Ceritasilat Novel Online

Anggrek Tengah Malam 4

Eps 4 Anggrek Tengah Malam - Khu Lung

Baca online Anggrek Tengah Malam - Khu Lung

Cersil Anggrek Tengah Malam - Khu Lung.

Aku berani bertaruh, siapa pun tidak bisa memikirkan bagaimana seorang nenek tua renta bisa pada kesempatan demikian duduk di tempat ini, minum arak bersama tiga or¬ang.

Dia bukan saja minum arak, malahan minumnya sangat banyak, bahkan lebih banyak dibandingkan dengan anak muda yang suka berebut jadi jagoan.

Dia minum arak seperti minum air segar saja.

Semua orang mengatakan, bisa makan itu peruntungan baik, nenek tua ini mungkin seorang nenek yang paling mujur didunia.

Nenek lainnya, katakanlah bisa hidup sampai seumur dia ini, juga tidak bisa makan dan minum seperti dia, katakanlah dia mampu makan dan minum seperti dia, juga tidak bakal semewah dari semegah semacam ini, katakanlah semewah dan semegah ini, juga tidak bakal banyak mempunyai anak dan cucu, katakanlah dia punya anak dan cucu sedemikian banyak, juga tidak bakal seperti dia, semua anak cucunya sangat berprestasi di masyarakat.

Katakanlah memiliki semua yang dia punyai, juga mustahil ada seorang nenek tua renta, bisa seperti dia, punya nama dan pengaruh sedemikian besar.

Nenek tua ini mempunyai sepuluh orang anak, sembilan puteri, delapan menantu laki-laki, tiga puluh sembilan orang cucu laki-laki dan cucu perempuan, ditambah lagi enam puluh delapan buyut laki-laki dan buyut perempuan.

Di antara anak dan menantunya, ada seorang yang berasal dari dinas tentara, pernah bertempur ratusan kali, sudah menjadi seorang perwira yang paling besar dan banyak jasanya, jenderal paling berwibawa (Wei Wu Jiang Jun).

Akan tetapi jenderal ini sama sekali bukan yang paling dihormati di kalangan anak menantunya.

Di depan mata keluarga ini, seorang jenderal sama sekali bukan apa-apa.

Dia punya sembilan anak perempuan, hanya delapan yang bersuami, ini juga bukan karena yang seorang tidak bisa menikah.

Orang dunia Jiang Hu juga tahu, kesembilan puteri nenek tua ini, semuanya cantik jelita seperti bidadari, dan masing-masing memiliki mas kawin yang sangat besar, lelaki yang melamar mereka, bisa berbaris mengantre dari Beijing, terus sampai Nanjing.

Dia punya seorang puteri yang belum menikah, karena dia ini sudah mencukur rambut menjadi seorang bhiksuni, sudah mewarisi perguruan 'E Mei’ (Go Bi), sudah menjadi salah satu dari tujuh orang zhang men yang paling besar pengaruh dan kuasanya di jaman ini.

Bahkan menjadi perempuan paling berkuasa dari dunia Jiang Hu.

Bagaimanapun masyarakat ini adalah masyarakat patriarkal-patrimonial, jika seorang perempuan mampu menjadi pemangku jabatan nomor satu di masyarakat kaum lelaki, sudah bukan perkara mudah.

Sekali pun berada pada urutan ketujuh, sudah bukan hal yang sangat mudah.

Cucu paling bungsu (terkecil) dari nenek tua renta ini malahan adalah Jin Ling Zhi.

Jin Ling Zhi adalah sahabat karib Chu Liu Xiang dan Hu Tie Hua, dia mengenal mereka bersamaan.

Mereka sedang mandi di sebuah pemandian yang khusus untuk laki-laki, dia menerobos masuk ke dalam.

Pemandian semacam ini sudah amat kuno, merupakan tempat terlarang bagi lelaki yang sudah sangat kuno, beratus tahun lamanya, jarang sekali ada perempuan berani menerobos masuk ke dalam, Bahkan kita boleh bilang, mutlak tidak ada perempuan berani menerobos masuk ke dalamnya.

Bahkan aku bisa mengatakan juga, terkecuali para perempuan yang perempuan tapi bukan perempuan, sama sekali tidak ada perempuan yang berani menerobos masuk ke dalamnya.

Yang berani menerobos masuk ke dalam tempat terlarang bagi laki-laki ini, sudah tentu harus memiliki sedikit keberanian.

Berbicara adanya seorang perempuan yang bisa mengenal dua orang laki-laki, maka hal ini sudah barang tentu merupakan suatu awal permulaan bagi keanehan yang amat menimbulkan rangsangan sensasi.

Akan tetapi pengalaman yang bersama-sama mereka tempuh di kemudian hari, sesudah mereka berkenalan, justru jauh lebih unik dan merangsang lagi.

Mereka pemah berbaring di dalam peti mati, terapung-apung di samudera raya, juga pernah menunggu kematian di neraka yang gelap gulita.

Mereka pernah menangkap dengan jala beberapa ekor ikan duyung dari samudera raya-ikan duyung yang bisa membunuh manusia.

Mereka bahkan pernah berjumpa dengan kelelawar yang sepanjang hidupnya tidak pemah melihat sinar cahaya.

Mereka pernah bersama-sama menempuh hidup, dan bersama-sama pula mengatasi kesulitan.

Mereka adalah sahabat karib.

Persahabatan antara Hu Tie Hua dan Jin Ling Zhi semakin tidak sama lagi, mungkin karena ini pula, maka antara Chu Liu Xiang dan Jin Ling Zhi agak jauh sedikit.

Yang paling sial ialah, kemudian Jin Ling Zhi meninggal.

Orang yang sudah mati tidak punya perasaan.

Orang mati sudah mati, segalanya mati, nyawanya, badannya, darah dagingnya, pikirannya, semuanya sudah mati, bersih, bagaimana masih bisa punya perasaan?

Akan tetapi, masih ada perasaan itu.

Sekali pun orang mati sudah tidak punya perasan terhadap orang hidup, tapi orang hidup masih punya perasaan terhadap orang mati.

Bukankah ini merupakan suatu tragedi kemanusiaan terbesar juga?

Siapa tuan rumah pesta kali ini?

Seraut wajah yang sangat istimewa, sangat kurus, profilenya sangat menonjol, tulang pipinya sangat tinggi, sehingga kelihatannya di wajahnya ada dua buah lubang, sebagian wajah yang tenggelam di bawah bayangan tulang pipi, kelihatannya seperti sebuah lubang.

Sebuah mulut yang sangat lebar, waktu tidak tertawa, seolah sangat tegar, bahkan bengis, waktu tertawa kelihatannya seperti belah ketupat (wajik), bahkan seperti Yuan Bao (bongkahan emas atau perak).

Sepasang mata yang sangat besar, sorot matanya bening tapi tajam, akan tetapi seringkah juga bisa dalam sekejap mata mengekspresikan semacam mimik wajah penuh kasih sayang yang memikat, seolah-olah angin musim semi yang sejuk, yang baru saja bertiup melewati salju yang sedang mencair.

Sebuah tulang kerangka yang besar, tangan yang panjang, kaki yang panjang, kepala yang besar, bahu yang lebar, sangat mirip dengan fosil manusia purba.

Betapa sangat anehnya orang ini.

Su Su pernah melihat laki-laki, melihat laki-laki banyak sekali, akan tetapi laki-laki yang aneh seperti ini, belum pernah dilihatnya.

Hal yang paling aneh ialah, laki-laki ini bukan saja lebih aneh dibandingkan dengan semua lakilaki lain, bahkan lebih kaya dibandingkan dengan semua laki-laki yang pernah dia lihat, hal ini dia mampu memastikannya.

Dalam memberikan pernilaian terhadap lukisan kuno dan barang seni kuno lain, sudah barang tentu lebih sulit lagi, itu perlu menunggu sampai dia mencapai umur tujuh belas tahun.

Berdasarkan perkiraan awal Su Su, seperangkat pakaian yang dikenakannya serta asesoris yang dipakai pada pakaiannya yang bernilai ialah.......

Biaya yang dikeluarkan 38.000 orang sejak kelahirannya sehingga meninggalnya membutuhkan biaya, dan biaya hidup bagi 38.000 orang, yang hidup cukup mewah, meliputi makanan daging ayam, bebek dan ikan, dan yang dipakai ialah satin, brokat dan sutera, serta isteri dan selir yang manja.

Sudah tentu ini sebagai sesuatu yang tidak bisa dipertimbangkan, akan tetapi apakah kau pernah juga mendengar sebuah cerita, dengan sebutir permata mustika menukar tanah sebuah negara.

Dalam kehidupan memang sudah sangat banyak hal yang tidak bisa diperkirakan nilainya, bahkan masih banyak hal lagi yang tidak ternilai harganya.

Penentuan harga bagi setiap orang dan suatu benda yang paling penting masih berada di dalam hatimu.

Seorang pelacur yang hina dina, mungkin di hatimu jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan seorang perawan suci.

Akan tetapi pernilaian Su Su terhadap pakaian yang dikenakan orang ini sepenuhnya obyektif, malahan sangat tepat, bahkan dibandingkan dengan setoran keuntungan sebuah rumah pegadaian yang paling besar keuntungannya pun masih lebih tepat.

Su Su sejak dulu belum pernah berjumpa dengan seseorang serupa ini, juga belum pernah memikirkan di dunia ini ada seseorang yang memakai pakaian sedemikian mewah muncul di hadapannya.

Bahkan hatinya sudah mulai tergerak.

Mana ada seorang perempuan, yang melihat pakaian dan intan berlian semewah ini, yang tidak tergerak hatinya, jika ada tentunya dia seorang perempuan yang bukan perempuan.

"Apa arti bukan perempuan sesungguhnya?"

"Jika dia bukan yang palsu, tentunya yang mati."

Su Su adalah perempuan yang sangat pandai, pengetahuannya sangat banyak dan luas, dan sangat rajin dalam belajar.

Ada kalanya dia belajar dengan susah payah.

Sesungguhnya, dalam sebagian besar waktunya dia belajar dengan sangat berat, bahkan tidak peduli berapa pengorbanan yang dikeluarkan untuk belajar, bahkan mengorbankan beberapa hal yang paling disayang oleh seorang perempuan dalam hidupnya.

Tidak ada orang yang tahu, setelah selesai mempelajari apakah dia bahagia atau susah?

Bahkan dia sendiri pun tidak tahu.

Akan tetapi dia tahu bahwa dia sudah berhasil, di dunia Wu Lin yang berhasil membentuk satu pola gaya dan bisa malang melintang dalam suatu saat, jika ada seratus macam, sekali pun dia tidak mempelajarinya, paling sedikit juga bisa mengenali jalur dan riwayatnya.

Di dunia Wu Lin jika dijumpai seratus orang yang mencapai puncak prestasi, dia paling tidak, bisa mengenali sembilan puluh sembilan orang.

Orang berpakaian biru itu dia kenal.

Begitu dia melihatnya, di hatinya akan merasa ada sebatang tombak.

Ujung tombaknya ada di hati.

Hatinya seperti api.

Bukan api yang bisa membakar orang, melainkan api yang menghangatkan, api yang hangat, seperti semacam api yang menyala dalam tungku tanah merah kecil, menjelang turun salju di malam hari.

Seperti ada perasaan akan ada teman-teman baik yang akan datang minum arak baru dari api tungku kecil menjelang malam dingin.

Seperti suasana hati orang yang kehilangan kekasih pertama, dan kemudian menemukan cinta kasih yang baru.

Seperti sudah akan segera mati?

Mau segera mati.

Apa rasanya?

Su Su bahkan juga mengenali nenek tua renta itu.

Sebuah pesta meriah sedang berlangsung di tengah simpang siur gelas arak dan piring mangkuk.

Dalam keadaan seperti ini, suasana seperti ini, setiap or¬ang akan merasa sangat puas.

Su Su sepertinya juga tertulari suasana hati mereka.

Begitu melihat laki-laki berpakaian biru itu, hati Su Su agak tergetar, bagaimana dengan melihat nenek tua itu?

Bagaimana dengan suasana hatinya?

Siapa yang tidak tahu Wan Fu Wan Shou Yuan dari Jiang Nan?

Semua orang Jiang Nan pasti tahu, pada Min Yuan (taman terkenal) ini ada tiga paling / lebih.

Kembangnya paling banyak.

Bunga dari Jiang Nan, hampir semuanya ditanam di sini, tidak dibagi jenis, tidak kenal musim, bahkan dalam musim dingin, bunga musim semi juga bisa datang.

Orangnya paling banyak, terutama orang terkenal.

Orang terkenal dari dunia Jiang Hu hampir semua terkumpul di sini, orang yang belum pernah datang ke Wan Fu Wan Shou Yuan, biarpun ada nama tapi tetap terbatas.

Jika bicara orang terkenal Jiang Hu dari Jiang Nan ada sebanyak seratus orang, maka keluarga besar ini juga sudah mencapai empat puluh sembilan orang.

Harta kekayaannya paling banyak.

Harta kekayaan marga Jin sudah sulit diperhitungkan.

Harta sawah, harta ladang, harta usaha, harta pertokoan, di antaranya termasuk toko peti mati, segala kebutuhan seseorang dari lahir sampai dengan mati, selalu mereka sediakan.

Akan tetapi ini masih belum cukup.

Di dalam marga mereka, yang paling patut dipamerkan, ialah sesuatu yang paling tidak diperlukan tapi paling didambakan...

Mutiara mustika.

Orang di dunia ini, siapa yang tidak suka mutiara mustika?

Mutiara mustika, akik manau, batu yade, fei cui, bi yu, hijau nenek, mata kucing, berlian, siapa yang tidak menyukai?

Katakanlah di antara laki-laki ada beberapa yang tidak menyukainya, bagaimana dengan perempuan?

Perempuan yang tidak menyukai mutiara mustika, barangkali lebih sedikit daripada perempuan yang tidak menyukai laki-laki.

Mutiara mustika milik marga Jin, barangkali bisa membuat sebagian besar gadis menjual dirinya sendiri.

Nenek tua renta ini adalah pemilik generasi terakhir dari Wan Fu Wan Shou Yuan, mungkin juga seorang tiran perempuan dari generasi terakhir keluarga marga Jin.

Tiran di dunia ini makin hari juga makin sedikit.

Siapa itu orang yang punya dua lobang di wajahnya yang hatinya seperti punya beratus dan beribu lobang itu?

Su Su berdiri.

Berdiri dari dipan empuk yang sangat nikmat dan sangat nikmat sekali.

Gayanya berdiri sangat anggun, karena sejak kecil dia sudah mengalami pelatihan yang sangat keras, sudah mengerti dengan cara bagaimana seorang perempuan bisa menyenangkan laki-laki.

Seorang perempuan yang tidak tahu cara menyenangkan laki-laki, bagaimanapun tidak mungkin menjadi seorang perempuan yang berhasil, ada kalanya bahkan tidak bisa dianggap sebagai seorang perempuan.

Ketika Su Su berdiri, berdiri dengan menggunakan suatu sikap yang sangat anggun, orang lain nyaris semuanya tidak ada yang memperhatikan dia.

Setiap orang sepertinya punya kesibukan yang harus dikerjakannya, bahkan kalau di dunia ini ada suatu perkara yang paling tidak main-main sudah terjadi di samping mereka mereka juga tidak akan melihat, tidak berani melihat.

Sudah tentu ada juga yang tidak merasa patut melihatnya.

Hanya satu orang yang terkecuali.

Waktu Su Su berdiri, orang berpakaian biru itu hampir bersamaan juga berdiri.

Gayanya luar biasa lembut, sikapnya juga luar biasa lembut, akan tetapi di dalam kelembutan itu, juga terkandung suatu sikap yang luar biasa aneh.

Semacam sikap 'mati'.

Begitu tenang, begitu lembut, begitu sendiri, begitu tawar, akan tetapi di dalam hati nuraninya sepertinya juga sedang menyala sebuah bara api yang tidak pernah padam.

Siapa dia orang ini, siapa yang punya kharisma semacam ini?

Su Su tahu siapa orang ini, hanya saja dia tidak berani memutuskan, karena itu ketika dia berjalan mendekat ke arahnya dia juga berjalan ke sana, bertanya dengan suara, yang jika dipikirkan kembali dia sendiri merasa serba malu dan takut kepadanya.

"Apakah kau Chu Liu Xiang?"

Betul.

Mutlak dan pasti betul.

Orang ini sudah tentu memang Chu Liu Xiang, selain Chu Liu Xiang, siapa lagi yang masih punya pesona daya pikat serupa itu?

Semacam pesona daya pikat kematian.

Di dunia ini apakah ada hal lain yang lebih mempesona daya pikatnya dari pada 'kematian'?

Di dunia ini, selain 'kematian*, masih adakah hal lain yang bisa membuat orang bunuh diri?

Kehidupan itu sedemikian bernilai tinggi, betapa sulitnya jika mau menyuruh seseorang bunuh diri?

Jika saja di dalam 'kematian' tidak ada suatu pesona daya pikat, bagaimana bisa menyuruh orang mati?

Pesona daya pikat kematian, apakah juga semacam lupa"?

Betul.

Lupa adalah suatu perkara yang sangat sulit, selain 'mati'.

Apakah masih ada perkara lain yang bisa membuat orang lupa keseluruhannya.

Tidak saja lupa, bahkan tidak ada lagi, segalanya tidak ada lagi.

Nyawa tidak ada, yang sudah mati juga tidak ada lagi, gembira tidak ada, derita sakit juga tidak ada.

Betapa ini merupakan pelepasan yang menyenangkan sekali, betapa mendasarnya.

Chu Liu Xiang.

Chu Liu Xiang itu orang yang bagaimana, seseorang memerlukan berapa banyak pergulatan dan penggodokan pengalaman, masih harus ditambah lagi peruntungan nasib baik, agar bisa menjadi seorang Chu Liu Xiang.

Ya Tuhan, mendadak Su Su merasa dirinya menjadi lemas.

"Apakah kau betul Chu Liu Xiang itu?"

Tanya Su Su.

Sesungguhnya dia sudah tentu juga percaya dialah Chu Liu Xiang 'itu', tetapi tetap juga tidak tahan untuk tidak bertanya, sebab betapa ini menjadi suatu keajaiban yang sulit dipercaya.

Betul-betul bisa menjumpai Chu Liu Xiang dengan mata kepala sendiri, betapa mencengangkan, betapa membuat segala sesuatunya sebagai tidak terbayangkan.

Orang berbaju biru itu tertawa, lalu dia merabai hidungnya dengan cara yang sangat anggun dan sangat aneh.

Dia betul suka meraba hidung, dia memang betul.

"Benar, aku memang betul Chu Liu Xiang itu,"

Katanya.

"Aku percaya Chu Liu Xiang sepertinya hanya aku seorang."

Nenek tua itu mendadak juga tertawa.

"Jika orang semacam dia terlalu banyak, maka mainnya jadi tidak mengasyikkan."

Orang berlengan sebelah yang matanya dingin seperti belati tajam itu ikut menyela juga.

"Jika di dunia ini tidak ada orang seperti dia, mainnya juga kurang mengasyikkan."

Orang yang wajahnya ada dua lubang itu, bahkan hanya tertawa saja, bahkan tidak membuka mulut.

Ini sesungguhnya perkara yang sulit bisa dibayangkan, jika kau tahu dia itu siapa, kau baru tahu betapa mengherankan perkara ini.

Sudah tentu orang berbaju biru ini adalah Chu Liu Xiang yang 'itu', namun bukankah Chu Liu Xiang sudah mati?

Dalam kabar angin ini, sepertinya Chu Liu Xiang juga bukan manusia jenis ini.

Cerita kabar angin tentang Chu Liu Xiang, sepertinya agak lebih muda, agak lincah, tapi Chu Liu Xiang yang ini juga seperti terlalu matang, juga sepertinya terlalu berhati-hati.

Su Su kembali tidak tahan untuk tidak bertanya lagi.

"Or¬ang sedunia sudah tahu Chu Liu Xiang sudah mati, jika kau ini Chu Liu Xiang, mengapa kau belum mati? "

Sudah tentu aku juga akan mati, bahkan sudah memutuskan segera akan mati,"

Kata orang berbaju biru itu.

"Tapi sayangnya sementara ini aku belum bisa mati."

"Mengapa?"

Tanya Su Su.

"Karena kau."

Orang berbaju biru melihatnya, menghela nafas pelan.

"Paling sedikit ada sebagian alasan karenamu, maka aku tidak bisa mati."

"Karena aku?"

Wajah Su Su kelihatannya seperti terkejut, juga sepertinya sedikit berlagak terkejut.

"Kau tidak bisa mati karena aku?"

Dia bertanya kepada Chu Liu Xiang.

"Atau oleh karenaku maka kau belum memikirkan untuk mati?"

Anak perempuan kecil ini, malahan sepertinya mau mengejek melecehkan Chu Liu Xiang.

Cara semacam ini adalah salah satu cara terbaik yang sering dilakukan anak perempuan untuk menutupi kesalahan dirinya sendiri.

Mujurnya Chu Liu Xiang entah sudah berapa kali diejek dan dilecehkan oleh anak perempuan dengan cara begini.

Jika Chu Liu Xiang tidak bisa menghadapi perkara sejenis mi, maka Chu Liu Xiang sampai sekarang paling sedikit sudah mati delapan belas ribu kali.

Bahkan selalu mati di dalam pelukan anak perempuan.

Nenek tua itu tertawa, orang yang wajahnya punya dua lubang juga tertawa, bahkan orang yang dalam matanya mengandung sorotan mata maut itu juga tertawa.

Mereka tertawa, hanya karena mereka beranggapan bagaimana seorang anak perempuan kecil ini bisa memakai cara semacam itu untuk menghadapi Chu Liu Xiang, betul-betul sesuatu perkara yang sangat lucu.

Betul-betul hal yang sangat menggelikan.

Sampai saat seperti ini, bahkan Su Su sendiri juga merasa sangat menggelikan.

Chu Liu Xiang memandangnya dengan semacam pandangan mata yang sangat lembut, dalam matanya juga ada nada tertawa.

Katakan sekalipun dia tahu anak perempuan kecil ini punya niat melukainya, namun matanya tetap memancarkan nada tertawa, karena baginya, dia sudah terlalu banyak melihat orang dan perkara di dunia ini.

Jika seseorang mau melukai orang lain, juga mungkin bukan karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi semacam 'keterpaksaan'.

Keterpaksaan, betapa pahit dan kecutnya, betapa pedih menyakitkannya, betapa malangnya.

Chu Liu Xiang cuma memberitahu anak perempuan kecil yang merasa dirinya sebegitu pintar dan sudah berhasil mengibuli Chu Liu Xiang ini.

"Aku tahu ada satu orang, seorang yang sangat misterius, yang sangat berkekuatan, sudah membentuk satu organisasi yang sangat menakutkan,"

Katanya.

"Satu-satunya tujuan organisasi ini adalah untuk membuktikan apakah aku sudah betul-betul mati atau belum."

Dia mengusap lagi hidungnya yang sangat terkenal itu.

"Perkara ini sudah tentu sangat sulit dilakukan."

Dia tertawa.

"Langkah tindakanku sejak umur dua belas tiga belas tahun sudah sulit diselidiki."

Orang yang wajahnya ada dua buah lubang itu mendadak menyela.

"Hal ini aku boleh memberikan kesaksian."

Siapa sesungguhnya orang ini?

Mengapa boleh mengatakan kata-kata demikian, bagaimana dia tahu masalah Chu Liu Xiang di masa remaja, bahkan bisa membuktikannya?

Di atas dunia ini, yang boleh mengatakan kata-kata semacam ini mungkin hanya satu orang.....

Hu Tie Hua.

Akan tetapi orang yang wajahnya ada dua lubang ini, sudah tentu bukan Hu Tie Hua.

Orang ini begitu mewah dan megah, begitu tenang pendiam, bagaimana mungkin dia itu Hu Tie Hua?

Su Su betul-betul sudah tidak tahan lagi.

Dia tahu banyak rahasia Chu Liu Xiang yang akan diberitahukan kepadanya, akan tetapi dalam waktu sekejap ini, dia betul-betul tidak tahan untuk bertanya.

"Siapa orang ini?"

Chu Liu Xiang tertawa dan berkata.

"Siapa orang ini, seharusnya kau juga tahu, tapi kau juga tidak berani percaya. Bukan kau saja yang tidak berani percaya, di seluruh Jiang Hu, barang kali juga tidak ada orang yang berani percaya."

Kata Chu Liu Xiang.

"Aku berani menjamin, di seluruh Jiang Hu, siapa pun tidak bakal percaya orang ini adalah Hu Tie Hua, semakin tidak ada orang percaya Hu Tie Hua bisa berubah menjadi orang semacam ini."

Su Su tercengang, tercengang melihat orang di depan matanya ini.

Begitu dingin tenang, begitu mewah dan megah, begitu kurus, akan tetapi bahkan begitu tenang.

Orang ini dan Hu Tie Hua dalam cerita orang sepertinya sama sekali tidak sama.

Hu Tie Hua dalam cerita orang, sepertinya hanya seekor kucing mabuk.

Akan tetapi jika Hu Tie Hua cuma seekor kucing mabuk, maka dia bukannya Hu Tie Hua, juga tidak bisa menjadi sahabat baik dari Chu liu Xiang.

Hal ini semua harus tahu jelas.

Hu Tie Hua bukan saja sahabat paling baik Chu Liu Xiang, juga sahabat paling lama.

Dia suka mengadu minum arak dengan Chu Liu Xiang, suka meniru Chu Liu Xiang mengusapngusap hidung, hanya karena dia menyukai Chu Liu Xiang, bukan karena dia bodoh.

Perempuan yang disukainya, tidak ada yang menyukai dia, perempuan yang menyukainya, dia malah tidak suka.

Juga bukan karena dia bodoh.

Bodoh.

Hanya semacam sikap yang sengaja dia kerjakan, semacam rupa luar saja.

Orang lain jadi tidak waspada, cuma mewaspadai Chu Liu Xiang, coba kau katakan rupa luar ini betapa bisa menguntungkan Chu Liu Xiang?

Sahabat manis begini, ke mana kau bisa menemukan lagi?

Su Su sudah hampir pingsan lagi.

Dia menyaksikan orang yang wajahnya ada dua buah lubang itu, dia bertanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Apa kau betul-betul Hu Tie Hua itu?"

"Sepertinya ya,"

Senyum di wajah orang ini ternyata juga sangat ramah.

"Kayaknya Hu Tie Hua juga cuma satu saja"

"Kau...,"

Tanya Su Su.

"Mengapa kau bisa berubah menjadi begini."

"Aku berubah jadi macam apa?"

Dia balik bertanya "Wajahku sekarang memangnya ada keanehan apa? Su Su melihat kembali dan tercengang setengah harian.

"Perkara lain aku tidak tahu, hanya satu perkara aku pasti mau menanyakan."

"Masalah apa?"

"Orang-orang Jiang Hu semua tahu, Hu Tie Hua adalah si setan miskin yang kodrati, akan tetapi sekarang kau sepertinya kaya bukan main."

Hu Tie Hua tertawa.

Waktu dia mulai tertawa, dia seorang yang tenang pendiam dan mewah megah, akan tetapi dalam waktu sekejap mendadak berubah dengan semacam cara yang tidak terlukiskan.

Perubahan ini bahkan tidak bisa dilukiskan.

"Bini mau nyolong laki, langit mau hujan, orang mau kaya, perkara yang tidak ada akalnya."

Mengucapkan kalimat ini, sudah gaya bicara Hu Tie Hua.

"Semula aku mati dipukulpun tidak ingin jadi kaya,"

Kata orang yang wajahnya ada dua lubang itu.

"Tapi waktu itu setiap orang bilang Chu Liu Xiang sudah mati, sampai aku pun tidak bisa tidak mempercayainya."

"Jika saja kutu busuk tua ini betul sudah mati, mengapa aku tidak ingin jadi kaya!"

"Kutu busuk tua?"

Tanya Su Su.

"Mengapa kau bilang Chu Mang Shi itu kutu busuk tua?"

Hal ini sudah tentu Su Su tidak mengerti, orang lain menyebutnya "Mang Shi" , Hu Tie Hua malah menyebutnya 'kutu busuk tua', karena perasaan persahabatan di antara mereka sudah tidak sama dengan orang lain yang manapun juga, ada kalanya bahkan lebih mesra dibandingkan antara saudara kandung sesungguhnya, asal mula julukan itu pun sudah lama sekali.

"Jika dia bukan kutu busuk tua, lalu siapa yang kutu busuk tua?"

Kata Hu Tie Hua.

"Hanya saja selain aku, yang menjuluki dia sebagai si kutu busuk tua barang kali sudah tidak berapa orang lagi."

Chu Liu Xiang juga mulai mengusap hidungnya kembali, nenek tua juga tertawa, Su Su sudah tahu orang ini memang Hu Tie Hua.

Maka dia semakin mau bertanya "Jika kutu busuk tua mati, mengapa kau pasti mau kaya?"

"Karena kutu busuk tua sudah mati, maka aku mau memakai uang secara royal, malahan tidak boleh tidak royal."

"Mengapa?"

"Karena membalas dendam menghabiskan uang banyak,"

Kata Hu Tie Hua.

"Membalas dendam untuk orang lain, mungkin saja hanya mengadu nyawa dianggap sudah cukup, akan tetapi mau membalas dendam untuk Chu Liu Xiang, pasti menghamburkan banyak uang."

Dia akan menjelaskan.

"Coba kau pikir, kutu busuk tua ini orang macam apa perlu orang macam apa baru bisa membunuhnya, perlu cara apa baru bisa membunuhnya, di antaranya perlu mengerahkan berapa banyak orang, perlu membuat satu perencanaan yang sangat teliti?"

Kata Hu Tie Hua.

"Hal yang paling penting ialah, setelah membunuh orang semacam Chu Liu Xiang, masih memerlukan berapa besar daya tenaga untuk bisa menutupi rahasia ini?"

Dalam keadaan semacam ini, tidak peduli siapapun juga, tentu bisa membayangkan, orang yang mampu membuat Chu Liu Xiang mati terbunuh, mustahil satu orang saja, melainkan suatu organisasi yang sangat besar dan teliti.

"Aku bukan saja bukan seekor kucing mabuk seperti yang dibayangkan orang, bahkan jauh lebih pandai tujuh belas delapan belas kali lipat dibandingkan yang dibayangkan or¬ang,"

Kata Hu Tie Hua.

"Hal ini sudah barang tentu bisa kau bayangkan."

Hal ini semua sepaham.

"Untuk bisa menghadapi organisasi sedemikian besar, sudah tentu bukan yang bisa dikerjakan oleh satu orang saja,"

Kata Hu Tie Hua.

"Bahkan yang termasuk orang berbakat sepertiku, juga tidak bakal mampu."

Semua jadi tertawa.

Hu Tie Hua yang tenang dan pendiam, yang wajahnya sudah mempunyai dua buah lubang, masih Hu Tie Hua yang sama, caranya bicara, masih tetap nada dan gaya yang sama dengan yang dulu.

Dia tidak bisa berubah?

Atau sengaja tidak mau berubah?

"Untuk bisa menghadapi organisasi seperti ini, paling sedikit perlu tiga persyaratan,"

Kata Hu Tie Hua.

"Pertama, harus punya kawan, kedua, harus ada uang, dan ketiga, tetap harus ada uang,"

Katanya "Kawan, sejak dari dulu aku punya, malahan teman yang baik, akan tetapi, uang?"

"Karena itu kau harus mendapatkan untung, dan punya uang."

"Betul."

"Kelihatannya, kau sepertinya juga betul-betul sudah mendapatkan tidak sedikit untung."

"Bukan hanya tidak sedikit, bahkan banyak."

"Waktu kau berpikir bisa mendapatkan untung, maka kau bisa mendapat banyak untung."

"Kelihatannya memang demikian ini."

"Apakah mendapatkan untung cuma semudah ini saja?"

"Mendapat untung sudah tentu tidak mudah, jika ada or¬ang yang mengatakan mudah mendapatkan untung, maka or¬ang itu pasti kura-kura,"

Katanya.

"Akan tetapi orang berbakat sepertiku. keadaannya akan berlainan sama sekali."

Pasti keadaannya tidak bakal sama.

Ada orang dapat untung seperti merogoh saku baju, ada orang mendapat untung seperti kura-kura berlomba lari, ada kalanya mendapat untung seperti turun hujan, kau belum bersiap-siap dengan baik, bongkahan besar emas batangan sudah berjatuhan dari langit.

"Aku mendapatkan untung dengan cara demikian,"

Kata Hu Tie Hua.

"Ada kalanya aku mau mendapatkan untung agak sedikit juga tidak bisa."

Dia menghelas nafas.

"Barang macam uang ini, seperti halnya perempuan, ketika kau mengejarnya, dia melotot dan tidak mau menggubris, ketika kau mau menolaknya, bahkan menolaknya pun sulit."

Su Su mau berlagak tidak mendengarkan, nenek tua malah tertawa.

"Ini sebetulnya kisah pengalaman nyata, memang ada kalanya perempuan betul demikian, hanya saja kau baru akan mengakui kalau umurmu sudah sampai setua aku ini."

"Ini bukan kisah nyata pengalamanku,"

Buru buru Hu Tie Hua menjelaskan.

"Ini diberitahukan oleh kutu busuk tua"

Su Su mendadak menemukan mereka ini memiliki kelebihan kebaikan yang tidak dimiliki dan tidak mampu dipelajari oleh orang lain.

Orang-orang ini semuanya sangat santai, tidak peduli dalam keadaan apa pun, tidak peduli keadaan begitu gawatnya, mereka tetap bisa mendapatkan kesempatan untuk bersantai.

Ini juga sebabnya mereka mampu hidup sampai sekarang, bahkan, hidup jauh lebih baik dibandingkan orang lain.

Ini bahkan mungkin Hu Tie Hua bisa menjadi kaya.

Orang yang bertangan satu itu, tetap tenang dan diam duduk disitu, sepertinya di dunia ini sudah tidak ada sesuatu apapun yang bisa menggesernya biar setengah fen pun juga.

Siapa dia orang ini?

Bab Zhong Yuan Yi Oian Hong (Sebuah Titik Merah Di Zhong Yuan) Sepuluh tahun yang lalu, di Jiang Hu pernah muncul satu orang, mengenakan pakaian serba hitam, sebilah pedang, selembar topeng wajah kulit manusia putih, memperlihatkan sepasang mata tajam, yang kelihatannya lebih menyeramkan daripada pedangnya.

Padahal yang betul-betul mengerikan justru adalah pedangnya.

Sebilah pedang untuk membunuh orang, setiap saat setiap tempat bisa membunuh orang dalam waktu sekejap saja.

Yang lebih menakutkan lagi ialah......

Orang ini siapa pun dibunuh, asalkan orang, pasti dia bunuh.

Yang lebih menakutkan lagi ialah......

Asalkan orang ini mau membunuh seseorang, maka orang ini sudah sama dengan orang mati.

Pernah ada orang bertanya kepadanya.

"Asalkan ada orang mau membayar mahal, siapapun kau bunuh, bahkan termasuk sahabat baikmu, apa hal ini benar?"

"Benar,"

Kata orang ini.

"Cuma sayangnya, aku tidak punya teman yang perlu dibunuh,"

Katanya.

"Karena sesungguhnya aku memang tidak punya teman."

Ada orang pernah melihat bagaimana dia turun tangan membunuh, melukiskan kemampuannya bermain pedang.

Gayanya mengayunkan pedang sangat aneh, dari batas siku ke atas sepertinya sama sekali tidak bergerak, hanya dengan tenaga pergelangan tangan menusukkan pedangnya.

Banyak ahli pedang mengomentari jurus-jurus permainan pedangnya.

Permainan pedangnya belum bisa dianggap telah mencapai puncak tertinggi, akan tetapi caranya membunuh, sangat ganas dan telengas, dan tidak ada yang mampu menandinginya.

Ada komentar lain ialah mengenai diri pribadinya.

Kegemaran paling besar orang ini ialah membunuh orang, tujuan hidupnya, hanya untuk membunuh orang.

"Zhong Yuan Yi Dian Hong?"

Su Su tidak tahan untuk tidak berteriak.

"Sou Hun Jian Wu Ying (Pedang Tanpa Bayangan Pemburu Sukma), Zhong Yuan Yi Dian Hong (Satu Titik Merah di Zhong Yuan)."

Dia bertanya.

"Apakah betul dia yang pada tahun-tahun silam dikenal dengan sebutan 'Zhong Yuan Di Yi Kuai Jian (Pedang Paling Cepat di Zhong Yuan), yang membunuh orang tanpa terlihat tetesan darahnya?"

"Betul,"

Kata Hu Tie Hua.

"Memang dia ini orangnya."

"Dia belum mati?"

"Sepertinya belum,"

Kata Hu Tie Hua.

"Ada semacam orang yang sepertinya tidak mudah mati, dan orang yang menghendaki kematiannya sebaliknya tidak banyak lagi."

"Apakah dia juga sama seperti Chu Xiang Shi, berpura-pura mati untuk beberapa lama?"

"Sepertinya memang begitu."

"Sekarang, mengapa dia hidup kembali?"

Tanya Su Su.

"Sudah barang tentu karena aku."

"Apakah kau yang menemukannya,"

Tanya Su Su lagi."

Buat apa kau menemukannya?"

Hu Tie Hua tersenyum.

"Jika mencari pembunuh, carilah Yi Dian Hong,"

Kata Hu Tie Hua.

"Aku menemukannya sudah tentu untuk membunuh orang."

Sikapnya mendadak berubah menjadi pendiam, tenang, semacam ketenangan yang diperoleh orang dalam liku-liku perjuangan hidup yang penuh dengan pahit getir.

"Orang mau membunuh kita, kita mau membunuh mereka coba kau katakan apakah ini bukan keadilan langit dan aturan bumi juga."

Su Su memandangi orang ini, orang yang membunuh or¬ang, mendadak, dia mendapatkan memang dia ini betul-betul berbeda dari orang lain.

Karena dia sudah merasakan adanya hawa membunuh or¬ang ini.

Di dunia ini ada semacam orang yang seperti belati tajam yang sudah membunuh orang tanpa batas banyaknya, orang seperti ini sudah pasti punya semacam hawa membunuh.

Su Su bahkan tidak berani melihat dia lagi.

Katakan saja dia dari tadi duduk tenang di situ, dia juga tidak berani melihatnya.

Dia lebih suka melihat kedua lubang di wajah Hu Tie Hua, yang mungkin juga sudah menjadi lubang pembenaman berapa banyak darah dan air mata.

Dia bertanya kepada Hu Tie Hua.

"Yi Dian Hong artinya apa? Sekujur badannya dari atas sampai ke bawah satu titik warna merah pun tidak ada, mengapa orang menyebutnya Yi Dian Hong?"

Pertanyaan ini sebetulnya tidak patut ditanyakan kepada Hu Tie Hua, dia seharusnya menanyai diri Yi Dian Hong sendiri.

Bahkan pertanyaan ini seharusnya juga tidak patut dipertanyakan.

Semua orang dari dunia Jiang Hu juga sudah tahu mengapa semua orang menyebutnya Yi Dian Hong.

Sinar pedang berkelebat, musuh sudah tumbang, di atas titik jalan darah Tian Tu di tenggorokan, meneteskan setetes darah merah.

Cuma satu tetes darah.

Wajah orang ini sudah menggeliat, sekepala penuh dengan tetesan keringat sebesar kedele, sekali pun menggunakan seluruh tenaganya, tetap tidak bisa mengeluarkan sedikit suara apapun juga, hanya terdengar hembusan nafas seperti binatang buas.

Yi Dian Hong, betapa hebatnya, membunuh orangpun tidak mau menghamburkan tenaga sedikitpun, asalkan bisa menusuk tepat sasaran, kebetulan pas mematikan orang, sebatang pedang itu tidak bakal ditusukkannya lebih dalam setengah fen juga.

Hu Tie Hua memberitahu Su Su.

"Nama julukan Zhong Yuan Yi Dian Hong diperoleh dengan cara demikian."

Seorang pembunuh seperti Zhong Yuan Yi Dian Hong ini, bagaimana bentuk sejati dari nyawanya?

Sepanjang hidupnya, harus dilewatkan dengan suatu cara bagaimana?

Su Su mendadak merasakan adanya suatu rangsangan, mendadak ingin menubruk dan memeluknya, agar bersama tergulung dan tenggelam ke dalam gelombang liar pelampiasan keinginan.

Dia mendadak merasakan dia bahkan boleh mati untuknya.

Apakah ini karena dia juga seorang pembunuh yang membunuh orang lain?

Di depan mata seorang perempuan, orang jahat seringkah lebih menarik daripada orang baik.

Pada waktu ini, semua sudah lumayan banyak minum arak.

Waktu berbicara, sudah barang tentu sambil minum arak, waktu mendengarkan orang berbicara, juga sudah tentu sambil minum arak.

Bagi orang tertentu, tidak minum arak bahkan bisa mati.

Su Su mendadak menemukan dirinya juga sedang minum arak.

Arak yang diminumnya adalah semacam arak yang istimewa, warna araknya merah seperti darah, akan tetapi dingin seperti es.

Dia belum pernah minum arak seperti ini, akan tetapi dia tahu arak semacam ini adalah arak apa.

Dalam Jiang Hu semua orang tahu Chu Liu Xiang paling menggemari semacam arak Persia yang sudah direndam es, yang disajikan di dalam gelas yang lebih bening dari pada kristal.

Ini bukan baru beredar sejak sekarang, melainkan ini adalah adab kuno yang diteruskan.

Arak harum dari anggur dalam gelas terang cahaya bulan, arak harum bernada enam dikejar sambil naik kuda.

Jika aku terbaring mabuk di padang pasir jangan kau tertawakan, sejak dulu berapa orang bisa pulang perang.

Su Su mendadak juga merasakan adanya suatu nadakesedihan yang tidak terungkapkan, juga suatu rasa sedih tidak berdaya.

Kehidupan memang adalah ketidakberdayaan, kelahiran bukan kehendak diri sendiri, kematian juga bukan kehendak diri sendiri.

Di bawah ini adalah pendapat Jin Lao Tai Tai (Nenek Tua Jin) itu terhadap masalah ini.

"Aku juga teman Chu Liu Xiang, akan tetapi aku tidak pernah berpikir membalaskan dendamnya,"

Katanya.

"Dalam hal ini aku sama sekali tidak sama dengan Hu Tie Hua. Karena aku sama sekali tidak pernah percaya Chu Mang Shi bisa mati."

"Dia bilang, dia bisa membaca raut wajah orang,"

Kata Hu Tie Hua.

"Dia mampu melihat bahwa Chu Liu Xiang bagaimanapun bukan orang dengan wajah bisa mati muda"

"Yang kumaksudkan dengan membaca raut wajah, sama sekali bukan takhayul,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Karena sangat banyak orang yang pernah kulihat."

Dia menerangkan.

"Aku percaya setiap orang punya suatu pola wajah, juga dikaitkan dengan semacam tabiat pekerti, semacam keadaan kekuatan, semacam watak, semacam kecerdasan, yang dibawa sejak kelahirannya, namun juga dipelihara di kemudian hari,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Seseorang dengan pola nasib yang tinggi, sekalipun peruntungannya sedang jelek, juga tetap akan jauh lebih baik daripada orang dengan pola nasib yang buruk dengan peruntungan terbaik."

Dia menerangkan lagi.

"Misalnya dikatakan, seorang pemikul pupuk dengan peruntungan terbaik, paling banyak tidak akan lebih banyak daripada berhasil memikul beberapa kali pupuk cair." (Yang dimaksudkan pupuk dalam pertanian di Tiongkok adalah terutama dari fermentasi pupuk limbah manusia yang umumnya cair.) Ini bukannya sebuah perumpamaan yang bagus, pemikul pupuk, ada kalanya juga bisa menemukan emas, akan tetapi contoh demikian jarang sekali ditemukan. Orang sejenis Jin Lao Tai Tai, yang dibicarakan tentunya tidak bakal suatu kejadian yang sangat khusus untuk dipakai contoh, karena hal demikian sudah tidak ada artinya lagi baginya.

"Selain aku, kupercaya di atas dunia ini masih ada orang lain dengan pemikiran sama denganku,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Orang ini juga tidak akan percaya Chu Xiang Shi begitu mudah mati."

"Orang ini adalah otak utama organisasi yang membunuh Chu Liu Xiang?"

"Betul."

"Mengapa dia tidak percaya Xiang Shi sudah mati?"

"Karena dia pasti adalah seorang musuh terbesar sepanjang hidupnya Chu Liu Xiang,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Seorang yang pintar pasti mengenal baik musuhnya, pasti lebih dalam mengenal dia dari pada teman-temannya, jika tidak demikian, maka dia juga pasti sudah mati."

"Mengapa?"

Jin Lao Tai Tai mengangkat gelas dan menghirup pelan, sudut bibirnya membawakan senyuman yang tidak terukur artinya, dan matanya menunjukkan dia sedang berpikir sangat dalam.

Ini memang sebuah masalah yang sangat rumit, maka dia harus memilih kata-kata yang lebih tepat untuk bisa menerangkan.

Mengapa seseorang yang mengenal musuhnya dengan baik, harus lebih mendalam dibandingkan dengan mengenali teman-temannya?

Sekali pun jawaban Jin Lao Tai Tai sangat beralasan, akan tetapi juga dipenuhi dengan semacam kesedihan dari ketidakberdayaan.

Semacam kesedihan dan keengganan terhadap kehidupan.

"Karena akan sangat mudah jika seseorang akan mencelakakan temannya, tapi sangat tidak mudah untuk mencelakakan musuhnya,"

Katanya.

"Sebab itu dia harus sudah sangat mengenal musuhnya, dan baru mungkin mencelakakannya."

Katanya lagi.

"Seseorang yang paling gampang mencelakakan dirimu, biasanya adalah yang paling mengenal dirimu, orang semacam ini biasanya juga adalah teman terdekatmu."

Betapa sangat menyedihkannya masalah ini, betapa membuat pilu hati, akan tetapi bagaimana jika kau tidak punya teman!

Aku ingat, aku pernah bertanya atau ditanyai pertanyaan sejenis ini, jawabannya sangat sederhana.

"Tidak punya teman, lebih baik mati saja."

"Siapa orang ini?"

Tanya Su Su.

"Maksudku ingin mengatakan, siapa otak utama organisasi ini?"

"Tidak ada orang yang tahu siapa dia!"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Paling banyak juga kita hanya bisa memberikan sebuah nama pengganti."

Di dalam dokumen arsip mereka, tokoh misterius ini diberi nama pengganti 'ANGGREK' Tidak diragukan, Su Su juga merasa sangat terkejut, karenanya dia juga sudah mulai minum arak lagi, setelah menghabiskan segelas penuh baru bertanya.

"Berapa banyak kalian mengetahui tentang diri orang ini?"

Tidak seberapa,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Kami cuma tahu dia seorang yang sangat teliti dan cermat sekali, dan dengan Chu Xiang Shi ada ikatan rasa dendam yang sulit diuraikan."

Nenek Jin menghelas nafas.

"Dalam situasi demikian ini, kami boleh dibilang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang orang ini."

"Akan tetapi kalian malah menamai dia dengan Anggrek?"

"Betul."

"Mengapa kalian menamakan dia sebagai Anggrek?"

Su Su sepertinya sangat mendesak bertanya.

"Apa hubungan orang ini dengan Anggrek?"

Jin Lao Tai Tai yang sudah mulai minum lagi sejak dari tadi, sekarang juga sudah mengganti dengan gelas lainnya yang diminumnya dengan gaya anggun dan sangat nikmat.

Jin Lao Tai Tai ini, ketika muda tentu seorang perempuan yang cantik, dan sangat terpelajar.

Yang mengejutkan, Jin Lao Tai Tai yang anggun dan sangat sopan serta tahu adab ini, malahan tidak menjawab pertanyaan yang biasanya selalu dijawab.

Dalam keadaan umum, menolak menjawab pertanyaan or¬ang dianggap sebagai hal yang kurang sopan, kecuali orang yang bertanya soal ini tidak sopan.

Pertanyaan yang ditanyakan oleh Su Su biasa ditanyakan siapapun juga, Jin Lao Tai Tai cuma berkata.

"Dalam kondisi ini, kita boleh yakin, Lan Hua Xian Sheng ini sangat memahami Chu Xiang Shi, pasti jauh lebih mendalam daripada pemahaman kita."

"Sebab pemahaman seseorang terhadap musuhnya, pasti jauh melebihi pemahamannya terhadap temannya."

"Betul,"

Suara helaan nafas Jin Lao Tai Tai lembut, seperti awan musim semi di gunung di kejauhan.

"Banyak masalah di dunia memang seperti demikian, bukan saja kita perlu memahami, malah harus menahan."

Dia dengan ringan lembut memberitahu Su Su.

"Apalagi perempuan, pemahaman perempuan dan lemah lembutnya, bagi laki-laki, sering kali jauh lebih bermanfaat daripada pedang yang tajam."

Su Su mendadak merasa sangat terharu.

Ini sebetulnya kata-kata seorang nenek tua kepada cucu perempuannya yang masih kecil, di waktu minum teh sehabis makan nasi, sekarang nenek tua renta ini berbicara hal ini kepadanya.

Bagaimana perasaan hati seorang gadis yatim piatu yang hidupnya terlunta-lunta, setelah mendengarkan kata-kata semacam ini?

Jin Lao Tai Tai berkata lagi.

"Seseorang yang betul-betul bisa memahami begitu mendalam terhadap Chu Xiang Shi, bagaimana pun dia akan sulit percaya Chu Xiang Shi bisa mati dengan begitu mudah."

"Biar pun orang-orang Jiang Hu sudah memastikan kematian Chu Xiang Shi, mustahil dia percaya."

"Betul,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Kecuali kalau dia melihat sendiri jenasah Xiang Shi."

Di kalangan Jiang Hu sampai sekarang belum ada orang yang sudah melihat jenasah Xiang Shi.

"Karena itu dia harus membuktikan hidup matinya Xiang Shi,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Atau jika dia tidur pun tidak bisa, mati pun juga tidak rela."

"Bagaimana dia baru bisa membuktikan?"

"Hal ini kita juga sudah lama mempertimbangkannya, aku percaya kecerdasan kita juga tidak lebih rendah dibandingkan dengan dia,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Kita juga sudah membuat suatu perencanaan, untuk membuktikan mati hidupnya Xiang Shi."

Katanya.

"Kita percaya, cuma memakai cara semacam ini, baru bisa membuktikan kematian Xiang Shi."

"Cara macam yang mana?"

"Cara macam ini sekalipun rumit, akan tetapi bisa diungkapkan dengan satu kata."

"Kata apa itu?"

"Perasaan"

Perasaan, dalam segenap tingkah laku jenis manusia, apakah masih ada yang lebih penting daripada kata 'perasaan' ini?

Kadang-kadang perasaan itu sangat lembut, ada kalanya lebih tajam daripada belati tajam, seuap saat bisa membuat orang merasa terpotong-potong dalam ketiadaan bentuk, hanya menyesali mengapa dirinya belum juga mati.

"Lan Hua Xian Sheng ini kalau bisa sangat memahami Xiang Shi, sudah pasti tahu Xiang Shi sangat menghargai perasaan orang, sekali pun dia sudah memutuskan tidak ikut campur utang piutang budi dan dendam dunia Jiang Hu, akan tetapi jika dia mendengar berita ada seseorang yang mutlak tidak boleh mati masuk ke dalam bahaya pasti mati, dia pasti akan muncul kembali."

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Jika dia belum mati, maka dia pasti akan muncul kembali, jika dia belum juga muncul, maka bisa dipastikan dia betul-betul sudah mati."

Jin Lao Tai Tai bertanya kepada Su Su.

"Untuk membuktikan mati hidupnya Xiang Shi, bukankah ini cara yang paling baik?"

Su Su cuma bisa membenarkan.

"Benar."

Jin Lao Tai Tai menghela nafas.

"Aku yakin kau sudah tahu siapa orang ini."

Su Su juga tidak bisa menyangkal.

"Benar."

Hu Tie Hua buru-buru menyela.

"Bukankah tiga orang lebih menjamin daripada satu orang?"

"Benar."

"Karena itu mereka mencari tiga orang, tiga orang yang di dalam mata si kutu busuk tua mutlak tidak boleh mati."

Hu Tie Hua menatap Su Su.

"Dari ketiga orang itu kau adalah salah satunya."

Su Su tidak bicara lagi. Jin Lao Tai Tai kembali menghela nafas.

"Karena itu Xiang Shi baru saja bisa bicara, dia masih belum mati, sebagian alasannya justru adalah kau."

Su Su kembali menenggak habis satu gelas arak lagi.

Siapapun juga tidak tahu, apa yang dirasakannya sekarang di dalam hatinya, akan tetapi setiap orang tahu dia pun seorang manusia juga sedikit banyak akan tetap mempunyai sifat kodrati sebagai seorang manusia.

Orang dalam Jiang Hu, bukan maunya sendiri, cinta dan dendam sulit ditolak, budi dan dendam tiada habisnya.

Jika kau sudah bosan dengan kehidupan semacam ini, hanya 'mati' saja.

Hanya saja ada orang yang mau mati juga sulit matinya.

Tragedi orang dunia Jiang Hu, bukankah sesungguhnya dicari sendiri?

Gadis remaja merindukan musim semi, perempuan janda merindukan musim gugur, akan tetapi semacam kepedihan oleh ketidakberdayaan yang betul-betul merasuk ke dalam sumsum, yang sangat disayangkan, hanya bisa dipahami oleh seorang laki-laki sejati.

Tidakkah hal ini bukan suatu perkara yang luar biasa aneh??

Tidak.

Tidak menerima direndahkan, tidak diijinkan menyesali dan meratapi, tidak mau tunduk, tidak memuntahkan hati yang lara, betapapun juga tidak mengalah.

Orang semacam ini mengalami segala hal tanpa daya apapun, tidakkah bakal sedikit lebih banyak di bandingkan dengan orang lain?

Kebanggaan dan kesombongan ada nilai yang harus dibayar.

Lan Hua Man Sheng menetapkan, asalkan kalian bertiga sudah dalam bahaya kematian, maka Xiang Shi bisa hidup kembali.

Jin Lao Tai Tai berkata.

"Akan tetapi jika Xiang Shi sudah pensiun, bagaimana dia bisa tahu kabar ini?"

Dijawabnya sendiri.

"Sudah tentu dia akan membuai masalah ini menjadi suatu peristiwa kegemparan yang besar terlebih dahulu."

"Sudah tentu dia juga tahu seperti si kutu busuk tua itu, sekali pun sudah pensiun dan mengundurkan diri, telinganya masih lebih tajam dari kelinci. Hal ini sepenuhnya sesuai dengan rencana "

Aksi Ngengat Terbang"

Kali ini.

"Hal kedua, untuk menyelesaikan rencana ini, perlu membuat Xiang Shi percaya kalian sudah tak diragukan lagi akan mati, dan selain dia, di dunia ini sudah tidak ada orang lain yang bisa menolong kalian."

"Hal ini sangat sulit dilaksanakan,"

Kata Hu Tie Hua.

"Si kutu busuk tua biasanya selalu lebih pandai daripada setan."

"Karena itu Lan Hua Xian Sheng harus memusnahkan kekuatan pokok yang ada di samping Mu Rong, menempatkan dia pada posisi pasti kalah."

Pertempuran mati hidup, yang kalah yang mati.

"Kami sejak awal mula sudah memikirkannya, dalam rencana kali ini, yang menjadi penghalang paling besar adalah Liu Ming Qiu Xian Sheng,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Jika Liu Xian Sheng belum mati. Mu Rong takkan ada aturan mati."

"Maka dia tidak boleh tidak mati."

"Akan tetapi orang-orang dunia Jiang Hu semua sudah tahu, jika mau menempatkan Liu Xian Sheng pada tempat kematian, tidak lebih mudah daripada menghadapi Xiang Shi,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Maka kami juga percaya dia harus punya tentara khusus yang bisa melakukan penyerangan mendadak."

"Pasukan khusus ini, siapa orangnya? Siapa orang yang bisa membunuh Liu Xian Sheng dalam waktu sekejap mata?"

Jika mau membunuh dia, harus mampu membunuh dalam waktu sekejap, karena kesempatan untuk bisa membunuh dia, hal yang pasti sangat pendek waktunya, sekelebat sirnalah dan selamanya tidak kembali lagi.

Sekalipun orang semacam ini tak banyak jumlahnya, akan tetapi di dunia ini memang benar keberadaannya.

"Kami semua tidak bisa membayangkan siapa orang ini, maka kami juga menyusun sebuah rencana."

Rencana mereka hanya satu kata.

Tunggu.

Perang yang lama, tidak hanya menguji keberanian dan kecerdasan, juga menguji daya tahan, yang terakhir bahkan lebih penting lagi.

Pelajaran ini, tidak boleh tidak selalu diingat dalam hati.

"Karena itu kami memilih tempat ini, menunggu di sini,"

Jin Lao Tai Tai tersenyum.

"Sekarang aku baru tahu. kelompok kita ini adalah segerombolan rubah tua."

Tertawa sampai matanya tidak kelihatan lagi, dan karena akhirnya mereka juga menunggu sampai bisa menyaksikan hal yang mereka ingin tahu.

Dan akhirnya mereka menyaksikan pasukan khusus ini.

Jin Lao Tai Tai memandang Su Su dengan tertawa sampai sepasang matanya memicing menjadi dua utas benang tipis.

"Sampai dengan waktu itu, kita baru bisa memahami rencana Lan Hua Xian Sheng ini sampai ke akar-akarnya,"

Katanya.

"Dia memanfaatkan kalian bertiga sebagai umpan, untuk memancing ikan besar Xiang Shi ini, karena dia sudah memperhitungkan, asalkan Xiang Shi belum mati, pasti akan berusaha menolong kalian, sekali pun tahu bahwa kalian semua juga mau mengambil nyawanya, dia juga akan menolong kalian."

Hu Tie Hua menghela nafas lagi.

"Seorang yang sepintar seperti si kutu busuk tua, kadang-kadang juga suka melakukan pekerjaan bodoh."

Titik paling penting dalam rencana ini, sudah pasti ialah bagaimana caranya bisa membuat Chu Liu Xiang mati.

"Asalkan dia muncul, sudah pasti mati. Sekali pukul harus kena, kena ya mati, karena kesempatan kedua kali mutlak tidak ada lagi "Sekali pukul ini, sudah tentu harus melewati seribu perencanaan dan seratus perhitungan, sama sekali tidak boleh ada kesalahan."

"Akan tetapi tidak peduli bagaimana pun diperhitungkan, di atas dunia ini, barang kali tidak ada orang yang berani berkata bahwa dengan sekali pukul saja, Chu Liu Xiang bisa diterkam dan tewas di tempat."

"Kecuali jika yang turun tangan ialah orang yang tidak terpikirkan untuk diwaspadai."

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Dalam hal ini, Mu Rong dan Xiu Xiu adalah pilihan yang terbaik."

Katanya lagi.

"Xiang Shi menolong mereka, mereka membunuh Xiang Shi, kalau pun diberitahukan kepada orang lain, juga tidak ada yang mau percaya, semua orang hanya tahu Chu Liu Xiang sudah mati, sudah mati setahun sebelum pertempuran ini terjadi.."

Su Su terkejut sepenuhnya.

Rencana yang sepertinya tidak mengandung kelemahan untuk diserang, ketika sampai di tangan orang-orang ini, malahan berubah menjadi tidak tahan satu pukulan saja.

Dia hampir tidak bisa memercayai semua ini adalah sebuah kenyataan.

Lewat cukup lama, dia baru buka mulut dan berkata.

"Jika kalian sudah membuka rencana ini, mengapa tidak langsung membongkar dan memaparkannya keluar?"

"Kami tidak berani bertindak gegabah."

"Mengapa?"

"Karena kalian, kau, Mu Rong, dan Xiu Xiu."

"Aku tidak mengerti."

"Jika rencana dibongkar, maka kalian bertiga tidak ada manfaat dan nilainya lagi, Lan Hua setiap saat bisa membunuh kalian untuk melampiaskan kemarahannya."

Jin Lao Tai Tai berkata.

"Karena itu Xiang Shi bersikukuh untuk bertahan, tidak peduli ada kegiatan apapun juga, harus mendahulukan pertimbangan keselamatan kalian."

Lanjutnya.

"Tidak peduli dalam keadaan apapun, bagaimana pun tidak boleh membiarkan kalian mati di tangan orang lain sekali pun sudah tahu kalian hanya umpan juga."

Su Su mengangkat kepala, dia segera melihat orang pendiam yang berbaju biru itu, tidak peduli siapapun melihat dia, bagaimanapun tidak bisa membayangkan perjalanan hidupnya yang penuh aneka gejolak dan ragam kejadian.

Teman-temannya, pasangan kekasihnya, musuh bebuyutannya, petualangannya, kisah romantis dan kelembutan cinta kasihnya, dan ratusan pertempuran yang berat dengan segala resikonya.

Dan, setiap hal semuanya bukan sesuatu yang mudah dan biasa.

Bagaimana orang ini sesungguhnya?

Mengapa perjalanan hidup bernyawanya jauh lebih kaya jika dibandingkan dengan sebagian besar orang di dunia ini sejak dahulu kala hingga sekarang?

Mengapa Sang Pencipta sangat istimewa menjaga dan memeliharanya?

Sampai ketika memikirkan perjalanan hidupnya, kemudian memikirkan kemalangan sebagian orang yang sepertinya terjadi sejak kelahirannya, lalu mengenang Mu Rong, mempertimbangkan dirinya, Su Su mendadak merasa sangat marah.

Seorang putera kemujuran yang hanya merasakan kemujuran, malahan mau berpura-pura mati.

Su Su mendadak bekata dengan suara keras.

'Tidak peduli bagaimanapun juga, kalian sudah berbuat kesalahan."

"Hal apa yang salah?' "Kalian tidak boleh membiarkan Liu Xian Sheng mati,"

Kata Su Su.

"Dia juga manusia, juga teman kalian, kalau kalian sudah tahu dia akan dijadikan sasaran korban, mengapa masih membiarkan dia mati di tanganku?"

Dengan menyesal sekali dia berkata.

"Aku percaya dan kalian juga tidak bisa menyangkal, jika kalian mau menolong dia, pasti ada kesempatan, tapi kalian mencobapun tidak untuk melakukannya."

Jin Lao Tai Tai dengan santai leha-leha malah tertawa.

"Kau memang anak perempuan aneh,"

Katanya.

"Kau sendiri yang membunuhnya, malah berbalik menyesalkan kami."

"Aku cuma ingin bertanya, yang kukatakan ada alasannya atau tidak?"

"Ada alasan, sudah tentu ada alasan yang kuat,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Akan tetapi aku juga punya beberapa pertanyaan yang ingin ditanyakan kepadamu."

"Tanyalah."

"Mengapa Liu Xian Sheng justru memilih dirimu untuk melakukan serangan mendadak? Mengapa sebelumnya juga sudah membawamu datang kemari? Mengapa dia juga membuat suatu kesempatan yang membuat hatinya sendiri jadi kacau?"

Sekali lagi Su Su dibuat terkejut.

Masakah perkara ini juga sebuah perangkap?

Masakah Liu Ming Qiu juga salah seorang pelaku dari rencana mereka ini?

Masakah kematian Liu Ming Qiu juga hanya sebuah pura-pura belaka?

Su Su tercengang.

Dia terkejut memandang mereka.

Orang-orang ini sesungguhnya jenis orang yang bagaimana?

Di dunia ini, masakan tidak ada orang yang bisa mengalahkan mereka?

Jin Lao Tai Tai sepertinya sudah melihat apa yang dipikirkan dalam hatinya, sorot mata nenek tua ini memancarkan kelembutan kasih yang mampu melihat sesuatu yang tidak terlihat orang lain.

"Aku sepertinya tadi sudah mengatakan, bahkan akupun sudah mulai sedikit tidak puas terhadap orang-orang kita ini."

"Mengapa?"

Tanya Hu Tie Hua.

"Karena kita sesungguhnya terlalu canggih,"

Jin Lao Tai Tai berkata sambil menghela nafas.

"Ada kalanya, bahkan aku berharap ada orang yang bisa menipu diriku satu dua kali!"

Hu Tie Hua jadi ikut tertawa!

Jika di dunia ini ada seseorang yang bisa menipu nenek tua ini, entah bagaimana pula rupa orang ini?

Sudah pasti orang yang bukan orang, pasti lebih licin dari pada rubah, lebih canggih dari pada hantu.

Hu Tie Hua bukan saja tertawa, bahkan tertawa keras.

Jin Lao Tai Tai ikut tertawa menyertainya, sesungguhnya, nenek tua ini sepertinya setiap saat juga bisa tertawa.

Orang berbaju biru yang pendiam itu juga mulai mengusap hidungnya, bahkan seolah-olah hidungnya pun sudah mengandung nada tertawa.

Bahkan dalam mata Zhong Yuan Yi Dian Hong juga mengandung tawa.

Akan tetapi Su Su justru tidak bisa tertawa.

Wajah tertawa orang-orang ini begitu manis dan begitu akrab, akan tetapi mereka, orangnya begitu menyeramkan.

Begitu tajam, begitu canggih, begitu pemberani, begitu menakutkan.

Apa lagi ketika mereka sedang berkumpul bersama.

Keras dan dinginnya Zhong Yuan Yi Dian Hong, Jin Lao Tai Tai yang berpengalaman dan bijaksana, Hu Tie Hua yang pandai tapi kelihatan bodoh, segala pengertian bisa dilahap, ditambah lagi Chu Liu Xiang.

Kekuatan apa yang bergabung menjadi satu ini, jika dengan kekuatan semacam ini menghadapi satu orang, siapa yang tidak pasti kalah?

Mungkin saja hanya 'LAN HUA' yang menjadi pengecualian.

Karena sampai sekarang, belum ada orang yang tahu siapa itu 'LAN HUA?

Bahkan Su Su juga tidak tahu.

"Sayangnya kumpulan kita sebagai rubah tua, masih ada hal-hal yang tidak mampu kita kerjakan,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Sampai dengan batas sekarang ini, kami masih belum tahu sesuatu apapun tentang Lan Hua Xian Sheng ini, bahkan apakah dia laki-laki atau pun perempuan tidak kami ketahui."

Nama lengkap, umur, jenis kelamin, status sosial, riwayat keluarga, Wu Gong, sama sekali tidak diketahui.

Berebut menang di medan peperangan, memerlukan tahu diri sendiri dan tahu pihak lawan, baru bisa memenangkan setiap pertempuran, (seratus kali perang seratus kali menang), akan tetapi segerombolan orang seperti mereka ini, menyambut musuh dalam ketidaktahuan sama sekali, jika bukan dimaksudkan mencari mati sendiri, tentulah terlalu yakin mengandalkan kemampuan diri sendiri.

Terlalu yakin pada kemampuan diri sendiri, sesungguhnya ialah mencari mati saja, apakah mereka bisa merupakan gerombolan semacam ini?

Tidak!

Pasti mutlak bukan.

Mereka bukan terlalu percaya diri, melainkan punya keyakinan mutlak terhadap diri sendiri.

Jin Lao Tai Tai menyipitkan mata, tertawa dan berkata.

"Kami cuma tahu satu hal,"

Katanya.

"Kami pasti bisa menemukannya, tidak peduli bagaimana orangnya, kami pasti bisa menemukannya."

"Bagaimana dengan sekarang ini?"

Su Su tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Sekarang kalian siap melakukan apa?"

Chu Liu Xiang pelan-pelan mendatangi.

"Satu-satunya hal yang ingin kukerjakan sekarang, masih tetap hal yang itu,"

Katanya.

"Menolong Mu Rong dan Xiu Mu."

"Dalam situasi seperti sekarang ini kau masih mau pergi menolong mereka?"

"Betul"

Prinsip Chu Liu Xiang belum pernah berubah selamanya.

Su Su percaya.

Dia percaya apa yang mau mereka kerjakan pasti bisa terlaksana, akan tetapi dia tidak mampu membayangkan bagaimana mereka mau mengerjakannya?

Hidup matinya Mu Rong dan Xiu Xiu hubungannya sepertinya bukan lagi cuma urusan mati hidup dua orang bernyawa, akan tetapi semacam masalah moral dan keadilan, semacam janji kesetiaan mati hidup.

Su Su menyaksikan keteguhan dari wajah Chu Liu Xiang, yang terpikir dalam hatinya ialah satu kalimat.

Chu Liu Xiang tetap juga adalah Chu liu Xiang.

Sudah barang tentu prinsip Chu Liu Xiang tidak akan berubah, segala kesulitan dan mara bahaya tidak mungkin bisa menghalangi idealismenya.

Sekalipun masuk kuali air mendidih dan menerjang bara api, asalkan dia memutuskan untuk menempuhnya, kakinya tidak akan ada setengah keraguan apapun juga.

Apa lagi sekarang, situasi segala hal, hampir semuanya tidak ada yang ditutup-tutupi, seluruhnya berada di dalam genggaman kelompok orang ini, mereka boleh dengan bebas leluasa mengalahkan musuh dan meraih kemenangan.

Zhong Yuan Yi Dian Hong, Hu Tie Hua, Jin Lao Tai Tai, ditambah dengan Chu Xiang Shi yang serba nomor satu dalam kecerdikan, kekuatan, keberanian, siasat dan kekuasaan, dia bisa memobilisasi kelebihan dan keunggulan seuap orang, untuk bisa menunaikan tugas penyelamatan ini.

Menunggu, bukan saja siasat yang mereka pergunakan, malahan juga rencana mereka.

Menunggu, bukan saja membuat mereka bisa melihat jelas umpannya, yang paling penting ialah, mereka mungkin sekali mempergunakan masa penantian ini, melengkapi dengan suatu pengaturan yang lebih teliti dan cermat.

Su Su mendadak punya suatu pemikiran yang aneh.

Chu Liu Xiang dan sekelompok orang ini, sepertinya bukan hanya mau menolong Mu Rong dan Mu Mu, mereka bahkan sudah berniat mencuri.

Mencuri dua nyawa orang ini dari tangan dewa kematian.

Sekalipun dia tidak tahu mereka akan mulai dari mana, akan tetapi dia percaya dalam kepastian penuh, mereka tidak akan merebut dengan kekerasan, bahkan mereka akan menyelesaikan perebutan ini sebagai semacam 'seni'.

Su Su mencecap araknya, dalam hatinya sangat tergetar, sekalipun dirinya berada dalam Jiang Hu, sekalipun dia sudah mendengar hati setia dan langkah kepahlawanan seorang Chu Liu Xiang, akan tetapi kisah dan berita yang cenderung kabar angin itu tidak ada kaitannya dengannya.

Tapi tidak demikian dengan keputusan kali ini, orang yang mau ditolong oleh Chu Liu Xiang dan teman-temannya itu, bukan saja ada hubungannya dengannya, bahkan dia sendiri hampir bisa dianggap sebagai salah seorang tokoh pelakunya.

Meskipun baginya jelas, aksi yang diatur oleh Lan Hua Man Sheng, hanya untuk membuktikan satu hasil, ketiga orang yang semuanya berada di dalam proses pembuktian itu sebagai umpan pancing, suatu tanda baca stop dalam suatu permufakatan busuk, akan tetapi dia sudah menetapkan tidak bakal menyesal lagi, bahkan di dalam hati kecilnya merasa sedikit puas, karena dirinya sempat berperan sebagai pelaku yang dijadikan perhatian orang banyak.

Jika dikatakan, ada rasa sesal dan benci, itu adalah karena dia, sekali pun di dalam keseluruhan masalah memerankan suatu lakon, akan tetapi sedari awal tidak pernah tahu bagaimana lakon cerita ini dimainkan, dan bagaimana akhirnya ditutup?

"Coba kalian katakan, kematian Liu Ming Qiu, apakah suatu kepura-puraan yang lain?

Suatu perangkap yang dipersiapkan untuk suatu tujuan tertentu?"

Su Su bahkan kelihatan agak kesal dan marah karena dia tidak bisa mengerti situasi keseluruhannya.

"Siapa pun tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanmu itu,"

Kata Jin Lao Tai Tai.

"Karena Liu Ming Qiu sudah mati, sedangkan orang mati tidak bisa bicara."

Sudah tentu, orang mati tidak bisa bicara, jawaban ini, sama dengan tidak memberikan jawaban apapun.

Kematian Liu Ming Qiu, kalau pun mengandung suatu permufakatan busuk, tidak mungkin bisa dibongkar sekarang ini, karena suatu pertarungan adu kecerdasan masih baru saja dimulai, kedua belah pihak sedang tegang ibarat anak panah berada di atas busur yang terbentang penuh, malah setiap orang mengemban banyak rahasia, banyak rahasia yang tidak ada caranya ditebak tembus.

Kartu as ini, sering kali justru adalah tombak pembunuh yang sebetulnya, sambil menunggu kenyataan sebenarnya terungkap jelas, yang juga adalah saat penentuan menang kalah dan hidup matinya.

BAGIAN KELIMA ORANG DI BELAKANG Bab Teori Perang -Perang Terbang Maksud 'orang di belakang', sudah barang tentu bukan mengatakan orang di belakangmu, maksud orang dibelakang, dalam keadaan biasa, umumnya hanya ada dua macam.

Jika yang kau maksudkan adalah seseorang di belakang Chu Liu Xiang, maka orang yang ini, jika bukan anak Chu Liu Xiang, pasti adalah cucu, buyut, cicit, piut atau canggah.

Dan generasi ketujuh, delapan, sembilan dan sepuluh yang disebut canggah atau cucu emas.

Yang kita maksudkan dengan 'orang di belakang' sekarang ini, bukan dari jenis ini.

'Orang di belakang' yang mau kita bicarakan sekarang ini, hanyalah orang-orang yang hidup bertahun-tahun di belakang jaman hidupnya Chu Liu Xiang.

Dua orang.

Dua orang ini, ialah orang yang sudah kita sebutkan di depan, seorang tua yang berpengetahuan dan juga berpengalaman, yang lain ialah seorang remaja yang sangat kaya dengan keinginan mencari pengetahuan.

Yang tua kurus singset, yang remaja sangat cakap dan sangat menyenangkan.

Sebuah dipan kuno, sebuah ranjang besar, sebuah bangku pendek, seteko teh, segentong arak, dua buah bantal anyaman bambu hijau, serta dua orang.

Kedua orang ini, sudah tentu adalah kedua orang yang kita sebutkan tadi.

Yang tua minum teh, yang remaja minum arak.

Remaja ini bahkan sama dengan Chu Liu Xiang, minum arak seperti minum teh saja.

Siapakah dia sang remaja ini?

Sang remaja bertanya kepada yang tua.

"Aku tahu pertempuran itu di kemudian hari disebut sebagai 'Perang Terbang', karena aksi sekali itu adalah 'Aksi Ngengat Terbang', hal-hal lain yang berkaitan dengan pertempuran pertama, semua orang memiliki mata elang, sayap garuda, gesit walet, tepat anak panah,"

Katanya.

"Elang, garuda, walet, anak panah, semuanya bisa terbang, karena itu pertempuran itu disebut sebagai Perang Terbang."

Perang Terbang? Bukan Perang? Yang tua tersenyum.

"Mungkin yang kau ketahui belum cukup banyak,"

Katanya kepada sang remaja.

"Terhadap perang itu, diketahui ada dua macam pendapat"

"Dua pendapat yang mana?"

"Terbang melayangnya terbang adalah terbang, bukannya terbang yang bukan-bukan,"

Kata yang tua.

"Peperangan itu adalah perang terbang dan bukan perang, sampai dengan hari ini belum pernah ada orang yang bisa memberikan suatu kesimpulan tetap."

"Bukan perang?"

Sang remaja terkesima.

"Maksud bukan perang, apakah dimaksudkan perang itu bukan perang."

"Betul."

"Yang diartikan Tidak Perang', sudah tentu ialah 'Bukan Perang'".

"Pertempuran yang menggetarkan langit dan menggemparkan bumi itu, diketahui seluruh dunia, bagaimana bisa dikatakan bukan perang?"

Tanya sang remaja.

"Maksud perang ialah, saling berhadapan ketajaman, saling berebut menang kalah,"

Kata yang tua.

"Akan tetapi perang itu, sama sekali tidak memperebutkan menang kalah."

"Mengapa?"

"Karena perang itu masih belum dimulai, nyatanya sudah ada satu pihak yang terkalahkan."

"Pihak yang terkalahkan itu seharusnya bukan pihak Xiang Shi?"

"Sudah tentu bukan,"

Yang tua tertawa.

"Kau harus mengingat satu hal, ada orang tertentu yang selamanya tidak pernah terkalahkan, waktu hidup tidak kalah, waktu mati juga tidak kalah."

Sudah tentu Chu Liu Xiang adalah orang yang demikian itu. Yang tua memberitahu sang remaja lagi.

"Di dalam rencana Lan Hua Xian Sheng, Chu Liu Xiang sudah dalam posisi orang yang pasti mati, muncul mati, tidak muncul pun juga mati."

"Aku juga tahu memang demikian adanya."

"Akan tetapi dia salah."

"Ooohhh?"

"Rencana ini secara keseluruhan mengalami kegagalan to¬tal sampai ke dasar-dasarnya."

"Mengapa?"

"Karena di dalam aksi kali ini, jika saja Chu Liu Xiang betul sudah mati, maka aksi ini sama saja dengan tidak melakukan aksi,"

Kata yang tua.

"Aksi yang tidak melakukan aksi, dikatakan apa?"

"Ya babi,"

Kata si remaja.

"Seekor babi yang gagal."

Yang tua tertawa.

"Yang kau katakan sangat bagus,"

Dia tertawa besar.

"Apa lagi tahun ini tahun babi."

Tawa di wajah yang tua cepat berubah menjadi semacam sikap serius.

"Akan tetapi di dalam aksi kali ini, jika Chu Liu Xiang belum mati, tidak usah diragukan lagi dia sudah pasti menang."

"Mengapa?"

"Karena ada satu butir kunci kecil,"

Yang tua berlagak misterius, tidak membiarkan sang remaja mendahuluinya.

"Satu butir masalah kunci kecil, yang kecil dan sangat kecil sekali, untuk sementara aku tidak akan memberitahukanmu."

Sang remaja tidak memberikan reaksi, hanya bertanya.

"Setelah itu, apakah Xiang Shi berhasil menolong dan menyelamatkan kedua orang itu?"

"Sudah tentu berhasil menyelamatkan mereka,"

Kata yang tua.

"Akan tetapi apakah berhasil menolong dan menyelamatkan keduanya, bukanlah kunci penentu yang pal¬ing penting dari peristiwa ini."

"Kalau demikian, kunci penentu yang paling penting ada di mana?"

"Pada seseorang."

"Lan Hua Xian Sheng?"

Tanya sang remaja.

"Apakah betul Lan Hua Xian Sheng?"

"Sudah tentu betul."

Ini baru benar titik butir yang paling penting.

Mau menolong dan menyelamatkan Mu Rong dan Su Su bukan hal yang sangat sulit, yang sulit justru ialah, sesudah menolong dan menyelamatkan mereka, harus memakai cara apa untuk menemukan siapa sesungguhnya Lan Hua Xian Sheng itu.

Apabila Aksi Ngengat Terbang ini gagal, bukan mustahil Lan Hua Xian Sheng segera tahu dan segera juga memutuskan hubungan dengan organisasi ini.

"Bukan saja besar kemungkinan, bahkan suatu keniscayaan besar!"

Kata yang tua.

"Andaikata dia dan organisasi yang ada hubungannya dengan peristiwa ini lepas hubungan, maka orang ini serta merta akan lenyap dari dunia ini selamanya, dan akan sepertinya tidak pernah ada sejak dahulu."

Akan tetapi dia memang pernah ada, bahkan pernah melakukan banyak kejadian yang sangat menyeramkan masyarakat.

"Karena itu, kita tidak boleh membiarkan dia lenyap selamanya, dan harus menemukan dan menggali dia keluar sampai ke akar-akarnya."

"Betul,"

Kata yang tua.

"Apa yang kau katakan biasanya memang sangat beralasan."

Dia tersenyum melihat sang remaja.

"Masalahnya sekarang tinggal dengan cara bagaimana kita baru bisa menggali sampai ke akarakarnya itu"

Sang remaja terdiam. Dia tidak bisa menjawab, karena memang suatu hal yang tidak bisa dijawab. Kata yang tua.

"Lan Hua Xian Sheng berupaya sangat keras sekali, menutup-nutupi jejak kegiatannya, dengan tujuan untuk melindungi dirinya sendiri, dan seandainya dia mengalami kegagalan dengan rencana sempurnanya, yang seharusnya tidak bakal meleset itu, dia masih tetap bisa meloloskan diri dengan suatu keutuhan."

"Kelihatannya, tidak bisa diragukan lagi, dia memang seorang yang sangat berhati-hati dan cermat."

"Itu sudah pasti,"

Kata yang tua kepada si remaja.

"Semua tokoh yang paling hebat di kolong langit ini hampir semuanya memang demikian."

"Akan tetapi dia masih punya titik kelemahan"

"Ooohhh."

Orang yang punya titik kelemahan, tidak bisa dihindarkan pasti juga berbuat kesalahan, sekalipun bukan kesalahan fatal, paling sedikit masih juga ada sebuah jalur untuk penyelidikan,"

Kata si remaja.

"Jika ada jalur untuk penyelidikan, maka sudah pasti bisa ditemukan."

"Masuk akal,"

Kata yang tua.

"Hanya yang disayangkan, aku belum tahu di mana titik kelemahannya."

"Ada di Tengah Malam, ada di Lan Hua."

"Ada di tengah malam, ada di Lan Hua."

Yang tua menghela nafas.

"Kau mengutarakan dengan baik sekali, sayangnya aku masih belum mengerti."

"Tengah malam artinya sekitar Zi Shi (jam 23.00 -01.00)."

"Ini kumengerti", yang tua juga tertawa.

"Arti Lan Hua sudah tentu aku juga mengerti. Semua ini mudah dimengerti, hanya yang tidak kumengerti, mengapa kau sampai mengatakan itu titik kelemahan bagi orang misterius itu?"

Sekalipun ada sedikit nada suara yang menunjukkan teguran dan cemoohan orang yang lebih tua yang penuh kasih sayang kepada generasi lebih muda, tapi sang remaja tidak terlalu ambil pusing.

Sang remaja itu tidak melakukan kesalahan bicara ataupun, kesalahan bertindak di hadapan yang lebih tua.

Kecuali dia tidak bicara dan tidak melakukan sesuatu apa pun.

Siapa orangnya yang tidak berbicara dan tidak melakukan sesuatu di hadapan yang lebih tua?

Jika dia bukan Jun Zi (kuncu = orang budiman) palsu yang sangat luar biasa cerdas, maka dia tentu hanya orang dungu, atau orang bebal.

"Kabar angin dunia Jiang Hu mengatakan, semua mengatakan dia baru akan muncul saat tengah malam di bulan purnama, waktu muncul, selalu membawa kesiur bau bunga anggrek,"

Katanya.

"Sama dengan Xiang Shi yang waktu hadir selalu membawa bau harum sejenis bunga tulip (Yu Jin Xiang)."

"Betul,"

Kata yang tua.

"Kabar angin Jiang Hu, betul begitu, bau wangi semacam Lan Hua ini, bahkan belakangan sudah mendekati ketenaran harum bunga tulip Xiang Shi."

"Maka justru milah titik kelemahannya,"

Kata sang remaja.

"Waktu namanya tenar, akan menjadi beban yang harus dipikul, namanya makin terkenal, makin berat buntalan beban yang harus dipikul,"

Katanya.

"Yang paling menakutkan ialah, di dalam buntalan tersebut segala macam juga ada."

Ada ketenaran, ada harta kekayaan, ada posisi kedudukan, ada teman sahabat, ada gaya dan penampilan, ada arak wangi, akan tetapi juga ada beban yang harus dipikul, halangan dan rintangan, pembokongan, adu domba, komplotan tersembunyi, dan pembantaian.

Karena itu orang semacam ini biasanya juga paling mengerti satu kalimat.

Orang di Jiang Hu, badan diatur orang.

Hal ini, yang tua sudah tentu juga memahami.

Sepanjang hidupnya, sudah tidak terhitung berapa banyak pekerjaan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri, namun dia juga tidak menyesal atau dendam.

Karena dia tahu...

Seseorang sepanjang hidupnya harus memaksa diri sendiri melakukan sesuatu pekerjaan yang dia sendiri tidak mau melakukannya, barulah hidupnya menjadi berarti.

Inilah juga yang dimaksudkan kalimat "Ada yang tidak mesti dilakukan, ada juga yang harus dilakukan".

Dalam musim salju yang dingin, siapa yang mau terjun ke dalam air laut, akan tetapi apabila kau melihat ada orang yang hampir mati tenggelam dalam air laut, apakah kau bisa tidak terjun ke laut dan menolongnya?

Sang remaja kemudian melanjutkan dan berkata.

"Sebagian besar orang di Jiang Hu juga tahu, Lan Huan Xian Sheng yang ini, biasanya sangat ramah dan sopan, akan tetapi jika sudah tiba tengah malam bulan purnama, dia segera berubah menjadi orang lain."

Hal ini yang tua juga tahu.

Pada tengah malam di saat bulan purnama, banyak orang menjadi gila, ada yang bangkit nafsu birahinya, ada yang melakukan perbuatan kekerasan melanggar hukum, bahkan ada yang membunuh orang.

"Akan tetapi orang-orang di Jiang Hu juga tahu, waktu Lan Hua Xian Sheng muncul, sama seperti Chu Xiang Shi saja"

Mengapa bisa sama seperti Chu Xiang Shi saja? "Sebab ketika Chu Xiang Shi muncul, selalu akan membawa semacam bau harum yang ringan,"

Kata sang remaja.

"Lan Hua Xian Sheng yang ini, tidak peduli muncul dalam kesempatan waktu apapun dan di manapun, selalu akan membawa bau harum semacam bunga anggrek."

Yang tua jadi tertawa.

"Harumnya anggrek adalah harum raja kembang, lalu apakah dia itu raja?"

"Paling sedikit dia sudah beranggapan demikian."

"Aku kira kau juga seharusnya sudah tahu asal usul nama Chu Xiang Shi."

"Sudah tentu aku sudah tahu."

Sesungguhnya, dalam hal ini, setiap orang juga sudah tahu, Xiang Shi dinamakan sebagai Xiang Shi, hanya karena setiap kali dia muncul, selalu akan ada bau harum yang romantis dan anggun, semacam bau harum yang sangat mendekati bau harum bunga tulip.

Kata yang tua.

"Akan tetapi aku percaya, kau tidak bakal tahu, mengapa setiap kali dia muncul, selalu membawa sedikit bau harum."

Sang remaja mengakui dia tidak tahu.

Seorang lelaki jantan, seorang laki-laki seperti Chu Liu Xiang, mengapa sampai membuat dirinya berbau harum wangi begitu?

Tidakkah ini juga suatu hal yang aneh?

Sang remaja bdak tahan bertanya.

"Mengapa dia mau melakukan begitu?"

"Karena dia seseorang yang sangat mencintai diri sendiri, bahkan punya kegemaran pada kebersihan,"

Kata yang tua.

"Bagaimana pun dia tidak akan membiarkan orang meninggalkan kesan jelek atas dirinya."

"Ini adalah suatu keniscayaan,"

Kata sang remaja. Seseorang harus menghormati diri sendiri, baru mungkin orang lain menghormati dirinya.

"Satu hal yang paling tidak disukai Xiang Shi, ialah bau tidak sedap pada badan orang lain."

"Orang macam ini siapa tidak benci?"

"Karena itu Xiang Shi paling takut ada bau badan pada dirinya yang tidak disukai orang lain,"

Kata yang tua.

"Dia takut soal ini, karena dia sendiri tidak tahu apakah badannya sendiri ada bau yang membuat orang lain kurang senang bau badannya, karena itu dia mendatangkan dari negeri jauh semacam bibit parfum bunga tulip."

Sang remaja mendadak menghela nafas, bertanya kepada yang tua.

"Ini memang sebuah cerita yang aneh."

Kata yang tua.

"Cerita ini menerangkan cinta dan sayang seorang manusia terhadap kehidupan dirinya sendiri."

"Aku paham."

"Cerita sejenis ini, biasanya hanya membuat orang bergairah, mengapa kau menghela nafas?"

"Karena Xiang Shi."

"Ooohhh!"

"Waktu dia masih hidup, dia sudah menjadi seorang yang legendaris, bukan saja seluruh dunia tahu, bahkan namanya masih dikenang hingga sekarang,"

Kata sang remaja.

"Sekarang aku baru tahu bagaimana ini terjadi."

Bab Kisah Aneh Lan Hua Bagaimana sebuah kisah aneh dibuat?

Bagaimana seorang pahlawan dibentuk?

Berapa banyak penderitaan yang dialami?

Berapa banyak air mata dan darah yang dikucurkan?

Berapa banyak menahan derita nestapa?

Berapa banyak menahan diri?

Sekalipun semua orang tahu peperangan berdarah itu apa, akan tetapi menahan diri dan mengendalikan diri barangkali juga agak sulit dipahami.

Sekarang kita kembali lagi ke titik paling penting.

Mengapa Lan Hua Xian Sheng setiap kali kemunculannya selalu disertai semacam bau harum yang menyita perhatian orang.

Dengan wataknya, dengan kepribadiannya, dengan pekerjaan yang mau dilakukan, dia seharusnya sudah menghindarkan diri untuk tidak disoroti orang.

"Ini adalah titik kelemahannya,"

Kata sang remaja.

"Juga jelujur petunjuk bagi kita"

Baru muncul ketika bulan purnama.

Ini mempersempit wilayah pencarian terhadap dirinya, dan harum Lan Hua, semakin menjadikan sasaran sangat spesifik dan jelas.

Karena itu sang remaja bisa mengatakan dengan begitu pasti.

Ini adalah kelemahannya, juga jelujur petunjuk bagi kita.

Karena alasan ini sama sederhananya dengan satu ditambah satu sama dengan dua, juga harus tepat seperti satu ditambah satu sama dengan dua.

Akan tetapi apakah mutlak betul satu ditambah satu sama dengan dua?

Yang tua mendadak tertawa.

"Kelemahan seseorang, seringkah adalah kelebihannya, suatu jelujur petunjuk yang sangat jelas, seringkah malah bisa membuat kau tersesat,"

Dia memberitahu sang remaja.

"Di dunia ini, sepertinya masih belum ada hal yang bisa dikatakan 'mutlak', hampir tidak mungkin ada sesuatu yang mutlak benar dan mutlak salah."

Kata yang tua.

"Sesuatu itu benar atau tidak, hanya tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya"

Kata-kata ini sepertinya mengandung filsafat yang mendalam, sekalipun sang remaja belum menerima, akan tetapi juga tidak berani mendebatnya.

Yang tua sudah barang tentu sudah mengetahui maksud hatinya, maka dia mengatakan lebih dahulu "Kita pasti beranggapan kedua hal itu adalah jelujur petunjuk yang sangat jelas, tetapi aku tidak setuju."

Dia bertanya kepada sang remaja.

"Tidakkah kau merasa aneh?"

"Betul,"

Kata sang remaja.

"Aku memang tidak bisa mengerti alasannya."

"Sesungguhnya alasannya juga sangat sederhana,"

Kata yang tua.

"Aku tidak beranggapan keduanya adalah jelujur petunjuk, hanya karena jelujur petunjuk ini terlalu nyata."

Dia memberitahu sang remaja.

"Jelujur petunjuk yang terlalu nyata, ada kalanya adalah perangkap."

Sang remaja masih juga belum sangat mengerti.

"Mengapa?"

Tanyanya. Sikap bicara yang tua sangat serius.

"Karena seorang jagoan setingkat Lan Hua Xiang Sheng, mustahil meninggalkan suatu jelujur petunjuk jelas di hadapanmu. Terkecuali dia memang mau memancingmu memasuki jalan sesat, atau dia sudah menjadi gila."

Sudah barang tentu Lan Hua Xian Sheng tidak gila.

"Karena itu sangat mungkin Wu Ye Lan Hua hanyalah sebuah tabir asap yang dilepaskan, agar kau salah persepsi, agar kau memasuki jalan sesat, dan terperosok ke dalam perangkap."

Yang tua kembali menerangkan kepada sang remaja.

"Misalnya dikatakan, kau menganggap dia hanya muncul pada tengah malam bulan purnama, dia sedang melakukan apa pada malam-malam lainnya? Sedang menanam bunga, bermain catur atau memetik kecapi? Ataukah sedang mencuci mangkuk piring, menyapu lantai dan memikul pupuk kandang?"

Sang remaja tercengang.

Dia sama sekali belum pernah memikirkan hal-hal ini, tapi sekarang dia sudah memikirkannya.

Dalam malam-malam yang lain, yang dikerjakan Lan Hua Xian Sheng ini, mungkin saja lebih jahat dan lebih menyeramkan daripada yang dilakukannya dalam malam bulan purnama.

Sorot mata yang tua mengandung pemikiran mendalam.

"Dia sengaja membuat kau beranggapan bahwa dia baru muncul pada malam bulan purnama, sengaja membuat kau beranggapan bahwa dia baru akan muncul pada saat tertentu untuk membunuh orang, dan pada kesempatan lain jika dia membunuh orang, kau tidak akan memperhatikannya."

Dia bertanya kepada sang remaja.

"Apa kau bisa bilang ini adalah titik kelemahannya?"

Sang remaja mengakui.

"Aku salah."

Yang tua bertanya kembali.

"Apakah harum lan hua juga bisa menjadi semacam jelujur petunjuk juga?"

Katanya.

"Harum lan hua tidak menetap pada diri seseorang, juga tidak bisa ditetapkan berada pada badan seseorang tertentu, bahkan seandainya kau menyiramkannya ke badan seekor babi sekalipun, maka babi itu juga akan punya bau harum lan hua. Jika yang membawa bau harum itu adalah badan Lan Hua Xian Sheng, maka seekor babi tadi juga mungkin bisa menjadi Lan Huan Xian Sheng. Sang remaja tersenyum pahit. Hal ini dia juga belum pernah memikirkannya, sekarang jelas sesudah dia memikirkannya, dia hanya merasakan dirinya sering sebagai seekor babi saja.

"Jika kedua titik ini tidak bisa dianggap sebagai jelujur petunjuk, maka jika menunggu Aksi Ngengat Terbang itu betul-betul gagal, dan Lan Hua Xian Sheng sudah melenyapkan diri, maka apakah masih ada yang sanggup menemukan dia?"

"Paling sedikit ada satu orang."

"Chu Liu Xing?"

"Tentu saja dia."

Yang tua tertawa.

"Tentu saja dia, biar siapapun bisa memikirkannya, di dunia ini jika ada yang masih bisa menemukan Lan Hua Xian Sheng yang misterius itu, maka orang ini sudah pasti Chu Liu Xiang."

"Pasti dia", sang remaja mengakui.

"Akan tetapi Chu Liu Xiang juga hanya satu orang saja, dalam kondisi sama sekali tidak tersedia jelujur petunjuk, bagaimana dia bisa menemukan seseorang yang seolah-olah tidak pernah ada?"

Pertanyaan yang sangat bagus, siapa yang bisa menjawab? Sang remaja menatap yang tua, mendadak dia tertawa.

"Pertanyaan ini sedang mau kutanyakan, kau kok malah bertanya balik kepadaku."

Yang tua juga tertawa, tapi tawanya cepat berakhir, segera dengan suara sangat sungguhsungguh dia mengatakan.

"Ini adalah masalah semacam situasi kejiwaan."

"Kejiwaan."

"Arti situasi kejiwaan, ialah cara berpikir dan memandang seseorang terhadap sesuatu, ketika sedang menghadapi sesuatu masalah tertentu."

Yang tua menjelaskan.

"Satu hal yang sama, jika diselesaikan oleh orang yang berbeda, biasanya hasilnya juga tidak sama,"

Kata yang tua.

"Karena di dunia ini terdapat bermacam-macam orang yang berlainan, sekalipun dalam keadaan yang sama, menyelesaikan masalah yang sama, cara yang dipergunakan tidak akan sama."

"Apakah karena situasi kejiwaan mereka tidak sama?"

"Betul."

Seorang anak keluarga kaya raya yang biasa dimanjakan, dibandingkan dengan orang yang harus berjuang keras dengan tangan kosong membangun keluarganya, dalam suatu kondisi yang sama menyelesaikan hal yang sama, apakah akan ada perbedaan besar dalam cara penanganannya?

Apakah seorangyang bodoh dan seorang yang bijak, berbeda juga dalam menangani masalah yang sama?

Perbedaan demikian sulit bisa dibayangkan orang.

"Perbedaan yang paling penting, adakah perbedaan yang bukan cara berpikir dan cara memandang mereka terhadap masalah ini, melainkan perbedaan pengaruh yang diterima oleh hati mereka?"

Ini pun merupakan suatu kalimat yang sulit, tapi sang remaja malahan mengerti.

"Ada orang ketika situasi sulit, berani tampil ke depan dan berani berkorban sampai mati, ada pula orang, segera menghindar dan berlari lebih cepat daripada kuda,"

Kata sang remaja.

"Ada sebagian orang kala mengalami kekecewaan, segera menari, menyanyi dan mabukmabukan, ada juga orang yang mengacungkan lengan bertempur kembali, ada sebagian or¬ang sama sekali tidak ambil peduli, ada juga orang yang malahan membenturkan kepala sampai mati."

"Mengapa begitu?"

"Karena persepsi dalam hatinya tidak sama satu dengan yang lain."

Sang remaja bertanya kepada yang tua.

"Apakah ini semua merupakan suasana kejiwaan?"

"Betul,"

Yang tua mengelus tangan.

"Memang demikian inilah. Bahkan rencananya seteliti itu."

Katanya.

"Sekalipun Rencana Aksi Ngengat Terbang sudah menurunkan begitu besar tenaga manusia dan tenaga materi, akan tetapi jika sampai gagal sampai ke hal-hal yang mendasar, orang yang lain pasti menjadi kebingungan, ya gentar ya marah, bahkan bisa jadi melakukan taruhan terakhir."

"Sebagian besar orang akan melakukan demikian,"

Kata sang remaja.

"Di dunia ini sebagian besar orang waktu menghadapi kegagalan total, bisa berubah menjadi seperti binatang yang terpojok."

"Apakah ada kekecualian?"

"Ada, tentu ada, ada dua macam,"

Kata sang remaja.

"Semacam yang bijak, semacam lagi jagoan."

Katanya.

"Yang bijak tenang saja, jagoan dingin, yang bijak tidak berkeinginan, jagoan tidak berperasaan, penguasaan antara berhasil dan gagal, tentu ada batas Fen dan Jun nya."

"Kau salah,"

Kata yang tua.

"Yang terkecuali bukan dua macam, tapi tiga macam."

"Yang satu macam lagi orang yang bagaimana?"

"Orang bodoh."

Sang remaja berpikir sejenak, kemudian segera mengerti.

"Betul, orang bodoh,"

Kata sang remaja.

"Karena mereka sama sekali tidak pemah berhasil, bagaimana bisa kecewa karena gagal?"

Lan Hua Xian Sheng tentunya bukan orang bodoh.

"Jagoan jenis dia, sekalipun gagal, juga tidak akan memasuki jalan buntu,"

Yang tua berkata.

"Karena mereka tidak peduli bagaimana pun, pasti meninggalkan satu jalan keluar di belakangnya."

Dia menambahkan lagi.

"Ketika dibutuhkan, mereka segera mengambil keputusan, cepat memutuskan seluruh hubungan dirinya dengan peristiwa yang menyebabkan kegagalan itu, dan menuju jalan yang sudah dipersiapkan sebagai cadangan itu, untuk melaksanakan pekerjaan yang lain, bahkan mengubah dirinya menjadi seorang yang lain."

"Pada ketika itu, tengah malam juga sudah tidak ada, lan hua juga tidak ada, dan sejak itu dia segera lenyap."

"Betul."

"Yang dikatakan pahlawan menebas lengan, adalah dengan maksud ini."

"Betul,"

Kata yang tua "Lengannya sudah membusuk, apakah masih mau terus memegangi tidak mau melepaskan, perkara sejenis ini mereka tidak bakal melakukannya."

"Karena itu kau menyimpulkan, asalkan Aksi Ngengat Terbang gagal, maka Lan Hua Xian Sheng segera juga bisa menghilang tanpa jejak lagi."

Tidak salah."

"Aksi Ngengat Terbang sudah pasti gagal, bagaimana Xiang Shi bisa menemukan dia kembali?"

Ini adalah simpul masalah sesungguhnya. Yang tua tersenyum.

"Tadi aku sudah memberitahumu, ini adalah semacam masalah kejiwaan."

Masalah sudah kembali ketempat semula, tapi sang remaja masih belum mengerti. Yang tua menjelaskan lagi.

"Semua tokoh jagoan, jika gagal, pasti pekerjaannya sangat bersih, pasti tidak belepotan segala macam, karena mereka sangat tahu, masih tersedia kemungkinan untuk bangkit kembali, seperti matahari terbit setiap hari di Dung Shan (Gunung Timur)."

"Orang semacam ini tentu sangat percaya diri,"

Kata sang remaja.

"Itu kiranya juga keadaan kejiwaan mereka."

"Betul,"

Kata yang tua.

"Tentu saja orang jenis ini lebih sering menang daripada kalah."

"Sudah tentu, orang yang sering kalah, bagaimana bisa jadi jagoan?"

Yang tua mendadak bertanya kepada sang remaja.

"Bagaimana jika mereka menang? Waktu mereka menang, bagaimana suasana kejiwaannya?"

Sang remaja tercengang. Dia belum pernah memikirkan titik ini, sekarang dia baru tahu, titik ini baru merupakan kunci permasalahannya. Yang tua berkata lagi kepada sang remaja.

"Kau kira, Aksi Ngengat Terbang itu pasti gagal, karena Chu Xiang Shi dalam aksi itu sudah berhasil menggenggam seluruh posisi inisiatif?"

Tanya yang tua.

"Akan tetapi apakah kau pernah berpikir, jika Xiang Shi memang tidak berniat menang, maka apa akibat yang ditimbulkan oleh aksi itu?"

Pertanyaan atas masalah ini juga tidak memerlukan jawaban.

Bahkan tidak perlu diajukan.

Kedua belah pihak yang berebut menang, ada satu pihak memang tidak berniat menang, maka yang menang pasti pihak yang lain.

Yang seharusnya ditanyakan ialah.

"Aksi sekali ini merupakan perebutan hidup dan mati, yang menang hidup, yang kalah mati, karena Itu tidak boleh tidak harus menang, mengapa Xiang Shi tidak ingin menang?"

Yang tua kembali menyangkali pertanyaan ini, dia memberitahu sang remaja.

"Pertanyaanmu tidak boleh diajukan dengan cara begini, karena jawabannya sejak awal sudah ada."

Kata yang tua.

"Kau seharusnya juga bisa memikirkan, jika Xiang Shi sudah menghancurkan aksi itu sampai tuntas, mengalahkan Lan Hua Xian Sheng sampai tuntas, akan tetapi tetap tidak tahu siapa Lan Hua Xian Sheng yang dikalahkan itu, maka apa arti kemenangannya atas aksi itu?"

Sang remaja menyetujui titik ini.

"Jika Xiang Shi sepanjang hidupnya tidak juga berhasil menyelidiki siapa sesungguhnya Lan Hua Xian Sheng Itu, kukira untuk tidurpun dia akan sulit sekali."

"Karena itu dalam aksi sekali ini, hanya boleh kalah, tidak boleh menang,"

Kata yang tua.

"Bahkan dia cuma boleh kalah."

"Mengapa?"

"Karena dia pasti harus menemukan Lan Hua Xian Sheng ini,"

Kata yang tua "Dia harus bertempur mati hidup dengan muka berhadapan muka menghadapi Lan Hua Xian Sheng."

Sang remaja menghela nafas.

"Maka Chu Xiang Shi kali ini malah salah."

"Ooohhh?"

"Dia seharusnya tahu, ada semacam orang yang sama sekali sudah tidak bisa berebut kalah menang dengan siapapun juga."

"Manusia bagaimana? Orang mati?"

"Betul,"

Kata sang remaja.

"Dia seharusnya tahu, dalam aksi itu, tidak menang berarti mati."

Yang tua tertawa.

"Dalam segi ini, kau berpikir tidak sama dengan Xiang Shi."

"Mengapa dia beranggapan, dalam situasi semacam itu bisa terjadi tidak menang tapi juga tidak mati?"

Tanya sang remaja "Apakah dia beranggapan dalam situasi seperti itu, Lan Hua Xian Sheng masih bisa membiarkan jiwanya?"

"Betul."

"Mengapa dia bisa berpikir demikian?"

"Hanya karena satu titik."

Kata yang tua.

"Hanya karena dia sangat mengetahui keadaan kejiwaan Lan Hua Xian Sheng."

Yang tua menanyai sang remaja.

"Apa kau pernah menyaksikan kucing cerdik menyergap tikus? Apa kau pernah melihat labalaba menangkap serangga?"

Sang remaja pernah melihat.

Dia juga tahu sesudah tikus tertangkap kucing, tidak bakal langsung dimakannya, karena sesudah memakan seekor tikus itu, hanya terpenuhi nafsu makannya saja, bagi si kucing, ini masih belum cukup memuaskan.

Laba-laba juga sama.

Sesudah laba-laba berhasil menjaring seekor serangga juga suka menjadikannya permainan, baru pelan-pelan sedikit demi sedikit dimakan.

Karena bagi mereka ini dianggap sebagai suatu kenikmatan.

Mereka pasti tidak akan membiarkan kenikmatan ini begitu saja.

Dalam alam kehidupan serangga dan tikus, laba-laba dan kucing tidak perlu diragukan adalah jagoannya.

Sang remaja mengerti segi ini, maka dia bertanya kepada yang tua.

"Apakah Xiang Shi juga menganggap Lan Hua Xian Sheng juga sama dengan laba-laba dan kucing itu setelah berhasil menaklukkan, pasti tidak segera mengambil jiwanya."

"Betul,"

Kata yang tua.

"Dia percaya ketika menjelang kematiannya, Lan Hua Xian Sheng sudah tentu terlebih dahulu menikmatinya."

"Karena dia tahu keadaan kejiwaan Lan Hua Xian Sheng pasti juga begitu."

"Betul."

"Apakah dia sangat yakin akan demikian?"

"Dia tidak,"

Kata yang tua.

"Akan tetapi dia akan mempertaruhkan, pasti harus menempuh sekali bahaya semacam itu."

Sang remaja tidak mengerti.

"Aku betul-betul tidak mengerti, mengapa Xiang Shi harus berbuat demikian."

"Karena dia yakin Lan Hua Xian Sheng jika menang dalam aksi sekali ini, juga pasti tidak akan membunuh dia."

"Mengapa?"

Yang tua menjelaskan.

"Bunuh, ya pasti dibunuh, seperti halnya kucing memakan tikus, juga pasti dimakan, jika dia tidak memakan dan tidak membunuh, sudah tentu ada sesuatu alasan mereka."

"Alasan apa?"

Jawabannya juga semacam jawaban yang pasti."

Karena Lan Hua Xian Sheng juga sama dengan kucing dan laba-laba tadi, dalam suatu keadaan tertentu, akan berada dalam suatu keadaan kejiwaan tertentu.

"Kemudian?"

"Bukan kemudian, melainkan akhirnya."

"Yang ingin kutanyakan ialah akhirnya."

Yang tua tertawa, tertawa panjang, tertawa tidak putus-putusnya.

Karena akhir peristiwa ini sama sekali tidak lucu.

Selamanya semua tidak ada yang lucu.

Selamanya tidak.

Biarpun masalah yang paling menggembirakan, yang paling membahagiakan, yang paling lucu, waktu tiba pada akhirnya, menjadi sesuatu yang tidak menggembirakan dan tidak lucu lagi.

Kehidupan itu menggembirakan, begitu kaya, begitu ramai, bahkan mungkin kehidupan beberapa orang tidak memiliki kegembiraan sedemikian membahagiakan, juga akan terasa adanya suka cita yang nikmat.

Akan tetapi apa akhir dari kehidupan?

Kematian.

Tidak peduli orang macam apapun, akhir dari kehidupannya pasti adalah kematian.

Apa kematian itu?

Jika kau pernah memikirkan masalah ini dengan baik, kau akan mengerti betapa kehidupan manusia Itu adalah sebuah tragedi besar, dan jika kau memahami ini, maka kau akan menghadapi semua masalah dengan sikap lebih tawar dan datar.

Sikap lebih tawar dan datar bukan pesimistis, juga bukan melepaskan, melainkan semacam sikap yang sedikit lebih lapang dada.

Akan tetapi banyak cerita di dunia ini berakhir dengan keberhasilan dan kegembiraan.

Orang yang bekerja keras dan berjuang tekun, pasti berhasil, orang yang mencintai pasti akhirnya menjadi pasangan.

Yang disayangkan sekali ialah akhir ini masih bukan suatu akhir sesungguhnya, dia masih baru sebuah tanda koma.

Waktu tiba pada akhirnya, masih akan tetap sama saja.

Oleh karena itu, ketika sang remaja menanyakan kepada yang tua akhir dari situasi ini, yang tua jadi tertawa, karena dia hanya bisa tertawa.

Pertanyaan ini diajukan dengan cara bodoh sekali?

Menggelikan sekali?

"Jika seseorang mau mengerjakan sesuatu pekerjaan, pal¬ing baik jangan menanyakan akhirnya,"

Kata yang tua.

"Karena semua akhir, ketika betul-betul tiba pada akhirnya akan tetap sama saja"

Katanya.

"Karena itu, jika kita mau mulai mengerjakan sesuatu, cukup menanyakan, apakah ini harus dikerjakan, apakah ada nilai untuk dikerjakan, waktu mengerjakan pekerjaan ini, apakah bisa memberikan kegembiraan bagi or¬ang lain! Membuat diri sendiri bergairah! Karena nyawa kehidupan hanya berlangsung dalam suatu periode saja."

Sang remaja mengerti.

"Jika seseorang bisa mengerti hal ini, maka kehidupannya akan gembira, dan sepanjang hidupnya tidak dilewati dengan sia-sia."

Katanya.

"Aku percaya Chu Liu Xiang pasti orang yang pal¬ing mengerti masalah ini, karena itu, tidak peduli dia mengerjakan apa saja, pasti dilakukannya dengan sekuat tenaga."

Karena itu kehidupannya selamanya jauh lebih berarti.

Akan tetapi di dunia ini, segala sesuatu apapun masih memerlukan akhir, jika sudah ada permulaannya, maka harus ada akhirnya, tidak peduli apapun juga tidak ada kekecualian.

Karena ada nyawa kehidupan, maka sudah ada awal permulaan, ada awalnya maka ada akhirnya.

Bagaimana jika tidak ada awal permulaannya?

Tidak ada awal permulaan, berarti tidak ada segalanya, tidak ada nyawa, tidak ada suka duka, tidak ada manusia, juga tidak ada akhirnya.

Apakah tidak ada akhir akan lebih bergembira?

Bukan juga.

Tidak ada akhir sendiri juga semacam akhir.

Mungkin juga titik inilah yang paling menyedihkan.

Tidak peduli bagaimanapun, dunia ini sudah mempunyai wujud bentuk, sudah ada nyawa kehidupan, sudah ada awal permulaan, sudah ada manusia, sudah ada suka duka dan jumpa cerai.

"Karena itu, setiap masalah selalu harus ada akhirnya. Aksi Ngengat Terbang kali ini juga tidak terkecuali."

"Tentu."

Kata yang tua.

"Sebagian besar di dunia ini tidak terkecuali."

"Lalu, mengapa perisuwa ini seperti tidak punya akhir?"

"Akhirnya, hanya kau saja yang tidak mengetahui,"

Kata yang tua.

"Di dunia ini barangkali hanya beberapa orang yang terbatas yang mengetahui bagaimana akhir dari perisuwa ini."

"Mengapa?"

"Karena ini adalah suatu rahasia dari yang paling rahasia"

"Rahasia apa?"

Tidak tahu,"

Kata yang tua.

"Kecuali beberapa orang terkait yang terbatas, di Jiang Hu, sampai dengan hari ini, sepertinya tidak ada yang tahu."

Dia menambahkan.

"Setiap orang dalam Jiang Hu semua tahu aksi sekali ini, akan tetapi tidak ada orang yang tahu akhirnya."

"Karena itu, dia bisa disejajarkan menjadi salah satu dari empat peristiwa besar dalam sejarah selama seratus tahun terakhir."

"Betul."

"Aku ingat anda pernah memberitahuku, peristiwa ini hampir bisa disejajarkan dengan peristiwa aneh atas Chen Lang."

"Betul."

Peristiwa aneh yang menyangkut Chen Lang, sudah lama beredar luas di kalangan Jiang Hu.

Pendekar ternama Chen Lang, dari masih usia remaja sudah bisa hidup dengan mendapatkan hadiah bonus menangkap tokoh bandit, maling dan pembunuh kejam yang terkenal, sudah mengalami ratusan pertempuran, dan selalu menang, pengalamannya sangat muskil, dan pasti tidak dibawah Chu Liu Xiang.

Dia berjumpa dengan Zhu Qi Qi di Zherig Yi Zhuang, mengalami kegundahan emosional yang luar biasa dan belum pernah dialami sebelumnya, kemudian bertemu dengan Wang Lian Hua di Bai Yun Shan Zhuang, dan mengalami tipu muslihat yang belum pernah dialami sebelumnya, elanjutnya bertemu dengan Kuai Huo Wang di Lou Lan Gu Cheng, mengalami perjuangan dan pertempuran yang paling ganas dan jahat yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Dia tetap masih hidup.

Cinta asmara yang dahsyat sering lebih meminta nyawa daripada pembunuhan yang paling telengas, akan tetapi dia juga masih tetap hidup.

Kemudian dia jadi terkenal.

Kekasihnya yang emosinya sangat tidak stabil.

Zhu Qi Qi, bahkan sudah berubah jadi stabil, dan sudah bisa mengikuti dia dengan patuh, ibarat sambil menyukuri bumi.

Bahkan musuh bebuyutannya juga sudah berubah menjadi sahabatnya, karena mereka sudah bisa mencapai saling pengertian yang sangat mendasar.

Waktu itu umurnya baru tiga puluh lebih, masa usia seseorang paling berprestasi.

Akan tetapi, dia mendadak menghilang.

Kekasihnya, saudaranya, temannya, semuanya ikut dia menghilang.

Di Jiang Hu sampai dengan hari ini, masih belum ada seorang pun yang tahu kepergian dan keberadaannya.

Waktu itu dia sudah menjadi tidak terkalahkan di dunia, dan tidak ada musuh lagi, sama sekali tidak perlu menghindari perburuan musuhnya.

Sudah tentu dia tidak punya hutang kepada orang lain.

Dia juga tidak punya simpul cinta ataupun simpul masgul.

Orang sudah seperti ini, seharusnya sudah bisa hidup dengan sangat luar biasa gembira di dunia ini.

Akan tetapi dia malahan mendadak menghilang sama sekali dari dunia ini, tidak ada orang yang tahu kemana dia pergi?

Juga tidak ada orang tahu karena apa?

Apakah karena dia terlalu bergembira?

Chen Lang berbuat begitu, semua orang masih bisa mengira-ngira apa sebabnya?

Demi ketenaran namanya, demi orang-orang Jiang Hu yang dilecehkan oleh Zhu Qi Qi, demi dosa-dosa terdahulu dari Wang Lian Hua yang kemudian menjadi temannya, semua itu menjadikan dirinya cukup alasan untuk mengundurkan diri dari Jiang Hu.

Namun bagaimana dengan Chu Liu Xiang?

Mengapa justru Chu Liu Xiang sampai memendam akhir dari seluruh cerita ke dalam bumi selamanya?

Tidak ada orang yang bisa membayangkan alasannya.

Sang remaja terdiam, merenung cukup lama, mendadak dia melompat bangkit.

"Sudah kutemukan,"

Dia bicara keras.

"Sudah kutemukan."

"Kau menemukan apa?"

"Sudah kutemukan alasan mengapa Xiang Shi tidak mau akhir masalah ini disiarluaskan ke seluruh dunia."

Yang tua terkejut memandangi dia, sepertinya belum bisa percaya orang muda ini bisa membongkar rahasia ini. Wajah sang remaja menjadi merah karena kegembiraan.

"Masalah ini sudah diketahui seluruh dunia, bahkan tidak merugikan nama baik Xiang Shi selembar benang sutera pun, mengapa dia harus menutupinya?"

Sang remaja mengajukan pertanyaan, dan menjawabnya sendiri.

"Ini hanya ada satu alasan untuk menjelaskannya,"

Katanya.

"Jika dia ungkapkan akhir jalan ceritanya, meskipun tidak bisa melukai dirinya sendiri, namun akan bisa melukai seseorang yang lain."

Katanya.

"Orang ini sudah tentu adalah seseorang yang dalam segala kondisi apapun bdak bakal dia rela sampai melukainya."

Yang tua juga terdiam, juga termenung, juga lewat cukup lama baru bertanya kepada sang remaja.

"Apakah yang kau maksudkan ialah orang tersebut adalah Lan Hua Xian Sheng "

"Betul."

"Jadi Chu Liu Xiang tidak mau mengungkapkan akhir dari peristiwa ini, hanya karena dia tidak bermaksud membongkar siapa identitas sesungguhnya dari Lan Hua Xian Sheng itu."

"Betul."

Sang remaja jadi ragu, dan dia segera mengatakan.

"Bukan dia tidak mau membongkar siapa sesungguhnya identitas Lan Hua Xian Sheng, akan tetapi dia juga tidak mau masyarakat mengetahui orang tersebut adalah Lan Hua Xian Sheng."

Dua macam cara mengungkapkan ini sepertinya sama saja, akan tetapi, di antaranya juga terdapat suatu perbedaan. Yang tua mengerti hal ini, sang remaja masih mau menjelaskan, katanya.

"Oleh karena itu, aku beranggapan, Lan Hua Xian Sheng ini pasti juga seseorang yang punya hubungan sangat istimewa dan sangat akrab."

"Pasti juga?"

Tanya yang tua.

"Dalam peristiwa ini, masih ada siapa saja yang berhubungan dengan dia?"

Sang remaja ingin mengatakan, tapi segera dia menutup mulut kembali, karena dia tahu dia tidak sampai hati menyebutkan nama tersebut.

Seorang yang begitu pintar, begitu lemah lembut dan cantik jelita, begitu patut dihormati dan patut disayang.

Dalam mata dan hati orang Jiang Hu, orang ini sudah menjadi personifikasi kecantikan, apakah masih ada orang yang rela merusak dan menghancurkannya?

Maka sang remaja cuma bisa mengatakan kepada yang tua.

"Tidak peduli bagaimanapun, orang ini pasti adalah seseorang yang paling memahami Chu Liu Xiang di dunia ini, oleh karena itu, akhirnya baru bisa menipu Chu Liu Xiang datang ke hadapannya."

Dia masih menjelaskan.

"Xiang Shi mengira dalam permainan catur bidak terakhirnya, dia bisa melakukan suatu tipu muslihat, baru mungkin menemukan identitas sesungguhnya dari ‘Lan Hua Xian Sheng’, bagaimana dia tahu bahwa yang dilakukannya itu sudah dalam perkiraannya juga? Apakah 'Lan Hua Xian Sheng' ini bukan Xian Sheng, apakah dia tidak tahu watak pembawaan Chu Liu Xiang yang gemar sekali berpetualang, dan sudah tahu sejak awal dia bisa memainkan bidak catur dengan menempuh bahaya, dan sudah tahu sejak awal dia bisa muncul di hadapannya. Dia menjuluki aksi kali ini dengan sebutan 'Aksi Ngengat Terbang'. Tidakkah karena dia sudah memperhitungkan dengan tepat Chu Liu Xiang akan terbang seperti ngengat menubruk ke dalam nyala bara api pelukannya? "

Karena itu, tidak peduli bagaimana proses terjadinya, akhir dari episode ini tetap sama saja!"

Sang remaja membuat kesimpulan.

"Kau menganggap akhir ini adalah akhir macam apa?"

"Suatu akhir yang cantik."

"Bagaimana orang yang mati konyol dalam aksi ini?"

"Yang mati adalah memang orang yang wajar harus mati,"

Kata sang remaja.

"Ini juga bagian paling menarik dalam seluruh rencana kali ini."

Yang tua mengakui.

"Sudah tentu Lan Hua Xian Sheng tidak bakal membiarkan ada siapapun juga bisa melukai Chu Liu Xiang, dan puteri kaisar Lang Ge Si pada kesempatan paling akhir hanya bisa pulang dengan kekecewaan!"

Dia tersenyum.

"Sepanjang apa pun kaki puteri, juga tidak bakal bisa mengalahkan Lan Hua Xian Sheng, paling banter dia bisa berlari lebih cepat saja."

"Bagaimana dengan Tie Da Ye?"

"Orang itu sebetulnya bukan manusia, hanya sebuah boneka boneka yang dibuat dari besi. Sekali pun lebih keras daripada boneka lain, akan tetapi boneka adalah boneka, tidak peduli terbuat dari bahan apa pun juga, akan tetap sama saja."

"Betul juga."

"Yang paling menarik adalah si setan kecil pemotong kepala itu."

Bab Epilog Cerita Mengenai si setan kecil pemenggal kepala yang tidak diketahui jejaknya itu, dalam Jiang Hu tersiar kabar begini.

Suatu hari, ada beberapa orang pendekar terkenal berhasil menangkapnya, dan diperiksa dengan keras.

"Mengapa kau memotong kepala orang?"

"Yang kupotong bukan kepala orang,"

Si setan kecil menjawab serius.

"Aku hanya memotong kepala orang terkenal."

"Apakah orang terkenal bukan orang?"

"Orang terkenal dan orang ada sedikit perbedaan,"

Kata si setan kecil.

"Orang terkenal adalah semacam orang yang istimewa. Karena itu aku pasti menyelidikinya setelah memotong kepala itu."

"Ada perbedaan apa?"

"Paling sedikit, selalu ada sedikit yang berbeda dengan or¬ang lain,"

Kata si setan kecil "Mereka selalu bisa memiliki rasa sakit yang tidak dialami orang lain."

Para pendekar terdiam. Juga tidak tahu apakah harus dibunuh atau tidak si setan kecil ini, atau melepaskan dia, si setan kecil sendiri menemukan satu cara.

"Kalian boleh mengikatku dengan kawat dan urat sapi, memborgol tangan dan menggari kakiku, lalu memasukkan ke dalam sebuah peti besi dan digembok, dan melemparkan ke dalam sungai,"

Kata si setan kecil.

"Jika aku mati, aku tidak akan menyesal, tapi jika aku masih belum mati, itulah kemujuran ku."

Sepuluh hari kemudian, ada orang yang akhirnya tidak tahan, lalu mengangkat peti itu dari dalam sungai, untuk bisa melihat apakah si setan kecil sudah mati atau belum.

Begitu peti dibuka, semua orang hanya tercengang.

Dalam peti ternyata kosong.

Sudah tentu tidak bisa dikatakan kosong sama sekali, sekalipun tidak ada orangnya, tapi ada selembar kertas memo, tertulis di atasnya .

"Arak dalam gelas tak habis diminum, tak akan habis dipotong kepala orang terkenal"

TAMAT Di depan Cun tersedia gelas, Dalam gelas ada araknya, Dalam rumah jabatan ada orang terkenal, Orang terkenal ada kepalanya.

Cun tempat arak jaman dulu.

Lampiran .

WAWANCARA DENGAN GU LONG Mengenai Cerita Baru "Chu Liu Xiang"

Chu Liu Xiang dan kawan-kawannya Saya kira, seharusnya Chu Liu Xiang merupakan seorang tokoh yang cukup terkenal.

Sekali pun dia tokoh fiktif, seorang tokoh dalam cerita fiksi, namun nama itu pernah 'naik' dan dimuat dalam artikel-artikel berita sosial dari berbagai koran harian besar yang terbit di Taiwan, bahkan pernah ditempatkan pada posisi sangat mencolok.

Namanya juga menimbulkan guncangan cukup besar di berbagai negara lain.

Bagi seorang tokoh fiksi di dalam cerita silat, keadaan seperti ini terbilang cukup istimewa.

Pada umumnya, hanya seorang tokoh nyata yang hidup dalam masyarakat, dan bahkan, tokoh yang cukup menggemparkan dalam kehidupan aktual, yang bisa memasuki halaman ketiga suatu koran berprestasi.

Chu Liu Xiang, sangat mungkin merupakan satu-satunya pengecualian.

.....Mengapa orang ini bisa menjadi suatu kekecualian, dan apa sesungguhnya keistimewaan yang dimilikinya?

Saya kira, masalah ini semestinya bukan sesuatu yang bisa dimengerti setiap orang.

Karenanya, sebelum saya mulai menulis 'Kisah Baru Chu Liu Xiang’, paling tidak, saya perlu memperkenalkan siapa dia tokoh Chu Liu Xiang itu serta kawan-kawannya.

Jika mau memperkenalkan Chu Liu Xiang, mustahil juga tanpa memperkenalkan kawankawannya.

Tanpa memiliki teman, mustahil ada Chu Liu Xiang.

Tidak peduli apa dan bagaimana pun juga, kita harus memperkenalkan Chu Liu Xiang.

Tentang Chn Liu Xiang Dalam sebuah cerita pasti ada tokohnya, dan di antara tokohnya tentu ada yang utama.

Tidak peduli menulis cerita apapun kiranya pasti sama, mustahil ada pengecualian.

Bahkan menulis kisah seekor bangau pantai, dengan personifikasi sebagai manusia, tentu memiliki pikiran dan perasaan.

Tokoh di dalam cerita silat yang tanpa ragu, khusus, wujud dan watak yang tampil tentu juga sangat khusus pula.

Sebab, yang diceritakan di dalam cerita silat, merupakan semacam masyarakat yang khusus.

Berbagai peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya, bukan sesuatu yang bisa dan biasa bagi orang kebanyakan.

Bahkan, seringkali, justru 'diangkat' untuk mencapai suatu 'ekstrim' yang sangat tajam, serta membiarkannya mengambil suatu pilihan dalam situasi yang sulit, hidup atau mati, menang atau kalah, berhasil atau gagal, mulia atau hina.

Dan seringkali, justru diputuskan dalam suatu pemikiran yang singkat dan pendek.

Mengorbankan hidup untuk membela kebenaran, atau mengorbankan kebenaran untuk memilih kemuliaan.

Seringkali pula, tidak ada peluang untuk menemukan suatu pilihan.

Karena, para pengarang cerita silat, lebih suka memilih dan membentuk tokohnya dengan ujian dan tempaan keras, sehingga terbentuk wujud seorang ksatria sejati yang mengungkapkan keberanian tegar dengan polos.

Jika saja seseorang sering mengalami ujian sejenis ini, laksana sebongkah besi yang dilontarkan ke dalam tungku pembakaran yang membara apinya, dan hanya sesudah mengalami penempaan dalam api berulang-ulang, tentulah akan wajar jika bongkahan besi itu akan berubah menjadi lempengan baja murni.

Oleh karena itulah, tokoh utama dalam cerita silat pada umumnya adalah seorang tokoh luar biasa yang sangat tegar dan kokoh kepribadiannya.

Dan apa pun yang terjadi, dia takkan bisa ditaklukkan, takkan mau damai dengan menyerah.

Di mana kebenaran berada, takkan pernah berkhianat berbalik muka.

Dia tidak peduli, bagaimana wajah penampilannya, dan bagaimana wujudnya.

Dia akan tetap bertekad dengan keberaniannya ini, selamanya takkan berubah.

Bahkan, sekalipun tubuhnya sudah lusuh dan rusak, disakiti dan terluka, berpenyakit dan teraniaya, segalanya, takkan bisa mengubah dirinya.

Atau, jika tidak demikian, tokoh ini takkan pernah muncul dalam cerita silat, bahkan tidak ada artinya untuk menuliskannya sebagai cerita silat lagi.

Baca Juga: Mustika Gaib 2

Baca Juga: Kemelut Di Majapahit Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert