir tidak ada umpannya. inilah umpannya!"

Ia mempertunjukkan kotak batu Giok ini kepada Hia Yen Hong.

Meskipun mereka mengetahui bahwa kitab-kitab itu adalah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu, akan tetapi mereka tertarik juga oleh nama kitab-kitab itu yang banyak jago-jago silat ingin memilikinya.

"Pada tahun yang lalu, dengan kepala mata sendiri aku telah melihat Hian Ceng Tojin dari partai Kun Lun

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

memperlihatkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu, Aku juga sengaja membuat kitab-kitab yang palsu ini."

Kata Tu Wee Seng sambil dengan toya kayunya ia membalik-balikkan lembarannya. Lembaran pertama menuturkan ilmu silat Tai Ki Kian, Tu Wee Seng berkata.

"Meskipun kitab-kitab ini palsu, akan tetapi kitab-kitab ini didapatkan oleh orang yang gemar akan ilmu silat, kitab-kitab ini pasti bermanfaat Hanya jika jatuh di tangan Hia-heng dan Teng-heng, kitab-kitab ini sudah tentu tiada gunanya!"

Lalu ia terus membalik-balikkan lembaran-lembaran kitab-kitab itu. Sambil tertawa Hia Yen Hong berkata.

"Meskipun kitabkitab ini palsu, tetapi rupanya telah tereatat banyak jurus-jurus ilmu silat yang baik, Siapa tahu kelak beberapa puluh tahun kemudian, kitab-kitab ini akan juga dibuat perebutan oleh para jago silat angkatan muda? Ha! Ha! Ha!"

Teng Lee pun tertawa, ia berkata.

"Kata-kata Hia-heng betuL Rupanya Tu-heng telah menggunakan banyak waktu untuk mengarang kitab-kitab tentang ilmu silat ini."

Tapi semua jurus-jurus ini adalah jurus-jurus biasa saja."

Jawab Tu Wee Seng, merendahkan diri, Teng Lee lalu berkata.

"Siasat ini betul baik, tapi jika orang-orangnya partai Thian Liong mengetahui bahwa kitabkitab ini palsu, mereka tentu mengumpulkan orang-orangnya untuk mengejar dan menghajar kita, Lagi pula, jika kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tulen betul berada di dalam pegunungan Koat Cong San, mereka pasti telah memasang jaring yang rapat agar orang tak dapat masuk atau meloloskan diri!"

"Kata-kata Teng-heng beralasan Kita bertempur untuk merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu, sedangkan orang yang bertempur merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tuIen, Bila demikian halnya, bukanlah kita berkorban untuk cuma-cuma saja?"

Menyambungkan Hia Tojin.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Tentang ini akupun telah pikir-kan."

Kata Tu Wee Seng.

"Oleh karena itu, aku minta Hia-heng dan Teng-heng membantu Jika ketiga partai silat kita bergabung, partai silat yang manakah dapat menggempur kita? Selainnya partai Thian Liong yang masih juga dapat melawan, aku yakin tak ada partai silat lainnya berani menggempur kita, Misalnya, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek betul-betul ada di pegunungan ini, dengan ketiga partai kita yang bergabung, Kita dapat merebut kitab-kitab tersebut. Sambil menundukkan kepala dan menarik napas, Teng Lee berkata.

"Aku hanya khawatir jika siasat kita ini gagal, dan kita tak dapat melawan orang-orangnya partai Thian Liong, kita semuanya akan menderita luka parah atau binasa!"

Tu Wee Seng tertawa bahak-bahak dan menghibur "Tengheng, jangan khawatir Aku telah merancangkan bahwa jika kita menggempur orang-orangnya partai Thian Liong yang terpencar, kita pasti dapat menaklukkan mereka, Jika mereka semuanya datang menggempur kita berbarengan kita bakar gunung ini agar semuanya binasa!"

Bee Kun Bu dan Co Hiong yang mencuri dengar pereakapan mereka kemudian tak dapat mendengar lagi karena mereka mulai bicara dengan bisik-bisik, Lalu terdengar terang Tu Wee Seng berseru.

"Baiklah! Kita laksanakan siasat itu, Aku hanya membikin Teng-heng banyak susah!"

Tidak, tidak,"

Kata Teng Lee, Teng-heng dan Hia Tojin sangat baik hati terhadapku, dan aku merasa terhormat dapat memberi bantuan."

Setelah mereka dapat kesetujuan satu sama lain, ketiganya mereka lalu keluar dari goa itu, Sejenak kemudian, Co Hiong berjalan keluar per-lahanlahan dan menyelidiki keadaan diluar kamar batu, Setelah yakin ketiga orang itu sudah berlatu, ia keluar dari kamar, diikuti oleh Bee Kun Bu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Sambil mengerutkan keningnya Bee Kun Bu menanyai "Co-heng, mereka membicarakan tentang partai silat Thian Liongmu...."

"Hm! Apakah Bee Heng mencurigai aku dikirim oleh partai Thian Liong untuk mengambil kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Kata Co Hiong.

"Sama sekali tidak."

Jawab Bee Kun Bu.

"Tetapi mengapa partai silat Thian Liong mengirim banyak orang ke pegunungan Koat Cong San ini?"

"Menurut pereakapan mereka tadi rupanya partai Thian Liongku telah mengirim orang ke puncak Pek Yun Siat ini,"

Kata Co Hiong seorang diri.

"Apakah Co-heng tak tahu menahu?"

Tanya Bee Kun Bu.

"Aku datang dari jauh terutama untuk menengoki kau,"

Jawabnya Co Hiong dengan tenang. Bee Kun Bu menjadi merah mukanya dan ia berkata.

"Aku berterima kasih atas perhatianmu ini. Tetapi akupun heran mengapa Co Heng mengetahui aku dibawa ke puncak Pek Yun Siat?"

Sambil tersenyum Co Hiong berkata.

"Kami dari partai silat Thian Liong mempunyai banyak "kampungdan mata", jangankan jejak Bee Heng, jejak dari tiap-tiap pemimpin partai silat pun diketahui oleh kami!"

Meski hatinya Bee Kun Bu mereda, tetapi ia masih juga menaruh curiga terhadap Co Hiong. ia tak menanya Iagi. Kemudian Co Hiong berkata lagi.

"Ketiga orang itu adalah jago-jago silat yang lihai dan sebagai pemimpin-pemimpin mereka tak akan sembarangan omong, Jika mereka katakan orang-orang partai Thian Liong telah disebar di pegunungan ini aku yakin dan pereaya akan kebenarannya, Aku sebagai salah satu pemimpin partai Tian Liong tak dapat tinggal diam. Bee-heng adalah orang diluar partai Thian Liong. Lebih baik Bee-heng kembali ke Pek Yun Siat, dan jangan turut campur."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Co-heng yang tak menghiraukan perjalanan jauh telah datang menengoki aku. Kini Co-heng sedang menghadapi rintangan mustahil aku dapat tinggal diam? Hanya sayang dan aku sangat menyesal bahwa orang yang hendak dicari oleh partai Thian Liong adalah penolongku... dan Pek Siocia itu selalu menolong aku. Budi kasihnya tak terhingga,"

Co Hiong memotong pembicaraan Bee Kun Bu. Katanya.

"Bee-heng, akupun tidak minta bantuan atau pertolonganmu Tapi aku ada satu pertanyaan, dan aku minta Bee-heng..."

"Sebutkanlah,"

Kata Bee Kun Bu.

"Barusan Tu Wee Seng dan kawan-kawannya telah membicarakan sesuaiu, dan kau sudah mendengarnya,"

Berkata Co Hiong.

"siasat mereka untuk menggempur partai kami kejam sekali, bukan?"

Bee Kun Bu mengangguk.

"Jika aku tidak dengar siasat itu,"

Meneruskan Co Hiong.

"mungkin dalam pertempuran yang akan terjadi, kami partai Thian Liong akan menderita luka atau binasa yang hebat sekali, Mereka bertempur untuk merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Tapi apakah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek berada di puncak Pek Yun Siat? Ai! Kitab-kitab itu sudah makan entah berapa banyak kor-ban..."

Ia berhenti sejenak, lalu menanya.

"Apakah kau ketahui bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tulen itu benar berada di puncak Pek Yun Siat?"

Bee Kun Bu yang luhur budi pekertinya dan jujur, menjawab.

"Aku pernah melihat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, tapi aku tak tahu apakah yang tulen atau yang palsu."

"ltu dia,"

Kata Co Hiong, Tu Wee Seng dan kawankawannya Kui telah datang kesini karena memperoleh kabar bahwa Kui Goa Pit Cek yang tulen ada di sini.

Aku minta kau lekas-lekas kembali beristirahat karena kau baru sembuh, dan juga karena aku tak sudi menyeret-nyeret kau ke dalam kesukaran atau bahaya."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu juga ingin lekas-lekas kembali dan memberitahukan semua ini kepada Pek Yun Hui.

Agar diadapat membikin persiapan Musuh yang akan dihadapi adalah jago-jago silat yang tinggi sekali ilmu silatnya, ia mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat, dan sambil berlalu ia berkata.

"Ya, lebih baik aku kembali Co Hiong mengawasi Bee Kun Bu berlalu, Pikir hati busuknya.

"jalan yang sempit di antara dua lereng gunung itu sangat gelap, Jika aku buntuti dia dari belakang, aku dapat memukul dia mati dengan satu pukulan, kemudian aku lemparkan mayatnya ke bawah jurang, Akupun akan terluput dari segala tuduhan, Lie Ceng Loan tentu menganggap dia terbunuh oleh musuh!"

Dengan maksud yang busuk itu, dengan diam-diam ia membuntuti Bee Kun Bu.

Tapi tiba-tiba Bee Kun Bu berhenti dan berbalik, rupanya ada sesuatu yang ia ingin beritahukan kepada Co Hiong.

Co Hiong terjebak!

Tetapi Co Hiong yang busuk dan penuh tipu muslihatnya itu berlagak tersenyum dan bersemi "Akupun hendak pergi memberitahukan orang-orang dari partai silat Thian Liong!"

Sedianya Bee Kun ku hendak memberitahukan Co Hiong satu urusan, akan tetapi melihat Co Hiong tergesa-gesa seolah-olah betul ingin memberitahukan orang-orang dari partai Thian Liong tentang bahaya yang mengancam, iapun tidak memanggil lagi, Lalu dengan ilmu meringankan tubuh ia lekas-lekas pulang ke puncak Pek Yun Siat, Ketika ia tiba didekat puncak Pek Yun Siat, seluruh tubuhnya basah kuyup dengan keringatnya, ia duduk di rumput untuk beristirahat dan ketika ia bangun ingin meneruskan perjalanannyua, tiba-tiba ia merasa berkelebat bayangan orang, Orang itu adalah Pek Yun Hui.

Dengan suaranya yang agak cemas, Pek Yun Hui menegur "Kau baru sembuh, dan harus beristirahat Apakah kau tidak sayang dirimu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu tidak segera menjawab, ia pandang gadis yang telah berulang kali menolong jiwanya itu, ia hanya tersenyum. Baru saja ia hendak membuka mulut, terdengar orang berseru.

"Dia disini! Dia disini."

Segera empat bujang Na Siao Tiap lari mengurung Bee Kun Bu. Pek Yun Hui menjadi marah melihat sikap empat bujang yang beringas itu, ia membentak.

"Hai! Urusan apakah ini?!"

Seorang bujang yang agak tinggi tubuhnya menjawab sambil membungkukan tubuh.

"Kami dapat perintah dari Na siocia untuk cari laki-laki yang jahat ini, dan kami telah mencarinya dimana-mana agak lama.,."

Pek Yun Hui yang mengetahui bahwa keempat bujangnya gadis itu selalu jujur menanya lagi.

"Untuk apakah Na Siocia mencari dia?"

Sambil menuding Bee Kun Bu, bujang itu berkata.

"Orang laki-laki yang jahat ini telah mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!"

Bee Kun Bu terkejut dan ia berseru.

"Apa? Aku mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?!"

Keempat bujang itu mengawasi Bee Kun Bu dengan sikap menghina. Bee Kun Bu coba membela diri, tetapi Pek Yun Hui mencegah, dan ia menanyai "Sekarang Na Siocia ada dimana?"

"Entah. Setelah kami diberitahukan tentang ilmu Ngo Heng Mie Cong (Langkah ajaib) dia segera pergi mencari seorang diri," -ooo0oooAngin Taufan timbul lagi di pegunungan Koat Cong San

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pek Yun Hui berpikir sejenak, lalu berkata.

"Pergilah kalian cari Na Siocia dan beritahukan padanya bahwa aku ingin menjumpai dia."

Tapi keempat bujang itu saling pandang memandang tidak bergerak Pek Yun Hui membentak "Hei! Aku ingin kalian segera pergi mencari Na Siocia, apakah kalian tidak dengar?"

Lalu bujang yang tertinggi tubuhnya menjawab.

"Na Siocia telah memesannya, jika kami sudah dapat cari orang yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, kami harus segera tangkap dan ikat padanya untuk dibawa kepada Na Siocia."

Melihat sikap yang membandel dari keempat bujang itu, Pek Yun Hui menjadi makin gusar, mukanya menjadi merah. Menampakkan Pek Yun Hui gusar, sambil menghela napas Bee Kun Bu berkata.

"Sabarlah, Cici. Urusan ini kita tak dapat mempersalahkan mereka yang telah diperintahkan oleh majikannya, tentu saja mereka tidak berani menyimpang dari perintah."

Keempat bujang itu merasa senang dibela oleh Bee Kun Bu.

Harus diingat bahwa mereka itu selalu tinggal berdiam di pegunungan mereka tak mengerti tentang urusan diluar, Segala perasaannya yang timbul segera terlihat pada wajahnya, Pek Yun Hui berpikir.

Tak mungkin Bee Kun Bu mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek.

Tapi Na Siao Tiap tentu tak berani berdusta, Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu sangat hebat daya tariknya."

Lalu ia berkata kepada Bee Kun Bu.

"Sebe!um kitab-kitab itu diperoleh kembali, aku kawatir soal ini sukar dijelaskan kepada Na Siao Tiap."

Tapi aku harus pergi kutemui dia untuk menjelaskannya.,."

Jawab Bee Kun Bu, lalu ia memberitahukan soal lain.

"Cici, tadi aku bersama-sama Co Hiong telah pergi ke suatu goa yang jauhnya beberapa belas lie dari sini. Di dalam kamar batu di goa itu, aku telah mendapat dengar bahwa banyak jago-jago

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

silat dari kalangan Kang-ouw telah datang ke pegunungan Koat Cong San, bahkan ke puncak Pek Yun SiaL Aku khawatir pada saat ini sudah ada banyak musuh yang bersembunyi di sekitar daerah ini.

Lagipula mereka yang datang adalah jagojago silat yang lihay sekali ilmu silatnya, Oleh karena itu, aku mohon, Cici membikin persiapan untuk menghadapi mereka."

"Aku telah menduga bahwa para jago silat dari kesembilan partai silat dan dari silat Thian Liong akan datang kesini."

Berkata Pek Yun Hui.

"Hanya aku tak menduga demikian cepatnya, Ketika Na Siao Tiap berada di dalam perjalanan kesini, rahasia tentang kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah tersiar, dan ketika itu dia sendiri tidak menginsyafi bahwa ia memiliki ilmu silat yang amat tinggi, siapapun tak akan dapat menggempur dia. Diapun tak pikir bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang dimiliki akan membikin para jago silat buat perebutan Oleh karena itu dia tidak simpan baik-baik kitabkitab tersebut. Keempat bujangnya meskipun pandai ilmu silat, tetapi tak berpengalaman, mereka mudah tertipu, jika guruku tidak lekas-lekas turun tangan, aku khawatir kitab-kitab tersebut jika betul dicuri orang lain, akan sukar direbut kembali!"

Lalu Pek Yun Hui berkata lagi kepada keempat bujang itu.

"Ayo, kita berangkat menjumpai Na Siocia!"

Bee Kun Bu tak segera berjalan Sambil ge!eng-geleng kepalanya ia berkata.

"KJni musuh-musuh kita sedang bersembunyi di sekitar kita. Cici seorang diri meski telah memiliki ilmu silat yang tinggi mungkin sukar menghadapi mereka, sebaiknya Cici membikin persiapan dulu sebelum kita berangkat!"

Baru saja Pek Yun Hui ingin menyahut, Bee Kun Bu sudah meneruskan lagi.

"Aku tahu bahwa Cici ingin pergi bersamasama aku, karena kau khawatir aku diserang oleh Na Siao Tiap, Tetapi jika Cici menyertai aku, dia akan makin mencurigai aku, dan mungkin juga makin benci terhadap aku. Tentang ilmu silat, dia jauh lebih pandai daripada aku, dia dapat memukul aku silat, aku mati.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Di hadapan Cici, dia tak berani menyerang aku, Namun, aku tak takut menghadapi dia, karena aku tak bersalah Aku tidak mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Ceknya, Kini, yang penting jalan menghadapi musuh-musuh yang sudah mengurung puncak Pek Yun Hui ini."

Pek Yun Hui menghela napas dan berkata.

"Betul, tetapi soal ini kau tak usah khawatir Aku hanya khawatir terhadap Na Siao Tiap, Jika dia terus mentaati pesan ibunya, ia tentu dengar dan turuti kehendakku Jika tidak, aku tak dapat melawan dia, karena ilmu silatnya lebih tinggi daripada ilmu silatku.,."

"ltu juga sebabnya."

Kata Bee Kun Bu.

"Lebih baik aku sendiri yang menjumpai pada nya."

"Baiklah,"

Kata Pek Yun Hui, Tetapi kau harus selalu mengalah."

"Dia telah menolong jiwaku,"

Jawab Bee Kun Bu.

"Asalkan dia tak terlalu menghina aku, aku tentu mengalah."

Pek Yun Hui masih juga memperingatkan.

"Meskipun demikian, sebaiknya kau mengalah."

Dengan khidmat Bee Kun Bu berkata.

"Seorang laki-laki lebih rela dibunuh mati daripada dihina, Soal mati atau hidup, bagiku adalah soal kedua, Aku lebih suka mati sebagai ksatria, daripada hidup dihina orang."

Pek Yun Hui yang biasanya angkuh dan keras tabiatnya, ketika itu menjadi lunak. Dengan lemah lembut ia berkata.

"Kau jangan hanya mementingkan diri sendiri Umpama kau mati, kau tak mengetahui apa-apa lagi, tapi bagaimana dengan Sumoymu, Lie Ceng Loan? semenjak kau terluka, dia senantiasa memikiri kau selalu, jika kau mati, diapun rela akan ikut mati juga!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu tersenyum, dan berkata.

"Cici tak usah terlalu khawatir karena aku, Aku yakin bahwa Na Siao Tiap tidak akan segera menyerang aku sebelum mendengar keteranganku LagipuIa dia tentu akan memandang kepada Cici, Aku berjanji akan bertindak hati-hati untuk mencegah dia menjadi gusar."

"Jika kau dapat berbuat demikian, akupun tidak khawatir lagi,"

Kata Pek Yun Hui.

"Meskipun Na Siocia benci kau, tetapi dia adalah seorang yang baik-baik, dan dia tak akan sembarangan menyerang kau tanpa alasan, Yang membuat aku khawatir ialah sikapmu yang tinggi, Jika kau telah berjanji mengalah, tenteramlah hatiku, Selama dua puluh hari Sumoymu Lie Ceng Loan siang hari malam menjagai aku, Oleh karena itu, kau harus ingat dan perhatikan juga padanya...M justru pada saat itu, dari jauh terdengar suara gemuruh dari lembah.

"Mungkin musuh-musuh kita sudah dekat."

Tegur Bee Kun Bu.

"Cici harus membikin persiapan!"

"Baiklah,"

Jawab Pek Yun Hui.

"Setelah kau menjumpai Na Siocia, kau lekas -lekas kembali."

Lalu ia berlalu. Bee Kun Bu mengawasi penolongnya pergi, kemudian sambil menghadapi keempat bujangnya Na Siocia ia berkata.

"Na Siocia ada dimana? Mari kita pergi menjumpai dia!"

Tanpa jawab keempat bujang itu menggiring Bee Kun Bu pergi mencari Na Siao Tiap.

Mereka berjalan dengan cepat, dan setelah melalui satu pengko!an lereng gunung, mereka tiba disuatu tegalan dimana terdapat dua pohon cemara yang besar Di atas satu dahan pohon cemara itu, Na Siao Tiap duduk sambil memegangi Kimnya dan memandangi langit dengan awan-awan yang berubah-ubah bentuk, setelah mendengar suara ada orang mendatangi, ia menoleh ke arah keempat bujangnya yang sedang menggiring Bee Kun Bu.

ia loncat turun, dan seorang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

bujang maju ke depan dan berkata.

"Na Siocia, laki-laki jahat itu mau mengikuti kami dengan rela dan kami tak usah mengikat dia."

Dengan tenang Bee Kun Bu menjawab.

"Siocia, aku sangat berterima kasih kepada Siocia, karena Siocia telah menolong jiwaku, Tapi perkenankanlah aku bertanya, dosa apakah yang aku telah perbuat sehingga harus dibentak atau dihukum? Dengan menyengir Na Siao Tiap berkata.

"Kau telah curi kitab-kitab Kui Goan Pit Cekku! Apakah itu bukan dosa?!"

Bee Kun Bu tetap berlaku tenang, ia berkata.

"Selain di atas perahu, aku pernah melihat kitab-kitab tersebut, aku belum pernah melihatnya lagi, jika aku mencuri kitab-kitab itu, aku, Bee Kun Bu, tak dapat terima."

Na Siao Tiap makin gusar, ia membentak dengan suara yang lebih keras.

"Dikamarnya Pek Cici, hanya ada kita bertiga, jika bukannya kau yang mencuri, siapa lagi?"

Bee Kun Bu mulai ingat dan insyaf mengapa Na Siao Tiap mencurigai ia.

Ketika ia dan Co Hiong berlalu dari kamar itu, Co Hiong berlagak kembali ke kamar untuk mengambil sapu tangan, Maka ia menanya Na Siao Tiap.

"Na Siocia, apakah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu ditaruh di dalam kamar dimana Siocia mengobati aku?"

Mendengar ucapan bahwa ia mengobati Bee Kun Bu, Na Siao Tiap menjadi merah mukanya, ia hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.

Dengan memukul telapak tangannya sendiri, Bee Kun Bu berkata seorang diri dengan sangat geregetnya.

"Tidak salah lagi tentu dia yang mencurinya!"

"Siapa? Siapa?"

Menanya Na Siao Tiap dengan terperanjat.

"Aku tidak mencurigai Pek Cici!"

Sebetulnya Bee Kun Bu ingin memberitahukan tentang gerak geriknya Co Hiong, Tetapi karena ia hanya menduga

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tanpa bukti, ia sungkan sembarangan menuduh orang, ia menjadi bisu! Na Siao Tiap yang masih terperanjat berkata.

"Pek Cici adalah keturunan ningrat, Tak mungkin dia mau mencuri kitabkitab Kui Goan Pit Cekku, Kau betul-betul seorang jahat Pek Cici demikian baiknya terhadapmu, tetapi kau mencurigai dia yang mencurinya, Hm! Jika tidak ada Pek Cici, kau akan binasa ditanganku, Aku tahu kau ingin merenggangkan kami berdua agar saling ber-tarung! Tetapi aku tidak bodoh, Aku dapat segera melihat tipu musIihatmu!"

Dengan khidmat Bee Kun Bu berkata.

"Betul aku telah menduga ada orang yang mencuri kitab-kitab tersebut, tetapi sebelumnya ada bukti, aku sungkan sembarangan menuduh orang itu. Jika Siocia bertanya kepadaku, aku minta siocia memberikan aku tempo tiga hari, dan aku berjanji di dalam tiga hari menyelidiki pencurinya."

Na Siao Tiap mengejek.

"Jangan kau kira aku dungu memberikan kau tempo tiga hari untuk melarikan diri! Kemudian kau mencari satu tempat yang terpencil untuk belajar dari kitab-kitab tersebut Jika kau lari, bagaimana aku harus mencari kau di dunia yang luas ini?"

"O, jadinya Siocia masih juga menuduh aku yang mencurinya?"

Tanya Bee Kun Bu.

"Jika bukan kau yang mencurinya, siapa lagi?"

Kata Na Siao Tiap.

"Didalam kamar hanya kita bertiga dan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu berada didalam kamar Ketika aku hendak mengambilnya, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu sudah lenyap, dan kau juga tak berada di kamar... Tentu karena aku melihat di kamar tidak ada orang lain, lalu kau curi kitab-kitab itu dan pergi ke suatu tempat yang tersembunyi dan menyimpan kitab-kitab itu disitu..."

"Ketika kami menjumpai dia, ia berada sama-sama Pek Siocia."

Kata salah satu bujangnya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Na Siao Tiap melotot dan membentak.

"Pek Siocia tidak mengetahui bahwa dia seorang yang jahat.,."

Bee Kun Bu membela diri.

"Siocia selalu menuduh aku sebagai pencurinya, sehingga aku tak berkesempatan membela diri, jiwaku Siocia yang to!ong. Nah, apabila Siocia masih anggap aku pencurinya, Siocia dapat mengambil kembali jiwaku ini."

Na Siao Tiap menjadi agak lunak dan ia berkata.

"Meskipun kau bukannya seorang yang baik, tetapi aku yakin kau adalah sahabatnya Pek Cici, aku karena memandang Pek Cici, aku sungkan mengambil jiwamu.,."

Ia berhenti sejenak, lalu sambil menghela napas ia melanjutkan "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu adalah barang peninggalan ibuku.

Lagi pula kitab-kitab itu berisi ilmu-ilmu silat yang luar biasa, Jika kitabkitab itu jatuh di tangan orang yang baik, kita tak usah khawatir Tapi jika jatuh di tangan orang yang jahat dan kejam maka banyak korban akan terjadi."

Dengan tersenyum Bee Kun Bu berkata.

"Jika kau masih saja anggap aku yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cekmu, dan kau khawatir aku telah pelajari isinya untuk melakukan banyak kejahatan di kalangan Bu Lim, ada jalan untuk mencegah aku berbuat sewenang-wenang."

"Jalan apakah?"

Tanya Na Siao Tiap. Dengan tenang Bee Kun Bu menjelaskan "Kau memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, Kau dapat memukul mati kepadaku dan kau segera dapat menghilangkan kecemasan atau kekhawatiranmu."

"Aku pun memang mempunyai pikiran demikian."

Kata Na Siao Tiap.

"tapi setelah aku pukul mati, Pek Cici tentu tak dapat mengampuni aku!"

"Bagaimana jika aku membunuh diri? Bukankah Pek Siocia tak akan menyalahkan kau?"

Kata Bee Kun Bu. Lalu ia berbalik dan berlalu, diikuti oleh keempat bu-jangnya Na Siao Tiap, Setelah ia berjalan lebih kurang lima puluh langkah ia

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

berhenti, dan sambil mengawasi keempat bujang itu ia berkata.

"Keempat Siocia aku minta kalian berdiri sedikit jauh. Aku khawatir darahku membikin noda kalian!"

Keempat bujang itu mundur dan berdiri agak jauh.

Bee Kun Bu berdiri tegak, matanya memandang ke atas langit, dan ia merasa seolah-olah jantungnya tertusuk oleh ujung pedang yang tajam.

ia ingat akan kasih sayang ibu-ayahnya, dan budi kasih gurunya yang telah mendidik ia selama dua belas tahun, ia berpikir "Hari ini aku harus menghabiskan jiwaku untuk kesalahan atau dosanya orang Iain..."

Lalu ia mengerahkan tenaga dalamnya, dan mengangkat tinju kanannya untuk memukul dadanya sendiri Justru pada saat ia angkat tinjunya, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan.

"Bu Koko! Bu Koko!"

Ia tahan maksudnya dan menoleh ke atas jurang didepan-nya, dan melihat Lie Ceng Loan berlari-lari turun dari jurang itu.

Lie Ceng Loan sudah tak menghiraukan segala bahaya atau keselamatan dirinya sendiri, ia lari turun di jurang itu secepat kilat, ia menubruk dan memeluk Bee Kun Bu.

Keempat bujang yang berdiri tidak jauh juga tak mencegah nya.

Baru saja Bee Kun Bu ingat akan perbuatannya yang nekat, ketika terdengar olehnya suara yang ramah.

"Me-ngapa kau harus membunuh diri sehingga Loan moi-moi ketakutan setengah mati?"

Suara itu tak asing bagi Bee Kun Bu.

ia menoleh kebelakangnya Lie Ceng Loan, dan betul saja ia melihat Souw Hui Hong, puterinya Souw Peng Hai.

Gadis itu berpakaian serba putih, Bee Kun Bu terperanjat dan ia berpikir "Siapakah yang meninggal dunia sehingga dia memakai baju putih (berbela sungkawa)?"

Ketika itu sudah hilang kekhawatirannya Lie Ceng Loan, ia berbalik, dan sambil menarik tangannya Souw Hui Hong ia

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menanya.

"Hong Cici, bila kau datang ke pegunungan Koat Cong San? Sudah lama kita tak berjumpa!"

Souw Hui Hong memegang tangannya Li Ceng Loan eraterat dan menanya.

"Urusan apakah membikin dia mengambil jalan yang nekat sampai mesti membunuh diri?"

Ketika ia mengatakan demikian ia mengawasi keadaan disekitarnya. Sambil geleng-gelengkan kepalanya, Li Ceng Loan menjawab.

"Akupun tidak mengetahui, Na Siocia telah mengatakan bahwa Bu Koko mencuri barangnya.,."

Meskipun Na Siao Tiap masih menyatakan gusarnya dengan wajahnya yang beringas, tetapi ia tak berkata sepatah kata.

ia berbalik dan berlalu, Keempat bujang itu tak berani berlalu sebelum dapat perintah dari majikannya, Sejenak kemudian, setelah membelok disuatu lereng gunung Na Siao Tiap tak kelihatan lagi, Keempat bujang itu tetap mengurung Bee Kun Bu.

Tak lama kemudian terdengar suara dari petikan Kim yang nyaring keempat bujang itu segera berlalu setelah mendengar suara petikan Kim itu.

sebelumnya mereka berlalu, seorang bujang yang terkecil berkata kepada Bee Kun Bu.

"Siocia kami telah pandang Lie Siocia, dan dia memberikan kau kesempatan selama tiga hari untuk menyelidiki Nah, kini kau bebas.-"

Mereka berlalu dengan cepat sekali, Bee Kun Bu memperhatikan bahwa cara keempat bujang itu berlalu lebih cepat daripada biasanya ia tampak, merasa heran mengapa dalam jangka waktu yang singkat mereka telah dapat memahami ilmu meringankan tubuh, Tetapi ia tak mengetahui bahwa setelah Na Hai Peng memberikan puterinya makan Leng Tan (pil mujarab) dari Ban Lian Hwee Kui (kura sakti), Na Hai Peng telah memberikan air dari daging kura sakti itu kepada keempat bujang itu, air dari kura sakti itu bukan saja menambah kekuatan bahkan menambah kelincahan tubuh, Lagi pula Na Siao Tiap telah mengajarkan tidak sedikit ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab Kui

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Goan Pit Cek.

Dalam keadaan terperanjat itu Bee Kun Bu telah lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan dua gadis, Tiba-tiba ia dengar orang membeset-beset kain.

ia menoleh dan melihat Souw Hui Hong sedang membeset-beset kain ikatan kepalanya, lalu dilemparkannya di tanah!

Lie Ceng Loan menanyai "Hong Cici, apakah yang kau lakukan?"

Dengan senyuman terpaksa Souw Hui Hong men-jawab.

"Sebetulnya aku memakai putih (berbela sungkawa) untuk satu orang, Tapi ternyata orang itu masih segar bugar, Maka aku tak usah berbelasungkawa lagi."

Lie Ceng Loan hanya tertawa, tetapi ia tidak mengetahui siapa gerangan yang dimaksud Souw Hui Hong.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa gelak-gelak, Bee Kun Bu menarik Lie Ceng Loan dan bertindak mundur tiga langkah ia mengawasi dan melihat Co Hiong sedang loncat turun dari satu pohon cemara.

Souw Hui Hong juga sudah cabut pedangnya siap bertempur Ketika ia melihat yang datang adalah Co Hiong, ia masukkan lagi pedangnya ke dalam sarungnya dan menegur "Ha!

Aku kira siapa, Kau telah membikin kami semua kaget.

Sudah lama aku tak melihat kau.

Kau kemana?

Ayah telah memberi perintah kepada semua cabang-cabang untuk mencari kau."

Sambil tersenyum Co Hiong menjawab.

"Kita telah berpisah agak lama, dan banyak kisah aku harus beritahukan kepadamu Bagaimana kau dan Suhu baik-baik saja?"

"Ayahpun dalam sehat,"

Kata Souw Hui Hong, semenjak ia berpisah dari Co Hiong di pegunungan Ci Lian San, ia tak pernah berjumpa lagi.

Ketika itu Co Hiong telah dihajar oleh Pek Yun Hui sehingga menderita luka di dalam tubuh dan dia akan mati jika Hian Ceng Tojin tidak menolong membebaskan totokan dijalan darahnya, Setelah ditolong, dia tidak mengatakan terima kasih kepada Hian Ceng Tojin.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Dia cemplak kuda ajaibnya untuk kemudian ditolong lagi oleh Kok Gie Taysu, Satu tahun telah lewat, Souw Hui Hong anggap Co Hiong telah meninggal dunia, ia tak menduga bahwa ia berjumpa lagi di pegunungan Koat Cong San, ia sebetulnya ingin menanyakan kisah semenjak mereka terpisah di pegunungan Ci Lian San, akan tetapi dihadapannya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, ia tak berani banyak menanya, Sambil tertawa Co Hiong menanyai "Apakah markas besar partai Thian Liong kita di sebelah utara propinsi Kwiciu tidak terjadi apa-apa?"

"Hweeshio-hweeshio dari kuil Toa Ciok Si di pegunungan Ci Lian San pernah datang ke markas besar kita di propinsi Kwiciu, dan telah berusaha melabrak kita, Tapi mereka telah kita hajar babak belur.,."

Jawab Souw Hui Hong, Co Hiong memotong dan menanya.

"Apakah Su-bo (istri guru) pun baik-baik saja?"

"lbu baik-baik saja. Tiap-tiap hari dia tekun membaca kitab suci dan sungkan menemui orang. Kini akupun tidak diperkenankan mengganggu dia!"

"Suhu dan Su-bo kedua-duanya sehat walafiat,"

Kata Co Hiong.

"Sebetulnya kau ini memakai putih (ber-belasungkawa) untuk siapakah?"

"Siapa bilang aku berbelasungkawa?"

Membentak Souw Hui Hong, Co Hiong tertawa gelak-gelak, tapi ia tak mendesak. Dengan menghadapi Bee Kun Bu ia berkata.

"Bee-heng, mengapa kau tidak sayang diri, Barusan aku lihat kau hendak membunuh diri, Jika kau mati demikian, kau mati konyol!"

"Siocia yang barusan berlalu pernah menolong jiwaku, karenanya aku tidak dapat bertempur melawan dia. Tapi aku

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

pun tidak ingin dihina, jalan satu-satunya ialah aku membunuh diri."

Co Hiong yang hatinya kejam dan busuk itu berpikir.

"Sayang! Mengapa kedua gadis ini kebetulan datang ke sini? Jika mereka datang terlambat sedikit, aku dapat memukul mati kepada Bee Kun Bu, dan orang lain anggap dia mati membunuh diri!"

"Siocia itu menuduh aku mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek-nya dan untuk membuktikan bahwa aku tidak mencuri, hanya dengan jalan membunuh diri aku dapat meyakinkan dia!"

Kata Bee Kun Bu melanjutkan penuturannya.

Sebetulnya Co Hiong sudah lama bersembunyi di atas salah satu pohon cemara dan telah mendengar pereakapan antara Bee Kun Bu dan Na Siao Tiap.

iapun telah simpan baik-baik kotak batu Giok yang berisi kitab Kui Goan Pit Cek itu.

Dengan keyakinan bahwa tak ada orang yang mengetahui perbuatan kejinya, ia berkata dengan tenang.

"Mengapa dia begitu teledor terhadap kitab-kitab yang berharga itu? ini terang-terangan dia menghina kau jika dia menuduh kau yang mencurinya!"

Tapi dia adalah seorang gadis yang jujur, dan ia tak akan berdusta jika dia mengatakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri."

Kata Bee Kun Bu, Dengan berlagak kaget, Co Hiong berkata.

"Ha, jika demikian, kitab-kitab itu betul-betul kau yang curi!"

Kata-kata Co Hiong yang licin itu membikin Bee Kun Bu bingung, karena ia baru saja ingin menanya apakah Co Hiong pernah melihat kitab-kitab itu.

Sikapnya yang palsu itu dapat menutup matanya Lie Ceng Loan yang masih hijau, tetapi tak dapat menutupi matanya Souw Hui Hong yang berpengalaman Dengan suara yang tegas Souw Hui Hong berkata kepada Co Hiong.

"Bee Siangkong adalah seorang yang luhur dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

jujur, Jika dia kata tidak mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, dia tidak berdusta!"

Dengan menyengir Co Hiong berkata.

"Dia tidak berdusta, jadinya siapakah orangnya yang mencuri kitab-kitab itu?"

"Aku kira kau juga tidak dapat mencurinya."

Kata Souw Hui Hong. Co Hiong tertawa dan berkata.

"Bee-heng kini telah datang berkumpul dan bersembunyi banyak jago-jago silat di sekitar pegunungan ini. Betul Na Siocia memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi dia tak berpengalaman Apakah tak mungkin dia telah tertipu, dan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu dicuri oleh orang lain?"

Baru saja Bee Kun Bu hendak berkata, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki.

Mereka semuanya menoleh ke jurusan suara itu, dan melihat dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar memikul satu joli (tandu) dengan dua batang bambu, dan lari mendatangi dengan cepat sekali Ternyata sekali kedua laki-laki itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang lihay.

Souw Hui Hong berseru.

"Mo siok-siok (Paman Mo) juga sudah datang kesini?"

Baru saja ucapannya selesai, segera datang banyak orang ke tempat itu.

Di dalam tandu itu Bee Kun Bu melihat seorang kakek, berkaki satu berpakaian baju biru, rambutnya yang agak kuning jarang sekali dan diikat di atas kepalanya merupakan satu sanggul kecil, Mukanya berwarna kuning licin seperti lilin, Kedua matanya yang celong kelihatan bersinar Co Hiong dan Souw Hui Hong membungkukkan tubuh menghaturkan hormat di hadapan kakek di dalam tandu itu.

Lalu sikakek mendehem dan berkata.

"Kalian berdua sudah tiba dulu, apakah kalian sudah tahu di sekitar puncak Pek Yun Siat ini sudah datang banyak musuh?"

Sambil tersenyum Co Hiong menjawab.

"Angkatan muda dengan tak di sengaja telah mendengar tentang kabar itu. Partai silat Hua San, Siat San dan Tiam Cong telah bergabung

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

untuk menghadapi partai silat Thian Liong kita.

Mereka telah turun tangan, dan berhasrat di dalam jangka waktu setengah hari dan satu malam membasmi orang-orang yang partai kita kirim untuk mengintai Sikakek berkaki satu mendehem, dan berkata.

"Hm! orangorang dari kesembilan partai silat itu makin hari makin bertingkah Aku hari ini datang untuk kasih mereka lihat.,."

Lalu sikakek mempertunjukkan sikap bahwa ia seolah-olah dapat membasmi musuh-musuhnya dengan mudah.

"Jika ketiga partai Hua San, Siat San, dan Tiam Cong bergabung, maka tenaga mereka tak dapat dipandang rendah,"

Kata Co Hiong.

"Mungkin Mo Lo Touw Piauw (Pemimpin partai) seorang diri tak dapat melawan mereka, Apakah Suhuku juga sudah datang?"

Sikakek tertawa bahak-bahak dan menyahut.

"Semenjak aku menggabungkan diri ke dalam partai silat Thian Liong, aku selalu tinggal terpencil selama dua puluh tahun ini. Apakah para jago-jago silat di kalangan Bu Lim sudah lupakan aku.,."

Ketika itu matanya mengawasi sesuatu dihadapannya, ia membentak.

"Hei! siapakah yang mengintip, dan tak berani keluar di belakang batu karang itu!"

Lalu meloncat keluar sambil tertawa gelak-gelak Tu Wee Seng pemimpin partai Hua San.

Dengan toya bam-bunya, Tu Wee Seng berdiri tegak di atas batu karang mengawasi si kakek berkaki satu.

Tiba-tiba, dari dalam tandu, si kakek berkaki satu mengebatkan lengan bajunya, dan melayang keluar untuk menyerang Tu Wee Seng, Bee Kun Bu yang menyaksikan itu terpesona, pikir-nya.

"Kakek ini betul-betul lihay matanya, Dia dapat melihat musuh, dan dia dapat keluar seolah-olah terbang di udara untuk menyerang musuh, Apakah dia tidak mengetahui bahwa Tu Wee Seng si lengan delapan itu adalah satu lawan yang lihay sekali ilmu silatnya? Bagaimanakah dia dapat melawan dengan hanya berkaki satu...?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

-ooo0oooSouw Hui Hong menjumpai Bee Kun Bu di tengah malam Selagi Bee Kun Bu berpikir, si kakek telah turun di atas batu karang hanya tiga empat kaki jauhnya dari Tu Wee Seng, Dan diluar dugaannya Bee Kun Bu maupun Tu Wee Seng.

Si kakek meloncat ke atas lagi dan mundur tiga depa lebih, Lalu sambil tertawa dia menegur.

"Hei! Tu Wee Seng! Apakah kau masih ingat kepada si tua bangka ini?"

Bee Kun Bu terperanjat ketika mendengar si kakek itu menegur Tu Wee Seng.

ia berpikir Tu Wee Seng adalah seorang pemimpin partai silat yang terkenal, dan para jago silat di kalangan Kang-ouw selalu menghormatinya, Meskipun seorang musuh tak akan memanggilnya secara demikian."

Terdengar Tu Wee Seng berkata.

"Jangankan Moi-heng baru kehilangan satu betis dan satu lengan, meskipun kau sudah terbakar jadi abu, aku masih mengenal kau!"

"Aku telah kehilangan satu betis dan satu lengan, tetapi aku yakin aku masih dapat melawan..."

Belum lagi ucapannya habis, tiba-tiba dengan satu betis si kakek meloncat dan menyerang Tu Wee Seng dengan satu jotosan, Caranya si kakek mengirim jotosan membuat Bee Kun Bu sangat takjub, karena jotosan itu dilancarkan dengan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya, ia telah menjumpai tidak sedikit lawan yang lihay, akan tetapi ia belum pernah menyaksikan jotosan yang dilancarkan demikian rupa, Betul saja Tu Wee Seng tidak berani menangkis jotosan itu.

ia mengegoskan diri dengan melompat ke samping, La!u ia menegur.

"Mo-heng selama dua puluh tahun kita tidak berjumpa, mengapa sekali bertemu lalu bertarung?"

Si kakek mengejek.

"Aku si tua bangka keluar lagi dari tempat pertapaan dan terjun ke dalam kalangan Kang-ouw karena ingin mengetahui kepandaian para jago silat dari

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kesembilan partai yang terkenaL."

Dan secepat kilat ia meloncat lagi kedepannya Tu Wee Seng untuk menyerang dengan jotosannya yang bertubi-tubi.

Entah kenapa Tu Wee Seng tidak berani menangkis, Sambil tertawa ia lekas-lekas meloncat mundur mengelakkan jotosan jotosan itu.

Lagi-lagi ia berkata.

"Mes-kipun Mo-heng seorang yang cacat, akan tetapi ilmu silatmu sudah banyak maju, Aku tidak sudi bertempur melawan kau."

Lalu ia berbalik dan lari dengan pesat Si kakek tidak mengejar ia hanya tertawa gelak-gelak mengawasi Tu Wee Seng yang melarikan diri, Lalu dengan suatu gerak tubuh, ia meloncat dihadapannya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

Dengan wajah yang beringas ia menanyai "Hei!

Kalian anak kemarin dulu ini, muridmu rid dari partai silat manakah?"

Bee Kun Bu maju ke depan setindak dengan maksud melindungi Lie Ceng Loan.

Sambil mengerahkan tenaga dalam ia ingin menjawab, tetapi tiba-tiba Souw Hui Hong telah loncat didepannya menghadapi si kakek.

Dengan mementang kedua lengannya dia berkata.

"Mo Siok-siok (Paman Mo), jangan melukai mereka! Mereka adalah kawan -kawanku.

"Hm! Jika mereka kawan-kawanmu, aku dapat memberi ampun!"

Jawab si kakek, Lalu dengan mengebutkan lengan bajunya ia meloncat dan duduk kembali di dalam tandu nya.

Si kakek itu sangat ramah terhadap Souw Hui Hong, dan sebelumnya berlalu, ia masih berkata kepada Souw Hui Hong.

"Aku masih ada urusan penting, Kini kita telah dikurung oleh banyak musuh. Kau harus waspada!"

"Mo Siok-siok, harap jangan menjadi cemas karena aku,"

Jawab Souw Hui Hong.

"Jika aku betuI-betuI menjumpai musuh yang lihay, aku akan meledakkan bom api untuk minta perlolonganmu!"

Si kakek hanya tersenyum, lalu ia ingin berlalu, Tetapi Co Hiong seolah-olah terbang loncat di depan tandu dan berkata.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Mo Lao-piauw-tou (Pemimpin partai Mo), mohon berhenti sebentar Angkatan mudah ada sedikit omongan, Tu Wee Seng adalah seorang pemimpin partai silat yang terkenal, akan tetapi dia mempunyai tipu muslihat yang dapat menjebak kita, Tadi dia berlalu tanpa membikin perlawanan, aku yakin dengan sikapnya itu dia tengah melaksanakan tipumuslihatnya, Menurut dugaanku, mungkin dia sedang minta bantuannya partai silat Tiam Cong dan partai silat Siat San untuk bersama-sama menggempur Mo Lao-piauw-tou. Aku mohon diperkenankan menyertai kau agar akupun dapat membantu bila perlu!"

Si kakek menjawab dengan tenang.

"Sebetulnya seumur hidupku, aku belum pernah minta bantuannya orang lain. Tetapi jika Co Piauw-su (rekan dari markas Co) mempunyai maksud demikian, aku tak dapat menolak!"

Harus diketahui bahwa Co Hiong memegang jabatan penting di dalam partai silat Thian Liong, langsung di-bawah Souw Peng Hai, dan kedudukannya lebih tinggi daripada para pemimpin cabang bendera merah, kuning, biru, putih dan hitam, Meskipun si kakek tidak suka menerima bantuannya, akan tetapi karena kedudukannya Co Hiong hampir setaraf dengan Souw Peng Hai, ia terpaksa menerima tawaran tersebut "Pemimpin-pemimpin cabang partai silat kita sekarang belum tiba semua.

Oleh karena itu Mao Lao-piauw-tou dapat memberi pimpinan untuk menghadapi musuh, Di dalam beberapa hari ini, aku telah memperoleh kabar bahwa musuh telah memasang perangkap, dan jika aku dapat mendampingi Mo Lao-piauw-tou, aku dapat memberi saran jika perlu."

Kata Co Hiong, Mendengar alasan itu, si kakek tersenyum.

"Aku perlu petunjuk-petunjuk karena aku sudah menjadi asing terhadap perubahan-perubahan selama dua puluh tahun ini,"

Kata si kakek itu, Kemudian ia perintahkan kedua penggotong tandu mengangkat tandu dan berlalu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong berkata kepada Bee Kun Bu.

"Bee-heng, kau dapat bereakap-cakap dengan Sumoyku, jika aku telah menjumpai orang yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, aku tentu memberitahukan kepadamu."

Lalu dengan ilmu meringankan tubuh ia lari mengikuti si kakek. Dengan kepala mata sendiri Bee Kun Bu menyaksikan betapa lihaynya Co Hiong meloncat, ia terperanjat Pikirnya.

"Co Hiong itu merupakan teka-teki bagiku, Meskipun aku telah mengenal agak !ama, tetapi aku masih juga tidak mengetahui betul wataknya.,."

Ia dibikin sadar dari lamunannya oleh seruan Souw Hui Hong.

"Hanya dalam jangka waktu setahun lebih, ilmu silatnya sudah maju pesat sekali!"

"Menurut pandanganku suhengmu itu masih memiliki ilmu silat yang lebih lihay Iagi..."

Kata Bee Kun Bu. Souw Hui Hong menjawab.

"Kami menjadi besar dan belajar ilmu silat bersama-sama. Tentang kepandaian silatnya aku tahu betuK Tetapi kini, aku telah menyaksikan kemajuannya, aku belum mengetahui cara bagaimana ia berlatih."

Sambil tersenyum Bee Kun Bu berkata.

"Pemimpin dari partai silat Thian Liong segera akan tiba disini, Aku yakin Souw Siocia masih banyak urusan, Aku dan Loan-moi mohon minta diri."

Lalu ia tarik tangannya Lie Ceng Loan dan berlalu.

Menampak sikapnya Bee Kun Bu yang dingin itu, Souw Hui Hong menjadi sedih.

Dengan tak terasa air matanya mengucur keluar ia membanting kaki seraya berseru.

"Apakah kau tidak ingin mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Seruan itu didengar Bee Kun Bu yang segera berhenti dan berbalik Dengan kedua mata terbelalak Bee Kun Bu menanyai "Souw Siocia, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu erat sekali hubungannya dengan mati-hi-dupku, dan juga bersangkut paut dengan banyak orang lain, Aku minta Souw Siocia tidak pandang remeh soal itu!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Siapakah yang bermain-main dengan urusan yang penting itu?"

Jawab Souw Hui Hong.

"Apa yang aku ucapkan barusan1 keluar dari hati yang iklas, Aku tidak main-main!"

Bee Kun Bu tertarik perhatiannya. ia lepas pegangan tangannya kepada Lie Ceng Loan dan menghampiri Souw Hui Hong. ia menanya dengan sungguh-sungguh.

"Apakah Souw Siocia mengetahui dimana kitab-kitab Kui Goaki Pit Cek itu disembunyikannya?"

Dengan agak mengejek Souw Hui Hong menjawab.

"Hm! Jika kau memerlukan bantuanku, kau menjadi ramah. Tetapi apabila soalnya sudah beres, kau segera berubah menjadi dingin seperti es lagi!"

Bee Kun Bu tersenyum, lalu berkata.

"Aku yakin bahwa aku belum pernah menyinggung perasaan Siocia, Tetapi aku harus memperhatikan juga bahwa kita adalah dari partai ,silat yang berlainan Souw Siocia adalah puteri kesayangan Souw Cong-piauw-tou dari partai silat Thian Liong yang terkenal, dan Siocia sendiri terkenal sebagai seorang Li-hiap (jago silat wanita) yang sangat dimalui. Aku dari partai silat Kun Lun senantiasa terikat dengan peraturan-peraturan yang keras, Jika aku terlalu akrab terhadap Siocia, aku khawatir aku mencemarkan nama Siocia..."

Souw Hui Hong tertawa gelak-gelak dan menjawab.

"O! Kau takut orang lain mencela? Tapi bagaimanakah kata orang lain jika kau demikian akrabnya terhadap Sumoymu sendiri?"

"lni lain soalnya, Kami adalah dari satu partai silat Kun Lun, dan aku yakin orang lain tak akan mencelanya,"

Jawab Bee Kun Bu.

"Baik!"

Kata Souw Hui Hong.

"Bagaimanakah hubunganmu dengan Pek Siocia? Dia bukannya saudari seperguruanmu, tetapi kau telah datang ke tempatnya di puncak Pek Yun Siat ini!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Aku berhutang budi terhadap Pek Siocia,"

Kata Bee Kun Bu.

"Pek Siocia telah menolong jiwaku... Lagi pula antara aku dan Pek Siocia masih ada banyak soal yang aku tak dapat jelaskan kepadamu Terhadap Pek Siocia, aku selalu menghormatinya lebih dari itu tidak, Jika orang berpendapat lain, akupun tak dapat mencegahnya."

Lalu dengan wajah yang sedih Souw Hui Hong menanya dengan bernapsu.

"Mustahil kau tidak menghiraukan pertolongan-pertolongan atau bantuan-ban-tuanku terhadapmu???"

Air matanya mengucur semakin deras. Lie Ceng Loan menghampiri Souw Hui Hong seraya menghibur.

"Bu Koko adalah yang berbudi luhur, jika dia pernah menyinggung Cici, aku yakin perbuatannya itu tidak disengaja, Aku minta Cici tidak buat pikiran."

Dalam kesedihannya itu Souw Hui Hong merangkul Lie Ceng Loan dan menangis di atas bahunya dengan tersedusedu, Bee Kun Bu pun terharu, dan untuk sementara waktu ia berdiri terpaku sebagai patung!

"Aku tak dapat menyalahkan Bu Kokomu..."

Kata Souw Hui Hong sambil menangis.

"semua... semua ini... adalah... kesalahanku sendiri!"

Tetapi Cicipun tidak salah.,."

Lie Ceng Loan menghiburnya, Dengan senyuman yang dipaksa Souw Hui Hong berkata.

"Urusan ini kita bicarakan nanti Aku sekarang harus lekaslekas menolong Bu Kokomu mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek karena jika terlambat, aku akan tak berdaya mencarinya lagi!"

Lalu ia lari menyusul si kakek dan Co Hiong. Tetapi Bee Kun Bu mengejar dan menahan padanya.

"Souw Siocia, dimana kau hendak mencarinya ? Aku akan menyertai kau untuk mencari-nya."

"Aku bukannya akan bertempur melawan musuh, Kau tak perlu menyertai aku!"

Berkata Souw Hui Hong, ia berpikir

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sejenak, lalu meneruskan.

"Ayahku telah memanggil semua pemimpin-pemimpin cabang untuk berkumpul di puncak Pek Yun Siat ini, dan maksudnya ialah untuk merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. sekarang telah tiba beberapa jago-jago silat dari partai Thian Liong-ku, tetapi jago-jago silat yang tingkat atas belum tiba, Ayahku bersama-sama pemimpin-pemimpin cabang bendera lain-lainnya mungkin akan tiba malam ini, Kelima pemimpin-pemimpin dari partai Thian Liongku semuanya memiliki ilmu silat yang tinggi, terutama pemimpin pemimpin dari bendera kuning dan biru. Jika kau menjumpai mereka, paling baik jangan melawan."

"Si kakek yang berbetis dan berlengan satu tadi bukankah jago silat dari partai Thian Liong?"

Tanya Bee Kun Bu.

"Dia adalah pemimpin cabang bendera biru,"

Meneruskan Souw Hui Hong.

"Jangan kira dengan satu betis dan satu lengan dia itu satu lawan yang enteng. ilmu silatnya lihay sekali. Hanya ayahku yang mengetahui akan kepandaiannya ketika dia turut menggabungkan diri ke dalam partai Thian Liong-ku, Selama sepuluh tahun lebih, pimpinan cabang bendera biru agaknya menjadi lowong, dan banyak sekali jago-jago silat yang menginginkan jabatan tersebut, akan tetapi selalu ditolak oleh ayahku, dan tidak seorang yang mengetahui bahwa pemimpin bendera biru itu masih ada. Pada kira-kira dua tahun berselang, ayahku telah memanggil berkumpul semua pemimpin-pemimpin cabang serta para jago silat dari masing-masing cabang ke suatu rapat Si kakek yang bereacat itu juga hadir Ketika itu akupun mendampingi ayahku, dan aku telah diperkenalkan kepada semua pemimpin-pemimpin dan jago-jago silat dari partai Thian Liong, dan aku baru mengetahui bahwa si kakek itu telah menggabungkan diri semenjak dibentuknya partai Thian Liong, Karena dia telah dianiaya orang sehingga kehilangan satu betis dan satu lengannya, dia segera pergi bertapa di suatu pegunungan yang terletak di dekat markas besar partai Thian Liong untuk menyembuhkan luka-lukanya, sebab itu maka dia telah tidak muncul muncul hampir dua puluh tahun,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Oleh karena itu para silat di kalangan Kang-ouw telah lupa akan dia.

Tapi aku melihat bahwa pemimpin-pemimpin cabang lain semuanya menghormati si kakek itu, dan aku yakin ilmu silatnya lebih tinggi daripada mereka.

Kemudian dari ayahku aku mengetahui bahwa dia memiliki ilmu silat Im Hian Bo Po (llmu tenaga dalam yang ampuh).

Dan aku minta kau jangan coba melawan dia!"

Bee Kun Bu mendengarkannya dengan perhatian sambil di dalam hatinya berpikir "Betul! Tu Wee Seng yang lihay juga gentar terhadap si kakek itu..."

Lalu ia berkata. Terima kasih untuk peringatanmu. jika aku menjumpai si kakek itu, aku tentu bersikap waspada.,"

Sambil tersenyum Souw Hui Hong berkata.

"Jika kau sudi memperhatikan omonganku, legalah hatiku, Nah. kau dan Sumoymu lekas-lekas pulang, Malam ini kira-kira jam dua kita dapat berjumpa lagi disini."

Lalu ia berbalik dan lari mengejar si kakek dan Co Hiong, Bee Kun Bu berdiri mengawasi Souw Hui Hong berlari-lari mengejar kawan-kawannya, Lalu ia berpaling kepada Lie Ceng Loan seraya berkata.

"Mari kita pulang!"

Lie Ceng Loan mengangguk dan tersenyum, dan sambil berpegangan tangan mereka berjalan pulang, Ketika mereka tiba di jalan yang menuju ke atas puncak Pek Yun Siat, mereka jumpai seorang laki laki yang berjubah abu-abu tengah mengintai-intai ke arah Iembah.

Bee Kun Bu segera mengenali bahwa orang itu adalah orang yang pernah bertempur melawan ia diluar kota Yaociu, Hanya kini orang itu menyelubungkan mukanya dengan sutera jarang yang berwarna hijau.

Namun bekas bacokan di pipi kirinya masih terlihat Mungkin juga sutera yang jarang itu untuk menutupi cacat di pipinya.

Ketika melihat Bee Kun Bu, orang itu segera datang menghampiri sambil berkata.

"Aku disuruh menyambut

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kaliandisini. Pada waktu ini disekitar puncak Pek Yun Siat ini telah bersembunyi banyak musuh, Kamu seharusnya jangan berkeliaran disini. Ayo ikut aku puIang!"

Mendengar ucapan itu, Bee Kun Bu mengerti bahwa Pek Yun Hui tidak memberitahukan orang itu alasan mengapa ia keluar dari goa. Maka ia talu menjawabnya.

"Kami juga tengah berjalan pulang!"

Sebetulnya orang itu adalah bekas pengawal istana yang ditawan oleh Na Hai Peng untuk menjaga Pek Yun Hui di puncak Pek Yun Siat, dan bernama Tan Poa.

Semenjak ia tinggal dipuncak Pek Yun Siat, ia telah dapat banyak pelajaran ilmu silat dari Na Hai Peng dan Pek Yun Hui, karena itu ia juga dapat bertempur melawan segala jago-jago silat kelas satu di kalangan Kang-ouw.

Setelah mereka tiba di goa, mereka terus masuk ke dalam kamar batu, Kamar batu itu sebetulnya tidak ada namanya, Tetapi Pek Yun Hui telah berikan nama Tian Ki Cong Hi demi peringatan Tian Ki Ctn Jin yang pernah menggemparkan kalangan Bu Lim pada tiga ratus tahun yang lalu.

Setibanya di kamar, Pang Siu Wie telah menunggu diluar, Sambil tersenyum ia berkata.

"Pek Siocia dan Na Siocia sedang berunding di dalam kamar Ayo, kalian masuk ke dalam!"

Bee Kun Bu memperhatikan bahwa Pang Siu Wie masih terus memegangi kantongnya yang terbuat dari kulit menjangan yang berisikan pasir beracun, dan tangan kirinya memegang satu golok yang dua kaki panjangnya, ia berpikir "Dengan dia ditugaskan sebagai penjaga, sukar sekali musuh dapat menerobos masuki Bau harum menusuk hidung ketika mereka masuk ke dalam kamar, Pek Yun Hui mengenakan baju hijau muda dan celana panjang yang berwarna hijau tua, bertali pinggang putih dan mengikat rambutnya erat-erat.

wajahnya sangat keren dan cemas,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Na Siao Tiap duduk menghadapi Pek Yun Hui.

iapun mengikat kepala, berpakaian putih, Ketika melihat Bee Kun Bu, ia segera melengos!

Bee Kun Bu merasa sakit sekali hatinya diperlakukan demikian tapi ia bersabar dan menelan kemendong-ko!annya, ia sangat tersinggung, dan ia lekas-lekas keluar dari kamar itu.

Tetapi keempat bujangnya Na Siao Tiap mengejarnya.

Xa berdiri siap sedia menjaga diri, Keempat bujang itu segera lari menjaga pintu, Lie Ceng Loan yang tak mengetahui persoalannya segera menanya.

"Bu Koko, apakah kita perlu menerjang keluar?"

Belum lagi Bee Kun Bu menjawab Pek Yun Hui berkata kepada Na Siao Tiap. Tiap Moi-moi mengapa kau masih terus memperlakukan dia demikian? Apakah sudah pasti kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dia yang curi?"

"Meskipun belum pasti dia yang curi, akan tetapi dia telah berjanji mencari kitab-kitab itu di dalam tempo tiga hari."

Berkata Na Siao Tiap.

"Dan karena aku pandang Cici dan Lie Moi-moi, aku telah lepas dia. Selama dia masih berada di puncak Pek Yun Siat aku masih dapat mengawasi dia. Jika dia kabur aku akan tak berdaya mencari dia lagi!"

Pek Yun Hui menghampiri Bee Kun Bu dan menanya dengan ramah.

"Jika kau tidak mengambil kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, mengapa kau berjanji mencarinya di dalam tempo tiga hari?"

"Na Siocia terus menuduh aku yang mencuri kitab-kitab tersebut, dan memaksa aku mengembalikan Aku berhutang budi terhadapnya, karena dia telah menolong jiwaku, Aku tak dapat segera mengembalikan kitab-kitabnya, dan akupun sungkan melawan dia, maka terpaksa aku berjanji demikian Aku tidak menduga Lie Sumoy juga datang mencari aku.,."

Tapi jika betul kau tidak mencurinya, kau hanya perlu menjelaskan Kau tidak dapat sembarangan berjanji kata Pek Yun Hui.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Jika aku berjanji mencari kitab-kitab itu dalam tempo tiga hari, akupun berjanji dengan keyakinan Na Siocia kitab-kitab itu dia taruh di dalam kamarnya, orang-orang yang pernah masuk disamping Cici dan aku, masih ada seorang yang aku curiga!"

Kata Bee Kun Bu.

"Apakah orang itu Co Hiong?"

Tanya Pek Yun Hui.

"Aku curigai ia, tetapi aku belum dapat membuktikan"

Jawab Bee Kun Bu. Dengan gemas Pek Yun Hui berseru.

"Betul dia! Tidak orang lain, pasti dia! Aku sekarang juga akan pergi mencari dia!"

"Malam ini jam dua, Souw Hui Hong berjanji menjumpai aku di atas puncak Pek Yun Siat,"

Berkata Bee Kun Bu.

"dan dia menyanggupi mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu kepadaku!"

"Tapi Co Hiong yang pintar busuk itu tidak dapat di pereaya, diapun tak akan rela mengembalikan kitab-kitab itu!"

Kata Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu menarik napas panjang, lalu menundukkan kepalanya, ia agaknya kehilangan akal.

Melihat Pek Yun Hui membela Bee Kun Bu, Na Siao Tiap menepuk tangan sekali, dan segera keempat bujang-nya datang berdiri di belakang ia.

Sambil memandang ke arah Na Siao Tiap, Bee Kun Bu berkata lagi.

"Na Siocia masih juga mencurigai aku. Salah faham ini sukar dijelaskan ke padanya. Aku harus mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dan kembalikan kepadanya Jika usahaku ini berhasil, aku dan Lie Sumoy akan segera kembali kepegunungan Kun Lun."

"Kau harus ketahui bahwa di sekitar pegunungan ini telah bersembunyi banyak musuh. Kau tak dapat berlalu tanpa rintangan Meskipun Na Moi-moi masih mencurigai kau, akan tetapi aku yakin lambat laut dia dapat insyafakan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kesalahannya.

Malam ini aku akan menyertai kau menjumpai Souw Hui Hong.

Aku ingin melihat apakah dia betul-betuI berniat mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu.

Nah, sekarang kau dapat beristirahat di dalam kamar di sebelah barat."

Kata Pek Yun Hui. Bee Kun Bu tak berani menolak, iapun lekas-lekas masuk ke dalam kamar yang ditunjuk itu. Sambil menghadapi Lie Ceng Loan, Pek Yun Hui berkata.

"Kau juga tentu letih, kau dapat beristirahat di dalam kamarku."

Lie Ceng Loan tidak segera berlalu, ia menanya.

"Mengapa Na Cici masih juga membenci Bu Koko?"

Pek Yun Hui tersenyum, lalu dengan ramah ia menjelaskan "Dia telah terlalu dipengaruhi ibunya yang menganggap semua orang laki-laki tidak ada yang baik, Tereurinya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu hanya menambah kecurigaannya terhadap orang laki-laki.

Tapi kelak aku yakin dia akan insyafl"

Lie Ceng Loan juga tersenyum dan ia berkata.

"Cici sangat bijaksana, Aku pun yakin bahwa Na Cici akan melihat keketiruannya kelak,"

"Kau jangan khawatir Jika aku masih ada, Bu Koko-mu tak akan dibiarkan menderita lagi,"

Kata Pek Yun Hui. Lalu ia panggil Tan Pao dan menyuruhnya memberitahukan kepada Pang Siu Wie untuk menjaga mulut goa dengan waspada.

"Jika musuh tidak masuk ke kamar Tian Kie Ciok Hu, aku tak akan pedulikan musuh-musuh itu, Biarlah mereka setelah saling bunuh membunuh dulu baru dapat mencari kita di dalam kamar Tian Kie Ciok Hu!"

Kata Pek Yun Hui kepada Lie Ceng Loan. Tan Pao tidak perlu diberitahukan dua kali, ia segera lari dan bersama-sama Pang Siu Wie menjaga mulut goa.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Entah kapan terdengar suara siulan yang panjang di sekitar puncak Pek Yun Siat, tetapi Tan Pao dan kawankawannya telah dipesan bahwa jika musuh tidak datang menyerang kamar Tian Kie Ciok Hu, mereka jangan memperdutikannya.

Mereka berdiri diam di tempatnya, Meskipun suara siulan itu terdengar berulang kali, akan tetapi mereka tak melihat musuh yang mendatangi Ketika hampir jam dua malam, Bee Kun Bu keluar dengan membawa pedangnya, Setelah beristirahat, iapun merasa segar sekali Pang Siu Wie yang telah diberi petunjuk oleh Pek Yun Hui tidak menghalangi ia berlalu.

Malam itu cuaca agak gelap, karena awan hitam menutupi bulan, Angin gunung meniup-niup daun-daun pohon, Bee Kun Bu melihat keadaan di sekitarnya, tetapi ia tidak tampak Pek Yun Hui menyertai ia.

Dengan ilmu meringankan tubuh ia berlari-!ari menuju ke tempat dimana ia berjanji menjumpai Souw Hui Hong.

Karena ia selalu memikirkan akan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang akan dikembalikan, maka ia berlari dengan pesat sekali, dan segera tiba di tempat yang dijanjikan Malam yang gelap gulita itu menyukarkan Bee Kun Bu melihat keadaan di sekitarnya meskipun hanya dua depa jauhnya, ia menunggu tidak lama ketika mendengar suara orang berlari-lari, Lalu terdengar suara yang gembira menegur ia.

"Aku tidak menduga kau betul-betul datangi. Bee Kun Bu yang sudah tidak sabar itu lalu menanya tanpa melihat orangnya lagi.

"Souw Siocia, apakah sudah dapat mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Ketika itu Souw Hui Hong hanya berdiri terpisah beberapa kaki jauhnya dari Bee Kun Bu. ia menyahut.

"Meskipun hari ini aku belum berhasil mencari kitab-kitab itu akan tetapi besok tentu aku akan berhasil mencarinya, Walau bagaimanapun, aku tak akan gagal di dalam tempo tiga hari."

Bee Kun Bu menjadi kecewa, ia berkata.

"Sebetulnya aku tidak memaksa Siocia untuk mencari kitab-kitab itu. Aku

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menghaturkan banyak terima kasih atas bantuan Siocia, Hawa di atas puncak ini sangat dingin, dan Siocia tak harus berdiam lama-lama di sini, Lagi pula sebagai salah satu pemimpin partai silat Thian Liong, Siocia tentu masih mempunyai banyak urusan yang harus dibereskan Aku tidak berani membikin Siocia berabe lagi, dan aku minta diri!"

Lalu iapun lari pergi Souw Hui Hong sangat tersinggung akan sikapnya Bee Kun Bu yang adem itu.

ia mengejar dan mencekal pundaknya Bee Kun Bu.

Cengkeraman gadis itu diluar dugaannya Bee Kun Bu, dan ia tidak menjaga, sehingga jalan darahnya di-pundaknya tersumbat ia berhenti dan berbalik Dengan tersenyum ia menanyai "Souw Siocia, mengapa kau harus menotok jalan darahku?"

Souw Hui Hong yang masih merasa gusar membentak Hm! Aku belum pernah menyinggung kau, tapi mengapa kau perlakuan aku demikian rupa?"

Bee Kun Bu terperanjat dan menanya.

"Souw Siocia, kapan aku pernah menyinggung kau, dan kapan aku bersikap tak perdulikan terhadap Siocia?"

Souw Hui Hong berbalik terperanjat, karena ia tak dapat berpikir kapan Bee Kun Bu pernah menyinggung padanya. ia berdiri bengong, Lalu Bee Kun Bu menghibur.

"Partai silat Thian Liong sekarang sangat kuat, dan aku dari partai silat Kun Lun, meskipun tidak mempunyai dendam terhadap partai silat Thian Liong, akan tetapi karena keadaan, aku tak dapat turut campur urusan partai silat Thian Liong, Souw Siocia yang telah berlaku baik terhadap aku, dan yang telah berulang kali membantu aku, budi yang maha besar ini aku tak akan lupakan Bila aku ada kesempatan aku pasti membalasnya."

Sambil bicara Bee Kun Bu berusaha membebaskan jalan darahnya yang tersumbat dipundaknya dengan menggunakan tenaga dalam nya. Souw Hui Hong yang mendengar

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

penjelasan yang ikhlas itu, air matanya tak tahan lagi keluar mengucur. ia berkata.

"Disebelah barat propinsi Sucoan kau pernah menolong jiwaku, dan dengan demikian kau telah membalas budiku, Aku tidak seharusnya menyalahkan kau! aku harus menyalahkan diri sendiri..."

Lalu iapun berbalik dan berlari pergi entah kemana!

Bee Kun Bu tertegun melihat sikap yang ganjil dari Souw Hui Hong, Tiba-tiba terdengar lagi suara orang memaki dibarengi dengan suara tertawa dan mengejek Suara tersebut makin lama makin dekat.

Ketika kilat berkeredep, dari tempat jauh Bee Kun Bu dapat melihat si kakek berbetis dan berlengan satu duduk didalam tandu yang digotong oleh dua orang, dia dicegat Tu Wee Seng dan satu orang yang bertubuh kecil dan pendek, berjubah putih, bertali pinggang merah dan berjenggot seperti jenggotnya kambing gunung, Yang berjubah putih itu adalah Teng Lee, pemimpin partai silat Siat San.

Ketika Bee Kun Bu dan Co Hiong berada di dalam kamar goa, ia pernah mendengar bahwa pemtmpin-pe-mimpin ketiga partai silat Hua San, Siat San, Tiam Cong telah bermufakat berserikat untuk menggempur partai silat Thian Liong.

Tapi ketika itu ia berada di dalam kamar, dan tak dapat melihat wajahnya Teng Lee, Dalam cuaca yang gelap itu ia merasa bahwa banyak orang sudah berada disekitarnya.

Tiba-tiba suara guntur mendobrak suasana yang sunyi tetapi seram itu!

justru pada saat itu, Bee Kun Bu disentuh pundaknya oleh Pek Yun Hui dari betakang, Pek Yun Hui berbisik "Jangan bersuara, ikut aku bersembunyi Pada dewasa ini aku telah lihat banyak sekali jago-jago silat disekitar kita, Ayo, kita bersembunyi dan menonton mereka bertempur!"

Dengan matanya yang luar biasa awas Pek Yun Hui dapat melihat dengan tegas segala apa dimalam yang gelap itu, ia tarik tangannya Bee Kun Bu, dan jalan ke sebuah pohon

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

cemara yang besar Kemudian dengan tenaga dalam ia meloncat ke satu dahan yang kuat sambil menarik Bee Kun Bu.

Di atas dahan pohon itu mereka duduk bersembunyi di balik daun-daun pohon yang lebat, Sebentar-sebentar mereka mendengar suara gaduh dari mereka yang bertempur dan suara orang menjerit karena menderita luka parah, Ketika Bee Kun Bu sedang mendengarkan suara-suara itu tiba-tiba ia mendengar Pek Yun Hui yang duduk di sampingnya menyodok tinjunya ke belakang.

Lalu ia mendengar suara cabang pohon yang diinjak dan suara tersentuhnya daun-daun.

Co Hiong telah da-tang, dan ia berkata.

"Hei, kalian berdua juga datang ke sini? Kita harus waspada, karena jika orang tahu kita berada di atas pohon ini kita tak dapat menonton lagi."

Baru saja Pek Yun Hui ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara tawanya Tu Wee Seng yang berkata.

"Hei, kakek Mo! Kau sekarang telah terkurung! Hanya jika kau dapat terbang ke atas langit, kau baru dapat meloloskan diri! Demi kepentinganmu sendiri, kau lebih baik bunuh diri saja daripada harus dibunuh kami!"

Si kakek menjawab sambil mengejek.

"Apakah kau kira kau menipu aku dengan tipu muslihatnya? Ha! Ha! Aku hanya khawatir kau tak dapat keluar dari lembah ini!"

Lalu terdengar suara orang yang menjerit-jerit, memaki dan suara pertempuran yang hebat.

Dengan suara yang gaduh itu Pek Yun Hui mengirim jotosan dengan tangan kirinya ke tempat dimana Co Hiong bersembunyi dengan menggunakan tenaga dalam Tian Kong Cit Shing Kong, Tetapi jotosan itu sangat mengecewakan Pek Yun Hui.

Co Hiong tidak kelihatan mengegos, dan juga tidak menangkis, Hanya daun-daun pohon jatuh berserakan!

Setelah keheranannya lenyap, ia mengerahkan tenaga dalamnya lagi sambil berpikir "Bagaimanapun kelicikanmu, jika

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

malam ini kau tidak mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, kau jangan harap dapat hidup!"

Terdengar Co Hiong berkata, suaranya rendah.

"Rupanya di sekitar tempat ini sudah datang banyak jago-jago silat, Siocia jangan sembarangan menyerang orang lain! Barusan jika tidak karena suara yang gaduh di sekitar kita, mungkin seranganmu itu dapat menerbitkan onar!"

Pek Yun Hui berpikir "Hai! Manusia ini betul-betul licik!"

Lalu ia menegur.

"Aku tidak pedu!i keadaan di sekitar ini. Kau jangan pikir dapat melarikan diri!"

"Kau tak usah khawatir Meskipun kau biarkan aku melarikan diri, akupun tak dapat lari sekarang,"

Jawabnya Co Hiong, agak mengejek sebetulnya ketika Pek Yun Hui terheran-heran mengapa serangannya tak berhasil, Co Hiong telah meloncat ke atas dahan pohon dimana Bee Kun Bu duduk, dan dengan demikian Bee Kun Bu duduk di antara Co Hiong di sebelah kanan dan Pek Yun Hui di sebelah kiri.

Oleh karena itu Pek Yun Hui tak dapat menyerang Co Hiong lagi.

Setelah kilat berkeredep dan guntur menderu-deru dengan hebat, maka turunlah hujan yang besar sekali, dan mereka tetap duduk di atas dahan pohon, Apakah hujan telah menghentikan pertempuran atau kedua belah pihak tengah mengatur siasat, entahlah, Tetapi selama setengah jam tidak terdengar suara pertempuran lagi.

Setelah hujan berhenti, langit menjadi agak terang dengan keluarnya bulan, Selama setengah jam itu, Pek Yun Hui menganjurkan Bee Kun Bu mengumpulkan tenaga dalamnya, -ooo0oooSi Kakek melawan dua jago-jago silat Karena terangnya sinarnya bulan, maka terlihat banyak orang di sekitar pohon cemara itu, bahkan terlihat juga tujuhdelapan orang yang bersenjata tengah siap sedia, Ketika tadi

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

hujan turun dengan derasnya, kedua belah pihak telah memanggil kumpul orang-orangnya. Lalu terdengar Tu Wee Seng tertawa gelak-gelak sambil berkata.

"Hei, Kakek Mo! Barusan hujan besar sekali, Mengapa kau tidak melarikan diri? Kini kau tak dapat melarikan diri lagi,"

Lalu dengan mengangkat toya bambunya ia berkata kepada Teng Lee.

"Teng-heng, si kakek yang cacat itu adalah Mo Lun, dengan julukan Ngo Tok Sauw (lblis beracun) yang pernah menggemparkan kalangan Kang-ouw dahulu, Dua puluh tahun berselang, aku dan kawan-kawan dari partai silat Siau Lim dan partai silat Bu Tong pernah berserikat menggempur dia. Meskipun dia terluka, dia masih berhasil melarikan diri dari kepungan kami. Selama dua puluh tahun ini, dia mengasingkan diri, kiraku dia sudah mati, Dia memiliki banyak senjata rahasia, terutama senjata Siat-Ciam (Jarum beracun) yang dapat dilepaskannya beberapa puluh sekaligus, Maka kita harus waspada menggempur dia!"

Mo Lun hanya menyengir mendengar penjelasan Tu Wee Seng kepada kawannya Lalu ia mengancam.

"Siat-bi-ciam tidak lihay, Malam ini kalian dapat merasai Ngo Tok Shin Ciang (Tinju maut beracun) yang aku telah dapat pelajari!"

Tu Wee Seng berkata lagi kepada Teng Lee.

"Aku tidak menduga bahwa si kakek ini juga datang membantu partai silat TianLiong. Jika kita tidak basmi dia sekarang, dikemudian hari kita sukar mencari tempat yang bebas dari kekhawatiran!"

Dengan tenang Teng Lee menjawab.

"Ditempat pertapaanku, akupun pernah dengar julukan Ngo tok Sauw itu. Malam ini aku beruntung bisa menguji silat, Nah, Tu-heng kau gempur dia dulu, dan aku akan menggempur di dalam taraf kedua!"

"Ha! Menggempur si kakek ini tidak dapat kita mentaati peraturan Kang-ouw..."

Kata Tu Wee Seng,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Belum lagi habis Tu Wee Seng bicara, tiba-tiba Mo Lun meloncat keluar dari tandunya dan menjotos Tu Wee Seng dengan tinju kanan nya.

Tu Wee Seng menjerit dan lekas-lekas menangkis jotosan itu dengan toya bambunya, lalu menyapu kepala lawannya, Mo pun loncat kebelakang menghindarkan diri dari sapuan toya bambu itu, lalu melonjak ke atas untuk menyergap lawannya dari atas, Tu Wee Seng angkat toya bambunya melindungi kepalanya lalu meloncat mundur dua tindak untuk mengemplang si kakek bila dia turun ke tanah, Tetapi belum lagi si kakek menginjak tanah, dengan satu geprakan ke arah tubuhnya Tu Wee Seng, ia dapat meloncat ke belakang lagi dan jatuh berdiri di atas satu kakinya, Geprakan itu hebat sekali, Tu Wee Seng terkejut ia lekas-lekas mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan semangat nya.

Mo Lun mengejek "Hei!

Tu Wee Seng, cobalah terima jotosan lagi!"

Lalu secepat kilat ia meloncat dan menjotos lawan nya.

Tu Wee Seng pada dua puluh tahun yang lalu telah bersama-sama seorang jago silat dari partai Siauw Lim dan seorang jago silat dari partai Bu Tong menggempur Mo Lun, bahkan dapat melukainya, Ketika itu ia yakin bahwa ia tak dapat melawan Mo Lun seorang diri, Kini ia diserang dengan jotosan lagi, ia tidak berani menangkis, ia mengegos, lalu mengemplang berkali-kali lima kali dengan toya bambunya, Lima kemplangan itu merupakan keistimewaan dari jurus-jurus Hut Mo Cong (llmu toya iblis) dan berhasil menggagalkan jotosan-jotosan nya Mo Lun.

Teng Lee yang menonton pertempuran itu merasa heran mengapa Tu Wee Seng selalu terdesak ia berpikir.

"Bukankah Tu Wee Seng itu pemimpin dari partai silat Hua San yang terkenal? Mengapa dia tidak berani menyerang terus? Apakah dia jeri?"

Tetapi ketika ia melihat Tu Wee Seng menyerang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dengan jurus-jurus Hut Mo Congnya, ia berpendapat lain.

"Jurus-jurus Hut Mo cong itu betul-betul lihay!"

Lalu iapun keluar membantu dengan menjotos punggungnya Mo Lun dari belakang dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Hembusan angin dari jotosan itu seolah-olah angin taufan yang menyapu ombak.

Tu Wee Seng merasa girang, melihat Teng Lee datang membantu, ia segera menyerang lagi lawannya, Satu sodokan yang hebat ditujukan ke dadanya Mo Lun.

Mo Lun yang disodok dadanya dari depan dan dijotos punggungnya dari belakang, ditambah pula dengan keadaan tubuhnya yang cacat, rupanya tak berdaya meng-egosi serangan-serangan itu.

Tapi sambil menyengir, ia lekas-lekas menjatuhkan diri, dengan demikian jotosan dari belakang maupun sodokan dari depan terhindar!

Tu Wee Seng tarik kembali toya bambunya lalu dengan jurus Kim Cian Teng Hai atau jarum emas menenteramkan lautan, ia tusuk Mo Lun yang berharap di tanah.

Tapi jotosannya Teng Lee yang dikerahkan dengan seluruh tenaga dalam nya, setelah menjotos angin, rupanya tak dapat ditahan dan ia terjerunuk ke depan!

Tu Wee Seng yang ingin menusuk lawannya dengan jurus Kim Cian Teng Hai terpikir menggunakan lengan kirinya menangkis jotosan Teng Lee dan dengan tangan kanannya ia menusuk Mo Lun.

jotosan yang ditangkis oleh Tu Wee Seng telah membikin kedua belah pihak terpental sedikit, karena jotosan maupun tangkisan dikerahkan dengan tenaga yang besar sekali, justru pada saat itu, Mo Lun dapat kesempatan untuk bangkit dan melonjak ke atas untuK jatuh beberapa depa jauhnya dari mereka.

Tu Wee Seng terkejut, ia berpikir "Hai!

Si kakek ini hanya dengan satu kaki dan satu lengan dapat melawan aku berdua Teng Lee.

Aku harus lebih waspada."

Lalu ia ambil satu kantong besi dari kantongnya,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sebetulnya setelah gagal menjotos Mo Lun.

Teng Lee ingin mengejar dan menyerang lagi.

Tetapi ketika ia melihat Tu Wee Seng tidak mengejar, ia menjadi curiga, ia berpikir di kalangan Kang-ouw, Tu Wee Seng terkenal sangat licik, Apakah dia ingin menggunakan aku untuk bertarung mati-matian melawan Mo Lun, sedangkan dia sendiri menonton?"

Tu Wee Seng yang melihat sikapnya Teng Lee segera dapat menebak isi hatinya, ia memperingatkan. Teng Lee kita jangan bertempur melawan dia dengan semberono, Hati-hati terhadap Siat Bi Ciamnya..."

Belum habis kata-kata itu diucapkan tiba-tiba sambil tertawa gelak-gelak Mo Lun meloncat maju dan menjotos Tu Wee Seng lagi!

Dengan menjatuhkan diri, Mo Lun berhasil menghindari kedua serangan itu.

justru pada saat itu dari tempat yang tidak jauh berkelebat keluar suatu benda yang mengkilap dari semak belukar, dan menyambar kearah Mo Lun, dan terdengar suara orang berseru.

"Tu-heng! Teng-heng! Lekas-lekas mundur! jangan tangkis Ngo Tok Ciangnya!"

Tu Wee Seng segera mencelat ke atas sampai tiga depa tinggi nya f dan dari atas ia menyambit dengan kan-cing besinya sambil turun menerkam dengan jurus Cong Eng Ki Yan atau Burung Garuda Menerkam Burung Walet, Tetapi dengan tenang Mo Lun tangkap senjata rahasia yang menyambar dari semak-semak dan yang merupakan satu pisau be!ati, dan dengan pisau belati iiu.

Mo Lun terus menyerangnya dan dalam keadaan terdesak Tu Wee Seng melancarkan Hut Mo Cangnya dan berhasil mengemplang terpental pisau belati di tangannya Mo Lun.

Bee Kun Bu yang menonton sambil tersenyum merasa kagum menyaksikan pertempuran itu yangdilakukan dengan ilmu silat yang lihay, ia memandang kepada Pek Yun Hui yang segera berkata.

"Ya, mereka semua adalah jago-jago silat yang memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya, Sabar saja,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mungkin kita masih dapat menyaksikan pertempuran yang lebih hebat."

Pada saat itu sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa gelak-gelak, demikian nyaringnya sehingga menggetarkan Bee Kun Bu menoleh ke bawah lagi dan di bawah sinarnya bulan ia dapat melihat Souw Peng Hai, pemimpin dari partai silat Thian Liong datang menghampiri diikuti oleh Ouw Lam Peng, pemimpin cabang bendera merah, Yap Eng Ceng, pemimpin cabang bendera putih, dan keempat iblis yang selalu mendampingi Souw Peng Hai.

Ketika itu Teng Lee dan Tu Wee Seng juga telah melihat bahwa orang-orang dari partai Thian Liong telah menjadi lebih banyak daripada pihaknya.

Dengan satu isyarat dari Tu Wee Seng, Teng Lee meloncat berdiri disamping Tu Wee Seng, menghadapi Souw Peng HaL Dengan mengejek Souw Peng Hai membentak "Aku menjadi heran mengapa partai Tian Liong sering-sering harus bertempur melawan partai Hua San dan partai Siat San!"

"Mungkin dunia ini sempit, maka kita sering-sering berjumpa!"

Jawab Tu Wee Seng.

"Mungkin juga,"

Kata Souw Peng Hai.

"dan untuk membereskan semua ini, aku mempunyai usu!, sebetulnya partai Thian Liong kami kelak akan mengundang para jago silat dari kesembilan partai di kalangan Bu Lim untuk mengadu silat. tetapi partai Hua San dan partai Siat San rupanya selalu bermusuhan terhadap kami. Oleh karena itu, malam ini kita dapat mendahului pertemuan tersebut, dan mengadu silat sekarang!"

Sebelumnya Tu Wee Seng atau Teng Lee menjawab, terdengar satu suara yang nyaring menjawab sambil mengejek.

"Aku telah mendengar nama Souw Cong Piauw Tou yang terkenal, dan aku selalu mengaguminya! Tetapi malam ini aku telah menjumpai sendiri dan melihat dengan kepala mata sendiri watak Souw Peng Piauw Touw dan aku menjadi kecewa. Yang terkenal bijaksana itu hanya seorang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

yang tergila-gila dengan nama, Ha! Ha! apakah Souw Cong Piauw Touw anggap malam ini dapat menaklukkan kami? Belum tentu!"

Souw Peng Hai menoleh ke arah orang itu, dan melihat dari semak belukar berjalan keluar seorang pendeta yang berusia setengah abad, bersenjata pedang, berjubah, brewokan dan seram wajahnya, pada waktu itu ia tak dapat mengenali pendeta itu, dan ia ingin menanya, Tetapi Yap Eng Ceng berkata, suaranya keras.

"Di kalangan Kang-ouw telah tersiar kabar bahwa Sia Totiang yang memimpin partai Tiam Cong telah pergi bertapa di pegunungan Tiam Ciong San, dan selama dua puluh tahun ini tidak terdengar lagi, Tapi malam ini kita beruntung dapat bertemu disini!"

Sia Yun Hong tertawa dan berkata.

"Yap-heng adalah satu jago silat yang termashur, tetapi bagaimana dapat menggabungkan diri dengan partai Thian Liong, dan rela diperintah orang lain? Aku betul-betul menjadi kecewa!"

Ejekan tersebut sangat menyakiti hatinya Yap Eng Ceng, dan dalam hatinya ia memaki.

"Bangsat! Sebentar lagi kau rasai hadiahku!"

Telapi dengan wajah tersenyum ia menjawab.

"Sia-heng selalu bersikap congkak, dan selalu menganggap partai Tiam Cong yang paling jempol di antara kesembilan partai silat lainnya, Aku harus menggabungkan diri jika tidak ingin diperlakukan se-wenang-wenang oleh partai silat yang lain."

Sia Yun Hong mengejek lagi.

"Oh! jadinya Yap-heng betulbetul rela bernaung di bawah perlindungan orang lain-.?"

Bukan main pedasnya ejekan tersebut hingga Yap Eng Ceng menjadi merah sekali mukanya. Baru saja ia ingin menyerang ketika sia Yun Hong bicara terhadap Souw Peng Hai.

"Aku sangat mengagumi cara Souw Cong-piauw-louw menakluki para jago silat.,."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Sia Totiang pandai bicara, tetapi tiap-tiap perkataan menusuk hati orang lain."

Kata Souw Peng Hai.

"Malam ini kita dapat bertemu, dan kesempatan ini dapat kita gunakan untuk mengadu silat, karena aku ingin mengetahui kelihayan silat Tiam Cong yang tekenal!"

Sia Yun Hong tidak menjawab ia mengawasi kawankawannya dengan maksud agar mereka siap sedia untuk bertempur Latu ia berkata.

"Jika demikian kehendak Souw Cong-piauw-touw, akupun tak dapat menolak. Tetapi kita harus bertempur dengan perjanjian Jika aku kalah melawan toya Souw Cong-piauw-touw, aku segera berlalu dari pegunungan Koat Cong San.,."

Souw Peng Hai tertawa gelak-gelak dan berkata.

"Jika aku si tua bangka kalah melawan pedang Sia To-tiang, aku segera bubarkan partai Thian Liong, dan aku akan pergi bertapa disuatu pegunungan dengan syarat bahwa aku tak keluar lagi selama Sia Totiang masih hidup!"

"Nah, itulah syaratnya!"

Kata Sia Yung hong.

"Silah-kan Souw Cong-piauw-touw mulai du!u!"

Baru saja Souw Peng Hai ingin menyerang dengan toyanya, tapi Ouw Lam peng membentak.

"Cong-piauw-touw! Sabar!"

Souw Peng Hai menanya.

"Apa yang dibuat sabar lagi?"

Ouw Lam Peng berkata.

"Cong-piauw-touw adalah pemimpin kita, Biarlah aku yang memberi hajaran kepada pendeta yang congkak ilu."

Souw Peng Hai berpikir "Maksud kita ialah mencari kitabkitab Kui Goan Pit Cek. Sia Yun Hong mungkin tidak mudah dikalahkan, dan mungkin aku harus menghamburkan banyak waktu mengalahkan dia."

Lalu ia mengawasi Mo Lun. Mo Lun mengerti maksudnya Souw Peng Hai. De-ngan sekali loncat ia berdiri diatas satu kaki didampingi Souw Peng Hai. ia berkata.

"Souw Cong-piauw-touw dapat melaksanakan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kehendaknya Ouw-heng, Urusan ini aku dapat bereskan bersama-sama Ouw Lam Peng!"

Lalu Ouw Lam Peng angkat kedua arit bajanya dan maju menentang Sia Yun Hong.

"Aku siap menguji kepandaian Sia Totiang!"

"Ha! Ha! Aku khawatir kau tak dapat menahan tiga tusukan pedangku!"

Kata Sia Yun Hong, mengejek Ouw Lam Peng yang terkenal di kalangan Kang-ouw dan yang dapat menggunakan kedua arit bajanya dengan lihay sekali, bahkan dapat dikatakan tak ada tandingannya dan telah membunuh atau melakukkan banyak jago-jago silat, menjadi murka sekali diejek demikian Baru saja ia ingin menyerang, tiba-tiba ia ingat dan berpikir "Mungkin dia sengaja membikin aku marah sehingga aku tak dapat mengendalikan semua pikiran dan semangat karena kegusaranku, Aku harus waspada melawan bangsat ini!"

Lalu ia mundur tiga langkah dan berkata dengan senyuman terpaksa.

"Sia Totiang adalah pemimpin suqtu partai silat yang terkenal, sedangkan aku. Ouw Lam Peqg, hanya seorang pemimpin kecil yang tak terkenal jika aku kalah, aku tidak terlalu ma!u. Telapi jika kau kalah melawan aku, apakah kau masih ada muka menjadi pemimpin lagi?"

Dengan tenang Sia Yun hong menjawab.

"kita jangan tarik urat lagi! Kau cobai tiga tusukan pedangku!"

Lalu dengan pedang terhunus ia berdiri tegak mengawasi lawan nya. Ouw Lam Peng juga berdiri siap sedia dengan satu arit baja menjaga atas, dan arit baja lainnya menjaga bagian bawah, ia menantang.

"Silahkan mulai!"

"Kau boleh menyerang dulu agar kau tidak penasaran jika kalah!"

Kata Sia Yun Hong yang terus mengejeknya.

"Ha! Ha! Mengapa seorang pemimpin tak dapat dipegang omongannya?"

Berkata Ouw Lam Peng.

"Barusan kau mengatakan akan menusuk aku, tetapi sekarang kau menyuruh aku menyerang lebih dulu... Ha! Ha! Betul-betuI

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

lucu! Jika aku tidak ingin menyerang, kau boleh berdiri terus menghadapi aku sampai delapan atau sepuluh hari."

Sebetulnya kedua belah pihak ingin mengulur waktu untuk mencari kesempatan baik melancarkan pukulan yang mematikan Ketika itu Souw Peng Hai telah memimpin Yap Eng Ceng dan keempat iblis berlalu dari tempat tersebut Mo Lun telah berdiri menjagal Tu Wee Seng dan Teng Lee sambil mengumpulkan tenaga dalamnya, dan Tu Wee Seng dan Teng Lee juga sedang mencari siasat membasmi lawanlawannya.

seperempat jam telah berlalu dalam suasana tegang itu.

Tu Wee Seng tiba-tiba mengawasi keadaan di se-kitarnya, dan mengetahui bahwa tempat dimana mereka berada telah dikurung oleh orang-orangnya partai silat Tian Liong, ia berkata kepada Mo Lun.

"Hei! Kakek Mo! Jika kau tidak bubarkan orang-orangmu, aku terpaksa membunuh mereka semua!"

Mo Lun tertawa dan berkata.

"Hm! Tu Wee Seng! Apakah kau kira kau dapat lolos dari sini?"

"Jangan omong besar!"

Kata Tu Wee Seng.

"Meski-pun kau kurung aku dengan tembok baja, aku masih dapat loIos!"

Lalu ia serang Mo Lun dengan toya bambunya, Mo Lun meloncat ke belakang menghindari serangan ilu, lalu ia batas mengirim jotosannya, Tu Wee Seng sudah berniat menangkis jotosan itu.

Seteiah serangan toyanya gagal, dengan lengan kirinya ia menangkis jotosannya Mo Lun sambil menjerit Tang-kisan itu dikerahkan dengan seluruh tenaga dalamnya dan dapat merobohkan gunung, dan ketika itu berhasil menangkis jotosannya Mo Lun.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Mo Lun tersenyum, lalu mengirim lagi jotosannya.

Kali ini jotosannya lebih menghebat!

Tu Wee Seng segera merasa bahwa jika ia menangisnya lagi, mungkin tinjunya akan menjadi remuk!

ia Ickas-lekas loncat ke samping mengegos dari jotosan maut itu!

Tetapi Mo Lun mengancam sambil tertawa.

"Hei! Tu Wee Seng! Rasai jotosan Ngo Tok Ciangku ini!"

Terlihat tubuhnya condong ke depan ketika jotosan itu ia kirim dengan tenaga Ju Lek Tonya, Tenaga dalam lunak tetapi dahsyat Baru saja Tu Wee Seng hendak mengegos lagi, tiba-tiba terdengar Teng Lee loncat menerkam Mo Lun dari belakang!

Meskipun Mo Lun memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, ia terpaksa berbalik menangkis terkaman dari belakang yang curang itu, dan membatalkan maksudnya menjotos Tu Wee Seng, ia melonjak ke atas, jotosan yang dikerahkan dengan tenaga Ju Lek To berlainan daripada jotosan-jotosanyangdilancarkan oleh para jago silau Kelihatannya lunak, akan tetapi hembusan anginnya saja dapat menumbangkan sebuah pohon, jika jotosan itu ditangkis, maka orang yang menangkisnya akan terluka atau terbunuh, Untung bagi Tu Wee Seng, Teng Lee telah datang menolong dari belaka ng.

Setelah Mo Lun jatuh lagi di tanah, ia harus menghadapi dua lawan yang lihay, Berkali-kali ia melancarkan Ngo Tok Ciangnya, tapi selalu gagal ia menginsyafi bahwa ia tak dapat menaklukkan lawa n-1 awan nya, maka ia lalu mundur Dipihak Tu Wee Seng dan Teng Lee juga boleh dikatakan mereka beruntung nyaris dari kebinasaaa sebetulnya Tu Wee Seng telah merencanakan untuk memancing semua jago-jago silat dari partai Thian Liong ke jalan yang menuju ke goa batu, Lalu jalan ke goa itu ditutup dengan batu-batu gunung yang besar, dan dari atas lereng gunung ia akan melemparkan daun-daun kering yang dibakar kepada musuh-musuhnya.

Akan tetapi pihak partai Thian Liong lebih pintar ia dan kawankawannya dipancing datang ke tempat tersebut di atas untuk

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dikurung dan menghadapi lawan-lawan yang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi seperti Mo Lun, Setelah berhasil menolong Tu Wee Seng dari jotosannya Mo Lun, Teng Lee terus menatap Mo Lun yang setelah meloncat mundur memejamkan matanya seolah-olah sedang mengumpulkan atau memulihkan tenaga dalamnya, Segera ia mengetahui bahwa Mo Lun itu telah terluka karena telah terdampar oleh hembusan angin tinjunya, ia berkata kepada Tu Wee Seng.

Tu-heng, si kakek itu betul-betul lihay, Kita harus lekas-lekas bereskan dia selagi dia menderita luka!"

"Maksudmu serupa maksudku,"

Jawab Tu Wee Seng, lalu sekonyong-konyong ia menjerit dan datang menyerang Mo Lun.

"Hei! Kakek Mo, rasai toya bambuku ini!"

Serangannya itu dilancarkan dengan jurus Hiap San Cauw atau Sungai Deras menerjang Ke Laut, Tapi Mo Lun hanya menyengir, dan dengan mengejutkan lengan bajunya ia elaki toya bambu lawannya, Tu Wee Seng mengemplang lagi, justru gerak itu yang dikehendaki oleh Mo Lun.

ia mengegos dari kemplangan itu, lalu loncat ke belakang lawannya untuk menjotos punggungnya, Gerak itu semua dilakukan secepat kilat Tu Wee Seng keburu mengelakkan diri, segera mengirim jotosannya ke punggung Mo Lun.

Mo Lun juga insaf bahwa ia harus singkirkan jotosannya Teng Lee, tetapi ia sungkan melepas kesempatan memukul Tu Wee Seng, ia loncat tiga langkah ke samping, tetapi meneruskan jotosannya.

Tu Wee Seng yang tidak pereuma menjadi pemimpin partai silat Hua San, dalam keadaan yang terdesak itu masih dapat menjejakkan kedua kakinya untuk meloncat ke atas menghindari tinju Ngo Tok Ciangnya Mo Lun.

Namun, jika Teng Lee tak lekas-Iekas membantu, ia pasti telah menjadi mayat!

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tu Wee Seng baru merasa dirinya selamat ketika ia jatuh lagi ke tanah beberapa depa jauhnya dari Mo Lun.

Mo Lun juga terpengaruh oleh hembusan angin dari tinjunya Teng Lee, ia merasa seluruh tubuhnya menjadi panas.

Baru saja ia ingin pejamkan matanya untuk memulihkan tenaganya ketika Teng Lee datang menyerang lagi, dan Tu Wee Seng pun loncat mengemp!ang dengan toya bambunya, Sambil tertawa gelak-gelak Mo Lun melonjak ke atas menghindarkan diri dari kedua serangan berbareng dari kedua lawannya, lalu dengan hanya satu lengan dan satu kaki ia melawan selama dua puluh jurus lebih.

Teng Lee tak dapat melawan terus, dan ia mundur teratur Tu Wee Seng mengetahui bahwa Teng Lee hanya mundur untuk beristirahat sebentar, untuk kemudian dengan sepenuh tenaga akan menggempur lawannya lagi, Maka ia putar dan mengayun toya bambunya dengan jurus-jurus dari partai Hua San.

sebetulnya Mo Lun kalah tenaga melawan kedua musuh itu, akan tetapi dengan ilmu meringankan tubuhnya dan tinjunya Ngo Tok Ciangnya ia dapat membikin kedua lawannya bingung Ketika melihat Teng Lee mundur teratur, ia menjadi girang dan ia memperoleh kesempatan untuk melancarkan tinju Ngo Tok Ciangnya lebih gencar lagi, Tetapi sebagaimana telah dituturkan Tu Wee Seng telah memutarkan dan ayun toya bambunya demikian lihaynya seolah-olah ombak menerjang ke pantai dengan tak mengenal kasihan!

Sejenak kemudian Teng Lee datang lagi sambil menjerit.

Dengan kedua tinjunya ia menerkam Mo Lun.

justru pada saat itu terdengar suara jeritan dan terlihat berkelebatnya senjata-senjata tajam.

Sia Yun Hongdan Ouw Lam Peng juga sudah mulai bertarung dengan sengitnya, Mo Lun yang licin dan lincah telah insaf bahwa ia tak dapat melawan terus kedua lawannya itu, ia melonjak lagi ke atas

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

untuk menghindari serangan-serangan dari depan dan belakang lagi, dan Mo Lun terpaksa lekas-lekas loncat ke belakang pu!a, Kemudian terlihat Teng Lee tiba-tiba tertahan oleh suatu tenaga ketika ia sedang mengejar, dan talu seluruh tubuhnya bergemetaran, karena Mo Lun sudah loncat ke belakang lima depa jauhnya sambil mengirim jotosan ke arah Teng Lee, TixWee Seng yang menyaksikan semua itu mengerti bahwa kedua belah pihak telah menggunakan tenaga dalam mengirim jotosan-jotosannya dan hembusan angin dari kedua jotosan tersebut telah beradu, maka kedua belah pihak telah terluka, ia yang berwatak licik merasa gembira melihat akan kesudahannya, Kemudian terlihat Teng Lee memejamkan kedua matanya, tangan kanannya meraba-raba dada dan tangan kiri merabaraba perutnya, berdiri diam menghadapi Mo Lun yang juga telah terluka tetapi masih dapat berdiri di atas satu kaki sambil mengawasi kedua lawannya dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka-lukanya Tu Wee Seng loncat mendekati Teng Lee dan menanyai "Teng-heng kau terluka?

Perlu aku membantu?"

Teng Lee memejamkan kedua matanya dan meng-gelenggelengkan kepala.

"Sayang ketika ini aku berhawa n. jika tidak, dengan sekali pukul saja, aku dapat memukul Teng Lee mati dan partai Siat San akan turut terkubur!"

Ia terperanjat lagi ketika mengingat bahwa ia sendiri sedang menghadapi banyak musuh, Maka ia menghibur "Teng-heng, tenanglah! Biarlah aku membunuh mati Mo Lun dulu!"

Lalu ia loncat menerkam Mo Lun yang sedang memulihkan tenaga dan berusaha menyembuhkan Iuka-luka di dalam tubuhnya.

Toya bambunya menyodok Mo Lun untuk menotok jalan darah di dadanya!

Mo Lun menyengir, dan secepat kilat ia mengibaskan lengan kanannya, dan segera bergeredep berpuluh-ptiluh sinar datang menyambar Tu Wee Seng,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tu Wee Seng terkejut Lekas-Iekas ia putar toya bambunya dan meloncat ke atas lagi untuk menghindarkan diri dari jarum-jarum beracun itu.

Ketika itu orang-orangnya partai TKan liong juga sudah keluar dari tempat sembunyinya, dan terlihat lima-enam orang yang bertubuh tinggi besar mendatangi dengan senjata terhunus!

Tu Wee Seng setelah nyaris dari Siat Bi Ciam (jarum-jarum beracun) segera berpikir "Ai!

Hampir saja aku binasa oleh jarum beracunnya si kakek itu.

Mengapa aku bisa lupa kepada senjata rahasianya?"

Dan ketika ia melihat banyak orang berlari-lari mendatangi, ia segera keluarkan kancing-kancing besinya dan melontarkan lima biji ke arah orang-orang yang tengah mendatangi itu.

Harus diketahui bahwa kancing-kancing besinya Tu Wee Seng juga merupakan senjata rahasia yang sangat dimalui, Bukan saja cepat dilontarkannya, bahkan juga jarang sekali meleset Segera terdengar jeritan orang yang kena senjata rahasia itu untuk kemudian jatuh ter!uka.

Mo Lun menyaksikan lihaynya senjata rahasia Tu Wee Seng itu.

Dengan tak menghiraukan luka-lukanya ia meloncat dan menerkam Tu Wee Seng sambil melepaskan jarum-jarum beracunnya.

Tu Wee Seng terpaksa loncat ke samping sambil melepaskan kancing-kancing besinya.

Jarum beracun bentrok dengan kancing besi dengan mengeluarkan sinar terang!

Terlihat juga tiga kancing-kancing besi terus menyerang kedua mata dan dahinya Mo Lun yang sangat bernapsu sekali ingin segera membunuh Tu Wee Seng dengan Siat Bi Ciamnya!

-ooo0oooTiga partai silat besar menghajar partai Thian Liong Dengan cepat Mo Lun mengerahkan tenaga dalamnya dan dengan lengan bajunya ia kebut jatuh tiga kancing-kancing besi yang datang menyerang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Karena Mo Lun belum dapat memulihkan tenaga dalamnya, kebutan yang ia lakukan itu telah melukai hebat beberapa bagian di dalam tubuhnya, ia jatuh di tanah dengan napas sengal-sengal.

Tu Wee Seng yang telah loncat mundur dua depa lebih untuk menghindarkan diri dari jarum-jarum beracun tiba-tiba mendengar hembusan angin, Ouw Lam Peng yang sedang bertempur dengan Sia Yun Hong dapat melihat Mo Lun jatuh, Untuk menolong kawannya, ia menyerang Sia Yun Hong bertubi-tubi dan mendesak lawannya mundur, lalu ia sambit Tu Wee Seng dengan arit baja di tangan kanannya, Tapi secepat kilat pedangnya Sia Yun Hong sudah menyambar ke depan dadanya, ia tak dapat mengegoskan diri lagi, maka ia menjatuhkan diri di tanah dan menangkis pedangnya Sia Yun Hong berhasil mengores dadanya sepanjang seratus cm, dan darah mengalir keluar Dengan tak menghiraukan lukanya itu Ouw Lam Peng segera bangun dan menyerang dengan beringas dengan arit bajanya.

Sia Yun Hong berdiri jejak, dan dengan pedangnya ia tangkis semua serangan-serangan, Harus diketahui bahwa arit bajanya Ouw Lam Peng luar biasa kerasnya, dan pedangnya Sia Yun Hong tak dapat terus menerus menangkis tanpa menjadi rompang, Tiba-tiba Sia Yun Hong tertawa keras dan membentak "Ouw Lam Peng!

sekarang kau sambutlah serangan pedangku!"

Lalu ia robah jurus-jurusnya dan menyerang dengan cepat dan hebat sehingga Ouw Lam Peng harus meloncat ke kiri dan ke kanan mengelit atau mengegosi tusukan-tusukan atau bacokan-bacokan pedang itu.

sebetulnya Sia Yun Hong belum lagi mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaian nya.

ia hanya ingin menguji sampai di mana kelihayan lawannya, Barulah sekarang ia menyerang dengan jurus-jurus Thian Kan Hong Lee (Angin

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Topan dan Geledek Maut) yang meliputi tujuh puluh dua langkah atau siasat Tentu saja Ouw Lam Peng tak dapat melawan lagi, Ketika itu, Co Hiong, yang menonton sambil bersembunyi di atas pohon juga telah melihat Ouw Lam Peng berada dalam bahaya, apabila ia tidak turun menolong, mungkin Ouw Lam Peng tak dapat bertahan lagi, Tetapi iapun khawatir kalau Pek Yun Hui pun turut campur Untuk sementara waktu ia masih ragu-ragu.

Tiba-tiba Ouw Lam Peng menjerit keras, dan segera orang-orangnya partai Thian Liong yang bersembunyi di semak belukar lari keluar dengan senjata terhunus!

Arit bajanya Ouw Lam Peng yang dilontarkan untuk menyerang Tu Wee Seng telah dipukul jatuh oleh toya bambunya Tu Wee Seng sehingga ia terhindar dari bahaya maut!

Ketika itu orang-orangnya partai Thian Liong sudah datang membantu, Dengan tertawa gelak-gelak Tu Wee Seng mengancam.

"Hai! Gundal-gundal dari partai Thian Liong! Yang tidak takut mati boleh maju!"

Lalu ia lontarkan senjata rahasianya lagi, dan segera terdengar suara orang menjerit kesakitan terkena kancing-kancing besinya, Da!am sekejapan saja beberapa belas orangnya partai Thian Liong telah runtuh, Co Hiong tak dapat tahan sabar lagi melihat kekalahan jika partai-partai Hua San, Tiam Cong, dan Siat San berserikat di pihaknya itu, ia berkata kepada Bee Kun Bu.

"Bee Heng..., jika partai-partai Hua San, Tiam Cong dan Siat San berserikat mengalahkan partai Thian Liong, mungkin mereka pun akan menggempur kalian...."

Pek Yun Hui menjawab dengan mengejek.

"Kau tak usah pasang perangkap lagi, Jika ketika partai itu telah mengalahkan partai Thian Liong, maka akibatnya bahkan bermanfaat bagi kami...."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong yang licin berkata dengan tenang.

"Apakah kau mengetahui bahwa semua jago-jago silat yang datang ke pegunungan Kwat Cong San ini bermaksud merebut kitabkitab Kui Goan Pit Cek...."

"Kau tak usah bicara pura-pura!"

Bentak Pek Yun Hui.

"Untuk membikin mereka menggempur kalian, cukup dengan hanya sepatah kata bahwa kalianlah yang menyimpan kitab-kitab itu!"

Kata Co Hiong.

"Oleh karena itu, aku minta kalian pikir-pikir lagi, karena aku mengetahui bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek ada di dalam tangannya Na Siocia, Jika aku memberitahukan pada jago silat yang telah datang ke pegunungan Kwat Cong San ini bahwa Na Siocia yang simpan kitab-kitab itu, mereka tentu menyerbu kalian, bukan?"

"Orang ini betul-betul hatinya busuk, Jika dia laksanakan siasatnya, maka para jago silat tentu menggempur pihakku, sedangkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah dia curi dan disembunyikannya, Jika malam ini aku tidak merampasnya, mungkin sukar dirampas kembali dikemudian hari."

Lalu ia berkata.

"Apa yang kau ingin-kan?"

"Aku ingin turun membantu kawan-kawanku, dan aku minta kalian berdua tidak turut campur,"

Kata Co Hiong.

"Aku dapat memenuhi permintaanmu, tapi kau harus mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dulu, Jika tidak, kau jangan harap dapat hidup sampai besok!"

Co Hiong tidak segera menjawab, ia berpikir.

"Jika aku tidak mengaku bahwa aku yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, dia tentu merintangi aku. Baik aku minta mereka membantu Ouw Lam Peng dan Mo Lun, aku dapat menggempur mereka berdua."

Lalu sambil tersenyum ia berkata.

"Aku belum pernah lihat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Hanya di kamarnya Na Siocia, aku telah mengambil satu kotak dari batu Giok, Jika kau memaksa aku mengembalikan kitabkitab Kui Goan Pit Cek, di mana aku harus mencarinya?

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu menjadi panas, ia menyindir "Jika demikian, kau datang bukannya bermaksud menengoki aku yang menderita sakit tetapi untuk mencuri!"

Diam-diam ia sesali dirinya sendiri mengingat betapa baiknya ia terhadap Co Hiong, tetapi Co Hiong mengkhinati padanya.

Jika aku mengetahui bahwa kotak tersebut berisi kitabkitab Kui Goan Pit Cek, aku tentu tidak serahkan kotak itu kepada partaiku."

Kata Co Hiong. Pek Yun Hui membentak.

"Hm! Masih saja berbelit-belit!"

"Jika kau tidak pereaya, kau boleh suruh bahwa Bee-heng menggeledah badanku...."

Kata Co Hiong.

"Nanti setelah aku tolong mereka, aku pasti mencari orang yang membawa kotak itu."

"Apakah janjimu dapat dipereaya?"

"Seorang laki-laki tak akan mengingkari janjinya!"

Jawab Co Hiong. Setelah melihat Bee Kun Bu setuju menerima usul Co Hiong, Pek Yun Hui berkata.

"lngat! Malam ini jika kau tidak mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, kau jangan harap dapat lolos!"

Co Hiong tidak menyahut lagi, ia bersiul keras sambil meloncat turun dari pohon dengan pedang terhunus, Dengan tangan kirinya ia lontarkan jarum-jarum beracun ke arah Tu Wee Seng, dan dengan pedang di tangan kanannya ia tahan pedangnya Sia Yun Hong.

Baca Juga: Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap 3

Baca Juga: Kemelut Blambangan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert