Eps 1 Golok Halilintar - Khu Lung
Baca online Golok Halilintar - Khu Lung
Cersil Golok Halilintar - Khu Lung.
Golok Halilintar Karya .
Khu Lung (Tapi banyak pengemar cersil meragukan ini karya Khulung) Mula cerita .
TAHUN ITU adalah tahun kedua dari Kerajaan Goan, sementara runtuhnya kerajaan Song sudah genap mencapai enam-puluh tahun.
Di suatu musim semi pada bulan ke tujuh, penduduk kota KangIam waktu.itu sedang menikmati keindahan pohon-pohon bunga yang sedang bersemi.
"Cuaca sudah mulai gelap ketika seorang laki-laki muda perkasa, berusia kira tiga puluh tahun, memakai baju biru dan sepatu rumput, nampak sedang berjalan di jalannya dengan tindakan kaki lebar, di sepanjang kedua tepi jalan raya itu, buah tho yang merah merekah serta bunga-bunga liu yang hijau nampak indah semarak namun laki-laki muda perkasa itu sama sekali tidak memberikan perhatiannya. Laki-laki muda perkasa itu adalah Lim Tiauw Kie, yang rnemiliki kepandaian ilmu silat sudah mencapai batas kemampuannya, ia sedang melakukan perjalananan mengamalkan ilmu kepandaiannya dan baru saja membinasakan seorang penjahat besar di propinsi Hok-kian, yang mengganas di kalangan rakyat jelata, penjahat itu tidak hanya memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, tetapi juga sangat licin luar biasa sehingga setelah melakukan penyelidikan selama kira-kira dua bulan lamanya, barulah Lim Tiauw Kie berhasil mencari tempat permukiman penjahat itu, Dalam suatu pertempuran yang sangat hebat, ia telah berhasil mengalahkan dan membinasakan penjahat itu, kemudian ia bermaksud kembali ke tempat kediamannya di kota Leng-lam. Sementara itu jalan yang sedang ditempuhnya ternyata kian lama menjadi semakin berkurang lebarnya, sedangkan di sisi sebelah kanan jalan raya itu kini berdampingan dengan pantai laut. Tiba-tiba ia melihat tanah datar nampak licin mengkilat bagaikan kaca, dan dibagi menjadi petak-petak yang luasnya kira-kira tujuh-delapan tombak persegi. Sebagai seorang yang telah seringkali melakukan perjalanan di sebelah utara dan selatan Sungai Besar, Lim Tiauw Kie mempunyai banyak pengalaman, namun ia belum pernah melihat tanah yang licin mengkilat dan yang dianggapnya sangat luar biasa. Setelah ia menanya kepada seorang penduduk setempat yang kebenaran berpapasan, maka tahulah dia bahwa petak-petak itu merupakan ladang garam. Untuk membuat garam, penduduk setempat memasukkan air laut ke dalam petak-petak ladang itu, Setelah dijemur kerinq, mereka mengumpulkan pasir yang mengandung garam dan dijemur lagi sampai menjadi garam yang putih bersih sekali. Perhatian Lim Tiauw Kie menjadi amat tertarik, karena sesungguhnya selama hidupnya ia belum pernah melihat dan mengetahui tentang cara-cara membuat garam. Konon selagi ia tertegun menyaksikan petak-petak ladang garam itu, mendadak ia melihat ada serombongan orang sebanyak kira-kira dua puluh lebih, sedang memikul barang bawaan dengan menggunakan pikulan. Mereka sedang mendatangi dengan cepat dari jalan kecil sebelah barat, semuanya memakai pakaian yang seragam bentuknya, baju dengan celana pendek warna hijau dan kepala ditutup dengan tudung lebar, sepintas lalu, dapat Lim Tiauw Kte menduga bahwa yang mereka sedang bawa adalah garam hasil buatan mereka. Lim Tiauw Kie memang mengetahui bahwa pada waktu itu pemerintah penjajah memungut cukai garam terlalu tinggi. Mereka biasanya bertindak kejam terhadap rakyat jelata dan menentukan hukuman yang berat bagi para pedagang garam yang coba-coba tidak memenuhi peraturan membayar pajak, itu sebabnya walaupun rakyat setempat merupakan penghuni dekat pantai laut, namun mereka tak sanggup membeli garam yang harganya menjadi terlalu mahal. Selama memperhatikan para pemikul garam itu, Lim Tiauw Kie yakin bahwa yang mereka angkut itu merupakan garam gelap dalam artikata tidak membayar pajak, Dan yang lebih menarik perhatiannya adalah pikulan yang digunakan oleh para pemikul garam Itu. Nampaknya pikulan itu bukan dibuat dari bahan kayu ataupun bambu, tetapi dari benda logam yang berat dan berwarna hitam. Beban yang mereka pikul masingmasing tidak kurang dari tiga ratus kati beratnya, namun mereka dapat berjalan dengan cepat bagaikan sedang mengangkut beban ringan, dan dalam waktu yang singkat mereka telah melewati tempat Lim Tiaw Ki berdiri mengawasi. Jelas mereka semuanya memiliki tenaga besar, bahkan rata-rata mempunyai kepandaian ilmu silat dan ringan tubuh yang mahir. Terbukti dengan cara mereka ber jalan yang cepat luar biasa, tampak ringan meskipun mereka membawa beban pikulan yang berat. Pada waktu itu di daerah Kanglam memang telah didengar oleh Lim Tiauw Kie, tentang adanya perkumpulan Hay-see pay (Persekutuan Pasir Laut) yang biasa melakukan perdagangan garam gelap. Mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar di kalangan masyarakat setempat, sedangkan para anggotanya memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi. Namun demikian merupakan kejadian yang luar biasa, apabila rombongan lebih dari dua puluh orang anggauta itu beramai-ramai melakukan perjalanan sambil memikul garam gelap. Jelas merupakan suatu tantangan terhadap para petugas atau tentara penjajah, karena mereka tidak takut akan diperiksa dan di tangkap. Selama melakukan petualangannya di kalangan rimba persilatan, Lim Tiauw Kie memang terkenal gemar melakukan penyelidikan terhadap kawanan penjahat yang kemudian dibasminya, Akan tetapi oleh karena waktu itu ia sedang tergesa-gesa melakukan perjalanan pulang, maka ia bergegas meneruskan perjalanan dan sengaja dengan cepat ia melombai rombongan pemikul garam itu yang berbalik menjadi heran menyaksikan gerak tubuh Lim Tiauw Kie yang sangat ringan dan pesat sehingga mereka mau tak mau menjadi curiga. Mendekati waktu magrib Lim Tiauw Kie tiba di sebuah kota kecil yang cukup-ramai, yakni kota Am-tong tin di wilayah Gieyauw koan. Oari kota kecil itu, setelah menyeberang sungai Cian-tong kwan ia akan tiba di kota Lim-an dengan mengambil arah sebelah barat laut, Sesudah melewati propinsi Kany-say dan Ouw-lam, barulah ia tiba di kota Leng-lam, Di kota kecil Am-tong tin itu Lim Tiauw Kie memilih tempat bermalam di sebuah rumah penginapan yang cukup ramai . Sesudah makan malam dan selagi Lim Tiauw Kie hendak beristirahat dan tidur, ttba-tiba ia mendengar suara dari beberapa orang yang ingin menyewa kamar, Mendengar lidah Ciat-kang Timur dan suara orang-orang itu yang nyaring luar biasa, maka Lim Tiauw Kie membuka pintu kamarnya dan melihat ke luar. Ternyata orang-orang itu bukan lain dari para pemikul garam siang tadi. Lim Tiauw Kie menutup lagi pintu kamarnya, dan beristirahat tanpa menghiraukan para tamu tadi yang melakukan pembicaraan dengan suara bising. Tetapi ditengah malam dan selagi suasana sunyi senyap, mendadak ia mendengar suara yang tidak wajar di luar kamar-nya. Menyusul kemudian terdengar suara dari beberapa orang yang melakukan pembicaraan dengan suara perlahan.
"Awas, kita jangan membuat kaget tamu yang di kamar sebelah, sehingga mengakibatkan terjadi banyak urusan."
Pintu kamar di sebelah kemudian terdengar ditutup orang, dan sejumlah orang-orang itu terdengar keluar menuju pekarangan rumah penginapan, Lim Tiauw Kie merasa penasaran dan curiga, lalu mengintai lewat jendela kamarnya, Sempat dilihatnya rombongan pemikul garam itu sedang keluar dengan melompati tembok pekarangan.
Anehnya, di tengah malam buta mereka pergi dengan melewati tembok namun tetap membawa-bawa beban yang mereka pikul .
Untuk sesaat Lim Tiauw Kie terdiam mengawasi dengan hati kian bertambah curiga.
"Entah perbuatan apa yang hendak mereka lakukan, dan apakah beban yang mereka pikul memang berupa garam?"
Pikirnya didalam hati.
Karena merasa curiga, maka Lim Tiauw Kie segera membekal senjatanya yang berupa sebuah golok dan tak lupa membawa bekal kantong senjata rahasia, Setelah itu ia keluar lewat jendela kamar, untuk kemudian melompati tembok pekarangan seperti yang di lakukan oleh rombongan penjual garam gelap tadi.
Setelah berada di luar rumah penginapan, Lim Tiauw Kie mendengar suara langkah kaki yang menuju kearah Timur laut.
Tanpa ragu-ragu Lim Tiauw Kie lalu bergegas menyusul, dengan mengerahkan ilmu ringan tubuhnya yang telah mencapai batas kemampuannya.
Suasana malam nampak hitam kelam, karena tiada bintang bahkan tertutup awan tebal.
Lim Tiauw Kie meneruskan pengejarannya sampai kemudian ia melihat rombongan orang-orang itu yang bergerak cepat dan ringan, meskipun mereka tetap memikul beban yang nampak berat.
Mungkinkah mereka benar-benar penjual garam gelap, ataukah mereka merupakan rombongan kawanan penjahat yang bermaksud merampok?
Karena rasa curiganya itu, maka Lim Tiauw Kie semakin bertekad hendak mengetahui entah apa yang hendak dilakukan oleh rombongan orang-orang itu.
Hampir setengah jam lamanya mereka melakukan perjalanan tanpa Lim Tiauw Kie mengetahui entah kemana tujuan mereka, sementara orang-orang yang berlari-lari di sebelah depannya, tidak menyadari adanya seseorang yang sedang membayangi perjalanan mereka.
Pada kesempatan berikutnya mereka tiba di sebuah jalan yang berdampingan dengan pantai laut, di mana gelombang terdengar menderu-deru mendampar pantai.
Kemudian secara mendadak pemimpin rombongan orang-orang yang bergerak di sebelah depan Lim Tiauw Kie nampak menghentikan langkah kakinya, lalu secara tiba-tiba pula ia bersuara membentak.
"Siapakah itu yang sedang bersembunyi ?"
"Apakah kalian dari Hay-see pay?"
Balas tanya suara seseorang yang berlindung ditempat gelap.
"Benar! siapakah anda?"
Sahut pemimpin rombongan yang mengaku dari Hay see pay itu.
"Sebaiknya kalian jangan mencampuri urusan golok Soenlui to!"
Kata orang yang berlindung di tempat geIap.
Suaranya mengandung nada memperingatkan secara menghina.
(Soen-lui to -Golok haliIintar).
Pemimpin rombongan Hay-see pay itu nampak terkejut, tetapi ia berusaha tenangkan diri dan bertanya lagi.
"Apakah anda juga datang untuk urusan golok itu?"
Orang itu tertawa mengejek, ia tidak memberikan jawaban.
Mendengar suara tawa itu, diam-diam Lim Ttauw Kie menjadi sangat terkejut, Suara itu sukar dilukiskan, namun yang jelas sangat menusuk telinga.
Tanpa terasa Lim Tiauw Kie semakin maju mendekati, ingin melihat lebih tegas meskipun secara bersembunyi.
Dengan matanya yang terlatih di tempat gelap, maka disaat berikutnya ia melihat bahwa laki-laki yang menghadang itu memiliki potongan tubuh kecil dan kurus.
Muka orang itu tak dapat ia lihat karena sedang menghadap ke arah lain, dan laki-Iaki itu dilihatnya memegang sebatang tongkat.
pakaiannya terdapat bintik-bintik terang karena agaknya pakaian itu sengaja di hias dengan sulaman dan kancing kancing yang mengkilat.
"Golok Soen-lui to adalah milik partai kami, yang telah hilang dicuri orang,"
Kata lagi si pemimpin Hay-see pay.
"OIeh karena itu, adalah wajar kalau kami berusaha untuk mendapatkannya kembali."
Laki-laki kurus itu kembali tertawa secara menghina, dan tetap memegat di tengah jalan.
Salah seorang anggauta rombongan yang berada di sebelah belakang si pemimpin, habis sabar dan membentak dengan suara keras.
"Minggir! Dengan memegat rombongan kami, kau sengaja mencari ..."
Akan tetapi belum lagi orang itu sempat menyelesaikan perkataannya mendadak ia berteriak secara menyayat dan jatuh terjengkang ke sebelah belakang, Semua kawan
KANG ZUSI WEBSITE
http.//cerita-silat.co.cc/ *** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )*** kawannya terkejut, namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu maka laki-laki yang memegat itu dengan pesat telah menghilang dari tempat itu yang gelap.
Para anggauta Hay-see pay menjadi terkejut dan gusar, karena seorang kawannya yang jatuh tadi telah binasa dengan tubuh meringkuk, Beberapa di antaranya segera melepaskan pikuIan mereka untuk mengejar si penyerang tadi, tetapi orang itu dengan gerakannya yang pesat telah menghilang di kegelapan malam.
Lim Tiauw Kie ikut merasa terkejut dan heran, entah senjata rahasia jenis apa yang digunakan oleh si penyerang tadi yang dapat membunuh seseorang dengan tangan maupun tubuh tidak bergerak.
"Aku berada cukup dekat tetapi tak melihat orang itu bergerak, namun mangsanya roboh terjengkang dan binasa!"
Kata Lim Tiauw Kie didalam hati, ia terus bersembunyi di tempatnya, di balik sebuah batu besar, selagi orang orang Hay-see pay itu sedang marah-marah.
"Untuk sementara waktu biarlah kita tinggalkan saja jenazah Han Sin di sini, sebaiknya kita selesaikan dulu urusan kita yang lebih penting,"
Akhirnya kata si pemimpin rombongan.
"Kelak kita kembali ke sini untuk mengurus jenasahnya, dan menyelidiki entah siapa gerangan musuh itu."
Semua kawan-kawannya dengan terpaksa menyetujui usul itu, mereka memindahkan jenasah Han Sin ke tepi jalan lalu mereka meneruskan perjalanan sambil memikul barang bawaan mereka.
Setelah rombongan itu pergi cukup jauh, Lim Tiauw Kie mendekati jenasah Han Sin, Dari tanda-tanda pada tubuhnya, ia memperoleh kesimpulan bahwa Han Sin binasa terkena sejenis racun yang dahsyat.
Oleh karena itu selama meneliti, Lim Tiauw Kie tidak berani menyentuh tubuh Han Sin supaya tidak terkena racun.
Untuk sesaat ia terdiam berpikir, setelah itu kembali ia mengejar rombongan orang-orang Hay-see pay,Setelah lewat beberapa li jauhnya, Lim Tiauw Kie berhasil mendekati lagi rombongan itu, namun secara mendadak dilihatnya mereka berpencar selagi mendekati sebuah bangunan yang cukup besar dan yang letaknya di sebelah timur Iaut.
"Apakah golok halilintar yang mereka cari berada di dalam rumah itu?"
Pikir Lim Tiauw Kie didalam hati.
Diatas wuwungan bangunan rumah itu kelihatan ada cerobong asap, dimana asap hitam nampak mengepul keluar menandakan bahwa di rumah itu pasti ada penghuninya.
Rombnngan orang-orang Hay-see pay itu meletakkan pikulan mereka di tanah, lalu masing-masing mengeluarkan sendok kayu besar yang mereka gunakan untuk menyendok garam dari dalam keranjang bawaan mereka, Garam itu kemudian mereka taburkan di sekeliling bangunan rumah itu, yang dari jauh nampak bagaikan tumpukan salju yang putih warnanya, jelas perbuatan mereka tidak dimengerti oleh Lim Tiauw Kie.
Entah apa maksud mereka melaburkan garam seperti itu, bukankah harga garam yang mahal menjadi dibuang sia-sia belaka?
Pada waktu menyebarkan garam, orang-orang Hay-see pay itu nampak sangat berhati-hati.
Mereka agaknya seperti khawatir garam itu menyentuh tangan dan tubuh mereka, sehingga sekilas terpikir oleh Lim Tiauw Kie kalau kalau garam itu mengancung racun.
"Kalau benar garam itu mengandung racun, jelas akan membahayakan penghuni rumah itu,"
Pikir Lim Tiauw Kie di dalam hati.
Dan naluri hatinya tidak membenarkan perbuatan seseorang yang menggunakan racun, yang dianggapnya sebagai perbuatan kaum pengecut!
Oleh karena berpikir demikian, maka Lim Tiauw Kie merasa perlu untuk memberitahukan penghuni rumah itu, supaya mereka entah siapapun adanya, tidak terperangkap oleh perbuatan orang-orang Hay-see pay yang dianggapnya telah melakukan perbuatan pengecut.
Dengan jalan memutar Lim Tiauw Kie menuju ke belakang bagian rumah, lalu dengan melompati tembok halaman ia memasuki pekarangan yang besar dan iuas, dimana terdapat lima bangunan lain karena ternyata rumah itu memiliki sangat banyak kamar-kamar, namun semuanya nampak gelap dan sunyi, meskipun Lim Tiauw Kie merasa yakin ada penghuninya, mengingat cerobong asap yang tetap kelihatan mengepul mengeluarkan asap hitam.
Secara berhati-hati dan tanpa mengeluarkan suara, Lim Tiauw Kie mendekati bangunan rumah yang terdapat cerobong asap, tetapi ketika ia tiba dibagian belakang pekarangan maka ia menjadi sangat terkejut karena menemukan dua mayat manusia yang menggeletak di tanah.
Dua mayat itu merupakan laki-laki, yang seorang mengenakan pakaian imam, sedangkan yang satunya seperti seorang petani.
Usia mereka sudah cukup lanjut, sudah lebih dari setengah abad.
Wajah muka mereka kelihatan menyeramkan, seperti mengalami derita sakit yang hebat sebelum mereka menemui ajal, Namun demikian pada tubuh mereka tiada nampak bekas bekas luka.
Tanpa menyentuh kedua mayat itu, Lim Tiauw Kie memasang obor dan mulai memasuki bagian dalam yang gelap gulita, juga kamar-kamar tidak terdapat penerang sama sekali.
Di dalam ruangan ini kembali ia menemukan tidak kurang dari dua puluh orang yang telah menjadi mayat.
Dilihat dari pakaian dan senjata-senjata yang berserakan di lantai, jelas bahwa mereka semua terdiri dari orang-orang yang pandai ilmu silat, tetapi pada semua mayat itu tak satu pun yang nampak cedera luka atau terkena sesuatu pukulan tenaga dalam.
Besar kemungkinan mereka semua adalah korban keracunan yang ganas.
perbuatan siapakah gerangan?
Dengan langkah kaki yang semakin berhati-hati, Lim Tiauw Kie meneruskan lagi penyelidikannya memasuki ruangan lain, sampai tiba-tiba ia merasakan menyambarnya hawa yang sangat panas.
Di bagian tengah dari ruangan itu ternyata terdapat sebuah tungku atau tempat perapian yang besar, dengan api yang berkobar-kobar menjilat-jilat ke sebelah atas dan menerbitkan suara yang cukup bising.
Dekat tungku yang besar itu nampak tiga orang Iaki-laki yang sedang meniup api dengan mengerahkan tenaga dalam (lweekang) sedang diatas tunggu menggeletak sebatang golok yang sedang di panggang.
Karena amat panasnya tekanan suhu api, sinarnya nampak berubah-rubah antara merah dan hijau, sedangkan sinar dari golok itu tetap nampak putih berkilat menyatakan tidak menjadi lumer terkena suhu api yang sedemikian besarnya, dan entah sudah berapa lama di panggang.
Asap hitam yang nampak keluar dari cerobong rumah, jelas berasal dari tungku itu!
Ketiga orang yang sedang meniup api yang berkobar-kobar itu, rata-rata berusia kurang lebih enampuluh tahun dan mereka semuanya memakai jubah warna hijau, Muka mereka penuh peluh bercampur debu, dan jubah mereka banyak yang berlubang akibat terkena percikan api, Diatas kepala mereka mengepul uap putih -selagi mereka meniup api sambil mengerahkan tenaga dalam.
Api itu menjilat keatas kira-kira lima kaki tingginya dan menggulung golok yang berkilauan itu .
Lim Tiauw Kie menyadari bahwa ke tiga orang itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.
Dengan berdiri di tempat yang cukup jauh terpisah dari tungku itu, ia sudah merasakan hebatnya hawa panas, sehingga dapatlah di bayangkan panasnya hawa yang menyambar ketiga laki-Iaki tua itu yang berdiri di dekat tungku.
Tetapi anehnya biarpun digulung api yang bersinar hijau, golok itu masih tetap utuh dan warnanya tidak berubah sama sekaIi.
Mendadak diatas genteng terdengar suara membentak.
"Berhenti! Merusak golok mustika itu adalah merupakan dosa besar!"
Lim Tiauw Kie menjadi sangat terkejut, karena ia mengenali suara itu adalah suara orang yang tadi memegat rombongan orang-orang Hay-see pay dan yang telah membinasakan salah seorang diantaranya.
Akan tetapi ketiga laki-laki yang sedang meniup api itu tidak menghiraukan, mereka berlaku seperti tidak mendengar apa-apa bahkan mereka meniup api semakin cepat.
Kemudian, hampir berbareng dengan terdengarnya suara tertawa, suatu bayangan yang bersinar emas berkelebat dan dilain detik bagaikan jatuhnya sehelai daun kering, laki-laki kurus yang pakaiannya penuh dengan kancing mengkilat telah berdiri ditengah ruangan itu.
Dengan bantuan sinar api, Lim Tiauw Kie dapat melihat dengan nyata wajah muka orang itu, Ternyata ia adalah seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh tahun, bermuka tampan tapi agak pucat, sulaman benang emas di jubahnya yang sangat indah merupakan gambar-gambar singa, harimau dan bunga bunga.
Dengan sikapnya yang tenang dan tanpa bersenjata, ia berkata dengan suara dingin.
"Hing-san Sam-kiam, mengapa kalian hendak merusak senjata mustika itu? Apa maksud perbuatan kalian?"
Salah seorang dari ketiga Hing-san Sam-kiam atau tiga jago pedang dari gunung Hing-san, mementang lima jari tangannya menyerang muka pemuda pendatang baru itu, Tetapi pemuda itu berkelit menghindar, dan kian maju untuk mendekati Si kakek yang berada di sebelah timur dengan cepat meraih sebuah palu yang terletak ditepi tungku, yang digunakan untuk menghantam kepala si pemuda.
Tetapi gerakan pemuda itu amat gesit luar biasa, Dengan sekali miringkan badan, kembali ia berhasil menghindar dari serangan kedua.
Palu itu menghantam tempat kosong dan jatuh di lantai dengan menghamburkan lelatu anak api.
Ternyata batu lantai merupakan batu gunung yang sangat keras.
Orang ketiga dari Hing-san Sam-kiam segera ikut menyerang dengan kedua tangan yang jari-jarinya dipentang seperti cakar ayam, ia menyerang secara nekat dengan pukulan yang membinasakan, membuat Lim Tiauw Kie menjadi heran, menganggap Hing-san Sam Kiam pasti menyimpan dendam membara terhadap pemuda pendatang baru itu, yang mengakibatkan tiga jago pedang dari gunung Hing-san itu bertindak kejam!
Tetapi kepandaian pemuda itu ternyata sangat luar biasa, walaupun di serang hebat, ia masih dapat bersenyum dan melayani dengan sikap acuh.
setelah bertempur beberapa jurus, si kakek yang bersenjata palu membentak.
"Siapa tuan? Mengapa anda menghendaki golok mustika? Harap beritahukan nama anda!"
Pemuda itu tidak memberikan jawaban, sebaliknya ia tertawa secara menghina, Tubuhnya tiba-tiba berputar dan segera terdengar suara "krak-krek"
Dan si kakek yang disebelah timur terbang ke atas, menghantam dan menjebolkan atap rumah sedangkan si kakek jatuh di pekarangan luar!
Kakek yang bersenjata palu menyadari lawan mereka sangat tangguh, ia meraih sebuah jepitan api yang tadi digunakan untuk menjepit golok Soen-lui to yang sedang dipanggang, ia menunggu kesempatan untuk menimpuk pemuda itu, yang sedang diserang oleh rekannya.
Akan tetapi gerak pemuda itu sangat gesit, Ketika melihat si kakek mengangkat jepitan api yang ingin di lontarkan, maka dengan suatu lompatan ia berhasil menendang lengan si kakek dan merebut jepitan yang terlepas dari tangan si kakek, Dengan jepitan itu kemudian ia menjepit golok Soen-lui to yang sedang di panggang.
Si kakek menjadi sangat terkejut, secara nekat ia merebut dengan meraih gagang golok yang sangat panas itu.
Begitu tangan si kakek mencekal, uap putih mengepul keatas dan semua orang menciup bau daging terbakar.
Tapi kakek itu bagaikan tidak merasakan sakit maupun pedih, dengan sepasang mata membelalak ia tetap memegang gagang golok Soen-lui to yang sangat panas bekas di panggang.
Kemudian dengan suatu gerak yang ringan ia lompat ke sebelah belakang, berusaha kabur meninggalkan ruangan itu dengan membawa golok Soen-lui to!
Pemuda yang menjadi lawannya kembali perdengarkan suara tawa menghina, sambil ikut bergerak dengan suatu lompatan hendak meraih punggung si kakek.
Orang tua itu membalik tubuh dan mengangkat golok Soen-lui to, membuat hawa yang sangat panas mendahului menyambar si pemuda yang menjadi sangat terkejut, Tetapi kedua tangannya kemudian mendorong si kakek, membuat tubuh si kakek bagaikan terbang kearah mulut tungku yang apinya masih menyala!
Lim Tiauw Kie yang sejak tadi mengawasi perkelahian mereka, sebenarnya tak ingin mencampuri.
Tetapi akhirnya ia tak sampai hati membiarkan si kakek terbakar hidup-hidup didalam tungku, Oleh karena itu dengan suatu lompatan yang indah, yakni dengan menggunakan ilmu "Tee-in ciong"
Atau lompatan awan tangga, maka ia berhasil meraih rambut si kakek yang kemudian diangkatnya dan hinggap di lantai.
Akan tetapi si kakek yang tetap memegang golok yang panas, mendadak memutar tubuh lalu menyerang Lim Tiauw Kie yang sama sekali tidak menduga.
Untuk menolong diri, cepat-cepat Lim Tiauw Kie lompat ke atas, sedangkan si kakek menggunakan kesempatan itu untuk lari ke sebelah belakang, sambil memutar-mutarkan golok Soen-lui to dan berteriak seperti orang gila!
Dua kakek yang lainnya, demikian pula pemuda yang menjadi lawan mereka, tak berani merintangi dengan kekerasan-menyisi membiarkan si kakek yang membawa golok melarikan diri, akan tetapi kemudian mereka mengejar sambil berteriak.
Lim Tiauw Kie ikut mengejar dan ia bahkan berhasil mendahului ketiga orang itu, akan tetapi si kakek yang mengetahui dirinya dikejar, mendadak berteriak secara histeris lalu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk lompat ke luar dari pintu depan.
Akan tetapi ketika sepasang kakinya menyentuh tanah di halaman luar, maka secara mendadak ia roboh terguling sambil berteriak kesakitan bagaikan menderita luka parah.
Dua kakek yang ikut mengejar bersama si pemuda tadi, ikut lompat ke luar halaman dan mereka pun segera roboh terguling-guling sambil perdengarkan teriak suara kesakitan, Si pemuda yang nampaknya memiliki ilmu lebih tinggi, masih mampu lompat dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu, membiarkan ketiga kakek itu masih bergulingan tak mampu bangun lagi.
Menyaksikan kejadian yang sangat luar biasa itu, Lim Tiauw Kie bermaksud memberikan pertolongan Akan tetapi mendadak ia teringat dengan garam mengandung racun yang di sebarkan oleh orang-orang Hay-see pay, dan menyadari racun itu pasti hebat luar biasa.
Ia tahu bahwa disekitar gedung itu telah dikurung dengan garam yang mengandungracun, sehingga ia sendiripun tak tahu bagaimana harus meIoloskan diri.
Untuk sesaat ia berdiri diam dan berpikir, kemudian ia meIihat adanya dua kursi tinggi di samping pintu.
ia memperoleh pikiran untuk menggunakan kedua kursi itu sebagai landasan.
Dengan cara itu ia berhasil menjambret punggung si kakek yang memegang golok Soen-lui to, untuk kemudian ia lompat sambil menjinjing si kakek dan melarikan diri secepatnya ke jurusan timur.
EPISODE I SENJA HARI itu nampak guram dan lembab.
Hujan rintikrintik turun sejak pagi, sementara angin meniup cukup keras kemudian naik turun bagaikan gelombang pasang.
Tanah lembab yang tergeliat di depan gunung Boe-tong san sunyi senyap.
perkampungan mati tiada bernapas.
Penduduk tiada seorang pun yang nampak keluar dari rumah mereka.
Dalam keadaan demikian, nampaklah lima penunggang kuda berlari-Iari menyeberangi sungai berlumpur.
Mereka tidak menghiraukan licinnya jalan, dinginnya cuaca maupun hujan yang turun rintik-rintik.
Kuda yang berada paling depan membawa seorang kanak-kanak berusia kira-kira sepuIuh tahun.
Ia berpakaian serba ringkas, pada pelana kudanya tampak tergantung sebatang pedang pendek.
Yang berada di belakangnya adalah seoranq gadis remaja berusia kira-kira Iimabelas tahun.
Mukanya cantik, tubuhnya nampak Iangsing walaupun ia sedang menunggang kuda.
Namun demikian wajah yang cantik itu bermuram duka dan kuyu.
Jelas sekaIi ia menderita suatu keletihan luar biasa.
Rambutnya kusut setengah terurai, pakaiannya yang dikenakannya basah kuyup dan bercampur lumpur.
Lengan kirinya terbaIut dengan sehelai kain sutera yang ditembusi darah kentaI.
Penunggang kuda yang ke tiga tidak jelas jenis pakaiannya, karena penuh Iumpur melebihi keadaan gadis remaja yang berada di sebelah depannya.
Ia merupakan seorang pemuda yang gagah dan tampan, usianya kira-kira sudah mencapai dua puluh tahun.
Pandangan sepasang matanya, memancarkan suatu keberanian tersembunyi.
Terpisah agak jauh di sebelah belakang mereka, berderap dua ekor kuda yang saling susul .
Yang pertama ditunggangi oleh seorang wanita setengah baya.
Alis matanya melengkung melindungi sepasang matanya yang tajam.
Pandang wajahnya muram luar biasa penuh duka yang berlarat.
Lehernya terbungkus sehelai kain sutera berwarna kelabu, sementara darah nampak menembusi lipatan pembalutnya yang tebal, jelas bahwa ia baru saja menderita lupa yang agak parah.
Kudanya dijajari oleh seorang laki laki berusia limapuluh tahun lebih.
Laki-Iaki ini bertubuh singsat dan cekatan, ia membekal sebilah pedang terhunus dan kerapkali menoleh ke sebelah belakang, seperti khawatir dengan adanya seseorang yang mengejar atau mengikuti perjalanan mereka.
Kadangkala ia melambatkan kudanya sambil menebarkan pengIihatannya.
Ia memiliki sedikit jenggot pendek, dan rambutnya yang tidak teratur nampak sudah beruban, walaupun demikian, jika dibanding dengan keempat penunggang kuda yang lainnya, dialah yang nampak gesit dan segar bugar.
Pandang matanya tajam luar biasa, tetapi mengandung air mata yang membasahi kelopak, Kedua belah pipinya tergores empat luka memanjang, dua diantaranya adalah goresan luka baru.
Dari cara mereka berlima melarikan kuda mereka, mudah ditebak bahwa mereka sedang melarikan diri dari suatu peristiwa.
Kuda tunggang merekapun nampak letih sekali.
Sementara itu cuaca senjahari itu makin mendekati petang yang muram dan hujan rintik-rintik kian menjadi deras, mereka cepat-cepat menikungi jalan pegunungan, seberangmenyerang jalan itu nampak menghadang jurang yang daIam dan banyak tanaman Iiar.
Laki-laki beruban yang berada di sebelah belakang tibatiba menghentak tali kendali sehingga kudanya terkejut berjingkrak, Lallu menyusul kuda wanita setengah baya yang sedikit berada di sebelah depannya ikut menghentikan kudanya.
"Lan-moay. Kalau terus-terusan kita melakukan perjalanan seperti ini, maka kita akan mati kecapaian. Memang tak apa kalau kita mati di tengah perjalanan, tetapi bagaimana dengan ketiga anak-anak kita? Marilah kita beristirahat sebentar!"
Kata laki-laki itu kepada yang wanita.
"Nanti malam kita melanjutkan perjalanan, dan selanjutnya kita serahkan nasib kita kepada Tuhan. Bagaimana lukamu?" (Lan-moay = adik Lan). Sehabis berkata demikian, kedua kelopak mata laki-laki itu basah dengan air mata. ia sangat berduka, hatinya bagaikan tersayat-sayat. Lalu ia menangis terisak, Untung angin meniup kencang, sehingga suara tangisnya terendap dari pengamatan pendengaran. Lie Lan Hwa, wanita setengah umur yang bermuka muram itu atau istri dari laki-laki yang beruban, berusaha untuk bersenyum, sahutnya lembut.
"Tidak apa-apa, kau tak perlu resah hati, inilah luka ringan yang tiada artinya sama sekali. Kulitku hanya lecet sedikit, Hanya ... yang kucemaskan adalah luka... eh, lengah Siu Lan. Nampaknya ia menderita luka berat. Lengannya seperti terkulai ..."
Tetapi luka yang diderita oleh Lie Lan Hwa sebenarnya parah.
Senjata yang melukai lehernya tidak hanya melecet kulit belaka, tetapi menembus hampir satu senti.
Urat nadinya nyaris terancam, seseorang yang menderita luka seperti itu, sebetulnya tidak boleh bergerak terlalu banyak, sebaliknya senjahari itu ia berada di atas kudanya mengarungi badai hujan tiada hentinya.
Thio Siu Lan, anak gadis mereka yang berada di sebelah depan, agaknya mendengar keluh kesah ibunya, ia berpaling, Katanya dengan nada riang.
"Ayah, jangan dengarkan ibu. Lenganku tak kurang suatu apa."
Ia tersenyum, namun dua tetes air mata jatuh ke pelana kudanya, Jelas, ia bersama ibunya sedang berusaha menghibur dan membesarkan hati laki-laki beruban itu.
"Siu Lan, janganlah kau membohongi ayahmu! Lukamu itu ..."
Laki-laki beruban itu tak dapat menyelesaikan kata-katanya, karena Siu kan telah berkata lagi.
"Ayah! Benar-benar aku tak kurang suatu apa, Lihatlah ! "
Ia menunda bicara dan mengertak gigi, kemudian mengangkat lengannya yang tadi nampak terkulai, Katanya nyaring.
"Sekarang sama sekali tak terasa sakit."
Akan tetapi begitu tangannya terangkat, suatu rasa nyeri luar biasa menggigit jantungnya.
Peluh dingin membasahi jidat dan tengkuk Siu Lan.
Cepat-cepat ia membuang mukanya, lalu memacu kudanya sambil menurunkan lengannya dengan hatihati.
Kedua orang tuanya bermata tajam dan berperasaan halus, dengan sekilas pandang tahulah mereka, bahwa putrinya sedang menanggung suatu derita yang mengancam.
Apabila lengan yang terluka itu tidak segera memperoleh perawatan yang baik, Siu Lan bisa cacat seumur hidupnya.
Karena sangat berduka, laki-laki beruban itu mendongak ke udara suram, lalu berkata seorang diri.
"Hm. Kata orang, aku Thio Kim San adalah seorang ahli pedang murid ke-tiga Tie Kong Tianglo dari Boe tong pay, selamanya tak pernah aku merasa malu terhadap bumi dan Iangit yang melindungi diriku. Melihat ke kiri aku berbesar hati, melihat ke kanan aku berbangga hati. Memandang ke depan tiada rasa segan, menoleh ke belakang tiada rasa kecewa. Kenapa kini ... Ya, Tuhan mengapa kini kami sampai menjadi begini ? Kenapa aku harus membuat anak-istriku tersangkut dalam urusan hidupku sehingga mereka harus pula mengikuti kesengsaraanku yang terpaksa merantau dari tempat ke tempat sekian bulan lamanya? Ya, Tuhan. Berilah kami cerahMu..."
Lan Hwa menahan kendali kudanya, mendekati suaminya, Setelah lari berjajar, ia menekap lengan kirinya. Katanya secara lembut.
"Suamiku, janganlah kau terlalu berduka memikirkan kami. Manusia yang suci bersih pasti akan memperoleh berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, Memang keluargamu lagi menjadi korban suatu fitnah, kabut gelap menutupi penglihatannya Akan tetapi sebentar atau lambat laun latar belakang peristiwa ini pasti akan tersingkap, Sabarlah untuk beberapa hari lagi, apabila kita telah bertemu dengan Tay-soehoe, semuanya pasti akan menjadi beres seperti sediakala."
Thio Kim San menggeleng-gelengkan kepalanya, Dengan sedih ia berkata.
"Hari ini genap sudah seratus enampuluh hari kita melintasi air, menerobos rimba dan ladang belukar serta mendaki gunung. Tetapi tetap saja kita dikejar-kejar . Selama seratus enam puluh hari, belum pernah kita beristirahat barang sekejab, Alangkah sakit dan pedihnya hatiku, Lan-moay. Tak usahlah engkau menutupi kenyataan! Segenap lapisan orangorang gagah di kalangan rimba persilatan ingin membekuk aku, berikut kau dan ketiga anak kita, Hidup ataupun mati. Kalau hal itu sudah terlaksana, barulah mereka mau menyudahi segalanya, walaupun aku memiliki lidah, namun sulit bagiku untuk memberikan penjelasan kepada mereka."
"San-ko, janganlah kau terlalu bersedih hati. Salah paham ini pasti ada akhirnya, Tuhan Maha Adil, dan masih cukup panjang waktunya, Tak perlu kita tergesa-gesa." (San-ko = kakak San). Thio Kim San menatap muka istri-nya, ia melihat kain sutera yang melihat di leher istrinya itu, yang sekarang semua lipatannya telah menjadi merah. Suatu bukti bahwa darah masih saja mengalir keluar, sehingga Thio Kim San menjadi malu kepada dirinya sendiri. Dia yang terkenal sebagai seorang pendekar pedang, ternyata kini tak mampu melindungi istrinya sendiri! "Kita telah berlari-lari sepanjang malam sampai sekarang,"
Katanya sambil menarik napas.
"Sebaiknya kita beristirahat sebentar, Aku mengharap kita dapat mencapai tujuan besok pagi."
Dengan lemah Lan Hwa manggut dan berkata.
"Benar, Kita perlu memulihkan tenaga. Kurasa nanti malam kita tidak mempunyai kesempatan untuk beristirahat selain itu kita perlu merawat lukanya Siu Lan. Akh, kasihan anak-anak kita yang tidak berdosa dan yang tidak tahu-menahu tentang peristiwa ini. Mereka ikut menanggung derita."
Bukan main sedihnya Thio Kim San yang diingatkan perkara itu, dengan hati bergetar ia berkata.
"Lan-moay. Kini aku menyadari bahwa aku tak pantas menjadi suami dan ayah dari ketiga anak-anak kita, Aku tak sanggup memberikan perlindungan kepada kalian."
"Jangan kau menyesali diri sendiri, San-ko."
Bujuk Lan Hwa.
"Siapa saja pasti tak akan sanggup menghadapi lawan yang jumlahnya sekian banyaknya. Mereka dapat bertempur secara bergantian, sebaliknya engkau? sebenarnya, akulah yang mengakibatkan terjadinya peristiwa ini. Aku istrimu yang telah membuka suatu rahasia, karena kebodohan dan kecerobohan, sebetulnya akulah yang harus mati!"
Sekali lagi Thio Kim San mendongak ke udara, dan sekali lagi ia menarik napas panjang, Lalu melepaskan pandang jauh ke sebelah sana, dan tiba-tiba berkata setengah berseru.
"Hey! Bukankah itu sebuah rumah? Mari kita ke sana untuk beristirahat sebentar, Kita perlu berteduh, agar tidak kemasukan angin jahat dan terhindar dari dingin hujan!"
Setelah berkata demikian, Thio Kim San memacu kudanya.
ia mendahului dan memimpin rombongannya menuju ke rumah itu.
istrinya segera mengikuti dengan memacu kudanya pula, disusul oleh ke tiga anak-anak mereka yang berada di sebelah belakang.
Rumah yang berada di sebelah depan mereka sebenarnya bukan rumah tinggal seseorang, melainkan tempat penyimpanan padi yang kebenaran kosong tiada isinya, Pasti milik seorang berada, biasanya seorang kepala desa atau mungkin pula milik seorang Tuan tanah (okpa).
Ketika telah mendekati rumah itu, hujan terasa kian bertambah deras, Mereka tak menghiraukan derasnya hujan, sebaliknya yang mereka takuti justru adalah angin jahat yang menyusup ke dalam tubuh mereka.
Rumah yang ternyata merupakan tempat penyimpanan padi itu itu, berukuran kecil namun cukup bersih, Dindingnya yang dibuat dari bahan bambu cukup rapat, suatu tanda bahwa pemiliknya masih menggunakan tempat itu.
Thio Kim San segera lompat turun dari kudanya, lalu mendekati istrinya hendak membantu turun, Akan tetapi istrinya malahan melompat turun dari sisi lainnya, sambiI bersenyum dan berkata.
"San-ko, tak usah kau terlalu memperhatikan aku, sebaiknya kau bantu anak kita, Siu Lan."
Akan tetapi pada waktu itu Siu Lan telah melompat turun tanpa bantuan siapapun juga.
ia bahkan lari menghampiri ibunya, ketika melihat ayahnya sedang mendekati si bungsu Sin Houw.
Thio Sin Houw belum genap sepuluh tahun umurnya, masih merupakan seorang bocah namun ikut menderita bersama ayah dan ibunya merantau dari satu tempat ke tempat lainnya, Kehidupan demikian membuat dirinya lekas masak dan berkepribadian, penuh, wajahnya tidak nampak sinar berseri, karena kegembiraan masa kanak-kanaknya lenyap sehingga ia lebih mirip dengan seorang pemuda tanggung yang hendak menanjak dewasa.
Sementara itu Siu Lan telah ikut mendekati adiknya, Dengan sabar dan lembut ia berkata.
"Sin Houw, kau sedang memikirkan apa? Lihatlah, hujan kian deras."
Seperti orang yang tersentak, Sin Houw mengawasi kakak perempuannya, lalu ia menerima uluran tangan sang kakak sambil perlihatkan sedikit senyumnya, sahutnya ringan.
"Apa yang kupikirkan? Bukankah ayah hendak beristirahat?"
Siu Lan tertawa sedih. Katanya sekedar penghibur diri.
"Benar, Kuda kita sudah lelah, Sehari semalam kita berlarilari terus tiada hentinya. Kitapun agaknya perlu beristirahat juga."
Sambil berkata demikian, Siu Lan mengamat-amati adiknya.
Adik ini sudah setinggi pundaknya, Dahulu, dia masih perlu didukung secara bergantian Kini sudah mirip seorang pemuda tanggung.
Sementara itu Sin Houw juga sedang menatap wajah kakaknya.
Seperti berjanji, iapun sedang menaksir-naksir tinggi badannya, Lalu berkata.
"Cici, Satu atau dua tahun lagi, tinggi tubuhku akan melampaui tinggimu."
Siu Lan tertawa tawar. Sahutnya.
"Benar, adikku. Kau akan lebih tinggi dari aku. Setiap matahari terbit di langit, tinggi tubuhmu selalu bertambah dan bertambah, jangan jangan tinggi tubuhmu kelak akan sama seperti Kwan Kong!"
Sin Houw ikut tertawa, sementara kakaknya yang lelaki, Sin Han, ikut mendekati Dia seorang pemuda berusia mendekati duapuluh tahun.
Dengan tiba-tiba ia menyambar tali kendali kuda Sin Houw, sambil menyertai tawa ramah ia berkata.
"Hey! Apakah kalian hendak mandi hujan? Beristirahatlah bersama ayah dan ibu, mereka telah berada di dalam sedang menyalakan api."
Siu Lan bersenyum seperti lupa derita, dengan lembut dan penuh perasaan ia berkata.
"Justru kau yang paling lelah kali ini. Kita berdua dapat beristirahat dengan perlahan-lahan."
Sekali lagi Sin Han tertawa perlahan.
Memang benar perkataan adiknya yang perempuan itu, diantara anggauta keluarga dialah satu-satunya yang pakaiannya penuh lumpur sehingga warna pakaiannya tak dikenal lagi warnanya.
ia tidak dapat membantah perkataan adiknya, dari itu tanpa mengucap apa-apa ia membawa kelima ekor kuda ke ladang rumput yang berada di sebelah selatan.
Dan kuda-kuda itu nampak dengan lahap melalap rumputrumput itu, sedangkan Sin Han menemani tanpa menghiraukan derasnya curahan air hujan.
Kim San muncul di ambang pintu sambil menggeribiki pakaiannya.
Melihat putra sulungnya menunggu kuda-kuda mereka yang sedang makan rumput, ia lantas saja berseru.
"Sin Han! Tinggalkan saja kuda-kuda itu, kau perlu beristirahat!"
"Sebentar, ayah. Lebih baik ayah memeriksa luka Siu Lan dan ibu, aku dapat mengurus diriku sendiri,"
Sahut Sin Han.
Kim San terdiam sejenak dan berpikir, kemudian memutar tubuh sambil menarik napas, Perlahan-lahan ia memasuki tempat penyimpanan padi untuk mendekati istri dan kedua anaknya.
Memang sudah terbiasa, bahwa setiap kali mempunyai kesempatan untuk beristirahat selalu Sin Han yang mengurus kuda-kuda mereka, Karena kuda-kuda itu merupakan kaki dan tuIang-punggung keluarga, untuk dapat meneruskan perjalanan mereka.
Kalau sampai terjadi sesuatu, semuanya akan lumpuh.
Dan kelumpuhan berarti suatu ancaman bahaya sendiri.
itulah sebabnya, selama menempuh perjalanan tak pernah Sin Han melupakan kewajibannya yang satu itu.
Malahan kuda-kuda itu baginya jauh lebih berharga dari pada jiwanya sendiri.
Sementara itu Kim San duduk di sisi istrinya, di atas lantai papan tempat penampung padi.
perlahan-lahan ia melepaskan bungkusan yang selalu menggemblok di punggungnya, dan dari dalam bungkusan itu ia mengeluarkan makanan kering berikut bakpao dan lain sebagainya.
"Anak-anak, mari kita makan,"
Katanya.
"Kali ini mungkin merupakan perjalanan kita yang terakhir, Karena setelah kita bertemu dengan paman-gurumu Cia Sun Bie, kemudian kakek-gurumu, Tie Kong Tianglo, selanjutnya tiada lagi yang akan mengganggu kita."
Setelah berkata demikian, Kim San membuka juga dua tempat air minum, ia mengangsurkan kepada istrinya, sambil berkata lagi.
"lni merupakan suguhan terakhir bagimu, minumlah!"
Perlahan suaranya seperti orang membisik, kemudian dengan pandang lembut ia menatap muka Siu Lan. Katanya.
"Coba. Kuingin melihat lukamu."
"Akh, lukaku tidak parah,"
Sahut Siu Lan cepat.
"Lukanya ibu yang perlu ayah periksa."
Lan Hwa tertawa perlahan, dengan penuh kasih sayang ia berkata.
"Lukaku? Apakah arti lukaku ini? Aku sudah berusia tua, umpama kata luka ini tidak memperoleh pengobatan dan akan meninggalkan cacat seumur hidup, tidak akan banyak artinya, sebaliknya kau! Kau masih muda, baru belasan tahun umurmu, kalau lenganmu sampai cacat, kau akan menyesal seumur hidupmu, Akupun ikut menderita pula, kalau sampai terjadi demikian."
"Sudahlah! Kalian jangan saling bertengkar Obat lukaku cukup untuk menyembuhkan dua orang lagi."
Tukas Kim San. Setelah berkata demikian ia membuka pembalut luka istrinya di bagian leher, Luka itu masih mengeluarkan darah, hal itu membuat hatinya tercekat, Katanya di dalam hati.
"Hebat sabatan golok Cie-san Liong-ong Kwee Sun. Benar-benar ia merupakan musuh tangguh, sampai ia dapat melukai istriku, untunglah tidak sampai mengenai urat nadi ..."
Dan cepat-cepat ia menaburkan bubuk obat luka yang berwar kelabu.
"Sekarang giliranmu, anakku."
Katanya kemudian.
Siu Lan membuka pembalut lukanya sendiri.
Kemudian mengangsurkan lengannya kepada ayahnya.
Luka itu dideritanya tiga hari yang lalu, karena kurang rawatan dan kena air hujan bercampur debu, kini nampak diselipi nanah.
Melihat nanah itu, Kim San mengerutkan alis.
Katanya sambil menghela napas.
"Siu Lan, kalau terlambat dua hari lagi, pastilah lenganmu akan cacat. Kau... kau ..."
Kim San tidak meneruskan perkataannya, sebenarnya ia ingin mengatakan supaya Siu Lan merawat lukanya dengan cermat, akan tetapi akhirnya ia menyadari bahwa selama beberapa hari ini, hampir-hampir mereka tidak memperoleh kesempatan untuk beristirahat, apalagi untuk memeriksa dan mengobati luka, Musuh yang datang dari berbagai penjuru, menyerang secara bergelombang dan bergiliran.
itulah sebabnya dengan membungkam Kim San menuangkan sisa obat bubuknya lalu membuang pembungkusnya di atas tanah.
Kemudian ia berkata setengah berdoa.
"Semoqa inilah perjalanan kita yang terakhir."
Selagi Kim San merenungi ucapannya sendiri dengan wajah muram, tiba-tiba Sin Houw menyelak bicara tanpa diduga-duga. Katanya.
"Ayah, dapatkah aku minta suatu keterangan? Ada sesuatu yang tidak kumengerti."
Kim San merasa terpukau.
Segera ia berpaling dan menatap muka anaknya yang bungsu itu, Wajah Sin Houw nampak muram dan setengah bergusar.
Melihat kesan itu, ia menarik napas lagi dengan tak dikehendakinya, sahutnya dengan suara perlahan .
"Keterangan apa yang ingin kau tanyakan, anakku? Katakanlah, Sebenarnya, andaikata kau tidak mengerti, akhirnya kau akan mengerti sendiri . Aku sendiri telah memutuskan hendak memberikan penjelasan kepadamu, kukira umurmu kini sudah dapat menangkap suatu keterangan."
Sin Houw juga mengerti, seIama ia belum cukup umur, tidak sewajarnya ia diajak membicarakan masalah orangorang tua.
Akan tetapi ia adalah seorang anak yang dibentuk oleh keadaan, pertumbuhan akalnya lebih cepat dari pada nnak-anak lainnya, Dan setelah mendengar perkataaan ayahnya, maka ia berkata.
"Ayah, seingat aku, eh ... teringat lah aku pada waktu itu. Kita semua berlari-larian sepanjang malam, melewati gunung dan melintasi hutan. Aku ..."
"Eh, anakku ...!"
Potong ibunya dengan suara mengeIuh, ia Iantas memeluk lehernya dengan air mata mengalir deras. ia tidak meneruskan bicara sehingga ganti Kim San yang berkata.
"Biarkanlah ia bicara, Lan-moay..."
Dan Sin Houw kemudian berkata lagi.
"Waktu itu aku telah melihat banyak gunung, hutan, jurang dan berbagai tempat belukar. Ayah mengajak aku merantaui padang luas, dan teringatlah aku, sering turun hujan deras dan angin meniup sangat gemuruh dan kadang-kadang kita berada ditengah terik matahari, kita lalu mencari mata air untuk meneguk airnya yang bening, tetapi yang mengherankan aku, apa sebab ayah, ibu dan kedua kakak harus bertempur setiap kali bertemu dengan orang-orang yang berjumpa dengan kita? Apakah kita pernah menyalahi mereka? Ataukah mereka memang orang-orang jahat yang memusuhi kita? Buktinya, suatu kali kita pernah melintasi kota dan pendesaan, dan ayah tak perlu menghunus pedang untuk menikam mereka..."
Usia Sin Houw masih sangat muda, akan tetapi pengalamannya ternyata sangat dahsyat.
Nalurinya membuat akalnya mulai ingin mengerti semuanya, Ketika mula-mula melihat keluarganya bertarung dengan orang-orang tertentu, ia bersikap acuh tak acuh.
Kemudian rasa takut mulai menggerayangi, lalu rasa gusar dan girang apabila keluarganya memperoleh kemenangan.
Setelah itu ia mulai menebak-nebak apa sebab terjadi suatu pertarungan adu jiwa, Dan pada tiga hari yang lalu, untuk yang pertama kalinya salah seorang anggauta keluarganya terluka, Dialah Siu Lan, kakak perempuannya.
Dan hal itu membuat akalnya mulai bingung.
SETELAH ITU ibunya kena babatan golok seorang musuh yang menamakan diri Cie-san Liong-ong Kwee Sun, si raja naga dari gunung Cie-san, Kalau begitu terjadi suatu suatu pertarungan itu, tidak dikehendaki oleh keluarganya sendiri.
Terasa sekali, betapa ayah dan ibunya terpaksa melayani lawan untuk suatu pembelaan diri, tetapi mengapa ayah dan ibunya dimusuhi oleh orang begitu banyak?
Benar-benar ia tidak mengerti.
Dan dalam tiga hari itu, ingin ia minta penjelasan, Namun rasa lelahnya lebih menguasai dari pada perhatiannya itu, ia tertidur begitu menggeletakkan badan.
Kini ia kehujanan.
Pakaiannya basah kuyup, inilah yang membuat dirinya tak dapat tertidur dengan cepat, maka itu pulalah kesempatan baginya untuk minta keterangan kepada ayahnya.
"Sin Houw! jangan membuat ayahmu berduka."
Ibunya yang mendahului bicara.
Mendengar perkataan ibunya, wajah Sin Houw nampak muram luar biasa, ia menjadi bingung, cemas dan sesal, Akhirnya ia ingin menangis dengan perasaan tak menentu.
Sejenak kemudian ia mencari kesan wajah ayahnya.
Berkata.
"Benarkah ayah jadi berduka karena pertanyaanku tadi? Kalau begitu, patutlah aku ayah hukum."
Kim San menoleh kepada istrinya, dan berkata.
"Lan-moay, mengapa ia kau tegur demikian? Dalam hal ini bukan dia yang bersalah, Sebaliknya, akulah manusia yang tiada gunanya hidup sebagai ayah dan suamimu..."
Ia berhenti menelan ludah, Kemudian meraih leher Sin Houw dan membelai kepalanya dengan perasaan kasih sayang, Katanya lagi dengan suara agak parau.
"Sin Houw, kau tidak bersalah, Sama sekali tak salah, Mengapa aku harus menghukummu? Selama ini ayahmu telah berusaha mengatasi kesulitan ini, untuk mengkikis suatu salah paham, Akan tetapir ayahmu tidak berdaya sama sekali menghadapi lawan-lawan yang bersikap sangat ganas."
Thio Sin Houw mengangkat kepalanya, mengawasi ayahnya dan berkata seperti merajuk.
"Ayah, dapatkah ayah menjelaskan tentang salah paham itu?"
Kim San manggut seraya tertawa sedih, jawabnya dengan suara tegas.
"Tentu, Tentu saja. Saat ini justru saat kita yang terakhir. Sejak tadi ayah telah berkeputusan untuk menjeIaskan kepadamu, walaupun otakmu mungkin belum dapat mengerti persoalan latar beIakangnya, Kalau ayah tidak menjelaskan sekarang, kapan lagi ayahmu memperoleh kesempatan lagi? Kau duduklah baik-baik. Kemudian dengarkan setiap patah kata ayahmu, Sebab setelah ini, ayahmu tidak akan berkata kata lagi."
Thio Siu Lan yang sejak tadi berdiam diri sambil membalut lukanya, menyambung.
"Ayah, selama banyak tahun kita merantau, baru kaIi ini kau membawa kami melarikan diri, Aku tahu sebenarnya, itulah lantaran aku dan ibu terluka, ibu mahir sekali menggunakan pedang, kakak Sin Han semakin tangguh, akupun merasa memperoleh kemajuan pula, setelah lukaku sembuh, tak perlu lagi ayah membawa kami lari-lari begini. Hanya saja, ada satu hal yang tidak kumengerti. Ayah dilukai musuh, mengapa ayah tak mau membalas sedangkan sebenarnya ayah mampu berbuat begitu?"
Sambil mengajukan pertanyaan itu, Siu Lan mengawasi luka ayahnya yang menggaris kedua belah pipinya. Sin Houw pun demikian pula, Lalu si bungsu berkata untuk menguatkan pertanyaan kakaknya.
"Benar, ayah. Apa sebab ayah membiarkan musuh melukai pipi ayah?"
"Sin Houw, jangan kurang ajar!"
Bentak ibunya.
"Lan-moay, biarkanlah,"
Kata Kim San setengah membujuk. Akan tetapi wajahnya nampak kian muram, walaupun demikian, pandang matanya tiba-tiba bersinar tajam, Dengan suara bernada menghibur ia berkada kepada kedua anaknya.
"Tak dapat ayahmu melakukan kesalahan lagi, setelah pernah berbuat suatu kekeliruan sekarang ini ayahmu sudah berusia cukup tua. Kalau hari ini harus mati, hati ayah benarbenar rela, akan tetapi, bagaimana dengan kalian...? Andaikata ayah menggali tanah lebih dalam lagi, kalianlah yang akan memikul akibatnya, Dapatkah dibenarkan apabila seorang ayah meninggalkan suatu warisan penderitaan kepada anak keturunannya? Tidak! Tak dapat aku menanamkan bibit permusuhan yang berlarut tiada akhirnya untuk kalian."
"Akh! Ayah terlalu bermurah hati kepada mereka,"
Ujar Siu Lan.
"Sebaliknya mereka tak mau tahu. Mereka mengejar kita terus-menerus tak hentinya, setiap gerakan senjata mereka mengancam maut tak terampunkan. Selama ini entah sudah berapa kali ayah dan ibu menderita luka ringan dan berat. Tetapi kerelaan ayah dan ibu menanggung derita itu, tidak dapat merubah hati mereka. Bahkan mereka bertambah ganas dan kejam, sebaliknya mengapa semangat ayah tiba-tiba menurun?"
Thio Kim San menggelengkan kepalanya sambil menarik napas, katanya perlahan.
"Tidak, anakku, Tidak! Sama sekali tidak! semangatku bukan runtuh, tetapi karena mempertimbangkan keadaan. Tegasnya, ayahmu ini dipaksa oleh keadaan. Memang, merubah sikap mereka kini sudah tiada harapan, Satu-satunya jalan hanyalah membela diri mati-matian. Kita membunuh atau di bunuh. Akan tetapi, anakku, Musuh-musuh kita ini luar biasa banyaknya. Barangkali kau ingat, tatkala mula-mula kita meninggalkan rumah dan melarikan diri ke barat, sampai akhirnya kita tiba disini, di lembah pegunungan Boe-tong. Akan tetapi musuh-musuh kita tetap mengejar Setiap kali memasuki suatu wilayah, musuh-musuh berganti orang. Apakah kau mengetahui, siapakah musuh kita sebenarnya?"
"Justru itu yang hendak kutanya-kan,"
Ujar Thio Siu Lan penuh perhatian.
"Benar, ayah. Agar jelas bagi kita, siapa musuh-musuh kita itu,"
Sin Houw ikut bicara. Thio Kim San menundukkan kepalanya . Setelah sejenak berpikir, dengan muka berkerut-kerut ia berkata.
"Musuh kita adalah seluruh orang-orang gagah dari segala lapisan, baik golongan hitam maupun putih."
Baik Sin Houw maupun Siu Lan jadi bergidik ketika mendengar keterangan ayah mereka. Siu Lan yang lebih tua umurnya dari adiknya, dapat berpikir dan menimbangnimbang, Katanya lagi minta penjelasan.
"Seluruh orang-orang gagah di dunia ini? Benarkah begitu, ayah? Apa sebabnya mereka memusuhi ayah? Apakah ayah pernah berbuat kesalahan terhadap mereka? Apakah ayah kenal mereka?"
Kim San menggelengkan kepatanya, jawabnya.
"Aku bahkan tidak mengenal mereka semuanya, hanya sebagian kecil yang kukenal."
"Apa sebab mereka bersatu-padu memusuhi ayah?"
Tanya Siu Lan heran.
"ltulah karena... karena..."
Sukar rasanya untuk Kim San memberikan penjelasan ia menimbang-nimbang sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan.
"Mereka menuduhku sebagai seorang pencuri besar yang harus dibekuk hidup atau mati. Barangsiapa dapat menangkap ayahmu ini hidup-hidup, akan memperoleh tiga bagian mustika dunia sebaliknya apabila menangkapku mati, hanya memperoleh sebagian, Tetapi sebagian itu saja sudah cukup untuk membuat manusia menjadi kaya raya dan terkenal namanya di seluruh dunia. Karena benda yang mereka cari adalah sebatang golok Halilintar, yang menyimpan rahasia ilmu sakti tertinggi di dunia, Dengan memiliki golok itu, siapa saja pasti akan menjadi sakti ilmunya, dihormati dan dipuja sebagai malaikat!"
"Apakah itu bukan kabar berlebih-lebihan saja?"
Gerutu Siu Lan, sedikitpun tak terpikir olehnya bahwa ayahnya pernah mencuri benda itu.
"Benar. itulah suatu dusta. Namun ayahmu tidak berdaya melawan anggapan demikian,"
Kata ayahnya.
"Jadi, mereka mengejar-ngejar sampai di sini, sematamata lantaran menginginkan benda itu dari ayah?"
"Walaupun baik ayah maupun mereka tidak pernah saling mengenal?"
Siu Lan meneruskan pertanyaannya.
"Benar."
Jawab ayahnya singkat.
"lnilah suatu kegilaan."
Siu Lan menggerutu.
"Ya , benarbenar gila."
"Kau boleh berkata demikian, anakku, Tetapi buktinya, keluarga ayahmu menjadi buruan mereka. Cobalah pertimbangkan masak-masak, dapatkah ayahmu melawan demikian banyaknya musuh?"
Kata Kim San sambil menarik napas lagi.
"ltulah sebabnya, tiada jalan lain kecuali melarikan diri, mencari kakek-gurumu dan... kalau Tuhan melindungi, kita akan berlindung kepada kakek gurumu, Tie Kong Tianglo. Ia adalah seorang guru besar yang dihormati dan disegani orang, setidak-tidaknya banyak para pendekar mengenal namanya karena itu, meskipun penderitaan kita berlarut-larut, namun aku yakin bahwa suatu penderitaan akan ada akhirnya. Belum pernah manusia menyaksikan awan hitam menutupi langit cerah sepanjang masa, dan sebaliknya pula matahari yang perkasa terbatas pula kekuasaannya."
Sementara itu Sin Houw berkomat-kamit seorang diri, lalu ia berkata kepada ayahnya.
"Seluruh pendekar memusuhi ayah, semata-mata karena ingin memiliki golok Halilintar. Tetapi apa sebab mereka menganggap golok itu ada pada ayah atau menuduh ayah yang mencurinya?"
Thio Kim Sart tercengang mendengar pertanyaan putranya yang bungsu itu. Terus saja ia membelai kepaIa Sin Houw sambiI berkata perlahan.
"Kau begitu cerdas. Kau tumbuh terlalu cepat..."
Dan hatinya lantas saja terasa pedih, Lalu ia berpaling kepada istrinya, dan berkata.
"Lan-moay. Meskipun kita kini hampir memasuki wilayah perguruan, namun hidup atau mati belum dapat kita pastikan, Oleh karena itu, kalau kini aku tidak segera memberikan penjelasan kepada anak-anak kita, jangan-jangan aku tidak mempunyai kesempatan Iagi. Bagaimana menurut pendapatmu?"
Lie Lan Hwa menatap wajah suaminya, menjawab dengan sabar.
"Kalau demikian pertimbanganmu, terserahlah."
Segera Thio Kim San menghirup napas segar, ia melepaskan raihannya pada kepala putranya dan mengawasi wajah Sin Houw silih berganti dengan Siu Lan, lalu berkata hati-hati.
"Anakku, inilah soal yang sukar untuk dimengerti dan dipahami."
Pertama sekali karena umurmu belum cukup kuat untuk menanggapi, Terus terang saja, sampai kini ayahmupun tetap berada dalam suatu teka-teki pelik, sebenarnya bagaimana asal mulanya terjadinya suatu fitnah ini, masih kurang jelas bagiku.
Hanya anehnya, mengapa mereka semua tahu tentang diri ayahmu yang difitnah sebagai si pencuri ataupun sebagai orang yang menyimpan golok Halilintar itu.
Pastilah ada seseorang yang meniup-niupkan suatu kabar tentang diri ku.
Benar dan tidak, bercampur aduk tidak keruan.
Aku hanya mempunyai dugaan, tetapi tak dapat aku membuka mulutku, Akh, seumpama ayahmu tidak terlalu sibuk menghadapi orang-orang yang datang memusuhi tanpa alasan permusuhan, siang-siang ayahmu pasti telah dapat membekuk biang keladi yang menyebar fitnah itu."
Sampai di sini Thio Kim San berhenti bicara, mulutnya membungkam secara mendadak.
Giginya terdengar berbunyi berceratukan seakan-akan sedang menggigit sesuatu yang alot luar biasa .
Siu Lan seorang gadis perasa, Terus saja ia berkata.
"Ayah sangat bersakit hati. Biar-lah ayah tak meneruskan saja keterangan tentang peristiwa yang memedihkan ini."
"Tidak, anakku, Ayahmu harus berbicara terus, Hanya saja ..."
Ia berhenti lagi, sekonyong-konyong berdiri dan berjalan ke luar, ke ambang pintu, Memanggil putera sulungnya.
"Sin Han, kemarilah! Ayahmu hendak berbicara dengan kalian semua!"
Thio Sin Han masih mengawasi kelima ekor kuda mereka, Mendengar seruan ayahnya, segera ia menambatkan tali-tali kendali menjadi seonggok, Kemudian bergegas memasuki tempat penyimpanan padi dan berkata .
"Ayah hendak bicara mengenap apa?"
"Kau duduklah dahulu diantara kedua adikmu!"
Perintah ayahnya. Sin Han menggeribiki pakaiannya, kemudian menghampiri kedua adiknya, ia tidak segera duduk, karena pakaiannya yang basah kuyup dengan air hujan.
"Baiklah, kau berdiri saja. Kau panaskan tangan dan badanmu, sambil mendengarkan."
Kata Kim San.
"Cobalah kau terka, apa sebab seluruh orang-orang gagah memusuhi ayahmu sekeluarga ?"
Sin Han menatap muka ayahnya dengan hati tercekat, lalu menjawab perlahan.
"Yang kuketahui, sepak terjang mereka telah membuat ayah sangat mendendam dan penasaran."
"Yang kumaksud, sebab sebabnya!"
Tukas Kim San. Sin Han menimbang-nimbang, secara hati-hati kemudian ia menyebut.
"Menurut yang kudengar, ayah di tuduh menyimpan sebatang golok mustika dunia, Atau setidak-tidaknya, ayah tahu rahasianya dan tahu pula di mana goIok mustika itu tersimpan."
"Benar, sebatang golok Halilintar itulah gara-garanya. Tahukah engkau tentang golok yang dianggap benda mustika itu?"
Sang ayah balik menanya. Sebelum Thio Sin Han menjawab pertanyaan ayahnya, tiba-tiba Sin Houw memotong dengan pertanyaan pula.
"Koko, kenapa mereka mengira ayah yang menyimpan golok itu?" (Koko = kakak). Mendengar pertanyaan itu, Sin Han tercengang, justru hal itu pulalah yang membuat dirinya terus berteka-teki.
"Entahlah ..."
Jawabnya.
"Aku sendiri kurang jelas."
Setelah memberikan jawaban demikian, Sin Han berpaling kepada ayahnya dan meneruskan bicara.
"Orang-orang yang datang mengejar kita ini, pada suatu hari dipanggil oleh seseorang yang membawa warta tentang golok mustika itu. Mereka di kisiki di manakah golok mustika itu berada. Mereka diberikan penjelasan pula, bahwa golok mustika itu tidaklah hanya menggenggam suatu rahasia ilmu sakti yang sangat tinggi, tetapipun menyimpan sebuah gunung emas dan berlian yang tak ternilai harganya. Pendek kata, barang siapa dapat memperoleh golok mustika itu, akan dapat memerintah dunia menjadi raja dari segala raja! Benar tidaknya, aku tak tahu. Ayah, benarkah demikian?"
Pandang mata Sin Houw berdua Siu Lan tertuju kepada ayahnya, Tetapi tiba-tiba mereka melihat kedua mata ibunya meneteskan air mata.
Mereka jadi terkejut, dan Sin Houw segera meloncat dari duduknya, ia memeluk ibunya dan berkata.
"lbu, kalau keterangan ayah akan menyusahkan ibu, biarlah ayah tidak usah menjawab pertanyaan koko."
Mendengar perkataan si bungsu, air mata Lan Hwa kian deras mengalir ke-Iuar. ia berpaling kepada suaminya kemudian ganti mengawasi kepala anaknya yang bungsu. Katanya perlahan.
"Sesungguhnya, semuanya ini ibu ikut bersalah. Bahkan ibumu lah yang menjadi bibit permusuhan ini ..."
"Lan-moay, pengakuanmu tidak benar!"
Potong suaminya setengah membujuk "Aku sendiri belum memperoleh pegangan yang kuat."
"Tidak! Selama ini engkau membungkam demi untukku,"
Ujar Lan Hwa dengan suara pahit.
"Sekaranq tak boleh Iagi engkau memendam prasangkamu. Serapat-rapat seseorang membungkus ikan busuk, akhirnya akan tercium juga. Selama ini, jangan lagi engkau. Aku sendiri telah memperoleh tandatandanya, dialah ..."
"Lan-moay!"
Potong suaminya dengan suara cukup keras, Tetapi berbareng dengan itu ia menghela napas. Dengan menundukkan kepala, ia berkata.
"Baiklah, aku akan berbicara, Tetapi sama sekali bukan menjadi maksudku untuk mencelamu, Bahkan selama ini, aku sangat berbahagia, Aku berhutang budi padamu, Lan-moay. Engkaulah pelita hidupku, mercu hidup anak-anakku yang lahir lewat rahimmu. Kalau malapetaka ini terjadi juga, bukankah sudah seharusnya aku menyadari jauh sebelumnya."
Lie Lan Hwa mengusap air matanya, ia menatap wajah suaminya dengan pandang lembut. Kemudian selembut itu juga ia berkata.
"Katakan saja. Aku adalah bagian dari hidupmu, tiada sesuatu kekuatan yang dapat memisahkan kita. KecuaIi... maut. Kau katakan saja, suamiku."
Untuk sesaat Thio Kim San menunda bicara, ia menambahkan kayu-kayu pada api yang menyala kemudian mengawasi ke arah pintu.
Udara lembab gunung Boe-tong telah menjadi guram.
Dingin hawa-nya kian merayapi tubuh.
Perlahan-lahan ia mengembarakan pandangannya, lalu berhenti pada wajah ketiga anaknya.
Dan diantara gemericik hujan, mulailah ia berkata.
***** "SEMASA kanak-kanak, aku hidup di wilayah ini, di wilayah Gunung Boe-tong san yang dianggap keramat oleh penduduk di sekitar tempat ini, Aku hidup di pinggang gunung sebelah timur laut, di atas gunung Boe-tong, di puncak Thian-coe hong yang tinggi menjulang ke angkasa, atau tepatnya di kuil Giokhie kiong, adalah merupakan tempat bersemayannya Tie-kong Tianglo dan merupakan tempat aku belajar ilmu silat bersama empat saudara seperguruanku.
Masing-masing adalah Cia Sun Bie sebagai murid pertama, Lim Tiauw Kie murid kedua, Hoan Siok Hu murid ketiga Tan Bun Kiat murid keempat dan aku sendiri sebagai murid kelima.
Kami lima saudara seperguruan hidup sebagai keluarga sendiri.
Saling menolong dan saling membantu, pendek kata saling bahu membahu.
Setelah masing-masing mempunyai keluarga, lantas berpisah, Diantara kami ada dua orang yang belum menikah, mereka adalah pamanmu Cia Sun Bie dan Tan Bun Kiat.
Sebagai Boe-tong Ngo-hiap atau lima pendekar dari Boetong san, kami berlima seringkali merantau dan menjelajah di kalangan rimba persilatan, Kadang-kadang secara berbareng kami melakukan perjalanan untuk menumpas berbagai macam kejahatan ataupun kelaliman, dan kadang-kadang pula kami melakukan perjalanan secara terpisah, artinya sendiri-sendiri.
Demikianlah, pada suatu hari pamanmu yang kedua, Lim Tiauw Kie, melakukan perjalanan ke propinsi Hok-kian, karena di tempat itu sedang mengganas seorang penjahat yang tidak hanya memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, tetapi juga terkenal sangat licin luar biasa.
Sampai berbuIan-bulan lamanya Lim Tiauw Kie pergi tanpa memberikan berita, ia bahkan sampai lupa mengunjungi suhu pada hari ulang tahun beliau.
Lim Tiauw Kie pergi dan terus menghilang tanpa meninggalkan jejak, sedangkam kami empat bersaudara seperguruan pernah berkali-kali mencari dan melakukan penyelidikan.
Sampai kemudian kami memperoleh kabar angin yang mengatakan bahwa Lim Tiauw Kie telah memperoleh golok Sun Lui To yang direbutnya dari tangan Hing-san samkiam atau tiga jago pedang dari gunung Hing-san, setelah itu Lim Tiauw Kie menghilang tak berani pulang ke gunung Boetong san karena bermaksud memiliki golok mustika itu untuk dirinya sendiri..."
"Jadi, apakah sampai saat ini Lim susiok tak diketahui jejaknya?"
Tanya Thio Sin Han selagi ayahnya menunda bicara. Thio Kim San manggut dan berkata.
"Orang-orang yang paling gigih mencari dan menyimpan dendam, sudah tentu adalah pihak murid-muridnya Hing san Sam-kiam, Tetapi yang lain-lainnya ikut mencari dan sudah tentu ingin merebut golok mustika itu, di antaranya adalah orang-orang Hay-see pay, Kun-lun pay dan lain sebagainya, secara berombongan maupun perorangan."
"Kini dan setelah mereka tidak berhasil menemukan Lim susiok dan golok mustika itu, mengapa justru mereka memfitnah dengan mengatakan golok mustika itu ada pada ayah?"
Ganti Siu Lan mengajukan pertanyaan. Sejenak Thio Kim San terdiam menundukkan kepala, lalu dengan suara perlahan ia memberikan jawaban.
"Mungkin mereka mengetahui bahwa aku adalah yang paling akrab berhubungan dengan Lim susiokmu, sehingga mereka menyangka golok mustika itu dititipkan kepadaku ..."
Tiba-tiba Lie Lan Hwa memutus perkataan suaminya.
"Tidak! Sampai di sini sebaiknya aku yang memberikan keterangan kepada anak-anak kita, Aku tahu engkau seorang pendekar yang mengutamakan budi luhur, Demi kebajikan itu, engkau rela hancur lebur tanpa kubur, Akan tetapi, aku tidak! Sebab di sini kupertaruhkan kesucian hati ku, dan karena aku tak rela engkau mengalami malapetaka sebesar ini. itulah karena gara-gara masa mudaku, Engkau khawatir menyinggung perasaanku , karena itu kau coba menutupi tetapi justru demikian, aku jadi tersinggung, Sebab artinya kau mencurigai kesetiaan dan kesucianku."
"Lan-moay, mengapa kau berkata begitu? Demi Tuhan, aku tak pernah berkata yang bukan-bukan terhadapmu,"
Potong Kim San, melarang istrinya terus bicara.
Sin Han bertiga merasa prihatin menyaksikan orang tua mereka bertengkar kata.
inilah kejadian yang mereka saksikan untuk pertama kalinya, dan mereka menjadi terpaku membisu.
Sementara itu Lan Hwa meneruskan bicara kepada anakanaknya.
"Baiklah, anak-anakku. Biarlah aku yang memberikan keterangan kepada kalian, Pada masa mudaku, aku seperti engkau, Siu Lan. Cukup menarik dan cukup menawan perhatian orang, Ayah bundaku mempertunangkan aku dengan seorang pemuda yang belum pernah kukenal, pemuda itu bernama Tan Kok Seng. Dia seorang yang berpengaruh, dan iimu kepandaiannya sangat tinggi. Menurut kata orang, tiada celanya, Akan tetapi setelah bertemu dengan ayahmu, aku jadi berkeputusan untuk membantah kehendak orang-tuaku, inilah jadinya, walaupun ayahmu tadi menyatakan masih bimbang, namun aku mengira bahwa semuanya ini adalah perbuatannya. Kalian ingatlah baik-baik, namanya Tan Kok Seng. Aku mengharapkan agar dikemudian hari kalian bisa menyelidiki benar tidaknya."
Sederhana keterangan Lan Hwa, akan tetapi cukup merangkum keseluruhannya.
Dan mendengar cara sang ibu menekan setiap patah katanya, membuat hati mereka bertiga bercekat.
Mendadak pada saat itu, terdengarlah suara derap kuda di antara gemericik hujan, Wajah Thio Kim San berubah hebat.
Serunya setengah mengeluh.
"Akh! Benar-benar mereka tidak membiarkan kita untuk beristirahat sebentar Kalau begitu anak-anakku, tiada jalan lain kecuali kita harus meneruskan perjalanan kita."
Mendengar perkataan suaminya, Lan Hwa mencelat ke ambang pintu dengan pedang siap di tangannya.
"Aku akan mengambil kuda kita!"
Katanya. Sin Han mundur selangkah, ia berdiri tegak di depan kedua adiknya dengan memancarkan pandang berapi.
"Sin Han, Siu Lan dan Sin Houw! Dengarkan! Siapa saja di antara kamu bertiga, harus dapat mencapai puncak Thian-coe hong untuk menemui kakek-gurumu, Tie-kong Tianglo, Jika harapan ayahmu ini terkabulkan, itulah sudah cukup, Dialah yang kelak wajib menyambung asal keturunan keluarga kita. Kau dengar?"
Kata Thio Kim San dengan suara gemetar.
"Ya, ayah!"
Mereka bertiga memberikan jawaban serentak, walaupun dengan suara tertahan.
"Akan tetapi apabila kita semua gugur sebelum mencapai tempat tujuan, ya sudahlah, itulah di luar kekuatan dan kekuasaan kita, Artinya, Tuhan memang menghendaki demikian, walaupun demikian, sampai detik ini aku masih berdoa, semoga Tuhan memberkahi ayah-ibumu, dan semoga salah seorang diantara kalian bertiga dapat selamat sampai ke tempat tujuan. Kemudian, apabila Tuhan mengabulkan sehingga salah seorang di antara kalian berhasil bertemu dengan kakek-guru kalian, atau setidaknya paman-guru kalian Cia Sun Bie, maka kalian minta perlindungan... Thio Kim San menjadi gugup karena ia mendengar suara beradunya senjata, Alangkah cepatnya gerakan musuh itu, pastilah dia bukan sembarangan orang.
"Sin Han! Kau lepaskan panah berapi biru itu! Di sini dekat rumah perguruanku, mungkin salah seorang paman-gurumu melihat api tanda bahaya,"
Kata Thio Kim San tergesa-gesa. Setelah itu ia lompat melesat keluar pintu. Setelah Thio Kim San hilang di kegelapan malam, Thio Sin Han menyambar lengan Sin Houw dan berkata dengan suara dalam.
"Adikku, kau adalah satu-satunya harapan kita. Aku akan membawamu lari dan melindungimu sampai mencapai jembatan penyeberangan jurang di sana yang curam dan panjang, Aku tahu di mana letak jembatan itu, karena ayah pernah menceritakan, Aku dan kakakmu Siu Lan, ayah dan ibu akan mempertaruhkan harapan kepadamu seorang. Engkaulah yang kelak harus dapat menyambung asal usul keluarga kita, dan kami mendoakan agar Tuhan mengabulkan permohonan keluargamu serta di kemudian hari engkau bisa mencuci bersih rasa penasaran keluargamu. Terutama rasa sakit hati ayah-bundamu yang pernah mendukungmu kesana kemari menempuh bahaya dan melindungi dirimu, Adikku, cepatlah kau melompat di atas kudamu dan kaburlah dengan segera. Ke sana!"
Setelah berkata demikian, dengan menghunus pedang Sin Han berjalan ke ambang pintu melindungi kedua adiknya.
Ketika tiba di luar, Siu Lan segera memberi contoh melompat ke atas kudanya dengan gesit sekali.
Dan setelah Sin Houw berada pula di atas pelana kudanya, Sin Han menjajari dan menghentak kendalinya.
"Mari!"
Ajaknya.
Kira-kira lima puluh meter di depannya, ibunya sedang bertempur melawan seorang yang mengenakan pakaian seperti pendeta, Dialah Cie-san Liong-ong Kwee Sun, si biang naga dari gunung Cie-san, ia bersenjata sepasang golok, gerakannya gesit dan membawa angin bergulungan.
Dengan cepat Lan Hwa dapat di kurungnya rapat-rapat.
Melihat ibunya terdesak, Sin Han membatalkan maksudnya mengaburkan kudanya.
Teringatlah dia dengan pesan ayahnya, maka cepat-cepat ia menarik anak panah dan dinyalakan lalu dilepaskan ke udara, seketika itu juga terdengarlah suara bersuing di udara tinggi.
Kemudian dengan suara ledakan kecil, apinya yang biru pecah berantakan merayapi ke seluruh penjuru, indah sekali pemandangan itu di malam gelap gulita, akan tetapi mereka semua tiada kesempatan untuk menikmati keindahan itu.
Setelah melepaskan anak panah, Sin Han melompat dengan menyambarkan pedangnya.
Tangan kirinya menggenggam pula sebilah belati tajam.
Begitu memasuki gelanggang, dengan mengerahkan tenaga ia menangkis golok Ciesan liong ong Kwee Sun, berbareng menikamkan belatinya.
Cie-san Liong-ong Kwee Sun kaget sampai mundur dua langkah ke belakang, Dan pada saat itu, mendadak Sin Houw melompat pula dari kudanya sambil menarik keluar pedang pendeknya yang selalu tergantung di pelana kudanya.
"Hey! Kau hendak ke mana?"
Cegah Siu Lan.
"Cici, jangan rintangi aku!"
Teriaknya seperti kalap.
"Mereka sangat kejam dan sama sekali tak sudi memberi ampun, Mereka selalu mengejar kita seperti barisan iblis, Kalau aku tidak ikut membasmi mereka, sampai kapan kita bisa hidup tenang? Aku harus membasmi mereka! Aku harus membantu ibu!"
"Sin Houw, jangan menuruti perasaanmu sendiri! Kau harus ingat dengan pesan koko. Cepat, pergilah! Lihat musuh semakin banyak! Aku yang akan membantu ayah dan ibu menahan mereka, sementara kau pergi menjauhi!"
Memang benar, pada waktu itu berdatangan belasan orang berkuda yang langsung mengepung Kim San dan Lan Hwa -tetapi nampaknya Kim San sama sekali tidak menjadi gentar.
Seperti Sin Han, kedua tangannya menggenggam pedang dan pisau belati yang berkilat-kilat karena tajamnya.
Dengan cepat ia mendampingi istrinya yang tak sudi mundur walaupun selangkah, Untuk sejenak mereka tak berdaya menghadapi perlawanan yang rapi itu.
Thio Kim San dan istrinya merupakan sepasang pendekar semenjak memasuki jenjang pernikahan.
Di kalangan rimbapersilatan nama mereka terkenal sebagai "Kim-siang yan"
Atau sepasang burung walet emas yang gagah perkasa, karena mereka bisa bekerja sama dengan sangat baik.
sekarang mereka berdua ditambah dengan pengalamannya yang pahit dan berbahaya selama bertahun-tahun -tak mengherankan, pembelaan diri mereka rapi dan rapat.
walaupun kena dikepung belasan orang, namun gerak-gerik mereka tidak kacau.
Di lain pihak, Siu Lan menjadi sibuk sendiri.
Tak dapat ia membiarkan kedua orang tuanya dikepung oleh sedemikian banyaknya musuh, perlahan lahan ia mengeluarkan pedang lemas yang membelit pinggangnya.
Pedang itu terbuat dari emas murni, sifatnya lemas dan ulat, Begitu ditarik, pedang itu lencang seperti mengandung per.
Tepat pada saat itu kilat menyambar, dan sinar kilat itu memantul pada pedang emas itu sehingga menimbulkan sinar berkilau.
Thio Sin Han yang sedang bertempur dengan musuh, menjadi terkejut melihat kilauan sinar itu.
Dengan menjejak tanah ia mundur jumpalitan sambil berteriak.
"Moay-moay, kau tak perlu maju! Bawalah Sin Houw menjauh cepat-cepat, kalau tidak kita bakal menggagalkan pesan ayah!"
Thio Siu Lan tertegun, ia menjadi bingung, Dengan muka penuh pertanyaan ia mengawasi kakaknya.
"Kau mau pergi atau tidak?"
Bentak Sin Han. Selama hidupnya, belum pernah kakaknya membentak dengan suara demikian. Hatinya yang lembut terhentak kaget, Dengan suara gugup ia minta penjelasan.
"Sebenarnya ... koko mau apa?"
"Aku mau apa?"
Bentak Sin Han, lalu memberikan penjelasan.
"Belum pernah aku berbicara dengan cara begini kepadamu, bukan? Tapi sekarang sekarang lain! Siapa di antara kalian berdua tidak mau mendengarkan perkataanku, tak kuakui sebagai saudaraku lagi, Kalian dengar? Nah, sekarang kalian pergilah, ingatlah pesanku tadi...!"
Dengan air mata mengalir deras keluar, Siu Lan berusaha meyakinkan.
"Koko, kau keliru, Pesan ayah sebenarnya ditujukan kepadamu dan adik Sin Houw, karena kalian berdua adalah anak laki-laki. Ayah mengharapkan keturunamnu untuk menyambung asal-usul keluarga, bukan aku! Aku seorang perempuan. Biarkanlah aku yang maju membantu ayah dan ibu. Ingatlah, koko... aku seorang perempuan, tanggung jawab untuk melaksanakan pesan ayah tidak mungkin dapat ku Iaksanakan. Andaikata aku selamat, apakah yang dapat kulakukan ? Dari itu maafkan adikmu ini, biarlah aku yang membantu ayah dan ibu, sebaliknya kau dan adik Sin Houw yang harus memikul tugas berat untuk mencuci bersih nama keluarga kita di kemudian hari."
"Tutup mulutmu!"
Bentak Sin Han.
"Kau hendak membantu ayah dan ibu apakah kepandaianmu meIebihi aku?"
"Tentu saja kepandaian koko berada di atasku."
Sahut Siu Lan.
"Jika begitu, kau mengerti maksudku,"
Kata Sin Han.
"Belasan musuh yang mengejar kita kali ini, nampaknya bukan sembarang musuh, Mereka tahu, jika terlambat sedikit, ayah dan ibu serta kita semua akan selamat, Karena sudah hampir mencapai tempat perguruan ayah, maka itulah sebabnya mereka mengerahkan jago-jago kelas satu. Walaupun tubuhmu bakal hancur luluh, tiada gunanya sama sekali. Kau tak bisa menolong ayah dan ibu, maka itu cepatlah kau pergi membawa adik Sin Houw mendahului kami. Percayalah, kami akan segera menyusul!"
Keras kata-kata Sin Han sehingga suaranya agak menggeletar, tetapi kedua matanya penuh genangan air mata, jelas bahwa ia berbicara demikian, untuk membesarkan hati kedua adiknya.
Siu Lan adalah seorang gadis yang lembut perasaan dan cerdas, ia dapat menebak maksud kakaknya itu.
lantas saja ia menangis sedih.
Katanya mencoba.
"Koko, tak dapatkah engkau berangkat bersama kami?"
"Tidak!"
Bentak Sin Han.
"Kau mau mendengarkan perkataanku atau tidak?"
Siu Lan mendengar suara bengis kakaknya, tapipun berbareng melihat kedua mata kakaknya mengalirkan airmata, Hatinya segera menjadi lemah dan perlahan-lahan ia melibatkan lagi pedangnya pada pinggangnya yang ramping.
"Baiklah, koko ... baiklah..."
Katanya perlahan di antara suara isak tangisnya. Thio Sin Han tersenyum lebar, tetapi mengandung rasa sedih yang tidak terhingga, sahutnya senang.
"Nah, begitulah baru seorang adik yang baik, Akh, adikku yang manis, kau lindungilah adikmu itu. Tak usah kau menunggu ayah, ibu dan aku. Kau dengar perkataanku ini? Nah, cepatlah kau larikan kudamu. Tuhan akan melindungi kalian berdua dan akan memberkahi kita semua. Selamat jalan, adikku, Semoga kalian berdua dapat mencapai tempatnya Tay-suhu.."
Bertepatan pada saat itu terdengarlah pekik suara Thio Kim San mengandung kemarahan.
"Akh! Kalian keterlaluan, Mengapa kalian begini ganas? Baiklah, aku Thio Kim San malam ini kau paksa melakukan pembunuhan besar-besaran! Lihat saja!"
Dapat dikatakan belum selesai ia bicara, atau di sana terdengar pekik teriak menyayatkan hati.
Memang, Thio Kim San terkenal sebagai salah seorang dari Boe-tong Ngo-hiap atau lima pendekar dari Boe-tong pay.
Dia sangat mahir dalam ilmu silat pedang yang khas dari golongan Boe-tong pay, tetapi selama memupuk keluarga demi tercapainya hidup tenteram hampir dapat dikatakan jarang sekali ia menggunakan ilmu pedang simpanannya.
Tapi malam itu merupakan malam pertaruhan antara hidup dan mati, Apalagi ia merasa dipaksakan oleh keganasan pihak lawan, Maka tanpa segan-segan ia menerjang dengan ilmu pedang simpanannya itu.
Sebagai akibat, seorang musuh roboh binasa, dan rekanrekannya yang lain menjadi gusar, Lantas saja kelihatan berbagai senjata berkeredepan dan sambil berteriak-teriak mereka meluruk untuk mengepung Thio Kim San dan istrinya.
"Berangkatlah, moay-moay!"
Kata Thio Sin Han yang sekilas sempat melihat keadaan ayah dan ibunya.
Thio Siu Lan mengertak gigi menguatkan hati, Rasa penasarannya jatuh kepada kudanya Thio Sin Houw, Mengapa semua ini harus terjadi?
Dan dengan sekuat tenaga ia menghantam kuda Thio Sin Houw.
Kuda yang tak mengerti keadaan dan kesalahannya itu, kaget berjingkrak, lantas saja melesat maju dengan berderap, Untung Thio Sin Houw sudah terbiasa naik kuda.
Meskipun tubuhnya bergoyang ketika kudanya melompat maju, tetapi beberapa detik kemudian ia sudah dapat menguasai.
Tatkala ia menoleh ke sebelah belakang, dilihatnya kakak perempuannya telah berada di dekatnya dengan menghunus pedang emasnya.
Thio Sin Han mengikuti kepergian kedua adiknya dengan pandang matanya.
Setelah mereka lenyap dibalik tikungan bukit, ia berputar tubuh lalu berteriak keras.
"lbu! silahkan istirahat sebentar, biarlah aku yang maju!" --------------------Hal 50/51 Hilang --------------------dapat mengusir musuh dengan mudah, sebentar lagi mereka akan menyusul kita Tetapi kata-kata itu hanya di mulutnya saja, sedangkan hatinya khawatir bukan main. ia menyadari, ayah-ibunya telah terluka, juga kakaknya, sedangkan musuh-musuh yang mengepung sangat banyak dan semuanya tangguh. Thio Sin Han menengadah, mengawasi udara guram gelap, Seorang diri ia berkata.
"Ayah nampaknya mempunyai kesulitannya sendiri, yang tak dapat dikatakan di hadapan kita semua. Tadi ia mau membuka mulut, setelah mendapat idzin dari ibu. Benarkah begitu, cici?"
Setelah berkata demikian, ia mengawasi Siu Lan.
ia percaya, kakak perempuannya itu pasti mengetahui persoalan yang sebenarnya.
Siu Lan dapat menebak apa yang tersimpan di hati adiknya, Tetapi cepat-cepat ia mengalihkan perhatian.
"Lihatlah ke depan! Menurut keterangan ayah, dibalik bukit itulah terbentang jembatan penyeberangan yang amat berbahaya karena dibuat dari bahan rotan semacam tali, dan yang sangat panjang namun kecil ukurannya, sedangkan jauh di sebelah bawahnya, terbentang jurang yang amat dalam dan curam serta penuh batu-batu cadas. Dapat dibayangkan apabila seseorang terjatuh ke dalam jurang itu, pasti tidak ada kesempatan untuk selamat, Tetapi dengan kehendak Tuhan, mudah-mudahan engkau akan selamat tiba di seberangnya. Mari! Mari kita ke sana!"
Selama ia bicara, pandang mata Siu Lan mengawasi ke arah lain supaya tidak bertemu pandang dengan mata adiknya.
Karena di dalam hati kecilnya, ia meragukan perkataannya tadi.
Benarkah Tuhan akan melindungi, akan memberikan --------------------Hal 54/55 Hilang --------------------Thio Siu Lan mengawasi wajah adiknya, kemudian menjawab dengan suara tegas.
"Ayah adalah seorang yang jujur, ia seorang ksatria sejati. Maka aku percaya dengan segala perkataannya ... Ya, hanya karena golok Halilintar! Hanya saja, disamping itu masih ada suatu hal yang menyulitkan ayah, Beliau tadi mencoba membicarakan, akan tetapi tidak jelas..."
Thio Sin Han termenung. Kemudian menengadah ke udara, Teringatlah ia tadi, ibunya selalu mengucurkan airmata apabila ayahnya nampak sulit berbicara, Maka bertanyalah dia dengan suara tegas.
"Cici, bagaimana dengan ibu...? Maksudku, apakah ibu yang salah?"
Sejenak Siu Lan nampak bimbang, lalu menjawab.
"Samar-samar pernah kudengar hal itu -tetapi aku tak yakin, Ayah sendiri tadi, juga tidak merasa yakin dalam hal ibu yang membuat bibit permusuhan."
Sin Houw menarik napas, lalu berkata lagi.
"Kalau ibu atau ayah yang salah, wajib kita memohon maaf kepada mereka, sebaliknya kalau ayah dan ibu tidak bersalah, kita harus mencuci noda itu. Bukankah begitu pesan koko?"
Bukan kepalang terharunya hati Siu Lan.
Adiknya belum genap berumur sepuluh tahun, tetapi perkataannya seperti seorang yang sudah menanjak dewasa, inilah akibat penggodokan yang seolah-olah dipaksakan oleh keadaan.
Pertumbuhan jiwanya menjadi sangat cepat, mungkin terlalu cepat.
"Benar, adikku,"
Akhirnya Siu Lan memberikan jawaban dengan hati terharu -"Perkataanmu adalah ucapan seorang ksatria sejati.
Maka benarlah kata kata ayah tentang dirimu.
walaupun ilmu kepandaianmu paling lemah diantara kami, akan tetapi bakatmu berada di atas kita semua, Karena itu engkaulah yang kelak wajib membersihkan nama orang tua kita dan menuntut balas dendam!"
Thio Sin Houw diam tak mengucap apa-apa. ia nampak bersusah hati. Lama sekali ia berdiam diri, lalu berkata dengan suara perlahan seperti pada dirinya sendiri.
"Jadi, merekalah yang bersalah... Tetapi, apakah maksud ibu memerintahkan kita mengingat-ingat nama Tan Kok Seng? ibu mengatakan, bahwa tanda-tandanya telah diketemukan."
"Urusan itu masih gelap, ayah sendiri masih bimbang dan ragu, Biarlah kita menyelidiki saja di kemudian hari dengan perlahan-lahan, sekarang kita berdua terlalu sulit untun memahami. Yang paling penting kita berdua harus dapat menyeberangi jembatan itu dengan selamat. Terutama engkau, adikku . Baik ayah, ibu maupun koko dan aku sendiri mengharapkan dirimu. Engkaulah adikku yang dapat membersihkan noda keluargamu di kemudian hari."
Thio Sin Houw tertawa. Katanya.
"Ribuan orang menjadi musuh kita -sanggupkah aku melawan mereka?"
"Kau berada di jalan yang benar, Tuhan akan memberkati dan meIindungimu..."
Siu Lan menegaskan. Pada waktu itu mendadak terdengarlah suara Iapat-lapat dari jauh.
"Siu Lan, kenapa kau masih berhenti disitu? Cepat! Bawalah adikmu lari !"
Siu Lan segera mengenali suara kakaknya, gugup ia mengajak Sin Houw meninggalkan tempat itu.
"Cepat!"
Dengan tangan lembut sedingin es, ia menuntun Sin Houw dan dibawanya berjalan mendaki bukit, Setelah berjalan selintasan, tiba-tiba Sin Houw me-rand^k lagi dan berkata.
"Aku letih, kita berhenti dahulu di sini..."
Siu Lan dapat menebak hati Sin Houw sebenarnya.
Bocah itu pasti teringat keadaan ayah dan ibunya, juga terhadap keselamatan kakaknya, Thio Sin Han.
ia sendiri sebenarnya demikian juga, tetapi mengingat tugas yang harus dilaksanakan, tak dapat ia mengidzinkan adiknya berlalai-Ialai, segera ia mengkuatkan hati dan mengendalikan perasaannya sendiri.
walaupun de mikian, tak urung ia gagal juga, ia menoleh dan memusatkan pandangnya ke arah pertempuran.
Heran, Apa sebab pertempuran itu tiba-tiba telah mendekati tanjakan di bawahnya, Pada saat itu kilat menyambar beberapa kaIi, puluhan senjata nampak berkelebatan meluruk ayah dan ibunya serta kakaknya, Maka tahulah ia kini, karena terlalu banyak lawan ayah, ibu dan kakaknya membela diri sambil berlari mundur, Setelah berkelahi beberapa waktu lamanya, mereka telah tiba di bawah tanjakan bukit.
Secara samar dilihatnya ayahnya mendampingi ibunya, sedangkan kakaknya melesat kian kemari dengan maksud melindungi kedua orang tuanya, Mereka bertiga bekerja sama sangat rapi, berpengalaman menjadi kejaran musuh.
Biasanya musuh berjumlah paling banyak sepuluh orang, akan tetapi malam itu musuh yang datang mengeroyok mencapai jumlah empat puluh orang, Tak mengherankan, mereka bertiga kena di desak mundur dari tempat ke tempat.
Musuh yang berada di sebelah kiri memakai pakaian serba hitam dengan jubah putih, dialah yang menyebut diri sebagai Cie-san Li ong-ong Kwee Sun -senjatanya sepasang golok, gerakannya gesit dan ganas, sedangkan yanq berada di sebelah kanan, seorang jago lain bertubuh pendek kecil, dengan ditangan kirinya memegang perisai besi, sedang di tangan kanannya menggenggam sepotong gada bergigi tajam, Dialah lawan yang paling lincah cara perlawanannya.
Beberapa kali ia meloncat kian kemari untuk menyerang atau mengelak.
Berlawanan denqan Cie-san Liong-ong Kwee Sun yang ternyata sangat Iicik, serangannya selalu dilancarkan, apabiIa suami-istri Thio Kim San sedang repot menghadapi kepungan musuh lainnya.
Yang berada di bagian tengah, seorang pendekar berpakaian serba ringkas, umurnya belum mencapai lima puluh tahun tampangnya bengis, senjatanya merupakan pedang panjang.
Mereka bertiga ini merupakan pemimpin dari puluhan para pengeroyok.
Sambil bertempur seringkali mereka menyerukan aba-aba pengepungan atau cara penyerangan.
"Cici, ketiga orang itu berasal dari mana?"
Thto Sin Houw minta keterangan.
"Aku sendiri kurang tahu,"
Jawab Siu Lan.
"Hanya nama mereka pernah kudengar. Yang mengenakan jubah seperti pendeta itu bernama Cie-san Liong-ong Kwee Sun, si kate bernama Su Tay Kim, dan yang bersenjata pedang panjang seorang ahli pedang Bu Seng Kok."
Thio Sin Houw menarik napas, lalu berkata seorang diri.
"Mereka sangat gesit dan ganas, apakah ayah dapat melawan mereka bertiga dengan sekaligus?"
"Ayah dikepung tidak kurang oleh duapuluh orang. walaupun demikian ayah pasti sanggup merobohkan mereka bertiga, Kau lihat saja nanti,"
Sahut Siu Lan meyakinkan adiknya. Akan tetapi sesungguhnya ia sendiri tidak yakin, maka cepat-cepat ia mengalihkan pembicaraan.
"Mari, kita daki bukit ini secepat-cepatnya. Di seberang bukit inilah letak jembatan penyeberangan itu, semoga Taysuhu berada di situ ..."
Siu Lan segera menarik lengan adiknya, dan dibawanya lari secepat-cepatnya. Tatkala itu, ia mendengar suara parau, suara yang dikenalnya dan yang membuat hatinya tergetar.
"Kami suami isteri, Thio Kim San dengan ketiga anak keturunan kami, selamanya belum pernah berkenalan atau bermusuhan dengan kalian, Apa sebab kini kalian mengejar kami siang dan malam tanpa alasan? Apakah kalian benar benar menghendaki nyawa kami berlima ?"
Itulah suara sang ayah, kemudian Siu Lan sempat mendengar Cie-san Liong ong Kwee Sun menggerendang.
"Kamu membunuh guruku, karena itu wajib aku menuntut balas!"
"Membunuh gurumu? Gurumu yang mana?"
Tanya Thio Kim San heran. Ketlka Cie-san Liong-ong Kwee Sun hendak membuka mulutnya, tiba-tiba Su Thay Kim mendahuIui.
"Untuk apa kau mengadu mulut dengan bangsat itu? Renggut jiwanya habis perkara ..."
Thio Kim San menjadi bimbang mendengar perkataan Su Thay Kim tadi, selama sekian tahun menjadi orang buruan, ia memang mengalami suatu pertempuran sengit beberapa kali.
Tetapi ia hanya melukai, tak pernah membunuh lawannya.
Apakah kesalahan tangan?
Pada waktu waktu itu Bu Seng Kok ikut bicara.
"Jangan bunuh mereka! Kita harus menangkap mereka hidup-hidup, Kalau mereka mati, sia-sia saja usaha kita ini untuk memperoleh golok itu."
"Huh!"
Dengus Su Thay Kim.
"Mereka hidup atau mati, golok itu akhirnya akan dapat kita rebut, Mengapa kau ribut tak karuan? Kalau mereka dibiarkan hidup, huh ... sungguh enak!"
Tetapi seorang lain yang berada di belakang mereka ikut bicara.
"Jangan! jangan dibunuh! Biarkan mereka hidup. Kalau mereka mati, benar benar kita jadi gelap, Teka-teki itu tak dapat kita pecahkan."
Hebat suara itu.
Kecuali nyaring, kerasnya seperti genta dipukul oleh besi panjang.
itulah sebabnya, Thio Sin Houw ikut terkesiap.
ia berduka dan bergusar, sehingga tangannya yang kecil bergemetar.
Thio Siu Lan bercekat hatinya ketika merasakan getaran tangan adiknya.
Cepat-cepat ia kuatkan diri, lalu menekap tangan adiknya kencang kencang dan dibawanya lari makin cepat.
Mula-mula ia lari asal lari saja.
Lambat-laun merasa seperti diburu, Dan larilah kedua anak itu seperti kalap, sebentar saja dua gundukan tanah tinggi yang merupakan bukit telah terlampaui.
Kini mereka berdua merasa diri agak aman, Mereka memperlambat langkahnya.
Peluh mereka membasahi badan dan bercampur aduk dengan air hujan.
sambil mengatur pernapasan, Thio Siu Lan memasang telinga.
Tiada lagi terdengar beradunya pedang golok, Suara hiruk-piruk pertempuran lenyap teraling bukit.
Sejenak ia menatap wajah adiknya -Thio Sin Houw nampak muram, sepasang alisnya berdiri tegak dengan bibir mengatup rapat.
itulah suatu tanda, hatinya bergolak hebat, Dia membungkam karena berusaha menguasai diri.
"Kau kenapa, Sin Houw?"
Siu Lan menegas dengan hatihati, Gadis ini terkejut dan cemas.
"Aku ... aku ... sanggupkah aku membalaskan dendam ayah dan ibu yang kena dikeroyok musuh begini banyaknya? Mungkinkah ..."
Itulah suatu ucapan yang tepat sekali mengenai sasaran, Siu Lan sendiri sebenarnya lagi memikirkan soal itu pula, Tanpa terasa air matanya mengalir keluar, Katanya.
"Menurut kata ayah dahulu, seorang lelaki tidak boleh merendahkan kemampuannya sendiri. Kau pasti bisa, lihatlah keatas! Mungkinkah Tuhan akan menutup mataNya?"
Siu Lan menuding keudara, seakan-akan Tuhan berada dibalik langit yang gelap-kelam, Namun hal itu besar pengaruhnya didalam hati adiknya, Mendadak saja bocah itu dapat mengucapkan kata-kata galak.
"Ya, benar, Aku seorang laki-Iaki -tak boleh aku menangis, Mari kita terus!"
Selagi ia hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba suatu bayangan menyambar lengannya, ia kaget setengah mati.
"Siapa?"
Bentaknya.
Kilat berkilau dan ia melihat seorang pria bertubuh kekar berdiri di hadapannya.
Kedua pipinya bermandikan darah segar, Dialah ayahnya sendiri.
Disampingnya berdiri kakaknya puIa, Lengan dan kedua kakinya terluka, Dan luka itu mengalirkan carah segar.
Melihat keadaan mereka berdua, bocah itu menjadi kalap, ia memekik hebat.
"Kalau aku selamat, aku akan menuntut dendam, Ayah! Kakak! jangan takut! Aku akan membalaskan dendammu!"
Dengan wajah terharu Thio Kim Sin meraih kepala putera bungsunya itu, lalu berkata sambil membelai rambutnya.
"Anakku, Ayahmu bersyukur didalam hati mendengar dan melihat semangatmu Akan tetapi ayahmu mengharapkan kau menjadi seorang ksatria sejati di kemudian hari, Seorang ksatria sejati tidak boleh hanya menuruti kata hatinya belaka, kau harus pandai mempertimbangkan yang cermat, Harus dapat membedakan antara budi dan penasaran. Kalau dikemudian hari kau menjadi seorang pendekar yang tinggi ilmumu, akan tetapi melakukan sembarang pembunuhan lantaran menuruti rasa penasaranmu belaka akan membuat sengsara manusia yang tidak berdosa, Lihatlah, ayah dan ibumu adalah korban suatu dendam yang masih sangat gelap. Betapa sengsaranya, kaupun ikut mengalami sendiri. Karena itu, hendaknya di kemudian hari kau hanya menuntut dendam kepada musuh kita yang benar, Bagaimana caramu bisa mengetahui musuh keluargamu yang bersembunyi ini, hendaknya kau bersabar hati dan tabah, selidiki dahulu sampai jelas!"
Thio Sin Houw tertegun karena rasa kagum. pikirnya didalam hati.
"Akh, benarlah keterangan cici. Ayah tidak hanya gagah, akan tetapi jujur pula, Dia sedang luka parah, Hatinya pasti panas bagaikan api, walaupun demikian masih bisa bersabar hati untuk membedakan musuh yang hanya ikut-ikutan belaka."
Pertumbuhan jiwa Thio Sin Houw memang tak dapat disamakan dengan anak-anak sebayanya, Dia mempunyai cara berpikir sendiri, karena pengalaman hidupnya.
Dia mempunyai kata hati sendiri, karena penggodogan nasibnya, ini semua merupakan sendi kekuatan baginya di kemudian hari, Pada waktu itu, yang terasa didalam hatinya, adalah suatu keyakinan bahwa ayahnya sama sekali bersih dari suatu noda dan tidak berdosa.
Dan mengalami nasib menjadi buruan karena suatu fitnah yang masih sangat gelap.
Dalam pada itu Thio Kim San menghela napas dalamdalam, begitu melihat putera bungsunya terbungkam mulutnya.
Lalu ia berkata lagi.
"Anakku, malam ini ayahmu baru sadar, Kalian telah kubawa merantau dari satu tempat ke tempat lainnya, Ku kira didalam dunia yang luas ini masih ada tempat untuk kita meneduh, tak tahunya kita terus dikejar musuh tersembunyi. Kalau tahu begini, semenjak dahulu lebih baik kalian kubawa kemari saja, Hm... kukira aku bisa dan sanggup melindungi rumah perguruan leluhurmu, tak tahunya... akhirnya aku harus membawamu kemari juga, Alangkah bodohnya aku!"
Mendengar suara ayahnya, hati Sin Houw rusak bukan main, Tak tahu dia, harus berbuat bagaimana, Tiba tiba ia teringat sesuatu, lalu ia berteriak kalap.
"Mana ibu...?"
"Aku disini, anakku ..."
Terdengar jawaban lembut. Kilat mengejab lagi, dan Sin Houw melihat ibunya datang menghampiri dengan langkah tertatih-tatih. Terang sekali, dia terluka pula, Kali ini sangat parah.
"lbu! ibu terluka?"
Jerit Sin Houw.
"Akh, hanya luka dikulit saja,"
Sahut ibunya dengan suara menghibur. Kim San kemudian menimpali.
"lbumu hanya menderita luka ringan. Kau tak perlu merisaukan, anakku, mari kita meneruskan perjalanan, Rumah perguruan sucouwmu sudah berada didepan mata ..."
Ia berhenti sebentar, kemudian berpaling kepada Sin Han.
"Apakah kau masih bisa berjalan?"
"Mengapa tidak?"
Sahut Sin Han dengan suara gagah. Kim San tertawa perlahan, Katanya lagi.
"Kita berhasil mengundurkan musuh -akan tetapi aku yakin, sebentar lagi mereka akan datang lagi dengan jumlah yang berlipat, itulah sebabnya kita perlu cepat-cepat berangkat, Lan-moay, bukankah kau hanya menderita luka ringan?"
Lie Lan Hwa menyahut dengan suara sedih.
"Lukaku ini tak berarti. Mari kita berjalan terus!"
Mereka semua merupakan satu keluarga yang saling menghibur dan membesarkan hati.
Baik Lie Lan Hwa maupun Thio Sin Han sebenarnya menderita luka parah, akan tetapi dengan menguatkan diri mereka berusaha membesarkan hati seluruh anggauta keluarganya.
Dan malam gelap menolong menyembunyikan ke adaan mereka masing-masing.
Jelas bahwa perjalanan mereka merupakan perjalanan yang penuh penderitaan dan siksa.
walaupun demikian, mereka semua tiada yang mengeluh, setapak demi setapak, mereka maju terus, dan awan pegunungan mulai menyelimuti mereka, Setelah lewat larut malam, dua tikungan bukit telah dilintasi, Hanya sekarang, sesuatu yang menakutkan hati menghadang didepan mereka.
Tepat dipinggang bukit menghadanglah suatu lembah yang gelap sekali.
sebuah jurang bertebing curam nampak muncul diantara kejapan kilat, penuh uap dan kabut hitam-Begitu mereka mendekati tempat itu, lenyaplah anggauta tubuh mereka sendiri dari pengIihatan.
Thio Kim San berhenti melepaskan pandang, dan Sin Houw yang berdiri di sampingnya mengarahkan pandangnya kepada jurang, Lapat-lapat ia mendengar suara gemuruh seakan-akan suara napas raksasa sedang tidur mendengkur.
Tak dikehendaki sendiri, tengkuknya meremang.
Selagi mereka tertegun dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba hujan berhenti.
Angin keras menyapu kabut itu, dan lambat-laun ketebalan kabut kian menipis dan menipis, samarsamar bukan sisir menjenguk di belakang tabir awan yang guram.
"Mari kita beristirahat."
Ajak Kim San dengan suara dalam.
Mereka sudah berpengalaman tidur ditengah alam terbuka dalam keadaan basah maupun kering.
Maka begitu mendengar ucapan sang ayah, masing-masing mencari tempatnya sendiri, Dan mereka terus berdiam diri sampai matahari menerangi udara.
Tak perlu diceritakan lagi, satu malam penuh mereka diserang rasa dingin luar biasa, Masih untung, hujan berhenti dengan mendadak, Sekiranya tidak demikian, pastilah penderitaan mereka akan berlipat.
Oleh sinar matahari itu, penglihatan yang terbentang didepan mereka bertambah jelas.
Kabut yang menyelimuti tebing jurang itu kini nampak bedanya dengan udara bersih, dan dengan membungkam mulut mereka merenungi jurang itu.
"Mari kita berangkat!"
Kim San memutuskan setelah sejenak tadi terdiam seperti berpikir.
"Ayah!"
Tiba-tiba Sin Han membuka mulut.
"Semalam aku telah melepaskan panah berapi, apa sebab salah seorang paman guru kita belum muncul?"
Kim San menundukkan kepala. Menjawab.
"Semalam hujan badai. Siapa yang sudi membiarkan dirinya berada di luar dalam keadaan hujan demikian? Mogamoga salah seorang melihat cahaya panah itu, Dalam hal ini, kita hanya bisa berdoa. Akh, marilah kita atasi semua kesulitan ini dengan tenaga dan kemampuan kita sendiri. Tuhan pasti memberkati. Mereka menghampiri pinggiran dinding gunung yang tegak tinggi. Dan yang dikatakan jalan menuju ke jembatan penyeberangan itu sebenarnya lebih mirip suatu pengempangan sawah, Tegasnya lebarnya selebar sebuah pengempangan sawah, licin dan berlumut. sedangkan diseberangnya, jurang curam yang dalamnya entah berapa ribu kaki. Panjang jalan sampai mencapai jembatan batu kurang lebih duapuluh meter saja, akan tetapi menilik batu-batu dasar yang berlumut, teranglah sudah bahwa sudah puluhan tahun lamanya tak pernah terinjak kaki manusia. Thio Sin Houw yang berjalan disebelah belakang, melepaskan pandang kepada batu putih yang merupakan jembatan penghubung itu. Tak dapat ia meyakinkan dirinya, entah siapa yang membuat jembatan seperti itu. Entah manusia, entah alam, Tetapi pada waktu itu khayalnya dipenuhi oleh berbagai tokoh dewata, yang mungkin telah membuat jembatan itu. Panjang jembatan penghubung itu tak dapat tertembus ketajaman mata, Yang jelas nampak hanya sepanjang sepuluh meter, sisanya diselimuti kabut tebal, hitam pekat. Bagaimana bentuk ujungnya atau berapa puluh meter jauh-nya, tiada seorangpun yang bisa memberi keterangan selamanya belum pernah seorangpun yang berhasil mencapai seberang.
"Anak-anak, mari! inilah satu-satunya jalan hidup kita,"
Thio Kim San berkata perlahan, ia segera mendahului jalan berdinding yang hendak membawanya ke jembatan penyeberang, Tatkala tangannya meraba dinding batu mendadak ia terkejut.
"Apa artinya ini?"
Serunya kaget. Dengan pandang tegang ia mengawasi dinding batu, Lan Hwa dan ketiga anaknya ikut mendekati, dan mereka menemukan dua baris huruf kecil-kecil, Setelah membaca, mereka terkejut.
"Kim San. Golok itu tidak mudah kuperoleh, karena itu pertahankan dengan jiwamu!"
"Apa artinya ini?"
Thio Kim San mengulangi seruannya dengan suara setengah membisik, sedangkan jari tangannya masih meraba-raba huruf-huruf itu. Lalu ia berkata seakan-akan kepada dirinya sendiri.
"Bukan! Bukan! Bukan suhu. Siapa yang menulis ini? Apa maksudnya?"
"San-ko,"
Tiba-tiba terdengar suara Lan Hwa membisik.
"ltulah karena aku ... apakah kau masih ragu?"
Baru saja Lie Lan Hwa menutup mulutnya, terdengarlah suara nyaring beberapa orang. Mereka menoleh dan di atas gundukan berdiri lah dua puluh orang lebih memegang senjata masing-masing.
"Akh! Mereka bertiga lagi!"
Thio Kim San mengeluh, Mereka membawa tenaga baru, Sampai kapankah kita bisa hidup aman tenteram?"
Jawabannya kini makin terang. San-ko,"
Sahut Lan Hwa."Kita akan bisa hidup damai kembali, manakala penulis tulisan itu sudah lenyap dari dunia. Bukankah itu suatu fitnah?"
"Benar! Memang suatu fitnah!"
Kata Thio Kim San dengan napas memburu -"Kini tahulah aku ... apa sebab mereka menuduh aku menyimpan golok itu. Akh, benar-benar gila!"
Tak sempat lagi Thio Kim San berbicara berkepanjangan.
Beberapa orang datang meluruk ke bawah, Gerak-gerik musuh baru ini, lebih mantap dan perkasa, Namun hati Thio Kim San sama sekali tak gentar.
Dengan pandang tajam ia mengawasi mereka, mendadak di atas ketinggian ia melihat seorang mengenakan jubah abu-abu.
siapakah dia?
tak dapat ia mengenali.
Selagi ia berusaha untuk memperoleh penglihatan terang, Sin Han telah melompat menerjang sambil berteriak.
"Manusia-manusia serigala, kalian ganas melebihi binatang, Hayo maju!"
Thio Sin Houw yang masih merupakan seorang bocah, ikut tergetar hatinya oleh rasa kesal dan marah. Dengan menghunus pedang pendeknya, ia melompat maju, Kim San terkejut.
"Sin Han, Sin Houw! Kembali!"
Ia berteriak.
Mendengar seruan ayahnya, Sin Han merandek, ia terkejut tatkala ayahnya menyebut nama Sin Houw, Cepat ia berputar kebelakang dan melihat Sin Houw berada di belakangnya dengan langkah kalap, seperti burung alap-alap, ia menyambar lengan adiknya, Katanya nyaring.
"Sin Houw, tahan!"
Dan terus di bawanya kembali kepada ayahnya.
Tatkala itu beberapa orang sudah berada sepuluh meter didepannya, Dengan senjata andalannya masing-masing, mereka mengurung.
Sedang yang lain, datang berturut-turut bagaikan gugurnya bukit batu.
Thio Kim San menggeser tubuhnya, mendampingi isterinya, ia menghunus pedangnya.
wajahnya nampak tak tenang.
Setelah menoleh kepada Sin Han, ia berkata.
"Sin Han! Dan semua saja, dengarlah! Dengan susahpayah ayah bundamu melindungi kalian sampai disini. Tadinya aku berharap akan dapat bertemu dengan kakek-guru kalian, sebaliknya aku justru menemukan suatu deret tulisan yang membuat hatiku tak tenteram, Anak-anakku, kalian tidak boleh mengadu jiwa, kalian harus tetap hidup untuk bisa memecahkan teka-teki itu agar kelak kalian dapat menyambung anak-keturunan keluarga kita. Bersama ibumu, aku akan mempertahankan serbuan mereka, Kalian pergilah cepat cepat menyeberangi jembatan itu!"
"Ayah! Mengapa ayah tidak mencoba mengajak mereka bicara?"
Teriak Thio Sin Lan.
"Tak ada gunanya, Siu Lan.
"Mereka semua ganas. Tujuan mereka hanya ingin membunuh ayahmu sekeluarga, Nah, pergilah, cepat!"
Sahut Thio Kim San. Sebelum Thio Sin Han bertiga dapat melangkah, terdengarlah seorang musuh berkata nyaring.
"Hai! jangan biarkan mereka membunuh diri, maju!"
Perkataan i tu ternyata merupakan suatu aba-aba.
Belasan orang segera bergerak mengepung, akan tetapi sudah tentu Thio Kim San tidak tinggal diam, Keputusannya sudah kokoh, ia bersedia mengorbankan nyawa dalam pertarungan ini.
Segera ia maju dan menghantamkan pedangnya.
Seperti semalam, Cie-san Liong-ong Kwee Sun, su Tay Kim dan Bu Seng Kok bertiga segera mengepung, mereka bertiga merupakan lawan yang tangguh dan gesit, walaupun demikian, tak berani mereka semberono.
Sekali Cie-san Liong-ong Kwee Sun mendekat, senjatanya segera terbang keudara, senjatanya Cie-san Liong-ong Kwee Sun merupakan sebuah pian atau gada bergigi terbuat dari besi utuh, Tetapi dengan sekali babat, Thio Kim San dapat mementalkan.
Maka dapat dibayangkan betapa dahsyat tenaga Thio Kim San, tak memalukan ia menjadi murid Tiekong tiangloo dari Go-bi pay!
***** THIO SIN HAN mengeluh, sebenarnya enggan ia meninggalkan ayah dan ibunya menghadapi ancaman bahaya yang menentukan.
Akan tetapi pesan ayahnya sangat penting artinya, terus saja ia menarik lengan Sin Houw sambil berkata kepada Siu Lan.
"Siu Lan, adikku, Tak dapat kita sia-siakan harapan ayah dan ibu. Mari kita maju membuka jalan untuk Sin Houw...!"
"Baiklah, koko, Biarlah aku yang membuka jalan, Mereka bertiga memasuki jalan batu yang berlumut dan licin, Karena sangat sempitnya, tak dapat mereka berjalan berendeng, Thio Sin Han segera menolak Sin Houw agar berjalan di sebelah depan.
"Jangan! Biar aku yang di depan,"
Kata Siu Lan.
"Kalau aku menemukan kesulitan , aku bisa segera mengisiki Sin Houw."
"Benar,"
Sahut Sin Han dengan terharu, Kemudian kepada Sin Houw ia berkata.
"Kau sendiri, Sin Houw. Kau harus memenuhi harapan kita semua, sejak detik ini, kau harus menyayangi tubuh dan jiwamu. Kalau kau gagal, hancurlah nama keluarga kita!"
Thio Sin Houw sendiri pada waktu itu merasa telah kehilangan diri, Dengan hati dan kepala kosong, ia melangkah maju, Setapak demi setapak, jari-jari kakinya dicengkeramkan kepada dasar jalan itu, Kalau tidak demikian, ia akan tergelincir ke dalam jurang yang curam.
Thio Sin Han yang jalan di sebelah belakang, rusak hatinya, Dengan muka berkeringat ia menoleh.
Bukan main kagetnya, karena dilihatnya ayahnya ternyata telah rebah melintang di atas tanah pegunungan yang lembab, sedang ibunya berkelahi dengan pedang di tangan kanan dan belati ditangan kirinya.
Thio Kim San sebenarnya sudah menderita luka parah, Hanya saja ia pandai menyembunyikan di hadapan keluarganya, untuk menanamkan rasa kepercayaan terhadapnya.
Tetapi begitu kena dikepung Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga, mendadak saja ia merasa kehilangan sebagian tenaganya.
ia berhasil melontarkan senjatanya Kwee Sun dari genggaman, tetapi gerakannya sendiri sudah kurang gesit.
Tatkala Bu Seng Kok menusukkan pedangnya, tak dapat ia mengelak, Masih bisa ia menangkis, di luar dugaan Su Tay Kim melayangkan kaki nya.
Dak!
Dan ia mundur terhuyung.
Tepat pada saat itu si kate Su Tay Kim membarengi, sepasang goloknya menyambar dan Kim San roboh terkulai menungkerup di tanah.
Su Tay Kim lompat dan mengulangi serangannya, Thio Kim San yang masih memegang sebilah pisau belati, dengan sisa tenaganya menikam, inilah suatu serangan balasan yang sangat mengejutkan.
Hati Su Tay Kim tercekat, cepat-cepat ia mundur jumpalitan Dan selamatlah ta dari tikaman belati itu!
Melihat ayahnya roboh terguling, Thio Sin Han nyaris tak dapat menguasai diri.
Kakinya sudah bergerak, tatkala ia melihat suatu pemandangan ngeri lagi, ibunya yang sedang sibuk melayani kepungan musuh, kena tikam pedang Bu Seng Kok dari belakang, Berba-reng dengan itu pula, Cie-san Liongong Kwee Sun yang curang, sudah berhasil memungut senjatanya kembali.
Dengan panas hati ia melesat dan menghantarkan gadanya, Lie Lan Hwa sudah tak dapat bergerak banyak, Meskipun ia melihat datangnya bahaya, namun ia tak sudi berteriak, Dengan memejamkan kedua matanya, ia menunggu, Bress!
Dan ia roboh tersungkur.
Betapa keadaan hati Thio Sin Han pada saat itu, tak dapat dilukiskan lagi, itulah suatu kejadian yang hebat sekali, ia dipaksa menyaksikan gugur-nya kedua orang tuanya didepan matanya, serentak ia mengertak gigi dan menggerakkan kakinya, tetapi tiba-tiba ia menoleh kebelakang seperti ada yang mengingatkan.
Thio Sin Houw ternyata sudah berada dibelakangnya dengan pedang pendek ditangan kanan.
Melihat adiknya hendak menuruti kata hati untuk membuat suatu pembalasan, tersadarlah Sin Han.
ia kini merasa bertanggung jawab penuh untuk mempertahankan jiwa adiknya, demi pesan ayahnya, Segera ia menghadang dengan merentangkan tangannya .
"Sin Houw, kau mau kemana?"
Bentaknya. Pada waktu itu terdengar Cie-san Liong-ong berteriak nyaring.
"Hai, anak-anak! Kalian mau kemana? Hayo ...menyerah atau tidak?"
Panas hati Thio Sin Han mendengar Cie-san Liong-ong Kwee Sun yang bicara temberang, serentak ia menjawab dengan sinar mata menyala.
"Kami anak-anak keturunan Thio Kim San tak dapat kalian hina, Kalian boleh menguntungi kepala "kami atau menyiksa kami, tetapi jangan harap kami akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan!"
Mendengar jawaban itu, banyak di antara para pengepungnya menyatakan rasa kagum dan hormat. Berkatalah salah seorang diantara mereka.
"Memang tepat kata orang, harimau tidak akan melahirkan anak anjing .,."
Sebaliknya Cie-san Liong-ong Kwee Sun tak mau sudah, Dengan perisai dan penggada ditangan kiri-kanannya, ia maju mendekati sambil berkata.
"Benar-benarkah kalian tak sudi menyerah? Apakah kalian memang segagah ayah kalian? Baiklah, aku akan mengujimu!"
Cie-san Liong-ong Kwee Sun tidak hanya licik dan ganas, tapipun berangasan pula, setelah berkata demikian, gadanya menyambar.
Thio Sin Han pandai membawa diri, Kalau melompat, ia akan kena dikepung, Maka perlahan-lahan ia mundur lalu balas dengan menabaskan pedangnya.
"Tranggg!"
Tubuh mereka berdua segera nampak bergoyang-goyang.
Cie-san Liong-ong Kwee Sun sudah terlanjur mengumbar mulut besar, Tak dapat ia menarik diri, Melihat lawannya mundur, ia maju setapak demi setapak dengan melindungi diri dengan perisai bajanya, Dasar lebih berpengalaman, setelah terseret maju ia dapat memindahkan gelanggang.
Setiap kali pedang Thio Sin Han menghantam perisainya, ia memutar sambil mundur sedikit, Gerakan mundur dan membawa musuh ini ke tepi, benar-benar berhasil.
Tahu-tahu Sin Han telah berada di luar ujung jalan.
"Hm, bagus! sekarang mampus kau!"
Bentak Kwee Sun, yang terus mencecar dengan perisai dan godanya. Mendadak pada saat Itu, sebatang pedang berkelebat disampingnya. Kwee Sun tahu maksud rekannya, dan ia berteriak nyaring.
"Bagus, Bu-heng! Lebih baik anak itu kau ringkus saja."
Hati Sin Han tercekat, ia berteriak gugup.
"Sin Houw, awas!"
Siu Lan yang berada dibelakangnya Sin Houw, tak memikirkan keselamatan jiwanya lagi, terus saja ia melompat sambil menangkis, Tentu saja tak dapat ia mengadu tenaga dengan Bu Seng Kok.
Tubuh dan pedangnya terpental tinggi di udara, dan Sin Houw tak terlindungi lagi.
Menyaksikan hal itu, Sin Han mengerahkan segenap kepandaiannya.
ia mendesak Kwee Sun hendak mendekati Sin Houw, akan tetapi pada saat itu belasan orang datang mengepungnya.
Sin Han tak gentar sedikitpun, Masih ia berkesempatan berpaling mencari Siu Lan.
Di lihatnya adiknya itu tengah bertempur melawan seorang yang mengenakan jubah abu-abu.
Orang itulah yang tadi membuat teka-teki ayah dan ibunya.
Thio Siu Lan walaupun belum sempurna, namun ilmu pedangnya tidak tercela.
itulah disebabkan pengalamannya selama menjadi kejaran musuh.
Gerakan pedangnya gesit dan berbahaya, setiap kali ada kesempatan ia menikam atau menabas, Akan tetapi musuhnya si jubah abu-abu terlalu kuat baginya, Dengan memperdengarkan suara tertawa serangan Siu Lan kena dipunahkan dengan sangat mudah.
Dalam pada itu Thio Sin Han tak berkesempatan lagi memainkan pedangnya, yang di ingatnya hanyalah Sin Houw yang masih bercokol di atas jalan maut, Cepat ia berteriak.
"Sin Houw, jangan perdulikan kami berdua! Sebaliknya, ingatlah keluarga ayah dan ibumu. Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan, Lekas lari, jangan kau sia-siakan harapan ayah dan ibu!"
Siu Lan mendengar suara kakaknya, ia menoleh sambil melayani orang yang berjubah abu-abu.
Tatkala itu Sin Han mencurahkan perhatiannya kembali kepada tiga orang lawannya, Perlahan-lahan ia mundur kembali, maksudnya hendak menutup jalan agar Sin Houw dapat meneruskan perjalanannya tanpa terganggu musuh.
Sin Houw sendiri sangat sedih hatinya, ia melihat ayah dan ibunya tak berkutik lagi dan berlumuran darah.
Kemudian kakak perempuannya yang kerepotan menghadapi musuh, sedangkan Sin Han terus dikepung oleh musuh yang sangat banyak jumlahnya, Meskipun belum cukup umur, akan tetapi dalam hidupnya sudah seringkali ia melihat suatu pertempuran Secara naluriah, segera ia mengetahui bahwa kedua kakaknya tiada harapan bisa menang.
"Kalau begitu benar kata koko, tak boleh aku mati. Kalau aku membuat ayah dan ibu kecewa, matipun rasanya belum bisa menebus kesalahan ini. Baiklah, koko, Kau tutuplah jalannya, aku akan berusaha lari dari sini,"
Katanya di dalam hati.
Tepat setelah mengambil keputusan demikian, mendadak ia mendengar pekik teriakan kakaknya, Dengan hati sangat terkejut ia menoleh, dan masih sempat ia menyaksikan kakaknya Sin Han kena tikam dan roboh terjungkal ke dalam jurang.
"Sin Houw, terusss!"
Teriak Sin Han, Dan itulah teriak suara kakaknya yang terakhir, yang selalu akan dikenang dan membangkitkan bulu romanya di kemudian hari, Suara teriakan itu mengaung panjang dan makin tipis, kemudian lenyap.
Hebat pemandangan itu.
Dalam menghadapi maut, Thio Sin Han masih ingat dengan kewajibannya untuk memperingatkan adiknya agar menyelamatkan diri, Dan teriak peringatan penghabisan itu sangat berpengaruh, sehingga Sin Houw bagaikan lupa akan segalanya.
Tanpa merasa ia melompat pula sambil berteriak memanggil.
"Koko Sin Hannn!"
Tepat pada saat itu, tiba-tiba suatu tenaga maha besar menyambar dirinya.
Dan tubuhnya terangkat naik lalu jatuh bergulingan di tepi jurang, Tetapi begitu mukanya mencium tanah, tiba tiba saja ia dapat berdiri tegak.
Rasa kaget yang berkecamuk di dalam diri Sin Houw bukan main hebatnya.
Beberapa saat lamanya belum dapat ia menemukan dirinya kembali, namun secara naluriah ia menoleh mencari sesuatu.
Dan diantara kedua pipinya yang melepuh bengkak, ia melihat seorang berbaju panjang memancarkan pandang berapi kepada belasan lawan ayah bundanya -orang itu kirakira berumur sebaya dengan ayahnya, kesannya agung dan kelihatan berwibawa, Baju panjang yang dikenakannya berwarna putih dan terbuat dari kain kasar.
Yang terkejut ternyata tidak hanya Sin Houw saja, Baik Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga maupun yang lain saling pandang dengan wajah berobah.
Mereka tadi menumpahkan seluruh perhatian kepada Sin Han yang roboh terjungkal ke dalam jurang dengan teriak suara yang menyayat hati, Tahu-tahu orang itu muncul dengan tiba-tiba.
Kapan ia berada di dekat arena pertempuran, tiada yang tahu.
Suatu hal yang membuat hati mereka bercekat adalah, walaupun Sin Houw masih kanak-kanak, namun tubuhnya cukup berat.
Dengan melompat ke dalam jurang, pelontaran tubuhnya mempunyai daya tekanan sendiri.
Namun dengan hanya mengebaskan tangannya, tubuh Sin Houw terangkat naik dan dibawa ke tepi jurang, Jelaslah, bahwa orang itu mempunyai ilmu sakti yang sukar diukur!
Secara serentak, Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga menatap wajah orang itu.
Ternyata orang itu memiliki wajah cemerlang, sepasang alisnya tebal.
Tepi mulutnya nampak beberapa jalur kerutan kulit, itulah suatu bentuk wajah yang yang sudah melampaui masa remaja serta kenyang akan berbagai penderitaan hidup.
Orang itu membungkam, sikapnya acuh tak acuh, Sama sekali tak bergerak dan pikirannya seperti melayang pada masa-masa lampau.
Cie-san Liong-ong Kwee Sun men-deham, ia bersikap hatihati.
Sebaliknya Bu Seng Kok yang berwatak berangasan, lantas saja menyapa dengan suara kasar.
"Siapa kau? Kenapa begitu datang, lalu ikut campur urusan kami?"
Ditegur demikian, orang itu tidak merasa tersinggung, ia membungkuk hormat dan menjawab.
"Tempat ini termasuk wilayah kami, kalau tidak boleh dikatakan demikian setidaknya berdekatan dengan rumah perguruan kami. Karena itu, sudah selayaknya kami harus menghaturkan selamat datang dan menyambut kedatangan kalian, siapakah sebenarnya tuan-tuan ini? Kenapa tuan-tuan melakukan suatu pembunuhan disini?"
"Siapa kau?"
Ulang Bu Seng Kok.
"Aku adalah Cia Sun Bie!"
Jawab orang itu.
Mendengar nama itu, baik Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga maupun Sin Houw berseru berbareng.
Hanya saja seruan Sin Houw bernada kaget bercampur girang, sebaliknya Kwee Sun bertiga kaget berbareng gusar.
serentak mereka mundur selangkah dan memberi isyarat agar bersiaga.
Dengan pedang gemerlipan Bu Seng Kok melintangkan senjatanya di depan perut, sebaliknya Su Tay Kim memasang sepasang goloknya miring ketanah.
Ke dua gerakan itu merupakan inti ilmu saktinya masing-masing, nampaknya seperti saling bertentangan -tetapi apa bila mulai digerakkan tikamannya sangat ganas.
Dengan jurus itulah mereka bekerja sama mengepung Thio Kim San dan Kwee Sun yang curang diam-diam sudah memilih kedudukannya sendiri, ia melindungi dirinya dengan perisai baja dan gada bergiginya disembunyikan di baliknya.
Tetapi, meskipun diancam demikian, sama sekali Cia Sun Bie tidak gentar.
Sikapnya masih saja acuh tak acuh, perhatiannya malah kepada Sin Houw yang tadi berseru kaget bercampur girang, ia nampak heran dan menoleh dengan pandang penuh pertanyaan.
Waktu itu seluruh muka Sin Houw penuh lumpur, Meskipun demikian rasa girangnya tak lenyap dari kesan wajahnya yang tak keruan macamnya.
"Benarkah supeh adalah Cia Sun Bie?"
Tanya Sin Houw.
"Benar!"
Sahutnya tegas walaupun didalam hati masih penuh pertanyaan.
"Bukankah supeh adalah kakak seperguruan ayahku?"
Sin Houw menegas, Sejak diberitahukan oleh ayahnya, ia menghafal nama-nama semua paman gurunya, itulah sebabnya begitu mendengar nama Cia Sun Bie, serentak ia berseru girang.
"Eh, anak, Kau siapa?"
"Aku bernama Thio Sin Houw, Bukankah supeh datang karena melihat sinar api semalam?"
"Benar, Coba, kau bicara yang jelas! siapakah ayahmu?"
Kata Cia Sun Bie dengan suara gemetar.
"Ayah ... ayah ... bernama Thio Kim San,"
Sahut Sin Houw tersendat sendat.
"Thio Kim San? Kim San adik seperguruanku?"
Sun Bie menegas.
"Ayah ... ayah dikepung dan akhirnya dibunuh manusiamanusia ganas itu!"
Teriak Sin Houw.
"ibu juga dibunuh oleh mereka!"
Cia Sun Bie mengalihkan pandangnya kearah dua mayat yang bergelimpang tak jauh dari tempatnya, Dan melihat mayat itu, wajahnya berobah pucat.
"Jadi ... jadi ... ayahmu semalam yang melepas panah berapi?"
"Bukan ayah, tapi kakak, Diapunmati terjungkal ke dalam jurang."
Sahut Sin Houw dengan suara parau.
"Ya, Tuhan ..."
Seru Cia Sun Bie.
"Akulah yang semberono. Panah api itu tidak pernah kulihat, aku hanya menerima laporan, Akh, sutee!"
Setelah berseru demikian, dengan sekali melompat ia melesat melewati mereka yang mengepung.
Kemudian menghampiri adik seperguruannya, Thio Kim San.
Dan begitu melihat mayat adik-seperguruannya yang rusak seperti di cincang, Cia Sun Bie jatuh terkapar, tak sadarkan diri.
Panah api tanda bahaya itu, memang tak pernah dilihatnya, Pada waktu itu ia berada didalam rumah, tiba-tiba seorang datang berlari-lari menyerbu rumahnya dan mengabarkan tentang panah api.
Mula-mula dikiranya kelapan kilat, akan tetapi warnanya biru -Cia Sun Bie merasa bimbang ketika menerima laporan itu.
"Panah api bersinar biru memang merupakan isyarat tanda bahaya,"
Katanya.
"Masing-masing anak murid membekal beberapa batang, Akan tetapi selama belasan tahun belum pernah salah seorang diantara kami melepaskan panah itu, apakah kau tak salah lihat?"
Orang yang memberikan laporan itu adalah salah seorang murid Bu-tong yang dapat dipercaya, maka setelah sesaat merasa bimbang, akhirnya ia memutuskan hendak menyelidiki.
Dan bertemulah ia dengan rombongan Cie san Liong-ong Kwee Sun, sayang sudah terlambat -Thio Kim San dan isterinya telah binasa dikepung, Maka betapa hebat rasa sesalnya kepada diri sendiri tak dapat dilukiskan lagi.
Meskipun dia seorang pendekar yang sudah banyak makan garam, tak urung pingsan juga.
Tepat pada saat itu, sesosok bayangan melesat menghantam Thio Sin Houw, dan bocah itu lantas saja roboh tak berkutik, Tatkala menjenakkan mata ia melihat Cie-san Liong-ong Kwee Sun bertiga datang merubung Cia Sun Bie kata Su Tay Kim.
"Memberantas rumput harus sampai ke akarnya, Selagi ia tidak berdaya, kita kutungi saja lengan dan kakinya, Akulah yang akan bertanggung-jawab di kemudian hari."
"Benar."
Bu Seng Kok menguatkan.
Pada waktu itu Thio Sin Houw seperti kehilangan tenaga.
Kepalanya pening, dan seluruh tubuhnya terasa nyeri .
Entah siapa tadi yang memukulnya ia tak tahu, ia pingsan dan kemudian tersadar seorang diri saja, tiada yang memperhatikan keadaannya.
Mungkin sekali mereka mengira bocah itu telah binasa.
Demikianlah, untuk yang kesekian kalinya ia menyaksikan ancaman terhadap pihaknya.
Karena terkejut, kecewa dan marah, ia lupa kepada segala penderitaannya, Memang ia sama sekali tidak berkutik, tetapi pikirannya masih jernih dan sadar sepenuhnya, Tanpa berpikir panjang lagi, ia lalu berteriak sekuat-kuatnya.
Apabila manusia belum sampai pada ajalnya, maka terjadilah tiba-tiba suatu peristiwa diluar dugaan.
Oleh jeritan itu, Cia Sun Bie tersadar, Tapi tepat pada saat itu ujung sebatang pedang terasa menempel dijidatnya, Kemudian berkelebatlah sebatang golok menabas lengan kirinya.
Dalam keadaan demikian, meskipun bermaksud menangkis sudah tidak sempat lagi.
Apalagi ujung pedang Bu Seng Kok telah mengancam jidatnya, Sedikit gerakan saja, ia akan tewas tertembus.
Dalam keadaan tak berdaya sama sekali, jalan satu-satunya hanya menghimpun tenaga saktinya yang segera disalurkan ke lengan kiri untuk melindungi.
"Brtt!"
Golok Su Tay Kim menabas lengan kiri Cia Sun Bie.
Tapi begitu mengenai sasaran, golok melejit ke samping seperti membentur suatu benda keras.
Ternyata ilmu Yangkong (tenaga keras) dari Su Tay Kim telah dipunahkan oleh Im-jiu (tenaga lembek) dari Cia Sun Bie.
Namun demikian, darah segar tetap merembes keluar dari lengan baju Cia Sun Bie yang panjang, Dan pada saat itulah, sekonyong-konyong tubuh Cia Sun Bie yang rebah celentang diatas tanah, meluncur sejauh beberapa tombak, Gerakan itu sangat aneh, tubuhnya seakanakan seboah botol yang menggelinding karena kena sentuhan seseorang dari luar arena pertempuran, Kecepatannya dapat mengelakkan tikaman pedang Bu Seng Kok.
Sesungguhnya ujung pedang Bu Seng Kok berada satu senti diatas jidat Cia Sun Bie, Dengan sedikit gerakan saja akan dapat menggores hidung, mulut dan dada.
Tindakan Cia Sun Bie untuk membebaskan diri memerlukan suatu keberanian yang sangat berbahaya, Sebab apabila ujung pedang Bu Seng Kok tertekan lagi satu senti saja, maka dada, perut dan muka Cia Sun Bie akan seperti dibedah!
Dalam gerakan membebaskan diri, Cia Sun Bie menekuk lutut dengan pinggang tetap tegak lurus.
Dan setelah lolos dari ujung pedang, mendadak ia berdiri tegak bagaikan berpegas, Kemudian dengan suatu gerakan senapas , terdengarlah suara patahnya pedang Bu Seng Kok dan golok Su Tay Kim!
Sebenarnya kedua senjata musuh itu tak mungkin dapat dipatahkan oleh Cia Sun Bie dalam satu gebrakan saja, Soal nya tatkala tangan Cia Sun Bie bergerak, Bu Seng Kok dan Su Tay Kim tidak berkesempatan lagi menarik senjatanya masingmasing.
Begitu sadar akan akibatnya, pedang dan golok mereka kena dipatahkan dengan serentak.
Cia Sun Bie memang lebih tangguh daripada Thio Kim San yang menjadi sutee-nya, Begttu berhasil mematahkan senjata lawan, dengan gerakan melintang ia melontarkan patahan senjata itu kepada majikannya masing-masing, Tentu saja Bu Seng Kok dan Su Tay Kim kaget setengah mati, cepat-cepat mereka lompat mundur kesamping mengibaskan lengan untuk mengurangi daya lontaran.
Hebat pengaruh serangan balasan itu, belasan orang yang berada di belakang Su Tay Kim dan Bu Seng Kok ikut bergerak pula untuk menjaga diri, Dan kesempatan itu dipergunakan Cia Sun Bie untuk memikirkan kekuatan musuh.
Pikirnya didalam hati.
"Thio siauwtee binasa di tangan mereka, padahal ia dibantu oleh isteri dan anaknya, Aku sendiri mungkin pula dapat merobohkan beberapa orang diantara mereka, tetapi untuk merebut kemenangan rasanya tidak mudah. Baiklah aku mengambil jalan lain untuk menolong bocah itu ..."
Setelah berpikir begitu, ia berkata nyaring kepada mereka.
"Kami murid-murid Bu-tong pay selamanya mengambil jalan terang benderang. Kalian telah membunuh salah seorang saudara seperguruan kami, kenapa lancang tangan, Apakah kalian mengira kami akan berpeluk tangan saja? Sayang sekali sampai pada detik ini, aku belum mengetahui perkaranya dengan jelas -kalau kalian mempunyai keberanian mari ikuti aku!"
Dengan langkah perlahan ia mendekati mayat Thio Kim San dan isteri-nya, lalu memanggulnya diatas kedua belah pundaknya. setelah itu ia berkata kepada Sin Houw.
"Anak, kau naiklah ke punggungku. Tetapi Thio Sin Houw tak dapat bergerak sama sekali, ia hanya bisa membuka mulutnya, Sebagai seorang pendekar yang kenyang makan cparam, dengan sekali pandang -tahulah Cia Sun Bie apa yang sedang diderita anak itu. pikirnya didalam hati. Aku harus berusaha mengambil tindakan cepat, sebelum keadaan mereka berubah. Dengan sekali menggerakkan kakinya, tubuh Thio Sin Houw dilontarkan ke udara sambil ia berseru.
"Pegang leherku!"
Pukulan yang diderita Sin Houw tidak melumpuhkan seluruh anggauta badannya, ia masih bisa menggerakkan ke dua tangannya, Mendengar seruan Cia Sun Bie dan menyadari akan bahaya yang mengancam, kedua tangannya lantas saja merangkul leher paman gurunya.
"Bagus, anak!"
Cia Sun Bie berlega hati, Kemudian berputar kepada rombongan musuh dan berkata garang.
"Tuan-tuan, aku akan pergi. Siapa yang bosan hidup, ikuti aku. sebaliknya yang tak sudi mengikuti aku, akan kucari sampai dapat ..."
Berbareng dengan ucapannya ia ia melesat bagaikan bayangan, Tiba-tiba Thio Sin Houw setengah memekik.
"Eh, mana cici Siu Lan?"
"Siapa dia?"
Tanya Cia Sun Bie.
"Kakak perempuanku,"
Sahut Thio Sin Houw, ia memutar pandangnya, akan tetapi pada waktu itu ia telah terbawa melintasi dua dinding bukit.
***** KETIKA MENGALAMI berbagai tumpuan peristiwa yang mengejutkan, memedihkan dan menyakitkan hati, Thio Sin Houw lupa segalanya, Akan tetapi setelah ia terlepas dari marah bahaya, mendadak saja ingatannya sadar kembali.
Yang teringat untuk pertama kalinya adalah Thio Siu Lan, karena dialah yang masih bergerak.
Dan mendengar perkataan Thio Sin Houw, maka Cia Sun Bie berhenti dengan mendadak.
"Selain kau, tak ada lain orang yang kulihat."
Katanya dengan suara cemas.
Tadi, ketika melihat jenazah adik seperguruannya -ia jatuh pingsan karena merasa kecewa kepada keteledorannya sendiri.
Thio Sin Houw demikian pula, Karena itu keduaduanya tidak dapat mengikuti lagi apa yang telah terjadi selagi mereka dalam keadaan tidak sadar.
"Sebenarnya, bagaimana semuanya ini bisa terjadi?"
Cia Sun Bie menanya lagi.
Thio Sin Houw tak dapat menjawab dengan segera, Perutnya mendadak terasa melilit dan pandang matanya berkunang-kunang.
Setelah berdiri tegak, ia segera memberi keterangan apa yang telah dialami, kemudian latar belakang sebab-sebab yang didengarnya dari mulut ayahnya.
Katanya dengan menahan air mata.
"Ayah berkata ... ayah berkata .. itulah mengenai golok Sun-lui to ..."
Setelah berkata demikian, iapun jatuh pingsan untuk yang kedua kalinya.
Cia Sun Bie menyangka bocah itu pingsan karena rasa letih dan rasa sedih, maka ia segera melepaskan ikat pinggangnya dan mengikat bocah itu di dadanya.
Kembali ia siaga hendak lari secepat-cepatnya.
"Akh! Bagaimana mungkin malapetaka ini bisa menimpa Thio Kim San?"
Katanya didalam hati.
Mendadak saja ia mendongak dan berteriak panjang.
Begitu keras dan hebat tenaganya, sehingga bumi seakanakan tergetar dan daun-daun kering rontok berguguran, Lama dan lama sekali , baru ia berhenti berteriak, lalu berkata.
"Baiklah, aku akan membawanya kepada suhu, Entah bagaimana keputusan suhu, Tapi aku sendiri akan turun gunung . Ngo-tee, kau tenangkan arwahmu, dendammu pasti terbalas!."
Setelah berkata demikian, segera ia lari sekencangkencangnya bagaikan anak panah lepas dari busurnya.
Dalam pada itu Thio Sin Houw belum sadar juga dari pingsannya, tatkala menjenakkan mata, ia sudah berada di sebuah ruangan sebuah rumah besar.
ia mendengar suatu kesibukan tak keruan, bentakan-bentakan yang diseling dengan suara membujuk.
Oleh suara itu, Thio Sin Houw jadi tersadar benar-benar dari pingsannya.
ia tersentak bangun, apa yang di lihat oleh matanya untuk yang pertama kalinya adalah jenazah ayah dan ibunya, tak mengherankan, hati bocah itu tergetar lagi.
Terus saja ia berteriak menyayatkan hati.
"lbu! Ibu! Ayah! Ayah ...!"
Terus ia menubruk dan merangkul jenazah ayah dan ibunya.
Waktu tiba di rumah perguruan, Cia Sun Bie segera membunyikan lonceng tanda bahaya, Kebetulan sekali hari itu menjelang ulang tahun Tie kong tiangloo yang ke sembilan puluh, Semua murid-murid hadir dalam rumah perguruan Giok-hie kiong.
Ketika mendengar bunyi suara lonceng tanda bahaya, mereka segera menemui Cia Sun Bie.
Betapa terkejut dan gusar hati mereka, tak dapat dikatakan lagi begitu mereka melihat jenazah saudara seperguruan mereka, Thio Kim San dan isterinya.
Selagi mereka sibuk memperoleh keterangan dari mulut Cia Sun Bie, maka tibatiba datang guru mereka -Tie-kong tiangloo yang sebenarnya sudah jarang sekali mau mencampuri segala urusan duniawi.
Pada waktu itu nama Tie-kong tiangloo disegani orang seumpama menggetarkan bumi.
Perawakannya sedang, agak tipis dan lembut, wajahnya bercahaya terang, bersemu merah.
Suatu tanda bahwa keadaan tubuhnya sehat dan kuat, Rambut, kumis dan jenggotnya memutih perak.
Pandangnya lemah lembut, penuh kemanusiaan.
Seperti keterangan Thio Kim San kepada isteri dan anakanaknya, Tie-kong tiangloo jarang sekali muncul di rumah perguruan, ia hadir satu tahun satu kali, yakni tepat pada hari ulang tahunnya.
Pada hari itu ia sengaja hadir untuk menyambut ucapan selamat dari murid-muridnya.
Sama sekali tak diketahui bahwa muridnya yang kelima Thio Kim San mengalami peristiwa kebinasaan yang sangat menyedihkan.
Dengan langkah penuh pertanyaan ia menghampiri.
Begitu melihat wajah muridnya yang kelima itu, tergetarlah hatinya, ia adalah seorang pertapa yang telah berusaha melepaskan diri dari ikatan keduniawian walaupun demikian, hubungan antara murid dan guru sudah meresap dalam bagian kehidupannya sendiri.
Tak dikehendaki sendiri, gemetarlah seluruh tubuhnya, Namun ia bisa membawa diri, dengan tenang ia membungkuk kemudian meraih, Setelah mengetahui bahwa muridnya yang kelima itu sudah tak bernapas lagi, mulailah ia memeriksa lukanya.
"Apakah ini isterinya?"
Tanyanya perlahan.
"Benar."
Sahut Cia Sun Bie, murid yang pertama. Tie-kong tiangloo lalu berpaling kepada Thio Sin Houw, dan bertanya.
"Dan bocah itu?"
"Dialah putera satu-satunya yang masih hidup."
Tie-kong tiangloo berhenti sejenak, berkata dengan suara kian perlahan.
"Bun Kiat, kau tolong lah anak itu, ia pasti ingin menangis."
Semua orang mengira, bocah itu yang kembali pingsan adalah karena pengaruh luapan tangis dan rasa dukanya.
Maka cepat-cepat Tan Bun Kian, murid Tie-kong tiangloo yang ke-empat meraihnya dan memijit-mijitnya, Urat dadanya diurut perlahan-lahan, lalu ia berkata.
"Anak, kau menangislah sekarang, Menangislah ..."
Akan tetapi Thio Sin Houw tetap tak bergerak, Menyaksikan hal itu, Cia Sun Bie dan sekalian saudara saudara seperguruannya terkejut.
seperti berjanji mereka berpaling kepada gurunya minta pertimbangan.
Semua murid Tie-kong tiangloo berjumlah lima orang, Murid tertua Cia Sun Bie, didalam rumah perguruan ia bertindak mewakili gurunya, sifatnya tenang dan berwibawa, jarang ia berbicara berkepanjangan, Akan tetapi tiap perkataannya, merupakan sikapnya yang bulat.
MURID kedua Lim Tiauw Kie, hari itu ia tidak hadir karena sudah beberapa tahun lamanya menghilang tanpa meninggalkan jejak dan tak pernah memberikan berita kepada rumah perguruannya maupun kepada sanak keluarganya, ia menghilang secara misterius, tanpa diketahui apakah masih hidup atau entah telah binasa.
Murid ketiga Koan Siok Hu, sudah berkeluarga sehingga tidak lagi berdiam di rumah perguruan.
Akan tetapi setiap tahun menjelang hari jadi gurunya, ia pasti datang menyambangi dan menyampaikan ucapan selamat panjang umur kepada gurunya, sekalian berkumpul untuk beberapa hari bersama saudara saudara seperguruannya.
Murid ke-empat Tan Bun Kian, perawakannya langsing dan gesit.
Matanya tajam bulat, karena itu kesan wajahnya kasar, ia pandai berdebat pula, itulah sebabnya seringkali ia mewakili gurunya dalam pertemuan perdebatan atau diwaktu menghadapi para tamu bermulut jahil.
Murid kelima adalah Thio Kim San -yang hari itu tiba dalam keadaan telah menjadi mayat.
Sementara itu, sambil menghela napas Tie-kong tiangloo berkata.
"Anak itu keras wataknya, coba bawalah kemari."
Dimulutnya Tie-kong tiangloo memberi perintah agar Thio Sin Houw dibawanya mendekat, akan tetapi ia sendiri lantas berdiri untuk menghampiri sebelum bocah itu diangkat oleh Cia Sun Bie.
Tie-kong Tiangloo segera mengulurkan tangannya ke punggung Sin Houw -pusat urat syarafnya, Segera ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyadarkan.
Lweekang atau ilmu tenaga dalam Tie-kong Tiangloo tak dapat diukur betapa tingginya, murid-muridnya saja sudah bisa mengagumkan para pendekar kelas utama, seperti Thio Kim San misalnya, untuk banyak tahun lamanya ia menjelajahi dikalangan Rim-ba persilatan sehingga memperoleh nama cemerlang.
Begitu juga Cia Sun Bie yang berhasil menolong Thio Sin Houw dari ancaman maut, itulah suatu bukti betapa tinggi ilmu kepandaian mereka berkat dasar tenaga dalam yang diberikan gurunya, Maka luka tak perduli betapa beratpun, asal kena tersalur tenaga dalam Tie-kong Tiangloo, pasti akan sembuh sebagian, dan yang pingsan akan segera siuman kembali.
Akan tetapi sama sekali tak terduga, setelah lweekang Tiekong Tiangloo menyusup ke dalam urat syaraf, wajah Thio Sin Houw mendadak berubah warna, Kini tidak hanya pucat saja, tapipun menjadi kebiru-biruan atau ungu gelap, Bocah itu terus menggigil -seluruh tubuhnya terasa dingin luar biasa.
Tie-kong Tiangloo mengerutkan dahinya.
ia meraba jidat Thio Sin Houw.
Mendadak tangannya terasa dingin seperti kena sentuh sebongkah batu es.
Dalam terkejutnya Tie-kong Tianglo dengan cepat merabaraba punggung sibocah, tetapi ditengah-tengah punggung terdapat sebagian daging yang panas seakan-akan terbakar.
Anehnya disekitar rasa panas itu, diselimuti hawa dingin luar biasa sampai meresapi tulang.
Kalau bukan Tie-kong Tiangloo yang telah memiliki ilmu sakti tak dapat diukur lagi betapa tingginya, pastilah akan ikut menggigil kedinginan begitu kena sentuh hawa yang bertentangan itu.
"Sun Bie, Waktu kau bertemu dengan bocah ini, dia dalam keadaan ba-gaimana?"
Tanya Tie-kong Tiangloo. Cia Sun Bie sejenak terdiam dan merasa bingung, sulit rasanya untuk ia memberikan jawaban.
"Ketika mula-mula murid memasuki arena pertempuran, bocah itu dalam keadaan sehat, walaupun nampak ia seperti kehabisan tenaga, Kemudian murid menjadi pingsan, setelah melihat jenazah sutee Thio Kim San. Begitu siuman lagi, murid itu nampak sedang berteriak ketakutan."
Akhirnya Sun Bie memberikan jawaban.
"Apakah kau yakin, bocah itu bebas dari suatu siksa ketika kau dalam keadaan tak sadar?"
Tie-kong tiangloo minta keterangan dengan sabar.
Cia Sun Bie nampak ragu-ragu.
Kemudian teringatlah dia bahwa muka Thio Sin Houw matang-biru, seperti bekas kena tamparan.
seketika itu juga ia mengerahkan ingatannya kembali kepada daerah pertempuran -lantas ia berkata setengah berseru.
"Benar, suhu! Muka bocah itu matang-biru, walaupun demikian, mungkinkah ia kena aniaya orang-orang yang menamakan dirinya pendekar? Murid rasa ... akh ... Suhu, waktu murid memasuki arena pertempuran, memang murid melihat seorang yang mengenakan pakaian jubah abu-abu sedang bertempur melawan seorang gadis. Menurut bocah itu, dialah kakaknya, Tapi benarkah dia sempat menganiaya bocah ini?"
Hening, Tie-kong tiangloo diam termenung, semua muridmuridnya ikut terdiam tak bersuara, Tie-kong tiangloo kemudian merobek baju Sin Houw untuk memeriksa tubuhnya yang berkulit halus dan putih.
Dipunggung terdapat tapak dari lima jari tangan yang nampak mengeluarkan hawa panas sekali.
Dilain pihak, disekitarnya semuanya berhawa dingin.
Pantaslah Sin Houw pingsan seperti mayat.
Wajah muka Tie-kong tianglo segera berubah muram, selagi diam-diam ia merasa sangat terkejut.
Kemudian ia bicara seperti pada dirinya sendiri.
"Aku tidak menyangka setelah tigapuluh tahun lamanya, dengan matinya Pek Kwie Tauwto -maka lenyaplah sudah ilmu Hian-beng Sin-ciang yang lihay luar biasa, Siapa sangka sebenarnya masih ada orang yang memiliki ilmu kepandaian itu ..."
Cia Sun Bie yang ikut mendengar perkataan gurunya, menjadi ikut terkejut sekali.
"Jadi bocah ini terluka karena terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang?"
Tanyanya, ia berusia paling tinggi diantara muridmuridnya Tie-kong tiangloo, dan mengetahui perihal ilmu pukulan tangan kosong itu -Tangan Malaikat Air! "Benar,"
Sahut sang guru.
"Warna ungu dengan disertai tapak jari merupakan tanda khas dari ilmu pukulan Hian-beng Sin-ciang yang mudah dikenali."
"Bagaimana cara mengobatinya, suhu? Kami bersedia melakukan,"
Tan Bun Kian ikut bicara dan ikut merasa cemas hatinya.
Tetapi Tie-kong tiangloo tidak memberikan jawaban, ia menghela napas sedih, dan secara tiba-tiba saja air matanya mengalir keluar.
sambil mendukung tubuh Sin Houw, ia menghampiri jenazah Thio Kim San.
"Kim San, muridku. Belum lagi jelas sebab-sebab kematianmu kini gurumu menghadapi masalah baru lagi. Kau telah mengangkat aku sebagai guru tetapi ternyata aku tak pandai menjaga keselamatan jiwa anakmu. Bukankah bocah ini anakmu satu-satunya yang masih hidup? Oh , Kim San! Tiada gunanya aku hidup sampai setua ini, nama perguruanmu termashur diseluruh persada bumi, Akan tetapi, ternyata orang-orang tak menghargai rumdi perguruanmu dengan sepenuh hati. Ternyata kau binasa berselimut nama rumah perguruanmu. Bukankah mereka yang membunuhmu tahu juga, bahwa kau adalah salah seorang muridku? Akh, Kim San, perlu apa aku hidup lebih lama lagi...?"
Segenap murid-muridnya menjadi sangat terkejut ketika mendengar ucapan guru mereka, Selama berguru padanya, belum pernah mereka mendengar kata-kata Tie-kong tiangloo yang menyatakan suatu rasa kecewa, marah, dendam, benci, penasaran dan berduka.
Tapi kali ini dengan satu napas, Tie-kong tiangloo merangkum seluruh perasaan demikian.
inilah suatu tanda bahwa guru mereka dalam keadaan putus asa dan sedih tak terhingga.
"Suhu, benarkah anak ini tidak dapat ditolong lagi?"
Tanya Koan Siok Hu penasaran. Tie-kong tiangloo merangkul terus tubuh Sin Houw, ia berjalan tak menentu di dalam ruangan itu.
"Kecuali... kecuali guruku le Giam taysu hidup lagi dan mengajarkan aku seluruh isi kitab Kiu-yang cinkeng..."
Semua muridnya kian menjadi terkejut, semuanya berdiam sehingga kembali suasana di dalam ruangan itu menjadi hening. Tiba-tiba terdengar teriak suara Sin Houw.
"Ayah! Ayah! Kau tidak boleh mati ! Kau tidak boleh mati! Kasihanilah ibu ... kasihanilah ibu! Addduuuuuuh, sakit ...!"
Begitu mengerang, Thio Sin Houw segera merangkul Tiekong Tiangloo sekencang-kencang, kemudian menyusupkan kepalanya ke dalam rangkulan guru besar itu.
Tergoncang hati Tie-kong tiang-loo yang dirangkul dan mendengar teriakan Sin Houw, ia jadi merasa iba sekali.
Dengan memusatkan seluruh semangatnya ia berkata.
"Marilah kita sama-sama berusaha dengan sepenuh tenaga untuk merebut hidup bocah ini. Berapa lama dia bisa hidup, terserahlah kepada Yang Maha Kuasa."
Lalu ia menoleh kepada jenazah Kim San. Dengan air mata mengalir ia berkata setengah isak.
"Oh, muridku Kim San. Malang benar nasibmu."
Dengan langkah kaki lunglai Tie-kong tiangloo kemudian membawa Sin Houw ke dalam kamarnya sendiri, dimana segera ia memijat berulang-ulang delapan belas macam urat nadi untuk mengurangi kepekaan.
Setelah kena pijatan itu, Sin Houw tidak menggigil lagi, Tetapi, warna ungu yang nampak tersembul pada wajahnya kian menjadi gelap.
Tie-kong tiangloo tahu, apabila warna ungu gelap itu berubah menjadi hitam maka bocah itu tak dapat ditolong lagi.
Kesadaran itu membuat ia segera bertindak.
Baju Sin Houw ditanggalkan, kemudian iapun menanggalkan jubahnya sendiri.
Dan dengan mengadu dada, ia mendekap punggung sibocah.
Dilain pihak, Cia Sun Bie bertiga dengan Koan Siok Hu dan Tan Bun Kiat dengan dibantu oleh nurid-murid Boe~tong lainnya sibuk mengurus penguburan jenazah Thio Kim San dan isterinya, setelah selesai ketiga murid utama itu ikut serta memasuki kamar Tie-kong tiangloo, dan meneka segera mengetahui apa yang sedang dilakukan guru mereka untuk menolong Sin Houv, Guru mereka tengah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyedot keluar hawa dingin dari tubuh Sin Houw, Seumur hidupnya Tie-kong tiang-loo tidak menikah sehingga ia tetap merupakan seorang perjaka asli, dan berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalam "Soen-yang Boekek kang"
Yang istimewa.
Hanya ilmu itu luar biasa sekali, kalau salah penggunaannya dapat membahayakan diri sendiri.
Cia Sun Bie bertiga berdiri tegak disamping gurunya.
Hati mereka tegang luar biasa, karena mereka menyadari pengobatan dengan cara demikian besar sekali bahayanya.
Kalau kurang tepat, tidak hanya Sin Houw gagal memperoleh kesehatannya kembali, tetapi yang berusaha menyembuhkan juga akan tertimpa malapetaka.
Didalam hati terpikir oleh mereka tenaga sakti gurunya yang murni, memang tiada tandingannya.
Akan tetapi guru itu telah berusia lanjut betapapun juga tenaga jasmaninya sudah mundur.
Jangan-jangan malah terjadi hal-hal yang mengerikan ...
Tak mengherankan bahwa hati mereka kian menjadi cemas.
setengah jam mereka berdiri tegak bagaikan patung, akhirnya Tie-kong tiangloo nampak bergerak, wajahnya samar-samar bersemu hijau dan sepuluh jari-jarinya bergemetar, Setelah membuka mata, ia berkata dengan suara perlahan.
"Siok Hu, kau majulah menggantikan aku, Apabila merasa tak tahan, Cepat-cepat kau mundur dan biar Bun Kiat menggantikan. jangan sekali-kali kau memaksa diri."
Koan Siok Hu segera membuka baju dan memeluk Sin Houw ke dalam pang-kuannya, Begitu tubuhnya bersentuhan ia menjadi terkejut, bukan main dinginnya.
ia merasa diri seakan akan sedang memeluk balokan es, maka cepat cepat ia berseru .
"Tan sutee, perintahkan beberapa orang membuat unggun api! Makin garang, makin baik!"
Sebagai murid Tie-kong tiangloo yang bermukim diatas gunung Boe-tong san yang berhawa dingin, sudah tentu Koan Siok Hu seringkali mendaki gunung untuk melatih diri dalam hawa yang sangat dingin, Akan tetapi, begitu memeluk tubuh Sin Houw, Koan Siok Hu menjadi sangat terkejut sampai ia berteriak.
Dengan demikian dapat dibayangkan, betapa dingin hawa yang menguap dari dalam tubuh bocah itu.
Tidak lama kemudian api unggun segera dinyalakan di dalam kamar itu, sekalipun demikian, Koan Siok Hu masih merasa kedinginan.
Kadangkala ia menggigil dengan gigi berceratukan -sehingga ia menyadari akan ancaman malapetaka, dan cepat-cepat ia menghimpun tenaga murninya.
Namun setiap kali akan terhimpun, mendadak menjadi buyar lagi.
Kini barulah ia mengenal betapa hebat ilmu sakti Hianbeng Sin-ciang yang ditakuti orang sejak puluhan tahun yang lalu.
"Suhu sudah berusia lanjut, tetapi masih sanggup bertahan setengah jam. sebaliknya aku baru saja memeluk tubuh bocah ini, sudah menggigil tak keruan. Akh, tenaga murni suhu benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan ..,"
Katanya di dalam hati -sehingga ia menjadi malu sendirinya karena tadi ia menyangsikan tenaga gurunya yang sudah berusia lanjut.
Dalam pada itu Tie-kong tianglo sudah terbenam dalam semadinya, ia tidak menghiraukan segalanya, seumpama tiada melihat dan tiada mendengar sesuatu.
perhatiannya dipusatkan untuk menghapus hawa berbisa yang tersedot oleh tenaga murninya ke dalam jasmaninya.
Apabila hawa berbisa terkuras habis dari jasmaninya.
Sementara itu Tan Bun Kiat sudah menggantikan kedudukan Koan Siok Hu, lalu tempatnya digantikan lagi oleh Cia Sun Bie, Koan Siok Hu berdua Tan Bun Kiat duduk bersemadi di dekat tempat api unggun.
Cia Sun Bie yang mencontoh cara penyembuhan terhadap Thio Sin Houw, telah memeluk dan menempatkan bocah itu di atas pangkuannya, Kemudian tubuhnya yang bidang ditempelkan dan segera terjadilah suatu perjuangan mengadu ketahanan tenaga sakti.
Memang!
Secara tidak langsung mereka semua seperti sedang diuji himpunan tenaga saktinya, Siapa yang dangkal segera tak tahan kena serangan hawa berbisa Hian-beng Sinkang, yang dingin luar biasa, Ternyata ilmu tenaga dalam Cia Sun Bie berada sedikit disebelah atas dari Koan Siok Hu dan Tan Bun Kiat.
"Serahkan kepada!"
Tiba-tiba perintah Tie-kong tiangloo yang terkejut ketika menyaksikan keadaan Cia Sun Bie yang sedang menggigil , berusaha mempertahankan diri.
"Duduklah kau dan pusatkan pernapasanmu, jangan sekali-kali pikiranmu terpecah!"
Demikian dengan cara bergiliran mereka berempat berjuang mengusir hawa beracun yang mengeram di dalam tubuh Thio Sin Houv, selama tiga hari dan tiga malam.
Cara mereka melakukannya seperti sedang berjuang menghadapi ancaman maut yang menyerang rumah perguruan mereka.
Sama sekali mereka tak kenal lelah.
Dan oleh ketekunan mereka, hawa beracun yang mengeram dalam tubuh Thio Sin Houw lambat laun makin tipis dan tipis.
Oleh karena itu daya tahan mereka kini bisa mencapai waktu dua jam, itulah sebabnya pada hari ke empat mereka bisa tidur secara bergilir.
Dan seminggu kemudian, mereka sudah bisa membagi waktu, masing-masing sudah bisa menanggulangi sisa hawa dingin dengan sendirian saja.
Dengan demikian, yang lain dapat beristirahat untuk mengembalikan tenaga sakti mereka yang telah terhambur keluar.
Pada hari kedua puluh, secara berangsur-angsur kesehatan Thio Sin Houw memperoleh kemajuan, Suhu dingin yang menyerang badannya makin berkurang.
Pikiran bocah itu nampak menjadi jernih pula, ia milai makan sedikit demi sedikit, sehingga hal itu menggembirakan semua penghuni rumah perguruan Go-bie pay, Mereka mengira bahwa beberapa hari lagi kesehatan Sin Houw akan pulih kembali seperti sediakala.
Mendadak pada hari ke empat puluh ketika tiba pada giliran Cia Sun Bie, terjadilah suatu hal yang mengejutkan Cia Sun Bie menemukan suatu bintik dingin yang membeku di dalam pusar Thio Sin Houw, ia berusaha mendorong keluar dan membuyarkan, akan tetapi betapapun ia mengerahkan tenaganya hawa dingin yang membeku itu tidak dapat didesaknya, Bahkan bocah itu kembali menjadi pucat gelap, Cia Sun Bie mengira, bahwa kegagalan itu disebabkan lantaran tenaga saktinya kurang kuat.
Maka ia melaporkan kepada gurunya.
Ketika Tie-kong tiangloo mencoba mendorong hawa dingin yang beku itu, iapun gagal juga, Lalu dicobanya untuk menghancurkan, tetapi usaha itupun gagal.
Koan Siok Hu lalu menggantikan, tetapi murid inipun tak berdaya.
Dan selama lima malam, mereka semua gagal melenyapkan hawa dingin yang mengeram itu.
Segera mereka berunding dan bertukar pikiran.
Akhirnya diputuskan untuk mengambil jalan lain dengan memberikan ramuan obat penghancur serta pelawan hawa dingin, namun percobaan itupun tak berhasil.
"Anakku, bagaimana perasaanmu ?"
Pada suatu hari Cia Sun Bie menegas.
Pada waktu itu Thio Sin Houw sudah bisa berbicara.
Selama itu, sedikit demi sedikit ia bisa menceritakan kembali pengalaman orang tuanya semenjak dikejar-kejar musuh yang pada mulanya tidak dikenal dan tidak diketahui entah apa sebabnya mereka memusuhi dan bermaksud membunuh Thio Kim San sekeluarga, Akhirnya secara samar-samar ia sudah bisa menebak-nebak latar belakang peristiwa yang menghantui keluarganya.
Demikian ketika mendengar pertanyaan Cia Sun Bie yang dikeluarkannya dari lubuk hati yang tulus ihlas, ia memberikan keterangan.
"Kaki dan tanganku hangat tetapi pada ubun-ubunan, dada dan perut rasanya makin lama makin menjadi dingin Tie-kong tiangloo yang ikut hadir pada waktu itu, diamdiam tercekat hatinya, Cepat-cepat ia menghibur.
"Cucuku, lukamu kini sudah sembuh. Aku tak perlu lagi mendukungmu setiap hari , kau boleh rebahan diatas tempat tidurku."
Thio Sin Houw manggut.
Perlahan lahan ia turun dari tempat tidur dan merangkak-rangkak mendekati Tie-kong tiangloo dan sekalian paman gurunya, ia berlutut dan menyembah sampai mencium lantai, lalu ia berkata dengan suara halus.
"Sucouw dan sekalian supeh.... Sin Houw tidak akan melupakan budi sucouw dan sekalian supeh yang telah menolong jiwaku ini. Kini teecu mohon sucouw dan supeh, agar sudi mengajarkan ilmu yang tinggi dan sakti, supaya dikemudian hari teecu dapat menuntut balas sakit hati ayahibu dan kedua saudara..."
Mendengar perkataan Thio Sin Houw, mereka semua terharu bukan main -Bocah seumur Sin Houw, mengapa sudah dapat bicara seperti itu?
Mereka agaknya lupa bahwa Thio Sin Houw di godok dan digembleng oleh pengalaman yang pahit dan dahsyat, sehingga mematangkan cara berpikir dan pernyataan perasaannya.
Dengan berdiam diri tanpa memberikan jawaban, Tie-kong tiangloo meninggalkan kamar serta ketiga muridnya mengikuti dari belakang, Di pen-dopo Tie-kong tiangloo menghela napas dan berkata.
"Racun Hian-beng sin-ciang sudah meresap kedalam ubun-ubun, dada dan perutnya, Artinya tiada sesuatu tenaga lagi yang dapat mengusir dari luar -tampaknya jerih-payah kita selama empat puluh hari empat puluh malam itu sia-sia belaka, Hanya saja yang tidak kumengerti, apa sebab terjadi perubahan ini?"
"Suhu,"
Kata Cia Sun Bie setelah berpikir sejenak.
"Kami mendengar kabar bahwa mertuanya sutee Thio Han Sin adalah seorang lo-cianpwee kenamaan. Apakah tidak mungkin Sin Houw menerima warisan himpunan tenaga sakti kakeknya lewat ibunya? Janganjangan... dalan usahanya mempertahankan diri dari rasa sakit, Sin Houw melawan serangan hawa berbisa itu dengan himpunan tenaga sakti warisan kakeknya. Karena kurang pengalaman, mungkin ia salah mengetrapannya, Dia bukan mengusir tetapi malahan menyedot sehingga kini melengket dengan himpunan tenaga saktinya sampai meresap ke dalam urat syarafnya."
Tie-kong tiangloo mendengarkan alasan itu, namun ia menggelengkan kepalanya, sahutnya.
"Andaikata empat atau lima tahun lebih tua usianya, kemungkinan itu memang ada, Tetapi masakan anak sekecil dia mempunyai tenaga yang berarti untuk mengadakan perlawanan?"
"Suhu keliru."
Bantah Cia Sun Bie.
"Tenaga dalam Sin Houw tidak lemah."
Ia segera menceritakan bagaimana Sin Houw ikut bertempur selagi dua saudaranya sibuk melayani pihak musuh yang mengepung."
"Ayah mertuanya Kim San adalah Lie Sun Pin, dalam kalangan Rimba persilatan memperoleh gelar sebagai "Singa kepala sembilan", kata Tie-kong tiangloo setelah mendengarkan perkataan muridnya.
"llmu saktinya tidak gampang-gampang dapat diwarisi atau dimengerti. Apakah karena dalam keadaan terdesak , maka ibunya telah menurunkan ilmu warisan ayahnya secara diam-diam? Akh, ya, Mungkin begitu itu, Tie-kong tiangloo bagaikan baru menyadari, lalu ia berkata lagi setengah berseru.
"Benar ... benar, Kiranya ilmu sakti warisan Lie Sun Pin berada pula di dalam dirinya, Sebab kalau hanya warisan Kim San 3 himpunan ilmu saktinya adalah sejalan dengan kita, pastilah bantuan kita dari luar tidak akan mengakibatkan sesuatu. Tapi bagaimana corak himpunan tenaga sakti aliran Lie Sun Pin itu, aku tidak mengerti. Biarlah kucobanya ..."
Setelah berkata demikian, Tie-kong tiangloo kembali memasuki kamarnya. Lalu ia berkata kepada Sin Houw.
"Cucuku, coba kau pukul aku tiga kali 3 berturut-turut dengan sungguh-sungguh."
"Bagaimana teecu berani memukul sucouw?"
Tanya Sin Houw heran. Tie-kong tiangloo tertawa, lalu berkata lagi.
"Jika kau tidak memukul aku, bagaimana aku bisa mengetahui sampai di mana dangkal dan dalamnya himpunan tenagamu, bagaimana aku bisa mengajarmu ?"
Thio Sin Houw berpikir sejenak, Alasan sang kakek guru memang berasalan, dari itu ia berkata.
"Kalau begitu , baiklah. Hanya saja, sucouw jangan memukul aku keras-keras ..."
"Tentu saja!"
Masakan aku akan memukul kau kembali? Aku hanya ingin menguji himpunan tenagamu."
Memang, secara tergesa-gesa Lie Lan Hwa pernah menurunkan ilmu warisan ayahnya kepada Sin Houw, ilmu itu sebenarnya banyak dikenal orang sebagai ilmu dari aliran "hitam"
Atau golongan sesat.
Lie Lan Hwa sendiri sebenarnya belum memahami seluruhnya, dia hanya menguasai tiga jurus saja, Hal itu dikatakan dengan terus terang kepada anaknya yang bungsu itu.
Gerakan Thio Sin Houw yang kini diperlihatkan kepada Tie-kong tiang-loo adalah jurus kesatu, yang seluruhnya terdiri dari tujuhpuluh dua jurus!
Ketika pukulan itu tiba, Tie kong tiangloo menyambut, dan tenaga pukulan yang dahsyat kena dihisapnya hilang, Thio Sin Houw merasa diri seakan-akan sedang memukul udara kosong yang lunak, sehingga diam-diam ia menjadi terkejut.
"Bagus juga!"
Puji Tie-kong tiangloo sambil manggutkan kepalanya.
"Menurut kata ibu, pukulan ini dapat merobohkan gunung, Akan tetapi dihadapan sucouw, mengapa habis daya-nya? Sucouw hebat sekali. Maukah sucouw ajarkan aku ilmu sakti itu, agar aku bisa membalas sakit hati terhadap musuh-musuh orang tuaku?"
"Kau pusatkan dulu perhatianmu pada pukulanmu yang kedua dan yang ketiga,"
Sahut Tie-kong tiangloo yang tidak menjawab langsung.
Thio Sin Houw tiba-tiba berputar, lalu membalikkan tubuh dan menyusul gerakannya ia memukul.
ia menggunakan tipu "Sin-liong pa-bvee", salah satu tipu-pukulan yang dimalui di kalangan rimba persilatan.
Melihat berkelebatnya tangan, Tie-kong tiangloo menyambut dengan tangan kanannya, Dan daya pukulan itu amblas sirna, Yang mengheran, Sin Houw sama sekali tidak merasa kena pukulan pantulan tenaga sakti kakek-guru itu yang membalik.
Selagi heran dan kagum, kakek guru itu memuji lagi.
"Sin Houv, bagus sekali! Anak seusiamu sudah bisa mencapai himpunan tenaga sebesar ini, benar-benar patut mendapat pujian."
"Sucouv, sudahlah, Tidak guna lagi aku melancarkan pukulanku yang ketiga, kurasa tiada berarti apa-apa bagi sucouw."
Kata Sin Houw.
"Kedua pukulanmu tadi sangat hebat, kau pukullah aku dengan pukulanmu yang ketiga!"
Sahut Tie-kong tiangloo.
Dengan memaksa diri , Thio Sin Houw menghimpun tenaga dalamnya pada telapak tangannya, ia perlu melingkar dahulu sebelum tangannya bergerak.
Dan apabila tenaga dalamnya sudah merasa terhimpun , tiba-tiba ia menyodok -inilah tipu muslihat jurus ke sembilan, yang disebut Kang-liong Yoe-wie (penyesalan sang naga).
Barang siapa terkena pukulan ini, meskipun kebal dari sekalian senjata tajam, akan roboh terjengkang dengan luka di dalam!
Diam-diam Tie-kong tiangloo terperanjat, pikirnya di dalam hati.
"Benar-benar dia bisa melakukan pukulan hebat ini?"
Terus saja ia bersiaga, akan tetapi pukulan itu ternyata tiada bertenaga, Perbawanya memang hebat, angin seakanakan kena gulung dan dilontarkan dengan suara menderu.
Akan tetapi begitu tiba pada sasaran, hebatnya pukulan tidak seperti yang pertama dan kedua, Tie-kong tiangloo jadi kecewa, sebab seharusnya pukulan ini dahsyat tak terkira, Maka dengan menggelengkan kepala ia berkata menasehati.
"Sin Houw, seranganmu kali ini kurang kuat, Mungkin sekali engkau belum memahaminya."
"Bukan begitu,"
Jawab Sin Houw cepat.
"Soalnya, ibu sendiri belum mahir, ibu berkata, bahwa ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu sakti yang hebat, merupakan salah satu ilmu sakti tertinggi di kalangan rimba persilatan. Betulkah begitu?"
"Benar,"
Jawab Tie-kong tiang-loo sambil manggut.
"Menurut kata ibu , beliau hanya mewarisi tiga jurus saja, karena menurut kata kakek -ibu kekurangan tenaga dalam yang dibutuhkan. itulah sebabnya, ibu belum bisa menyelami inti sarinya, Gerak tipu pukulan ketiga itu bernama "Kang-liong Yo-wie". Menurut ibu hebatnya luarbiasa, ibu tahu bahwa teecu belum bertenaga sama sekali. Akan tetapi teecu boleh menghafal dan mempelajari kulitnya saja. Dikemudian hari teecu masih mempunyai kesempatan untuk menyelami. Dengan cara itu, mungkin sekali teecu akan dapat mencapai intisarinya,"
"Oh, begitukah Maksud ibumu..,?"
Kata Tie-kong tiangloo dengan suara terharu.
"Tapi mulai saat ini, dalam suatu pertempuran sungguh-sungguh jangan sekali-kali kau gunakan tipu jurus itu. Sebab selain kau belum bertenaga seperti yang diperlukan, kaupun akan kena akibatnya sendiri."
"Kalau begitu, tolonglah sucouw ajari aku,"
Sin Houw memohon.
"Tidak, Bukan aku tidak mau, tapi lantaran aku sendiri tidak dapat menggunakan tipu jurus itu yang hebat luar biasa,"
Jawab Tie-kong tiangloo sambil mengurut-urut jenggotnya, Lalu ia berkata lagi .
"Kakekmu , Lie Sun Pin benar-benar hebat luar biasa, Di dunia ini, kukira hanya dia seorang yang mewarisi ilmu sakti itu dan para leluhur di jaman purba. Sayang, dia belum menemukan seorang ahliwarisnya, Apakah kau pernah bertemu dengan kakekmu itu?"
"Belum. Menurut kata ibu, kakek sudah wafat sebelum teecu dilahirkan..."
Sahut Thio Sin Houw.
Tie-kong tiangloo menarik napas dalam-dalam.
Kemudian ia minta keterangan tentang berbagai macam ilmu sakti yang pernah dipelajari oleh Sin Houw, dan Sin Houw dengan lancar memberitahukan.
Ternyata ia hanya menerima ajaran patahpatah dari ibunya.
Walaupun demikian mendengar berbagai kalimat hafalan yang diucapkan oleh Sin Houw, Tie-kong tiangloo kagum luar biasa.
ia seorang guru besar yang sudah banyak makan asam garam, berbagai cabang ilmu sakti hampir semua telah diketahuinya, Akan tetapi dengan terus-terang ia mengakui, bahwa ada beberapa hafalan yang sama sekali asing baginya, pikirnya di dalam hati.
"Benar-benar.. luas ilmu pengetahuan Lie Sun Pin, sedang ibu anak ini tak dapat mewarisi. Rupanya hanya bisa menghafal kalimat-kalimat rahasianya, akan tetapi belum memperoleh kunci intipatinya ..." ***** SESUDAH menyambuti tiga pukulan Thio Sin Houw, maka Tie-kong tian gloo mengetahui bahwa tenaga dalam si bocah tidak "murni". sebagai akibatnya lweekang dingin dari Hianbeng Sin-ciang tidak dapat disedot keluar lagi. Dengin hati sedih kakek guru itu duduk terpekur sambil mengasah otak, Selang sekian lamanya, ia berkata didalam hati.
Baca Juga: Anggrek Tengah Malam 3
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala Gu Long