Ceritasilat Novel Online

Golok Bulan Sabit 1

Eps 1 Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Baca online Golok Bulan Sabit - Khu Lung

Cersil Golok Bulan Sabit - Khu Lung.

GOLOK BULAN SABIT Karya . Khulung Disadur . Tjan

Jilid .

1 REMBULAN ada kalanya berbentuk sabit ada kalanya berbentuk bulat, yang kita kisahkan sekarang adalah sewaktu bulan purnama, karena kisah ini terjadi didalam bulan purnama.

Rembulan pada malam ini jauh lebih indah, jauh lebih mempesona daripada hari-hari sebelumnya.

rembulan itu tampak begitu indah, indah dan membawa kemisteriusan, indah yang menggetarkan sukma dan membuat hati orang hancur luluh.

Demikian pula dengan kisah cerita ini, penuh mengandung kemisteriusan dan keindahan yang menarik.

membuat orang merasa heran, bertanya tanya dan benak penuh khayalan.

Konon menurut cerita kuno, setiap bulan terang purnama, selalu akan muncul siluman siluman binatang atau siluman pepohonan bahkan juga siluman rase dari bawah bumi yang bermunculan untuk menyembah rembulan serta menghisap inti kekuatan dari rembulan.

Ada kalanya, mereka akan muncul dalam bentuk manusia, muncul dengan aneka wajah untuk melakukan segala macam perbuatan yang di luar dugaan setiap orang.

Perbuatan-perbuatan mereka ada kalanya menimbulkan rasa kaget, ada kalanya menimbulkan rasa seram, ada kalanya menimbulkan rasa girang, dan ada kalanya menimbulkan perasaan sedih.

Mereka dapat menyelamatkan nyawa seseorang yang terjatuh ke dalam jurang yang beribu ribu kaki dalamnya, dapat pula mendorong seseorang dari atas puncak gunung.

Mereka dapat membuat kau memperoleh kedudukan serta harta kekayaan yang luar biasa, tapi dapat pula membuat kau kehilangan segala galanya.

Walaupun belum pernah ada orang yang menjumpai raut wajah mereka, tapi tiada seorang juga yang bisa menentukan dimana mereka berada.

Golok ada yang lurus ada pula yang melengkung, yang kita ceritakan sekarang adalah sebilah golok yang melengkung, melengkung bagaikan alis mata Cing cing.

Golok lengkung itu memang milik Cing cing.

Cing cing adalah seorang gadis cantik tapi misterius, seperti pula rembulan yang sedang purnama di langit..

Golok adalah senjata pembunuh yang ampuh...

Demikian juga dengan golok lengkung milik Cing cing, dikala kau menyaksikan cahaya golok lengkung itu berkelebat lewat, biasanya bencana segera akan tiba.

Siapapun juga di dunia, ini tak seorangpun dapat menghindari cahaya golok yang lengkung itu.

Cahaya golok itu tidak terlalu cepat, seperti pula sinar rembulan, dikala kau melihatnya, cahaya itu sudah menimpa di atas tubuhmu.

Di langit hanya ada sebuah bulan yang purnama, di bumi ada sebilah golok yang lengkung.

Dikala ia muncul di dunia, bukan selalu bencana yang dibawa, ada kalanya diapun bisa membawa kebahagiaan serta keadilan bagi umat manusia.

Kali ini dia akan muncul kembali di jagad, tapi apa yang bakal dia bawa untuk umat manusia ?

Tiada seorangpun yang tahu.

Golok lengkung Cing cing berwarna hijau, hijau bagaikan gunung dikejauhan, hijau seperti daun pohon, hijau seperti air mata ke kasih.

Di atas golok lengkung Cing cing tertera sebaris tulisan yang berbunyi.

"Siau lo it ya teng cun yu"

Artinya.

Mendengar rintihan hujan di sebuah loteng pada suatu malam.

ooooo0ooooo SEORANG GADIS BUGIL FAJAR baru saja menyingsing, kabut menyelimuti seluruh permukaan bumi, kabut yang sangat tebal.

Ting Peng mendorong daun jendela ruangannya, kabut tebal yang putih melayang masuk dan menerpa di atas wajahnya.

Ia berparas tampan, bertubuh gagah, sehat, penuh semangat hidup dan perkasa, sewaktu tertawa, seringkali memperlihatkan kepolosan seorang bocah, seakan akan seorang bocah lelaki yang baru tumbuh menjadi dewasa.

Tapi Ting Peng sudah bukan kanak-kanak.

Pada bulan tiga, secara beruntun dia telah mengalahkan tiga orang jago pedang yang paling tersohor dalam dunia persilatan.

Bila sinar matahari dan air membuat tumbuhan tumbuh dengan subur, maka kemenangan serta keberhasilan membuat seorang bocah laki-laki cepat tumbuh menjadi dewasa dan matang.

Sekarang bukan saja ia telah menjadi seorang lelaki yang sejati, lagi pula amat mantap, tegas dan penuh dengan kepercayaan pada diri sendiri.

Dia dilahirkan pada bulan tiga, tahun ini genap sudah dua puluh tahun, pada ulang tahunnya yang kedua puluh itulah, dengan sebuah jurus Thian gwa liu song (bintang meluncur dari luar angkasa) ia berhasil mengalahkan Si Teng seorang jago pedang kenamaan dari kota Po-teng.

Si Tong adalah seorang jago lihay dari Cing-peng-kiam aliran utara, dengan kemenangan tersebut ia memberi hadiah ulangtahun dirinya sendiri.

Pada bulan empat, sekali lagi ia berhasil mengalahkan Tui-hong-kiam (pedang pengejar angin) Kek Khi dengan jurus Thian-gwa liu seng.

Kek Khi adalah murid tertua dari partai Hoa-san, ilmu pedangnya cepat lagi ganas, setiap kali melepaskan serangan tentu buas dan mematikan, dia adalah seorang laki-laki yang angkuh.

Tapi setelah pertarungan itu, dia dapat dikalahkan dengan hati yang puas, kepada umum dia mengakui.

"Sekalipun aku berlatih sepuluh tahun lagi, belum! tentu bisa kuhadapi serangan tersebut""

Bulan lima, ciangbunjin dari Thi-kiam bun, (perguruan pedang baja), Siong Yang kiam kek, (jago pedang dari siong yang) Kwik Tin-peng dikalahkan pula dengan jurus Thian-gwa liu-song, Terhadap jurus pedang serta manusianya itu, Kwik Tin peng memberi komentar.

"Dia betul-betul seorang pemuda yang jarang ditemukan dikolong langit, dalam setahun mendatang, pemuda ini pasti akan tersohor dalam dunia persilatan dan merupakan seorang pemimpin yang cakap"

Walaupun perguruan Thi-kiam-bun tidak terhitung suatu perguruan yang besar dan ternama, namun mereka mempunyai sejarah yang cukup lama..Kwik Tin-peng sebagai seorang ciangbunjin ternyata mengucapkan kata-kata tersebut, sudah barang tentu ucapannya sangat berbobot.

Hingga sekarang, acapkali Ting Peng merasa bangga dan gembira setiap kali teringat akan perkataan tersebut.

"Tersohor dalam dunia persilatan, sebagai seorang pemimpin yang cakap"

Sudah lima belas tahun ia melatih diri secara tekun, setiap hari berlatih selama hampir tujuh jam lamanya, membuat telapak tangan maupun telapak kakinya menjadi lecet-lecet dan terluka.

Apalagi dimalam musim salju yang dingin, untuk membangkitkan semangatnya kerapkali ia mempersiapkan segumpal bongkahan es, bila merasakan dirinya menjadi malas, maka gumpalan es itu disusupkan ke dalam celana sendiri.

Tentu saja siksaan seperti itu tak akan bisa dibayangkan oleh orang lain.

Ia begitu menyiksa dirinya.

karena ia bertekad hendak menjadi terkenal, melampiaskan kekecewaan dari ayahnya yang sepanjang hidupnya tak pernah berhasil.

Ayahnya adalah seorang piausu yang tak ternama, dalam suatu ketika tanpa di sengaja ia telah menemukan selembar kitab ilmu pedang yang sudah koyak-koyak..

Bukan sejilid, melainkan hanya selembar.

Di atas lembaran kertas itu, tercantumlah rahasia dari jurus Thian gwa liu seng tersebut.

Bintang yang meluncur datang dari luar angkasa, tiba-tiba meluncur tiba, tiba-tiba meluncur pergi, kecepatan dan kerlipan cahaya tersebut tak bisa dibandingkan dengan kejadian apapun, pula tak seorangpun yang bisa membendungnya.

Tapi waktu itu ayahnya sudah tua, kecerdasan otaknya sudah mundur, reaksinya juga makin lamban, tak mungkin lagi baginya untuk melatih ilmu pedang semacam itu, maka selembar catatan ilmu pedang itupun telah diwariskan kepada putranya.

Sebelum menghembuskan napas yang penghabisan, ia sempat meninggalkan pesan, Katanya.

"Kau harus berhasil melatih ilmu pedang itu, kau harus melampiaskan semua kekecewaan dan keputus-asaanku, agar orang lain tahu bahwa aku orang she Ting pun memiliki keturunan yang bisa menonjol"

Setiap kali teringat akan persoalan ini, Ting Peng akan merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, bahkan air matapun hampir saja jatuh bercucuran.

Sekarang ia tak perlu melelehkan air mata lagi.

Air mata hanya dilelehkan oleh mereka yang lemah, dan seorang lelaki sejati tak boleh melelehkan air mata, darah yang harus meleleh keluar .......

Dia menarik napas panjang-panjang menghirup udara pagi yang segar dan dingin, dari bawah bantal ia mencabut keluar sebilah pedang.

Hari ini, kembali dia akan mempergunakan pedang ini untuk meraih kemenangan sekali lagi baginya.

Jika hari ini pertarungannya berakhir dengan kemenangan, ia baru akan benar-benar berhasil dengan sukses.

"Si Tong, Kok Khi, Kwik Tin peng meski terhitung jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, tapi bila dibandingkan dengan pertarungan yang akan berlangsung hari ini kemenangan yang tiga kali secara beruntun itu masih belum terhitung seberapa. Sebab lawan tandingannya hari ini adalah Liu Yok-siong. Cing siong kiam kek (jago pedang pohon cemara) Liu Yok siong yang merupakan salah satu dari antara Sui han sam yu (tiga serangkai cemara, bambu dan bwe) jago-jago kenamaan dalam kolong langit dewasa ini. Liu Yok siong yang merupakan kepala kampung Cing siong san ceng. Liu Yok siong yang merupakan satu satunya murid preman dari Thian It cin jin, seorang imam saleh dari kuil Lip tin koan di bukit Bu tong san. Sejak banyak tahun berselang ia sudah mendengar akan nama besar orang ini. Ketika itu nama tersebut baginya bagaikan bukit Tay san yang sangat tinggi, jauh tinggi di atas dan tak mungkin tergoyahkan. Tapi keadaan sekarang jauh berbeda. Sekarang ia mempunyai keyakinan untuk mengalahkan orang ini. Ia menggunakan cara yang paling jujur dan cara yang paling terbuka untuk memohon petunjuk dari Bu lim cianpwe kenamaan ini. Membuat Liu Yok siong tak sanggup untuk menampik tantangannya itu. Sebab dia harus berhasil merobohkan orang itu bila ingin maju ke depan, maju ke lingkungan orang-orang ternama dalam dunia persilatan. Baik waktu maupun tempat diselenggarakannya pertarungan itu ditentukan sendiri oleh Liu Yok siong.

"Bulan enam tanggal lima belas, tengah hari tepat, di perkampungan Cing siong san ceng"

Hari ini adalah bulan enam tanggal lima belas.

Hasil dari pertarungan hari ini, akan menentukan nasib serta masa depannya di kemudian hari.

Pakaian yang semalam ia cuci sendiri digantungkan pada tiang jemuran di mulut jendela, kini sudah hampir kering.

Walaupun belum mengering sama sekali, setelah dikenakan di badan, dengan cepat akan mengering sendiri.

Pakaian ini merupakan satu satunya pakaian yang dia miliki, pakaian yang dibuat oleh ibunya sendiri menjelang kepergiannya dulu, sekarang warnanya sudah luntur, bahkan di sana sini penuh dengan tambalan, tapi asal selalu dicuci dan kering, Ia masih bisa mengenakannya untuk berjumpa dengan siapapun.

Miskin bukan sesuatu yang memalukan, malas dan dekil baru sesuatu yang memalukan.

Setelah berpakaian, dari bawah bantalnya kembali ia mengeluarkan sebuah kocek terbuat pula dari kain biru.

Dalam kocek hanya tinggal sekeping kecil hancuran perak.

Inilah seluruh harta yang dimiliki, setelah dibuat untuk membayar ongkos penginapan, yang tersisapun paling cuma beberapa puluh rence uang tembaga.

Biasanya ia selalu tidur di tempat-tempat yang tak perlu membayar uang sewa, seperti dikolong meja altar dalam kuil atau rumput di tengah hutan ........

Tapi demi keberhasilannya dalam pertempuran hari ini, dengan perasaan terpaksa dia memasuki penginapan kecil itu, sebab dia membutuhkan tidur yang nyenyak dan nyaman, dengan begitu badannya baru akan memiliki semangat serta kekuatan yang segar, dalam kondisi seperti ini dia baru akan berhasil menangkan pertarungan.

Setelah membayar rekening penginapan sambil menggigit bibir kembali ia membeli setengah kati daging sapi, sepuluh potong tahu kering, sebungkus besar kacang tanah dan lima bakpao besar dengan menggunakan sisa uang yang dimilikinya.

Baginya makanan tersebut bukan saja merupakan suatu makanan yang mewah dan berlebihan, lagi pula ia menganggap sebagai suatu pemborosan yang tak boleh diampuni, sebab dihari hari biasa dia hanya dahar kuah keras yang cukup dibeli dengan uang tiga rence tembaga tapi cukup untuk mengisi perut selama sehari penuh.

Tapi hari ini, ia bertekad untuk memaafkan dirinya satu kali, hari ini ia membutuhkan tenaga yang besar, hanya makan makanan yang lezat baru akan timbul kekuatan yang segar.

Apalagi setelah lepas hari ini, besar kemungkinan keadaannya akan sama sekali berbeda.

Nama besar bukan saja dapat mendatangkan kebanggaan serta martabat, dapat pula mendatangkan banyak hal yang biasanya tak pernah kau duga.

Harta kekayaan, kedudukan mungkin juga akan turut berdatangan semua.

Dia sangat memahami hal ini, sehingga dia selama ini terus menerus menggertakkan rahangnya kuat-kuat untuk menahan kemiskinan dan kelaparan ini.

Dia tidak akan pernah membiarkan dirinya tercemar oleh perbuatan yang tidak terhormat, dia telah membulatkan tekad untuk mencapai kesuksesan lewat jalan yang normal.

Sekarang masih ada waktu dua jam sebelum waktu tengah hari tiba, dia memutuskan untuk mencari sebuah tempat agar dapat menikmati makanan ini.

Di kaki bukit dekat Villa Bukit Wan Song dia menemukan sebuah tempat yang memiliki sumber air, padang rumput, kembang merah, dan pemandangan yang indah, ke empat penjurunya dilingkari oleh kembang dan pepohonan, sekali mata memandang tampaklah langit yang membiru.

Pada saat ini kabut tebal sudah memudar, matahari baru saja naik meninggi, di atas daundaun yang hijau bulir-bulir embun berkilauan, cemerlang bagaikan mutiara.

Dia duduk di atas rumput yang empuk, merobek dendeng daging, aroma dendeng daging ternyata jauh lebih harum daripada yang dia bayangkan.

Dia merasa sangat gembira.

Pada saat inilah seorang perempuan berjalan masuk ke dalam tempat rahasia kecilnya ini, seperti seekor kambing antelope yang sedang dikejar oleh pemburu.

Bocah perempuan ini berparas cantik dan masih belia.

Ting Peng sudah merasakan napasnya seperti berhenti, debar jantungnya bertambah cepat tiga kali lipat dari biasanya.

Dia belum pernah sebelumnya berdekatan dengan perempuan.

Di kampung halamannya, bukannya tidak ada gadis belia, dia juga bukannya tidak pernah melihat mereka.

Dia selalu saja mati-matian mengendalikan dirinya, semua cara sudah dia gunakan, dia memasukkan bongkahan es ke balik celananya, memasukkan kepalanya ke dalam air sungai, menusuk kakinya sendiri dengan jarum, berlari, mendaki gunung, bersalto...

Sebelum dia mencapai ketenaran, dia tidak akan membuat hal-hal ini memecah konsentrasinya, dia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan tenaga oleh apa pun juga.

Tetapi sekarang, dia tiba-tiba melihat ada seorang wanita yang telanjang, seorang wanita cantik yang tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.

Kulitnya yang putih itu, payudaranya yang tinggi menjulang, matanya yang bulat dan indah...

Dia harus menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya sebelum akhirnya dapat memalingkan kepalanya.

Perempuan ini malah mendekat, menariknya dan berkata dengan napas yang terengah-engah.

"Tolong, tolong aku, kau harus menolongku."

Wanita itu begitu berdekatan dengannya, napasnya terasa hangat dan harum, dia bahkan bisa mendengar detak jantungnya.

Mulutnya terasa kering, sehingga tidak satu patah kata pun diucapkannya.

Gadis ini sudah menyadari perubahan yang terjadi dalam tubuhnya, sehingga wajahnya berubah menjadi merah merona, dia menggunakan sepasang tangannya untuk menutupi tubuhnya.

"Kau... kau... bisakah kau melepaskan pakaianmu untuk dipinjamkan padaku?"

Pakaian itu, adalah satu-satunya pakaian yang dimilikinya, namun dia tanpa berpikir panjang lagi langsung menanggalkannya.

Setelah gadis itu mengenakan pakaiannya, barulah dia merasa agak tenang sedikit, setelah itu dia berkata dengan penuh rasa hormat.

"Terima kasih!"

Ting Peng akhirnya juga merasa lebih tenang sedikit, akhirnya dia juga bisa mengutarakan kata-kata.

"Apakah ada orang yang sedang mengejarmu?"

Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya, di matanya juga terdapat air mata. Ting Peng berkata.

"Tempat ini sangat terpencil, orang lain akan sulit menemukannya, kalau pun ada orang yang mengejar, kau tidak perlu takut."

Dia adalah seorang pria yang jantan, sejak lahir dia sudah punya sifat melindungi wanita, apalagi gadis ini memiliki wajah yang begitu cantik. Dia menggenggam tangan gadis itu.

"Selama ada aku dan golok ini, maka kau tidak perlu takut."

Gadis itu kembali merasa tenang, dia berkata dengan lirih.

"Terima kasih."

Dia sepertinya sudah pernah mengatakan kedua kata itu.

setelah selesai berkata seperti itu dia lalu menundukkan kepalanya dan menutup mulutnya.

Ting Peng semakin tidak tahu harus berkata apa.

Meskipun tubuh gadis itu hanya ditutupi oleh sehelai pakaian, namun sehelai pakaian yang pendek sama sekali tidak dapat menutupi dan menyembunyikan seluruh bagian tubuh seorang gadis yang telah matang itu.

Tubuh seorang gadis yang seperti dia ini, benar-benar memiliki terlalu banyak bagian yang menarik perhatian orang.

Jantungnya masih terus berdebar kencang, deburan jantungnya pun sangat cepat.

Setelah beberapa lama kemudian, barulah dia menyadari kalau mata gadis itu sedang terus memandangi bungkusan dendeng sapinya itu.

Makanan ini mungkin sekali adalah makanan terakhir yang akan dilahapnya, uang terakhir yang dimilikinya hanyalah berjumlah satu tong saja.

Namun dia tanpa berpikir panjang berkata.

"Makanan ini semuanya bersih, kau makan saja sedikit."

Gadis itu kembali berkata.

"Terima kasih!"

Ting Peng berkata.

"Tidak usah sungkan-sungkan."

Gadis itu lalu benar-benar tidak sungkan-sungkan lagi.

Belum pernah Ting peng menyangka kalau seorang gadis muda seperti dia ternyata cara makannya seperti seekor serigala.

Ia pasti sudah lama menderita kelaparan, sudah banyak siksaan dan penderitaan yang dialaminya.

Bahkan ia sudah dapat membayangkan tragedi yang telah menimpa dara ayu ini.

Seorang gadis yang sendirian, ditelanjangi oleh sekawanan manusia jahat dan dikurung dalam sebuah penjara bawah tanah tanpa dl beri makan, rupanya gadis itu telah mempergunakan segala macam cara yang dimiliki nya untuk melarikan diri dari situ.

Dikala ia sedang menghela napas panjang mengenang tragedi yang menimpa gadis itu, si nona telah menyikat habis segenap harta yang dimilikinya itu.

Bukan saja daging sapi dan tahunya disikat ludas bahkan beberapa biji bakpao pun ikut dilahap, yang tersisa sekarang tinggal empat puluh biji kacang tanah.

Tampaknya dara itupun merasa agak rikuh dengan kejadian itu, pelan-pelan ia mendorong kacang tanah tersebut ke hadapannya sambil berbisik amat lirih.

""Kacang ini makanlah untukmu!"

Ting Peng segera tertawa..

Sebenarnya bukan saja ia tak bisa tertawa, bahkan mau menangispun tak bisa, tapi kenyataannya justru dia tak tahan untuk tertawa terbahak bahak, Dara ayu itupun turut tertawa, tertawa dengan pipi yang berubah menjadi merah karena jengah, merahnya pipi bagaikan sekuntum bunga di bawah sorotan cahaya matahari, Tertawa, bukan saja dapat membuat dirinya bertambah cantik, membuat orang lain gembira, dapat pula memperpendek jarak antara seseorang dengan orang yang lain.

Tiba-tiba saja mereka merasa jauh lebih leluasa, jauh lebih bebas untuk bergerak, akhirnya dara ayu itupun mengisahkan tragedi yang telah dialaminya.

Apa yang dilamunkan Ting Peng tadi ternyata memang tidak terpaut jauh dibandingkan dengan kenyataan.

Dara ayu itu memang benar-benar ditangkap oleh segerombolan orang jahat, ditelanjangi dan disekap dalam sebuah kamar yang gelap, sudah beberapa hari lamanya ia tak diberi makan sebutir beraspun, kawanan penjahat itu mengira dia sudah kelaparan sehingga tak mampu berkutik, sebab itu penjaga batu agak mengendor, dan iapun memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.

Gadis itu merasa amat berterima kasih sekali kepadanya, dengan dada terharu kembali ia berkata.

"Bisa bersua dengan orang baik seperti kau, sungguh hal ini merupakan suatu kemujuran bagiku"

"Dimanakah orang-orang itu sekarang? Akan kubalaskan dendam sakit hatimu itu!"

""Kau, tak boleh kesana.."

""Mengapa?"

Dara ayu itu ragu-ragu sejenak, kemudian sahutnya.

"Ada sementara persoalan tak ingin kukatakan pada saat ini, tapi di kemudian hari aku pasti akan memberitahukan kepada mu". Dibalik persoalan itu tampaknya masih ada rahasia lain, tapi setelah berkata demikian, tentu saja ia merasa enggan untuk bertanya lebih jauh. Gadis itu kembali berkata.

"Sekarang. asal aku dapat menemukan seseorang, legalah hatiku"

"Siapa yang hendak kau cari?"

"Seorang cianpwe ku, dia telah berusia enam tujuh puluh tahunan, tapi gemar mengenakan baju berwarna merah menyala, asal kau berjumpa dengan nya pasti dapat segera kau kenali"

La mendongakkan kepalanya dan memandang dengan sorot mata penuh permohonan tanyanya lirih.

"Bersediakah kau membantuku untuk menemukan jejaknya?"

Tentu saja Ting Peng tak bisa pergi, benar-benar tak bisa pergi dan tak mungkin pergi sekarang"

Jaraknya dengan saat pertarungan yang bakal menentukan nasibnya itu tinggal kurang dari dua jam.

Ia masih lapar, masih belum berlatih ilmu pedangnya.

Ia harus baik-baik memupuk kekuatannya, menjaga kondisi badannya daripada pergi mencari seorang kakek yang belum pernah dijumpainya.

Tapi, apa lacur justru dia tak sanggup untuk mengucapkan kata "tak bisa"

Itu dari mulutnya. Mengucapkan kata "tidak"

Di hadapan seorang gadis yang cantik jelita memang bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang.

Bukan saja harus memiliki keberanian yang sangat besar, kaupun harus memiliki kulit muka yang cukup tebal.

Seorang pria harus mengalami banyak percobaan dan penderitaan lebih dulu, sebelum dapat belajar mengucapkan kata "tidak"

Di hadapan seorang gadis cantik. Ting Peng menghela napas panjang di hatinya, iapun bertanya.

"Entah lo-siansing itu tinggal dimana ?"

"Kau bersedia membantuku untuk mencari dirinya?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata gadis itu. Terpaksa Ting Peng harus manggut-manggut. Dengan luapan rasa gembira, gadis itu melompat bangun dan memeluknya erat-erat.

"Oooh, kau betul-betul seorang yang baik, selama hidup aku tak akan melupakan dirimu"

Ting Peng sendiripun percaya, untuk melupakan gadis ini dalam sejarah hidupnya memang bukan suatu pekerjaan yang gampang.

"Ikuti sungai ini dan berjalanlah menuju ke hulu, bila kau sampai di ujung sungai ini akan kau jumpai sebuah pohon kuno yang aneh sekali bentuknya, jika kebetulan udara sedang bersih, ia pasti sedang bermain catur di sana"

Kebetulan cuaca hari ini sangat bersih dan segar.

"Setelah bertemu dengannya, kau harus mengobrak-abrik papan caturnya lebih dahulu, sebab hanya didalam keadaan demikian ia baru akan menuruti perkataan mu, dan mengikuti kau datang kemari"

Seorang pecandu catur memang begitulah sikapnya, sekalipun langit bakal ambruk, dia akan berbicara setelah permainan yang satu babak diselesaikan..

"Aku akan menunggu kedatanganmu di sini, entah kau berhasil menemukannya atau tidak, kau harus cepat-cepat kembali ke sini"

Ooooo0ooooo AIR sungai itu amat bersih.

Dengan menelusuri sungai, Ting Peng berjalan menuju ke hulu, ia berjalan dengan langkah cepat.

Tentu saja dia harus cepat-cepat pulang, dia masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan, sang surya makin meninggi, tiba-tiba ia merasa lapar.

Lapar setengah mati.

Hari ini, mungkin merupakan hari yang terpenting sepanjang hidupnya, saat yang akan menentukan nasibnya di kemudian hari.

Tapi sekarang, keadaannya seperti seorang tolol, mana perut lapar, bertelanjang dada, harus menelusuri sungai pula untuk mencari seorang kakek berbaju merah untuk seorang dara muda.

Bila orang lain yang melakukan perbuatan semacam ini dia pasti tak akan percaya.

Satu satunya kenyataan adalah gadis itu memang sangat cantik, bukan Cuma cantik saja, lagi pula mempunyai suatu sikap yang istimewa sekali, membuat orang tak bisa menampik permohonannya dan tak tega untuk menolaknya.

Lelaki yang bisa mengucapkan kata "tidak"

Di hadapan gadis cantik seperti ini pasti tidak banyak jumlahnya Untung saja sungai itu tidak terlalu panjang, betul juga di ujung sungai terdapat sebatang pohon kuno, di bawah pohon tampak dua orang sedang bermain catur, salah seorang diantaranya adalah seorang kakek berambut putih yang memakai jubah warna merah.

Ting Peng menghembuskan napas lega dengan langkah lebar dia maju ke depan dan mengobrak abrik permainan catur mereka.

Dia memang seorang pemuda yang sangat penurut.

Siapa tahu belum lagi tangannya dijulurkan ke depan tiba-tiba kakinya menginjak tempat kosong, rupanya di atas tanah terdapat sebuah liang, kakinya persis masuk ke dalam liang tersebut.

Untung saja liang itu tidak terlalu besar sehingga ia tak sampai tertelungkup ke tanah.

Tapi tidak untungnya, baru saja kaki itu dicabut keluar dari dalam liang, kaki yang lain telah terjirat tali.

Ternyata di atas tanah terdapat seutas lingkaran tali, begitu kakinya melangkah ke dalam tali itu, serta merta tali tersebut menyusut kecil dan membelenggunya kencang kencang.

Padahal waktu itu kakinya yang lain masih berada ditengah udara, begitu kaki yang satu terikat tali, kontan saja hilanglah keseimbangan badannya.

Yang lebih parah lagi, ternyata kolongan tali itu diikat pada sebatang dahan pohon, dahan itu sebetulnya melengkung di atas tanah, begitu kolongan tali tersebut bergerak, serta merta dahan pohon tadi melenting ke udara, otomatis badannya ikut pula tertarik ke tengah udara.

Dasar sial lagi, sewaktu badannya mencelat ke tengah udara kebetulan badannya menumbuk di atas dahan pohon yang lain, tempat yang tertumbukpun kebetulan adalah jalan darah lemas dekat pinggangnya, sedikit saja terbentur, kontan saja segenap tenaganya lenyap tak berbekas.

Maka tanpa diketahui ujung pangkalnya, tahu-tahu pemuda itu sudah tergantung di atas pohon dengan kepala di bawah kaki di atas, persis seperti seekor ikan asin yang dijemur di bawah teriknya matahari.

Liang di atas tanah, kolongan tali disamping liang dan dahan pohon tersebut, apakah semuanya diatur secara sengaja?

Gadis ayu itu suruh dia datang ke situ, apakah ia sengaja membiarkannya masuk perangkap ini ?

Tapi mereka toh tiada dendam sakit hati apa-apa, kenapa ia harus mencelakainya ?

Dua orang manusia yang berada di bawah pohon itu masih bermain catur dengan asyik.

Jangan toh menolongnya, berpaling dan memandang sekejap ke arahnyapun tidak, seakan akan mereka sama sekali tak tahu kalau ada satu orang yang datang ke situ dan kena terjirat oleh tali sehingga tergantung di atas dahan pohon.

Dua orang ini benar-benar pecandu catur.

Orang yang sedang asyik bermain catur, apalagi pemainnya adalah pecandu-pecandu catur biasanya paling tak senang kalau diusik orang lain.

Mereka sengaja mengatur jebakan tersebut mungkin hanya berjaga juga terhadap gargguan orang lain, bukan sengaja dipasang untuk menghadapi seorang.

Gadis itu tentu saja tak akan tahu kalau di sana telah dipasang jebakan semacam itu.

Berpikir sampai ke situ, sedikit banyak Ting Peng merasa hatinya agak tenteram sedikit, sambil menahan diri segera teriaknya.

"Lo-sianseng berdua, tolong turunkan aku dari sini"

Tapi pemain-pemain catur itu sama sekali tidak menggubris, mengulangi kembali ucapannya sampai tiga kali namun menggubris seolah-olah tak sepotong perkataanpun yang didengar oleh mereka berdua.

Habislah kesabaran Ting Peng, dengan suara menggeledek ia berteriak semakin keras "Hey !"

Ia cuma meneriakkan sepatah kata saja, sebabnya kata pembukaan itu saja yang sanggup diutarakan olehnya.

Baru saja mulutnya dibuka, sebuah benda telah meluncur datang dan menyumbat bibirnya.

Semacam benda yang bau, lunak, lembab dan amis, entah lumpur?

Entah benda yang jauh lebih kotor dan najis daripada lumpur?

Benda itu meluncur datang dari atas dahan pohon di seberang sana, dimana seekor monyet kecil berbaju merah sedang bergelantungan di pohon dan memandangnya sambil mencicit.

Benda yang disambit seekor monyet tentu saja bukan benda yang baik, kalau benda itu cuma lumpur, nasibnya masih terhitung lumayan.

Hampir pingsan Ting Peng saking gusarnya.

setelah melewati perjuangan yang penuh sengsara dan penderitaan, dikala kesuksesan sudah hampir tiba di depan mata.

ternyata dia harus mengalami peristiwa semacam ini.

oooooOooooo SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA SEBUAH liang, seutas tali dan sebatang dahan pohon telah membuat seorang pemuda yang telah berlatih diri selama tiga belas tahun tak berkutik lantaran tergantung, Ting Peng sungguh amat membenci kepada diri sendiri, kenapa begitu tidak berhati hati.

kenapa begitu ceroboh dan tak berguna padahal liang itu, tali itu dan dahan pohon itu diatur dalam jarak serta letak yang sangat tepat, tak mungkin hal itu bisa dilakukan tanpa suatu perencanaan yang matang, bukan saja seorang harus memiliki otak yang cerdas, diapun harus memiliki pengalaman yang matang untuk bisa menyusun rencana secermat ini.

Kakek berjubah merah itu mempunyai kepala yang jauh lebih besar dari kepala manusia biasa, rambutnya telah beruban, muka nya merah seperti bayi dan badannya gemuk pendek seperti bocah cilik.

Kakek yang lain berbadan kurus dan lebih muda, mukanya dingin menyeramkan tanpa emosi, dia mengenakan jubah panjang berwarna hitam yang mengerikan sehingga sekilas pandangan menyerupai sebuah buah kering yang mulai berkeriput.

Seluruh perhatian dari kedua orang itu sedang tertuju ke meja catur, sebelum melakukan langkah-langkah caturnya, mereka selalu berpikir dan merenung sampai lama sekali.

Matahari makin lama semakin tinggi, kemudian, sang surya pun mulai tenggelam di langit barat, andaikata tiada peristiwa ini, sekarang Ting Peng pasti telah berhasil mengalahkan Liu Yok siong, nama besarnya pasti sudah termasyhur dalam dunia persilatan.

Sayang, saat ini dia masih tergantung di atas pohon bagaikan seekor ikan kering.

Sampai kapan permainan catur mereka akan berakhir?

Kemudian apa yang hendak mereka lakukan terhadap dirinya?

Si kakek berjubah hitam yang menyeramkan itu bermain catur dengan cars yang amat lamban, sambil memegang biji catur, ia termenung sampai lama sekali sebelum biji catur itu pelan-pelan dan lambat-lambat diletakkan di atas papan catur.

Kakek berjubah merah itu melototkan sepasang matanya lebar-lebar, memandang apakah catur tersebut, butiran keringat sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Siapapun juga yang menyaksikan mimik wajahnya itu segera akan tahu kalau permainan catur kali ini kekalahan berada di pihaknya.

Dalam memainkan catur, ia selalu gegabah dalam permainan ini pikirannya harus bercabang, dalam permainan ini dia sengaja mengalah.

Orang yang kalah dalam permainan, selalu akan berusaha untuk mencari banyak alasan guna memberi penjelasan kepada diri sendiri, ia tak sudi mengaku kalah dengan begitu saja tentu saja dia menuntut hendak bermain satu babak lagi.

Sayang kakek berjubah hitam itu telah bangkit berdiri, kemudian tanpa berpaling telah angkat kaki meninggalkan tempat itu.

Kakek berjubah merah itu segera mencak-mencak sambil berkaok kaok, sambil menyusul dari belakangnya ia berteriak teriak.

"Kau tak boleh pergi, kita harus bermain satu babak lagi!"

Begitulah, yang satu lari di depan sedangkan yang lain mengejar dari belakang, mereka seakan akan sama sekali tidak mengerahkan ilmu meringankan tubuh, jalannya pun tidak terlalu cepat, tapi dalam waktu singkat bayangan tubuh kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan.

Si monyet kecil berbaju merah yang berada di dahan pohon seberang sanapun lenyap tak berbekas.

Hari semakin senja, udara makin gelap ternyata mereka pergi untuk tak kembali lagi, seakan akan mereka sama sekali tak tahu kalau di situ masih ada seseorang yang tergantung.

Sejak awal sampai akhir mereka sama sekali tidak memandang Ting Peng barang sekejappun.

Malam sudah menjelang tiba, udara serasa dingin, suasanapun semakin sepi, didalam keadaan seperti ini, sudah barang tentu tidak mungkin ada orang lain yang bakal ke situ.

Bila seseorang tergantung di tempat seperti ini sekalipun di gantung selama tujuh delapan hari tak nanti ada orang yang bakal datang untuk melepaskannya.

Sekalipun akhirnya mati lantaran tergantung, juga bukan sesuatu yang aneh.

Berada dalam keadaan begitu, bukan saja ia merasa gelisah, lagi pula kedinginan dan kelaparan ditambah lagi wajahnya seperti membengkak.

Ke empat anggota badannya kaku dan kesemutan.

Tiba-tiba ia merasa dirinya bagaikan seekor babi, seekor babi yang paling dungu di dunia ini, seekor babi paling sial dikolong langit.

Bahkan dia sendiripun tidak tahu mengapa ia sesial ini.

Hingga saat ini dia belum tahu siapa nama gadis itu, tetapi dia telah memberikan satu satunya pakaian yang dia miliki, memberikan seluruh harta kekayaannya untuk mengisi perut gadis itu, bahkan demi dia ia digantung seperti seekor ikan kering di sana, malah belum diketahui dia bakal digantung sampai kapan.

Saking sedih dan gemasnya, dia ingin sekali menampar diri sendiri sebanyak tujuh delapan puluh kali, kemudian menangis tersedu sedu.

Tak disangka pada saat itulah, mendadak tali itu putus dan tubuhnya terjatuh dari tengah udara, meskipun tidak enteng jatuhnya, tapi justru telah membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

Mungkinkah kejadian inipun sudah berada dalam perhitungan orang lain...?

Mereka hanya menginginkan ia merasakan sedikit penderitaan, dan sama sekali tidak berharap untuk menggantungnya sampai mati?" .

Tapi, antara ia dengan mereka, dimasa lalu tiada dendam, dimasa sekarang tiada sakit hati, mengapa mereka harus Menggunakan cara ini untuk mempermainkannya?

Ia memikirkannya juga tidak mengerti.

Sekarang, perbuatan pertama yang langsung dilakukan adalah mengorek keluar lumpur yang menyumbat mulutnya.

Perbuatan kedua yang harus dilakukan adalah memburu kembali ke tempat tadi dan mencari gadis itu untuk ditanya sampai jelas.

Sayang gadis itu telah pergi.

pergi sambil membawa satu satunya pakaian yang dia miliki.

Sejak kini, besar kemungkinannya mereka tak akan berjumpa lagi, tentu saja diapun tak akan berjumpa lagi dengan kakek berjubah merah itu.

Sesungguhnya apa yang telah terjadi?

Mungkin sampai tuapun dia tak akan mengerti atas duduk persoalan yang sebenarnya.

Sekarang, satu satunya pekerjaan yang bisa dilakukan adalah dengan tubuh setengah telanjang, perut kosong, ditambah lagi mulut yang bau dan serta rasa dongkol berangkat ke perkampungan Ciang siong san ceng untuk mohon maaf.

Sekarang walaupun terlalu lambat kedatangannya.

tapi lebih-baik terlambat daripada sama sekali tidak datang.

Seandainya orang lain bertanya kepadanya mengapa datang terlambat, dia akan mengarang suatu cerita untuk menjelaskannya.

Sebab bila ia bicara terus terang, belum tentu orang lain akan mempercayainya.

Ketenaran perkampungan Cing siong san ceng ternyata jauh lebih hebat daripada apa yang dibayangkan semula.

bahwa si penjaga pintu gerbangpun mengenakan jubah panjang dari sutera yang halus dan mahal harganya.

Begitu tahu kalau dia adalah "Ting Peng Ting tayhiap"

Sikap penjaga pintu itu menjadi amat sungkan.

sedemikian sungkannya sehingga sepasang matanya sama sekali tidak memandang dadanya yang tak berpakaian.

juga tidak memandang ke wajahnya yang penuh berlumpur.

"Biasanya, penjaga pintu dari suatu keluarga besar atau keluarga kenamaan selalu adalah seorang manusia yang tahu sopan santun, dan sangat tahu akan peraturan. Tapi justru sikapnya yang sopan santun dan tahu aturan ini, seringkali membuat orang merasa tidak tahan. Dengan kata-kata yang halus dan gerak gerik yang sopan, penjaga pintu itu berkata.

"Kedatangan Ting sauya tidak terhitung terlalu lambat! hari ini masih tanggal lima belas, belum tanggal enam belas, cengcu kami serta kawan-kawan yang diundang cengcu sebenarnya juga menanti kedatangan Ting sauya di sini. sekalipun menunggu tiga lima hari juga tidak apa-apa"

Agak merah paras muka Ting Peng karena jengah, agak tergagap ia berkata.

"Sebenarnya aku akan datang sedari pagi tadi."

Ia telah mempersiapkan sebuah cerita yang menarik, sayang si penjaga pintu yang sopan itu seperti enggan untuk mendengarkan, dengan cepatnya ia menyambung kembali.

"Sayang sekali hari ini cengcu kami masih ada sedikit urusan dia harus segera berangkat ke kota"

Ia sedang tertawa, tertawa dengan amat sopannya.

"Berulang kali cengcu telah berpesan kepadaku, agar aku mohonkan maaf kepada "Ting sauya, sebab dia hanya bisa menunggu selama tiga setengah jam, setelah itu mau dia harus pergi meninggalkan rumah"

Ting Peng tertegun, ia tak dapat menyalahkan Liu Yok siong, siapapun yang sedang di tunggu bisa menunggu selama tiga jam lebih sudah terhitung sesuatu yang hebat.

Tapi, bagaimana selanjutnya.

Sekarang, dalam sakunya tinggal uang tembaga sekeping, pakaian bagian atasnya telah hilang, sedang perutnya tak karuan laparnya.

Kemana dia bisa pergi?

Meskipun senyum si penjaga pintu masih amat sungkan, namun tidak terlintas keinginan orang untuk mempersilahkan dia masuk ke dalam.

Akhirnya Ting Peng berseru.

"Dapatkah aku menunggu di sini sampai kedatangannya? Si penjaga pintu itu segera tertawa.

"Bila Ting sauya ingin menunggu di sini, sudah barang tentu boleh saja?"

Baru saja Ting Peng menghembuskan napas lega, mendadak si penjaga pintu itu melanjutkan.

"Tapi kami tak dapat mempersilahkan Ting sauya untuk tinggal ditempat ini"

Ia masih tertawa sambungnya.

"Sebab kepergian cengcu paling tidak akan makan waktu sampai dua tiga puluh hari lamanya, bagaimana mungkin kami dapat mempersilahkan Ting sauya untuk berdiam selama dua tiga puluh hari di sini?"

Perasaan Ting Peng seakan akan tenggelam, ia merasa tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan. Kembali si penjaga pintu itu berkata.

"Namun cengcu telah meninggalkan pesan, katanya sebelum tanggal lima belas bulan mendatang ia pasti sudah pulang, waktu itu pekerjaannya pasti sudah beres, sekalipun hendak menunggu tiga lima hari juga tak menjadi soal"

"Baik!"

Ucap Ting Peng kemudian sambil menahan sabar.

"tanggal lima belas bulan mendatang, tengah hari tepat aku pasti akan datang lagi kemari"

Kembali penjaga pintu itu tertawa.

""Aku toh bisa bilang, hari itu cengcu tak ada urusan, sekalipun Ting sauya datang sedikit lambatpun tidak mengapa katanya. Suara tertawanya masih begitu sungkan, cara berbicaranya juga masih sungkan-sungkan. Tapi Ting Peng telah membalikkan badannya, tanpa berpaling lagi pergi meninggal kan tempat itu, Dia benar-benar tak ingin menyaksikan selembar wajah penuh senyuman yang begitu sungkan, begitu tahu aturan itu. Ia sudah tak tahan Dia bersumpah dalam hatinya, bila suatu hari berhasil mendapat nama besar ia pasti akan kembali lagi ke situ agar si penjaga pintu inipun menyaksikan senyumannya, Itu adalah kejadian kemudian hari, sekarang dia tak sanggup tertawa, ia masih belum tahu dengan cara apa hendak melewatkan sebulan ini. Tapi bagaimanapun juga sekarang dia masih mempunyai sekeping uang tembaga. Dengan sekeping uang tembaga, ia masih dapat membeli sebuah kueh keras, asal minum air agak banyak, sudah pasti perutnya akan menjadi kenyang. Tapi, menanti ia hendak mengeluarkan sisa uang tembaga yang dimilikinya itu, ia baru menjumpai bahwa uang itupun sudah lenyap tak berbekas..... Mungkinkah uang itu terjatuh dikala ia tergantung tadi? Tidak mungkin? Mendadak teringat olehnya bahwa uang itu sama sekali tidak dimasukkan ke dalam koceknya, sehabis membeli daging sapi, ia masukkan sekeping uang tembaga itu ke dalam saku kecil dalam pakaian luarnya. Sekarang, pakaian itu telah dikenakan si nona, sekeping uang tembaga terakhir yang dimilikipun ikut terbawa olehnya. Padahal, siapa nama gadis itupun sampai sekarang belum diketahui. Tiba-tiba Ting Peng tertawa, tertawa terbahak bahak, hampir saja airmatanya turut bercucuran karena gelak tawanya. Malam semakin kelam, malam ini adalah suatu malam yang berbulan. Rembulan bersinar terang diangkasa, bintang bertaburan memenuhi langit, air selokan di bawah timpaan cahaya rembulan tampak bagaikan sebuah ikat pinggang berwarna perak, ketika angin malam berhembus lewat membawa bau bunga, suasana terasa lebih nyaman dan segar. Malam yang kelam selalu memang indah tapi yang lebih indah tentu saja rembulan yang sedang purnama. Rembulan yang bulat besar dan terang benderang. Ting Peng berharap rembulan yang bulat itu dapat berubah menjadi sebuah kueh kering yang bulat. Ia bukannya seseorang yang tak tahu arti seni, tapi bila seseorang sedang lapar, biasanya dia akan melupakan soal seni. Tempat ini adalah tempat perjumpaannya dengan si nona tadi, dia kembali ke situ karena ia benar-benar tak tahu ke mana dia harus pergi, Dengan mengandalkan kepandaiannya, untuk pergi mencuri, merampas, tentu saja dapat dilakukan secara mudah. Tapi dia tak akan melakukan perbuatan semacam ini, dia tak ingin meninggalkan noda yang tak bisa dicuci bersih pada dirinya. Ia harus mencapai kesuksesan melalui jalan yang lurus dan benar. Mungkinkah uang tembaga itu terjatuh dari bajunya? Kalau sampai terjatuh di sini besar kemungkinan ia masih bisa menemukan kembali, Belum lagi uang tembaga itu ditemukan, ia telah menemukan kembali kacang tanah miliknya tadi. Dengan sangat berhati hati dia mengumpulkan kacang itu, mematahkannya menjadi dua dan bersiap-siap melahapnya dengan penuh kenikmatan, Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang gadis muda yang menerjang datang bagaikan seekor domba yang sedang dikejar serigala, begitu sampai di sisinya, la lantas menerjang kacang di tangannya sehingga tercerai berai di atas tanah. Tapi kali ini, Ting Pang sama sekali tidak merasa kalau dirinya sedang naas, malahan saking girangnya dia sampai melompat lompat "Oooh, rupanya kau..."

Pekiknya, nona yang mencelakai orang itu ternyata telah datang kembali.

Ting Peng, sama sekali tak menyangka kalau masih bisa berjumpa dengannya, di bawah sinar rembulan ia tampak jauh lebih cantik dari pada pagi tadi, Walau pun mereka tak lebih baru bertemu untuk kedua kalinya, tapi Ting Peng yang baru bertemu dengannya, bagaikan berjumpa dengan seorang sahabatnya yang paling karib.

Gadis itupun kelihatan sangat gembira, ditariknya tangan Ting Peng keras-keras, seakan akan dia kuatir kalau pemuda itu tiba-tiba kabur dari situ.

"Sebenarnya aku mengira tak mungkin akan berjumpa lagi denganmu. Ucapan itu merupakan kata-kata yang hendak di ucapkan oleh mereka berdua, ternyata kedua orang itu mengutarakannya hampir bersamaan waktunya. Dua orang itu segera berpandangan dan tertawa. Ting Peng menggenggam pula tangannya erat-erat, seakan-akan dia kuatir kalau gadis itu pun kabur secara tiba-tiba. Dengan sorot mata yang lembut, gadis itu menatapnya, kemudian berkata pelan.

"Tadi aku selalu mengingatkan diriku, bila kali ini bisa berjumpa lagi denganmu, aku harus teringat akan suatu persoalan"

""Persoalan apa?"

"Bertanya siapa namamu?"

Katanya sambil tertawa, Ting Peng ikut tertawa, barusan diapun telah mengingatkan diri sendiri bila bertemu lagi dia akan bertanya siapa namanya, ternyata gadis itu bernama Ko siau (menggelikan).

"Kau maksudkan namamu adalah Ko-siau (Menggelikan)?"

"Hmmm"

""Ko-siau yang berarti menggelikan? "Ehmm!"

"Aneh benar namamu itu!"

Seru Ting Peng sambil berusaha untuk menahan gelinya "Bukan cuma aneh, bahkan menggelikan sekali, bila kau tahu nama marga ku maka kau pasti akan kegelian"

""Apa nama margamu?"

""Aku she Li"

Setelah menghela napas, terusnya.

"Ternyata namaku adalah Li Ko-siau (Kau amat menggelikan) coba katakanlah menggelikan atau tidak?"

Ternyata Ting Peng masih dapat menahan rasa gelinya. Kembali Li Ko-siau berkata.

"Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa ayahku bisa mencarikan nama seperti ini kepadaku"

"Padahal nama inipun tidak terlalu jelek"

Hibur Ting peng.

"Tapi sejak masih kecil dulu orang selalu bertanya kepadaku.

"Hei, Li Ko-siau, sebenarnya apamu yang menggelikan?"

Tiap kali mendengar pertanyaan itu kepalaku langsung membesar, mana mungkin bisa tertawa lagi?"

Akhirnya Ting Peng tak tahan untuk tertawa terbahak bahak.

Ko-siau sendiripun ikut tertawa.

Semua keapesan yang dialaminya dalam sehari ini seketika tersapu lenyap tak berbekas bersama meledaknya gelak tertawa itu, sayang masih ada persoalan lain yang tak bisa dilupakan, sekalipun bisa dilupakan untuk sesaat tapi dengan cepatnya dapat teringat kembali.

Misalnya saja lapar.

Tertawa tapi dapat mengisi perut yang kosong juga tak dapat menyelesaikan persoalan mereka.

Ko siau pasti masih ada persoalan, Ia masih mengenakan pakaian dari Ting-Peng pakaian itu sama sekali tak dapat menutupi segenap potongan badannya.

Ketika cahaya rembulan menyorot di atas bagian-bagian tubuhnya yang tak tertutup pakaian itu segera timbul suatu rangsangan yang membuat orang makin terpikat.

Persoalan yang dihadapi Ting Peng lebih banyak lagi.

Tapi dia sendiripun tak tahu karena apa, ternyata yang paling dikuatirkan dan perhatikan saat ini bukanlah diri sendiri, melainkan adalah gadis itu.

"Aku tahu kau tentu ingin bertanya kepadaku, kenapa aku menyuruh kau pergi mencari si kakek yang berbaju merah itu?"

Ujar Ko siau.

""kenapa aku tidak menantikan kedatanganmu di sini? Selama setengah harian ini kemana saja aku telah pergi?"

Ting Peng tidak menjawab, karena apa yang diucapkan gadis itu memang persoalanpersoalan yang ingin diketahui olehnya. Tapi lebih baik kau tak usah bertanya saja"

Kembali Ko siau berkata lirih.

"Kenapa?"

"Karena sekalipun kau bertanya kepadaku belum tentu akan kujawab pertanyaanmu itu."

Ditariknya tangan pemuda itu kemudian berkata lebih jauh.

"Ada sementara persoalan lebih baik tak usah kau ketahui, sebab semakin banyak persoalan yang diketahui seseorang, biasanya semakin banyak pula kerisauan yang akan kau hadapi, aku tak ingin menambah kerisauanmu lagi!"

Tangannya begitu halus lembut dan berkilat sorot matanya, begitu halus jujur dan tulus.

Walaupun Ting Peng belum pernah mendekati perempuan, namun ia dapat menyaksikan ketulusan hatinya.

Bagi Ting Peng, hal itu sudah lebih dari cukup, diapun balas menggenggam tangannya sembari menjawab.

"Aku akan menuruti perkataanmu, kau tak boleh aku bertanya, akupun tak akan banyak bertanya"

Tiba-tiba Ko siau tertawa manis, katanya kemudian.

"Tapi, aku masih akan menyuruh kau untuk melakukan suatu pekerjaan lagi!"

"Pekerjaan apa?"

"Bila kau menelusuri sungai ini menuju ke hilir, maka akan kau jumpai sebuah rumah berloteng yang atapnya berwarna hijau"

"Kau minta aku datang kesana?"

"Yaa, aku minta sekarang juga kau kesana! "Kemudian?" `Setibanya ditempat itu, pasti akan muncul seseorang yang membawa pergi menjumpai tuan rumah 1oteng tersebut, apa yang dia kata kan harus kau turuti, apa yang ia suruh kau lakukan, kaupun harus melakukannya tanpa membantah"

Ditatapnya pemuda itu lekat-lekat, kemudian terusnya.

"Kau harus mempercayai diriku, aku tak akan mencelakaimu!"

"Aku percaya"

"Bersediakah kau pergi ke sana"

Tidak pergi, tentu saja tidak pergi, bagaimanapun juga dia tak ingin pergi.

Tadi ia sudah cukup banyak merasakan penderitaan dan siksaan akibat melakukan pekerjaan buatnya.

Dan kini, apa yang diucapkan ternyata lebih brutal lagi, bagaimana mungkin ia dapat menyanggupi?

Sayang ia justru harus memenuhi juga permintaannya itu.

Kalau tadi ia harus berjalan "menelusuri sungai menuju ke hulu"

Maka kali ini dia harus berjalan "menelusuri sungai menuju ke hilir", kalau tadi menjumpai "seorang kakek berbaju merah", maka sekarang dia harus menemukan "sebuah bangunan loteng yang bergenting hijau"

Kalau tadi ia mendapat sial, digantung orang seperti ikan asin dan mencicipi semulut lumpur bau, maka sekarang apa pula yang bakal dijumpai....

Mungkinkah kali ini dia akan lebih sial lagi daripada pagi tadi?

oooooOooooo Ia telah menjumpai bangunan loteng itu.

Di bawah cahaya rembulan, bangunan loteng itu kelihatan begitu tenang dan penuh kedamaian.

Siapapun tak akan melihat kalau didalam sana bisa terdapat sesuatu perangkap.

LIDAH PEREMPUAN TAK BERTULANG DALAM bangunan loteng itu tiada perangkap, yang ada cuma sinar lampu yang lembut, dekorasi yang mewah dan perabot yang serba indah menawan hati.

Kalau kau bersikeras mengatakan bahwa ditempat seperti ini ada perangkap, maka perangkap itu sudah pasti adalah suatu perangkap yang lembut, dan hangat.

Bila seseorang dapat mati dalam perangkap yang halus dan hangat, paling tidak jauh lebih enak dari pada mampus di gantung di atas pohon.

Orang yang membukakan pintu adalah seorang nona cilik yang mempunyai sebuah kepang besar, ia pandai tertawa, kalau tertawa tampak sepasang lesung pipinya yang sangat dalam.

Ditengah malam buta begini, tiba-tiba datang seorang lelaki asing yang bertelanjang dada mengetuk pintu, Ting Peng mengira dia pasti akan ketakutan, atau paling tidak merasa terkejut, Siapa tahu ia sama sekali tidak tampak kaget atau ketakutan melainkan cuma tertawa cekikikan, seakan akan ia sudah tahu bakal ada seorang laki-laki berdada telanjang yang akan berkunjung ke situ.

Siapa yang kau cari?"

Segera tegurnya..

"Aku datang mencari tuan rumah!"

"Mari kubawa kau menjumpai nya!"

Bukan saja jawabannya amat cepat dan lantang, malah ia segera menggandeng tangan Ting Peng dan diajak masuk ke dalam ruangan, seakan akan dengan Ting Peng sudah merupakan sahabat karib.

""Tuan rumah ada di atas loteng, Ruangan di atas loteng lebih megah, lebih mewah dan lebih mentereng"

Selembar tirai mutiara tergantung ditengah ruangan, tuan rumah berada dibalik tirai mutiara tersebut.

Hal ini bukan disebabkan dia sengaja berlagak sok rahasia, bagaimanapun juga seorang perempuan memang harus waspada menghadapi seorang pria yang datang berkunjung ditengah malam buta seperti ini, mungkin waktu itu dia sudah bertukar pakaian dan siap-siap untuk tidur, tentu saja ia lebih tak ingin dijumpai seorang lelaki asing dalam keadaan begitu.

Walaupun Ting Peng tidak terlalu paham dengan tata pergaulan, sedikit banyak ia toh mengerti juga tentang masalah ini.

Tentu saja diapun sudah tahu kalau tuan rumah adalah seorang perempuan, sebab ketika berbicara tadi meski suaranya agak parau, namun merdu dan enak didengar.

"Siapa yang menyuruh kau datang kemari mencariku?"

"Seorang nona she-Li!"

"Apa hubunganmu dengannya?.

"Dia adalah sahabatku!"

"Apa yang telah dia katakan kepadamu?"

"Ia bilang, apa yang hendak kau suruh kulakukan, aku harus melakukannya tanpa membantah"

"Dan kau akan menuruti perkataannya?"

"Aku percaya dia tak akan mencelakai diriku""

"Apakah pekerjaan apapun yang hendak kuperintahkan kepadamu, kau bersedia untuk melakukannya?"

"Kau adalah sahabatnya, akupun mempercayai dirimu""

"Tahukah kau apa yang hendak kusuruh kau lakukan?"

"Tidak tahu"

Tiba-tiba suara tuan rumah berubah sama sekali, berubah menjadi galak dan buas serunya.

"Aku hendak menceburkan badanmu ke dalam sebuah baskom berisi air panas yang amat panas, lalu menggunakan sikat besar untuk menyikat semua lumpur yang menempel di atas tubuhmu, kemudian menukar pakaian yang melekat di badanmu, menggunakan sepasang sepatu baru untuk membelenggu kakimu, lalu mendudukkan kau dikursi, dan mengisi penuh perutmu dengan beberapa macam masakan yang sudah beberapa jam dipersiapkan, agar kau tak mampu berkutik lagi"

Ting Peng segera tertawa.

Ia telah mengenali kembali suara dari tuan rumah.

Sambil tertawa cekikikan, orang itu munculkan diri dari balik tirai, ternyata si tuan rumah itu tak lain adalah Ko siau, Li Ko siau!

Ting Peng sengaja menghela napas panjang, keluhnya.

"Aku toh bersikap sangat baik kepadamu, mengapa kau malah siap-siap mencelakai diriku dengan cara begini?"

Ko-siaupun sengaja menarik muka sambil menjawab.

"Siapa suruh kau amat menuruti perkataanku? Kalau tidak mencelakaimu, lantas harus mencelakai siapa?"

"Padahal kalau Cuma perbuatan-perbuatan seperti itu aku sih tak bakal takut? "Apa yang kau takuti?"

"Aku paling takut minum arak, kalau kau melolohku dengan beberapa kati arak wangi, maka kau benar-benar telah mencelakaiku?"

Araknya adalah arak tua yang wangi, hidangannya adalah daging sapi dimasak angsio.

Kalau benar-benar ada orang mencelakai orang lain dengan cara seperti ini, pasti akan terdapat banyak sekali orang yang bersedia dicelakainya.

Sekarang, Ting Peng telah membersihkan badan dengan air panas, sekujur badannya dari atas sampai ke bawah, dari dalam sampai keluar, dari kepala sampai ke kaki, semuanya telah bertukar pakaian dengan satu stel pakaian yang masih baru.

Cuma ikat pinggangnya saja yang belum diganti.

Seutas tali pinggang yang terbuat dari kain baru, satu inci lebarnya dan empat jengkal panjangnya.

Bagi seseorang yang sudah hampir semaput karena kelaparan, arak semacam ini memang terlalu tua, daging sapi semacam inipun memang sedikit terlalu banyak.

Ia benar-benar telah dibuat tak berkutik, mau berjalanpun rasanya sukar sekali.

Sambil tersenyum Ko siau segera berkata.

"Sekarang, kau seharusnya tahu, kau tidak sepantasnya bersikap begitu baik kepadaku, karena orang yang makin baik kepadaku, sebaliknya aku justru semakin ingin untuk mencelakainya". Ting Peng menghela napas panjang, katanya pula.

"Padahal akupun tak bisa dikatakan terlalu baik kepadamu, aku hanya memberi satu stel pakaian kumal kepadamu, memberi sedikit daging sapi yang dingin bakpau yang dingin"

"Tidak!, yang kau berikan kepadaku bukan satu stel pakaian yang kumal, melainkan seluruh pakaian yang kau miliki. Daging sapi yang kau berikan kepadaku juga bukan sedikit daging sapi, melainkan seluruh makanan yang kau miliki"

Ditatapnya pemuda itu lekat-lekat perasaan lembut dan penuh rasa terima kasih terpancar keluar dari balik matanya, kemudian ia melanjutkan lagi. (Bersambung

Jilid 02)

Jilid . 2 BILA ada seseorang telah memberikan segala sesuatunya kepadamu maka apa yang hendak kau berikan kepadanya?"

Ting Peng tidak menjawab.

Tiba-tiba ia merasa kehidupan manusia itu amat menarik, kehidupan manusia itu penuh dengan kehangatan dan cinta kasih.

Bila ada orang setelah menyerahkan segala sesuatu yang dimilikinya kepadaku maka aku hanya mempunyai suatu cara terhadapnya "

Kata Ko-siau kemudian.

"Apakah caramu itu? Ko-siau menundukkan kepalanya rendah rendah, kemudian menjawab dengan lirih. Akupun akan menyerahkan seluruh yang kumiliki kepadanya!"

Ia benar-benar telah menyerahkan segala sesuatunya yang dimilikinya kepada pemuda itu, pada malam itu juga!

Fajar telah menyingsing.

Ketika Ting Peng terbangun dari tidurnya, ia masih berbaring di sisinya, bagaikan burung dara berbaring di atas dadanya yang telanjang.

Memandang rambutnya yang hitam pekat serta lehernya yang putih bersih, hatinya cuma merasakan suatu kebahagiaan dan kepuasan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Karena gadis yang cantik jelita itu, kini sudah menjadi miliknya.

Ia bukan cuma merasa puas, bahkan amat berbangga hati, karena sekarang ia telah menjadi seorang lelaki sejati, malam tadi ia telah membuktikan kejantanannya terhadap gadis itu.

Entah sedari kapan, gadis itupun telah bangun, dengan menggunakan sepasang matanya yang besar dan lembut sedang menatapnya tertegun.

Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dibelainya rambut gadis itu kemudian gumamnya.

"Tahukah kau, apa yang sedang kupikirkan sekarang?"

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang berpikir, seandainya aku kaya raya, akupun seorang yang ternama, aku pasti akan membawa kau untuk menjelajahi seluruh dunia, agar semua orang di dunia ini merasa kagum kepada kita, iri kepada kita, waktu itu kau pasti akan merasa bangga pula atas segala sesuatunya"

Setelah menghela napas, tambahnya.

"Sayang, pada saat ini aku tak lebih hanya seorang pemuda miskin yang tak punya apa-apa.

"Aku justru paling suka dengan bocah miskin seperti kau"

Ucap Ko siau sambil tersenyum. Ting Peng termenung sambil membungkam diri, mendadak teriaknya keras-keras.

"Oooh .....! Hampir saja aku lupa, aku masih mempunyai semacam barang yang bisa kuberikan kepadamu"

Tiba tiba ia melompat bangun, dari tumpukan pakaian yang menumpuk di sisi pembaringan dia berhasil menemukan ikat pinggangnya yang kuno itu, serunya.

"Aku akan menghadiahkan ikat pinggang ini untukmu!"

Kali ini Ko siau tidak tertawa, karena paras mukanya tiba-tiba berubah menjadi amat serius juga amat tegang, sama sekali tidak mirip orang yang lagi bergurau. Dengan suara yang lembut Ko siau berkata.

"Asal benda itu adalah pemberianmu, aku pasti akan baik-baik menyimpannya"

"Aku tak ingin kau menyimpannya, aku minta kau untuk mengguntingnya ....."

Ko siau sangat menurut sekali.

ia menggunting ikat pinggang itu hingga terlepas dari jahitan, ternyata di dalam ikat pinggang itu terdapat selembar kertas yang sudah kuno dan amat kumal.

Warna kertas itu telah berubah menguning pada separuh halaman bagian atas terlukiskan sebuah gambaran yang sederhana, sedangkan pada halaman sebelah bawah penuh berisikan tulisan kecil yang lembut dan sangat rapat.

la hanya sempat membaca dua baris kalimat yang berbunyi demikian.

"Jurus serangan ini merupakan rahasia paling besar selama hidup, mematahkan pedang bagaikan mematahkan bambu, Cing peng, Hoa san, Siong yang, Khong tong, Bu tong, Hong san, Thiam cong yang bertemu dengan jurus ini pasti akan kalah"

Setelah membaca kedua baris itu, dia tidak memandang lebih lanjut, dengan senyuman dikulum ujarnya.

""Sungguhkah jurus serangan itu sedemikian lihaynya?"

"Sebenarnya aku sendiripun tidak terlalu yakin, aku tak berani mencari jagoan yang sungguhsungguh lihay untuk mencoba, tapi sekarang aku telah tahu, Cing peng, Hoa san dan Siong yang kiam hoat ibaratnya tahu bertemu dengan pisau tajam bila berjumpa dengan jurus serangan ini, sedikitpun tidak memiliki tenaga perlawanan. Ia sangat gembira dan emosi, terusnya.

"Menanti aku sudah berhasil mengalahkan Lin Yok siong, aku akan pergi mencari orang yang lebih ternama darinya, pokoknya suatu ketika aku bisa merobohkan setiap jago pedang kenamaan yang ada dalam dunia persilatan, saat itu mungkin aku akan memiliki nama besar yang sejajar dengan nama besar Sam-sauya dari keluarga Cia, Sam sauya dari perkampungan Sin-kiam san ceng"

Ko siau memandang sekejap ke arahnya, lalu mengembalikan kertas kumal itu kepadanya sambil berkata.

"Benda ini merupakan benda yang paling berharga bagimu, aku tidak menginginkan nya "

"Justru karena benda itu paling berharga bagiku maka kuhadiahkan untukmu, mengapa kau tidak mau?"

"Aku adalah seorang wanita"

Ujar Ko siau lembut.

"aku sama sekali tak ingin beradu kekerasan atau berebut nama dengan jago-jago pedang kenamaan dalam dunia persilatan, asal aku bisa mendapatkan hatimu, aku sudah merasa gembira sekali"

Gadis itu memeluknya kencang-kencang lalu dengan lemah lembut bisiknya lagi.

"Aku hanya ingin mendapatkan kau secara seluruhnya"

Rembulan yang purnama mulai berbentuk sabit, kemudian dari berbentuk sabit kembali menjadi purnama.

Sehari demi sehari lewat tanpa terasa, hampir saja Ting Peng melupakan janjinya dengan Liu Yok siong.

Tapi Ko siau tidak melupakannya, dia sempat mengingatkan pemuda itu.

"Seingatku pada bulan tujuh tanggal lima belas, kau masih mempunyai suatu janji?"

"Setibanya saat itu, aku pasti akan pergi"

"Hari ini sudah tanggal delapan, selama beberapa hari ini kau harus pergi melatih ilmu pedangmu, Lebih baik berlatihlah di suatu tempat yang tak ada orangnya, aku tahu setiap kali kau melatihku, kau lantas ingin..... kau lantas ingin....."

"Sekarangpun aku sudah ingin ....."

Sambung Ting Peng dengan cepat sambil tertawa.

Ko-siau tidak tertawa, diapun tidak berkata apa-apa lagi.

tapi keesokan harinya, ketika Ting Peng terbangun dari tidurnya, ia telah meninggalkan bangunan loteng itu bersama si dayang yang punya sepasang lesung pipi bila tertawa itu, dia hanya meninggalkan sepucuk surat.

Dalam surat tersebut, dia minta agar Ting Peng selama beberapa hari ini baik-baik melatih ilmu pedangnya, baik-baik menjaga kesehatan dan kondisi badannya, bila janjinya pada bulan tujuh tanggal lima belas sudah lewat, mereka pasti akan berkumpul kembali.

Pesan itu membuat Ting Peng terharu, membuat pemuda itu merasa amat berterima kasih.

Walaupun hati kecilnya merasa pedih dan murung juga akibat perpisahan itu, tapi teringat bahwa tak lama kemudian mereka akan segera berkumpul kembali, diapun lantas membangkitkan semangat untuk berlatih pedang, berlatih golok, berlatih tenaga.

Demi dia, pertarungannya kali ini tak boleh sampai kalah.

Ia menemukan bahwa kondisi badan sekarang jauh lebih baik daripada dulu, seorang lelaki yang sudah mempunyai perempuan baru benar-benar akan menjadi seorang lelaki se jati, seperti juga tanah bumi, setelah diberi air hujan tanah nya baru akan berubah menjadi subur dan bertambah segar.

Sampai bulan tujuh tanggal lima belas, semangat maupun kondisi badannya telah mencapai pada puncak paling segar.

terhadap pertarungan yang bakal berlangsung, dia telah memiliki keyakinan pasti menang, ia yakin dalam pertarungan yang akan berlangsung nanti, kemenangan berada ditangannya.

Bulan tujuh tanggal lima belas pagi.

Cuaca hari ini sangat cerah, sinar matahari memancarkan cahaya keemas emasannya menyoroti empat penjuru.

Perasaan Ting Peng hari ini persis secerah cuaca di luar, bahkan dia sendiripun merasa semangatnya berkobar kobar, penuh daya hidup dan kekuatan yang melimpah, sekalipun dunia bakal ambruk, ia masih sanggup untuk menahan rasanya, Ketika si penjaga pintu dari perkampungan Cing siong san ceng yang sopan santun dan tahu perasaan itu berjumpa dengannya, iapun dibikin terperanjat sekali.

Bisa menjadi seorang penjaga pintu dari suatu keluarga yang kaya adalah suatu pekerjaan yang tak gampang, bukan saja dia harus memiliki sepasang mata yang dalam sekejap pandangan bisa membedakan mana orang kaya mana orang miskin, diapun harus memiliki selembar wajah macam papan peti mati.

Tapi sekarang, bukan saja paras mukanya sudah berperasaan, bahkan suatu luapan perasaan yang amat segar.

Ia benar-benar tidak menyangka kalau pemuda berbaju perlente yang berwajah cerah ini bukan lain adalah si pemuda miskin bermuka sial yang pernah dijumpai sebulan berselang.

Menyaksikan mimik wajahnya itu, Ting Peng merasa lebih senang dan gembira, rasa mangkel dan mendongkol yang pernah dialaminya sebulan berselang, sekarang agak terlampiaskan juga.

Menanti ia berhasil mengalahkan Liu Yok siong nanti, paras muka saudara ini pasti akan berubah menjadi lebih menggembirakan.

Satu satunya hal yang membuat Ting Peng merasa menyesal adalah antara dia dengan Liu Yok siong sesungguhnya tiada dendam tiada sakit hati, semestinya tidak pantas kalau dia akan menghancurkan nama baiknya yang telah dipupuk dan dibina selama banyak tahun itu.

Konon Liu Yok siong bukan saja tersohor sebagai seorang pendekar, diapun sangat baik orangnya, bahkan terhitung seorang Kuncu, seorang lelaki sejati.

Liu Yok siong bertubuh jangkung, ceking tampan, berwajah bersih, berbaju necis, sopan santun dan merupakan seorang lelaki setengah umur yang berpendidikan tinggi, seorang lelaki yang romantis.

Terhadap sebagian besar anak gadis, lelaki semacam ini jauh lebih menarik dan merangsang daripada pemuda-pemuda yang masih ingusan.

Dalam perjumpaan itu dia sama sekali tidak menyinggung peristiwa sebulan yang lalu, diapun tidak menegur Ting Peng yang kedatangannya hari ini terlalu awal.

Didalam hal ini, mau tak mau Ting Peng harus mengakui bahwa dia memang seorang Kuncu, seorang lelaki sejati.

Sikapnya amat mantap, gerak geriknya gesit, jari jemarinya panjang tapi bertenaga, lagi pula reaksinya cukup cepat dan cekatan.

Kesemuanya ini membuat Ting Peng mau tak mau harus mengakui bahwa dia adalah seorang musuh yang amat tangguh, nama besarnya dalam dunia persilatan pasti bukan nama kosong belaka.

Lapangan untuk berlatih silat yang beralas pasir lembut telah dipersiapkan, pada rak senjata dikedua belah sisinya penuh dengan aneka macam senjata yang gemerlapan, di bawah pohon yang rindang terjejer enam tujuh buah kursi yang terbuat dari kayu jati.

Liu Yok siong segera memberi penjelasan, katanya.

"Ada beberapa orang sahabat yang sudah lama mengagumi ilmu pedang Ting sauhiap, mereka ingin sekali datang menonton. Dan aku tak bisa menampik keinginan mereka, maka ku undang kehadiran mereka semua, di dalam hal ini aku harap Ting sauhiap jangan marah"

Tentu saja Ting Peng tak akan marah.

Dikala seseorang sudah mendekati saatnya untuk ternama, ia memang selain berharap ada banyak orang yang ikut menyaksikan, makin banyak orang yang datang, semakin gembira hatinya.

Dia hanya ingin tahu.

"Siapa saja yang akan datang kemari?"

"Seorang Bulim cianpwe, Tiong lo-sianseng dari bukit Thiam cong!"

Liu Yok siong menerangkan.

"Kau maksudkan Hong im kiam kek Tiong Tian?"

Liu Yok siong segera tersenyum.

"Tidak kusangka kalau Ting-sauhiap juga tahu tentang lo sianseng ini"

Katanya.

Tentu saja Ting Peng tahu, Tiong Tian adalah seorang jago tua yang amat bijaksana, ilmu pedangnya mendapat pujian dan sanjungan pula dari setiap orang.

Bisa mengundang orang semacam ini sebagai saksi dalam pertarungan tersebut, Ting Peng benar-benar merasa amat jujur sekali.

Kembali Liu Yok siong berkata.

"Bwe-hoa lojin dan Meh tiok cu juga akan datang, orang persilatan menyebut kami sebagai tiga serangkai cemara, bambu dan bwe, padahal aku benar benar merasa malu untuk dijajarkan namanya dengan mereka"

Kemudian ia tertawa, menampilkan sekulum senyuman bangga yang tak akan dihindari oleh seorang Kuncu sekalipun, terusnya.

"Selain itu ku undang pula seorang Cia sianseng, nama besarnya dalam dunia persilatan tidak terlalu besar, karena ia jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan"

Setelah tertawa, terusnya.

"Orang dari perkampungan Sin kiam san ceng memang selamanya jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan"

"Perkampungan Sin kiam san ceng?"

Seru Ting Peng dengan paras muka agak berubah.

"Apakah Cia sianseng itu adalah orang dari perkampungan Sin kiam san ceng?"

"Benar!"

Jawab Liu Yok siong hambar.

Jantung Ting Peng mulai berdebar keras.

Bagi seorang pemuda yang belajar pedang, nama dari Sin kiam san ceng memang cukup mempunyai tenaga yang besar untuk membuat jantung orang berdebar keras.

Perkampungan Sin kiam san ceng di puncak Cui im hong, telaga Liok-sui-oh, di sana berdiam keturunan keluarga Cia.

Sam sauya dari keluarga Cia, Cia-Siau-hong.

Dia adalah manusia diantara dewa pedang, pedangnya adalah pedang diantara dewa pedang.

Mungkinkah Cia sianseng yang datang hari ini adalah dia pribadi?

Orang pertama yang datang paling dulu adalah Tiong Tian dari partai Tiam-cong.

Hong-im-kiam-kek sudah lama termasyhur dalam dunia persilatan, Liu Yok siong sendiripun menyebutnya sebagai lo-sianseng, tapi ia kelihatan belum terlalu tua, pinggangnya masih kelihatan lurus, rambutnya masih berwarna hitam, sepasang matanya juga masih memancarkan cahaya yang berkilauan.

Sikapnya terhadap jagoan muda yang pernah mengalahkan jago-jago lihay dari Cing peng, Hoa san dan Siong yang ini sedikitpun tidak sungkan, kemudian Ting Peng baru tahu kalau sikap nya terhadap siapapun tak pernah sungkan.

Orang yang lurus dan jujur tampaknya selalu mempunyai watak seperti ini, selalu mereka beranggapan bahwa orang lain harus bersikap kelewat menghormat kepadanya lantaran kelurusan serta kejujurannya.

Mungkinkah hal ini dikarenakan orang yang benar-benar lurus dan jujur dalam dunia persilatan terlalu sedikit?

Tapi ia sama sekali tidak menempati kursi utama, tentu saja kursi utama itu harus diberikan kepada Cia sianseng dari perkampungan Sin kiam san ceng.

Cia sianseng belum datang, Bwe hoa dan Meh tiok dari Sui han sam yu telah datang.

Menjumpai dua orang tersebut, Ting Peng segera tertegun dibuatnya.

Kedua orang ini yang satu berbaju merah, dan berwajah merah seperti bayi, sedang yang lain berwajah suram dan bertubuh ceking seperti bambu, ternyata kedua orang itu tak lain adalah dua orang yang bermain catur di bawah pohon yang rindang di hulu sungai tempo hari.

Tapi sikap kedua orang itu seakan akan sama sekali tidak pernah kenal dengan Ting Peng, dalam keadaan begitu, Ting Peng ingin sekali bertanya kepada Bwe hoa lo jin.

"Mengapa kau tidak membawa serta monyet kecilmu yang gemar mengenakan pakaian merah seperti kau?"

Bwe hoa lojin agaknya sama sekali tak tahu akan peristiwa itu, sikapnya terhadap Ting Peng amat sungkan.

Ting Peng sendiripun ingin sekali melupakan peristiwa tersebut, sayang ada satu hal yang tak mungkin terlupakan olehnya.

Mengapa Ko siau menyuruhnya pergi mencari kedua orang itu?

Apa hubungannya dengan kedua orang itu?

Ia mulai menyesal, mengapa tidak menanyai persoalan itu sampai jelas, kenapa harus mengatakan kepada Ko siau.

"Bila kau tidak menjawab, akupun tak akan bertanya"

Sekarang tentu saja ia tak mungkin bisa menjawab lagi karena Cia sianseng dari perkampungan Sin kiam san ceng telah datang.

Cia sianseng memiliki wajah yang membentuk bulat badannya gemuk, wajahnya selalu penuh senyuman, ramah tamah dan kelihatan persis seperti seorang saudagar yang kaya raya.

Tentu saja Cia sianseng tersebut bukan Sam sauya dari keluarga Cia, Cia Siau-hong yang termasyhur dalam dunia persilatan sebagai jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit.

Orang lain masih tetap bersikap hormat kepadanya, bahkan Tiong Tian dari Tiamcong pay yang angkuh itupun mempersilahkannya untuk menempati kursi utama.

Tapi ia bersikeras menampik hal itu, dia selalu mengatakan bahwa dirinya tak lebih hanya seorang pengurus rumah tangga dari perkampungan Sin kiam san-ceng, berada di hadapan para jago kenamaan, bisa mendampingi mereka disampingpun sudah merupakan kebanggaan.

Tampaknya siapa saja orangnya, asal dia berasal dari perkampungan Sin kiam san ceng, kedudukannya dalam dunia persilatan selain tinggi, terhormat dan disanjung setiap orang.

Jantung Ting Peng mulai berdebar keras, darah panas dalam tubuhnya mulai menggelora dengan kerasnya.

Ia bersumpah, suatu ketika diapun akan berkunjung ke perkampungan Sin-kiam-san-ceng, dengan sebilah pedang mestika dia akan menyambangi pendekar lihay yang tiada tandingannya dikolong langit itu, dan minta petunjuk tentang ilmu pedangnya yang tiada taranya tersebut.

Sekalipun dalam pertarungan itu dia bakal kalah di ujung pedangnya, dia tak akan merasa malu dan menyesal.

Tapi, sebelum kesemuanya itu dilakukan, pertarungan yang bakal berlangsung hari ini harus dimenangkan lebih dahulu.

Pelan pelan ia bangkit berdiri, ditatapnya Liu Yok siong lekat-lekat, kemudian katanya.

"Boanpwe Ting Peng ingin sekali memohon petunjuk ilmu silat cianpwe, harap cianpwe suka lebih berperasaan dalam menggunakan pedang."

Tiong Tian segera berkerut.

"Kau masih muda, ada suatu persoalan kau harus mengingatkan selalu dalam hatimu" .

"Baik!"

Sambil menarik muka, dengan suara dingin Tiong Tian berkata.

"Pedang adalah suatu benda yang tak berperasaan, bila pedang sudah diloloskan dari sarung, maka dia tak akan mengenal ampun""

Dua orang bocah kecil berbaju merah, dengan membopong sebuah kotak pedang yang antik dan mewah berdiri serius di belakang Lui Yok siong.

Pelan-pelan Liu Yok siong membuka kotak pedang itu, mengeluarkan pedangnya dan meloloskan dari sarung.

"Cring ...."

Diiringi bunyi gemerincing yang sangat nyaring, pedang itu dilolos dari sarungnya..""Pedang Bagus!"

Cia sianseng segera memuji sambil tersenyum.

Pedang itu memang sebilah pedang bagus, cahaya pedangnya menyala-nyala, hawa pedang yang dingin serasa menusuk badan.

Begitu pedangnya sudah diloloskan, sikap Liu Yok siong pun berubah menjadi lebih santai dan tenang.

Telapak tangan Ting Peng sudah menggenggam gagang pedangnya erat-erat, jari tengahnya yang mengerahkan tenaga terlalu besar telah berubah memucat, peluh mulai membasahi telapak tangannya.

Pedang yang dimiliki tak lebih hanya sebilah pedang biasa, jelas tak mungkin bisa dibandingkan dengan pedang tajam milik Liu Yok siong.

Diapun tak memiliki ketenangan serta kesantaian seperti apa yang diperlihatkan Liu Yok siong.

Oleh karena itu, walaupun ia percaya kalau jurus Thian gwa liu seng yang dimilikinya pasti dapat mematahkan ilmu pedang dari Liu Yok siong, tak urung hatinya merasa sangat tegang juga.

Liu Yok siong memandang sekejap ke arahnya, lalu sambil tersenyum berkata.

"Di rumahku masih terdapat sebilah pedang bagus, walaupun bukan terhitung sebilah pedang mestika, namun toh lumayan juga, bila Ting sauhiap tidak merasa keberatan, akan kusuruh orang untuk mengambilnya."

Bagaimanapun juga dia adalah seorang Bu lim cianpwe (angkatan tua dari dunia persilatan), sudah barang tentu dia tak ingin mencari keuntungan dengan mengandalkan pedangnya yang tajam.

Ting Peng enggan menerima kebaikannya itu dengan hambar dia menjawab pelan.

"Biar boanpwe pergunakan pedang ini saja sebab pedang ini adalah warisan ayahku, boanpwe tak ingin membuangnya dengan begitu saja"

Benar!"

"Apakah kau berasal dari keluarga Ting di telaga Tay-oh?"

Tiba-tiba Tiong Tian bertanya pula.

"Tidak, Boanpwe datang dari wilayah Gi-pau!"

"Waaah... aneh kalau begitu"

Setelah berhenti sejenak, dengan suara dingin lanjutnya.

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, orang selalu mengatakan bahwa ilmu pedang Ting sauhiap bukan saja sangat lihay, terutama sekali jurus pedangmu yang terakhir, benar-benar luar biasa dan tiada taranya, sudah lima puluh tahun aku belajar ilmu pedang, namun tidak kuketahui kalau wilayah Gi pek terdapat suatu keluarga Ting yang memiliki ilmu pedang keluarga yang begitu hebatnya."

"Padahal masalah ini juga bukan sesuatu yang aneh"

Sela Cia Sianseng.

"sebab dalam dunia persilatan memang selalu terdapat para pendekar lihay yang lebih suka hidup mengasingkan diri daripada mencari nama yang tenar, Tiong siangseng! Meskipun pengetahuanmu cukup luas, belum tentu setiap keluarga yang pandai berilmu silat kau ketahui"

Mendengar perkataan itu, Tiong Tian segera menutup mulutnya rapat-rapat ........ Liu Yok siong juga tidak banyak berbicara lagi, pedangnya segera diangkat sejajar dengan dada, lalu serunya.

""Silahkan!"

Ting Peng juga tidak banyak berbicara, dia lantas bersiap-siap untuk melangsungkan pertarungan yang sudah lama diidam-idamkannya itu.

Suasana menjadi hening, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

ooooo0ooooo JURUS THIAN GWA LIU SENG BULAN tujuh tanggal lima belas, tengah hari, di bawah terik matahari.

Permukaan tanah yang berlapiskan pasir halus memantulkan sinar gemerlapan di bawah sorotan matahari, sinar pedang lebih menyilaukan siapapun.

Ting Peng sudah mulai melancarkan serangannya.

Kecuali jurus Thian gwa liu seng, dalam ilmu pedang miliknya memang tiada sesuatu yang istimewa, jurus jurus pedang warisan keluarganya itu hanya bisa dikatakan sebagai "biasa", sederhana dan tiada sesuatu yang aneh.

Sebaliknya ilmu pedang aliran Bu-tong justru penuh dengan serangan-serangan yang dahsyat dan penuh dikombinasikan dengan gerakan yang enteng, lincah dan cekatan, di bawah permainan Liu Yok-siong, kepandaian tersebut kelihatan lebih hidup dan meringankan.

Dengan menggunakan taktik mencukil, menebas dan menusuk, pedangnya diputar sedemikian rupa melakukan gerakan-gerakan yang luar biasa, dalam sekejap mata Ting Peng telah dikurung sehingga tak mampu berganti napas lagi.

Menyaksikan ilmu pedang tersebut, semua orang mulai merasa sedikit kecewa terhadap kemampuan si jago pedang muda yang baru muncul didalam dunia persilatan ini.

Sebaliknya Ting Peng mempunyai kepercayaan serta keyakinan yang besar sekali untuk bisa memenangkan pertarungan ini.

Paling tidak ia telah menyaksikan tiga buah titik kelemahan dalam ilmu pedang yang digunakan Lui Yok-siong itu.

"Bila dia pergunakan jurus Thian gwa-liu-seng tersebut, sudah dapat dipastikan ilmu pedang dari Liu Yok siong itu akan hancur berantakan seperti pisau tajam yang menebas bambu.

Sebenarnya dia masih ingin mengalah beberapa jurus serangan lagi untuk Liu Yok siong, dia tak ingin selalu memperlihatkan keganasannya di hadapan Bu lim cianpwe ini.

Tapi bila pedang sudah diloloskan, maka tak akan mengenal kata ampun"

Dia masih teringat jelas dengan perkataan itu.

Mendadak pedangnya yang memainkan gerakan sederhana itu berubah menjadi hebat, bagaikan serentetan cahaya bintang yang datang dari luar angkasa dengan cepatnya seluruh angkasa terbungkus dibalik hawa pedang tersebut.

Bintang yang memancar dari luar angkasa memang tak bisa diraba tak bisa dilawan.

Pedang yang tak berperasaan, tak pernah mengenal arti ampun kepada korbannya.

Tiba-tiba muncul perasaan menyesal dalam hatinya, karena dia tahu Liu Yok siong pasti akan terluka di ujung pedangnya...."

Tapi dugaannya ternyata meleset.

"Traang!"

Percikan bunga api berhamburan diangkasa.

Ternyata Liu Yok siong berhasil menyambut serangan dengan jurus Thian gwa liu seng yang sesungguhnya tak mungkin bisa dihadapinya itu.

Tenaga dalam aliran Bu tong pay merupakan tenaga dalam aliran lurus, Liu Yok siong juga merupakan satu-satunya murid preman dari Thian ti Cinjin, sudah barang tentu kesempurnaan tenaga dalamnya tak mungkin bisa ditandingi oleh Ting Peng.

Ketika sepasang pedang saling membentur, hampir saja Ting Peng tergetar roboh ke tanah, namun ia sama sekali tidak roboh.

Sekalipun pedangnya sampai gumpil sedikit akibat bentrokan itu, telapak tangannya meski tergetar pecah dan sakitnya bukan kepalang, namun ia tak sampai roboh.

Karena ia telah bertekad untuk tidak membiarkan dirinya roboh ke tanah.

Tekad, meski sesuatu yang tak nampak tapi justru merupakan kunci yang terpenting untuk menentukan menang kalah; ada kalanya justru jauh lebih penting daripada tenaga dalam.

Dia belum kalah, dia masih bisa bertarung lagi, barusan dia pasti agak teledor sehingga jurus serangannya seharusnya bisa meraih kemenangan telah disia-siakan dengan begitu saja.

Sementara itu Liu Yok-siong telah menarik kembali pedangnya, dan menatap wajahnya dengan sorot mata yang sangat aneh.

"Dia belum kalah!"

Tiba-tiba Tiong Tian berseru.

Ia memang seorang yang benar-benar jujur, lurus dan adil, justru lantaran perkataannya itu, rasa benci dan muak Ting Peng kepadanya kini berubah menjadi rasa terima kasih.

Akhirnya Liu Yok siong mengangguk juga katanya.

"Aku tahu, dia memang belum kalah"

Ia masih menatap wajah Ting Peng dengan sorot mata yang sangat aneh, sepatah demi sepatah dia lantas bertanya.

"Jurus pedang yang kau pergunakan barusan adalah ilmu pedang yang pernah kau pergunakan untuk mengalahkan Kwin Tin-peng dari perguruan Siong yang-pay...."

"Benar!"

"dengan jurus serangan itu juga kau mengalahkan Si Teng serta Kek Khi dua orang jago?"

"Benar!"

Liu Yok siong termenung sejenak, setelah itu tanyanya.

"Siapakah ayahmu?"

"Ayahku sudah meninggal pada delapan tahun berselang"

Ia tidak menyebutkan nama ayahnya, Liu Yok siong juga tidak mendesak lebih jauh. Paras mukanya menunjukkan perubahan yang lebih aneh lagi, tiba-tiba ia berpaling ke arah Cia sianseng sembari tanyanya.

"Tentunya Cia sianseng sudah melihat dengan jelas bukan jurus pedang yang barusan dipergunakan oleh Ting sauhiap?"

Cia sianseng tersenyum.

"Ilmu pedang yang sangat hebat dan luar biasa itu meski tidak begitu kupahami, untung saja masih dapat kulihat dengan jelas"

"Bagaimana perasaan Cia sianseng terhadap jurus pedang tersebut?"

"Jurus pedang itu sangat lihay, ganas dan luar biasa, hampir sama dengan kekuatan yang terpancar dari ilmu Toh-mia-cap-sah-si yang dimiliki Yan Cap-sa dimasa lalu, aliran yang dianutpun agaknya hampir bersamaan, Cuma sayang tenaga dalamnya masih kurang memadahi"

Setelah tertawa, kembali ujarnya.

"Cuma itu menurut pandanganku yang ngawur, jadi kalau aku salah berbicara, tolong dimaafkan sebab aku sama sekali tidak mengerti tentang ilmu pedang"

Tentu saja perkataannya tak mungkin mengawur, di bawah perkampungan Sin-kiam-san-ceng, mana mungkin terdapat orang yang tidak mengerti tentang ilmu pedang?

Tiga puluhan tahun berselang, Yan Cap sa malang melintang dalam dunia persilatan dengan melakukan beratus-ratus kali pertarungan tanpa berhasil dikalahkan orang, dia adalah satusatunya orang yang sanggup menandingi kepandaian Sam Sauya dari keluarga Cia Kemudian dia dengan Cia Siau hong memang dilangsungkan pula suatu pertarungan tapi siapa yang menang siapa yang kalah?

Hingga kini masih merupakan sebuah tanda tanya besar.

Sekarang, walaupun jago pedang yang hidup menyendiri itu sudah tiada lagi di dunia, tapi nama besarnya serta kelihaian ilmu pedangnya masih merupakan sanjungan dan pujian dari setiap orang.

Cia sianseng telah membandingkan jurus pedang dari Ting Peng itu dengan jurus-jurus Toh mia cap-sah-kiam, hal mana sesungguhnya merupakan suatu kebanggaan buat Ting Peng.

Sambil tersenyum Liu Yok siong berkata.

"Cia sianseng berkata demikian sesungguhnya aku merasa terkejut bercampur bangga"

Ting Peng tertegun, Setiap orang jago tutur tertegun. Yang merasa terkejut bercampur bangga tentunya adalah Ting Peng mengapa bisa menjadi dia? Dengan suara dingin Tiong Tian segera berkata.

"Cia sianseng memuji ilmu pedang Ting Peng, apa sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Memang ada sedikit hubungan!"

Jawab Liu Yok siong tenang Tiong Tian segera tertawa dingin. Liu Yok siong tidak memberi kesempatan kepadanya untuk buka suara lagi, segera katanya.

"Setiap orang dalam dunia persilatan tentu tahu bahwa pengetahuan cianpwe amat luas, dengan Si catatan senjata Pek Siau seng di jaman dulu hampir sama"

Walaupun pengetahuanku tidak seluas Pek siau seng, namun ilmu pedang dari pelbagai partai dan perguruan yang ada di dunia ini memang pernah kusaksikan semua".

"Pernahkah cianpwe menyaksikan jurus pedang itu?"

"Belum pernah!"

"Bagaimana dengan Cia sianseng?"

"Aku adalah seorang yang berpengetahuan cetek, entah berapa banyak ilmu pedang yang tak pernah kusaksikan selama ini, jawab Cia sianseng. Liu Yok siong segera tertawa hambar, jawabnya.

"Sudah barang tentu kalian berdua belum pernah menyaksikan jurus pedang itu, karena jurus tersebut adalah hasil ciptaanku sendiri"

Perkataan ini benar-benar suatu ucapan yang mengejutkan hati.

Kalau ada guntur membelah bumi.

Ting Peng pasti tak akan sekaget setelah mendengar perkataan itu.

Hampir saja dia melompat bangun saking kagetnya, dengan suara keras segera serunya.

"Apa kau bilang?".

"Apa yang kuucapkan semestinya Ting sauhiap sudah mendengarnya dengan amat jelas"

Ting Peng segera merasakan darah panas dalam tubuhnya bergolak keras serunya kemudian.

"Kau.... Kau punya bukti?"

Pelan-pelan Liu Yok siong membalikkan badannya kepada si bocah kecil di belakangnya ia menitahkan.

"Kau pergi ke kamar hujin, dan mintalah dia untuk datang kemari berikut membawa kotak berisi kitab pusakaku!"

Berbicara bagi seorang lelaki yang belajar pedang, di dunia ini hanya ada dua hal yang tak bisa dinikmati bersama dengan orang-orang lain dan tak nanti memperkenankan orang lain untuk mengusiknya.

Kedua hal itu adalah kitab pusaka ilmu pedangnya dan istrinya.

Liu Yok siong adalah seorang lelaki, Liu Yok siong juga belajar ilmu pedang tentu saja amat menyayangi kitab pusaka serta bininya.

Tapi sekarang dia mempersilahkan istrinya untuk membawa sendiri kitab pusaka itu datang ke arena, dari sini dapat diketahui bahwa dia adalah seorang yang cermat dan berhati-hati.

Tiada seorangpun yang berbicara lagi pun tak seorang jua yang bisa berbicara lagi.

Apa yang dilakukan Liu Yok siong selamanya memang membuat orang tak sanggup berbicara lagi.

Dengan cepat kitab pusaka ilmu pedang itu telah dibawa keluar, Liu hujin sendiri yang membawanya keluar, Kitab pusaka itu disimpan dalam sebuah kotak yang disegel dengan rapi, di atas kotak masih menempel segelnya dalam keadaan utuh, Liu Hujin mengenakan sebuah kain cadar untuk menutupi wajahnya.

Walaupun selembar kain cadar yang halus telah menutupi raut wajah aslinya, akan tetapi tidak menutupi keanggunan serta keluwesannya.

Liu hujin memang seorang perempuan cantik yang ternama dalam dunia persilatan, lagi pula ia berasal dari keluarga yang terpandang, bukan Cuma punya nama yang harum, diapun terkenal karena kesetiaannya terhadap suami.

Berada di hadapan orang asing, tentu saja ia tak bisa bertemu orang dengan raut wajah aslinya.

Tentu saja dia sudah tahu akan duduknya persoalan, maka kitab pusaka itu langsung disodorkan ke tangan Tiong Tian serta Cia sianseng.

Kedudukan Cia sianseng dalam dunia persilatan, kejujuran Tiong Tian sebagai seorang pendekar, memang tak mungkin menimbulkan kecurigaan orang, tiada seorang pun yang merasa curiga.

Kitab pusaka itu terbuat dari lembaran kertas berwarna putih, kertas itu sangat tipis, tipis sekali.

Karena kitab itu bukan kitab pusaka dari Bu tong pay, kitab itu berisikan ilmu pedang ciptaan Liu Yok siong sendiri, Cing siong-kiam boh (Kitab pedang Cing-siong) Bila ilmu pedang aliran Bu tong sangat luas dan tiada taranya, maka ilmu pedang ciptaan Liu Yok siong hanya terdiri enam jurus.

"Halaman yang terakhir, berisikan jurus serangan yang kumaksudkan!"

Cia sianseng dan Tiong Tian segera membalik kitab ilmu pedang itu ke halaman yang paling belakang, dengan kedudukan serta nama baik mereka dalam dunia persilatan, tentu saja mereka enggan untuk menyaksikan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lihat.

Tapi demi bukti yang nyata, demi nama baik Ting Peng dan Liu Yok siong, mau tak mau mereka harus melihatnya juga.

Mereka hanya menyaksikan beberapa kejap, paras mukanya segera berubah sangat hebat.

Maka Liu Yok siong segera bertanya.

"Jurus serangan yang barusan digunakan Ting sauhiap, tentunya kalian berdua telah menyaksikan dengan jelas bukan?"

"Benar!"

"Barusan, Ting sauhiap bilang bahwa dia telah mempergunakan ilmu pedang itu untuk mengalahkan Si Teng, Kek Khi dan Kwik Ting-peng, tentunya kalian berdua juga sudah mendengar jelas bukan?"

"Benar!"

"Jurus pedangnya itu, perubahannya serta inti sarinya mirip sekali dengan jurus Bu tong sionghee hong (angin sejuk di bawah bukit Bu tong) yang tercantum didalam kitab itu?"

"Benar!"

Cayhe dengan Ling sauhiap bukankah baru berjumpa untuk pertama kalinya ini...."

Tentang soal ini Tiong Tian dan Cia sianseng tak berani memastikan, maka mereka bertanya kepada Ting Peng. Ting Peng segera mengangguk mengakui...., maka Liu Yok siong bertanya lagi.

"Mungkinkah kitab pusaka ilmu pedang ini adalah se

Jilid kitab palsu"

"Tidak mungkin!"

Sekalipun orang pernah menyaksikan Ting Peng mempergunakan jurus pedang itu, juga tak mungkin bisa memperoleh inti kekuatan dari jurus pedang tersebut.

Dalam hal ini baik Cia sianseng maupun Tiong Tian berani memastikannya.

Maka Liu Yok siong menghela napas panjang.

"Aaai....! Sekarang aku tak akan berbicara apa-apa lagi."

Ting Peng lebih-lebih tak bisa berbicara lagi.

Walaupun ia merasa dirinya sudah meningkat menjadi dewasa, sesungguhnya ia tak lebih hanya seorang bocah, dia dibesarkan didalam sebuah dusun yang sederhana, meninggalkan dusun pun belum sampai tiga bulan, darimana mungkin ia bisa memahami tipu muslihat serta segala kelicikan di dalam dunia persilatan...

Dia hanya merasakan hatinya seperti tenggelam ke bawah, seluruh tubuhnya ikut tenggelam ke bawah, tenggelam ke dalam sebuah liang yang gelap dan dalam, sekujur tubuhnya seakanakan terbelenggu kencang, dia ingin meronta, namun tak bisa, ingin berteriak namun tak dapat.

Semuanya harapannya telah musnah dan hancur, masa depannya yang cemerlang kini berubah menjadi selapis kegelapan yang mencekam.

Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Waktu itu, Tiong Tian sedang bertanya kepada Lui Yok siong.

"Kalau kau memang telah menciptakan jurus pedang itu, kenapa selama ini belum pernah kau menggunakannya?"

"Aku sebagai seorang murid Bu-tong pay, sudah sepantasnya kalau menjunjung tinggi nama baik partai Bu-tong, jurus itu aku berhasil menciptakannya tanpa sengaja, waktu itu akupun mencatatnya saja karena suatu yang iseng. Aku hanya bertujuan sebagai kenang-kenangan di kemudian hari ilmu pedang bu-tong-pay terlalu luas dan dalam sampai matipun kepandaian tersebut masih berkelebihan bagiku selama hidup aku tak akan menggunakan ilmu pedang aliran lain pun tiada berambisi untuk mendirikan perguruan lain, kalau bukan keadaan sangat mendesak aku tak akan mengeluarkan kitab pusaka ini untuk diperlihatkan kepada orang lain"

Penjelasan ini bukan saja sangat masuk diakal lagi pula jujur dan amat bijaksana siapapun pasti akan menerimanya sambil mengangguk anggukkan kepala.

"Bagus sekali ucapanmu itu"

Kata. Cia sianseng sambil tersenyum.

"It thian cinjin tentu akan merasa bangga karena mempunyai seorang murid seperti aku"

"Jikalau jurus pedang itu memang merupakan ciptaanmu sendiri, dari mana Ting Peng bisa mempelajarinya?"

"tanya Tiong Tian tiba tiba.

"Aku sendiripun kurang jelas, justru pertanyaan itu hendak kutanyakan kepada Ting sauhiap"

Dia lantai berpaling ke arah Ting Peng, sikapnya masih lembut dan halus, katanya.

"Sesungguhnya jurus serangan ini adalah ilmu pedang warisan keluargamu atau bukan? "Bukan!"

Sahut Ting Peng sambil menundukkan kepalanya, rendah-rendah.

Ketika mengucapkan perkataan itu, perasaannya tersiksa sekali, seakan-akan ada cambuk yang sedang menghajar di atas tubuhnya.

Tapi sekarang, mau tak mau dia harus mengakui.

Bagaimanapun juga dia masih muda dan jujur, ia merasa tak dapat membohongi liangsim sendiri...

"Lantas, darimana kau berhasil mempelajari ilmu pedang itu?"

Tanya Liu Yok siong kemudian.

"Secara tidak sengaja ayahku berhasil menemukan selembar kitab pusaka yang robek, di atas robekan itu tercantum satu jurus Thian gwa liu-seng"

"Kitab pusaka siapakah itu"

"Entahlah!"

Ting Peng memang benar-benar tidak tahu.

Di atas kertas itu tidak tercantum nama, itulah sebabnya dia sendiripun tak tahu milik siapakah ilmu pedang itu, maka dia tak bisa tidak harus mempercayai perkataan dari Liu Yok siong tersebut.

Semua yang dikatakan adalah kata-kata yang sejujurnya.

Namun Liu Yok siong segera menghela napas panjang, katanya.

"Tidak kusangka seorang pemuda yang masih muda belia seperti kaupun sudah pandai berbohong"

"Aku tidak berbohong!"

"Lantas dimanakah robekan kertas yang berisi ilmu pedang itu!"

"Berada di....."

Kata-kata tersebut tidak dilanjutkan, karena sekarang dia sendiripun tak tahu kertas berisi catatan ilmu silat itu berada dimana.

Ia teringat kertas itu pernah diserahkan kepada Ko siau, Walaupun Ko Siau mengembalikan lagi kepadanya, tapi akhirnya dia meminta gadis itu untuk menyimpan baginya, karena gadis itu telah memberikan segala sesuatunya kepadanya, maka diapun memberi segala sesuatunya kepada gadis itu.

Sejak itu penghidupan mereka dilewatkan dalam kehangatan, kemerahan dan kebahagiaan, seorang pemuda yang baru saja merasakan kemesraan dan kehangatan, mana mungkin masih memikirkan persoalan lainnya?

Dengan tatapan mata yang dingin, Liu Yok siong memandang ke arahnya, kemudian sambil menghela napas katanya.

Kau masih muda, masih belum pernah melakukan kesalahan besar, aku tak ingin terlalu menyusahkan dirimu, asal kau bersedia menyanggupi sebuah permintaanku, aku tak akan mengusut lagi asal usul datangnya robekan kitab pusaka itu"

Ting Peng menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Dia dapat merasakan, apapun yang dia ucapan pada saat ini, orang lain tak akan mempercayai lagi.

diapun dapat menangkap pandangan hina yang terpancar keluar dari sorot mata orang.

"Asal kau bersedia untuk berjanji, selama hidup tidak menggunakan pedang lagi, aku akan memperkenankan kau pergi dari sini". Tiba-tiba paras mukanya berubah menjadi amat keras dan serius, terusnya. Tapi jika di kemudian hari kuketahui bahwa kau telah mengingkari janji, hmm! Kemanapun kau kabur, aku pasti akan merenggut nyawa mu"

Seseorang yang belajar padang, seorang pemuda yang bertekad ingin mengangkat namanya, bila sepanjang hidup tak boleh memakai pedang lagi, bila sepanjang hidup tak boleh melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan, lalu apa artinya hidup di dunia ini?

Tapi sekarang Ting Peng harus menyanggupi, sekarang tiada pilihan lain lagi baginya.

Tiba-tiba ia merasa tubuhnya menjadi dingin, karena tiba-tiba menghembus lewat segulung angin dingin, mengibarkan bajunya, mengibarkan juga kain cadar yang menutupi wajah Liu hujin.....

ooooo0ooooo MALAM BULAN PURNAMA CUACA telah berubah, sang surya yang memancarkan cahaya keemas-emasan telah tertutup dibalik awan.

Tiba-tiba Ting Peng merasakan sekujur badannya menjadi dingin dan kaku, lalu sebentar lagi merasakan sekujur badannya panas bagai dibakar dengan api.

Semacam kesedihan dan kegusaran yang tak terlukiskan dengan kata-kata, membara dari dasar telapak kakinya langsung menerjang ke atas tenggorokan, membakar wajahnya sehingga berubah menjadi merah membara membuat matanya ikut membara pula.

Ketika hembusan angin mengibarkan kain cadar yang menutupi wajah Liu hujin tadi, ia telah menyaksikan raut wajahnya sang nyonya yang sebenarnya...

Ternyata Liu hujin bukan lain adalah Ko siau.

Sekarang segala sesuatunya telah menjadi jelas, mimpipun dia tak mengira kalau kenyataan yang sebenarnya begitu rendah, terkutuk, begitu kejam dan tak berperi-kemanusiaan.

Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, memandang Liu hujin sambil tertawa tergelak, suara tertawanya kedengaran mirip sekali dengan jeritan binatang buas menjelang kematian.

Kemudian sambil menuding ke arahnya dan terbahak bahak, serunya.

"Kiranya Haaahhh..... haaahhh..... haaahhh kiranya kau?"

Setiap orang memandang ke arahnya dengan terkejut, kaget bercampur keheranan.

"Kau kenal dengan dia?"

Tegur Liu Yok siong.

"Tentu saja aku kenal dengan dia, kalau aku tidak kenal dengannya, siapa yang bakal kenal dengannya?"

"Kau tahu, siapakah dia?"

""Li Ko siau!"

Liu Yok siong kontan saja menarik muka sambil tertawa dingin, serunya lantang.

"Aku sama sekali tidak menggelikan (Ko siau), kau juga tidak menggelikan!"

Kejadian semacam ini memang tidak menggelikan, sedikitpun tidak menggelikan.

Pada hakekatnya kejadian ini untuk menangispun tak sanggup mengeluarkan suara.

Seharusnya Ting Peng menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya .sejak dari ia muncul dalam keadaan bugil, sampai dia pergi mencari Bwe hoa lojin untuknya, digantung lalu ia menyerahkan segala sesuatu kepadanya.

Tapi kejadian semacam ini tak mungkin bisa diucapkan.

Kejadian itu sesungguhnya terlalu brutal, terlalu tidak masuk diakal, kalau dia menceritakannya, orang lain pasti akan menganggapnya sebagai orang gila, seorang gila yang cabul dan memalukan.

Untuk menghadapi manusia gila semacam itu, sekalipun digunakan cara yang paling kejam, cara yang paling buaspun, orang lain tak akan mengatakan apa-apa.

Dengan mata kepala sendiri ia pernah menyaksikan seorang gila semacam itu, di gantung orang hidup-hidup.

Sekarang dia baru tahu, lubang hitam di mana ia terjerumus ternyata adalah sebuah perangkap.

Sepasang lelaki sejati dan perempuan alim ini bukan saja hendak merampas kitab pusaka ilmu pedangnya, bahkan hendak merusak nama baiknya dan menjerumuskan dia ke lembah penghinaan.

Karena itu sudah cukup menggetarkan hati mereka, karena dalam pertarungan ini sebenarnya kemenangan berada di tangannya.

Sekarang, sebenarnya ia sudah menggetarkan dunia persilatan, namanya sudah menjulang tinggi ke angkasa.

Tapi sekarang, tiba-tiba Ting Peng menubruk ke depan, menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya untuk menubruk Liu-hujin yang sebenarnya sama sekali tidak menggelikan itu.

Sekarang ia sudah habis, ia sudah terperosok ke dalam perangkapnya yang rendah dan terkutuk.

Sekarang, diapun hendak membinasakan dirinya.

Sayang seorang perempuan alim seperti Liu hujin, tak mungkin bisa dimusnahkan oleh seorang bocah tak bernama seperti dia.

Baru saja badannya menerjang ke depan, ada dua bilah pedang telah menusuk ke tubuhnya.

Terdengar Bwe hoa lojin sedang membentak dengan suara keras.

"Selama ini lohu tidak buka suara, karena Liu Yok siong adalah saudaraku, tapi sekarang aku sudah tidak tahan untuk berdiam diri belaka"

Liu Yok siong juga menghela napas, katanya.

"Aku sebenarnya tak ingin menyusahkan dirimu, mengapa kau hendak mencari kematian untuk diri sendiri?"

Guntur menggelegar memecahkan keheningan, hujan turun secara tiba-tiba dengan derasnya.

Diantara menyambarnya cahaya kilat dan sinar pedang, pakaian Ting Peng telah basah oleh noda darah.

Sepasang matanya telah berubah menjadi merah membara, sekarang ia tidak memperdulikan segala sesuatunya lagi.

Bagaimanapun juga, masa depannya telah hancur dan musnah, lebih baik sekarang juga ia mati di sini, mati di hadapan perempuan tersebut.

Cia sianseng tidak menghalangi, Tiong Tian juga tidak.

Mereka tak ingin mencampuri urusan ini lagi, sebab pemuda tersebut tak ada harganya untuk dikasihani.

Andaikata ia mempunyai nama, mempunyai kedudukan, kalau dia berasal dari keluarga persilatan yang ternama, mungkin saja ada orang yang akan membantunya mengucapkan beberapa patah kata, mendengarkan penjelasannya.

Sayang dia tak lebih hanya seorang bocah miskin yang tidak punya apa-apa....

Cahaya pedang berkelebat lewat dan menusuk bahunya, tapi ia tidak merasa sakit.

Sekarang ia sudah agak menggila, sudah agak pusing, sudah agak kaku, karena bila seseorang telah berada dalam keadaan seperti ini, dia tak mungkin akan memikirkan soal keselamatannya lagi.

Sayang ia sudah melangkah ke jalan kematian sekarang, ingin berpalingpun sudah tak sempat lagi, agaknya ia bakal dicincang mati seperti seekor anjing gila.

Dua bilah pedang dari Bwe hoa dan Cing siong bagaikan dua ekor ular berbisa meluncur ke depan dan membelenggunya.

Sekarang, ia telah berhasil membongkar intrik busuk mereka, jelas mereka tak akan membiarkan ia hidup terus di dunia ini.

Kini setiap orang telah menganggap dia berdosa, dia bersalah dan tak bisa diampuni lagi, sekalipun mereka membunuhnya, hal inipun merupakan sesuatu yang lumrah.

Liu Yok siong telah melancarkan tusukan mautnya, pedang itu menyambar ke depan dan langsung mengancam tenggorokan Ting Peng.

Tiba-tiba suara guntur kembali menggelegar di angkasa, diantara kilat yang menyambar, sebatang pohon besar terpapas menjadi dua dan roboh ke tanah...

Halilintar menyambar-nyambar, guntur menggelegar di angkasa, bunga api bepercikan ke empat penjuru.

Diantara kobaran api yang menjilat-jilat batang pohon yang sangat besar itu terbelah menjadi dua, kemudian diiringi bunyi gemuruh yang keras tumbang ke atas tanah.

Inilah suatu kekuatan langka, suatu kehebatan alam yang akan ditakuti oleh segenap manusia di dunia ini, apapun kedudukannya dalam masyarakat.

Ditengah jeritan kaget, setiap orang tanpa terasa mundur ke belakang, Liu Yok siong juga ikut mundur.

Hanya Ting Peng seorang yang masih menerjang mau, menerjang keluar melalui dahan pohon yang terbelah dua, menerjang lewat dari antara jilatan api.

Dia tak tahu apakah ia masih bisa mundur atau tidak, diapun tak tahu harus melarikan diri kemana.

Ia tiada tujuan, diapun tidak menentukan arah mata angin.

Didalam hatinya hanya terlintas ingatan untuk melarikan diri dari perangkap ini, bisa kabur sampai dimana, dia akan lari kemana, segenap kekuatan yang dimilikinya telah digunakan, menanti seluruh tenaga yang dipakainya telah habis, diapun roboh ke tanah, roboh di atas sebuah celah bukit.

Ditengah hujan badai yang turun dengan derasnya, cuaca luar biasa gelapnya, ingatan terakhir yang melintas dalam benaknya, bukan rasa dendam dan bencinya kepada Liu Yok siong serta Ko siau, juga bukan kepedihan diri sendiri.

Apa yang teringat olehnya saat itu adalah ayahnya, sepasang mata ayahnya menjelang kematian.

Sekarang, sepasang mata tersebut seakan-akan juga sedang memandang ke arahnya, pandangan yang penuh cinta kasih dan kepercayaan.

Ia percaya putranya dapat melampiaskan rasa kecewanya, pasti bisa tersohor di dunia persilatan.

Bulan tujuh tanggal lima belas, Malam hari, dikala bulan sedang purnama.

Setelah hujan berhenti, rembulan yang purnamapun muncul kembali di atas jagad.

Rembulan pada malam ini seakan-akan jauh lebih indah daripada dihari-hari lain, kecantikannya begitu rahasia, begitu sepi dan cukup membuat hati orang merasa luluh .

Ketika Ting Peng membuka kembali matanya.

Ia menangkap rembulan yang purnama itu.

Ternyata dia tidak mati, orang yang menghendaki kematiannya juga tidak berhasil menemukannya di sana.

Entah suatu kebetulan?

Atau kah takdir?

Ternyata ia terjatuh dalam sebuah celah bukit yang rupanya adalah sebuah selokan.

Hujan deras menimbulkan air bah, air yang mengalir lewat selokan membawanya sampai di situ.

Tempat ini letaknya sudah jauh sekali dari tempat dimana dia terjatuh pertama kali tadi, ketika merangkak bangun dari selokan tersebut, diapun menyaksikan sebuah gua yang dalam sekali.

Empat penjuru di sekeliling sana semuanya ada bukit, semuanya ada pohon, tanah perbukitan yang basah dan segar setelah hujan lewat, bagaikan seorang gadis perawan yang baru selesai membersihkan badan.

Kecantikan seorang gadis perawan.

membawa kerahasiaan dan kemisteriusan.

Gua itu bagaikan mata dari gadis perawan, begitu gelap, dalam dan mengandung daya tarik yang besar.

Tampaknya Ting Peng sudah tertarik oleh kerahasiaan gua itu, tanpa terasa ia bangkit berdiri dan menghampirinya.

Sinar rembulan memancar masuk dari luar gua, menerangi dinding gua yang penuh lukisan alam semesta melainkan lukisan langit Hanya di atas langit, baru akan ditemukan pemandangan semacam ini.

Gedung istana yang besar dan megah, pasukan pengawal yang berbaju perang emas, dayang-dayang keraton yang bersanggul tinggi, berbaju bulu, intan permata yang berserakan dimana-mana, bebungaan dan buah-buahan yang segar, semuanya melukiskan pria yang perkasa seperti panglima langit perempuan yang agung bagaikan bidadari.

Terpesona Ting Peng menyaksikan kesemuanya itu.

Semua harapannya telah punah, masa depan yang gemilang telah berubah menjadi gelap..

Dialam semesta, ia ditipu, dihina, dicemooh dibuat penasaran, dipaksa mengambil keputusan yang pendek.

Dialam semesta ia tiada masa depan lagi, tiada hari esok, semua masa depannya telah dimusnahkan orang.

Sekali difitnah orang selama hidup dosanya tak akan bersih dari tubuhnya, selama hidup ia tak ada harapan untuk mengangkat kepala lagi, sekalipun bisa hidup lebih lanjut, dia hanya bisa menyaksikan orang-orang yang memfitnah mencemooh dan menghinanya, karena selama hidup ia tak akan mampu untuk mengalahkan mereka.

Lalu apa artinya hidup terus di dunia ini?

Walaupun dialam semesta tiada hukum yang adil, di langit juga ada fitnahan yang dialaminya dalam alam semesta hanya bisa diadukan ke atas langit.

Padahal ia masih muda tidak sepantasnya mempunyai ingatan seperti itu.

Tapi bila seseorang telah terdesak sehingga tiada jalan lain, jika ia sudah berada dalam keadaan apa boleh buat sekalipun tak ingin berpikir demikianpun, pikiran itu akan datang dengan sendirinya.

Mendadak dia teringat akan mati.

Mati memang jauh lebih gampang dari pada hidup lagi pula lebih menggembirakan.

Ditipu orang apalagi ditipu secara mentah-mentah oleh seorang perempuan yang untuk pertama kali dicintainya memang merupakan suatu siksaan batin yang tak bisa ditahan oleh siapapun, hal itu sudah cukup untuk membuat seorang pemuda tak sanggup untuk hidup lebih jauh.

Mendadak ia merasakan tangannya masih menggenggam pedang nya erat-erat.

Jikalau pedang ini memang tak bisa mendatangkan nama besar dan kebesaran lebih baik ia mati saja di ujung pedang ini.

Berpikir sampai di situ, pedangnya lantas diangkat ke atas dan siap-siap digorokkan ke atas leher sendiri.

Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba terhembus lewat segulung angin, dibalik hembusan angin itu seakan-akan terdapat sesosok bayangan, sesosok bayangan yang sangat kabur.

Bayangan yang membawa bau harum yang tipis, berhembus lewat dari hadapannya kemudian lenyap tak berbekas.

Tahu-tahu pedang didalam genggamannya telah lenyap tak berbekas.

Ting Peng tertegun.

Kemudian ia merasa munculnya segulung hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari alas kaki, langsung menerjang ke atas kepala, dalam waktu singkat sekujur badannya menjadi dingin dan kaku, Jangan-jangan di tempat ini ada setan?

Gua itu sesungguhnya memang agak rahasia, agak misterius, sekarang, di tengah kegelapan, ia seakan-akan menyaksikan bayangan setan yang sedang bergerak-gerak di situ.

Jikalau seseorang sudah bertekad ingin mati, kenapa pula harus takut dengan setan?

Setan.

Tidak lebih hanya seseorang yang sudah mati, Tanpa pedangpun ia sama saja bisa mati.

Ting Peng merasa amat marah dan mendendam, ia merasa bukan Cuma manusia saja yang mempermainkannya, sampai menjelang saat akhir hidupnya pun, masih ada setan yang mempermainkan dirinya.

Sambil menggigit bibir, dan mempergunakan segenap tenaga yang dimilikinya, ia lantas membenturkan kepalanya ke atas dinding batu.

Baik manusia yang mempermainkannya, ataupun setan yang mempermainkan diri nya, setelah mati dia pasti akan membuat perhitungan dengan orang itu.

Tapi ia tak sampai mati.

Kepalanya tidak menumpuk di atas dinding batu, sebab lagi-lagi ada angin yang berhembus lewat, tahu-tahu di depan dinding batu itu muncul sesosok bayangan manusia.

Kepalanya persis menumbuk di atas badan orang ini.

Tapi justru kehadiran orang itu jauh lebih menakutkan daripada dinding batu tersebut, belum pernah ia menyaksikan ada manusia di dunia ini yang bisa datang dengan begini cepatnya.

Dengan perasaan terkejut dia mundur ke belakang, akhirnya ia dapat menjumpai "manusia"

Tersebut.

Seorang perempuan, cantik jelita bersanggul tinggi, berbaju bulu yang persis seperti lukisan bidadari di atas dinding gua telah berdiri di hadapannya.

Mungkinkah dia turun dari atas dinding gua itu untuk menolongnya?

Ditangan kirinya membawa sebuah keranjang bambu yang penuh dengan bebungaan segar, sedang ditangan kanannya membawa sebilah pedang, itulah pedang Ting Peng.

Ia sedang memandang wajah Ting Peng sambil tersenyum, senyuman itu kelihatan begitu segar, manis lembut, suci dan anggun.

Entah bagaimanapun juga, paling tidak ia kelihatannya tidak terlalu menakutkan.

Akhirnya Ting Peng merasa dapat bernapas kembali dengan lancar, akhirnya bisa bersuara lagi untuk berbicara, segera tegurnya.

"Sebenarnya kau ini manusia atau setan?"

Bersambung

Jilid 03)

Jilid .

3 PERTANYAAN itu diajukan dengan nada yang menggelikan tapi entah siapapun itu orangnya, bila berada dalam keadaan seperti ini, mereka pasti akan mengajukan pertanyaan tersebut.

Kembali gadis itu tertawa, malah sinar matanya pun terdapat senyuman, tiba-tiba ia balik bertanya.

"Kau tahu, hari ini adalah hari apa?"

"Bulan tujuh, tanggal lima belas!"

Bidadari cantik yang seakan-akan baru turun dari lukisan itu kembali berkata.

"Tahukah kau bulan tujuh tanggal lima belas adalah hari apa?"

Akhirnya Ting Peng teringat kembali bahwa hari ini adalah Tiong-goan, harinya setan dan arwah penasaran.

Konon pada hari ini, pintu akherat yang disebut Kui bun koan sengaja dibuka, malam itu, segenap setan dan arwah penasaran yang menghuni di akherat berbondong-bondong akan datang ke alam semesta.

"Kau adalah setan?"

Ting Peng segera menjerit dengan suara amat terkejut. Bidadari cantik itu segera tersenyum.

"Menurut penglihatanmu, apakah aku mirip dengan setan?"

Dia memang tidak mirip.

"Kalau begitu kau adalah bidadari dari sorga loka?"

Tak tahan Ting Peng berseru kembali. Senyuman bidadari cantik itu tampak lebih lembut dan halus, sahutnya pelan.

"Akupun sangat ingin mendengar kau menganggap diriku sebagai bidadari dari kahyangan, tapi akupun tak berani berbohong, sebab bila aku berani mencatut nama bidadari dari kahyangan, pasti arwahku akan dijebloskan ke dalam neraka untuk dicabut lidahnya.

"Entah bagaimanapun juga, kau sudah pasti bukan manusia""

"Tentu saja aku bukan manusia"

Tanpa sadar Ting Peng mundur dua langkah lagi ke belakang.

"Lantas kau... siapa....kau?""

"Aku adalah rase!"

"Rase?"

"Apakah kau tak pernah mendengar kalau di dunia ini terdapat Rase?"

Tentu saja Ting Peng pernah mendengar, sudah banyak cerita tentang "rase"

Yang pernah ia dengar, ada yang cantik, ada pula yang menakutkan, karena "rase"

Adalah makhluk yang tak bisa diraba.

Bila mereka senang kepadamu, kau akan memperoleh kejayaan dan harta kekayaan di dunia, ia akan memberi kebahagiaan yang tak pernah kau impikan.

Tapi merekapun dapat memikat dirimu, memikatmu setengah mati sehingga sukma pun ikut terbetot.

Meskipun belum pernah ada orang yang bisa berjumpa dengan mereka, tapi tiada orang yang membantah atas kehadiran mereka di alam semesta ini ...........

Di dalam dongeng yang tersebar dalam masyarakat, hanya ada satu persamaan antara cerita yang satu dengan yang lain.

"Rase"

Kerapkali menampakkan diri dalam bentuk manusia, lagi pula senang menampakkan diri dalam wujud seorang perempuan yang cantik.

Dengan perasaan terkejut Ting Peng memperhatikan gadis cantik di hadapannya, pakaian yang baru saja kering kembali basah oleh keringat dingin...

Sekarang, ia benar-benar telah bertemu dengan "rase"

Sinar rembulan yang tipis memancar di atas wajahnya, membuat paras mukanya yang cantik kelihatan agak putih memucat, putih yang menerawang dan berkilap, seperti mutiara.

Hanya manusia yang tak pernah melihat sinar matahari, baru akan memiliki paras muka seperti ini.

Tentu saja "rase"

Tak pernah mendapat sorot sinar matahari.

Tiba-tiba Ting Peng tertawa.

Gadis ini tampaknya merasa sedikit keheranan, belum pernah ada orang yang bertemu dengan Dewi rase manis bisa memperdengarkan gelak tertawanya.

Maka dengan perasaan keheranan dia tertawa.

"Adakah suatu persoalan yang membuatmu merasa kegelian?"

"Sesungguhnya peristiwa semacam ini memang tidak menggelikan, tapi kau pun jangan harap bisa membuatku ketakutan"

"Oooh!"

"Karena aku sama sekali tidak takut padamu, entah kau ini setan atau rase, pokoknya aku tidak akan takut kepadamu""

"Setiap orang tentu merasa takut bila bertemu dengan setan atau rase, mengapa kau justru merasa tidak takut?"

"Karena bagaimanapun juga, aku toh bakal mati!"

"Ia masih tertawa, terusnya..

"Seandainya kau ini setan, setelah aku mati maka akupun akan berubah menjadi setan juga, mengapa aku musti takut kepadamu?"

Bidadari cantik itu segera menghela napas panjang, katanya.

"Bila seseorang telah mati, dia memang tak usah takut lagi kepada siapapun"

"Tepat sekali perkataanmu itu"

"Tapi aku lihat kau masih muda, kenapa ingin lekas-lekas mati?"

Ting Peng ikut menghela napas panjang.

"Anak muda pun kadangkala ingin mati juga"

"Kau benar-benar ingin mati?"

"Benar!"

""Kau harus mati?"

"Yaa, aku harus mati!"

"Sayang kau telah melupakan satu hal!"

"""Soal apa?"

"Sekarang kau belum mati, kau masih seorang manusia"

Ting Peng mengakuinya. Kembali perempuan cantik itu berkata lagi.

"Sebaliknya aku adalah rase, seorang dewi rase, aku memiliki kekuatan gaib, sedang kau tak punya, itulah sebabnya bila aku tidak menginginkan kematian, kau tak akan mati, kecuali ................"

"Kecuali bagaimana?"

"Kecuali kau memberitahu dulu kepadaku, persoalan apakah yang membuat kau bertekad untuk menghabisi jiwamu sendiri?"

Tiba-tiba Ting Peng melompat bangun, teriaknya keras-keras.

""Mengapa aku harus memberitahu kepadamu?, dengan dasar apa aku harus memberitahukan soal ini kepadamu?"

Asal menyinggung kembali persoalan itu, hatinya terasa sedih bercampur marah, teriak lagi.

"Aku justru tak mau memberitahu kepadamu, apa yang kau bisa lakukan terhadap diriku ini?"

Kecuali mati, memang tiada masalah lain yang lebih besar lagi!

Bila seorang telah bertekad untuk mati, masakah dia masih takut bakal diapakan orang lain?

Dengan terkejut gadis cantik itu memandang ke arahnya, tiba-tiba ia tertawa lagi.

"Sekarang aku percaya penuh, agaknya kau memang betul-betul kepingin mati".

"Aku memang kepingin mati!"

"Siapakah namamu?"

Tiba-tiba gadis cantik itu bertanya lagi.

"Mengapa kau musti menanyakan soal namaku?"

"Agar setelah mati nanti dan menjadi setan, kita bisa menjadi tetangga yang baik, siapa tahu kita bakal sering berjumpa, tentu saja aku harus mengetahui siapa namamu"

"Kenapa kau tidak memberi tahukan lebih dulu siapa namamu?, sekalipun dewi rase tentunya kau juga punya nama"

Gadis cantik itu segera tersenyum manis.

"Yaa, aku memang punya nama, kalau kau ingin tahu, aku bersedia memberitahukan kepadamu"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Aku bernama Cing-cing!"

Ooooo0ooooo CING-CING CING-CING mengenakan baju berwarna hijau pupus ia tampak begitu cerah secerah udara di musim semi secerah air telaga yang bening di cuaca yang segar.

Bayangan bukit tampak membias di atas permukaan air telaga, begitu indah dan menawan membuat orang terpesona.

Pinggang Cing cing ramping lagi halus bagaikan pohon liu yang tinggi semampai bergoyang terhembus angin.

Di atas pinggang Cing cing terikat sebuah ikat pinggang berwarna hijau, sebilah golok tersoren di pinggangnya Sebilah golok melengkung.

Golok lengkung Cing cing disoren dalam sebuah sarung golok yang terbuat dari perak, di ujung gagang golok tertera sebiji mutiara yang besar dan memancarkan cahaya berkilauan.

Biji mata Cing-cing lebih tajam dari sinar mutiara tampak lebih lembut dan mempesona hati.

Ting Peng tidak takut kepadanya walau hanya sedikitpun, entah dia itu manusia atau rase?

Dia tak pernah merasa takut.

Seandainya Cing cing adalah manusia tentu saja dia adalah seorang manusia cantik sebaliknya jika Cing cing adalah rase dia adalah seekor rase yang cantik lemah lembut dan berhati bajik makhluk berbudi luhur seperti ini tak nanti akan pergi melukai siapapun juga.

Golok lengkung yang tersoren di pinggangnya itu agaknya juga bukan sebilah golok yang dipakai untuk melukai orang.

Tiba-tiba Ting Peng bertanya.

"Kau juga mempergunakan golok?"

"Mengapa aku tak boleh mempergunakan golok? ` ""Kau pernah membunuh orang""

Cing-cing segera menggeleng.

"Orang yang pandai mempergunakan golok bukan berarti dia harus pernah membunuh orang"

Katanya. Ting Peng kembali menghela napas.

"Orang yang pernah membunuh orangpun belum tentu harus pandai mempergunakan golok!"

Tambahnya. Sekarang ia baru tahu, ada sementara manusia tanpa golokpun sama saja bisa membunuh orang, bahkan cara yang digunakan untuk membunuh orang jauh lebih kejam daripada mempergunakan golok.

"Kau pernah menjumpai manusia semacam itu?"

Cing cing bertanya.

"Ehmm....!"

Maka dari itu walaupun ia tidak membunuhmu dengan golok, kau toh harus mati juga"

Ting Peng tertawa getir.

"Tapi aku lebih rela kalau mampus di ujung goloknya"

"Dapatkah kau menuturkan kisah peristiwa yang telah menimpa dirimu itu?"

Agar aku bisa turut menilai, pantaskah kau untuk mati atau tidak.....?"

Persoalan semacam ini sebenarnya tidak pantas untuk diceritakan kepada orang lain, sebab sekalipun kau mengutarakannya keluar juga tak ada orang yang mau percaya.

Tapi Cing cing bukan manusia, dia adalah rase.

Rase lebih cerdik daripada manusia, dia pasti dapat membedakan apakah pernyataannya itu adalah kata-kata yang sejujurnya ataukah bukan ......?"

Ting Peng sedikitpun tidak kuatir bakal ditertawakan orang karena kebodohannya, maka ia menuturkan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya itu secara gamblang dan terang.

Bila seorang dapat melampiaskan keluar seluruh rahasia hati yang sebenarnya tak dapat diutarakan kepada orang lain, sekalipun harus mati, ia akan mati dengan hati yang puas.

Ting Peng menghembuskan napas panjang, katanya.

"Bila seseorang sampai tertimpa musibah sebesar ini, coba katakanlah apakah lebih baik mampus saja?` Dengan tenang Cing cing mendengarkan penuturan tersebut, kemudian ia menghem-buskan napas panjang.

"Benar"

"Sekarang, apakah aku sudah boleh mati?"

"Matilah!"

Entah dia itu manusia atau rase, kedua-duanya beranggapan bahwa dia mana pantas untuk mati, bila harus hidup menanggung derita, memang lebih enak mati saja agar beres.

Kembali Ting Peng menghela napas.

"Pergilah kau!"

Katanya.

"Mengapa kau suruh aku pergi?"

"Bila seseorang hampir mati, tampaknya pasti jelek untuk dilihat, kenapa kau mesti berada di ini untuk melihat keadaanku?"

"Tapi matipun ada banyak ragamnya, kau musti memilih cara mati yang agak sedap dipandang!"

"Aaah.......! Mati yaa mati dengan cara apapun sama saja, kenapa aku mesti memilih semacam kematian yang sedap dilihat?"

"Demi aku!"

"Demi kau?"

"Selama hidup belum pernah ku saksikan kematian orang lain, kumohon kepadamu matilah dengan wajah yang sedikit baik, agar aku bisa ikut menyaksikannya, mau bukan?"

Ting Peng tertawa, tentu saja tertawa yang getir. Belum pernah ia menyangka kalau ada orang bakal mengajukan permintaan yang begini brutal, tapi dia tidak menampik keinginan orang, katanya kemudian.

"Bagaimanapun juga aku toh bakal mati, mampus dengan cara apapun tidak menjadi persoalan bagiku".

"Oooh... kau baik sekali?"

Kata Cing cing sambil tersenyum "Sayang sekali aku benar-benar tidak tahu kematian dengan cara yang bagaimana kah baru bisa dikatakan suatu kematian yang baik".

"Aku tahu!"

"Baik, kau ingin aku mati dengan cara yang bagaimana, aku akan mati dengan cara yang bagaimana pula"

"Tak jauh dari sini terdapat sebuah lembah yang dinamakan lembah Yu ciu kok (lembah kemurungan), dalam lembah itu terdapat sejenis rumput yang dinamakan Wong yu cau (rumput pelupa kemurungan), jika orang bisa makan selembar saja dari daun rumput pelupa kemurungan itu, maka semua kemurungan yang mencekam perasaannya akan sama sekali terlupakan"

Ditatapnya Ting Peng tajam-tajam, kemudian melanjutkan.

"Orang yang hidup di dunia ini sungguh teramat bodoh, siapa pula yang benar-benar dapat melupakan semua kemurungan yang memenuhi di dalam benaknya?"

"Cuma orang yang sudah mampus"

Cing cing menghela napas ringan, sahutnya.

"Perkataanmu itu tepat sekali, hanya orang mati baru akan melupakan semua kemurungan"

"Apakah cara kematian semacam itu paling bagus dilihat?"

"Menurut apa yang kuketahui, entah di atas langit ataupun di bawah bumi, cara itu memang terhitung sejenis cara kematian yang paling bagus"

"Jauhkah tempat itu letaknya dari sini."

"Tidak terlalu jauh"

Dia membalikkan badan dan pelan-pelan berjalan menuju ke bagian yang paling gelap dari gua itu, biasanya antara kemurungan dan kegelapan memang susah ditemukan perbedaannya.

Lembah yang dinamakan lembah kemurungan tersebut, sudah barang tentu terletak di tengah kegelapan.

Kegelapan yang tiada ujung pangkalnya, seakan akan menyelimuti seluruh jagad Ting Peng tidak melihat Cing-cing, pun tidak mendengar langkah kakinya, dia hanya bisa mendengus bau khas yang tersiar dari tubuhnya, segulung bau harum yang tipis sekali.

Dengan bau harum tersebut sebagai "penunjuk jalan", diapun mengikuti terus ke mana saja perempuan itu pergi.

Gua tersebut ternyata jauh lebih dalam daripada apa yang dibayangkan semula, entah sudah berapa lama dia berjalan, juga tak tahu kemana dia pergi.

Yang pasti bau harum yang terendus sekarang makin lama semakin tebal.

Selain bau harum dari tubuhnya, terendus pula bau harumnya bunga, tapi bila di bandingkan dengan bau harum dari badannya, maka bau harumnya bunga itu terasa begitu hambar dan biasa.

"Benarkah dia adalah rase?"

Demikian Ting Peng mencoba untuk berpikir. Tapi tidak percaya diapun enggan percaya, gadis itu masih begitu muda, kalau dia adalah seorang manusia.

"Aai.....! Bagaimanapun aku sudah hampir mati, dia seorang manusia juga boleh mau rase juga tak menjadi soal, apa pula sangkut pautnya denganku?"

Ting Peng menghela napas dalam hati, ia tak ingin memikirkan persoalan itu lagi.

"Apakah dalam lembah kemurungan juga ada bunga?"

Ia bertanya.

"Tentu saja ada, aneka macam bunga terdapat di sana, aku jamin kau belum pernah menyaksikan bunga sebanyak itu"

Suara Cing cing kedengaran lembut dan merdu seolah-olah angin musim semi yang berhembus datang dari pegunungan nan jauh di sana.

"Ku jamin kau belum pernah mengunjungi tempat yang begitu indahnya seperti tempat itu"

Ia tidak bohong, juga tidak sengaja mengibul.

Dalam lembah kemurungan memang terdapat aneka macam bunga yang indah, tempat itu sungguh-sungguh merupakan suatu tempat yang sangat indah, terutama di bawah sinar rembulan, tampak lebih indah dan menarik, indah bagaikan dalam impian.

Bila seseorang baru keluar dari kegelapan yang tak bertepian, tiba-tiba sampai di suatu tempat yang indah, sedikit banyak ia pasti akan menjadi sangsi apakah dirinya sedang bermimpi atau tidak.

"Apakah aku bukan lagi bermimpi?"

"tak tahan Ting Peng bertanya.

"Bukan?"

"Mengapa tempat ini dinamakan lembah Kemurungan?"

"Karena tempat ini adalah perbatasan antara dunianya manusia dengan dunianya para dewa, bukan saja manusia biasa tak boleh masuk ke sini secara sembarangan, dewa pun tak boleh sembarangan berkunjung kesini"

"Mengapa?"

"Sebab bila dewa berkunjung kemari , dia akan turun pangkatnya menjadi manusia, sedangkan manusia yang berkunjung kemari bisa berubah menjadi setan".

"Itu berarti cuma manusia yang hampir mati serta dewa yang sudah turun pangkat nya menjadi manusia bare akan berkunjung kemari?".

"Benar!"

Setelah berhenti sejenak, Cing cing berkata lagi.

"Perduli dia itu dewa atau manusia, asal sudah sampai di sini maka dia akan mengalami suatu kejadian yang luar biasa, hanya kami bangsa rase yang manusia bukan manusia setan bukan setan yang bisa sembarangan berjalan di sini sekehendak hati sendiri"

Ucapannya itu selalu aneh, terlalu misterius.

Tapi Ting Peng mau tak mau harus mempercayainya.

Tempat itu memang bukan alam manusia, kaki manusia biasa memang belum pernah tiba di sini.

Tapi bagaimana pun juga, bila seseorang bisa mati di sini, ia memang sudah tidak perlu menggerutu atau merasa menyesal lagi.

"Dimanakah rumput pelupa kemurungan itu? tanya Ting Peng kemudian. Cing cing tidak menjawab pertanyaannya itu. Cing cing sedang memperhatikan sebuah batu karang dikejauhan sana, sebuah batu karang berwarna putih mulus seperti susu, susu itu bagaikan raksasa yang berdiri seorang diri di bawah sinar rembulan. Di atas batu karang itu tiada bunga, Di sana hanya ada sebatang rumput berwarna hijau, lebih cantik daripada bunga, lebih hijau daripada daun.

"Itukah rumput pelupa kemurungan?"

Ting Peng bertanya. Akhirnya Cing cing mengangguk juga.

"Benar!"

Dia membawa pemuda itu mendekati batu karang tersebut, kemudian berkata.

"Daun dari rumput pelupa kemurungan ini hanya tumbuh sekali dalam setahun, setiap kali cuma tiga lembar, bila kau datang agak terlambat, daunnya akan menjadi layu dan mengering"

"Rumput itu tak lebih hanya sekuntum rumput beracun, sungguh tak nyana begitu tinggi nilainya"

"Rumput tersebut bukan rumput beracun inilah rumput pelupa kemurungan, bila ingin menghilangkan segala kemurungan, hal tersebut bukan suatu pekerjaan yang amat sukar"

Ia lantas berpaling ke arah Ting Peng sambil bertanya.

"menurut kau, benar atau tidak?"

"Benar!"

Pada saat itulah, tiba-tiba muncul selapis bayangan hitam yang menyambar datang dan menutupi cahaya rembulan, persis seperti selapis awan hitam."

Tapi bayangan awan itu bukan awan hitam.

Dia adalah seekor burung elang, burung elang yang berwarna gelap.

Elang itu terbang berputar di bawah sinar rembulan, berputar-putar di atas batu karang berwarna putih susu itu, persis seperti selapis awan hitam.

Di atas wajah Cing cing yang pucat tiba-tiba terpancar suatu mimik wajah yang aneh sekali, sambil berkerut kening, ia berkata.

"Agaknya yang ingin mencari rumput pelupa kemurungan pada hari ini bukan cuma kau seorang"

"Apakah dia adalah malaikat?"

"tanya Ting Peng, sambil memandang elang yang sedang terbang di angkasa itu. Cing cing segera menggeleng.

"Bukan dia tak lebih cuma seekor burung elang"

"Mengapa elang juga mencari rumput pelupa kemurungan? Apakah elangpun mempunyai kemurungan?"

Cing cing belum sempat menjawab, tiba-tiba burung elang itu sudah menerjang ke atas batu karang persis di atas rumput pelupa kemurungan itu dengan kecepatan tinggi.

Gerakan tubuh elang tersebut jauh lebih cepat dari siapapun, bahkan lebih cepat...

Sungguh tak disangka gerakan tubuh Cing cing jauh lebih cepat lagi.

Ia membentak nyaring.

"Enyah kau dari sini!"

Bersamaan dengan menggelegarnya bentakan tersebut, tubuhnya secepat kilat meluncur ke udara dan melayang turun di atas batu karang tersebut ......

Ujung bajunya dengan membawa desingan angin tajam dikebutkan ke atas mata burung elang itu.

Si elang menjerit keras dan terbang kembali ke udara, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Rembulan yang purnama pulih kembali dalam kejernihan warna yang lembut, berdiri di bawah sinar rembulan, di atas batu karang diantara kibaran ujung bajunya ia kelihatan seperti seorang bidadari dari kahyangan.

Diam-diam Ting Peng menghela napas panjang, Andaikata ia memiliki gerakan tubuh seperti itu, ia tak usah kuatir kepada Liu Yok-siong lagi, diapun tak usah mati.

"Sayang sekali gerakan tubuh semacam itu tak mungkin bisa dilakukan oleh manusia biasa dari manapun. Tampak Cing-cing sedang menggapai ke arahnya sambil berseru.

"Dapatkah kau naik kemari?"

"*Akan kucoba!"

Batu karang itu licin seperti cermin, mana tak bisa dipegang lagi, ia merasa benar-benar tak sanggup untuk naik ke atas.

Tapi dia harus mencobanya.

Entah dia manusia atau rase, yang pasti dia adalah seorang perempuan, ia tak ingin dipandang rendah olehnya.

Dia mencoba sekali demi sekali, sekujur tubuhnya sudah hijau membengkak karena seringnya terjatuh ke tanah.

Gadis itu berdiri tegap di atas batu karang, sekalipun menyaksikan pemuda itu sekali demi sekali terbanting ke bawah, akan tetapi ia tidak berusaha untuk menolongnya, dia pun tidak berniat untuk menolongnya.

"Bila kau ingin mendapatkan sesuatu, maka kau harus berusaha dengan kepandaian serta kemampuanmu"

"Seseorang yang tidak memiliki kemampuan, bukan saja tak bisa hidup secara baik-baik, bahkan ingin matipun tak bisa mati secara baik-baik ........... sambil menggertak gigi dia merangkak terus ke atas, kali ini ia berhasil mencapai di atas, satu jangkauan lagi dia pasti akan tiba di puncak tebing karang itu. Sungguh tak disangka pada saat itulah tiba-tiba burung elang tadi menyambar lagi ke bawah, sepasang sayapnya dikebaskan ke bawah dengan disertai tenaga yang sangat kuat. Sekali lagi ia terjatuh ke bawah, kali ini ia terjatuh lebih keras lagi, semakin tinggi ia memanjat, semakin parah pula bila terbanting ke bawah. Sebelum ingatannya hilang, lamat-lamat ia mendengar elang itu sedang tertawa dingin.

"Hmm.. Manusia macam kau juga ingin mendapatkan rumput pelupa kemurungan?"

Elang itu tak lebih, hanya seekor elang biasa, bukan malaikat..!

Elang tak bisa tertawa dingin, apalagi berbicara ialah seorang manusia yang duduk di punggung elang tersebut.

elang itu masih berputar-putar di udara, tapi orangnya sudah melayang turun ke bawah, Bayangan selembar daun melayang turun di atas batu karang tersebut.

Manusia biasa tak mungkin akan memiliki ilmu meringankan tubuh yang begini sempurna.

Di bawah cahaya rembulan, orang itupun memancarkan sinar keemas-emasan, tubuhnya mengenakan sebuah jubah lebar yang terbuat dari serat emas murni.

Satu stel jubah panjang yang mencapai tiga depa panjangnya.

Karena orang itu justru hanya tiga jengkal tinggi badannya, ketika jubah yang tiga jengkal itu dikenakan dibadan, bagian bawah jubah itupun sudah mencapai tanah.

Jenggotnya jauh lebih panjang dari jubah emasnya, pedangnya juga lebih panjang daripada jenggotnya.

Seorang manusia yang ketinggian badannya, cuma tiga jengkal ternyata menggembol pedang sepanjang empat jengkal, sarung pedang yang terbuat pula dari emas itu tentu saja mencapai di atas tanah Orang ini tampaknya sama sekali tidak mirip seperti dengan seorang manusia.

Mungkin ia sama sekali bukan manusia melainkan, malaikat tempat itu memang bukan suatu tempat yang dapat dikunjungi oleh manusia biasa.

Seorang manusia yang didalam manusia sendiripun tiada tempat berpijak mengapa harus datang ke situ?

Seorang manusia untuk melawan manusia pun tak mampu mana mungkin bisa menangkan pertarungannya melawan rase?

Tiba-tiba Ting Peng merasa sangat menyesal karena ia seharusnya tidak pantas berkunjung ke situ.

Jubah yang berwarna emas, jenggot yang berwarna emas, pedang yang berwarna emas semuanya memancarkan sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata.

Sekalipun perawakan kakek itu tidak mencapai empat jengkal tapi sikapnya ataupun gayanya seakan-akan dia itu manusia raksasa yang tinggi badannya mencapai sepuluh jengkal lebih.

Tiba-tiba ia bertanya.

"Barusan kaukah yang telah mengejutkan putraku?"

Dia sedang bertanya kepada cing cing, namun sepasang matanya tak pernah menengok ke arah Cing cing barang sekejappun?

Seolah-olah di dunia ini tidak terdapat manusia yang berharga untuk dilihatnya dengan pandangan mata.

"Putramu?"

Cing cing tertawa.

"burung itu adalah putramu?"

"Dia bukan burung tapi elang, seekor elang sakti, dewa dari sekalian elang!"

Mimik wajahnya ketika berbicara adalah begitu serius dan bersungguh-sungguh, sebab ucapannya bukan kata-kata bohong, bukan pula kata-kata gurauan. Tapi Cing cing masih tertawa, katanya.

"Elang juga burung, kalau putramu seekor burung tentunya kau juga seekor burung bukan?"

Kakek itu naik pitam, rupanya yang setengah botak itu berdiri tegak semua bagaikan kawat, kemarahan yang membuat rambutnya berdiri bagaikan duri.

Konon bila tenaga khikang yang dilatih seseorang telah mencapai puncak kesempurnaan, dalam gusarnya rambut di atas kepalanya benar-benar bisa berdiri semua bagaikan duri.

Tapi tak akan ada seorang manusiapun di dunia ini yang sanggup melatih ilmu khikangnya hingga mencapai puncak setinggi itu, tenaga dalam semacam itu tak akan bisa di jangkau oleh manusia manapun juga.

Cing cing seperti tidak merasa takut barang sedikitpun juga, karena dia sendiri juga bukan manusia.

Dia adalah rase, konon Rase tidak takut terhadap apapun.

Hawa kegusaran si kakek itu ternyata bisa dipadamkan kembali dengan cepat, katanya dingin.

"Kau sanggup membuat kagetnya putra elangku berarti tenaga dalammu tidak lemah"

"Oooh..."

"Tapi aku tak akan membunuhmu!"

Dengan angkuh kakek itu menambahkan.

"Sebab dalam dunia saat ini hanya tinggal dua gelintir manusia saja yang berhak bagiku untuk membunuhnya sendiri!"

Aduh mak!"

"Apa artinya aduh mak?"

"Aduh mak artinya bila kau ingin membunuhku, kau masih bisa membunuhku...!"

"Mengapa?"

"Sebab aku bukan manusia"

"Lantas makhluk apakah kau?"

"Aku juga bukan makhluk, aku adalah rase! Kakek itu segera tertawa dingin.

"Siluman rase termasuk jenis setan, semakin tidak berharga bagi aku orang tua untuk meloloskan pedang!. Dia bukan cuma besar dalam perkataan, nyalinya juga cukup besar. Ternyata ia masih tidak pandang sebelah matapun terhadap Cing-cing, sambil bergendong tangan ia berjalan menuju ke arah rumput pelupa kemurungan itu. Masakah manusia semacam dia juga ingin melupakan segala kemurungan yang mencekam dalam benaknya?"

Tiba-tiba Cing cing menghalangi jalan perginya, ia berkata.

"Kau tak dapat mengusik rumput pelupa kemurungan itu, menyentuhpun tak boleh!"

Ternyata kakek itu tidak bertanya kepada nya.

"Mengapa?"

Sekarang ia sudah berada di hadapannya, ia sudah tak bisa tidak untuk memandang ke arahnya, tapi ia tetap tidak mendongakkan kepala untuk memandang wajahnya.

Ia sedang menatap golok yang tersoren di pinggangnya itu.

Golok lengkung milik Cing cing.

Golok lengkung milik cing cing memancarkan cahaya keperak-perakan di bawah cahaya rembulan.

Tiba-tiba kakek itu menjulurkan tangannya yang kurus kering macam cakar setan itu, seraya berseru.

"Bawa kemari!"

"Apanya yang bawa kemari?"

"Golokmu itu! "

"Mengapa aku harus serahkan golok itu kepadamu?"

""Sebab aku mau melihat".

"Sekarang toh kau sudah melihat"

"Aku hendak melihat golokmu, bukan sarung golokmu!"

"Kunasehati dirimu lebih baik melihat sarung goloknya saja, sebab itu sudah lebih dari cukup, janganlah melihat golok ini lagi"

"Mengapa?"

""Sebab golok ini paling pantang untuk diperhatikan"

Sesudah menghela napas, gadis itu melanjutkan.

"Sebab setiap orang yang pernah melihat golok ini, pasti akan mampus di ujung golok tersebut"

Tiba-tiba kakek itu mendongakkan kepala memandang wajahnya.

Gadis itu berwajah pucat tapi cantik, kecantikannya begitu membuat orang terkesima dan misterius, cantiknya membuat setiap orang yang memandangnya tentu tergetar perasaannya..

Ternyata sikap dari kakek itu sama sekali berbeda.

Mendadak kelopak matanya berkerut kencang, lalu sinar mata kengerian dan ketakutan terpancar keluar dari balik matanya itu.

Tiba-tiba ia menjerit tertahan.

""Haaah, kau?!"

"Mungkinkah dulu kakek itu pernah berjumpa dengan Cing-cing? Apakah dulu ia pernah kenal dengan Cing-cing? Mendadak kakek itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, sudah pasti bukan, kau masih muda, kau masih terlampau muda !"

Cing-cing pun merasa agak keheranan, dia lantas bertanya.

"Apakah kau pernah kenal dengan seseorang yang amat mirip wajahnya denganku?"

"Aku tidak kenal denganmu, aku hanya kenal dengan golok itu, aku tak bakal salah melihat, tak bakal....."

Tiba-tiba ia bertanya lagi kepada Cing-cing.

"Bukankah di atas golok itu tertera tujuh buah huruf?"

"Tujuh huruf yang mana?"

Cing-cing balik bertanya.

"Siau-lo-it-ya-teng-cun-hi!"

Siau-lo-it-ya-teng-cun-hi! Mendengar rintikan hujan di sebelah loteng pada suatu malam. .."

Jelas kata-kata tersebut merupakan sebait syair, sebait syair yang sangat indah, keindahannya begitu mempesona, keindahannya membuat hati orang terkoyak-koyak..Ting Peng pernah membaca syair tersebut, juga memahami arti dari syair tersebut.

Saban kali membaca bait syair tersebut atau dikala mendengar bait syair itu, entah mengapa perasaan masgul selalu akan muncul dan menyelimuti seluruh perasaannya."

Semacam kemasgulan yang tak terungkapkan dengan kata-kata, semacam perasaan aneh yang susah dilukiskan dengan ucapan selalu akan muncul dan menyelimuti perasaan nya.

Tapi reaksi dari Cing cing maupun kakek itu sama sekali berbeda, reaksi mereka aneh sekali.

Dikala mengucapkan ke tujuh patah kata itu tiba-tiba saja sekujur badan kakek itu menggigil keras, tangannya gemetaran keras bahkan paras mukanya juga turut berubah hebat.

Sebaliknya...ketika mendengar ke tujuh patah kata itu paras muka Cing-cing juga berubah, tiba-tiba ia melemparkan keranjang bunga di tangannya dengan menggenggam gagang golok yang tersoren di pinggangnya itu Gagang golok dari golok lengkung itu .....

Itulah golok lengkung milik Cing-cing.

"Gagang goloknya ternyata juga melengkung meliuk-liuk seperti tubuh ular. Cahaya gemerlapan memancar diangkasa, tiba-tiba saja Ting Peng merasakan sekujur tubuhnya menjadi dingin, suatu perasaan dingin yang aneh dan menggidikkan hati. ooooo0ooooo SYAIR HUJAN RINTIK ANEKA bunga indah yang memenuhi keranjang bunga, bergelinding jatuh dari atas batu karang, bebungaan itu segera tersebar kemana-mana bagaikan hujan rintik. Tentu saja hujan bunga, bukan hujan rintik. Tempat itu tiada hujan, yang ada cuma rembulan. Rembulan yang purnama. Di bawah sinar bulan purnama, mendengarkan sebait syair yang begitu indah, mengapa mereka bisa memperlihatkan reaksi yang begitu aneh? Tangan cing cing menggenggam gagang golok lengkungnya erat-erat. Sedang si kakek mengawasi tangannya itu tanpa berkedip. Ia sudah tidak perlu banyak bertanya lagi, seandainya di atas golok itu tiada ke tujuh huruf tersebut, tak mungkin dia akan memperlihatkan reaksi seperti itu. Mimik wajah kakek itu paling aneh, saat itu entah dia sedang merasa tercengang?, Atau girang? Atau takut? Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haaahh......haaahh......haaahh...... ternyata benar-benar adalah golok itu, Thian sungguh punya mata, akhirnya aku berhasil menemukan golok itu. Ditengah gelak tertawa yang keras, pedangnya telah diloloskan dari sarungnya. Sekalipun tubuhnya tiga jengkal tingginya sedang pedang itu empat jengkal panjangnya tapi setelah pedang itu berada di tangannya, semuanya itu berubah menjadi tidak menggelikan lagi. Setelah pedang itu diloloskan dari sarung nya, tak akan seorang manusiapun yang akan memperhatikan bahwa dia adalah seorang manusia kerdil. Sebab begitu pedang tersebut diloloskan dari sarungnya, terasalah ada selapis hawa nyaring yang menyengat badan memancar keluar dari sekeliling tubuhnya. Bahkan Ting Peng yang berada di bawah tebing batupun ikut merasakan hawa pedang itu, hawa pedang yang dingin dan tajam memaksa sepasang matanya yang tak mampu di pentangkan kembali. Menanti ia membuka kembali matanya hawa pedang telah menyelimuti seluruh langit dan menari-nari, sekujur badan Cing cing telah terkurung di bawah cahaya pedang tersebut. Hawa pedang menembusi angkasa, sedang pedang itu menyambar kesana kemari dengan tajamnya. Suara si kakek kedengaran masih amat jelas sekali ditengah desingan angin pedang yang tajam itu, kedengaran sepatah demi, sepatah kata dia berseru.

""Mengapa kau tidak meloloskan golokmu?"

Cing cing masih belum juga mencabut goloknya. Golok lengkung milik Cing cing masih tersoren dalam sarungnya yang melengkung. Tiba-tiba kakek itu membentak keras.

"Mampus kau!"

OooooOooooo Bentakan keras bagaikan geledek, cahaya pedang berkilauan bagaikan halilintar, sekalipun halilintar juga tak akan seterang itu, tak akan secepat itu.

Ketika pedang berkelebat lewat Cing-cing terjatuh dari atas batu karang bagaikan se ikat bunga segar yang tiba-tiba layu dan terkulai ke bawah.

Batu karang itu hampir sepuluh kaki tingginya ketika tiba di atas tanah tubuhnya segera terkapar.

Kakek itu sama sekali tidak melepaskannya.

Kakek itupun melayang turun dari atas batu karang yang sepuluh kaki tingginya itu seenteng selembar daun, pelan-pelan melayang turun.

Dalam genggaman kakek itu masih ada pedang, Pedangnya telah diloloskan dari sarungnya.

Ujung pedang si kakek yang tajam sedang diarahkan ke jantung Cing-cing.

Tusukan tersebut jelas adalah sebuah tusukan yang mematikan, selain tepat, ganas cepat dan lagi tak berperasaan.

Entah dia manusia atau rase, jika tertembus oleh pedang tersebut, ia pasti akan mati Tak pernah terpikirkan oleh Ting Peng bahwa di dunia ini masih terdapat ilmu pedang yang begini hebatnya, kakek itu pasti bukan manusia, dia tentu seorang malaikat.

"Malaikat elmaut!"

Cing-cing sudah tergeletak disampingnya, Cing cing sudah tak mampu untuk menghindar atau menangkis serangan tersebut..

Menyaksikan pedang itu menyambar ke bawah, tiba-tiba Ting Peng menubruk ke depan, menubruk ke atas badan Cing cing.

"Aku toh sudah hampir mati, mengapa aku biarkan ia yang musti menjadi korban?"

Tiba-tiba semacam tenaga dorongan yang tak terlukiskan dengan kata-kata berkobar dalam dadanya, entah bagaimanapun juga, dia ingin mati bersama Cing cing.

Perduli apakah Cing-cing itu manusia atau rase, yang pasti gadis itu sangat baik kepadanya.

Ia mana tega membiarkan Cing cing mati di ujung pedang orang lain?

Sebaliknya ia sendiri toh ingin mati, apa salahnya untuk mati di ujung pedang orang?

Mati di ujung pedang atau mati dengan cara lain, akhirnya toh sama-sama matinya juga?

Ia menubruk ke atas badan Cing cing, Ia rela mewakili Cing cing untuk menerima tusukan itu.....

Cahaya pedang berkelebat lewat, ujung pedang itu telah menembusi punggungnya, Tapi ia tidak merasa kesakitan.

Rasa sakit yang sesungguhnya, malahan tak akan memberikan rasa tersiksa bagi yang merasakannya.

Ia cuma merasa kedinginan, semacam kekuatannya, tiba-tiba saja hawa dingin itu merasuk ke dalam punggungnya dan menembusi tulang belulangnya.

Pada saat itulah, ia menyaksikan Cing cing telah meloloskan goloknya itu ...........

Golok lengkung Cing cing berwarna hijau mulus.

Ketika cahaya golok Cing Cing menyambar ke udara, mata Ting Peng terasa tak mampu dibuka kembali.

Ia tidak menyaksikan golok lengkung dari Cing cing itu, dia hanya mendengar kakek itu tibatiba memperdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Kemudian pemuda itu merasakan segalanya gelap gulita, ia merasa tubuhnya terjatuh ke dalam lembah kegelapan yang tiada tara dalamnya, suatu kegelapan yang sangat aneh sekali.

oooooo0oooooo DITENGAH kegelapan tiba-tiba muncul setitik cahaya, cahaya rembulan bulan yang sedang purnama.

ketika Ting Peng membuka matanya kembali, dia menyaksikan rembulan yang sedang purnama.

Juga melihat sepasang mata Cing-cing yang lebih indah daripada sinar rembulan itu.

Tidak terkecuali di langit, juga di bumi, tak akan dijumpai mata yang lebih indah daripada sepasang matanya.

Ia masih berada di sisi Cing Cing, Entah dia akan mati atau masih hidup?"

Entah dia sudah berada di langit atau masih di atas bumi, Cing cing telah berada di sisinya.

Dalam kelopak mata Cing-cing masih ada air mata.

Ternyata gadis itu telah melelehkan air mata baginya.

Tiba tiba Ting Peng tertawa, katanya.

"Rupanya sekarang aku tak usah membutuhkan rumput pelupa kemurungan lagi, tapi aku merasa mati dalam cara begini jauh lebih baik"

Ia mengeluarkan tangannya dan menyeka air mata di atas pipinya, kemudian melanjutkan.

"Akupun belum pernah menyangka dikala aku hendak mati ternyata ada orang yang bakal melelehkan air mata bagiku"

Tiba-tiba paras muka Cing-cing berubah hebat, bahkan sekujur badannya mulai menggigil keras, tiba-tiba ia berseru.

"Aku benar-benar sedang melelehkan air mata?"

"Yaa, benar! Kau benar-benar sedang melelehkan air mata, bahkan melelehkan air mata bagiku"

Paras muka Cing-cing berubah menjadi sedemikian anehnya, seakan-akan ia menjadi ketakutan setengah mati, baginya melelehkan air mata agaknya merupakan suatu kejadian yang paling menakutkan.

Tapi ditengah rasa takut yang menyelimuti wajahnya itu, diapun seolah-olah merasakan suatu kegembiraan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Reaksi tersebut adalah semacam reaksi yang aneh sekali, Ting Peng benar-benar tidak habis mengerti, mengapa ia dapat memperlihatkan reaksi semacam ini?

Tak tahan lagi dia bertanya.

""Perduli bagaimanapun juga, aku adalah mati demi kau, sedang kau melelehkan air mata bagiku ........ Mendadak Cing cing menukas perkataannya itu. Kau belum mati, kaupun tak akan mati"

"Kenapa?"

"Sebab kau sudah mati sekali, sekarang kau telah berada di sini, berarti kau tak akan mati lagi"

Akhirnya Ting Peng menjumpai bahwa tempat itu bukanlah lembah kemurungan yang cantik tersebut.

Tempat di sini jauh lebih indah berlipat-lipat ganda.

Rembulan yang purnama masih berada di luar jendela, aneka bunga berada di sekeliling daun jendela, ia berbaring di atas sebuah pembaringan yang lebih lunak dari pada mega, di depan pembaringan tergantung sebutir mutiara, cahaya mutiara itu lebih tajam dan lembut dari pada sinar rembulan.

Ia merasa seolah-olah pernah berkunjung kesana.

Tapi iapun tahu, kalau ia pernah berkunjung ke sana, sudah pasti hal ini terjadi sewaktu berada dalam impian....

Sebab di alam semesta tak mungkin terdapat ruang istana yang begini megah dan mewah, tidak terdapat pula mutiara yang begitu besar dan bercahaya tajam..

"Dimanakah aku berada sekarang?"

Cing cing menundukkan kepalanya dan menjawab dengan lirih.

"Di rumahku!"

Akhirnya Ting Peng teringat, barusan mengapa ia merasa seakan akan pernah kenal dengan tempat ini.

Ia memang pernah menjumpai tempat itu, tapi menjumpainya di dalam lukisan.

Seluruh dinding didalam gua penuh dengan lukisan, yang terlukis di sana bukan pemandangan di alam semesta, melainkan pemandangan di atas langit.

Tak tahan kembali ia bertanya.

"Hanya kau seorangkah yang berdiam di sini?"

Cing-cing tidak menjawab, tapi dari balik pintu kecil yang tertutup tirai di depan sana terdengar seseorang menjawab.

"Tak seorang manusia yang berada di sini!"

Seorang nenek berambut putih menggunakan ujung tongkat berkepala naganya untuk menyingkap tirai, kemudian pelan-pelan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ia mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, sikapnya keren, anggun dan berwibawa..Walaupun rambutnya telah beruban semua, namun pinggangnya masih tegap dan lurus seperti pena, sepasang matanya masih memancarkan sinar yang amat tajam.

Dengan kepala tertunduk, Cing-cing telah bangkit berdiri, kemudian serunya lirih.

"Nenek!"

Ternyata nenek tua itu adalah neneknya Cing cing.

Seorang gadis rase yang masih muda dan cantik, membawa seorang pemuda yang hampir masak kembali ke sarang rasenya dan bertemu dengan sang nenek yang berwatak aneh dan bersifat keras hati.......

Kejadian semacam ini sebenarnya hanya bisa terjadi dalam cerita hikayat lama, tapi sekarang Ting Peng telah mengalaminya sendiri..Selanjutnya apa yang bakal terjadi?

Apa yang hendak mereka lakukan terhadap dirinya?

Ting Peng sama sekali tak bisa menduga Bila seorang manusia biasa macam dia t ba ditempat semacam ini, maka segala sesuatunya akan terkekang.

Dengan pandangan dingin nenek itu menatap sekejap ke arahnya, kemudian berkata lagi.

"Kau harus tahu di sini tak ada seorang manusiapun, sebab kami bukan manusia, melainkan siluman rase"

"Aku tahu!"

Ting Peng mengakuinya.

"Tahukah kau bahwa manusia biasa sebenarnya tidak pantas untuk datang kemari?"

"Aku tahu"

"Sekarang kau sudah datang kemari, tidak menyesalkah kau?"

"Aku tidak menyesal!"

Itupun suatu jawaban sesungguhnya.

Seorang manusia yang sebenarnya sudah hampir mati, apa pula yang musti disesalkan lagi?

Selama hidup di alam semesta, dia hanya akan dianiaya orang difitnah dan di cemoohkan orang, mengapa ia tidak berusaha untuk pindah ke dunia yang lain?

Sekalipun mereka adalah rase, tapi sikap serta kejujuran jauh lebih baik dari pada manusia.

Terdengar nenek itu berkata lagi.

"Seandainya kami bersedia untuk menerima mu, bersediakah kau berdiam di sini?"

""Aku bersedia!"

"Kau benar-benar sudah bosan dengan kehidupan di alam semesta"

"Yaa, benar!"

"Kenapa!"

"Di.... di alam semesta aku tak bersanak, tak punya keluarga, sekalipun mampus dalam pecomberan juga tak akan ada orang yang mengurusi jenasahku, apalagi meneteskan air mata bagi kematianku""

Semakin berbicara hatinya semakin putih sehingga suaranya jugs ikut sesenggukan. Sorot mata nenek itu bertambah lembut dan halus, katanya kemudian.

"Ketika kau menerima tusukan pedang itu untuk Cing cing, apakah kau juga melakukannya dengan tulus hati.

"Tentu saja aku melakukannya dengan tulus hati, Sekalipun sekarang ia minta aku mati baginya, aku tetap akan mati untuknya! "Kenapa?"

"Aku juga tak tahu mengapa, aku hanya tahu setelah aku mati, paling tidak ia masih akan melelehkan air matanya lagi untuk ku"

Mendadak dari balik mata nenek itu memancar keluar suatu sinar mata yang aneh sekali, tibatiba ia bertanya kepada Cing cing.

"Apakah kau telah melelehkan air mata baginya?. Dengan mulut membungkam Cing cing menganggukkan kepalanya, di atas wajahnya yang pucat tiba-tiba terlintas warna semu merah. Si nenek memandangnya tajam-tajam, ia memandang lama sekali, kemudian baru berpaling memandang ke arah Ting Peng, ia pun memandang pemuda itu lama sekali. Sorot matanya yang keren tadi lambat laun berubah menjadi lembut, tiba-tiba ia menghela napas panjang, gumamnya.

"Aaai.... Jodohkah ini? Ataukah suatu pertanda dari akan terjadinya suatu tragedi"

Ia mengulangi kata-kata tersebut sampai beberapa kali, entah berapa banyak sudah dia mengulangi ucapan tersebut, jelas dia sendiripun tak tahu apa jawabannya.

Ia menghela napas panjang, kembali akhirnya berkata.

"Sekarang kau telah mati satu kali untuknya, dan iapun telah melelehkan air mata untukmu"

"Tapi aku ........."

Si nenek tidak membiarkan ia berkata lebih jauh, tiba-tiba serunya dengan lantang.

"Ikutilah aku!"

Ting Peng beranjak, ia baru mengetahui bahwa mulut lukanya telah dibalut, bau harumnya obat memancar keluar dari balik kain putih pembalut luka itu.

Tusukan itu sesungguhnya merupakan suatu tusukan yang mematikan, tapi sekarang bukan saja ia sudah bisa bangkit, bahkan sama sekali tidak terasa sakit.

Ia mengikuti si nenek itu berjalan keluar melalui pintu kecil yang bertirai itu, tapi tak tahan pemuda itu berpaling kembali Cing cing juga sedang melirik, ke arahnya, mimik wajah serta sorot matanya memancar suatu keanehan, entah sedang merasa jengah ataukah sedang merasa girang.

Diluar kamar adalah sebuah kebun bunga, sebuah kebun bunga yang besar sekali.

Bulan purnama masih bersinar terang aneka bunga mekar dengan indahnya.

Aneka bunga yang seharusnya baru berkembang pada bulan ke tujuh, banyak terdapat pula di situ bahkan semuanya sedang mekar, dengan indahnya bunga-bunga yang tidak seharusnya mekar di bulan ke tujuh di sanapun terdapat, bahkan sedang mekar pula.

Sebuah jalan setapak yang berlapiskan batu bulatan berwarna putih terbentang ditengah bebungaan itu, ujung dari jalan kecil tersebut adalah sebuah loteng kecil.

Si nenek membawa Ting Peng naik ke atas loteng kecil itu.

Ruangan di atas loteng kecil itu tenang dan megah, seorang manusia berbaju hijau sedang memandang sebuah lian yang tergantung di atas dinding dengan termangu-mangu.

Di atas lian tersebut hanya tertera tujuh huruf yang ditulis dengan indahnya, ke tujuh huruf itu berbunyi.

"Siau lo it ya teng cun hi!"

Menjumpai bayangan punggung orang berbaju hijau itu, sinar mata si nenek berubah makin lembut.

Tapi menanti orang berbaju hijau itu telah membalikkan badannya, Ting Peng baru merasa terkejut.

Seandainya dia bukan seorang lelaki, seandainya usianya tidak terlalu besar, Ting Peng pasti akan mengira dia sebagai Cing-cing.

Alis matanya, matanya, bibirnya, hidungnya, dan gerak geriknya pada hakekatnya persis sama dengan Cing-cing.

Ting Peng segera berpikir.

`"Jika orang ini bukan ayah Cing-cing, sudah pasti adalah kakaknya Cing cing "

Tapi kalau dibilang dia adalah kakaknya Cing-cing rasanya usia orang itu agak terlalu tua, sebaliknya kalau dibilang dia adalah ayahnya Cing cing maka usianya terasa agak kecilan.

Padahal Ting Peng tak bisa menilai berapa besarnya usia orang itu.

Paras muka orang inipun persis seperti Cing cing, pucat pias sehingga hampir bening warnanya.

Berjumpa dengan nenek itu, ternyata dia tidak menunjukkan sikap menghormat seperti yang diperlihatkan Cing cing, hanya sambil tertawa hambar katanya.

"Bagaimana? "

Nenek itu menghela napas panjang, sahutnya.

"Aku sendiripun tak tahu bagaimana mesti berbuat, lebih baik kau saja yang mengambil keputusan!"

Orang berbaju hijau itu segera tertawa.

"Aku sudah tahu kalau kau pasti akan melimpahkan persoalan ini ke atas badanku"

Nenek itu turut tertawa.

"Kalau tidak kulimpahkan ke atas tubuhmu lantas harus dilimpahkan ke tubuh siapa?"

"Walaupun senyuman mereka begitu tawar, tapi seakan-akan membawa suatu hubungan kasih yang amat tebal.

Sikap mereka itu tidak mirip hubungan antara ibu dan anak, apalagi hubungan nenek dengan cucu.

Hal mana sudah membuat Ting Peng amat terkejut.

Kemudian, si nenek telah menambahkan pula dengan sepatah kata yang membuat ia lebih terperanjat lagi, ia berkata.

"Kau adalah kakeknya Cing-cing, apalagi kepala rumah tangga, sudah sepantasnya kalau kaulah yang memutuskan masalah ini"

Ternyata orang yang berbaju hijau itu adalah kakeknya Cing-cing.

Kelihatannya paling banter belum mencapai usia pertengahan, mimpipun Ting Peng tidak menyangka kalau dia dengan nenek itu adalah suami istri.

Orang berbaju hijau itu sedang memandang ke arahnya, seakan-akan apa yang sedang dipikir dalam hatinya pun dapat diketahui olehnya dengan jelas, sambil tersenyum katanya.

"Sekarang kau tentu sudah tahu bukan kalau kami adalah siluman rase, oleh sebab itu apa yang kau saksikan di sini tak usah lah terlampau kaget atau tercengang"

Suara tertawanya begitu lembut dan riang, terusnya.

"Sebab kami memang memiliki beberapa hal yang mimpipun orang awam biasa tak akan mampu untuk melakukannya"

Ting Peng juga ikut tersenyum, agaknya lambat laun ia sudah mulai terbiasa untuk bergaul dengan mereka, ia menemukan bahwa rase-rase ini sesungguhnya tidak terlampau menakutkan daripada apa yang dikisahkan dalam hikayat-hikayat lama.

Sekalipun mereka adalah rase, tapi merekapun memiliki sifat manusia.

malah jauh lebih lembut dan baik hati ketimbang kebanyakan manusia lainnya.

Terhadap sikap maupun tindak tanduknya itu, rupanya manusia berbaju hijau itu merasa sangat puas, katanya.

"Sebenarnya tak pernah kuduga kalau Cing cing akan kukawinkan dengan seorang manusia biasa, tapi kalau toh kau sudah mati sekali untuknya, dan diapun telah meneteskan air mata bagimu ......."

Ia berhenti sejenak, senyumannya makin lembut dan hangat, kemudian terusnya.

"Kau harus tahu, rase selamanya tak pernah mengucurkan air mata, air mata rase jauh lebih berharga daripada darah, ia bisa melelehkan air mata bagimu itu menandakan kalau ia sudah menaruh perasaan cinta ke padamu, kau bisa bertemu dengannya, ini pun berarti bahwa diantara kalian berdua sebenarnya memang ada jodoh"

Baik itu di alam semesta maupun di alam kehidupan rase.

"Cinta yang murni"

Dan masalah jodoh merupakan suatu peristiwa yang dapat ditemui tapi tak bisa diminta.

Orang berbaju hijau itu kembali berkata.

Oleh sebab itu akupun tak ingin untuk memisahkan hubungan cinta dan ikatan jodoh diantara kalian berdua"

Tiba-tiba si nenek menyela dari samping. Apakah kau telah menyetujui untuk mengawinkan Cing-cing dengannya ....?".

""Yaa, aku setuju!""

Orang berbaju hijau itu tersenyum.

Selama ini Ting Peng tak pernah bersuara karena ia sendiripun merasakan pikirannya kalut.

Mimpipun ia tak pernah menyangka bakal di dunianya kaum rase, semakin tak menduga kalau ia bakal mengawini seorang gadis rase sebagai istrinya.

Bila seorang manusia biasa mengawini seorang gadis rase sebagai istrinya, mungkinkah akan mengakibatkan suatu kejadian besar?

Dapatkah seorang manusia biasa hidup langgeng dalam alam kehidupannya kaum rase Kelihaian rase dapatkah membantu seorang manusia biasa?

Persoalan-persoalan semacam itu tak pernah terlintas dalam benaknya, apalagi dalam keadaan seperti ini, sudah barang tentu semakin mustahil untuk melintas di dalam benaknya.

Dia hanya tahu, untuk selanjutnya jalan kehidupannya akan mengalami perubahan besar.

Entah di kemudian hari nasibnya bakal berubah menjadi apa, dia tak pernah akan merasa menyesal atau menggerutu.

Sebab dia sebetulnya tak lebih hanya seorang manusia yang telah menemui jalan buntu dan harus mati.

Selain itu ada satu hal yang paling penting lagi, yakni ia percaya Cing-cing benar-benar menaruh hati kepadanya.

Dalam kekalutan pikiran yang sedang berkecamuk dalam benaknya itu, dia seakan-akan mendengar orang berbaju hijau itu sedang berkata.

"Setelah kau menjadi menantu kami, sekalipun bisa menikmati banyak sekali hal-hal yang mimpipun tak pernah akan dialami oleh manusia biasa, walaupun selamanya kau bisa hidup bebas merdeka di sini, tapi kami mempunyai sebuah larangan".

"Bila kau telah menjadi menantu kami, maka selama hidup kau tak akan kembali lagi ke alam semesta."

"Oleh karena kami tahu kalau kau sudah bosan dengan kehidupan di alam semesta, maka kami baru memutuskan untuk menerimamu".

"Asalkan kau bersedia untuk tidak melanggar larangan kami untuk selamanya, mulai saat ini juga kau akan kami terima sebagai menantu kami". Di alam semesta ia sudah tak berkeluarga, dalam alam semesta dia hanya dianiaya orang, dicemoohkan orang dan dipermainkan orang. Tapi gadis rase telah menaruh hati kepadanya.

"Aku bersedia!"

Ting Peng mendengar suara sendiri sedang menjawab.

"aku bersedia menuruti larangan itu". Si nenek ikut tertawa, ia maju dan memeluknya sambil berkata.

"Kami juga tak punya barang apa-apa untuk diberikan kepadamu, ambillah benda ini sebagai tanda mata kami atas perkawinanmu dengan Cing-cing...."

Nenek itu memberikannya sebilah golok melengkung.

Golok melengkung berwarna hijau.

Golok lengkung itu mirip milik Cing-cing, mata golokpun berwarna hijau mulus, hijau bagaikan tanah perbukitan nun jauh di sana, hijau seperti daun pepohonan, hijau seperti air mata kekasih.

Di atas golok lengkung yang berwarna hijau itu tertera pula tujuh huruf kecil.

Tujuh huruf yang memancarkan sinar terang, itulah tujuh huruf yang merupakan sebait syair.

"Siau lo it ya teng cun hi!"

"Mendengar rintikan hujan di sebuah loteng pada satu malam"

Sebait syair yang aneh kedengarannya, tapi cukup membuat hati merasakan suatu perasaan aneh.

Itulah tujuh huruf yang pernah membuat berubahnya wajah si kakek kerdil yang berpedang panjang.....

Tujuh buah huruf yang misterius!

ooooo0ooooo CINTA KASIH DALAM LEMBAH TEMPAT ini adalah sebuah lembah, sebuah lembah yang amat terpencil letaknya, empat penjuru di sekeliling lembah tersebut merupakan dinding tebing berkarang yang menjulang tinggi ke angkasa.

Seakan-akan lembah itu merupakan sebuah lembah yang buntu dan tiada jalan keluar.

Sekalipun ada jalan keluar, juga tak mungkin buat manusia biasa untuk mengunjunginya.

Lembah itu tidak terlalu besar, sekalipun terdapat kebun, istana dan bangunan loteng, sekalipun pemandangan alamnya indah seperti lukisan di atas dinding gua, namun itupun tak lebih hanya sebagian dari lukisan tersebut.

(Bersambung

Jilid 04) AYAH ibu Cing-cing telah meninggal dunia.

Rase pun bisa mati?

Cing cing, mempunyai seorang dayang yang lincah dan cerdik, ia bernama Si-ji, Si-ji gemar tertawa, bila sedang tertawa di atas sepasang pipinya akan muncul sepasang lesung pipi yang amat dalam.

Si-ji pun seorang rase?

Mereka mempunyai delapan orang pelayan yang setia, rambut mereka kebanyakan telah beruban, tapi kesehatan badannya masih tetap segar dan kuat.

Mereka semua juga rase?

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia

Baca Juga: Pisau Terbang Li 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert