Eps 3 Golok Bulan Sabit - Khu Lung
Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung
Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.
Kini pedang tersebut tersoren di pinggangnya, ia sedang duduk didalam sebuah pagoda air yang mungil dan indah bagaikan dalam alam impian di perkampungan Wan gwat san-ceng.
Dia sedang memperhatikan tuan rumah perkampungan Wan gwat san-ceng yang aneh tapi luar biasa itu, Ting-Peng.
Kemegahan dan kemewahan dari Perkampungan Want gwat san-ceng sama sekali di luar dugaan kebanyakan orang, tamu yang berdatangan pada hari inipun jauh lebih banyak dari pada apa yang dibayangkan kebanyakan orang.
Kebanyakan tamu yang hadir saat itu merupakan kawanan jago kenamaan dari dunia persilatan, tokoh-tokoh persilatan yang menjagoi suatu wilayah serta kesatria-kesatria yang setiap saat dapat menggerakkan pedangnya untuk menolong orang.
Tapi yang hadir dalam pagoda air itu cuma sepuluh orang.
Sun Hu hou, Lim Siang him, Lamkiong Hoa Su, Ciong Tian, Bwe Hoa Ceh Yiok.
Ke enam orang ini dikenal oleh Leng siu tojin.
Otot-otot hijau ditangan Sun Hu hoa dan Lim Siang him selalu menonjol keluar, sekulum senyuman "menghiasi wajah mereka, dapat diduga ilmu tenaga dalam maupun ketebalan iman dari mereka dalam melakukan hubungan sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.
Lamkiong Hou-su masih tetap seperti sedia kala, gagang pedang dan dandanannya selalu mengikuti perkembangan jaman.
Entah kapan dan dimana saja kau bertemu dengannya, di tangannya selalu tampak.
secawan arak, seakan-akan hanya dari dalam cawan arak inilah baru bisa kelihatan kejayaan dari keluarga persilatan Lamkiong.
Ciong Tian kelihatan lebih serius, lebih angkuh dan lebih ceking.
Hanya Leng siu tojin seorang yang tahu apa sebabnya dia bisa menjadi kurus, sebab mereka sama-sama sedang merasakan suatu penyiksaan diri yang berat.
Latihan yang tekun, makanan berpantang yang kurang gizi, pantangan pada kobaran napsu merupakan suatu siksaan batin yang amat hebat.
Hanya Leng siu tojin saja yang tahu betapa besar pengorbanan yang harus dibayar dan berapa banyak penderitaan yang harus dirasakan untuk bisa melakukan ketiga hal tersebut.
Mungkin Meh Tiok pun berbuat yang sama dengan mereka, sebab bukan terlampau sedikit manusia-manusia macam mereka yang terdapat didalam dunia persilatan.
Ada banyak sekali manusia yang sedang menyiksa diri hanya dikarenakan suatu cita-cita, suatu tujuan.
Tapi ada pula sementara orang yang justru gemar sekali menyiksa dirinya sendiri.
Tentu saja Bwee Hoa bukan manusia semacam ini.
Baginya, asal ada kesempatan untuk makan, dia akan makan sekenyang-kenyangnya, bila ada kesempatan untuk tidur pun maka dia akan berusaha tidur senyenyak-nyenyaknya.
Satu-satunya pantangan baginya adalah jangan membiarkan diri sendiri kelewat lelah.
Leng siu tojin tak pernah mengerti, kenapa seorang manusia dengan perawakan seperti Bwee Hoa bisa menjadi seorang jagoan silat kelas satu dalam dunia persilatan, bahkan mengambil nama yang begitu indah, begitu seni untuk digunakannya.
Setelah ada Bwee Hoa dan Meh Tiok di situ, tentu saja Cing siong pun tak akan ketinggalan.
Secara lamat-lamat Leng siu tojin sudah dapat merasakan tuan rumah tempat ini mengundang kehadiran mereka di sana bukan disebabkan oleh suatu maksud yang baik.
Dahulu ia belum pernah mendengar nama "Ting Peng"
Disebut-sebut orang..Sebelum berjumpa dengan orang ini, dia pun belum pernah memandang tinggi orang ini.
Sekarang dia baru tahu, bahwa pandangan semacam itu adalah suatu pandangan yang salah.
Bukan saja pemuda itu memiliki banyak keistimewaan yang belum pernah dijumpai di kebanyakan orang, bahkan diapun memiliki suatu keyakinan pada diri sendiri yang sangat aneh, seakan-akan tiada persoalan yang tak bisa diselesaikan olehnya di dunia ini dan tiada perbuatan yang tak bisa dilakukan di dunia ini.
Leng siu totiang tidak mengetahui asal-usulnya, tidak mengetahui juga asal-usul perguruannya, tapi dia dapat melihat kalau ia bukan seorang manusia yang mudah dihadapi.
Pada saat itulah kedengaran ada seseorang datang melapor.
"Liu Yok Siong, Liu cengcu dari perkampungan Siang Siong san-ceng telah datang dengan membawa serta hujinnya!"
Ketika mendengar nama Liu Yok siong disinggung, paras muka Ting Peng sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun, hanya ujarnya dengan nada hambar.
"Silahkan masuk !"
Tiba-tiba Leng siu tojin menjadi sadar dan mengerti, rupanya Ting Peng sengaja mengundangnya kemari untuk menghadapi Liu Yok siong.
Liu Yok siong lah baru merupakan sasaran yang sebenarnya dari Ting Peng.
Sebab orang yang tiada perasaan, adakalanya justru jauh lebih menakutkan daripada orang yang berperasaan untuk mewujudkan kejadian pada hari ini, sudah pasti Ting Peng telah merencanakannya lama sekali.
Peristiwa apakah yang bakal terjadi pada hari ini?"
Tanpa terasa tangan Leng siu tojin mulai menyentuh gagang pedangnya.....
""Entah bagaimanapun juga, Liu Yok siong tetap merupakan adik seperguruannya, peristiwa apapun yang bakal terjadi pada hari ini, asal pedangnya ada di sisinya, dia tak akan membiarkan siapapun untuk mengusik nama baik ""Bu tong pay"
Pelan-pelan dia bangkit berdiri ditatapnya wajah Ting Peng lekat-lekat, kemudian tegurnya.
"Tahukah kau, Liu Yok-siong adalah saudara seperguruan pinto?"
Ting Peng tersenyum manggut-manggut.
"Apakah kalian adalah sahabat lama!"
Kembali Leng siu tojin bertanya keheranan.
Tinp Peng tersenyum, hanya kali ini dia menggeleng.
Dari balik sorot matanya yang bersih dan tenang itu mendadak memancar keluar senyuman istimewa yang tak mungkin bisa dipahami oleh orang kedua.
Leng-siu tojin segera berpaling, mengikuti sorot matanya yang memandang ke depan, ia saksikan sebuah tandu yang besar sekali.
Itulah sebuah tandu besar yang digotong oleh delapan orang, biasanya hanya pembesar kelas satu yang akan menaikinya bila hendak berangkat ke istana atau orang-orang kaya raya yang menyambut sanak keluarganya.
Liu Yok-siong berjalan di depan tandu itu, ternyata sikap serta mimik wajahnya hampir mirip dengan Ting Peng, membawa suatu kepercayaan pada diri sendiri yang aneh sekali.
Selamanya dia adalah seorang yang selalu pandai menangani persoalan, kenapa pada hari ini dia membawa istrinya datang ke sana dengan menaiki tandu besar ini?
Bahkan menggotong tandu itu sampai masuk ke dalam halaman rumah orang?
Leng-siu tojin mengerutkan kening, ia saksikan tandu itu melewati halaman rumah dan berhenti di ujung jembatan Kiu-ci-kiu di luar pagoda air itu.
Kemudian tirai di depan tandu di singkap orang, dari dalam tandu itu muncul sebuah tangan yang halus dan lembut seperti tak bertulang.
Dengan cepat Liu Yok-siong membimbing tangan itu.
Sepasang alis mata Leng-siu tojin berkernyit makin rapat, ternyata perempuan yang dibimbing turun oleh Liu Yok siong kali ini bukanlah istrinya.
"Tapi sikapnya terhadap perempuan itu jauh lebih lembut dan halus daripada sikapnya terhadap istrinya sendiri. Bu tong pay adalah suatu perkumpulan kaum lurus dalam dunia persilatan yang dihormati setiap orang, tentu saja anak murid Bu tong pay tak boleh melakukan perbuatan semacam ini. Sambil menarik mukanya, Leng siu tojin segera melangkah keluar dari dalam pagoda air, kemudian serunya dengan suara dingin.
"Suruh dia pulang!"
""Siapa yang disuruh pulang?"
Liu Yok siong balik bertanya.
"Perempuan itu!"
"Kau tahu siapakah dia!"
"Perduli siapakah dia, suruh dia pulang!"
"Ia telah memperhatikan suasana di sekeliling tempat itu, ketika banyak orang memandang ke arah perempuan itu, wajahnya segera memperlihatkan suatu mimik wajah yang aneh sekali.
Ia tak dapat membiarkan perempuan itu tetap hadir di sana dan hanya membikin malu saja.
Tiba-tiba Liu Yok siong tertawa, katanya.
"Ditempat ini memang ada seseorang yang harus pulang, tapi yang pasti bukan dia!"
"Kalau bukan dia lantas siapa?"
"Kau!"
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan suara hambar.
"Bila kau berlutut di hadapannya dan menyembah tiga kali kepadanya lalu cepat-cepat menggelinding pergi dari sini, mungkin aku masih bersedia untuk mengampuni dirimu!"
Paras muka Leng siu tojin segera berubah hebat, serunya dengan suara tertahan.
"Apa kau bilang?"
"Aku telah mengatakannya dengan sangat jelas, aku rasa kaupun seharusnya sudah mendengar dengan jelas pula"
Leng siu tojin memang telah mendengar dengan jelas, setiap patah kata dapat didengarnya amat jelas, namun dia mimpipun tidak menyangka kalau perkataan seperti itu bisa diucapkan oleh Liu Yok siong.
Sekuat tenaga dia berusaha untuk mengendalikan diri, kemudian katanya pelan.
"Apakah kau sudah lupa peraturan pertama dari perguruan kita berbicara tentang soal apa?"
"Perguruan mana yang kau maksudkan ?"
"Apakah kau termasuk dalam perguruan manapun sudah kau lakukan?"
Hardik Leng siu tojin keras-keras. Liu Yok-siong tertawa dingin.
"Dulu aku memang pernah mengendon dalam perguruan Bu tong pay, tapi sekarang aku sama sekali sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Bu tong pay"
"Jadi kau sudah bukan anggota perguruan Bu tong pay lagi?"
Kata Leng siu tojin sambil berusaha keras untuk menahan amarahnya.
"Yaa, bukan!"
"Siapakah yang telah mengusirmu keluar dari perguruan Bu tong pay.?"
"Aku sendiri"
"Jadi kau hendak menghianati perguruan?"
Liu Yok siong mendengus dingin.
"Hmm... aku mau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi, dalam hal ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan soal penghianatan terhadap perguruan"
Bu tong pay adalah seorang pemimpin dari empat partai pedang paling besar di dalam dunia persilatan, perguruan kaum lurus yang diakui oleh setiap umat persilatan di dunia ini, setiap orang selalu merasa berbangga hati bila dapat mengakui dirinya sebagai anggota perguruan Bu tong pay, maka tindakan yang dilakukan Liu Yok siong ini benar-benar tidak di duga oleh siapapun.
Setiap orang memandang ke arahnya dengan pandangan terkejut, semua orang menganggap dia pasti sudah gila.
Paras muka Leng siu tojin berubah menjadi hijau membesi, dia tertawa dingin tiada hentinya.
"Bagus, bagus sekali, bagus sekali....!"
"Kau masih ada perkataan yang lain ?"
"Tidak ada !"
"Kalau memang begitu, kenapa tidak kau cabut keluar pedangmu?"
Mulutnya membicarakan dengan Leng siu Tojin, namun sepasang matanya justru memandang ke arah Lan-lan.
Lan-lan pun sedang memandang ke arahnya sambil tertawa manis sekali tertawanya, seakanakan dia sedang memberitahukan kepadanya.
"Tindakan mu itu bagus sekali, asal aku ada di sampingmu, tak sampai sepuluh gebrakkan, kau pasti dapat membunuhnya..."
Ooo0ooo TIADA orang yang akan mempercayai perkataan itu.
Tak ada orang yang berani percaya kalau Liu Yok siong dapat mengalahkan Leng siu tojin, manusia nomor satu dalam perguruan Bu tong pay saat ini hanya didalam sepuluh gebrakan saja.
Tapi Liu Yok siong mempercayainya seratus persen.
Walau didalam lima jurus serangan yang pertama Leng siu tojin berhasil menguasai seluruh keadaan dan posisi, memaksanya tak sanggup untuk bernapas kembali.
Tapi, dia masih tetap percaya Lan-lan tak akan membuatnya merasa kecewa.
Ketika mencapai jurus yang ke sembilan, ia sudah di paksa ke sudut yang mematikan, walau dengan mempergunakan jurus-jurus apapun, dia sudah tak sanggup lagi untuk menembusi serangan dari Leng siu tojin itu.
Mereka sama-sama mempergunakan ilmu pedang aliran Bu tong pay, dalam bidang ini Leng siu jauh lebih hapal dan matang dari dirinya...
Mendadak ia teringat kembali dengan jurus Thian gwa liu seng (bintang kemukus di luar langit) tersebut..Thian gwa liu seng bukan ilmu pedang Bu tong pay, begitu pedangnya melakukan gerakan yang berbeda, desingan angin tajam segera membelah angkasa.
"Creeet..."
Ujung pedang itu sudah menusuk masuk ke dalam dada kiri Leng siu tojin hingga menembusi punggungnya, ternyata pedang itu telah menembusi dada Leng siu.
Setiap orang menjadi tertegun, Liu Yok siong turut menjadi tertegun.
Dia sendiri tahu, jurus pedang itu paling banter hanya bisa digunakan untuk menembusi serangan gencar dari Leng siu tojin, tak mungkin serangan tersebut bisa membinasakan dirinya.
Tapi buktinya Leng siu toojin telah tewas di ujung pedangnya.
Kelopak mata Lang siu toojin mulai membuyar, sorot matanya penuh diliputi rasa ngeri, takut, kaget dan tercengang.
Sudah jelas dia dapat menghindarkan diri dari tusukan pedang itu, tapi kenyataannya sekarang tidak berhasil.
"Mengapa bisa demikian ?"
Sewaktu Leng siu toojin roboh di atas tanah, Liu Yok siong sama sekali tidak melihatnya.
Dia sedang memandang ke arah Lan-lan.
Lan-lan juga sedang memandang ke arahnya sambil tertawa, tertawa semakin manis, seolaholah dia sedang memberi tahukan pula kepadanya.
"Asal aku berada di sini, asal kau percaya kepadaku, entah apapun yang ingin kau lakukan, pasti dapat kau lakukan."
Sekarang ingatan yang melintas dalam benak Liu Yok siong tentu saja adalah membunuh Ting Peng dan melenyapkan bibit bencana bagi dirinya di kemudian hari.
Mendadak ia menemukan Ting Peng telah berada di hadapan mukanya.
Liu Yok siong segera tertawa, sapanya.
"Baik baikkah kau !"
Ting Peng juga tertawa.
"Baik-baikkah kau!"
Balasnya.
"Aku sangat baik, tapi kau pasti tidak baik."
"Oooh......"
"Sebab aku telah membunuh tamu yang kau undang di rumah gedungmu yang baru jadi, masa hal ini termasuk baik?"
Setelah tersenyum kembali, ujarnya.
"Aku tahu bukan saja perasaanmu tidak baik, nasibmu juga kurang begitu baik"
"Mengapa?"
"Sebab kau telah bertemu lagi denganku!"
Ting Peng menghela napas panjang, sahutnya.
"Yaa, benar, setiap kali bertemu dengan kau, seakan-akan aku pasti akan sial!"
Walaupun peristiwa itu sudah berlangsung pada empat tahun berselang, namun kejadian itu masih meninggalkan kesan yang amat dalam dan terang dalam ingatan Liu Yok-siong.
Bahkan dia masih ingat mimik wajah Ting Peng yang diliputi rasa kaget, tercengang, sedih dan menderita setelah mengetahui kalau "Ko-siau"
Sebetulnya adalah Liu hujin.
Bagi Liu Yok siong kejadian tersebut benar-benar merupakan suatu rencana yang maha besar, singkat tapi mengesankan, hampir setiap bagian dari rencananya itu disusun secara jitu dan rapat.
Ia belum pernah memikirkan tentang Ting Peng, diapun tak pernah membayangkan bagaimana perasaan Ting Peng ketika itu.
Entah siapa saja, bila dia mengalami kejadian seperti itu, ditipu mentah-mentah, di cemooh dan dihina habis-habisan, maka kenangan semacam itu tak akan mudah dilupakan kembali.
Sekarang, tak bisa disangkal lagi diapun sedang memikirkan peristiwa tersebut.
Tapi kenyataannya dia masih tertawa, semacam senyuman bagi seorang yang berhasil, penuh dengan rasa percaya pada diri sendiri serta sikap mencemooh terhadap orang lain.
Dia memang telah berubah menjadi begini tenang mantap, begitu menakutkan, bahkan Liu Yok-siong sendiripun dapat merasakan keseramannya itu.
Untung saja Lan-lan berada di belakangnya, setiap kali Liu Yok-siong memalingkan kepalanya, dia akan segera menyaksikan senyuman yang manis dan menawan hati itu, seolah-olah dia sedang memberi tahukan kepadanya ......
"Asal ada aku disini, entah apapun yang ingin kau lakukan, lakukan saja dengan perasaan lega"
Liu Yok-siong menghembuskan napas pelan, kemudian katanya sambil tersenyum.
"Ucapanmu memang tidak salah, setiap kali asal kau bertemu denganku, maka kau akan sial"
"Bagaimana dengan kali ini?"
"Kali inipun sama saja!"
"Aku kuatir kalau kali ini sama sekali berbeda!"
"Karena kali ini berada di rumahmu dan kau punya pembantu?"
Ejek Liu Yok siong.
"Persoalan ini merupakan persoalan pribadi kita berdua, aku tak ingin membiarkan orang ketiga turut mencampurinya"
""Kalau memang begitu, bagus sekali"
"Kau telah membunuh Long siu tootiang, tentu saja ada anggota Bu tong pay yang akan mencarimu untuk membuat perhitungan"
"Seandainya aku dapat membunuhmu?"
Ting Peng segera tertawa.
"Asal kau dapat menangkan aku sejurus, bukan saja setiap saat kau dapat memenggal batok kepalaku, perkampungan yang megah inipun akan menjadi milikku, buat orang mati kan tidak membutuhkan lagi tempat yang demikian besarnya ini!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Liu Yok siong, dia segera manggut-manggut.
"Benar juga ucapanmu itu"
Katanya.
"Setiap orang yang telah mati, asal ada tanah sepanjang tujuh depapun sudah lebih dari cukup, oleh sebab itu ....."
Reaksi dari Liu Yok siong ternyata tidak lambat, segera katanya.
"Oleh karena itu bila aku sampai kalah, akupun akan menghadiahkan perkampungan Siang siong san-ceng tersebut kepadamu"
Ting Peng segera tersenyum.
"Nah, beginilah baru dianggap suatu pertarungan yang sangat adil ...."serunya.
"Baik, kita tetapkan dengan sepatah kata ini saja"
"Begitu banyak enghiong hohan dari seluruh dunia persilatan yang hadir di sini dan bertindak sebagai saksi, sekalipun kau ingin mungkir pun tak nanti bisa mungkir"
"Bagus sekali"
Seru Liu Yok siong kemudian.
Tangannya menggenggam gagang pedang kencang-kencang, noda darah dari Leng-siu toojin yang semula menodai ujung pedangnya sekarang akan dibasahi lagi oleh darah segar orang lain.
Ia berpaling, Lan lan sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum, seakan-akan sedans memberi jaminan kepadanya.
Dalam sepuluh gebrakan Ting Peng pasti akan mati di ujung pedangmu!"
Liu Yok song segera merasakan semangatnya berkobar-kobar, bentaknya kemudian.
"Loloskan pedangmu!"
"Aku telah bersumpah tak akan menggunakan pedang lagi dalam kehidupanku di dunia ini"
"Lantas apa yang kau gunakan?".
"Golok !"
Liu Yok siong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ....haaahh ....haaah... bila kau menggunakan golok, aku bersedia mengalah tiga jurus kepadamu!` Golokpun merupakan sebuah alat senjata untuk membunuh orang. Tapi ilmu golok lebih mudah dipelajari, lagi pula tidak begitu hebat, setiap umat persilatan semuanya tahu sepuluh tahun belajar ilmu pedang, setahun belajar ilmu golok."
Ilmu pedang memang jauh lebih sempurna dan lihay daripada ilmu golok, sebab pedang itu sendiri sudah melambangkan suatu keanggunan dan suatu kegagahan yang tak terlukiskan.
Sudah banyak tahun dalam dunia persilatan tak pernah muncul seorang jago golok pun.
Apalagi seorang yang menjadi termasyhur karena ilmu goloknya yang maha dahsyat.
Seseorang yang belajar menggunakan pedang, secara tiba-tiba berubah menggunakan golok, hal ini boleh dibilang jarang sekali di jumpai dalam dunia persilatan.
Sebab bagaimanapun baiknya suatu ilmu golok, kehebatannya hanya terbatas sekali, makanya Liu Yok siong lantas berseru.
"Perlihatkan golokmu!"
Ooo0ooo MENCOBA GOLOK GOLOK Ting Peng sudah berada ditangan.
Itulah sebilah golok yang sederhana sekali, tidak memiliki pula sejarah yang cemerlang atau ternama.
Golok itu berbentuk bulan sabit, mata goloknya melengkung, gagang goloknya juga melengkung.
Ting Peng meraba sebentar mata goloknya kemudian berkata.
"Inilah golokku!"
"Aku sudah melihatnya"?ta Liu Yok siong.
"Golok ini selain tidak tajam, juga bukan termasuk sebilah golok kenamaan."
"Aku dapat melihatnya"
"Golok ini belum pernah menghirup darah manusia, sebab hari ini baru pertama kali kucoba untuk mempergunakannya"
"Kau hendak menggunakan aku untuk mencoba golokmu?"
Liu Yok-siong tertawa dingin tiada hentinya.
"Justru karena aku hendak menggunakan kau untuk mencoba golok, maka aku membiarkan kau meraih suatu keuntungan. Dengan hambar dia melanjutkan.
"Asal kau sanggup menahan tiga jurus golokku, anggaplah kau yang menangkan pertarungan ini"
Liu Yok siong memandang ke arahnya, mimik wajahnya menunjukkan seolah-olah seseorang yang melihat orang gila sedang kambuh di hadapannya.
Kembali Lan-lan tertawa, tertawanya lebih manis, lebih menarik hati.
"Baik!"
Sahut Liu Yok siong kemudian.
"akan kulihat sampai di manakah kehebatan dari ke tiga jurus golokmu itu!"
"Kau tak akan melihatnya."
Kata Ting Peng Tangannya diayunkan, hawa golok segera beterbangan memenuhi seluruh angkasa.
Golok yang lengkung memancar pula cahaya golok yang lengkung, pada mulanya masih seperti bulan sabit, tapi secara tiba-tiba telah berubah menjadi sekilas cahaya bianglala yang amat menyilaukan mata.
Tiada orang yang menyaksikan perubahan goloknya itu, juga tak seorangpun yang dapat melihat gagang goloknya.
Cahaya golok begitu muncul, golok tersebut segera lenyap tak berbekas.....
...
Sudah banyak tahun dalam dunia persilatan tak pernah muncul seorang jago golok kenamaan, sudah banyak tahun orang persilatan tak pernah menyaksikan cahaya golok yang begitu hebat dan mengerikan"
Siapapun tidak tahu serangan goloknya yang kedua nanti akan memperlihatkan perubahan menakutkan apa lagi?
Tapi kenyataannya, tiada serangan golok yang ke dua..
Cahaya golok hanya berkelebat lewat, kemudian lenyap tak berbekas.
Ting Peng hanya melancarkan sebuah bacokan saja.
Ketika cahaya berkelebat lewat dan lenyap Liu Yok siong sama sekali tidak roboh.
Pedangnya masih berada dalam genggamannya tubuhnya juga masih berdiri tak berkutik di tempat tersebut, hanya saja seluruh wajahnya telah berubah menjadi pucat pias tak berdarah.
Tiada serangan golok kedua yang dilancarkan.
Menang kalah belum berhasil ditentukan kenapa tiada serangan golok yang kedua?
Ting Peng membelai mata goloknya dengan lembut, kemudian berkata hambar.
Aku tahu kalau kau tidak dapat melihat apa-apa!"
Liu Yok siong tidak bergerak, juga tidak mengucapkan sepatah katapun juga. Mendadak.."Traaang!"
Pedang yang berada didalam genggamannya itu terjatuh ke tanah.
"Paling tidak kau harus berlatih sepuluh tahun lagi sebelum dapat melihat serangan ketiga dari golokku"
Kata Ting Peng pelan. Liu Yok siong masih tidak bergerak, pun mulutnya membungkam diri dalam seribu bahasa. Mendadak segumpal darah segar memancar keluar dari atas pergelangan tangannya.
"Sekarang, aku hanya cukup menggunakan sebuah bacokan saja"
Tambah Ting Peng.
Liu Yok siong masih juga tidak bergerak ataupun mengeluarkan suara, ia masih diam bungkam diri dalam seribu bahasa.
Mendadak di atas wajahnya yang pucat pias itu muncul sebuah tanda salib yang memancarkan cahaya terang Cahaya terang itu berasal dari darah segar yang memancar keluar.
Tiada orang yang bersorak sorai.
Setiap orang merasakan tangan dan kakinya menjadi dingin seperti es, setiap orang merasakan peluh dingin telah membasahi sekujur tubuh mereka.
Sekarang setiap orang baru tahu, rupanya bacokan golok tadi selain menyambar di atas pergelangan tangan Liu Yok siong, bacokan membuat pula tanda salib di atas wajahnya..Tapi darah yang memancar keluar dari mulut luka itu hingga sekarang baru memancar keluar.
Sebab dalam bacokan tersebut sedikit tenagapun tidak disertakan, karena bacokan tersebut benar-benar terlalu cepat..
Tiada orang yang bersorak, karena tiada orang yang pernah menyaksikan ilmu golok seperti itu.
Golok itu sudah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.
Ting Peng hanya mengucapkan tiga patah kata yang amat singkat sekali.
"Kau telah kalah."
Akhirnya pelan-pelan Liu Yok siong mengangguk, pelan-pelan membalikkan badan dan pelanpelan berjalan menuju ke hadapan Lan-lan.
Lan-lan masih tertawa, hanya saja senyumannya sekarang sudah tidak semanis dan serta menawan tadi lagi.
Senyuman itu seolah-olah seperti agak dipaksakan.
Liu Yok siong telah berdiri di hadapan mukanya dan menatap ke arahnya, darah yang memancar keluar dari luka berbentuk salib di atas wajahnya itu kini sudah membeku.
Darah segar baru saja menyembur keluar dengan cepat pula membeku kembali ....
Paras muka Liu Yok-siong pun berubah menjadi sangat kaku, sepatah demi sepatah kata dia berkata.
"Aku kalah!"
Lan-lan menghembuskan napas panjang, lalu berkata.
"Tampaknya seperti kau yang telah kalah!"
"Kau pernah berkata kepadaku, aku tak bakal kalah!"
Gumam Liu Yok siong.
"Aku pernah berkata?"
"Kau pernah berkata, asal ada kau berada di sini, maka aku tak bakal menderita kekalahan"
""Kau pasti salah mendengar, masa aku pernah mengucapkan kata-kata seperti ini?"
"Aku tak pernah salah mendengar, kau bilang kau akan membelaku, mengapa kau tidak turun tangan sekarang?"
"Kenapa aku musti turun tangan? Aku bisa membantumu berbuat apa?"
Mendadak dari kejauhan ada terdengar orang sedang tertawa, dalam tertawanya itu penuh mengandung nada ejekan dan cemoohan.
"Pekerjaan yang bisa dia lakukan untuk membantumu adalah menolongmu melepaskan celana dalam."
Ternyata Lan-lan juga turut tertawa.
"Sedikitpun tidak salah kalau dia berkata demikian"
Katanya.
"Satu-satunya pekerjaan yang bisa ku tolong adalah melakukan perbuatan itu, sebab pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang paling berpengalaman bagiku"
"Liu Yok siong memandanginya lekat-lekat, kemudian dengan sinar mata memancarkan rasa kaget dan takut dia berseru.
"Kau, sebenarnya siapakah kau"
"Dengan menghamburkan uang sebesar enam puluh laksa tahil perak kau telah menebusku pada rumah pelacuran Boan-cui-wan, lalu suruh aku menunggu kedatangan-mu di loteng Hwesian-lo dan menemani kau datang kemari, bahkan menggunakan pula sebuah tandu yang begitu besar untuk menyambut kedatanganku"
Setelah tertawa cekikikan, dia melanjutkan.
"Masa siapakah aku pun tidak kau ketahui?"
Boan cui wan adalah sebuah rumah pelacuran sebuah rumah pelacuran yang amat termasyhur, pelacur paling top dari Boan-cui-wan bernama Cui Sian.
Dengan mempergunakan sebuah jari tangannya yang lembut dan halus, dia menuding ke ujung hidung sendiri, kemudian berkata.
"Akulah Cui sian, paling tidak ada seratus orang yang hadir disini kenal aku !"
Paras muka Liu Yok siong berubah hebat, tiba-tiba kulit wajahnya seperti lagi mengejang keras, tanda "salib"
Di atas wajahnya seperti merekah kembali, darah segar segera memancar keluar dan menodai seluruh wajahnya.
Dia bukan seorang yang bodoh.
Akhirnya dia mengerti, sekarang dia telah memahami semua persoalan, memahami semua masalahnya.
Orang lain memandang ke arahnya dengan sorot mata yang aneh, bukan karena kagum juga bukan karena dengki..
Di tempat itu paling tidak ada seratus orang yang kenal dengannya, tahu kalau dia adalah Cui Sian dari rumah pelacuran Boan Sui-wan.
Mungkin saja celana dalam seratus orang itu pernah dilepas olehnya.
Sebaliknya dia telah menyambut perempuan itu dengan menggunakan tandu besar yang digotong delapan orang, menganggapnya sebagai seorang dewi dan mengajaknya datang kemari, dia berharap perempuan itu dapat memberikan kehormatan serta kekayaan seperti apa yang dia idam-idamkan.
Pada hakekatnya kejadian ini merupakan suatu lelucon, sesuatu lelucon yang dapat membuat orang tertawa terpingkal-pingkal sehingga air matapun turut keluar.
Lelucon ini pada hakekatnya jauh lebih menggelikan daripada lelucon yang diciptakan olehnya untuk Ting Peng pada empat tahun berselang.
Akhirnya sekarang dia baru tahu bagaimanakah perasaan Ting Peng pada waktu itu.
Itulah suatu balasan dendam.
Pembalasan dari Ting Peng amat bagus, kejam dan lagi tuntas.
Seperti Liu Yok siong menghadapi rencananya sendiri, rencana inipun telah disusun dan diatur melewati suatu persiapan yang cermat dan luar biasa, setiap bagian dipersiapkan secara cermat dan sempurna.
Yang paling penting untuk mensukseskan rencana ini adalah harus memberikan tekanan jiwa dulu kepada Liu Yok siong, agar dia merasa pikirannya gundah dan kacau balau tak karuan.
Suara titikan batu yang berkumandang siang malam dari bangunan megah dibukit seberang telah mendatangkan ketegangan syaraf dan tekanan batin buat Liu Yok siong.
Jika syaraf orang sudah mengalami ketegangan, maka sudah pasti dia akan selalu curiga, tidak tenang dan kebingungan.
Apalagi setelah seorang gadis cantik berpinggang ramping berpaha besar yang berbaring di atas ranjang berubah menjadi seekor anjing betina.
Menyuap pengurus gudang arak untuk mengganti isi guci arak wangi dengan air kotor.
Menambahka3n sedikit obat racun didalam makanan ayam itik, kerbau dan kambing yang dipelihara.
Semuanya itu bukan suatu pekerjaan yang terlalu sukar.
Tapi bagi seseorang yang syarafnya sudah mengalami ketegangan dan mulai banyak curiga, kejadian-kejadian semacam ini dengan cepat akan berubah menjadi suatu peristiwa yang sukar untuk dijelaskan.
Oleh karena itu semua kejadian itu akan berubah menjadi semacam daya tekanan yang menekan batinnya, menekan batin Liu Yok siong sehingga hampir saja tak sanggup bernapas kembali.
Kemudian muncullah lakon yang menamakan dirinya.
"Lan-lan"
Bagaikan sebatang balok kayu yang tiba-tiba muncul di depan seseorang yang hampir mati tenggelam saja... Padahal di dunia ini tiada orang yang bernama ""Lan-lan"
Lan lan adalah Cing Cing. Cukup buat Cing cing untuk menukar pakaiannya dengan sebuah jubah berwarna biru, lalu menutupi wajahnya dengan kain cadar dan memberitahukan kepada Liu Yok siong.
"Aku adalah Lan-lan, akulah orang yang satu-satunya yang bisa menolongmu, hanya aku yang dapat melawan Cing Cing. Tentu saja Liu Yok siong tak bisa tidak akan mempercayainya seratus persen. Apalagi dia masih mempersilahkan Liu Yok siong untuk menyaksikan pertarungan yang menegangkan syaraf antara dia dengan "Cing-cing.."
"Cing cing yang dilihat Liu Yok siong ketika itu, tentu saja tak lebih hanya seorang perempuan yang lain. Bagaimanapun juga Liu Yok siong toh tak pernah tahu macam apakah wajah Cing-cing itu, juga tak tahu macam apakah wajah Lan-lan? "Selanjutnya terjadilah serentetan kejadian aneh yang membuat ia semakin percaya akan kemampuan tokoh yang menamakan dirinya Lan-lan ini."
Oleh sebab itu mimpipun dia tak pernah menyangka kalau perempuan yang di suruh Lan-lan untuk di jemput dengan menggunakan sebuah tandu besar yang digotong delapan orang itu sebenarnya tak lebih hanya seorang pelacur dari rumah pelacuran Boan cui wan.
Sekarang, walaupun dia sudah memahami segala sesuatunya, walaupun dia telah memahami kunci terpenting dari semua rencana itu, sayang dia tok mampu berkata apa-apa."
Sebab dia tahu, sekalipun persoalan itu di utarakan keluar belum tentu orang lain mempercayainya.
Sekarang istrinya telah mati, mati didalam pelukan seorang lelaki lain ......
Rumah tinggalnya juga telah menjadi milik orang lain.
Dengan tangan sendiri dia telah membunuh kakak seperguruannya sendiri menghianati perguruan dan melanggar pantangan paling besar bagi seorang umat persilatan.
Padahal semua perbuatan yang telah di lakukannya selama ini merupakan perbuatanperbuatan yang tak mungkin bisa diampuni oleh orang lain, bahkan dia sendiripun tak dapat mengampuni diri sendiri.
Sekalipun Ting Peng tidak membunuhnya sekarang, diapun tak dapat menancapkan kakinya kembali di dunia persilatan"
Ia malu untuk berhadapan lagi dengan rekan-rekan persilatan lainnya, sedang rekan-rekan persilatannya juga tak akan membiarkan dia menancapkan kakinya lagi dalam dunia persilatan.` Bila seseorang telah menghancurkan masa depannya sendiri, sudah terdesak sampai ke sudut yang paling pojok, dan tak mungkin bisa jalan lagi, apakah yang harus dia lakukan?
Memang Liu Yok siong telah melakukan suatu perbuatan yang mimpipun tak pernah disangka oleh siapapun.
ooooo0ooooo MALAM-MALAM YANG MENEGANGKAN BULAN dua belas tanggal lima belas malam.
Malam itu bulan purnama, seluruh permukaan bumi bermandikan cahaya terang yang berwarna keperak-perakan.
Sekarang sudah pada waktunya untuk memasang lampu, namun Cing cing tidak memasang lampu.
Dia suka duduk tenang seorang diri dalam kegelapan, menikmati kehidupan malam yang sepi dan hening.
Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sebatang kara, karena pada hakekatnya tiada pilihan lain baginya.
Bangunan di atas loteng kecil itu megah dan anggun, setiap barang yang berada di dalam rumah itu merupakan pilihan yang tepat, melewati penelitian yang seksama.
Dia tak dapat menikmati segala macam persoalan kasar dan tidak bersih yang ada di dunia ini.
Sebab sejak kecil ia memang dibesarkan dalam lingkungan semacam ini, hakekatnya tak pernah merasakan kemurungan dalam ketidak beruntungan dalam kehidupan manusia.
Tapi sekarang, secara tiba-tiba ia menemukan dirinya seakan-akan sudah mulai kesal.
Kesalahan dari manusia.
Setiap perempuan muda yang sedang berada dalam usia remajanya, tak bisa tidak pasti akan merasakan ke kesalahan ini.
Tiba-tiba saja dia merasakan dirinya terlampau kesepian.
Diluar jendela lamat-lamat kedengaran ada suara orang sedang berbicara.
Walaupun loteng itu letaknya agak jauh dari ruangan dimana Ting Peng menerima tamu, namun suara yang berkumandang dari sana masih dapat terdengar dengan jelas dari sini.
Dia tahu tamu yang berdatangan pada hari ini tidak sedikit, diantaranya banyak yang merupakan jago-jago kenamaan yang menggetarkan dunia persilatan, sudah cukup lama dia mengetahui tentang kegagahan orang-orang itu.
"Diiringi sekali turut menghadiri perjamuan itu dan bergembira ria menikmati kehidupan yang bahagia bersama mereka, menggunakan mangkuk besar untuk meneguk arak, mendengarkan kisah-kisah yang menggetarkan sukma dari mulut mereka. Bagi seorang gadis yang belum pernah mengalami kejadian seperti itu, peristiwa semacam ini betul-betul merupakan suatu daya pikat yang sukar untuk dilawan. Tapi ia tak dapat pergi. Sebab dia adalah "rase""
Sejenis makhluk aneh, dalam kehidupannya sudah ditakdirkan tak akan merasakan kegembiraan dan kebahagiaan seperti kehidupan manusia biasa.
Dia sudah kawin selama empat tahun dengan Ting Peng.
Selama empat tahun ini, hampir boleh di bilang siang maupun malam mereka selalu bersama, tanpa Ting Peng di sisinya, hampir boleh dibilang dia tak sanggup untuk tidur.
Ting Peng berasal dari keluarga miskin, dia bukan termasuk seorang lelaki romantis yang pandai bermesraan.
Sejak kecil dia harus pandai memperjuangkan diri agar termasyhur, terhadap kehidupan cinta atau bersenang-senang, tidak banyak yang dia ketahui..
Walaupun ia muda dan gagah, namun selama satu dua tahun belakangan ini kasih sayangnya terhadapnya sudah makin lama semakin berkurang, hubungan suami istripun sudah tidak sebanyak dahulu lagi.
Tapi ia tetap mencintainya dengan sepenuh hati.
Dia adalah satu-satunya lelaki yang berada dalam kehidupannya, demi dia, untuk melakukan perbuatan apapun ia rela untuk melakukannya.
Ia ingin merasa bangga karena menjadi istrinya, bahkan dalam mimpipun dia selalu berharap agar dia dapat menggandeng tangannya dan memperkenalkan dia kepada teman-temannya, kepada tamu-tamu agung dan memberitahukan kepada orang lain bahwa dia adalah istrinya, dialah Ting hujin (nyonya Ting).
Ting hujin suatu sebutan yang begitu indah dan begitu anggun, sayang selama hidup mungkin dia tak akan dapat mendengarkan orang lain menggunakan sebutan tersebut untuk memanggilnya.
Karena dia adalah "rase", jenis makhluk lain, tidak mungkin dia bisa menampakkan diri di hadapan orang lain bersama Ting Peng.
Benarkah aku adalah Rase?
Kenapa aku harus menjadi "rase".
Sepasang mata Cing-cing berkaca-kaca, hatinya merasa sakit sekali seperti ditusuk-tusuk dengan jarum.
Sebab dalam hatinya mempunyai sebuah rahasia, rahasia yang tak dapat dikatakan kepada siapapun, termasuk juga kepada Ting Peng.
Rahasia itu bagaikan sebatang jarum yang siang malam setiap menit setiap detik selalu menusuk hatinya.
Kecuali dalam persoalan ini, dia masih tetap riang gembira dan berbahagia.
Asal tiada persoalan yang terlalu penting artinya, Ting Peng selalu berusaha untuk menemaninya..Sekarang dia seperti telah datang, dari arah anak tangga sana sudah kedengaran suara langkah kakinya.
Cepat-cepat Cing cing menyeka air matanya dan bangkit berdiri.
Ting Peng telah membuka pintu sambil bertanya.
"Mengapa kau tidak memasang lampu? Cing-cing tidak menjawab, tiba-tiba dia lari ke dalam pelukannya dan merangkul pemuda itu kencang-kencang, seakan-akan mereka sudah banyak waktu tak pernah berjumpa saja, sekalipun mereka baru berpisah satu dua jam berselang. Dia terlalu takut kehilangan dia. Setiap mereka berpisah, dia selalu merasa takut, takut kalau dia akan pergi dan tak kembali lagi. Sebab dia tak lebih hanya seorang perempuan rase, sedang tempat ini adalah dunianya manusia, dalam hatinya selalu timbul perasaan rendah diri yang tak terlukiskan dengan kata-kata. walaupun Ting Peng tidak memahami perasaannya itu, namun dapat merasakan kelembutan cintanya.
"Sekarang, semua orang sedang mulai minum arak, maka aku mencari kesempatan untuk balik kemari dan menengok kau"
Cing-cing merasakan tenggorokannya seakan-akan tersumbat oleh suatu benda yang amat besar, membuat dia tak sanggup berkata-kata, namun dalam hatinya penuh dengan kehangatan dan rasa terima kasih.
Dia berharap pemuda itu bisa berkata lebih lanjut, beritahu kepadanya, walau berada di tempat lain, hatinya selalu teringat dan merindukan dirinya.
Sayang apa yang dikatakan Ting Peng selanjutnya bukanlah perkataan yang dia ingin dengar.
"Aku harus kembali untuk memberitahukan kepadamu, rencana kita telah berhasil, aku telah menghancurkan Liu Yok siong"
Rupanya dia kembali kesana karena ingin memberitahukan hal itu kepadanya, padahal hampir saja ia telah melupakan persoalan tersebut.
Walaupun dia turut serta dalam menyusun rencana tersebut, bahkan dengan tak segansegannya membantu dia untuk mensukseskan rencana ini.
Tapi dia berbuat kesemuanya itu tak lebih hanya karena dia.
Demi dia, dia tak segan untuk berbohong, tak segan untuk menipu orang, tak segan untuk melakukan perbuatan apapun yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, tapi terhadap budi dan dendam yang terjalin diantara manusia, ia tidak memandangnya terlalu berat.
Tapi Ting Peng kelihatan gembira sekali, dia telah menuturkan semua keadaan yang telah berlangsung selama ini.
Rasa dendam yang sudah tertanam selama banyak tahun dalam dadanya kini sudah terlampiaskan keluar, kejadian ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang patut di girangkan.
Untuk menggirangkan hatinya, diapun pura-pura mendengarkan dengan penuh perhatian, walaupun dalam hati kecilnya sebenarnya dia hanya ingin berpelukan dengan tenang dengannya.
melewati kehidupan yang bahagia dalam ketenangan dan kemesraan pada hari ini.
Terdengar Ting Peng berkata pula.
"Jika kau dapat menyaksikan perubahan mimik wajah Liu Yok siong setelah ia mengetahui kalau dewi yang menolongnya selama ini tak lebih hanya seorang pelacur, kau pasti akan merasa sangat gembira. Cing-Cing dapat memahami perasaannya, sebab diapun pernah menerima penderitaan akibat pukulan batin seperti itu.
"Bagaimana kemudian"
Tak tahan dia bertanya.
"Seandainya kau menjadi dia, apa yang hendak kau lakukan dalam keadaan seperti ini ?"
"Aku tak tahu !"
"Dia memang tak tahu, tidak pernah dia pikirkan segala macam kelicikan dan kebusukan hati manusia di dunia ini.
"Coba terka-lah"
Kata Ting Peng amat gembira.
"coba kau tebak, perbuatan apakah yang dia lakukan?"
"Dia kabur?"
"Dia sendiripun tahu kalau dia tak akan bisa kabur?."
Kata Ting Peng, sekalipun dapat kabur, dia hendak kabur kemana?"
"Kalau begitu dia jatuh pingsan ?"
"Tidak"
"Teman-teman Leng siu membunuhnya ?"
"Juga tidak"
"Kalau begitu dia pasti membunuh perempuan itu, kemudian menggorok leher sendiri untuk bunuh diri ?"
"Dugaan ini memang agak masuk diakal."
Seandainya seseorang telah berada didalam keadaan seperti ini, mati rasanya jauh lebih baik daripada hidup. Namun Ting Peng menggelengkan kembali kepalanya.
"Dia tidak mati, dia masih merasa berat hati untuk mati"
Katanya. Setelah tertawa, dia menambahkan.
"Perbuatan yang dia lakukan tak nanti bisa diduga oleh siapapun dan tak mungkin akan dilakukan oleh siapapun yang ada di dunia ini."
"Apa yang telah dia lakukan ?"
"Ketika orang lain mengira dia akan mencari akan untuk beradu jiwa, tiba-tiba dia berlutut di hadapanku dan memohon kepadaku untuk menerimanya menjadi murid!"
Usia Liu Yok siong sudah pantas untuk menjadi ayah Ting Peng, dalam dunia persilatan dia bukan seorang yang tak bernama tapi di hadapan begitu banyak umat persilatan dan orang gagah yang berkumpul di situ ia telah melakukan perbuatan tak terduga.
Kecuali dia, siapa lagi di dunia ini yang sanggup untuk melakukan perbuatan seperti itu?"
Cing Cing menghela napas panjang katanya.
"Kulit muka orang ini betul-betul amat tebal, apa yang dilakukan juga luar biasa sekali"
"Sesungguhnya apa yang dia inginkan kepadaku, tak mungkin bisa kukabulkan, sungguh tak disangka ternyata dia memohon kepadaku untuk menerimanya menjadi murid."
"Dan kau meluluskan permintaannya?"
Ting Peng tersenyum.
"Tak ada salahnya mempunyai seorang murid macam dirinya itu ..."
"dia menjawab. Cing-cing tidak berkata apa-apa lagi. Walaupun dia merasa tindakan yang dilakukan itu tidak benar, tapi apa yang ingin dilakukan Ting Peng, tak pernah ia tampik atau mengemukakan keberatan. Semua kejadian yang kemudian berlangsung menjadi bertentangan dengan apa yang menjadi harapannya semula. Sebenarnya dia hanya berharap Ting Peng dapat menjadi seseorang yang tak pernah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan batinnya, dia ingin mengajaknya mencari suatu tempat yang sepi dan melewati suatu kehidupan yang bahagia. Tapi Ting Peng mempunyai ambisi. Setiap lelaki pasti berambisi dan harus berambisi, sebab ambisi merupakan semangat dan harga diri dari seorang lelaki, lelaki tanpa ambisi tak bisa disebut seorang lelaki. Dia tidak menyalahkan Ting Peng, cuma ambisi Ting Peng kelewat besar, jauh lebih besar daripada apa yang dibayangkan semula. Ambisi adalah suatu makhluk aneh yang sudah ada semenjak dahulu kala, asal kau biarkan dia tetap hadir dalam dadamu, maka makin hari dia akan berubah semakin besar, sehingga akhirnya demikian besarnya sampai kau sendiripun tak dapat mengendalikannya lagi. Bagi seorang lelaki yang berambisi, manusia macam Liu Yok siong memang tak bisa disangkal lagi merupakan seorang yang sangat berguna. Yang dikuatirkan Cing-cing hanya satu hal. Dia hanya kuatir ambisi Ting Peng semakin besar sehingga dia sendiripun tak dapat mengendalikan lagi, maka bila sampai terjadi hal semacam ini. kemungkinan besar dia akan ditelan sendiri oleh ambisinya itu. Teringat akan persoalan ini, dia segera teringat pula akan suatu persoalan lain yang jauh lebih menakutkan lagi. Tiba-tiba dia bertanya.
"Dari pihak Sin kiam san-ceng, apakah ada yang hadir pada hari ini ?"
"Aku masih ingat, agaknya kau telah mengirim orang secara khusus untuk menyampaikan surat undangan kepadanya?"
"Undangan yang diantar bukan cuma satu saja, selain ditunjukkan untuk majikan dari Sin kiam san-ceng sekarang, yaitu Cia Siau hong, pendekar pedang nomor satu di dunia pada saat ini, Cia sianseng yang lain pun mendapat undangan pula.
Cia sianseng itu bermuka bulat, berperawakan gemuk, berwajah penuh senyuman, amat ramah tamah.
Bulan tujuh tanggal lima belas empat tahun berselang, ketika Ting Peng dicemooh dan dihina dalam perkampungan Siang siong san ceng.
Cia sianseng itupun turut hadir di sana.
"Tapi hari ini mereka datang"
Teringat akan persoalan ini, kegembiraan Ting Peng tidak secerah tadi lagi"
Bukan cuma orang-orang dari Sin kiam san-ceng saja yang tidak datang, orang-orang yang berada disekitar tempat itupun tak seorang manusiapun yang datang.
"Siapa saja yang kau undang dari daerah di sekitar tempat itu? "
""Thian It hui dan Siang Ceng"
"Aku tahu tentang manusia yang bernama Siang Ceng, dia adalah seorang poocu dari benteng keluarga Siang, merupakan jago yang paling termasyhur karena ilmu pedang Ngo heng kiam hoatnya"
Setelah berpikir sebentar, kembali dia berkata.
"Ilmu pedang Ngo heng kiam hoat merupakan suatu ilmu pedang yang sukar dan dingin, kalau aku harus menyebutkan sepuluh orang jago pedang terhebat di dunia pada saat ini, maka Siang Ceng tak akan masuk hitungan"
Ting Peng tertawa, katanya.
"Apakah kau sedang menghiburku, suruh aku jangan marah hanya disebabkan seorang manusia macam dia? "
Cing sing tidak menjawab, dia hanya tertawa belaka.
"Padahal sekalipun aku sedang marah kepadanya, aku tak akan memandang enteng orang ini"
Lanjut Ting Peng.
"0oooh.. !"
"Walaupun ilmu pedang Ngo heng kiam hoat merupakan ilmu yang dingin dan kaku, namun setelah digunakan akan menghasilkan daya kemampuan yang luar biasa sekali""
"Karena dalam pertentangan antara lima unsur bumi yang berbeda akan menimbulkan perubahan-perubahan yang tak mungkin bisa diduga orang, tentu saja perubahan itupun tak bisa dibendung dengan mudah."
"Masuk diakal"
Cing-cing tersenyum.
Walaupun ilmu pedang yang dimiliki Siang Ceng belum dapat termasuk urutan sepuluh besar dalam dunia persilatan saat ini namun tak bisa disangkal lagi dia termasuk juga seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan, apa lagi kepandaian silat itu diperolehnya dari warisan keluarga, dasarnya pasti kuat sekali, tenaga dalamnya juga sempurna, kesemuanya itu dapat menutupi kekurangan -kekurangannya dalam permainan pedang"
"Tampaknya kau mengetahui banyak tentang orang ini? "Asal dia jago kelas satu dalam dunia persilatan, aku harus mengetahui banyak tentang mereka"
Setelah tertawa, lanjutnya.
""Sebab setiap orang diantara mereka, kemungkinan besar akan menjadi lawanku""
Cing cing masih tertawa, cuma tertawanya sudah agak dipaksakan.
Dia tahu bukan saja jalan pemikiran Ting Peng amat cermat, diapun amat pandai menyelidiki keadaan lawan, tingkah lakunya matang dan dewasa, sama sekali berbeda dengan keadaannya dahulu, seringkali hanya disebabkan sebuah persoalan kecilpun akan marah-marah.
Sebab ambisinya makin lama semakin bertambah besar.
"Tahu diri lawan, setiap pertarungan baru dapat di menangkan"
Kata Ting Peng lagi. (Bersambung
Jilid 08)
Jilid 08 DARI balik matanya kembali memancar keluar sinar terang karena gembira, ujarnya.
"Aku tak akan membiarkan diriku menderita kekalahan lagi ditangan orang lain""
Diam-diam Cing-cing menghela napas panjang, namun di luar dia masih bertanya lagi sambil tertawa.
"Siapa yang kau maksudkan sebagai orang lain"
"Siapapun sama saja"
"Apakah Sam sauya dari keluarga Cia, Cia Siau hong juga termasuk diantaranya?"
"Terhadap Cia Siau hong pun sama saja, bagaimana pun juga, dia toh seorang manusia juga.."
Sinar matanya memancarkan cahaya makin panas, lanjutnya.
"Cepat atau lambat, pada suatu hari akupun menantangnya untuk berduel, aku ingin lihat siapa yang lebih unggul diantara kami berdua. Cing-cing memandang ke arahnya, dibalik sinar mata itu sudah terpancar keluar sinar kemurungan. Setiap kali Ting Peng menyinggung tentang Cia Siau hong, sepasang matanya selalu memperlihatkan mimik wajah seperti itu. Terhadap manusia yang bernama Cia Siau hong dia seperti menaruh perasaan jeri dan takut yang tak mungkin bisa di utarakan kepada orang lain. Dia adalah "rase", rase adalah makhluk yang dapat melakukan apapun. Sebaliknya walaupun Cia Siau hong adalah pedang sakti dari segala pedang, dewa pedang dari segenap manusia toh dia tetap masih berupa seorang manusia. Mengapa dia harus jeri terhadap seorang manusia biasa? Tak bisa disangkal lagi, itulah rahasia hatinya. Bila rahasia yang tertanam dalam hati seorang tak dapat di utarakan kepada manusia lain, maka hal itu akan berubah menjadi suatu penderitaan, berubah menjadi suatu daya tekanan yang berat. Ting Peng tidak memperhatikan perubahan mimik wajahnya, kembali dia berkata.
"Benteng keluarga Siang terletak didekat perkampungan Sin kiam san-ceng, Siang Ceng tidak datang mungkin disebabkan terpengaruh oleh kemampuan Cia Siau hong"
Dengan hambar dia melanjutkan.
"Cia sam sauya yang tiada tandingannya dikolong langit, tentu saja tak akan memandang sebelah mata terhadap seorang bocah ingusan seperti aku"
Tampaknya Cing cing tak ingin membicarakan tentang manusia yang bernama Cia Siau hong, dengan cepat dia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya.
"Bagaimana dengan Thian It hui? Dia adalah macam apa pula?"
"Tahukah kau tentang seorang perempuan dalam dunia persilatan yang di namakan Kui im bu siang hui nio cu (perempuan terbang bayangan setan tiada tandingan)?"
"Kau maksudkan Thian Peng?"
"Yaa, dialah yang dimaksudkan"
"Tentu saja aku tahu tentang dia, banyak sudah ceritera tentang dirinya yang pernah kudengar""
Dalam dunia persilatan memang tersiar banyak sekali ceritera-ceritera tentang Thian Peng.
Dia adalah salah seorang diantara tiga perempuan paling cantik dalam dunia persilatan, tapi juga merupakan salah satu diantara tiga perempuan paling menakutkan di dunia ini.
Kelihaian ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya bukan saja tiada perempuan lain yang bisa menandinginya, bahkan jarang sekali ada kaum lelaki yang bisa menandinginya.
Dia sudah lama termasyhur, kalau dihitung sekarang, paling tidak ia telah berusia empat lima puluh tahunan.
Tapi menurut orang yang belakangan ini pernah bersua muka dengannya, konon dia nampak seperti baru berusia dua puluh tujuh delapan tahunan.
Ting Peng kembali berkata.
"Thian It hui adalah satu-satunya ahli waris dari Thian Peng, ada pula yang mengatakan kalau dia adalah keponakannya, ada yang mengatakan dia adalah adik tongnya, bahkan ada yang bilang dia adalah anak hasil hubungan gelapnya""
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Tapi sebetulnya hubungan apakah yang terjalin diantara mereka, tak seorang manusiapun yang tahu, semua orang hanya tahu ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Thian It hui memang benar-benar merupakan warisannya. malah sekarang boleh dibilang sudah merupakan jagoan kelas satu di dalam dunia persilatan"
"Apakah Thian It hui juga tinggal disekitar perkampungan Sin kiam san ceng....
Tanya Cing cing.
"Jejak Thian Peng sangat rahasia, siapapun tidak tahu apakah dia punya rumah atau tidak ? Lebih-lebih tak ada yang tahu dia tinggal dimana, demikian pula hal nya dengan Thian It hui, hanya belakangan ini dia selalu berdiam dalam sebuah rumah penginapan dekat perkampungan Sin kiam san ceng, bahwa sekali tinggal paling tidak sudah mencapai setengah tahun lamanya."
"Mengapa dia harus tinggal di sana ?"
"Karena dia ingin menjadi menantunya perkampungan Sin kiam san-ceng... ."
Setelah tertawa, kembali lanjutnya.
"Oleh karena itu, bila Cia Siau hong tidak datang, tentu saja diapun tak akan datang"
"Aku rasa Cia Siau hong tak pernah beristri, dari mana dia bisa mempunyai anak gadis ?"
"Ting Peng segera tersenyum.
"Waaah... kalau soal ini mah merupakan urusan pribadinya, kau harus tahu, aku selamanya tak pernah akan memperdulikan urusan pribadi orang lain"
Itulah prinsip hidupnya, juga merupakan kelebihan yang dimilikinya, dalam hal ini dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah.
Daun jendela berada dalam keadaan terbuka karena Cing-cing selalu tidak takut dingin.
Berdiri di depan jendela, tampak rembulan yang baru muncul di kaki langit serta kolam air di tepi pagoda air tersebut.
Kini air di dalam telaga telah membeku menjadi es.
Lapisan salju yang licin memantulkan sinar rembulan dan cahaya lampu di sekelilingnya membuat suasana di sana bagaikan sebuah cermin yang amat besar.
Dikala Ting Peng berjalan mendekati jendela, tiba-tiba dari balik cermin muncul sesosok bayangan manusia.
Gerakan tubuh orang itu benar-benar terlalu cepat dengan ketajaman mata Ting Pengpun ternyata tidak berhasil mengetahui darimanakah dia datangnya hanya nampak sesosok bayangan manusia berwarna abu-abu berkelebat lewat tahu-tahu telaga salju selebar dua tiga puluh kaki sudah dilampauinya.
Malam ini jago-jago yang berkumpul dalam perkampungan Wan gwat-san-ceng boleh dibilang terdiri dari jago-jago kelas satu dalam ilmu pedang, ilmu golok, ilmu telapak tangan, ilmu senjata rahasia maupun ilmu meringankan tubuh.
Tapi, kalau dilihat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini, maka bisa diketahui bahwa tak seorang manusia pun yang hadir di situ yang bisa menandinginya.
Ting Peng ingin memanggil Cing-cing datang untuk melihat hal tersebut, tapi belum sempat dia berpaling, sebuah peristiwa yang membuatnya tak akan melupakan untuk selamanya telah berlangsung di depan mata.
Tiba-tiba bayangan manusia itu terpotong menjadi dua bagian tepat diri arah tengah bagaikan sebuah orang-orangan yang di papas dari tengahnya saja.
Di dalam pagoda air itu tersedia sebuah meja perjamuan, tamunya cuma sembilan orang tapi yang melayani justru mencapai belasan orang lebih ....
Tapi yang bisa duduk di situ tentu saja merupakan jago-jago kelas wahid yang termasyhur namanya di dalam dunia persilatan.
Orang yang duduk dikursi utama adalah seorang lelaki yang berperawakan tinggi besar bersuara nyaring seperti genta, berwajah merah berambut putih, bila sedang minum arak seperti ikan paus menghisap air dan daging yang dimakanpun potongan-potongan yang amat besar, siapapun tak akan melihat kalau dia sudah berumur delapan sembilan puluh tahunan.
Semua orang mempersilahkannya duduk di kursi utama bukan disebabkan usianya Sudah lanjut, sejak muda dulu, Tay-toahu-ong (Raja kampak golok besar) Beng Kay-san memang sudah dihormati banyak orang.
Dua puluhan tahunan berselang ia sudah mencuci tangan dan mengundurkan diri, jarang sekali dia berkelana didalam dunia persilatan.
Kali ini, Ting Peng dapat mengundang kehadirannya, semua orang menganggap wajah si tuan rumah pasti tidak kecil.
Liu Yok-siong sedang menuangkan arak baginya.
Sekarang Liu Yok siong muncul sebagai muridnya tuan rumah, paras mukanya sama sekali tidak berubah, dia bisa bercakap-cakap, bisa pula bergurau secara wajar, seakan-akan tak pernah terjadi suatu musibah pun yang menimpa dirinya.
Mendadak Beng Kay san menepuk bahunya keras-keras, kemudian tertawa tergelak.
"Haaaahhh....haaahh... haaahhh ..., lote, aku sungguh merasa kagum kepadamu, betul-betul merasa kagum, lelaki yang pandai mengikuti gelagat baru merupakan lelaki yang sejati"
Paras muka Liu Yok siong sedikitpun tidak berubah menjadi merah, Ia malah bisa menjawab sambil tertawa.
""Akupun masih membutuhkan bantuan serta petunjuk dari cianpwe sekalian!"
""Sekarang kami telah berubah menjadi cianpwe mu?"
Sindir Han Tiok dingin. Kembali Liu Yok siong tersenyum.
"Mulai sekarang akukan bersikap sebagai seorang manusia yang lain, semua teman guruku merupakan cianpwe ku pula"
Beng kay san kembali tertawa terbahak-bahak .
"Haaahhh... haaahhh.... haaahhh..... haaah, bagus sekali ucapanmu itu, orang yang bisa mengucapkan kata-kata seperti ini, di kemudian hari pasti akan berhasil dengan sukses. Ang Bo tan menghela napas panjang, katanya pula.
"Ucapan dari Beng loyacu memang benar, sekarang bahkan akupun mau tak mau harus merasa kagum kepadanya .."
"Cuma sayang. Tiba-tiba Han Tiok tertawa dingin dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya. Ia tidak melanjutkan kata-katanya bukan dikarenakan dia tak ingin menyulitkan Liu Yok siong lagi, sebaliknya karena secara tiba-tiba ia menyaksikan sesosok bayangan manusia. Gerakan tubuh dari bayangan manusia itu benar-benar cepat sekali. ooooo0ooooo SEMUA jendela yang ada di sekeliling pagoda air itu dibangun secara terbuka di atas dinding, sedang para jago dan orang gagah yang hadir ditempat itu rata-rata adalah mereka yang bertenaga dalam amat sempurna, tentu saja mereka tidak takut dingin, apalagi setelah mereka meneguk arak dalam jumlah yang banyak. Diluar jendela adalah sebuah telaga salju, di atas salju mencorong sinar rembulan yang sedang purnama. Bayangan manusia itu muncul secara tiba-tiba, dalam waktu singkat telah berada di luar jendela pagoda air itu. Bukan cuma gerakan tubuhnya saja yang amat cepat, lagi pula gayanya juga indah sekali, tampang orang itupun sangat menarik, perawakannya jangkung dengan wajah yang menarik, cuma di bawah sinar rembulan paras mukanya kelihatan agak kehijau-hijauan, Lim Siang him adalah seorang jago kawakan dalam dunia persilatan yang paling luas dalam pergaulan, hampir semua jago kelas satu yang ada dalam dunia persilatan dikenal olehnya. Tentu saja diapun kenal dengan orang ini, tentu saja Thian It hui dapat disebut sebagai seorang jago kelas satu di dalam dunia persilatan karena kelihaian ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya boleh dibilang jauh lebih tinggi daripada ilmu meringankan tubuh yang dimiliki siapapun di dunia ini. Begitu bayangan manusia itu munculkan diri, Lim Siang him segera mengangkat cawan dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh....haaaahh... haaahh... yang datang terlambat harus di denda tiga cawan arak, kau..."
"Mendadak suara tertawanya terhenti sampai di tengah jalan, seakan-akan tenggorokannya secara tiba-tiba dipotong kutung oleh seseorang.
ooooo0ooooo GOLOK TERCEPAT DI DUNIA BULAN PURNAMA bersinar di angkasa, cahaya rembulan yang redup menyoroti wajah Thian It hui..
Di bawah rambutnya, ditengah kening tiba-tiba muncul setitik butiran darah berwarna merah.
Baru saja butiran darah itu muncul, tahu-tahu sudah berubah menjadi sebuah garis yang memanjang.
Darah segar segera menyembur keluar dari jidatnya, alis matanya, hidungnya, bibir, dagu terus ke bawah sampai dibalik pakaiannya.
Garis yang semula amat tipis itu tiba-tiba saja berubah makin kasar, makin lama semakin kasar, makin lama semakin membesar.....
Tahu-tahu batok kepala Thian It hui pun mulai merekah menjadi dua mulai dari munculnya setitik butiran darah tadi.
Menyusul kemudian tubuhnya pelan-pelan merekah mulai dari tengah, separuh yang ada di sebelah kiri roboh ke sebelah kiri, sedang separuh yang ada di sebelah kanan roboh ke sebelah kanan, darah segar secara berhamburan ke mana-nana.
Seorang manusia yang tadinya masih utuh, kini dalam waktu singkat telah terbelah menjadi dua bagian Tak ada yang bergerak, tak ada yang buka suara, bahkan napaspun turut terhenti, dalam waktu singkat peluh dingin telah membasahi sekujur badan semua orang.
Walaupun semua yang hadir di sana adalah jago-jago kenamaan di dalam dunia persilatan, seorang jago kawakan, tapi siapapun belum pernah menyaksikan kejadian seperti ini.
Dayang dan pelayan yang semula melayani tamunya di sekeliling ruangan, ada separuh diantaranya telah pingsan karena ketakutan, ada separuh lagi yang terkencing-kencing dalam celana.
Tiba-tiba saja seluruh pagoda air itu diliputi oleh bau busuk yang amat menusuk penciuman, tapi tak seorang pun yang merasakan akan hal itu.
Entah berapa saat kemudian, Beng Kay san baru menyambar poci arak dan meneguk habis sepoci arak penuh dalam perutnya, setelah itu sambil menghembuskan napas panjang dia baru berkata.
"Benar-benar sebuah serangan golok yang sangat cepat!"
"Golok? Dimana ada golok?"
Seru Lim Siang him.
"Beng Kay san sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan, setelah menghela napas panjang kembali katanya.
"Sudah empat puluh tahun lamanya belum pernah kusaksikan golok yang bergerak secepat ini". Tiba-tiba Lam kiong Hoa su berkata pula.
"Golok yang demikian cepatnya hanya pernah kudengar dari cerita mendiang ayahku, belum kusaksikan dengan mata kepala sendiri?"
"Aku yang sudah hidup selama delapan puluh tahun pun tak lebih hanya pernah melihat sekali saja."
Kata Beng Kay san lagi.
Wajahnya yang merah telah memucat, setiap kerutan wajahnya seakan-akan bertambah dalam, sedang sorot matanya memancarkan rasa ngeri dan takut yang amat dalam.
Tanpa terasa ia teringat kembali peristiwa yang pernah disaksikan dengan mata kepala sendiri pada empat puluh tahun berselang.
Walaupun Raja kampak golok besar adalah seorang lelaki yang tidak takut langit tidak takut bumi, tapi asal teringat akan peristiwa tersebut, ia akan segera merasakan jantungnya berdebar keras dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
"Waktu itu usiaku belum setua sekarang, masih sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, suatu hari aku lewat di jembatan panjang kota Poo Teng. Waktu itu udarapun amat dingin seperti sekarang, di jembatan penuh bunga salju, orang yang berlalu lalang sedikit sekali. Tiba-tiba kusaksikan ada seorang sedang berlarian mendekat, dia lari seperti dikejar oleh setan.
"Aku kenal dengan orang itu"
Katanya. `Orang itupun merupakan seorang jago kenamaan pula didalam dunia persilatan, ilmu silat yang dimilikinya lihay sekali, bahkan setiap orang menyebut Thi tan (peluru baja) kepadanya.
"Oleh karena itu aku benar-benar tidak habis mengerti, apa sebabnya ia bisa ketakutan seperti itu? Siapakah yang sedang mengejarnya dari belakang?"
"Baru saja aku hendak bertanya, orang di belakang telah berhasil menyusulnya, cahaya golok tampak berkelebat lewat, tahu-tahu sudah membacok lewat dari kepala temanku"
"Temanku sama sekali tidak roboh akibat dari bacokan itu, dia masih melarikan diri dengan sepenuh tenaga.
"Jembatan panjang itu mencapai ratusan kaki lebih"
"Setibanya di ujung jembatan tersebut temanku baru secara tiba-tiba roboh dengan terbelah menjadi empat bagian"
Ketika selesai mendengarkan kisah cerita yang mendebarkan sukma itu, semua orang merasakan peluh dingin jatuh bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
Lim Siang him meneguk lagi beberapa cawan arak, kemudian baru berkata.
"Benarkah di dunia ini terdapat golok yang begitu cepat ?"
"Peristiwa itu kusaksikan dengan mata kepala sendiri"
Jawab Beng Kay san.
"walaupun sudah berlangsung empat puluh tahun lamanya, akan tetapi hingga kini, setiap kali kupejamkan mata, peristiwa itu seakan-akan muncul kembali di depan mata, seakan-akan temanku itu muncul kembali dan mati terbelah menjadi dua bagian"
Setelah berhenti sejenak, dengan sedih lanjutnya.
"Sungguh tak disangka, empat puluh tahun kemudian, peristiwa yang terjadi hari itu kembali terulang."
"Siapakah orang yang telah membunuh temanmu itu ?"
Tanya Lim Siang him kemudian.
"Aku tak dapat melihatnya, aku hanya menyaksikan cahaya golok berkelebat lewat, orang itu sudah lenyap dari pandangan mata."
"Siapakah temanmu itu ?"
Tanya Sun Hu-hou. Aku hanya kenal dengan orangnya, sama sekali tidak kuketahui siapa nama aslinya!"
Dia adalah seorang lelaki berjiwa besar seorang yang jujur dan berterus terang, belum pernah ia berbicara bohong.
Bila ia sedang berbohong setiap orang dapat menyaksikan akan hal itu.
Sekarang semu orang sudah tahu kalau dia tidak berbicara jujur, tentu saja dia tahu siapakah orang yang membunuh temannya, tentu saja dia lebih-lebih tahu tentang nama temannya itu.
Tapi ia tak berani untuk mengutarakannya keluar.
Kejadian yang telah berlangsung pada empat puluh tahun berselang mengapa hingga kini tak berani dia utarakan?
Mengapa diapun seperti temannya itu, merasa ketakutan setengah mati?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu saja tak ada orang yang berani menanyakan kepadanya, tapi ada orang yang bertanya dengan cara yang lain.
"Menurut pendapatmu, apakah Thian It hui dan sahabatmu itu telah tewas di ujung golok yang sama ?"
Beng Kay-san belum juga menjawab. Dia telah menutup mulut rapat-rapat, seakan-akan telah bertekad tak akan buka suara lagi. Sambil menghela napas panjang, Sun Hu hou berkata.
"Entah bagaimanapun juga, peristiwa itu sudah berlangsung empat puluh tahun berselang, beberapa orang beberapa orang enghiongkah yang masih bisa hidup hingga kini semenjak empat puluh tahun berselang?"
"Bukankah Beng loya-cu masih hidup ?"
Seru Lim Siang him.
"Beng Kay san saja masih hidup, tentu saja orang yang telah membunuh temannya kemungkinan besar masih hidup pula. Tapi, siapa gerangan orang itu. Semua orang berharap mengemukakannya keluar, setiap orang sedang memandang ke arahnya, berharap ia bersedia untuk buka suara. Tapi apa yang kemudian mereka dengar adalah suara dari seseorang yang lain, suara itu merdu dan enak didengar seperti suara anak perempuan. Tiba-tiba ia berseru.
"Beng Kay-san, ambilkan secawan arak bagiku!"
Tahun ini Beng Kay san berusia delapan puluh tujuh tahun, sejak berusia tujuh belas tahun ia sudah berkelana dalam dunia persilatan, kapak raksasa yang berat mencapai enam puluh tiga kati itu jarang menjumpai musuh tandingan.
Kampak adalah benda yang berat dan berat, perubahan jurus serangannya sulit untuk bergerak secara lincah, orang persilatan yang mempergunakan kampak memang tidak banyak jumlahnya.
Tapi, bila seseorang dapat disebut sebagai Raja kampak oleh setiap orang jelas hal ini bukan sesuatu yang mudah.
Selama puluhan tahun terakhir ini, mungkin hanya orang lain yang mengambilkan arak baginya, tidak banyak lagi jumlah orang yang mengharuskan dialah yang mengambilkan arak baginya.
Tapi sekarang, ternyata ada orang yang menyuruhnya mengambilkan arak, bahkan orang yang menyuruhnya mengambilkan arak adalah seorang bocah perempuan.
Lim Siang him berdiri tepat di hadapan Beng Kay san, setiap perubahan mimik wajah Beng Kay san dapat dilihat olehnya dengan amat jelas.
Tiba-tiba saja dia menemukan paras muka Bang Kay san berubah hebat, wajah yang sebenarnya merah membara, mendadak berubah menjadi dingin sedingin salju, di luar wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, bahkan sorot matanya menampilkan perasaan yang amat takut.
Dia tidak menjadi marah ketika bocah perempuan itu memerintahkan kepadanya untuk mengambilkan arak, sebaliknya malahan memperlihatkan rasa ketakutan yang luar biasa.
Tak tahan lagi Lim Siang him berpaling, mengikuti sorot matanya itu, ia menyaksikan seorang nenek telah berdiri angker di situ.
Dalam pagoda air tersebut sama sekali tiada bocah perempuan, yang ada hanyalah seorang nenek yang hitam, mana kurus, kecil lagi sedang berdiri disamping seorang kakek yang hitam, kurus dan kecil pula.
Kedua orang itu mengenakan baju kasar berwarna hijau yang warnanya sudah luntur, berdiri di sana ternyata perawakan tubuhnya tidak lebih tinggi dari orang-orang yang sedang duduk di bangku, sepintas lalu mereka tampak seperti sepasang suami istri tua yang baru datang dari dusun, sedikitpun tiada sesuatu yang luar biasa.
Yang lebih aneh lagi adalah begitu banyak orang yang berada dalam pagoda air itu, bahkan mereka semua adalah jago-jago kawakan dari dunia persilatan yang berilmu tinggi, akan tetapi tak seorangpun yang melihat jelas dari manakah mereka datang?
Menunggu si nenek itu sudah bersuara, semua orang baru terperanjat.
Dia tampak jauh lebih tua daripada Beng Kay san tapi suara pembicaraannya justru menyerupai bocah perempuan.
Tadi dia juga yang menceritakan Beng Kay san untuk ambilkan arak, dan kini dia telah mengulangi kembali perkataan tersebut, Kali ini sebelum perkataannya selesai diucapkan, Beng Kay san telah menuangkan arak ke dalam cawan, disekanya cawan itu bersih-bersih dengan secarik kain, kemudian baru dipenuhi dengan arak dan dipersembahkan kehadapan nenek tersebut dengan sikap yang menghormat sekali.
Nenek itu segera memicingkan matanya, setelah memandang ke arahnya sekejap, ia menghela napas pelan.
Sudah lama kita tak bersua, kaupun sudah nampak tua"
"Benar!"
Jawab Beng Kay san lirih.
"Konon bila seseorang menanjak tua, maka diapun berubah menjadi banyak mulut."
Tangan Beng Kay san mulai gemetar keras, gemetar sedemikian kerasnya sehingga isi dalam cawan muncrat kesana-kemari.
"Konon bila seseorang berubah menjadi banyak mulut, maka jaraknya dengan kematian akan semakin dekat"
Lanjut si nenek itu lebih jauh.
"Aku tidak berkata apa-apa, benar-benar tak berkata apa-apa!"
"Sekalipun kau tidak berkata apa-apa, sekarang semua orang yang berada di sini telah menduga bahwa kami adalah orang yang telah kau jumpai di luar kota Poo teng pada empat puluh tahun berselang"
Setelah menghela napas panjang, terusnya.
"Tiada orang tolol yang berada di sini, bila mereka dapat menduga ke situ, tentu saja merekapun akan menduga kalau bocah she Thian itupun sudah tewas di ujung golokku pula."
Apa yang dia katakan memang benar, ditempat ini memang tak ada orang bodoh, setiap orang serentak dapat berpikir sampai ke situ.
Cuma saja semua orang masih tidak percaya, apakah dua orang kakek dan nenek yang ceking mana kecil lagi, bisa mempergunakan golok dengan kecepatan yang luar biasa.
Akan tetapi penampilan mimik wajah Beng Kay san membuat mereka mau tak mau harus mempercayainya..Ia benar-benar ketakutan, sedemikian takutnya sehingga sekujur badannya menjadi lemas, cawan arak dalam genggamannya kosong, arak dalam cawan telah membasahi seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba nenek itu bertanya.
"Tahun ini kau sudah berusia delapan puluh tahun lebih bukan?"
Beng Kay san gemetar keras, sepasang giginya saling beradu keras, setelah bersusah payah akhirnya dia berhasil juga mengutarakan sepatah kata.
"Benar !"
"Kau bisa hidup sampai delapan puluh tahun lebih, kendatipun harus mati juga tidak menyesal, buat apa kau musti mencelakakan pula orang-orang lainnya?"
"Aku .... aku tidak'""
"Kau jelas mengetahui, bila ada seorang saja yang bisa menebak asal usul kami, maka dia tak akan kami biarkan hidup terus, bukankah tindakanmu tadi sama halnya dengan mencelakai orang?"
Perkataan tersebut diucapkan dengan santai seakan-akan semua orang yang berada didalam ruangan itu hanya barang rongsokan yang tak berguna, sepertinya jika ia menginginkan nyawa orang-orang itu, maka hal tersebut dapat dilakukan jauh lebih mudah daripada menggencet mati seekor semut.
"Orang edan"
Tiba-tiba Ciong Tian tertawa dingin.
Selamanya dia jarang berbicara, kalau dapat menggunakan dua patah kata untuk menggunakan dua patah kata untuk mengutarakan suara hatinya, dia takkan mempergunakan tiga patah kata.
"Kau maksudkan di sini ada orang edan ?"
Tanya si nenek.
"Ehmm!."
"Siapa yang sudah edan?"
"Kau !"
Tiba-tiba Ang Bo tan tertawa tergelak.
"Haaahhh .... haaahh.... haaahh... betul, perkataanmu itu memang betul, bila nenek ini belum edan, masa dia mengucapkan kata-kata semacam itu?"
""Betul!"
Seru Sun Hu hou pula sambil tiba-tiba menggebrak meja keras-keras. Lim Siang him ikut tertawa tergelak pula.
"Haaahhh... haaahh .... haaahh. .. dia ingin membuat kita semua mampus di sini? Dia mengira kami adalah manusia apa?".
"Dia mengira dia sendiri manusia apa?"
Han Tiok berseru pula dengan suara dingin. Tiba-tiba Lam kiong Hoa su menghela napas panjang.
"Aaai ..! kalian tidak seharusnya berkata demikian.
"Mengapa ?".
"Dengan kedudukan kalian didalam dunia persilatan mengapa meski ribut dan mencari urusan dengan seorang nenek edan?"
Ucapan demi ucapan diutarakan tiada hentinya, pada hakekatnya mereka tak memandang sebelah matapun terhadap suami istri berdua itu.
Anehnya nenek itu ternyata tidak marah bahkan Beng Kay sanpun memperlihatkan wajah gembira.
Hanya orang-orang yang tidak mengenal suami istri berdua itu saja yang berani bersikap kurang ajar terhadap mereka.
Oleh karena semua orang tak ada yang kenal dengan mereka, maka semua orang baru ada harapan untuk hidup.
Akhirnya, nenek itu menghela napas panjang.
"Aaai.... tua bangka kami sering berkata, makin sedikit yang diketahui seseorang makin panjang umurnya, aku lihat perkataannya itu memang masuk diakal. Kakek itu, sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, bahkan paras mukanya juga tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Mungkin hal ini disebabkan karena apa yang hendak dikatakan olehnya telah diucapkan oleh nenek tersebut.
"Kalau toh kalian tak ada yang kenal denganku, akupun enggan pula untuk ribut dengan kalian"
Tiba-tiba Liu Yok Siong tertawa, ujarnya.
"Bagaimanapun juga kalian berdua telah datang kemari, mengapa tidak duduk dulu dan minum arak?"
"Hmmm .. tempat macam apakah ini! memangnya pantas buat aku si orang tua untuk duduk minum arak?"
Jengek si nenek sambil tertawa dingin.
"Kalau toh tempat ini tidak cocok buat kalian berdua untuk minum arak, mengapa kalian berdua datang kemari ?"
"Kami datang untuk mencari orang"
"Mencari orang? Siapa yang hendak dicari?"
"Seorang manusia she Sang yang bernama Sang Ceng, serta seorang budak cilik she Cia"
Menyinggung tentang kedua orang itu, wajahnya segera menunjukkan perasaan gusar.
"Asal kalian serahkan kedua orang itu kepadaku, sekalipun kau berlutut sambil memohon kepadaku akupun tak ingin berada lebih lama lagi di sini"
"Ada urusan apa kalian berdua hendak mencari mereka?"
"Akupun tak ingin berbuat apa-apa, aku hanya inginkan mereka hidup beberapa tahun lagi!"
Kemudian dengan mata memancarkan rasa gusar dan benci dia melanjutkan lebih jauh.
"Aku menginginkan agar mereka mau mati pun tak dapat mati"
"Budak yang ada di sini tidak sedikit jumlahnya, yang she Cia pun ada beberapa orang bahkan akupun kenal dengan orang she Sang tersebut!"
""Sekarang dia ada dimana?"
"Aku tidak tahu !"
Kakek yang selama ini tidak berbicara mendadak berkata.
"Aku tahu!"
"Sejak kapan kau tahunya"
"Tadi"
"Dimana?"
"Di sini!"
Sun Hu-hou tak kuasa menahan diri, serunya dengan cepat.
"Kau mengatakan Sang Ceng berada di sini?", pelan-pelan kakek itu mengangguk, paras mukanya masih tidak memperlihatkan perubahan apa-apa.
"Mengapa kami tidak melihat dia!"
Kakek itu sudah menutup mulutnya rapat-rapat, sepatah katapun ia tidak berbicara lagi.
Setelah lo-tau-cu kami mengatakan dia pasti berada di sini, apa yang dikatakan loa tau cu kami selamanya tak pernah salah"
"Apakah kali inipun tak bakal salah?"
"Yaa, kali ini pun tak bakal salah"
Sun Hu-hou segera menghela napas panjang.
"Aaaai.... bila kalian dapat menemukan San Ceng ditempat ini, maka aku..."
"Kau hendak kemana?"
Tukas si nenek.
"Aku akan...."
Belum habis dia menyelesaikan kata-katanya, mendadak Lim Siang him melompat ke depan dan menutupi mulutnya. Sambil tertawa dingin si nenek itu berseru.
"San Ceng, bahkan orang inipun telah berhasil melihat kau, mengapa kau tidak cepat-cepat menggelinding keluar?"
Terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin.
"Kalau hanya mengandalkan ketajaman matanya sudah dapat menemukan aku, kejadian ini baru aneh namanya"
Ooo0ooo SEHARUSNYA San Ceng sudah datang ke sana, bila ia telah datang, tentu saja akan dipersilahkan masuk ke dalam pagoda air ini.
Tapi jelas hingga sekarang ia masih belum pernah menampakkan diri.
Anehnya, suara pembicaraan orang itu justru suara dari San Ceng ....
Sudah jelas semua orang dapat mendengar suaranya, tapi justru tak ada yang melihat orangnya.
Walaupun pagoda air itu tak bisa dibilang kecil, tapi tak bisa dikatakan pula amat besar, tapi di manakah orang itu menyembunyikan diri?
Dia selalu berada dalam pagoda air itu, berada di depan mata orang-orang itu, sedang orangorang yang berada di sana bukan orang buta semua, tapi anehnya justru mereka tak ada yang melihat dirinya.
Sebab siapapun tak ada yang menyangka kalau Ngo-heng poocu yang berkedudukan terhormat dalam dunia persilatan, ternyata telah berubah menjadi begini rupa.
ooooo0ooooo WALET BAJA TERBANG TAMU yang berada dalam pagoda air itu berjumlah sembilan orang, sebaliknya pelayan dan dayang yang melayani mereka berjumlah dua belas orang, enam lelaki dan enam perempuan.
Yang lelaki memakai baju hijau kaos putih, sedangkan yang perempuan mengenakan gaun pendek.
setiap orang tampak amat bersih, teratur dan amat tenang, seperti barang-barang antik yang mudah pecah.
Tak bisa disangkal lagi mereka semua adalah orang-orang yang dipilih melalui seleksi yang seksama, atau tegasnya untuk menjadi babu atau kacung di dalam keluarga yang kaya rasa ini bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.
Tapi entah bagaimanapun disiplin dan ketatnya pendidikan yang pernah mereka terima, bila secara tiba-tiba menyaksikan ada seorang "hidup"
Yang mendadak tubuhnya terbelah menjadi dua, mereka toh akan dibuat ketakutan juga.
Dari dua belas orang yang berada di situ, paling tidak ada separuh diantaranya yang sudah dibuat ketakutan sampai lemas kakinya dan tergeletak di tanah tanpa sanggup untuk bangkit berdiri kembali.
Tiada orang yang menegur mereka, juga tiada orang yang memperhatikan mereka, bahkan memandang sekejap ke arah mereka pun tidak.
Dalam pagoda air ini, kedudukan mereka tidak lebih penting daripada seekor ikan gurame yang dimasak Ang sio.
0leh karena itu mereka tidak berhasil melihat San Ceng.
San Ceng adalah seorang yang selalu memandang tinggi kedudukan sendiri, gayanya sok dan siapapun tak akan menyangka kalau dia akan menurunkan derajat sendiri dengan mencampur baurkan diri diantara para pelayan, bahkan menggeletak di tanah lagi pura-pura mati.
Sayang sekali ia sudah tak dapat melanjutkan sandiwaranya lagi, terpaksa ia harus bangkit berdiri, mengenakan pakaian berwarna hijau dengan kaos putih yang selama hidup tak pernah dikenakannya dengan wajah hijau membesi.
Sekarang semua orang baru melihat jelas, rupanya dia mengenakan sebuah topeng kulit manusia yang terbuat amat sempurna.
Lim Siang him sengaja menghela napas panjang, lalu katanya.
"Apa yang dikatakan Sang poocu memang benar, dengan ketajaman mataku aku benar-benar tak dapat melihat kalau dia adalah Sang poocu, kalau tidak masa aku berani merepotkan Sang poocu untuk mengambilkan arak untuk diriku."
"Dia tas wajah Sang poocu mengenakan sebuah topeng kulit manusia yang dibuat oleh Jit kiau tongcu, tentu saja dengan mata telanjang tak mungkin kita bisa menemukannya"
Sambung Lamkiong Hoa su.
"Konon kulit manusia itu merupakan sebuah benda yang sangat berharga di dalam dunia persilatan waktu lalu""
Ucap Bwee toa lojin pula.
""yang masih tersisa dalam dunia persilatan sudah tidak banyak lagi jumlahnya, konon paling banter cuma ada tiga empat lembar saja."
"Hmm, sungguh tak disangka Sang poocu yang selamanya terbuka dan gagah perkasa, ternyata menyimpan pula selembar topeng tersebut ... ."
Sambung Han Tiok.
"Orang yang jujur dan terbuka, menganggap tak boleh mempunyai topeng semacam ini, mengapa harus menyimpannya secara diam-diam"
Seru Bwee Hoa cepat.
"Masa kau lupa, topeng kulit manusia semacam ini terbuat dari apa ?"
"Konon kalau tak salah terbuat dari kulit pantat orang mati"
Ucap Lim Siang him.
"Tidak benar, tidak benar"
Teriak Bwe-hoa sambil menggoyangkan kepalanya berulang kali.
"dengan kedudukan Sang poocu dalam dunia persilatan, masa ia mau mengenakan kulit pantat orang mati di atas wajahnya? sudah pasti kau sudah salah mendengar""
Begitulah, beberapa orang itu saling menyindir dan saling berseru, isinya hanya cemoohan dan ejekan belaka. Akhirnya Sang Ceng buka suara juga, dia berkata.
"Sudah selesaikan perkataan kalian semua?."
"Belum"
Sahut Lim Siang him.
"masih ada satu hal yang tidak jelas bagiku"
"Persoalan apa?"
"Hari ini adalah pesta besar yang diselenggarakan tuan rumah perkampungan ini untuk segenap umat persilatan di dunia, beratus meja perjamuan telah disediakan, semakin banyak orang semakin gampang untuk menyembunyikan diri, mengapa kau tidak pergi ke tempat yang banyak orangnya, tapi justru datang kemari? "
"Sebab aku mengira kalian adalah temanku, sekalipun jejakku ketahuan, kalian sebagai pendekar-pendekar lurus dari golongan putih, tak akan membiarkan aku mati ditangan ibis sesat dari golongan hitam"
Mendadak Sun Hu hou melompat bangun, lalu bentaknya keras-keras.
""Seorang iblis sesat dari golongan hitam? Siapakah yang termasuk iblis sesat dari golongan hitam?"
Sang Ceng tertawa dingin.
"Apakah kalian benar-benar tidak tahu kalau kedua orang ini adalah ....."
"Ia tidak melanjutkan kata-katanya sebab dia tak sanggup melanjutkan perkataannya, dalam waktu singkat ada dua tiga puluh titik cahaya tajam yang menghajar ke arahnya, semuanya mengancam bagian-bagian mematikan di tubuhnya.
Orang pertama yang melancarkan serangan paling dulu adalah Lim Siang him.
Sun Hu hou, Ciong Tian, Bwe Hoa, Han Tiok dan Lam kiong Hoa supun tidak lebih lambat daripada gerakannya.
Orang itu berasal dari perguruan kenamaan, jarang sekali ada umat persilatan yang mengetahui kalau merekapun pandai mempergunakan senjata rahasia.
Sebab dihari-hari biasa mereka selalu mengatakan kalau senjata rahasia adalah benda kaum sesat, selalu memandang rendah orang-orang yang ternama karena mengandalkan senjata rahasia.
Tapi sekarang, senjata rahasia mereka telah dipergunakan, bukan saja dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, bahkan keji dan luar biasa hebatnya, entah dalam bagian manapun mereka tak akan lebih kurang dari orang-orang yang mereka anggap rendah dihari-hari biasa.
Jelas mereka telah bertekad tak akan membiarkan Sang Ceng menyelesaikan kata-katanya dalam keadaan hidup, setiap orang telah mempersiapkan senjata rahasia dalam tangannya, kemudian secara tiba-tiba melancarkan serangan berbareng.
Bagaimana mungkin Sang Ceng dapat menduga kalau mereka bakal turun tangan bersama secara tiba-tiba?
Bagaimana mungkin ia dapat meloloskan diri dari ancaman tersebut?
Bahkan dia sendiripun beranggapan bahwa dia bakal mati, sebab diapun tidak menyangka kalau ada orang yang akan turun tangan menyelamatkan jiwanya.
Mendadak tampak cahaya golok berkelebat lewat.
Cahaya golok yang berwarna perak berkelebat lewat ditengah udara, dua puluh tujuh macam senjata rahasia terdiri dari pelbagai macam itu telah jatuh berserakan di atas tanah dalam jumlah lima puluh empat batang, sebab setiap macam senjata itu telah terpapas kutung menjadi dua bagian oleh ayunan golok tersebut.
Diantara dua puluh tujuh macam senjata rahasia itu terdapat teratai baja, jarum bunga bwee, ada peluru emas, ada pisau penembus tulang, ada yang berbentuk persegi ada yang berbentuk bulat, ada yang lancip ada pula yang berbentuk lonjong, ada yang besar ada pula yang kecil, setiap macam senjata rahasia tersebut semuanya patah persis ditengah-tengah.
Sungguh suatu gerak serangan yang amat cepat dan amat tepat!
ooo0ooo CAHAYA golok berkelebat lewat, tahu-tahu lenyap tak berbekas.
Paras muka kakek itu masih tetap tenang tanpa perubahan apapun, sebaliknya dari balik mata nenek itu memancarkan cahaya berkilat seperti cahaya golok yang berkelebat lewat tadi.
Tapi ditangan mereka berdua tak ada yang memegang golok.
Cahaya golok tadi berasal dari mana?
Mengapa tahu-tahu lenyap tak berbekas?
Ternyata tak seorang manusiapun yang melihatnya.
Paras muka setiap orang berubah hebat.
Mendadak Sang Ceng mendongakkan, kepalanya dan menghela napas panjang.
"Aaaai ... rekan persilatan yang selama dua puluh tahun saling menghormat dan saling menolong, ternyata "dalam sekali serangan ingin merenggut selembar jiwaku, aaai .... siapakah yang akan menduga sampai ke situ ?"
Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba sambil tertawa dingin katanya lagi.
"Tapi sudah seharusnya aku berpikir sampai ke sana, sebab apa yang kulihat jauh lebih banyak dari pada kalian"
"Mengapa yang kau lihat jauh lebih banyak dari pada kami?"
Tanya si nenek.
"Sebab sejak tadi aku tergeletak di atas tanah, bahkan apa yang terjadi di bawah meja pun dapat kulihat jelas"
"Apa yang telah kau lihat?"
"Sewaktu mereka sedang memaki kau sebagai orang edan tadi, tangan mereka yang berada di bawah meja secara diam-diam salting menarik baju lawan dan memberi tanda rahasia, bahkan ada sementara tangan yang gemetar keras ......."
"Lanjutkan."
"Tentu saja hal ini dikarenakan mereka sudah menduga siapakah kalian, tapi mereka tak boleh membiarkan kau tahu akan hal ini"
"Yaa. sebab bila ada seorang diantara mereka yang bisa menduga asal usulku maka jangan harap ada yang bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup!"
"Itulah sebabnya terpaksa mereka harus bersandiwara di hadapanmu, agar kau mengira mereka sama sekali tak tahu siapakah kau, kalau tidak, masa mereka berani bersikap kurang ajar kepadamu?.
"Heeehhh... heeehhh... heehhh ... ternyata di sini memang benar-benar tak ada yang tolol"
Ujar si nenek sambil tertawa dingin.
"Sungguh tak disangka aku memang benar-benar berada di sini dan yang lebih tidak beruntung lagi mereka justru adalah sahabatku......"
"Hmmm.. setelah mereka tahu akan asal usulku, tentu saja mereka tak akan menganggap kau sebagai teman lagi"
""Itulah mereka harus mencemooh, mengejek dan menyindir ku, pertanda kalau mereka tidak memandang tinggi diriku, bila ada orang hendak membunuh aku. Merekapun tak akan mencampuri urusanku"
"Sayang sekali aku justru belum terlalu terburu napsu untuk turun tangan merenggut jiwamu""
"Kini aku belum mati, aku masih bisa berbicara tentu saja setiap saat aku dapat mengutarakan asal usul kalian kepada mereka."
"Nenek itu mengangguk.
"Benar, asal kau mengutarakan hal itu, berarti merekapun harus mengiringi kematianmu"
"Sekarang terbukti sudah kalau mereka tidak menganggap teman kepadaku, tentu saja akupun tak akan membiarkan mereka memperoleh kebaikan apa-apa.... ."
Mereka pasti sudah menduga akan hal itu, mereka semua toh bukan orang tolol" `Tapi mereka sama sekali tidak mengira kalau kau telah turun tangan menyelamatkan jiwaku"
"Mungkin merekapun tak akan menyangka kalau aku dapat menyelamatkan jiwamu,"
Sambung si nenek dingin. Dalam dunia ini memang tidak ada beberapa orang yang bisa merontokkan dua puluh tujuh macam senjata rahasia di dalam sekali bacokan.
"Tadi Lim Siang him menutupi mulut Sun Hu-hou bukan lantaran dia sudah melihat kalau aku berada di sini"
Kata Sang Ceng "Yaa dia telah menduga siapa gerangan lo-tau cu kami ini"
Si nenek ini manggut-manggut.
"Tentu saja dia juga tahu kalau dalam hidupnya Thi tianglo tak pernah mengucapkan kata-kata yang tidak meyakinkan atau melakukan perbuatan yang tidak meyakinkan"
"Ehmm, memang jarang sekali ada orang yang tidak mengetahui watak dari lo-tau cu kami itu"
"Itulah sebabnya mereka lebih-lebih tak akan membiarkan aku memberitahu kepada mereka kalau kakek ini adalah salah satu di antara empat toa tianglo dari Mo kau, jago golok paling cepat dikolong langit pada empat puluh tahun berselang"
Ternyata dia mengutarakan juga hal ini.
Belum habis dia berkata Han Tiok sudah melompat ke udara dan melesat pergi dari situ dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.
Syarat utama dalam ilmu meringankan tubuh adalah "enteng""
Dengan tubuh yang enteng gerakan baru bisa cepat bagaikan kilat. Tubuh Han Tiok kurus kering bagaikan bambu, lagi pula amat pendek dan kecil. Sudah dapat dipastikan Han Tiok jauh lebih "enteng"
"daripada kebanyakan orang lain. Han Tiok boleh dibilang merupakan salah satu diantara sepuluh orang jago yang paling bagus ilmu meringankan tubuhnya dalam dunia persilatan"
Sewaktu dia meleset ke luar tadi, tak ada orang yang menghalanginya, juga tak ada yang bisa menghalanginya, yang nampak cahaya golok yang berkelebat lewat.
Tatkala cahaya golok itu berkelebat lewat, tubuhnya masih melesat ke depan, dalam waktu singkat dia sudah melewati telaga salju tersebut.
Rembulan yang purnama masih ada di langit.
Di langit ada rembulan, di atas telaga juga ada rembulan.
Di antara kilauan cahaya dari langit dan pantulan dari bumi, semua orang dapat melihat jelas tubuhnya yang kurus kecil itu dengan cepat dan enteng telah melesat ke depan menyeberangi telaga salju itu.
Semua orangpun dapat melihat jelas, secara tiba-tiba tubuhnya terbelah persis dari tengah menjadi dua bagian.
ooooo0ooooo TIADA orang yang berani bergerak lagi.
Han Tiok adalah orang pertama yang melesat ke depan, orang lain pun turut menghimpun tenaga dan bersiap melompat pula ke luar.
Tapi sekarang, hawa murni yang baru saja mereka himpun, secara tiba-tiba berubah menjadi peluh dingin.
Cahaya golok kembali berkelebat lalu lenyap.
Tapi kali ini semua orang dapat melihat jelas, cahaya golok itu muncul dari balik ujung baju si kakek itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun.
Ujung bajunya itu sangat lebar, amat besar dan panjang.
Cahaya golok berwarna putih perak yang meluncur keluar dari balik ujung bajunya tadi, kini seakan-akan tertinggal dibalik mata nenek tersebut ....
"Kau keliru"
Tiba-tiba nenek itu berkata.
"Dia memang keliru""
Sahut Sang Ceng.
"dia seharusnya tahu kalau tiada orang yang dapat meloloskan diri dari ujung golok si burung walet"
"Kaupun keliru"
Ucap si nenek.
"Oya? "
"Kaupun seharusnya pernah mendengar akan sepatah kata"
"Kata apa?"
"Burung walet terbang berpasangan, jantan betina burung walet baja, sekali bacok tengah membelah, kiri kanan berjumpa kembali"
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Maksud dari perkataan itu adalah bacokan kami selalu datangnya dari tengah, bagian kanan pun akan segera berpisah" ..
"Ucapan itu tidak terlalu bagus, tapi aku memang pernah mendengarnya .."
"Kalau kata-kata seperti ini pernah kau dengar, tentunya kau juga harus tahu, diantara empat tianglo dari Mo-kau, hanya walet baja yang terdiri dari dua orang"
Kemudian ia melanjutkan.
"Walaupun bacokan golok lo tau cu kami cepat, akupun harus turut turun tangan pula, dengan demikian kelihaiannya baru dapat terlihat jelas....."
"Ucapan ini memang pernah kudengar"
Tapi, sekalipun kami berdua telah turun tangan bersama, Yan cu siang hui (burung walet terbang berpasangan) masih belum bisa dianggap sebagai golok tercepat di dunia ini"
"Belum bisa dianggap?" .
"Yaa, belum bisa dianggap"
Sang Ceng segera menghela napas panjang.
"Aaaai, tapi golok kalian boleh dibilang sudah cukup cepat ....!"
Katanya.
"Kau menganggap golok kami sudah cukup cepat karena kau belum pernah melihat golok yang benar-benar tercepat di dunia ini!"
Mendadak wajahnya menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali.
"Golok itu adalah sebilah golok berbentuk melengkung seperti bulan sabit ...."
Si kakek yang jarang bersuara itu mendadak menusuk ucapannya dengan berseru dingin.
"Kaupun sudah tua!"
Jarang ada perempuan yang mau mengakui dirinya sudah tua!, tapi kali ini ternyata dia mengakuinya dengan segera.
"Yaa, aku memang sudah tua, aku benar-benar sudah tua, kalau tidak mengapa aku bisa berubah menjadi banyak mulut"
Mimik wajahnya masih tampak sangat aneh, entah karena menaruh hormat atau benci?
atau kagum?
Atau marah?
Beberapa macam hal tersebut sebenarnya tak mungkin bisa tampak di atas wajah satu orang.
Tapi terhadap golok berbentuk lengkung macam bulan sabit ini, justru mempunyai beberapa macam perasaan yang tak sama.
Golok lengkung itu, apa seperti golok lengkung dari Cing cing?
Pertanyaan ini sudah tak ada orang yang dapat menjawab lagi, sebab nenek itu sudah mengalihkan kembali pokok persoalannya ke masalah yang lain.
Tiba-tiba ia bertanya kepada Sang Ceng.
"Dapatkah aku membunuhmu dalam sekali bacokan?..."
"Dapat !"
Sang Ceng bukanlah seseorang yang rela menyerah kalah dengan begitu saja, akan tetapi kali ini dia telah mengakuinya. Nenek itu segera menghela napas panjang, katanya lagi.
"Kau sama sekali bukan seseorang yang menarik, dihari-hari biasa gerak gerikmu bukan saja menganggap dirinya luar biasa, bahkan kaupun berbuat agar orang lain menganggap kau luar biasa."
Ternyata Sang Ceng mengakui akan hal ini. Ilmu pedang Ngo heng kiam hoat yang kau miliki sama sekali tak ada gunanya, kehidupan di dunia ini terhadap orang lainpun sama sekali tak ada kegunaannya"
Sambung si nenek itu..Sang Ceng sama sekali tidak membantah.
"Tapi kau masih mempunyai sebuah kebaikan,"
Kata si nenek itu lagi.
"paling tidak kau jauh lebih baik daripada manusia-manusia munafik yang menganggap dirinya luar biasa, sebab apa yang kau ucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya."
Terhadap perkataan ini, tentu saja Sang Ceng semakin tak akan membantah.
"Oleh sebab itu aku tak ingin membunuhmu"
Sambung si nenek, asal kau serahkan budak cilik itu kepadaku, maka akupun akan segera melepaskan kau pergi!"
Sang Ceng termenung sampai lama sekali, tiba-tiba dia berkata.
"Bolehkah kubicarakan dulu beberapa hal dengan mereka?"
"Mereka siapa?"
"Mereka adalah orang-orang yang dahulu ku anggap sebagai teman-temanku ini?"
"Sekarang kau sudah tahu mereka adalah teman-teman macam apa, mesti buat berbicara apa lagi dengan mereka?"
"Aku hanya ingin mengucapkan sepatah kata saja. Sebelum si nenek menjawab, kali ini kakek itu sudah mendahului.
"Biarkan dia berbicara"
Orang yang jarang berbicara biasanya setiap ucapan yang diutarakan olehnya selalu lebih berbobot.
"Kakek tua kami sudah mengijinkan kau untuk berbicara, siapa lagi yang bisa melarangmu untuk berbicara?"
Kata si nenek. Setelah menghela napas, terusnya.
"Sekalipun saat ini kau tak ingin berbicarapun, mungkin sudah tidak mungkin lagi". Maka Sang Ceng pun membisikkan sesuatu di sisi telinga lima orang, mereka adalah Sun Hu hou, Lim Siang him, Bwee Hoa, Ciong Tian serta Lamkiong Hoa su. Hanya Beng Kay san dan Liu Yok siong yang tidak masuk dalam bilangan. Tak ada yang tahu apa yang telah dia katakan, tapi semua orang yang mendengar perkataan itu paras mukanya segera berubah hebat, berubah menjadi lebih menakutkan daripada tadi. Apa yang sebenarnya dia bisikkan kepada kelima orang "teman"
Nya itu?
Suatu tanda tanya besar.
ooo0ooo GOLOK SETAN SAMBIL memicingkan mata, nenek itu memperhatikan mereka, agaknya diapun tak dapat menebak apa yang telah dibisikkan Sang Ceng di sisi telinga mereka.
Hingga berusia tiga puluh tahun, Thi yan hujin (Nyonya burung walet baja) masih termasyhur sebagai perempuan cantik dalam dunia persilatan, terutama sekali sepasang matanya yang sanggup membetot sukma.
Bila pada empat puluh tahun berselang ia memandang seorang lelaki dengan pandangan demikian, entah apapun yang dia minta, lelaki tersebut pasti akan memenuhi semua keinginannya, sayang sekali kini dia sudah meningkat tua.
Semua orang telah menutup mulutnya rapat-rapat, seakan-akan sudah mengambil keputusan tak akan mengutarakan lagi apa yang dibisikkan Sang Ceng kepada mereka itu.
Mendadak Sang Ceng berkata.
"Yan-Cu-Siang-Hui meskipun membunuh orang seperti membabat rumput, apa yang telah diucapkan selamanya masuk hitungan"
"Tentu saja masuk hitungan"
Jawab Thi Yan Hujin.
"Tadi agaknya kau telah berkata, asal kami serahkan nona Cia tersebut kepadamu maka kau akan melepaskan aku pergi"
"Benar, aku memang berkata demikian"
"Kalau begitu, sekarang agaknya aku sudah boleh pergi dari tempat ini ....!"
Ia lantas menepuk tangannya dan membersihkan pakaiannya dari debu dan pasir, seolah-olah kejadian ini sama sekali sudah tiada hubungannya dengan dirinya lagi.
"Karena sekarang aku telah menyerahkan dirinya!"
"Serahkan kepada siapa?"
"Serahkan kepada mereka!"
Ia menunjuk kearah Lim Siang him, Sun Hu hou, Ciong Thian, Bwe Hoa dan Lamkiong Hoa su.
"Aku memang sudah membawa dia datang kemari dan menyembunyikan di suatu tempat yang amat rahasia, barusan aku telah memberitahukan letak tempat itu kepada mereka, sekarang salah seorang diantara mereka sudah dapat menemukan tempat persembunyiannya lagi"
Tiba-tiba Sun Hu hou membentak marah.
"Darimana kami bisa tahu kalau kau berbicara jujur?"
"Asal salah seorang diantara kalian pergi kesana dan mencarinya, segera akan diketahui apakah aku bohong atau tidak!"
Jawab Sang Ceng dengan sikap yang tenang.
Paras muka Sun Hu Hou berubah menjadi hijau membesi, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Sang Ceng malah tertawa tergelak, tertawa amat gembira, siapapun tak ada yang tahu mengapa secara tiba-tiba mereka dapat berubah menjadi begitu gembira.
"Sudah pasti mereka akan saling berebut untuk pergi mencari budak cilik itu!"
"kata Thi yan hujin tiba-tiba.
"Oya!"
"Sekarang mereka sudah tahu siapakah aku, hal ini berarti mereka berlima sama halnya dengan lima sosok mayat!"
"Ooooh .... !"
"Tapi mereka semua belum ingin mati"
"Yaa, selama banyak tahun belakangan ini, kehidupan mereka memang dilewatkan dengan baik sekali, tentu saja mereka tak ingin mati"
Sambung Sang Ceng..
"Siapapun tak ingin mati, maka siapapun ingin pergi mencarinya!"
"Kenapa ?"
"Sebab barang siapa dapat menemukan budak cilik itu, maka aku akan melepaskannya."
"Aku percaya apa yang telah kau ucapkan pasti akan dipenuhi!"
"Kalau memang begitu, menurut pendapatmu mungkinkah mereka akan saling berebut ?"
"Tidak mungkin"
Thi yan hujin segera tertawa dingin .
"Heeehhh. .. heeehhh... heeehhh... apakah kau anggap mereka semua adalah orang-orang yang tidak takut mati?"
"Justru karena mereka takut mati, maka mereka tak akan pergi ke sana untuk mencarinya"
"Mengapa?"
"Sebab bila mereka tidak pergi, mungkin saja masih dapat hidup selama beberapa tahun lagi, sebaliknya kalau pergi berarti mereka sudah pasti akan mati, dalam hal ini aku percaya mereka pasti akan mengetahuinya dengan jelas"
Berbicara sampai di situ, dia lantas berpaling ke arah mereka sambil bertanya.
"Bukan begitu?"
Ternyata tak seorangpun di antara mereka yang menyangkal. Thi yan-hujin merasa rada marah, tapi juga agak keheranan.
"Apakah mereka mengira aku tak berani membunuh mereka?"
"Tentu saja kau berani, bila mereka tidak pergi, kau pasti akan turun tangan, dalam hal ini merekapun tahu!"". Setelah berhenti sejenak, dengan hambar dia melanjutkan.
"Sayang sekali nona Cia ini masih mempunyai orang tua, bila mereka sampai menyerahkannya kepadamu maka orang itupun tak akan melepaskan mereka dengan begitu saja"
"Jadi mereka lebih suka menyalahi aku daripada menyalahi orang tersebut ? Mereka semua adalah jago-jago kelas satu di dunia persilatan, seandainya mereka turun tangan bersama menghadapimu, mungkin saja masih ada sedikit harapan, tapi jika mereka hendak menghadapi orang itu, maka pada hakekatnya sama sekali tak ada kesempatan lagi"" (Bersambung ke
Jilid 9)
Jilid . 09
"SIAPAKAH orang itu?"
Tak tahan Thi-yan hujin bertanya.
"Cia siau hong, Sam sauya dari bukit Cui im san, telaga Lit sui oh, perkampungan Sin kiam san-ceng"
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.
"Nona Cia yang sedang kau cari itu bukan lain adalah putri kesayangan Cia Siau hong"
Oooo PARAS muka Thi yan hujin segera berubah hebat, sorot matanya penuh dengan pancaran rasa kaget, marah dan penuh kebencian. Dengan suara tenang Sang Ceng berkata.
"Golok setan dari Yan cu siang hui musti menakutkan, pedang sakti dari sam sauya keluarga Cia rasanya juga tidak terlalu terlampau jelek!"
"Sungguh perkataanmu itu?"
Bentak Thi yan hujin dengan suara keras, masa Cia Siau hong punya anak perempuan?"
"Kau saja punya anak lelaki kenapa Cia Siau hong tak boleh mempunyai anak perempuan?"
Paras muka Thi yan hujin segera berubah menjadi menakutkan sekali, sepatah demi sepatah kata dia berkata.
"Sekarang kami sudah tidak mempunyai anak lelaki, Cia Siau hong juga tak boleh mempunyai anak perempuan"
Suaranya amat keras, diantara picingan matanya mendadak melontarkan cahaya yang tajam bagaikan sembilu, sambil menatap wajah Sun Hu hou lekat-lekat serunya.
"Budak she Cia itu bersembunyi di mana, bersedia untuk bicara atau tidak? Paras muka Sun Hu hou pucat pias seperti mayat, dia menggigit bibirnya kencang-kencang.
"Dia tak akan berbicara kata Sang Ceng, anak murid Siau lim pay selalu dihormati orang dalam dunia persilatan, bila dia menjual putrinya Cia Siau hong kepada orang-orang Mo-kau, bukan saja Cia Siau hong tak akan melepaskan dirinya, bahkan saudara-saudara seperguruannya juga tak akan melepaskan dia dengan begitu saja. Setelah tersenyum, katanya lebih jauh.
"Kalau toh sama-sama matinya, mengapa ia tidak memilih kematian yang jauh lebih gagah dan menarik?"
"Tiba-tiba Sun Hu hou menjerit lengking.
"Kita tak punya dendam tak punya sakit hati, mengapa kau hendak mencelakai diriku?"
"Sebab aku tak tahu malu, bahkan kulit pantat orang matipun ku tempelkan di atas wajahku, mengapa aku tak boleh melakukan pula perbuatan semacam ini?"
Mendengar perkataan tersebut, Sun Hu hou segera menghela napas panjang.
"Aaaai ... seandainya kawan-kawan persilatan tahu kalau Ngo heng poocu sebenarnya adalah seorang manusia macam begini, entah bagaimana perasaan mereka?"
"Tahu tidak tahu, tapi perasaan tersebut sudah pasti sama dengan perasaan kalian terhadap diriku sekarang "Dia tidak mau berbicara, biar aku yang berkata"
Tiba-tiba Ciong Tian berseru. Sambil tertawa Thi yan hujin berseru.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... aku sudah tahu, cepat atau lambat pasti ada orang yang mengatakannya keluar "
"Cuma akupun ingin berbicara dulu beberapa hal dengan Sang poocu,"
Kata Ciong Tian.
Pelan-pelan dia berjalan menghampiri ke sisi Sang Ceng.
Sang Ceng bukannya sama sekali tidak mempersiapkan diri terhadap dirinya, Cuma saja, dia sama sekali tidak menyangka kalau seorang jago pedang kenamaan semacam dia ternyata biasanya cuma menggigit orang belaka...
Dia mengawasi terus sepasang tangan Ciong Tian, sementara sepasang tangannya hanya bergendong di belakang..Akhirnya Ciong Tian tiba-tiba di hadapannya, kemudian sambil menempelkan bibirnya di sisi telinga San Ceng.
dia berbisik pelan.
"Ada satu hal kau pasti tak akan membayangkannya, seperti juga akupun juga tidak menyangka kalau kau pandai meminjam golok untuk membunuh orang, oleh karena itu aku baru berpikir untuk mengucapkan beberapa hal kepadamu ...."
Mendadak ia menggigit telinga Sang Ceng keras-keras.
Kontan saja Sang Ceng menjerit kesakitan.
Sun Hu hou yang kebetulan berada di hadapannya segera bertindak cepat, sambil melompat ke depan dia menghantam dadanya keras-keras.
Tiada orang yang tahan menerima pukulan dahsyat tersebut, tatkala tubuhnya terjatuh dari tengah udara paling tidak ada dua puluh tujuh delapan batang tulangnya yang sudah patah.
Ciong Tian segera menyemburkan kutungan telinganya yang masih penuh berdarah itu di atas badannya, kemudian berkata.
"Aku tahu kau pasti tak akan menyangka bukan kalau aku adalah seorang manusia macam begini!"
Thi yan hujin yang menyaksikan kejadian itu mendadak menghela napas panjang, katanya.
"Bukan hanya dia saja yang tidak menyangka, bahkan aku sendiripun sama sekaIi tidak menyangka"
Mimik wajahnya berubah menjadi aneh sekali.
"Andaikata semua jago dan orang gagah yang ada didalam dunia persilatan dewasa ini adalah manusia-manusia macam kalian itu, hal mana tentu lebih bagus lagi!"
"Membunuh satu orang bagaikan seratus orang, lebih baik kita membunuh seorang lagi!"
Tibatiba Thi yan tianglo berseru .
"Akupun tahu bahwa kita harus membunuh seorang lagi, dengan demikian mereka baru bersedia untuk berbicara"
Setiap kali menjumpai persoalan yang berat dan membutuhkan keputusan yang tepat dia selalu bertanya kepada suaminya.
""Kita akan membunuh siapa dulu?"
Pelan-pelan Thi-yan tianglo mengeluarkan jari tangannya yang kurus kering dari balik bajunya.
Setiap orang tahu, siapa yang kena ditunjuk oleh jari tangannya itu, maka orang itulah yang akan mati.
Kecuali Lamkiong Hoa su, setiap orang segera mengundurkan diri ke belakang, tapi yang paling cepat mundurnya adalah Bwee Hoa Baru saja dia akan menyembunyikan diri dibelakang Lamkiong Hoa su, jari tangannya yang kurus itu sudah menuding ke arahnya.
Baik, dia yang kita bunuh!"
Seru Thi yan hujin.
Seusai mengucapkan perkataan tersebut, mendadak dalam genggamannya telah muncul sebilah golok.
Itulah sebilah golok panjang yang mencapai empat depa sembilan inci, tipis sekali dan bersinar terang, sehingga sepintas lalu tampak seperti tembus cahaya.
Inilah golok setan milik Yan cu siang hui.
Dulu Mo kau meraja lela didalam dunia persilatan dan menganggap semua jago yang ada di dunia ini bagaikan daging babi atau ikan, oleh karena di bawah pemerintahan kaucu mereka terdapat sebilah pedang, sebuah cambuk, sebuah tinju sakti dan sepasang golok.
Dihari-hari biasa tak ada orang yang melihat goloknya, karena golok tersebut sangat tipis sekali, bisa digunakan sebagai senjata keras, bisa juga dipakai sebagai senjata lunak, bila tidak dipergunakan dapat di gulung menjadi satu dan disembunyikan dibalik pakaian.
Biasanya bila menampakkan diri, itu berarti ada musibah atau banjir darah yang akan memenuhi seluruh jagad.
Thi yan hujin membelai mata goloknya dengan lemah lembut, kemudian ujarnya lagi.
"Aku sudah banyak tahun tidak pernah mempergunakan golok ini lagi, akupun tidak seperti lotaucu kami yang selalu berhati lembek"
Kemudian sambil memicingkan matanya memandang ke arah Bwee Hoa, dia menambahkan.
"Oleh karena itu nasibmu memang lebih mujur daripada yang lain-lainnya"
Selama ini Bwe Hoa adalah seorang yang amat memperhatikan diri sendiri, paras mukanya juga selalu baik sekali.
Tapi sekarang paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dia benar-benar tidak habis mengerti rejeki yang bagai manakah yang dikatakan sebagai nasib mujur?
"Aku masih ingat, orang terakhir yang mati di tanganku adalah Phang Thian siu!"
Phang Thian siu adalah jago-jago kelas satu dari perguruan Ngo hou toan bun to.
Ngo hou toan bun to merupakan ilmu golok yang amat dirahasiakan oleh keluarga Phang, keras, ganas, dahsyat dan mengerikan, satu bacokan memutuskan keturunan satu bacokan menghilangkan nyawa.
Delapan puluh tahun merajai dunia persilatan, jarang sekali menjumpai musuh yang sanggup menandinginya, dengan sebilah golok, Phang Thian siu menyapu rata semua jago yang ada dikedua belas sisi sungai besar, tapi secara tiba-tiba ia lenyap tak berbekas semenjak empat puluh tahun berselang, siapapun tak tahu kalau dia tewas di tangan si burung walet ini..
Phang Thian siu adalah sahabat karib Beng Kay san.
Maka ketika mendengar nama itu, paras muka Beng Kay san turut berubah, apakah dikarenakan dia terbayangkan kembali peristiwa empat puluh tahun berselang ketika ia menyaksikan temannya tewas diluar kota Poo teng, diujung jembatan?
"Kugunakan pisau yang pernah kupakai untuk membunuh Phang Thian-siu untuk membunuhmu, agar sukma kalian sama-sama menempel di golok ini, bukan nasibmu amat mujur?"
Kata Thi yan hujin.
Bwee Hoa sudah terhitung seorang kakek, belakangan ini diapun sudah merasa dalam banyak hal mengalami ketidak beresan, asal sedikit saja mengerahkan tenaga maka jantungnya akan berdebar sangat cepat, lagi pula sering kali terasa sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau.
Dia sendiripun tahu, kehidupannya tak mungkin bisa berlangsung terlalu lama.
"Dalam keadaan seperti ini, sepantasnya dia tidak takut menghadapi kematian. Tapi secara tiba-tiba ia berteriak keras.
"Aku bilang apa yang kau katakan, aku pun berkata apa!"
Nyawa si kakek itu sudah tidak panjang lagi, apa seharusnya dinikmati manusia kebanyakan telah dinikmati pula olehnya.
Sekarang sudah tidak banyak hal yang dapat dinikmati lagi olehnya....
Tapi anehnya, justru orang semakin tua biasanya semakin takut pula dia menghadapi kematian.
Terdengar Thi-yan hujin berkata lagi.
"Kau benar-benar enggan berbicara ? Kau tidak takut Cia Siau hong menghadapi dirimu ?"
Tentu saja Bwe Hoa takut, takutnya setengah mati.
Tapi sekarang Cia Siau hong masih berada ribuan li dari situ, sedangkan golok tersebut telah berada di depan mata.
Bagi seorang yang takut mati, bisa hidup lebih lama beberapa saatpun merupakan sesuatu yang luar biasa baginya.
Maka Bwe Hoa lantas berkata.
"Tadi Sang Ceng memberitahukan kepadaku, dia telah menyembunyikan nona Cia di... ."
Ia tak pernah dapat menyelesaikan kata-katanya itu.
Mendadak saja cahaya golok berkelebat lewat, dan tahu-tahu lehernya sudah terpapas kutung.
Orang yang makin takut menghadapi kematian, biasanya kematian yang dialaminya semakin cepat, dan hal ini merupakan suatu kejadian yang aneh sekali.
Bukan aneh saja, malah anehnya bukan kepalang.
Thi-yan hujin masih berdiri disitu sambil menggenggam sebilah golok yang terhunus.
Tapi gulok yang memenggal leher Bwee Hoa hingga kutung itu bukanlah golok miliknya.
Dia sempat menyaksikan golok itu berkelebat lewat, tapi ia tak sempat untuk menghadangnya.
Bwee Hoa juga sempat menyaksikan sambaran golok tersebut berkelebat lewat, tentu saja dia lebih-lebih tak sempat untuk berkelit dan menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut.
Sebab serangan golok itu begitu cepat datangnya, sedemikian cepatnya sampai sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Orang hanya sempat melihat cahaya golok yang berkilauan, tahu-tahu golok itu sudah mengambil korban, leher Bwee Hoa sudah terpapas kutung menjadi dua bagian, sedangkan golok itu sendiripun tahu-tahu sirna dengan begitu saja.
ooooo0ooooo KETAJAMAN YANG MEMUKAU GOLOK itu berada di tangan Ting Peng.
Ketika semua orang menyaksikan berkelebatnya cahaya golok di tangannya, tak seorangpun yang melihat orangnya.
Menanti semua orang menyaksikan orangnya, leher Bwee Hoa sudah terpapas kutung oleh sambaran goloknya.
Darah kental masih menetes keluar dari ujung golok tersebut.
Gook itu bukanlah senjata mestika yang tajam sekali atau membunuh orang tanpa percikan darah.
Golok itu tak lebih hanya sebilah golok biasa, cuma saja mata goloknya melengkung bagaikan bulan sabit.
Thi yan hujin yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa.
Walaupun saat ini dia sudah menjadi nenek-nenek, tapi bila sedang tertawa, sepasang matanya yang sipit masih kelihatan begitu mempesonakan hati, seakan-akan dia masih mempunyai daya tarik seperti pada empat puluh tahun berselang.
Orang yang masih hidup sekarang sudah tidak ada berapa orang yang sempat menyaksikan gaya tubuh yang mempesonakan hati itu.
Sebab orang-orang yang pernah menyaksikan daya yang memukau itu kebanyakan sudah mampus semua di ujung goloknya pada empat puluh tahun berselang...
Sebenarnya orang-orang itu mati di ujung goloknya?
Ataukah mati oleh senyumannya?"
Mungkin bahkan dia sendiripun tak dapat membedakannya dengan amat jelas.
Hanya ada satu hal yang tidak diragukan lagi.
Permainan goloknya pada waktu itu memang amat cepat, senyumannya juga amat menawan hati.
Pada waktu itu, orang yang dapat menyaksikan senyumannya, biasanya hampir lupa kalau diapun mempunyai golok kilat yang dapat membunuh orang.
Sekarang, permainan goloknya masih amat cepat, kemungkinan besar jauh lebih cepat daripada empat puluh tahun berselang, tapi senyumannya sudah tidak seindah dan menawan hati seperti empat puluh tahun berselang.
Dia sendiripun mengetahui akan hal ini.
Hanya saja karena sudah lama merupakan kebiasaannya, maka hal semacam itu sukar rasanya untuk dirubah.
Dikala dia bersiap-siap untuk membunuh orang, ia masih akan tertawa, ia telah bersiap sedia untuk melancarkan serangannya dikala senyumannya yang paling manis sedang memukau orang lain.
Sekarang ia sudah memperlihatkan senyuman yang menawan hati.
Tapi dia masih belum melancarkan serangannya.
Karena dia merasa pemuda yang siap hendak dibunuhnya ini benar-benar aneh sekali.
Senjata yang digunakan anak muda inipun sebilah golok, malah belum lama berselang golok itu telah digunakannya untuk membunuh orang.
Yang lebih aneh lagi, seandainya tiada darah yang menetes dari ujung golok yang dipegang itu, siapapun tak akan menyangka kalau belum lama berselang dia telah membunuh orang, lebihlebih lagi tak ada yang bisa melihat kalau goloknya dapat bergerak dengan kecepatan yang begitu luar biasa.
Sepintas lalu dia nampaknya seperti seorang bocah gede yang baru datang dari dusun, seorang bocah tanggung yang mempunyai pendidikan, tahu sopan santun dan berwatak lemah lembut, malah seakan-akan masih terbawa keluguannya sebagai anak desa.
sambil tersenyum dia berkata.
Diapun sekarang tertawa, tawanya amat memukau hati, membuat orang merasa simpatik, bahkan dia sendiripun merasa agak curiga, benarkah orang yang telah memenggal batok kepala Bwee Hoa tadi adalah pemuda ini?
Senyuman yang menghiasi bibir Ting Peng amat ramah dan hangat, gerak geriknya amat sopan, membuat orang dengan mudah melupakan kalau di tangannya memegang sebilah golok kilat yang dapat membunuh manusia dalam sekejap mata?
Sambil tersenyum dia berkata.
"Aku she Ting bernama Ting Peng, aku adalah tuan rumah tempat ini!"
Thi yan hujin turut tersenyum, setelah menghela napas pelan, katanya pula.
"Sungguh tak kusangka akhirnya kau telah datang juga kemari"
"Padahal aku seharusnya sudah datang sedari tadi!"
"Oooh ...."
"Ketika kalian suami istri baru datang kemari, aku sudah mengetahuinya!"
Senyumannya lebih sopan dan hangat.
"Pada waktu itu, sebenarnya aku sudah harus datang untuk menyambut kedatangan kalian berdua!"
"Waktu itu mengapa kau tidak-datang?"
"Sebab pada waktu itu masih ada sementara persoalan yang tidak begitu kupahami!"
"Persoalan apa?"
"Siapakah kalian berdua, mengapa secara tiba-tiba berkunjung kemari? Dan siapa pula yang kau cari di sini? Waktu itu, aku masih belum begitu jelas tentang persoalan-persoalan ini!"
"Sekarang apakah kau sudah mengerti?"
"Ting Peng tertawa.
"Organisasi yang menjadi tersohor dalam dunia persilatan dimasa lampau bukanlah Siau lim pay, juga bukan Kay pang, melainkan suatu organisasi rahasia yang muncul di sebelah timur, dalam sepuluh tahun yang singkat, kekuasaan mereka telah menyelimuti seluruh dunia persilatan dan memimpin kolong langit"
""Belum, belum mencapai sepuluh tahun, paling banter hanya tujuh delapan tahun"
Tukas Thi yan hujin. Walau hanya dalam waktu tujuh delapan tahun yang singkat tapi jago persilatan yang tewas di tangan mereka justru jumlahnya mencapai tujuh delapan ratus orang."
"Tapi orang-orang yang benar bisa dianggap sebagai orang gagah mungkin tujuh delapan orangpun tak sampai!"
Waktu itu setiap orang persilatan membenci dan takut kepada mereka, oleh sebab itu merekapun dinamakan Mo kau!"
"Padahal nama ini tidak terhitung sebuah nama yang jelek!"
Ucap Thi yan hujin.
"Menurut cerita yang tersiar dalam dunia persilatan, semua orang mengatakan kalau kaucu dari Mokau ini adalah seorang yang luar biasa, selain berotak cerdas, juga pandai dalam segala bidang, ilmu silatnya telah mencapai pada puncaknya."
"Aku berani menjamin, selama lima ratus tahun belakangan ini tak ada seorang manusiapun dalam dunia persilatan yang sanggup menangkan kepandaian silatnya."
"Tapi aku dengar dia jarang sekali menampakkan diri, maka bukan saja jarang sekali orang persilatan yang mengetahui raut wajah aslinya, mereka yang berkesempatan menyaksikan dia turun tangan sendiripun tidak seberapa orang"
"Malah mungkin seorang manusiapun tak ada !" `Kecuali dia, di dalam Mo-kau masih terdapat empat orang Huhoat Tianglo yang berilmu tinggi, Mo kau dapat merajai dunia persilatan, boleh dibilang ke empat orang hu-hoat tianglo inilah yang menciptakan."
"Ehmm, hal ini memang tepat sekali"
"Kalian suami istri berdua adalah salah satu dari ke empat orang hu-hoat tersebut, Yan Cu siang hui (burung walet terbang bersama) selamanya saling tidak meninggalkan yang lain, dua orang sama dengan satu orang. Setelah menghela napas panjang serunya.
""Suami istri muda jaman sekarang sudah tidak banyak lagi yang bisa saling mencintai seperti kedua orang ini!"
"Yaa memang tidak banyak!"
"Apa yang barusan kubicarakan itu aku rasa orang lainpun sudah pada tahu semua!"
"Apakah kau masih mengetahui juga hal-hal yang tidak diketahui orang lain?"
"Yaa masib ada sedikit!"
"Katakanlah. ."
"Suami istri ini mengikat diri sejak enam puluh tahun berselang, sang istri berasal dari keluarga Yan bernama Teng im, dulu dia adalah teman perempuan dari Kaucu hujin!"
Selama ini Thi yan hujin hanya tertawa belaka.
Apa yang diketahui Ting Peng selama ini tiada sesuatu apapun yang bisa membuatnya merasa kaget atau tercengang.
Tapi sekarang, dia sudah mulai terkejut bercampur keheranan, dia tidak habis mengerti apa sebabnya pemuda itu bisa mengetahui nama kecilnya .....
"Sejak dulu kalian berdua sudah malang melintang dalam dunia persilatan, setelah Mo kau mengundurkan diri dari dunia persilatan, kalian baru berhasil memperoleh seorang kongcu, siapa tahu kongcu kesayangan kalian telah tewas ditangan seorang nona She Cia pada tiga hari berselang"
Paras muka Thi yan hujin segera berubah hebat, serunya dengan suara dingin.
"Lanjutkan!"
"Waktu itu nona Cia tidak mengetahui asal usulnya, Sang poocu dan Thian It hui juga tidak tahu, itulah sebabnya mereka baru turun tangan melukai dirinya."
Thi yan hujin segera tertawa dingin.
"Apakah terdapat seseorang yang belum diketahui asal usulnya, maka mereka boleh turun tangan secara sembarangan?"
Serunya.
"Hal inipun disebabkan karena kongcu kalian juga tidak tahu akan asal usul nona Cia adalah seorang gadis cantik yang jarang ditemui di dalam dunia persilatan"
Perkataan itu diucapkan sangat diplomatis, membuat setiap orang dapat memahami apa maksud dari perkataannya itu.
Sekarang semua orang baru tahu, apa sebabnya Thi yan suami istri bertekad hendak membunuh putrinya Cia Siau hong.
Sebab dia telah membunuh putra tunggal mereka.
Gadis itu bernama Siau giok.
Setiap orang yang kenal dengannya selalu mengatakan kalau dia adalah seorang gadis yang lembut, halus dan amat penurut.
Tapi kali ini, dia telah melakukan suatu perbuatan yang tidak begitu penurut.
Kali ini dia minggat dari rumahnya secara diam-diam, paling tidak dia sendiri yang mengaku kalau dirinya minggat dari rumah.
Tahun ini dia baru berusia tujuh belas tahun.
Tujuh belas tahun merupakan usia yang paling diimpi-impikan setiap orang, setiap anak gadis yang berumur tujuh belas tahun tak urung pasti mempunyai khayalan yang indah, entah dia itu seorang anak yang penurut atau bukan.
Nama dari perkampungan Wan gwat san-ceng sendiri memang sudah cukup mendatangkan khayalan yang sangat indah bagi setiap orang.
Oleh sebab itu ketika dia melihat undangan dari Ting Peng yang disampaikan utusan ke perkampungannya, tergeraklah hatinya.
Perkampungan Wan gwat san ceng yang indah, jago-jago lihay yang datang dari empat penjuru, pendekar-pendekar muda yang tampan.....
Bagi seorang gadis yang berusia tujuh belas tahun, kesemuanya itu merupakan suatu daya tarik yang amat besar.
Tapi ia tahu, ayahnya tak nanti akan mengijinkan dia datang, maka secara diam-diam diapun minggat dari rumahnya.
Ia mengira perbuatannya ini dapat mengelabuhi ayahnya, pada hal jarang sekali ada manusia di dunia ini yang sanggup mengelabuhi Cia Siau hong, Sam sauya dari perkampungan Sin-Kiam san-ceng.
Meski begitu, ia tidak bermaksud untuk menghalang-halangi perbuatan putrinya.
Semasa masih mudanya dulu, dia sendiripun seringkali melakukan banyak sekali perbuatan yang dianggap orang sebagai suatu pemberontakan.
Dia tahu tekanan serta ikatan yang kelewat banyak justru akan mendorong putra-putrinya melakukan pemberontakan.
Tapi, jika harus membiarkan seorang putri yang baru berusia tujuh belas tahun melakukan perjalanan seorang diri dalam dunia persilatan sedikit banyak sebagai ayahnya dia toh merasa agak kuatir juga.
Untung saja Ngo heng pocu yang tinggalnya dekat mereka juga akan berangkat untuk memenuhi undangan Ting Peng, maka dia menitipkan putrinya kepada Sang Ceng agar baik-baik menjaga dirinya.
Dengan adanya seorang ahli silat yang termasyhur dalam dunia persilatan untuk melindungi putrinya, tentu saja mustahil bakal terjadi sesuatu peristiwa di tengah jalan.
Apalagi masih ada Thian It hui.
Tentu saja Thian It hui tak akan melewatkan setiap kesempatan untuk mendekati anak gadisnya, lebih tak mungkin kalau ia biarkan gadis itu menderita kerugian apapun.
Maka Cia Siau hong sudah merasa amat berlega hati.
Ia tidak menyangka kalau dalam Mo kau masih ada seorang yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, lebih tak mengira kalau Thi yan suami istri bisa mempunyai seorang anak yang hidung bangor, gemar mengintip anak gadis yang sedang mandi.
Hari itu bulan dua belas tanggal tiga belas, udara sangat dingin.
Ia minta pelayan rumah penginapan untuk menyiapkan sebaskom besar air panas dan membuat tungku didalam kamarnya.
Sejak kecil gadis ini memang sudah terbiasa mandi setiap hari.
Setelah menutup rapat pintu dan jendela diapun merendamkan dirinya dalam air panas barang setengah jam lamanya.
Baru saja dia bersiap sedia mengenakan pakaian, mendadak dijumpiinya ada orang sedang mengintip dari luar.
Ia menyaksikan sepasang mata yang jeli dibalik celah kecil didepan pintu kamarnya.
Tanpa terasa gadis itu menjerit keras.
Menanti dia selesai berpakaian dan menerjang keluar, Thian It Hui dan Sang Ceng telah mengurung rapat-rapat si pengintip itu.
Orang itu mempunyai mata yang juling dengan kaki yang membusuk, mana jelek, aneh, cacad lagi.
Manusia semacam ini mungkin tidak memiliki keberanian untuk memandang gadis barang sekejap pun dihari-hari biasa, tapi bila dia memperoleh kesempatan semacam itu tak akan disiasiakan dengan begitu saja.
Anehnya, manusia semacam ini ternyata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh kendatipun Sang Ceng dan Thian It-hui telah bekerja sama, alhasil masih belum berhasil untuk membekuknya.
Maka gadis itupun menghadiahkan sebuah tusukan pedang kepadanya.
Kebetulan sekali di tangannya memang menghunus sebilah pedang, kebetulan juga dia adalah putrinya Cia Siau-hong, jago pedang tiada keduanya di dunia ini.
Pada waktu itu, bahkan Sang Ceng sendiripun tidak menyangka kalau si Cacad yang cabul dan tak tahu malu itu ternyata adalah putra dari Mo-kau tianglo.
ooo0ooo BAGI seorang gadis yang bertubuh suci bersih tanpa noda, sudah barang tentu tak akan tahan menghadapi penghinaan serta nasib semacam ini.
Entah bagi siapa saja, dia mempunyai alasan yang cukup kuat untuk membunuh orang itu.
Terdengar Ting Peng berkata.
"Sebenarnya aku harus datang semenjak tadi tapi aku harus melakukan penyelidikan lebih dulu atas semua persoalan ini hingga menjadi jelas semua!"
Dia harus berbuat demikian karena dia adalah tuan rumah dari perkampungan ini.
Untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya, dia harus bertindak sangat adil, jujur dan bijaksana.
Kembali Ting Peng berkata.
"Untuk mencari tahu duduknya persoalan sampai jelas, tentu saja aku harus menemukan nona Cia lebih dulu"
"Apakah kau telah menemukannya?"
Tanya Thi-yan hujin tak tahan.
"Aku sendiripun tak tahu, Sang poocu telah menyembunyikan dirinya dimana, sebab tidak sedikit tempat yang bisa digunakan olehnya untuk menyembunyikan diri, oleh karena itu aku baru mencarinya sekian lama...."
Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan.
"Untung saja Sang Poocu datang kemari dalam keadaan tergesa-gesa, terhadap keadaan di sekeliling tempat inipun kurang hapal, otomatis tempat persembunyian yang bisa dia temukanpun tak terlalu banyak, maka akhirnya akupun berhasil menemukan tempat persembunyiannya itu!"
Untuk menemukan seseorang didalam gedung perkampungan yang begini besarnya, entah berada dalam keadaan seperti apapun, sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang gampang.
Tapi kenyataannya sekarang, Ting Peng telah membicarakan persoalan itu dengan begitu santai, begitu enteng dan gampang, seolah-olah dia tidak menjumpai kesulitan apapun di dalam usaha pencarian yang dilakukannya barusan.
Thi Yan hujin menatapnya lekat-lekat, secara tiba-tiba ia menemukan bahwa bocah tanggung dari dusun yang berada di hadapannya sekarang, bukanlah seseorang yang mudah dihadapi.
Dalam kenyataan dia jauh lebih lihay dan mengerikan daripada tampang wajahnya.
Kembali Ting Peng berkata.
"Aku tahu Sang poocu sudah pasti tak akan menyerahkan gadis itu kepadamu, sebab dia telah mendapat pesan dari Cia sianseng untuk melindunginya secara baik-baik, sampai matipun dia tak nanti akan melakukan sesuatu semacam ini"
"Tentu saja kaupun akan menirukan caranya, sampai mati juga tak akan mengatakan dia berada dimana!"
Sambung Thi yan hujin sambil tertawa dingin.
"Aku mah tak usah membicarakannya lagi."
Sesudah tertawa, dengan hambar dia melanjutkan.
"Aku telah mengajaknya datang kemari"
Ooo0ooo CIA SIAU GIOK BEGITU ucapan tersebut diutarakan, setiap orang menunjukkan wajah terperanjat, malah Thi yan hujin sendiripun merasakan kejadian ini sama sekali berada di luar dugaannya.
Dengan sekali tebasan goloknya ia mengutungi leher Bwee Hoa, tentu saja tujuannya adalah agar Bwee Hoa tidak mengatakan akan jejak Cia Siau giok.
Tapi dia sendiri malah sudah mengajak gadis tersebut datang ke situ..
Pagoda air itu mempunyai pintu, dia membuka pintu dan tampaklah seorang gadis cantik yang cukup mengibakan hati sedang berjalan masuk dari pintu luar dengan kepala tertunduk rendahrendah.
Di atas wajahnya masih terdapat noda air mata, air mata yang membasahi pipinya membuat dia nampak lebih lemah lembut dan lebih cantik menawan hati.
Asal seseorang telah memandang sekejap ke arahnya, dia pasti dapat melihat kalau dia adalah seorang gadis yang amat penurut.
Bila perempuan semacam ini sampai turun tangan membunuh orang, sudah pasti orang yang dibunuhnya itu adalah seseorang yang pantas untuk mampus.
Tiba-tiba Ting Ping bertanya.
"Apakah kau adalah Cia Siau giok!, nona Cia?"
"Ya, betul!"
"Kemarin, apakah kau telah membunuh seseorang?"
"Benar!, mendadak gadis itu mendongakkan kepalanya memandang Thi yan suami istri, aku tahu kalian adalah orang tuanya, aku tahu pada saat ini kalian pasti amat bersedih hati, tapi kalau dia tidak mati dan aku masih mempunyai kesempatan, aku masih tetap akan membunuhnya dari muka bumi ini!"
Siapapun tidak menyangka gadis selembut dan sehalus itu, ternyata sanggup mengucapkan kata-kata keras seperti itu.
Bagaimanapun juga, darah yang mengalir didalam tubuhnya adalah darah keluarga Cia, berada dalam keadaan seperti apa pun, keluarga Cia tak akan menundukkan kepala.
Sejak dia dan Ting Peng menampakkan diri, sikap Thi yan hujin malah menjadi semakin tenang.
Bagi seorang jago lihay dunia persilatan yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam menghadapi pelbagai pertarungan, bagaikan seorang panglima perang yang memimpin pasukan besar saja, setelah benar-benar berhadapan dengan musuh tangguh, sikapnya malah berubah menjadi luar biasa tenangnya.
Ia hanya mendengarkan semua pembicaraan itu dengan tenang, menanti mereka sudah selesai berkata, barulah ujarnya dengan dingin.
"Kau menghendaki kematiannya, apakah hal ini dikarenakan dia telah melakukan suatu kesalahan dan pantas untuk mati!"
"Benar."
Jawab Cia Siau giok. Orang yang salah membunuh manusia, apakah termasuk juga seseorang yang pantas mati?.
"Benar!"
"Bila kau telah salah membunuh?"
"Akupun pantas untuk mati!"
Mendadak Thi yan hujin tertawa, tertawanya nampak begitu mengerikan dan menggidikkan hati, tiba-tiba ia membentak keras.
"Kalau toh kau pantas untuk mampus, mengapa tidak segera menghabisi nyawamu? Ditengah gelak tertawa yang menggidikkan hati, cahaya golok kembali berkelebat lewat, kali ini golok tersenyum menyambar ke atas batok kepala Siau giok. Semua orang sudah pernah menyaksikan sambaran goloknya. Bila bacokan golok tersebut dilanjutkan ke bawah, maka gadis yang lemah lembut dan cantik jelita itu niscaya akan terbelah menjadi dua bagian. Setiap orang merasa tak tega untuk melihatnya. Ada diantaranya yang telah berpaling ke arah lain, ada pula yang segera memejamkan matanya. Siapa tahu setelah sambaran golok itu diayunkan ke bawah, ternyata seperti sama sekali tiada reaksi apapun, juga seakan-akan tidak terdengar suara apapun. Tak tahan semua orang segera berpaling kembali. Ternyata Cia Siau giok masih tetap berdiri tegak di tempat semula malah rambutnya pun sama sekali tidak terpapas barang sebatangpun. Golok Thi yan hujin yang tipis dan tajamnya bukan buatan itu sudah tertangkis, tertangkis oleh goloknya Ting Peng. Sewaktu dua bilah golok itu saling membentur satu sama lainnya, ternyata tiada suara apa pun yang terdengar, dua bilah golok itu seakan-akan menempel satu sama lainnya. Otot-otot hijau di atas punggung tangan Thi yan hujin pada menonjol keluar semua, malah otot-otot hijau yang berada di atas jidatnya pun ikut menonjol keluar. Sebaliknya Ting Peng kelihatan begitu tenang dan santai, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun, dengan hambar dia sedang berkata.
"Tempat ini adalah rumahku, asal aku masih berada di sini, siapapun tak dapat membunuh orang di sini!"
"Apakah orang yang harus mampus pun tak boleh dibunuh?"
Bentak Thi yan hujin keras-keras.
"Siapa yang pantas dibunuh?"
"Dia pantas dibunuh, dia telah salah membunuh orang, putraku tak mungkin mengintip dia mandi, sekalipun dia berlutut di hadapan putraku dan memohon dia melihatpun putraku tak akan dapat melihatnya!"
Kembali dia memperdengarkan suara tertawanya yang seram dan menggidikkan hati, kemudian sepatah demi sepatah terusnya.
"Karena dia sama sekali tak dapat melihat!"
Suara tertawa semacam ini benar-benar membuat orang merasa tak tahan untuk menerimanya, bahkan Ting Peng sendiripun turut merasakan bulu kuduknya pun bangkit berdiri. Tak tahan dia lantas bertanya.
"Mengapa dia tak dapat melihat?"
"Sebab dia seorang buta"
Perempuan itu masih tertawa.
Dibalik suara tertawanya yang penuh mengandung rasa sedih, gusar, penasaran, benci dan dendam itu, terasa pula bahwa suara tertawanya bagaikan seekor binatang liar yang sedang menghadapi maut.
Mana mungkin seorang yang buta dapat mengintip orang lain sedang mandi?"
Siau giok merasakan tubuhnya begitu lemas, sehingga untuk berdiripun ia tak sanggup lagi untuk berdiri, seluruh badannya hampir menempel semua di tubuh Ting Peng.
"Dia benar-benar seseorang buta ?"
Tanya Ting Peng.
"Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu!"
Sahut Siau giok.
"Sekalipun dia benar-benar tidak tahu, pasti ada orang lain yang tahu!"
Kata Thi yan hujin cepat. Tiba-tiba suaranya berobah makin menyeramkan.
"Oleh karena itu bukan saja mereka telah membunuhnya, lagi pula menghancurkan pula wajahnya"
Paras muka Siau giok pucat pias seperti tak berdarah, dengan suara parau dia berseru.
""Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu"
Thi yan tianglo yang selama ini hanya berdiri mematung belaka di sana, mendadak mengangkat tubuh San Ceng ke atas.
Dia seakan-akan masih berdiri tak berkutik di sana, sedang tempat dimana Sang Ceng roboh jelas terlihat berselisih amat jauh dengan tempat dimana ia berdiri.
Tapi dia cukup menggerakkan tangannya Sang Ceng pun seperti sebuah karung goni saja segera terangkat.
Sang Ceng kelihatannya sudah mati, tapi sekarang secara tiba-tiba memperdengarkan suara rintihan yang memilukan hati, suara rintihannya mirip seorang yang sedang menangis.
Rupanya dia belum mati.
Dia sengaja menerima pukulan tersebut karena dia ingin mempergunakan kesempatan itu untuk berlagak mati, karena dia tahu pukulan dari Sun Hu hou masih sanggup diterimanya, namun dia tak akan mampu menahan ayunan golok dari Yan cu siang hui.
Terdengar Thi yan tianglo berkata.
"Aku dapat melihat kalau kau tak ingin mampus, asal bisa hidup lebih lanjut, perbuatan apapun bersedia kau lakukan."
Sang Ceng tak dapat menyangkal akan hal ini. Demi melanjutkan hidup, dia telah melakukan banyak perbuatan yang tak pernah di sangka oleh orang lain.
"Kau harus tahu, Thian mo seng hiat kau dari Mo kau adalah obat mustajab yang tiada taranya di dunia ini untuk menyembuhkan luka-luka parah."
Kata Thi yan tianglo. Sang Ceng mengetahui akan hal ini.
"Kau juga seharusnya tahu bagaimanakah rasanya ilmu Thian mo soh him tay hoat dari Mo kau!"
Thi yan tianglo melanjutkan. Sang Ceng cukup tahu.
"Oleh karena itu aku dapat membuat kau hidup lebih lanjut dengan cara yang baik, tapi juga dapat membuat kau hidup tak bisa matipun susah ...! Sang Ceng sudah memahami maksud hatinya, tiba-tiba ia menjerit dengan suara parau.
""Aku akan berterus terang, aku pasti akan berbicara dengan sejujurnya..!"
"Hari itu, siapakah yang telah mengintip Cia Siau giok mandi dari bawah celah-celah pintu kamarnya?"
""Thian It hui!"
Dengan air bercucuran, Sang Ceng telah mengisahkan sebuah cerita yang sama sekali lain dari pada yang lain.
"Waktu itu udara sangat dingin, ingin aku menyuruh pelayan untuk menghantar sepoci arak dalam kamar, baru saja melangkah keluar dari pintu, kusaksikan Thian lt hui sedang bertiarap di bawah pintu kamar nona Cia, kebetulan pada waktu itu nona Cia pun menemukan ada orang sedang mengintip dirinya dari luar, ia telah berteriak keras dari dalam.
"Sebenarnya aku hendak membekuk Thian It-hui, tapi dia telah berlutut di hadapanku sambil memohon agar aku jangan menghancurkan kehidupannya.
"Dia berkata, selama ini dia selalu mencintai nona Cia secara diam-diam, itulah sebabnya ia tak sanggup menahan dorongan napsunya dan melakukan perbuatan yang sangat memalukan itu.
"Aku dengan bibinya memang merupakan sahabat karib selama banyak tahun, akupun percaya kalau dia bukannya sengaja hendak melakukan perbuatan semacam itu.
"Maka aku menjadi lemas hatinya dan tak tega untuk melanjutkan niatku semula, siapa tahu pembicaraan kami ini telah terdengar oleh seseorang yang lain.
"Dia adalah seorang cacad, entah dari mana datangnya tahu-tahu saja muncul di situ, ketika Thian It-hui melihat kemunculannya, tiba-tiba saja dia melompat ke depan siap membunuh dirinya. Siapa tahu ilmu silat yang dimiliki orang itu lihay sekali, ternyata Thian It-hui bukan tandingannya.
"Aku tak dapat menyaksikan Thian It hui mati dibunuh orang, maka akupun maju ke depan untuk membantunya.
"Akan tetapi aku berani bersumpah, aku sama sekali tiada maksud untuk membunuh orang, akupun tidak melakukan serangan keji terhadap orang itu.
"Pada saat itulah nona Cia telah selesai berpakaian, dia menyerbu ke luar, Thian It-hui kuatir ia membongkar rahasianya di depan nona Cia, maka dia sengaja berteriak-teriak keras, itulah sebabnya dia baru tak mendengar kalau secara tiba-tiba nona Cia melancarkan sebuah tusukan kilat ke depan.
"Pada waktu itu aku masih belum tahu kalau dia adalah seorang buta, lebih-lebih tidak diketahui kalau dia adalah Thi yan kongcu.
"Aku berani bersumpah, aku benar-benar tidak tahu!"
Ooo00ooo KISAH ceritera ini benar-benar merupakan sebuah kisah ceritera yang dapat membuat orang muntah, ketika selesai mengutarakan ceritera itu bahkan Sang Ceng sendiripun turut muntah.
Agar dia dapat melanjutkan kisah ceriteranya, Thi yan hujin telah memberikan sebutir obat mujarab penolong nyawa Thian mo seng hiat kao kepadanya.
Tapi sekarang, dia lagi-lagi muntah.
Tiada orang-orang yange memandang sebelah mata lagi kepadanya.
"Ngo heng pocu yang namanya menggetarkan kolong langit dan kaya raya bagaikan raja muda, pada saat ini sudah tiada harganya lagi dalam pandangan orang lain. Mendadak Sang Ceng berteriak lagi.
"Jika kalian berada dalam keadaan seperti apa yang kuhadapi, apakah kamu semuapun tak akan berbuat seperti aku ?"
Tiada orang yang menggubrisnya, tapi setiap orang sudah mulai bertanya kepada diri sendiri.
Dapatkah aku mengorbankan orang cacad yang tidak kuketahui asal-usulnya demi keponakannya Hui Nio-cu?
Dapatkah ku ungkapkan rahasia tersebut demi menyelamatkan selembar nyawa sendiri?
Tak seorangpun yang dapat memberikan jaminan bahwa dia tak akan melakukan perbuatan semacam itu dalam keadaan seperti itu.
Maka tiada orang yang menggubrisnya lagi, tiada orang yang memandang sekejap mata lagi kepadanya, karena setiap orang takut melihat tampang sendiri dari atas tubuhnya.
Jeritan Sang Ceng telah berhenti.
Orang yang tak ingin matipun dapat mati juga, orang yang semakin tak ingin mati adakalanya malah mati semakin cepat.
Hembusan angin dingin di luar jendela amat tajam seperti irisan pisau, setiap orang merasakan tangan dan kakinya dingin kaku, hatipun turut menjadi dingin.
Paras muka Thi yan tianglo masih sedikitpun tanpa perasaan, di tatapnya wajah Ting Peng dengan sorot mata dingin, lalu ujarnya kaku.
"Aku adalah orang Mo kau, tentu saja putraku juga orang Mo kau"
"Aku tahu!"
"Setiap enghiong hohan yang berada dalam dunia persilatan selalu menganggap orang Mo kau pantas untuk mati!"
"Aku tahu !"
"Apakah putraku juga pantas mati ?"
"Tidak "
Ia tak bisa tidak harus berkata demikian, ia sendiripun pernah difitnah orang, dia cukup memahami bagaimanakah perasaan dan penderitaan semacam itu.
"Kau adalah tuan rumah tempat ini"
Kembali Thi yan tianglo berkata, kau pun merupakan jago paling muda yang pernah kujumpai selama lima puluh tahun terakhir ini, aku hanya ingin bertanya kepadamu, di dalam peristiwa ini, siapakah yang pantas untuk mati?"
"Orang yang pantas mati sudah mati semua!"
"Belum !"
Teriak Thi yan tianglo. Setelah berhenti sebentar, dengan suara sedingin es dia berseru.
"Orang yang seharusnya mati masih ada seorang yang belum mati!"
Mendadak Cia Siau giok berteriak pula dengan suara yang lantang dan keras.
"Aku tahu siapakah orang ini !"
Di atas wajahnya yang pucat pias seperti mayat tampak noda air mata membasahi pipinya, dia nampak begitu lemah lembut.
Begitu mengenaskan, begitu sedih sehingga untuk berdiripun seolah-olah tak sanggup untuk berdiri tegak.
Akan tetapi ia sama sekali tidak mundur, dia sama sekali tidak merasa gentar.
Dengan suara yang pelan tapi tegas, pelan-pelan dia berkata lebih lanjut.
"Sekarang, aku sudah tahu kalau aku telah salah membunuh, semua orang yang telah salah membunuh sudah sepantasnya kalau menerima kematiannya pula."
"Apa yang siap kau lakukan sekarang ?"
Tanya Thi yan tianglo kemudian.
Cia Siau giok tidak berbicara lagi, sepatah katapun tidak berbicara lagi.
Berada dalam keadaan demikian, dia memang merasa tak perlu untuk banyak berbicara lagi.
Tiba-tiba dari dalam sakunya dia mencabut ke luar sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya berkilauan.
Itulah sebilah senjata pendek yang tajam sekali.
Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun pedang tersebut ditusukkan ke dalam ulu hati sendiri.
ooo0ooo SEPASANG GOLOK BERSATU PADU TAHUN ini Cia Siau giok baru berusia tujuh belas tahun, inilah saat remajanya, seakan-akan sekuntum bunga yang sedang mekar dengan sangat indahnya.
Gadis manakah diantara gadis-gadis berusia tujuh belas tahun yang ingin cepat-cepat mati!
Diapun tak ingin mati, Tapi bila sudah berada dalam keadaan harus mati, diapun tidak takut mati.
Sebab dia adalah putri kesayangan dari Cia Siau hong.
Didalam nadi darahnya mengalir darah dari Cia Siau hong, pedang yang dicabut keluar juga pedang mestika dari keluarga Cia.
Pedang itu adalah sebilah pedang pembunuh, entah membunuh orang lain atau membunuh diri sendiri, kedua duanya sama-sama cepat.
Akan tetapi, tusukan pedangnya itu sama sekali tidak menembusi jantungnya.
Sebab sambaran golok dari Ting Peng jauh lebih cepat.
Cahaya golok berkelebat lewat, pedang di tangannya sudah mencelat ke tengah udara dan ...."Traaak!"
Menancap di atas tiang pada pagoda air tersebut.
Seakan-akan sebuah paku yang memantek di atas tahu saja, pedang yang panjangnya satu depa tiga inci itu sudah menembusi kayu tiang penglari yang keras dan atos bagaikan baja itu.
Tampaknya Cia Siau giok sendiripun dibikin terperanjat oleh kekuatan dari bacokan golok tersebut, sampai lama kemudian ia baru berkata dengan sedih.
"Aku menginginkan kematianku sendiri, mengapa kau tidak membiarkan aku mati?"
"Kau tidak seharusnya mati, kaupun tak boleh mati!"
Jawab Ting Peng cepat.
Cia Siau giok memandang ke arahnya, dari balik matanya yang indah terpancar keluar suatu perasaan yang amat kacau, entah kagum?
Entah merasa terharu?
Walaupun ayunan golok itu telah menggetar lepas pedang dalam genggamannya, namun sudah menakutkan pula hatinya.
Gadis berusia tujuh belas tahun manakah yang tidak mengagumi pahlawannya?
Thi yan hujin memandang ke arahnya, kemudian memandang pula ke arah Ting Peng tiba-tiba serunya sambil tertawa dingin.
"Oooh... mengerti aku sudah sekarang"
"Apa yang kau pahami?"
"Sebelum membunuh Cia Siau giok, aku harus membunuhmu lebih dahulu...!"
"Benar!"
Jawab dari Ting Peng singkat tapi tegas. Kembali Thi yan hujin memicingkan matanya sambil memandang golok yang berada di tangannya itu, lalu ujarnya.
"Agaknya untuk membunuhmu bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang ...."
"Agaknya memang tidak terlalu gampang."
"Tampaknya golok itu sedikit melengkung..?"
"Yaa, tampaknya memang sedikit agak lengkung"
Dalam tiga puluh tahun terakhir ini agaknya didalam dunia persilatan belum pernah muncul seseorang yang mempergunakan golok lengkung ...."
"Tengkukku tetap lurus, seperti juga tengkuk-tengkuk orang lain, kau saja masih dapat memenggalnya sampai kutung"
"Selama tiga tahun terakhir ini belum pernah pula orang dalam dunia persilatan yang pernah menyaksikan kami Yan cu siang hui memainkan ilmu sepasang golok bersatu-padu"
Apakah hari ini akan menyaksikannya"
"Benar !"
"Orang yang dapat menyaksikan sepasang golok bersatu padu dari Yan cu siang hui sudah pasti orang-orang yang hidupnya di dunia ini tak lama lagi!"
"Agaknya seorang manusia hidup pun tak ada!"
Ting Peng segera tertawa.
"Akan tetapi siapa tahu kalau hari ini merupakan suatu pengecualian buat kalian?"
Thi yan hujin ikut tertawa pula.
""Akupun berharap kau bisa membuat suatu pengecualian bagi kami berdua..!"
Tubuhnya telah diputar, dalam waktu singkat ia telah berada disamping tubuh suaminya, ternyata pinggangnya masih dapat bergerak dengan enteng dan lincah selincah anak gadis.
Thi yan tianglo masih belum bergerak, wajahnya tanpa emosi, tapi tahu-tahu goloknya sudah berada dalam genggamannya.
Goloknya berbentuk tipis pula setipis kertas, malah kelihatannya begitu tipis sampai tembus cahaya.
Hanya bentuknya jauh lebih panjang dari pada golok yang dipergunakan istrinya.
Setiap orang mulai mundur ke belakang, mundur sejauh-jauhnya dari tempat itu, setiap orang dapat merasakan hawa pembunuhan yang terpancar keluar dari ujung golok tersebut.
Tiba-tiba saja, Thi yan hujin berkata dengan suara lembut.
"Golok yang digunakan adalah golok lengkung"
"Dahulu kitapun pernah membunuh orang yang mempergunakan golok lengkung"
Sahut Thi yan tianglo.
"Yaa, karena golok-golok lengkung yang dipergunakan orang-orang itupun merupakan bacokan lurus bila dipergunakan!"
"Hanya seorang saja yang terkecuali!"
""Untung saja dia bukan orang itu!"
""Yaa, untung saja dia bukan"
"Bagi pendengaran orang lain, apa yang mereka bicarakan itu seakan-akan sama sekali tak bermaksud. Orang lain tak akan memahami apa yang mereka katakan."
Tapi Ting Peng mengerti.
Kehebatan dari golok lengkung bukan terletak pada golok tersebut.
Walaupun golok berbentuk melengkung, namun jika dilancarkan, maka bacokannya tetap lurus, bagaimanapun melengkungnya sesuatu benda, pasti akan terjatuh ke bawah dalam keadaan lurus.
Hal ini merupakan teori gaya berat, siapapun tak akan dapat merubahnya.
Tapi ilmu golok yang dipergunakan Ting Peng justru telah merubah teori tersebut, karena ilmu golok yang dipergunakannya sama sekali bukan ilmu golok manusia.
Ilmu golok yang dipergunakan adalah ilmu golok dari siluman "rase"
Tapi apa sebabnya Thi-yan suami istri mengatakan kalau di dunia inipun terdapat seseorang yang terkecuali? Apakah orang ini pun mempunyai kemampuan seperti "rase"
Dan bisa merubah teori gaya berat yang berlaku dialam semesta ini?
Siapakah orang itu?
Ting Peng tak berkesempatan untuk berpikir lagi, sebab di depan matanya telah berkelebat cahaya golok, cahaya golok yang jauh lebih menyilaukan mata daripada sambaran petir.
Yan-cu siang hui, Siang-to-han-pit.
Sepasang walet terbang bersama, sepasang golok bersatu padu.
Sudah jelas mereka sebenarnya adalah dua orang dengan dua bilah golok, akan bergabung tetapi dalam sekejap mata itulah mereka berdua seakan-akan telah bergabung menjadi satu, dua bilah golok seolah-olah berubah menjadi sebilah golok.
Bila ayunan golok dari Thi yan hujin berbobot lima ratus kati, maka ayunan golok dari Thi yan tianglo juga berbobot lima ratus kati.
Itu berarti serangan gabungan mereka berdua sama dengan berbobot seribu kati.
Ini menurut teori gaya berat.
Tapi di dunia ini justru terdapat sementara orang yang bisa mempergunakan semacam kepandaian yang jitu untuk merubah teori tersebut.
Akibat dari tenaga gabungan dari kedua bilah golok tersebut, penambahan kekuatan sebesar satu kali lipat yang seharusnya menghasilkan tenaga sebesar seribu kati itu ternyata telah meningkat menjadi dua ribu kati .
Dengan bertambahnya kekuatan menjadi satu kali lipat, tentu saja kecepatannya turut bertambah menjadi satu kali lipat pula..
Kepandaian semacam ini masih belum merupakan serangan yang paling menakutkan dari Yan cu siang hui, Dalam melakukan penggabungan dua golok menjadi satu tadi, dua bilah senjata yang sesungguhnya telah bergabung menjadi satu itu, justru seakan-akan membacok datang lagi dari dua arah yang berbeda, dengan jelas terlihat kalau bacokan mereka mengarah bagian kananmu, tapi jika kau berkelit ke kiri, kau tetap gagal untuk menghindarkan dirimu.
`Tapi bila kau berkelit ke sebelah kanan, maka kau lebih-lebih tak akan dapat menghindarkan diri.
Artinya, asal mereka sudah mengeluarkan ilmu "Yan cu siang hui, Siang to hap pit"
Itu berarti tiada kesempatan lagi bagimu untuk menghindarkan diri.
Dengan penggabungan tenaga berdua, kekuatan mereka menjadi meningkat, sekarang seakan-akan ada empat orang jago yang melancarkan serangan secara bersama sama.
"Dalam keadaan begini, tentu saja kau lebih lebih tak akan mampu untuk menangkis.
Siang to hap pit ibaratnya dua tubuh yang melebur menjadi satu badan, pada hakekatnya sama sekali tiada titik kelemahan.
Tentu saja kau takkan mampu untuk menjebolkannya.
Oleh karena itu serangan mereka ini hakekatnya belum pernah gagal, mereka percaya kali inipun tidak terkecuali.
Pada saat cahaya golok mereka sedang berkelebat lewat itulah, golok Ting Peng juga turut berkelebat lewat.
Jika golok melengkung harus melancarkan serangan maka bacokannya juga harus lurus.
Tapi Ting Peng seakan-akan tidak terkecuali dari teori tersebut, ketika goloknya membacok ke bawah, gerakannyapun seakan-akan lurus.
Akan tetapi bacokan golok yang semula mengayun ke bawah dalam keadaan lurus tadi secara tiba-tiba saja menciptakan serentetan cahaya golok yang melengkung.
Yan cu siang to merupakan golok mestika yang tajamnya bukan kepalang, cahaya golok yang terpancar keluar ibaratnya sambaran cahaya petir.
Berbeda dengan senjata yang dipergunakan oleh Ting Peng, golok yang dipergunakan olehnya tak lebih hanya sebilah golok yang sederhana sekali.
Akan tetapi, disaat cahaya golok yang melengkung itu mulai berkelebat lewat membelah angkasa, pada saat itu juga cahaya golok sepasang Yan cu siang to dari kedua orang itu menjadi sirap dan punah, seakan-akan cahaya tajamnya lenyap secara tiba-tiba.
Siang to hap pit sudah jelas merupakan penggabungan dua senjata yang melebur menjadi satu, dua tubuh yang melebur menjadi satu badan, semestinya memang sulit untuk menemukan titik-titik kelemahan di balik gabungan dua kekuatan tersebut.
Akan tetapi cahaya golok yang melengkung itu secara tiba-tiba saja membabat masuk lewat celah-celah cahaya golok mereka membabat langsung ke balik gerak serangan yang mereka lakukan.
Tak seorang manusiapun yang sempat melihat jelas secara bagaimana ayunan golok itu membabat masuk ke dalam, apa yang mereka tangkap tak lebih hanya suara dentingan nyaring.
"Triing ....!"
Begitu dentingan nyaring itu berkumandang memecahkan keheningan, cahaya golok yang berkilauan seperti sambaran petir itu lenyap tak berbekas.
Cahaya golok yang melengkung masih tetap utuh berputar satu kali dalam keadaan melengkung.
Kemudian seluruh cahaya yang terpancar keluar itu lenyap tak berbekas, semua suara menjadi sirap dan berubah menjadi hening, semua gerakan turut terhenti pula dengan begitu saja.
Suasana menjadi sunyi, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
ooo0ooo SUMPAH KEJI SECARA tiba-tiba seluruh jagad seakan-akan menjadi sunyi, sepi dan mati.
Ting Peng masih berdiri tenang ditempat semula, seakan-akan tak pernah melakukan suatu perbuatan apapun.
Tapi golok masih berada di tangannya, cahaya golok sudah mulai meneteskan darah.
Thi yan suami istri masih berdiri tak berkutik pula di situ, golok mereka masih berada ditangan, seakanakan tidak terjadi sesuatu perubahan apapun.
Tapi di atas wajah serta pergelangan tangan mereka telah muncul sebuah bekas bacokan golok, bekas bacokan golok yang melengkung, lengkung seperti bulan sabit.
Darah segar pelan-pelan meleleh keluar dari mulut luka mereka, dan kini sudah mulai menipis.
Paras muka merekapun seakan-akan tidak terjadi perubahan apa-apa, hanya sekarang jelas terlihat agak bingung, seolah-olah seseorang yang secara mendadak menjumpai sesuatu persoalan yang tak dapat diselesaikan olehnya.
Tapi didalam waktu yang amat singkat itulah didalam arena telah terjadi suatu perubahan yang mengerikan sekali.
(Bersambung
Jilid 10)
Jilid .
10 BEKAS bacokan golok berbentuk melengkung seperti bulan sabit di atas wajah mereka itu tiba-tiba mulai merekah, dagingnya merekah bagaikan bunga yang sedang mekar, sehingga terlihat tulang putih dibalik daging itu.
Golok yang berada dalam genggaman merekapun secara tiba-tiba terjatuh ke tanah, terjatuh berikut tangan yang menggenggam golok tersebut.
Namun di atas wajah mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa menderita atau sakit, sebab rasa takut yang luar biasa telah membuat mereka melupakan penderitaan dan rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya.
Tiada orang yang bisa membayangkan perasaan takut yang ditampilkan lewat sorot mata mereka.
Sekalipun semua orang telah menyaksikan mereka membabat kutung tubuh seseorang tadi, namun rasa ngeri yang diperlihatkan mereka ketika itu tak akan sehebat rasa takut mereka sekarang.
Agaknya rasa Ah-ku yang mencekam hati mereka sudah melampaui batas-batas rasa takut seseorang.
Yang mereka takut bukanlah orang yang sanggup menghancurkan mereka dalam sekali bacokan itu, yang mereka takuti adalah golok yang berada ditangan orang itu.
Sebilah golok yang melengkung bagaikan bulan sabit.
Golok pun bukan suatu benda yang mena-kutkan.
Bila seseorang takut dengan sebilah golok, biasanya hal ini disebabkan karena mereka takut dengan orang yang mempergunakan golok tersebut, takut dengan ilmu golok orang itu, takut orang itu membunuhnya dengan mempergunakan golok.
Tapi yang mereka takuti sekarang adalah golok tersebut.
Golok itu sendiri seakan-akan telah membawa semacam keseraman atau kengerian yang bisa merobek-robek sukma mereka.
Rasa seram dan ngeri itu bukan saja dapat membuat mereka melupakan penderitaan, bahkan membangkitkan pula semacam kekuatan aneh yang tertanam dalam hati mereka.
Oleh karena itu, meski kulit muka mereka telah merekah, walaupun tangan sebelah mereka telah kutung, namun mereka belum juga roboh ke atas tanah.
Mereka seakan-akan tidak tahu kalau dirinya sudah terluka, tidak tahu kalau tangan mereka sudah kutung.
Rasa takut dan seram yang mencekam perasaan mereka sekarang ibaratnya sebuah tangan tak berwajah yang mencekik leher setiap orang.
Tiada orang yang bersuara, bahkan tiada orang yang bernapas dengan suara keras.
Orang yang buka suara ternyata adalah Thi yan tianglo yang selama ini tak terlalu banyak berbicara, dia sedang mengawasi golok ditangan Ting Peng lekat-lekat, kemudian secara tiba-tiba berkata.
"Golok yang kau pergunakan adalah sebilah golok lengkung""
"Yaa, lengkung sedikit"
"Bukan hanya sedikit saja, golok yang kau pergunakan benar-benar adalah sebilah golok lengkung"
"Ooh.. !"
"Di atas langit dari dulu sampai sekarang, hanya seorang yang dapat mempergunakan golok semacam ini"
"Oooh ....!".
"Tapi kau bukan orang itu"
"Aku memang sesungguhnya aku, aku bukan orang lain, aku adalah aku sendiri"
"Golok yang kau pergunakan juga bukan golok miliknya"
"Ini memang milikku!"
Di atas golokmu itu juga tak ada tulisannya!"
Kembali Thi yan tianglo berkata. Dia sudah mengawasi golok tersebut sampai lama sekali, matanya jauh lebih tajam daripada burung elang.
""Apakah di atas golok ini sebenarnya ada tulisan?"
Kata Ting Peng.
"Yaa, di atas golok itu memang seharusnya ada tujuh huruf!"
"Tujuh huruf yang mana?"
"Siau-lo-it ya-teng-cun-hi (Mendengar rintik hujan ditengah malam di sebuah loteng kecil)!"
Kata Thi-yan tianglo sepatah demi sepatah.
ooo0ooo SIAU-LO-IT-YA-TENG-CUN HI Di atas golok lengkung milik Cing-cing memang terdapat ke tujuh huruf itu.
Sesungguhnya, ke tujuh huruf itu merupakan sebaris syair, sebaris syair yang sangat indah artinya, membawa suatu kelembutan, hati yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Namun, ketika Thi-yan tianglo mengucapkan ke tujuh patah kata itu, suaranya diliputi oleh perasaan ngeri, seram dan takut, semacam rasa takut yang disertai dengan perasaan hormat.
Semacam rasa hormat yang timbul dihati manusia hanya khusus terhadap malaikat atau dewa.
Padahal makna dari bait syair itu tiada yang mengandung sesuatu keseraman.
Tanpa terasa Ting Peng teringat kembali kejadian sewaktu pertama kali bertemu dengan Cingcing ketika berjumpa dengan kakek berjubah emas yang berjenggot panjang.
Sewaktu dia mengucapkan bait syair tersebut, wajahnyapun seakan-akan memperlihatkan mimik wajahnya seperti apa yang diperlihatkan Thi-yan tianglo sekarang.
Mengapa mereka memperlihatkan reaksi yang begitu istimewa terhadap sebait syair yang amat sederhana itu!
Mungkinkah diantara kedua orang itu mempunyai suatu rangkaian hubungan yang amat misterius!
Darimana mereka bisa tahu kalau di atas golok lengkung Cing-cing terdapat sebait syair seperti ini!
Kembali Thi-yan tianglo bertanya.
"Dulu, pernah kau mendengar tentang ke tujuh patah kata tersebut.... ?".
"Yaa, aku pernah mendengar, itulah sebait syair yang sudah kuno sekali"
"Tahukah kau makna yang sebenarnya dari ke tujuh patah kata tersebut?"
"Aku tahu"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi yan tianglo, serunya tanpa terasa.
"Kau benar-benar tahu?".
"Yaa, arti dari bait syair itu adalah pada suatu malam musim semi ada seorang yang sedang kesepian duduk seorang diri di atas loteng sambil mendengarkan suara rintikan hujan semalam suntuk"
Thi yan tianglo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya kemudian.
"Tidak benar, tidak benar, sama sekali tidak benar"
"Apakah dibalik syair tersebut masih mengandung arti lain?"
"Ke tujuh patah itu membicarakan tentang seseorang".
"Siapa ?"
"Seorang malaikat yang tiada tandingannya dikolong langit, sebilah golok sakti yang tiada keduanya di dunia ini"
Kembali dia menggelengkan kepalanya berulang kali serunya lebih lanjut.
"Tidak benar, tidak benar kau pasti tak akan kenal dengan orang ini"
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku tidak kenal dengan dirinya ?"
""Sebab dia sudah lama tak ada di dunia ini lagi, waktu kau belum dilahirkan, dia sudah tidak berada lagi di dunia ini"
Setelah berhenti sejenak, mendadak bentaknya lagi keras-keras.
"Tapi ilmu golok yang kau pergunakan barusan sudah pasti ilmu goloknya !"
"Ooooh...?"
"Di atas langit, didalam bumi, dari dulu sampai sekarang hanya dia seorang yang dapat mempergunakan ilmu golok tersebut"
""Kecuali dia seorang agaknya masih ada satu orang lagi"` "Siapa ?"
"Aku.."
Thi yan tianglo segera menghela napas panjang sahutnya.
"Yaa, benar, kecuali dia masih ada kau, sebenarnya siapa dirinya? Mengapa kau bisa mempergunakan ilmu goloknya!"
"Mengapa aku harus memberitahukan kepadamu?"
"Kau harus memberitahukan kepadaku, asal kau bersedia memberitahukan kepadaku aku rela mati"
"Sekalipun aku tidak mengutarakannya keluar, toh sama saja bisa kubunuh dirimu"
"Kau tak dapat membunuhku"
"Mengapa tak dapat?"
""Bukan saja kau tak dapat membunuhku, dikolong langit dewasa ini, siapa pun tak dapat membunuhku!"
Dia masih mempunyai sebuah tangan. Tiba-tiba tangan itu merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah lencana besi yang berwarna hitam, sambil mengangkatnya tinggi-tinggi serunya keras-keras.
"Coba kau lihat, benda apakah ini?"
Ooo0ooo BENDA tersebut tak lebih hanya sebuah lencana besi belaka, Ting Peng tidak dapat mengenali dimanakah letak keistimewaan dari benda tersebut.
Tapi paras muka Lamkiong Hoa su segera berubah hebat, sorot matanya segera memancarkan rasa kaget, tercengang bercampur kagum, seakan-akan seorang pemuja dewa yang secara tiba-tiba berjumpa dengan dewanya ......
"Tentunya kau tahu, bukan benda apakah ini?"
Tanya Thi-yan tianglo kemudian. Ternyata Lamkiong Hoa-su mengakuinya.
"Aku tahu, tentu saja aku tahu jawabnya"
"Katakanlah!"
"Benda itu adalah lencana besi pengampunan dari kematian yang diakui oleh setiap orang gagah dikolong langit, benda itu dibuat oleh Sin kiam-san-ceng beserta tiga partai, tujuh perguruan serta empat keluarga persilatan di dunia ini, barang siapa memiliki lencana tersebut, maka entah perbuatan apapun yang dilakukan, setiap umat persilatan harus mengampuni selembar jiwanya!"
"Benda itu pasti palsu, sudah pasti benda itu palsu!"
"teriak Sun Hu-hou keras-keras.
"Pasti tidak palsu, sudah pasti tidak palsu"
Seru Lamkiong Hoa-su melotot.
Sin kiam san ceng maupun tujuh partai pedang adalah musuh-musuh bebuyutan dari Mo kau, mana mungkin lencana besi pengampunan kematian bisa berada ditangan seorang tianglo dari Mo kau?
"Tentu saja dibalik kejadian itu terdapat alasan tertentu".
"Apa alasannya?"
Aku tak dapat mengutarakannya keluar, tapi aku tahu lencana besinya itu tidak palsu Dengan wajah pias seperti mayat, sepatah demi sepatah dia melanjutkan.
"Hari ini, bila ada orang berani membunuhnya, maka orang itu akan menjadi musuh bebuyutannya Sin kiam san ceng, tiga perguruan besar, tujuh partai pedang serta empat keluarga persilatan, dalam tujuh hari ia pasti mampus"
Selesai mengucapkan perkataan itu mendadak tubuhnya melejit ke angkasa dan menyusup lewat jendela, tanpa berpaling lagi ia pergi meninggalkan tempat itu.
Thi yan suami istri maupun Ting Peng tidak menghalangi kepergiannya, tentu saja orang lain lebih-lebih tak ada yang menghalanginya.
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana Jin Yong
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 15