Ceritasilat Novel Online

Anggrek Tengah Malam 5

Eps 5 Anggrek Tengah Malam - Khu Lung

Baca online Anggrek Tengah Malam - Khu Lung

Cersil Anggrek Tengah Malam - Khu Lung.

Namun demikian, mereka tetap juga manusia biasa, yang punya darah dan punya daging, punya pikiran dan punya perasaan, karenanya pula, mereka bisa hadir dalam aneka jenis penampilan yang berbeda-beda.

Ada kalanya, dingin beku seperti karang cadas, ada pula yang sangat hangat bagaikan bara api, ada saatnya kaku seperti kayu tanpa reaksi.

Lain kali, perlente dan romantis.

Lain kesempatan, dalam kesehariannya, kelihatan biasa, lemah dan tanpa pendirian.

Namun, di kala mereka menghadapi masalah besar dan peristiwa besar, dia segera mampu tampil sebagai orang yang tidak biasa di dalam jangkauan pemikiran dan ketetapan hati, serta menunjukkan keberanian sesungguhnya.

Manusia memang banyak macamnya.

Ketika pengarang menciptakan berbagai tokoh cerita, sudah barang tentu memerlukan sangat banyak bentuk berlainan, atau, jika bukan cerita sejenis ini, sesungguhnya tidak perlu dan tidak ada nilainya dituliskan sebagai cerita.

Sekalipun di antara para tokoh di dalam cerita silat, tidak perlu ragu terhadap Chu Liu Xiang ini, yang sudah seharusnya termasuk bilangan seorang tokoh sangat istimewa.

Ada hal-hal yang menjadikannya sangat patut disukai dan dikagumi orang, bahkan dirindukan orang.

Dia tampak tenang, tapi bukan dingin.

Lurus, tapi tidak terlalu serius.

Dan, selamanya tidak berlagak sebagai pengikut ajaran moralis palsu, selamanya tidak banyak tingkah, atau bergaya yang dibuat-buat.

Dan, selama itu pula, belum pernah bertindak selaku seorang ksatria besar.

Karenanya juga, saya menyukainya.

Dan karena itu pula, saya selalu ingin terus menuliskan beberapa kisah lanjutannya lagi.

Agar orang lain juga bisa ikut menikmati cinta kasihnya yang hangat dan merasakan kegembiraan dalam kehidupan sebagai manusia.

Sepanjang hidupnya, dipenuhi berbagai kisah-kisah menarik.

Dan, cerita mengenai dirinya, memang masih banyak yang belum dituangkan menjadi cerita.

Setiap cerita selalu penuh dengan petualangan yang merangsang, penuh kecerdikan dan humor.

Sekaligus bisa menyatakan penuhnya rasa cinta kasih dan rasa percayanya terhadap sesama manusia.

Dan, tentunya akan menimbulkan penyesalan dan rasa tidak senang di hati, jika cerita seperti ini tidak dituangkan dalam tulisan.

Karena itu, saya putuskan untuk kembali meneruskan cerita itu.

Sebelum kembali meneruskan cerita ini, sudah barang tentu saya mengharapkan anda semua bisa memahami dia, sesungguhnya manusia jenis apakah dia itu.

Chu Liu Xiang sesungguhnya jenis manusia yang bagaimana.

Guru maling memang cuma satu Semua orang dari dunia Jiang Hu (kang ouw) tentu tahu Chu Liu Xiang.....'Guru Pujaan Chu', namun, sedikit saja orang yang tahu dia ada di mana?

Berapa umurnya?

Bagaimana wujud wajah penampilannya?

Karena dia sudah sangat lama dikenal orang, maka wajar ada orang yang mengatakan dia sudah "tua renta menjelang ajal".

Tapi, ada juga yang mengatakan dia masih berusia muda.

Bahkan, ada yang mengatakan dia sudah menguasai "ilmu awet muda, agar wajahnya tetap muda belia".

Karena dia juga dijuluki "GURU MALING", maka ada orang menyebutnya cuma maling besar yang berkemampuan agak lebih saja.

Namun, ada juga orang yang menganggap dia jadi "maling"

Sebagai suatu cara mencapai tujuan tertentu, semacam cara di kalangan masyarakat manusia, cara paling masuk akal untuk membuat keadilan lebih merata.

Dan dia sudah mengubahnya menjadi suatu seni.

Semacam kesenian yang anggun dan modis.

Banyak teman beranggapan, adanya selembar memo.......

yang paling mampu mengungkapkan sifat istimewanya, yang sudah saya ungkapkan, pada waktu awal menuliskan ceritanya.

"Saya mendapat kabar bahwa anda memiliki satu arca wanita cantik dari yade (yu .giok) putih, karya pemahat bertangan ajaib, yang sangat mengekspresikan segala kemolekan wujud perempuan. Membuat saya benar-benar mendambakannya dari kedalaman hati. Pada tengah malam ini, dengan diantar cahaya bulan purnama, saya akan datang mengambilnya. Biasanya anda sangat murah hati, sudah barang tentu tidak akan membiarkan saya datang dan pulang dengan sia-sia saja."

Ini sekedar pemberitahuan terlebih dahulu, sebelum dia pergi "mengambil"

Arca wanita cantik dari batu yade (giok) putih itu kepada pemiliknya.

Sebelum dia mengambil suatu barang, dia tentu memberitahu pemiliknya, dan meminta pemiliknya berjaga-jaga dengan sebaik-baiknya.

Bahkan, dia masih bisa memberitahu anda, dia akan mengambil barang ini, hanya karena anda sudah tidak pantas memilikinya.

Ini perkara yang keterlaluan, sangat keterlaluan.

Bahkan, lawan-lawannya pun tidak mungkin tidak mengakui, bahwa orang ini memang tidak ada duanya.

Di dalam dunia Jiang Hu, selamanya tidak bakal ada Chu Liu Xiang kedua, sama halnya dengan Si Golok Terbang Li Kecil di dalam dunia Jiang Hu, selamanya tidak bakal ada yang kedua, dan cuma satu.

Romantis meninggalkan harum semerbak di mana-mana Namun Chu Liu Xiang berbeda dengan Li Xun Huan.

Dia tidak punya rasa rindu atau rasa sakit, juga tidak ada kemasgulan seperti yang dipunyai Li Xun Huan.

Dalam pikirannya, di atas dunia ini sama sekali tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan.

Maka juga, tidak ada masalah yang betul-betul bisa membuatnya masgul.

Akan tetapi dia juga cuma manusia, yang mempunyai sisi baik sebagai manusia, dan mempunyai sisi buruk sebagai sisi lainnya.

Akan tetapi dia senantiasa mampu mengendalikan dengan baik sisi buruk itu.

Ada kalanya, dia juga bisa melakukan perbuatan bodoh.

sebegitu bodohnya, hingga dia sendiri bingung, dan tidak bisa mengerti asal mulanya.

Ada kalanya, malah terperangkap muslihat orang.

Mujurnya, dia cepat dan segera menyadari kesalahan itu, malahan, sekalipun sudah terperangkap, dia akan bisa melupakannya dengan sebuah senyum saja.

Dia selalu beranggapan, dalam situasi sesulit apa pun juga, senantiasa bisa sangat bermanfaat bagi kita, jika kita mampu tersenyum.

Pada waktu senggang, Chu Liu Xiang senantiasa suka berdiam di atas sebuah perahu.

Sebuah perahu yang istimewa.

Layarnya putih bersih, badan kapalnya panjang ramping, geraknya lincah dan gesit, dan geladaknya halus mengilat seperti kaca.

Biasanya, ditambatkan di pantai laut.

Di lambung kapalnya selalu digantungi satu botol anggur dari Persia, agar terendam air laut sehingga jadi sejuk dan cocok dengan selera.

Jika dia tidak berada di atas-kapal, tetap ada petugas yang mengurus kapal ini.

Ada tiga orang gadis, yang pintar dan manis.

Su Rong Rong, hangat dan penuh perhatian, dialah yang berkewajiban mengurusi kebutuhannya sehari-hari.

Li Hong Xiu yang cerdik cendekia, seorang yang menguasai pengetahuan tentang tokoh-tokoh serta riwayatnya dalam dunia persilatan.

Song Tian Er yang sangat pandai menggoyang lidah selera, ahli yang handal memasak sajian.

Keduanya, Su Rong Rong dan Li Hong Xiu paling takut dia, takut dia bercakap-cakap dengan "bahasa pejabat".

"Tidak takut langit, tidak takut bumi, tapi takut orang Guang Dong yang berbicara dalam bahasa pejabat."

Bahasa pejabat yang diucapkan Song Tian Er memang betul-betul sulit ditangkap telinga siapa pun.

Akan tetapi, jika ada suatu hubungan batin antara orang yang satu dengan yang lain, maka bercakap-cakap itu untuk apa lagi?

Hidung Chu Liu Xiang sejak kecil sudah berpenyakitan, dari sudut pandang ilmu kedokteran modern, kira-kira penyakitnya sejenis sinusitis.

Karenanya dia suka mengelus-ngelus hidungnya itu.

Namun penyakit ini tidak membuatnya jadi masgul.

Jika jalan ini buntu, dia bisa memilih jalan yang lain.

Jika hidung buntu, dia bisa berlatih menggunakan cara lain untuk bernafas.

Sepanjang perjalanan hidup manusia, banyak hal yang demikian ini.

Mata pelukis kenamaan sering tidak baik, musisi besar seringkah telinganya sangat terganggu, bahkan Beethoven di usia tuanya adalah tuna rungu.

Hidung Chu Liu Xiang tidak baik, tapi dia justru paling suka bau harum.

Setiap kali dia berhasil mengerjakan satu pekerjaan yang memuaskan, dia akan meninggalkan secercah bau harum yang ringan tipis saja, sejenis bau harum bunga tulip.

Inilah asal muasal nama "Chu Liu Xiang"

Itu.

Cerita yang ke delapan Orang yang bertipe seperti Chu Liu Xiang ini, sudah barang tentu punya banyak teman, berbagai tipe dan rupa teman.

Di antara temannya juga terdapat Bhikhu Ketua Vihara dari Vihara Sao Lin.

Juga ada rahib miskin yang biasa pindatapa sepanjang jalan.

Ada juga pembunuh bayaran berdarah dingin yang kejam, dan juga seorang remaja yang emosinya berkobar-kobar dan meledak-ledak.

Ada cendekiawan cerdik yang kenyang belajar, tapi juga ada penduduk desa yang tidak kenal satu huruf pun.

Hu Tie Hua juga orang yang unik.

Dia suka mencari Chu Liu Xiang untuk beradu kuat minum arak, suka menirukan Chu Liu Xiang mengelus hidung.

Bahkan, tanpa penyebab jelas, sering suka "mengendus"

Beberapa kalimat Chu Liu Xiang, mencari-carikan kesukaran untuk Chu Liu Xiang.

Seperti halnya Chu Liu Xiang, dia gemar minum arak, gemar perempuan, gemar cari perkara, suka membela kebenaran dan melawan kezaliman.

..........Perempuan yang menyukainya, semuanya dia tidak suka.

Perempuan yang disukainya, tidak ada yang menyukainya.

Sepanjang hidup, Chu Liu Xiang pernah mengerjakan bermacam-macam pekerjaan, urusan yang baik sudah barang tentu banyak, perkara yang bodoh juga tidak sedikit.

Hampir semua pekerjaan pernah dilakukan, kecuali satu perkara saja.

......Betapapun dia tidak bakal mengerjakan sesuatu yang dia sendiri tidak suka.

Di dunia ini, mutlak tidak bakal ada siapa pun yang bisa memaksa dia.

Inilah dia Chu Liu Mang.

Sepanjang hidupnya, betul-betul sangat kaya variasi, penuh kisah petualangan aneh.

Mungkin justru karena dia adalah manusia jenis ini, maka ke mana pun dia pergi, pasti akan berjumpa dengan jenis orang-orang yang tidak sama dengan orang kebanyakan, dan terjadi pula berbagai peristiwa yang sangat tidak biasa.

Asalkan ada cerita tentang dirinya, tentu dipenuhi dengan berbagai sensasi yang tidak lazim.

Kisah menyangkut Chu Liu Xiang, total saya hanya menuliskan tujuh cerita, yakni.

"Semerbak Wangi di Lautan Darah".

"Padang Pasir Raya".

"Burung Hua Mei (Ketilang)".

"Kisah Kelelawar".

"Kisah Bunga Tao (Bunga Buah Persik)".

"Pinjam Jenazah untuk Hidup Kembali"

Dan "Kisah Bulan Baru', dan andai ada kisah yang kedelapan, agaknya patut dikuatirkan itu karya orang lain yang mencuri nama saya.

Untuk para pemalsu nama Gu Long, dan yang menulis cerita Chu Liu Xiang, sekalipun bisa membuat saya mau menangis atau mau tertawa, tetap membuat saya serba salah.

Tapi saya juga sangat berterima kasih atas niat baiknya.

Paling tidak, mereka masih menghargai nama Gu Long, paling sedikit juga seperti saya, merasa orang bernama Chu Liu Xiang ini sangat menarik.

Hanya saja, sayang sekali, cara menulis dan bertindaknya agak tidak menyenangkan.

Cerita tentang Chu Liu Xiang, setiap babnya merupakan bab yang berdiri sendiri sepenuhnya.

Sekarang saya mau menuliskan cerita yang kedelapan.

Kelak di kemudian hari, semua cerita Chu Liu Xiang, akan saya rangkum ke dalam kisah baru Chu Liu Xiang.

Ada musuh dan ada juga sahabat Setiap pengarang, dalam menuliskan naskah bisa saja mengalami perubahan.

Gayanya berubah, kalimatnya berubah, pemikirannya berubah, ketenaran namanya juga berubah, honor pengarangnya pun juga berubah.

Di dunia ini, pengarang yang mampu bertahan hidup, hanyalah mereka yang bisa mengikuti perubahan dan perkembangan.

Mereka itulah yang hidup terus.

Yang tidak mampu berubah, jika ada, sekalipun terhitung belum mati, juga sudah tidak mungkin bisa dianggap masih hidup lagi.

.....Seperti halnya seorang pengarang yang sudah menulis sebuah novel yang sukses.

Dia masih ingin menulis novel yang sejenis lagi, bahkan menulis

Jilid kedua,

Jilid ketiga,

Jilid keempat.

.....Jika seorang pengarang tidak mampu menembus keterbatasan dirinya sendiri, dia cuma bisa menulis novel atau cerita sejenis dengan satu langgam gaya, maka, pengarang ini, sekalipun belum mati, di hadapan pembacanya, juga sudah dianggap sebagai "pengarang yang sudah mati".

Berlayar menentang arus, bukannya maju malah mundur, dan mundur itu berarti mati.

Baru itu berarti berubah.

Ketika saya menulis kisah "baru"

Chu Liu Xiang, sudah barang tentu harus ada yang berubah.

Akan tetapi, dalam menulis "Kisah Baru Chu Liu Xiang", yang saya ceritakan masih tetap adalah "Chu Liu Xiang".

.....Yang saya ceritakan ialah Chu Liu Xiang dan kawan-kawannya.

Chu Liu Xiang adalah orang yang sangat menyenangkan.

Sudah barang tentu dia punya banyak teman.

Orang yang banyak temannya, sudah pasti, dan tidak bisa tidak, banyak musuhnya juga......Bagaimana mungkin, orang yang selalu sering melindungi teman-temannya, malah jadi tidak punya teman?

Musuh bebuyutan, ada kalanya bisa memberikan pukulan keras dan sakit yang paling mematikan, akan tetapi, seorang teman tetap juga seseorang yang paling penting dalam kehidupan seseorang.

Tidak punya teman dan tidak punya musuh.

Orang bisa hidup tenang tenteram.

Mungkin sehari-harinya santai gembira.

Namun, apakah dia bisa betul-betul gembira, sungguh bahagia?

Sulit dikatakan.

Yang boleh dipastikan hanyalah.

"Guru Junjungan"

Kita, Chu Liu Xiang, bagaimana pun juga tidak bakal mau hidup seperti ini.

Dia "punya teman", juga "punya musuh".

Temannya banyak, musuhnya juga banyak.

Untuk mendalami orang ini, saya bukan saja harus jadi temannya, juga harus jadi musuhnya.

Seharusnya jadi teman dulu, atau jadi musuh bebuyutan dulu?

Teman.

Dengan urutan apa pun juga, teman, selalu menduduki posisi nomor satu.

Para sahabat Chu Liu Xiang Hu Tie Hua Mau menceritakan Chu Liu Xiang, sudah barang tentu tidak bisa tanpa menceritakan Hu Tie Hua.

Biarpun di depan sudah saya ceritakan, akan tetapi, apa manfaat "yang cuma sedikit"

Itu? Untuk bisa menulis kisah Chu Liu Xiang, sudah barang tentu tidak bisa tidak harus menulis Hu Tie Hua. Biarpun di depan sudah saya tuliskan, tapi yang "sedikit"

Pasti tidak cukup.

Karenanya, sekarang saya akan menulis beberapa "sedikit".

Hu Tie Hua bukan Chu Liu Xiang, bahkan kita boleh mengatakan, dia dan Chu Liu Xiang adalah dua orang yang sama sekali berlainan.

Di atas dunia ini, ada kalanya banyak hal memang demikian Pasangan suami isteri yang mesra, sahabat yang karib, ada kalanya juga bukan dari satu jenis yang sama.

Mereka melanglang buana, jejaknya tidak menentu, empat samudera dunia dijadikan rumahnya.

Akan tetapi, Chu Liu Xiang ini, bukan penyelingkuh pengembara, justru Hu Tie Hua yang bertipe itu.

Chu Liu Xiang adalah ksatria pengelana, pendekar kelana.

Ksatria pengelana tidak merasakan kesepiannya mengembara, tidak pula mengalami kerisauan mengembara, tidak punya keputus-asaan seperti "piatu tanpa ibu"

Yang dimiliki seorang pengembara, juga tidak ada kemasgulan tanpa daya dan tanpa alasan yang dimiliki pengembara.

Ksatria pengelana, amat tinggi dan mulia sekali.

Yang dipuji dan dipuja segenap anggota masyarakat, dijadikan dambaan masyarakat, menjadi tujuan bagi pergaulan pemuka dan pendekar dunia Jiang Hu.

Merupakan idola "pangeran berjubah kulit rubah emas, yang menunggang kuda panca warna"

Dan Gong Zi (kong cu) jaman keruh yang "menunggang kuda sambil bersandar di jembatan miring dan dia yang senangnya melambaikan tangan mengundang puteri berlengan baju merah dan satu loteng untuk pesta pora" .

Apakah dia seorang pengelana yang gemar berkeliaran?

Hu Tie Hua bukan ksatria pengelana, tapi pengelana yang gemar berkeliaran.

Kelihatannya, meskipun dia selalu 'hi hi ha ha, si li hua lah' ramai suaranya, langit runtuh pun tak peduli.

Jika kepala jatuh lepas dari batang leher, tak lebih dari terbukanya lubang sebesar mangkok.

Akan tetapi, di kedalaman lubuk hatinya, ada kepedihan yang tidak terungkapkan.

Suatu kepedihan tanpa daya dengan ratapan terhadap langit dan tangisan atas manusia, suatu kepedihan dalam bentuk 'yang tidak suka lagi melihat dan mengetahuinya'.

.....Di dunia ini, banyak sekali orang dan kejadian, yang dia sudah tidak suka lagi melihat dan mengetahuinya.

Malahan sangat, sangat tidak adil.

Akan tetapi, dengan potensi dirinya seorang saja, apa pula yang mampu dilakukan lagi?

Dia cuma bisa duduk dan minum dan menenggak araknya.

Sudah barang tentu, suasana batinnya yang semacam ini, bukan sesuatu yang bisa dipahami orang lain.

Dan semakin dia tidak dipahami orang lain, semakin penuh kepedihan hatinya, dan semakin banyak pula dia menenggak arak kerasnya.

Semakin banyak dia menenggak arak, semakin penuh keanehan kelakuannya.

Dan semaian pula orang lain tidak memahaminya.

Dan akhirnya, sementara orang sudah beranggapan, dia sudah berubah menjadi "pengemis pemabuk"

Atau "pengemis gila"

Atau manusia lain sejenis itu.

Bahkan ada juga yang sudah beranggapan dia telah menjadi gila.

Cuma Chu Liu Xiang yang tahu, bagaimana pun dia bukan orang gila yang begitu.

Karena itu, Hu Tie Hua bisa melakukan segala sesuatu yang mustahil bisa dilakukan orang lain, bahkan untuk menerangi jalan bagi perjalanan Chu Liu Xiang, dia bisa rela membiarkan dirinya menjadi bahan bakar untuk nyala obor yang menerangi jalan itu.

Banyak pembaca beranggapan, jenis Chu Liu Xiang adalah seseorang yang mampu membuat banyak orang merasakan kebahagiaan.

Akan tetapi, saya sendiri melihatnya sebagai orang yang paling tidak bahagia.

Ji Bing Tan Ji Bing Yan kelihatannya amat tidak bahagia, dingin-dingin saja, wajahnya tanpa mimik.

Bahkan para pemirsa perempuan cilik dari film serial sinetron buatan Hong Kong, suka menyebutnya "

Boneka kayu".

Ungkapan seperti ini, sungguh-sungguh keterlaluan lucunya.

Ji Bing Yan bukan boneka kayu, juga bukan arca batu, juga bukan bongkahan es batu.

Dia adalah gunung berapi.

Di bawah lahar panas yang telah dingin membeku bertahun-tahun itu, masih tetap mengalir suatu arus darah sepanas api yang menyelomot, sama seperti halnya Hu Tie Hua, yang untuk temannya, setiap waktu bisa menyerahkan segala sesuatu yang dimiliki.

Zhong Yuan Yi Dian Hong Dari suatu sudut tertentu.ada beberapa persamaan antara cara kerja Zhong Yuan Yi Dian Hong (Satu Tetes Darah Merah Di Tiong Guan) dengan Ji Bing Yan.

Sekujur badannya terbungkus pakaian hitam, wajahnya putih seperti mayat.

Bisa membunuh dalam sekejap, dengan wajah tanpa berubah.

Dia adalah pembunuh profesional yang minta bayaran pal¬ing tinggi di bawah jagat ini.

Sekali kontrak ditandatangani, selamanya tidak ada perubahan apapun.

Maka sasaran pembunuhannya pun sudah pasti mati.

Kemampuannya bermata pedang luar biasa.

"membunuh orang tanpa kucuran darah, di bawah pedang cuma setetes darah merah" . Setiap kali pedangnya ditusukkan, dianggap sudah cukup asalkan bisa merampas nyawa lawan, buat apa lagi mengucurkan lebih banyak darah orang lain. .....Dia seorang seniman, bukan jagal.

"Kontrak"

Nya hanya sekali tidak berhasil, karena dia mendadak menyadari korban yang mau dibunuh kali ini adalah temannya, seorang teman yang patut dia percayai.

Dan teman ini, sudah barang tentu adalah Chu Liu Xiang.

Zuo Qing Hou Zuo Qing Hou adalah pemilik Zhi Bei Shan Zhuang (Villa Lontar Dadu).

Zhi Bei Shan Zhuang berada di luar kota keresidenan Song Jiang (sungai Song), terletak pada jarak kurang dari tiga Li dari Jembatan Xiu Ye yang sangat terkenal di bawah kolong langit Setiap tahun, sekitar hari Dong Zhi (solstitium musim dingin, 22 atau 23 Desember setiap tahun), hampir selalu Chu Liu Xiang berdiam berapa hari di sini.

Karena dia, sama juga dengan Ji Ying Xian Sheng (Si Elang Musim) Zhang Han, begitu angin musim gugur mulai bertiup, segera timbul rindu selera ingin menikmati kembali rasa masakan sayur Chun dengan ikan Lu.

Karena siapa pun tahu, cuma di bawah Jembatan Xiu Ye dari Song Jiang ditemukan ikan berinsang empat itu.

Dan di Jiang Hu (dunia persilatan), siapa pun juga tahu, pemilik Villa Zhi Bei yakni Zhu Er Ye (Tuan Besar Kedua Zhu), selain ilmu telapak tangannya tidak ada tandingan di dunia persilatan Jiang Nan, tapi juga, ilmu memasak ikan Lu-nya, paling luar biasa nikmat di kolong langit.

Orang dari dunia persilatan (Jiang Hu) juga tahu, yang mampu membuat Tuan Besar Kedua Zhu, turun tangan sendiri ke dapur, cuci tangan memasak, di bawah jagat raya ini, tidak lebih dari dua orang.

Dan Chu Liu Xiang kebetulan merupakan salah satu dari kedua orang tadi.

Tapi, kedatangan Chu Liu Xiang kali ini di Zhi Bei Shan Zhuang, justru tidak memberikan kesempatan padanya untuk bisa menikmati masakan irisan kecil daging ikan Lu hasil tangan Zhu Er Ye sendiri.

Malahan dia mengalami peristiwa paling gila, paling aneh, paling misterius, dan paling mengerikan sepanjang perjalanan hidupnya.

Dia menyelesaikan urusan ini untuk Zhu Er Ye.

Oleh karena itu, tidak peduli urusan apa dan betapa merepotkannya, Zhu Er Ye tetap akan menyelesaikannya.

Tokoh dunia Jiang Hu sekaliber Zuo Qing Hou, yang untuk menyelesaikan sesuatu urusan, biasanya tidak pernah memperhitungkan segala akibat dan tanpa mau memilih-milih cara.

Bahkan tidak sayang dengan korban harta benda atau nyawa diri sendiri sekali pun.

Mungkin ini juga penyebab mereka bisa menjadi tokoh pal¬ing besar dari dunia Jiang Hu.

Kawan yang tidak menulis Teman Chu Liu Xiang memang sangat beragam, aneka warna dan dari segala aliran.

Tidak ada yang tahu, sesungguhnya berapa jumlah teman-teman itu.

Tapi, kali ini saya cuma mau menuliskan hanya beberapa orang ini saja.

Karena sekali ini saya tidak akan menceritakan teman-teman, yang tidak ada kaitan dengan beberapa cerita, yang akan dilihat di bawah ini.

Yang kaitannya tidak besar, saya pun tidak menuliskannya.

Chu Liu Xiang kenal banyak dan banyak sekali anak perempuan yang berbeda-beda.

Ada yang wajahnya memikat penuh daya tarik, ada yang lembut penuh kehangatan, ada yang galak dan judes, ada yang manis kekanak-kanakan, ada yang hatinya seperti ular kalajengking, namun, mereka tetap punya titik persamaan.

Ketika mereka berjumpa Chu Liu Xiang, hati sanubari mereka, segera akan meleleh seperti salju musim semi di bawah hembusan angin hangat awal musim panas.

Akan tetapi, saya tidak menganggap mereka itu teman-teman Chu Liu Xiang.

Sebab, saya selalu beranggapan bahwa "kasih persahabatan"

Dan "semangat kebenaran"

Di antara laki-laki dan perempuan jarang ada, malah sukar ada.

Karena itu, saya tidak menuliskannya.

Masih ada lagi teman yang sesungguhnya sama sekali bukan teman, yakni yang berkhianat dan menjual teman semudah pisau memotong tahu.

Yang memakan teman seperti kura-kura menelan cucu buyutnya.

Di atas kain brokat bersulam bunga, mengantarkan arang bakar di kala turun salju, budi dibalas tuba beracun, mulutnya semanis madu dan hatinya siap dengan pedang pembunuh, mulutnya sedap menyeru abang sayang, namun mencabut senjata dari ikat pinggang.

Bagi "teman"

Sejenis ini, jika anda mau, apa yang akan saya lakukan?

Pertanyaan dan kabar angin Jika di muka bumi ini, keberadaan seorang Chu Liu Xiang betul nyata, maka, kala dia masih hidup, sudah pasti menjadi tokoh legendaris.

Polemik dan masalah yang ditimbulkan dari seorang tokoh legendaris, tanpa peduli di kala masih hidup maupun sesudah meninggal, lazim sekali akan senantiasa sangat banyak.

Dewasa ini, di pangkal jalan atau ujung gang, baik dijalan besar atau di gang-gang kecil, apa lagi di Kota Tai Bei, semua orang sedang memperbincangkan Chu Liu Xiang.

Satu masalah yang menjadi pusat perhatian.....

Di antara Chu Liu Xiang dan ketiga "bidadarinya" ......Su Rong Rong, Li Hong Xiu dan Song Tian Er, apa ada hubungan tertentu yang istimewa?

Seorang perayu dan pemikat yang romantis seperti Chu Liu Xiang, menghadapi tiga gadis semanis dan seimut-imut itu, dan berada di atas satu kapal bersama-sama, lalu apa yang bisa terjadi?

Bakal terjadi apa?

Jawabannya ialah.

.......Anda bilang, mestinya bagaimana?

Ya begitulah, apa yang anda kehendaki seperti itulah yang terjadi, kiranya yang akan terjadi seperti itu juga.

Setiap orang tentu punya cara berpikirnya sendiri, jika anda mau berpikir seperti itu siapa pun juga tidak bisa mencegah anda untuk berpikir seperti itu.

Betul tidak?

Mengenai masalah ini, jawabnya paling mudah, sebab masalah ini memang betul juga tidak ada jawabannya.

Sebab Chu Liu Xiang memang tidak punya masa lampau, dan hanya ada masa sekarang dan masa mendatang.

Kesimpulan Sangat banyak cerita mengenai Chu Liu Xiang yang tersebar di dunia Jiang Hu, bahkan yang mendekati cerita mitos.

Ada orang mengatakan, 'dia sudah menguasai ilmu awet muda', ada yang mengatakan 'mampu berubah menjadi ribuan dan laksaan badan wadak, serta terbang melayang di langit dan menyusup ke dalam bumi'.

Hanya satu perkara, semua orang sama pendapatnya.

Jika saja Chu Liu Xiang mau mencuri habis semua celana anda, maka, besok pagi, anda mungkin tidak bakal bisa menemukan secarik apa pun untuk menutupi paha anda, baik kain satin, brokat, sutera atau kain katun, bahkan kulit atau pun bulu dan segala jenis tekstil apa pun juga.

Bahkan, mungkin tidak bisa menemukan selembar kertas yang tidak tembus cahaya sekali pun.

Malahan banyak orang yang percaya, dia mampu mencuri, tanpa anda sadari baik-baik, batang otak yang berada di dalam batok kepala anda.

Yang paling unik, dia cuma mencuri celana dan batang otak, dan hanya mencuri barang-barang yang diharapkan sebagian besar orang, dia sudi mencurinya.

Misalnya dikatakan, bahkan hati jahat pencuri, dan nyali empedu kelompok bandit sekali pun, ini adalah yang dia sukai untuk dicurinya Apakah 'mencuri' semacam ini adalah semacam 'mencuri'?

Atau, hanya semacam seni?

Sekarang, saya mau menulis Chu Liu Xiang lagi, menceritakan 'Kisah Terbaru Chu Liu Xiang’, karena dalam sepanjang kehidupannya, betul-betul dipenuhi kisah-kisah unik, yang tidak bisa tidak dituliskan, dan juga tidak mungkin tidak dituliskan.

Tidak peduli dia pergi ke mana pun, tentu dia akan bertemu dengan orang-orang yang sangat luar biasa, terjadi sejumlah cerita yang sangat luar biasa.

Asalkan ada cerita mengenai dirinya, pasti juga dipenuhi dengan sesuatu kegairahan dan rangsangan yang luar biasa.

Di dalam 'Kisah Terbaru Chu Liu Xiang’, saya sudah siap menulis kembali empat buah cerita tentang dirinya.

Keempat cerita itu semuanya baru, bahkan masing-masing terlepas dan berdiri sendiri.

Keempat cerita yang mau saya tuliskan ini, pada cerita pertama, saya yakin kiranya sebuah cerita yang tidak mungkin diduga anda semua, bahkan bisa membuat semua terkejut.

Sebab, ketika cerita dimulai, Chu Liu Xiang sudah mati.

Jika bisa membuat pembaca terkejut, bukankah ini adalah salah satu tujuan sebetulnya dan tujuan terbesar bagi seorang pengarang?

Oleh karena itu, seandainya saya tidak berniat menuliskan, pun sudah tidak mungkin.

Maka, sekarang saya menyodorkan cerita pertama dari "Kisah Terbaru Chu Liu Xiang".......WU YUE LAN HUA.

Wawancara dengan Gu Long mengenai Kisah Baru "Chu Liu Xiang"

Lin Wu Chou Berjumpa kembali dengan Gu Long, kelihatannya dia lebih kurus dibanding dulu. Gu Long tidak boleh tidak lebih kurusan. Sebab "Chu Liu Xiang"

Telah menggemparkan Taibei, Zhen Sao Qiu membawakan acara "Lai Lai" , sehabis siaran teve Republik Tiongkok di Taiwan, langsung pindah ke teve Hua Se, bahkan ketika Departemen Kehakiman juga bicara Chu Liu Xiang, belum ada orang yang menanyai bagaimana pendapat Gu Long sendiri.

"Chu Liu Xiang"

Diciptakan oleh Gu Long, ketika semua bicara Chu Liu Xlang, malahan tidak ada yang ingat dia adalah tokoh di bawah pena Gu Long, menganggap Zhen Sao Qiu adalah Chu Liu Xiang sejak kelahirannya.

Dalam masyarakat kita ini, sepertinya siapa pun berhak menentukan nasib Chu Liu Xiang, kecuali Gu Long.

Kurusnya badan tidak mengurangi semangat ksatria Gu Long, dia masih tertawa menggetarkan genteng rumah, sekali menenggak segelas besar arak keras bisa dihabiskan.

Akan tetapi katanya.

"Sekali ini saya mau membuat Chu Liu Xiang mati!"

"Apakah anda berniat membunuh Chu Liu Xiang? Jangan main main ya! Anda bisa dicaci maki dan diludahi oleh masyarakat."

"Sekali orang harus mati, pendekar juga tidak terkecuali, pengelana juga sama,"

Kata Gu Long.

"Chu Liu Xiang tidak bakal mati, karena dia pernah hidup di dalam hati beribu-ribu bahkan berjuta-juta orang,"

Kata saya.

"Sekali ini Chu Liu Xiang dari awal mulanya sudah orang mati."

Gu Long juga tertawa. Tertawa lantang, juga tawa misterius. Dalam menulis kembali kisah aneh Chu Liu Xiang "Wu Yue Lan Hua"

Apakah Chu Liu Xiang benar mati? Gu Long menenggak segelas brandy, katanya.

"Ini baru diketahui sesudah membaca ceritanya."

Mengenai Chu Liu Xiang, sekalipun ada kalanya menjadi merk tempat gunting rambut, ada kalanya dia menjadi bermacam-macam merk di iklan, Gu Long tetap membanggakannya. Katanya.

"Chu Liu Xiang dalam beberapa tahun ini, merupakan tokoh fiktif yang paling diperhatikan orang. Ada kalanya dalam suatu periode waktu, hampir setiap hari muncul di iklan film di koran, bahkan pernah memasuki halaman kedua dan halaman ketiga."

Kata Gu Long.

"Beberapa tahun terakhir di kedai-kedai pinggir jalan, masih adakah tokoh cerita bisa seperti Chu Liu Xiang menjadi bahan perdebatan tiada habisnya?"

Pada hari kita minum arak bersama, para juru masak di dapur rumah makan sedang berdebat tiada hentinya mengenai Chu Liu Xiang.

Sekelompok mengatakan.

Xiang Shi bisa menikahi Rong Rong.

Sekelompok mengatakan, Xiang Shi akan menikahi Shen Hui Lin.

Mereka terus berebut dan tidak mendapatkan kesimpulan, akhirnya direktur rumah makan mengatakan.

"Gu Xian Sheng sedang makan di rumah makan kita, mengapa tidak tanya dia saja?"

Gu Long mendengar itu tertawa terbahak bahak! Kata seorang teman.

"Orang bilang kawin pertama kali karena ingin tahu, kawin kedua kali karena bodoh, kawin ketiga kali karena sudah gila."

"Chu Liu Xiang memang genius, bukan orang gila."

Jawaban Gu Long memang agak istimewa. Orang yang suka Chu Liu Xiang, tidak bisa tidak bisa menanyakan.

"Bagaimana Gu Long bisa menciptakan Chu Liu Xiang?"

"Menciptakan?"

Kata Gu Long.

"Chu Liu Xiang eksis di dunia ini secara alami, setiap masa tentu ada tipe pendekar kelana"

"Jika dikatakan pemikiran saya adalah kulit telur ayam, Chu Liu Xiang adalah sebuah palu,"

Kata Gu Long.

Sewajarnya ada suatu motivasi?

Motivasi terjadi pada banyak tahun yang silam.

Jaman itu Sean Connery dengan 007 sedang melanda Tai¬wan, ibarat sebuah badai menghunjam Taiwan.

Dan yang pal¬ing kena pengaruhnya adalah Gu Long ini.

Kelakuan 007 yang kejam tapi anggun.

Tenang, tapi bisa meledak dalam waktu sekejap.

Tegang, namun setiap saat mampu menghibur diri dengan humor.

Senyum, tapi bisa menghadapi kegagalan besar.

Beberapa macam watak ini, membuat Gu Long menciptakan Chu Liu Xiang.

Banyak orang salah menganggap dunia Wu Ma sebagai sebuah dunia kekerasan, darah muncrat 5 chi, tameng dan tombak hanya dalam tujuh langkah.

Chu Liu Xiang adalah suatu kekecualian, juga kesenian, sedari dulu dia tidak pernah membunuh orang, dia tidak terhindar dari kekerasan, akan tetapi Gu Long bilang dia merupakan "kekerasan yang anggun".

Apa yang dimaksudkan dengan "kekerasan yang anggun"?

Waktu awal-awal memulai cerita Chu Liu Xiang, selembar memo yang ditulis Gu Long paling bisa menyatakan ini!

"Saya dengar anda memiliki perempuan cantik dari batu yade (giok) putih, diukir tangan terampil, sangat menyatakan keelokannya, membuat saya sangat mendambakannya, tengah malam ini tepat, saya akan datang dengan diantar sinar bulan purnama.

Anda biasanya sangat murah hati, semestinya akan membuat saya tidak pergi dan pulang sia-sia."

Ini adalah "kekerasan yang anggun".

"anggun"

Semacam ini, kurang dimiliki para pahlawan Tiongkok di jaman kuno.

Agar Tiongkok juga memiliki tokoh sejenis ini.

Gu Long menciptakan Chu Liu Xiang.

Keanggunan Chu Liu Xiang, menurut Gu Long bukan jenis ganteng, muda dan bebas merdeka.

Dalam hatinya, Chu Liu Xiang, adalah tokoh yang sudah mengalami berlapis-lapis kegagalan, berlapis-lapis ujian, berlapis-lapis perjuangan, berapis-lapis guncangan cinta yang erotis, yang secara alami tercermin dari penampilan luarnya yang sudah membaca kehidupan yang "anggun" , karena itu, dia mengajukan persyaratan lebih tinggi pada Chu Liu Xiang yang akan dilayar-kacakan dibandingkan orang lain.

"Tokoh dalam cerita seringkali lebih kaya dari pada yang ditampilkan dalam televisi, karena dia bisa dikaitkan dalam pemikiran orang. Seperti kita melihat suatu gambar pemandangan yang jauh lebih cantik daripada kenyataan sesungguhnya. Ketika Chu Liu Xiang tampil dalam televisi, segera saja dia kehilangan banyak sekali sifat-sifat istimewanya."

Gu Long juga tidak puas terhadap beberapa tokoh sekitar Chu Liu Xiang, terutama Hu Tie Hua.

Orang yang pernah membaca cerita Gu Long tentu tahu, Hu Tie Hua adalah seorang tokoh yang menitikberatkan cinta kasih, bahkan tidak kalah dari Chu Liu Xiang.

Hu Tie Hua dan Chu Liu Xiang sama-sama menyukai arak, menyukai perempuan, menyukai ikut campur urusan orang lain, suka membela yang lemah melawan yang kuat.

Masalahnya ialah, perempuan yang menyukainya, dia tidak suka, dan perempuan yang disukainya, selalu tidak suka dia.

"Jika dikatakan Chu Liu Xiang adalah pendekar kelana, maka Hu Tie Hua adalah pengelananya,"

Kata Gu Long. Karena dalam hati Hu Tie Hua ada semacam perasaan "meratapi alam semesta dan menyesali nasib manusia, namun juga sangat sedih karena tidak berdaya"

Kepedihan hatinya yang sering mendorong dia memasuki jalan ekstrim, dia tidak terbiasa menyaksikan begitu banyak peristiwa di dunia, dan dia tidak mampu memperbaikinya, sehingga sehari-hari dia bermabuk-mabukan.

Akan tetapi, dalam hati Gu Long, Hu Tie Hua bukanlah seorang bodoh yang tahunya cuma minum arak saja.

Jika kita katakan, dalam cerita Gu Long tujuan paling utamanya ialah menceritakan kesetiakawanan antar teman, Menceritakan teman yang kedua pinggangnya tertancap belati.

Menceritakan teman yang berani menghadapi bahaya dan kesukaran.

Menceritakan teman yang sepuluh ribu kali mati pun tidak menyesal.

Menceritakan teman yang menyembah kaisar langit dan ibu suri bumi.

Maka kita bisa mengatakan, Chu Liu Xiang dan Hu Tie Hua adalah sepasang teman yang sulit dilupakan.

"Pendekar Kelana"

Dan "Pengelana"

Juga punya banyak persamaan, perjalanannya malang melintang dan terbawa hidup ke mana saja pergi, keempat samudera dijadikan rumah, mengendarai kuda sampai ke batas langit dan ujung dunia.

Akan tetapi.

"Pendekar Kelana"

Dan "Pengelana"

Pada hakekatnya tidak sama, yang satu setiap pagi hari menyambut fajar menyingsing, yang satu lagi setiap hari suka menikmati indahnya teja senja.

Chu Liu Xiang dan Hu Tie Hua memang begini.

Mereka adalah teman yang paling baik, sekali pun dua or¬ang yang sama sekali berlainan, juga paling baik.

Seperti halnya kali dan gunung memang berbeda, namun awan dan bulan masih tetap yang sama.

Teman di bawah pena Gu Long, selalu adalah teman yang bisa membakar diri sendiri untuk jadi obor penerang jalan bagi diri sediri dan temannya, untuk menyinari jalan di depan, semuanya siap melintangkan golok membedah perut mengeluarkan hati dan empedu merahnya, berkorban untuk teman, semua bisa melepas satu kata ya, dan tidak bisa ditukar oleh seribu liang (tail) emas.

Alasannya masih bisa ditelusuri kembali kepada akar budaya tradisional, yakni semangat setia kawan berani berkorban nyawa untuk sahabat yang paling dekat dalam hati, Yan Ling Qui Zi yang menggantungkan pedang, sangat romantis, juga Bo Ya dan Zhung Zi Qui yang memutus dawai kecapi pada akhir lagunya.

Ini adalah bagian paling berharga dari cerita Gu Long.

Sekaligus juga tempat idaman bagi Chu Liu Xiang dan Hu Tie Hua.

Kesetiakawanan tokoh-tokoh Wu Xia tidak terlihat dalam sehari-hari, akan tetapi kala sedang menghadapi masalah besar, etika besar, pilihan benar dan salah yang menentukan, mereka bisa bagai gunung api mendadak meletus memuntahkan lava dan lahar panas, yang menyatakan sesuatu yang bukan dimiliki setiap orang dan menunjukkan ketetapan hati dan keberanian yang luar biasa.

"Ketetapan Hati dan Keberanian"

Adalah budi pekerti ciri khas orang dunia Jiang Hu, juga budi pekerti Chu Liu Xiang dan Hu Tie Hua yang sulit dilupakan orang.

Chu Liu Xiang sudah muncul di dunia Jiang Hu-nya Gu Long selama bertahun-tahun.

Akan tetapi Gu Long hanya menuliskan tujuh buah cerita.

"Semerbak Harum Lautan Darah".

"Padang Gurun Besar".

"Burung Hua Mei".

"Kisah Aneh Kelelawar".

"Kisah Aneh Bunga Tao".

"Pinjam Mayat Kembalikan Arwah".

"Kisah Aneh Bulan Baru". Sekarang ini mau dimuat serial "Wu Ye Lan Hua"

Yang merupakan cerita Chu Liu Xiang yang kedelapan.

"Saya masih mau menulis empat buah buku Chu Liu Xiang,"

Kata Gu Long.

"Orang seunik Chu Liu Xiang, banyak centa bisa dituangkan untuk dia, seringkah mau berhenti menulis pun sudah tidak mungkin lagi."

"Kalaulah dia begitu unik, mengapa berhenti menulis selama beberapa tahun?"

Gu Long merenung sejenak.

Dia selama beberapa tahun tidak menulis Chu Liu Xiang, ada tiga alasan ..Karena kerusuhan Nian Song Ge..Karena bercerai, isteri dan kekasih semuanya pergi jauh..Karena hasil penjual tiket filmnya 'Satu Tawa Malaikat Pedang"

Dan "Reinkarnasi Pahlawan"

Kurang bagus.

Gu Long adalah orang Jiang Hu.

Orang Jiang Hu juga orang, tidak terlepas suka dan duka, riang dan marah, sehingga dia tidak punya niat menulis kembali Chu Liu Xiang.

Menuliskan kembali Chu Liu Xiang, suasana hatinya bagaimana ?

"Saya menulis dari kematian Chu Liu Xiang, ada maksud terselubung setelah mati dia hidup kembali.

Suasana hati dan kehidupan saya yang mengalami perubahan, mempengaruhi perubahan suasana hati dan kehidupan Chu Liu Xiang, karena itu cerita ini tidak sama dengan cerita-cerita terdahulu."

Gu Long beranggapan, seorang pengarang cerita sebelum mampu memecahkan pembatasan dirinya sendiri, tumbuh kembali dari abu debu, maka pengarang ini segera saja sudah mati.

Gu Long tidak mau menjadi pengarang 'mati', karena itu dia mau hidup kembali bersama dengan Chu Liu Xiang.

Chu Liu Xiang dalam "Cerita Baru" , masih tetap menceritakan Chu Liu Xiang dan temantemanya, hanya saja gaya dan langgamnya sudah berubah.

Satu-satunya yang tidak berubah adalah "Yi Qi"

Antara teman. Berbicara sampai pada "Kerusuhan Nian Song Ge"

Gu Long menggulung lengan bajunya dan menunjukkan bekas sebuah luka yang masih merah dari tusukan belati, dia tertawa terbahakbahak, katanya.

"Waktu saya terluka, rumah penuh dengan tamu, semua teman datang menjenguk, betul-betul suatu masa yang sangat riang gembira."

Ini adalah persahabatan antar teman.

Ini adalah Gu Long, segala sesuatu seperti asap melintas di hadapan mata, dan di hadapannya, hanya segelas arak, sederet suara tawa.

Jika bisa memandang tawar masalah ini, akan menjadi suatu seni.

Ceritanya juga sama, dia menceritakan Guru Maling Xiang Shi Chu Liu Xiang, yang ditulis bukan maling kecil, melainkan seniman, dia menceritakan si kucing mabuk Hu Tie Hua, yang ditulis bukan pemabuk, melainkan seniman, dia menceritakan si pembunuh Yi Dian Hong, yang ditulis bukan jagal, melainkan seniman, dia menceritakan penggoyang lidah Tian Er, yang ditulis bukan koki juru masak, melainkan seniman ......dia punya satu ambisi besar, sekali pun orang biasa, juga dikenai dengan penanganan seniman.

Cerita Gu Long adalah dunia alam impiannya, yang juga dunia alam impian banyak orang.

Berapa lama tidak Jumpa dengan Gu Long, kemampuannya minum arak juga sudah sedikit berbeda dengan masa lampau.

Saya tanya dia apa alasannya?

Katanya.

"Dalam badan saya ada 2.800 cc darah, waktu mengalami musibah ditusuk belati di Nian Song Ge, barang kali yang 2.000 cc adalah darah orang lain, bagaimana mungkin darah orang lain bisa minum arak sebanyak darah saya?"

Sama dengan itu, barang siapa pernah membaca karya asli Chu Liu Xiang, pasti bisa menemukan Xiang Shi-nya tidak sama dengan yang ada dalam televisi atau dalam film bioskop layar lebar, karena yang dalam karyanya yang mengalir adalah darah dari Gu Long sendiri.

Sekali ini, Gu Long berjalan ke dalam deruan angin, mengunjungi sebuah jalan tua yang sunyi senyap, dia membawa kembali seorang Chu Liu Xiang yang baru.

tidak peduli ke mana pun dia pergi, selalu dia jumpai orang-orang yang tidak sama dengan yang lain, dan terjadi serangkaian peristiwa yang jauh dari biasa.....Sang Guru Maling Chu Liu Xiang!

)oooo(

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 081721751

Baca Juga: Anak Rajawali 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert