Eps 11 Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Baca online Harimau Kemala Putih - Khu Lung
Cersil Harimau Kemala Putih - Khu Lung.
"Benar-benar ada orang ini, bukti menunjukkan kebenaran dari pengakuannya." ***** Bu-ki betul-betul tak habis mengerti, sekalipun kepalanya dipukul sampai berlubangpun, dia tidak habis mengerti. Benarkah di dusun Si tau ceng terdapat seorang manusia yang ber Li Giok thong? Jangan-jangan orang yang diutus pihak keluarga Tong untuk melakukan pemeriksaan itu sama sekali tidak melakukan penyelidikan, tapi menulis laporan secara palsu ? Atau jangan-jangan orang itu sudah disuap oleh teman-teman Bu-ki di tengah jalan, agar sengaja membuat laporan palsu. Keadaan semacam ini hanya bisa di jelaskan dengan ketiga macam kemungkinan tersebut. Ketiga macam penjelasan tersebuk tampaknya saja seperti bisa di terima dengan otak, akan tetapi, bila di pikir lebih jauh, terasa pula sama sekali tidak mungkin. Sekalipun di dusun Si tau ceng betul-betul terdapat seorang yang bernama Li Giok thong, latar belakang asal usulnya tak mungkin bisa sama dengan apa yang dikatakan Bu-ki, bagaimanapun juga didunia ini toh tidak mungkin ada suatu kejadian yang begitu kebetulannya. Keluarga Tong memiliki peraturan yang sangat ketat, anak keturunan yang diutus keluar tidak mungkin berani menerima suap, apalagi mengirimkan laporan palsu. Pada hakekatnya, tak ada orang yang tahu akan hal ini, sehingga tak mungkin ada orang yang bisa menyuapnya. Seandainya ke tiga macam kesimpulan itu tak bisa di pegang sebagai dasar, lantas apa pula yang sesungguhnya telah terjadi ? Bu-ki tidak berpikir lebih lanjut selama beberapa hari ini, ia telah menjumpai beberapa macam persoalan yang tidak bisa dipecah olehnya..... Tapi yang pasti di balik semua kejadian ini tentu mempunyai hubungan antara yang satu dengan yang lainnya, meski hubungan itu misterius sifatnya...... Hanya saja sampai sekarang dia masih belum dapat menemukannya. Entah bagaimanapun juga akhirnya ia berhasil meloloskan diri dari pemeriksaan tersebut. Padahal dia hanya berpegangan pada prinsip "bisa dilewatkan sampai dimana, dilewatkan sampai dimana"
Dan kini, dia masih harus bersabar terus.
Justru karena ia dapat bersabar, maka ia telah melewatkan beberapa kali ancaman bahaya yang sebetulnya sukar untuk di lewatkan.
Pelan-pelan Bu-ki menggulung kertas itu kembali, lalu di kembalikan kepada Tong Koat, katanya dengan hambar .
"Mana nenek moyangmu?"
"Nenek moyang telah melihatmu, dia merasa puas sekali terhadap dirimu.....!"
"Apakah kau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menyambangi dia orang tua?"
"Akupun sebenarnya ingin mengajakmu untuk pergi menyambangi dia orang tua, cuma sayangnya bahkan aku sendiripun tak dapat bersua dengan beliau!"
Setelah menghela nafas dan tertawa getir, lanjutnya.
"Bahkan aku sendiripun sudah sangat lama tak pernah bersua muka dengan dia orang tua!"
"Apakah dia jarang sekali bertemu dengan orang ?"
"Yaaa, jarang ...... jarang sekali"
"Mengapa ia tidak mau bertemu orang ?"
"Apakah karena dia bertampang sangat aneh sehingga tidak dapat bertemu orang ?"
Bu-ki masih mempunyai suatu pandangan lain, suatu pandangan yang lebih ekstrim.
Mungkin nenek moyang yang sebenarnya telah mati, tapi lantaran ada orang yang hendak merebut kekuasaannya yang amat tinggi itu, maka kematiannya dirahasiakan, kemudian dengan menirukan suaranya, ia memberi perintah-perintahnya serta memerintah seluruh anak keturunan keluarga Tong.
Dalam keadaan seperti ini, sudah barang tentu ia tidak dapat bertemu dengan orang lain, bagaimanapun juga tak mungkin dia bisa memiliki wajah sebagai "nenek moyang".
Walaupun pemikirannya ini sangat ekstrim, bukan berarti sama sekali tiada kemungkinannya.
Dunia ini memang sering kali terdapat kejadian-kejadian yang luar biasa, kejadian yang nyata seringkali bahkan lebih aneh dan luar biasa daripada cerita dongeng.
Bu-ki tidak sanggup berpikir lebih lanjut, diapun tak ingin berpikir lebih jauh.
Urusan perebutan kekuasaan dalam keluarga Tong sama sekali tiada sangkut paut dengan dengan dirinya, jadi dia merasa enggan untuk mencampurinya.
Dia hanya bertanya .
"Sekarang apakah kita sudah boleh pergi meninggalkan tempat ini.....? "Kau hendak pergi kemana ?"
"Memangnya kita tak akan pergi ke dalam sana untuk berjumpa dengan Sangkoan Jin?"
"Tentu saja kita akan menjumpainya!"
"Lantas apakah kita sekarang merasa perlu untuk pergi ke tempat tinggalnya ? Tong Koat segera tertawa.
"Kau anggap tempat ini adalah sempit apa ?"
Dia balik bertanya sambil memandangnya dengan suatu sorot mata yang aneh. Bu-ki balas menatapnya lekat-lekat, sesaat kemudia dia baru bertanya pelan .
"Memangnya dia berdiam-diam disini ?"
Tong Koat tidak menjawab. Dia memang tak perlu menjawab, sebab si luar pintu sudah kedengaran seseorang menyahut .
"Betul, aku memang tinggal disini"
Jantung Bu-ki kembali berdebar keras, darah yang mengalir diseluruh tubuhnya juga ikut mendidih.
Dia telah mendengar suara Sangkoan Jin, diapun mendengar suara langkah Sangkoan Jin.
Musuh besar yang tiada ternyana telah berjumpa muka dengan dirinya sekarang.
Bukan saja mereka berada di satu atap, bahkan dengan cepatnya akan saling bersua.
Kali ini, mungkinkah Sangkoan Jin akan mengenali dirinya sebagai Tio Bu-ki ?
***** NAFAS HIDUP DAN MATI BULAN empat tanggal dua puluh empat, tengah hari.
Akhirnya Tio Bu-ki telah bersua muka dengan Sangkoan Jin.
Sangkoan Jin mempunyai perawakan yang tinggi dengan bahu yang lebar serta lengan yang panjang, setiap langkah kakinya akan lebih lebar lima inci daripada orang lain.
Diam-diam ia telah membuat perhitungan yang cermat, setiap langkahnya persis mencapai satu jengkal tujuh inci, tak akan kelebihan satu inci juga tak akan kurang dari sati inci.
Terhadap setiap persoalan yang hendak dilakukannya dia selalu membuat perhitungan yang matang, setiap perbuatannya selalu tepat dan sempurna.
Kehidupannya sangat beraturan, ketat dan disiplin, bahkan terhadap makanan yang tiap hari di makanpun selalu ada saat dan banyaknya.
Bukan saja dia makan amat sedikit, air yang diminumpun tidka terlalu banyak, di hari biasa setetes arakpun tak pernah dicicipinya.
Sekarang dia masih hidup sendiri, tak pernah mendekati perempuan.
Persoalan yang bisa membuat orang lain lupa diri, baginya sama sekali tidak tertarik.
Kesenangannya cuma satu...........
Kekuasaan !
Setiap orang yang bertemu dengannya, sudah pasti dapat melihat bahwa dia adalah seorang yang sangat berkuasa.
Dia seorang yang pendiam, jarang berbicara, sikapnya serius, dingin dan tidak berperasaan, entah muncul darimana dan kapan saja, dia selalu memperlihatkan suatu semangat yang berkobar, jiwa yang segar, sepasang matanya yang tajam bercahaya seakan-akan hendak menembusi hari siapapun yang di hadapinya.
Tapi, ternyata ia tidak melihat kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah Tio Bu-ki.
Perubahan pada diri Tio BU-ki memang terlampau banyak.
***** BU-KI telah duduk kembali.
Dia selalu berusaha untuk memberitahukan kepada diri sendiri .
"Harus sabar! harus menunggu! Kalau saat yang tidak meyakinkan belum tiba, jangan turun tangan secara sembarangan."
WAktu itu Sangkoan Jin sedang menatapnya dengan sepasang matanya yang tajam seperti sembilu, tiba-tiba ia bertanya .
"Apa yang kau pikirkan barusan ?"
"Apapun tak ada yang kupikirkan!"
"Kalau begitu kau seharusnya mengetahui kalau aku berdiam di tempat ini."
Dia berpaling memandang sepasang lian yang tergantung di atas dinding.
"Seluruh ruangan mabuk kepayang tiga ribu tamu Sekilas cahaya pedang bersinar di empat puluh keresidenan."
Gaya tulisannya yang kuat dan bertenaga, diatasnya tertera pula sebaris huruf kecil yang berbunyi .
"Tulisan dari Jin kong"
Dengan suara dingin Sangkoan Jin berkata lagi .
"Jika dalam hatimu tidka memikirkan apa-apa, kenapa hanya tulisan sebesar itupun tidak kau perhatikan ?"
"Mungkin hal ini dikarenakan aku sedang berada dirumah orang, selamanya aku tak pernah celingukan di rumah orang", sahut Bu-ki hambar. Sangkoan Jin tidak berbicara lagi.
"Dan lagi akupun bukan seorang sastrawan yang gemar membuat syair atau membuat lian, oleh karena itu ....."
"Oleh karena itu kenapa ?"
Tukas Sangkoan Jin. Tiba-tiba Bu-ki bangkit berdiri, lalu sambil menjura katanya.
"Selamat tinggal!"
"Kau hendak pergi ?"
"Kalau toh orang yang kau cari bukan manusia semacam diriku ini kenapa pula aku tidak pergi ?"
"Kau adalah manusia macam apa ?"
Tanya Sangkoan Jin sambil menatapnya lekat-lekat.
"Bila kau mempunyai kemampuan untuk menilai orang, tak perlu kukatakanpun seharusnya kau dapat melihat manusia macam apakah diriku ini, bila kemampuan untuk menilai orang saja tidak kau miliki, buat apa aku musti berbicara lagi?"
Sangkoan Jin menatapnya sampai lama sekali, tiba-tiba dia berseru pelan .
"Bagus, bagus sekali!"
Ia membalikkan badan mengadap ke arah Tong Koat, sikapnya turut berubah menjadi lebih halus dan lembut.
"Inilah orang yang kubutuhkan!"
Katanya. Tong Koat segera tertawa setelah mendengar ucapan itu. Kembali Sangkoan Jin berkata .
"Akan kuperintahkan orang untuk membereskan halaman belakang sana, besok ia sudah dapat pindah kemari."
"Sekarang, ternyata aku sudah boleh pergi bersantap bukan ?"
Tanya Tong Koat sambil tertawa.
"Tong Koat, kenapa tidak tinggal disini saja untuk bersantap bersama kami ?"
Dengan cepat Tong Koat menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau suruh aku melakukan pekerjaan apapun boleh saja asal jangan suruh aku makan disini, aku benar-benar tak berani bersantap ditempat ini."
"Tidak berani kenapa?"
"Aku takut sakit!"
"Kenapa bisa takut sakit ?"
"Kalau terlalu banyak hidangan sayur atau barang-barang berjiwa, perutku bisa sakit, apalagi bila dalam hidangan tak dijumpai sepotong daging, sudah pasti aku bakal sakit, malah sakitnya sudah pasti amat parah."
Setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan .
"Diantara empat sayur yang dihidangkan untuk makan siang hari ini, tak semacampun yang mengandung makanan berjiwa!"
"Darimana kau bisa tahu ?"
"Tadi aku telah mencari berita tentang soal ini, orang bilang rakyat menganggap makanan sebagai sumber kehidupan, terhadap persoalan macam begini, kenapa aku tak boleh menaruh perhatian khusus." ***** DAGING, ayam, ikan bertumpukan di atas meja. Tong Koat kembali bersantap dengan lahapnya. Bu-ki sebetulnya sedikit tidak habis mengerti, seseorang yang baru saja makan hidangan begitu banyak dalam sarapan paginya, kenapa bisa makan hidangan sebanyak itu lagi di siang harinya. Tapi nyatanya Tong Koat bisa melahap hidangan tersebut dengan lahapnya. Ketika kedua ayam telah berubah menjadi setumpukan tulang, semangguk kuah daging sudah hilang tak berbekas, Tong Koat baru berhenti bersantap, ditatapnya wajah Bu-ki dan tiba-tiba berkata dengan suara lirih.
"Aku merasa kasihan kepadamu."
"Kau merasa kasihan kepadaku ?"
"Yaa, aku merasa teramat amat kasihan kepadamu."
"Kenapa ?"
"Sebab kau akan pindah ke tempat Sangkoan Jin, kalau aku disuruh menjadi kau seharipun sudah pasti tidak kerasan. Bu-ki segera tertawa setelah mendengar ucapan itu. Kembali Tong Koat berkata .
"Disitu selain sayurnya tak enak dimakan, orangnya juga susah dihadapi."
Setelah menghela nafas panjang, terusnya .
"Sekarang, tentunya kau sudah dapat melihat sendiri, Sangkoan Jin adalah seorang manusia yang begitu sukar untuk dihadapi. Mau tak mau Bu-ki harus mengakui akan kebenaran dari penilaian tersebut. Namum orang yang paling sukar dihadapi di tempat itu bukanlah dia"
Ujar Tong Koat lagi.
"Kalau bukan dia, lantas siapa lagi?"
"Lian-lian!"
"Lian-lian? Siapakah Lian-lian itu ?"
"Lian-lian adalah putri kesayangan Sangkoan Jin , jangankan orang lain, aku sendiripun segera akan merasakan kepalaku pusing tujuh keliling bila bertemu dengannya."
Tentu saja Bu-ki juga tahu kalau Sangkoan Jin mempunyai seorang putri tunggal yang bernama "Lian-lian"."
Lian-lian tentu saja juga tahu kalau Tio Kian, Tio Jia mempunyai seorang putra tunggal yang bernama "Bu-ki".
Tapi BU-ki sama sekali tidak kuatir kalau Lian-lian sampai mengenali dirinya.
Tak lama setelah Lian-lian dilahirkan, ibunya telah meninggal dunia, mungkin lantaran kehilangan istri kesayangannya maka rasa sayang Sangkoan Jin terhadap putrinya sama sekali berbeda dengan rasa sayang orang lain terhadap putri tunggalnya.
Ada banyak sekali orang yang merasa benci atau tidak senang terhadap putrinya karena istrinya meninggal setelah melahirkan.
Walaupun tahu dalam hati kecil merekapun tahu kalau bocah itu tak salah, tapi mereka toh berpendapat juga, seandainya tiada bocah istrinyapun tak akan sampai mati.
Setiap orang sudah pati akan memiliki cara berpikir demikian, mengalihkan kemarahannya kepada orang lain, sebab cara berpikir semacam ini merupakan salah satu titik kelemahan dari manusia sejak jaman dahulu kala.
Semenjak kecil Lian-lian sudah berpenyakitan, bocah yang berpenyakitan tak urung akan mempunyai watak yang aneh dan sedikit agak berangasan.
Seorang ayah yang demikian sibuknya macam Sangkoan Jin, tentu saja tak akan memiliki banyak waktu untuk mengurus putrinya yang berpenyakitan seperti ini.
Maka semenjak kecil, Sangkoan Jin telah mengirim putrinya ke bukit Hoa san untuk merawat putrinya, sekalian belajar ilmu silat.
Padahal merawat penyakit dan belajar ilmu silat mungkin hanya suatu alasan belaka, alasan yang sesungguhnya mungkin adalah tak ingin berjumpa lagi dengan putrinya ini, sebab bila ia bertemu dengannya, maka tanpa terasa diapun akan teringat kembali dengan istri tercintanya yang telah tiada.
Ini menurut jalan pemikiran Bu-ki.
Bagaimana pula dengan jalan pemikiran Sangkoan Jin ?
tak seorangpun yang tahu.
Jalan pemikiran manusia memang sering kali amat rumit dan aneh, sehingga sukar untuk diduga atau di tebak oleh orang-orang di luar garis.
Bu-ki sendiripun tidka menyangka kalau Lian-lian akhirnya akan kembali juga ke tempat tinggal ayahnya.
Tong Koatsudah mulai melalap ayam yang ke tiga.
Caranya makan ayam istimewa sekali, mula-mula dadanya yang dimakan, kemudian naik ke atas kepala dan baru paha dan kakinya, sebagai penutup dia akan melahap bagian sayap dan lehernya.
Sayap dan leher ayam paling banyak melakukan gerakan, itulah sebabnya daging disekitar tempat itu paling enak rasanya.
Bagian yang paling enak dimakan, tentu saja harus ditinggalkan lebih dulu dan makan paling belakang.
Malah Tong Koat secara khusus mengemukakan hal itu .
"Tiada orang yang berebut denganku untuk memilih bagian-bagian ini, sebab bagian yang terbaik selalu kutinggalkan lebih dulu dan dimakan paling belakang"
"Seandainya ada orang yang saling berebut denganku, akupun tak akan melahapnya terlebih dulu"
"Kenapa?"
"Bila kita melahap bagian yang paling enak lebih dulu, kemudian baru makan bagian yang lain, lantas apa pula artinya?"
"Apakah kau rela membiarkan bagian yang paling enak itu diserobot orang lain?"
"Tentu saja aku tak rela"
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Bila kau berikan bagian yang terbaik untuk orang lain, itu berarti kau adalah seorang yang tolol"
"Kau sendiri enggan memakannya lebih dulu, tapi enggan pula memberikan kepada orang lain, lantas bagaimana caramu untuk mengatasi persoalan ini?"
"Tentu saja aku punya cara yang jitu"
Sahut Tong Koat sambil tertawa lebar.
"inginkah kau tahu cara apakah yang digunakan untuk mengatasi hal ini?"
"Tentu saja ingin!"
"Bila dalam keadaan begini, maka aku akan merebut bagian yang paling baik lebih dulu dan kuletakkan di dalam mangkukku sendiri, kemudian bersama orang lainnya, bila bagian yang lain sudah habis diperebutkan, aku baru melalap bagian yang sudah berada dalam mangkukku itu"
"Suatu cara yang bagus sekali!"
Puji Bu ki.
"Bila kaupun ingin menirukan caraku bersantap, maka ada semacam persoalan yang perlu kau perhatikan baik-baik"
"Persoalan apakah itu?"
"Bila kau sedang bersantap, maka sambil makan lebih baik kau sambil memberi pelajaran kepada orang lain"
"Aku toh sudah berhasil merebut bagian yang paling baik? Kenapa harus memberi pelajaran lagi kepada orang lain?"
"Sebab cara bersantap seperti itu pasti tidak leluasa dalam pandangan orang lain, itulah sebabnya kau harus mendahuluinya dan beri pelajaran kepadanya"
"Bagaimana caraku untuk memberi pelajaran kepadanya?"
Tanya Bu ki.
"Sambil menarik muka beritahu kepada mereka, menjadi manusia harus meninggalkan rejeki di kemudian hari, oleh sebab itu makanan yang enak harus dimakan belakangan, tapi sikapmu sewaktu berbicara musti serius dan bersungguh-sungguh, caramu bersantap juga harus cepat, sebelum orang lain memahami teorimu itu, kau harus menghabiskan semua hidangan yang berada di depannmu, kemudian cepat-cepat angkat kaki untuk menyelamatkan diri"
Setelah berhenti sebentar, katanya kembali dengan wajah serius.
"Hal ini merupakan bagian yang terpenting, dan kau tak boleh sekali-kali untuk melupakannya"
"Kenapa aku harus mengambil langkah seribu?"
Tanya Bu ki.
"Sebab bila kau tidak cepat kabur, kemungkinan besar orang lain akan menghajar dirimu"
Bu ki segera tertawa terbahak-bahak.
Kali ini dia benar-benar tertawa keras.
Sudah banyak waktu ia tak pernah tertawa, kali ini merupakan pertama kalinya ia dapat tertawa dengan begitu riang gembiranya.
Sekarang batas waktunya sudah diperpanjang hingga waktu yang tak terhingga, sekarang ia masuk ke daerah jantung dari benteng keluarga Tong, besok diapun akan pindah ke rumah Sangkoan Jin, setiap saat bisa bertemu Sangkoan Jin, ini berarti setiap saat pula ia bisa mempunyai kesempatan untuk turun tangan.
Sekarang walaupun tujuan yang sebenarnya belum tercapai namun jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.
Ini menurut jalan pemikirannya.
Sekarang tentu saja dia dapat berpikir demikian, apa yang bakal terjadi di kemudian hari, siapa pula yang bisa menduganya?
Bila ia dapat menduga apa yang kemudian bakal terjadi, maka bukan saja ia tak bisa tertawa, mungkin mau menangispun tak mampu bersuara lagi.
***** Malam sudah kelam, suasana amat sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Hari ini boleh dibilang merupakan hari yang paling mendatangkan hasil bagi Bu ki, selesai bersantap siang, ia berhasil melepaskan diri dari Tong Koat dan tidur senyenyak-nyenyaknya, sebab malam nanti dia masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
Besok dia harus pindah ke tempat kediaman Sangkoan Jin, setelah masuk ke daerah terlarang di dalam "Kebun Bunga"
Sudah pasti gerak-geriknya tak akan seleluasa sekarang ini.
Oleh sebab itu, malam nanti dia harus melakukan kontak dengan Lui Ceng Thian minta kepada Lui Ceng Thian agar menyerahkan peta bangunan rumah tersebut kepadanya, kemudian berdaya upaya agar Lui Ceng Thian bersedia memberi sedikit bahan peledak dari Pek lek tong kepadanya....
Dia tak ingin mempergunakan bahan peledak macam begitu untuk menghadapi Sangkoan Jin, tapi bila dalam sakunya membawa bahan peledak yang sanggup menghancurkan peta ini, sedikit banyak benda itu akhirnya berguna juga, bilamana diperlukan, bukan saja benda itu bisa digunakan untuk membantunya melarikan diri, juga dapat melimpahkan semua perbuatannya yang telah dilakukannya itu kepada pihak perkumpulan Pek lek tong.
Dia percaya Lui Ceng Thian tak akan menampik permintaan itu.
Kegelisahan selama banyak waktu, sekarang akhirnya telah mendapatkan hasilnya, maka itu tidurnya kali inipun jauh lebih nyenyak dan nyaman, ketika mendusin kembali hari sudah malam.
Ternyata Tong Koat tidak datang mencarinya untuk bersantap malam, juga tak ada orang yang datang mengganggunya.
Sambil mengenakan mantelnya dia bangun dan membuka jendela, suasana di luar sana amat sepi seakan-akan malam sudah semakin larut.
Dia bertekad akan segera pergi mencari Lui Ceng Thian.
Sekarang, walaupun dia sudah tahu dengan cara apakah untuk berjalan masuk kedalam hutan tersebut, namun ia masih belum tahu dengan cara apakah melewati tanah kosong diluar hutan tersebut.
Lagi-lagi sebuah persoalan pelik berada didepan matanya.
Ia mempergunakan semacam cara yang paling sederhana, cara yang paling langsung untuk menyelesaikan persoalan yang pelik tersebut.
Begitulah, dengan langkah yang santai dan tenang, ia berjalan terus kedepan sana.
Benar juga, tiada orang yang menghalangi kepergiannya.
Tentunya Tong Koat telah berpesan kepada para penjaga yang berada disekitar tempat itu, agar jangan terlalu membatasi gerak-geriknya.
Cuaca hari ini sangat baik, tampaknya dia seperti lagi berjalan-jalan sambil melihat bunga, apalagi tempat itupun masih belum mencapai daerah terlarang dari benteng keluarga Tong.
Aneka bunga sedang mekar dengan indahnya, ia sengaja berputar beberapa kali disekitar kebun bunga itu untuk meyakinkan bahwa tiada orang yang memperhatikan gerak-geriknya.
Kemudian baru dia mencari bunga Gwat Ci tersebut, menyingkirkan tanahnya dengan kaki, lalu dengan mempergunakan gerakan yang cepat, untuk mencabut bunga itu dan menerobos masuk kedalam.
Seberapa panjang kah lorong bawah tanah itu, telah diperhitungkan dengan masak.
Kali ini dia membawa korek api.
Ia percaya asal dirinya mendekati pintu masuk menuju keruang bawah tanah itu, Lui Ceng Thian pasti akan merasakannya.
Biasanya orang yang buta sepasang matanya, pasti mempunyai sepasang telinga yang luarbiasa tajamnya.
Tapi kali ini, dugaannya keliru besar.
Menurut perhitungannya, sekarang ia telah tiba dimulut masuk ruang rahasia tersebut, akan tetapi suasana didalam ruangan itu masih tetap tenang tanpa kelihatan ada sesuatu gerakan pun.
Dia lagi lagi merangkak bebrapa depa kedepan bahkan mendehem pelan.
Tapi Lui Ceng Thian masih juga tidak meberikan reaksinya.
Sekalipun dia sedang tidur, tak mungkin sepulas ini tidurnya.
Jangan jangan dia telah ngeloyor keluar lagi dari tempat ini?
Walaupun Bu ki membawa korek api, namun tidak dipergunakannya, sebab dia harus berjagajaga terhadap segala kemungkinana yang tidak diinginkan.
Ditempat ini penuh dengan bahan mesiu yang akan segera meledak bila terkena api.
seandainya keadaan tidak terlalu memakssa dia tak akan mengambil resiko tersebut.
Kembali dia maju kedepan sambil meraba-raba, mendadak tangannya menyentuh suatu benda, itulah kaki meja milik Lui Ceng Thian.
Dengan jari tangannya dia mencoba untuk menyentil kaki meja itu beberapa kali, walau sudah disentil dua kali, namun belum juga ada reaksi.
Udara dalam ruangan itu, selain terendus bau belerang dan apotas yang menusuk hidung seakan-akan terdapat pula semacam bau yang aneh sekali.
Dia seperti pernah mengendus bau semacam itu, maka ditariklah nafas beberapa kali, dengan cepat dia mendapatkan kalau dugaannya memang tak salah.
Itulah bau amisnya darah!
Daya penciumannya cukup tajam, dia percaya dugaannya tak mungkin salah.
mungkinkah Lui Ceng Thian sudah tertimpa bencana?
Ataukah pihak keluarga Tong telah mengirim orangnya untuk datang merenggut jiwanya?
Tapi, pada saat itulah Bu ki telah mendengar pula dengusan nafas seseorang.
Jelas orang itu sudah lama menahan nafasnya, tapi karena ditahan terlalu lama maka akhirnya dia menjadi tak tahan, sebaba itu dia pun mulai bernafas lagi, malah suaranya lebih berat dan memburu.
Orang itu bisa manahan nafasnya, tentu saja dimaksudkan agar Bu ki tidak tahu kalau ditempat ini masih terdapat orang lain.
Dan orang ini sudah pasti bukan Lui ceng thian.
Tapi siapakah dia?
Apakah Lui ceng thian telah menemui ajalnya ditangan orang ini?
Seandainya dia adalah anggota keluarga Tong, maka kedatangannya untuk membunuh Lui ceng thian sudah pasti karena memperoleh perintah.
Bila seseorang datang membunuh orang kerana mendapat perintah, maka dia tak perlu takut diketahui orang.
Kalau dia bukan anggota keluarga Tong kenapa bisa masuk kedalam ruaangan bawah tanah?
Kenapa ia datang membunuh Lui ceng thian?
Tanpa terasa Bu ki teringat kembali dengan perkataan dari Lui ceng Thian.
"Tan seijinku siapapun tak berani datang kembali.........asal aku lagi senang, setiap saat aku bersedia beradu jiwa dengan mereka.......!"
Bahan mesiu masih bertumpukan didalam ruangan rahasia itu.
Tatkala Lui ceng thian melihat ada orang hendak membunuhnya mengapa ia tidak menyulut bahan peledaknya?
Apakah orang ini dicari sendiri oleh Lui ceng thian?
Justru karena Lui Ceng Thian tidak menyangka kalau dia bakal berniat jahat, maka dia baru bisa terbunuh ditangannya!
Banyak sudah yang dipikirkan Bu ki, dia pun membayangkan bagian yang paling menakutkan.
Kalau toh orang ini enggan diketahui orang lain, sudah pasti dia akan berusaha untuk membunuh Bu ki, bahkan besar kemungkinan ia sudah mulai bergerak sekarang.
Dengan cepat Bu ki melakukan gerakan pula.
Sayang dengusan nafas itu lagi-lagi lenyap tak berbekas, pada hakekatnya dia tak tahu dimanakah orang itu berada.
Pelan pelan dia melingkari kaki meja itu, berniat untuk menerobos masuk lewat kolong meja.......
Mendadak terasa desingan angin tajam mendere, kemudian terasa ada segulung angin dingin yang amat tajam menusuk datang dari arah depan sana.
***** PERTARUNGAN DALAM RUANGAN Inilah hawa pedang!
Walaupun Bu ki tak dapat melihatnya, ia masih dapat merasakannya.
Belum lagi mata pedang itu mencapai sasarannya, hawa pedang yang amat tajam itu sudah menyambar tiba di atas alis matanya.
Bukan saja serangan itu cepat dan jitu, tenaga dalamnya juga amat sempurna.
Bu ki masih belum melihat orang ini, tapi ia sudah tahu kalau dirinya telah berjumpa dengan seorang musuh yang sangat menakutkan.
Seandainya di tangannya juga membawa pedang, dengan kecepatan serangannya, bukannya tak mungkin tak bisa menyambut serangan ini.
Sayang sekali ditangannya tidak membawa senjata, sekalipun dapat menghindari serangan yang pertama, belum tentu dapat menghindari serangan yang kedua.
Kalau toh dari ujung pedang orang ini dapat memancarkan hawa pedang yang begitu dingin dan tajamnya, dapat diketahui bahwa kesempurnaan ilmu pedangnya sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Entah bagaimanapun Bu ki mencoba menghindarkan diri, gerak geriknya tak nanti akan jauh lebih cepat daripada perubahan pedang itu.
Untung saja dia masih belum melupakan kaki meja tersebut.
Mendadak tubuhnya menggelinding ke samping kiri kemudian tangannya diayunkan untuk mematahkan kaki meja tersebut.
"Braaang...!"
Pelbagai beda yang berada di atas meja itu segera jatuh berhamburan ke manamana menyusul robohnya meja tersebut.
Meja tersebut telah menolongnya untuk menahan serangan pedang.
Bu ki harus mendekam di balik kegelapan tanpa berani berkutik ataupun menghembuskan napas panjang.
Tapi dengan kesempurnaan kepandaian silat yang dimiliki orang ini, dengan cepat dia masih dapat menemukan dimanakah ia menyembunyikan diri, menanti serangan yang ketiga dan serangan yang keempat dilancarkan, apakah dia masih sanggup untuk menghindarkan diri?
Ia benar-benar merasa tidak yakin.
Pihak lawan mempunyai hawa pedang yang dingin menggidikkan serta ilmu pedang yang tajam dan lihay, sedangkan ia sendiri bertangan kosong belaka, pada hakekatnya tak mampu untuk menahan datangnya serangan macam itu.
Kemungkinan besar ruang bawah tanah ini akan berubah menjadi tempat kuburnya untuk selamanya.
Setelah melewati kesulitan dan penderitaan yang cukup lama, kelihatan kalau persoalan yang dihadapinya semakin ada harapan, bila dia harus mati di sini, bahkan siapakah pihak lawannyapun tidak diketahui, sampai matipun dia akan mati dengan mata tidak meram.
Sekarang dia hanya bisa menunggu, menunggu sampai tusukan ketiga dari lawannya menyambar datang, dia bersiap-siap untuk mengorbankan tangannya yang sebelah untuk mencengkeram pedang orang itu.
Dia rela mengorbankan segala-galanya demi beradu nyawa dengan orang ini....
Pertarungan antara mati dan hidup hanya berlangsung dalam sekejap mata, begitu sengit dan mengerikannya pertarungan ini, tak nanti pihak ketiga dapat memahaminya.
Ternyata suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan telah terjadi, sudah sekian lama dia menunggu, namun pihak lawan sama sekali tidak melakukan reaksi apapun juga.
Seseorang yang sudah jelas telah berada di posisi di atas angin, kenapa tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan pengejaran?
Segala sesuatunya terasa gelap gulita, suasana hening dan sepi tak kedengaran sedikit suarapun.
Kembali Bu ki menunggu sampai lama sekali, peluh dingin telah membasahi seluruh tubuhnya, pada saat itulah ia mendengar ada seseorang berseru.
"Akulah yang datang. Sudah lama aku ingin datang menjengukmu" ***** Suara itu berasal dari ruangan bagian atas, suara itu lembut, halus dan manja, seakan akan penuh mengandung perhatian serta cinta kasih yang dalam. Siapa pula yang telah datang kesitu? Siapa yang hendak ditengoknya.....? Bu ki masih mendekam disudut ruangan tanpa bergerak, tapi ia telah mengenali suara orang itu. Ternyata yang datang adalah Kian kian. Tong Kian kian, istri baru dari Lui Ceng Thian! Tentu saja dia datang untuk menjenguk Lui Ceng Thian, dia kuatir Lui Ceng Thian salah melukainya dalam kegelapan, maka sebelum tiba maksud kedatangannya dikemukakan terlebih dahulu, sayang Lui Ceng Thian tak akan mendengar lagi suaranya...... Dalam ruangan bawah tanah yang gelap, mendadak terlintas setitik cahaya lampu. Kian kian membawa sebuah lentera kecil duduk didalam sebuah keranjang besar yang pelan pelan diturunkan ke bawah. Diatas keranjang itu terdapat dua utas tali yang dihubungkan dengan roda berputar, ketika keranjang tersebut sampai dibawah ruangan dan sinar lentera menyinari seluruh tempat, Kian kian segera menjerit kaget. Keadaan didalam ruang bawah tanah itu kacau balau tak keruan, tepat di bawah meja yang dirobohkan oleh Bu ki tadi terkapar sesosok tubuh manusia. Orang itu sudah mati, noda darah diatas tenggorokannya sudah membeku, sewaktu Bu ki sampai disitu tadi, is sudah mati. Yang mati adalah Lui Ceng Thian! Siapa yang telah membunuhnya? Sudah pasti orang yang melancarkan tusukan bagaikan kilat dari balik gelapan tadi. Bekas tusukan pedang masih tertera diatas meja, peluh dingin yang membasahi tubuh Bu ki juga belum mengering, tak bisa disangkal lagi dalam ruang rahasia ini tadi masih terdapat seseorang yang lain..... Tapi sekarang orang itu sudah lenyap tak berbekas. Dia telah membunuh Lui Ceng thian, mengapa tidak membunuh pula diri Bu ki untuk membungkam mulutnya? Sudah jelas dia telah memaksa Bu ki terdesak hebat tinggal matinya saja, mengapa ia tidak manfaatkan kesempatan itu untuk melanjutkan serangannya? Sebaliknya secara diam diam mengundurkan diri dari situ? Sinar lampu memancar diatas wajah Lui Ceng thian, wajahnya masih menunjukkan rasa kaget, tercengang dan ngerinya menjelang saat kematian seakan akan sampai matipun dia tak percaya kalau orang ini bisa membunuhnya. Siapakah orang itu? Mengapa dia harus membunuhnya? Kenapa tidak membunuh Bu ki? Kian kian berdiri sambil membawa lentera, sinar lampu menyoroti mayat Lui Ceng thian, walaupun dia menunjukkan pula rasa tercengang bercampur kaget, namun dibalik rasa kaget dan tercengang terlintas pula perasaan gembira. Kedatangannya kesitu kemungkinan besar bermaksud untuk membunuhnya, tak disangka ternyata ada orang yang telah membantunya untuk melaksanakan pembunuhan tersebut. Pelan pelan Bu ki bangkit berdiri, kemudian katanya dengan suara hambar.
"Agaknya kedatanganmu sudah terlambat satu langkah"
Dengan terperanjat Kian kian membalikkan badannya menatap wajah Bu ki, Diatas wajahnya yang pucat segera tersungging sekulum senyuman yang manis.
"Oooh; kau!"
Dia menghembuskan napas panjang, sambil menepuk dadanya pelan, ia berbisik lagi "Oooh... Kau benar benar membuat hatiku terperanjat"
"Benarkah aku telah membuat terperanjat?"
Kian kian memutar biji matanya lalu tersenyum.
"Padahal seharusnya aku dapat menduga kalau perbuatan ini adalah hasil karyamu"
Katanya "Oooh........?"
"Aku sudah dapat melihatnya, meskipun kau tidak meluluskan permintaanku waktu itu, tapi kau pasti akan membantuku untuk melakukan perbuatan ini, bagimu lebih banyak membunuh seseorang sama gampangnya dengan lebih banyak makan sepotong tahu"
Rupanya dia adalah menuduh dari Lui Ceng thian......! Bu ki sendiripun tidak menyangkal, diapun tidak mendebat. Kembali Kian kian menghela napas panjang, katanya.
"Tampaknya, sekarang aku benar benar telah menjadi seorang janda......!"
Ditangannya wajah Bu ki lekat lekat, dan sambil mengerling genit sambungnya.
"Dengan cara apakah kau hendak menghibur aku si janda muda yang patut dikasihani ini?" ***** Malam semakin hening. Kian kian telah tidur, setelah tidur mendusin kembali. Ketika sedang tidur dia merintih, setelah bangun dari tidur diapun merintih, semacam rintihan yang membuat siapapun yang mendengarkan menjadi tak dapat tidur. Tentu saja Bu ki pun tak dapat tidur. Sebab Bu ki berbaring disisi tubuhnya. Bukan cuma dapat mendengar rintihannya, iapun dapat mendengar juga detak jantungnya. Denyutan jantungnya cepat sekali, sedemikian cepatnya seakan akan setiap saat dapat berhenti. Dia memang seorang perempuan yang gampang mencapai puncak kepuasan. Walaupun ia masih meminta setelah mencapai puncak kepuasan, tapi secara mudah ia akan mendapatkan kembali kepuasannya, hal ini berlangsung terus sampai dia hanya bisa berbaring disana sambil merintih belaka. Lelaki yang berpengalaman pasti akan tahu, perempuan semacam inilah merupakan perempuan yang paling gampang menggerakkan hati kaum lelaki. Sebab dikala kaum lelaki memberi kepuasan kepadanya, diapun memberi kepuasan untuk kaum lelaki bukan hanya memenuhi kebutuhan kaum lelaki, diapun dapat memenuhi kejayaan serta harga diri seorang lelaki. Sekarang Kian kian sudah mendusin. Dia merintih, lalu mempergunakan tangannya yang halus tak bertulang untuk membelai dada Bu ki. Suara rintihannya penuh mengandung rasa bahagia dan kegembiraan yang meluap.
"Barusan hampir saja kukira diriku turut mampus"
Ia berbisik sambil menggigit tubuhnya.
"kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja dibawah tindian badanmu?"
Bu ki tidak menyahut.
Diapun merasa amat lelah semacam kelelahan yang tak dapat dihindari setelah mencapai kegembiraan yang muncak.
Tapi begitu mendengar suaranya, dengan cepat semangatnya kembali berkobar.
Dia masih muda gagah perkasa.
Ia sudah lama sekali tak pernah menyentuh perempuan.
Perempuan inipun merupakan manusia penting dalam keluarga Tong, asal ia bisa ditaklukan, dalam melakukan perbuatan apapun dia akan merasa lebih biasa.
Setelah perempuan itu membuka suara, tentu saja dia tak dapat menampik keinginannya, kalau tidak, bukan saja dia akan curiga, kuatirnya jika dia sampai mendendam.
Bila napsu birahi seorang perempuan sampai ditolak, maka dalam hatinya pasti akan diliputi oleh perasaan gusar dan mendendam yang berkobar kobar.
Seorang lelaki macam "Li Giok thong"
Memang tidak seharusnya menampik keinginan seorang perempuan macam Kian kian.
Bu ki masih mempunyai banyak alasan untuk memberi penjelasan kepada diri sendiri, agar hatinya, perasaannya memperoleh ketenangan.
Sayang dia bukan seorang lelaki munafik.
Setelah melakukan dengan kesadaran penuh, tentu saja diapun tak perlu memberi penjelasan kepada dirinya sendiri.
Kembali Kian kian bertanya dengan suara lirih.
"Sekarang apakah kau sedang menyesal?"
"Menyesal?"
Bu ki segera tertawa.
"Mengapa aku harus menyesal? Selamanya aku tak pernah menyesali apa yang telah kulakukan"
"Kalau begitu, apakah besok malam aku masih boleh datang kemari lagi...?"
Tangan Kian-kian kembali mulai merangsang.
"Tentu saja kau boleh kemari"
Bu ki mendorong tangannya.
"tapi besok malam, aku sudah tidak berada di sini lagi"
"Kenapa?"
"Besok pagi aku akan pindah"
"Pindah? Pindah kemana?"
"Pindah ke rumah kediaman Sangkoan Jin"
Sahut Bu ki.
"sejak besok, aku sudah menjadi congkoannya Sangkoan Jin"
Kian-kian segera tertawa.
"Kau anggap aku tak berani ke sana untuk mencarimu? Kau anggap aku takut Sangkoan Jin?"
Tiba-tiba ia meluruskan badannya dan menatap wajah Bu ki lekat-lekat, sambungnya.
"Mengapa kau harus ke tempat sana? Apakah lantaran dia mempunyai seorang putri yang cantik?"
Bu ki tidak menyangkal juga tidak mengakui akan hal tersebut. Kian-kian segera tertawa dingin, kembali ujarnya.
"Andaikata kau benar-benar berhasrat untuk mengincar putri kesayangannya itu, maka bakal runyam kau!"
"Oya....?"
"Siapapun tak berani mengusik dayang cilik itu"
"Kenapa?"
"Sebab dia telah dicintai oleh seseorang"
"Siapakah orang itu?"
"Seseorang yang tak berani diusik oleh siapapun, bahkan aku sendiripun tak berani mengusiknya"
"Kau juga takut kepadanya?"
Sengaja Bu ki bertanya. Ternyata Kian-kian mengakuinya.
"Tentu saja aku takut kepadanya, bahkan takutku setengah mati"
"Mengapa kau takut setengah mati kepadanya?"
Tak tahan kembali Bu ki bertanya.
"Sebab bukan saja kepandaiannya jauh lebih hebat daripada diriku, lagipula berhati keji dan tidak berangasan, salah-salah dia bakal turun tangan keji tanpa memandang dulu"
Setelah menghela napas panjang terusnya.
"Walaupun aku adalah adik perempuannya, tapi bila aku berani menyalahi dia, ia sama saja akan merenggut nyawaku"
"Ooooh.... kau maksudkan Tong Koat?"
Kian-kian segera tertawa dingin.
"Aaah, Tong Koat itu manusia macam apa? Seandainya Tong Koat bertemu dengannya, iapun sama saja akan ketakutan setengah mati"
Kembali lanjutnya.
"Sedari kecil dia dalah orang yang paling pintar, paling bagus dan paling pandai bekerja di antara kami bersaudara, apa yang dia inginkan segera didapatkan, selamanya tak pernah ada orang yang berani merampasnya, andaikata dia tahu kalau kaupun sedang mengincar putri Sangkoan Jin, maka kau...."
"Aku kenapa?"
"Kau sudah pasti akan mampus, siapapun tak dapat menyelamatkan dirimu lagi"
Sambil berbaring di atas dada Bu ki dan membelainya dengan lembut, pelan-pelan dia melanjutkan.
"Oleh sebab itu aku harus baik-baik melindungi dirimu, agar kau bertulus hati mencintai diriku, agar kau sama sekali tak punya kekuatan untuk mengincar orang lain lagi"
Sekarang, tentu saja Bu ki sudah tahu kalau yang dia maksudkan adalah Tong Au.
Pedang milik Tong Au, apakah betul-betul lebih menakutkan daripada Tang Koat?
Dengan kecerdasan dan kepandaian Siau hong, mungkin masih sanggup untuk menghadapi Tong Koat.
Tapi bagaimana dengan Tong Au?
Dalam perkumpulan Tay hong tong, siapakah yang sanggup menghadapi Tong Au?
Sekalipun Sangkoan Jin kena dipunahkan sehingga tinggal Tong Au, cepat atau lambat dia pasti akan merupakan bibit bencana juga bagi perkumpulan Tay hong tong.
Hawa napsu membunuh segera berkobar di dalam dada Bu ki.
Entah dia dapat pulang dalam keadaan hidup atau tidak, ia bertekad untuk tidak membiarkan Sangkoan Jin dan Tong Au tetap hidup segar di dunia ini.
Sekalipun dia harus dimasukkan ke dalam neraka tingkat ke delapan belas, akan dibasminya juga kedua orang ini.
Tiba-tiba Kian-kian berkata.
"Dingin amat tanganmu!"
"Oh ya?"
"Mengapa tanganmu berubah sedingin ini?"
"Sebab aku takut!"
Jawab Bu-ki sambil tertawa.
"Takut apa?"
"Takut dengan orang yang kau sebutkan barusan!"
"Dia memang tak lama lagi akan pulang kemari, sekembalinya ke rumah, siapa tahu kalau benar-benar akan pergi mencarimu?"
"Tapi aku toh tidak bermaksud untuk mengincar putrinya Sangkoan Jin.....?"
"Tapi dia akan tetap pergi mencarimu!"
"Kenapa?"
"Sebab kau belajar pedang, lagi pula semua orang agaknya mengatakan kalau ilmu pedangmu lumayan"
"Oleh sebab itu dia pasti akan mengalahkanku, agar semua orang tahu kalau ilmu pedangnya jauh lebih hebat daripada ilmu pedangku?"
Seru Bu-ki.
"Selama ini dia lebih suka mati dari pada mengaku kalah kepada orang lain"
"Seandainya nasibnya jelek dan kalah di ujung pedangku, apakah dia benar-benar akan mati?"
"Besar kemungkinan!"
Dicekalnya tangan Bu-ki yang dingin erat-erat, kemudian melanjutkan.
"tapi kau pasti bukan tandingannya, asal ia sudah meloloskan pedangnya, maka kau pasti akan mati, oleh sebab itu...."
"Oleh sebab itu kenapa?"
"Bila ia datang mencarimu nanti dan kau bersedia mengaku kalah, sudah pasti dia tak akan memaksamu untuk turun tangan!"
"Seandainya kebetulan sekali akupun seorang yang lebih suka mati dari pada mengaku kalah?"
Tiba-tiba Kian-kian melompat bangun, kemudian dengan mata melotot besar, wajah memerah karena marah, dia berteriak dengan suara yang keras sekali.
"Kalau begitu, lebih baik kau mampus saja!" ***** Kian-kian sudah pergi cukup lama, pergi meninggalkan tempat itu dengan hati mendongkol. Bu-ki masih belum tidur, ia merasa matanya seakan-akan tak mau dipejamkan. Kematian Siau poo, lalu kematian Lui Ceng Thian selalu menghantui pikirannya, perasannya makin gundah, membuat ia benar-benar tak dapat tidur. Besar kemungkinan mereka telah tewas di tangan seseorang yang sama dan kelihatannya orang itu bukan anak murid atau keturunan keluarga Tong, itulah sebabnya gerak-gerik orang itu selalu diliputi kerahasiaan dan kemisteriusan.
Jilid 31________ Sesungguhnya orang ini mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk membunuhnya, tapi kesempatan itu telah dilepaskan olehnya dengan begitu saja.
Dari sini hampir dapat dipastikan kalau orang itu memang tidak bermaksud jahat terhadap dirinya.
Kemungkinan besar orang ini juga telah membantunya untuk menyingkirkan para penjaga disekitar hutan pada dua malam berselang.
Lantas, siapakah sebetulnya orang itu?
Mengapa dia harus melakukan perbuatan semacam ini?
Bu ki telah memeras keringat memikirkan persoalan ini bahkan kepalanya pun hampir pecah rasanya, namun setitik cahaya pun tidak berhasil ditemukan.
Terpaksa dia harus menyimpulkan lebih dahulu bahwa orang ini adalah sahabatnya.
Sebab rahasia yang diketahui orang ini benar-benar terlampau banyak, bila ia bukan sahabatnya, maka hal ini sungguh menakutkan sekali.
***** Bulan empat tanggal dua puluh lima, udara cerah.
Aneka bunga didalam halaman sedang mekar dan menyiarkan bau harum semerbak, sinar matahari memancarkan sinarnya dengan amat terang.
Sudah cukup lama Bu ki berdiri dibawah timpaan cahaya matahari.
Tempat ini adalah kebun belakang bangunan Sangkoan Jin, waktu itu Sangkoan Jin sedang berdiri dibalik rimbunnya pohon yang sangat lebat, hampir setiap pori-pori diatas wajahnya dapat terlihat dengan amat jelasnya.
Sebab sinar sang surya sedang menyinari wajahnya; Cahaya matahari terasa amat menusuk mata.
Sedemikian silaunya sehingga hampir semua panca indera dari Sangkoan Jin tak dapat terlihat jelas.
Tentu saja posisi semacam itu sengaja diatur oleh Sangkoan Jin, pada hakekatnya tiada pilihan lain buat Bu ki untuk menjatuhkan pilihannya.
Sekalipun dikebun belakang cuma ada mereka berdua, berada dalam keadaan seperti ini, diapun tak dapat turun tangan.
Ia boleh dibilang tak dapat melihat jelas, setiap gerak geriknya justru tak sanggup meloloskan diri dari tatapan mata Sangkoan Jin.
Mau tak mau dia harus mengagumi akan kecermatan serta ketelitian dari Sangkoan Jin, Akhirnya Sangkoan Jin buka suara.
Tiba tiba dia berkata.
"Bagaimanapun sempurnanya suatu ilmu menyaru muka, setelah berada dibawah terik matahari, semuanya akan terlihat dengan jelas"
"Oya?"
"Memakai topeng kulit manusiapun sama saja. Kulit orang mati tentu saja jauh berbeda jika dibandingkan dengan kulit orang hidup"
"Oya?"
"Bila diatas wajahmu terdapat selembar kulit orang mati, sekarang kau sudah menjadi orang mati"
Tiba tiba Bu ki tertawa.
"Hal ini bukan sesuatu yang menggelikan!"
Tegur Sangkoan Jin.
"Tapi secara tiba-tiba aku teringat akan suatu kejadian yang menggelikan sekali"
"Kejadian apakah itu?"
"Konon ada banyak topeng kulit manusia yang terbuat dari kulit pantat orang mati, sebab kulit pantat paling lunak dan halus"
Sambil tertawa terus, dia melanjutkan.
"Apakah kau mengira aku bakal menempelkan kulit pantat orang lain diatas wajahnya?"
"Kau bukannya pasti tak akan melakukan begitu"
Kata Sangkoan Jin dingin.
"aku dapat melihat manusia macam apakah dirimu itu bila mana keadaan memaksa, perbuatan macam apapun dapat kau lakukan"
"Benarkah aku adalah manusia semacam begini?"
"Justru karena kau adalah manusia semacam itu, maka aku baru menyuruhmu datang kemari"
"Kenapa?"
"Sebab manusia semacam itu, biasanya besar sekali kegunaannya"
Bu ki tertawa lagi, katanya dengan cepat.
"Sayang sekali manusia macam inipun biasanya berpenyakit"
"Penyakit apa?"
"Manusia macam ini biasanya seperti kau juga tidak terlalu senang dijemur dibawah teriknya matahari"
"Satu jam berselang matahari belum bersinar sampai disini"
"Aku tahu"
"Kau seharusnya datang lebih awal"
"Sayang sekali satu jam berselang aku belum bangun"
"Biasanya kau selalu tidur agak lambat?"
"Bila sedang ada perempuan tidurku akan semakin lambat lagi"
"Semalam, apakah kau didampingi perempuan?"
"Yaa, hanya seorang"
"Kalau sudah tahu pagi ini harus datang menghadapku, mengapa masih mencari perempuan?"
"Sebab aku senang!"
Sangkoan Jin tidak berbicara lagi.
Bu ki sangat berharap dapat menyaksikan mimik wajahnya, bila Bu ki benar-benar dapat melihatnya, dia pasti akan merasa sangat keheranan.
Sebab mimik wajahnya sekarang, entah siapapun yang melihatnya pasti akan merasa sangat keheranan.
Untung saja Bu ki tidak melihatnya, orang lain juga tidak melihatnya.....
Lewat lama kemudian, Sangkoan Jin baru berkata dengan suara yang amat dingin.
"Tempat ini adalah benteng keluarga Tong!"
"Aku tahu!"
"Bukan suatu pekerjaan yang mudah bila ingin mencari perempuan ditempat ini"
"Aku tahu"
"Darimana kau bisa mendapatkannya"
"Aku sendiripun tak dapat memperolehnya. Untung saja aku mempunyai cara untuk membiarkan perempuan itu yang datang mencariku"
"Jadi perempuan itu yang datang sendiri mencarimu?"
"Ehmmm!"
"Kenapa dia datang mencarimu?"
"Karena dia senang!"
Sangkoan Jin tidak berbicara lagi.
Mimik wajahnya kali ini sudah pasti lebih menarik daripada tadi, cuma sayang Bu ki masih belum sempat melihatnya juga.
Kali ini tidak menunggu dia bersuara, Bu ki telah menimbrung lebih dahulu.
"Aku harap kau dapat memahami akan hal ini"
"Katakanlah!"
"Setelah kau ketahui bahwa aku seseorang yang perbuatan macam apapun dapat dilakukan, tentunya kau juga harus tahu bukan saja aku kemaruk akan harta, lagipula suka main perempuan, bahkan kadangkala aku bisa minum arak sampai mabuk kepayang"
"Lanjutkan!"
"Cuma saja persoalan tersebut adalah urusan pribadiku, selamanya aku dapat membedakan antara tugas dan kepentingan pribadi"
"Bagus sekali"
"Bila kau menyuruhku menetap disini, maka kau dapat menanyai urusan pribadiku kalau tidak lebih baik aku angkat kaki sekarang juga....!"
Sangkoan Jin menatapnya lekat-lekat.
Sampai lama kemudian ia masih juga mengawasinya tak berkedip, sepasang matanya yang tajam itu kelihatan seperti burung pemakan bangkai dibawah sinar matahari.
Sejenis elang raksasa yang gemar memakan bangkai busuk.
Dalam detik itulah, hampir saja Bu ki mengira Sangkoan Jin sudah bersiap-siap untuk turun tangan terhadap dirinya.
Tapi Sangkoan Jin hanya mengucapkan empat patah kata yang sederhana sekali kemudian tiba-tiba menyelinap masuk ke balik pepohonan yang rindang.
Ia berkata begini.
"Kau boleh tetap tinggal!" ***** Gedung yang terdiri dari beberapa ruangan itu terletak ditengah halaman yang rindang dan terpencil. Dalam halaman ditanam beberapa puluh batang pohon hay tong dan beberapa batang pohon Hu tong. Disinilah Sangkoan Jin persiapkan kamar tidur buat Bu ki, seorang lelaki yang bernama "lo khong"
Yang mengajaknya kemari.
Lo khong tidaklah berasal dari marga Khong.
Lo khong juga tidak she Tong, konon dia masih termasuk paman Tong-nya Tong Koat dan Tong Au, cuma saja kecuali dia sendiri, siapapun tak pernah memperhatikan dengan serius hubungan persaudaraan diantara mereka itu.
Lo khong mempunyai selembar wajah yang merah, diatas wajahnya yang merah terdapat pula sebuah hidung berminyak yang berwarna merah juga.
Bu ki segera bertanya kepadanya.
"Sudah jelas kau she Tong, kenapa orang lain tidak menyebutmu sebagai Lo tong?"
Jawaban dari Lo khong pun amat beralasan, dia bilang begini.
"Setiap orang disini berasal dari marga Tong, bila aku dipanggil Lo Tong, entah berapa banyak yang akan menyahut?"
"Lantas mengapa orang lain menyebutmu sebagai Lo khong?"
Kembali Bu ki bertanya. Jawaban dari Lo khong ternyata lebih mantap.
"Khong artinya adalah sebuah lubang. Aku ibaratnya sebuah lubang, arak macam apapun dan berapa banyakpun dapat masuk melewati lubang ini, itulah sebabnya aku dipanggil Lo khong!"
Tugas yang harus dilakukan Lo khong banyak sekali, selain menjadi pelayannya Bu ki, diapun merangkap juga sebagai koki pribadinya Bu ki.
Sehari tiga kali makan, setiap hidangan enam sayur ditambah satu kuah hampir semuanya dimasak oleh Lo khong.
Kepandaiannya dalam masak memasak tidak dapat terhitung amat hebat, daging sapi yang dimasaknya pada hakekatnya menyerupai kulit kerbau saja.
Setiap hari setiap kali bersantap dia pasti akan memasak semacam kulit kerbau macam begini, secara beruntun Bu ki telah melalapnya sampai tujuh delapan kali.
Kecuali bersantap, satu satunya pekerjaan yang harus dilakukan Bu ki adalah memegang buku.
Dia harus mendaftarkan semua nota yang tebal dan berat itu satu demi satu, selembar demi selembar, sejenis demi sejenis ke dalam buku besar.
Itulah pekerjaan yang diserahkan Sangkoan Jin kepadanya, pekerjaan semacam ini hakekatnya lebih tak sedap dirasakan daripada daging sapi bikinan Lo khong.
Kalau menuruti adat Bu ki, dia ingin sekali mencengkeram baju Sangkoan Jin dan menanyainya sampai jelas.
"Kau secara khusus mengundang aku datang kemari apakah bertujuan menyuruh aku melakukan pekerjaan semacam ini?"
Cuma sayang selamanya dua hari belakangan ini, jangankan bersua muka, melihat bayangan tubuh dari Sangkoan Jin pun tidak.
Gedung bangunan tersebut bukan saja lebih besar daripada apa yang terlihat dari depan, ternyata jauh lebih besar pula daripada apa yang dibayangkan Bu ki.
Akan tetapi lingkungan yang bisa dilewati Bu ki justru teramat kecil sekali.
Entah dia berjalan kearah manapun setelah keluar dari pintu, tidak sampai seratus langkah secara tiba-tiba pasti akan muncul seseorang yang secara sopan memberi tahu kepadanya.
"Jalanan ini tak boleh dilewati"
Atau "Didepan sana adalah daerah terlarang siapapun dilarang memasukinya!"
Tempat yang dijadikan daerah terlarang disini betul betul banyak sekali; selain kamar bacanya Sangkoan Jin, tempat tinggal toa siocia, bahkan gudangpun dijadikan daerah terlarang.
Disekitar daerah terlarang, paling tidak ada tujuh delapan orang yang melakukan penjagaan.
Untuk merobohkan orang orang semacam itu tentu saja tidak sukar, tapi Bu ki tak akan berbuat demikian.
Jika urusan sepele tak dapat menahan sabar, pasti runyam urusan besar......
Ucapan semacam ini, dulu dianggap sebagai kata kata yang terlampau kuno bagi Bu ki.
Tapi sekarang, Bu ki sudah dapat meresapi makna yang sesungguhnya dari perkataan tersebut.
Sikap Sangkoan Jin terhadapnya bisa jadi hanya merupakan suatu pengetesan belaka.
Itulah sebabnya dia hanya menahan sabar.
Sebab itu pula setiap hari dia hanya mengendon dalam kamarnya, makan kulit kerbau, mencatat nota ke buku besar dan menikmati pohon hay tong serta wu thong.
Sudah tiga hari lamanya ia tinggal disini.
Ternyata Tong koat pun tak pernah menampakkan diri.
Tiba tiba Bu ki menemukan kalau dia rada rindu terhadap orang ini, dia seperti ingin sekali menemaninya bersantap, paling tidak jauh lebih enak daripada makan kulit kerbau.
Jalan raya yang ramai, toko toko yang menjual barang barang mewah serta orang orang yang berlalu lalang, terasa jauh lebih menarik daripada tempat ini.
Bu ki benar benar ingin keluar rumah dan berjalan jalan, tapi Lo khong selalu menghalangi kepergiannya.
"Kau tak boleh keluar rumah!"
Demikian ia berkata.
"Kenapa?"
Seru Bu ki agak marah.
"Aku toh bukan tawanan, tempat ini toh bukan rumah penjara, kenapa aku tak boleh keluar rumah?"
"Tapi lebih baik lagi jika kau jangan keluar rumah"
Lo khong masih memperlihatkan sikap setianya yang tulus. Bahkan memberi penjelasan lebih jauh.
"toa loya secara khusus mengundang kedatanganmu kemari, sudah pasti bukan pekerjaan macam begini yang harus kau lakukan, dia pasti sedang mencoba kesabaranmu"
Tentang soal ini, Bu ki sendiripun pernah memikirkannya. Maka Lo khong berkata lebih lanjut.
"Itulah sebabnya setiap saat kemungkinan besar dia akan menyerahkan tugas untuk kau laksanakan, bila kau tak ada disini, bukankah suatu kesempatan baik telah kau sia siakan?"
Bu ki merasa setuju sekali dengan pendapat ini.
Kesempatan baik memang tak boleh dilewatkan dengan begitu saja.
Entah kesempatan tersebut adalah kesempatan seperti apapun, yang pasti tak boleh dilewatkan dengan begitu saja.
Sekarang ia telah berada ditepi kesuksesan, setiap saat kesempatan baik untuk membunuh Sangkoan Jin akan dijumpainya.
Oleh sebab itu dia hanya bisa mengendon dalam kamarnya setiap hari, makan kulit kerbau, mencatat nota ke buku besar serta melihat pohon hay tong dan Wu tong diluar jendela.
Saking mangkel dan masgulnya, hampir saja ia jatuh sakit......
Kehidupan Lo thong justru dapat dilewatkan dengan riang gembira.
Ia pergunakan waktu selama sepertanak nasi lamanya untuk mempersiapkan tiga kali hidangan makan, sebab setiap kali makan sayurnya tetap itu itu juga.
Dikala sarapan pagi, dia mulai minum sedikit arak.
Waktu makan siang, arak yang diminum lebih banyak.
Setelah melewati tidur siang yang nyenyak, pengaruh arakpun sudah hilang, tentu saja diapun harus mulai minum lagi.
Setelah makan malam, diapun pergi dengan membawa enam bagian pengaruh alkohol, biasanya ia pulang bila sudah larut malam, biasanya dia sudah mabuk kepayang dibuatnya.
Malam keempat, ketika ia bersiap siap akan keluar rumah, tak tahan lagi Bu ki lantas bertanya kepadanya.
"Kau hendak kemana?"
"Aaah. hanya ingin keluar untuk berjalan jalan saja."
"Agaknya setiap malam kau pasti ada tempat yang bisa dikunjungi"
Keluh Bu ki sambil menghela napas.
"Tidak seperti aku, tempat manapun tak boleh kukunjungi!"
"Sebab antara kau dan aku terdapat perbedaan."
"Apa bedanya?"
"Kau diundang secara khusus oleh toa toyu, lagipula teman Toa koan, berarti kau adalah orang golongan atas"
Golongan atas tentu saja harus berkunjung ketempat golongan atas, cuma sayang tempat golongan atas yang terdapat di sini hampir semuanya merupakan daerah terlarang.
Sambil memicingkan matanya dan tertawa, Lo khong berkata.
"Berbeda sekali dengan kami, banyak tempat yang dapat kami kunjungi, karena kami adalah orang golongan bawah ditempat seperti itu hanya orang orang dari golongan bawah saja yang dapat mendatanginya"
"Kenapa?"
"Sebab tempat itu memang tempat untuk orang orang golongan bawah.....!"
"Biasanya apa saja yang kalian kerjakan ditempat itu?"
Tanya Bu ki lebih lanjut.
"Ditempat golongan rendah, tentu saja perbuatan perbuatan golongan rendah saja yang dilakukan"
"Pekerjaan macam apa saja yang dimaksudkan sebagai pekerjaan golongan rendah?"
"Padahal tidak terhitung hebat"
Kata Lo khong sambil tertawa, disanapun kami hanya minum arak, berjudi dan mencicipi tahunya nona nona cilik!"
"Aaaah. kalau hanya pekerjaan semacam itu mah orang orang dari golongan ataspun seringkali melakukannya juga"
Kata Bu ki sambil tertawa lebar. Lo-khong menggeleng.
"Sekalipun pekerjaan sama, bila orang orang golongan atas melakukannya ditempat golongan atas, maka perbuatan semacam itupun berubah menjadi perbuatan golongan atas, sebaliknya bila orang orang golongan bawah melakukannya ditempat golongan bawah maka perbuatan itu akan berubah menjadi perbuatan golongan rendah, orang orang golongan atas pasti akan berkerut kening dan mengatakan perbuatan semacam itu sebagai perbuatan maksiat!"
Bukan saja perkataan itu sangat masuk di akal lagipula masih mengandung falsafah hidup tingkat tinggi.
"Disitu terdapat manusia semacam apa saja?"
Tanya Bu ki kemudian.
"Sudah barang tentu orang orang dari golongan rendah seperti para centeng, para penjaga keamanan, koki, dayang dan lain lainnya"
Mencorong sinar terang dari balik mata Bu ki.
Andaikata ia dapat bergaul dengan orang orang dari golongan tersebut, maka gerak geriknya sudah pasti akan jauh lebih leluasa.
Tiba tiba ia bangkit berdiri, kemudian sambil menepuk bahu Lo khong katanya.
"Mari kita berangkat!"
"Kau hendak pergi kemana?"
"Kemana kau akan pergi, disitu aku pergi"
"Kau adalah orang golongan atas, mana boleh mengunjungi tempat golongan bawah seperti itu?"
"Sekalipun dipagi hari aku adalah orang golongan atas, setelah malam aku akan berubah menjadi orang bawah"
Setelah tersenyum lanjutnya.
"Aku tahu, banyak sekali orang orang kalangan atas yang berbuat demikian seperti juga aku"
Lo khong tertawa lebar. Bagaimanapun juga dia harus mengakui bahwa apa yang diucapkan Bu ki memang masuk diakal.
"Tapi ada satu hal aku harus menerangkan lebih dahulu kepadamu"
"Katakanlah"
"Setibanya disana, kaupun akan menjadi orang kalangan bawah. Minum arak, berjudi, berkelahi, semuanya tak menjadi soal. Bila ada kesempatan bahkan kau boleh mencari peluang untuk menangkap ikan di air keruh....."
"Menangkap ikan?"
Bu ki tidak mengerti.
"Disana banyak terdapat dayang dayang cilik yang berwajah cakap dan lumayan"
Lo khong memicingkan matanya rapat rapat "Merekapun bisa minum arak, bisa berjudi, asal sudah minum arak lantas mabuk, asal sudah berjudi, uang pasti ludas"
Bu ki segera memahami maksud hatinya itu, katanya kemudian.
"Asal mereka sudah mabuk atau sudah ludas, itulah kesempatan yang baik bagi kita untuk menangkap ikan?"
Lo khong segera tertawa.
"Rupanya kaupun seorang ahli?"
Serunya Bu ki turut tertawa.
"Semua persoalan yang menyangkut masalah itu, orang orang kalangan dari kalangan bawah.....!"
"Hanya ada seekor ikan yang jangan sekali kali kau tangkap, bahkan menyentuhpun lebih baik jangan"
"Kenapa?"
"Sebab siapapun tak berani mengusiknya"
"Siapakah orang ini?"
"Dia bernama Siang si!"
"Siang si?"
"Dia adalah dayang dari toa siocia, Toa loya kita itu!"
Setelah menghela napas dan tertawa getir, lanjutnya;
"Bila mengusik dia berarti mengusik toa siocia, barang siapa berani mengusik toa siocia kami, sama artinya telah memasukkan batok kepala sendiri ke dalam serangan lebah"
Cerita yang menyangkut soal toa siocia ini sudah bukan untuk pertama kalinya didengar Bu ki, sekarang walaupun dia belum sampai berjumpa dengan orangnya namun sudah cukup merasakan pengaruh serta kekuasaan dari toa siocia tersebut.
Padahal Bu ki bukannya belum pernah bersua muka dengannya, cuma peristiwa itu telah berlangsung pada belasan tahun berselang.
Waktu itu dia masih seorang bocah perempuan yang kurus lemah dan sangat penurut.
Rambutnya selalu dikepang dua, bila melihat orang asing mukanya langsung menjadi merah.
Sekarang ia telah berubah menjadi manusia macam apa?
Bagaimana tampangnya?
kenapa orang lain demikian takut terhadapnya?
Mendadak Bu ki ingin sekali bertemu dengan toa siocia yang disegani dan di takuti semua orang ini.
Dia ingin tahu sampai dimanakah kekuasaan serta pengaruhnya?
sampai dimana pula menakutkannya.
Yang dijumpai lebih dulu adalah Siang si.
Gaya dari dayang ini sudah aduhai, betul betul membuat orang pusing tujuh keliling rasanya.
Asap hitam menyelimuti seluruh ruangan bahunya busuk sekali melebihi bahu sampah yang sedang diobrak abrik pengemis.
Tapi semua orang yang berada dalam ruangan itu, seakan akan sama sekali tidak merasakan hal ini.
Sebuah ruangan yang sebenarnya hanya memuat belasan orang ini dijejali oleh puluhan orang.
Ada yang tua, ada yang muda, ada yang laki laki ada pula yang perempuan.
Ada yang berdandan menyolek, ada yang bertelanjang punggung, ada yang berbau busuk, adapula yang berbau harum, tapi mimik wajah mereka semuanya hampir sama.
Setiap orang membelalakkan matanya lebar lebar sedang memandang Siang si, menunggu Siang si melemparkan dadu ditangannya itu ke atas meja.
Tangan Siang si mana putih, empuk, kecil, persis seperti sekuntum bunga putih kecil.
Orangnya juga putih kecil, ramping, manis ditambah sepasang lesung pipi yang menghiasi wajahnya.
Dalam genggaman tangannya yang kecil tampak tiga biji dadu, kancing bagian kerah bajunya dibuka dua biji.
Kaki yang sebelah dinaikkan ke bangku, sedang biji matanya yang jeli berkeliaran kesana kemari.
Orang yang turut didalam pertaruhan kali ini luar biasa banyaknya, jumlah taruhanpun banyak sekali, tapi yang paling banyak adalah Toa ma cu (Si bopeng).
Bu ki pernah bersua muka dengan orang ini, dia adalah seorang pengawal keamanan yang menjaga dekat kamar bacanya Sangkoan Jin, dua kali sudah Bu ki kena dihadang baik olehnya.
Kalau sedang berbicara dihari hari biasa, dia selalu menunjukkan sikap senyum tak senyum yang tak mampu berbuat demikian, bahkan tertawa pura purapun tidak, mukanya yang bulat itu tampak amat tegang, burik diatas mukanya telah basah kuyup oleh air keringat.
Kali ini dia mempertaruhkan tiga belas tahil perak, hampir segenap harta kekayaan yang dimilikinya.
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring, lalu....
"Tring!"
Ketiga biji dadu itu sudah dilempar kedalam mangkuk.
"Empat lima enam!"
Siang si melompat sambil berteriak keras.
"semuanya disikat!"
Tampang wajahnya sekarang sudah tidak mirip sekuntum bunga putih lagi, tapi lebih mirip dengan seekor serigala putih yang siap menerjang korbannya.
Mimpipun Bu ki tak pernah menyangka kalau seorang nona cilik semacam dia bisa berubah menjadi begitu rupa.
Paras muka si bopeng segera berubah hebat.
Pelan pelan tangannya dijulurkan kemuka ingin menarik kembali uang taruhannya secara diam diam.
Sayang sekali gerakan tangannya kurang cepat.
Mendadak Siang Si berpaling dan menatapnya lekat lekat.
"Hey, mau apa kau? Ingin bermain curang?"
Tangan si bopeng yang telah mencengkeram sekeping uang sebesar sepuluh tahil perak itu segera ditarik kembali.
Keadaannya ibarat menunggang diatas punggung harimau, mau turun tak bisa, tetap membungkam pun tak dapat.
Akhirnya sambil keraskan kepala diapun berkata.
"Kali ini tidak masuk hitungan, kita harus mengulangnya sekali lagi.....!"
Siang si tertawa dingin, tiba tiba dia turun tangan dan menghadiahkan sebuah tempelengan keatas wajah si bopeng tersebut.
Serangan yang dia lancarkan itu sudah cukup cepat, tapi sebelum telapak tangannya sempat menggaplok wajah si bopeng, tahu tahu telah kena ditangkap oleh Bu ki.
Sesungguhnya Bu ki masih berdiri agak jauh dari tempat itu, tiba tiba saja ia telah berada dihadapannya.
Paras muka Siang si juga turut berubah.
Belum pernah dia menjumpai manusia semacam ini, juga belum pernah menyaksikan ada orang bisa bergerak sedemikian cepatnya.
Sambil berusaha menahan kobaran api amarah dalam dadanya, dia lantas menegur.
"Hey, mau apa kau datang kemari?"
Bu ki segera tertawa.
"Aku juga tak ingin berbuat apa apa"
Sahutnya.
"Aku hanya ingin mengucapkan sepatah dua patah kata yang adil"
"Pertaruhan yang barusan dilangsungkan memang tak dapat dihitung"
"Kenapa?"
"Sebab ada dadu palsu, bila dadu digunakan maka yang keluar selalu angka empat lima enam"
Kontan berkobar hawa amarah didalam dada Siang si, sayang bagaimanapun ia berusaha untuk mengerahkan tenaganya, tak pernah perempuan itu berhasil melepaskan diri dari cengkeraman lawannya.
Seorang perempuan yang pintar tak akan menelan kerugian yang telah berada didepan mata.
Siang si juga anak yang pintar, maka setelah memutar biji matanya, tiba tiba dia berkata sambil tertawa.
"Kau bilang dadu ini bila dilemparkan maka setiap kali akan keluar angka empat lima enam?"
"Benar"
"Bagaimanapun dilemparkan maka angkanya pasti empat lima enam?"
"Yaa, bagaimanapun dilemparkan maka angkanya pasti akan sama"
"Kalau begitu coba kau lemparkan untuk kami lihat"
Bu ki segera tertawa, dengan mempergunakan tangannya yang lain dia mengambil dadu dadu yang berada dalam mangkuk itu. Tiba tiba Siang si berkata lagi.
"Andaikata angka yang kau dapatkan nanti bukan empat lima enam, apa yang hendak kau lakukan lagi?"
"Akan kulempar sebanyak sepuluh kali, asal ada sekali yang angkanya bukan empat lima enam, aku bersedia membayar seratus tiga puluh tahil perak sebagai ganti ruginya"
Siang si segera tertawa setelah mendengar perkataan itu.
Sebetulnya perempuan ini memang suka tertawa, kecuali kalau sedang membayar pasangan yang tidak mengena, persoalan apapun ia murah dengan senyuman.
Sekarang dia lebih-lebih tak tahan untuk tertawa lagi.
Mana ada orang yang sanggup melemparkan dadu sebanyak sepuluh kali dengan angka selalu empat lima enam?
belum pernah dia mendengar ada orang yang mampu berbuat demikian, jika ada yang bilang begitu, maka orang itu sudah pasti ada penyakitnya.
"Bagaimana andaikata kau yang kalah?"
Tiba tiba Bu ki bertanya kembali.
"Bila kau sanggup meraih angka empat lima enam sebanyak sepuluh kali, apapun yang kau suruh kulakukan, pasti akan kulakukan dengan cepat tanpa membantah"
"Baik!"
Secara beruntun dia melemparkan dadunya sebanyak sepuluh kali, ternyata angka yang diraih selalu adalah empat lima enam.
Sekarang, Siang si tak sanggup untuk tertawa lagi.
Sambil tersenyum Bu ki lantas berkata.
"Sudah kau lihat dengan jelas belum?"
Siang si segera mengangguk. Kembali Bu ki berkata.
"Tadi bukankah kau telah berjanji, bila kau kalah, apa yang ingin kulakukan atas dirimu, kau bersedia untuk melakukannya?"
Siang si kembali manggut manggut, tiba tiba paras mukanya berubah menjadi merah jengah.
Mendadak ia memahami kembali arti kata yang sesungguhnya dari ucapan tersebut.
Sesungguhnya ucapan semacam itu tidak seharusnya diutarakan seorang anak gadis secara sembarangan.
Bu ki memandang sorot matanya dengan tajam, sesungguhnya sinar mata semacam itu boleh dibilang tidak aturan.
Tiba tiba Siang si berteriak keras keras.
"Tapi tidak boleh sekarang!"
"Tak boleh sekarang? Apa yang tak boleh sekarang?"
Bu ki sengaja bertanya pura pura blo"on. Paras muka Siang Si berubah semakin memerah seperti kepiting direbus. Katanya kemudian.
"Terserah apapun yang ingin kau suruh kulakukan, pokoknya tak bisa sekarang"
"Sampai kapan baru bisa dilakukan?"
Siang Si kembali memutar sepasang biji matanya, lalu berkata.
"Kau tinggal dimana? Sebentar, biar kau saja yang pergi mencarimu......!"
"Sungguhkah kau akan pergi mencariku nanti?"
Bu ki kembali berusaha untuk menegaskan. Siang Si mengangguk.
"Jika nanti aku tidak datang mencarimu, maka aku adalah seekor anjing kecil"
Akhirnya Bu ki melepaskan cekalan tangannya, kemudian katanya lagi.
"Aku berdiam didalam halaman kecil keluar pintu belakang sana, sekarang juga aku akan pulang ke rumah untuk menantikan kedatanganmu"
Selama ini, Lo khong selalu bermuram durja sambil menghela napas panjang pendek seakan akan dia telah menyaksikan Bu ki memasukkan batok kepalanya kedalam sarang lebah dan ingin ditarik keluar namun tak berhasil menariknya kembali.
Begitu Siang Si angkat kaki meninggalkan tempat itu si bopeng segera datang menghampirinya dan menepuk sepasang bahu Bu ki keras keras sebagai pertanda bahwa ia telah bertekad untuk mengikat tali persahabatan dengan Bu ki.
Sebaliknya Lo khong mendepak kaki tiada hentinya sambil mengomel terus.
"Aku tok sudah berkata, jangan usik dia, kenapa kau justru mengusiknya? Sekarang, dia pasti sudah pulang ke rumah untuk mencari bala bantuan, bila nona datang mencarimu nanti, coba lihat bagaimana caramu untuk mengatasinya?"
Bu ki tersenyum, bahkan kelihatan gembira sekali. Dengan terkejut Lo Khong menatap wajahnya, lalu berseru.
"Tampaknya kau sama sekali tidak takut terhadap toa siocia?"
"Aku justru takut bila ia tidak datang mencariku"
Sahut Bu ki sambil tertawa.
Bagaimanapun galak dan kerennya orang yang bernama toa siocia tersebut, sudah pasti umurnya tak akan lebih dari 18 /19 tahunan.
Selamanya, Bu ki mempunyai keyakinan penuh dalam menghadapi anak gadis.
Ia sengaja berbuat demikian, tujuannya memang agar Siang Si membawa nonanya pergi menjumpainya.
Dia tak ingin selama hidup makan kulit kerbau dalam rumah yang terpencil itu, dia harus mencari pasukan tersembunyi, setelah dihitung pulang pergi terasa olehnya bahwa tindakan ini tidak besar resikonya.
Sayang, kali ini dia sudah salah perhitungan.
***** GAYA SEORANG NONA BESAR Lo khong sudah mulai minum arak lagi begitu sampai dirumah dia mulai minum hari ini dia pulang jauh lebih awal daripada diwaktu waktu sebelumnya.
Setelah terjadi peristiwa dengan Siang Si tadi, tampaknya kegembiraan semua orang untuk melanjutkan permainan jadi sudah hilang lenyap tak berbekas.
Satu satunya alat dulu yang tersedia disitu telah dibelah menjadi dua bagian, semua orang ingin tahu dulu itu telah diisi dengan air raksa atau air keras?
Ternyata didalam dadu ini tak ada apa apanya, sebetulnya dadu itu memang tidak palsu "Semua orang ingin bertanya kepada Bu-ki kenapa sebanyak sepuluh kali melemparkan dadunya dia selalu dapat meraih angka empat lima enam"
Tapi Bu ki telah berlalu secara diam diam.
Dia sendiripun terburu buru ingin pulang kerumah dan menantikan kedatangan dari Siang Si dan nona besarnya.
Dia percaya saat ini merekapun pasti terburu napsu ingin cepat cepat menemuinya.
Bu ki pun sedang minum arak duduk dihadapan lo khong, menemani orang itu minum.
Secara tiba tiba saja, dia ingin minum arak sepuasnya pada hari ini.
Ia belum bisa dianggap sebagai setan arak, walaupun sejak berusia sepuluh tahun ia mulai minum arak, walaupun takaran minumnya bagus sekali, bila sedang beradu minum arak dengan orang lain ia jarang sekali kalah.
Tapi saat baginya untuk benar benar minum arak tidaklah terlampau banyak.
Secara tiba dia ingin minum arak pada hari ini bukan lantaran setelah minum arak maka nyalinya akan menjadi besar, ada banyak pekerjaan yang tak berani dilakukan dihari hari biasa, juga tak mampu dikerjakan, biasanya akan berhasil dilakukan sehabis minum arak.
Hari ini dan secara tiba tiba dia ingin minum arak, karena dia memang benar benar ingin minum.
Bila seorang yang tidak tergolong setan arak tiba tiba teringat untuk minum arak, biasanya hal ini disebabkan karena terlampau banyak urusan lain yang sedang dipikiran olehnya.
Ia terbayang kembali semua pengalamannya yang penuh penderitaan dan sengsara bencana, bahaya dan penghinaan.
Sekarang ia berhasil sampai dalam benteng keluarga Tong, telah masuk ke dalam "kebun bunga"
Dan berjumpa dengan Sangkoan Jin.
Agaknya semua rencana yang disusunnya selama ini telah berjalan semua dengan lancar.
Paling tidak, hingga detik ini semuanya berjalan seperti apa yang diharapkan.
Tapi hingga sekarang, dia masih belum berhasil untuk benar benar mendekati Sangkoan Jin.
Ia dapat melihat Sangkoan Jin, dapat berbincang bertatapan muka dengan Sangkoan Jin, tapi selalu gagal untuk mendekati orang itu.
Sangkoan Jin memang benar benar seorang manusia yang luar biasa sekali, bukan hanya kecerdasan otaknya yang luar biasa, akalnya juga panjang dan cara kerjanya pun sangat berhati hati, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk melakukan sergapan maut kepadanya.
Agar bisa mendekatinya, harus ada jembatan penghubungannya lebih duhulu, tak bisa disangka putrinya merupakan jembatan penghubung yang paling tepat dan baik.
Untuk dapat menguasahi suatu jembatan penghubung, maka pertama tama harus dipahami dulu segala sesuatunya yang berhubungan dengan jembatan penghubung itu.
Tapi, sampai seberapa jauhkah pengertian Bu ki terhadap si nona besar tersebut?
"Nona besar ini bernama Lian lian, lengkapnya Sangkoan Lian lian.
Tahun ini, usianya paling banter baru dua puluh tahunan.
Dia adalah anak murid partai Hoa san, sudah banyak tahun berlatih pedang, tapi sedari kecil badannya sudah lemah dan banyak berpenyakitan, dengan kondisi badan serta kekuatan tubuhnya, tak mungkin ilmu silat yang dipelajarinya itu bisa mencapai ketingkatan yang terlampau tinggi.
Semenjak kecil dia amat cerdik, setelah menginjak kedewasaan sudah barang tentu tak akan menjadi bodoh.
Sewaktu masih kecil dulu, dia adalah seorang nona cilik yang amat menawan hati setelah dewasa tentu saja wajahnya tak akan berubah menjadi jelek atau tak sedap dipandang.
Tapi dia sudah pasti kesepian.
Sangkoan Jin selalu menjauhkan dirinya, apalagi setibanya dalam benteng keluarga Tong, ia lebih lebih tak punya teman.
Justru karena dia kesepian, maka bahkan dayangnya "Siang Si"
Pun bisa jadi sahabat karibnya.
Bila ia dengar ada orang yang telah mempermainkan sahabatnya dia sudah pasti akan datang untuk membuat perhitungan dengan orang itu Kalau Sangkoan-Jin sendiripun sudah tidak mengenali lagi diri Bu ki, sudah pasti dia semakin tak mungkin dapat mengenalinya, sudah belasan tahun lamanya mereka tak pernah bersua muka.
Untuk menghadapi enam gadis semacam ini, sesungguhnya tidak terlalu sukar sebab ia memiliki titik kelemahan yang besar sekali........
Dia kesepian.
Bagi seorang anak gadis berusia delapan sembilan belas tahunan yang mana cantik dan pintar.
"kesepian"
Merupakan suatu kejadian yang menakutkan sekali.
Bu ki kembali meneguk araknya mendadak ia merasa cara berpikirnya itu hakekatnya merupakan sebuah tongkat yang bengis.
Lo khong sambil minum arak menghela napas panjang, setelah meneguk arak setegukan kembali menghela napas, ia minum arak tiada hentinya dan menghela napas tiada hentinya pula.
Tidak banyak orang yang sanggup minum arak sebanyak itu, orang yang gemar menghela napas pun lebih sedikit lagi.
Bu ki dapat menahan rasa gelinya lagi, dia segera menegur.
"Aku pernah berjumpa dengan seseorang yang minum arak lebih banyak daripada mu"
"Oyaaa.........."
"Tapi orang yang begitu suka menghela napas seperti kau, aku benar benar merasa beum pernah menjumpainya"
Sekali lagi Lo khong menghela napas panjang.
"Padahal aku bukan seorang yang berbakat untuk menghela napas terus menerus"
Katanya.
"Kau bukan?"
"Aku sedang menguatirkan keselamatan jiwamu"
"Tapi aku sendiri justru sama sekali tidak kawatir".
"Hal ini disebabkan karena kau belum mengetahui sampai dimanakah kewibawaan dari nona besar"
"Masa kewibawaan serta tingkat lakunya jauh lebih besar daripada bapaknya?"
"Oooh... lebih besar banyak"
Seru khong, kembali dia meneguk arak dalam cawannya.
"bila bapaknya sedang bepergian, paling banter cuma membawa tiga empat orang pengiring, tapi bila dia sedang bepergian, maka paling tidak ada tujuh delapan orang yang secara diam diam melindungi keselamatan jiwanya"
"Apakah orang orang itu diutus oleh bapaknya?"
"Bukan"
"Kalau begitu, dia mencari sendiri?"
"Juga tidak"
"Waah.... kalau begitu, aku menjadi tidak habis mengerti"
"Apanya yang tidak kau pahami?"
"Dia tak lebih cuma seorang nona cilik belaka, kedudukannya juga tidak terlampau istimewa, posisinya tidak penting, masakah dari pihak benteng keluarga Tong secara khusus mengutus tujuh delapan orang untuk melindungi keselamatannya?"
"Walaupun kedudukannya tidak terlampau istimewa, tapi orangnya justru istimewa sekali"
"Oyaa........?"
"Dalam pandanganmu meski dia tidak penting, namun dalam pandangan orang lain, dia justru penting sekali"
"Apa sih keistimewaan dari orang ini?"
"Paras mukanya terlalu cantik, hatinya terlalu baik, wataknya juga terlalu jelek"
Setelah menghela napas, lanjutnya.
"bukan luar biasa jeleknya, bahkan boleh dibilang istimewa sekali!"
"Bagaimana jeleknya dan bagaimana pula anehnya?"
"Bila dia sedang baik, maka baiknya setengah mati, entah siapapun itu orangnya sekalipun seorang tua bangka yang tak berguna seperti aku ini, asal kau membuka suara memohon sesuatu kepadanya. Barang apapun yang kau minta, dia pasti akan menghadiahkannya kepadamu, perbuatan apapun pasti akan dia lakukan untukmu"
Bu ki segera tertawa, katanya.
"Watak seorang nona besar memang dasarnya macam begitu"
"Akan tetapi jika dia lagi lewat atau kemasukan setan, perduli siapakah dirimu dan berada dimanapun kau, bila dia ingin menampar wajahmu tiga kali maka dia tak akan menampar dua kali!"
Setelah tertawa getir, terusnya lebih jauh.
"sekalipun dia tahu kalau setelah habis memukul dia bakal sial, dia tetap akan menamparmu lebih dulu, urusan belakangan"
"Siapa saja yang pernah ditampar olehnya?"
"Siapa yang berani mengusik dia, orang itulah yang dia hajar, bahkan kalau sudah sewot, famili sendiri tak ambil perduli, diapun tak pernah berlaku sungkan sungkan"
"Tapi, aku lihat ditempat ini toh masih ada beberapa orang yang agaknya mustahil bisa dia hajar sekehendak hatinya sendiri?"
"Kau maksudkan siapa saja?"
"Misalkan saja kedua orang nona?"
"Orang lain mungkin tak berani mengusik mereka, tapi nona besar kita ini tak pernah mengambil perduli"
Setelah menghela napas, kembali lanjutnya.
"Hari kedua setelah kedatangannya ke tempat ini, ia sudah mengerjai si nyonya muda tersebut"
"Waaaah........ dia memang betul betul hebat sekali kalau begitu"
"Hari ketiga setelah kedatangannya ketempat ini, dia telah menyiram wajah Tong Toa koan dengan semangkuk kuah ayam yang masih panas sekali........"
"Apakah Tong Toa koan yang kau maksudkan itu adalah Tong Koat?"
"Disini hanya ada seorang Tong Toa Koan, selain dia masih ada siapa lagi?"
"Kalau mempunyai wajah sebesar wajahnya itu, sulit rasanya bila tak ingin terkena ditimpuk kuah semangkuk"
Kata Bu ki sambil tertawa. Lo khong juga tak kuasa menahan rasa gelinya lagi dia turut tertawa tergelak.
"Haaaahhhh......haaaaahhh.....haaahhhh.... yaa, memang sulit rasanya"
"Tapi barang siapa berani membuat kesalahan terhadap kakak beradik dua orang itu maka tak akan sedikit kesulitan yang bakal berdatangan, bukan begitu?"
Itulah sebabnya Toa sauya baru merasa amat kuatir, ucap Lo khong dengan cepat.
"Yang maksudkan sebagai tao sauya apakah Tong Au?"
"Ditempat inipun hanya ada seseorang Toa sauya, kecuali dia masih ada siapa lagi?"
"Jadi ketujuh delapan orang yang melindungi keselamatan jiwanya itu adalah utusannya?"
"Benar!"
Bu ki segera tertawa lebar.
"Tampaknya didepan toa sauya ini sudah pasti dia adalah seorang yang penting sekali artinya?"
"Yaa, memang penting sekali"
"Sayang sekali Tong Toa koan dan Koh Nay nay tersebut betul betul hendak mencari gara gara dengannya, terpaksa orang orang itu cuma bisa melihat saja"
"Kenapa"
"Orang orang yang diutus toa sauya untuk melindungi keselamatan jiwanya sudah tentu terdiri dari anak murid keluarga Tong, mana mungkin orang orang keluarga Tong tersebut bertindak semena mena terhadap Tong Toa koan serta Koh nay nay tersebut?"
"Kau keliru besar bila beranggapan demikian"
"Jadi orang orang itu bukan anggota keluarga Tong?"
Bu-ki nampak agak tercengang "Yaa, semuanya bukan"
"Lantas siapa saja orang orang itu?"
Kendatipun sepasang mata toa sauya ini selalu berada diatas kepala, namun menjadi orang amat sosial, bukan cuma sosial saja terhadap orang lain, lagi pula amat setia kawan"
"Watak seorang sauya memang selalu demikian; apa yang perlu diherankan.."
Bu ki tertawa.
"Itulah sebabnya, selama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, ia telah mempunyai banyak sahabat"
"Ooooh..........!"
"Semua teman temannya itu rata rata memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, kelihatan saja mereka seperti rada sesat dan berasal dari golongan hitam, namun semua orang amat takluk dan tunduk kepadanya"
"Apa yagn ia suruh mereka lakukan, apakah akan dilakukan oleh mereka semua....?"
"Tentu saja, mereka tak akan membantah ataupun banyak mengucap sepatah katapun"
"Apakah orang orang yang mengawal keselamatan toa siocia sekarang, adalah sahabat sahabat dari toa sauya tersebut?"
"Orang orang yang selalu mendamping nona besar sekarang meski tiada tuju delapan orang, paling tidak juga terdapat lima enam orang, perduli kemanapun dia pergi, orang orang itu pasti akan berada tiga kaki disekeliling tubuhnya, asalkan ia memberi tanda, orang orang itu segera akan menampakan diri"
Sesudah menghela napas, lanjutnya.
"Itulah sebabnya, barang siapa berani menyalahi toa siocia ini, sudah pasti dia bakal sial"
Ternyata Bu ki juga turut menghela napas.
"Sekarang kau baru tahu merasa kuatir!"
Tegur Lo khong sambil memandang wajahnya lekat lekat.
"Aaai... Aku mah bukan menghela napas untuk diriku sendiri"
Sahut sang pemuda.
"Lantas mau menghela naps untuk siapa?"
"Untuk toa siocia tersebut"
Setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan.
"Bila seorang nona perawan yang berusia delapan sembilan belas tahunan, dari siang sampai malam selalu diawasi oleh sekian banyak lelaki dari golongan sesat, kehidupan semacam ini sudah pasti sangat tak sedap sekali........"
Lo khong miringkan kepalanya sambil berpikir pula, kemudian sahutnya.
"Ehmmm.... Apa yang kau ucapkan memang bukan tanpa alasan sama sekali"
"Aku yakin, belakang itu dia takkan pergi mandi atau ganti pakaian"
"Kenapa?"
"Sebab dia takut diintip!"
Baru saja kata "pengintip"
Keluar dari mulutnya, tiba tiba dari luar sana melayang sebuah benda yang segera menyumbat mulutnya.
***** Bu ki segera tertawa lebar.
Mimpipun Lo khong tidak menyangka kalau dari luar sana akan muncul segumpal lumpur secara mendadak yang segera menyumbat mulutnya.
Akan tetapi, Bu ki telah menduganya semenjak permulaan tadi.
Ditengah halaman diluar jendela sana telah kedatangan tiga empat orang, walaupun langkah kaki mereka sangat ringan, namun jangan harap dapat mengelabuhi ketajaman pendengaran Bu ki.
Orang yang bertubuh paling ringan itu kini sudah berada diluar jendela, bahkan suara orang itu mengorek tanah lumpur dari atas tanahpun dapat didengar oleh Bu ki dengan amat jelas.
Namun orang pertama yang masuk kedalam paling duluan bukanlah orang tersebut.
Orang pertama yang masuk kedalam ruangan paling dulu adalah seorang perempuan yang tinggi, tinggi sekali, dia mengenakan sebuah pakaian yang berwarna merah menyala.
Sesungguhnya potongan badan Bu ki tidak terhitung pendek, namun tinggi badan perempuan ini seakan akan jauh lebih tinggi daripada ketinggian tubuhnya.
Perempuan yang begitu jangkung tersebut ternyata memiliki potongan badan yang sangat baik, tempat yang semestinya menonjol keluar tak akan kau jumpai berada dalam keadaan datar, tempat yang seharusnya mendatar juga tak akan kau jumpai dalam keadaan menonjol, seandainya tubuh perempuan ini sedikit diperkecil besarnya maka dia betul betul terhitung seorang perempuan yang mempunyai daya tarik yang amat besar.
Usia perempuan ini sudah tak bisa dianggap kecil lagi, sewaktu lagi tertawa, dibawah ujung matanya sudah kelihatan banyak kerutan kerutan tanda ketuaan.
Namun tertawanya masih memiliki daya pesona yang amat besar, terutama sepasang matanya yang bening dan jeli itu, sungguh membuat orang merasa hampir tak tahan.
Sambil tertawa genit dan menggoyangkan pinggulnya selangkah demi selangkah dia menghampiri Lo khong, setelah itu ujarnya "Aku betul betul merasa amat kagum kepadamu, aku benar benar merasa amat kagum kepadamu!"
Seluruh mulut Lo khong penuh dengan lumpur, dia ingin memuntahkannya keluar namun tak dapat, dia sungguh tidak habis mengerti dalam hal apakah ia dapat dikagumi oleh orang lain.
Sambil tertawa perempuan itu berkata lagi "Aku sungguh tak punya akal lain untuk tidak mengagumi dirimu darimana kau bisa tahu kalau Oh Ay cu (si cebol Oh) adalah seorang yang ahli dalam mengintip nona kami mandi?
Apakah kau pandai melihat keadaan seperti halnya dengan Cukat liang?"
Belum habis dia berkata, dari luar jendela sana sudah kedengaran seseorang membentak keras.
"Kentut busuk makmu!"
Suara bentakan itu ibarat guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong membuat telinga orang terasa bergetar keras dan sakitnya bukan kepalang. Menyusul kemudian.....
"Blaaam!"
Separuh bagian daun jendela ruangan itu sudah diterkam orang sampai ambruk, lalu tampak sesosok tubuh manusia menubruk masuk keruangan dengan kecepatan bagaikan hembusan angin, begitu sampai dalam ruangan dia lantas melototi perempuan itu lekat lekat.
Dia harus menengah terlebih dahulu sebelum dapat mendelik ke arah perempuan tersebut.
Sebab bila dia berdiri disamping perempuan itu, maka tinggi badannya tak sampai separuh tubuhnya.
Siapapun tak akan menyangka kalau suara bentakan yang sedemikian keras dan nyaringnya itu ternyata berasal dari mulut seorang manusia cebol semacam itu.
Sambil tertawa cekikikan perempuan itu berkata;
"Kau bilang siapa yang lagi berkentut. Kecuali kau, siapa pula yang akan berkentut lewat mulutnya!"
Suara tertawa masih seperti suara tertawa seorang nona cilik. lanjutnya lebih jauh.
"Kentutmu itu selain busuknya luar biasa, nyaringnya juga luar biasa sekali!"
Si cebol Oh menjadi sedemikian mendongkolnya sehingga tengkuk yang kasarpun ikut gemetar, dengan wajah merah membara, sedikitlah tahu diri!"
Ternyata perempuan yang bertubuh tinggi sekali itu bernama It tiang hong Sitombak merah.
Bu ki mau tak mau harus mengakui bahwa nama tersebut memang cocok sekali dengan keadaannya, tapi belum pernah dia mendengar nama semacam itu disebut orang.
Andaikata ia seringkali melakukan perjalanan disekitar wilayah See lam, asal mendengar nama tersebut, hatinya pasti akan terperanjat sekali.
Terdengar si cebol Oh kembali berkata.
"Orang lain mungkin akan merasa takut terhadap gembong iblis perempuan yang membunuh orang tak berkedip seperti kau, tapi aku Oh Toa teng tak akan jeri kepadamu"
"Aku memang paling takut kalau ada orang lelaki yang merasa jeri kepadaku, aku hanya berharap semua lelaki pada suka kepadaku"
Setelah melemparkan sebuah kerlingan genit kepada Si cebol Oh dia, berkata lebih jauh.
"Perduli bagaimanapun juga, kau tak bisa tidak termasuk pula sebagai seorang lelaki"
"Tadi, kau mengatakan siapa yang paling suka mengintip orang perempuan lagi mandi?"
"Tentu saja mengatakan kau"
"Kapan kah aku pernah mengintip orang lain sedang mandi? Aku pernah mengintip siapa yang lagi mandi?"
"Kau seringkali mengintip, asal ada kesempatan kau lantas melakukan hal itu"
Kemudian setelah tertawa cekikikan, lanjutnya.
"Bukan saja kau suka mengintip orang lain, bahkan bila aku sedang mandipun kau sering mengintip pula"
"Kentut busuk makmu!"
Teriak si cebol Oh sambil mencak mencak karena kegusaran. Ternyata lompatannya jauh lebih tinggi daripada tinggi badan It tiang hong.
"Sekarang kau berlutut sambil memohon kepadaku, tak akan kuintip dirimu itu"
"Sekalipun aku memperbolehkan kau melihatnya juga percuma saja"
Kata It tiang hong lagi sambil tertawa, seluruh tubuhnya bergetar keras ketika ia sedang tertawa.
"sebab paling banter kau hanya bisa melihat pusarku belaka"
Kalau bisa Bu ki ingin sekali tertawa terpingkal karena gelinya lelaki perempuan yang jangkung dan pendek ini pada hakekatnya seperti musuh bebuyutan saja.
Entah siapapun yang menyaksikan keadaan mereka, pasti tak tahan untuk tertawa.
Akan tetapi bila menyaksikan mimik wajah dari si Cebol Oh tersebut tak ada orang yang tertawa lagi.
Paras muka si cebol Oh telah berubah menjadi merah membara seperti kepiting rebus, rambutnya seakan akan sudah akan berdiri semua bagaikan landak perawakan tubuhnya, yang cuma tiga jengkal tersebut, sekarang seolah olah telah menjadi tinggi satu jengkal lagi.
Sekalipun orang ini tidak memiliki raut wajah yang mengejutkan, namun khikang yang dimilikinya sungguh mengejutkan hati.
Sekarang dia telah menghimpun tenaganya bersiap siap untuk mengajak It thiang-hong beradu jiwa.
Bila serangan tersebut dilancarkan, sudah pasti serangan itu luar biasa hebatnya, bahkan Bu-ki sendiripun diam-diam menguatirkan keselamatan jiwa It-tiang-hong.
It-tiang-hong sendiri ternyata sama sekali acuh dan tak ambil perduli terhadap sikap lawannya itu.
Dia malahan masih berdiri santai dan tersenyum simpul, seakan-akan sikap si cebol itu sudah lumrah dan tiada sesuatu yang perlu diperhatikan atau ditakutkan.
Tiba-tiba si cebol Oh membentak keras, suaranya menggelegar bagaikan guntur yang membelah bumi disiang bolong, begitu kerasnya suara tersebut sungguh amat memekakkan telinga.
Menyusul bentakan yang keras tadi, sebuah pukulan yang amat keras dilontarkan kedepan.
Sungguh hebat sekali pukulan yang dilepaskan itu, angin pukulan yang amat kencang segera menderu-deru dan meluncur kedepan dengan mengerikan hati.
Ternyata yang menjadi sasaran dari serangan itu bukan It-tiang-hong perempuan jangkung yang luar biasa itu.
Yang menjadi sasaran dari serangannya itu bukan lain adalah Lo-khong, si kakek tersebut.
Bu-ki yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi tertegun dan berdiri melongo.
Sudah jelas It-tiang-hong yang menyebabkan kemarahan si cebol tersebut, kenapa yang dia serang justru bukan perempuan jangkung itu melainkan orang lain?
Apakah hal ini disebabkan karena dia tak sanggup menghadapi It-tian-hong, maka rasa mendongkolnya itu lantas dilampiaskan kepada orang lain?
Tapi bagaimanapun juga, tidak seharusnya Lo-khong menerima tonjokkan keras tersebut.
Sekalipun pukulannya itu tak sampai memukul mampus dirinya, paling tidak juga akan merenggut separuh dari nyawanya.
Dalam keadaan begini, tak mungkin lagi bagi Bu-ki untuk berpeluk tangan belaka.
Tapi, sebelum ia sempat turun tangan, tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seseorang telah menghadang dihadapan Lo-khong.
***** PENGAWAL PRIBADI DARI NONA BESAR SI CEBOL Oh telah melancarkan pukulan dengan sepenuh tenaga, mustahil baginya untuk menariknya kembali ...
"Bluuuk ...!"
Dengan telak pukulan tersebut bersarang diatas perut orang itu, suaranya seperti membentur pada kulit kerbau yang amat keras.
Walaupun orang ini telah menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras, namun paras mukanya sama sekali tidak berubah, bahkan matapun tidak berkedip.
Tapi pada mimik wajah itu pada dasarnya memang menyeramkan sekali, seperti luntur hampir memutih, dibalik putih tampak warna biru, dibalik warna biru terdapat warna hijau.
Bahunya sangat lebar, lengannya amat panjang, tapi seluruh tubuhnya begitu kurus hingga ibaratnya kulit pembungkus tulang belaka.
Jubah biru yang panjang dan besar itu berada diatas tubuhnya bagaikan berada diatas rak pakaian yang kosong belaka.
Manusia yang begitu kurus macam begitu, ternyata sanggup menerima sebuah pukulan dari si Cebol Oh, andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan mempercayainya.
Sesudah melepaskan tonjokan mautnya tadi, si Cebol Oh mundur tiga langkah kebelakang, kemudian baru menengadah dan memandang raut wajah orang itu.
Paras muka orang tersebut amat dingin, sama sekali tanpa emosi.
Sebaliknya paras muka si Cebol Oh kelihatan luar biasa sekali, dia seperti ingin tertawa terhadap lawannya itu, namun tak sanggup untuk tertawa, sudah terang tak mampu tertawa, namun dia djustru masih berusaha keras untuk memperlihatkan senyumannya.
Sementara itu, It-tiang-hong sudah tertawa terpingkal-pingkal sehingga terbungkuk-bungkuk.
Setiap orang dapat melihat bahwa tertawanya itu mendekati suatu tertawa ejekan, seakan-akan dia merasa gembira sekali menyaksikan ada orang tertimpa bencana.
Akhirnya si Cebol Oh berhasil juga tertawa, sambil tertawa kering, katanya.
"Untung saja jotosanku itu bersarang diatas tubuhmu."
"Apakah dikarenakan aku lebih gampang dipermainkan ...?"
Ujar orang itu dingin. Dengan cepat si Cebol Oh menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya agaknya ngotot.
"Aku berani bersumpah, aku tidak mempunyai maksud demikian terhadap dirimu."
"Lantas apa maksudmu yang sebenarnya?"
Si Cebol segera tertawa paksa.
"Siapakah umat persilatan didunia ini yang tidak tahu kalau Kim lotoa adalah seorang Thikim-kong yang tak akan mati terpukul? Pukulan yang kulancarkan diatas tubuh Kim lotoa tadi, pada hakekatnya seoerti lagi memijit badan Kim lotoa."
Walaupun tubuhnya jauh lebih cebol daripada siapapun, namun wataknya justru paling berangasan dan perangainya jauh lebih jelek daripada siapapun.
Sungguh tak disangka, begitu bersua dengan orang ini, sikapnya kontan saja berubah seratus delapan puluh derajat, berubah menjadi sok menjilat pantat.
Kim lotoa masih menarik mukanya dan mendengus dingin.
"Aku memahami maksud hatimu!"
Demikian katanya. Si Cebol Oh segera menghembuskan napas lega.
"Asal Kim lotoa sudah mengerti, hal ini jauh lebih baik lagi!"
Jilid 32________ "Bukankah kau maksudkan asal aku yang terkena pukulanmu itu, maku aku tak akan membalas?"
Seketika itu juga si Cebol Oh menggelengkan kepalanya berulang kali.
"oooh, bukan, bukan, aku tidak bermaksud demikian, aku sama sekali tidak bermaksud demikian"
Tiba-tiba It tiang-hong menimbrung sambil tertawa cekikikan.
"haaahhh... haaahhh... haaahhh... maksudnya, Kim lotoa telah berhasil memiliki tubuh Kim kong yang tak akan rusak atau terluka bila kena dipukul, sekalipun terkena sebuah pukulan juga tak akan ambil perduli, apalagi ribut-ribut dengannya."
Kembali si Cebol Oh menghembuskan napas lega, cepat-cepat sambungnya kembali.
"Betul-betul, aahh! Tak kusangka kalau hari ini kau telah berkata benar"
Kim lotoa segera tertawa dingin tiada hentinya "Heehhh.. heeehhh... heeehhhh.. sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan sebetulnya dia masih tetap membantu dirimu"
Mendadak dari luar sana berkumandang suara orang berbatuk-batuk, lalu kedengaran seseorang berkata sesudah menghela nafas panjang.
"Malam sudah semakin larut, embun telah makin menebal, angin malampun berhembus begini kencang, sudah kalian ketahui kalau aku tak mampu menahan diri, kenapa masih bercekcok melulu di dalam sana? apakah kalian senang menyaksikan aku sakit parah dan sakit sampai mampus?"
Suara orang itu amat tajam dan lembut, baru berbicara dua patah kata sudah batuk-batuk hebat, seakan akan napasnya hampir saja tak sanggup disambung lagi, sudah jelas dia adalah seoarnag yang sedang menderita sakit, bahkan penyakit yang dideritanya tidak terhitung enteng.
Akan tetapi begitu mendengar ucapan tersebut, bahkan sikap Kim lotoa pun turut berubah, berubah menjadi lebih halus dan sopan.
"RUangan ini masih terhitung sangat hangat, silahkan kau cepat cepat masuk ke dalam"
"Seorang putri anggun tak akan duduk di lantai, seorang kuncu tak akan berdiri dibawah dinding yang hampir roboh, bagi seorang kuncu seperti aku ini, aku paling enggan memasuki tempat yang sedang bercekcok apalagi sedang berkelahi"
Kata orang diluar itu lagi. Buru buru si Cebol Oh berseru.
"Cekcok kami telah dilangsungkan sampai selesai"
"apakah masih ada orang lain yang bersiap siap untuk cekcok atau berkelahi lagi?"
"Sudah tidak ada"
Akhirnya orang yang berpenyakitan itu menghela napas panjang, kemudian selangkah demi selangkah berjalan masuk ke dalam ruangan.
Sekarang sudah akhir bulan empat, udarapun sudah mulai menjadi hangat, akan tetapi dia masih mengenakan sebuah jubah kulit yang tebal sekali, wajahnya masih kedinginan hebat sampai berubah menjadi hijau membesi dan terbatuk-batuk tiada hentinya, sambil batuk, ingusnya meleleh keluar terus tiada habisnya.
Padahal usianya masih belum terlalu besar, tapi penyakit yang dideritanya sudah begitu parah sehingga nyawanya seakan setiap saat bisa melayang meninggalkan raganya.
Sepintas lalu orang ini kelihatan sudah lama sekali menderita penyakit parah, sepertinya asal ada orang menyodoknya dengan seujung jari tangan, tubuhnya segera akan roboh terjengkang.
Akan tetapi sikap orang lain terhadap dirinya justru sangat menghormat sekali.
Kim lotoa segera mengambilkan sebuah bangku dan mempersilahkannya untuk duduk, menanti napasnya yang tersengkal sengkal telah mereda kembali, sambil tertawa paksa dia baru bertanya.
"Sekarang, apakah kau sudah merasa agak baikan?"
"Untung saja saya masih hidup, untung saja tak sampai mati mendongkol oleh tingkah laku kalian"
Jawab orang berpenyakitan tersebut dengan wajah kaku.
"Sekarang, apakah kau sudah dapat melakukan pemeriksaan, apakah tempat seperti ini pantas didatangi oleh toasiocia kita?"
Kata Kim lotoa kemudian.
Orang berpenyakitan itu menghela napas panjang, dari balik ujung baju kulit rasenya dia mengeluarkan jari tangannya yang kurus, kemudian sambil menuding ke arah Bu ki tanyanya.
"Siapakah orang ini?"
"Dia adalah orang yang hendak dicari toasiocia"
Jawab It-tiang-hong cepat. Orang berpenyakitan itu memperhatikan Bu ki dari atas sampai ke bawah, mendadak ia berseru.
"Cob kau kemari!"
Bu ki tanpa ragu ragu segera melangkah maju ke depan.
Tiba-tiba dia merasa orang ini sangat menarik hati.
Kembali orang yang berpenyakitan itu mengawasinya lama sekali dari atas sampai ke bawah, mendadak ia mengucapkan sepatah kata yang luar biasa sekali.
Ternyata dia memerintahkan kepada Bu ki.
"Julurkan lidahmu dan perlihatkan kepadaku!" ***** Semenjak masih kecil dulu Bu ki bukan termasuk seseorang yang tak sedap di lihat, maka sering kali ada orang suka memperhatikannya. Tapi, selama ini belum pernah ada orang yang menyaksikan lidahnya, lidahnya juga belum pernah diperlihatkan kepada orang lain. DIa tak ingin mencari kesulitan buat diri sendiri, tapi diapun tak ingin dijadikan bahan gurauan oleh orang lain. Maka dari itu, dia sama sekali tidak menjulurkan lidahnya. It tiang hong kembali tertawa cekikikan, katanya.
"Tentunya kau tak pernah akan menyangka bukan kalau ada orang hendak melihat lidahmu?"
Bu ki mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut.
"Ketika pertama kalinya dia menyuruh aku menjulurkan lidah dan memperlihatkan kepada dirinya, aku sendiripun merasa keheranan"
Kata It tiang hong lebih lanjut.
"Oyaaa..."
"Seringkali ada orang yang menyuruh aku untuk memperlihatkan kepada mereka bagian bagian tubuhku, ada yang ingin melihat wajahku, ada orang yang ingin melihat pahaku, bahkan ada juga yang memohon kepadaku agar mereka diperkenankan melihat pantatku"
Mau tak mau Bu ki harus mengakui, bahwa bagian bagian yang disebutkan olehnya itu memang merupakan bagian bagian yang paling menarik dari seorang perempuan.
Samil tertawa It tiang hong berkata lebih jauh.
"Waktu itu aku sendiripun persis seperti kau, aku benar-benar tidak habis mengerti apa sebabnya dia ingin melihat lidahku"
"Skearang apakah kau sudah mengerti?"
"Waktu itu aku tidak mengerti karena aku masih belum tahu siapakah dia, tapi sekarang...."
Ia tertawa genit, kemudian melanjutkan.
"Sekarang, bagian tubuh manapun dia ingin lihat dariku, pasti akan kuperlihatkan semua kepadanya"
Bu ki lagi lagi memperhatikan sikap si Cebol Oh yang sedang mendelik besar di sebelah sana, tak tahan ia tertawa geli.
"Siapakah dia?"
Tanyanya kemudian.
"Dia tak lain adalah salah seorang dari empat tabib sakti yang ada di dunia saat ini, Ni pou sat (dewa lumpur) Pia Tay hu Bu ki segera tertawa lebar setelah mendengar perkataan itu. Ia benar benar tidak menyangka kalau orang yang berpenyakitan ini ternyata adalah seorang tabib sakti yang termashur namanya di seluruh kolong langit. Ia merasa Ni pousat memang merupakan julukan yang paling tepat untuk manusia seperti dia itu. Sambil tertawa It ciang hong berkata lagi.
"Dewa lumpur menyeberangi sungai, walaupun tubuh sendiri sukar diselamatkan, namun penyakit apapun juga yang diderita orang lain, hanya dalam sekilat pandangan saja ia dapat melihatnya"
"Dihari hari biasa, sekalipun ada orang yang berlutut sambil memohon kepadanya, belum tentu ia mau memperhatikannya"
Sambung Kim lotoa dengan suara dingin.
"Tapi hari ini, toasiocia telah bersikeras hendak datang ke tempat ini"
Lanjut It ciang hong.
"Oleh karena toasiocia adalah seorang yang terhormat, maka dia tak boleh menderita sedikit penyakitpun"
Kim lotoa menambahkan.
"Maka dari itu kami harus datang untuk melakukan pemeriksaan lebih dahulu apakah ditempat ini terdapat orang yang berbahaya, apakah ada orang yang sedang menderita penyakit"
"Sebab bila disini ada orang yang sedang sakit, maka besar kemungkinannya toasiocia akan ketularan"
Bu ki segera menghela nafas panjang, katanya sambil tertawa getir.
"Tampaknya besar juga lagak dari toasiocia ini"
Pia Tay hu turut menghela napas juga.
"Aaai.... andaikata lagaknya tidak besar, manusia seperti aku ini mana sudi bekerja baginya?"
"yaaa, memang masuk diakal!"
"Tapi sekarang, kau sudah tak perlu untuk menjulurkan lidah dan memperlihatkan kepadaku lagi"
"Kenapa?"
"Sebab aku telah menemukan sumber penyakit yang sedang kau derita itu...."
"Aku mengidap sakit?"
"Malah tak enteng penyakit yang kau derita itu"
"Penyakit apa?"
"Penyakit hati"
Bu ki segera tertawa, walaupun diatas wajahnya dia tertawa, namun diam diam hatinya merasa amat terperanjat.
Hatinya memang benar benar benar berpenyakit, malah tidak enteng sakitnya itu, namun orang lain belum pernah dapat melihatnya.
kembali Pia Tayhu berkata.
"Diatas wajahmu sudah menunjukkan tanda sakit, jelas hatimu berkobar seperti bara api, semangatmu juga menyala nyala, hal ini dikarenakan dalam hatimu terdapat suatu persoalan yang tak dapat diselesaikan, tapi kau selalu berusaha untuk mengendalikannya, maka dari itu orang lain belum pernah melihatnya"
Ni pousat yang sukar untuk menyembuhkan diri sendiri ini betul betul memiliki kepandaian simpanan, bahkan Bu ki sendiripun mau tak mau harus mengaguminya.
"Untung saja penyakit semacam ini biasanya tak akan menular kepada orang lain"
Mendadak Lo khong bangkit berdiri, kemudian serunya.
"Bagaimana dengan aku? kenapa kau tidak memeriksa bagiku? apakah aku mengidap suatu penyakit?"
"Penyakitmu tak perlu kuperiksa lagi, aku sudah mengetahui dengan sejelas jelasnya"
"Oooo ya...?"
"Biasanya bagi seorang setan arak hanya terdapat dua penyakit yang diidapnya"
"Dua macam yang mana?"
"Penyakit miskin dan penyakit malas"
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Walaupun dua macam penyakit tersebut tak bisa diobati, untung saja tak akan menurun pula kepada orang lain"
"Kalau memang begitu, sekarang apakah toasiocia sudah boleh datang kemari?"
Tanya Lo khong.
"sekarang masih belum bisa"
"Kenapa?"
"Sebab aku masih berada di sini"
Kembali dia menghela napas, terusnya.
"Sekujur tubuhku penuh dengan penyakit, setiap macam penyakitku ini bisa jadi akan menular kepada orang lain"
Lo khong juga ikut menghela napas pelan katanya pula.
"Kalau toh penyakit orang lain bisa kau sembuhkan, kenapa kau tidak berusaha untuk mengobati penyakitmu sendiri?"
"Penyakitku ini tak bisa disembuhkan"
"kenapa? "Sebab bila penyakitku ini disembuhkan, maka aku bakal mampus"
Ucapan macam apakah itu? Lo Khong tidak mengerti, Bu ki juga tidak mengerti, namun tak tahan ia bertanya juga.
"Kenapa?"
Pia Tayhu tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebaliknya malah balik bertanya.
"Barusan, apakah kau merasa agak kurang leluasa menyaksikan diriku?"
Ternyata Bu ki tidak mencoba menyangkal.
"Tapi, bagaimanapun rasa bencimu kepadaku, kau tak boleh bersikap kurang sopan kepadaku"
Kata Pia Tayhu lagi. Setelah berhenti sebentar dia menjelaskan lebih jauh.
"Sebab seluruh tubuhku penuh dengan penyakit, siapapun dapat merobohkan aku dengan sodokan jari tanganya saja, namun bila kau menghajar diriku, bukan saja hal tersebut tidak mentereng, bahkan justru menyebabkan suatu perubahan yang memalukan. Bu ki mengakui juga akan hal ini. Pia Tayhu segera berkata lebih lanjut.
"Tapi, andaikata penyakitku ini berhasil kusembuhkan, maka orang lain tak akan sesungkan sekarang lagi, dulu aku terlalu banyak menyalahi orang lain, mereka pasti akan berdatangan untuk membuat gara gara denganku, bayangkan, apa aku bisa tahan?"
Sambil menggelengkan kepalanya dia menghela napas panjang, pelan-pelan ia berjalan meninggalkan tempat itu.
"Itulah sebabnya penyakit yang kuderita sekarang tak boleh sekali kali disembuhkan. Secara tiba tiba Bu ki merasakan bahwa Ni pousat yang seluruh badannya penuh berpenyakit ini sesungguhnya adalah seorang yang amat menarik. Orang orang yang berada disitu sekarang tampaknya bukan orang orang jahat, tampaknya mereka menarik semuanya. Yang paling menarik sudah barang tentu Toasiocianya itu.
"Sekarang, apakah dia sudah boleh datang kemari?"
Kembali Bu ki bertanya.
"Sekarang masih belum bisa"
Tukas Kim lotoa "Kenapa?"
"Sebab aku masih harus membuat kau memahami akan suatu hal"
"Soal apa?"
"Tahukah kau, siapakah diriku ini?"
"AKu cuma tahu kau she Kim, agaknya banyak orang menyebutmu sebagai Kim lotoa"
"Coba kau perhatikan wajahku"
Bu ki memperhatikan setengah harian lamanya, namun dia tidak berhasil menemukan sesuatu keanehan yang pantas untuk diperhatikan atas raut wajahnya itu.
"Coba kau perhatikan, apakah raut wajahku ini agak sedikit berbeda dengan wajah orang lain?"
Ucap Kim lotoa Dalam hal ini mau tak mau Bu ki harus mengakui juga, raut wajahnya memang kelihatan aneh sekali.
Paras mukanya kelihatan seperti berwarna biru, bagaikan selembar kain biru yang sudah memutih karena lentur kena dicuci.
"Padahal wajahku ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wajah wajah orang lain"
Kim lotoa menerangkan.
"Sekarang mengapa bisa berubah menjadi begini rupa?"
Bu ki bertanya.
"AKu telah dihajar orang sehingga mukaku berubah menjadi begini rupa...."
"Kau seringkali dihajar orang?"
"Selama sepuluh tahun belakangan ini, hampir setiap satu dua bulan sekali aku pasti kena dihajar orang satu dua kali"
"Bila orang lain sedang menghajarmu, apakah kau tak pernah menghindarkan diri?"
"Tidak pernah"
"Bila orang lain menghajarmu, kenapa kau tidak berusaha untuk menghindarkan diri?"
"Karena aku tak ingin menghindar"
"Apakah kau rela dirimu dihajar?"
Kim lotoa segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeh.. heeeh.. heeeh.. sesungguhnya aku memang rela dihajar, kalau tidak, siapakah yang sanggup menghajar diriku?"
Orang lain hendak menghajarnya, ternyata dia malah mandah dirinya digebug, bahkan berkelitpun tidak.
Lantas apakah alasannya sehingga dia sampai begitu?
Bu ki lagi lagi dibuat tidak habis mengerti, sehingga tak tahan dia lantas bertanya.
"Kenapa?"
Kim lotoa tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya pula.
"Tahukah kau siapa saja yang telah turun tangan menghajar diriku?"
"Tidak"
"Kalau begitu akan kuperlihatkan kepadamu"
Pakaian yang dikenakan adalah sebuah jubah berwarna biru yang telah dicuci sampai agak memutih, persis seperti warna paras mukanya.
Tiba tiba dia melepaskan jubah panjang berwarna biru yang dikenakannya itu.
Potongan badan orang ini sebenarnya amat tak sedap dilihat, setelah melepaskan pakaian yang dikenakannya itu, dia kelihatan semakin tak sedap dipandang lagi.
Sepasang bahunya kelewat lebar, ragangan tulangnya amat besar, setelah pakaiannya dilepas maka yang tersisa hanyalah kulit pembungkus tulang belaka.
Tapi Bu ki mau tak mau harus mengakui diatas kulit pembungkus tulang tersebut memang terdapat banyak sekali bagian bagian yang menarik untuk diperhatikan.
Sekujur badannya dari atas sampai ke bawah, depan belakang, kiri maupun kanan semuanya penuh dengan luka luka yang mengerikan.
Itulah pelbagai macam mulut luka yang beraneka ragam, ada luka bacokan golok, luka pedang, luka tombah, luka pukulan, luka pukulan telapak tangan, luka luar, luka dalam, bengkak menghijau, darah menggumpal, luka senjata rahasia....
Asal kau bisa membayangkan mulut luka bekas terkena serangan apapun, dengan cepat akan kau jumpai semuanya diatas tubuh yang amat kurus tersebut.
Yang lebih aneh lagi, disisi setiap mulut luka tersebut terdapat sebaris tulisan yang kecil sekali.
Untung saja ketajaman mata Bu ki memang selalu amat bagus, setiap huruf yang tertera disitu dapat ia baca dengan amat jelasnya.
Disamping sebuah bekas pukulan telapak tangan yang berwarna merah tua, tertera beberapa huruf kecil yang berbunyi.
"Tahun Ka-sin, bulan tiga tanggal tiga belas, Ciu THian-in"
Tahun ini adalah tahun Ih su, itu berarti bekas telapak tangan tersebut telah dibuat cukup lama, namun gumpalan darah mati didalamnya masih belum hilang.
Sambil menunjuk ke atas telapak tangan itu, Kim lotoa bertanya kepada Bu ki.
"Kau tahu ilmu pukulan apakah ini?"
"Itulah pukulan Cu see ciang"
"Kau juga tahu siapakah orang yang bernama Ciu Thian in tersebut?"
"Yaa, aku tahu"
Bu ki mengangguk.
"Selain It-ciang-boan-thian (telapak sakti pembalik langit) Ciu Thian in, agaknya didunia ini tiada orang kedua yang mampu melatih Cu-seeciang sebagus ini"
Kim lotoa segera tertawa dingin.
"Heeeh.. heeh.. hee.. mungkin hal ini disebabkan karena belakangan semakin sedikit orang yang melatih ilmu pukulan Cu-see-ciang"
Bu ki mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut.
Untuk melatih ilmu pukulan semacam itu memang amat susah dan menderita sekali, padahal kehebatannya bila dipergunakan tidaklah terlalu besar.
Para angkata muda dalam dunia persilatan talah menganggap kepandaian tersebut sebagai jenis "kepandaian bodoh".
itulah sebabnya belakangan ini makin lama semakin sedikit orang yang melatihnya.
Sebab walaupun ilmu pukulan semacam ini bisa mematikan seseorang bila sampai terkena pukulan, namun siapapun tak akan berdiri mematung belaka seperti sebatang kayu.
Siapapun sudah pasti tak akan berdiam diri belaka membiarkan lawannya menghimpun tenaga dan melancarkan serangannya.
Hanya Kim lotoa seorang yang tampaknya terkecuali dari kebiasaan tersebut.
"Orang yang bisa menerima pukulan tersebut tanpa mengakibatkan kematiannya, aku rasa didunia ini sudah tidak ada berapa orang lagi"
Kata Bu ki kemudian.
"Setelah menyambut sebuah pukulannya, akupun harus berbaring selama setengah bulan lamanya diatas ranjang."
"SUdah jelas kalau ilmu pukulan yang digunakan adalah ilmu Cu-see-ciang, apakah kau tidak berusaha berkelit atau mengegos ke samping...?"
"tidak"
"Kenapa?"
"Sebab walaupun aku termakan oleh sebuah pukulannya, akan tetapi diapun termakan juga oleh sebuah pukulanku"
Kemudian dia menjelaskan lebih jauh.
"Ilmu silat yang dimiliki oleh Ciu Thian in tidak lemah, seandainya aku harus bertarung dengan mengandalkan perubahan jurus serangan, maka palig tidak aku baru dapat menentukan menang kalah setelah bertarung sekitar tiga sampai lima ratus jurus"
"Mungkin dalam tiga sampai lima ratus juruspun belum tentu menang kalah bisa diketahui"
Ucap Bu ki.
"Yaa, padahal aku mana ada waktu luang sebanyak itu untuk berkelahi dengannya?"
"Maka kau lebih suka menerima sebuah pukulannya dan membalas sebuah pukulan pula untuk menentukan menang kalah?"
"Setelah menerima serangannya itu, meski akupun merasa amat sengsara dan amat tak sedap, namun akibat dari pukulan yang kulepaskan ke tubuhnya itu, dia harus berbaring selama setengah tahu lamanya diatas pembaringannya"
Setelah berhenti sejenak, dengan suara hambar dia melanjutkan.
"Sejak saat itu, berada dimana saja dan kapan saja, asal ia bertemu denganku, maka dia pasti akan bersikap amat hormat dan sungkan sekali...."
It-tiang-hong segera tertawa, katanya.
"Aku telah berkata toh, walaupun kepandaian Kim lotoa dalam melancarkan pukulan belum terhitung amat tinggi, namun kemampuannya menerima serangan dari orang lain boleh dibilang tiada tandingannya didunia ini, pada hakekatnya boleh dibilang nomor satu diseluruh dunia"
"Jika ingin belajar memukul orang, paling dulu harus belajar menerima pukulan, cuma sayang bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk melatih kepandaian semacam itu!"
Kata Bu ki.
"Oleh sebab itu, di tahun tahun belakangan ini, tidak banyak orang yang belajar kepandaian semacam ini di dunia persilatan dewasa ini"
Tentu saja kepandaian semacam itupun termasuk dalam golongan kepandaian bodoh, malah besar kemungkinan merupakan semacam kepandaian yang paling bodoh didunia saat ini.
Namun siapa saja tak akan mengatakan kalau kepandaian semacam itu sama sekali tak berguna.
Kim lotoa telah berkata lebih jauh.
"Thiat sah ciang, Cu see cian, Kim si ciang, kay pi jiu, Lwee keh siau thian seng dan aneka macam pukulan lainnya sudah pernah kurasakan semua, tapi penderitaan yang harus dialami pihak lawan tak akan lebih kecil daripada penderitaan yang kuterima."
"Aku rasa beberapa tahun belakangan ini pasti makin sedikit orang yang berani beradu kepandaian lagi denganmu"
Ucap Bu ki sambil tertawa lebar.
"Yaa, memang tidak banyak jumlahnya"
IT-ciang-hong tertawa pula seraya berkata.
"Siapa saja yang berani bertarung melawanya, paling banter hasil yang diperoleh adalah sama sama menderita luka, siapa yang kesudian bertarung dengan cara semacam itu?"
Tapi Bu ki segera menggelengkan kepalanya berulang kali, tiba tiba dia berkata.
"Aku jadi teringat seseorang"
"Siapa?"
"Pada dua puluh tahun berselang, dari luar perbatasan telah muncul seorang Tay lek kim kong siu, konon ilmu Cap sat tay poo dan Tang cu kong yang dimilikinya telah mendapat puncak kesempurnaan sehingga bacokan golok tusukan pedang sama sekali tidak mempan baginya."
"Kau juga mengetahui tentang orang ini?"
"Aku pernah mendengar orang melukiskan tentang dirinya itu"
"Apa yang dikatakan orang lain?"
"Orang bilang tampangnya persis seperti para kimkong (malaikat raksasa) yang ada didalam kuil"
"Oleh sebab itu kau sama sekali tidak menyangka kalau Tay lek kimkong siu tersebut sesungguhnya adalah Kim lotoa?"
Sesudah tetawa cekikikan dia melanjutkan.
"Sebenarnya akupun tidak menyangka, selama sepuluh tahun belakangan ini, paling tidak berat badannya sudah menyusut hampir seratus duaratus kati lebih"
"Aku telah memperhitungkan dengan seksama,"
Kata Bu ki kemudian, luka dalam ditambah luka luar yang dideritanya sudah mencapai lima puluh kali, setiap kali luka yang dideritanya pasti tidak enteng"
Setelah menghela napas panjang dan tertawa getir, dia melanjutkan.
"Aiii.. andaikan manusia macam aku yang terkena pukulan, cukup hanya sekali saja, mungkin pada saat ini aku telah menjadi orang mati, masa tak mungkin bisa menjadi kurus?"
"Tapi selama sepuluh tahun ini, belum pernah ada orang yang meraih keuntungan pula dariku"
Ucap Kim lotoa. Tiba tiba dia ikut menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh.
"Hanya orang yang terkecuali"
"Siapa?"
Kim lota menuding ke arah sebuah bekas bacokan pedang yang tertera di atas dadanya, kemudian berseru.
"Coba kau lihat!"
Bekas bacokan itu terletak persis ditepi ulu hatinya, selisih dengna nadi besarnya cuma demikian kecilnya sehingga tak sampai satu inci.
Disamping bekas pedang inipun tertera sebaris tulisan yang amat kecil, tulisan itu berbunyi.
"Tagun Ih wi, bulan sepuluh tanggal tiga, Tong Au!"
"Kau tahu siapakah orang ini?"
Tanya Kim lotoa kemudian.
"Yaa, aku tahu"
"Tentunya kau juga pernah mendengar bukan, bahwa ilmu pedang yang dimilikinya luar biasa sekali?"
Bu ki harus mengakui akan kebenaran dari ucapan itu.
"Tapi sampai dimanakah lihayna ilmu pedang yang dia miliki, kau masih tetap tak akan mengiranya"
Ucap Kim lotoa lebih lanjut. Tiba tiba It ciang hong turut menghela napas panjang. katanya.
"Sebelum seseorang menyaksikan kejadian tersebut dengan mata kepala sendiri, hal ini memang sulit rasanya diduga!"
Kawanan jago pedang kenamaan dari jaman ini, tak sedikit yang pernah kujumpai"
Kata Kim lotoa lebih jauh.
"jago jago dari partai Hay lam, dari Thian cong, dari Kun lun, dari Khong tong, dari Pa sa, dari Bu tong, pokoknya semua jago dari berbagai aliran partai pedang, telah kucoba satu persatu."
"APakah ilmu pedang mereka tak mampu menandingi TOng au?"
Tanya Bu ki Kim lotoa segera tertawa dingin.
"Heeh... heeh.. heeeh, jika ilmu mereka dibandingkan dengan ilmu pedang Tong toakongcu, maka keadaanya bagaikan kunang kunan dibawah sinar bulan purnama, seperti lilin dibawah teriknya matahari"
Sambil menuding bekas pedang yang berada diatas ulu hatinya itu, ia berkata lebih jauh.
"Sewaktu ia melepaskan tusukan ini, hakekanya aku belum sempat melakukan persiapan untuk melancarkan serangan balasan, sebenarnya tusukan ini dapat merenggur selembar jiwaku, sekalipun aku mati diujung pedangnya juga tak mampu berkata apa-apa lagi"
"Akupun tahu kalau tusukan pedangnya tak pernah berperasaan, tak pernah kenal ampun, kali ini apa sebabnya dia melepaskan dirimu?"
"Sebab tidak berperasaanya hanya ditujukan kepada orang orang yang tidak berperasaan pula"
"Kim lotoa adalah seorang yang bermuka dingin berhati hangat. Selama melancarkan serangan terhadap orang lain, belum pernah dia berniat untuk mencelakai nyawa orang"
Sambung It ciang hong.
"Tapi, demi Tong toakongcu, setiap saat aku bersedia melanggar kebiasaanku itu"
Ujar Kim lolos cepat cepat. Ditatapnya Bu ki dengan pandangan dingin, kemudian dia melanjutkan.
"Sekarang, apakah kau telah memahami maksud hatiku sebenarnya..?"
It ciang hong yang berada disampingnya menjelaskan cepat cepat.
"Maksudnya adalah jika kau tak ingin bentrok dengannya, paling baik kau bersikap sedikit lebih sungkan terhadap toasiocia, jangan sekali-kali kau tunjukkan sikap kasar atau kurang ajar kepadanya"
Bu ki segera tertawa.
"COba kau lihat, apakah aku mirip seseorang yang kasar atau bersifat kurang ajar?"
"Yaa, kau memang tidak mirip"
Jawab It ciang hong sambil tersenyum. Suara tertawanya tampak genit sekali, lanjutnya.
"Walaupun diluaran kau tampak selalu dingin dan kaku, sesungguhnya kaupun seorang yang berhati hangat dan halus lembut, aku percaya pasti ada banyak perempuan yang menyukaimu"
"kau melihatnya?"
Kembali It ciang hong tertawa genit.
"Tentu saja aku dapat melihatnya"
Dia menyahut.
"aku toh buka seorang nona cilik yang belum pernah berjumpa dengan orang lelaki"
Bu ki tidak menjawab lagi.
Dia sedang memperhatikan wajah si Cebol Oh, melihat dia melotot besar sambil mengepal sepasang tinjunya kencang kencang, seakang akan ia telah bersiap sedia untuk mengayunkan sepasang tinjunya itu keatas perutnya.........
Dia bukan Kim lotoa, juga belum pernah melatih ilmu sebangsa Kim ciong cau, atau Thi pu san atau Cap sah tay po.
Dia tak ingin merasakan tonjokan tinju orang, juga tak akan tahan menerimanya.
Agaknya kali ini Kim lotoa juga tak akan berebut untuk berdiri dihadapanya, tak akan membantu untuk menerima tonjokan tersebut.
Untung pada saat itulah dari luar ruangan sudah kedengaran ada orang lagi berseru.
"TOasiocia datang!" ***** Bu ki selalu berharap kedatangannya, selalu berharap bisa bersua dengannya, dia ingin tahu si nona kecil yang pada belasan tahun berselang kurus kering, berwajah pucat dan amat lemah tersebut, kini telah berubah menjadi manusia semacam apa. Tapi dia percaya, wajahnya tentu cantik jelita sehingga sampai Tong toa kongcu yang begitu angkuh pun kena terpikat olehnya. Seorang perempuan cantik yang sebenarnya memang merupakan perempuan yang diidamkan setiap lelaki, diinginkan setiap pria, entah pria macam apapun, semuanya tidak terkecuali. Sekarang toasiocia tersebut telah datang. AKhirnya sekarang Bu ki dapat berjumpa dengan nona tersebut. Tapi kini Bu ki justru berharap sepanjang hidup tak pernah bertemu lagi dengannya. DIa lebih suka menebang tiga ratus kati kayu bakar, memikul enam ratus pikul air, bahkan bersedia menemani seekor babi betina yang sepuluh kali lebih gemuk daripada TOng Koat, bertiduran diatas pecomberan daripada berjumpa dengannya. Andaikata ada orang dapat membuatnya jangan sampai berjumpa lagi dengan toasiocia ini, entah pekerjaan apapun yang harus dia lakukan, dia tetap akan bersedia untuk melakukannya. Tpai, dia tidak gila, juga tidak berpenyakit, kenapa ia bersikap demikian? ***** SI NONA YANG MINTA AMPUN Dalam ruangan itu terendus bau harum yang amat tipis seakan akan bau bunga teratai, tapi jauh lebih harum dan segar dari pada bunga teratai. Begitu toasiocia munculkan diri, seluruh ruangan terendus bau harum semerbak itu. Otangnya jauh lebih manis dan cantik daripada sekuntum bunga teratai yang sedang segar. Didalam pemandangan beberapa orang itu, dia bukan cuma seorang toasiocia, pada hakekatnya dia adalah seorang tuan putri. Walaupun setiap orang menyukainya, namun belum pernah ada orang berani mengusik atau menggoda dirinya. Dia sendiri juga mengetahui akan hal itu. Dia muda, cantik, anggun, kehidupan ibarat bunga yang sedang mekar dengan indahnya. Entah berapa banyak gadis berusia sebaya dengannya yang diam diam sedang iri padanya, mengaggumi dirinya. Dia seharusnya merasa gembira dan bahagia terhadap kesemuanya. Tapi, siapapun tak tahu karena apa, selama beberapa hari ini, dia selalu bermuram durja, seolah olah merasakan suatu kemurungan, kesedihan yang tebal. Hanya dia seorang yang tahu, dia murung karena dalam hatinya terdapat suatu masalah, suatu kesulitan yang tak dapat dipecahkan. Dalam hatinya masih tertera bayangan tubuh seseorang, seseorang yang tak pernah dapat dia lupakan. Tapi orang itu justru mempunyai selisih jarak yang begitu jauh dengannya, diantara mereka berdua seakan akan dipisahkan oleh beribu ribu buah bukit tinggi, beribu ribu buah sungai yang lebar. Kini malam sudah semakin larut, seorang nona besar seperti dia seharusnya sudah pergi tidur. Tapi dia justru tak dapat tertidur. Dia terlampau kesepian, dia selalu berharap bisa mendapat pekerjaan untuk dilakukan. Sejak tiba ditempat ini, selain Siang Si seorang, hampir boleh dibilang tak seorang temanpun yang dia miliki, tak seorang sahabatpun yang bisa diajak mengobrol. Belum pernah dia menganggap SIang SI sebagai dayangnya. Siang Si adalah sahabatnya. Sebagai sahabatnya, dia tak ingin melihat dia dipermainkan orang, dianiaya orang. Maka dia telah datang kemari. Siang Si dengan tangan sebelah menarik ujung bajunya, dengan tangan yang lain menuding ke arah Bu ki.
"Itu dia orangnya!"
Setiap orang ditempat itu tahu dengan pasti bahwa SIang Si adalah orang yang paling disayang dan paling dekat dengan toasiocia, tapi kenyataanya toh masih ada juga orang yang berani menganiaya dirinya.
"Aku tahu mengapa dia menyuruh aku datang kemari, dia ingin menyuruh aku menemaninya... menemaninya..."
Walau kata kata selanjutnya tak sanggup dilanjutkan oleh Siang Si, namun setiap orang tentu akan mengerti.
Bahwa toasiocia sendiripun mengerti.
Oleh karena itu, sebelum kedatanganya kesana, ia telah mempersiapkan setumpuk nasehat yang siap siap dilontarkan kepada orang itu.
Namun, menanti dia bertemu dengan orang itu, seoalah olah menjadi tertegun dibuatnya.
Bu ki juga tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Sebab mimpipun ida tak menyangka kalau toasiocia tersebut tak lain adalah Lian lian yang setiap saat datang mencari gara gara kepadanya, setiap saat setiap tempat tiba tiba jatuh tak sadarkan diri.
Ternyata Lian It lian adalah Siangkoan Lian lian.
Ternyata Lian It lian adalah putrinya Siangkoan Jin.
Walaupun dia tahu bahwa orang yang dihadapannya sekarang tak lain adalah Tio Bu ki yang selalu berusaha untuk membunuh ayahnya.
SUdah lama dia mengetahui akan hal ini, itulah sebabnya dia baru menyusul ke perkampungan Hoo hongsan ceng.
Malam itu Tong giok telah melepaskannya karena ia sudah tahu kalau dia adalah putrinya Siangkoan Jin.
Oleh karena itu, dia baru menyuruh orang untuk mengirimnya kembali ke benteng keluarga Tong pada malam itu juga.
Tentu semua persoalan itu dapat dipahami pula oleh Bu ki sekarang.
Hingga detik ini pemuda tersebut belum melarikan diri karena dia tahu sekalipun dapat lolos dari rumah ini, belum tentu dapat meloloskan diri dari benteng keluarga TOng.
Diapun tahu asala gadis itu mengucapkan sepatah kata saja sekarang, dia dapat mati dalam benteng keluarga Tong tak bisa disangkal lagi, pasti akan mati secara mengenaskan.
***** Lian lian tidak mengucapkan apa apa walau sepatah katapun jua...
Tentu saja Bu ki juga tak dapat berkata apa apa pula.
Selama ini, Lian lian melotot terus ke arahnya dengan sepasang matanya yang besar dan indah, sepasang matanya seakan akan jauh lebih besar lagi daripada dahulu.
Apakah hal ini disebabkan karena dia bertambah kurus?
Kenapa dia menjadi kurus?
lantaran persoalan apakah dia menjadi makin kurus?
Bu ki masih saja memperhatikan wajahnya.
DIa tak bisa tidak haru memperhatikannya, dia ingin melihat dari balik sorot matanya yang jeli itu untuk menentukan cara apa yang hendak ia lakukan terhadap dirinya.
Tapi ia tak berhasil melihat apa apa.
Ungkapan perasaan yang terpancar keluar dari balik matanya itu terlampau rumit, bukan cuma Bu ki saja yang tak dapat melihatnya, bahkan dia sendiripun tidak memahami.
Siang Si juga tak berkata apa apa lagi.
Dia adalah seorang anak gadis yang pintar.
tahun ini umurnya telah mencapai delapan belas tahun, dia sudah memahami banyak urusan...
Ia telah menyaksikan bahwa hubungan antara toasiocia dengan lelaki itu tampaknya sedikit agak kurang beres.
Sebenarnya dalam bagian manakah terletak ketidakberesanya itu?
DIa sendiripun tak mampu untuk memutuskan keluar....
Sekalipun dia tahu juga tak berani mengutarakannya keluar.
Oleh sebab itu terpaksa dia harus menutup mulutnya rapat rapat.
Setiap orang menutup mulutnya rapa rapat, tiada seorang telur busuk yang bodohpun didalam ruangan itu.
Entah berapa lama sudah lewat tiba tiba toasiocia membalikkan badan dan pelan pelan berjalan keluar.
Mengapa pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun?
Ketika Bu ki sedang keheranan, ketika setiap orang sedang merasa keheranan, mendadak ia mengucapkan sepatah kata.
TIba dipintu depan, tiba tiba dia membalikkan badannya menatap wajah Bu ki, lalu mengucapkan dua patah kata.
Dia bilang.
"Ikutilah aku!"
Dia minta kepada Bu ki untuk mengikutinya kemana?
pergi berbuat apa...??
Bu ki tidak bertanya, juga tak dapat bertanya.
Sekalipun dia tahu dengan pasti bahwa dia hendak membawanya naik ketiang penggantungan atau turun ke kuali minyak mendidih, diah hanya bisa mengikutinya saja.
Sekarang dia sudah tidak memiliki pilihan lain.
***** Suasana di dalam kebun bungan amat gelap gulita dan lagi amat tenang.
\Lian lian berjalan didepan, berjalan dengan lambat, lambat sekali, seakan akan didalam hatinya terdapat suatu masalah pelik yang tak dapat dia selesaikan.
Selama ini ia tidak berpaling, walaupun hanya sekejapun.
Bu ki berjalan juga amat lambat, mengikuti dibelakangnya dalam suatu jarang yang tertentu.
Bayangan punggungnya kelihatan ramping dan lembut, seakan akan sekali saja dia mendorong tubuhnya, gadis itu segera akan roboh ketanah, roboh untuk selamanya, dan disitupun tak akan ada orang yang dapat membongkar rahasia lagi.
Beberapa kali dia sudah tak tahan untuk turun tangan.
Tapi dia harus berusaha keras untuk mengendalikan diri, sebab dia tak boleh turun tangan secara gegabah.
Dibalik kegelapan mungkin saja dimana mana ada penjagaan yang ketat, Kim lotoa dan It ciang hong sekalian pasti turut mengawasi pula gerak geriknya dari balik kegelapan.
Kepandaian si Cebol Oh yang hebat serta tenaga pukulannya yang dahsyat, sudah merupakan kepandaian yang tidak gampang dihadapi.
Tak bisa disangkal lagi It ciang hong merupakan seorang musuh yang amat menakutkan, cukup diperhatikan dari matanya yang lembut tapi lincah tangan serta kakiknya yang ramping tapi berotot dapat diketahu kalau gerakan tubuhnya pasti gesit dan lincah.
Biasanya serangan yang dilancarkan kaum perempuan jauh lebih kecji dan buas daripada seorang lelaki, sebab bila mereka ingin bercokol terus dalam dunia persilatan maka paling tidak mereka harus lebih tangguh daripada kaum pria, lagipula harus memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa lihaynya.
Pia Tayhu, silelaki yang berpenyakitan itu musti seluruh tubuhnya penuh dengna penyakit, namun sinar matanya tajam bagaikan sembilu, dapat diduga kalau tenaga dalam yang dimilikinya pasti amat sempurna.
Tentu saja Kim lotoa lebih lebih menakutkan lagi.
Dia mempunyai pengalaman yang matang, pernah menghadapi beratus ratus kali pertempuran besar maupun kecil entah berapa banyak jago persilatan yang pernah dijumpainya jangan berbicara soal yang lain, cukup berbicara dari pengalamanya yang matang dalam menghadapi beratus ratus kali pertarungan sengit dan berkali kali menantang maut, rasanya sulit bagi orang lain untuk menandinginya.
Untuk menghadapi keempat orang ini saja sudah tidak mudah, apalagi selain mereka terdapat entah berapa banyak jago lihay yang lebih menakutkan lagi mengikuti disekelilingnya dan melindungi keselamatan perempuan itu secara diam diam.
Andaikata gadis itu sampai mati ditangan Bu ki, apakah Bu kin sendiri dapat hidup lebih lama?
Dengan posisi dan keadaan seperti ini, ia mana berani turun tangan secara gegabah?
Tapi, sekalipun dia tidak turun tangan, berapa lama pula ia masih bisa hidup?
Tak tahan Bu ki mulai bertanya kepada diri sendiri.
Seandainya aku menjadi dia, dengan jelas dan pasti aku tahu kalau dia datang untuk membunuh ayahku, aku dapat membawanya pergi kemana?
Bagaimanakah jawabnya?
setiap orang pasti dapat menduga dan memikirkannya sendiri, sebab sekarang dia sendiripun tidak mempunyai pilihan lain.
Dia hanya bisa membawanya menuju kematian.
walaupun dia tahu, bila dirinya mengikuti gadis itu maju lebih kedepan, berarti jaraknya dengan kematian akan bertambah dekat, namun ia justru tak dapat berhenti lagi.
Tiba tiba lian lian berhenti didepan pintu berbentuk rembulan yang kecil dibalik pintu terdapat sebuah halaman yang bersih dan tenang.
Akhirnya dia berpaling juga.
Tapi dia sama sekali tidak memandang sekejap matapun ke arah Bu ki, hanya ujarnya pelan ke arah kegelapan dibadanya sana.
"Orang ini adalah seorang sobat lama yang pernah kukenal dulu, aku ingin berbincang bincang dengannya ditempat ini dengan tenang tanpa gangguan, perduli siapapun yang berani mengganggu ketenangan kami, aku pasti akan merasa amat tak senang". Jika Toasiocianya ini tak senang hati, siapapun tak akan menerjang masuk ke dalam untuk mengganggu ketenangan mereka. Tapi apa sebabnya dia hendak berbincang dibawah tatapan empat mata dengan Bu ki? Sebenarnya dia mempunyai persoalan apa yang hendak dibicarakan dengan dirinya? Ia telah bersiap siap menggunakan cara apa untuk menghadapinya? Andai kata seseorang telah melangkah ke sebuah jalan buntu, maka peduli orang lain hendak mempergunakan cara apa untuk menghadapinya, al itu sama sekali tak ada bedanya. ***** Ditengah halaman terdapat sebuah kolam teratai kecil Walaupun bunga teratainya belum mekar, namun angin yang berhembus lewat membawa bau harum yang semerbak. Angin berhembus masuk lewat luar jendela, api di ujung lilin bergoyang goyang tiada hentinya. Daun jendela dalam keadaan terbuka lebar. Dibawah jendela terdapat sebuah kursi yang indah dan enak diduduki, agaknya dia sering duduk dikursi itu sambil memandang teratai diluar jendela dengan termangu. Sekarang, dia tidak duduk diatas kursi tersebut, malah sebaliknya mempersilakan Bu ki.
"Silakan duduk!"
Bu ki duduk.
Setelah berada disini, berdiri juga boleh, duduk juga boleh, kedua duanya tiada perbedaan apapun.
Diseberang sana masih terdapat daun jendela, Lian lian berdiri dibawah jendela dengan punggung menghadap kearahnya, lewat lama kemudian ia baru menghela napas panjang.
"Bulan empat sudah lewat, bunga teratai kembali akan mekar...."
Bu ki tidak buka suara, juga tak mampu buka suara, dia hanya menanti...
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Lian lian berpaling dan menatap wajahnya dengan sorot mata yang sangat aneh, tiba tiba ia berkata.
"Aku tahu siapakah kau!"
Bu ki menghela napas panjang.
"Aku tahu kau juga tahu!"
Ucapnya.
"Akupun tahu karena apa kau datang kemari"
"Kau memang seharusnya tahu"
Ia tidak menyangkal lagi, juga tak bisa menyangkal lebih jauh.
"AKu memang datang untuk membunuh Sangkoan Jin"
"Aku pikir sekarang tentunya kau juga sudah tahu bukan, orang yang hendak kau bunuh adalah ayahku"
"Akupun tahu, didunia ini tak akan ada orang yang membiarkan orang lain datang untuk membunuh ayah sendiri"
"Yaa, memang tak mungkin ada"
"Sekarang, kau bermaksud hendak menghadapi diriku dengan cara apa...?"
Lian lian termenung, tiba tiab diapun menghela napas panjang.
"AIii.. aku sendiripun tak tahu"sahutnya.
"Mengapa kau tidak tahu?"
"Sebab perbuatanmu ini bukan suatu perbuatan salah"
"Oya?"
"Bila aku adalah kau, ada orang telah membunuh ayahku, akupun pasti akan berusaha kerasa untuk membunuhnya"
"CUma sayang aku bukan kau"
"Bila orang yang hendak kau bunuh adalah orang lain, aku pasti akan berusaha sepenuh tenaga untuk membantu usahamu itu!"
"Sayang orang yang hendak kubunuh adalah ayahmu"
Dengan hambar dia melanjutkan.
"Oleh sebab itu, entah dengan cara apa kau hendak menghadapi diriku, aku tak akan membencimu, sebab bila aku adalah kau, akupun sama saja akan berbuat demikian"
Kembali Lian lian termenung sampai lama sekali, kemudian pelan pelan dia baru berkata.
"Justru karena aku adalah putrinya, maka aku selalu tidak percaya kalau dia benar benar telah membinasakan ayahmu"
"Oooo.."
"Selama ini dia selalu jujur, selalu berpandangan lurus dan bijaksana, walaupun ada kalanya dingin dan kaku tanpa perasaan, namun dia itu berpandangan lurus, Aku benar-benar tidak percaya kalau dia dapat melakukan perbuatan seperti ini"
"Oooh ..."
"Itulah sebabnya aku harus berkunjung sendiri ke perkumpulan Ho Hong San Ceng dan melihat sendiri keadaan di sana, apakah di balik kesemuanya itu masih terdapat rahasia lain."
"Sekarang, kau telah berkunjung ke sana bukan?"
"Yaa!"
Sahut Lian Lian dengan sedih, bahkan secara diam-diam aku telah berkunjung ke kamar baca ayahmu, berdiri di termpat ayahmu terbunuh ..."
Sepasang matanya memancarkan pernderitaan dan kepedihan.
"Waktu itu malam sudah larut, empat penjuru hening tiada manusia, persis seperti saat ini keadaannya, aku berdiri di sana seorang diri, bertanya kepada diriku sendiri, andaikata pada suatu hari kau datang membunuh ayahku untuk membalas dendam, apa yang harus kulakukan?"
Persoalan ini memang suatu masalah pelik yang tak terpecahkan.
Setiap kali teringat akan persoalan ini, sekalipun sedang berada dalam impian, tiba-tiba dia akan terbangun dan melelehkan keringat dingin ...
Sebab dia tahu, kesalahan terletak di tangan ayahnya.
"Aku selau memberitahukan kepada diriku sendiri"
Kata Lian Lian.
"Dia tidak dapat melakukan kesalahan, dia berbuat demikian pasti mempunyai alasan tertentu, sayang, aku sendiripun tak dapat mempercayai perkataan tersebut."
Setelah tertawa, dia melanjutkan.
"Kau dapat membohongi setiap orang, tapi jangan harap dapat menipu dirimu sendiri."
Senyumannya sudah dipenuhi oleh penderitaan.
"Oleh sebab itu, aku selalu berusaha untuk menemani kau pada waktu itu, aku berharap menemani kau pada waktu itu, aku berharap dapat memusnahkan rasa dendam dan bencimu kepada ayahku, asal kau dapat memaafkan dia, apapun yang kau hendak kau suruh kulakukan, aku tetap bersedia untuk melakukannya ..."
Dengan memandang dingin, Bu Ki memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba dalam hatinya pun merasakan suatu kepedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Dia tak bisa tidak harus mengakui bahwa gadis itu sesungguhnya adalah seorang gadis yang berhati mulia, seorang gadis yang pantas dikasihani.
Sebab dia bersedia untuk mengorbankan diri.
"Sayang, dendam kesumat semacam ini selamanya tak akan dapat dihilangkan dengan begitu saja. Terpaksa dia harus mengeraskan hati dan berkata dengan dingin.
"Andaikata pada waktu itu aku sudah tahu kalau kau adalah putrinya Sang Koan Jin, aku past akan membinasakan dirimu!"
"Seandainya kau membunuhku pada waktu itu, bukan saja aku tak akan mengalahkan dirimu, mungkin malahan berterima kasih kepadamu!"
Jawab Lian Lian sedih.
"Kenapa?"
Lian Lian menghela napas sedih.
"Sebab secara tiba-tiba aku merasa, lebih baik aku cepat-cepat mati saja!"
Setelah berhenti sejenak, dengan sedih dia melanjutkan.
"Bila aku sudah mati, tak mungkin akan kualami penderitaan dan kemurungan seperti sekarang ini"
"Sekarang, kau masih belum seharusnya merasa kesal atau murung, toh persoalan ini tidak sulit untuk diselesaikan!"
"O ya?"
"Sekarang, seandainya aku masih dapat membunuhmu, aku pasti akan membunuh dirimu"
Lian Lian segera mengangguk.
"Aku percaya!"
Sahutnya.
"Selama berada di kebun bunga tadi, paling tidak aku sudah tiga kali ingin membunuhmu."
"Mengapa kau tidak turun tangan?"
"Sebab walaupun aku bisa membunuhmu. Belum tentu aku dapat meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup."
Lian Lian mengakui akan hal ini. Kembali Bu Ki berkata.
"Sekalipun aku hendak membunuhmu, sesungguhnya kejadian ini merupakan suatu kejadian yang adil."
"Paling tidak kau toh bisa mengajakku untuk mati bersama."
Bu Ki segera tertawa.
"Antara aku dengan kau tiada dendam atau sakit hati apa apa, dendam kesumat generasi yang lalu sama sekali tak ada hunungannya dengan generasi sekarang, mengapa aku menyuruhmu untuk menemani aku mati?"
Senyumannya tampak begitu tenang dan lembut.
"Kedatanganku kemari memang membawa tekad untuk mati bila gagal sekarang aku terlah berusaha dengan sekuat tenaga. Walaupun tidak berhasil aku juga aku juga mati tanpa menyesal."
Lian Lian memperhatikannya, lewat lama lama kemudian, dia baru bertanya.
"Ucapanmu itu kau utarakan dengan hati jujur"
"Betul!"
Kembali Lian Lian menghela napas panjang.
"Aaaai ... bila seseorang dapat mati tanpa menyesal, bisa mati dengan hati yang bersih, apa salahnya untuk mati?"
Tiba-tiba Bu Ki tertawa tergelak.
"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh ... Tidak kusangka kalau kau dapat memahami maksud hatiku?"
Kembali Lian-lian menghela napas panjang.
"Aaai ... seringkali aku mendengar orang berkata, hidup seribu tahun akhirnya juga mati, maka aku selalu beranggapan, kematian merupakan suatu perbuatan yang amat sukar sekali."
"Yaaa, memang bukan suatu pekerjaan yang terlampau gampang ..."
Bu Ki manggutmanggut.
"Tapi sekarang aku sudah mengerti, ada kalanya hidup justru jauh lebih sulit daripada mati, betul tidak?"
Gadis itu menatap lawannya dengan sorot mata yang jeli. Bu Ki manggut-manggut. Tak tahan diapun menghela napas panjang, katanya pelan.
"Yaa, ucapannmu itu memang tepat sekali. Ada kalanya memang demikian keadaannya."
"Oleh sebab andaikata seseorang ingin benar-benar mati, lebih baik biarkan saja mati."
"Betul!"
Di atas dinding ruangan tergantung sebilah pedang, sebilah pedang panjang tiga depa tujuh inci dengan sarung pedang berwarna hitam pekat. Lian lian mengambil pedang itu dan ...
"Criing!"
Meloloskannya dari sarung, mata pedang dingin bagaikan salju. Tiba-tiba ia serahkan pedang itu kepada Bu Ki, lalu dengan sikap yang dingin dan tenang tiba-tiba ia berkata.
"Bunuhlah!" ***** TIADA PILIHAN LAIN Pedang itu sebilah pedang yang asli, sebilah pedang sungguhan. Di kala tanganmu menggenggam di atas gagang pedang yang dingin, kaku dan keras itu, akan kau rasakan bahwa pedang, tiada perasaan lain di dunia ini yang dapat lebih nyata dan tegas daripada perasaan tersebut. Bu Ki adalah seorang yang belajar pedang. Sekarang di tangannya telah menggenggam pedang tersebut, tapi kali ini dia tidak memiliki perasaan yang nyata dan tegas semacam itu. Hampir saja dia tak dapat percaya kalau kejadian ini merupakan suatu kejadian yang nyata. Lian-lian mengawasinya lekat-lekat. Kemudian sepatah demi sepatah pelan-pelan dia berkata.
"Aku bersungguh hati, aku bersungguh hati hendak menyuruhmu membunuh diriku."
"Kenapa?"
Tak tahan BuKi bertanya.
"Sebab ayahku telah membunuh ayahmu, aku tak dapat membiarkan aku mencelakai dirinya."
Kemudian dia menambahkan.
"Ayahku telah melakukan kesalahan, aku tak dapat membuat salah lagi ..."
Bu Ki masih belum juga dapat memahami.
"Tapi, bila aku tidak mati, kaupun tak bisa terhindar pasti akan mati di tanganku, sebab aku tahu tak akan membiarkan kau pergi memcelakai ayahku..."
Bu Ki tertawa getir.
"Bagaimana seandainya kau yang mati? Apakah dapat menyelesaikan persoalan ini?"
"Setelah aku mati, kau dan ayahku dapat hidup terus."
"kenapa?"
Kembali Bu Ki bertanya.
"Sebab setelah aku mati, tak akan ada barang lain lagi yang dapat menyingkap rahasiamu lagi."
Kemudian ia melanjutkan.
"Kim lotoa sekalian pasti akan menyangka kalau kau akan membunuhku, maka habis membunuhku kau harus cepat cepat pergi meninggalkan tempat ini, mereka pasti tak akan menghalangi kepergianmu, saat itu rahasiamu masih belum terbongkar, maka tidak sulit bagimu untuk pergi meninggalkan benteng keluarga Tong!"
Bu Ki mengakui bahwa ucapannya benar. Bila sekarang juga dia angkat kaki, memang masih tersedia kesempatan baginya untuk melarikan diri. Kembali Lian Lian berkata.
"Tapi, setelah kau pergi membunuhku maka kau harus segera pergi dari sini, semenit pun tak dapat tinggal di sini lebih lama lagi, oleh sebab itu kau pasti tak akan berkesempatan lagi pergi untuk pergi mencari ayahku."
Setelah tertawa lebar, dia melanjutkan.
"Apalagi setelah kau membinasakan diriku, sedikit banyak perasaanmu akan menjadi sedih dan menyesal, siapa tahu kalau dendam kesumat kita dua keluarga akan Makin bertambah tawar dengan terjadinya peristiwa ini. Tentu saja akupun akan mati dengan hati yang bersih. Oleh sebab itu setelah kupikirkan kembali pulang pergi aku rasa cara inilah merupakan cara yang terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini."
Sebenarnya persoalan ini memang merupakan suatu persoalan yang sulit untuk diselesaikan, hanya dengan kematian saja masalah tersebut baru dapat diselesaikan.
Andaikata Bu Ki mati, persoalan inipun sama saja dapat terselesaikan.
Tapi mengapa dia tidak membiarkan Bu Ki mati?
Ia lebih suka mengorbankan diri daripada mencelakai jiwa Bu Ki, apa sebabnya begitu?
Sekalipun Bu Ki adalah seorang manusia bodoh yang tak bisa ditolong lagi paling tidak dia juga bisa memahami perasaan tersebut.
Sekalipun Bu Ki seorang manusia berhati baja yang dingin dan kaku tanpa perasaan.
Perasaannya terhadap persoalan inipun seharusnya amat berterima kasih.
Cuma sayang, sekarang ia sudah tidak berhak untuk menerima rasa haru orang lain.
Sama sekali tidak berhak untuk menerima perasaan kasih sayang orang lain.
Sebab dirinya sekarang sudah tidak terhitung milik dirinya sendiri.
Semenjak ayahnya mati secara menggenaskan, dia telah menjual dirinya kepada iblis yang buas yang bernama "Dendam Kesumat".
Iblis buas itu sudah banyak tahun malang melintang dalam kehidupan manusia, entah sudah betapa banyak orang yang dirasuki oleh iblis tersebut.
***** Di luar jendela ada angin.
Cahaya lentera yang bergoyang menyinari wajah Lian Lian yang pucat, dia bukan gadis lincah yang dulu lagi.
Tiba-tiba Bu Ki berkata.
"Kau adalah seorang telur busuk yang bodoh!"
Ia tidak membiarkan wajahnya menunjukkan perasaan apapun.
"Hanya orang bodoh yang bisa menemukan cara amat bodoh seperti ...!"
Lian Lian sendiripun harus mengakui akan perkataan tersebut. Cara ini memang suatu cara yang bodoh tapi inilah satu-satunya cara yang dapat ia temukan.
"Semua orang bodoh pantas untuk mati, aku memang seharusnya membinasakan dirimu."
"Lantas mengapa kau masih belum juga turun tangan?"
Pedang untuk membunuh telah berada di tangannya, orang yang harus dibunuh juga telah berada di depan matanya.
Mengapa Bu Ki belum juga turun tangan?
Hanya ada sebuah alasan yang dapat menjelaskan kesemuanya itu, tapi alasan itu, tak ingin dia akui, juga tak ingin dia utarakan keluar.
Sebab ada orang yang mewakili untuk mengucapkanya keluar.
Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara dingin.
"Dia masih belum juga turun tangan, karna dia sendiripun seorang bodoh ...!"
Ternyata orang itu adalah Sangkoan Jin.
Sewaktu Bu Ki berpaling ke belakang, Sangkoan Jin telah berada di depan mata.
***** Paras muka Bu Ki sama sekali tidak berubah.
Paras muka Sangkoan Jin juga sama-sama tidak berubah.
Walaupun mereka adalah musuh besar yang saling bermusuhan, namun paling tidak mereka mempunyai satu persamaan ...
Musuh besar yang dibenci sampai merasuk ke tulang telah berada di depan mata.
Pertemuan ini sudah buka pertuan mereka yang pertama kali lagi, tak dapat disangkal pertemuan ini adalah pertemuan mereka yang terakhir kalinya.
Bu Ki tahu, inilah kesempatan yang terakhir baginya.
Ternyata Thian masih bermurah hati kepadanya, sebuah kesempatan yang terakhir kembali dia dapatkan, kali ini dia harus manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Dia tak boleh merasa sangsi lagi, tak boleh melepaskan kesempatan yang terakhir kali ini demi siapapun dan persoalan apapun Kasihan, iba, berbaik hati ...
semua perasaan yang maha agung itu dibuangnya jauh-jauh Demi berhasilnya pembalasan dendam tersebut, terpaksa dia harus melakukan perbuatan apapun juga.
Cahaya pedang berkelebatan lewat, tahu-tahu ujung pedangnya telah berada di atas tenggorokan Lian Lian.
Sangkoan Jin Hanya memandangnya dengan dingin, berkedippun tidak.
Jilid 33________ Sambil tertawa dingin Bu-ki lantas berkata.
"Kau anggap aku benar-benar tak berani membunuhmu?"
"Tentu saja kau tak berani!"
"Sebab yang hendak kau bunuh adalah aku, bukan dia, bila kau membuhunnya maka kau tak akan memperoleh kesempatan untuk membunuhku lagi!"
Mau tak mau Tio Bu ki harus mengakui bahwa pandangannya memang tepat sekali.
"Oleh sebab itu sama sekali tak berguna bila kau hendak menyandera dirinya untuk mengancam diriku, aku bukanlah seorang yang akan menyerah dengan begitu saj bila diancam"
"AKu bisa melihatnya"
"akupun dapat melihat, kau tak akan melepaskan dia dengan begitu saja...."
"Yaa, memang tak mungkin"
"Oleh sebab itu aku hanya bisa membiarkan kau menggunakan dia sebagai jaminan untuk berbincang bincang denganku"
"Apakah kau juga tahu kalau aku hendak menawarkan suatu barter denganmu?"
"Yaa, asal kau melepaskan dirinya, akupun akan memberi sebuah kesempatan kepadamu"
"Kesempatan apa?"
"Kesempatan untuk bertarung secara adil"
"Ehmm, kedengarannya tawaranmu ini cukup menarik"
"Kujamin kau pasti tak akan menemukan langganan yang lebih baik daripada diriku"
"Tapi, dari mana aku bisa tahu kalau ucapanmu itu dapat dipercaya?"
"Kau tidak tahu"
"Cuma sayang, agaknya aku sudah tiada pilihan lain kecuali menuruti perkataanmu itu?"
"Ya, memang tapat sekali"
Bu ki menataonya tajam tajam, sementara dalam hatinya bertanya kepada diri sendiri.
"Benarkah aku sudah tidak memiliki pilihan lain?"
Tampaknya jawaban yang diperoleh tegas sekali.
"Benar!"
Justru karena ayahnya terlampau percaya dengan orang ini, maka sebagai akibatnya dia pun tewas dibunuh oleh orang ini.
Asal dia masih mempunyai pilihan yang lain, dia tak akan sudi untuk mempercayai orang ini.
Sayang sekali, dia tidak punya.
Angin berhembus sepoi sepoi diluar jendela, cahaya lentera berkedip kesana kemari.
Sinar yang redup itu menyinari wajah Lian-lian yang cantik, cahaya pedang yang dingin juga menyinari raut wajahnya itu.
Tiba tiba saja paras mukanya itu berubah menjadi semacam warna pucat pias yang bening, seakan akan kaca putih kristal saja.
Ia tak dapat membiarkan Bu ki ditipu sekali lagi oleh ayahnya, dia tak boleh membiarkan Bu ki mati.
Dia lebih lebih tak ingin menyaksikan ayahnya tewas diujung pedang orang lain.
Sayang, dia justru tidak memiliki kemampuan untuk berbuat demikian......
Mata pedang ditangan Bu ki sudah makin mendekati tenggorokannya, mendadak dia berteriak keras.
"Kumohon kepadamu, lepaskanlah dia.... oooh, kumohon kepadamu, lepaskanlah dia......"
Mendadak dia mendorong tenggorokannya sendiri keatas mata pedang, darah segar segera berhamburan, tubuhnya turut roboh terkapar ditanah. Persoalan ini merupakan sebuah simpul mati, hanya "kematian"
Saja yang dapat membebaskannya.
dia pun sudah tidak memiliki pilihan yang lain lagi.
***** PEDANG MESTIKA BERMATA DUA Kalau sudah tiada pilihan lain lagi, ya apa boleh buat?
Keadaan yang paling menyedihkan bagi kehidupan manusia bukan perpisahan, bukan kematian, bukan kecewa, bukan, kekalahan, semuanya bukan.
Keadaan yang paling mengenaskan dan tragis bagi kehidupan manusia adalah pasa saat ia tidak memiliki pilihan lain lagi, disaat apa boleh buat lagi.
Hanya orang-orang yang sudah berpengalaman saja yang tahu betapa menakutkannya penderitaan tersebut.
Bu-ki memahami keadaan tersebut.
Ia menyaksikan Lian lian mendorong tenggorokannya sendiri ke ujung mata pedang, melihat darah segar memancar keluar dari tenggorokan Lian lian.
Dia pun merasakan pula kesakitan yang luar biasa, seakan tubuhnya kena tertusuk pula.
Tusukan itu tidak menembusi tenggorokannya, tusukan itu menembusi ulu hatinya, kumohon kepadamu, lepaskanlah dia.
Ia sedang memohon kepada Tio Bu ki untuk membebaskan ayahnya?
ataukah sedang memohon kepada ayahnya untuk membebaskan Tio Bu ki?
Siapapun tidak tahu.
Namun kekuatan yang terkandung dalam perkataan itu, justru jauh lebih besar dari pada pedang mustika macam apapun yang ada di dunia ini.
Gadis itu hanya berharap dengan kematiannya bisa mendapatkan rasa kasih sayang dan pengampunan dihati masing-masing.
Bagi dirinya, kematian bukan se suatu yang luar biasa.
Dia cuma berharap dapat membiarkan meraka tahu bahwa antara mati dan hidup sebenarnnya tidak terdapat suatu perbedaan yang seserius apa yang mereka bayangkan.
Pada detik itu juga, Bu ki merasakan dirinya tergetar dam terpesona oleh ungkapan perasaannya yang begitu agung.
Pada detik itu juga, hampir saja dia melupakan segala galanya, bahkan rasa dendam kesumat yang dalam sampai merasuki tulang itupun terlupakan.
Pada detik itu jiga, Sangkoan Jin dapat menggerakkan tangannya untuk membunuh dia.
tapi anehnya, justru Sangkoan Jin talah memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya.
Menanti dia tergetar sadar dari lamunannya, mendadak dia menjumpai kesempatan yang diidam idamkan selama ini telah tertera didepan mata.
***** Lian lian sudah roboh kebawah, terkapar diatas tanah.
Sangkoan Jin telah menerjang ke muka, membungkukkan badan sambil memeriksa keadaannya.
Saat itu dia sedang membelakangi Bu ki.
Punggungnya lebar, tusukan yang dilancarkan dalam posisi bagaimanapun, pasti akan berhasil menembusi tubuhnya.
Setiap orang muda pasti suka bermimpi, bermimpi indah, bermimpi aneka macam.
Bu ki termasuk masih muda.
Dalam suatu impian indah yng pernah dialaminya, keadaan semacam ini sudah pernah dilihatnya.
Dalam genggamannya masih terdapat pedang, musuh besarnya sedang berjongkok membelakanginya, menunggu tusukan itu menembusi tubuhnya.
Tapi impian semacam itu benar benar terlalu berkhayal....
impian yang indah selalu terasa seditik berkhayal.
Belum pernah dia mengharapkan impian semacam ini berubah, manjadi kenyataan, sungguh tak disangka impian tersebut ternyata kini menjadi suatu kenyataan.
Musuh besarnya sedang berjongkok membelakanginya.
Kebetulan juga ditangannya terdapat pedang, kesempatan semacam ini mana boleh dia lewatkan dengan begitu saja?
Mana bisa ia lewatkan.
Semua penderitaan dan siksaan yang pernah dialami, semua kesedihan dan rasa dendam yang membara didada, membuatnya tidak menyia nyiakan kesempatan tersebut denagn begitu saja.
Cahaya pedang berkelebat lewat, tahu tahu pedang itu sudah berada ditangan, Anehnya, pedang tersebut sama sekali tidak ditusukan kedepan.
Untung saja pedang itu tidak ditusukkan ke depan, Untung saja Thian masih bersikap cukup baik kepadanya, sehingga tidak membiarkan pedang itu benar-benar ditusukan kebawah.
Noda darah yang membasahi tenggorokan Lian-lian masih belum mengering.
Tusukan tersebut tidak dia lakuakan bahkan lantaran sama sekali tak beralasan.
Sugong Siau hong pernah menyerahkan pebuah harimau kemala putih kepadanya, ia pernah berpesan, sebelum membunuh Sangkoan jin, harimau kemala putih itu harus diserahkan dahulu kepada Sangkoan Jin.
Tusukan tersebut tidak ia lakukan, juga bukan sama sekali lantaran asalan tersebut.
Dia selalu adalah seorang yang amat memegang janji, dia telah menyanggupi permintaan Sugong Siauhong, tapi dalam detik tersebut, pada hakekatnya ia telah melupakan kejadian itu.
Tusukan itu tidak ia lakukan, lantaran dia adalah Tio Bu-ki.
Entah masih ada berapa banyak alasan lagi yang membuat tusukan pedang tersebut tak sanggup dia lakukan.
Ada sebab pasti ada akibat, ada akibat tentu ada sebab.
Walaupun teori in berasal dari agama Buddha, namun banyak peristiwa didunia ini yang berteorikan demikian.
Sekalipun tusukan tersebut tidak dilanjutkan, mata pedang telah berada tak sampai seinci dari urat nadi besar dibelakang tengkuk kiri Sangkoan Jin.
Tentu saja Sangkoan Jin dapat merasakan hawa pedang yang menyayat kulit badannya iru.
Tapi ia sama sekali tidak memberi reaksi apa-apa.
Bu-ki menggenggam gagang pedang itu erat-erat, semua otot hijaunya pada menonjol keluar semua karena penggunaan tenaga terlampau besar.
Dia berusaha keras untuk tidak memandang Lian-lian yang terkapar diatas tanah, sepatah demi sepatah katanya.
"Sangkoan Jin, berpaling kau, pandang aku, aku hendak menyuruh kea melihat jelas siapakah aku?"
Sangkoan Jin tidak memjawab pertanyaan itu, delang sejenak kemudian ia baru berkata dingin.
"Aku sudah melihat jelas tentang dirimu, sejak kau berumur sepuluh tahun sudah melihat dirimu sejelas jelasnya, sekarang aku tak perlu melihat lagi"
"Kau sudah tahu siapakah aku?"
Paras muka Bu-ki agar berubah.
"Sejak kau melangkah masuk ke dalam benteng keluarga Tong, aku sudah tahu siapakah kau"
Tiba-tiba dia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan.
"Tio Bu ki, kau tidak seharusnya datang kemari"
Paras muka Bu ki segera berubah.
Andaikata Sangkoan Jin sudah tahu siapa kah dia sejak itu, kenapa ia tidak membongkar rahasianya?
Ia menampik untuk memikirkan pertanyaan itu.
Pada hakekatnya dia tidak percaya akan pengakuannya itu.
"Bila kau anggap dirimu benar benar bisa membohongi kami, maka keliru besar pendapat itu"
Ucap Sangkoan Jin.
"kau bukan cuma memandang rendah diriku, juga memandang rendah orang orang keluarga Tong"
Suaranya bertambah dingin dan kaku.
"Sekarang, kau seharusnya sudah mati sebanyak empat kali"
Bu ki tidak berkata apa apa, dia hanya tertawa dingin tiada hentinya.
Ia masih tetap belum mau percaya, apapun yang diucapkan Sangkoan Jin, ia menolak untuk mempercanyainya.
Kembali Sangkoan Jin Berkata.
"Kau mengakui dirimu sebagai Li Giok-tong, berasah dari dusun Ki si Si-tou-cun, pada saat itu juga seharusnya kau telah mati"
"Oya?"
"Kau belum mati, karena orang yang diutus untuk menyelidiki asal usulmu itu talah disuap orang, disuap agar merahasiakan keadaan yang sebenarnnya"
"siapa yang telah menyuapnya?"
Tak tahan Bu ki bertanya.
"Seorang yang masih belum menginginkan kematianmuu"
Persoalan ini merupakan persoalan yang selama ini tidak dipahami oleh Bu ki, mau tak mau dia harus mengakui, tampo hari dia memang benar benar lolos dari elmaut. Sangkoan Jin kembali berkata.
"Malam pertama baru saja tiba di sini, ternyata kau berani seorang diri menyelidiki benteng keluarga Tong"
Suara pembicaraan itu seperti mengandung hawa amarah yang berkobar kobar, terdengar ia melanjutkan.
"Kau anggap benteng keluarga Tong ini seebagai suatu tempat macam apa? Nyali mu benar benar terlalu besar!"
Mau tak mau Bu ki harus mengakui kembali, sebenarnnya saat itupun dia bakal mati.
Dia tidak mati karena ada orang telah memancing pergi penjaga penjaga disekitar sana.........
Seseorang yang masih tidak menginginkan kematiannya.....
"Andaikata tiada orang yang membantumu membunuh Siau-po, kaupun bakal mampus !"
"Kenapa?"
Tak tahan Bu-ki bertanya.
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal Khu Lung
Baca Juga: Pendekar Bego 11