Eps 5 Golok Bulan Sabit - Khu Lung
Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung
Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.
Oleh karena itu tak ada yang berani maju bertanya kepada mereka, apa gerangan yang telah terjadi di tepi seberang sana, bahkan semua orang masih mempunyai satu hal yang paling diperhatikan.
Bagaimanakah akhir pertarungan antara Ting Peng dengan Cia Siau hong?
Untuk saja Cia sianseng ikut mengantar mereka ke seberang dan Cia sianseng sudah termasyhur sebagai seorang yang ramah dan hangat bergaul dengan semua orang.
Maka ada orang yang sudah berjalan menghampiri Cia sianseng, bahkan sudah bersiap-siap untuk menyapa.
Walaupun Cia sianseng mempunyai pergaulan yang luas, tapi orang yang bisa mempunyai hubungan dengannya, paling tidak juga seseorang yang punya nama.
Orang itu bernama Lo Kay seng, seorang cong-piautau dari suatu perusahaan pengawalan barang, yang tidak terhitung besar namun juga tidak terhitung kecil, maka bagaimanapun juga Lo cong-piautau masih mempunyai sedikit nama yang cukup lumayan dalam dunia persilatan.
Terlepas dari kedudukannya itu, dia masih ada satu hal yang bisa diandalkan, yakni Cia sianseng pernah mempunyai sedikit hubungan dengannya, ketika ia secara kebetulan melewati kota dimana perusahaan pengawalan barang itu dibuka, ia pernah menerima jamuannya bahkan menjadi tamu seharian penuh di rumahnya.
Oleh karena itu, Lo Kay seng merasa inilah saatnya untuk memperlihatkan hubungannya itu kepada umum.
Tampaknya Cia sianseng juga telah melihat kehadirannya, maka sebelum ia sempat buka suara, dia telah menegur lebih dulu.
"Saudara Kay seng, maaf, maaf, aku tak tahu kalau kaupun turut hadir di sini, mengapa tidak memberi kabar dulu kepada siaute? Sungguh mohon maaf atas keterlambatan ku datang menyambutmu"
Di hadapan begitu banyak orang, dalam sebutan yang begitu ramah hampir saja air mata Lo Kay seng jatuh bercucuran saking terharunya, sikap mesra dari Cia sianseng kepadanya ini membuat kedudukannya diantara sekian banyak orang menanjak tinggi secara tiba-tiba ...
Di kemudian hari, sekalipun Cia sianseng menyuruh pergi mati, tanpa ragu dia pasti akan melaksanakannya.
Karena bagi orang-orang persilatan, yang penting adalah gengsi.
Maka Lo Kay seng menjadi tergagap dengan mata terbelalak, saking terharunya dia sampai tak tahu bagaimana harus menjawab.
Sambil tertawa kembali Cia sianseng berkata.
"Mungkin pertarungan ini dibatalkan."
"Mengapa?"
Tanya Lo Kay seng cepat-cepat. Cia Sianseng tertawa.
"Sebab Ting kongcu telah bersahabat dengan nona kami, malah mereka dapat berbincangbincang dengan akrab sekali."
"Lantas bagaimana dengan soal pertarungan itu?"
"Entahlah, mereka belum membicarakan-nya lagi, tapi seandainya Ting kongcu bersahabat dengan nona kami, tentunya ia akan merasa rikuh untuk menantang lo tay-ya kami lagi. ooo0ooo WALAUPUN Cia sianseng tidak memberi tahukan apa-apa, tapi terhadap pertarungan antara Ting Peng dengan Cia Siau hong pun telah mengemukakan dugaan pribadinya. Dugaannya tentu saja tak bisa dianggap sebagai jawaban, tapi dugaan dari Cia sianseng adalah congkoan dari perkampungan Sin kiam san ceng... Karena Cia sianseng mempunyai kedudukan yang tinggi didalam dunia persilatan, perkataannya cukup berbobot. Oleh karena itu bila tiada suatu keyakinan yang memadahi tak mungkin dia akan sembarangan berbicara, apa lagi mengemukakannya di depan umum. Oleh karena itu, apa yang dikatakan hampir boleh dibilang merupakan suatu jawaban. Suara helaan napas segera terdengar diantara kawanan jago persilatan itu. Agaknya mereka semua merasa kejadian itu patut disesalkan, patut disayangkan, tapi seperti juga banyak yang menyambut berita itu dengan perasaan gembira. Walaupun dengan susah payah mereka datang dari tempat yang jauh untuk menghadiri keramaian tersebut, tapi tampaknya kehadiran mereka bukan berharap untuk bisa menyaksikan akhir dari pertarungan tersebut. entah siapapun yang menang dan siapa yang kalah. Dalam anggapan setiap orang, Cia Siau-hong adalah dewa, malaikat, seorang jago pedang yang tiada taranya, semacam perlambang dari suatu kejayaan dan keagungan. Tentu saja tiada orang yang berharap dewanya kalah, malaikatnya menderita kekalahan hebat ditangan orang. Ting Peng pun merupakan suatu perlambang pula dalam hati sementara orang, terutama sekali dalam hati kaum muda serta kaum wanita. Kemunculannya yang tiba-tiba, kecemerlangan dan kejayaan yang diperolehnya secara tibatiba, penuh mengandung sistim bekerja yang segar, yang santai dan penuh jiwa kemudaan. Sistim yang diperlihatkan kepada umum seolah-olah merupakan suatu pendobrakan, suatu pendobrakan terhadap tradisi kuno yang penuh dengan segala macam tata cara yang serba kaku dan disiplin. Dia seakan-akan muncul dengan suatu cita-cita, yakni menantang duel terhadap segala macam tata cara kuno tersebut, dia pun menunjukkan sikap yang gagah, dan angkuh untuk menantang kaum tua serta kaum ketua kenamaan untuk beradu kepandaian. Tindakan semacam ini, bagi perasaan kaum muda merupakan suatu dorongan semangat yang besar untuk maju. Oleh karena itu, mereka pun tidak berharap Ting Peng kena dirobohkan dalam pertarungan tersebut.. Sekalipun jawaban yang diperoleh kurang merangsang perasaan, namun setiap orang merasa gembira, membuat setiap orang merasa puas pula terhadap hasil dari pertempuran itu. ooo0ooo RUMAH RAHASIA TING KONGCU dan nona kami telah menjadi sahabat karib!"
Berita itu merupakan suatu kenyataan dan diumumkan Cia Sianseng kepada semua orang, agaknya berita tersebut merupakan suatu kenyataan yang tak akan dibantah oleh setiap orang, meski pun pemimpin ke enam partai besar pernah merasakan kelihaian dari Ting Peng, namun merekapun tidak menyangkal kenyataan tersebut.
Dengan mata kepala sendiri mereka saksikan Cia Siau giok menggandeng tangan Ting Peng masuk ke dalam perkampungan, hubungan mereka berdua nampaknya amat erat.
Tapi kenyataan yang sebenarnya belum tentu akan sesederhana apa yang dibayangkan semua orang.
Cia Siau giok memang amat cantik, seorang gadis yang cantik jelita, di bawah senyumannya setiap lelaki akan merasa seolah-olah tak dapat menampik setiap permohonannya.
Kalau mereka dapat berjalan sambil bergandengan tangan dengannya, sekali pun di depan mata terdapat kawah gunung berapi, orang-orang lelaki bisa saja melompat ke dalam tanpa mengernyitkan dahi.
Tapi Ting Peng bukan lelaki sembarangan, dia tidak begitu mudah untuk ditundukkan.
Karena dia telah mengalami rayuan maut dari bini Liu Yok siong, Chin Ko cing memang seorang perempuan yang amat menggetarkan hati kaum lelaki.
Karena dia mempunyai seorang istri rase, walaupun selama berada di hadapannya Cing cing tak pernah menggunakan ilmu rayuan apa-apa, namun kecantikan wajahnya selembut air, tak akan bisa ditandingi oleh perempuan manapun.
Cia Siau giok berbeda dengan kedua orang perempuan itu, dia seakan-akan memiliki kelebihan dari dua orang perempuan tersebut, daya tarik dari Chin Ko cing dan kelembutan dari Cing cing.
Akan tetapi Siau giok tidak sejalang Chin Ko cing, diapun tidak seanggun Cing cing.
Bagi lelaki lain, mungkin dia tak akan mengalami kegagalan, tapi bagi Ting peng, dengan mudah akan terlihat kelemahan-kelemahannya.
Oleh karena itu, ketika mereka berdua sudah duduk, pelayan sudah menghidangkan sayur dan arak, dan setelah mereka meneguk tiga cawan arak, dimana Cia Siau giok mulai mabuk serta memancarkan daya tarik kegadisannya, Ting Peng malahan merasa kegembiraannya lenyap tak berbekas.
Tiba-tiba Cia Siau giok memerintahkan pelayan untuk mengundurkan diri, setelah memenuhi cawannya dengan arak ke empat, ia menjatuhkan diri bersandar di atas dadanya dan tertawa merdu, bisiknya.
""Mari, kita meneguk secawan arak lagi!"
Kalau di masa lalu, sekalipun arak tersebut adalah arak beracun, pasti tak akan ada orang yang menampiknya.
Tapi Ting Peng justru mendorong tubuhnya dengan dingin, dan menampik pula arak tersebut dengan dingin, kemudian menjawab.
"Tiga cawan arak sudah cukup sebagai sopan santun. cawan ke empat ini terlalu berlebihan"
Cia Siau giok tertegun, baru pertama kali ini dia didorong orang untuk menjauh.
Lagi pula oleh seorang pria.
Sejak dia tiba di perkampungan Sin kiam san-ceng, entah sudah berapa banyak jago pedang dan jago silat muda yang menjadi tamunya, mereka datang karena terangsang oleh kecantikan serta kelincahannya.
bahkan gara-gara saling berebut mengambilkan sapu tangannya yang terjatuh ke tanah, dua orang lelaki telah saling mencabut pedang untuk berduel mati-matian.
Tapi sekarang, dia telah didorong orang.
Kenyataan ini membuatnya merasa sedih, tapi juga mendatangkan semacam rangsangan baru.
Lelaki ini ternyata masih dapat menampik bujuk rayunya, maka diapun bertekad untuk menaklukkannya.
Oleh karena itu, sambil tertawa dia lantas berkata.
"Ting toako, masa memberi muka kepadaku pun kau tak sudi. Ting Peng berkerut kening, kemudian menjawab tanpa perasaan.
"Diantara kita berdua tak pernah mempunyai suatu hubungan, lagi ula aku tak pernah minum arak karena suatu perasaan belaka"
Kata-kata yang tanpa perasaan sama artinya, dengan sebuah tamparan keras yang mendamprat di atas pipinya, kontan senyuman di ujung bibirnya menjadi kaku.
Hal inipun mendatangkan satu perasaan malu yang belum pernah dialaminya sebelumnya, sepasang matanya segera menjadi merah, titik air mata jatuh berlinang dengan wajah yang mengenaskan dia awasi wajah Ting Peng tanpa berkedip.
Sikap yang begitu mengenaskan bukan cuma bisa meruntuhkan perasaan kaum lelaki, manusia baja pun akan turut meleleh.
Tapi Ting Peng bukan manusia baja, dia adalah seorang yang berperasaan lebih keras daripada baja, maka dengan wajah yang menunjukkan perasaan muak serunya.
"Nona Cia, bila kau ingin merayu orang, maka usiamu masih kelewat muda, kalau ingin menangis aleman maka usiamu sudah kegedean, yang paling menjemukan dari seorang gadis adalah melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan usia sendiri"
Hampir saja air mata Cia Siau giok bercucuran dengan deras, tapi setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia menyeka air matanya, lalu berkata sambil tertawa.
"Ting toako. kau pandai sekali bergurau"
Perubahan sikap yang begitu cepat malahan justru membuat Ting Peng menjadi tertegun.
Perubahan sikap seseorang ternyata bisa mengalami perubahan dengan sedemikian cepatnya dalam waktu singkat terutama bagi seorang perempuan, paling tidak dia harus berpengalaman selama banyak tahun dalam sarang pelacuran sebelum dapat menguasahi sikap semacam itu.
Maka sekali lagi Ting Peng mengawasi perempuan itu dengan seksama, ia benar-benar tidak berhasil menjumpai lagi perasaan marah atau perasaan sedih lagi di atas wajahnya.
"Ting toako, kau pandai benar bergurau!"
Sebetulnya ucapan tersebut merupakan sepatah kata yang sangat umum, tapi seandainya dia bukan seorang perempuan pelacur yang sudah biasa menghadapi pelbagai macam tantangan hidup dalam keadaan seperti ini, mustahil dia bisa menggunakan kata-kata tersebut.
Menggunakan sepatah kata untuk membuang jauh-jauh semua kejengahan, cara semacam ini tak bisa dikatakan suatu kata-kata merendah, tapi boleh dibilang merupakan suatu tehnik untuk menghilangkan kejengahan.
Tak tahan lagi Ting Peng segera bertanya.
"Berapakah umurmu tahun ini?"
Cia Siau giok tertawa.
"Perkataan yang paling tak bisa dipercaya di dunia ini adalah ucapan dari seorang perempuan, semasa masih muda dulu aku selalu lebih suka dianggap orang telah dewasa, telah matang maka aku selalu menambah umurku dengan satu dua tahun, tapi setelah aku benar-benar menjadi dewasa dan matang, akupun kuatir diriku kelewat cepat menjadi tua, maka akupun mengurangi usiaku dengan satu dua tahun, selewatnya beberapa tahun lagi, bila aku benar-benar sudah meningkat tua, mungkin umurku akan dikurangi dengan lebih banyak lagi, sampai aku sendiripun tak jelas berapa sebenarnya umurku."
"Tapi aku toh pasti mempunyai suatu umur yang dapat membuat dirimu sendiri merasa puas bukan, usiaku yang tidak kelewat besar juga tidak kelewat kecil..."
"Tentu saja, itulah sebabnya kebanyakan perempuan selalu hidup antara usia sembilan belas sampai dua puluh tahun, kalau sebelum usia itu, maka usianya harus dikurangi satu dua tahun, tapi selanjutnya harus ditambah satu tahun, oleh karena itu kalau tahun berselang aku mengaku berumur sembilan belas tahun dan tahun ini dua puluh tahun maka sekarang aku kalau kuberitahukan kepadamu tahun ini aku berumur dua puluh tahun dan tahun depan aku berumur sembilan belas tahun."
Ting Peng merasa kalau kecerdasan gadis ini sangat menarik hati, sambil tertawa dia bertanya lagi.
"Tahun lalu kita belum bersua muka maka aku tidak tahu berapa usiamu yang sebenarnya"
"Aaah, itu mah tidak menjadi soal"
Sahut Cia Siau giok sambil tertawa.
"pokoknya kalau aku bukan sembilan belas tentu dua puluh tahun, asal kau tidak menganggap aku berusia dua puluh satu tahun, aku tak akan menjadi marah"
"Aaai... kalau begitu anggap saja aku tak pernah bertanya"
Ting Peng menghela napas. Cia Siau giok memutar biji matanya, lalu berkata.
"Sebenarnya memang begitu, Ting toako tidak nampak seperti orang bodoh, mengapa kau harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu ?"
Ia memang seorang perempuan yang sangat memahami perasaan kaum lelaki, setelah mengalami kegagalan dalam taktik merayu dan taktik lemah lembut, kini dia telah bertukar dengan taktik yang ke tiga.
Ia memang disadarkan oleh sepatah kata dari Ting Peng.
"Untuk merayu usiaku kelewat kecil, untuk menangis menjadi aleman, usiamu kelewat besar!"
Dari perkataan itu, dengan cepat ia tahu kesan macam apakah yang didapatkan Ting Peng terhadap dirinya, selain itu diapun segera mengetahui perempuan macam apa pula yang paling digemari oleh Ting Peng.
Diam-diam ia menyalahkan kebodohan sendiri yang telah banyak melakukan kesalahan, padahal perempuan macam apakah yang digemari Ting Peng, sedikit banyak seharusnya dia sudah harus mempunyai gambaran.
Sewaktu di pintu gerbang tadi, justru karena ejekan dan sindirannya terhadap ketua enam partai, ia berhasil menangkan persahabatan dari Ting Peng dan mengajaknya masuk ke dalam.
Ada sementara orang lelaki memang menyukai perempuan yang suka menyindir, kebetulan pula Ting Peng adalah salah seorang diantaranya, hal ini justru meningkatkan kegembiraan Cia Siau giok.
Dia ingin mencoba merasakan hal-hal yang baru, dia ingin mencoba untuk menundukkan lelaki ini.
Tapi diapun merasa agak takut, dalam pengalamannya, dia belum pernah merasakan peranan semacam ini, dia tak tahu apakah dia bisa berbuat dengan sebaik-baiknya.
Ia masih menggigit jarinya sambil berpikir tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan dan perkataan apa yang hendak dikatakan, tetapi Ting Peng tidak memberi kesempatan lagi.
Dengan suara hambar katanya.
"Nona Cia, sekarang kau bisa mengundang keluar ayahmu"
Cia Siau hong menjadi tertegun.
"Apa kau masih akan mencari ayahku untuk berduel?"
Serunya keheranan.
"Aku memang datang ke sini lantaran persoalan ini!"
Sahut Ting Peng hambar.
Entah sudah berapa banyak akal yang di pikir Cia Siau-giok, tapi akhirnya semua akal tersebut dilepaskan, dia tahu harus menggunakan cara apa untuk menghalangi terjadinya duel tersebut.
Tapi Ting Peng telah mengemukakan jawaban yang sedang dipikirkannya itu.
"Nona Cia, apakah kau berharap kita bisa menjadi sahabat yang baik....?"
""Tentu saja, aku ingin membalas budi pertolonganmu, sekalipun berbicara yang sebenarnya walaupun kau benar-benar telah menolongku, tapi akupun tak usah menerimanya sebab kau bukan menolong aku karena ingin menolongku!"
"Ooooh, lantas karena apakah aku telah menolongmu?"
"Kau hanya bertindak demi menjaga gengsimu, martabatmu, kau tidak menghendaki ada orang lain membunuh orang di pagoda Ang bwee khekmu itu, coba kalau beralih ke tempat lain, kau pasti tak akan menggubris!"
"Tidak, kau keliru, sekalipun berada ditempat lain aku juga akan mengurusinya, asal aku berada di telaga See Ou, siapapun tak boleh membunuh orang di situ, kecuali aku sendiri!"
Cia Siau giok tertawa, kejumawaan Ting Peng membuatnya makin gembira, semakin jumawa semakin nampak nyata watak yang sebenarnya dari seseorang. Oleh karena itu katanya sambil tertawa.
"Tapi sewaktu berada di pagoda Ang Bwe khek tempo hari, bukankah banyak juga yang mati di situ? Dan lagi orang-orang itu bukan mati di tanganmu?"
"Walaupun orang-orang itu bukan mati di tanganku, tapi aku merasa mereka memang pantas untuk mati asal aku menganggap orang itu pantas mati dan ada orang yang mewakiliku untuk membunuhnya, mengapa aku tidak menyimpan tenaga baik-baik. Inilah tindakan dari seorang lelaki yang pandai, lagi pula seorang lelaki yang telah dapat mengendalikan semua perasaan dan napsunya, sehingga tak sampai dikemukakan secara nyata. Diam-diam Cia Siau giok mendapat kembali suatu kelebihan dari Ting Peng dalam hatinya.
""Kalau begitu, aku masih bukan termasuk orang yang kau anggap pantas untuk mati?"
Katanya kemudian.
"Benar, dulu aku sama sekali tak mengenalmu, bahkan akupun tidak tahu kalau kau putrinya Cia Siau-hong, tentu saja tak bisa memutuskan kau beralasan untuk mati atau tidak!"
"Sekarang kau tidak tahu, apakah kau menganggap aku tidak pantas untuk mati?"
Ting Peng segera tertawa.
""Benar, bila ingin mengetahui apakah seseorang pantas mati atau tidak, hal ini harus dilihat dulu pernahkah dia menyalahi diriku atau tidak, kau masih belum melakukan perbuatan brutal semacam itu!"
"Andaikata suatu hari aku benar-benar menyalahimu?"
"Aku hanya bisa berkata, berhati-hatilah kau, sekalipun kau adalah putrinya Cia Siau hong aku tetap tak akan mengampunimu"
Cia Siau giok menjulurkan lidahnya dan tertawa nakal.
"Kalau begitu aku akan selalu memperingatkan diriku sendiri janganlah berbuat sesuatu yang menyalahi dirimu"
"kalau memang begitu, kaupun tak usah melakukan perbuatan-perbuatan yang kau anggap cerdik tapi justru menjemukan diriku!"
"Ting toako, aku benar-benar tidak tahu perbuatan apakah yang menjemukan hatimu? Ting Peng segera mendengus dingin.
"Seperti apa yang kau lakukan sekarang, selalu mengulur waktu dan ingin menghalangi niatku untuk berduel dengan ayahmu, perbuatan semacam ini merupakan suatu perbuatan yang sangat menjemukan hatiku, yang paling kubenci adalah perempuan yang tidak tahu kedudukannya sebagai seorang perempuan, perempuan yang selalu ingin mencampuri urusan orang lelaki."
Sewaktu mengucapkan kata tersebut, di depan matanya seakan-akan muncul bayangan dari Chin Ko cing perempuan yang paling di bencinya itu, hingga tanpa terasa rasa muak yang menghiasi wajahnya nampak bertambah tebal.
Cia Siau-giok merasa terperanjat sekali, dia sangat memahami pengalaman Ting Peng dimasa lampau, terutama sekali peristiwanya dengan Liu Yok siong.
Pembalasan yang dilukiskannya terhadap Liu Yok song boleh dibilang mendekati kebrutalan, sekalipun berbicara dari setiap perbuatan yang pernah dilakukan Liu Yok siong terhadapnya, pembalasan itu tidak terhitung kebangetan, tapi setiap pembalasan yang dilancarkan olehnya sudah pasti memberikan pukulan batin yang amat besar bagi Liu Yok-siong.
Chin Ko-cing ingin membantu Liu Yok siong untuk merangkak ke tempat kedudukan yang lebih tinggilah baru menipu Ting Peng dan mempermainkan dirinya.
Oleh sebab itu Ting Peng bukan cuma membenci perempuan semacam ini, dia pun paling benci terhadap perempuan-perempuan yang suka mencampuri urusan orang lelaki.
Dengan cepat Cia Siau giok tahu apa yang harus dilakukan olehnya, sambil tertawa katanya.
"Ting toako, kau salah paham, aku tidak bermaksud menghalangimu untuk berduel dengan ayahku, akupun merasa tak mampu untuk menghalangi keinginanmu itu, seperti juga aku tak sanggup untuk mengundangnya keluar, karena aku sendiripun tidak tahu apakah dia berada di rumah atau tidak sekarang .."
"Apa? bukankah tadi kau mengatakan..."
"Benar, belum lama berselang aku telah berjumpa dengan ayahku dan berbincang-bincang dengannya, tapi dia tidak mengemukakan pendapat apa-apa terhadap soal tersebut, ia tidak mengatakan menerima tantanganmu juga tidak mengatakan menampik"
Dia dapat menyaksikan perubahan di atas wajah Ting Peng, buru-buru lanjutnya.
"Dalam persoalan ini, aku benar-benar tak dapat mengambilkan keputusan apa-apa bagi ayahku, satu-satunya cara hanyalah ku ajak untuk pergi mencarinya, coba, dilihat apa keputusannya nanti"
Ooo0ooo SEKARANG, ada tiga orang sedang berdiri di depan pintu besar yang tertutup rapat, berdiri termangu sambil mengawasi gembokan besar yang telah berkarat itu.
Selain Ting Peng dan Cia Siau giok, terdapat pula A-ku.
Pelayan yang setia ini meski tak pandai berbicara, namun dia sangat pandai memahami perasaan orang, bila tidak membutuhkan kehadirannya, dia tak akan ditemukan, tapi bila dia dibutuhkan maka tak pernah ia ketinggalan.
Sewaktu Ting Peng mengikuti Cia Siau giok keluar dari ruangan, bagaikan bayangan saja dia turut di belakangnya, cambuk yang semula berada ditangan kini sudah tak nampak lagi, sebaliknya sebilah pisau belati terselip pada pinggangnya, dua belah gelang perak melingkar di atas lengannya, sedang di ujung jarinya mengenakan sebuah cincin berduri.
Senjata semacam ini nampaknya seperti tak akan mendatangkan kegunaan apa-apa, tapi Ting Peng tahu kalau senjata-senjata yang dibawa Ah-ku mempunyai khasiat dan kekuatan yang luar biasa.
Sambil menuding bangunan berdinding tinggi di hadapannya, Cia Siau giok berkata.
Selama banyak tahun ayahku bersembunyi di dalam sana, kata sembunyi yang siaumoay pergunakan ini mungkin kurang tepat karena jejak dia orang tua memang sukar diikuti, diapun bukan selalu berada di dalam sana.
Tentang soal ini Ting Peng sudah tahu, semenjak Sin kiam san-ceng dihuni Cia Siau giok, jumlah anggota perkampungan itupun semakin bertambah banyak.
Asal jumlah penghuninya makin banyak, rahasiapun semakin sukar dipegang.
Kembali Cia Siau giok berkata.
"Bila ayahku berada di rumah, dia pasti berdiam di dalam sana, kalau tidak akupun tak tahu dia berada dimana" `Belum lama berselang dia toh masih berada dirumah..."
"Tapi sekarang, apakah dia masih berada di sana atau tidak sukar untuk diketahui, dulu diapun sering berbuat demikian, kaki depan masih melangkah keluar untuk menyapa orang, dalam waktu singkat dia sudah hilang tak berbekas, kemudian terdengar ada orang yang berkata kalau ia telah berjumpa dengannya di kota, padahal selisih waktunya antara kejadian pertama dengan kejadian lain cuma dua jam!.. Dua jam memang sudah cukup baginya untuk sampai di suatu tempat yang lain"
Kata Ting Peng sambil tertawa.
"Tapi kota itu berjarak hampir lima ratus li dari sini!"
Seru Cia Siau giok sambil tertawa.
"Oooh, kecuali dia bersayap dan bisa terbang diangkasa, apakah ayahmu telah berhasil melatih diri menjadi dewa?"
Seru Ting Peng dengan wajah menunjukkan perasaan kaget.
"Ayahku bukan dewa, juga tak bersayap, paling banter karena tenaga dalamnya telah mencapai kesempurnaan, sehingga ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tingkat kesempurnaan, maka dia dapat melewati perintang jalan yang sukar dilewati orang lain dan memotong jalan terpendek, itulah sebabnya dia lebih cepat daripada orang lain"
Ting Peng segera manggut-manggut.
"Yaa mungkin saja memang demikian, lima ratus li adalah jarak untuk kebanyakan orang misalnya dari kiri bukit berputar ke sebelah kanan bukit sebaliknya jika rata tidak berjalan memutar, tapi memotong bukit tentu saja jaraknya tinggal separuhnya saja"
"Yaa mungkin begitulah kejadiannya."
Ting Peng segera menuding ke arah gembokan di depan pintu, kemudian berkata lagi.
"Kalau begitu walaupun pintu ini terkunci tapi belum tentu bisa membuktikan kalau ayahmu tidak berada di sana?"
"Benar berada di depan toako, siaumoay tak berani berbohong, aku memang benar-benar tidak tahu apakah ayahku berada di dalam sana atau tidak..."
"Bagaimana kalau kita berteriak memanggil dari luar pintu?"
"Mungkin hal itupun tak ada gunanya karena siaumoay juga tak pernah masuk ke sana, tapi dulu aku pernah mencoba, adakalanya sekalipun dia orang tua berada di dalam, namun ia tidak menyahut atas panggilanku, ia pernah berpesan, bila dia ingin bertemu dengan orang maka dia akan munculkan diri dengan sendirinya, kalau tidak maka tak usah masuk untuk mengganggunya"
"Kalau begini terpaksa aku harus mendobrak pintu dan masuk ke dalam ...."
""Tentu saja bukan hanya cara ini saja yang tersedia, misalnya dengan melompati pagar pekarangan, kau pun bisa masuk ke dalam, tapi agaknya Ting toako bukan seseorang yang sudi melompati dinding pekarangan orang. ."
"Benar, aku datang mencari ayahmu dan menantangnya berduel, semuanya kulakukan dengan cara yang terbuka dan blak-blakan, aku tak ingin menirukan sang pencuri yang menerobos masuk ke rumah orang dengan melompati dinding pekarangan orang"
Setelah berpikir sebentar, dia berkata lagi.
"Aku hendak masuk ke dalam dengan mendobrak pintu, tentunya kau tak akan menghalangi perbuatanku ini bukan?"
Cia Siau giok tertawa.
""Sebetulnya aku wajib menghalangi perbuatanmu, tapi tenaga dan kemampuanku belum cukup untuk menghalangi perbuatanmu itu, maka apa gunanya aku harus mengorbankan tenaga dengan percuma? Apa yang hendak kau dobrak tak lebih hanya sebuah pintu, mengapa aku harus pertaruhkan nyawa untuk melindungi benda mati?"
"Nona Cia, kau memang seorang gadis yang sangat cerdik"
Puji Ting Peng sambil tertawa. Cia Siau giok turut tertawa.
"Ayahku telah banyak menyalahi orang, tapi jarang punya berapa orang teman, walaupun perkampungan Sin kiam san ceng termasyhur di seluruh dunia, tapi tak akan melindungi diriku, sebagai anak gadis Cia Siau hong, kalau tidak cerdik berarti umurku tak bisa panjang!"
"Benar, nama besar ayahmu tak dapat menjamin orang lain tidak membunuhmu, seperti juga Thi -yan siang hui yang mengejar dirinya tempo hari, toh tiada orang yang berani menghalangi mereka!"
"Siapa bilang tak ada? Ting toako kan telah menghalangi mereka"
Seru Cia Siau giok sambil tertawa, orang yang berani turun tangan terhadap anak gadis Cia siau hong, sudah pasti dia bukan sembarangan orang, oleh karena itu orang yang bisa melindungiku pun tak banyak jumlahnya, apa lagi seperti orang, toako boleh dibilang jarangnya jarang!"
"Nona Cia, jangan lupa kalau aku datang mencari ayahmu untuk diajak berduel lebih baik kau jangan kelewat terburu napsu untuk bersahabat denganku!"
Kata Ting Peng dingin.
"Mengapa? Yang kau tantang untuk berduel toh ayahku, bukan aku, apa sangkut pautnya antara tantanganmu itu dengan persahabatan diantara kita berdua?!"
"Bila pertarunganku dengan ayahmu telah berlangsung, maka salah satu pihak pasti akan menderita kekalahan!"
"Itu sudah pasti, tapi kejadian itupun tak akan besar pengaruhnya, bila kepandaian silat telah berhasil mencapai ke tingkatan seperti apa yang kalian miliki, menang kalah hanya selisih sedikit sekali, mustahil pertarungan tersebut dapat diakhiri dengan mengalirkan darah..."
"Sukar untuk dikatakan begitu, misalnya saja seperti ilmu golokku, bila telah dilancarkan maka akan sulit untuk ditarik kembali."
"Kau berhasil melukai Thi yan siang hui, mengalahkan Lim Yok peng bukankah semuanya bisa dilepaskan dengan leluasa.?"
"Hal ini disebabkan selisih kepandaian mereka denganku amat jauh, aku belum menyerang dengan sepenuh tenaga!"
Cia Siau giok segera tertawa.
"Ketika kau melangsungkan pertarungan melawan ayahku, rasanya kaupun tak usah menyerang dengan sepenuh tenaga, pertarungan antara jago lihay hanya berbeda dalam hal tehnik serta taktik, tidak diputuskan oleh kekuatan tenaga, adakalanya dengan berdiri saling berhadapan tanpa turun tanganpun kedua belah pihak sudah tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah!"
"Hebat benar kepandaianmu, kalau tidak masa kau bisa mengucapkan perkataan semacam ini.? Orang yang belum mencapai suatu tingkatan tertentu, tak mungkin dia bisa memahami arti dari kata-kata tersebut""
Seru Ting Peng dengan perasaan tergerak.
"Ting toako, aku adalah putrinya Cia Siau hong, majikan generasi yang akan datang dari perkampungan Sin kiam san ceng, tentu saja kepandaianku tak boleh sangat cetek. Dengan kemampuan yang kau miliki, tidak seharusnya kau melarikan diri sewaktu dikejar oleh Thi yan siang hui tempo hari, sebab kepandaian mereka tidak sehebat kepandaianmu!"
Sekali lagi Cia Siau giok merasakan hatinya bergetar keras, dia tak menyangka kalau Ting Peng begitu teliti, lagi pula dapat menangkap kelemahan-kelemahan dibalik perkataannya itu..
Dengan cepat otaknya berputar kencang dengan cepat dia telah berhasil menemukan sebuah akal bagus, dia tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang, alasan apapun tak akan berhasil menutupi kelemahannya itu, malah justru dengan berterus terang keadaannya malah bertambah bahaya.
Sambil tertawa dia lantas berkata.
"Kalau kepandaianku betul-betul selisih banyak bila dibandingkan dengan kepandaian mereka, bagaimana mungkin aku bisa meloloskan diri dari pengejaran mereka dan kabur ke pagoda Ang Bwe khek?"
"Kalau begitu, kau memang bermaksud untuk melarikan diri?"
"Boleh dibilang begitulah, aku tahu kalau sepasang suami istri itu adalah manusia yang sangat lihay, karenanya aku ingin melihat siapakah yang sanggup mengatasi kebuasan mereka, aku ingin tahu setelah ayahku menolong banyak orang untuk melepaskan diri dari kesulitan, bila putrinya yang menjumpai kesulitan, siapa pula yang akan menampilkan diri untuk melindungiku?"
"Akhirnya hasil yang kau peroleh ternyata sangat tidak memuaskan hatimu?"
"Benar!"
Jawab Cia Siau giok sambil tertawa.
"hari itu dalam pagoda Ang bwee khek dari Ting toako hampir dipenuhi oleh jago-jago kenamaan dari empat penjuru di dunia, tapi hasilnya amat mengecewakan hatiku maka sejak hari itu, pandanganku terhadap kaum pendekar dunia persilatan pun telah berubah sama sekali."
Setelah tertawa, kembali lanjutnya.
"Cuma akupun tidak terhitung sama sekali tanpa hasil, paling tidak kau masih sempat bertemu dengan seorang enghiong muda macam Ting toako..."
"Tapi aku bukan menolongmu karena jiwa pendekarku!"
"Paling tidak kau telah menolongku!"
"Hal ini dikarenakan aku tidak mengijinkan ada orang yang melakukan pembunuhan di tempat kediamanku, dan lagi karena aku mempertimbangkan kepandaianku sudah pasti dapat menangkan lawan, kalau tidak , akupun tak akan bertindak bodoh dengan mempertaruhkan nyawaku untuk menolong-mu!"
"Benar, siaumoay pun tahu, aku dengan Ting toako sama sekali tak punya hubungan apa-apa, akupun tidak beralasan untuk memohon kepada Ting toako untuk berbuat demikian!"
"Ehmmm.... tampaknya kau dapat memandang lebih luas atas persoalan ini..."
Cia Siau giok tertawa.
"Aku hanya membandingkan diriku sendiri dengan orang lain, kalau suruh aku mengorbankan jiwa hanya untuk menolong seseorang yang tak kukenal, akupun sama saja tak akan melakukannya, kecuali dia adalah orang yang kucinta atau kukenal secara akrab!"
"Sudahkah kau jumpai seseorang macam ini?"
"Belum, tapi aku percaya sebentar lagi akan kujumpai orang itu!"
Sinar matanya dialihkan ke wajah Ting Peng, hampir saja dia meneriakkan namanya, tapi Ting Peng seakan-akan tidak melihat tandanya itu, malah ujarnya dingin.
"Aku telah berhasil menemukannya, dia adalah istriku Cing-cing!"
Cia Siau giok tidak marah, hanya katanya sambil tertawa.
"Dia memang seorang yang hok kie!"
Ting Peng bertekad untuk mengakhiri pembicaraan yang tak berguna itu, ia segera berpaling dan mengulapkan tangannya kepada Ah Ku yang ada di sisinya.
"Rusak gembokan itu, dobrak pintunya!"
"Ah Ku maju dan menghajar gembokan tersebut dengan kepalan tinjunya, tapi saat itulah muncul empat sosok tubuh manusia.
ooo0ooo RUMAH PENYIMPAN PEDANG SEBETULNYA, entah ke empat orang itu jelas bersembunyi dimana, tiba-tiba saja mereka menampakkan diri bahkan dengan cepat telah muncul di hadapan Ah Ku.
Paras muka mereka sangat dingin, usianya antara empat puluh tahunan dan setiap orang mengenakan jubah abu-abu dengan membawa sebilah pedang.
Muka mereka kaku tanpa emosi, dengan mata yang abu-abu dan dalam mereka mengawasi Ah Ku tanpa berkedip.
A-Ku tidak bergerak, dia menengok ke arah Ting Peng dan menunggu petunjuk selanjutnya.
Ting Peng sedang memandang pula ke arah Cia Siau giok, tapi Cia Siau giok hanya tertawa sambil berkata.
Saudara Ting Peng kalau kukatakan ke empat orang ini tidak kukenal, percayakah kau?"
"Kau maksudkan mereka bukan anggota perkampungan Sin kiam san ceng?"
"Soal ini tak berani kukatakan, karena aku baru satu tahun lebih datang kemari!"
""Walaupun setahun lebih tidak terhitung lama, tapi masa anggota keluarga sendiripun tidak kau kena1? rasanya hal ini mustahil!!"
Cia Siau giok tertawa.
"Orang-orang yang lain tentu saja kukenal, lagi pula mereka baru ku undang setelah aku berada di sini, tapi orang yang berada dalam halaman ini tak seorangpun yang kukenal, sebab aku tak pernah masuk ke dalam sedang merekapun tak pernah keluar""
Kalau selamanya tak pernah keluar, bagaimana cara mereka untuk selanjutnya hidup? .
""Aku tak tahu, akupun tidak mengurusi soal rumah tangga Cia Teng seng yang mengurusi soal itu"
Cia Teng seng adalah Cia sianseng, semua orang hanya memanggilnya sebagai Cia sianseng dan tak tahu siapa namanya.
"Cia Siau giok adalah majikan perkampungan ini, tentu saja dia tak usah memanggil nya Cia sianseng, tapi hingga sekarang dia baru secara langsung menyebut namanya. Tapi salah seorang diantara lelaki setengah umur itu telah berbicara, suaranya persis sekaku paras mukanya. Cia Teng seng juga tidak tahu tentang kami, kami masuk ke dalam perkampungan ini ketika pamannya masih mengurusi perkampungan Sin kiam san-ceng, hingga sekarang telah tiga puluh tahun. Sepuluh tahun berselang Cia siang kwee telah tiada, jabatannya kemudian dilanjutkan oleh keponakannya, ia Cuma mengurusi urusan luar, tidak mengurusi urusan dalam."
"Kalau begitu kalian berempat adalah orang tertua di dalam perkampungan Sin kiam sanceng?"
Tanya Cia Siau giok sambil tertawa.
"Kami tidak termasuk perkampungan Sin kiam san-ceng, kami termasuk "Rumah Penyimpan Pedang".
"Dimana letaknya Rumah penyimpan pedang?"
"Di dalam sana !"
Jawab lelaki setengah umur itu sambil menunjuk ke dalam halaman berpagar tinggi.
"Oooh... rupanya halaman ini bernama Rumah penyimpan pedang, sungguh memalukan, ternyata aku tidak mengetahui akan hal ini, aku adalah majikan perempuan tempat ini?."
Sela Cia Siau-giok dengan wajah tercengang.
"Hal ini pernah kudengar dari majikan, tapi dengan rumah penyimpan pedang sama sekali tak ada hubungan tempat ini tidak termasuk dalam perkampungan Sin-kiam san-ceng, melainkan tempat tinggal majikan.."
Majikan kalian.. adalah ayahku!"
Sambung Ciu Siang giok sambil tertawa..
"Kami tidak mempersoalkan hubungan majikan di luar rumah penyimpan pedang, dalam Rumah penyimpan pedang hanya ada seorang majikan dan tiada hubungan dengan lainya!"
Cia Siau-giok tidak marah, dia malah tertawa.
"Siapakah nama kalian berempat?"
Didalam rumah penyimpan pedang hanya ada majikan dan budak pedang, tiada nama dan tiada nama marga yang berlaku hanya sebutan tahun, menurut sebutan aku bernama Ka-cu, selanjutnya adalah "Ih-cho, Pin gin, Ting-moau.
"Yaaah, kalau menurut keadaan tersebut seharusnya dalam rumah penyimpan pedang ini seharusnya terdapat enam puluh orang budak pedang?"
"Rumah penyimpan pedang terpisah dari keramaian dunia dan selamanya tak pernah saling berhubungan, maaf aku tak bisa menerangkan apa-apa kepadamu!"
"Aku hendak mencari Cia Siau hong, dia ada di situ atau tidak?"
Seru Ting Peng kemudian.
"Didalam Rumah penyimpan pedang, tidak terdapat manusia bernama itu... ."
Mula-mula Ting Peng agak tertegun, kemudian katanya kembali.
"Kalau begitu aku hendak mencari majikan dari Rumah penyimpan pedang itu !"
"Kalau majikan hendak berjumpa dengan kalian, dia akan munculkan diri untuk berjumpa sendiri dengan kalian, kalau tidak sekalipun kau datang mencarinya juga percuma, selamanya Rumah penyimpan pedang melarang orang lain memasukinya!"
"Apakah majikan kalian ada di dalam?"
"Tak bisa kami katakan, aku percaya kalian pun sudah tahu, lima kaki di balik dinding pekarangan ini merupakan daerah terlarang, hari ini karena kalian baru melanggar untuk pertama kalinya maka kami hanya memberi peringatan, tapi lain kali kami akan turun tangan untuk membunuh setiap pelanggarannya, sekarang kalian boleh pergi dari sini!"
"Aku datang kemari untuk menantang Cia Siau hong berduel!"
Seru Ting Peng dengan suara dalam.
"Sudah kukatakan kepadamu, di sini tidak terdapat manusia bernama itu, kalau kalian hendak mencari Cia Siau hong, seharusnya mencari orang itu di tempat lain!" (Bersambung ke
Jilid 14)
Jilid . 14 TING-PENG segera tertawa dingin.
"Lantas aku harus pergi ke mana untuk bisa menjumpai orang itu?"
"Kami tidak tahu, Rumah penyimpan pedang terpisah dari dunia luar, lagi pula sesuai dengan namanya, Rumah penyimpan pedang adalah tempat untuk menyimpan pedang bukan tempat untuk berduel"
"Kalau memang begitu, mengapa kalian membawa pedang?"
"Yang kami pegang bukan pedang!"
Jawab Ka-cu.
"Kalau bukan pedang, lantas apa?"
Terserah apa saja yang akan kau katakan, pokoknya benda ini bukan pedang!"
Ting Peng segera tertawa terbahak-bahak suaranya amat sinis dan memandang rendah.
"Haaahh... haaahh... haaahh... sudah terang pedang, namun mengatakan bukan pedang, cara kalian menipu orang dan menutup telinga untuk mencuri genta, betul-betul menggelikan sekali, cukup membuat gigi orang pada copot saking gelinya"
Berada dalam keadaan seperti ini, siapapun akan merasa gusar bila mendengar perkataan dari Ting Peng itu, akan tetapi ke empat orang itu masih tetap tenang, mereka tidak marah juga tidak dipengaruhi oleh gejolak emosi.
Ka-cu menunggu sampai dia selesai berkata, kemudian baru ucapnya dengan dingin.
"Kau ingin berpikir bagaimana dan menyebut dengan sebutan apa, semuanya itu merupakan urusanmu sendiri, tapi selama berada dalam rumah penyimpan pedang, kami tidak menganggapnya sebagai pedang, kaupun tak dapat memaksa kami untuk menyebutnya sebagai pedang !."
Ting Peng tak dapat tertawa lagi, mendamprat orang memang suatu pekerjaan yang menyenangkan tapi kalau pihak lawan sama sekali tidak menggubris, maka hal mana akan menjadi tidak menyenangkan lagi.
Setelah menelan kembali sisa tertawanya ke dalam perut dengan suara nyaring baru katanya.
"Apakah kalian keluar untuk menghalangi aku masuk?"
"Benar, pintu itu memisahkan Rumah penyimpan pedang dengan dunia luar, maka kau tak dapat merusaknya!"
"Kalau aku bersikeras hendak merusaknya?"
"Maka kau bakal celaka, kau akan menyesal karena telah berbuat demikian, dan lagi orang lainpun akan menyalahkan dirimu, karena sudah melakukan perbuatan tolol."
Sekali lagi Ting Peng tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... sebenarnya aku tak bermaksud untuk merusaknya, tapi setelah mendengar perkataanmu itu aku mulai ingin sekali untuk merusaknya karena aku adalah orang yang tak pernah menyesal terhadap pekerjaan yang telah kulakukan, lagi pula paling menimbulkan gerutu orang lain."
Agaknya Ka-cu tidak begitu menyukai sikapnya itu, merekapun tidak terbiasa bergurau, karenanya dia hanya berkata.
"Kami akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghalangi niatmu itu"
Ting Peng segera tertawa.
"Ah Ku hancurkan gembokan itu!"
Sekali lagi Ah Ku maju ke depan, empat bilah pedang ditangan ke empat orang itu segera turun tangan bersama menusuk ke arah dadanya.
Tusukan tersebut amat sederhana, amat biasa dan tak akan disertai perubahan apa-apa, tapi kedahsyatannya sungguh mengerikan...
Siapapun tak akan berani menyongsong datangnya tusukan tersebut, mereka pasti akan berusaha untuk menghindarkan diri, tapi sayang justru mereka berjumpa dengan Ah-Ku?.
Perawakan tubuh Ah Ku tinggi besar, kulit badannya hitam pekat dan bersinar seakan-akan seluruh badannya telah dilapisi oleh selapis minyak berwarna hitam.
Minyak itu amat berkilat dan licin tampaknya, kulit badan Ah Ku pun mempunyai keistimewaan tersebut.
hampir pada saat yang bersamaan ke empat bilah pedang dari ke empat orang itu bersamasama menusuk di atas badannya.
Dia tidak berkelit juga tidak menghentikan gerakannya, bahkan seakan-akan tidak melihat datangnya tusukan pedang tersebut.
Mungkinkah dia tidak takut mati?
Ujung pedang itu menyambar lewat dari atas dadanya dan mengikuti kulit badannya tergelincir ke samping, seakan-akan ada sebuah jarum yang menusuk di permukaan plastik yang licin saja, ujung jarum itu meleset ke samping tapi tidak meninggalkan bekas apa-apa.
Sebenarnya jurus pedang dari ke empat orang budak pedang itu sudah termasuk lihay dan aneh, tapi kemampuan yang dimiliki Ah Ku jauh lebih lihay lagi.
Saking kagetnya Cia Siau giok sampai menjerit tertahan, Ah Ku segera mengerahkan sepasang tangannya, tahu-tahu Ka-cu berempat sudah terdorong ke samping oleh tenaga dorongannya, kemudian tampaklah tangannya yang terangkat itu dihantamkan ke bawah.
Kepala itu tak mungkin selunak kapas, apalagi jari tangannya mengenakan sarung tangan.
Walaupun gembokan itu amat besar, tapi sudah berkarat.
Baja yang bisa berkarat, tentu saja bukan baja yang baik.
Baja yang baik seharusnya seperti sarung tangan yang membungkus tangan Ah Ku, berkilat dan bercahaya.
Oleh karenanya sewaktu kepalannya diayunkan ke bawah, gembokan berkarat itu segera hancur berkeping-keping, menyusul kemudian kakinya menjejak pintu tersebut sehingga terpentang lebar.
Dunia penuh rahasia dibalik pintu yang terkunci itu sudah tersimpan dan tertutup selama puluhan tahun, selain Cia Siau hong belum pernah ada orang lain yang pernah memasukinya.
Maka sampai Cia Siau giok sendiripun merasa keheranan, buru-buru dia melongok pula ke dalam, tapi dia segera merasa kecewa.
Walaupun tempat itu sangat luas, tapi keadaannya kacau dan kotor, rumput ilalang setinggi dada, bangunan rumah yang semula berada di situ, sekarang telah tertutup sama sekali.
Tempat itu tak lebih hanya sebuah bangunan rumah yang terbengkalai, tempat semacam itu bisa dijumpai dalam perkampungan Sin kiam san ceng, bahkan merupakan tempat kediaman dari Cia Siauhong, si jago pedang sakti dari kolong langit, seandainya tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan percaya.
ooo0ooo YANG Paling membuat orang keheranan adalah dua buah kuburan yang berdiri di situ, walaupun tidak diketahui kuburan siapakah itu tapi bisa dilihat kalau kuburan tersebut belum lama dibuat, sebab rumput yang tumbuh di atas kuburan itu diatur sangat rapi, satu-satunya tempat yang paling rapi dalam halaman tersebut.
Ketika Ka-cu berempat budak pedang menyaksikan pintu sudah dibuka, meski sikapnya agak kaget dan gugup, namun paras mukanya semakin dingin menyeramkan mendadak mereka menerjang keluar ke arah luar.
Mereka bukan melarikan diri, sebab-sebab setelah berlarian sejauh belasan kaki, mendadak mereka berhenti lagi.
Kemudian mereka seperti tikus-tikus yang sudah lama terkurung dalam jebakan kemudian secara tiba-tiba menyaksikan pintu jebakan itu terbuka, dengan cepatnya mereka menerjang kembali ke depan dan menyebarkan diri menuju ke tempat persembunyian.
Bersembunyi adalah kebiasaan yang dilakukan tikus bila sedang kaget, tapi ke empat orang itu tidak mirip sekali, karena mereka hanya bersembunyi sebentar kemudian munculkan diri kembali.
Mereka masuk dengan membawa pedang waktu keluar juga membawa pedang.
Kalau sewaktu masuk tadi mereka membawa pedang yang bercahaya tajam, maka setelah keluar pedang mereka penuh berlepotan darah, malahan darahnya masih menetes keluar tiada hentinya.
Pedang mereka berempat sama, itu berarti paling tidak mereka telah memburuh satu orang, tapi kalau dilihat dari darah yang menetes keluar, jelas bukan cuma empat orang saja yang terbunuh.
Mereka hanya masuk sebentar lalu segera muncul kembali, keluar setelah membunuh orang, tapi tidak menimbulkan suara apa-apa.
Mungkin orang terbunuh masih belum tahu kalau nyawa sendiri telah direnggut.
Gerakan semacam itu benar-benar merupakan suatu gerakan yang amat cepat, suatu gerakan pedang yang amat cepat.
Sambil bergendong tangan Ting Peng hanya memandang dengan sikap hambar, sedikitpun tidak terpengaruh oleh kejadian tersebut, demikian pula dengan Ah Ku.
Mereka beralasan untuk bersikap tenang dan tentram, karena orang yang dibunuh sama sekali tidak ada hubungan dengan dirinya.
Lain dengan paras muka Cia Siau giok.
Sikapnya berubah hebat, teriaknya tertahan.
"Apa yang telah mereka lakukan? "
"Mungkin membunuh orang!"
Jawab Ting Peng hambar..Jawaban semacam itu seperti juga jawaban yang tak berguna, siapapun tahu kalau mereka telah membunuh orang. bukan mungkin... Dengan suara parau kembali Cia Siau giok berkata.
"Tapi mengapa mereka membunuh orang?"
Ting Peng tertawa.
"Mungkin mereka tak suka menyaksikan orang-orang itu bersembunyi terus di sana sambil mengintip kemari akupun tidak suka dengan perbuatan semacam ini"
"Mereka adalah orang-orang perkampungan Sin kiam san ceng!"
Seru Cia Siau giok.
Dia seakan-akan menganggap Ting Peng sebagai pembunuh tersebut.
Ting Peng hanya tertawa tidak menjawab, sebaliknya Ka-cu telah berkata.
Sekalipun begitu, mereka bukan orang-orang dari Rumah penyimpan pedang, majikan telah menentukan tiga buah larangan bagi orang luar, sekeliling pekarangan ini telah dinyatakan sebagai daerah terlarang dan dilarang mengintip kemari, barang siapa berani melanggar dia harus mati"
"Itu berarti dua kaki di luar daerah ini bukanlah daerah terlarang.....?"
Seru Cia Siau giok.
"Dua kaki adalah batas sebelum pintu terbuka, sekarang pintu telah terbuka, berarti daerah lingkarannya pun turut bertambah besar, semua daerah yang dapat melihat keadaan didalam pintu merupakan daerah terlarang"
"Maksudmu, setiap orang yang dapat melihat keadaan di dalam halaman itu harus mati?"
""Benar"
Ka-Cu mengangguk, ketika kau datang kemari, majikan telah berkata kepadaku, bila kau tidak memberitahukan kepada orang-orang maka kematian mereka merupakan keteledoranmu, kalau kau telah memberitahukan kepada mereka, maka kematian mereka merupakan kematian yang dicari sendiri!"
""Mereka bukan orang-orangku, mereka adalah anggota perkampungan Sin kiam san-ceng. Dalam perkampungan Sin kiam san ceng sebenarnya tidak terdapat orang-orang seperti mereka, kaulah yang membawa mereka datang.
"Aku adalah majikan dari perkampungan Sin kiam san ceng!"
"Sewaktu majikan masih ada, kau masih belum dapat terhitung sebagai majikan, sekalipun majikan tidak ada, kaupun hanya merupakan majikan dari perkampungan Sin kiam san ceng, bukan majikan dari Rumah penyimpan pedang, kau tidak berhak untuk mengurusi wilayah sekitar tempat ini..."
"Mendadak Ting Peng merasa kejadian ini menarik sekali, tampaknya hubungan antara Cia Siau hong dengan Cia Siau giok sebagai ayah dan anak masih diikuti pula dengan suatu hubungan yang istimewa sekali..
Cia Siau giok memandang sekejap ke arah Ting Peng, dia merasa apa yang dikatakan sudah kelewat banyak, maka buru-buru katanya sambil tertawa.
"Hubungan antara kami ayah dan anak memang agak renggang karena jarang berjumpa, ada banyak persoalan memang belum bisa dipahami, harap Ting toako jangan mentertawakannya!"
Ting Peng tertawa dan tidak banyak bicara.. Cia Siau giok merasa sangat tak enak perasaannya, dia lantas memutar biji matanya sambil berkata lagi.
"Kalau begitu apakah kamipun harus mati juga?"
""Soal ini masih belum tahu karena kalian sudah membuka pintu halaman, mati hidup kalian sudah tak dapat diputuskan oleh kami lagi."
"Siapa yang akan menentukannya?"
""Tentu saja keputusan akan datang dari dalam."
"Didalam sana masih ada orang?"
""Setelah kalian masuk ke dalam, maka kau akan tahu dengan sendirinya "
"Kalau kami tak ingin masuk?"
Tiba-tiba Ting Peng menyela. Ka-cu menjadi tertegun, segera serunya..Setelah pintu terbuka.
"masa kalian tak akan masuk ke dalam."
"Bukan begitu, mungkin kami hanya ingin menyaksikan pemandangan didalam saja, sekarang pintu telah terbuka, isinya cuma dua buah kuburan dan suasana yang porak poranda, sedikitpun tidak menarik hati, maka aku jadi tak ingin masuk ke dalam, kecuali aku tahu kalau Cia Siau hong berada didalam.
"Soal itu kami tak mau mengurusinya, kami hanya tahu setelah pintu kalian buka maka kalianpun harus masuk ke dalam, kalau tak ingin masuk maka kalian harus mati di luar."
Ting Peng segera tertawa dingin. Sebenarnya aku bermaksud hendak masuk ke dalam, tapi setelah mendengar perkataan-mu itu, aku jadi tak ingin masuk ke dalam."
Ka-cu tidak menjawab, dia menggunakan gerakan sebagai jawaban, ke empat orang itu segera mengangkat pedangnya di depan dada dengan ujung pedang diluruskan ke depan sehingga membentuk posisi seperti kipas, pelan-pelan mereka bergerak maju ke depan.
Lingkaran kepungan makin lama makin menyempit, hawa pembunuhan yang terpancar keluar dari ujung pedang merekapun makin lama semakin bertambah tebal.
Paras muka Ting Peng turut berubah menjadi serius, dia tahu kalau barisan pedang yang dibentuk ke empat orang ini lihay sekali, bahkan memancarkan selapis tenaga tekanan tak berwujud yang sangat kuat, dimana hawa pedang itu memaksa orang untuk mau tak mau harus mundur, mundur terus sampai ke ujung pintu dan masuk ke balik halaman.
Paras Ah-ku pun berubah menjadi amat serius.
Sepasang kepalannya digenggam kencangkencang, agaknya dia bersiap sedia untuk menerjang keluar, tapi asa dia maju selangkah, tubuhpun segera didesak mundur kembali oleh hawa pedang yang dahsyat.
Ujung pedang yang berada di depan tubuhnya tadi tak mampu melukai tubuhnya, tapi hawa pedang yang tak berwujud sekarang telah mendesaknya untuk mundur ke belakang, dapat diketahui kalau hawa pedang yang dibentuk ke empat orang itu telah menciptakan selapis kabut pedang tak berwujud yang pelan-pelan menyusut ke depan.
Ah ku merasa agak tidak terima, kakinya maju selangkah sementara sepasang telapak kepalannya di genggam kencang-kencang, tampaknya dia telah bersiap sedia untuk menyambut serangan itu dengan kekerasan.
"Ah ku cepat ke belakangku!"
Tiba-tiba Ting Peng membentak nyaring.
Ah Ku memang sangat menuruti perintah Ting Peng, dia segera melompat mundur ke belakang.
Dengan cepat Ting Peng telah maju dan menggantikan tempat kedudukannya, golok bulan sabitnya telah diangkat ke tengah udara.
Hawa kekuatannya telah menggumpal menjadi satu dan bersiap-siap melancarkan sebuah bacokan maut yang maha dahsyat.
Ternyata kekuatan yang terpancar keluar dari ayunan goloknya itu sangat menggetarkan perasaan mereka berempat, dengan cepat ke empat orang itu menghentikan gerak majunya dan berubah menjadi sikap menempel satu sama lainnya.
Sementara itu selisih jarak kedua belah pihak tinggal satu kaki.
Didalam udara yang Cuma satu kaki luasnya itu justru terdapat dua gulung kekuatan dahsyat yang saling menggesek dan saling menerjang.
Tiba-tiba berhembus lewat segulung angin membawa selembar daun kering, daun kering itu terjatuh ke tengah antara dua kekuatan itu, belum lagi daun itu mencapai tanah, tiba-tiba saja lenyap tak berbekas.
Dalam ruang kosong yang luasnya cuma satu kaki itu, seakan-akan terdapat beribu-ribu bilah pedang tajam, beribu-ribu bilah golok tajam yang berada dalam kendali beribu-ribu pasang tangan tak berwujud.
Sekalipun yang terjatuh hanya sebutir kedelai yang kecilpun pasti akan hancur berkepingkeping dan musnah bila terjatuh ke sana.
Paras muka Cia Siau giok berubah menjadi pucat pias dan menyusut menjadi satu, namun sorot matanya memancarkan sinar kegembiraan.
Napasnya memburu kencang, tapi separuh bagian dikarenakan kegembiraan, separuh lainnya karena takut.
Hal apakah yang membuatnya merasa begitu gembira."
Ah Ku juga menampilkan perasaan tegang yang belum pernah dijumpai sebelumnya, walaupun ia tidak dapat berbicara, tapi mulutnya justru tak dapat merapat, seakan-akan seperti mau menjerit.
Tiada orang persilatan yang pernah berjumpa dengan Ah-Ku.
Tapi sekalipun orang yang baru saja berjumpa dengan Ah Ku juga dapat melihat kalau dia adalah seorang jago lihay yang berilmu sangat tinggi.
Dihari-hari biasa dia selalu bersikap dingin, kaku dan tak berperasaan, seakan-akan tiada persoalan yang akan membuatnya terpengaruh oleh emosi.
Tapi sekarang, ia telah berubah menjadi begitu tegang, oleh sikap kaku yang menyelimuti kedua belah pihak.
Dari sini dapat diketahui kalau Ting Peng dan ke empat orang budak pedang itu sudah saling berhadapan dengan sikap siap tempur.
Walaupun senjata tak pernah saling bertemu.
Dalam kenyataan mereka sudah melangsungkan suatu pertarungan yang amat sengit.
Bentrokan yang tak bermata dan tak ber wujud, sekilas pandangan nampaknya biasa dan tenang.
Tapi bentrokan tetap merupakan bentrokan, dalam suatu bentrokan harus ada suatu penyelesaian.
Suatu bentrokanpun harus berakhir menang atau kalah?
Hidup atau mati?
Bentrokan antara Ting peng dan budak-budak pedang itu nampaknya hanya mati dan hidup yang dapat mengakhirinya, inilah perasaan bersama yang dirasakan setiap orang termasuk kedua belah pihak, tapi siapakah yang hidup dan siapakah yang mati?
Perasaan dan pandangan setiap orang adalah berbeda.
Dengan cepatnya menang kalah dapat dilihat, karena bercampur tiba-tiba ke empat orang budak pedang itu maju selangkah lagi ke depan.
Jarak diantara kedua belah pihak cuma satu kaki, setelah maju selangkah berarti jaraknya lebih pendek berapa depa, tapi masih belum mencapai suatu jarak dimana senjata masing-masing dapat saling membentur, Tapi berbicara dari keadaan situasi semenjak kedua belah pihak saling bertahan, satu depa sejak kemungkinan besar dapat menentukan mati hidup masing-masing pihak.
Kalau sudah terjadi terjangan secara nekad, biasanya suasana pasti akan bertambah menegang, mati hidup dapat diketahui, tapi kenyataannya tidak..
Karena Ting Peng mundur selangkah lagi, dia juga mundur sejauh satu depa.
Dengan begitu jarak kedua belah pihak masih tetap satu kaki.
Paras muka Ka-cu berubah sangat aneh, dia nampak tegang, sedang Ting Peng masih tetap tenang.
Biasanya orang yang dapat memaksakan suatu posisi yang lebih dekat, seharusnya pihaknya yang menang, tapi mengapa paras muka Ka-cu justru malah nampak sangat tegang?
Sekali lagi kawanan budak pedang maju ke depan, sedang Ting Peng mundur lagi ke belakang.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah...
Terpaksa Cia Siau giok dan Ah-Ku turut mundur pula ke belakang.
Akhirnya mereka telah mengundurkan diri ke balik pintu "Blaamm!"
Pintu itu menutup kembali.
Suasana tegang telah berakhir, tampaknya Ting Peng yang kalah.
Ting Peng telah menarik kembali goloknya, dia masih nampak amat tenang, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu peristiwapun.
Sebaliknya Ka-cu berempat seakan-akan baru sembuh dari suatu penyakit yang amat parah, hampir saja mereka kehabisan tenaga.
Seperti juga baru ditarik dari dalam sungai, seluruh badan mereka basah kuyup oleh keringat.
Ka-cu adalah satu-satunya orang yang masih mampu bertahan diri, dia segera menjura dengan wajah penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih Ting kongcu!"
"Tidak mengapa"
Jawab Ting Peng sambil tersenyum.
"kalianlah yang telah memaksa aku masuk ke dalam!"
"Tidak!"
Ucap Ka-cu dengan wajah serius.
"dalam hati kami tahu dengan jelas, seandainya hawa golok Ting Kongcu dilepaskan kami pasti tak akan lolos!"
"Apakah kalian bertekad untuk memaksaku masuk?"
"Benar, kalau kami gagal untuk memaksa Ting Kongcu masuk, terpaksa kami harus menggunakan nyawa kami menebus kesalahan ini."
Ting Peng segera tertawa.
"Nah, itulah dia, sebenarnya aku memang ingin masuk, tapi tak ingin masuk karena dipaksa orang, seandainya kalian mempersilahkan aku masuk secara baik-baik, sedari tadi aku sudah masuk."
Ka-cu termenung beberapa saat lamanya kemudian baru berkata lagi.
"Bila Ting kongcu bersikap keras tak mau masuk, terpaksa kami harus mati. Bagaimanapun juga, kami tetap berterima kasih kepadamu. Sekalipun mereka adalah budak-budak pedang yang tak punya nama, tapi kedisiplinannya jauh lebih mengagumkan dari pada sekawanan jago kenamaan lainnya, mereka lebih mengerti membedakan mana budi dan mana dendam. Tampaknya Ting Pang tak ingin menerima kebaikannya itu sambil tertawa katanya. Aku sendiripun tak ingin dipaksa masuk oleh kalian dalam keadaan seperti ini, tapi kalau aku ingin masuk kemari dengan leluasa, tampaknya aku harus mengeluarkan jurus golokku, untuk membinasakan kalian lebih dahulu"
Ka-cu tidak menyangkal akan perkataan itu, ujarnya dengan sikap sangat menghormat.
"Bila jurus serangan kongcu dilancarkan, sudah pasti kami akan mati di tanganmu!"
"tentang hal ini aku lebih jelas daripada kalian, Cuma aku masih tak ingin turun tangan garagara kalian, aku datang kemari untuk menantang Cia Siau hong berduel, kalian bukan Cia Siau hong!"
"Bagus sekali! Bagus sekali! Golok iblis begitu dilepas, darah segar tentu akan berceceran, kau sudah dapat mengendalikan diri untuk melancarkan serangan, tampaknya sudah hampir melepaskan diri dari napsu iblis yang mencekam dalam tubuh manusia, sahabat kecil, silahkan kemari untuk berbincang-bincang."
Suara dari seorang kakek berkumandang keluar dari balik gubuk tak jauh dari sana.
Ka-cu sekalian berempat bersikap menghormat sekali terhadap suara itu, buru-buru mereka membungkukkan badannya dengan kepala tertunduk.
Ting Peng berpaling ke arah Cia Siau giok dengan sorot mata bertanya, dia ingin membuktikan apakah orang yang berbicara itu Cia Siau hong atau bukan.
Ia mendapatkan bukti tersebut dari sorot mata Cia Siau giok, tapi juga menyaksikan setitik perasaan takut, ia menjadi keheranan Cia Siau hong adalah ayahnya, seorang putri yang berjumpa dengan ayahnya mengapa harus menunjukkan rasa takut?
Cuma Ting Peng tidak berpikir sebanyak itu, dia datang untuk mencari Cia Siau hong dan sekarang orang-yang dicari telah ditemukan, maka sambil membopong goloknya dengan langkah lebar ia menuju ke rumah gubuk itu.
Cia Siau giok ragu-ragu sebentar, baru saja akan ikut maju, suara dari Cia Siau-hong telah berkumandang lagi.
"Siau giok, kau tetap tinggal di situ, biarkan dia masuk sendirian!"
Perkataan itu seakan-akan mempunyai wibawa yang amat besar, Cia Siau giok segera berhenti.
Ah Ku ingin turut ke depan, tapi Ting Peng telah mengulapkan tangannya suruh dia tetap tinggal di sana.
Cia Siau hong tidak menyuruh Ah Ku tetap tinggal di sana, tapi dia justru mengatakan minta Ting Peng masuk sendirian, entah mengapa ucapan tersebut nyatanya mendapatkan pengaruh besar baginya sehingga diapun suruh Ah Ku tetap tinggal di sana, mungkin hal ini sebagai pertanyaan suatu perasaan adil saja.
Kalau toh Cia Siau hong menyuruh putrinya tetap tinggal di depan, mengapa dia harus membawa pembantu?
ooo0ooo RUMAH PENYIMPAN PEDANG TEMPAT itu benar-benar merupakan sebuah rumah gubuk yang sangat jelek tiada sesuatu bendapun dalam ruangan tersebut kecuali dua buah kasur duduk.
Kasur tempat duduk itu diletakkan saling berhadapan, yang satu diduduki oleh seorang kakek berbaju abu-abu sedang yang lain tentunya disediakan bagi Ting Peng!
Akhirnya Ting Peng berhasil menjumpai manusia berwatak aneh yang nama besarnya menggetarkan seluruh kolong langit itu, dia sendiri tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaannya waktu itu.
Bila berhadapan dengan seseorang yang hendak ditantangnya untuk berduel biasanya api semangat pasti akan berkobar di dalam dadanya, kobaran semangat untuk bertempur.
Tapi Ting Peng tidak merasakan hal itu.
Berhadapan muka dengan jago-jago pedang nomor wahid dikolong langit ini, semestinya orang akan merasa amat gembira dan kagum.
Tapi Ting Peng juga tidak merasakannya.
Kalau didengar dari suaranya Cia Siau hong tentu sudah amat tua.
Berbicara soal umur seharusnya Cia Siau hong baru berusia lima puluh tahun lebih, enam puluh tahun kurang, bagi seseorang jago persilatan, usia tersebut belum terhitung tua.
Tapi setelah berjumpa dengan Cia Siau hong pribadi, bahkan dia sendiri pun tak bisa menilai apakah dia tua muda atau setengah umur.
Kesan yang tertanam dalam hati Ting Peng terhadap Cia Siau hong, adalah Cia Siau hong .
Ia sudah banyak mendengar tentang Cia Siau hong sebelum bertemu dengan Cia Siau hong, ia sudah menciptakan sendiri raut wajah Cia Siau hong didalam benaknya, ternyata apa yang tertera di depan matanya sekarang hampir serupa dengan bayangan yang diperolehnya dulu.
Dengan pandangan yang pertama, dia mengira Cia Siau hong adalah seorang kakek.
Sebab suaranya kedengaran begitu tua, mengenakan jubah berwarna abu-abu dan duduk di atas kasur duduk persis seperti seorang pertapa tua...
Sorot mata yang pertama dilihat Ting Peng juga sorot mata yang begitu lelah, bosan terhadap kehidupan, sorot mata yang hanya dijumpai dalam tubuh seorang kakek lanjut usia.
Tapi setelah diperhatikan secara seksama, dia baru mengetahui kalau Cia Siau hong belum tua, rambutnya cuma berapa lembar yang memutih, lainnya tak berbeda dengan rambut sendiri.
Di atas wajahnya tidak nampak kerutan, kulitnya halus dan berkilat.
Raut wajahnya terhitung amat tampan, dia memang cukup pantas disebut lelaki tampan, tak heran kalau semasa mudanya dulu bisa begitu romantis.
Dengan wajahnya sekarang, asal dia mau mungkin masih banyak perempuan yang bakal tergila-gila kepadanya..Cia Siau-hong hanya memperhatikan Ting Peng sekejap, kemudian dengan amat tenang dan halus dia berkata.
"Silahkan duduk, maaf tempat ini hanya sebuah gubuk reyot! "
Walaupun dalam sebuah gubuk reyot dengan tempat duduk tumpukan jerami, tapi mempersilahkan tamunya duduk di hadapan tuan rumah, hal ini menunjukkan kalau Cia Siau hong telah menganggap Ting Peng sebagai setingkat dan sederajat.
Hal mana sudah merupakan suatu kehormatan yang sangat besar.
Orang yang berhak duduk dalam tingkatan seperti ini, rasanya cuma berapa gelintir manusia saja.
Seandainya berganti dulu, Ting Peng pasti akan merasa rikuh atau tidak tenang, tapi sekarang dia mempunyai ambisi yang besar dan dia menganggap kecuali dia, sudah tiada orang yang pantas duduk setingkat dengan leluasa sekali.
Cia Siau hong, itulah sebabnya dia duduk dengan leluasa sekali.
Cia Siau hong memandang lagi ke arahnya dengan sorot mata kagum, katanya.
"Bagus sekali, anak muda memang seharusnya demikian, harus menganggap tinggi diri sendiri, membawa jalan pemikirannya menuju ke dalam pikiran yang tinggi pula, dengan begitu barulah berharga kehidupan di dunia ini""
Ucapan tersebut mirip suatu pujian, tapi nadanya seperti seorang locianpwe yang memberi nasehat kepada angkatan muda, ternyata Ting Peng menerimanya.
Didalam kenyataan Ting Peng memang seharusnya menerimanya sebab Cia Siau hong memang angkatan tuanya.
Sekalipun sebentar lagi dia bisa mengalahkan Cia Siau hong toh kenyataan tersebut tak mungkin bisa dirubah..Cia Siau hong memandangnya lagi dengan sorot mata kagum.
"Aku tahu kau bukan seorang yang suka banyak berbicara"
"Yaa, aku bukan"
"Dulu, akupun bukan!"
Cia Siau-hong tertawa.
"Tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi sedih dan agak murung, lanjutnya.
"Tapi sekarang aku telah berubah banyak bicara, mungkin aku sudah mulai tua!"
Orang yang umurnya semakin bertambah, kata-kata yang diucapkan pun akan semakin bertambah banyak, berubah menjadi cerewet, tapi Cia Siau hong tampaknya tidak mirip.
Ting Peng tidak bermaksud untuk menimbrung, maka Cia Siau hong melanjutkan kembali kata-katanya.
"Cuma, akupun berubah menjadi banyak mulut hanya selama berada di sini, bila tiada orang, seringkali aku bergumam membicarakan banyak hal untuk diriku sendiri, tahukah kau apa sebabnya?"
"Aku tak suka menebak!"
Ucapan ini tidak sopan, tapi Cia Siau-hong pun tidak marah, malahan katanya sambil tertawa terkekeh.
"Benar, anak muda memang harus berbicara langsung dan terus terang, hanya orang yang berusia lanjut saja yang suka berbicara berputar-putar, hanya untuk mengucapkan sepatah kata yang sederhana saja, dia harus mengucapkan segudang perkataan lebih dulu""
Mungkinkah hal ini dikarenakan orang yang sudah berusia lanjut sudah merasa kalau kehidupannya tak akan lama lagi, maka mumpung ada kesempatan berbicara sebanyakbanyaknya, mungkin di kemudian hari tak dapat berbicara lagi?
Tapi dalam usia seperti Ting Peng, tak mungkin dia akan mempunyai perasaan seperti ini.
Hanya saja pertanyaan yang diutarakan Cia Siau hong masih saja urusan tetek bengek.
Mengapa seorang jago pedang nomor wahid dikolong langit bisa berubah menjadi cerewet amat?
Mengapa dia hanya berbuat begitu selama berada di sini?"
Walaupun Ting Peng tak ingin menebaknya tapi tak tahan juga untuk mencari jawaban tersebut dengan mempergunakan semua kemampuan yang dimilikinya.
Maka sepasang matanya mulai celingukan mencari ke sana kemari, tempat ini memang suatu tempat yang sangat tidak menyenangkan.
Perak poranda, sepi kotor, suram dan di mana-mana hanya ada hawa kematian, tiada setitik hawa kehidupanpun.
Jagoan bersemangat dari manapun, asal sudah mengendon kelewat lama di situ, dia pasti akan berubah menjadi murung.
Tapi, hal ini sudah pasti bukan menjadi alasan bagi Cia Siau hong hingga berubah demikian .
Seseorang yang mempunyai kepandaian yang amat dalam terhadap ilmu pedang, dia sudah memiliki kemampuan yang melebihi siapapun dan tak akan terpengaruh oleh pengaruh macam apapun.
Maka Ting Peng tidak berhasil menemukan jawabannya.
Untung saja Cia Siau hong tidak menyuruhnya menduga-duga terlalu lama, dengan cepat dia mengutarakan sendiri jawabannya.
"Karena di tanganku sudah tak berpedang!"
Pada hakekatnya jawaban tersebut tidak mirip sebagai suatu jawaban.
Tangannya tanpa pedang, apa pula hubungannya dengan perasaan didalam hati?
Orang yang bernyali kecil mungkin saja menggunakan senjata untuk memperbesar keberaniannya, tetapi apakah Cia Siau hongpun seseorang yang menjadi berani karena mengandalkan pedangnya?
Namun Ting Peng seolah-olah menerima jawaban tersebut.
Paling tidak dia memahami maksud dibalik ucapan tersebut.
Cia Siau hong adalah seorang jago pedang yang kesempurnaannya sudah mencapai pada puncaknya, kehidupannya sudah habis oleh pedang, pedang sudah merupakan jiwanya, sukmanya.
Ditangan tanpa pedang sama artinya dengan ia sudah tak berjiwa, tak bernyawa lagi.
Kalau Cia Siau hong telah menghilangkan pedang yang sudah merupakan jiwanya itu maka yang tersisa hanyalah seorang kakek yang biasa dan lemah.
Dari mimik wajah Ting Peng, Cia Siau hong sudah tahu kalau pemuda tersebut telah memahami perkataannya, maka dia menjadi gembira sekali.
"Kita dapat melanjutkan perbincangan itu, kalau tidak, kau tak akan merasa tertarik oleh perbincanganku selanjutnya! Ting Peng merasa agak terharu, perkataan dari Cia Siau hong tak lain menunjukkan kalau dia adalah orang yang mencocoki perasaannya. Orang yang bisa di anggap sebagai teman karib merupakan suatu kejadian yang pantas digirangkan, tapi orang yang bisa di anggap Cia Siau hong sebagai teman karib apakah cuma melambangkan kegembiraan belaka? "Dalam kenyataan aku sudah dua puluh tahun lamanya tak pernah membawa pedang lagi, pedang mestika yang dimiliki perkampungan Sin kiam san cengpun sudah ku buang ke dasar sungai. Ting Peng mengetahui akan hal ini. Peristiwa tersebut terjadi setelah pertempuran antara Cia Siau hong melawan Yan Cap sa. Setelah memutar otak dengan susah payah akhirnya Yan Cap sa berhasrat menciptakan jurus yang kelima belas, suatu jurus serangan yang tak ada taranya di dunia ini. Dengan jurus serangan itu, dia berhasil mengalahkan Cia Siau hong yang tiada tandingannya, tapi yang mati akhirnya justru Yan Cap sa sendiri, dialah yang telah menghabisi nyawa sendiri dengan tujuan untuk melenyapkan jurus serangan yang teramat keji tersebut. Suara dari Cia Siau hong amat tenang, kembali dia berkata.
"Walaupun pedang mestika telah tenggelam, namun nama Sin kiam san ceng masih tetap utuh, hal itu dikarenakan aku masih hidup, mengertikah kau ....?"
Ting Peng manggut-manggut.
Bila ilmu pedang seseorang telah berhasil mencapai suatu taraf yang luar biasa, tanpa pedang di tanganpun dia masih bisa menggunakan benda yang lain sebagai penggantinya, seperti sebatang ranting, sebuah kayu atau bahkan sebuah jarumpun.
Pedang itu sudah bukan berada di tangannya, melainkan didalam hati pedang tersebut sudah tak terlihat lagi dengan mata.
Perkataan Cia Siau hong sudah teramat sulit untuk dipahami tapi Ting Peng justru telah mencapai tingkatan tersebut, oleh karena itu dia mengerti.
Namun kata Cia Siau hong berikutnya justru semakin sulit untuk dipahami lagi.
"Dalam tanganku sudah tidak berpedang lagi "
Sekalipun mengulangi kata yang terdahulu namun maknanya sekarang sudah jauh lebih dalam lagi. Kenapa?"
Ting Peng segera bertanya.
Pertanyaan inipun merupakan suatu pertanyaan yang bodoh, pertanyaan yang tak akan dipahami oleh siapapun.
Tapi Ting Peng telah mengutarakannya keluar, diutarakan dalam keadaan dan situasi seperti ini, dan hanya ditanya oleh Ting Peng saja karena dia harus memahami dahulu apa yang dikatakan Cia Siau hong tadi.
Sebenarnya Ting Peng enggan mengajukan pertanyaan itu, dia tahu hal mana pasti menyangkut rahasia orang lain.
Diluar dugaan Cia Siau hong telah memberikan jawabannya.
Dia menuding kedua buah kuburan di depan gubuk.
Kuburan itu berada di halaman, begitu masuk ke dalam pintu sudah dapat dilihat.
Andaikata terdapat sesuatu yang istimewa, seharusnya Ting Peng telah menemukannya sedari tadi, buat apa Cia Siau hong memberi petunjuk lagi kepadanya?
Tapi setelah ditunjuk Cia Siau hong, Ting Peng baru tahu kalau jawaban tersebut harus dicari dari tempat itu.
Kuburan itu adalah kuburan yang amat sederhana, tempat untuk mengubur orang mati.
Seandainya tempat itu terdapat sesuatu keistimewaan, maka keistimewaannya adalah bisa dipakai untuk mengubur orang mati.
kuburan di halaman tersebut adalah kuburan tanpa batu nisan, hanya terdapat dua buah papan nama kecil tergantung didalam gubuk.
Yang berada di sebelah kiri bertuliskan.
"Tempat bersemayan sahabat karibku Yan Cap sa!"
Sedangkan yang berada di sebelah kanan bertuliskan.
Tempat bersemayan istriku Buyung Ciu ti!
Ternyata dua orang itulah yang dikubur di sana.
Yan Cap sa adalah orang yang telah mengalahkannya.
Buyung Ciu ti adalah istrinya, juga merupakan musuh besarnya selama hidup, selama ini entah berapa banyak cara dan tipu muslihat yang telah dipergunakan olehnya untuk membinasakan Cia Siau hong.
Walaupun kedua orang itu sudah tiada namun Cia Siau hong tak pernah melupakan mereka.
Maka Cia Siau hong berkata, kalau ditempat ini dalam tangannya tiada pedang.
Sekalipun Cia Siau hong tiada tandingannya dikolong langit, tapi ia pernah dikalahkan oleh kedua orang ini.
Yan Cap sa pernah mengalahkannya sekali, hal mana membuatnya tak pernah bisa merobah kembali keadaan tersebut.
Buyung Ciu ti entah sudah berapa kali mengalahkan dia.
Oleh karena Cia Siau hong telah menamakan tempat ini sebagai Rumah penyimpan pedang.
Bagaimanapun tajamnya pedang yang dimiliki, tapi setelah berada di sana akan berubah menjadi tak tajam lagi.
Bagaimanapun cemerlangnya nama besar Cia Siau hong selama ini, namun berada di hadapan kedua orang itu dia selamanya merupakan seorang yang kalah.
Tanpa terasa timbul perasaan kagum dalam hati Ting Peng terhadap orang tua itu.
Kedua orang itu sudah mati, tapi Cia Siau hong justru membangun tempat seperti ini untuk merangsang diri.
Apakah yang menjadi tujuan?
Yan Cap sa dan Buyung Ciu ti bukannya seseorang yang pantas untuk dihormati.
Cia Siau-hong mengubur mereka di sini bukanlah dikarenakan dia ingin selalu memperingati mereka.
Lantas apakah tujuannya?
Kali ini Ting peng tidak bertanya mengapa, dia tak perlu bertanya, agaknya dia sudah mengetahui jawabannya.
Setelah termenung lama, lama sekali, pelan-pelan Ting Peng bangkit berdiri.
"Kedatanganku kali ini adalah mencari cianpwe untuk berduel!"
Nada ucapannya sangat menaruh hormat. Cia Siau-hong manggut-manggut.
"Aku tahu, sudah lama sekali tiada orang yang datang mencariku untuk berduel"
"Aku bukan bertujuan untuk mencari nama, aku benar-benar ingin mencari cianpwe untuk beradu kepandaian!"
"Aku mengerti, belakangan ini kau sudah menjadi seorang yang sangat ternama!"
"Dengan kepandaian yang kumiliki dalam ilmu golok, aku rasa mana dapat menandingi kepandaian pedang dari cianpwe!"
"Kau kelewat sungkan, kau sepantasnya mengatakan kalau kau dapat mengalahkan diriku!"
"Tapi sekarang aku tak sanggup untuk mencabut golokku terhadap cianpwe lagi"
"Karena saat ini aku tak berpedang?"
"Bukan, saat ini siapa pun dapat turun tangan membunuh cianpwe!"
"Benar itulah sebabnya aku harus mempersiapkan penjagaan yang ketat di luar pintu dan melarang siapapun masuk kemari, sebab selama berada di sini aku hanyalah seorang kakek lemah yang tak berkemampuan apa-apa."
Tapi aku tahu, setelah keluar dari sini sudah pasti aku bukan tandingan dari cianpwe! "Aaaah, itupun belum tentu, menang kalah sukar untuk dibicarakan terlalu awal."
"Aku sudah kalah"
Kata Ting Peng kemudian sambil menjura.
""maaf bila kuganggu ketenangan cianpwe, dan terima kasih atas petunjuk dari cianpwe......"
Ternyata Cia Siau hong tidak bermaksud untuk menahannya di sana, hanya tanyanya.
"Berapa usiamu tahun ini?"
"Dua puluh delapan tahun!"
Cia Siau hong segera tertawa.
"Kau masih sangat muda, tahun ini aku telah berusia lima puluh tahun, rumah penyimpan pedang ini baru kudirikan, kau sudah terlambat delapan belas tahun dibandingkan dengan aku.
"Apakah cianpwe sudah sepuluh tahun berada di sini""
"Tidak! Waktuku berada di sini tidak terlalu lama, aku masih sering berjalan-jalan di luar, kebiasaanku seperti itu tak pernah bisa dirubah lagi, kau lebih bahagia daripada diriku!"
""Aku lebih bahagia daripada cianpwe?"
"Benar, aku selalu berada dalam keberhasilan dan kesuksesan, oleh karena itu sudah terlalu lambat bagiku untuk merasakan kekalahan sebaliknya kau sejak mulai sudah merasakan pelbagai penderitaan dan kekalahan, itulah sebabnya kemajuan yang akan kau capai di kemudian hari sukar untuk dikatakan!"
Ting Peng termenung sambil berpikir sebentar, kemudian katanya kembali.
"Di kemudian hari, aku berharap masih mempunyai kesempatan untuk melangsungkan duelku dengan locianpwe!"
"Tentu, tentu, setiap saat aku akan menyambut kedatanganmu dengan senang hati, tapi di kemudian hari pun paling baik kalau kita masih berjumpa lagi ditempat ini"
"Mengapa?"
"Kau sudah pernah masuk kemari"
Maka rumah penyimpan pedang ini sudah tak bisa di anggap sebagai tempat terlarang lagi""
"Aku merasa menyesal sekali atas terjadinya peristiwa semacam ini ."
"Tak perlu menyesal, sewaktu kau datang, tempat ini masih merupakan rumah penyimpan pedang, karena tempat ini hanya diketahui oleh kau dan aku, mengerti?"
Ting Peng segera tertawa.
""Aku mengerti, Aku pasti akan mengingat selalu perkataanmu itu dan tak akan memberitahukan kepada siapa saja!"
""Terutama terhadap putriku!"
Ting Peng tertegun, tiba-tiba tanyanya.
"Sebenarnya dia putri cianpwe atau bukan?"
"Benar !" . Ting Peng tidak berbicara lagi, dengan langkah lebar dia keluar dari situ. ooo0ooo TEMPAT PEMONDOKAN TATKALA Ting Peng hendak meninggalkan Rumah penyimpan pedang, tak tahan dia berpaling dan memperhatikan kembali kedua buah kuburan serta rumah gubuk itu sekejap, hatinya penuh dengan perasaan kagum. Yang paling mengagumkan adalah kemampuan Cia Siau hong berpedang. Sewaktu berada di depan pintu, bila telah mendengar tentang pemimpin enam partai besar membicarakan soal golok.
"Enam partai besar merupakan partai paling berkuasa dalam dunia persilatan dewasa ini, pemimpin mereka tak lebih adalah manusia-manusia yang berkepandaian silat paling tinggi dalam dunia persilatan. Orang yang berilmu silat paling tinggi dalam dunia persilatan bukan berarti paling tinggi ilmu silatnya dikolong langit, dalam hal ini tentu saja merekapun mengakuinya maka dari itu mereka datang ke perkampungan Sin kiam san ceng dan satu persatu bertekuk lutut, bahkan terhadap sindiran dan cemoohan Cia Siau giok, terhadap merekapun hanya disambut dan diterima tanpa membantah. Mereka beranggapan golok Ting Peng sudah mencapai tingkatan manusia mengendalikan golok, itu berarti sudah tiada tandingannya di dunia ini. Pendapat semacam itu sesungguhnya tak dapat dikatakan sebagai suatu pandangan yang keliru. Cuma saja mereka belum tahu kalau masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi. Yakni tingkatan yang sedang dicapai oleh Cia Siau hong pada saat ini. Cia Siau hong adalah seorang jago pedang, sudah barang tentu tingkatan yang di capai pun tingkatan di ujung pedang. Pedang merupakan senjata, golokpun merupakan senjata. Bila ilmu silat telah mencapai tingkatan yang paling tinggi, antara golok dan pedang sudah tiada perbedaannya lagi, hanya berbeda dalam pelaksananya belaka. Tingkatan yang dicapai Ting Peng hanyalah Golok adalah manusia, manusia tetap manusia. Golok diperbudak manusia, manusia merupakan jiwa dari golok. itulah ciri khas seorang jagoan yang amat lihay. Tapi bagaimana dengan Cia Siau hong? Sejak kapankah dia telah mencapai tingkatan semacam itu? Tiada orang yang tahu, tapi sejak sepuluh tahun berselang ia telah berhasil melampaui tingkatan tersebut dan hal mana sudah merupakan suatu kepastian. Karena dia telah membangunkan Rumah penyimpanan pedang. Didalam Rumah penyimpanan pedang ini, dia sedang mengejar tingkatan yang lain, tingkatan paling tinggi yang disebut Huan Phu kui tin, suatu tingkatan yang paling hebat namun justru akan membawa dirinya menuju ke taraf kesederhanaan dan kebiasaan. Tingkatan tersebut merupakan tingkatan "pedang adalah pedang, aku adalah aku. pedang bukan pedang, aku bukan aku". Suatu tingkatan yang betul-betul maha luar biasa. Sekarang Ting Peng masih belum bisa meninggalkan goloknya, sebilah golok lengkung berbentuk bulan sabit. Di atas golok itu terukir kata-kata.
"Siau lo it ya teng cun hi"
Golok iblis yang membuat setanpun menjadi pusing.
Tanpa golok ini, mungkin Ting Ping sudah bukan Ting Peng yang dulu, tapi jelas tak mungkin.
akan menjadi Ting Peng sekarang.
Antara manusia dan golok masih belum dapat dipisah-pisahkan.
Di tangan Cia Siau hong pun sebenarnya terdapat sebilah pedang mestika.
Tapi semenjak sepuluh tahun berselang, dia sudah menyimpan pedangnya dirumah, dia telah melepaskan pedang mestikanya itu.
Sekarang dia belum berhasil mencapai tingkat yang paling tinggi itu, maka dia harus berada didalam Rumah penyimpanan pedang untuk mencapai ke tingkatan seperti itu.
Dalam rumah penyimpan pedang tiada sesuatu yang istimewa, hanya dua buah kuburan, tapi yang penting adalah makna kedua buah kuburan tersebut baginya.
Ditempat lain diapun menyiapkan dua kuburan yang sama tapi apakah dapat memberikan makna yang sama pula?
Ting Peng tidak bertanya, dia percaya sekalipun ditanyakan, Cia Siau hong juga tak akan menjawabnya.
Karena sekarang telah berada dalam tingkatan yang berbeda, semacam tingkatan yang sama sekali asing, masa mereka harus masuk ke dalam alam manusia sebelum mengerti apa yang sebenarnya mereka tuju.
Lagi pula, sekalipun ada seseorang yang masuk kedalamnya diapun tak dapat menceritakan apa yang dirasakan kepada orang lain, karena orang lain tidak mempunyai pengalaman dan perasaan seperti itu.
Seperti misalnya ada seseorang telah memasuki sebuah kebun yang sangat indah, setelah keluar dari situ dia lantas menceritakan kepada rekan-rekannya bahwa bunga itu berwarna emas, buah berwarna tujuh warna.
Tapi rekannya itu adalah seorang yang buta sejak lahir, bagaimanapun juga mustahil dia bisa membayangkan apa yang diceritakan kepada dirinya itu.
Bagi seseorang yang buta dia tidak mempunyai perasaan terhadap warna, mungkin dia dapat menggunakan bau bauan untuk membedakan aroma bunga dan buah, tapi dia tak dapat menikmati keindahannya lewat keindahan warnanya.
Cuma Ting Peng masih teringat lagi dengan perkataan dari Cia Siau hong.
"Lain kali jika kau datang kemari lagi, di sini sudah tiada rumah penyimpan pedang lagi"
"Hal mana berarti Cia Siau hong sudah dapat keluar dari situ dan benar-benar melangkah masuk ke dalam suatu dunia baru. Dia sudah dapat memindahkan kedua buah kuburan tersebut ke dalam hatinya, sudah dapat menjadikan tempat manapun sebagai rumah penyimpan pedang. Ting Peng mengetahui akan keadaan seperti ini tapi tidak tahu kapan baru bisa memasuki tingkatan seperti itu, tapi dia tahu bahwa dirinya masih kalah setingkat bila ditandingkan dengan Cia Siau hong. Oleh karena itulah baru tumbuh perasaan kagumnya terhadap Cia Siau hong. Dengan kemampuan yang dimiliki Ting Peng sekarang, tentu saja hanya tingkatan yang dicapai Cia Siau hong saja yang dapat menimbulkan perasaan hormatnya. ooo0ooo CIA SIAU GIOK dan Ah Ku tidak menunggu ditempat semula. Ketika Ting Peng berjalan keluar, hanya empat budak pedang yang menunggu di depan pintu, lagi pula pintu tersebut sudah terbuka lebar. Dengan tercengang Ting Peng segera bertanya.
"Mengapa pintu ini terbuka?"
"Karena Ting kongcu telah menjumpai majikan didalam rumah dan sekarang telah berjalan keluar lagi"
Jawab Ka-cu dengan amat gembira. Perkataan tersebut sesungguhnya tak bisa dianggap sebagai suatu jawaban, tapi juga hanya Ting Peng yang dapat memahaminya, maka diapun lantas manggut-manggut.
"Sudah tentu kami harus berterima-kasih pula kepada Ting Kongcu"
Seru Ka-cu lagi gembira.
"Berterima-kasih kepadaku? Apa sangkut pautnya dengan diriku?"
Ting Kongculah yang telah membantu majikan untuk keluar dari Rumah penyimpan pedang ini!"
"Aku telah membantu majikan kalian? Apakah kau tidak salah?"
"Tak bakal salah, selama banyak tahun majikan selalu terkurung oleh sebuah pertanyaan, pertanyaan tersebut adalah jurus pedang tersebut, jurus pedang kelima belas dari Yan Cap sa"
"Aku mengetahui akan jurus itu, tapi bukankah jurus itu sudah berlalu"
"Yaa, sekarang memang sudah berlalu"
Jawab Ka-cu tertawa.
"di hadapan Ting Kongcu hal tersebut memang bukan terhitung suatu persoalan penting"
"Aku sama sekali belum pernah menyaksikan jurus pedang itu"
Seru Ting Peng tercengang. Kembali Ka-cu tertawa.
"Ting Kongcu telah menjumpainya, jurus serangan terakhir yang kami berempat pergunakan untuk memaksa Ting Kongcu masuk adalah menggunakan jurus serangan tersebut."
"Jurus itu?"
Ting Peng tidak percaya.
"Benar, jurus pedang itu!"
"Dan jurus itupula yang telah mengalahkan pedang nomor wahid di kolong langit Cia Siau hong."
"Hmm, kemampuan kami tentu saja tak bisa dibandingkan dengan kemampuan dari Yan Cap sa dimasa lalu, tapi jurus pedang yang kami pergunakan adalah jurus pedang tersebut"
Ka-cu tetap merendah.
"Tanpa kemampuan yang cukup, apakah jurus selama sepuluh tahun kami khusus hanya melatih diri dengan jurus tersebut tanpa terganggu oleh tugas lain, oleh karena itu secara dipaksakan masih dapat mempergunakannya, lagi pula bila jurus serangan itu dikembangkan maka sebenarnya sudah merupakan jurus serangan yang tiada tandingannya, tapi kami tetap tak mampu untuk membendung serangan golok sakti dari kongcu!"
Ting Peng segera membungkam.
Jurus pedang bila sudah mencapai pada saat yang paling dahsyat maka hal ini sudah tiada sangkut pautnya lagi dengan soal kemampuan seseorang, jurus pedang tetap merupakan jurus pedang, dapat digunakan sekali berarti sudah mengembangkan seluruh intisarinya, bila meleset sedikit saja, maka hal ini tak bisa dianggap sebagai jurus.
Hanya jurus serangan lain yang lebih ganas lagi yang bisa mematahkan jurus serangan semacam itu, kecuali itu tiada cara kedua lagi.
Teori tersebut sudah dapat dipahami oleh Ting Peng.
Ketika dia menggunakan jurus Thian gwa liu seng untuk menjagoi dunia persilatan, dia sudah memahami teori tersebut.
Maka dia muncul ke dalam dunia persilatan dengan penuh perasaan percaya pada diri sendiri.
Tapi ia telah bertemu dengan Liu Yok siong yang munafik, bertemu dengan Ko siau yang memuakkan.
Suami istri itu berkomplot untuk membohongi jurus serangannya itu.
Oleh karena itu sampai pada akhirnya Liu Yok siong baru dapat mematahkan jurus serangan itu.
Maka, kemudian dia baru membalas dendam dengan sekuat tenaga, membunuh perempuan yang bernama Ko siau, tapi tetap mengampuni nyawa Liu Yok siong..
Hal tersebut bukan dikarenakan Liu Yok siong mempunyai sesuatu keistimewaan, melainkan Liu Yok siong memang tidak pantas mati.
Liu Yok siong dapat menemukan titik kelemahan dari jurus serangan Thian gwa liu siang, hal ini membuktikan kalau jurus serangan tersebut bukanlah sebuah jurus serangan yang tiada tandingannya.
Terdengar Ka-cu kembali tertawa.
"Selama ini majikan selalu terbenam dalam penyelidikannya soal pedang, walaupun dia telah mencapai puncak kesempurnaan namun tak pernah terlepas dari belenggu jurus pedang tersebut ...."
Ting Peng memahami akan hal ini.
Sejak Cia Siau hong mengurung diri di dalam rumah penyimpan pedang, seperti juga kaum pendeta yang menutup diri menghadap ke dinding, mereka berniat dan berusaha melepaskan diri dari semua beban pikiran.
Begitu semua beban pikiran dapat dilepaskan, maka mereka akan berhasil mencapai suatu tingkatan yang berhasil.
Sejak Cia Siau hong mengurung diri di sana, dia tak pernah berhasil meloloskan diri dari tekanan jurus pedang itu, dia tak dapat mengendalikan diri terhadap jurus pedang itu.
Tapi Ting Peng telah mematahkan jurus serangan tersebut, dengan cara memakai senjata tanpa mengucurkan darah, hal mana membuat Cia Siau hong segera menjadi paham kembali.
Itulah sebabnya ketika dia mengaku kalah kepada Cia Siau hong, namun Cia Siau hong tak mau menerimanya.
Sebelum pertemuan ini, seandainya dia sampai berjumpa dengan Cia Siau hong, mungkin Cia Siau hong tak bisa kalah di tangannya, namun iapun tak bisa menangkan dia.
Bila sampai terjadi bentrokan, besar kemungkinan kedua belah pihak akan sama-sama terluka, atau sama-sama mengundurkan diri.
Sebab bila pertarungan dilangsungkan dia pasti akan kalah, karena kepandaiannya terbatas, sedangkan Cia Siau hong sudah dapat melepaskan diri dari belakang.
ooo0ooo SEKARANG Ting Peng merasa gembira sekali, sebenarnya ia agak sedih tadi, namun sekarang setitik kesedihan pun sudah tak ada lagi.
"Bagaimanapun juga aku masih dapat menjadi jagoan yang tiada tandingannya dikolong langit!"
Kemudian sambil tertawa katanya pula kepada ke empat orang budak pedang itu.
"Sejak kini dalam perkampungan Sin kiam san ceng sudah tidak terdapat rumah penyimpan pedang lagi."
"Ya, sudah tak ada, lagi pula tak perlu", sambung Ka-cu sambil tertawa.
"Kalian berempatpun tak usah berjaga di sini lagi. Ka cu mengangguk. Betul, bukan saja Ting kongcu telah membantu majikan, lagi pula malah membantu kami pula untuk melepaskan diri dari belenggu"
Setelah ini apakah kalian berempat masih akan tetap tinggal di tempat ini. Kembali Ka-cu tertawa.
"Barusan nona Cia pun berharap kami bisa tinggal di sini, tapi kami telah menolaknya, perkampungan Sin kiam san ceng tidak cocok untuk kami"
""Tempat manakah baru cocok untuk kalian?"
""Banyak tempat cocok buat kami. Kalau dulu kami hidup demi pedang, dengan pedang melanjutkan hidup karena pedang dilahirkan, sekarang kami dapat melepaskan pedang, banyak persoalan dapat kami kerjakan lagi seperti misalnya aku suka menanam bunga, aku dapat menjadi tukang kebun Ih Ca suka memelihara ikan, dia bisa membuka peternakan ikan dan memusatkan pikirannya untuk memelihara ikan...."
""Kalianpun akan melepaskan pedang?" `Benar! kamipun akan melepaskan pedang!"
""Tahukah kalian bila kalian tidak melepaskan pedang, dalam dunia persilatan kalian akan segera menikmati suatu masa yang cemerlang dan gemilang"
"Kami tahu, majikan pernah bilang, bila kami keluar dari sini, jarang ada orang di dunia persilatan yang mampu menandingi kami, kami akan segera menjadi jagoan nomor wahid di dunia."
"Apakah kalian tidak ingin?"
"Walaupun kami ingin sekali, tapi masih ada satu persoalan yang pelik, setelah menjadi jagoan nomor satu, maka kami tak akan mempunyai waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang kami senangi."
"Ting Kongcu tentu dapat melihat, usia kami sudah tidak kecil lagi, bahkan boleh dibilang sudah mencapai setengah abad, kalau dalam separuh hidup kami yang lalu hidup untuk pedang, maka separuh hidup kami berikutnya tak boleh untuk pedang lagi, kami harus hidup untuk kami sendiri."
Ting Peng sudah menaruh perasaan kagum dan hormat terhadap ke empat orang itu, paling tidak mereka sudah dapat mengatasi soal nama dan keuntungan pribadi, itu berarti kehidupan mereka selanjutnya pasti akan merasa gembira sekali.
Oleh karena itu, dia pun bertanya.
""Apakah kalian sudah mempunyai rencana terhadap kehidupan kalian selanjutnya?"
Dia berpendapat Cia Siau hong pasti sudah mengaturkan segala sesuatunya untuk mereka. Betul juga, sambil tertawa Ka-cu segera berkata.
"Yaa sudah. sewaktu majikan membangun rumah penyimpan pedang ini, ia telah memberi kami setiap orang lima laksa seribu dua ratus tahil perak sebagai uang pesangon"
"Hmm, suatu jumlah yang dapat membuat orang kaya baru ..."
"Tapi itu juga bisa dipakai untuk biaya hidup setahun"
Kata Ka-cu sambil tertawa.
"Ini baru tahun pertama, sepuluh tahun berikutnya bukankah apa yang kalian peroleh akan mencapai suatu jumlah yang tak terhitung banyaknya..
"Tidak, masih bisa terhitung, lagi pula dengan cepatnya dapat dihitung dengan jelas, karena kami hanya mempunyai sekeping, sekeping yang berbobot seratus tahil""
"Hanya sepotong seberat seratus tahil?"
Agaknya Ting Peng tidak habis mengerti.
"Betul, majikan memang seorang yang amat sosial ... ..."
"Apakah otak kalian semua sudah mulai dihinggapi penyakit?"
"Tidak, kami semua sehat, bahkan otak kami pun jernih!"
"Kalau memang begitu otakku lah yang ada persoalannya"
Kata Ting-Peng sambil mengetuk kepala sendiri. Ka-cu segera tertawa.
"Benar Ting kongcu juga sehat, cuma kau tidak mengetahui perjanjian antara kami dengan majikan saja"
"Ooooh..... bagaimanakah perjanjian kalian dengan majikan kalian itu.... ?"
Perjanjian majikan dengan kami adalah bila setahun kami tinggal di sini lantas hendak pergi maka kami boleh membawa lima laksa seribu dua ratus tahil, bila berada di sini dua tahun, hanya boleh membawa dua laksa lima ribu enam ratus tahil begitu seterusnya, tiap tahun mendapat pengurangan sampai separuhnya, dan kini sudah mencapai sepuluh tahun, karena itu kami genap hanya memperoleh seratus tahil saja!
"Waaaah ....hitungan dari negara manakah itu...
"Itulah perhitungan majikan untuk kami, kalau kami hanya tinggal setahun, itu berarti ilmu pedang kami belum seberapa, pikiran pun belum mantap, sebab itu kami butuh uang banyak untuk bisa menjamin suatu kehidupan yang tenteram. Kalau tidak sudah pasti kami akan menjadi pencoleng atau perampok untuk berjalan seorang dan memenuhi napsu angkara murka sendiri"
"Yaa, memang masuk diakal juga perkataan ini "
"Selamanya teori majikan memang betul", kata Ka-cu dengan sikap sangat menghormat. Ting Peng tertawa..
"Cuma andaikata aku datang beberapa tahun lebih lambat, bukankah kalian hanya akan memperoleh satu tahil perak saja. (Bersambung ke
Jilid 15)
Jilid . 15
"BENAR, kalau kami bisa mengikuti majikan berapa tahun lagi, maka setahil perak pun tak akan kami peroleh. tapi kami bisa melanjutkan hidup dengan penuh kebahagiaan"
"Kalau begitu kedatanganku bukankah kelewat awal?"
Ucap Ting Peng lagi, kali ini dia tidak tertawa. Ka-cu segera menyahut sambil tertawa.
"Dalam anggapan kami, meski kamipun berharap bisa mengikuti majikan selama beberapa tahun lagi, tapi kalau dipikir lebih jauh, asal kami bisa membantu majikan agar cepat-cepat terlepas dari rintangan tersebut pun rasanya pengorbanan kami juga cukup berharga"
"Haaaahhh... haaaahhh ... haaahhhh ..benar, memang berharga, memang sangat berharga"
Sekalipun balas jasa yang mereka peroleh makin lama semakin berkurang, namun keuntungan yang berhasil mereka raih, justru tambah tahun tambah besar.
Melepaskan kedudukannya sebagai budak, malah mereka anggap sebagai suatu pengorbanan."
Setiap orang mengira mereka adalah sepasang manusia tolol, hanya mereka sendiri yang tahu, kalau mereka bukan, tentu saja Ting Peng juga memahami akan hal ini.
Itulah sebabnya mereka baru dapat tertawa dengan begitu riang gembira.
Setelah tertawa, Ting Peng baru berkata.
"Andaikata kalian merasa uang yang di peroleh tidak cukup...."
"Ooh, tidak! tidak! Kami merasa cukup sekali"
Buru-buru Ka-cu berseru.
"toh apa keinginan kami sederhana sekali, dan lagi gampang mencapai kepuasan, lagi pula selama sepuluh tahun ini kami sudah terbiasa hidup bekerja, maka setelah keluar dari sini, bukan saja seratus tahil perak itu tak akan habis terpakai, mungkin setelah tiga lima tahun lagi, kami masih bisa untung seratus tahil perak lebih""
Tanpa terasa Ting Peng memperlihatkan sikap kagumnya, dia cukup mengerti nilai dari orangorang persilatan diluaran.
Seorang jagoan pedang kelas lima, saat dia bersedia menjual nyawa, entah jadi pelayan atau tukang pukul paling tidak dalam sebulan dia dapat meraih seratus tahil perak.
Sedang ke empat orang ini boleh dibilang sudah merupakan jagoan pedang kelas satu, tapi mereka harus membutuhkan waktu selama tiga sampai lima tahun untuk menarik keuntungan seratus tahil perak, tentu saja uang tersebut diperoleh dengan bekerja keras.
Dari sini bisa terlihat betapa tawarnya mereka terhadap kemewahan dunia ...
Tapi Ting Peng berkata lagi sambil menghela napas.
"Ka-cu, Kalian tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, sebenarnya akupun tak usah menguatirkan kalian, cuma aku pikir setelah ini Cia Siau hong tak akan mempunyai perhatian lagi untuk mengurusi kalian"
"Benar majikan bilang dia hendak pergi jauh selama satu dua tahun, pergi menyambangi beberapa orang sahabat karibnya"
"Oooh .... apakah pergi sangat jauh?"
"Ya, jauh, jauh sekali, konon akan memasuki padang pasir dan menelusuri tapal batas, hanya ditempat-tempat semacam itulah barusan ditemukan tokoh-tokoh sakti dan hanya orang-orang semacam itu pula baru pantas menjadi teman karibnya Cia Siau hong. Terhadap Cia Siau hong, selain Ting Peng merasa kagum dan memuji, diapun menaruh rasa hormat . Dia menaruh hormat kepadanya karena dia dapat melepaskan diri dari keduniawian. Ting Peng tak dapat melakukan hal itu, dia masih mempunyai hubungan dengan dunia luas, seperti juga dengan ke empat orang yang berada di hadapannya. sekalipun tak ada hubungan dengan dia, namun dia toh masih tetap menaruh perasaan kuatir terhadap mereka. Oleh karena itu dengan tulus hati katanya.
"Ka cu, dunia luar tidaklah sesederhana apa yang kau bayangkan, kecuali kalau kalian benarbenar adalah manusia sederhana."
Tentu saja ke empat orang ini bukan, orang-orang yang berasal dari perkampungan Sin kiam san-ceng bukan manusia sembarangan, apalagi kalau mereka berasal dari didikan Cia Siau hong sendiri.
Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, Ka-cu telah berkata pula.
"Kami mengerti, kalau kami mempunyai persoalan yang tak terpecahkan, kami pasti akan mencari Ting Kongcu untuk memohon bantuan!"
Memang inilah yang dinginkan Ting Peng, sekalipun tidak ia utarakan, Ka-cu telah mengatakan sendiri.
Ting Peng segera tertawa, berbicara dengan seorang yang pintar memang selalu menyenangkan disamping irit tenaga, karena itu akhirnya dia hanya mengatakan.
"Selamat tinggal!"
Selamat tinggal, kadangkala dapat diartikan pula sebagai jangan berjumpa lagi di kemudian hari.
Sekarang dia memang mengartikan demikian, dalam hati kecilnya dia ikut berdoa semoga mereka dapat menjadi manusia biasa dan mendapatkan tempat pemondokan yang aman dan tentram.
ooo0ooo AH KU menunggunya di depan pintu.
Orang ini selamanya setia, ia tak pandai berbicara tapi memiliki otak yang cerdas, ketika dia tahu kalau majikannya tak bakal akan menjumpai mara bahaya didalam rumah penyimpan pedang itu, diapun mengundurkan diri Walaupun dia tak tahu apakah di luar pintu akan menjumpai mara bahaya atau tidak., tapi paling tidak, tempat itu merupakan tempat yang bisa mendatangkan bahaya.
Oleh karena itu dia menunggu ke depan pintu.
Cu Siau giok sebaliknya menanti ditengah ruangan.
Diapun seorang yang amat pandai.
Tatkala dia tahu kalau didalam Rumah penyimpan pedang tak mungkin akan memberikan tempat dan kedudukan lagi baginya serta merta dia pun segera meninggalkan tempat itu.
Ia membutuhkan suatu kedudukan yang tinggi, paling tidak suatu kedudukan yang terhormat.
Oleh karena itu dia lebih suka berada di tempat yang bisa memperlihatkan kedudukan tersebut..Maka diapun kembali ke dalam perkampungan Sin kiam san ceng, perkampungan dimana ia bisa berkuasa dan dihormati orang.
Sebab hanya ditempat itulah merupakan tempat wilayah kesuksesannya...
Di tempat itulah dia menantikan kedatangan Ting Peng.
Tapi apa yang hendak dia lakukan terhadap diri Ting Peng, sang pemuda yang kosen dan berilmu tinggi itu?
Apa pula yang sebenarnya tersembunyi dibalik senyuman serta suara tertawanya yang manis?
Sesungguhnya rencana apakah yang terkandung dan tersimpan didalam benaknya?"
Sewaktu Ting Peng menyaksikan suara tertawanya, dia pun tak bisa menebak maksud tujuan apakah yang terkandung dibalik tertawa itu.
ooo0ooo KAWANAN TIKUS TING PENG berjalan di depan, Ak-Ku mengikuti di belakangnya.
Walaupun mereka rasakan suatu suasana yang sangat aneh menyelimuti perkampungan Sin kiam san-ceng tersebut, seolah-olah di sekeliling tempat itu terdapat orang yang mengawasi mereka dari kejauhan, namun Ting Peng acuh, AH-Ku pun acuh.
Ditinjau dari gerak-gerik mereka yang lamban, kedua orang itu tahu kalau mereka tak lebih hanyalah kawanan kurcaci.
Terhadap kawanan pengintip yang bukan merupakan suatu ancaman serius, mereka merasa enggan untuk mengeluarkan perhatian yang kelewat banyak.
Seperti juga terhadap kawanan tikus yang bersembunyi di belakang sudut rumah.
Hampir di setiap rumah terdapat tikus, mereka selalu bergerak ditempat kegelapan secara diam-diam, sekalipun adakalanya celingukan sambil mengintip keluar, namun bila merasa kalau dirinya sedang diperhatikan orang, dengan cepat mereka menyembunyikan diri lagi.
Tentu saja tikus merupakan makhluk yang menjengkelkan, mereka dapat merusak pakaian, perabot dan mencuri makan.
Tapi tiada orang yang takut terhadap kawanan tikus, tak ada orang yang tak bisa tidur garagara dalam rumah ada tikus.
Begitu pula dengan kawanan manusia yang mengintip-intip sekarang, dalam pandangan Ting Peng dan Ah Ku, mereka tak lebih cuma tikus sekalipun tak sampai merupakan suatu ancaman buat keselamatan mereka toh kehadiran mereka mendatangkan pula perasaan jengkel, muak dan sebal.
Akhirnya Ting Peng tak tahan, segera ucapnya.
"Ah Ku, sudah terlalu lama orang-orang itu mengikuti kita, aku merasa tak senang! Jika Ting-Peng sudah mengatakan tak senang, itu berarti dia harus membereskan perbuatan yang memuakkan itu dan Ah Ku memang seorang pelayan yang setia"
Oleh karena itu sewaktu Ting Peng menyelesaikan kata-katanya, Ah-Ku sudah mulai bertindak.
Ting Peng tidak memperhatikan lagi gerakan yang dilakukan Ah Ku .
Dia amat merasa lega terhadap kemampuan Ah Ku, dia tahu pekerjaan tersebut tentu akan dilaksanakan secara baik-baik, maka Ting Peng juga tidak menghentikan langkahnya, melainkan melanjutkan perjalanan ke depan.
Telinganya dengan cepat dapat mendengar sedikit suara.
Suara, kepalan yang menghajar di tubuh orang, serta suara tulang belulang yang terhajar patah.
Suara-suara tersebut dengan cepat membuat Ting Peng merasa puas, dia tahu selanjutnya paling tidak selama dia melangkah, keluar dari perkampungan Sin-kiam san-ceng tak akan ada tikus yang akan membayang-bayangi lagi.
"Triing... tinggg....! Traaang... traaang..?"
Jelas suara itu adalah suara benda tajam yang saling membentur, Ting Peng segera merasa keheranan.
Suara semacam itu tidak seharusnya terdengar, masa kawanan tikuspun berani memberikan perlawanan?
Bila tikus kena didesak, memang ada kalanya akan membalas menggigit, tapi Ah Ku jelas merupakan kucing tua yang sangat berpengalaman, tak mungkin dia akan memberi kesempatan kepada sang tikus untuk balas menggigit.
"Triiing.. tring...traanng. .. traang...."
Suara senjata tajam yang saling membentur masih saja terdengar, hal ini membuktikan kalau Ah Ku telah berjumpa dengan seekor tikus yang tidak gampang ditundukkan, lagi pula sudah pasti seekor tikus besar.
Akhirnya Ting Peng tak tahan dan menghentikan langkahnya, kemudian berpaling.
Dia telah melihat Cia sianseng.
Cia sianseng, congkoan dari perkampungan Sin kiam san-ceng.
Ting Peng sama sekali tidak merasa asing terhadap Cia sianseng, lagi pula hampir boleh dibilang merupakan sahabat lama, cuma saja persahabatan tersebut tidak begitu akrab.
Pertama kali dia bertemu dengan Cia sianseng di perkampungan Siang-siong-san-ceng milik Liu Yok siong.
Hari itu, kecuali Cia sianseng, di sana pun hadir Sui-han-sam-yu yang mengangkat nama bersama Liu Yok siong.
Liu Yok siong telah mencuri Thian-gwa liu-seng miliknya dan melangsungkan suatu pertarungan yang menggelikan serta memalukan itu, Cia sianseng lah ketika itu yang bertindak sebagai saksi.
Semenjak hari itulah, Ting Peng mulai tidak menyukai Cia sianseng.
Walaupun dalam keadaan seperti waktu itu dia tak bisa disalahkan, Liu Yok-siong telah mengatur segala sesuatunya terlalu baik membuat Ting Peng tak mampu membantah.
Tapi Ting Peng selalu merasa bahwa Cia sianseng tidak adil dalam mengatur segala-galanya.
Sebagai congkoan dari Sin kiam san-ceng, dia adalah seseorang yang pantas dihormati, dia seharusnya cukup memahami tentang watak Liu Yok siong.
Paling tidak ia tidak seharusnya muncul didalam perkampungan Siang-siong san-ceng dan berkomplot dengan manusia seperti Liu Yok siong, oleh karena itu meski keputusan Cia sianseng waktu itu cukup adil, tapi Ting Peng selalu menganggap Cia sianseng telah bersekongkol dengan Liu Yok siong.
Oleh karena itu setiap kali ia bertemu dengan Cia sianseng, sikap Ting Peng tak pernah sopan, bahkan belum lama berselang dia malah menghadiahkan suatu kesulitan bagi Cia sianseng di depan perkampungan Sin kiam san-ceng, tapi ia belum pernah menyaksikan Cia sianseng menggunakan pedang.
Ilmu pedang yang dimiliki Congkoan perkampungan Sin kiam san-ceng sudah pasti melebihi siapapun, hal ini merupakan sesuatu kenyataan yang tak mungkin bisa dirubah, tapi dalam dunia persilatan belum pernah ada orang yang melihat Cia sianseng mempergunakan pedang.
Tapi hari ini, akhirnya Ting Peng dapat melihatnya.
Ilmu pedang dari Cia sianseng ini selain ganas matang, juga amat keji.
Ting Peng belum pernah menyaksikan jurus pedang dari keluarga Cia, tapi dia tahu ilmu pedang Cia sianseng berasal dari perkampungan Sin kiam san-ceng.
Ilmu pedang sakti dari keluarga Cia adalah suatu kepandaian yang tiada tandingannya di kolong langit, bukan saja keji juga teramat ganas, kalau tidak kedudukan perkam-pungan Sin kiam san-ceng dalam dunia persilatan tak akan mencapai tingkatan yang begitu tinggi dan terhormat.
Ting Peng cukup mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Ah-Ku, walaupun dia tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tapi dalam dunia persilatan paling banter Cuma ada lima orang yang mampu menangkannya, salah seorang diantaranya ternyata Cia sianseng.
Sepasang kepalan dari Ah-Ku merupakan sepasang senjata yang ampuh, tapi sepasang gelang emas yang berada pada lengannya merupakan semacam alat pelindung badan yang amat ampuh, bila pihak lawan mempergunakan senjata tajam, maka diapun akan menangkis dengan mempergunakan gelang emas tersebut.
Tapi sekarang, Ah Ku telah mencabut keluar pisau belati yang berada dibelitan sepatu larsnya, yang selama ini tak pernah dipergunakan.
Di atas lengannya telah muncul sebuah bekas darah yang memanjang, hal ini membuktikan kalau gelang emas tersebut sudah tak mampu untuk melindungi keselamatan jiwanya lagi.
Sekalipun ada pisau belati ditangan, ternyata Ah Ku belum berhasil memperbaiki keadaannya yang semakin terdesak, pedang Cia sianseng bagaikan seekor ular beracun menyelinap kesana kemari dengan sangat gencarnya.
Orang yang bisa melukai Ah Ku jelas bukan seorang manusia sembarangan, tanpa terasa tertarik juga hati Ting Peng, dia segera berjalan balik dan mengamati permainan pedang dari Cia sianseng, dia berharap bisa lebih memahami tentang orang ini.
Tapi Cia sianseng benar-benar amat licik, ketika dia mengetahui kalau ada Ting Peng sedang mengawasinya, mendadak serangan-nya melamban, bahkan diantara jurus serangannya sengaja diperlihatkan titik-titik kelemahan.
Ah Ku adalah seorang pendekar yang berpengalaman, walaupun terluka, pikiran-nya tak sampai kalut, dia pun tidak dikarenakan pihak lawan mengendorkan serangannya lantas mempergunakan peluang itu untuk memanfaatkan kelemahan tersebut.
Dia malah tetap bertarung dengan taktik pertarungan semula, pisau belatinya bergerak kesana kemari dengan gencar tapi jarang melancarkan serangan balasan, bila serangan balasan dilepaskan niscaya merupakan suatu serangan yang dahsyat.
Terhadap titik-titik kelemahan yang diperlihatkan oleh Cia sianseng itu dia tak pernah menggubrisnya, walaupun dia tahu seandainya pisau ditusukkan ke depan, niscaya serangan tersebut akan menciptakan suatu luka yang mematikan di tubuh lawan.
Agaknya itulah yang diharapkan oleh Cia sianseng, penyelesaian pertarungan yang diharapkan olehnya, tapi bukan merupakan harapan Ah Ku juga bukan harapan dari Ting Peng.
Setiap kali melancarkan serangannya, Ah Ku selalu mengarah bagian-bagian tubuh yang mematikan di tubuh lawan, pisau belati yang amat pendek itu paling banter cuma seperempat dari pedang lawan.
Orang bilang satu inci lebih panjang, satu bagian lebih tangguh, satu bagian lebih pendek, satu bagian lebih berbahaya.
Teori ini seringkali diucapkan oleh jago-jago yang sudah berpengalaman tentang senjata yang dipergunakan orang.
Tapi pisau belati ditangan Ah Ku justru merupakan kebalikan daripada teori senjata pendek, bahaya tentu bencana, bencana harus ditolong.
Setiap serangan yang dilancarkan olehnya sudah pasti memaksa lawan untuk menolong diri, lagi pula harus dihadapi pula oleh suatu kepandaian yang tinggi.
Itulah sebabnya paras muka Cia sianseng makin lama semakin serius, rencananya sama sekali tidak berhasil.
Kecuali kalau dia berani menyerempet bahaya dengan membiarkan tusukan pisau Ah Ku itu bersarang di tubuhnya.
Tapi ia tak berani, bahkan tak seorang manusiapun berani mencoba, karena serangan yang dilancarkan Ah Ku kelewat cepat dan dahsyat, sedikit terlambat saja untuk berkelit, besar kemungkinan dadanya akan tertusuk hingga tembus.
Oleh karena itu bukan saja Cia sianseng tidak berhasil merahasiakan jurus pilihannya, malah justru karena keraguannya itu membuat dia harus menggunakan kekuatan yang berlipat ganda untuk membebaskan diri dari ancaman bahaya.
Tentu saja sistim pertarungan semacam ini amat payah, tak selang berapa saat kemudian Cia sianseng telah mengucurkan keringat dengan amat derasnya, sedang tindak tanduknya pun mulai gelisah.
Sebenarnya tidak sulit baginya bila ingin mengembalikan keadaan tersebut, namun dia tak berani berbuat demikian, karena dia tahu bila keadaan sudah berbalik, itu berarti dia harus berhadapan dengan serangan golok Ting Peng yang mengerikan.
Ting Peng memperhatikannya sebentar, kemudian baru katanya.
"Ah Ku! Tahan....."
Cia sianseng menghembuskan napas panjang, sambil menyeka peluh yang membasahi tubuhnya, diam-diam dia merasa lega, karena dia kira persoalan pelik telah lewat. Sayangnya ia gembira kelewat awal.
"Aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk beristirahat barang setengah jam, kemudian aku baru akan memohon petunjukmu, aku rasa kau tentunya masih mampu bukan!"
Cia sianseng memperhatikan sekejap wajahnya yang tak berperasaan itu, dia merasa segulung hawa dingin muncul dan menyusup ke dalam tubuhnya, hal mana membuat peluh panas segera berubah menjadi peluh dingin.
Dia mengerti dengan mengandalkan kepandaiannya, jelas tak mungkin bisa meloloskan diri dari serangan golok yang maha dahsyat itu.
Terutama sekali setelah menyaksikan Ting Peng dapat keluar dari Rumah penyimpan pedang tanpa cedera, terlepas bagaimanakah penyelesaiannya dengan Cia Siau hong, tapi kalau dilihat dari sikap Ka-cu sekalian empat orang budak pedang yang begitu menghormat kepadanya, hal itu sudah membuktikan sesuatu yang luar biasa.
Tenggorokannya naik turun tak menentu dan ingin sekali mengucapkan sepatah dua patah kata, tapi tak tahu bagaimana harus berkata.
ooo0ooo SAMBIL tertawa Ting Peng berkata.
"Selamat bersua! Selamat bersua! Ternyata nama besar Cia sianseng memang bukan nama kosong belaka, kau memang tak malu menjadi congkoan dari perkampungan Sin-kiam san ceng. Sebaliknya Cia sianseng membutuhkan tenaga yang paling besar untuk memperlihatkan sekulum senyuman paksa di atas wajahnya, lalu ia berkata pula dengan terpaksa.
"Ting kongcu terlalu memuji, apakah kongcu telah berjumpa dengan majikan kami?"
"Yaa, sudah, belum lama kami baru berpisah!"
Cia sianseng berusaha keras untuk mengembangkan pembicaraan tersebut, kembali dia berkata.
"Tampaknya kongcu dan majikan kami seperti merasa gembira sekali dalam pertarungan tersebut?"
Ting Peng tertawa.
"Lumayan, hitung-hitung tidak sia-sia belaka perjalananku kali ini..."
Mendengar perkataan itu, Cia sianseng menjadi sangat terkejut.
"Apakah kongcu telah melangsungkan pertarungan pedang dengan majikan kami?"
"Ilmu pedang Cia cianpwe sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, mana aku berani bertarung melawannya!"
"Maksudku, apakah ilmu golok sakti dari kongcu telah bertarung dengan pedang milik majikan kami ?"
Buru-buru Cia sianseng menerangkan.
"Boleh dibilang begitu"
"Tapi siapa yang menang dan siapa pula yang kalah?"
Persoalan ini merupakan persoalan yang diperhatikan orang dan persoalan yang ingin diketahui setiap orang, sekalipun Cia sianseng merasa tegang toh tak tahan diajukan juga."
Ting Peng tertawa, sahutnya.
"Saudara sebagai congkoan dari Sin kiam san-ceng tidak sepantasnya mengajukan pertanyaan ini, kau semestinya jauh lebih mengerti daripada orang lain"
"Tempat itu merupakan daerah terlarang, walaupun aku adalah congkoan dari Sin kiam sanceng, namun tempat itupun terlarang bagiku!"
"Tapi paling tidak kau toh tahu kalau tempat itu dinamakan Rumah penyimpan pedang?"
Cia sianseng tak dapat menyangkal, walaupun dia boleh dibilang tidak tahu, tapi mimik wajah dari Ting Peng membuatnya tak berani mengucapkan kata-kata bohong. Maka terpaksa dia harus mengangguk.
"Yaa, aku telah mendengar hal itu dari budak-budak pedang tersebut... ."
"Tentunya kau juga tahu bukan kalau majikanmu tak pernah membawa pedang selama berada dalam Rumah penyimpan pedang."
"Soal ini aku tidak tahu karena aku belum pernah masuk ke sana!"
Itupun suatu pengakuan jujur, maka Ting Peng berkata lagi.
"Kalau begitu lain kali kau boleh masuk kesana, aku telah beradu kepandaian dengan majikan kalian, Cuma di tangannya tak berpedang, golokku pun tak pernah lolos dari sarung, maka menang kalahnya sukar dikatakan, kalau dikatakan aku menang, diapun tak akan memprotes, kalau dibilang dia menang, akupun tak akan mengakui!"
Tergerak hati Cia sianseng setelah mendengar perkataan itu.
"Kalau begitu, kepandaian yang kongcu miliki masih satu tingkat lebih tinggi..."
"Walaupun dia tak akan memprotes, tapi akupun tak ingin berkata demikian, karena dia masih hidup dan akupun masih hidup."
Pertarungan antara jago lihay memang tak perlu ditentukan oleh mati hidup, menang kalah hanya terlintas dalam satu titik, kecuali kedua belah pihak, bahkan penontonpun sukar untuk melihat dengan jelas!"
Ting Peng tersenyum, katanya pula.
"Tapi aku si jago lihay justru berbeda, kemenanganku hanya bisa ditentukan apabila pihak lawan telah roboh, karena golokku adalah golok pembunuh, sebelum pihak lawan terbunuh masih belum bisa terhitung sebagai kemenangan."
Terpaksa Cia sianseng hanya mengiakan belaka. Terdengar Ting Peng berkata lebih jauh.
"Di tangannya tiada pedang, golokkupun belum diloloskan, kami hanya berbincang-bincang sebentar, dalam pembicaraan tersebut kedua belah pihak telah mendapatkan pengertian, kesimpulannya yakni dia tak akan membunuhku, aku pun tak dapat membunuhnya maka diantara kami berdua masih belum diketahui siapa menang siapa kalah!"
Cia sianseng merasa sedikit agak kecewa tapi di luar dia menjawab kejadian ini merupakan suatu kejadian yang sangat baik, kongcu dan majikan kami sama-sama adalah dua jago lihay, siapapun tidak berharap menyaksikan salah seorang diantara kalian roboh!"
Tapi aku merasa tidak puas, aku berharap bila lain kali berjumpa lagi dengannya, di tangannya sedang membawa pedang, sehingga kami dapat benar-benar melangsungkan suatu pertarungan untuk mengetahui siapa yang unggul."
"Pasti ada kesempatan"
Buru-buru Cia sianseng berkata.
"seringkali majikan kami membawa pedang!"
"Kalau Cuma membawa pedang saja sama sekali tak ada gunanya, karena sebelum pedang itu diloloskan dari sarungnya, mustahil hal mana bisa memancing hawa pembunuhan dalam hatiku, kami tetap tak bisa melangsungkan pertarungan tersebut!"
Tanpa terasa Cia sianseng menyarungkan kembali pedangnya, cuma dia kelewat tegang sehingga mata pedangnya tak dapat tetap masuk ke dalam sarungnya.
Melihat itu, Ting Peng segera berkata sambil tertawa.
"Buat apa kau menyarungkan kembali pedangmu? Sebentar toh mesti dicabut kembali, apakah hal ini tidak terlalu merepotkan?"
Cia sianseng tertawa.
"Aaah, Ting kongcu suka bergurau, masa aku berani mencabut pedang di hadapan kongcu?"
""Tapi kau toh berani mencabut pedang di belakang punggungku!"
"`Hal mana kulakukan karena untuk melindungi diri, karena kalau tidak pembantumu akan membunuhku!"
"Hmmm, pembantu ku ini selalu tahu diri, tanpa sebab dia tak akan membunuh orang, andaikata dia hendak membunuhnya maka hal ini pasti didasarkan pada suatu alasan yang kuat"
"Alasan apapun tak ada, tiba-tiba dia menyerobot kehadapan kami, lalu memukul orang, sudah empat orang kami terbunuh, bila kongcu tidak percaya silahkan saja pergi ke ujung dinding sana, mayat mereka masih tergelepar di situ!"
"Tak usah dilihat lagi""
Kata Ting Peng sambil tertawa "aku selalu mengetahui dengan jelas hasil pukulannya, barang siapa terkena pukulannya memang sukar untuk hidup terus!"
"Orang-orang itu toh tidak mengusik dia..?"
"Mereka telah mengganggu aku, aku paling benci kalau ada orang kasak-kusuk dan bersembunyi-sembunyi sambil mengawasi diriku secara diam-diam, akulah yang suruh dia membunuh mereka!"
"Ting kongcu, tempat ini adalah perkampungan Sin kiam san ceng!"
Seru Cia sianseng sambil menelan air liur.
"Aku tahu, kau tak usah memberi keterangan lagi kepadaku"
"Mereka adalah anggota perkampungan ini, karena itu apa pun yang mereka lakukan hal ini dilakukan didalam rumah mereka sendiri"
Ting Peng tertawa.
"Tadi sewaktu aku hendak masuk ke dalam Rumah penyimpan pedang, ada beberapa orang bersembunyi dibalik kegelapan, akhirnya mereka telah dibunuh oleh Ka-cu, kalau mereka benarbenar adalah anggota perkampungan Sin kiam san-ceng, mengapa pula mereka terbunuh...?"
"Soal itu... , soal itu karena mereka berani mengintip daerah terlarang, mereka memang pantas mati"
"Mereka juga sudah melanggar pantanganku, maka mereka juga harus mati, bila kau merasa hukumanku tak benar, silahkan saja mencari kebenaran dariku!"
Paras muka Cia sianseng berubah, tapi ia segera berusaha menahan diri, katanya kembali.
"Siapa tidak bersalah dia tidak berdosa, dulu mereka tidak tahu akan pantangan kongcu, sekarang mereka sudah tahu, mengetahui akan hal ini dan aku percaya mereka tak akan melakukan pelajaran lagi."
"Soal ini tak perlu lagi"
Ucap Ting Peng sambil tertawa.
"karena bila aku dapat meloloskan diri dari ujung pedangmu aku dapat memberitahukan kepada mereka sendiri, kalau tidak, ucapanmu itu sudah didengar pula oleh mereka."
Dengan cepat Cia sianseng mundur. selangkah, kemudian serunya keras-keras.
"Ting kongcu apa maksudmu... ?"
"Aku percaya kau pasti memahaminya, aku hendak menantangmu untuk berduel!"
"Soal ini....aku... mana aku berani..."
"Selamanya perkataanku tak pernah dirubah-rubah"
Kata Ting Peng dengan suara dalam.
"kau berani juga boleh, tidak berani juga boleh, pokoknya setelah hitungan ketiga aku akan turun tangan, lebih baik himpun saja tenagamu baik-baik dan pikirlah baik-baik bagaimana caranya merobohkan diriku pada hitungan ketiga!"
Selesai berkata, dia mulai menghitung.
"Satu !"
Dengan cepat Cia sianseng mundur tiga langkah.
"Dua !"
Cia sianseng sudah mundur sejauh tujuh delapan langkah, sekalipun tangannya masih menggenggam pedangnya kencang-kencang, namun selain mundur dia sudah tak tahu harus berbuat apa.
Ting Peng tidak mengejar ke depan, bahkan sorot matanya sama sekali tidak dialihkan ke arahnya, hanya goloknya pelan-pelan diangkat, seakan-akan tak perduli Cia sianseng hendak kabur seberapa jauhpun, asal kata ketiga sudah diucapkan, maka tubuhnya pasti akan terbelah menjadi dua bagian.
"Tiga !"
Cia sianseng roboh ke tanah, tapi tubuh Ting Peng masih belum bergerak, goloknya juga belum diloloskan dari sarungnya, karena kata "tiga"
Itu bukan dia yang meneriakkan.
Tubuh Cia sinseng yang gemuk penuh daging itupun tidak sampai hancur berkeping-keping, dia masih tetap utuh dan segar bugar seperti sedia kala.
Karena bukan golok Ting Peng yang merobohkan dia, walaupun golok iblis dari Ting Peng mengerikan, akan tetapi golok itu tak akan mampu membunuh orang sebelum diloloskan dari dalam sarungnya.
Diapun bukan roboh karena ketakutan, sekalipun waktu itu dia merasa ketakutan setengah mati, namun dia bukanlah manusia yang akan roboh karena ketakutan, lagi pula dia telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut serangan tersebut dengan sekuat tenaga.
Dia roboh karena seseorang telah menendangnya keras-keras sehingga terpental ke tanah.
Pinggangnya persis terkena sebuah tendangan dari sebuah kaki yang putih halus, indah dan membuat jantung orang berdebar semakin keras.
Dalam perkampungan Sin kiam san-ceng hanya ada seseorang yang memiliki kaki seindah ini.
Tentu saja kaki tersebut adalah kakinya, Cia Siau giok.
Karena dialah yang pernah menendang Cia sianseng sampai roboh ke atas tanah.
Dia pula yang meneriakkan angka ketiga.
Kemudian dengan membawa hembusan angin harum yang memabukkan, tahu-tahu dia sudah berdiri di hadapan Ting Peng..
ooo0ooo ************************* Halaman 33 s/d 38 hilang ************************* seorang diantaranya, baru menggigit dua gigitan sudah mulai muntah-muntah, setelah kurobek keluar sebiji matanya yang lain baru penurut sekali untuk menghabiskan semua daging-daging tersebut.
"Yaa, daripada kehilangan daging memang lebih enakan makan daging, Cuma perbuatanmu itupun agak kelewatan sedikit, toh bukan mereka yang pingin melihat adalah kau yang memperlihatkan kepada mereka"
"Benar, memang aku yang mengundang mereka untuk menonton, tapi sebelum itu aku telah berjanji lebih dulu dengan mereka, setelah selesai menikmati, mereka harus bangkit berdiri dan menuju ke dalam sebuah kamar untuk menyampaikan perasaan kagum mereka kepadaku, akhirnya tak seorangpun yang berani berdiri, karena didalam kamar sebelah semuanya adalah kaum wanita, dan diantaranya terdapat pula tamu-tamu yang mempunyai kedudukan terhormat."
"Bila benar-benar ada kaum pria yang masih bisa berdiri dengan santai dan berbincangbincang dengan orang lain secara wajar, lelaki itu pasti bukan lelaki sungguhan, kecuali dia sudah diidapi semacam penyakit... ."
"Kau jangan memandang begitu tak becus setiap lelaki lain, paling tidak aku sudah menjumpai seorang lelaki yang dapat menikmati diriku dengan sinar mata yang mengagumi tapi tidak emosi, juga tidak menunjukkan suatu reaksi yang istimewa!"
"Waaah, lelaki itu pasti ada penyakit"
"Menurut pendapatku, lelaki itu sama sekali tak berpenyakit, bahkan sehat sekali dan diapun pernah menaklukkan perempuan paling cabul dan jalang dikolong langit.
"Seandainya terhadap lelaki semacam ini, aku benar-benar akan turut mengaguminya, siapakah dia? Aku ingin sekali berkenalan dengan dirinya... !"
""Aku tahu, kau pasti akan suka sekali untuk berjumpa dengan orang ini, maka aku pun telah mengundangnya datang, sekarang mari kutemanimu untuk pergi menjumpainya!"
""Tunggu sebentar, sekalipun aku akan senang berjumpa dengan manusia semacam ini, tapi tidak suka kalau aku yang pergi menjumpainya, apakah ia tak dapat kemari untuk menjumpai diriku?"
"Tentu saja dia mempunyai alasan lain sehingga tak dapat kemari"
"Bagiku, tiada sejenis alasanpun yang bisa dijadikan alasan !"
"Tapi alasannya pasti dapat membuatmu mengakuinya secara tulus dan takluk, tak ada salahnya kau pergi untuk menengoknya, kalau alasan tidak dapat membuatmu merasa puas, kau boleh segera turun tangan untuk membunuhnya!"
Ting Peng segera menggeleng. Aku tak ingin membunuh orang hanya dikarenakan suatu persoalan kecil ...."
"Kalau begitu bunuhlah aku, lagi pula kau tak usah turun tangan sendiri, asal kau menganggap alasannya tak dapat keluar bukan suatu alasan yang dapat dimaklumi, aku bersedia untuk segera memenggal balok kepala ku sendiri!"
Ternyata gadis itu berani mempergunakan keselamatan jiwa sendiri sebagai barang taruhan, sekalipun Ting Peng tidak menaruh perasaan yang tertarik terhadap persoalan itu, toh lambat laun merasa tertarik juga oleh kejadian ini."
Oleh karena itu, dia membiarkan Cia Siau giok menggandeng tangannya memasuki jalan setapak yang penuh ditumbuhi aneka bunga dan memasuki sebuah kamar yang harum baunya.
Ruangan itu merupakan sebuah ruangan yang sangat aneh, selain bunga hampir tiada perabot lainnya, di atas dinding penuh bunga dalam pot penuh bunga, pada permadani di lantai juga penuh dengan lukisan aneka bunga, bahkan satu-satunya meja yang terdapat di situ pun dipenuhi oleh bunga, seakan-akan tempat itu merupakan sebuah dunia bunga.
Bukan saja terdapat bunga di atas pohon, bunga yang tumbuh di kebun bahkan terdapat pula bunga yang tumbuh di air karena sebagian dari bangunan rumah itu dibuatkan sebuah kolam air karena beberapa kuntum bunga putih dan merah memenuhi permukaan air kolam tersebut.
Sambil tertawa Cia Siau giok segera berkata "Disinilah letak kamar tidurku, karena aku suka bunga, maka tempat ini menjadi acak-acakan harap Ting toako jangan mentertawakan!"
Barang siapa berada ditempat seperti ini, sedikit banyak perasaannya pasti akan terpengaruh juga.. Sambil tertawa Ting Peng segera berkata.
"Aku pernah membaca syair orang kuno, katanya dimana ada bau bunga di situ pasti terdapat kehangatan, karena bau bunga adalah kelembutan, tidak seperti hawa golok atau hawa pedang yang menyayat badan, setelah aku berada dalam ruangan tidurmu sekarang, aku baru percaya akan hal ini, ruangan yang penuh bunga kadangkala. terbawa pula hawa pembunuhan yang tebal!"
Paras muka Cia Siau-hong agak berubah, tapi dengan cepatnya dia tertawa kembali."
"Tentu saja, aku adalah seorang pesilat perempuan, ayahku adalah jago pedang yang tiada tandingannya dikolong langit, aku tak akan seperti perempuan lain yang mudah dipermainkan orang!"
"Aku percaya akan hal ini, siapa tahu kalau dari dalam bunga ini secara tiba-tiba dapat meluncur keluar sebatang jarum beracun yang akan merenggut nyawaku!"
Sembari berkata dia lantas menyentil pelan sekuntum bunga mawar.
"Bunga mawar banyak berduri", hal ini diketahui hampir oleh setiap orang tapi sekalipun tercocok paling banter hanya akan melukai tangan dan tak sampai merenggut nyawa. Tapi bunga mawar dari Cia Siau giok itu dapat merenggut nyawa orang, bukan saja panah baja kecil tersebut dapat melesat dengan kekuatan yang sangat kuat lagi pula berwarna biru, warna biru berarti warna racun yang keji. Panah itu melesat ke depan dan menancap di atas batang pohon bwee yang menghiasi ruangan, setelah berbunyi mendenting lantas melesat sampai separuh bagian. Tampaknya pohon bwee itu terbuat dari baja, tapi... mengapa pula didalam ruangan yang penuh dengan aneka bunga ini bisa terdapat sebatang pohon besi? Apa pula gunanya pohon itu ? Agaknya Ting Peng tak pernah mempertimbangkan persoalan itu, sembari mengembalikan bunga mawar itu ke tempat asalnya, dia berkata sambil tertawa.
"Bagus! Bagus sekali! Bunga mawar kaya akan keindahan, tapi banyak berduri, bunga bwe bertulang besi dan berhati dingin, selain mengerti akan keindahan bunga, tampak-nya kaupun mengerti sifat dari aneka bunga tersebut..."
Paras muka Cia Siau giok masih tetap seperti sedia kala, sahutnya sambil tertawa. Dalam pandangan Ting toako hiasan-hiasan kecil semacam ini pada hakekatnya tidak berharga untuk ditengok."
Ting Peng duduk bersila di depan meja pendek, sambil tertawa Cia Siau giok turut pula duduk disampingnya, kemudian berkata.
"Siaumoay mempunyai arak pek hoa jiang yang sudah berusia lama, arak itu dibuat dari madu beratus kuntum bunga, pernahkah Ting toako mencicipinya?"
"Oooh... tentu saja aku bersedia untuk mencicipinya, tentu saja, ada perempuan cantik sudah seharusnya ada arak wangi, dengan begitu baru suasana menjadi lebih semarak!"
"Sayang tiada sayur, karena arak pek hoa jiang tak boleh sampai terkena pengaruh hawa panas, kalau tidak maka rasanya akan rusak sama sekali."
Benar berada di dalam guna nirwana semacam ini, apalagi ditemani gadis seperti bidadari, kita memang seharusnya mencicipi minuman para malaikat, masakan barang berjiwa sudah sepantasnya kalau dijauhkan untuk sementara waktu"
Dia seakan-akan telah berubah menjadi seseorang yang gemar berbicara, setiap patah kata dari Cia Siau giok selalu ditanggapi dengan pujian, bahkan diberi pula keterangan-keterangan yang diperlukan.
Pembicaraan semacam ini semestinya amat luwes dan santai namun Cia Siau giok justru makin murung dan tidak nampak gembira.
Dia berjalan ke tepi kolam, mengambil sebuah botol putih dari dalam air dan membuka penutup botolnya yang masih bersegel, setelah itu mengambil dua cawan dan meletakkannya ke hadapan Ting Peng.
Kemudian dia baru memenuhi cawan tersebut sembari berkata.
"Arak ini hanya cocok untuk diminum dingin-dingin, oleh karena itu aku selalu merendamnya dengan air kolam, silahkan Ting toako!-Sambil tersenyum Ting Peng mengangkat cawan itu, ketika merasa dingin ia baru berseru.
"Oooh sungguh amat dingin"
"Benar, air ini adalah air dingin karena itu terasa dingin pula semua benda yang, terendam di situ"
"Oooh... aku tidak mengira kalau dalam perkampungan Sin kiam san-ceng pun terdapat sumber air dingin, menurut apa yang kuketahui hanya di sebelah barat wilayah Seng sut hay saja yang terdapat telaga dingin dan mengalirkan air dingin."
"Ting toako kau memang tak malu disebut seorang yang berpengetahuan luas, sampai tempat terpencil semacam inipun kau ketahui."
"Aku hanya merasa tertarik oleh sumber air dingin tersebut"
Kata Ting Peng sambil tertawa.
"Padahal sumber air tersebut amat sederhana, hanya sumber air dari Bu sit hui swan sian dicampur dengan sumber air Leng ciu Hou hau swan belaka!"
"Oooh... itu mah dua buah sumber mata air yang amat termasyhur di kolong langit"
Sumber air dari Hui swan cocok untuk membuat arak, sumber air dari Hou swan cocok untuk dimasak dan digunakan, maka akupun seringkali menggunakan separuh air itu untuk minum the dan separuh dari air yang lain untuk minum arak, tiada sesuatu yang luar biasa."
"Cuma kalau dua macam sumber air itu digabungkan menjadi satu lantas menimbulkan hawa dingin baru pertama kali ini kudengar."
"Ting toako, kau sungguh cermat!"
Seru Cia Siau giok sambil tertawa lebar.
"Berada di tempat yang penuh hawa pembunuh, mau tak mau aku harus bersikap berhati-hati sekali."
"Dua macam sumber air itu tentu saja tak akan menjadi dingin, air itu menjadi begini karena air tersebut mengalir masuk melalui puncak pohon Bwee itu dan mengalir keluar dari akar pohon Bwee hanya begitu saja."
Yang dimaksudkan sebagai pohon Bwee tak lain adalah pohon besi tersebut. Ting Peng memperhatikannya sekejap, kemudian berkata.
"Kalau memang begitu tak aneh lagi, sekalipun air panas yang mengalir melewati besi dingin tersebut airnya tentu akan menjadi dingin pula, nona Cia kau benar-benar mempunyai otak yang sangat cerdas."
Besi dingin memang sifatnya dingin sekali, kendatipun di bawah terik matahari, besi itu akan tetap dingin, Cuma besi semacam itu mahal harganya, kebanyakan digunakan orang untuk membuat pedang mestika atau golok mestika.
Tak nyana Cia Siau giok justru menggunakannya sebagai pohon.
Tapi....
Kalau toh pohon tersebut terbuat dari besi dingin, tapi bidikan panah tadi sanggup menembusi pohon besi tersebut, bukankah hal ini berarti kalau panah tersebut jauh lebih tajam?
Tapi Ting Peng seakan-akan tak pernah berpikir sampai ke masalah tersebut.
Bahkan senyuman dari Cia Siau giok membuatnya tidak berpikir sampai kesana, karena senyuman Cia Siau giok pada saat ini mempunyai daya pikat yang tak terlukiskan dengan katakata.
Ternyata Ting Peng dibuat termangu-mangu olehnya.
Sepasang mata Cia Siau giok seakan-akan tertutup oleh selapis kabut tipis, membuatnya nampak merangsang dan menawan hati.
Tapi Ting Peng telah menghela napas, menghela napas panjang.
Dalam keadaan dan suasana seperti ini ternyata dia masih dapat menghela napas panjang, tak heran kalau sampai Cia Siau giok sendiripun merasa amat terperanjat, kemudian apa yang dikatakan Ting Peng selanjutnya membuat gadis itu makin terkesiap.
"Aku pernah bertanya kepada ayahmu, apakah kau adalah putrinya....?"
Cia Siau giok agak tertegun sesaat, kemudian baru katanya sambil tertawa.
"Dan bagaimana jawabannya?"
"Ternyata dia tidak menyangkal!"
Kali ini suara tertawa Cia Siau giok kelihatan gembira sekali.
"Aku memang putri kesayangannya, tentu saja dia tak akan menyangkal... ."
"Cuma diapun merasa ada perlunya untuk mengejar pertanyaan tersebut lebih lanjut, maka dia mendesak Ting Peng lebih jauh.
"Mengapa kau mengajukan pertanyaan semacam itu? Apakah kau mencurigai aku bukan putrinya Cia Siau hong?"
Ting Peng manggut-manggut.
"Yaa, kau memang kelihatannya tidak mirip!"
"Mengapa tidak mirip? Apakah untuk menjadi ayah dari seorang anak gadis semacam aku masih diperlukan syarat-syarat lain yang lebih istimewa... ?"
"Itu mah tidak, Cuma Cia Siau hong adalah seorang pendekar besar yang dihormati setiap umat persilatan di dunia ini!"
"Apa sangkut pautnya antara persoalan ini dengan anak gadisnya?"
"Tiada sangkut paut yang kelewat besar, di dalam pandangan sementara orang, untuk menjadi anak gadis Cia Siau hong, paling tidak dia seharusnya seorang pendekar wanita yang dihormati dan disegani setiap orang!"
Cia Siau giok segera tertawa.
"Ting toako agaknya kau lupa, semasa muda dulu ayahku adalah seorang lelaki yang romantis, dia sudah pernah membuat beberapa orang anak gadis jatuh cinta kepadanya!"
Hal itu memang benar, kisah romantis tentang ayahmu memang sama tersohornya dengan kehebatan ilmu pedangnya!"
"Sedikit banyak yang menjadi anak gadisnya pasti akan mendapat warisan pula atas watak dari ayahnya, kalau aku adalah putranya, maka aku pasti dapat menarik perhatian banyak sekali anak gadis!"
Ting Peng tak dapat menyangkal akan ucapan tersebut. Sambil tertawa kembali Cia Siau giok berkata.
"Tapi aku justru adalah anak gadisnya, maka aku hanya bisa menarik perhatian kaum lelaki, jika aku harus menurut adat kesopanan dan adat istiadat untuk menjadi seorang gadis yang halus dan alim, maka hal tersebut malah sama sekali bukan sifat dari seorang anak gadis Cia Siau hong"
Mengenai masalah ini, Ting Peng juga tak dapat menyangkal, maka Cia Siau giok pun berkata lebih lanjut.
Sekalipun ayahku amat romantis, namun dia tak cabul, perempuan-perempuan yang menjadi pilihannya juga merupakan perempuan-perempuan cantik, perempuan cantik yang sukar dijumpai diantara seribu orang perempuan cantik lainnya!"
Ketajaman mata Cia sam sauya dalam memilih perempuan memang termasyhur karena ************************* Halaman 53 s/d 58 hilang ************************* menghajar sebanyak dua puluh kali saja dan segera menghentikan perbuatannya.
Tapi Cia Siau giok sudah menangis tersedu-sedu dengan teramat sedihnya.
Dengan dingin Ting Peng mendorong tubuhnya ke tanah, kemudian sambil memandangnya dengan dingin dia berkata.
"Andaikata kau bukan putrinya Cia Siau hong sekali bacok aku telah menghabisi nyawamu, karena kau adalah putrinya Cia Siau hong maka aku baru mewakilinya untuk memberi pelajaran kepadamu, kau memang membutuhkan suatu pendidikan secara baik.. Cia Siau giok berbaring di atas tanah, dia hanya bisa miringkan badan sambil memukul-mukul tanah, makinya dengan suara lantang.
"Ting Peng kau si anak kura-kura, cucu kura-kura, kau bukan manusia, kau adalah seekor babi, seekor anjing ...."
Tapi babi tersebut, anjing tersebut sudah tidak mendengar lagi caci maki serta sumpah serapahnya.
Ting Peng sudah beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah menyumpahi beberapa waktu Cia Siau-giok menjadi jemu sendiri, ia pun segera menghentikan caci makinya, mula-mula masih menggertak gigi, menyusul kemudian diapun tertawa.
Siapapun tidak menyangka setelah menerima hajaran yang luar biasa, dia masih dapat tertawa.
Tapi Cia Siau-giok memang sedang tertawa, bahkan dia sedang tertawa dengan amat gembiranya.
Apakah diapun mengidap suatu penyakit suka dihajar orang?"
Pertanyaan itu segera diajukan seseorang, dia adalah seorang perempuan setengah umur, wajahnya biasa dan paras mukanya tidak menunjukkan perubahan apa-apa, dia masuk ke dalam dengan begitu saja, kemudian setelah mengawasi Cia Siau-giok berapa saat dia menegur.
"Siau giok apakah kau mempunyai persoalan?"
Cia Siau-giok segera berpaling dan menjawab.
"Tidak, Ting Hiang, aku tidak mempunyai persoalan!"
Ternyata perempuan itu bernama Ting Hiang, melihat sikap dan panggilannya terhadap Cia Siau giok, hal ini membuat kedudukan perempuan itu menjadi aneh, tidak seperti atasan, tidak seperti pula orang bawahan.
Hubungannya dengan Cia Siau giok amat akrab, tapi dia memanggil Cia Siau giok langsung dengan namanya, sedang Cia Siau giok juga langsung memanggil namanya, hal ini menunjukkan kalau dia bukan apa-apanya Cia Siau giok, tapi siapakah perempuan itu?
Dengan suara dingin kembali Ting Hiang berkata.
""Sebenarnya tadi kau mempunyai banyak kesempatan untuk membinasakan dirinya""
Dengan cepat Cia Siau giok menggeleng.
"Aku sama sekali tak ada kesempatan, dia terlalu licik dan teliti, belum lagi panah terbang bunga mawar bergerak dia sudah tahu, masih ada lagi kelambu Ting Hiang ciang milikmu, hanya bergerak sedikit saja sudah dibabatnya sampai putus menjadi dua!"
"Tapi itu toh baru dua macam, padahal disini terdapat sembilan macam alat perangkap!"
"Aku percaya tak ada semacampun yang dapat mengelabuhi dirinya, paling banter hanya mencari penyakit buat diri sendiri, kau toh sudah melihat sendiri, dia meneguk secawan embun dewa Sin sian tok, alhasil dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, bunga-bunga beracun dan bubuk-bubuk beracun juga telah dikeluarkan tapi tidak mendatangkan hasil apa apa ...."
Ting Hiang termenung dan berpikir sesaat kemudian, baru ujarnya.
"Bocah keparat itu memang benar-benar merupakan seseorang lelaki keras yang belum pernah kujumpai seratus tahun terakhir ini, dibandingkan dengan ayahmu semasa mudanyaa dulu masih jauh lebih sukar dihadapi.
"Ting Hiang, bagaimana dengan ayahku semasa masih mudanya dahulu?"
Tanya Cia Siau giok kemudian.
"Tidak selisih jauh, cuma hatinya kelewat lembek, terutama sekali bila berhadapan dengan perempuan, hatinya tak dapat dikeraskan kembali, tidak seperti keparat itu, ternyata dia tega untuk menghajar pantatmu""
Wajah Cia Siau giok nampak berseri-seri, katanya.
"Hanya lelaki semacam dialah merupakan seorang lelaki yang sejati, berani berbuat dan berani bertanggung jawab"
"Apakah kau suka digebuki olehnya?"
Cia Siau giok menghela napas panjang.
"Aaai... tiada orang yang gemar digebuki, akupun tidak memiliki penyakit semacam itu, aku tidak suka bertelanjang bulat dan membiarkan seorang lelaki menghajar pantatku!"
"Tapi tampaknya kau merasa sangat gembira, bahkan masih dapat tertawa girang"
"Yaa, aku gembira karena dia menghajarku, hal ini membuktikan kalau dia benar-benar menyukai diriku, memperhatikan aku, karena perbuatanku memang pantas untuk dihajar."
Mendadak paras mukanya berubah menjadi pedih dan sedih kembali, dia melanjutkan.
"seandainya sejak kecil ada orang yang mendidikku dengan cara begini, memberi nasehat kepadaku, maka aku tidak akan bersikap jalang seperti saat ini"
"Benar"` sahut Ting Hiang agak emosi.
"Siau giok, hal ini harus menyalahkan ayah mu, seandainya dia mau datang menjenguk ibumu, kaupun tak akan mengalami nasib seperti hari ini!"
Kedua orang itu terbungkam untuk beberapa saat lamanya, kemudian Ting Hiang berkata lagi setelah menghela napas panjang.
"Cepat kenakan pakaianmu, sebentar Cia Im gak akan datang kemari....!"
"Mau apa dia datang kemari? Suruh dia enyah sejauh-jauhnya dari hadapanku!"
Teriak Cia Siau giok dengan perasaan muak. (Bersambung
Jilid 16)
Jilid .
16 ************************* Halaman 3 -4 hilang ************************* "Aaai, Siau-giok, mengapa kau mengucapkan perkataan semacam itu, jangan lupa tempo hari aku sendirilah yang telah turun tangan untuk mengebiri dirinya!"
"Aku tahu"
Kata Cia Siau-giok sambit tertawa.
"demi menunjukkan rasa baktimu kepada ibuku kau baru melakukan tindakan seperti ini, padahal kau tak usah berbuat demikian!"
"Sudah seharusnya berbuat demikian!"
Karena kewibawaan Kiongcu tak boleh dinodai oleh siapapun!"
Kata Ting Hiang dengan wajah bersungguh dan amat serius. Kembali Cia Siau-giok menghela napas panjang.
"Ting Hiang, benarkah ibuku mempunyai suatu daya pengaruh iblis yang luar biasa dan tiada orang yang dapat melawannya!"
"Tapi dia toh tidak berhasil juga menangkap ayahku, seperti juga sekarang aku gagal mencengkeram Ting Peng, hal ini membuktikan kalau dikolong langit masih terdapat kaum lelaki yang tak dapat di tundukkan dengan kecantikan wajah seseorang!"
"Benar"
Sahut Ting Hiang sambil menghela napas.
"cuma lelaki semacam itu teramat sedikit sekali, oleh karena itulah ibumu harus hidup menderita seumur hidupnya karena ayahmu, seandainya kau ingin hidup berbahagia didalam kehidupanmu selanjutnya, lebih baik lupakan saja lelaki yang bernama Ting Peng itu...."
"Tapi, dapatkah aku untuk melupakannya?"
Kata Cia Siau giok sambil menghela napas.
Kecantikan wajah seorang perempuan memang dapat membuat lelaki yang pernah menjumpainya membayangkan selalu, tapi lelaki yang dapat menggetarkan hati perempuan justru mendatangkan bayangan yang merasuk sampai ke tulang sumsum.
Justru karena itulah, bila lelaki tersebut menghianatinya di kemudian hari, maka pukulan batin yang dia berikan terhadap dirinya akan terukir pula didalam hatinya sepanjang masa.
Banyak kisah kejadian yang berlangsung di dalam dunia persilatan terjadi karena keadaan seperti ini.
Seperti juga Ting pek im, oleh karena dia ditinggalkan oleh Pek Thian yu maka karena cinta tumbuh perasaan bencinya, sehingga akhirnya dia bersekongkol dengan Be Khong kun untuk memusnahkan segenap anggota keluarga dari Sin to bun.
Kisah cerita tersebut telah turun temurun berabad lamanya, tapi hingga kini masih tetap populer dalam masyarakat.
Seperti juga kisah cerita Cia Siau hong dengan Buyung Ciu ti dimasa lampau.
Ibu kandung Cia Siau giok adalan seorang Kiongcu dari suatu istana, tentu saja pemilik istana tersebut bukanlah Buyung Ciu ti, tapi dia kemungkinan besar adalah Buyung Ciu ti kedua.
Untuk melampiaskan rasa dendam dan sakit hatinya, Buyung Ciu ti berusaha keras untuk memusnahkan dan melenyapkan nyawa lelaki yang bernama Cia Siau hong.
Sebaliknya ibu kandung dari Cia Siau giok justru bertekad untuk memusnahkan perkampungan Sin kiam san ceng milik keluarga Cia yang teramat termashur itu.
Oleh sebab itulah dia baru mengutus putrinya datang ke perkampungan Sin kiam san ceng dan menjadi pemilik dari perkampungan Sin kiam san ceng tersebut, tapi sanggupkah dia untuk memusnahkannya?
Cia Siau hong sendiri seakan-akan acuh terhadap persoalan itu, tapi disana masih ada Ting Peng.
Sekalipun Ting Peng bukan anggota perkampungan Sin kiam san ceng, tapi selama Ting Peng berada disana, dia tak akan membiarkan orang untuk memusnahkan perkampungan Sin kiam san ceng tersebut.
Karena Cia Siau hong selain teman yang paling dihormati olah Ting Peng, dia pun merupakan musuh yang paling dihormati pula olehnya.
Dan hal inipun dikarenakan Ting Peng pribadi merupakan orang yang paling diperhatikan dan mendapat sorotan dari pelbagai pihak, terutama dari pihak Cia Siau giok.
oooOooo SEGEROMBOLAN ORANG GILA EMPAT ekor kuda jempolan menghela sebuah kereta kencana yang amat indah sedang berlarian menelusuri jalan raya, Ah Ku mengayunkan cambuknya ditengah udara dengan penuh bersemangat.
Setelah meninggalkan perkampungan Sin kiam san ceng.
Ting Peng hanya mengucapkan sepatah kata terhadap Ah Ku.
"Gunakan kecepatan yang paling tinggi untuk memasuki kota terbesar disekitar tempat ini. Untuk berbicara dengan Ah Ku memang merupakan pekerjaan yang menghemat waktu dan tenaga tak perlu memberikan penjelasan yang kelewat banyak, cukup kata perintah yang paling singkat sekalipun.. Maka begitu kereta turun dari perahu, Ah Ku segera melarikan keretanya dengan kecepatan tinggi. Kereta tersebut sudah merupakan tanda pengenal bagi Ting Peng, perlambang bagi Ting Peng, walaupun semua orang tidak melihat Ting Peng, tapi setiap orang tahu kalau Ting Peng pasti berada didalam kereta tersebut. Maka semua orang segera menyingkir, melihat Ah Ku melarikan keretanya dengan kecepatan tinggi. Tiada orang yang bertanya bagaimana keadaan Ting Peng dalam perkampungan Sin kiam san ceng, dan bagaimana pula hasil pertarungannya dengan Cia Siau hong. Persoalan tersebut telah diterangkan oleh Cia Sianseng jauh sebelum pemuda itu menampakkan diri. Hasil pertarungan antara Ting Peng melawan Cia Siau hong adalah seri, tiada yang menang dan tiada pula yang kalah, setiap orang telah mengetahui akan hal ini, semua orang pun merasa sangat gembira. Tapi toh ada juga yang mengikuti di belakangnya, mereka ingin mengetahui peristiwa apa lagi yang bakal terjadi? Ting -Kongcu melakukan perjalanan dengan tergesa gesa, itu berarti ada sesuatu kejadian penting yang akan berlangsung siapakah yang akan menyia-nyiakan keramaian semacam ini? Sekalipun ada urusan yang lebih penting pun, mereka akan menunda persoalan tersebut untuk menyaksikan apa yang telah terjadi, apalagi sekarang mereka tidak mempunyai persoalan yang terlalu penting. Yang paling menyenangkan menjadi seorang anggota persilatan adalah kesantaian mereka. Mereka tak perlu berkeluh kesah karena harus mencari uang, merekapun tak pernah memikirkan soal kehidupan, dalam saku merekapun seakan-akan terdapat uang yang tak akan habis digunakan, sekalipun tiada orang yang pernah menjadi kaya, tapi jarang sekali ada orang persilatan yang mati karena kelaparan. Siapapun tak tahu darimana mereka mendapat uang, tapi setiap orang dapat hidup dengan gembira dan royal. Seakan-akan mereka mempunyai banyak cara yang aneh dan luar biasa untuk menghidupkan kehidupan mereka yang serba aneh dan luar biasa, dan mereka sedikit pun direpotkan oleh persoalan-persoalan yang serba aneh dan luar biasa pula. Sekarang mereka sedang mengejar kereta yang ditumpangi Ting Peng, hal semacam ini pun boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang aneh dan luar biasa. Tentu saja mereka kenal dengan Ting Peng, tapi Ting Peng belum tentu akan kenal dengan mereka. Ting Peng melakukan perjalanan dengan begitu tergesa-gesa, tentu saja dia tak akan berhenti untuk menunggu mereka, sekalipun Ting Peng berhasil mereka susul, belum tentu dia akan mengundang mereka untuk makan bersama. Tapi mereka melakukan pengejaran dengan amat ketat, paling tidak jauh lebih kencang daripada larinya ke empat ekor kuda jempolan yang menghela kereta tersebut. Kuda itu lari dengan sekuat tenaga karena dikendalikan oleh ayunau cambuk dari Ah Ku. Tiada orang yang mengayunkan cambuk terhadap mereka, tapi mereka tetap berlarian dengan sekuat tenaga, dua kaki untuk menerjang enam belas buah kaki. Tentu saja pekerjaan semacam ini merupakan suatu pekerjaan yang sangat payah, masih untung kereta itu berlarian di atas jalan raya, jadi kecepatannya kadangkala harus dikurangi sedikit, sebab yang melalui jalan raya itu toh bukan hanya mereka saja, melainkan masih banyak yang lainnya. Tapi itupun hanya pelan sedikit saja, kereta masih tetap bergerak dengan cepat-cepat. Mendadak seorang bocah cilik meloncat keluar dari balik persimpangan jalan dan lari ke tengah jalan raya. Dia adalah seorang bocah cilik, berusia tujuh delapan tahun, dia lari keluar menonton keramaian kereta, tertarik oleh debu yang mengepul memenuhi angkasa. Hanya sayang arah yang dituju tidak benar dan secara kebetulan justru menghalangi ditengah jalan raja. Kuda yang menghela kereta masih menerjang ke muka dengan kecepatan tinggi, siapa bisa membuat mereka berhenti, tampaknya kereta tersebut segera akan menerjang bocah itu Seandainya diterjang oleh sekawanan kuda jempolan dan ditindih oleh kereta yang begitu besar niscaya bocah tersebut akan mati. Cambuk panjang tiba-tiba menggulung ke depan, tahu-tahu bocah cilik itu sudah terbang ke angkasa dan pelan-pelan dialihkan ke sisi jalanan, sedang kereta itu meneruskan geraknya meluncur ke muka.
"Ternyata bocah itu tidak merasakan apa-apa, dia malah masih bertepuk tangan sambil bersorak sorai. 0rang lain mengucurkan peluh dingin karena cemas, tapi kemudian mereka pun ikut bersorak sorai. Benar-benar ilmu mengendalikan kereta yang lihay, benar-benar ilmu cambuk yang jitu dan sungguh sempurna tenaga dalamnya. Bila salah satu saja dari ketiga unsur itu tidak dimiliki, jangan harap bocah tersebut dapat diselamatkan jiwanya, tapi secara jitu dan tepat Ah Ku dapat melakukannya dengan sempurna. ooo0ooo ORANG-ORANG yang menyusul dari belakangan semua bersorak sorai memberikan pujiannya, tapi Ah Ku tidak mendengarnya, karena selain tuli diapun bisu. Dia hanya mengerti orang berbicara, tapi harus dibaca dulu dari gerakan bibir orang. Diapun dapat memperhatikan suara yang paling kecil dan gerakan yang paling mendadak sekalipun, tapi bukan menggantungkan dari pendengaran, melainkan dari perasaan. Cuma saja, orang-orang yang mengikuti di belakangnya merasa sangat puas, mereka telah menyaksikan suatu keistimewaan, suatu demonstrasi kelihaian yang luar biasa, hal itu sudah cukup untuk meraih kembali modal mereka yang mengejar dengan susah payah. Setelah masuk ke dalam kota, kereta itu berhenti di depan sebuah rumah penginapan yang terbesar. Orang-orang yang menyusul sampai di situ tidak melihat Ting Peng masuk ke dalam sebab kedatangan mereka terlambat selangkah, tapi mereka menyaksikan pelayan-pelayan dari rumah penginapan itu sudah berlarian keluar semua dan menyebar ke empat penjuru. Mereka seakan-akan hendak melakukan suatu tugas yang sangat penting. Walaupun kawanan jago persilatan itu tidak berani bertanya langsung kepada Ting Peng, mereka berani menangkap pelayan untuk diminta keterangan, seorang pelayan segera ditangkapnya beramai-ramai.
"Apakah Ting kongcu berdiam di dalam rumah penginapan kalian?"
"Benar, dia telah memborong sebuah ruangan tersendiri yang terbaik dimana terdapat kebun, ruangan tengah serta belasan buah kamar tidur "
"Hanya seorang diri dia berdiam di situ?"
"Tidak, dua orang masih ada seorang kusirnya yang kaku seperti malaikat!"
""Buat apa dia seorang diri menempati halaman yang begitu besar?"
"Entahlah, mungkin dia akan berpesta di situ"
"Pesta? Siapa yang akan diundang?"
"Entahlah, tapi mungkin banyak sekali dan tamunya merupakan tamu-tamu penting, karena dia menyuruh kami untuk memesan sepuluh meja perjamuan yang paling baik di rumah makan yang terbaik dan kemudian suruh kami mengundang semua pelacur yang paling cantik di kota ini untuk menghadirinya, paling tidak harus lima puluhan orang"
"Berapa banyak pelacur yang cantik di kota ini?"
"Berbicara sejujurnya, kalau dihitung dengan mereka yang paling jelekpun tak sampai lima puluh orang, tapi kongcu itu terlalu royal, setiap pelacur bersedia membayar sepuluh tahil emas, karena itu sekalipun tidak ada juga harus dicarikan sampai dapat"
"Kemana kau hendak cari ?"
"Kalau upahnya sepuluh tahil emas, sekalipun bukan pelacur juga pasti bersedia untuk menjual diri satu kali, aku mempunyai dua orang adik perempuan dan di tambah seorang biniku, paling tidak kan bisa ditambah tiga orang lagi?"
"Apa kau hendak menyuruh bini dan adik perempuanmu menjadi pelacur?"
"Benar, sekali bekerja bisa meraih keuntungan sepuluh tahil emas, kesempatan semacam ini tak akan bakal bisa dijumpai lagi, sayang putriku masih terlalu kecil, dia baru lima tahun, kalau tidak aku pasti akan berhasil meraih keuntungan sepuluh tahil emas lagi"
Orang yang mengajukan pertanyaan itu segera menghela napas panjang, sambil melepaskan tangannya dia berkata.
""Kalau begitu cepatlah pergi, jangan sampai menunda kesempatanmu untuk menjadi kaya . ."
Dia benar-benar mengagumi pelayan ini, tapi justru ada dua orang yang lebih membuatnya kagum telah munculkan diri.
Mereka adalah sepasang kakak dan adik, bahkan merupakan pendekar-pendekar perempuan yang punya nama dalam dunia persilatan.
Sang enci bernama Tu Ling ling, sang adik bernama Tu Tin-tin, yang seorang bergelar Hek-sui sin, sedang yang lain bernama Sui Sian Mereka tidak terhitung amat cantik, tapi juga tak bisa terhitung terlalu jelek.
Mereka adalah piausu dari suatu perusahaan pengawalan barang yang tidak terlalu besar, tidak pula terlalu kecil, sedang ilmu pedang yang mereka miliki tidak terhitung kelewat lihay, juga tidak termasuk terlalu cetek.
Oleh karena itu meski mereka tidak terhitung amat ternama, namun mereka pun bukan manusia yang tak bernama.
Usia mereka tidak terhitung terlalu besar, tapi juga tidak kecil.
Tetapi cara kerja mereka pada saat ini justru amat mengejutkan hati setiap orang.
Tu Ling-ling telah memanggil pelayan itu sembari berkata.
"Hei, untuk sesaat kau toh tak akan mendapatkan orang sebanyak itu bagaimana kalau kami dua bersaudara pun kau masukkan dalam hitungan?"
Pelayan itu kontan saja membelalakkan matanya, dia bukan merasa heran karena sikap kedua orang gadis itu, karena dia sama sekali tidak kenal dengan mereka dia hanya merasa berat hati untuk membagikan harta kekayaan itu untuk mereka.
Agaknya Tu Tin tin memahami maksudnya, sambil tertawa dia lantas menyusupkan dua keping uang perak ke tangannya sembari berkata.
""Kami tidak menghendaki uang emas, uang emas itu boleh kau ambil bahkan kami tambah dua puluh tahil perak tentu untukmu, Hampir saja, pelayan itu menganggap ke dua orang perempuan itu sudah gila, tapi dia sendiri adalah seorang yang normal dan sehat, karena itu diapun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Bukan saja dia telah mengantungi uang perak itu bahkan masih bertanya lagi.
"Nona berdua, apakah kalian masih mempunyai teman yang mau ikut pula didalam jual beli ini?"
Tak tahan Tu Ling ling segera tertawa cekikikan.
"Kau benar-benar tak tahu diri, usaha sebaik ini bukan bisa jadi dalam sehari saja"
Pelayan itu segera tertawa.
"Bulan berselang aku telah melihatkan nasibku, menurut peramal si buta Ong, dia bilang tahun ini rejekiku sedang nomplok, paling tidak aku bakal kejatuhan rejeki tiban seratus tahil emas, pada mulanya aku mengira dia sedang mengaco belo, siapa tahu rejeki benar-benar datang pada hari ini di rumahku ada tiga orang, ditambah lagi kedua orang nona ini berarti sudah lima puluh tahil, kalau toh ramalan dari si buta Ong begitu cocok, maka aku pikir pasti masih ada lima puluh tahil emas lagi."
"Betul. Ramalan dari si buta Ong memang tepat sekali, kau memang sepantasnya untuk meramalkan lagi nasibmu!"
Sepasang mata pelayan itu terbeliak besar karena orang yang barusan berbicara adalah seorang gadis cantik jelita bersama seorang pelayan.
Jangankan si gadis itu, dayangnya yang berbaju hijau itupun jauh lebih cantik dan menarik daripada dua bersaudara Ti.
Hampir saja pelayan itu tertegun, untuk sesaat dia tak sampai mampu berbicara.
Terdengar gadis cantik itu berkata lagi sambil tertawa.
"Kau juga tak usah mencari bini dan adikmu lagi, sekarang juga aku dapat membayar seratus tahil emas untukmu"
Dia memberi tanda, dayang berbaju hijau yang berada di sisinya segera mengangsurkan sebuah bungkusan, bungkusan itu amat berat, ketika dibuka ternyata isinya emas lantakan semua.
Hampir saja pelayan itu tidak percaya dengan apa yang dilihat, dia mengambil sekeping dan di rabanya sekejap, terasa dingin, manis ....
dengan cepat ia menggigitnya beberapa kati.
Emas itu memang keras dan dingin, jelas merupakan emas murni, emas asli.
Dengan mata terbelalak ia segera menggigit jari tangan sendiri, dia ingin tahu apakah dirinya sedang bermimpi.
Dengan cepat dia jumpai emas itu asli semua dan diapun bukan lagi bermimpi.
ooo0ooo CINTA RASE PERISTIWA aneh akan terjadi setiap tahun, tapi tahun ini nampaknya luar biasa banyaknya.
Karena tahun ini, didalam dunia persilatan telah muncul seorang Ting Peng.
Sejak Ting Peng melakukan suatu pemunculan yang luar biasa dalam pagoda Ang Bwee khek di perkampungan Poan kian tong, tepi telaga See ow dalam bilangan kota Hang-ciu setiap perbuatan yang dia lakukan merupakan suatu peristiwa yang menggemparkan masyarakat.
Tapi bila peristiwa yang menggemparkan itu digabungkan menjadi satu juga tak dapat dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam kota kecil ini saat tersebut, sebab peristiwa itu benarbenar membuat orang tidak percaya.
Segala meja perjamuan telah disiapkan memenuhi ruangan besar, lima puluh orang pelacur juga sudah hadir semua dan mengambil tempat duduk pada kesepuluh buah meja perjamuan tersebut.
Tapi pada setiap meja hanya tersedia enam pasang sumpit, itu berarti setiap meja hanya ada seorang tamu, Ting Peng sebagai tuan rumah duduk di meja sebelah tengah, disampingnya duduk lima orang perempuan yang cantik molek.
Tu Ling ling, Tu Tin tin serta gadis yang canatik itu dibawa masuk paling belakang dan menempati meja yang paling jauh.
Sewaktu mereka masuk Ting Peng tidak menaruh perhatian, juga tidak memandang ke arah mereka, karena waktu itu dia sedang berbincang-bincang sambil tertawa dengan dua orang perempuan yang berada di sisinya.
Kedua orang perempuan ini, yang seorang bernama Sian-sian, sedang yang lain bernama Bi bi, mereka adalah dua orang pelacur paling top dari kota tersebut.
Terhadap dewa uang yang ganteng ini, tentu saja kedua orang pelacur tersebut berusaha untuk menempel dengan sepenuh tenaga.
Sian-sian segera memenuhi cawannya dengan lemah lembut menghantarnya ke tepi bibir Ting Peng, setelah menyuapinya, dia baru berkata sambil tertawa.
"Ting kongcu, mana tamu yang kau undang?"
"Apakah kalian bukan tamuku?"
Sahut Ting Peng sambil tertawa. Bi-bi menjadi tertegun, kemudian serunya.
"Jadi tamu yang kongcu undang adalah kami?"
"Benar, seluruhnya aku telah mengundang lima puluh orang, seandainya semua datang maka tak ada tamu yang lain lagi"
"Kongcu kau seorang diri mengundang lima puluh orang, kakak beradik untuk menemani kau minum arak? "Yaa bukan cuma menemani minum arak saja, kalian yang bisa meniup seruling tiuplah, yang bisa nyanyi, nyanyilah pokoknya aku mengundang kalian untuk menghadiri pesta ku ini sampai besok malam selama masa ini kalian boleh bergembira sepuas-puasnya cuma ada satu syarat yakni tak boleh pergi."
"Kongcu mengapa begitu?"
Tanya Sian-sian agak tertegun pula. Apakah dulu belum pernah ada tamu yang menurunkan syarat semacam ini terhadap kalian?"
"Tenth saja pernah!"
"Orang lain pernah menyuruh kalian datang mereka undang"
"Tentu saja untuk melayani mereka"
Sambut Bi-bi. Ting Peng segera tertawa.
"Aku dikarenakan alasan ini"
Dengan kepala tertunduk Sian-Sian berbisik. `Kongcu, bukan cara semacam ini kami melayani orang!"
"Aku tahu, akupun bukan pertama kali bermain dalam bidang seperti ini, orang-orang lelaki yang ke situ kalau bukan karena arak tentu karena perempuan, mereka biasanya minum arak dulu untuk menambah semaraknya suasana, bila saatnya sudah cocok, barulah bersama-sama naik ke atas pembaringan."
"Ucapan tersebut terlalu blak-blakan, membuat sementara perempuan merasa agak menusuk pendengaran, hati bila teringat pihak lawan adalah seorang langganan yang berani membayar sepuluh tahil emas setiap orang, sekalipun ucapan yang lebih menyakitkan hatipun terpaksa mereka harus menerimanya.
"Kongcu, bagaimanapun juga tentunya kau tak akan menyuruh kami lima puluhan orang bersama-sama naik keranjang untuk melayani dirimu bukan.. .? "seru Sian-Sian. Penampilan yang terlalu berani ini mungkin merupakan alasan mengapa dia menjadi termasyhur di kota tersebut, tapi jawaban dari Ting Peng justru sama sekali berada di luar dugaannya.
"Benar, aku memang bermaksud demikian."
Setiap orang yang hadir di setiap meja dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, oleh karena itu begitu Ting Peng menyelesaikan kata-katanya, suasana didalam seluruh ruangan menjadi gaduh dan dipenuhi jeritan kaget.
Yang paling nyaring suara jeritannya adalah Tu Ling ling dan Tu Tin tin.
Mungkin saja mereka sengaja berbuat demikian untuk menarik perhatian Ting Peng atau mungkin juga benar-benar merasa terperanjat, karena bagaimanapun juga mereka bukanlah pelacur yang benar-benar menjual badannya.
Karena perasaan ingin tahu membuat mereka masuk ke sana untuk mengetahui apa gerangan yang hendak dilakukan Ting Peng.
tapi saatnya suruh mereka naik keranjang untuk melayani Ting Peng, mereka harus mempertimbangkan hal itu.
Terlepas dalam hati kecil mereka setuju atau tidak, yang pasti mereka tak mau melayani Ting Peng di atas ranjang dengan status sebagai seorang pelacur.
Dua macam jeritan lengking yang sangat istimewa itu segera berhasil mencapai pada tujuannya, Ting Peng segera tertarik perhatiannya.
Ketika Ting Peng bangkit berdiri sambil tertawa dan mendekati meja mereka, Tu Ling-ling segera menggertak gigi keras-keras untuk menahan diri, sedangkan Tu Tin tin merasakan jantungnya hampir saja melompat keluar.
Cuma sayang yang menjadi sasaran Ting Peng bukan mereka, pemuda itu berjalan langsung ke hadapan perempuan cantik tersebut dan berseru dengan wajah gembira.
"Cing-cing, kau telah datang!"
Ternyata perempuan itu bernama Cing cing, entah berapa banyak sinar mata iri dan cemburu yang dialihkan ke wajahnya, iri karena kecantikannya dan iri karena dia berhasil merebut perhatian dari Ting Peng.
Ting Peng memang benar-benar telah melupakan semua perempuan lainnya dan hanya memandang wajah Cing cing dan masih mendekat sambil menggandeng tangannya, lalu sambil tertawa dan berseru.
"Aku tahu kau berada dimana-mana, cuma aku tak tahu dengan cara apakah untuk menemukan kau, terpaksa akupun harus menggunakan cara ini untuk mencobanya"
"Caramu ini memang amat istimewa!"
Kata Cing cing sambil tertawa. Ting Peng menghela napas panjang.
""Yaa, apa boleh buat, seandainya kau tidak muncul lagi, terpaksa aku harus menggunakan apa yang ada di depan mata, karena aku benar-benar sangat membutuhkan perempuan!"
"Ting Peng segera menggandeng tangan Cing cing menuju ke kamar belakang, tinggal si dayang berbaju hijau masih berdiri di depan pintu itu berkata sambil tertawa.
Nyonya besar kami telah datang, maka kalian tak diperlukan lagi, bila ada yang ingin pulang silahkan pulang, kalau tak ingin pulang boleh saja bermain-main di sini, bayaran kalian sudah kuserahkan kepada Kasir di depan sana""
"Apa? Nyonya besar kalian? Apakah kongcu itu sudah kawin?..
"Masa keliru? Apakah kalian tidak melihatnya tadi? Ketika berjumpa dengan Cing cing, wajah Ting Peng memang menunjukkan perasaan amat girang, hal inipun tak ada yang mencurigai, tapi masih ada orang yang merasa tidak puas. Terutama sekali Hek sui sian dan Pek sui sian, pertama-tama Tu Ling ling yang berseru lebih dulu sambil tertawa dingin.
"Seandainya dia adalah nyonya Ting kongcu, mengapa tidak datang dan masuk secara langsung, melainkan masuk bersama-sama kami? "Karena nyonya besar kami gemar bergurau"
Sahut gadis berbaju hijau itu sambil tersenyum, lagi pula uangnya kelewat ************************* Halaman 31 s/d 50 hilang ************************* "Siau Im, soal percaya atau tidak itu adalah urusanku, akupun tak bisa memaksa kau untuk berbicara, bila kau enggan mengatakannya kepadaku, kau pasti akan memberitahukan kepada Ah Ku"
"Aku tak ingin membunuhmu, sejak kecil kit sudah hidup sebagai saudara sendiri, akupun bermaksud minta kepadamu untuk mendampingi ku sepanjang hidup, tapi kau hendak mencelakai suamiku, maka aku tak berani mempunyai pikiran seperti itu lagi, kau toh tahu bagaimanapun akrabnya hubungan kita, tak mungkin bisa lebih baik dari pada hubunganku dengan tuan. Siau Im termenung sampai setengah harian lamanya, kemudian baru berkata.
"Orang itu adalah majikan tua"
Hampir saja Cing-cing melompat bangun saking kagetnya. ooo0ooo SETELAH rahasia tersebut terungkap, Siau Im pun merasa rikuh untuk mengelabuhi lebih jauh.
Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 3
Baca Juga: Legenda Kelelawar 7