Eps 2 Anggrek Tengah Malam - Khu Lung
Baca online Anggrek Tengah Malam - Khu Lung
Cersil Anggrek Tengah Malam - Khu Lung.
"Dia tidak luka, juga bukan cacat, mengapa tidak berjalan sendiri? Mengapa tidak mencari seekor kuda dan menungganginya?"
Zhu Ru tidak membuka mulut.
Ini pun bukan pertanyaan yang cerdas, malahan pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan, pertanyaan ini cuma patut ditanyakan kepada Mu Rong pribadi.
Pertanyaan yang bodoh sesungguhnya tidak perlu dijawab, akan tetapi sekali ini, Si Lu Xian Sheng malahan berkata.
"Pertanyaan ini betul-betul sangat bagus. Jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, jika bukan karena dia terlalu bodoh, tentunya karena dia terlalu pintar. Dan juga di situ pasti ada masalah."
"Mu Rong yang ini kelihatannya bukan amat bodoh."
"Dia sama sekali tidak,"
Kata Si Lu Xian Sheng.
"Dia bahkan mungkin jauh lebih pintar daripada yang bisa kita bayangkan."
"Ooohhh?"
"Paling sedikit dia tahu ada keuntungan dengan duduk di atas kursi dan diusung orang lain."
"Keuntungan apa?"
"Duduk di kursi, tidak hanya enak, bahkan bisa berhemat tenaga."
Zhu Ru melanjutkan dengan nada datar.
"Kita tunggu dia di sini, sesungguhnya, kita menarik sedikit keuntungan, tidak lelah menghadapi yang lelah, tenang menantikan musuh yang sudah penat. Tapi kita semua sekarang sedang berdiri, dan dia duduk, malah berubah jadi sebaliknya, dia yang santai dan kita yang lelah. Dia yang menanti musuh yang sudah penat."
Da Lao Ban tertawa besar.
"Bagus, ungkapan yang bagus."
Tanyanya kepada Zhu Ru.
"Mengapa kau tidak segera menyuruh orang mengambilkan sebuah kursi untuk duduk?"
Tempat duduk kursi dibuat dari sutera satin berwarna biru hijau yang lebih tua daripada biru tua, halus, licin dan lemas seperti beludru bulu angsa langit.
Mu Rong yang mengenakan jubah terusan dengan warna yang sama, berleha-leha dengan santai duduk di atas kursi itu, sehingga wajahnya serta kedua belah tangannya yang pucat semakin menonjol jelas warnanya.
Kedua orang yang mengangkat kursi itu, badannya sangat pendek, bahunya sangat lebar, sehingga kelihatannya seperti persegi betul.
Kedua belah pahanya berlari seperti terbang, badan atasnya seperti tidak bergerak sedikit pun.
Mu Rong duduk tegap, seperti sedang duduk di ruang kecil yang dipenuhi karpet Persia di rumahnya.
Ini bukan sebuah tandu kecil, tapi hanya merupakan sebuah kursi yang ditambatkan pada dua batang galah bambu, dan mudah membuat orang salah mengira sebagai sebuah tandu kecil.
Tandu mestinya tidak bergerak, kursi mestinya diam, keduanya bukan benda yang sama, tapi dalam semacam kondisi, malah seringkah dianggap sama jenisnya.
Bukankah manusia juga sama, dua orang yang sama sekali tidak sama, tidakkah juga sering salah dianggap sama jenisnya, ada kalanya bahkan salah dianggap sebagai manusia yang sama.
Di dunia ini banyak masalah yang memang juga demikian.
Xiu Xiu menempel di sisi badan Mu Rong, tidak berjarak sejengkal pun.
Selain itu masih ada empat orang lagi, umurnya sudah tidak terlalu kecil, gayanya pun tidak rendahan, sikap gayanya tetap santai, seolah-olah tidak ada apa-apa, sepertinya sedang melangkah berjalan-jalan.
Akan tetapi mereka menguntit dekat di belakang kedua or¬ang pengusung tandu, selangkah pun tidak tertinggal.
Yang lain bisa seperti berlari tujuh delapan langkah, mereka cukup dengan santai melangkah sekali saja, saat kaki mereka menyentuh bumi, bertepatan saat langkah kaki kedelapan orang itu sampai di bumi.
Pada tubuh setiap orang, masih memikul beban peti besar yang siapa pun bisa mengetahui pasti sangat berat.
Semacam peti terbuat dari jati merah, yang di atasnya dililiti dengan batangan kuningan, seandainya peti kosong, bobotnya juga tidak akan ringan.
Sudah barang tentu petinya tidak kosong.
Di saat akan dilakukan pertempuran penentuan mati hidup, siapa pun tidak mungkin mengusung empat buah peti kosong untuk mendatangi medan tempur, akan tetapi siapa pun juga tidak tahu peti itu berisi barang apa saja.
Kedelapan orang yang mengikuti mereka di belakang, langkah kakinya sudah tidak santai seperti yang terdahulu.
Di belakangnya lagi ada enam belas orang.
Selanjutnya tiga puluh dua orang.
Ketiga puluh dua orang yang menyertai mereka, jika tidak mau tertinggal, sudah harus berlari cepat untuk menyusul terus.
Jika melihat rombongan orang ini memasuki jalan tua di kota kecil itu, Tie Da Lao Ban mendadak bertanya kepada Si Lu.
"Kau lihat berapa banyak jumlah mereka yang ikut ke sini?"
"Aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya,"
Kata Si Xian Sheng.
"Aku cuma bisa tahu mereka terdiri dari enam kelompok."
"Ada berapa orang dalam satu kelompok?"
"Kelompoknya berlainan, banyaknya juga tidak sama. Kelompok pertama hanya terdiri dari dua orang."
"Satu orang yang duduk di atas kursi, satu orang berada di samping kursi."
"Memang benar."
"Bagaimana dengan kelompok kedua?"
"Kelompok kedua terdiri dari empat orang, kelompok ketiga ada delapan orang, kelompok keempat ada enam belas orang, kelompok kelima ada tiga puluh dua orang."
"Kelompok kedua yang terdiri dari empat orang, aku mengenali tiga,"
Tie Da Lao Ban memincingkan matanya.
"Ketiganya petarung yang handal sekali!"
"Memang begitu."
"Akan tetapi kulihat, satu di antaranya yang paling hebat, dan masih tetap satu orang yang aku belum mampu mengenalinya itu."
Seorang yang badannya tinggi dan kurus, dengan kepala luar biasa besar, sehingga nampak, seperti sebuah pier ditancapkan pada sebatang sumpit makan.
Seorang yang demikian penampilannya, sudah barang tentu akan membuat orang merasa sangat geli, akan tetapi di muka bumi ini, barang siapa yang menganggap dia itu lucu menggelikan, agaknya sudah tidak banyak lagi jumlah orang yang tersisa.
Jika saja ada seratus orang yang menganggapnya lucu menggelikan, rasanya paling sedikit ada sembilan puluh sembilan setengah yang sudah mati di bawah pakunya.
"Yang kamu maksud tentunya Ding Xian Sheng."
"Kukira memang dia. Nama aslinya memang Ding Zi Ling." (Ding Zi dalam bahasa Tionghoa ialah paku).
"Ding Zi ling?"
Wajah Da Lao Ban bahkan bisa ikut berubah! "Ding Zi Ling, Ding Zi Ling, sekali dipaku, orang pasti mati."
"Memang betul, paku ini memang mengerikan, mujurnya aku bukan kayu, juga bukan dinding tembok, aku tidak perlu takut apa pun juga."
Katanya lagi.
"Aku hanya merasa heran sekali."
"Heran apanya?"
"Kelompok pertama dua orang, kelompok kedua empat, kelompok ketiga delapan, kelompok keempat enam belas, kelompok kelima tiga puluh dua. Kuhitung-hitung, paling banyak juga ada lima kelompok, mengapa kau katakan ada enam kelompok?"
Dua orang yang wujudnya persegi, hampir sama dengan kotak jajaran genjang utuh, bukan saja lebarnya sama, malah tebalnya pun hampir sama.
Melihat kepada kedua orang itu, seperti dua buah 'man tou' (sejenis panganan mirip bak pao tanpa isi daging, sebagai nasinya penduduk Tiongkok timur laut dan utara) yang diletakkan di dalam kotak persegi.
Kelihatannya dunia ini tidak terlalu kecil, tapi kalau mau menemukan dua orang berbentuk demikian, tetap bukanlah hal yang mudah.
Mendadak sekali, wajah Tie Da Lao Ban mengejang kembali.
Selanjutnya dia mengeluarkan perintah langsung yang sederhana, dengan gaya yang biasa dipakainya.
"Sasaran serangan pertama kita adalah kelompok kedua dan kelompok ketiga, semuanya berjumlah dua belas orang, ditumpas musnah sekaligus. Ketika sinyal yang sudah kita sepakati bersama dikeluarkan, aksi harus segera dimulai."
Katanya lagi.
"Aksi gerakan kali ini, harus sudah diselesaikan tuntas di dalam waktu empat kali tepukan tangan."
Si Lu tersenyum.
Bukan saja dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Da Lao Ban, bahkan sangat setuju.
Kelompok ketiga dan kelompok keempat, sekalipun jumlah orangnya banyak, tapi kekuatannya terlalu lemah, tidak perlu dimulai dari situ.
Kelompok keenam dengan kedua orang berwujud kotak persegi itu terlalu kuat, tidak boleh disentuh duluan.
Karenanya, kita harus mulai menyerang dan yang di tengah dulu, memotong kepala dan ekornya.
Seseorang jika bisa menjadi Da Lao Ban sesungguhnya, sudah pasti bukan sesuatu hal yang mudah.
Si Lu Xian Sheng tersenyum, mendadak dia mengacungkan tinggi-tinggi sepasang tangannya yang seperti tangan perempuan cantik itu, dengan cepat dia melakukan beberapa gerakan isyarat tangan yang indah.
Sudah barang tentu ini semacam bahasa isyarat yang sangat rahasia, selain beberapa petugas sutera kematian yang berada di bawahnya, tidak akan ada orang lain yang bakal mengerti apa yang dimaksudkannya.
Hanya di dalam waktu sekejap, tanpa ragu semua perintah Da Lao Ban sudah disampaikan langsung kepada anak buahnya.
Kemudian dengan tersenyum dia berkata.
"Jenis manusia itu sebetulnya sangat bodoh. Setiap orang tidak ingin mati, dengan seribu satu akal juga ingin tetap hidup terus, akan tetapi juga ada kalanya begitu bodohnya sampai seperti ngengat (sejenis kupu-kupu) malam yang terus mau menyergap nyala api terbuka."
Ada nyala bara api terbuka, baru bisa ada sinar cahaya terang.
Proses pembakaran ini, sangat tragis dan megah, namun sekaligus sedemikian indah dan cantiknya.
Ngengat malam (sejenis kupu-kupu malam) yang menyambar nyala api terbuka, apakah betul sebodoh seperti yang dibayangkan oleh para pelaku Si Lu (jalan sutera) itu!
Pada waktu ini, orang-orang dalam satu rombongan Mu Rong sudah berjalan sampai di depan toko P & D Sheng Ji.
Pada suatu lokasi lembah yang sangat tersembunyi di pegunungan besar Kun Lun, terdapat sebuah rumah besar yang dibangun dari bongkahan besar batu berwarna putih, tersembunyi di antara setumpukan karang putih, dikelilingi tebing-tebing terjal setajam pedang pusaka yang sangat tajam, yang bisa sangat menggiriskan.
Di sekeliling rumah besar itu, ada gundukan salju yang tidak pernah mencair selama bertahuntahun, awan kabut tebal yang tidak pernah buyar, asap awan yang sepanjang hari selalu menyelimuti sekelilingnya.
Siapa pun tidak ada yang tahu, sejak kapan bangunan batu putih ini mulai dibangun?
Dan siapa saja penghuni di dalamnya?
Sesungguhnya, tidak banyak orang yang betul-betul pernah menyaksikan penghuni rumah ini.
Dalam sebagian besar waktu, bangunan ini seolah-olah sudah lenyap di dalam awan asap putih yang menyelimuti sekelilingnya sepanjang tahun.
Batu putih yang dipakai sebagai bahan bangunan rumah, setiap bongkahnya paling sedikit bisa mencapai berat sembilan ratus lima puluh buah batu bata dan bahan yang terbaik.
Yang paling berat bahkan mungkin masih beberapa kali lipat lagi bobotnya.
Dengan kontur pegunungan yang begitu menggetarkan or¬ang, bagaimana bongkahan batu besar itu bisa diangkut ke atas?
Berapa banyak tenaga kerja dan material yang perlu dikerahkan untuk mengerjakannya?
Seandainya saja diperoleh dari pertambangan yang berada di sekeliling lokasi, hal itu tetap saja sebagai sesuatu yang menggemparkan pendengarnya, dan tetap sebagai sesuatu yang tidak dapat dibayangkan.
Bentuk model bangunan yang megah mentereng, dengan struktur konstruksi yang teliti dan cermat, sekali pun terjadi gempa bumi yang meruntuhkan gunung dan merekahkan bumi, dia akan tetap tidak bakal menunjukkan gejala akan rontok.
Sekali pun wujud luarnya dari batu-batu putih yang terlihat kasar dan tidak melalui proses penghalusan, hingga wujud luarnya terlihat megah, tapi kurang indah melainkan sederhana, namun bagian interiornya, sangat halus, mewah dan mentereng, sangat sulit dibayangkan oleh siapa pun juga, dan mendekati yang ada dalam kisah-kisah mitos.
Bagian dalam rumah besar itu terdiri dari tiga tingkat, dua tingkat di bawah tanah, satu tingkat di atas tanah, keseluruhannya terdiri dari ruang besar dan kecil sebanyak tiga ratus enam puluh buah, ruang yang paling besar, katanya bisa menampung pertemuan seribu orang.
Ketiga ratus enam puluh ruangan, sudah barang tentu telah melalui perencanaan yang amat teliti, di dalamnya berisi berbagai macam benda mainan dan pusaka mustika, yang bahkan tidak pernah muncul di dalam berbagai khayalan yang bisa dipikirkan, malahan di dalam suatu ruangan pembantu yang paling rendah statusnya pun digelar permadani terbaik hasil pekerjaan yang sangat halus dari Persia.
Hanya satu ruangan yang dikecualikan.
Ruangan ini berada tepat di pusat rumah besar, akan tetapi di ruangan ini hampir tidak ada apa apanya.
Dinding tembok yang putih mulus, atap rumah yang putih mulus, sebuah pintu yang sempit, dua jendela kecil, sebuah meja, sebuah kursi, sebuah ranjang, sebuah bantal kapuk putih, selembar selimut katun putih, dan seseorang yang mengenakan jubah panjang katun putih, yang kelihatannya seperti seorang pelaku tapa fakir.
Meja kayu yang sangat besar, besar sekali.
Di atasnya bertumpuk berkas yang dijepit dengan papan tebal dari kertas putih.
Pada setiap berkas terkandung satu rahasia, dan setiap rahasia dapat menggemparkan Wu Lin (Bu Lim = dunia persilatan).
Jika ada seseorang mengungkapkan isi berkas-berkas ini di dunia Jiang Hu bakal terjadi entah berapa banyak tokoh ksatria dan perwira kosen laki-laki maupun perempuan yang bakal musnah dari catatan sejarah.
Di dalam berkas-berkas ini, sudah barang tentu jelas sekali tercatat mengenai tokoh Chu Liu Xiang.
Segala sesuatu mengenai perjalanan hidup Chu Liu Xiang.
Siapa leluhurnya, letak rumahnya, tanggal dan tempat kelahirannya, masa kecilnya, masa kanak-kanaknya, teman bermainnya, pertumbuhannya, pergulatan dan perjuangan hidupnya, masa kebangkitan nya, jadi tenar namanya, dan segala macam kisah aneh pengalaman yang pernah dilaluinya.
Selain itu, sudah barang tentu masih ada para kekasihnya yang hangat dan romantis.
Di kulit asli setiap berkas, diberi catatan ringkasan isi di dalamnya, di antaranya ada yang di tandai dengan hal-hal yang sangat menarik.
"Meninjau Kecenderungan Ilmu Silat dan Jurus Silatnya dari Mainan Di Masa Kanak-kanak."
"Melihat Pilihan Ibu Susu Di Masa Kecil dan Pilihan Jenis Wanita Yang Paling Memikatnya."
"Hidung Chu Liu Xiang dengan Obat Bius."
"Chu liu Xiang dan Shi Kuan Yin."
"Chu Liu Xiang dengan Shui Mu."
"Chu Liu Xiang dengan Hu Tie Hua, serta sikapnya terhadap teman."
"Hobi dan Kebiasaan Chu Liu Xiang terhadap tidur dan makanan."
Isi berkas bukan saja dikelompokkan dengan jelas, bahkan sangat teliti, dan dari tumpukan berkas ini, tidak sulit diketahui, betapa mendalamnya pemahaman orang yang meneliti Chu Liu Xiang itu?
Pemahamannya terhadap Chu Liu Xiang, mungkin lebih banyak daripada Chu Liu Xiang sendiri.
Orang ini memakai kerudung segi tiga dengan jubah panjang berwarna putih, kelihatannya mirip dengan pelaku tapa fakir dari Persia, tidak peduli dalam situasi apa pun, dia senantiasa tidak memperkenankan orang lain melihat wajahnya.
Waktu ini dia sedang mencermati dengan teliti sebuah berkas yang paling tebal dan paling besar, di atas berkas tersebut tertulis jelas.
Kematian Chu Liu Xiang.
Judul ini sesungguhnya sangat mengejutkan para pendengarnya, bagaimana Chu Liu Xiang yang kebasan lengannya bisa mencapai awan mendung, dan langkahnya yang dalam sekejap bisa mencapai ribuan li, bahkan prajurit dan pesuruh setan dari raja neraka sekali pun sulit menyentuh satu sudut potongan pakaiannya, sampai bisa mati?
Akan tetapi, di dunia Jiang Hu diam-diam beredar kabar angin itu, Chu Liu Xiang yang kosen tidak terkalahkan, sekali ini sampai bisa dikalahkan.
Dia kalah, maka dia mati, orang yang tidak terkalahkan dan sampai kalah, umumnya hanya mati.
Akan tetapi, bagaimana bisa terjadi orang yang tidak terkalahkan bisa kalah?
Tumpukan berkas ini, mencatat nama-nama tokoh dan de¬tail-detail mengenai cerita ini, sejak dari awal sampai dengan akhir.
Kabarnya dia mati di tangan seorang perempuan.
Dalam hal ini, segera bisa dirasakan kabar angin ini menyebar bukan tanpa ada sebabnya.
Di dunia ini, jika saja masih ada seseorang yang bisa mengalahkan Chu Liu Xiang, orang ini pasti seorang perempuan, malahan perempuan yang sangat cantik.
Orang sama hatinya, dan hati sama alasannya, di dalam masalah ini, tidak diragukan lagi, kita semua sama anggapannya.
Kabarnya perempuan ini bermarga Lin.
namanya Lin Huan Yu.
Sudah barang tentu Lin Huan Yu sangat cantik, akan tetapi siapa pun juga tidak ada yang tahu seberapa cantik dia itu, karena siapa pun tidak ada yang pemah melihatnya.
Akan tetapi yang bisa membuat Chu Liu Xiang mabuk kepayang jatuh cinta kepadanya, tidak usah diragukan, pasti adalah ratu kecantikan sejagat yang meruntuhkan negara dan merontokkan kota, dalam hal ini, tanpa perlu menyaksikan sendiri, siapa pun bisa membayangkannya.
Bahkan dia merupakan keluarga saudara misan dari keluarga Mu Rong di Jiang Nan, seorang ratu kecantikan sejagat raya, wajahnya cantik dan kepandaiannya menggemparkan dunia, saudara misan segaris keturunan dari Mu Rong Qing Cheng.
Jika ingin mencarikan pasangan jodoh yang paling sesuai untuk Chu Liu Xiang Shi, mana ada orang lain yang lebih cocok lagi selain dia?
Cerita ini, selain Mu Rong, Huan Yu, dan Chu Liu Xiang, kabarnya masih juga menyangkut sejumlah orang lainnya, sudah barang tentu juga orang-orang yang pernah satu saat menggemparkan dunia, di antaranya termasuk.
Liu Shang Di, yang nomor satu paling tampan di Jiang Nan, pemain pedang nomor wahid, yang nomor satu dalam gaya penampilan, yang punya pedang selemas sutera, yang bisa mengalahkan kekerasan dengan lemah lembut.
Yang mampu dengan sebatang pedang menembus hati orang.
Liu Ru Shi, wanita penghibur paling terkenal di Jiang Nan, cantik jelita seperti buah persik dan prem, memikat hati bagaikan tidak bertulang, matanya sangat besar dan indah, tidak cukup sekedar dipandang sekali saja.
Pemurka dan Guang Dung (Tiongkok timur laut), seorang terkemuka di wilayahnya, seorang yang paling perkasa pada jamannya, seorang pemurka dan pemarah dari Guang Dung, yang dapat merobohkan jenasah tidak terhitung banyaknya.
Dengan memiliki serombongan tokoh atraktif yang sangat menonjol, maka cerita ini sesungguhnya bisa sangat menggemparkan khalayak, tapi yang aneh, orang dunia Jiang Hu yang betul-betul mengetahui dengan jelas cerita ini, justru jumlahnya tidak banyak.
Terutama bagian epilognya, yang mengetahui semakin sedikit lagi.
Mungkin sekali, karena yang mengetahui tidak banyak, maka cerita dari kabar angin yang tersebar, semakin hari semakin banyak juga.
Bahkan ada orang mengatakan, sekali pun Lin Huan Yu itu cantik, tapi peruntungannya tidak bagus, sejak kecil sudah mengidap penyakit mematikan, bahkan seperti ular beracun, bukan saja melilitnya mati, malahan bisa melilit mati setiap orang yang jatuh cinta kepadanya.
Chu Liu Xiang mencintai dia, karena itu juga harus mati.
Akan tetapi, apakah masih ada seseorang yang bisa memberikan bukti bahwa Chu Liu Xiang memang telah betul-betul mati?
Apakah ada seseorang yang betul-betul telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri jenasahnya?
Orang yang mengenakan jubah panjang katun berwarna putih itu, berulang-ulang menelusun dan meneliti berkas ini.
Jika saja ada seseorang bisa melihat wajahnya, tentu akan tahu raut mukanya menunjukkan dia sudah sangat kelelahan, jika ada orang bisa melihat matanya, pasti akan tahu, kedua matanya sudah dipenuhi urat-urat merah.
Jika ada orang bisa menembus melihat keadaan hatinya, pasti juga tahu di dalam hatinya ada satu simpul mati.
Simpul ini sangat sulit dibuka, karena sampai kapan pun dia tidak bakal tahu apakah Chu Liu Xiang sudah mati atau belum.
Untuk menguraikan simpul ini, dia pun sudah tidak tahu lagi, entah berapa banyak tenaga manusia dan material yang telah dikerahkannya, dan entah berapa banyak darah dan hati yang dihamburkannya, Apakah ini disebabkan oleh dendam kesumat?
Sudah barang tentu benar demikian, selain dendam kesumat, apakah masih ada suatu tenaga yang bisa mendorong seseorang mau membayar harga begitu mahal?
Siapakah orang ini?
Mengapa pula memiliki kebencian sedemikian mendalam?
Sampai dengan ketika dia berjumpa dengan satu orang, matanya yang dipenuhi urat darah merah, menunjukkan tanda adanya sedikit harapan.
Orang ini seperti roh halus, memasuki ruangan dengan mendadak meluncur keluar dari pintu yang sempit itu.
Begitu bayangan orang ini berkelebat, matanya melihat sekilas, lampu yang menyala dalam ruangan mendadak padam hanya terdengar suara orang yang seperti hantu iblis itu berkata dengan suara yang rendah dan parau, namun dengan nada sangat gembira.
"Operasi Ngengat Malam sudah dimulai"
Bab Operasi Ngengat Malam Bahkan sampai dengan beberapa tahun kemudian, masih ada orang yang mendiskusikan masalah yang kala itu menjadi pertempuran paling dahsyat ini.
"Menurut riset yang paling baik, operasi kali itu, dimulai tepat jam 00.00 (nol.nol) tengah malam pada tanggal 15, bulan delapan."
"Menurut penyelidikan yang kau lakukan, apakah betul operasi kali itu dinamakan Operasi Ngengat Malam?"
"Betul sekali."
"Aku tidak percaya,"
Kata seorang yang lebih muda.
"Arti operasi ialah penyerangan, ialah menghendaki pemusnahan musuh bebuyutannya."
"Terbang Ngengat Malam menubruk api, sebetulnya untuk bunuh diri."
"Apakah kau mau membuat aku percaya, pendesainan rencana mereka ini, adalah untuk menghancurkan dirinya sendiri?"
"Aku tidak mengatakan demikian."
Yang lebih tua umurnya sepertinya sedang tersenyum misterius.
"Akan tetapi jika saja kau mau berpikir demikian, juga tidak salah."
"Aku tidak mengerti yang kau maksudkan."
Yang berumur lebih tua mendadak menghela nafas panjang.
"Maksud tujuan operasi kali itu, memang betul-betul sulit bisa dibayangkan orang lain."
Tanggal 15 bulan delapan tahun itu, di kota kecil itu, cahaya sinar bulan purnama sangat jernih bersih, langit ribuan li tidak ada awan mendung sama sekali.
Tandu kursi Mu Rong sudah berjalan sampai melewati toko P & D Sheng Ji, jaraknya masih belasan toko, sudah tinggal beberapa meter lagi, sampai di lokasi yang oleh Tie Da Lao Ban dikatakan sebagai Target Panah.
Waktu itu hanya beberapa saat dari tengah malam jam 00.00 (nol.nol) Pada saat itu, dari arah loteng kosong di kedua sisi, mendadak terdengar satu suara ledakan "booommm", sinar lampu lampion yang tidak terbilang banyaknya mendadak padam.
Di dalam kegelapan mendadak, hanya terdengar suara mendesing yang pesat melintasi udara, berkesiuran melintasi angkasa, mengerikan seperti suara gerombolan setan ganas yang sedang menangis malam hari, yang memekikkan tangis berterbangan datang dari alam kubur.
Entah mau merenggut pergi sukma siapa lagi?
Beberapa berkas angin kencang, sepertinya terpusat pada bagian muka tujuh-delapan toko yang berada di seberang toko P & D Sheng Ji.
Anak buah Mu Rong dari kelompok kedua dan ketiga sedang tepat berada di lokasi ini.
Setiap desiran angin bersuara tajam yang memecahkan angkasa, seluruhnya terbang menuju, dan menerkam ke arah badan mereka itu.
Jika saja ini adalah suara setan iblis pencabut nyawa sesungguhnya, maka tetap saja mereka yang menjadi sasaran.
Itu bukan setan iblis, melainkan panah jitu yang kencang, namun yang tetap sama dapat mencabut nyawa orang.
"Mengapa serangan pertama yang dilancarkan Tie Da Lao Ban memakai cara semacam ini?"
Dengan panah dan busur menyerang pendekar Wu Lin, kedengarannya seperti sangat gegabah, karena itu sampai beberapa tahun kemudian, seorang pemuda yang mabuk dalam meneliti pertempuran kali itu, tetap menjadi semakin meragukan kebenarannya.
"Memang benar,"
Jawaban yang tua sangat tegas.
"Yang dipakai memang cara ini, yang dipergunakan juga busur dan anak panah biasa, cuma saja di kedua tepi jalan, seluruhnya ditanam seratus delapan pemanah tersembunyi, setiap or¬ang dibekali 36 batang anak panah berukiran, sedang para pemanahnya punya kemampuan dan sangat ahli dalam melepaskan panah jitu 'berangkai', ketika orang lain baru melepaskan satu batang anak panah, mereka sudah meluncurkan tiga batang anak panah!"
Dia menambahkan lagi.
"Ketika seratus delapan orang menarik busur dan melepaskan anak panahnya, mereka hanya mengeluarkan satu suara 'syyiiiuuut' sekaligus, dari segi ini, kiranya kau sudah bisa membayangkan betapa erat dan kompak kerja sama mereka itu, serta kecekatan respon mereka!"
Begitu perintah rahasia dikeluarkan, tali busur bergetar berbarengan, keseratus delapan pemanah, tanpa sela waktu sedikit pun, selain kesepakatan sebelumnya, respon yang langsung spontan juga tentu perlu sangat cepat.
Sang remaja terdiam, lewat cukup lama baru bertanya.
"Tie Da Lao Ban dan Si Lu Xian Sheng, mengapa tidak memakai pasukan khusus yang sudah dipersiapkan dalam persembunyian itu?"
"Apa yang kau maksud Si Si {Pembunuh Sutera Maut)?"
"Benar "
"Dalam hal ini kau semestinya bisa menyimpulkan sendiri. Sepasukan khusus yang disembunyikan di lokasi yang orang lain sama sekali tidak bisa menduga-duga, jika bukan dalam waktu yang sangat diperlukan, sekali-kali tidak akan dipergunakan, dan mengapa harus membongkar kondisi persembunyian diri sendiri?"
Dia menatap sang remaja, wajahnya sangat bersungguh-sungguh.
"Pasukan khusus tersembunyi sejenis ini, kalau bukan tiba waktu penentuan hidup mati dalam batas selembar rambut, bagaimana pun juga tidak boleh dipakai."
"Akan tetapi,"
Sang remaja masih juga meragukannya.
"Aku masih beranggapan pemakaian tenaga utama dalam serangan pertama kali dengan para pemanah itu, juga sesungguhnya terlalu lemah dan kecil kekuatannya."
"Tidak lemah,"
Kata yang tua.
"Mutlak sama sekali tidak lemah dan kecil."
Dia mengatakan sangat tegas ibarat pemotong batang paku dan pemenggal lempengan besi, akan tetapi dia bukannya jenis orang yang paling suka dan mau menang sendiri saja, karena itu segera saja dia menerangkan lebih lanjut.
"Mempergunakan tenaga serombongan pemanah ini, pal¬ing sedikit mendapatkan tiga posisi segi keunggulan."
Tiga posisi segi apa?"
"Pertama, kelompok Mu Rong dan rekan-rekannya pasti juga seperti kita, sama sekali tidak bakal bisa membayangkan pihak lawan bisa memakai tenaga para pemanah jitu untuk melakukan serangan pertama, bahkan sudah melakukan serangan awal ketika kedua belah pihak belum saling berhadapan muka,"
Kata yang tua.
"Sekali pun sekarang aku bisa melihat agak lebih jelas, akan tetapi, itu hanyalah pemandangan kemudian setelah segala sesuatu terjadi, waktu itu, bagi mereka pasti di luar dugaan."
Di luar jangkauan perkiraan, menyerang kala lawan belum ada persiapan, adalah dalil utama dunia militer sejak jaman dahulu kala, yang paling kuno dan tidak pernah berubah, dari jaman dahulu sampai dengan jaman sekarang.
Setiap ahli strategi, setiap orang jenderal, semua mematuhi pelaksanaannya dengan sepenuhnya.
Sang remaja yang mabuk tergila-gila teori dan ajaran kemiliteran, sudah barang tentu juga semakin tidak punya sesuatu pendapat untuk menentangnya."
Kedua, begitu tali busur berbunyi, cahaya sinar lampu segera padam, menunjukkan bahwa waktu anak panah diluncurkan, sudah mengarah kepada target sasaran, sudah pula membidik tepat sasaran yang diarah.
"Akan tetapi, tar¬get sasaran yang dibidik, sedang berada dalam semacam keadaan yang sama sekali tidak ada persiapan menghadapi serangan, pandangan matanya mendadak menjadi gelap gulita, seperti orang yang baru keluar dari tempat cahaya sinar lampu terang benderang mendadak memasuki tempat gelap gulita neraka jahanam, bukan saja matanya tidak mampu menyesuaikan diri, bahkan suasana hatinyajuga tidak mampu berubah menyesuaikan diri."
Sekali pun kedua hal itu saja sudah cukup, akan tetapi mereka masih menambahkan satu lagi dengan yang ketiga, sebagai pelengkap.
"Keseratus delapan pemanah jitu, sebetulnya paling sedikit untuk menghadapi seratus orang, sekarang keseluruhan daya penyerang digabungkan dengan berpusat di badan mereka, apalagi ditambahi dalam suasana gelap, sangat sulit menghindari serangan senjata rahasia, bahkan kalau pun kita punya kemampuan mendengar desir angin dan dapat menangkap senjata rahasia, ilmu itu akan kehilangan daya gunanya sama sekali."
"Karena yang mau mereka tangkap atau terima, bukan cuma tiga atau lima anak panah saja!"
"Memang benar "
"Kalau dikatakan begitu, apakah ini berarti serangan Tie Da Lao Ban kali ini tidak sepenuhnya berhasil?"
Yang tua tidak menjawab, hanya menebar sedikit senyum tawar.
Tie Da Lao Ban, bukan jenis orang yang sekedar bernyali besar tapi tidak memiliki siasat, serangan pertama mereka, sesungguhnya juga mencakup tiga buah proses operasi yang berdiri sendiri, perlengkapan busur dan anak panah sebetulnya hanya salah satu tahapan di dalam proses saja"
Mata sang remaja mendadak terang bercahaya.
"Tidak salah, proses ini, paling utama bukan untuk menolong orang, melainkan untuk mengacaukan posisi strategis pertahanan lawan."
Yang tua tersenyum.
"Teruskan."
"Untuk menghindari sergapan anak panah jitu kala suara busur bergetar, maka pakar silat setingkat Ding Zi Ling, tidak akan merasakan suatu kesulitan, bahkan begitu suara terdengar, mereka juga sudah menjauh dari lokasi sergapan."
Sang remaja menunjukkan sikap semakin bersemangat."
Akan tetapi, jika posisi strategis sudah dikacaukan, di tengah kegelapan, mau melompat menghindar, berkelit, mengejar, menyergap dan menangkap sasaran, mau tidak mau, di dalam kekacauan akan terjerembab masuk ke dalam perangkap lawan yang sudah dipersiapkan baikbaik.
Buru-buru dia memotong dan bertanya.
"Keadaan ketika itu, bukankah memang demikian?"
Yang tua tertawa gembira semakin keras.
"Benar, ketika itu keadaannya memang demikian."
Dia berkata sambil tersenyum.
"Yang membuat orang tidak habis pikir ialah, orang pertama yang jatuh ke dalam perangkap, justru malahan Yan Chong Xiao."
Tampaknya, sang remaja ini sangat mengenal baik nama-nama para tokoh terkenal dalam dunia Wu Lin (persilatan), maka segera saja dia berkata.
"Apakah yang kau maksudkan ialah Yang Zi Xiang Gong yang mengawini lima orang pelacur laki-laki sebagai gundik."
"Betul sekali,"
Yang tua tertawa.
"Sudah barang tentu hanya dia itu."
Yan Chong Xiao, 53 tahun, pewaris tiga macam Ilmu Silat Fei Yun, Di Zong dan Yan Zi Fei Yun, yang semuanya diakui Jiang Hu sebagai ilmu silat kelas wahid paling canggih.
Ilmu meringankan tubuh kelas wahid, ilmu senjata rahasia kelas wahid, pesilat kelas wahid.
Sudah barang tentu juga orang paling hebat keempat dalam kelompok kedua dalam anggapan Si Lu Xian Sheng.
Hanya terdengar tali busur berbunyi sekali, lampu segera padam, Yan Chong Xiao sudah melesat terbang ke langit.
Sudah barang tentu dia tahu itu bukan tangisan setan iblis, melainkan suara anak panah yang melesat cepat, akan tetapi, dia sama sekali tidak bakal pernah memikirkan ada begitu banyak anak panah maut yang siap menjemputnya.
Segera setelah tembakan rangkaian pertama anak panah jitu itu, Yan Chong Xiao berjumpalitan di angkasa!
Kala tenaga barunya belum terkumpul, dan tenaga lamanya menjelang habis, dari kegelapan kembali mendesing suara anak panah maut menembus udara.
Tidak bisa dibayangkan, bagaimana caranya Yan Chong Xiao, bisa melesat menghindar ke samping dengan menggunakan tenaga dari sisa tenaganya, melintasi bubungan atap rumah dan melayang pergi.
Akan tetapi, sekali ini, ketika badannya jatuh turun ke bawah, dia sama sekali sudah tidak punya tenaga yang bisa dikerahkan sekali lagi.
Bahkan dia sempat merasakan, betapa isi perutnya membludak teraduk-aduk, dan kepalanya juga mulai terasa sangat puyeng dan mabuk tanpa ada hentinya.
Belakangan ini, dia sering mengalami perasaan serupa ini, setiap kali habis berolah raga mempergunakan tenaga dalam sejatinya, dia akan merasakan puyeng pusing karena lepasnya potensi tenaga sejati.
Karenanya, dia sudah mulai memperingatkan dirinya sendiri, ada kalanya dia juga sudah berfikir, bagaimana mendekati perempuan betul yang lemah lembut, halus dan cantik, terutama perempuan yang dadanya terbilang agak datar dan rata.
Hal yang tidak terlalu wajar, selalu saja agak mudah menghamburkan potensi dan tenaga badan orang.
Ketika dia turun sampai di bawah, ternyata adalah gang kecil sempit yang basah dan gelap, tikus-tikus yang lewat jauh lebih banyak daripada manusia, pada salah satu sudutnya tergeletak sebuah rongsokan yang sudah pecah dari kloset kayu lak cat yang tertimbuni berbagai macam sampah.
Kloset ini juga merupakan tempat yang paling bersih dalam gang itu.
Sekali pun Yan Chong Xiao masih tetap dalam keadaan lemah, akan tetapi matanya juga sudah mulai biasa dengan kegelapan, dan dia sangat ingin menemukan suatu tempat untuk bisa duduk sebentar, dia melihat kloset itu, di tempat ini, tidak ada pilihan lain.
Sekali pun dia duduk, tetapi duduknya dalam keadaan siaga dan waspada terpelihara, siap melepaskan 'Tiga Ilmu Maut Yan Zi Fei Yun' yang disimpan dalam lengan bajunya setiap saat diperlukan, dan tempat duduknya di gang buntu itu, juga merupakan posisi lokasi mati, sehingga siapa pun yang datang masuk gang, akan berada di dalam jangkauan lingkup kapasitas kekuatan mematikan dari ketiga belas tembakan maut senjata rahasia yang dimuntahkan dari satu tabung.
Dia sangat yakin, dirinya sangat aman, bagaiman pun seramnya musuh yang datang menyatroninya, dia masih akan tetap menggenggam kesempatan berinisiatif yang paling pertama.
Karena itu, ketika dia mulai duduk, mau tidak mau, dia menghela nafas dengan lega.
Yan Chong Xiao senantiasa merasa sangat puas dengan kemampuan khususnya ini.
Sungguh tidak dinyana, baru saja dia melepaskan helaan nafasnya ini, helaan nafasnya itu mendadak berubah menjadi suatu erangan seram yang keras.
Badannya juga mendadak jadi seperti seekor kucing yang ekornya dibakar dengan api oleh seseorang, dia melompat lurus ke atas dari kloset yang didudukinya.
Meskipun dia tidak punya ekor, tapi di tempat yang semestinya bisa tumbuh ekor, kini malah betul ada ekornya.
Ketika dia melompat ke atas, di tengah 'tempat itu', jelas ada kelebihan sebatang belati — mungkin hanya setengah belati, karena paling sedikit terlihat hanya setengah belati.
Yang setengah, sudah terbenam di dalam badannya.
Belati berada di tangan seseorang, orang ini justru bersembunyi di dalam kloset, tempat yang tidak bisa dibayangkan orang lain.
Yan Chong Xiao melompat ke atas, dia pun ikut melompat ke atas, ujung belati berada dalam tubuh Yan Chong Xiao, sedang gagang belati berada di tangannya.
Jika tubuh seseorang ditanami setengah batang belati yang tertancap di suatu tempat, betapa dia merasakan kesakitan itu?
Kesakitan serupa itu, barangkali bukan sesuatu yang bisa dibayangkan oleh sembarang orang.
Waktu seseorang merasakan kesakitan yang luar biasa, segala tenaga apa pun tentu bisa dikeluarkannya, apalagi Yan Chong Xiao sebetulnya memang memiliki ilmu meringankan tubuh dari "sekali terbang mencapai puncak awan di langit" , oleh karena itu, dalam terjangannya ini, kecepatannya sama sekali tidak berkurang.
Orang yang menggenggam belati malah merasakan belatinya sudah cukup dalam ditusukkan, maka badannya mulai turun ke bawah.
Seorang sedang terbang naik ke atas, dan seorang yang lain sedang melayang turun ke bawah, gagang belatinya masih digenggam di tangan, mata belatinya yang masih tertanam segera terlihat mengikuti turunnya pemegang belati itu.
Karena itu, maka darah segar muncrat seperti pancuran, semprotan air menyiram ke luar dari lokasi mata belati masuk dan keluar tadi.
Yan Chong Xiao mati tanpa bisa memejamkan matanya.
Dia selamanya tidak akan pernah bisa mengira, bahwa masih ada orang yang bisa sembunyi di dalam kloset yang tingginya tidak lebih dari tiga chi dengan garis tengah tidak sampai satu setengah chi (1 chi = 33,33 cm) Dan semakin tidak terpikirkan, sebuah tusukan belati yang mematikannya ini, justru tertancap pada titik paling lemah sepanjang perjalanan hidupnya.
Lu Shen dan Lu Mi merupakan kakak beradik, ilmu silatnya adalah Gua Pi Tie Zhang (Telapak Besi Gantung Lengan), Kai Shan Tie Fu (Kapak Besi Pembelah Gunung), dan berbagai ilmu tenaga luar aliran kekerasan, akan tetapi jalan pikirannya justru cermat teliti seperti menarik benang sutera dari kepompongnya.
Mereka adalah orang-orang dari kelompok kedua, akan tetapi di dunia Jiang Hu, mereka sesungguhnya sudah berada pada kelompok pesilat kelas satu.
Kemampuannya mengetahui posisi dengan mendengarkan desiran angin dari senjata, bisa memisahkan arah gerak anak panah kelompok pertama.
Sesudah bisa menghindari hujan anak panah ini, segera saja mereka dapat menggunakan kesempatan dari celah waktu, dan dapat melesat terbang menyergap ke sini.
Di sini adalah tempat dapur berada, dengan mengikuti perkiraan posisi dan arahnya, semestinya adalah dapur dari ‘Sheng Ji' Dagangan 'Sheng Ji' dari dulu memang ramai sekali, tenaga kerjanya juga sangat banyak, dan karena orangnya harus makan, maka dapur mereka juga dibuat sangat besar, tungku dan kualinya juga serba besar.
Akan tetapi, sekarang, di dalam ‘Sheng Ji', dari atas sampai ke bawah, dari luar sampai ke dalam, tidak ada satu orang pun juga, akan tetapi bara api di tungku besarnya masih menyala, bahkan nyala bara apinya berkobar sangat besar, di dalam kedua mulut tungkunya, pada yang sebelah bertengger sebuah kuali besi yang besar, dan pada tungku sebelahnya terlihat sebuah kukusan besar pula.
Satu orang dewasa pun masih bisa bersembunyi di dalam kuali besar itu, dan satu orang dewasa yang lain masih bisa bersembunyi di dalam kukusan besar itu.
Kedua Lu bersaudara saling pandang sekilas, sudut matanya mengembangkan senyuman, senyuman dingin.
Dalam sesaat itu saja, kedua bersaudara itu sudah melangkah sampai di depan tungku besar tadi.
Yang satu memakai tangan kiri mengangkat tutup kuali besar, yang lain dengan tangan kanan mengangkat tutup kukusan itu.
Kedua bersaudara itu melatih telapak tangannya, yang satu memakai tangan kanan, sedang yang satu lagi melatih tangan kirinya.
Ketika tangan kiri membuka tutup kuali, tenaga tangannya berada di tangan kanan, dan kala tutup kuali terbuka, tangan kanannya menyergap dengan pukulan keras sekali pukul sasaran pasti tewas.
Tidak peduli siapa orang yang bersembunyi di dalamnya akan sama nasibnya.
Ketika tangan kirinya menerkam ke bawah, nasib orang dalam kukusan pasti juga sama.
Satu-satunya yang paling disesalkan ialah, pukulan yang diharapkan ternyata tidak dilakukan, karena tidak ada orang di dalam kuali, pun tidak ada di dalam kukusan.
Orangnya ada di mana?
Kedua bersaudara marga Lu mendadak meraung keras sekali seperti lolongan serigala, dari dalam nyala bara api tungku besar itu, mendadak dua batang besi panas yang sudah memerah menerobos keluar, mendadak juga sudah tertancap di perut keduanya.
Kedua batang besi ini tanpa sedikit suara dan tanpa sedikit gejala pun menusuk ke luar, sampai menusuk ke dalam perut mereka berdua, baru terdengar satu suara "jreeess".
Sesudah suara itu terdengar, mendadak menjadi sunyi senyap kembali.
Setelah mendengar suara tadi, kedua Lu bersaudara menundukkan kepala melihat ke bawah, matanya segera mengungkapkan mimik terkejut dan ketakutan luar biasa yang tidak bisa diungkapkan.
Mereka menemukan perutnya sedang mengepulkan asap, malahan juga mengeluarkan bau sangit bulu terbakar.
Mereka tidak tahan dan mulai muntah-muntah.
Muntah, sesungguhnya bukan hal terlalu buruk, hanya or¬ang hidup yang bisa muntah, akan tetapi begitu mereka mulai muntah, mendadak sudah tidak bisa muntah lagi.
Apakah kau pernah melihat muntah-muntahnya orang mati?
Apakah kau pernah melihat orang mati yang muntah-muntah?
Tungku besar mendadak runtuh berantakan, ada dua or¬ang berpakaian hitam berjumpalitan keluar dari nyala bara api, seperti baru menerjang ke luar dari dalam bara api yang menyala, bagaikan baru menerobos ke luar dari neraka jahanam, di atas pakaian hitamnya masih terbawa bunga api-bunga api yang berkelap-kelip.
Kertas lampion dibuat dari semacam kertas transparan dari bahan kulit kayu pohon Sang (semacam kayu yang mirip perdu) yang direkatkan, tinggi-tinggi tergantung di bawah atap rumah, ringan terayun-ayun ditiup angin.
Jika dikatakan ada seseorang yang bisa bersembunyi di dalam lampion seperti ini, apakah ada orang yang bisa mempercayainya?
Siapakah orangnya yang bisa dengan ringan tergantung di bawah atap, terus menerus bergoyang berayun bersama dengan lampionnya?
Adakah seseorang yang bisa menyusut menjadi segumpal dan kemudian dijejalkan ke dalam sebuah lampion seukuran guci arak?
Ini perkara yang sama sekali tidak mungkin.
Apa lagi lampion itu transparan, sekali pun ada jin siluman bisa mengecilkan dirinya sekehendak hati dan dijejalkan ke dalam lampion yang tergantung tinggi-tinggi di bawah atap, dari sebelah luar masih mudah terlihat.
Oleh karena itu, ketika kelompok kedua rombongan Mu Rong, yakni Lima Pendekar Hu Qiu (Bukit Macan) yang paling tinggi berprestasi dalam pertempuran tiba di lokasi ini, kewaspadaannya segera ikut menurun juga.
Karena mereka bukan ahli yang betul-betul ahli sejati, dan masih belum tahu, di dunia Jiang Hu setiap saat bisa saja terjadi sesuatu yang sebelumnya diperkirakan tidak mungkin ada, karena di dunia ini, memang betul masih banyak hal yang tidak dapat diperkirakan orang, baik masalah maupun benda.
Ada semacam kertas kulit kayu Sang yang dibuat dengan teknik khusus yang aneh dan rahasia, di antaranya bahkan masih dicampuri dengan air raksa yang sangat mahal harganya, kertas jenis ini yang sepenuhnya tidak bisa dilihat dari sisi luar ke arah sisi dalamnya, tapi dari sisi dalam bisa melihat ke arah luar.
Ada semacam orang yang bisa menggantungkan badan dengan sebuah jari tangan, pada satu ruangan yang sangat sempit, membuat daging dan tulangnya menyusut sampai batas maksimal yang bisa dicapai oleh daya tahan seorang manusia.
Daya tahan terhadap rasa sakit dan rasa lapar orang semacam ini, nyaris juga sampai pada batas ekstrim manusia.
Lima Pendekar Hu Qiu tidak bisa mengerti daya tahan or¬ang-orang jenis ini, karena itu mereka sudah dipastikan mati.
Saat sejenak ketika perasaan batin paling mengendor, dari dalam lampion ada orang yang melompat keluar dengan menembus kertas, tangannya memegang sebilah belati, sinar belatinya berkilauan, belatinya tajam mengilat, gerakannya seperti terjangan kilat listrik, dan hanya dalam sekelebat waktu, belati sudah memenggal putus kepala mereka.
Sekali pun gerakan memotong kepala orang oleh mereka ini, tidak secepat anak kecil berbaju merah itu, akan tetapi sudah cukup sangat cepatnya.
Ketika kepala yang mereka potong jatuh ke tanah, ada yang matanya masih berkedip-kedip, ada juga yang matanya menunjukkan rasa giris yang sangat nyata, ada yang lidahnya baru dijulurkan keluar, dan belum sempat menarik masuk kembali, ada juga yang otot badannya masih sedang bergetar tiada henti-hentinya.
Getaran otot itu, justru masih membawakan semacam irama yang luar biasa indah, kelihatannya mirip dengan getaran seorang perawan yang pertama kali dipeluk oleh seorang lakilaki.
Di dalam getaran semacam ini, perawan cepat sekali sudah menjadi bukan perawan lagi, dan orang yang hidup juga cepat sekali menjadi orang mati.
Mengapa di dalam kehidupan ini, irama gerakan yang pal¬ing indah, tidak pernah berlangsung panjang dan lebih lama?
Setiap tempat yang jadi tempat manusia bermukim, tentu ada toko penjual peti matinya, persis sama halnya di tempat itu juga, tentu ada rumah tempat tinggal manusia.
Ada orang yang hidup, tentu ada orang yang mati, orang yang hidup perlu rumah tinggal.
Orang mati justru harus masuk ke dalam peti mati.
Mau tahu ukuran besar kecilnya rumah suatu tempat, masih harus dilihat juga dari baik tidaknya orang yang hidup di sini.
Ukuran besar kecilnya ranjang sebuah rumah, belum tentu bisa dilihat dari kemesraan tuan tumah dan nyonya rumahnya.
Karena skala kemesraan, tidak punya kaitan langsung dan mutlak dengan ukuran besar kecil ranjang, ada kalanya, suami isteri yang sangat mesra, justru ranjangnya semakin kecil.
Namun besar kecilnya toko peti mati suatu tempat, justru harus dilihat dari banyaknya orang mati di tempat ini.
Orang yang mati di kota kecil ini agaknya memang tidak cukup banyak, paling tidak pada harihari sebelum malam ini, belum cukup banyak.
Karena itu, di dalam toko peti mati kota kecil ini, selain menjual peti mati, masih juga menjual barang sampingan lain.
Menjual sedikit lilin, kotak timah, uang kertas dan harta gudang untuk bekal kubur lainnya, sedikit menghiasi wajah jenasah, mempersiapkan pakaian kubur, menuliskan huruf-huruf untuk Wan Ci (kata duka cita) dan Wan Lian (kuplet duka cita) sebagai pernyataan duka cita, yang lebih sering kurang lancar dan cocok, untuk para tuan terhormat yang memang buta huruf.
Sekali waktu bahkan mengenakan jubah upacara sembahyangan Taois, memakai alat-alat dan menyelenggarakan sebuah upacara kubur, dan juga melukiskan huruf rajah Fu (hoe, yang dipercayai punya kekuatan gaib), yang di minta pelanggan.
Jika peruntungan lagi mujur, dan kebetulan ada pembeli yang berkaitan dengan kebutuhan jenis ini, dari badan jenasah seseorang masih banyak barang yang bisa dijual dan memberikan keuntungan, ada kalanya, bahkan bulu dan rambut serta gigi palsu pun masih bisa ditukar dengan uang receh.
Akan tetapi dagangan mereka yang paling besar, tetap adalah boneka bekal kubur dari bahan kertas.
Jika ada orang kaya mati, anak cucunya khawatir dia tidak bisa hidup nikmat di alam kubur seperti di dunia nyata, tidak lagi memiliki dan menikmati rumah mewah dan perabot rumah tangga mahal, tidak punya kereta, tidak mempunyai budak dan pelayan, karena itu maka dibuatkan aneka macam kebutuhan itu dari kertas yang direkat lem, dengan bentuk rumah, alat dan perabot rumah tangga, orang, kuda dan lain-lain, untuk dipersembahkan dan dibakar bagi almarhum, sehingga dia tetap dapat menikmati segala kenikmatan itu seperti sedia kala.
Semua ini sebetulnya hanya sekedar suatu bukti bakti dan sedikit kenangan indah pelaku terhadap leluhur pendahulunya, baik bapak ibu, paman bibi serta lainnya.
Mereka tetap mempersembahkan, dan tidak ada yang peduli lagi, apa para penerima bisa menikmati atau tidak.
Berbakti itu perlu bagi orang berbakti, seringkah yang tidak berbakti justru mampu mengerjakan lebih baik.
Dari situlah dagangan toko peti mati berasal.
Kesan orang atas toko peti mati selalu tidak menyenangkan, dan orang yang bekerja untuk toko itu, sepanjang hari menghadapi satu per satu peti mati, bagaimana suasana hatinya bakal bisa gembira?
Pemilik toko peti mati, begitu melihat ada tamu masuk, biar sudah tahu ada keuntungan datang, tapi sedikit pun dia tidak boleh menunjukkan sikap gembira.
Jika ada tamu datang, pada umumnya tentu ada orang yang baru mati di rumahnya.
Pantas atau tidak jika kau menunjukkan semangat dan bergembira, dan menyambut tamu dengan mimik wajah penuh rasa bahagia?
Sudah sangat jelas bagi pembeli peti mati, kalau saja or¬ang mati sudah dikuburkan, segera dia akan mendapatkan warisan harta besar, dan sekali pun hati kecilnya luar biasa gembira, dia baru akan dianggap benar, dengan tetap membuat kedua belah matanya sembab merah karena menangis.
Tertawa, adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh dilakukan di dalam toko peti mati.
Akan tetapi, sekarang malah ada satu tamu yang datang dengan wajah penuh senyum.
Orang ini namanya Cheng Dong.
Biar pun Cheng Dong baru empat puluh tujuh tahun, namun tiga puluh tahun yang lalu dia sudah terkenal, cepatnya dia terkenal jarang ditemukan saingannya di dunia Jiang Hu.
Akan tetapi di Jiang Hu orang juga tahu, sejak pertempuran yang membuatnya terkenal pada tiga puluh tahun lampau itu, hatinya dan setiap bagian badannya, sekujur badannya dari atas sampai ke bawah, seluruhnya telah dingin membeku.
Pertempuran seseorang yang membuatnya terkenal, seringkah juga suatu pertempuran yang menyedihkan hatinya, sekali tempur dia sukses dan berhasil, dan hatinya juga langsung terluka serta mati.
Di hari-hari penghidupannya kemudian, bahkan dia bisa berharap kalau saja yang mati waktu itu bukan musuhnya, melainkan dirinya sendiri.
Oleh karena itu, Cheng Dong sejak lama sudah tidak bisa tertawa lagi, akan tetapi wajahnya malah terus menampakkan tertawa sepanjang tahun, bahkan dia tertawa ketika tidur, karena di wajahnya tertinggal suatu bekas luka yang tidak bakal terhapus sepanjang hidupnya.
Bacokan golok yang meninggalkan bekas tertawa, bekas tertawa juga seperti golok.
Karena itu, sekali pun sepanjang tahun dia tertawa, tapi sepanjang tahun juga dia terus membunuh orang.
Sebagian besar orang dunia Jiang Hu, asalkan melihat wajahnya, padahal belum melihat goloknya, nyali dan nyawanya sudah buyar ketakutan, entah pergi ke mana.
Tempat di mana Cheng Dong berada, tentu ada Guo Wen, sejak dua puluh tahun lamanya, keduanya tidak pernah berpisah, sampai di ujung bumi sekali pun, bahkan tidak pernah meleset dan gagal.
Sekarang mereka berdua memasuki toko peti mati ini.
Guo Wen tangannya memegang sebuah pemantik api, cahaya lampu berkelap kelip, menyala dan padam, menerangi lima buah peti mati yang sudah selesai dipelitur dan diletakkan tegak di ruang pamer halaman belakang, dua buah peti kayu putih yang belum selesai, tiga buah rumah kubur dari kertas, dan empat lima orangorangan kertas untuk bekal kubur.
Dalam kegelapan tidak putus-putusnya terdengar suara teriakan kaget dan jeritan seram, entah sudah ada berapa banyak rekannya masuk ke dalam jebakan dan perangkap pihak lawan.
Toko peti mati ini memang merupakan tempat membunuh yang baik, pihak lawan menempatkan penyergap tersembunyi di mana?
Cheng Dong dan Guo Wen cepat sekali bertukar pandangan mata, sisa sinar sudut pandangan matanya, sudah terpaku pada ketiga peti mati yang diletakkan berdiri tegak.
Dua peti mati kayu putih belum selesai, tutup petinya masih tersandar miring di atas peti, dalam peti kosong tak ada apa pun juga, rumah-rumahan kertas untuk penggembala ternak, di bawahnya masih disangga dengan potongan bambu, juga mustahil ada orang bisa melayang masuk bersembunyi di dalamnya.
Jika di sini ada penyergap tersembunyi, tidak diragukan lagi pasti berada dalam ke tiga peti mati yang berdiri tegak itu.
Kedua pendekar kelas tinggi yang sudah melewati ratusan pertempuran itu, kedua tangannya sudah bersikap siaga, untuk melakukan satu gempuran maut pencabut nyawa.
Akan tetapi, waktu mereka mulai bergerak, sasaran serangan malah adalah rumah-rumahan, kuda, keledai dan orang-orangan kertas.
Mereka sangat yakin berhasil dengan sekali serangan.
Penyergapan yang dipersiapkan dengan sangat cermat, mustahil dibuat di suatu tempat yang mudah dibayangkan sembarang orang, dan para petugas sutera maut (Si Si), yang sudah melewati seleksi teliti, sudah pasti punya kemampuan untuk bersembunyi pada sesuatu tempat yang orang lain tidak mampu melakukannya.
Di luar dugaan, menyerang kala lawan belum siap, jika bukan penyergapan semacam ini, bagaimana mungkin bisa menghadapi lawan dengan kemampuan tinggi itu?
Cheng Dong pakai golok, golok lentur dari baja murni Myanmar (bian too) sepanjang empat chi dua cun, biasanya dililitkan dua kali dipinggang, waktu mau memakai, sekali tarik saja, tegak menghadap arah angin, satu jurus 'Heng Sao Qian Jun’ (membabat seribu tentara), sepuluh orang akan dapat ditebas di pinggangnya.
Guo Wen juga pakai golok, golok berantai, panjang goloknya dua chi delapan cun, panjang rantai dapat diatur sekehendak hati, kadang-kadang bisa dipergunakan sebagai golok terbang, mata golok memecah udara, mengambil kepala orang di luar jarak seratus langkah.
Sekalipun ada rantainya, tenaga yang dipergunakan malahan tenaga luar yang keras.
Dua golok terbang bersamaan, keras dan lemas dipakai bersamaan, di dunia Jiang Hu, ini hampir menjadi semacam ilmu silat khusus yang tidak ada tandingannya.
Waktu mereka bersama mempergunakan 'Heng Sao Qian Jun', hampir tidak ada orang yang bisa mengundurkan diri dengan tanpa terluka.
Sekali ini juga tanpa kekecualian.
Sinar golok mengibas terbang, serpihan kertas bertebaran melayang ke mana-mana.
Akan tetapi cuma serpihan kertas, tidak ada darah dan daging manusia, sasaran serangan mereka, hanya segala macam boneka kertas bekal kubur, tidak ada penyergap tersembunyi.
Penyergapnya ada dimana?
Begitu Cheng Dong dan Guo Wen membabatkan goloknya, segera hatinya anjlok turun ke bawah.
Hati boleh anjlok, juga boleh mati, namun orangnya tidak boleh.
Hati mati karena kesedihan dan badan kebal mati rasa, masih boleh siuman dan sadar, di antara hidup dan mati, tidak ada pilihan lain, juga mustahil ada kesempatan kedua kali.
"Kata-kata mutiara"
Ini mereka paham semua, asalkan or¬ang pernah menghadapi maut, tentu paham.
Dan memang cuma orang macam ini yang paham.
Detik menghadapi maut sesungguhnya, apa rasa hati or¬ang?
Hampa kosong?
Atau masih jernih bening?
Atau terkejut, giris dan ngeri?
Atau mutlak dingin tenang?
Aku boleh menjamin, mutlak bukan yang bisa dibayangkan oleh orang yang belum pernah mengalami kejadian semacam ini.
Aku pikir, kiranya hanya orang yang pernah menghadapi maut sesungguhnya, yang berani memberikan jaminan sejenis ini.
Biar pun hati Cheng Dong dan Guo Wen terus anjlok terbenam ke bawah, namun otot-otot seluruh badannya justru semakin kencang mengejang.
Hanya di dalam waktu yang sangat singkat, mereka mampu mengerahkan seluruh potensi tenaga hidupnya, dan dimampatkan ke dalam otot daging mereka, dimampatkan ke dalam setiap potong daging badannya.
Hanya daya hidup otot, yang bisa melahirkan dorongan dan kelenturan badan, hanya 'gerak’ macam ini saja, yang bisa menimbulkan kegiatan menghindar dan menyerang.
Menghindari krisis, menyerang kepada krisis tersembunyi lainnya, dengan menyerang sebagai pertahanan.
Cheng Dong yang dingin seperti telah membeku, Guo Wen yang hangat lembut seperti batu Yu (giok), dalam waktu sekejap saja, justru melakukan satu perbuatan yang biasanya mutlak tidak biasa dilakukan mereka.
Mereka mendadak berteriak menghardik keras dengan liarnya.
Suatu teriakan keras, mengembangkan paru-paru di dada, perut mengerut, seluruh hawa sejati di dalam paru-paru ditekan dan diperas keluar, tenaga yang baru memasuki otot badan, juga ikut memancar bersamaan dalam waktu sekejap saja.
Tenaga ini membuat badan mereka sepertinya bisa mengalami perubahan dari suatu keadaan yang pasti tidak mungkin berubah lagi, dari satu arah yang pasti tidak mungkin, memakai suatu kecepatan yang pasti tidak mungkin, menjadi bisa balik melompat kembali.
Sinar golok berkelebat, masih tetap jurus 'Heng Sao Qian Jun'.
Tiga buah peti mati kualitas terbaik juga sekaligus hancur berkeping-keping bersama sinar golok itu.
Kali ini semestinya tidak bakal gagal lagi.
Mata mereka dipenuhi urat darah merah, persis seperti dua sosok mayat beku kaku yang haus darah, haus mendambakan bisa melihat ada darah segar muncrat dari mata golok mereka.
Sayangnya sekali ini mereka juga kecewa kembali.
'Plook' terdengar satu suara, sepasang golok mereka bersamaan menancap ke dalam gelagar melintang di atas plafon, sehingga keduanya tergantung di udara di bawah langit-langit, seperti bandul jam yang terayun-ayun ke kanan dan ke kiri.
Sekali kesalahan, mungkin masih bisa diperbaiki, dua kali salah, kesempatan baik hilang selamanya.
Betulkah di sini tidak ada penyergap bersembunyi?
Tidak mungkin.
Berada di mana si penyergap tersembunyi?
Tidak tahu.
Cheng Dong dan Guo Wen kini cuma berharap supaya dengan mengandalkan berayun ritmis seperti bandul jam ini, di dalam waktu paling pendek bisa memulihkan tenaganya sendiri.
Hanya sayangnya mereka sudah tidak punya kesempatan lagi.
Jagoan saling berebut mati hidup hanya perlu waktu sekelebat, asalkan berbuat satu kesalahan, sudah cukup berakibat fatal mematikan.
Orang yang berturut-turut melakukan dua kesalahan, jika masih berdoa memohon kesempatan ketiga, itu bukan saja menjadi harapan berlebihan, bahkan sudah menjadi suatu kebodohan.
Anehnya ialah, sebagian besar orang memang selalu begitu.
Sebab jika seseorang sudah putus asa, pikiran dan tindakannya bisa berubah menjadi lamban dan dungu, karena semacam rasa ketakutan dari putus asa sudah menjadi seperti sebilah pisau pemotong yang memenggal respon dan reaksi mereka.
Dalam waktu sekejap, kedua peti mati yang tergeletak di lantai, dan tadi kosong tanpa isi apapun, mendadak terbang melayang ke atas, dari bawah alas peti mati mendadak terbang keluar tiga sosok tubuh berwarna hitam.
Mata Cheng Dong dan Guo Wen menyaksikan ketiga bayangan yang terbang ke atas membawa serta sinar cahaya yang seperti kilat menusuk leher dan jantung mereka, dan mereka sudah tidak punya sisa tenaga lagi untuk mengelak dan menghindar.
Mereka mendadak merasakan dirinya seperti ikan mati yang tergantung di atas kait besi, cuma bisa menyerah meski diperlakukan bagaimana pun juga oleh orang lain.
Ini merupakan kali pertama mereka merasakan demikian, tapi juga kali terakhir.
"Cheng Dong dingin tapi hati-hati, Guo Wen cerdik cekatan, kedua orang ini bergandeng tangan, senantiasa belum pernah ada tandingannya, aku percaya sepanjang kehidupan mereka belum pernah punya perasaan putus asa semacam itu,"
Kata yang tua menghela nafas.
"Aku percaya mereka kemudian juga tidak bakal punya perasaan semacam itu. Orang mati tidak punya indra perasa,"
Kata sang remaja.
"Karena itu, ketika seseorang masih hidup, dia harus mempergunakan pikiran dan perasaannya dengan sebaik-baiknya, selamanya jangan menjadikan diri sendiri sebagai ikan mati yang digantung dan tak berdaya menghadapi siapa pun yang memotong dan menyembelihnya."
"Ya benar begitulah,"
Sang remaja berkata dengan sikap serius.
"Untuk masalah ini aku pasti akan menyikapinya dengan lebih istimewa."
Sikapnya bukan hanya bersungguh-sungguh, tapi juga sangat menghormat, sebab dia tahu, yang tua itu bukan sekedar berbual-bual pengalaman hidup sebagai orang tua tanpa manfaat, melainkan lebih bertujuan meneruskan pelajaran pahit dan menyakitkan yang sangat serius.
Yang tua bertanya lagi padanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"
"Aku sedang berpikir, ketika lampu menyala kembali, maka rombongan yang dibawa Mu Rong Gong Zi masih tertinggal berapa orang lagi?"
"Sudah barang tentu sisanya tidak banyak lagi."
"Kepergian Liu Ming Qiu ini, sama sekali sudah tidak pernah ada kabar berita tentang dirinya lagi. Dan di samping Mu Rong tidak pernah bertanya apakah dia sudah berhasil, juga tidak menyelidiki hidup mati dirinya, yang begitu gegabah membawa serombongan orang memenuhi janji, bahkan dengan gagah dan mentereng memasuki sebuah kota mati yang sama sekali belum pernah diketahui."
Sang remaja, dengan suara yang terasakan sangat marah, berkata.
"Aku beranggapan perbuatannya ini bukan saja bodoh, bahkan jahat sekali. Siapa pun tidak berhak menghendaki orang lain menemaninya mati."
"Sudah barang tentu kau bisa menganggap perbuatan ini amat jahat, ketika aku seusiamu, juga bisa berpikir demikian."
"Sekarang?", tanya sang remaja.
"Sekarang kau berpikir bagaimana?"
Yang tua merenung, kemudian bertanya kembali.
"Apakah kau masih ingat, aksi yang mereka lakukan sekali ini diberi nama apa?"
Sudah barang tentu sang remaja masih ingat, suatu omong kosong yang konyol dengan memberi sandi aksi dengan 'Ngengat Malam Terbang'.
Akan tetapi perkara yang tidak masuk akal, justru sering kali membuat orang sukar untuk melupakan.
"Aksi Ngengat Malam Terbang."
Wajah sang remaja segera berubah.
"Apakah maksud tujuan aksi mereka sekali ini, seperti ngengat malam terbang menyergap api, memang untuk mengantarkan kematian saja?"
Yang tua tersenyum. Senyuman seringkah"
Hanya kelakuan yang menunjukkan seseorang sedang bergembira, seringkah juga bisa dianggap sebagai jawaban.
Untuk sesuatu yang dirinya tidak mau memberikan jawaban, atau sebagai jawaban atas suatu pertanyaan yang tidak bisa diberikan jawaban.
Sang remaja juga sedang merenung keras, seolah-olah juga tidak terlalu berharap atas jawaban dari yang tua.
Atas pertanyaan yang orang lain tidak mau memberikan jawaban, biasanya hanya memerlukan suatu pengusutan dalam pemikirannya sendiri.
Bertanya dengan pertanyaan sejenis ini kepada orang lain, biasanya hanya merupakan salah satu mata rantai pemikirannya sendiri saja.
"Aku sudah mengerti,"
Mendadak sang remaja berkata.
"Maksud aksi mereka sekali ini memang bertujuan mengantarkan kematian saja."
"Ooohhh?"
"Apakah kau beranggapan bahwa di dunia ini memang betul ada sedemikian banyak orang yang ingin mati?"
"Aku tidak beranggapan demikian."
"Mengapa orang yang tidak ingin mati malah mengantarkan kematian?"
"Sudah barang tentu mereka juga punya tujuan lain."
"Tujuan apa?"
"Mereka..."
Mendadak sang remaja mengalihkan arah pembicaraan.
"Maksudku bukan mengatakan mereka itu. melainkan dia."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Mereka adalah orang-orang yang mengantarkan kematian itu, dia adalah yang menghendaki orang-orang itu pergi mengantarkan kematian."
Sang remaja berusaha sekuat kemampuan menerangkan pemikirannya.
"Dia menghendaki mereka pergi mengantarkan kematian, hanya karena dia mempunyai tujuan lain, sementara orang-orang yang tanpa kejelasan mengalami kematian, mungkin saja selamanya tidak akan pernah tahu duduk soal sesungguhnya."
Yang tua menatapnya tajam sekali, sesudah berselang lama baru bertanya.
"Menurutmu apa yang sesungguhnya telah terjadi?"
"Aku beranggapan segala peristiwa ini, sejak awal sehingga akhirnya, hanya merupakan sebuah perangkap menyesatkan saja."
"Perangkap menyesatkan?"
"Mu Rong membawa mereka pergi mengantarkan kematian, hanyalah suatu langkah menempatkan diri sendiri dalam kematian, untuk kemudian hidup kembali setelah mati, dan agar orang lain semua menganggapnya sudah mati."
Pemikiran serupa ini memang sangat aneh, ya tidak masuk aturan pergaulan, ya tidak masuk akal pemikiran wajar.
Tapi, ketika sang guru menyaksikannya, dari matanya terpancar rasa sangat puas atas diri remaja tersebut.
"Mengapa Mu Rong menghendaki orang lain menganggap dirinya sudah pasti mati?,"
Sang remaja bertanya kepada dirinya sendiri. Pertanyaan serupa ini umumnya hanya bisa dijawab oleh dirinya sendiri "Aku pernah mempertimbangkan banyak alasan,"
Sang remaja menjawab dirinya sendiri.
"Setelah aku berpikir dan memikirkannya kembali, akhirnya tinggal hanya tiga kata saja."
"Tiga kata?,"
Tanya yang tua.
"Tiga kata apa?"
"Chu Liu Xiang."
BAGIAN KETIGA ORANG MATI Chu Liu Xiang sudah mati, seluruh dunia Jiang Hu sudah tahu dia sudah jadi orang mati.
Pada sebuah kota kecil di perbatasan yang terbengkalai, setelah melalui proses berliku-liku dan misterius, sedang terjadi suatu pertempuran mati hidup, dan apa hubungannya dengan Chu Liu Xiang yang telah lama mati?
Kalaupun Chu Liu Xiang adalah salah satu orang yang paling ternama di dunia Jiang Hu sepanjang beratus dan beribu tahun, akan tetapi seseorang yang sudah meninggal belasan bulan, juga tetap orang yang telah mati.
Bab Orang Yang Minta Nyawa Dua orang sudah mati, seorang terkenal, seorang tidak dikenal, tapi di depan orang lain kelihatannya sama saja.
Sama saja, cuma seseorang yang sudah mati, sesosok mayat.
Di dalam suatu aksi yang sangat rumit dan misterius, sesosok mayat bagaimana pun tidak bakal bisa membuat masalah besar.
Chu Liu Xiang sudah mati, juga cuma seseorang yang sudah mati, dan tidak ada perbedaan dengan orang mati lainnya.
Penyebab dari aksi sekali ini, bagaimana bisa menjadi dirinya?
Lampu mendadak menyala kembali, cahayanya menerangi jalan yang panjang ini.
Hanya di dalam waktu yang sangat pendek itu, dijalan yang panjang ini sudah terjadi entah berapa banyak pertarungan, pertempuran dan pembunuhan yang bakal tersiar luas di dunia Jiang Hu.
entah ada berapa banyak lagi tokoh yang pernah mengharu biru dunia Wu Lin, yang telah mengucurkan darah sampai mati di sini.
Namun jalan yang panjang ini, masih tetap ada seperti sediakala.
Karena jalanan yang panjang ini tidak bernyawa, juga tidak berperasaan, karena itu jalanan yang panjang ini tetap sepi, sunyi, dan senyap.
Tidak ada seorang pun yang terlihat lagi, orang hidup tidak terlihat, orang mati juga tidak terlihat, bahkan mayat dan jejak bekas darah pun sudah tidak terlihat.
Jika saja kau waktu itu juga berada di jalan panjang itu, selain toko-toko yang sudah berubah menjadi seolah-olah rumah hantu itu, dan sederetan panjang rangkaian lampu jalanan yang kini juga sudah membawa bau setan, kau hanya akan melihat tiga orang saja.
Seorang yang wajahnya pucat pasi, profil wajahnya menonjol, sekujur badannya seolah-olah membawa sikap dan gaya bangsawan dari jaman purba.
Itulah Mu Rong Dia tetap duduk di tempat itu dengan santai dan tenang, kegelapan yang sekejap, cahaya terang yang sekejap, pembunuhan kejam yang sekejap, kematian yang sekejap, sepertinya sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Bahkan kemusnahan pun seolah-olah sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Orang ini, bukan saja tidak peduli dengan hidup dan mati dirinya sendiri, bahkan tidak ambil pusing dengan keharusan suatu kemusnahan dunia ini.
Satu-satunya hal yang diperhatikannya, sepertinya hanya suatu bayangan yang berada jauh dalam khayalan yang tidak menentu.
Suatu bayangan yang mirip dengan bunga anggrek.
Saat ini tepat sekitar tengah malam!
Orang yang lain mengenakan jubah panjang yang grombyong, memakai cadar kain putih menutupi wajahnya, akan tetapi kelihatannya masih tetap memancarkan daya tarik yang sangat memikat yang tidak bisa ditolak siapa pun, bahkan jikalau disembunyikan di tengah gunung dan dikuburkan di dalam tanah, daya tarik yang memikat ini, bahkan sampai ribuan dan bahkan laksaan li pun tetap membuat kau merindukannya dari seluruh isi organ badanmu.
Daya pikat ini bisa dirasakan setiap lelaki dewasa yang sudah matang, namun anehnya tidak ada seorang pun yang mampu mengutarakannya.
Orang ketiga berdiri di hadapan mereka, yang secara sembarangan berdiri santai, tapi siapa pun yang melihatnya, akan merasakan bahwa orang ini berbeda dengan orang kebanyakan.
Apanya yang berbeda?
Siapa pun tidak mampu mengungkapkannya, karena dia pada dasarnya juga tidak mempunyai sesuatu keistimewaan yang membedakannya dari khalayak.
Dia tidak menonjol, akan tetapi dia punya daya kharisma yang sangat berwibawa, dia juga tidak tampan, akan tetapi kelihatan sekali punya daya tarik sangat besar.
Sekali pun otot-ototnya sudah mulai mengendur, akan tetapi kelihatannya masih tetap sehat, sigap dan lincah seperti remaja.
Sebab, setiap kali dia muncul, selalu melalui perencanaan yang sangat cermat.
Posisinya ketika muncul, sudut lampu sorot yang menyinarinya, sikap dan letak berdirinya, potongan rambut dan busana yang dikenakannya, pada setiap hal, selalu melalui penanganan para profesional yang bekerja teliti.
Karena dia itu Tie Da Lao Ban.
Bukan saja dia itu Lao Ban (majikan), tapi juga Lao Da (si sulung tertua).
Dari kejauhan Tie Da Lao Ban memandang Mu Rong, Mu Rong juga melihat dirinya.
Mimik sikap keduanya justru sepenuhnya sangat dingin dan tenang.
Bayangan sisi gelap lampu menjadikan profil wajah Tie Da Lao Ban jadi tajam menonjol seperti Mu Rong.
Akan tetapi, di antara mereka masih tetap ada tempat-tempat yang tidak sama.
Sekali pun Mu Rong duduk, tapi kelihatannya dia jauh lebih tinggi daripada Tie Da Lao Ban.
Memang ada orang yang sejak lahir selalu berada di posisi di atas!
Tidak perlu diragukan, Tie Da Lao Ban juga punya perasaan semacam ini, karena dia sudah terpancing marah.
Juga hanya perasaan semacam ini, yang bisa membikin seseorang yang sudah pernah mengalami ratusan pertarungan dan merangkak dari posisi yang paling rendah ke posisi tertinggi sebagai tokoh jawara besar, menjadi terpancing marah.
Namun, ketika dia mulai marah, wajahnya malah berbalik penuh dengan senyuman.
Apakah kau pernah mendengar berita, ada orang tertentu yang selalu akan tersenyum dulu sebelum membunuh?
Semestinya, Mu Rong sudah mengetahui bahwa yang berdiri di seberangnya adalah orang yang sangat tidak sederhana, juga seharusnya bisa melihat di balik matanya yang tersenyum, juga terkandung ancaman bahaya di empat penjuru arah dengan pengintaian dan pembunuhan.
Orang-orang yang dibawanya, seolah-olah seluruhnya musnah dalam kegelapan sekejap yang baru saja berlangsung.
Katakanlah seseorang yang selamanya belum pernah kenal rasa takut mati, pada waktu seperti ini, mau tidak mau juga merasa jadi tegang, katakan dia tidak merasa takut, paling tidak juga merasakan ketegangan itu.
Mu Rong sepertinya menjadi kekecualian.
Dengan sikap dingin Tie Da Lao Ban memandang dia.
Kemudian menghela nafas panjang, malahan betul-betul menghela nafas panjang.
"Kau tidak seharusnya datang,"
Dia bahkan berkata kepada Mu Rong.
"Sekalipun kau memang pemberani, tapi, kau seharusnya tidak datang."
"Mengapa?"
"Karena generasi terdahulu keluarga Mu Rong, bukanlah engkau. Apalagi kau bukan orang dari keluarga marga Mu Rong."
Sepeninggal Mu Rong Qing Cheng, keluarga marga Mu Rong tidak punya pewaris, maka seorang putera kedua dari keluarga misannya dipungut untuk dijadikan pewaris, melanjutkan dupa hio dan asap sembahyang marga Mu Rong ini, sudah barang tentu juga menjadi Zhang Men aliran Qing Cheng.
Masalah ini sudah bukan rahasia lagi di dunia Jiang Hu.
"Aku pernah menyelidiki dirimu."
Kata Tie Da Lao Ban.
"Pemahamanku atas dirimu, kira-kira jauh lebih banyak dari pada perkiraanmu sendiri."
"Ooohhh!"
"Kau bukan saja seorang pemberani, juga seorang tokoh berbakat, ketika dalam usia remaja kau sudah banyak melakukan pekerjaan besar untuk keluarga Mu Rong, hasilnya juga lumayan baik, karena itulah keluarga Mu Rong bisa memilihmu sebagai penerus dan Zhang Men (ketua pintu aliran). Karena itu aku jadi semakin tidak mengerti."
"Masalah apa yang tidak kau mengerti?"
"Yang paling tidak kumengerti ialah, mengapa sekali ini kau datang mengantarkan kematian. Sekali ini bukan saja kau kurang teliti dalam membuat perencanaan, aksi kegiatannya juga semakin ceroboh, bahkan seolah-olah memang sengaja mengantarkan kematian."
Mu Rong mendadak tertawa, di waktu ini dan di saat ini, siapa pun tidak akan ada yang bisa mengerti bagaimana dia masih bisa tertawa.
Kau tahu tidak, ada orang sudah tahu pasti mati, malahan tertawa sebelum mati.
Beberapa tahun kemudian, sang remaja yang punya rasa ingin tahu tinggi itu, sekali pun membuat kesimpulan omong kosong fantastis gila-gilaan terhadap pertempuran kali itu, akan tetapi para gurunya tidak mencegah dan menegurnya, tapi hanya menanyakan beberapa pertanyaan yang sederhana.
.....Di sini, sebagai penulis pemegang catatan pertempuran tahun itu, perlu memberikan keterangan sebagai berikut, sebab sekali pun pertempuran itu bukan saja berpengaruh besar terhadap Jiang Hu, bahkan menyangkut kaitan yang sangat luas, ketelitian perencanaan, keunikan dan keanehan dari strategi, semakin dijunjung orang dunia Jiang Hu sebagai salah satu dari tiga pertempuran yang terkenal, sedang pembuat rencana ini, sudah sewajarnya disanjung sebagai jenius jaman ini.
Oleh karena itu, sampai melewati banyak masa tahun-tahun kemudian, masih saja dirundingkan dan diperdebatkan orang tanpa henti-hentinya.
Pada hari itu, yang tua mengajukan satu pertanyaan kepada sang remaja begini.
"Apakah kau bisa melakukan penelitian sehingga tahu penyebab utama dari pertempuran ini sebetulnya adalah Chu Liu Xiang?"
"Betul."
"Bagaimana kau bisa menetapkan itu dia?"
"Karena siapa pun tidak tahu dan melihat, apakah Chu Liu Xiang betul-betul telah mati. Waktu dia mati, tidak ada orang di tempat kejadian, setelah dia mati, juga tidak ada orang yang melihat jenasahnya."
"Naga sakti sebelum mati, tidak terlihat ekornya, naga sakti mati, kepalanya pun ikut hilang. Jenis gajah kesturi, sebelum mati tentu mencari tempat rahasia, agar setelah mati dirinya tidak diganggu, apa lagi Xiang Shi."
"Betul, prinsip kebenaran ini aku juga mengerti. Ada sejumlah orang yang betul seperti Xiang Shi, dalam hidupnya, kelihatan kepalanya, tapi tidak kelihatan ekornya. Waktu mati, seperti bangau terbang melayang ke luar langit kesembilan."
"Lalu, kau masih punya pertanyaan apa lagi?"
"Pertanyaannya ialah, seseorang yang seperti ini, bagaimana bisa begitu mudah mati? Waktu dia mati, apakah benar-benar lelah mati? Kematiannya, apakah hanya suatu cara tertentu dengan suatu tujuan lain saja?"
Dia bahkan sempat mengingatkan yang tua.
"Sejak jaman dulu, entah ada berapa banyak pendekar, jendral dan tokoh ternama yang pernah mengalami keadaan semacam ini, karena mereka terlalu terkenal namanya."
Seseorang, jika terlalu terkenal, tanpa bisa dihindarkan pasti mengalami banyak kemasgulan yang tidak perlu, jika dia mau terlepas sepenuhnya dari kemasgulan semacam ini, cara yang paling tuntas hanya satu, yakni 'mati'.
"Masalahnya ialah, apakah dia benar-benar mati? Atau mati bohongan?"
Yang tua menghela nafas.
Prinsip ini dia tentu mengerti, mungkin dia jauh lebih mengerti dibanding kebanyakan or¬ang di dunia ini.
Setiap kerutan di kulit wajahnya, adalah jejak kehidupan, sekali pun ada beberapa yang digoreskan oleh mata golok tajam, akan tetapi masih belum sedalam ukiran lekuk wajah dari asam getir, darah, dan air mata pengalaman hidup yang pernah dilewatinya.
"Jika teorimu bisa ditegakkan, maka orang semacam Chu Liu Xiang, yang mendapatkan kesempatan demikian, bisa melewatkan sisa hidupnya dengan santai, mencoba melakukan sesuatu yang sejak dulu ingin dikerjakan namun masih belum juga sempat dikerjakannya selama ini, dia akan hidup santai, dan tanpa kuatir serta masgul."
Yang tua menghela nafas, dalam helaan nafas itu penuh dengan rasa kagum.
"Jika seseorang bisa 'mati' dengan cara demikian, maka masih adakah masalah lain lagi yang bisa membuatnya hidup kembali?"
"Ada,"
Jawab sang remaja dengan nada pasti.
"Cepat atau lambat selalu terjadi."
"Karena setiap orang sepanjang hidupnya pasti pernah melakukan beberapa pekerjaan yang sesungguhnya tidak diinginkannya. Terutama jika orangnya sejenis Chu Xiang Shi."
"Ooohhh?"
"Ada yang tidak patut dikerjakan, dan ada juga yang pantas dilakukan. Setiap orang dalam sepanjang hidupnya akan selalu mengerjakan beberapa pekerjaan yang dia sendiri tidak suka melakukannya, dengan cara demikian saja hidupnya baru berarti."
"Siapa yang mengatakan begini?"
"Kau yang mengatakannya. Sejak kau mengatakannya pertama kali kepadaku, aku belum pernah melupakannya, apa lagi kau sudah mengatakannya kepadaku entah sudah berapa kali."
Ini pun bukan sekedar omong kosong tidak menentu.
Ini pun juga pelajaran, yang didapatkan dari pengalaman entah berapa kali menjalani penderitaan yang menyakitkan.
Setiap kali mengucapkannya, selalu memberikan perasaan yang tidak sama.
Perasaan yang mengatakan berbeda, perasaan pendengarnya juga tidak sama.
Yang tua tersenyum pahit, cuma senyum pahit.
Akan tetapi dia masih juga bertanya, karena bertanya ada kalanya juga menjadi pendidikan.
Karena dengan kalimat yang kau jadikan jawaban, selalu semakin sulit dilupakan, jika dibandingkan dengan yang dipaksakan orang lain untuk diingat-ingat.
"Jika saja Chu Xiang Shi betul-betul belum mati, dan sedang menjalani semacam kehidupan yang sudah lama didambakannya, coba kau katakan, di dunia ini apakah masih ada sesuatu yang bisa memaksa dia balik kembali ke dunia Jiang Hu?"
Kita bahkan boleh berandai-andai mengkhayalkan.
"dia' sedang berlayar menumpang perahu layarnya yang cepat, ringan, nyaman, dan cantik mewah itu sedang menelusuri danau dan lautan, dan sedang menyelami nikmatnya madu kasih Tian Er, belaian sayang Rong Rong, dan harum wanginya Hong Xiu. Sekarang, bahkan mungkin sekali dia sudah tiba di Persia, menjadi tamu kehormatan dari kerajaannya, sedang bersandar miring di atas permadani yang empuk dan tebal seperti di atas awan di angkasa, sedang mengecap anggur wangi dalam satu gelas kristal dari batu bulan menyandari bahu Rong Rong, dengan lembut menyentuh tangan Tian Er dan Hong Xiu, sedang menikmati irama dan getaran unik yang aneh pada otot perut para penari perut dan Persia. Dalam keadaan ini, masih ada apa lagi yang bisa mendorong dia kembali ke dalam rangkaian pembunuhan beringas dalam hujan darah dan di bawah angin anyir dendam kesumat dunia Jiang Hu? "
Ada,"
Kata sang remaja.
"Pasti masih ada."
Dia mengucapkan dengan semakin pasti.
"Setiap insan pasti harus membayar harga untuk sesuatu hal tertentu, jika dia tidak mengerjakan itu, maka dia bukan lagi orang jenis itu, dan dia tidak layak lagi jadi orang itu."
"Kau maksudkan perkara apa saja?"
"Kesetiakawanan dan persahabatan kekal yang selamanya tidak pernah berubah di antara kawan, janji setia yang tidak pernah berubah sejak sekali diucapkan mulutnya, semacam rasa sesal dan berhutang budi yang lahir dari kedalaman hati sanubari."
Sikap sang remaja begitu bersungguh-sungguh sehingga mendekati rintihan.
"Masih ada semacam lagi, yakni cinta kasih dua insan yang sehidup semati tidak akan pernah susut berubah."
Sang remaja ini lupa mengutarakan semacam perkara lain, yakni lupa mengucapkan 'cinta kasih keluarga'.
Darah lebih kental dari air, cinta kasih keluarga selamanya adalah satu perasaan manusia yang paling tebal dan dalam dasarnya, juga merupakan satu perasaan yang paling disanjung dan paling dihormati dalam ajaran moral dan etika.
Sang remaja, tidak mengungkapkan semacam perasaan yang paling mulia ini, hanya karena dia sama sekali belum bisa memahami dengan baik betapa dalam dan agung perasaan manusia.
Karena sejak lahir dia adalah anak yatim piatu yang sudah dibuang dalam selokan kotor.
Yang tua mengerti jelas perasaan sang remaja, karena itu dia hanya berkata.
"Aku pun punya banyak teman yang sangat mengutamakan perasaan hati, ada teman yang mengutamakan perasaan dalam persahabatan, ada teman yang mengutamakan perasaan berbakti kepada orang tua, ada teman yang mengutamakan cinta kepada kekasih, ada teman yang mengutamakan perasaan kesetiakawanan."
Kata yang tua.
"Tempat mereka mengutamakan perasaan, juga merupakan titik lemah mereka."
"Betul,"
Kata sang remaja.
"Yang diberatkan perasaan hati, bahkan bisa membuat batuan logam pecah, atau disebutkan dalam kalimat lain, asal saja orang lain memiliki satu bagian rasa cinta, juga akan sama saja, bisa membelah hatinya menjadi dua belahan yang berlainan."
"Ungkapan yang bagus sekali,"
Yang tua memuji dengan tulusnya.
"Kau mengungkapkannya dengan bagus sekali."
"Alasan Xiang Shi bisa menjadi Xiang Shi (guru harum), karena dia mempunyai rasa cinta kasih,"
Kata sang remaja.
"Dia punya cinta kasih, oleh karena dia bisa mencintai or¬ang lain dengan hati yang tulus, dan karena itu pula, orang lain bisa mencintai dirinya dengan tulus, di dalam batas waktu sempit selebar rambut dalam pertempuran mati hidup sekali pun, acap kali dia juga harus mengandalkan kepada rasa cinta kasihnya yang tulus terhadap kehidupan makhluk, sehingga mampu meluluhlantakkan tekad dan semangat lawan, sehingga mengubah kekalahan menjadi kemenangan."
Prinsip ini semakin sulit dimengerti, tapi yang tua juga sudah memahaminya.
Seseorang yang tidak memiliki perasaan cinta kasih, bagaimana mungkin bisa menjadi orang yang memiliki rasa percaya diri, seseorang yang bukan seorang yang memiliki rasa percaya diri, bagaimana bisa menjadi pemenang?
Nada suara sang remaja juga menunjukkan penuh rasa percaya diri.
"Kalau mau membuat Chu Liu Xiang hidup kembali, sudah barang tentu juga hanya bisa dengan memakai satu kata 'cinta' untuk memotivasi dirinya."
Dia menatap yang tua dengan tajam.
"Pengutamaan cinta kasih seseorang, justru adalah letak titik lemahnya, akan tetapi jika ada orang bertanya kepadaku di mana letak titik berat cinta kasih Xiang Shi? Saya tidak bakal bisa menjawabnya. Karena cinta kasihnya ada di mana-mana."
Yang tua terdiam.
Dalam sekejap ini, mimik wajahnya mendadak menjadi sangat serius, bukan saja serius, malahan juga mengandung rasa hormat yang tebal.
Dia mendadak menyadari anak muda yang berada di hadapannya sudah menjadi dewasa.
"Yang kau maksudkan, ialah ingin mengatakan bahwa, di dunia Jiang Hu ada sebagian orang yang sangat takut menghadapi Chu Liu Xiang, terus tidak mau percaya bahwa Chu Liu Xiang memang betul-betul sudah mati,"
Yang tua merangkum pendapat sang remaja.
"Untuk membuktikan segi ini, mereka bahkan tidak sayang untuk menerjunkan sejumlah besar tenaga orang dan material, membentuk sebuah organisasi rahasia, untuk melaksanakan suatu rencana yang dibuat dengan sangat teliti."
"Betul,"
Kata sang remaja.
"Maksudku memang seperti ini."
"Untuk mengerjakan rencana ini, pertama, sudah barang tentu harus menemukan seseorang yang Chu Liu Xiang tidak bisa tidak harus menolongnya, menempatkan dirinya dalam posisi yang sangat berbahaya."
"Tidak salah."
"Akan tetapi kalau pun Chu Liu Xiang belum mati, juga sudah mengundurkan diri dari dunia Jiang Hu, lalu bagaimana membuatnya mengetahui ada seorang sahabatnya yang pal¬ing akrab sedang berada dalam tempat bahaya?"
Yang tua menjawab sendiri pertanyaan ini.
"Untuk memastikan Chu Liu Xiang mengetahui masalah ini, sudah barang tentu harus membuat masalah ini menjadi kegemparan besar di dunia Jiang Hu."
Pertempuran antara Jiang Nan Mu Rong dan Tie Da Lao Ban, kedua belah pihak sama-sama membawa pendekar berani matinya mendatangi daerah perbatasan yang sangat jauh, membuat orang satu kota meninggalkan rumahnya untuk menghindari bencana celaka, pertempuran ini sebelum dilakukan menjadi pertempuran sudah menjadi kegemparan besar!
"Karena itu, kau menganggap aksi ngengat malam terbang ini sendiri, sepenuhnya memenuhi syarat-syarat semacam ini."
"Ya,"
Kata sang remaja tegas.
"Aku mutlak yakin seluruhnya sangat sesuai."
"Akan tetapi aku masih memiliki satu pertanyaan lagi."
"Ooohhh?"
"Kabar angin yang menyebar di dunia Jiang Hu, semua mengatakan kematian Chu Xiang Shi, disebabkan oleh siasat jahat yang diotaki oleh 'Qing Cheng Gong Zi’ selaku patriark (kepala keluarga besar) marga Mu Rong."
Mu Rong Qing Cheng mempergunakan adik misannya Lin Huan Yu yang kecantikannya tidak ada duanya, memerangkap Chu Xiang Shi ke dalam suatu jurang jahanam derita nestapa yang hina di dalam kegelapan yang tidak terpulihkan dengan laksaan kali reinkarnasi (sama dengan neraka jahanam), sehingga tokoh legendaris yang belum pernah terkalahkan itu, tidak ada pilihan lain lagi, selain mati.
Omongan serupa ini sudah bukan lagi menjadi kabar burung di kalangan dunia Jiang Hu saja, tapi sudah menyebar sehingga menjadi bahan pembukaan bagi para pencerita dan para kritikus buku cerita.
Cerita ini sang remaja tentu juga tahu, maka yang tua menanyainya.
"Jika Mu Rong dan Xiang Shi punya serangkaian hubungan budi dan dendam, lalu mengapa pula Xiang Shi masih mau menolong Mu Rong generasi yang sekarang?"
Sang remaja termangu, selang lama dia baru berkata.
"Xiang Shi adalah orang yang sentimental, dan dia milik orang banyak, dia menjadi idola masyarakat umum jika dikatakan sepanjang hidupnya hanya memiliki satu orang perempuan, hal itu mustahil, juga tidak masuk akal."
Sang remaja menggaris bawahi.
"Jika dikatakan dalam sepanjang hidupnya dia cuma punya satu orang perempuan saja, paling sedikit aku akan menganggap dia tidak layak menjadi Chu Xiang Shi."
Dia tidak menjawab pertanyaan yang tua, malah mengatakan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan topik yang sedang mereka diskusikan, anehnya yang tua malah mau mendengarkan perkataannya dengan hati yang tenang.
"Orang semacam ini barangkali perasaannya sudah kaku membeku, akan tetapi kalau dia suatu ketika betul-betul jatuh cinta kepada seorang perempuan, mungkin sekali cintanya juga jauh lebih mendalam dibandingkan orang lain."
Sang remaja menjawab dengan hambar.
"Perasaan orang semacam ini, aku bisa memahami."
Yang tua memandangi dirinya, sinar matanya membawa nada kesedihan, juga mengandung senyuman.
"Belakangan ini kau sepertinya semakin hari semakin banyak mengerti masalah."
Sang remaja juga ikut tertawa, dalam nada tawanya terselip sedikit rasa duka.
"Kupikir setiap orang juga demikian,"
Sang remaja berkata sendu.
"Waktu berlangsung cepat, sekelebat sudah lenyap, mendapatkan seorang sahabat dalam hati, mati pun tidak akan menyesal."
Katanya lagi.
"Kupikir Xiang Shi tentu juga begini, oleh karena itu, sekali pun dia harus mati karena Lin Huan Yu, juga sedikit pun tidak menyesal, apa lagi Lin Huan Yu setelah beberapa waktu dia menghilang, juga ikut meninggal."
Yang diucapkan setawar air musim gugur, kandungan perasaannya justru sekental madu di musim semi.
Seorang perempuan sangat jelita yang diperalat oleh orang lain, dipaksa melakukan suatu pekerjaan oleh penolongnya, yang dirinya sebetulnya sama sekali tidak suka mengerjakannya, sudah barang tentu tahu di dalam hati sanubarinya, satu-satunya kekasih dan ksatria pujaan hatinya telah memasuki jalan kematian oleh karena pekerjaan yang dilakukannya ini dan bagaimana dia bisa bertahan hidup lebih lanjut!
Ini bukannya sebuah cerita romantis yang penuh khayal, juga bukan untuk diceritakan kepada para remaja putera dan remaja puteri yang masih sensasional.
Ini urusan orang-orang dunia Jiang Hu.
Orang dunia Jiang Hu itu orang yang bagaimana?
Dikatakan dari salah satu sudut masalah, mereka mungkin tidak boleh dikatakan sebagai satu jenis manusia, karena mereka berpikir dan berperilaku berbeda dengan orang lain.
Riwayat hidupnya seperti awan megah yang melayang di angkasa, tepat seperti daun rontok yang terbang tertiup angin, seperti rumput bebek yang mengambang di pemukaan air, apa pun tidak bisa dipegang, apa pun tidak punya, bahkan akar pun tidak punya.
Yang mereka punyai hanya darah sekujur badan, darah yang panas.
Mereka memandang ringan hidup mati, setia kawan dan setia janji, untuk satu kalimat, apa pun bisa mereka kerjakan.
Di dalam mata hati mereka, perkara 'Kematian’ Chu Liu Xiang ini, sama sekali bukanlah suatu cerita romantis saja, melainkan merupakan tragedi menyakitkan yang tidak bisa dilukiskan dengan cara apapun, sama halnya dengan sebuah cambuk dilecutkan pada landasan hati orang.
Tidak ada satu hari yang tenang tenteram, tidak ada satu hari yang boleh dilalui seperti yang telah dipikirkannya.
Tidak ada satu hari yang bisa memperkenankan kau melewatinya dengan tenang tenteram bersama orang yang kau cintai, juga tidak ada satu hari yang memperkenankan kau melakukan suatu pekerjaan yang mau kau lakukan sendiri.
Bagaimana selanjutnya?
Selanjutnya ialah mati.
Jika mujur, kau bisa mencapai puncak tinggi, waktu itu, setiap orang akan menghendaki kau mati, tanpa memilih memakai cara apapun juga, dengan seribu satu akal berupaya membuatmu mati.
Jika kurang mujur, sejak awal kau sudah menjadi orang mati.
Sekali pun Chu Liu Xiang juga tidak terkecuali, apa lagi orang lain?
Kemudian orang Jiang Hu mulai bersedih hati, bahkan or¬ang-orang dunia Jiang Hu yang paling blak-blakan sekali pun akan ikut berduka.
Bahkan musuh bebuyutan Chu Liu Xiang pun tidak terhindar menjadi sangat berduka karena dia itu, dan menganggap Lin Huan Yu sebagai seorang perempuan semacam ular kalajengking.
Hanya seorang Chu Liu Xiang sendiri yang terkecualikan.
Karena mereka bukan saja saling mencintai, malah saling memahami, karena itu ketika Lin Huan Yu menjelang ajal juga berkata.
"Jika dia masih hidup, pasti bisa memaafkan diriku, tidak peduli perkara apa pun yang sudah kulakukan terhadapnya. Dia tentu memaafkan diriku, karena dia pasti tahu bagaimana perasaan hatiku. Bahwa jika segala sesuatu hanyalah kepalsuan, perasaan cinta kasihku terhadap dia pasti dan bukan palsu."
Apa yang dikatakannya juga tidak palsu.
Di dunia ini apakah masih ada hal lain yang lebih nyata daripada kematian?
"Xiang Shi tentu akan menolong Mu Rong, hanya karena Mu Rong generasi sekarang, dipungut dan keluarga marga Lin,"
Kata sang remaja.
"Keluarga Lin dan Mu Rong ada hubungan misan. Dan Mu Rong generasi sekarang masih saudara misan segaris dengan Lin Huan Yu."
Pada suatu malam, sekitar bulan purnama, adalah Hari Raya Senja Musim Semi, di dalam sebuah pondok kayu di kejauhan gunung.
Ada dua orang, di antara keduanya tidak ada sesuatu apa pun juga, cuma belaian kasih sayang yang lembut namun kental.
Justru tepat pada hari itu, Chu Liu Xiang pernah memberitahunya, bahwa Chu Liu Xiang bersedia melakukan segala apa pun untuk dia.
Dia cuma mau Chu Liu Xiang melakukan satu perkara saja.
Dia menghendaki Chu Liu Xiang memperhatikan adiknya.
"Dia adalah satu-satunya saudaraku di dunia ini, kuharap kau bisa memperlakukan dia sebaikbaiknya, asalkan kau masih hidup, jangan kau biarkan dia sampai mengalami penghinaan dan perlakuan buruk dari orang lain. Asalkan kau berjanji memenuhi perkara ini, mati atau hidup pun aku akan berterima kasih kepadamu."
Chu Liu Xiang menyetujuinya.
Dengan adanya satu kalimat ini, maka selama Chu Liu Xiang masih hidup, bagaimana bisa membiarkannya sampai mati di tangan orang lain?
"Setelah diposisikan mati, malah hidup kembali, dengan kalimat ini diungkapkan perkara ini, sekali pun terasa kurang sesuai, tapi juga terkandung maksud lebih mendalam."
Yang tua menghela nafas.
"Dalam keadaan demikian, agaknya Xiang Shi cuma bisa hidup kembali."
"Semestinya memang begitu."
"Dengan begitu tak diragukan lagi rencana ini sudah berhasil?"
Tanya yang tua.
"Kalau pun berhasil, juga akan diremehkan oleh generasi kemudian."
"Mengapa?"
"Karena dia terlalu kejam."
"Kejam?"
Kata yang tua.
"Tentara yang berebut kemenangan, tak ada yang tidak memakai cara yang ekstrim, kapan kau pernah melihat ada orang dalam peperangan yang tidak kejam?"
"Yang kumaksudkan bukan yang demikian ini!"
Sang remaja berkomat kamit.
"Maksudku ialah, rencana ini bukan saja kejam telengas, bahkan sepenuhnya sudah kehilangan sifat kemanusiaannya!"
Dia menambahkan dengan tekanan.
"Dilihat dari kulitnya, seolah-olah rencana ini sangat rasional dan anggun beradab, tapi sesungguhnya zalim kejam tiada taranya, hanya orang yang sudah sama sekali kehilangan sifat kemanusiaannya, baru bisa mengerjakan pekerjaan serupa ini."
Berturut-turut dia pergunakan kata-kata kejam, telengas dan zalim kejam, ketiga kata sifat untuk menerangkan perkara ini, malah mulutnya sudah menjadi putih oleh kemarahannya.
"Yang paling mengerikan dalam rencana ini ialah, bahwa orang-orang yang mati dalam rencana kali ini, semua adalah korban yang tidak bersalah, bahkan sama sekali tidak tahu apa yang terjadi."
Kata sang remaja.
"Mereka semula hanya untuk suatu kesetiakawanan dunia Jiang Hu melakukan suatu pertempuran bagi nama baik dan kehormatan, kalau mati pun tidak disayangkan. Jika mereka tahu bahwa mereka sesungguhnya hanya sekumpulan alat yang dipakai untuk suatu tujuan, aku yakin mereka pasti tidak mati dengan mata terpejam."
Sang remaja dengan pedih melanjutkan berkata.
"Dalam mata dan hati orang-orang dunia Jiang Hu, masalah ini sangat penting."
"Aku mengerti,"
Suara yang tua juga menjadi sangat berat.
"Apa lagi 'Ming Cha Qiu Hao' (Qiu Hao. bulu hewan musim rontok) Liu Xian Sheng, kematiannya. sungguh membuat kita sangat sedih."
Liu Xian Sheng sudah barang tentu harus mati, jika dia tidak mati, dan jika dia berhasil memecahkan kepompong, maka semua aksi ngengat malam terbang ini, akan mengalami kegagalan total, bahkan prematur.
Akan tetapi aksi kali ini, yang dinamakan 'Aksi Ngengat Malam Terbang', maka hasil akhirnya juga sudah ditakdirkan sejak awal.
Ngengat terbang menyergap nyala api, cuma mati.
Liu Xian Sheng adalah ngengat malamnya, karena itu, sudah barang tentu Liu Xian Sheng juga hanya bisa mati.
Orang yang mati tidak bakal tahu seluk beluk di dalamnya, sudah barang tentu semakin tidak bisa memberitahu orang lain tentang seluk beluk aksi penyerangan itu, karena itu kejadian ini serta perkembangan terakhirnya, hanya jatuh ke bahu orang yang belum mati.
Dia sebetulnya juga adalah perencana keseluruhan kejadian.
Di kolong langit ini, apakah masih ada kejadian lain yang lebih sulit dimengerti orang?
Karena, jika aksi gerakan itu betul berhasil, bagi dia, justru sebaliknya, mutlak gagal, aksi gagal, bagi dia baru betul-betul berhasil, gagal total malahan sukses total, kematian baginya malah menjadi keberhasilan terbesar.
"Dalam kejadian kali ini, masih ada dua orang yang sangat penting lainnya, kita sepertinya telah melupakan dia,"
Kata sang remaja. Yang dia maksudkan sudah barang tentu adalah kedua or¬ang gadis yang berjubah panjang putih, bercadar putih, yang terus menyertai dan berada di samping Mu Rong.
"Terlebih lagi Xiao Su."
Xiao Su yalah Su Su, dari marga Su, namanya juga Su, yakni yang mendamping Liu Xian Sheng melakukan penyergapan terhadap jaring-jaring sutera. Orang yang hendak menghabisi nyawa Liu Xian Sheng.
"Dia memang bidak catur tersembunyi."
Sang remaja menjelaskan untuk dirinya sendiri "Sudah barang tentu Mu Rong sangat memahami Liu Ming Qiu, maka terlebih dahulu mengatur kedua orang itu berada di sampingnya, karena dia yakin Liu Ming Qiu pasti dapat membedakan kemampuan terpendam mereka itu."
"Ini hanya sebagian saja dari alasan mengapa Mu Rong menempatkan mereka berdua di sampingnya."
"Tidak peduli bagaimana pun, ketika Liu Xian Sheng melakukan serangan mendadak terhadap jaring-jaring sutera, betul saja dia memilih Su Su menjadi partnernya,"
Kata sang remaja.
"Karena sekali pun Liu Xian Sheng mampu mengamati jelas adanya bulu binatang di musim gugur, tapi dia tidak bisa memperkirakan justru orang terdekat di samping Mu Rong, yang bisa menjadi pembunuh yang mematikannya."
"Karena tidak bisa memperkirakan, maka Xiao Su bisa menjadikannya mati."
"Benar."
"Orang semacam Liu Ming Qiu, pada dasarnya tidak mungkin ada semacam keadaan 'tidak terpikirkan' padanya, sebab dia pada dasarnya tidak pernah percaya siapa pun."
"Sebab tidak peduli di dalam mata dan hati para tokoh Jiang Hu yang mana pun, bagaimana pun tidak akan terpikir, bagaimana suatu aksi yang direncanakan sangat cermat dan teliti, bisa punya tujuan untuk kalah, dan bukannya mencapai kemenangan."
Sang remaja menghela nafas.
"Aksi sekali ini, dengan tepat bisa dikatakan untuk menulis kembali perubahan dalam sejarah dunia Jiang Hu."
Akan tetapi, tak peduli di bawah keadaan macam bagaimana pun, mau membunuh Liu Ming Qiu tetap merupakan suatu kesulitan, sedangkan yang namanya Su Su secara pribadi masih sangat memiliki persyaratannya.
Membunuh seorang jagoan, persyaratannya adalah kecepatan dan kesempatan.
Harus bisa di dalam sekejap menggenggam kesempatan yang sekelebat telah lenyap.
Untuk kedua persyaratan ini diperlukan pelatihan yang sangat keras.
Semacam pelatihan yang hanya bisa dilakukan oleh pembunuh yang sangat profesional.
"Gadis muda seumur Su Su, apakah bisa menjadi orang seperti ini?"
"Harusnya ya,"
Jawab yang tua.
"Mau melatih seorang pembunuh yang bisa melakukan pembunuhan sampai mati dalam waktu sekejap, perlu dimulai sejak dia berusia sangat muda, kadang kala, dimulai sejak sebelum lahir."
"Hal ini, aku makin tidak mengerti."
"Yang mananya?"
"Dia tidak lenyap, hanya sementara terlepas dari aksi kali itu."
"Adakah kau mendengar centa tentang dirinya?"
"Aku pernah mendengar,"
Jawab sang remaja.
"Katanya setelah mencapai serangkaian sukses, dia mendadak jatuh pingsan."
"Betul."
"Seorang pembunuh yang lama terlatih, seharusnya sudah mempunyai tekad yang sangat kukuh tegar, bagaimana bisa terjadi dia jatuh pingsan?"
"Karena dia mendadak melihat satu wajah,"
Kata yang tua.
"Dia bermimpi pun tidak pernah memikirkan, dia dalam hidup kali ini bisa melihat wajah ini, dan semakin tidak terpikirkan wajah ini bisa dalam waktu sekejap saja mendadak muncul di hadapannya."
Wajah ini berujud wajah yang bagaimana?
Mengapa bisa membuatnya begitu tergetar?
Wajah ini wajah milik siapa?
Sangat buruk?
Sangat aneh?
Sangat jahat?
Atau sangat cakap dan rupawan?
Sebuah wajah yang sangat rupawan sangat cakap, apakah betul bisa seringkah membuat orang jatuh pingsan?
Tidak peduli bagaimana seseorang jatuh pingsan oleh sesuatu keterkejutan, tentu ada waktu dia bangkit sadar, bagaimana Su Su bisa lenyap dalam waktu begitu pendek?
Sekarang apakah dia hidup ataukah dia mau?
Ataukah sudah dibawa pergi oleh orang itu?
Riwayat hidup kedua Su Su dan Xiu Xiu, tak diragukan lagi, sangat misterius.
Dalam aksi kali ini peran mereka, tak diragukan lagi, sangat penting.
Siapa latar belakang pribadinya, dan peran apa yang dilakukan, sebetulnya peran yang bagaimana?
"Masih ada satu lagi hal yang sangat aneh."
"Hal apa?"
"Jika dikatakan mereka selalu memakai cadar kain putih, apakah tidak menginginkan orang lain melihat wajah mereka yang sesungguhnya, ini sama sekali tidak masuk akal."
"Mengapa?"
"Karena mereka sama sekali belum pernah tampak di dunia Jiang Hu, dan pokoknya tidak ada orang yang mengenali mereka juga,"
Sang remaja berkata.
"Yang semakin membuat orang tidak habis berpikir, mengapa mereka senantiasa memakai semacam pakaian putih yang lurus itu? Menutupi bentuk badannya sendiri."
"Yang ini aku mengerti."
"Ooohhh..."
"Mereka berbuat begitu, hanya untuk kepentingan Mu Rong,"
Kata yang tua.
"Karena wajah mereka luar biasa cantik, badannya sangat memikat, tidak peduli menghadapi lelaki yang mana pun, selalu menjadi semacam daya pikat yang tidak bisa dilawan."
"Akan tetapi aku tahu sebagian lelaki menyukai daya pikat semacam ini,"
Kata sang remaja.
"Daya pikatnya semakin besar, semakin membuat orang bergembira."
"Benar, sebagian terbesar lelaki juga demikian, bahkan kita boleh mengatakan, setiap lelaki semua sama demikian,"
Kata yang tua.
"Tapi Mu Rong terkecuali."
"Mengapa?"
Yang tua menghela nafas.
"Karena sekali pun dia juga lelaki cakap yang menggetarkan, lelaki yang menjadi naga dan burung phoenix, cuma sayang sekali..."
Saat ini rembulan musim gugur sudah bulat, Mu Rong masih duduk tenang di jalan yang panjang itu, seolah-olah sedang duduk di tengah kebun dan berkumpul dengan keluarga menikmati pemandangan rembulan.
Tie Da Lao Ban memperhatikan dia, mendadak menghela nafas berturut-turut.
"Tidak peduli bagaimana pun juga, kau sesungguhnya seorang lelaki pemberani, dan orang yang sepertimu, sudah semakin sedikit di dunia Jiang Hu."
Mu Rong terdiam.
"Apalagi kau sesungguhnya bukan orang dari keluarga Mu Rong, antara aku dan kau, tidak pernah ada dendam kesumat langsung,"
Kata Tie Da Lao Ban.
"Aku pun bukan jenis orang yang gemar melakukan pembunuhan."
Mu Rong mendadak bertanya.
"Apa yang kau maksudkan dengan ini."
"Yang kumaksudkan hanya untuk mengatakan, belum tentu aku harus membunuhmu,"
Kata Tie Da Lao Ban.
"Aku cuma memerlukanmu memberikan sedikit muka kepadaku."
Mu Rong juga menatap dia lama sekali, kemudian menghela nafas "Apakah kau tidak tahu, bahwa Jiang Nan Mu Rong sejak dulu tidak pernah memberikan muka kepada orang lain."
"Apakah kau betul-betul ingin mati?"
Tawar Mu Rong berkata.
"Lahir untuk apa? Mati pun bagaimana?"
Karena marahnya Tie Da Lao Ban jadi tertawa keras sekali.
"Yang disayangkan mati itu pun bukan hal mudah, jika aku sengaja tidak membiarkanmu mati, terus kau bisa apa?"
Mu Rong juga menghela nafas.
"Aku tidak bisa apa-apa, akan tetapi..."
Dia tidak menghabiskan kalimatnya, dijalan yang panjang itu, seolah-olah ada angin segar bertiup lewat dengan lembutnya, lemas ringan seperti hujan musim semi.
Akan tetapi waktu angin bertiup lewat, api lampu di kedua sisi jalan panjang, mendadak memancarkan semacam bunga api yang aneh.
Semacam bunga api yang panjang dan halus, dilihatnya bahkan agak mirip dengan bunga anggrek yang mekar di tengah malam redup.
Warna nyala lampu juga berubah, juga mirip dengan bunga anggrek putih.
Mendadak sekali, di atas jalan yang panjang ini, yang wangi bagaikan ratusan dan ribuan bunga anggrek mekar bersama-sama.
Wajah Tie Da Lao Ban sudah barang tentu juga berubah, mengikuti goyangnya asap dan api, sudah mengalami beberapa macam warna.
Kemudian badannya mendadak menjadi mengejang dan mengerut, seperti dicekik oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan.
Dalam waktu yang sama, juga tidak diketahui dari mana, melompat keluar anak kecil berbaju merah, tangannya memegang pisau kecil, melompat terjun dari angkasa, sebuah tangan mencengkeram sanggul rambut di kepalanya, dipotongnya kepala itu, dijinjing dan langsung lari, cepatnya mirip jenis setan, sekejap telah menghilang.
Sosok tubuh Tie Da Lao Ban masih belum roboh sepenuhnya, tapi kepalanya sudah lenyap.
Saat ini tepat tengah malam.
Mu Rong tahu serangan yang betul-betul sudah dimulai, bahkan yang mutlak sangat fatal mematikan, tanpa memberi ampun, tanpa meninggalkan nyawa.
Suah barang tentu dia juga tahu siapa orang yang mengerahkan serangan itu, jika mereka sudah mulai turun tangan, bahkan ayam dan anjing juga tak tertinggal, kumala dan batu samasama musnah, tidak peduli lawannya siapa.
Mungkin saja orang tua, isteri dan saudara semuanya sama.
Untuk mencapai maksud tujuan, bahkan diri mereka sendiri pun boleh dijadikan korban.
Mu Rong sangat dalam memahami, bahwa hidup mati dirinya sudah berada di antara pinggiran mata golok.
Jika belum ada orang menolong dirinya, cukup dalam waktu sekejap, darahnya akan muncrat tujuh zhi, bahkan dia bisa menyaksikan darah yang memancar ke luar ke mana-mana.
Itu darahnya, bukan darah orang lain.
Sekalipun sama berwarna merah, di dalam pandangan matanya, akan hanya satu bidang putih saja.
Dalam kondisi ini hanya satu orang yang bisa menolong dirinya, apakah dia bakal sempat tiba untuk memberikan pertolongan?
Dia tidak terlalu yakin, siapa pun udak bisa yakin.
Akan tetapi dia sangat percaya, asalkan orang itu masih hidup, sudah pasti akan muncul untuk menolong.
Karena dia berhutang sebuah nyawa kepada mereka.
Bab Setan Kecil Merah Pemotong Kepala Di dalam lembah Pegunungan Besar Guen Luen yang sangat tersembunyi, tersembunyi sebuah rumah besar kuno berwarna putih di antara tebing-tebing cadas kelabu keputihan, tidak diragukan hari ini sedang terjadi suatu peristiwa yang aneh.
Sebab, pada hari ini tidak seperti biasanya yang tanpa ada pengunjung mondar mandir, di sekitar tengah malam malah kedatangan lima orang tamu memasuki rumah itu.
Orang yang pertama badannya kurus dan tinggi seperti batang bambu, lebih tinggi paling sedikit dua chi dari orang biasa, dalam sepanjang hidup, barang kali jarang ketemu or¬ang setinggi dia.
Tangannya juga memakai satu tongkat bambu hijau, yang lebih tinggi empat chi lagi darinya, yang ujungnya masih ada berapa lembar daun bambu hijau.
Pakaiannya, bambu hijau dan daun bambu di tangannya, semuanya hijau tua, bahkan wajahnya juga warna hijau tua, seperti memakai selembar topeng wajah hijau tua dari kulit manusia..
Orang seperti ini, seharusnya jalannya kaku keras, jika dikatakan melompat-lompat seperti mayat hidup juga takkan disalahkan orang.
Yang aneh, gerakannya justru sangat gesit, bahkan lemah gemulai.
Lemah gemulai?
Apa yang dimaksud dengan gerakannya lemah gemulai?
Orang itu tadinya masih di luar sejauh dua puluh zhang, tapi sekali dia mengayunkan pinggang ringan saja, sudah seperti daun serat pohon liu tertiup angin sebentar, kemudian, sekejap saja, dia sudah sampai di depan rumah batu putih itu.
Rumah besar sunyi senyap, seperti fosil hewan purba dari jaman pra sejarah.
Orang yang memakai baju warna bambu itu mengetuk tangga batu di depan pintu dengan tongkat hijau di tangannya.
"tok, tok tok tok tok, tok tok" , mengeluarkan tujuh kali suara, suaranya tidak besar, tapi seperti sudah menyusup ke batu di bumi, ke dalam bawah tanah, kemudian keluar kembali dari suatu pusat komunikasi misterius dalam rumah di atas. Selanjutnya kedua belah pintu batu raksasa mulai bergerak pelan-pelan, memunculkan sebuah garis. Sesudah sebuah hembusan angin, orang berbaju warna bambu itu mendadak menghilang ke belakang pintu, pintu menutup kembali, sepertinya belum pernah dibuka. Kemudian datang orang yang kedua. Orang kedua mengenakan sepotong baju warna merah, badannya kecil mungil, tubuhnya lincah dan ringan, rambutnya disisir jadi dua buah kuncir besar yang berminyak selicin air, di tangannya menggenggam sekuntum bunga Mei, warnanya hijau tua segar mencolok, seperti baru dipetik dari ranting pohonnya. Sekarang baru saja dalam musim gugur, dari mana bisa dapat bunga Mei? Gadis kecil ini, seharusnya gerakannya lincah dan indah, tapi dia datang dengan melompatlompat, seperti lompatan mayat beku kaku (vampire) bahkan lebih kaku dan keras dari vampire aslinya. Tiba di depan rumah besar warna putih, baru badannya melompat ke atas, dengan jari tengah dan ibu jari tangan kirinya, disentilnya ranting bunga Mei yang di tangan kanan, kelima kelopak bunganya segera berputar terbang melayang pergi, memasuki rumah besar, memasuki kabut gunung, sekilas saja sudah tidak terlihat lagi. Waktu itu juga dia juga sudah menghilang. Ada kabut di gunung, kabut yang tebal. Lewat sejenak, dari tengah kabut muncul sebuah tandu, tandu berwarna putih kelabu, yang mirip tandu kertas untuk bekal kubur yang akan dibakar untuk orang mati, yang seolah-olah tertiup ke atas oleh angin gunung. Akan tetapi tandunya justru diusung orang. Akan tetapi pengusung tandu itu juga seperti ditiup ke atas oleh angin. Orang dan tandu semua berwarna kelabu, sepertinya dibuat dari kertas, yang seperti sudah menyatu ke dalam kabut, dan melarut dalam kabut menjadi kabut yang lain. Kala sampai di depan rumah besar putih, mereka mendadak berhenti. Berhenti di tengah awang-awang langit. Kemudian tandu itu mengeluarkan semacam suara tangisan setan.
"Aku sudah menemukan kalian, kalian sudah tidak bisa lari lagi, cepat kembalikan nyawaku, cepat kembalikan nyawaku."
Di dalam rumah warna putih mulus yang sederhana itu, orang yang mengenakan jubah panjang dari kapas putih dan kelihatan seperti pelaku tapa fakir asing itu, sebelumnya sedang membalik-balik satu berkas dokumen.
Tidak diragukan, berkas ini juga termasuk sebagian dokumen aksi ngengat malam, bahkan merupakan bagian paling utama dari aksi kali ini.
Karena di atas berkas cuma dituliskan dua kata.
NGENGAT TERBANG Kedua kata ini mewakili satu orang.
Orang ini adalah Ngengat Terbang Malam [Aksi Ngengat Terbang], yakni umpan bagi seorang pemancing.
Lin Huan En, laki laki 21 tahun.
Ayah .
Lin Deng, sudah meninggal.
(Catatan.
Lin Deng, Kabupaten Pu Tian, Propinsi Fu Jian, murid luar Vihara Shao Lin Aliran Selatan Perguruan Shao Lin, hartawan kaya raya yang memiliki gunung teh puluhan ribu hektar, berdagang dengan Persia dan Timur Tengah selama tujuh tahun, keluarganya sangat kaya, menurut kabar sudah memperoleh 'Xin Yun"
Ceng Juan, meninggal satu tahun lalu, umur 49 tahun).
Ibu .
Mu Rong Si Liu.
(Catatan.
Mu Rong Yi Jing Mei, bibi Mu Rong Qing Cheng.
Sudah meninggal.) Kakak Perempuan .
Lin Huan Yu.
(Catatan .
Saudara kembar dengan Lin Huan En, punya penyakit fatal, dititipkan pada rumah keluarga Mu Rong di Jiang Nan, karena menurut ajaran kuno, anak kembar harus dipelihara di dalam keluarga dan rumah yang terpisah.
Sudah meninggal.) Di bawah ini adalah pandangan Lin Deng terhadap anak laki-lakinya, bahan diperoleh dan hubungan keluarga yang sangat mesra, malahan bersumber dari yang dikatakan langsung oleh Lln Deng.
"Huan En pintar, sangat pintar sekali, dalam usia tiga tahun sudah bisa menulis, tujuh tahun sudah mampu menulis Sutera Ratna Intan, aku tidak berani mengajarinya ilmu silat, karena orang yang sangat pintar sekali biasanya pendek umurnya, akan tetapi di antara teman-temanku dari Jiang Hu banyak sekali yang sangat pandai silat, asalkan mereka pernah menginap berapa hari di rumah, Huan En tentu bisa menguasai inti sari ilmu silat mereka, sayangnya dia meninggal mendadak sebelum diriku sendiri..."
Di bawah ini adalah pandangan Mu Rong Si Liu tentang anak laki-lakinya .
"Huan En adalah anak yang patut dikasihani, karena dia sejak kecil sudah ditakdirkan untuk jadi korban, karena keluarga kami berhutang budi terhadap keluarga Mu Rong, dan sudah memutuskan akan menggunakan anak ini sebagai imbalan membalas budi keluarga Mu Rong. Tidak peduli ada kesukaran apa saja dalam keluarga Mu Rong, anak ini pasti akan tampil ke depan."
Betul saja ada kesukaran dalam keluarga Mu Rong, seharusnya Huan En bisa menyelesaikan untuk mereka, tapi yang disayangkan...
Di bawah ini ialah pandangan kakak perempuannya Lin Huan Yu terhadap dia.
"Seluruh jalan darah dan pembuluh darah kacau balau, kehilangan fungsi organ utama badan, di samping tidak bisa melakukan gerak olah raga keras, juga tidak boleh mengalami suatu rangsangan apa pun, jika tidak, maka akibatnya, mati tanpa ada obat penolongnya."
Pelaku tapa fakir yang memakai jubah panjang abu-abu menggulung naskah pelan-pelan dengan tangannya, tangannya sama dengan bagian badannya yang lain, juga terselubung di dalam jubah abu-abu yang grombyong itu.
Entah berapa kali dia membuka dan membaca naskah ini, sekali ini, sekali lagi dia masih membaca kembali dengan teliti.
Biasanya dia selalu amat teliti, tidak pernah mengijinkan apa yang mereka kerjakan mengandung suatu kecerobohan atau kesalahan.
Dia punya tuntutan sangat keras terhadap diri sendiri atau pun anak buahnya, akan tetapi saat ini dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menghela nafas, seolah-olah sudah sangat puas terhadap dirinya sendiri.
Bersamaan dengan itu, orang yang memakai jubah hijau tua itu, seperti gantar bambu hijau sudah mengayun bagaikan surai daun hu memasuki ruangan, dengan ringannya duduk ke dalam sebuah kursi batu yang besar dan lebar, caranya duduk membuat orang ingat kepada gaya seekor kucing.
Setan kecil yang menjumput bunga mei merah juga melompat berdiri, cepat saja melompat ke dalam kursi yang lain, bukannya benar duduk, tapi malahan tegak berdiri di atas kursi.
Persendian sekujur badannya kelihatannya keras kaku seluruhnya, sama sekali tidak bisa diputar atau dilipat.
Sang pelaku tapa fakir tidak mengangkat kepala, juga tidak melihat mereka sekilas pun, cuma berkata dengan dingin.
"Kau tidak seharusnya datang, mengapa datang juga?"
"Mengapa aku tidak boleh datang?"
Jika masih ada orang lain berada di dalam rumah ini, mendengar kata-kata ini tentu akan terkejut.
Empat kata yang membentuk kalimat ini sedikit pun tidak membuat orang terkejut, orang yang mengucapkan kalimat ini, sedikit pun nada suaranya tidak mengejutkan.
Menakut-nakuti, mengancam, memeras, menusuk tajam, adalah nada suara yang bisa membuat orang terkejut, di dalam suara ini sama sekali tidak ada.
Sesungguhnya, suara orang yang mengucapkannya jauh lebih merdu daripada suara sebagian besar orang di dunia ini.
Bukan saja bening renyah penuh liukan, tapi juga mengandung semacam rayuan semanis madu yang tidak terucapkan.
Inilah yang betul-betul mengejutkan orang.
Ketiga orang yang berada dalam rumah ini, semestinya tidak ada seorang pun yang bisa bersuara seperti ini.
Tapi, ini justru ada.
Orang berjubah hijau tua, yang berwajah hijau lumut, yang badannya keras kaku seperti mayat beku itu, malah memakai nada suara semanis madu ini, dengan gemulai bertanya kepada orang berjubah hijau tua yang sepertinya tidak punya gairah hidup itu.
"Katamu aku tidak sepantasnya datang, apakah bukan karena aku membawa orang yang seharusnya tidak datang"
"Betul."
"Aku juga tahu,"
Suara lembut orang berjubah hijau seperti suara perawan yang pertama kali jatuh cinta.
"Jika bukan aku, orang-orang di toko boneka kertas itu selamanya tidak bakal menemukan tempat ini."
"Betul."
"Juga karena hal inilah, maka aku harus datang."
"Mengapa?"
"Aku tidak datang, bagaimana mereka menemukan tempat ini? Mereka tidak datang, bagaimana malah sudah di sini?"
Kata yang berjubah hijau.
"Ada aku yang datang, maka mereka juga datang, bagaimana bisa pulang hidup-hidup?"
"Apakah mereka bisa pulang hidup-hidup, tidak ada hubungannya denganku, apakah di sini atau tidak."
"Lalu ada hubungannya dengan siapa?"
Tanya yang berjubah hijau.
"Kau."
Suara dari petapa fakir selamanya tidak menunjukkan adanya emosi, tidak mungkin berubah karena sesuatu emosi, tidak bakal terguncang oleh sesuatu peristiwa, bukan tidak punya perasaan, bahkan sepertinya tidak punya pikiran.
Dia hanya memberitahu dengan nada tawar kepada orang berjubah hijau itu.
"Apakah mereka bisa pulang hidup-hidup, hanya ada kaitannya denganmu, karena mereka dibawa olehmu."
Waktu itu sudah tengah malam, pemandangan malam di kejauhan juga sudah seperti seorang dewa menuangkan satu baskom tinta hitam ke atas selembar kertas maklumat buatan cermat dari anak cucu terakhir kaisar, tandu dan kedua or¬ang pengusungnya, masih seolah-olah boneka kertas yang tergantung di langit di kejauhan.
Tergantung di awang-awang langit malam, kelihatannya mirip sekali dengan lukisan setan dari Wu Dao Zi (Pelukis awal abad 8 dari Dinasti Tang), begitu realistik, begitu misterius, namun juga begitu indah dan cantik.
"Betul,"
Suara orang berjubah hijau masih tetap biasa seperti biasanya.
"Aku yang membawa mereka, sewajarnya aku yang menyuruh pulang."
Dia sudah berdiri.
Gayanya berdiri, mirip seperti sekuntum bunga mendadak tumbuh dari tanah alam dewata.
Begitu realistik, begitu indah dan cantik, tapi juga begitu misterius.
Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 7
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 17