Ceritasilat Novel Online

Elang Terbang Di Dataran Luas 9

Eps 9 Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Baca online Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id

Cersil Elang Terbang Di Dataran Luas - Tjan Id.

Karena contoh semacam ini, bukan saja dulu pernah ada, di kemudian hari pun pasti akan muncul lagi.

Dari dulu hingga sekarang, setelah seorang kaisar atau bangsawan meninggal, biasanya mereka akan dikubur bersama emasnya.

Kemudian dia akan mengubur juga anak buahnya yang paling pemberani dan setia untuk menemaninya, untuk menjaga emas dan arwahnya.

Tentu saja dia sendiri tak akan tahu kalau perbuatannya itu sesungguhnya sangat bodoh.

Karena dia sudah mati.

"Tapi aku belum mati, paling tidak hingga sekarang belum mati,"

Ujar Lu-sam.

"Oleh sebab itu, aku tak akan melakukan perbuatan seperti itu."

Che Siau-yan ikut tertawa. Tapi tak tahan ia bertanya lagi.

"Kalau memang tempat ini adalah gudang hartamu, mengapa dalam gudang hartamu seringkali ada orang mati?"

Pertanyaan semacam ini jelas bukan sebuah pertanyaan yang menggelikan.

Kebanyakan orang dapat mengajukan pertanyaan seperti ini.

Tapi jawaban yang kemudian diberikan Lu-sam sukar dimengerti oleh sebagian besar orang.

"Karena tempat ini adalah gudang harta,"

Kata Lu-sam.

"Karena itu, di sini baru ada orang mati."

"Kenapa?"

"Karena ada orang mati yang nilainya jauh lebih berharga daripada emas murni,"

Ujar Lu-sam.

"Aku mempunyai jenis orang mati seperti itu di sini."

Setelah orang mati, mungkinkah masih ada nilainya?

Kalau ada nilainya, lalu untuk apa?

Tampaknya Lu-sam sendiri pun tahu kalau jawabannya sukar dipahami oleh orang lain.

Tapi tidak menunggu sampai Che Siau-yan bertanya lagi, tiba-tiba dia sudah mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Di wilayah sebelah barat terdapat sebuah negeri yang memiliki sejarah sangat kuno, dalam negeri itu hidup ilmuwan-ilmuwan yang memiliki pengetahuan dan kecerdasan yang luar biasa."

"Aku tahu, aku pun pernah mendengar soal itu. Negeri itu seperti negeri kita, di sana pun berlaku hukum dan agama."

"Benar,"

Lu-sam membenarkan.

"Dalam agama yang mereka percaya pun terdapat seorang Tianglo yang memiliki kedudukan sangat tinggi dan terhormat. Seperti para Tianglo pelindung hukum dari biara Siau-lim. Aku mengetahui salah satu di antaranya, dia disebut Tek-tianglo, seseorang yang memiliki kecerdasan melebihi siapa pun serta dihormati setiap penduduk negeri, seperti Sim-bi Taysu, Taysu pelindung hukum dari biara Siau-lim di masa silam."

Tentu saja Che Siau-yan pernah mendengar tentang Simbi Taysu serta segala sepak-terjangnya. Terdengar Lu-sam berkata lagi.

"Konon suhunya mati diracun orang, karena itu selain memperdalam agama Buddha dan ilmu silat, dia pun melakukan penyelidikan dan percobaan yang mendalam tentang racun dan obatobatan, bahkan tak segan menggunakan badan sendiri sebagai kelinci percobaan untuk menjajal pelbagai racun. Bahkan ada orang berkata, di masa tuanya dia justru berhasil melatih tubuh yang kebal, bukan saja kebal senjata, bahkan kebal terhadap segala macam serangan racun."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Keadaan Tek-tianglo tidak jauh berbeda dengan Sim-bi Taysu, oleh karena itu aku baru mengungkit tentang orang ini."

"Kenapa?"

"Sebab dia pernah mengisahkan sebuah cerita yang sangat menarik."

Tidak menunggu Che Siau-yan bertanya lagi, bertanya apa sangkut-pautnya kisah menarik itu dengan persoalan ini, dia telah membeberkan ceritanya lebih dahulu. Ujar Lu-sam.

"Tek-tianglo memiliki sebuah kebun buah yang sangat indah, di dalam kebun itu ditanami berbagai bunga, buah, dan sayuran, dia pernah melakukan sebuah percobaan yang menarik di dalam kebun buahnya."

"Di dalam kebun buahnya, dia memilih sejenis sayuran yang paling sederhana, misalnya sayur kol, kemudian dia menggunakan air uap dari sejenis racun yang amat jahat untuk menyinari sayur kol itu, sehari disiram tiga kali, daun kol pun lambat-laun berubah jadi menguning sebelum akhirnya layu.

"Kemudian dia menggunakan sayur kol itu untuk memberi makan seekor kelinci, tiga jam kemudian kelinci itu mati.

"Dia pun memerintahkan tukang kebunnya untuk mengeluarkan isi perut kelinci yang mati itu dan diberikan pada seekor ayam betina, keesokan harinya ayam betina itu pun mati.

"Di saat ayam betina itu menghadapi maut, kebetulan terbang lewat seekor burung elang, tempat tinggal Tektianglo memang banyak berkeliaran burung elang liar.

"Sang elang pun menyambar ayam betina itu dan dibawa ke atas batu karang, ketika selesai menyantap bangkai ayam tadi, si burung elang merasa tak enak badan, tiga hari kemudian ketika sedang terbang di angkasa, tiba-tiba tubuhnya rontok ke tanah.

"Tek-tianglo pun memerintahkan tukang kebun mencari burung elang itu dan membuang bangkainya dalam kolam ikan, kolam itu berisi ikan lele, ikan sepat, dan ikan Lehi, semuanya rakus sekali, tentu saja bangkai elang itu pun disantap kawanan ikan itu hingga habis."

"Jika keesokan harinya ada seekor ikan Lehi yang dimasak dan dihidangkan ke meja tamu agung, maka pada hari kedelapan atau hari kesepuluh, tamu itu bakal mati dengan usus membusuk. Tabib yang paling berpengalaman pun tak nanti bisa menemukan penyebab kematiannya, terlebih tak akan menyangka kalau dia mati karena diracuni musuh besarnya."

"Rahasia ini mungkin selamanya tak pernah akan diketahui orang, kecuali...."

Berbicara sampai di sini, mendadak Lu-sam tutup mulut dan tidak melanjutkan lagi. Melihat Lu-sam tidak melanjutkan ceritanya, tak tak tahan Che Siau-yan segera berteriak.

"Kecuali kenapa?"

"Kecuali orang mati itu dikirim kemari,"

Sahut Lu-sam sambil tersenyum.

"Memangnya kau bisa menemukan sebab kematiannya?"

"Bila aku dapat segera membedah tubuhnya, menemukan sisa ikan yang tertinggal dalam lambung dan ususnya, bukan saja aku dapat menemukan penyebab kematiannya, bahkan bisa menemukan pula siapa yang telah meracuni dia hingga mati."

Setelah berhenti sejenak, tambahnya.

"Dengan begitu, bukankah nilai orang mati itu jauh melebihi emas murni?"

Tampaknya Che Siau-yan masih belum begitu paham, tak tahan tanyanya lagi.

"Kenapa bisa begitu?"

"Karena bukan saja aku dapat menemukan sebuah rahasia yang sesungguhnya tak mungkin diketahui orang lain, bahkan karena itu aku jadi tahu cara paling hebat untuk meracuni orang tanpa disadari oleh siapa pun."

"Ketika rahasia meracuni orang itu berhasil kau temukan, sang pembunuh mau tak mau harus menuruti perkataanmu,"

Ujar Siau-yan.

"Betul sekali,"

Suara tawa Lu-sam terdengar sangat gembira.

"Pada akhirnya memang itulah hasil yang dapat kudapatkan."

Kemudian lanjutnya lagi.

"Di dunia ini banyak sekali orang mati dalam keadaan begini, ada yang terkena racun rahasia, ada yang terkena senjata rahasia, ada pula yang dilukai orang dengan suatu ilmu rahasia, asalkan mayat mereka dikirim kemari, aku segera dapat menemukan rahasia kematian mereka."

Setelah tertawa lebar, kembali ujarnya.

"Bagi diriku, setiap rahasia cepat atau lambat pasti ada gunanya, bahkan terkadang jauh lebih berguna daripada emas murni."

Che Siau-yan yang mendengar perkataan itu jadi melengak, tertegun.

Tanpa terasa keringat dingin membasahi tangan dan kakinya.

Ketika mengisahkan cerita itu, cara berbicara Lu-sam tampak begitu halus dan terpelajar, seakan-akan seorang penyair tersohor sedang membacakan hasil karyanya yang paling cemerlang, menyampaikan hasil keringatnya yang mungkin akan tersimpan hingga akhir zaman.

Tapi dalam pandangan Che Siau-yan, di dunia ini mungkin tak ada orang kedua yang jauh lebih menakutkan daripada dirinya.

Lu-sam menatapnya, senyum kelembutan terpancar dari tatapan matanya, dengan lembut dia tertawa.

"Bersediakah kau pergi menyaksikan harta karunku?"

Tiba-tiba Che Siau-yan ikut tertawa.

Sorot mata tajam mencorong dari matanya, tiba-tiba ia berubah seperti seekor macan betina.

Sorot mata itu terpancar terang, terpancar ketika menerima tantangan itu.

"Tentu saja aku bersedia!"

Sahut Che Siau-yan.

"Kau sangka aku tak berani ke sana?"

Bagaimana pun panjangnya sebuah jalan, banyaknya tikungan sebuah jalan, pada akhirnya pasti akan tiba juga di ujungnya.

Akhirnya mereka telah tiba di ujung lorong itu, di ujung sana terdapat sebuah pintu.

Sebuah pintu tanpa gelang pintu, tanpa kunci.

Tapi begitu mereka tiba di sana, pintu itu pun segera terbuka secara otomatis.

Lagi-lagi Che Siau-yan tertegun.

Apa yang kemudian terlihat olehnya ternyata merupakan sebuah pemandangan aneh yang mimpi pun tak pernah dia bayangkan.

Di belakang pintu merupakan sebuah ruang gua yang sangat lebar, sepintas tampaknya lebar ruangan itu mencapai tujuh-delapan tombak dengan panjang tujuhdelapan puluh tombak pula, tinggi tujuh-delapan kaki, tapi tak seorang pun bisa tahu secara pasti berapa lebar, panjang dan tinggi yang sesungguhnya.

Keempat dinding ruangan itu dipenuhi dengan tumpukan bata emas berukuran raksasa.

Sementara dalam ruangan dipenuhi pula dengan peti mati terbuat dari emas murni.

Siapa pun tak akan menyangka akan melihat begitu banyak peti mati, bahkan semua peti mati terbuat dari emas murni.

Apakah di dalam setiap peti mati itu terdapat sesosok jenazah?

Sebuah rahasia besar!

Dari lentera minyak yang terbuat dari emas, berkilat lidah api berwarna kuning.

Begitu pintu terbuka, Che Siau-yan pun memasuki sebuah dunia gemerlapan yang begitu indah, berkilauan tapi teresapi perasaan aneh dan misterius yang tak terlukiskan dengan kata.

Sebab tempat itu merupakan dunia emas yang mimpi pun tak terpikirkan oleh manusia di dunia ini.

Apa mau dikata, dunia ini justru dunianya orang mati juga.

Peti mati yang memuakkan, menyatu dengan emas murni yang menggiurkan.

Bila kau menyaksikan sebuah peti mati berisi jenazah yang terbuat dari emas murni, bagaimana perasaanmu saat itu?

Che Siau-yan seolah sama sekali tidak merasakan apaapa, dia merasa dirinya seolah jadi kaku, mati rasa.

Sebaliknya paras Lu-sam justru makin bersinar.

Dia merentangkan sepasang lengannya, menarik napas dalam-dalam, seolah di dunia ini hanya suasana di tempat inilah yang paling dia sukai dan tempat itulah merupakan tempat idamannya.

Dengan cepat dia membawa Che Siau-yan menuju ke deretan peti mati paling depan.

Di sebelah kanan berjajar tiga buah peti mati, semuanya terbuat dari emas murni, peti mati itu belum ditutup.

Ketiga orang yang tadi dikirim kemari untuk membunuh seseorang, kini sudah berbaring kaku dalam peti mati.

Kematian mereka bertiga tampak begitu tenang, wajahnya tak nampak ngeri atau kaget, di tubuh mereka pun tiada mulut luka yang bercucuran darah.

Bahkan pakaian yang mereka kenakan masih tetap rapi dan bersih, serapi sebelum memasuki lorong rahasia itu, sewaktu mati mereka pun tidak menunjukkan penderitaan dan siksaan.

Tapi mereka bertiga benar-benar telah mati.

Ooo)d*w(ooO BAB 44.

MELIHAT ORANG MATI Apa yang menyebabkan kematian mereka?

Siapa yang telah membunuh mereka?

Mana pembunuhnya?

Lu-sam berdiri di sisi ketiga buah peti mati itu, memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya mengawasi ketiga sosok mayat yang membujur kaku dalam peti mati itu.

Jarang sekali parasnya memperlihatkan perubahan perasaan.

Bagi seorang tokoh yang pandai mengendalikan diri, perubahan perasaan memang tidak sepantasnya ditampilkan di wajah.

Tapi sekarang di wajahnya justru terlihat perubahan, perubahan emosi yang dapat dilihat setiap orang.

Anehnya, perubahan yang tampil di wajahnya bukan kesedihan, bukan kepedihan hati.

Juga bukan kaget, tercengang atau gusar.

Sebaliknya dia justru tampak sangat gembira.

Lewat lama kemudian baru menghela napas panjang, gumamnya.

"Kalian semua adalah orang-orang yang belajar pedang, bisa mati di ujung pedang manusia semacam ini, seharusnya bisa mati tanpa menyesal."

Mungkin dia sendiri pun tahu mimik wajahnya tidak serasi dengan nada ucapannya, oleh sebab itu dia pun mengalihkan kembali pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya tiba-tiba kepada Siau-yan.

"Dapatkah kau temukan di mana mulut luka mereka yang mematikan?"

Tentu saja Che Siau-yan dapat melihatnya.

Mulut luka ketiga orang itu pasti terletak di bagian tubuhnya yang mematikan.

Mati karena luka pedang.

Setelah melancarkan tusukan yang mematikan, sang pembunuh sama sekali tidak menambahi tenaganya barang sekecil apa pun, itulah sebabnya mulut luka mereka tidak terlalu lebar, darah yang mengalir keluar pun tidak terlalu banyak.

Tak bisa diragukan lagi, ilmu pedang yang dimiliki sang pembunuh betul-betul hebat.

Tusukan pedangnya bukan saja sangat mematikan, penggunaan tenaganya pun sangat tepat, sama sekali tiada sedikit pun tenaga yang diboroskan.

Tak diragukan Che Siau-yan pun sudah tahu siapakah orang itu.

Tapi sebelum Lu-sam mengatakan, dia pun tidak mengatakannya keluar.

Tiba-tiba Lu-sam mengajaknya menuju ketiga buah peti mati pada deretan belakang.

Dalam peti mati itu pun berbaring tiga sosok mayat.

Seorang pemuda, seorang dewasa, dan seorang yang berusia pertengahan.

Bukan saja dandanan mereka hampir sama dengan ketiga orang itu, bahkan di tubuh mereka pun tak terlihat mulut luka dengan darah yang berlepotan.

Orang-orang itu mati tanpa menderita, tiada rasa sakit yang ditampilkan pada wajah ketiga mayat itu.

Jelas sebuah tusukan pedang segera mengakhiri hidup mereka.

Satu-satunya perbedaan adalah ketiga orang itu sudah mati cukup lama, paling tidak sudah dua hari lamanya.

Che Siau-yan belum pernah bertemu dengan ketiga orang itu, dia pun tak ingin bertanya siapakah mereka.

Tapi Lu-sam segera memberitahukan kepadanya.

"Mereka pun anak buahku, semasa masih hidup mereka menggunakan nomor sebagai pengganti nama, nomor tiga, tiga belas dan dua puluh tiga. Sesungguhnya mereka pun terhitung jago pedang kelas satu. Itulah sebabnya kukirim mereka bertiga untuk membunuh Siau-hong."

"Jadi mereka tewas di ujung pedang Siau-hong?"

"Benar."

"Ketika kukirim mereka untuk membunuh Siau-hong, keadaannya seperti ketika kuutus ketiga orang itu datang kemari, sudah tahu kalau mereka pasti akan mati."

Perkataan itu diucapkan amat santai, sama sekali tiada perasaan menyesal barang sedikit pun. Tak tahan Che Siau-yan bertanya.

"Bukankah mereka adalah anak buahmu yang sangat setia, kalau sudah tahu mereka bakal mati, mengapa masih tetap meminta mereka mengantar kematiannya?"

Kembali Lu-sam tertawa hambar.

"Bagaimana pun juga, cepat atau lambat mereka toh bakal mati demi aku, kenapa pula aku harus bersedih untuk kematian mereka?"

"Tapi tidak seharusnya tanpa sebab-musabab yang jelas kau biarkan keenam orang anak buah andalanmu mengantar kematiannya."

Kedua orang itu saling bertatap mata untuk beberapa saat, sorot mata mereka sama-sama memancarkan saling pengertian yang mendalam. Kembali Lu-sam berganti topik pembicaraan, katanya.

"Dapatkah kau temukan di mana letak mulut luka mereka bertiga yang mematikan?"

Mulut luka ketiga orang itu pasti berada di bagian tubuhnya yang mematikan dengan mulut luka sangat kecil, tidak banyak darah yang mengalir.

"Aku tahu, kau pasti dapat menemukannya, tapi aku tetap berharap kau bersedia melihatnya beberapa kejap, coba pandang lebih teliti."

Kemudian tambahnya lagi.

"Lebih baik kau perhatikan mulut luka yang mematikan di tubuh ketiga orang ini, lalu perhatikan lagi mulut luka di tubuh ketiga mayat yang di sana, coba perhatikan dengan lebih seksama."

Bagaimana pun juga Che Siau-yan adalah seorang gadis, sedikit banyak ia merasa muak bercampur ngeri untuk memperhatikan orang mati.

Kendati dalam hati kecilnya dia tahu, ucapan Lu-sam itu pasti mengandung maksud yang dalam.

Sambil menggeleng katanya.

"Aku tak mau melihat, toh mereka sudah mati, apa bagusnya diperhatikan?"

Lu-sam kembali menghela napas.

"Ai, orang mati di tempat lain tentu saja tidak bagus dilihat, tapi orang mati di sini sangat menarik, tahukah kau, ada berapa banyak orang yang ingin datang kemari untuk melihatnya? Bila kau menampik untuk melihat, satu kesempatan emas kau lewatkan begitu saja."

Biarpun perkataan itu sedikit tak masuk akal, namun Lusam mengucapkan dengan bersungguh hati. Namun Che Siau-yan kembali menggeleng.

"Aku tak percaya,"

Katanya.

"Coba tanyalah pada Tokko Ci, kau pasti akan percaya."

"Kenapa aku harus bertanya kepadanya!"

"Tokko Ci, seperti namanya, bukan saja selalu hidup menyendiri, dia pun sangat tergila-gila pada pedang, oleh sebab itu peduli apa hubunganmu dengannya, pernah terikat hubungan apa dengan dirinya, jangan harap kau bisa membujuknya melakukan satu pekerjaan kecil sekalipun bagi dirimu."

"Aku pun pernah mendengar tentang tabiatnya, tapi kenyataan dia telah melakukan beberapa pekerjaan besar."

"Tahukah kau apa yang menjadi tujuannya?"

Tanya Lusam sambil tersenyum.

"Tidak."

"Tujuannya tak lain karena ingin melihat orang mati di tempatku ini,"

Ucap Lu-sam.

"Sebetulnya dia telah pergi meninggalkan aku, tapi sekarang dia telah balik kembali, tujuannya pun karena ingin melihat orang mati di sini."

Biarpun dalam hati Che Siau-yan sudah percaya bahwa apa yang dikatakan tak salah, namun tetap ujarnya.

"Aku tak percaya. Orang mati apa bagusnya? Kenapa dia harus melihat orang-orang mati itu?"

Untuk kesekian kalinya Lu-sam menghela napas.

"Padahal dalam hati kecilmu kau sudah tahu dengan jelas, buat apa mengatakan tak percaya?"

Lalu setelah tertawa getir, tambahnya.

"Heran, mengapa kaum wanita selalu suka bicara lain di mulut lain di hati?"

Tiba-tiba Siau-yan ikut tertawa.

"Karena wanita adalah wanita,"

Sahutnya.

"Bagaimana pun pasti berbeda dengan kaum pria, apalagi tak sedikit lelaki yang suka berbicara lain di mulut lain di hati."

Lu-sam tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, bagus, bagus sekali, ucapanmu memang masuk akal."

Mendadak dia menarik tangan Siau-yan seraya berseru.

"Mari, kuajak kau menjumpai seseorang."

Orang itu berada dalam peti mati di bagian tengah urutan ketiga, berwajah muram penuh cambang dan bertubuh kekar.

Biarpun sudah mati lama, jenazahnya masih tetap utuh.

Dilihat dari tampang mayat itu, dapat disimpulkan bahwa semasa hidupnya dulu, dia adalah seorang jagoan yang luar biasa.

Di bawah jenazah itu dipenuhi dengan obat anti pembusukan dan dupa wangi, sementara di sisi tangannya tergeletak sebuah senjata gada gigi serigala yang amat besar.

Gada itu begitu besar dengan gigi yang tajam dan putih seperti gigi serigala, jelas senjata itu merupakan senjata andalannya semasa hidup dulu.

Hanya sekilas pandang Che Siau-yan dapat menduga senjata itu paling tidak mempunyai bobot tujuh-delapan puluh kati, bila lengannya tidak memiliki kekuatan dahsyat, jangan harap senjata itu bisa digunakan dengan leluasa.

"Tahukah kau siapakah orang ini?"

Tanya Lu-sam. Che Siau-yan menggeleng.

"Tentu saja kau tak bakal tahu, usiamu kelewat kecil,"

Ujar Lu-sam sambil menghela napas.

"Tapi pada sepuluh tahun berselang, Thian-long si Serigala langit Long Hiong dengan mengandalkan senjata gada gigi serigalanya telah malang-melintang di kolong langit, orang persilatan mana yang tak pernah mendengar namanya? Khususnya mereka yang menggunakan pedang, asal mendengar namanya, paras mereka pasti berubah hebat, bahkan kanak-kanak pun jauh lebih takut mendengar namanya daripada mendengar nama harimau."

"Mengapa kau mengatakan khusus orang yang bersenjatakan pedang?"

Tanya Siau-yan.

"Karena kedua orangnya tewas di ujung pedang orang lain, maka dia sengaja membuat senjata gada gigi serigala yang luar biasa beratnya, bahkan berlatih serangkai jurus serangan khusus, tujuannya tak lain adalah untuk mematahkan jurus pedang dari berbagai perguruan.

"Karena ilmu pedang mengandalkan kelincahan dan ringan, maka senjata semacam ini justru merupakan lawan tandingnya."

Setelah menarik napas kembali Lu-sam berkata.

"Dari lima puluh orang jago pedang yang paling ternama waktu itu, paling tidak ada sepuluh orang di antaranya yang tewas terhajar gada gigi serigala itu, bahkan Cing Hong-cu, salah satu dari empat jago pedang Bu-tong pun menemui ajalnya di tangan orang ini."

"Aku tak percaya,"

Seru Che Siau-yan.

"Kalau dia memang sangat lihai, kenapa bisa mati di tangan orang lain?"

Lu-sam tidak menjawab, dia membuka kembali sepuluh buah peti mati yang berada di sisinya.

Terlihatlah sepuluh sosok mayat membujur kaku dalam peti mati itu, meski semua mayat masih terjaga utuh, namun kematian mereka rata-rata sangat mengerikan.

Sebagian besar batok kepala mereka terhajar hingga remuk.

Ada pula dua mayat yang tulang iganya dihajar hingga patah, oleh sebab itu mayat itu terlihat paling utuh dan sempurna, namun justru malah kelihatan sangat menakutkan.

"Inilah kesepuluh orang jago pedang yang tewas di tangannya,"

Sambil menuding mayat seorang Tosu berkopiah kuning, kata Lu-sam.

"Dialah Cing Hong-cu, salah satu dari Bu-tong-su-kiam yang memiliki serangan paling tajam dan paling mematikan."

Kemudian sambil berpaling lagi ke arah Che Siau-yan, tanyanya.

"Sekarang kau sudah percaya, bukan?"

Che Siau-yan menutup mulut rapat-rapat, sepasang matanya terbelalak lebar, diawasinya mulut luka di atas tenggorokan si Serigala langit yang mematikan itu tanpa bicara.

Mendadak sambil tertawa dingin, serunya lagi.

"Aku tetap tidak percaya."

"Kenapa kau masih juga tak mau percaya?"

"Kalau gada gigi serigalanya betul-betul mampu mematahkan berbagai ilmu pedang di kolong langit, mengapa pada akhirnya dia sendiri pun tewas di ujung pedang orang lain?"

Tak diragukan mulut luka yang mematikan di tenggorokan Long Hiong disebabkan oleh luka tusukan pedang.

Jelas dia mati karena sebuah tusukan pedang yang mematikan.

Pertanyaan Che Siau-yan ini sangat telak, membuat orang sukar untuk menjawabnya.

Mau tak mau Lu-sam harus mengakui.

"Bagus, pertanyaan yang bagus sekali, pertanyaanmu sangat masuk akal."

"Pertanyaanku masuk akal, jawabannya belum tentu masuk akal,"

Ejek si nona.

"Belum tentu."

"Belum tentu bagaimana?"

"Yang masuk akal belum tentu masuk akal, yang tak masuk akal belum tentu tak masuk akal,"

Kata Lu-sam sambil tertawa tawar.

"Tiada persoalan yang tidak berubah di dunia ini, oleh sebab itu belum tentu Thian Long yang mampu mematahkan ilmu pedang di kolong langit tak bisa mati di ujung pedang orang lain."

"Apa penyebab kematiannya?"

"Dia mati di ujung pedang orang karena di sini telah kedatangan seorang jago yang gila pedang dia telah melakukan penelitian hampir tiga tahun lamanya atas jenazah dari kesepuluh orang jago pedang itu, dari mulut luka yang mematikan di tubuh mereka, ia berhasil mempelajari setiap gerakan, setiap jurus dan setiap arah yang menjadi sasaran serigala langit, kemudian dari perubahan jurus pedang mereka, ia berhasil menciptakan cara yang paling jitu untuk menghadapi gada serigala langit.

"Oleh sebab itulah tiga tahun kemudian dia baru menantang Serigala langit untuk berduel, ternyata tak sampai sepuluh gebrakan, dia berhasil menghabisi nyawa Serigala langit di ujung pedangnya."

Che Siau-yan tidak bicara lagi, tentu saja dia tahu siapakah orang yang dimaksud Lu-sam sebagai jagoan yang tergila-gila dengan pedang.

Kini dia pun sudah tahu mengapa Tokko Ci khusus datang ke sana untuk menonton orang-orang mati yang memuakkan itu.

Kembali Lu-sam menambahkan.

"Bagi seorang berpengalaman, tidak sulit baginya untuk melihat jurus silat yang digunakan lawan dari mulut luka yang mematikan, bahkan perubahan jurus, posisi waktu menyerang, arah yang menjadi sasaran, kekuatan maupun kecepatan serangan pun semuanya dapat diprediksi secara tepat."

Kepada Siau-yan tanyanya kemudian.

"Percayakah kau?"

"Aku tak percaya,"

Jawab Siau-yan sambil tertawa.

"Padahal kau sudah tahu kalau di hati kecilmu seribu bahkan sejuta kali sudah percaya meski di mulut tetap mengatakan tak percaya, kenapa masih bertanya terus?"

Tokko Ci memang gila pedang.

Bila ia tahu di dunia terdapat manusia seperti si Serigala langit Long Hiong, tentu saja ia tak segan mengorbankan segalanya untuk mengalahkan dia, bahkan mengalahkan dia dengan menggunakan pedang.

Oleh karena itu dia bahkan tak segan melanggar prinsip hidup sendiri, datang bekerja untuk manusia seperti Lusam.

Tapi begitu selesai dengan tujuannya, dia pun pergi tanpa pamit.

Di tengah badai pasir dua tahun berselang, kiriman emas hilang dibegal orang, Thi Gi mati dalam pertarungan, Siauhong pun nyaris terjebak di tengah gurun pasir.

Ketika badai mereda, untuk pertama kali ia bertemu Po Eng tapi kemudian ditangkap Sui-gin dan Wi Thian-bong dan diantar ke dalam tenda misterius di tengah oase.

Di situlah untuk pertama kalinya juga ia bertemu Tokko Ci, saat itu Tokko Ci baru saja terpenuhi keinginannya dan siap akan pergi, karena itu meski ia selalu hanya menonton saja tanpa campur tangan, tapi akhirnya tetap turun tangan menyelamatkan Siau-hong.

Tentu saja Wi Thian-bong dan Sui-gin tak berani menghalangi, sebab waktu itu mereka sudah tahu orang ini sangat menakutkan, juga tahu dia tidak termasuk anggota organisasi Tangan emas pimpinan Lu-sam.

Peduli perbuatan apa pun yang hendak dilakukan, tak pernah ada orang dapat mengurus dan mengendalikan dirinya.

Waktu itu memang dia telah pergi, mengapa harus balik lagi?

Apa tujuan kebalikannya kali ini?

Benarkah maksud tujuannya demi melihat orang mati di tempat ini?

Benarkah dia ingin mempelajari perubahan ilmu silat dari seseorang dengan mempelajarinya dari mulut luka yang mematikan di tubuh orang-orang mati itu, agar dia dapat membunuh orang itu.

Kalau tempo hari tujuannya adalah untuk membunuh Serigala langit, siapa yang akan dibunuhnya sekarang?

Siauhong, Siau-hong yang nekat.

Che Siau-yan memandang Lu-sam, lalu ujarnya sambil tersenyum.

"Padahal kau seharusnya mengerti, biarpun aku mengatakan tak percaya, padahal dalam hati kecilku, aku telah mempercayainya seratus persen."

Lu-sam ikut tertawa.

"Jadi kau telah mempercayai perkataanku?"

"Tidak percaya."

Che Siau-yan mengedipkan matanya, senyuman nona ini tampak lebih manis dan menawan.

"Sepatah kata pun aku tak percaya."

Sengaja Lu-sam menghela napas panjang.

"Kalau begitu kau tak perlu menuruti perkataanku, tak usah melihat enam sosok mayat lagi."

Che Siau-yan sengaja cemberut.

"Tentu saja aku tak akan melihatnya, tak akan melihat sekejap pun, karena...."

Setelah tertawa manis, terusnya.

"Karena aku telah melihatnya sangat jelas."

"Sejak kapan kau melihatnya?"

"Di saat mulutku berkata tak akan pergi melihatnya."

"Kenapa aku tak tahu?"

"Ketika seorang gadis ingin melihat orang lelaki, mana mungkin dia akan membiarkan sang lelaki mengetahuinya."

"Tapi mereka sudah mati."

"Biar sudah mati pun mereka tetap lelaki,"

Che Siau-yan tertawa cekikikan.

"Dalam pandangan kami kaum wanita, lelaki tetap lelaki, peduli dia masih hidup atau sudah mati."

Kontan Lu-sam tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, bagus, bagus sekali, umpatan yang bagus."

Che Siau-yan tidak tertawa lagi, tiba-tiba parasnya berubah jadi amat serius.

"Aku benar-benar telah meneliti keenam sosok mayat itu, bahkan telah menemukan sebuah kejadian yang sangat aneh."

"Kejadian apa?"

"Ternyata mulut luka di tubuh keenam sosok mayat itu sama satu dengan lainnya."

Ketika bicara sampai di situ, dengan cepat Siau-yan membuat koreksi.

"Bukan keenamnya sama, tapi nomor tiga sama dengan nomor empat, nomor tiga belas sama dengan nomor empat belas, nomor dua puluh tiga sama pula dengan nomor dua puluh empat, bukan hanya letak mulut lukanya sama, bahkan jurus serangan mematikan dan tenaga yang digunakan pun sama, jelas memakai ilmu yang sama dan arah yang sama pula."

"Apakah berasal dari orang yang sama?"

"Tidak, bukan dari orang yang sama,"

Lanjut Siau-yan.

"Karena orang yang membunuh bukan berasal dari orang yang sama, maka aku baru merasa keheranan, maka sekarang aku baru paham sejelas-jelasnya."

"Apa yang kau pahami?"

"Kau suruh nomor tiga dan rekannya membunuh Siauhong tak lain karena ingin mempelajari jurus pedang Siauhong."

"O, ya?"

"Kembalinya Tokko Ci kali ini tak lain tujuannya untuk menghadapi Siau-hong,"

Ujar Siau-yan lebih jauh.

"Sebab aku telah mewariskan seluruh intisari ilmu pedangnya kepada Siau-hong, padahal dia tidak tahu banyak tentang ilmu pedang yang dimiliki Siau-hong."

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.

"Namun setelah dia mempelajari mulut luka yang mematikan di tubuh ketiga sosok mayat itu, keadaan pun jadi berbeda."

"Jadi maksudmu, sekarang dia sudah memahami seluruh ilmu pedang yang dimiliki Siau-hong?"

Che Siau-yan tidak langsung menjawab pertanyaan itu, hanya ujarnya.

"Kau mengirim nomor empat dan rekannya untuk membunuh Tokko Ci karena kelompok ini memiliki ilmu silat yang mirip dengan kelompok yang kau kirim untuk membunuh Siau-hong.

"Kini Tokko Ci dapat menggunakan cara yang sama dengan Siau-hong untuk membunuh kelompok pembunuh ini, dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak sulit baginya untuk membunuh Siau-hong."

Selama ini Lu-sam hanya mengawasinya terus tanpa bicara.

Tadi dia telah melihatnya sangat lama, dan sekarang kembali dia melihatnya lama sekali.

Dia mengawasi dari ujung rambutnya yang hitam pekat, jidatnya yang lebar hingga sepasang sepatunya yang kecil mungil, kemudian baru menghela napas panjang.

"Heran, kenapa Siau-hong membiarkan seorang wanita macam kau pergi meninggalkannya,"

Sambil menggeleng Lu-sam menghela napas.

"Aku tak tahu, sebetulnya dia itu telur busuk? Atau seekor babi?"

"Sebenarnya aku pun tidak tahu makhluk seperti apakah dirinya itu,"

Kata Siau-yan masih tertawa.

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku telah memahaminya,"

Kata Siau-yan lebih jauh.

"Pada hakikatnya dia bukan makhluk apa-apa, dia itu orang, orang mati!"

Ooo)d*w(ooO BAB 45. PENUTUP Dengan suara hambar tambahnya.

"Sekarang walaupun dia belum mati, tapi apa bedanya dengan orang mati?"

"Apakah kau ingin tahu di manakah manusia itu sekarang?"

"Tidak, aku tak ingin, aku sudah tidak tertarik dengan orang mati,"

Kata Siau-yan.

"Aku hanya ingin tahu di manakah Tokko Ci sekarang?"

"Dia pun telah pergi."

"Kenapa dia pergi? Apakah tak ingin bertemu aku?"

"Bukan tak ingin, tapi tak berani."

"Memangnya aku menakutkan? Mengapa ia tak berani bertemu aku?"

"Bukan takut dirimu, tapi takut pada diri sendiri,"

Kata Lu-sam sambil menatap gadis itu lekat-lekat.

"Padahal dia sendiri pun seharusnya tahu, mengapa dia begitu ketakutan?"

"Jadi kau pun sudah tahu?"

Siau-yan balas menatap Lusam.

"Kau pun sudah tahu kalau dia sudah bukan seorang lelaki tulen?"

"Aku tahu."

"Lalu mengapa kau ingin menjodohkan dia kepadaku?"

"Karena aku tahu penyakitnya segera akan sembuh."

"Harus menunggu sampai kapan?"

"Sampai dia berhasil membunuh Siau-hong di ujung pedangnya,"

Kata Lu-sam.

"Aku percaya saat ini dia pasti sudah mempunyai keyakinan untuk menang."

"Dia dapat menemukan Siau-hong?"

"Dia tak perlu pergi mencarinya, cukup baginya duduk di sini sambil menunggu."

"Kenapa?"

"Karena Siau-hong pasti akan pergi mencarinya."

"Kau yakin?"

"Hahaha, kapan kau pernah melihat aku melakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan?"

"Apakah Siau-hong dapat menemukan dia?"

"Asal Siau-hong tidak terlalu bodoh, dia pasti dapat menemukannya,"

Kata Lu-sam sambil tersenyum.

"Kalau tidak, dia pasti bukan seorang telur busuk, melainkan seekor babi."

"Ke mana dia harus pergi menemukannya?"

"Kota Oh-ki."

"Mengapa kau sendiri tidak pergi ke kota Oh-ki?"

"Jalan pikiranmu pasti seperti apa yang dibayangkan Pancapanah, menyangka aku pasti akan pergi ke kota Ohki, menunggu kedatangan Siau-hong, dan membunuhnya dengan tangan sendiri,"

Kata Lu-sam.

"Oleh karena itulah, dia pun mengatur pertarungan ini, sebab hasil dari pertarungan ini pasti diakhiri dengan kematian kedua belah pihak. Pihak yang kalah bakal mati sedang yang menang pun harus membayar mahal, saat itulah mungkin dia baru akan turun tangan. Terlepas Siau-hong berhasil mati di tanganku atau aku mati di tangan Siau-hong, yang tersisa pada akhirnya akan tewas juga di tangannya."

Kembali Lu-sam berkata.

"Sayangnya Pancapanah seperti kau, jalan pikiran kalian salah semua, karena aku tak bakal pergi ke kota Oh-ki, tak mungkin aku membunuh Siau-hong dengan tangan sendiri, bahkan sesungguhnya aku sama sekali tidak membencinya."

Tentu saja Che Siau-yan merasa sangat keheranan.

"Masa kau lupa bahwa putra kandungmu mati di tangan siapa?"

Pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan yang sangat menyakitkan hati. Dengan pandangan dingin Lu-sam menatap gadis itu, bukan marah dia malah tertawa.

"Apakah kau sangka Siau-hong benar-benar telah membunuh Lu Thian-po, putra kandungku?"

Dia balik bertanya.

Che Siau-yan tertegun.

Dia tak menyangka Lu-sam bakal mengucapkan perkataan seperti itu, dia pun tak mengira Lu-sam ternyata mengajaknya menengok sebuah peti mati yang lain.

Di dalam peti mati itu berbaring dua sosok mayat, yang seorang adalah perempuan bertubuh tegap yang memiliki payudara sangat montok dan sehat.

Di sisi perempuan itu berbaring sesosok mayat bayi yang baru berusia beberapa bulan.

Bagi orang yang berpengalaman, sekali pandang pun pasti tahu bahwa perempuan itu baru saja melahirkan anak, tapi bayi itu bukan anak yang dia lahirkan.

"Perempuan ini adalah mak inang bocah itu,"

Ujar Lusam.

"Dia makan kelewat banyak, porsinya berlebihan sehingga begitu tertidur keadaannya tak jauh berbeda dengan orang mati, karena itu sekarang dia benar-benar menjadi orang mati."

"Kenapa?"

Tanya Che Siau-yan.

"Karena bocah ini mati tertindih oleh badannya yang subur ketika perempuan itu tidur di sampingnya,"

Lu-sam menjelaskan.

"Dia pun bukan putra kandungku, tapi jika dia dapat hidup terus, aku pasti akan memanjakan dia melebihi siapa pun, apa yang dia minta pasti akan kupenuhi, menanti tujuh-delapan belas kemudian dia pasti akan mati pula di ujung pedang orang lain, karena waktu itu dia pasti akan seperti Lu Thian-po, rusak gara-gara kelewat kumanja!"

Che Siau-yan tidak bertanya lagi.

"Anak siapa itu?"

Dia memang tak perlu bertanya lagi.

Tiba-tiba tangan dan kakinya terasa dingin, peluh dingin telah membasahi seluruh pakaiannya.

Sekarang dia tentu sudah tahu bahwa bocah ini adalah putra Siau-hong tapi selamanya dia tak bakal tahu bocah itu berumur pendek.

Peristiwa ini merupakan keberuntungan atau ketidak beruntungan baginya?

"Aku tahu, kau pasti menyangka caraku bekerja kelewat menakutkan,"

Ujar Lu-sam.

"Untungnya hanya kau saja yang berpikir demikian, sebab kecuali kau, belum pernah ada orang lain yang tahu bagaimana caraku bekerja, bahkan mimpi pun tak bakal menyangka."

"Karena itu Pancapanah selalu menyangka kau amat membenci Siau-hong, berupaya membunuhmu dengan tangan sendiri."

"Betul, karena itulah dia sengaja mengatur pertarungan ini, menanti aku dan Siau-hong sama-sama terluka, samasama menderita kerugian, dia baru akan menjadi nelayan yang beruntung,"

Ujar Lu-sam.

"Sayangnya aku sedikit lebih pintar daripada apa yang dia bayangkan, oleh karena itu yang masuk perangkap bukan aku, melainkan dia."

Kemudian Lu-sam menambahkan lagi.

"Sekarang Pancapanah pasti sudah pergi ke kota Oh-ki untuk menyaksikan hasil akhir dari pertarungan ini."

"Menurutmu dia akan menunggumu di mana?"

"Bukan hanya aku saja yang tahu, Tokko Ci pun tahu. Menanti Tokko Ci berhasil membunuh Siau-hong, dia pasti akan pergi mencarinya."

Che Siau-yan tersenyum.

"Saat itu sekalipun Tokko Ci berhasil membunuh Siauhong dia harus membayar mahal untuk keberhasilannya. Menanti mereka selesai bertarung peduli Tokko Ci berhasil membunuh Pancapanah atau Pancapanah yang berhasil membunuh Tokko Ci, di saat mereka selesai bertarung kau akan muncul dan sisa dari dua orang yang masih hidup itu akhirnya bakal mati di tanganmu. Maka peduli siapa menang siapa kalah, hanya kau seorang yang tak bakal kalah. Bukan begitu?"

Ooo)d*w(ooO Dalam pandangan kebanyakan orang, kota Oh-ki tak lebih hanya sebuah kota kecil di pinggir perbatasan.

Menurut catatan pemerintah setempat, kota itu terdiri dari tujuh puluh tiga kepala keluarga, termasuk kaum wanita dan anak-anak, semuanya hanya terdiri dari tiga ratus sebelas orang penduduk.

Di antara mereka, sebagian besar bekerja sebagai pedagang kecil, karena tanah di sana tak subur untuk pertanian bahkan letaknya kelewat terpencil, sehingga untuk tempat itu jauh lebih cocok berusaha di bidang lain daripada usaha pertanian.

Bahkan sebagian besar orang belum pernah mendengar nama kota kecil itu.

Padahal kenyataan bukanlah demikian.

Penduduk kota itu jauh lebih banyak daripada data yang ada di kantor pemerintahan daerah, bahkan jenis manusia yang berkumpul di sana jauh di luar pemikiran siapa pun.

Kemewahan dan keramaian kota itu pun jauh di luar jangkauan pemikiran siapa pun.

Oleh karena tempat itu kelewat terpencil, maka tak pernah menarik perhatian pihak pemerintah, karena itulah orang-orang yang terdesak, yang tak punya jalan lain lagi, berbondong-bondong datang ke tempat itu.

Karena terlalu banyak penjahat dan buronan yang datang dari empat penjuru, padahal orang-orang sejenis itu terbiasa menghambur uang, tak heran kalau terciptalah kota yang megah dan ramai di situ.

Dari tujuh puluh tiga penduduk setempat, ada sebagian besar dari mereka membuka usaha rumah penginapan dan rumah makan.

Jangan dilihat penduduk di sana hanya terdiri dari tujuh puluh tiga kepala keluarga, jumlah rumah makan dan penginapan yang membuka usaha di sana sudah mencapai seratus lima buah.

Di antaranya rumah makan Tat-ki, rumah makan yang paling ramai.

Dari pagi hingga malam rumah makan itu selalu dipenuhi tamu yang berlalu-lalang.

Konon teh susu dan masakan bawang bikinan rumah makan ini merupakan hidangan paling baik untuk wilayah delapan puluh li di seputar situ.

"Rahasia Lu-sam terletak di jalanan teramai di kota ini,"

Ujar Pancapanah kepada Siau-hong.

Di sepanjang jalan raya itu terdapat sembilan puluh enam buah kedai, kecuali sebuah rumah penjual jarum dan benang, dua rumah penjual beras dan kebutuhan seharihari, sebagian besar di antaranya merupakan rumah makan dan rumah penginapan.

"Menurut kau, bangunan rumah mana yang merupakan sarang rahasia dari Lu-sam?"

Tanya Pancapanah lagi.

"Pasti rumah makan Tat-ki,"

Jawab Siau-hong tanpa berpikir panjang.

"Mengapa kau menduga Lu-sam berada di sana?"

"Karena di tempat itulah paling banyak orang berkumpul."

Jawaban Siau-hong amat sederhana tapi sangat tepat.

Setiap saat Lu-sam perlu mendapat berita yang dikirim anak buahnya, sedang anak buahnya berasal dari empat penjuru, karena itu setiap tamu yang datang bersantap di rumah makan Tat-ki, besar kemungkinan merupakan anak buahnya, anak buah yang berusaha keras melindungi keselamatan jiwanya.

Lagi pula "kalau mau bersembunyi, bersembunyilah di tempat yang ramai", teori semacam ini pasti dipahami Lusam, begitu pula dengan Pancapanah.

Oleh karena itu ketika masih berkumpul dalam hutan di luar kota, Pancapanah telah berkata kepada Siau-hong.

"Tengah hari nanti, pergilah ke sana untuk bersantap, asal kau mendengar ada orang berteriak "teh susu ini bau", kau segera menerjang masuk ke dalam dapur, singkirkan kuali besi yang ada di dapur, guyur kuali panas itu dengan air dingin, kemudian melompat masuk, di samping tungku api terdapat sebuah gua selebar dua kaki, di tempat itulah kau akan menemukan Lu-sam"

Kemudian Pancapanah berpesan lagi.

"Kau cukup melakukan tugas itu dan tak usah mengurusi persoalan lain, biar di luar bakal terjadi huru-hara yang dahsyat pun kau tak usah ambil peduli, karena meski langit ambruk pun pasti ada orang yang akan menahannya untukmu."

Melihat dari kejauhan Siau-hong telah melangkah masuk ke dalam rumah makan Tat-ki dan mendengar ada orang berteriak "teh susu ini bau", Pancapanah segera meninggalkan tempat itu, karena setiap perkembangan yang terjadi kemudian telah dalam perhitungannya, dia sudah tak perlu lagi mendengarkan dan melihat sendiri.

Dia melalui sebuah jalan setapak yang terpencil, mengelilingi hutan dimana mereka berkumpul tadi, menuju ke atas sebuah tebing dan duduk di atas sebuah batu karang yang menonjol.

Jarak tempat itu dengan jalanan di kota yang ramai cukup jauh, namun secara kebetulan ia dapat melihat situasi rumah makan Tat-ki dengan jelas.

Meski orang lain tak terlampau jelas, namun dengan ketajaman matanya ia dapat melihat semua itu dengan amat jelas.

Tentu saja tempat itu pun sudah dipilihnya sejak lama.

Waktu itu terjadi kekacauan yang luar biasa dalam rumah makan itu, orang yang berada di jalanan berduyunduyung datang ke situ, ada yang cuma nonton keramaian, ada pula yang ikut terjun dalam pertarungan.

Tak ampun suasana di jalan itu pun jadi kacau dan panas seperti bubur yang baru mendidih.

Pancapanah merasa sangat puas, semakin kacau suasana di luar sana semakin senang dia.

Makin kacau di luar makin tenang di dalam, orang yang hendak membunuh memang butuh ketenangan, orang yang bakal dibunuh pun membutuhkan ketenangan, peduli siapa bunuh siapa, baginya semua itu tak ada bedanya.

Sebab dia merasa posisinya sekarang sudah tak terkalahkan.

Tentu saja semua ini berkat pengaturannya yang cermat dan seksama, ia telah merencanakannya banyak tahun, dia percaya setiap bagian dan setiap tindak-tanduknya telah diatur dengan seksama dan sempurna.

Di saat dia siap berbaring untuk beristirahat itulah tibatiba dari belakang tubuhnya terdengar seorang dengan nada amat rahasia, mengucapkan sepatah kata yang sangat aneh.

"Tamat,"

Kata orang itu.

"Apakah sekarang sudah hampir tamat?"

Pancapanah tidak berpaling, sedikit reaksi pun tak ada, sebab dia sudah mengetahui akan kehadiran orang, juga tahu siapa yang datang.

"Betul, sekarang sudah hampir tamat,"

Katanya hambar.

"Semua persoalan kini sudah hampir tiba saatnya untuk penyelesaian."

Orang yang berada di belakang tubuhnya kembali bertanya.

"Kau menginginkan penyelesaian yang bagaimana?"

"Sebuah penyelesaian yang bahagia, sebuah penyelesaian yang sempurna,"

Sahut Pancapanah.

"Ruang rahasia milik Lu-sam berada di bawah tanah, meski terdapat tiga buah jalan keluar, tapi bila kita dapat menyumbat mati ketiga buah jalan keluar itu, maka tempat ini akan menjadi sebuah tanah kematian."

Di saat dia baru saja menyelesaikan perkataannya, tibatiba dari radius tiga puluh li terdengar suara ledakan yang sangat keras, kemudian terlihat asap tebal mengepul dari rumah makan Tat-ki, disusul kemudian terjadi dua ledakan dahsyat lagi di dua tempat yang berbeda diikuti mengepul lagi asap tebal di kedua tempat itu.

Pancapanah tersenyum.

"Kini ketiga buah jalan keluar itu sudah tersumbat mati, tak seorang pun di tempat ini yang bisa keluar dalam keadaan selamat, peduli siapa yang menang siapa yang kalah dari pertarungan Tokko Ci melawan Siau-hong mereka pasti terkubur hidup-hidup di sana."

"Hanya Tokko Ci dan Siau-hong? Bagaimana dengan Lu-sam?"

"Lu-sam tak bakal berada di sana,"

Sahut Pancapanah.

"Selama ini hanya dialah lawan tandingku yang sebenarnya, tahu kalau aku tak bakal datang ke situ, mana mungkin dia ikut datang."

Orang yang berdiri di belakangnya itu menghela napas panjang.

"Ai, ternyata kau sangat memahami tentang dirinya, jauh lebih banyak yang kau ketahui daripada yang dia bayangkan."

"Kini Po Eng dan Pova sudah mati, Soso telah meninggalkan Lu-sam dan sudah menjadi manusia yang tak berbobot, mati-hidupnya sudah tak penting lagi.

"Yang-kong adalah penggantiku, dia pasti dapat memahami jalan pikiranku, meskipun di hati kecilnya mungkin dia merasa caraku bertindak kelewat kejam dan berlebihan, mungkin dia pun merasa sedih karena kematian Po Eng dan Siau-hong, tapi aku yakin dia pasti akan berlagak seolah-olah tak tahu masalah apa pun."

Setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya.

"Kemungkinan besar di kemudian hari dia bakal kawin dengan aku."

"Dia pasti akan menikah denganmu,"

Kata orang itu.

"Karena dia pun seorang wanita yang sangat pintar, dia seharusnya tahu, hanya menikah denganmu merupakan keputusan yang paling cerdas."

Ternyata dia tidak menanyakan nasib Lu-sam dan Che Siau-yan, karena orang itu tak lain adalah Lu Kiong, orang yang paling dipercaya Lu-sam selama ini.

"Kali ini Sam-ya benar-benar telah menghimpun seluruh kekuatan pasukannya ke tempat ini, dia berbuat begini karena mempunyai dua tujuan,"

Ujar Lu Kiong.

"Pertama, tentu saja dia ingin kau percaya bahwa dia telah kemari, minta kau pun menghimpun seluruh kekuatan yang dimiliki untuk berkumpul di tempat ini.

"Kedua, anak buahnya kebanyakan merupakan buronan dalam dunia persilatan, dia belum pernah betul-betul mempercayai mereka, pada hakikatnya dia tak pernah memikirkan mati-hidup orang-orang itu, karena itu sejak Wi Thian-bong kehilangan lengannya, dengan cepat orang itu lenyap tak berbekas, karena dia sudah tak berguna lagi."

"Aku paham jalan pikirannya,"

Sahut Pancapanah.

"Memelihara sekelompok manusia semacam ini, sama halnya memelihara sekelompok harimau dan serigala, setiap saat harus mewaspadai ulah mereka, agar jangan tergigit. Ia memelihara mereka tak lebih hanya ingin menggunakan orang-orang itu untuk menghadapiku, sekaranglah saat yang paling tepat untuk menggunakan kekuatanku untuk melenyapkan mereka, agar mereka mengadu nyawa denganku, sementara dia sendiri hidup tenang di kejauhan."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Tanya Lu Kiong.

"Apakah jalan pikiranmu pun seperti dia, ingin menggunakan kesempatan ini untuk melenyapkan orangorang yang punya masalah dengan dirimu?"

"Benar,"

Pancapanah mengakui.

"Jalan pikiranku sama dengan jalan pikirannya, hanya saja aku sedikit lebih baik daripada dia, karena di sampingku tak ada manusiamanusia seperti kau dan Sah Peng."

"Kau pun mengetahui masalah tentang Sah Peng?"

"Sejak dulu aku sudah perhitungkan dia bakal kabur,"

Kata Pancapanah.

"Selama beberapa tahun terakhir ini, dia selalu menyisakan uang untuk ditabung, tabungannya sekarang sudah lebih dari cukup untuk dinikmati beberapa generasi, kenapa harus menjual nyawa lagi untuk Lu-sam?"

Tiba-tiba Lu Kiong tertawa, ujarnya.

"Bila kau anggap Sah Peng dapat kabur dari sini, maka dugaanmu itu salah besar, Sam-ya pun sejak awal sudah menduga dia bakal kabur seusai persoalan ini, maka di antara ketiga cawan arak yang dia teguk ketika berada di depan kuburan Oh Toa-leng tempo hari, satu di antaranya telah dicampuri racun pemutus usus yang tak ada obat penawarnya."

"Dari mana kau bisa tahu? Apakah kau yang telah mencampuri arak itu dengan racun?"

"Tentu saja aku,"

Ternyata Lu Kiong tidak menyangkal.

"Hanya aku yang bisa melakukan tugas seperti ini, sebab aku tak lebih hanya seorang budak yang tak berguna, dalam dunia persilatan ilmu silatku pun hanya bisa dianggap ilmu kucing kaki tiga, siapa pun dapat membunuh aku hanya menggunakan sebuah jari tangan saja, hingga kini tabungan pribadiku tak lebih dari tiga ratus dua puluh tahil perak, oleh sebab itu belum pernah ada orang mencurigai aku."

"Tapi sekarang kau telah menjadi seorang yang kayaraya, uangmu sudah berlimpah,"

Kata Pancapanah.

"Aku telah melakukan semua permintaanmu, mendepositokan uang sebesar lima puluh laksa tahil perak di dalam delapan belas rumah uang yang kau tunjuk, surat deposito pun telah kuletakkan di tempat yang kau tunjuk."

"Aku tahu."

"Bagaimana dengan janjimu padaku?"

Bukan menjawab, Lu Kiong balik bertanya.

"Bila kuberitahukan di mana Lu-sam berada saat ini, yakinkah kau dapat membunuhnya?"

"Kau seharusnya pun tahu, belum pernah aku melakukan pekerjaan yang tidak yakin pasti berhasil,"

Sela Pancapanah.

"Dalam pertarungan kali ini, kerugian yang kuderita memang lebih sedikit dari dirinya, lagi pula aku pun masih mempunyai seorang pembantu hebat."

Kemudian sambil tersenyum ia menjelaskan lebih jauh.

"Che Siau-yan pun merupakan seorang wanita yang sangat pintar, ilmu pedang yang dia miliki saat ini tidak selisih jauh dari kemampuan Siau-hong."

Lu Kiong sama sekali tidak bertanya, dari saku dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas, katanya.

"Tanda yang ada di peta ini merupakan markas besar Sam-ya, ikan emas merupakan kunci untuk membuka tempat rahasia itu."

Pancapanah menerima gulungan kertas itu, menatapnya sangat lama, tiba-tiba tanyanya.

"Mengapa kau bersedia menyerahkan rahasia besar itu kepadaku? Apakah kau tidak kuatir aku membunuhmu?"

Lu Kiong tertawa.

"Delapan belas tanda terima deposito itu telah kusembunyikan di suatu tempat yang tak mungkin bisa ditemukan orang lain, sementara ke delapan belas rumah uang itu pun hanya kenal tanda terima tak kenal orang, bagimu lima puluh laksa tahil perak tak lebih hanya uang kecil, apalagi di kemudian hari mungkin kau masih membutuhkan manusia seperti aku, untuk sukses dengan urusan besar, buat apa kau mesti membunuh seorang tak ternama yang tak berbobot sama sekali?"

Setelah berjalan amat jauh, tiba-tiba Lu Kiong berpaling dan bertanya lagi.

"Kau benar-benar yakin persoalan ini dapat diselesaikan begitu saja?"

Terpancar sinar aneh dari balik mata Pancapanah.

"Aku sudah merencanakan persoalan ini sangat lama, tentu saja aku sangat yakin."

Dia menggunakan sorot mata yang aneh untuk menatap wajah Lu Kiong, lama kemudian baru ujarnya lagi.

"Hanya saja aku masih mempunyai sebuah rahasia yang perlu kusampaikan kepadamu."

"Rahasia apa?"

"Sesungguhnya di dunia ini tak pernah ada urusan yang pasti, kejadian di kemudian hari tak pernah dapat diduga oleh siapa pun."

Lu Kiong pun balas menatapnya sangat lama, mendadak dari matanya terpancar perasaan hormat yang amat tebal.

"Perkataanmu memang tepat sekali,"

Kata Lu Kiong "Aku pasti akan mengingat terus perkataanmu itu dalam hati."

Selesai mengucapkan perkataan itu, tanpa berpaling ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Ternyata Pancapanah tidak berusaha menghalangi kepergiannya, dia hanya menghela napas perlahan seraya bergumam.

"Aku masih mempunyai sebuah rahasia lagi yang ingin kusampaikan kepadamu."

Setelah terdiam sejenak, katanya.

"Terkadang aku benarbenar ingin sekali menjadi seorang rendah macam dirimu, karena kehidupanmu sesungguhnya jauh lebih senang dan bahagia daripadaku."

Pancapanah memang seorang luar biasa, semua perkataannya selalu aneh dan mempunyai maksud dalam.

Di dunia ini memang tak pernah ada persoalan yang "pasti", biarpun rencananya matang dan sempurna, sayang dia masih tetap manusia, tak pernah pikiran dan perasaan manusia dapat merancang suatu rencana yang tepat dan sempurna.

Khususnya terhadap manusia seperti Siau-hong dan Tokko Ci.

Biarpun kedua orang itu "gila", namun tidak "bodoh", bila ada orang mengira mereka berdua dapat diperintah seperti boneka, tak disangka orang itu telah melakukan kesalahan yang fatal, kesalahan yang mematikan.

Menanti Pancapanah menyaksikan setiap kejadian, hampir semua berjalan sempurna sesuai rencananya, tibatiba ia menemukan Siau-hong dan Tokko Ci belum mati, bahkan sudah muncul di hadapannya.

Saat itulah dia baru sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat menakutkan.

Tapi dia tidak mengeluh, tidak menyalahkan siapa pun, tidak menyalahkan langit maupun bumi.

Sesaat menjelang kematiannya, dia hanya mengucapkan sepatah kata.

"Semua ini muncul dari ulahku, jadi aku mati pun tak menyesal!"

Dia sendiri yang telah melakukan kesalahan, maka dia sendiri pula yang menerima akibatnya.

Tidak menyalahkan langit, tidak menyalahkan orang lain, semua resiko dan tanggung-jawab dilimpahkan ke pundak sendiri.

Sekalipun kesalahan yang dia lakukan tidak sebanyak apa yang dibayangkan orang lain, dia pun tak perlu mengumpat, tak perlu mengadu, tak perlu memberi penjelasan kepada semua orang.

Oleh sebab itu Pancapanah tetap tak malu disebut seorang hebat, terlepas dia masih hidup atau sudah mati, paling tidak ia tak pernah melakukan perbuatan memalukan, membuat orang lain memandang hina dirinya.

TAMAT

Baca Juga: Anak Rajawali 9

Baca Juga: Imbauan Pendekar 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert