Ceritasilat Novel Online

Harimau Kemala Putih 10

Eps 10 Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung

Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.

Inilah nasehat yang berhasil diciptakan olehnya setelah mengalami suatu pengalaman yang pahit dan penuh percobaan serta penderitaan.

"Ucapanmu itu pasti akan kuingat terus untuk selamanya"

Kata Bu-ki.

"Kalau toh kau sudah mengetahui tentang diriku, tentunya kau juga pernah mendengat tentang masalahku bukan?"

Tanya Lui Ceng Thian.

Bu-ki mengakuinya.

Bila kau beranggapan bahwa aku menerima syarat perkawinan itu karena tertarik oleh kecantikan Tong Kian-kian, maka dugaanmu itu keliru besar sekali kata Lui Ceng Thian lebih lanjut; Sekarang Bu-ki baru tahu kalau perempuan yang matanya sipit menjadi satu garis bila sedang tertawa itu bernama Kian-kian.

Kian-kian memang seorang perempuan yang amat cantik bukan cuma cantik saja, bahkan memiliki semacam daya tarik yang bisa membuat kaum lelaki menjadi terpikat.

Terhadap perempuan semacam ini, sekalipun ada lelaki yang mengorbankan diri demi dirinya, Bu-ki juga tak akan merasa keheranan.

"Benarkah kau bukan lantaran dia?"

Tanga Bu-ki. Lui Ceng Thian tertawa dingin.

"Heeehh........heeehh......heeehh.....aku bukanlah seorang lelaki yang belum pernah melihat kecantikan seorang wanita, istriku juga seorang perempuan yang cantik jelita"

Istrinya yang dulu adalah Mi Ci. Kecantikan Mi Ci daya tarik Mi Ci, semuanya sudah pernah dirasakan oleh Bu-ki. Lui Ceng-thian berkata lebih jauh.

"Tapi sekarang aku telah meninggalkan dirinya, aku tahu dia pasti tak akan memaafkan diriku, karena aku sendiripun tak dapat memaafkan diriku sendiri"

Dengan sedih dia melanjutkan;

"Tak sedikit peristiwa semacam ini yang banyak terjadi didunia ini, dikala kau telah kehilangan, saat itulah baru kau rasakan betapa berharganya dia"

Lagi lagi suatu nasehat yang diberikan setelah mengalami suatu penderitaan dan siksaan yang berat.

"Mengapa kau tinggalkan isterimu itu? Kenapa kau meluluskan permintaan ini?"

Tanya Bu-ki "Karena aku mempunyai ambisi!"

"Ambisi untuk menguasai seluruh kolong langit?"

"Keluarga Tong ini menggunakan diriku untuk menguasahi seluruh kolong langgit, sebaliknya akupun sama juga ingin memperalat mereka, cuma sayang.........."

"Cuma sayang aku terlampau memandang rendah mereka, orang orang keluarga Tong ternyata jauh lebih lihay daripada apa yang kau perhitungkan semula"

Sambung Bu-ki. Lui Ceng-thian segera mengakuinya.

"Itulah sebabnya mataku menjadi buta akupun dirantai orang disini bagaikan seekor anjing budukan"

Digenggamnya tangan Bu-ki kencang-kencang, maka katanya kembali;

"Itulah sebabnya kau harus membantu diriku!"

"Apa yang bisa kulakukan untukmu?"

"Aku masih punya teman, Pek lek tong masih punya anak buah, seandainya mereka tahu keadaanku sekarang, sudah pasti mereka akan berusaha mencari akal untuk menoong diriku"

"Taukah mereka akan keadaanmu sekarang?"

"Mereka sama sekali tidak tahu, mereka mengira aku berada didalam pelukan hangat wanita cantik"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan;

"Keluarga Tong telah memisahkan aku dengan orang lain, dalam sepuluh bulan belakangan ini, kau adalah orang hidup pertama yang pernah kujumpai"

Selama sepuluh bulan belakangan ini, apa yang bisa dilihat olehnya sebagai satu satunya barang yang bisa bergerak adalah sebuah keranjang bambu.

Keranjang itulah yang mengirim kebutuhan makan dan minumnya setiap hari dari atas, kemudian menaikkan senjata mesiu yang berhasil dibuatnya dalam sehari itu.

Bila satu hari tiada senjata mesiu yang dibuat, maka keesokan harinya terpaksa ia musti menahan lapar.

Jadi boleh dibilang, barter tersebut merupakan suatu barter yang dibayar secara kontan.

Tindak tanduk pihak keluarga Tong selalu mengutamakan kenyataan, oleh karena itu tindakan mereka selalu amat manjur......

Dalam sepuluh bulan terakhir ini, satu satunya pekerjaan yang berhasil ia buat dan cukup memuaskan hatinya adalah menggali sebuah terowongan bawah tanah Sesungguhnya dia tidak bermaksud untuk menggali sebuah terowongan agar melarikan diri dari benten keluarga Tong, sebab dia tahu hal itu merupakan sesuatu yang mustahil Ia menggali terowongan itu tak lebih agar memberi sedikit pekerjaan baginya, agar timbul setitik harapan dalam hatinya.

Jika seseirang sudah tiada setitik harapan lagi, bagaimana mungkin ia masih bisa hidup lebih jauh.

Kembali Lui Ceng-thian berkata.

Aku sudah bekerja keras selama sepuluh bulan lebih, meski masih jauh selisihnya dari sasaran yang kuincar, meski terowongan jalan bawah tanah ini hanya bisa kugali sampai dalam kebun bunga, tapi justru pekerjaan ini telah mendatangkan hasil.

"Kau telah menyelamatkan diriku"

"Justru karena itu juga, aku berhasil menemukan seorang teman"

Bu-ki menghela napas panjang, katanya pula.

"Cuma sayang temanmu itu sudah tidak dapat hidup lebih jauh lagi"

"Kenapa?"

"Tentunya kau tahu, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menyusup masuk kedalam benteng keluarga Tong"

"Yaa, memang bukan sesuatu yang amat gampang"

"Aku bukan menyusup masuk kemari, aku adalah tamunya keluarga Tong, Tong Kuat lah yang mengajakku kemari, tempat yang kudiami pun merupakan kamar tamu keluarga Tong yang khusus untuk menerima tamu agung"

"Kepandaianmu tentunya luar biasa sekali"

"Andaikata Tong Kuat menjumpai tamunya secara tiba tiba lenyap tak berbekas, coba bayangkan apakah aku masih bisa hidup lebih jauh lagi..............."

"Dia tak akan menemukan hal ini"

"Kenapa?"

"Sebab sebelum dia menemukan kau tidak berada didalam kamar, aku telah menghantarmu pulang"

Bu-ki segera tertawa getir.

"Dengan cara apa kau hendak menghantarku pulang? Mencekoki obat pelenyap bada kepadaku? Atau merubahku menjadi seekor lalat?"

Sesungguhnya persoalan ini memang merupakan sesuatu persoalan yang sangat pelik. Agaknya Lui Ceng-thian seudah mempunyai rencana yang cukup matang didalam persoalan ini, segera katanya"

"Mula mula aku akan menghantarmu menuju ke kebun bunga diujung terowongan sana"

"Kemudian?"

"Kemudian aku akan menerjang keluar lebih dulu dari tempat itu"

Kata Lui Ceng-thian. Sesudah berhenti sebentar, dia menerangkan.

"Jika para penjaga disekitar tempat itu menjumpai diriku, maka mereka pasti akan mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk berusaha menangkap diriku"

"Dengan perbuatanmu itu, kau pasti akan tersusul dan ditangkap kembali oleh mereka"

"Itu mah bukan persoalan, sekarang San hoa thian li belum berhasil dibuat, sekalipun mereka berhasil menangkap diriku, paling banter cuma menghantarku kembali dan paling paling cuma menambahi dua buah borgol lagi diatas badanku"

"Mereka pasti akan bertanya kepadamu, dengan cara apa kau berhasil melarikan diri?"

"Aku toh bisa saja membungkam diri"

Dengan angkuh dia melanjutkan.

"Aku adalah Lui Ceng-thian, mereka seharusnya juga tahu Lui Ceng-thian bukan manusia yang tak becus, seandainya aku benar benar ingin melarikan diri dari gua ini, hal tersebut bukannya tak bisa kulakukan"

Mau tak mau Bu-ki harus mempercayai juga, bagaimana juga Lui Ceng-thian boleh dibilang merupakan jagoan kelas satu didalam dunia persilatan dewasa ini.

"Perduli apapun juga yang bakal terjadi aku tak akan mengatakan soal terowongan bawah tanah ini kepadanya"

Kata Lui Ceng-thian lagi dengan cepat.

"Kenapa?"

"Sebab aku masih ingin menggunakan terowongan bawah tanah ini untuk mengadakan kontak denganmu"

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Pokoknya asal kau sudah mendapatkan kabar, carilah suatu akal untuk memberitahukannya kepadaku"

"Andaikata aku melupakan dirimu?"

"Kau tak akan melupakannya, karena akupun tak akan melupakan dirimu........."

Kalau toh aku belum melupakan dirimu, berarti setiap saat akupun masih bisa memberi tahukan rahasia ini kepada Tong Koat.

Kata kata semacam ini tidak dia ucapkan juga tidak perlu dia katakan.

Bu ki bukan seorang pemuda yang tolol, tentu saja dia dapat memahami arti dari pada perkataan itu.

Terdengar Lui Ceng Thian berkata lagi.

"Dikala mereka mengejar diriku nanti, kau dapat menggunakan kesempatan itu untuk menerobos masuk kedalam kebun itu.

"Sekalipun bisa sampai didalam hutan itu, belum tentu aku bisa balik kerumah"

"Kenapa?"

"Sebab dalam hutan itu telah diatur semacam ilmu barisan yang sangat hebat"

"Asal kau ingat selalu maju tiga mundur satu, kiri tiga kanan satu maka hutan belantara itu dapat kau tembusi dengan gampang sekali........"

"Masa segampang itu?"

"Didunia ini memang banyak terdapat kejadian yang sepintas lalu tampaknya sangat kacau dan rumit sekali, padahal setelah diungkapkan semuanya gampang dan sederhana sekali"

Inipun merupakan suatu nasehat yang baik sekali. Jika seseorang sudah terlalu sering mengalami pukulan serta percobaan maka sering sekali dia akan berubah menjadi lebih cerdik.

"Menurut pendapatmu berapa besar kesempatan yang kau miliki?"

Tanya Bu-ki kemudian.

"Paling tidak juga ada tujuh bagian"

Walaupun Bu-ki bukan seorang penjudi ulung tapi baginya, asal kesempatan ada tujuh bagian, hal mana sesungguhnya sudah lebih dari cukup baginya. Lui Ceng-thian segera bertanya.

"Sekarang, persoalan apa lagi uang hendak kau ajukan?"

"Masih ada satu lagi"

"Tanyalah!"

"Apakah terowongan bawah tanah ini digali oleh kau seorang?"

"Selain aku masih ada siapa lagi?"

"Kecuali kau seharusnya masih ada seseorang lain"

"Siapakah orang itu?"

"Seseorang yang membantumu mengangkut pergi pasir pasir yang telah digali itu?"

Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan dia melanjutkan.

"Untuk membuat terowongan sebesar dan sepanjang ini, sudah pasti pasir yang berhasil digali tak terhitung jumlahnya, andaikata tiada orang yang mengangkutnya pergi, memangnya kemana kaburnya pasir tersebut? Masa sudah kau telan semuanya kedalam perut?"

Masalah tersebut bukan saja merupakan suatu persoalan yang pelik lagipula juga merupakan kunci yang paling penting didalam peristiwa ini....

Sepasang kepalan Bu-ki telah mengepal kencang-kencang.

Andaikata Lui Ceng thian tak dapat menjawab pertanyaan itu, hal mana menunjukkan kalau apa yang telah diucapkan selama ini adalah kata kata bohong belaka.

Maka sepasang kepalan Bu ki yang sudah terkepal itupun segera akan menghajar tempat mematikan diatas tenggorokannya.

Cukup dengan sebuah jotosan, nyawanya pasti akan melayang meninggalkan raganya/ Sambil tertawa Lui Ceng thian segera berkata.

"Pertanyaan yang kau ajukan ini sebenarnya merupakan suatu pertanyaan yang bagus sekali"

Dengan suara bangga, dia melanjutkan.

"Padahal aku sendiripun sudah lama sekali memikirkan persoalan ini, jika masalah itu tak dapat perselesaikan, maka pada hakekatnya tak mungkin bagiku untuk membuat terowongan ini. karena bagaimanapun juga aku toh belum ingin tertelan oleh tanah dan pasir yang kugali ini"

"Bukan sesuatu masalah yang gampang untuk menyelesaikan persoalan pelik itu"

"Yaa, memang bukan sesuatu yang gampang"

"Apakah kau telah menyelesaikannya?"

"Kalau dahulu kau pernah datang kemari, dan seandainya kau pernah mengukur luasnya gua ini, maka kau akan menemukan bahwa ruangan gua ini kian hari kian bertambah sempit dan kecil, sekarang, paling tidak ruangan gua ini sudah menyempit sejauh beberapa depa"

Mendengar perkataan itu, Bu ki segera menjadi paham sendiri.

"Apakah kau maksudkan keempat dinding gua ini makin lama semakin menebal?"

Lui Ceng thian segera tersenyum.

"Tampaknya kau tidak terlampau bodoh"

Jika pasir hasil galian dicampur dengan air lalu ditempelkan ke gua itu, otomatis pasir itu bakal menempel seterusnya.

Apalagi gua tersebut adalah sebuah gua lumpur, keempat dinsingnya memang berdinding lumpur sedari awal, tentu saja tak mungkin ada orang yang secara khusus datang ke dalam gua itu hanya bermaksud untuk mengukur luasnya gua itu saja.

Siapapun tak mungkin bisa berpikir sampai kesitu.

Perlu dibicarakan sesungguhnya cara itu sederhana sekali, tapi seandainya orang itu tidak cerdik sekali, tak nanti cara tersebut dapat ditemukan.

Mendadak Bu-ki merasa bahwa Lui Ceng thian sesungguhnya jauh lebih cerdas dan hebat dari pada apa yang dibayangkan semula.

Tapi sekarang ia sudah disekap oleh orang orang keluarga Tong bagaikan seekor anjing liar ditempat itu, bukankah hal tersebut menunjukkan kalau orang orang keluarga Tong jauh lebih menakutkan?

Sekarang apakah Tong Koat sudah mengetahui kalau Bu-ki sudah tidak berada didalam kamar tamunya?

Andaikata ia sudah mengetahuinya, dan kini Bu-ki pulang kembali kesitu, bukankah hal ini sama artinya dengan menghantar diri menuju ke mulut macan?

Tapi bagaimanapun juga mau tak mau Bu-ki harus kembali juga ketempat itu.

Ia tak dapat meniru cara Lui Ceng thian dengan sepanjang tahun menyembunyikan diri dalam gua yang tak tmapak langit dan tiada bersinar itu, tapi diapun tidak mempunyai cara lain lagi yang bisa ditempuh.

Karenanya terpaksa dia harus menyerempet bahaya.

Sekali demi sekali dia harus menyerempet bahaya.

Setiap waktu setiap saat selalu menyerempet bahaya, besar kemungkinan akan menjadi petualangan yang paling akhir.

Entah kepada siapapun itu orangna, daya tekanan semacam ini sesungguhnya boleh dibilang terlampau besar.

Apa yang diperhitungkan oleh Lui Ceng thian memang sangat tepat dan sempurna.

Begitu dia melompat keluar dari bawah tanah, serentak semua penjaga maupun jago jago yang dipersiapkan disekeliling tempat mencurahkan semua perhatian kepadanya.

Pengejaran secara besar besaran segera dilakukan untuk mengikuti jejaknya.

Berbicara bagi pihak keluarga Tong, Lui Ceng thian memang betul betul terlalu penting, jauh lebih penting dari siapapun dan benda apapun yang ada didunia ini.

Bagaimana juga dan apapun yang bakal terjadi, mereka tak akan membiarkan datangnya mara bahaya akibat dari kaburnya orang maha penting tersebut.

Itulah sebabnya, Bu-ki memiliki kesempatan yang baik sekali untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Dan nyatanya dia memang manfaatkan kesempatan yang sedikit itu dengan sebaik baiknya.

Dengan cepat dia menerobosi tanah lapang yang kosong itu dan menyusup masuk ke dalam hutan itu.

Maju tiga mundur satu, kiri tiga langkah ke kanan satu langkah.

Cara tersebut sudah pasti bisa dipercaya dan tepat sekali sebagaimana sebenarnya.

Fajar sudah mulai menyingsing diufuk timur, kabut putih yang tebal juga mulai menyelimuti seluruh hutan......

Sambil menghitung dahan pohon disitu Bu-ki masih tiada hentinya menghitung......

maju tiga mundur satu, kiri tiga kanan satu.....

Mendadak terdengar seorang berkata dengan dingin.

"Kalau begitu caramu untuk menembusi hutan ini, sampai tua juga jangan harap bisa lolos dari situ"

PUTRI AYU Bulan empat tanggal dua puluh tiga udara cerah.

Pagi itu kabut sangat tebal.

Fajar yang diliputi kabut tebal.

Dari balik kabut tebal berwarna putih, muncul sesosok bayangan manusia berwarna putih, sehingga kelihatannya seperti sesosok sukma gentayangan.

Seandainya bayangan itu benar benar adalah sukma gentayangan.

Bu ki malah tidak takut.

Tapi yang dia lihat adalah seorang manusia.

dia adalah perempuan yang sangat cantik, cantik sekali.

Menyaksikan Bu ki kaget, ia malah tertawa, sewaktu tertawa sepasang matanya berubah menjadi satu garis, sebuah garis lengkung yang indah yang sanggup merontokkan hati pria manapun.

bu ki pernah bertemu dengannya, bertemu sewaktu ada diluar toko penjual gincu, lagipula pernah mendengar Lui Ceng thian menyinggung namanya.

Perempuan itu adalah ong Kian kian.

Istri baru dari Lui Cong thian, Tong Kian kian.

suaminya diborgol orang dalam gua bawah tanah seperti anjing liar, sedang dia berdiri disitu sambil tertawa seperti bidadari.

Perasaan Bu ki bagaikan tenggelam ke dasar laut.

Dia tahu, walaupun ada sementara perempuan kelihatannya seperti bidadari, tapi selalu membawa kaum pria masuk neraka.

Untung saja dengan cepat ia dapat memulihkan ketenangannya, sekulum senyuman yang gembira dengan cepat tersungging diujung bibirnya.

"Selamat pagi!"

Sapanya.

"Sekarang memang masih pagi, kebanyakan orang belum lagi bangun dari tidurnya, kenapa kau sudah bangun?"

"Tampaknya kau juga belum naik tempat tidur, kau seperti sudah bangun sekarang"

Sahut Bu ki Tong Kian kian segera memutar biji matanya lalu berkata "Aku bangun lantaran suamiku tak ada, aku tak biasa tidur sendirian......"

"Bila aku punya seorang istri semacam kau, sekalipun ada orang menghajar tubuhku dengan pecut, aku tak akan membiarkan kau tidur seorang diri dirumah"

Tiba tiba Tong Kian-kian menarik muka kemudian menegur.

"Besar amat nyalimu, dengan jelas kau sudah tahu siapakah aku, berani betul memperolok diriku?"

"Aaah, mengolok sih tidak, aku tak lebih hanya menyampaikan suara hatiku saja, bicara terus terang toh bukan suatu perbuatan yang berdosa........?"

Tong Kian kian segera melototkan sepasang matanya bulat bulat, sambil menatapnya lekat lekat dia berseru "Dalam hatimu masih terdapat perkataan apa lagi yang hendak kau utarakan?"

"Kau benar-benar menyuruhku berbicara?"

"Katakan!"

"Andaikata aku tidak tahu siapakah kau, kalau tempat ini bukan benteng keluarga Tong, aku pasti............"

"Kau pasti kenapa? Hayo teruskan"

Seru Tong Kian-kian sambil menggigit bibir.

"Aku pasti akan menyuruh kau untuk menemani aku naik tempat tidur........"

Sahut Bu ki sambil tertawa.

Tiba tiba Tong Kian kian menyerbu kemuka dan sebuah tempelengan langsung diayunkan keatas wajah Bu ki.

Akan tetapi gerakan tubuh dari Bu ki jauh lebih cepat daripadanya sekali cengkeram tahu tahu tangannya sudah kena ditangkap dan ditelikung ke belakang punggung.

Mendadak sekujur badan Tong Kian kian menjadi lemas, bibirnya setengah merekah dan pelan pelan menghembuskan napas panjang.

Tampaknya ia telah bersiap sedia untuk menerima tindakan selanjutnya dari Bu ki.

Kalau dilihat dari sikapnya, jelas dia tak akan menampik perbuatan apapun yang bakal dilakukan Bu ki terhadap dirinya Cuma sayang dia telah salah tafsir.

Lagi lagi Bu ki sedang menyerempet bahaya.

Ia tidak lupa perasaan apakah yang sedang dipegangnya sekarang, diapun percaya tak bakal salah melihat manusia macam apakah Tong Kian kian itu.

Terhadap manusia macam apa, sepantasnya melakukan pekerjaan semacam apa.

Namun ia masih belum berani melakukan perbuatan yang agak kelewat batas, sekarang dia telah melepaskan tangannya.

Bukan saja Tong Kian kian tidak merasa berterima kasih, dia malahan tertawa dingin tiada hentinya.

"Huuuh, kalau toh berani berbicara, kenapa tak berani melakukan?"

"Sebab tempat ini adalah benteng keluarga Tong, sebab aku tak berani mengusik Lui Ceng thian"

Tong Kian kian kembali tertawa dingin.

"Heeehhh....heeehhh...heeehhh....tentu saja kau tak berani mengusik Lui Ceng thian, siapapun tak berani mengusik Lui Ceng thian"

"Itulah sebabnya sekarang aku hanya ingin mengucapkan dua patah kata kepadamu"

"Dua patah yang mana?"

"Selamat tinggal!"

Sehabis mengucapkan dua patah kata itu, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ, dia benar benar tak ingin banyak ribut lagi dengan nyonya muda tersebut.

Sayang Tong Kian kian justru tidak membiarkan dia kabur dengan begitu saja.

Pinggangnya yang ramping dan lembut itu hanya bergoyang pelan, tahu tahu ia sudah menghadang jalan pergi Bu ki sembari ujarnya dengan suara dingin.

"Sudah kukatakan, kalau begitu caramu berjalan, sampai tuapun jangan harap bisa keluar dari hutan ini"

"Kalau begitu biar aku berjalan jalan didalam hutan ini, mumpung udara segar, kabutpun makin menipis. Inilah saat yang paling tepat untuk berolah raga pagi"

Menggunakan kesempatan tersebut, dia memberi penjelasan.

"Aku memang berjuang untuk jalan jalan sambil menghirup udara pagi....."

"Betulkah kedatanganmu kemari hanya untuk berjalan jalan sambil menghirup udara?"

Jengek Tong Kian dingin.

"Tentu saja benar"

"Tahukah kau, semalam ditempat ini telah kedatangan mata mata?"

Bu ki segera tertawa "Aku jadi orang mempunyai suatu penyakit yakni paling mudah mempercayai perkataan orang lain, terutama dari kata kata seorang gadis yang cantik jelita, entah apa saja yang dia katakan, aku mempercayainya penuh"

Kemudian secara tiba tiba dia menarik muka, lalu terusnya.

"Cuma sayang apa yang kau katakan itu tak sepatah katapun yang kupercayai"

"Kenapa tidak percaya?"

"Masa dalam benteng keluarga Tong bisa kedatangan mata mata? Siapa yang begitu berani mendatangi benteng keluarga Tong sebagai mata mata,........."

Tong Kian kian melotot sekejap kearahnya, lalu menjawab.

"Sekalipun kau bukan mata mata, jika kena ditangkap dan dianggap sebagai mata -mata, kan penasaran namanya"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Jika kau sudah mengetahui apa yang bakal dilakukan orang orang benteng keluarga Tong bila berhasil menangkap seorang mata mata, sudah pasti kau akan memohon kepadaku"

"Memohon apa kepadamu?"

"Memohon kepadaku untuk membawa kau balik kedalam kamar dan memohon aku untuk menghantarmu naik ranjang"

"Kalau begitu, aku harus menggunakan cara apa untuk memohon kepadamu?"

"Pasti sudah tahu bukan"

Kembali ia menggigit bibirnya kencang-kencang.

Sepasang matanya sekali lagi berubah menjadi satu garis yang melengkung keatas Bu ki juga sedang memandang kearahnya, mempergunakan semacam sinar mata yang tidak begitu sopan memperhatikan dirinya, setelah memperhatikan sekian lama, tiba tiba ia menghela napas panjang.

"Aaai.... sayang!"

"Apanya yang sayang?"

"Sayang aku masih belum berani untuk mengusik Lui Ceng thian"

"Seandainya Lui Ceng thian secara tiba-tiba mati?"

Tanya Tong Kian kian sambil memutar lagi sepasang biji matanya.

"Dia mengidap penyakit?"

"Tidak"

"Dia terluka?"

"Juga tidak"

"Kalau memang tidak mengidap penyakit atau menderita luka, kenapa bisa mati?"

"Andaikata ada orang menusuk tenggorokannya dengan sebuah tusukan pedang dia sudah pasti akan mampus!"

"Tapi siapa yang berani menusuh tenggorokannya dengan sebuah tusukan pedang?"

"Kau"

"Aku?"

Bu-ki seperti amat terperanjat "Kau tak usah mengelabuhi aku"

Ujar Tong Kian kian dengan suara dingin.

"Kaupun tak usah berlagak pilon dihadapanku, aku tahu apa yang menjadi pekerjaanmu"

"Apa yang menjadi pekerjaanku?"

"Kau adalah seorang pembunuh. Bila ada orang membayar sepuluh laksa tahil perak, manusia macam apapun bersedia kau bunuh"

"Tapi.... tentunya kau tak akan menyuruh aku untuk pergi membunuh suamimu bukan?"

"Aaah, belum tentu"

Dengan terkejut Bu-ki memandang kearahnya.

"Kau......."

"Walaupun aku tak mampu mengeluarkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak dalam waktu singkat. Namun akupun tak akan membiarkan kau membunuh orang dengan sia sia"

Dia telah menempelkan badannya ke atas tubuh sang pemuda lalu merangkul tengkuk Bu-ki dengan sepasang tangannya.

"Asal kau bersedia menuruti perkataanku, akupun bersedia melakukan apa saja untukmu"

Bisiknya lirih.

Harum semerbak dengusan napasnya.

Badannya juga lembut, empuk dan hangat.

Dia benar benar seseorang perempuan yang amat menarik, dan cukup membuat lelaki manapun tak kuasa menahan diri.

Bu-ki tampak seperti tak tahan juga, tiba tiba ia roboh ketanah, roboh diatas tanah lumpur yang becek.

Tiba tiba pula ia teringat dengan lumpur yang penuhi menodai badan sertai bajunya.

Entah siapapun itu orangnya, setelah merangkak masuk dan merangkak keluar melalui lorong tanah yang panjang tak urung badannya pasti akan kotor oleh lumpur.

Betul kabut pagi amat tebal, meski Tong Kian kian belum memperhatikannya, tapi cepat atau lambat pasti ada orang yang akan memperhatikannya.

Sekarang dia sudah berbaring diatas tanah becek yang berlumpur, badannya sudah bergerak kian kemari disitu, dengan begitu diapun mempunyai alasan yang kuat untuk menerangkan darimana datangnya lumpur yang memenuhi badannya.

Tentu saja Tong Kian kian tidak akan menyangka rencana apakah yang sedang diatur dalam hatinya.

Dia mengira pemuda itu sedang mengatur sesuatu maksud yang lain, seakan akan merasa terkejut, tapi juga gembira.

"Kau.......... apakah kau ingin melakukannya disini?"

"Tak mungkin disini"

"Yaa, tentu saja tak mungkin disini, karena......"

Ia tidak melanjutkan kata katanya, sebab ada orang telah melanjutkan kata katanya itu.

"Karena perbuatan semacam ini tentunya tak boleh dilakukan disuatu tempat yang mungkin bisa disaksikan orang ketiga"

Tong Koat telah datang Tong Kian-kian pun angkat kaki.

Perduli bagaimana galaknya dia, perduli bagaimana tebalnya kulit muka perempuan ini, toh ia tetap merasa rada rikuh.

Bu-ki sudah bangun berdiri, ia sedang membersihkan noda lumpur diatas badannya.

Tiba-tiba Tong Koat menghela napas panjang, katanya.

"Perempuan ini adalah seorang perempuan jalang"

"Kau tidak sepantasnya berkata demikian"

Ucap Bu-ki.

"Kenapa?"

"Karena perempuan ini adalah adikmu!"

"Betul, aku memang tidak seharusnya berkata demikian, aku harus bilang adikku adalah seorang perempuan jalang"

Bu-ki ingin tertawa namun ia tak mampu tertawa. Sebab paras muka Tong Kuat benar-benar tak sedap dipandang, sambil menarik muka katanya lagi.

"Asal sudah melihat lelaki yang berparas lumayan, dia selalu ingin menjajalnya, lelaki dari benteng keluarga Tong tak berani disentuh, diapun pergi mencari orang orang yang datang dari luar daerah"

"Aku datang dari luar daerah, tampangku termasuk lumayan!"

Tidak menunggu Tong Kuat berkata, ia sudah mengucapkannya terlebih dahulu. Mendengar kata kata tersebut, Tong Koat malahan tertawa.

"Sesungguhnya aku sama sekali tidak menolak maksudmu, cuma saja.........."

"Cuma saja secara kebetulan kau hadir disamping, dan kebetulan pula perbuatan tersebut tak boleh ditonton orang lain"

"Haaaahhh......haaahhhh......haahhhh..... tepat, tepat sekali, memang sangat tepat"

Tong Koat tertawa terbahak bahak. Mendadak dia merendahkan suara tertawanya, kemudian melanjutkan.

"Tapi, laen kali kau harus bertindak lebih berhati hati lagi"

"Kenapa"

"Sebab walaupun aku tidak keberatan dengan hubungan kalian, tapi pasti ada orang yang merasa keberatan"

"Kau maksudkan Lui Ceng thian?"

Tong Koat segera tertawa.

"Andaikata kau adalah moay hu ku, keberatatan tidak kau andaikata menyaksikan adikku pergi mencari lelaki lain?"

"Aku yakin tak seorang lelakipun di dunia ini yang suka memakai topi hijau (maksudnya melihat istrinya nyeleweng dengan lelaki lain)!"

"Itulan sebabnya, andaikata yang datang barusan bukan aku, melainkan Lui Ceng thian...."

Dia menghela napas panjang, kemudian katanya lagi.

"Maka apabila aku ingin bertemu denganmu sekarang, mungkin aku terpaksa harus bekerja keras untuk mengumpulkan dulu kepingan-kepingan badannmu lantas menyambungnya lebih dulu"

Bu ki juga turut menghela napas panjang.

"Aaaai.. aku juga tahu akan kelihayan dari Pek lek cu tersebut, tapi ada satu hal yang tidak kupahami"

"Soal apa?"

"Mereka belum lagi kawin lama, atau boleh dibilang masih terhitung pengantin baru, mengapa ia sudah membiarkan istrinya yang cantik dan menawan hati ini tidur seorang diri di dalam kamarnya?"

"Teori ini sebetulnya sederhana sekali, semestinya kau juga dapat memikirkannya"

"Kenapa?"

"Karena dia sudah mempunyai pandangan baru!"

Bu ki sengaja menunjukkan wajah terperanjat, serunya tertahan.

"Aaaah! Maksudmu, dia sudah mempunyai perempuan lain?"

"Ia sudah merasakan pahit getirnya perempuan, mana mungkin dia akan mencari perempuan lagi?"

"Kalau bukan perempuan yang dicari, memangnya dia mencari orang lelaki....."

Tong Koat segera tersenyum.

"Andaikata kau juga mempunyai banyak pengalaman seperti dia, maka kau akan segera mengerti bahwa orang lelaki sebenarnya jauh lebih menyenangkan daripada orang perempuan"

Ketika tertawa sepasang matanya juga berubah menjadi sebuah garis lengkung, persis seperti sorot mata adiknya ketika memperhatikan wajah Bu ki.

Tiba-tiba saja Bu ki merasa perutnya mual dan ingin tumpah.

Mendadak ia teringat diri "Siao-poo", mendadak terbayang hubungan antara Tong Koat dengan Siau Poo.

Untung saja ia tidak sampai muntah, walaupun hal itu harus diatasinya dengan bersusah payah.

Ternyata Tong Koat memegang tangannya lalu menariknya sembari berkata lagi.

"Masih ada satu hal lagi, kaupun musti bertindak sangat berhati-hati"

Bu ki berusaha keras untuk menahan diri, untung saja tangan itu tak sampai terbetot putus. Terpaksa dia bertanya.

"Persoalan apakah itu?"

"Lebih baik selama beberapa hari ini kau jangan sembarangan berjalan kesana kemari"

"Kenapa?"

"Sebab semalam tempat kami ini telah kedatangan mata-mata"

"Sungguh?"

"Masa aku membohongimu?"

"Siapa yang begitu bernyali, berani mendatangi benteng keluarga Tong sebagai mata-mata?"

"Tentu saja orang-orang yang tidak takut mati"

"Tahukah kau siapa orangnya?"

"Sekarang kami masih belum berhasil menemukannya, sebab itu semua tamu asing yang kebetulan menginap dalam benteng keluarga Tong semalam, termasuk orang-orang yang dicurigai"

"Kalau begitu tentu saja aku juga termasuk orang yang dicurigai bukan?"

"Tidak, cuma kau seorang yang terkecuali"

"Kenapa?"

"Sebab semalam aku telah pergi menengokmu, aku melihat kau tertidur seperti anak kecil bahkan masih mengigau lagi"

Kemudian sambil menepuk tangan Bu ki terus seraya tersenyum.

"Aku tahu, kau pasti selalu merasa kuatir bila diusir oleh kami, sampai-sampai waktu mengigaupun kau memohon kepadaku, padahal kaupun tak usah kuatir, selama aku berada di sini, tak akan ada orang berani menyuruh kau pergi. Bu ki tidak bermimpi, diapun tidak mengigau. Bahkan semalam, pada hakekatnya ia tak pernah tidur. Tapi siapakah yang tidur di ranjangnya? Siapakah yang mewakilinya untuk mengucapkan kata-kata igauan. Orang pertama yang dipikirkan adalah Kwik Ciok ji, tapi andaikata Kwik Ciok ji yang tidur di atas ranjangnya, siapa pula orang yang menolongnya dengan mengalihkan perhatian para jago yang sedang menjaga sekitar hutan itu?"

Bu ki benar-benar tidak habis mengerti. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, cuma tanyanya dengan hambar.

"Apakah kau tidak pernah memikirkan tentang si burung kecil itu....?"

"Kau maksudkan Kwik Ciok Ji?"

Tanya Tong Koat.

"Selain dia, siapa lagi?"

"Juga bukan dia"

"Dari mana kau bisa tahu kalau bukan dia?"

"Sebab aku telah menyuruhnya untuk melakukan suatu persoalan, hari belum lagi gelap dia sudah pergi"

Ternyata bayangan manusia yang membantu Bu ki untuk memancing pergi jago-jago dari benteng keluarga Tong bukan Kwik Ciok ji, orang yang tidur di ranjang Bu ki dan mengucapkan kata-kata igauan, sudah terang juga bukan Kwik Ciok ji, karena waktu itu dia sama sekali tidak berada di dalam benteng keluarga Tong.

Bu ki tidak berbicara.

Waktu ia masih dapat menjaga ketenangan hatinya, tapi untuk sesaat lamanya dia benar-benar tak sanggung mengucapkan sepatah katapun.

Tong Koat lagi menatapnya dengan sepasang matanya yang sipit seperti garis lengkung, kemudian katanya.

"Tampaknya kau sangat berharap kalau dialah mata-mata tersebut...."

"Aku cuma berharap kalian bisa selekasnya menundukkan mata-mata tersebut...."

Sahut Bu ki hambar.

"Tak usah kuatir, entah siapakah orang itu dan entah berapa besarkah kepandaian silatnya, jangan harap dia bisa meninggalkan benteng keluarga Tong dengan selamat"

Sikapnya seolah-olah berubah menjadi amat sedih, bagaikan ia sudah menyaksikan sang algojo mengayunkan kampaknya, asal kampak itu diayunkan ke bawah, niscaya batok kepala mata-mata itu akan terpenggal sampai kutung.

Tampaknya dia memiliki keyakinan yang besar sekali.

Tak tahan Bu ki bertanya lagi.

"Apakah kau sudah menemukan titik terang?"

"Sekalipun saat ini belum kujumpai titik terang apapun, aku yakin titik terang tersebut sudah pasti dapat ditemukan"

"Oya?"

"Setiap orang yang kemarin malam seharusnya tidur di dalam kamar, namun tidak ditemukan berada di dalam kamarnya semuanya amat mencurigakan, inilah merupakan sebuah titik terang yang sangat baik"

"Kau sudah menemukan berapa orang?"

"Sampai sekarang sudah kuketemukan tujuh delapan orang"

"Tapi mata-matanya toh cuma satu"

Tong Koat segera tertawa dingin, katanya.

"Lebih baik salah membunuh seribu, daripada melepaskan seorang...."

Suara tertawanya persis seperti bocah cilik, serunya.

"Apalagi sekalipun salah membunuh tujuh delapan orang, juga tak bisa dibilang terlalu banyak"

Bu ki memahami maksud hatinya itu.

Andaikata mata-mata yang sebenarnya tidak diketemukan, maka ketujuh delapan orang itu sudah pasti akan mati ditangannya.

Sebab mereka sama sekali tidak takut bila sampai salah membunuh orang....

"Kendatipun ketujuh delapan orang itu bukan mata-mata semua, mata-mata yang sesungguhnya juga tak akan mampu untuk meloloskan diri"

Kata Tong Koat lebih jauh.

"Sedetik sesudah mata-mata itu menampakkan diri, aku telah menurunkan perintah untuk melarang siapa saja yang berada di dalam benteng keluarga Tong untuk meninggalkan tempat ini sebelum mata-mata tersebut tertangkap"

"Aku dengar pintu gerbang keluarga Tong tak pernah ditutup, benteng kalian selalu mengijinkan orang baru datang kemari"

"Benar"

"Itu berarti semalam pasti ada pula saudagar dan pelancong yang kebetulan berada di dalam benteng keluarga Tong"

"Ya, jumlah mereka seluruhnya ada dua puluh sembilan orang"

"Jadi sebelum perintahmu itu kau cabut, sampai merekapun tidak boleh pergi dari sini?"

"Sudah kukatakan, entah siapapun orangnya, bila ia berani meninggalkan benteng keluarga Tong barang satu langkahpun, maka orang itu harus dibunuh tanpa ampun"

Kemudian dengan tangannya yang kecil, gemuk dan putih dia menggenggam tangan Bu ki erat-erat, kemudian lanjutnya.

"Kau harus percaya kepadaku, sebab semua perintah yang kuucapkan selamanya amat jujur"

Bu ki tidak berbicara lagi. Tong Koat segera berkata kembali.

"Aku pikir kau pasti lapar sekali sekarang, saat ini adalah waktu untuk sarapan pagi, belakangan ini walaupun napsu makanku kurang baik, sedikit banyak aku harus menemanimu untuk makan sedikit"

Suara tertawanya semakin riang lagi, terusnya.

"Akupun dapat memberi jaminan kepadamu. Bakmi ikan dan Bakpau daging buatan tempat ini tidak akan kalah bila dibandingkan dengan buatan rumah makan Kui goan koan di kota Hongciu"

Seseorang yang pandai sekali berbohong, bila berada dalam keadaan yang penting, dia tidak akan bicara bohong.

Apa yang dikatakan oleh Tong Koat tadi ternyata memang tiada yang bohong.

Bakmi dan bakpao yang ada di situ memang rasanya tidak kalah dengan buatan rumah makan Kui goan koan di kota Hongciu.

Ranjang Bu ki juga benar-benar pernah ditiduri orang.

Caranya tidur sangat baik, walaupun semalam dia telah tiduran sebentar di atas ranjang, tapi sebelum pergi, seperti di situ telah diatur kembali dengan rapi.

Tapi sekarang keadaannya acak-acakan tidak karuan, seperti ada orang telah bermimpi jelek di tempat itu.

Lantas siapakah orang itu?

Kecuali Kwik Ciok ji, tiba-tiba Bu ki teringat kembali akan diri seseorang, See si.

Sesungguhnya hal ini adalah rahasianya.

Rahasia tersebut selalu ia sembunyikan di dasar hatinya, bahkan untuk dipikirkan saja tidak berani, sebab dia kuatir tindak tanduknya akan menunjukkan jejak, dan dia kuatir hal tersebut diketahui oleh Tong Koat dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan sepasang jarum itu.

Tay hong tong pernah mengutus beberapa orang pasukan "berani mati"

Untuk menyelundup ke dalam wilayah musuh dan menjadi pencari info di situ.

Bukan saja mereka telah bersiap sedia mengorbankan jiwanya demi kepercayaan dan keperkumpulannya, lagipula mereka tidak segan untuk mengorbankan segala apapun, yang lelaki tak segan -segan mengorbankan kesucian tubuhnya.

Tapi sebagian besar dari orang-orang itu mengalami kegagalan total, hanya salah seorang di antaranya yang berhasil menyelundup masuk sampai ke dalam benteng keluarga Tong.

Orang ini adalah satu-satunya pion yang ditanamkan pihak Tay hong tong di dalam benteng keluarga Tong.

Lelaki atau perempuankah orang itu?

Siapakah namanya?

Bu ki sama sekali tidak tahu.

Sebab hal ini merupakan rahasia yang paling besar bagi perkumpulan Tay hong tong mereka.

Pelaksanaan dari tugas rahasia tersebut dipimpin langsung oleh Sugong Siau-hong, orang itupun langsung mendapat perintah dari Sugong Siau-hong.

Semua rahasia yang menyangkut tentang orang ini, selain Sugong Siau hong, tak ada orang kedua yang mengetahuinya.

Bu-ki cuma mengetahui tanda atau kode rahasia yang dipergunakan orang itu bila ingin mengadakan hubungan kontak dengan Sugong Siau hong.

Kode itu adalah.....

See-si.

Dari dulu sampai sekarang, mata-mata yang paling berhasil adalah See si, tapi pengorbanan terbesar yang harus dibayar juga See si.

Sebab bukan saja dia telah mengorbankan nama dan kebahagiaan, juga mengorbankan perasaan dan kegadisannya, mengorbankan segala sesuatu yang paling berharga dari seorang wanita.

Tapi, bagaimana pula dengan "See-si"

Dari Tay hong tong?

***** SAHABAT KETIGA Siapakah See si?

Bu ki selalu berusaha untuk menjauhkan pikirannya dari pertanyaan itu, dia berusaha untuk menghindari persoalan itu, bahkan kendatipun ada orang yang bersedia memberitahukan kepadanyapun, dia akan menampik untuk mendengarkannya.

Pada hakekatnya, dia tak ingin mengetahui rahasia tersebut.

Sebab rahasia ini mempunyai pengaruh yang terlampau besar, setelah tahu akan hal ini, tak urung akan muncul pula semacam tanggung jawab atau beban di dalam hatinya.

Ia lebih tak ingin membiarkan orang itu tersiksa atau menderita hanya disebabkan gara-gara ulahnya.

Tapi sekarang.

"See si"

Tampaknya sudah menampakkan diri bahkan dia menampakkan diri demi menyelamatkan selembar jiwanya. Seandainya bukan "See si"

Yang memancing perginya jago-jago tersembunyi sekarang, besar kemungkinan dia sudah tewas di dalam hutan tersebut..... Seandainya bukan "See-si"

Yang tidur di ranjangnya untuk melindungi dirinya, sekarang sudah pasti dia akan menjadi orang yang paling dicurigai, malah besar kemungkinannya Tong Koat malah turun tangan terhadap dirinya.

Tapi "See-si"

Hanya ada seorang.

Padahal yang memancing perginya jago-jago dari persembunyian dan orang yang tidur di ranjang jelas adalah dua orang yang berbeda, siapa pula orang yang satu itu?

Pikiran Bu-ki kembali merasa kacau dan kalut.

Bukan cuma kalut saja, dia mulai menyesal, menyesal kemarin malam tidak seharusnya dia pergi menyerempet bahaya.

Tindakan yang dilakukan secara gegabah bukan saja membuat "See-si"

Menjadi terseret, bahkan terseret tanpa berhasil mendapatkan apa-apa.....

Andaikata Tong Koat hendak membunuh orang dalam keluarga Tong, berapa saja yang akan dibunuhnya, dia tidak akan merasa sedih atau murung.

Tapi jika kedua puluh sembilan orang saudagar dan pelancong itu sampai mati karena dia.....

Dia tak ingin berpikir lebih jauh.

Dia bersumpah, mulai hari ini dia tak akan melakukan sesuatu tindakan yang tidak yakin menghasilkan.

Tapi, kesempatan yang "meyakinkan"

Tersebut sampai kapan baru akan tiba?

Dia harus mempergunakan cara apa untuk bisa mendekati Sangkoan Jin?

Sekalipun ada kesempatan seperti itu, dapatkah dia memanfaatkan sebaik-baiknya untuk membinasakan diri Sangkoan Jin?

Ia masih belum ada keyakinan, sama sekali tiada pegangan.

Sekarang, walaupun dia telah berada dalam benteng keluarga Tong, namum selisihnya dengan sasaran yang hendak dicapai masih terlampau jauh.....

Di depan matanya masih terbentang sebuah perjalanan yang sangat panjang, panjang sekali, tak bisa disangkal lagi perjalanan yang harus dilaluinya itu jauh lebih sukar dan jauh lebih berbahaya.

Dapatkah dia menyeberangi jalan itu?

Mendadak Bu ki merasa sangat kecapaian, sedemikian capainya sampai dia ingin membuang segala sesuatunya jauh-jauh, sedemikan lelahnya sampai dia ingin menangis tersedu-sedu.

Ia tak dapat membuang segala sesuatunya, diapun tak dapat menangis.....

Tapi, paling tidak ia bisa pergi tidur sebentar.

Sepasang matanya dipejamkan, dia merasa sekujur badannya semakin tenggelam ke bawah, pelan sekali tenggelamnya makin lama semakin dalam, semakin dalam.....

***** Dua jendela itu setengah terbuka.

Pepohonan yang hijau dan rindang terbentang di luar jendela, udara terasa kering tapi segar.

Tiba-tiba sesesosok bayangan manusia berkelebat melewati pepohonan dan hijau dan menyusup naik masuk ke dalam ruangan lewat daun jendela, cepat dan gesit sekali gerakan tubuhnya, persis seperti seekor burung walet....

Orang itu berparas tampan, memakai pakaian ringkas yang perlente, gerak-geriknya sangat enteng, lincah dan cekatan, jauh lebih cepat daripada gerakan tubuhnya di waktu-waktu biasa.

Di tangannya dia menggenggam sebilah pisau.

Sekali melompat dia langsung menerjang masuk ke dalam ruangan dan menerkan ranjang Bu ki, mata pisaunya yang tajam langsung ditujukan ke atas tenggorokan Bu ki.

Jilid 28________ Sang surya baru memancarkan sinarnya dari luar jendela, mata pisau itu membiaskan sinar tajam yang amat menyilaukan mata.

Namun tusukan pisau itu tidak dilanjutkan.

Bu ki juga tidak bergerak.

Dia belum lagi tertidur, begitu orang itu masuk ke dalam ia telah mengetahuinya.

Diapun lagi keheranan.

Dengan gerakan tubuhnya yang begitu gesit, lincah dan cepat seperti apa yang dilakukan sekarang, tidak seharusnya sodokan tinjunya tadi bersarang telak diatas batang hidungnya Sodokan tinjunya itu tepat bersarang diatas hidungnya, hidungnya sudah kena dijotos sampai hancur dan bengkak-bengkak tidak karuan lagi bentuknya.

Mengapa dia harus menerima sodokan tinjunya itu?

Apakah dia sengaja berbuat demikian agar Bu-ki memandang rendah dirinya, kemudian dia baru mendapat kesempatan untuk melakukan pembunuhan?

Bu-ki memang memandang dirinya.

Mungkin sebagian besar orang sama-sama memandang rendah dirinya, menganggap "Siau poo"

Tidak lebih cuma seorang teman Tong Koat yang sama sekali tak ada gunanya......mungkin berguna bagi Tong Koat, tapi bagi orang sama sekali tak ada gunanya.

Tapi sekarang, orang yang sama sekali tak berguna itu telah menampilkan kelincahan, ketenangan serta kemampuan yang sama sekali diluar dugaan siapapun juga.

Tangannya yang menggenggam pisau tampak sangat mantap, tiada butiran keringat yang membasahi wajahnya.

Saat itulah Bu-ki membuka matanya dan memandang ke arahnya dengan pandangan dingin;

"Oooh.....rupanya kau...."

"Tentu saja aku!"

Suara Siau poo sama tenangnya.

"Aku toh sudah bilang, aku pasti akan membunuh dirimu!"

"Aku masih ingat!"

Bu-ki manggut-manggut.

"Sekarang aku telah datang untuk membunuhmu, sebab membunuh orang di siang hari jauh lebih gampang dari pada di malam hari"

"Oooo...."

"Sebab siapapun pasti akan lebih teledor penjagaannya di siang hari, tapi bila malam telah tiba. kewaspadaannya malah semakin meningkat..."

"Ehmm, ucapanmu memang masuk diakal"

"Oleh sebab itu bila sekarang ada orang datang kemari, ada orang telah menemukan aku. maka aku adalah datang untuk membunuhnmu"

Perkataan itu kedengarannya sangat aneh. Tak tahan lagi Bu-ki lantas berkata. Seandainya tiada orang yang mengetahui akan kedatanganmu, juga tak ada orang yang datang kemari?"

Tiba tiba Siau Poo tertawa sahutnya.

"Bila aku sungguh sunnguh ingin membunuh kau, kenapa sampai sekarang belum juga turun tangan?"

Tertawanya kelihatan aneh sekali, juga amat misterius, tiba tiba sambil merendahkan suaranya dia berbisik.

"Taukah kau ada berapa orang dalam benteng keluarga Tong ini yang menginginkan batok kepalmu?"

Bu-ki jga tertawa katanya.

"Buat apa mereka menginginkan batok kepakalu ini?"

Suara tertawa Siau Poo semakin aneh, suaranya juga semakin rendah kemabali tanyanya;

"Taukah kau berapa pasaran untuk batok kepala Tio-Bu-Ki pada saat ini?"

Paras muka Bu-ki sama sekali tidak berubah, ia sudah melatih dirinya secara baik-baik, melatih dirinya sehingga tidak mengalami perubahan apapun dalam menghadapi keadaan seperti apapun.

Namun kelopak matanya toh berkerut juga.

"Sesungguhnya siapakah kau?"

"Kau seharusnya tahu tentang aku...."

Sepatah demi sepatah Siau Poo melanjutkan.

"Akulah See-si!"

Bu-ki tidak menunjukkan perubahan sikap apa apa.

Walaupun delapan puluh persen dia sudah percaya kalu Siau Poo adalah See-si, tapi ia sudah terbiasa dengan sikap menyembunyikan segala macam perubahan perasaannya itu di dalam hati.

"Kemarin malam. aku telah datang kemari"

Kata Siau Poo.

"Oooo...?!"

"Waktu aku kemari, kau kebetulan lagi pergi!"

"Oooo...."

"Aku melihat kau masuk ke hutan, tapi aku tahu kau pasti tak mampu keluar dari situ, sebab untuk melalui hutan itu juga harus mengetahui kode rahasianya"

Kode rahasia yang dikatakanpun berbunyi.

"Maju tiga mundur satu, kiri tiga kanan satu"

Sekarang, Bu-ki baru tahu mengapa pagi tadi ia tak mampu berjalan keluar dari hutan, sebab kode rahasia yang diketahuinya adalah kode rahasia bila kau ingin masuk hutan dari loteng kecil itu, jika ingin keluar dari hutan, maka kode rahasia yang harus digunakan pun merupakan kebalikannya.

Dalam tergesa gesanya Lui Ceng Thian telah membuat keteledoran, tapi gara gara keteledorannnya itu hampir saja selembar nyawanya ikut melayang.....

Walau bagaimanapun kecilnya suatu keteledoran; kemungkinan besar dapat berubah menjadi suatu kesalahan yang fatal, suatu kesalahan yang mematikan.

Pelajaran inipun berhasil diraihnya di dalam pengalaman yang pahit dan penuh penderitaan.Kata Siau Poo lagi.

"Waktu itu kau sudah pergi amat jauh, baru aku akan memberitahukan hal itu kepadamu, kau sudah melompat naik ke atas dahan pohon. aku tahu asal kau sudah naik ke atas, maka jejakmu dengan cepat akan ketahuan............."

"Oleh sebab itu kaupun turut menyusup ke atas dengan maksud untuk membantuku memancing perginya jago jago tersembunyi?"

"Sebenarnya aku ingin berbuat demikian tapi sudah ada orang yang bertindak selangkah lebih cepat dari padakau!"

"Jadi orang itu bukan kau?"

"Bukan!"

Ia jelas merasa kaget bercampur tercengang.

"Masa kau juga tidak tahu siapakah orang itu?"

Bu-ki tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Siau Poo termenung, lewat lama sekali dia baru melanjutkan.

"Akupun tahu, begitu jejakmu ketahuan pasti ada orang yang akan segera memeriksa kamarmu serta meyakinkan apakah kau tetap berada di kamar atau tidak"

"Maka kaupun mewakili aku untuk tidur di atas ranjang tersebut?"

"Kugunakan selimut untuk menutupi kepala dan berpura pura tertidur sangat pulas, betul juga, tak lama kemudian benar benar ada orang yang datang melakukan pemeriksaan"

"Tapi kau toh tidak harus mengucapkan kata kata igauan?"

"Akupun tahu bahwa tidak harus mengigau, cuma kebetelun saja aku mempunyai kepandaian yang istimewa dalam bidang ini.

"Kepandaian apa?"

"Aku dapat menirukan suara orang lain; entah suara siapapun; aku dapat menirukannya secara persis dan tepat."

Kemudian ia menambahkan "Dari serombongan orang yang diutus bersamaku, semuanya telah mendapat pendidikan khusus di dalam bidang ini"

"Taukah kau siapa yang telah datang melakukan pemeriksaan di dalam kamarku?"

"Aku tidak melihat, juga tak berani melihat, tapi aku tebak besar kemungkinannya adalah Tong Koat."

Kemudian ia menambahkan lagi.

"Sebab penjagaan serta keamanan di dalam benteng keluarga Tong merupakan tugas dan tanggung jawabnya"

"Kalau begitu kau juga seharusnya dapat berpikir, kemungkinan besar dia akan pergi ke kamarmu serta memeriksa apakah kau ada di dalam kamar atau tidak"

"Dia tak akan mencurigai diriku!"

Kata Siau Poo.

"Kenapa?"

Siau Poo segara tertawa.

"Kau seharusnya juga dapat melihat hubunganku dengannya adalah hubungan yang istimewa......!"

Dia sedang tertawa, tapi dibalik senyuman itu penuh dengan kesedihan dan kepedihan.

Demi sumpah setianya kepada tujuan dan kepercayaan; meski dia rela mengorbankan segala sesuatunya; tapi pengorbanan itu entah terhadap siapapun merupakan suatu pengorbanan yang teramat besar.

Terbayang kembali hubungan mesranya yang tidak normal dengan Tong Koat, teringat pula akan kata "See-si"

Yang dipakai sebagai kata sandi serta makna sebenarnya yang terkandung dibalik nama itu, tentu saja Bu-ki dapat merasakan pula sampai dimanakah penderitaan, penghinaan, serta siksaan batin yang telah dialaminya selama ini.

Tak tahan lagi Bu ki menghela nafas panjang di dalam hati, kemudian berkata.

"Entah bagaimanapun juga, tidak seharusnya kau menampakkan diri, juga tidak seharusnya mengadakan kontak dengan diriku, pengorbanan yang kau berikan kepada kami selam ini sudah terlampau besar, kau tidak seharusnya menyerempet bahaya lagi"

Siau Poo segera tertawa lebar, katanya.

"Namun, pengorbanan yang telah kau berikan selama ini juga tidak kecil, bagaimana mungkin aku tega menyaksikan rahasia dan jejakmu ketehuan musuh?"

Dengan sorot mata tertegun Bu ki memperhatikannya beberapa saat, dia merasa menyesal, merasa terharu, merasa berterima kasih dan bercampur rasa kagum.

Hingga sekarang dia baru benar benar percaya, kalau di dunia ini masih terdapat orang lain yang rela mengorbankan diri demi kepentingan orang lain.

Justru karena di dunia masih terdapat manusia semacam ini maka keadilan dan kebenaran baru bisa selalu ditegakkan.

Sebab itu pula manusiapun masih bisa selalu hidup di dunia ini.

Siau Poo tersenyum katanya.

"Apalagi dia sekarang sudah mempunyai kedudukan bagus yang melindungi identitas kita yang sebenarnya, orang lain mengira kalau rasa benciku kepadamu sudah merasuk sumsum, setiap saat setiap detik selalu ingin mencabut nyawamu, mana mungkin mereka akan menduga kalau kita berdua sesungguhnya adalah sahabat?"

"Aku sendiripun tidak menyangka kalau di tempat seperti ini, aku masih mempunyai seorang teman seperti kau!"

Sekarang, di tempat ini dia sudah mempunyai tiga orang teman. Sikap Siau Poo secara tiba tiba berubah menjadi amat keren dan serius, katanya.

"Ada beberapa persoalan aku harus memberitahukan kepadamu dan aku harap kau untuk memperhatikannya dengan serius dan seksama, sebab hal ini penting sekali artinya bagimu"

Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan "Kerja sama antara benteng keluarga Tong dengan Pek lek tong lebih tepat kalau dikatakan sebagai suatu perhubungan yang saling membutuhkan dan memanfaatkan, dan kini hubungan mereka tampaknya sudah berubah menjadi suatu hubungan yang sangat buruk sekali, bahkan besar kemungkinannya Lui Ceng thian sudah ditahan oleh mereka"

"inilah suatu kesempatan yang baik sekali buat kita. Jika kita dapat memanfaatkan kesemaptan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga membiarkan mereka saling bunuh membunuh. maka dari tengah kita bisa meraih suatu keuntungan yang sangat besar sekali"

Ditahannya Lui Ceng thian jelas masih merupakan suatu rahasia beasr bagi orang orang benteng keluarga Tong, buktinya sampai Siau Poo pun tidak tahu menahu tentang hal ini.

Sungguh tak disangka justru Bu ki telah mengetahuinya lebih jelas bahkan telah bertemu sendiri dengan orangnya.

Kembali Siau Poo berkata.

"Sekarang, walaupun anggota Pek lek tong sudah dibikin porak poranda, ada yang sudah mati terbunuh, ada pula yang dikejar kejar terus oleh orang orang Bentemg keluarga Tong. tapi aku percaya mereka pasti masih ada sisa sisa orang yang bersembunyi di dalam benteng keluarga Tong ini serta menanti kesempatan untuk melakukan gerakan lagi"

"Dalam soal ini, aku pasti akan memperhatikannya dengan lebih seksama lagi!"

"Racun yang diindap Tong Giok sudah terlampau dalam, tak mungkin dia dapat sembuh dalam waktu singkat, dalam soal ini kau tak perlu meresa kwatir"

"Bagaimana dengan Mi Ci?"

Tak tahan Bu ki bertanya.

"Mi Ci?"

"Mi Ci adalah perempuan yang digotong pulang bersama peti mati yang berisi Tong Giok itu!"

"Apakah istri pertama dari Lui Ceng thian?"

Tanya Siau Poo. Bu ki mengangguk, tanyanya lagi.

"apakah dia sudah tertimpa musibah?"

"Dia belum mati, tapi jejaknya tidak begitu kuketahui"

Tentu saja persoalan semacam ini tak akan diperhatikan olehnya dengan seksama.

Tentu saja diapun tak akan menyangka akan hubungan dari istri pertama Lui Ceng thian dengan Bu ki.

Kembali Siau Poo berkata.

"aku tahu, maksud kedatanganmu kemari adalah bertujuan untuk membunuh Sangkoan Jin serta membalaskan dendam bagi kematian ayahmu"

Bu ki mengakuinya. Maka Siau Poo berkata lebih lanjut.

"Entah kau akan berhasil atau tidak, di dalam tujuh mendatang, kau harus sudah pergi meninggalkan benteng keluarga Tong"

"Kenapa?"

"Sebab semalam mereka telah mengutus orang menuju ke dusun Si tou cun untuk membuktikan apakah di dalam dusunn tersebut benar benar terdapat seorang manusia macam kau"

Agak tergerak hati Bu ki setelah mendengar perkataan itu, ujarnya.

"Menurut anggapanmu, orang yang mereka utus ke dusun Si tou ceng bisa balik kemari di dalam sepuluh hari?"

"Walaupun orangnya belum tentu bisa balik kemari, tapi si burung merpati sudah pasti dapat samapi di sini dalam waktunya"

Burung merpati.

Dengan cepat Bu ki teringat kembali dengan rombongan burung merpati yang dikirim pulang di kala Tong Ou berhasil memenangkan pertarungannya.....

Dengan cepat hatinya serasa tenggelam ke dasar lautan........

"Aku juga tahu betapa berbahaya dan sulitnya gerakanmu kali ini"

Ucap Siau Poo.

"Apalagi untuk menyelesaikan semua urusan dalam tujuh hari, boleh dibilang hal ini merupakan sesuatu yang mustahil, tapi, kau sudah tiada pilihan lainnya lagi"

Setelah berpikir sebentar, kembali katanya.

"Atau tugasnya saja; paling aman kalau batas waktu bagimu untuk berdiam di sini jangan sampai melampaui tujuh hari"

"menurut pendapatmu, berapa harikah yang merupakan saat yang paling aman bagiku?"

Tanya Bu ki. Setelah menghitungnya sebentar, dia berkata.

"Hari ini adalah tanggal dua puluh tiga sebelum fajar menyingsing tanggal dua puluh delapan, kau sudah harus pergi meninggalkan benteng keluarga Tong!"

"Akan kuingat sekali!"

"Meski waktunya teramat singkat, tapi kau masih tak boleh terlalu bertindak gegabah, apalagi mengambil tindakan yang terlalu besar resikonya"

Dengan paras muka yang berubah menjadi serius, dia menambahkan.

"Kalau cuma nyawamu sendiri yang hilang, sekalipun mati juga tak perlu disesalkan, tapi kalau gara gara kejadian ini sehingga mempengaruhi situasi yang lebih besar, waah, kalau sampai begitu, mati seratus kalipunbelum tentu bisa menebus dosa tersebut"

"Kenapa tindak tandukku bisa mempengaruhi keadaan, situasi pada umumnya?"

"Sebab keluarga Tong sudah mempunyai ambisi untuk menyerang Tay hong tong. itulah sebabnya mereka bersekongkol dengan Sangkoan Jin agar Sangkoan Jin lah yang menjadi penunjuk jalan untuk mereka"

"Soal ini aku bisa menduganya!"

"Sekarang, walaupun mereka merasa kalau saatnya belum matang. tapi menurut pengamatanku, dengan kemampuan yang mereka miliki sekarang, bukan suatu pekerjaan yang sulit bagi mereka untuk membasmi Tay hong tong dari muka bumi"

Kemudian dengan sepatah demi sepatah dia melanjutkan.

"Menurut penilaianku, paling banter dalam tiga bulan mendatang, mereka sudah berkemampuan untuk membasmi Tay hong tong!"

Tangan dan tubuh Bu ki telah basah oleh keringat dingin. berita ini memang cukup menggetarkan perasaannya. Siau Poo berkata lebih lanjut.

"Bila kau berani bertindak secara gegabah menggusarkan mereka akibatnya besar kemungkinan kalau mereka akan mempercepat rencana untuk menyerang Tang hong tong, jika samapai begitu...""

Dia tidak melanjutkan kata katanya.

diapun tak perlu melanjutkan katanya.

Peluh dingin telah membasahi sekujur badan Bu ki perkataan tersebut telah membikin hatinya tercekat.

Siau Poo termenung sebentar tiba tiba katanya lagi.

"Masih ada satu hal hendak kukatakan kepadamu!"

"Soal apa?"

"Kecuali aku, aku percaya pasti masih ada seseorang lagi yang diselundupkan ke dalam benteng keluarga Tong!"

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Sebab beberapa kali aku menjumpai kesulitan. tapi secara diam diam orang itu telah membantuku untuk menyelesaikan kesulitan itu"

Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan.

"Sebenarnya aku masih belum berani memastikan akan kebenaran dari persoalan ini sampai kemarin malam, aku baru percaya kalu dugaanku memang tidak salah"

"Maksud hal ini disebabkam karena selain kau, ternyata masih ada orang lain yang secara diam diam melindungiku serta membantuku untuk memancing perginya jago jago tersembunyi itu?"

Siau Poo tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.

"Apakah kau sempat melihat jelas macam apakah bentuk wajah orang itu...?"

Bu ki segera menggeleng.

"Aku hanya melihat kalau orang itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, gerakan tubuhnya cepat sekali!"

"Dia itu seorang lelaki ataukah seorang perempuan?"

"Kemungkinan besar adalah seorang lelaki!"

Ia berpikir sebentar, kemudian katanya lagi sambil, menggeleng.

"Tapi kemungkinan juga dia itu seorang perempuan, cuman perawakannya saja tinggi besar"

Siau Poo kembali termenung, mukanya tampak aneh sekali.

"Apakah sudak kau temukan mungkin siapakah dia?"

Tanya Bu ki. Siau Poo mengangguk, kemudian menggeleng lagi, gumannya.

"Aku tak berani mengatakannya, tapi bila dugaanku tak salah..."

Ia tidak melanjutkan kata katanya. Dari anak tangga di luar sana seperti terdengar suara langkah manusia. dengan cepat Siau Poo menyusup keluar lewat jendela. Sebelum pergi ia sempat berpesan lagi.

"hati hati dan jaga diri baik baik. ingat sebelum tanggal dua puluh delapan kau sudah harus pergi"

Sekarang sudah tanggal dua puluh tiga tengah hari, itu berarti batas waktu Bu ki tinggal empat hari lebih.

Ia cuma mempunyai sebilah pedang dan tiga orang teman.

Tapi orang yang harus dihadapi entah berapa banyak jumlahnya.

***** MENYELIDIK Tengah hari, itulah saatnya bersantap siang, Tong Koat munculkan diri untuk mengajak Bu ki bersantap.

Asal dia itu manusia, dia harus bersantap.

Oleh sebab itu.

meski napsu makan Tong Koat belakangan ini kurang baik, dia toh memaksakan diri untuk bersantap sedikit Karena belakangan ini dia memang terlampau kurus.

Bu ki juga tak dapat mengatakan dia itu gemuk, apabila dibandingkan dengan sementara binatang dia memang tak bisa dikatakan gemuk.

Paling tidak dia lebih kurus kalau dibandingkan dengan kuda nil, lingkaran pinggangnya juga lebih kecil satu dua inci dari pada lingkaran perut si kuda nil.

Untuk menutupi kekurangannya itu, tengaah hari tersebut terpaksa dia harus memaksakan diri untuk makan sedikit, Sayang sekali napsu makannya memang kurang baik, maka dia cuma makan empat potong Ti tee (kaki babi), dua mangkuk bakmi, tiga ekor ayam dan seekor itik panggang yang hampir saja kurusnya dengan badannya itu.....

Kemudian tentu saja diapun makan sedikit hidanngan yang manis manis, kalau tidak, mana mungkin santapan tersebut bisa dianggap sebagai suatu santapan siang?

Maka diapun makan dua belas biji bakpao isi Tausa, enam lapis kueh lapis dan tiga potong kueh serabi, Selesai bersantap tentu saja harus makan buah buahan sebagai pencuci mulut, dia cuma makan tujuh belas biji pisang, empat puluh biji buah apel dan lima biji semangka.

Mau tak mau Bu ki memang harus kagum kepadanya, Ia benar benar tak bisa membayangkan, andaikata napsu makan orang ini lagi baik, berapa banyak makanan yang bakal ditelan olehnya?

Napsu makan sendiri selamanya baik, tapi semua makanan yang telah dimakannya selama setengah bulan terakhir ini jika dijumlahkan, ternyata masih kalah banyak dibandingkan dengan hidangan yang dimakan Tong Koat dalam sekali makan.

Tong koat kelihatan murung sekali, dia murung karena masih ada beberapa biji semangka yang belum habis dimakan.

Sambil menggelengkan kepala dan menghela napas panjang, gumannya berulang kali "Bagaimana ini?

Aku sudah tak mampu untuk memakannya lagi, aai......bagaimana ini?"

"Aku punya sebuah akal bagus"

Seru Bu ki.

"Apa akalmu itu? cepat katakan!"

"Bila tak bisa dimakan lagi, lebih baik jangan dimakan!"

Tong Koat berpikir sebentar kemudian sambil bertepuk tangan ia tertawa tergelak.

"Haaahhh....haaaahhh.....haaahhh.... suatu ide yang sangat bagus sekali, serunya,"Kalau tak mampu dinamakan heran! kenapa ide sebaik ini tak pernah kebayangkan sebelumnya?"

Tertawanya itu bukan saja seperti orang anak-anak.

bahkan lebih mirip dengan seorang anak bodoh.

Pada hakekatnya dia lebih cocok kalau dibilang mirip seorang bocah yang lemah ingatan Untung saja Bu ki sudah tahu, si manusia lemah ingatan ini sebenarnya adalah manusia lemah ingatan seperti apa.

Akhirnya Tong Koat berhasil juga menyelesaikan santapannya.

Setelah mencuci sepasang tangannya yang kecil, putih dan gemuk itu dalam sebuah baskom, tiba tiba ia bertanya kepada Bu ki.

"Apakah kau dapat melihat garis muka orang?"

"Melihat garis muka orang?"

Sekalipun Bu ki tahu tentang arti perkataan itu, diapun akan berlagak seakan-akan tidak tahu.

Sebab pertanyaan yang diajukan oleh Tong Koat itu aneh sekali, jawabannya mau tak mau juga harus berhati hati.

Kembali Tong Koat berkata.

"Maksudnya melihat garis muka orang adalah membaca dari paras muka orang lain untuk menentukan manusia macam apakah dia sebenarnya"

"Oooh........?"

"Biasanya seorang yang pandai melihat garis muka orang, dalam sekilas pandangan saja dapat mengetahui baik buruknya orang serta bajik atau jahatnya seseorang"

"Aku mengerti!"

Tong Koat tersenyum, kembali katanya.

"Aku tahu, kau pasti pandai melihat garis muka orang"

"Kenapa?"

"Sebab kau pandai membunuh orang"

"Masa orang yang pandai membunuh orang pasti pandai melihat garis muka orang?"

"Kalau kau tidak pandai melihat garis muka orang, dari mana bisa kau ketahui manusia macam apa yang tak boleh dibunuh? Dan manusia macam apa yang boleh dibunuh? Mnnusia macam apa bisa dibunuh? Dan manusia macam apa tak bisa dibunuh? Bu ki tak bisa menyangkal bahwa sedikit banyak perkataan itu memang masuk diakal. Jika seseorang yang menjadikan membunuh orang sebagai pekerjaannya, dia memang harus memiliki semacam kemampuan untuk mengawasi dan mempertimbangkan kemampuan orang lain. Bukan saja dapat mengamati gerak geriknya, juga harus dapat membaca suara hatinya.... itulah yang dinamakan sebagai ilmu melihat garis muka orang Bila seseorang bisa meramalkan nasib, dapat membacakan nasib orang yang sudah lewat dan yang akan datang, kebanyakan juga mendasarkan kepandaiannya dalam hal ini. Terdengar Tong Koat berkata lagi.

"Dapatkah kau membantuku untuk melihat garis muka orang?"

Bu ki segera tertawa, sahutnya.

"Aku lihat kau ini banyak rejekinya, panjang umur, mana kaya juga anggun, cuma sayang napsu makanmu belakangan ini kurang baik"

Tong Koat segera tertawa tergelak.

"Haaahhh...haaahh....haaahh.... tepat sekali ramalanmu itu, tepat sekali!"

"Tentu saja ramalanku sangat tepat, sebab aku sudah tahu manusia macam apakah dirimu itu, tak usah dilihatpun aku juga tahu"

Tong Koat tertawa. katanya lagi. Aku toh bukan menyuruh kau untuk melihatkan garis mukaku!"

"Lantas kau suruh aku melihatkan garis muka siapa?"

"Kau masih ingat dengan ke dua puluh sembilan orang itu?"

"Oooh, kau maksudkan dengan ke dua puluh sembilan orang yang kemarin dulu menginap di sini?"

"Yaa, memang merekelah yang kumaksudkan!"

"Aku masih ingat, agaknya dalam benteng keluarga juga terdapat rumah penginapan?"

"Apapun terdapat di dalam benteng keluarga Tong!"

"Aku juga masih ingin, kau pernah mengucapkan sepatah kata kepadaku....!"

"Ucapan apa?"

Bu ki berhenti sejenak, kemudian sahutnya.

"Kau pernah bilang, jika ada seseorang ingi menginap di suatu rumah penginapan pemilik penginapan itu pasti akan bertanya kepadanya, siapa namamu? Datang dari mana? Mau ke mana? Datang kemari ada urasan apa....?"

Tong Koat memang pernah berkata demikian. dia hanya mengakui daya ingatan Bu ki memang tidak jelek. Kembali Bu ki berkata.

"Dua malam berselang, apakah ke dua puluh sembilan orang itu menginap di dalam rumah penginapan kalian?"

"Benar!"

"Apakah kalian juga telah bertanya kepada mereka akan nama serta sal usulnya?"

"Pernah!"

"Kalau toh kau sudah mengetahui siapakah mereka dan datang kemari untuk apa, buat apa musti mengajakku untuk melihat lagi?"

"Sebab ada semacam persoalan yang bagaimanapun kamu ajukan, juga tidak berhasil diperoleh jwabannya"

"Ooooh?"

"bagaimanapun juga, kami toh tak bisa langsung bertanya kepada mereka, hei kau mata ya?"

"Betuk, meski sudah kalian tanyakan, mereka pasti juga tak akan mengakuinya"

"Maka dari itu, aku pun mengundang kau untuk melihatkan, sebenarnya mereka adalah seorang mata mata atau bukan?"

Sesudah tersenyum kembali dia menambhakan.

"Orang yang menjadi mata mata, batinnya pasti sangat guggup dan besar rasa curiganya bagaimanapun juga tampangnya pasti rada berbeda dengan lainnya, aku percaya kau pasti sanggup untuk membedakannya..."

Dari balik senyumannya kembali terpancar sinar tajam dari matanya yang sipit, sinar mata seseorang yang lemah ingatan sudah pasti tak akan setajam itu.

Hanya sinar mata ular berbisa baru akan memancarkan cahaya seperti itu.

Siasat busuk apalagi yang sedang ia sususn?

Diantara ke dua puluh sembilan orang itu benarkah terdapat anak murid Tay hong tong?

Apakah dia sudah mulai menaruh curiga terhadap asal usul dari Bu ki...?"

Reaksi dari Bu ki sama sekali tidak lambat, dalam detik itulah dia telah membayangkan setiap keadaaan yang kemungkinan besar terjadi..... Dia hanya bertanya.

"Di manakah orang orang itu?"

"Mereka pun lagi bersantap, setiap orang harus bersantap" ***** Dua puluh sembilan orang terbagi menjadi tiga meja, mereka sedang bersantap, di antaranya ada yang tua, ada yang muda, ada yang lelaki ada pula yang perempuan, dandanan mereka pun sama sekali berbeda, cara bersantap juga berbeda, ada yang makannya sangat lahap, ada yang makan sambil tundukkan kepala, ada pula yang makan dengan gaya seorang sastrawan. Cukup memandang cara mereka bersantap, sudah bisa dilihat tingkat keduddukan sosial di dalam mayarakat. Di antaranya orang yang makan paling lambat dan tampaknya paling baik cara makannya ternyata adalah Ci Peng! Jantung Bu ki secara berdebar keras. Ia sudah mendengar tentang hubungan Ci Peng dengan Cian Cian, sekarang Ci peng muncul di situ, berarti Cian Cian juga pasti berada di sekitar sana. Mau apa mereka datang ke situ? Apakah datang untuk mencarinya? Dia saja kenal dengan Ci Peng, tentu saja Ci Peng juga kenal dengan dirinya. Asal paras muka Ci Peng memperlihatkan suatu perubahan yang aneh, maka dia sudah pasti akan mati. Tiga buah meja makan yang bulat besar diatur di dalam sebuah halaman yang sejuk, di atas meja dihidangkan enam macam sayur, semacam kuah, empat macam hidangan barang berjiwa dua macam sayuran. Waktu itu, Ci Peng sedang bersantap sepiring cah sawi kuah, tahu dan daging sapi masak lombok. Dia telah melihat Bu ki. Tapi paras mukanya tidak menunjukkan perubahan apa pun, sumpitnya masih tercekal kencang, bahkan sepotong daging yang sedang disumpitnya pun tidak terlepas. Selamanya Ci Peng memang pandai sekali mengendalikan perasaan, lagi pula besar kemungkinan ia sudah tidak mengenali wajah Bu ki lagi. Entah siapapun itu orangnya, tak mungkin mereka bisa menemukan setitik hubungan antara dia dengan Bu ki. Cian Cian juga tidak ditemukan di sana. Tiga orang perempuan yang sedang bersantap semeja dengan Ci Peng tersebut, semuanya adalah perempuan perempuan yang belum pernah Bu ki jumpai selama ini. Dengan cepat perasaan Bu ki berubah menjadi tenang kembali. Tiba tiba Tong Koat berbisik kepadanya.

"Coba kau lihat, bagaimana dengan orang orang itu?"

"Aku lihat, orang orang itu tidak bagaimana"

"Dapatkah kau saksikan, siapakah di antara mereka yang besar kemungkinannya adalah mata mata?"

"Setiap orang kemungkinan besar adalah mata mata, setiap orang kemungkinan juga bukan"

"Kalau begitu menurut pendapatmu aku harus membunuh mereka semua? Atau melepaskan orang orang itu?"

"Kau pernah bilang, lebih baik salah membunuh dari pada salah melepas..."

Kata Bu ki hambar.

"Bersediakah kau untuk membantuku menghabisi nyawa mereka semua...?"

"Pekerjaan yang bisa menghasilkan uang kenapa musti kutolak? Dua puluh sembilan orang berarti dua ratus sembilan puluh laksa tahil"

Tong Koat segera menjulurkan lidahnya, sampai lama sekali baru ditarik kembali, katanya sambil tertawa getir "Dari pada menyuruh aku keluarkan uang sebanyak ini, lebih baik aku saja yang dibunuh"

"Kalau begitu silahkan kau turun tangan sendiri. aku tahu selamanya kau membunuh orang tanpa dipungut bayaran!"

"Aku membunuh orang tidak memungut bayaran? Kapan kau pernah melihat aku membunuh orang?"

Bu ki memang belum pernah melihatnya, ada sementara orang membunuh orang tanpa pisau, juga tak usah turun sendiri. Tiba-tiba Tong Koat menghela napas panjang, katanya.

"Sebenarnya aku tidak seharusnya mencari kau untuk urusan semacam ini...!"

"Lantas siapa yang seharusnya kau cari?"

"Sangkoan Jin!"

Asal mendengar nama Sangkoan Jin, darah Bu ki terasa mendidih, jantungnya juga terasa berdenyut lebih cepat.

Andaikata Sangkoan Jin benar benar telah datang, andaikata ia berjumpa muka dengan Sangkoan Jin, dapatkah dia menguasai diri sendiri?

Dalam hal ini, ia sama sekali tidak mempunyai keyakinan.

Andaikata dia tak tahan dan turun tangan, dapatkah ia menusuk Sangkoan Jin sampai mati di ujung pedangnya?

Dia lebih lebih tidak yakin.

Terdengar Tong Koat berkata.

"Konon Sangkoan Jin adalah seorang yang berbakat dari dunia persilatan yang jarang ditemukan dalam seratus tahunpun, bukan saja Bun bu siang cun (pandai dalam silat maupun sastra), lagi pula dia memiliki kepandaian yang bisa mengingat-ingat paras muka orang dalam sekilas pandangan, asal seseorang pernah diamatinya, maka dalam setiap kali perjumpaan dia tetap akan mengenalinya, sebagian besar murid Tay hong tong pernah dilihat olehnya, kalau dia yang kudatangkan kemari dia pasti dapat mengetahui siapakah mata matanya"

"Mengapa kau tidak mengundangnya kemari?"

Kata Bu ki Sekali lagi Tong Koat menghela napas panjang.

"Aaaai...........! Sekarang kedudukannya sudah berada diatas. dia mana sudi mengurusi urusan tetek bengek seperti ini?"

Mendadak dia berjalan ke depan dan menjura kepada orang orang yang sedang bersantap itu lalu sambil memicingkan matanya seraya tertawa, katanya.

"Kalian telah datang dari kejauhan, bila aku tidak menjamu kalian sebagaimana mestinya seorang tuan rumah terhadap tamunya harap kalian sudi memaafkan. Walaupun sayur yang dihidangkan hari ini kurang baik, toh nasinya bisa dimakan lebih banyakan sedikit. Tiba tiba ada orang yang tak tahan mengendalikan diri, mendadak tanyanya.

"Sampai kapan kami baru boleh pergi"

Tong Koat tertawa, sahutnya.

"Bila kalian ingin, seuasai bersantap boleh saja pergi meninggalkan tempat ini"

Baru selesai dia mengucapkan perkataan tersebut, sudah ada separuh di antaranya yang meletakkan sumpitnya ke meja, belum lagi mulutnya diseka mereka sudah terburu ingin pergi.

Ternyata Tong Koat sama sekali tidak bermaksud untuk menghalangi kepergian mereka itu.

Maka sisanya yang lainpun sama-sama meninggalkan tempat duduk dan berusaha pergi secepatnya dari situ.

Setelah semua orang tahu kalau di dalam benteng keluarga Tong kedatangan mata mata, siapapun di antara mereka tak ingin terseret di dalam peristiwa ini, tentu saja siapapun tak ingin berdiam terlalu lama lagi di sana.

Tiba tiba Tong Koat bertanya lagi kepada Bu ki.

"Benarkah kau tak dapat melihat siapa yang menjadi mata mata?"

Bu ki menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Untung saja aku dapat melihatnya"

Kata Tong Koat lagi. Kemudian sambil memicingkan matanya dan tersenyum, katanya lebih lanjut.

"Padahal sejak semula aku sudah tahu kalau di sini ada seorang mat mata!"

"Siapa?"

"Tio Bu ki!"

Tio Bu ki.

Mendengar nama tersebut, yang paling terkejut sudah tentu Tio Bu ki sendiri.

Namun Tong Koat sama sekali tidak memandang ke arahnya, walau hanya sekejap matapun.

Dari ke dua puluh sembilan orang yang berada di situ, hampir semuanya sudah keluar dari halaman tersebut, hanya seorang yang berjalan paling lamban.

Sepasang mata Tong Koat tertawa yang tajam bagaikan sembilu itu justru sedang mengawasi tubuh orang itu tanpa berkedip.

Ternyata orang itu bukan lain adalah Ci Peng.

Mendadak Tong Koat tertawa dingin, lalu serunya.

"Yang lain boleh pergi semua, Tio Bu ki apakah kau juga ingin pergi....?"

Ci Peng sama sekali tidak memberikan reaksinya.

Ia tak boleh menunjukkan sesuatu reaksi, juga tak dapat menunjukkan suatu reaksi sebab dia sesungguhnya memang bukan Tio Bu ki.

Dia masih melanjutkan langkahnya menuju ke depan, meski jalannya tidak terlalu cepat, langkahnya pun tak pernah berhenti.

Dua tiga langkah lagi, sudah pasti dia akan berjalan keluar dari halaman tersebut.

Tapi dia tak sempat melangkah keluar dari halaman itu, karena secara tiba tiba Tong Koat telah menghadang jalan perginya.

Orang yang berperawakan besar seperti kuda ini ternyata memiliki gerakan tubuh yang jauh lebih lincah dari pada macan kumbang.

Tentu saja Ci Peng merasa terperanjat sekali.

Dengan sorot mata yang tajam Tong Koat memperhatikan dari atas sampai ke bawah berulang ulang, kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa katanya.

"Aku sangat memuja dirimu, kau memang benar benar pandai memahami diri......,"

"Aku?"

Kata Ci Peng.

"Sebenarnya akupun tak berani mengundangmu untuk tetap tinggal di sini sayang akupun kuatir orang lain tahu"

"Tahu apa?"

"Andaikata ada orang tahu itulah Tio Bu ki kongcu telah berkunjung ke benteng keluarga Tong, akan tetapi tak seorang menusiapun dari keluarga Tong yang baik baik menyambut kedatanganmu, bukankah kejadian ini akan menjadi lelucon yang bakal ditertawakan semua orang di dunia ini?"

"Akan tetapi aku tidak she Tio juga tidak bernama Bu ki!"

Sangkal Ci Peng.

"Kau bukan Tio Bu ki?"

"Bukan!"

Tong Koat segera menghela napas panjang, katanya.

"Jika kau bukan Tio Bu ki, siapa pula yang bernama Tio Bu ki?"

"Tiba tiba dia berpaling dan perintahnya kepada seorang centeng.

"Dapatkah kalian mengirim seseorang untuk mengundang kembali orang yang bernama Gou Biau itu?"

Gou Biau adalah seorang kakek botak yang berusia empat puluh tahunan, sepasang matanya tajam dan bercahaya kilat, jelas ia merupakan seorang jago kawakan yang kaya akan pengalaman.

Tadipun bersantap di situ, duduk dihadapan Ci Peng, makannya juda paling banyak dan paling cepat, seolah olah sama sekali tidak kuatir kalau sampai peristiwa ini menyerempet dirinya.

Tong Koat pun memperhatikannya atas bawah sampai beberapa kali, setelah itu dia baru bertanya.

"Kaukah yang bernama Gou Biau?"

"Yaa, akulah orangnya!"

"Apa pekerjaanmu sekarang?"

"Aku adalah seorang piasau dari perusahaan ekspedisi Sam Tay piukiok sudah belasan tahun ngendon di dalam perumahan tersebut"

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Aku sering kemari, sebab pengurus rumah penginapan di sini adalah seorang paman mertuaku!"

Mendengar perkataan itu, Tong Koat segera tersenyum.

"Oooh....kalau begitu kau masih termasuk anak menantunya keluarga Tong...?"

"Rumah penginapan yang berada di tempat itu masuk termasuk benteng keluarga Tong, pengurusnya bernama Tong Sam kui, diapun seorang keturunan dari keluarga Tong, Kata Tong Koat lagi.

"Walaupun kau adalah menantunya keluarga Tong, tapi bila kuajukan pertanyaan kepadamu, kaupun harus menjawab dengan sejujurnya, setengah patah katapun tak boleh bohong"

"bagus, bagus sekali!"

Tiba tiba ia menuding ke arah Ci Peng kemudian tanyanya.

"Aku ingin bertanya kepadamu, dulu pernahkan kau berjumpa dengan orang ini?"

Tanpa berpikir panjang Gou Biau segera menjawab.

"Pernah!"

"Di mana kau pernah berjumpa dengannya?"

"Di dalam sebuah rumah makan di kota Poo teng!"

"Hingga kini Bu ki baru mengerti apa sebabnya Tong Koat harus mencari orang itu untuk ditanyai?"

Kota Poo teng adalah pusat kekuasaan dari perkumpulan Tay Hong tong..... Sudah lamakah kejadian itu berlangsung?"

Tanya Tong Koat lagi.

"Kalau dihitung hitung kejadian ini telah berlangsung pada dua tahun berselang"

"Orang yang pernah kau jumpai pada dua tahun berselang, masa masih bisa kau ingat kembali pada dua tahun kemudian?"

"Kesanku terhadap dirinya boleh dibilang cukup mendalam"

"Kenapa?"

"Sebab pada waktu itu masih ada seseorang yang berada bersamanya, sedang terhadap orang itu selama hidup aku tak akan pernah melupakannya....."

"Siapakah orang itu?"

"Orang itu adalah salah seorang dari tiga tongcu utama dalam Tay hong tong, si rase tua yang paling ditakuti setiap umat persilatan, Sugong Siau hong adanya!"

Perkataannya itu adalah ucapan yang jujur. Tio Bu ki dapat melihat kalau ucapannya tidak bohong, sebab paras muka Ci Peng sudah nampak sedikit perubahan. Kata Gou Biau lagi.

"Hari itu kami sengaja berkunjung ke tempat Sugong Siau hong untuk meminta maaf sebab ketika barang kawalan kami melaluui kota Poo teng lantaran teledor ternyata lupa mengirim kartu nama ke markas Tay hong tong. maka pihak Tay hong tong lantas mengurus orang yang mengatakan bahwa keamanan barang kawalan kami tidak ditanggung lagi oleh pihak Tay hong tong!"

Tong Koat segera menghela napas panjang, katanya.

"Aaaai.....bagaimanapun juga, kalian memang terlampau sembrono, siapakah jago persilatan di dunia ini yang tidak tahu kalau peraturan dari Tay hong hong selamanya lebih benar dari pada peraturan pemerintah sah. Dan kalian merasa punya berapa besar kepandaian sehingga berani bertindak segegabah itu?"

"Kami sendiripun juga sadar kalau telah membuat bencana itulah sebabnya buru buru kami datang mencari Sugong toaya untuk meminta maaf..."

"Apa dia bilang"

"Sepatah katapun tidak ia katakan!"

"Waaaaah..........bukankah keadaan kalian menjadi runyam?"

"Untung saja ada kongcu ini di sampingnya ketika itu, coba kau bukan dia yang mintakan ampun untuk kami, sudah pasti barang kawalan kami itu jangan harap bisa keluar dari wilayah kota Poo teng dengan aman dan tenteram.

"Apakah orang yang mintakan ampun bagi kalian adalah orang itu? ujar Tong Koat sambil menuding ke arah Ci Peng.

"Benar!"

"Kau tidak salah melihat?"

"Aku tidak salah melihat!"

"Jadi justru karena dia sudah mintakan ampun bagi kalian, maka Sugong Siau hong baru tidak menuntut ketidaksopanan kalian itu lebih lanjut.......?"

"Betul!"

Tong Koat segera tertawa, kembali katanya.

"Kalau begitu setiap perkataannya, bahkan Sugong Siau hong sendiripun pasti akan memberi muka kepadanya?"

Kemudian dengan pandangan mata tertawanya yang tajam bagaikan jarum itu dia amati Ci Peng sekali lagi, kemudian serunya.

"Kalau begitu, kepandaianmu betul hebat sekali"

Selamanya sikap Ci Peng selalu tenang dan pandai sekali menahan diri, tapi sekarang paras mukanya juga berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Waktu itu Sugong Siau hong sengaja membiarkan dia yang mintakan ampun buat Sam tay piaukiok, tujuan yang sesungguhnya adalah untuk memikul suatu kedudukan yang layak dan di segani orang baginya dalam dunia persilatan, agar teman teman persilatan banyak yang menaruh hormat kepadanya serta berterima kasih.

Memang begitulah perbuatan yang selalu dilakukan Sugong Siau hong, setiap waktu setiap saat dia selalu tak pernah lupa untuk memupuk angkatan muda agar lebih maju dan menempati kedudukan atau posisi yang lebih tinggi lagi dalam mata masyarakat.

Tentu saja pada saat itu dia tak pernah menyangka, jika perbuatannya itu justru mencelakakan diri Ci Peng.

Yaa, siapakah yang akan menyangka atas peristiwa yang bakal terjadi dikemudian hari?

Sementara itu Tong Koat telah tertawa mengejek, kemudian ujarnya kembali.

"Jika kau bukan tio Bu Ki, lantas siapakah dirimu? Apa hubunganmu dengan Sugong Siau hong? Dan apa pula sebabnya dia begitu menuruti perkataanmu?"

Dalam keadaan seperti ini, apa pula yang masih bisa dikatakan oleh Ci Peng? Dia hanya bisa berkata.

"Aku bukan Tio Bu ki, aku tidak berasal dari marga Tio, namaku juga bukan Bu-ki!"

"Oooh..... jadi kau masih belum mau mengaku?"

Seru Tong Koat keras "Aku tidak menyangkal apa apa, aku hanya bilang namaku bukan Tio Bu-ki, akupun bukan Tio Bu-ki!"

Rupanya dia telah mengambil keputusan, apa saja yang akan ditanyakan Tong Koat, dia hanya akan menjawab dengan sepatah kata, karena dia memang bukan Tio Bu-ki.

Hanya Tio Bu ki seorang yang benar benar tahu bahwa dia bukan Tio Bu ki Apakah dia juga tahu kalau orang yang sekarang sedang berdiri disamping Tong-Koat barulah Tio Bu ki yang sesungguhnya?

Andaikata ia dapat menunjukkan dimanakah Tio Bu ki sesungguhnya berada, tentu saja ia bisa lolos dari situ dengan selamat.

Setiap orang hanya mempunyai selembar nyawa.

Setiap orang tak urung akan takut mati.

Apabila keadaan sudah terlalu memaksa, apakah diapun akan menghianati Bu-ki?

Bu-ki tidak yakin, bahkan Ci Peng sendiripun tak berani menyakininya.

Tiba tiba Tong Koat berpaling lagi kepada centengnya sambil berkata.

"Dapatkah kalian mengutus orang untuk mengundang datang Tong Sam-kui?"

MENCABUT PEDANG?

ATAU JANGAN?

Tong Sam-kui adalah salah seorang keturunan keluarga Tong dari keluarga jauh yang paling menonjol sendiri.

Dia masih terhitung saudara sepaman dengan Tong Lip.

Tahun ini dia berusia tiga puluh sembilan tahun, pandai bekerja dan luas pergaulannya terhadap makan minum dan berpakaian selalu menaruh perhatian khusus sehingga dia tampak bagaikan seorang pedagang yang berhasil.

Dalam kenyataan dia memang sukses sekali dalam usaha rumah penginapan yang kekuasaan diberikan kepadanya itu, dan lagi diapun mengerjakan pekerjaannya dengan sangat beraturan.

Didalam benteng keluarga Tong terdapat tiga puluhan buah toko setiap toko melakukan usahanya menurut aturan dan disiplin yang ketat, hal mana berbeda jauh bila dibandingkan dengan toko dari kota manapun didunia ini.

Sebab peraturan yang berlaku didalam benteng keluarga Tong adalah "Apa yang kau kerjakan kau harus mirip melakukan pekerjaan apa, kau menjual apa kaupun harus berteriak apa"

Dan disitu pula terletak kunci kesuksesan dari keluarga Tong selama ini. Tong Koat sudah mulai bertanya sambil menuding kearah Ci Peng tanyanya.

"Kau pernah berjumpa dengan orang ini?"

"Pernah!"

Jawaban dari Tong Sam kui sama tegasnya dengan jawaban dari Gou Biau.

"Kongcu ini sudah bukan pertama kali ini berdiam disini"

"Dulu ia pernah kemari?"

"Yaa, pernah datang kemari sebanyak empat kali"

Jawaban Tong Sam kui lebih terperinci lagi lanjutnya "Ketika datang untuk pertama kalinya, ini terjadi pada akhir tahun yang lalu bulan sebelas tanggal sembilan belas.

Selanjutnya setelah satu dua bulan satu kali baru berkunjung kemari, setiap kali datang dia tentu menginap selama dua tiga hari"

"Pernahkah kau bertanya kepadanya, dimana ia berdagang apa? Dan ada urusan apa datang kemari?"

"Sudah kunyatakan"

"Apa jawabnya?"

"Dia bilang dia adalah seorang pedagang kain, tokonya berada dikota Sian sia merek Siang Tay, dia datang kemari dengan maksud untuk berjual beli"

"Apakah dia membawa barang dagangan?"

"Yaa, setiap kali datang ia selalu membawa barang dagangan, dan setiap kali juga barang dagangannya pasti habis"

Setelah tersenyum, lanjutnya.

"Sebab barang yang dijualnya sangat murah, bahkan lebih murah tiga bagian dibandingkan dengan para pedagang grosir!"

Tong Koat juga tertawa.

"Dengan yang mendekil leher ada yang mengerjakan dagangan yang merugi juga ada yang mengerjakan, mengapa dia bersedia melakukan perdagangan yang merugi?"

"Itulah sebabnya aku merasa keheranan, maka ketika ia datang untuk kedua kalinya, akupun segera melakukan penyelidikan!"

"Bagaimana hasil penyelidikanmu?"

"Dikota Sian sia memang terdapat sebuah toko penjual kain yang memakai merk "Siang tay"

Cuma taukenya bukan dia"

Kemudian ia menambahkan.

"Tapi taukenya tahu kalau ada orang macam dia, sebab setiap dua bulan satu kali dia pasti datang untuk memborong kain, setelah itu barang dagangannya itupun dijual lagi kepada kami dengan harga bantingan"

"Apa pula yang berhasil kau selidiki?"

"Aku telah meninggalkan beberapa orang di toko Siang tay untuk menyaru sebagai pelayan disana, sebenarnya beberapa orang saudara itu bekerja pada tokonya engkoh Tek untuk belajar dagang kain, jadi cocok sekali kalau mengirim mereka untuk menyaru disana."

Yang dimaksudkan sebagai engkoh Tek, adalah Tong Tek, dia adalah pengurus dari toko penjual kain didalam benteng keluarga Tong......

"Itulah sebabnya, ketika dia pergi ke Siang tay untuk memborong kain lagi, orang yang mengirim barang pesanannya ke rumahnya adalah saudara saudara kita"

Kata Tong Sam kui.

"Sungguh tepat dan sempurna sekali cara kerjamu kali ini!"

Puji Tong Koat sambil tertawa.

"Menurut laporan yang dikirim saudara saudara kita yang menghantar barang pesanan kerumahnya itu, diapun tinggal dikota Sian sia, yang ditempati adalah rumahnya Ong Lo tia, rumah tersebut disewa olehnya dengan beaya dua puluh tahil perak, jadi satu tahun uang sewanya adalah sepuluh tahil emas!"

"Tampaknya tidak kecil gedung yang ditempatinya itu?"

Kata Tong Koat sambil tertawa.

"Yaa, memang tidak kecil!"

"Apakah dia tinggal dalam gedung yang begitu besarnya itu seorang diri?"

"Tidak, dia tidak sendirian, masih ada seorang perempuan lagi yang tinggal bersamanya"

"Perempuan macam apakah itu?"

"Seorang perempuan yang muda, mana cantik lagi, logat bicaranya bernada dialek utara!"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan "Bahkan diapun telah menyuruh Ong Lo tia untuk membelikan seorang budak yang bernama "Kui ci", berusia delapan belas tahun, tubuhnya mana gemuk, sedikit rada bodoh lagi"

"Kalau seorang nona sudah mencapai usia tujuh delapan belas tahun, sekalipun bodoh juga seharusnya mengerti sedikit urusan"

Kata Tong Koat. Kemudian sambil memicingkan matanya tertawa lanjutnya.

"sekalipun urusan lain tidak dimengerti,ada satu urusan tentu dimengerti olehnya!"

Urusan apakah itu? Sekalipun ia tidak menerangkan, orang lain juga dapat menduganya. Tong Sam-kui pun segera melanjutkan.

"Itulah sebabnya aku menyuruh Siau kiu ke sana, selamanya Siau kiu memang ahli sekali dalam menghadapi perempuan"

"Wah......... kau memang pandai memilih orang!"

Puji Tong koat sambil tertawa Tidak sampai setengah bulan kemudian dayang itu sudah tunduk seratus persen kepada Siau kiu, apapun yang dia ketahui ia utarakan semua tanpa tedeng aling aling "Apa saja yang dia katakan?"

"Dia bilang perangai nona itu kasarnya bukan kepalang, kongcu tersebut merasa takut setengah mati kepadanya"

Kemudian setelah berhenti sebentar, pelan pelan dia melanjutkan.

"Dia masih memberitahukan pula kepada Siau kiu, biasanya kongcu itu memanggil si nona tersebut dengan sebutan namanya yakni Cian Cian"

Cian Cian!

Bu-ki merasakan hatinya bagaikan tenggelam di air.

Ternyata Cian Cian juga berada disekitar tempat itu, tanyanya dia memang masih berada bersama Ci Peng.

Sekali lagi Tong Koat memicingkan matanya sambil tertawa, ujarnya pelan.

"Cian Cian, nama ini memang bagus sekali, nama ini memang betul betul sangat indah"

"Tapi orang yang bernama Cian Cian tidak banyak jumlahnya, setahuku cuma ada dua orang yang bernama itu!"

Ujar Tong Sam-kui.

"Dua orang yang mana?"

Tanya Tong Koat "Putri dari bibi biniku juga bernama Cian Cian"

"Sedangkan yang satunya?"

"Aku dengar putri kesayangan Tio jiya dari Tay hong-tong, adik perempuannya Tio Bu-ki juga bernama Cian Cian"

"Tahukah kau, aku juga punya adik perempuan?"

Sela Tong Koat secara tiba tiba.

"Tentu saja aku tahu"

"Tahukah kau akupun sangat takut kepadanya, takutku kepadanya boleh dibilang setengah mati?"

"Engkoh takut kepada adik bukan suatu kejadian yang aneh, banyak sekali engkoh engkoh didunia ini yang takut setengah mati kepada adiknya"

Tong Koat segerea menghembuskan napas panjang, ujarnya sambil tersenyum hambar.

"Waaah.... kalau begitu bukan cuma aku saja yang takut kepada adikku..... dan aku rasa, urusan ini sudah cukup jelas!"

Paras muka Ci Peng sudah sedemikian pucatnya sehingga setitik darahpun tidak nampak, sekarang diapun tahu kalau dirinya telah melakukan kesalahan yang mematikan, suatu kesalahan yang tak bisa diampuni lagi.

Dia terlalu memandang remeh musuhnya, dia terlalu meremehkan kemampuan Tong Sam kui.

Diapun terlalu meremehkan kemampuan Tong Koat.

"Sekarang, apalagi yang hendak kau katakan?"

Tegur Tong Koat kemudian sambil tertawa.

"Aku tidak she Tio, akupun bukan Tio Bu ki!"

Ujar Ci Peng untuk kesekian kalinya. Tong Koat segera menghela napas panjang katanya.

"Kalau begitu, tampaknya aku terpaksa harus mengundang kedatangan si nona yang bernama Cian Cian"

Ia berpaling ke arah Tong Sam kui dan menambahkan.

"Aku pikir, sudah pasti kau telah mengirim orang untuk mengundangnya kemari bukan?"

"Yaa, aku memang sudah mengirim orang ke situ, cuma....."

"Cuma kenapa?"

"Tampaknya kehebatan badan dari beberapa orang utusan itu kurang begitu baik secara tiba tiba saja mereka kena kejangkitan suatu penyakit aneh"

"Siapa saja yang kau kirim kesitu?"

"Beberapa orang saudara yang dulu mengikuti A-lek"

A-lek adalah Tong Lek; Sebetulnya diapun termasuk salah seorang yang berada dibawah pertanggungan jawab Tong Koat.

Kelompok mereka bertugas didalam suatu gerakan operasi.

Diantara keturunan jauh dari keluarga Tong, hanya mereka yang tergabung dalam kelompok itu saja yang berhak mendapatkan senjata rahasia.

Mereka semua berpengalaman sangat luas dan merupakan jago jago tangguh yang cukup cekatan dan cepat reaksinya dalam menghadapi keadaan, selain itu merekapun memiliki kesehatan badan yang selalu berada dalam kondisi paling prima.

"Mengapa secara tiba tiba mereka bisa kejangkitan penyakit? penyakit apa yang mereka derita?"

Tanya Tong Koat "Penyakit yang mengidap ditubuh mereka adalah semacam penyakit yang aneh sekali ada yang tengkuknya tahu tahu terlepas dari badan, ada yang tenggorokannya tiba tiba berlubang, seperti kena ditembusi oleh suatu benda tajam, ada juga yang dadanya berlubang sehingga kelihatan isi perutnya"

"Aaah......! Sudah pasti hal itu bukan disebabkan tusukan orang, tentu saja nona Cian Cian tak akan menusuk tenggorokan mereka tanpa sebab tanpa musabab, apalagi mematahkan tulang tengkuk mereka"

"Itulah sebabnya kukatakan kalau mereka sudah kejangkitan suatu penyakit serius semacam penyakit yang aneh sekali"

"Wah betul, sudah pasti demikian......!"

Tong Koat turut manggut manggut berulang kali.

"Yaa; pasti"

"Sekarang, dimanakah orang orang itu?"

"Jika seseorang sudah kejangkitan penyakit semacam ini, sudah barang tentu mereka akan mati tanpa bisa tertolong lagi"

"Apakah mereka sudah mati dirumah Tio kongcuya yang bukan bernama Tio Bu-ki ini"

"Yaa, kemaren malam mereka sudah mati"

"Lantas dimanakah sinona yang bernama Cian Cian itu?"

"Jika dirumahnya secara tiba tiba kedapatan ada begitu banyak orang yang mati, tentu saja dia tak akan tega untuk berdiam terus didalam ruang tersebut"

"Makanya terpaksa dia angkat kaki?"

Sambung Tong Koat.

"Yaa, mau tak mau terpaksa dia harus pergi"

"Tentunya dia tidak meninggalkan pesan yang memberitahukan kepada kalian, kemanakan dia telah pergi?"

"Ya, rupanya dia tak sempat lagi!"

Tong Koat segera menghela napas panjang, katanya.

"Ooooh..... kejadian ini sungguh merupakan suatu yang sangat tidak kebetulan, penyakit yang terjangkit ditubuh mereka sungguh terjadi bukan pada waktunya"

Sambil gelengkan kepalanya berulang kali dia bergumam.

"Aku hanya berharap agar nona Cian Cian pun jangan sampai ketularan penyakit aneh yang berjangkit ditubuh mereka itu, bayangkan saja andaikata seorang nona cantik seperti dia, tiba tiba kehilangan kepalanya atau tulang tengkuknya patah, waah... tentu tak sedap dipandang orang....!"

"Yaa, bentuk badannya sudah pasti kurang sedap dipandang!"

Sahut Tong Sam kui sambil menghela napas panjang pula.

Kedua orang itu bukan saja memiliki bakat bagus untuk bermain sandiwara, lagipula merekapun memiliki suatu kerja sama yang sangat bagus.....!

Bu ki maupun Ci Peng diam diam berhembus napas lega, akhirnya Cian Cian tak sampai terjatuh ketangan mereka.

Walau tidak seharusnya turun tangan untuk melukai orang, tapi dalam suasana serta keadaan seperti itu, mungkin Cian Cian memang sudah tiada pilihan lain kecuali berbuat demikian.

Sekarang, walaupun jejaknya sudah ketahuan, paling tidak hal itu jauh lebih baik daripada terjatuh ketangan mereka.

Sambil bergendong tangan pelan pelan Tong Koat berjalan mondar mandir disana.

Tiba tiba ia berhenti dihadapan Bu-ki seraya berkata.

"Masih ingatkah kau dengan sepatah kataku?"

"Perkataan yang mana?"

Tanya Bu-ki.

"Lebih baik salah membunuh daripada salah melepas?"

"Yaa, masih ingat"

Jilid 29________ "MENGERTIKAH kau akan arti dari perkataan itu?"

"Aku mengerti!"

"Kalau begitu, lakukanlah bagiku untuk membunuh Tio Bu ki yang berada dihadapanmu sekarang!"

Ucapan tersebut diutarakan olehnya dengan enteng, santai dan lembut, sama sekali tidak terbawa oleh kobaran napsu atau emosi.

Tapi siapa pun tahu jika Tong koat sudah ingin membunuh seseorang, maka orang itu sudah pasti akan mati.

Baginya, membunuh orang bukan suatu perbuatan yang terlalu serius, entah yang dibunuhnya itu benar atau salah, baginya hal tersebut bukan masalah.

TIba tiba Bu ki pun bertanya padanya "Masih ingatkah kau dengan sepatah kata ini?"

"Perkataan apa?"

"Selamanya aku tak pernah membunuh orang dengan cuma cuma!"

"Aku masih ingat!"

"Aku rasa kau tentunya juga mengerti akan maksud dari perkataan ini bukan?"

"Itulah sebabnya aku tidak ingin menyuruh kau membunuh orang dengan cuma cuma"

Dia masih tertawa, tertawanya sangat riang dan gembira sekali. Dia telah mengeluarkan setumpuk uang kertas dari sakunya, lalu berkata.

"Walaupun dua ratus embilan puluh laksa tahil merupakan suatu jumlah yang sangat besar, namun kalau cuma sepu8luh laksa tahil mah aku masih punya!"

Jarang sekali ada orang yang menggembol uang sebesar sepuluh laksa tahil didalam sakunya apalagi dibawa kemana mana, tapi dia ternyata membawanya.

Tampaknya setiap saat dia telah menyiapkan diri untuk menyuruh Bu ki membunuh orang.

Uang kertas tersebut adalah uang kertas keluaran dari rumah Sam toa che ceng di san see, uang kertas semacam ini selalu paling bernilai dan dipercaya orang, etnah kemana mana uang kertas tersebut bisa dianggap sebagai emas murni dan uang kontan.

Dan sekarang, setumpukkan uang kertas yang berada dihadapannya persis berjumlah sepuluh laksa tahil.

Bu ki telah menerimanya dan sedang menghitung selembar demi selembar...

Paras mukanya sama sekali tidak berubah, tangannya juga tidak gemetar.

Tangannya itu tampak mantap, tenang dan bertenaga, itulah sepasang tangan seorang pembunuh yang berpengalaman, hanya tangan pembunuh berpengalaman saja yang tak akan menggigil bila akan membunuh orang.

Tapi, bagaimana mungkin ia bisa membunuh ornag itu?

Orang itu adalah anggota paling setia dari Tay hong tong, juga merupakan orang yang paling dekat dengan adiknya Cian Cian.

Orang ini bisa muncul dibenteng keluarga Tong, tak bisa disangkal lagi sudah pasti lantaran melacaki jejaknya.

Orang itu bukan Tio Bu ki, dirinya sendirilah baru orang sesungguhnya hendak dibunuh Tong Koat.

Bayangkan saja, mana ia tega untuk turun tangan membunuh orang itu?

Tapi sekarang, peranan yang sedang dibawakan olehnya adalah seorang pembunuh berdarah tinggi yang membunuh orang karena upah sepuluh laksa tahil perak.

Kini, sepuluh laksa tahil perak tersebut sudah berada didalam genggamannya.

Bila ia masih belum juga turun tangan, sudah pasti Tong Koat akan mencurigakannya, otomatis rahasia penyaruannya juga bakal terbongkar.

Jika rahasia penyamarannya terbongkar, bukan saja ia tak bisa menolong Ci Peng, dirinya sendiripun pasti akan tewas.

Selama Sangkoan Jin masih hidup, ia mana boleh mati?

Tapi mana mungkin dia tega untuk membunuh orang itu?

Paras muka Ci Peng yang pucat pias seperti mayat sudah dibasahi oleh keringat dingin.

Selamanya belum pernah dia bertatap muka langsung dengan Bu ki apakah hal ini dikarenakan ia telah berhasil menebak diri Bu ki?

Tentu saja dia sendiripun tak ingin mati, sekalipun dia tak ingin menghianati Bu-ki tapi bila Bu ki hendak membunuhnya nanti, dapatkah ia berubah pikiran.

Bu ki tidak membawa pedang.

Tapi Tong Koat tidak melupakan hal ini dia telah menitahkan kepada Tong san kut untuk menghadiahkan sebilah pedang kepada Bu ki.

Sebilah pedang sepanjang tiga jengkal enam inci, sekalipun bukan pedang mestika namun penempaannya cukup bagus dan indah.

Pedang tersebut sudah pasti dapat membunuh orang sampai mati.

Sekarang pedang itu sudah berada ditangan Bu-ki tangannya sudah menggenggam gagang pedang tersebut, tangannya masih tetap tenang dan mentap.

Tong Koat sedang mengawasi tangannya yang menggenggam pedang itu, CI Peng juga sedang menatap tangannya.

Setiap orang sedang menatap tangannya.

apa yang harus dilekukannya sekarang?

Mencabut pedang?

atau jangan?

***** SIAPA LAGI YANG AKAN MENGHANTAR KEMATIAN?

Bu-ki telah mencabut pedangnya.

"Criiing.... ?"

Pedang itu sudah lolos dari sarungnya.

Bu ki terpaksa mencabut pedang karena dia sudah tiada pilihan lagi sekalipun ia rela penyamarannya diketahui, juga sama saja tak akan berhasil menolong Ci Peng.

Tapi ia toh bisa membunuh Tong Koat kemusian bersama Ci Peng menerjang keluar dari situ.

Meski tindakannya ini kelewat bahaya toh tak ada salahnya untuk dicoba.

Haruskah dia berbuat demikian?

atau harus mengorbankan Ci-Peng?

Demi keberhasilan usahanya apalah artinya mengorbankan seseorang.

Tapi bagaimana mungkin ia bisa melawan suara hatinya?.

Maka terpaksa ia harus mencoba, mencoba untuk menyerempet bahaya.

Asal hari ini bisa lolos dari situ, dikemudian hari pasti masih ada kesempatan lain.

Oleh sebab itu serangan yang dilancarkan ini tak boleh sampai gagal.

Mata pedang itu mana tipis lagi tajam.

Gagang pedang maupun ujung pedang mempunyai berat yang sama dan dibuat sangat sesuai dan beraturan, tak mungkin tukang besi biasa dapat menempa pedang semacam itu.

Ia percaya pedang itu sudah pasti hasil tempaan dari ahli pembuat senjata rahasia dari benteng keluarga Tong, bahan yang digunakan pun sisa baja mereka sewaktu membuat senjata rahasia.

Menggunakan pedang keluarga Tong untuk membunuh jago keluarga Tong, kejadian semacam itu memang benar benar merupakan suatu kejadian yang paling menggembirakan dunia ini.

Ia telah bersiap sedia untuk turun tangan.

"Tunggu sebentar!"

Tiba tiba Ci Peng berseru.

"Apalagi yang ingin kau katakan?"tanya Tong Koat.

"Aku tiada perkataan apa apa yang bisa dikatakan lagi, aku hanya ingin membantumu untuk menghemat uang sebesar sepuluh laksa tahil perak"

"Oooh.....!"

"Aku pandai membunuh orang, lagipula gratis kalau ingin membunuh orang mengapa harus mencarinya?"

"Apakah kau menyuruh aku mencarimu?"

"Kalau disuruh membunuh orang lain mungkin aku tidak yakin,tapi kalau disurun membunuh aku sendiri, aku tanggung tiada orang lain yang lebih cepat dari pada diriku sendiri. Apakah dia telah merasakan pula penderitaan dari Bu ki? Maka bertekad untuk mengorbankan diri?. Tang Koat segera tertawa terbanak bahak.

"Haaahhh,..haaahhh....haaahhh.... bagus, bagus sekali"serunya keras. Tiba tiba ia turun tangan, mempergunakan kedua jari tangannya yang putih, gemuk dan pendek itu untuk menjepit ujung pedang ditangan Bu ki..... Serangannya itu selain cepat juga tepat. Manusia yang tampaknya jauh lebih bodoh dari pada kuda nil ini ternyata memiliki gerakan tubuh yang jauh lebih hebat dari pada kepandaian siapa saja. Bila Bu ki melancarkan serangannya tadi dan ingin menembusi tenggorokkannya dalam sekali tusukan, rasanya hal ini tak mungkin bakal terjadi.......... Sekarang Bu ki sudah tak dapat turun tangan lagi, suatu keberuntungankah baginya? Ataukah suatu ketidak beruntungan?. Tong Koat sedang menatapnya dengan sepasang matanya yang tersenyum dan sipit itu. lalu katanya.

"Aku rasa kau sudah pasti tak akan berebut dagangan dengan seseorang yang hampir mati bukan?"

Terpaksa Bu ki harus mengendorkan tangannya.

Tong Koat menenteng pedang itu pelan-pelan mengangsurkan gagang pedangnya itu kehadapan Ci Peng.

Pelan pelan Ci Peng mengulurkan pula tangannya untuk menerima la masih belum juga memandang ke arah Bu ki, walau hanya sekejappun, sedangkan paras mukanya sendiri juga telah berubah menjadi sangat tenang.

Sebab dia sudah mengambil keputusan.

Dia yakin keputusan yang diambilnya itu benar, dia pun yakin pengorbanannya berharga.

Ujung jari tangan Ci Peng telah menyentuh-gagang pedang itu.

Bu ki tidak menghalangi.

pun tak dapat menghalangi, sebab keputusannya telah bulat, apa yang diinginkan sudah terkabul,sam pai matipun ia tidak menyesal.

Tak disangka ternyata Tong goat tidak membiarkan dia mati.

Tong koat menggetarkan tangannya pelan, sebilah pedang yang panjangnya tiga jengkal dua inci itu mendadak terputus menjadi dua bagian.

Tenaga yang dipergunakan adalah tenaga dingin.

Tcnaga Im-keng yang dilatihnya jauh lebih hebat dari pada apa yang berhasil diraih oleh Tong Giok.

Ci Peng tampak amat terkejut segera tegurnya.

"Hei, mau apa kau?"

"Tiba tiba aku berpendapat bahwa "Pedang ini boleh patah, namun kau tak boleh mati"

"Mengapa secara tiba tiba kau berubah pikiran?"

Tong Koat tertawa, sambil memicingkan matanya dia menyahut.

"Jalan pemikiranku memang setiap saat mudah berubah, lagipula perubahan itu bisa berubah jauh lebih cepat dari siapa saja."

"Mengapa aku tak boleh mati?"

"Karena kau lebih berguna semasa masih hidup daripada setelah mati......"

"Apa gunanya?"

"Paling tidak aku bisa menggunakan kau sebagai umpan untuk memancing ikan!"

Reaksi dari Ci Peng tidak terhitung pelan, dengan cepat ia dapat memahami maksudnya.

Ikan yang hendak dipancingnya itu sudah pasti Cian Cian, bila menggunakan Ci Peng sebagai umpan, tak bisa disangkal lagi Cian Cian pasti masuk perangkap.

Tubuh Ci Peng telah melayang diudara menubruk ke arah Tong Koat....

Kemudian menemukan satu hal....

Tiba tiba ia menemukan bahwa kemampuan ilmu silat yang dimilikinya ternyata masih selisih jauh bila dibandingkan dengan apa yang dibayangkan semula.

Dia selalu beranggapan bahwa seseorang belum tentu harus menggantungkan pada ilmu silat untuk mencapai keberhasilan, kecerdasan, ketenangan dan jodoh lebih penting daripada ilmu silat.

Sekarang dia baru tahu kalau anggapannya itu keliru.

Sebab pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan semacam ini, dalam lingkaran kehidupannya, bukan saja ilmu silat merupakan kunci terutama dalam kehidupannya, bahkan merupakan akar dari hidupnya didunia ini.

Bila kau adalah seorang pedagang, maka kau tak bakal meninggalkan siepoamu, bila kau adalah seorang sastrawan, maka kau tak dapa melepaskan penamu.

Karena itulah akar daripada kehidupanmu.

Bila kau teledor dalam hal ini, entah bagaimanapun cerdasmu, entah bagaimana banyaknya rejekimu, akhirnya toh tetap akan gagal.

Sekarang Ci Peng telah menyadari akan hal itu, akhirnya memahami akan teori tersebut, itulah pelajaran yang diperolehnya dari suatu pengalaman yang penuh penderitaan.

Baru saja tubuhnya menerjang ke depan, jari tangan Tong Koat yang gemuk dan putih itu sudah menghantam diatas jalan darahnya.

Dikala badannya roboh, kebetulan dia mendengar Tong Koat sedang berkata.

"Bila aku tidak mengijinkan kau mati, sekalipun kau ingin mati juga tidak gampang untuk terwujud". Halaman itu amat rindang, sebab dalam halaman itu tumbuh banyak pepohonan. Tong Koat berdiri dibawah sebatang pohon yang daunnya lebat, entah pohon waru? Atau pohon flamboyan? Atau pohon Pak? Terhadap jenis pepohonan, Bu ki tidak begitu tahu, tapi kalau soal manusia, tidak sedikit yang dia ketahui. Walaupun dia tak tahu pohon apakah pohon itu, tapi dia tahu manusia macam apakah manusia yang berada disitu. Tak bisa disangkal lagi orang itu adalah orang paling menakutkan yang penah dijumpainya sepanjang hidup. Belum pernah dia bayangkan kalau orang ini memiliki ilmu silat yang begitu tinggi dengan gerakan tubuh yang begitu cepat. Kesemuanya itu masih bukan termasuk hal hal yang paling menakutkan dari Tong Koat. Yang paling menakutkan justru adalah perubahannya. Setiap saat jalan pemikirannya selaliu berubah, membuat orang lain selamanya tak dapat menebak apa yang sesungguhnya sedang dia pikirkan didalam hati. Orang inipun setiap saat setiap waktu turut berubah, ada kalanya amat cerdik, ada kalanya bersikap kekanak kanakan, ada kalanya berhati bajik, ada kalanya berhati kejam. Ada kalanya perbuatan yang dia lakukan jauh lebih menggelikan daripada perbuatan yang dilakukan oleh seorang lemah ingatan, ada kalanya perbuatan yang dia lakukan justru membuat orang menangis pun tak mampu menangis Sekarang, Ci Peng sudah terjatuh ke tangannya, dengan perangai dari Cian Cian bila dia tahu akan kabar berita Ci Peng, sudah pasti dia akan menyerbu ke dalam benteng keluarga Tong untuk menyelamatkan jiwanya.... Siapakah yang mampu dia selamatkan? Setibanya dalam benteng keluarga Tong, mungkin satu satunya pekerjaan yang dia lakukan adalah menunggu orang lain menjirat lehernya dengan tali. Bu ki berharap bisa menolong Ci Peng sebelum ia berhasil mendengar kabar berita tersebut. Andaikata dia adalah seorang manusia sakti yang berkepala tiga berlengan enam, mungkin saja hal ini dapat ia lakukan. Cuma sayang dia bukan. Lembaran uang kertas itu semuanya masih baru. Walaupun kebanyakan orang gemuk badannya agak kotor, agak malas. Tong Koat adalah terkecuali dari kebiasaan tersebut. Dia bersih sekali, bahkan kebersihannya dijaga kelewat batas. Lelaki yang tidak suka perempuan tampaknya memiliki kebiasaan tersebut, mereka selalu beranggapan perbuatan yang dilakukan antara pria dan wanita itu merupakan suatu perbuatan yang menjijikan. Pelan pelan Bu ki berjalan menghampirinya dan menyerahkan tumpukan uang kertas itu kepada Tong Koat.

"Kau tak usah mengembalikannya kepadaku"

Kata Tong Koat.

"Selamanya aku tak pernah membunuh orang secara gratis, akupun tak pernah menerima bayaran yang tanpa sebab"

"Orang yang hendak kubunuh bukan cuma Tio Kongcu seorang"

"Kau hendak menyuruh aku membunuh siapa lagi?"

Tong Koat segera tertawa, katanya.

"Sebetulnya kau harus memasang tarip setengah harga untuk orang yang hendak ku suruh kau bunuh itu?"

"Kenapa?"

"Sebab kaupun membenci dirinya, diapun membenci dirimu, bila kau tidak membunuhnya, maka dialah yang akan membunuhmu"

"Kau maksudkan Siau Poo?"

"Kecuali dia, siapa lagi?"

Kejadian ini benar benar merupakan suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan.

Siapapun tidak mengira kalau Tong Koat bakal menyuruh orang untuk membunuh Siau Poo, tapi siapapun tak akan menampik.

Siau Poo memang seseorang yang tidak menyenangkan Seandainya manusia semacam ini mati terbunuh, siapapun tak akan mengucurkan air mata baginya.

Lebih lebih Bu ki.

Andaikata kemarin Tong Koat menyuruhnya membunuh Siau Poo, dia tak akan merasa sedih atau serba salah.

Tapi sekarang, keadaannya sudah jauh berbeda.

Dia sudah tahu kalau Siau Poo adalah "See-si", juga merupakan satu satunya orang yang dapat dipercaya.

Mendadak dia menemukan bahwa orang yang setiap saat harus dibunuhnya atas perintah Tong Koat, adalah orang orang yang sebenarnya tak bisa ia bunuh.

Sayang sekali, ia justru tak dapat menampik permintaannya itu.

"Tentunya kau tidak mengira bukan, kalau aku bakal menyuruh kau untuk membunuhnya?"

Demikian Tong Koat berkata "Yaa, aku benar benar tidak menyangka, aku masih mengira kalian bersahabat, bahkan bersahabat sangat akrab"

"Arak yang wangi bisa berubah menjadi kecut, teman baik pun ada kalanya juga dapat berubah menjadi jelek"

"Kenapa?"

"Karena aku tidak suka seorang teman yang tidak mempunyai hidup"

Sambil memicingkan matanya dia tertawa lebar, lalu tanya lagi.

"Apakah kau beranggapan bahwa alasan ini masih kurang cukup baik?"

"Yaa, betul, agaknya masih belum cukup!"

Bu ki membenarkan.

"Bagiku alasan tersebut sudah lebih dari cukup"

"Kenapa?"

"Dulu aku suka kepadanya karena dia memiliki selembar wajah yang sangat bagus. Perkataannya itu terlampau menyolok dan terang terangan. Bagaimanapun bagusnya selembar wajah apabila ia kehilangan hidungnya, tentu saja akan hilang kebagusannya itu. Tentu saja dia tak ingin berjumpa dengan manusia semacam itu lagi, lebih lebih tak ingin berhubungan dengan orang seperti itu. Sesungguhnya alasan ini memang sudah lebih dari cukup. Tiba tiba Tong Koat tertawa, kemudian katanya.

"Seingatku, setiap kali hendak membunuh orang kau hanya bertanyan adakah sepuluh laksa tahil perak yang bisa diraih, tak pernah kau menanyakan tentang alasannya"

"Aku tak lebih hanya ingin tahu benarkah kau hendak membunuhnya atau tidak"

"Seandainya aku benar benar ingin membunuhnya, bagaimana dengan kau..........?"

"Asal ada uang yang bisa ku peroleh, tentu saja tawaran itu takkan kutampik"

Tong Koat segera tersenyum, katanya kemudian.

"Kalau begitu transaksi ini kita putuskan demikian saja, kau bakal untung besar, bahkan untung secara gampang!"

Mau tak mau Bu ki harus mengakuinya, diapun mengangguk.

"Yaa, untuk membunuhnya memang bukan suatu pekerjaan yang terlalu sulit"

"Bagaimana kalau kuberi waktu selama tiga hari?"

"Kau menginginkan dia mati kapan?"

Paling baik kalau tidak melebihi tiga hari! "Kalau begitu, dia tak akan bisa hidup sampai pagi hari hari keempat..."

Bu ki menegaskan dengan dingin.

"Aku tahu, kau pasti tak akan membuat kecewa hatiku!"

Kata tong Koat sambil tertawa.

"Tapi akupun masih ada beberapa syarat"

"Apa syaratmu?"

"Bagaimana juga aku toh tak bisa duduk dikamar melulu menunggu sampai dia menghantarkan diri untuk dibunuh"

"Apa yang kau inginkan?"

"Paling tidak kau harus memberitahukan kepada penjaga penjagamu yang ada disekitar tempat ini, agar memberi ijin kepadaku untuk bergerak lebih leluasa lagi disini"

"Kalau soal ini mah, sudah barang tentu pasti akan kulakukan........"

Dia tertawa lebih riang lagi serunya kembali.

"Sekarang, agaknya kita sudah sampai waktunya untuk bersantap malam lagi, apakah kita dapat pergi bersantap?"

"Sekarang, walaupun napsu makanku kurang baik, paling tidak aku masih bisa menemanimu untuk makan sedikit"

"Kalau begitu bagus sekali!" ***** Malam itu amat sunyi, udara bersih dan udara segar. Hari ini pun lewat dengan begitu saja tanpa melakukan apa apa, kecuali perut yang kenyang karena terlalu banyak masakan ayam, itik, daging yang dimasak beraneka macam, pada hakekatnya Bu ki tidak berhasil menemukan apa apa. Bukan saja tidak berhasil menemukan apa apa, bahkan muncul pula pelbagai persoalan baru, Ci Peng, siau Poo semuanya adalah persoalannya yang cukup pelik. Sekarang, walaupun gerak geriknya jauh lebih bebas daripada sediakala, namun dia semakin tak berani gegabah, setelah dia mengajukan syarat itu, sudah pasti Tong Koat akan semakin menaruh perhatian terhadap dirinya. Sudah pasti Tong Koat tak akan membiarkan seorang asing yang belum diketahui dengan pasti akan asal usulnya, masuk keluar didalam wilayah daerah terlarangnya secara leluasa. Ia bersedia mengabulkan syarat dari Bu ki itu mungkin hanya bersifat untuk menyelidik saja. Tampaknya setiap perbuatan yang dia lakukan semuanya mengandung makna yang mendalam. Mau tak mau Bu ki harus bertindak lebih berhati hati lagi. Sekarang batas waktunya tinggal empat hari lagi, Bu ki cuma bisa berbaring diatas pembaringan sambil memandang langit langit dengan terpesona. Dia ingin tidur senyenyak nyenyaknya, sebab dengan tidur bukan saja dapat mengembalikan kesegaran tubuhnya, juga dapat mengendorkan syaratnya yang menegang. Sayang dia justru tak dapat tidur, semakin ingin tidur, ia semakin tak bisa tidur. Banyak lagi kejadian lalu didunia ini yang begitu keadaannya. Tempat itu selamanya selalu tenang bila malam telah menjelang tiba, amat jarang masih kedengaran suara lain. Tapi sekarang dari luar jendela kedengaran suara nyaring, seperti ada orang sedang berteriak, seperti pula ada orang sedang lari. Pada saat Bu ki sudah bersiap siap hendak mengurungkan niatnya untuk tidur, dan tidak jadi berbaring, suara itu lenyap kembali, namun dikala ia hampir terlelap tidur suara tersebut sekali lagi bergema. Ia merasa geli sekali, yaa, dalam keadaan apa boleh buat, selain tertawa apa pula yang bisa dia lakukan? Diapun merasa keheranan, suara itu berasal dari dalam hutan diluar jendela itu, seakan akan kedatangan mata mata lagi yang telah mengejutkan para penjaga. Kali ini dia sedang tidur diranjang, apakah dalam Benteng keluarga Tong benar benar ada orang lain yang datang sebagai mata mata. Tak tahan dia memakai mantel dan melongok lewat jendela, betul juga dalam hutan tampat bayangan manusia berkelebat serta kilatan cahaya api kecuali dia, siapa lagi yang menjadi mata mata? Siapa lagi yang berani menyusup masuk kedaerah terlarangnya orang orang keluarga Tong? Perduli siapa saja yang berani datang kesitu sama artinya dengan menghantar kematian diri sendiri ***** ORANG YANG MENGGANTUNG DIRI Cahaya api masih berkilauan, tapi suara bentakan kian lama kian bertambah lirih. Pada saat itulah, mendadak Bu ki mendengar lagi suara lain, suara itu berasal dari balik dedaunan ditengah sebuah pohon, bukan suara dedaunan yang terhembus angin, melainkan suara rantai yang saling beradu. Mana mungkin didalam pohon bisa terdapat suara rantai yang saling beradu? Bu ki segera teringat dengan rantai yang ada ditangan dan kaki Lui Ceng-thian. Cahaya api berkedip ditempat kejauhan, dia sudah menyusup keluar lewat jendela, menyusup ke balik dedaunan diatas pohon yang lain. Jarak antara kedua batang pohon itu sangat dekat. Walaupun ia dapat menemukan orang yang bersembunyi dibalik dedaunan tersebut, namun ia telah melihat sebuah tangan. Itulah sebuah tangan yang berantai. Sebuah tangan yang kurus, panjang, bertenaga, mantap bercuci bersih dan berkuku pendek yang digunting dengan rapi. Itulah tangan dari Lui Ceng thian. Dengan cepat Bu ki menyusup kedepan dan mencengkeram urat nadi ditangan itu, menahan getaran rantai yang berada diatas pergelangan tangan tersebut. Ternyata Lui Ceng thian tidak meronta, dia hanya bertanya.

"Siapa?"

"Aku!"

Meski hanya sepatah kata, namun Lui Ceng thian segera mengenali suara siapakah itu kembali dia berkata "Aku tahu sudah pasti adalah dirimu!"

Bu ki segera tertawa dingin, katanya "Kalau bukan aku, sekarang sudah pasti kau bakal mampus"

"Tapi sejak permulaan aku sudah tahu itu kau, aku tahu kau berdiam di bangunan loteng kecil seberang sana, aku telah mendengar suaramu ketika membuka jendela tadi"

Ketajaman pendengarannya memang mengagumkan sekali.

"Aku juga mendengar suara gerakan tubuhmu ketika meluncur kemari, itulah sebabnya kujulurkan tangannya, adapun sengaja menggoyangkan rantai tanganku dengan harapan kau bisa mendengar suara tersebut"

"Mengapa kau datang mencariku? Kau mana boleh melakukan perbuatan semacam ini?"

"Aku harus datang kemari mencarimu!"

Diantara kerlipan cahaya bintang yang bertaburan diangkasa dan menyinari mukanya, tampat mimik muka yang sebetulnya kaku tanpa emosi itu, kini sudah berubah menjadi amat gelisah.

"Bagaimanapun juga, aku harus menemukan kau sampai dapat!"

"Apakah sudah ada orang yang telah menemukan dirimu?"

"Tidak, aku bertindak cukup berhati hati"

"Apakah para penjaga disekitar tempat ini telah dikejutkan?"

"Yang telah mereka temukan adalah seseorang yang lain"

"Siapa?"

"Seseorang yang menggantung diri"

"Menggantung diri?"

"Justru karena ada orang yang menggantung diri didalam hutan itu sehingga mengejutkan para penjaga disekitar tempat ini, maka aku baru mendapat kesempatan untuk ngeloyor kemari"

"Siapaka orang itu"

"Aku kurang jelas"

Setelah menghela napas serunya.

"Aku hanya tahu, orang yang ingin menggantung diri didalam benteng keluarga Tong ini bukan hanya dia seorang"

"Mengapa kau bersikeras datang kemari untuk mencari diriku?"

Kembali Bu ki bertanya. Tangan Lui Ceng thian berubah menjadi dingin seperti es, sahutnya agak gemetar.

"Karena Mi Ci telah datang"

"Mi Ci?"

"Mi Ci adalah bekas biniku dulu!"

"Darimana kau bisa tahu kalau dia telah datang?"

"Sebab hari ini, ada orang menghantarkan segenggam rambutnya kepadaku........!"

Saban hari pasti ada keranjang yang dikerek kebawah lubang, keranjang itu berisi makanan dan minuman.

Hari ini, selain isi keranjang itu adalah sepotong ayam, sepuluh biji bakpao dan sebotol besar air, terdapat pula seuntai rambut.

Meskipun aku tak dapat melihat, tapi aku dapat merasa bahwa rambut dalam genggamanku itu adalah rambutnya Mi Ci, demikian Lui Ceng thian menerangkan.

Benda yang dibuat olehnya adalah semacam senjata rahasia yang paling berbahaya didunia ini, sedikit teledor atau kurang berhati hati, bisa jadi mengakibatkan suatu ledakan dahsyat.

Ia sudah menjadi seorang buta, dia hanya mengandalkan ketajaman perasaan rabaannya untuk menentukan segala sesuatunya.

Sudah barang tentu, rabaan tangannya itu amat sensitip dan tajam sekali.

"Aku tak bisa mengacuhkan dengan begitu saja"

"Haah?"

"Rupanya mereka sudah tahu kalau aku sengaja mengulur ulur waktu, maka kali ini aku hanya diberi batas waktu selama sepuluh hari"

"Batas waktu apa?"

"Mereka berdiri waktu sepuluh hari kepadaku untuk menyelesaikan tugas yang telah diserahkan kepadaku"

"Seandainya kau tak sanggup untuk melaksanakan?"

"Maka merekapun akan setiap hari mengirim semacam benda milik Mi Ci kepadaku!"

Mi Ci adalah istrinya, sudah banyak tahun mereka hidup bersama, yang dirabanya setiap hari bukan cuma rambutnya saja.

Rambut yang dibelainya itu entah sudah dilakukan berapa kali, sudah barang tentu dia dapat merasakannya.

Teringat sampai kesitu, tiba tiba timbul perasaan kejut dalam hati Bu ki, tak tahan ia lantas berkata.

"Kalau toh orangnya saja sudah kau tinggalkan, apa artinya dengan segenggam rambut?"

Suaranya telah berubah hebat.

"Hari pertama, mereka memberikan segenggam rambut kepadaku, hari kedua mungkin mereka akan serahkan sepotong jari tangan, hari ketiga batang hidung atau telinganya..."

Hari keempat akan mengirimkan apa? Hari kelima akan mengirim apa? Ia tak berani menyatakannya, bahkan Bu ki pun tak berani memikirkannya.....

"Ketika aku pergi meninggalkan dia, aku memang punya kesulitan yang tak bisa diterangkan kepada orang lain, meskipun orang lain belum tentu akan memahaminya, tapi dia tak mungkin tak akan mengerti"

"Oooh.........?"

"Dia tahu kalau aku mempercayainya, kecuali aku, hanya dia yang mengetahui rahasia ini"

"Rahasia apa?"

Lui Ceng thian tidak langsung menjawab pertanyaan itu, ujarnya.

"Bukannya aku takut apa apa, yang kutakuti justru bila terjadi seandainya, aku rasa setiap orang persilatan pasti memahami akan arti kata tersebut, asal orang itu pernah berkelana didalam dunia persilatan, entah apapun yang sedang dia kerjakan, sudah mundur sendiri yang dipersilahkan lebih dulu"

Bu-ki juga memahami akan hal ini. Maka Lui Ceng thian berkata lebih jauh.

"Akupun terhitung juga seorang jago kawakan, maka sebelum bersekutu dengan benteng keluarga Tong, sebuah jalan mundur telah kupersiapkan dengan sebaik baiknya"

Sekalipun apa yang diucapkan tidak terlamapu jelas namun Bu ki dapat memahami maksudnya.

Sebelum tiba dibenteng keluarga Tong, dia pasti telah menyembunyikan rahasia ilmu senjata dari Pek lek tong dan harta kekayaan yang dihimpunnya selama banyak tahun disuatu tempat yang amat rahasia, selain dia sendiri hanya Mi Ci yang mengetahui rahasia tersebut.

Kata Lui Ceng thian lebih jauh.

"Kalau lagi kubutuhkan saja kita dipupuk. Coba kalau sudah berhasil, mau diapakan diriku ini? Aku yakin, jika aku berhasil membuatkan San hoa thian li bagi keluarga Tong, sudah pasti mereka tak akan biarkan aku hidup terus"

"Maka dari itu bila kau tidak berhasil, sudah pasti mereka akan membunuh Mi Ci"

"Oleh sebab itu aku harus datang mencarimu, akupun hanya bisa mencari dirimu"

"Kau suruh aku pergi menolongnya?"

"Aku juga tahu kalau hal ini merupakan suatu pekerjaan yang sulit untuk dilakukan tapi kau harus membantuku untuk mencarikan suatu akal yang baik"

Bu ki termenung, lewat lama, lama kemudian, tiba tiba dia bertanya.

"Tahukah kau tentang seorang manusia yang bernama Sangkoan Jin?"

"Tentu saja aku tahu, tapi selamanya aku memandang remeh manusia semacam dia itu"

"Kenapa?"

"Sebab dia telah menghianati Tay hong thong!"

Jawab Lui Ceng-thian dingin.

"Bukan kah Tay-hong thong adalah musuh bebuyutanmu?"

Tanya Bu ki keheranan "Soal permusuhan adalah soal lain. aku selalu berpendapat hidup sebagai seorang manusia, lebih baik pergi menjual pantat daripada menjual teman sendiri"

"Tahukah kau bahwa saat ini diapun akan menjadi menantunya keluarga Tong......"

"Aku tahu!"

Setelah tertawa dingin, kembali ujarnya.

"Sekarang dia tinggal di gedung, yakni gedung ditempat yang kutempati, aku hanya berharap dikemudian hari ia pun memperoleh akhir seperti apa yang ku alami sekarang"

Mencorong sinar terang dari balik mata Bu-ki, katanya kemudian.

"Akupun berharap kau bisa melakukan sesuatu perbuatan untukku"

"Perbuatan apa?"

"Tentunya kau sangat ingat bukan dengan daerah serta jalanan yang berada didalam benteng keluarga Tong? aku harap kau dapat memberitahukan kepadaku, dimanakah letak gedung itu? Terdapat berapa buah kamar? Kemungkinan Sangkoan Jin tinggal dimana? Penjagaan disepanjang jalan itu terletak dimana?"

"Kau hendak pergi mencarinya?"

"Asal kau dapat membantuku untuk melakukan pekerjaan ini, apapun yang kau minta kukerjakan, pasti akan kululuskan"

Tiba tiba Lui Ceng thian tidak berbicara lagi, mendadak wajahnya menunjukkan suatu perubahan mimik yang sangat aneh, serunya kemudian.

"Aku sudah tahu siapakah kau!"

"Siapakah aku?"

"Bukankah kau she Tio? Bukankah kau adalah Tio Bu ki, putranya Tio Kian........?"

"Perduli siapakah aku, pokoknya sekarang kita sudah menjadi teman sealiran"

Kemudian sambil menggenggam tangan Lui Ceng thian kencang kencan, terusnya.

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, bersediakah kau melakukan pekerjaan ini bagiku?"

"Aku bersedia!"

Jawabannya sama sekali tidak sangsi lanjutnya.

"Bukan saja aku dapat memberitahukan kepadamu jalan menuju ke gedung tersebut lagipula akupun dapat melukiskan sebuah peta untukmu, sekalipun aku buta, tapi masih punya tangan, sekalipun aku tak dapat melihat lagi sekarang, tapi setiap jalanan setiap pos penjagaan yang berada didalam benteng keluarga Tong masih kuingat semua dengan jelas"

"Kapan kau bisa menyerahkan peta tersebut kepadaku?"

"Besok!"

Setelah berpikir sejenak, lanjutnya.

"Ada kalanya penjagaan mereka ditengah hari jauh lebih kendor dan teledor, terutama setelah makan atau sebelum makan siang, kau harus mencari kesempatan untuk datang kemari"

"Jalan bawah tanah itu masih ada?"

"Tentu saja masih ada"

"Mereka akan pergi ke ruang bawah tanah untuk mencarinya"

"Tak akan ada orang yang berani mendatangi ruanganku, sekalipun kau meminjamkan nyali untuk merekapun, mereka tak akan berani"

"Mengapa?"

Sambil membusungkan dada, sahut Lui Ceng thian dengan angkuh.

"Karena aku adalah Lui Ceng thian, Tongcu angkatan ketiga belas dari Kanglam Pel lek ting, Lui Ceng thian!"

Sekarang, walaupun dia sudah tak punya apa apa, tapi dalam ruangan itu masih terdapat obat peledak yang sanggup memusnahkan banyak orang.

"Tanpa persetujuanku, siapapun tak akan berani masuk kesitu; bila ada yang nekad maka jangan harap dia bisa keluar dari sana dalam keadaan hidup"

Sesudah berhenti sebentar, dengan dingin lanjutnya.

"Sebab asal aku lagi gembira, setiap saat aku dapat mengajak mereka untuk beradu jiwa"

Seekor nyamukpun tak ingin mati, apalagi manusia? "Tapi ular mati tak kaku harimau mati meninggalkan kulit"

Dia memang memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan, walau dalam keadaan seperti apapun, dia bukan seorang manusia yang mudah dihadapi......... Bu ki menghembuskan napas panjang.

"Baik aku pasti akan pergi mencarimu"

Katanya.

"bila ada kesempatan, aku pasti akan pergi mencarimu"

"Aku jamin kau tak akan menyesal bila mempunyai seorang sahabat seperti aku?" ***** Bu ki telah kembali ke kamarnya dan membaringkan diri diatas pembaringan. Dia percaya Lui Cen thian pasti dapat kembali dengan aman dan selamat, ada sementara orang walaupun berada dalam keadaan macam apapun, dia tak akan pernah kehilangan daya kemampuannya untuk melindungi diri sendiri. Tak bisa disangkal lagi Lui Ceng thian adalah manusia semacam ini. Selama dia masih bisa bernapas, tak akan ada orang yang mampu merobohkan dirinya secara mudah. Ketika fajar hampir menyingsing, akhirnya Bu ki tertidur...... Tapi ia tak bisa tidur dengan nyenyak, dalam keadaan sadar tak sadar ia seakan akan menyaksikan seseorang menggantung diri dihadapannya. Sebenarnya dengan jelas dia melihat kalau orang itu adalah Sangkoan Jin, tapi secara tiba tiba ternyata telah berubah menjadi dirinya ***** MERPATI BERWARNA HITAM Bulan empat tanggal dua puluh empat, hari cerah. Sewaktu Bu-ki tersentak bangun dari impian buruknya, matahari telah mencorong diluar jendela, Ternyata Tong Koat telah datang, ia sedang menggerakkan tangannya yang kecil putih lagi gemuk itu untuk menyantekkan daun jendela. Diluar jendela sana terbentang sebuah hutan yang hijau dan permai, udara amat segar lagi nyaman. Tong Koat berpaling, ketika melihat ia telah membuka matanya, segera diacungkan jempolnya sembari memuji.

"Hebat, kau memang betul betul hebat!"

"Hebat?"

Tong Koat tertawa, sahutnya.

"Hebat artinya kau benar benar luar biasa, betul betul luar biasa sekali!"

"Kau bilang aku hebat, kau bilang aku betul betul luar biasa sekali......?"

"Yaa, memang begitulah"

"Apa yang luar biasa dengan diriku?"

Sekali lagi Tong Koat memicingkan matanya, kemudian katanya sambil tertawa.

"Tentu saja kau luar biasa, bahkan akupun sama sekali tidak mengira kalau begitu cepatnya kau telah berhasil"

"Oooh...?"

"Akupun tidak menyangka kalau kau akan menggunakan cara semacam itu, selain aku, tak ada yang tahu kalau kaulah yang telah membinasakan dirinya"

"Oooh...?"

Dia benar benar tidak mengerti apa yang sesungguhnya sedang dibicarakan oleh Tong Koat.

"Sekarang aku baru tahu, aku memang tidak sia sia membayar sepuluh laksa tahilperak kepadamu"

Tong Koat melanjutkan.

"Oooh...?"

"Hayo cepat bangun, mari kita bersama sama pergi sarapan"

Gelak tertawanya bertambah riang.

"Hari ini meskipun nafsu makanku kurang begitu baik, tapi kita pasti dapat bersantap dengan sebaik baiknya untuk merayakan keberhasilan ini......"

Akhirnya Bu ki tak kuasa menahan dirinya, dia lantas bertanya.

"Kita hendak merayakan apa?"

Tong Koat tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh....haaahhh....haahhh..... kau memang pandai sekali bermain sandiwara, tapi buat apa kau musti berlagak semacam itu dihadapanku?"

Sambil terbahak bahak, dia lantas menepuk bahu Bu ki, lanjutnya.

"Tak usah kuatir, dihadapan orang lain aku tak akan menuduh dirimu, aku pasti akan mengatakan kalau dia mati karena menggantung diri, tapi sekarang hanya kita berdua yang mengerti, kau mengerti akupun mengerti, sekalipun ia benar benar menggantung diri, paling tidak kaulah yang membuat tali gantungan tersebut baginya"

"Kemudian kau baru masukkan tengkuknya kedalam tali gantungan tersebut?"

Lanjut Bu ki Tong Koat tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh....haaahhh....haahhh..... tepat sekali"

Bu ki tidak berbicara lagi.

Sekarang dia sudah memahami maksud pembicaraan Tong Koat.

Orang yang menggantung diri didalam hutan semalam, ternyata adalah Siau Poo.

Tong Koat telah menganggap Siau Poo mati ditangan Bu ki.

Karena dia tahu manusia semacam Siau Poo, tak nanti akan menggantung dirinya sendiri.

Karena dia telah menyerahkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak kepada Bu ki untuk membunuh Siau Poo.

Orang yang ahli dalam membunuh manusia selalu akan membunuh korbannya sedemikian rupa sehingga memberi kesan kepada orang lain bahwa dia mati bukan lantaran pembunuhan.

"Bila beberapa hal ini dipersatukan padaku maka duduknya persoalan menjadi jelas dan terang benderang bagaikan batu kali dikala sungai mengering.."

Bahkan Bu ki sendiripun hampir saja menaruh curiga kalau Siau Poo telah mati ditangannya, sebab diapun percaya Siau Poo tak akan menggantung dirinya sendiri.

Sekarang dia telah tahu kalau Siau Poo mempunyai tugas rahasia yang besar, tanggung jawab yang berat, sekarang tugas berat itu belum selesai dikerjakan, mustahil dia akan menghabisi nyawanya sendiri tanpa suatu alasan.

"Tapi Bu ki pribadipun sudah pasti tahu, kalau dia sama sekali tidak membunuh Siau Poo"

"Lantas, siapakah yang memaksa Siau Poo untuk menggantung diri?"

"Apa sebabnya?"

Persoalan itu kembali berkecamuk didalam benak Bu ki, ia merasa bingung dan tak habis mengerti, teka teki tersebut serasa sukar untuk dipecahkan.

Sarapan pagi itu benar benar amat mewah dan lezat.

Tong Koat melahap hidangan tersebut dengan penuh kenikmatan, sudah setengah jam lebih ia bersantap, tapi sampai saat ini sumpitnya belum juga diletakkan.

Belum pernah Bu-ki menjumpai orang yang bisa menghabiskan sarapan paginya dalam jumlah sebanyak ini.

Warung teh ini seperti pula dengan warung warung teh lainnya, sudah barang tentu bukan hanya mereka berdua saja yang datang untuk sarapan pagi.

Tapi sekarang saatnya untuk sarapan telah lewat, tamu tamu yang lainpun sebagian besar telah bubar.

Akhirnya Tong Koat menurunkan kembali sumpitnya, lalu mencuci tangannya yang kecil, putih dan gemuk itu didalam sebuah baskom yang terbuat dari tembaga, kemudian menyeka mulutnya yang kecil dengan mempergunakan secarik handuk yang putih bersih.

Dia memang seorang yang suka kebersihan.

"Sekarang, apakah kita boleh pergi dari sini?"

Kata Bu-ki selanjutnya. Tong Koat menggelengkan kepalanya berulang kali, tiba tiba bisiknya dengan lirih.

"Tahukah kau, kenapa aku menyuruhmu pergi membunuh Siau Poo?"

"Karena kau benci kepadanya"

Tong Koat segera tertawa "Kalau aku harus mengeluarkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak untuk membunuh orang lantaran rasa benci saja, sekarang mungkin aku sudah bangkrut"

Kemudian sambil merendahkan suaranya dia melanjutkan.

"Aku suruh kau membunuhnya, karena dia adalah seorang mata mata!"

Terperanjat Bu ki setelah mendengar perkataan itu.

"Dia adalah seorang mata mata?"

Serunya "masa manusia macam dia bisa menjadi mata mata?"

"Sekilas pandangan, tampaknya dia memang tidak mirip, sayang dia justru adalah seorang mata mata"

Setelah tertawa, lanjutnya.

"Seorang mata mata yang sesungguhnya, harus tampak seakan akan bukan seorang mata mata"

"Emm, betul juga!"

Kembali Tong Koat memandang kearahnya dengan sepasang mata penuh senyuman yang tajam itu.

"Misalnya kau......"

"Kenapa dengan aku?"

"Kaupun tidak mirip seorang mata mata"

Katanya sambil tertawa "kalau kau dikirim sebagai seorang mata mata, maka hal ini paling cocok sekali"

Ia lantas tertawa cekikikan, suara tertawanya mirip seekor rase yang kena digebuk manusia. Bu ki pun sedang memandang kearahnya, bahkan matapun tidak berkedip, ujarnya hambar.

"Jadi kau curiga akupun seorang mata-mata?"

"Terus terang, sebenarnya aku merasa agak curiga kepadamu, itulah sebabnya aku suruh kau membunuh Siau Poo"

"Oooh?"

"Mata mata yang datang kemari sebagian besar adalah orang orang Tay hong thong sebab orang lain tak mempunyai kepentingan untuk menyerempet bahaya itu. Merekapun tak akan memiliki nyali sebesar ini"

"Oooh?"

"Bila kaupun seorang mata mata, kaupun anggota Tay hong thong, tak nanti kau akan membunuhnya"

"Itu mah belum tentu"

Kata Bu ki "Belum tentu?"

"Andaikata akupun seorang mata mata, untuk membersihkan diriku dari segala tuduhan, aku justru harus membunuhnya!"

Tong Koat tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh......haaahhhh....haaahhhh.... masuk akal, masuk akal, kau memang lebih sempurna memikirkannya"

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi.

"Tapi ada satu hal yang belum kau pikirkan"

"Soal yang mana?"

"Dia sendiri sama sekali tak tahu kalau kita telah membongkar rahasianya, kaupun tidak tahu"

Bu ki mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut. Mereka selalu menganggap bahwa Siau Poo cukup baik menutupi identitasnya.

"Kalau toh kalian semua tak tahu kalau kami telah mengetahui akan rahasianya, maka alasanmu itu pada hakekatnya tak bisa dipertahankan lagi...."

Kata Tong Koat. Kemudian ia menjelaskan lebih lanjut.

"Oleh sebab itu bila kau adalah mata mata sekalipun telah membunuhnya juga tak akan bisa mencuci bersih dirinya sendiri, bila kau bukan mata mata, tentu saja juga tak akan tahu kalau dia adalah mata mata, maka kau baru akan membunuhnya"

Sebenarnya kesimpulan semacam ini amat rumit, harus mempunyai suatu jalan pemikiran yang tajam dan teliti baru dapat memahaminya.

Tak bisa disangkal lagi dia memang mempunyai jalan pemikiran yang amat teliti.

Cuma sayang dibalik peristiwa ini justru masih ada suatu kunci yang paling penting lainnya yang tak pernah ia sangka sama sekali.

Bu ki tidak membunuh Siau Poo.

***** Lantas siapa yang telah membunuh Siau Poo?

Karena apa dia dibunuh?

Peristiwa ini masih merupakan sebuah teka teki yang tak terungkapkan.

Setelah mengetahui alasan Tong Koat hendak membunuh Siau Poo, bukan saja teka teki ini tak terungkapkan, malahan justru makin membingungkan hati.

Untung saja teka teki semacam ini tak pernah akan diketahui oleh Tong Koat.

"Kalau toh kau telah membunuh Siau Poo, itu berarti kau bukan mata mata dari Tay hong tong"

Kembali Tong Koat berkata. Setelah tersenyum, dia melanjutkan.

"Oleh sebab itu akupun mencarikan sebuah tugas lagi untuk kau lakukan....!"

"Tugas apa?"

Tiba tiba Tong Koat bertanya.

"Tahukah kau Sangkoan Jin adalah seorang manusia macam apa?"

Mengapa ia menyinggung Sangkoan Jin secara tiba tiba? Bu ki tidak habis mengerti, paras mukanya juga tidak berubah, sahutnya kemudian.

"Aku mengetahui sedikit tentang dirinya, tapi tidak begitu jelas"

"Orang ini amat pendiam, tapi dingin, seram dan tidak berperasaan, dan lagi dia mempunyai kemampuan untuk mengingat selain apa yang pernah dilihatnya"

"Soal ini, sudah pernah kau bicarakan denganmu"

"Orang ini cuma mempunyai satu hal yang paling menakutkan"

"Hal yang mana?"

"Dia seakan akan tak pernah percaya kepada siapapun juga, sudah hampir setahun lamanya dia datang kemari, namun tak seorang manusiapun yang dapat mendekatinya, lebih lebih lagi tak ada orang yang bisa berkawan dengannya. Pelan pelan Bu ki merasakan hatinya bagaikan sedang tenggelam ke bawah...... Bila orang orang dari keluarga Tong saja tak sanggup mendekati Sangkoan Jin sudah barang tentu dia lebih lebih tak mungkin bisa mendekatinya. Bila ia tak dapat mendekati orang ini mana mungkin bisa memperoleh kesempatan untuk membalas dendam? "Tapi orang ini memang benar benar seorang manusia berbakat alam yang amat sukar dijumpai dalam dunia persilatan"

Kata Tong Koat lebih jauh.

"kedudukannya ditempat ini pun kian hari kian bertambah penting urusan tetek bengek yang tidak penting artinya tak sudi ia campur lagi........."

"Maka kenapa?"

"Maka dia ingin mencari orang untuk membantunya mengurusi urusan kecil yang tetek bengek itu?"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Akupun beranggapan bahwa dia memang membutuhkan seseorang untuk membantunya menyelesaikan banyak persoalan kecil itu, karenanya aku telah bersiap siap mencarikan seseorang baginya"

"Siapa yang hendak kau pilih?"

"Kau!"

Paras muka Bu ki tetap dingin, kaku tanpa emosi, tapi jantungnya telah berdebar keras sekali.

Dia selalu mencari kesempatan untuk mendekati Sangkoan Jin, selalu mencari akal untuk mengunjungi tempat tinggal Sangkoan Jin.

Mimpipun tak disangka, akhirnya kesempatan sebaik ini tahu tahu terjatuh dari atas langit.

"Kau bukan anggota keluarga Tong, antara kau dengannya juga tidak mempunyai hubungan apa apa, lagipula kau cerdik dan pandai bekerja, ilmu silat yang kau miliki juga tinggi, siapa tahu dia akan menyukai dirimu.....?"

Ujar Tong Koat.

"Bila aku dapat mendekatinya, maka akupun akan mendapat tahu hal hal lain yang tak diketahui orang, dan aku pun akan datang memberitahukan hal ini kepadamu"

Tong Koat segera tertawa terbahak bahak.

"Haahh...... haahhh..... haaahhhh...... tepat sekali, memang tepat sekali"

Setelah tergeletak kembali, dia menepuk bahu anak muda itu sambil ujarnya lebih lanjut.

"Aku sudah tahu kalau kau memang orang yang cerdik, cerdiknya bukan kepalang"

Bila aku benar benar seorang yang cerdik, aku takkan melakukan pekerjaan semacam ini,\.

"Kenapa?"

"Seorang yang cerdik tak akan melakukan pekerjaan yang sama sekali tak bermanfaat bagi dirinya sendiri"

Pekerjaan ini tentu saja ada manfaatnya pula bagimu.

"Manfaat apa?"

"Aku tahu kalau kau punya musuh besar yang selalu ingin merenggut nyawamu"

Tentu saja Bu ki mengakuinya.

"Jika telah menjadi pengurusnya Sangkoan Jin, entah siapa itu musuh besarmu, kau tak perlu untuk merasa kuatir lagi"

Kata Tong Koat lebih lanjut.

Bu ki tidak berbicara lagi.

Padahal dalam hatinya ia sudah merasa setuju semenjak tadi, namun bila terlalu cepat ia menerima tawaran itu, sedikit banyak pasti akan menimbulkan kecurigaan orang.

"Sekalipun Sangkoan Jin orangnya licik dan berbahaya, namun jiwanya tak sempit, selama disampingnya, tak nanti tiada keuntungan yang bisa kau raih", kata Tong Koat lagi. Kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa, dia melanjutkan.

"Tentunya kau juga tahu bukan bahwa akupun bukan seseorang yang berjiwa sempit"

Bu ki tak perlu berpura pura lagi.......... Segera tanyanya.

"Kapan kita baru akan pergi menjumpainya?"

"Kita harus menunggu lagi"

"Masih harus menunggu apa lagi?"

"Untuk mendatangi benteng keluarga Tong bukan suatu hal yang sulit, tapi untuk mendatangi "Kebun bunga"

Hal ini teramat sukar"

"Kebun bunga?"

Sekali lagi jantungnya berdebar keras, tentu saja dia tahu tempat macam apakah yang disebut kebun bunga itu.

Tapi dia tak bisa tidak harus bertanya.

Kebun bunga adalah tempat terlarang didalam benteng keluarga Tong, ujar Tong Koat menerangkan.

"Sangkoan Jin berdiam didalam kebun bunga itu, tanpa persetujuan dari nenek moyang, akupun tak berani membawamu mengunjungi Kebun bunga"

Setelah menghela napas, lanjutnya.

"Sekarang, walaupun aku telah mempercayaimu, nenek moyang masih mengharuskan aku untuk menunggu lagi"

"Menunggu apa?"

"Menunggu kabar"

"Kabar apa?"

"Nenek moyang telah mengutus orang pergi kedesa kelahiranmu untuk memeriksa asal usulmu, sekarang kami sedang menantikan kabar berita mereka"

Setelah tersenyum, dia melanjutkan.

"Tapi kau tak usa kuatir. Kami tak akan menunggu terlalu lama, hari ini mungkin kabar itu sudah akan sampai"

Hari ini baru tanggal dua puluh empat, jaraknya dengan batas waktu yang ditentukan Bu ki sendiri masih ada tiga hari.

"Bila orang lain yang harus melakukan pekerjaan ini, paling tidak mereka membutuhkan waktu lima enam hari, tapi kami takut kau terlalu gelisah bila menunggu terlalu lama, maka sengaja kamu suruh orang untuk melaksanakannya secara khusus, kebetulan sekali belakangan ini kamipun berhasil membeli seekor kuda jempolan dari Lau Pat yang sedang bangkrut karena hartanya habis dimeja judi, dan kebetulan pula ada orang yang mampu menunggang kuda cepat ini"

Kuda dari Lau Pat itu, bukan lain adalah kuda milik Bu ki.

Walaupun Bu ki tahu kalau kuda ini bisa lari dengan cepat, tapi mimpipun ia tak menyangka kalau kuda itu bakal terjatuh ke tangan keluarga Tong.

"Orang yang kami utus itu bukan saja memiliki gerakan tubuh yang enteng seperti walet, lagipula cerdik dan pandai bekerja"

Setelah tertawa amat nyaring, dia menambahkan.

"Oleh karena itu, aku dapat menjamin paling lambat tengah hari nanti, ia pasti sudah ada kabar yang dikirim kembali ***** Paras muka Bu ki masih saja tidak menunjukkan perubahan apa apa. Bila ada perubahanpun, kemungkinan besar dia sendiri juga tak tahu perubahan macam apakah itu. Pengorbanan yang dikeluarkan olehnya siksaan yang dialami dan penderitaan yang dijalani, sekarang telah berubah menjadi sepeserpun tak ada harganya Karena sekarang ia sudah punya waktu. Tak ada waktu berarti tiada kesempatan. Tak ada waktu berarti segala sesuatunya akan bubar. Kini sudah mendekati tengah hari, jaraknya dengan batas waktu yang ditetapkan sendiri tinggal satu jam lebih. Didalam waktu satu jam yang teramat singkat ini, apa lagi yang bisa dia lakukan? Satu satunya yang bisa ia lakukan sekarang adalah menunggu kematian tiba. Seandainya berganti orang lain, mungkin dia akan segera melompat bangun menerjang keluar dan kabur dari benteng keluarga Tong. Tapi ia tidak berbuat demikian. Sebab dia jauh lebih sanggup menahan diri daripada siapapun, jauh lebih sabar dan tahan uji daripada orang lain. Dia tahu menerjang keluar dari situ juga mati. Sebelum keadaan mencapai saat yang paling kritis, dia tak akan meninggalkan setiap kesempatan yang mungkin terjadi dengan begitu saja. Selain mereka, diatas loteng warung teh itu masih ada enam meja orang, pada setiap meja terdapat dua tiga orang. Posisi tempat duduk dari ke enam meja itu amat strategis dan luar biasa, jaraknya dengan meja yang ditempati Bu ki tidak terlalu dekat, pun tidak terlalu jauh. Kebetulan sekali, meja yang ditempati Bu ki itu letaknya persis ditengah tengah kerumunan ke enam buah meja tersebut. Bila dia hendak keluar, entah kearah manapun dia akan pergi, ia musti melewati mereka. Bila mereka hendak menghalangi Bu ki, hal tersebut sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang terlampau sulit. Orang orang yang berada di keenam meja itu ada yang tua ada yang muda, tampangnya ada yang jelek adapula yang ganteng, namun mereka mempunyai satu kesamaan. Sorot mata mereka semua memancarkan sinar tajam yang menggidikan hati, dibalik jubah panjangnya dekat bagian pinggang terdapat satu bagian tepat yang menonjol keluar. Tak bisa disangkal lagi, orang orang yang duduk di keenam meja itu merupakan juga jago lihay dari keturunan keluarga Tong dan tak bisa disangkal pula ditirubuh mereka masing masing menggembol senjata rahasia keluarga Tong yang sanggup merenggut nyawa siapa saja. Tiba tiba Bu ki tertawa, lalu berkata.

"Nenek moyang kalian itu sungguh hebat sekali, cara kerjanya pun pasti amat teliti"

Tong Koat turut bersenyum.

"Bila seorang dapat hidup mencapai tujuh puluh delapan tahun mau tak mau cara kerjanya pasti akan sangat teliti"

"Tentunya orang orang itu sengaja diutus olehnya untuk mengawasi diriku bukan?"

Tong Koat tidak menyangkal.

"Yaa, ornag orang yang berada di keenam buah meja itu, memang orang orang yang ditugaskan mengawasi dirimu dalam saku emreka telah siap senjata rahasia khusus yang dipersiapkan sendiri oleh nenek moyang kami"

"Waah... kalau senjata rahasia itu dipersiapkan sendiri oleh nenek moyangmu, sudah pasti senjata rahasia yang digunakan adalah barang barang pilihan?"

"Sudah barang tentu!"

Setelah berhenti sebentar kembali ujarnya.

"Bukan saja dalam saku mereka membawa senjata rahasia yang begitu bertemu darah lantas merenggut nyawa, kepandaian yang mereka milikipun merupakan jago jago kelas satu dalam dunia persilatan,b ahkan beberapa orang enci tong ku juga turut dikirim kemari. Setelah menghela napas panjang dan tertawa getir dia melanjutkan lebih jauh.

"Sudah barang tentu rencana ketat semacam ini bukan muncul atas prakasaku, sebab terus terang saja kukatakan, aku sudah mempercayai dirimu sertaus persen"

"Ooooh....!"

Bu ki tidak mengucapkan apa apa, dia hanya mendesis.

"Akan tetapi, bila kau berani berbohong dihadapan nenek moyangku, bukan saja aku tak bisa menyelmatkan jiwamu, aku rasa dikolong langit dewasa inipun tak akan ada seorang manusia lagi yang bisa menyelamatkan jiwamu dari bahaya maut...yaaa, tak bisa disangkal lagi, kau pasti akan menjadi landak yang hitam hangus, hancur oleh racun yang berada diujung senjata rahasia"

"Kalau toh kau sangat percaya kepadaku, mengapa pula kau harus menguatirkan keselamatan jiwaku?"

Tanya Bu ki kemudian dengan suara keras.

Jilid 30________ Kembali Tong Koat tertawa.

"Siapa bilang aku menguatirkan keselamatan jiwamu ? BUkan aku saja yang tidak merasa kuatir, bahkan boleh di bilang sedikitpun tidak kuatir....., kau tidak percaya ?"

Sudah barang tentu dia tidak akan merasa kuatir, diapun tak usah merasa kuatir, sebab bagaimanapun juga toh bukan dia yang bakal mampus, bukan dia yang menjadi umpan senjata rahasia beracun.

Kenapa pula dia musti kuatir ?

Di empat penjuru ruang loteng warung teh itu terdapat daun, jendela-jendela itu semuanya berada dalam keadaan terbuka lebar Pada saat itulah, tiba-tiba tampak sekelompok burung merpati terbang lewat diluar jendela terbang diangkasa raya yang cerah dan berwarna biru.

Itulah sekelompok burung merpati berwarna hitam.

***** (DIDALAM KEBUN BUNGA) SETIAP orang mendongakkan kepalanya dan memandang kelompok burung merpati itu sekejap, kemudian sorot mata tiap orang, dialihkan ke wajah Bu-ki dan menatapnya tajamtajam.

Burung merpati berwarna hitam ini merupakan sekelompok burung merpati yang dilatih secara khusus oleh paman Jit siok ku, kecepatan terbangnya satu kali lipat lebih cepat dari burung merpati biasa dan tiga kali lipat lebih jauh jarak yang bisa ditempuh, bila sedang terbang di tengah kegelapan, tidak mudah ditemukan orang lain."

Dengan tenang Bu-ki mendengarkan keterangan tersebut, dia berharap Tong Koat mau banyak bicara, sebab mendengarkan pembicaraan orang lainpun bisa digunakan untuk mengendorkan ketegangan syaraf yang sedang mencekam.

Ia tak bisa tidak untuk mengakui kalau dirinya merasa sangat tegang, hingga sekarang, dia masuh belum berhasil menemukan cara yang terbaik untuk menanggulangi keadaan tersebut.

Kembali Tong Koat berkata .

Walaupun kelompok burung merpati ini di latih oleh paman Jit Siok ku khusus untuk mengirim berita rahasia, tapi menurut pengakuannya, burung merpati yang dipeliharanya itu diakui sebagai jenis burung merpati paling top yang ada di dunia ini!"

Kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa, dia melanjutkan .

"Tapi aku dapat menjamin bahwa burung merpati semacam ini sedikitpun tak enak untuk dimakan."

"Kau pernah mencicipinya ?"

"Pokoknya asal bisa di makan, aku pasti akan berusaha dengan segala kemampuan untuk menangkap beberapa ekor serta mencicipinya, kalau tidak, mungkin selamanya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak."

"Konon dongeng manusia juga bisa dimakan, kau pernah makan daging manusia ?"

Sebenarnya dia tidak ingin tahu apakah Tong Koat pernah makan daging manusia atau tidak, dia tak lebih hanya memancing Tong Koat untuk berbicara.

Entah siapapun bila sedang berbicara, tak urung perhatiannya akan menjadi buyar, apalagi apa yang mereka bicarakan sekarang justru merupakan bahan pembicaraan yang paling menarik perhatian Tong Koat.

Andaikata dia menerjang keluar sekarang bukannya sama sekali tiada harapan lagi, cuma kesempatannya untuk berhasil tidaklah terlampau besar.......

Sebaliknya bila dia mencari kesempatan untuk menguasai Tong Koat lalu menggunakan Tong Kuat sebagai sandera, maka kesempatannya akan berubah menjadi lebih banyak.

Sayang ia benar-benar sudah tidak memiliki keyakinan lagi untuk berhasil.

Orang yang bertampang lebih goblok dari seekor babi ini bukan saja mempunyai reaksi yang amat tajam, ilmu silat yang dimilikinyapun sukar diukur.

Sementara itu Tong Koat sedang menerangkan hal yang menyangkut tentang daging manusia, dia berkata begini .

"Konon ada tiga macam daging manusia yang tak boleh dimakan, orang yang sedang sakit tak boleh dimakan, orang yang terlalu tua tidak boleh dimajan, orang yang lagi marah juda tak boleh dimakan!"

"Kenapa orang yang lagi marah tak boleh dimakan ?"

Tanya Bu-ki.

"Sebab bila orang lagi marah, daginggnya akan berubah menjadi kecut....!"

Waktu itu Bu-ki telah bersiap-siap untuk turun tangan.

Walaupun ia tidak yakin ia tetap akan turun tangan karena dia sudah tidak memiliki pilihan kedua.

Siapa tahu secara tiba-tiba Tong Koat bangkit berdiri, kemudian katanya .

"Persoalan ini lebih baik, kita perbincangkan di kemudian hari saja, sekarang mari kita berangkat!"

Perasaan Bu-ki segera merasa tenggelam. Setelah satu-satunya kesempatan yang terakhirpun dilewatkan, terpaksa ia bertanya .

"Kita akan kemana ?"

"Akan kuajak kau untuk memjumpai seseorang."

"Pergi menjumpai siapa ?"

"Nenek moyang!"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya .

"Dia orang tua telah berpesan, bila burung merpati sudah pulang, aku harus mengajakmu untuk pergi menjumpainya."

Bu-ki segera bangkit berdiri, orang yang ingin dia jumpai sekarang adalah nenek moyang.

Tiba-tiba ia teringat bahwa sebenarnya inilah kesempatan yang paling baik.

Apabila ia berhasil menguasai nenek moyang dan menjadi hanya sebagai sandera, bukan saja orang-orang dari benteng keluarga Tong akan menghantarnya dengan hormat keluar dari sini, siapa tahu dia masih bisa mempergunakannya untuk menukar selembar jiwa lain.

Jiwa Sangkoan Jin.

Untuk menghadapi seorang nenek yang berusia tujuh delapan puluh tahunan, paling tidak akan jauh lebih mudah daripada menghadapi Tong Koat.

Sambil tersenyum Bu-ki lantas berkata .

"Apakah aku masih harus menutupi mataku ?"

"Tidak perlu."

Kemudian sambil memicingkan matanya yang tajam dan penuh senyuman itu, dia melanjutkan .

"Bila apa yang kau ucapkan tidak bohong, maka kau akan segera menjadi orang kami, selanjutnya kaupun boleh keluar masuk dalam kebun bunga dengan bebas."

"Kalau apa yang kuucapkan bukan kata-kata yang sebenarnya ?"

"Maka kali ini adalah hari terakhir bagimu untuk masuk kesana, sebab tidak mungkin kau bisa keliar lafi dalam keadaan hidup, buat apa aku musti menutupi matamu?"

"Yaa, memang tidak perlu." ***** SETELAH menyaksikan keadaan bangunan serta kehebatan dari benteng keluarga Tong, setiap orang pasti akan menduga bahwa "kebun bunga"

Mereka pasti menempati area tanah yang luas sekali dengan penjagaan yang ketat.

Menanti kau benar-benar telah masuk ke dalam, baru akan kau jumpai bahwa jalan pemikiranmu itu tidak terlampau tepat.

Memang benar "kebun bunga"

Menempati area tanah yang amat luas, bahkan jauh lebih luas dari pada apa yang orang pikirkan, akan tetapi disana tidak ditemukan penjagaan yang ketat.

Setelah menyeberangi sebuah jempatan keicl yang beralaskan kayu berwarna hijau, serta menembusi sebuah hutan dengan aneka bunga berwarna merah, maka akan kau jumpai bangunan rumah yang megah diatas sebuah bukit.

Sepintas lalu bangunan itu tampaknya seperti sama antara yang satu dengan lainnya, modelnya tidak ada sesuatu yang istimewa, tentu saja tiada pula nama jalan atau nomor rumah.

Oleh karena itu, sekalipun kau tahu orang yang sedang kau cari tinggal disitu, toh kenyataannya tetap sulit untuk menemukannya.

Di kedua belah sisi jalan kecil yang beralaskan batu hijau, merupakan bangunan dinding rumah berwarna kelabu.

sepintas lalu tiada sesuatu perbedaan yang nampak.

Setiap jalan memiliki ciri yang sama.

Tong Koat membawa Bu-ki berputar kesana berputar kemari, berbelok kekiri berbelok ke kanan, akhirnya berhenti di depan sebuah pintu gerbang besar yang lebar dan berwarna hitam pekat.

Disinilah nenek moyang kami tinggal,"

Dia berkata.

"sudah pasti nenek moyang sudah lama menunggu kedatangan kita."

Dibelakang pintu gerbang adalah sebuah halaman besar, besar sekali, sesudah menembusi halaman terbentang sebuah ruang tamu yang besar, besar sekali.

Di dalam ruangan itu terdapat meja kursi yang besar dan lebar, diatas dinding tergantung sebuah lukisan yang besar.

Setiap benda yang berada dalam benteng keluarga Tong tampaknya jauh lebh besar daripada benda di tempat lain, bahkan tidak terkecuali pula cawan teh dan mangkuk.

"Silakan!"

Ujar Tong Koat.

Menanti Bu-ki sudah duduk, diapun lenyap tak berbekas.

Sebenarnya Bu-ki mengira dia pasti akan masuk untuk memberi laporan, kemudian dengan cepatnya akan keluar lagi, siapa tahu ternyata ia tak memunculkan dirinya juga.

Suasana amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, tak nampak pula bayangan manusia.

Seorang diri BU-ki duduk di tengah ruangan yang luas, lebar dan tiada manusia lain itu, bahkan beberapa kali dia sudah tidak tahan dan siap menerjang keluar.

Dalam saat, keadaan dan suasana semacam ini, dia lebih baik tak berani bergerak secara sembarangan.

WAlaupun dia tidak melihat ada orang itu disitu , namum setelah si nenek moyang berada disitu, sudah pasti di tempat itu mustahil tanpa penjagaan yang ketat.

Penjagaan yang tidak terlihat kadangkala jauh lebih menakutkan daripada penjagaan yang terlihat.

Dia cukup memahami teori seperti itu.

Ia juga lebih dapat "bersabar"

Daripada kebanyakan orang lainnya.

Secawan air teh yang diantar seorang bocah lelaki tadi sebetulnya masih panas tapi sekarang telah menjaid dingin.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya dari dalam ruangan berkumandang serentetan suara yang lemah lembut, tapi penuh berwibawa.

"Silakan minum air teh."

Bu-ki dapat mengenali suara itu sebagai suaranya nenek moyang, ketika melakukan pemeriksaan terhadap dirinya tempo hari, ia sudah pernah mendengar suaranya.

Kali ini dia juga masih hanya mendengar suaranya, sedangkan orangnya entah berada dimana.

Sekali lagi Bu-ki merasakan hatinya tenggelam ke bawah.

Jika orangnya saja tidak kelihatan, bagaimana mungkin dia bisa menaklukan dirinya.

Diangkatnya cawan air teh itu dan diminumnya setegukan.

Air teh yang benar-benar getir.

Suara si nenek moyang itu kembali berkata lagi.

"Keluarga Tong termasyur karena senjata rahasia beracunya, kau tidak kuatir kalau dalam air teh itu ada racunnya ?"

Bu-ki segera tertawa.

"Jika kau orang tua tidak menginginkanku hidup terus, setiap saat aku bisa dijatuhi hukuman mati, mengapa pula kau musti mencampuri air teh dengan racun?"

Si nenek moyang tertawa, paling tidak kedengarannya seperti lagi tertawa.

"Kau benar-benar pandai menahan diri,"

Katanya "tak kusangka dengan usiamu yang begitumuda, ternyata memiliki kemampuan untuk menahan diri yang sangat hebat!"

Bu-ki masih tetap tersenyum.

Bahkan dia sendiripun diam-diam mengagumi diri sendiri, berada dalam keadaan seperti ini, ternyata ia masih sanggup duduk tenang disitu sambil minum teh.

Kembali si nenek moyang berkata.

"Kau adalah seorang bocah yang baik, kami keluarga Tong sangat membutuhkan manusia semacam kau, asal kau mau berdiam disini secara baik-baik, aku tak akan merugikan dirimu."

Ternyata ia sama sekali tidak menyinggung tentang kabar yang di bawa pulang oleh burung merpati.

Apakah hal ini pun merupakan suatu perangkap ?

Dia berbuat demikian apakah disebabkan mempunyai tujuan yang lain ?

Tujuan apakah itu ?

Tapi kalau didenger dari nada pembicaraannya, bukan saja amat lembut, dan lagi sedikitpun tidak terdengar maksud jahat.

Walaupun Bu-ki bukan seorang yang bodoh, diapun bukan seorang yang lamban bereaksi, namum sekarang dia dibikin tertegun sampai berdiri termangu-mangu.

Ia benar-benar tidka habis mengerti apa maksud dan tujuannya, diapun tak tahu si nenek moyang hendak membicarakan soal apa lagi?

Tak disangka si nenek moyang ternyata tidak berbicara apa-apa lagi.

Suasana ama sepi dan hening, disekeliling tempat itupun tak nampak seorang manusiapun.

Entah beberapa saat kemudian, Tong Koat tampak memunculkan diri sambil tertawa cekikikan.

"Kau berhasil lolos dari pemeriksaan ini!"

"Aku berhasil lolos dari pemeriksaan ini?"

Tanya Bu-ki agak tertegun. Tong Koat membawa secarik gulungan kertas sambil menghampirinya dia berkata .

"Inilah hasil pemeriksaan yang dibawa pulang oleh burung merpati itu, apakah kau ingin melihatnya ?"

Tentu saja Bu-ki ingin melihatnya. Ketika gulungan kertas itu dibuka, maka berpecahlah beberapa huruf yang tertera jelas disana.

Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 4

Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert