Ceritasilat Novel Online

Pedang Langit Dan Golok Naga 17

Eps 17 Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Baca online Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Cersil Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung.

Setiap kali sinar matanya bentrok dengan sinar mata Boe Kie, ia berpaling ke arah lain.

"Boe Kie,"

Teriak Kim mo Say ong.

"Dahulu ketika aku dan kedua orang tuamu mengarungi lautan, ditengah jalan kami diserang topan dan penderitaan itu lebih hebat dari sekarang. Belakangan kami menggunakan sebuah gunung es sebagai perahu dan makan daging beruang. Tapi waktu itu yang meniup adalah angin selatan dan kami ditiup sampai kutub utara. Apakah kareana membenci Cia Soen, Loo thian ya (langit) ingin menggiring aku ke gedung Lam kek Sian ong (Dewa Kutub Selatan) supaya aku berdiam di situ dua puluh tahun lagi? Ha ha…Ha ha ha…."

Sesudah tertawa terbahak-bahak ia berkata.

"Waktu itu kedua orang tuamu merupakan pasangan yang serasi tapi sekarang kau membawa empat orang wanita muda. Bagaimana kau bisa berbuat begitu? Ha ha ha ha ha…."

Paras muka nona Cioe berubah merah dan ia segera menundukkan kepala. Yang segera membuka suara adalah Siauw Ciauw.

"Cia Loo-ya coe, aku hanya seorang pelayan yang melayani Kongcoe ya,"

Katanya dengan sikap wajar.

"Aku tidak masuk hitungan."

Tio Beng tersenyum. Ia terluka berat tapi ia tak tahan untuk tidak ikut bicara.

"Cia Loo-ya coe,"

Katanya.

"Kalau kau masih terus mengaco belo, sesudah sembuh aku akan menggaplok pipimu."

Cia Soen tertawa nyaring.

"Ah! Sungguh galak si nona!"

Katanya. Mendadak ia berhenti tertawa dan berkata pula dengan suara sungguh-sungguh.

"Hm, semalam kau telah menyerang dengan tiga jurus nekat. Yang pertama Giok swee Koen kong dari Koen loen-pay. Yang kedua, Jin koei Tong touw. Yang…yang ketiga…Aku si tua, memang sangat tolol, aku tak dapat mendengar jurus yang ketiga itu."

Nona Tio terkejut, ia tak pernah menduga bahwa meskipun matanya buta Kim mo Say ong bisa menebak kedua jurus itu secara tepat.

"Yang ketiga Thian tee Tong sioe dari Boe tong-pay,"

Katanya.

"Jurus ini rupanya belum lama digubah sehingga tidaklah heran kalau tak dikenal oleh Loo-ya coe."

Kim mo Say ong menghela nafas.

"Kau ingin menolong Boe Kie itu sangat baik, sangat mulia,"

Katanya dengan suara terharu.

"Tapi mengapa kau berlaku nekat? Mengapa?...Mengapa nekat?"

Tio Beng menjawab.

"Karena dia…dia…."

Untuk sejenak ia ragu tapi kemudian meneruskan juga perkataannya.

"…karena…Siapa membunuh Thio Kongcoe, aku…aku tak mau hidup lagi!"

Sehabis berkata begitu air matanya mengucur.

Cia Soen dan yang lain-lain kaget tak kepalang.

Tak seorangpun pernah menduga bahwa seorang gadis seperti Tio Beng akan membuka rahasia hatinya di hadapan orang banyak.

Tapi mereka tak ingat bahwa nona Tio adalah seorang gadis Mongol yang jalan pikirannya dan cara-caranya berlainan dengan wanita Han.

Sebagai anak Mongol, ia berwatak polos.

Kalau mencintai ia mencintai terang-terangan kalau membenci ia juga membenci terang-terangan.

Apalagi keadaan waktu itu disaksikan banyak orang, tak seorangpun bisa mengatakan apa mereka akan hidup terus atau mati di dasar lautan.

Perkataan nona Tio sangat mengejutkan dan mengharukan Boe Kie, ia tak sangka bahwa rasa cinta gadis itu terhadapnya sedemikian besar.

Sambil mencekal tangannya erat-erat ia berbisik.

"Biar bagaimanapun juga, lain kali kau tak boleh berkata begitu."

Sesudah lidahnya terpeleset, nona Tio sebenarnya merasa menyesal.

Ia merasa bahwa kata-kata itu kurang pantas dikeluarkan oleh seorang gadis, tapi begitu mendengar bisikan Boe Kie, ia kaget bercampur girang, malu bercampur bahagia yang sukar dilukiskan.

Ia merasa bahwa segala pengorbanannya dan segala penderitaannya tidaklah sia-sia.

Perlahan-lahan hujan berhenti tapi halimun makin tebal.

Mendadak seekor ikan yang beratnya kira-kira tiga puluh kati melompat masuk ke dalam perahu.

Dengan sekali totok, lima jari tangan Cia Soen amblas di badan ikan.

Semua orang girang, Siauw Ciauw mencabut pedang dan memotong daging ikan menjadi potongan-potongan kecil.

Mereka sangat lapar dan sambil menahan nafas sebab bau amis, masing-masing lalu memakan sepotong daging.

Cia Soen makan dengan bernafsu, selama berada di Peng hwee to ia pernah menelan macam-macam untuk menahan lapar.

Tak lama kemudian, ombak mereda.

Sesudah mengganjal perut, semua orang memejamkan mata dan mengaso.

Yang tertidur paling dulu adalah Siauw Ciauw.

Tio Beng terus memegang tangan Boe Kie dan beberapa saat kemudian karena hatinya tenteram, iapun pulas dengan bibir tersungging senyuman.

Sesudah melawan bahaya sehari dan semalam suntuk mereka semua capai dan lelah.

Cie Jiak dan Siauw Ciauw tidak ikut bertempur tapi merekapun mengalami kekagetan yang tidak kecil.

Demikianlah laut yang tenang sehingga perahu itu merupakan ayunan yang berayun-ayun dengan perlahan, keenam penumpang itu tertidur semua.

Selang empat-lima jam, Cia Soen yang berusia lanjut sadar lebih dulu.

Dengan kasih ia mendengar nafasnya kelima orang muda itu yang saling sahut dengan suara ombak.

Nafas Cie Jiak perlahan dan panjang.

Yang luar biasa adalah suara nafas Boe Kie, suara nafas itu seperti terputus seperti bersambung antara "ada"

Dan "tidak ada". Bukan main rasa kagumnya Cia Soen.

"Seumur hidup aku belum pernah bertemu dengan manusia yang mempunyai Lweekang begitu tinggi,"

Katanya di dalam hati.

Nafas Siauw Ciauw pun sangat aneh, sebentar cepat sebentar pelan.

Itulah tanda bahwa si nona telah berlatih sesuatu yang mirip Lweekang yang sangat luar biasa.

Alis Kim mo Say ong berkerut.

Ia ingat sesuatu hal.

"Heran!"

Pikirnya.

"Apa dia…."

Sekonyong-konyong terdengar bentakan In Lee.

"Thio Boe Kie! Anak bau! Mengapa kau tak mau mengikuti aku ke Leng Coa To?"

Boe Kie, Tio Beng, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw lantas saja tersadar.

"Boe Kie!"

Bentak pula nona In.

"aku hidup sebatang kara di pulau itu… Mengapa kau tidak mau menemani aku? Kau… anak bau! Aku ingin memotong dagingmu jadi dua puluh tujuh potong untuk dijadikan makanan ikan… kau."

Boe Kie meraba pipi si nona.

Paras membara!

Ia mengaco karena dengan keras.

Boe Kie mengerti ilmu ketabiban, tapi di perahu itu ia tidak berdaya.

Jalan satu-satunya hanyalah merobek ujung bajunya, mencelupnya di air laut dan menaruhnya di pipi In Lee.

Si nona terus berteriak-teriak.

"Thia-thia! Jangan!... Jangan bunuh ibu! Jie-nio dibunuh olehku. Kau bunuhlah aku! Ibu tak campur-campur urusanku… Ibu mati!... mati!... akulah yang mencelakainya… uh-uh-uh-uh…."

Ia menangis keras, ia sesambat.

"Coe Jie! Coe Jie!"

Panggil Boe Kie.

"Sadarlah ayahmu tidak berada di sini. Jangan takut!"

"Aku tak takut!"

Bentak si nona.

"ayah yang salah, aku tak takut! Sesudah dia kawin dengan ibuku, perlu apa dia mengambil jie-nio, sam-nio? … thia-thia, kau membuat aku sangat menderita. Kau bukan ayahku… Kau lelaki curang… lelaki jahat… "

Boe Kie pucat mukanya.

Perkataan In Lee seolah-olah pisau yang menikam hatinya, karena tadi ia mimpi menikah dengan Tio Beng, dengan Cie Jiak, dengan In Lee sendiri yang telah berubah cantik dan dengan Siauw Ciauw.

Di waktu sadar ia tidak berani memikir yang tidak-tidak.

Tapi di dalam mimpi, sesuatu yang tersimpan dalam alam pikirannya yang tidak sadar terbayang tegas.

Ia merasa bahwa keempat gadis itu cantik semuanya dan ia tidak dapat berpisah dengan mereka.

Selagi membujuk In Lee, di dalam otaknya masih teringat impian yang sedap.

Sekarang mendengar cacian In Lee, ia lantas ingat peristiwa di kaki Kong Beng Teng yang dilihatnya dengan mata sendiri dan kejadian-kejadian yang pernah didengarnya.

Karena tak tahan melihat hinaan terhadap ibu kandungnya In Lee telah membinasakan gundik ayahnya.

Karena perbuatan sadis itu, ibu kandungnya belakangan membunuh diri.

In Ya Ong, ayah In Lee, atau paman Boe Kie, gusar tak kepalang.

Beberapa kali ia coba membunuh puterinya.

Karena peristiwa menyedihkan itu, karena gundik kesayangannya dibunuh puterinya sendiri, untuk menghibur hatinya, In Ya Ong mengambil beberapa gundik lagi.

Itulah yang diingat Boe Kie.

Sambil memegang tangan nona In, ia melirik Tio Beng dan kemudian melirik Cie Jiak.

Ia ingat impiannya dan ia merasa sangat jengah.

Sesudah mengucapkan perkataan-perkataan yang sukar ditangkap, In Lee berkata dengan suara yang agak tegas.

"Boe Kie… kau ikutlah aku. Kau telah menggigit tanganku, tapi aku sedikitpun tidak membenci kau. Seumur hidup aku akan melayani kau, aku menganggap kau sebagai majikanku. Jangan lah kau mencela romanku yang jelek. Apabila kau sudi menerima aku, aku rela melemparkan seantero ilmu silatku, membuang racun Ciancoe yang berada dalam diriku, supaya paras mukaku bisa pulih kembali seperti pada waktu kita baru bertemu… "

Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan suara lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Boe Kie merasa sangat terharu.

Ia tak nyana bahwa saudari sepupuhnya itu adatnya aneh, mempunyai perasaan yang sangat halus.

"Boe Kie,"

Kata pula Nona In.

"aku telah mencari kau di segala pelosok dunia. Belakangan kudengar, bahwa kau mati lantaran jatuh di dalam jurang. Waktu berada di See-Hek, aku bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Can A Goe. Dia berkepandaian tinggi, orangnya sangat baik dan dia pernah mengatakan, bahwa dia bersedia mengambil aku sebagai isteri… "

Tio Beng dan lain-lain tahu, bahwa Can A Goe adalah nama samaran Boe Kie.

Dengan serentak mereka melirik pemuda itu yang paras mukanya lantas saja berubah menjadi merah.

Dalam demam keras, In Lee tak dapat menahan lidahnya sendiri.

Boe Kie tidak berani menghentikannya dengan menotok jalan darah si nona, sebab kalau ditotok jiwa nona In lebih terancam.

Ia tidak berdaya waktu dilirik oleh Tio Beng, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw, ia merasa begitu jengah sehingga ia ingin sekali menyeburkan diri ke laut.

Sementara itu, In Lee terus mengaco, ‘A Gu koko pernah mengatakan begini kepadaku.

Nona, dengan setulus hati aku bersedia untuk menikah dengan kau.

Aku hanya mengharap, kau tidak mengatakan bahwa aku tidak setimpal dengan dirimu.

Selanjutnya dia berkata, mulai detik ini aku akan mencintaimu, akan melindungi kau dengan segenap jiwa dan raga.

Tak perduli ada berapa banyak orang yang mau mencelakai kau, tak perduli ada berapa banyak jago yang mau menghina kau, aku pasti akan melindungi kau.

Aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi kepentinganmu.

Aku ingin kau berbahagia dan melupakan segala penderitaanmu yang dulu.

(Kisah Pembunuh Naga

Jilid 14 Halaman 744) Boe Kie, watak A Goe Koko baik, lebih tinggi ilmunya dari orang-orang sepantarnya Biat Coat Soethay.

Tapi sebab hatiku sudah diserahkan kepadamu, Setan kecil yang pendek umurnya, maka aku tak meluluskan permintaan A Goe Koko.

Kau sudah mati, biarlah aku tak menikah seumur hidup.

Boe Kie, cobalah bilang, apa A Lee baik atau tidak baik terhadap dirimu?

Hari itu kau tak memperdulikan aku, menolak ajaranaku.

Coba kau katakan dengan setulus hati, apa kau merasa menyesal atau tak merasa menyesal?"

Mendengar kata-kata yang menyayat hati itu, tanpa merasa air mata Boe Kie mengalir turun ke dua pipinya.

"Boe Kie"

Bisik nona In.

"Apakah kau tak merasa kesepian di alam baka? Aku telah mengikut Popo ke Peng Hwee To untuk mencari ayah angkatmu. Sesudah itu, aku ingin pergi ke Boe Tong San untuk menyembahyangi kuburan kedua orang tuamu dan kemudian aku akan pergi di See-hek untuk membuang diri di puncak es, dimana kau telah tergelincir jatuh, supaya aku bisa menemani kau selama-lamanya di alam baka. Tapi aku baru bisa bertindak begitu sesudah Popo meninggal dunia. Sekarang belum dapat aku mengawanimu. Tak bisa aku meninggalkan Popo seorang diri di alam dunia yang luas ini. Popo sangat baik terhadapku. Kalau ia tak menolong, siang-siang aku sudah mati dibunuh ayah angkatku. Aku telah memberontak terhadap Popo. Ia sekarang sangat membenci aku, tapi aku selamanya takkan dapat melupakan budinya dan akan coba membalas budi yang besar itu. Boe Kie, apakah sikapku sikap yang benar?"

Sesudah itu, suaranya tak tegas dan tak teratur lagi.

Sebentar ia berbisik, sebentar berteriak, sebentar tertawa, sebentar menangis.

Belakangan suaranya makin perlahan dan rupa-rupanya karena capai, akhirnya ia tertidur.

Boe Kie berlima saling mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Masing-masing bicara pada dirinya sendiri.

Ombak laut memukul-mukul badan perahu, siliran angin meniup dengan perlahan, sedang saug rembulan memancarkan sinarnya yang putih laksana perak.

Boe Kie menghela napas.

Apa yang dilihatnya langit rembulan adalah abadi.

Apa yang berubah-rubah adalah manusia yang selalu diliputi dengan kedukaan dan penderitaan.

Tiba-tiba kesunyian dipecahkan dengan nyanyian yang sangat perlahan.

"Pada akhirnya badan manusia, tak bisa lari dari hal itu, hari ini ada kesenangan, nikmatilah kesenangan itu, siang dan malam seratus tahun, yang berusia tujuh puluh sudah jarang ada, sang waktu mengalir bagaikan air, gelombang demi gelombang."

Nyanyian itu ternyata keluar dari mulut In Lee yang masih terus mengaco.

Mendadak jantung Boe Kie memukul keras.

Ia ingat, bahwa pada waktu terkurung di jalanan rahasia di Kong Beng Teng sebab jalanan ditutup Seng Koen, Siauw Ciauw pun pernah menyanyikan nyanyian itu.

(Kisah Membunuh Naga

Jilid 17, Halaman 890) Mau tak mau ia melirik nona itu yang justru sedang mengawasi dirinya.

Begitu dua pasang mata kebentrok, si nona buru-buru memalingkan kepalanya.

Sementara itu, In Lee sudah menyanyi pula.

Kali ini lagunya aneh, berbeda dengan lagu yang biasa di daerah Tiong Goan.

Boe Kie dan yang lain-lain memasang kuping untuk menangkap kata-kata dalam nyanyian itu.

Akhirnya mereka mendengar sajak yang maksudnya menyerupai sajak yang pernah dinyanyikan Siauw Ciauw di Kong Beng Teng.

"Dengan bagaikan mengalirnya air, pergi, laksana siliran angin, entah dari mana datangnya, entah di maan tujuannya!"

Ia mengulangi sajak itu berulang-ulang.

Makin lama makin perlahan, sehingga akhirnya menghilang di antara suara air dan suara angin.

Semua orang mendengar dengan termenung.

Mereka merasa bahwa memang benar, seorang manusia yang dilahirkan di dalam dunia tak diketahui darimana datangnya.

Biarpun dia gagah, biarpun di kosen, pada akhirnya dia tak bisa terluput dari kematian.

Dengan mengikuti siliran angin tak diketahui dimana tujuannya.

Pada saat itu, Boe Kie merasa, bahwa tangan Tio Beng yang dicekal olehnya dingin bagaikan es dan agak bergemetar.

Tiba-tiba kesunyaian dipecahkan oleh suara Cia Soen.

"Ah! Lagu Persia diturunkan oleh Han Hoejin kepadanya. Dua puluh tahun lebih yang lampau, pada suatu hari ketika berada di Kong Beng Teng aku pernah dengar lagu ini.

"Hai! Kutaknyana Han Hoejin bisa berlaku begitu kejam terhadap anak ini."

"Loo Ya Coe,"

Kata Tio Beng.

"cara bagaimana Han Hoejin dapat menyanyikan lagu persia itu. Apakah itu lagu Beng Kauw?"

"Beng Kauw berasal dari Persia dan meskipun bukan lagu Beng Kauw, lagu itu mempunyai hubungan rapat dengan Beng Kauw,"

Jawabnya.

"Lagu itu telah digubah pada dua abad lebih yang lampau oleh seorang penyair Persia yang paling terkemuka yaitu Omar Khayyam. Sepanjang cerita lagu itu dapat dinyanyikan hampir oleh setiap orang Persia. Dahulu waktu aku mendengar nyanyian Han Hoejin, aku pernah menanyakan asal usul dan Han Hoejin telah memberi keterangan jelas kepadaku. Ceritanya adalah begini. Alkisah pada jaman itu, Persia terdapat seorang guru besar, Imam Mowfaak, ia mempunyai tiga orang murid terkemuka, yaitu Omar Khayyam, Nizam Mulk, dan Ben Sabah."

"Omar Khayyam mengutamakan ilmu sastra, Nizam Mulk mengutamakan ilmu politik sedang Hasan unggul dalam ilmu silat. Mereka bertiga bersahabat erat dan belakangan mereka bersumpah untuk sama-sama senang dan sama-sama susah."

"Sesudah mereka keluar dari rumah perguruan, Nazam-lah yang paling beruntung dan ia menjadi Vezer, atau menjadi seorang Menteri Pertama dari Sah Persia. Waktu kedua sahabat karibnya datang padanya. Nazam merasa girang, dan memohon supaya Raja Persia memberi pangkat kepada mereka itu. Hasan diberi pangkat dan menerimanya, tapi Omar menolak. Ia hanya memintan tunjangan uang supaya ia bisa mempelajari ilmu bintang menyusun kalender dan menulis sajak-sajak, tanpa harus memikiri soal penghidupannya. Dengan rasa menyesal, Nazam meluluskan permintaan sahabat itu.

"Tapi Hasan seorang yang berangan-angan besar dan tidak bisa terus-menerus berada di bawah kekuasaan orang lain. Ia memberontak dan setelah memberontaknya ditindas, ia mengumpulkan orang-orang yang tidak karuan dan melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk seperti membunuh dan sebagainya. Ia menjadi kepala dari sebuah gerombolan yang namanya menggetarkan dunia dan diantara para pejuang salib, ia terkenal sebagai seorang tua dari pegunungan. Di daerah barat banyak sekali manusia yang binasa di dalam tangan Hasan dan pengikutnya."

"Menurut keterangan Han Hoejin, di ujung daerah Barat terdapat sebuah negeri yaitu Negeri Inggris. Raja Inggris ,Edward, dimusuhi si "

Orang tua dari pegunungan,"

Yang belakangan mengirim orang untuk membunuh raja tersebut.

Pengawal-pengawal raja tidak berhasil memukul mundur orang-orangnya Hasan dan raja dilukai dengan golok beracun.

Syukur tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri, permaisuri memberi pertolongan dengan mengisap luka sang suami dan menyedot keluar racun itu.

Dengan demikian raja terluput dari kebinasaan."

"Hasan benar-benar jahat, belakangan ia bahkan memerintahkan orang untuk membunuh Nizam Mulk, sahabat karib yang pernah memberi banyak bantuan kepadanya. Pada waktu mau melepaskan napasnya yang penghabisan, Nazam telah mengucapkan dua baris sajak yang tadi diucapkan oleh In KouwNio gubahan Omar Khayyam."

"Akhirnya Han Hoejin memberitahukan, bahwa banyak pengikut Beng Kauw di Persia mempelajari ilmu silat "

Si orang tua dari pegunungan"

Ilmu silat Sam Soe sangat aneh. Mungkin sekali ilmu silat mereka didapat dari cabang tersebut."

"Loo Ya Coe,"

Kata Tio Beng.

"sifat Han Hoejin menyerupai sifat si Orang tua dari Pegunungan. Kau mencintai dia, tapi dia mencelakai kau."

Cia Soen menghela napas.

"Dalam dunia ini, membalas kebaikan dengan kejahatan, adalah kejadian lumrah,"

Katanya dengan suara berduka.

"Kau tak usah merasa heran."

"Loo Ya Coe,"

Kata Nona Tio.

"Han Hoejin berkedudukan sebagai kepala dari keempat Hoat Ong. Tapi mengapa ilmu silatnya tidak lebih tinggi dari ilmu silat Loo Ya Coe? Mengapa pada waktu dia diserang Sam Soe, dia tidak mengeluarkan ilmu silat Cian Coe Ciat Hoe Chioe?"

SEDIKIT TENTANG BENG KAUW Beng Kauw atau agama terang ialah Manichaesm atau Agama dari Mani.

Mani (terlahir dalam tahun 216) adalah puteranya seorang bangsawan.

Penduduk Ecbatama.

Ia dididik baik oleh ayahnya dan dipelihara dalam lingkungan sekte Mandaens.

Ketika ia dilahirkan.

Terdapat dua agama besar yang saling bertentangan, agama Kristen dan Mitraism.

Mani mempelajari kedua-duanya dan iapun mempelajari agama Magism dari Persia sendiri (sekarang Iran) Agama Manichaeism memiliki bagian-bagian dari agama-agama tersebut.

Sepanjang cerita, ia memproklamirkan agamanya pada hari penobatan Raja Persia, Shapur I, di istana raja.

Ia berkelana di berbagai negeri untuk menyebarkan agamanya.

Antara lain, ia mengunjungi Transoxiana, Tiongkok Barat dan India.

Belakangan ia kembali ke Persia dan mendapat banyak pengikut, bahkan di dalam istana raja sendiri.

Tapi ia dimusuhi Kasta Magians.

Shapur I sedikit banyak dipengaruhi ajaran Mani dan Hormizd, penggantinya adalah seorang raja yang toleran dan menaruh perhatian kepada Manichaeism.

Tapi pengganti Hormizd, Barham I condong kepada Kasta Magians.

Mani ditangkap dan diserahkan kepada kasta tersebut (musuh Mani) yang lalu membinasakannya.

Pemerintah Persia berusaha untuk membasmi agama Mani tapi gagal.

Sistem Manichaeism adalah sistem dualisme (rangkap dua) Menurut Mani, terang ialah baik dan gelap ialah jahat.

Pengetahuan tentang agama berarti pengetahuan tentang alam dan unsur-unsurnya dan penyelamatan ialah proses membebaskan unsur terang dari kegelapan.

Menurut Mani, dalam alam semesta terdapat dua kerajaan.

Terang dan gelap, yang berdiri berhadapan, Setan terlahir di kerajaan gelap.

Manusia pertama adalah ciptaan Setan, tapi dalam manusia itu juga terdapat unsur terang dari Tuhan.

Setan berusaha untuk mengikat manusia dengan kejahatan, roh-roh terang berusaha untuk memerdekakannya.

Mani menamakan dirinya sebagai "Duta Terang."

Hanyalah dengan bantuannya dan bantuan murid-muridnya yang terpilih, barulah terang bisa dipisahkan dari gelap.

Dalam masyarakat Manichaeism terdapat perbedaan antara penganut pilihan dan penganut biasa.

Penganut pilihan harus mentaati sepuluh larangan, antaranya larangan membunuh makhluk berjiwa.

Mengapa Manichaeism pernah mendapat kemajuan besar dan menjadi sebuah agama besar?

Kekuatannya ialah.

Manichaeism mempersatukan mitologi kuno dan dualisme materialtis dengan cara bersembaHoan Yauwang sederhana dan larangan-larangan moral yang keras.

Kekuatan lainnya ialah organisasi sosial yang sederhana.

Yang pintar dan yang bodoh, yang sungguh-sungguh dan yang tidak sungguh, semua boleh masuk ke agama Mani.

Sepanjang catatan sejarah, Manichaeism hanya hidup pada abad ketiga belas..Pada tahun 1690, Hasan merampas Alamut, di propinsi Rudbar, di daerah pengunungan sebelah selatan Laut Kaspia..Di benua Eropa, Hasan dan pengikutnya dinamakan "Assassin."

Mungkin sekali perkataan "hashish,"

Semacam tumbuh-tumbuhan yang daunnya memabukkan, seperti madat dan yang digunakan oleh manusia-manusia itu sebelum mereka melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk.

"Cian Coe Ciat Hoe Chioe?"

Menegas Cia Soen.

"Han Hoejin tak memiliki ilmu itu. Dia seorang wanita yang cantik luar biasa. Mana mau dia mengorbankan paras mukanya untuk ilmu begitu?"

Boe Kie, Tio Beng dan Cie Jiak terkejut.

Kim Hoa Popo jelek mukanya.

Dilihat mukanya yang sekarang, biarpun usianya lebih muda tiga puluh atau empat puluh tahun, ia tak nanti bisa dikatakan sebagai wanita yang cantik luar biasa.

Hidungnya pesek, bibirnya tebal, mukanya persegi, kupingnya lebar bagaikan kipas.

Itu semua takkan dapat diubah.

Tio Beng tertawa.

"Loo Ya Coe,"

Katanya.

"Kim Hoa Popo tak bisa dikatakan cantik."

"Apa? Cie San Liong Ong cantik seperti bidadari dari kayangan. Pada dua puluh tahun lebih yang lampau, ia adalah wanita cantik di seluruh rimba persilatan. Andaikata karena usianya sudah lanjut, ia sekarang tak secantik dahulu, aku merasa pasti ia masih tetap mempertahankan kecantikannya… hai! … hanya sayangaku tidak bisa melihat mukanya lagi."

Mendengar jawaban yang sungguh-sungguh itu, nona Tio merasa bahwa di balik soal kecantikan Kim Hoa Popo pasti bersembunyi satu latar belakang yang masih belum diketahuinya.

Nenek itu memang manusia luar biasa.

Bahwa dia bisa menjadi Cie San Liong Ong, kepala dari keempat Hoe Kauw Hoat Ong sudah luar biasa.

Bahwa dia dinamakan sebagai "wanita tercantik di seluruh rimba persilatan"

Lebih luar biasa lagi. Sesudah memikir sejenak, Tio Beng berkata pula.

"Loo Ya Coe, namamu menggetarkan dunia Kang Ouw. Keangkeranmu di Ong Poan San diketahui oleh semua orang. Tingginya ilmu silatmu tidak usah dibicarakan lagi. Peh Bie Eng Ong mendirikan agama sendiri dan selama kurang lebih dua puluh tahun, ia bermusuhan dengan enam partai besar. Ceng Ek Hok Ong lihai seperti setan, hari itu di Ban Hoat Sie ia menakut-nakuti aku. Juga ia telah mengeluarkan suatu ancaman untuk menggores mukaku. Kalau ingat ancamannya, sampai sekarang aku masih merasa jeri. Maka itu, menurut pendapatku, walaupun Kim Hoa Popo berkepandaian tinggi dan banyak akalnya, belum tentu ia pantas untuk mengambil kedudukan di sebelah atas dari ketiga Hoat Kong. Tapi mengapa ia bisa menjadi Cie San Liong Ong?"

"Karena In Heng, Wie Hian Tee dan aku bertiga rela mengalah terhadapnya,"

Jawab Kim Mo Say Ong.

"Apa?"

Menegas si nona. Ia tertawa geli dan kemudian berkata pula.

"Apakah karena ia wanita tercantik, sehingga ketiga Enghiong rela berlutut di hadapannya?"

Boe Kie kaget. Tio Beng benar-benar otak. Terhadap Cia Soen, ia masih berani berguyon. Tapi Cia Soen tidak menjadi gusar. Ia menghela napas dan berkata.

"Yang menyerah kalah dengan suka rela bukan hanya kami bertiga. Waktu itu dalam kalangan agama kami, paling sedikit ada seratus orang lain yang mengagumi Taykis."

"Taykis? Apa itu nama Han Hoejin? Kedengarannya aneh sekali."

"Dia asal Persia. Nama itu nama Persia."

Boe Kie, Tio Beng dan Cie Jiak terkesiap.

"Orang Persia?"

Menegas mereka.

"Apa kalian tak bisa melihat?"

Cia Soen balas menanya.

"Ia mempunyai darah campuran puterinya seorang lelaki Tionghoa yang menikah dengan wanita Persia. Rambut dan biji matanya hitam, tapi hidungnya mancung dan matanya dalam. Kulitnya yang putih laksana salju juga berbeda dari kulit wanita Tiong Goan."

"Tidak-tidak!"

Bantah Nona Tio.

"Hidungnya melesak. Kedua matanya kecil. Berbeda jauh dari penjelasan Loo Ya Coe. Thio Kong Coe, bukankah begitu?"

"Benar,"

Jawabnya.

"Apakah Kim Hoa Popo bertindak seperti Kouw Tauwtoo merusak mukanya sendiri?"

"Siapa Kouw Tauwtoo?"

Tanya Cia Soen.

"Kong Beng Yoe Soe Hoan Yauw,"

Jawab Boe Kie, yang dengan ringkas lalu menceritakan sepak terjang orang gagah itu.

"Hoan Heng sangat berjasa kepada Beng Kauw,"

Kata Cia Soen sesudah menghela napas.

"Tindakannya itu tak akan bisa dilakukan oleh sembarang orang. Haei…. Bahwa ia sudah bertindak begitu dapat dikatakan juga lantaran Han Hoejin…."

Tio Beng jadi makin heran.

"Loo Ya Coe."

Katanya.

"janganlah kau bercerita sepotong-sepotong. Cobalah ceritakan dari awal sampai pada akhirnya."

"Hmm… "

Cia Soen menengadah seperti orang yang mau mengumpulkan ingatan dan kemudian ia berkata dengan suara perlahan.

"Pada dua puluh tahun lebih yang lampau, Beng Kauw berada di bawah pimpinan Yo Po Thian, Yo KauwCoe. Waktu itu, agama kami sedang makmur-makmurnya. Pada suatu hari, tiga orang Persia tiba-tiba datang di Kong Beng Teng dan mempersembahkan surat pribadi KauwCoe dari CongKauw kepada Yo KauwCoe. Surat itu menerangkan bahwa di Congkauw terdapat seorang Cang San Soe Cie. Ia seorang Tionghoa yang merantau ke Persia kemuidan menjadi penganut Beng Kauw. Ia banyak berjasa untuk agama dan dari pernikahannya dengan seorang puteri. Pada tahun yang lalu, kata surat itu, Cang San Soe Cie meninggal dunia. Waktu mau menutup mata, ia ingat akan negerinya dan memesan supaya puterinya dikirim pulang ke Tiongkok. Maka itu, untuk memenuhi pesanan tersebut, KauwCoe CongKauw mengirim nona itu ke Kong Beng Teng dengan pengharapan supaya Yo KauwCoe sudi memeliharanya."

"Yo KauwCoe lantas saja mengiakan dan meminta supaya nona itu dibawa masuk. Begitu dia masuk, ruangan Toa Thia (ruangan besar) seolah-olah bersinar terang. Selagi ia memberi hormat kepada Yo KauwCoe dengan berlutut, kami semua Kong Beng CoeSoe dan Yoe Soe, ketiga Hoat Ong, Ngo Siong Jin dan kelima pemimipin Ngo Heng Kie mengawasinya dengan mata membelalak dan hati berdebar-debar. Nona itu adalah Taykis. Ketiga utusan Congkauw hanya menginap semalaman, pada keesokan paginya mereka pulang. Mulai dari waktu itu, Taykis menetap di Kong Beng Teng."

Tio Beng tertawa.

"Loo Ya Coe, kau sendiri lantas jatuh cinta kepadanya, bukan?"

Tanyanya.

"Jangan malu-malu. Akuilah!"

Kim Mo Say Ong menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak!"

Jawabnya dengan suara parau.

"Waktu itu aku baru saja menikah dan isteriku sedang hamil. Dalam hatiku tak mungkin timbul niatan serong."

"Oh!"

Kata Tio Beng.

Ia tahu, bahwa ia sudah kelepasan bicara.

Anak isteri Cia Soen dibinasakan Seng Koen dan tersentuhnya soal itu tentu saja mengingatkan kembali kejadian dahulu.

Buru-buru ia berkata pula.

"Benar! Tak heran kalau si nenek mengatakan, bahwa pada waktu ia menikah dengan Gin Yap Sianseng, hanya Kauwcoe dan Loo Ya Coe sendiri yang tidak menentang. Kurasa nyonya Kauwcoe bukan saja cantik, tapi juga sangat lihai menakluki suaminya."

Cia Soen mengangguk.

"dugaanmu tidak meleset,"

Katanya.

"Yo KauwCoe seorang gagah sejati yang adatnya sangat terbuka. Taykis masih sangat muda – pantas untuk menjadi anaknya Yo KauwCoe. Apapula Kauwcoe dari Congkauw telah meminta supaya ia memelihara nona itu seperti anak sendiri. Semenjak Taykis datang di Kong Beng Teng, Yo KauwCoe selalu memperlakukannya dengan kasih sayang dari seorang ayah. Kutahu, Yo KauwCoe sama sekali tidak punya niatan yang tidak-tidak, Yo Hoejin adik seperguruan Yo KauwCoe atau Soesiok-ku (bibi seperguruan) sendiri. Yo KauwCoe, Seng Koen dan Yo Hoejin adalah Soe Heng Moay (saudara dan saudari seperguruan) Sebagai toa Soepeh, Yo KauwCoe sering memberi pelajaran ilmu silat kepadaku. Ia baik sekali terhadapku."

Biarpun sakit hatinya terhadap Seng Koen tidak berkurang, tapi waktu menyebutkan nama manusia terkutuk itu, Cia Soen tidak kalap lagi dan hanya menyebutkan dengan suara tawar.

Mendadak Tio Beng ingat sesuatu dan ia lantas saja berkata.

"Menurut katanya orang, di masa muda, Kong Beng Yoe Soe Hoan Yauw sangat tampan parasnya. Apakah ia tidak jatuh cinta terhadap Taykis?"

"Dia jatuh cinta sedari pertama bertemu, malahan dia tergila-gila,"

Jawabnya sambil mengangguk.

"Tapi sebenarnya yang jatuh cinta bukan hanya Hoan Heng seorang. Kupercaya, masih banyak orang lain. Tapi sebab Beng Kauw mempunyai peraturan yang sangat keras dan juga karen Yo KauwCoe dihormati dan disegani oleh semua anggota agama kami, maka orang-orang yang berani mengincar Taykis hanyalah jejaka yang belum menikah. Diluar dugaan, hati Taykis dingin bagaikan es. Ia menyemprot setiap orang yang berani menimbulkan soal cinta kepadanya. Yo Hoejin telah berusaha untuk merangkap jodohnya dengan Hoan heng, tapi menolak keras. Belakangan di hadapan banyak orang, sambil mencekal pedang, ia bersumpah untuk tidak menikah. Kalau dipaksa ia lebih suka binasa daripada menunduk. Karena tindakannya yang sangat tandas itu, belakangan tak seorangpun yang berani coba-coba mendekati lagi nona yang hatinya dingin itu."

"Setengah tahun kemudian, pada suatu hari, seorang dari Leng Coa To datang di Kong Beng Teng. Ia mengaku she Han, bernama Cian Yap, putera musuhnya Yo KauwCoe, dan kunjungannnya ke Kong Beng Teng adalah untuk membalas sakit ayahnya. Macamnya pemuda itu sama sekali tidak luar biasa. Bahwa dia sudah berani menantang Yo KauwCoe dianggap sebagai kejadian lucu. Banyak diantara kami yang tak bisa menahan untuk tidak tertawa."

"Tapi Yo KauwCoe sendiri tak memandang enteng. Ia menyambut pemuda itu dengan segala kehormatan dan menjamunya dalam perjamuan besar."

"Latar belakang tantangan itu adalah begini. Karena salah paham, Yo KauwCoe telah bertempur dengan ayah pemuda itu dan melukainya dengan pukulan Tay Kioe Thian Chioe. Pecundang itu segera mengatakan, bahwa ia akan membalas sakit hati itu. Tapi sebab tahu, bahwa ia takkan bisa mendapat kemajuan lebih jauh dalam ilmu silatnya, maka ia menjanjikan bahwa di kemudian hari ia akan mengirim anak lelaki atau anak perempuannya untuk membalas sakit hati. Yo KauwCoe menjawab bahwa kalau anak itu datang, ia akan mengalah dalam tiga pukulan. Ayah pemuda Cian Yap mengatakan bahwa dalam pertandingan Yo KauwCoe tak usah mengalah tapi kalau disetujui, ia ingin sekali supaya nanti anaknya boleh memilih cara bertanding. Yo KauwCoe lantas saja mengatakan tak dinyana sesudah berselang belasan tahun, orang itu benar-benar mengirim puteranya untuk menantang Yo KauwCoe.

"Waktu itu kepandaian Yo KauwCoe sudah sedemikian tinggi, sehingga biarpun ahli-ahli silat yang paling jempolan belum tentu bisa melawannya. Han Cian Yap masih sangat muda. Dalam usia yang belum seberapa itu ia tak mungkin memiliki kepandaian yang bisa merendengi Yo KauwCoe. Melihat begitu, kami semua merasa lega. Yang dikuatirkan hanyalah satu pertanyaan. Cara bertanding bagaimana yang akan dipilihnya?"

"Pada keesokan harinya, di hadapan kami Han Cian Yap menceritakan peristiwa itu, sehingga Yo KauwCoe tak bisa mundur lagi. Cara bertanding yang dipilihnya ialah ia mau bertanding di dalam Pek Soei Han Tam (kolam dingin yang airnya biru) yang terdapat di Kong Beng Teng. Siapa yang kalah harus membunuh diri di hadapan orang banyak."

"Tantangan itu bagaikan halilintar di tengah hari yang bolong. Semua orang mencelos hatinya. Air kolam itu dingin bagaikan es. Jangankan pada waktu itu, di musim dingin, sedang di musim panas pun tiada orang yang berani menceburkan diri di kobakan tersebut. Celakanya Yo KauwCoe tak bisa berenang. Menerima tantangan itu berarti mengantarkan jiwa. Kami semua gusar dan mencaci pemuda itu."

"Gie Hoe,"

Kata Boe Kie.

"Urusan ini sangat sulit. Perkataan seorang laki-laki sejati tak bisa diubar oleh kuda yang paling keras larinya. Sesudah Yo KauwCoe mengiakan permintaan Han Cian Yap, menurut pantas ia tak boleh menolak tantangan itu."

Tio Beng tersenyum dan memijit tangan Boe Kie.

"Benar."

Katanya.

"Perkataan seorang laki-laki sejati tidak bisa diubar oleh kuda yang larinya paling keras. Seorang kauwcoe dari Beng Kauw tak bisa menjilat ludah sendiri. Setiap janji harus dipastikan."

Kata-kata itu sebenarnya untuk menyindir Boe Kie, tapi Cia Soen tentu saja tidak mengetahui.

"Tak salah,"

Katanya.

"Mendengar cacian kami, Han Cian Yap segera berkata dengan suara nyaring.

"Seorang diri aku datang di sini. Aku memang tak mengharap hidup. Para enghiong boleh membunuh aku. Di sini hanya terdapat orang-orang Beng Kauw, sehingga pembunuhan terhadap diriku tak akan diketahui oleh orang luar. Kalian boleh segera turun tangan!"

Mendengar omongan itu, kami tertegun.

"Sesudah memikir beberapa saat, Yo KauwCoe berkata.

"Han Heng, memang benar dahulu aku pernah membuat perjanjian dengan ayahmu. Seorang laki-laki tidak dapat menyalahi janji. Aku mengaku kalah. Aku bersedia untuk segala keputusanmu."

Tangan Han Cian Yap tiba-tiba bergerak dan sudah memegang sebatang pisau yang ditudingkan ke arah jantungnya sendiri.

"Pisau ini warisan ayahku,"

Katanya.

"Aku hanya meminta supaya Yo KauwCoe berlutut tiga kali kepada pisau ini."

Mana boleh kauwcoe kami menerima hinaan sehebat itu?

Tapi sesudah Yo KauwCoe menyerah kalah, menurut peraturan Kang Ouw, ia tidak boleh menampik tuntutan itu.

Suasana beruabah panas dan kepentingan memuncak.

Han Cian Yap memang sudah tidak memikir hidup.

Sesudah Yo KauwCoe berlutut, ia pasti akan menancapkan pisau itu di jantungnya sendiri supaya tak usah binasa dalam tangan jago-jago agama kami."

Untuk beberapa saat, ruangan yang besar itu sunyi bagaikan kuburan.

Siauw Yauw Jie Sian (Yo Siauw dan Hoan Yauw) Peh Bie Eng Ong In Heng, Pheng Eng Giok Hwee Sio dan yang lain-lain yang biasanya pintar sekarang menghadapi jalan buntu.

Pada saat yang genting, sekonyong-konyong Taykis melompat keluar dan berkata pada Yo KauwCoe.

"Thia-thia, orang lain mempunyai putera berbakti, apakah Thia-thia tak punya anak perempuan yang berbakti juga? Hanya datang untuk membalas sakit hati ayahnya. Biarlah Anak yang melayaninya. Yang lebih tua yang melayani yang tua. Yang lebih muda berhadapan dengan yang lebih muda."

"Semua orang kaget. Mengapa Taykis memanggil Thia-thia (ayah)? Tapi kami lantas saja mengerti, bahwa untuk menyingkirkan marabahaya itu, Taykis sengaja mengakui Yo KauwCoe sebagai ayahnya. Kami sangat kuatir. Kepandaian apa yang dimiliki nona itu? Apa ia mampu berkelahi di dalam air yang sangat dingin seperti es?"

Sebelum Yo KauwCoe keburu menjawab. Han Cian Yap sudah berkata sambil tertawa dingin.

"Mewakili ayah menyambut lawan memang satu kepantasan, tapi kalau nona kalah aku tetap menuntut bahwa Yo KauwCoe harus berlutut di hadapan pisau ini."

Dengan berkata begitu, ia kelihatannya tidak memandang mata kepada Taykis.

"tapi bagaimana kalau tuan yang kalah?"

Tanya Taykis.

"Nona boleh berbuat sesuka hati. Boleh bunuh, boleh apapun jua,"

Jawabnya.

"Baiklah. Mari, kita pergi ke Pek Soei Han Tam,"

Kata Taykis yang segera berjalan lebih dahulu. Yo KauwCoe menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata.

"Tidak! Kau tak usah mencampuri urusan ini."

Taykis tersenyum, sikapnya tenang luar biasa.

"Thia-thia, kau tak usah kuatir,"

Katanya sambil berlutut.

Berlututnya seolah-olah sebuah upacara mengangkat ayah.

Ketenangan Taykis menunjuk bahwa ia mempunyai pegangan dan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Yo KauwCoe tidak membantah lagi.

Pada hakekatnya memang tak ada jalan lain yang baik.

Semua orang lantas saja menuju Pek Soei Han Tam yang terletak di sebelah utara gunung.

Ketika itu angin utara meniup dengan kerasnya.

Beberapa orang yang tenaga dalamnya tidak begitu kuat sudah menggigil.

Mereka sudah menggigil dengan hanya berdiri di pinggir kolam.

Apapula kalau menerjun!

Sebagian air sudah mengeras menjadi es dan air yang berwarna biru ituseperti juga tiada dasarnya.

Tiba-tiba Yo KauwCoe merasa bahwa ia tak pantas membiarkan Taykis mengantarkan jiwa.

"Anak,"

Serunya dengan suara nyaring.

"kutahu, hatimu sangat mulia. Tapi biarlah aku saja yang melayani Han Heng."

Seraya berkata begitu, ia membuka jubah luarnya untuk segera menerjun ke air. Taykis tersenyum.

"Thia-thia,"

Katanya.

"Anak pandai berenang semenjak kecil, anak selalu bermain-main di laut."

Ia menghunus pedang dan bagaikan seekor walet, badannya melesat dan kedua kakinya hinggap di atas es.

Sesudah membuat lingkaran dengan pedangnya, ia melompat lagi dan menerjun ke air!

Di depan mataku terbayang pula kejadian itu.

Hari itu, Taykis mengenakan baju warna ungu dan ketika ia berdiri di atas es, kecantikannya tak kalah dari kecantikan Dewi Leng Po.

Mendadak tanpa mengeluarkan suara, ia menerjun ke air.

Kami semua terkejut, Han Cian Yap pun kaget.

Paras mukanya yang semula angkuh lantas saja berubah.

Sambil mencekal pisau, ia turut melompat ke kolam.

Air kolam berwarna biru tua.

Perkelahian tak dapat dilihat kami.

Kami hanya melihat bergoyang-goyangnya air.

Kami semua merasa sangat kuatir.

Beberapa lama kemudian di satu sudut air kolam tercampur sedikit darah.

Kami jadi lebih kuatir.

Siapa yang terluka?

Apa Taykis?

Tak lama kemudian air bergolak dan Han Cian Yap melompat keluar dengan napas tersengal-sengal.

Hati kami mencelos.

"Mana Taykis?"

Tanyaku.

Pemuda itu ternyata kosong pisaunya tertancap di dadanya sendiri.

Sedang kedua pipinya terdapat goresan luka.

Selagi jantung kami memukul keras, air tergolak pula laksana seekor ikan Taykis muncul di permukaan air.

Akan kemudian sambil memutar pedang untuk melindungi diri, melompat ke daratan.

Kami sorak sorai.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata bahna terharu.

Yo KauwCoe mencekal tangan Taykis.

Mimpipun kami belum pernah mimpi, bahwa Taykis memiliki kepandaian setinggi itu.

Sementara itu, sambil melirik Han Cian Yap, Taykis berkata.

"ilmu berenang orang itu cukup baik. Mengingat kebaktiannya, anak harap Thia-thia suka mengampuni jiwanya."

Yo KauwCoe lantas saja meluluskan permintaan itu dan memerintahkan Ouw Ceng Goe untuk mengobati lukanya.

"Malam itu di atas Kong Beng Teng diadakan perjamuan yang besar.Taykis telah membuat pahala yang sangat besar. Tanpa pertolongannya, habislah nama besar Yo KauwCoe. Yo Hoejin menghadiahkan gelar "

Cie San Liong Ong"

Yang berendeng dengan Eng-Ong. Say Ong dan Hok Ong. Kami bertiga menyetujui pengangkatan itu. Kami rela menyerahkan kedudukan pemimpin keempat Hoat Ong kepada gadis muda belia itu."

"Tapi peristiwa itu mempunyai ekor yang tak diduga-duga. Han Cian Yap kalah berkelahi, tapi menang total. Entah bagaimana, dia berhasil merebut hatinya Taykis. Rasa cinta Taykis muncul waktu ia setiap hari menengok si pemuda she Han yang dirawat oleh Ouw Ceng Goe. Sangat bisa jadi, rasa cintanya bersemi dari rasa kasihan dan menyesal, bahwa ia sudah melukai pemuda itu. Biar bagaimanapun jua, setelah Han Cian Yap sembuh, sekonyong-konyong Taykis memberitahukan Yo KauwCoe, bahwa ia mau menikah sama pemuda itu. Pemberitahuan itu mengejutkan kami. Ada yang berduka, ada yang merasa putus harapan. Ada pula yang bergusar. Han Cian Yap musuh besar agama kita, hinaannya terhadap Yo KauwCoe tak dapat dilupakan. Sekarang tiba-tiba Taykis mau mnikah sama dia. Beberapa saudara yang berangasan lantas saja mencaci. Tapi Taykis beradat keras. Ia menghunus pedang dan sambil berdiri di ambang pintu, dia berteriak.

"Mulai hari ini Han Cian Yap menjadi suamiku. Siapa yang menghina dia boleh menjajal pedang Cie San Liong Ong."

Melihat tekadnya dan nekadnya, kami semua tidak berdaya lagi.

"Upacara pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana. Sebagian besar saudara-saudara kami tidak menghadiri pesta. Karena mengingat jasanya, Yo KauwCoe dan aku berusaha keras memenuhi keinginannya, sehingga pernikahannya bisa berlangsung tanpa gelombang yang lebih hebat. Tapi masuknya Han Cian Yap di dalam Beng Kauw mendapat tentangan yang terlalu hebat sehingga Yo KauwCoe sendiri tidak bisa menindih tentangan itu."

"Tak lama kemudian Yo KauwCoe hilang tanpa berbekas. Kami bingung dan coba mencarinya ke segala pelosok Secara kebetulan, waktu sedang mencari Yo KauwCoe, Kong Beng Yoe Soe Hoan Yauw melihat Han Hoejin keluar dari jalan rahasia."

Boe Kie terkejut.

"keluar dari jalanan rahasia?"

Ia menegas.

"Ya,"

Jawabnya.

"Peraturan Beng Kauw sangat keras. Hanya kauwcoe seorang yang boleh masuk di jalanan rahasia itu. Dalam kaget dan gusarnya Hoan Yauw segera menegur. Jawab Han Hoejin.

"Aku sudah melanggar peraturan. Mau bunuh, silahkan bunuh! Sesukamu!"

"Malam itu kami mengadakan perhimpunan besar untuk membicarakan kedosaan Han Hoejin. Tapi Han Hoejin tetap berkeras kepala. Pertanyaan mengapa ia masuk di jalanan itu tidak dijawab. Ia mengatakan tak tahu dimana adanya Yo KauwCoe. Ia mengatakan, bahwa ia bertanggung jawab sendiri untuk kedosaannya. Menurut peraturan, seorang anggota Beng Kauw yang berani masuk ke jalanan rahasia itu harus membunuh diri atau dikutungkan sebelah kaki atau sebelah tangannya. Mengingat kecintaannya yang dahulu, Hoan Yauw berusaha keras untuk melindunginya. Akupun membantu supaya hukuman berat itu tak usah dijalankan. Akhirnya semua orang menyetujui untuk memenjarakannya selama sepuluh tahun supaya ia bisa merenungkan kedosaannya. Di luar dugaan, Han Hoejin melawan. Tanpa Yo KauwCoe, siapa yang berani menghukum aku? Bentaknya."

"Gie Hoe,"

Boe Kie memotong pembicaraan ayah angkatnya.

"Apa sebenarnya maksud Han Hoejin dengan masuk di jalanan rahasia itu?"

"Kalau mau diceritakan panjang sekali."

Jawabnya.

"Di dalam Beng Kauw, hanya aku seorang yang tahu sebab musababnya. Waktu itu banyak yang menafsir, bahwa masuknya Han Hoejin di jalanan rahasia itu ada sangkut pautnya dengan masalah mengenai hilangnya suami isteri Yo KauwCoe.Aku menentang tapsiran itu. Kami bertengkar hebat sehingga akhirnya Han Hoejin memutuskan semua hubungan dengan Beng Kauw. Ia adalah orang pertama yang keluar dari agama kami. Hari itu juga bersama Han Cian Yap, ia turun gunung dan tidak bisa ditemukanpula. Kami berusaha keras untuk mencari Yo KauwCoe, tapi usaha itu tinggal tersia-sia. Berselang beberapa tahun, sebab perebutan kedudukan Kauwcoe, keadaan jadi semakin hebat. In Heng meninggalkan Beng Kauw dan mendirikan Peh Bie Kauw. Aku coba membujuknya, tapi ia tidak meladeni. Lantaran itu, aku dan dia jadi bermusuhan. Maka itulah pada dua puluh tahun lebih yang lalu, pada waktu Peh Bie Kauw memamerkan To Liong To untuk memperlihatkan keangkerannya, Kim Mo Say Ong turun tangan. Pertama, memang aku inging merampas golok itu, dan kedua aku hendak melampiaskan rasa dongkolku. Aku ingin memperlihatkan kepada In Heng, bahwa sesudah keluar dari kekuasaan Beng Kauw ia tak akan dapat melakukan sesuatu yang besar. Hai!... Sekarang aku merasa bahwa perbuatanku itu sangat keterlaluan."

Ia menghela napas dan paras mukanya kelihatan sangat berduka. Untuk beberapa saat, semua orang tidak berkata-kata.

"Loo Ya Coe,"

Kata Tio Beng.

Sesudah peristiwa ini terjadi nama Gin Yap dan Kim Hoa Popo menggetarkan dunia Kang Ouw.

Mengapa orang-orang Beng Kauw tak dapat meraba, bahwa Gin Yap dan Kim Hoa Popo sebenarnya suami isteri Han Cian Yap?

Dan sebab apa Gin Yap SianSeng mati kena racun?"

"Entahlah,"

Jawabnya.

"Mungkin sekali dalam sepak terjang mereka di kalangan Kang Ouw, mereka selalu menyingkirkan diri dari orang-orang agama kami."

Tiba-tiba Boe Kie menepuk lutut.

"Benar!"

Katanya.

Kim Hoa Popo memang mengelakkan pertemuan dengan orang-orang Beng Kauw waktu enam partai mengepung Beng Kauw.

Meskipun sudah tiba di Kong Beng Teng, ia tidak naik ke puncak untuk memberi bantuan."

Alis Tio Beng berkerut.

"Ada sesuatu yang tidak bisa ditembus olehku,"

Katanya.

"Cie San Liong Ong terkenal sebagai wanita yang sangat cantik. Mengapa sekarang mukanya jelek? Mengapa mukanya rusak?"

"Menurut taksiranku ia telah menggunakan satu atau lain cara untuk mengubah paras mukanya."

Kata Cia Soen.

"Kau harus tahu, bahwa Han Hoejin beradat aneh. Kaupun harus tahu, bahwa di dalam hati ia sangat menderita. Selama hidup, ia harus selalu menyingkirkan diri dari orang-orang Cong Kauw yang coba mengubar dan mencarinya. Hai!... Tak dinyana dalam usianya yang lanjut, ia masih belum bisa meluputkan diri. Pada akhirnya orang-orang Cong Kauw dari Persia berhasil mencari dia."

Mata Tio Beng terbuka lebar.

"Mengapa orang Cong Kauw mencari dia?"

Tanyanya dengan rasa heran.

"Inilah rahasia yang paling besar dari Han Hoejin,"

Jawabnya.

"Sebenarnya aku tidak boleh membuka rahasia. Tapi karena aku ingin kembali ke Leng Coa To untuk menolong dia maka aku harus bicara seterang-terangnya.

"Kembali ke Leng Coa To?"

Menegas si nona.

"Apa Loo Ya Coe rasa kita akan dapat melawan Sam Soe?"

Cia Soen tidak menjawab. Sesudah menghela napas panjang, ia bercerita dengan suara perlahan.

"Selama ratusan tahun, kursi kauwcoe dari Beng Kauw di Tiong Goan diduduki oleh seorang pria, tapi Kauwcoe Cong Kauw di Persia selalu seorang wanita. Bukan saja seorang wanita, tapi juga seorang gadis yang tidak menikah. Menurut peraturan Cong Kauw hanyalah seorang gadis yang masih suci yang boleh menjadi Kauw Coe supaya ia bisa mempertahankan kesucian Beng Kauw. Setiap Kauw Coe yang baru memegang jabatan harus memilih tiga gadis yang berkedudukan paling tinggi di dalam Cong Kauw, untuk meneliti di sekeliling dan dijadikan Seng Lie (wanita suci) Sesudah diangkat menjadi Seng Lie dengan sumpah yang berat. Mereka harus berkelana berbagai tempat untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik demi kemakmuran dan kebesaran Beng Kauw. Apa bila kauwcoe meninggal dunia, maka para tetua agama akan mengadakan pertemuan untuk memperbincangkan jasa-jasa ketiga Seng Lie. Yang dianggap paling baik jasa akan diangkat menjadi Kauw Coe baru. Kalau Seng Lie hilang kesuciannya, kalau dia menikah, maka dia akan dihukum bakar hidup-hidup. Tak perduli dia lari kemanapun jua, Cong Kauw akan memerintahkan orang-orang yang berkepandaian tinggi untuk mencarinya…."

"Oh!..."

Memutus Tio Beng.

"Apakah Han Hoejin salah seorang dari ketiga Seng Lie itu?"

Cia Soen mengangguk.

"benar!"

Jawabnya.

"Aku sudah tahu pada sebelum Hoan Yauw memergokinya di mulut jalanan rahasia. Han Hoejin sendiri membuka rahasianya kepadaku, yang dianggapnya sebagai seorang teman atau sahabat paling karib. Ia mengatakan, bahwa ia jatuh cinta pada waktu bertempur dengan Han Cian Yap di kolam pshl. Belakangan sebab sering menengok pemuda itu yang dirawat oleh Ouw Ceng Goe, rasa cintanya jadi makin besar dan tidak dapat diobah lagi. Ia tahu, bahwa sesudah menikah ia pasti akan diubar oleh orang-orang Cong Kauw. Harapan satu-satunya untuk menebus dosa ialah membuat suatu pahala besar. Maka itu, dengan menempuh bahaya, ia masuk ke jalanan rahasia dengan maksud untuk mencari kitab Kian Koen Tay Lo Ie. Di Cong Kauw kitab ilmu silat itu sudah hilang lama dan yang masih memiliknya adalah Beng Kauw di Tiong Goan. Mengapa Cong Kauw mengirim Taykis ke Kong Beng Teng? Sebab yang paling terutama ialah untuk mencari dan mendapat kitab tersebut."

"Ah!"

Boe Kie mengeluarkan suara tertahan. Ia merasa, bahwa ada sesuatu yang tidak besar tapi apa itu yang tidak beres tidak diketahui olehnya. Cia Soen meneruskan ceritanya.

"Beberapa kali Han Hoejin masuk ke jalanan rahasia tanpa berhasil. Aku menasehati supaya menghentikan usaha itu, karena masuknya ke jalanan rahasia merupakan rahasia besar yang sukar bisa diampuni."

"sekarang kutahu,"

Memotong Tio Beng.

"Han Hoejin memutuskan perhubungan Beng Kauw supaya ia merdeka untuk masuk ke jalanan rahasia itu. Sesudah tak menjadi anggota Beng Kauw, dia tidak terikat lagi dengan peraturan agama. Loo Ya Coe, bukankah begitu?"

"Tio Kouwnio sangat pintar."

Jawabnya sambil mengangguk.

"Kong Beng Teng adalah pusat agama kita dan aku tidak bisa mempermisikan orang keluar masuk sepenuh hati. Aku sudah menebak niatan Han Hoejin. Sesudah dia turun gunung, aku sendiri menjaga di mulut jalanan rahasia. Tiga kali dia menyatroni, tiga kali dia bertemu dengan aku. Akhirnya dia pergi dengan putus harapan."

Sehabis berkata begitu, ia menengadah seperti orang memikir sesuatu. Mendadak ia bertanya.

"Bagaimanakah pakaian Sam Soe? Apa berbeda dari pakaian anggota Beng Kauw di Tiong Goan?"

"Mereka mengenakan jubah putih dan pada ujung jubah tersulam obor merah,"

Jawab Boe Kie.

"Tapi… tapi… pada pinggiran terdapat lapisan kain hitam. Hanya itu perbedaannya."

"Tak salah!"

Seru Cia Soen.

"Kauwcoe Cong Kauw baru saja meninggal dunia! Bagi orang-orang See Hek, hitam adalah warna berkabung. Jubah putih dengan pinggiran hitam berarti pakaian berkabung. Mereka mau memilih kauwcoe baru dan mencari Han Hoejin."

"Ada satu hal yang aku kurang mengerti,"

Kata Boe Kie.

"Han Hoejin berasal dari Beng Kauw di Persia dan ia tentu mahir dalam ilmu silaat yang dipelajari dalam kalangan Cong Kauw. Tapi mengapa dalam sejurus ia sudah dirobohkan Sam Soe?"

"Tolol!"

Kata Tio Beng sambil tersenyum.

"Han Hoejin hanya berpura-pura untuk menutupi asal-usulnya yang sebenarnya. Ia tidak boleh memperhatikan bahwa ia mengenal ilmu silat ketiga utusan itu. Menurut dugaanku, jika Loo Ya Coe mengiring kehendak Sam Soe dan coba membunuh dia, dia pasti tidak mempunyai daya untuk menyelamatkan diri."

Cia Soen menggelengkan kepala.

"Memang benar ia menutupi asal-usulnya,"

Katanya.

"Tapi kalau Tio Kouwnio berpendapat bahwa sesudah ditotok Sam Soe ia masih bisa meloloskan diri, aku merasa kurang setuju. Belum tentu ia bisa meloloskan diri. Menurutku, Han Hoejin lebih suka dibunuh olehku daripada dibakar hidup-hidup."

Tiba-tiba terdengar suara beradunya gigi.

Semua orang kaget.

Ternyata In Lee kembali menggigit keras dan giginya bercatrukan.

Boe Kie meraba dahi si nona yang panas luar biasa.

Ia menghela napas.

Penyakit nona In sangat berat.

"Gie Hoe,"

Kata Boe Kie setelah memikir sejenak.

"anak mengambil keputusan untuk kembali ke Leng Coa To. In Kouwnio harus bisa beristirahat sedapat mungkin Andai kata kita tak bisa berhasil menolong Han Hoejin, kita sedikitnya harus menolong In Kouwnio."

"Benar,"

Kata Cia Soen.

"In Kouwnio begitu mencintai kau. Dia tak bisa tak ditolong, Tio Kouwnio, bagaimana pikiranmu?"

"Luka In Kouwnio sangat berat, aku setuju untuk kembali."

Jawab Tio Beng. Cie Jiak menjawab dengan suara dingin.

"Terserah pada Loo Ya Coe."

"Kita harus menunggu sampai halimun buyar dan berlayar dengan melihat bintang sebagai pedoman."

Kata Boe Kie.

"Gie Hoe, Lioe In Soe berhasil melukai aku dengan Seng Hwee Leng pada waktu ia berjungkil balik di tengah udara. Mengapa bisa begitu? Ilmu silat apa itu?"

Mereka lantas saja membicarakan ilmu silat ketiga utusan Cong Kauw itu.

Tio Beng yang mengenal banyak ilmu silat kadang-kadang turut mengantarkan pikirannya.

Tapi sesudah berunding berjam-jam mereka belum juga bisa menangkap inti sari ilmu silat Sam Soe yang berdasarkan kerja sama antara mereka bertiga.

Sesudah matahari keluar barulah halimun membuyar.

"Semula kita menuju ke selatan dari utara,"

Kata Boe Kie.

"Maka itu, kalau mau kembali ke Leng Coa To, kita sekarang harus mengambil jalan ke arah barat laut."

Dengan bergiliran, Cia Soen, Boe Kie, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw lalu mulai mendayung perahu.

Kalau tadi perahu melaju dengan bantuan angin, sekarang harus melawan angin.

Untung juga Cia Soen dan Boe Kie memiliki tenaga dalam yang sangat kuat, sedang kedua nona itu pun mempunyai lweekang yang lumayan sehingga pekerjaan mendayung tak dirasakan terlalu berat.

Perlahan tapi tentu perahu itu bergerak ke jurusan utara.

Selama beberapa hari Cia Soen tak banyak bicara.

Ia duduk termenung dengan alis berkerut memikiri jalan untuk melawan ilmu Sam Soe yang sangat aneh.

Pada magrib hari keenam, tiba-tiba ia menanya Cie Jiak tentang ilmu silat Go Bie Pay.

Nona Cie segera memberitahukan tanpa tedeng-tedeng.

Tanya jawab itu berlangsung sampai jauh malam.

Akhirnya dengan suara kecewa, Cia Soen berkata.

"ilmu silat Siauw Lim, Boe Tong, dan Go Bie semua bersumber dari Kioe Yang Cin Keng dan tidak berbeda dengan ilmu silat Boe Kie – semua berdasarkan Yang Kong (keras). Kalau Thio Sam Hong Cinjin, yang memiliki Im Jioe dan Yang Kong (lembek keras) berada di sini, kita akan bisa merobohkan Sam Soe. Dengan Im Jioe dari Thio Cinjin dan Yang Kong dari Boe Kie, kupercaya Sam Soe dapat dikalahkan. Tapi Thio Cinjin berada di tempat jauh dan waktu sangat mendesak. Apa daya kalau Han Hoejin sudah ditangkap Sam Soe?"

"Loo Ya Coe,"

Kata Cie Jiak.

"Kudengar pada ratusan tahun yang lalu, sejumlah tokoh rimba persilatan mengenal ilmu silat yang bersumber dari Kioe Im Cin Keng. Apa benar?"

Waktu berada di Boe Tong Sie, Boe Kie pun pernah mendengar nama Kioe Im Cin Keng dari Thay Soehoenya.

Ia tahun bahwa Kwee Ceng Kwee Tay Hiap (ayah Kwee Siang Liehiap, pendiri Go Bie Pay) dan Siauw Tay Hiap Yo Ko adalah orang-orang yang telah mempelajari ilmu silat Kioe Im Cin Keng.

Tapi ilmu-ilmu di dalam kitab itu sangat sukar dipelajari, sehingga Kwee Siang sendiri tidak dapat mempelajarinya.

Ia terkejut waktu mendengar pertanyaan Cie Jiak.

"Memang ada ceritera begitu, tapi benar setidaknya, aku tak tahu,"

Jawab Cia Soen.

"Menurut katanya orang-orang tua, ilmu silat Kioe Im Cin Keng lihai luar biasa. Kalau sekarang orang-orang memiliki ilmu silat itu dan ia bekerja sama dengan Boe Kie, Sam Soe pasti bisa dirobohkan dengan sangat gampang."

"Ya,"

Kata nona Cioe. Ia tak bisa berkata suatu apa lagi.

"Cioe Kouwnio, apakah dalam Go Bie Pay tidak ada orang yang mengenal ilmu silat Kioe Im Cin Keng?"

Tanya Tio Beng. Alis Cie Jiak berkerut dan ia menjawab dengan suara tawar.

"Apabila Go Bie Pay mengenal ilmu silat itu, Sian coe (mendiang guru) pasti tidak sampai mengorbankan diri di Ban Hoat Sie."

Bagi Cie Jiak yang perasaannya halus.

Kata-kata itu sudah sangat tajam.

Ia tidak dapat menghilangkan rasa sakit hatinya terhadap Tio Beng, sebab kebinasaaan gurunya yang tercinta adalah gara-gara nona Tio.

Tapi Tio Beng tidak menjadi gusar.

Ia hanya tersenyum.

Tak lama kemudian selagi enak mendayung, tiba-tiba Boe Kie berseru sambil menuding ke jurusan barat laut.

"Lihatlah! Di sana ada sinar api."

Semua orang menengok ke arah itu.

Benar saja, di garis antara langit dan laut rapat-rapat berkelebat-kelebatnya sinar api.

Meskipun tidak bisa melihat, Cia Soen turut bergirang.

Sinar itu kelihatan dekat, tapi sebenarnya jauh.

Sesudah mendayung lagi setengah harian barulah mereka bisa melihat tegas ke tempat terjandinya kebakaran itu.

Tempat itu sebuah pulau yang penuh gunung dan pulau itu bukan lain daripada Leng Coa To.

"Kita sudah tiba di Leng Coa To!"

Kata Boe Kie dengan girang. Dengan penuh harapan semua orang mengawasi pulau yang menghijau itu. Mendadak Cia Soen mengeluarkan teriakan tertahan.

"Celaka! Mengapa terjadi kebakaran di Leng Coa To? Apa mereka sudah membakar Han Hoejin?"

Teriakan itu disusul dengan robohnya Siauw Ciauw. Buru-buru Boe Kie membangunkannya. Nona itu ternyata pingsan. Boe Kie menyadarkannya dengan totokan dan bertanya.

"Siauw Ciauw, mengapa kau?"

"Aku takut,"

Jawabnya sambil menangis.

"Aku takut…. Mendengar hukuman bakar hidup-hidup terhadap sesama manusia."

"Itu belum tentu,"

Bujuk Boe Kie.

"Itu hanya dugaan Cia Loocianpwee. Andaikata Han Hoejin sudah ditangkap, kurasa kita masih bisa menolong."

Siauw Ciauw mencekal tangan Boe Kie erat-erat dan berkata dengan suara parau.

"Thio KongCoe, aku memohon… memohon supaya kau menolong Han Hoejin… "

"Tentu kita berusaha beramai-ramai,"

Jawabnya. Sehabis berkata begitu, ia kembali ke buritan perahu dan mendayung sekuat tenaga, sehingga kendaraan air itu melaju bagaikan terbang. Mendadak Tio Beng berkata dengan suara perlahan.

"Thio KongCoe, sudah lama aku memikiri dua soal yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan olehku. Aku ingin meminta petunjukmu."

Mendengar kata-kata yang sungkan, Boe Kie merasa heran.

"soal apa?"

Tanyanya.

"Hari itu, waktu berada di Lek Lioe Chung, aku telah memerintahkan orang-orangku untuk mengepung rombongan kakekmu,"

Menerangkan si nona.

"Selagi rombongan terkepung, tiba-tiba Siauw Ciauw Kouwnio maju dan memimpin pahlawan rombongan kakekmu. Memang benar, bahwa dibawah seorang panglima yang pandai tak ada serdadu yang lemah. Tapi bagiku, bahwa dibawah Kauw Coe Beng Kauw ada seorang pelayan yang mempunyai kepandaian begitu tinggi, masih tetap mengherankan… "

"Kauwcoe Beng Kauw?"

Memutus Cia Soen. Tio Beng tertawa.

"Loo Ya Coe,"

Katanya.

"Sekarang biarlah aku berterus terang. Anak angkatmu bukan lain daripada kauwCoe yang tersohor dari agama Beng Kauw. Kau sendiri salah seorang bawahannya."

Cia Soen terkesiap.

Mulutnya ternganga dan ia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Tapi, di dalam hati ia masih bersangsi.

Tio Beng meretapkan keterangannya, tapi ia tidak bisa memberi penjelasan mengenai jalannya peristiwa yang berakhir dengan pengangkatan Boe Kie sebagai KauwCoe.

Karena didesak keras oleh ayah angkatnya Boe Kie tidak bisa menyangkal lagi.

Secara ringkas ia segera menceritakan segala kejadian.

Tak kepalang girangnya orang tua itu.

Ia berlutut dan berkata dengan suara terharu.

"Orang sebawahan, Kim Mo Say Ong, Cia Soen, memberi hormat kepada KauwCoe."

Tersipu-sipu Boe Kie balas berlutut.

"Giehoe, janganlah menjalankan peradatan ini,"

Katanya dengan air mata berlinang-linang.

"Menurut surat wasiat mendiang Yo KauwCoe, Giehoe-lah yang harus menjadi Kauwcoe untuk sementara waktu. Dalam menerima pengangkata, anak selalu berkuatir kalau-kalau anak tidak kuat memikul beban yang sangat berat itu. Atas berkah Thian, Giehoe pulang dengan tak kurang suatu apa. Inilah rejeki dari agama kita. Sepulangnya dari Tiong Goan, kursi KauwCoe harus diduduki giehoe."

"Biarpun ayah angkatmu sudah bisa pulang, tapi dengan kedua matanya sudah buta, kau tidak bisa mengatakan bahwa ia pulang dengan tak kurang suatu apa,"

Kata Cia Soen dengan suara sedih.

"Mana bisa Beng Kauw mempunyai pemimpin yang matanya tidak dapat melihat? Tio KouwNio, soal-soal apa yang tidak mengerti olehmu?"

"Aku merasa heran karena Siauw Ciauw Kouwnio memiliki kepandaian yang sangat luar biasa,"

Jawabnya.

"Aku ingin menanya, siapa yang mengajarinya dalama ilmu Kie boen Pat Kwa dan Im Yang Ngo Heng? Cara bagaimana dalam usia yang begitu muda, ia sudah mempunyai ilmu tersebut?"

"Itulah ilmu turunan dari keluargaku,"

Jawab Siauw Ciauw.

"Ilmu itu tidak cukup berharga untuk mendapat perhatian Koencoe Nio Nio."

"Siapa ayahmu?"

Tanya pula Tio Beng.

"Anaknya begitu lihai, ayah ibunya pasti tokoh-tokoh yang namanya cemerlang."

"Ayahku hidup dengan mengubur she dan namanya sendiri,"

Jawabnya.

"Tak perlu Koencoe menanyakannya. Apakah Koencoe mau memaksa aku dengan ancaman potong jari-jari tangan?"

Si gadis cilik ternyata tak sungkan-sungkan. Dengan menyebutkan ancaman potong jari-jari tangan, ia rupa-rupanya ingin menarik tangan Cie Jiak untuk berdiri di pihaknya. Tio Beng hanya tersenyum.

"Thio Kongcoe,"

Katanya dengan suara tenang.

"Malam itu di kota raja, waktu kita bertemu di rumah makan untuk kedua kali, Kouw Tauwtoo Hoan Yauw telah memberi selamat berpisah kepadaku. Waktu itu, ia kebetulan bertemu dengan Siauw Ciauw KouwNio dan ia mengatakan sesuatu, apakah kau masih ingat perkataannya?"

Sebenarnya Boe Kie sudah melupakan kejadian tersebut. Sesudah memikir beberapa saat, ia menjawab.

"Hm… kalau aku tak salah ingat, Kouw Taysoe mengatakan bahwa paras muka Siauw Ciauw mirip dengan salah seorang musuhnya."

"Benar,"

Kata Tio Beng sambil mengangguk.

"Apakah kau bisa menebak siapa yang dimaksud Kouw Taysoe? Siauw Ciauw Kouwnio mirip siapa?"

"Bagaimana aku bisa menebak?"

Boe Kie balas bertanya.

Selagi mereka bicara, perahu sudah makin mendekati Leng coa to.

Mereka melihat, bahwa di sebelah barat pulau berderet kapal2 Cong kauw yang layarnya terlukis gambar obor merah dan pada setiap layar tergantung sehelai kain hitam.

Alis Boe Kie berkerut.

"Cong kauw telah mengerahkan angkatan laut dan orang yang datang kesini tidak berjumlah kecil,"

Katanya.

"Kita harus coba mendarat di pulau yang sepi dan aman,"

Kata Tio Beng. Boe Kie mengangguk dan segera mendayung. Sekonyong2 dari salah sebuah kapal terdengar bunyi terompet.

"Dung.. dung.."

Dua peluru menyambar, yang lain di sebelah kanan perahu, sehingga karena goncangan ombak, perahu kecil itu hampir hampir tenggelam.

"O hoooi! Dengarlah…!"

Demikian terdengar teriakan dari arah kapal itu.

"Perahu kecil itu harus datang disini. Kalau tidak menurut akan ditenggelamkan."

Boe Kie mengeluh.

Kedua tembakan yang barusan adalah tembakan ancaman.

Ia yakin bahwa jika membantah perahu yang ditumpanginya akan segera ditenggelamkan, tanpa bisa melawan.

Sebab tak ada jalan lain, perlahan lahan ia mendayung ke arah kapal itu.

Meriam2 di tiga kapal Cong kauw bergerak dan menuding perahu Boe Kie.

Waktu perahu menempel dengan sisi kapal dari atas kapal segera diturunkan sebuah tangga tambang.

"Mari kita naik dan berusaha untuk merampas kapal ini,"

Bisik Boe Kie.

Cia Soen naik paling dulu disusul oleh Cie Jiak yang mendukung Tio Beng.

Sesudah itu Siauw Ciauw dan yang paling akhir adalah Boe Kie yang mendukung In Lee.

Yang berada di kapal itu orang2 Persia yang bertubuh tinggi besar berambut kuning dan bermata biru.

Boe Kie menyapu dengan matanya.

Ia tak lihat Sam soe (Budi.

Some parts missing here..) (PP.

That’s what’s in the book) tas saja ia bertanya.

"Siapa kamu? Ada urusan apa kamu datang kemari?"

"Kami mengalami bencana kapal kami tenggelam,"

Jawab Tio Beng.

"Kami menghaturkan terima kasih untuk pertolongan kalian."

Orang itu setengah percaya setengah tidak.

Ia berpaling kepada pemimpinnya yang berduduk di kursi geladak kapal dan bicara dalam bahasa Persia.

Selagi pemimpin itu bicara tiba2 Siauw Ciauw melompat dan menghantam dengan telapak tangannya.

Dia kaget, berkelit dan menjambret kursi yang lalu digunakan untuk memukul si nona.

Boe Kie terkesiap.

Ia tak pernah menduga, bahwa Siauw Ciauw akan segera menyerang.

Sambil melompat, ia menotok dan pemimpin itu lantas saja roboh.

Puluhan orang Persia yang berada di situ lantas saja menjadi kalut.

Mereka menghunus senjata dan segera mengepung.

Tapi biarpun mengenal ilmu silat kepandaian mereka masih kalah (Budi.

Some parts missing here..) (PP.

I think that’s OK) Sambil mendukung In Lee erat erat dengan tangan kanannya, Boe Kie menyerang dengan tangan kiri.

Cia Soen memutar To Liong To, sedangkan Cie Jiak mengamuk dengan pedangnya.

Ditambah dengan Siauw Ciauw yang lincah gerakannya dalam sekejap puluhan orang Persia itu sudah dapat dibereskan.

Belasan orang luka dan rebah di geladak kapal, tujuh delapan orang jatuh di air dan sisanya tidak berdaya lagi karena ditotok hiatnya.

Lain lain kapal Cong Kauw lantas saja membunyikan terompet dan mulai mengurung.

Buru buru Boe Kie merebahkan In Lee di geladak menentang pemimping yang tadi dirobohkannya dan lalu memanjat tiang layar.

"Hai! Kalau ada yang berani datang kemari, lebih dahulu aku membinasakan orang ini!"

Teriaknya.

Pemimpin itu ternyata mempunyai kedudukan tinggi, lantaran, biarpun mereka berteriak Some parts missing here… Boe Kie melompat turun, tapi baru saja melepaskan tawanannya di geladak tiba tiba ia merasakan kesiuran angin yang sangat tajam.

Secepat kilat ia berkelit dan menendang.

Sebelum ia sempat memutar badan, semacam senjata yang bukan lain daripada Seng hwee leng menyambar dari samping kiri.

Ia mengeluh.

Ia tahu bahwa Sam soe sudah mulai menyerang.

"Semua mundur ke tenda (gubug) kapal!"

Teriaknya seraya menjemput si pemimpin yang lalu digunakan untuk menyambut Seng hwee leng yang menyambar.

Orang yang memukul adalah Hwie goatsoe.

Ia terkejut dan mati matian ia menarik pulang senjatanya.

Ia berhasil, tapi sebab senjata itu ditarik pulang secara mendadak, maka bagian bawah tubuhnya jadi terbuka.

Melihat lowongan itu Boe Kie menendang.

Lioe in soe dan siauw hong soe menolong dengan serangan dahsyat sehingga tendangan Boe Kie meleset dan Hwie goat soe terluput dari bahaya.

Sesudah lewat beberapa jurus tiba2 Biauw hong soe menyabet dengan Seng hwee leng dengan pukulan yang sangat aneh.

Boe Kie memapaki senjata itu dengan tubuh si pemimpin dengan gerakan yang tak kurang anehnya.

"Plak!"

Seng hwee leng mampir tepat di pipi kiri orang itu.

Tak kepalang kagetnya Sam soe.

Muka mereka berubah pucat.

Mereka mengeluarkan beberapa buah perkataan dalam bahasa Persia dan kemudian membungkuk dengan sikap hormat kepada pemimpin yang dicekal Boe Kie itu.

Siapa pemimpin itu?

Ia adalah salah seorang dari duabelas Po soe ong (Raja Pohon Mustika) dalam Cong kauw dan ia bergelar Peng teng ong.

Keduabelas raja itu menurut runtunannya, ialah Tay seng, Tio wi, Siang seng, Sin sim, Jin jiok, Ceng tit, Kong tek, Cie sim dan Kie beng.

Mereka dalah Keng soe (guru dalam kitab suci) di bawah Kauwcoe dari Ceng kauw dan kedudukan mereka menyerupai empat Soe kauw di wilayah Tionggoan.

Perbedaannya dari Soe kauw Hoat ong ialah, sebaliknya dari mementingkan ilmu silat, mereka mengutamakan pelajaran keagamaan.

Kecuali Tay seng Po soe ong, Siang seng Po soe ong dan Kong tek Po soe ong yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, kepandaian yang lainnya hanya biasa saja dan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Sam soe.

Kali ini dalam usaha mencari Seng lie untuk pengangkatan Kauwcoe baru, kedua belas Po soe ong turut datang di Tiong goan.

Karena kedudukan yang sangat tinggi dari "raja raja"

Itu maka biarpun tak disengaja, terpukulnya Peng teng ong dengan Seng hwee leng sudah mengejutkan Sam soe, sehingga mereka tak berani menyerang lagi dan segera mengundurkan diri.

Boe Kie segera berduduk dan memangk Peng teng ong.

Ia mengerti, bahwa orang itu mempunyai kedudukan penting di dalam Cong kauw dan merupakan orang tanggungan satu2nya yang bisa menolong rombongannya.

Ia membungkuk dan memeriksa luka tawanannya.

Untung juga tidak membahayakan jiwa hanya bengkak pada bagian pipi.

Rupa2nya pada detik terakhir Biauw hong soe berusaha untuk menarik pulang senjatanya, sehingga tenaga pukulannya banyak berkurang.

Sementara itu, Cie Jiak dan Siauw Ciauw bekerja keras untuk memindahkan korban2 yang menggeletak di geladak kapal.

Mereka mengangkat mayat2 ke gubuk belakang dan mengumpulkan orang-orang yang terluka.

Dengan cepat kapal yang dikuasai rombongan Boe Kie sudah terkurung rapat oleh belasan kapal Cong kauw.

Semua meriam2 ditudingkan ke arah Boe Kie dan kawan2nya dan diatas semua kapal penuh dengan orang2 Cong kauw yang memegang obor dan menghunus senjata.

Boe Kie jadi bingung.

Tanpa meriam lawan yang berjumlah begitu besar sudah tak mungkin dilawan.

Dengan ilmu silatnya yang tinggi ia sendiri mungkin dapat selamat.

Tapi bagaimana dengan yang lain?

Bagaimana dengan In Lee dan Tio Beng yang terluka berat?

Sekonyong konyong salah seorang berteriak dalam bahasa Tionghoa.

"Kim mo Say-ong, dengarlah! Dua belas Po soe ong dari Cong kauw berada di sini. Kedosaanmu terhadap Cong kauw sudah diampuni oleh para Po soe ong. Lekas pulangkan anggota Cong kauw yang berada di kapal itu! Sesudah memulangkan semua orang, kau boleh pergi tanpa diganggu."

Cia Soen tersenyum.

"Cia Soen bukan anak kemarin dulu!"

Teriaknya.

"Begitu lekas kami lepaskan semua tawanan, apakah meriam meriammu tidak lantas memuntahkan peluru?"

"Kurang ajar!"

Bentak orang itu dengan gusar.

"Kalau kau tidak melepaskan mereka, apakah meriam kami tidak bisa melepaskan tembakan?"

"Mana Seng li Tay Kie?"

Tanya Cia Soen.

"Lepaskan dia lebih dahulu! Sesudah kamu melepaskan dia, kita boleh bicara lagi."

Orang itu segera berunding dengan orang yang berdiri di sekitarnya. Beberapa saat kemudian, ia berteriak pula.

"Tay Kie membuat pelanggaran hebat dan ia akan mendapat hukuman dibakar hidup-hidup. Urusan ini urusan Cong kauw dan tidak bersangkut paut dengan Beng kauw di daerah Tiong goan."

Sesudah berpikir sejenak Cia Soen berkata pula.

"Aku ingin mengajukan tiga syarat. Begitu lekas kalian meluluskan, kami akan segera memulangkan semua orang."

"Syarat apa?"

"Yang pertama, keduabelas Po soe ong harus berjanji, bahwa mulai kini Cong kauw dan Tiong goan harus saling mengindahkan dan tak boleh mencampuri urusan masing-masing."

"Hmm!... Yang kedua?"

"Lepaskan Tay Kie dan antarkan kemari. Bebaskan kedosaannya dan kalian harus berjanji bahwa persoalan takkan ditimbulkan lagi."

"Tidak bisa! Ini tidak bisa! Yang ketiga?"

"Sebelum kalian mengiyakan syarat kedua, perlu apa aku memberitahukan yang ketiga?"

"Syarat ketiga sangat mudah. Kalian mengirim sebuah perahu kecil yang harus mengikuti di belakang kapal ini. Sesudah kami berada dalam jarak sedikitnya lima puluh li dan kami mendapat kenyataan, bahwa kalian tidak mengejar, kami akan turunkan semua tawanan ke perahu itu yang boleh segera kembali kepada kalian."

Orang yang bicara dengan Cia Soen adalah Kie beng Po soe ong.

"raja"

Kedua belas.

Mendengar syarat ketiga ia gusar tak kepalang.

Sambil membentak keras, bersama Cie sim Po soe ong, ia melompat ke kapal Boe Kie.

Boe Kie segera menyambut.

Dengan telapak tangannya ia mendorong dada Cie sim ong.

Sebaliknya dari menangkis.

"raja"

Itu balas menyerang.

Tangan kirinya menyambar dan coba mencengkeram kepala Boe Kie.

Hampir berbareng, Kie beng ong menerjang dan menyambut telapak tangan Boe Kie yang sudah hampir menyentuh dada Cie sim ong.

Untuk menghindarkan cengkeraman Cie sim ong, Boe Kie sendiri lantas melompat ke samping.

Boe Kie kaget.

Ilmu silat kedua lawan itu merupakan kerja sama yang sangat erat, sehingga ia seperti menghadapi seorang lawan yang mempunyai empat tangan dan empat kaki.

Kepandaian mereka berdua agaknya masih kalah dengan Sam soe, tapi gerak geriknya sangat aneh.

Terang2 ilmu silat mereka bersamaan dengan Kian koen Tay lo ie, tapi dalam menggunakannya mereka mengeluarkan perubahan2 luar biasa yang tak dapat diraba.

Sesudah bertempur puluhan jurus, barulah Boe Kie bisa berada di atas angin.

Selagi Boe Kie mengasah otak untuk mengalahkan kedua lawannya, mendadak Sam soe membentak keras dan melompat pula mereka ke kapal Boe Kie.

Sesudah mereka melakukan Peng seng ong tanpa sengaja, mereka merasa sangat malu dan mereka sekarang mengambil keputusan untuk merampas pulang "raja"

Yang keenam itu.

Cepat cepat Cia Soen mengangkat tubuh Peng seng ong dan memutarnya dalam bentuk lingkaran.

Sam soe tentu saja tidak berani sembarangan menyerang.

Mereka hanya bisa berlari lari mengikuti lingkaran itu untuk mencari lowongan guna menyerang.

Beberapa saat kemudian, mendadak terdengar teriakan kesakitan dari Kie beng ong yang roboh tertendang Boe Kie.

Baru saja Boe Kie membungkuk untuk menawannya, Lioe in soe dan Hwie goat soe sudah menyerang dengan berbareng, sedang Biauw hong soe mendukung raja itu yang lalu dibawa balik ke kapal sendiri.

Sekarang Cie sim ong mengepung Boe Kie bersama Lioe in see dan Hwie goat soe.

Kerja sama mereka tidak seerat kerja sama Sam soe dan dengan kekuatiran mereka akan keselamatan Kie beng ong, maka sesudah bertempur beberapa jurus lagi, mereka segera mengundurkan diri.

Sesudah menenteramkan semangatnya, Boe Kie berkata.

"Orang orang itu seperti juga pernah mempelajari Kian Koen tay lo ie. Tapi heran sekali, pukulan-pukulannya berbeda dari ilmu itu, mereka sungguh sukar dilawan."

"Pelajaran Kian koen Tay lo ie sebenarnya bersumber dari Persia,"

Kata Cia Soen.

"Tapi semenjak beberapa ratus tahun yang lalu, sesudah Beng kauw tersiar ke Tionggoan, di Persia sendiri ilmu itu bahkan tidak dikenal lagi. Menurut pendapatku, apa yang telah dipelajari mereka hanyalah kulit dari Kian koen tay lo ie. Maka itulah mereka telah mengirim Tay Kie ke Kong beng teng untuk mencuri kitab ilmu silat tersebut."

Boe Kie menggelengkan kepala.

"Anak berpendapat lain,"

Katanya.

"Memang benar dasar ilmu silat mereka masih sangat cetek dan benar mereka hanya memiliki kulit dari ilmu Kian koen tay lo ie. Tapi dalam menggunakannya, mereka dapat menggunakan secara luar biasa sekali. Di dalam ini pasti terselip satu sebab yang masih belum diketahui kita. Hm!... dalam Kian koen tay lo ie tingkat ketujuh ada beberapa bagian yang belum dapat dipelajari oleh… Apa.. apa ini sebab musababnya?... Sehabis berkata begitu, ia bersila dan memejamkan matanya. Cia Soen dan yang lain lain menunggu tanpa membuka suara. Mereka tidak berani mengganggu jalan pikiran pemuda itu. Sekonyong konyong di sebelah kejauhan terdengar suara terompet yang berulang ulang. Sebuah kapal besar mendatangi dengan perlahan. Di atas kapal kapal itu terpancang dua belas bendera dengan sulaman benang emas, sedang di atas geladak teratur duabelas kursi dengan alas kulit harimau. Antara keduabelas kursi itu, sembilan terisi dan tiga kosong. Begitu kapal berhenti, Cie sim ong dan Kie beng ong lantas melompat naik dan menduduki dua kursi yang paling akhir. Dengan demikian, hanya sebuah kursi keenam yang masih kosong. Melihat begitu, Tio Beng tersadar.

"Pakaian tawanan kita bersamaan dengan pakaian sebelas orang itu,"

Katanya.

"Apa ia bukan salah seorang dari keduabelas Po soe ong!"

"Kurasa memang begitu,"

Kata Boe Kie.

"Tawanan kita berkedudukan sangat tinggi dan kupercaya sedikitnya untuk sementara waktu, mereka tak akan berani menyerang…."

Pembicaraannya terputus dengan mendadak, karena ia tiba tiba melihat Sam soe menghampiri sebelas "raja"

Itu dengan membawa seorang tangkapan.

Boe Kie dan yang lain terkejut.

Mereka mengenali bahwa tangkapan itu, seorang nenek bongkok yang memegang tongkat, adalah Kim hoa Po po.

Di lain saat, Toe hwie Po soe ong yang berduduk di kursi kedua mengajukan beberapa pertanyaan dalam bahasa Persia dengan suara keras.

Si nenek miringkan kepalanya.

"Apa yang kau katakan?"

Tanyanya.

"Aku tidak mengerti."

Tie hwie ong tertawa dingin.

Ia bangun berdiri dan tangannya menyambar ke kepala si nenek.

Di lain saat, ia sudah memegang segumpal rambut palsu, sedang di atas kepala si nenek terlihat rambut yang berwarna hitam dan mengkilat.

Kim hoa Po po miringkan kepalanya, tapi tangan kanan Tie hwie ong sudah mampir di mukanya dan membeset selapis topeng.

Boe Kie yang bermata tajam sudah melihat tegas, bahwa topeng yang terbeset itu adalah topeng muka Kim hoa Po po.

Hampir berbareng Kim hoa Po po menyalin rupa.

Ia sekarang berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.

Jantung Boe Kie memukul keras.

"Ah!... Mukanya sungguh mirip sekali dengan muka Siauw Ciauw,"

Katanya di dalam hati. Mendadak ia mendengar suara Tio Beng yang berkata.

"Sama betul dengan Siauw Ciauw!"

Sesudah topengnya dilucuti, seraya tertawa dingin si nenek melemparkan tongkatnya.

Tie hwie ong lalu mengajukan pertanyaan pertanyaan dalam bahasa itu juga.

Selama tanya jawab itu berlangsung, paras muka kesebelas "Ong"

Kelihatannya sangat menyeramkan. Boe Kie dan yang lain tentu saja tidak mengerti pembicaraan itu.

"Siauw Ciauw Kouwnio, apa yang mereka bicarakan?"

Tanya Tio Beng. Air mata Siauw Ciauw lantas saja mengucur.

"kau sangat pintar,"

Katanya.

"Kau tahu segala apa, tapi mengapa kau tidak mencegah Loo ya coe berkata begitu?"

"Mencegah Loo ya coe berkata apa apa?"

Tanya Tio Beng dengan rasa heran.

"Semula mereka tak tahu siapa adanya Kim hoa Po po", menerangkan Siauw Ciauw.

"Belakangan mereka tahu bahwa Kim hoa Po po ialah Cie san Liong ong. Tapi mereka tak pernah menduga bahwa Cie san Liong ong adalah Tay Kie. Po po telah menyamar dalam waktu lama dengan pengharapan bisa mengelabui mereka. Di luar dugaan tanpa sengaja Loo ya coe telah membuka rahasia dengan mengajukan syarat supaya mereka melepaskan Seng lie Tay Kie. Maksud Loo ya coe memang mulia sekali. Tapi dengan begitu Tie hwie Po soe ong jadi mendusin. Loo ya coe yang tidak bisa melihat tentu saja tak tahu lihaynya penyamaran Po po yang dapat mengelabui siapapun jua. Tio Kauwnio, kau telah lihat terang terang dengan matamu. Apa kau tidak bisa mikir sampai disitu?"

Inilah tuduhan yang paling tidak enak bagi Tio Beng, sebab nona itu memang tidak punya niatan kurang baik.

Sesudah mendengar cerita Cia Soen, ia tentu saja tahu bahwa Kim hoa Po po adalah Seng lie Tay Kie.

Tapi ia sungguh2 tidak pernah memikir bahwa penyamarannya Tay Kie belum bisa ditembus oleh orang Persia.

Orang-orang Cong kauw itu masih tak tahu, bahwa si nenek muka jelek sebenarnya Tay Kie.

Bibir Tio Beng sudah bergerak untuk membalas dengan kata2 yang pedas, tapi melihat kedukaan Siauw Ciauw ia mengurungkan niatnya.

Ia menduga pasti, bahwa di antara si nenek dan gadis cilik terdapat hubugan yang sangat erat dan ia merasa tidak tega untuk menyerang.

"Siauw Ciauw moay moay,"

Katanya.

"jika aku mempunyai niat untuk mencelakai Kim hoa Po po biarlah aku mati dalam jalan yang tidak benar."

Cia Soen sendiri sangat menyesal.

Ia tak mengatakan sesuatu apa, akan tetapi dalam hatinya ia telah mengambil keputusan untuk menolong Tay Kie, jika perlu dengan mengorbankan jiwa sendiri.

Sementara itu sambil menangis Siauw Ciauw berkata.

"Mereka mengutuki Po po menikah dan mengkhianati agama, Po po harus dihukum bakar hidup hidupan."

"Siauw Ciauw, jangan bingung,"

Bujuk Boe Kie.

"Begitu ada kesempatan, aku akan segera menerjang untuk menolong Po po."

Sebab sudah biasa menggunakan panggilan Po po, maka biarpun sekarang Cie san Liong ong sudah tak memakai topeng ia masih tetap menggunakan istilah itu.

Walaupun sudah berusia setengah tua, dengan mukanya yang asli, kecantikan nyonya itu tak kalah dari Tio Beng dan Cie Jiak.

Awet muda dan kelihatannya seperti kakak Siauw Ciauw.

"Tak mungkin!"

Kata Siauw Ciauw dengan suara parau.

"Kau takkan bisa melawan sebelas po toe ong dan Sam soe. Kalau kau menerjang, kau seperti juga mengantarkan jiwa. Sekarang mereka sedang berunding untuk merebut pulang Peng seng ong."

Hmm!... Andaikata Peng seng ong bisa pulang dengan selamat, mukanya yang tercetak beberapa huruf sudah tak keruan macam."

Kata Tio Beng dengan suara mendongkol.

"Huruf apa?"

Tanya Boe Kie. Jawab nona Tio.

"Seng hwee leng yang memukul pipinya… agh!..."

Tiba2 ia ingat sesuatu.

"Siauw Ciauw! Apa kau mengenal bahasa Persia?"

"Kenal"

"Coba lihat! Huruf apa yang tercetak di pipi Peng teng ong?"

Siauw Ciauw segera memeriksa pipi "raja"

Itu yang bengkak.

Ia melihat tiga baris huruf Persia yang tercetak di daging Peng teng ong.

Ternyata pada setiap Seng hwee leng terdapat ukiran huruf2 Persia dan pukulan itu sudah mencetak huruf2 tersebut.

Tapi sebab hanya sebagian senjata yang mampir di pipi, maka tak semua huruf tercetak di pipi Peng teng ong.

Sebagaimana diketahui, Siauw Ciauw pernah mengikut Boe Kie masuk di jalan rahasia Kong Beng teng dan ia pernah menghafal Kian koen Tay lo ie.

Maka itu meskipun tak mengerti dan tak pernah melatih diri, ia tak melupakan pelajaran di kulit kambing itu.

Begitu membaca ia berseru,"Ah!

Inilah pelajaran Kian koen Tay lo ie."

"Pelajaran Kian koen tay lo ie?"

Menegas Si nona tidak lantas menyahut. Sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Bukan! Bukan pelajaran Kian koen tay lo ie. Sekelebatan aku menduga begitu, tapi ternyata bukan. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, bunyinya seperti berikut.

"Menyambut kiri berarti depan menyambut kanan berarti belakang, tiga kosong tujuh berisi, ada di dalam tidak ada… langit persegi bumi bulat… Yang disebelah bawah tak bisa dibaca lagi."

Mendengar itu seperti juga merasa, bahwa diantara gumpalan awan awan hitam mendadak berkelebat sinar kilat, tapi sesudah berkelebatnya sinar itu, keadaan kembali menjadi gelap.

Akan tetapi biar bagaimanapun jua sinar itu memberi harapan kepadanya.

Bagaikan orang linglung, ia menghafal "… menyambut kiri berarti depan, menyambut kanan berarti belakang."

Menggunakan seantero kekuatannya otak dan kecerdasannya, ia berusaha untuk mempersatukan beberapa baris kauw koat (teori ilmu silat) itu dengan pelajaran Kiam koen tay lo ie yang sudah dimilikinya.

Selang beberapa saat, ia merasa seperti sudah berhasil, tapi belum berhasil.

Ia merasa seperti sudah menembus halimun tapi kembali menemui rintangan.

Mendadak Siauw Ciauw berteriak.

"Thio Kongcoe, awas! Mereka sudah mengeluarkan perintah untuk menyerang. Sam soe akan menyerang kau sedangkan Kin sioe jin Jiok dan Kong tek ong akan coba merebut Peng teng ong."

Mendengar isyarat si nona, Cia Soen segera memeluk Peng teng ong dan melontarkan To liong to ke arah Boe Kie.

"Babat saja dengan To liong to!"

Katanya.

Tio Beng pun segera menyerahkan Ie thian kiam kepada Cie Jiak.

Mereka sekarang berada dalam satu perahu, nasib setiap orang berarti nasib seorang.

Boe Kie menyambut golok mustika itu dan menyisipkan di pinggangnya.

Tapi mulutnya terus berkata kata… "tiga kosong tujuh berisi ada di dalam tidak ada…"

"Anak tolol!"

Bentak Tio Beng.

"Sekarang bukan waktu belajar silat. Kau harus bersiap!"

Hampir berbareng Kim sioe Jien jiok dan Kong tek ong melompat dan menyerang Cia Soen. Sebab kuatir melukai Peng teng ong, maka dalam usaha merebut "raja"

Itu terpaksa merubah serangannya dengan tangan kosong. Dengan mencekal Ie thian kiam Cie Jiak mendampingi Cia Soen. Pada detik detik berbahaya, si nona menikam Peng teng ong sehingga ketiga "raja"

Itu terpaksa merubah serangannya untuk meluputkan Peng teng ong dari tikaman.

Di lain pihak Boe Kie sudah bertempur melawan Sam soe.

Sesudah mendapat pengalaman dalam beberapa pertempuran mereka berempat tidak berani berlaku sembrono dan berkelahi dengan hati-hati.

Sesudah lewat beberapa jurus tiba-tiba Hwie goat ong memukul dengan sebuah "Leng".

Menurut peraturan ilmu silat, senjata itu akan mampir di pundak kiri Boe Kie.

Tapi di luar dugaan, waktu menyambar di tengah udara Seng hwee leng tersebut mendadak merubah haluan secara luar biasa dan menghantam belakang leher Boe Kie.

Boe Kie merasa kesakitan hebat, matanya berkunang kunang.

Tapi karena pukulan itu, otaknya tiba-tiba menjadi terang.

"Menyambut kiri berarti belakang…"

Pikirnya. Sesaat kemudian, tanpa terasa ia berteriak.

"Sekarang aku mengerti! Benar!.... begitu…"

Ternyata ilmu silat yang dimiliki Sam soe hanya berdasarkan Kian koen Tay lo ie tingkat pertama.

Tapi pada Seng hwee leng terdapat pelajaran yang luar biasa mengenai cara menggunakannya.

Sekarang ia sudah bisa memecahkan teka teki empat baris kauw koat itu dan hanya sebaris langit persegi bumi bulat yang belum dapat ditembusnya.

Ia sekarang yakin bahwa untuk bisa menyelami seluruh ilmu silat Cong kauw ia harus mempelajari seantero Kouw koat yang ada di Seng hwee leng.

Tanpa membuang2 waktu lagi, sambil membentak keras ia menyerang, kedua tangannya menyambar bagaikan kilat.

Dengan sekali jurus dengan menggunakan kouwkoat "tiga kosong tujuh berisi"

Ia berhasil merampas dua ‘leng’ dari tangan Hwie goat soe. Di lain saat dengan "ada di dalam tidak ada"

Ia merebut dua ‘leng’ lagi dari tangan Lioe in soe.

Kedua utusan itu terbang semangatnya.

Mereka berdiri terpaku.

Sesudah memasukkan keempat ‘leng’ di dalam saku Boe Kie menyerang pula.

Dengan kedua tangan ia mencengkeram belakang leher kedua pecundang itu yang lalu dilempar balik ke kapal mereka.

Orang2 Persia kaget tak kepalang.

Mereka jadi takut dan berteriak teriak.

Biauw hong soe ketakutan.

Buru buru ia memutar dan coba melarikan diri.

Tapi gerakan Boe Kie cepat luar biasa.

Dengan sekali sambar, ia menangkap kaki kiri Biauw hong soe yang lalu ditarik ke belakang.

Sesudah merampas kedua ‘leng’ ia mengangkat tubuh utusan itu dan menghantamnya ke kepala Jin j iok ong.

Ketiga "raja"

Terkesiap, mereka buru buru lari balik ke kapal sendiri.

Boe Kie lalu menotok jalan darah Biauw hong soe dan melemparkannya di geladak kapal.

Kemenangan itu bukan saja menggirangkan Boe Kie, tapi juga kawan kawannya.

Mereka menanya cara bagaimana pemuda itu bisa merampas enam Seng hwee leng dengan begitu mudahnya.

Boe Kie tertawa.

"Kalau bukan secara kebetulan pipi orang itu terpukul Seng hwee leng tak nanti aku bisa menangkap rahasia ilmu silat mereka,"

Katanya. Ia mengeluarkan enam biji ‘leng’ dan menyerahkannya kepada Siauw Ciauw.

"Siauw Ciauw,"

Katanya.

"lekas terjemahkan huruf-huruf di enam Seng hwee leng ini!"

Semua orang mengawasi keenam ‘leng’ itu yang terbuat dari semacam bahan yang sangat aneh – bukan emas dan bukan giok – tapi keras luar biasa.

‘Leng’ itu panjangnya berbeda satu sama lain, kelihatannya terang, di dalamnya terdapat sinar api yang bergerak gerak dan warnanya berubah-ubah, sedang setiap ‘leng’ terdapat ukiran huruf huruf Persia.

Boe Kie mengerti bahwa jika ia ingin meloloskan diri dari bahaya, ia harus memahami ilmu silat Cong kauw.

Maka itu, ia lantas saja berkata.

"Cioe kauwnio, tandalkan Ie thian kiam di leher Peng teng ong. Giehoe, tandalkan To liong to di leher Biauw hong soe. Kita harus memperpanjang waktu sedapat mungkin."

Cia soen dan Cie jiak lantas saja mengangguk.

Siauw Ciauw segera memilih ‘leng’ terpendek yang hurufnya paling sedikit lalu menterjemahkannya.

Sesudah mendengar beberapa kali Boe Kie belum juga menangkap artinya, sehingga ia mulai merasa bingung.

"Siauw Ciauw, coba kau terjemahkan huruf2 dari Seng hwee leng yang telah memukul Peng teng ong,"

Kata Tio Beng.

Siauw Ciauw manggutkan kepalanya.

Buru2 ia mencari ‘leng’ yang dimaksudkan.

Ia mendapat kenyataan bahwa yang memukul Peng teng ong adalah Seng hwee leng yang panjangnya tujuh nomor dua.

Ia lalu membaca dan Boe Kie dapat menangkap tujuh delapan bagian dari artinya.

Sesudah itu ia membaca huruf huruf dari Seng hwee leng nomor satu yang paling panjang.

Baru saja mendengar perkataan Boe Kie sudah berteriak dengan suara girang.

"Bagus! Siauw Ciauw antara enam Seng hwee leng itu makin panjang makin mudah dimengerti. Yang dibaca olehmu ialah kouwkoat dari pelajaran pertama."

Dahulu Seng hwee leng dibuat atas permintaan si orang tua dari pegunungan dan berisi intisari dari ilmu silat Hasan Ben Sabbah.

Keenam ‘leng’ itu mengikuti agama Beng kauw memasuki Tiongkok dan bermaksud untuk menjadi tanda kekuasaan dari Kauwcoe daerah Tionggoan.

Lama lama di antara penganut Beng kauw wilayah Tionggoan tidak terdapat lagi orang yang paham bahasa Persia.

Pada beberapa puluh tahun kemudian, keenam Seng hwee leng dicuri orang Kay pang dan belakangan jatuh ke tangan saudagar Persia, sehingga akhirnya diambil pulang oleh Cong kauw di Persia.

Selama puluhan tahun ilmu silat para pemimpin Cong kauw mendapat kemajuan pesat.

Akan tetapi karena ilmu yang tertera pada Seng hwee leng terlampau sukar dipelajari, maka, bahkan Tay Seng Po soe ong yang berkepandaian paling tinggi hanya bisa menangkap tiga atau empat dari seluruh isinya.

Pada hakekatnya, pelajaran Kian koen Tay lo ie adalah ilmu silat pelindung agama dari Beng kauw di Persia.

Tapi ilmu silat itu tidak bisa dimengerti oleh sembarang orang.

Selain begitu, menurut ketetapan, jabatan Kauwcoe dari Beng kauw pusat (Cong kauw) harus dipegang oleh seorang gadis dan selama ratusan tahun, kursi Kauwcoe diduduki oleh beberapa wanita yang berkepandaian cetek.

Itulah sebabnya mengapa di Persia sendiri, makin lama Kian koen tay lo ie makin jarang dikenal orang.

Di lain pihak, Beng kauw di daerah Tionggoan masih menyimpan pelajaran Kian koen Tay lo ie yang lengkap.

Ilmu silat Cong kauw yang sangat aneh itu merupakan campuran dari sebagian Kian koen tay lo ie dan sebagian pelajaran Seng hwee leng.

Para pemimpin Cong kauw insaf, bahwa jika kitab Kian koen tay lo ie bisa diambil pulang dan ditambah dengan kouwkoat Seng hwee leng, maka ilmu silat Beng kauw akan bisa menggetarkan dunia.

Inilah maksud terutama pengiriman Tay Kie ke Kong beng teng.

Di luar semua dugaan, apa yang diidam-idamkan dan diusahakan oleh Cong kauw telah didapat dengan mudah oleh Boe Kie.

Boe Kie telah mendapatkan ilmu itu secara kebetulan saja.

Tapi andaikata Cong kauw berhasil mendapatkan kembali kitab Kian koen Tay lo ie, tanpa mempunyai Kioe yang sin kang sebagai dasar, belum tentu ada orang yang bisa menarik kefaedahannya.

Dengan demikian dapatlah dilihat bahwa di dalam dunia ini, segala apa tergantung pada nasib dan manusia tidak akan bisa mencapai tujuan secara paksa.

Tanpa memperdulikan suatu apa lagi, Boe Kie bersila di kepala kapal dan Siauw Ciauw membisiki huruf2 yang terukir di Seng hwee leng.

Ilmu silat yang tertera di enam ‘leng’ itu sebenarnya sangat sulit.

Tapi kata orang mengerti satu ilmu, mengerti berlaksa ilmu.

Manakala seseorang sudah mempelajari ilmu sampa i di puncaknya kesempurnaan, maka dengan mudah ia bisa belajar lain2 ilmu, sebab, pada hakekatnya, semua ilmu menuju ke satu jurusan yang sama.

Boe Kie telah menyelami Kioe yang sin kang, Kian koen tay lo ie dan Thay kek koen.

Ketiga ilmu itu adalah ilmu ilmu silat yang paling tinggi, yang masing masing berasal dari India, Persia dan Tiongkok.

Biarpun sulit, ilmu di Seng hwee leng belum bisa menyamai tingginya ketiga ilmu tersebut.

Maka itulah, sesudah Siauw Ciauw selesai menterjemahkannya, Boe Kie lantas menghafal tujuh delapan bagian dan mengerti lima enam bagian.

Dalam sekejap ia telah berhasil memahami pukulan pukulan aneh yang dikeluarkan oleh beberapa Po soe ong dan ketiga utusan Cong kauw.

Boe Kie terus mengasah otak tanpa memperdulikan segala perkembangan.

Tapi Tio Beng dan Cioe Cie Jiak yang terus memperhatikan persiapan pihak lawan, makin lama jadi makin bingung.

Mereka melihat Tay Kie diborgol kaki tangannya, melihat kesebelas Po soe ong, berdamai dengan bisik bisik dan menukar jubah mereka dengan pakaian perang yang lemas dan melihat sebelas orang menyerahkan sebelas senjata aneh kepada "raja raja"

Itu.

Mereka melihat gendewa gendewa dan anak panahnya ditunjukkan kepada Boe Kie dan melihat pula puluhan orang Persia yang bersenjata kapak dan pahat menerjun ke air, siap sedia untuk melubangi kapal yang ditumpangi mereka.

Ketika itu fajar sudah menyingsing.

Matahari sudah mengintip di sebelah timur dan memancarkan sinar yang gilang gemilang.

Mendadak Tay seng Po soe ong membentak dan bentakan itu diiringi dengan suara tambur dan terompet riuh rendah.

Boe Kie kaget.

Ia mendongak dan melihat sebelas Po soe ong yang mengenakan pakaian berwarna keemas emasan dan memegan senjata, sudah melompat ke kapalnya.

Tapi, setelah berada di kepala kapal.

"raja"

Itu tidak berani lantas menyerang sebab Cia Soen dan Cie Jiak mengandalkan senjatanya di leher Peng teng ong dan Biauw hong goe.

Mereka hanya mengawasi dengan mata melotot dan paras muka gusar.

Selang beberapa saat, barulah Tie hwie ong berkata dengan bahasa Tionghoa.

"Lekas pulangkan orang orang kami! Kami akan mengampuni jiwa kamu. Di mata kami, beberapa orang itu bagaikan babi dan anjing. Mereka tidak berharga sedikitpun jua. Perlu apa kamu mengandalkan senjata di leher mereka? Jika kamu mempunyai nyali, bunuhlah mereka! Di dalam Cong kauw terdapat berlaksa orang yang sederajat dengan mereka. Kebinasaan mereka tiada artinya."

"Jangan kau coba-coba menipu kami,"

Kata Tio Beng dengan suara menyindir.

"Kami tahu bahwa mereka adalah Peng teng Po soe ong dan Biauw hong soe yang mempunyai kedudukan tinggi dalam kalanganmu. Kau mengatakan mereka sederajat dengan babi dan anjing? Bagus!"

Alis Tie hwie ong berkerut.

"Di dalam Seng kauw (agama kami yang suci) terdapat tiga ratus enampuluh Po soe ong,"

Katanya.

"Peng teng ong menduduki kursi yang ketiga ratus lima puluh sembilan. Kami mempunyai seribu dua ratus Soe cia (utusan). Biauw Hong soe bukan orang penting. Bunuhlah mereka, kalau kamu mau!"

"Baiklah,"

Kata Tio Beng.

"Kawan kawan, bunuhlah kedua manusia yang tak berguna itu!"

"Baik!"

Jawab Cia Soen seraya mengangkat To Liong to.

Dengan kecepatan kilat ia menyamber kepada Peng teng ong.

Orang-orang Cong kauw mengeluarkan teriakan tertahan.

Tapi… To liong to, lewat dalam jarak setengah dim dari batok kepala dan hanya memapas rambut yang lantas saja terbang ditiup angin.

Kim mo Say ong kembali mengangkat golok dan menyabet dua kali beruntun ke lengan kanan dan lengan kiri Peng teng ong.

Kedua sabetan itu kelihatannya hebat, tapi dalam detik mata golok hampir menyentuh kulit, Cia Soen memutar sedikit pergelangan tangannya sehingga senjata itu hanya merobek lengan baju.

Jangankan seorang buta, sekalipun orang yang tidak buta sukar meneladan Kim mo Say ong.

Peng teng ong pingsan sebab ketakutan dan sebelas Po soe ong yang mau menyerang berdiri terpaku.

"Apa kamu sudah lihat ilmu silat Beng kauw dari wilayah Tiong goan?"

Tanya Tio Beng.

"Dalam kalangan agama kami Kim mo Say ong menduduki kursi yang ketiga ribu lima ratus sembilan. Apabila dengan mengandalkan jumlah besar, kamu sekarang menyerang kami, Beng kauw di Tionggoan pasti akan membalas sakit hati dan menyapu Cong kauw sampai bersih. Kamu pasti tak akan bisa melawan kami. Jalan satu-satunya bagi kamu sekalian adalah berdamai dengan kami."

Tie hwie ong yakin, bahwa nona Tio hanya menakut-nakuti, tapi ia sendiri tak tahu apakah yang harus diperbuatnya. Mendadak Tay seng Po soe ong berkata kata dalam bahasa Persia.

"Thio Kongcoe, awas!"

Teriak Siauw Ciauw.

"Mereka mau melubangkan dasar kapal!"

Boe Kie terkejut. Kalau kapal mereka ditenggelamkan, mereka semua yang tidak bisa berenang akan segera menjadi tawanan. Dengan melompat ia sudah berhadapan dengan Tay seng ong.

"Mau apa kau!"

Bentak Tie Hwie.

Hampir berbareng, Kong tek dan Hoa hie ong yang masing masing bersenjata cambuk dan martil menyerang dari kiri kanan.

Boe Kie yang sudah memahami ilmu silat Cong kauw tidak memperdulikan serangan itu.

Bagaikan kilat kedua tangannya menyambar dan mencengkeram jalan darah di tenggorokan kedua "raja"

Itu, sehingga senjata mereka menyimpang dan beradu satu sama lain.

Sesudah melempar tubuh mereka ke gubuk kapal, Boe Kie segera mengamuk.

Dengan dua tendangan ia melontarkan golok Cie sim dan Jin Jiok ong dan lalu dua tendangan lagi melemparkan Kin sioe dan Kie beng ong ke dalam air.

Mendadak seorang Po soe ong yang bersenjata sepasang pedang pendek menikam.

Boe Kie mengegos dan menendang pergelangan tangannya.

Secepat kilat, orang itu menyilangkan kedua tangannya dan menikam kempungan Boe Kie.

Tikaman itu cepat dan di luar dugaan, sehingga untuk menyelamatkan jiwa, Boe Kie terpaksa melompat tinggi.

Orang itu adalah Siang seng, jago nomor dua di antara dua belas Po soe ong.

Sesudah menikamnya gagal, ia terus merangsek dan mengirim serangan berantai.

Boe Kie melayani dengan tenang.

Sesudah bertempur sembilan jurus, diam diam ia memuji kepandaian "raja"

Itu.

Biarpun sudah memahami ilmu Seng hwee leng, tapi sebab belum berlatih, Boe Kie belum bisa mempergunakannya secara lancar.

Dalam belasan jurus yang pertama, ia mempertahankan diri dengan kepandaiannya sendiri.

Setelah lewat dua puluh jurus barulah ia bisa menggunakan ilmu Seng hwee leng dengan agak licin.

(Budi.

Some part missing here..) (PP.

not sure) (Selamanya menang) sebab di negerinya sendiri ia jarang mendapat tandingan.

Dalam menghadapi Boe Kie ia kaget bercampur heran dan pengalaman itu adalah pengalaman yang pertama didapat olehnya.

Sesudah bertanding tiga puluh jurus lebih, tiba tiba Boe Kie berduduk di atas geladak dan kedua tangannya memeluk betis Siang seng.

Itulah salah satu pukulan terhebat dalam Ilmu Seng hwee leng yang dikenal, tapi belum pernah digunakan oleh Siang seng ong sendiri.

Begitu lekas kedua tangannya memeluk, dengan sepuluh jari tangannya Boe Kie mencengkeram Tiong tauw dan Coe peng hiat di betis lawan.

Siang seng Po soe eng lantas saja lemas badannya.

Ia menghela nafas dan menyerah kalah.

Tapi mendadak saja di dalam hati pemuda itu muncul rasa sayang terhadap kepandaian Siang seng.

Sambil melepaskan cengkeraman dan pelukannya ia berkata.

"Kepandaianmu sangat tinggi dan biarlah kau mempertahankan nama besarmu. Pergilah!"

Siang seng Po soe ong merasa berterima kasih bercampur malu.

Buru2 ia melompat balik ke kapalnya sendiri.

Ketika itu Cia Soen dan Cie Jiak sudah menyeret keluar Kong tek dan Hoa hie ong dari dalam gubuk kapal dan menjaga kedua tawanan penting itu dengan To liong to dan Ie thian kiam terhunus.

Melihat kekalahan Siang seng ong dan tertawannya Kong tek dan Hoa hie ong, Tay seng po soe ong ciut nyalinya.

Ia tahu bahwa jika kapal yang ditumpangi rombongan Boe Kie ditenggelamkan juga, pihaknyapun akan menderita kerugian besar, yaitu binasanya empat pemimpin penting dari Cong kauw.

Maka itu sesudah memikir beberapa saat, ia segera memberi tanda dan menarik pulang semua kawan kawannya, terhitung yang sudah selulup di air ke kapal sendiri.

"Lekas antarkan Tay Kie kemari dan luluskan tiga syarat Kim mo Say ong!"

Teriak Tio Beng. Sesudah selesai berunding, Tie hwie ong berseru.

"Kami bersedia untuk meluluskan permintaanmu, tapi kamu harus menjawab pertanyaan. Ilmu silat pemuda itu terus terang ilmu silat kami. Darimana ia mendapatkannya? Kamu harus memberi keterangan yang sejelas jelasnya."

Sambil menahan tertawa, nona Tio menjawab.

"Kamu semua manusia manusia tolol. Dengarlah! Pemuda itu adalah murid kedelapan dari Kong beng soe cia kami. Tujuh kakak dan tujuh adik seperguruannya tak lama lagi akan tiba disini. Kalau mereka datang, kamu semua akan dibasmi bersih."

Tie hwee ong sangat pintar, tapi ia tak begitu paham bahasa Tionghoa dan hanya bisa menangkap enam tujuh bagian dari perkataan Tio Beng.

Ia tahu bahwa nona itu sedang omong kosong.

Sesudah memikir sejenak, ia berkata.

"Baiklah! Saudara saudara pulangkan Tay Kie."

Dua orang anggota Cong kauw lantas saja mengantarkan Tay Kie ke kapal Boe Kie.

Dengan dua kali menyabet dengan Ie thian kiam Cie Jiak memutuskan rantai yang mengikat kaki tangan Cie san Liong ong.

Melihat ketajaman pedang itu, kedua pengantar ketakutan setengah mati dan buru buru kembali ke kapal mereka.

"Kamu boleh segera berangkat pulang,"

Kata Tie hwie ong.

"Kami akan mengirim sebuah perahu kecil untuk mengikuti dari belakang."

Sambil merangkap kedua tangannya, Boe Kie berkata.

"Beng kauw di Tiong goan bersumber dari Persia, kalian dan kami sebenarnya adalah saudara2. Kami mengharap bahwa kalian tidak menjadi kecil hati karena adanya salah mengerti di hari ini. Kami mengundang kalian datang di Kong beng teng, supaya kita bisa minum arak bersama sama. Untuk segala kesalahan kami dengan jalan ini aku menghaturkan maaf."

Tie hwie ong tertawa terbahak bahak.

"Kami semua merasa kagum akan ilmu silatmu yang sangat tinggi,"

Katanya.

"Apa tidak girang kalau kita belajar dan terus mempelajari pelajaran itu? Apa tidak girang, kalau mendapat kunjungan sahabat dari jauh?"

Mendengar kutipan dari kata Khong coe, Boe Kie membungkuk dan berkata.

"Tepat sekali perkataanmu."

Ia tidak berayal lagi.

Seorang diri ia mengangkat jangkar, memutar kemudi dan memasang layar, sehingga dalam beberapa saat, kapal itu mulai bergerak.

Melihat tenaga Boe Kie yang dapat mengangkat jangkar seorang diri, sedangkan pekerjaan itu sebenarnya harus dilakukan oleh belasan orang, anak buah kapal kapak Cong kauw bersorak sorak.

Sebuah perahu kecil lantas saja mendekati kapal Boe Kie dan melemparkan seutas tambang.

Boe Kie lalu mengikat tambang itu di buritan kapal.

Di dalam perahu itu terdapat dua orang penumpang, Lioe in soe dan Hwie go soe.

Kapal mulai berlayar ke jurusan barat.

Sambil memegang kemudi, Boe Kie mengawasi kapal-kapal Cong kauw.

Sesudah melewati Leng coa to dan kapal2 itu tetap tidak bergerak, berubah hatinya lega.

Ia segera menyerahkan kemudi kepada Siauw Ciauw, pergi ke gubuk kapal untuk menengok In Lee.

Nona itu berada dalam keadaan setengah tertidur, setengah sadar.

Lukanya belum mendingan, tapi juga tidak jadi lebih hebat.

Tay Kie termenung seorang diri waktu mendengar tindakan Boe Kie.

Dengan rasa kagum Boe Kie mengawasi potongan tubuh nyonya itu yang langsing gemulai.

Sebagian rambutnya yang hitam bergoyang goyang tertiup angin, sedang kulitnya yang putih seakan akan batu pualam.

Ayah angkatnya mengatakan, bahwa dahulu Tay Kie terkenal sebagai wanita tercantik dalam Rimba Persilatan.

Pujian itu bukan pujian kosong.

Di waktu maghrib, kapal Boe Kie sudah terpisah kira kira seratus li dari Leng coa to.

Lautan tenang dan di atas permukaan air tidak terlihat apapun jua.

Cong kauw ternyata menepati janji.

"Giehoe, apa tawanan sudah boleh dilepaskan?"

Tanya Boe Kie.

"Boleh!"

Jawabnya.

"Sekarang mereka tak bisa mengejar kita lagi."

Sambil menghaturkan maaf berulang-ulang, Boe Kie segera membuka ‘hiat’ ketiga raja dan Biauw hong soe.

"Enam Seng hwee leng ditaruh di bawah penjagaan kami bertiga,"

Kata Biauw hong soe.

"Kalau hilang, kami berdosa besar. Maka itu, aku memohon kau suka membayar pulang."

"Seng hwee leng adalah tanda kekuasaan Kauw coe dari Beng kauw di wilayah Tiong goan,"

Kata Cia Soen.

"Hari ini, barang itu kembali kepada majikannya. Bagaimana kita bisa menyerahkannya kepadamu?"

Tapi Biauw hong soe tidak mau mengerti.

Ia terus memohon mohon.

Boe Kie merasa, bahwa kalau ia tidak menakluki hati orang itu, di hari kemudian soal ini bisa menjadi bibit penyakit.

Maka itu ia lantas berkata.

"Kami sebenarnya bersedia untuk mengembalikan kepadamu. Tapi kami kuatir kepandaianmu masih terlalu rendah dan tidak bisa menjaga mustika itu. Daripada dirampas oleh orang luar lebih baik dipegang oleh kami."

"Bagaimana orang luar bisa merampasnya?"

Tanya Biauw hong coe.

"Jika kau tidak percaya mari kita mencoba coba,"

Kata Boe Kie yang segera menyerahkan keenam Seng hwee leng kepadanya.

Biauw hong coe girang, tapi baru saja mengatakan ‘terima kasih’, kedua tangan Boe Kie sudah menyambar dan merebut kembali Seng hwee leng itu.

"Curang!"

Teriak Biauw hong coe dengan gusar.

"Kau mendahului sebelum aku memegangnya erat erat."

Boe Kie tertawa.

"Tak apa, boleh coba lagi,"

Katanya seraya menyerahkan pula enam ‘leng’ ke dalam sakunya sambil mencekal yang dua Biauw hong coe memasang kuda kuda.

Serangan Boe Kie dipapaki olehnya dengan pukulan pada pergelangan tangan.

Dengan sekali membalik tangan Boe Kie sudah menangkap lengan tangan kanannya, yang lalu ditarik sehingga kedua ‘leng’ terpukul satu sama lain dan mengeluarkan suara "cring!"

Yang menggetarkan hati.

Diam diam Boe Kie mengirim tenaga dalam yang sangat kuat lengan lawan, Biauw hong soe lantas saja merasa lengannya kesemutan dan semua tenaganya musnah.

Ia tidak bisa bergerak lagi dan dua ‘leng’ yang dicekalnya jatuh.

Dengan tenang Boe Kie lalu merogo saku lawan dan mengambil empat leng yang menggeletak di geladak kapal.

"Bagaimana? Apa kau mau mencoba lagi?"

Tanya Boe Kie. Paras muka Biauw hong soe berubah pucat.

"Kau bukan manusia! Kau setan!"

Katanya dengan suara parau.

Ia bertindak untuk melompat ke perahu.

Mendadak badannya terhuyung dan ia roboh.

Lioe in soe melompat naik, mendukungnya dan cepat cepat kembali ke perahu.

Sementara itu perahu sudah memasang layar dan Kong tek ong lalu memutuskan tambang sehingga kedua kendaraan air itu lantas berpisah.

"Kami yang telah membuat banyak kesalahan dan harap kalian suka memaafkan,"

Teriak Boe Kie seraya merangkap kedua tangannya.

Kong tek ong dan kawan kawannya tidak menjawab.

Mereka mengawasi dengan sorot mata gusar.

Kapal terus berlayar ke arah barat.

Sekonyong konyong Tay Kie membentak.

"Bangsat! Jangan main gila!"

Ia menggenjot tubuh dan menerjun ke air!

Boe Kie terkesiap, buru buru ia memutar kemudi.

Mendadak ia melihat timbulnya darah yang tercampur di pinggir kapal.

Dengan saling susul timbul pula darah di lima tempat.

Tak lama kemudian Tay Kie muncul di permukaan air dengan gigi menggigit pisau dan tangan mencekal rambut seorang Persia.

Dengan memutar kemudi, Boe Kie berusaha untuk menyambut nyonya itu.

Tapi sebab ia tidak segera menurunkan layar, maka sebaliknya daripada maju kapal itu terputar dengan perlahan.

Ilmu berenang Cie san Liong ong benar benar lihay ia sudah menghampiri secepat ikan.

Dalam sekejap ia sudah sampai di pinggir kapal.

Dengan tangan kiri ia menekan jangkar untuk meminjam tenaga dan sekali menggenjot tubuh ia "terbang"

Ke atas dan kemudian hinggap di atas geladak bersama sama tawanannya.

Ternyata sesudah Kong tek ong dan kawan kawannya turun ke perahu dengan menggunakan layar sebagai aling aling tujuh penyelam meloncat ke air untuk membocorkan kapal Boe Kie.

Untung besar Tay Kie yang berpengalaman luas dan bermata jeli dapat melihat gelembung gelembung air yang muncul di permukaan laut karena pernafasan orang orang itu.

Dengan demikian ia berhasil membinasakan enam orang dan membekuk seorang.

Baru saja Boe Kie mau memeriksa tangkapan itu, tiba tiba di buritan kapal terdengar peledakan dahsyat diikuti dengan mengepulnya asap hitam… kapal bergoncang keras, potongan potongan kayu berterbangan ke angkasa.

Dengan hati mencelos Boe Kie dan kawan kawannya merebahkan diri di geladak kapal.

"Jahat sungguh manusia manusia itu!"

Kata Tay Kie sambil berlari lari ke buritan kapal.

Ternyata peledakan itu telah membocorkan buritan dan air sudah mulai mengalir masuk, sedang kemudi kapalpun sudah terbang tanpa berbekas.

Dengan sorot mata berduka Tio Beng mengawasi Boe Kie.

"Kapal musuh akan segera mengejar dan kita semua bakal mati tanpa kuburan,"

Katanya di dalam hati.

Sementara itu, dengan menggunakan bahasa Persia, Tay Kie mengajukan beberapa pertanyaan kepada tawanannya yang menjawab dengan bahasa itu juga.

Mendadak Cie san Liong ong mengangkat tangannya dan menghantam batok kepala orang itu yang lantas saja roboh binasa.

Sambil menendang mayat itu ke air, ia berkata dengan suara menyesal.

"Aku hanya mengetahui, bahwa mereka berusaha untuk membocorkan kapal, tapi tidak pernah menduga bahwa mereka bakal mengikat obat pasang di buritan."

Ketika itu perahu yang ditumpangi Kong tek ong dan kawan kawannya sudah pergi jauh, sehingga biarpun pandai berenang, Tay Kie tak akan bisa mengejarnya.

Semua orang saling mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Mereka tidak berdaya.

Karena sangat besar, kapal itu tidak lantas tenggelam.

Sekonyong konyong Tay Kie dan Siauw Ciauw berbicara dalam bahasa Persia.

Selagi berbicara, paras muka mereka berubah ubah.

Mereka kelihatannya sedang bertengkar.

Dengan kedua pipi bersemu dadu, Siauw Ciauw mengawasi Boe Kie, sedang Tay Kie mendesaknya dengan perkataan perkataan keras.

Nyonya itu rupa rupanya tengah membujuk Siauw Ciauw untuk meluluskan suatu permintaan, tapi si nona menolak keras.

Belakangan sesudah melirik Boe Kie dan menghela napas, Siauw Ciauw mengatakan sesuatu.

Tiba tiba Tay Kie memeluk dan menciumnya dan mereka berdua serentak mengucurkan air mata.

Siauw Ciauw menangis sedu sedan dan Tay Kie membujuknya dengan perkataan perkataan lemah lembut.

Dengan rasa heran, Boe Kie, Tio Beng dan Cie Jiak saling memandang.

Mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua wanitu itu.

"Lihatlah paras muka mereka sangat mirip satu sama lain,"

Bisik Tio Beng di kuping Boe Kie. Boe Kie terkejut. Ia mengawasi.

"Benar! Kedua duanya cantik, muka mereka potongan kwaci, hidung mancung kulit putih dan paras mereka memang hampir bersamaan."

Dengan jantung memukul keras ia ingat perkataan Kouw Tauw too Hoan Yauw di rumah makan. Kata kata "sungguh sama"

Berarti sungguh sama dengan Cie san Liong ong?

Memikir begitu.

Boe Kie lantas saja ingat sikap Yo Siauw dan puterinya yang sangat berwaspada terhadap Siauw Ciauw.

Setiap kali ia menanya mengapa mereka begitu berhati hati terhadap seorang gadis cilik, jawabnya selalu tidak memuaskan.

Sekarang baru ia mengerti, bahwa Yo Siauw bercuriga karena paras muka nona itu sangat mirip dengan Cie san Liong ong.

Iapun baru mengerti mengapa Siauw Ciauw telah berusaha untuk mengubah mukanya supaya kelihatan jelek.

Mendadak ia ingat sesuatu.

"Perlu apa Siauw Ciauw datang di Kong beng teng?"

Tanyanya di dalam hati.

"Bagaimana ia bisa tahu pintu masuk dari jalanan rahasia? Ah… ia tentu disuruh Cie san Liong ong untuk mencuri pelajaran Kian koen tay lo ie. Hampir dua tahun ia menjadi pelayanku dan aku belum pernah berjaga jaga. Kalau ia mau menyalin pelajaran itu, gampangnya seperti orang merogoh saku. Celaka sungguh! Aku… belum pernah bermimpi mimpi, bahwa ia mengandung maksud tertentu. Boe Kie, Boe Kie!... Kau tolol! Kau terlalu percaya kepada manusia…"

Sambil mengutuk diri sendiri, ia melirik Siauw Ciauw.

Apa mau, si nona pun sedang mengawasi dengan sorot mata penuh kecintaan murni.

Sorot mata itu bukan sorot mata berpura pura.

Sekali lagi jantungnya memukul keras.

Ia lantas saja ingat, bahwa pada waktu ia menghadapi enam partai besar di Kong beng teng, Siauw Ciauw pernah melindungi dirinya tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri.

Selama hampir dua tahun, nona itu telah merawat dan melayani dia dengan penuh pengabdian.

Apa dia salah menerka?

Sekonyong konyong kapal bergoncang dan sudah tenggelam separuh.

"Thio Kauwcoe dan kawan2 tak usah kuatir!"

Kata Tay Kie.

"Kalau sebentar kapal Cong kauw datang disini, aku dan Siauw Ciauw sudah mempunyai daya upaya untuk menghadapinya. Biarpun hanya seorang wanita, Cie san Liong ong bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Aku pasti tidak akan merembet rembet kalian, Thio Kauwcoe dan Say ong Cia heng telah membuang budi yang seberat gunung kepadaku. Untuk itu semua, dengan jalan ini Tay Kie menghaturkan banyak terima kasih."

Sehabis berkata begitu, ia menekuk lututnya.

Cia Soen dan Boe Kie buru2 membalas hormat.

Mereka tahu bahwa nyonya itu bersungguh, tapi mereka sangsi apakah Cong kauw bersedia untuk melepaskan mereka.

Perlahan tetapi pasti, kapal terus tenggelam.

Tak lama kemudian, air sudah masuk di gubuk.

Semua orang lalu memanjat tiang layar dengan Boe Kie mendukung In Lee dan Cie Jiak mendukung Tio Beng.

Sekonyong konyong, sambil menangis Siauw Ciauw menuding ke jurusan timur.

Semua orang menengok ke arah itu.

Di tempat jauh, mereka melihat beberapa titik yang makin lama makin jadi besar, yang kemudian ternyata adalah belasan kapal Persia yang menghampiri dengan kecepatan luar biasa….

"Kalau aku jadi Tay Kie, aku lebih suka mati di air daripada dibakar hidup hidup,"

Kata Boe Kie dalam hati. Tapi Tay Kie kelihatannya tenang tenang saja, sedikitpun tak mengunjuk rasa jeri sehingga Boe Kie merasa kagum sekali.

"Sebagai kepala dari empat Hoat ong dia sungguh bukan sembarang orang"

Pikirnya.

"Pada waktu Eng ong Say ong dan Hok ong sudah dikenal sebagai orang gagah yang usianya tak muda lagi, dia masih jadi gadis remaja. Tapi belakangan kedudukannya bisa berada di sebelah atas ketiga Hoat ong itu. Dilihat sikapnya yang sekarang ia memang pantas mendapat kedudukan itu."

Sambil berpikir begitu ia mengawasi kapal kapal Cong kauw yang makin dekat.

"Aku telah merobohkan beberapa Po soe ong dan kalau aku jatuh ke dalam tangan mereka, aku tak usah mengharap hidup,"

Katanya pula dalam hati.

"Biar bagaimanapun juga aku harus berusaha supaya Gie Hoe, Tio Kauwnio, Cioe Kauwnio dan piauw moay bisa selamat. Dan juga… Siauw Ciauw. Hei!... Dia boleh berkhianat terhadapku tapi aku tak bisa berkhianat terhadapnya."

Tiba tiba In Lee bergerak dan membuka kedua matanya. Ia kaget ketika tahu, bahwa ia sedang didukung Boe Kie.

"A Goe Koko… dimana kita berada?"

Tanyanya.

"Mengapa kau mendukung aku?"

"Jangan takut,"

Kata Boe Kie.

"Bagaimana keadaanmu?"

In Lee menggeleng gelengkan kepalanya.

"Aku tak punya tenaga, rasanya lemas,"

Jawabnya dengan suara parau.

Begitu datang dekat, semua mulut meriam dari belasan kapal Cong kauw ditujukan ke tiang layar yang dipeluk oleh rombongan Boe Kie.

Andaikata pemuda itu memiliki kepandaian yang seratus kali lipat lebih tinggi, iapun tak usah harap bisa melawan peluru meriam meriam itu.

Kapal kapal Cong kauw membuang sauh dan menurunkan layar dalam jarak kira kira seratus tombak.

Mereka rupa rupanya kuatir, bahwa kalau datang terlalu dekat, Boe Kie akan melompat dan menawan pula beberapa Po soe ong.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tertawanya Tie hwie ong.

"Heei!"

Teriaknya.

"Apa kamu mau menakluk atau tidak?"

"Orang orang gagah dari Tionggoan boleh mati, tapi tidak boleh menekuk lutut,"

Jawab Boe Kie dengan suara lantang.

"Kalau kamu bukan kawanan pengecut, marilah kita mengadu ilmu silat!"

Tie hwie ong tertawa nyaring.

"Orang gagah sejati mengadu kepintaran, bukan mengadu kekuatan,"

Teriaknya.

"Sudahlah! Kamu tidak bisa berbuat lain daripada menyerah!"

Tiba tiba Tay Kie berbicara dalam bahasa Persia.

Ia bicara dengan sikap angker.

Tie hwie ong kelihatan kaget dan lalu menjawab.

Tayseng Po soe ong turut bicara.

Sehabis mereka bicara, dari atas kapal diturunkan sebuah perahu dengan delapan pendayung dan perahu itu segera menuju ke kapal Boe Kie yang sudah hampir karam.

"Thio Kauwcoe, aku dan Siauw Ciauw mau menuju ke sana,"

Kata Tay Kie.

"Kalian tunggu saja disini sebentar."

"Han hoejin!"

Bentak Cia Soen.

"Beng kauw di Tionggoan telah memperlakukan kau secara baik. Bangun atau robohnya agama kita tergantung atas Boe Kie seorang. Jika kau menjual kami, kebinasaan Cia Soen tidak menjadi soal. Tapi kalau selembar rambut Boe Kie sampai terganggu, biarpun sudah menjadi setan, Cia Soen pasti tak akan mengampuni kau."

Tay Kis tertawa dingin.

"Kalau anak angkatmu seperti mustika, apakah anakku tak lebih daripada lumpur yg kotor?"

Tanyanya dengan suara getir.

Sehabis berkata begitu seraya menuntun tangan Siauw Ciauw, ia melompat ke perahu yang segera didayung kearah kapal besar.

Mendengar perkataan nyonya itu, Cia Soen dan yang lain2 terkejut.

"Kalau begitu benar Siauw Ciauw puterinya,"

Kata Tio Beng.

Tak lama kemudian Tay Kis dan Siauw Ciauw sudah berada dikapal besar dan mereka terus bicara dengan para Po Soe Ong.

Sementara itu kapal Boe Kie terus menenggelam dengan perlahan.

Sedim demi sedim tiang layar masuk kedalam air.

Cia Soen menghela napas.

"Boe Kie,"

Katanya.

"Aku salah menilai Han Hoejin, kau salah menilai Siauw Ciauw. Boe Kie seorang lelaki sejati harus mundur dan bisa maju. Biarlah untuk sementara waktu kita menelan hinaan untung mencari kesempatan guna meloloskan diri. Diatas pundakmu terdapat beban yg berat. Berlaksa laksa rakyat di Tiong Goan menunggu nunggu tindakan Beng Kauw untuk mengusir Tat coe dari negara kita. Boe Kie begitu ada kesempatan kau mesti menggunakannya untuk melarikan diri. Jangan perdulikan yg lain. Kau adalah pemimpin suatu agama. Kau harus mengerti apa artinya itu."

Sebelum pemuda itu menyahut Tio Beng sudah mendahului.

"Fuh! sedang jiwa sendiri tak bisa ditolong lagi, kau masih bicarakan soal Tat coe"

Cie Jiak yg sedari tadi terus membungkam, tiba2 berkata.

"Rasa cinta Siauw Ciauw terhadap Thio Kong coe sangat besar. Menurut pendapatku ia takkan berkhianat."

"Apa kau tak lihat cara bagaimana Cie gan liong ong mendesak dia?"

Tanya Thio Beng.

"Semula Siauw Ciauw menolak, kemudian lantaran terlalu didesak, ia kelihatannya meluluskan permintaan ibunya. Hm.. dan dia berlagak sedih."

Sesaat itu tiang layar hanya menonjol setombak lebih dari permukaan air. Gelombang yang turun naik membawa semua orang.

"Thio kong coe,"

Kata Tio Beng sambil tertawa.

"kami akan mati bersama sama kau dan segala apa tamat ceritanya. Tapi Siauw Ciauw yg licik dan licin malah tak bisa mati bersama sama kau."

Biarpun kata2 itu semacam guyon, artinya sangat mendalam. Dengan berkata begitu terang2 nona Tio menyatakan rasa cintanya yg sangat besar terhadap pemuda itu. Boe Kie sendiri merasa sangat terharu.

"Benar,"

Pikirnya.

"Aku tak bisa menikah dengan mereka sekaligus. Tapi bahwa aku bisa mati bersama2 mereka, tidaklah Cuma2 kuhidup didunia ini."

Sambil memikir begitu ia melirik Tio Beng melirik Cie Jiak dan melirik pula In Lee yang berada dalam dukungannya.

Ia menghela napas.

In Lee masih berada dalam keadaan setengah sadar dan setengah lupa sedang Tio Beng dan Cie Jiak seperti berlomba lomba dalam kecantikan.

Pada muka mereka yg bersermu dadu terdapat titik2 air, sehingga kalau Tio Beng seperti sekuntun bunga mawar, Cie Jia bagaikan bunga anggrek.

Ia menghela napas pula dan berkata dalam hati.

"Hai! Bagaimana aku bisa membalas budi mereka?"

Sekonyong2 dari kapal2 Cong kauw terdapat sorak sorai bergemuruh.

Boe Kie kaget.

Ia mendapat kenyataan, bahwa semua orang disetiap kapal berlutut diatas geladak dengan menghadap kearah kapal besar itu sendiri, semua Po Soe ong berlutut dihadapan seorang yg duduk disebuah kursi.

Orang itu kelihatan seperti Siauw Ciauw.

Sebab jarak terlampau jauh ia tak bisa lihat tegas.

Ia merasa sangat heran, apa yg dilakukan oleh orang Persia itu?

Beberapa saat kemudian, orang2 itu bangun berdiri tapi sorak sorai yg sangat gembira, masih terus terdengar.

Sekonyong2 sebuah perahu mendatangi.

Waktu perahu itu sudah datang dekat, penumpangnya ternyata bukan lain daripada Siauw Ciauw sendiri.

Si nona menyapa dan berteriak.

"Tio Kongcoe! Mari kita naik kekapal besar. Mereka takkan mengganggu kalian."

"Mengapa begitu?"

Tanya Tio Beng.

"Kalian akan segera tahu,"

Jawabnya.

"Aku pasti takkan mencelakai Tio Kong coe."

Mendadak Cia Soen bertanya "Siauw Ciauw, apakah kau sudah menjadi Kauwcoe dari Beng Kau di Persia?"

Siauw Ciauw tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepala.

Selang beberapa saat air mata mengalir, turun di kedua pipinya.

Mata Boe Kie berkunang kunang.

Ia sekarang bisa menebak segala kejadian yg sebenarnya.

Ia berduka dan berterima kasih.

"Kau telah berkorban untukku!"

Katanya dengan suara parau. Si nona memalingkan kepalanya. Ia tidak berani berbentrok mata dengan pemuda itu. Cia Soen menarik napas.

"Tay kie mempunyai putra yg seperti kau tidaklah memalukan nama besarnya Cie Sang Liong Ong,"

Katanya.

"Boe Kie, mari kita ikut Siauw Ciauw Kauwcoe."

Sehabis berkata begitu, ia melompat ke perahu disusul oleh yg lain2.

Delapan pedayung lantas saja memutar perahu itu dan mendayung kan ke arah kapal yg besar.

Dalam jarak dua puluh tombak lebih para Po Soe Ong, membungkuk untuk menyambut Kauwcoe mereka.

Biarpun Tay Kie ibunya si nona iapun menjalani peradatan seperti yg lain.

Begitu lekas rombongan Boe Kie naik dengan sikap sangan hormat beberapa pelayan lantas mengantar mereka ke gubuk kapal untuk menukar pakaian yg basah.

Boe Kie sendiri diantar kesebuah kamar yang diperaboti mewah dan indah.

Selagi ia mengerinkan air dibadannya, tiba2 pintu diketuk dan ditolak soerang wanita yg kedua tangannya menyangga seperangkat pakaian bertindak masuk dan wanita itu adalah Siauw Ciauw.

"Kongcoe, biarlah aku melayani kau,"

Kata si nona. Boe Kie merasa sangat terharu.

"Siauw Ciauw,"

Katanya.

"Sekarang kau sudah menjadi Kauwcoe dari Cong Kauw dan pada hakekatnya aku sendiri adalah seorang sahabatmu. Mana boleh kau melakukan lagi pekerjaan pelayanan?"

"Kongcoe inilah untuk penghabisan kali,"

Kata si noan.

"Kita akan segera berpisahan jauh2 sekali, dan kita tak kan bertemu pula. Sesudah aku berada di negeri orang, biarpun mau tak bisa aku melayani kau lagi."

Boe Kie merasa hatinya hancur.

Sambil menahan turunnya air mata, ia membiarkan si nona membayangnya – membantunya memakai baju, mengancing baju, mengangkat tali pinggang dan menyisir rambutnya.

Sambil melakukan itu semua air mata Siauw Ciauw terus mengalir di kedua pipinya.

Boe Kie tak dapat mempertahankan dirinya lagi, tiba2 ia memeluk erat2.

Bagaikan bendungan pecah si nona menangis tersedu sedan.

Dengan tubuh bergemetara ia balas memeluk.

"Siauw Ciauw,"

Bisik Boe Kie.

"Semula aku bahkan menduga kau berkhianat terhadapku. Tak dinyana rasa cintamu begitu besar."

Sambil menyandarkan kepalanya pada dada yg lebar, si nona berkata dengan suara perlahan.

"Kongcoe memang aku pernah menipu kau. Ibuku adalah seorang dari ketiga Seng lie cong kauw. Ia mendapat perintah untuk datang di Tiong goan guna melakukan suatu pekerjaan penting dengan pengertian bahwa kalau nanti kembali di Persia ia akan menduduki kursi Kauwcoe. Tak disangka begitu bertemu dengan ayah, ibu jatuh cinta dan tidak dapat menahan dirinya lagi. Ketika ayah meninggal dunia, aku masih berada di dalam kandungan dia aku belum pernah melihat wajahnya. Ibu tahu bahwa ia berdosa besar. Ia menyerahkan cincin besi Senglie kepadaku dan memerintahkan aku pergi ke Kong beng teng untuk mencuri sim hoat (pelajaran) Kian Koen Tay lo ie. Kongcoe didalam hal ini, aku sudah menipu kau. Aku tidak memberitahukan hal yg sebenarnya kepadamu. Akan tetapi, hatiku bersih. Sedikitpun aku tak punya niatan untuk menjadi Kauwcoe dari Beng Kauw di Persia. Aku mengharap untuk menjadi pelayanmu, untuk melayani kau seumur hidup, untuk tidak berpisahan denganmu selama lamanya. Aku pernah memberitahukan harapanku ini kepadamu bukan? Dan kau sendiri sudah meluluskan. Bukankah benar begitu?"

Boe Kie manggut2kan kepalanya. Sesudah berdia sejenak, si nona berkata pula.

"Aku sudah menghapal sim hoat kian koen tay lo ie, tapi menghapalnya bukan lantaran didorong oleh niatan untuk berkhianat terhadapmu. Kalau bukan karena terlalu kepaksa aku pasti tidak akan memberitahukan mereka."

"Sudahlah kau tak usah bersedih lagi,"

Bisik Boe Kie.

"Sekarang aku sudah mengerti semuanya."

"Sedari kecil, aku sudah melihat kekuatiran ibu,"

Kata pula Siauw Ciauw.

"Siang malam ia tak tentram. Belakangan ia menyamar sebagai nenek yg bermuka jelek ia mengirim aku kepada lain keluarga dan hanya menengok aku setahun sekali atau dua tahun sekali. Kongcoe kalau kau dan yang lain2 tidak menghadapi kebinasaan, jangankan menjadi Kauwcoe sekalipun menjadi ratu Persiaa aku pasti akan menolak."

Sehabis berkata begitu, ia menangis pula dengan badan bergemetara.

"Siauw Ciauw!"

Mendadak terdengar bentakan Tay Kie diluar kamar.

"Jika kau mengantarkan jiwanya Kongcoe."

Bagaikan dipagut ular, si nona memberontak dari pelukan Boe Kie dan melompat mundur.

"Kongcoe, jangan ingat2 aku lagi,"

Katanya dengan suara parau.

"In Kouwhie telah mengikuti ibu dalam banyak tahun dan ia sangat mencintai kau. Ia akan menjadi seorang istri yg budiman."

"Siauw Ciauw,"

Bisik Boe Kie.

"Mari kita menerjang keluar dan membekuk satu dua Po soe ong. Kita bisa paksa mereka untuk mengantarkan kita ke Leng coa to."

Si nona menggelengkan kepala.

"Sekarang mereka sudah berjaga2,"

Katanya.

"Tubuh Cia Tayhiap dan Tio Kouwnio ditandalkan senjata. Kalau kita bergerak, mereka binasa."

Seraya berkata begitu, ia membuka pintu berdiri Tay Kis yg punggungnya dituding dengan dua pedang oelh dua orang Persia.

Kedua orang itu membungkuk, tapi pedang mereka tidak berkisar dari punggung Cie San Liong Ong.

Denga diikuti Boe Kie, si nona berjalan keluar.

Benar saja mereka melihat, bahwa Cia Soen dan lain2 berada dibanwah ancaman senjata.

"Kongcoe,"

Kata Siauw Ciauw, aku akan memberikan kau obat untuk mengobati luka In Kouwnio."

Ia lalu berbicara dalam bahasa Persia dan Kong tek ong segera mengeluarkan sebotol obat luar yg lalu diserahkan kepada Boe Kie.

"Aku akan memerintahkan orang untuk mengantar kalian pulang ke Tiong Goan,"

Kata pula si nona.

"Sekarang saja kata berpisahan. Kongcoe, badan Siauw Ciauw berada di Persia, hatinya tetap bersama2 kau. Siang dan malam aku berdoa supaya kau selalu sehat segala pekerjaan bisa berjalan lancar…"

Ia tak dapat meneruskan perkataannya.

"Kau berada disarang harimau, jagalah dirimu baik2,"

Kata Boe Kie.

Si nona mengangguk dan lalu memerintahkan orang untuk menyediakan perahu.

Sesudah Cia Soen, In Lee, Tio Beng dan Cie Jiak turun ke perahu, Siauw Ciauw segera memulangkan To Liong to Ie Thian Kiam dan enam Seng hwee leng kepada Boe Kie.

Sambil tertawa sedih, ia mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.

Boe Kie berdiri terpaku, ia tdiak bisa mengeluarkan sepatah kata.

Selang beberapa saat dengan hati seperti tersayat pisau ia melompat turun keperahu.

Kapal besar segera membunyikan terompet.

Kedua kendaraan air bergeral memasang layar dan mulai berpisahan dengan perlahan.

Dengan berdiri di kepala kapal, Siauw Ciauw mengawasi perahu Boe Kie.

Makin lama mereka jadi makin jauh, sampai akhirnya masing2 lenyap dari pemandangan.

Obat luar yg diberikan kepada In Lee tidak menolong banyak.

Lukanya banyak mendingan tapi panasnya tak mau turun dan mulutnya terus mengaco karena di samping luka si nona jg menderita demam keras sebagai akibat serangan hujan dan angin.

Boe Kie mulai bingung.

Pada hari ketiga ia melihat pulau kecil disebelah timur.

Buru2 ia minta pengemudi memutas haluan kearah pulau itu.

Tapi si pengemudi menolak dengan menggeleng2kan kepala dan berbicara dalam bahasa Persia yg tidak dimengerti Boe Kie.

Ia rupa2nya menolak sebab di perintah mengantar rombongan itu ke Tiong Goan.

Dengan gerakaan tangan Boe Kie coba menerangkan, bahwa maksudnya adalah untuk mencari daun2 obat guna molong In Lee.

Tapi pengemudi itu tak mau mengerti.

Akhirnya karena jengkel, Boe Kie lalu merampas kemudi dan haluan perahu segera diputar ke jurusan timur.

Mereka tiba diwaktu magrib.

Sesudah terombang ambing dilautan beberapa hari, semangat mereka terbangun waktu menginjak lagi bumi.

Luas pulau hanya beberapa li persegi tapi karena hawanya hangat, pohon dan rumpu tumbuh dengan subur.

Sesudah meminta Cie Jiak menjaga In Lee dan Tio Beng, Boe Kie segera mencari daun2 obat.

Tapi mudah mencari daun obat dipulau itu.

Sampai malam baru Boe Kie menemukan salah satu macam.

Ketika ia kembali, Cie Jiak sudah menyalakan api unggun.

In Lee kelihatan lebih segar.

"A Goe koko,"

Katanya.

"Sebaiknya malam ini kita menginap disini saja."

Semua orang segera menyetujui.

Dipulau itu tidak terdapat binatang buas dan diantara hangatnya bawa api, mereka tidur dengan hati lega.

Waktu fajar menyingsing, Boe Kie tersadar.

Tiba2 ia terkejut, sebab perahu tidak ada ditempatnya.

Ia berlari2 diseputar pulau, tapi perahu itu tetap tidak kelihatan bayang2nya.

Dengan rasa bingung, ia mendaki bukit kecil.

Baru beberapa tindak ia terhuyung hampir jatuh.

Ia merasa kedua lututnya tidak bertenaga.

Hatinya mencelos.

"Gie Hoe!"

Teriaknya.

"Apa kau baik?"

Cia Soen tidak menjawab.

Ia makin bingung.

Bagaikan terbang ia menghampiri.

Hatinya agak lega, karena Kim mo say ong sedang tidur dengan tenang.

Karena ada batas2 antara lelaki dan perempuan, Tio Beng, In Lee dan Cie Jiak tidur terpisah dibelakang sebuah batu besar.

Waktu Boe Kie pergi kesitu, ia melihat In Lee dan Cie Jiak tidur berhadapan, tapi Tio Beng tidak kelihatan mata hidungnya.

Begitu ia mendekati matanya berkunang2!

Muka In Lee belepotan darah dengan belasan tapak senjata tajam!

Dengan tangan bergemetaran, ia memegang nadi si nonan yg masih mengetuk dengan perlahan.

Cie Jiak pun tidak terbebas dari serangan.

Sebagian rambutnya terpapas, sebagian kuping kirinya teriris putus.

Tapi nona Cioa sendiri masih teruk terpulas dengan bibir tersungging senyuman.

Ketika itu perasaan Boe Kie sukar dilukiskan.

"Cie Kouwnio! Cie Kouwnio!"

Ia memanggil2.

Tapi si noan Cioe tetap menggeros.

Karena terpaksa, Boe Kie lalu menggoyang2 pundaknya.

Cie Jiak berbangkit beberapa kali kemudian pulas lagi.

Boe Kie tahu, bahwa nona itu kena racun, begitupun ia sendiri, sebab ia merasa seluruh badannya tidak bertenaga lagi.

Cepat2 ia kembali ke ayah angkatnya.

"Gie hoe! Gie hoe!"

Teriaknya. Kim mo Say ong tersadar. Perlahan2 ia berduduk.

"Ada apa"

Tanyanya.

"Celaka besar, Gie hoe!"

Jawabnya.

"Kita ditipu manusia rendah."

Ia segera memberitahukan hilangnya perahu dan terlukanya In Lee serta Cie Jiak. Cia Soen terkejut.

"Tio Kouwnio?"

Tanyanya.

"Entahlah, dia megnhilang,"

Sahutnya. Dia menarik napas dalam2 dan coba mengerahkan tenaga. Ia merasa kaki tangannya mengambang dan lweekangnya tak bisa keluar.

"Gie Hoe,"

Katanya.

"Kita kena racun Sip hiang Joan Kin san."

Dari anak angkatnya, Cia Soen sudah mendengar tentang dirobohkannya orang2 enam partai besar dengan racun itu.

Ia segera berbangkit dan mendapat kenyataan, bahwa ia pun tidak dapat mengeluarkan tenaga dalamnya.

Sesudah menetapkan hati, ia bertanya.

"Apakah dia pergi dengan membawa To Liong To dan Ie Han kiam?"

Benar saja kedua senjata mustika itu tidak bisa ditemukan.

Rasa gusar, jengkel dan menyesal memenuhi dada Boe Kie.

Ia bukan menyesal karena tercurinya golok dan pedang mustika itu.

Ia menyesal karena tak pernah menduga, bahwa, pada waktu ia berada dalam kesukaran besar Tio Beng bisa mengkhianatinya.

Untuk beberapa saat, ia berdiri bagaikan patung.

Ia sangat bekuatir akan lukanya In Lee dan lalu pergi ke belakang batu.

In Lee masih pingsan, sedang Cie Jiak masih tidur.

"Lwee kangku paling kuat, sehingga aku tesadar paling dulu,"

Pikirnya.

"Sesudah aku, barulah Giehge. Tenaga dalam Cioe Kouwnio masih terlalu cetek. Rasanya ia tak gampang2 tersadar."

Ia segera merobek tangan bajunya dan menggunakannya untuk membersihkan darah dari muka nona In, yang penuh dengan goresan2 garis malang melintang.

Boe Kie tahu, bahwa goresan2 itu dibuat denga Ie Thian Kiam.

Semenjak terluka karena timpukan Cie san Ling ong, In Lee telah mengeluarkan banyak darah.

Sebagian besar racun laba2 yg mengeram dalam tubuh si nan, jg turut keluar.

Oleh karena itu sebagian besar bengkak2 pada mukanya sudah menghilang, sebagian kecantikannya yg dahulu sudah pulih kembali.

Tapi sekarang muka cantik itu jadi lebih menakuti lagi sebab adanya goresan pedang.

Boe Kie merasa hatinya seperti disayat pisau.

Darahnya bergolak dan ia berkata sambil menggertak gigi.

"Tio Beng! … Tio Beng!.... Kalau.... kau jatuh kedalam tanganku, Thio Boe Kie bukan manusia, kalau dia tidak menggores seluruh mukamu!"

Sesudah hatinya agak tentram, ia berlari2 mencari daun2 obat, yg sesudah dikunyak didalam mulutnya, lalu ditempelkan pada muka In Lee, pada kulit dan kuping Cie Jiak.

Cie Jiak tiba2 tersadar.

Ketika ia membuka mata dan mengetahui bahwa Boe Kie sedang meraba2 kepalanya, mukanya lantas saja berubah merah.

Ia mendorong dengan tangannya dan bertanya.

"Kau… mengapa kau…"

Sebelum selesai bicara, mendadak ia merasa kupingnya sakit lalu merabanya.

"Ah! …"

Teriaknya sambil melompat bangun.

"Mengapa begini?"

Sekonyong2 kedua lututnya lemas dan ‘bruk!’ ia jatuh dalam pelukan Boe Kie.

"Cioe Kouwnio, jangan takut,"

Bujuk Boe Kie. Dengan mata membelak, Cie Jiak mengawasi muka In Lee. Ia mengusap mukanya sendiri dan bertanya.

"Apa kau juga?"

"Tidak,"

Jawab Boe Kie.

"Nona hanya mendapat luka enteng."

"Perbuatan orang Persia?"

Tanya pula si nona.

"Mengapa aku sama sekali tidak merasa?"

Boe Kie menghela napas.

"Mungkin sekali ini semua dilakukan oleh Tio Kouwnio,"

Katanya.

"Rupa2nya semalam ia menaruh racun didalam makanan kita."

Sesudah berdiri bengong beberapa saat, Cie Jiak meraba2 kupingnya yg hilang sebagian dan tiba2 ia menangis.

"Cioe Kouwnio, untung juga kau hanya terluka enteng,"

Bujuk Boe Kie.

"Kerusakan pada kuping itu dapat ditutup dengan rambut dan tak akan bisa dilihat orang."

"Rambut? Rambutku pun sudah hilang,"

Kata Cie Jiak dengan suara mendongkol.

"Yang terpapas hanya kulit ubun2 (meercu kepala) dan bagian itu bisa ditutup dengan rambut dari kedua pinggiran kepala,"

Kata pula Boe Kie.

"Kalau mau, nona bisa juga menggunakan rambut palsu…."

"Hm!..."

Si nona mengeluara suara dihidung.

"Perlu apa aku menggunakan rambut palsu? Ah… sampai pada detik ini, kau masih juga coba melindungi Tio Kouwniomu."

Disemprot begitu Boe Kie tertegun.

"Aku melindungi dia?...."

Katanya seperti orang linglung.

"Dia sungguh jahat…. Aku tak akan mengampuni dia…"

Ia melihat In Lee yg tak karuan macam dan air matanya mengucur.

Cia Soen dan Boe Kie benar2 bingung.

Biarpun mereka orang2 gagah, jarang tandingan skrg mereka tak tahu lagi apa yg hrs diperbuat.

Sesudah mengasah otak beberapa lama, Boe Kie bersila dan mencoba menjalankan pernapasannya.

Ia merasa, bahwa ia sudah keracunan berat.

Ia tahu, bahwa Sip huang Joan kin san hanya dapat dipunahkan dengan obat pemunah Tio Beng.

Tapi demikian pikirnya, daripada menunggu kebinasaan tanpa berusaha, ingin mencoba2 untuk melawan racun itu dengan Lwee kang nya yg sangat tinggi.

Ia segera menjalankan pernapasan guna membawa dan mengumpulkan semua racun di kaki tangannya ke bagian tantian (bawah pusar).

Inilah ilmu tertinggi dari Kioe yang Sin kang yg dinamakan Poe tok Siauw kouw hoat (Ilmu pemunah segala racun).

Sesudah mengerahkan tenaga dalam kira2 satu jam, ia merasa bahwa sebagian Lweekang telah pulih kembali pada kaki tangannya.

Hatinya jadi lebih lega, ia percaya bahwa ia akan dapat mengusir racun itu dari tubuhnya.

Tapi karena harus menjalankan dengan Kioe yang Sin Kang, ia tidak bisa mengajar ilmu itu kepada Cia Soen dan Cie Jiak.

Jalan satu2nya ialah sesudah ia mengusir semua racun dari tubuhnya, ia harus membantu Cia Soen dan Cie Jiak dengan Kioe yagn Sin Kang.

Ilmu itu sederhana, tapi sukar dijalankan.

Sesudah berusaha tujuh hari, barulah Boe Kie bisa mengusir tiga bagian racun.

Harus diingat bahwa Sip hiang Soen Kin san ada salah satu semacam racun yg terlihati didalam dunia.

Tokoh2 seperti Kong boen Kong tie, Wan Cioe Biat soet Soethay yg memiliki lweekang sangat tinggi masih tak berdaya.

Bahwa didalam tujuh hari Boe Kie berhasil mengusir tiga bagian racun dan mengambil pulang satu dua bagian tenaga dalamnya.

Didalam dunia, tak ada orang lain yg dapat melakukannya.

Untung juga racun itu hanya meniadakan Lwee kang dan tak membahayakan jiwa.

Semula Cie Jiak merasa sangat jengkel, tapi sesudah lewat beberapa hari, ia sudah jadi biasa.

Ia selalu mengawani Cia Soen menangkap ikan, memanah burung dan menyediakan makanan.

Diwaktu malam ia tidur disebuah guha disebelah timur pulau itu, terpisah jauh dari Boe Kie.

Biarpun buta, Cia Soen tahu, bahwa Cie Jiak mencintai anak angkatnya.

Tapi nona itu sangat menjaga tata kesopanan.

Ia tak pernah mengeluarkan sepath kata yg bersifat guyon.

Hal ini sudah mendatangkan rasa hormat didalam hati orang tua itu.

Boe Kie sendiri terus dirundung dengan rasa kemalu2an.

Ia merasa bahwa kemalangan ini adalah gara2nya sendiri.

Tio Beng seorang putri Mongol dan musuh Beng Kauw.

Banyak tokoh rimba persilatan roboh dalam tangan nona ini.

Tapi ia sendiri secara sangat tolol sama sekali tidak berjaga2.

sepatahpun Cia Soen dan Cie Jiak tidak pernah menyalahkannya.

Tapi, maka mereka bungkam makin ia merasa jengah.

Kadang2 matanya kebentrik dengan mata nona Cioe.

Sorot mata si nona seolah2 mengatakan begini.

"Kejadian ini terjadi sebab kau dibutakan dengan kecantikan Tio Beng."

Racun dalam tubuh Boe Kie makin hari makin enteng, tapi luka In Lee kian hari kian berat.

Dipulau itu ternyata tidak terdapat daun obat.

Walaupun Boe Kie memliki banyak ilmu pengobatan yg tinggi ia tak berdaya.

Ia tahu pasti bahwa pasti luka nona In dapat disembuhkan.

Tapi tanpa obat ia tak bisa berbuat banyak.

Kalau dipulau itu terdapat pohon2 besar, ia tentu sudah membuat getek untuk berlayar guna mencari pulau lain.

Tapi dipulau itu hanya tumbuh pohon2 kecil.

Kalau ia tak mengerti ilmu pengobatan masih tak apa.

Tapi sebagai ahli, siang malam hatinya seperti diiris2.

Ia tahu bagaimana harus menolong, tapi ia tak dapat menolong.

Pada suatu malam ia mengunyah seperti daun obat yg bisa menolak panas dan kemudian memasukkannya kedalam mulut In Lee.

Si nona tidak bisa menelan lagi.

Bukan main rasa dukanya dan air matanya jatuh berketel2 dimuka In Lee.

Tiba2 si nona membuka mata, ia tersenyum dan berkata.

"A Goe koko, jangan kau susah hati. Aku ingin pergi di dunia baga untuk menemui setan kecil Thio Boe Kie yg kejam dan pendek umur. Aku ingin memberitahukan dia bahwa didalam dunia terdapat seorang A Goe koko yg memperlakukan aku secara luar biasa baik seribuk kali, selaksa kali lebih baik daripada perlakuan Thio Boe Kie. Boe Kie menggigit bibir untuk menahan mengucurnya air mata. Sementara itu, sambil memegang tangan pemuda itu erat2, In Lee berkata pula.

"A Goe koko, aku selalu menolak permintaanmu untuk menikah. Apa kau marah? Kurasa permintaanmu itu bukan keluar dari hati yg sejujurnya. Kurasa kau menipu aku… kau hanya ingin menyenangkan hatiku. Mukaku jelek, adatku aneh bagaimana kau bisa mencintai aku?"

"Tidak! Aku tak menipu kau!"

Kata Boe Kie dengan suara sungguh2.

"Kau seorang gadis yg sangat baik, yg berhati mulia dan penuh kasih. Aku akan merasa sangat beruntung apa bila bisa menikah dengan kau. Sesduah kau sembuh semua urusan2 kita menjadi beres, kita akan segara menikah. Apa kau setuju?"

Dengan sorot mata berterima kasih, In Lee mengusap2 muka Boe Kie. Ia menggeleng2 kan kepala dan berkata dengan suara menyesal.

"A Goe koko, aku tak bisa nikah dengan kau. Aku… sudah diberikan kepada Thio Boe Kie yg kejam dan jahat… A Goe koko, aku merasa takut… Apa yg bakal kau temukan didunia baka? Apakah ia masih akan mengunjuk kegalakannya terhadapku?"

Mendengar perkataan si nona yg tak melantur lagi melihat kedua pipinya yg bersemu dadu, hari Boe Kie mencelos.

"Inilah tanda2 sinar terakhir dari api pelita yg hampir padam,"

Katanya dalam hati.

"Apakah piauwmoay bakal meninggal dunia hari ini juga?"

Bagaikan orang linglung ia mengawasi muka saudari sepupunya. In Lee mengulan pertanyaannya.

"Dia selama2nya akan memperlakukan kau dengan penuh kecintaan,"

Jawab Boe Kie dengan suara lemah lembut.

"Dia akan menganggap kau sebagai jantung hatinya."

"Apakah dia akan memperlakukan aku sama baiknya seperti kau?"

Tanya pula si nona In.

"Langi menjadi Saksti,"

Kata Boe Kie dengan suara tetap.

"Thio Boe Kie mencintai kau dengan setulus hati. Dia merasa menyesal bahwa diwaktu kecil dia pernah melakukan kau secara tidak pantas. Dia… dia tiada bedanya… tidak beda dari aku sendiri."

Si nona menghela napas dan pada bibirnya tersungging senyuman.

"Kalau begitu… kalau begitu… "

Katanya dengan suara berbisik.

"Aku.. aku tidak berkuatir lagi…."

Perlahan2 kedua matanya tertutup dan rohnya kembali ke alam baka.

Sambil menggerung2 Boe Kie memeluk jenazah In Lee.

Ia mengutuk dirinya.

Ia merasa menyesal tak habisnya, bahwa sampai menutup mata In Lee masih tak tahu, bahwa dia adalah Thio Boe Kie.

Selama beberapa hari sinona berada dalam keadaan lupa ingat dan pada detik terakhir sudah tidak keburu diterangi padanya lagi.

Kesedihan Boe Kie waktu itu tidak dapat dilukiskan lagi dengan kalam.

Ia mengutuk Tio Beng berulang2.

Kalau mukanya tidak digores pedang, belum tentu In Lee dapat ketolongan.

Kalau tidak ditinggalkan dipulau mencil, begitu tiba di Tiong Goan, ia akan bisa menolong saudari sepupunya itu.

"Tio Beng!.. Tio Beng!"

Ia mengeluh dengan darah bergolak golak.

"Begitu jahat kau!... kalau kau jatuh didalam tanganku, aku pasti tidak akan mengampuni kau."

"Hm!...."

Mendadak terdenagr suara dingin dibelakangnya.

"Kalau sudah bertemu dengan si cantik, belum tentu kau turun tangan."

Boe Kie berpaling dan melihat Cie Jiak di belakangnya. Ia berduka tercampur malu.

"Aku sudah bersumpah dihadapan jenazah piauwmoay, bahwa jika aku tidak membunuh perempuan siluman itu, Thio Boe Kie tak ada muka untuk hidup diantara langit dan bumi,"

Katanya dengan suara parau.

"Kalau benar begitu, barulah kau seorang lelaki yg mempunyai ambekan,"

Kata Cie Jiak seraya mendekati dan lalu menangis sambil memegang jenazah nona In.

Mendengar suara tangisan, Cia Soen datang dan iapun sangat berduka ketika tahu hal meninggalnya In Lee.

Sesudah kenyang memeras air mata, Boe Kie lalu menggali lubang dan menguburkan In Lee.

Ia mengambil sebatang pohon mengulitinya dan dengan pisau si noan In, mengukir perkataan seperti berikut.

"Kuburan istriku yg tercinta, In Lee."

Dibawahnya ia mengukir namanya sendiri. Sesudah itu, ia berlutut ditanah dan menangis tersedu2. Melihat kesedihan pemuda itu, Cie Jiak merasa kasihan.

"Sudahlah,"

Ia membujuk.

"Dia mencintai kau dan kaupun telah memperlakukannya dengan penuh kasih. Asal saja kau tidak melanggar janjimu dan kau benar2 dapat membinasakan Tio Beng untuk membalas sakit hatinya dialam baka roh, adik In akan merasa terhibur." (red. tidak ada halaman ato paragraph yg ilang disini, ketikan as is) Karena keduanya, racun yg sudah berkumpul di tantian Boe Kie membayar pula. Dengan bekerja keras tujuh delapan hari barulah ia bisa mengumpulkan pula racun yg buyar itu. Akhirnya kira2 sebulan, semua racun baru dapat diusir pergi. Pulau dimana mereka terkandas berbeda dari Peng Hwee to, ato Leng coa to. Disitu bukan saja tak ada pohon pohon buah, tapi juga tidak terdapat binatang yg bisa dijadikan barang santapan. Maka itu hidup mereka sangat menderita. Untung juga, sebab merasa kasihan akah kemalangan Boe Kie, Cie Jiak sudah memperlakukannya dengan penuh kasihan dan memberikan bujukan2 yg dapat diberikan sehingga dengan begitu, penderitaan pemuda itu, banyak entengan. Sesudah ia berhasil Boe Kie lalu membantu ayah angkatnya dalam usahanya mengusir racun Sip Hiang Joan kin san. Setelah beres dengan Cia Soen, ia sebenarnya harus menolong Cie Jiak, tapi pertolongan ia tidak dapat dilakukan sebab terbentur dengan tata kesopanan pada jaman itu. Dalam memberi bantuan sebelah tangan Boe Kie harus menempel pada pinggang dan sebelah tangan lagi hrs menempel pada kempungan yang mau ditolong. Mana boleh ia membantu seorang gadis remaja cara begitu? Tapi itu merupakan jalan satu2nya untuk memasukkan Kioe yg sin kang kedalam tubuh si nona selama beberapa hari, ia tidak dapat mengambil keputusan. Pada suatu malam tiba2 Cia Soen bertanya.

"Boe Kie berapa lamakah kita harus berdiam dipulau ini?"

Boe Kie terkejut.

"Suka dikatakan,"

Jawabnya.

"Kita hanya mengharap bahwa sebuah perahu akan lewat dipulau ini."

"Dalam waktu satu bulan, apakah kau pernah melihat bayang2an perahu?"

Tanya pula sang Gie hoe.

"Tak pernah"

"Ya! Mungkin besok sebuah perahu akan lewat disini. Mungkin juga seratus tahun lagi tak muncul bayang2annya."

"Pulau ini memang pulau terpencil dan tidak berada dalam garis perhubungan air. Harapan kita memang tidak besar."

"Hm… obat pemunah tak akan bisa didapatkan, Boe Kie. Disamping rasa lemas pada kaki tangan, bahaya apa lagi yg dapat ditimbulkan oleh racun itu?"

"Kalau mengeramnya didalam tubuh hanya sementara waktu, boleh dikata tiada lain bahaya. Tapi kalau lama, racun itu menyerap diotot dan tulang dan sangat membahayakan anggota didalam badan."

"Nah kalau begitu mengapa kau tidak buru2 berusaha untuk menolong Cioe Kouwnio? Kalau orang tua Cioe Kouwnio adalah anggota agama kita sedang ia sendiri seorang Ciangboen jin dari Go bie pay. Dimana lagi kau mau cari gadis yg begitu lemah lembut dan mulia hatinya? Apa kau anggap ia kurang cantik?"

Boe Kie tertegun.

"Kalau Cioe Kouwnio tidak cantik, didalam dunia tak ada wanita cantik,"

Jawabnya. Cia Soen tersenyum.

"Kalau begitu aku memerintahkan supaya kau berdua segera menikah,"

Katanya.

"Sesudah menikah, kamu tidak terikat lagi dengan segala peraturan bulukan."

Cie Jiak yang juga berada disitu buru2 berlalu dengan paras muka kemerah2an. Cia Soen melompat dan menghalangi didepannya. Ia tertawa dan berkata.

"Jangan kau pergi! Hari ini aku bertekad untuk menjalankan peranan comblang."

"Cia Looya coe, mengapa kau mengacau belo?"

Kata si nona dengan sikap kemalu2an. Kim mo Say ong tertawa terbahak.

"Perangkap jodoh antara lelaki dan perempuan adalah urusan penting dalam penghidupan manusia,"

Katanya.

"Mengapa kau mengatakan aku mengacau belo? Boe Kie, kedua orang tuamu jg menikah dipulau kecil. Kalau dahulu mereka tidak menyampingkan segala tata adat istiadat bulukan, didalam dunia mana bisa menjelma seorang bocah yg seperti kau? Berbeda dari kedua orang tuamu, hari ini, aku yg menjadi ayah angkatmu, menjalankan peranan sebagai Coaboen (orang yang menikahkan). Apa kau tidak suka Cioe Kouwnio? Apa kau tak sudi menolong dia?"

Cie Jiak jadi makin jengah. Ia coba lari. Sambil menarik tangan si nona, Cia Soen berkata.

"Kemana kau mau lari? Apa besok kamu tidak bakal bertemu pula. Aha! Kutahu, katu tidak sudi memanggil "

Kong kong"

Kepadaku, si buta. Bukankan begitu?"

"Bukan! Bukan begitu!"

"Dengan lain perkataan, kau menyetujui usulku?"

"Tidak!... tidak!...."

"Mengapa tidak? Apa kau anggap anak angkatku tak pantas menjadi pasangan?"

Cie Jiak tidak lantas menjawab. Sejenak kemudian, sambil menatap muka Kim mo Say ong ia berkata dengan suara perlahan.

"Thio Kong coe, memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan namanya terkenal diseluruh kalangan Kangouw. Kalau seorang wanita bisa mendapatkan ia sebagai suami, apalagi yg masih kurang? Tapi… tapi…"

"Tapi apa?"

"Tapi…. Didalam hati, dia mencintai Tio Kouwnio. Kutahu adanya kenyataan ini."

Cia Soen menggertak gigi.

"Tidak bisa jadi!"

Katanya.

"Tak mungkin Boe Kie kelelap terhadap perempuan yg begitu jahat, yg sudah mencelakai kita secara begini hebat. Boe Kie aku ingin dengar pernyataan dari mulutmu sendiri."

Didepan mata Boe Kie terbayang senyuman dan cara2 Tio Beng yg membetot hati.

Ia merasa sangat beruntung kalau bisa menikah dengan gadis yg sangat menarik hati itu.

Tiba2 ia seolah2 melihat pula jenazah In Lee yg mukanya penuh dengan goresan pedang.

Darahnya meluap dan ia segera berkata.

"Tio Kouwnio adalah musuh besarku. Aku akan membunuh dia guna membalas sakit hatinya piauwmoay."

"Cioe Kouwnio, kau dengarlah!"

Kata Coa Soen.

"Apa kau masih tak percaya?"

"Aku masih bersangsi…"

Jawabnya dengan suara perlahan.

"Aku masih bersangsi, kecuali… kecuali dia bersumpah. Kalau tidak, aku lebih suka mati daripada ditolong olehnya."

"Boe Kie, lekas sumpah!"

Kata sang Giehoe. Boe Kie segera berlutut dan berkata.

"Apabila aku, Thio Boe Kie, melupakan sakit hatinya piauwmoay, biarlah langit dan bumi mengutuk aku."

"Kau harus bicara secara tegas,"

Kata Cie Jiak.

"Apa yg ingin diperbuat olehmu terhadap Tio Kouwnio?"

Didalam hati Cia Soen merasa geli. Galak benar nona Cioe! Belum jadi istri, tuntutannya sudah begitu hebat. Tapi sebagai seorang tua, ia lantas saja berkata.

"Boe Kie, hayolah bicara biar tegas!"

Boe Kie mengangguk dan berkata dengan suara nyaring.

"Perempuan siluman Tio Beng bekerja untuk kaisar Tat coe. Dia mencelakai rakyat, membunuh pendekar2 Rimba Persilatan mencari golok mustika Gie Hoe dan membinasakan In Lee piauwmoay. Begitu lama ia masih bernapas, Thio Boe Kie tidak akan melupakan sakit hati itu. Jika aku melanggar sumpah ini, biarlah langit mengutuk aku, bumi mengutuk aku."

Cie Jiak tertawa.

"Aku hanya kuatir, jika tiba waktunya kau akan menaruh balas kasihan terhadapnya,"

Katanya.

"Sekarang sudah berse,"

Kata Cia Soen.

"Kita, orang2 dalam kalangan kangouw, selamanya tidak banyak rewel. Menurut pikiranku, sebaiknya kamu berdua hari ini segera menikah, supaya racun Sip haing joan kin san bisa terusir secepat mungkin."

"Tidak!"

Bantah Boe Kie.

"Giehoe, Cie Jiak dengarlah dulu perkataanku. In kouwnio sangat mencintai aku. Sedari kecil ia menganggap aku sebagai suami nya dan akupun menganggap dia sebagai istri. Sekarang, sedang jenazah nya masih belum dingin, mana aku tega untuk segerah menikah?"

Sesudah memikir sejenak, Cia Soen berkata.

"Benar juga. Tapi bagaimana keinginanmy?"

"Menurut pikiran anak, hari ini anak mengikati tali pertunangan dengan Cioe Kouw nio dan segera membantunya dalam mengusir racun Sap hiang joan kin san,"

Jawabnya.

"Kalau dengan berkah langit, kita bisa pulang ke Tiong goan sesudah membunuh Tio Beng dan memulangkan To liong to kepada Gie hoe, barulah anak melangsungkan upacara pernikahan. Dengan begini, segala apa akan dapat diselesaikan secara baik."

"Baik memang baik sekali,"

Kata Cia Soen.

"Tapi bagaimana kalau sampai sepuluh duapuluh tahun kita masih belum bisa pulang ke Tiong goan?"

"Didalam batas waktu tiga tahun, tak peduli kita bisa pulang ke Tiong goan atau tidak Gieh pe boleh menikahkan kami,"

Jawabnya. Kim mo sau ong mengangguk.

"Cio Kouw nio, bagaimana pendapatmu?"

Tanyanya. Cie Jiak menundukkan kepalanya, selang beberapa saat, barulah ia menyahut.

"Aku seorang perempuan sebatang kara. Aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan menyerahkan segala apa kepada Loo ye coe."

Cia Soen tertawa terbahak2.

"Bagus! Bagus!"

Katanya.

"Kita bertiga menetapkan janji itu. Sekarang kamu sudah menjadi tunangan dan tak usah malu2 lagi. Boe Kie, lekas bantu, tunanganmu!"

Sehabis berkata begitu, ia berlalu dengan tindakan lebar. Sesudah ayah angkatnya pergi, Boe Kie berkata dengan suara perlahan.

"Cie Jiak, apakah kau bisa mengerti perasaan hatiku yg penuh kesengsaraan?"

Si nona tersenyum.

"Karena mukaku tak cantik, kau sudah mengajukan rupa2 alasan,"

Katanya.

"Andai kata aku Tio Kouwnio, mungkin sekarang juga…."

Ia tidak meneruskan perkataannya dan berpaling kejurusan lain. Dengan jantung memukul keras, Boe Kie berkata didalam hati.

"Waktu terombang ambing ditengah lautan aku pernah melamun untuk mengambil empat istri sekaligus. Tapi didalam hati kecilku, orang yg benar2 kucintai adalah si perempuan siluman yg jahat itu. Hai! …. Cuma2 saja aku dinamakan seorang gagah…. Aku masih belum bisa membedakan mana yg baik mana yg jahat."

Ketika Cie Jiak menengok lagi, ia lihat tunangannya sedang termenung.

Tanpa mengatakan suat apa, ia segera berjalan pergi Boe Kie buru2 menarik tangannya.

Diluar dugaan sebab lweekangnya musnah, ditarik begitu, nona Cioe terhuyung dan jatuh didalam pelukan Boe Kie.

"Apakah seumur hidup aku harus selalu di hina kau?"

Tanyanya dengan suara mendongkol. Cie jiak benar2 cantik. Ia cantik selagi tertawa dan cantik pula selagi bergusar. Sambil terus memeluk, Boe Kie berkata daengan suara lemah lembut.

"Cie Jiak, kata pertama bertemu disungai Han soe. Waktu itu aku sudah mencintai kau. Sungguh diluar dugaan, bahwa hari ini apa yg telah dibayang2kan olehku dapat terwujud. Waktu aku sedang bertempur melawan empat tetua Koen loen dan hwa san pay di kong beng teng, kau telah memberi petunjuk kepadaku dan menolong jiwaku, untuk pertolongan itu, aku sekarang menghaturkan banyak terima kasih."

Si nona membiarkan dirinya dipeluk.

"Hari itu aku menikam kau, apa kau tidak membenci aku?"

Bisiknya.

"Tidak,"

Jawabnya "Kau tak menikam terus. Detik itu juga kutahu, bahwa kau sebenarnya mencintai aku."

Muka Cie Jiak lantas saja berubah merah.

"Fui! Kalau kutahu bakal terjadi kejadian2 yg sudah terjadi, hari itu aku sudah menikam jantungmu, supaya aku tak dihina kau terus menerus,"

Katanya. Boe Kie tertawa.

"Aku sangat mencintaimu, mana boleh aku menghina kau?"

Katanya. Untuk beberapa saat, kedua orang muda yg sedang menikmati kebahagian tidka berkata2. Akhirnya, sambil bersandar didada yg lebar, nona Cioe memecahkan kesunyian.

"Boe Kie koko,"

Katanya.

"Kalau aku membawa kesalahan kepadamu, kalau aku berdosa apakah kau akan mencaci aku, memukulku, membunuh aku?"

Boe Kie mencium leher si nona.

"Wanita yg semulia kau tak mungkin berdosa,"

Jawabnya.

"Biarpun nabi bisa membuat kesalahan sebagai manusia biasa, aku pasti tak terbebas dari segala kekhilafan."

"Kalau benar begitu, aku takkan marah. Aku hanya akan membujuk kau supaya insaf akan kekeliruan."

"Apa kau takkan berubah pikiran terhadapku? Apa kta takkan membunuh aku?"

"Cie Jiak, sudahlah! Jangan memikir yang tidak2. Mana bisa terjadi kejadian itu?"

"Baiklah!"

Kata Boe Kie sambil tertawa.

"Aku berjanji takkan berubah pikiran, tak akan membunuh kau."

Cie Jiak menatap wajah Boe Kie.

"Aku tak mau kau memberi janji sambil tertawa-tawa,"

Katanya.

"Aku menuntut kau bersungguh."

"E-eh!... Ada apa yg masuk kedalam otakmu?"

Tanya Boe Kie sambil tertawa geli. Tapi didalam hati dia berkata.

"Dasar aku yg salah. Ia rupa2nya masih berkuatir, karena sikapku yg penuh kecintaan terhadap Tio Beng. Siauw Ciauw dan piauw moay."

Memikir begitu, dia lantas saja berkata dengan sungguh2.

"Cie Jiak, kau istriku. Kalau dahulu hatiku banyak bercabang, sekarang lain keadaannya. Aku berjanji, bahwa mulai detik ini, aku takkan berubah pikiran terhadapmu. Andai kata kau bersalah, andai kata kau berdosa, aku bahkan takkan mencaci kau."

Si nona menghela napas.

"Boe Kie koko,"

Katanya.

"Kau seorang laki2 yang sejati. Kuharap dihari kemudian, kau tidak akan melupakan perkataanmu yg dikeluarkan pada malam ini."

Ia menuding bulan sisir yg baru muncul "Boe Kie koko, sang rembulan menjadi saksi kita berdua."

"Benar,"

Kat Boe Kie.

"Kau benar. Sang rembulan menjadi saksi."

Sambil mengawasi dewi malam itu ia berkata pula.

"Cie Jiak, selama hidup, sering sekali aku dihina orang. Sebab terlalu percaya manusia, sering sekali aku menderita. Entah berapa kali, aku tak ingat lagi. Hanyalah pada waktu berada di Peng hwee to bersama ayah, ibu dan Giehce, aku terbebas dari segala kelicikan manusia rendah. Waktu aku baru tiba di Tiong goa, seorang pengemis sedang bermain main dengan seekor ular, telah menipu aku. Dia membujuk supaya aku melongok kedalam karungnya untuk melihat ularnya dan tiba2 ia menangkrup dengan karungnya itu. Lihatlah sekarang. Kita datang dipulau ini dnegna sama sama menderita. Siapa nyana pada malam pertama, Tio Kouwnio telah menaruh racun dimakanan kita dan kabur dengan perahu yg satu2nya?"

Si nona tersenyum.

"Sudahlah,"

Katanya.

"Menyesalpun tiada gunanya."

Tiba2 gelombang rasa bahagia bergolak golak dalam dada Boe Kie.

"Cie Jiak,"

Bisiknya.

"Kau adalah manusia yg berada paling dekat denganku. Kau selalu memperlakukan aku dengan penuh kecintaan. Dihari kemudian, sesudah kita pulang dari Tiong goan, kau dapat membantu aku untuk berjaga jaga terhadap manusia2 rendah. Dengan bantuanmu, aku boleh tak usah mengalami lebih banyak penderitaan lagi."

Si nona menggelengkan kepalanya.

"Aku seorang yg tak punya guna,"

Katanya.

"Aku kalah jauh daripada Tio Kouwnio, bahkan masih kalah dari Siauw Ciauw kouwnio. Apa kau tahu, bahwa istrimu seorang bodoh?"

Demikianlah, sambil berduduk dipinggir pantai kedua tunangan ini beromong kosong sampai larut malam.

Pada keesokan harinya Boe Kie mulai membantu Cie Jiak dengan Kioe yang Sin kang.

Ia merasa girang bahwa tunangannya segera mendapat kemajuan.

Mungkin sekali, sebab tidak banyak makan, Cie Jiak hanya menelan sedikit racun.

Tapi diluar dugaan, pada hari ketujuh didalam tubuh si nona muncul semacam hawa yang amat dingin, yg melawan hawa Kioe yang sin kang.

Dengan seantero tenaganya, Cie Jiak coba menekan hawa dingin itu, tapi ia tetap tak dapat memasukkan Kioe yang Sin Kang kedalam badannya.

Boe Kie kaget dan segera menanyakan pendapat ayah angkatnya.

Sesudah memikir beberapa saat, Cia Soen berkata.

"Akupun tidak mengerti. Mngkin sekali karena pemimpin Go Bie pay seorang wanita, maka tenaga dalam mereka bersifat Im Jioe (dingin lembek)."

Boe Kie manggut2kan kepalanya.

Untung jg lweekang Cie Jiak berada disebelah bawah lweekang Boe Kie.

Maka itu dalam memasukkan sin kang kedalam tubuh si nona, pemuda itu dapat menindih hawa yg sangat dingin itu.

Tapi dengan demikian ia harus mengeluarkan lebih banyak tenaga daripada waktu membantu ayah angkatnya.

Ia merasa bahwa Im Kim (tenaga dingin) dari tunangannya memang belum kuat.

Tapi sebagai ahli, ia tahu, bahwa dihari kemudian, kalau Cie Jiak sudah mencapai tingkat yg tinggi, ia kaan memperoleh lwee kang yg dahsyat luar biasa.

Tanpa terasa ia memuji.

"Cie Jiak, gurumu, Biat Coat Soethay, memang seorang tokoh jarang tandingan. Ia telah mewariskan lweekang yg sangat tinggi kepadamu. Apabila kau terus berlatih menurut ajaran itu, dikemudian hari tenaga dalammu akan bisa berendeng dengan Kioe yang sin kaing yg dimiliki olehku."

"Justru!"

Kata si nona sambil tertawa.

"Mana bisa ilmu GO bie pay merendengi Kioe Yang Sin Kang dan Kian Koen Tay Lo Ie dari Toa Kauw Coe (Kauwcoe besar)?"

"Cie Jiak, aku tidak bicara main2,"

Kata pula Boe Kie dengan paras sungguh2.

"Bakatmu sangat baik, mungkin sekali, didalam jurus2 ilmu silat, kau tidak dapat memahami telalu banyak. Tapi dalam lweekang kau sudah mempunya dasar yg sangat baik. Tay suhu sering mengatakan, bahwa pada tingkat tertinggi ilmu silat yg berhubungan erat dengan sifat seorang manusia yg mempelajarinya. Seorang yg berotak cerdas belum tentu bisa naik sampai dipuncak tertinggi. Sepanjang ceritga ayah, Kwee liehiap pendiri Go Bie pay, yaitu Kwee tayhiap adalah seorang yg berotak tumpul. Akan tetapi semenjak dahulu sampai sekarang, ilmu silat yg dimiliki Kwee tayhiap mungkin belum ada tandingannya. Tay soehoe mengatakan bahwa ia sendiri belum bisa merendengi lwee kang Kwee tayhiap. Cie Jiak, aku bersungguh2. pelajaran lwee kang Go bie pay agaknya masih lebih tinggi dari Boe tong pay. Menurut penglihatanku dihari nanti, kalau kau sudah berhasil, kau bisa berada disebelah atas gurumu sendiri."

Si nona mengawasi tunangannya.

"Ah! Kau hanya ingin mengambil hatiku,"

Katanya seraya tersenyum.

"Aku sudah merasa sangat puas, apabila aku bisa memperoleh sepersepuluh dari kepandaian Sian soe. Aku akan segera berterima kasih, jika kau sudah mengajarku dalam ilmu Kioe yang Sin Kang Kian Koen tay lo Ie."

Boe Kie tidak menjawab ia megerutkan alisnya. Si nona tertawa.

"Apa aku belum cukup berderajat untuk menjadi murid Tao Kauwcoe?"

Tanyanya.

"Bukan begitu! Aku merasa bahwa lweekang mu berbeda dari lweekang ku. Bukan saja berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Kalau aku mengajar kau akan menghadapi suatu yg amat sukar dan sangat berbahaya. Bukan aku tak sudi."

"Kalau kau tak sudi mengajar, sudahlah! Perlu apa rewel2? Dalam belajar ilmu silat, paling banyak tidak berhasil. Mana bisa jadi berbahaya?"

"Kau salah! Kau salah menerka. Kioe yang Sin kang adalah lweekang yg bersifat Yang Kong (panas keras) sedang lweekang Go bie pay bersifat Im jioe (dingin lembek). Apabila kau melatih diri dalam ilmu Kioe yang Sin kang, maka Im dan Yang akan bercampur menjadi satu. Hanyalah orang2 yg memiliki kepandaian sangat tinggi, misalnya Tay suhu, yg bisa mempersatukan "

Air"

Dan "api"

Bercampur "keras"

Dengan "lembek".

Salah sedikit saja ilmu itu akan membakar, orang yg berlatih seperti golok makan tuan.

Hm….

Cie Jiak, nanti manakala lweekangmu sudah mencapai tingkat yg tinggi, kau boleh mempelajari Sim hoat dari Kian koen Tay lo ie."

Si nona tertawa geli.

"Aku hanya berguyon,"

Katanya.

"Mulai dari sekarang aku tak akan berpisah lagi dengan kau, sehingga tak ada perbedaan apa itu ilmu silatku atau ilmu silatmu. Aku manusia yg malas. Kioe yang Sin kang bukan ilmu yg gampang. Maka ia biarpun dipaksa, belum tentu aku mau mempelajarinya."

Mendengar kata2 yg manis itu, Boe Kie merasa girang sekali.

Dalam suasana bahagia, tanpa merasa mereka sudah berdiam dipulau itu selama beberapa bulan.

Cie Jiak merasa seantero tenaganya sudah pulih kembali.

Mungkin sekali semua racun sudah terusir.

Sesudah musim dingin lewat, tibalah musim semi yg indah.

Pada suatu hari, Boe Kie memeting beberapa ranting tho yg penuh bunga disebelah timur pulau.

Dengan rasa terharu, ia menancapkan ranting2 di depan kuburan In Lee.

Ia ingat bahwa saudari sepupu itu bernasib malang.

Mungkin sekali, sehari pun nona itu belum pernah mencicipi rasa beruntung.

Ia berdiri terpaku dan didepan matanya terbayang pula kejadian2 pada masa yg lampau.

Mendadak, ia disadarkan oleh suara burung2 laut.

Ia menengadah dan tiba2 saja ia melihat layar ditempat jauh dan kendaraan air itu sedang mendatangi kearah pulau.

Itulah kejadian yg tak diduga2.

Hatinya meluap dengan kegirangan.

Ia melompat dan berteriak sambil berlari2.

"Gie hoe! Cie Jiak! Kapal! Ada kapal!"

Cia Soen dan Cie Jiak lantas saja menghampiri.

"Boe Kie koko,"

Kata si nona dengan suara gemetar.

"Bagaimana bisa ada kapal datang kesini?"

"Akupun tak mengerti"

Jawabnya.

"Apa kabal bajak?"

Setengah jam kemudia, kapal layar itu sudah membuang sauh di luar pulau.

Sebuah perahu kecil menghampiri pulau.

Cia Soen bertiga berdiri di pesisir untuk menyambut.

Segera juga mereka mendapat kenyataan, bahwa orang2 di perahu itu semua mengenakan seragam angkatan laut Mongol.

Jantung Boe Kie memukul keras.

"Apa Tio Kouwnio berubah pikiran dan datang lagi kesini?"

Tanyanya didalam hati.

Ia melirih Cie Jiak yang ternyata sedang mengerutkan alis.

Rupa2 nya tunangan itupun mempunyai dugaan yg sama.

Tak lama kemudia perahu itu menepi.

Lima orang anak buah mendarat.

Pemimpinnya seorang perwira, menghampiri Boe Kie dan bertanya sambil membungkuk.

"Apa tuan Thio Boe Kie, Thio Kongcoe?"

"Benar,"

Jawabnya.

"Siapa tuan?"

Mendengar jawaban itu, ia kelihatan girang sekali.

"Namun Siauw jin yg rendah, Pas Tai,"

Sahutnya.

"Siauwjin merasa sangat beruntun, bahwa hari ini kami bisa menemukan Kongcoe. Siauwjin menerima perintah untuk menyambut Thio Kongcoe dan Cia Tayhiap pulang ke Tionggoan,"

Ia tidak menyebut nama Cie Jiak. Boe Kie menyoja.

"Dari tempat jauh tuan datang kesini dan kami merasa sangat berterima kasih,"

Katanya.

"Tapi apa kau boleh mendapat tahu, siapa yg memerintahkan tuan?"

"Siauw jin adalah orang sebawahan Teetok angkatan laut, Taiwa Che lu, yang menjaga propinsi Hiok kian,"

Jawabnya.

"Atas perintah Pol tua, Ciang Koen (jendral), siauwjin datang kesini untuk menyambut Kongcoe dan Cia Tayhiap Pol tua Ciang koen telah mengirimkan delapan buah kapal yg coba mencari kalian diperairan sepanjang propinsi Hok Kian, Ciat kang dan kwitang. Atas berkat Thian, siauw jin lah yg memperoleh pahala ini."

Dari keterang itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang yg berhasil mencari Boe Kie akan mendapat hadiah besar.

Boe Kie belum pernah mendengar nama pembesar2 Mongol itu dan ia tahu bahwa semua perintah dikeluarkan atas titah Beng Beng koengcoe.

"Apa kau tahu, mengapa kau diperintah untuk menyambut kami?"

Tanyanya.

"Pol tua Ciang koen mengatakan, bahwa Thio Kongcoe adalah seorang bangsawan berkedudukan tinggi dan juga seorang gagah kenamaan pada jaman ini,"

Jawabnya.

"Beliau memesan, bahwa andaikata siauwjin berhasil menemukan Kongcoe, siauw jin harus melayani sebaik mungkin. Tentang mengapa siauwjin diperintah menyambut kongcoe, siauwjin sendiri sebagai seorang berpangkat rendah, tidak mengetahui."

"Apa ini maunya Beng beng kongcoe?"

Sela Cie Jiak. Pas tai kelihatan terkejut.

"Beng beng kongcoe?"

Ia menegas.

"Siauwjin tak punya rejeki begitu besar untuk menemui beliau."

"Apa artinya perkataan ‘rejeki’ itu?"

Tanya pula si nona.

"Beng beng koengcoe adalah wanita Mongol yg tercantik,"

Sahutnya.

"Tidak!... bukan begitu saja. Beliau adalah wanita tercantik diseluruh dunia, seorang yg boen boe coan cay (paham ilmu surat dan ilmu perang). Beliau adalah putra yg tercinta dari Jie Lam ong Ong ya. Siauwjin belum punya rejeki untuk melihat muka emasnya."

Cie Jiak mengeluarkan suara dihidung, tapi dia tidak menanya lagi.

"Gie hoe, apa kita boleh turut merek?"

Tanya Boe Kie.

"Sesudah mengambil barang2 kita disana, kita boleh lantas naik kapal,"

Jawabnya.

"Tuan tunggu saja disini."

"Biar Siauwjin dan anak buah kami yang mengangkut perbekalan kalian,"

Kata Pas Tai. Cia Soen tertawa.

"Perbekalan apa? Beberapa potong barang kita tidak dapat dinamakan perbekalan. Kami tidak berani menerima tawaran tuan,"

Katanya. Seraya berkata begitu, ia berlalu sambil menuntun tangan Boe Kie dan Cie Jiak. Setibanya dibelakang gunung, ia berhenti dan berkata.

"Secara mendadak Tio Beng mengirim kapal. Di balik tindakan ini pasti bersembunyi tipu keji. Bagaimana kita harus menghadapinya?"

"Gie hoe, apa kau rasa… Tio Beng… berada di kapal itu?"

Tanya Boe Kie.

"Entahlah,"

Jawabnya.

"Bagus sungguh kalau benar perempuan siluman itu berada dikapal. Kita hanya harus berhati2 dalam makanan."

Cia Soen manggut2kan kepalanya.

"Menurut taksiranku, Tio Beng tidak ikut serta,"

Katanya pula.

"Menurut ia ingin menulad tindakan orang Persia. Ia memancing kita kekapal dan setelah kapal berada ditengah lautan, pasukan laut Mongol akan mengurung dan menenggelamkan kapal yg ditumpangi kita."

Boe Kie mengeluarkan keringat dingin.

"Tapi.. apa benar dia begitu busuk?"

Tanyanya dengan suara gemetar.

"Dia sudah tinggalkan kita dipulau ini yang akan menjadi kuburan kita. Apa itu masih belum cukup? Pada hakekatnya kita bertiga belum pernah berdosa besar terhadapnya."

Cia Soen tertawa dingin.

"Kau sudah melepaskan anggota2 enam partai dari Ban hoat sie,"

Katanya.

"Apa kau kira dia tidak sakit hati? Bagi peremouan siluman itu, perempuan siluman meninggalkan kita di pulau ini memang tak cukup sebab kita masih bisa pulang ke Tiong goan. Menghilangnya kau sudah pasti akan menggemparkan semua anggota Beng kauw. Mereka pasti akan berusaha untuk mencari kau. Dalam usaha ini, mungkin sekali mereka akan mencari sampai disini. Maka itu, jalan yg paling baik bagi si perempuan siluman adalah membinasakan kita dengan mengirim kita kedasar laut."

"Tapi Gie hoe,"

Kata si anak dengan suara sangsi.

"Kalau mereka menenggelamkan kapal yang ditumpangi kita dengan tembakan meriam, bukankah Pas Tai dan lain2 anak buah kapal bakal turut binasa?"

Cia Soen tertawa terbahak2. Sesudah itu ia pun menghela napas berulang2.

"Anak Boe Kie! Pikiranmu terlalu sederhana,"

Katanya.

"Apa kau rasa orang2 yg seperti dia menghiraukan matinya beberapa manusia? Kalau kaisar Mongol lembek seperti kau, mana bisa dia menyapu musuh2nya?"

Boe Kie tertegun. Selang beberapa saat baru lah ia berkata dengan suara perlahan.

"Gie hoe, kau benar."

"Gie hoe, apakah yang harus kita perbuat?"

Tanya Cie Jiak.

"Bagaimana pikiranmu. Apa kau mempunya daya yg baik?"

Cia Soen balas menanya.

"Kalau begitu, kita jangan mengikuti mereka. Katakan saja bahwa kita berubah pikiran dan sekarang tak mau pulang ke Tiong goan."

"Ha, ha,ha! Pikiran itu adalah pikiran tolol dari seorang gadis yg tolol pula. Kalau kita menolak, apa mereka mau mengerti? Andaikata kita membinasakan semua anak buah kapal itu, si perempuan siluman masih bisa mengirim lain2 kapal. Disamping itu, di Tionggoan masih banyak urusan yg harus diurus oleh Boe Kie. Ia tidak boleh mati konyol disini."

Paras si noan lantas saja berubah merah.

"Benar,"

Katanya dengan perlahan.

"Sebaiknya kita menyerahkan saja segala apa kepada Gie Hoe."

Cia Soen manggut2kan kepalanya.

Setelah mengasah otak beberapa laam ia lalu bicara bisik2 dikuping kedua orang muda itu yg lantas saja mengangguk dengan paras muka girang.

Mereka lalu mengangkut semua bahan makanan keperahu kecil dan sesudah itu, Boe Kie menengok kekuburan In Lee untuk penghabisan kali dan berpamitan dengan mengucurkan air mata.

Setibanya di kapal, Boe Kie lalu memeriksa seluruh kapal.

Benar saja Tio Beng tidak berada di situ.

Iapun mendapati kenyataan, bahwa di antara anak buah tidak terdapat orang yang berkepandaian tinggi.

Mereka semua adalah pelaut-pelaut biasa dari angkatan perang Mongol.

Sesudah mengangkat sauh dan menaikkan layer, kapal itu mulai berlayar.

Baru berlayar beberapa puluh tomabk, Boe Kie segera bertindak dengan cepat sesuai dengan tipu yang ditetapkan Cia Soen.

Tiba-tiba dengan kecepatan kilat, tangan kirinya mencekal tangan kanannya mencabut golok perwira itu, yang lalu ditandal di lehernya.

"Dengarlah perintah aku!"

Bentaknya.

"Suruh juru mudi jalankan kapal ke arah timur!"

Pas-tai kaget bercampur takut.

"Thio…Thio Kong-coe…"

Katanya dengan suara gemetar.

"Siauwjin…Siauwjin."

"Turut perintahku!"

Bentak pula Boe Kie.

"Kalau kau tidak menurut, kubacok batok kepalamu!"

"Baik…baik…"

Jawabnya. Haluan kapal segera diputar ke timur. Setelah itu, Boe Kie berkata dengan suara nyaring.

"Kamu semua dengarlah! Aku sudah tahu bahwa kamu ingin mencelakai kami. Lebih baik kamu mengaku. Kalau kamu berdusta, kucabut nyawamu semua!"

Seraya berkata begitu, ia menepuk pinggiran kapal dengan telapak tangan.

Potongan-potongan kayu beterbangan dna bagian-bagian yang ditepuk somplak.

Melihat begitu, semua anak buah ketakutan setengah mati.

"Thio Kongcoe, kau bersabarlah dulu."

Kata Pas-tai dengan meringis.

"Dengan sebenar-benarnya, siauwjin hanya menerima perintah dari atasan untuk mencari Kongcoe dan Cia Tayhiap dan mengajak kalian pulang ke Tionggoan. Siauwjin hanya berharap bahwa sesudah menunaikan tugas itu, siauwjin akan mendapat sedikit hadiah. Inilah pengakuan yang setulus-tulusnya. Kami semua tidak mempunyai niat jahat."

Mendengar nada suara yang bersungguh-sungguh, Boe Kie yakin bahwa dia tidak berdusta.

Ia segera melepaskan cekalannya dan berjalan ke kepala kapal.

Kedua tangannya menjumput dua buah sauh yang terbuat dari besi.

"Hei! Lihatlah!"

Serunya. Dengan sekali menggerakkan tangan, kedua sauh yang beratnya beberapa ratus kati lantas saja terbang ke atas.

"Aduh…!"

Semua anak buah kapal mengeluarkan suara tertahan.

Waktu kedua sauh itu jatuh, Boe Kie mendorongnya dengan menggunakan Kian-koen Tay lo ie, sehingga mereka terbang lagi ke atas.

Setelah mengulangi pertunjukkan itu tiga kali beruntun, barulah ia menyambutnya dan kemudian menaruhnya di kepala kapal.

Sebagai bangsa yang sudah menaklukkan negeri-negeri dengan kegagahan, bangsa Mongol sangat mengagumi kegagahan.

Melihat kepandaian Boe Kie, tanpa terasa mereka kagum.

"Kegagahan Thio Kongcoe bagaikan malaikat,"

Kata Pas-tai.

"Hari ini mata Siauwjin mendapat kehormatan untuk sesuatu yang luar biasa."

Demikianlah, dnegan memperlihatkan kepandaian itu, Boe Kie berhasil menaklukkan anak buah kapal.

Kapal terus menuju ke arah timur dan masuk ke samudra.

Selama tiga hari ia tak melihat lain kecuali air yang menyambung dengan langit.

Menurut perhitungan Cia Soen kapal-kapal meriam yang dikirim Tio Beng hanya berkeliaran di sepanjang pantai Hok-kian dan Kwi-tang.

Sekarang kapal yang ditumpanginya sudah berada di samudra dan takkan bertemu dengan kapal-kapal itu.

Maka itu, pada hari kelima ia lalu memerintahkan supaya kapal memutar haluan lagi dan berlayar menuju ke arah utara.

Berselang dua puluh hari lebih mereka masuk di wilayah pak hay (Lautan Utara).

Cia Soen tersenyum sendirian.

Biarpun pintar, Tio Beng takkan bisa menebak di mana adanya kapal itu.

Dari pak hay, juru mudi diperintah lagi untuk memutar haluan ke arah barat, dengan tujuan Tiong-goan.

Selama kurang lebih sebulan, Cia Soen bertiga hanya makan makanan yang dibawa mereka atau ikan yang ditangkap dari lautan.

Mereka tak berani makan makanan kapal.

Pada suatu lohor, sayup-sayup mereka lihat bayangan daratan.

Sesudah berada di lautan dalam waktu lama, tentara Mongol girang dan ia bersorak sorai.

Di waktu magrib, kapal sudah berlabuh di pinggir pantai.

Daerah pantai memang satu-satunya daerah yang merupakan gunung dan airnya dalam, sehingga kapal bisa menepi sampai menempel dengan daratan.

"Boe Kie,"

Kata Cia Soen.

"Coba kau selidiki di mana kita sekarang berada."

Boe Kie mengiyakan dan lantas melompat ke daratan.

Apa yang ditemui Boe Kie hanyalah hutan.

Salju baru saja melumer dan jalanan sangat licin.

Makin jauh ia maju, makin besar pohon-pohon yang ditemuinya.

Ia memanjat sebuah pohon yang tinggi dan memandang ke sekitarnya.

Ia ternyata berada di tengah-tengah sebuah hutan yang sangat besar.

Sedikitpun tidak terdapat tanda-tanda bahwa di hutan itu ada musuhnya.

Ia segera turun dari pohon dan mengambil keputusan untuk kembali ke kapal guna berdamai dengan ayah angkatnya.

Sebelum tiba, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan yang menyayat hati.

Ia terkesiap dan berlari-lari dengan menggunakan ilmu meringankan badan.

Setibanya di kapal, ia melihat mayat-mayat yang menggeletak di kapal, antaranya mayat pas-tai sendiri.

Ia girang karena ayah angkatnya dan tunangannya tak kurang suatu apa.

Mereka berdiri dengan tenang di kepala kapal dan di situ tidak terdapat manusia lain.

"Giehoe! Cie Jiak!"

Serunya.

"Ke mana perginya musuh?"

"Musuh apa?"

Cia Soen balas bertanya.

"Apa kau bertemu dengan musuh?"

"Tidak. Tapi tentara Mongol ini…"

"Dibunuh olehku dan Cie Jiak!"

Boe Kie terkesiap.

"Tak disangka, begitu tiba di Tiong-goan, mereka mencoba mencelakai kita,"

Katanya.

"Tidak, mereka tak mencoba mencelakai kita. Aku membunuh mereka untuk menutup mulutnya. Sesudah mereka mati, Tio Beng tak akan tahu bahwa kita sudah kembali ke Tiong-goan. Mulai dari sekarang, dia berada di tempat terang dan kita di tempat gelap, sehingga usaha untuk membalaskan sakit hati akan lebih gampang tercapai."

Boe Kie tertegun. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya menatap wajah ayah angkatnya dengan mata membelalak.

"Apa? Kau anggap aku terlalu kejam?"

Tanya Cia Soen.

"Tentara Tat coe adalah musuh-musuh kita. Apa kau mau memperlakukan mereka dengan menggunakan hati Po sat (balas kasih)?"

Boe Kie membungkam terus.

Di dalam hati, ia berduka.

Orang-orang itu tidak berdosa dan sikap mereka sangat baik.

Biarpun musuh, ia merasa tak tega untuk membunuh mereka.

Melihat paras muka anak angkat Cia Soe berkata.

"Boe Kie, kau harus bisa mengeraskan hati. Terhadap musuh, kalau kita tidak turun tangan lebih dulu, kitalah yang menjadi korban. Tio Beng sangat jahat. Terhadap manusia begitu, kita harus menghadapinya dengan tindakan yang tegas, tanpa sungkan-sungkan lagi."

Boe Kie tidak berani membantah perkataan ayah angkatnya. Ia mengangguk dan berkata dengan suara parau.

"Giehoe benar."

"Boe Kie, bakarlah kapal ini,"

Perintah Cia Soen.

"Cie Jiak, geledah saku-saku semua mayat. Ambil semua barang yang berharga. Ambil tiga senjata yang paling baik untuk kita."

Perintah itu segera dijalankan.

Semua mayat terbakar bersama kapal yang kemudian tenggelam di laut.

Dengan demikian, kembalinya Cia Soen bertiga tidak meninggalkan tanda apapun juga.

Diam-diam Boe Kie merasa kagum terhadap ayah angkatnya.

Walaupun kejam, ayah angkat itu adalah seorang Kang ouw yang berpengalaman.

Malam itu mereka tidur di pinggir laut dan pada keesokan paginya meneruskan perjalanan ke selatan.

Pada hari kedua sesudah melintasi hutan, mereka bertemu dengan tujuh orang yang mencari obat-obatan sejenis "som".

Ternyata mereka sekarang berada di daerah yang berdekatan dengan gunung Tiang pek san.

Sesudah berpisah dengan ketujuh orang itu, Cie Jiak bertanya.

"Giehoe, apa kita tak perlu bunuh orang-orang itu?"

"Cie Jiak, tutup mulutmu!"

Bentak Boe Kie.

"Mereka tak tahu siapa kita. Apa kau mau bunuh semua manusia yang kita temui?"

Paras muka si nona berubah merah. Semenjak bertemu, Boe Kie belum pernah mengeluarkan kata-kata begitu keras terhadapnya.

"Kalau ikut kata hatiku, aku memang ingin bunuh mereka,"

Kata Cia Soen.

"Tapi Kauwcoe kita tidak mau membunuh lebih banyak manusia. Sekarang kita harus menukar pakaian dan menyamar supaya tidak dikenali orang."

Sesudah berjalan dua hari, mereka bertemu dengna sebuah rumah petani.

Boe Kie mengeluarkan perak dan minta beli pakaian.

Tapi petani itu sangat miskin dan hanya mempunyai selembar baju kulit kambing yang bisa dijual.

Sesudah mereka mengunjungi kira-kira tujuh delapan rumah, barulah Boe Kie berhasil membeli tiga perangkat pakaian tua yang kusam.

Cie Jiak yang biasa dengan kebersihan hampir-hampir muntah waktu mengendus bau tak enak dari pakaian itu.

Tapi Cia Soen merasa girang.

Sesudah mengenakan pakaian-pakaian itu dan memoles muka mereka dengan Lumpur, mereka kelihatannya seperti pengemis Lieon tong.

Boe Kie yakin bahwa biarpun berhadapan, Tio Beng tak akan bisa mengenalinya.

Mereka terus berjalan ke arah selatan.

Pada suatu hari, mereka tiba di sebuah kota yang harus dilewati jika orang mau masuk ke Kwan-lwee.

Cia Soen bertiga pergi ke sebuah rumah makan yang paling besar.

Boe Kie mengeluarkan sepotong perak yang beratnya sepuluh tail dan berkata kepada pengurus restoran.

"Kau pegang ini. Sesudah kami selesai makan, hitunglah."

Ia memberi uang lebih dulu sebab kuatir ditolak karena pakaian mereka compang-camping. Tapi sambutannya sangat luar biasa. Pengurus itu bangun berdiri dan dengan sikap hormat memulangkan uang.

"Kami sudah merasa beruntung bahwa kalian sudi mampir di rumah makan kami yang kecil ini. Apa a rtinya semangkok dua mangkok sayur? Kali ini biarlah kami yang menjamu kalian."

Boe Kie merasa sangat heran. Sesudah mengambil tempat duduk ia berbisik kepada Cie Jiak.

"Aku heran. Mengapa dia tak mau menerima uang? Apa penyamaran kita tidak sempurna dan dikenali orang?"

Cie Jiak mengawasi Cia Soen dan Boe Kie, tidak, penyamaran mereka dapat dikatakan tidak ada cacatnya.

"Nada suara pengurus itu nada ketakutan,"

Kata Cia Soen.

"Kita harus berhati-hati."

Tiba-tiba di bawah tangga loteng terdengar suara langkah kaki ramai-ramai dan tujuh orang naik ke atas, mereka semua pengemis!

Lagak pengemis-pengemis itu sangat keren da mereka duduk seperti tuan-tuan besar.

Pelayan menyambut dengan sikap sangat hormat dan memanggil mereka dengan istilah "ya" (padaku tuan), seolah-olah mereka orang-orang berpangkat tinggi.

Boe Kie segera saja mengetahui bahwa mereka itu murid-murid Kay pang yang berkedudukan agak tinggi, sebab mereka membawa lima atau enam lembar karung.

Beberapa saat kemudian datang lagi lima enam pengemis, disusul dengan rombongan-rombongan lain sehingga jumlah mereka melebihi tiga puluh orang.

Diantara mereka terdapat tiga orang yang membawa tujuh lembar karung.

Boe Kie mendusin.

Kay pang mau mengadakan perhimpunan dan si pengurus rumah makan menganggap mereka sebagai anggota-anggota partai tersebut.

"Giehoe,"

Bisik Boe Kie.

"Sebaiknya kita berlalu saja supaya tidak terjadi kejadian yang tak enak. Dilihat seluruhnya, orang-orang Kay pang yang datang ke sini jumlahnya sangat besar."

Selagi Boe Kie bicara, seorang pelayan datang dengan membawa sepiring daging sapi, ayam rebus dan lima kali arak putih.

Sudah lebih dua bulan Cia Soen belum pernah makan kenyang dan sekarang ia sedang lapar.

Begitu hidungnya mengendus wanginya daging, tangannya bergerak.

"Makan dulu,"

Katanya.

"Halangan apa kalau kita makan tanpa memperdulikan urusan orang?"

Seraya berkata begitu, ia menuang arak di mangkok dan lalu meneguknya dengan bernapsu.

Dua puluh tahun lebih ia tak pernah mencicipi arak, baginya arak putih yang keras dan pedas itu seolah-olah arak yang paling baik.

Dengan dua kali teguk, semangkok besar sudah menjadi kering.

Tiba-tiba ia menaruh mangkok di meja dan berbisik.

"Hati-hati! Dua orang yang kepandaian tinggi naik ke sini."

Boe Kie pun sudah mendengar langkah di tangga loteng.

Langkah kaki kiri orang yang berjalan di depan sangat berat, langkah kaki kanannya sangat ringan, sedang yang berjalan di belakang pun begitu juga, langkah sebelah ringan, sebelah yang lain berat.

Tak bisa salah lagi, mereka mempunyai kepandaian luar biasa.

Begitu mereka muncul, semua pengemis serentak bangun berdiri.

Cia Soen bertiga juga turut bangkit.

Untung juga mereka duduk di sudut yang jauh sehingga tidak menyolok mata.

Orang yang pertama bertubuh sedang, tampan dan berjenggot.

Kecuali pakaiannya, pada keseluruhannya ia seperti seorang siaucay yang tak lulus ujian.

Yang jalan belakangan keren sekali.

Di mukanya menonjol otot-otot, brewoknya seperti kawat, parasnya galak dan kulitnya hitam sehingga melihat dia, orang segera ingat Cioe Cong (panglima di jaman Sam kok yang selalu berdiri di samping Kwan kong).

Keduanya berusia lima puluh tahun lebih dan masing-masing menggendong selembar karung kecil yang tidak bisa dimuatkan suatu apa dan hanya digunakan untuk menunjuk kedudukan mereka di dalam partai pengemis.

Boe Kie menghela napas.

Ia ingat bahwa seratus tahun yang lalu, Kay pang mempunyai nama yang sangat harum.

Dari Tay soehoenya ia tahu bahwa dulu sebagai seorang pangcu, Ang Cit Kong yang berkepandaian sangat tinggi telah mengabdi kepada rakyat dan selalu bersedia untuk menolong sesame manusia sehingga dia dihormati oleh semua kalangan dalam Rimba Persilatan.

Belakangan Oey Pangcoe (Oey Yong) dan Yehlu Pangcoe juga merupakan pemimpin-pemimpin yang sangat baik.

Di luar dugaan selama beberapa puluh tahun, Kay pang banyak berubah.

Soe Hwee Liong, Pangcoe yang sekarang belum pernah muncul dalam kalangan Kang ouw.

Dengan membawa sembilan karung, kedua orang itu berkedudukan sangat tinggi hanya di bawah Pangcoe sendiri.

"Apakah mereka yang menyuruh orang datang di Leng coa to untuk merampas To liong to?"

Tanya Boe Kie di dalam hati.

Sejak beberapa puluh tahun yang lampau yaitu dari Seng hwee leng dirampas oleh Kay pang, hubungan Beng-kauw dan Partai Pengemis bagaikan air dan api.

Dalam usaha untuk merebut kembali tanda kekuasaan agama itu, beberapa kali orang Beng-kauw bertempur hebat dengan orang-orang Kay pang.

Sebab Beng-kauw dipandang sebagai agama sesat, maka dalam setiap pertempuran banyak orang Rimba Persilatan membantu Kay pang dan Beng-kauw selalu menderita kekalahan.

Sekarang biarpun Tio liong to dan Ie thian kiam dicuri Tio Beng, untung juga keenam Seng hwee leng tidak turut dicuri.

Mungkin sekali karena takut terhadap kepandaian Boe Kie yang sangat tinggi maka Tio Beng tidak berani merogoh saku pemuda itu.

Melihat jumlah orang Kay pang yang sangat besar, Boe Kie tidak berani memandang rendah.

Ia segera merogoh saku untuk memastikan bahwa Seng hwee leng masih berada di dalamnya.

Kedua Tiang-loo sembilan karung itu segera duduk pada sebuah meja besar yang terletak di tengah-tengah.

Tiang-loo yang bermuka seperti Cioe Cong lalu mengeluarkan sebatang tongkat bambu yang panjangnya kira-kira empat kaki dalam karung dan menaruhnya di atas meja.

Sebagian murid-murid Kay pang segera berlutut.

"Murid-murid Ouw-ie-pay menghadap Ciang-pang Liong-tauw!"

Seru dia (Ciang-pang Liong-tauw – Pemimpin yang memegang tongkat kekuasaan).

Sebab Kay pang musuh Beng-kauw maka sesudah menjadi Kauwcoe, Boe Kie lalu mencari tahu seluk-beluk partai pengemis.

Ia tahu bahwa sejak dulu Kay pang terbagi dalam dua golongan, yaitu golongan Ouw-ie-pay (Golongan baju kotor) dan Ceng-ie-pay (Golongan baju bersih).

Melihat semua pengemis yang berlutut berpakaian kusam, ia mengerti bahwa Ciang-pang Liong-tauw adalah pemimpin Ouw-ie-pay.

Sesaat kemudian, Tiong-loo yang seperti sioecay mengeluarkan sebuah mangkok yang mulutnya somplak dari dalam karung dan menaruhnya di atas meja.

Sisa pengemis yang mengenakan pakaian bersih segera saja menekuk lutut.

"Murid-murid Ceng-ie-pay menghadap Ciang-poen!"

Teriak mereka (Ciang-poen Liong-tauw – Pemimpin yang memegang mangkok kekuasaan). Kedua pemimpin itu mengangkat tangan mereka dan berkata.

"Duduklah!"

Semua pengemis bangkit dan duduk di kursi masing-masing.

Boe Kie baru menarik napas lega.

Menyambut kedua Tiang-loo itu dengan berdiri masih tidak apa-apa.

Tapi sebagai Kauwcoe dari Beng-kauw, biar bagaimanapun juga ia tidak boleh berlutut di hadapan pemimpin Kay pang.

Untung juga karena mereka duduk di sudut yang paling jauh dan mata kedua Tiang-loo it uterus mengawasi langit-langit tanpa memperhatikan orang-orang yang berlutut, maka tak ada orang yang lihat bahwa Cia Soen bertiga tidak ikut berlutut.

Pengemis-pengemis itu segera makan minum seperti orang kelaparan.

Mereka main rebut, berteriak-teriak dan tertawa-tawa.

Cia Soen berwaspada, memasang kuping dan mata.

Di luar dugaan dalam perjamuan itu tak terjadi kejadian luar biasa dan tak terdengar sesuatu yang penting.

Sesudah kedua Liong-tauw selesai bersantap dan turun ke bawah, pengemis-pengemis yang lain pun ikut bubar.

Sesudah semua pengemis meninggalkan loteng, Cia Soen berbisik.

"Boe Kie, bagaimana pendapatmu?"

"Tak mungkin mereka berkumpul di sini hanya untuk makan minum,"

Jawabnya.

"Anak rasa, mereka akan berkumpul lagi di tempat lain, di tempat yang sepi untuk membicarakan soal penting yang menjadi tujuan mereka."

Cia Soen mengangguk.

"Akupun berpendapat begitu,"

Katanya.

"Kay pang adalah musuh kita, sesudah bertemu kita harus menyelidiki dengna jelas maksud pertemuan mereka. Aku kuatir kalu mereka mau mengatur siasat untuk mencelakai Beng-kauw."

Mereka turun dan mencoba membayar uang makanan tapi ditolak keras oleh pengurus rumah makan.

"Giehoe, kau lihatlah,"

Kata Boe Kie.

"Rumah makan takut menerima uang, dari sini dapatlah diketahui bahwa Kay pang sering melakukan perbuatan sewenang-wenang."

Mereka segera mencari sebuah rumah penginapan kecil di tempat yang agak sepi.

Menurut kebiasaan, murid-murid partai pengemis tak pernah menginap di hotel sehingga Cia Soen tak usah kuatir akan bertemu dengan rombongan musuh.

"Boe Kie, mataku buta dan tak bisa ikut menyelidiki,"

Kata Cia Soen.

"Kepandaian Cie Jiak belum cukup, bia rpun ikut ia takkan bisa membantu kau. Sebaiknya kau pergi sendiri saja."

Boe Kie mengangguk. Sesudah mengaso sebentar, ia lalu keluar seorang diri. Dari selatan ia berjalan ke utara, tapi sesudah berjalan beberapa lama, seorang pengemis pun tak ditemui olehnya.

"Ke mana mereka pergi?"

Tanya Boe Kie di dalam hati.

Sebab baru berpisah kira-kira setengah jam, ia percaya rombongan pengemis itu belum pergi jauh dan ia akan bisa mencarinya.

Ia lalu pergi ke sebuah warung kelontong.

Sambil menepuk meja dengan mata melotot ia membentak.

"Hei! Ke mana perginya saudara-saudaraku?"

Melihat sikap yang galak, orang-orang di warung itu jadi ketakutan. Salah seorang yang bernyali lebih besar menghampiri dan sambil menuding ke utara ia berkata.

"Kawan-kawan Toaya (tuan) menuju ke sana. Apa Toaya mau minum teh?"

"Tidak. Aku tak sudi minum segala teh bau,"

Bentak Boe Kie yang lalu berjalan keluar dengan langkah lebar.

Dalam hati ia tertawa geli.

Baru saja ia melewati perbatasan kota, dari gombolan rumput tinggi mendadak melompat keluar seorang pengemis yang dilihatnya dari gerakannya mau mencegahnya.

Dengan cepat ia melompat sambil mengempos semangat.

Bagaikan anak panah, badannya berkelabat melewati si pencegat.

Pengemis itu mengucek matanya.

Ia merasa heran.

Apa ia salah lihat?

Ke mana perginya manusia yang tadi kelihatan mendatangi?

Mulai dari situ, sepanjang jalan di jaga keras.

Boe Kie segera mengeluarkan ilmu meringankan badan.

Dengan matanya yang sangat jeli, ia bisa lihat penjaga-penjaga yang di tempatkan di antara rumput-rumput tinggi, di belakang pohon atau di belakang batu besar.

Sebaliknya daripada jadi halangan, orang-orang itu merupakan penunjuk jalan.

Sesudah berlari-lari empat lima li penjagaan makin rapat.

Kepandaian orang-orang itu kalah jauh dari Boe Kie tapi meloloskan diri dari mata mereka di tengah hari benar-benar bukan pekerjaan kecil, arah satu kelenteng di lereng gunung ia menduga bahwa perhimpunan Kay pang akan dilansungkan di rumah berhala itu.

Setibanya di situ, ia lihat papan nama yang tertulis "Bie lek Sin bio Kelenteng bie lek hoat".

Kelenteng itu besar, indah dan angker.

"Dengan memilih tempat di sini, pertemuan mungkin akan dihadiri oleh banyak tokoh-tokoh penting,"

Pikirnya.

"Kalau aku membaurkan diri di antara mereka, mereka mungkin sadar."

Ia lalu mengamat-amati keadaan di sekitarnya.

Di dalam pekarangan sebelah kiri di depan toa tian (ruangan besar) terdapat sebuah pohon siong tua, sedang di sebelah kanannya berdiri pohon pak.

Kedua pohon itu rindang daunnya, besar dan tinggi, lebih tinggi banyak dari atap toa tian.

Ia segera pergi ke belakang kelenteng dan melompat ke atas genteng.

Dengan merunduk, ia mengayun dan sekali melompat ia sudah berada di pohon siong.

Sambil memeluk sebatang cabang besar ia melongok ke bawah dan ia bersorak di dalam hati, sebab dari situ ia bisa memandang ke seluruh toa tian.

Lantai Tay hiong Po tian ternyata sudah penuh dengan pengemis yang berjumlah kira-kira tiga ratus orang.

Mereka semua menghadap ke dalam sehingga melompatnya Boe Kie ke pohon tak dilihat mereka.

Dalam ruangan itu terdapat lima lembar tikar yang masih kosong.

Rupa-rupanya kelima pemimpin masih ditunggu kedatangannya.

Apa yang sangat menyolok adalah kesunyian di ruangan itu.

Ratusan pengemis duduk dengan tegak tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Dalam hati Boe Kie memuji.

Walaupun derajat Kay pang sudah banyak merosot dan meskipun di waktu biasa kawanan pengemis itu sering menunjukkan sikap tak pantas pada tata tertib partai.

Di tengah-tengah Tay hiong Po tian duduk patung Bie lek hoed dengan perut yang gendut, mulut tertawa lebar dan paras muka yang sangat ramah.

Selagi Boe Kie memperhatikan semua itu tiba-tiba terdengar teriakan seseorang.

"Ciang-poen Liong-tauw tiba!"

Semua pengemis serentak berdiri tegak dan menundukkan kepala. Dengan tangan memegang sebuah mangkok somplak, Ciang-poen Liong-tauw melangkah keluar dan lalu berdiri di sebelah kanan.

"Ciang-pang Liong-tauw!"

Orang itu berteriak pula.

Tiang-loo yang mukanya seperti Cioe Cong muncul dengan kedua tangan menyangga tongkat bambunya yang berkilauan.

Ia berjalan dengan langkah lebar dan lalu berdiri di sebelah kiri.

Sesudah itu terdengar teriakan ketiga.

"Cie-hoat Tiang-loo!" (Tetua yang memegang undang-undang) Seorang pengemis tua yang bertubuh kurus dan memegang sebatang belahan bambu pecah, masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat enteng.

"Ilmu ringan badan orang itu cukup hebat,"

Piker Boe Kie.

"Kira-kira standing dengan po-tay Hweeshio dan hanya beda setingkat dari Wie Hok-ong."

Teriakan keempat segera menyusul.

"Coan-kang Tiang-loo!" (Tetua yang menurunkan ilmu) Yang keluar kini seorang kakek yang berambut dan berjenggot putih. Paras mukanya aneh seperti tertawa tapi bukan tertawa. Seperti menangis bukan menangis. Ia bertangan kosong dan langkahnya tidak memperlihatkan tinggi rendah kepandaiannya. Keempat orang itu lalu memindahkan empat lembar tikar ke sebelah bawah dari tikar yang di tengah dan kemudian sambil membungkuk mereka berseru.

"Kami mengundang Pangcoe!"

Boe Kie terkejut, Pangcoe dari Partai Pengemis yang bernama Soe Hwee Liong dan bergelar Kim gin ciang (Tangan emas dan perak) jarang sekali muncul dalam Rimba Persilatan.

Hadirnya pemimpin itu membuktikan betapa pentingnya pertemuan yang sedang berlangsung.

Semua pengemis turut membungkuk dengan sikap hormat.

Tak lama kemudian di belakang terdengar suara langkah dan keluarlah seorang pria bertubuh tinggi besar.

Gerak gerik orang itu yang mukanya bersinar merah seolah-olah orang itu berpangkat atau hartawan besar dan pakaiannya biarpun tidak mewah sedikitnya bukan pakaian pengemis.

Dengan tangan kanan memegang tiat-tan (peluru besi yang digunakan sebagai senjata), ia melangkah masuk dengan langkah lebar.

"Murid-murid Kay pang memberi hormat kepada Pangcoe!"

Teriak para pengemis. Soe Hwee Liong mengibaskan tangannya.

"Cukuplah!"

Katanya. Sehabis berkata begitu, dia segera duduk di tikar yang terletak di tengah-tengah dan semua pengemis pun segera ikut duduk.

"Lim Heng-too,"

Kata Soe Hwee Liong kepada Ciang-poen Liong-tauw.

"Cobalah ceritakan soal Kim mo Say ong dan To liong to."

Jantung Boe Kie memukul keras dan ia segera memasang kuping dengan penuh perhatian. Ciang-poen Liong-tauw bangun berdiri dan sesudah membungkuk ke arah Pangcoe, ia berkata dengan suara nyaring.

"Saudara-saudara, sebagaimana kalian tahu partai kita dan Mo kauw sudah bermusuhan selama kurang lebih enam puluh tahun. Semenjak Seng hwee leng jatuh ke dalam tangan kita, mereka terus berada di bawah angin. Belum lama berselang, Mo kauw telah mengangkat seorang Kauwcoe baru yang bernama Thio Boe Kie. Anggota-anggota kita yang turut serta dalam pengepungan Kong ben teng pernah bertemu dengan si Kauwcoe itu. Dia seorang bocah yang masih bau susu dan mana bisa dia melawan Soe Pangcoe kita yang berkepandaian sangat tinggi?"

Kata-kata itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai, sedang Soe Hwee Liong sendiri tersenyum-senyum dengan muka bersinar terang. Sesudah sorak-sorai mereda, Ciang-poen Liong-tauw berkata pula.

"Tapi ada sesuatu yang harus diketahui kalian. Selama puluhan tahun Mo kauw terpecah belah. Sesudah pengangkatan Kauwcoe baru itu, keadaan tersebut segera berubah dan perubahan ini merupakan penyakit di dalam perut bagi golongan kita."

"Selama setahun ini, kawanan siluman telah memberontak di berbagai tempat. Han San Tong dan Coe Goan Ciang bergerak di daerah Hway-see sedang di wilayah Ouw lam dan Ouw pak, Cie Sioe Hwee telah mendapat kemenangan dalam beberapa pertempuran dan telah menduduki banyak tempat penting. Kalau mereka berhasil mengusir Tat coe dan mereka pulang ke negara, maka beberapa puluh laksa saudara-saudara kita akan mati tanpa kuburan."

Kawanan pengemis itu segera berteriak-teriak.

"Mereka tidak boleh berhasil! Mereka harus ditumpas!"

"Kita bersumpah untuk hajar Mo kauw habis-habisan!"

"Kalau Mo kauw berhasil, kita musnahkan!"

Dilain pihak Boe Kie yang bersembunyi di pohon berkata di dalam hati.

"Tidak disangka selama aku berada di luar lautan beberapa bulan saudara-saudara sudah mendapat hasil begitu besar. Kekuatiran Kay pang memang dapat dimengerti, jumlah mereka sangat besar dan apabila mereka dapat diajak kerjasama, usaha mengusit Tat coe akan berjalan lebih lancer. Tapi bagaimana? Bagaimana aku harus berbuat untuk mengubah permusuhan menjadi persahabatan?"

Sementara itu Ciang-poen Liong-tauw melanjutkan pembicaraannya.

"Kalian tahu bahwa Soe Pangcoe biasanya hidup menyendiri di Cwee siauw San chung (Perkampungan meniup seruling) dan sudah lama tidak pernah menginjakdunia Kang ouw. Tapi dalam menghadapi urusan besar ini, ia tidak bisa tidak turun tangan sendiri. Syukur seribu syukur, Thian memayungi kita, Pat-tay Tiang-loo (Tetua delapan karung) Tan Yoe Liang telah bersahabat dengan seorang murid Boe tong dan telah mendapatkan sebuah berita yang sangat penting."

Ia menengadah dan berteriak.

"Tan Tiang-loo! Ajaklah Song Siauw hiap masuk ke dalam sini untuk berkenalan dengan saudara-saudara kita!"

"Baiklah!"

Kata seorang di belakang tembok.

Sesaat kemudian dua orang masuk dengan berpegangan tangan.

Yang satu ialah Tan Yoe Liang, yang lain seorang pemuda tampan yang baru berusia dua puluh tahun lebih dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang.

Baca Juga: Darah Pendekar Kho Ping Hoo

Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert