Ceritasilat Novel Online

Anggrek Tengah Malam 3

Eps 3 Anggrek Tengah Malam - Khu Lung

Baca online Anggrek Tengah Malam - Khu Lung

Cersil Anggrek Tengah Malam - Khu Lung.

Akan tetapi suara tidak bergeraknya dia, masih sebagaimana seorang dia itu, dingin, hijau dan kaku beku.

Ketika orang ini bergerak atau tidak bergerak, bagaikan dua orang lain yang berbeda sama sekali.

Ketika orang ini berbicara atau tidak berbicara, juga bagaikan dua orang yang berlainan.

Akan tetapi hal yang paling mengejutkan orang, jauh lebih mengejutkan dari yang satu ini.

Orang dan tandu masih di angkasa.

Anggap saja orangnya adalah dari boneka kertas, tetap mustahil tergantung di atas angkasa.

Bahkan kalau pun selembar daun yang begitu ringan, juga mustahil terhenti, dan tergantung di angkasa.

Akan tetapi sebuah tandu dan kedua orang itu justru memang demikian keadaannya.

Di dunia ini memang banyak hal demikian keadaannya, banyak sekali hal yang seharusnya tidak mungkin terjadi dan kenyataannya telah terjadi.

Sebuah tandu dan kedua orang itu malahan dalam sekejap mata menyala terbakar menjadi segumpalan api.

Api mulai menyala dan galah bambu hijau.

Pinggang orang berbaju hijau itu menggeliat, orangnya sudah berada di luar rumah, galah bambu hijaunya dijulurkan ke kegelapan di angkasa malam.

Seperti dukun iblis sedang mengumpatkan mantra tertentu kepada tuhannya.

Kemudian sebatang galah bambu yang sudah tidak punya daya kehidupan itu, mendadak mendapatkan kekuatan dan sumber mistis tertentu, mendadak meliuk-liuk dan bergetaran tanpa henti, seolah-olah seekor ular beracun sedang dibakar di dalam neraka.

Kemudian dia membawa nyala api neraka itu keluar.

Dalam kegelapan mendadak berkelebat nyala api hijau kebiruan, dan menggumpal menjadi seberkas sinar di ujung tongkat bambu hijau itu.

Sekali lagi ular hijau itu menggeliat, berkas sinar menjulur seperti lidah ular, bagaikan kilat menyambar ke arah orang dan tandu yang tergantung di angkasa malam.

Maka tandu dan dua orangnya segera saja menyala dan terbakar menjadi setumpuk abu.

Nyala api membakar sangat cepat sekali, dalam waktu sebentar saja sudah memerahkan setengah langit.

Jadi kedua orang dan tandunya sesungguhnya memang dari bahan kertas.

Akan tetapi, bagaimana bisa terjadi, orang dan tandu kertas bekal kubur itu bisa mengikuti seseorang datang dari ribuan li dan terbang memasuki rumah batu yang dingin menyeramkan dan misterius ini?

Jika saja dalam tandu tidak ada orangnya, bagaimana bisa mengeluarkan suara erangan dan raungan yang begitu seram?

Nyala api yang membakar mendadak dari segumpal berubah menjadi satu bidang, terpisah dan bergerak ke arah lima arah, tumbuh menjadi lima berkas tonggak nyala api.

Sekali lagi nyala api berubah, kelima tonggak nyala api berubah menjadi sebuah tangan, sebuah tangan raksasa, menyergap orang berbaju hijau tua itu dari tengah angkasa.

Suara angin yang terbawa nyala api, suara anginnya menderu-deru seperti lembaran kain yang robek, cahaya sinar api menyoroti wajah orang berpakaian hijau itu sampai menjadi hijau kehitaman yang menyeramkan.

Bahkan orangnya seolah-olah juga bakal terbakar.

Asalkan tangan nyala api raksasa ini lebih diturunkan menyedok ke bawah, maka badan daging dan roh jiwanya akan terbakar jadi abu semuanya, bentuk wujud dan roh jiwanya padam lenyap, berlaksa kali reinkarnasi juga tidak bakal kembali jadi manusia.

Dalam kondisi seperti ini, di dunia ini sepertinya sudah tidak ada lagi satu kekuatan apa pun yang mampu mencegah tangan nyala api ini, juga tidak ada orang yang bisa menolongnya lagi.

Di dalam rumah batu, dari dalam mata pertapa fakir seolah-olah juga sedang berkilauan nyala api.

Setelah dia mendadak mendapatkan adanya sebuah tangan api raksasa, yang menempel pada sebuah bayangan orang.

Sebuah bayangan hitam bagaikan setan iblis yang ganas.

Keempat anggota badan kaki tangan dan tubuh orang ini, setiap ruas pergelangannya, sepertinya bisa meliuk-liuk dan menari-nari ke sembarang arah yang dikehendaki.

Dia terus bergerak tidak henti-hentinya, aneh, gaib dan misteriusnya gerakan, sudah melampaui batas ekstrim kemampuan jenis manusia.

Tidak ada 'orang' yang bisa melampaui batasan ekstrim jenis manusia, mengapa orang ini bisa melakukannya?

Ataukah dia bukan manusia?

Pendeta petapa fakir itu tertawa dingin.

Dia mengetahui sepenuhnya Wu Gong (Kong Fu) dan asal usul orang ini, di dunia ini tidak ada orang bisa menyelomoti dia, orang ini juga tidak bakal bisa.

Perkara yang dia ketahui jauh lebih banyak daripada yang diketahui kebanyakan orang.

Dia tahu bahwa pernah ada sejumlah tertentu dari jenis benang sehalus sutera dari logam hitam, yang berasal dari istana kerajaan Persia, telah masuk ke Tiongkok.

Benang sutera ini, bukan saja sangat lentur dan ulet, bahkan sulit diputuskan oleh golok maupun kapak.

Di dunia Wu Lin (persilatan) memang ada satu orang yang sangat cerdik, begitu mendapatkan benang logam ini, segera menciptakan satu jalan Wu Gong yang sangat aneh.

Mulanya dia menggantungkan dirinya, dengan memakai benang sutera dari logam ini, pada ujung benang yang lain terdapat paku dan kaitnya, mengait ke bubungan atap, punggung tembok, pohon kayu, menara tinggi, tonggak dan segala tempat yang bisa dijadikan tempat bersandar, orangnya tergantung pada benang logam yang banyaknya tak terhitung itu.

Mirip dengan boneka yang dikendalikan oleh benang.

Satu-satunya yang berlainan, ialah tenaga yang mengendalikan, justru bersumber dari dirinya sendiri.

Begitu badannya bergerak, benang sutera logam ikut bergerak tertarik, daya lentur dan keuletan benang sutera logam, juga akan menarik gerakannya, banyaknya benang sutera logam saling mengendalikan, dengan tenaga lama membangkitkan tenaga yang baru, dan dengan tenaga yang baru melanjutkan tenaga lama, demikian silih berganti, terus menerus menjadi seperti hidup.

Keunikan tenaga semacam ini, bisa menandingi mesin yang rumit dan kompleks.

Besarnya tenaga ini, juga sulit bisa dibayangkan, dan hanya tenaga semacam ini, baru bisa membangkitkan gerakan supra yang di luar jangkauan pemikiran.

Sesudah mengerti masalah ini, sewajarnya kau juga mengerti mengapa tandu tersebut bisa berdiri mengapung di angkasa.

Tandu kertas dan kedua orang orangan kertas, sesungguhnya memang tergantung pada badan orang ini.

Or¬ang tersebut sesungguhnya sedang 'duduk' di dalam tandu.

Gerakan yang aneh membangkitkan tenaga yang mengerikan, membuat gerakan orangnya semakin aneh dan menakutkan.

Tangan nyala api raksasa itu, digerakkan dan dikendalikan oleh tenaganya juga, dengan membawa nyala api dan deru angin, terus menubruk ke arah orang bebaju hijau itu.

Sesudah angin dan api masih berlanjut dengan bayangan orang yang seperti setan iblis yang jahat.

Katakanlah orang berpakaian hijau itu bisa menghindari gumpalan nyala api itu, juga tetap sulit menghindari sergapan maut yang dilancarkan orang dengan bayangan hitam itu.

Suara angin meraung menderu, lidah api berkelebat, setan iblis menyerang, dalam kesempatan itu, langit dan bumi juga hampir sudah berubah warnanya.

Mata setan merah kecil yang berbaju merah itu terus menerus mamancarkan cahaya, sekujur badannya menjadi tegang bergairah karena terangsang.

Dia suka melihat ada orang yang dibunuh, jika bisa menyaksikan ada orang yang mati dibakar hidup-hidup, tidakkah akan lebih mengasyikkan?

Akan tetapi kali ini dia tidak bisa menyaksikannya, tetapi dia malah menyaksikan sesuatu yang lebih mengasyikkan dari pada membakar seseorang hidup-hidup sampai mati.

Telapak tangan nyala api menepuk ke bawah, badan orang berbaju hijau itu mendadak berputar dengan ringan, jubah hijaunya mendadak merosot lepas dalam gerak memutar itu.

Mungkin bukan jubahnya yang terlepas dari badannya, malah badannya yang lepas dari dalam jubah.

Badannya lemas dan licin seperti sutera.

Tangannya sekali menggapai, jubah panjangnya sudah terbang melayang, mirip seperti sepetak awan air hujan yang kehijauan, mencegah terpaan bara api menyala.

Awan air hujan menggulung balik, selanjutnya terbang mengarah kepada bayangan hitam setan iblis jahat tadi, membuat kobaran nyala api juga menggulung kepada badannya.

Si setan merah kecil berdiri terus menyaksikan dan atas kursi, sampai seolah-olah bola matanya mau copot terlepas.

Yang dilihat dengan matanya, bukannya gulungan awan nyala api yang terbang di angkasa, yang terus dan cepat sekali mengalami beribu perubahan, suatu pemandangan yang cantik, megah dan mempesona, bukan satu jurus yang bisa mengubah hidup mati dalam sekejap, yang bisa mengejutkan hati dan menggetarkan jiwa.

Dia bahkan tidak bakal tertarik menyaksikan sebentuk bulan purnama yang sedang naik ke atas di kejauhan itu.

Matanya hanya memperhatikan satu orang saja, seseorang yang baru saja melepaskan diri dari kepompong jubah hijau panjangnya.

Seorang perempuan.

Seorang perempuan yang baru bisa dibentuk dalam khayalan, dengan memusatkan semua pikiran erotis dan khayal semua jenis manusia.

Badannya tinggi, sangat tinggi, setinggi sampai sebagian besar lelaki harus mendongakkan kepala baru bisa melihat wajahnya.

Bagi kaum pria, sekalipun ketinggian badannya itu bisa jadi merupakan suatu tekanan tapi juga bisa memuaskan nafsu keinginan tertentu dan rasa ingin berlagak tertentu yang sangat rahasia di dalam hati laki laki.

Semacam rasa ingin berlagak dan nafsu yang menjurus mendekati penyiksaan diri.

Kakinya panjang, sangat panjang, banyak orang yang ketinggiannya mungkin cuma sampai pinggangnya saja.

Pinggangnya kecil, halus dan lemas, tapi juga sangat lentur.

Lengannya bulat, pahanya juga bulat, semacam bulat yang paling bisa membangkitkan nafsu birahi laki laki.

Bulat, semampai panjang, singset, padat, mengesankan kepada or¬ang kelewat jenuh penuh yang seperti bisa segera pecah membeludak.

Dia seluruhnya bertelanjang penuh.

Setiap cun dari atas sampai ke bawah badannya penuh dengan daya lentur, setiap uratnya menggeletar mengikuti gerakan badannya.

Semacam geletar yang membuat pembuluh darah mengembang, bahkan bisa membuat pembuluh darah lelaki pecah ambyar.

Setan kecil merah masih belum melihat dadanya dan wajahnya, malahan belum melihat rambut hitam sepenuh kepalanya.

Dia masih terus memperhatikan paha kakinya.

Sejak matanya melihat sepasang paha kaki ini, dia sudah tidak berminat mengalihkan pandangan matanya, biar pun hanya setengah cun.

Sampai ketika terdengar suara petapa fakir yang bertanya dengan suara dingin.

"Kau datang sekali ini, dengan maksud tujuan apa?"

Pada waktu ini, bayangan hitam mirip setan iblis itu sedang terbang melayang di angkasa, dan di bawahnya berkobar lautan api.

Sebidang lidah api yang serapat jaring laba-laba mengumpul menjadi lautan api.

Awan hijau menggulung balik, telapak tangan api juga menggulung balik, mendadak badannya mengerut, mengendor kembali, di dalam waktu sekilas yang sebatas tebal rambut meloloskan diri dari gempuran mematikan lawan dan membal terbang ke angkasa.

Dengan memanfaatkan daya mengerut dan mengendor, dan menggunakan momen gaya balik, dengan memakai sifat khusus serat benang sutera logam hitam itu, badannya men¬tal ke atas setinggi empat zhang.

Ini merupakan ilmu simpanannya sepanjang hidup.

Kobaran nyala api sebentar juga padam, dia dalam terbang melambungnya juga mendapatkan satu tenaga pembangkit baru, begitu nyala api padam, dia bisa segera melakukan serangan langsung, dari suatu posisi yang mustahil bisa dipikirkan orang luar, dengan suatu gerakan yang mustahil bisa dikerjakan orang lain.

membunuh musuh dalam waktu sekejap saja.

Benang sutera logam hitam yang menjadi jaring laba-laba itu kini sudah menggumpal menjadi semacam keadaan yang sangat rumit, sepertinya tenaga yang dihasilkan juga sangat rumit, gerakan yang terpancar dari tenaga ini juga semakin aneh dan rumit.

Oleh karena itu, sekali pun serangannya tidak sekaligus berhasil, tapi kesempatan dan waktu berinisiatif tetap tidak menghilang.

Dia masih tetap penuh percaya diri, sebab dia tidak mampu membayangkan bahwa di dalam rumah batu itu, masih ada satu orang yang menguasai dirinya sebagaimana jari telapak tangannya sendiri.

Benang sutera logam hitam tidak terlihat dalam kegelapan, dalam kemilau nyala api juga tidak terlihat.

Hanya orang ini yang tahu kebenaran dan keberadaannya, bahkan tahu keberadaannya di mana.

Petapa fakir itu pelan-pelan sudah mengambil dan mengeluarkan dari lemari besar di belakangnya, sebuah tabung baja mumi.

Ini adalah salah satu dari tabung berisi tiga belas tembakan anak panah, yang ditembakkan dari dalam tabung, adalah kabut air berwarna kuning emas.

Kabut air menerobos jendela, menyemprot dan mengenai benang sutera logam hitam yang tidak terlihat mata itu, bahkan sudah menempel lekat padanya.

Setelah awan api bergulung pergi, sekali pun tidak membakar benang sutera logam hitam itu, beratus ribu, berjuta-juta butiran cairan yang disemprotkan, yang entah dari minyak atau air itu.

mendadak menyala terbakar, berubah menjadi lautan api luas.

Orang berbaju hitam yang semula sudah berada dalam posisi inisiatif aktif, mendadak menemukan dirinya sedang berada dalam lautan api.

Akan tetapi, dia tidak gugup dan tidak kacau.

Dia tidak takut api, pakaian ketat melekat di badan warna hitam yang dikenakannya dan topeng hitamnya, semuanya tahan api.

Ilmu meringankan tubuhnya, bagaimana pun juga adalah kelas satu, seandainya Chu Liu Xiang Shi yang namanya menggemparkan dunia masih hidup, masih belum tentu bisa mengalahkan dia.

Pada waktu diperlukan, dia masih bisa melepaskan diri dari ikatan jaring benang sutera, dan terbang pergi sebagai bangau.

Jika dia mau pergi, ada siapa bisa mengejarnya?

Akan tetapi di dalam mata petapa fakir itu, orang ini tak lebih daripada orang mati saja.

Melihat sekelebat pun, tidak dia lakukan, malah dengan dingin bertanya kepada si setan merah kecil.

"Kau kali ini datang untuk apa?"

Si setan merah kecil mendadak tertawa, bukan saja tertawa, malahan melompat-lompat, kemudian melambai-lambaikan tangan.

Kelakuan dan sikap si setan merah kecil ini memang sangat misterius, malahan tertawa-tawa dan melompat-lompat melambai-lambaikan tangan serta mulai menyanyikan lagu.

"Beng, beng, beng, mohon bukakan pintu."

"Kau siapa?"

"Aku Ding Xiao Di."

"Mau apa kau datang?"

"Aku datang mau meminjam belati kecil."

"Pinjam belati kecil buat apa?"

"Untuk membelah bambu."

"Membelah bambu buat apa?"

"Membuat kukusan."

"Membuat kukusan buat apa?"

"Mengukus kepala orang."

"Mengukus kepala orang buat apa?"

"Mempersembahkan camilan buat ibu tua."

Dia bertanya jawab sendiri, menyanyikan lagu bernada lagu kanak-kanak, dia menyanyikan dengan sangat gembira.

"Sang petapa fakir juga suka mendengarkan dia menyanyi, ketika dia habis menyanyi, bertanya lagi.

"Kedatanganmu kali ini, bukan ingin cepat tahu hasil dari aksi kali ini?"

"Sudah barang tentu bukan."

"Kau juga tidak ingin tahu hidup matinya Chu Liu Xiang?"

"Sudah barang tentu aku ingin tahu, tapi aku sudah tahu lebih dahulu."

"Kau sudah tahu apa?"

Si setan merah kecil tertawa lagi, melompat lagi, bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu bernada lagu kanak-kanak itu! Waktu "Aksi Ngengat Malam"

Dimulai.

Chu Liu Xiang sebetulnya sudah mati.

Dia tidak datang, sudah mati duluan.

Dia datang, masih tetap mati.

Petapa fakir itu, orangnya, wajahnya, dan sepasang matanya, semua sudah menghilang ke balik bayangan gelap dari sorotan sinar lampu.

"Kalau begitu kedatanganmu kali ini, masih tetap mau memotong kepala."

"Betul."

"Sekarang sudah ada kepala untuk dipotong, kau bergegas tidak?"

"Kepala siapa?' "Kepala yang sudah lama hendak kau potong itu."

"Kepala wang ba (bajingan) itu sekarang sudah boleh dipotong."

"Baiklah."

Si setan merah kecil mengikik tertawa, kedua tangannya direntangkan, seperti mengangkat dua tangan untuk menyerah.

Akan tetapi mengikik tawanya itu disertai sorot mata yang segera dipenuhi nafsu membunuh, sedikit pun tidak ada niat untuk menyerah.

Hanya dalam waktu sebentar saja, mendadak terdengar semacam suara sangat aneh dari dalam baju merah dan celana merahnya, suara seperti ada bongkahan besar balok es mendadak belah dan rontok.

Kemudian terdengar serentetan suara ‘hua lah lah’, ada sesuatu yang meluncur jatuh dari dalam lengan baju dan tabung celananya, seperti segayung besar pecahan es dan pecahan besi jatuh berserakan.

Wajah dan pandangan mata petapa fakir itu, sekali pun sudah melenyap ke tempat yang tidak tersorot sinar lampu, akan tetapi masih bisa dibayangkan betapa dari wajahnya tercermin rasa terkejut.

Kampanye perang sekali ini, kelihatannya setiap saat bisa berakhir, akan tetapi setiap orang yang terlibat dalam pertempuran, malah dalam waktu pendek menjelang kematian tiba, dengan suatu cara yang tidak terbayangkan melakukan serangan, memutar balik bumi dan langit, bahkan berbalik menempatkan lawannya pada kematian.

Melompat-lompat di dalam nyala api, beradu jurus di angkasa, semua ini bukan suatu dmu pengetahuan yang luar biasa, yang paling penting ialah melakukan pergulatan di dalam kondisi kacau balau, kedua belah pihak yang menang atau pun kalah, setiap saat mungkin bertukar posisi, dalam keadaan sangat gawat berbahaya ini, hanya mungkin bisa bertahan hidup dengan menjaga ketenangan.

Petapa fakir tentu sangat tahu pentingnya segi ini, tadi dia hanya sebagai penonton dari samping, sekarang, dia sepertinya juga-terseret ke dalam pusaran ini, sejenak menghadapi hidup dan mati, 'tidak berubah' mungkin sekali adalah prinsip paling utama dalam menghadapi berlaksa perubahan.

Sekali pun dengan nada lagu kanak-kanak si setan merah kecil bernyanyi, sekarang terpikir kembali isi lirik lagunya, mau tidak mau membuat bulu kuduk agak berdiri, 'membuat kukusan, mengukus kepala orang, mempersembahkan kepada ibu tua, sebagai camilan ..."

Perempuan berbaju hijau, orang yang berpakaian hitam, petapa fakir, sebetulnya siapa yang menjadi tujuannya memotong kali ini?

Kedua belah tangan si setan merah kecil diangkat tinggi-tinggi, masih tetap bersikap seperti menyerah, barang sejenis pecahan es dan pecahan besi, masih tetap tidak hentinya meluncur keluar dari lengan baju dan tabung kaki celananya...

Kemudian orang yang semula sekujur badannya beku kaku, sepertinya dalam sekejap mendadak menjadi 'hidup' kembali.

Jadi, biasanya terus menerus semua persendian keempat anggota badannya, dijepit oleh plat besi.

Karena itu, biasanya gerakannya keras kaku seperti mayat beku (vampire), bahkan duduk pun tidak bisa dilakukan.

Orang dalam dunia Jiang Hu, sama sekali belum pernah mendengar kabar adanya seseorang seperti dia dalam dunia Jiang Hu.

Sedang orang yang pernah melihatnya, kalau pun belum mati, juga sudah hampir mati, kala melihatnya sekejap, kepalanya sudah dipotong, dan ditenteng dengan tangannya.

Karena itu orang yang mengetahui rahasianya ini, paling banyak juga tidak lebih dari sepuluh orang.

Akan tetapi setiap orang kiranya bisa membayangkan, adanya seseorang seperti ini.

Jika bukan dengan melepaskan plat besi penjepit dirinya, betapa ringan gerakannya, gesit, penuh perubahan dan tangkas sekali?

Plat besi hancur berantakan, dan orangnya terbang pergi.

Dalam waktu sekejap sudah berubah menjadi roh halus setan siluman yang mampu berlompatan terbang ke mana-mana.

Bayangan hitam orang yang terbang di tengah lautan nyala api, mendadak menjadi lamban.

Dia tidak takut api, tapi takut asap.

Asap dari api yang terbakar di atas benang sutera logam hitam, membawa semacam bau yang aneh.

Dia mendadak merasa pusing.

Kemudian dia melihat ada sebuah paha yang menendang ke arahnya dari dalam asap api, satu kaki yang semampai panjang, lurus dan bulat padat, kaki yang telanjang, telapak kaki yang juga telanjang, halus ramping, bentuknya gemulai.

Jari kakinya panjang, sangat indah.

Dalam suatu kondisi tertentu, sepasang kaki perempuan biasanya paling bisa merangsang libido laki laki.

Ada kalanya bahkan lebih menuntut nyawa daripada dua lokasi lebih utama lainnya.

Laki-laki yang berpengalaman tentu juga mengerti segi ini.

Dia juga lelaki berpengalaman, berpengalaman membunuh orang, juga berpengalaman membunuh perempuan.

Akan tetapi dalam waktu sekejap saja, dia sudah mendapatkan bukti, kaki cantik ini betul-betul menuntut nyawanya.

Dalam waktu sekejap ini, sesosok bayangan orang yang mirip setan iblis, sudah terbang melintang, seperti si setan merah kecil itu.

"Setan kecil merah pemotong kepala sudah datang. Semua orang cepatlah lari menyelamatkan diri. Jika tidak bisa meloloskan diri Kepala sulit diselamatkan."

Si setan kecil pemenggal kepala, sangat ahli memotong kepala orang.

Saat menjelang datangnya ajal, mendadak ada seorang anak kecil berbaju merah dan bercelana merah muncul di hadapannya, dengan menggenggam sebuah belati kecil, sekali renggut diraihnya konde rambut orang tadi, belatinya menyusul turun memotong, begitu kepala ditenteng langsung lari, cepat datang dan cepat perginya, gesit seperti setan siluman.

Siapa sesungguhnya anak kecil ini?

Tidak ada orang yang tahu.

Mengapa anak kecil ini memotong kepala orang, dan terus lari dengan menenteng kepala tadi, serta ke mana dia menenteng kepala itu pergi?

Juga tidak ada yang tahu.

Akan tetapi, setiap orang kiranya bisa juga membayangkan, ini merupakan peristiwa yang sangat misterius, bahkan juga membawa semacam romantisme yang berbau anyirnya darah.

Titik yang paling romantis dan ajaib, jika bukan kepala or¬ang terkenal, dia tidak bakai mau memotongnya.

Akan tetapi jikalau kau bukan orang terkenal, jikalau kau sudah tahu dirimu bakal mati, jikalau kau tahu di dunia ini ada seorang setan kecil yang berprofesi sebagai pemenggal kepala, katakanlah kau membawa delapan juta liang (tail = 50 gr) emas, lari menemuinya, berlutut di tanah memohon dia memenggal kepalamu pada hari, jam, dan detik yang sama, dia tetap juga tidak akan menggubrismu, bahkan menyentuh rambutmu pun dia tidak mau.

Jika kau bukan orang ternama, dan kau meminta dia memenggal kepalamu, ini akan jauh lebih sulit daripada meminta dia jangan memenggal kepalamu.

Akan tetapi, jika dia mau memotong kepalamu, dia akan menunggu waktu dari satu saat ke saat lain.

Menunggu kematianmu tiba.

Dia sama sekali tidak punya dendam apa pun kepadamu, asalkan dia tidak berniat membunuhmu, juga tidak mau kau mati, akan tetapi dia bisa menunggumu mati.

Jikalau kau mati di luar dugaan, tanpa peduli bagaimana caramu mati, tak lagi peduli kau mati di mana, juga tidak peduli kapan kau mati, begitu kau mati, dia segera muncul.

Asalkan dia muncul, belati pemotong kepala itu bisa berada di lehermu, sekali kerat saja, dijamin pasta bisa memotong kepalamu sampai ke dalam celah ruas tulang di tengkuk belakang kepalamu.

Sekali potong putuslah kepalamu, bahkan para algojo paling berpengalaman dari penjara tidak akan lebih berpengalaman daripada dia, selanjutnya dengan menenteng kepala itu, berlari, berkelebat menghilang tanpa bekas.

Keadaan semacam ini sudah terjadi berulang kali, tapi siapa pun juga belum berhasil menebak kepala orang mati yang susah payah dinantikan berlama-lama itu, akan dipakai untuk apa?

Hanya ada satu hal yang bisa dibayangkan oleh seseorang yang punya sedikit kemampuan berkhayal.

Di dunia ini, pasti ada satu tempat sangat rahasia, tempat mengumpulkan dan menyimpan banyak kepala orang, yang masing-masing adalah kepala orang terkenal.

Ada orang yang mengoleksi alat perkakas terkenal, lukisan terkenal, porselin terkenal, pedang terkenal, ada juga orang yang mengoleksi orang terkenal, bunga terkenal, koki terkenal dan arak terkenal.

Yang terdahulu titik beratnya pada nilai, yang kemudian pada hobi kesukaan.

Akan tetapi di dunia ini masih ada sejenis orang lain lagi, kegemarannya ialah mengumpulkan kepala orang terkenal.

Mujurnya orang jenis ini cuma satu saja.

Ketika ratu kecantikan mati, hanya meninggalkan orang mati, ketika seorang pendekar terkenal mati, juga hanya meninggalkan seorang mati.

Orang mati sama saja.

Kepala orang mati juga sama saja!

Bukan saja tidak ada nilainya, juga tidak membangkitkan hobi kesukaan.

Akan tetapi, bagi diri orang ini sendiri, merupakan kegembiraan terbesar sepanjang hidupnya, juga merupakan tujuan terbesar sepanjang hidupnya.

Tidak ada orang yang tahu, berapa banyak kepala yang sudah dipotongnya, akan tetapi setiap orang bisa tahu, waktu dia mau memotong kepala seseorang, tidak pernah ada seseorang atau sesuatu perkara yang bisa menghalanginya.

Ketika dia turun tangan, dalam sekejap, kepala orang sudah dipotongnya.

Hanya sekali ini saja yang jadi kekecualian.

Sebelum memotong kepala kali ini, dia malahan mengerjakan satu hal lain, satu perkara yang siapa pun juga tidak bisa membayangkan dia mau mengerjakannya.

Siapa pun tidak akan berpikir, si setan kecil pemotong kepala ini menganggap perkara ini lebih penting daripada memotong kepala.

Kaki yang panjang menendang, setiap otot di kaki bergetar, yang terlihat orang lain, dia sendiri juga bisa menyaksikannya.

Dia sering kali menganggap perkara sejenis ini sebagai suatu kenikmatan.

Menghadapkan wajah pada sebuah cermin, berganti pakaian yang dimuat kapal khusus yang didatangkan dari Istana Kerajaan Persia, menyaksikan geletarannya otot badan sendiri, ini sudah menjadi satu-satunya kenikmatan bagi dirinya.

Bagaimana bisa ada juga Istana Kerajaan Persia?

Mengapa setiap orang dan setiap perkara hampir selalu ada sedikit kaitan dengan Istana Kerajaan Persia?

Seorang perempuan yang sebegitu tinggi, begitu cantik, begitu punya daya tarik, sebagian besar laki-laki akan rontok hanya melihatnya sekilas pandang saja, bahkan menyenggol sedikit pun tidak berani, dia selain memberikan sedikit kenikmatan untuk dirinya sendiri, masih berharap apa lagi?

Tak disangka sekali ini bahkan berkembang suatu keadaan yang lain lagi.

Dia belum pernah membayangkan, ada seorang laki-laki yang pendeknya cuma setengah dirinya, bisa memeluk dia seperti mencintai dirinya setengah mati.

Yang lebih tidak terbayangkan ialah, laki-laki ini justru adalah si setan kecil pemotong kepala orang.

Setan kecil pemotong kepala malahan tidak memotong kepala terlebih dahulu.

Kaki panjangnya menendang, setan kecil terpental terbang, sambil melayang, meliuk dan menekuk berjumpalitan, mendadak merentangkan dua belah tangannya, sebentar sudah memeluk pinggangnya.

Kelakuan setan kecil ini mirip dengan setan kecil yang sudah berapa hari belum mentil susu, dan mendadak melihat ibu kandungnya.

Tidak harus ibunya, asal ada pentil saja.

Kelakuan setan kecil ini seperti sudah tiga ratus tahun belum pernah melihat perempuan, bahkan tidak melihat seekor induk kambing juga.

Kelakuan setan kecil ini bahkan mirip gila perempuan.

Kaki panjang menendang, mendadak dia peluk pinggangnya, dan langsung menggigit keras pahanya.

Gigitan setan kecil ini betul-betul keras.

Aneh, di wajahnya sama sekali tidak tercermin rasa sakit sedikit pun, bahkan dia tidak berteriak.

Dia merasa pusing dan jadi kurang kesadaran, seperti mabuk menghadapi cermin itu.

Sehabis rasa pusingnya berlalu, setan kecil pemotong kepala itu sudah lenyap, sampai bayangannya pun tidak ada lagi.

Cuma terlihat di langit malam seolah-olah ada seberkas bunga darah menyembur dan segera lenyap.

Seorang yang berpakaian hitam-hitam terjatuh keras sekali ke bumi, sudah barang tentu orang ini sudah tidak berkepala lagi.

Setan kecil pemotong kepala itu sudah lari dan bersembunyi di mana?

Pertanyaan ini tetap tidak ada yang mampu menjawab.

Yang tidak diragukan ialah, dalam koleksinya tak ragu bertambah lagi satu kepala tokoh Wu Lin.

Sebuah kotak kayu cendana, sedikit serbuk kapur, tujuh belas macam obat-obatan, sebuah kepala dimasukkan ke dalamnya.

Pada kotak terukir nama orang ini.

Di tempat ini, kotak cendana semacam ini, sampai dengan hari ini, sudah ada seratus tiga puluh tiga buah.

Tempat ini berada di mana?

Sudah barang tentu juga tidak ada yang tahu.

Rasa pusing sudah hilang, rasa sakit baru datang.

Perempuan yang punya rambut panjang ini, menetas ke luar dari jubah hijaunya, sekujur badannya berwarna seperti yade (giok).

Yade (giok) putih.

Hanya satu titik tidak berubah.

Matanya masih tetap berwarna hijau tua.

Seperti mata kucing, seperti fei cui (jamrud).

Dia sedang memijat-mijat kakinya.

Menghadapi setan kecil pemotong kepala misterius ini, sekarang dia baru mulai punya sedikit pengenalan.

Setan kecil ini giginya sangat bagus, rapih, rapat, satu gigi berlubang pun tidak ada.

Bekas gigitannya di pahanya, mirip sederet berlian yang rapat.

Dia merabai bekas gigitan itu.

Jari tengahnya sangat panjang, sangat lembut, sangat lentur, sangat indah.

Dia memakai ujung jari tengahnya dengan halus merabai bekas gigi itu, bagaikan seorang gadis yang tidur siang sendiri, dengan lembut merabai gelang berlian pemberian kekasih rahasianya.

Sang petapa fakir terus mengamati dia, dengan semacam mimik yang sangat menikmati raut mukanya.

Gadis semacam ini, ekspresi semacam ini, kaki yang sedemikian panjang, dan jika ada laki-laki melihatnya, siapa yang tidak mengagumi penglihatan itu?

Hanya saja pandangan mata laki-laki yang mengagumi itu, tentu punya sudut pandang yang tidak sama dibandingkan dengan semua laki-laki yang lain.

Waktu laki-laki memperhatikan perempuan itu, layaknya seekor serigala sedang mengamati dombanya, atau seekor rubah mengamati kelincinya.

Atau seekor kucing mengamati tikusnya, sekalipun sangat mengagumi, namun juga sangat kejam bengis.

Rembulan di gunung di kejauhan naik semakin tinggi.

Bulan yang terang, bulan yang bulat, dia berjalan mendekati laki-laki itu.

Mengenakan topeng hijau yang mistis, misterius dan mengerikan, mengenakan jubah lurus berwarna hijau tanpa mempertontonkan lekuk-lekuk badannya, setiap gerakannya sudah menjadi bunga indah yang mekar.

Sekarang ini dia malahan sudah seluruhnya bertelanjang bulat.

Waktu dia bergerak jalan, 'gerakan' yang timbul dari sepasang kakinya yang panjang, padat dan bulat, berpadu dengan ayunan di bawah pinggangnya yang lemah lembut, jika kau belum menyaksikan sendiri, maka kau juga sulit mengimpikan dalam impian yang paling eksotis, impian pal¬ing erotis serta impian yang paling konyol sekali pun juga.

Bahkan kalau kau mengharapkan mengalami impian sedemikian, sekali pun sudah mohon berulang kali kepada pujaanmu, tidak juga akan tercapai.

Sebab pujaanmu itu, mungkin sekali juga belum pernah melihat adanya sepasang kaki seperti ini.

Betapa panjang kaki itu, sedemikian panjang, sedemikian panjangnya.

Sedemikian bulat dan padat, garis bentuknya sedemikian lemas dan indah, begitu bercahaya.

Begitu panjangnya.

Jika kau belum menyaksikan sendiri, selamanya kau tidak bisa membayangkan, mengapa sepasang kaki panjang, bisa menimbulkan benturan dan daya tarik serta kegemparan di dalam hati orang banyak.

Terutama karena sepasang kaki ini berada di bawah segenggam pinggang yang halus kecil.

Rambutnya juga panjang sekali.

Sekarang tidak ada angin, tapi rambut panjangnya sepertinya melambai-lambai ditiup angin.

Kerena ayunan badannya, merupakan semacam hukum irama dari angin.

Hukum irama angin adalah alami.

Ayunan badannya juga sama sekali tidak mengandung unsur dibuat-buat.

Jika bukan gadis yang setinggi ini, jika dia tidak punya pinggang sehalus ini, kaki sepanjang ini, katakanlah kau membunuh dia, bagaimana pun dia tidak bakal punya hukum irama ayunan alami ini.

Di dunia ini, banyak hal memang demikian, dewata di langit menghadapi manusia, tidak pernah mutlak sangat adil.

Matanya seperti permata mata kucing dan jamrud, sekali pun warnanya hijau tua, namun seringkah karena pengaruh perubahan sinar tertentu menjadi semacam warna misterius yang sulit diuraikan.

Wajahnya seperti yade (giok) putih, profile wajahnya tajam dan jelas, seperti arca pahatan buah karya dari seorang pematung besar di dunia.

Yang paling penting adalah ekspresinya.

Semacam ekspresi yang dingin mencabut nyawa.

Sesudah rasa pusing yang menerpa, dia segera pulih kembali kepada ekspresi serupa ini, bukan hanya dingin tanpa peduli, bahkan dingin kejam, bukan hanya dingin kejam bahkan tawar sekali.

Yang paling mencabut nyawa ialah dingin semacam ini.

Semacam dingin yang tidak peduli kepada siapa pun, perkara apapun, tidak memedulikan segala sesuatu.

Dia memakai topeng wajah, mengenakan jubah panjang, jika kau melihatnya, dari segala sudut, dia tidak pernah peduli.

Dia sudah seluruhnya bertelanjang, kau melihatnya, dia masih tidak peduli, tidak peduli bagaimana pun kau melihatnya, dari kepala sampai dengan kaki, dari kaki sampai dengan kepala, melihat habis-habisan sekujur tubuhnya, dia tetap tidak peduli.

Karena dia pada dasarnya tidak mengganggapmu sebagai orang, selain dia sendiri, siapa pun melihat dia tidak jadi masalah, jika kau mau melihatnya, maka lihatlah, dia tidak punya perasaan, juga tidak peduli.

Kau punya perasaan, kau peduli, maka kau mati.

Petapa fakir ini sementara itu sudah barang tentu tidak bakal mati.

Di dunia ini yang bisa membuat dia berperasaan sudah tidak terlalu banyak, yang bisa membuat dia peduli juga semakin sedikit, katakanlah ada satu dua orang, juga pasti bukan perempuan berkaki panjang, berpinggang halus lemas, dan bermata kehijauan ini.

Dia menunjukkan semacam sikap sangat menikmati, dan memandang dengan sorot mata yang luar biasa dingin menyaksikan dia memasuki kamar batu ini.

Dia kembali duduk.

Dia juga duduk kembali ke kursi besar dari batu yang tadi dengan cara dan sikap duduk yang anggun dan lemah gemulai.

Satu satunya yang berbeda ialah, yang tadi duduk adalah setan siluman berwarna hijau, kini yang duduk justru seorang perempuan yang tidak mungkin bisa ditolak oleh seorang lelaki manapun.

Dia juga tidak lupa kakinya berapa panjang, juga tidak mau orang lata lupa.

Waktu dia duduk, kakinya sudah ditekuk menjadi suatu busur yang aneh sekali, yang akan membuat orang lain melihat, berapa panjang kakinya itu, juga agar orang lain kebetulan bisa menyaksikan betapa nyata dan betapa indah garis lengkung kedua kaki dari betis sampai kedua pahanya.

Golok punya ukuran kelengkungan, paha juga ada, golok terkenal, kaki indah, bulan sabit, semua sama.

Petapa fakir tidak melihat.

Ada kalanya di hatinya ada golok, di kakinya tidak ada, ada kalanya di matanya ada nafsu erotis, tapi di hatinya tidak ada.

Oleh sebab itu, dia dalam sebagian besar waktu selalu tidak melihat, tidak melihat siapa-siapa dan tidak melihat ada persoalan apa.

Katakanlah dia melihat betul, juga tidak melihat.

Yang seharusnya kelihatan, dia sudah melihat, yang seharusnya sudah melihat, malah tidak melihat, orang demikian adalah orang bijaksana.

Jika masalah yang seharusnya dia tidak melihat, kemudian dia melihat, tapi dia juga tidak melihat, orang semacam ini adalah ksatria dan pemimpin.

Karena yang kemudian itu lebih sulit lagi.

Dia mendadak mulai bertepuk tangan.

Bahkan ketika dia bertepuk tangan, juga tidak ada orang melihat tangannya.

Katakanlah orang yang duduk di seberangnya, paling banyak juga hanya melihat tangannya bergerak-gerak, dan mendengar suara tepukan tangannya.

Dia seringkah membiarkanmu berdiri di seberangnya dan melihat dirinya, dia tidak memakai topeng, juga tidak memakai sarung tangan, akan tetapi di antara semacam perubahan aneh cahaya dan bayangan kegelapan, bahkan satu cun kulit badannya pun kau juga tidak bisa melihat.

"Kau betul-betul bagus,"

Petapa fakir bertepuk tangan.

"Kau betul-betul seorang perempuan yang patut kuhormati."

"Terima kasih."

"Waktu aku belum pernah melihatmu, aku sudah mendengar di negaramu ada seorang Lang Lai Ge Ge"

"Ooohhh."

Gadis kaki panjang tertawa manis.

"Apakah kau juga tahu arti dari Lang Lai Ge Ge."

"Aku agaknya tahu sedikit,"

Petapa fakir berkata.

"Serigala (Lang) sudah datang (Lai), adalah sebuah cerita fabel yang beredar di negerimu dan beberapa negeri sekelilingnya, sebuah fabel yang mengajari orang untuk tidak berbohong,"

Katanya.

"Akan tetapi fabel ini, dalam banyak tahun yang silam sudah masuk ke Tiongkok."

"Aku tahu."

"Ge Ge, di wilayah sekitar perbatasan kita, adalah sebutan kehormatan, artinya, ialah Puteri (Prince),"

Kata petapa fakir.

"Akan tetapi Lang Lai Ge Ge, masih ada semacam arti lain yang berbeda."

"Menurutmu, apa yang dimaksudkan?"

"Di dalam bahasa salah satu negara di barat, Lang Lai Ge Ge, punya arti yang berkaki panjang,"

Kata petapa fakir.

"Lang Lai Ge Ge, dimaksudkan seorang puteri cantik seorang raja yang sangat pandai berbohong."

Puteri kaki panjang juga tertawa.

"Yang kau ketahui sepertinya memang tidak sedikit."

"Di dalam istana kerajaan negaramu, ada satu peti benang sutera logam hitam yang nilainya tidak terkirakan telah hilang. Bertahun-tahun tidak ada kabar beritanya,"

Kata petapa fa¬kir.

"Hampir saja Kerajaan Singgasana Merak runtuh karena kejadian ini."

"Ini terjadi sudah sangat lama."

"Akan tetapi, belakangan perkara lama ini diungkap kembali, karena itu, pejabat kerajaan yang baru juga mengutus satu petugas yang paling cekatan, paling pandai dan Wu Gongnya juga paling tinggi di antara para bangsawan jagoan untuk datang ke Tiongkok, untuk mengejar dan mengambil kembali barang yang hilang itu."

"Jagoan yang kau maksudkan ini, apakah Lang Lai Ge Ge?"

"Betul."

"Apakah yang kau maksudkan Lang Lai Ge Ge ini adalah diriku?"

"Betul."

Gadis berkaki panjang yang cantik itu tertawa.

Kelihatannya dia memang mirip seorang puteri kerajaan, seorang perempuan bertelanjang bulat duduk di hadapan seorang laki-laki, dan masih bisa mempertahankan sikap yang demikian anggun, sama sekali bukan hal yang mudah dilakukan.

Cuma dua macam perempuan bisa melakukan ini.

Seorang pelacur betul dan seorang puteri raja.

Dia mengganti sikap duduknya yang lebih anggun lagi, berhadapan dengan sang petapa fakir yang sepertinya tidak ada hal yang tidak diketahuinya.

Sekali pun badannya masih seluruhnya bertelanjang bulat, tapi seolah-olah sudah mengenakan pakaian kebesaran kerajaan yang tidak tampak.

Persis seperti cerita dalam fabel barat yang menceritakan seorang penipu membuatkan pakaian baru buat rajanya.

Hanya orang bijaksana dan seorang tokoh pemimpin yang betul-betul bijak yang baru bisa melihat kebenarannya.

Seseorang yang baru mengenakan pakaian baru, sikap penampilannya tentu selalu mengalami perubahan, katakanlah dia sebetulnya tidak memakaikan pakaian baru itu ke badannya, akan tetapi, penampilannya tentu sudah berubah, dan karenanya, suasana hatinya, sikapnya dan caranya menyelesaikan masalah juga seperti sudah mengenakan pakaian baru itu.

Bahkan nada suara bicaranya juga sudah berubah, berubah jadi dingin tapi sopan, dia bertanya kepada petapa fakir.

"Apa lagi yang kau ketahui?"

"Kau datang dari Persia, membawa serta harta tidak terhingga banyaknya dan dirimu sendiri,"

Kata petapa fakir.

"Tumpukan harta kekayaan berupa mutiara, jamrud, yade mustika, batu permata dari karang laut, mata kucing nenek, intan berlian yang nilainya mencapai harga sebuah kota, akan tetapi ratna mustika pusaka yang sesungguhnya adalah dirimu sendiri."

"Betulkah?"

"Aku tahu di suatu tempat di barat yang paling barat ada seorang kaisar, bahkan mau menukar sebuah negara dengan dirimu,"

Kata petapa fakir.

"Kaisar Agungmu tanpa berpikir lagi langsung menolak dengan tegas."

Kata petapa fakir.

"Akan tetapi sekali ini, dia malahan memerintahkan dirimu, tidak peduli dengan mengorbankan dirimu, juga tetap harus mencapai tujuan yang dikehendaki."

Dia mendengarkan dengan diam dan tenang, baru sekarang bertanya.

"Tujuan apa?"

"Dia menghendakimu mencapai tiga hal."

"Tiga hal yang mana?"

"Mengambil kembali benang sutera logam hitam, membunuh setan kecil pemotong kepala, dan mencari kabar berita mati hidup dan keberadaan Chu Liu Xiang."

Gadis yang ya cantik, ya pandai berbohong, ya juga memiliki sepasang kaki panjang yang panjang dan panjang itu sudah mengubah posisi duduk yang baru lagi, sekali pun tetap sama agung dan anggun, tapi sudah mulai terlihat adanya suatu ketidaktenangan.

"Chu Liu Xiang?"

Dia bertanya kepada petapa fakir.

"Chu Liu Xiang yang mana yang kau maksudkan?"

"Menurutmu?"

Petapa fakir balik bertanya.

"Di kolong langit ini, ada berapa orang Chu Liu Xiang?"

Tidak ada masalah, pertanyaan ini sebetulnya sama sekali tidak memerlukan jawaban.

Ada orang tertentu yang selamanya unik dan satu-satunya, sejak beribu tahun berlangsung, sekalipun jumlahnya tidak banyak, tidak perlu diragukan lagi bahwa Chu Liu Xiang merupakan salah satu di antaranya.

Dia bertanya lagi kepada petapa fakir.

"Bagaimana kau bisa beranggapan bahwa kedatanganku kali ini ada hubungannya dengan Chu Liu Xiang?"

"Karena aku tahu di Persia ada seorang kaisar Akbar, sepanjang hidupnya cuma punya dua hobi kegemaran, semacam ialah arak dan semacam lagi ialah ilmu meringankan tubuh,"

Kata petapa fakir.

"Terutama untuk ilmu meringankan tubuh, dia betul-betul tergila-gila setengah mati."

"Ilmu meringankan tubuh memang sesuatu yang bisa membuat orang lupa diri."

Katanya.

"Aku tahu ada banyak orangyang sejak kecil sudah tergila-gila pada hal ini, bahkan waktu di dalam mimpi pun dia merasa dirinya bisa ilmu meringankan tubuh, yang bisa terbang melintasi gunung, sungai dan puncak rumah seperti burung walet dan kupu-kupu."

"Burung walet dan kupu-kupu tidak bisa melintasi gunung tinggi."

"Tapi dalam mimpi mereka semuanya bisa terbang melewatinya,"

Dia berkata dengan sendu.

"Dunia dalam mimpi, selamanya adalah dunia yang lain, hal ini barang kali kau juga tidak bakal pernah mengerti."

Hal ini sedikit pun tidak ada keraguan.

Jika seseorang sudah menempatkan diri di dalam lingkup kekuasaan dan dendam kesumat, apa pula yang bisa kau harapkan agar dia bisa punya impian?

Impian, bagaimana pun bukan mimpi.

Keduanya ada sepotong jarak perbedaan yang sangat layak membuat orang merenungkannya.

"Seseorang yang begitu tergila-gila pada ilmu meringankan tubuh, seharusnya paling mengagumi siapa?"

Jawaban pertanyaan ini hanya satu.

"Orang yang tergila-gila pada ilmu meringankan tubuh, paling mengagumi orang yang punya ilmu meringankan tubuh nomor satu di dunia."

Orang yang berlatih ilmu telapak tangan, belum tentu bisa mengagumi orang yang telapak tangannya jadi nomor satu di dunia, orang yang berlatih tenaga luar yang paling dikagumi tidak bakal orang bertenaga perkasa dan terkuat di dunia ini.

Tapi ilmu meringankan tubuh, sama sekali tidak sama.

Ilmu meringan tubuh adalah semacam kekuatan yang luar biasa unggul dan beradab, bahkan merupakan kekuatan kebudayaan luar biasa, malahan sangat romantis.

Bahkan lebih romantis dari pada 'pedang'.

'Pedang' lebih klasik, lebih aristokratis, akan tetapi 'ilmu meringankan tubuh', pasti lebih romantis.

"Di kolong langit sekarang ini, siapa yang ilmu meringankan tubuhnya paling tinggi?"

Jawaban pertanyaan ini juga cuma satu, di jaman ini, yang umum sudah diakui orang di seluruh Wu Lin sebagai "ilmu meringankan tubuh nomor satu di dunia".

Ilmu meringankan tubuhnya, hampir saja digembar-gemborkan sampai mirip semacam kisah mitologis, bahkan ada orang yang bercerita dia pernah menaiki angin melintasi padang pasir.

Nama orang ini sudah barang tentu.

"Chu Liu Xiang."

"Dalam masalah arak, Xiang Shi juga seorang ahli."

"Sudah barang tentu begitu."

"Dia bukan saja pandai menilai kualitas, dia juga mampu dalam kuantitas menenggaknya, hampir tidak ada orang yang bisa menandingi kemampuannya di seluruh jagat ini."

"Masih belum seperti itu,"

Zhang Tui Ge Ge (Puteri berkaki panjang) mengatakan datar saja.

"Kemampuan minum arak seseorang sedemikian besar, diucapkan dengan mulut belum cukup, yang pasti harus minum sampai terbukti bahwa kemampuannya berbeda."

"Yang ini sudah pasti!"

Dalam suara petapa fakir sepertinya terkandung tawa.

"Aku sudah lama mendengar kabar, kemampuan minum arak Lang Lai Ge Ge tiap saat bisa memabukkan sepuluh pendekar Persia."

"Satu lawan sepuluh itu bohong,"

Katanya.

"Satu lawan enam memang belum pernah kalah."

"Lalu bagaimana dengan Chu Liu Xiang?"

"Belum pernah bertanding minum arak, bagaimana bisa tahu,"

Kata Zhang Tui Ge Ge.

"Akan tetapi jika ada orang mengatakan Xiang Shi mampu membuat aku mabuk, aku pun belum bisa percaya."

Dia mendadak berganti topik pembicaraan.

"Akan tetapi, aku juga masih percaya, kemampuannya untuk minum arak semestinya juga lumayan kuatnya."

"Aku juga percaya,"

Kata petapa fakir.

"Arak, ilmu meringankan tubuh, perempuan, ketiga hal tadi, jika Chu Liu Xiang mengaku dirinya yang nomor dua, maka tidak akan ada lagi orang yang berani mengaku sebagai nomor satu "

Zhang Tui Ge Ge sekali pun tidak mengakui, juga tidak bisa menyangkal, karena ini semua merupakan pengakuan umum dunia Jiang Hu.

"Oleh karena itu kaisar Akbar kalian sekarang ini, sepanjang hidupnya paling berharap bisa berkenalan dengan satu or¬ang, yakni Chu Liu Xiang,"

Kata petapa fakir.

"Dia tidak sayang menggunakan segala cara, hanya untuk bisa mengundang Xiang Shi menjadi tamu beberapa hari di Persia."

"Kemudian Xiang Shi sudah betul-betul pergi, bahkan menjadi sahabat luar biasa baik dengan kaisar Akbar."

"Justru karena mereka sahabat sangat baik, maka baru bisa saling memperhatikan,"

Kata petapa fakir.

"Karena itu, sejak tersiar kabar meninggalnya Chu Liu Xiang di dunia Jiang Hu, kaisar Akbar baru mungkin mengutusmu datang, mencari jawaban teka teki meninggalnya Xiang Shi."

"Memang betul begini yang terjadi,"

Kata Zhang Tui Ge Ge.

"Kaisar Akbar tidak pernah percaya Xiang Shi bisa mati."

"Bukan saja kaisar Akbar kalian tidak percaya, aku juga tidak percaya."

"Aku tahu."

Kata Zhang Tui Ge Ge.

"Termasuk di negeri kami, masih banyak sekali orang yang beranggapan Chu Liu Xiang selamanya tidak bakal mati, bahkan seandainya dia betul sudah mati dan dibaringkan dalam peti mati, semua orang akan menganggap yang berada di dalam peti mati pasti bukan Chu Liu Xiang."

Dia masih mengatakan.

"Semua masih memaksa diri sendiri percaya."

Seandainya Chu Liu Xiang betul-betul mati, masih juga bisa hidup kembali. Setiap saat bisa hidup kembali. Petapa fakir mengakui hal ini..

"Hanya saja di dunia ini, masih belum ada satu orang pun yang mampu membuktikan apakah Chu Liu Xiang sudah betul-betul mati atau belum mati. Semakin tidak ada orang yang bisa membuktikan apakah setelah mati betul bisa hidup kembali atau tidak,"

Katanya "Oleh karena itu Kaisar Akbar kalian baru mau mengutusmu datang untuk membuktikan perkara ini."

Zhang Tui Ge Ge juga membenarkan hal ini.

"Kaisar Akbar senantiasa memperhatikan dia."

"Karena itu kau baru bisa mencariku."

"Mengapa?"

"Karena kau juga tahu betapa aku juga memperhatikan hidup mati Chu Liu Xiang, serta hubungan dengan setan kecil pemotong kepala ada semacam kesepakatan yang menarik,"

Kata petapa fakir.

"Hal yang paling penting ialah, jika kau tahu asalkan kau adalah temanku, asalkan sudah berada dalam wilayahku, maka aku tidak bakal membiarkan siapa pun melukaimu."

"Kuakui kebenaran yang kau ucapkan,"

Kata Zhang Tui Ge Ge.

"Tetapi aku baru saja tiba dari Persia, bagaimana kau bisa tahu begitu banyak?"

"Karena kau punya seorang penghubung."

"Penghubung?"

Zhang Tui Ge Ge sepertinya sama sekali tidak mengerti arti kata tersebut.

"Penghubung itu orang apa?"

"Arti orang penghubung, ialah orang yang sudah punya hubungan sosial yang sangat baik di negeri Tiongkok ini. Kedudukannya di Jiang Hu juga sudah sangat penting, akan tetapi secara diam-diam dia punya hubungan perselingkuhan misterius dengan suatu negara dan suatu komunitas kemasyarakatan."

Zhang Tui Ge Ge mengedipkan matanya, seolah-olah dia belum juga mengerti.

Matanya sangat jernih, sangat elok, malahan ada semacam warna yang mendekati warna mirip jamrud, sehingga menjadi semakin langka dan mahal.

Akan tetapi, jikalau seorang perempuan sudah memiliki tubuh begitu dan sepasang kaki begitu, mana ada lagi orang yang memperhatikan matanya?

Petapa fakir kembali menjelaskan Petapa fakir seperti betul-betul percaya bahwa dia tidak mengerti, maka menjelaskan lagi sampai ketika dia betul-betul mengerti, juga karena dia tidak takut menunggu, sebab waktu sudah menjadi miliknya.

Hanya pemenang yang bisa memiliki waktu, bagi yang kalah, waktu senantiasa menjadi unsur racun yang paling mematikan.

"Kau melalui seorang penghubung yang sangat luar biasa pentingnya, mengetahui adanya diriku dan hubungan sangat penting dengan ketiga perkara."

Kata petapa fakir.

"Yang paling penting tetap masih bukanlah aku, melainkan organisasiku."

"Organisasi?"

"Betul, organisasi."

"Organisasi apa?"

Tanya Zhang Tui Ge Ge.

"Apa arti sebetulnya dari istilah organisasi ini...."

Petapa fakir menatapnya lama sekali, mendadak dia mengambil sebuah berkas naskah dari lokasi rahasia di bawah meja.

Sebuah berkas naskah berwarna jambon.

Di dalam berkas ini terdapat biodata tiga orang, tiga orang perempuan, sama misteriusnya, sama cantik jelitanya, sama mempunyai hubungan sangat erat dengan aksi kali ini.

Orang pertama ialah.

Nama .

Lang Ge Si Julukan .

Lang Lai Ge Ge Perempuan, 25 tahun, blasteran Persia, belum menikah.

Ayah .

Lang Bo, pedagang yang mandar mandir dijalan sutera, masuk ke Tiongkok mendapatkan untung luar biasa dalam tiga tahun, menjadi hartawan besar, menurut kabar, pernah memborong emas sampai dua ribu tujuh ratus jin (kati) dalam satu tahun.

(Catatan.

Partai emas ini, sampai sekarang tak jelas penyalurannya, juga tidak ada bukti telah keluar dari wilayah Tiongkok.) Ibu .

Hua Feng Lai, orang Su Zhou, pelacur terkenal dari Jiang Nan, postur badannya sangat tinggi, kulitnya putih bersih, pandai tenaga dalam, ada sebutan 'Ikat Pinggang Putih ", bermesraan semalam, tanpa seribu jin emas tidak akan dilakukan.

(Catatan.

Orang berikat pinggang putih, dimaksudkan untuk dia yang sekujur tubuhnya bisa lemas seperti tidak bertulang, mampu melilitmu seperti ikat pinggang melilit badanmu.) Orang yang menulis data ini, tidak sangat menguasai teknik ilmu bahasa, namun memiliki semacam selera istimewa, bisa membuat laki-laki sehabis membacanya menjadi tersenyum penuh arti.

Akan tetapi di dalam mata Zhang Tui Gu Mang (nona kaki panjang), seluruhnya berubah menjadi suatu masalah lain.

Wajahnya menjadi hijau kebiruan, tapi dia masih mau terus membacanya.

Lang Ge Si ketika umur tiga tahun dibawa pulang ke Persia oleh ayahnya.

Setelah Lang Bo kembali ke negerinya, dia mempersembahkan mustika dan mainan sebanyak 72 potong, untuk ulang tahun kaisar Akbar, sehingga dia boleh keluar masuk istana kaisar.

Ketika Lang Ge Si berumur 11 tahun, dia dipungut sebagai anak angkat oleh selir kesayangan kaisar Akbar.

Pada tahun yang sama, aliran pedang Hua San mengalami pertempuran berdarah, karena ada perebutan kekuasaan, pendekar ketiga yang paling andal 'Jing Ku’ memilih meninggalkan pintu perguruan karena tidak puas dan marah, dia juga membawa empat murid perempuannya menempuh perjalanan jauh ke negeri Persia, yang akhirnya juga diundang dengan penuh kehormatan dan dibayar untuk mengabdi kepada selir kesayangan kaisar, dan masuk istana sebagai pejabat perempuan.

Pada tahun yang sama, Lang Ge Si menyembah Jing Ku sebagai guru, mempelajari ilmu silat pedang dari Hua San.

Karena empat anggota badannya besar dan panjang, responsnya lincah dan gesit, maka ilmu pedang itu dapat dipelajari dalam waktu sangat pendek.

(Catatan.

Masa akil balik Lang Ge Si dimulai pada usia yang sangat muda, sesuatu yang tidak terbayangkan oleh para remaja puteri dari Tiongkok.) Wajah Zhang Tui Gu Niang memerah kembali.

Dia tidak takut menghadapi segala lelaki dengan telanjang bulat, karena dia tidak pernah menganggapnya sama sekali.

Akan tetapi waktu dia mendapatkan rahasia pribadinya diketahui orang sampai demikian banyak, maka dia jadi peduli sekali.

Dia bahkan jadi curiga, berbagai gerakan dirinya di hadapan cermin dalam mengagumi diri sendiri, mungkin sudah diketahui oleh laki-laki yang bisa tahu sedemikian jelas dan banyak hal dirinya, padahal wajah laki-laki itu dia belum pernah melihatnya, bahkan tangannya pun belum pernah tahu.

Mata petapa fakir ini, sering bisa merupakan selembar cerminan.

Membongkar rahasia pribadi sungguh sangat menyakitkan, ini sudah diketahui siapa saja.

Semua juga tahu, betapa memuakkan sikap orang yang suka mempergunakannya sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan pribadi dengan membongkar rahasia pribadi orang lain.

Meskipun dalam hati Lang Ge Si dipenuhi perasaan sakit, marah dan malu karena dihinakan, tapi dia masih terus membaca lebih lanjut.

Sekali pun data tentang dirinya sudah habis di sini, dia masih terus membaca lebih lanjut.

Karena petapa fakir sudah memberi tahunya.

"Data catatan di bawah ini, ditulis oleh dua orang lain, mungkin kau tidak suka membaca terus, karena kau tidak mengenal mereka, juga belum pernah mendengar nama mereka,"

Katanya.

"Kau tentu bisa merasakan, kau dan kedua orang perempuan ini, sama sekali belum pernah ada hubungan apa pun."

Yang sesungguhnya juga demikian.

"Akan tetapi kau harus membaca terus,"

Petapa fakir memberitahunya.

"Sebab kedua orang perempuan yang sama sekali tidak kau kenal ini, sesungguhnya ada hubungan denganmu."

Bahkan dia masih menekankan.

"Aku boleh menjamin, kau selamanya tidak bakal bisa membayangkan betapa erat hubungan mereka denganmu"

Karena itu Lang Ge Si harus membaca terus, nama yang pertama dia lihat, justru belum pernah dilihatnya.

Orang ini dari marga Su.

disebut Su Pei Rong.

Petapa fakir itu memang benar tidak menipu dia, sebab dia memang belum memikirkan perempuan bernama Su Pei Rong ini justru adalah ...

Nama .

Su Pei Rong Kode .

Su Su Perempuan 23 tahun Ayah .

Su Cheng alias.

Su Cheng alias.

Yong Cheng alias.

Wu Zi, alias.

Bu Bian alias.

Yi Xin.

Orang dunia Jiang Hu menyebut.

'Rugi karena dapat untung', Su Je Kui.

(Catatan.

Ya jujur, ya pegang ucapan, ya berani merugi, apakah termasuk orang baik?

Orang ini baik sekali).

Segi ini semestinya tidak perlu catatan, sebab Su Xian Sheng yang ini sepanjang hidupnya hampir saja tidak pernah dirugikan, artinya 'merugi ialah dapat untung', hanya saja jika orang lain ketemu dia pasti merugi, orang lain merugi, yang beruntung justru dia.

Dalam perjalanan hidup Su Xian Sheng, telah rata melintasi selatan sampai utara, entah berapa banyak orang yang dikenalnya, yang bisa tidak sampai dirugikannya dan dia mendapatkan keuntungan, barang kali satu pun tidak ada.

Orang serupa ini, entah berapa banyak perempuan yang berhasil diselomoti dan ditipunya.

Yang melahirkan anak perempuan bernama Su Pei Rong, adalah satu perempuan yang paling istimewa.

Karena perempuan ini juga sama dengan dia, juga menjadikan penipuan sebagai profesi untuk hidupnya, lelaki yang berhasil diselomoti dan ditipunya, tidak bakal lebih sedikit danpadanya.

Nama perempuan ini, jelasnya ialah Hua Feng Lai, catatan yang ada di bawah, juga berbeda dengan data yang terdahulu.

Lang Ge Si akhirnya mengerti mengapa petapa fakir ini, menyuruhnya membaca berkas tersebut.

Perempuan yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengannya, malahan adalah saudara kandung lain bapak.

Perempuan yang satu lagi punya hubungan apa dengannya?

Lang Ge Si bukan orang bodoh, sekali pun keempat anggota badannya kuat dan sehat, otaknya tidak lamban, responsnya pada umumnya sedikit lebih cepat dibanding orang lain, maka dia bisa membayangkan, perempuan ketiga dalam berkas ini punya hubungan apa?

Apa yang diperkirakan memang benar, perempuan ketiga justru adalah.

Nama .

Li Lan Xiu Kode .

Xiu Xiu, Perempuan, 21 tahun Ayah .

Li Lan Shan, usia 13 tahun lulus ujian negara siu jai, usia 16 tahun Ru Zi.

'Lan Shan Jai Zi' menggemparkan Xue Lin (dunia pendidikan), tapi tidak berjodoh dengan Gin Zi, akan tetapi dalam umur 19 tahun, dia sudah menjadi Pedang Nomor Satu dari murid generasi muda perguruan Wu Dang.

'Lan Shan Qien Ge, Qien Ru Nan Shan' memetik bunga seruni di pagar sebelah timur, jumpa dalam santai.

Dengan ilmu pedang yang santai, dalam satu tahun memenangkan sembilan belas pertempuran.

(Catatan.

Akan tetapi pendekar sastrawan yang serba bisa dalam sastra dan silat ini, meninggalnya kelewat muda, justru ketika mencapai satu tahun dia pada puncak namanya terkenal, dia malahan mati.) Pada tahun itu juga adalah sudah setahun dia menikah dan melahirkan seorang puteri, puterinya masih dalam gendongan, dia mati di bawah pedang Zhong Yuan Yi Dian Hong.

Tahun itu, dia baru berusia 20 tahun.

Tahun itu, justru adalah tahun nama Chu Liu Xiang mulai diperhatikan oleh orang dunia Jiang Hu.

Tahun itu Chu Liu Xiang baru berumur 10 tahun, Su Rong Rong, Song Tian Er, Li Hong Xiu semuanya masih gadis remaja.

Tahun itu pada perayan Yuan Shio, Hu Tie Hua ketika bertanding minum arak, sudah bisa sekaligus menenggak 28 liter arak kuning.

Tahun itu, seorang teman baik Chu Liu Xiang, Ji Bing Yan, sudah berhasil memenangkan satu juta liang yang pertama dalam hidupnya.

Bukan kuningan, besi, atau timah, melainkan perak, perak putih yang murni.

Tahun itu, justru juga tahun waktu terjadi kelahiran Li Lan Xiu yang sudah barang tentu ibunya adalah, Ibu .

Hua Feng Lai.

orang Su Zhou, pelacur terkenal dari Jiang Nan...

Lang Ge Si tidak perlu membaca selanjutnya, bahan yang di bawahnya, tanpa membaca juga sudah bisa hapal sendiri.

Ternyata Li Lan Xiu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia sedikit pun sudah barang tentu adalah saudara perempuan seibu berlainan ayah dengan dia.

Mendadak dia merasa geli, bahkan betul-betul tertawa, tertawa sampai hampir menangis.

Petapa fakir diam-diam terus mengamati dia, sampai dia selesai dengan tawanya, baru berkata.

"Ibumu seorang perempuan sangat istimewa, lelaki yang menjadi kenalannya juga istimewa, bisa membiarkan dia mengasuh anak untuk dia, sudah barang tentu semakin istimewa."

Kata petapa fakir.

"Karena itu kalian bertiga kakak beradik, bukan saja mewarisi pintar dan cantik dari ibu kalian, sedikit banyak juga mewarisi watak istimewa ayah-ayah kalian."

Dia mengatakan dengan sangat sabar, tidak terdengar sedikit pun nada melecehkan.

Tapi bisa membuat orang yang pandai menjadi sangat tidak enak.

Lang Ge Si sudah punya perasaan semacam ini, karena dia tahu yang akan dikatakannya adalah fakta kebenaran.

Dan fakta kebenaran sering kali jauh lebih melukai orang daripada kebohongan.

"Kau tentu tahu Su Su adalah salah satu dari orang yang khusus kukirim untuk mengurusi Mu Rong,"

Kata petapa fa¬kir.

"Benar,"

Lang Ge Si mengakui.

"Aku tahu."

"Karena itu, kau pasti juga tahu, dia adalah orang yang membunuh Liu Ming Qiu."

"Ya."

"Liu Ming Qiu malang melintang di Jiang Hu, melalui ratusan pertempuran berat mati dan hidup, betapa matang pengalamannya, bagaimana bisa tumbang di tangan seorang gadis kecil?"

Tanya petapa fakir.

"Karena dia sama sekali tidak berjaga-jaga."

Petapa fakir segera bertanya.

"Kalau pun dia sudah punya niat membunuhnya, bagaimana seorang tokoh setingkat Liu Ming Qiu bisa tidak mampu membedakannya?"

Lang Ge Si termenung, karena dia tahu jawaban sang petapa fakir.

"Su Su mampu membuat Liu Ming Qiu melepaskan kewaspadaan berjaga-jaga, karena dia juga memiliki sifat istimewa seperti ayahnya."

Semacam kemampuan istimewa menipu orang agar dalam kondisi tidak tahu dan tidak sadar masuk perangkap dan merugi.

"Kau bisa membayangkan, Su Cheng penampilannya, pasti adalah seseorang yang sangat jujur, sangat bersungguh-sungguh dan mau menderita kerugian, malahan sering dibikin marah dan dilecehkan oleh orang lain,"

Kata petapa fakir.

"Penampilan Su Su juga serupa."

Benar, penampilan Su Su, alim dan lemah lembut, bahkan jujur dan mudah mendengarkan kata orang, kau suruh dia apapun, dia segera melaksanakannya, akan tetapi apa yang dipikirkannya, tidak ada orang yang tahu, bahkan tidak peduli dia memikirkan sesuatu apa, namun dia selalu mampu mengerjakan.

"Orang yang punya keistimewaan demikian memang tidak banyak,"

Kata petapa fakir.

"Jika orang semacam ini mau membunuh orang, selalu tidak pernah ragu-ragu biar sejenak pun juga, setelah membunuh orang, segera bisa meraung-raung menangisi kematian orang itu."

Dengan sendu petapa fakir berkata.

"Justru karena aku mengetahui sifat istimewanya itu, maka Liu Xian Sheng bisa terbunuh."

Sikapnya waktu mengatakan kalimat ini, bahkan bisa mengungkapkan semacam rasa puas diri yang belum pernah dipertontonkan selama ini.

Lang Ge Si memahami ini.

Mau menempatkan Liu Ming Qiu dalam kematian, pasti bukan hal yang mudah, mau menemukan sifat istimewa Su Su, semakin sulit lagi.

"Keadaan Xiu Xiu, hampir sama juga demikian,"

Kata petapa fakir.

"Dia juga punya sifat istimewa yang beda dengan orang lain."

"Betul."

"Sifat istimewa Su Su ialah 'menipu', lalu apa yang menjadi sifat istimewa Xiu Xiu?"

Lang Ge Si bertanya.

"Dalam aksi kali ini, apa nilainya?"

Petapa fakir menjawab pertanyaannya yang pertama.

"Keistimewaan Xiu Xiu ialah 'mati' seperti yang dimiliki ayahnya, setiap saat siap mati, setiap saat boleh mati."

"Apakah karena mereka sebetulnya tidak takut mati?"

"Betul,"

Kata petapa fakir. Akan tetapi segera dia perbaiki dengan penjelasan baru.

"Tidak takut mati juga bukan pasti sepenuhnya mutlak benar."

"Aku tidak mengerti arti kalimatmu ini."

"Yang dimaksud tidak takut mati, juga banyak penjelasannya,"

Kata petapa fakir.

"Cukup jika kusebutkan dua macam saja."

Jika Lang Ge Si bertanya.

"Dua macam?"

Pertanyan semacam ini sebetulnya tidak perlu diajukan, sekali pun dia merasa heran pada perkara ini, juga tidak perlu bertanya. Karena dia tidak bertanya, pihak lawan juga akan menjawab sendiri.

"Di dunia ini sebagian besar masalah hanya bisa dibagi dalam dua jenis, akan tetapi cara membagi jenis yang berbeda."

"Ooohhh?"

"Misalkan, orang juga dikelompokkan dalam berbagai macam, ada orang bahkan membagi ke dalam tujuh puluh sampai delapan puluh macam,"

Kata petapa fakir.

"Akan tetapi, jika kau sudah melakukan pembagian yang sangat ketat dalam disiplin, maka manusia cuma bisa dibagi ke dalam dua golongan."

"Dia menekankan kembali.

"Sekali pun jenisnya hanya dua, anak jenisnya bisa sangat banyak."

Misalnya, kau bisa membagi dalam dua macam, orang yang baik dan orang yang jahat, juga masih bisa dibagi jadi orang mati dan orang hidup, laki-laki dan perempuan, pandai dan bodoh.

Tidak peduli kau memakai cara apa dalam mengelompokkan, tetap saja bisa mencakup keseluruhan jenis manusia.

"Ada semacam orang yang biasanya takut mati, akan tetapi pada waktu penentuan mati dan hidup, saat harus melakukan pilihan, dia mampu melepaskan hidup dan memilih mati, bahkan bisa mengorbankan diri sendiri untuk menolong or¬ang lain."

Kata petapa fakir.

"Sudah barang tentu ini adalah salah satu 'tidak takut mati' itu."

"Benar."

"Masih ada semacam orang lagi, pada dasarnya tidak takut mati, prinsipnya tidak memandang masalah hidup mati sebagai masalah, karena dia menganggap nyawa kehidupan itu sangat rendah dan hina, segala sesuatu dalam hidup manusia, semuanya tidak layak dipandangi"

"Apakah Li Lan Shan termasuk manusia macam ini?"

"Betul,"

Kata petapa fakir.

"Anak perempuannya juga sama."

"Oleh karena dia punya keistimewaan demikian, maka baru punya keberanian mendampingi Mu Rong menyergap nyala api."

"Pada garis besarnya bisa dikatakan demikian."

"Akan tetapi aku tidak mengerti mengapa harus ada orang yang mendampingi Mu Rong, mengapa harus menghamburkan begitu banyak tenaga orang dan material untuk mencari dia?"

Tanya Lang Ge Si.

"Dalam aksi kali ini, sebetulnya dia berperan sebagai apa?"

Petapa fakir termenung lama, baru menjawab dengan mengucapkan satu kata demi satu kata demikian.

"Besar porsi kedudukannya dalam aksi kali ini, bahkan tidak di bawah Mu Rong."

Lang Ge Si tampak sangat terkejut, sejak awal dia selalu menganggap hanya Mu Rong yang merupakan kunci pengendali aksi kali ini.

Dari sorot mata petapa fakir mencuat kembali warna rasa puas diri yang tiga bagiannya bernada siluman.

"Hal ini sepenuhnya sangat rahasia, karenanya aku harus menunggu sampai sekarang ini, baru memberitahumu."

Lang Ge Si menunggu, terdiam menunggu kata-katanya lebih lanjut, bahkan nafasnya sampai seolah-olah berhenti.

Yang paling rahasia berada pada titik masalah yang mana?

"Kau tentu tahu di samping Chu Liu Xiang ada tiga orang gadis yang sangat dekat, seorang marga Li, seorang marga Song, seorang marga Su."

"Sudah tentu saya tahu,"

Lang Ge Si berkata.

"Orang yang tidak tahu ketiga gadis ini, barang kali juga tidak banyak."

Ini memang sesungguhnya demikian.

Li Hong Xiu luas pengetahuannya dan kuat daya ingatnya, segala sesuatu tentang kemampuan bertarung semua aliran di kolong langit, baik jagonya maupun Wu Gong-nya, sangat jelas-jelas seperti membaca telapak dan jari tangan sendiri, dia tahu jelas tentang peristiwa dan riwayat hidupnya, jika Xiang Shi menanyainya.

"Siapa jago nomor satu aliran Hua Shan? Tahun berapa dia pertama kali membunuh orang? Siapa yang dibunuh? Membunuh dengan jurus apa?"

Li Hong Xiu tidak perlu berpikir lagi, segera mampu menjawab langsung, bahkan dia bisa menguraikan keluarga tempatnya dilahirkan, otak dan kekurangannya, dalam sekejap menjelaskan dengan lancar.

Bahkan masih bisa menjawab pada hari apa dan jam berapa, dalam keadaan seperti apa melakukan perbuatannya.

Bukan saja dia ingat, bahkan memaksa Chu Liu Xiang mengingatnya.

Dalam tengah malam, di bawah sinar lampu, dia menyalakan satu xiang lu dupa, memaksanya untuk mengingat.

Di dunia Jiang Hu, dalam situasi musuh mengelilingi, pembunuh berkeliaran, jika kau bisa menguasai bahan lebih banyak salah satu orang, maka sebagian ancaman dari orang tadi terhadap dirimu juga akan berkurang.

Jika kau bisa menguasai keseluruhan keadaan salah seorang, maka bagaimana dia masih bisa menjadi ancaman terhadap dirimu?

Tahu diri sendiri dan tahu pihak lawan, seratus kali perang akan seratus kali menang, kalimat bijak ini bisa beredar sejak dahulu kala sampai sekarang, sudah tentu juga mengandung suatu prinsip kebenaran di dalamnya.

Karena itu, dia memaksa Chu Liu Xiang mengingat dalam hati, jalan peristiwa dan hasil pertempuran sejumlah tokoh yang sangat berhasil dan yang dalam keberhasilannya mendadak kalah begitu saja.

Karena perasaannya terhadap Chu Liu Xiang tidak sama dengan yang lain.

Jika hanya sekedar perasaan kakak beradik, juga perasaan kakak beradik yang berbedal Jika hanya perasaan persahabatan, juga perasaan persahabatan yang berbeda.

Oleh karena itu dia mengharapkan Chu Liu Xiang selamanya tidak pernah kalah.

Sekali pun kalah, juga harus menang dari kekalahan, menang dalam kekalahan.

Selamanya tidak perlu berkompromi, selamanya tidak usah mengalah biar satu cun atau pun satu fen.

Karena dia bisa melakukan sedemikian banyak pekerjaan untuk Chu Liu Xiang, sudah pasti Li Hong Xiu adalah seorang yang sangat pandai.

Yang paling penting ialah, di antara sejumlah pekerjaan yang dilakukannya untuk Chu Liu Xiang ini, juga mempunyai beberapa sifat istimewa yang sama.

Tidak kalah.

Boleh mati tapi tidak boleh kalah.

"Setiap orang dalam hidupnya tentu harus mati sekali, akan tetapi ada sejumlah orang yang dalam hidupnya tidak pernah kalah,"

Kata petapa fakir.

"Li Hong Xiu adalah orang yang menghendaki Chu Liu Xiang menjadi orang yang demikian itu."

Hidup abadi sudah sama sekali tidak mungkin diperoleh, tidak terkalahkan masih bisa dicapai.

"Karena dia juga tidak takut mati, di antara sejumlah pekerjaan yang dilakukannya untuk Xiang Shi, justru mengandung semacam sifat tidak takut mati itu."

Setelah merenungi cukup lama, Lang Ge Shi berkata.

"Aku mengerti."

Sesungguhnya dia bukan betul-betul sudah mengerti keseluruhannya.

Apakah ada semacam hubungan misterius tertentu di antara Li Hong Xiu dan Li Lan Xiu?

Hubungan semacam apa?

Li Lan Xiu apanya Li Hong Xiu?

Nama-nama ini sudah barang tentu juga mungkin hanya suatu kebetulan, di atas dunia ini entah berapa banyak nama marga dan nama kecil orang yang sama.

Akan tetapi, mengapa watak di antara mereka, juga punya semacam keistimewaan yang mirip sekali?

"Bagaimana mengatakannya, Li Hong Xiu adalah seorang perempuan yang sangat tegar dan berani, jika Chu Liu Xiang mau menghadiri kematian, dia juga tentu ikut ke sana,"

Kata petapa fakir.

"Sekali pun dia tahu pasti mati, juga tetap pergi."

"Betul,"

Kata Lang Ge Si.

"Aku pun yakin dia akan melakukannya."

Matanya melihat lurus ke kejauhan di depan, di matanya seolah-olah ada satu sosok manusia.

Orang ini bukan Li Hong Xiu, tapi seseorang yang berpakaian putih yang berdiri sendirian di samping tandu.

Dia ingin memotong langsung ke dalam inti persoalan, ingin langsung bertanya kepada petapa fakir ini!

"Apa sesungguhnya peran kegunaan Lan Xiu dalam aksi sekali ini?

Dengan Li Hong Xiu pun ada hubungan yang bagaimana?"

Dia masih belum buka mulut memulai, petapa fakir sudah mengalihkan pembicaraan kepada diri Song Tian Er.

Song Tian Er adalah seorang anak perempuan yang sangat luar biasa, kelihatannya seperti agak bodoh, tidak memedulikan segala sesuatu, tidak memasukkan ke dalam hati segala sesuatu, dan sangat mudah puas.

Ada kalanya dia mungkin bisa berharap ada seorang pangeran bisa menghadiahi dia sebuah benteng kota pada hari ulang tahunnya.

Akan tetapi, jika saja ada seseorang bisa memberikan selembar gambar benteng kota kepada dirinya, dia bakal sudah sangat bahagia.

Tahu puas dan senantiasa gembira, karena itu dia sepanjang hari selalu melewatinya dengan penuh kegembiraan, senyumnya yang manis, senyumnya yang manis terhadapmu.

Hanya terhadapmu, tidak terhadap orang lain.

Jika di sampingmu ada seorang anak perempuan begini, coba bilang apakah kau gembira atau tidak?

Dan lagi, dia pandai memasak makanan.

Dia orang Wu Yang Cheng (kota), Yang Cheng ialah Guang Zhou, 'Chi Zai Guang Zhou' (makan di Guang Zhou), sudah diketahui umum.

Karena itu dia juga suka makan, dan suka orang lain menyenangi sayur masakannya.

Orang yang suka makan biasanya memang demikian.

Karena itu dia juga harus pandai memasak sayur, bahkan masakannya enak sekali, bahkan Chu Liu Xiang yang sangat suka makan dan sangat cerewet, hampir tidak pernah mengomeli sayur masakannya.

Dia bahkan memberi tahu teman-temannya, bahkan ketika sebelum matinya Wu Hua He Shang, masakan pribadinya, masih sulit menandingi sayur vegetarian Song Tian Er.

Para koki paling terkenal di dunia, apa masih ada yang bisa menandingi dia?

Jika mau memegang hati laki-laki, jalan pintas yang paling cepat ialah melalui lambung dan ususnya.

Semua laki-laki suka makan enak, jika ada seorang anak perempuan demikian di samping badan, bahkan diusir dengan cambuk pun sulit menyuruhnya pergi.

Anak gadis ini selalu ikut di samping Chu Liu Xiang, setiap hari ada, setiap saat ada, akan tetapi dalam mata Chu Da Ye kita ini, seperti selamanya belum pernah melihat adanya or¬ang seperti dia.

Hanya melihat sayur masakannya, tapi tidak melihat orangnya, bahkan tidak melihat sepasang paha yang padat keras dan panjang, yang sering kali menjadi berwarna perunggu kuno oleh sengatan sinar matahari, apa tidak membuat or¬ang semakin ingin tertawa kesal.

Yang aneh, Song Da Jie kita ini sepertinya sedikitpun tidak peduli.

Setiap hari dilalui dengan gembira sekali.

Bahkan jauh lebih gembira dibandingkan dengan Li Hong Xiu maupun Su Rong Rong.

Di antara ketiga gadis ini, yang paling tidak gembira barang kali ialah Su Rong Rong.

Ada orang mengatakan, di dalam ketiga gadis itu, yang pal¬ing cantik ialah Su Rong Rong, ada orang mengatakan yang paling lemah lembut adalah dia, juga ada yang mengatakan Chu Xiang Shi paling menyukai dia.

Semua ini tidak berani kupastikan.

Yang bisa kupastikan ialah, di antara mereka, satu-satunya yang paling tidak gembira adalah dia.

Apakah benar gadis yang paling pintar dan paling cantik adalah yang paling tidak gembira?

Su Rong Rong, tidak perlu diragukan, luar biasa pintar.

Dia bertanggung jawab membuat rencana, membangun sebuah ruang cermin untuk Chu Liu Xiang, sudah membelikan sangat banyak topeng wajah kulit manusia yang sangat halus dan bagus untuk Chu Xiang Shi, dan sejumlah besar bahan dan alat berhias untuk mengubah wajah.

Dia sendiri juga sangat mahir berdandan dan mengubah wajah, sehingga Chu Liu Xiang setiap saat bisa tampil di dunia Jiang Hu dengan berbagai wajah dan identitas yang tidak sama.

"Seribu kali ganti selaksa kali berubah, sebentar di sini sebentar lagi di sana, kini di He Si, besok di Jiang Be."

Chu Xiang Shi yang romantis dan misterius, membentuk perjalanan hidup yang penuh keajaiban.

Penampilan bentuk demikian, sepenuhnya dibangun oleh tangannya.

Su Rong Rong ramah dan hangat, malah juga gampang memahami maksud orang lain.

Kehidupan sehari-hari Chu Liu Xiang, makanan dan istirahatnya, sebagian terbesar dirawat dan diasuhnya.

Xiang Shi bisa dikatakan sebagai orang yang sangat mandiri, tapi dia pernah bilang kepada teman baiknya.

"Aku boleh segalanya tidak punya, tapi kalau tidak ada Rong Rong, aku sebetulnya juga tidak tahu harus bagaimana lagi."

Dari sini bisa diketahui ketergantungannya dan perasaannya kepadanya, mengapa dia masih juga tidak bergembira?

Karena dia tahu, dia masih belum menjadi miliknya sepenuhnya, yang diinginkannya ialah seorang laki-laki yang sepenuhnya menjadi miliknya.

Chu Liu Xiang sepenuhnya milik Rong Rong, dan Rong Rong menjadi milik Chu Liu Xiang.

Tapi dia bukan jenis manusia serupa itu.

Chu Liu Xiang adalah milik khalayak ramai, dia adalah idola pujaan hati setiap remaja yang hangat, sahabat yang ingin diakrabi oleh setiap jagoan di dunia Jiang Hu, adalah kekasih bagi setiap perempuan dalam lamunan indahnya di dalam kamar pingitannya, pangeran dalam impian setiap gadis yang merindukan kemesraan, juga merupakan menantu paling ideal dalam mata para ibu calon mertua.

Karena itu Rong Rong tidak bisa bergembira.

Karenanya juga sering kali dia menemukan 'akal' untuk membuat Chu Liu Xiang jadi gugup, bahkan tidak sayang sengaja membuat dirinya diculik atau dibajak oleh musuh dari Chu Liu Xiang.

Karena itu baru bisa ada sejumlah orang Jiang Hu menganggap dia itu kacau berpikirnya dan bodoh sekali, gampangnya, dia adalah perempuan yang sangat mudah masuk perangkap.

Seorang perempuan yang cintanya sudah membuat mabuk, terhadap laki-laki yang dia sukai, semula memang memakai suatu akal siasat dan langkah tindakan, sedikit penipuan!

Sedikit akal busuk, sedikit ancaman, dan tiga bagian madu.

Akan tetapi yang dipergunakannya jauh lebih cerdik dan pada yang dipergunakan sebagian besar perempuan di muka bumi ini.

Akan tetapi dia juga tidak mungkin mengantarkan seseorang yang tidak punya dendam kesumat ke dalam got busuk untuk mati.

Dia tidak mampu melakukan, dia juga tidak sampai hati.

Dia tidak mampu mengeraskan hati, melakukan segala macam perbuatan yang setiap waktu dan setiap tempat bisa dilakukan oleh Su Su dalam waktu sekejap mata.

Akan tetapi dari suatu sudut pandang lain, tidakkah di antara mereka juga terdapat berbagai persamaannya?

Apakah mereka tidak juga memiliki semacam keistimewaan untuk sadar atau tidak sadar melakukan penipuan?

Sekalipun kursi ini luar biasa besarnya, sayang sekali, belum tentu kursi yang lebar enak diduduki.

Sebuah kursi yang dibuat dari kayu atau batu yang keras, tidak peduli berapa besar dan lebarnya, seorang perempuan yang telanjang duduk di atasnya mana bisa enak.

Gaya Lang Ge Si tidak menunjukkan sekarang ini sedang menikmati sesuatu apa pun, bahkan gayanya sebagai seorang puteri juga sudah tidak ada.

Dia bahkan sudah melilitkan sepasang kakinya yang panjang dan panjang sekali itu.

Petapa fakir itu masih terus memerhatikan dia dengan teliti, seperti seorang anak nakal yang sedang mengamati seekor serangga langka yang baru ditangkapnya.

Apa yang dilihat dengan matanya, semestinya adalah tubuh perempuan, sesuatu yang bisa membangkitkan libido laki-laki mana pun juga, akan tetapi di matanya sudah tidak ada nafsu lagi.

Karena yang dilihat oleh matanya saat ini, bukan lagi tubuhnya, melainkan rohnya.

Hatinya sudah tentu sudah dilihat jelas, seperti dia yang sudah tentu juga sudah melihat jelas antara Su Rong Rong dan Su Su, Li Hong Xiu dan Xiu Xiu tentu ada suatu hubungan istimewa yang misterius.

Karena di antara mereka betul-betul ada semacam keistimewaan yang sama.

Petapa fakir itu tentu juga paham masalah ini, mereka sama-sama memiliki semacam watak 'memandang enteng hidup dan menghargai tinggi 'YI’ (gie = kesetiakawanan dan kebenaran)."

Dia menjelaskan.

"Mungkin mereka bukan menjunjung tinggi 'YI’, karena anak perempuan biasanya tidak terlalu banyak menjunjung 'YI'."

Kata petapa fakir.

"Jika di antara seorang anak perempuan dengan anak perempuan lainnya terlalu bicara 'YI’, maka dia bakal kehilangan cinta kasihnya."

Petapa fakir ini, begitu memahami perempuan, betul-betul mengejutkan orang.

Jika seorang manusia tidak bisa 'Zhong Yi' (menjunjung tinggi 'YI'), melainkan mau dia 'Qing Sheng', maka dia akan lebih sulit lagi.

Apa lagi anak perempuan.

Kecuali dalam watak kodratinya, sudah punya semacam 'sifat istimewa' yang sangat istimewa, semacam sifat tidak takut mati yang istimewa.

"Dari segi perempuan, sifat istimewa semacam ini jarang dijumpai, tapi mereka berdua mempunyainya,"

Kata petapa fakir.

"Ini karena di antara mereka ada semacam hubungan istimewa yang sangat khusus."

"Seperti antara Su Rong Rong dan Su Su juga ada semacam hubungan misterius yang istimewa."

"Aku mengerti,"

Kata Lang Ge Si.

"Aku sangat mengerti semacam hubungan yang kau maksudkan."

Kali ini jawaban petapa fakir semakin langsung. Katanya.

"Li Lan Shan adalah kakak Li Hong Xiu yang sudah meninggal sejak dia masih muda, Su Pei Rong adalah adik lain ibu Su Rong Rong."

Petapa fakir sengaja memakai semacam nada suara yang sangat dingin ketika bertanya kepada Lang Ge Si.

"Apakah kau bisa mengatakan hubungan mereka sangat dekat sekali?"

Rahasia ini semestinya sudah sangat mengejutkan orang, akan tetapi Lang Ge Si sepertinya tidak memberikan reaksi!

Lewat lama, dia baru berkata dengan nada suara yang sama dinginnya dengan petapa fakir itu.

"Kau mencari mereka mestinya sudah cukup lama, bahkan mestinya cukup sulit mencarinya."

"Betul."

"Akan tetapi tak peduli betapa pun sulitnya kau juga tetap mencarinya,"

Kata Lang Ge Si.

"Karena dengan adanya mereka berdua di samping Mu Rong, Chu Liu Xiang semakin tidak bisa membiarkan mereka mati dalam aksi kali ini."

"Betul,"

Kata petapa fakir.

"Asalkan dia belum mati, dia pasti akan turun tangan."

"Jika Liu Ming Qiu belum mati, aksi sekali ini belum tentu akan berhasil, Su Su membunuh Liu Ming Qiu, seharusnya dia adalah pemegang jasa terbesar dalam aksi sekali ini,"

Kata Lang Ge Si.

"Seharusnya memang begitu." 'Tapi kau malah mengatakan, kedudukan Xiu Xiu dalam kaitan aksi kali ini, jauh lebih penting daripada siapa pun juga."

"Mengapa?"

Lang Ge Shi bertanya. Petapa fakir menatapnya dalam-dalam.

"Aku percaya seharusnya kau mengerti apa yang kumaksudkan,"

Katanya.

"Aku yakin kau mengerti."

"Betul, aku mengerti."

Setelah lama Lang Ge Si terdiam, akhirnya dia juga mengakui.

"Tujuan terbesar dan terutama dari aksi kalian kali ini, bukannya menetapkan mati hidupnya Chu Liu Xiang, melainkan menghendaki kematiannya."

"Dia harus mati,"

Petapa fakir juga mengakui.

"Jikalau kita masih hidup, maka dia yang harus mati."

"Kau pernah mengatakan, sejak aksimu dimulai, maka Chu Liu Xiang sudah harus mati."

"Betul."

"Sebab begitu aksi ini dimulai, jika dia tidak segera tampil turun tangan, maka itu juga berarti dia tanpa ragu juga sudah mati."

"Jadinya begitu."

"Akan tetapi bagaimana jika dia belum mati? Jika dia mendadak muncul dalam batas waktu sekilas di atas jalan yang panjang itu, maka kalian berdasarkan apa bisa menempatkan dia dalam kematian?"

Lang Ge Si dengan tawar dan dingin bertanya kepada petapa fakir itu.

"Apa dengan mengandalkan Tie Da Lao Ban? Atau mengandalkan kepada si setan kecil yang mampu ditekuk-tekuk dan digulung seperti ular kecil itu? Ataukah mengandalkan pada diri setan tua yang setengah laki dan setengah perempuan, yang bukan orang dan bukan setan itu?"

Petapa fakir menghela nafas, karena dia tidak dapat tidak mengakui.

"Andaikan mereka dalam waktu sekejap bisa mengambil nyawa Chu Liu Xiang, maka Chu Liu Xiang sudah tentu juga bukan Chu Liu Xiang!"

"Maka berdasarkan apa pula kau mengatakan asalkan dia muncul, maka dia sudah pasti juga mati?"

Lang Ge Si menjawab sendiri pertanyaan ini.

"Kau berani mengatakan begitu, hanya karena kau sudah menempatkan sebuah bidak catur Xiu Xiu,"

Kata Lang Ge Si.

"Dialah yang menjadi tangan pembunuh terakhir kalian!"

"Bukan dia satu orang, dia bersama dengan Mu Rong."

"Betul,"

Kata Lang Ge Si.

"Asalkan Chu Liu Xiang muncul, segera juga mereka bisa menempatkannya dalam kematian, dan hanya mereka yang mampu melakukannya, karena dia selamanya tidak pernah membayangkan bahwa kedua orang ini merupakan bintang pembunuh yang sebenarnya."

Petapa fakir mendadak juga tertawa, bahkan sorot mata jahanamnya juga memancarkan tawa sesungguhnya.

"Lang Lai Ge Ge, kau sangat pintar, kau sesungguhnya jauh lebih pintar daripada yang bisa kubayangkan."

Hal ini, baru merupakan hal paling penting.

Tak ada Xiu Xiu, sekali pun Chu Liu Xiang bisa muncul, juga tidak ada orang yang bisa mengambil nyawanya dalam waktu sekejap, jika tidak bisa mengambil nyawanya dalam sekejap, dia akan pergi.

Waktu dia mau pergi, di dunia ini barang kali tidak ada seorang pun bisa mengejar dia.

Karena itu, harus bisa mencapai hal ini, barulah aksi ini bisa mencapai hasil.

Bab Selembar Peta Setelah mendengarkan penjelasan petapa fakir, di dunia ini barang kali juga sudah tidak bisa dipungkiri ketelitian rencana ini dan nilai dari aksi ini.

Lang Ge Si juga tidak bisa menyangkal hal ini.

Tapi dia hanya bertanya.

"Bagaimana aku?"

Dia bertanya kepada petapa fakir.

"Apa peranku dalam aksi kali ini? Mengapa kau mencariku?"

"Bukan aku mau mencarimu,"

Petapa fakir tersenyum.

"Jika aku tidak salah mengingat, sepertinya kau yang mencariku."

Dia tertawa dengan sangat ramahnya.

"Akan tetapi aku tidak bisa tidak mengakui, aku sedikit banyak juga tertarik kepadamu."

Sorot mata Lang Ge Si bergeser dari kakinya yang telanjang ke arah mata dingin petapa fakir itu.

"Tertarik apanya?"

Tanyanya.

"Tempat yang kau tertarik, sudah tentu, bukan aku, orangnya."

"Sekali ini kau salah,"

Kata petapa fakir.

"Lang Lai Ge Ge. jika di dunia ini ada seseorang tidak tertarik terhadap dirimu, maka barang kali dia bukan lagi manusia."

"Apakah kau bukan manusia?"

"Aku manusia,"

Kata petapa fakir.

"Paling tidak untuk sebagian besar waktu aku bisa termasuk seorang manusia."

Dia mendadak menambahkan.

"Akan tetapi aku sedikit berbeda dengan orang lain saja."

"Apanya yang berbeda?"

"Jika orang lain melihatmu, apa lagi melihatmu dalam kesempatan seperti sekarang ini, perkara pertama apa yang mereka pikirkan?"

Lang Lai Ge Ge tanpa berpikir lagi segera menjawab.

"Ranjang."

Petapa fakir tertawa lagi.

"Lang Lai Ge Ge, sekali ini barang kali kau kembali salah,"

Katanya.

"Sebagian besar laki-laki yang melihatmu, perkara pertama yang dipikir belum tentu pasti ranjang."

Dia malahan masih menjelaskan.

"Karena jenis perkara ini belum tentu harus dilakukan di ranjang."

Sikap dia bicara biarpun ramah dan sopan, namun kalimatnya penuh mata belati tajam, mujurnya hal ini tidak banyak pengaruhnya bagi Lang Lai Ge Ge.

Karena dia seolah-olah sama sekali tidak mendengar kalimat ini, dia hanya bertanya.

"Apakah kau juga mengatakan bahwa kau tidak sama dengan laki-laki lain?"

"Betul."

"Dalam hal apa kau tidak sama?"

"Ketika aku melihatmu, bukan saja tidak memikirkan ranjang, juga tidak memikirkan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan ranjang."

"Kau memikirkan apaku?"

Tanya Lang Ge Si.

Petapa fakir tidak langsung menjawab pertanyaan ini, dia cuma berdiri, dia mengambil selembar peta dari suatu tempat tersembunyi.

Selembar peta yang dipenuhi gambar gunung, sungai, kali, kota, benteng dan pepohonan.

"Waktu aku melihatmu, aku memikirkan sebuah gambar peta ini,"

Kata petapa fakir "Tidak peduli aku melihat bagianmu yang mana, tak peduli aku melihat kakimu atau pun pinggangmu, yang aku pikirkan ialah gambar peta ini."

Wajah Lang Ge Si berubah, bahkan seluruh badannya juga berubah.

Dilihat di luarnya, dia tidak berubah, sekujur badannya dari ujung rambut sampai ke ujung jari kaki tidak mengalami perubahan.

Akan tetapi dia sudah berubah.

Seluruh tubuhnya, dari kepala sampai kaki semuanya sudah berubah.

Kulitnya yang licin dan lemas, sudah mendadak seperti meledak, meledak menjadi angkasa langit terbuka yang kosong, di atasnya bertebaran bintang-bintang yang tidak terhitung banyaknya.

Bintang tak terhitung, gemetaran menggigil tak terhitung.

Pada suatu kesempatan tertentu, setiap gemetaran menggigil menjadi semacam rangsangan yang tidak bisa dilawan.

Gambar ini sebetulnya cuma selembar gambar peta saja.

Mengapa selembar peta bisa membuat Lang Ge Si berubah begitu banyak, bahkan sebegitu dahsyat?

"Kau semestinya sudah kenal peta ini,"

Kata petapa fakir kepadanya.

"Lang Lai Ge Ge, kukira kau tentu tahu peta ini, tapi aku juga berani menjamin, kau pasti tidak bisa membayangkan bagaimana peta ini bisa berada di tanganku."

Lang Ge Si tidak menjawab, karena dia sudah tidak punya kata-kata untuk diucapkan.

Sudah tentu dia kenal peta ini, ini adalah peta wilayah penempatan pusaka kerajaan Persia yang tersimpan dan ditanam di bumi Tiongkok.

Kerajaan Persia merupakan salah satu kerajaan tertua di dunia, bahkan salah satu dari beberapa kerajaan terkaya di dunia.

Sebelum jaman Dinasti Han dan Dinasti Tang, sudah diketahui adanya saudagar dari Persia yang datang berniaga ke Tiongkok.

Keluarga istana kerajaan juga sudah lama mengagumi kemewahan dan kemegahan Tiongkok, ditambah dengan pengalihan kekuasaan keluarga kerajaan, maka tidak sedikit yang menitipkan harta kekayaan kepada para saudagar itu untuk diangkut ke Zhong Yuan, disembunyikan pada suatu tempat yang sangat dirahasiakan!

Sudah tentu jumlah harta kekayaan ini sangat besar sekali.

Dan pemilik harta kekayaannya tidak bisa menikmati harta ini.

Seseorang yang memiliki harta kekayaan dan perlu menyembunyikan dengan rahasia, biasanya umurnya tidak panjang.

Bahkan sering kali mati secara misterius.

Dan or¬ang yang menyembunyikan harta kekayaan ini, sudah barang tentu mati lebih dahulu.

Jika orang-orang ini tidak mampu membuat orang-orang yang menyembunyikan harta kekayaan itu bisa mati lebih cepat, maka bagaimana mungkin menyerahkan harta kekayaan itu ke dalam tangan mereka?

Meskipun mereka orangnya sudah mati, dan harta kekayaannya ikut lenyap, kematian dan harta kekayaan mereka sudah sejak semula menjadi simpul mati yang tidak teruraikan.

Jika ada seseorang bisa menguraikan simpul ini, dengan sendirinya dia bakal menjadi orang paling kuat yang menguasai harta kekayaan tidak terkirakan di seluruh dunia.

Orang sejenis ini jumlahnya pasti sangat sedikit, akan tetapi cepat atau lambat pasti akan muncul.

Orang sejenis ini, bukan saja harus luar biasa cerdas, luar biasa teliti dan cermat, bahkan dia harus punya peruntungan nasib mujur yang luar biasa.

Kaisar Akbar kerajaan Persia generasi kali ini merupakan orang seperti ini.

Sejak kecil dia sudah menemukan satu hal, sejak pertama dia dilahirkan, dia sudah memiliki segalanya.

Karena itu takdir kehidupannya, juga sudah ditetapkan.

Seseorang yang sudah memiliki segala sesuatu, apakah masih mempunyai kegembiraan hidup lagi?

Di dunia ini apakah masih ada suatu hal yang bernilai dan perlu diperebutkan?

Maka, lalu dia hidup untuk apa?

Apakah sekedar hanya untuk 'hidup' saja?

Maka, apa bedanya orang ini dengan seorang pengemis yang sekedar bertahan melanjutkan hidup, yang empas empis hidup tidak mati pun enggan?

Seseorang baru berarti hidupnya, jika ada suatu target tujuan yang harus dikejar dan direbut dalam perjalanan hidupnya.

Kaisar Akbar ini sejak sangat kecil sudah mengerti masalah ini, karena itu sejak usia dini dia juga sudah menetapkan akan mengerjakan suatu pekerjaan yang dianggap orang lain mustahil bisa dikerjakan.

Pekerjaan pertama yang mau dikerjakannya, dia ingin menggali dan menemukan seluruh harta kekayaan milik kerajaan Persia yang pernah lenyap.

Dia sudah melakukan pekerjaan ini.

Peta ini adalah hasil kerjanya.

Dia pernah meneliti semua bahan dan data yang ada, dan meneliti setiap jumlah harta kekayaan kerajaan yang mengalir ke luar sampai sangat jelas.

Siapa sesungguhnya orang yang menguasai harta kekayaan yang berjumlah besar itu?

Sejak kapan catatan mulai hilang?

Dalam batas waktu ini, siapa saja yang mungkin membawa harta kekayaan ini ke luar wilayah negara?

Orang ini pergi ke mana saja?

Pernah sampai di mana saja?

Di antara orang-orang ini, siapa yang masih berhubungan dengan pemegang harta kekayaan itu?

Sudah tentu pekerjaan ini sangat sulit, akan tetapi bagi seseorang yang sudah punya ketetapan hati juga sudah punya peruntungan takdir, yang cerdas dan teliti, maka tidak ada sesuatu di kolong langit ini yang tidak mungkin dikerjakan.

Gambar peta ini adalah satu bukti.

Setiap lokasi peta yang diberi tanda [X], menunjukkan lokasi penimbunan dan penyimpanan harta benda yang jumlahnya tidak terkirakan besarnya.

Oleh karena itu, gambar peta ini sudah merupakan pusaka harta kekayaan yang tidak ternilai besarnya.

Kaisar Akbar menyerahkan gambar peta ini kepada Lang Ge Si.

Dia tahu, pekerjaannya sangat berat dan sulit, pekerjaan yang sulit, harus ada tenaga pendukung di belakangnya.

Di dunia ini masihkah ada tenaga pendukung yang lebih kuat daripada uang dan harta kekayaan?

Sudah tentu Lang Ge Si juga tahu masalah ini, sudah tentu juga tahu berapa besar nilai gambar peta ini.

Setelah melihat peta ini, segera dimusnahkannya.

Karena dia sudah mengingatnya dalam hati, hanya rahasia yang tersimpan dalam hati, yang tidak bisa dicuri atau pun dirampas orang lain.

Sama seperti suatu kenangan yang amat disayang dalam hati seseorang, hanya bisa disimpan dengan cara ini, baru bisa menjadi miliknya selamanya.

Dia pun selamanya tidak bisa membayangkan bagaimana gambar peta ini malahan muncul sekarang, dan gambar peta ini justru berada di tangan petapa fakir ini.

"Aku tahu kau sangat terkejut melihat gambar peta yang berada di tanganku ini. Karena di dunia, ini sebetulnya sudah tidak mungkin ada gambar peta ini,"

Kata petapa fakir.

"Kaisar Akbar sudah menyerahkan peta ini ke dalam tanganmu, karena dia sudah hafal dalam hati,"

Kata petapa fakir lagi.

"Kau pun sudah memusnahkannya, karena kau sudah menghafalkannya dalam hati juga."

Lang Ge Si tidak tahan tidak bertanya.

"Bagaimana sekarang di tanganmu masih bisa ada peta ini?"

"Karena aku bisa mencuri."

Petapa fakir tersenyum "Aku juga sama seperti kaisar Akbar kalian, bisa memakai suatu cara istimewa mencuri barang, sesuatu yang sudah lama terpendam di hati orang lain,"

Katanya.

"Sudah tentu cara ini tidaklah mudah."

Sudah tentu cara ini tidak mudah.

Sejak saat Lang Ge Si meninggalkan Persia, petapa fakir ini sudah memperhatikannya.

Segala sesuatu, dari makan dan minum, bangun dan tidurnya, kehidupan sehari-harinya, semua tingkah lakunya, setiap pihak dan orang yang melakukan kontak dan komunikasi, dan juga respons dan reaksinya.

"Apakah kau tahu berapa banyak orang yang kukerahkan untuk mengamatimu?"

Tanya petapa fakir kepada Lang Ge Si. Sudah barang tentu dia tidak tahu. Dia menjawab sendiri.

"Kau tidak pernah memikirkan,"

Kata petapa fakir.

"Untuk mengamati tingkah laku dan pemikiranmu, total aku telah mengerahkan 6.360 orang dan semuanya petugas kelas satu."

Lang Ge Si kali ini tidak sampai terkejut.

Untuk mengamati tingkah lakunya memang tidak sulit, namun untuk menyelidiki pemikirannya sudah pasti bukan pekerjaan yang mudah.

Orang yang berhasil ditangkap, untuk memutuskan jenis perkara ini, juga akan memberikan kesimpulan yang mungkin sangat berbeda.

Karena itu untuk mengetahui keadaan kejiwaan seseorang, tenaga menusia yang bisa dimobilisasi, juga mungkin harus lebih besar daripada satu kesatuan pasukan setingkat resimen.

Karena im memang salah satu misteri manusia paling besar.

Hendak mencuri selembar gambar peta dari dalam hati seseorang, sudah tentu juga lebih banyak kesulitannya dari pada satu lemari arsip gambar peta.

Sekali pun petapa fakir masih tetap saja berlagak sangat serius, tapi tawanya juga sangat gembira.

"Dalam hal ini, kukira apa yang dianggap dunia sebagai guru maling Chu Liu Juang, belum tentu bisa lebih tinggi dari padaku."

"Itu sesuatu yang sudah pasti,"

Kata Lang Ge Si dengan dingin.

"Sebab di seluruh dunia orang juga tahu, Xiang Shi senantiasa tidak pernah mencuri rahasia dari dalam hati or¬ang."

Setiap orang tahu, Chu Liu Xiang adalah seorang yang pal¬ing menghormati hak kerahasiaan pribadi orang lain.

"Jika dia mau mencuri,"

Kata Lang Ge Si.

"Paling banyak dia juga cuma mencuri perasaan hati orang lain."

"Betul,"

Petapa fakir mengakui.

"Aku juga orang Jiang Hu, dan aku pernah menekuni sejarah Jiang Hu dari dulu sampai sekarang, bahkan para pendekar terkenal jauh dalam ratusan tahun silam, juga tidak terkecualikan,"

Katanya.

"Akan tetapi aku juga mengakui, dalam hal ini, Chu Xiang Shi tidak ada yang bisa menandinginya."

Chu Liu Xiang selamanya tidak membunuh orang, dia selalu beranggapan.......

Dalam keadaan bagaimana pun juga, tidak peduli dia melakukan kesalahan seberapa pun besarnya, selalu harus menerima hukuman dan undang-undang hukum yang berlaku, baru bisa ditetapkan kesalahannya.

Setelah kesalahannya ditetapkan, baru bisa diputuskan hukuman baginya.

Pada jaman Chu Liu Xiang itu, pemikiran semacam ini barang kali tidak dibenarkan oleh sebagian besar orang, akan tetapi sekarang, pemikiran semacam ini sudah menjadi standar norma semua negara hukum yang beradab.

"Kalau saja kau juga beranggapan Chu Liu Xiang adalah seorang yang luar biasa, mengapa kau menghendaki kematiannya?"

Tanya Lang Ge Si.

Petapa fakir menolak memberikan jawaban atas pertanyaan ini, akan tetapi matanya sudah mewakili jawabannya.

Dalam waktu sekejap saja, matanya mendadak memancarkan kebencian mendarah daging dan rasa dendam kesumat.

Lang Ge Si menghela nafas dalam hati, berlanjut dengan pertanyaan kedua.

"Bagaimana kau tahu kaisar Akbar sudah menyerahkan gambar peta ini kepadaku?"

Sekali pun petapa fakir itu sudah menjawab pertanyaannya, tapi sama saja dengan tidak menjawab.

"Setiap orang punya caranya sendiri dalam bekerja, dan cara ini biasanya tidak untuk diberitahukan kepada orang lain,"

Kata petapa fakir.

"Tidak terkecuali diriku."

Katanya.

"Tidak peduli cara apa yang kupergunakan, sebelum kau keluar dari batas negeri Persia, aku juga sudah sangat memahami masalahmu."

"Maka sejak awal kau sudah terus menguntitku."

Petapa fakir menggelengkan kepala.

"Bukan aku yang terus menguntitmu, tapi justru kau yang menguntitku terus."

"Ooohhh?"

"Aku sudah tentu terlebih dahulu harus memberitahumu agar tahu, aku sekarang sedang melaksanakan rencana ini, bisa disatupadukan dengan pekerjaanmu."

"Karena kau percaya begitu aku tiba di sini, pasti bisa mencarimu, dan tidak sayang serta tidak peduli dengan memakai cara apa pun."

"Betul,"

Kata petapa fakir.

"Aku sangat yakin kau akan melakukan demikian."

"Karena kau tidak sayang untuk melakukan segala apapun juga harus mendapatkan gambar petaku ini."

"Betul,"

Kata petapa fakir.

"Aku bukan saja mau mempergunakan harta kekayaanmu untuk membantuku menyelesaikan rencanaku ini, aku juga masih mau mempergunakanmu sebagai pribadi, untuk bisa menyingkirkan laba-laba itu dan setan kecil pemotong kepala itu."

Dia menerangkan.

"Jika aku turun tangan sendiri, orang bisa menganggapku sedikit keterlaluan."

Mereka memang adalah teman persekongkolan gelapnya, jika dia turun tangan sendiri membunuh mereka, bukan saja tidak bijak, bahkan tidak beruntung.

"Dalam rencana kali ini, setiap aspek sudah kuperhitungkan dengan cermat,"

Kata petapa fakir.

"Hanya satu hal di luar dugaanku."

"Masalah apa?"

Petapa fakir menatap tajam kepada Lang Lai Ge Ge yang berkaki panjang dan berpinggang ramping.

"Mengapa kau tidak membunuh si setan kecil itu?"

Tanyanya.

"Tadi kau punya kesempatan yang sangat baik sekali, mengapa kau tidak membunuhnya?"

Pada waktu sekejap tadi, memang benar dia setiap saat bisa memotong kepala si setan kecil pemotong kepala itu di bawah sepasang kaki panjangnya.

"Tadi memang aku bisa membunuh si setan kecil itu,"

Kata Lang Ge Si.

"Aku sebetulnya juga ingin membunuhnya."

"Tapi mengapa tidak membunuhnya?"

"Karena aku mendadak tidak mampu turun tangan."

"Mengapa?"

"Hanya sejenak itu, aku mendadak punya suatu perasaan yang sangat aneh,"

Kata Lang Ge Si.

Tepat pada waktu dia mengatakan kalimatnya, badannya dan wajahnya juga memancarkan mimik dan sikap yang luar biasa aneh, sepertinya seorang gadis remaja di dalam tengah musim panas yang hangat, mendadak menyentuh tangan seorang laki-laki, tangan seorang laki-laki yang dia sukai.

"Aku mendadak merasa sangat terangsang,"

Kata Lang Ge Si. Suaranya juga berubah, sepertinya sudah menjadi semacam igauan mimpi malam musim semi. Dia kemudian melanjutkan semacam suara itu dengan mangatakan.

"Waktu si setan kecil itu memanjat ke atas badanku, aku mendadak merasa sekujur badanku dari atas sampai ke bawah sepertinya disumpalkan ke dalam sebuah tabung berbulu."

Lang Ge Si mengatakan pelan-pelan.

"Kala seseorang merasakan adanya sensasi serupa itu, bagaimana bisa bertindak membunuh orang?"

Pertama kali mata petapa fakir itu menunjukkan mimik terkejut.

"Kau bilang ketika mendapatkan perasaan sensasi semacam itu, justru waktu si setan kecil itu memanjat ke atas badanmu?"

"Betul."

"Setan kecil itu bisa membuatmu mendapatkan perasaan sensasi semacam itu?"

"Hanya dia yang bisa memberikanku perasaan sensasi semacam itu,"

Kata Lang Ge Si.

"Mulai dari pertama kali aku punya nafsu, hanya dia seorang yang bisa memberikanku perasaan sensasi semacam ini."

Petapa fakir tercengang.

Dia sejak awal sudah tahu Lang Lai Ge Ge ini pasti bisa mengatakan hal sebenarnya, sebab dia sudah 'mendorong' dia ke dalam suatu limit untuk tidak bisa tidak mengatakan kebenaran sesungguhnya.

Akan tetapi dia tidak mengira kata-kata yang diucapkannya bisa membuat dia begitu terkejut.

Seorang perempuan cantik jelita yang sedemikian besar tinggi, memandang laki-laki seantero dunia sebagai kotoran anjing, seorang yang hanya bisa melampiaskan nafsu mencintai diri sendiri dengan menghadap cermin, bagaimana bisa terbangkitkan nafsu birahinya oleh seorang kerdil yang berwajah sangat jelek?

Betapa ini menjadi hal yang sulit diperkirakan?

Siapa pula yang bisa memberikan penjelasan?

Lang Ge Si bisa menjelaskan, karena dia punya penjelasannya sendin.

"Aku percaya, paling tidak ada sesuatu yang kau pasti bisa mengerti,"

Lang Ge Si mengatakan kepada petapa fakir.

"Si setan pemotong kepala ini sama sekali tidak sama dengan lelaki lain."

"Aku mengakui hal ini,"

Kata petapa fakir.

"Si setan kecil ini tampaknya sama sekali tidak mirip seorang manusia, sudah tentu berbeda dengan laki-laki lain."

Lang Ge Si memanggutkan kepala sepintas.

"Di dunia ini memang sangat banyak laki-laki yang bukan manusia, dan bukan hanya dia seorang."

Petapa fakir juga tidak bisa tidak mengakui hal ini, sebagaimana Lang Ge Si juga tidak bisa tidak mengakui di dunia ini sangat banyak perempuan yang bukan manusia.

"Akan tetapi si setan kecil ini tetap tidak sama,"

Kata petapa fakir.

"Dia mirip dengan seekor ular, seekor tikus, seekor kacoa, seekor cicak, seekor laba-laba, perempuan yang melihatnya dan tidak berteriak-teriak dengan suara melengking, barang kali sangat sedikit."

"Justru karena itulah, maka menjadi perangsang,"

Kata Lang Ge Si.

"Justru karena dia begitu buruknya, begitu menjijikkan, begitu membuat orang mau muntah, maka waktu dia memeluk diriku, aku betul-betul merasa sangat terangsang."

Dia bertanya kepada petapa fakir.

"Coba kau pikirkan, jika si setan pemotong kepala ini betulbetul adalah anak laki-laki yang cakap dan tampan, mana akan ada lagi nikmat bermata dengannya?"

Petapa fakir kembali tercengang.

Seorang perempuan dewasa, dipeluk seorang anak laki-laki kecil yang normal wajar, memang betul tidak menimbulkan rangsangan apapun.

Hal ini siapa pun mustahil tidak mengakuinya.

"Tidak wajar"

Sendiri memang juga merangsang, sebenarnya juga titik kelemahan kodrati manusia.

Bagi seorang perempuan yang pada dasarnya juga sudah tidak wajar, rangsangan semacam ini sudah barang tentu semakin sulit dilawan.

"Karena itu aku tidak tahan si setan kecil itu,"

Kata Lang Ge Si.

Ketika si setan kecil itu memeluk dirinya, apa perasaan yang timbul dalam hatinya?

Badan dagingnya punya perasaan apa pula, kata-kata semacam ini sesungguhnya sudah siap untuk dilanjutkan.

Akan tetapi dia tidak melanjutkannya.

Karena dia mendadak mencium semacam bau yang dia sangat yakin pada kesempatan waktu ini dan di tempat ini sama sekali tidak mungkin mencium bau wangi ini.

Dia mencium bau wangi semacam bunga anggrek.

Sekarang masih musim gugur, masih jauh dari waktu bunga anggrek mekar.

Dalam ruangan kamar batu yang menyeramkan ini, bagaimana mungkin tercium bau bunga anggrek?

Dia bahkan tidak percaya kepada penciuman hidungnya sendiri.

Akan tetapi dia yakin dirinya sepenuhnya sehat, bukan saja pertumbuhan badannya baik, bahkan sejak kecil sudah mengalami pelatihan yang sangat keras.

Dia sepenuhnya yakin, sekujur badannya dari atas sampai ke bawah, setiap organ badannya adalah sepenuhnya sehat, belum pernah mengalami sesuatu kesalahan.

Hal "tidak mungkin"

Semacam ini, seharusnya tidak mungkin terjadi pada dirinya.

Akan tetapi sekarang justru telah terjadi.

Karena itu dia sangat waspada.

Mungkin karena dia sepenuhnya sangat sehat dan responsnya sangat istimewa peka, maka baru bisa menimbulkan kegemparan istimewa juga.

Hal ini sangat penting.

Setiap orang yang wajar dan sehat, mendadak mengalami sesuatu kejadian yang menurut dirinya sama sekali tidak mungkin terjadi, akan selalu demikian.

Su Su juga demikian.

Karena itu, setelah dia menjerat mati Liu Ming Qiu, dia baru bisa mendadak jatuh pingsan, karena dia mendadak melihat seseorang yang sebelumnya tidak pernah dikira akan dijumpai pada waktu itu.

Siapa orang itu?

Waktu itu terjadinya kapan?

Pada waktu itu, rembulan tepat berada di kulminasi tengah langit di atas.

Pada waktu itu, bulan sedang bulat, pada waktu itu, wangi bunga anggrek mendadak seperti kabut tebal subuh menyebar ke mana-mana.

Tidak mungkin, ini tidak mungkin.

Ketika bulan purnama di tengah malam berada di tengah langit di tengah bulan kedelapan, bagaimana bisa terjadi ada bunga anggrek mekar?

Mendadak Lang Ge Si merasa dirinya pusing, keseluruhan dirinya sedang berpusing-pusing tanpa hentinya, sepertinya mendadak dituangkan ke dalam sebuah tabung pemutar.

Sebab dia betul-betul melihat ada sekuntum bunga sedang mekar.

Dia betul melihatnya.

Dia betul melihat sekuntum bunga anggrek sedang mekar di wajah petapa fakir ini.

Seraut wajah yang pucat, begitu putih dan pucatnya.

Selain putih, dia tidak melihat warna lain.

Bagaimana wajah ini bisa muncul?

Kapan dia mulai muncul?

Bagaimana bisa mendadak muncul dari tengah berlapis-lapis bayang-bayang misterius?

Bagaimana tumbuh wajah ini sesungguhnya?

Dengan hidung bagaimana?

Alisnya bagaimana?

Mulut bagaimana?

Wajah bagaimana?

Lang Ge Si tidak melihatnya.

Dia tidak melihat, bukan karena wajah ini hanya selembar wajah yang putih, putih menyeramkan yang mencolok pandangan mata.

Dia tidak melihat, karena dia hanya melihat sekuntum bunga anggrek.

Sekuntum bunga anggrek yang segar, yang merah dan sangat merah, mendadak seperti bunga darah mekar di atas wajah yang pucat itu.

Saat ini betul-betul tengah malam.

Saat ini sedang ada sebentuk bulan bulat tergantung tinggi di langit.

Tergantung tinggi di angkasa di tengah kegelapan malam di tengah musim gugur.

Tengah malam ini, malahan ada bunga anggrek.

Anggrek Tengah Malam.

Mengapa bunga anggrek ada yang berwarna merah?

Bunga anggrek punya banyak sekali warna, aneka macam dan rupa bentuknya, bahkan ada yang hitam seperti hitam hijau seperti jamrud, akan tetapi warna anggrek semacam ini, anggrek merah seperti darah, bahkan lebih merah dan pada darah.

Bahkan merahnya seperti lidah nyala api neraka.

Bagaimana anggrek semacam ini bisa muncul di kalangan manusia, bagaimana muncul di atas wajah seorang manusia.

Seraut wajah yang pucat, mendadak disirami warna merah, pada sebidang tanah bersalju, mendadak mencuat lidah nyala api.

Hamparan bumi mendadak jadi sunyi sepi, segala bahasa semua berakhir.

Lang Ge Si tenggelam ke dalam suatu keraguan dan kegentaran yang tidak bisa dijelaskan.

Setiap hal, setiap ikhwal di bawah kolong langit ini, mustahil jadi keabadian yang kekal, akan tetapi setiap perubahan hal ikhwal tentu masih membutuhkan tenaga dari luar, menerima pengaruh lingkungan, dan dalam kesempatan ini, pada detik ini, ada siapa lagi yang bisa menyebutkan sebab musabab perubahan drastis (mutasi) ini?

Siapa?

Hal apa?

Sebab apa, yang menyebabkan dia mendapatkan perubahan ini?

BAGIAN KEEMPAT SU SU ....Mendadak dia menemukan di hadapannya muncul satu orang, seseorang yang dia dulu belum pernah membayangkan bisa muncul dalam kehidupannya orang ini sedang memperhatikan dia dengan sorot matanya yang aneh.....

Bab Pesta Su Su jatuh pingsan.

Dia seorang perempuan yang luar biasa tegar, sepanjang hidupnya jarang mengalami waktu dia betul-betul jatuh pingsan.

Akan tetapi begitu melihat orang ini, dia jatuh pingsan.

Ketika dia sadar, dia juga menyaksikan satu perkara aneh.

Dia melihat sebuah pesta.

Pesta tidaklah aneh, di atas dunia ini, pesta tiap hari juga ada, aneka macam orang, aneka macam pesta, ada pesta membuat orang gembira, ada pesta membuat orang kesal tidak senang.

Pesta bukan sesuatu perkara yang aneh, akan tetapi pesta sekali ini, justru merupakan suatu pesta yang aneh.

Pesta yang ini, tuan rumah maupun tamunya hanya empat orang, akan tetapi yang melayani ke empat orang tadi, dari pengikut, pengirim, pelayan, pembantu, juru masak bahkan mencapai paling sedikit empat ratus orang.

Ini pun bukan sesuatu yang luar biasa aneh, hal semacam ini sangat biasa terjadi, di rumahrumah para pejabat bangsawan, orang kaya raya, pejabat tinggi dan pedagang garam.

Yang aneh ialah, pesta ini diselenggarakan di atas sebuah tebing gunung.

Sebuah tebing yang mirip seperti segumpal awan melayang ke atas, di puncak sebuah gunung Selembar hamparan batu datar, yang batunya mirip kualitas batu yade (giok), entah berapa chi lebarnya.

Su Su sudah tahu dia tidak akan bisa melihat lagi, tidak bakal bisa melihat lagi tebing ini.

Dulu dia belum pernah melihatnya, kelak dia juga pasti tidak bakal melihatnya lagi.

Karena ini hanya sebuah kejadian langka.

Sehamparan tebing datar yang putih seperti yade putih memang sebuah kejadian unik dan langka, pesta ini juga sesuatu yang unik dan langka.

Karena orang ini berada di dalam pesta ini, di atas tebing gunung ini.

Karena orang ini adalah orang yang paling ingin ditemuinya.

Orang ini mengenakan pakaian panjang warna biru, sangat biru, potongannya sangat sederhana.

Orang ini sangat kurus, wajahnya seperti warna busa ketika air laut menggulung terbalik.

Juga mirip dengan warna awan melayang di langit biru dalam awal musim panas.

Siapa pun tidak ada yang tahu warna itu warna apa, siapa pun tidak bisa menerangkannya.

Ekspresi muka, budi pekerti dan sikap kelakuan orang ini juga tidak bisa dilukiskan.

Orang yang begitu perlente, begitu perlente menonjol anggun, duduk di atas sebuah gunung.

Dia duduk di tempat itu menemani tamu.

Seorang lagi pendamping tamu adalah orang bertangan sebelah, sekali pun tinggal sebelah tangan, akan tetapi wajahnya bercahaya, semangatnya berkobar, kelihatannya seperti orang yang baru naik jabatan setelah lulus ujian negara, dari Zhuang Yuan menjadi Qu Ren.

Tidak peduli siapa pun asalkan pernah melihat wajahnya, segera bisa mengenalinya sebagai seorang yang sangat berhasil dalam usaha, perkawinan, perasaan, ekonomi, persahabatan, kehidupan, segala bidang dia berhasil.

Berhasil memberikan kegembiraan.

Orang yang ini, tidak peduli dilihat dari segi apa pun, akan terlihat dia sangat berhasil dan sangat gembira.

Hanya satu hal yang sangat mengherankan.

Orang yang sedemikian berhasil dan sedemikian bergembira, namun tidak ada orang yang berani menatap wajahnya, karena di antara kedua alisnya, selalu sepertinya membawa semacam hawa membunuh yang dingin dari telapak kaki sampai dengan hatinya.

Semacam suasana yang membuat kau sendiri tidak bisa tidak percaya, asalkan dia turun tangan membunuhmu, maka kau pasti akan mati.

Orang semacam ini memang sangat jarang ada, namun tidak boleh ceroboh menyenggolnya, tidak peduli siapa pun dia, asalkan sudah melihat sekali wajahnya, segera akan mengerti hal ini.

Su Su adalah seorang perempuan yang nyalinya luar biasa besar, hatinya juga cukup kejam, akan tetapi waktu dia melihat orang ini, hanya memberitahu dirinya sendiri satu kalimat.

Jangan menyentuhnya.......

Su Su belum pernah melihatnya juga tidak mengenalnya, akan tetapi dia tahu, jika menyenggolnya, maka kesempatan hidupnya akan menjadi tidak banyak lagi.

Siapa orang ini?

Tamu utamanya seorang nenek tua.

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 8

Baca Juga: Golok Sakti 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert