Ceritasilat Novel Online

Golok Bulan Sabit 7

Eps 7 Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.

Sebab setelah melakukan kesalahan besar itu, kadangkala mereka sudah tidak ada waktu untuk memaafkan diri.

Oleh karena itulah, merekapun tidak mempunyai cukup waktu untuk kelewat merasa menyesal.

ooo0ooo PERTAMA-TAMA yang menyerang keluar lebih dulu adalah sepasang manusia banci itu.

Mereka tak lain adalah dua orang kuil yang dimaksudkan oleh Giok Bu sia tadi.

Penyakit mereka memang tak salah amat membenci kaum wanita oleh sebab itu sewaktu mereka saksikan Giok Bu sia mengenakan dandanan perempuan rasa bencipun segera tumbuh didalam hati kecil mereka.

Biasanya disaat-saat seperti inilah mereka ingin membunuh orang, tentu saja mereka tak dapat membunuh Giok Bu sia.

Kebetulan sekali pada saat seperti inilah Giok Bu sia menurunkan perintah untuk membunuh orang maka mereka segera bertindak seakan-akan kuatir kalau sampai kedahuluan orang lain.

Dengan cepat mereka menyaksikan tiga orang.

Ting Peng berdiri dengan tangan kosong, golok bulan sabitnya tersoren dipinggang, sebilah senjata yang tidak terlalu menyolok, justru yang menyolok adalah Ah Ku yang berada di sisinya.

Dia mirip seorang raksasa yang datang dari daerah liar.

Namun mereka tidak takut dengan manusia raksasa, mereka tahu orang itu hanya berperawakan lebih subur daripada orang lain, biasanya manusia seperti ini berotak sederhana dan gerak-geriknya sedikit agak bebal dan lamban.

Apalagi dalam pandangan yang pertama sasaran yang paling menyolok bagi mereka tetap adalah Siau Hiang, karena dia perempuan, seorang perempuan yang menarik hati, lemah lembut, menarik persis seperti para dayang keraton yang sering kali mereka jumpai dalam istana raja dulu, ditambah pula di bawah hembusan angin mereka seperti mengendus bau harum semerbak dari Siau Hiang, hal mana makin merangsang mereka untuk berbuat kalap, memancing berkobarnya hawa napsu berahi didalam tubuh mereka .....

Semacam berahi untuk mencabik-cabik tubuh lawan menjadi berkeping-keping, maka sasaran pertama yang mereka tuju adalah Siau Hiang.

Kecepatan bertindak yang dilakukan kedua orang inipun sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Badan baru berkelebat, mereka sudah berada dikedua belah sisi Siau Hiang, kemudian hampir pada saat yang bersama mereka lancarkan serangan untuk mencengkeram tubuh Siau Hiang.

Segenap kepandaian mereka terletak di atas sepasang tangannya ini, sekalipun manusia yang terbuat dari batupun niscaya akan tercengkeram sampai hancur berantakan.

Dalam dunia persilatan pernah berlaku kitab urutan senjata karya Pek Siau-seng, tentu saja kejadian ini sudah berlangsung banyak tahun berselang, pahlawan-pahlawan yang tercantum dalam kitab tersebut kini sudah tiada semua.

Di bawah Pek Siau-seng, tak pernah ada orang membuat kitab susunan senjata lagi, kalau tidak, niscaya orang akan mencantumkan pula kepandaian dari sepasang tangan kedua orang ini ke dalam daftar.

Andaikata mereka dilahirkan pada jamannya Pek Siau-seng dulu, merekapun dapat memasukkan kepandaian sepasang tangan mereka ke dalam daftar kitab senjata, bahkan urutan namanya tidak akan berada di bawah Ang mo-jiu serta Cing mo-jiu.

Itulah sebabnya seandainya kedua belah tangan tersebut sampai mampir di tubuh Siau Hiang, sudah pasti akan mengerikan sekali jadinya, karena tubuh Siau Hiang yang kecil mungil itu tak akan tahan menghadapi cengkeraman tersebut.

Namun dengan kecepatan gerak mereka berdua, rasanya sulit juga untuk meloloskan diri dari cengkeramannya itu, karena Siau Hiang berdiri di samping Ah Ku.

Cuma saja Ah Ku adalah seorang manusia raksasa yang berperawakan satu kaki dua depa.

Manusia raksasa tidak menakutkan, merekapun pernah membunuh manusia raksasa yang berperawakan hampir sama dengan tinggi badan Ah Ku, hanya saja orang yang mereka jumpai kali ini adalah Ah Ku, bukan orang lain.

Walaupun Ah Ku mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, akan tetapi gerak-geriknya tidak bebal atau lamban, kecepatan gerakpun tidak jauh lebih lamban daripada mereka.

Ah Ku tidak menyerang mereka, hanya saja tangannya seorang satu mencengkeram di punggung mereka lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Perawakan tubuh mereka memang tidak tinggi, hampir sebanding dengan tubuh Siau Hiang.

Ah Ku cukup mengangkat dengan tenaga sedikit, tahu-tahu tubuh mereka sudah terangkat setengah lebih tinggi daripada tubuh Siau Hiang, tangan mereka masih tetap mencakar ke luar, mencakar dengan telak.

Kemudian kedengaran pula suara hancurnya tulang, seperti ada suatu benda tajam menembusi tubuh manusia, akan tetapi tidak kedengaran suara rintihan atau dengusan tertahan.

Orang yang kena mereka cengkeram itu tak berkesempatan lagi untuk menjerit kesakitan, telah saling cengkeram mencengkeram dengan dahsyatnya.

Darah segar menyembur keluar membasahi seluruh badan Ah Ku, namun Ah Ku tidak perduli, dia lantas mengendorkan tangannya dan melemparkan kedua sosok mayat itu ke tanah.

Siau Hiang yang berada di sisinya justru tak tahan melihat adegan seperti itu, dia ingin tumpah, tubuhnya sama sekali tidak ternoda darah, cuma saja sewaktu tubuh kedua orang itu terangkat, separuh tubuh mereka bagian bawah kebetulan bergelantungan di hadapan Siau Hiang, tiba-tiba saja tersiar bau busuk yang amat menusuk hidung.

Selama ini Ting Peng seakan-akan tidak melihat sesuatu apapun, dia masih saja melanjutkan perjalanannya ke depan.

Ketika kedua orang manusia itu menerjang tiba, ia tak berkedip mata, tapi dua orang itu tahutahu sudah berubah menjadi mayat, sedang dia sendiri sama sekali tak berpaling.

Ia berjalan terus ke depan sampai berpapasan dengan rombongan kedua sebelum berhenti.

Rombongan kedua ini terdiri dari enam orang yang berdiri berjajar menghadang jalan majunya, mereka semua menggenggam senjata.

"Lian Im cap si sat seng?"

Ting Peng menegur.

"Benar!"

Salah seorang menjawab.

"Aku adalah Ting Peng, kalianlah yang menangkap istriku?"

"Benar"

Jawabannya selalu singkat dan tak pernah lebih dari empat kata, sebab golok Ting Peng sudah diloloskan dari sarungnya.

Dikala Ting Peng sudah mengambil keputusan untuk membunuh orang, dia malas untuk banyak-banyak berbicara, sebaliknya bila dia berbicara dengan orang secara samar, hal ini menandakan kalau dalam hati kecilnya tidak berhasrat untuk membunuh orang, kecuali kalau orang kelewat mengganggunya, atau pihak lawan sudah benar-benar bosan hidup.

Disaat ia telah mengambil keputusan untuk membunuh orang, dia pun tak pernah membuang waktu dengan percuma, terutama sekali setelah dia berhasil melatih ilmu golok bulan sabit tersebut.

Cahaya golok berkelebat lewat dari kiri ke kanan, tiada orang melihat jelas bagaimana dia turun tangan, hanya nampak dia menyarungkan kembali goloknya ke dalam sarung.

Namun ke enam orang itu telah terbelah menjadi dua belah bagian dan rontok ke tanah, terbelah dari kepala sampai ke bawah.

(Bersambung ke

Jilid 20)

Jilid .

20 DIKALA membunuh rombongan yang ketiga, dia tak usah membuang banyak waktu serta tenaga, karena dikala Ting Peng membunuh ke enam orang itu, akhirnya hal ini membuat mereka menyaksikan dengan jelas betapa hebatnya kemampuan golok bulan sabit tersebut dan kejadian ini membuat nyali mereka hampir copot karena ketakutan.

Mereka lebih-lebih menyadari kalau kali ini mereka sudah mengusik sebuah sarang lebah yang amat besar.

Setiap orang mempunyai keberanian untuk beradu jiwa, tapi hal ini hanya terjadi di suatu saat dimana mereka dapat beradu jiwa bila mereka sudah berada disaat tak mampu melakukan perlawanan lagi, biasanya hanya ada dua pilihan bagi mereka.

Menyerah dengan pasrah atau melarikan diri.

Rombongan ke tiga ini terdiri dari delapan orang, sekarang ada tiga orang dibikin tertegun karena kaget dan lima orang kabur karena ketakutan.

Ting Peng tidak turun tangan, dia cuma meninggalkan pesan.

"Ayam dan anjingpun tak boleh dibiarkan hidup"

Asal ada sepatah kata itu saja maka segala sesuatunya sudah cukup, tubuh Ah Ku yang tinggi besar pun segera melambung tinggi ke angkasa, lalu seperti seekor burung alap-alap, dia menyambar anak-anak ayam yang sedang melarikan diri.

Bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk mengejar dan menghabisi nyawa lima orang jago persilatan yang melarikan diri terpencar-pencar, tapi Ah Ku bisa menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya.

Cuma saja yang paling akhir dia harus mengejar sampai di luar perkampungan dan melewati suatu pertarungan singkat sebanyak empat gebrakan sebelum menyelesaikan tugas tersebut.

Dikala ia teringat kalau di dalam masih ada tiga orang manusia sedang berdiri tertegun karena ketakutan, kemudian memburu ke dalam siap membunuhnya, Siau Hiang telah berdiri di samping mayat-mayat mereka sambil berdiri tertegun.

Ah Ku tidak pandai berbicara, dia mengira Siau Hiang telah membantunya menyelesaikan tugas itu maka dia manggut-manggut sebagai tanda rasa terima kasihnya.

Siau Hiang seperti ingin mengucapkan sesuatu, belum sempat berbicara, ia telah menyaksikan Ting Peng membawa Cing Cing dan Siau Im turun dari loteng.

Kisah lolos dari bahaya tersebut kalau dibicarakan amat datar dan biasa, maka setelah mendengar penuturan tersebut Ting Peng tertawa terbahak-bahak.

"Long kun, apa yang membuatmu geli?"

Cing Cing segera menegur. Sambil tertawa Ting Peng menjawab.

"Aku tertawa geli untuk kebodohan kalian, maka Giok Bu sia hanya menelanjangi kalian, maka kalian sudah kena disekap di dalam loteng tersebut ...."

"Benar, kalau aku disuruh menampakkan diri dalam keadaan demikian di depan orang lelaki, bagiku lebih baik mati saja"

Ting Peng menghela napas panjang, kembali ujarnya.

"Apakah kau tak pernah mendengar ucapan yang berbunyi. Bila keadaan terdesak sungai pun di lompati?"

"Tidak boleh, hal ini menyangkut harga diri serta kesucian dari seorang wanita, aku tak boleh bertindak seperti ini.."

"Kau toh mengerti, berada dalam keadaan seperti itu aku tak bakal menuduhmu tidak suci lagi?.."

"Aku tahu, tapi aku sendiri akan merasa kalau diriku tak suci lagi bila aku berbuat demikian"

"Pentingkah perasaan semacam itu bagimu?"

"Benar, penting sekali"

"Adakah suatu kekuatan yang bisa merubah perasaan semacam itu?"

"Apa dalam suatu keadaan aku bisa tidak memperdulikan segala macam persoalan seperti itu"

"Berada dalam keadaan seperti apa?"

"Disaat kau berada dalam keadaan bahaya dan aku bisa menolongmu dari bahaya, bila aku berbuat begitu, sekalipun aku diharuskan menyerahkan tubuhku kepada lelaki lainpun, niscaya akan kulakukan dengan segera."

Ting Peng merasa amat terharu, dipeluknya perempuan itu kencang-kencang dan katanya dengan lembut.

"Cing-cing, daripada menyuruh kau melakukan hal-hal semacam itu, aku lebih suka mati saja"

Cing-cing tertawa bahagia, dibelainya pipi suaminya dengan lembut, kemudian berbisik.

"Untung saja kesempatan bagiku berbuat demikian kelewat kecil"

"Apakah dikarenakan kemungkinan bagiku untuk menjumpai mara bahaya sudah tidak ada lagi?"

"Tidak! Semakin tinggi ilmu silatmu, semakin banyak pula mara bahaya yang kau hadapi."

Semakin tinggi ilmu silat seseorang, semakin banyak pula mara bahaya yang dihadapi.

Ucapan itu seperti saling bertentangan, padahal besar sekali kebenarannya.

Makin tinggi ilmu silat seseorang berarti semakin ternama orang itu, otomatis akan menimbulkan perasaan iri pula dari banyak orang, kemudian akan timbul banyak orang yang ingin mencelakainya, semakin keji dan berbahaya pula cara yang mereka pergunakan.

Teori semacam ini cukup dipahami Ting Peng, tapi dia tidak memahami ucapan lain dari Cingcing.

"Kalau toh lebih banyak terancam bahaya, mengapa kau semakin kecil kemungkinannya berbuat demikian?"

Cing-cing menghela napas panjang.

"Karena orang yang bisa memperosokkan dirimu ke dalam keadaan yang berbahaya pasti merupakan suatu rencana yang sangat lihay pula, suatu rencana keji yang telah disusun orang dengan segala kemampuan yang dimiliki, tujuan mereka adalah membunuhmu, bukan mendapatkan aku, karena itu sekalipun aku bersedia menyerahkan tubuhku kepada orang demi menyelamatkan jiwamu, hal inipun mustahil bisa terlaksana karena itu aku baru mengatakan kalau hal ini tak mungkin."

Sambil menghela napas Ting Peng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Tidak, Cing-cing, kau keliru"

"Aku keliru?"

"Benar, bukan cuma keliru bahkan kekeliruanmu besar sekali, sekarang aku cukup memahami situasi yang sedang kuhadapi, mungkin saja ada suatu rencana keji yang bisa memperosokkan diriku ke dalam keadaan berbahaya, tapi tak mungkin mereka bisa membunuh aku, cuma bila kau menganggap aku sudah terperosok ke dalam keadaan berbahaya dan berbuat demikian, tindakanmu itulah yang sesungguhnya akan merenggut nyawaku"

"Apakah kau siap membunuh dirimu sendiri karena hal ini?"

"Tidak, aku kuatir kau tak ingin hidup lebih jauh sehingga kehilangan dirimu, sebab hal itulah yang akan menyebabkan aku benar-benar tak ingin hidup lebih jauh."

"Tidak Long kun, kau pun keliru"

Cing Cing tertawa.

"Aku pun keliru?"

"Benar seandainya aku benar-benar kehilangan tubuhku di tangan lelaki lain demi menyelamatkan jiwamu, aku tak akan merasa bahwa aku tak suci lagi, apalagi disebabkan hal itu menyebabkan aku mengambil keputusan pendek, sebaliknya aku malah akan hidup lebih berarti, hidup lebih berbahagia lagi."

"Hidup lebih berbahagia?"

"Benar, karena aku akan menemukan bahwa diriku ini sebenarnya mempunyai kegunaan yang amat besar bagimu, aku bisa memberikan banyak pengorbanan bagi dirimu, hal tersebut akan menyebabkan aku hidup lebih bergairah lagi."

Ting Peng berpikir sebentar, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahhh... ucapanmu memang benar, aku memang salah, kau salah satu kali dan akupun salah satu kali, kita sama-sama seri."

"Benar Long kun, kita memang seri, kita mengira sudah amat memahami perasaan lawannya, siapa tahu masih terdapat banyak pandangan yang sebenarnya merupakan suatu kesalahan besar."

Biasanya semula hal ini akan tumbuh lebih dewasa setelah melalui suatu masa percobaan, demikian pula halnya dengan soal cinta.

Mereka telah menemukan suatu kesalahan yang sebelumnya tak pernah mereka perhatikan, untung saja kesalahan tersebut bisa ditemukan lebih awal sebelum kesalahan mana berubah lebih parah dan lebih mengerikan.

Oleh karena itulah mereka merasa amat berlega hati, dikala mereka sedang berlega hati, tak pernah mereka pikirkan soal hal-hal yang sepele, maka kedua orang itupun saling berpelukan saling berlompatan, tertawa, berteriak, persis seperti dua orang manusia gila.

Siau Hiang sedang tertawa, Siau Im sedang tertawa, Ah Ku juga tertawa, mereka semua tertawa gembira.

Tapi ada seorang yang melelehkan air mata dibalik kegelapan sana.

Bukan karena bersedih hati, juga bukan karena pilu hatinya, melainkan karena masalah mendongkol....Sepasang giginya menggigit bibirnya kencang-kencang, menggigitnya sampai berdarah, sementara air matanya jatuh bercucuran dengan derasnya....Tiba-tiba Siau Im bertanya.

"Yaa, mana Giok Bu sia? Perempuan busuk itu sudah kabur kemana? Apakah kau telah membinasakannya?"

Semua mayat bertumpukan di situ, Siau Im mendekat sambil memeriksa, ternyata tidak nampak tubuh Giok Bu sia.

ooo0ooo UPACARA API KEMANA perginya Giok Bu sia?

Perempuan yang menjadi biang keladi dari semua peristiwa ini?.

Tujuannya melarikan Cing-cing adalah ingin memancing kedatangan Ting Peng di situ, tapi dikala Ting Peng benar-benar sudah datang, ia justru menyembunyikan diri.

Sebenarnya apa maksud dari kesemuanya ini?

Apakah dia tidak tahu akan kelihaian golok bulan sabit milik Ting Peng?

Atau karena dia mengira rekan-rekannya sudah sanggup untuk menahan serbuan Ting Peng?

Atau mungkin dia menganggap dengan membekuk Cing Cing berarti ia dapat mengendalikan Ting Peng dan menjadikan jagoan tersebut sebagai alat pembunuhnya untuk membunuhi orangorang yang tak disukai olehnya?

Tampaknya kedua buah teori tersebut seperti amat cocok dengan keadaan, tapi bila diperhatikan dengan seksama, semua tak bisa berdiri sendiri.

Orang lain mungkin tidak terlalu memahami kekuatan yang dimiliki Lian Im cap si sat seng dalam menghadapi Ting Peng, tapi ia mengetahui cukup jelas.

Sekarang dia sedang berada didalam ruang rahasia di bawah tanah, di bawah penerangan sinar lentera yang redup, sedang menulis bahan tentang Ting Peng di atas secarik kertas.

Diatas gulungan kertas itu sudah penuh berisikan tulisan, sejak dari Bwe ang kek di kota Hang Ciu.....

Menyaksikan Ting Peng mengayunkan goloknya terhadap Thi yan Siang hui suami istri, dimana ayunan goloknya mendatangkan kekuatan yang luar biasa.

Menyaksikan Ting Peng mengalahkan Lim Yok peng, gerakan tubuhnya enteng dan lembut, seakan-akan di dalam goloknya tersekap suatu kekuatan suci yang hebat.

Sekarang dia sedang menulis kisah pengalamannya yang belum lama berselang baru dialami.

Menyaksikan Ting Peng membelah enam malaikat bengis, golok berkelebat tubuh berpisah, sedemikian hebatnya kekuatan serangan itu sehingga mesti dilihat dengan mata kepala sendiri namun sukar untuk dipercaya dalam hati.

Seolah-olah beberapa kali pertarungan penting yang dilaksanakan Ting Peng serta beberapa kali membunuh orang, ia selalu hadir di arena bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Sebab bila ia tidak hadir, di atas catatan tersebut selalu tercantum tanda yang amat istimewa, seperti.

"Bulan....tanggal... menurut cerita... Ting Peng dan Liu Yok siong saling berhadapan, sekali goloknya berkelebat, ada nyawa melayang. Tulisan itu dapat dibaca secarik kertas kecil yang berada di halaman paling muka. Pokoknya dia termasuk seorang yang mendalami dan amat memahami soal Ting Peng, tentu saja dia lebih memahami lagi terhadap kemampuan dari rekan-rekannya it. Diapun tahu, dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimiliki rekan-rekannya, untuk menghadapi Thi yan siang hui sepasang suami istripun belum tentu menang apalagi menyuruh mereka menghadapi Ting Peng, tentu saja mereka pada mampus....Sedang mengenai menggunakan Cing-cing sebagai sandera untuk memaksa Ting Peng menuruti perkataannya, iapun sudah tahu kalau harapannya lenyap tak berbekas lagi. Lantas mengapa dia masih menyuruh anak buahnya untuk menghantar kematian...? Sesungguhnya hal mana merupakan suatu teka-teki yang sukar untuk dipahami oleh orang lain. Namun dengan cepatnya dia telah menggunakan pelbagai gerak-geriknya untuk menjawab teka-teki tersebut. Itulah se

Jilid kitab tipis, ketika kitab itu dibalik maka isinya adalah pelbagai catatan lengkap dengan tanggal dan tahun.

Di urutan yang terdepan adalah namanya.

Nomor dua Siang Hoa jiang, disebut juga penjagal manusia dari Gi-tang, tahun Pia-wu bulan enam masuk menjadi anggota.

Tahun Pia-wu bulan sembilan mendapat undangan dari Mo Su hou perkampungan Lam si ceng untuk membunuh Lau Tiong kiat, mendapat imbalan sepuluh laksa tahil perak, imbalan yang harus dibagi satu laksa lima ribu tahil perak.

Tahun Ting-wei bulan dua, malam-malam menyerang perkampungan Bwe hoa san ceng, mendapat intan permata berjumlah delapan laksa tahil, setelah dipotong komisi tiga laksa tahil, sisa uang enam laksa tahil...

Rupanya kitab tersebut merupakan kitab yang mencatat segala kegiatan dari Lian Im cap si sat, yang dicatat adalah pemasukan tiap orang, order membunuh orang, imbalan yang diperoleh serta jumlah hasil rampokan yang berhasil dikumpulkan.

Atas nama Siang Hoa jiang yang bernomor urut dua ini, dalam empat tahun ia berhasil mengumpulkan dua puluh empat lima ribu tahil perak.

Sedang beaya yang dikeluarkan tiga laksa delapan ribu tahil.

Di dalam empat tahun hanya menghabiskan uang tiga laksa delapan ribu tahil, tampaknya orang ini seorang yang berhemat.

Dia mengambil kitab itu dan berjalan ke depan sebuah almari kecil, membuka laci didalamnya dan mengambil setumpuk uang yang tersimpan di situ, ketika dihitung jumlahnya ternyata persis seperti apa yang tercantum dalam buku.

Setelah tertawa dia masukkan tumpukan uang itu ke dalam sakunya, lalu membuka halaman yang kedua, membuka laci kedua dan memasukkan tumpukan uang kedua ke dalam saku.

Hingga pada laci yag kelima belas, ia baru bergumam dengan penuh rasa mendongkol.

"Sialan benar bajingan ini, tempo hari ia berani membohongi aku sewaktu menyetor uang kepadaku, sudah pasti kelima ribu tahil perak yang disisihkan itu habis dipakai untuk berfoya-foya dengan dua orang pelacur tersebut, hmm, tidak bisa jadi, hutang ini harus kutagih kembali dari tangan kedua orang pelacur itu."

Akhirnya dia membuka laci terakhir yang mencantumkan nama Giok Bu sia dan mengambil tumpukan uang yang tersimpan di situ.

Sekalipun tanpa dihitung namun dapat terlihat kalau jumlahnya berapa kali lipat lebih banyak daripada jumlah yang dimiliki belasan orang itu, dari sana bisa diketahui kalau ia memperoleh bagian yang paling besar namun paling sedikit mengeluarkan uang.

Dia adalah Lotoa, biasanya lotoa selalu mendapat bagian yang dua kali lebih banyak, tentu saja anak buahnya tak pernah menggerutu, namun dia sebagai seorang lotoa tak pernah puas.

Sebab sampai akhirnya seluruh uang itu toh terjatuh di tangannya semua, kini senyuman puas baru menghiasi wajahnya, kini segala sesuatunya sudah menjadi miliknya.

Dia tak mau menerima lipat dua saja, dia ingin melalap semua yang ada....Ia membungkus semua uang itu ke dalam kantongan dan diikat pada punggungnya, kemudian mengambil kitab catatan tersebut dan membakar di atas lantai.

Dia membakar dengan seksama, sampai menjadi abupun masih di porak porandakan sampai rata.

Akhirnya dia baru menggunakan obor untuk membakar kain panjang yang telah dibasahi dengan minyak.

Bukan saja kain tersebut sudah direndam ke dalam minyak, lagi pula dibungkus dengan bahan yang mudah terbakar, itulah sebabnya dengan cepat api telah berkobar.

Sumbu tersebut ditarik hingga ke dalam tumpukan kayu kering yang berada disekitar gedung, dalam waktu singkat tumpukan kayu itu sudah terbakar dengan hebatnya, lalu diapun menyulut sumbu yang lain.

Dia tidak menggunakan bahan mesiu, sebab kelewat berbahaya, meski demikian hampir semua bagian dari perkampungan Lian Im san ceng ini sudah dihubungkan dengan sumbu-sumbu yang menghubungkan pula dengan tumpukan barang yang mudah terbakar.

Tak heran kalau tak selang berapa saat kemudian seluruh perkampungan Lin Im san ceng telah berada dalam lautan api, masih untung di situ tak ada lagi manusia hidup.

Pemusnahan total, cara semacam ini memang merupakan suatu cara pemusnahan total yang paling sempurna.

Api memang merupakan alat pembuat dosa yang paling ideal dan kini perkampungan Lian Im san ceng yang penuh dosa sedang melakukan upacara api, menggunakan api untuk membersihkan seluruh dosa-dosanya.

Tapi Giok Bu sia, apakah diapun harus membayar mahal atas dosa yang telah dilakukannya?

Dikala api mulai merobohkan bangunan dan menyumbat mulut masuk menuju ke lorong bawah tanah, seorang perempuan baru saja menerobos keluar dari bawah lorong tanah itu.

Memandang kobaran api yang membara dan memusnahkan seluruh bangunan, terdengar ia bergumam.

"Selamat tinggal perkampungan Lian Im san ceng, selamat tinggal Lian Im cap si sat seng, Selamat tinggal Giok Bu sia!"

Kadangkala arti kata selamat tinggal adalah selamanya tak akan berjumpa lagi, segala sesuatunya akan lenyap bersama kobaran api yang menjulang ke angkasa itu.

Tapi, mengapa pula dia mengatakan "Selamat tinggal kepada Giok Bu sia?"

Giok Bu sia belum mati, bukankah dia masih hidup segar bugar dalam dunia ini?

Cuma, ada sementara orang memang tidak membutuhkan kematian, tanpa kematian pun ia bisa lenyap dan musnah dari dunia ini.

Tentu saja ada sementara orang-orang yang ternama, sekalipun sudah mati, mereka tak akan bisa lenyap dari dunia ini.

Seperti para cianpwe angkatan tua, misalnya Siau li tham hoa Li Sin huan, si jago pedang terbang.

Seperti pula pencuri budiman Coh Liu hiang, si kupu-kupu bunga Oh Thi hoa.

Yang lebih muda lagi seperti Seng Long seperti Ong Leng hoa.

Atau yang lebih tua lagi seperti Yak Kay, seperti Poh Hong soat.

Seperti pula Siau Hi ji dan Hoa Bu koat.

Waktu sudah berlalu hampir ratusan tahun namun tindak tanduk mereka masih tetap hidup dalam hati setiap orang, dari mulut ke mulut kegagahan mereka selalu diwariskan.

Tapi Giok Bu sia jelas tak ingin menjadi manusia seperti ini, dia lebih suka melenyapkan diri dari dunia ini tanpa menimbulkan suara apapun....Mengikuti Lian Im cap si sat seng, mengikuti perkampungan Lin Im san ceng semuanya lenyap dan musnah di tengah lautan api.

Perempuan yang baru muncul dari bawah tanah itu tampaknya seperti sama sekali bukan Giok Bu sia, sekalipun berjumpa dengan wajahnya, belum tentu orang akan mengenalinya sebagai Giok Bu sia.

Karena Lian Im cap si sat seng bukan suatu organisasi yang ternama, Giok Bu sia juga bukan seorang manusia yang ternama, hanya segelintir manusia yang mengetahui tentang mereka.

Tak bisa disangkal lagi, perempuan ini adalah seorang perempuan yang punya nama Bagaimanapun juga dia tak akan menjajarkan dirinya dengan Lian Im cap si sat seng.

Sekalipun orang-orang yang pernah berhubungan dengan Lian Im cap si sat seng tak akan menganggap dia mempunyai hubungan atau sangkut paut dengan kelompok pembunuh itu.

Giok Bu sia memang sudah lenyap semenjak itu, karena dia adalah lotoa dari Lian im cap si sat seng, dialah yang menciptakan empat belas pembunuh keji itu, tapi dia juga yang telah memusnahkan ke empat belas pembunuh keji itu.

Jika tak ada Giok Bu sia, mungkin saja tak mungkin ada Lian im cap si sat seng.

Tapi bila tiada Lian Im cap si sat seng tentu saja tak mungkin bakal ada Giok Bu sia.

Memandang kobaran api yang menjilat semua benda yang dijumpainya, ia memeluk tumpukan uang itu erat-erat, dan iapun mengucapkan sepatah kata yang aneh.

"Terima kasih banyak Ting Peng."

Mengapa dia harus berterima kasih kepada Ting Peng?

Ting Peng telah membunuh rekannya, memusnahkan pekerjaannya, mengapa dia malah berterima kasih kepada Ting Peng?

Apakah disinilah letak tujuannya menculik Cing-cing dan memancing kedatangan Ting Peng?

Dilihat dari perubahan mimik wajahnya, tak bisa disangka; lagi kalau memang demikian keadaannya.

Kalau begitu, jelas hal ini merupakan suatu rencana hitam makan hitam yang amat sempurna, kendatipun rencana ini terhitung agak kejam, namun tak bisa disangkal rencana tersebut benarbenar amat sempurna.

Seandainya tidak muncul seorang manusia banyak urusan yang menjemukan, mungkin rahasia tersebut tak pernah akan diketahui oleh siapapun untuk selamanya.

Tapi orang yang sangat menjemukan itu jusru munculkan diri pada saat seperti ini.

Tiba-tiba saja dia mendengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang dari arah belakang, buru-buru dia berpaling, tampak olehnya, manusia yang paling menjemukan, paling memuakkan hari itu sudah berdiri tak jauh dari sana sambil tertawa cengar-cengir.

"Oooh, kau? Liu Yok siong?"

Dia bertanya.

"Yaa, aku! Liu Yok siong!"

Jawab yang ditanya.

ooo0ooo ORANG YANG PALING MEMUAKKAN JARANG sekali ada perempuan yang tidak menjadi gugup dan gelagapan lantaran kaget menginjak seekor ular berbisa, tapi keadaannya sewaktu berjumpa Liu Yok siong sekarang jauh lebih mengenaskan daripada ia menginjak seekor ular besar.

Namun dengan cepat dia dapat menguasai perasaannya, dengan sikap yang lebih tenang ia berkata hambar.

"Mengapa kau kemari"

Liu Yok siong tertawa amat gembira, seakan-akan pengemis yang menemukan uang emas saja, tertawa hingga setiap kerutan wajahnya nampak amat jelas.

"Kau menginginkan batok kepalaku, mengapa aku tak boleh datang kemari....?"

Dengan amat tenang perempuan itu tertawa.

"Aaah, itu mah Cuma suatu gurauan yang tidak merugikan siapapun, kau sendiri toh mengerti, Ting Peng tak bakal membunuhmu"

Kembali Liu Yok siong tertawa.

"Kedudukanku di dalam hatinya masih belum sepenting apa yang kau bayangkan selama ini."

Liu Yok siong, kau terlalu memandang rendah dirimu sendiri", kata perempuan itu sambil menggeleng, bukan dikarenakan kau amat penting baginya maka ia tidak membunuhmu, melainkan karena kau masih tak berkemampuan apa-apa sehingga dia tak sudi membunuhmu, seperti ibaratnya sesosok bangkai anjing di tepi jalan, setiap orang yang lewat di sana boleh saja menendangnya, tapi jarang sekali ada orang yang bersedia untuk melakukan hal itu, karena orang takut mengotori kaki sendiri"

Liu Yok siong segera menarik kembali senyumannya, walaupun dia tahu kalau kejadian tersebut merupakan kenyataan, namun kenyataan mana merupakan suatu pukulan batin yang sangat berat baginya.

"Kau berani mengucapkan perkataan semacam itu kepadaku? Akhirnya dia menegur dengan marah. Perempuan itu segera tertawa.

"Mengapa tidak berani? Toh hal tersebut merupakan suatu kenyataan? Dalam pandanganku atau pandangan siapa saja, kau adalah manusia semacam itu... .?"

Liu Yok siong dibikin naik darah oleh perkataan itu, sambil menarik muka serunya.

"Sungguh tidak beruntung, aku justru kena digigit oleh bangkai anjing yang menggeletak di tepi jalan itu."

Si perempuan itu segera tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya lantang dan leluasa, seakan-akan sama sekali tidak ambil perduli terhadap ancaman Liu Yok siong.

"Kau mengira kau telah berhasil menangkap titik kelemahanku....?"

Liu Yok siong tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... apakah masih belum mau mengaku?"

Perempuan itu tersenyum.

"Tentu saja aku bisa jadi tidak mengaku, karena bobotmu dalam pandangan sementara orang sekarang sudah begitu rendahnya, aku yakin kau tentu mengerti, kentut orang lainpun masih lebih harum daripada ucapanmu, apakah masih ada orang yang mau percaya kepadamu?"

Kembali Liu Yok siong tertawa terbahak-bahak.."Haaaahhh...

haaahhh...

haaahhh...

kalau begitu tak ada salahnya bagimu untuk mencoba, mungkin saja perkataan aku orang she Liu jauh lebih busuk daripada kentut, tapi asal aku orang sne Liu menyiarkan berita ini keluar, sudah pasti ada orang yang akan mendengarkan, sekalipun mungkin akan mereka terima sebagai gurauan saja, tapi sedikit banyak toh pasti akan berpengaruh juga bagimu"

Mendadak perempuan itu menggerakan tangannya, setitik cahaya tajam berkelebat lewat dan menusuk ke tenggorokan Liu Yok siong, pedang tersebut tersembunyi dibalik ujung bajunya, sebilah pedang lemas.

Serangan itu benar-benar merupakan suatu serangan yang cepat dan ganas, sebelum penyerangan, tidak nampak gejala apa-apa ditambah pula dilancarkan selagi orang lain berbicara, semestinya ancaman semacam ini tak bakal meleset.

Tapi Liu Yok siong justru memperhatikan sampai ke situ, dia tidak berkelit pun tidak muncul, hanya menggunakan kedua jari tangannya menjepit pelan, tahu-tahu mata pedang lawan telah terjepit olehnya.

Mata pedang itu hanya berselisih setengah inci dari tenggorokannya, tapi sisa setengah inci tersebut tak mampu dilanjutkan olehnya.

Dengan sepenuh tenaga perempuan itu mendorong pedangnya lebih ke depan, sayang digunakan adalah sebilah pedang lemas, dia harus mengerahkan tenaga dalam lebih dulu sebelum dapat mengeraskan dan menegangkan senjata itu.

Sebenarnya tenaga dalam yang dimiliki perempuan itu tidak lemah, sayang Liu Yok siong tidak lemah juga, maka pedang itu kena digetarkan sampai meliuk-liuk, jangankan maju setengah inci lagi, bergerakpun tak bisa.

Sambil tertawa Liu Yok siong berkata.

"Aku orang she Liu bukan orang baik, bukan seorang Kuncu, lagipula seorang siaujin yang banyak curiga, oleh sebab itulah aku orang she Liu tidak gampang dicelakai orang lain. ooo0ooo SEORANG Kuncu memang lebih gampang dicelakai daripada orang lain. Bila ingin mencelakai seorang siaujin yang setiap hari kerjanya justru hendak mencelakai orang lain, hal ini benar-benar merupakan suatu pekerjaan yang sulit, karena dia kerjanya hanya mencelakai orang lain maka dia harus dapat menjaga diri seteliti mungkin, sebab dia tahu orang lain pun setiap saat berniat mencelakai dirinya. Sambil tertawa Liu Yok siong berkata.

"Ilmu silat aku orang she Liu memang tak bernilai sepeserpun dibandingkan permainan golok Ting Peng, tapi bagi sementara umat persilatan, paling tidak aku masih terhitung seorang jago lihay, walaupun belum tentu bisa menangkan dirimu, tapi kaupun jangan harap bisa membunuhku secara mudah..."

Setelah termenung sebentar, mendadak perempuan itu menarik kembali pedangnya dan berkata sambil tertawa.

"Buat apa aku harus membunuhmu? Untuk membunuhmupun buat apa aku mesti turun tangan sendiri?"

"Aku tahu kau dapat menggerakkan anak buahmu untuk menghadapiku, tapi cukupkah bobot mereka untuk melawan diriku?"

Kata Liu Yok siong lagi sambil tertawa. Perempuan itu tertawa.

"Liu Yok siong, kau kelewat memandang rendah diriku, aku tak usah menggerakkan anak buah yang berada di rumah, cukup menggapaikan tangan, salah seorang yang datangpun sudah cukup membuat badanmu menjadi penyok!"

Mendengar perkataan itu, Liu Yok siong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku orang she Liu bukan manusia yang terbuat dari jerami, dalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali Ting Peng seorang, aku orang she Liu masih belum memandang sebelah matapun terhadap orang lain"

"Aku tak ingin menakut-nakuti dirimu"

Perempuan itu tertawa makin genit, cuma akupun tak ingin membohongi dirimu, mulai sekarang aku akan maju sebanyak tujuh langkah, kuharap kau lupakan saja semua peristiwa yang barusan terjadi di sini, kalau tidak kau bakal menyesal"

Selesai berkata dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Tentu saja Liu Yok siong tidak percaya dengan semua perkataannya itu, namun dia pun tidak menyusul ke depan.

Bagaimana dia merasa tak percaya, iapun ingin melihat setelah perempuan itu berjalan sejauh tujuh langkah.

Peristiwa aneh apakah yang bakal terjadi.

Apalagi Liu Yok siong merasa yakin sekali dengan kemampuan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, sekalipun membiarkan perempuan itu berjalan tujuh puluh langkah lebih dulu pun, dia masih mempunyai keyakinan untuk menyusulnya dalam seratus langkah.

Padahal tempat itu merupakan sebuah tanah lapang yang sangat luas, sekalipun ia berjalan sejauh tujuh ratus langkahpun masih tak akan lolos dari pandangan matanya.

Betul juga perempuan itu hanya berjalan sejauh tujuh langkah, tujuh langkah yang sangat indah, sejak kematian bininya sebenarnya, Liu Yok siong sudah kehilangan napsunya terhadap kaum wanita.

Tapi memandang bayangan punggungnya yang begitu indah, ia tak bisa mencegah pikirannya untuk melamunkan hal-hal yang tak beres.

Cuma saja hal ini bukan menjadi alasan bagi Liu Yok siong untuk mundur dari situ.

Dahulu Liu Yok siong adalah seorang serigala perempuan, tapi sekarang sudah bukan.

Dahulu Liu Yok siong terpikat oleh kecantikan perempuan, tapi sekarang hal ini tak mungkin.

Penderitaan dan siksaan batin, terutama penghinaan dan cemoohan yang diterimanya selama ini membuat dia lebih tangguh, lebih sanggup mempertahankan diri, menguasahi diri dan tak gampang terpengaruh oleh emosi.

Tapi Liu Yok siong justu merasakan hatinya bergetar keras sekali setelah menyaksikan reaksi yang timbul setelah perempuan itu mundur sejauh tujuh langkah.

Suatu peristiwa aneh benar-benar terjadi bahkan kejadiannya sukar membuat orang menjadi percaya.

Kemunculannya begitu tiba-tiba, Liu Yok siong merasakan dua gulung hawa pembunuhan yang mengerikan dan menyesakkan napas tahu-tahu muncul dari kiri dan kanan langsung menggencet dirinya.

Menyusul kemudian muncul dua sosok manusia, itulah dua orang kakek.

Orang tua bukan sesuatu yang menakutkan, tapi kedua orang kakek itu cukup membuat Liu Yok siong berdiri kaku bagaikan patung, dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa menyalahkan nasibnya yang terlalu jelek, hingga setiap kali dia merasa akan berhasil selalu akan muncul pula hal-hal yang akan membuatnya menjadi sial.

Terutama kali ini, dia merasa benar-benar sial delapan keturunan......

ooo0ooo SINGA EMAS NAGA PERAK SEANDAINYA Liu Yok siong merupakan pemuda yang baru terjun ke dunia persilatan, dia tak akan takut, harimau yang belum pernah turun gunung tak akan takut kepada siapa pun, dia pasti akan menganggap mereka sebagai dua orang tua belaka.

Sayang, Liu Yok siong justru merupakan seorang yang berpengetahuan luas, tidak sedikit jagoan kenamaan dalam dunia persilatan yang dikenal olehnya.

Tentu saja diapun kenal dengan kedua orang kakek ini, tapi dia lebih suka tidak mengenalnya.

Sekarang, dia hanya mengharapkan satu hal saja, yaitu kedatangan kedua orang kakek itu bukan dikarenakan dia, melainkan karena perempuan tersebut.

Paling tidak, ia berharap mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan perempuan tersebut.

Tapi kejadiannya justru tidak seperti apa yang diharapkan, ternyata perempuan itu mempunyai hubungan yang mendalam sekali dengan kedua orang kakek tersebut, bukan cuma begitu, agaknya sikap kedua orang kakek itu kepadanya begitu sungkan dan hormat, bukan perempuan itu yang memberi hormat kepada mereka, sebaliknya merekalah yang menghormati perempuan tersebut.

"Empek berdua, baik baikkah kalian? Sudah lama kita tak pernah bersua ...."

Kakek berbaju emas berambut panjang berwarna kuning yang berada di sebelah kiri itu segera tertawa, sahutnya.

"Baik-baikkah nona? Entah ada urusan apa nona mengundang kami?"

"Empek kelewat sungkan, keponakan cuma menghadapi suatu kesulitan yang amat kecil hingga terpaksa memanggil kehadiran kalian, tak tahunya empek berdua benar-benar datang. Kejadian ini sungguh membuat titli merasa tak enak"

"Aaaah, hanya secara kebetulan kami berdua berada disekitar sini"

Kakek berbaju perak di kanan menjawab sambil tertawa.

"ketika mendapat tanda bahaya, kami mengira nona telah menghadapi kesulitan besar, itulah sebabnya kami lantas memburu kemari"

"Padahal tidak terhitung seberapa, cuma orang she Liu ini mendadak muncul di sini, bahkan tampaknya dia jauh lebih hebat daripada apa yang kubayangkan semula"

Kakek berbaju emas itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh.... haaaah.. haaahh... itulah gampang sekali, serahkan saja kepada kami, apa yang nona kehendaki?"

Andaikata ia minta kepada Liu Yok siong untuk berlutut di hadapannya sambil memanggilnya ibu, kemudian nyawanya baru diampuni, niscaya Liu Yok siong bersedia untuk melakukan.

Cuma diapun tahu sekalipun dia berlutut sambil memanggilnya Coh nay-nay hal inipun percuma, perempuan itu bukan Ting Peng, bila ia hendak membunuh orang, tak mungkin hatinya akan melembek dan mengurungkan niat dengan begitu saja.

Untung Coh nay-nay ini tidak berniat membunuh orang, dia hanya berkata sambil tertawa.

"Walaupun bajingan ini menjemukan, tapi lebih untung dibiarkan hidup daripada mampus, Cuma sayang dia masih belum mengerti tentang bagaimana caranya hidup sehingga terpaksa kalian berdua harus memberi sedikit petunjuknya."

"Tak usah khawatir nona."

Kakek berbaju perak itu tertawa.

"lohu berdua akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya"

"Asal empek berdua mau membantuku, titli pun merasa berlega hati, kebetulan aku mesti cepat-cepat pulang, terpaksa merepotkan kalian dulu..."

"Silahkan nona"

Dua orang kakek itu menjura dengan hormat. Perempuan itu mengangguk sambil membalikkan badan, mendadak ia berpaling sambil berkata lagi.

"Aaah, benar, Ada satu hal aku ingin minta bantuan dari lopek pula, tempo hari aku telah menyalahi Thi yan sianghui berdua lantaran aku tak tahu kalau mereka."

"Tak usah kuatir nona"

Kakek berbaju emas itu berkata.

"tempo hari nona kaget lantaran keteledoran lohu, untung nona selamat, di kemudian hari mereka tak akan berani mencari kesulitan lagi bagimu."

"Tapi aku merasa salah kepada mereka."

"Aaah, tak menjadi soal."

Kembali kakek berbaju perak itu tertawa.

"terhadap orang yang sudah kutung tangannya, kami ogah banyak bicara, apalagi perasaan mereka menjadi gampang tersinggung, oleh karenanya kami telah menyuruh mereka berdua berangkat ke suatu tempat dan beristirahat di sana."

Suruh dua orang yang gampang tersinggung beristirahat di suatu tempat, maksudnya sudah jelas sekali, yakni mereka dilenyapkan untuk selamanya dari muka bumi.

Walaupun Liu Yok siong tahu kalau nyawanya bakal selamat, tak urung kedua kakinya menggigil juga setelah mendengar pembicaraan mereka.

Ia sudah mengetahui identitas kedua orang kakek ini, tentu saja tahu pula bahwa mereka ada hubungannya dengan Thi yan sianghui.

Singa emas, naga perak, unta tembaga, walet besi.

Nama-nama tersebut cukup termasyhur sebagai empat tianglo perkumpulan Mo kau dimasa lalu..Waktu itu pengaruh maupun nama besar Mo kau ibaratnya matahari ditengah hari, jarang sekali orang bisa bertemu dengan ketua Mo kau, hanya ke empat orang tianglo itulah yang sering muncul di depan orang.

Mo kau sudah banyak membunuh orang di daratan Tionggoan, sebab mereka adalah organisasi yang datang dari luar, ingin menancapkan pengaruhnya di daratan Tionggoan, tentu saja usaha mereka mendapat tentangan yang kuat, apalagi tujuan serta cara kerja orang-orang Mo kau sangat bertentangan dengan prinsip prang Tionggoan.

Waktu itu Liu Yok siong masih muda, masih terhitung baru dalam dunia persilatan, sudah barang tentu masalah besar dalam dunia persilatan masih belum terpikir kepadanya.

Untung saja ia belum mendapat giliran, kalau tidak, mungkin sekarang sudah tiada Liu Yok siong lagi sebab untuk membendung gerak maju orang-orang Mo kau, banyak keluarga persilatan yang harus mengorbankan nyawanya.

Kekuatan maupun pengaruh Mo kau memang kelewat kuat, betapa pun besarnya korban yang telah berjatuhan, belum ada orang yang mampu membendung serbuan mereka.

Untung kejadian ini telah mengejutkan pihak Sin kiam san ceng yang amat termasyhur itu.

Di bawah desakan dan permintaan lima perguruan besar, akhirnya Cia sam sauya Cia Siau hong yang tiada tandingannya di kolong langit ikut serta dalam operasi pembasmian terhadap musuh-musuh Tionggoan.

Hanya pedang saktinya yang mampu menahan bacokan golok maut dari ketua Mo kau.

Para ketua dari lima partai besar atas anjuran dari Cia Siau hong melangsungkan pula pertempuran habis-habisan melawan orang Mo kau di puncak bukit Cia lian san.

Pertempuran yang amat seru itu tak sempat ditonton oleh Liu Yok siong, dia hanya mendengar orang lain bercerita, banyak orang yang bercerita dengan cerita yang berbeda pula.

Setiap perguruan selalu mengunggulkan ketua sendiri dalam pertarungan tersebut.

Masih untung semua membawa sepatah kata yang sama, yakni ilmu golok dari ketua Mo kau lihay sekali, andaikata Cia Siau hong tidak muncul tepat pada waktunya niscaya mereka semua sudah tewas di tangannya.

Jadi kalau dilihat dari balik cerita tersebut, tidak sulit bagi orang lain untuk mengambil kesimpulan bahwa kunci dari kemenangan dalam pertarungan ini bukan kegagahan dari para ciangbunjin tersebut, melainkan pedang sakti dari Cia Siau hong.

Tapi akhir cerita dari semua orang sama semua, ketua Mo kau akhirnya terjatuh ke dalam jurang yang dalamnya mencapai ribuan kaki dibukit Ci lian san dalam pertarungan tersebut.

Barang siapa terjatuh dari tempat yang demikian tingginya, siapapun tidak percaya kalau dia masih dapat hidup lebih jauh.

Sejak itu Mo kau punah dari dunia persilatan, namun ke lima ketua partai tidak ada yang merasa lega, sebab istri kaucu dari Mo kau dengan membawa putranya dan menantunya telah menyembunyikan diri disaat mereka melakukan pembersihan terhadap istana iblis, kedua orang perempuan itu tak berhasil ditemukan.

Operasi pembersihan terhadap istana iblis dilancarkan bersamaan waktunya, singa emas, naga perak dan walet besi dari istana iblis menderita luka yang amat parah dalam pertarungan berdarah tersebut, ia berhasil kabur kemudian karena diselamatkan oleh unta tembaga, satusatunya tianglo yang masih setia kepada Mo kau.

Selama tiga hari tiga malam semua orang melakukan pengejaran dan penggeledahan yang seksama di seluruh bukit, sayang bukit Ci lian san kelewat besar sedang kemampuan si Unta tembaga pun melebihi siapapun, akhirnya mereka kehilangan jejak Unta tembaga tersebut.

Namun semua orang tidak terlalu terlampau tegang, karena pada hari yang terakhir mereka telah menemukan majikan dari istana iblis yang semula diikat di punggung Unta tembaga, ditemukan dalam keadaan putus nyawa.

Selama banyak tahun belakangan ini, semua orang hampir melupakan soal istana iblis, tapi tiga orang tianglo yang berkhianat terhadap istana iblis masih tetap merasa kuatir.

Ada dua hal yang dikuatirkan mereka yakni.

Pertama, ketua Mo kau ternyata masih hidup bahkan ilmu silat yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, malah ada berapa macam sim-hoat tenaga dalam dari Mo kau, termasuk ilmu bangkit dari hidup yang paling rahasia pun berhasil dipelajari.

Dalam dunia persilatan waktu itu masih tersiar sepatah kata yang berbunyi demikian, barang siapa berani memusuhi Mo kau, kecuali kau memenggal batok kepalanya.

kalau tidak jangan harap kau bisa berharap ia lolos dari kematian.

Yang mereka kuatirkan sekarang adalah kemunculan dari kaucu mereka setelah lolos dari kematian.

Kedua, berhubung istri kaucu tak berhasil ditangkap, sedang dari pihak Mo kau pun masih ada sebagian anggota yang tetap setia dan turut lenyap tak berbekas, besar kemungkinan mereka akan muncul kembali dalam dunia persilatan.

Oleh sebab itu, selama banyak tahun para jago dari lima partai besar dan tiga orang tianglo dari Mo kau selalu berusaha untuk mencari sisa-sisa anggota Mo kau dan mencoba untuk membunuhnya.

ooo0ooo PERISTIWA itu berlangsung pada dua puluh tahun berselang, waktu itu Liu Yok siong tidak turut serta dalam usaha pembasmian mana, tapi paling tidak dia kenali kedua orang kakek ini sebagai si Singa emas dan naga perak.

Tentu saja sebelum itu ketika berada di pagoda Ang Bwe kek, merekapun menjumpai Thi yan sianghui suami istri dan menyaksikan kelihaian ilmu golok mereka, menjadi dua bagian sehingga dari Sui han sam yu tinggal dia Cing Siong seorang yang tetap hidup.

Cuma sayang si pohon siong hijau sekarang sudah tak mampu apa-apa lagi, bahkan sepucuk rumputpun tak akan memadahi.

Dari pembicaraan tadi, Liu Yok siong telah mendengar nasib yang menimpa walet besi suami istri, dia masih ingat dengan kata sesumbar mereka ketika masih berada di pagoda Ang Bwe khek dulu.

Setelah sebuah lengannya terpapas, mereka masih sempat mengancam semua jago yang hadir dalam ruangan, mereka masih mempunyai sebuah lengan yang masih bisa digunakan untuk membunuh semua tamu yang hadir di situ.

Sayang sekarang, untuk membunuh seorangpun mereka sudah tak mampu lagi.

ooo0ooo Thi yan siang hui adalah rekan mereka, sahabat senasib seperjuangan mereka dalam melepaskan diri dari belenggu Mo kau.

Tapi karena mereka sudah kehilangan sebuah lengannya.

Kehilangan sebuah lengan bukan berarti sudah cacad seluruhnya, mereka masih mempunyai sebuah lengan lagi dan nama mereka masih tercantum sebagai sepuluh tokoh paling top dalam dunia persilatan dewasa ini.

Tapi mereka toh akhirnya harus menerima hukuman yang setimpal.

Alasan hukuman tersebut bukan dikarenakan ilmu silat mereka tidak becus, yang paling penting lagi adalah perselisihan mereka dengan nona tersebut.

Singa emas maupun naga perak memiliki kedudukan yang tidak berada di bawah kedudukan ciangbunjin dari perguruan manapun dewasa ini, tapi...

apa sebabnya mereka bersikap begitu menghormat terhadap perempuan tersebut....?

Tentu saja, asal usul keluarga perempuan itupun cukup dibanggakan, sedemikian tingginya hingga dia tidak memandang sebelah matapun terhadap lima partai lainnya.

Tapi Liu Yok siongpun tahu, mereka dapat bersikap begitu menghormat kepada mereka, hal mana bukan cuma disebabkan asal usul keluarga belaka, diantara mereka tampaknya terdapat semacam hubungan yang luar biasa, demi menyelamatkan nona itu, mereka baru menghukum mati walet besi suami istri.

Terhadap orang sendiripun sikap mereka sudah begitu keji, apa lagi terhadap orang lain yang sama sekali tiada hubungan apa-apa dengan diri mereka.

Liu Yok siong lebih-lebih tak berani membayangkan.

Liu Yok siong, konon kau adalah seorang yang pintar?"

Tegur singa emas hambar.

Berapa tahun belakangan ini, Liu Yok siong sudah terbiasa hidup rendah diri, apa lagi dalam suasana begini dia lebih merasa lagi, sambil membungkukkan badan dan menjura dalam-dalam katanya.

"Tidak! Aku adalah seorang yang benar-benar sangat bodoh, biasanya hanya mengerjakan pekerjaan yang bodoh"

Naga perak tersenyum, katanya pula. Orang yang mengetahui kebodohan sendiri masih belum terhitung kelewat bodoh, manusia semacam ini masih bisa diobati, apakah kau kenal siapakah kami?"

"Boanpwe tidak kenal"

"Tentunya kaupun tidak kenal dengan nona bukan?"

Naga perak tertawa hambar.

"Nona? nona yang mana? Boanpwe tak pernah bersua dengan nona manapun..."

"Bagus!"

Ucap naga perak dengan puas.

"daya ingatan orang bodoh kurang baik, sering kali apa yang pernah terlihat segera terlupakan kembali, tapi apa yang lohu ucapkan sekarang harus kau ingat dengan sebaik-baiknya""

"Baik! Boanpwe pasti akan mengingatnya baik-baik"

Buru-buru Liu Yok siong pelan. Naga perak manggut-manggut.

""Baik! Ucapan lohu sederhana sekali, mudah diingat, kau tak pernah kemari, ke dua kau tak pernah bertemu orang, tiga enyah dari sini"

Tanpa berani berkentut barang sekalipun Liu Yok siong membalikkan badan dan segera berlalu dari situ.

Namun baru berjalan berapa langkah, kembali ia dibentak oleh serentetan suara bentakan yang amat nyaring.

"Berhenti, kembali!"

Bentak singa emas menggelegar. Dengan amat penurut sekali Liu Yok siong balik kembali ke tempat semula, tanyanya.

"Cianpwe masih ada petunjuk apa lagi?"

"Bagaimana caramu sampai di sini?"

Liu Yok siong agak sangsi sejenak, kemudian baru sahutnya.

"Beberapa orang temanku mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan empat belas pembunuh, maka boanpwe pergi mencari mereka."

Singa emas tertawa dingin.

"Heeehhh..... heehh.... heehh.... nasibmu benar-benar kelewat baik, karena sejak kini dalam dunia persilatan sudah tidak terdapat Lian im cap si sat lagi, maka kau masih bisa hidup lebih jauh, selanjutnya paling baik kalau kau kurangi bergaul dengan teman semacam ia, sebab ada kalanya teman yang kelewat banyak bisa mendatangkan kesialan bagi diri sendiri"

Liu Yok siong hanya bisa mengiakan berulang kali. Kembali singa emas berkata.

"Tetapi ada dua orang teman yang tak boleh kau lepaskan, kau harus sering kali berada bersama mereka, tahukah kau siapakah kedua orang itu?"

Liu Yok siong ingin sekali berlagak bodoh, tapi dia tahu tak ada gunanya, bila menunggu sampai pihak lawan yang mengingatkan, bisa jadi dia akan ketimpa sial, maka dari itu dengan sejujurnya dia menjawab.

"Boanpwe tahu"

"Siapakah kedua orang itu?"

Tampaknya pihak lawan masih merasa kuatir dan tidak senang.

"Mereka adalah dua orang sahabat karib yang dihadiahkan subo kepadaku ...... Singa emas segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh... haahhh... haahhh... kau memang cerdik sekali, tak heran kalau nona berpesan agar mengampuni selembar jiwamu, benar, dua orang sahabat itulah yang kumaksudkan, cuma Liu Yok siong Kedatanganmu kali ini justru meninggalkan mereka, sudah pasti mereka akan merasa tak senang hati, sekembalinya nanti banyak kesulitan yang bakal kau hadapi"

Suatu perasaan pedih dan menderita segera terlintas di atas wajah Liu Yok siong, sebenarnya ia seperti sudah melupakan pertanyaan itu, tapi setelah disinggung kembali, keadaannya ibarat anjing yang di ikat mulutnya terpijak pada ekornya, meski kesakitan tak mampu mengeluarkan sedikit suara pun.

Sambil tertawa kembali Singa emas berkata.

"Kalau kulihat raut wajahmu, sudah kuketahui kalau kau adalah seorang yang cukup bersahabat, hubunganmu dengan kedua orang sahabat tersebut pasti erat sekali"

Kalau bisa, ingin sekali Liu Yok siong menghajar hidung si singa emas dengan bogem mentahnya, namun diluaran dia tak berani bersikap demikian, malah ujarnya dengan sikap yang sangat menghormat.

"Budi kebaikan cianpwe berdua tak akan kulupakan untuk selamanya"

"Baik!"

Si Singa emas manggut-manggut "untuk kali ini lohu bersedia menanggung dirimu, sudah pasti kedua orang sahabatmu tak akan mendesakmu untuk menjawab kepergianmu tanpa pamit itu, cuma lain kali, bila kau berani melanggar sekali lagi, sudah pasti mereka tak akan mengampuni dirimu dengan begitu saja, apalagi bila penampilanmu cukup baik, bisa jadi mereka akan sangat menuruti perkataanmu, mengertikah kau akan ucapanku ini?"

Saat ini Liu Yok siong benar-benar merasa berterima kasih sekali, dia ingin maju dan memeluknya, lalu menciumi wajahnya yang berkeriput sebagai pernyataan rasa terima kasih.

Oleh sebab itu sahutnya cepat-cepat dengan amat menghormat.

"Terima kasih banyak cianpwe"

Siapa pun dapat mendengar, bahwa ucapannya kali ini diutarakan dengan perasaan terima kasih yang tulus.

ooo0ooo Alasan apakah yang membuat Liu Yok siong merasa begitu berterima kasih?

Kalau dibicarakan sesungguhnya sulit membuat orang percaya, dua orang sahabat yang dimaksudkan adalah Cun hoa dan Ciu gwat, dua orang gadis yang sanggup memeras lelaki hingga habis-habisan.

Ketika Liu Yok siong baru sampai di rumah, mereka sudah meluruk datang bagaikan segulung angin, memeluknya dengan mesrah dan menciumi wajahnya dengan hangat.

Kemudian yang satu membantunya melepaskan pakaian, sedang yang lain berbisik mesrah di telinganya.

"Orang mati, kemana sih selama beberapa hari ini? Mengapa tidak meninggalkan pesan apaapa hingga membuat kami kelabakan setengah mati?"

Kali ini, Liu Yok siong berani menjawab sambil membusungkan dada, katanya.

"Jangan ribut dulu, jangan ribut dulu, aku baru saja melakukan perjalanan selama seharian penuh, ambil sebaskom air hangat, aku mau mandi dulu, kemudian menyingkirlah kalian jauh-jauh, jangan merecoki aku terus, beri kesempatan kepadaku untuk tidur dengan nyenyak"

Dua orang gadis itu nampak tertegun, ke empat tangan mereka yang sudah diulurkan ke depan segera mencengkeram jalan darah Kwan ciat hiat di tubuh Liu Yok siong.

Bagaimana matangnya persiapan Liu Yok siong, toh tak urung jalan darahnya kena dicengkeram juga, dalam hal ini dia harus mengakui bahwa dua orang gadis tersebut memang mempunyai kemampuan yang hebat dalam menaklukkan kaum lelaki.

Buru-buru dia lantas berseru.

"Eeeh..... tunggu dulu, dalam sakuku terdapat sedikit oleh-oleh, ambillah oleh-oleh tersebut untuk kalian "

"Ooh, hitung-hitung kau masih punya liang sim juga, masih ingat dengan kami berdua"

Kata Cun Hoa tertawa.

Dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah singa kecil yang terbuat dari emas dan sebuah bulatan berwarna putih.

Bulatan putih sebesar kacang itu terbuat dari lilin, sekali pencet hancurlah lilinnya, dalam bungkusan lilin terdapat secarik kertas yang berisi beberapa tulisan.

Ketika selesai membaca tulisan itu, ia segera berseru sambil tertawa dingin.

"Heehh... heeeehh... heeeehh... hitung-hitung nasibmu masih mujur kali ini, tak kusangka kau akan dibelai oleh dia orang tua"

Seraya tertawa diapun melepaskan cengkeramannya dari tubuh lelaki tersebut. Sambil membusungkan dada Lin Yok siong segera berseru.

"Dia bilang, sejak hari ini kalian mesti menurut semua perkataanku ...."

Ciu Gwat tertawa.

"Kau adalah tuan rumah untuk rumah ini, sau hujin pun telah menghadiahkan kami kepadamu, bukankah selama ini kami selalu menuruti perkataanmu?"

"Tapi yang dimaksudkan dia orang tua bukan dalam hal ini, dia suruh kalian menuruti semua perkataanku"

Dia berpesan begitu?"

Tanya Cun Hoa sambil tertawa lebar.

"Tentu saja, kalau kurang percaya tanyalah sendiri kepadanya"

Tak usah ditanya lagi, dalam suratnya dia orang tua sudah menjelaskan amat terang, tapi agaknya tidak seperti apa yang kau katakan sekarang ...."

"Lantas apa yang ditulis dalam suratnya?"

Buru-buru Liu Yok siong bertanya.

"Dia bilang kami hanya mesti menuruti satu perkataanmu, yakni bila kau tak ingin ada orang menemaninya tidur, kami tak boleh memaksamu"

"Hanya sepatah kata saja?"

Cun Hoa segera menarik wajah seraya berseru.

"Meski-hanya sepatah kata, namun kau harus berterima kasih kepada langit dan bumi, kalau tidak, hmmm, hari ini kami akan menghajarmu habis-habisan. ingat, sejak kini kaupun hanya mempunyai hak tersebut saja. tapi kaupun mesti mengingat baik-baik, dalam hal lain kau tetap harus menuruti kami, bila berani membangkang, akan mengenaskan sekali pembalasannya"

"Aku hanya mempunyai hak ini saja?"

Hampir saja Liu Yok siong tidak percaya dengan apa yang didengar. Kembali Ciu Gwat menyahut ketus.

"Tentu saja, kedudukan si tua bangka itu tidak lebih tinggi dari pada kami, atas hak apakah dia berani memerintah kami? Dia sendiri hanya berhak untuk hal semacam itu saja"

Sebenarnya Liu Yok siong tidak percaya tapi ketika hal mana diteliti lebih mendalam, maka dia pun tidak merasa keheranan lagi.

Kalau gadis yang menjadi Giok Bu sia pun bisa membuat kedua orang tua bangka tersebut bersikap begitu menghormat, maka kalau kedua gadis ini mengatakan kalau kedudukan mereka setaraf dengan kedudukan singa emas dan Naga perak, ucapan tersebut bukan suatu yang kelewat aneh.

Sudah pasti diantara mereka terdapat sebuah tali tanpa wujud yang menghubungkan satu dengan lainnya hingga terwujud dalam suatu rangkaian hubungan yang misterius.

Mendadak Liu Yok siong merasakan ingin tahunya berkobar, dia ingin menyelidiki hubungan misterius tersebut, bila ia berhasil menemukan rahasia mana, sudah pasti rahasia tersebut merupakan suatu rahasia besar yang akan menggetarkan seluruh kolong langit.

Untuk menyelidiki rahasia tersebut, tentu saja Cun Hoa dan Ciu Gwat merupakan titik terang yang paling baik untuk memulai penyelidikan tersebut, kedudukan mereka seimbang dengan kedudukan Sings emas dan naga perak, hal ini menandakan kalau kedudukan mereka penting sekali.

Betul juga, Cun Hoa dan Ciu Gwat segera menyiapkan air panas dan mempersilahkan lelaki itu mandi sepuasnya, kemudian setelah mengenakan pakaian yang longgar secara diam-diam diapun menelan dua butir pil penambah tenaga yang disimpannya selama ini.

Obat mestika itu diperolehnya dari saku seorang Jay hoa cat (penjahat pemetik bunga), kendatipun merugikan badan namun sangat bermanfaat .....

Menurut pengalaman-pengalamannya di masa lampau, dia tahu orang hanya akan mengungkapkan rahasianya secara jujur bila mana mereka berada dalam keadaan paling gembira.

Untuk membuat mereka gembira, hal mana benar-benar merupakan suatu pekerjaan yang sangat membuang tenaga, tapi untuk mendapatkan rahasia tersebut, dia tidak ambil perduli lagi atas resiko yang harus di hadapinya nanti.

Ketika daya kerja obat perangsang itu mulai memperlihatkan kekuatannya, diapun berteriak.

Cun Hoa, Ciu Gwat masuklah kalian!"

Due orang gadis itu masuk bersama ke dalam, walaupun Liu Yok siong sedang duduk di atas pembaringan namun dia jelas berada dalam posisi dan kondisi macam apa.

"Naiklah, buat apa kalian mesti berlagak pilon?"

Seru Liu Yok siong kemudian sambil tertawa.

Diwaktu biasa, sekalipun ia tak berbicara mereka sudah akan menubruk ke atas ranjang, tapi hari ini keadaan mereka sangat aneh, kedua orang perempuan itu seperti telah berubah menjadi orang lain, sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan yang berada di hadapannya.

"Maaf Liu toaya, kami tak dapat melayanimu"

Ucap Ciu Gwat dengan nada ketus. Hampir tidak percaya Liu Yok siong dengan pendengaran sendiri. Cun Hoa berkata pula sambil tertawa dingin.

"Walaupun kau mempunyai hak untuk menampik permintaan kami, sayang kau tidak berhak menyuruh kami naik ke ranjang untuk melayani keinginanmu."

Perkataan dari Ciu Gwat berubah semakin dingin dan tak sedap didengar, lanjutnya.

"Dahulu kami memandang dirimu, maka kau bisa meraih keuntungan, siapa tahu lagakmu menjadi bertambah sok, kau anggap kami benar-benar membutuhkan pelayanan-mu?"

"Liu Yok song"

Seru Cun Hoa sambil menuding ujung hidungnya.

"kalau dilihat tindak tandukmu selama ini, koh nay-nay bersedia memberi muka kepadamu sudah merupakan suatu kemujuran yang luar biasa untukmu tak tahunya kau malah berani sok, hmmm "Dengan kelebihan yang dimiliki koh nay-nay, kami tak akan kuatir kekurangan lelaki, bagus sekali, sejak kini soal dinas kita berbicara dalam hal dinas, soal pribadi tak usah dipusingkan masing-masing pihak dan kitapun tidak usah saling mengusik pihak yang lain!"

Liu Yok siong tidak menyangka kalau mereka akan berbalik muka secepat itu, bahkan ucapan yang diutarakan mana blak-blakan, tajamnya melebihi pisau silet, kontan ia dibikin tertegun.

Selesai mendamprat, kedua orang perempuan itu membalikkan badan dan segera berlalu dari situ.

Liu Yok siong tak mampu menahan diri lagi, dia melompat turun dari pembaringan dan langsung menubruk ke belakang tubuh kedua orang perempuan itu.

Ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh bahkan karena posisinya yang kurang menguntungkan, berulang kali dia harus menahan diri karena dipermainkan orang.

Kalau di hadapan Ting Peng atau Cing Cing, dia masih bisa menerima cemoohan dengan begitu saja.

Di hadapan singa emas dan Naga perak, dia pun masih dapat berusaha keras menahan diri.

Tapi berada di hadapan kedua orang perempuan ini, dia tak tahan kalau mesti menerima cemoohan dengan begitu saja, apa lagi Liu toaya bukan seorang lelaki yang mandah dihina dengan begitu saja.

(Bersambung ke

Jilid 21)

Jilid .

21 GERAK geriknya selincah kelinci, caranya turun tangan seganas serigala, siapa tahu kedua orang perempuan itupun bukan manusia sembarangan, dikala ia menerjang tiba, sekali jumpalitan tahu-tahu mereka sudah berkelit dari terjangan orang.

Tanpa menggunakan banyak tenaga, tak lebih cuma memanfaatkan tenaga terkamannya, tahu-tahu Liu Yok siong sudah di bikin berubah posisi badannya dan jatuh, terjerembab diatas tanah.

Apa lacur pantatnya yang menghajar lantai terlebih dulu, kontan saja tubuh Liu Yok siong melengkung jadi satu dan bercucuran air matanya karena kesakitan.

Dalam keadaan seperti ini, rasa bencinya terhadap orang yang menghadiahkan obat perangsang tersebut kepadanya boleh dibilang telah mendarah daging, kalau bisa dia ingin mencincang tubuh bajingan tersebut menjadi berkeping-keping sebelum rasa mangkelnya dapat diatasi.

Dia benci karena obat tersebut demikian manjurnya, hingga sebelum pelampiasan terjadi, daya rangsang obatnya tak akan berakhir.

Kalau berada dihari-hari biasa, sekalipun terbanting ke tanahpun tak menjadi soal, tapi berada dalam situasi yang "kritis"

Seperti saat ini, sekalipun ada benda berat yang dijatuhkan ke tubuhnya pun akan berakibat kesakitan hebat, apalagi terbanting dalam keadaan sekeras itu .......

Liu Yok siong tidak sampai gila, tapi pada detik-detik tersebut akibatnya membuat dia seperti kehilangan nama.

Setelah diulas dan dipijit-pijit sekian lama, dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga menghilangkan rasa sakit tersebut, tapi seluruh tenaganya seperti lenyap tak berbekas, dia hanya bisa berbaring ditanah seperti anjing yang sedang ngos-ngosan.

Wajahnya telah dinodai oleh ingus dan air mata, namun dia tak mampu lagi menggunakan tenaganya untuk menyeka.

Tapi yang paling mengenaskan adalah daya kerja obat perangsang itu belum meluntur, hal ini membuat tubuhnya tetap panas dan dipergaruhi oleh napsu birahi.

lebih celaka lagi adalah kedua orang perempuan itu, mereka sama sekali tak memandang lagi ke arahnya kendati pun tubuhnya terbanting keras-keras ke tanah, bahkan mereka malah kembali ke kamarnya.

Kamar mereka terletak disebelah, begitu masuk ke dalam kamar mereka tidak menutup pintunya hingga Liu Yok siong masih dapat melihat mereka dengan jelas.

Tampak ke dua orang perempuan itu melepaskan semua pakaiannya, lalu saling berpelukan, setelah melakukan berapa adegan lesbian, katanya sambil tertawa jalang.

"Apa sih hebatnya lelaki? Hmmm, tanpa lelaki pun koh nay-nay masih tetap menemukan kegembiraan dan kepuasan"

Liu Yok siong merasakan suatu dorongan napsu yang amat besar membuat dia lantas menghimpun seluruh kekuatan yang dimilikinya, mengepal tinjunya keras-keras dan menghantam keras-keras ke bawah bagian "fital"

Nya yang dihantam keras-keras.

Pukulan mana nampaknya berat sekali dengan kekuatan yang amat luar biasa.

Kontan ia melolong kesakitan, sebegitu hebatnya rasa sakit tersebut membuat ia terbungkukbungkuk sambil memancarkan segenap isi perutnya .....

Pukulan mana benar-benar merupakan suatu pukulan yang sadis lagi brutal.

Liu Yok siong merasakan matanya berkunang-kunang lalu pingsan.

Ketika sadar kembali, dia menjumpai tubuhnya berbaring diranjang, badannya telah bersih, bagian yang lecet dan terluka pun telah dibalut.

Cun Hoa dan Ciu Gwat berada didepan pembaringan, Cun Hoa membawa sebuah cawan kecil sedang Ciu Gwat memayangnya bangun sambil berkata.

"Liu ya bangunlah, baru saja kami buatkan secawan jinsom, mumpung masih panas, ayolah diminum dulu!"

"Tak usah repot-repot, aku tak berani menerima pelayanan kalian berdua"

Tampik Liu Yok siong dingin. Cun Hoa mengambil sesendok kuah dan dihembus dulu agar dingin, lalu sambil di suapkan ke mulutnya, dia berkata sambil tertawa.

"Liu ya, maaf, kami hanya bergurau saja denganmu, sebentar bila kau telah sembuh, kami pasti akan menuruti semua perkataanmu, apapun yang kau kehendaki pasti akan kami sanggupi"

"Perintah siapa yang baru kalian terima?"

"Tak ada siapa-siapa, kami hanya berbicara menurut suara hati sanubari kami sendiri, kami telah mengetahui bahwa kau sesungguhnya adalah seorang manusia luar biasa"

""Kau bilang aku adalah seorang manusia yang amat luar biasa?"

Liu Yok siong menegaskan.

"Benar! Orang yang mampu bertindak keji sadis dan brutal terhadap diri sendiri, dia lah seorang manusia yang luar biasa"

Hampir saja Liu Yok Siong mengucurkan air matanya karena merasa amat terharu. Hanya Thian yang tahu, untuk mendapatkan predikat "luar biasa"

Tersebut, entah berapa banyak pengorbanan yang telah di keluarkan olehnya.

Hanya untuk mencapai tujuan tersebut, berulang kali dia harus menerima hinaan, cemoohan, cercaan bahkan penyiksaan lahir dan batin.

Tapi kesemuanya itu hanya dirasakan dan dipahami oleh dia seorang, orang lain tak akan mengetahui akan pengorbanannya itu.

Padahal apa yang dicari dengan semua pengorbanannya itu?

Apa pula di peroleh dengan semua pengorbanan yang telah dibayar kontan olehnya itu?

Tak lebih cuma predikat "luar biasa"

Benarkah dia seorang yang luar biasa? ooo0ooo PENYELIDIKAN SEBENARNYA Giok Bu sia itu seorang perempuan macam apa?"

Pertanyaan tersebut diajukan oleh Ting Peng.

Sekarang mereka malah berada diatas kereta, Cing Cing berbaring disisinya, sedang Siau Hiang dan Siau im duduk dihadapan mereka.

Ketika selesai mendengarkan penuturan Cing-Cing tentang pengalaman yang baru saja menimpa mereka, Ting Peng mengajukan pertanyaan tersebut.

Cing Cing tertawa, kemudian sahutnya.

"Dia adalah memang perempuan yang menarik, kau tak akan pernah menyangka kalau di dunia ini terdapat perempuan sedemikian menariknya, terutama sekali badannya"

"Lebih indah dari pada tubuhmu?" ************************* Halaman 11 -12 hilang ************************* hanya mungkin saja kedua orang itu kebetulan memiliki tahi lalat yang sama"

"Tentu saja hal ini mungkin cuma suatu kebetulan belaka"

Ting Peng tertawa.

"tapi kesempatan untuk suatu kejadian yang kebetulanpun tidak terlampau banyak"

"Kau menganggap dia adalah Giok Bu sia? "Aku tidak mengatakan demikian, tapi aku rasa kemungkinan besar dia adalah Giok Bu sia"

"Sudah pasti tak mungkin"

Cing-Cing segera menggeleng.

"Mengapa?"

"Karena dia jauh lebih cantik daripadaku."

Kembali Ting Peng tertawa.

"Cing-Cing, itu menurut penilaianmu, bukan penilaianku, di dalam benakku kau adalah jelmaan dari kecantikan dan kemuliaan, tiada orang kedua yang akan sanggup melebihi dirimu"

Agak memerah wajah Cing-Cing karena jengah, katanya kemudian.

"Long kun, kau hanya berbicara agar hatiku senang"

Ting Peng segera memeluknya dengan mesrah, kemudian diciumnya hangat, katanya tertawa.

"Cing-Cing, mungkin saja aku akan melakukan suatu perbuatan yang menyalahi dirimu, tapi tak akan membohongi dirimu, aku tidak tahu apakah perempuan itu adalah Giok Bu sia atau bukan, tapi sekali pun telah kujumpai Giok Bu sia, belum tentu aku akan menganggap dia lebih hebat daripada dirimu"

"Kalau sampai demikian, berarti sepasang matamu ada yang tak beres"

"Sekarang mataku beres dan normal, justru sepasang matamulah yang ada persoalannya"

"Sepasang mataku ada persoalan?"

Benar, cantik buruknya penilaianmu hanya berdasarkan pengamatanmu atas lahiriahnya saja, sedang aku hanya menilai dari isi hatinya, bila hati seorang perempuan amat jelek, kendatipun dia berwajah cantik, aku hanya akan melihat kejelekannya belaka.

Dengan perasaan berterima kasih Cing-Cing semakin merapatkan tubuhnya dengan ************************* Halaman 15 -16 hilang ************************* Cing Cing menghela napas panjang.

"Aaaai, tampaknya aku tak akan berhasil mengurungkan niatmu itu .....?"

"Benar, aku harus pergi melakukan penyelidikan, lalu membuktikannya .....! Kembali Cing Cing termenung berapa saat lamanya, kemudian dia baru berkata.

"Long kun, kendatipun kau berhasil membuktikan, kuharap kau jangan melukainya."

"Demi peristiwa penculikan terhadap dirimu aku tak akan mencelakainya, sebab Giok Bu sia juga tidak mencelakai dirimu namun seandainya aku berhasil menemukan kalau dia sudah melakukan kejahatan lainnya, aku tak akan mengampuninya dengan begitu saja"

""Bagaimanapun juga, dia hanya seorang gadis muda, tak mungkin dia sudah banyak melakukan kejahatan"

"Hal itu mah harus bisa diputuskan setelah diketahui perbuatan apa saja yang telah dilakukau olehnya"

"Dia sendiri toh punya bapak?" .

"Kalau begitu, dia lebih-lebih harus diberi hukuman, setelah mempunyai ayah seperti ini, segala tindak tanduknya harus berhati-hati, salah sedikit saja sudah pantas dijatuhi hukuman yang setimpal. ooo0ooo KERETA kuda itu berhenti ditengah sebuah persimpangan jalan. Cing-Cing dan Siau Im turun dari kereta sedang Siau Hiang tetap tinggal diatas kereta. Sambil melongokkan badannya dari balik kereta, Ting Peng berseru.

"Cing Cing, dari sini kalian boleh berangkat pulang, dan aku rasa tak mungkin ada mara bahaya lagi"

"Aku mengerti, akupun bukan seseorang yang mudah dipermainkan orang, tempo hari aku sudah teledor, maka selanjutnya aku pasti akan bertindak lebih berhati-hati"

Ting Peng segera manggut-manggut, kembali ujarnya.

"Cing Cing, aku harus minta maaf karena tak bisa melindungimu sepanjang hari, bahkan sebaliknya aku telah mendatangkan banyak ancaman bahaya bagimu"

Soal ini tak bisa menyalahkan kau, dalam kenyataan justru akulah yang telah memancing datangnya kesulitan untukmu karena golokmu ....."

"Dahulu, memang disebabkan golok ini, tapi sekarang disebabkan diriku, semua kesulitan yang ada sekarang semuanya terjadi dan ditujukan hanya padaku seorang"

Meski golok itu menakutkan, tapi bagaimanapun juga golok itu milikku.

Golok itu baru akan menakutkan bila dia berada ditangan seseorang yang menakutkan pula.

Walaupun golok bulan sabit adalah sebilah golok iblis yang mengerikan, tapi senjata tersebut baru akan memperlihatkan kekuatan yang luar biasa bila benda tersebut berada ditangan Ting Peng.

Kini Ting Peng sudah jauh melampaui kehebatan dari golok tersebut.

Bukan hanya Cing Cing yang tahu, setiap orang yang pernah merasakan kerugian Di ujung golok bulan sabit pada tahu, banyak orang merasa tidak tentram, mereka selalu mencari jejak dari golok iblis tersebut, tapi ketika Ting Peng muncul dengan membawa golok tersebut, mereka sudah melupakan goloknya, seluruh perhatian mereka terpaksa harus dipusatkan pada orang yang memegang golok tersebut.

Dahulu mereka selalu berusaha dan berdaya upaya untuk menghancurkan golok tersebut, sekarang mereka berdaya upaya untuk memusnahkan manusianya.

Sayang sekali, Ting Peng bukan seorang manusia yang mudah dipunahkan dengan begitu saja.

Sebab dia terlalu menyendiri, tiada orang yang dapat mengikat tali perhubungan dengannya, tiada orang yang sanggup mendekatinya.

Bila orang tak dapat mendekatinya, berarti banyak sekali rencana busuk yang tak sanggup digunakan.

Orang yang paling berbahaya seringkali akan muncul justru disisi tubuhnya, itu namanya musuh dalam selimut.

Ting Peng cukup memahami akan teori tersebut, maka dari itu dia hanya membawa Siau Hiang dan Ah ku berdua untuk mendampinginya.

Kedua orang itu semuanya merupakan orang-orang yang paling dipercayai olehnya.

Bila orang tak bisa mendekatinya dan mencelakainya, maka terpaksa mereka harus mengatur perangkap atau jebakan untuk mencelakainya, tapi inipun terlampau sukar, jebakan yang macam apapun tak akan sanggup menahan sebuah bacokan golok saktinya.

Ting Peng cukup memahami akan hal ini, orang lain lebih-lebih memahami akan hal tersebut.

Oleh sebab itu hingga kini, tiada orang yang berani mencoba-coba.

Memandang hingga Cing Cing dan Siau Im pergi jauh, Ting Peng baru berkata kepada Ah ku dengan suara tandas.

Sin kiam san ceng!"

Ah ku adalah seorang rekan yang baik, dia tak pernah berbicara, diapun tak akan bertanya, begitu perintah diturunkan, dia hanya tahu untuk melaksanakannya.

Tapi Siau Hiang merasa terperanjat sekali.

Kereta berjalan kencang membuat ruang seluruh kereta bergoncang keras, tak tahan dia bertanya.

"Kongcu, rupanya kau curiga kalau Giok Bu sia adalab Cia Siau giok dari perkam pungan Sin kiam san ceng, tapi bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?"

Ting Peng hanya tertawa tanpa menjawab, terpaksa Siau Hiang harus membungkan kembali.

Sebenarnya dia adalah seorang anak gadis yang menyenangkan, dia tahu kalau lelaki paling benci dengan perempuan yang banyak cingcong, walaupun sesungguhnya dia ingin sekali mengucapkan beberapa patah kata ........

ooo0ooo KERETA kuda yang megah dan mewah itu akhirnya berhenti di tepi sungai didepan perkampungan Sin kiam San ceng..

Berhubung kemunculannya sangat tiba-tiba, pihak perkampungan tak sempat melakukan persiapan apapun, maka kereta yang mewah itupun tak sempat dikirim ke tepi seberang"

Ting Peng tidak terlampau tergesa-gesa Ah Ku pun tidak kelewat terburu napsu, apalagi Siau Hiang, tentu saja ia tidak perlu gelisah, maka mereka pun menanti di dermaga dengan sikap yang amat tenang.

Agaknya mereka amat penyabar, tapi orang-orang dalam perkampungan Sin kiam san-ceng justru sudah kehilangan kesabarannya terutama sekali Cia Siau giok.

Untung saja dia tidak terlalu lama merasa gelisah, secara diam-diam Cia sian seng telah mendekatinya, lalu membisikan sesuatu ke sisi telinganya.

Raut wajah Cia Siau giok segera berubah agak lega, dia melangkah masuk ke dalam sebuah ruang rahasia, di dalam sana sudah menanti dua orang kakek.

Walaupun dibagian luar mereka kenakan jubah berwarna hitam, tapi secara lamat-lamat masih dapat menyaksikan pakaian berwarna emas atau perak dibaliknya..

Begitu Cia Siau giok masuk, dua orang kakek itu segera bangkit berdiri sambil menyapa.

"Nona, baik-baik kau"

"Empek Kim, Empek Gin, sewaktu datang tadi apakah kalian telah melihat kereta milik Ting Peng?"

Singa emas manggut-manggut.

"Yaa, sudah kulihat, padahal kami memang datang karena hal ini, ketika kami dengar kereta Ting Peng dilarikan ke arah sini, kamipun buru-buru menyusul kemari."

"Mungkinkah kemunculan Ting Peng secara tiba-tiba ini ada hubungannya dengan masalah Giok Bu sia?"

Cia Siau giok bertanya dengan kening berkerut. Naga Perak tertawa getir.

"Siapa yang tahu? Tapi kemungkinan kesitu memang besar sekali, karena belum lagi pulang ke rumah, ditengah jalan dia telah berpisah dengan Cing Cing dan langsung berangkat ke mari."

"Lantas darimana dia bisa tahu? Liu Yok siong memang pantas untuk mampus, tidak seharusnya kita biarkan dia tetap hidup didunia ini ........"

"Sudah pasti bukan Liu Yok siong yang membocorkan, sewaktu ia meninggalkan kami, ia selalu berada dalam pengawasan yang ketat, belum pernah ia berhubungan dengan orang luar"

"Lantas siapa yang bilang? Kecuali dia, tiada orang yang akan mengetahui akan rahasiaku ini?"

Bagaimanakah rahasia ini bisa bocor, lohu tidak tahu, tapi sudah pasti bukan Liu Yok siong, rasa bencinya terhadap Ting Peng jauh lebih mendalam dari pada siapa pun, tak mungkin dia akan memberi tahukan rahasia tersebut kepada Ting Peng"

Cia Siau giok menghela napas panjang.

"Tapi Ting Peng toh sudah datang!"

Keluhnya. Naga perak berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Apa maksud kedatanganya masih merupakan sebuah tanda tanya untuk kita, mungkin juga dia datang bukan dikarenakan persoalan dari Giok Bu sia."

Kecuali soal itu, dia tidak beralasan datang kemari"

Bantah Cia Siau giok.

Kedua orang kakek itu kembali terjerumus dalam lamunan masing-masing, selang berapa saat kemudian, si Naga perak baru berkata.

Kalau begitu, biar aku keluar dulu untuk mencari tahu maksud kedatangannya"

"Apa? Empek Gin, kau hendak pergi menjumpainya?"

"Benar, aku hendak pergi mencari tahu maksud tujuannya, akupun ingin mencoba permainan goloknya, aku ingin tahu benarkah dia mempunyai kemampuan yang tiada tandingannya di dunia ini"

Buru buru Singa emas berseru.

"Loji, tindakan tersebut kelewat bahaya""

Tidak menjadi soal"

Naga perak tertawa.

""aku dengar, dia amat ampuh dan berhasil melampaui setan tua di masa lampau, jika aku tidak pergi mencobanya, aku benar-benar merasa sukar untuk mempercayainya` "Soal itu tak perlu dicurigai lagi, buktinya Thi yan berdua toh kehilangan lengan mereka dalam sekali ayunan golok? Banyak orang yang membuktikan sendiri"

Naga perak segera tertawa dingin.

"Bukan aku mengibul, kalau cuma untuk mengutungi lengan Thi yan berdua mah kita berdua pun sanggup melakukannya"

"Empek Gin!"

Cia Siau giok segera berkata pula.

"sekalipun kau ingin berjumpa dengannya, toh tak usah memilih waktu seperti saat ini dan tempat semacam ini!"

Kala ini Naga perak tertawa.

"Justru dalam keadaan dan saat seperti inilah pertemuan lohu dengannya baru akan terasa bermanfaat, bila mana perlu serahkan saja semua tanggung jawab tersebut diatas tubuh lohu, untung saja hubungan lohu dengan nona tidak diketahui orang lain"

"Loji, bila kau bersikeras hendak ke sana akupun tidak bermaksud untuk menghalangi mu, tapi kau harus berhati-hati", pesan Singa emas kemudian.

"Aku tahu, orang yang kita kuatirkan bukanlah Ting Peng, melainkan kabar berita tentang setan tua itu, apalagi antara Ting Peng dengan kita tak punya dendam sakit hati apa-apa, agaknya dia masih belum tahu tentang persoalan si setan tua itu"

Selama ini dia selalu percaya kalau dia telah mengawini seorang istri rase"

Naga perak segera tertawa.

"Kalau begitu biarkanlah dia mempertahankan pendapatnya itu, kita pun tak usah membongkar rahasia tersebut, toh hal ini ada keuntungan tiada kerugian apa-apa, tempo hari dia tidak membunuh Thi yan suami istri, aku rasa hari inipun dia tak akan membunuhku, sebab orang yang paling dibenci oleh si setan tua itu adalah mereka berdua"

""Loji, pokoknya lebih baik kalau pertimbangkan lebih berhati-hati"

Ucap Singa emas cepat.

"bila kau rasakan musuh kelewat tangguh dan kau tak sanggup menghadapinya, lebih baik angkat kaki saja secepat-cepatnya"

Naga perak manggut-manggut dan berlalu, Singa emas berkata lagi.

"Aku pun harus pergi, aku ingin turut menyaksikan sampai dimanakah kehebatan permainan golok Ting Peng yang dikatakan tiada tandingannya itu"

"Empek Kim! ucap Cia Siau giok tertawa.

"tampaknya kau memperhatikan keselamatan empek Gin?"

"Yaa, kami adalah sahabat lama, tentu saja aku sangat menguatirkan keselamatannya"

Sebenarnya Cia Siau giok hendak berkata begini."

"Kalian dengan Thi yan suami istri pun merupakan sahabat lama, mengapa kalian begini tega membunuh mereka"?"

Tapi ucapan tersebut segera tertelan kembali setelah sampai diujung bibirnya.

Dia tahu dalam kelompok manusia tersebut dalam persoalan yang begitu banyak, sudah pasti terselip masalah budi dan dendam diantara mereka pribadi, masalah yang pelik semacam itu tak mungkin bisa dipahami oleh siapa saja kecuali mereka yang bersangkutan.

Tapi, peristiwa macam apapun bila sudah terungkap maka dunia persilatan akan menjadi gempar, tentu saja banyak manusia akan jatuh korban.

Tak usah jauh-jauh, Cia Siau giok sendiripun sudah merupakan sebuah teka-teki.

Dia adalah putri kandung dari sam sau-ya Cia Siau hong dari Sin kiam san ceng, perkampungan nomor satu dikolong langit dewasa ini.

Berhubung tiada penyangkalan dari Cia Siau hong pribadi, berhubung gadis itu selalu tinggal di perkampungan Sin kiam san ceng, seolah-olah hal ini sudan pasti.

Perkampungan Sin kiam san ceng merupakan perkampungan termashur yang dianggap umat persilatan sebagai tempat suci, tapi segala tindak tanduk majikan perempuannya justru penuh dengan hawa sesat.

Bukan cuma begitu, dia pun merupakan pentolan dari sekelompok pembunuh, dia adalah jelmaan dari perempuan lain yang bernama Giok Bu sia.

Selain itu dia mempunyai hubungan yang begitu akrab dengan Kim say dan Gin Liong dua orang tianglo dari Mo kau dimasa lalu...

Rahasia apakah yang sebenarnya berada dibalik semuanya itu?

Tiada orang yang bisa menjawab teka-teki tersebut.

Tapi di dunia ini tiada rahasia yang cepat atau lambat rahasia itu pasti akan terbongkar juga.

ooo0ooo MENAKLUKKAN NAGA TING PENG masih duduk dalam kereta.

Siau Hiang bersandar diatas kakinya bagaikan seekor kucing kecil yang mengenaskan.

Selamanya gadis ini mendatangkan perasaan menarik, lemah dan menawan bagi siapapun yang melihatnya, bagi lelaki mana pun juga, bila ada gadis semacam ini dalam pelukannya maka dia akan merasa seluruh dunia seolah-olah sudah menjadi miliknya.

Dia bukan seorang istri, bukan seorang kekasih, tapi asal ada dia berada disampingnya, lelaki manapun akan melupakan istrinya, melupakan kekasihnya karena gadis ini selain memberikan segala perasaan baginya.

Dia pun seorang perempuan, tapi ia dapat mencegah timbulnya napsu birahi dari kaum lelaki yang bisa dia berikan adalah kepuasan yang suci dan bersih.

Hanya ada dua macam lelaki yang bisa menaruh napsu birahi terhadap dirinya.

Pertama adalah lelaki paling kasar yang sama sekali tidak mengenal akan seni dan ketulusan perasaan.

Kedua adalah lelaki yaag kelewat eksentrik, setelah menerima kehalusan gadis ini masih tetap akan merasakan daya tariknva sebagai orang perempuan.

Tentu saja Ting Peng bukan lelaki kasar.

Tapi Ting Peng pun bukan seorang lelaki eksentrik, kendatipun demikian, disaat ia sedang memeluk tubuh Siau Hiang, ternyata muncul juga suatu perasaan yang aneh.

Perasaan aneh itu bukan dorongan napsu birahi, dia hanya ingin menelan janji gadis yang berbau harum dan bertubuh indah ini, kemudian memeluknya kencang-kencang dan mengendusi seluruh badannya, menikmati keharuman badannya.

Mungkin saja dalam keadaan demikian ia dapat melakukan tindakan selanjutnya tapi dalam keadaan sekarang, dalam hati kecilnya hanya mempunyai satu niatan.

Bagi pandangan orang lain mungkin dia cantik dan suci bersih, tapi calam pandangannya dia menawan hati.

Ting Peng memang seorang lelaki yang segera bertindak setelah berpikir, maka begitu ingatan mana melintas lewat, dia segera berseru dengan lantang.

"Ah Ku, putar kereta dan cari tempat untuk beritirahat, besi\ok kita baru datang lagi"

Sekarang belum lewat tengah hari, jaraknya hingga besok masih cukup lama, kalau toh besok baru datang, buat apa mesti menunggu disana lebih lama lagi?

Karena dari sini menuju ke kota yang terdekatpun paling tidak membutuhkan waktu selama satu jam.

Tapi Ah Ku memang seorang pembantu yang setia, dia hanya tahu melaksanakan perintah, selamanya tidak banyak bertanya.

Maka dia segera membalikkan keretanya dan bernagkat menuju ke arah jalan semula.

Dibawah kendalinya, keempat ekor kuda jempolan tersebut sudah teramat jinak dan penurut.

Binatang-binatang tersebut merupakan kuda jempolan pilihan yang setiap hari bisa menempuh seribu li, meski kurang leluasa dan terbiasa pada mulanya ketika dipakai untuk menghela kereta, tapi lama kelamaan mereka jadi terbiasa, bahkan bisa memberikan penampilan yang sangat bagus sekali.

Ketika binatang itu mulai bergerak ke depan, delapan kaki depan mereka diangkat bersamasama dan jatuh ke tanah bersama juga, hingga kereta bisa bergerak maju secepat terbang.

Bila keempat ekor kuda itu sudah mulai bergerak maju, sulitlah untuk mengehntikan kereta yang berat tersebut seketika.

Tapi baru seratus kaki mereka bergerak mendadak kereta itu berhenti sendiri.

Ah-ku tidak mengendalikan mereka, adalah kuda-kuda itu sendiri yang berhenti.

Sebab ditengah jalan telah berdiri seseorang.

Seorang manusia berbaju perak yang mengenakan topeng berwarna perak, dibawah topeng nampak jenggotnya yang berwarna putih, sehingga dari sini dapat diketahui kalau dia adalah seorang lelaki, seorang kakek.

Kuda-kuda tersebut sama sekali tidak terlatih untuk berhenti bila melihat manusia setelah ditemukan kusir yang berpengalaman macam Ah ku, latihan semacam itu sesungguhnya sama sekali tak berguna.

Bila ada orang ditengah jalan yang tak sempat menghindar, cambuk panjang Ah ku bisa mendahului terjangan kudanya untuk menggulung tubuh orang itu dan membawanya ke tepi jalan.

Ada suatu ketika, dihadapannya terdapat seorang kakek yang menunggang keledai, mungkin keledainva sedang mengambek dan mogok ditengah jalan.

Padahal kereta Ah ku sudah menerjang tiba, dia lantas bertindak dengan cambuk panjangnya menggulung orang berikut keledainya dan disingkirkan ke tepi jalan.

Alhasil orang dan keledainya selamat, tapi dua orang penonton ditepi jalan segera jatuh pingsan saking kagetnya.

Seandainya ada orang berusaha menghalangi jalan perginya, maka bila cambuk Ah ku menyambar, rintangan macam apapun akan segera tersingkirkan dari sana.

Tapi kakek itu sanggup membuat kuda jempolan yang sedang lari berhenti seketika, bahkan bisa memaksa cambuk Ah ku yang lihay tak berkutik sama sekali.

Dari sini dapat diketahui kalau orang tersebut memang luar biasa sekali.

Dia berdiri ditengah jalan tanpa berkutik tapi dari balik tubuhnya terpancar keluar kekuatan tanpa wujud yang menggidikkan hati, membuat siapapun tak berani mengusiknya.

Tangan Ting Peng masih membelai rambut Siau Hiang yang lembut, ini sudah menjadi kebiasaannya, kebiasaan selama berada dalam kereta.

Ketika kereta berhenti secara tiba-tiba, Siau Hiang mendongakkan kepala sambil memandang keluar, tiba-tiba ia menjerit kaget.

"Aaah, Gin liong tianglo"

Ting Peng masih membelai rambut si nona dengan tenang, katanya acuh tak acuh.

"Apakah Gin liong dari Mo kau dimasa lalu?"

Siau Hiang manggut-manggut. Kembali Ting Peng bertanya.

"Apakah Thi yan siang hui sekomplotan dengan mereka?"

Sekali lagi Siau Hiang mengangguk, bisiknya lirih.

"Dalam empat tianglo, dia menempati urutan kedua, jauh lebih hebat dari pada Thi yan suami istri"

Ting Peng tertawa.

"Kalau begitu mah tak usah dikagetkan, agaknya mereka semua telah berhianat kepada Mo kau?"

Kembali Siau hiang mengangguk.

"Benar, mereka dan Kim say tianglo telah berkomplotan secara diam-diam dengan pihak lima partai besar, menghianati perkumpulan dan menghancur lumatkan Mo kau, kalau tidak, kekuatan dan kekuasaan Mo kau tak akan musnah secepat ini"

"Benarkah tingkah laku Mo kau dimasa lampau sudah mencapai tingkatan sedemikian rupa sehingga disumpahi dan dikutuk setiap umat persilatan di dunia ini?"

"Soal ini .... budak tidak begitu jelas, tak berani berbicara seenaknya sendiri" `Tak menjadi soal, katakan saja, menurut pendapatmu bagaimanakah sikap mereka?"

"Sewaktu aku dilahirkan, Mo kau telah punah, maka aku sendiri kurang begitu jelas, tapi menurut apa yang kudengar dikemudian hari, segala perbuatan Mo kau memang dikutuk dan disumpahi orang"

"Kalau begitu penghianatan mereka toh termasuk suatu perbuatan yang tepat dan bijaksana?"

"Tapi menurut apa yang budak pahami kemudian, bukan demikian latar belakangnya, walaupun peraturan yang berlaku dalam Mo kau berbeda dengan peraturan di daratan Tionggoan, tapi merekapun mempunyai peraturan yang melarang setiap orang sembarangan membunuh"

"Kalau memang demikian, apa sebabnya perbuatan mereka sampai disumpahi dan dikutuk setiap orang?"

"Hal ini disebabkan kaucu dari Mo kau harus mempelajari semacam ilmu silat baru dan mengasingkan diri, maka semua urusan partai diserahkan kepada mereka untuk melaksanakannya, siapa tahu tindak tanduk mereka terkutuk seningga akibatnya merusak pamor Mo kau dan menjadi musuh umum umat persilatan, menanti kepandaian silat kaucu telah berhasil, mereka kuatir kaucu tak akan mengampuni dosa-dosa mereka, maka merekapun berhianat dan bersekongkol dengan pihak lima partai besar""

"Jadi kalau begitu, merekalah melakukan kejahatan tersebut ?"

Kata Ting Peng menegaskan.

"Begitulah menurut pengertian budak"

"Masa pihak lima partai tidak mengetahui akan hal ini?"

"Soal tersebut kurang begitu jelas, tapi yang pasti tiada orang luar yang tahu kalau kaucu kami hendak menutup diri, anggota Mo kau sendiripun jarang yang mengetahui rahasia tersebut, tapi mereka telah menjatuhkan semua tanggung jawabnya kepada kaucu hingga jadinya susah di bantah lagi oleh semua pihak"

Ting Peng manggut-manggut.

"Jadi para ciangbunjin dari lima partai besar telah meminta bantuan dari Cia siau hong sebelum berhasil memaksa Kaucu dari Mo kau terjatuh kebawah jurang bukit Ci-lian san?"

"Benar, seandainya bukan gara-gara Cia Siau hong, sekalipun cianghunjin dari lima partai bersatu padu pun belum tentu mampu menghadapi kelihayan dari kaucu"

"Tapi aku lihat Cia Siau hong adalah seorang yang mengutamakan soal cengli? "Cia tayhiap tidak tahu menahu tentang keadaan yang sebenarnya, sedang kaucu juga enggan memberi penjelasan"

"Mengapa dia enggan menerangkan hal yang sebenarnya?"

"Waktu itu dia belum tahu kalau dari empat orang kepercayaan ada tiga diantaranya telah berhianat, sekalipun ia merasa tak puas terhadap perbuatan mereka, toh kesalahan mana tak bisa dilimpahkan keatas kepala anak buahnya, dia adalah seorang yang tinggi hati"

Ooo0ooo BIASANYA orang yang tinggi hati adalah seorang yang berani bertanggung jawab.

Paras muka Ting Peng sekarang telah dilapisi oleh perasaan kagum dan menghormat yang tebal, sambil sambil membopong goloknya dia melompat turun dari atas kereta.

Ah ku yang duduk ditempat kusir tampaknya sudah dibikin keder oleh kewibawaan kakek itu, ia duduk tak berkutik.

Namun Ting Peng masih tetap bersikap santai dan tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan di depan matanya.

Dia cuma tertawa, lalu bertanya.

"Sudah kau dengar semua apa yang kami bicarakan sewaktu berada dalam kereta tadi?"

"Lohu belum tuli, telinga masih berfungsi seperti sedia kala!"

"Apakah penuturan Siau hiang barusan terdapat bagian-bagian yang rasanya kurang adil?"

"Persoalan dalam dunia persilatan sukar untuk ditimbang dengan masalah keadilan, bisa saja bagi lohu untuk mencari setumpuk alasan untuk membantah, tapi sayang sekali percekcokan hanya kerja kaum wanita, lohu tak sudi melakukannya"

"Bagus sekali, puas, sunggub memuaskan, kau memang tak malu disebut sebagai jagoan hebat"

Naga perak tertawa.

"Aku datang untuk mencoba kejantanan golokmu, selain itu juga ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, siapa yang mengajarkan ilmu golok tersebut? Sekarang dia berada dimana?"

Sebelum kau, Thi yan siang hui pernah menanyakan juga persoalan itu, setelah lengan mereka kutung, kedua orang itu masih rela menyerahkan nyawanya untuk ditukar dengan jawaban tersebut""

"Keadaan lohu berbeda sekali, tanganku masih utuh dan tetap segar bugar ....."

""Senjata apa yang kau pergunakan? sekarang sudah boleh persiapkan...!"

Kembali Naga perak tertawa.

"Tentu saja lohupun menggunakan golok, tapi golokku tak akan melebihi ditanganmu, lebih baik tak usah dicabut keluar, lohu akan mencoba kehebatanmu dengan tangan kosong saja"

Ting Peng akan menunggu sampai dia menyelesaikan perkataan itu, tahu goloknya telah dicabut keluar kemudian diayunkau ke muka.

"Menyaksikan datangnya sambaran golok tersebut, Naga perak masih tetap berdiri tak berkutik, menanti mata golok sudah satu kaki dihadapannya, ia baru memperlihatkan rasa ngeri bercampur takut, buru-buru tubuhnya mundur ke belakang. Ting Peng tidak mengejar, malah dia masukkan kembali goloknya ke dalam sarung dan balik kembali ke atas keretanya. Naga perak baru berhenti setelah mudur sejauh lima enam langkah, saat itulah dia berteriak.

"Sebuah bacokan golok yang amat cepat! Ketika menyelesaikan perkataan itu, batok kepalanya sudah terbelah menjadi dua bagian. Betul-betul sebuah bacokan yang cepat, bacokan yang menggidikan hati. ooo0ooo KERETA kuda sudah berangkat menelusuri jalan, singa emas masih menyembunyikan diri ditempat kegelapan terbungkam dalam seribu bahasa. Rupanys ia sudah dibikin ketakutan setengah mati. Cia Siau giok pun berada disampingnya pucat pias paras mukanya, dia sepergi lagi memikirkan suatu persoalan. Ia sedang berpikir, andaikata bacokan golok dari Ting Peng ditujukan ke tubuhnya apa yang harus dia lakukan. Dua orang itu sama-sama membungkam sama-sama tidak berbicara, lama, lama kemudian. Akhirnya Kim say tianglo baru sadar kembali dari lamunannya, dengan perasaan bergidik katanya.

"Sebuah bacokan maut, sebuah bacokan yang mengerikan hati ....."

Cia Siau giok tak dapat menyangkal, mereka hanya sempat menyaksikan Ting Peng mengayunkan goloknya.

tapi tak sempat melihat dengan pasti dari arah manakah bacokan golok tersebut berhasil membelah si Naga perak menjadi dua bagian.

Satu-satunya orang yang mengetahui hal ini dengan pasti mungkin hanya si Naga perak pribadi.

Setelah termakan bacokan itu, dia masih dapat mundur sejauh lima kaki, masih dapat mengutarakan perasaannya setelah termakan bacokan itu, sebelum tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.

Bacokan tersebut benar-benar merupakan sebuah bacokan kilat yang mengerikan.

Kini, kereta tersebut meluncur ke arah luar, paling tidak hari ini tak mungkin akan kembali lagi.

Sambil menghembuskan napas panjang, Cia Siau giok berkata.

"Untuk ke empat kalinya kusaksikan ia melepaskan bacokan mautnya, tapi sungguh mengherankan, tenaga dalamnya kali ini sepertinya jauh lebih sempurna dari beberapa hari berselang, sewaktu ia membacok Thi Yan siang hui tempo hari, aku masih dapat menyaksikan dengan jelas, tapi hari ini, bacokannya seperti tak berwujud lagi"

Kim say tianglo menghela napas panjang.

"Nona"

Katanya kemudian.

"untuk menghadapi Ting Peng, jelas kita sudah tak berdaya lagi untuk menghadapinya dengan cara kekerasan, kita semua bukan tandingannya, kita harus menghadapinya dengan menempuh cara lainnya"

Cia Siau giok tertawa getir tanpa mengucapkan sepatah katapun, gampang memang untuk berkata bahwa cara lain masih banyak, tapi ia telah mencoba dengan berbagai cara sampai boleh dibilang dia sudah kehabisan akal, namun tak sebuah pun yang pernah berhasil menandingi Ting Peng.

ooo0ooo TAPI dia harus mencarinya, bahkan harus mendapatkannya dengan cepat...

Sebab besok Ting Peng akan datang mencarinya lagi, bila ia telah datang besok kendatipun ia tidak mengirim perahu untuk menjemputnya, toh cara ini tak akan menghalangi kedatangannya disana.

Untung saja Ting Peng baru akan datang lagi besok pagi, berarti masih ada waktu selama semalaman suntuk baginya untuk berpikir.

Waktu selama semalaman bisa jadi akan merubah banyak persoalan, bahkan siapa tahu dalam malam tersebut dia berhasil menemukan suatu cara yang terbaik untuk menghadapi Ting Peng?

Waktu seringkali memang merupakan alasan terutama dari penyebab berubahnya segala sesuatu.

Seorang pemberani dapat berubah menjadi pengecut, seorang perempuan suci dapat berubah menjadi wanita jalang.

Banyak sekali jagoan yang tak terkalahkan, akhirnya roboh juga karena waktu.

Bahkan waktu dapat merubah sejarah, dapat pula menciptakan sejarah baru.

Itulah sebabnya ada banyak orang yang ************************* Halaman 49 -50 hilang ************************* pernah belajar silat namun mereka tidak terhitung hebat, bahkan Cia Siau Giok tidak membawa senjata tajam.

Padahal dalam perkampungan Sin kiam san-ceng terdapat dua ratus macam racun, dua ribu macam cara dan senjata untuk membunuh orang, terdapat pula puluh orang pembunuh yang paling termashur dalam dunia persilatan dewasa ini.

Akan tetapi Cia Siau giok tidak mempergunakannya semua, sebab Cia Siau giok mengerti, walaupun dia mempunyai dua ribu dua ratus dua puluh macam cara dan alat untuk membunuh orang kenyataannya tak semacam pun yang sanggup digunakan untuk membunuh Ting Peng.

Kini Ting Peng sudah naik keatas perahu, Cia Sian giok tidak menjalankan perahu tersebut ke arah perkampungan Sin kiam san-ceng sebaliknya pelan-pelan berlayar menelusuri sungai di depan perkampungan itu.

Sungai itu tidak terlampau lebar, kurang lebih setengah jam pun sudah cukup mengitari satu kali, itupun dijalankan amat lambat, kalau dijalankan cepat, dalam setengah jam saja paling tidak sudah berputar sebanyak empat lingkaran.

Cia Siau giok cuma berharap bila Ting Peng sedang berang dan meloloskan goloknya, hanya dia seorang yang terbacok mati, dia berharap pemuda itu jangan sampai menghancurkan perkampungan Sin kiam san ceng yang telah dibangunnya dengan susah payah itu.

Meskipun perkampungan Sin kiam san-ceng sudah ada semenjak dulu, bahkan selalu tersohor dalam dunia persilatan, namun tak pernah semegah dan secemerlang sekarang.

Dahulu, tempat itu hanya suatu tempat sebuah perkampungan, tapi sekarang entah seperti apa, tapi yang pasti tidak mirip perkampungan Sin kiam san ceng yang dulu.

ooo0ooo PERAHU itu berputar empat lingkaran di sungai, sudah dua jam dilalui, Ting Peng pun sudah menghabiskan beberapa kati artak, namun goloknya belum pernah dicabut.

Cia Siau giok tahu kalau nyawanya sudah tak bisa diselamatkan lagi..Hanya dia sendiripun tak tahu, mengapa Ting Peng belum juga membunuhnya.

Ting Peng naik keperahu dengan mengajak Ah ku dan Siau hiang.

Perahu itu terbagi menjadi dua tingkat, tingkat atas adalah ruang loteng, meja perjamuan diselenggarakan disitu, Ah ku duduk dibagian bawah.

Antara atas dan bawah sesungguhnya tidak jauh berbeda, semua peralatannya sama hanya tingkat atas jauhlebih tinggi letaknya.

Lagipula kalau dibilang bagian bawah sesungguhnya jauh lebih tinggi tingkatannya daripada tingkat atas, sebab setiap macam sayur yang keluar dari dapur pasti di tahan sebagian oleh Ah ku, bahkan harus dicicipi olehnya lebih dulu sebelum boleh diangkut ke atas.

Siau hiang menanti di anak tangga, dia yang menerima sayur tersebut dan menyampaikannya ke atas.

Bila sayur itu sudah melalui pemeriksaan dan pengawasan dari kedua orang itu, maka siapapun dilarang memegangnya lagi.

Untung saja Cia Siau giok tidak melakukan tindakan yang bodoh dalam sayur dan arak itu, dia hanya berharap bisa meredakan sebagian hawa amarah Ting Peng dengan sayur dari arak terbaik, mengurangi sedikit hawa membunuhnya, dengan demikian mungkin sekali selembar jiwanya dapat diselamatkan.

Sekarang, mungkin saja selembar jiwanya sudah dapat diselamatkan dari ujung tanduk.

la baru saja bersyukur, akan keberuntungannya, ketika Ting Peng membuka suara.

"Kemarin aku datang mencarimu, aku bermaksud membunuhmu"

"Aku mangerti"

Cia Siau giok mengangguk.

Dia hanya mampu mengucapkan dua patah kata itu saja, sesungguhnya ia bisa saja menjawab dengan beratus-ratus patah kata, malah mungkin jauh lebih enak di dengar daripada dua patah kata tersebut tapi akhirnya toh dia hanya menggunakan dua patah kata itu saja.

Dia tahu kata-kata manis, bujuk rayu macam apakah masih belum cukup untuk melindunginya, bila ingin menjawab sejujurnya, dua patah kata itulah merupakan kata-kata yang jujur.

"Tahukah kau apa sebabnya aku hendak membunuhmu?"

Kembali Ting Peng bertanya. Cia Siau giok berpikir sejenak, kembali dia mengangguk.

"Aku tahu!"

Jawaban inipun jawaban yang jujur, tapi justru mengandung banyak sekali latar belakangnya, juga termasuk pengakuannya bahwa dia adalah Giok Bu sia.

Ting Peng bukan seorang yang amat banyak bicara, dia suka dengan jawaban yang singkat, tandas dan jelas seperti ini, maka dia pun amat puas dengan jawaban tersebut.

Kembali ujarnya sambil tertawa.

""Hari ini aku kembali datang untuk membunuhmu"

""Aku tahu!"

Untuk sekian kalinya Cia Siau giok mengangguk.

"Tapi sekarang aku justru tak ingin membunuhmu"

Kata Ting Peng sambil tertawa.

"Terima kasih banyak Ting toako"

Cia Siau giok turut tertawa.

Jawabnya masih tetap enteng dan leluasa, seakan akan tidak terlampau merasa gembira karena baru saja berhasil menemukan kembali nyawanya.

Ting Peng sendiripun tidak merasa keheranan, ia bertanya lagi sambtl tertawa.

"Tahukah kau, mengapa aku tak ingin membunuhmu?"

"Cia Siau giok termenung sejenak, kemudian baru menjawab.

"Aku tahu"

"Kau benar-benar tahu!"

Kali ini Ting Peng merasa sedikit agak kaget bercampur tercengang. Yaa, aku benar benar tahu"

""Coba katakan!"

"Sebab pertama, Aku tidak mencelakaimu, tidak mencelakai pula binimu, kedua aku tidak mengacau dirimu lagi, tiga Aku sudah menyerahkan diri siap menerima kematian dan tidak memberikan perlawanan lagi. Keempat.... setiap jawaban yang kuberikan semuanya adalah jawaban yang sejujurnya, tidak dibuat-buat lagi.."

Ooo0ooo ALASAN YANG KE LIMA CIA SIAU GIOK telah menyebutkan empat macam alasan, setiap alasan sudah cukup memenuhi syarat untuk membebaskannya dari kematian, oleh sebab itu dia menjawab dengah penuh kepercayaan pada diri sendiri.

Walaupun Giok Bu sia telah menculik Cing cing, namun tak pernab mencelakainya, lagipula dia pun tak mengakibatkan Ting Peng menderita kerugian apa-apa, tentu saja Ting Peng pun tidak mempunyai keharusan untuk membunuhnya.

Dulu, meskipun Cia Siau giok pernah memasang perangkap untuk menjebak Ting Peng, namun hari ini dia bersikap sopan santun dan cukup tahu diri.

Meskipun Cia Siau Giok tahu Ting Peng hendak membunuhnya, namun dia tidak mempersiapkan perlawanan apapun, sebagai seorang pendekar besar seperti Ting Peng, tentu saja dia tak akan membunuh seorang gadis yang tidak melawan.

Setiap pertanyaan selalu dijawab Cia Siau giok dengan jujur, ia tak pernah membantah atau melakukan pembelaan terhadap setiap perbuatannya, berada dalam keadaan seperti ini, sanggupkah bagi Ting Peng untuk turun tangan?

Tapi Ting Peng toh menggeleng juga.

Kau keliru!?"

Ia berkata. Aku keliru?"

Cia Siau Giok tertegun. Ia seperti tidak percaya kalau Ting Peng masih mempunyai alasan yang ke lima. Sambil tertawa Ting Peng menjawab.

"Benar, kau keliru, aku hendak membunuhmu disebabkan satu alasan, aku tidak membunuhmu juga disebabkan satu alasan, tapi bukan alasan-alasan yang telah kau sebutkan tadi"

Lantas apa alasannya?"

Tak tahan Cia Siau giok bertanya.

"Karena kau adalah putrinya Cia Siau hong"

Itulah sebuah alasan yang sangat baik. Cia Siau giok termenung sejenak, kemudian baru berkata.

"Karena aku adalah putrinya Cia Siau hong, maka aku pantas mati""

"Putrinya Cia Siau hong tidak pantas mati, tapi putri Cia Siau hong yang melakukan perbuatanperbuatan itu pantas mati! Cia Siau hong adalah seorang pendekar besar yang dihormati setiap umat persilatan didunia ini, sebaliknya putrinya telah menjadi pemmpin dari sekelompok pembunuh bayaran, perbuatan semacam ini memang pantas dibunuh. Siapa pun tak dapat menyangkal kalau alasan tersebut merupakan suatu alasan yang tepat. Tapi Cia Siau giok tidak puas dia berseru. Ting toako, bila kau membunuhku karena alasan ini, maka aku benar-benar merasakan amat penasaran"

"Oya?". Dengan semangat yang menyala-nyala Cia Siau giok berkata lagi.

"Ayahku memang amat termashur, tapi ia menjadi termashur karena mengandalkan pedangnya itu"

Ucapan inipun tak dapat disangkal siapa pun, perkampungan Sin kiam san ceng memang menjadi tenar berkat kelihayan pedangnya. Cia Siau giok berkata lebih jauh.

"Pedang ayahku bisa menjadi tenar karena pedangnya sudah pernah membunuh banyak sekali jago pedang ternama, atau dengan perkataan lain, dia menjadi ternama karena membunuh orang, bahkan orang yang tewas diujung pedangnya belum tentu setiap orang mempunyai kesalahan yang pantas untuk dihukum mati"

Ting Peng hanya manggut-manggut, dia tak tahu bagaimana harus menjatuhkan perkataannya itu.

"Bila kau adalah musuh ayahku"

Kata Cia Siau giok lagi, demi membalas dendam baru membunuhku, alasan tersebut masih bisa diterima sebagai suatu alasan, tapi aku tahu kau bukan dikarenakan membalas dendam, kau ingin membunuhku karena aku adalah Giok Bu sia, padahal Giok Bu sia tak lebih hanya seorang manusia yang pernah membunuh sekelompok manusia, tidak jauh berbeda seperti ayahku membunuh orang.

mengapa kalau ayahku yang membunuh maka perbuatannya benar, sedang putrinya yang membunuh orang justru harus dijatuhi hukuman yang setimpal?"

Itu berbeda, sebah ayahmu belum pernah membunuh orang disebabkan karena upah sejumlah uang"

Lantas dia membunuh orang dikarenakan apa ?."

Ting Peng merasa tertegun dan tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut.

Yaa, Cia Siau hong pernah membunuh banyak sekali orang kenamaan, tapi karena apa?

Karena mempertahankan nama besarnya?

Mula-mula ia tak senang ada orang lebih ternama dari pada dirinya, ia mencari orang itu dan menantangnya untuk berduel, setelah pihak lawan roboh terbunuh, dia menjadi semakin tenar.

Lambat laun dia pun berjumpa dengan sekawanan manusia lain yang ternama, masing-masing tidak puas dengan kebolehan lawannya hingga terjadi pertarungan, ia berhasil membunuh lawan dan dia pun mendapat julukan sebagai jago pedang yang tiada bandingannya.

Sampai pada akhirnya, baru muncul manusia-manusia yang kalah tenarnya dari dia, mereka bermunculan dengan harapan bisa mengalahkan dia dan menjadi ternama, datang mencarinya, menantangnya berduel, tapi kenudian tewas di ujung pedangnya.

Entah berada dalam keadaan macam apa pun, sebagai alasannya hanya satu, yakni nama.

Maka dengan semangat yang menyala-nyala Cia Siau giok berkata lebih jauh.

"Ayahku membunuh orang karena nama sedang aku membunuh orang karena upah, aku rasa kedua hal tersebut sama sekali tak ada perbedaannya, bahkan aku menganggap diriku masih jauh dapat diampuni dari pada ayahku, aku membunuh karena upah, ada kalanya aku justru mendapat pesanan untuk membunuh sekawanan orang jahat, selain menguntungkan orang lain pun menguntung-kan diri sendiri, ada kalanya pihak lawan memang tidak terlalu jahat, aku hanya bisa merugikan orang tapi menguntungkan diri sendiri. sebaliknya ayahku yang membunuh orang, selalu merugikan orang, dia sendiri tak berhasil mendapatkan keuntungan apa2"

Ting Peng hanya bisa menghela napas.. Cia Siau giok berkata makin gencar.

"Aku tahu, perkataanku barusan hanya alasan yang terlalu dibuat-buat, belum tentu kau dapat menerimanya, tapi aku masih mempunysi satu hal yang bisa menunjang pendapatku ini, dari dulu sampai sekarang, belum pernah ada seorang manusia pun yang pernah mengajarkan kepadaku, bagaimana caranya menjadi putri, Cia Siau hong yang baik, termasuk ayahku sendiri juga tak pernah mengajarkan hal itu kepadaku. sedang aku jauh sebelum aku mengetahui asal usulku yang sebenarnya, sebelum datang ke perkampungan Sin kiam san ceng ini, aku telah menjadi Giok Bu sia, karena kehidupan tersebut merupakan gaya hidupku yang sesungguhnya"

"Dahulu, kau tidak tahu kalau kau adalah putrinya Cia Siau hong?"

"Benar, kalau tidak, akupun tak akan menjadi Giok Bu sia, walaupun aku tidak pintar, tapi aku tahu perananku sebagai Giok Bu sia dan putri Cia Siau hong adalah dua peranan yang bertentangan, dan ber peran sebagai putrinya Cia Siau hong harus bersikap jauh lebih baik dari pada sewaktu berperan sebagai Giok Bu sia, tapi sayang sekali aku justru telah menjadi Giok Bu sia lebih dulu, untuk menjadi seorang tuan putri yang bersih dan suci, aku harus melepaskan diri dari ikatanku dengan Lian im cap si sat."

Maka kau baru datang mencariku?"

Cia Siau giok segera tertawa.

Lian im cap si sat bukanlah lelaki dan perempuan yang baik, bukan suatu cara yang mudah untuk melepaskan diri dari belenggu mereka, kecuali pedang ayahku, hanya golokmu yang sanggup menolongku.

ayahku sudah pasti tak akan sudi melakukan pekerjaan bagiku, itulah sebabnya terpaksa aku datang mencarimu.

Sekarang, Ting Peng hendak menghela napas pun tak mampu lagi.

(Bersambung ke

Jilid 22)

Jilid . 22 AKU mengira perbuatanku itu cukup rahasia, siapa tahu toh akhirnya ketahuam juga olehmu"

Keluh Cia Siau giok, sewaktu kau datang mencariku, aku sudah tahu kalan kau tak akan melepaskan aku, sedang aku pun tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk melawanmu, terpaksa aku hanya menyerakkan diri untuk menerima kematian tapi aku pun harus membuat dudukuya persoalan menjadi jelas lebih dulu, bila kau membunuh aku demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran, tentu saja aku tak dapat berbicara apa-apa, karena orang yang melakukan perbuatan jahat mengatas namakan perbuatannya demi keadilan dan kebenaran pun tak sedikit jumlahnya, kalau dibiarkan bergilir ke bawah, akhirnya aku bakal terkena juga.

"Sudahlah, toh kau sudah melepaskan diri dari mereka, kecuali aku, mungkin tiada orang lagi yang tahu kau pernah menjadi Giok Bu sia, mulai sekarang aku hanya berharap kau bisa baik-baik menjadi Cia siocia mu itu!"

"Tidak, masih ada seorang lagi yang tahu"

"Siapa?"

"Liu Yok siong, waktu aku hendak meninggalkan perkampungan Lian im san ceng rahasia ini telah diketahui olehnya."

"Waaah, orang itu memang benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa, tak nyana dia pun dapat mencari sampai ketempat tinggalmu", ujar Ting Peng sambil tertawa.

"Dia adalah seorang manusia yang sangat berbahaya, ketika kuculik istrimu dan menyuruh kau membunuhnya, waktu itu aku tak punya alasan lain kecuali kurasakan bahwa kehadiran orang itu disisimu tak mungkin akan mendatangkan kebaikan apa-apa, aku tidak mengerti apa sebabnya kau tidak membunuhnya?"

Kembali Ting Peng tertawa.

"Ketika ia mengetahui rahasiamu itu ************************* Halaman 5 s/d 18 hilang ************************* Cia Siau giok tertawa.

"Ting toako, kau pernah berjumpa dengan ayahku, pernah pula bertanya sendiri kepadanya, apakah aku adalah putrinya atau bukan, dia toh tak pernah menyangkalnya bukan?"

Benar, dia nemang tak pernah manyangkal."

"Tapi dia belum pernah memberitahukan kepadamu, Ibuku itu seorang perempuan macam apa.?"

"Benar, dia tak pernah mengatakan tentang soal tersebut."

Sekali lagi Cia Siau giok tertawa.

"Jikalau ibuku adalah seorang yang pantas dihormati, seandainya mereka menikah secara terang-terangan, dia pasti akan memberi tahukan kesemuanya itu kepadamu. Terpaksa Ting Peng harus manggut-manggut, dia tak dapat menyangkal ucapan tersebut.

"Kalau toh dia malu menyebut tentang ibuku, tidak sudi memberi tahukan hal tersebut kepadamu, seharusnya kah kuberitahu kan hal ini kepada dirimu?"

Pernyataan tersebut segera membuat Ting Peng menjadi rikuh sendiri, dia seperti lagi menyelidiki rahasia pribadi orang lain saja, sehingga tanpa terasa wajahnya berubah menjadi merah.

Sambil tertawa kembali Cia Siau giok berkata.

"Mungkin aku tidak termasuk perempuan yang tahu aturan, tapi aku pun tidak bergaul asal bergaul, paling tidak aku selalu menggoda kaum pria tapi tidak membiarkan kaum pria menggodaku, kuakui aku memang ingin sekali menarik perhatianmu, maka aku selalu mengodamu, tapi aku rasa hal ini bukan sesuatu yang memalukan, aku tahu perempuan dalam dunia persilatan dewasa ini yang bersedia mempersembahkan tubuhnya kepadamu banyak sekali, asal kau manggutkan kepala, rasanya hampir setiap orang gadis mencoba bermesrahan denganmu"

Bila lelaki yang mendengar perkataan tersebut, mereka tentu akan merasa bangga dan gembira, tapi Ting Peng bukan lelaki sembarangan, ia tidak terpengaruh oleh ucapan tersebut, tapi ia tak dapat menyangkal dia memang senang mendengar perkataan semacam itu, paling tidak ia tak merasa jemu.

Untuk sesaat kedua orang itu sama-sama membungkam dalam seribu bahasa, lama kemudian Cia Siau giok baru berkata sambil tertawa.

"Aku sudah mencoba dengan banyak cara tapi aku selalu gagal, aku dapat merasakan kau bukannya seorang lelaki yang tak suka perempuan tapi kau kelewat mencintai istrimu sehingga daya tarikmu terhadap perempuan lain menjadi berkurang, itulah sebabnya aku jadi ingin sekali mengetahui macam apakah istrimu itu, benarkah dia seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan""

"Maka kau lantas menculik Cing cing?"

"Yaa, inilah alasan yang terutama, tentu saja usahaku untuk melepaskan diri dari Lian im cap si sat juga merupakan salah satu alasan hingga kupancing kedatanganmu disitu"

"Apa yang berhasil kau temukan"

Cia Siau giok tertawa.

"Kutemukan kalau istrimu menang seorang perempuan yang sangat menawan hati, aku memang tak mampu untuk melebihi dirinya, karena itu akupun lantas mengurungkan niatku untuk mencoba merampasmu dari dalam pelukannya""

Ting Peng tertawa.."Hei, rupanya kau tidak percaya?"

Tegur Cia Siau giok.

"Ucapanmu memang enak didengar, sekali pun dalam hatiku tak percaya, namun diluar toh aku tetap berharap bisa mendengarkan semacam itu banyak lagi"

"Sekarang kau toh sudah tahu kalau tahi lalat ditubuhku itu hanya tempetan belaka, jika aku ingin berbuat secara sembunyi-sembunyi dan takut di ketahui orang, tak nanti akan kuperlihatkan tahi lalat tersebut dihadapan enso. Dalam hal ini Ting Peng tak dapat membantah, dia memang tak perlu berbuat demikian.

"Justru karena aku memberitahukan kepadamu manusia macam apakah Giok Bu sia tersebut, maka aku baru berbuat demikian, agar kau lebih mudah menemukan diriku, walaupun aku tak ingin orang lain juga tahu kalau aku adalah Giok Bu sia, akan tetapi aku tak ingin mengelabuhi dirimu."

Ting Peng segera terjerumus dalam lamunannya, dia sedang mempertimbangkan benar salahnya ucapan tersebut. Kembali Cu Siau giok berkata.

"Sekarang aku telah membuang tahi lalat ditubuhku, tapi suruh pelayan-pelayanku memakai tahi lalat tersebut, hal ini kulakukan hanya bertujuan untuk menunjukkan kepadamu kalau aku bersungguh hati untuk mengungkapkan kesemuanya ini, aku tidak bermaksud mengatur segala sesuatunya itu hanya untuk membongongi dirimu saja. Akhirnya Ting Peng menghela napas panjang.

"Baiklah, sekarang kau sudah menerangkan segala sesuatunya, akupun telah melepaskan niatku untuk membunuhmu, diantara kita berdua rasanya sudah tak ada urusan lagi bukan?"

"Tidak bisa", seru Cia Siau giok sambil tertawa, aku masih membutuhkan bantuanmu, sekarang keadaanku sangat berbahaya kemarin, kau datang kemari dan aku tak berani menjumpaimu, karena baru saja aku menerima sepucuk gurat peringatan yang bernada ancaman, katanya Gin liong tianglo dari Mo kau hendak datang mencariku"

"Aku telah bertemu dengannya"

Aku tahu, dia datang kemari untuk menuntutkan keadilan bagi Thi yan siang hui akhirnya bertemu dengan kau ditengah jalan bahkan kemudian tewas diujung golok mu, Ting toako, setelah membunuh Gin liong tianglo, kau akan semakin tersohor"

Ting Peng tertawa hambar.

"Aku tidak merasa amat gembira, sebab bagaimanapun juga aku masih belum bisa menandingi ayahmu"

"Tapi ayahku sudah tidak mencampuri urusan keduniawian lagi"

"Disini letak kehebatan ayahmu dibandingkan aku, dia sudah sukses dan ternama, sekarang tinggal berpesiar dan hidup bahagia, tak ada orang yang akan mencari gara-gara lagi dengannya, dia seakan sudah melompat keluar dari lingkaran dunia persilatan, sedang aku? Kesulitankesulitan sedang mulai datang mencariku!"

"Itu pun bukan masalah, ilmu silatmu sekarang sudah tak selisih banyak dari ayahku, asal membunuh beberapa orang lagi, tentu kesulitan tersebut akan mereda dengan sendirinya"

"Persoalannya justru aku sudah tak dapat menemukan orang yang bisa kubunuh lagi"

Kata Ting Peng sambil tertawa hambar.

"empat tianglo dari Mo-kau boleh dibilang merupakan manusiamanusia yang disegani setiap orang, tapi kenyataannya Thi-yan mau pun Gin liong telah roboh binasa hanya dalam sekali bacokan saja, aku pun tak tahu baiknya membunuh siapa lagi sekarang, Siau giok, dapatkah kau mencarikan beberapa orang untukku . ."

"Ting toako, lagi-lagi kau mengajakku bergurau, bagaimana mungkin aku bisa mencarikan orang untuk kau bunuh?"

Karena kau bilang asal membunuh beberapa orang lagi maka kesulitan akan hilang dengan sendirinya.

"Maksudku, asal kau dapat membunuh beberapa orang yang lihay lagi, maka tak akan ada orang yang berani datang mencari gara-gara lagi denganmu ....."

"Aku mengerti, tapi kau justru tidak tahu masih ada manusia macam apa lagi didunia ini yang pantas kubunuh!"

Cia Siau giok berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Gin liong, Thi yan tak mampu menahan sebuah bacokan mu, dewasa ini dalam dunia persilatan memang sukar untuk dicarikan sasaran yang tepat bagimu untuk melatih ilmu golokmu itu, cuma aku toh dapat menemukan tiga orang lainnya, cuma ke tiga orang ini tidak gampang untuk dibunuh"

"Tak ada salahnya untuk kau sebutkan, aku bisa mencoba mereka semua..."

Cia Siau giok segera tertawa.

"Orang pertama tentu saja ayahku, sekarang sudah ada orang yang membandingkan golokmu sama hebatnya dengan pedangnya, jika kau berhasil membunuhnya maka di kolong langit hanya golokmu saja yang paling hebat, siapapun tak akan berani datang mencari gara-gara lagi denganmu"

Siau giok, kau bukan lagi bergurau"

Seru Ting Peng agak tercengang dan tidak habis mengerti.

"Tidak, walaupun dia adalah ayahku, tapi tak pernah mendidikku, juga tak pernah memelihara aku, diapun mau mengakui diriku karena terpaksa, dia tak pernah menyayangi aku, diantara kita boleh dibilang hambar sekali hubungannya, jika kalian berdua harus bertarung, aku lebih suka mendoakan kau yang menang dari pada mendoakan dia"

"Mengapa? Sebab paling tidak kau lebih erat hubungannya denganku, daripada hubu-ngannya dengan diriku"

Ucapan tersebut diutarakan cukup berterus terang membuat Ting Peng tak dapat membantah. Setelah menghela napas, Cia Siau giok berkata lagi.

"Walaupun demikian, namun aku tahu kalau kalian berdua tak bakal bertarung sendiri, sekalipun bukan bersahabat namun kalian adalah dua orang musuh yang saling menghormati lawannya, mungkin saja suatu ketika kalian akan bersua juga.. tapi kau tak akan membunuhnya dan dia pun tak akan membunuh mu!"

"Tampaknya kau sangat memahami keadaan kami berdua?"

"Bagaimanapun jua aku adalah putrinya Cia Siau hong, sekalipun tak dapat mewariskan ilmu pedang saktinya, namun aku toh cukup memahami manusia macam apakah bapakku itu!"

Ting Peng tak dapat menyangkal ucapan-nya itu dan hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Sedang tentang kau,walaupun pengertian-ku terhadapmu masih cetek, namun toh jauh lebih dalam bila dibandingkan orang lain"

Lanjut Cia Siau giok lebih jauh, kau adalah manusia sejenis dengan ayahku, itulah sebabnya aku baru menyinggung tentang persoalan ini, akupun tahu kalau hal ini tak mungkin terjadi, kalau tidak, bukankah aku akan menjadi seorang manusia yang paling berdosa, seorang anak tak berbakti yang menganjurkan orang lain untuk membunuh ayah sendiri."

Ting Peng segera tertawa.

"Coba kau katakan orang yang kedua, siapakah dia?"

"Orang kedua adalah binimu sendiri!"

"Siau giok, kau belum gila?"

Cia Siau giok tertawa.

"Aku belum gila, kaupun belum gila, enso adalah perempuan paling baik dan paling pintar di dunia ini, bila kau membunuhnya hal ini membuktikan kalau kau sudah gila, demikian gilanya hingga tak bisa membedakan mana yang harus dibunuh dan yang tidak, siapa pun tak akan menggunakan nyawa sendiri untuk barang taruhan bukan""

Ting Peng tertawa.

"Kau memang sangat pandai mengadu domba, sekarang coba kau sebutkan orang yang ke tiga, sebab dua orang yang pertama tak mungkin akan kubunuh"

"Orang yang ke tiga adalah kau sendiri"

Sambil berkata dia menuding ke arah Ting Peng, tapi justru karena itu pakaiannya kembali tersingkap"

Tapi Ting Peng sedang dibuat terkejut oleh perkataan itu, sehingga ia tidak terlalu memperhatikan ke sana. Sambil tertawa Cia Siau giok berkata lagi.

"Asal kau telah membunuh dirimu sendiri, maka kau tak usah kuatir orang lain datang mencari gara-gara denganmu lagi, kau pun tak akan mengalami kesulitan apapun"

"Ya, ucapanmu memang masuk diakal, sayang sekali aku masih belum ingin mati"

Aku pun tidak menginginkan kau mati"

Sambung Cia Siau giok cepat sambil tertawa.

Dengan suatu gerakan yang manis dia menyingkap pakaiannya, kali ini dia berhasil juga memancing perhatian Ting Peng, sepasang mata pemuda itu segera berapi-api.

Siau hiang tahu saat ini adalah saat baginya untuk mengundurkan diri, Cuma sebelum dia sempat turun dari loteng, ia sudah mendengar suara dua orang menggelinding di atas tanah.

ooo0ooo SEMUA Peristiwa yang terjadi seakan-akan berlangsung dengan wajar.

Dengan perasaan yang sangat puas Cia Siau giok menghela napas panjang, ia benar-benar merasa sangat puas, sambil membelai bahu Ting Peng, katanya pelan.

"Ting toako, sekarang aku baru mengerti mengapa enso begitu mencintai dirimu. Mengapa? tanya Ting Peng ogah-ogahan.

""Sebab kau begitu kuat, begitu perkasa, pada hakekatnya kau adalah lelaki diantara lelaki"

Ting Peng tertawa.

"Tapi dia justru bukan perempuan diantara perempuan, oleh sebab itu aku harus sering kali keluar, tujuannya adalah agar dia mendapat waktu cukup untuk beristirahat, setiap kali kami selesai bercinta, dia selalu mengeluh kesakitan selama beberapa hari.

"Aku pun dapat memahami akan hal ini"

Kata Cia Siau giok sambil tertawa, oleh sebab itu dia selalu membawa perempuan yang bernama Siau Im itu, tujuan pasti untuk menolong keadaan bila sudah kritis dan ia tak berdaya lagi.

"Dia bukan seorang perempuan yang kelewat sempit pikirannya"

Cia Siau giok menghela napas panjang.

"Aaaah, dia memang seorang perempuan yang berbahagia, karena dia memiliki jiwa yang besar dan bisa menerima keadaan, kalau aku tak mungkin bisa, sekalipun aku tahu kalau kau akan mencintaiku, tapi aku lebih baik mati saja, aku lebih suka mati dari pada membagi dirimu dengan orang lain."

"Siau giok, kau harus mengerti, aku adalah seorang lelaki yang telah berkeluarga", kata Ting Peng dengan kening berkerut. Cia Siau giok tertawa.

"Aku tahu. kau tak usah kuatir Ting toakxo, aku tak akan memaksa untuk mengawini aku, akupun tak akan sepanjang hari merengek kepadamu, aku hanya mengemukakan pikiranku sekarang, selama aku berada disampingmu, aku tak akan membiarkan perempuan lain menempeli dirimu, ketika kita tak berada bersama, aku tak akan ambil perduli, setiap saat kau boleh saja bermesraan dengan perempuan lain, dan aku tak akan memikirkannya didalam hati?"

Kau benar-benar tidak memikirkannya dalam hati?"

Bohong, tentu saja aku akan memperhatikannya terus"

Cia Siau giok tertawa cekikikan.

"aku adalah seorang yang mempunyai napsu besar, hanya dengan seseorang saja aku tak akan cemburu, orang itu adalah binimu sendiri, karena aku tidak berhak untuk merasa cemburu"

"Kecuali itu?"

"Aku tak akan membiarkan perempuan lain menempeli dirimu lagi, cuma aku pun tahu bukan suatu yang mudah untuk mencegah seorang lelaki tidak nyeleweng diluar rumah, oleh sebab itu aku hanya berharap kau jangan menggaet perempuan lain lagi selama berada didekatku, kalau tidak..."

"Kalau tidak kau dapat berbuat apa?"

Kalau tidak aku akan membunuh orang jika kau adalah lelaki lain, maka aku akan membunuh kalian berdua bersama-sama, tapi berhubung kau adalah Ting Peng, terpaksa aku hanya membunuh perempuan yang berada disampingmu saja"

"Apakah disebabkan kau tidak sanggup membunuhku?"

Mencorong sekilas cahaya tajam dari balik mata Cia Siau giok, kemudian ujarnya sedih.

"Ting toako, ucapanmu itu sungguh membuat hatiku sedih, walaupun aku bukan seorang gadis baik-baik, tapi sekarang aku berbicara dengan bersungguh hati, sekalipun aku bisa membunuhmu, akupun tak akan rela membunuhmu"

"Aku pernah juga mendengar perempuan lain mengucapkan kata-kata seperti itu, dia adalah perempuan pertama yang masuk ke dalam lembaran hidupku, tapi justru setelah dia mengucapkan kata-kata itu dia malah mendorongku kedalam sebuah perangkap yang hampir saja merenggut nyawaku..."

"Oooh, dia pastilah bini Liu Yok siong bernama Chin Ko cing itu?"

Kata Siau giok sambil tertawa.

"Waktu itu dia bernama Ko siau (menggelikan), dan ternyata dia memang melakukan suatu lelucon yang menggelikan"

Cia Siau giok kembali tertawa.

Sebetulnya dia telah salah memilih nama, semestinya ia tak cocok memilih nama Ko siau (menggelikan) semestinya bernama Ko pay (mengenaskan) baru cocok, perempuan yang rela melepaskan seorang lelaki macam kau justru adalah seorang perempuan yang mengenaskan sekali nasibnya"

Tiba-tiba ia tertawa lagi, kemudian melanjutkan.

Tapi hal ini pun tak bisa disalahkan, waktu itu kau pasti tak menyenangkan seperti sekarang, waktu itu kau memang masih kalah jaun kalau dibandingkan dengan Liu Yok siong."

Sambil membelai pipi Ting Peng terusnya.

"Bile waktu itu kau sudah matang seperti saat ini, tak mungkin kau akan memiliki kedudukan seperti hari ini"

Masa begitu serius?"

"Benar, bagi seorang perempuan yang benar-benar mengerti tentang lelaki, hal-hal semacam itu merupakan hal-hal yang mesti diperhatikan dengan seksama, sebab kelebihan yang dimiliki seorang lelaki sejati sesungguhnya merupakan suatu gengsi, dan gengsi semacam ini merupakan semangat bagi kaum lelaki untuk mencapai kesuksesan.

"Seandainya sejak dulu kau kenal dengan aku?"

"Aku pun akan merasakan kebodohanmu itu, mungkin aku akan merasa bahwa kebodohanmu itu sedikit menyenangkan, tapi aku tak akan bisa mencintaimu"

Tapi Cing Cing justru mencintai aku disaat aku paling sial, disaat aku paling mengenaskan keadaannya"

Cia Siau giok menghela napas panjang.

"Itulah sebabnya kukatakan kalau dia lebih berbahagia daripada aku, karena dia dapat merasakan cintanya sedari kau masih biasa dan tak punya apa-apa, sedang aku.."

"Kau tidak memiliki cinta suci seperti itu?"

"Benar, aku selalu diajarkan untuk hidup melalui keadaan yang tidak biasa, lama kelamaan akupun tak bisa merasakan lagi cinta yang tumbuh karena suatu kewajaran, aku hanya dapat mencari cintaku melalui keadaan yang tak wajar, tapi orang yang tak wajar biasanya sulit untuk ditemukan cinta yang lurus. Tidak Siau giok, kau keliru kata Ting Peng sambil menghela napas panjang.

""Aku keliru? Dalam hal yang bagaimana aku keliru? Ting toako, jika kau memahami kehidupan dan riwayatku dulu"

"Aku tak perlu memahami, tapi aku tahu kalau kau keliru, bahkan kekeliruanmu itu sudah amat kelewat batas, cinta hanya ada satu, tidak dibedakan pada manusia biasa atau manusia luar biasa, orang biasa atau manusia luar biasa hanya mempunyai suatu perasaan cinta yang sama, kau tak bisa mendapatkannya bukan karena orang-orang itu tidak mudah memberikan cinta yang sesungguhnya kepadamu.

"Mengapa? Apakah syarat-syarat yang kumiliki tidak cukup?"

"Tidak, syaratmu sudah cukup, kau cantik, pirtar, kaya bahkan berasal dari suatu keluarga persilatan yang termashur, hanya persoalannya semuanya itu cuma bisa mendatangkan cinta yang palsu, bujuk rayu yang kosong dan tak mungkin bisa memperoleh cinta yang murni.

"Lantas syarat apa yang kubutuhkan agar bisa memperoleh cinta yang murni?"

"Tiada syarat tertentu untuk mendapatkan cinta yang murni, bila kau tak dapat melepaskan syarat-syarat tersebut maka sepanjang hidup kau tak akan emperoleh cinta yang murni, disamping itu cinta yang murni hanya bisa diperoleh bila kaupun menukarnya dengan cinta yang murni juga, bila kau sendiri tak mau membayar dengan cinta yang murni, bagaimana mungkin bisa mengharapkan orang lain memberikan cintanya yang murni kepadamu?"

Untuk sesaat Cia Siau giok menjadi tertegun, ucapan tersebut beum pernah didengar sebelumnya, dia tak pernah berpikir sampai kesitu.

"Ayah seorang yang amat memandang tinggi soal cinta, pada hakekatnya dimana pun dia menyebar cintanya, akibatnya perempuan-perempuan itu ada yang membencinya sampai merasuk ketulang sum-sum, apa yang rela menerima penderitaan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ada pula yang menuntutnya habis-habisan tapi terlepas dari mereka yang membenci atau mencintai, yang dia peroleh semuanya adalah cinta yang murni sebab dia sendiripun membayar kesemuanya itu dengan cintanya yang murnipula dan disinilah terletak kebesarannya"

"Bukankah kau mengatakan cinta yang murni hanya ada satu? Bagaimana mungkin ia bisa mencintai perempuan sebanyak itu? "Meskipun cinta yang murni hanya satu bukan berarti hanya bisa dipersembahkan kepada seorang saja, ada sementara orang yang memiliki jiwa yang besar, terhadap setiap perempuan yang mencintainya, dia selalu membayar dengan cintanya yang murni pula, entah orang itu adalah bidadari dari kahyangan atau perempuan miskin dari lorong sempit, dia memandang mereka sebagai perempuan yang sama, cinta yang mereka terima pun cinta yang sama pula, dia tidak membedakan antara yang biasa dengan luar biasa"

"Yang beginikah yang disebut hebat? "Benar, berbicara soal ayahmu, dia sejak lahir sudah merupakan manucia luar biasa, tapi dia tidak mempunyai perasaan kalau dia ini luar biasa, ia toh bisa juga mempersembahkan cintanya yang murni untuk perempuan-perempuan yang biasa"

Cia Siau giok termenung berapa saat, selang berapa waktu kemudian dia baru bertanya.

"Ting toako, kalau kau sendiri, termasuk manusia macam apakah dirimu ini?"

Ting Peng menghela napas panjang.

"Aaaai, terus terang saja, aku tidak memiliki kebesaran jiwa seperti apa yang dimiliki ayahmu, tak bisa mencintai setiap perempuan yang mencintai diriku, istriku adalah seorang manusia yang luar biasa, cinta yang dia berikan kepadaku sudah terlampau banyak, terlampau murni dan berlebihan, sehingga sukar bagi diriku untuk menerima cinta yang diberikan seorang gadis biasa kepada diriku, kendatipun cinta yang diberikan gadis biasa itu kepadaku adalah cinta yang amat murni"

"Kalau begitu, apakah ayahku bisa menjadi demikian karena cinta yang diberikan gadis-gadis tersebut kepadanya kurang banyak murni dan kurang mencukupi kebutuham perasaannya? Atau karena ada sesuatu alasan yang lain?"

"Tidak! Justru cinta yang dia terima dari cinta gadis-gadis itu kelewat banyak, sedemikian banyak dan berlimpahnya sampai dia sendiripun tak sanggup menerima kesemuanya, sedemikian banyaknya sampai dia tak mampu untuk membalasnya satu persatu, itulah sebabnya dia pun hanya bisa membalas cinta yang bisa dia terima dan dia bisa rasakan..."

"Ting toako, aku belum dapat memahami arti dari perkataanmu ini.. ?"

Seru Cia Siau giok kemudian.

"Aku rasa kau tak akan mengerti, sebab kau sendiripun masih belum bisa menentukan kepada siapakah cintamu yang murni itu harus kau berikan ....?"

"Seandainya aku bilang aku telah menaruh cinta yang murni kepadamu, dapatkah kau mempercayainya?"

"Bila kau telah mengatakannya keluar, tentu saja aku tak akan percaya, cinta yang murni bukan hanya diucapkan dibibir saja, melainkan harus ditujukan dalam kenyataan, kenyataan yang didorong oleh suara hati yang murni""

Dia mengenakan pakaiannya siap berlalu.

Cia Siau giok tidak menahannya, karena dia mengerti apa pun yang dia katakan sekarang tak mungkin bisa menahannya untuk tetap tinggal disitu.

Walaupun ia telah mendapatkan lelaki ini, namun ia justru menemukan kalau jarak mereka sesungguhnya terpaut makin jauh.

ooo0ooo PENGEJARAN TING PENG telah duduk kembali dalam keretanya, Siau hiang masih tetap berbaring diatas lututnya, sedang Ah ku menjalankan keretanya tanpa tujuan.

Berhubung Ting Peng sewaktu naik kereta tadi hanya memberitahuican demikian kepada Ah ku.

"Terserah kemana pun akan pergi!"

"Terserah"

Berarti kemana pun boleh, asal bukan menuju kerumah. Tentu saja "terserah"

Bisa berarti"

Pula pulang ke rumah, tapi jika Ting Peng hendak pulang, dia akan mengatakan secara langsung dan terus terang.

Maka Ah ku menjalankan keretanya tanpa tujuan, tapi bukan menuju pulang.

Ah ku tidak pandai berbicara tapi dapat memahami apa yang dimaksudkan orang, justru karena dia tak pandai berbicara, dia baru mengerti apa yang tidak diucapkan orang lain kepadanya.

Maka Ah Ku menjalankan keretanya hanya berputar-putar disekitar tempat itu.

Tangan Ting Peng masih saja membelai rambut Siau hiang, cuma tangannya sudah makin bergerak turun, dari kepala ini berpindah ke atas tengkuknya.

Tengkuk gadis itu lembut halus, bersih dan menyenangkan, siapa saja yang membelai tengkuk tersebut pasti tak akan tega untuk membelai keras-keras, tapi Ting Peng seperti terkesima, dia mulai membelai keras-keras.

Pada mulanya Siau Hiang masih bisa menahan diri, tapi sampai akhirnya dia benar-benar tak tahan sehingga teriaknya.

"Kongcu, dapatkah kau berlaku lebih lembut?"

Suaranya amat memelas, yaa bila seorang nona cantik yang melakukan suatu gerakan maka gerakan apapun akan nampak menyenangkan, tapi Ting Peng tertawa terbahak-bahak.

"Kongcu, apa yang membuatmu kegelian? Siau hiang bertanya dengan wajah tercengang. Ting Peng masih terus tertawa.

"Aku masih mengira kau sudah tidak berperasaan lagi, rupanya kau pun masih tahu sakit!"

"Selama ini budak selalu bersikap normal, adalah kongcu sendiri yang nampaknya gugup dan tidak tenang.

"Tadi kau anggap aku sengaja membuatmu sakit hanya disebabkan oleh suatu tindakan khilaf?"

"Memangnya bukan?` Sambil tersenyum Ting Peng menggeleng-kan kepalanya berulang kali.

"Tentu saja bukan!"

"Kalau begitu kongcu sengaja berbuat begitu?"

"Benar!"

Didalam hal apakah budak telah menyalahi kongcu? tanya Siau hiang dengan gugup.. Kau sedang menggerutuku didalam hati!"

Siau hiang menjadi tertegun, selang berapa saat kemudian ia baru berkata lagi.

"Kongcu, masa kau sampai menembusi hatiku?"

"Apakah kau tidak percaya?"

"Tentu saja tidak percaya!"

"Dalam hati kau sedang menggerutu kepadaku sebagai lelaki yang tak tahu budi, gara-gara Cia Siau giok aku telah melupakan Cing cing dengan begitu saja!"

"Budak tak berani berpendapat demikian, dalam kenyataan kongcu mempunyai perasaan cinta yang amat dalam terhadap nona, bahkan selalu memikirkannya."

Ting Peng segera tertawa.

"Kalau memang begitu, mengapa sejak naik ke dalam kereta kau selalu saja bermuram durja, seakan-akan ada sesuatu persoalan yang mengganjal dalam hatimu!"

Siau hiang berpikir sebentar, kemudian baru menjawab.

"Budak sedang kuatir!"

"Apa yang kau kuairkan.."

"Kuatir kongcu tidak kembali ke kota Hang ciu!"

Kembali Ting Peng tertawa. Rumahku berada di kota Hang ciu, tentu saja aku harus pulang ke situ .. ...

"Tapi nampaknya kongcu seperti belum berniat untuk pulang ke rumah ...."

Benar, urusanku diluar memang belum selesai. Agaknya kongcu seperti ada rencana untuk balik lagi ke perkampungan Sin kiam san ceng?"

Siau hiang berkata lagi.

Ting Peng tertawa.

Perkampungan Sin kiam san ceng bukan rumahku, tak bisa dikatakan kalau aku pulang ke situ, lebih cocok untuk dikatakan sebagai suara kunjungan.

Kongcu bermaksud akan melakukan kunjungan lagi?"

Benar, kalau diluar sana tiada suatu kejadian yang lebih segar, setelah berputar-putar kita harus berkunjung sekali lagi ke situ."

Nona Cia memang seorang gadis yang cantik dan amat menawan hati!"

Ucapanmu memang tepat sekali"

Ujar Ting Peng sambil tertawa.

"cuma tidak bisa dibilang suatu penemuan baru, sebelum kau, paling tidak sudah ada selaksa orang yang berkata demikian!"

"Tapi ke selaksa orang itu tak bakal bicara dengan maksud dan perasaan seperti aku sekarang!"

Ting Peng tidak bertanya apakah maksudnya dan bagaimanakah perasaannya, dia seperti telah memahami akan hal tersebut, tanyanya sambil tertawa.

"Hanya dikarenakan aku hendak kembali lagi ke perkampungan Sin kiam san ceng, maka kau berpendapat demikian?"

Benar, karena kau sudah tidak mempunyai alasan untuk harus pergi ke sana"

Kembali Ting Peng tertawa.

Siau hiang, kau tidak bisa dianggap seorang gadis yang amat cerdik, Cing Cing suruh kau mendampingi ku karena dia mengharapkan kau selalu menegurku dan memperingatkan kepadaku tentang segala macam tipu muslihat dalam dunia parsilatan, daripada aku menderita kerugian di tangan mereka.

"Aku tahu tugas ini terlalu berat"

Seru Siau hiang cepat.

"apalagi cara kerjaku kurang baik, tapi aku telah mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki, oleh sebab itulah aku berharap kongcu jangan berkunjung lagi ke situ!"

"Kau anggap perkampungan Sin kiam san ceng penuh dengan tipu muslihat...?"

"Bahkan orang yang paling bodoh pun dapat melihat akan hal ini, seluruh perkampungan Sin kiam san ceng penuh dengan tipu muslihat, bahkan Cia Siau giok itu sendiri juga rada ada persoalan, aku sangat curiga kalau dia bukan putri Cia tayhiap!"

"Dia tak mungkin ada pcrsoalan!"

Siau hiang seperti hendak mengucapkan sesuatu lagi, niat tersebut kemudian diurungkan, sudah jelas dia tak setuju dengan perkataan tersebut. Kembali Ting Peng melanjutkan.

"Kecuali she Cia, dia dengan pihak Sin kiam san ceng seakan-akan sama sekali tidak mempunyai persamaan apa-apa, tingkah lakunya juga tidak mirip dengan perilaku orang-orang keluarga Cia, tapi tak bisa di sangkal lagi dia benar-benar adalah putri nya Cia Siau hong!"

"Putri dari Cia tayhiap, belum tentu mesti seorang yang baik"

Kata Siau hiang cepat. Ting Peng segera tergelak.

"Cia Siau hong sendiripun belum tentu terhitung seorang malaikat yang suci bersih, apa lagi putrinya"

"Tapi kongcu mengatakan dia tak bakal ada persoalan!"

Kata Siau hiang sambil mencibirkan bibirnya.

"Tentu saja dia tak bakal ada persoalan! karena dia adalah putri Cia Siau hong, kalau dia ada persoalan berarti Cia siau hong juga ada persoalan, paling tidak bukan kita yang harus menyelesaikan persoalannya itu. ."

"Dapatkah Cia tayhiap untuk menyelesai-kannya?` "Aku rasa sudah pasti bisa, bagaimana pun juga Cia Siau hong tetap adalah Cia Siau hong!"

Tapi Siau hiang tidak setuju dengan pandangan tersebut, katanya dengan cepat.

"Mengapa dia tidak segera melakukan suatu panyelesaia"

Ting Peng tertawa.

"Jadi kau menganggap ditubuh Cia Siau giok ada persoalan?"

Tanyanya kemudian. Tentu saja, dia adalah penyaruan dari Giok Bu sia, pemimpin dari Lian im cap si sat seng, disinilah letak persoalannya"

Tapi persoalan itu toh sudah selesai, Lian im cap si sat seng telah punah, Giok Bu sia juga sudah tiada wujudnya lagi!"

Tapi ditubuhnya masih tetap ada persoalan, menurut pandanganku, seluruh perkampungan Sin kiam san ceng ada persoalannya semua!"

""Setengah harian sudah kau berbicara, hanya sepatah kata ini saja yang paling pintar"

Puji Ting Peng tiba-tiba sambil tertawa"

Siau hiang membelalakkan matanya lebar-lebar sambil bertanya.

"Jadi kongcu pun sudah tahu kalau perkampungan Sin kiam san ceng ada sesuatu yang tak beres?"

Ting Peng tertawa tergelak.

"Aku toh bukan orang yang paling bodoh!"

Siau hiang turut tertawa pula.

"Aku malah mengira kongcu telah terpikat oleh Cia Siau giok. Kau toh sudah mengetahui lakuku ?"

Ting Peng berkata sambil tersenyum"

Siau hiang manggut-manggut. Yaa, benar!"

Ting Peng tidak tertawa lagi, dengan wajah berubah amat serius dia berkata lebih jauh. Aku sudah pernah terpikat satu kali oleh perempuan, pernah tertipu satu kali"

Di dalam peristiwa tersebut kongcu tak bisa disalahkan, sebab Liu Yok siong sekalian yang telah mengatur semua rencananya dengan amat teliti dan sempurna, sedangkan kongcu hanya seorang pemuda ingusan yang baru terjun ke dalam dunia persilatan"..

Bagaimanapun juga, toh tetap tertipu"

Kata Ting Peng sambil menggeleng.

"pertama kali aku tertipu karena dibodohi orang, kalau kedua kalinya sampai tertipu lagi maka akulah yang bodoh, padahal aku bukan orang bodoh"

Mengapa kongcu hendak mengunjungi perkampungan Sin kiam san ceng lagi. .?"

"Cia Siau giok telah merubah perkam-pungan Sin kiam san ceng menjadi lebih bergaya dan lebih berwibawa!"

"Orang yang paling termashur dalam perkampungan Sin kiam san ceng adalah Cia Siau hong, tapi sewaktu Cia Siau hong masih menjadi majikan, belum pernah dia memperlihatkan gaya semacam ini"

"Hal tersebut dikarenakan dia jarang berada di rumah, lagi pula tidak terlalu suka akan segala yang berlebihan"

"Tentu saja dia pun bukan seseorang yang punya uang banyak"

Sambung Ting Peng sambil tertawa.

"Tentu saja bukan, dia telah mengasingkan diri sekian waktu, sewaktu masih bekerja dulu masih bisa untung beberapa tail perak, kemudian sering dia tak beruang, untung saja dia kelewat ternama sehingga ke mana pun dia tak perlu menggunakan uang, oleh sebab itu diapun tak pernah berpikir untuk mengejar uang, tentu saja dari perkam-pungan Sin kiam san ceng sendiri masih ada sedikit pemasukan, tapi jumlahnya tidak banyak, hanya cukup untuk menghidupi beberapa orang pembantu dalam gedung tersebut. Tak tahan Ting Peng menghela napas.

"Itulah, sebabnya uang yang ada didalam perkampungan Sin kiam san ceng sekarang bukan uang dari keluarga Cia sendiri!"

Katanya.

"Yang aneh adalah orang persilatan tak seorang pun yang menaruh curiga terhadap persoalan ini, semua orang terlampau menaruh hormat kepada Cia tayhiap, terhadap perkampungan Sin kiam san ceng juga di anggap sebagai tempat suci, oleh sebab itu mereka semua beranggapan perkampungan dalam bentuk sekarang barulah bentuk Sin kiam san ceng yang paling pantas, jika dahulu mereka pernah berkunjung ke Sin kiam san Ceng, mungkin mereka malah tidak akan percaya dibuatnya. Sambil tertawa Ting Peng bertanya. Pengetahuan begitu luas, tahukah kau dari mana datangnya uang dalam perkampungan Sin kiam san ceng? Mengapa bisa begitu mewah dan hidup berkelebihan? Aku tidak tahu, tapi sejak nona Cia datang kesitu, keadaan Sin kiam san ceng memang sama sekali berubah, cuma nona Cia tidak membawa uang sepeserpun sewaktu datang ke situ!"

"Lantas dari manakah datangnya uang dalam perkampungan Sin kiam san ceng itu? Pertanyaan ini bukan saja tak ada yang menanyakan, mungkin juga tiada orang yang dapat menjawab.

"Seandainya persoalan ini kutanyakan kepada Cia Siau giok, dapatkah ia memberi jawaban kepadaku?"

"Kebanyakan bisa, sahut Siau hiang sambil tertawa, cuma jawaban yang dia berikan itu meski kedengarannya amat masuk diakal belum tentu merupakan kenyataan!""

"Bagaimana caranya untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya?"

"Terpaksa harus dicari sendiri!"

"Ke mana untuk mencarinya?"

""Tentu saja ke perkampungan Sin kiam san ceng!"

"Sekarang kau masih ingin bertanya apa kepadaku?"

"Tidak ada, budak hanya tahu apa sebabnya kongcu kembali ke situ lagi, dan kini hatiku sudah lega"

Dia lantas melongokkan kepalanya sambil memberi tanda kepada Ah ku, kereta di putar balik dan arahnya menuju ke perkampungan Sin kiam san ceng, sementara sekulum senyuman menghiasi wajah gadis itu, senyum yang nampak manis sekali.

ooo0ooo KERETA kuda itu telah balik ke dermaga tempat penyeberangan perkampungan Sin kiam san ceng, kini mereka sedang menunggu datangnya perahu penyeberangan tersebut, lama kemudian perahu penyeberang itu baru muncul, ternyata yang turun dari perahu adalah Cia sianseng.

Begitu turun dari perahu, dia lantas menjura ke arah kereta seraya berkata.

"Maaf Ting tayhiap, kami tidak tahu kalau kau telah berkunjung kembali ke perkam-pungan kami sehingga datang agak terlambat!"

Siau hiang melongokkan kepalanya dan menyahut sambil tertawa.

"Aaaah, tidak menjadi soal, adalah kedatangan kami yang terlalu mendadak, harap Cia sianseng tak usah sungkan-sungkan!"

Ah-ku telah menjalankan keretanya naik keatas perahu, perahu pun melesat ke tengah sungai.

Siau hiang hanya berdiri terus disamping kereta, ia tidak masuk kembali kedalam keretanya.

Cia sianseng segera mendekat sambil berkata.

"Kedatangan Ting tayhiap kali ini entah disebabkan persoalan apa ?"

"Sianseng sedang bertanya kepadaku? Ataukah sedang bertanya kepada Kongcu kami?"

Cia sianseng memandang kereta itu sekejap, kemudian baru menjawab.

"Semuanya boleh, apakah ada perbe-daannya?"

"Perbedaannya jauh sekali, kalau sianseng sedang bertanya kepadaku maka aku akan segera menjawab pertanyaan sianseng, sebaliknya kalau sianseng sedang bertanya kepada kongcu kami, maka aku tak bisa mewakilinya untuk menjawab, kongcu selamanya amat membedakan antara tingkatan majikan dan tingkatan pembantu! Tanpa disadari Cia sianseng sudah terbentur pada batunya oleh perkataan tersebut, paras mukanys segera berubah hebat. Akan tetapi teringat kembali musibah yang pernah dialaminya berapa waktu berlangsung di depan pintu perkampungannya, dia tak berani mengumbar amarahnya dengan begitu saja, terpaksa dia berkata.

"Kalau begitu, aku bertanya kepada nona saja"

"Aku tidak tahu"

Sahut Siau hiang tertawa.

Hampir saja Cia sianseng dibuat muntah darah saking gusarnya, dengan memaksakan diri dia telah berusaha untuk menurunkan derajat sendiri, menjadi seorang bawahan dengan harapan dia bisa mengajak Siau hiang berbicara dan mengorek keterangan darinya, siapa tahu yang diperoleh hanya jawaban seperti itu saja.

Tampak Siau hiang tertawa cekikikan, kemudian berkata lebih jauh.

Harap Cia sianseng jangan marah, aku benar-benar tidak mengetahui, sebab apa yang hendak kongcu kami lalukan, selamanya tak pernah dirundingkan dahulu dengan kami sebagai orang bawahan!"

"Ketika gadis itu menyaksikan Cia sianseng hendak berbicara, dengan cepat dia menyerobot lebih dulu.

"Bila kau ingin bertanya kepada kongcu kami, maka kuanjurkan kepadamu ada baiknya tak usah mencari penyakit buat diri sendiri, selamanya kongcu kami tak pernah akan berbicara sembarangan terhadap orang bawahan seperti kita ini!."

Paras muka Cia sianseng benar-benar berubah menjadi sangat tak sedap dipandang tiba-tiba dia membentak keras.

"Aku orang she Cia adalah Congkoan dari perkampungan Sin kiam san ceng, bukan orang bawahan"

Kembali Siau hiang tertawa.

"Congkoan dari rumah kami adalah Liu Yok siong, dahulu diapun seorang jago persilatan yang mempunyai nama amat besar tapi sejak berada dirumah kami, dia toh tetap terhitung seorang bawahan, apakah bedanya dengan kau?"

"Itu dirumahmu!"

Teriak Cia sianseng makin gusar.

"congkoan dari perkampungan Sin kiam san ceng tak bisa dibandingkan dengan rumah kalian, kedudukan aku orang she Cia dalam dunia persilatan juga tak bisa dibandingkan dengan Liu Yok siong"

""Apakah Congkoan dari perkampungan Sin kiam san ceng mempunyai suatu ke istimewaan lain?"

Tanya Siau hiang tertawa, apa kedudukan sianseng sudah setaraf dengan kedudukan dari Siau hong tayhiap?"

"Itu sih belum!"

"Kalau begitu kau sudah setaraf dengan kedudukan nona Siau giok ......"

"Juu.... juga belum"

Kontan saja Siau hiang tertawa dingin.

"Kongcu kami telah berkata, dewasa ini dalam perkampungsn Sin kiam san ceng hanya ada dua orang yang bisa disebut sebagai majikan, yang satu adalah Cia tayhiap sedangkan yang lain adalah nona Siau giok, kini Sianseng bukan apa-apa, kalau bukan bawaban namanya lantas apa ?"

Sebetulnya Cia sianseng tak perlu meributkan persoalan kecil semacam itu, akan tetapi api amarahnya pada hari ini nampak nya sedikit kelewat besar, dia segera tertawa dingin setelah mendengar ucapan mana.

Tapi, Ting konscu kalian toh pernah menyebut diri sebagai boanpwe sewaktu berada diruman Liu Yok siong dulu?"

"Cia sianseng"

Ucap Siau hiang tersenyum.

""setelah kau menyinggung kembali persoalan ini aku baru mengerti apa sebabnya kongcu kami telah menganggap kau sebagai seorang bawahan, dia bilang kau tidak punya bakat untuk menjadi seorang cianpwe, dengan tulus hati dia menghormati kalian sebagai cianpwe, mengharapkan keadilan dan kebenaran kalian dalam menghadapi persoalan, tapi kalian hanya bisa membanggakan diri dengan kedudukan yang diperoleh, bekerja sama untuk menekan dia.

"Tapi saat ini tak bisa salahkan kami, adalah ilmu menipu yang dimiliki Liu Yok siong kelewat tinggi, siapa yang akan menduga kalau dia bakal mengumpankan bini sendiri untuk melakukan perbuatan semacam itu?"

Dalam sepanjang hidupnya, entah berapa banyak kesulitan yang pernah dialami majikan kalian Cia tayhiap, tapi dia belum pernah tertipu satu kalipun, kini sianseng sebagai seorang congkoan dari perkampungan Sin Kiam san ceng, tentunya pasti bermata dan telinga tajam, berotak pintar bukan, tapi kenyataannya manusia macam apakah bini Liu Yok siong tak mau diketahui, bahkan manusia macam apakah Liu Yok siong pribadi, kau juga tak tahu"

"Urusan yang harus diselesaikan oleh perkampunnan Sin kiam san ceng amat banyak"

Teriak Cia sianseng keras-keras, siapa yang masih punya waktu untuk mengurusi masalah tetek bengek tentang mereka berdua? Siau hiang kembali tertawa.

"Apa yang sianseng ucapkan memang benar, kalau toh sianseng tidak sudi bergaul dengan manusia-manusia semacam itu, mengapa pula kau harus pergi ke situ untuk menonton keramaian? Apalagi menjadi seorang saksi untuk peristiwa semacam itu, padahal kebenaran dunia persilatan digantungkan pada kesaksian kalian saja, kau hendak menjadikan dunia persilatan menjadi apa?"

Oleh dampratan yang pedas tersebut, Cia sianseng benar-benar dibikin terbungkam, sepasang matanya melotot besar dan mulutnya melongo, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun...

Setelah tertawa lebar, Siau Hiang berkata lagi.

"Cia sianseng waktu itu, andaikata Cia tayhiap yang hadir diarena kejadian, aku percaya dia tak akan dikibuli Liu Yok siong dengan begitu saja"

"Aaaah, belum tentu, majikan kami...."

"Cia tayhiap memang tak akan lebih pintar sedikit dari pada dirimu"

Siau hiang cepat tapi yang pasti dia jauh lebih pintar dari padamu, sekalipun dia berhadapan dengan seorang yang tidak begitu dikenal dan tidak memiliki persahabatan yang akrab, terhadap pekerjaan yaag belum tahu seluk beluknya dia tak akan mencampurinya.

itulah sebabnya mengapa ia mendapat sebutan sebagai tayhiap.

Sedang kau cuma congkoan dan dia adalah cengcu, itulah sebabnya kukatakan kau adalah seorang bawahan, sebab tiada bawahan yang bisa lebih pintar daripada majikannya"

Tangan Cia sianseng sudah diangkat ke tengah udara, namun belum sempat diayunkan ke bawah.. Sebab pada waktu itu perahu telah merapat dengan pantai. (Bersambung ke

Jilid 23)

Jilid .

23 CIA SIANSENG harus menahan diri menyaksikan para kelasinya memasang papan penyeberang dan membiarkan kereta yang di kendalikan Ah-ku bergerak menuju ke pintu gerbang.

Dari balik pintu tiada seorang manusia pun yang muncul, buru-buru Cia sianseng memburu ke depan sambil berteriak.

"Tunggu sebentar!"

Waktu itu Siau hiang sudah bersiap-siap naik ke dalam kereta, mendengar teriakan mana dia lantas melompat turun kembali, lalu tanyanya sambil tertawa.

"Toa congkoan masih ada petunjuk apa lagi?"

Sambil tertawa dingin Cia sianseng berkata.

"Tadi nona telah menasehati diriku habis-habisan, aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadamu."

Tak usah sungkan-sungkan, kata Siau hiang sambil tertawa, dan aku harap kau pun tak usah dipikirkan dalam hati, kita toh sama-sama orang bawahan, bagaimana pun juga hubungan kerja kita sama, kalau bisa saling membantu untuk lebih memperbaiki cara kita melayani majikan, bukankah hal ini merupakan suatu keuntungan yang besar buat kita berdua?"

Seandainya Cia sianseng tidak berusaha keras untuk menahan diri, mungkin dia sudah muntah darah sedari tadi, dengan susah payah dia berhasil juga menenangkan hatinya, sambil tertawa dingin ia lantas berseru.

"Nona benar-benar pandai sekali berbicara, cuma aku tak tahu ucapan tersebut merupakan ucapan dari Ting tayhiap yang suruh nona sampaikan, ataukah ucapanmu sendiri?"

Sianseng benar-benar seorang yang pelupa, bila kongcu kami ingin mengucapkan sesuatu, dia tak akan pernah suruh orang bawahan seperti aku untuk menyampaikan kepada bawahan lain pihak semacam kau, bila kongcu ingin berbicara dia akan membicarakan langsung dengan majikan kalian sendiri!"

""Heeehhh ... heeeehh... heehhh... bagus, bagus sekali, nona masih muda tapi pandai sekali mengemukakan pendapat yang begitu berharga, benar-benar sesuatu yang tidak gampang!". Dalam dunia persilatan tiada pembagian tingkatan, yang ada adalah siapa sukses dulu dialah yang berada diatas, delapan orang belum tentu bisa menggotong kata "cengli"

Tersebut, aku tahu kau merasa tak puas karena memandang usiaku yang masi muda, tapi apa yang kuucapkan adalah soal cengli juga!"

Cia sianseng tertawa dingin.

"Sekalipun semua perkataan nona masuk di akal, tapi aku sebagai congkoan dari perkampungan Sin kiam san ceng juga tidak membutuhkan pendapat dari nona, sekalipun aku membutuhkan nasehat. Siau hiang segera tertawa cekikikan.

"Jiwamu benar benar amat sempit, kongcu kami adalah sahabat karib nona kalian, buat apa diantara kita berdua belah pihak mesti dibagi sejelas ini? Bila kau merasa dirugikan, kau toh bisa mencari masalah lain untuk menasehati pula diriku"

Ucapan tersebut sekali lagi membuat sepasang mata Cia sianseng melotot besar sekali, dia memandang sekejap ke arah balik pintu, kemudian serunya.

Perkampungan Sin kiam san ceng mempunyai peraturan tersendiri.

cara yang digunakan untuk menasehati bawahan berbeda sekali dengan cara-cara yang digunakan pada umumnya.

Masuk desa menuruti adat istiadat setempat, kalau begitu kau boleh menasehati aku dengan menuruti peraturan kalian.

aah betul!

Bagaimana sih cara orang-orang Sin kiam san ceng memberi nasehat kepada orang lain ?"

Mendadak Cia sianseng mengayunkan telapak tangannya menghajar bahu Siau hiang selain cepat pun tepat.

Walaupun dia telah turun tangan, namun yang paling di kuatirkan olehnya tetap Ting Peng yang berada dalam kereta, maka sepasang matanya tak berani terlepas dari ruang kereta tersebut, sementara serangannya juga tak berani disertai dengan tenaga penuh.

Ketika ujung telapak tangannya sudah hampir menyentuh diatas bahu Siau hiang, dari dalam kereta masih juga tiada suatu gerakan apa pun, begitu Cia sianseng memperhitungkan, Ting Peng sudah tak mungkin akan mencegah perbuatannya lagi, tenaga serangannya yang amat dahsyat baru dikerahkan secara tiba-tiba.

Akan tetapi ketika dilihatnya Siau hiang berdiri tanpa persiapan disitu dengan wajah yang memelas, mendadak hatinya merasa tak tega juga, dia tahu seandainya ini sampai di lepaskan, maka pihak lawan pasti akan menjadi cacad selamanya..Apa gunanya bersikap keji terhadap seorang gadis muda yang lemah lembut seperti itu?

karena ingatan mana tanpa terasa dia pun menarik kembali sebagian besar tenaga serangannya.

Tapi justru karena ingatan tersebut, dia pun berhasil menyelamatkan sebuah lengan sendiri.

Karena disaat ujung telapak tangannya tinggal setengah inci dari atas bahu Siau hiang, mendadak terlintas setitik bayangan hitam dari hadapan matanya yang mencengkeram pinggiran telapak tangannya, kemudian seluruh tubuhnya terangkat tinggi tinggi ke tengah udara.

Telapak tangannya seakan-akan menyen-tuh diatas baja yang sedang membara saja seketika itu juga, membengkak sebagian besar, menanti tubuhnya sudah mencapai permukaan tanah lagi, dia baru merasakan kesakitan yang luar biasa.

Bayangan hitam itu adalah cambuk Ah ku, ujung cambuk itu telah menyambar tiba tepat pada saat yang paling kritis dan mengesampingkan pukulan yang dilancarkan tersebut secara keras lawan keras.

Untung saja Cia sianseng telah menarik kembali tenaganya sebesar delapan bagian sehingga hanya tubuhnya yang tergantung di tengan udara.

Coba kalau dia menyerang dengan sekuat tenaga tadi begitu membentur dengan ayunan cambuk tersebut, niscaya seluruh telapak tangannya akan hancur tak berwujud lagi.

Seketika itu juga, suasana di sekeliling tempat itu berubah menjadi amat hening dan tak terdengar sedikit suarapun.

Para centeng yang berdiri didepan pintu perkampungan, para kelasi yang berada di perahu penyeberang serta sementara orang yang kebetulan berada disana, bersama-sama menghentikan pekerjaan masing-masing untuk menonton peristiwa itu, suasana amat hening sekali.

Cia sianseng bukan orang yang paling berkuasa didalam perkampungan Sin kiam san ceng.

Yang menjadi majikan disitu seharusuya Cia Siau hong dan putrinya Cia Siau giok.

Tapi tak bisa disangkal Cia sianseng mempunyai kekuasaan cukup besar disitu, entah terhadap mereka yang baru datang atau yang sudah datang lama, bahkan termasuk juga tamutamu yang datang untuk melakukan suatu kunjungan.

Setiap orang menaruh sikap yang sangat menghormat terhadap Cia sianseng ini.

Jarang ada yang melihal Cia sianseng turun tangan, tapi mereka sering mendengar ia memberikan penilaian maupun kritik terhadap suatu ilmu pedang, siapa saja tahu kalau ilmu silatnya telah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali.

Tentu saja dia masih belum bisa dibandingkan dengan Cia Siau hong, juga tak bisa dibandingkan dengan beberapa orang jagoan pedang termashur didalam dunia persilatan, tapi dia tidak berada dibawah beberapa orang ciangbujin dari partai-partai pedang tersebut.

Urutan nama dalam hal ilmu pedang, selamanya Cia Siau hong menempati kedudukan nomor satu, bertahun-tahun lamanya orang mencoba untuk merebutnya tapi tak pernah berhasil, apa lagi belakangan ini, boleh dibilang sudah tiada orang yang berani mencoba lagi.

Sekalipun ada orang yang bisa mengalahkannya dengan permainan ilmu silat, toh mustahil bisa menggunakan pedang..

Dia sudah merupakan malaikat didalam permainan ilmu pedang.

Justru karena ia telah menempati kedudukan nomor satu itu, maka semua orang tak ada yang berusaha merebut kedudukan nomor dua atau nomor tiga, siapapun tak akan berusaha matimatian untuk mendapatkan sebutan jago pedang nomor dua dari kolong langit.

Oleh sebab itu pada urutan ke berapakah ilmu pedang yang dimiliki Cia sianseng, hingga kini tiada seorangpun yang tahu, kalau ada orang mengatakan dia tercantum dalam deretan angka sepuluh, sudah pasti tak ada orang yang menaruh curiga.

Cia sianseng tahu akan kedudukan dan penilaian orang terhadap dirinya, oleh sebab itu dia jarang mau turun tangan secara sembarangan.

Ting Peng pernah membuatnya marah, bahkan dihadapan enam orang ciangbunjin dari partai besar pernah memalukan dia, waktu ia tetap bersabar menahan diri.

Dia tahu kemampuan yang dia miliki masih belum sanggup untuk menandingi Ting Peng, itulah sebabnya dia tak ingin mendapat malu, apalagi menerima cemoohan dari Ting Peng juga bukan sesuatu yang dapat memalukan dirinya.

Sekalipun demikian, sedikit banyak dia toh akan merasa amat tidak gembira akibat dari peristiwa tersebut.

Sewaktu dalam perahu tadi, dia pun hanya mengucapkan sepatah kata yang sama sekali tidak mempunyai maksud tertentu, siapa tahu ucapan tersebut mendapat tangapan dari Siau hiang yang membuat hatinya amat gusar, sehingga timbul niatnya untuk memberi pelajaran kepada gadis tersebut.

Congkoan dari perkampungan Sin kiam san ceng bukan seorang bawahan, dia mempunyai kekuasaan seperti apa yang dimiliki majikannya.

Kalau dibicarakan tentu kedudukan maupun kekuasaan yang dimilikinya dalam perkampungan tersebut, maka dia boleh dibilang masih berada diatas Cia Siau hong, tapi sedikit dibawah Cia Siau giok.

Sebab Cia Siau hong hanya menyantumkan namanya saja dalam kenyataan ia hampir tak perduli dengan urusan dalam perkampungan, kecuali tiga orang yang menjaga daerah terlarangnya, boleh dibilang dia tidak mengenal orang-orang yang lain.

Cuma sayang dia tak sanggup menerangkan keadaan yang sebenarnya kepada Ting Peng maupun Siau hiang, oleh sebab itu terpaksa dia harus menerima dengan begitu saja sebutan bawahan baginya.

Setelah tiba diatas daratan kembali dia dicemooh habis-habisan kesabaran yang di tahan selama ini, akhirnya meledak juga, dia turun tangan melancarkan serangan.

Siapa pun berharap bisa menyaksikan toa congkoan yang berkekuatan besar ini turun tangan.

Tapi siapa pun tidak menyangka kaulah Cia sianseng akan turun tangan terhadap seorang gadis muda.

Lebih-lebih tidak menyangka lagi kalau Cia sianseng harus keok dalam satu gebrakan saja.

Sorot mata semua orang yang berada di sekitar arena terasa dingin seperti es sebab sedikit banyak mereka merasa gembira menyaksikan bencana tersebut, bisa melihat Cia sianseng dihajar orang, hal ini memang merupakan suatu kegembiraan yang tersendiri.

Perasaan Cia sianseng seperti dibakar dengan api, jika dia tidak melakukan suatu tindakan lagi, sudah pasti selanjutnya ia tak bisa menancapkan kaki lagi dalam perkampungan Sin kiam san ceng, apa lagi dalam dunia persilatan.

Tapi dia bukan seorang yang nekad, seorang yang membuat gara-gara tanpa perhitungan, dia pun tak ingin mencabut pedangnya, dia kuatir dengan Ting Peng yang berada dalam kereta, kuatir dengan golok bulan sabitnya.

Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan 5

Baca Juga: Pendekar Binal Khu Lung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert