Ceritasilat Novel Online

Golok Bulan Sabit 6

Eps 6 Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.

"Benar-benar majikan tua yang suruh, belum lama berselang dia mengutus orang datang kemari dengan disertai sebuah lencana ular emas, dia menyuruh aku membunuh tuan"

"Kapan? Mengapa aku tidak melihat ?"

"Ketika nona masih berada dalam kamar bersama tuan"

Paras muka Cing-cing agak memerah, katanya lagi.

"Kau tidak salah melihat? Kau harus tahu lencana ular emas bukan cuma dipakai oleh majikan tua seorang, banyak lencana tersebut yang tersebar di tempat luaran""

"Lencana ini tak bakal salah lagi, karena dikirim sendiri oleh Sin-ek-thian-ong yang mendampingi majikan tua"

Cing Cing terjerumus dalam lamunan yang mendalam, lama kemudian ia baru berkata.

"Mengapa yaya ingin membunuhnya?"

Siau Im agak termenung sebentar, kemudian baru sahutnya.

"Sebab menurut majikan tua, tuan sudah tak mungkin menjadi orang yang kita andalkan lagi"

"Tapi dia orang tua telah meluluskan permintaanku, bahkan tidak ingin menjadikan Ting Peng, sebagai anggota perguruan kita, maka selama ini kamipun tak pernah memberitahukan tentang asal usul kita kepadanya"

Kata Cing Cing cepat.

"Akan tetapi tuan telah berhasil mendapatkan golok bulan sabit serta jurus golok tanpa tandingan kita".

"Itu toh hasil keputusan yaya sendiri, dia bilang dengan bakat Ting Peng ilmu golok kita bisa dikembangkan hingga mencapai puncak kesempurnaan, yaya tidak berharap ia bisa menjadi anggota perguruan kita, yang diharapkan olehnya hanyalah mengalahkan Cia Siau hong, dan dia telah melakukannya"

"Dia belum mengalahkan Cia Siau hong"

"Mereka belum beradu secara resmi, di kemudian haripun tak mungkin untuk beradu lagi, karena sejak kini Cia Siau hong tak bisa. mempergunakan pedang, lebih-lebih untuk memusuhi kita.

"Tuankah yang berkata demikian?"

"Benar ucapan itupun dikatakan sendiri oleh Cia Siau hong, karena itu ucapan mana merupakan perkataan yang dapat dipercaya."

"Tapi berita yang diperoleh majikan tua tidak berkata demikian"

"Apa yang di dapat oleh yaya?"

""Tuan telah bersahabat dengan Cia Siau-hong"

"Diapun berkata begitu kepadaku.. saling mengagumi antara sesama enghiong merupakan sesuatu yang lumrah, apalagi hanya mereka berdua yang dapat terhitung sebagai teman"

Sekulum senyuman bangga segera menghiasi wajah Cing Cing. Siau Im menghela napas panjang.

"Tapi majikan tua bilang, walaupun Cia Siau hong tak akan memusuhi kita, tapi kemungkinan besar tuan akan menjadi musuh kita"

"Tidak mungkin"

Teriak Cing-Cing, tuan adalah seorang yang kaya akan perasaan, tak mungkin dia akan memusuhi yaya, orang-orang dari lima partailah yang merupakan musuh kita, tuan amat membenci orang-orang dari lima partai besar, mustahil dia akan menuntut lima partai besar untuk membunuhi kita"

"Majikan tua berkata demikian, Sin lek thian ong yang menyampaikan perkataan itu pun turut tidak percaya, tapi majikan selalu dapat menilai segala sesuatunya dengan tepat.

"Dibalik kesemuanya ini pasti terdapat kesalah pahaman, aku akan mencari yaya untuk menerangkan hal ini, Siau Im kenakan pakaian, mari kita pergi"

"Siocia, kau tidak membunuhku?"

Siau Im merasa agak tercengang.

""Asal kau berbicara terus terang, tentu saja aku tak akan menyalahkan dirimu"

Kemudian ujarnya kepada Ah Ku.

"Ah Ku, tolong rawat dia baik-baik, jangan biarkan orang lain mendekatinya, begitu pula terhadap orang-orang kita sendiri, sanggupkah kau melakukan hal ini?"

Ah Ku manggut-manggut, dia menepuk dada sendiri sambil menunjukkan suatu gerakan tangan yang aneh.

"Baiklah."

Kata Cing Cing kemudian sambil tertawa.

"aku akan meninggalkan Siau Hiang di sini untuk menyelesaikan segala sesuatunya, dayang itu dapat dipercaya"

Ooooo0ooooo SIAU HIANG SIAU HIANG adalah seorang gadis berusia enam tujuh belas tahunan.

Rambutnya di sisir menjadi kuncir besar dan selamanya berkilat, orangnya juga berkilat, meski wajahnya tidak terhitung cantik namun tak bisa dibilang jelek.

Dia bernama Siau Hiang, karena tubuhnya sering menyiarkan bau harum semerbak.

Meski perawakan tubuhnya kecil mungil, namun dia seratus persen berbentuk gadis, tapi tak mirip gadis yang telah dewasa.

Tapi diakui dia adalah seorang gadis yang menarik hati.

Untuk memberikan suatu gambaran yang tegas, hal ini sulit untuk dilukiskan, sebab wataknya maupun wajahnya selalu mendatangkan perasaan yang saling bertentangan..Dia adalah sejenis perempuan yang mendatangkan perasaan senang bagi setiap pria yang melihatnya.

Tapi dia adalah gadis yang bisa ditarik tangannya, bahkan merangkul ke dalam pelukannya dan dicium pipinya, namun bukan gadis yang bisa diajak naik ke atas pembaringan.

Ting Peng sangat akrab dengan Siau Hiang, bila Cing-cing tidak berada di sisinya, sering kali dia mengajak Siau Hiang berbincang-bincang, main catur, membuat sajak dan lain-lainnya.

Ting Peng pun pernah menggenggam tangannya, membopongnya dan didudukkan ke atas pahanya, bahkan menciumi lehernya yang berbau harum.

Tapi Ting Peng tidak pernah mengajaknya naik ke atas ranjang.

Dia adalah seorang teman penghilang kebosanan yang sangat baik, tapi tak pernah bisa merangsang napsu birahi kaum lelaki.

Mungkin juga hal ini dikarenakan bau harum yang terpancar keluar dari tubuhnya.

Bau harum itu merupakan semacam bau harum yang sangat istimewa, bau harum yang sudah ada semenjak dilahirkan, cuma bau harum itu aneh, bukan bau harum bunga, juga bukan bau harum yang bisa diperoleh dari benda lainnya.

Bau harum semacam ini hanya bisa mendatangkan semacam kesucian bagi yang mengendusnya.

Ting Peng bukan seorang yang saleh, diapun tidak pernah menganggap napsu birahi lelaki perempuan sebagai suatu yang berdosa, sebaliknya dia masih menganggapnya sebagai seseorang yang suci.

Maka dia ditipu mentah-mentah oleh Chin Ko cing yang menggelikan, dia dapat merasa gusar, merasa sedih, putus asa dan lain-lainnya, karena dia merupakan seorang yang masih lengkap perasaan serta napsunya.

Oleh karena itu ketika cinta kasihnya mulai tumbuh di hati Cing-cing, maka diapun amat setia kepadanya.

Buktinya bujuk rayu dan rangsangan dari Cia Siau giok pun tidak mendatangkan pengaruh apa-apa baginya.

Oleh sebab itu, meski dia sudah terpengaruh oleh arak berisi obat perangsang yang dicampurkan dalam arak Pek hoa siang, dia masih tetap kukuh untuk melepaskan diri dari gaetan dan pukulan Cia Siau giok.

Oleh karena itu pula dia lebih suka mengorbankan uang untuk membeli perempuan guna membereskan pengaruh racun obat perangsang yang mencekam tubuhnya, bahkan dengan cara itu pula dia hendak mengabarkan kepada Cing-Cing, betapa membutuhkannya dia akan perempuan.

Sewaktu Siau Im disodorkan kepadanya, ia melakukan tanpa perasaan canggung, karena Cing Cing yang mengaturkan segala sesuatunya itu baginya...

Oleh karena itu, ketika Siau Hiang merangkak naik ke atas pembaringan dan membantunya mengenakan celana, dia merasa terkejut bercampur keheranan.

Buru-buru tegurnya.

"Siau Hiang, racunku telah punah semua"

Merah jengah selembar wajah Siau Hiang, serunya sambil mendorong tubuh pemuda itu "Siapa sih yang mengajakmu membicarakan soal ini?

aku hanya akan membantumu memakai celana dan menyuruhmu keluar sebentar"

"Mau apa keluar?"

"Mengapa kau tidak mencoba untuk melihat langit, sekarang sudah tengah hari, kedua perempuan-perempuan yang memperoleh penghargaan darimu sudah berdatangan untuk mengucapkan terima kasih kepadamu, apa kau tak akan keluar menyambut mereka dalam keadaan seperti ini bukan? "Serahkan uang emas itu kepada mereka dan suruh mereka segera meninggalkan tempat ini, buat apa mesti banyak ribut?"

"Tuan, kau tak boleh begitu, mereka juga manusia, setiap manusia mempunyai harga diri, kau tak boleh bersikap begini terhadap mereka, terutama ada beberapa orang diantaranya menolak untuk menerima uang emas tersebut"

"Mereka menolak uang emas itu? Apakah merasa kurang?"

Ting Peng keheranan.

"Bukan kurang, semalam sepuluh tahil emas, nilai tersebut kelewat tinggi untuk mereka"

Kata Siau Hiang tertawa.

"karena berterima kasih maka mereka mengundang kongcu keluar, apalagi tanpa mengerjakan apa-apa, begitu datang di jamu sekenyang-kenyangnya, lalu bergaul seperti teman biasa, hal semacam ini belum pernah mereka jumpai sebelumnya, mereka terharu karena dianggap sebagai teman, sekarang tentu saja merekapun rikuh untuk mendapat uang dari teman."

"Ehm... beberapa orang perempuan ini sungguh berjiwa besar dan punya kesetiaan kawan."

Siau Hiang tertawa, kembali katanya.

"Ada pula yang berkata, mereka merasa bangga karena orang yang mengundang mereka untuk menemani minum arak adalah Ting Kongcu yang termasyhur namanya dikolong langit, kemungkinan besar derajat mereka akan turut naik setelah kejadian ini, tentu saja merekapun tak dapat menerima uang dari kongcu"

"Walaupun perkataan semacam itu sedikit merupakan kenyataan, tapi hal ini amat menarik sekali, paling tidak mereka telah berbicara dengan sejujurnya."

"Apakah kongcu menganggap ucapan mereka dahulu bukan perkataan yang muncul dari hati sanubarinya!"

"Pelacur adalah manusia tak berperasaan, aku tak percaya kalau mereka memiliki perasaan setia kawan""

"Pandangan kongcu terhadap kaum wanita kelewat sempit dan radikal ....."

"Agak tak mungkin, aku menghormati setiap wanita, tapi aku tak akan sungkan-sungkan terhadap perempuan rendah"

"Dari mana kongcu bisa tahu kalau mereka adalah manusia tak berperasaan dan tak setia kawan?"

Kata Siau Hiang tertawa.

""darimana pula kau bisa tahu kalau perasaan terharu mereka bukan ungkapan perasaan yang sejujurnya?"

"Itu mah gampang dibuktikan, bukankah masih ada beberapa orang yang berada diluar?"

Ting Peng tertawa pula.

"Yaa, mungkin ada belasan orang di depan sana! Mereka bersikeras hendak bertemu dulu dengan kongcu sebelum berpamitan untuk pergi meninggalkan tempat ini""

"Waah, tampaknya aku harus pergi menjumpai mereka"

Kata Ting Peng sambil tertawa.

"Benar, entah perasaan yang sebenarnya atau setia kawan yang palsu, paling tidak kongcu harus menemui mereka"

Ting Peng segera mengenakan pakaiannya, membereskan rambutnya dan berjalan keluar.

Betul juga perjamuan belum berakhir ada belasan orang pelacur, termasuk juga Hong hong dan Sian-sian yang dijumpainya semalam masih menanti di situ.

"Aku telah membuat kalian menunggu kelewat lama"

Seru Ting Peng sambil tertawa cekikikan. Suara pemberian salam yang merdu merayu segera bergema memecahkan keheningan kemudian Hong-hong berkata.

"Aaah, Ting kongcu jangan berkata begitu, perjamuan yang begini baiknya membuat kami merasa amat berterima kasih..."

"Semua orang tak usah sungkan-sungkan lagi."

Kata Ting Peng tersenyum.

"sebelumnya aku harus menemani kalian untuk berpesta semalam suntuk, apa mau dikata istriku telah datang, sedang akupun harus berbincang-bincang dengan istriku, bila aku kurang hormat harap kalian semua sudi memaafkan."

Ucapan kongcu itu membuat kami semakin tak enak hati"

Kata Sian-sian cepat, walaupun kami seringkali menemani orang minum arak, selama ini kami hanya berdiri melayani saja disamping, sekalipun ada kalanya tamu menyuruh kami duduk, karena perbedaan tingkat kedudukan, paling banter kami hanya memegang sumpit sebagai suatu pertanda belaka, tidak seperti kemarin kami dapat makan minum dengan bebas merdeka."

"Itulah sebabnya kami merasa tak dapat menerima pemberian dari kongcu lagi, harap kongcu dapat menerima kembali semua pemberian tersebut..."

Sambung Hong-hong. (Bersambung ke

Jilid 17)

Jilid .

17 HAL ini mana boleh jadi?

Bagaimanapun juga aku telah membuat kalian kehilangan waktu yang berharga, untuk itu saja aku sudah merasa amat menyesal, apalagi kalian sudi memberi muka untuk menghadiri perjamuan ini, bila tak mau menerima pemberian tersebut, hal ini sepertinya terlalu tidak memberi muka kepada teman"

"Kongcu bersedia menganggap kami sebagai teman pun kejadian ini sudah cukup membuat kami merasa terharu.. mana boleh kuterima pemberian dari kongcu?"

"Sebagai teman, kita berkewajiban untuk saling menolong kesulitan orang, bahkan kalian pun dapat memikul sedikit beban penderitaanku..?"

Kata Ting Peng tertawa.

"Ting kongcu suka bergurau, kami belum berhak untuk turut memikul kerisauan dari kongcu"

Kata Sian-sian.

"Belum tentu begitu"

Sambung Hong Hong.

"apa yang bisa kami lakukan, sudah pasti kongcu tahu dengan jelas, asal kongcu menginginkan kami berbuat apa, katakan saja, sekalipun badan harus hancur, kami tak akan menolak"

Ting Peng segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu.

"Haaahh... haaahh... haaahhh... baik, baik, cukup bersahabat, cukup bersahabat, tahukah kalian penderitaan apakah yang merupakan penderitaan terbesar bagi diriku?"

"Soal ini ... kami kurang begitu tahu"

"Penderitaan yang besar adalah uang emasku kelewat banyak sehingga tak tahu bagaimana caranya untuk menggunakannya, bila kalian adalah sahabatku, sudah sepantasnya untuk menggunakannya, sebab itu bila kalian menampik lagi, hal itu justru mencerminkan tindakan yang kurang bersahabat"

Semua orang menjadi tertegun, siapapun tidak menyangka kalau Ting Peng bakal mengucapkan perkataan seperti itu. Terdengar Ting Peng berkata lagi.

"Apalagi kalau dilihat dari sikap kalian yang belum pergi hingga sekarang, hal ini menunjukkan kalau hubungan persahabatan kalian jauh lebih mendalam daripada orang lain, karena itu kalian harus membantuku untuk meringankan sedikit penderitaanku lagi, Siau Hiang, beri tambahan sepuluh tahil emas untuk setiap nona, utus orang untuk menghantar mereka kembali ke rumah masing-masing"

Pada mulanya pelacur-pelacur itu merasa terkejut, menyusul kemudian dengan wajah berseri mereka memburu datang sambil mengucapkan terima kasih.

"Tahu kalau hal ini merupakan penderitaan dari Ting Kongcu, kami pasti akan membantumu untuk meringankannya sejak dulu"

"Aku adalah seorang yang menitik beratkan hubungan pada perasaan, suruh kalian menanggung beban yang begini beratpun sudah merasa menyesal sekali, maka aku tak berani untuk menambah beban kalian lebih berat lagi...."

"Aaah, aku hanya berkata saja! akupun tahu di dunia ini tiada penderitaan semacam ini, apalagi tiada cara untuk membagikan uang seperti ini, kalau begitu ku ucapkan banyak terima kasih atas pemberian dari kongcu ..."

"Cuma, Hong Hong, aku sangat berharap, bisa mendengarkan sepatah katamu yang muncul dari hati yang jujur, benarkah kalian tidak maui emasku itu?"

Hong Hong agak termenung sebentar, kemudian baru berkata.

"Bohong, walaupun kemarin hadir lima puluhan orang nona, tapi sebagian besar mereka sudah berstatus tamu, hanya kami beberapa oranglah baru benar-benar melakukan pekerjaan seperti ini"

"Lantas?"

"Bagaimanapun juga, kami harus menampilkan suatu kelebihan yang menunjukkan kalau kami lebih hebat. dari pada mereka, meski sepuluh tahil emas yang kami peroleh termasuk juga suatu jumlah yang besar, tapi hal ini belum memperlihatkan profesi dan pekerjaan kami yang sesungguhnya, karenanya bagaimana pun juga kami harus mendapatkan persen sedikit lebih banyak dari pada mereka untuk melindungi muka kami!"

"Maka kalianpun segera melaksanakan taktik mengembalikan dulu untuk kemudian meraih lebih banyak?"

"Dengan keroyalan kongcu, rasanya untuk mendermakan dua tahil emas setiap orang lagi tentunya tak akan keberatan bukan"

"Hebat, hebat, seandainya aku adalah seorang yang bodoh dan menganggap perkataan kalian itu sesungguhnya, bukankah kerugian yang bakal kalian derita akan semakin besar?"

"Kami justru berharap demikian, jika Ting kongcu menganggap kami sebagai teman, maka hasil yang kami peroleh sudah pasti akan lebih besar lagi"

Kata Hong-Hong.

"Oooh.... mengapa begitu?"

"Pertama, secara berterus terang dan blak blakan kami dapat berkata bahwa Ting tayhiap, kongcu nomor satu yang paling tersohor di dunia adalah sahabat kami dengan begitu tamu yang akan menjadi langganan kami mendatang akan bertambah banyak, bahkan harganyapun akan lebih tinggi berapa kali lipat selain dari masyarakat, menengah kamipun dapat bergerak di kalangan atas, penghasilan kami pasti bertambah besar"

"Sungguh mengagumkan, apakah masih ada penghasilan lainnya!"

"Ada saja, keuntungan kedua akan kami raih dari Ting kongcu sendiri, setelah kau menganggap kami sebagai teman, seandainya suatu ketika kami menjumpai kesulitan dan minta pertolonganmu, mungkin lima kali atau sepuluh kali lipat yang kami minta pun pasti akan kongcu berikan"

"Yaa aku memang dapat berbuat begitu, asal punya uang tentu akan membantu teman, bagi diriku hal ini merupakan suatu pekerjaan yang terlalu gampang, Hong Hong dari sini mau tak mau aku harus menyatakan kekagumanku kepada kalian, bagaimanapun juga cara kerja seorang ahli memang berbeda dengan orang biasa"

Hong Hong segera tertawa.

"Tapi kongcu pun bukan seorang yang mudah dihadapi, hanya mendermakan sepuluh tahil emas, semua kesulitan sudah dapat teratasi, untung saja sedikit banyak kami sudah mempunyai penghasilan, terima kasih kongcu, akupun tak usah mengucapkan kata-kata seperti sampai jumpa lain waktu atau lain sebagainya, sebab aku tahu peristiwa semacam ini tak mungkin bisa kujumpai untuk kedua kalinya""

Kemudian dengan penuh kegembiraan merekapun berlalu dari situ. Sepeninggal mereka Ting Peng menghela napas panjang, kemudian tanyanya kepada Siau Hiang sambil tertawa .

"Sekarang apakah kau masih menganggap mereka berperasaan dan tahu setia kawan?"

Siau Hiang membungkam dalam seribu bahasa, tapi lama kemudian baru berkata sambil tertawa lembut.

"Lonte tetap lonte! "

"Padahal ucapanmu sekarang serta pandangan salahmu terhadap mereka tadi yang percaya akan ucapan mereka bukanlah sesuatu yang aneh, sebab kau bukan lonte, memang betul lonte itu tak berperasaan, tapi lontepun manusia, tak mungkin ia tak berperasaan"

"Kongcu"

Seru Siau Hiang tak tahan.

"yang mengatakan lonte tak berperasaan adalah kau, yang mengatakan lonte berperasaan juga kau, aku jadi bingung rasanya.

"Lonte bukannya tak berperasaan, kalau tak berperasaan mana mungkin sepanjang malam mereka dapat membuat orang terpesona dan terbuai dalam suasana yang indah? Kalau boleh dibilang sesungguhnya mereka sangat berperasaan"

Kata Ting Peng tertawa.

"Kalau amat berperasaan lantas bagaimana?"

"Bila perasaan mencapai titik jenuh, maka perasaan akan makin menipis, sekalipun amat berperasaan akhirnya pun akan berubah menjadi makin tak berperasaan.

"Kalau begitu, apakah merek sama sekali tidak memiliki perasaan yang asli?"

"Tidak, walaupun mereka amat berperasaan atau tidak berperasaan, bukan berarti mereka tidak berperasaan asli melainkan karena mereka kelewat banyak mendengarkan rayuan manis dari kaum lelaki dan kelewat banyak harus berpura-pura memberikan cinta yang manis, akhirnya perasaan yang sesungguhnya jadi terpendam di dasar hati dan tak gampang terungkapkan keluar."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Tapi suatu ketika, bila mereka benar-benar menaruh perasaan yang sebenarnya terhadap seseorang, maka mereka akan mencintai orang itu dengan setulus hati, mati hidupnya tak akan dipikirkan dan mereka pun bersedia untuk mengorbankan segala sesuatunya, itulah sebabnya banyak sekali cerita yang tragis dan mengharukan banyak terjadi dalam rumah pelacuran ."

"Kongcu, tampaknya pengertianmu terhadap kaum pelacur mendalam sekali ...."

Ujar Siau Hiang sambil tertawa. Ting Peng turut tertawa.

"Mendalam sih tidak, cuma aku tahu mustahil aku bisa memperoleh cinta dan perasaan yang sejati dari mereka ... dalam keadaan seperti kemarin itu, karena sepuluh tahil emas murni masih belum dapat memberi perasaan yang asli dari kawanan lonte itu."

"Paling tidak Kongcu toh seringkali bergaul dengan mereka?"

Kembali Ting Peng menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau dibicarakan, mungkin kau tidak percaya, kemarin baru pertama kali aku mengundang pelacur untuk minum arak, selama hidup akupun belum pernah memasuki sarang pelacur walau hanya satu kalipun, maka dari itu aku baru melakukannya dalam rumah penginapan dan menyuruh Tong Gi untuk mengundang semuanya itu, coba kalau aku sendiri yang bertemu dengan suasana seperti ini, mungkin banyak lelucon yang bakal terjadi, sedang di luar rumah penginapan masih banyak orang yang menantikan leluconku itu ... ."

"Kongcu, di luar rumah penginapan sudah tiada orang lagi."

Ucap Siau Hiang sambil tertawa. Ting Peng agak terkejut setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.

"Sudah tak ada orang lagi? Kemana larinya kawanan manusia yang menjemukan itu? Mereka sudah pada bubar?"

""Benar, sewaktu nona dan Siau Im masuk, budak menanti di luar, tapi selewatnya tengah malam mereka telah membubarkan diri, pergi sehingga seorangpun tak ada yang ketinggalan."

Ting Peng merasa amat terkejut, dia memang tak senang diikuti orang banyak, bahkan merasa benci dan muak karena dikuntil orang terus menerus.

Tapi, setelah mengetahui kalau orang-orang itu lenyap tak berbekas secara tiba-tiba, timbul perasaan tidak tenang di dalam hati kecilnya.

Biasanya, suatu peristiwa yang berlangsungnya sangat mendadak dan di luar dugaan, kejadian mana pasti akan membuat orang merasa terkejut bercampur tercengang.

Persoalan yang membuat orang bingung dan tidak habis mengerti, biasanya juga akan menimbulkan perasaan tak tenang, tak tentram bagi si orang yang menghadapinya.

Lantas, kemanakah perginya orang-orang itu ?"

Mengapa mereka membubarkan diri secara tiba-tiba dan pergi meninggalkan tempat itu?

ooo0ooo PERISTIWA TAK TERDUGA KEMANAKAH orang orang itu telah pergi?

Ting Peng bertanya kepada Ah Ku, pertanyaan itu seakan-akan suatu pertanyaan yang sia-sia belaka, sebab sekalipun Ah Ku tahu, dia juga tak dapat menjawab.

Dia tak dapat berbicara.

Tapi bisu pun mempunyai cara untuk mengemukakan maksud hatinya, namun Ah Ku cuma menggeleng, ini pertanda, kalau dia benar-benar tidak tahu.

"Kemanakah orang-orang itu telah pergi?"

Ting Peng bertanya kepada Siau Hiang sewaktu berada dalam kereta. Siau Hiang menggelengkan kepalanya.

"Budakpun tak tahu, budak hanya menyaksikan mereka pergi meninggalkan tempat itu satu persatu dan amat tergesa-gesa, seperti telah terjadi suatu peristiwa besar yang amat serius, tapi budak bertugas menjaga rumah penginapan, sehingga tak mungkin budak bisa pergi mengikuti mereka dan menyelidiki apa gerangan yang telah terjadi."

"Bukan itu yang kutanyakan"

Kembali Ting Peng menggeleng.

"persoalan ini sudah kutanyakan sekali dan kaupun telah menjawab, sekalipun ditanyakan sekali lagi tak mungkin bisa muncul jawaban yang baru."

"Lantas apa yang kongcu tanyakan?"

Tanya Siau Hiang dengan wajah tertegun.

"Yang kutanyakan adalah Cing-cing dan Siau Im?"

"Mereka telah pergi!"

"Akupun tahu kalau mereka telah pergi, yang kutanyakan sekarang kemanakah mereka pergi? Dan apa yang mereka lakukan?"

"Budakpun tidak tahu, ketika fajar menyingsing tadi, nona memanggil budak untuk masuk, setelah berpesan kepada budak untuk melayani keperluan Kongcu diapun mengajak Siau Im berlalu dari situ"

"Apakah tidak mengatakan hendak ke mana dan tidak mengatakan pula karena apa ?"

"Tidak, budk tidak pantas untuk menanyakan hal ini, dan lagi tak dapat bertanya."

"Aku adalah suaminya, paling tidak dia harus memberitahukan hal ini kepadaku"

Siau Hiang tertawa.

"Kongcu, cinta nona kepadamu lebih dalam daripada samudra, dia tak nanti akan melakukan perbuatan yang akan membahayakan keselamatan jiwamu, apalagi melakukan suatu perbuatan yang akan menyakitkan hati..."

"Aku percaya akan hal ini, tapi sebagai seorang istri, dia seharusnya menemani suaminya"

"Nona berbeda dengan istri-istri yang lain, dia bukan manusia, dia adalah rase"

"Kalau rase lantas kenapa?"

"Rase mempunyai kehidupan ala rase, kehidupannya tidak terdapat dalam alam semesta ini, kehidupan rase berada di tengah gunung yang terpencil, di dalam kuil yang terbengkalai atau di tempat-tempat yang tak ada manusianya?"

"Kalau memang begitu, mengapa semalam dia datang ke kota yang amat ramai ?"

"Kalau datang untuk sementara waktu sih boleh, tapi kalau kelamaan bisa merusak kepandaian yang sedang dilatihnya"

"Tapi dia toh meninggalkan kau di sini untuk melayani aku?"

Agak memerah paras muka Siau Hiang, ujarnya kemudian.

"Budak bukan rase, aku adalah manusia biasa, karena itu hal semacam itu tidak berlaku bagiku"

Ting Peng segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tak heran kalau aku tak berhasil menemukan ekor di belakang pantatmu"

Paras muka Siau Hiang berubah semakin merah lagi, bisiknya dengan suara lirih.

"Kongcu, apakah berhasil menemukan ekor di belakang tubuh nona dan Siau Im?"

"Soal ini mah rasanya belum berhasil kutemukan."

Siau Hiang segera tertawa.

"Bila rase ketahuan ekornya, dia tak. berhak untuk mendatangi alam semesta ini, dia lebih pantas menjadi rase saja""

Sekarang lagi-lagi Ting peng tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhhh... haahhh... haaahhhh... setelah mendengar ucapanmu itu, aku jadi kebingungan sendiri untuk membedakan kau adalah manusia rase"

Ooo0ooo SIAU HIANG bukan rase, karena dia sama sekali tidak menunjukkan hawa seekor rase.

Rase tidak bisa hidup dalam kesepian, tapi Siau Hiang dapat di hidup ditengah kesepian.

Rase mempunyai kemampuan yang hebat dengan akal muslihat yang hebat pula, tapi Siau Hiang amat sederhana, dia pandai ilmu silat, tapi tak pandai segala macam ilmu sesat ..

Rase membutuhkan teman, entah rase langit juga butuh, rase yang berjiwa juga boleh, rase liar pun boleh juga, ke tiga jenis rase tersebut semuanya membutuhkan teman.

************************* Halaman 19 -20 hilang ************************* Karena perempuan pertama yang dijumpainya adalah perempuan dari jenis yang merangsang dan jalang, perbuatan perempuan itu telah melukai hatinya.

oleh karena itu dia paling memandang rendah perempuan yang dengan mudah mempersembahkan tubuhnya kepada kaum pria.

Sekalipun dia bukan seorang yang suci, tapi cintanya adalah cinta yang suci, meski Cia Siau giok telah merayunya dengan ilmu merayu yang hebat, alhasil dia malah kena dihajar keras-keras.

Berada bersama perempuan seperti Siau Hiang merupakan kehidupan yang paling digemarinya, mereka tanpa tujuan, tak ada urusan penting, maka keretapun bergerak sangat lambat..

mengelilingi tempat-tempat yang berpemandangan alam indah.

Ting Peng adalah seorang pemuda yang cerdas, tapi tak banyak buku yang dibaca.

Sewaktu masih muda, dia hanya berpikir untuk mencari nama lewat ilmu silat sehingga sebagian besar waktunya dikorbankan untuk melatih ilmu pedang, seandainya dia tak bersua dengan Liu Yok siong, mungkin dia akan menjadi seorang jago pedang muda yang ternama, tapi tak akan bisa mencapai seperti Ting Peng sekarang.

Karena itu perjalanan ini adalah suatu perjalanan pulang, dia ingin kembali ke perkampungan Siang siong san ceng yang berhasil direbutnya dari Liu Yok siong serta perkampungan megah yang dibangunnya di hadapan perkampungan Siaang siong san-ceng ketika dia hendak memberi pukulan batin terhadap Liu Yok siong.

Tempat itu bukan desa kelahirannya tapi disitulah terletak rumahnya, apalagi di rumahnya masih terdapat istrinya Cing Cing sedang menunggu.....

Walaupun Cing Cing tak pernah memberitahukan kepadanya kemana dia telah pergi, tapi dia pasti akan pulang ke rumahnya.

ooo0ooo KERETA mereka sudah hampir mendekati kota Hang ciu.

Ah Ku duduk di depan menjadi kusir kereta, sedang Siau Hiang duduk di sisinya dengan bau harum semerbak tersiar keluar dari tubuhnya.

Satu-satunya yang berbeda adalah di belakang kereta sudah tidak nampak lagi kawanan jago silat yang mengikutinya.

Bahkan yang membuat Ting Peng merasa keheranan adalah selama beberapa hari ini, suasana sepanjang jalan yang dilaluinya amat sepi dan hening.

Bila berada di dalam kota yang ramai, tentu saja tidak bisa menghindari orang lain.

Tapi orangorang itu selalu berusaha untuk menghindari dirinya.

Bila dia sampai dirumah penginapan, maka seisi penginapan akan melayani keperluannya dengan sikap yang luar biasa, kemudian bila keesokan harinya dia berangkat meninggalkan penginapan tersebut, tentu ia akan menjumpai penginapan yang besar tersebut hanya didiami mereka bertiga, sementara lainnya secara diam-diam telah pindah dari situ.

Kemudian bila dia memasuki rumah makan, rumah makan yang semula ramai dan penuh akan berubah menjadi hening dan serius, kemudian bila ia meninggalkan tempat itu akan dijumpai dalam ruangan rumah makan yang begitu luas tinggal mereka semeja.

Sepanjang jalan, tak seorang manusiapun yang berani memandang sekejappun ke arahnya.

Bila berada dijalan raya, kereta mereka dapat berjalan dengan leluasa dan bebas tak usah kuatir menumbuk orang, karena di sekelilingnya tak pernah ada orang.

Seakan-akan kemunculannya membawa sesuatu penyakit menular yang berbahaya.

Ting Peng merasa amat keheranan, dia menanyakan persoalan ini kepada Siau Hiang.

Sambil tertawa Siau Hiang menjawab.

"Kongcu adalah seorang jago lihay nomor wahid dikolong langit, tentu saja mereka tak berani datang mengusik"

"Apakah setiap orang yang berhasil mencapai tingkat kedudukan yang tertinggi melulu akan mengalami suasana seperti ini? ""Mungkin saja begitu! Cia Siau hong pernah mengalami suasana seperti ini, itulah sebabnya ada sementara waktu dia meninggalkan pedangnya, meninggalkan nama besarnya sebagai Sam sauya untuk menyembunyikan diri dalam sebuah rumah penginapan kecil dan hidup sebagai seorang kacung kuda""

Tapi, Cia Siau hong tak mungkin seperti keadaanku sekarang bukan...

""Benar, kongcu lebih beruntung nasibnya dari pada dia, kau pun lebih gagah, ilmu pedangnya memang tiada bandingannya, tapi mempunyai banyak musuh, banyak pula orang yang merasa tak puas dan datang mencarinya untuk beradu pedang, ingin membunuhnya, ia tak berteman, yang ada hanya sekelompok musuh besar, sebab itu dia tak pernah mempunyai waktu senggang untuk hidup bersantai, dia harus menghadapi sergapan dan serangan yang datangnya bertubi-tubi"

"Aku pun telah mengikat tali permusuhan dengan banyak orang"

Siau Hiang tertawa.

"Tapi golok sakti yang kongcu miliki sekarang jauh lebih hebat dari pada ilmu pedang keluarga Cia waktu itu. sehingga dengan begitu musuh besarmu tak ada yang berani datang untuk mencari gara-gara dengan kau"

Dengan cepat Ting Peng menggelengkan kepalanya berulang kali. Aku rasa persoalannya bukan sesederhana itu.

"Kalau memang demikian, sudah pasti ada suatu rencana besar yang sedang dijalankan, siap untuk menghadapi kongcu, dan saat-saat seperti sekarang adalah saat tenang sebelum tibanya hujan badai yang maha dahsyat""

"Yaa, mungkin saja memang demikian"

Ting peng tertawa "aku berharap mereka bisa datang secepatnya, daripada aku harus merasa murung bercampur kesal"

"Tapi hingga kini kongcu belum tahu siapakah musuh kita itu"

Seru Siau Hiang dengan wajah murung.

"biasanya musuh yang bersembunyi dibalik kegelapan merupakan musuh yang paling menakutkan". Mendadak ia berhenti dan tidak berbicara lagi, sebab ia melihat Ting Peng berkerut kening sambil menutupi hidungnya dengan tenang. Hanya sewaktu mengendus bau busuk yang menusuk hidung saja, orang akan menutupi hidungnya dengan tangan. Siau Hiang adalah gadis yang berbau harum, tentu saja bau busuk tersebut bukan muncul dari tubuhnya, bau busuk tersebut berasal dari dalam hutan di tepi jalan. Ting Peng segera menitahkan kepada Ah Ku untuk menghentikan keretanya dan masuk ke hutan untuk memeriksa keadaan di situ, akhirnya mereka berhasil menemukan sumber dari bau busuk tersebut... bau bangkai manusia.

"Yaa, bau busuk yang keluar dari mayat-mayat sekawanan manusia yang telah hancur dan mulai membusuk."

Tentu saja bau bangkai tiada yang harum, semakin busuk dan rusak keadaan mayat tersebut baunya semakin menjadi....Siapa orang yang tewas di situ dan dibiarkan membusuk di dalam hutan di tepi jalan?

ooo0ooo BANJIR DARAH DIMANA-MANA BAU mayat merupakan sejenis bau busuk yang paling sukar ditahan baunya.

Bau adalah sejenis udara busuk tapi selamanya bukan suatu yang memuakkan.

Misalnya bau busuk yang keluar dari durian, semakin baunya tajam, semakin menggairahkan orang yang hendak memakannya.

Ada orang yang ingin membuka kakinya yang telah bersepatu berhari-hari, mencampuri keringat kaki dengan lumpur lalu membuatnya suatu bulatan, konon bila endus didekat lubang hidung, bau tersebut merupakan suatu kenikmatan yang tak terkirakan.

Ada pula orang yang suka makan telur asin yang bau, ikan bau, daging bau atau sayur asin bau.

Bahwa ada pula yang suka mengendus bau kentut sendiri, sudah tahu kalau kentut itu bau, tapi bila ia berkentut hidungnya selalu mengendus bau kentut dengan penuh kenikmatan.

Anjing suka makan najis.

Dan masih banyak lagi bau busuk yang digemari manusia atau binatang, hal-hal aneh seperti itu sudah bukan merupakan suatu keanehan lagi.

Tapi tak mungkin ada orang yang suka mengendus bau busuk yang tersiar keluar dari mayat yang telah rusak dan membusuk.

Sebab bau busuk tersebut merupakan sejenis bau yang memuakkan, bau busuk yang penuh dengan pancaran kematian dan keseraman yang menggidikkan bulu roma.

Hanya ada dua jenis binatang yang tidak muak terhadap bau busuk semacam ini.

Pertama adalah lalat dan kedua adalah ulat pembusuk.

Konon di gurun pasir terdapat pula sejenis burung elang pemakan bangkai, burung-burung itupun tidak muak terhadap bau busuk bahkan paling menggemarinya, dari tempat yang amat jauh mereka sudah dapat mengendus bau bangkai dan datang untuk menikmatinya.

Tapi di wilayah kanglam, tiada burung pemakan bangkai seperti itu.

Yang di jumpai disitu hanyalah lalat hijau berkepala merah serta ulat-ulat pembusuk yang bergerak ke sana kemari.

Ketika Ting Peng berjalan masuk ke hutan.

"Nguuung .... !"

"segerombol lalat besar segera berterbangan ke angkasa, kemudian pelan-pelan hinggap kembali di atas mayat-mayat tersebut. Mayat yang berserakan di situ berjumlah puluhan sosok lebih, saat kematian mereka pun belum terlalu lama, karena bau busuk hanya ke luar dari dalam lubang hidung dan mata mereka, meski isi perut mereka sudah mulai membusuk, namun belum sampai merembes ke luar. Tapi ulat-ulat pembusuk itu sudah menyebar sampai di mana-mana, ulat-ulat tersebut sudah merangkak keluar dari balik lubang telinga dan lubang hidung mayat tersebut. Kalau di lihat dandanan mereka, kawanan tersebut merupakan jago persilatan, senjata berserakan disekitar tubuh mereka, hanya saja golok dan pedang itu belum diloloskan dari sarungnya atau baru saja diloloskan setengah. Dengan memaksakan diri Ting Peng menutupi hidung dan memeriksa salah satu mayat tersebut, setelah dibolak-balik ke sana kemari dan diperhatikan beberapa saat, ia jumpai mayat itu berada dalam keadaan utuh dan tidak ditemukan mulut luka apa-apa. Satu-satunya penyebab kematian mereka adalah sebuah pukulan di atas tenggorokannya, seperti terhajar oleh telapak tangan, pukulan yang mematikan tersebut hanya meninggalkan segumpal warna hijau yang telah meremukkan tulang tenggorokan mereka. Puluhan sosok lainnya semua berada dalam keadaan seperti itu, tanpa terasa Siau Hiang menjerit kaget.

"Mengapa kau berteriak?"

Tiba-tiba Ting Peng berpaling sambil menegur.

"Mayat ... mayat... mayat itu...""

"Kau kenal dengan mereka?"

Siau Hiang sangsi sejenak lalu mengangguk.

"Yaa, mereka adalah orang-orang yang mengikuti di belakang kereta kongcu berapa hari berselang"

"Aneh, mereka hanya sekelompok manusia dari golongan kelas tiga, tak mungkin bisa mengikat tali permusuhan dengan jago-jago lihay, siapakah yang telah membinasakan mereka?"

"Sekali lagi dia memeriksa sekejap mayat-mayat itu kemudian sambungnya lebih jauh.

"Mereka semua mati karena tulang tenggorokannya hancur dihajar orang dengan telapak tangan, sudah pasti orang yang melakukan pembunuhan ini adalah seorang jagoan yang berilmu amat tinggi. Ah Ku maju ke muka dan mengusap tenggorokan beberapa sosok mayat itu dengan tangannya kemudian merentangkan telapak tangannya untuk diperlihatkan kepada Ting Peng. Telapak tangannya berwarna hitam oleh sebab itu dapat kelihatan jelas kalau diatasnya tampak sedikit serbuk perak yang halus.

"Aaaah Gin liong jiu (tangan sakti naga perak)! Pekik Siau hong dengan perasaan kejut bercampur keheranan.

"Apakah sih Gin liong jiu itu?"

Tanya Ting Peng hambar. Siau Hiang agak termenung sejenak kemudian baru berkata.

"Gin Liong jiu adalah semacam ilmu silat, juga seorang manusia, lengan orang ini terbuat dari perak, golok maupun pedang tak nanti mampu membacok kutung lengan tersebut, tapi bila dia hendak membunuh orang maka dicekiknya leher orang itu dengan tangan perak hingga tulang leher orang itu hancur dan tewas"

"Aaaaah masa orang itu sudah betul-betul kebal sehingga tidak kuatir dipukul maupun dibacok?"

"Soal ini budak kurang begitu tahu"

Kata Siau Hiang takut.

"agaknya dia mengenakan sarung tangan yang berwarna perak badannya mengenakan kaos kutang yang bersisik perak, mukanya memakai topeng berwarna perak dan kepalanya mengenakan kopiah perak ...."

"Waaah, kalau begitu dia kan menjadi seorang manusia perak"

Ujar Ting Peng tertawa.

"Kongcu, budak bukan lagi bergurau, dalam dunia persilatan benar-benar terdapat manusia semacam ini, dia adalah salah seorang diantaranya empat Tianglo perkumpulan Mo kau"

"Empat tianglo dari Mo kau?"

Siau Hiang manggut-manggut.

"Benar, Mo kau mempunyai empat orang tianglo, mereka adalah Kim Say (singa emas), Gin Liong (naga perak ), dan Thi Yan (walet baja)"

"Ooooh . ...bukankah Thi-Yan tianglo adalah sepasang suami istri yang tangannya kena kukutungi?"

"Benar, suami istri berdua itu menamakan dirinya sebagai Thi Yan-Siang hui (walet baja terbang bersama), tapi hanya suaminya yang menjadi tianglo cuma saja lantaran suami istri berdua itu selalu berada bersama dan tak pernah berpisah satu sama lainnya dimana dan disaat apapun selalu bersama maka nama Thi-Yan-Siang hui baru termasyhur sekali dalam dunia persilatan"

Ooooh, kalau begitu Gin liong datang mencari aku utuk membalaskan dendam bagi Thi Yan siang hui, tapi toh aku yang telah mengutungi lengan mereka, sepantasnya jika ia datang mencariku, mengapa orang-orang itu yang dibantai olehnya?"

Siau Hiang seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat tersebut diurungkan . Ting Peng menjadi tak sabar, segera tegurnya.

"Siau Hiang, bila ada perkataan utarakan saja berterus terang, jangan ragu-ragu macam begitu."

"Soal ini budak kurang jelas. tapi banyak kudengar orang luar berkata konon diantara empat tianglo dari Mo kau, Kim say, Gin liong dan Thi yan telah berkhianat kepada Mo kau"

"Ooh..., dari suatu perguruan kalau ada tiga orang tianglo diantaranya yang telah berkhianat, bukankah berarti perkumpulan mereka sudah mendekati kepunahan?"

"Sewaktu Mo kau malang melintang dalam dunia persilatan dulu, banyak perguruan besar yang terdesak hingga tak mampu mendongakkan kepala. Kelima orang Ciangbunjin dari lima partai besar selalu berusaha keras untuk menanggulangi keadaan tersebut, akhirnya secara beruntun ketiga orang tianglo Mo kau itu berhasil mereka suap, apalagi setelah memperoleh bantuan dari Cia sam sauya dari perkampungan Sin kiam san ceng berbondong-bondong mereka menyerbu markas besar Mo kau kemudian mengeroyok kaucu dari Mo kau hingga terjatuh dari jurang dan mati seketika sejak saat itulah pamor Mo kau kian lama kian bertambah pudar"

"Thi yan tianglo memiliki lencana bebas dari kematian, mungkinkah mereka peroleh lencana tersebut waktu itu?"

"Mungkin saja, Seperti yang diketahui selama memangku jabatan sebagai tianglo dalam Mo kau, mereka kelewat banyak membunuh orang-orang persilatan, untuk menghindari pembalasan dendam keturunan dari korban pembunuhnya di kemudian hari, kelima orang ketua partai besar pun bersama-sama menghadiahkan sebuah lencana bebas dari kematian-kematian untuk mereka.

"Kalau toh kekuatan Mo kau sudah begitu besar, kedudukan ke empat orang tianglo itupun begitu tinggi, mengapa mereka mau berkhianat kepada perkumpulan Mo kau?"

"Waaah, kalau soal itu mah budak kurang tahu"

"Tapi toh ada khabar anginnya bukan?."

"Pada hakekatnya persoalan tersebut merupakan suatu rahasia yang sangat besar kecuali Ciangbunjin dari lima partai besar, sedikit sekali ada orang yang mengetahuinya sebab Mo kau sendiri sebenarnya memang satu perkumpulan rahasia meski kekuasaan sangat besar namun amat jarang melakukan tindakan secara terbuka, bahkan ada sekawanan jago persilatan yang malah tak tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat suatu perkumpulan semacam ini, tak heran kalau khabar angin tentang merekapun tidak banyak jumlahnya"

"Darimana pula kau bisa tahu?"

Siau Hiang agak tertegun kemudian baru sahutnya.

"Oleh karena budak selalu mengikuti siocia dan berhubungan dengan siluman rase seperti yang diketahui siluman rase mempunyai kepandaian yang hebat dengan memiliki kemampuan untuk mengetahui segala-galanya, sedang budakpun amat gemar mendengarkan kisah-kisah cerita tentang dunia persilatan, sedikit-sedikit akhirnya membukit, itulah sebabnya hamba jadi mengetahui akan kejadian tersebut"

"Oooh, apakah Cing cing pun tahu juga?"

"Apa yang diketahui nona jauh lebih sedikit daripada yang budak ketahui, dia melatih ilmu rase langit, hakekatnya dia tak ambil perduli terhadap segala macam masalah yang terjadi dialam semesta ini"

"Lalu siapa yang mengetahui paling banyak?"

Siau Hiang segera tertawa.

"Mungkin saja tak ada, budak adalah orang paling tahu banyak tentang persoalan dalam, dunia persilatan. karena budak selalu memperhatikan dengan seksama, nona minta kepada budak agar selalu mendampingi kongcu, hal inipun dikarenakan kongcu mengetahui persoalan tentang dunia persilatan kelewat sedikit, ia minta kepada budak agar selalu memberikan gambarangambaran untuk kongcu pertimbangkan"

"Tapi.... kau toh buktinya tidak mengetahui tentang masalah yang sedang kita hadapi sekarang?"

"Bukankah budak sudah bilang pembunuhnya adalah Gin liong tianglo?"

"Tapi persoalan tentang Gin liong tianglo tidak banyak yang kau ketahui, seperti misalnya mengapa dia sampai menghianati Mo kau, mengapa harus membunuh orang-orang itu? Paling tidak, kau toh mesti memberikan sebuah jawaban yang jelas kepadaku"

"Besok budak akan mencoba untuk menyelidiki persoalan itu, bila sudah ada hasilnya akan kulaporkan kepada kongcu, setuju bukan ....?"

"Apakah besok kau sudah tahu? Kau akan menyelidikinya dari siapa?"

""Asal budak lakukan ilmu mengundang rase dan menanyakan soal ini kepadanya, segala persoalan akan menjadi jelas dengan sendirinya"

"Oooh, kau pandai ilmu memanggil rase?"

"Benar, majikan tua adalah kaisar dari para rase, setiap rase yang ada di dunia ini di kuasahi oleh majikan tua, tentu saja budakpun mengerti tentang ilmu memanggil rase"

Ting Peng tidak banyak berbicara lagi, dia cuma memandang sekejap ke arah Siau Hiang, setelah itu manggut-manggut dan membungkam dalam seribu bahasa.

Siau-Hiang sendiripun tidak berbicara lagi, untuk sesaat suasana menjadi hening sepi...

ooo0ooo SARANG KELINCI TING PENG telah sampai dirumah.

Tapi Cing-cing tak ada dirumah, Siau Im juga tak ada dirumah, mereka sama sekali belum pulang ke rumah"

Hanya Liu Yok siong yang menjemukan berada seorang di situ. Dengan gaya yang tengik dia berjalan mendekat, lalu berkata.

"Suhu kau orang tua telah kembali?"

Yaa aku sudah kembali "

Sahut Ting Peng sambil tertawa "

Song ji dalam kepergianku kali ini tentu kau sangat repot dirumah"

"Aaaah mengapa suhu berkata begitu? Hal tersebut sudah merupakan kewajiban dari tecu, harap kau orang tua jangan berkata demikian"

Kemudian dengan nada menyelidik dia bertanya lagi.

"Konon suhu telah berjumpa dengan Cia Siau hong dalam perjalanan kali ini?"

"Ehmm, yaa betul aku memang telah bersua dengannya, apa pula yang sempat kau dengar?"

"Soal pertarungan antara suhu dengan Cia Siau hong, di luar santer tersiar berita yang mengatakan suhu telah menang, tapi ada pula yang mengatakan suhu kalah, bahkan ada pula yang mengatakan kalian berimbang, tiada yang menang dan tiada yang kalah, tecu tak tahu manakah yang benar""

"Lantas menurut pendapatmu? seharusnya termasuk yang mana?"

"Tecu benar-benar tak tahu, Itulah sebabnya tecu mohon penjelasan dari suhu"

"Kau mengharapkan aku menang? Ataukah kalah ?"

"Soal ini... tentu saja tecu mengharapkan kemenangan berada di pihak suhu, dengan begitu seandainya orang lain menanyakan soal ini kepada tecu, tecupun merasa agak bangga"

"Kalau begitu, katakan saja demikian kepadanya"

Liu Yok siong nampak agak tertegun, kemudian serunya.

"Jadi suhu benar-benar telah berhasil mengalahkan dia?"

Ting Peng tertawa.

"Asal kau berkata demikian, sudah pasti tak ada orang yang membantah, termasuk Cia Siau hong sendiripun tak akan membantah"

"Kalau benar suhu yang menang, mengapa ada orang yang menyatakan bahwa suhu kalah atau seimbang?"

Kembali Ting Peng tertawa.

"Itukan cuma berita belaka, karena akupun tidak membantah"

Liu Yok siong semakin tertegun.."Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Bila kau ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya, maka beginilah kejadiannya, meski kau meski kami berdua telah bersua muka, namun hanya melakukan sesuatu perbincangan yang mendalam, tak sampai melakukan pertarungan apa-apa... ?"

"Tidak sampai bertarung ?"

"Benar, tidak sampai bertarung, tapi kami benar-benar telah melangsungkan suatu duel sengit"

"Kalau tidak bertarung, bagaimana mungkin bisa berduel sengit? Apakah kalian bertempur secara lisan?"

"Itu pun tidak. Kami hanya saling bertukar pikiran saja tentang pengetahuan kami dalam ilmu silat, akhirnya kedua belah pihak sama mendapatkan penjelasan yang amat bermanfaat, aku dan dia sudah tak perduli tentang soal menang kalah lagi setelah pedang saktinya dan golok saktiku dilancarkan bersama, siapa pun tak berhasil mematahkan jurus serangan dari lawannya, aku bisa saja mati di ujung pedangnya, tapi diapun akan tewas pula di ujung golokku, sebab itu diantara kami berdua sudah tidak persoalkan menang kalah lagi"

"Masa menang kalah saja tak bisa dibedakan?"

Ting Peng tertawa.

"Ya, dalam hal ini dibilang seimbang atau sama kuat, siapa lebih lihay dan siapa lebih lemah tentu saja ada cuma tiada orang yang akan memperebutkan soal menang kalah tersebut, yang di maksud menang setingkat adalah lebih mampu untuk mengendalikan jurus serangan sendiri, sehingga bila mana perlu bisa menarik kembali ancamannya dan tak sampai melukai pihak lawan"

"Lantas. apakah bagi diri pribadi pun bisa aman dan selamat?"

"Tidak, kecuali kalau pihak lawan pun memiliki kepandaian yang sama lihaynya, kalau tidak, hanya akan mati ditangan lawan saja. Menggunakan kematian untuk mencari kemenangan, haaahh ...haaaahhh ....dia bukan orangnya keputusan"

"Kemudian?"

Liu Yok-Siong seperti agak kecewa.

"Mungkin saja di kemudian hari, bila kami berdua sudah tak ingin hidup lagi, kami baru akan mencari lawan untuk berduel dan menggunakan kematian sendiri untuk menentukan kepandaian siapakah yang lebih hebat"

"Seperti Yan Cap-Sah mengalahkan dia dahulu?"

"Tidak sama, Yan Cap-sa belum dapat mengendalikan jurus pedang sendiri, dia hanya lihay dalam jurus serangan tapi akhirnya harus berkorban juga oleh jurus serangannya, berbeda dengan Cia Siau Hong yang dapat mengendalikan jurus serangannya, olieh sebab itulah Yan Cap-sa kalah di tangannya "

"Tentang soal ini, tecu amat bodoh harap suhu bersedia banyak memberi petunjuk..

"Dia menang karena dia hidup dan Yan Cap sa kalah karena dia mati, bukankah hal ini merupakan sebuah bukti yang jelas"

"Tapi bukankah hal itu malah bertolak belakang dengan apa yang suhu katakan barusan?"

"Benar, kelihatannya bertolak belakang, tapi dalam kenyataan tidak bertolak belakang, bila seseorang dapat membuat musuh yang mengalahkan dirinya bunuh diri, hingga selembar jiwa sendiri selamat, apakah orang ini bisa dikatakan sebagai pihak yang kalah."

Liu Yok siong menghela napas.

"Teori suhu kelewat dalam, tecu benar-benar tidak habis mengerti"

Katanya.

"Yaa, hal ini tak bisa disalahkan, sebelum ilmu silatmu berhasil mencapai tingkatan yang tinggi, memang tidak mudah untuk memahami akan hal tersebut, cuma asal kau bisa memahami apa yang kukatakan maka kemajuan yang kau raih akan pesat sekali, bahkan meningkat selangkah lebih ke atas, kau dapat menjadi seorang jagoan ke tiga"

"Jago ke tiga?"

"Benar, aku, Cia Siau hong berada di muka mu, kau tak nanti bisa melampaui kami"

Menghadapi sikap angkuh yang menggemaskan ini Liu Yok siong benar-benar merasa amat gemas, kalau bisa dia ingin mencengkeram tubuh Ting Peng lalu menginjaknya keras-keras.

Tentu saja hal demikian itu tak bisa dia lakukan, maka sambil tertawa merendah ujarnya.

"Aaaah, tecu tak berani sebanding dengan suhu bisa menjadi jagoan nomor tiga pun, sudah lebih dari cukup"

"Bagus sekali"

Ting Peng tertawa.

""anak pintar memang bisa diberi pelajaran, tidak sulit sebenarnya bila kau ingin mencapai ke tingkatan seperti itu, cuma mesti melakukan seperti apa yang kukatakan"

"Silahkan suhu memberi petunjuk""

"Carilah sebuah tempat untuk memisahkan diri dari keramaian dunia, berlatihlah tekun selama sepuluh tahun dengan menghadap ke dinding, selama sepuluh tahun ini, kau harus melupakan segala-galanya, agar dirinya menjadi kosong tanpa suatu beban, lupakan segenap kepandaian silatmu dulu, maka bila kau munculkan diri lagi, kau sudah akan menjadi jagoan yang tiada tandingannya lagi di dunia ini."

"Masa begitu gampang?"

Liu Yok siong agak kecewa.

"Jangan kau anggap cara itu gampang, sesungguhnya kau sudah memiliki dasar ilmu silat yang sangat baik, yang kurang adalah perasaan dan pikiranmu belum dapat berpadu, seandainya kau bisa mengosongkan pikiran sehingga perasaan dan pikiran berpadu, sekalipun menggunakan sebuah jurus serangan yang paling sederhanapun akan menghasilkan suatu kekuatan yang luar biasa."

"Tecu mengerti, itulah suatu tingkatan ilmu silat yang luar biasa, sayang tecu bukan termasuk manusia yang berbakat demikian."

"Kalau begitu, selama hidup kau hanya akan tersangkut pada tingkatan kelas dua saja."

"Tecu Cuma berharap bisa menjadi jagoan yang paling top diantara jago-jago kelas dua saja, sebab hal itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Ting Peng segera tertawa.

"Kalau begitu mah gampang sekali, bila ada waktu senggang, belajarlah dari Ah Ku, asal kau bisa mempelajari satu dua macam saja kepandaiannya, kau akan menjadi seorang jagoan yang paling top."

"Manusia macam apakah yang dimaksudkan sebagai manusia top?"

"Seperti ciangbunjin lima partai besar, juga seperti suhengmu dulu Lim Yok peng"

"Konon Lim Yok peng juga dikalahkan di ujung golok suhu"

Kata Liu Yok siong sambil menghembuskan napas panjang. Ting Peng segera tertawa.

"Itu mah bukan bertanding namanya, Kau adalah muridku sedangkan dia adalah suhengmu, aku hanya memberi pelajaran saja kepada seorang angkatan muda, oleh karena itu aku hanya mengutungi pedangnya menjadi dua bagian, siapa tahu kalau nyalinya kelewat kecil, ternyata dia menjadi bodoh karena ketakutan."

Selama hidup Liu Yok siong tak pernah menaruh kesan baik terhadap kakak seperguruan itu, tapi sekarang dia merasa sakit hati atas kekalahan yang diderita kakak seperguruannya itu, dia ingin menghadiahkan pula sebuah bacokan ke atas kepala Ting Peng.

Cuma sayang hal itu hanya berani dipikir dalam hati saja dan tak punya keberanian untuk melaksanakan secara nyata.

"Song ji"

Terdengar Ting Peng bertanya.

"Dalam dunia persilatan kau selalu tersohor karena tajamnya pendengaranmu, sewaktu aku akan kembali telah menemukan suatu peristiwa besar, tahukah kau?"

"Peristiwa besar apakah yang suhu maksudkan?"

"Dalam sebuah hutan tujuh puluh li di barat kota Hang ciu telah kutemukan tujuh belas orang jago persilatan yang terbunuh dan terdapat dalam hutan... ."

"Oooh, sudah terjadi peristiwa itu ?"

Liu Yok siong kelihatan sangat terperanjat. Tiba-tiba Ting Peng membentak dengan suara keras.

"Aku sedang bertanya kepadamu, tahukah kau akan hal ini, hmmm, jika kau berani mengatakan tidak tahu, sekali bacok kubunuh dirimu."

Ketika Liu Yok siong menyaksikan Ting Peng telah mengangkat golok bulan sabitnya, kontan paras mukanya berubah hebat, karena dia tahu Ting Peng bukan sedang bergurau.

Di bawah ancaman kematian, terpaksa dia harus menjawab.

"Tecu tahu !"

Pelan-pelan paras muka Ting Peng berubah agak mengendor, katanya lebih jauh.

"Kau masih terhitung tahu malu juga, Liu Yok siong, apa saja yang sedang kau pikirkan dalam hatimu, sudah kuketahui semua, oleh karena itu selama berada di hadapanku lebih baik kau jangan berlagak bodoh atau sok pintar."

Rasa kaget dan takut masih mencekam perasaan Liu Yok siong, buru-buru serunya lagi.

"Suhu, seandainya tecu benar-benar tidak tahu, bukankah aku bakal mati penasaran karena kau bacok?"

Seandainya kau benar-benar tidak tahu, akupun tak akan mendesakmu, bukankah sudah kukatakan tadi, apa pun yang kau pikirkan dalam hatimu sudah kuketahui lebih dulu dengan jelas?"

Ooo0ooo LIU YOK SIONG memandang sekejap wajah Ting Peng, ia rasa seram telah menyelimuti seluruh wajahnya.

Bila seseorang yang bertujuan jahat namun tak dapat merahasiakan isi hatinya di hadapan musuh sendiri yang paling tangguh, maka keadaannya saat itu pasti menyerupai kelinci yang dikurung dalam kandang harimau.

Walaupun kelinci itu pintar dan lincah namun berada dalam keadaan seperti itu keadaannya ibarat orang yang dijatuhi hukuman mati, cepat atau lambat akhirnya bakal ditelan harimau juga.

Sambil tertawa Ting Peng berkata lagi.

"Ketika aku membicarakan persoalan tersebut tadi, aku tidak tahu kalau kau menghormati akan persoalan itu maka pertanyaan yang ku ajukan pertama kalinya tadi merupakan pertanyaanku yang sebenarnya.

"Apakah pertanyaan tecu tadi menimbulkan suatu kecurigaan bagi suhu?"

"Benar! Penampilanmu ketika itu amat kaget dan gugup tapi berlagak seakan-akan tiada persoalan, disinilah letak titik kelemahanmu, karena pada hakekatnya kau bukanlah seseorang yang terlalu memperhatikan keselamatan jiwa orang lain, bila kau benar-benar tidak tahu, kau pasti akan bertanya siapa-siapa saja yang telah mati, tapi kau menaruh perhatian terhadap persoalan lain, hal ini membuktikan kalau kau sudah tahu siapa-siapa yang telah mati"

Sekali lagi Liu Yok siong merasa gemas terhadap diri sendiri, dia ingin menghadiahkan sebuah tamparan untuk diri sendiri dan memaki dirinya goblok, kalau kebiasaan sendiripun tidak diketahui, bagaimana mungkin bisa berlagak pilon?

Tapi dia lupa kebiasaan seseorang seringkali hanya diketahui orang lain, sedang dia sendiri justru merupakan satu-satunya orang yang tidak mengetahuinya.

Ting Peng tidak memberi kesempatan yang terlalu banyak baginya untuk mengomeli diri sendiri, kembali tanyanya.

"Kenapa orang-orang itu mati?"

Kali ini Liu Yok siong tak berani berbohong.

"Konon mereka mati ditangan Gin Liong Jiu!"

"Siapa pula yang dinamakan tangan sakti naga perak tersebut?"

"Gin Liong jiu adalah salah seorang dari empat Tianglo Mo-kau, ilmu silat khusus dari Gin-Liong Tianglo, dengan Thi Yan siang Hui suami istri yang suhu lukai tempo hari, mereda berasal dari satu aliran yang sama "Mengapa ia membunuhi orang-orang tersebut"

"Soal ini kurang tahu, tecu hanya mendengar dari salah seorang korban yang berhasil lolos dari bencana tersebut, dari mulutnyalah aku mengetahui bentuk muka si pembunuh sadis tersebut dan tecupun lantas menduga sebagai Gin Liong Tianglo, mungkin orang lain tak akan mengetahui akan hal ini"

"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia sengaja mencari gara-gara denganku ...."

""Seharusnya tak mungkin, jika dia ingin membalaskan dendam bagi Thi yan siang hui suami istri, sudah sepantasnya kalau secara langsung datang mencari suhu dan tidak seharusnya melimpahkan kemarahannya kepada orang yang tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa ini."

"Siapa tahu kalau dia ingin mengunjukkan kelihaiannya lebih dulu, maka sepanjang jalan yang kulalui, dia membunuhi kawanan manusia tersebut?"

"Kemungkinan kesitu memang selalu ada"

Kata Liu Yok siong dengan bersungguh-sungguh.

"orang Mo kau memang selalu kompak dan setia kawan, penghinaan terhadap mereka bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap seluruh anggota perkumpulan biasanya mereka bertekad akan membunuh lawannya sampai mati , itulah sebabnya setiap orang yang menyinggung soal Mo kau dimasa lalu, rata-rata berubah muka."

"Berapa banyak yang kau ketahui tentang soal Mo kau ?"

Terbatas sekali yang tecu ketahui tentang karena mereka terlalu misterius, orang luar jarang sekali mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya."

"Aku perintahkan kepadamu sekarang untuk pergi menyelidiki persoalan ini, sebab dan musababnya, besok harus memberi jawaban kepadaku"

"Soal ini....tecu kuatir..."

"Liu Yok siong, perduli cara apapun yang kau pergunakan, aku hanya tak mau dengar kau berkata kalau tugas ini tak sanggup kau lakukan, besok sebelum matahari terbenam, bila kau tak memberi jawaban kepadaku, lebih baik carilah tempat yang berpemandangan baik untuk menantikan kedatanganku, ingat sebelum matahari terbenam besok."

Liu Yok siong tak berani berbicara lagi setelah memberi hormat dia lantas mengundurkan diri dari situ, ketika tiba di luar pintu, ia baru mencaci maki Ting Peng sampai ketiga puluh enam keturunannya.

ooo0ooo HILANGNYA SANG BIDADARI BULAN sepuluh tengah malam, malam itu gelap gulita tak bersinar.

Langit mendung, banyak awan, suasana gelap gulita.

Sebuah gedung besar yang terbengkalai konon dihuni oleh dewa rase, oleh karena itu oleh pemiliknya gedung mana dijual kepada sepasang suami istri tua dengan harga bantingan.

Mereka berdua tidak begitu takut dengan siluman rase, pada saat itu juga kedua orang tua ini sudah pindah ke sana dan menetap dalam gedung tersebut.

Kepada semua orang, mereka mengatakan kalau didalam kebun benar-benar ada rasenya, cuma dewa rase kasihan kepada mereka yang sudah tua, maka diijinkan tinggal di tempat itu.

Tentu saja ada pula orang-orang iseng yang ingin tahu secara diam-diam, mereka melakukan pengintaian diwaktu malam, mereka menyaksikan dalam kebun terdapat perempuan cantik dan lelaki ganteng, tapi apa yang dilihat hanya sekejap mata, menyusul kemudian kesadaran mereka lenyap tak berbekas.

Keesokan harinya mereka akan temukan dirinya digantung di atas tiang bendera yang tinggi di atas loteng tembok kota, telinga mereka hilang sebelah.

Sejak peristiwa itu, tak ada orang yang berani mengintai gedung seram itu lagi.

Cing cing dengan membawa Siau Im, justru secara diam-diam memasuki gedung itu.

Sesosok bayangan manusia yang tinggi besar menghadang jalan perginya, orang itu berpakaian perang dari baja dengan wajah hijau membesi, ternyata orang itu adalah dewa bukit yang pernah dijumpainya dalam kuil tempo hari.

Sewaktu ia membungkukkan badan memberi hormat, pakaian perangnya berdentingan nyaring.

Nada suaranya pun seperti batu dan tembaga yang saling bergesekan, sangat menusuk pendengaran.

"Aku menjumpai tuan putri, mengapa tuan putri datang lagi kemari?"

"Aku ada urusan penting ingin berjumpa dengan yaya, sulit benar tempat yang kalian pergunakan sekarang, aku sudah mencarinya selama beberapa hari sebelum menemukannya. Paras muka Dewa bukit itu dingin tanpa emosi, tapi nada suaranya membawa kehangatan, ia berkata.

"Tuan putri, kau tidak seharusnya datang kemari, majikan tua telah berpesan, ia enggan mengadakan kontak lagi denganmu, sekarang kau sudah terlepas dari ikatan perguruan"

"Aku mengerti!,"

Kata Cing cing, seandainya anggota perkumpulan tiada yang mencari garagara denganku, akupun tak akan datang kemari"

"Ada anggota perkumpulan yang mencari tuan putri? Aaah, hal ini mustahil bisa terjadi?"

"Pasti tak bakal salah lagi, bahkan diapun membawa lencana ular emas milik yaya, oleh sebab itu aku ingin menanyakan soal ini kepada yaya"

"Sudah pasti tak akan pernah terjadi peristiwa tersebut, malah berapa hari berselang majikan tua masih memperingatkan kepada kami, agar kami jangan melakukan hubungan kontak lagi dengan Tuan putri..."

"Tapi lencana ular emas milik yaya tak mungkin dipalsukan orang bukan? Apalagi kalau orang yang membawa perintah itu adalah Kim-ih si ci (utusan berbaju emas)" . Dewa bukit agak tertegun, kemudian serunya keheranan.

""Aaaah, masa ada kejadian seperti ini? Sekarang semua lencana ular emas berada di bawah kekuasaanku, seandainya ada peristiwa semacam ini, sudah pasti akan kuketahui, sebenarnya apa yang terjadi? Perintah apakah yang diturunkan majikan tua lewat lencana ular emasnya....?"

"Yaya hendak membunuh suamiku!.."

Dewa bukit nampak terperanjat sekali.

"Aaaah, tak mungkin terjadi peristiwa semacam ini, mana mungkin majikan tua menurunkan perintah seperti itu? Ia sangat kagum dan gembira atas sukses yang berhasil diraih Ting kongcu belakangan ini, dia merasa walaupun kemampuan perguruan kita kian hari kian bertambah lemah, namun ilmu golok perguruan kita justru berhasil memperoleh kemajuan yang luar biasa ditangan Ting kongcu, di kemudian hari nama perguruan kita mungkin akan bertambah cemerlang bersama dengan makin tenarnya nama Ting kongcu! .."

"Paman Tong, aku tidak akan membohongimu"

Kata Cing cing, lencana ular emas di turunkan kepada budak ini, dialah yang diwajibkan membunuh suamiku, untung sebelum ia sempat turun tangan, aku berhasil menghalangi niatnya, dia bilang telah memperoleh perintah yaya lewat lencana ular emas tersebut, maka dari itu aku khusus datang mencari yaya untuk menanyakan persoalan ini, aku ingin tahu maksud hatinya yang sebenarnya"

Dewa bukit memandang ke arah Siau Im, sorot mata yang memancar keluar dari balik topeng tembaga hijaunya mencorong tajam bagaikan sembilu, suaranya pun turut berubah menjadi serius pula.

"Siau im! Benarkah itu?"

Bentaknya. Dengan ketakutan Siau Im mundur selangkah ke belakang, kemudian baru jawabnya.

"Benar"

"Apakah utusan ular emas sendiri yang menyerahkan lencana ular emas kepadamu?"

"Benar, sewaktu menyerahkan lencana ular emas, ia menyampaikan pula perintah dari majikan"

"Kau tak bakal salah melihat orang?"

"Tak mungkin, ketika budak masuk ke dalam perguruan, dialah yang membawaku, apalagi budak pernah belajar silat selama berapa tahun darinya..."

"Betulkah ia telah menyerahkan lencana ular emas tersebut kepadamu?"

"Benar, budak telah menyerahkan lencana ular emas itu kepada nona... ."

Baru saja Cing cing akan mengeluarkan lencana itu, Dewa bukit telah menukas.

"Taun putri tak usah memperlihatkan kepada hamba, lencana ular emas itu tak bakal palsu, Cuma sudah tidak berlaku lagi."

"Sudah tidak berlaku lagi?"

Cing cing tertegun.

"Berapa hari berselang, utusan baju emas telah membawa kabur dua belas batang lencana emas, ia berkhianat, tapi orang itu berhasil hamba hadang dan membunuhnya seketika, namun dari dua belas batang lencana ular emas yang dibawa kabur, hanya sepuluh batang yang berhasil kurampas kembali, Majikan tua kuatir ada orang yang menyalah-gunakan kedua batang lencana ular emas itu untuk berbuat semena-mena, maka seluruh anggota perkumpulan telah diberitahu kalau kekuasaan lencana ular emas tidak berlaku untuk sementara waktu."

"Soal ini budak tidak tahu"

Kata Siau Im ketakutan.

"Tentu saja kau tak tahu, sebab ketika lencana ular emas diserahkan kepadamu, utusan ular emas belum berhasil dibunuh."

"Aaah... Utusan ular emas bisa menghianati perguruan, ini benar-benar sukar dipercaya!"

Kata Cing-cing.

"bukankah dia selalu setia dan menurut selama ini?"

Dewa bukit menghela napas panjang.

"Aaai ....bagaimanapun juga, dia adalah murid Kim say tianglo, diapun merupakan wakil thamcu dari Kim lotoa, bila Kim lotoa datang mencarinya, terpaksa dia harus mengikutinya pergi"

"Apakah dia tidak tahu jika Kim say tianglo adalah penghianat perguruan kita?"

"Sekalipun tahu, apalah gunanya? Kim lotoa melepaskan budi setinggi bukit kepadanya, sedang peraturan perguruanpun amat ketat dan tegas, bilamana harus dibandingkan satu sama lainnya tentu saja dia akan condong ke pihak sana. Cing cing turut menghela napas panjang. (Bersambung ke

Jilid 18) Jilid. 18

"AAAA ....dari kejayaan yang cemerlang ibarat mata hari di angkasa, dalam sekejap mata pamor kita sudah runtuh sedemikian rupa, dari empat orang tianglo, tiga orang telah berkhianat, tentunya merekapun disebabkan alasan yang sama bukan?"

"Benar, meskipun mereka menjabat sebagai tianglo dari perguruan kita, namun sama sekali tidak merasakan kewibawaan dari seseorang yang memegang kekuasaan besar, bila sampai melanggar peraturan, tetap harus menjalankan hukuman seperti lainnya, yaaa.. walaupun peraturan ini diperlakukan demi kepentingan kita sendiri dan agar semua orang meningkatkan kewaspadaannya, tapi bagai manapun juga peraturan mana memang kelewat keras dan ketat .."

"Aku pernah berkata kepada yaya, pendapat serta pandangan dia orang tua sebenarnya keliru, tapi dia bilang peraturan tersebut tak boleh dirubah, makin tinggi kedudukan seseorang, dia harus semakin mawas diri dan selalu waspada, tak boleh melakukan pelanggaran ataupun kesalahan, seperti penghianatan dari ke tiga orang tianglo itu yaya menganggap bukan kesalahan dari peraturan, melainkan moral dan iman merekalah yang tak kuat memikul tugas berat ini, seperti paman Tong, bukankah kau tak pernah melanggar peraturan barang sekali pun?."

Sambil menundukkan kepala Dewa bukit itu menghela napas panjang.

"Aaaai, meskipun peraturan dari majikan tua sangat ketat, tapi dia sendiripun tetap melaksanakan dengan bersungguh hati. aku masih ingat, suatu ketika tanpa disengaja ia telah melanggar peraturan, namun seperti juga anggota perguruan lain, dia membuka pakaian sendiri dan menerima siksaan di garang api di hadapan umum, ketika kami berempat memohon ampun kepadanya agar dia menyudahi perbuatannya itu, kami malah dicaci maki habis-habisan, sejak itulah aku semakin menaruh hormat kepada majikan tua, sayangnya orang lain tidak berpendapat demikian"

Setelah berhenti sebentar, katanya lebih jauh.

"Tapi beginipun ada baiknya juga, setelah terjadi perubahan, meski anggota kita tidak banyak lagi jumlahnya, namun sebagian besar adalah orang-orang yang benar-benar setia pada perguruan, cuma saja masih ada sebagian kecil manusia yang tidak sependapat..."

Ketika sorot matanya yang tajam dialihkan ke wajah Siau Im, dengan wajah pucat pias gadis itu berseru.

"Tong toa siok, selama ini aku selalu setia dan berbakti kepada nona, kalau kau tidak percaya boleh ditanyakan kepada nona"

Dewa bukit mendengus dingin.

"Siau Im, kau dan Siau Hiang berdua mengikuti tuan putri, majikan tua telah mencoret nama kalian dari keanggotaan perguruan..."

"Baik... Cuma kami masih seringkali mengadakan hubungan kontak dengan perguruan"

"Hal itu dikarenakan untuk membantu Ting Kongcu, meskipun ia berhasil melatih ilmu golok sakti yang tiada tandingannya dikolong langit, tapi masih kekurangan pengalaman dalam dunia persilatan. selain ini persoalan dunia persilatan masih kelewat peka baginya, itulah sebabnya majikan tua mengijinkan anggota perguruan kita untuk melaporkan segala gerak gerik dalam dunia persilatan serta memberikan pelbagai bantuan yang kalian butuhkan demi suksesnya dia. Namun berikut Tuan putri sendiri kalian hanya berkedudukan sebagai tamu belaka, mengerti kau?"

"Tecu mengerti"

"Kalau sudah mengerti hal ini lebih bagus lagi"

Dewa bukit tertawa dingin.

"kalau begitu, hal mana menunjukkan pula jika bohongmu kurang pintar, kau seharusnya dapat berpikir, lencana ular emas adalah lencana yang paling tinggi didalam perguruan sekalipun kau masih berada dalam perguruanpun masih belum pantas untuk menerima perintah ini, apalagi kau sudah bukan anggota perguruan lagi"

Paras muka Siau Im segera berubah hebat.

"Tapi lencana tersebut benar-benar kudapatkan dari utusan berbaju emas"

"Semua gerak gerikmu selama ini selalu berada dalam genggamanku, kau mengatakan utusan berbaju emas menyerahkan lencana itu kepadamu dalam rumah penginapan, bukankah waktu kejadiannya telah berlangsung setengah bulan berselang?"

"Betul! Hari itu adalah bulan sembilan tanggal dua belas."

"Utusan berbaju emas meninggalkan markas perguruan pada bulan sembilan tanggal sembilan, mungkin tujuannya adalah untuk bekerja sama dengan operasimu, sayang dia setelah kutangkap dan kubunuh pada bulan sembilan tanggal sebelas, masa sukmanya yang datang mencarimu?"

Kontan paras muka Siau Im berubah makin pucat pias. Terdengar Dewa bukit berkata lebih jauh.

"Aku percaya lencana ular emas itu sudah diserahkan kepadamu jauh hari sebelumnya, karena bulan sembilan tanggal sembilan majikan tuan berziarah ke kuburan, maka semua tanda perintah telah diperiksanya dengan seksama, padahal lencana ular emas ditangan utusan berbaju emas telah kurang dua batang, jika diperiksa rahasianya pasti akan ketahuan, maka itulah dia buru-buru melarikan diri, Aku tahu antara dia dengan Kim say tianglo mungkin ada hubungan akupun selalu memperhatikan gerak geriknya."

Sekarang paras muka Cing-cng baru berubah membesi serunya dengan suara dalam.

"Siau Im, benarkah kau sedang berbohong"

Siau Im segera menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah, buru-buru serunya dengan suara mengenaskan.

"Siau Im mohon mati saja"

Cing cing segera menghela napas panjang;

"Aaaai... Siau Im, aku menganggap dirimu seperti saudara sendiri, bahkan suamikupun kuserahkan kepadamu untuk kau nikmati, mengapa kau masih bersikap demikian kepadaku?"

Siau Im tidak menjawab, walau hanya sepatah katapun, dia hanya menyembah berulang kali membentur-benturkan kepala-nya di atas tanah.

"Siau Im"

Kembali Dewa bukit berkata.

"Perintah yang diturunkan kepadamu ini benar-benar keterlaluan, dengan kemampuan yang kau miliki, bagaimana mungkin kau sanggup membunuh Ting kongcu?"

"Yaa, jika berada dalam suatu situasi yang istimewa, tentu saja dia sanggup melakukan hal itu,"

Kata Cing cing,"

Coba kalau aku tidak datang tepat pada waktunya, mungkin dia telah berhasil"

"Mustahil, bila Ting Peng begitu gampang dibunuh orang, dia bukan bernama Ting Ping"

Orang yang berbicara adalah seorang sastrawan setengah umur yang sangat ganteng, pelanpelan dia berjalan mendekat. Cing cing segera menjatuhkan diri berlutut serunya.

"Cing cing menghunjuk hormat buat yaya"

Lelaki setengah umur itu segera menariknya bangun kemudian katanya sambil tertawa.

"Nak, kau datang kemari untuk mengajak yaya beradu jiwa?"

"Cing Ji, tidak berani"

Buru-buru Cing cing berseru.

"aku hanya ingin bertanya kepada yaya mengapa kau menurunkan perintah tersebut?"

Dengan penuh kasih sayang lelaki setengah umur itu membelai rambutnya yang hitam, kemudian berkata.

"Kau anggap yaya dapat berbuat demikian?"

"Tidak! Cing cing tak akan berpendapat demikian, itulah sebabnya Cing ji sengaja datang kemari untuk mencari tahu keadaan yang sesungguhnya, bila yaya sungguh mempunyai maksud begitu, Cing ji tak bakal datang lagi kemari"

"Ooooh...apa maksudmu tak akan datang lagi kemari?"

"Cing ji akan melaksanakan perintah dari Yaya"

"Sungguhkah itu?"

"Tentu saja sungguh, bahkan Ting Peng juga tak akan melawan, dia pasti akan menyerahkan diri untuk mati. Jiwanya ditolong oleh yaya, segala sesuatu yang diperolehnya hari ini juga berasal dari yaya, bila yaya suruh dia mati, dia tak akan ragu-ragu"

"Kau berani menjamin?"

"Bila yaya suruh dia melakukan suatu perbuatan yang tak ingin dia lakukan, mungkin saja dia akan melawan, tapi bila yaya suruh dia mati, dia pasti akan menurut, Cing ji cukup memahami perasaannya, Cing ji berani menjamin"

Dengan perasaan terhibur lelaki setengah umur itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh... haahh... bagus! Bagus sekali asalkan bocah itu mempunyai ingatan demikian, tidak sia-sia aku telah mengorbankan banyak pikiran dan tenaga baginya"

"Sekalipun yaya tidak memberi tahukan kepadanya, tapi Cing ji percaya dia pasti tahu kalau tenaga dalam yang dimilikinya sekarang merupakan hasil pemberian yaya kepadanya! dan lagi diapun bukan seorang manusia yang lupa budi" .

"Dia menganggap kau sebagai rase?"

"Soal ini Cing ji kurang jelas, seharusnya dia sudah mempunyai suatu gambaran tentang diriku, tapi dia masih saja menganggap Kami sebagai siluman rase"

Lelaki setengah umur itu pun lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..haaahhh....haaahhh .. bocah pintar, tak nyana dia begitu pikun, kalau ia beranggapan demikian, jadilah kau sebagai rase yang baik"

"Bagaimana di kemudian hari?"

Kembali lelaki setengah umur itu tertawa.

"Tak usah kau perdulikan kemudian hari, urusan besok pikirkan besok, apa lagi siapapun tak dapat menduga, asal saja kau harus mempercayai satu hal, yaya tak akan melakukan perbuatan yang mencelakai kalian, terutama Ting Peng, rasa sayang yaya terhadapnya tidak lebih besar daripada rasa sayangku kepadamu"

"Cing Ji mengerti"

Lelaki setengah umur itu segera menepuk bahunya, lalu berkata lagi.

"Asal kau sudah mengerti, itupun bagus sekali, bawalah Siau Im dan pergilah dari sini! Lain kali jangan sembarangan pergi lagi, sebab kami harus pindah tempat lagi"

"Pindah tempat lagi? Mengapa?"

"Kalau kau saja dapat menemukan tempat ini, kau anggap tempat ini aman.?"

Dewa bukit agak sangsi sebentar, kemudian baru katanya.

"Majikan, kau hendak melepaskan Siau Im?"

Lelaki setengah umur itu segera tertawa.

"Kalau toh dia bukan termasuk anggota perkumpulan kita, berarti kitapun tidak berhak untuk menghukum dirinya?"

"Tapi dia telah mendapatkan lencana ular emas dari perkumpulan kita.."

"Bukan lencana ular emas yang diperolehnya, sebab sejak bulan sembilan tanggal sepuluh lencana ular emas kita sudah punah, dia tidak melakukan kesalahan apa-apa, sedang perbuatannya yang mengancam jiwa Ting Peng pun merupakan urusan keluarga mereka sendiri, kita tak berhak untuk mencampurinya. Unta tembaga bagaimana menurut pendapatmu?"

"Baik, majikan"

Dengan hormat Dewa bukit menjura.

"Aku merasa gembira sekali karena persoalannya bisa berkembang menjadi begini, Cing ji, meski kau tidak masuk waktu itu, diapun tak akan mampu membunuh Ting Peng, karena jalan nadi Seng si hian kwannya sudah tembus, sebilah pisau belati tak nanti bisa membinasakan dirinya, dan aku percaya orang yang memerintahkan kepadanya untuk turun tanganpun mengerti juga akan hal ini"

"Kalau memang begitu, mengapa dia masih menyuruh aku turun tangan?"

Tak tahan Siau Im bertanya.

"Dia hanya bertujuan dalam kegagalanmu nanti, kau mengatakan akulah yang menyuruhmu berbuat demikian, agar Ting Peng membenci diriku"

Siau Im menundukkan kepalanya membungkam diri, ia tidak berbicara apa-apa lagi. Kembali lelaki setengah umur itu berkata.

"Sekalipun kau enggan mengatakan siapakah orang yang menyuruhmu, tapi aku pun tahu kalau orang itu adalah Kim say (singa emas) sebab hanya dia yang dapat memerintahkan kepada utusan berbaju emas untuk mencuri lencana ular emas dan diserahkan kepadanya sebelum diberikan kepadamu."

Tiba-tiba Siau Im berlutut dan menyembah tiga kali, kemudian diapun menyembah kepada Dewa bukit serta Cing cing. setelah itu baru bangkit dan beranjak pergi dari situ.

"Siau Im, kau hendak ke mana?"

Cing cing segera menegur.

"Budak mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati majikan yang telah mengampuni selembar jiwaku, sedang nona pun tak bisa kutinggali lebih lama lagi, oleh sebab itu aku hendak pergi untuk melanjutkan hidup sendiri..."

"Apakah Kim say akan menerimamu?"

Seru Cing-cing. Siau Im tertawa lembut.

"Budak tidak tahu, sewaktu dia menyerahkan tugas tersebut kepadaku, ia hanya bilang bila berhasil aku harus segera pergi ke suatu tempat, dimana ada orang yang akan mengatur segala sesuatunya bagiku. sekarang setelah mendengar penjelasan dari majikan, baru bisa kusimpulkan kalau ia telah menduga bahwa budak pasti akan mati dan tak bakal berhasil, karenanya tempat yang dijanjikan sudah pasti merupakan tipu muslihat belaka.."

"Bagaimanakah watak si singa emas aku rasa kaupun mengetahui jelas, lelaki setengah umur itu tertawa.

"kecuali dia masih membutuhkan dirimu, kalau tidak, jangan harap dia bisa membiarkan kau hidup terus"

Siau Im segera menghela napas panjang, jelas diapun mengetahui tentang hal itu.

"Siau Im, aku tidak habis mengerti, mengapa kau harus menuruti perkataan mereka?"

Tiba-tiba Cing cing bertanya.

"Karena aku ingin hidup terus"

Sahut Siau Im sambil tertawa lembut.

"Apakah tidak menuruti perkataan mereka kau tak bisa hidup lebih lanjut?"

Siau Im memandang sekejap ke arah lelaki setengah umur itu, ternyata dia pun berdiri dengan wajah amat serius. Terdengar ia berkata.

"Seandainya kau berada di sini, aku tak berani menjamin kau pasti tak akan terluka, karena akupun tidak tahu apakah di sini masih terdapat orang-orang mereka"

"Tapi jika kau mengikuti aku, kujamin keselamatanmu, sebab di sisiku hanya ada kau Siau hiang dan Ah Ku tiga orang"

Ucap Cing cing.

"mereka berdua adalah orang yang amat setia kepadaku, aku menaruh kepercayaan penuh terhadap mereka"

"Nona kecuali kau sepanjang hari mengikuti disamping Ting kongcu, kalau tidak kau sendiripun tidak cukup aman, ilmu silatmu tak akan bisa menangkan kelihaian Kim say tianglo"

"Mungkin"

Cing-cing tertawa.

"tapi ia tak berani mengusik diriku, karena bila dia membunuhku, maka Ting kongcu pasti akan pergi mencarinya untuk menuntut balas"

"Tapi, apakah nona masih bersedia menerimaku?"

"Mengapa tidak?"

Cing cing tertawa.

"selama ini aku tak pernah mengatakan tak mau, apalagi kita sudah berkumpul banyak tahun, tentu saja bila kau sudah mempunyai tempat yang lain, akupun tak akan menghalangi kepergianmu, tapi daripada mengembara tanpa tujuan, lebih baik mengikuti diriku saja"

Akhirnya Siau Im berjalan kembali. Dengan perasaan bangga lelaki setengah umur itu memandang sekejap, ke arah Cing-cing, kemudian hiburnya.

"Cing ji, kau bagus sekali, kau lebih mengerti memaafkan orang lain daripada diriku, kau pasti akan hidup dengan bahagia. Sayang kelewat terlambat kupahami akan hal ini, seandainya sedari dulu akupun memahami teori semacam ini, mungkin aku tak akan menemukan akibat seperti apa yang ku alami hari ini"

Dengan cepatnya dia membalikkan badan tujuannya agar orang lain jangan sampai melihat air matanya. Cing cing mengetahui sangat jelas, dia manggut-manggut kepada Dewa Bukit sambil berkata.

"Paman Tong, aku pergi dulu, semoga kau baik-baik menjaga diri, lain kali aku akan datang lagi untuk menjengukmu"

Dia tidak meminta diri kepada kakeknya, sebab dia tahu yayanya melengos ke arah lain karena ia tak tega menyaksikan dirinya meninggalkan tempat tersebut.

Menurut kepercayaan dalam perkumpulannya, air mata adalah air suci yang paling berharga dalam hidupnya.

tiap orang hanya boleh mengucurkan air mata sebanyak dua kali.

Diapun tahu, air mata pertama dari yayanya telah terleleh keluar ....

Air mata itu meleleh keluar waktu mendengar bait syair dari Siau lo it ya teng cun hi.

Sudah pasti bait syair tersebut mencakup suatu kisah kejadian yang amat memedihkan hati, cuma sayang siapa pun tidak tahu kejadian apakah itu, bahkan nenek yang paling dekat hubungannya dengan diapun juga tidak tahu.

Air mata kedua dari yayanya belum meleleh keluar dan air mata tersebut jelas tak akan dibuang dengan percuma.

dengan sangat hormatnya dia menyembah kepada bayangan punggung lelaki itu, kemudian mengajak Siau Im meninggalkan tempat tersebut.

ooo0ooo SIAU IM berjalan dimuka, Cing cing berjalan di belakang, mereka berdua sama-sama menunggang kuda.

Sebab bagaimanapun juga mereka bukan rase yang sebenarnya, tak bisa terbang ke langit dan masuk ke bumi, tak dapat pula melenyapkan diri, sedang perjalanan kali ini mereka telah menempuh perjalanan yang cukup jauh, bagaimanapun mereka mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk berjalan di daratan, tak mungkin mereka bisa menempuh perjalanan jauh dengan berjalan belaka sebab itu mau tak mau mereka harus menunggang kuda.

Mereka berdua sama-sama mengenakan pakaian biasa, sebab itu mereka nampak amat menyolok, masih untung wajah mereka ditutupi dengan selembar kain kerudung, kalau tidak mungkin peristiwa ini akan menimbulkan kegemparan...

Cukup dilihat dari potongan badan Cing cing yang indah menawan serta sikap anggun yang terpancar dari gerak-geriknya, hal mana sudah cukup untuk mempesonakan hati orang lain, apalagi setelah menyaksikan paras mukanya yang cantik jelita, mungkin seperti apa yang dialami Ting Peng, perjalanannya akan diikuti segerombol manusia.

Dengan susah payah mereka telah keluar dari kota, manusia yang berlalu lalang semakin sedikit sehingga kuda bisa dilarikan berjajar.

Cing cing melarikan kudanya menyusul ke depan, lalu terdengar Siau Im berkata dengan murung.

"Nona, cara kita ini gampang menimbulkan keonaran"

"Aku mengerti, tapi apa daya?"

"Sebenarnya kita bisa saja menyamar"

"Aku tahu, tapi dengan dandanan seperti itu, justru akan semakin banyak kesulitan yang bakal kita jumpai, dengan dandanan kita sekarang, tentu tidak sedikit orang yang mengenali kita, mereka belum tentu berani mengusik aku, sebaliknya bila kita menyaru sebagai dandanan lain, betul bisa mengelabuhi sementara orang, namun tak akan bisa melamuri seorang ahli, seandainya mereka turun tangan secara diam-diam, kematian kita mungkin tak akan diketahui orang"

Setelah dipikir-pikir dan merasa apa yang dikatakan benar, Siau Im menghela napas panjang, katanya.

"Nama kongcu kelewat besar dan lagi dia pun kelewat cepat menjadi tenar, dari seorang manusia tak bernama sebentar saja sudah menjadi manusia paling tenar di dunia ini bahkan sejajar dengan nama Cia Siau hong, tentu saja terdapat banyak orang yang tak akan percaya, tidak puas dan ingin mencoba, justru karena persoalan inilah sering kali akan timbul banyak kesulitan"

Cing cing menghela napas panjang.

"Aaaai... Cia Siau hong sudah banyak tahun menjadi tenar, tapi dia toh belum dapat menghadapi semua kesulitan yang dihadapinya"

"Sekalipun demikian, toh orang yang berani mengunjungi perkampungan Sin kiam san ceng untuk mencari gara-gara sedikit sekali"

"Hal tersebut hanya dikarenakan Cia Siau hong sudah tidak mencampuri lagi urusan dunia persilatan selama banyak tahun, bahkan oleh sementara orang dianggap sebagai seorang malaikat, kalau tidak dia masih tetap sama saja melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sebab hal ini tak mungkin bisa dihindari, kesulitan pun tetap akan berdatangan, ada yang dia sendiri yang mencari, ada pula orang lain yang sengaja datang mencari"

"Bagaimana dengan kongcu sekarang?"

Cing cing tertawa.

"Sekarang dia tak usah mencari orang lagi, mencari Cia Siau hong seorang sama artinya dengan menerima semua kesulitannya, bahkan kami pun harus ikut pula menghadapi kesulitankesulitannya itu"

"Tapi kongcu mempunyai nama besar, orang yang berani mencari gara-gara dengannya pun sudah pasti bukan manusia sembarangan"

"Yaa, sudah pasti bukan manusia sembarangan, orang yang tidak takut mati tetap sedikit jumlahnya, banyak orang banyak bicara nyaring mulut, tapi setelah rasa kematian berada di depan mata, mungkin dia jauh lebih takut mati daripada yang lainnya."

Siau Im tertawa.

"Jangan lagi mencari gara-gara dengan kongcu, orang yang berani mencari gara-gara dengan kita berdua pun, paling tidak harus mempunyai sedikit kemampuan"

Cing cing termenung sebentar, tiba-tiba katanya.

"Kau keliru"

"Aku keliru?"

Siau Im tertegun.

"Benar kesulitan telah muncul di depan mata sekarang, bahkan kelompok manusia tersebut tampaknya tidak memiliki kepandaian yang terlalu hebat...."

Dia menunjuk ke depan dengan cambuk kudanya, benar juga tujuh delapan orang lelaki kekar telah berdiri di tepi jalan sambil membusungkan dada, ada yang membuka pakaian bagian dadanya sehingga nampak ototnya yang kekar dan kuat.

Orang-orang itu berperawakan tinggi kekar, dalam pandangan sementara orang mereka adalah Hohan, enghiong, hokiat, karena orang-orang ini sering kali berkelana di jalanan, membuat keonaran di dalam rumah makan, tapi dalam pandangan seorang ahli silat, mereka belum masuk hitungan.

Berbicara soal bobot, mereka tak lebih cuma kaum berandal yang bercokol di suatu daerah tertentu.

Orang-orang itu semuanya membawa senjata tajam, ada yang membawa tombak, golok, dada dan lain sebagainya, sedang wajah merekapun menunjukkan sikap seolah-olah hendak mencari gara-gara.

Biasanya, didalam kelompok berandal semacam ini, sudah pasti terdapat seorang yang menjadi pentolannya.

Pentolan tersebut mungkin saja tak pandai bersilat, atau hanya bisa berapa macam kembangan, tapi syarat untuk menjadi seorang pentolan bukanlah silat ilmu saja, melainkan harus memiliki dua macam benda, pertama adalah uang dan kedua adalah kekuasaan.

Kebanyakan pentolan mereka adalah keturunan orang kaya yang tak suka bekerja, kini dalam kelompok merekapun terdapat seorang semacam ini...

Kelompok manusia-manusia tersebut kebanyakan tak punya pekerjaan tetap di hari-hari biasa, mereka sering kali menggoda istri atau anak gadis orang, suka memeras dan menganiaya rakyat kecil.

Tapi kali ini kelompok berandal itu bukan cuma berani mencari gara-gara di tengah jalan raya, bahkan berani pula mengusik Cing cing dan Siau Im, tampaknya nasib sial telah menanti mereka.

Siau Im yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa katanya.

"Nona, kawanan manusia tak punya mata ini berani mencari gara-gara dengan kita, biar kuberi pelajaran kepada mereka"

"Kita tak punya banyak waktu untuk ribut dengan mereka"

Kata Cing cing dengan kening berkerut.

"Sekalipun aku tidak pergi mencari mereka, aku rasa kitapun tak bisa aman tentram tanpa urusan, agaknya mereka sudah bertekad untuk mencari gara-gara dengan kita"

Puluhan pasang mata berandal sama ditujukan ke tubuh mereka, tampaknya memang itulah yang mereka harapkan.

Tatkala kedua belah pihak hampir saling bersua itulah, Kongcu hidung bangor itu memerintahkan orangnya untuk berdiri sejajar untuk menghadang jalan pergi orang, jelas mereka memang bermaksud untuk mencari gara-gara.."

Kemudian lelaki hidung bangor itu berdiri sambil menggoyang-goyangkan kipasnya sambil picingkan mata dia bergumam.

"Bagus, bagus sekali.. sudah lama aku tidak bersua dengan barang bagus, tampaknya kali ini cukup menawan hati". Siau Im segera memberi tanda kepada Cing cing, kemudian sambil tertawa genit dia membungkukkan badannya sembari berkata.

"Kongcu, harap kau suka memberi jalan lewat buat kami berdua berhubung ada urusan penting kami berdua harus segera melanjutkan perjalanan."

Lelaki hidung bangor itu tertawa semakin keras, serunya.

"Nio-cu berdua, suami kalian benar-benar tak mengerti bagaimana menyayangi gadis cantik, sekalipun ada urusan yang lebih pentingpun tak seharusnya menyuruh kalian yang melakukan"

"Yaa, apa boleh buat"

Kata Siau Im sambil menunjukkan muka masam,"

Dirumah hanya ada siang-kong seorang sebagai orang lelaki apa lacur, diapun sedang keluar rumah terpaksa siau niocu kami harus turun sendiri ke desa untuk menagih hutang"

Lelaki hidung bangor itu mengangguk.

"Hemm, sungguh menggemaskan sekali, sungguh menjengkelkan, lelaki itu benar-benar sangat tolol, sudah memiliki istri cantik seperti kalian, ia masih tega meninggalkan kalian untuk pergi jauh, Pun kongcu benar-benar merasa tidak puas akan hal ini"

"Kongcu ya, jangan bergurau, majikan tua kami sedang menderita sakit, sekarang lagi menunggu kami membawa uang untuk pulang memanggil tabib, harap kau jangan mengganggu perjalanan kami"

"Ooooh .... rupanya Lo thay-thay sedang sakit"

Pemuda hidung bangor itu tertawa.

"Kalau begitu, memang tak boleh membuang waktu lagi, sudah sepantasnya kalian cepatcepat mengundang tabib"

"Siapa bilang tidak, tapi tabib biasa tak akan dapat menyembuhkan penyakit majikan tua, penyakit itu baru dapat disembuhkan bila mengundang tabib kenamaan Yap Thian si, Yap sianseng dari kota So ciu, padahal ongkos perjalanannya amat banyak, terpaksa kami harus turun ke desa untuk menagih hutang, walaupun sudah memperoleh seratus tahil perak ternyata masih kurang, maka terpaksa kami harus pulang dan hutang dulu kepada tetangga"

Pemuda hidung bangor itu segera memperlihatkan rasa simpatiknya, diapun bertanya.

"Sudah mendapatkan pinjaman?"

""Sekalipun tidak mendapatkan juga mesti berhutang, sebab apa boleh buat lagi? Kendatipun mesti membayar dengan bunga yang tinggi juga terpaksa namanya.."

"Apakah tidak terlalu rugi? Selamanya pun kongcu suka berbuat kebaikan, begini saja, kuberi pinjaman lima ratus tahil untuk kalian berdua.."

"Benarkah itu!"

Seru Siau Im kegirangan.

"Siau Im"

Cing cing segera menegur.

"kita tidak saling mengenal mana boleh meminjam uang kepada sembarangan orang?"

"Sau hujin, bukankah hal ini baik sekali? Daripada kita pulang ke rumah untuk meminjam kepada tetangga, mending kalau dipinjami, mengapa tidak kita terima saja bantuan dari kongcu ini."

"Setelah meminjam milik orang, dengan apa kita akan membayarnya di kemudian hari?"

Pemuda hidung bangor itu segera tertawa.

"Rupanya soal inilah yang dikuatirkan Siau Nio-cu, tak usah kau pikirkan, justru karena pun kongcu mempunyai banyak uang dan tak tahu bagaimana mesti menggunakannya, aku senang berbuat demikian, kalau tidak percaya tanyakan sendiri kepada orang-orang ini, siapa yang tak pernah meminjam berapa ratus tahil kepadaku? Dan aku pernahkah menuntut kembali dari mereka.."

"Kongcu kami paling royal orangnya"

Seorang lelaki gemuk bermuka kuning turut menimbrung "Asal kami mau menemaninya bermain, hutang berapapun akan dianggap lunas"

"Hei si gemuk kuning, kau jangan mengaco belo. Pun kongcu justru merasa kasihan kepada kalian, kau anggap aku kekurangan orang untuk menemaniku bermain, maka menyuruh kalian menemaninya?"

"Benar! Benar! Hamba memang salah berbicara, asal kongcu bisa ditemani kedua orang siau nio cu ini, tentu saja tidak membutuhkan kami lagi..."

"Di atas wajahnya telah menunjukkan selapis hawa sesat yang menggidikkan hati. Siau Im menggertak gigi menahan diri, sementara senyuman manis masih menghiasi ujung bibirnya, dia berkata.

"Kongcu, kau jangan bergurau, kami tak pandai bermain pisau atau pedang, bagaimana mungkin bisa menemanimu untuk bermain.?"

Pemuda hidung bangor itu segera tertawa.

"Aaaah... itu kan permainan orang-orang kasar, terhadap nona cantik seperti kalian berdua, tentu saja aku tak berani berbuat sembarangan, permainan kita tentu saja permainan yang halus dan lebih berseni"

"Permainan apa yang lebih berseni?"

"Seperti minum arak, membuat syair, menyanyi...".."Aaaah, kongcu! permainan semacam itu hanya permainan para nona dari sarang pelacur, kami adalah perempuan-perempuan dari keluarga baik, mana bisa kami lakukan hal semacam itu?"

Kembali pemuda hidung bangor itu tertawa.

"Ada semacam permainan yang dapat dilakukan oleh setiap perempuan, asal kalian bersedia menemani pun kongcu bermain satu kali, pun kongcu segera akan menghadiahkan dua ratus tahil perak kepada kalian."

Siau Im turut tertawa.

"Akupun tahu kalau dikolong langit tak ada orang yang benar-benar berbaik hati, apalagi kalau memberi uang sebesar dua ratus tahil perak secara gratis. Hmmm, aku memang telah menduga, sudah pasti ada syaratnya."

"Cuma permainan semacam ini toh tak bakal merugikan kalian, apalagi tidak mengurangi apaapa dari kalian, apa susahnya ?!"

Siau Im lantas berpaling ke arah Cing cing sambil bertanya.

"Siau hujin, bagaimana menurut pendapatmu?"

Sambil menarik muka Cing cing membentak. Ngaco belo ! Bedebah tak tahu malu, kau sendiri benar-benar tak tahu sopan dan malu, tak nyana berani amat mengucapkan kata-kata seperti itu dengan kami"

Siau Im menghela napas panjang.

"Aaaaai, sau hujin, bukan aku yang tak tahu malu, tapi kau tentu sudah melihat, sendiri, hari ini tak mungkin kita berlalu dengan selamat dari sini, daripada menolak toh ada baiknya menuruti saja kemauannya, apa lagi dengan begitu kita seorang bisa mendapat dua ratus tahil perak."

Pemuda hidung bangor itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... betul tepat sekali, tampaknya Siau niocu ini lebih terbuka pikirannya, hari ini kebetulan saja Pun kongcu sedang keluar jalan-jalan dengan tak mudah aku pun telah berjumpa dengan kalian, bila tidak memberi kepuasan kepadaku, masa kalian akan kulepaskan dengan begitu saja?"

"Tapi kau tak boleh mengingkari janji dengan dua ratus tahil perak itu"

"Aaaaah, perkataan apakah itu?.. seru pemuda hidung bangor itu tertawa,"

Asal kalian bersedia untuk bekerja sama dengan ku, sekarangpun Pun kongcu membawa tiga empat ratus tahil perak, setiap saat uang tersebut dapat kalian bawa pergi"

"Kau tak boleh membohong lho, tiga empat ratus tahil perak bukan jumlah yang kecil, paling tidak harus dibungkus amat besar, apa kau tidak lelah membawanya kemana-mana?"

"Aaaah, uang ku tak pernah kugembol di dalam saku tapi digembol oleh anak buah ku, tidak percaya? Baiklah, Oh Piau coba bukakan bungkusan itu dan perlihatkan kepada mereka."

Oh Piau adalah seorang lelaki yang lain dia mengenakan pakaian ala centeng, di atas bahunya membawa sebuah bungkusan besar.

Ketika bungkusan mana dibuka, ternyata isinya adalah uang perak yang berkilauan.

Sambil tertawa, Siau Im segera berseru.

"Ooooh, ternyata kau benar-benar membawa uang perak, kongcu tentunya tak akan kau lakukan ditengah jalan raya, bukan? "

"Tentu saja tidak, di depan sana adalah rumahku, di situ ada makanan dan minuman, aku bermainpun lebih enakan di situ"

"Bagusnya sih memang bagus"

Kata Siau Im dengan kening berkerut,"

"tapi kami harus buruburu melanjutkan perjalanan dan tak bisa ditunda lagi, kalau begitu apa cepatlah sedikit kongcu, kami berdua akan menunggang kuda dan berjalan lebih dulu, mari kaupun ikut bersama kami"

Berada di atas kudanya, dia mengulur tangannya ke depan, tangan itu putih mulus dengan kuku yang runcing.

Pemuda hidung bangor tersebut nampak seperti terkesima, buru-buru diapun mengulurkan tangannya.

Siau Im segera mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya dan menggenggamnya kencang-kencang.

Oleh serangannya seperti itu, kendatipun seorang jago persilatan juga akan menjadi kaku tubuhnya, akan tetapi pemuda hidung bangor itu seakan-akan tidak merasakan apa-apa pergelangan tangannya bagaikan terbuat dari baja saja, sama sekali tidak merasakan kesakitan.

Begitu terseret naik ke atas kuda, langsung dia merangkul pinggang Siau Im dan berkata sambil tertawa.

"Siau Nio cu, tanganmu halus amat, baru memegang tanganku, separuh sukmaku serasa telah tergaet saja"

Ternyata orang yang kena tergaet sampai tak berkutik bukan pemuda hidung bangor itu melainkan Siau Im.

Tubuhnya telah berada dalam pelukan pemuda hidung Bangor tersebut, ia seperti kena tenung saja berada dalam keadaan terpukau dan sama sekali tak berkutik.

Cing cing mengira, Siau Im sudah mulai memberi hukuman kepada pemuda hidung bangor tersebut, menunggu pemuda itu sudah turun dari kudanya dan ia melihat keadaan Siau Im barulah disadari jika keadaan tidak beres.

Tampaknya pemuda hidung bangor yang telah dinilai amat rendah tersebut sesungguhnya adalah seorang jago lihay yang berilmu tinggi, mereka telah terlamur dibuatnya.

Kalau begitu penantian mereka di tepi jalan pun kemungkinan besar merupakan suatu intrik, suatu rencana keji, karena berbicara dari kemampuan yang dimiliki lelaki hidung bangor tersebut tak mungkin dia akan melakukan perbuatan seperti ini.

Tapi lelaki hidung bangor tersebut bersikap seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa pun kepada Cing cing, katanya sambil tertawa ramah.

"Nona cilik, mari berangkat, lebih baik kita segera bekerja segera selesai, dalam waktu yang amat singkat kalian dapat untung dua ratus tahil perak, wooww.. tak ada pekerjaan yang lebih menguntungkan daripada pekerjaan yang kalian hadapi sekarang.. Si gemuk itu turut membusungkan dada dan berkata seraya tertawa.

"Siapa bilang tidak, kami yang mengikuti kongcu ya malang melintang kesana kemari selama dua tiga bulan saja belum tentu bisa memperoleh persen sebanyak itu, yaa tampaknya perempuan cantik memang jauh lebih gampang mencari untung."

Tampaknya dia berniat untuk membangkitkan amarah Cing cing, sewaktu berbicara dia sengaja maju ke depan.

Akan tetapi Cing Cing yang menyaksikan tingkah lakunya itu, dengan cepat menyadari kalau lawannya merupakan seorang jago lihay yang jarang di jumpai dalam dunia persilatan dewasa ini sebab seluruh tubuhnya seakan-akan dilindungi oleh selapis dinding hawa murni yang tak berwujud dan kuat sekali, sehingga seluruh badannya terlindung rapat sekali.

Tatkala dia memperhatikan pula kawanan lelaki yang lain, ternyata waktu itu mereka juga menunjukkan sikap bersiap sedia menghadapi pertarungan, agaknya setiap orang telah membangun selapis dinding hawa murni yang kuat untuk melindungi diri.

Cing cing bersikap amat tenang.

Dia tahu dalam keadaan begini tak boleh panik, bila ingin meloloskan diri, dia harus menggunakan suatu tindakan yang luar biasa dengan cara yang luar biasa pula.

Maka tanpa mengucapkan sepatah katapun dia melarikan kudanya ke depan, maksudnya hendak menerjang keluar dari situ.

Buru-buru kawanan lelaki itu maju ke depan menghalangi jalan perginya, tapi Cing cing telah menggunakan gerak maju sebagai mundur, dia mencambuk kudanya keras-keras dan kudanya dilarikan semakin kencang, sementara dia sendiri melompat bangun dari kudanya lalu melejit ke arah yang berlawanan dengan gerakan secepat sambaran kilat.

Walaupun dia bergerak cukup cepat, ternyata ada orang yang bergerak jauh lebih cepat dari padanya, lelaki yang gemuk itu tahu-tahu sudah mengejar ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Baru saja Cing Cing melejit sejauh belasan kaki dan melayang turun ke atas tanah, si gemuk kuning sudah menghadang di hadapannya, malah sambil tertawa cekikikan dia menegur.

"Nyonya kecil, kau hendak pergi ke mana?"

Cing Cing tidak menyangka kalau lelaki itu memiliki gerakan tubuh sedemikian cepatnya, Suatu ingatan segera melintas dalam benaknya, tanpa terasa dia berseru kaget.

"Aaaah... kau adalah Kui Im cu (si bayangan setan) Ui ji hong..?"

"Nyonya cilik, rupanya kau kenal dengan julukanku itu?"

"Si lelaki gemuk itu tertawa. Cing Cing segera menenangkan hatinya, lalu berkata lagi.

"Kalau begitu kalian adalah Lian Im cap si sat seng (empat belas bintang)?"

"Nyonya cilik, tampaknya kau cukup memahami semua jago yang berada dalam dunia persilatan, padahal kami beberapa orang tidak termasuk manusia yang ternama, nyatanya kau kenal kami semua"

Cing Cing tertawa dingin.

"Heehh ....heeehhh... heeeeeh .. Walau pun empat belas bintang Lian im cip sah sat seng baru muncul selama berapa tahun dalam dunia persilatan, namun kalian sudah merupakan tokoh pembunuh yang menggetarkan sukma dalam golongan manusia hitam"

"Selamanya cara kerja kami memang gemar hitam makan hitam, tentu saja hal ini berakibat banyak orang iri, cuma pekerjaan itupun ada untungnya juga, sebab orang-orang yang harus kami hadapi semuanya adalah manusia yang pantas mampus, akibatnya tiada orang yang menuduh kami sebagai kawanan manusia laknat yang berdosa besar dan pantas dibikin mampus"

"Aku bukan orang dari golongan hitam, mau apa kalian datang mencari gara-gara denganku?"

Si gemuk tertawa.

"Nyonya kecil. asal kau mengikuti kami bukankah segala sesuatunya akan kau ketahui dengan sendirinya?"

Cing cing memperhatikan orang-orang itu sekali lagi, seandainya mereka benar-benar adalah Lian Im cap si sat seng, berarti hari ini dia tak akan memperoleh keuntungan apa-apa, sebab mereka semua merupakan jago-jago lihay kelas satu di dalam dunia persilatan.

Sesudah menghela napas ringan dia ber kata.

"Tampaknya aku ingin tidak pergi pun tak biasa"

"Yaa, tampaknya memang tak dapat"

Sahut si gemuk sambil tertawa tergelak.

"Apakah kedatangan kalian memang sengaja hendak mencari gara-gara denganku?"

Kembali lelaki gemuk itu tertawa.

"Boleh dibilang begitu, waaah gerakan tubuh nyonya cilik terhitung cepat juga, kami harus mengejar selama tujuh delapan hari sebelum dengan susah payah berhasil menantikan kedatanganmu di sini"

"Tahukah kau siapakah diriku ini?"

Lelaki gemuk itu tertawa.

"Tentu saja tahu, meskipun dahulu nyonya cilik tak dikenal orang lagi sejak menjadi istri si golok sakti Ting tayhiap kau sudah berubah pula menjadi seorang tokoh amat termasyhur namanya didalam dunia persilatan"

"Hal ini mana mungkin. Sebelum ini kami tak pernah munculkan diri di depanmu?"

"Cara kami menentukan tokoh terkenal memang jauh berbeda dengan penilaian orang awam biasa, kalau orang lain mengetahui orangnya setelah mengetahui namanya maka kami mengetahui orangnya baru tahu akan namanya, Nyonya cilik pantas menjadi orang ternama karena itulah kami harus datang mencarimu. dalam dunia persilatan memang banyak terdapat manusia dengan nama kosong, meski namanya tersohor namun masih tak pantas untuk kami gubris"

"Dapatkah kau mengambil sebuah contoh yang jelas?"

Pinta Cing cing sambil tertawa.

"Dapat saja, contohnya terlampau banyak, ambil contoh Liu Yok siong, si anak muridmu yang dijadikan congkoan dalam keluarga nyonya cilik, bersama Lik Liok dan Ang Bwee mereka membentuk Sui han sam yu bukankah nama tersebut amat termasyhur dalam dunia persilatan? Tapi dalam pandangan kami pada hakekatnya melebihi sampah masyarakat, sama sekali tak ada harganya untuk dipandang "Kalau begitu kalian benar-benar memandang tinggi diriku?"

"Orang yang bisa kami pandang tak pernah bukan manusia luar biasa"

Cing cing menghela napas panjang, kembali dia berkata.

"Aaaaai! aku tidak tahu haruskah gembira ataukah mesti merasa sedih dan menyesal "

"Yang bergembira adalah kami, sedang yang sedih dan menyesal adalah nyonya cilik"

Si gemuk itu tertawa.

"Sebenarnya apa yang harus kulakukan?"

"Pertanyaanmu itu sangat menarik hati, kalau kau sendiri saja tidak tahu darimana kami bisa tahu?"

"Justru karena tak tahu maka aku baru bertanya"

"Kau bertanya kepadaku, sedang aku harus bertanya kepada siapa?"

"Tentu saja bertanya kepada orang yang mengutus kalian, aku percaya bukan kalian sendiri yang bermaksud mencari gara-gara dengan diriku, bukankah begitu?"

"Yaa, benar memang bukan kami tapi juga tiada orang yang mengutus kami, kami hanya mendapat sepucuk surat pemberitahuan serta uang persekot sebesar lima ribu tahil emas murni, kami hanya diminta menghantar dirimu menuju ke suatu tempat lalu menerima sisa lima ribu tahil emas yang telah dijanjikan"

"Siapa yang membayar uang emas tersebut kepada kalian, tentunya kau tahu bukan? .

"Tidak tahu, kami hanya kenal uang emas, selamanya tidak kenal dengan manusianya"

"Yakinkan kalian bahwa uang sebesar lima ribu tahil emas itu dapat diterima?"

"Selamanya kami tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan, aku percaya tiada yang berani bermain gila di hadapan kami, apalagi menipu kami"

"Ui Ji hong"

Kata Cing cing kemudian sambil tertawa."

"kau keliru besar, seharusnya kau belajar dulu dari Pek Soat ji"

"Pek Soat ji? Jagoan macam apakah itu?"

"Pek Soat ji bukan manusia, melainkan seekor kucing Persia yang ku pelihara, seluruh tubuhnya putih bersih tanpa warna lainnya.

"Kalau begitu tidak sepantasnya aku yang minta pelajaran, biar lo-ngo kami saja yang menjajal"

Kata lelaki gemuk itu tertawa.

Kemudian sambil menuding seorang lelaki kurus kering bermuka bulat berdagu runcing, sepasang telinga membuka ke atas dan bertampang seperti seekor kucing, lelaki gemuk itu berkata lagi.

"Lo ngo kami ini dinamakan si muka kucing, setiap orang yang pernah berjumpa dengannya pasti tak akan melupakannya lagi"

"Ehmmm, memang agak sukar untuk melupakan tampang wajahnya itu "

"Sebaliknya orang yang pernah kujumpai pun tak akan pernah kulupakan pula"

Kata si muka kucing.

"karena aku senang meninggalkan sedikit tanda mata di atas wajahnya "

Dia sudah mengenakan sepasang sarung tangan, sarung tangan itu amat luar biasa karena hanya separuh saja menutupi bagian depan telapak tangannya belaka, tapi ujung jarinya justru panjang, tajam seperti cakar, bentuknya tak berbeda dengan cakar kucing.

Sewaktu berbicara, dia sempat menggerak-gerakkan cakarnya di tengah udara...

Sambil tertawa lelaki gemuk itu berkata lagi.

"Lo ngo kami ini paling gemar akan suatu pekerjaan yakni makan daging kucing, justru lantaran dia kelewat banyak makan daging kucing, bukan Cuma tampang mukanya saja yang mirip kucing, bahkan gerak-gerik serta kebiasaannya ketularan juga dengan kebiasaan kucing, seandainya Pek Soat ji mu itu benar-benar sedang menghadapi persoalan yang sulit, sepantasnya kalau suruh dia bertanya kepada lo-ngo."

"Kucingmu itu kucing jantan atau kucing betina?"

Tiba-tiba si muka kucing bertanya.

"Tentu saja kucing betina"

Jawab Cing-cing tertawa. Si muka kucing segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau kucing betina mah dagingnya kelewat kecut, kurang enak dimakan...

"katanya.

"Daging Pek Soat ji tidak enak dimakan, Pek Soat ji mempunyai kecerdasan yang sangat tinggi, cukup untuk memberi pelajaran kepada banyak orang terutama kepada dirimu."

Si lelaki gemuk yang berdiri di hadapannya itu tertawa ringan, tiba-tiba serunya pula.

"Apakah dia dapat juga memberi pelajaran kepadaku?"

"Setiap kali aku menyuruhnya keluar sambil tertawa, dia tak akan datang kemari"

Kata Cing Cing tertawa.

"Mengapa?"

"Sebab dia tahu kalau aku sedang mencarinya karena marah"

Sementara berbicara, mendadak jari tangannya yang tajam seperti kaitan telah menyambar sepasang mata si gemuk. Serta merta si gemuk mengangkat tangannya menggenggam pergelangan tangan lalu berkata.

"Nyonya cilik, permainan semacam ini sudah terlampau sering kujumpai. ."

Mendadak wajahnya memperlihatkan rasa sakit yang luar biasa.

Tampak tangan kanan Cing cing telah ditarik keluar dari arah perutnya, sebilah pisau belati yang berlumuran darah kini berada didalam genggamannya.

"Kalau permainan semacam ini, sudah pernahkah kau jumpai?"

Tanya si nona sambil tertawa.

ooo0ooo LELAKI gemuk itu memegangi mulut luka di atas perutnya kencang-kencang, tak sepatah katapun sanggup dia ucapkan.

sementara itu si lelaki hidung bangor itu sudah membalikkan badannya sembari berkata.

"Si gemuk kuning, mengapa kau tak pernah belajar pintar? Untuk ke berapa kalinya kau menderita kerugian ditangan perempuan?"

"Duu... dua kali"

Sahut si gemuk sambil tertawa getir. Lelaki hidung bangor itu tertawa dingin.

"Pertama kali tertipu karena kau tidak waspada, kedua kalinya tertipu lagi karena kesalahanmu sendiri!"

"Yaa, aku memang telur bodoh!"

Kembali lelaki gemuk itu tertawa getir. Lelaki hidung bangor itu berpaling ke arah Cing-cing, kemudian setelah tertawa dingin, ujarnya pula.

"Ting hujin, aku mengundangmu dengan bersungguh hati, aku harap kau suka bekerja sama"

"Seandainya aku tidak bersedia untuk bekerja sama?"

Lelaki hidung bangor itu tertawa.

"Kau pasti bersedia bekerja sama, kecuali kalau Pek Soat ji mu itu tidak cukup setia kepadamu atau kucing itu hanya seekor kucing bodoh"

"Apa sangkut pautnya antara aku dengan kucingku?"

"Tentu saja tak ada sangkut pautnya"

Lelaki hidung bangor itu tertawa,"

Cuma langkah kaki kucing biasanya sangat enteng sekalipun dia sudah berada di belakangmu, kau masih tak merasakannya"

Mendadak Cing cing tidak menyaksikan si muka kucing berada di situ, baru saja akan berpaling mendadak wajahnya telah menyentuh suatu benda yang dingin dan tajam, itulah cakar kucing.

Begitu pikirannya bercabang hawa murninya segera membuyar, tahu-tahu pinggangnya kena disodok dan jalan darah lemasnya sudah tertotok secara telak.

Cing cing dan Siau Im tidak punya nama dalam dunia persilatan, namun mereka sering berkelana dalam dunia persilatan, mereka pun seringkali mengalami penghadangan oleh lelaki hidung bangor.

Akibatnya tentu saja laki-laki hidung bangor itulah yang menderita kerugian besar.

Tapi hari ini yang sedang tertimpa nasib sial justru adalah mereka berdua sendiri.

Sekarang mereka berdua disekap dalam sebuah ruangan kecil, mendapat pelayanan yang sangat baik.

Sebab mereka tidak dibelenggu kaki tangannya, juga tidak merasakan siksaan atau penderitaan apa-apa, cuma saja diatas tubuh mereka telah diberikan sesuatu yang membuat mereka berdua sama sekali tak dapat berkutik..

Cara yang digunakan tidak membuat tubuh mereka menderita, tapi cukup membuat hawa murni dalam tubuh mereka tak bisa tembus, cara itu tidak mempengaruhi gerak gerik mereka, namun kepandaian silat yang dimiliki tak mampu digunakan lagi.

Sekarang keadaan mereka tak jauh berbeda dengan perempuan-perempuan biasa.

Ruangan digunakan untuk menyekap mereka tidak terlalu besar, kurang lebih satu kaki persegi.

Di situ terdapat dua buah pembaringan, ada meja, kursi bahkan masih ada pula sebuah tong tempat membuang hajat.

Kehidupan semacam ini tentu saja tak bisa terhitung enak, namun berbicara buat seorang tawanan, pelayanan semacam ini sudah boleh dibilang cukup memadahi.

Cing Cing sedang duduk di atas pembaringan, ia bersikap amat tegang, sebaliknya Siau Im selalu bermuram durja, ia menghela napas panjang pendek, sebentar melompat bangun, sebentar menghantam terali besi di depan pintu hingga mengerit kesakitan.

Cing Cing yang menyaksikan hal mana segera menghela napas panjang, tegurnya.

"Buat apa kau mesti menyiksa dirimu sendiri?" .

"Aku.... aku sudah tak tahan, orang-orang liar itu kelewatan sekali, tak nyana mereka akan pergunakan cara semacam ini untuk menyiksa kita ..."

"Tapi mereka toh tidak menyiksa kau secara langsung?"

"Siapa bilang tidak? Dahulu dengan sebuah sentilan jari saja aku dapat mematahkan terali besi tersebut, tapi sekarang, walaupun sudah ku jotos sekeras-kerasnya, terali itu sama sekali tidak bergeming"

Cing Cing segera tertawa.

"Ooooh, rupanya kau maksudkan hal ini, yaaa, kau memang kelewat tak becus, kau toh bukan seorang dayang yang bekerja di dapur, kau tak usah memotong kayu untuk memasak, kalau toh tak mampu mematahkan sebatang kayu, kenapa mesti marah-marah?"

"Nona, bukan begitu maksudku"

"Oooh .... lantas apa maksudmu?"

Siau Im termenung setengah harian lamanya, kemudian baru berkata.

"Seperti seorang hartawan yang kaya raya, mendadak berubah menjadi miskin dan tak mempunyai uang sepeserpun, bagaimanakah perasaannya waktu itu?"

"Aaaah... tidak terlalu memedihkan"

Jawab Cing Cing sambil tertawa "dan lagi pengalaman semacam itu merupakan suatu pengalaman yang sukar di jumpai, coba bayangkan saja, seorang hartawan yang kaya raya tidak seharusnya jatuh miskin dengan cara begitu gampang, diapun tidak mudah merasakan bagaimanakah keadaan seorang miskin.

tapi kau, secara tiba-tiba saja kau dapat merasakan dua keadaan yang berbeda.

betapa berartinya pengalaman semacam itu buat kita?"

Siau Im segera menghela napas panjang.

"Aaai nona, seandainya aku dapat bersuka ria seperti kau, betapa bahagianya aku"

Cing cing tertawa getir.

"Siapa bilang aku bersuka ria?"

"Tapi nona, semenjak disekap di sini, kau tak pernah kelihatan murung, seakan-akan masih merasakan kalau keadaan yang kau alami ini sangat berarti sekali"

"Aku memang tak pernah memikirkan soal keselamatanku sendiri, buat apa kau meski kuatir bila keadaan memang menghendaki demikian? "Lantas mengapa pula nona tidak bersuka ria?"

"Aku sedang menguatirkan keselamatan siangkong"

"Siangkong? Dia toh tidak disekap orang mengapa harus dikuatirkan keselamatan-nya?"

"Aku rasa kau pasti dapat melihat sendiri, walaupun orang-orang itu membekuk kita, namun sasaran yang sebetulnya bukan kita berdua"

"Kalau bukan kita, apakah kita akan digunakan sebagai alat untuk memeras siangkong?"

Cing cing menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.

"Aku pikir hal ini tak mungkin, aku cukup mengetahui tabiat siangkong, seandainya dia tahu kalau aku sedang disekap orang, dia pasti akan datang kemari dan mempertaruhkan segala yang dimilikinya untuk menolong kita keluar dari sini"

"Jadi mereka pun mempergunakan keselamatan ini untuk mempersiapkan jebakan"

Cing cing segera tertawa "Tenaga dalam yang dimiliki siangkong sekarang mencapai tingkatan yang luar biasa, jebakan yang manakah yang sanggup menjebak dirinya ....

"Yaa, benar! sekarang sekalipun ada bukit karang yang menindihnya, asal golok sakti siangkong diayunkan bukit karang itu pasti akan terbacok menjadi dua bagian, kawanan telur busuk itupun pasti akan merasakan akibatnya bila siangkong sudah tiba di sini"

Mendadak dia berkata lagi.

"Kalau toh siangkong tidak takut menghadapi jebakan mereka, mengapa pula nona menguatirkan siangkong?."

Cing cing menghela napas panjang.

"Yang kukuatirkan adalah aku tak bisa menduga dengan cara apakah mereka hendak menghadapi siangkong"

"Bukankah nona sudah mengatakan tiada cara apapun yang bisa menyusahkan siangkong?"

"Cara yang mereka pergunakan tentu saja bukan ilmu silat alat perangkap atau jebakan biasa, sudah pasti yang digunakan adalah semacam siasat setan yang amat jahat dan keji"

"Siasat setan apakah itu?"

Cing cing menghela napas panjang.

"Entahlah, aku tidak bisa menduganya, itulah sebabnya aku menjadi sangat kuatir"

"Nona, mengapa tidak kau pikirkan cara macam apakah yang bisa mendatangkan pengaruh bagi siangkong?" .

"Aku tak dapat menemukannya, bila siangkong tahu kita tersekap dia pasti datang menolong kita, bila dibunuh dia pasti akan membalaskan dendam buat kita tapi bila mereka gunakan mati hidup kita untuk mengancam siangkong, apa yang bisa dia lakukan?"

"Haaahhh... haaahhh... haahh... tahu suami seperti tahu istri, Ting hujin tampaknya kami harus minta petunjuk darimu lebih dulu, dengan begitu kami baru tak akan kehilangan dua saudara kami. Ucapan itu muncul dari arah jendela, di susul pintu terbuka dan si lelaki hidung bangor yang memuakkan itupun berjalan masuk ke dalam. ooo0ooo PANCINGAN PARAS muka Cing Cing berubah hebat, segera tegurnya dengan suara berat dan dalam.

"Kenapa kau begitu tak tahu sopan santun? Sekalipun kami adalah tawananmu. namun kami toh dua orang perempuan? Antara lelaki dan perempuan ada bedanya, mengapa kau menyadap pembicaraan kami dari luar?"

Lelaki hidung bangor itu tertawa.

"Ting Hujin, kau tak usah marah-marah, aku tahu kau adalah seorang yang cermat dan seksama, kau juga tahu kalau dinding itu bertelinga, kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan tak mungkin akan kau utarakan"

"Sekalipun demikian kaupun tidak seharusnya masuk kemari secara tiba-tiba, seandainya kami sedang melakukan urusan pribadi dari seorang perempuan bagaimana jadinya?"

"Aku bukan seorang lelaki sejati, jadi soal itu tak menjadi masalah bagi diriku"

Sahut lelaki hidung bangor tersebut sambil tertawa.

"Lian im cap si sat seng disebut sebagai bintang pembunuh dalam golongan hitam, tapi kau adalah seorang bajingan besar"

"Ting hujin"

Lelaki hidung bangor itu tertawa "kalau toh kau sudah mengetahui tentang Liam im cap si sat seng, seharusnya kau juga tahu kalau aku bukan seorang lelaki sejati, tiada perempuan yang disebut lelaki sejati"

"Kau adalah seorang perempuan ?"

"Ting hujin, tentunya kau pernah mendengar bukan bahwa pemimpin dari Lian im cap si sat seng yang bernama Giok Bu sia adalah seorang perempuan ...."

"Kau adalah Giok Bu sia"

Sambil menuding ke arah Siau Im, Giok Bu Sia berkata seraya tertawa.

"Toaci itu dapat membuktikannya, sewaktu aku menotok jalan darahnya di atas kuda tadi, tangannya masih dapat bergerak bebas, maksudku yang sebenarnya adalah agar dia bisa bergerak lebih leluasa, agar dia bisa menunggang kuda, siapa tahu tangannya sangat tak tahu aturan, dia sudah meraba banyak bagian tubuhku yang tidak seharusnya teraba"

"Kentut busuk"

Teriak Siau Im dengan marah.

"kalau hendak berbicara, harap sedikitlah tahu diri, koh nay nay bukannya seorang perempuan yang binal, aku tak akan..."

"Aku tahu kalau toaci adalah seorang iblis wanita pembetot sukma manusia..."

Tukas Giok Bu sia tertawa.

"aku pun juga tahu kalau banyak orang yang terpikat oleh kecantikan toaci sehingga rela menyerahkan selembar jiwanya, waktu itu kau hendak mempergunakan pula taktik yang sama terhadap diriku..cuma sayang taktikmu itu mengalami kegagalan total"

Siau Im segera mendengus.

"Hmm .. aku mengira kau adalah seekor anjing jantan yang bisa birahi."

"Masih untung aku bukan, untung saja aku seperti juga kalian berdua, seorang perempuan yang sama sekali tak punya senjata"

"Sebinal-binalnya Siau Im, terhadap manusia seperti ini ia benar-benar dibuat mati kutunya. Sambil tertawa kembali Giok Bu sia berkata..

"Ting hujin, seandainya kau tidak percaya, aku bersedia melepaskan semua pakaianku agar kau periksa dengan seksama"

"Tidak usah, anggap saja kami sudah salah melihat, aku percaya kau adalah seorang wanita"

"Kalau sudah percaya hal ini lebih baik lagi, paling tidak Ting hujin dapat percaya kalau kami sama sekali tak bermaksud untuk mengusik diri Ting hujin, sejak kalian berdua datang kemari, tiga kali santapan kalian dibuat sendiri olehku, bahkan soal membuang kotoran dari tong pun kulakukan sendiri, karena ditempat ini hanya aku seorang yang merupakan perempuan ....

"Sudah cukup, tak usah banyak berbicara lagi, sekarang katakan saja ada urusan apa kau datang kemari?"

"Aku datang untuk mohon petunjuk suatu persoalan dari Ting hujin, sebelum kukemukakan hal mana terlebih dulu hendak kukabarkan, bahwa aku telah mengutus Kui jiu (si tangan setan) Pui Peng dan Sui lo sut (tikus air) Ting Put ji untuk menjumpai Ting tayhiap dan menyerahkan sepucuk surat undangan untuk mengundangnya kemari, akhirnya kartu undangan mana di robek menjadi empat bagian, tampaknya Ting tayhiap sama sekali tidak memikirkan keselamatan kalian berdua"

Ooo0ooo SAMBIL tersenyum Cing cing berkata.

"Kalian tak usah mencoba untuk mengadu domba kami, aku percaya kau bukan mengundang suamiku dengan begitu saja". Giok Bu sia segera tertawa.

"Ting hujin memang amat teliti sekali, benar kami hanya menyinggung tentang suatu persyaratan kecil, yakni dia harus membawa batok kepala seseorang untuk ditukar dengan kebebasan kalian berdua, orang itu hanya seorang siaujin yang rendah dan tak tahu malu, aku rasa dia pasti akan mengabulkannya"

"Siapakah orang itu?"

"Liu Yok siong"

Jawab Giok Bu sia tertawa.

Jawaban itu benar-benar di luar dugaan Cing Cing, dia sama sekali tak mengira kalau batok kepala yang mereka kehendaki adalah batok kepala dari Liu Yok siong..

Pada hakekatnya syarat tersebut bukan suatu permintaan yang terlampau serius.

Maka tak tahan Cing cing segera bertanya.

"Apakah kalian mempunyai ikatan dendam atau permusuhan dengan Liu Yok siong?"

Giok Bu sia turut tersenyum.

`Lian Im cap si sat seng tidak mempunyai musuh hidup, kami tidak mencari kesulitan orang sudah terhitung suatu berkah dari Thian, mana mungkin ada orang yang berani mencari gara-gara dengan kami?

Apalagi manusia berjiwa tikus macam Liu Yok siong adalah seorang manusia rendah, salah seorang saja diantara kami sudah cukup untuk menghabisi selembar nyawanya..."Kalau memang begitu dan kalian bisa membunuhnya segampang membalikkan telapak tangan sendiri, mengapa kalian harus minta kepada suamiku untuk membunuhnya?` "Kami bukan minta suamimu untuk mewakili kami membunuhnya, sebaliknya kami hanya mencarikan seseorang yang gampang dibunuh untuk mencoba goloknya"

"Goloknya tak perlu dicoba lagi"

Giok Bu sia tertawa.

"Golok yang paling baik pun harus sering di asah, kalau tidak pasti akan berkarat dan tumpul, seorang pembunuh yang ganas dan garang harus seringkali pula membunuh orang, kalau tidak hatinya akan lemas dan tangannya akan gemetar, jika kaki sudah lemas dan tangan gemetaran, maka dia tak bisa membunuh orang lagi"

"Aku mengerti, kalian hendak mencoba orang itu"

"Tidak benar, yang kami butuhkan hanya goloknya, bukan orangnya, sebab orangnya tetap milikmu sedang goloknya harus menjadi milik kami.."

""Setelah membunuh Liu Yok siong, maka kalian hendak mencari sasaran lain yang lebih tepat lagi?"

"Tepat sekali, kedua kalinya kami akan mencarikan seseorang yang dibenci setiap manusia, sehingga untuk membunuhnya tak perlu terlalu banyak urusan" .

"Sebenarnya apa sih tujuan kalian yang sebenarnya? Siapakah sasaran yang sebenarnya untuk dibunuh? "Ting hujin"

Kata Giok Bu sia sambil tertawa,"

Aku dapat memberitahukan hal ini kepadamu, tapi kau tak akan percaya"

"Sesudah mendengar perkataanmu itu sekalipun kau tidak memberitahukan kepadaku, aku juga tahu."

"Kau tahu?"

Giok Bu sia tampak seperti tidak percaya"

"Benar! Aku tahu, apakah perlu ku utarakan keluar?"

"Setelah kau utarakan keluar, kami baru mengerti apakah kau benar-benar mengetahui atau tidak"

"Sesungguhnya orang yang benar-benar hendak kalian bunuh adalah dia sendiri"

Giok Bu sia tampak terkejut, tapi dengan cepat tertawa kembali.

"Ucapanmu itu benar-benar merupakan suatu lelucon yang paling menarik hati, kami dapat menyuruh Ting tayhiap untuk membunuh dirinya sendiri"

"Sebenarnya kalian hendak membunuhnya tapi kalian tak memiliki kepandaian untuk berbuat demikian, sebab kecuali dia sendiri siapapun tak akan mampu untuk membunuhnya."

Kembali Giok Bu sia tertawa.

"Lantas apakah Ting tayhiap dapat menuruti perkataan kami dan membunuh dirinya sendiri?"

"Mungkin seseorang dapat menghabisi nyawa sendiri?"

Jawaban tersebut sudah amat jelas sekali karena hampir setiap hari dikolong langit terdapat orang yang melakukan bunuh diri menggunakan perbagai cara yang ada untuk menghabisi nyawa sendiri"

"Tapi, mungkinkah seseorang melakukan bunuh diri tanpa sesuatu sebab dan alasan yang pasti?" (Bersambung ke

Jilid 19)

Jilid . 19 JAWABAN ini sukar diberikan, karena banyak orang yang melakukan bunuh diri tidak meninggalkan surat wasiat apa-apa atau menerangkan alasannya melakukan bunuh diri.

"Dapatkah Ting Peng menghabisi nyawa sendiri?"

Pertanyaan tersebut diajukan oleh Giok Bu sia tapi Cing Cing sebagai istrinya pun tak sanggup memberi jawaban. Setelah berpikir setengah harian lamanya dia baru berkata.

"Aku sendiripun tidak tahu, jika dia selalu menerima desakan kalian dan membunuh banyak orang maka hanya ada dua macam akibat yang bisa timbul, pertama berubah menjadi seorang pembunuh yang getol dan setiap saat mendengarkan petunjuk kalian dan membunuh orang-orang yang kalian anggap sebagai penentang, kedua adalah menjadi gila akibat desakan kalian sehingga akhirnya menghabisi nyawa sendiri""

Selintas perasaan tercengang dan keheranan menghiasi wajah Giok Bu sia, serunya kemudian.

"Ting hujin, kau benar-benar sangat pintar, kepintaranmu sama sekali di luar dugaanku"

Kemudian setelah berubah sikap ujarnya lebih jauh sambil tertawa pelan.

"Cuma Ting hujin masih belum cukup pintar, seharusnya persoalan yang kau ketahui itu hanya boleh disimpan dalam perut dan tidak pantas kau utarakan keluar."

Cing-cing turut tertawa.

"Seandainya suamiku dapat kalian gertak sehingga menuruti ucapanmu, tentu saja aku dapat meninggalkan pesan tersebut dan diam-diam disampaikan kepadanya, cuma aku cukup memahami tentang dirinya, persyaratan kalian tak mungkin bisa dia terima."

""Kau maksudkan dia tak akan membunuh Liu Yok siong?"

"Ia dapat membunuh Liu Yok siong asal Liu Yok siong melakukan suatu pekerjaan yang pantas untuk mampus, dia dapat membunuhnya, tapi membunuhnya bukan lantaran desakan kalian."

"Demi kalian berduapun dia tak akan berbuat demikian?"

"Tidak!"

"Maksudmu bobot kalian berdua masih belum dapat menangkan bobot seorang Liu Yok siong?"

"Bukan begitu maksudku"

Kata Cing-cing tertawa.

"dalam hati kecilnya, Liu Yok siong sama sekali tidak memperoleh tempat, justru karena itulah dia baru tahu membunuh Liu Yok siong tak mungkin bisa memperoleh kebebasan bagi kali"

"Sekalipun tak bisa diperoleh kebebasan untuk kalian, namun ia toh bisa memperoleh nyawa kalian berdua, dalam surat pemberitahuan tersebut kami telah menerangkan dengan jelas, bila ia tidak membawa batok kepala Liu Yok siong untuk menghadap kami, maka dia akan mendapatkan batok kepala kalian!"

Cing-cing segera tertawa.

"Aku tak ingin mengguyur kepalamu dengan air dingin, tapi akupun berani menjamin, orangmu tak akan membawa pulang berita baik"

"Soal ini aku mah bersedia untuk bertaruh"

"Sebenarnya aku pun ingin sekali bertaruh, cuma sayang aku benar-benar repot, tak ada waktu untuk beradu kepandaian denganmu"

"Apakah Ting hujin beranggapan bisa melarikan diri dari sini?"

"Tanganku tidak terbelenggu, orang pun tidak kau ikat, mengapa aku tak bisa meninggalkan tempat ini?"

"Karena kami telah menangkap seorang jaminan"

Sahut Giok Bu sia sambil menuding Siau Im.

"Bagi kami, caramu itu sama sekali tak berguna, selamanya kami mempunyai suatu peraturan yakni masing-masing mengurusi keselamatan sendiri, bila membunuhnya, aku dapat membalaskan dendam baginya, tapi bila kau suruh aku mencabut segenggam rambutku untuk ditukar dengan keselamatan dari jiwanya, tanpa "dipertimbangkan lagi aku pasti akan menampik"

"Tanpa napsu akan kuat, tanpa kekurangan akan tangguh. Ucapan tersebut bisa diucapkan setiap orang, mereka yang baru belajar membaca berapa hari pun dapat memahami artinya dengan jelas, akan tetapi justru sulit untuk dilaksanakan. Setiap orang mempunyai napsu itulah sebenarnya cita-cita seseorang bisa melunak. Setiap orang selalu murung dan memikirkan banyak urusan, karena itulah hati orang gampang goyah. Giok Bu sia dibuat terperanjat oleh sikap Cing Cing, karena ia cukup memahami tentang kecerdasan Cing Cing, dia pun mengetahui bahwa Cing Cing memang memiliki peraturan semacam itu.. Dia menggunakan Siau Im sebagai sandera maksudnya hanya untuk menjajal saja, dia mengerti Siau Im tidak cukup berbobot untuk memaksa Cing Cing mengorbankan diri. Tapi Cara Cing Cing berbicara begitu tegas dan tak bisa ditawar-tawar, hal ini dapat diartikan juga sekalipun ia dapat menemukan sandera yang cukup berbobot pun sama saja sulit untuk merubah hatinya. Itulah sebabnya sambil tertawa ia berkata.

"Kami hendak menahan Ting hujin entah masih ada cara lain atau tidak ?"

"Tidak ada"

"Jika kami hendak menahanmu dengan mempergunakan ilmu silat?"

"Itu berarti kalian hanya bisa menahan jenazahku saja"

"Kami sama sekali tidak menaruh minat terhadap jenazah Ting hujin, sebab hal mana hanya akan mendatangkan kesulitan saja, bagi kami, tampaknya terpaksa kami harus melepaskan kalian berdua"

Mendadak ia mendorong Siau Im ke depan, serta merta Cing cing menyambut dengan kedua belah tangannya, tapi saat itulah selembar jaring yang besar telah mengurung tubuh mereka".

Seorang lelaki berdandan nelayanlah yang menyebarkan jaring tersebut jaring itu, selalu di tenteng di tangannya, Cing Cing pun sangat memperhatikan orang itu, tapi dia tak menyangka kalau jaring itu bakal di tebar dalam keadaan demikian.

Orang persilatan yang menggunakan jaring sebagai senjata andalannya tidak banyak, yang paling termasyhur hanya seorang yang bernama si Jaring kilat Thio Sam, hanya saja orang itu merupakan seorang cianpwe yang sudah berusia ratusan tahun.

Setelah itu tak pernah terdengar kalau Thio Sam mempunyai ahli waris, tapi permainan jaring lelaki ini sangat enteng, benang jaringnya pun tipis dan berkilat seperti terbuat dari sejenis serat.

Biasanya jaring semacam ini pasti enteng sekali bobotnya, bahan yang digunakan juga sangat kuat, namun tidak terlampau besar, berhubung lelaki itu berdiri sangat jauh, maka Cing Cing tidak begitu memperhatikan gerak geriknya.

Siapa sangka jaringnya bisa disebarkan begitu jauh, begitu besar, seandainya Siau Im tidak dilemparkan ke arahnya, dia masih bisa menerobos ke muka untuk menghindarkan diri.

Tapi orang lain sudah memperhitungkan segala sesuatunya dengan tepat, Siau Im yang dilemparkan ke arahnya bukan dimaksudkan agar dia menyambutnya, melainkan untuk menghalangi jalan majunya.

Begitu jaring tersebut menyebar ke bawah, tubuh mereka berdua segera terkurung rapat-rapat.

Meski begitu Cing Cing masih dapat bergerak, dia bergerak bukan untuk menyerang orang lain, melainkan menghadiahkan sebuah tamparan ke atas wajah Siau Im sambil memakinya bodoh.

Tindakan itu seperti untuk melampiaskan rasa mendongkolnya belaka, menyalahkan gadis itu kelewat bodoh sehingga berakibat diapun kena tertangkap.

Oleh karena itu meski Siau Im kena di tampar, dia hanya menundukkan kepalanya sambil membungkam diri.

Orang lain mengira begitulah maksud tamparan tersebut, maka tak ada yang memperhatikan jika sebutir anting-anting Siau Im telah terjatuh ke atas tanah.

Apa gunanya sebutir mutiara itu.

Kecuali orang yang tergabung dalam organisasi rahasia tersebut, tiada orang yang memahami, tapi mutiara tersebut justru mendatangkan kegunaan yang besar sekali.

ooo0ooo PENGEJARAN Ting Peng mendapat kabar dua hari kemudian.

Kabar itu dihantar oleh dua orang, isi pemberitahuan pun sederhana sekali.

"Bawa batok kepala Liu Yok siong dan datang ke luar kota Koh siok di bawah kuil Han san si, tepi jembatan Hong Han, ditukar dengan dua orang manusia"

Surat itu tidak dicantumkan siapa nama pengirimnya, cuma surat pemberitahuan itu disertai dua buah anting-anting, sebuah milik Siau Im, yang lain milik Cing cing.

Selesai membaca surat pemberitahuan itu, Ting Peng menyerahkan kedua biji anting anting itu kepada Siau Hiang.

Siau Hiang menyambutnya dan diendus sebentar, kemudian baru berkata.

"Ehmm, kepunyaan nona dan Siau Im"

Ting Peng memandang orang yang membawa surat pemberitahuan itu, lalu bertanya.

"Orang itu terjatuh ditangan kalian?"

"Benar!"

Sambil tertawa Ting Peng lantas bertanya kepada Liu Yok siong.

"Kau kenal dengan kedua orang itu?"

""Tidak kenal"

Ting Peng segera memberikan surat pemberitahuan itu kepadanya, lalu berkata sambil tertawa.

"Waaah, kalau begitu sungguh mengherankan, kalau toh tidak kenal, mengapa kedua orang sahabat ini bersikeras hendak merenggut nyawamu .... ?"

Paras muka Liu Yok siong berubah hebat sehabis membaca surat pemberitahuan itu, karena tangan Ting Peng telah menggenggamkan gagang golok miliknya.

Namun Ting Peng tidak mencabutnya ke luar, dia berbalik bertanya kepada lelaki itu.

"Kalian pun terdiri dari dua orang, jika aku menahan kamu berdua lalu menggunakan nyawa kalian untuk ditukarkan dengan kedua orang itu entah berguna atau tidak?"

"Bila berguna, kami tak akan diutus ke mari"

Jawab lelaki itu sambil tertawa.

"Betul juga perkataanmu itu, nampaknya aku sudah tak punya pilihan lain"

"Bukan saja Ting tayhiap sudah tak punya pilihan lain, lagi pula harus mengikuti kami dan berangkat sekarang juga, sebab bila sampai terlambat selangkah paling banter kau hanya akan datang mengambil jenazah"

"Liu Yok siong, bagaimana keputusanmu?"

Tanya Ting Peng kemudian sambil tertawa. Sambit mengeraskan hati sahut Liu Yok siong.

"Bila kematian tecu dapat ditukar dengan keselamatan subo, walaupun harus mati tecu akan mati dengan rela"

"Kalau begitu terpaksa ak.u mesti mengorbankan kau!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, goloknya sudah diloloskan dari sarung kemudian cahaya golok berkelebat lewat...

Liok yok siong tetap berdiri kaku ditempat semula, sepasang matanya telah dipejamkan rapatrapat, sedang kedua orang lelaki itu segera mengulumkan senyuman diatas wajahnya.

"Blaaammm....!"

Sesosok tubuh manusia roboh terkapar ke atas tanah ...."

Orang yang roboh ternyata bukan Liu Yok siong, melainkan salah satu diantara kedua orang lelaki tersebut, tubuhnya terbelah menjadi dua persis dari garis tengah tubuhnya.

Bacokan tersebut benar-benar cepat bagaikan sambaran kilat, menanti lelaki kedua mengetahui apa yang telah terjadi, golok Ting Peng telah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

"Bagaimana dengan bacokanku ini?"

Tanyanya sambil tertawa. Pucat pias selembar wajah lelaki itu saking takutnya, dengan suara gemetar dia berkata.

"Ting tayhiap, perbuatanmu ini hanya akan mencelakai jiwa Ting hujin, bila kami sampai menderita sesuatu kekurangan, dua lembar nyawa tersebut akan dijadikan jaminannya.

"Tidak! Nyawa kalian kelewat enteng, masih belum cukup untuk menjamin keselamatan isteriku, oleh sebab itu aku mengerti amat jelas, aku berbuat demikian hanya ingin memberitahukan kepada kalian, cara yang kalian gunakan itu keliru besar, caraku membunuh orang adalah sekali tabas kutung menjadi dua, aku tak pernah memenggal batok kepala"

Lelaki itu menjadi tertegun.

"Kami hanya berharap Ting tayhiap membunuh orang, belum tentu harus memenggal batok kepalanya"

Dia berkata.

"Kau dapat memutuskan?"

"Tidak, aku tak dapat mengambil keputusan"

Buru-buru lelaki itu menjawab. Ting Peng segera tertawa.

"Itulah sebabnya aku tidak membacok dirimu juga, aku hendak menyuruh kau pulang dan menanyakan persoalan ini sampai jelas sebelum datang kemari lagi, selain itu juga beritahu kepada orang kalian agar dia mengganti kau dengan beberapa orang yang terbaik, seandainya aku dapat memperoleh isteriku kembali hanya dengan membunuh Liu Yok siong, hal ini merupakan suatu penghinaan bagiku, aku Ting Peng tak dapat melakukan pekerjaan rendah seperti itu, orang yang pantas begitu untuk menggerakkan golok paling tidak adalah seorang pemimpin dari suatu perguruan besar"

"Baik, baik, aku akan pulang dan menanyakan soal ini sampai jelas, kemudian baru datang lagi untuk memberi tahukan hal tersebut kepada Ting tayhiap"

Sahut lelaki itu cepat. Ting Peng tertawa.

"Kalau begitu cepatlah pergi, dan cepat kembali, aku tidak lega bila istriku masih berada ditengah orang lain"

Lelaki itu sudah wembalikkan badan dan siap berlalu dari sana. -Mendadak Ting Peng berseru lagi.

"Jenasah rekanmu itu seharusnya dikirim ke mana?"

"Bila tayhiap bermurah hati, gunakanlah sebuah peti mati untuk mengubur jenazahnya, bila aku datang lagi nanti pasti akan kubawa pulang, kalau tidak, terserah apa yang hendak kau lakukan"

Ting Peng segera mengulapkan tangannya, dengan keadaan yang mengenaskan buru-buru lelaki itu kabur meninggalkan tempat itu. Sepeninggal orang itu, Ting Peng berseru.

"Liu Yok siong!"

"Suhu ada petunjuk apa?"

Tanya Liu Yok siong dengan wajah pucat pias seperti mayat.

""Demi Cing Cing aku rela membunuh siapa saja, tapi aku tidak membunuhmu, tahukah kau mengapa aku berbuat demikian?"

"Tecu bodoh, tecu tidak tahu"

Ting Peng menghela napas panjang.

"Kalau kau pun tidak mengetahui apa sebabnya, maka kau berarti seorang manusia yang sangat goblok, tak ada gunanya aku menahan dirimu disini ...."

"Buru-buru Liu Yok siong berseru.

"Nyawa tecu mana bisa dibandingkan dengan nyawa subo? Jelas hal itu hanya merupakan suatu percobaan belaka, sekalipun batok kepala tecu dipenggal, belum tentu sunio bisa diselamatkan dari cengkeraman orang. .."

"Tampaknya bila seseorang sudah didesak untuk menyelamatkan jiwa sendiri kadang kala dia bisa menjadi pintar dengan sendirinya"

Ujar Ting Peng tertawa Liu Yok siong tidak berani berbicara apa-apa lagi. Kembali Ting Peng berkata.

"Kemungkinan besar pihak lawan masih dapat mengganti sebuah cara lain untuk membunuhmu, sampai saatnya dan seandainya aku tak punya pilihan lagi mungkin saja aku dapat sungguh-sungguh membunuhmu, oleh sebab itu bila kau masih ingin hidup terus, lebih baik carilah akal sendiri untuk menyelamatkan diri"

"Baik! Baik! Tecu pasti akan berusaha keras untuk menyelamatkan sunio..."

Ting Peng tertawa.

"Bila kau mempuyai kepandaian sebesar ini, bisa jadi pihak lawan benar-benar akan membunuh dirimu, lebih baik carilah pekerjaan mudah untuk kau lakukan, misalnya berusaha menemukan tempat Cing Cing di sekap...."

"Baik, tecu pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga"

"Jalan tersebut mungkin tak mudah ditembusi, sebab itu kau masih mempunyai sebuah jalan lagi yaitu menyelidiki siapa gerangan pihak lawan, kemudian mengadakan kontak dengannya dan minta kepada mereka agar jangan mencantumkan namamu sebagai salah seorang sasaran yang pantas dibunuh.."

"Baik, baik! Tecu percaya pasti dapat menemukan jejak mereka, sedang mengenai ucapan terakhir dari suhu, tecu rasa tak perlu lagi, asal sudah diketahui siapakah mereka, meski tecu tak becus, aku pasti mempunyai kemampuan untuk menghadapi mereka"

"Baik, kalau begitu laksanakanlah, dua hari kemudian, bila kau masih belum mendapat kabar, hanya ada satu jalan bagimu yakni menyembunyikan diri"

"Menyembunyikan diri?"

Liu Yok siong tertegun.

"Benar, bersembunyi di suatu tempat yang tak bisa ditemukan orang, dengan demikian bila pihak lawan ingin membunuhmu, aku dapat menggunakan alasan tidak ditemukan untuk menampik permintaan tersebut, tapi bila pihak lawan bisa membantuku untuk menemukan kau, anggap saja nasibmu memang kelewat jelek sampai waktunya kau jangan menyalahkan aku bertindak kejam lagi"

Dengan membawa perasaan bimbangnya, Liu Yok siong berlalu dari situ.

Walaupun tiada orang yang mengejarnya, namun dia kabur terbirit-birit seperti ada lima atau enam ekor anjing galak yang sedang mengejarnya.

ooo0ooo SIAU HIANG memperhatikan bayangan punggung Liu Yok siong sehingga lenyap dari pandangan, wajahnya segera menunjukkan perasaan muak dan benci, katanya.

"Kongcu, orang ini seharusnya pantas mampus sedari dulu, mengapa kau membiarkan dia tetap hidup?"

"Kehidupannya di dunia ini masih banyak kegunaannya"

Jawab Ting Peng sambil tertawa.

"Dia bermaksud jahat, tampaknya rasa bencinya kepada kongcu sudah mendalam sekali"

"Aku tahu, tiada manusia yang berbeda di dunia ini, bila dia diinjak-injak apalagi dijatuhkan dari tempat yang tinggi, sudah pasti ia akan mendendam dan membencinya hingga merasuk ke tulang sumsum"

"Tapi dia pasti akan bersekongkol dengan banyak orang untuk mencelakai kongcu, siapa tahu orang yang membekuk nona sekarang juga merupakan komplotannya?"

"Bisa jadi demikian"

"Dia tahu kalau kongcu tak akan memenuhi tuntutan orang dengan membunuhnya, maka dia mencantumkan namanya di urutan yang pertama""

"Seandainya dia benar-benar berbuat demikian, diapun tahu kalau untuk kedua kalinya aku bakal membunuhnya, maka perintahkan kepadanya untuk pergi keluar merupakan sebuah percobaan pula, bila dia tidak bersekongkol dengan orang-orang tersebut..."

"Begitu besarkah kemampuan yang dimilikinya?"

"Dia adalah seorang siaujin, mempunyai cara yang dimiliki siaujin, dalam hal ini kau tak boleh memandang enteng dirinya"

"Seandainya ia tak berhasil menemukan-nya?"

"Dia pasti akan menyembunyikan diri, bersembunyi serapat-rapatnya dan tak berani menjumpai diriku lagi, dengan cara inilah aku justru akan mengusirnya pergi"

Siau Hiang termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata lagi.

"Kongcu, percayakah kau nona sekalian telah disekap orang?"

"Benar, anting-antingnya dapat membuktikan hal ini, anting-anting tersebut pemberian dari kakeknya, diberikan kepadanya sebagai kenang-kenangan, seandainya tiada suatu perubahan yang istimewa, tak mungkin benda itu bisa terlepas dari tubuhnya"

"Apakah kita perlu menunggu kabar berita dari Liok Yok siong?"

"Aku rasa tidak perlu, dia dan Siau Im adalah rase, rase mempunyai kemampuan yang luar biasa, aku percaya dia pasti mempunyai cara untuk memberi kabar kepadaku dimanakah mereka berada?"

Paras muka Siau Hiang agak bergetar, serunya cepat.

"Benar! Jika kongcu tidak bilang akupun hampir saja melupakannya, nona memang sudah melepaskan tanda bahaya"

"Benarkah itu. Dimanakah ia sekarang?"

Tanya Ting Peng sama sekali tidak merasa tegang.

"Budak tidak tahu, tapi setiap saat budak dapat melepaskan tanda bahaya dan menemukan tempat tinggalnya."

Sambil berkata dia mengambil anting-anting dari Siau Im dan dimasukkan ke dalam sakunya.

"Kongcu, suruh Ah Ku menyiapkan kereta, kita segera berangkat"

"Baik"

Ting Peng manggut-manggut.

"pergilah memberi perintah, sebentar kita berangkat."

Sikapnya sangat tenang, sama sekali tidak gelisah, seolah-olah hubungan perasaannya dengan Cing-cing begitu tipis sehingga hampir mendekati tiada hubungan.

Tentu saja dalam gedung itu masih terdapat orang lain, mereka sama-sama menunjukkan sikap tidak habis mengerti.

Terutama sekali ketika Ting Peng menitahkan orang untuk menyiapkan peti mati dan memasukkan jenasah lelaki itu ke dalam peti, semua orang semakin kebingungan dibuatnya, karena Ting Peng telah memesan kayu macam apakah untuk peti mati itu, pakaian apa yang harus dipakai dan bagaimana cara penguburannya, seakan-akan kematian lelaki tersebut telah memancing perhatiannya yang lebih besar.

Kereta kuda itu bergerak ke depan, Ting Peng yang berada dalam kereta memejamkan mata rapat-rapat, Siau Hiang bersandar di atas lututnya seperti seekor kucing.

Ada kalanya Ting Peng membelai rambutnya atau mengelus pipinya yang halus, dan dia pun mengulumkan sekulum senyuman genit kepada Ting Peng...

Pemandangan semacam ini sungguh menggetarkan hati orang, membuat hati orang merasa kagum.

Walau dilihat sepintas lalu pemandangan tersebut menggetarkan sukma, tapi benarkah perasaan mereka pun sedemikian tenangnya?

Soal ini hanya mereka sendiri yang tahu, paling tidak dari wajah Ting Peng mereka tidak berhasil menemukan sesuatu yang aneh.

Kereta kuda bergelinding melalui sebuah jalan bukit, mendadak Siau Hiang bangun dan duduk, lalu mengetuk pintu kereta.

Ah Ku yang menjadi kusir di depan segera menarik tali lesnya dan menghentikan kereta tersebut.

Siau Hiang melongok ke luar, kemudian bertanya.

"Apakah, kita sudah melalui jalanan kecil itu"

Ah Ku manggut-manggut sambil memberi kode tangan. Siau Hiang lantas berkata lagi.

"Lumayan kalau begitu! menurut perhitunganku seharusnya tinggal empat puluh kaki lagi kita belok ke jalan kecil tersebut"

Ah Ku memberi kode tangan lagi. Terdengar Siau Hiang berkata.

"Kongcu, jalanan tersebut kelewat sempit, kereta kita tak bisa masuk, kita harus beralih menunggang kuda"

"Kau tak bakal salah bukan?"

Tanya Ting Peng tertawa.

"Tak bakal salah, anting-anting yang di kirim Siau Im adalah anting-anting harum seribu li, anting-anting tersebut mempunyai semacam bau khas, dimana tempat tersebut dia lewati, dalam setengah bulan baunya tak akan luntur, cuma hanya orang kita saja yang bisa membedakannya"

"Maksudmu anting-anting yang dikirim kepada kita itu?"

"Bukan! Anting-anting ini meski membawa bau tersebut, namun bau itu karena tertempel pada anting-anting yang lain, sedang bau yang sebenarnya terletak pada anting-anting yang satunya"

"Masa di atas sebuah anting-anting bisa menyiarkan sejenis bau khas tertentu!"

Siau Hiang tertawa.

"Soal ini merupakan rahasia kami, sebetulnya anting-anting itu sendiri tidak mempunyai bau apa-apa, bau khas tersebut terbungkus didalam mutiara dari anting-anting itu. jika menemui bahaya maut maka mutiaranya dipukul hancur sehingga menyiarkan bau khas, bau tersebut akan tertinggal di tempat-tempat yang dilaluinya, sewaktu Siau Im tertawan, ia telah berbuat demikian maka dari itu anting-anting yang dikirim datang hanya tertempel sedikit bau harum itu, dengan mengikuti asal bau tersebutlah aku bisa meraba arahnya secara garis besar, tapi setelah sampai di depan situ, baunya makin lama semakin keras"

"Kalau begitu kau sudah dapat menentukan dimanakah mereka berada sekarang?"

"Benar! asal nona dan Siau Im belum berpisah, kita pasti dapat menemukan jejaknya, paling tidak kita dapat menemukan dimanakah Siau Im berada sekarang"

"Baik! Kalau begitu kita tak usah menunggang kuda, kita lanjutkan perjalanan sambil berjalan kaki saja"

"Budak kuatir tak sanggup berjalan sejauh itu"

"Tak menjadi soal, biar aku dan Ah Ku secara bergilir membopong tubuhmu nanti"

Ah Ku kembali memberi kode tangan menanyakan bagaimana dengan kereta mereka. Sambil tertawa Ting Peng berkata.

"Beri saja sebuah cambukan agar mereka berjalan turun ke bawah sana mengikuti jalanan, toh kereta tersebut sudah terlanjur ternama sekali dalam dunia persilatan, tak usah kuatir bila ia nanti hilang. Ah Ku, sebenarnya aku hendak menyuruh kau melanjutkan kereta itu menuju ke depan sana agar bisa memencarkan perhatian orang, tapi aku pun berpikir lain, pihak lawan bisa menangkap Cing Cing berdua, berarti mereka bukan terdiri dari seorang saja, lagi pula pasti hebat sekali, kemungkinan besar aku membutuhkan pembantu, itulah sebabnya aku menyuruh kau turut serta dalam perjalanan ini"

Tampaknya Ah Ku sangat gembira karena Ting Peng memandang tinggi kemampuannya, buru-buru dia melompat turun dari keretanya dan memayang turun Siau Hang, setelah itu memberi sebuah cambukan membiarkan kudanya lari ke depan.

Sementara mereka bertiga segera memutar badan dan masuk ke jalanan kecil tersebut.

ooo0ooo PERKAMPUNGAN LIAN IM SAN CENG TEMPAT itu merupakan sebuah perkampungan yang sangat besar, terhitung pula sebuah bangunan yang terpencil sekali letaknya.

Siau Im dan Cing disekap dalam sebuah kamar, tubuh mereka tidak diikat atau dibelenggu, jendela dan pintupun tidak diberi terali besi...

Tapi mereka tak dapat melarikan diri dari situ, sebab tubuh mereka dalam keadaan telanjang bulat, Giok Bu sia memang kurang ajar, ternyata mereka telah ditelanjangi, perabot dalam ruangan itu diatur sangat rapi, cuma tiada secuwil bendapun yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh mereka.

Pintu dibuka, Giok Bu sia masuk sambil membawa sebuah anglo tempat pemanasan, ujarnya sambil tertawa.

"Aku kuatir, kalian kedinginan, maka sengaja kuambilkan tempat pemanasan untuk menghangatkan tubuh kalian"

Ketika ia berada di depan pintu tadi, Cing Cing sudah mendengar kehadirannya, dia segera menyelinap ke belakang pintu dan bermaksud untuk menotok roboh dirinya.

Tapi tangannya yang diayunkan itu segera terhenti ditengah jalan, sebab Giok Bu sia sendiripun tidak berbusana, seperti mereka dan pun berada dalam keadaan telanjang bulat.

Memandang tangan Cing Cing yang ditarik kembali, Giok Bu sia tertawa tergelak, ujarnya.

"Ting hujin, agar kalian jangan kuatir dan merasa murung, aku sengaja melepaskan pula pakaianku agar kalian dapat membuktikan sendiri kalau aku pun seorang perempuan, seorang perempuan tulen?"

Dia meletakkan tempat pemanasan ************************* Halaman 31 s/d 36 hilang ************************* "Terhadap aku tak mungkin"

Giok Bu sia tertawa.

"sebab sewaktu datang dulu mereka keluar berenam, ke empat orang lainnya justru termakan jarum terbangku karena sikap kurang begitu bersahabat ..."

"Aku rasa jarum itu pasti sudah diberi racun?"

"Benar, racun itu adalah sejenis racun yang sangat aneh, tidak sakit tidak kaku, tapi mendatangkan perasaan gatal bahkan rasa gatalnya keluar dari badan menuju keluar, maka setelah termakan bidikan jarumku bukan saja seluruh tubuh mereka sendiri dicakar robek, sampai akhirnya mereka malah menggunakan pisau untuk memotongi kulit badan sendiri, memotong terus sampai tak sanggup memotong lagi, ada seorang diantaranya cukup tangguh, ternyata dia sanggup mengorek sampai isi perutnya keluar semua, akhirnya dia baru mampus setelah jantungnya sendiri di potong keluar.."

Siau Im merasakan seluruh bulu kuduknya pada bangun berdiri, dia ngeri sekali oleh cerita orang.

Tapi Cing-cing tidak dibikin ketakutan oleh perkataan mana bahkan paras mukanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

Dengan nada sedikit kurang percaya, Giok Bu sia bertanya.

"Adakah Ting hujin kurang percaya dengan perkataan tadi?"

"Tidak! aku percaya, meskipun kau bukan seorang perempuan yang jujur namun selagi seseorang berada dalam keadaan telanjang bulat dia jarang sekali berbohong"

"Tapi sikap serta mimik wajahmu menunjukkan seolah-olah tidak percaya dengan ucapanku itu"

"Aku tahu kalau kau berbicara sesungguhnya, cuma aku tidak sampai dibuat ketakutan saja, tahukah kau aku bukan manusia, aku adalah rase""

Giok Bu sia tertawa.

"Setiap orang lelaki memang selalu mengatakan kita orang perempuan Sebagai siluman rase"

Katanya.

"Tapi yang kuyakini berbeda dengan kalian, yang kuyakini adalah aliran rase langit, yang diutamakan adalah bentuk hati yang bersih, oleh karena itu aku sudah tak akan terpengaruh lagi oleh persoalan-persoalan keduniawian lagi."

"Tidak kusangka latihan batin Ting hujin telah mencapai tingkatan yang begini sempurna, entah persoalan keduniawian apa lagi yang sanggup menggerakkan hatimu?"

"Ada sih ada"

Ujar Cing-cing menghela napas.

"andaikata benar-benar bisa terlepas dari semua persoalan keduniawian niscaya hatiku sudah sebersih cermin dan tingkat kedudukanku tentu akan setingkat lebih tinggi lagi."

"Entah persoalan apakah yang masih sanggup menggerakkan hati Ting hujin... ?"

Setelah pertanyaan itu diutarakan, dia baru merasakan kebodohan sendiri, jelas hal itu merupakan rahasia seseorang, seperti juga seorang berlatih ilmu tenaga dalam, tentu saja dia tak akan memberitahukan rahasianya kepada orang lain.

Namun Cing-cing segera menjawab pertanyaan itu.

"Suamiku!"

Giok Bu sia tertegun, tanyanya curiga.

"Suamimu?"

"Benar suamiku Ting Peng, apakah nona Giok sudah memperoleh kabar darinya?"

"Sialan, maknya, bangsat keparat setan!"

Siapapun tak akan percaya kalau perkataan semacam itu bisa muntah keluar dari mulut seorang gadis cantik jelita seperti Giok Bu sia, bahkan dia memaki sampai dua kali.

Pertama kali dia mencaci maki kata tersebut ketika Cing-cing bertanya apakah sudah mendapat khabar tentang Ting Peng, ternyata ucapan itu menyentuh hawa amarahnya, begitu meletakkan nampan nasi dia membalikkan badan dan kabur keluar.

Seperti menembus angin dia menerjang keluar, sampai pintupun lupa ditutup kembali.

Ketika Cing-cing bangkit berdiri untuk menutup pintu, dia menyaksikan bayangan tubuhnya yang indah sudah menuruni loteng dan kabur jauh sekali....Menanti ia menyaksikan ada bayangan dua orang lelaki mendekat, ia baru cepat-cepat menutup pintu.

Tapi ia telah berhasil membuktikan beberapa hal, Giok Bu sia memang benar-benar berani berjalan kian kemari di depan rekan-rekan prianya dalam keadaan telanjang bulat, karena dua orang lelaki itu nampak seperti amat takut terhadap Giok Bu sia.

Sewaktu gadis itu menerjang lewat ************************* Halaman 41 s/d 44 hilang ************************* "Lo Ma, kau telah kembali?"

"Bee... benar, aku sudah kembali"

Sahut lo-ma dengan keadaan yang patut dikasihani.

"Kemana Lo Chin? Kenapa tidak pulang bersamamu?"

Lo Ma menundukkan kepalanya semakin rendah, dengan suara agak takut bercampur ngeri katanya.

"Ia telah dibacok oleh Ting Peng, sekali bacok terbelah menjadi dua, benar-benar sebilah golok yang amat menakutkan"

Bukan marah Giok Bu sia malah tertawa, katanya.

"Dia hanya membacok seorang saja masih terhitung sungkan, mungkin lantaran kaulah yang membawanya kemari, maka dia tak jadi membacok mati dirimu"

Lo Ma tidak berani berbicara, dia membungkam dalam seribu bahasa....Agaknya Giok Bu sia tahu kalau perkataan semacam itu terlampau awal untuk diucapkan, maka ia segera berkata lagi.

"Mana Ting Peng? Apakah dia telah membunuh Liu Yok siong?"

"Ti... tidak, setelah membaca surat itu dia meloloskan goloknya, kami mengira dia akan membunuh Liu Yok siong, siapa tahu Lo Chin lah yang dibacok menjadi dua"

Giok Bu sia nampak seperti gembira sekali, kembali ujarnya.

"Apakah kalian tidak berbicara hingga jelas?"

"Tidak, tidak! Kami sudah berbicara cukup jelas, sepatah katapun tidak kurang". Giok Bu sia makin tertarik lagi dengan gembira dia berseru.

"Jadi maksudnya dia lebih suka mengorbankan bininya daripada membinasakan Liu Yok siong?."

"Tidak!"

Kembali Lo Ma berseru cepat.

"diapun tidak berkata demikian...."

Sekarang Giok Bu sia baru menarik muka sambil menegur.

"Sebenarnya apa yang dia katakan?"

"Dia bilang dia tak bisa membacok kepala manusia, dia hanya bisa membelah orang jadi dua, dia suruh kami berubah cara saja bila lain kali menginginkan dia membunuh orang"

"Dia cuma berkata sepatah kata ini saja"

"Dia masih mengucapkan banyak perkataan, tapi semuanya itu kalau ditarik kesimpulan maka isinya hanya menandakan kalau dia tak akan sudi menerima tekanan kita"

"Sekalipun dengan menggunakan jiwa bininya pun tak sanggup?"

"Yaa, dengan nyawa bininya pun percuma, dia bilang kita boleh saja membunuh bininya tapi perbuatan itu harus ditebus dengan suatu nilai yang besar sekali"

"Kemudian dia pun melepaskan kau pulang kemari?"

Lo Ma manggut-manggut, dia tak berani mengatakan kalau ilmu silat yang dimilikinya sudah punah, sebab hal itu sama artinya dengan mengumumkan kematian sendiri.

Dengan gusar Giok Bu sia segera mendamprat.

"Kau memang seorang telur busuk yang amat bodoh, apakah kau tak tahu kalau hal ini merupakan siasat liciknya? Dia hendak menyuruh kau membawa jalan baginya agar dia ikut kemari?"

Buru-buru Lo Ma menerangkan.

"Tentu saja aku pun bisa berpikir sampai ke situ maka sepanjang jalan aku memperhatikannya secara seksama, bahkan telah memberitahukan ke tujuh belas pos penjagaan agar mereka memperhatikan belakang tubuhku, tapi alhasil dibuktikannya bahwa dia tidak ikut aku datang sampai di sini"

"0ooh, peristiwa ini benar-benar sukar diterima dengan akal sehat, mungkinkah ia sama sekali tidak menaruh perhatian khusus terhadap keselamatan jiwa bininya?"

"Itupun, tidak, ia bilang tentu saja dia mempunyai cara untuk menemukan istrinya, karena diantara mereka berdua sudah mempunyai hubungan kontak batin yang mendalam dan erat sekali, sekalipun bininya berada jauh di suatu tempat yang ribuan li letaknya, dengan cepat dia akan berhasil menemukan tempat tersebut"

"Sialan, maknya, setan kepala gede."

Untuk kedua kalinya Giok Bu sia mengutarakan kata makiannya yang kotor dan kasar.

ooo0ooo ************************* Halaman 49 -50 hilang ************************* paling belakang pun sudah hampir setahun berada bersama-samanya.

Lian Im cap si sat seng (empat belas bintang malaikat bengis) hanya melambangkan suatu nama, suatu nama dari sebuah organisasi yang aneh, bukan dimaksudkan hanya empat belas orang saja.

Hanya saja setiap kali mereka hendak melakukan suatu pekerjaan, selalu empat belas orang bersama-sama, karena setiap perbuatan yang diperintahkan Giok Bu sia tak boleh meleset barang sekali pun dan untuk melakukan suatu pekerjaan secara sempurna paling tidak membutuhkan tenaga dari empat belas orang.

Lian im cap si sat seng bukan sebuah organisasi yang ternama, akan tetapi merupakan sebuah organisasi yang nyata, mereka berani menerima tugas yang bagaimanapun sulitnya, bahkan langganan mereka merupakan perguruan-perguruan besar yang termasyhur dalam dunia persilatan, sedang tugas yang harus mereka lakukan pun sering kali merupakan pekerjaan yang tak mungkin bisa mereka lakukan atau mereka selesaikan sendiri.

Tentu saja, mereka pantang bekerja bagi orang tanpa imbalan, yang mereka terima biasanya selalu bernilai tinggi.

Suatu pekerjaan dengan imbalan yang tinggi, sudah barang tentu merupakan suatu pekerjaan yang sulit sekali.

Pekerjaan dengan imbalan tinggipun bukan pekerjaan yang seringkali mereka jumpai, itulah sebabnya mereka seringkali menganggur.

Tapi setiap kali mereka dapat menyelesaikan sebuah tugas maka mereka pun bisa hidup makmur, hidup gembira, kaya raya dan berlimpah-limpah selama berapa tahun.

Belakangan ini merekapun sudah melakukan beberapa buah pekerjaan, itulah sebabnya mereka semua kaya raya.

Cuma saja dalam peristiwa penculikan terhadap Cing-cing, boleh dibilang mereka telah bertindak kurang cerdik, sebab hingga sekarang mereka masih belum berhasil meraih keuntungan sepeserpun, bahkan malah harus mengeluarkan ganti rugi, suatu jumlah ganti rugi yang cukup besar.

Disaat Giok Bu sia menjumpai bahwa dia jauh lebih menarik disaat mengenakan busana daripada bertelanjang bulat inilah Ting Peng telah datang....Ting Peng datang tanpa mengeluarkan suara atau menimbulkan suara apa saja, sebab untuk mendekati perkampungan Lian Im san ceng tanpa menimbulkan suara pada hakekatnya merupakan suatu pekerjaan yang mustahil.

Akan tetapi semua pekerjaan yang sudah terjatuh ke tangan Ting Peng, tampaknya tiada kata tak mungkin lagi.

ooo0ooo SECARA beruntun Ting Peng telah berhasil melampaui tujuh belas buah pos penjagaan dan melewati empat buah markas tanpa menimbulkan suara barang sedikitpun jua.

Akan tetapi sewaktu ia berdiri di depan pintu gerbang perkampungan Lian Im san ceng, ia justru menitahkan kepada Ah Ku untuk menendang pintu gerbang yang besar, tebal lagi berat itu.

Pintu gerbang tersebut tidak lebih tipis daripada pintu gerbang kota, tidak pula lebih enteng, apalagi dari atas sampai ke bawah masih dipantek dengan lima buah pantekan kayu besar, namun Ah Ku cuma menggunakan sebuah tendangan saja.

Pintu itu bukan tertendang hingga terbuka, melainkan ditendang hingga roboh.

Walaupun mereka sudah membuat pintu itu sedemikian kokoh dan kuatnya, namun mereka lupa memasang engsel pintu yang sama kokoh dan kuatnya, oleh sebab itu tendangan mana seketika itu juga mematahkan sontekan dan engsel pintu yang kuat, lalu kedua belah pintu gerbang itu pun roboh ke tanah dengan menimbulkan suara keras bagaikan geledek, tanahpun ikut bergetar keras seperti dilanda gempa bumi.

Tak usah memeriksa keluar, Giok Bu sia sudah tahu kalau Ting Peng telah datang, dia hanya menurunkan perintah yang paling singkat.

"Keluar, gunakan segenap tenaga untuk bertahan, bunuh semua pendatang... !"

Bunuh semua pendatang semestinya dimaksudkan untuk membendung datangnya pendatang itu.

Giok Bu sia cukup mengerti, kendatipun orang-orang itu terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, namun mereka tak akan mampu membunuh Ting Peng.

Hanya saja kawanan manusia itu masih belum tahu, bahkan mereka tidak percaya.

Orang yang mempunyai sedikit kepandaian memang seringkali sukar untuk mempercayai kemampuan orang lain, apalagi kalau kepandaian orang sangat luar biasa, apalagi kalau kawanan manusia tersebut adalah manusia-manusia sombong yang sudah terbiasa mengagulkan diri.

Seandainya Giok Bu sia mengatakan agar semua orang menggunakan segenap kemampuan yang ada untuk menghadang kedatangan pendatang tersebut, kemungkinan besar ada dua tiga orang diantaranya yang lebih pintar bisa berpikir kalau ilmu silat orang itu tentu amat lihay hingga timbul perasaan takut dalam hatinya.

Sekalipun mereka selalu mengunggulkan diri, akan tetapi mereka amat mempercayai ucapan Giok Bu sia.

Bukan saja Giok Bu sia memahami keadaan lawan, diapun cukup memahami diri sendiri.

Mereka sudah pernah menjumpai musuh yang sangat tangguh, akan tetapi di bawah susunan rencana Giok Bu sia yang sempurna akhirnya toh musuh tangguh itu berhasil dirobohkan.

Oleh karena itu ketika Giok Bu sia mengatakan agar mereka mengerahkan segenap kekuatannya untuk membunuh pendatang, hal ini menandakan kalau kekuatan mereka masih sanggup untuk membunuh pendatang tersebut.

Kepercayaan mereka terhadap Giok Bu sia tak pernah goyah atau luntur, sekalipun mereka sendiripun tahu bahwa sebagai lelaki mereka tak boleh kelewat percaya dengan kaum wanita"

Namun dalam pandangan mereka, pada hakekatnya Giok Bu sia bukan seorang perempuan.

Dia adalah pemimpin mereka., malaikat mereka.

Cuma saja mereka telah melupakan satu hal, hari ini Giok Bu sia telah munculkan diri di hadapan mereka dengan memakai pakaian perempuan.

Tingkah lakunya yang lemah gemulai membuat pandangan mata mereka terperana.

Dikala Giok Bu sia melepaskan busananya dia mirip iblis, sedang kalau mengenakan dandanan pria seperti malaikat.

Oleh karena itu mereka tidak menyangka kalau Giok Bu sia akan nampak sedemikian menariknya sewaktu berdandan seperti seorang perempuan..

Disaat mereka menyaksikan kalau Giok Bu sia adalah seorang perempuan yang begini cantik, otomatis merekapun melupakan kata-kata nasehat kuno yang menyatakan bahwa "perempuan adalah manusia yang tak boleh dipercaya...

Ini memang merupakan suatu kesalahan besar.

Dalam kehidupan manusia di dunia ini banyak sudah kesalahan yang dibuat tapi kali ini sudah pasti merupakan yang terbesar, biasanya yang terakhir kalinya itulah merupakan kali yang tak bisa terampuni.

Baca Juga: Pedang Wucisan Chin Yung

Baca Juga: Pedang Ular Emas Yin Yong

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert