Ceritasilat Novel Online

Golok Bulan Sabit 2

Eps 2 Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.

Dalam lembah tersebut hanya dihuni oleh beberapa orang itu, belum pernah ada orang luar yang menginjak wilayah tersebut.

Kehidupan di dalam lembah itu amat nyaman dan tenang, jauh lebih nyaman dan terang daripada kehidupan di alam manusia..

Sekarang Ting Peng sudah terbiasa dengan cara hidup dalam lembah itu, diapun sudah terbiasa menyoren golok lengkung tersebut di sisi pinggangnya.

Kecuali sedang tidur, dia selalu menyoren golok lengkung tersebut di sisi pinggangnya.

Sebuah ikat pinggang yang terbuat, dari emas murni dan batu kemala putih menghiasi pula pinggangnya.

Tapi ia tahu golok lengkung tersebut jauh lebih berharga dari pada ikat pinggang itu.

Hari kedua setelah perkawinan mereka, Cing cing berkata kepadanya.

"Nenek pasti amat menyukaimu, maka ia baru menyerahkan golok tersebut kepada-mu, kau harus menyayanginya dengan amat sangat"

Diapun tidak lupa dengan ucapan Cing-cing yang diutarakan kepada si kakek kerdil yang misterius dalam lembah kemurungan tempo hari.

"Golok ini tak boleh sembarangan dilihat, siapa yang pernah melihat golok ini, dia akan mati di ujung golok tersebut"

Tentu saja si kakek kerdil itupun sudah mampus di ujung golok tersebut.

Dia adalah manusia?

atau setan?

Atau rase?

Darimana ia bisa tahu kalau di atas golok itu terukir tujuh huruf kecil, yang berisikan "Siau -loit-ya teng-cun-hi?"

Sesungguhnya rahasia apakah yang menyelimuti asal usul dari golok tersebut?

Kekuatan misterius apakah yang tersembunyi dibalik kesemuanya itu?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukannya tak pernah diajukan oleh Ting Peng tapi Cingcing selalu berkata kepadanya dengan wajah serius.

""Ada sementara persoalan lebih baik tak usah kau ketahui, sebab bila tahu akan masalahmasalah tersebut, kemungkinan besar ada bencana besar yang akan menimpamu"

Sekarang bukan saja ia telah melihat golok itu, bahkan telah memiliki pula golok tersebut.

Ia sudah merasa amat puas dengan kesemuanya itu.

Tapi pada suatu hari, tiba-tiba ia hendak mengembalikan golok itu kepada Cing-cing.

Dengan keheranan Cing-cing lantas bertanya ..Mengapa kau tidak menghendaki golok itu?

"Sebab aku memilikinya juga percuma"

Jawab Ting Peng, golok tersebut berada di tanganku tak lebih dari pada sebilah golok besi biasa saja"

"Kenapa!"

"Karena aku sama sekali tak pandai mempergunakan ilmu golok aliran kalian. Akhirnya Cing-cing memahami juga maksudnya, maka dia pun berkata. Bila kau ingin mempelajarinya, aku bersedia mengajarkan ilmu golok itu kepadamu, padahal ia sama sekali tak bermaksud untuk mewariskan ilmu golok semacam ini kepadanya, sebab dia tahu orang biasa yang mempelajari ilmu golok semacam ini sesungguhnya tak ada manfaatnya. Walaupun ilmu golok semacam ini dapat memberikan suatu kekuatan yang luar biasa kepada mu, tapi diapun bisa mendatangkan bencana serta ketidak beruntungan bagi si pemakainya. Tapi akhirnya toh ilmu golok tersebut diajarkan juga kepadanya, karena ia tak ingin menampik permintaannya, ia tak pernah membuatnya merasa kecewa. Walaupun dia adalah rase, tapi jauh lebih-lebih lembut dan setia daripada istri dari kebanyakan kaum lelaki di dunia ini. Siapa saja bila memiliki seorang istri macam begini, dia seharusnya akan merasa puas sekali. Ilmu golok semacam ini tak mungkin akan dijumpai di alam semesta, Ilmu golok semacam ini memiliki perubahan serta kekuatan yang mimpipun tak mungkin bisa diperoleh oleh setiap orang lain. Ting Peng sendiripun tak pernah menyangka kalau ia bisa melatih ilmu golok yang begini sakti dan begitu hebatnya. Tapi sekarang ia telah melatihnya. Dalam soal belajar ilmu silat, ternyata sampai Cing-cing sendiripun mengakui bahwa dia adalah seorang yang amat berbakat. Sebab untuk melatih ilmu golok itu, ia sendiri membutuhkan tujuh tahun untuk menguasainya, sedangkan Ting Peng hanya membutuhkan waktu selama tiga tahun.. Kehidupan didalam lembah itu bukan cuma nyaman dan tenang, lagi pula empat waktu selalu ada bunga yang mekar dimana saja, kau bisa memetik aneka bunga yang indah dan segar. Mestika yang selama dialam semesta di anggap sangat berharga bahkan untuk menemukan saja sukarnya bukan kepalang, di tempat itu seolah-olah berubah menjadi suatu benda yang sama sekali tak ada harganya. Di bawah loteng kecil itu terdapat sebuah gedung di bawah tanah, dalam gudang itu bertumpukkan kain sutera yang berasal dari negeri Thian tok (sekarang India) permadani dari negeri Persia serta aneka macam benda berharga lainnya yang tak pernah kau jumpai selama ini. Cing-cing bukan cuma lembut dan cantik, diapun sangat menuruti semua keinginan serta kehendak suaminya. Semestinya dia harus merasa puas sekali. Tapi sebaliknya pemuda itu malahan, menjadi kurus sekali. Bukan cuma kurus badannya, wajahnya ikut sayu dan seringkali bermuram durja dan tidak senang hati. Selain itu diapun seringkali mendapat impian buruk. Setiap kali melompat bangun dari impian, tiba-tiba saja ia akan melompat turun dari atas pembaringan sambil bermandikan peluh dingin. Ketika Cing-cing menanyakan soal ini kepadanya selama berulangkali, ia baru berkata.

"Aku bermimpi ketemu dengan ayahku, dia hendak menggunakan sepasang tangannya untuk mencekikku sampai mati"

"Mengapa dia hendak mencekikmu sampai mati?"

""Ia bilang aku tidak berbakti, lantaran aku adalah seorang lelaki yang tidak becus! "

Mimik wajah Ting Peng berubah menjadi amat sedih dan sengsara, dia berkata lebih jauh.

"Sebab itu telah melupakan sama sekali pesan orang tuaku menjelang kematiannya dulu"

"Padahal kau belum melupakannya?"

"Yaa, belum!"

Sahut Ting Peng, padahal setiap waktu setiap saat aku selalu mengingatnya didalam hati"

"Sebelum meninggalnya apa yang diminta orang tuamu untuk kau lakukan...? ""

Sambil mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, sepatah demi sepatah kata ia menjawab.

"Suruh aku mencari nama besar dalam dunia dan melampiaskan rasa sedih dan kecewanya selama ini" 0000()OO0O CING-CING tentu saja memahami maksudnya. Tapi Cing-cing tidak tahu kalau mimpi jelek yang dialaminya bukan hanya semacam saja, impian buruknya yang lain jauh lebih menakutkan lagi. Tapi ia tak dapat mengutarakannya keluar, juga tak berani untuk mengutarakannya keluar.

"Da1am impian tersebut tiba-tiba ia merasakan dirinya terjerumus ke dalam sarang rase istrinya, ayah mertuanya, ibu mertuanya semua telah berubah menjadi kelompok rase, rase yang mencabik-cabik tubuhnya dan melahap badannya. Dia ingin sekali untuk melupakan bahwa mereka adalah sekawanan rase, tapi pikiran tersebut justru tak dapat dia lupakan. 000000000 CAHAYA mutiara yang lembut menyinari wajah Cing-cing yang pucat dan cantik, air mata telah jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Aku memahami maksudmu!"

Dia berkata dengan air mata bercucuran.

"akupun telah tahu, cepat atau lambat kau pasti ingin pergi dari sini, kau tak akan hidup sepanjang masa ditempat ini, sebab cepat atau lambat kau pasti akan merasa jemu dengan penghidupan semacam ini""

Ting Peng tak dapat menyangkal perkataan itu.

Dengan ilmu silat yang dimilikinya sekarang, dengan ilmu golok yang dimilikinya sekarang, Liu Yok siong, Tiong Tian, Hong bwe dan Meh tiok sesungguhnya telah berubah menjadi manusiamanusia yang tak akan tahan dengan sejurus serangannya.

Dengan mengandalkan golok lengkung yang tersoren di pinggangnya, bila dia ingin menjelajahi dunia persilatan dan mencari nama, kejadian tersebut akan berubah menjadi suatu persoalan yang gampangnya seperti membalikkan tangan sendiri.

Setiap kali teringat akan masalah ini, darah yang mengalir didalam tubuhnya seakan-akan menjadi mendidih dan mengalir dengan kerasnya.

Tapi kesemuanya ini tak bisa menyalahkan dia, sebab dia memang tidak bersalah.

Setiap orang berhak untuk memperjuangkan masa depannya sendiri dan siapa pun, itu orangnya pasti akan berpikir demikian.

Dengan sedih Ting Peng berkata.

"Sayang sekali, aku juga tahu bahwa kakek dan nenekmu pasti tak akan mengijinkan aku pergi dari sini""

Cing cing menundukkan kepalanya dan ragu-ragu sejenak, kemudian dengan nada menyelidiki tanyanya.

""Apakah kau ingin pergi dari sini seorang diri?"

"Tentu saja, aku akan membawa serta dirimu". Mencorong sinar tajam dari balik mata Cing Cing, dia mengepal tangannya keras-keras dan berseru kembali.

"Kau bersedia membawaku pergi?"

Dengan lembut dan penuh kasih sayang Ting Peng menjawab.

"Kita sudah merupakan suami istri, kemanapun aku akan pergi, aku pasti akan membawa serta dirimu"

"Kau berbicara yang sejujurnya ?"

"Tentu saja!". Cing cing menggigit bibit menahan pergolakan emosinya kemudian mengambil keputusan katanya.

"Bila kau ingin pergi dari sini marilah kita pergi bersama-sama!"

"Bagaimana caranya untuk pergi dari sini?"

"Aku pasti mempunyai akal bagus!"

Dia memeluk pemuda itu kencang-kencang, kemudian melanjutkan.

"Asal kau bersedia mencintaiku dengan bersungguh hati, sekalipun aku harus mati bagimu, aku juga bersedia"

Untuk melarikan diri, tentu saja harus ada rencana yang matang, maka ditengah malam buta merekapun berbisik-bisik merundingkan rencana besar itu. Mereka paling takut dengan kakeknya Cing-cing.

"Dia orang tua amat lihay dan mengetahui segala-galanya, selain malaikat dari angkasa, tiada seorang manusiapun yang mampu menandingi kehebatannya"

Ting Peng merasa tidak puas dengan perkataan itu, sebab diapun telah melatih ilmu golok mereka yang maha sakti itu. Cing cing segera berkata kembali.

"Jangan kau anggap ilmu golok yang telah kau pelajari itu sangat lihay, berada di hadapan dia orang lain mungkin belum sampai satu jurus kau pergunakan, asal dia menggerakkan tangannya maka kau pasti akan roboh ke tanah. Ting Peng tidak percaya, tapi diapun mau tak mau harus mempercayai juga.

"Oleh karena itu bila kita ingin kabur, kita harus menunggu sampai dia tidak berada di sini!"

Kata Cing cing.

"Agaknya dia tak pernah pergi dari sini?"

"Tapi setiap tahun pada bulan tujuh tanggal lima belas malam, dia selalu akan mengurung dirinya didalam sebuah kamar kecil, selama beberapa jam lamanya, peristiwa apapun yang bakal terjadi selama waktu-waktu itu, dia tak akan mengurusinya.` "Tapi bila dia tahu kalau kita sudah kabur apakah tak akan melakukan pengejaran?"

"Sudah pasti tidak!"

"Sebabnya aku orang tua telah bersumpah bahwa selama hidup tak akan meninggal kaki lembah ini barang satu langkahpun"

"Aku lihat agaknya nenekmu juga tidak gampang untuk dihadapi"

"Aku mempunyai akal untuk menghadapinya."

""Akal apakah itu?"

"Sekalipun dia orang tua kelihatannya amat keren dan serius, dia sesungguhnya memiliki hati yang amat lunak, lagi ......."

Tiba-tiba ia mengajukan suatu pertanyaan yang sama sekali tak ada sangkut pautnya.

"Kau tahu apa yang menyebabkan kematian ayah ibuku?"

"Ting Peng tidak tahu.

Dia tahu persoalan ini merekapun tak pernah menyinggungnya, tak bisa disangkal lagi hal itu adalah suatu rahasia besar bahkan suatu kenangan lama yang penuh dengan kesedihan..

Benar juga paras muka Cing-cing segera berubah menjadi amat sedih sekali katanya.

"Ibuku juga seorang manusia biasa, seperti juga kau, dia selalu berharap agar ayahku bisa mengajaknya untuk pergi meninggalkan tempat ini?"

Setelah menghela napas panjang lanjutnya.

""Ketika aku belum mencapai usia setahun ia telah meninggal dunia tapi aku tahu dulunya bukan saja dia adalah seorang pendekar perempuan yang amat tersohor dalam dunia persilatan, diapun seorang gadis cantik yang diketahui setiap orang, kehidupan yang sederhana dan hambar seperti ini sudah barang tentu tak bisa dilewatinya dengan hati yang tenang dan tentram"

"Apakah ayahmu tidak bersedia mengajaknya untuk pergi meninggalkan tempat ini?"

"Walaupun ayahku telah menyetujuinya, tapi kakek dan nenekku bersikeras tidak mengijinkan, sudah dua kali mereka berusaha untuk pergi dari sini tapi usaha mereka selalu gagal oleh karena itu ibuku...."

Ia tidak melanjutkan perkataannya, tapi Ting Peng bisa menduga apa yang telah terjadi, kalau ibunya bukan karena hatinya yang kesal dan murung sehingga mati dalam kesedihan, sudah pasti secara diam-diam menghabisi nyawa sendiri....

"Berapa bulan setelah kematian ibuku, ayahku juga jatuh sakit dan tak bisa bangun lagi."

Walaupun mereka adalah rase, meskipun memiliki kemampuan yang luar biasa, ada sementara penyakit yang justru tak akan bisa ditolong dengan kekuatan serta obat obatan, apalagi kalau penyakit itu adalah penyakit hati, penyakit rindu yang ditimbulkan oleh perasaan kangen yang tebal serta kesedihan yang kelewat batas.

Dalam hal ini, Ting Peng juga bisa membayangkannya, Cing cing berkata lebih jauh.

"Sekalipun nenek tak pernah menyinggung persoalan ini kepadaku, tapi aku tahu dalam hatinya pasti merasa amat berduka, bila sampai keadaan kepepet, asal kusinggung kembali persoalan ini, dia pasti akan mengijinkan kami untuk pergi"

Seorang nenek tua yang sudah lanjut usianya, tentu saja tak akan tega menyaksikan cucu perempuan suami istri mengalami tragedi yang sama seperti apa yang terjadi dengan generasi yang lalu.

Cing cing bisa mengutarakan persoalan semacam ini, menandakan kalau hubungan kasihnya antara dia dengan Ting Peng sudah mencapai cinta kasih yang sama tebalnya antara ayah dan ibunya dulu.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ting Peng setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.

"Kalau begitu, kita pasti mempunyai harapan ?"

"Akan tetapi kita masih ada persoalan, paling tidak masih ada delapan persoalan."

"Delapan persoalan?.."

"Yaa, tidak lebih tidak kurang persis delapan buah persoalan"

"Akhirnya Ting Peng dapat memahami maksud perkataannya, yang dimaksudkan dengan delapan persoalan itu sudah pasti adalah ke delapan orang pelayan yang setia itu. Mereka semua jarang berbicara satu dengan lainnya, bahkan selalu menjaga suatu jarak tertentu dengan Ting Peng. Agaknya mereka tidak ingin terlalu dekat dengan manusia biasa yang manapun, bahkan cucu menantu dari majikan mereka sekalipun. Dalam hati mereka semua seakan-akan tersimpan suatu penderitaan yang amat dalam, menyimpan suatu rahasia yang sangat besar.

"Apakah mereka juga tidak mudah untuk dihadapi ?"

Tanya Ting Peng kemudian.

"Kau sama sekali-kali memandang enteng mereka, sekalipun mereka tidak memiliki kemampuan yang hebat seperti apa yang dimiliki oleh kakekku, tapi ilmu silat yang dimiliki mereka semua sudah cukup untuk merubah mereka menjadi jago-jago kelas satu di dalam dunia persilatan"

Setelah berpikir sejenak, dia melanjutkan.

Aku tahu didalam dunia persilatan banyak terdapat pendekar dan jago pedang yang amat lihay, akupun pernah melihat beberapa orang diantaranya, tapi tak seorangpun diantara mereka yang bisa menandingi kelihaian mereka"

"Siapa saja yang pernah kau jumpai?"

"Hong bwe dan Meh tiok yang kau katakan itupun pernah kujumpai semua...."

Cing-cing menerangkan.

"Apakah kedua orang itupun tak sanggup untuk menandingi mereka?"

""Siapa saja diantara mereka berdelapan sanggup mengalahkan dua orang itu sekaligus didalam sepuluh jurus"

Mendengar perkataan itu Ting Peng segera mengerutkan dahinya.

Tak bisa disangkal lagi bahwa Hong bwe dan Meh tiok adalah jago-jago kelas satu di dalam dunia persilatan, kalau dibilang ada orang sanggup mengalahkan mereka berdua dalam sepuluh gebrakan saja, sesungguhnya persoalan ini sangat tidak masuk diakal, siapa saja tak akan mempercayainya...

Tapi Ting Peng mempercayainya.

Terdengar Cing cing berkata lagi.

"Untung saja setiap bulan tujuh tanggal lima belas, mereka selalu minum arak dalam jumlah yang banyak sekali"

"Apakah mereka akan minum sampai mabuk?"

"Ada kalanya sampai mabuk-ada kalanya juga tidak mabuk, mereka memiliki takaran minum arak yang bagus sekali"

Setelah tertawa terusnya.

"Tapi kebetulan sekali aku tahu kalau ada semacam arak yang keras sekali, bagaimanapun baiknya takaran minum seseorang bila minum arak tersebut, dia pasti akan menjadi mabuk"

"Dan kebetulan sekali kau bisa menemukan arak sejenis itu?"

"Yaa. aku bisa mendapatkannya."

Sekali lagi mencorong sinar tajam dari balik mata Ting Peng, tanyanya kemudian.

"Hari ini sudah tanggal berapa?"

""Bulan enam tanggal tiga puluh"

Setengah bulan lagi akan tiba bulan tujuh tanggal lima belas, setengah tahun lagi Ting Peng sudah empat tahun lamanya tinggal di tempat itu. Tak tahan Ting Peng segera menghela napas panjang katanya.

"Waktu sungguh berlalu dengan cepatnya, tak disangka dalam waktu singkat empat tahun sudah lewat, sungguh tak ku sangka aku bisa hidup selama empat tahun lagi"

Dengan lemah lembut Cing-cing membelai wajahnya dan berkata dengan lirih.

"Kau pasti dapat hidup lebih jauh, bahkan bukan cuma empat tahun saja, sebab selama aku masih hidup, kau takkan mati, kau hidup akupun takkan mati, ada kau baru ada aku, ada aku baru ada kau!"

Ooooo0ooooo MALAM PURNAMA BULAN tujuh tanggal lima belas, udara cerah.

malam hari, rembulan sedang purnama..Ting Peng mempercayai Cing-cing seratus persen.

Kalau Cing cing mengatakan ada semacam arak yang bisa memabukkan siapapun yang memiliki takaran minum arak yang hebat, dia percaya penuh bahwa siapa saja yang minum arak tersebut pasti akan menjadi mabuk kepayang.

Ia percaya delapan orang kakek yang setia dan selalu membungkam itu pasti akan mabuk, ternyata mereka benar-benar telah mabuk.

Tapi ia benar-benar tidak menyangka kalau orang yang mabuk paling dulu ternyata adalah neneknya Cing cing.

Tampaknya hari ini diapun mempunyai pikiran dalam hatinya, pikiran apalagi rahasia dalam hati biasanya lebih berat dari segala apapun, maka dia ikut minum bersama mereka, bahkan minum lebih cepat dari pada yang lain dan lebih banyak dari siapa pun.

Itulah sebabnya dia mabuk lebih dahulu.

Mereka masih minum arak, secawan demi secawan arak mengalir masuk ke perut, tak seorangpun yang berbicara, mereka hanya tahu minum terus tiada hentinya..

Tampaknya mereka telah bertekad untuk minum sampai mabuk baru benar-benar akan berhenti.

Dengan cara minum seperti ini, sekalipun yang mereka minum bukan arak semacam ini, toh akhirnya akan menjadi mabuk juga.

Sekarang mereka semua telah mabuk.

"Walaupun ruangan disisi loteng kecil itu jauh lebih kecil daripada sebuah keraton, namun diatur sedemikian megah dan mewahnya sehingga tidak kalah dengan sebuah keraton, waktu itu tinggal dua orang yang masih berada dalam keadaan sadar. Dalam lembah tersebut hanya tinggal mereka berdua juga yang masih berada dalam keadaan sadar. Ting Peg memandang ke arah Cing cing, dan Cing cing memandang ke arah Ting Peng, sorot mata Ting Peng penuh dengan pancaran sinar gembira dan riang. Sebaliknya sinar mata yang terpancar ke luar dari balik mata Cing cing sangat kalut. Tempat ini adalah rumahnya, ia sudah hidup di sini semenjak dilahirkan, semua orang yang berada di sini adalah sanak keluarganya semua. Tapi sekarang dia hendak pergi, menuju ke sebuah dunia yang masih amat asing baginya dan selama hidup tidak kembali lagi, selama hidup tak akan kembali lagi. Tentu saja perasaannya amat gundah dan kalut. Tentu saja dia tak bisa seperti Ting Peng yang ingin pergi lantas pergi. Tiba-tiba Ting Peng menghela napas panjang, katanya.

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan didalam hati, aku pun tahu kau pasti tak tega untuk meninggalkan tempat ini."

Cing-cing segera tertawa paksa.

"Aku memang sedikit merasa berat hati untuk meninggalkan tempat ini, tapi aku lebih berat hati untuk berpisah denganmu"

Tentu saja Ting Peng tak akan menganjurkan kepadanya untuk tetap tinggal di situ.

Sekalipun dia memiliki niat semacam itu juga tak akan diutarakannya di depan mulut.

Cing cing mengawasinya lekat-lekat, kemudian bertanya.

"Apakah kau benar-benar bersedia untuk mengajakku pergi?"

"Tentu saja sungguh-sungguh"

"Bila kau ingin merubah niatmu, sekarang masih belum terlambat, aku akan membiarkan kau pergi seorang diri"

"Aku toh sudah berkata, kemana saja aku akan pergi, kau harus turut bersamaku, ada aku harus ada kau pula dirimu"

"Kau tidak menyesal?"

""Mengapa aku harus menyesal?"

Akhirnya Cing cing tertawa, meskipun senyuman itu agak murung dan diliputi kesedihan, tapi penuh dengan pancaran sinar merah yang hangat.

Bagi seorang perempuan apa yang paling diharapkan tidak lain adalah seorang yang bisa mencintainya selama hidup dan berada bersamanya sepanjang masa.

Entah perempuan itu seorang manusia atau Rase, semuanya adalah sama saja.

Tapi sesaat sebelum pergi, dia masih tak tega untuk berpaling kembali dan mengawasi neneknya yang meski keren tapi berhati mulia itu.

Tak tahan ia menjatuhkan diri berlutut dan mencium pipi neneknya, yang penuh berkeriput itu dengan penuh kasih sayang.

Perpisahan ini mungkin akan menjadi suatu perpisahan untuk selamanya, bahkan Ting Peng sendiripun merasa agak sedih dalam hatinya, tak tahan ia lantas berseru.

"Jika kita ingin pergi, lebih baik berangkat lebih cepat, daripada mereka keburu sadar. ."

"Mereka tak akan sadar secepat itu."

Sambil bangkit berdiri, terusnya.

"Arak ini dibuat kakekku menurut suatu resep rahasia, sekalipun dewa yang minum arak ini, diapun harus menunggu sampai enam jam kemudian baru bisa sadar kembali"

Ting Peng segera menghela napas panjang.

"Bila ada waktu selama enam jam, hal ini sudah lebih dari cukup untuk kita!"

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba terdengar seseorang tertawa tergelak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... benar, enam jam pun sudah lebih dari cukup..."

Setiap orang bisa tertawa.

Setiap hari pasti ada orang sedang tertawa, dimana saja pasti ada orang sedang tertawa.

Tapi Ting Peng belum pernah mendengar gelak tertawa semacam ini, bahkan mimpipun tak pernah menduga kalau di dunia ini bisa terdapat gelak tertawa semacam ini.

Suara tertawanya tinggi melengking dan amat nyaring, seolah-olah ada beribu-ribu orang yang sedang tertawa bersama.

Tawa itu sebentar berkumandang di sebelah timur, sebentar di sebelah barat, seakan-akan dari empat arah delapan penjuru ada orang sedang tertawa bersama.

Tapi suara tertawa itu justru berasal dari mulut seseorang yang sama, sudah jelas berasal dari mulut satu orang.

Karena Ting Peng telah menyaksikan kemunculan orang itu.

Dia adalah seorang kakek berjubah hitam yang kurus kering dan bertubuh hitam pekat.

Pintu depan sebenarnya tiada manusia, seorang mamusia tak ada.

Tapi kakek berjubah hitam itu justru berdiri didepan pintu ketika itu...

Ting Peng bukan seorang yang buta, matanya belum kabur, tapi justru ia tidak menyaksikan sedari kapankah kakek itu menampakkan diri?

Lebih-lebih lagi dari manakah dia munculkan diri?

Dalam waktu singkat tahu-tahu ia sudah berdiri di situ.

Suara gelak tertawanya belum berhenti, cawan dan mangkuk yang berada di atas meja kena tergetar keras sehingga berbunyi dentingan nyaring, malah ada beberapa buah diantaranya yang tergetar sehingga hancur berantakan.

Ting Peng merasakan bukan cuma telinganya saja yang tergetar keras sehingga terasa sakit, bahkan benaknya seolah-olah mau meledak rasanya tak tahan.

Asalkan bisa membuat kakek itu menghentikan gelak tertawanya, dia disuruh melakukan apa saja pemuda itupun bersedia.

Belum pernah ia menyangka kalau didunia ini masih terdapat suara gelak tertawa yang memiliki kekuatan demikian menakut-kannya.

Paras muka Cing cing pucat pias, sinar matanya memancarkan rasa ngeri dan kaget yang luar biasa, tiba-tiba ia membentak.

"Apa yang sedang kau tertawakan?"

Meskipun suaranya lembut dan tajam, ibaratnya sebatang jarum yang tiba-tiba menyusup masuk ke balik tertawa tersebut. Kakek berjubah hitam itu masih juga tertawa tergelak, katanya.

"Delapan ekor rase kecil itu semuanya berilmu hebat, si rase betina inipun bukan lentera yang kekurangan minyak, jika aku harus merobohkan mereka satu per satu, sesungguhnya hal ini bukan suatu pekerjaan yang gampang, sungguh tak nyana ada orang yang telah melicinkan jalan bagiku"

Haaha... haha..dengan demikian akupun tak usah repot-repot lagi" . Paras muka Cing cing berubah hebat, dengan suara keras teriaknya.

"Siapakah kau? Mau apa datang kemari?"

Akhirnya kakek berjubah hitam itu menghentikan juga gelak tertawanya, dengan dingin ia berkata.

"Aku datang untuk menguliti kulit rase kalian, akan kupakai kulit-kulit rase kalian itu untuk membuatkan beberapa stel pakaian untuk cucuku. Cing cing tertawa dingin, tiba-tiba ia turun tangan dan mencabut keluar golok lengkung yang tersoren di pinggang Ting Peng itu. Cahaya golok yang berwarna hijau dan berbentuk melengkung itu pada mulanya masih mirip sebuah bulan sabit, tapi dalam waktu singkat telah berubah menjadi sekilas cahaya bianglala yang menyambar ke muka dengan cepatnya. Ting Peng cukup memahami daya kekuatan yang terpancar dari balik golok tersebut, dia percaya di dunia ini masih belum ada seorang manusiapun yang sanggup menyambut bacokan tersebut. Sayang dia telah salah menyangka. Ujung baju si kakek berjubah hitam itu segera menggulung ke depan bagaikan segumpal awan hitam, secara tiba-tiba saja awan hitam itu meluncur ke depan dan menyambar cahaya bianglala tersebut. Cing cing segera berjumpalitan ditengah udara dan terpental sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula, sewaktu melayang turun ke atas tanah, ia tak sanggup berdiri tegak lagi.. Kakek berjubah hitam itu tertawa dingin, katanya.

"Bila mengandalkan sedikit kepandaian yang dimiliki kau si rase kecil, masih jauh bila ingin digunakan untuk membunuhku"

Paras muka Cing-cing berubah hebat selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang. Di belakang meja masih terdapat sebuah pintu rahasia. Dengan suara dingin kakek berjubah hitam itu berkata.

"Apakah kau hendak pergi mencari si rase tua itu? Jangan lupa bulan tujuh tanggal lima belas tepat tengah malam saat itu ia sedang berada dalam keadaan yang paling gawat, sekalipun aku menyayati kulit badanmu di hadapannya dia juga tak akan berani sembarangan bergerak kalau tidak ia pasti akan mengalami jalan api menuju neraka, kalau sampai demikian keadaannya akan payahlah keadaannya"

Cing-cing tentu saja tak akan lupa dengan keadaan tersebut.

Kini paras mukanya sudah pucat pias tak berdarah lagi.

Ia tahu mereka tak akan terlepas dari bencana besar ini.

Mendadak kakek berjubah hitam itu membalikkan badannya menatap ke arah Ting Peng, kemudian katanya.

Kau adalah manusia rase!"

Ting Peng tak dapat menyangkal. Kembali kakek itu berkata.

"Aku hanva akan membunuh rase, tidak membunuh manusia"

Kemudian sambil mengulapkan tangannya dia berkata.

"Pergilah dari sini, lebih baik cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini, jangan sampai menunggu aku berubah pikiran lagi"

Ting Peng tertegun, ia benar-benar tidak menyangka kalau kakek tersebut bersedia melepaskan dirinya.

Dia adalah manusia, bukan rase, kakek itu datang untuk membantai rase, sudah barang tentu sama sekali tak ada hubungan atau sangkut paut dengannya.

Sekarang dia masih muda, dia telah menguasahi serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat, dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang ia masih sanggup untuk merajai dunia persilatan dan mengangkat nama besarnya agar disegani orang.

Asal dia kembali ke alam manusia, dengan cepatnya semua cita-cita yang diimpikan selama ini akan terwujud.

Sekarang kakek itu bersedia melepaskan dirinya, tentu saja dia harus pergi.

Dengan suara dingin kakek berjubah hitam itu berkata lagi.

"Mengapa kau belum juga pergi? Apakah kau juga ingin menemaninya untuk mati bersama?"

"Benar! "

Tiba-tiba Ting Peng menjawab dengan suara lantang. Mendadak dia melompat ke depan dengan kecepatan luar biasa, sambil menghadang di hadapan Cing-cing serunya.

"Bila kau ingin membunuhnya, kau harus membinasakan diriku lebih dahulu!"

Sekujur badan Cing-cing menjadi lemas, karena seluruh badannya seolah-olah melumer dan bersatu dengan tubuh Ting Peng.

Ia menatapnya lekat-lekat, entah harus menangiskah?

Atau tertawa?.

Perasaan girang, kaget dan berterima kasih bercampur aduk dalam hatinya dan kemudian tumbuh suatu perasaan cinta yang teramat sangat besarnya........

Air matanya kembali bercucuran, serunya.

"Benarkah kau bersedia untuk mati bersamaku?"

"Aku sudah berkata, ada kau ada pula aku, entah kemana saja kau pergi, aku akan selalu mendampingimu!"

"Kau benar-benar hendak menemaninya untuk mampus?"

Seru kakek berbaju hitam itu. Kakek berjubah hitam itu segera tertawa dingin.

"Hmm ... kalau kau ingin mampus, ini gampang sekali untuk di wujudkan....."

""Belum tentu gampang!"

Teriak Ting Peng.

Tiba-tiba ia menubruk ke depan dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimiliki-nya, ia menerjang ke arah kakek berjubah hitam itu dengan garangnya.

Dia sudah bukan Ting Peng empat tahun yang lalu.

Gerakan tubuhnya begitu enteng dan lincah, serangannya begitu cepat dan tepat, ilmu silat yang dimilikinya sekarang sama sekali tidak berada di bawah kepandaian silat jago nomor wahid dari manapun.

Perduli kakek ini adalah manusia atau setan?

Atau rase?

Bila ingin membunuhnya, hal ini tak akan bisa dilakukannya dengan gampang.

Sayang dia kembali salah sangka.

Baru saja tubuhnya menubruk ke depan, dia menyaksikan ada sekuntum awan hitam yang menyambar datang, dia ingin menghindar, akan tetapi tak mampu dilakukannya.

Kemudian ia terjerumus kembali dalam kegelapan, kegelapan yang tidak bertepian, suatu kegelapan yang seakan-akan tak pernah berakhir.

Dari balik kegelapan tiba-tiba terpercik setitik cahaya sinar rembulan, bulan yang sedang purnama.

Ting Peng membuka matanya lebar-lebar, ia menyaksikan sebuah bulan yang purnama tergantung di atas awang-awang, diapun menyaksikan sepasang mata yang jeli dan lembut sedang mengawasinya.

Baik di atas langit Ataukah di atas bumi?

Tak akan bisa dijumpai mata kedua yang lebih jeli dan lembut daripada sinar mata itu.

Cing-cing masih berada di sisinya.

Baik dia sudah mati atau masih hidup?

Baik dia ada di atas langit?

Atau dalam bumi, Cing-cing tetap berada di sisinya.

Sinar mata Cing-cing begitu jeli, diantara kelopak matanya masih tampak titik air mata.

Sepasang mata tersebut, bulan yang purnama itu serta pemandangan yang dihadapinya sekarang hampir sama dengan pemandangan yang disaksikannya ketika baru mati di ujung pedang si kakek kerdil yang berjubah emas dengan jenggot berwarna emas itu.

Tapi waktu itu dia belum mati.

Bagaimana dengan kali ini?

Kali ini diapun tidak mati.

Bukan saja dia tidak mati, Cing-cing juga tidak mati, apakah kakek berbaju hitam yang menakutkan itu telah melepaskan mereka?

Apakah karena mereka amat mencintai satu sama lain, karena mereka saling mencintai dengan tulus hati, maka orang itu menjadi terharu dan mengampuni jiwaku?

"Aku benar-benar belum mati?"

Ting Peng bertanya.

"Aku masih hidup, mengapa kau bisa mati, kalau kau sudah mati, apakah aku bisa hidup seorang diri?"

Titik air mata masih menghiasi wajahnya, tentu saja air mata kegirangan, lanjutnya.

"Asalkan kita berada bersama, kita tak bakal mati!, kita akan hidup bersama terus sepanjang masa"

"Tapi aku tidak habis mengerti?"

Seru Ting Peng.

"Persoalan apakah yang tidak kau pahami? "Aku tidak habis mengerti mengapa makhluk tua berjubah hitam itu bersedia melepaskan kita berdua?""

Cing-cing segera tertawa. Dari wajahnya yang penuh senyuman itu terkilas cahaya air mata, sahutnya dengan cepat.

""Sebab makhluk tua itu bukan sungguhan"

"Siapakah dia?"

"Dia adalah kakekku"

Ting Peng semakin tidak mengerti. Cing-cing berkata kembali.

"Kakekku tahu bahwa cepat atau lambat kau pasti ingin pergi, semua gerak gerik kita diketahui pula olehnya oleh karena itu ia telah bertaruh dengan nenek!"

""Apa yang mereka pertaruhkan?"

""Kalau kau sungguh-sungguh amat baik kepadaku, seandainya kau masih bersedia mati untukku, dia akan membiarkan kita berdua untuk pergi dari sini"

Ia tidak berkata lebih jauh, diapun tak perlu berkata lebih lanjut.

Jelaslah sudah bahwa peristiwa itu tak lebih hanya suatu percobaan, suatu percobaan untuk Ting Peng apakah dia sungguh-sungguh amat mencintai Cing cing?

Seandainya didalam mara bahaya Ting Peng meninggalkan gadis itu, maka tak bisa disangkal lagi saat ini Ting Peng sudah menjadi sesosok mayat .....

Cing cing menggenggam tangannya erat-erat.

Dibalik telapak tangan Ting Peng ada keringat, tentu saja keringat dingin.

"Sekarang mereka baru percaya bahwa kau sama sekali tidak membohongi diriku"

Ujar Cingcing lembut "perduli kemanapun kau akan pergi, tak mungkin akan meninggalkan diriku, oleh sebab itu mereka baru bersedia untuk membiarkan aku pergi bersamamu.

Ting peng mengerdipkan matanya beberapa kali kemudian bertanya..

"Kita berada dimana sekarang? "Kita sudah berada di alam manusia"

"Kita benar-benar sudah kembali ke alam manusia?"

"Yaa, benar!"

Untuk pertama kalinya Ting Peng merasakan alam manusia ternyata begitu indah begitu menarik hati.

Sebenarnya ia sudah bosan hidup di dunia ini, sudah tak ingin hidup lebih jauh, sekarang dia baru menyadari bahwa kehidupan sesungguhnya adalah begitu indah dan menawan, asal seseorang masih dapat hidup.

hal ini sudah merupakan sesuatu kejadian yang pantas untuk dirayakan..

Rembulan yang purnama kini sudah makin memudar.

Langit yang gelap sudah mulai terpercik setitik cahaya putih, dari kejauhan sana kedengaran suara manusia.

Tangisan bayi, omelan ibunya, suara air yang ditimba dari dalam sumur, suara dentingan kuali yang mulai mengepul asap, suara istri yang membangunkan suaminya untuk segera turun ke sawah, suara sang suami yang mencari sepatunya dikolong ranjang, suara bisikan mesrah dari suami istri muda, suara cekcok suami istri yang telah lanjut usia, masih ada pula suara kokokan ayam, gonggongan anjing ....

Semua suara tersebut penuh terkandung suatu gerak perjuangan dari kehidupan, penuh mengandung cinta kasih seorang manusia terhadap lainnya ........

Dari sekian banyak suara-suara itu, ada yang bisa didengar oleh Ting Peng.

ada pula yang tidak terdengar, walaupun telinganya tidak mendengar, dalam hatinya dapat merasakan.

Sebab suara-suara itu sebenarnya adalah suara-suara yang sangat hapal didalam pendengarannya.

Di dusun kelahirannya, dalam sebuah rumah yang sederhana dan kecil, setiap pagi ia bangun dari tidurnya dan harus dibantu ibunya untuk mengenakan pakaian, dia sudah mulai mendengar suara-suara semacam itu.

Tiba-tiba Ting Peng berkata.

"Aku harus pergi menengok ibuku lebih dahulu!"

Pada saat dia mengucapkan kata-kata tersebut, mendadak dia teringat pula persoalanpersoalan yang tidak seharusnya dia pikirkan.

Istrinya adalah rase.

Bagaimana mungkin ia bisa membawa seorang istri rase untuk pergi menjumpai ibunya yang sudah tua dan lagi kolot itu?

Tapi bagaimanapun juga dia harus membawanya untuk pergi menjumpainya.

Cing-cing menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Dia memang memiliki perasaan yang jauh lebih tajam daripada manusia biasa, sekarang dia sudah dapat merasakan apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.

Pelan-pelan diapun bertanya.

Dapatkah kau membawa serta diriku?"

"Aku pasti akan membawa serta dirimu", Ting Peng berjanji. Terbayang bagaimana ia telah mencintai-nya sepenuh hati, teringat sebagaimana gadis itu telah berkorban untuknya, tak tahan lagi ia memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang, katanya.

"Aku toh pernah berkata, entah kemanapun aku hendak pergi, aku pasti akan membawa serta dirimu."

Cing-cing mendongakkan kepalanya dan memandang ke arahnya, sinar mata itu penuh dengan perasaan cinta dan rasa terima kasih.

Tentu saja aku harus pergi menjumpai ibumu, tapi aku tak ingin bertemu dengan orang-orang yang lain, di kemudian hari entah siapa saja yang ingin kau jumpai, lebih baik aku tak ikut menampakkan diri"

"Kenapa?"

Cing-cing tertawa paksa.

"Kau harus tahu mengapa aku berbuat demikian?".

"Tapi orang lain tak akan mengetahui kalau kau ...."

"Aku tahu, orang lain tak akan mengetahui kalau aku adalah rase, akan tetapi....entah bagaimanapun juga, aku toh tetap rase, kalau bisa tidak berjumpa dengan orang biasa, lebih baik jangan bertemu muka."

Agaknya dia masih mempunyai kesulitan, bagaimanapun juga bila seorang secara tiba-tiba berkunjung ke suatu dunia yang masih asing baginya, tak bisa dihindari lagi, ia pasti mempunyai kesulitan yang sukar di ungkapkannya dengan kata-kata.

Ting Peng segera menggenggam tangannya dan berkata dengan lembut.

"Asal pekerjaan tersebut tak ingin kau lakukan, aku tak akan memaksamu untuk melakukannya. Cing-cing tertawa, katanya pula.

"Tapi ada kalanya aku pasti akan memaksamu, bahkan pasti akan memaksamu untuk menuruti perkataanku"

Ia tidak membiarkan Ting Peng membuka suara, kembali tanyanya.

"Setelah menjumpai Ibumu, apa yang hendak kau lakukan?"

Ting Peng tidak menjawab. Darah didalam tubuhnya mulai mendidih, suatu ambisi yang besar mulai menyelimuti benaknya, masih banyak urusan yang harus dia kerjakan setelah itu. Kata Cing-cing.

"Aku tahu kau hendak melakukan apa saja, bukan saja kau hendak mengangkat nama, kaupun hendak melampiaskan rasa mendongkol dan dendam yang selama ini terpendam dalam hatimu."

Ting Peng mengakuinya.

Fitnahan yang dialaminya selama ini harus dicuci bersih, cemoohan serta penghinaan yang dialaminya selama ini juga harus di balas, persoalan-persoalan semacam ini belum pernah dilupakan barang seharipun.

"Sebelum kita berangkat tadi, berulangkali kakek telah berpesan, jika kau ingin menjadi tenar dan membalas dendam, ada beberapa hal perlu kau ingat"

"Apa saja cepat katakan!"

"Apabila tidak sampai pada keadaan yang terpaksa, kau jangan sekali kali turun tangan, bila pihak lawan adalah seseorang yang tidak berharga bagimu untuk turun tangan, kaupun jangan sekali-kali turun tangan"

Setelah berhenti sebentar kembali dia menambahkan.

"Ketika turun tangan untuk pertama kalinya, kau harus memilih seorang sasaran yang baik dan cermat, asal kau bisa mengalahkannya maka namamu segera akan tenar di seluruh dunia persilatan, maka kaupun tak usah pergi mengikat tali permusuhan lagi dengan orang lain..Ia menjelaskan lebih jauh.

""Karena kata kakek, bagaimanapun lihaynya ilmu silatmu, bagaimanapun tenarnya namamu, bila terlalu banyak musuh yang kau ikat, maka cepat atau lambat suatu hari kau masih akan dipaksa orang untuk melalui jalan buntu."

"Aku dapat memahami maksud hati dia orang tua, aku pasti akan baik-baik menuruti perkataannya."

"Oleh sebab itu bila kau turun tangan, janganlah terlalu tak berperasaan apalagi melakukan pembunuhan yang berakibat mengalirnya darah..."

Ia berkata lebih jauh dengan nada bersungguh-sungguh.

"Bila kau ingin orang lain betul-betul menghormatimu, kau harus menyediakan sebuah jalan kehidupan baginya"

"Aku mengerti."

"Masih ada satu hal yang lebih penting lagi!"

"Persoalan apakah itu?"

Golok lengkung yang berwarna hijau pupus itu masih tergantung di atas pinggangnya. Cing cing berkata lebih jauh.

"Golok ini adalah pemberian nenekku, maka kakek mengijinkan kau untuk membawanya keluar, akan tetapi bila keadaan tidak sampai terpaksa, kau dilarang mempergunakan golok ini"

Sikapnya menjadi lebih serius dan bersungguh-sungguh lagi katanya lebih jauh.

"Bila kau ingin mempergunakan golok ini, maka kau harus membuat musuhmu tewas di ujung golok tersebut, asal golok telah diloloskan dari sarungnya maka kau tak boleh membiarkan lawanmu berada dalam keadaan hidup...."

"Bila lawanku bukan orang yang harus kubunuh, jika lawan belum memojokkan aku, aku tak boleh menggunakan golok ini?"

""Yaa sama sekali tak boleh!"

Setelah tertawa dia melanjutkan.

"Tapi kau tak usah kuatir, dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang golok macam apa saja yang kau gunakan kau masih tak terkalahkan di dunia ini"

Sementara itu fajar telah menyingsing, cahaya matahari yang berwarna keemas-emasan telah memancarkan sinarnya ke empat penjuru.

ooooo0ooooo KEHIDUPAN DI ALAM MANUSIA SINAR rembulan lewat Cahaya golok memancar.

Malang melintang sepuluh laksa li.

Cahaya golok dingin bagaikan salju.

Di sana sini terdengar rintihan hujan.

Bulan sepuluh, fajar baru menyingsing.

Liu Yok siong membuka daun jendela dalam kamarnya, membiarkan sinar matahari yang berwarna ke emas emasan memancar masuk ke dalam ruangan, udara amat cerah dan segar, tak bisa disangkal hari ini udara amat cerah.

Ia termasuk shio anjing, tahun ini berusia empat puluh tujuh tahun, wajahnya masih belum tampak banyak kerutan, kekuatan badannya masih tetap dalam kondisi seperti pemuda kekar yang lain, bukan saja masih tertarik dalam soal perempuan, perempuan-pun tertarik pula kepadanya.

Ia kaya raya, sehat dan tampan, apalagi belakangan ini nama besarnya makin harum dalam dunia persilatan, seringkali ada orang yang menyebutnya sebagai "Tayhiap", semua orang yang kenal maupun tak kenal kepadanya rata-rata menaruh hormat kepada dirinya.

Temannya tak terhitung jumlahnya, tingkat kedudukan, kekayaan dan nama besarnya meski tidak melebihinya, tapi mereka bisa mengimbangi pergaulan dengannya, setiap kali musim gugur tiba, mereka selalu berdatangan untuk bersama-sama melewat-kan suatu penghidupan yang segar dan riang gembira.

Kemana saja dia berada, selamanya orang selalu menyambut kedatangannya dengan segala kehormatan.

Dia percaya seandainya partai Bu-tong mengijinkan seorang murid premannya menjadi ketua perguruan, dialah yang akan dipilih.

Sebenarnya hal tersebut hanya merupakan suatu angan-angan, tapi sekarang tampaknya sudah ada kemungkinan untuk merubahnya menjadi kenyataan..

Perkampungan Siang siong san-ceng menempati suatu area tanah yang sangat luas, pemandangan alamnya sangat indah dan merupakan suatu perkampungan yang amat tersohor dalam dunia persilatan.

Istrinya juga terhitung sebagai wanita cantik yang ternama dalam dunia persilatan, bahkan cerdik dan pandai bekerja.

Hubungan mereka sebagai suami istri selamanya baik, bila ia menjumpai kesulitan, entah persoalan apapun yang dihadapi, istrinya pasti akan membantu untuk menyelesaikannya.

Asal seorang lelaki yang mampu untuk memilikinya, hampir seluruhnya dimilikinya pula, bahkan dia sendiripun merasa amat puas dengan hal ini .....

Tapi belakangan ini justru timbul suatu persoalan yang membuatnya merasa kurang begitu senang.

Bangunan yang ditempatinya ini terletak di bagian yang paling tinggi dalam perkampungan Siang-siong san-ceng, asal ia membuka jendela maka akan terlihatlah bukit nan hijau di seberang sana, pepohonan rindang, rerumputan nan hijau menambah semaraknya suasana di sekeliling sana.

Setiap kali berada dalam keadaan begini, dalam hatinya segera akan timbul suatu perasaan seakan-akan di atas langit di atas bumi, dialah pemimpin yang paling "berkuasa", sekalipun diwaktu-waktu semacam itu dalam hatinya terdapat sesuatu yang kurang menyenangkan hatinya, dia akan melupakannya dengan segera.

Sungguh tak disangka belakangan ini terjadi sesuatu perubahan di atas tanah perbukitan itu.

Setiap pagi hari, di atas bukit di seberang sana tentu akan kedengaran suara bunyi-bunyian yang memekikkan telinga, bukan saja memecahkan ketenangan hidupnya, juga membuat sepanjang hari merasa tak tenang dia merasa kehormatannya seakan-akan di singgung orang.

Sebab bangunan perkampungan yang sedang dibangun di atas tanah perbukitan di seberang sana bukan saja dibangun lebih megah dan mentereng, bahkan menempati area tanah yang jauh lebih besar daripada perkampungan Siang siong san-ceng.

Semua tukang kayu, ahli bangunan, tukang pahat dan ahli ukir yang paling tersohor disekitar dua sungai besar, wilayah Kwan Tong, Say pak bahkan dari wilayah Kanglam sana, semuanya telah diundang kemari untuk menyelesaikan bangunan tersebut.

Tenaga kerja yang dikerahkan untuk mendirikan bangunan rumah itu pun dua puluh kali lipat lebih banyak jika dibandingkan sewaktu membangun perkampungan Siang siong san-ceng dimasa lalu.

Jumlah pekerja yang lebih banyak tentu mempermudah pekerjaan, sudah barang tentu bangunan itupun bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Setiap pagi bila Lui Yok siong membuka jendela untuk memandang ke bukit seberang, dia akan menjumpai di atas bukit tersebut kalau bukan telah bertambah dengan sebuah gardu, tentu bertambah dengan sebuah bangunan berloteng, atau sebuah kolam renang, atau mungkin juga sebuah hutan bunga yang rimbun dan indah.

Seandainya ia tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, pada hakekatnya dia akan menganggap suatu keajaiban telah berlangsung di tempat itu.

Arsitek yang mengawasi pembangunan perkampungan itu adalah seorang congkoan she Lui, dia adalah Ji ciangkwee dari rumah Yang cu lui di ibu kota.

Dari deretan ahli bangunan sepanjang sejarah, yang termasyhur dan paling ternama adalah keluarga Lui dari ibu kota, bahkan sewaktu membangun ruangan dalam istana kerajaan pun arsitek pembangunannya diserahkan kepada keluarga Lui.

Menurut pengakuan Lui congkoan, pemilik dari bangunan yang megah ini adalah seorang "Ting kongcu"

Ting kongcu ini menetapkan pada bulan dua belas tanggal lima belas nanti untuk menyelenggarakan pesta perjamuan dalam perkampungan barunya itu.

Maka bangunan ini harus sudah dibangun selesai sebelum bulan dua belas tanggal lima belas nanti.

Asal bangunan tersebut bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, ia tak sayang untuk membayar berapa pun yang diminta, soal uang baginya adalah bukan suatu persoalan..

Ia telah membuka nota di empat buah rumah uang (Bank) yang paling besar di ibu kota, asal Lui congkoan membuka bon, uang kontan segera dapat diambil.

Lui Congkoan sudah seringkali bertemu dengan orang-orang dari kalangan atas, tapi dia toh berkata juga.

"Keroyalan Ting kongcu ini pada hakekatnya belum pernah dijumpai sepanjang hidup"

Sesungguhnya siapakah Ting kongcu itu?

Dia berasal darimana?

Mengapa bisa memiliki gaya serta tingkah laku yang begitu besar!

Apalagi begitu royal dalam menggunakan uang.

Liu Yok siong sudah tak tahan untuk membendung rasa ingin tahunya lagi.

Dia bertekad hendak menyelidiki asal usul Ting kongcu ini secermat-cermatnya kemudian membongkar sampai ke akar-akarnya.

Bila ia sudah bertekad untuk melakukan suatu pekerjaan, dia pasti akan melakukannya dengan sukses.

Dia telah menyerahkan pekerjaan ini kepada istrinya untuk dilaksanakan, Liu hujin tak pernah memberi kekecewaan baginya, walau didalam pekerjaan apapun.

0000000 SEBELUM menikah dulu Liu hujin bernama Ko cin.

Jadi dia bukan bernama Ko-siau (menggelikan), tapi Ko cin (patut dikasihani).

Lengkapnya dia bernama Chin Ko cin.

Liu hujin juga termasuk shio anjing, dua belas tahun lebih muda dari pada Liu Yok-siong, tahun ini berusia tiga puluh lima tahun.

Tapi sekalipun seseorang yang memiliki ketajaman mata yang luar biasapun tak akan mampu untuk menebak secara jitu berapakah usia perempuan itu yang sesungguhnya.

Dia masih memiliki pinggang yang ramping dan lembut kulitnya masih putih halus ************************* Halaman 59 s/d 64 hilang ************************* (Bersambung ke

Jilid 5)

Jilid . 5 WALAUPUN ia selalu beranggapan bahwa pengorbanan yang dia berikan cukup berharga tapi sekarang toh timbul juga perasaan kecut dalam hati kecilnya, dengan hambar dia berkata.

""Sungguh tak kusangka ternyata dia belum mati, apakah kau merasa gembira sekali? Liu hujin segera menarik muka sambiltertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... apa yang harus kugembirakan? Orang yang dia paling benci bukan kau melainkan aku!"

Liu Yok siong menghela napas panjang katanya.

"Kalau dia belum mati, cepat atau lambat pasti akan datang mencari kita, tapi aku benar-benar tidak habis mengerti, seorang bocah rudin semacam dia, mengapa secara tiba-tiba bisa berubah menjadi begitu kaya raya ?"

"Kalau tidak mati dalam kesusahan, di kemudian hari pasti akan menjumpai rejeki besar, ternyata tempo hari ia berhasil melarikan diri dan kita gagal untuk menemukannya, itu berarti bocah tersebut mempunyai nasib yang cukup baik, orang yang sedang bernasib baik, sekalipun sedang berjalan-jalan, kemungkinan besar juga akan menemukan sebongkah emas murni"

Tentu saja kata-kata semacam itu hanya kata-kata orang yang sedang mendongkol.

Dikala seorang perempuan sedang marah lebih baik jangan sekali-kali ia digubris.

Seorang lelaki yang pintar semuanya tahu akan cara ini, Liu Yok sioug termasuk seorang lelaki yang pintar.

Ia segera memejamkan mulutnya rapat-rapat.

Sampai akhirnya orang yang akan buka suara lebih dahulu tentu saja masih pihak perempuan, sebab perempuan memang agak tak mampu menguasahi diri.

Akhirnya Lui hujin tak tahan untuk berkata kembali.

"Herannya kalau toh tujuan kedatangan-nya adalah untuk membuat perhitungan dengan kita, mengapa ia tidak mencari kita secara terang terangan? Mengapa ia harus membangun dulu sebuah perkampungan yang amat besar di seberang rumah kita? Sebenarnya rencana busuk apakah yang sedang dipersiapkan olehnya?"

Hati manusia terletak dibalik perut, apa yang sedang dipikirkan manusia hidup, jangan harap orang lain dapat menduganya"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Liu hujin, segera dia bertanya dengan wajah berseri.

"Andaikata orang hidup itu mendadak menjadi mampus?"

Liu Yok siong segera tersenyum.

"Seandainya seseorang sudah mampus, sekalipun dia mempunyai rencana besar juga percuma"

Liu hujin turut menghela napas panjang.

"Aaai... sayang sekali dia tak akan bisa mati, kalau toh ia bisa hidup sampai sekarang, kalau menginginkan dia mati tentu saja hal ini bukan sesuatu yang mudah"

"Sekalipun tidak terlalu mudah, tidak berarti terlalu susah"

"Ooooh!."

Sejak peristiwa itu sampai sekarang empat tahun baru lewat, bila nasib seorang lagi mujur, didalam empat tahun kemungkinan besar dia akan menjadi kaya"

Setelah tersenyum, terusnya.

"Tapi berbeda dengan ilmu silat, untuk mendapat ilmu silat yang amat hebat maka seseorang harus melatihnya secara tekun saban hari, tidak akan seperti menemukan uang emas, tahu-tahu didapatkan dari atas langit dengan begitu saja"

"Ia tak berani berkunjung kemari mencari kita lantaran musti dia sudah kaya tapi ilmu silatnya tidak terpaut jauh dengan kepandaiannya dimasa lalu?"

Tanya Liu hujin.

"Ya, dengan kepandaian silat yang dimilikinya itu, sekalipun berhasil menemukan guru yang pandai, kendatipun dia melatih diri selama sepuluh tahun lagipun paling banter dia masih di bawah kemampuan Siau song"

"Siau-song? Kau maksudkan Song Tiong?"

Liu Yok siong segera tertawa lebar.

"She Song bernama Tiong, sekali tusukan menghantar ke akherat, selain dia siapa lagi itu orangnya?"

Liu Hujin mengambil mangkuk kecil dari atas meja yang berisi kuah teratai dan meneguknya beberapa tegukan, kemudian katanya.

"Orang ini mah aku kenal !"

"Agaknya kau juga kenal"

""Kalau aku yang kenal tak ada gunanya, bila kau yang kenal baru besar kegunaannya"

"Sebab dia hanya mendengarkan perkataanmu, kau suruh dia menuju ke timur, dia tak akan berani lari ke barat"

"Maksudmu sekalipun aku suruh dia membunuh orang, dia juga akan melakukannya?". Liu Yok siong tersenyum.

"Ya, bila kau suruh dia membunuh satu orang, dia tak akan berani membunuh dua orang, kau suruh dia membunuh Thio Sam, dia tak akan berani membunuh Li Su"

"Kalau suruh dia pergi membunuh Ting Peng, maka semua rencana dari Ting Peng pun akan berubah menjadi tak ada gunanya! "sambung Lui hujin sambil tertawa. Liu Yok sing segera bertepuk tangan sambil bersorak.

"Benar! Benar! Tepat sekali!"

Mendadah Lui hujin menghela napas panjang, katanya.

"Sayang sekali selama dua tahun belakangan ini dia terlalu tersohor namanya, sekarang ia sudah menjadi sombong dan latah, mana ia mau mendengarkan perkataan dari seorang nenek tua seperti aku?"

Liu Yok siong segera tertawa.

"Selama dua tahun belakangan ini lebih tersohor. tapi bahkan akupun harus menuruti semua perkataan dari si nenek tua macam kau, apalagi dia? Masa ia berani membangkang?"

Pelan-pelan Lui hujin meletakkan mangkuk berisi kuah teratai itu ke meja, kemudian dengan kedua jari tangannya memetik sebiji buah anggur dan dimasukkan ke dalam bibirnya yang kecil mungil itu, dua baris giginya yang berwarna putih tampak indah dan bersih.

Kemudian ia mengerling sekejap ke arah Lui Yok siong dan tanyanya dengan lirih.

************************* Halaman 9 -10 hilang ************************* Terpaksa Liu Yok siong tertawa getir, katanya.

"Sekarang tentunya kau sudah tahu bukan, apakah aku benar-benar menuruti perkataanmu atau tidak"

Liu hujin tertawa genit, sahutnya.

"Barang siapa menurut, dia pasti akan memperoleh kebaikan"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba tanyanya lagi.

"Inginkah kau, mengetahui dimana saja Ting Peng, Ting kongcu selama dua hari ini?"

"Tentu saja ingin"

"Selama dua hari belakangan ini, dia sedang berpesiar di telaga See ou, tinggal di dalam pagoda Ang bwee kek, ruang poan sian tong yang dulu pernah didiami oleh Cia Si thong"

""Waaah .....besar juga lagak Ting Kongcu ini"

Cia Si thong adalah seorang perdana menteri dari kerajaan Lam Song, selama dia memegang tampuk kekuasaan, kekayaannya tak terhitung, hampir separuh tanah yang ada di daratan Tionggoan menjadi miliknya, bisa dibayangkan betapa megah dan mewahnya ruang Poan sian tong tersebut.

"Tentunya kau juga tak mungkin tidak tahu dimanakah Siau song berada selama dua hari ini bukan?"

Kembali Liu Yok siong bertanya.

"Kau ingin bertemu dengannya?"

""Yaa, ingin sekali"

Kembali Liu hujin menghela napas panjang, katanya.

"Mengapa tidak kau katakan sedari tadi? Bila aku tahu kalau kau ingin berjumpa dengannya, sedari tadi dia pasti sudah ku ajak datang kemari"

"Sekarang?"

"Sekarang, aku rasa tak gampang untuk menemukan dirinya lagi"

"Kenapa?"

"Sebab aku telah menyuruhnya pergi ke suatu tempat yang sangat jauh, jauh sekali"

"Dimana sih letaknya tempat yang sangat jauh, jauh sekali itu?"

"Kota Hang ciu, telaga See ou, pagoda Ang-bwee kek, ruang poan sian thong ."

Liu Yok siong segera tertawa.

"Walaupun aku seorang yang masih hidup, tampaknya apa yang menjadi pikiran dalam benakku, tanpa ku utarakan pun kau dapat melakukannya dengan segera... ."

Demikian ia berseru. Dengan mempergunakan sebaris giginya yang putih bersih ia menggigit pelan bibirnya yang merah merekah seperti buah tho itu, kemudian bisiknya pelahan.

"Kau benar-benar adalah orang hidup? Kembali mencorong sinar terang dari balik matanya, sinar mata yang merah membara. Cepat-cepat Liu Yok siong menggelengkan kepalanya berulang kali, keluhnya sambil tertawa getir.

"Aku sudah mati! sekalipun belum mati secara keseluruhan, paling tidak nyawaku tinggal separuh kini"

Ooooo0ooooo SONG TIONG bersandar dalam ruang kereta, tampaknya dia sudah tertidur nyenyak.

Kereta itu berjalan sangat tenang, baik rodanya, lantai keretanya, as keretanya mau pun body keretanya tersebut dari bahan yang paling baik oleh seorang ahli yang cekatan pula sedang kuda yang menghela keretapun merupakan kuda-kuda pilihan yang sudah lama terlatih.

Ruang kereta itu luas dan nyaman, karena setiap kali sebelum membunuh orang, Song Tiong selalu harus menjaga kondisi badannya secara baik-baik....

Hanya sebuah kereta yang tenang dan nyaman, baru akan membuat kondisi badannya tidak menurun dan lenyap sebelum tiba di tempat tujuan.

Oleh sebab itu, secara khusus Liu hujin menyampaikan kereta itu baginya.

Perhatiannya kepada dia jauh lebih teliti dan besar daripada perhatian seorang ibu terhadap anaknya.

Ibu Song Tiong sudah lama meninggal dunia, meninggal ketika ia masih kecil dulu.

Selama banyak tahun dia tak tahu siapa gerangan ayahnya, juga tak pernah menyinggung tentang ibunya.

Bila ada orang menggunakan peristiwa ini untuk mencemoohkannya atau menghina-nya, seringkali sebuah tusukan pedang segera dihadiahkan kepada orang itu.

Karenanya, ia disebut orang sebagai lt-kiam song tiong (Sebuah tusukan pedang hantar kematian) Song Tiong.

Sesungguhnya Song Tiong tidak suka membunuh orang.

tapi dia harus membunuh, entah karena usaha atau kedudukan, atau harta atau perempuan, ia selalu dipaksa untuk membunuh.

Kesemuanya itu merupakan pengharapan-nya, terpaksa dia harus mempergunakan cara seperti itu untuk memperoleh apa yang diharapkan.

Yang paling diinginkan bukan nama, bukan kedudukan, bukan pula harta, kekayaan melainkan karena perempuan, seorang perempuan yang sebenarnya milik orang lain.

Walaupun dengan jelas dan pasti ia tahu kalau dia adalah isteri orang lain, namun ia sudah terpikat benar-benar sudah tergila-gila hingga hampir saja ia tak sanggup untuk mengendalikan diri.

Senyum genitnya, kerlingan matanya, kemontokan tubuhnya, kesemuanya itu merupakan suatu borgol yang tak mungkin bisa dibuka, borgol yang telah membelenggu seluruh jiwa dan raganya.

Bila perempuan itu minta kepadanya untuk membunuh dua orang, dia tak akan berani hanya membunuh seorang, bila ia diminta membunuh Thio sam, tak akan berani ia pergi membunuh Li si.

Nafsu birahi memang ibaratnya sebuah gua yang tanpa dasar, semakin kau masuk ke dalam, semakin dalam pula kau terperosok .

ooooo0ooooo IA dapat membunuh orang karena dalam hatinya tiada cinta, yang ada cuma benci, sebab hidup sampai kini, belum pernah diketahui olehnya apa arti sebenarnya dari ""Cinta".

Dia dapat membunuh orang.

Karena ia telah membayar suatu pengorbanan yang besar, suatu masa latihan yang ketat dan berat.

Setiap orang yang pernah menyaksikan ia turun tangan, semuanya beranggapan kalau serangannya cepat mana jitu lagi, pada hakekatnya tidak berada di bawah Sin Bu mia.

Ciong Tian pernah melihat dia turun tangan, bahkan Ciong Tian pun beranggapan bahwa gerakannya sewaktu mencabut pedang pada hakekatnya jauh lebih cepat dari pada Sin Bu mia.

Sin Bu mia adalah seorang jago pedang yang termashur namanya dalam dunia persilatan di masa lalu, dia tersohor bersama-sama dengan seorang jago pedang lainnya yang bernama "A hui", seorang jagoan nomor dua dalam perkumpulan Kim to pang setelah Sangkoan Kim hong.

Sim Bu mia tidak berperasaan juga tak bernyawa, bukan saja menganggap nyawa orang lain seperti barang rongsokan, termasuk nyawa sendiripun ia selalu menganggap enteng.

Demikian pula halnya dengan Song Tiong, Konon setiap kali turun tangan, ia selalu tidak memikirkan nyawa sendiri, bukan saja menghendaki nyawa orang lain, juga tidak maui nyawa sendiri.

Seringkali orang yang terlalu cepat menjadi tenar dalam dunia persilatan adalah orang-orang yang tidak maui nyawa sendiri macam dia.

Maka diapun menjadi tenar.

She Song bernama Tiong, tusukan yang membawa maut.

Sejak dia berhasil membunuh Hoa say toa han (orang gagah dari Hoo say) Liu Tinkong, umat persilatan yang tidak mengenali namanya itu boleh dibilang sedikit sekali hingga bisa dihitung dengan jari tangan.

Lui Tin kong sudah dua puluh tahun lamanya menjagoi wilayah Hou say, golok emas serta telapak tangan bajanya menjadi delapan penjuru, tapi dalam satu gebrakan saja ia telah membunuh Lu Tin kong.

Sekarang, orang yang hendak menjadi korbannya adalah Ting peng.

Ia tidak kenal dengan Ting peng, selama hidup belum pernah menjumpa dengan orang ini, sebelumnya diapun tak pernah mendengar nama ini disebut-sebut orang.

Tapi dia harus membunuh Ting Peng, sebab perempuan itu menghendaki dia membunuh Ting Peng.

Ia percaya, kekuatannya pasti mampu untuk membunuh orang ini, dia selalu mempunyai kepercayaannya yang besar terhadap kemampuan serta keampuhan pedangnya.

Pedang ini telah membunuh banyak sekali jago persilatan yang jauh lebih tenar daripada Ting Peng.

Itulah sebabnya, dalam pandangan matanya sekarang, Ting Peng sama artinya dengan sesosok mayat.

Sebab, walaupun kenyataannya sekarang Ting Peng masih hidup, namun tak lama lagi dia akan mati.

Tentu saja mati di ujung pedangnya!

Belum pernah pedangnya meleset dari sasaran, siapa yang dihadapinya ia pasti mampus.

Maka, tak bisa disalahkan lagi kalau dia menyamakan Ting Peng dengan seseorang mayat.

ooooo0ooooo MEMINJAM GOLOK SONG TIONG sudah menjadi mayat.

Sekalipun Song Tiong belum mati, dia tak jauh berbeda dengan sesosok mayat.

Ketika Liu Yok siong melihat dirinya, ia merasa terkejut bercampur keheranan.

Ketika Liu hujin melihatnya, diapun merasa keheranan bercampur kaget.

Setiap orang dapat melihat kalau dia telah berubah, Song Tiong yang dingin kaku dan angkuh tiba-tiba berubah menjadi lemas lamban dan layu.

Song Tiong yang sebenarnya tak pernah meneguk setetes arakpun, kini mencari arak untuk diminum, bahkan seteguk demi seteguk menghabiskan arak itu dengan lahapnya.

Selewatnya tiga cawan, Liu Yok siong baru menegur sambil tertawa.

"Kali ini kau pasti amat menderita, akan kuhormati dirimu dengan secawan lagi."

Ia menaruh kepercayaan penuh terhadap Song Tiong. ia percaya tugas yang dibebankan kepadanya kali ini pasti dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Liu hujin turut berkata pula sambil tersenyum.

"Akupun menghormati tiga cawan arak kepadamu, karena dulu kau tak pernah minum arak"

Iapun menaruh kepercayaan penuh akan kemampuannya, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan dia membunuh orang.

Caranya membunuh orang selain bersih dan cekatan lagi pula tak pernah meleset, sewaktu membunuh orang bukan cuma caranya yang cepat dan tepat, malah gerakannya sangat indah menawan.

Sampai kini belum pernah Liu hujin menyaksikan orang kedua yang sanggup menandinginya.

Song Tiong sedang minum arak minum tiada hentinya, dulu ia tidak minum arak bukan lantaran tak dapat minum, melainkan karena tak ingin.

Tangan seorang pembunuh harus mantap jika terlalu banyak minum arak, sudah pasti tangannya tak akan menjadi mantap.

Ia seringkali melihat tangan para setan arak gemetaran keras, sedemikian kerasnya gemetar sehingga untuk memegang cawan arakpun tidak mantap.

Selama ini dia terlalu keheranan, apa sebabnya mereka minum arak?

Ia merasa bukan saja orang-orang itu mengenaskan, lagi pula amat menggelikan.

Tapi sekarang baru tahu, apa sebabnya setan-setan arak itu dapat berubah menjadi setan arak.

Sekarang dia belum mabuk, tapi kalau minum arak macam dia itu dilanjutkan, cepat atau lambat dia pasti akan mabuk.

Akhirnya Liu Yok siong menyinggung juga masalah pokoknya dia bertanya.

"Akhir-akhir ini pemandangan alam telaga See ou bertambah cantik, apalagi di musim gugur semacam sekarang ini, bukankah kau telah pergi kesana ....?"

"Yaa, aku telah kesana!"

Jawaban Song Tiong singkat. Kembali Liu Yok siong tersenyum.

"Pemandangan alam sangat indah, di udara amat cerah, bertanding pedang di tepi telaga sungguh merupakan atraksi yang menawan hati, aku yakin perjalananmu kali ini pasti menggembirakan sekali"

"Tidak, sedikitpun tidak menggembirakan"

""Tapi aku masih ingat kau pernah berkata kepadaku, musim gugur merupakan saat yang paling indah untuk membunuh orang, pemandangan air telaga yang indah juga merupakan tempat bagus untuk membunuh orang, bila seseorang dapat melakukan hajadnya dalam suasana dan keadaan seperti itu, sudah pasti kejadian ini merupakan suatu kejadian yang amat menggembirakan"

Kata Liu hujin pula.

"Tidak, sedikitpun tidak menggembirakan"

"Kenapa?"

"Sebab orang yang hendak kubunuh adalah orang yang tak dapat dibunuh .."

"Ting Peng adalah orang yang tak dapat dibunuh?"

Liu hujin mengerutkan dahi nya rapatrapat.

"Yaa, dia adalah orang yang tak dapat dibunuh"

"Mengapa?"

Sekali lagi Liu hujin bertanya.

"Sebab aku belum ingin mati!"

Setelah meneguk dua cawan arak, tiba-tiba ia menggebrak meja keras-keras, kemudian teriaknya.

""Aku hanya mempunyai selembar nyawa, kenapa aku harus mati?"

Liu Yok siong segera berkerut kening, sedang Liu hujin berkata pula dengan cepat.

"Tentunya sudah kau coba bukan? Apakah bukan tandingan Ting Peng .....?"

"Aku tak perlu mencoba, juga tak bisa mencoba, sebab asal aku turun tangan, kini aku sudah menjadi sesosok mayat"

Liu hujin memandang ke arah Liu Yok siong, sedangkan Liu Yok siong sedang memperhatikan tangan sendiri. Tiba-tiba Liu hujin tertawa, ujarnya.

"Aku tidak percaya dengan ilmu pedangmu, dengan tabiatmu, mana mungkin akan takut kepada orang lain?"

Song Tiong tertawa dingin, jengeknya.

"Kapan aku pernah takut kepada orang lain? Siapa mengatakan aku takut?"

Setelah meneguk beberapa cawan arak, keberaniannya kembali berkobar, serunya keraskeras.

"Andaikata di sana tidak hadir empat orang, bagaimanapun lihaynya Ting Peng aku pasti akan menyuruhnya mampus di ujung pedangku"

"Empat orang? Siapa saja?"

Liu hujin berkerut kerning.

"Sun Hu hou, Lim Siong him, Lamkiong Hoa si, Ciong Tian!"

Paras muka Liu Yok siong segera berubah hebat, kebanyakan orang pasti akan berubah wajahnya setelah mendengar nama ke empat orang ini. Siapa tahu Song Tiong justru bertanya lagi.

"Kau juga tahu tentang mereka?""

Liu Yok siong menghela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir.

"Aku rasa hanya berapa orang saja yang tidak mengetahui siapakah mereka..."

Ooooo0ooooo ORANG persilatan yang tidak tahu tentang mereka memang tidak banyak jumlahnya.

Sun Hu hou adalah murid pertama dari Siau lim pay aliran selatan, dia memiliki tenaga alam yang hebat dan memiliki ilmu pukulan Hu hou sin kun dari partai Siau lim.

Selain mampu untuk menundukkan harimau, diapun mampu untuk menundukkan manusia, sampai detik ini orang ini masih mengakui sebagai pentolan dunia persilatan, di wilayah Kang lam dan sekitarnya.

Lim Siang him adalah saudara angkat Sun Hu Hou, seluruh tubuhnya keras dan kuat, ibaratnya otot kawat tulang besi, otaknya juga amat cerdas dan cekatan.

Lima tahun berselang oleh delapan buah perusahaan pengawal barang yang paling besar dalam enam propinsi di Kang lam ia telah diangkat sebagai Cong piautau nomor satu, di seluruh dunia, terhadap pengangkatan itu tak seorangpun anggota persilatan di wilayah Kang lam baik golongan lurus maupun golongan sesat yang melakukan penolakan.

Lam kiong Hoa su lebih tinggi lagi asal usulnya.

Betul keluarga persilatan Lam kiong agak mundur disaat belakangan ini, namun ilmu silat maupun gayanya tak bisa dibandingkan dengan siapapun juga yang ada didunia ini.

Sedangkan Mengenai Hui im kiam (jago Pedang awan terbang) Ciong Thian, namanya sudah tersohor sejak dua puluh tahun berselang.

""Apakah mereka semua berada di telaga See ou?"

Tanya Liu hujin kemudian.

"Bukan cuma berada di telaga See ou, mereka semua berada pula didalam ruangan Poan cian thong, pagoda Ang bwee khek"

Setelah meneguk arak kembali lanjutnya.

""Sudah lima hari aku ke sana, tapi mereka seakan-akan setiap saat, setiap detik selalu berada disamping Ting kongcu tersebut""

Liu hujin turut menghela napas panjang setelah mendengar ucapan itu, katanya.

"Hanya berpisah berapa hari, situasinya telah berubah seratus delapan puluh derajat, sama sekali tak kusangka, kalau Ting Peng masih mampu untuk mengundang kedatangan empat orang tamu agung macam mereka"

"Orang-orang itu bukan tamu agungnya"

Bentak Song Tiong.

"Mereka bukan?"

"Paling banter mereka cuma pengawalnya belaka?"

Setelah tertawa dingin, lanjutnya.

"Kalau dilihat dari tampang mereka itu, seakan-akan setiap saat mereka akan berlutut di hadapannya sambil menjilati kakinya"

Liu hujin tak dapat berbicara sekarang, ia terbungkam dalam seribu bahasa.

Kembali dia memandang ke arah Liu Yok siong, sedang Liu Yok siong sudah tidak memperhatikan tangannya lagi.

Sekarang dia sedang memperhatikan tangan Song Tiong.

Tangan Song Tiong menggenggam kencang-kencang, kukunya sudah berubah menjadi pucat, seakan-akan di tangannya sedang menggenggam sebilah pedang yang tak berwujud dan menghadapi seorang musuh yang tidak nampak bayangan tubuhnya.

Ya, seakan-akan berhadapan dengan seorang musuh yang dia sendiripun juga tahu kalau sendiripun tak sanggup untuk mengalahkannya.

Tiba-tiba Liu Yok siong berkata.

"Seandainya aku menjadi kau, seandainya kulihat ada mereka berempat berada di di sana, akupun tak akan berani turun tangan.

"Tentu saja kau tak berani."

"Perbuatan semacam ini bukanlah suatu perbuatan yang memalukan"

"Sebenarnya memang bukan"

"Tapi kau seperti merasa kejadian ini amat memalukan, amat menyiksa perasaanmu, aku benar-benar tidak habis mengerti sebabnya kau bisa bersikap begitu"

Song Tiong tidak menjawab.

dia hanya minum arak, minum dengan sekuat tenaga.

Hanya seorang yang berniat untuk memusuhi diri sendiri baru akan minum arak semacam itu.

Hanya seorang yang merasa perbuatan dirinya amat memalukan baru akan memusuhi diri sendiri.

Kembali Liu Yok siong berkata.

"Sebenarnya peristiwa apakah yang telah kau jumpai di sana? Kenapa kau nampak amat menderita?"

"Tiba-tiba Song Tiong melompat bangun, kemudian teriaknya keras-keras.

"Benar aku merasa sangat menderita, karena aku sendiri tahu bahwa riwayatku sudah habis"

Peluh dingin telah berubah menjadi air mata panas..

Pemuda yang dingin sadis, keras kepala dan angkuh ini ternyata masih bisa menangis tersedu-sedu .....

Ketika menangis, maka keadaannya tak berbeda dengan seorang bocah cilik yang sedang menangis.

Ia telah berbicara jujur, seperti seorang anak yang mengutarakan semua isi hatinya.

"Padahal aku tidak takut kepada mereka, Sun hu hou dan Lim Siang him hanya mengandalkan badan yang kebal, Lamkiong Hoa su dan Ciong Tian hanya pandai berlagak, di dalam pandanganku pada hakekatnya mereka tak laku sepeserpun"

"Tapi aku takut kepada Ting peng."

"Sekarang aku baru tahu, sekalipun aku harus berlatih sepanjang hiduppun jangan harap bisa menandinginya"

"Aku telah mencarinya, menuruti peraturan dunia persilatan untuk mencarinya beradu kepandaian, agar dia tak sanggup menampik denganku tersebut"

Tapi inilah hasil yang kuperoleh setelah pergi mencarinya!"

Tiba-tiba ia merobek pakaiannya sehingga tampak dadanya yang telanjang.. Dada itu sangat bidang, lagi pula kekar berotot.

"Dia pernah menyaksikan dadanya yang bidang, karena dia pernah berbaring di atas dadanya sambil merintih, mengatur napasnya yang memburu dan mengigau. Sekarang di atas dadanya telah bertambah dengan tujuh buah bekas bacokan golok, bekas bacokan golok yang melengkung seperti bulan sabit.

"Golok yang dia pergunakan adalah sebilah golok yang melengkung, sebuah golok bulan sabit, belum pernah kusaksikan gerakan golok yang begitu cepat, juga belum pernah kujumpai ilmu golok seperti itu.

"Aku telah memberi tujuh kali tujuh empat puluh sembilan buah tusukan pedang, dia hanya membalasku dengan sebuah bacokan golok"

"Inilah akibat dari sebuah bacokan golok, selama hidup belum pernah ku alami kekalahan seperti kali ini, juga tak pernah kusangka akan mengalami kekalahan yang mengenaskan seperti hari ini"

"Aku tahu, sekalipun berlatih seratus tahun lagipun jangan harap bisa menyambut serangan goloknya itu"

"Aku memohon kepadanya untuk membunuh diriku, memaksa dia untuk membunuh aku"

"Tapi dia hanya tertawa saja"

"Walaupun dia tidak berkata apa-apa tapi aku dapat melihat, ia tidak membunuhku karena aku masih belum pantas untuk mati di ujung goloknya"

"Mulai detik itu juga, aku tahu bahwa riwayatku sudah habis"

Liu Yok siong hanya mendengarkan dengan mulut membungkam, sepatah katapun tidak bertanya, sepatah katapun tidak bicara.

Sehabis mendengar kisahnya, dia mulai minum arak, minum tiada hentinya.

Ia minum banyak sekali, sudah pasti tidak lebih sedikit daripada Song Tiong.

Oleh karena itu mereka mabuk-mabuk hebat.

Walaupun mabuk tak akan menyelesaikan pelbagai persoalan, namun paling tidak dapat membuat orang untuk sementara waktu melupakan banyak persoalan.

Hari ini adalah bulan sebelas tanggal enam belas.

Sejak saat itulah, secara beruntun Liu Yok siong minum arak dalam jumlah yang banyak, minum sampai mabuk hebat dan melupakan segala sesuatu persoalan.

ooooo0ooooo BULAN sebelas tanggal tujuh belas.

Ketika bangun dari tidurnya, Liu Yok siong merasakan kepalanya sakit seperti mau pecah, dan lagi hawa panas dalam tubuhnya tetap membumbung tinggi ke udara, orang pertama yang teringat olehnya ternyata bukan Ting Peng melainkan gadis muda yang dijanjikan oleh pedagang obat temannya itu.

Gadis itu baru berusia lima belas tahun, sebetulnya tak lebih hanya seorang bocah perempuan, namun gadis yang dibesarkan dalam rumah hiburan, umur lima belas tahun sudah merupakan seorang gadis yang telah matang pertumbuhannya.

Ia terbayang akan pahanya yang panjang, pinggangnya yang langsing, teringat penderitaannya yang dirasakan ketika pertama kali merasakan sorga dunia, terbayang rintihan kenikmatan serta kegembiraan dan kepuasan yang menyelimuti wajahnya.

Maka bagaikan seekor kuda yang sedang birahi, dengan cepat dia lari keluar, lari mencari dia.

Tapi, dia hanya menemukan seekor anjing betina.

Sebuah rumah kecil yang khusus dibangun di sudut kebun bagian belakang, sengaja dia pakai untuk menyimpan gadis-gadis simpanannya, di sana ia secara khusus menyediakan sebuah pembaringan yang lebar, besar, empuk dan nyaman.

Dia mengira gadis itu pasti sedang menantinya di atas pembaringan tersebut.

Kenyataannya sekarang, seekor anjing betina yang telah dimandikan amat bersih sedang berbaring di sana.

Sedang si nona yang berpaha panjang dan berpinggang ramping itu telah lenyap tak berbekas.

Sekalipun perkampungan Siang siong san-ceng tidak memiliki penjagaan seketat benteng keluarga Tong di propinsi Suchuan, atau dua belas buah tanggul besar di sungai Tiang kang, di sana tersedia lima sampai enam puluh orang centeng yang pernah mendapat pendidikan yang ketat, kebanyakan mereka memiliki ilmu silat yang bagus.

Diantaranya terdapat empat puluh delapan orang yang terbagi menjadi enam kelompok melakukan perondaan siang malam tiada hentinya di seluruh perkampungan tersebut.

Namun, tak seorang pun di antara mereka yang menyaksikan gadis itu keluar dari halaman.

Tak ada orang yang tahu secara bagaimana gadis itu bisa lenyap tak berbekas, lebih-lebih tak ada yang tahu kenapa si anjing betina itu bisa naik ke atas pembaringannya.

Untuk memperoleh jawaban bagi teka-teki yang serba membingungkan itu, tanpa terasa Liu Yok siong teringat kembali akan diri Ting Peng.

Bulan sebelas tanggal sembilan belas.

Setelah melakukan pemeriksaan dan penggeledahan yang seksama selama dua hari, teka-teki yang membingungkan itu masih tetap merupakan suatu tanda tanya besar.

Liu Yok siong memutuskan untuk melepaskan persoalan ini sementara waktu.

Ia ingin minum arak lagi, minum banyak-banyak.

Mereka suami istri berdua memang gemar minum arak, tentu saja arak yang diminum adalah arak wangi.

dalam bidang ini, mereka berdua boleh dibilang sudah termasuk ahli, perkampungan Siang siong san-ceng sebagai tempat penyimpan arak memang sudah lama termasyhur namanya.

Menurut catatan yang dibuat oleh pengurus gudang arak perkampungan itu, dalam gudang mereka masih tersedia dua ratus dua puluh tiga buah guci arak yang tiap gucinya berisi dua puluh lima kati arak wangi.

itu berarti jumlah arak yang ada masih sanggup untuk menenggelamkan belasan orang banyaknya.

Ketika hari ini dia suruh orang pergi mengambil arak, ternyata di dalam gudangnya sudah tiada setetespun.

Dua ratus dua puluh tiga guci arak wangi yang sudah disimpannya banyak tahun kini telah berubah menjadi air pecomberan semua.

Tak mungkin gadis cantik bisa berubah menjadi anjing betina secara tiba-tiba, arak wangipun mustahil bisa berubah menjadi air pecomberan.

Kemana perginya arak wangi itu?

Darimana pula datangnya air pecomberan....?

Tak seorangpun yang tahu.

Pengurus gudang berani bersumpah menuding langit "selama dua hari belakangan ini tak seorang manusiapun yang datang ke gudang arak itu untuk mengambil arak.

Sekalipun ada orang masuk kesana, untuk mengganti dua ratusan guci arak wangi dengan air pecomberan bukanlah suatu perbuatan yang gampang.

Lagi-lagi sebuah peristiwa aneh yang diliputi tanda tanya besar.

Maka Liu Yok Siong pun teringat kembali akan Ting Peng.

Bulan sebelas tanggal dua puluh dua.

Di belakang dapur perkampungan Siang siong san-ceng terdapat sebidang tanah, selain dipakai untuk menjemur pakaian, digunakan juga sebagai kandang untuk memelihara babi sapi, ayam dan itik.

Hari ini ketika pengurus dapur bangun dari tidurnya, tiba-tiba ia menjumpai semua kerbau babi ayam dan itik yang herada dalam kandang telah mati semua dalam semalaman.

Sejak terjadinya dua macam peristiwa aneh beberapa hari berselang, semua orang sudah mulai menggerutu didalam hati, sekarang kejadian ini lebih menggelisahkan hati lagi, sekaligus diluaran mereka tak berani bicara, diam-diam hatinya semakin ketakutan.

Semua orang sudah mulai merasa seorang musuh besar majikan mereka yang sangat lihay telah datang mencari balas.

Sekarang, semua binatang peliharaan telah mati, apakah selanjutnya akan tiba gilirannya pada manusia?

Bahkan Liu Yok siong sendiripun mau tak mau harus berpikir demikian, sebab jalan pemikiran semacam ini benar-benar membuat orang merasa tak tahan...

Bulan sebelas tanggal dua puluh tiga.

Seorang pengurus rumah tangga yang sudah dua puluh tahun lamanya mengikuti Liu Yok siong, menemukan dirinya tertidur dalam kandang babi dalam keadaan telanjang bulat ketika bangun dari tidur keesokan harinya, bahkan mulutnya disumbat orang dengan segumpal lumpur.

Bulan sebelas tanggal dua puluh enam.

Selama beberapa hari ini, kejadian aneh yang berlangsung semakin banyak lagi, orang yang jelas tertidur di ranjang pada malam harinya, tahu-tahu menemukan tubuhnya digantung orang di atas pohon ketika mendusin keesokan harinya..

Beras sekuali yang jelas sudah dicuci sampai bersih, ketika matang menjadi nasi, ternyata didalamnya telah bertambah dengan tujuh delapan belas ekor bangkai tikus.

Beberapa orang dayang ;yang paling disukai Liu Yok siong, tiba-tiba melepaskan seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat dan menceburkan diri ke dalam kolam teratai.

Kamar kayu tiba-tiba terbakar, gudang beras tiba-tiba kebanjiran, beberapa ratus kodi kain yang tersimpan dalam gudang tahu-tahu dirobek orang sehingga hancur berkeping-keping .......

Ketika keesokan harinya Liu hujin membuka jendela, seluruh kebun penuh dengan robekan kain yang berwarna warni terbang kesana kemari, di antaranya terdapat pula pakaian miliknya.

Bulan sebelas tanggal dua puluh tujuh.

Dari enam puluhan centeng dan empat puluhan orang dayang dan babu tua, sudah ada separuh diantaranya yang diam-diam minggat dari tempat itu.

Siapapun tak ingin turut menderita dan tersiksa oleh rasa ketakutan ditempat itu..

Bila bangun tidur pada keesokan harinya, tahu-tahu menemukan dirinya tidak tertidur di ranjang lagi, melainkan berada dikolong ranjang, menghadapi kejadian seperti ini, siapa lagi yang tahan.

Orang-orang yang belum minggat telah berubah menjadi burung-burung yang ketakutan mendengar orang mengetuk pintu pun sudah merasa ketakutan setengah mati.

Ya siapakah yang sanggup bertahan, dalam kehidupan semacam ini.?

ooooo0ooooo BULAN sebelas tanggal dua puluh delapan, salju mulai turun.

Kini salju telah berhenti, udara cerah tapi dingin, biasanya dalam saat-saat seperti ini, Liu Yok siong bangun cukup lama..Dia memang selalu bangun dari tidurnya pagi sekali.

Karena dia telah bertekad hendak menjadi seorang yang harus dihormati, tindak tanduknya harus menjadi suri tauladan bagi orang-orang lain ......

Tapi hari ini, dia masih bersembunyi di balik selimutnya.

Kemarin malam dia diganggu oleh perbagai ingatan yang mengalutkan pikiran serta perasaannya.

semalam suntuk hampir tak dapat tidur, sebelum fajar menyingsing tadi ia baru tertidur.

Tentu saja dia tak bisa bangun, diapun malas untuk bangun.

Apa yang harus dilakukan setelah bangun dari tidurnya?

Siapa tahu masih ada kabar seram lain yang menantikan kemunculannya?

Walaupun suasana dalam kamar itu sangat hangat, udara amat jelek, semua jendela telah di pantek mati.

Dia tak ingin menyaksikan lagi bangunan perkampungan di seberang bukit sana yang makin hari semakin mentereng.

Sekarang, ia sudah bukan seorang lelaki yang gagah, mentereng dan penuh rasa percaya pada diri sendiri dalam menghadapi persoalan macam apapun.

Sekarang dia berubah menjadi lebih pemberang, lebih berangasan, tak pernah tenang dan merasa terperanjat bila mendengar pintu kamarnya diketuk orang.

Dia takut, takut kalau orang yang mendorong pintu kamarnya dan berjalan masuk adalah Ting Peng.

Sekarang, ada orang sedang mengetuk pintu, yang membuka pintu dan berjalan masuk bukan Ting Peng.

melainkan istrinya Chin Ko cin.

Ia tampak istrinya makin kurus, sepasang pipinya yang semula merah segar dan menggairahkan, kini berubah menjadi pucat pias, kurus dan cekung ke dalam.

Walaupun ia masih tertawa namun senyumannya sudah tidak secerah dan menawan hati seperti dulu lagi.

Ia sudah duduk, duduk di ujung pembaringan sambil mengawasi suaminya, kemudian secara tiba-tiba ia berkata.

"Lebih baik kita pergi saja"

""Pergi?"

Seru Liu Yok siong.

"Dalam hatimu pasti sama mengertinya dengan hatiku, semua peristiwa tersebut merupakan hasil karya dari Ting Peng"

Liu Yok siong segera tertawa dingin katanya.

"Percayakah kau kalau secara tiba-tiba ia dapat berubah menjadi begitu hebat, begitu lihay dan mampu melakukan apa-apa?"

"Kalau ia dapat memaksa manusia-manusia seperti Sun Hu-hou, Ciong Tian dan lain-lainnya takluk serta tunduk kepadanya, kenapa tak dapat melakukan perbuatan semacam ini?"

Liu Yok siong tak dapat berbicara lagi.

Dia memang tak dapat menemukan orang kedua selain Ting Peng yang bisa melakukan perbuatan tersebut, selama ini mereka berdua mempunyai hubungan yang sangat baik dengan semua orang, selalu berjiwa sosial dan royal, jarang sekali ada umat persilatan yang pandai bergaul macam mereka berdua.

Ujar Liu hujin kemudian.

"Selama dua hari ini, banyak sudah yang telah kupikirkan, tempo hari perbuatan kita itu memang kelewat batas, selama ia masih bisa bernapas, sudah pasti tak akan melepaskan kita dengan begitu saja"

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

Oleh karena itu sekarang diapun menghendaki agar kita tersiksa, sengaja menggunakan cara ini untuk menyiksa kita, mendesak kita sehingga hampir menjadi gila kemudian baru turun tangan""

Liu Yok siong masih tetap membungkam, dia tak tahu apa yang mesti dikatakan.

"Bila kita tetap tinggal di sini selanjutnya sudah pasti tak ada seharipun kita dapat hidup tenang"

"Tapi kemana kita akan pergi?"

Tanya Liu Yok siong.

"Kita masih punya uang, masih punya teman, kemana kita ingin pergi, kesana kita masih dapat pergi"

"Bukankah dia memiliki kepandaian yang sangat hebat? Percuma saja usaha kita itu, kemanapun kita pergi, toh dia dapat mencari kita dan mengusik kita lagi"

Setelah tertawa dingin, lanjutnya.

"Kecuali kalau kita menirukan kura-kura yang menyembunyikan diri sepanjang masa dan selama hidup jangan muncul-muncul lagi"

"Toh hal itu jauh lebih baik daripada didesak, diganggu terus menerus hingga hampir menjadi gila?"

Lagi-lagi Liu Yok siong terbungkam dalam seribu bahasa dan tak sanggup berbicara apa-apa lagi.

"Kenapa kau tidak pergi saja ke Bu tong pay?"

Tanya Liu Hujin setelah termenung sejenak. Liu Yok siong juga termenung, lewat lama kemudian ia baru menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tak dapat kesana, sebab..."

"Sebab kau masih ingin menjadi ketua Bu tong pay, masih ingin menguasahi perguruan tersebut? Seandainya peristiwa ini sampai diketahui umum dan diketahui juga oleh semua rekanrekan dari perguruan Bu tong pay, maka harapanmu untuk berhasil akan semakin tipis lagi. Bagaimanapun juga, Liu Yok siong harus mengakui bahwa perkataan ini memang benar. Kembali Lui hujin berkata.

""Kau juga merasa berat hati untuk meninggalkan perkampunganmu, meninggalkan harta kekayaanmu, lebih-lebih lagi merasa keberatan untuk menodai nama besarmu, maka kau masih ingin bertahan terus di sini, masih ingin bertarung melawan dirinya.."

"Sekalipun aku tak mampu menangkannya sendirian, toh aku masih bisa pergi mencari bantuan teman"

Kata Liu Yok siong.

"Kau hendak mencari siapa? Siapa yang ingin mencampuri urusan ini? Siapa yang sudi terjun ke dalam air keruh ini? Sekarang, bahkan Ciong Thian pun sudah berpihak kepadanya, apalagi serangan terang-terangan bisa dihindari, serangan gelap sukar dijaga, sekalipun kau dapat hidup sepanjang masa dalam suasana begini, hidup dalam kegelisahan dan ketakutan, orang lain tak mungkin bisa tahan untuk tinggal di sini bersamamu, apalagi tinggal di sini sepanjang hidup"

"Bagaimana dengan kau?"

Tiba-tiba Liu Yok siong bertanya.

"Aku sudah tak tahan, aku tak kuat untuk berdiam di rumah iblis ini lagi, jika kau enggan pergi, maka aku akan pergi sendiri, pergi meninggalkan tempat ini...pergi pada detik ini juga!"

Pelan-pelan dia bangkit berdiri, setelah menghembuskan napas panjang dan termenung sesaat, ia baru melangkah keluar dari ruangan itu sambil menambahkan.

"Baiklah, aku akan memberi kesempatan kepadamu lagi, aku bisa menanti jawabanmu selama dua hari lagi, sebelum akhir bulan nanti pokoknya aku akan pergi, walaupun kita adalah suami istri, namun aku tak ingin mampus ditempat ini"

Suami istri sesungguhnya adalah satu, tak mungkin ada suami istri yang berpisah dan kabur sendiri-sendiri dikala bahaya sedang mengancam.

Memandang perempuan itu berlalu tanpa berpaling lagi, terbayang pula dengan apa yang barusan dia katakan, Liu Yok siong merasakan hatinya amat gundah, ia tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya sekarang...

Mendadak ia mendengar ada yang berkata sambil tertawa.

"Suami istri sebenarnya adalah sepasang, kini masing-masing terbang menyelamatkan diri sendiri setelah bahaya mengancam tiba, apakah kau sudah dapat merasakan makna yang sesungguhnya dari ucapan itu?"

Ooooo0ooooo BINTANG PENOLONG SEWAKTU Liu hujin berjalan keluar tadi, pintu kamar telah ditutup kembali, daun jendelapun sudah di pantek mati semenjak lima hari berselang .....

Bila ada orang yang bersembunyi dalam rumah itu, sudah pasti dia tak akan dapat berjalan keluar.

Walaupun Liu Yok siong belum tahu siapa yang sedang berbicara, juga tak tahu di manakah orang yang berbicara itu berada, tapi tak bisa disangkal lagi orang itu pasti berada dalam ruangan ini.

Sebab suaranya ketika berbicara tadi dari jarak amat dekat dengannya, setiap patah katanya dapat ia dengar amat jelas.

Pelan-pelan ia bangkit berdiri, memantek dulu pintu kamarnya dari dalam, kemudian baru mulai melakukan pencarian.

Sepanjang hidupnya, tak sedikit mara bahaya yang telah dialaminya, dia percaya berada dalam keadaan seperti apapun dia tak akan menjadi gugup atau gelagapan.

Ia sudah mendengar kalau orang itu adalah seorang perempuan dan lagi seorang perempuan asing, sebab sebelum itu belum pernah ia mendengar suara pembicaraannya.

Mengapa seorang perempuan asing bisa muncul didalam rumahnya?

Kenapa dia sama sekali tidak merasakan atau mendengar gerak geriknya?

Kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang aneh sekali.

Tapi kali ini, dia bertekad hendak menyelidiki persoalan ini sampai menjadi jelas duduk persoalannya.

Ia mencari dengan seksama, hampir setiap sudut ruangan dicari dengan penuh perhatian, bahkan lemari pakaian, kolong ranjang diperiksa semua dengan hati-hati, tapi kenyataannya kecuali dia sendiri, dalam ruangan itu tiada orang lain, bayangan tubuhnya pun tak nampak.

Lantas kemana perginya perempuan yang barusan berbicara itu?

Salju kembali turun dengan derasnya di luar sana.

Bunga salju berhamburan ke atas tanah dan menghantam di atas kertas jendela dari seberang sana masih kedengaran suara palu yang memukul di atas batu.

Dalam ruangan ini sekarang tak kedengaran suara lagi, setitik suarapun tak kedengaran, sedemikian heningnya seakan-akan kuburan yang setiap saat kemungkinan besar akan muncul setannya, kalau kebanyakan orang yang mengalami keadaan seperti ini, mereka pasti sudah tak tahan untuk berdiam di sana lagi, tapi Liu Yok siong bukan manusia bermental tempe seperti orang-orang itu.

Ternyata ia membalikkan diri lagi di atas ranjangnya.

Perduli siapakah perempuan yang barusan berbicara, setelah dia datang kemari, sudah pasti bukan sepatah kata macam itu saja yang akan diutarakan olehnya.

Ia percaya pasti ada kata-kata lain yang bakal disampaikan oleh perempuan tersebut.

Ternyata dugaannya memang tidak salah.

Baru saja dia membaringkan tubuhnya, suara tertawa yang merdu dan secara lamat-lamat mengalun tiba itu kembali berkumandang.

Dia bilang begini.

"Ternyata aku memang tidak salah melihatmu, kau memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang lainnya cuma kau toh belum berhasil juga menemukan aku. Suara itu masih berkumandang dari jarak yang sangat dekat dengannya, sekarang dia dapat memastikan bahwa si pembicara itu berada di atas kelambu pembaringannya. Tapi menanti dia melompat bangun untuk memeriksanya, di atas kelambu itu sudah tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Mendadak Liu Yok siong merasakan punggungnya menjadi dingin sekali, karena dia merasa orang itu sudah berada di belakang punggungnya . Dia selalu gagal untuk melihat wajahnya sebab punggungnya memang tidak bermata. Dengan suatu gerakan yang tercepat dia membalikkan badannya, namun perempuan itu masih berada di belakang punggungnya. Ilmu gerakan tubuh yang dimiliki perempuan itu memang benar-benar sangat lihay, pada hakekatnya tak jauh berbeda dengan gerakan sukma yang sedang gentayangan saja. Liu Yok siong segera menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Aku mengaku kalah!"

""Bagus sekali"

Ucap perempuan itu sambil tertawa.

"orang yang bersedia mengaku kalah adalah orang yang pintar, aku paling suka dengan orang pintar"

""Kau juga suka kepadaku?"

"Jika aku tidak suka kepadamu, sekarang kau sudah menjadi sesosok mayat"

Suara itu masih diucapkan dengan lembut halus dan merdu sekali, namun Liu Yok siong yang mendengar ucapan itu segera merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dia berada di belakang punggungnya, bahkan dapat ia rasakan napasnya sewaktu dia sedang berbicara.

Tapi apa lacur dia justru tidak melihat dirinya.

Seandainya perempuan itu benar-benar menginginkan nyawanya, jelas hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan baginya .....

Tak tahan lagi dia lantas bertanya.

"Tahukah kau siapakah diriku ini?"

"Tentu saja aku tahu aku memang datang kemari untuk mencarimu"

"Dan kau siapa pula dirimu?"

"Aku adalah perempuan, seorang perempuan yang cantik sekali"

Setelah suaranya yang merdu seperti keleningan, dia melanjutkan.

"Kujamin kau belum pernah menjumpai seorang perempuan yang cantik jelita seperti diriku ini"

Terhadap gadis-gadis yang berparas cantik, selamanya Liu Yok siong mempunyai rasa tertarik yang amat tebal.

Dia percaya apa yang dikatakan gadis itu pasti tidak bohong, sebab gadis yang berwajah jelek pasti tak akan memiliki suara merdu merayu seperti suara gadis ini.

Sehingga tak tahan lagi, dengan nada menyelidik dia bertanya.

"Bolehkah aku melihat wajahmu?"

"Kau benar-benar ingin melihatku?"

""Sungguh!".

""Tapi, seandainya setelah melihat diriku nanti tiba-tiba kau terpikat oleh kecantikan wajahku, lantas bagaimana?"

"Sekalipun kena kau pikat sampai matipun juga bersedia"

Bisa mati hanya dikarenakan terpikat oleh seorang gadis yang cantik rupawan memang tak bisa terhitung sebagai suatu peristiwa yang menderitakan batin.

""Kau, tidak menyesal?"

"Gadis itu menegaskan.

"Aku tak akan menyesal"

"Tapi bila di kemudian hari kau tak mau menuruti perkataanku lagi, maka kau akan menyesal"

Ucapanku amat tegas.

"sebab aku paling benci dengan lelaki yang tidak mau menuruti perkataanku "Aku pasti akan menuruti perkataanmu"

"Kalau memang begitu, sekarang juga kau kembali berbaring di atas ranjang dan pergunakan selimut untuk menutupi kepalamu""

"Kalau kepalaku ditutupi dengan selimut mana mungkin aku bisa melihat wajahmu?"

"Walaupun sekarang kau tak dapat melihat wajahku, malam nanti akan kau menjumpai diriku"

Dengan suara dingin dia melanjutkan.

"Jika kau tak mau menuruti perkataanku, selama hidup jangan harap kau bisa berjumpa lagi denganku."

Tanpa banyak bertanya lagi Liu Yok siong segera membaringkan diri di atas ranjang dan menutupi kepalanya.

dengan selimut.

Melihat kesempatan itu, sambil tertawa kembali gadis itu berkata.

Tengah malam nanti, bila kau datang ke kebun belakang sana, kau akan segera berjumpa denganku"

"Aku pasti akan kesana"

Ooo0ooo SEBETULNYA Liu Yok siong sudah bukan Seorang bocah lagi.

Dikala orang lain masih berada dalam masa kanak-kanak, ia sudah bukan seorang kanakkanak lagi.

Tapi malam ini ternyata dia berubah menjadi seorang kanak-kanak lagi, begitu menurut seperti seorang bocah, bahkan bergembira ria seperti seorang bocah..Dia bukanlah seorang lelaki yang belum pernah melihat perempuan.

Semenjak dia betul-betul masih seorang bocah, ia telah berhubungan dengan pelbagai macam perempuan.

Dia memang selalu tertarik kepada kaum wanita, sedang kaum wanita pun seakan-akan selalu tertarik kepadanya.

Buktinya, perempuan yang menjadi bininya sekarang adalah perempuan pilihan di antara perempuan.

Tapi hari ini, demi seorang perempuan yang belum pernah dijumpainya, ternyata secara tibatiba ia berubah menjadi seperti kanak-kanak lagi.

Perempuan itu memang terlalu misterius, datang dengan misterius, pergi dengan misterius, bahkan ilmu silat yang dimilikipun sangat misterius sekali.

Yang paling penting adalah dia percaya kalau perempuan itu, tidak menaruh maksud jahat kepadanya.

Tapi, siapakah perempuan itu?.

Kenapa dia datang mencarinya?

************************* Halaman 57 -58 hilang ************************* Dengan termangu Liu Yok siong memperhatikan gadis itu, seakan-akan sudah terperana dibuatnya hingga lupa daratan.

Gadis itu sendiri hanya berdiri tenang, seakan-akan memberi kesempatan kepadanya agar ia dapat memandangnya hingga puas.

Entah berapa saat sudah lewat, tiba-tiba gadis itu memperdengarkan suara tertawanya yang merdu merayu bagaikan suara keleningan, setelah itu tegurnya.

"Kau sudah merasa puas?"

Liu Yok siong manggut-manggut. tapi kemudian menggelengkan pula kepalanya.

"Jika kau sudah merasa cukup memandang wajahku, aku hendak mengajakmu untuk pergi melihat seseorang"

"Pergi melihat siapa?"

Tanya Liu Yok siong.

"Apakah dalam dunia ini masih terdapat orang lain yang jauh lebih menarik daripada dirimu?"

"Orang itu sama sekali tidak menarik untuk dilihat, tapi aku tahu kau pasti ingin sekali pergi menjenguknya"

Mendadak dia melayang datang dan menggandeng lengannya.

Dengan cepat dia merasakan sekujur badannya seakan-akan terbawa melayang di tengah mega yang tebal, sehingga tanpa terasa tubuhnya turut melayang kemana gadis itu pergi.

Dengan cepat badannya sudah melayang melewati tumpukan salju dalam kebun, melewati dinding pekarangan yang tinggi, melewati sungai kecil yang telah membeku....

Badannya seolah-olah berubah menjadi enteng, enteng sekali, berubah menjadi segumpal bunga salju.

sekuntum mega ...

Dia seringkali bermimpi, bermimpi dirinya dapat terbang, setiap bocah hampir semuanya pernah mendapat impian seperti ini.

Tapi sekarang, dan sama sekali bukan lagi bermimpi.

Menanti dia tersadar kembali dari lamunannya, mereka telah tiba di atas bukit seberang sana, tiba didalam halaman perkampungan yang megah dan mentereng itu.

Dalam kegelapan malam seperti ini, halaman rumah tersebut bagaikan sebuah taman dalam impian, bila dibandingkan dengan perkampungannya, maka perkampungan Siang siong san-ceng dimana ia berdiam selama ini ibaratnya sebuah rumah kayu yang bobrok.

"Baik bangunan rumah itu maupun kebunnya, semua telah selesai digarap, sekarang tak perlu dikerjakan dengan lembur lagi, di tengah malam yang begitu dingin para tukang kayu itu sudah pergi tidur semua dengan nyenyaknya.. Gadis itu mengajaknya melihat satu tempat demi satu tempat, hampir saja ia mulai menaruh curiga, apakah dia masih hidup di dunia ini atau tidak.. ? Mendadak gadis itu bertanya.

"Tahukah kau milik siapakah perkampungan ini?"

"Aku tahu!"

"Inginkah kau berjumpa dengan majikan perkampungan ini?"

"Dia berada di sini?"

"Oleh karena perkampungan ini sudah selesai sebelum waktunya, maka diapun datang jauh lebih awal"

Tiba-tiba badannya melayang turun, melayang turun di atas seberang ranting pohon yang berlapiskan salju, ternyata lapisan salju itu sama sekali tidak berguguran akibat dari injakan kaki mereka itu.

Iapun pernah berlatih ilmu meringankan tubuh, tapi belum pernah disangka olehnya kalau dalam dunia ini ternyata masih ada orang yang sanggup melatih ilmu meringankan tubuhnya hingga mencapai tingkatan yang begitu sempurnanya.

Gadis itu hanya menahan tubuhnya dengan tangan sebelah, tapi tubuhnya seakan-akan berubah menjadi enteng seperti tiada bobotnya lagi .....

Apakah dia menggunakan ilmu sesat atau ilmu sihir?"

"Walaupun malam itu tak berbintang tak berembulan, namun di bawah pantulan cahaya salju, dia masih dapat melihat pemandangan yang cukup jauh ..... Dikejauhan sana terdapat sebuah batu hijau yang sangat besar, kelihatannya halus, licin, berkilat dan keras sekali. Tak tahan Liu Yok siong segera bertanya.

"Apakah Ting Peng pasti akan datang ke mari?"

"Dia pasti akan datang kemari"

"Malam sudah begini larut, mau apa dia datang kemari?"

"Menggunakan batu itu untuk mencoba goloknya!"

"Dari mana kau bisa tahu?"

Gadis itu segera tertawa, sahutnya. Tentu saja aku tahu, asal aku ingin mengetahui suatu persoalan, aku akan mengetahuinya dengan jelas...

"Setiap orang semuanya mempunyai banyak persoalan yang ingin diketahuinya, sayang persoalan yang benar-benar bisa diketahui tidak banyak jumlahnya. Kenapa gadis itu bisa mengetahui segala sesuatu yang dia ingin ketahui? Apakah disebabkan dia memiliki semacam kekuatan ibis yang melebihi orang biasa? Liu Yok siong tak berani bertanya, juga tak punya kesempatan untuk bertanya. Sebab waktu itu, dia telah melihat Ting Peng. ooo0ooo TING PENG telah berubah, sekarang ia sudah bukan seorang pemuda yang berangasan dan tidak tahu apa-apa seperti dulu lagi. Sekarang., bukan saja ia menjadi lebih matang dan tenang, lagi pula wajahnya memancarkan suatu rasa percaya pada diri sendiri yang melampaui segala sesuatu. Dia telah datang dengan langkah lebar, seakan-akan seperti tak dapat tidur pada malam itu, maka dia datang kesana untuk berjalan-jalan mencari udara segar. Akan tetapi permukaan salju yang dilewatinya sama sekali tidak meninggalkan bekas telapak kaki. Sebilah golok tersoren di pinggangnya sebilah golok yang melengkung seperti bulan sabit. Yaa, bentuk golok itu memang aneh sekali, sebab tubuh golok justru berbentuk melengkung. Golok lengkung Itu bukan golok lengkung milik Cing cing, golok itu sengaja dibuatnya dengan besi baja biasa sekembalinya dia ke alam semesta. Tapi sekarang entah golok macam apapun yang dipergunakan olehnya, ia sudah tiada tandingannya di kolong langit. (Bersambung

Jilid 06) Jilid.

6 KETIKA tiba di depan batu hijau, mendadak goloknya diloloskan dari dalam sarungnya.

Liu Yok siong sama sekali tidak melihat gerakannya ketika meloloskan golok itu, sebab tahutahu golok itu sudah diloloskan dari dalam sarungnya ....

Cahaya golok berkelebat lewat membawa semacam gerakan busur yang sangat aneh, lalu membacok ke atas batu hijau itu.

Bacokan itu hanya dilakukan olehnya dengan suatu gerakan yang amat sederhana dan bersahaja, tapi begitu golok tersebut membabat ke bawah, suatu peristiwa anehpun muncul.

Batu hijau yang tampaknya lebih keras dari pada baja itu ternyata telah terbacok menjadi dua bagian oleh babatan golok tersebut.

Golok itu sudah dimaksudkan kembali ke dalam sarungnya.

Ting Peng telah pergi amat jauh, tampaknya masih berjalan santai, tapi sekejap kemudian dia sudah pergi amat jauh.

Di atas permukaan salju sama sekali tidak dijumpai bekas telapak kaki, seolah-olah tak pernah ada orang yang berkunjung ke sana.

Gadis itu segera membawa Liu Yok siong melompat turun dari atas dahan pohon, kemudian katanya.

"Coba kau periksa batu hijau tersebut!"

Setelah diraba dengan tangan, dia baru tahu kalau batu tersebut tampaknya jauh lebih keras daripada sebuah besi baja.

Tapi sekarang, batu hijau yang lebih tinggi daripada manusia dan lebih besar daripada meja itu sudah terbelah menjadi dua bagian oleh sebuah bacokan Ting Peng yang dilancarkan seenak hatinya.

Malam semakin kelam, angin yang berhembus lewat terasa makin dingin, namun Liu Yok siong sedang mengucurkan keringat, seluruh tubuhnya telah basah oleh peluh dingin.

Terdengar gadis yang mengenakan gaun berwarna putih bersih bagai salju itu berkata.

"Yang dipergunakan olehnya bukan ilmu sihir, melainkan ilmu goloknya ....!"

Pelan-pelan Liu Yok siong mengangguk.

"Dapat kulihat kalau dia memang mempergunakan goloknya"

"Dapatkan kau saksikan perubahan dari ayunan goloknya tadi?"

"Aku tak dapat melihatnya"

Gadis berbaju putih salju itu segera tersenyum.

"Tentu saja kau tak dapat melihatnya, sebab ayunan golok itu memang dilakukannya tanpa perubahan"

Walaupun bacokan golok itu merupakan bacokan golok yang mengejutkan dan paling menakutkan yang pernah dilihat Liu Yok siong sepanjang hidupnya namun ayunan golok tersebut memang benar-benar tanpa perubahan...

Ayunan golok itu amat sederhana, amat lamban langsung dan gamblang, akan tetapi justru mendatangkan suatu kekuatan yang sangat besar dan mengerikan hati.

Seandainya Liu Yok siong tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dia pasti tak akan percaya kalau golok yang terbuat dari besi baja biasa itu ternyata memiliki daya kekuatan yang begitu menakutkan.

Terdengar gadis berbaju putih itu berkata lagi.

"Walaupun ayunan goloknya itu tanpa perubahan apa-apa, namun justru mengandung semua inti sari dan semua perubahan yang ada dalam ilmu golok"

"Mengapa?"

"Sebab cara yang digunakan olehnya di dalam ayunan tadi, baik soal sistim tempat, bagian, waktu, kekuatan dan kecepatan semuanya telah diatur menurut suatu ilmu perkiraan yang sempurna, dan secara kebetulan sekali justru dapat membuat segenap tenaga yang dimilikinya bisa tersalurkan mencapai puncak yang di inginkan"

Keterangan semacam ini memang bukan suatu perkataan yang mengandung arti mendalam.

Kecepatan, cara, waktu sesungguhnya memangnya dapat mempengaruhi perubahan kekuatan dari setiap benda.

Sesungguhnya itulah makna yang sebenarnya dari ilmu silat, oleh karena itulah.

ilmu silat baru bisa menggunakan gerakan lamban mengalahkan kecepatan, menggunakan gerakan lemah menangkan gerakan kuat.

Bila kau dapat memanfaatkan kekuatan yang dapat terpancar oleh semacam benda hingga mencapai pada puncaknya, sekalipun kau gunakan sebatang ranting kering juga bisa menembusi tameng kuat.

Kembali gadis berbaju putih itu berkata.

"Untuk bisa melatih bacokan golok yang sama sekali tanpa perubahan ini, seseorang harus memahami dahulu segenap perubahan yang berada dalam suatu ilmu golok, aku tahu Ting Peng telah melatihnya cukup lama"

Setelah tertawa, dia melanjutkan.

"Tapi bacokan golok tersebut bukan dipersiapkan untuk menghadapi dirimu..."

"Aku tahu, untuk menghadapi diriku, hakekatnya dia tak perlu mempergunakan ilmu golok semacam ini"

"Dia melatih golok tersebut, tujuannya adalah ingin menghadapi Sam sauya dari keluarga Cia"

"Cia Siau hong dari perkampungan Sin kiam san seng?"

Liu Yok siong menjerit kaget.

"Ya, selain dia, masih ada siapa lagi?"

Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan.

"Karena ilmu pedangnya sudah mencakup seluruh perubahan yang ada didalam ilmu pedang, Ting Peng harus menggunakan sebuah jurus serangan yang sama sekali tiada perubahan itu untuk menghadapi dirinya"

Liu Yok siong segera tertawa getir, katanya.

"Seandainya aku belum pernah menyaksikan ayunan goloknya tadi, aku pasti akan menganggap dia sudah gila"

Hanya orang gila baru berkeinginan untuk pergi mengalahkan Cia Siau hong..

Tapi sekarang dia telah menyaksikan bacokan goloknya itu, entah bacokan itu dapat mengalahkan Cia Siau hong atau tidak, untuk memenggal batok kepalanya jelas bukan suatu masalah yang sulit.

"Pernahkah kau bayangkan bahwa dalam empat tahun yang begitu singkat, dia telah berhasil memiliki ilmu golok semacam ini?"

Tanya gadis berbaju putih itu kemudian.

"Aku sama sekali tidak menyangka"

Setelah menghela napas panjang, terusnya.

"Hakekatnya mimpipun aku tak pernah menyangkanya..."

"Tentu saja kau tak akan menyangkanya sebab di dunia ini memang tak ada ilmu golok semacam ini"

"Kalau memang di dunia ini tak terdapat ilmu golok semacam itu bagaimana dia melatih diri?"

Gadis berbaju putih itu tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.

"Dulu, apakah kau pernah membayangkan didalam waktu hanya beberapa bulan saja dia dapat membangun sebuah perkampungan yang begitu anggun, mewah dan megah?"

"Akupun tak pernah menduganya"

"Tapi sekarang perkampungan ini telah selesai dibangun"

Setelah berhenti sejenak pelan-pelan sambungnya.

"Semua perbuatan yang sebenarnya tak mungkin bisa dikerjakan oleh tenaga manusia ia dapat melakukan semua, bila dia ingin menggunakan semacam kekuatan untuk menghadapimu, kau bersiap untuk berbuat bagaimana ?.

"Tampaknya aku ... aku tinggal menunggu datangnya kematian"

Jawab Liu Yok siong kemudian.

"Kau ingin mati ?"

"Tidak, aku tidak ingin mati"

Gadis berbaju putih itu segera menghela napas panjang, katanya.

"Sayang sekali, tampaknya kau sudah pasti akan mati !"

"Kenapa dia belum juga turun tangan?"

"Sebab dia hendak menunggu sampai tanggal lima belas bulan depan"

"Mengapa dia harus menunggu sampai hari itu?"

"Pada hari itu dia hendak melangsungkan suatu perjamuan besar di sana, dia hendak membongkar kedok dan tipu muslihat di hadapan para enghiong hohan yang ada dikolong langit, bukan saja dia hendak membuat kau mati, nama baikmu juga akan dirusak"

"Tipu muslihatku? Tipu muslihat apa?"

"Kau tentunya tahu sendiri tipu muslihat apakah yang kumaksudkan itu, maka. kaupun tak usah mengelabuhi diriku"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan dingin.

"Mungkin kali masih menganggap dia tak dapat mengeluarkan bukti untuk membongkar siasatmu itu, maka orang lain tak akan percaya dengan perkataannya. Namun sekarang, setiap ucapan merupakan fakta, merupakan bukti, karena dia lebih kaya daripada dirimu, lebih berkuasa. Kalau dia mengatakan dengan jurus Thian gwa liu-seng (bintang lewat dari luar langit) merupakan ciptaannya, siapa yang tak akan percaya dan siapa yang berani tidak percaya?"

Mendengar disebutkannya kata "Thian gwa liu seng"

Tersebut, paras muka Liu Yok siong berubah makin hebat, katanya tanpa terasa.

"Darimana kau bisa tahu tentang persoalan ini.?"

"Sudah kukatakan asal ada persoalan yang ingin kuketahui, aku pasti dapat mengetahuinya"

"Sebenarnya siapa kau?"

"Aku adalah bintang penolongmu, satu-satunya bintang penolongmu"

"Bintang penolong?"

"Walaupun sekarang kau sudah pasti akan mati, tapi aku masih dapat menolongmu."

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya dengan hambar.

""Sekarang hanya aku pula yang dapat menolongmu, sebab kecuali aku, di dunia ini tak akan ada orang kedua yang sanggup menghadapi Cing cing .!"

Cing cing. Untuk pertama kalinya Liu Yok siong mendengar nama ini tentu saja dia keheranan, sehingga tak tahan tanyanya.

"Cing cing? Siapakah Cing cing?"

"Cing cing adalah isteri Ting Peng, Ting Peng dapat melakukan banyak pekerjaan yang sebetulnya tak mampu dilakukan dengan tenaga manusia, karena dia mempunyai Cing Cing"

Mendadak suaranya berubah menjadi sangat aneh, lanjutnya.

"Yang sungguh menakutkan bukanlah Ting Peng, melainkan Cing cing, aku berani menjamin, selama hidup kau tak akan pernah membayangkan sampai dimanakah menakutkannya perempuan itu"

"Tapi selama ini belum pernah kudengar tentang seorang manusia semacam itu di dalam dunia persilatan".

"Tentu saja kau belum pernah mendengarnya, sebab dia sama sekali bukan manusia" ************************* Halaman 13 -14 hilang ************************* Cerita dongeng tentang siluman rase yang sakti sudah banyak didengar, terutama sewaktu masih kecil dulu. Dia selalu beranggapan, cerita-cerita semacam ini hanya akan dipercaya oleh orang-orang desa. Tapi sekarang, mau tak mau dia harus mempercayainya, sebab dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kejadian itu, bahkan jauh lebih tak masuk diakal daripada apa yang didengarnya dalam dongeng. Perempuan cantik yang anggun dan berdiri disampingnya sekarang, apakah termasuk juga seorang siluman rase? Tentu saja dia tak berani bertanya. Entah perempuan ini manusia? atau rase? Tampaknya dialah satu-satunya bintang penolong baginya. Kecuali dia, ia benar-benar tidak tahu, siapakah yang dapat menyelamatkan dirinya lagi?"

Walaupun demikian, dia toh tak tahan untuk bertanya juga.

"Kenapa kau datang untuk menolongku?"

Gadis cantik berbaju putih itu segera tertawa, sahutnya.

"Soal ini memang merupakan suatu masalah yang sangat penting, kau memang seharusnya mengajukan pertanyaan ini kepadaku"

"Tentu saja kau tak akan menolongku, tanpa suatu sebab musabab bukan?"

"Tentu saja tidak"

Setelah tertawa, lanjutnya.

"Kalau aku mengatakan aku tertarik kepadamu maka baru datang menolongmu, tentu kaupun tak akan percaya, aku dapat melihat bahwa kau bukanlah seorang lelaki yang suka mengunggulkan diri"

Liu Yok siong turut tertawa, katanya.

"Sewaktu masih muda dulu, aku pernah selalu mengunggulkan diri, untung saja waktu seperti itu kini sudah lewat"

"Di sana terdapat sebuah pohon, asal kau bersembunyi di belakang pohon dan menunggu aku di situ kau akan segera tahu mengapa aku datang menolongmu"

Kemudian ia menambahkan.

"Tapi kau harus ingat selalu, perduli kejadian apa saja yang kau lihat, jangan sekali-kali kau perdengarkan suara, lebih-lebih jangan bergerak. kalau tidak, bahkan akupun tak sanggup untuk menyelamatkan dirimu"

Maka Liu Yok siong pun bersembunyi di belakang pohon, tak sampai berapa lama, ia menyaksikan seseorang muncul dari kegelapan.

Dia adalah seorang gadis yang ramping, mengenakan gaun hijau dan cantik seperti bidadari dalam lukisan.

ooooo0ooooo LAN LAN DAN CING CING CING CING.

Yang datang sudah pasti adalah Cing cing.

Ketika gadis berbaju putih itu melihat kemunculan gadis berbaju hijau tersebut, dari jauh dia sudah tertawa.

Suara tertawanya amat nyaring dan merdu.

Dari kejauhan gadis berbaju putih itu telah menyongsong kedatangannya, malah dia berseru.

"Cing cing, Cing cing, tahukah kau betapa kangennya aku kepadamu?"

Cing cing juga tertawa merdu, lalu menyahut.

"Lan lan, Lan lan, tahukah kau akupun sangat kangen kepadamu?"

Sekarang Liu Yok siong baru tahu, rupanya tuan penolongnya itu bernama Lan lan.

Mereka berdua, yang satu bernama Cing-cing, yang lain bernama Lan lan, kedua orang itu kelihatan mesrah sekali.

Cing cing adalah istrinya musuhnya, Cing cing sedang bermaksud untuk merenggut nyawanya Mengapa Lan lan hendak menolongnya?

Jangan-jangan semuanya ini hanya merupakan perangkap yang telah mereka persiapkan?

Hampir saja Liu Yon siong tidak tahan dan ingin melarikan diri terbirit-birit dari situ.

Dia tidak kabur, bukan karena dia penurut, melainkan karena dia tahu mustahil baginya untuk bisa meloloskan diri dari sana.

Perduli kepandaian yang dipergunakan Lan lan tadi adalah ilmu meringankan tubuh atau ilmu sihir, untuk membekuknya, dia dapat melakukan hal ini bagaikan burung elang yang menangkap anak ayam.

Oleh karena itu dia sama sekali tak berani bergerak.

Cing cing dan Lan lan masih tertawa, suara tertawa mereka manis lagi mesrah.

""Kau benar benar rindu kepadaku?"

Tanya Lan lan.

"Tentu saja aku amat rindu kepadamu, hakekatnya aku rindunya setengah mati.."

Sahut Cing cing.

"Akupun rindunya setengah mati kepadamu."

"Aku rindu kepadamu sampai ingin nyawamu !"

"Akupun rindu kepadamu sampai menginginkan nyawamu"

Setelah kedua orang Itu sama-sama mengungkapkan rasa rindunya, tentu masih banyak, banyak sekali perkataan yang hendak disampaikan.

Kedua orang gadis itu segera saling bertumbukan seakan-akan memang ada persoalan yang belum diselesaikan.

Siapa sangka ternyata ucapan mereka telah selesai, mendadak saja selesai.

Tiba tiba Cing cing membalikkan badan, kemudian berjalan masuk ke dalam kegelapan sedangkan Lan-lan mendadak roboh terkapar di tanah.

Liu Yok siong menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian itu.

Kemunculan Cing cing sama sekali di luar dugaan, tapi kepergiannya juga sama sekali di luar dugaan.

Akibatnya jauh lebih mencekam hati lagi.

Dia ingin maju ke depan, ingin menengok mengapa secara tiba-tiba Lan lan roboh ke tanah, namun dia sama sekali tak berkutik.

Untung saja Lan-lan telah melompat lagi, seperti burung walet dia melayang ke sampingnya, kemudian sambil menarik lengannya dia berseru dengan cemas.

"Mari kita pergi, cepat tinggalkan tempat ini"

Ia pergi dengan gerakan amat cepat, jauh lebih cepat daripada sewaktu datang tadi.

Lan-lan telah mengajaknya balik ke kebun belakang perkampungan Siang siong san-ceng, setelah itu baru menghembuskan napas panjang, bisiknya pelan.

"Sungguh berbahaya"

"Baru selesai mengucapkan perkataan itu, kembali tubuhnya roboh ke atas tanah. Sekarang Liu Yok siong sudah agak mengerti, kemungkinan besar Lan-lan sudah kena disergap oleh Cing cing. Dia sendiri bukannya tak pernah melakukan perbuatan munafik seperti ini, apalagi menyembunyikan golok dibalik senyuman. Dia hanya berharap sekarang luka yang diderita Lan lan tidak terlampau berat. Sebab sekarang dia sudah mempercayainya penuh, hanya dia yang dapat menolong dia, hanya dialah satu satunya bintang penolong baginya. Sekarang Lan lan sudah duduk di atas tanah, duduk bersila di atas permukaan salju dengan gaya seorang pendeta yang paling sempurna. Lewat berapa saat kemudian tiba-tiba dari atas kepalanya mengepul keluar hawa panas yang menggumpal, kemudian permukaan salju yang berada di bawahnya mulai mencair, air yang mencair bukan berwarna putih, melainkan hijau menyeramkan. Salju itu mencair dengan amat cepatnya seperti selembar kertas yang kena tersulut api, dalam sekejap mata di tengahnya telah muncul sebuah lubang amat besar. Tiba-tiba saja di atas permukaan salju itu telah muncul sebuah lingkaran berwarna hijau menyeramkan, besarnya melebihi permukaan sebuah meja bulat. Mendadak Lan lan menggulung ujung baju lengannya sehingga tampaklah sebuah lengan yang putih halus menggairahkan. Yang diperlihatkan sekarang adalah sebuah lengan kirinya. Sewaktu dia sedang bermesrahan dengan Cing cing tadi, agaknya lengan inilah yang dipakainya untuk menepuk pelan tubuh lawan. Kemudian dia menggerakkan pula lengan kanannya, dengan dua jari tengah dan telunjuknya yang lembut dan halus dia menjepit sesuatu dari atas jalan darah Ci ti hiat di atas lengan kirinya, ternyata sebatang jarum perak sepanjang tiga inci yang telah tercabut keluar. Liu Yok siong memperhatikan terus tangannya itu, namun tak sempat diikuti olehnya bagaimana cara gadis itu untuk mencabut keluar jarum perak itu. Tapi dia dapat melihat bahwasanya gadis itu sudah lolos dari mara bahaya, sebab dia sudah bangkit berdiri, lalu menghembuskan napas panjang.

"Sungguh berbahaya"

Keluhnya kemudian, seandainya akupun tidak mengadakan persiapan lebih dulu, mungkin hari ini aku sudah tewas di tangannya"

Liu Yok siong juga turut menghembuskan napas lega, katanya sambit tertawa getir.

"Sekarang akupun baru mengerti, ketika dia mengatakan rindu kepadamu sehingga mengingini nyawamu, rupanya kaupun menginginkan nyawanya, ketika ia mengatakan rindu kepadamu sampai setengah mati, kaupun rindu kepadanya sampai setengah mati"

Lan lan tersenyum manis.

"Kau memang pintar sekali!"

Pujinya.

"Tapi aku tidak habis mengerti, kalau memang sergapannya berhasil, kenapa dia malah pergi secara tiba-tiba?"

"Sebab ketika aku bilang rindu dia sampai mati, aku memang menginginkan agar dia mati sungguh-sungguh"

Suara tertawanya telah pulih kembali seperti sedia kala, lanjutnya lebih lanjut.

"Oleh sebab itu, ketika dia menghadiahkan sebatang jarum kepadaku, akupun mengerjai tubuhnya, aku yakin penderitaan yang dialaminya pasti tak akan lebih ringan daripada apa yang ku derita, sekarang jika ia tidak cepat-cepat pergi, mungkin dialah yang akan mati duluan daripada diriku"

Liu Yok siong ikut tertawa lebar. Dia sendiripun pernah melakukan perbuatan semacam ini, akan tetapi jika dibandingkan dengan mereka, paling banter dia hanya bisa dihitung sebagai muridnya.

"Sekarang tentunya kaupun sudah memaklumi bukan, kenapa aku hendak menolongmu"

Ucap Lan lan.

""Karena Cing cing?"

"Tepat sekali!"

Dengan gemas dan penuh rasa dendam, ia melanjutkan.

"Sepanjang hidupku hanya mempunyai seorang musuh, musuhku itu tak lain adalah dia, ia hendak mencelakaimu maka akupun menolong dirimu, dia membantu Ting peng, aku pun membantu dirimu"

"Aku pasti akan membalaskan rasa mendongkolmu itu"

Dengan cepat Liu Yok siong berjanji.

"Oleh karena aku dapat melihat kalau kau melebihi Ting peng, maka kau baru kupilih, seperti juga Cing cing memilih Ting peng"

Mendengar perkataan itu, Liu Yok siong merasakan jantungnya sedang berdebar keras.

Cing cing memilih Ting Peng, maka dia kawin dengan Ting Peng.

Dan sekarang perempuan yang bernama Lan-lan ini memilihnya, mengapa dia memilih dirinya ?.

Terdengar Lan lan berkata lagi.

"Aku bukan cuma dapat menolongmu, malah dapat pula kulakukan banyak pekerjaan yang mimpipun tak pernah kau duga"

Tiba-tiba dia menggenggam tangan Liu Yok siong dengan lembut dan halus, kemudian pelanpelan berkata.

"Bahkan akupun bersedia untuk kawin denganmu"

Detak jantung Liu Yok siong kedengaran menggema semakin keras, hampir saja ia tak sanggup mengendalikan diri. Lan-lan kembali berkata.

"Kalau bukan lantaran kau sudah beristri, aku pasti akan menikah denganmu"

Setelah menghela napas panjang, ia melanjutkan.

"Ting Peng tidak beristri, maka kau hanya dalam hal ini saja yang tak dapat menandinginya, kecuali......"

"Kecuali bagaimana?"

"Kecuali istrimu mati secara tiba-tiba"

Dengan suara hambar dia melanjutkan.

"Setiap orang pasti akan mati, mati lebih cepat, mati lebih lambat, sesungguhnya sama sekali tiada perbedaan yang terlalu besar "

Liu Yok siong tidak berbicara lagi, tentu saja dia dapat memahami apa yang dimaksudkan gadis itu. Terdengar Lan lan berkata lebih jauh.

"Kau bilang dia toh akan pergi dari sini, bagimu hidup atau mati dari istrimu itu sudah tiada perbedaannya lagi?"

Kalau dia telah pergi, soal mati atau hidup memang sama sekali tidak perbedaan yang terlalu besar lagi bagiku"

"Tapi setelah pergi dia toh bisa balik lagi, bagaimanapun juga ia toh masih berstatus sebagai Liu Hujin, bila dia ingin kembali kemari, setiap saat dia dapat kembali ke sini"

"Seandainya dia sudah bukan Liu hujin lagi?"

Tanya Liu Yok siong kemudian sambil menatap wajah gadis itu.

"Tentu saja besar pula perbedaannya"

Pelan-pelan dia menurunkan tangannya, kemudian melanjutkan.

"Aku hanya berharap kau bisa mengingatnya selalu, bila kau ingin memperoleh sesuatu hasil, maka kau harus membayar dulu dengan suatu pengorbanan yang berarti."

Ooooo0ooooo BULAN sebelas tanggal dua puluh sembilan.

Semalaman suntuk Liu Yok siong tak dapat tidur, dia teringat diri Ting Peng, teringat Cing cing, teringat siluman rase, teringat istrinya, teringat pula dengan sambaran golok Ting Peng yang dilakukan dengan kecepatan seperti sambaran kilat itu.

Tentu saja soal Lan-lan yang paling banyak dia pikirkan dan dia bayangkan.

Kemisteriusan Lan-lan, kecantikan Lan-lan, daya iblis yang dimiliki Lan-lan, kehangatan dan kelembutan sikap dari Lan-lan sewaktu menggandengnya, serta lengan Lan-lan yang digulung hingga berada dalam keadaan telanjang itu...

Ia tak bisa menghilangkan ingatan tersebut dari dalam benaknya.

Terbayang lengannya yang putih dan halus itu, mau tak mau diapun membayangkan pula bagian tubuh lainnya dari gadis tersebut.

Terbayang bagian-bagian lain dari tubuhnya itu mendadak Liu Yok siong merasakan timbulnya suatu dorongan kekuatan yang amat besar seperti dorongan kekuatan seorang pemuda.

Seandainya Lan-Lan benar-benar akan kawin dengannya, setiap hari setiap detik dia ingin meniduri gadis itu sampai sepuas-puasnya.

Bila ia dapat menikahi seorang istri semacam itu, masalah apakah yang akan merisaukan dirinya lagi?

Tentu saja diapun tak dapat tidak untuk memikirkan semua perkataan yang pernah diucapkan Lan-lan kepadanya itu, bila kau ingin mendapatkan sesuatu maka kau harus membayar dulu sejumlah pengorbanan yang sama nilainya dengan apa yang kau harapkan.

Oleh karena itu pagi-pagi sekali dia sudah bangun kemudian pergi mencari istrinya yang sudah lama tidur secara terpisah dengannya itu.

Tapi tak tahan, ia berpikir juga bagaimana seandainya secara tiba-tiba istrinya itu berubah menjadi seekor anjing betina?

Dia tidak tega membayangkan lebih lanjut.

Jalan pemikiran semacam ini, bagaimana-pun juga memang merupakan suatu hal yang amat tidak menyenangkan.

Istrinya tidak berubah men adi seekor anjing betina, tapi dia telah berubah menjadi seorang ibu.

Tentu saja bukan ibu dari anak mereka.

Mereka tidak dikaruniai seorang anakpun.

Kini dia seakan-akan telah berubah menjadi ibunya Song Tiong, sebab bagaikan seorang anak-anak, Song Tiong sedang tertidur didalam pelukannya yang mesrah.

Setelah menyaksikan Liu Yok siong muncul di sana tentu saja Song Tiorg yang paling terperanjat, bagaikan seekor anak kelinci yang kena dianak panah, serentak dia melompat bangun dari atas pembaringan, lalu dengan badan masih telanjang bulat melarikan diri terbirit birit dari situ.

Tapi Liu Yok siong tetap tenang, seakan-akan tidak menyaksikan kejadian semacam itu.

Sesungguhnya mereka suami istri berdua sudah mengadakan perjanjian, sang suami tidak seharusnya masuk ke kamar sang istri dalam keadaan sepagi ini demikian pula sebaliknya.

Liu Yok siong seperti tak marah barang sedikitpun jua karena dia memang tak bisa marah.

Liu Hujin pun tidak marah, bukan lantaran dia tak punya alasan untuk marah, melainkan karena dia benar-benar terlalu lelah.

Seseorang apabila menyaksikan istri sendiri menunjukkan sikap yang begitu "kecapaian"

Entah bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu.

Namun Liu Yok siong seolah-olah tidak merasakan apa-apa, sekalipun dalam hatinya merasakan sesuatu, hal itu juga tidak diperlihatkan diatas wajahnya.

Dengan ogah-ogahan Liu hujin menggeliatkan tubuhnya lalu menguap, katanya kemudian sambil tertawa paksa.

"Pagi benar bangunmu hari ini ?"

"Ehmm .....!"

Liu Yok siong mengangguk.

"Inginkah kau tidur sebentar di sini?"

Pertanyaan dari Liu hujin ini amat jitu. Namun jawaban dari Liu Yok siong jauh lebih jitu lagi. Tiba-tiba ia berkata.

"Pergilah kau, tak usah menunggu sampai besok lagi, sekarang kau juga boleh pergi! . Kebanyakan perempuan, bila mereka mendengar suaminya mengucapkan kata-kata semacam itu kepada mereka, sudah pasti mereka akan bertanya. Mengapa kau minta aku pergi saat ini juga? Apakah kau akan pergi bersamaku? Kebanyakan perempuan, sudah pasti tak akan membungkam dalam seribu bahasa dalam keadaan seperti ini. Namun, Liu hujin memang jauh berbeda dengan kebanyakan perempuan lain. Dia tidak berkata apa-apa, sepatah kata pun tidak diucapkan. Kembali Liu Yok siong berkata.

"Terserah kau hendak kemana? terserah kau hendak berbuat apa? Dulu aku tak pernah mengurusi dirimu, di kemudian hari aku lebih-lebih tak akan mengurusi dirimu, mulai sekarang kau she Chin dan aku she Liu, kita sudah tiada ikatan atau hubungan apa-apa lagi, kaupun tak usah balik kemari lagi untuk selama-lamanya"

Ucapan tersebut diucapkan dengan tandas dan bersifat fatal.

"Bila perempuan-perempuan lain yang mendengar suaminya mengucapkan kata-kata yang tandas dan tajam seperti ini, sekalipun mereka tidak melompat-lompat sambil menangis tersedusedu, atau berteriak seperti orang gila, sudah pasti orang-orang itu akan kesedihan setengah mati. Namun perempuan itu sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa, dia hanya memandang wajahnya dengan tenang, memandangnya sampai lama sekali."

Bahkan sedikit perubahan mimik wajah pun tidak diperlihatkan olehnya.

Tiada perasaan pula, kadangkala merupakan pertanda dari suatu sikap, suatu perasaan.

Tatkala seseorang merasa teramat sedih sekali, atau teramat kecewa, kadang kala dia akan berubah menjadi begini rupa.

Pelan-pelan Liu Yok siong membalikkan badannya dan tidak memandang lagi ke arahnya.

sedikit banyak timbul juga perasaan sedih didalam hatinya, sebab bagaimanapun juga mereka adalah suami istri yang telah terjalin selama banyak tahun, tapi setiap kali teringat akan Lan-lan, rasa sedihnya segera lenyap, perasaan yang lembekpun berubah keras kembali.

Katanya Kemudian dengan suara dingin.

"Dari tujuh buah peraturan, kau telah melanggar semuanya, aku tidak membunuhmu sudah merupakan suatu kemujuran bagimu, kau masih ...."

Ia tidak menyelesaikan perkataan tersebut, tiba-tiba pinggang bagian belakangnya terasa menjadi lemas, empat buah jalan darah penting yang berada disekitar pinggangnya tahu-tahu menjadi tersumbat semua.

Ternyata serangan yang dipergunakan untuk menghadapinya itu adalah ilmu menotok jalan darah aliran Bu tong pay.

Ketika istrinya merayakan ulang tahun ke tiga puluh tempo hari, dia telah mewariskan kepandaian tersebut kepadanya sebagai hadiah ulang tahunnya.

Waktu itu dia masih merasa amat bangga sekali, karena dia bilang yang diinginkan olehnya sebetulnya adalah seuntai rantai mutiara.

Seuntai rantai mutiara tersebut bernilai lima laksa tahil lebih, sebab butiran mutiara yang terkecilpun besarnya seperti buah lengkeng.

Lagi pula sudah diketahui oleh istrinya.

Sedangkan ilmu menotok jalan darah ini sama sekali tak berharga apa-apa, karena dia tak usah mengeluarkan uang barang sepeserpun.

Terhadap istrinya ia memang tak pernah bersikap royal.

Karena dia selalu beranggapan bila menginginkan istrinya selalu lemah lembut dan dan setia kepada suaminya, maka jangan sekali kali diberi uang yang terlalu banyak dalam genggamannya, kalau tidak, maka yang dia hamburkanpun akan lebih banyak pula.

Lelaki yang pintar tak akan melakukan perbuatan semacam ini, tak bisa disangkal lagi dia memang seorang yang pintar, pintar sekali.

Itulah sebabnya, sekarang dia harus roboh terkapar di atas tanah.

Chin Ko cing menatap wajahnya, lalu di atas mimik wajahnya yang hambar tanpa perasaan tersungging sekulum senyuman yang manis dan menawan hati.

"Sekarang aku baru tahu, rupanya hadiah ulang tahun yang kau berikan kepadaku ini jauh lebih berharga daripada untaian rantai bermutiara tersebut. Sudah seharusnya kalau aku merasa berterima kasih sekali kepadamu"

Sambil tersenyum dia berjalan keluar. lalu menarik tangan Song Tiang untuk diajak masuk ke dalam. Song Tiong masih belum berani bertatapan muka dengannya. Ko cing segera tertawa, katanya.

""Sekarang dia sudah bukan merupakan suami lagi, mengapa kau musti merasa malu? "Dia sudah pensiun dirimu?", tanya Song Tiong.

"Bukan cuma di pensiun saja, bahkan dia telah mengusirku pergi dari sini ...."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"Sudah belasan tahun aku kawin dengannya, tapi kenyataannya lebih buruk keadaanku daripada anjing yang dipelihara orang selama belasan tahun, kini dia telah mengusirku, maka akupun harus menggelinding pergi dari sini dengan tanpa membantah"

"Kalau memang begitu, mari kita pergi"

"Kau akan mengajakku pergi!"

""Sekalipun dia sudah tidak mau dirimu lagi, aku masih mau"

Kau benar-benar masih bersedia untuk menerima aku si nenek tua ini...? .

"Sekalipun kau benar-benar berubah menjadi seorang nenek tua, akupun tak akan berubah hati terhadapmu"

Ko cing kembali tertawa, tertawanya tampak sangat manis dan menggiurkan hati, katanya lagi dengan lembut.

"Kau sangat baik, ternyata aku memang tidak salah memilih kau, cuma sayang..."

"Sayang apa?"

"Sayang aku masih tak ingin benar-benar menjadi seorang nenek peot, oleh karena itu setiap hari aku masih membutuhkan bedak mutiara yang seharga dua puluh tahil perak tiap harinya untuk mencegah munculnya keriputan di atas wajahku, pakaian yang kukenakan juga harus kain tenun yang berasal dari negeri Thian tok atau Persia, agar orang lain melihat wajahku jauh lebih muda lagi, akupun butuh mandi air susu tiap harinya serta memerlukan beberapa orang dayang untuk melayani segala macam kebutuhan sehari-hariku"

Dengan lembut dibelainya tangan Song Tiong, kemudian katanya lebih lanjut.

"Kau toh tahu juga, kau sudah terbiasa makan enak, berpakaian yang baik serta perempuan yang sudah terbiasa menghamburkan uang"

"Aku tahu"

"Bila aku musti kawin dengan dirimu sanggupkah kau untuk memelihara aku?"

Song Tiong menjadi tertegun, tertegun untuk beberapa saat lamanya, setelah itu baru serunya lantang.

"Aku bisa menjadi seorang perampok untuk memenuhi kebutuhanmu itu."

"Kenapa kau harus menjadi seorang perampok? Apakah itulah keahlian yang paling kau andalkan?"

Setelah berhenti sejenak, sambungnya dengan suara hambar.

"Membunuh orang baru merupakan keahlianmu yang sebenarnya, asal kau dapat membunuh seseorang, maka kitapun akan hidup senang sepanjang masa"

Siapa yang hendak kau bunuh?"

Tanya Song Tiong.

Ko cing cuma tertawa, ia tidak berkata apa-apa.

Song Tiong bukan seorang yang bodoh, dia seharusnya mengerti siapa yang dimaksudkan perempuan itu.

Walaupun dia tidak begitu suka membunuh orang, akan tetapi dia bukanlah manusia yang takut membunuh orang, entah siapapun yang hendak dibunuhnya hal itu sama saja baginya.

Sementara itu Chin Ko cing telah meloloskan sebilah pedang dari atas dinding ruangan dan serahkan senjata itu kepadanya kemudian ujarnya kembali.

"Asal kau mengayunkan tanganmu, maka aku akan berubah menjadi seorang janda yang patut dikasihani, perduli bagaimanakah bengis dan buasnya Ting peng, tak mungkin dia akan menghadapi seorang janda yang patut di kasihani seperti aku ini."

Setelah tersenyum lanjutnya.

Untung saja aku si janda yang patut di kasihani ini adalah seorang janda yang kaya raya, siapapun yang dapat mengawininya hidupnya sepanjang masa akan berbahagia dan tak perlu risau lagi"

Song Tiong bukan orang bodoh, sudah barang tentu dia memahami semua perbuatan itu, diapun bisa membayangkan semua yang barusan dikatakan oleh perempuan itu..

Maka diterimanya pedang tersebut dari tangan Ko ching, Kemudian bersiap sedia untuk melakukan pekerjaannya.

"Asal pedang tersebut diayunkan ke bawah, niscaya Liu Yok siong akan mati konyol. ooooo0ooooo SUATU KEJADIAN ANEH LIU YOK SIONG tahu, dia sudah pasti akan mati. Bukan saja ia telah memandang remeh perempuan ini, lagi pula dia menilai diri sendiri terlalu tinggi, barang siapa berani melanggar kesalahan ini, dia pasti akan mati.

"Criing...!"

Sebilah pedang telah diloloskan dari dalam sarungnya. Pelan-pelan Song Tiong telah membalikkan badannya dan memandang ke arahnya dengan pandangan dingin.

"Kau tak bisa menyalahkan aku, hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri...."

Demikian dia berkata.

Liu Yok siong harus mengakui akan hal itu, hatinya memang kurang kejam, cara kerjanya kurang tegas, dia seharusnya turun tangan lebih dulu untuk membinasakan dirinya.

Cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu pedang itu sudah menusuk ke atas tenggorokannya.

She Song bernama Tiong, sebuah tusukannya selalu mematikan, bukan saja serangannya saja amat tepat, lagi pula ganas, sudah barang tentu serangannya tak mungkin meleset, terutama untuk membunuh seseorang yang sama sekali tak punya kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan.

Kecuali muncul suatu kejadian aneh, Liu Yok siong sudah pasti akan mampus"

Siapa tahu kejadian aneh tersebut ternyata benar-benar telah berlangsung. Mendadak.

"Criit"

Desingan angin tajam berhembus menembusi angkasa kemudian "Triing..."

Percikan bunga api bertaburan kemana-mana, pedang yang berada ditangan Song Tiong telah patah menjadi dua bagian.

Sebuah benda jatuh ketanah menyusul kutungan pedang itu dan menggelinding sampai jauh, ternyata benda itu adalah sebuah biji pohon siong.

Pedang itu milik Liu Yok siong, sebilah pedang yang khusus ditempa oleh seorang ahli, pembuat pedang Go Too di luar perbatasan, dengan ongkos seribu delapan ratus tahil perak.

Go Too sudah tiga puluh tahun lamanya bekerja sebagai penempa pedang, setiap pedang hasil tempaannya merupakan pedang mestika, jangan toh baru batu atau senjata lain, bahkan pula baja yang beratpun jangan harap bisa menabasnya sampai kutung.

Tapi kenyataannya sekarang, pedang itu sudah dibikin patah oleh sebuah biji pohon siong.

Tangan Song Tiong telah digertak sampai kesemutan rasanya, dia mundur lima langkah dengan sempoyongan, sedangkan Chin Ko cing bertindak cepat, ia segera melepaskan pula tujuh buah titik cahaya bintang yang gemerlapan.

Sudah barang tentu Liu Yok siong juga tahu senjata rahasia apakah yang dilancarkan perempuan itu, sebab senjata rahasia inipun khusus dibuat atas pesanannya dengan biaya mahal, bahkan secara khusus pula dia, menyuruh orang untuk memolesi racun diatasnya.

Walaupun caranya melepaskan senjata rahasia tak bisa menandingi kelihaian dari Hoa Sin koh atau Kwan im bertangan seribu, akan tetapi dalam jarak dua kaki, serangannya jarang sekali meleset.

Sekarang jarak mereka cuma satu kaki belaka, kecuali muncul kembali suatu kejadian aneh, Liu Yok siong sudah pasti akan tewas.

Siapa tahu, suatu kejadian aneh kembali telah berlangsung.

Sebenarnya ke tujuh titik cahaya bintang itu tertuju ke arah ulu hati Liu Yok siong.

tapi tahutahu arah sasarannya telah berubah dan meluncur ke depan jendela.

Dari balik jendela tiba-tiba muncul seseorang dan mengenakan baju berwarna putih bersih bagaikan salju.

Ketika ujung bajunya dikebaskan pelan ke tujuh titik cahaya bintang itu seketika lenyap tak berbekas, menyusul kemudian terdengar suara gemerincing nyaring..."Criing"

Segulung desingan angin tajam meluncur keluar dari balik ujung bajunya dan menghajar lutut Chin Ko cing.

Sebenarnya ketika itu tubuh Chin Ko cing sedang menubruk ke muka, tiba-tiba ia jatuh berlutut di tanah, berlutut dengan tubuh tegak lurus, sama sekali tak mampu berkutik lagi.

Sebaliknya Liu Yok siong secara tiba-tiba bangun berdiri.

Ternyata walaupun suara desingan anginnya hanya berbunyi sekali, biji pohon siong yang disambit keluar ada dua buah, sebuah menghajar jalan darah Huan tiau hiat di tubuh Chin Ko cing, sedangkan yang lain membebaskan jalan darah Liu Yok siong yang tertotok.

Gadis cantik yang berbaju putih bersih bagaikan salju ini telah melancarkan dua buah biji siong pada saat yang bersamaan, selain kekuatannya mengerikan sekali, cara maupun tenaga yang dipergunakan juga saling berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Song Tiong yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun dibuatnya.

Belum pernah dia saksikan cara melepaskan senjata rahasia yang begitu lihaynya, bahkan sampai mendengarpun belum pernah.

Bila Hoa Sin koh dan kwan im bertangan seribu sekalian jago-jago senjata rahasia yang tersohor didalam dunia persilatan itu dibandingkan dengan perempuan ini, pada hakekatnya kepandaian mereka seperti anak kecil yang bermain kelereng.

Hampir saja dia tidak mempercayai pandangan mata sendiri..

Liu Yok siong percaya akan kesemuanya itu, sebab dia telah menyaksikan kepandaian serta perbuatan lain dari Lan-lan yang jauh lebih hebat dan mengerikan daripada apa yang dilihatnya sekarang.

"Mengapa kau masih tidak pergi membunuhnya tiba-tiba Lan-lan bertanya kepadanya.

"Kau ....."

"Liu Yok siong gelagapan, dia tak tahu bagaimana harus menjawab.

"Dia hendak membunuhmu, maka kaupun boleh membunuhnya, sebab bila kau tidak membunuhnya, dialah yang akan membunuh dirimu"

Tangannya lantas menggapai, kutungan pedang yang tergeletak di atas tanah itu mendadak mencelat ke udara dan terjatuh ke tangannya.

Ia sodorkan kutungan pedang ke tangan Liu Yok siong, kemudian melanjutkan.

"Pedang ini pastilah pedang hasil penempaan Go Too, sekalipun hanya tinggal sepotong yang tidak mencapai tiga inci panjangnya, aku yakin pedang itu masih dapat digunakan untuk membunuh orang"

Kutungan pedang itu masih satu depa panjangnya, Liu Yok siong segera menjepit dengan ketiga buah jari tangannya, lalu menodongkan mata pedang itu ke atas tenggorokan Chin Ko cing.

Tiba-tiba Chin Ko cing berkata sambil tertawa.

"Walaupun wajahnya kelihatan buas dan bengis, tapi aku tahu kau tak akan tega untuk membinasakan diriku""

"Ooooh.... !"

"Sebab aku lebih mengerti tentang dirimu daripada orang lain, asal kau sudah mempergunakan jubah yang satu stel berwarna delapan puluh tahil perak, ditangan membawa arak yang sembilan puluh tahil perak segucinya, kemudian duduk dalam kamarmu sambil membopong perempuan cantik, maka sekalipun hendak menyuruh orang lain untuk membunuh beberapa orangpun kau tak akan merasa menderita"

Setelah tertawa dingin, lanjutnya.

"Tapi, kalau suruh kau sendiri yang membawa golok untuk membunuh orang, maka kau tak akan berani turun tangan sendiri"

Tiba-tiba Song Tong menimbrung.

"Dia tak berani, aku berani!"

Dengan terperanjat Ko cing menatap ke arahnya, kemudian berseru.

"Kau... kau tega untuk turun tangan terhadap aku?"

Song Tiong tidak berkata apa-apa lagi, mendadak ia menyerbu ke depan dan kutungan pedang yang masih berada di tangannya itu sudah menembusi dada perempuan tersebut.

Sepasang mata Ko-cing belum terpejam, ia masih menatap wajahnya dengan perasaan terperanjat.

Sampai matipun dia tak percaya kalau ia benar-benar tega untuk membunuhnya.

"Tentunya kau tidak menyangka bukan kalau aku bisa membunuh dirimu"

Ujar Song Tiong.

"Kena... kenapa kau?"

"Karena akupun sudah lama ingin mati, bila kau tidak mati, mana aku tega untuk mati sendirian!"

Ia keluar mencabut pedangnya.

Darah kental segera berhamburan kemana-mana .....

pada saat itu pula kutungan pedang tadi telah ditusukkan kembali ke dada sendiri.

Perempuan itu sudah mati, maka sekarang diapun dapat mati pula.

Mendadak Song Tiong mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haaahhh... haaahhh....haaaahhh... selama hidup aku sudah banyak membunuh orang, tapi baru kali ini aku merasa sangat puas."

Ooooo0ooooo SEPASANG mata Chin Ko cing telah terpejamkan rapat.

Tiba-tiba ia merasa bahwa selama ini dia selalu tak memahami diri Song Tiong, selalu memandang salah kepadanya.

Ia selalu menganggap, Song Tiong adalah seorang yang keras di luar, padahal amat lemah didalam hatinya.

Bukan cuma lemah, bahkan sama sekali tak becus, itulah sebabnya dia baru dapat di tuntun olehnya bagaikan seekor anjing kecil.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau dia berbuat demikian karena cinta kepadanya, mencintainya dengan sepenuh hati, setulus hati mencintai dirinya.

Demi dia, ia rela untuk mati.

Demi dia, iapun bersedia untuk mengakhiri hidupnya.

Belum pernah dia berpikir sampai ke situ, karena dia tidak percaya kalau dalam dunia ini bisa terdapat perasaan cinta seperti ini.

Tapi sekarang, dia sudah percaya.

************************* Halaman 48 -49 hilang ************************* tiba-tiba dalam hatinya muncul suatu perasaan yang jauh lebih kuat daripada perasaan ngeri dan takut, membuat dia melupakan keseraman menghadapi kematian Tiba-tiba saja dia merasa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Bila seseorang sampai matinya belum tahu apa artinya "cinta"", hal itu baru benar-benar merupakan sesuatu yang menakutkan.

KAU telah membayar sesuatu pengorbanan, yang cukup besar, kujamin kau pasti akan memperoleh hasil yang lumayan, itulah kata-kata dari Lan-lan sebelum pergi meninggalkannya.

Setiap kali dia selalu datang secara tiba-tiba dan pergi lagi secara tiba-tiba.

Liu Yok siong tidak tahu harus menggunakan cara apa untuk mengundang-nya datang, juga tidak tahu harus menggunakan cara apa untuk menahannya di situ..Tapi dengan cepatnya dia telah tahu kalau apa yang diucapkan memang tidak bohong.

Dia telah menyerahkan anjing betina itu kepada "si buli-buli"..

Si buli-buli adalah nama julukan dari pengurus gudang arak dalam perkampungan Siang siong san-ceng, sebuah buli-buli yang tak punya mulut.

Sebab bukan saja dia jujur, setia dan bisa dipercaya, mulutnya juga selalu tertutup rapat seperti botol, selain itu tak setetes arakpun yang dia minum selama hidupnya.

Oleh karena itu, Liu Yok siong mengutusnya menjadi pengurus gudang araknya .......

Si Buli-buli menyekap anjing betina itu didalam gudang arak, gudang arak yang sudah tak ada setetes arakpun itu.

Menanti Liu Yok siong ingin menghantar anjing betina itu sudah bukan anjing betina lagi.

Ketika dia menyuruh si buli-buli mengajaknya pergi ke gudang arak untuk mencari anjing betina itu, ternyata yang dijumpainya adalah seorang perempuan.

Seorang perempuan yang berpinggang ramping dan berpaha panjang, sewaktu berjumpa dengannya, perempuan itu segera memperlihatkan rasa yang takut yaa gembira.

Ia sendiripun sama sekali tak tahu secara bagaimana dia bisa berada didalam gudang arak itu.

Ketika dia tidur, tubuhnya masih berbaring di atas pembaringan yang besar, lebar dan empuk itu.

Tapi ketika sadar kembali, ia telah berada di sini.

ooooo0ooooo KEJADIAN aneh secara beruntun berlangsung kembali, air bening telah berubah menjadi arak wangi.

kerbau, kambing, ayam, itik, yang sebenarnya sudah dibakar di belakang bukit sana, kini telah muncul kembali dalam keadaan segar bugar.

Akan tetapi Lan-lan tak pernah menampakkan diri lagi.

Tentu saja semua kejadian aneh itu merupakan hasil karyanya, Liu Yok siong telah membayar suatu pengorbanan yang besar, maka diapun tidak melupakan janji sendiri.

Untuk menyatakan rasa setianya kepada Lan-lan, Liu Yok siong tidak lagi mengganggu si gadis berpinggang ramping dan berkaki panjang itu.

Ia bertekad untuk mendapatkan Lan-lan, entah dia adalah manusia atau bukan, hal itu tidak menjadi soal baginya, bahkan sekalipun dia benar-benar adalah siluman rase, baginya juga bukan persoalan.

Bila ia dapat mempersunting seorang istri seperti dia, maka terhadap siapa saja dia tak usah takut lagi, terhadap masalah apapun ia tak usah merasa kuatir lagi.

Hari demi hari lewat dengan cepatnya, kini perkampungan yang berada di bukit seberang telah selesai digarap, bilamana malam tiba dan lampu gemerlapan dalam bangunan tersebut, maka memandang dari kejauhan, bangunan itu bagaikan keraton di atas langit.

Surat undangan dari tuan rumah perkampungan Wan gwat san-ceng yang hendak mengadakan perjamuan telah dikirim kepadanya .

Tentu saja kepala kampung dari perkampungan Wan gwat san-ceng tersebut adalah Ting Peng, sedangkan hari perjamuan adalah saat bulan purnama.

Hari ini sudah tanggal empat belas, ternyata Lan-lan masih juga belum menampakkan diri.

Dia pasti akan datang kemari, tak mungkin dia akan melupakan diriku dengan begitu saja.

Walaupun Liu Yok siong selalu berusaha untuk menghibur diri, toh tak urung hatinya merasa gelisah dan kuatir.

Seandainya gadis itu tidak datang kemungkinan besar dia akan mati didalam keraton Wan gwat san-ceng besok hari.

Terpaksa dia karuan menghibur diri sendiri.

"Paling lambat malam ini dia pasti akan datang kemari."

"Oleh sebab itu, sejak senja tiba ia telah mempersiapkan semeja sayur dan arak dan menunggu di dalam rumahnya seorang diri. Ternyata Lan-lan memang tidak membuat-nya menjadi kecewa. Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi oleh bau harum semerbak, seperti harumnya bunga tapi jauh lebih manis dan sedap daripada harumnya bunga .... ... Jendela yang semula tertutup rapat, mendadak membuka dengan sendirinya, sinar matahari senja masih menyoroti jagad di luar sana, Lan-lan seperti sekuntum awan yang indah pelan-pelan melayang datang. Dia bilang selama dua hari ini tak bisa datang karena masih banyak persoalan yang harus dipersiapkan olehnya. Karena bukan suatu pekerjaan yang "mudah"

Untuk menghadapi Cing-cing, kemampuan yang dimiliki Cing-cing jarang ada yang bisa menandinginya, walau berada di langit maupun di bumi.

Tapi sekarang ia telah mempersiapkan segala sesuatunya.

Ia bilang begini.

""Sekarang aku sudah mempunyai akal untuk menaklukkannya, asal Cing cing bisa ditaklukkan, Ting Peng sama sekali tak perlu dikuatirkan lagi, asal kau mau menuruti perkataanku dan melakukannya dengan baik, bukan saja kau dapat membantuku untuk mengalahkan mereka, entah persoalan apapun yang ingin kau kerjakan, aku dapat membantumu untuk mencapainya."

Apa yang menjadi idaman Liu Yok siong selama ini adalah menjadi ketua partai Bu tong. Tak tahan dia lantas berkata.

"Selama ini Bu tong pay tak pernah mengangkat seorang murid preman menjadi Ciangbunjinnya, tapi aku ... ."

""Kau ingin menjadi Ciangbunjin dari Bu tong pay?"

Tanya Lan-lan kemudian. Liu Yok siong menghela napas panjang, katanya.

"Sekarang, yang paling besar harapannya untuk menjadi Ciangbunjin bukanlah aku, melainkan Leng siu!"

Lan-lan segera tertawa dingin, serunya.

"Kalau hanya kedudukan seorang ciangbunjin dari Bu tong pay saja apalah artinya cita-citamu, sungguh teramat kecil sekali."

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba tanyanya lagi.

"Tahukah kau tentang Sangkoan Kim hong?"

Tentu saja Liu Yok siong tahu.

Sangkoan Kim hong adalah seorang pentolan dunia persilatan yang malang melintang dalam kolong langit, tiada seorang manusia pun dalam dunia persilatan yang berani kurang ajar kepadanya, setiap patah kata yang ia ucapkan merupakan perintah, belum pernah ada orang yang berani membangkang.

Kemudian, walaupun dia mati di tangan Siau li si pisau terbang yang merupakan pendekar tenar pada masa itu, tapi semasa hidupnya gagah perkasa, hingga kini belum pernah ada orang yang bisa menandinginya.

""Asal kau bersedia, setiap saat aku dapat membuat keberhasilanmu melebihi Sangkoan Kim hong, melebihi Siau li si pisau terbang dan melampaui pula manusia paling tenar dalam dunia persilatan saat ini, Cia Siau hong"

Liu Yok siong merasakan jantungnya sedang berdebar, berdebar kencang sekali.

"Yang kau maksudkan sebagai Leng siu tadi, bukankah murid pertama dari Thian it toojin?"

Kembali Lan-lan bertanya.

"Benar!"

"""Kemungkinan besar, besok diapun akan muncul pula di dalam perkampungan Wan gwat san-ceng untuk menghadiri perayaan tersebut"

"Kenapa dia turut datang?"

"Sebab Ting peng telah mengundangnya secara khusus", Setelah tertawa, lanjutnya.

""Pada hal kau seharusnya juga musti mengerti, kenapa secara khusus dia mengundang kedatangan Leng siu"

Liu Yok siong mengerti.

Ting Peng hendak merusak nama baiknya di hadapan Leng siu, agar Leng siu tahu salah dia memang mempunyai alasan untuk mati.

Setelah disaksikan oleh kakak seperguruannya, bagaimanapun Ting Peng hendak menghadapinya, orang lain tentu tak bisa berkata apa-apa lagi ......

Untuk berbicarapun tak dapat, sudah barang tentu pihak Bu tong pay semakin tak dapat membalaskan dendam baginya lagi.

Liu Yok siong menghela napas panjang kemudian ujarnya.

""Sungguh tak kusangka secara tiba-tiba Ting Peng bisa melakukan pekerjaan yang begitu teliti dan seksama"

Orang yang pernah tertipu satu kali, biasanya ia akan bekerja lebih teliti dan seksama. Liu Yok siong sedang tertawa, tentu saja tertawa getir. Dia memang hanya bisa tertawa getir.

"Jika Ting Peng hendak membunuhnya, mungkinkah Leng siu akan membantumu?"

"Tak mungkin!"

""Mungkinkah dia akan membantumu berbicara ?"

"Tidak mungkin"

Berada dalam keadaan seperti ini, siapapun tak dapat berkata apa-apa lagi.

"Bila kau sampai mati, mungkinkah dia akan merasa bersedih hati!"

Kembali Lan-lan bertanya.

"Tidak mungkin"

"Yaa, sebab diapun tahu kaupun tak akan merasa sedih bagi kematiannya"

Liu Yok siong sama sekali tidak menyangkal akan kebenaran dari ucapan tersebut.

Leng siu tojin tidak suka makan banyak, tidak suka minum arak, tidak berjudi, tidak bermain perempuan, tujuan hidupnya hanya satu, yakni berharap bisa menggantikan kedudukan Thian it Cinjin dan suatu ketika menjabat sebagai Ciangbunjin partai Bu tong, Sebab diapun seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, diapun mempunyai ambisi, rasa kuatirnya terhadap persoalan ini sedikitpun tidak berada di bawah Liu Yok siong.

Kedua pihak sama-sama mengetahui bahwa kemungkinan besar pihak lawan merupakan satusatunya saingan yang paling berat.

Kembali Liu Yok siong menghela papas panjang, katanya.

""Cuma sayang tubuhnya selalu sehat dan kuat, paling tidak ia masih bisa hidup tiga sampai lima puluh tahun lagi."

"Aku berani menjamin, dia tak akan bisa hidup lebih lama lagi"

"Ooooh.."

""Besok malam dia pasti akan mati"

"Dia selamanya sehat dan tak pernah berpenyakitan, mana mungkin bisa mati secara mendadak?"

"Sebab ada seorang yang akan menusuk tenggorokannya dengan pedang hingga tembus"

"Siapakah orang itu?"

"Kau sendiri"

Liu Yok siong menjadi tertegun.

Padahal, sudah sejak lama dia ingin menusuk tenggorokan Leng siu dengan pedangnya, entah berapa ratus kali ingatan tersebut berkecamuk dalam benaknya..Sebab bagaimanapun juga Leng siu adalah toa suhengnya, membunuh Leng siu berarti telah berkhianat kepada perguruan.

Menghianati perguruan merupakan suatu perbuatan yang amat melanggar hukum, ingatan tersebut sudah lama berakar didalam hatinya.

"Jika kau tidak berani, akupun tidak akan terlalu memaksakan kehendakku"

Kata Lan-lan kemudian. Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan hambar.

"Bagaimanapun juga, sekarang toh aku belum kawin denganmu, bila kau mati, aku pun tak akan terlalu bersedih hati"

Dia seperti sudah bersiap sedia untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Tentu saja Liu Yok siong tak akan membiarkan dia pergi dengan begitu saja, segera serunya.

"Aku bukannya tidak berani, aku Cuma kuatir..."

"Kuatir apa?"

"Sejak kecil Leng siu sudah melatih ilmu silat, selain bersantap, berdoa dan tidur, setiap saat ia selalu melatih kepandaiannya, sedangkan aku banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Dia memang mempunyai banyak persoalan yang harus dikerjakan, di dunia ini memang masih banyak pekerjaan yang jauh lebih menarik daripada belajar silat. Sayang sekali pekerjaan yang semakin menarik, semakin tak boleh dilakukan terlalu banyak, kalau tidak akan berubahlah menjadi pekerjaan yang tidak menarik. Liu Yok siong menghela napas panjang, katanya.

"Mungkin pekerjaan lain terlalu banyak yang telah kukerjakan, maka sekarang aku mungkin sudah bukan tandingannya lagi"

"Kau memang bukan tandingannya, didalam lima puluh gebrakan, ia dapat membunuhmu"

Tak bisa tidak Liu Yok siong harus mengakui akan hal ini.

Terutama beberapa waktu belakangan ini, Leng siu memang semakin giat berlatih ilmu tenaga dalamnya makin sempurna, ilmu pedangnya juga semakin sempurna.

hal ini sudah diketahui umum dan semua orang mengakui dia sebagai jagoan nomor satu dari Bu tong pay dewasa ini.

"Tapi aku toh berada di sampingmu"

Kata Lan-lan cepat.

"apa lagi yang musti kau takuti?"

"Setelah tertawa lanjutnya.

"Asal ada aku di sisimu, maka di dalam sepuluh gebrakan saja kau dapat membunuhnya. Mencorong sinar tajam dari balik mata Liu Yok siong sesudah mendengar perkataan itu.

"Besok tengah hari, aku akan menunggumu dirumah makan Hwe Sian lo, kemudian akan kutemani kau kesana!"

"Kenapa kau harus menantikan kedatanganku didalam kota?"

"Sebab aku minta kau menyambut kedatanganku dengan tandu, aku ingin agar orang lain tahu kalau aku diajak pergi dengan mempergunakan tandu ."

Permintaan semacam ini sesungguhnya memang bukan termasuk suatu permintaan yang kelewat batas.

Seorang perempuan yang belum kawin, biasanya selalu berharap ada lelaki yang dia cintai menjemputnya dengan tandu.

Tak bisa disangkal lagi dibalik permintaan tersebut sesungguhnya mengandung maksud yang lebih mendalam.

Kembali Liu Yok siong merasakan jantungnya berdebar keras, berdebar keras sekali.

""Aku pasti akan mempersiapkan sebuah tandu yang paling besar untuk menjemputmu, tapi kau......"

Ia memandang sekejap wajah Lan-lan yang tertutup oleh kain cadar itu, kemudian melanjutkan.

"Sampai sekarang, mengapa kau masih belum memperkenankan aku untuk melihat raut wajahnya yang sebenarnya..

"Besok kau akan segera melihatnya "

Jawab Lan-lan, setelah berhenti sebentar lanjutnya.

"Besok, setibanya dirumah makan Hwee-sian-lo, akan kau jumpai seorang nona yang memakai gaun berwarna biru laut, memakai mutiara dan tusuk konde emas pada sanggulnya serta memakai sepasang sepatu berwarna merah darah"

"Perempuan itu adalah kau?` "Benar!"

Ooooo0ooooo PERKAMPUNGAN WAN GWAT SANCENG BULAN dua belas tanggal lima belas, hari ini udara amat cerah.

Sorot matahari ditengah hari tersebut terasa hangat dan nyaman, Liu Yok siong berdiri di bawah sinar matahari dan memperhatikan para centengnya sedang memasang sebiji mutiara besar di atap tandunya, ia merasa puas sekali.

Tandu tersebut khusus dia pesan di ibu kota pada seorang ahli tukang kayu sewaktu hendak menjemput pulang Chin Ko cing pada delapan belas tahun berselang, setelah di lakukan perbaikan semalam suntuk kini bentuknya sudah nampak baru kembali.

(Bersambung

Jilid 07) Jilid.

7 SAYANG, orang yang pernah duduk didalam tandu tersebut dulu, sekarang tak pernah akan dijumpainya lagi untuk selamanya.

Teringat akan hal ini, sedikit banyak timbul juga perasaan sedih dan perih dalam hati Liu Yok siong.

Untung saja dengan cepat dia dapat melupakan semua kejadian yang tidak menyenangkan hatinya itu.

Hari ini adalah hari baiknya, juga termasuk hari besar, dia tak ingin membiarkan pelbagai persoalan lain mengganggu perasaan hatinya sekarang....

Para centengnya telah berganti dengan satu stel pakaian baru terbuat dari kulit rase, pinggangnya terikat sebuah ikat pinggang berwarna merah, setiap orang kelihatan amat gembira dan bersemangat sekali.

Mungkin saja Lan-lan telah menunggunya dalam rumah makan Hwee sian lo, pada waktu itu dia percaya Lan-lan pasti tak akan membiarkan dia merasa kecewa.

Lo kwik yang mengurusi soal istal kuda telah menuntun datang Cian li soat, si kuda jempolan miliknya, yang tinggi besar itu, diatas punggungnya telah dipasang pelana baru, bahkan diikat pula dengan pita berwarna merah cerah.

Dengan cepat dia melompat naik ke atas punggung kudanya, gerak geriknya, amat enteng dan lincah bagaikan seorang pemuda.

Hari ini, dia benar-benar merasa gembira sekali.

Setibanya di rumah makan Hwee sian lo, dia semakin gembira lagi.

Ternyata Lan-lan memang tidak membuatnya kecewa, begitu naik ke atas loteng ia segera menemukan dirinya.

Benar juga dia mengenakan gaun berwarna biru dan duduk di suatu sudut ruangan sambil menantikan kedatangannya Sinar matahari yang memancar masuk lewat jendela, menyinari bunga mutiara yang menghiasi rambutnya, membuat ia nampak bertambah cantik jelita.

Dia bahkan nampak jauh lebih cantik ************************* Halaman 5 -6 hilang ************************* datang kemari untuk mencari perempuan cantik itu juga, tahu kalau perempuan cantik sedang menunggunya.

Hanya mengandalkan hal ini saja sudah cukup membuat setiap orang merasa kagum bercampur cemburu.

Liu Yok siong tersenyum, pelan-pelan dia berjalan kehadapan Lan-lan.

Lan-lan juga tersenyum sambil memandang ke arahnya.

Manis sekali senyumannya.

Ketika tersenyum, bunga-bunga mutiara di atas kepalanya bergetar amat keras, sepatu merah yang dikenakan juga bergoyang tiada hentinya, seakan-akan bunga teratai di atas kolam.."Kau baik-baik saja!"

Kata Liu Yok-siong.

"Aku baik!"

Balas Lan-lan.

"Kau pasti sudah menunggu kedatanganku cukup lama?"

"Aaah .... tak menjadi soal!"

"Sekarang apakah kita boleh segera berangkat?"

"Kau bilang kapan hendak berangkat, kapan pula aku berangkat"

Maka Liu Yok siong dengan mempergunakan sikap yang paling halus dan paling sopan menjulurkan tangannya ke depan.

Lan-lan telah mengulurkan tangannya dan meletakkan tangan tersebut di atas tangannya.

Tangan gadis itu nampak lebih menawan hati.

Maka dengan mempergunakan langkah yang paling gagah, Liu Yok siong menuntun perempuan itu berjalan keluar dari loteng Hwee sian lo.

Dia tahu setiap orang sedang memperhatikan mereka, sorot mata mereka memancarkan sinar mata yang aneh sekali.

Ia tahu setiap orang sedang mengaguminya, sedang merasa iri kepada dirinya.

Kesemuanya itu membuat dia bertambah gembira.

Sekarang satu-satunya orang yang membuat Liu Yok siong merasa amat tidak senang hati adalah kehadiran Leng siu toojin.

Walaupun ia percaya seratus persen bahwa Lan-lan pasti mempunyai akal untuk membuat Leng siu toojin mati di tangannya.

Tapi setiap kali teringat orang ini, teringat persoalan ini dalam hatinya seakan-akan muncul sebuah bayangan hitam.

ooooo0ooooo TAHUN ini Leng siu toojin berusia lima puluh dua tahun, namun wajahnya justru tampak jauh, lebih tua dari pada usia yang sebenarnya.

Latihan selama banyak tahun, pengawasan makanan yang sangat ketat serta pengendalian perasaan yang berat merupakan alasan yang kuat bagi dipercepatnya proses kekuatan baginya.

Tapi perawakan tubuhnya masih tetap begitu lincah begitu gesit dan kekar bagaikan seorang pemuda yang berusia dua puluh tahunan, bahunya amat lebar, pinggangnya ramping, bahu dan lengannya sama sekali tidak nampak kelebihan daging atau lemak yang menonjol keluar.

Seandainya dia membuka pakaiannya dan bertelanjang di hadapan seorang perempuan sudah pasti perawakan tubuhnya itu akan membuat perempuan tersebut tercengang dan di luar dugaan bahkan mungkin juga akan merasa terperanjat sekali.

Untung saja peristiwa semacam ini tak akan pernah terjadi dalam hidupnya.

Dia tak pernah mendekati kaum wanita selama banyak tahun hidup dalam keterbatasan yang mengekang gerak hidupnya menuntut hampir saja melupakan persoalan itu.

Kenikmatan hidup yang biasanya di rasakan oleh setiap orang dalam kehidupannya, dianggap tabu dan dosa baginya.

Ia menyantap nasi yang kasar dengan air teh yang kasar, mengenakan pakaian paling kasar, satu-satunya benda yang bisa membuat orang silau hanyalah pedangnya.

Sebilah pedang antik yang penuh dengan ukiran indah, dengan pita pedang berwarna kuning segar.

Pedang tersebut bukan saja mengatakan tingkat kedudukannya, juga melambangkan keanggunan dan posisi yang ditempatinya sekarang.

Baca Juga: Pendekar Setia Gan Kl

Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis Gkh

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert