Ceritasilat Novel Online

Golok Bulan Sabit 4

Eps 4 Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.

Tubuhnya berlompatan beberapa kali di atas telaga yang membeku jadi salju dan kemudian lenyap dibalik kegelapan.

Dia, seperti merasa kuatir bahwa ada orang yang memaksanya untuk mengutarakan rahasia tersebut, sebab bagaimanapun juga rahasia tersebut tak mungkin akan di utarakan keluar.

Terdengar Thi yan tianglo berkata.

"Selama hidup, aku sudah banyak membunuh orang, sekarangpun aku masih mempunyai sebuah tangan, untuk membunuh orang, bila hari aku tidak mati, cepat atau lambat setiap orang yang berada di sini akan kubunuh satu persatu, siang dan malam kalian biar merasa kuatir, merasa gelisah karena harus berjaga-jaga atas kedatanganku, siapa tahu dikala kalian sadar dari impian, kamu semua telah berubah menjadi setan penasaran"

Perkataan itu diucapkan amat lambat, sepatah demi sepatah di utarakan keluar, dalam setiap patah kata itu seakan-akan terkandung sumpah keji dari setan iblis.

Ketika sepatah demi sepatah kata yang dia utarakan itu mendengung di sisi telinga semua orang, tanpa terasa bulu kuduk mereka pada bangun berdiri.

Setiap orang tahu, dia adalah seorang yang bisa berkata bisa pula untuk melaksanakannya.

Kembali Thi yan tianglo berkata.

"Oleh sebab itu, hari ini tidak seharusnya kalian membiarkan aku meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, cuma sayang kalian justru tak mampu membunuh aku!"

Siapapun tak dapat menyangkal akan hal ini, siapapun tak berani bermusuhan dengan pihak Sin kiam san ceng dan tujuh partai pedang. Namun aku sendiri masih dapat membunuh diriku sendiri"

Ucap Thi yan tianglo jauh-jauh. Ditatapnya wajah Ting Peng lekat-lekat, lalu sambungnya.

""Asal kau bersedia menerangkan kepadaku bagaimana caramu mempelajari ilmu golok yang barusan kau pergunakan, seketika itu juga aku akan mati di sini"

Ternyata dia rela mengorbankan selembar jiwanya untuk memperoleh ganti rahasia tersebut.

Bagaimanakah cara Ting Peng melatih ilmu golok tersebut?

Apa hubungannya antara persoalan ini dengannya?

Mengapa dia ingin semua orang berharap Ting Peng bersedia untuk mengatakannya secara terus terang .

Setiap orang segera diliputi perasaan ingin tahu, sebab persoalan itu sendiri memang cukup menimbulkan rasa ingin tahu setiap orang.

Selain itu, setiap orangpun berharap Thi yan bisa cepat-cepat mampus.

"Kau bersedia untuk mengatakannya atau tidak ?"

Thi yan tianglo menegaskan.

"Tidak !"

Jawaban dari Ting Peng pun cukup sederhana dan ringkas, bagaikan sebatang paku saja.

"Kau benar-benar tak akan berbicara?"

Bentak Thi yan tianglo semakin lantang.

"Kau tak akan mampu membunuh aku, sebaliknya setiap saat aku dapat membunuhmu, hari ini mungkin saja ku ampuni selembar jiwamu, tapi lain waktu, jika kau berani membunuh satu orang saja, segera kurenggut nyawamu."

Kemudian pelan-pelan dia melanjutkan.

"Sekeping lencana besi Bian si thi leng paling banter Cuma bisa menyelamatkan jiwamu sekali, kujamin lain waktu tak seorang manusiapun yang sanggup menolong dirimu, sekalipun Sin kiam san-ceng mendatangkan Cia cengcu sendiripun, akan kubunuh dirimu lebih dulu sebelum memperbincangkannya."

Semua perkataan itupun diucapkan dengan suara pelan, diutarakan sepatah demi sepatah, dalam setiap patah kata itu terbawa suatu kekuatan tak bisa tidak untuk mengakuinya, semacam kekuatan yang tak mungkin bisa dilawan.

Dalam sekejap mata, dari seorang pemuda yang lembut tahu-tahu sudah berubah seperti seorang raksasa yang tinggi besar.

Dari balik mata Cia Siau giok kembali terpancar keluar perubahan perasaan yang sangat kalut.

Berbeda sekali dengan mimik wajah dari Thi yan tianglo, dari balik matanya seakan-akan terpancar keluar sepasang api beracun, sebilah pisau beracun, seekor ular beracun dan sumpah keji dari segenap iblis buas dari langit maupun bumi.

""Kuanjurkan kepadamu, paling baik kalau sekarang juga kau pergi meninggalkan tempat ini!"

Terdengar Ting Peng berkata lagi.

"Tentu saja aku akan pergi, tapi aku pun mempunyai suatu persoalan yang bagaimanapun juga mau tak mau harus kusampaikan juga kepadamu!"

""Kalau begitu katakan saja!"

Pelan-pelan Thi yan tianglo menarik napas panjang, lalu berkata.

"Entah dari manapun kau pelajari ilmu golok itu, di kemudian hari pasti akan mendatangkan bencana yang tiada taranya bagimu"

Kemudian dengan sorot mata yang berapi-api, memancarkan sinar kebengisan dan kebencian yang meluap-luap, dia melanjut-kan kembali kata-katanya.

"Sekalipun kau dapat mempergunakan golok tersebut untuk malang melintang di dalam dunia persilatan, sekalipun kau dapat menjagoi seluruh kolong langit, menjadi jagoan yang tak terkalahkan di dunia ini dan menguasahi seluruh dunia ini, namun bencana tersebut akan selalu mengikuti dirimu, nasib sial dan musibah tragis akan selalu menempel dirimu. baik siang atau malam, setiap detik setiap menit, setiap saat selalu mengikuti dirimu, sekalipun kau bisa mempergunakan golok itu untuk mendapatkan nama yang besar kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang melimpah, akan tetapi selama hidupmu di dunia ini, kau pasti akan hidup di dalam penderitaan, hidup tersiksa, tersiksa raga dan batin selama hidup tak akan pernah merasakan kebahagiaan sepanjang hidup sengsara terus tersiksa terus menderita dan sedih sampai mampus! Selamanya tiada kegembiraan bagimu, tiada kesenangan yang bisa kau rasakan, kau akan menderita, menderita terus sepanjang jaman, sampai kiamatnya dirimu ...."

Mendadak ia mendongakkan kepalanya menghadap langit, kemudian jeritnya dengan suara parau.

"Dengan disaksikan oleh semua iblis semua setan dan semua dedemit yang ada di langit dan bumi, sumpah ini moga-moga akan terkena pada dirimu dan itulah nasibmu sepanjang masa!"

Itulah sumpah kejinya!

Sumpah yang betul-betul teramat keji.....

ooo0ooo PERPISAHAN ANGIN dingin berhembus lewat di atas telaga yang beku oleh salju, dalam kegelapan entah ada berapa banyak setan iblis, ataupun dedemit yang ikut mendengarkan sumpah kejinya itu.

Kemudian suami istri berdua itupun melenyapkan diri dibalik kegelapan jauh lebih pekat daripada gumpalan darah, lenyap di balik kerumunan setan iblis.

Ting Peng hanya mendengarkan saja dengan tenang, tampaknya dia seperti amat tenteram dan sama sekali tidak terpengaruh.

Tiba-tiba Cia Siau giok menerjang ke depan, menarik tangannya seraya berseru.

"Jangan sekali-kali kau dengarkan perkataan setan mereka!"

Tangannya amat dingin bagaikan es, namun suaranya justru lembut dan hangat.

"Jangan sekali-kali kau percayai perkataan setan semacam itu, walau hanya sepatah katapun. Ting Peng termenung sampai lama, kemudian dia baru berkata lambat-lambat.

"Kadangkala omongan setan justru akan manjur!."

Tangan Cia Siau giok makin dingin, sedemikian dinginnya sampai menggigil. Ting Peng memperhatikan wajahnya, tiba-tiba ia tertawa.

"Namun apa yang mereka ucapkan tak sepatah yang kupercayai, sebab apa yang mereka ucapkan bukan perkataan setan, mereka adalah manusia bukan setan."

Cia Siau giok turut tertawa. Suaranya berubah semakin lembut.

"Sekalipun mereka benar-benar adalah setan, aku percaya kaupun tak akan takut kepada mereka, aku percaya entah di langit atau di bumi, tiada persoalan yang bisa membuatmu menjadi ketakutan!"

Dalam dunia ini masih terdapat persoalan apa lagi yang jauh lebih menarik perhatian seorang pria daripada pujian dari seorang gadis cantik?

Apalagi kalau lelaki itu kebetulan merupakan seorang pahlawan daripada orang yang dipujinya itu.

Di dunia ini masih terdapat persoalan apalagi yang bisa membuat seorang pria merasa bangga daripada rasa percaya seorang gadis yang tanpa dosa kepadanya?

Apalagi jika gadis itu adalah seorang gadis yang cantik jelita?

Akan tetapi Ting Peng sama sekali tidak terpengaruh oleh kesemuanya itu, dia tidak menjadi mabuk kepayang.

Betul dia seorang pria tapi ia bukan seorang pria sembarangan.

Dia mempunyai seorang istri "rase"

Cing cing, sepintas lalu baik Cing-cing maupun Cia Siau giok sama-sama tampak cantik, sama-sama tampak suci bersih.

Kalau Cing-cing banyak memancarkan sinar mata yang penuh dengan kepercayaan serta pujian tanpa bersuara, maka Cia siau giok lebih banyak menampilkan ke semuanya itu dengan berbicara.

Terhadap gejala semacam ini, selain ia sudah menjumpai dan lagi tampaknya sudah agak jenuh.

Apalagi didalam hatinya masih terdapat suatu kejadian yang membuatnya selalu sakit hati.

Itulah perbuatan dari istri Liu Yok siong, si perempuan yang mengganti namanya menjadi Ko siau, seekor anjing betina yang rendah dan tak tahu malu.

Justru perempuan itulah yang benar-benar telah menipunya, menipu dengan mengandalkan kepolosan dan kelincahan seorang gadis sehingga nama baik serta martabatnya betul-betul ternoda.

Itulah sebabnya senyuman yang semula menghiasi ujung bibirnya mendadak berubah jadi beku, suaranyapun turut membeku, dengan dingin dia melepaskan diri dari cekalan Cia Siau giok, kemudian ujarnya dingin.

"Kau benar-benar adalah putrinya Cia Siau hong?"

Dengan terperanjat Cia Siau-giok mengawasinya, dia tak tahu persoalan apakah yang telah membuat lelaki tersebut berubah menjadi begitu dingin dan kaku. Terpaksa dengan nada ketakutan ia menjawab.

"Bee......benar !"

"Akan tetapi setiap orang mengatakan kalau Cia Siau-hong tidak beristri!"

Kata Ting Peng lagi dingin. Cia Siau giok segera tertawa.

"Apa yang dilakukan ayahku selama ini memang jarang sekali diketahui orang lain, perkampungan Sin kiam-san-ceng pun jarang sekali dikunjungi orang. darimana mungkin orang lain bisa mengetahuinya."

Ting Peng segera tertawa dingin.

"Heeeehh... heeeehhh.... heeeehhh..... Cia Sam-sauya yang namanya sudah termasyhur di seluruh kolong langit, sudah barang tentu tak akan sudi untuk berhubungan dengan orang-orang awam"

Tiba-tiba Cia Siau giok seperti menjadi paham, dia segera tertawa dan berkata.

"Oooh .... rupanya kau menjadi marah lantaran ayahku tidak menerima undanganmu?"

"Tidak berani, aku hanya sekalian memberi kartu undangan kepadanya, aku tidak maksudkan dia benar-benar mesti datang kemari!"

"Dalam hal ini, kau harus dapat memaafkan dia, selama banyak tahun ini ayahku sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia, jangan toh orang lain, beberapa orang sobat karibnya yang sudah dikenal banyak tahun pun selalu dihindari"

Di atas wajahnya yang tak berdosa kembali tersungging sekulum senyuman manis, lanjutnya.

"Akan tetapi, ketika aku ingin kemari, ternyata dia tidak melarang, malahan suruh Sang Ceng dan Thian It hui melindungi aku, hal ini menunjukkan kalau diapun menaruh hormat kepadamu!"

Kembali Ting Peng tertawa dingin.

"Memang seharusnya menaruh hormat sebab orang yang dikirim untuk melindungimu itu bukan saja tidak melindungimu, malahan sudah mendatangkan banyak kesulitan, sebaliknya aku seorang manusia yang tidak dipandang sebelah mata olehnya, justru tidak acuh untuk melakukan kesalahan terhadap tianglo Mo kau yang ditakuti setiap orang dan menyelamatkan putrinya dari tangan Thi yan siang hui"

Dari balik sorot mata Cia Siau giok kembali memancar keluar sorot mata yang tajam, katanya kemudian.

"Kau bukan cuma menolong, bahkan mengalahkan Thi yan siang hui, jika ayahku tahu, dia pasti akan menganggap hal ini sebagai suatu hal yang luar biasa"

Dengan cepat dia menambahkan pula.

""Sudah barang tentu, dia pun akan merasa berterima kasih sekali kepadamu!"

"Kalau dia amat berterima kasih kepadaku, berarti dia berhutang terima kasih kepadaku, jika dia menganggap aku masih lumayan juga, itu berarti pula dia berhutang satu kali kesempatan kepadaku untuk melakukan duel"

Mendengar perkataan itu, Cia Siau giok menjadi tertegun.

"Kau hendak mencari ayahku untuk diajak berduel?"

Tertahan. Kembali Ting Peng tertawa dingin.

""Semenjak Cia Sam sauya terjun ke dalam dunia persilatan, dia selalu mencari jago-jago kenamaan dunia ini"

Untuk diajak berduel mengalahkan setiap jago yang dijumpainya sebelum akhirnya nama Sin kiam san-ceng menjadi termasyhur di dunia ini!"

"Tapi nama besar Sin kiam san ceng bukan dimulai semenjak ayahku terjun ke dalam dunia persilatan!"

Buru-buru Cia Siau giok menerangkan.

"Tapi nenek moyang kalian toh tidak setenar ayahmu, justru karena dia mengalahkan orang lain maka namanya baru tenar, oleh sebab itu diapun tidak berhak untuk menampik tantangan dari orang lain"

""Ayahku tak akan berduel denganmu, karena kau bukan seorang jago pedang!"

Tampaknya gadis itu merasa perkataannya itu kurang cocok, buru-buru dia menambahkan lagi.

""Sekalipun kau adalah seorang jago pedang yang sangat lihay, diapun tak akan berduel denganmu, sejak pertarungannya melawan Yan Cap sa dimasa lalu, dia sudah bilang tak akan berduel lagi dengan siapapun... !"

Meskipun Cia ciangkwee seorang yang hadir ketika Cia Siau hong melangsungkan duelnya yang terakhir melawan Yap Cap sah, akan tetapi Cia ciangkwee bukan seorang yang banyak mulut, selamanya dia tak pernah mengungkapkan siapakah yang telah memenangkan pertarungan yang luar biasa itu..

Tapi siapapun tahu dalam pertarungan itu Cia Siau honglah yang berada dipihak yang kalah.

Tapi kejadian itu tidak mempengaruhi nama besar dari Cia Siau hong, juga tidak mempengaruhi nama besar dari Sin kiam san-ceng.

Sebagai seorang jago pedang, kalah satu dua kali sudah lumrah, kekalahan bukan sesuatu yang memalukan, apalagi si pemenang dalam pertarungan itu, Yan Cap sah justru telah bunuh diri sehabis pertarungan tersebut berlangsung.

Alasannya untuk bunuh diri adalah untuk memusnahkan jurus pedang yang dapat mengalahkan Cia Siau hong itu.

Karena jurus pedang yang bengis dan berhawa pembunuhan itu tidak cocok bagi alam manusia.

Sejak Yan Cap sha mati, jurus pedang pun dibawanya ke alam baka, maka Cia Siau hong masih tetap merupakan seorang jago pedang yang lihay di dunia ini.

Persoalan ini diungkapkan sendiri oleh Cia Siau hong kepada beberapa orang temannya setelah peristiwa itu berlangsung.

Orang yang bisa dianggap sebagai teman oleh Cia Siau hong, sudah barang tentu hanya orang-orang yang menduduki jabatan tinggi serta mempunyai nama besar di dalam dunia persilatan.

Itulah sebabnya semua perkataan yang muncul dari mulut mereka tidak disangsikan lagi keasliannya.

Akan tetapi Ting Peng merasa amat tidak puas dengan penjelasan semacam itu.

Sambil tertawa dingin katanya.

"Di ujung pedang ayahnya telah membunuh banyak sekali jago lihay, mereka semua toh tidak memakai pedang, oleh karena itu diapun tidak beralasan untuk menampik tantanganku dengan mempersoalkan Golok bulan sabit"

Cia Siau giok tertegun, untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Tampaknya Ting Peng juga tidak mengharapkan jawabannya, hanya dengan suara dingin ujarnya.

"Kau boleh pulang dan beritahu kepada ayahmu, katakan kepadanya bahwa aku menunggunya selama sepuluh hari, dalam sepuluh hari ini dia harus datang sendiri kemari untuk menyampaikan rasa terima kasih serta meminta maaf, Kami boleh jadi bisa berteman.. ."

Ucapan itu kontan saja membuat paras muka semua orang berubah hebat, sebab ucapan tersebut kelewat tekebur.

Selama hidupnya Cia Siau hong hanya mempunyai beberapa orang teman, bukan boleh juga di belakang tak seorang temanpun yang dimilikinya, hal ini bukan saja dikarenakan dia memang seorang yang suka menyendiri hal inipun dikarenakan dia adalah seorang jago pedang yang tiada tandingannya di dunia ini.

Pedang adalah dewa diantara pedang orangnyapun merupakan dewa diantara manusia.

Biasanya orang yang berada paling di puncak paling tinggi, dia selalu hidup menyendiri.

Tapi siapapun tak berani mengatakan kalau berkenalan dengan Cia Siau houg merupakan sesuatu yang terlalu dipaksakan, atau perbuatan yang merendahkan derajat sendiri.

Tapi Ting Peng telah berkata demikian dan ternyata tiada orang yang mengatakan kejadian itu sebagai suatu yang tekebur.

Mereka semua telah menyaksikan kelihaian Ting Peng, hanya dalam sekali ayunan golok saja, dia sanggup mengutungi pergelangan tangan dari Thi yan siang hui tianglo dari Mo kau.

Walaupun mereka tak sempat menyaksikan permainan golok tersebut, bahkan ada diantaranya yang tidak melihat sesuatu apapun, akan tetapi mereka dapat menyaksikan golok dari Thi yan siang hui terjatuh ke tanah terlepas dari pegangan.

Tak dapat disangkal lagi, jelas hal itu dikarenakan ayunan goloknya, ayunan golok dalam satu gebrakan.

Bila semula orang yang hadir di arena juga belum pernah menyaksikan Cia Siau hong mempergunakan pedangnya, tapi merekapun tak berani memastikan pedang sakti milik Cia Siau hong dapat pula melakukan hal yang sama.

Oleh karena itu, Ting Peng dinilai cukup berhak untuk mengucapkan perkataan tersebut.

Oleh sebab itu ucapan yang disampaikan Ting Peng selanjutnya juga tidak membuat semua orang merasa terkejut.

Terdengar Ting Peng berkata.

""Dalam sepuluh hari kemudian, bila dia belum juga datang, itu berarti dia berteriak mengadakan duel denganku, maka akupun akan membawa golokku untuk mendatangi perkampungan Sin kiam san-ceng untuk mencari dirinya!"

Cia Siau giok menelan air liurnya lalu berbisik lirih.

"Ting.... Ting kongcu, Ting tayhiap... mengenai persoalan ini, aku... ."

Ting Peng sama sekali tidak memberi kesempatan lagi baginya untuk banyak berbicara, segera tukasnya.

"Kau cukup membawa pulang kata-kata itu dan menyampaikan kepadanya, sekarang aku yakin tiada orang yang dapat melakukan lagi, oleh karenanya kaupun boleh pergi. Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan pergi, berjalan menuju ke belakang, meninggalkan semua tamu yang memenuhi ruangan, meninggalkan pula Cia Siau giok yang berdiri tertegun di tempat itu. Pelayan yang mengenakan seragam rapi mulai memberesi meja perjamuan"

Dari sisa mangkuk serta cawan.

Walaupun perjamuan baru berlangsung setengah jalan, sayurpun baru muncul berapa macam, tapi perjamuan dalam pagoda Ang bwee kek telah berakhir.

Liu Yok siong dengan kedudukan sebagai seorang murid berdiri di depan pintu untuk mengantar tamu, memberi hormat kepada setiap orang dan mengucapkan beberapa kata yang sopan..Tapi sebagian besar juga yang di sapanya tidak menggubris, memandang sekejap ke arahnya pun tidak.

Bagaimanapun juga Liu Yok siong adalah seorang jagoan yang pernah termasyhur dikolong langit, tapi sekarang dia seakan-akan sudah dilupakan oleh setiap orang.

Akan tetapi Liu Yok siong seolah-olah tidak acuh terhadap sikap dingin orang lain, senyuman manisnya masih menghiasi ujung bibirnya, sikapnya masih sungkan dan ramah terhadap setiap orang, termasuk mereka yang dikenal maupun tidak di kenal.

Dia seolah-olah merasa puas sekali dengan kedudukannya sekarang.

Seakan-akan menjadi muridnya Ting Peng jauh lebih terhormat daripada sewaktu dia menjadi seorang tayhiap, seorang cengcu tempo hari.

Sekalipun dia bukan seorang yang agung, seorang yang luar biasa, namun tak dapat disangkal lagi, dia memang merupakan seorang manusia yang luar biasa sekali.

Sepanjang seribu tahun, belum tentu akan dijumpai seorang manusia semacam dia.

"Untung saja hanya ada seorang!"

Itulah sudut pandangan setiap orang yang meninggalkan ruangan tersebut, terhadap Liu Yok siong dibalik cemoohan juga terlintas perasaan kagum.

Sebagai seorang lelaki sejati harus menyesuaikan diri dengan keadaan, setiap orang dapat mengucapkan perkataan itu, setiap orang juga pernah menyaksikan keadaan Liu Yok siong ketika masih jaya-jayanya dulu.

Tapi mereka sama sekali tak menyangka kalau Lio Yok siong benar-benar dapat menyesuaikan diri sehingga sedemikian rendahnya.

"Manusia semacam Liu Yok siong, benarkah dia akan memendam dirinya dengan begitu saja, sepanjang masa hidup dalam suasana yang rendah dan penuh cemoohan?"

Jawabannya hanya satu dan seratus persen sudah pasti benar.

"Orang ini benar-benar menakutkan, jauh lebih menakutkan daripada Sam sauya Cia Siau hong dari Sin kiam san-ceng, jauh lebih menakutkan daripada golok maut dari Ting Peng"

Itulah perkataan yang diucapkan delapan puluh persen orang yang hadir didalam ruangan itu.

Sedangkan sisanya yang dua puluh persen segera merasa mual dan ingin muntah setelah meninggalkan dari hadapan Liu Yok siong.

Cuma mereka tidak sungguh-sungguh muntah, sebab selama berada di Ang bwe kek, mereka tidak makan apa-apa.

Namun setiap orang merasa puas, merasa girang karena perjalanan mereka kali ini tidak siasia belaka, hasil yang diperoleh mereka didalam perjamuan ini bukan makanan, walaupun semua sayur yang dihidangkan dalam perjamuan itu adalah hidangan-hidangan paling lezat yang dibuat oleh koki kenamaan.

Tapi tak seorangpun yang tahu bagaimanakah rasanya.

Perut semua orang sudah di isi kenyang oleh ketegangan serta rangsangan yang hebat.

Setiap orang merasa amat puas, bahkan tidak terkecuali pula bagi mereka yang mati dalam Ang bwe kek.

Terhadap mereka yang mati, Ting Peng kongcu sekali lagi memperlihatkan keroyalannya.

ooo0ooo SEPULUH hari sudah berlalu, setiap hari pasti ada orang yang menanti di tepi telaga Say cu ou, menjulurkan lehernya sambil menengok tanggul Soti yang panjang dab sempit dengan harapan bisa melihat Sam Sauya dari keluarga Cia datang ke situ.

Banyak orang berharap bisa berjumpa dengan menyaksikan sendiri macam apakah wajah dari si jago pedang lihay yang tiada taranya di dunia ini.

Bahkan diantara mereka terdapat pula banyak sekali kaum perempuan, mereka pernah mendengar orang berkata bahwa dulu Cia Sam sauya adalah seorang jago pedang romantis yang selalu membuat affair cinta dimana-mana.

Walaupun sekarang usianya agak lanjut, tapi watak manusia sukar dirubah, siapa tahu kalau mereka mendapat kesempatan yang baik untuk dipikat olehnya....Tapi kecuali perempuan-perempuan genit itu, sebagian besar orang, terutama jago persilatan selalu berharap agar jangan melihat kehadiran Cia Siau hong.

Bila Cia Sam sauya tidak datang, Ting kongcu pasti akan pergi mencarinya, mencarinya untuk diajak berduel.

Suatu pertarungan, tentu saja jauh lebih menarik daripada permintaan maaf, jauh lebih memuaskan.

Apalagi jika pedang sakti bertemu dengan golok maut, hal itu pasti akan merupakan suatu peristiwa yang menarik hati.

Cia Siau-hong memang tidak membuat semua orang kecewa.

Dia tidak datang.

Dalam kenyataan setiap orangpun menganggap kemungkinan dia tak datang jauh lebih besar.

Cia Siau hong bukan seorang yang berhati pengecut, sekalipun ada orang yang mengatakan bahwa dia telah berubah menjadi amat bersahaja.

Tapi bagaimanapun juga Cia Siau hong tetap Cia Siau hong, adalah seorang yang tinggi hati.

Walaupun dia bukan seorang yang tidak tahu aturan, juga bukan seorang yang tak tahu berterima kasih kepada orang, tapi dia pun bukan seseorang yang mudah mengucapkan terima kasih kepada orang lain.

Mungkin hal ini disebabkan dia she Cia, leluhurnya she Cia semua, demi pantangan, dia tak ingin mempergunakan kata tersebut untuk menyampaikan perasaannya kepada orang lain.

Seseorang yang enggan mengucapkan kata "Cia"

Atau terima kasih kepada orang lain, tentu saja makin mustahil kalau dia mau meminta maaf.

Jangan toh Ting Peng baru menolong putrinya, sekalipun menyelamatkan jiwanyapun belum tentu dia akan menyampaikan rasa terima kasihnya itu.

Apalagi kalau suruh dia datang meminta maaf hanya dikarenakan dia menampik undangan dari Ting Peng, hal ini lebih-lebih tak mungkin akan dilakukannya.

Jika Cia Siau hong sampai berbuat demikian maka dia bukan Cia Siau hong lagi, dia pastilah seorang anak jadah yang lebih rendah daripada anjing-anjing geladak.

Kini terbukti Cia Siau hong tidak datang apakah Ting Peng akan pergi untuk mencarinya?

Selama sepuluh hari ini, Cing-cing selalu merasa murung, entah mengapa dia selalu saja bermuram durja.

Tapi Ting Peng tidak merasakan hal itu.

Ting Peng sedang merasa gembira karena kepandaian silat yang dimilikinya, sekarang dia tahu, semenjak pertempuran di Ang Bwee kek, namanya sudah makin tersohor di seantero dunia.

Tapi dia bukanlah seorang yang begitu tekebur sehingga lupa diri, diapun tahu bahwa ucapan yang disampaikan kepada Cia Siau giok merupakan ucapan yang terlampau tekebur.

Tapi diapun mengerti, pedang Cia Siau hong sudah pasti jauh lebih lihay daripada ilmu Siang to hap pit dari Thi yan suami istri.

Diapun tahu Cia Siau hong tak akan datang, tapi pertarungan tak bisa dihindari dengan begitu saja, apalagi kalau pertarungan tersebut merupakan apa yang didambakannya selama ini.

Dalam sepuluh hari ini, dia tidak menerima seorang tamupun, bahkan kamar Cing-cing pun jarang sekali di datangi, sebagian besar waktunya di habiskan di dalam kamar rahasianya untuk mendalami kepandaian silat yang dimilikinya.

Mendalami ilmu golok bulan sabit tersebut, melatih ilmu golok yang luar biasa itu.

Sebenarnya dia bukan seorang yang berambisi besar, tapi sukses yang dialaminya dalam Ang bwe kek membuat kepercayaannya pada diri sendiri makin bertambah besar, hal itu membuat ambisinya pun semakin berkobar.

Dia telah menyusun sendiri serangkaian tindakan yang akan diambilnya selama ini, yang dipikirkan semakin banyak, semakin repot, ambisinyapun makin lama semakin besar.

Setiap orang yang sanggup mengalahkan Cia Siau hong, dia pasti akan berhasil mencapai puncak kedudukan yang paling top di dunia ini, setiap orang berharap bisa mencapainya, demikian juga keadaannya dengan Ting Peng.

Dia hanya menjadikan kejadian tersebut sebagai suatu permulaan belaka.

Sedang didalam hatinya dia sudah mempunyai banyak sekali rangka pikiran yang hendak dikerjakannya.

Rangka pikiran tersebut amat hebat, dia ingin membuat suatu ketenaran yang melebihi ketenaran Sin kiam san ceng, lebih menggetarkan seluruh dunia persilatan.

Oleh karena itu dia bertekad, langkahnya yang pertama ini harus sukses.

Akhirnya sepuluh hari sudah lewat.

Ternyata Cia Siau hong benar-benar tidak muncul di situ, dia benar-benar tidak datang untuk meminta maaf.

Hari ini adalah hari yang ke sebelas.

Hari ini langit terasa amat cerah, angin berhembus sepoi-sepoi dan sejauh mata memandang udara amat bersih, tiada awan, tiada mega.

Udara se cerah ini merupakan saat yang paling cocok untuk berpergian jauh.

Ting Kongcu telah bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan perkampungannya.

Dia telah bersiap sedia untuk mendatangi perkampungan Sin kiam san-ceng untuk menantang Cia Siau hong berduel.

Bila dia berhasil menangkan duel tersebut, berhasil mengalahkan Cia Siau hong yang amat tenar itu, maka dengan cepatnya nama besarnya akan memanjat ke langit, dia akan termasyhur dan menjadi tenar di seluruh dunia.

Sebelum berangkat, ia pergi menjumpai Cing-cing, baru saja dia hendak mempertimbangkan bagaimana caranya untuk berbicara, Cing-cing berkata lebih dulu.

"Semoga Long kun sukses sepanjang jalan dan kembali dengan membawa hasil yang diharapkan. ."

Mula-mula Ting Peng agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehh... heeehh... heeehh... istriku, kau memang hebat sekali, kemauan serba tahumu makin menghebat tampaknya sehingga apa yang kupikirkan didalam hati tak pernah dapat mengelabuhi dirimu!"

Begitulah dia pergi meninggalkan Cing-cing tanpa mengucapkan apa-apa lagi .

ooo0ooo PERJALANAN JAUH TING PENG berangkat dengan mempergunakan sebuah kereta kencana yang berwarna kuning emas.

Kereta itu dihela oleh empat ekor kuda jempolan berwarna putih, ke empat ekor kuda itu merupakan kuda pilihan.

Bagi orang biasa untuk mendapatkan seekor saja sudah sukarnya bukan kepalang, sekarang ternyata ia mempunyai empat ekor yang dipakai untuk menarik kereta.

Kuda jempolan hanya cocok dipakai untuk melakukan perjalanan jauh, bukan untuk naik kereta, sebab hal itu merupakan suatu persoalan ....

.merupakan suatu perbuatan yang tidak benar.

Tampaknya ke empat ekor kuda jempolan itupun tidak terbiasa dengan suasana yang dihadapinya, bahkan mereka kelihatan sekali tidak tenang.

Namun kusir kereta tersebut adalah seorang kusir yang ahli, dia adalah seorang suku asing bertubuh hitam pekat, kepalanya gundul dengan mengenakan celana panjang bersulamkan bunga, tubuh bagian atasnya telanjang dan mengenakan sebuah handuk kecil saja sehingga tampak bahu dan dadanya yang kekar.

Pada lehernya dia mengenakan sebuah gelang besar terbuat dari emas, ketika duduk di atas kereta persis seperti sebuah pagoda kecil saja ....

Tangannya yang kuat dan berpengalaman memegang tali les kuda kencang-kencang, sementara cambuknya diayunkan berulang kali memaksa ke empat ekor kuda jempolan itu harus berlarian menurut arah yang dituju.

Keadaan seperti ini terasa amat menyolok bahkan sedikit berbau pameran kekayaan.

Tapi Ting toa sauya memang paling gemar dengan permainan semacam ini, sejak ia muncul dalam dunia persilatan, ia sudah senang memamerkan kekayaannya.

Padahal sewaktu kecil dulu dia bukanlah seorang yang kaya, tapi sekarang setelah memiliki harta kekayaan tak ternilai banyaknya, dia seperti tak tahu bagaimana musti mempergunakannya.

Di belakang keretanya mengikuti serombongan besar manusia, Ting Peng merasa puas sekali, dia tahu orang-orang yang datang tanpa diundang, mereka bagaikan anak buah yang paling setia saja, dari situ terus mengikuti sampai ke perkampungan Sin kiam san-ceng, Ting Peng menengok ke belakang, dia saksikan rombongan manusia itu sudah berubah menjadi suatu barisan yang amat memanjang, ada yang berombongan, ada pula yang sendirian, tapi semuanya merupakan jago-jago, kenamaan dalam dunia persilatan.

Kenyataan ini membuat hatinya merasa girang sekali.

Mungkin nama Cia Siau hong lebih termasyhur daripada namanya, tapi sanggupkah Cia Siau hong untuk menciptakan pula suasana seperti apa yang dialaminya sekarang?

Dia memejamkan matanya sambil bersandar dengan santai, ia membiarkan kereta berjalan seenaknya, sementara senyuman menghiasi ujung bibirnya.

Ia tersenyum karena merasa gembira oleh suatu persoalan yang lain.

Itulah sikap Cing-cing terhadap setiap persoalan yang sedang dihadapinya.

Sebelum berangkat, dia merasa sukar untuk mengutarakan maksud hatinya itu kepada Cingcing, dia menginginkan agar kali ini Cing-cing jangan ikut serta, namun perkataan semacam itu sulit untuk diutarakan.

Ia telah memikirkan beribu macam alasan, namun tak sebuah pun yang dirasakan cocok.

Cing-cing amat cantik, berada bersamanya tak mungkin akan membuatnya menjadi malu.

Ilmu silat yang dimiliki Cing-cing pun sangat tinggi, dulu jauh lebih tinggi banyak daripada kepandaiannya, sekarang dia mungkin jauh lebih tinggi sedikit, tapi yang pasti kehadiran gadis tersebut bukan merupakan suatu beban baginya.

Cing-cing amat menuruti setiap perkataannya, belum pernah menampik permintaannya, juga tak pernah mengikat kebebasannya untuk bergerak serta melakukan sesuatu.

Tiada sesuatu alasan pun yang menyatakan agar Cing-cing jangan turut dalam perjalanan ini.

Tapi dia tahu ada satu alasan yang membuatnya tak bisa membawa serta istrinya, hanya alasan itu sukar untuk diutarakan.

Dia adalah rase, ilmu rasenya sudah mencapai pada puncaknya, betul dia amat lihay, namun sifatnya tetap rase, dia merasa canggung, untuk muncul di suatu tempat yang terdapat banyak orang.

Namun hal ini bukan merupakan alasan Ting Peng mengapa dia tidak membawa serta Cingcing.

Entah karena alasan apa, dia hanya ingin meninggalkan Cing-cing untuk sementara waktu.

Tentu saja hal ini bukan suatu alasan, tapi justru hal itu menjadi suatu dorongan hatinya, menjadi suatu yang diharapkan olehnya.

Dia mengira Cing-cing pasti akan mengikutinya, maka dia harus memutar otak untuk menemukan sesuatu alasan agar Cing-cing jangan turut di dalam perjalanan kali ini.

Gara-gara persoalan itu, hampir saja dia menghabiskan waktu selama satu hari untuk memikirkannya, meski kemudian hasilnya tetap nihil.

Sungguh tak disangka, sebelum dia berangkat dan sebelum mengucapkan sesuatu, Cing-cing telah berbicara lebih dulu.

Dia menyampaikan salam perpisahannya dan mendoakan kepadanya moga-moga pulang dengan sukses.

Dia seakan-akan sudah merasa kalau dirinya lebih baik jangan turut serta didalam perjalanan itu..

Hal mana bukan sesuatu yang aneh, karena dia adalah rase.

Rase selalu mempunyai kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang akan datang, terutama untuk menilai suara hati manusia.

Tanpa terasa Ting Peng berpikir lagi.

"Bila mengawini seorang gadis rase sebagai istri, sesungguhnya hal ini merupakan suatu kejadian yang amat menguntungkan. Maka sepanjang perjalanan, Ting kongcu merasa puas sekali. Itulah sebabnya walaupun kereta berjalan dengan goncangan yang sangat keras, dia masih dapat tidur. Goncangan dalam kereta bukan disebabkan jalanan yang tidak rata. Mereka sedang berjalan di atas jalan raya yang datar, lebar dan rata, roda kereta pun besar dan kuat. Kereta itu memang sebuah kereta yang istimewa, jauh lebih istimewa dari pada kereta kencana Raja sewaktu melakukan perondaan. Yang tidak stabil jalannya adalah kuda yang menghela kereta, langkah mereka tak bisa bersama, dan lagi kuda-kuda itupun belum pernah terlatih untuk menarik kereta. Itulah sebabnya walaupun terdapat seorang kusir yang begitu baik, namun dalam waktu singkat kereta itu belum juga bisa berjalan dengan tenang dan mantap. Ah-ku adalah nama dari suku asing yang menjadi kusir kereta, dia dibawa datang oleh Cingcing dari dalam sarang rasenya. Ah-ku boleh dibilang merupakan seorang yang serba bisa, mulai dari jahit menjahit sampai urusan mencabut pohon besar, semuanya dapat dilakukan dengan sempurna. Sulaman bunga di atas celananyapun merupakan hasil sulamannya sendiri. Kereta kencana yang amat megah itu pula merupakan hasil karyanya, yang tak dapat dilakukan Ah-ku cuma dua hal. Pertama adalah melahirkan anak, karena ia lelaki. Yang kedua berbicara karena dia tak punya lidah. Untung saja kedua hal tersebut tidak berpengaruh besar bagi dirinya. Tentu saja Ting Peng tak akan menyuruh Ah-ku untuk melahirkan seorang anak baginya. Ah-ku pun tak pernah mengemukakan pendapatnya, dia hanya mendengarkan, lalu melaksanakan menurut perintah. Oleh karena itu Ah-ku merupakan seorang pembantu serta yang paling cocok untuk dibawa serta kemanapun pergi. Sekalipun Ting Peng, meninggalkan Cing-cing dirumah, namun dia harus membawa serta Ahku. Setelah berjalan keluar dari kota Hang-ciu, orang yang berlalu lalang makin sedikit, hal ini hanya tertuju pada orang-orang yang datang dari depan. Sebab di belakang keretanya justru mengikuti rombongan manusia yang amat besar, sebagian besar adalah jago-jago persilatan. Mendadak Ting Peng seperti mempunyai suatu keinginan, suatu dorongan hati yang kuat untuk menggoda pengikut-pengikutnya itu. Kepada Ah-ku segera perintahnya.

"Larikan kereta itu kencang-kencang"

Ah-ku memang seorang pembantu yang patuh pada perintah, mendadak dia mengayunkan cambuknya dan kereta itupun meluncur ke depan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Memandang kawanan manusia di belakang kereta yang berdiri kaget bercampur tercengang, Ting Peng terbahak-bahak dengan riang gembira.

ooo0ooo SEMENJAK Ting Peng keluar rumah, suasana Poan kian-tong menjadi sunyi senyap.

Kawanan jago persilatan yang semula berkumpul di sana, kini sudah pergi mengikuti Ting Peng, bahkan tamu-tamu yang di undang Ting Peng pun sudah pada berangkat duluan.

Mereka semua tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik untuk menyaksikan pertarungan antara Ting Peng melawan Cia Siau hong, hanya saja mereka tidak seperti kawanan jago persilatan lainnya yang mengikuti di belakang kereta Ting Peng.

Ada sementara orang diantaranya malah mengambil arah yang berlawanan dengan kereta itu .

Andaikata mereka memang tak ingin melepaskan kesempatan untuk menyaksikan pertarungan antara Ting Peng melawan Cia Siau hong, mengapa mereka tidak segera untuk menyusul kesana?"

Apakah mereka mempunyai keyakinan bahwa sekalipun Ting Peng bisa mencapai ke perkampungan Sin kiam san ceng, toh pertarungan tersebut tak mungkin bisa dilangsungkan?

Ada beberapa orang diantaranya malahan menyewa sampan di telaga Say Cu ou, dan bersenang-senang dengan para pelacur, kemudian mereka memencarkan diri dan secara diamdiam di bawah lamat-lamatnya cuaca, dalam suasana tidak memperhatikan orang memasuki kuil Leng in-si.

Dalam ruang tamu, mereka seperti pergi menyambangi seseorang.

Tapi seperti juga untuk menerima sesuatu petunjuk, karena mereka menaruh hormati kepada orang itu setelah masuk ke dalam ruang tamu, tak seorangpun diantara mereka yang berbicara lagi.

Kecuali mengucapkan kata "yaa"

Dengan suara rendah dan hormat, mereka tak pernah lagi mengucapkan kata kedua.

Apakah tujuan dari orang-orang itu?

Apa pula yang hendak mereka lakukan!

Dewasa ini kecuali mereka sendiri mungkin hanya tamu misterius yang berdiam dalam kuil Leng in si saja yang mengetahuinya.

ooo0ooo Satu satunya orang dalam ruang Poan kian tong yang belum pergi meninggalkan tempat itu hanyalah Liu Yok siong.

Kalau orang lain sedikit banyak adalah tamu, maka mereka bisa pergi sekehendak hatinya, berbeda dengan dirinya, sebab sekarang adalah murid Ting Peng.

Betul selama ini Ting Peng tak pernah mengajarkan kepandaian silat kepadanya, melainkan hanya menyuruhnya melakukan pelbagai pekerjaan yang hanya dilakukan orang rendahan.

Tapi Liu toa cengcu tidak ambil perduli, ia tetap menunjukkan kehangatan, kerajinan yang luar biasa.

Ketika Ting Peng akan pergi, diapun tidak disuruh turut serta.

Oleh karena itu, terpaksa dia mesti tinggal di sana dan diapun menunjukkan perasaan amat gembira.

Setelah melakukan pekerjaan di sana sini, diapun pergi ke halaman belakang.

Halaman belakang merupakan tempat tinggal Cing-cing, di sana hanya ada dua orang dayang yang melayani kebutuhannya, yang seorang bernama Cun hoa yang lain bernama Ciu gwat.

Cun hoa dan Siu gwat merupakan dua macam benda yang sangat indah bagi para penyair..

Demikian pula dengan dua orang dayang tersebut.

Bila Cun hoa sedang tertawa, maka kecantikannya melebihi bunga-bunga yang sedang mekar di musim semi.

Kulit Ciu gwat jauh lebih putih, bersih dan halus daripada sinar rembulan di musim gugur.

Kedua orang dayang itu baru berusia tujuh delapan belas tahunan, itu masa remaja dari para gadis sedang kedua orang gadis itu, selain berada pada usia remaja, agaknya mereka pun pandai sekali melayani kaum lelaki, menarik perhatian kaum lelaki.

Sebab asal mulanya mereka adalah sepasang pelacur yang ternama di sungai Chin huay-hoo di kota Kim-leng, Ting Peng telah menebus mereka berdua dengan nilai tiga ribu tahil perak.

Sekalipun mereka adalah orang rendahan namun selama hidup tak pernah melakukan pekerjaan kasar, yang mereka lakukan sekarang adalah menemani Cing-cing.

Usia Liu Yok siong meski sudah menanjak agak tua, namun wajahnya masih tampan, yaa, Liu cengcu dari perkampungan Siang-siong-san-ceng memang merupakan seorang pendekar pedang tampan yang amat termasyhur didalam dunia persilatan.

Betul Liu Yok-siong sudah tak bernilai lagi dalam pandangan umat persilatan dewasa ini, namun didalam pandangan Cun-hoa dan Ciu gwat, dia tetap merupakan seorang lelaki yang mempunyai daya tarik amat besar .......

Itulah sebabnya setelah dia melangkah masuk ke halaman belakang, dua orang dayang itu bagaikan dua ekor kupu-kupu segera datang menyambut kedatangannya dan seorang menggandeng tangan kirinya yang lain menggandeng tangan kanannya mengajaknya masuk.

Kalau dulu, Liu Yok siong pasti akan merasa gembira, bisa jadi dia akan pergunakan kesempatan itu untuk mencubit pantat mereka atau mungkin juga akan menowel pipinya.

Sayang itu dulu, ketika dia masih menjadi Liu toa cengcu, sewaktu masih menjadi Liu toa kiam kek, ketika nama Siong, Tiok dan Bwee tiga sahabat masih tenar dalam dunia persilatan.

Sekarang dia tak lebih hanya seorang muridnya Ting Peng.

Bahkan dia tinggal dirumah suhunya.

Bila seorang murid berdiam di rumah suhunya, dia musti jujur tahu diri dan tingkah lakunya sopan santun.

"Sewaktu menjadi pendekar besar dulu, Liu Yok siong bisa memberikan penampilan yang luar biasa, maka sekarang ketika semenjak seorang murid diapun menunjukkan suatu penampilan yang luar biasa. Buru-buru dia mundur selangkah ke belakang dan mendorong tubuh kedua orang dayang tersebut, setelah itu dengan amat hormat dia bertanya pelan..

"Subo berada dimana?"

Cun Hoa segera tertawa cekikikan.

"Kau datang untuk menjenguk sau hujin?"

Serunya . Sikap Liu Yok siong masih tetap sopan dan hormat.

"Benar, aku ingin bertanya apakah subo mempunyai sesuatu petunjuk, suatu perintah?"

Ciu gwat turut tertawa, katanya pula.

"Ada urusan apa kau mencarinya? Jika ada urusan dia bisa mengutus orang ke depan sana untuk memberitahukan kepadamu, tuan muda telah berpesan, bila kau tak ada urusan dilarang sembarangan datang ke halaman belakang" ..

"Baik, cuma itu kalau suhu ada di rumah, sekarang suhu sedang pergi, aku yang menjadi muridnya ingin memperlihatkan sedikit, rasa baktiku kepadanya."

Kembali Cun Hoa tertawa cekikikan.

""Berbakti? Kau benar-benar mirip seorang anak yang alim saja, pagi dan malam harus datang memberi hormat?"

"Aku memang bersiap untuk berbuat demikian!"

Kata Liu Yok siong sambil mengangguk jujur.

"Sekarang sudah tengah hari"

Kata Ciu Gwat tertawa.

""kalau ingin memberi salam rasanya sudah kelewat siang, bila ingin menyampaikan selamat malam, rasanya rada kepagian, bukan begitu?"

Agak memerah paras muka Liu Yok siong lantaran jengah, buru-buru katanya lagi.

"Aku hanya mempunyai tujuan untuk menyampaikan salam belaka, tidak mempersoalkan pagi atau malam""

Cun Hoa segera tertawa.

"Memandang pada rasa bakti mu itu, rasanya mau tak mau aku musti membantumu untuk melaporkan kunjunganmu kepada sau hujin, cuma kalau dilaporkan sekarang, sudah pasti akan terbentur pada batunya sebab sau hujin lagi tak senang hati, barusan dia telah berpesan, dia hendak berada dalam ketenangan seorang diri dan melarang siapa saja untuk mengusiknya, jika kau ingin menjumpai dirinya, paling baik kalau datang lagi dikala dia sedang baik."

"Tapi....kapan.. kapankah perasaan hatinya baru agak baik kan ....?"

"Sulit untuk dikatakan, beberapa hari belakangan ini dia selalu cemberut tidak senang hati, cuma bila malam sudah tiba, dikala rembulan sudah terbit, dia akan keluar untuk menikmati keindahannya rembulan, waktu itu kendatipun perasaan hatinya kurang baik, dia akan merasa kesepian dan amat membutuhkan seseorang untuk menemaninya berbincang-bincang....!" (Bersambung ke

Jilid 11)

Jilid . 11 MENCORONG sinar terang dari balik mata Liu Yok siong, serunya kemudian dengan cepat.

"Kalau begitu malam nanti saja aku baru datang lagi!"

"Tunggu sebentar"

Cepat Ciu Gwat berseru.

"apakah dia bersedia menjumpaimu atau tidak masih belum tentu, tapi yang pasti orang yang dibutuhkan untuk menemaninya berbincangbincang bukan kau!"

Liu Yok siong sama sekali acuh terhadap perkataan itu, ujarnya cepat-cepat.

"Oooh, itu sih tak menjadi soal, aku hanya ingin menunjukkan rasa baktiku saja, hari ini tidak bertemu, besok aku akan datang lagi, besok tidak bertemu toh masih ada. lusa, sekeras-kerasnya emas toh akhirnya meleleh juga."

""Hmm .... emas akan meleleh? Jika pintu gedung tidak dibuka, masa kau dapat berjumpa dengannya? kata Cun hoa sambil tertawa dingin, setiap kali tiba saatnya untuk menikmati rembulan, dia selalu menyuruh kami untuk menutup rapat-rapat semua pintu gedung, oleh karena itu jika kau ingin masuk kemari, kalian yang akan membukakan pintu bagi dirimu "

Kalau begitu aku mesti merepotkan kalian berdua!"

"Itupun tak mungkin"

Kata Ciu Gwat pula sambil tertawa.

"kami harus menemaninya, tak sempat untuk membuka kan pintu bagimu, kalau kau mengetuk pintu, dia segera akan kembali ke loteng, karena dia pernah berkata tidak terlalu suka menjumpaimu, bila kau datang, ia suruh kami menghalangi jalan pergimu!"

Liu Yok-siong merasa agak kecewa setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.

"Kalau begitu, tunggu saja sampai lain kali!"

"Liu toaya"

Tiba-tiba Ciu Gwat berkata sambil tertawa licik.

"bila kau bermaksud untuk masuk tidak melewati pintu depan tapi dengan melompati pagar pekarangan maka pendapatmu itu keliru besar, Sau hujin orangnya amat disiplin dan memegang teguh peraturan, betul setelah lewat tengah malam gedung ini tak ada yang menjaga. tapi penjagaan sebenarnya amat ketat, dari dua hari berselang ada orang yang masuk kemari secara diam-diam tapi akhirnya entah mengapa dia kena terjebak dan mampus di bawah pohon sana. Yang tertinggal cuma setumpuk pakaiannya, bahkan tulang belulangnya pun turut punah, konon dia bernama Hui thian ci cu (laba-laba terbang) seorang penyamun tersohor di dunia!"

"Paras muka Liu Yok siong segera berubah hebat.

"Lay bu im, Ki bu tiong (datang tanpa bayangan, pergi tanpa jejak) Hui thian ci cu merupakan penyamun kenamaan yang belum pernah gagal didalam melakukan operasinya?"

"Kalau dibilang sewaktu datang tanpa bayangan itu memang betul"

Kata Cun Hoa sambil tertawa cerah"

Tapi kalau dibilang pergi tanpa jejak entahlah, sebab dia telah berubah menjadi segumpal air di bawah pohon mawar sana!" .

Sekujur badan Liu Yok siong gemetar keras, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi punggungnya, bulu kuduk pada bangun berdiri semua tanpa terasa.

Sementara itu Ciu Gwat turut tertawa, tertawanya tidak mirip bulan yang sedang purnama.

Kalau rembulan itu dingin dan kaku, maka dia panas dan lembut.

"hanya ada satu cara bila kau ingin masuk menjumpai sau hujin"

Demikian dia berkata.

"yaitu suruh salah seorang dari kami berdua untuk membukakan pintu bagimu, kemudian membawamu pergi ke hadapannya. perbuatan kami ini mungkin saja akan mendapat dampratan, tapi paling tidak kau toh bisa juga berjumpa dengannya."

Liu Yok siong bukan seorang yang tolol, buru-buru dia menjura dalam-dalam seraya berkata.

"Kalau begitu, harap enci berdua bersedia membantuku!"

"Tak usah sungkan-sungkan dan tak usah banyak adat"

Kata Cun Hoa sambil tertawa.

"kami berdua adalah orang yang paling gampang diajak berunding, asal ************************* Halaman 7 s/d 10 hilang ************************* Dengan sangat berhati-hati dia merawat dirinya selama beberapa hari, bahkan dia malah pergi mencari seorang penjahat pemetik bunga kenalannya untuk meminta sedikit obat kuat untuk bercinta. Setelah mengeluarkan peluh sebesar kacang kedelai, akhirnya dengan susah payah dia berhasil menaklukan kedua ekor harimau kelaparan itu, setelah dua orang gadis genit itu dibuat tersengkal-sengkal kehabisan daya, akhirnya merekapun mengaturkan suatu pertemuan begini untuk berjumpa dengan Cing cing. Malam itu sedang purnama. Cing-cing sedang bersandar di pagar gardu sambil memandang rembulan dengan termangu, tampaknya dia sedang memikirkan persoalan dalam hatinya. Liu Yok siong membereskan pakaiannya lalu dengan hormat sekali berjalan menghampirinya.

"Walaupun matanya berkunang-kunang, langkahnya juga gontai tak bertenaga namun tetap melangkah maju. Obat kuat untuk bermain cinta yang diperolehnya dari Jay hoa cat tersebut benar-benar tangguh, meski dapat membuatnya kuat bagaikan malaikat, namun cukup besar merugikan kekuatan badannya. Tapi dia tak ambil perduli, dia tahu asal bisa mendekati majikan perempuannya, maka dia akan melangkah menuju kesuksesan. Cing cing memandang sekejap ke arahnya, tanpa emosi tegurnya.

"Kau ada urusan apa datang kemari?"

"""Tecu khusus datang untuk menyambangi subo!"

Cing cing berkerut kening, lalu dengan wajah muak katanya.

""Aku baik sekali, tak usah kau sambangi diriku."

Jawaban itu sama sekali tidak di luar dugaan Lui Yok siong, dia tahu bila sedang mulai melangkah, janganlah terlalu cepat merebut simpatik dari Cing-cing, sebab hal ini akan menggagalkan rencananya.

Maka dengan suara tetap merendah, katanya.

"Selain itu, tecu juga khusus datang kemari untuk melaporkan sekitar suhu kepada subo!"

"Soal ini tak usah kau terangkan, aku sudah mengetahui amat jelas..."

"Tapi subo tak pernah keluar rumah... ."

""Aku mempunyai caraku sendiri"

Tukas Cing cing.

""sedang bagaimanakah caraku itu, aku rasa tak usah menerangkannya secara terperinci kepadamu!"

"Be... benar...

"sahut Liu Yok siong munduk-munduk.

"Cuma berita yang subo terima hanya berita dari luaran sana, berita itu tak akan secermat berita yang tecu peroleh!"

"Aku tidak percaya kalau beritamu itu jauh lebih nyata daripada berita yang kuperoleh!"

Liu Yok siong segera tertawa licik, sahutnya.

"Bila subo tidak percaya, biarlah tecu utarakan lebih dulu, kemudian baru dicocokkan dengan apa yang subo peroleh, saat itulah subo akan tahu kalau perkataanku tidak bohong!"

Cing-cing agak sangsi sebentar, kemudian baru katanya.

"Baiklah, coba kau katakan!"

Dengan bangga sekali Liu Yok siong berkata.

"Sepanjang perjalanan suhu selama ini, setiap hari hanya seratus li yang ditempuh, dimana ia berhenti, suatu peristiwa yang menggemparkan pasti akan berlangsung!"

"Aku tahu, tujuannya memang untuk menarik perhatian orang!"

Kata Cing-cing dengan kening berkerut.

"Suku pernah menyelenggarakan suatu pesta perjamuan di suatu rumah makan yang besar dan mengundang seluruh pendekar perempuan yang ada dalam dunia persilatan. Termasuk juga mereka yang sudah menikah, tapi suami dan kekasih mereka justru diusir dari dalam ruangan."

"Itu mah tak menjadi soal"

Ternyata Cing cing malah tertawa, paling tidak dia toh tidak mengundang secara paksa, sedang perempuan-perempuan itupun bersedia datang sendiri, malah suami atau kekasih mereka tidak keberatan!"

"Menjelang berakhirnya itu, suhu telah menahan dua belas orang diantaranya yang termuda untuk menemaninya berbincang-bincang sampai tengah malam!"

"Dia pasti mempunyai tujuan tertentu, cuma aku tahu diapun tidak menahan secara paksa, yang ditahanpun tidak menunjukkan perasaan tak senang, malahan mereka yang tidak termasuk ditahan justru merasa tak senang hati, merasa kehilangan muka! ""Tapi diantara dua belas orang itu ada lima diantaranya telah bersuami dan tiga diantaranya sudah tunangan!"

Cing cing segera tertawa lebar, katanya.

"Nyatanya suami mereka atau kekasih mereka sedikitpun tidak merasa tak tenteram atau cemburu karena kejadian itu, mereka merasa girang dan turut berbangga hati, yang dimaksudkan sebagai jagoan kalangan lurus kebanyakan memang mengandalkan sebuah bibirnya yang tajam untuk mewujudkan suatu tujuannya, sekalipun dia suruh sendiri menemani orang lain tidurpun, bagi mereka kejadian tersebut adalah lumrah!"

Merah padam selembar wajah Lui Yok siong lantaran jengah, dia merasa mukanya bagaikan di tampar keras-keras.

Ucapan tersebut benar-benar mengena dalam hatinya, mengorek borok dalam hatinya.

Walaupun Cing cing tidak menuding secara langsung, namun yang dibicarakan memang dia.

Untuk mendapat jurus Pedang Thian gwa liu seng (bintang luncur di luar langit) dia tak segansegan menyuruh bininya Chin Ko cing dengan merubah namanya menjadi Ko siau (menggelikan) untuk merencanakan suatu perangkap licin.

Akhirnya meskipun dia berhasil mendapatkan jurus pedang itu, namun dia kehilangan lebih banyak.

Bahkan ia memberi kesempatan buat Ting Peng untuk maju dengan pesat serta memberi pembalasan yang telak dan memedihkan hati.

Bila teringat akan kesemuanya itu, Liu Yok siong betul-betul amat membenci terhadap diri sendiri, kalau bisa, dia ingin menggaplok mulut sendiri keras-keras.

Dia bukan menyesal atas semua perbuatan yang telah dilakukannya.

Melainkan membenci kepada diri sendiri yang begitu jelek, begitu tak beruntung, merasa ini mengapa semua penemuan aneh yang dialami Ting Peng, tidak dialami pula oleh dirinya sendiri.

Masih untung Ting Peng tidak berjaga-jaga disamping Cing-cing, bahkan meninggalkannya seorang diri untuk mencari nama di tempat luaran.

Ia telah meninggalkan suatu kesempatan sangat baik yang sukar dijumpai lagi di masa mendatang kepadanya.

Bila ia tak baik-baik manfaatkan kesempatan ini, maka pada hakekatnya dia lebih bodoh daripada seekor anjing gombal.

Oleh karena itu, ia tidak segera melepas kan usahanya dengan begitu saja, katanya sambil tertawa.

"Kini, suhu sudah merupakan seorang manusia yang amat tenar, amat tersohor di seluruh dunia, bila dia musti merusak nama baik yang diperolehnya dengan susah payah, jelas perbuatannya ini merupakan suatu perbuatan yang tidak cerdik...."

"Urusannya tak usah kau maupun aku kuatir kan""

Tukas Cing-cing sambil tertawa, dia adalah seorang lelaki dewasa, ia tahu perbuatan yang boleh dilakukan dan mana yang tidak"

"Tapi dengan perbuatannya, jelas dia telah berhianat kepada subo."

Tiba-tiba Cing-Cing menarik muka, kemudian dampratnya dengan suara sedingin es!"

"Hmmm, ucapan seperti inipun pantas kau ucapkan?!."

"Oooh, tecu hanya merasa tidak puas buat subo!"

Buru-buru Liu Yok siong menerangkan.

"Tapi aku percaya... percaya seratus persen kepadanya!"

Ucapan itu segera membungkamkan mulut Liu Yok siong. Kembali Cing -cing berkata.

"Andaikata apa yang kau ketahui cuma begini saja lebih baik kau tak usah katakan lagi!"

"Kau masih mendapat kabar yang mengatakan bahwa Ciangbunjin dari lima partai besar telah dibuat gempar kejadian ini, sekarang mereka berada dalam perjalanan menuju ke perkampungan Sin kiam san-ceng.

""Berita inipun bukan terhitung berita baru"

Cing-cing kembali tertawa lirih, bila ada orang berani menantang Cia Siau hong untuk berduel sudah pasti peristiwa besar ini akan menggemparkan semua orang, mereka tentu akan berbondong-bondong berangkat ke sana untuk melihat keramaian."

"Mereka bukan pergi ke sana untuk menonton keramaian!"

"Oooh... apa kerja mereka ke sana ? Toh mustahil akan pergi membantu Cia Siau hong bukan ?"

Liu Yok siong segera tertawa.

"Cia Siau hong tak akan minta bantuan orang lain, bila pedangnya tak mampu mengalahkan golok suhu, siapapun tak dapat membantunya lagi, justru mereka memburu ke sana untuk menghalangi terjadinya pertarungan itu....!"

"Itu mah bagus sekali"

Sekali lagi Cing-cing tertawa.

"Lebih baik lagi jika mereka dapat menghalanginya, pertarungan semacam ini memang sama sekali tiada artinya, Cuma... aku cukup memahami watak Ting Peng, mungkin usaha mereka untuk mencegah terjadinya pertarungan itu tak bakal berhasil"

Liu Yok siong segera tertawa.

"Menurut apa yang tecu ketahui, tampaknya mereka mempunyai keyakinan yang amat besar, sebab mereka diundang datang oleh Thi yan-siang-hui (walet baja terbang bersama). Paras muka Cing-cing segera berubah hebat, serunya dengan cepat.

"Mana Mungkin mereka bisa bersekongkol dengan manusia seperti Thi-ya-siang hui?"

""Soal ini tecu kurang tahu, ketika suhu berhasil mengalahkan Thi-yan-siang-hui di atas pagoda Ang-bwee kek tempo hari, mereka telah menunjukkan lencana besi pengampun dari kematian, lencana itu dibuat bersama oleh lima orang ciangbunjin dari lima partai besar, dari situ bisa diduga kalau lima partai besar tentu mempunyai hubungan yang luar biasa eratnya dengan mereka!"

Paras muka Cing-cing tidak lagi setenang tadi, buru-buru dia bertanya lagi.

"Apa pula yang kau dengar lagi?"

Liu Yok-siong tahu bahwa saatnya sudah hampir tiba, sambil tertawa ia lantas menjawab.

"Tecu tahu, andaikata mereka tak berhasil mencegah pertarungan antara suhu melawan Cia Siau hong, maka mereka akan mengerahkan segenap tenaga yang dia milikinya untuk melenyapkan suhu sebelum pertarungan itu dilangsungkan!"

"Hmm ....! Mereka tak akan memiliki kemampuan semacam itu!"

Jengek Cing-cing sambil tertawa .

"Jika mereka sendirian atau bertarung satu lawan satu, sudah barang tentu bukan tandingan dari suhu, tapi bila segenap muridnya dikerahkan semua, maka kekuatan mereka akan menjadi suatu kekuatan yang menakutkan sekali"

"Biar saja mereka datang semua, kecuali kalau orang-orang itu sudah tidak takut mati!"

Cingcing tertawa dingin. Liu Yok-siong segera maju selangkah lagi, katanya.

"Meskipun jumlah anggota perguruan lima partai besar sangat banyak, namun mereka tak akan tahan menghadapi golok sakti dari suhu, tapi persoalannya sekarang terletak pada seorang manusia lain yang menakutkan.

"Siapa?"

Cia Siau-hong, Cia sam-sauya!"

Mengapa pula dengan dia? Belakangan ini dia toh sudah tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi!"

"Tapi perkampungan Sin kiam san-ceng masih tetap merupakan tempat suci bagi umat persilatan, Cia sam sauya masih tetap merupakan tonggak keadilan dan kebenaran bagi dunia persilatan, dia mempunyai semacam tugas dan tanggung jawab terhadap keamanan seluruh dunia persilatan, asal suhu melukai seorang saja diantara kelima orang ciangbunjin itu, maka Cia Siau hong tak akan bertepuk tangan belaka, dia pasti akan menampilkan diri....."

Paras muka Cing cing nampak seperti terpengaruh oleh emosi, katanya kemudian dengan cepat.

"Ya, mau menampakkan diri juga boleh, toh tujuan siangkong kesana adalah menantangnya untuk berduel, pedangnya meski sakti dan tiada taranya, belum tentu bisa menangkan golok dari siangkong."

Liu Yok siong kembali tertawa.

Bila Cia Siau hong mau menerima tandingan suhu dan berduel secara terang-terangan, menang kalah suatu kejadian yang lumrah, persoalannya sekarang Cia Siau hong tidak berani menerima tantangan itu secara terang-terangan."

Dengan cepat Cing-cing menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dengan kedudukannya sebagai pemilik perkampungan Sin kiam san-ceng, mustahil dia akan menyergapnya secara sembunyi-sembunyi!"

"Bilamana terdesak oleh suatu alasan yang maha penting dan amat serius, Cia Siau hong bisa saja melakukan perbuatan apa saja."

Sementara Cing-cing masih terbuai dalam renungan, Liu Yok siong telah berkata lebih jauh.

"Sekarang satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk merusak persekutuan lima partai besar, agar mereka tak mampu untuk beersekutu kembali."

Mungkinkah cara ini bisa dilaksanakan?"

"Tentu saja, meskipun di luaran ke lima partai besar dapat bekerja sama dengan erat, sesungguhnya banyak terjadi pertentangan batin dalam benaknya, misalkan saja pihak Siau lim pay serta Bu tong pay, berhubung kedudukan mereka tinggi maka sikapnya menjadi latah dan tinggi hati, hal ini menyebabkan ketiga partai lainnya merasa sangat tidak puas, bila kita sedikit menghasut dan melepaskan api agar hati mereka terbakar, niscaya mereka akan saling gontokgontokan sendiri. Bila ini sampai terjadi maka Cia Siau hong pun tak akan mengurusi persoalanpersoalan tetek bengeknya lagi ...

"Aaah, tidak gampang untuk melaksanakan rencana semacam ini!"

Liu Yok siaon segera tertawa.

"Bila subo mengijinkan tecu untuk melaksanakannya, tecu yakin masih dapat melaksanakannya secara sempurna tanpa ada titik kelemahan barang sedikitpun jua!"

Akhirnya dia perlihatkan juga maksud tujuan yang sesungguhnya.

"Oooh, kalau begitu kau tentu akan mengajukan suatu syarat bukan?"

Ucap Cing-cing sambil tertawa.

Liu Yok siong merasakan hatinya bergetar keras sesudah mendengar perkataan itu, dia tahu gadis muda yang cantik jelita dan nampaknya seperti amat polos ini sesungguhnya bukan seseorang yang mudah dihadapi, dia mesti bekerja keras lebih jauh sebelum berhasil meraih sesuatu hasil yang diharapkan Maka sambil tertawa, katanya.

"Tecu hanya berjuang demi keuntungan perguruan, siapa bilang aku akan mengajukan suatu syarat?"

Kembali Cing cing memperhatikan sekejap, lalu bertanya lagi.

"Kau tidak akan mengajukan permintaan apa pun ?"

"Tidak ada...."

Tecu hanya berusaha untuk melakukan suatu tugas dan kewajiban demi rasa baktiku kepada subo!"

"Kau bukan seorang yang bertipe setia"

Kata Cing-cing sambil tertawa.

"bila tiada sesuatu keuntungan, tak nanti kau bersedia membuang tenaga barang sedikitpun jua sebab itu akupun tak berani merepotkan dirimu!"

Liu Yok siong tahu kalau dia tak dapat berpura-pura lagi, terpaksa sambil tertawa katanya.

"Tecu pribadi mah tak berani mengajukan permintaan apa-apa, cuma demi kelancaran pelaksanaan tugas tersebut, tecu harus mempunyai suatu pegangan meyakinkan yang dapat membuat orang lain menaruh kepercayaan kepada tecu!"

"Katakan apa yang kau inginkan!"

Seru Cing cing dengan suara yang tegas dan keras.

Liu Yok siong merasa gembira sekali, ia tahu kalau kunci dari semua keberhasilan telah berada di tangannya, dalam keadaan seperti ini dia tak ingin mengajukan permintaan yang kelewat banyak, namun dia pun tak ingin mengajukan permintaan kelewat sedikit.

Tapi bagaimanakah cara mengajukan tawaran itu?

oooooo CING CING sedang memperhatikan lelaki yang rendah dan memuakkan itu dengan seksama, ia sedang menduga-duga permintaan apakah yang akan diajukan olehnya.

Setelah termenung beberapa saat, Liu Yok siongpun berkata.

"Saat ini didalam pandangan kebanyakan orang, tecu tidak punya nama lagi, bahkan setengekpun tak ada harganya""

Cing-cing segera tertawa.

"Itulah tergantung pada siapa yang menilai dirimu, dalam pandangan sementara orang kau adalah seorang manusia yang berbakat, seorang manusia cerdas dan luar biasa, terutama dalam bidang muka tebal dan hati hitam, kau boleh dibilang merupakan seorang leluhur seorang cikal bakal yang hebat dan tiada keduanya di dunia ini"

Sekali lagi paras muka, Liu Yok siong berubah menjadi merah padam, sekalipun dia memandang remeh atas cemoohan, hinaan serta ejekan orang persilatan atas dirinya, namun berada di hadapan seorang perempuan cantik bagaikan bidadari, sedikit banyak dia toh menginginkan juga nama baiknya agak terjaga.

Tapi berada di hadapan Cing Cing ternyata dia seperti seorang bayi yang baru saja dilahirkan, ditelanjangi sama sekali sehingga setitik rahasia pun tak berhasil di sembunyikan, bagaimanapun juga hal ini amat menyedihkan hatinya.

Sebab itu dia tertawa getir, kemudian, baru ujarnya.

"Ada sementara persoalan tecu tak dapat melakukannya sendiri, tapi mesti minta bantuan orang lain, bila ingin membuat orang jadi percaya kepadaku, paling tidak tecu harus mempunyai suatu kedudukan yang meyakinkan"

"Masih belum cukup kedudukanmu sebagai murid Ting Peng?"

Sekali lagi Liu Yok-siong tertawa getir.

"Subo, kau tahu hal ini masih belum cukup, sebab tecu sendiripun tahu, bahkan suhu sendiripun juga tidak memahami akan kedudukannya sendiri......"

"Paras muka Cing-cing segera berubah hebat.

"Ia masih mempunyai kedudukan apa?"

Serunya.

Liu Yok-siong mesti menarik napas panjang-panjang, karena dia tahu sepatah kata saja salah berbicara pada saat ini, kemungkinan besar setelah menarik napas sekarang, dia tak pernah bisa menarik napas untuk kedua kalinya.

"Kedudukan yang sebenarnya dari pemilik golok bulan sabit"

Katanya kemudian.

"Itu terhitung seberapa. Golok yang tergantung di pinggangnya....."

"Apakah di atas goloknya berukiran tujuh huruf yang berbunyi. Siau lo it ya teng cun hi?"

Sekali lagi paras muka Cing-cing berubah hebat, bentaknya dengan suara keras.

"Makna istimewa apakah yang terkandung dalam tujuh huruf tersebut?"

"Tidak banyak orang yang mengetahui makna yang sebenarnya dari tulisan tersebut, tapi ada sementara orang, paras mukanya segera berubah hebat begitu mendengar ke tujuh huruf tersebut sehingga makan tak enak tidur pun tak enak, misalnya seperti Thi yan siang hui tempo hari!"

"Kau juga mengetahui makna yang sebenarnya dari ke tujuh huruf tersebut...?"

"Tecu tidak tahu, tapi aku tahu kalau kelima orang ciangbunjin dari lima partai besar datang dikarenakan ke tujuh huruf tersebut"

Cing-cing segera termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru tanyanya.

"Apa yang kau inginkan?"

"Tecu pikir, andaikata akupun dapat mewakili ke tujuh huruf tersebut, paling tidak di dalam melakukan suatu pekerjaan, akan memberikan semacam jaminan atau semacam pernyataan."

Dengan cepat Cing-cing menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Tidak mungkin kau mempunyai kemampuan untuk berbuat demikian, sedang akupun tidak mempunyai hak untuk memberikan kekuasaan tersebut kepadamu!"

"Tapi subo, yang bisa memberikan hak dan kekuasaan tersebut kepada tecu....?"

"Itupun tak mungkin, bait syair yang berada di atas golok bulan sabit itu sudah tidak melambangkan apa-apa sekarang, apa yang ada kini hanya merupakan sebuah bait syair biasa, tiada orang yang berhak untuk mempergunakannya, mengerti ?"

"Tecu mengerti, tapi aku kuatir orang lain tak akan mempercayainya... !"

Terserah apa yang akan mereka pikirkan, pokoknya aku tak akan memberikan apa-apa kepadamu"

Liu Yok siong menjadi kecewa sekali, katanya kembali.

"Kalau begitu tecu terpaksa menarik kembali permintaan tersebut dan tak akan menari bantuan kepada orang lain lagi, akan kulakukan sendiri perbuatan tersebut dengan kekuatan sendiri!"

"Apa yang hendak kau lakukan?"

""Yaa, melakukan segala macam perbuatan yang bisa membuat kacaunya orang-orang dari lima perguruan besar, misalkan saja membuat salah seorang atau dua orang diantara orang-orang penting itu kehilangan batok kepalanya, kemudian meninggalkan surat peringatan, agar mereka tahu diri dan segera mengundurkan diri..."

"Tidak bisa, kita tak boleh melakukan perbuatan semacam ini!"

"Boleh saja, tecu akan memilih perguruan yang paling lemah untuk melancarkan rencana ini, jika dua tiga kali merasakan pukulan yang hebat, serta merta akan timbul perasaan ngeri dan bergidik dalam hati mereka, tentu akan timbul suatu perasaan bahwa apa gunanya gara-gara persoalan orang lain sehingga mengakibatkan perguruan sendiri dipunahkan orang!"

"Tapi toh bukan mesti kau yang melaksanakan perbuatan semacam ini....."

Liu Yok-siong segera tertawa lebar.

"Paling cocok pekerjaan ini kulakukan, karena sekarang situasinya sudah berubah amat tegang, setiap orang telah meningkatkan kewaspadaan masing-masing, sulit buat orang lain untuk mendekati mereka, hanya tecu rasanya yang tak akan menimbulkan kecurigaan orang, disamping itu tecu toh masih mempunyai teman yang bisa melindungi tecu selama melakukan pekerjaan ini...."

"Ehmmm, kedengarannya cara ini memang lumayan juga kalau begitu lakukanlah cepat"

Kata Cing-cing kemudian sambil tertawa. Liu Yok siong ikut tertawa pula.

"Tapi kepandaian silat yang tecu miliki betul-betul tak becus, berapa jurus ilmu pedang yang tecu miliki tak lebih hanya permainan anak kecil, padahal orang-orang yang harus tecu hadapi adalah jago kelas satu didalam dunia persilatan?"

Dengan cepat Cing-cing memahami apa yang sedang tersimpan dalam benak lelaki itu. ia segera tertawa.

"Ooh, jadi kau menginginkan agar aku mewariskan ilmu pedang kepadamu?"

"Bukan ilmu pedang, melainkan ilmu golok, ilmu golok yang bisa membelah orang menjadi dua bagian!"

"Aku tidak memiliki kepandaian sebesar itu, Ilmu golok macam begitu hanya siangkong seorang yang dapat melatihnya, bahkan aku sendiripun tak dapat!"

Buru-buru Liu Yok siong berseru.

"Tecu tidak berani memohon kepandaian yang menyamai suhu, tapi paling tidak musti memiliki kepandaian seperti apa yang dimiliki Thi yan tianglo, agar orang dapat menaruh kepercayaan kepadaku!"

"Kau anggap kepandaian semacam itu dapat dilatih dalam sehari saja?"

"Meski tecu tidak becus, tapi asal sudah kupahami rahasianya, dalam tiga sampai lima hari tentu akan berhasil memperoleh suatu kemajuan, karena tecu sudah pernah mempelajari dan mendalami ilmu golok semacam itu ... .."

Cing cing segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Haaaah... hhaaahhhh... hasaahhh... tampaknya kau mempunyai tujuan yang amat mendalam!"

"Selama banyak tahun tecu selalu berjuang untuk maju ke depan"

Kata Liu Yok siong dengan wajah bersungguh-sungguh.

"cuma sayang selama ini tidak kujumpai kesempatan semacam ini, sehingga terhadap setiap persoalan yang bisa membawaku ke arah kemajuan selalu kuperhatikan dengan seksama!"

Mendadak paras muka Cing-cing berubah hebat, katanya.

"Tidak bisa, aku tak bisa mewariskan ilmu golok itu kepadamu, akupun tidak akan menyuruh kau berbuat apa-apa, bahkan tak dapat membiarkan tetap berada di sini, kau adalah manusia yang terlalu berbahaya, mulai sekarang kau harus tinggalkan Poan kian tong ini."

Liu Yok siong menjadi kecewa sekali, ujarnya.

"Subo, tecu bertujuan untuk membaktikan diri kepadamu!"

"Aku cukup mengetahui akan kesetiaan hatimu itu"

Kata Cing-cing sambil tertawa.

"Itulah sebabnya sedikit banyak aku harus membicarakan juga balas jasanya kepadamu. Di bawah bukit Hui lay hong aku masih mempunyai sebuah rumah makan gedung, baiklah kuhadiahkan gedung itu untukmu, selain itu aku tahu kaupun amat menyukai kedua orang dayangku, maka sekalian kuberikan juga kepadamu!"

Dengan hati terperanjat Liu Yok siong berseru.

"Kebaikan hati subo tak berani tecu terima!"

""Kau tak usah sungkan-sungkan lagi, sudah sepantasnya jika kau terima hadiah tersebut. Mulai sekarang kau tak usah mengaku sebagai murid Ting Peng lagi, lebih-lebih jangan menyebut aku sebagai subo, setiap kali mendengar panggilan itu hatiku terasa jadi muak, selain itu meski kedua orang dayangku pandai berbicara, namun rasa cemburunya amat kuat, mulai sekarang kau musti banyak menemani mereka, jangan kelewat banyak bermain cinta dengan orang lain, jangan punya kasak-kusuk dengan kaum wanita maupun kaum pria, kalau tidak mereka akan permak dirimu habis-habisan, nah pergilah sekarang!"

Dia bertepuk tangan pelan, dua gulung bayangan hitam melayang masuk ke dalam, satu di kiri yang lain di kanan segera menggusur Liu Yok siong keluar dari sana.

Bukan saja mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa, lagi pula pandai sekali mencengkeram tubuh orang, begitu jalan darah Liu Yok siong kena dicengkeram kontan badannya menjadi lemas dan tak mampu mengerahkan tenaga lagi.

Sekarang Liu Yok siong baru tahu kalau dia telah melakukan suatu kesalahan yang amat besar, dalam anggapannya dia pintar dan hebat, siapa tahu segala sesuatunya sudah berada di dalam perhitungan Cing-cing.

Ketika digusur dari dalam ruangan ia merasakan kepalanya amat pening, dia tak tahu masih berapa hari lagi dia dapat hidup?

Kini dia merasa keadaannya seperti seekor ayam yang kedua belah sayapnya sudah di pegang orang dan siap dijagal.

oooOooo KETAKUTAN CING CING sedang duduk didalam sebuah kuil San sin bio yang bobrok dan kotor.

separuh bagian dari kuil itu sudah ambruk, pada dasarnya memang tidak besar, sekarang terasa jauh lebih sempit lagi, Cuma mesti sempit tak sampai mengurangi ke angkerannya.

Bagian yang belum ambruk adalah sudut dimana ruang arca itu berada, bahkan tempat meja altar, sehingga patung dari malaikat gunung di situ pun masih utuh.

Patung yang dipuja di situ entah patung dewa mana, mukanya hijau giginya bertaring mata melotot seperti genta dan lagi memancarkan cahaya yang menggidikkan hati.

Mata patung dewa tentu saja tak bisa bersinar sendiri, melainkan terdiri dari dua buah bola kaca, bola kaca pun tak mungkin bersinar bila tiada pantulan cahaya api dari arah lain, oleh sebab itu jika ditempat lain memancar cahaya api dan api itu memantul ke atas bola kaca, jadilah patung arca itu bermata tajam.

Bola kaca itu berbentuk bulat, Separuh tertanam di dalam kelopak mata sedang bagian lain menonjol keluar sehingga berbentuk separuh bulatan, oleh karena itu cahaya yang dapat terserap sangat luas, meski cahaya api itu tak ditangkap orang, namun bola mata itu masih tetap bersinar.

Bola kaca itu benar-benar merupakan sepasang bola mata yang aneh, sayang tertanam dibalik kuil San-sin-bio yang sudah ambruk, kuil itupun terletak jauh di atas bukit sehingga tiada pengemis yang mau berdiam di sana, tapi anehnya meski pintu kuil sudah rusak dan copot diambil para penggembala sebagai bahan kayu bakar, mengapa sepasang bola kaca itu tak dicukil orang?

Ada orang pernah berbuat demikian Ong Siau-jit seorang penggembala sapi merasa bola kaca itu sangat menarik, maka secara diam-diam ia mengoreknya keluar, malah salah satu diantaranya dijual kepada seorang bocah dari keluarga Li di dusun yang sama dengan harga sepuluh uang...

Sambil membolak balikkan kaca yang lain mereka bermain sampai senja sebelum akhirnya pulang untuk tidur, tapi begitu malam tiba, mereka bersama-sama mendapatkan suatu impian yang amat mengerikan.

Dalam mimpinya mereka saksikan patung dewa gunung itu dengan matanya yang kosong datang mencari mereka serta minta kembali sepasang biji matanya yang mereka cungkil.

Ketika sadar dari mimpi, kedua orang itu mulai demam, suhu badannya semakin meninggi, asalkan dalam keadaan tak sadar mereka berteriak terus tiada hentinya.

"Kembalikan biji mataku, kembalikan biji mataku!"

Tentu saja peristiwa ini segera mengejutkan orang tuanya, dari mulut bocah itu akhirnya berhasil diketahui apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, buru-buru mereka mengembalikan kedua bola kaca itu ke atas gunung, bahkan menyiapkan kepala babi dan sam-seng (tiga macam binatang) untuk bersembahyang di dalam kuil serta minta maaf bagi anak mereka yang bersalah.

Bahkan keluarga Li berjanji akan membangun kembali kuil tersebut serta membetulkan patung arcanya, ketika kembali ke rumah, Ong Siau jit si penggembala sapi telah sembuh, sebaliknya putra keluarga Li masih mengigau tiada hentinya.

Berbicara soal dosa, Ong Siau-jit lah biang keladinya, tapi mengapa putra keluarga Li belum sembuh, sebaliknya Ong Siau jit telah sembuh kembali?

Malam itu Li Tay cuang, ayah si bocah yang sakit mendapat suatu impian, di dalam mimpinya dia seperti mendengar ada malaikat berkata kepadanya.

Kami suka akan ketenangan, tidak senang diganggu orang biasa, kau tak usah membangun kuil kami, tak usah membetulkan patungku, asal mulai sekarang tidak mengganggu ketenangan kami lagi, akan kulepaskan putramu itu!"

Buru-buru Li Tay cuang membubarkan para pekerja yang telah dihimpun itu, anehnya putranyapun segera sembuh kembali.

Sejak terjadinya peristiwa itu, apalagi malaikat gunungpun telah mengutarakan pesannya, maka tak ada orang yang berani kesana lagi, bahkan para penggembala sapipun selalu menghindari tempat itu.

Sejak itulah, kuil San sin bio menjadi tempat terlarang, di siang hari tak ada yang berani kesana, apalagi kalau malam sudah tiba.

Tempat itupun menjadi dunianya kaum rase dan setan.

Cing-cing adalah rase, maka dia tidak takut, ia berani datang ke tempat itu.

Justru karena dia adalah rase, maka sewaktu ia ke sana tak ada yang melihat, apa yang dilakukan di sanapun tak ada yang tahu.

Konon bila rase sudah menyelesaikan semedinya sehingga berwujud manusia, selain berhubungan dengan manusia, dia hanya akan melakukan dengan sesama jenisnya.

Cing cing datang ke tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian manusia sudah barang tentu dia hendak berhubungan dengan sesama jenisnya...

rase.

Tapi, mengapa yang datang justru patung dewa gunung?

Sekalipun tiada cahaya rembulan, meski bintang amat redup, namun masih tertampak jelas raut wajah yang jelas, yang datang memang benar-benar adalah patung dari dewa gunung.

Tidak, yang bisa dikatakan adalah kekuatan gaib dari dewa itulah yang datang, bukan patungnya.

Sebab patung tersebut masih tetap berada di atas altar, sedangkan suara dari malaikat itu tibatiba saja berkumandang dari luar kuil, dari suatu tempat yang tidak diketahui arahnya.

Muncullah sesosok tubuh yang tinggi besar, bentuknya tak jauh berbeda dengan bentuk patung tersebut, diapun mengenakan pakaian perang, bermuka hijau, bergigi taring dan matanya memancarkan cahaya kehijau-hijauan.

Tapi langkah kakinya justru enteng seperti langkah seekor kucing, kecuali pakaian perangnya yang berdenting bila tanpa sengaja terhembus angin boleh dibilang sama sekali tak terdengar suara apapun.

Dia datang kehadapan Cing-cing lalu membungkukkan badannya sambil menyapa.

"Menjumpai tuan putri!"

Cing-cing adalah rase, rase yang berwujud manusia, mengapa dia bisa menjadi seorang tuan putri?

Jangan-jangan dialam kaum rasepun terdapat suatu kerajaan?

Dan panglima gunung inipun jelmaan dari rase.

Cing-cing mengangguk, jelas dia mengakui akan sebutan tersebut bahkan menunjukkan pula hubungan diantara mereka berdua.

""Baik-baikkah kau Yu Ciangkun (panglima kanan), maaf, terpaksa aku mesti melepaskan tanda rahasia sehingga kau harus jauh-jauh datang kemari, tapi, mengapa kau masih berdandan seperti ini? "Ketika kebetulan pun ciang (aku) berada di sini, aku telah melakukan sesuatu permainan yang menyebabkan penduduk di sekitar tempat ini mempercayainya sekali, sekarang terpaksa aku masih berdandan seperti ini, agar bila ketahuan jejaknya masih bisa membuktikan kebenaran akan berita yang tersiar sekarang"

"Cara ini kurang baik, paling banter hanya bisa membohongi penduduk kampung yang bodoh saja, bila sampai bertemu dengan orang persilatan, mereka tak akan percaya dengan segala tahayul, hal ini justru malah akan menimbulkan kecurigaan mereka!"

"Aku pun telah mempertimbangkannya sampai ke situ, untung saja kuil ini memang sudah ada sedari dulu, aku hanya menggunakan cara ini untuk mengadakan kontak saja dengan tempat luar. Tiada maksud lainnya lagi, sekalipun mereka lakukan penggeledahan ke tempat ini juga tak akan menemukan apa-apa!"

"Kalau sampai begitu, mereka akan terus menerus melakukan pemeriksaan dengan seksama!"

"Aku bisa bertindak dengan sangat berhati-hati, setengah bulan berselang suatu ketika ada tiga orang murid Hoa san yang berdiam selama lima enam hari di sini, akhirnya mereka tidak menemukan apa-apa dan pulang dengan tangan hampa"

"Kalau memang begitu tak mengapa, aku hanya kuatir mereka sampai mengejarmu dan menemukan gua kita!"

"Tentang soal ini, tuan putri tak usah kuatir, yang lain aku tak berani bilang, tapi, kalau soal ilmu meringankan tubuh, serta kecepatan lari, di dunia ini masih belum ada orang kedua yang dapat menandingi diriku!"

"Jangan tekebur, di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia lain!."

"Nasehat tuan putri akan selalu kuingat, cuma setiap kali aku tinggalkan gua selalu melingkar dulu kian kemari bahkan menyeberangi dulu ladang ilalang, menyeberangi sungai sebelum datang kemari, andaikata benar-benar ada orang menguntilku, mereka pasti akan mengejutkan kawanan anjing ditengah padang ilalang, oleh karena itu, terhadap keamanan masuk keluar gua, aku selalu bertindak hati-hati"

""Bagus sekali, aku tahu akan kesulitanmu, selama banyak tahun inipun kalian setia kepada kami!"

"Perkataan tuan putri kelewat serius, aku hanya merasa menyesal saja"

"Panglima kanan, kesetiaan kalian sudah cukup kupercayai, cuma keadaan belakangan ini kurang begitu baik"

Panglima bukit itu tampak agak marah.

""Kesemuanya ini tak lain adalah akibat pengacauan dari budak berbaju emas itu, bila aku sampai bertemu lagi dengannya di kemudian hari, pasti tak akan ku ampuni dirinya dengan begitu saja!"

Cing-cing segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Si jubah emas hanya mengincar tempat kedudukan, ia tak sampai bersekongkol dengan orang luar dan membocorkan rahasia kita, tapi Thi yan sepasang suami istri telah munculkan diri!"

""Dua orang budak sialan yang pantas untuk mampus, sepantasnya tuan putri membunuh mereka"

"Aku tak bisa melakukannya, aku merasa kurang leluasa untuk munculkan diri hingga sekarang belum ada yang mengetahui tentang diriku, lagi pula merekapun tidak menemukan keuntungan apa-apa di ujung golok Hu-ma (menantu) sepasang pergelangan tangannya telah kutung, tapi dalam saku mereka justru mempunyai lencana besi pengampunan dari kematian yang dibuat oleh lima partai besar bersama Sin kiam san-ceng..."

Si panglima gunung itu semakin gusar lagi.

"Sudah pasti mereka bersekongkol dengan lima partai besar, sejak dulu aku sudah menduga kalau dibalik mereka berdua ada sesuatu yang tidak beres, sekarang hal itu menjadi kenyataan"

"Yaa, hal itu jelas tak bisa diragukan lagi, kalau tidak darimana mereka berdua bisa mendapatkan lencana besi pengampunan dari kematian ....?"

"Lencana itu hanya bisa digunakan satu kali, lain kali mereka tak bisa mengandalkan benda itu lagi"

"Tidak bisa, sekarang belum boleh mengusik mereka, sebab mereka telah berada bersamasama lima orang ciangbunjin dari lima partai besar....."

Panglima gunung itu makin terkejut.

"Ciangbunjin dari lima partai besar kembali bergabung? Kenapa?"

"Untuk menghadapi bulan sabit ditangan Hu ma, sekarang mereka sudah mengetahui bait syair diatasnya!"

"Siau lo it ya teng cun hi?"

"Benar, waktu itu tidak seharusnya ke tujuh bait kata itu dicantumkan di atas golok!"

"Tulisan itu mempunyai hubungan dengan suatu cerita yang pantas dikenang, bila tuan putri sudah memegang tampuk pimpinan lain waktu, akan kau pahami dengan sendirinya!"

Cing-cing menghela napas panjang.

"Aaai ....aku tak ingin menjabat kedudukan itu, apalagi kemampuanku terbatas dan tidak mampu melatih jurus golok sakti tersebut!"

"Hu ma telah berhasil melatihnya?"

"Betul, dia mempunyai bakat yang sangat bagus, bukan cuma berhasil menguasahi ilmu tersebut, bahkan kedahsyatannya tidak berada di bawah kehebatan yaya dimasa lalu!"

"Kalau begitu dia sudah bisa beradu kepandaian dengan pedang sakti dari Cia Siau hong?"

"Entahlah, sekarang dia sedang mencari Cia Siau hong untuk berduel, Cuma aku tidak menguatirkan menang kalahnya.

"Cia Siau hong tak pernah mempunyai ganjalan hati dengan kami, yang kukuatirkan justru adalah orang-orang dari lima partai besar"

"Kalau tiada Cia Siau hong yang menunjang punggung mereka, lima partai besar tak perlu dikuatirkan."

Cing-Cing segera menghela napas panjang.

"Perkampungan Sin kiam san-ceng mempunyai kewajiban yang sangat besar terhadap keselamatan dunia persilatan, bilamana perlu mungkin dia toh tetap akan munculkan diri juga"

Dua orang itu termenung sejenak, kemudian Cing-cing bertanya lagi.

"Yaya dan nenek baik semua"

"Sampai kini masih berada dalam keadaan baik"

Cuma keadaan Tay-kong tidak seperti dulu, bagaimanapun mereka sudah tua, ketuaan adalah musuh terbesar dari manusia, sebab itu semua harapan tay-kong telah dicurahkan ke tubuh tuan putri seorang"

"Aku.. .mungkin akan membuat mereka kecewa, aku sungguh tak becus untuk berbuat apaapa"

""Tapi Hu-ma toh bisa, setelah dia berhasil melatih jurus golok sakti tersebut, dialah harapan kami, bila golok sakti sudah muncul, tiada tandingannya di kolong langit!."

Apakah siluman rasepun berambisi untuk menguasahi seluruh kolong langit? Kembali mereka berdua tercekam dalam keheningan. Akhirnya Cing-cing memecahkan keheningan lebih dulu.

"Yang hendak kuberitahukan kepadamu adalah semuanya itu, besok pada saat yang sama aku akan datang lagi untuk mendengar jawaban, aku ingin melihat apa petunjuk yaya"

""Tak usah menunggu sampai besok, mungkin tempat ini sudah memancing perhatian orang lain, jelas tak bisa digunakan lagi, sepanjang perjalanan tadi aku sudah menumpas dua orang!"

Suara itu berkumandang dari belakang punggung patung dewa gunung tersebut.

Entah sedari kapan, tahu-tahu di dalam ruangan kuil tersebut telah muncul seorang kakek berbaju hitam.

Cing-cing dan panglima bukit itu segera menjatuhkan diri berlutut, terhadap kemunculan si kakek yang sangat mendadak itu, mereka berdua sedikitpun tidak merasa tercengang atau kaget.

Seandainya Cing-Cing adalah seekor rase, sudah barang tentu kakeknya adalah siluman rase yang telah berwujud manusia.

Bila latihan sudah berlangsung beberapa waktu, seorang manusia pun bisa menjadi dewa, apalagi siluman rase ....

Apa pula arti dari kemunculan yang secara tiba-tiba itu?

"Yaya!"

"Tay kong!"

Sebutan yang tak sama namun dengan nada menghormat yang sama sekali tidak jauh berbeda. Kakek itu segera mengulapkan tangannya sambil tertawa.

"Bangun, bangun, Cing-cing, kau sudah hidup sekian lama di alam semesta, bagaimana perasaanmu tentang alam semesta?"

Ooo0ooo RAHASIA SILUMAN RASE CING-CING bangun berdiri di atas tanah, dia masih berdiri dikejauhan dengan kepala tertunduk, sikapnya sedikitpun tidak mirip dengan sikap seseorang cucu yang berjumpa dengan kakeknya.

Mungkinkah peraturan yang berlaku dialam rase jauh lebih ketat daripada peraturan di alam semesta!

Suara jawaban Cing-cing amat lirih.

"Meski cucu hidup dialam semesta, namun tak jauh berbeda dengan hidup ditengah gunung"

Kakek itu manggut-manggut dan tertawa.

"Hal inipun bagus sekali, asal kau tidak menampakkan diri, tentu tak akan menarik perhatian orang, lagi pula dapat memberi kesan misterius dan rahasia bagi yang memandang, bagaimana sikap Ting Peng si bocah muda itu kepadamu"

"Baik sekali, dia amat menyayangi cucunda dan selalu setia, cuma sekarang dia berubah lebih takabur, lebih serius dan berambisi besar, tidak seperti dulu hambar terhadap segala-galanya."

Kakek itu nampak sangat gembira.

"Bagus sekali, itulah yang kuharapkan selama ini, bocah itu punya ambisi, punya kegagahan dan berbakat bagus, itulah sebabnya kusuruh orang untuk membantu segala keperluanmu, apa saja yang dia inginkan aku dapat memuaskannya, lambat laun diapun akan menjadi orang yang ternama di dalam dunia persilatan."

"Tapi yaya....dia ...

"Cing-cing nampak sangat tidak senang. Dengan sorot matanya yang tajam, kakek itu memandang sekejap ke arahnya, lalu berkata.

"Cing-cing dia toh pilihanmu sendiri, aku tak pernah memaksamu untuk berbuat sesuatupun, tak pernah menganjurkan kepadanya untuk berbuat sesuatu, bila dia selalu bersikap hambar dan hidup menyepi di atas gunung, sudah barang tentu aku tak akan mengganggu kalian, tapi malah dia sendiri yang sedang merangkak ke atas, sedang aku pun tak dapat melarang dirinya, betulkah ucapanku ini?"

Cing-cing tak bisa berkata apa-apa lagi kecuali mengiakan, namun suara itupun sedemikian rendahnya hingga cuma dia seorang yang mendengar. Sekali lagi kakek itu berkata.

"Apa yang kau sampaikan kepada A-kong sudah kuketahui, kini perubahan situasinya sangat bagus dan cocok dengan jalan perkiraanku, mungkin saat untuk bangkit kembali telah tiba"

"Yaya, apakah kau berencana untuk menyerahkan tampuk pimpinan dalam perguruan kita kepada Ting Peng?"

"Bocah itu adalah seorang yang berbakat bagus, sewaktu dia memotong tangan Siang yan dengan goloknya tempo hari, pengerahan tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan seperti masa muda dulu, aku tak sanggup melebihi kemampuannya, mungkin dengan serangan golok tersebut aku bisa membunuh kedua orang penghianat tersebut, tapi jelas aku tak mampu memotong sepasang tangan mereka, kini dia dapat menggunakan tenaganya sesuai dengan apa yang dikehendakinya, bila dilatih lebih jauh tak lama kemudian ia sudah dapat mengalahkan Cia Siau hong...."

"Yaya, maksudmu saat ini dia masih belum sanggup untuk menghadapi Cia Siau-hong?"

Cingcing bertanya dengan cemas.

"Yaa, masih belum sanggup, ilmu pedang dari Cia Siau-hong sudah menguasahi seluruh jagad, kemampuannya bukan suatu kebetulan saja, apalagi belakangan ini dia selalu menutup diri dan tidak mencampuri urusan orang lain, kesempurnaan ilmu pedangnya sudah mencapai suatu taraf yang luar biasa sekali, aku percaya sekalipun Yan Cap sa menggunakan jurus pedangnya yang lihay dan sudah pasti tak dapat berbuat apa-apa atas dirinya."

"Ting Peng masih belum mampu mencapai taraf tersebut, bila berlatih sepuluh tahun lagi, mungkin saja dalam hal ketenangan ia sudah mencapai taraf yang dibutuhkan!"

"Tapi Ting Peng telah pergi mencari Cia Siau-hong untuk berduel!"

"Aku tahu, jangan kau anggap aku hidup terasing didalam gua lantas tak kuketahui persoalan di dunia, gerak gerik kalian cukup kuketahui dengan jelas!"

"Mengapa yaya tidak berusaha untuk menghalanginya?"

"Mengapa aku harus menghalanginya, penampilan dari Ting Peng sepanjang jalan justru sedang memupuk ambisinya, inilah penampilannya yang setingkat jauh lebih mendalam, atas semua penampilan dari bocah muda itu, aku merasa puas sekali!"

Dia memang benar-benar merasa amat puas, Cing-cing dapat mendengar hal itu dari suaranya, sedang si panglima bukit jauh lebih memahami lagi maknanya.

Sudah banyak tahun dia mengikuti majikan tuanya, selama ini belum pernah ia mendengar majikannya ini begitu memuji seseorang.

Oleh sebab itu si panglima gunung pun menunjukkan rasa gembira yang tak kalah dengan majikannya, dia lantas berseru.

"Tay kong. kalau begitu kita sudah dapat menampilkan diri!"

"Yaa, sudah benar. Kita sudah dapat menampilkan diri, kita tak usah bersembunyi lagi ditengah gunung, tak usah tidur ketakutan seperti rase liar yang takut ditemukan pemburu, sekarang kita dapat menampakkan diri secara terang-terangan dan berada di atas semua orang."

Setelah menghela napas, dengan sedih dia menambahkan.

"Cuma, saat-saat semacam ini mungkin tak akan sempat kusaksikan lagi, tapi kalian semua dapat menyaksikannya, paling banter sepuluh tahun lagi, sepuluh tahun kemudian dia sudah menjadi seorang jago yang tiada taranya di dunia ini, jauh lebih lihay daripada Cia Siau hong, golok bulan sabit pun akan memancarkan cahaya ke seluruh penjuru dunia"

Diam-diam Cing-cing melelehkan air matanya. Sorot mata si kakek sangat tajam, setiap gerik gerik dari Cing-cing tak ada yang bisa mengelabuinya, maka suaranya berubah menjadi lembut sekali.

"Cing-cing, apakah kau tidak merasa senang akan hal ini?"

"Cing ji tidak berani!"

Buru-buru Cing-cing menyeka air matanya.

"Lantas apa sebabnya kau mengucurkan air mata? Kau toh tahu, kita tak terbiasa mengucurkan air mata, dalam kehidupan kita ini hanya boleh mengucurkan air mata satu kali!"

"Yaa yaya, Cing ji tahu!"

"Kesempatanmu itu sudah kau pergunakan untuk Ting Peng, sekarang kau sudah tak berhak lagi untuk melelehkan air mata!"

"Cing ji menyesal, Cing ji tak cukup tabah!"

"Melelehkan air mata merupakan penampilan dari kaum lemah, dalam perguruan kita tiada kaum lemah, kitapun bukan manusia yang membunuh perasaan serta watak sendiri, tetapi disaat yang paling indahlah air muka yang bercucuran baru dianggap sebagai sesuatu yang mulia, lagi pula hanya manusia yang tahu perasaan yang dapat menjadi anggota perguruan kita, mengertikah kau?"

"Cing ji mengerti!"

Kakek itu segera menghela napas panjang, matanya berubah menjadi lebih lembut.

"Aku mengerti akan perasaanmu, sekarang kau sedang melelehkan air mata bagi perubahan diri Ting Peng, kau takut karena masalah ini berakibat dengan kehilangan dia!"

Kakek itu memang lihay, diapun pandai menebak isi hati orang lain, sekali tebak isi hati orang segera terbongkar. Cing-cing menundukkan kepalanya dan berbisik lirih.

"Cing ji memang menguatirkan hal ini!"

Kakek itu segera tertawa ramah.

"Kesemuanya ini hanya kekuatiranmu belaka, andaikata Ting Peng tidak berubah, kemungkinan besar dia akan meninggalkan dirimu suatu ketika tapi semakin banyak dia berubah, semakin dekat pula hubungannya dengan kita, hanya dalam keadaan seperti inilah dia tak akan meninggalkan dirimu lagi, apalagi setelah masuk menjadi anggota perguruan kita, dia tak mungkin bisa berhubungan lagi dengan orang luar, dia akan menjadi milikmu untuk selamanya, seperti juga nenekmu, dimasa mudanya dulu kau tak akan menyangka kalau dia bisa mendampingi diriku terus, tapi sekarang ia telah berubah menjadi begitu tulus hati dan setia kepadaku"

"Yaya", sambil memberanikan diri Cing-cing berkata.

"Cing ji merasa agak menguatirkan diri Ting Peng, perubahannya itu mungkin hanya bersifat sementara, tapi di kemudian hari mungkin saja dia akan berubah jauh di luar dugaanmu semula!"

"Hal ini bukan mustahil bisa terjadi"

Kakek itu tertawa.

"sekalipun gerak geriknya agak latah, namun watak yang sesungguhnya baik dan berbudi, jika dia semakin mendekati sasarannya, bisa jadi dia akan menentang pendirian kita"

"Yaya, kau pun dapat menduga akan hal ini?"

Cing-cing bertanya keheranan.

"Yayamu sudah banyak makan asam garam, pengalamanku terhadap watak manusia mungkin jauh lebih mendalam daripada siapa pun juga, masa hal itu tak dapat kuketahui? Cuma aku tidak kuatir, aku mempunyai sebuah cara yang bagus untuk menanggulangi hal itu!"

"Apa caramu? Apakah mengurungnya di tempat yang terpencil, agar dia putus hubungannya sama sekali dengan dunia luar?".

"Kau maksudkan dengan orang-orang dari lima partai besar?"

"Benar, mereka telah memusuhi diri kita!"

"Tidak, kau keliru, aku justru menghendaki mereka berhubungan makin akrab!"

"Mereka dapat menceritakan segala hal ikhwal tentang diri kita di masa lalu kepada Ting Peng dan menganjurkan kepada Ting Peng untuk meninggalkan kita"

"Hal ini sudah pasti akan terjadi, aku justru menghendaki mereka berbuat demikian!."

"Tapi... bukankah hal ini malah akan memisahkan Ting Peng dengan kita makin jauh?"

Kakek itu segera tertawa. (Bersambung

Jilid 12)

Jilid . 12

"NAK, bagaimanapun jua kau tetap masih muda, pandanganmu terhadap segala persoalan kurang mendalam, mungkin saja ada suatu ketika Ting Peng akan meninggalkan kita tapi sampai akhirnya dia pasti akan kembali, ia dapat meninggalkan kita karena kesesatan serta kebuasan kita, tapi dikala ia menemukan bahwa orang-orang lain jauh lebih rendah dan terkutuk dari pada kita, jauh lebih sesaat dan buas dari pada kita, dia dapat meninggalkan mereka lagi bahkan menjadi orang paling setia bagi perguruan kita!"

"Pendapat dari Yaya kelewat muluk"

"Tidak muluk tapi suatu kenyataan, suatu teori yang berdasarkan fakta, biasanya teori yang berdasarkan fakta jauh melebihi pendapat lainnya, aku mempunyai keyakinan ini karena keadaanku dulu persis seperti keadaan Ting Peng sekarang, dari tubuhnya aku seolah-olah menyaksikan bayanganku dulu dan dari tubuhku aku dapat meneropong dirinya dimasa mendatang."

Nada suaranya segera berubah menjadi lembut tapi penuh keinginan.

"Cuma kau lebih beruntung daripadaku, sebab yang kau bakal saksikan adalah suatu keberhasilan yang sempurna, masa mendatang yang cemerlang, sedang aku selama hidupku hanya bergelimpangan di tengah kegagalan!"

Cing-cing menundukkan kepalanya sampai lama, dia baru berkata lagi.

"Yaya, apa yang musti Cing-ji lakukan sekarang?"

"Tidak melakukan apa-apa, teguhkan saja keyakinanmu, jangan menganggap kita adalah orang dari kaum sesat dan jahat, sesungguhnya watak kita jauh lebih baik dan bajik daripada siapapun, tujuan kita didasari oleh suatu kenyataan yang sempurna, suatu kenyataan yang didasarkan pada kecerdasan serta akal budi, Cuma saja orang awam tak dapat memahaminya, oleh karena itu kau harus meneguhkan dulu keyakinanmu pada kemampuan sendiri jika kau sendiripun kehilangan keyakinan terhadap diri sendiri, bagaimana mungkin kau bisa membuat orang lain mempercayai pula dirimu?"

"Lantas apa yang musti kau lakukan?"

"Kau? Tiada yang perlu kau lakukan, yang meski kau perbuat adalah menjadi seorang istri yang baik, istri yang menuruti perkataannya, serta memberi bantuan sesuai apa yang bisa kau lakukan."

"Membantunya? Jika dia minta kepadaku untuk menyerahkan rahasia dari perguruan kita?"

Kakek itu segera tertawa.

"Jurus golok sakti itu merupakan rahasia tertinggi dari perguruan kita, itupun sudah dia peroleh, maka baginya boleh dibilang perguruan kita sudah tak mempunyai rahasia apa-apa lagi"

"Bila dia minta kepadaku untuk menyerahkan orang-orang kita"

"Pergunakan segenap kemampuanmu dan serahkan semua kepadanya!"

"Bila orang-orang itu diserahkan semua kepadanya, apakah orang-orang itu masih bisa hidup?"

"Bila mungkin, mohonlah kepadanya agar meninggalkan sedikit karena orang-orang itu akan merupakan anak buah kalian dimasa mendatang, tapi bila permohonanmu gagal, maka biar saja dibunuh olehnya!"

"Jika orang lain yang hendak membunuh mereka?."

Kakek itu segera tertawa angkuh.

"Kecuali dia, mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang buat orang lain untuk membunuh orang-orang kita, kecuali tunduk di ujung golok sakti yang tiada bandingannya itu, kita tak akan membiarkan orang lain membunuh diri kita secara mudah!"

"Yaya, aku betul-betul tidak habis mengerti dengan maksud tujuanmu yang sesungguhnya!."

"Tidak mengapa, Aku hanya ingin membuktikan kepadanya akan kesetiaan perguruan kita serta tekad anggota perguruan kita dalam mencapai cita-cita serta tujuan. Walaupun aku adalah seorang jago lihay yang tiada tandingannya di dunia ini, tapi cukup mengandalkan sepatah katanya, kami dapat memenggal batok kepala kita sendiri, agar dia tahu selain kami, tiada orang lain yang memiliki kesetiaan semacam ini."

"Yaya, seandainya dia minta kepadaku untuk menyerahkan dirimu?"

"Luluskan permintaannya, dalam kenyataan kau sendiripun tak akan dapat menemukan aku lagi, karena setelah perjumpaan kita hari ini, aku akan pindah lagi ke tempat yang amat jauh"

"Tapi dia akan menyuruhku untuk membantunya guna menemukan kau?"

"Kalau begitu, berikanlah semua bantuan yang bisa kau berikan, ingat, kau harus bersungguhsungguh, membantunya dengan tulus hati, jangan hanya berlagak atau berpura-pura saja, sebab tindakan semacam itu hanya akan membuat segala usahaku sia-sia belaka, dan bisa memporakporandakan semua rencana yang telah kususun!"

"Yaya, sesungguhnya rencana apakah yang telah kau persiapkan?"

Setelah tertawa sedih kakek itu menghela napas panjang.

"Satu pengorbanan yang sangat besar agar anak murid keturunan kita termakan oleh rencana ini serta mengatur mereka satu persatu munculkan diri kembali dari tempat kegelapan dan menghantarnya ke hadapan Ting Peng..."

"Berhargakah itu?"

"Berharga sekali nak, tindakan ini sangat berharga, kita hidup tak lain adalah ingin mewariskan cita-cita yang tinggi dan maha agung ini pada generasi mendatang, asal tujuan tersebut dapat tercapai, maka pengorbanan macam apapun berharga untuk kita lakukan!"

"Tapi sampai pada akhirnya..."

"Sampai pada akhirnya, akupun akan menyerahkan pula diriku sendiri! waktu itulah merupakan saat yang paling penting bagi pengorbanan kita, saat itulah merupakan saat kita untuk menyambut datangnya suatu permulaan baru, suatu permulaan yang gemilang!"

"Yaya, apakah tindakanmu ini tidak kelewat menyerempet bahaya?"

Sambil membelai rambut cucunya dengan penuh kasih sayang, kakek itu berkata.

"Nak, apakah kau anggap yayamu adalah seseorang yang suka menyerempet bahaya? Sudah banyak tahun aku hidup mengasingkan diri, hidup menyembunyikan diri, kesemuanya itu kulakukan tak lain karena sedang menunggu datangnya kesempatan seperti ini, akhirnya aku berhasil juga menantikan datangnya seorang manusia macam Ting Peng!"

"Yaya, aku percaya semua rencanamu itu tak bakal salah, tapi aku masih mempunyai satu persoalan yang merisaukan hatiku, yaitu masalah tentang Cia Siau hong"

"Benar, orang ini memang merupakan musuh kita yang paling tangguh, juga merupakan penghalang kita yang terbesar, bukan hanya dikarenakan ilmu silatnya, pun dikarenakan wataknya, kekurangan-kekurangan yang dimilikinya dimasa lalu sekarang sudah hampir tertutup semua secara sempurna, tingkatan yang telah dicapainya sekarang jauh lebih tinggi setingkat daripada tingkatan kita sekarang, dia adalah satu-satunya musuh yang tak sanggup dirobohkan, di kemudian hari mungkin saja Ting Peng dapat menangkan dia dalam hal ilmu silat, tapi dalam semangat, selamanya ia tak akan mampu untuk melampauinya, dia merupakan satu-satunya musuh yang paling tangguh di dunia ini, untung saja musuh semacam itu hanya ada seorang saja"

"Dapatkah dia mempengaruhi Ting Peng?"

"Tidak mungkin"

Sahut kakek itu sambil tertawa.

"karena di tubuhnya pun terdapat suatu kekurangan yang tak dapat diatasi olehnya, suatu kekurangan yang secara kebetulan berada dalam cengkeraman kita"

"Kekurangan apakah itu, yaya?"

"Nak.. inilah satu-satunya hal yang tak dapat kuberitahukan kepadamu, tetapi aku percaya kau dapat menemukannya sendiri"

Cing-cing tahu, apa yang dikatakan tidak bisa oleh yayanya, selamanya tetap tak bisa. Keheningan kembali mencekam seluruh ruangan kuil itu, akhirnya kakek itu mengulapkan tangannya.

"Pergilah, lain kali, tak usah datang kemari lagi, sekalipun kau kembali juga tak akan menemukan aku, bila tiada suatu perubahan yang luar biasa, inilah perjumpaan yang terakhir dari cucu dan kakeknya kita berdua, ingat! Sejak detik ini kau adalah istri Ting Peng, itulah satusatunya tugas yang harus kau lakukan di alam manusia, segala sesuatunya turuti perkataannya, jangan membantah ucapannya, jangan membuat dia menjadi marah, kau musti mengikutinya seperti seekor anjing yang setia kepada majikannya, sekalipun dia menendangmu dengan keras, kaupun tak boleh meninggalkan dirinya, nak, sanggupkah kau lakukan tugas yang sangat berat ini?"

Cing-cing mengangguk.

"Pasti akan kulakukan dengan sebaik-baiknya!"

"Bagus sekali, bila kau dapat melakukannya, lakukanlah dengan sebaik-baiknya, sekalipun sudah tidak bisa kau lakukan juga harus kau lakukan, mengerti?! Nak aku pergi dulu!"

Suatu ledakan keras menggelegar memecahkan keheningan, tiba-tiba kuil San sin bio itu ambruk dan hancur, patung arca dalam ruang kuilpun hancur serta porak poranda.

Sejak itu didalam kuil San sin bio tak pernah ada Sin leng (roh suci) lagi.

Para penggembala sapi bisa bermain disitu lagi, tapi beranikah mereka lakukan hal ini?

ooo0ooo KEMELUT CINTA PERKAMPUNGAN Sin kiam san-ceng, perkampungan yang dihuni oleh Sam sauya dari keluarga Cia.

Tempat itu merupakan tempat suci dunia persilatan, tempat terlarang umat persilatan.

"Perkampungan Sin kiam san ceng tidak dijaga secara ketat, hanya ada setengah sungai yang melingkari separuh bagian dari perkampungan itu. sedang separuh bagian yang lain dipisahkan oleh dinding tebing bukit Tiong san yang terjal. Dinding bukit yang tegak lurus dengan puncak yang menjulang ke angkasa, nampak begitu licin dan terjal, monyetpun susah untuk mendaki ke atas apalagi manusia, sebab itu untuk datang ke perkampungan Sin kiam san-ceng hanya tersedia sebuah jalan. Jalan itu terpotong oleh sebuah sungai, di atas sungai tiada jembatan, yang ada cuma sebuah perahu penyeberangan. Sungai itu tidak terlalu lebar, dari seberang sanapun dapat terlihat jelas, juga dapat melihat perkampungan Sin kiam san ceng di lambung bukit sana. Ada sementara waktu perkampungan ini pernah sepi dari pengunjung, itulah disaat pemilik perkampungan Sin kiam san ceng telah tua, sedang Sam sauya dari keluarga Cia masih berkelana di dalam dunia persilatan. Cia Siau hong mempunyai dua orang kakak, tapi tak seorangpun yang berhasil seperti adiknya. Perkampungan Sin kiam san-ceng termasyhur karena permainan pedangnya, bahkan di mulai sejak jamannya Sam sauya, ilmu pedang keluarga mereka sudah lama dikenal dan termasyhur dimana-mana. Anggota keluarga Cia tentu saja merupakan jago-jago lihay di dalam permainan pedang. Siapa pandai berenang suatu ketika akan mati tenggelam juga, demikian pepatah kuno pernah berkata. Toa sauya dari keluarga Cia memang tewas diujung pedang. Ji sauya dari keluarga Cia juga tewas di ujung pedang. Sedang Lo-tayya dari keluarga Cia mati sakit di rumah, mati dalam kesepian, tua dan lemah, meskipun dia memiliki putra yang pandai bermain pedang, termasyhur sebagai jago pedang yang luar biasa di kolong langit. Akan tetapi putranya ini memberikan kejayaan bagi keluarga Cia, juga mendatangkan banyak kesulitan. Banyak orang datang mencari Cia sam sauya untuk beradu pedang, tapi Cia Siau hong justru jarang berada di rumah, semasa mudanya dulu ia lebih banyak berdiam di rumah pelacuran daripada di rumah, apalagi di rumah penginapan atau di kamar gadis-gadis yang dicintainya. Semasa muda dulu Cia Siau hong seorang romantis, tapi juga angin-anginan. Meskipun dalam hidupnya dia mempunyai banyak teman gadis, namun secara resmi hanya pernah kawin sekali, mempunyai seorang bini. Yang dikawini adalah perempuan tercantik didalam dunia persilatan Buyung Ciu ti, namun juga merupakan perempuan yang paling menakutkan di dunia ini. Selamanya Buyung Ciu-ti tak pernah menjadi menantu keluarga Cia secara resmi, belum pernah masuk ke dalam perkampungan Sin kiam san-ceng dan menjadi majikan muda dari keluarga Cia. Sepanjang hidupnya dia hampir menyerupai bayangan dari Cia Siau hong, mengikuti terus di belakang Cia Siau hong, tapi bukan untuk bermesraan dengannya, melainkan selalu menghajarnya, mengusiknya dan membalas dendam ketidak setiaannya. Perempuan itu memiliki kemampuan yang luar biasa, kalau oran lain sukar untuk menemukan jejak Cia Siau hong, dia justru dapat menemukannya kendatipun Cia Siau hong sengaja mencampurkan diri dalam golongan bawah, bersembunyi dalam rumah makan menjadi pelayan, menjadi tukang kuda, menjadi pekerja kasar yang paling rendah, namun ia tak pernah bisa meloloskan diri dari pengejarannya. (Untuk mengetahui riwayat Cia Siau hong, silahkan membaca. Pendekar gelandangan, oleh penerbit yang sama). Kehidupan Cia Siau hong boleh dibilang sudah hancur ditangan perempuan ini, tapi dibilang berhasil juga atas bantuan perempuan ini. Dia melahirkan seorang anak lelaki buat Cia Siau hong, namun tidak memberi nama marga Cia kepadanya, pun tidak membuatnya menjadi majikan selanjutnya dari perkampungan Sin kiam san ceng. Tapi perkampungan Sin kiam san-ceng telah mempunyai seorang majikan perempuan yang baru. Dialah Cia Siau giok. Tiada orang tahu, dia adalah anak Cia Siau hong dengan perempuan yang mana dan kapan kawinnya? Yang pasti dia muncul secara tiba-tiba, seperti muncul dari dalam batu, setelah Cia Siau hong berhasil dan menetap didalam perkampungan Sin kiam san-ceng. Dia mendatangi perkampungan Sin kiam san ceng dan mengaku sebagai putri kandungnya Cia Siau hong. Sewaktu datang ia telah berusia lima belas tahun, waktu itu Cia Siau hong tak ada dirumah, tapi tak ada orang yang menuduhnya sebagai orang yang mengaku-aku saja. Sebab raut wajahnya paling tidak ada tujuh bagian mirip wajah Cia siau hong, apalagi kalau sedang tertawa, kemiripannya mencapai sembilan bagian. Senyuman Cia Siau hong seperti juga pedangnya, tiada tandingannya di dunia ini. Kalau pedangnya berhasil menaklukan setiap jago lihay, maka senyumannya berhasil menaklukkan setiap perempuan cantik. Tentu saja perempuan yang tidak cantikpun tak dapat melawan senyumannya, namun pilihan Cia Siau hong atas perempuan selalu amat tinggi dan teliti. Walaupun dia tak pernah meremehkan senyumannya, namun dia pun tak akan melakukan pancingan lebih jauh terhadap perempuan yang tidak menarik hatinya, oleh karena itu perempuanperempuan itupun tak sampai terpikat kepadanya. Bila senyumannya tidak bermaksud untuk menaklukkan hati seorang perempuan, maka senyuman itu begitu suci, tapi bila dia hendak naik ke atas pembaringan bersama seorang perempuan, maka senyumannya jauh lebih hebat, dari pada sebilah pedang. Kalau pedang, hanya bisa membuat seseorang kehilangan nyawa, maka senyumannya dapat membuat seorang perempuan kehilangan hatinya. Di dunia ini ada orang yang justru tidak takut mati, baik dia itu seorang lelaki, maupun perempuan. Oleh karena itu bila menggunakan pedang untuk memaksa seorang perempuan untuk ke atas pembaringan dalam sepuluh kali, ada delapan sembilan kali bisa berhasil, tapi toh akan berjumpa juga dengan perempuan yang tak takut mati. Tapi bila seorang perempuan telah menyerahkan hatinya kepada seorang lelaki, maka tiada perbuatan yang enggan dia lakukan. Sekalipun dia disuruh tidur menemani seekor babi, diapun tak bakal akan menampik. Sekembalinya dari berkelana Cia Siau hong baru mengetahui kalau dia mempunyai seorang anak gadis. Meski dalam hati merasa keheranan, namun tidak memberikan pernyataan apa-apa, diapun tidak bertanya siapa gerangan diri gadis itu.

"Yaa, kalau gadis itu mengaku sebagai istrinya, maka dia dapat menanyakan kebenaran dari hal ini kepada siapa? Seandainya dia menyangkal di depan orang bahwa nona itu bukan putrinya, sedang bocah perempuan itu justru dapat menunjukkan bukti yang menunjukkan kalau dia adalah putrinya, apa yang musti dilakukan lagi? Terpaksa dia hanya menanyakan persoalan ini kepada seseorang. Siau giok! Si nona yang mengaku sebagai putri kandungnya itu. Sewaktu Cia Siau giok berjumpa dengannya, sikap maupun gerak-geriknya sama sekali tidak canggung, seakan-akan mereka sudah kenal lama, sudah berkumpul cukup lama juga. Ia melompat ke depan memegang tangannya dan menggoncang-goncangkan dengan keras.

"Ayah, mengapa baru hari ini kau pulang? Kau bilang hendak pergi menjemput diriku, tapi kau tak pernah datang, terpaksa akupun datang sendiri kemari!"

Cia Siau hong merasa agak melongo juga, agak tertegun menghadapi kejadian seperti ini.

Dalam sepanjang hidupnya, dia sudah banyak mendengar orang lain memanggilnya dengan pelbagai sebutan.

Ada diantara mereka yang memanggilnya dengan nada yang menarik, amat menyenangkan, tapi kebanyakan orang yang menyukainya hanya kaum wanita, terutama perempuan-perempuan cantik.

Ada sementara diantara yang menyanjungnya, ada yang mengaguminya, tapi yang pasti mereka adalah kaum persilatan.

Tapi ada pula yang bersuara dengan nada sinis, kasar dan tak enak didengar, yang pasti mereka adalah orang-orang membencinya.

Tapi hanya panggilan seperti itu, baru ini didengar untuk pertama kalinya.

"Ayah!"

Walaupun merupakan sebuah panggilan yang sederhana, tapi belum pernah di dengar oleh Cia Siau hong selama ini, lagi pula dia memang sudah ingin sekali untuk mendengarnya.

Tentu saja bukan dipanggil oleh seorang gadis yang tak dikenalnya ini.

Dia mempunyai seorang putra, seorang putra yang dilahirkan oleh Buyung Ciu-ti.

Tapi anak itu selalu menolak untuk mengakuinya sebagai ayah, pemuda yang keras kepala itu mungkin saja sudah mengakui Cia Siau hong sebagai ayahnya, namun pengakuan tersebut hanya terjadi di dalam hati, sedang diluarnya, ia tak pernah memanggilnya dengan sebutan tersebut, tentu saja diapun tak pernah datang menjenguknya.

Cia Siau hong tahu, cepat atau lambat pemuda itu pasti akan datang juga, berlutut di hadapannya sambil memanggil "ayah".

Hanya saja harinya kemungkinan besar adalah hari kematian baginya, hari ia dimasukkan ke dalam peti mati, ketika berita kematiannya sudah tersebar ke mana-mana dan ia datang untuk melayat.

Berlutut di depan layonnya, kemudian di dalam hati kecilnya diam-diam memanggil sehingga siapapun tidak mendengarnya.

Cia Siau hong tahu bakal ada hari semacam itu, tapi dia berharap jangan sampai mendengar panggilan tersebut setelah berada dalam suasana seperti itu.

Sebab, bagaimanapun juga Cia Siau hong sudah tua, sedemikian tuanya sampai semangat mudanya sudah hilang sama sekali sampai wataknya pun turut berubah.

Perubahan terbesar yang dialaminya tentu berasal dari perasaan, ia sudah mulai merasakan kesepian.

Bukan rasa kesepian karena tiada tandingan di kolong langit, melainkan suatu perasaan kesepian yang menjemukan dan mengerikan, ia membutuhkan seseorang untuk mendampinginya.

Bukan perempuan, bukan sahabat, melainkan "putra dan putrinya", agar ia bisa melampiaskan rasa kasih sayangnya kepada mereka.

Cia Siau hong adalah manusia, bukan malaikat, bukan dewa, dia seperti juga orang lain, mempunyai suatu kebutuhan.

Hanya bedanya, dia pandai merahasiakan perasaannya itu, belum pernah membiarkan orang tahu akan kebutuhan dalam hatinya.

Tapi tiba-tiba saja dari tanah muncul seorang anak gadis.

Seorang gadis yang dengan kasih sayang dan penuh kehangatan memanggilnya ayah.

Itulah suara panggilan yang sangat didambakan, sangat diharapkan olehnya selama ini.

Sayang bukan berasal dari putra kandung yang di harapkannya selama ini.

Maka Cia Siau hong merasa tertegun dan keheranan.

Beberapa orang teman yang ikut bersamanya pulang ke rumah pun, berdatangan karena secara tiba-tiba mereka dengar kalau ia mempunyai seorang anak gadis, mereka turut datang untuk melihat apa gerangan yang telah terjadi.

Menyaksikan mimik wajah Cia Siau hong tentu saja timbul suatu bisikan-bisikan yang membicarakan masalah itu.

Masih untung saja didalam perkampungan Sin kiam san-ceng terdapat seorang pengurus rumah tangga yang piawai dan cekatan, dia adalah Cia sianseng yang tak pernah merasakan kesulitan dalam melakukan tugas apapun.

Sambil tertawa dia munculkan diri dan berkata.

""Dalam pertemuan pertama antara seorang ayah dan seorang anak, tentu banyak persoalan yang hendak dibicarakan, dipersilahkan saudara sekalian menuju ke ruang depan untuk minum arak kegirangan!"

Yang dimaksudkan arak kegirangan, tentu saja arak untuk menyambut datangnya seorang majikan perempuan baru dalam perkampungan Sin kiam san ceng, sudah barang tentu perjamuan itu amat meriah"

Cia Siau hong baru kembali tapi Cia sianseng telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik seakan-akan dia sudah menganggap gadis itu sebagai majikan barunya.

Apa yang kemudian dibicarakan antara Cia Siau-hong dengan Cia Siau-giok?

Tak seorang pun yang tahu..Tapi dua jam kemudian, ketika Cia Siau hong muncul kembali untuk menemani temantemannya minum arak, dia mulai bercerita tentang kehidupannya ketika masih berkelana dulu.

Terhadap kehadiran Cia Siau giok ternyata dia tidak menyangkal.

Kalau tidak menyangkal, tentu saja mengakui, walaupun Cia Siau hong tidak menerangkan asal usul gadis itu.

Tapi tak ada orang yang merasa keheranan, juga tak ada orang yang bertanya sepanjang hidupnya Cia Siau hong mempunyai berapa orang perempuan, siapapun tak tahu hal ini.

Sebab perempuan manapun kemungkinan besar dapat melahirkan seorang putri baginya""

Apa pula yang harus ditanyakan tentang soal ini.

ooo0ooo SEJAK dalam perkampungan Sin kiam san ceng telah bertambah seorang Cia Siau giok, suasana di situpun tampak lebih hidup, perkampungan besar yang semula hanya dihuni oleh beberapa orang saja, sekarang penuh dengan pelayan dan dayang.

Bangunan rumahnya diperbaharui, kebun yang penuh pohon dan bunga juga dibenahi.

Sekarang, perkampungan Sin kiam san-ceng baru mirip suatu perkampungan tempat tinggal seorang pendekar pedang nomor wahid dikolong langit.

Lebih mirip suatu daerah suci, daerah terlarang bagi umat persilatan, karena lebih keren, lebih berwibawa."

Hanya didalam wilayah daerah terlarang, baru terdapat daerah terlarang.

Letaknya di halaman kecil yang menyendiri di seberang sana, halaman yang dikelilingi dinding pekarangan yang tinggi dan seringkali dikunci dari luar.

Disitulah Cia Siau hong berdiam, di situ pula Cia Siau hong berlatih ilmu pedang, berpikir dan melatih diri.

Tak ada orang yang berani memasuki halaman tersebut termasuk juga Cia Siau giok sendiri.

Bila Cia Siau hong berada dirumah, pintu itu tetap dikunci, tidak berada dirumah pun pintu juga tetap dikunci.

Kunci tersebut sudah karatan, tergantung di atas pintu melambangkan semacam kekuatan.

Untuk keluar masuk dari tempat itu.

Cia Siau hong tak pernah melalui pintu itu, tapi juga tak ada yang tahu bagaimana caranya dia untuk keluar masuk, karena dalam halaman tersebut hanya terdapat sebuah pintu saja.

Tentu saja cara paling sederhana adalah melompati dinding pekarangan, walaupun dindingnya amat tinggi, namun tak akan menyulitkan Cia Siau hong.

Tapi tempat ini adalah rumahnya sendiri, mengapa dia harus masuk keluar melompati dinding pekarangan"?

Cia Siau hong bukannya tak pernah melompati dinding pekarangan, cuma hal mana dilakukan ketika masih muda dulu.

Sekarang entah kemana saja dia pergi, tentu saja ada yang membukakan pintu gerbang baginya serta menyambut kedatangannya dengan segala kehormatan.

Sekalipun terhadap musuhnya pun tidak terkecuali..

Karena kedudukan Cia Siau hong sekarang memang tak ragu lagi sudah sepantasnya menerima penghormatan tersebut.

Seseorang yang memiliki kedudukan semacam ini mungkinkah dia harus masuk keluar lewat dinding pekarangan didalam rumahnya sendiri?

Tak ada orang yang percaya dengan cerita tersebut, juga tak ada orang yang memikirkan masalah tersebut.

Sekalipun orang yang tinggal dalam perkampungan Sin kiam san-ceng, bila secara tiba-tiba mereka saksikan Cia Siau hong berjalan keluar dari belakang, maka merekapun tahu kalau dia sudah pulang.

Merekapun tak ada yang membayangkan apakah dia keluar dengan melompati dinding pekarangan atau tidak.

Walaupun merekapun tahu kalau di atas dinding Cuma ada sebuah pintu, meski tahu pintu itu sudah terkunci oleh gembokan yang berkarat dan kunci karat itu sudah tak dapat terbuka lagi.

Kecuali di tempat lain terdapat pintu penghubung atau dia mempunyai ilmu menerobos masuk ke dalam tanah, rasanya satu-satunya jalan yang bisa ditempuh hanyalah melompati dinding pekarangan tersebut....

Tapi semua orang lebih suka menerima dua cara yang terdepan daripada menerima kemungkinan yang terakhir.

Melompati dinding pekarangan tentu saja bukan suatu perbuatan yang baik dan gagah, tapi juga bukan suatu perbuatan jahat, ada banyak pendekar besar yang melompati dinding pekarangan.

Tapi tiada orang yang menduga kalau Cia Siau hong dapat berbuat demikian.

Paling tidak, sampai saat ini Cia Siau hong bukan seorang manusia yang dapat berbuat demikian.

Seseorang yang telah berubah menjadi malaikat di dalam hati orang lain, maka dia akan berubah menjadi seseorang yang luar biasa, seseorang yang amat sempurna, tak mungkin melakukan perbuatan rendah semacam itu.

Tapi halaman kecil yang berkunci dengan kunci berkarat itu tetap merupakan suatu rahasia besar.

Mungkin ada orang yang diam-diam menduga keadaan yang bagaimana di dalam halaman tersebut, tapi tak ada orang yang berani masuk ke dalamnya untuk menyelidiki keadaan yang sesungguhnya.

Sebab disitulah Cia Siau hong berdiam.

ooo0ooo AKHIRNYA Ting Peng sampai di depan perkampungan Sin kiam san-ceng.

Dia datang seorang diri membawa goloknya, menunggang kereta kencana yang dihela empat ekor kuda jempolan dan dikusiri oleh A-ku, dengan menyeberangi sungai tiba di depan perkampungan.

Kalau dulu, entah berapa banyakpun kekayaan yang dimiliki Ting Peng, ia harus berjalan kaki kemudian menumpang sebuah perahu kecil untuk menyeberangi sungai tersebut.

Karena di situ hanya tersedia sebuah perahu saja.

Tapi semenjak perkampungan Sin kiam san-ceng kedatangan seorang majikan perempuan kecil suasananya banyak telah berubah, orang yang berlalu lalang di situpun semakin banyak.

Tapi yang paling banyak berdatangan ke tempat itu adalah kawanan kongcu muda yang tampan dan berasal dari keluarga persilatan kenamaan di dunia ini.

Mereka berdatangan ke perkampungan Sin kiam san-ceng, pertama karena mengagumi akan nama besar perkampungan tersebut, kedua juga dikarenakan Cia Siau giok, seorang gadis yang cantik, cantik sekali.

Cia Siau giok memang sangat cantik, supel, suka bergaul, ramah tamah terhadap orang, dan selalu menerima tamu yang berkunjung ke situ dengan hangat.

Yang dimaksudkan setiap orang tentu saja mereka yang sebelumnya telah melalui seleksi dan pemeriksaan yang ketat..Bagi mereka syaratnya terlalu jauh tentu saja tak nanti dapat memasuki perkampungan Sin kiam san ceng.

Orang yang bisa memasuki perkampungan Sin kiam san ceng, agaknya kemungkinan besar bisa terpilih menjadi menantunya keluarga Cia.

Tapi hal ini hanya terbatas pada kemungkinan belaka.

Cia Siau giok bersikap sangat baik terhadap setiap orang, namun tidak pernah bersikap luar biasa baiknya terhadap siapapun.

Cuma saja, untuk menyambut kedatangan kongcu-kongcu keturunan keluarga persilatan itu, perahu bobrok semula yang tersedia di situ tentu saja tak dapat berfungsi lagi.

Itulah sebabnya Cia Siau giok telah menukar perahu itu dengan sebuah yang besar, besar sekali.

Perahu tersebut memang kelewat besar sehingga nampak mengerikan sekali.

Sedemikian besarnya perahu itu sehingga andaikata dipindahkan ke lautanpun perahu itu tak bisa dikatakan perahu kecil.

Tapi pihak perkampungan Sin kiam san ceng hanya menggunakannya sebagai perahu penyeberang sungai, yang diseberangi pun cuma dua ratus kaki perjalanan air, bukankah hal ini merupakan suatu pemborosan amat besar?

Dahulu, mungkin ada orang yang berkata demikian.

Tapi sekarang, setiap orang selalu berkata.

""Pantas sekali, tidak terhitung suatu pemborosan"

Sebab hal itu mempengaruhi sekali kewibawaan serta kegagahan perkampungan Sin kiam san ceng, Suasana yang berwibawa, bangunan rumah yang megah memang harus di imbangi oleh sebuah perahu yang besar.

Justru karena ada perahu semacam ini, maka Ting Peng berikut kereta kudanya baru bisa bersama-sama menyeberangi sungai.

Orang yang mengikuti di belakangnya tentu saja masih terdapat banyak, banyak sekali orang persilatan.

Sedikit banyak orang-orang persilatan itu masih mempunyai sedikit nama didalam dunia persilatan, tapi mereka hanya bisa bertahan di depan perkampungan di tepi sungai, tak ada yang mengikuti Ting Peng naik ke dalam perahu.

Sebab hanya Ting Peng seorang yang datang kesana untuk menantang Cia Sam sauya berduel.

Barang siapa ada yang turut bersama Ting Peng, itu berarti dia berdiri dipihak Ting Peng.

Tak seorang manusiapun yang ingin dicurigai orang dengan tuduhan semacam itu.

Mereka hanya datang untuk turut menyaksikan pertarungan, bukan datang untuk membantu Ting Peng, sekalipun mereka ingin membantu juga tak mungkin bisa membantunya.

Berdiri di tepi sungai di seberang perkampungan, dapatkah mereka turut menyaksikan duel tersebut?

Tiada orang yang menguatirkan pertanyaan tersebut, seakan-akan setiap orang tahu, sekalipun turut menyeberang juga tak akan bisa menyaksikan jalannya pertarungan itu.

Bila Cia Siau hong melayani tantangan dari Ting-Peng itu, dia tak akan melakukannya di hadapan orang banyak, kecuali kedua belah pihak yang berduel kemungkinan besar tak akan ada pihak ketiga yang hadir.

Mungkin saja akan hadir satu dua orang yang akan bertindak sebagai juri, tapi yang pasti tak akan dipilihkan dari salah seorang diantara mereka.

Dari tempat kejauhan mereka turut datang ke situ, yang ingin mereka ketahui hanyalah akhir dari duel tersebut.

Hasil dari pertarungan yang sensasional itu.

Tentu saja, sekalipun mereka tidak datang, hasil pertarungan itu dapat didengar juga, tapi mendengarnya dari mulut orang lain akan berbeda sekali rasanya.

Mereka telah datang sekalipun tidak menyaksikan sendiri, namun di kemudian hari mereka masih bisa berkisah menurut jalan pemikiran masing-masing untuk melukiskan betapa dahsyat dan mengerikannya pertarungan tersebut.

Bahkan tak nanti ada orang yang menegur ketidak jujuran mereka.

"Sewaktu pertarungan itu berlangsung, aku hadir dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri!"

Cukup membusungkan dada sambil mengucapkan perkataan ini, orang lain sudah akan menaruh hormat kepada mereka.

Seandainya secara kebetulan hadir pula orang yang lain, orang itu pasti tak akan menegur ketidak jujurannya, malahan mungkin dia akan memberikan perbaikan di sana sini.

Oleh karena itulah, banyak sekali pertarungan sengit yang terjadi di dunia ini, seringkali akan muncul beratus macam cerita yang berbeda.

Tapi beratus macam cerita itu mempunyai suatu ciri yang sama, yakni tegang, seru dan mendebarkan hati.

Tentu saja cerita-cerita itupun mempunyai suatu persamaan pula, yakni akhir dari pertarungan itu, menang kalah tak akan berbeda jauh dari kenyataan, dengan demikian orang baru akan percaya.

Bila ada orang jujur yang berbicara sejujurnya, malahan besar kemungkinannya dia tak akan dipercaya orang.

Perkataan jujur dari orang jujur paling tak bisa membuat orang lain percaya,.

karena cerita tersebut tidak memiliki seni keindahannya..

Padahal dunia ini adalah sebuah dunia yang sangat indah.

Tentu saja diantara sekian banyak orang yang datang untuk menonton jalannya pertarungan itu seluruhnya tertahan di tepi pantai sungai, ada diantara mereka yang datang selangkah lebih duluan dan telah disambut sebagai tamu kehormatan dalam perkampungan Sin kiam san-ceng, tentu saja orang-orang itu merupakan orang ternama, mempunyai kedudukan tinggi di dalam dunia persilatan.

Ada pula diantaranya yang datang terlambat, tapi pihak perkampungan Sin-kiam-san ceng segera mengirim perahunya untuk mengangkut mereka masuk ke dalam perkampungan.

Tentu saja orang itu mempunyai kedudukan yang tinggi didalam dunia persilatan."

Dan tentu pula, orang-orang semacam itu tak akan terlalu banyak jumlahnya.

Ketika perahu penyeberang dari Sin kiam san-ceng datang untuk kedua kalinya, tamu yang disambut oleh Cia sianseng dari atas perahu hanya enam orang belaka.

Tapi hal mana justru lebih menggemparkan kawanan jago silat yang berdiri di tepi sungai.

Lebih menggembirakan hati mereka.

Kecuali mereka yang berpengalaman rendah, kalau tidak seharusnya mereka akan mengenali kalau ke enam orang tersebut adalah para ciangbunjin atau tianglo utama dari enam perguruan paling besar dalam dunia persilatan saat ini.

Seperti Bu tong-pay atau Siau lim-pay, walaupun mereka termasuk perguruan besar yang tersohor dan dikenal oleh umat persilatan, akan tetapi berhubung mereka adalah perguruan orangorang beragama, maka mereka kurang begitu tertarik akan segala persoalan yang berhubungan dengan keduniawian.

Itulah sebabnya ciangbunjin mereka amat jarang berhubungan dengan orang luar, berbeda dengan ketua tianglo mereka yang justru lebih dikenal oleh setiap umat persilatan.

Enam orang tokoh persilatan yang paling top di dunia persilatan telah hadir pula di sana, hal mana membuat suasana menjelang pertarungan antara Ting Peng melawan Cia Siau hong terasa lebih merangsang dan lebih menarik.

ooo0ooo KETIKA Cia sianceng untuk kedua kalinya tiba kembali di depan pintu gerbang perkampungan Sin-kiam-san-ceng untuk menyambut kehadiran ke enam orang tamu agung ini, di depan pintu keluarga Cia telah berjajar sepasukkan pengawal "kehormatan"

Yang khusus dipersiapkan untuk menyambut tamu agung.

Tapi Ting Peng tidak turut masuk dia masih duduk dengan santainya didalam kereta sambil memejamkan matanya.

Ah-ku duduk pula di atas tempat kursinya dengan wajah kaku, cambuknya dipersiapkan seakan-akan setiap saat mungkin akan meneruskan perjalanannya.

Cia sianseng tidak bersikap kurang hormat terhadapnya, dengan sikap yang halus dia mempersilahkan tamunya masuk, tapi tawaran itu ditampik.

"Aku datang kemari untuk menantang majikanmu berduel, bukan datang untuk bertamu! Ucapan itu kontan saja membuat ucapan Cia sianseng seakan-akan terpental sejauh sepuluh kaki, namun watak Cia sianseng memang sangat baik, dia tidak marah, melainkan berkata sambil tertawa.

"Sekalipun Ting kongcu hendak menantang majikan kami untuk berduel, tentunya kau tak akan menantang secara orang kampungan yang adu jotos di pinggir jalan bukan? Meski tujuannya menantang untuk berduel, tata kesopanan tak boleh ditinggalkan, mengapa Ting kongcu tidak masuk dulu untuk duduk!"

"Majikanmu ada di rumah!"

Sebelum menjawab pertanyaan ini, Cia Sianseng harus termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia baru mengucapkan sepatah kata yang sukar untuk ditangkap arti sesungguhnya.

"Tidak tahu!"

""Apa? Kau tidak tahu?"

Seru Ting Peng dengan perasaan kaget bercampur keheranan. Dengan perasaan minta maaf Cia sianseng mengangguk.

"Benar, aku memang tidak tahu, selama banyak tahun sejak majikan kami ibaratnya naga sakti yang nampak kepala tak kelihatan ekornya, tak pernah ada orang yang bisa menduga dimanakah dia berada, ada kalanya selama berapa bulan ia tidak menampakkan diri tahu-tahu muncul didalam rumah, ada kalanya dia berdiam diri selama puluhan hari dirumah tapi tidak menjumpai siapapun yang berada dirumah, maka aku benar-benar tidak tahu"

Agaknya Ting peng merasa puas dengan jawaban tersebut, setelah berpikir sebentar, dia bertanya lagi.

"Tahukah kau kalau aku hendak mencarinya untuk mengajaknya berduel?"

Cia Siang seng tertawa.

"Soal ini aku kurang tahu, sewaktu nona pulang dari Hang-ciu, kebetulan ia telah bertemu dengan majikan kami, saat itu juga ia telah menyampaikan pesan kongcu kepadanya."

"Oooh, bagaimanakah pertanyaannya?"

"Majikan kami bilang, ia merasa berterima kasih sekali atas pertolongan yang diberikan Ting kongcu terhadap nona, katanya bilamana ada kesempatan dia akan menjumpai kongcu dan menyampaikan rasa terima kasihnya."

"Aku tidak bermaksud untuk menagih rasa terima kasihnya, bila ia bermaksud mengucapkan terima kasih, seharusnya sebelum habisnya batas waktu itu ia sudah datang ke Hang ciu, tapi setelah batas waktu habis dia belum juga datang, hal ini menunjukkan kalau dia memang bermaksud untuk mengajakku berduel..."

"Majikan juga tidak berkata demikian!"

Kata Cia sianseng sambil tersenyum dan tetap merendah.

"Tentang soal berduel, apa yang dia katakan ?"

"Dia tidak berkata apa-apa!"

"Apapun tidak dikatakan?"

Ting Peng keheranan. Cia sianseng tertawa.

"Memang jalan pemikiran majikan kami sukar diraba, kalau dia tidak berbicara tentu saja kami segan banyak bertanya, Cuma setelah majikan kami mendengar pesan dari Ting kongcu itu, aku yakin dia pasti akan memberikan suatu penyelesaian...."

"Ucapan ini kau yang berbicara, atau dia yang mengatakan demikian?"

Tanya Ting Peng hambar.

Kalau sewaktu berada dalam perkampungan milik Liu Yok siong tempo hari kedudukan Cia sianseng adalah begitu tinggi dan terhormat, tapi sekarang dalam pandangan Ting Peng, ia menjadi tak ada harganya, bahkan Ting Peng menaruh perasaan muak yang tak terlukiskan dengan kata terhadap dirinya.

Tapi Cia sianseng masih saja menjawab dengan suara yang ramah.

"Tentu saja aku yang mengatakannya, aku berbicara menurut penilaianku atas watak majikanku... ."

"Hmmm, kau bukan Cia Siau hong, kau tak dapat mewakilinya untuk berbicara, apalagi berbicara atas dugaan, perkataan semacam ini tak bisa masuk hitungan."

Kata-kata yang tidak masuk hitungan, ibaratnya orang yang melepaskan celana sebelum berkentut ....."

Paras muka Cia sianseng berubah hebat, bila seseorang yang sudah terbiasa disanjung dan dihormati, tiba-tiba mendapat penghinaan di hadapan orang banyak, kejadian yang amat tak sedap dipandang...Tapi Cia sianseng tetap Cia sianseng, bagaimanapun juga seorang congkoan dari Sin kiam san ceng memang memiliki suatu kelebihan daripada orang lain, dengan cepat hawa amarahnya ditarik kembali kemudian ujarnya sambil tertawa.

"Kata-kata mutiara dari Ting kongcu memang hebat ..."

"Kata mutiara semacam ini tidak terhitung hebat, melepaskan celana untuk berkentut hanyalah suatu perbuatan yang berlebihan belaka, kentut yang dilepaskan lebih berlebihan lagi, aku datang untuk mencari majikanmu, bukan datang untuk mendengarkan kau berkentut"

Walaupun Cia sianseng adalah Cia Sianseng, namun bagaimanapun juga dia tetap manusia.

Bagaimanapun baiknya iman yang dimiliki, toh tak sampai setebal muka Liu Yok siong, maka begitu selesai mendengarkan perkataan itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu untuk menyambut kedatangan tamu-tamu lainnya.

Ting Peng juga tidak menganggap kejadian itu sebagai suatu peristiwa, sambil bersandar kembali pada dinding keretanya, ia mulai mengantuk kembali.

Ketiak Cia sianseng telah menyambut kedatangan tamu-tamunya, Ting Peng masih saja tertidur.

Cia sianseng tidak ingin merasakan dampratan untuk kesekian kalinya di hadapan orang banyak, maka dia berlagak seakan-akan tidak melihat.

Tapi ke enam orang itu telah melihat Ting Peng, merasakan pula sikap dingin, kaku dan tidak menghormat dari Ting Peng.

Orang pertama yang menerjang ke depan paling dulu adalah Lim Yok peng dari Go bi pay.

Dalam dugaan semua orangpun tahu kalau dia pasti yang akan menerjang ke depan paling dulu.

Karena diantara ke enam orang itu, usianya paling muda, tahun ini baru berusia empat puluh lima tahun, tapi telah menjadi seorang ketua dari suatu perguruan besar.

Tentu saja ilmu pedang yang dimilikinya telah mendapatkan warisan langsung dari perguruannya, bahkan partai Go bi paling cemerlang dan termasyhur.

Dengan langkah lebar dia berjalan ke depan kereta lalu menjura dengan angkuh, walaupun dia sedang memberi hormat, namun siapa saja dapat melihat kalau perbuatannya itu terpaksa dilakukan agar tidak menurunkan gengsinya bagi seorang ketua, padahal dari kenyataannya sama sekali tidak berniat sungguh-sungguh.

Oleh karena Ting Peng tidak membalas memberi hormat, juga tak ada yang merasa Ting Peng kurang hormat, karena Lim Yok peng menjura hanyalah bagi dia sendiri, bukan ditujukan kepada Ting Peng.

Cuma saja sikap Ting Peng yang hambar membuat perasaan Lim Yok-peng semakin tak karuan, seandainya ia tidak terlalu mempersoalkan kedudukan, sejak tadi ia sudah mengayunkan pedangnya untuk membacok anak muda tersebut.

Itulah sebabnya dengan suara, dingin ia menegurnya.

"Kaukah yang dinamakan si Golok Iblis Ting Peng, si anak muda yang baru muncul dalam dunia persilatan?"

Ucapan tersebut diutarakan kelewat terpaksa, sekalipun bernadakan sedikit menyanjung, tapi itupun dikarenakan untuk menjaga kedudukan serta gengsi pribadi saja.

Bila Ting Peng adalah seorang prajurit tak bernama yang sama sekali tak dikenal orang, dengan kedudukannya sebagai seorang ketua ternyata maju untuk menegurnya, bukankah hal ini hanya akan menurunkan derajat diri sendiri?

Orang ini pintar dan berpengalaman, setiap patah kata yang dikatakan selalu mengandung arti yang mendalam, oleh karena itu tak heran kalau partai Go-bi menjadi termasyhur dan lebih cemerlang selama berada di tangannya.

Tapi orang yang dijumpainya hari ini adalah Ting Peng, ia benar dibuat kheki sekali hingga hampir saja mampus.

Ia memerlukan muka, tapi Ting Peng justru tidak memberi muka kepadanya, setelah memandangnya sekejap dengan dingin ia pun berkata.

"Aku memang Ting Peng, tamu yang ku undang datang di ruang Poan-kian-tong dalam kota Hang-ciu kali ini banyak sekali kau bisa kenal aku hal ini bukanlah sesuatu yang luar biasa!". Hampir melompat Lim Yok-peng saking gusarnya, segera teriaknya dengan suara dingin.

"Aku adalah Lim Yok-peng!"

Begitu ia menyebutkan namanya, Ting Peng segera tertawa tergelak, serunya.

"Ternyata kau adalah Lim Yok peng, tak heran kalau aku tidak kenal denganmu. Tempo hari, sewaktu aku mengadakan perjamuan di Poan-kian tong, sebetulnya aku telah mempersiapkan selembar kartu undangan bagimu, tapi seorang sutemu Liu Yok-siong telah menjadi muridku, dia bilang kau adalah seorang boanpwe, tidak pantas urtuk menerima sepucuk kartu undangan, suruh saja dua hari kemudian datang menyampaikan salam, ternyata kau benar-benar telah datang sekarang"

Hampir saja Lim Yok-peng muntah darah, dia datang mencari gara-gara dengan Ting Peng karena alasannya yang terutama adalah persoalan tentang Liu Yok-siong.

Liu Yok siong adalah adik seperguruannya, Liu Yok siong juga mempunyai ambisi untuk merebut kedudukan sebagai ciangbunjin, tapi ilmu pedangnya tak mampu melebihi dia, kecerdasannya juga kalah setingkat, dia selalu tak berhasil memperebutkan kedudukan itu dengannya, maka dia baru berusaha mencari segala daya upaya untuk memperkuat kepandaian silatnya agar suatu ketika bisa melampaui Lim Yok-peng.

Sesungguhnya apa yang dilakukan Liu Yok siong tidak keliru, cuma sayang yang dicari adalah Ting Peng, yang ditipu pun jurus pedang Thian gwat liu seng yang lihay.

Liu Yok siong bisa mencari Ting Peng sebagai korbannya, hal ini boleh dibilang merupakan suatu perbuatan yang membuatnya sial, dari seorang pendekar pedang kenamaan akhirnya berubah menjadi seorang manusia rendah yang dicemooh setiap umat persilatan.

Lim Yok peng bisa kehilangan Liu Yok siong sebagai saingannya, hal ini sebetulnya merupakan sesuatu yang pantas digembirakan, tapi apa yang kemudian dilakukan Liu Yok siong lebih hebat lagi, ternyata dia telah mengangkat Ting Peng sebagai gurunya agar bisa terhindar dari kematian.

Perbuatannya ini benar-benar merupakan suatu perbuatan yang luar biasa sekali.

Seperti halnya dengan seorang gadis dari keturunan rakyat biasa dikawini seorang pembesar, tapi karena perbedaan tingkat sosial, tentu saja gadis itu dipandang sinis dan dingin oleh mertuanya dalam keadaan gusar akhirnya menantunya itu kabur ke sarang pelacuran menjadi pelacur.

Meski di rumah mertuanya dia tidak dianggap manusia, tapi di sarang pelacuran dia justru adalah menantu dari keluarganya, tentu saja hal ini sangat memalukan nama keluarga mertuanya sehingga malu untuk bertemu dengan orang.

Demikian pula dengan apa yang dilakukan Liu Yok siong, perbuatannya membuat Go bi pay kehilangan muka, juga membuat Lim Yok peng naik pitam, dia buru-buru hendak mencari Ting Peng, tak lain adalah berusaha untuk menyelamatkan kembali nama baiknya.

Siapa tahu sebelum pokok pembicaraan dimulai, Ting Peng telah menghadiahkan sebuah pukulan lebih dahulu, sekalipun bukan pukulan yang sesungguhnya, namun cukup membuat kepalanya pusing dan matanya menjadi berkunang-kunang.

Dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga menenangkan hatinya, dengan suara dalam dia lantas berkata.

"Ting Peng, nama Liu Yok siong sudah dicoret dari daftar anggota Go bi pay, aku datang hanya ingin memberitahukan soal ini kepadamu!"

"Yaa, hal ini memang lebih baik lagi"

Sahut Ting Peng dengan hambar.

"akupun sedang murung, mempunyai seorang murid semacam itu saja sudah cukup membuat pusing, kalau di tambah pula dengan seorang keponakan murid macam kau, dan di tambah lagi cucu-cucu murid lainnya dari Go bi-pay, bisa mampus aku saking kesalnya."

Lim Yok-Peng benar-benar tak sanggup untuk menahan diri, dengan suara keras dia lantas membentak nyaring.

"Bocah keparat, kau terlampau tekebur, kau anggap golok iblismu itu betul-betul sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini?"

""Itu mah sukar untuk dikatakan", jawab Ting Peng sambil tertawa, paling tidak aku belum sampai berduel melawan Cia Siau hong, bila aku telah berhasil mengalahkannya, mungkin saat itulah kemampuanku sudah hampir mendekati"

"Ting Peng, kau jangan terlalu memandang remeh-remeh orang lain, berada di depan perkampungan Sin-kiam-san-ceng, juga berani bertindak tekebur dan jumawa sekali... ."

Bagaimanapun galaknya dia berbicara, toh dalam hatinya merasa agak keder juga, sebab dia sudah mendengar pula berita tentang kelihaian Ting Peng sewaktu mengutungi lengan Thi-Yansiang-hui.

"Orahg yang sanggup mengutungi pergelangan tangan Thi yan siang-hui dalam sekali tebasan golok, paling banter cuma ada dua orang. Yang satu adalah Cia Siau hong, sedang yang lain adalah seseorang yang mereka anggap sudah mati, dan orang itu merupakan orang yang siang malam mereka takuti. Walaupun mereka menganggap sudah mati, juga berharap dia sudah mati, tapi kematian tanpa mayat bukanlah sesuatu yang terlalu pasti, bagaimanapun juga di dalam hati kecil mereka masih tetap tersisa rasa ragu dan sangsi. Walaupun orang itu tidak menampakkan diri, tapi goloknya telah muncul, jurus goloknya juga ikut muncul, muncul ditangan Ting Peng. Mereka harus menyelidiki persoalan itu sampai jelas, golok milik Ting Peng itu berasal dari mana? Ilmu goloknya belajar dari siapa? Dan apa hubungannya dengan orang itu?. Bila mungkin, paling baik kalau Ting Peng dibunuh dan golok itu dihancurkan.. Cuma sayang khabar yang mereka peroleh terlalu lambat, Ting Peng telah berangkat ke perkampungan Sin kiam san-ceng, di perkampungan Sin kiam san-ceng terdapat Cia Siau hong, mereka merasa agak lega, karena dengan demikian kemungkinan mereka sampai terbunuh di ujung golok bulan sabit tersebut tidak terlalu besar. Cia Siau hong pernah memberikan jaminan tersebut kepada mereka. Tapi, kemungkinan mereka bisa membunuh Ting Pengpun tidak terlalu besar, karena Cia Siau hongpun telah memberikan pula jaminannya kepada orang lain. Perduli apapun yang terjadi, golok itu telah muncul di dalam dunia persilatan, jurus golok itupun sudah muncul kembali di dalam dunia persilatan, mereka harus menyelidiki persoalan ini sejelas-jelasnya. Oleh karena itu mereka datang. Diantara ke enam orang itu kesan Lim Yok peng terhadap golok tersebut paling tawar, karena sewaktu golok itu sedang merajai seluruh dunia persilatan, dia belum lulus dari perguruan. Sumpah rahasia yang dilakukan enam partai besar baru diketahui setelah dia menjabat sebagai ketua, dia tahu golok itu amat menakutkan, tapi tidak tahu sampai ke tingkatan yang bagaimanakah rasa menyeramkan dari golok tersebut. Tampaknya kelima orang lainnya juga tak pernah memberitahukan soal ini kepadanya, kalau tidak ia tak akan begitu berani untuk mengucapkan kata.

"Cabut keluar golokmu"

Terhadap Ting Peng.

Dalam dunia persilatan, ucapan tersebut adalah suatu perkataan yang sederhana, setiap saat orang bisa mendengar perkataan itu diucapkan orang, entah karena persoalan sekecil apapun.

Tapi ucapan seperti itu tidak seharusnya diucapkan kepada pemegang golok bulan sabit.

ooo0ooo DAHULU, entah berapa orang yang pernah melakukan perbuatan bodoh seperti ini, dan orangorang itu harus membayar suatu pengorbanan yang sangat besar.

Pertama-tama yang harus kita bayar paling dulu adalah nyawanya, oleh karena itu belum pernah ada orang hidup yang memberitahukan kepada orang lain agar jangan melanggar kesalahan tersebut.

Apa mau dikata Lim Yok peng justru telah melanggar penyakit seperti ini.

Cuma dia masih terhitung bernasib baik, karena yang dijumpai adalah Ting Peng, sedang Ting Peng meski memegang golok iblis tersebut, namun dia belum ketularan sifat iblisnya.

Dia sedikit gemar mempermainkan orang, tapi tidak terlalu suka membunuh orang.

Bahkan terhadap manusia seperti Liu Yok siong pun, Ting Peng tidak membunuhnya, maka nasib Lim Yok peng memang terhitung baik.

Oleh karena itu setelah mengucapkan perkataan tersebut, dia masih bisa berdiri, masih bisa berdiri utuh dan tidak sampai badannya terpisah menjadi dua.

Cuma sikap maupun tidak tanduk Ting Peng seakan-akan mulai dipengaruhi watak iblisnya, kakinya sudah mulai melangkah ke luar dari dalam kereta, lalu menegur dengan suara dingin.

"Barusan apa yang kau katakan?"

Lim Yok peng mundur selangkah, memandang ke arah rekan-rekannya, tapi setelah menyaksikan mimik wajah yang diperlihatkan mereka, dia mulai menyesal.

Para pemimpin dari lima partai lainnya menunjukkan sikap yang berbeda-beda.

Mimik wajah mereka ada lima bagian yang senang menyaksikan dia tertimpa musibah, dua bagian gembira dan tiga bagian perasaan ngeri.

Gembira karena mereka telah menyaksikan golok ditangan Ting Peng, tak usah di periksa lagi mereka hampir dapat memastikan kalau golok itulah yang dimaksudkan.

Ngeri, tentu saja karena memandang golok yang mengerikan tersebut.

Golok adalah benda mati, tentu saja yang menakutkan adalah orang yang memegang golok tersebut, golok yang berada ditangan Ting Peng apakah juga terhitung menakutkan.

Walaupun golok Ting Peng telah memecahkan nyali Liu Yok-siong.

Walaupun dalam sekali tebasan golok itu telah mengutungi pergelangan tangan Thi yan siang hui.

Tap bagaimanapun juga apa yang mereka dengar hanya cerita orang, bukan suatu kejadian yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri.

Walaupun berita yang tersiar tersebut bisa dipercaya kebenarannya, tapi dalam hati mereka mempunyai suatu pandangan yang berbeda, karena dahulu mereka pernah menjumpai orang itu, menjumpai golok tersebut.

Daya pengaruh yang amat besar terpancar dari golok tersebut membuat mereka merasakan suatu keadaan yang luar biasa dan sukar di pahami orang lain, paling baik kalau ada orang yang bersedia mencoba kelihaian golok tersebut, agar memberikan suatu perbandingan baginya.

Setiap orang ingin mencoba, tapi setiap orang tak berani untuk mencoba.

Sekarang Lim Yok peng telah menampilkan diri untuk menjadi kelinci percobaan, itulah yang menyebabkan mereka jadi gembira menyaksikan orang lain tertimpa musibah.

Mendadak Lim Yok-peng menjadi mengerti, apa sebabnya mereka jarang sekali membicarakan tentang persoalan ini sepanjang jalan, tapi lebih banyak membicarakan persoalan tentang Liu Yok siong.

Rupanya mereka memang bermaksud untuk menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan.

Walaupun Lim Yok-peng pernah melakukan pekerjaan bodoh, namun dia bukan seorang bodoh, karena itu ia segera berhenti sebentar, dia segera berusaha keras untuk mengendalikan perasaan sendiri sembari berkata.

"Aku suruh kau mencabut keluar golok agar diperlihatkan kepada semua orang, benarkah golokmu itu adalah sebilah golok iblis."

"Ting Peng segera tertawa.

"Seandainya kalian ingin mengetahui apakah di atas golok ini terdapat tulisan Siau lo it-ya teng cun-hi", maka aku dapat memberi tahukan kepada kalian, memang golok inilah yang kalian duga!"". Lim Yok-peng segera tertawa dingin. Tapi hal itu tak dapat membuktikan apa-apa, setiap orang dapat membuat sebilah golok semacam ini dan mengukirkan ke tujuh patah kata itu di atas gagang goloknya.

"Benar, benar, perkataanmu itu memang sangat bagus dihapal, kau memang seorang bocah berbakat bagus, tak heran kalau kau bisa menjadi seorang ciangbunjin"

Ejek Ting Peng sambil tertawa.

"cuma kalau toh golok ini tak bisa membuktikan apa-apa, kenapa pula aku mesti mencabutnya keluar untuk diperlihatkan kepada kalian semua?"

Sekali lagi Lim Yok peng dibikin tersudut oleh perkataan tersebut, cuma kali ini dia telah bertindak lebih cerdik, dia tidak lagi diburu oleh napsu angkara murka, dia hanya tertawa sambil berkata.

"Hal tersebut harus ditanyakan kepada kelima orang itu, karena dahulu mereka juga pernah menyaksikan golok itu bahkan pernah merasakan kerugian besar di ujung golok tersebut."

Seraya berkata dia lantas menuding ke arah lima orang lainnya, seakan-akan dia telah menyumbang ancaman mara bahaya tersebut kepada mereka berlima.

Tentu saja kelima orang itu merasa amat terperanjat, mereka tidak menyangka kalau Lim Yok peng akan berbuat demikian, sorot mata mereka segera dialihkan ke wajah orang itu.

Dua sorot mata yang tajam bagaikan dua buah kepalan tinju ditujukan ke wajah Lim Yok peng, seakan-akan mereka ingin sekali menghajar wajahnya sampai hancur.

Cuma sayang, walaupun sorot mata mereka penuh dengan kemarahan, toh sorot mata bukan kepalan tangan, wajah Lim Yok peng tetap masih utuh seperti sedia kala.

Sebaliknya perhatian Ting Peng segera tertarik untuk berpaling ke arah kelima orang itu.

(Bersambung ke

Jilid 13)

Jilid . 13 DIA memperhatikan sekejap wajah mereka semua, lalu sambil tertawa katanya.

"Tak heran kalau ada orang yang sangat memperhatikan golokku, ternyata golok ini pernah begitu ternama, sayang sekali aku tidak tahu kalau kalian berlima apakah juga dapat ternama dalam dunia persilatan?"

"Kau tidak kenal dengan mereka?"

Tanya Lim Yok peng sambil tertawa. Ting Peng segera menggelengkan kepalanya berulang kaki.

"Aku tidak kenal, aku belum lama terjun ke dalam dunia persilatan dan tidak banyak jagoan yang kujumpai, seandainya sutemu Liu Yok siong tidak menjadi muridku, akupun tak akan kenal dirimu sebab sebelum seseorang akan menerima murid, sedikit banyak dia harus menyelidiki asal usul dari calon muridnya bukan?"

"Sekali lagi Lim Yok peng merasa gusar sekali sehingga hampir saja muntah darah segar, tapi kembali dia berusaha untuk menahan diri, katanya.

"Kelima orang ini adalah tokoh-tokoh silat yang amat termasyhur namanya dalam dunia persilatan, bila kau tidak kenal dengan mereka, maka kau belum pantas untuk menjadi anggota persilatan"

"Kau tak usah melanjutkan kembali kata-katamu itu"

Tukas Ting Peng sambil tersenyum.

"akupun tak ingin kenal dengan mereka, karena aku tak ingin menjadi orang persilatan! Ucapan tersebut kontan saja membuat setiap orang merasa tertegun, bahkan Lim Yok peng sendiripun ikut menjadi tertegun.

"Kau tak ingin menjadi orang persilatan! serunya.

"Benar"

Ting Peng manggut-manggut.

"Walaupun orang yang kukenal tidak banyak jumlahnya, tapi aku telah menjumpai beberapa orang diantaranya, tapi mereka semua kalau bukan seorang manusia pengecut yang takut mampus sudah pasti manusia rendah yang tak tahu malu. Seorang yang begitu ************************* Halaman 5 -6 hilang ************************* Istri Liu Yok siong telah mempergunakan nama palsu Ko siau untuk melakukan suatu pertunjukkan besar yang benar-benar Ko siau (menggelikan). Karena sekarang istrinya juga ruse. Rase adalah sejenis binatang yang pandai merayu. Rase jantan merayu perempuan, rase betina merayu lelaki. bahkan dapat membuat orang menjadi terayu sampai ke liang kubur..Oleh karena itu seorang lelaki yang sudah memperistri perempuan rase, paling tidak ia tidak seharusnya terpikat lagi oleh perempuan lain, tapi entah mengapa, sewaktu Ting Peng menyaksikan senyuman-nya yang memikat hati itu ternyata jantungnya berdebar keras. Tapi hal ini tak dapat menyalahkan Ting Peng, sebab di luar pintu masih berdiri dua orang pendeta, seorang hwesio, dan seorang tosu. Thian kay siangjin adalah ketua tianglo dari ruang Tat mo wan di kuil Siau lim si. Sedang Ci yang totiang adalah tianglo yang berkedudukan paling tinggi dalam partai Bu tong. Usia kedua orang itu tentu saja sudah tua, iman mereka juga sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, namun mereka toh sama saja dibikin terbelalak lebar-lebar oleh kecantikan Siau giok. Sekali lagi gadis itu memperlihatkan sekulum senyuman yang amat memikat hati kepada kelima orang itu, kemudian katanya.

"Maaf, ucapan tersebut bukan aku yang bilang melainkan ayahku, walaupun apa yang dia katakan agak berbeda dalam susunan katanya bila dibandingkan ucapan Ting toako ini, tapi maksudnya sama, karena itu bila kalian hendak marah, lebih baik marahlah kepada ayahku!"

Setelah mendengar penjelasan tersebut, sekalipun Thian kay Sangjin ingin marah juga tak bisa dilampiaskan keluar, terpaksa tanyanya.

"Apakah Cia tayhiap ada dirumah?.."

Cia Siau giok tertawa, sahutnya.

"Ayah baru saja keluar dari kamar bacanya dan segera mengucapkan perkataan tersebut kepadaku, tampaknya dia mempunyai kesan yang kurang baik terhadap kalian, sebab itu akupun tidak mengundang kalian untuk masuk ke dalam!". Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, kontan saja kelima orang ciangbunjin tersebut menjadi tertegun lalu berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo. Cia Siau giok tidak memperdulikan sikap mereka, sambil tertawa dia telah berkata lagi kepada Ting Peng .."Ting toako, mengapa kau begitu memandang asing terhadap kami? Setelah datang masih berdiri saja di depan pintu tak mau masuk?"

"Cia siocia, aku datang kemari untuk menantang ayahmu berduel!"

Kembali Cia Siau giok tertawa merdu.

"Aku telah menyampaikan kata-katamu itu kepada ayah, dia bilang berduel denganmu adalah urusan kalian, tapi yang pasti kau adalah tuan penolongku, bagaimana juga aku harus menyatakan dulu perasaan terima kasihku kepadamu sebelum membicarakan masalah lain, hayo jalan! mari kita masuk ke dalam!"

Ia segera maju ke depan dan menarik lengan Ting Peng. Ting Peng menjadi sangsi.

"Aku. ..."

Sambil tertawa kembali Cia Siau giok berkata.

"Persoalan harus diatur mana duluan dan mana belakangan, kau menolong jiwaku lebih dulu dan menantang ayahku belakangan, karena itu sekalipun kau hendak mencari ayahku untuk berduel, paling tidak harus menerima perjamuan lebih dulu setelah aku menyampaikan rasa terima kasihku, kau baru boleh menantang ayahku, dengan demikian ayahku juga tak usah ragu-.ragu untuk turun tangan terhadap dirimu nanti, benar bukan?"

Perkataan yang diutarakan oleh seorang gadis cantik semacam ini tentu saja benar, apalagi apa yang dikatakan memang betul dan bisa diterima dengan akal sehat.

Terpaksa Ting Peng ditarik masuk olehnya, cuma buru berjalan berapa langkah tiba-tiba dia meronta dan melepaskan diri dari cekalannya sambil berkata.

"Tunggu sebentar, aku masih ada satu persoalan yang harus diselesaikan lebih dulu!"

Dia lantas membalikkan badan dan menghampiri Lim Yok peng, katanya dengan hambar.

"Tadi, bukankah kau ingin melihat aku mencabut golokku!"

Dengan cepat Lim Yok peng mundur selangkah ke belakang. Ting Peng mendengus dingin, katanya lebih jauh.

"Aku tidak begitu suka membunuh orang, tapi aku lebih tak suka orang lain berkata demikian kepadaku, kau telah menyaksikan diriku, tapi masih memaksa untuk menyaksikan golokku, itu berarti kau hanya memperdulikan golokku, tidak memperdulikan orangku, bukan begitu? Baik, sekarang aku akan memperlihatkan golokku. Cuma golokku selamanya tak pernah keluar sarung tanpa hasil, maka lebih baik kau pun mencabut keluar pedangmu pula!"

Paras muka Lim Yok-peng pucat pias seperti mayat, mulutnya ternganga lebar dan tak tahu apa yang musti diucapkan.. Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, Ting Peng menghela napas panjang.

"Bagi seorang lelaki sejati, mati lebih berharga daripada hidup tertekan, mengapa kau ketakutan seperti itu? Kalau toh merasa takut, mengapa pula kau harus berlagak menjadi seorang jagoan?"

Lim Yok peng memang merasa takut, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang ciangbunjin suatu perguruan, tentu saja dia tak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan orang sambil mencabut pedangnya dia berseru.

"Omong kosong, siapa yang takut kepadamu itu?"

Bila seorang tak mau mengakui dirinya ketakutan maka saat itulah dia sedang merasa ketakutan setengah mati, tapi waktu itu tiada orang yang mentertawakan dirinya.

Karena orang luar juga sedang ketakutan seperti dia.

Kemudian Ting Peng maju ke depan Lim Yok peng dan mencabut goloknya.

Sebilah golok yang amat sederhana, cuma golok itu melengkung sehingga mirip bulan sabit..

Setiap orang hanya memperhatikan golok itu, tapi tak ada yang melihat bagaimana caranya Ting Peng turun tangan, dia hanya berjalan menuju ke arah ujung pedang Lim Yok peng..

Tahu-tahu pedang Lim Yok peng telah kutung menjadi dua bagian, sebilah pedang kini sudah berubah menjadi dua bilah.

Seperti pedang itu terbuat dari bambu sehingga ketika disayat dengan senjata tajam, dari ujung pedang sampai gagang pedangnya telah terpapas kutung menjadi dua bagian, separuh di kiri dan separuh di kanan.

Seluruh badan Lim Yok peng berdiri kaku seperti sebuah patung.

Waktu itu Ting Peng hanya berkata sepatah kata.

"Lain kali jangan sembarangan menyuruh aku mencabut golok, bila bersikeras ingin berbicara maka pertimbangkan dulu kemampuanmu."

Selesai berkata, dia berpaling ke arah lima orang lainnya sambil menambahkan.

"Demikian juga dengan kalian semua!"

Selesai berkata dia lantas mengikuti Cia Siau giok masuk ke dalam perkampungan.

ooo0ooo GOLOK IBLIS SEBAGIAN besar jago tertahan di tepian sungai, tapi orang yang berdiri di depan pintu pun tidak sedikit, semua orang telah dibuat tertegun.

Seperti juga Lim Yok peng, mereka berdiri kaku bagaikan sebuah patung arca.

Semua orang telah menyaksikan golok tersebut, sebilah golok lengkung yang amat sederhana, tiada sesuatu keistimewaan apa-apa.

Tapi siapapun tak melihat jelas bagaimana caranya Ting Peng turun tangan, mereka hanya menyaksikan Ting Peng maju menyongsong kedatangan ujung pedang Lim Yok peng, kemudian merekapun menyaksikan pedang itu sudah terbelah menjadi dua.

Mengutungi senjata lawan dalam suatu pertempuran adalah suatu kejadian yang jamak, mengutungi pedang lawan hanya suatu kejadian biasa, tapi pedang Lim Yok peng bukan pedang biasa, pedang tersebut adalah sebilah pedang ternama, sebilah pedang yang diwariskan hanya kepada ciangbunjin saja, meski tidak terukir tulisan apa-apa di ujung pedang tersebut, tapi sudah umum kalau orang menganggap pedang ada orang hidup, pedang musnah orang mati.

Sekarang pedang itu telah dimusnahkan orang, seakan-akan dimusnahkan oleh suatu kekuatan iblis yang luar biasa, karena tenaga manusia tak mungkin bisa melakukannya.

Sekalipun seorang ahli pembuat pedang juga tak mungkin bisa membelah pedang tersebut menjadi dua bagian, walau ditempa dan dipanaskan lagi.

Tapi Ting Peng dapat melakukannya.

Akhirnya Lim Yok peng sadar kembali dari lamunannya, Ting Peng telah masuk ke dalam pintu gerbang, hanya Ah-ku masih duduk dengan setia di atas kereta.

Lim Yok peng membungkukkan badan memungut kutungan pedangnya.

kemudian menghela napas panjang.

"Aai....akhirnya aku tahu juga, apa sebabnya kalian merasa begitu ketakutan..."

"Lim sicu, apakah kau melihat jelas bagaimana caranya turun tangan.?"

Buru-buru Thian kay sangjin bertanya. Lim Yok peng menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, pada mulanya aku hanya melihat goloknya, tidak melihat orangnya, menanti aku melihat orangnya, golok itu sudah berada di tangannya, seakan-akan golok adalah golok, orang adalah orang, kedua belah pihak tidak ada hubungannya satu sama lainnya."

Kelima orang itu merasa terkejut sekali, buru-buru Ci yang totiang bertanya.

"Lim sicu. benarkah kau mempunyai perasaan demikian?"

Lim Yok peng memandang sekejap ke arahnya, lalu menjawab dengan suara dingin.

"Kalian sendiri toh bukannya tak pernah merasakan keadaan seperti ini, mengapa harus bertanya lagi kepadaku?"

Thian kay sangjin menghela napas panjang.

"Tidak ciangbunjin, dulu perasaan yang lolap sekalian alami jauh lebih hebat daripada sekarang, golok itu belum mendekat di badan, hawa tajam sudah mendesak tubuh, bahkan bagaikan mau menyayat badan, seandainya Cia tayhiap tidak turun tangan menyelamatkan kami dan menangkis golok tersebut, sudah pasti tubuh lolap sekalian berlima serta guruku telah tercincang menjadi lima belas bagian, golok tersebut benar-benar merupakan sebilah golok iblis yang menakutkan"

"Benar"

Kata Ci yang totiang pula, golok bulan sabit itu nampaknya sederhana seperti tiada sesuatu yang aneh, tapi bila sudah berada ditangan majikannya, untuk memainkan jurus golok tersebut maka segera muncul suatu kekuatan siluman yang sanggup menggetarkan perasaan setiap orang...."

Lim Yok peng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Aku tidak merasakan apa-apa, juga tidak menyaksikan apa-apa, cuma melihat golok itu mendekati aku, kemudian tiba-tiba orangnya sudah berdiri di hadapanku, mengenai apa yang terjadi sehingga pedangku itu kutung, aku sama sekali tidak merasakan keadaan semacam itu, mungkin kemampuan yang dimiliki Ting Peng masih belum mencapai kehebatan orang yang kalian maksudkan, sehingga kemampuannya justru belum sedemikian menakutkan"

"Tidak, sicu keliru besar"

Kata Thian kay taysu sambil menggeleng.

"kesempurnaan yang dicapai Ting Peng sekarang telah melebihi kemampuan orang itu, juga lebih menakutkan, karena dia dapat mengendali-kan golok, bukan dikendalikan oleh golok!"

Ooo0ooo APAKAH yang dimaksud sebagai Golok mengendalikan manusia.

Golok adalah manusia, manusia adalah golok, antara manusia dan golok bila tak terpisahkan maka golok akan merasakan napsu membunuh dari manusia, akal budi manusia tak bisa mengendalikan kebuasan golok sehingga manusia menjadi budak golok, golok menjadi sukma dari manusia.

Golok adalah sebuah alat pembunuh, sedang golok tersebut merupakan alat pembunuh dari sekian alat pembunuh.

Lantas apa pula yang dimaksudkan "manusia mengendalikan golok?"

Golok adalah aku, tapi aku tetap aku.

Golok itu digenggam oleh tangan dan digerakkan menurut perasaan yang dipancarkan lewat akal budi, oleh sebab itu bila dalam hatiku ingin menghancurkannya semacam barang, menghancurkannya hingga suatu bentuk, golok akan melakukannya menurut perintah yang disalurkan lewat otak dan digerakkan otot tangan.

Jadi manusia sukma dari golok tersebut, golok adalah budak dari manusia bukan sebaliknya.

Paras muka enam orang pemimpin dari enam partai besar yang berada di depan pintu telah berubah sangat hebat, penuh diliputi perasaan takut dan ngeri yang tebal, mereka memang mempunyai alasan untuk merasa takut dan ngeri.

Ditinjau dari penuturan Lim Yok peng, kesempurnaan Ting Peng telah mencapai manusia mengendalikan golok, itu berarti tiada orang yang bisa mengendalikan dirinya lagi.

Ci-yang totiang termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata.

"Cia sianseng, menurut pendapatmu, apakah pedang sakti dari keluarga Cia sanggup untuk mengendalikan golok iblis dari Ting Peng?"

Dengan cepat Cia sianseng menjawab.

"Sepuluh tahun berselang, aku berani mengatakan dengan pasti tidak mungkin. Tapi sepuluh tahun belakangan ini aku tidak tahu sampai dimanakah taraf kemampuannya yang dimiliki majikanku sehingga terpaksa aku hanya bisa mengatakan tidak tahu"

Jawaban semacam itu sama halnya dengan jawaban yang tak berguna, sebuah jawaban yang bisa membuat orang bertambah kesal.

Tapi dari jawaban tersebut dapat ditarik pula satu kesimpulan baru, yakni tiada orang yang tahu kemampuan Cia Siau hong yang sebenarnya.

Ilmu pedangnya telah berhasil mencapai suatu tingkat kesempurnaan yang mengerikan sekali.

Tapi Cia sianseng mengatakan kepandaian tersebut masih belum berhasil mencapai taraf yang dimiliki Ting Peng sekarang.

Dengan suara rendah ketua Hoa san pay Cing Hui kiam-khek Leng It hong berbisik.

"Sekalipun Cia tayhiap bisa menangkan Ting Peng, kitapun tak bisa terlalu mengharapkan terlalu banyak, karena mengundang dia keluar untuk mengurusi persoalan ini mungkin lebih tidak gampang dibandingkan dengan kita turun tangan sendiri untuk menghadapi Ting Peng."

Semua orang menundukkan kepalanya rendah-rendah, apa yang diucapkan Cia Siau giok tadi terasa masih mendengung di sisi telinga mereka, pandangan Cia Siau hong terhadap mereka sudah jelas menerangkan segala-galanya.

Mereka tak berani marah kepada Cia Siau hong, karena Cia Siau hong memang berhak untuk mengeritik mereka.

Satu-satunya harapan mereka sekarang adalah jangan sampai kritikan tersebut tersiar sampai di luar perkampungan.

Sewaktu datang tadi, gaya ke enam orang itu sangat gagah, naik perahu baru keluar Cia dan disambut masuk ke dalam perkampungan seperti tamu agung.

Tapi sewaktu berlalu dari situ keadaannya mengenaskan sekali..

Sekalipun mereka masih juga menunggang perahu yang sangat megah itu, meski diantar oleh Cia sianseng, tapi barisan penyambut tamu agung yang berjajar di tepi perkampungan telah dibubarkan, bahkan sudah bubar sebelum mereka naik ke atas perahu.

Maksud dari kenyataan itu sudah jelas sekali, yakni barisan penyambut tersebut bukan disiapkan untuk menyambut kedatangan mereka, apa yang mereka saksikan hanya suatu kebetulan saja.

Sewaktu mereka pergi, tamu agung dalam perkampungan Sin-kiam-san-ceng belum ada yang pergi, untuk membuat orang tidak salah paham, maka barisan tersebut dibubarkan..Hal ini membuat di atas wajah mereka yang sedih, diliputi pula perasaan malu.

Terutama sekali ketika perahu mereka menepi di pantai seberang, betapapun muka dengan sorot mata kawanan jago persilatan yang dialihkan ke arah mereka, dengan pandangan tercengang serta perasaan tidak mengerti, rasa malu yang mencekam di dalam hati mereka makin bertambah tebal.

Cuma saja walaupun dalam perkampungan Sin kiam san-ceng mereka mendapat perlakuan yang kurang baik, namun dalam pandangan kawanan persilatan itu, kedudukan mereka masih tetap tinggi dan terhormat bagaikan malaikat.

Baca Juga: Pedang Hati Suci Jin Yong

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert