Ceritasilat Novel Online

Imbauan Pendekar 2

Eps 2 Imbauan Pendekar - Khu Lung

Baca online Imbauan Pendekar - Khu Lung

Cersil Imbauan Pendekar - Khu Lung.

Lelaki itu cuma sempat menjerit setengah suara, lalu kedua matanya melotot seperti mau melompat keluar dari kelopak matanya, ia tatap Siang Ji-long dengan rasa kejut dan sangsi, nyata sampai ajalnya ia belum lagi paham mengapa Siang Ji-long bisa mendadak menyerangnya dan membinasakan dia.

Sampai mati pun dia dapat menjadi penasaran yang tidak tahu sebab apa dia dibunuh.

Cu Lui-ji dan lain lain juga terkejut.

Mereka pun tidak mengerti sebab apa Siang Ji-long membunuh orang itu.

Kalau yang di tunggu Siang Ji-long adalah orang ini, mengapa mendadak dibunuhnya pula ?

seumpama orang ini hanya pengantar saja dan Sian Ji-long harus membunuhnya untuk ditanyai dahulu keterangan yang diperlukan, mengapa sebelum orang itu habis bicara terus dibinasakannya?

Sekalipun Oh lolo adalah rase tua yang paling licin juga merasa bingung melihat kejadian itu.

Diam-diam Lui-ji membatin.

"Jangan-jangan Siang Ji-long tahu orang itu membawa sesuatu dokumen yang sangat penting dan harus dirahasiakan, maka lebih dulu membunuhnya untuk menghilangkan saksi hidup."

Hanya demikianlah kesimpulannya, sebab selain ini hakekatnya tidak ada alasan lain.

Tak terduga, mendadak Siang Ji-long mendepak sehingga mayat lelaki itu terpental jauh ke sana, tanpa memandangnya lagi Siang Ji-long terus melompat ke sana dan memegang tali kendali kuda tunggangan orang tadi.

pelahan ia mengelus bulu suri kuda itu, katanya dengan tertawa.

"Ha ha, apakah kalian kira orang itu yang kutunggu? Ha ha, kalian salah sangka semua, yang kutunggu justeru adalah kuda ini."

Lui-ji dan lain-lain sama melenggong. Bahwa yang di tunggu-tunggu Siang Ji-long adalah seekor kuda! apa apaan ini? sudah gilakah dia ? Lui-ji menghela napas, ucapnya sambil menyengir.

"Tampaknya hanya kuda saja yang dapat bergaul dengan anjing gila semacam kau ini."

Siapa tahu, belum lenyap suaranya, mendadak tangan Siang Ji-long begitu keras seolah-olah terbuat dari baja.

Kuda itu meringkik kaget, kontan kepalanya pecah berantakan dan roboh.

Bukan cuma penunggang kuda saja yang dibinasakan, kudanya juga telah dibunuh Siang-Jilong.

Sampai di sini semua orang tahu Siang Ji-long benar-benar telah gila, sebab selain orang gila, siapa lagi yang dapat melakukan hal hal yang aneh dan membingungkan ini?"

Sungguh Cu Lui-ji tak berani membayangkan tindakan keji apa pula yang akan dilaksanakan si gila ini terhadap dirinya. Didengarnya Ji Pwe-giok lagi menghela napas, ucapnya dengan rawan.

"Maaf, bukan saja aku tidak dapat menjaga dirimu, sebaliknya... sebaliknya kau..."

"Mana boleh sicek yang disalahkan?"

Ujar Lui-ji dengan pedih.

"Justeru salahku sendiri yang telah membikin susah Sicek."

Pwe-giok menggeleng dan tidak tahu apa yang harus diucapkan lagi. Oh-lolo lantas mengejek.

"Kalau kau sendiri toh selekasnya akan mati, untuk apa kau bersedih bagi orang lain?"

"Jalan pikiran orang seperti sicek, selama hidupmu tak mungkin dapat memahaminya."

Kata Lui-ji.

"Sebab orang semacam kau, yang selalu kau perhatikan hanya dirimu sendiri, sedangkan sicekku, dia... dia selalu memperhatikan kepentingan orang lain.."

"Hm, dia selalu memikirkan kepentingan orang lain?"

Jengek Oh-lolo.

"Mengapa dia tidak memperhatikan kepentinganmu?"

Lui-ji tidak menanggapinya lagi, tapi di dalam hati terasa manis dan bahagia.

Sekarang meski diketahui dirinya pasti akan mati, namun dia tidak takut, sebab ia tahu di dunia ini sedikitnya ada seorang yang dapat memperhatikan keselamatannya.

Pwe-giok sama sekali tidak paham perasaan anak gadis semacam ini, sudah tentu, seumpama dia paham, dalam keadaan demikian dan pada saat begini, tentu pula dia tidak tega melukai perasaannya.

Dalam pada itu Siang Ji-long telah menyeret kuda mati itu ke tengah dan mulai menyembelih perutnya.

Isi perut kuda itu dibetotnya keluar semua.

Hampir tumpah Lui-ji, Tadinya ia mengira makhluk yang paling berbisa di dunia ini adalah ular dan yang paling keji adalah serigala, tapi sekarang ia baru tahu bilamana seorang sudah gila, terkadang manusia jauh lebih menakutkan daripada ular berbisa dan serigala kelaparan.

Pwe-giok dapat merasakan tubuh anak dara itu lagi gemetar, dengan suara lembut ia menghiburnya.

"terhadap orang gila begini, asalkan kau tutup mata dan tidak memandangnya, tentu kau takkan merasa takut."

"Aku tidak takut, aku cuma merasa sedih."

Kata Lui-ji dengan menghela napas pelahan, lalu menyambung pula sambil menunduk.

"Mestinya ada kesempatan lari bagiku, tapi sayang, kini kesempatan itu sudah ku bikin runyam."

Seketika Oh-lolo melotot, hampir saja ia berteriak.

"Apa katamu?"

"Tadi waktu kalian terbius dalam kereta, aku sendiri masih sadar, dari atap kereta dapat kutemukan sepotong dupa bius, sisa setengah potong lidi dupa itu telah kusembunyikan."

Mencorong terasa sinar mata Oh-lolo, ia menegas dengan suara tertahan.

"Dan setengah potong lidi dupa itu kini berada padamu? Alangkah bagusnya jika dapat kita lemparkan lidi dupa itu ke gundukan api unggun, orang-orang itu sedang gila tentu takkan memperhatikan hal ini,.

"aku pun sudah memikirkan hal ini,"

Kata Lui-ji.

"Kupikir, sekalipun kau dan... dan Sicek juga roboh terbius bersama mereka, tentu aku pun dapat meloloskan diri, sebab pada waktu mereka meringkus tanganku dengan tali, aku pura-pura tak sadar, tapi diam-diam kugunakan tenaga sehingga tanganku tidak terikat dengan erat."

Dia berhenti sejenak dan menghela napas, lalu menyambung pula.

"Tapi sekarang, semua itu tak ada gunanya lagi."

"Sebab apa?"

Desis Oh-lolo dengan suara parau.

"Sebab pada waktu si gila bicara dengan Thian-can-kaucu tadi, di luar tahu mereka telah kulemparkan setengah potong lidi itu ke sana, kukira akan dapat mencapai gundukan api unggun itu, siapa tahu..."

"Masa lemparanmu tidak mencapai tempat tujuan? Oh-lolo menegas dengan suara serak.

"Betul, sebab waktu itu aku terlalu tegang, ketika melempar, tanganku terasa kejang dan..."

"Lalu terlempar kemana setengah potong lidi dupa itu?"

Tanya Oh-lolo.

"Dapatkah kau lihat sepotong benda yang serupa tusuk kundai di depan kepala Thian-cankaucu itu? Nah, itulah dupa bius tersebut."

Jawab Lui-ji.

Waktu itu Thian-can-kaucu Siang Bok-kong telah terkulai di tanah seperti orang mati, persis di depan kepalanya memang betul ada setengah potong dupa warna perak, kira-kira satu meter jauhnya dari gundukan api unggun.

Dengan gemas Oh-lolo mengomel.

"Kau budak mampus, kalau kau sendiri tidak becus, mengapa kau sok pintar sendiri, tapi tanganmu ternyata lebih goblok daripada kaki keledai, lebih baik kau potong saja tanganmu."

Sekali ini Lui-ji diam saja manda dimaki. Tapi Pwe-giok lantas berkata dengan lembut.

"Padahal kalau kau serahkan lidi dupa bisu itu kepadaku, mungkin satu jengkal saja tidak kuat kulemparkan."

Lui-ji menunduk, katanya.

"Omelan Oh-lolo memang tidak salah, sesungguhnya aku memang sok pintar, sebab maksudku ingin membikin ... dan girang Sicek, agar Sicek tahu aku juga mampu berbuat sesuatu, siapa tahu..."

"Siapa tahu kau ini seorang tolol, gadis goblok."

Oh-lolo mencaci maki pula.

"kau tidak cuma membikin celaka orang lain, juga membikin susah dirinya sendiri. Yang kau pikirkan hanya ingin pamer di depan Ji Pwe-giok, kau kira dia akan suka padamu? Huh, kau cuma dianggapnya seperti anak kecil saja, apalagi kekasihnya yang jauh lebih cantik tak terhitung banyaknya, mana dia bisa menyukai budak cilik ingusan macam kau ini."

Seketika Lui-ji menggigil pula, ucapnya dengan suara terputus.

"Kau... kau tua... tua bang..."

Belum lanjut umpatannya, mendadak seorang menjerit ngeri.

"Aduh tanganku... tanganku... tanganku..."

Sejak Ji-suhengnya, yaitu si jerangkong hidup dirobohkan Siang Ji-long, ke enam murid Thian-can-kau yang lain sama berdiri mematung di pojok sana, tidak berani bergerak, bahkan bernapas pun tidak berani keras-keras.

Tapi sekarang salah seorang di antaranya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, di bawah cahaya api kedua tangannya kelihatan hitam dam bengkak.

Siang Ji-long tidak menggubrisnya, seperti orang gila dia masih terus mengaduk isi perut kuda mati itu.

Pwe-giok memandang Lui-ji sekejap.

"Kembali kau lagi?"

Lui-ji menggigit bibir, katanya.

"Habis siapa suruh dia sembarangan menggerayangi tubuhku, dia yang mencari mampus sendiri."

Kembali mencorong mata Oh-lolo, tanyanya.

"Jadi orang itu hanya meraba sekali di tubuhmu lalu tangannya berubah begitu?"

Lui-ji mengiakan. Wajah Oh-lolo tampak berseri-seri dan gembira ria, katanya.

"Ai, nona yang baik, bilamana kau pun dapat memancing Siang Ji-long merabai tubuhmu, maka dapatlah kita tertolong."

Seketika Lui-ji menarik muka dan tidak menanggapinya. Dengan suara tertahan Pwe-giok lantas berkata.

"Mati atau hidup sudah suratan nasib, sekalipun kita harus mati juga si gila itu tidak boleh menyentuh seujung jarinya."

Lui-ji menunduk dengan penuh rasa terima kasih. Oh-lolo melirik ke arah Siang Ji-long, ucapnya dengan tertawa terkekeh.

"Tapi kalau dia berkeras akan merabanya, apa daya kita?"

"Jika dia berani berbuat, tentu akan kuberitahukan bahwa di tubuh Lui-ji terdapat racun,"

Kata Pwe-giok.

"Jadi kau lebih suka mati?"

Tanya Oh-lolo dengan melengak.

"Daripada hidup terhina, kan lebih baik mati, pantang menyerah,"

Jawab Pwe-giok hambar. Oh-lolo melenggong sejenak, katanya kemudian sambil menyengir.

"Siang Ji-long orang gila, tapi Ji Pwe-giok orang maha goblok, sungguh sial tujuh turunan dapat kutemui dua orang macam begini."

Pada saat itulah mendadak terdengar Siang Ji-long bersorak gembira, teriaknya.

"Aha, ini dia, di sini, sudah kutemukan!"

Semua orang jadi terheran-heran, entah si gila itu menemukan apa didalam perut kuda.

Hanya Pwe-giok saja yang segera melihat tangan Siang Ji-long memegang satu biji mutiara yang mengkilat.

Dalam pada itu murid berseragam hitam yang tangannya hitam bengkak tadi lantas menyembah kepada Siang Ji-long sambil berteriak.

"Tangan ... tanganku, Toa-suheng, mohon .... mohon belas kasihan Toa-suheng, tolong .... tolonglah ...."

Gemerdep sinar mata Siang Ji-long, tanyanya.

"Tanganmu keracunan?"

Orang itu menyembah pula berulang-ulang, ratapnya.

"Selamanya Siaute taat dan setia terhadap Toa-suheng, mohon .... mohon Toa-suheng suka ...."

"Apakah kau kira aku yang meracuni kau?"

Bentak Siang Ji-long dengan gusar.

"Siaute pantas mampus, mohon belas kasihan Toa-suheng,"

Demikian orang itu masih terus meratap dan memohon. Siang Ji-long menyeringai, ucapnya.

"Kau sendiri keracunan, tapi tidak tahu siapa yang meracuni kau, untuk apa orang macam begini dibiarkan hidup, hanya bikin malu Thian-cankau saja ..."

Wajah murid itu menjadi pucat, serunya dengan gemetar, Toasuheng, engkau ....."

Belum habis ucapannya, mendadak Siang Ji-long menyayat perutnya dengan pisau yang dibuatnya menjagal kuda tadi.

Seketika darah segar terpancur keluar dan membasahi tubuh Siang Ji-long.

Tanpa berkedip dan juga tidak mengusap darah yang membasahi wajahnya, dengan tertawa siang Ji-long berkata pula.

"Sekarang tahukah kau untuk apa kusuruh kau menunggu lagi satu jam?"

Ucapannya ini jelas ditujukan kepada Cu Lui-ji. Mau-tak-mau Lui-ji berkata.

"Memangnya apa yang kau temukan di dalam perut kuda?"

"Ini!"

Seru Siang Ji-long sambil membuka telapak tangannya, maka dapatlah Lui-ji melihat satu biji benda kecil terbuat dari perak, mirip sebuah bola kecil.

"Mainan apakah itu ?"

Tanya Lui-ji sambil berkerut kuning.

"Lihat!"

Kata Siang Ji-long sambil mengekeh tertawa, dengan dua jarinya dia putar bola kecil itu, mendadak bola perak itu terbelah dua dan menggelinding keluar sebutir Lakwan (bola malam) ketika Lakwan itu dipecah, terdapat secarik sutera putih didalamnya.

Pada kain putih itu tertulis huruf kecil, kiranya sepucuk surat.

"Sekarang kau paham tidak?"

Tanya Siang Ji-long sambil tertawa.

"Demi sepucuk surat, begini besar tenaga yang dikeluarkan, kukira agak kurang setimpal,"

Uajr Lui-ji dengan tak acuh.

Meski begitu ucapannya, namun di dalam hati sebenarnya sangat heran dan terkesiap.

Jelas pengirim surat itu kuatir si pengantar surat akan membocorkan rahasia isi surat itu, maka surat itu sengaja disembunyikan di dalam perut kuda, kecuali si penerima surat, siapa pun takkan menyangka di dalam perut kuda ada surat penting dan sukar ditemukan oleh siapa pun juga.

Jadi pengirim surat itu sengaja mengorbankan seekor kuda sebagai alat pengirim surat, bahkan sebelumnya jelas sudah ada janji dengan Siang Ji-long agar nanti membunuh orang yang datang dengan menggunakan kuda ini.

Demi keamanan sepucuk surat, orang itu tidak sayang mengorbankan nyawa satu orang dan seekor kuda, betapa hati-hati tindak-tanduknya dan betapa keji caranya, sungguh jarang ada bandingannya di dunia ini.

Begitulah Lui-ji memandang kain surat itu dengan cermat, sedapatnya ia ingin menemukan sesuatu rahasia pada benda itu, ingin diketahuinya sesungguhnya gerangan siapakah pengirim surat itu?

Berbeda dengan Oh-lolo, nenek itu sejak tadi terus menerus mengawasi setengah potong lidi dupa, dia hanya berharap hendaknya setengah potong lidi dupa itu bisa mendadak bergeser ke tengah gundukan api unggun sana.

Cuma sayang, tiada terdapat embusan angin di dalam gua ini sehingga lidi dupa itu tidak mungkin berjalan sendiri.

Oh-lolo pun tahu harapannya itu hanya mimpi belaka.

Siang Ji-long sedang membolak-balik membaca surat itu, tampaknya dia sangat gembira, setiap kali habis membaca tentu dia tertawa.

Tidak kepalang gemas Cu Lu-ji, kalau bisa ingin dirampasnya surat itu.

Tiba-tiba didengarnya Siang Ji-long berkata.

"Apakah kau ingin membaca surat ini?". Lui-ji terkesiap dan juga bergirang, tapi ia sengaja menjawab dengan hambar.

"Ah, untuk apa kubaca surat yang tiada menyangkut kepentinganku?"

"Akan kuperlihatkan surat ini padamu,"

Kata Siang Ji-long dengan menyeringai.

"Sebab ku tahu kau pasti akan menjaga rahasia bagiku. Di dunia ini hanya orang mati saja yang dapat menjaga rahasia". Lalu dia membentang kain surat itu di depan mata Cu Lui-ji. Surat itu tertulis. Siang-kaucu yang mulia. Apabila surat ini anda terima, tentu pula tepat pada saat Anda naik tahta. Mengingat bakat dan kepandaian Anda yang tiada taranya kejayaan Kau kalian jelas akan berkembang dalam waktu singkat ini. Untuk itu kami tidak saja ikut merasa bahagia bagi kejayaan Kau kalian, tapi juga merasa bersyukur bagi sesama umat persilatan. Adapun urusan yang pernah kita rundingkan sudah tidak menjadi persoalan lagi, kujamin sepenuh tenaga bahwa pada pertemuan besar Hong-ti yang akan datang pasti akan kuserahkan kedudukanku ini kepada pihak yang lebih berwenang, kami pasti akan mendukung Kau sekalian sebagai pejabat Bengcu. Setelah Anda memegang pucuk pimpinan, maka baik Bu-tong maupun Siau-lim harus tunduk juga di bawah pimpinan Anda. Hanya saja urusan ini masih perlu dirundingkan lagi dengan lebih terperinci, untuk ini diharapkan dalam waktu 10 hari Anda dapat berkunjung kemari. Demikian hendaknya Anda maklum dan kami menantikan kedatangan Anda. Di bawah surat ini tidak ada nama terang si pengirim surat, hanya ada tanda tangan saja. Siang Ji-long menengadah dan bergelak tertawa, katanya kemudian.

"Nah, sudah kau baca? Selanjutnya Thian-can-kau kami tidak akan bersaing dengan Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay, bahkan mereka harus tunduk di bawah pimpinanku"

Sekujur badan Pwe-giok terasa gemetar sehabis membaca surat itu, dengan suara serak ia bertanya.

"Siapakah yang menulis surat ini?"

"Siapa lagi yang berhak menulis surat ini kecuali Bu-lim-bengcu saat ini, Ji Hong-ho, Jitayhiap!"

Seru Siang Ji-long. Pwe-giok menghela napas panjang-panjang dan tidak bicara lagi. Gemerdep sinar mata Lui-ji, ucapnya.

"Pantas kau kegirangan setengah mati sehabis membaca surat ini, kiranya Ji Hong-ho berjanji akan mendukung kau ke singgasana Bu-limbengcu!"

"Ya, selain dia, siapa lagi yang mempunyai kemampuan demikian?"

Ujar Siang Ji-long dengan riang gembira.

"Betul, kecuali dia, sekalipun orang lain bicara demikian juga takkan kau percayai"

Tukas Luiji.

"Memang begitulah"

Sambung siang Ji-long "Kalau dia sudah menyebut kau sebagai Kaucu, agaknya sebelum ini kalian sudah bersepakat asalkan mampu membunuh Siang Bok-kong maka dia akan mengangkat kau sebagai Bu-limbengcu pada pertemuan Hongti yang akan datang.

Sebaliknya jika kau tidak mampu membunuh Siang Bok-kong, tapi malahan terbunuh, maka Siang Bok-kong juga takkan tahu ada surat tersembunyi di dalam perut kuda, rahasia ini selamanya juga takkan diketahui oleh siapapun"

"Betul, justeru di sinilah kecermatan cara bekerja Ji-tayhiap"

Ujar Siang Ji-long.

"Dan karena sebelumnya antara kalian sudah ada perjanjian rahasia, maka dia membiarkan kau mengintai gerak-gerik Gin-hoa-nio di Li-toh-tin, sebab itu pula tanpa susah payah dapat kau bawa pulang Gin-hoa-nio ke sini"

Kata Lui-ji pula.

"Betul, kau memang pintar, sekarang segalanya tentu sudah jelas bagimu"

Ujar Siang Ji-long dengan gelak tertawa.

"Tapi apakah benar-benar kau percaya kepada janji Ji Hong-ho?"

Jengek Lui-ji.

"Berdasarkan apa dia mau mendukung kau menjadi Bu-lim-bengcu?"

Siang Ji-long menyeringai, ucapnya.

"Ini adalah urusanku, kau tidak perlu ikut campur. Aku cuma ingin tanya padamu, kau suka mati digeragoti Thian-can atau lebih suka badan disayatsayat oleh pisau?"

"Aku lebih suka digigit mati oleh anjing gila,"

Jawab Lui-ji tiba-tiba dengan tertawa.

"Cara mati demikian cukup menarik juga, cuma sayang di sini tak ada anjing gila,"

Kata Siang Ji-long dengan tertawa, ia tidak sadar bahwa yang dimaksudkan anjing gila oleh Cu Lui-ji justeru adalah dia sendiri. Maka Lui-ji lantas berkata.

"Siapa bilang di sini tidak ada anjing gila? Bukankah di depanku sekarang ada seekor?"

Saking gusarnya muka Siang Ji-long berubah pucat, segera ia tertawa latah pula, katanya.

"Bagus, bagus sekali caci-makimu, bilamana nanti kalian tidak kusuguhi rasanya 10 macam hukum siksa agama kami, anggaplah aku tidak menghormati kau!"

Sambil tertawa seperti orang kalap, ia membalik ke sana untuk mengambil kotak perak berisi ulat buas tadi.

Meski merasa merinding, tapi dalam keadaan demikian Cu Lui-ji sama sekali tidak berdaya.

Selagi ia hendak mencaci-maki pula sepuasnya dari pada cuma mati konyol, pada saat itulah tiba-tiba Oh-lolo mendesis padanya.

"Ssst, tahan napas dan jangan buka mulut!"

Lui-ji melengak, waktu ia pandang setengah potong lidi dupa tadi, ternyata sudah hilang.

Ia terkejut dan bergirang, sungguh tak dapat dibayangkan cara bagaimana sisa lidi dupa bius itu dapat lari ke gundukan api unggun.

Segera ia ingin bertanya, tapi Oh-lolo sudah mendahului memberi keterangan.

"Siang Bok-kong belum mati, dia masih dapat bernapas."

Dilihatnya Siang Ji-long telah berpaling lagi ke sini, cepat nenek itu tutup mulut.

Tapi sekarang Lui-ji sudah tahu Siang Bok-kong yang meniup sisa lidi dupa itu ke gundukan api unggun.

Saat itu dupa bius itu tentu sudah mulai terbakar, saking senangnya Lui-ji merasa jari sendiri sama kaku, cepat ia menahan napas dan juga memejamkan mata, ia berlagak seperti orang yang pasrah nasib dan menanti ajal.

Di dengarnya Siang Ji-long lagi berkata.

"Apakah kau ingin melihat bagaimana bentuk Thiancan? Inilah makhluk yang paling cantik di dunia ini, beruntunglah kalian dapat melihatnya."

Sekuatnya Lui-ji mengigit bibir, seperti menahan perasaannya agar tidak bicara. Siang Ji-long terkekeh-kekeh, katanya pula.

"Biarpun kau memejamkan mata juga tiada gunanya, sebentar bila Thian-can sudah merayapi tubuhmu, ingin memejamkan mata saja mungkin tidak bisa."

Meski yakin dirinya bakal selamat, tapi bila membayangkan makhluk kecil yang lemas dan berkelogat-keloget merayap di atas tubuhnya, seketika bulu roma Lui-ji sama berdiri.

Melihat anak dara itu mengkirik, Siang Ji-long bertambah senang.

Tiba-tiba Pwe-giok menjengek.

"Hm, banyak juga orang gila yang pernah kulihat, tapi orang gila semacam kau sungguh jarang ada."

"Apa katamu?"

Teriak Siang Ji-long, dengan murka. Pwe-giok menyambung pula.

"Di dunia ini ada dua macam orang gila. Yang semacam adalah lelaki gila dan yang lain perempuan gila. Tapi kau ini orang gila yang bukan lelaki dan juga bukan perempuan, orang gila semacam kau mungkin di dunia ini hanya kau seorang saja."

Saking gusarnya sehingga gigi Siang Ji-long gemerutuk. Memakinya dengan kata-kata "bukan lelaki dan bukan perempuan"

Rasanya jauh lebih sakit daripada menyabetnya dengan cemeti. Pwe-giok lantas menjengek pula.

"Dan lantaran kau sendiri merasa tidak mampu berbuat terhadap perempuan, maka sedapatnya kau berusaha menyiksa mereka, sampai-sampai anak dara ini pun tak kau lewatkan, mengapa kau tidak berani mencari diriku saja?"

Orang berhati mulia seperti Pwe-giok juga dapat mengucapkan kata-kata yang menyakitkan seperti ini, heran juga Cu Lui-ji.

Tapi setelah berpikir segera ia tahu maksud tujuan Pwe-giok.

Jelas dia kuatir sebelum dupa bius itu mulai bekerja dan Siang Ji-long lantas menganiaya terhadap Lui-ji, maka dia sengaja memancing rasa marah Siang Ji-long agar orang bertindak lebih dulu kepadanya.

Terharu Lui-ji, entah bergirang, entah berterima kasih atau sakit?

Tanpa terasa air matanya berlinang.

Terdengar Siang Ji-long berkata dengan menggreget."

Baik, mestinya akan ku kerjai dulu nona cilik ini, karena ucapanmu ini, boleh juga kuladeni kau lebih dulu. Bila dalam sepuluh hari ku bikin kau putus napas, biarlah aku tidak she Siang."

"He, nanti dulu!"

Mendadak Oh-lolo berteriak.

"Nanti apa?"

Bentak Siang Ji-long dengan gusar.

"Jika sedikitnya akan kau siksa dia sepuluh hari, tentunya kau pun tidak perlu terburu-buru, marilah dengarkan dulu suatu ceritaku yang sangat menarik."

Maksud Oh-lolo bukanlah ingin menolong Pwe-giok, sebab ia tahu apabila dia tidak berusaha mencegahnya, tentu tanpa menghiraukan akibatnya Cu Lui-ji akan bicara juga, terpaksa ia mendahului anak dara itu.

Siapa tahu Siang Ji-long cuma menyeringai saja dan berkata.

"Kukira akan lebih asyik dan menarik bilamana sambil mendengarkan ceritamu kita juga mendengarkan rintihannya."

"Tunggu sebentar,"

Kata Oh-lolo.

"jika dia ribut di sebelah, cara bagaimana kau dapat mengikuti ceritaku dengan jelas. Padahal ceritaku ini sangat erat hubungannya dengan pertemuan besar Hongti itu"

Dia mengira kata "pertemuan Hongti"

Pasti akan menarik perhatian Siang Ji-long, siapa tahu orang justru tidak menggubrisnya sama sekali, apa pun yang diucapkannya tiada yang menarik hati baginya.

bahkan siang Ji-long lantas menaruh dua kotak perak berisi ulat buas di atas tubuh Pwe-giok, sebelah tangannya sudah mulai membuka tutup kotak.

Entah bagaimana perasaan Pwe-giok memandangi tangan yg cacat dan berlumuran darah, kurus seperti cakar setan itu, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dirinya akan mati di bawah tangan semacam ini.

Dia yang sudah kenyang menghadapi detik-detik yang gawat, soal mati dan hidup baginya tidak lagi merupakan sesuatu yang penting, akan tetapi setiap kali bila menghadapi kematian mau-tak-mau timbul juga rasa takutnya.

Tapi sekarang tangan yang menyerupai cakar setan ini rada menimbulkan rasa mualnya.

Tiba-tiba ia melihat "cakar setan"

Ini rada gemetar, pandangan sendiri mulai samar-samar sampai rasa mualnya juga tidak dapat dirasakan lagi .....

Waktu ia siuman kembali, dilihatnya Cu Lui-ji berdiri di depannya dengan wajah berseri-seri gembira, malahan anak dara itu memegang kipas lempit milik Siang Ji-long.

Pwe-giok tahu di dalam kipas itulah tersimpan obat penawarnya, ia pun tahu segala mara bahaya sudah dilampauinya, ia menghela napas panjang dan bertanya.

"Kau .... kau tidak apaapa, bukan?"

"Mestinya akulah yang bertanya demikian padamu,"

Ucap Lui-ji dengan tersenyum. Ia memayang bangun Pwe-giok, lalu berkata pula.

"Akupun tidak menyangka dupa bius itu dapat bekerja secepat itu, selagi gelisah, tahu-tahu Siang Ji-long menguap terus roboh terkapar."

"Hanya ujung dupa saja yang menyala sudah mempunyai daya bius yang sangat kuat, apalagi seluruh lidi dupa dibakar, tentu saja bekerjanya jauh lebih cepat,"

Ucap Pwe-giok dengan tersenyum. Mendadak ia melihat pergelangan tangan Cu Lui-ji terluka.

"He, tanganmu ....."

Lui-ji tertawa, tuturnya.

"Tidak apa-apa, karena tali pengikat tanganku tadi terlalu kuat dan sukar dibuka, terpaksa ku geser ke gundukan api unggun sana dan membakarnya dengan api."

Dia pandang Pwe-giok lekat-lekat, lalu bertanya dengan menggigit bibir.

"Kau ... kau benarbenar tidak apa-apa?"

"Hanya kaki dan tangan terasa agak lemas, tak dapat mengeluarkan tenaga,"

Jawab Pwe-giok.

"O, tidak menjadi soal kalau begitu, selang sebentar lagi tentu akan pulih kembali,"

Kata Lui-ji dengan wajah cerah.

"Masih untung dupa bisa semacam ini, ada dupa bius jenis lain, biarpun mendapatkan obat penawarnya, sedikitnya perlu rebah beberapa hari lagi baru dapat bergerak."

Lalu ia mendekati Oh-lolo untuk menolongnya, melihat keadaan Gin-hoa-nio yang mengenaskan itu, tanpa terasa ia menghela napas, katanya sambil menoleh kepada Pwe-giok.

"Meski dia tidak tergolong orang baik, tapi nasibnya harus dikasihani juga, biarlah kita membawanya pergi saja"

"Ya, boleh,"

Kata Pwe-giok. Lalu ia meronta dan bergeser kesana, ia goyangkan tubuh Ohlolo dengan keras sambil berteriak.

"Sesungguhnya dimana kau simpan obat penawarmu, kalau diambil sekarang keburu tidak?"

Oh-lolo membuka matanya, ucapnya dengan tertawa.

"Busyet, rupanya kau belum lupa ......"

"Mana bisa lupa,"

Kata Pwe-giok dengan gusar.

"Pendek kata, bila kau tak dapat menawarkan racun Lui-ji, segera ku ....."

"Kalau tidak keburu lagi waktunya, biar kau bunuh diriku juga tidak ada gunanya,"

Ucap Ohlolo dengan adem-ayem.

"Tapi kau pun tidak perlu gelisah, kalau sekarang juga kita berangkat, ku jamin dia masih dapat tertolong."

Pwe-giok menghela napas lega, katanya.

"Jika demikian, ayolah lekas berangkat!"

"Dan bagaimana dengan Thian-can-kaucu ini?"

Tanya Lui-ji tiba-tiba. Pwe-giok berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Betapapun orang ini adalah seorang pemimpin suatu aliran besar, sepantasnya kita menolong dia. Cuma sayang, racun yang biasa digunakan Thian-can-kau mereka tidak dapat kita punahkan."

"Kalau begitu, sekalian kita tambahi saja sekali bacok,"

Usul Oh-lolo sambil berkerut kening.

"Melihat orang tertimpa bahaya tanpa menolong sudah mengingkari jiwa kaum pendekar, mana boleh kita mencelakai orang yang tidak mampu melawan."

Kata Pwe-giok.

"Sekarang tidak kau bunuh dia, bisa jadi kelak kau yang akan mati di tangannya,"

Ujar Ohlolo.

"Apa yang akan terjadi kelak adalah urusan kelak,"

Jawab Pwe-giok.

"Inikah yang kau anggap perbuatan kaum pendekar?"

Jengek Oh-lolo.

"Hun, ini tidak lebih adalah jalan pikiran kaum perempuan."

"Jalan pikiran kaum perempuan yang bajik lebih baik daripada jalan pikiran yang tidak berbudi dan busuk,"

Jawab Pwe-giok acuh. Oh-lolo menghela naps, gumamnya.

"Tahukah kau orang seperti dirimu ini makin sedikit di dunia ini, sebab orang semacam dirimu ini tentu takkan berumur panjang."

Mendadak Cu Lui-ji menjemput sebilah belati terus mendekati Siang Ji-long.

"He, mau apa kau?"

Tanya Pwe-giok.

"Apa pun yang dikatakan Sicek pasti kuturuti,"

Ucap Lui-ji dengan menunduk.

"tapi orang ini tidak boleh tidak harus kubunuh, sebab kelak kuingat dia ini masih ada seorang macam dia ini, mungkin tidur saja tidak dapat nyenyak."

Sekonyong-konyong suara seorang menanggapi dengan perlahan.

"Kukira lebih baik orang ini diserahkan saja kepadaku dan akan kubereskan dia, tidak perlu nona ikut membuang tenaga dan pikiran baginya."

Suara ini perlahan dan seperti timbul dari samping mereka.

Padahal di dalam gua ini sekarang hanya terdapat Ji Pwe-giok, Cu Lui-ji dan Oh-lolo bertiga, orang lain sudah lama menggeletak tak berkutik.

Lalu suara siapakah dan terucap darimana ?

Di bawah cahaya api yang gemerdep, tonggak-tonggak batu itu seolah-olah akan terbang ke atas, Lui-ji merasa sekujur badan menggigil, ia menyurut mundur dan memegang tangan Pwegiok erat-erat, tanyanya dengan lirih.

"Siapa kau? Dimana kau?"

Dengan tertawa suara itu menjawab,"

Aku ada di depan nona, masakah nona tidak melihatnya?"

Di tengah suara gelak tertawa, seorang berbangkit perlahan dari atas tanah.

Nyata dia adalah Thian-can kaucu Siang Bok-kong yang sudah sekarat tadi.

Cahaya api unggun seketika guram dan mengepulkan asap hijau sehingga suasana bertambah seram, ditengah kepulan asap itu wajah Siang Bok-kong kelihatan sudah membusuk, sampai mata hidungnya juga sukar dibedakan lagi, mukanya sekarang lebih mirip buah tomat yang membusuk.

Namun kedua matanya masih tetap bersinar gemerdep seperti cahaya kilat.

"Aha, kukira siapa, tak tahunya kau!"

Seru Lui-ji dengan tertawa.

Meski dia lagi bicara dan tertawa, tapi kedua tangannya sudah mulai bergerak.

Pwe-giok tahu anak dara itu bermaksud menubruk maju selagi Siang Bok-kong tidak berjagajaga, ia tidak mampu mencegah lagi, sebab dalam keadaan demikian terpaksa ia harus membiarkan Lui-ji mempertaruhkan segalanya.

Tak terduga Siang Bok-kong lantas menjengek.

"Kau masih kecil nona, tapi kau sudah boleh dikatakan pintar dan tangkas, namun semua ini tetap tiada gunanya, biarpun sepuluh tahun lagi kau masih tetap bukan tandinganku. Kalau ditambah Ji-kongcu dan Oh-lolo ini mungkin kalian dapat menandingi diriku, cuma sayang untuk kedua kalinya mereka telah terkena Cubong-hiang (dupa wangi mimpi), dalam waktu tiga jam jangankan hendak bertempur denganku, bahkan mengangkat pedang saja tidak kuat."

Dia bicara dengan sangat lambat, bicara sampai di sini, keringat dingin sudah membasahi baju Cu Lui-ji, sebab ia tahu apa yang dikatakan Siang Bok-kong itu memang bukan bualan belaka.

Terdengar Siang Bok-kong mengekek tawa, lalu berkata pula.

"Apalagi sudah kuselamatkan jiwa kalian, pantasnya kalian berusaha membalas budi, kenapa malah hendak menyerang diriku?"

"Kau ... kau menyelamatkan jiwa kami?"

Lui-ji menegas dengan melengak.

"Memangnya nona mengira setengah potong lidi dupa itu dapat melompat sendiri ke dalam gundukan api unggun?"

Jawab Siang Bok-kong.

"Masa engkau yang ....."

Lui-ji melengak.

"Kalau tidak kutiup dengan hawa murniku, mana bisa dupa wangi itu bekerja secepat ini?"

Tukas Siang Bok-kong. Berputar biji mata Lui-ji, serunya.

"Sekalipun benar kau yang meniup lidi dupa itu ke dalam api, kukira kami pun tidak perlu berterima kasih padamu, sebaliknya kau yang harus berterima kasih kepada kami."

"Sebab apa?"

Siang Bok-kong juga melengak.

"Sebab kalau aku tidak melemparkan setengah potong lidi dupa itu ke depanmu, maka riwayatmu pasti tamat."

Mendadak Siang Bok-kong menengadah dan terbahak-bahak, katanya.

"Hahahaha! Betapapun nona memang masih anak kecil."

Lui-ji menarik muka, omelnya.

"Huh, tidak perlu berlagak tua, kalau bukan ....."

Suara tertawa Siang Bok-kong memutus ucapan anak dara itu, katanya.

"Haha, apakah kau kira aku benar-benar telah terjebak oleh murid murtad ini?"

Kembali Lui-ji melenggong, tanyanya.

"Masa dalam hal inipun kau juga main sandiwara?"

"Betul,"

Tutur Siang Bok-kong.

"Sebab sebelumnya ku tahu murid murtad ini akan berbuat sesuatu khianat, tapi aku pun tahu dia pasti tidak berani begitu apabila tidak ada yang mendalanginya secara diam-diam."

"Oo, maka kau ingin menyelidiki sesungguhnya siapa dalang di belakang layar, begitukah?"

Tanya Lui-ji.

"Betul,"

Jawab siang bok-kong. Rupanya kau tahu biarpun d siksa juga Siang Ji-long takkan mengaku, maka kau sengaja pura-pura mati untuk menunggu munculnya orang itu, betul atau tidak?"

"Ya, tapi aku juga tidak menyangka bahwa orang di belakang layar itu ialah Hong-ho Lojin yang termasyhur sebagai seorang yang berbudi luhur."

Ujar Siang Bok-kong dengan gegetun. Tubuh Pwe-giok tergetar, teriaknya mendadak.

"jang ......"

Karena mendadak mendengar nama ayahnya dinista orang, dengan sendirinya ia berduka dan marah, ingin dia membantahnya, namun urusan ini terlalu pelik, terlalu majemuk dan teramat aneh, seumpama diuraikannya juga Siang Bok-kong takkan percaya, bahkan mungkin akan membikin urusan tambah runyam.

Untung Siang Bok-kong tidak memperhatikan perubahan sikap dan air mukanya itu, ia berkata pula.

"Murid murtad itu memang berhati keji, di dalam gagang belatinya tersimpan Thian-can-seng-cui (air suci ulat langit) yang sangat berbisa, satu tetes saja mengenai tubuh, ketika seluruh badan akan membusuk, tidak sampai setengah jam tulang pun akan rapuk dan hancur menjadi onggokan daging cacah."

Lui-ji menarik napas dingin, katanya.

"Jelas kulihat air berbisa itu menyemprot ke mukamu, kenapa kau tidak mati?"

"Murid durhaka ini pun tahu akan kelihaian air ini, maka dia yakin aku pasti mati, dia menjadi gembira dan lupa daratan, lalai sesuatu hal."

"Hal apa? tanya Lui-ji. Siang Bok-kong tidak menjawabnya, tapi tangannya terus mengusap muka sendiri, wajahnya yang semula tampak membusuk itu seketika berubah secara ajaib. Baru sekarang Pwe-giok dapat melihat wajah asli Thian-can-kaucu Siang Bok-kong. Terlihat wajahnya yang putih bersih, cerah dan simpatik, pada waktu mudanya dia pasti pemuda yang cakap. Tapi sekarang tiada tampak sifat aneh "si kakek cahaya perak"

Seperti apa yang dilihatnya di istana bawah tanah tinggalan Siau-hun kiongcu dahulu, juga tidak kurus kering dan jompo seperti waktu datang tadi.

Sungguh Pwe-giok tak mengerti mengapa orang ini suka menyamar dalam bentuk yang aneh-aneh, sampai muridnya sendiri juga tidak kenal wajah aslinya.

Cu Lui-ji melenggong sejenak, ucapnya kemudian dengan gegetun.

"Kiranya dia tidak tahu kau memakai topeng."

Siang Bok-kong tertawa, katanya.

"Topeng ini adalah hasil buatanku sendiri secara cermat, kedap air dan tidak mempan dibakar. Sebab itulah, meski air berbisa ini sangat lihay juga tidak dapat meresap ke balik topeng ini dan merusak wajahku."

Tiba-tiba Lui-ji tertawa dan bertanya.

"Wajahmu sebenarnya sangat bagus, mengapa kau memakai topeng bermuka buruk begitu?"

"Sebab setiap orang yang melihat wajah asliku, dia harus mati!"

Jengek Thian-can-kaucu Siang bok-kong.

Kalau kata-kata ini tercetus dari mulut orang lain mungkin tidak begitu menakutkan, tapi dalam keadaan dan suasana seperti sekarang ini, mau-tak-mau ucapan orang tua itu membuat Lui-ji bergidik, tanyanya dengan gemetar.

"Masa kau ......."

"Tapi kau jangan kuatir, ini pun bukan wajahku yang asli,"

Tukas Siang Bok-kong dengan tertawa. Keruan Lui-ji bertambah heran, mestinya ia ingin tanya sesungguhnya bagaimana wajah aslinya, tapi pertanyaan itu urung diucapkan. Ia cuma bertanya.

"Lalu cara bagaimana akan kau perlakukan kami?"

Gemerdep sinar mata Siang Bok-kong, katanya perlahan.

"Aku bukan orang yang berhati welas asih, terlalu banyak pula rahasia yang kalian ketahui, apapun juga tidak boleh kulepaskan kalian."

Cara bicaranya memang tidak cepat, sekarang kata-katanya itu semakin lambat, hal ini makin menambah rasa tegang Lui-ji, jantungnya serasa mau melompat keluar.

Bicara sampai di sini, mendadak Siang Bok-kong melototi Pwe-giok sekejap, lalu berucap pula dengan perlahan.

"Namun kau tidak mau mencelakai diriku tatkala aku sedang sekarat, maka sekarang aku pun takkan mencelakaimu pada waktu kalian tak berdaya. Mulai sekarang perhitungan kita sudah lunas, tidak ada utang piutang lagi, entahlah kelak bila bertemu lagi, entah kawan entah lawan, sukar kukatakan!"

Oh-lolo bergirang, timbrungnya.

"Siang Kaucu memang tidak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati yang tegas membedakan budi dan benci."

Mendadak Siang Bok-kong mendelik dan menyemprotnya.

"Lebih baik kau tutup mulut saja, kalau tidak mengingat bocah she Ji ini, umpama tidak kubunuh kau, sedikitnya akan kupotong kedua tanganmu."

Seketika Oh-lolo kep-klakep dan tidak berani bersuara lagi.

Dilihatnya Ji Pwe-giok seperti mau omong apa-apa lagi, kuatir anak muda itu bicara lagi halhal yang tidak perlu dan mendadak Siang Bok-kong berubah pikiran, cepat Oh-lolo berkata.

"Marilah kita lekas berangkat, bila terlambat tak berani ku jamin akan keselamatan nona cilik ini." ***** Kereta yang membawa mereka ke sini itu masih berada di luar gua, kuda-kuda itu sudah terlatih meski lari terkejut, tetapi tidak jauh larinya, maka dengan mudah dapatlah kawanan kuda itu dikumpulkan kembali. Meski belum pernah mengendarai kereta, tapi setelah dicoba sebentar, dapatlah Pwe-giok sekedar menjadi kusir pocokan, ia ayun cambuk dan mempercepat lari kuda, rasa sedih bertumpuk-tumpuk di dalam hati. Mendadak didengarnya Lui-ji menegurnya.

"Sicek, ap .... apa yang kau pikirkan?"

Rupanya dari kabin kereta itu ada sebuah jendela kecil yang menembus ke bagian tempat duduk kusir di depan, maka jendela itu lantas digunakannya untuk berbicara dengan Pwegiok.

"Aku sedang berpikir ..."

Tutur Pwe-giok sambil menghela naps.

"Thian-can-kaucu ternyata seorang yang demikian, hal ini sungguh sangat di luar dugaanku. Tampaknya selanjutnya dia pasti takkan melepaskan orang ..... orang she Ji itu."

"Perbuatan orang she Ji itu pun terlampau keji,"

Kata Lui-ji "kukira Siang Bok-kong juga tak dapat berbuat apa-apa terhadapnya, sebab surat itu tidak diberi nama terang pengirimnya, bisa jadi bukan ditulis oleh orang she Ji itu, sekalipun Siang Bok-kong memperlihatkan bukti surat itu kan dapat disangkalnya dengan tegas, betul tidak ?

"Biarpun begitu, kalau Siang Bok-kong sudah bertekad akan memusuhi dia, tentu dia akan banyak menghadapi kesulitan,"

Ujar Pwe-giok.

"Orang she Ji itu menghendaki Siang Ji-long mengunjunginya dalam sepuluh hari, sekarang Siang Ji-long jelas tak dapat memenuhi undangan itu, apakah kau pikir siang Bok-kong akan menggunakan kesempatan itu untuk mencari perkara padanya?"

"Bukan mustahil,"

Jawab Pwe-giok.

"Kupikir dia pasti akan pergi ke sana,"

Kata Lui-ji.

"Meski dalam surat itu tidak disebutkan nama tempatnya, kalau siang Ji-long tahu, pasti Siang Bok-kong dapat memaksanya mengaku."

"Ya, memang betul."

Kata Pwe-giok. Mendadak Lui-ji menghela napas, katanya.

"Sicek, seharusnya kau tanya lagi beberapa hal kepada Siang Bok-kong, tentang urusan ... urusanku, biarpun lewat lagi satu-dua jam juga tidak menjadi soal"

"Ya, memang betul,"

Kata Pwe-giok. Pwe-giok tertawa hambar, ucapnya.

"Sebenarnya tiada persoalan yang perlu kutanyai dia."

Gemerdep sinar mata Lui-ji, katanya.

"Masa Sicek tidak ingin tanya tempat pertemuan yang dijanjikan Ji hong-ho dengan Siang Ji-long itu ?"

Pwe-giok berpikir agak lama, lalu menjawab sekata demi sekata.

"Tidak, aku tidak ingin tanya."

"Sebab apa?"

Lui-ji menegas. Tapi sama sekali Pwe-giok tidak menjawabnya.

"Biarpun Sicek tidak menjawab juga ku tahu sebabnya,"

Lui-ji dengan rawan.

"sebab Sicek kuatir bilamana tempat pertemuan diketahui, tentu Sicek akan pergi ke sana, padahal Sicek perlu menolong diriku, terpaksa menyampingkan urusan lain."

Tiba-tiba Pwe-giok tertawa, katanya.

"Maukah kau berbuat sesuatu bagiku?"

"Tentu saja mau,"

Seru Lui-ji dengan terbelalak.

"Jika begitu, hendaknya lekas kau tidur saja."

Kata Pwe-giok.

***** Kereta itu dilarikan terlebih cepat, berulang Oh-lolo memberi petunjuk arahnya dari kabin kereta, tapi sejauh itu tidak mau menjelaskan nama tempat tujuan mereka.

Rupanya ia kuatir bilamana tempat tujuan sudah diketahui Pwe-giok, bisa jadi dia akan ditinggal di tengah jalan.

Terhadap nenek yang licin dan licik dan juga banyak curiga ini, Pwe-giok benar-benar tidak berdaya.

Hari sudah gelap, tapi kereta itu masih terus dilarikan sepanjang malam, entah sudah berapa jauhnya perjalanan itu, tanpa kenal lelah Pwe-giok terus mengendarai kereta kuda itu, sebab ia tahu sisa waktunya sudah tidak banyak lagi.

Sampai esok paginya sudah genap tiga hari sedangkan jalan yang harus ditempuhnya entah masih berapa jauhnya.

Meski sangat lelah, terpaksa Pwe-giok bertahan sekuatnya.

Mereka hanya membeli makanan sekadarnya ketika lalu di suatu kota kecil, Lui-ji membeli satu keranjang jeruk, sepanjang jalan ia mengupas jeruk dan diberikan kepada Pwe-giok.

Anak dara itu kelihatan tidak tentram, dia tidak sedih karena keselamatannya sendiri, tapi seperti ada sesuatu rahasia yang tersimpan dalam lubuk hatinya, beberapa kali tampaknya ia hendak bicara, tapi ditahan sebisanya.

Sesungguhnya rahasia apa yang tersembunyi di dalam hati nona cilik itu?

Terhadap anak dara yang pintar dan juga pengasih itu, Pwe-giok benar-benar tak berdaya apa pun.

Petangnya, sampailah mereka di suatu kota yang tidak terlalu kecil.

Penduduk kota ini tentunya bukan orang udik, tapi ketika melihat munculnya sebuah kereta kuda yang dilarikan secepat ini, mau-tak-mau semua orang sama berpaling.

Orang berlalu lalang di jalan raya cukup ramai, terpaksa lari kereta dilambatkan.

Di kedua tepi jalan terdapat beraneka macam toko, tapi secara keseluruhan, rumah minum dan restoran terhitung paling banyak.

Rupanya penduduk kota ini pun serupa penduduk di tempat lain, terhadap urusan lain boleh dikesampingkan, tapi terhadap perut sendiri harus diperlakukan dengan istimewa.

Saat itu belum waktunya orang makan malam, tapi di rumah makan sudah ramai terdengar bendo mencacah daging, bau arak dan bau sedap masakan menimbulkan selera makan.

"He, berhenti, berhenti!"

Seru Oh-lolo mendadak. Pwe-giok terkejut dan cepat menarik tali kendali, sebab tidak tahu apa yang terjadi, ia menoleh dan bertanya.

"Ada apa?"

"Sudah dua-tiga hari yang dimakan hanya jajanan belaka, mumpung sekarang ada santapan lezat, kita harus makan minum sepuasnya untuk memuaskan selera yang kutahan sekian lama,"

Kata Oh-lolo.

"Kau ingin masuk restoran?"

Pwe-giok menegas.

"Betul,"

Jawab Oh-lolo dengan tertawa.

"Baru saja ku cium bau sate kambing, tampaknya restoran masakan khas utara yang bernama Ti-bi-lau itu lumayan juga."

Pwe-giok hampir tidak percaya kepada telinga sendiri.

Demi menempuh perjalanan dan memburu waktu, sudah dua-tiga hari dia tidak bisa tidur dan tidak istirahat, tapi sekarang nenek celaka ini justeru ingin masuk restoran untuk makan enak dan minum arak.

Kalau orang lain, bukan mustahil nenek itu akan diberi suatu gamparan keras, paling sedikit juga akan berjingkrak dan mencaci-maki.

Akan tetapi Pwe-giok memang pemuda yang sabar, ia cuma diam sejenak, lalu berucap dengan tak acuh.

"Baiklah, mari kita ke sana."

Lui-ji melenggong, serunya.

"He, kau terima permintaannya?"

Pwe-giok mengiakan. Oh-lolo tertawa, katanya.

"Jangan kau kira bocah ini hanya menurut saja setiap kehendakku, padahal ia cukup maklum persoalannya, ia tahu biarpun berbantah denganku juga tiada gunanya, toh akhirnya tetap harus memenuhi permintaanku." ***** Masakan restoran Ti-bi-lau memang harus dipuji. Selain daging kambing panggang atau sate kambing, bebek panggangnya juga empuk dan lezat. Lui-ji merasa heran ketika melihat Ohlolo melalap sepotong kulit bebek panggang, dimakan dengan saus manis dan acar, ia tanya.

"Kenapa kau tidak makan dagingnya?"

Hampir saja makanan di dalam mulut Oh-lolo tersembur keluar, ia tertawa dan menjawab.

"Budak bodoh, makan bebek panggang harus makan kulitnya, hanya orang tolol yang berebut makan dagingnya."

"Masa?"

Kata Lui-ji dengan ragu.

"Ya, masa belum pernah kau makan bebek panggang?"

Tanya Oh-lolo. Lui-ji terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan hambar.

"Apanya yang aneh kalau tidak pernah makan bebek panggang? Bubur asin masakanku juga belum pernah kau rasakan!"

Oh-lolo terpingkal-pingkal saking gelinya.

Sedangkan Pwe-giok merasa terharu.

Anak dara yang bersifat keras ini ternyata tidak pernah makan bebek panggang yang sangat umum ini, padahal di dunia ini masih banyak santapan enak lain yang tentu saja belum pernah dilihatnya.

Nyata dia belum lagi merasakan kesenangan orang hidup, tapi kesengsaraan orang hidup sudah terlalu banyak dirasakannya.

Karena rasa haru dan duka itu sehingga Pwe-giok tidak melihat ada seorang yang baru saja naik ke loteng restoran itu, tapi mendadak mundur lagi ke bawah, hanya setengah kepalanya saja menongol di ujung tangga untuk mengintip.

Setelah memandang sejenak, lalu orang itu berlari pergi secepat terbang.

Tidak lama kemudian, di tengah remang senja itu mendadak ada selarik sinar api hijau menjulang tinggi ke udara.

***** Malamnya, udara ternyata jauh lebih terang daripada waktu senja, sebab kini bulan sudah menghias di tengah cakrawala.

Sinar bulan di musim rontok biasanya memang lebih cemerlang.

Jalan raya yang rata membentang panjang itu seperti berlapiskan perak.

Pada waktu mereka makan, Pwe-giok telah minta pegawai restoran agar berusaha mencarikan ganti dua ekor kuda.

Kuda baru sudah tentu tidak segagah kuda semula, tapi kuda yang gagah bagaimana pun kalau sudah berlari terus menerus dua tiga hari tentu juga hampir roboh terkulai.

Sebaliknya kuda baru dengan tenaga baru tentu masih dapat berjalan cepat.

Begitulah Pwe-giok terus mengendarai keretanya dan dilarikan lebih cepat, ia pikir waktu makan yang terbuang itu harus dikejar kembali.

Sementara itu sudah larut malam, jalan raya tidak nampak orang maupun kereta berlalu lalang.

Oh-lolo meraba perutnya yang terisi penuh itu, katanya dengan tertawa.

"Jangan gelisah, jangan tergesa-gesa, kalau kubilang masih keburu tentunya tidak perlu kau kuatir."

"Apakah tempat tinggalmu sudah dekat?"

Tanya Lui-ji.

"Ya, tidak jauh lagi"

Jawab Oh-lolo.

"Masih ada siapa lagi di rumahmu?"

Tanya Lui-ji pula.

"Sudah tentu masih ada sanak keluargaku, tidak banyak, juga tidak sedikit...."

Tapi nenek itu tidak menjelaskan lagi.

Lui-ji ingin bertanya pula, tapi segera terpikir olehnya umpama mau bicara tentu juga jangan harap akan dapat memancing keterangan dari rase tua yang licin ini.

Mendadak terdengar suara "serrrr"

Bergema di udara.

Dari tempat kegelapan di tepi jalan kembali ada selarik sinar api biru menjulang tinggi ke angkasa.

Oh-lolo tidak dapat melihat, tapi dapat didengarnya, sambil berkerut kening ia bertanya.

"Suara apakah itu?"

"Tidak ada apa-apa"

Jawab Pwe-giok, walaupun demikian ucapnya, di dalam hati iapun rada curiga.

Panah berapi yang biasanya digunakan sebagai tanda bahaya itu tentunya takkan dilepaskan tanpa sebab musabab.

Sekarang panah berapi itu dilepaskan ketika kereta mereka lewat, jelas yang dituju adalah mereka.

Lantas siapakah gerangannya?

Apakah Ji Hong-ho telah dapat mengetahui pula jejak mereka?

Makin cepat Pwe-giok melarikan kudanya, tangan yang memegang tali kendalipun berkeringat dingin.

Pada saat itulah, mendadak ada bayangan orang berkelebat di depan, seperti mau menghadang jalan mereka.

Pwe-giok menggreget, dengan nekat ia cambuk kudanya dan menerjang terus ke depan.

Orang-orang itu tidak bersuara menyuruh berhenti, tapi berbaris di tengah jalan sehingga kereta itu tampak akan menubruk mereka.

Tubrukan keras begitu sungguh luar biasa, sekalipun orang-orang itu adalah jago silat kelas tinggi, betapapun badan mereka juga terdiri dari darah daging, mana sanggup tahan diterjang sedahsyat itu oleh kereta yang dilarikan sedemikian cepatnya.

"Minggir! Kalau tidak..."

Bentak Pwe-giok sambil ayun cambuknya.

Tapi belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dari tepi jalan melayang tiba dua batang tombak dan tepat menyelonong masuk ke tengah ruji roda kereta, maka terdengarlah serentetan suara "krek-krek"

Yang keras, ruji kereta sama patah, tapi roda juga lantas terkunci oleh batang tombak sehingga tidak dapat menggelinding lagi.

Namun lari kuda tadi terlalu cepat sehingga kereta masih terseret maju cukup jauh.

Suara roda kereta yang menggosok tanah itu menimbulkan suara gemericit laksana jeritan binatang buas yang sedang sekarat.

Dahi Pwe-giok penuh air keringat dan sebagian sudah membasahi matanya, tapi dia masih terus berusaha melarikan kudanya, namun karena roda kereta sudah terkunci sehingga seperti direm tentu saja kereta tak dapat bergerak lagi.

Segera terdengar seorang membentak dengan bengis.

"Hm, ikan di dalam jaring masa ingin lari lagi?"

Di tengah suara bentakan itu, seorang lelaki berbaju hitam lantas tampil ke muka dan tepat menghadang di depan kereta, tatkala mana lari kuda sudah berkurang karena roda kereta tak dapat berputar, tapi kalau sampai tertumbuk, sedikitnya akan mencelat dan menggeletak.

Namun lelaki itu tak gentar sedikitpun, kedua matanya mencorong terang dan melototi kepala kuda dengan gusar, mendadak kedua kepalan menghantam sekaligus, terdengar suara "prakprek"

Dua kali kereta pun tergetar.

Belum sempat kedua ekor kuda itu meringkik, tahu-tahu sudah roboh terkulai, kepala kuda hancur memar terkena hantaman lelaki itu.

Pwe-giok sendiri bertenaga raksasa pembawaan, tapi tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini benar-benar ada orang yang mampu membinasakan kuda yang sedang lari.

Seketika ia tercengang.

Di dalam kereta Oh-lolo dan Cu Lui-ji tidak tahu apa yang terjadi di luar, mereka cuma merasa kereta itu bergetar keras, lalu berhenti sama sekali.

"Ji-kongcu ini sungguh banyak aral rintangannya, tidak sedikit orang yang selalu mencari perkara padanya,"

Ujar Oh-lolo dengan menghela nafas.

Lui-ji menggigit bibir, ia membuka pintu kereta dan melompat keluar, tanpa memandang orang yang menghadang di depan sana, ia menengadah dan tanya Pwe-giok yang nongkrong di atas "Sicek, apakah kau kenal orang-orang ini?"

"Tidak."

Jawab Pwe-giok. Lui-ji berkedip-kedip, katanya pula "Apakah mereka bukan anak buah orang itu (maksudnya Ji Hong-ho)?"

"Tampaknya bukan,"

Ujar Pwe-giok. Lui-ji juga rada tercengang, katanya pula.

"Kalau begitu, jangan-jangan mereka adalah kaum bandit?"

"Juga bukan,"

Jawab Pwe-giok.

Baru sekarang Lui-ji berpaling, memandang orang berbaju hitam itu.

Di bawah sinar bulan, terlihatlah perawakannya yang ramping, tinggi semampai, berwajah hitam mengkilat, kedua matanya yang besar jeli itu juga sedang memandangi Lui-ji dengan rada terkesiap juga, agaknya orang itupun tidak menduga bahwa dari dalam kereta akan keluar seorang nona cilik secantik ini.

Segera Lui-ji menjengek.

"Hm, tampaknya kau masih muda, kenapa tidak belajar yang baik, masih banyak pekerjaan halal, kenapa sengaja menjadi bandit yang membegal dan merampok?"

Pemuda baju hitam itu berkerut kening, ia tidak menanggapi teguran Lui-ji, tapi berpaling dan tanya orang-orangnya.

"Apakah kalian tidak keliru?"

Salah seorang berseragam hitam dibelakangnya cepat menjawab.

"Tidak, tidak mungkin keliru, kulihat dengan mata kepalaku sendiri."

Sinar mata pemuda baju hitam yang mencorong itu segera beralih pula kearah Lui-ji, tanyanya dengan bengis.

"Kau she Oh?"

"Kau sendiri she Oh, namamu Oh-soat-pat-to (ngaco-belo),"

Jawab Lui-ji. Kembali pemuda baju hitam mengernyitkan kening, ia berpaling dan tanya Pwe-giok.

"Kau lebih tua, kenapa kau tidak bicara?"

Pwe-giok tertawa hambar, jawabnya.

"Tengah malam buta begini kalian merintangi perjalanan orang lain, membinasakan kuda orang, tidak tanya dulu juga tidak menjelaskan alasanmu, lalu apa yang perlu kubicarakan?"

"Betul,"

Tukas Lui-ji.

"jangan kaukira karena tenagamu besar, lalu kau akan berlagak kereng didepan Sicekku. Orang semacam kau ini, sekali hantam saja Sicek akan membikin kau mencelat lima tombak jauhnya."

Sekonyong-konyong pemuda baju hitam menengadah dan bergelak tertawa, katanya.

"Nona cilik, besar amat nyalimu, dikolong langit ini, kecuali kau mungkin tiada orang kedua yang berani bicara padaku seperti ini."

"Oo, jika demikian, agaknya kau ini bukan sembarangan orang,"

Ujar Lui-ji.

"Boleh kau tanya Oh-lolo yang sembunyi didalam kereta itu, saat ini dia pasti sudah tahu siapa diriku,"

Kata pemuda baju hitam.

"Apakah kedatangan kalian ditujukan kepada Oh-lolo?"

Tanya Pwe-giok. Pemuda baju hitam berhenti tertawa mendadak dan menjawab dengan kereng.

"Betul, dan ada hubungan apa antara kau dan dia?"

Pwe-giok menghela napas, katanya.

"Cayhe tidak ada hubungan apa apa dengan Oh-lolo, kalian hendak mencari dia, sebenarnya Cayhe tidak boleh ikut campur, tapi sekarang ....."

"Dan sekarang kau pasti akan ikut campur, begitu?"

Pemuda baju hitam menegas dengan bengis. Pwe-giok tidak menjawab, ia termenung sejenak, lalu bertanya pula.

"Entah kalian ada permusuhan apa dengan dia?"

Tiba-tiba pemuda baju hitam bergelak tertawa pula, serunya.

"Kau tanya ada permusuhan apa antara kami dengan dia? Haha, bagus!" -Mendadak ia berpaling ke belakang dan bertanya.

"Ong-jiko, coba katakan, ada permusuhan apa antara kau dengan Oh-lolo?"

Dengan suara parau seorang berseragam hitam yang berdiri di ujung sana berkata.

"Segenap keluargaku yang terdiri dari 19 jiwa, seluruhnya mati di tangannya, istriku berlutut di depannya dan memohon dengan sangat agar dia suka mengampuni ibuku yang sudah berusia lebih 70 tahun itu, tapi dia ... dia tidak ...."

Sampai di sini ia tidak sanggup meneruskan lagi karena air mata telah bercucuran.

"Dan kau, Tio-toako, ada permusuhan apa antara kau dan Oh-lolo?"

Kembali pemuda baju hitam berseru.

Dengan suara gemetar Tio-toako yang disebut itu lantas menutur "Meski bukan ibuku tapi ....

tapi kelima anakku, yang paling ...

paling kecil baru berumur satu tahun, hanya disebabkan mendiang ayahku pernah berbuat salah padanya, lalu dia ....dia membunuh anak-istriku tanpa sisa seorang pun."

"Dan kau bagaimana, Sun-heng?"

Tanya pula si pemuda baju hitam.

Orang she Sun itu tidak segera menjawab, tapi dengan sisa sebelah tangannya dia menarik baju sendiri hingga robek, tertampaklah sekujur badannya hitam hangus, kulit daging sukar dibedakan lagi.

Dengan suara kereng pemuda baju hitam tadi lantas berteriak.

"Nah, sudah kau lihat bukan? Sun-heng ini dahulu pernah bersalah kepada seorang anggota keluarganya, lalu dia mengikat Sun-heng pada sebuah pilar dan memanggangnya selama tiga jam"

Pwe-giok tidak tega lagi melihat dan mendengar, ia menghela napas panjang, katanya.

"Sudahlah kalian tidak perlu omong lagi, Cayhe sudah paham."

"Untuk menuntut balas padanya, orang-orang ini telah mengorbankan jiwa enam orang dan akhirnya dapat menemukan sarangnya, mereka bersembunyi disekitar daerah ini, sudah lebih setahun mereka menunggu, dan baru sekarang orangnya diketemukan,"

Tutur pemuda itu.

"Nah, coba kau pikir, apakah lantaran kau akan ikut campur urusan ini, lalu orang-orang ini akan mundur dan melepaskan nenek celaka itu?"

Pwe-giok jadi melenggong dan tidak sanggup bicara lagi.

Bicara sejujurnya, betapapun dia tidak pantas ikut campur urusan ini.

Apalagi saat ini tenaganya juga belum pulih, umpama ingin ikut campur juga bukan tandingan pemuda baju hitam ini.

Tapi kalau dia membiarkan orang-orang ini menuntut balas dan membunuh Ohlolo, akibatnya Lui-ji akan ikut menjadi korban, sebab obat penawar racunnya tentu sukar diperoleh lagi.

Ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Didengarnya pemuda baju hitam berkata pula.

"Ku bicara sebanyak ini padamu, bukan disebabkan ku takut kau akan ikut campur urusan ini, soalnya kulihat kalian adalah orang yang baik-baik dan tentunya bukan manusia yang tidak tahu aturan".

"Tapi kalau Cayhe pasti akan ikut campur, lalu bagaimana?"

Jawab Pwe-giok kemudian sambil menghela napas menyesal. Dengan angkuh pemuda baju hitam menjawab "Asalkan kau mampu mengalahkan aku dengan sekali pukul atau setengah tendangan, akan kulepaskan dia!"

"Baik, aku setuju!"

Jawab Pwe-giok, serentak ia terus bergerak hendak menubruk maju.

"Nanti dulu"

Tiba-tiba Lui-ji berteriak.

"Ingin ku bicara dulu dengan Sicek!"

"Ku tahu apa yang hendak kau katakan,"

Ujar Pwe-giok dengan rawan.

"Kukira tidak.....tidak perlu kau omong lagi!"

Tapi Lui-ji lantas menarik tangannya dan berkata.

"Tidak, harus ku bicara padamu, Sicek, maukah kau kemari sebentar!"

Pwe-giok memandang Lui-ji dan pemuda baju hitam sekejap, katanya.

"Kau......"

"Jangan kuatir,"

Jengek pemuda itu.

"Jika sudah kusanggupi kau, sebelum diketahui kalah atau menang antara kita, tidak nanti kuganggu seujung jari Oh-lolo."

Lui-ji lantas menarik Pwe-giok ke samping, katanya.

"Sicek, untuk apa kau meng....mengadu jiwa bagi Oh-lolo?"

Pwe-giok diam saja tanpa menjawab.

"Ku tahu tindakan Sicek ini adalah demi diriku,"

Kata Lui-ji pula.

"Tapi orang ini jelas bukan orang yang ngawur, kenapa Sicek tidak bicara baik-baik dengan dia dan suruh dia menunggu satu hari."

Pwe-giok menghela napas, katanya.

"Apabila Oh-lolo tahu sehari lagi dia tetap akan mati, mana dia mau melepaskan dirimu. Apalagi orang-orang itupun belum tentu mau percaya kepada keterangan kita, mana mereka mau melepaskan harimau kembali ke gunung membiarkan Oh-lolo pulang dulu ke rumah?"

Lui-ji melenggong, ucapnya kemudian sambil menunduk.

"Cara berpikir Sicek kukira terlalu jelimet, tapi aku....."

"Sudahlah, jangan kau bicara lagi, sekali ku kehendaki Oh-lolo menolong kau, maka dia harus ku tolong lebih dulu, diantara kedua hal ini tiada pilihan lain, tiada gunanya kau omong lagi."

"Akan tetapi Sicek sendiri....."

"Tidak perlu kau kuatir diriku,"

Kata Pwe-giok dengan tertawa.

"betapapun kuat kepalan pemuda baju hitam itu juga belum tentu mampu mengalahkan aku, sekarang kurasakan tenagaku sudah pulih sebagian besar."

Pelahan ia lantas melepaskan pegangan Lui-ji dan menuju ke sana dengan langkah lebar.

Memandangi bayangan punggung Pwe-giok, majemuk benar perasaan Lui-ji, ya girang, ya sedih, ya terharu, ya sesal, ya gelisah, ya kuatir.

Ia tahu bilamana Ji Pwe-giok sudah bertekad akan bertindak sesuatu, maka siapapun tidak mampu menghalanginya.

Kini dia hanya berharap semoga Pwe-giok akan menangkan pertandingan itu.

Tapi pemuda baju hitam yang angkuh itu tampaknya juga yakin pasti akan menang, jelas dia memiliki kungfu maha tinggi dan asal usul yang mengejutkan orang.

Dapatkah Pwe-giok mengalahkan dia?

Lui-ji menunduk sedih, tanpa terasa air matanya bercucuran pula.

Sejak tadi pemuda baju hitam selalu menatap Pwe-giok, mengawasi sikapnya waktu bicara, mengamati gerak-geriknya.

Ketika Pwe-giok mendekatinya, segera ia tanya.

"Kau akan mulai?"

"Ya boleh kita mulai sekarang"

Jawab Pwe-giok tegas.

Jilid 4________ Melihat tekad Ji Pwe-giok, pemuda baju hitam itupun menghela napas, ucapnya.

"Sayang, sungguh sayang!"

Sejak tadi Pwe-giok juga memperhatikannya, dilihatnya usia orang ini masih muda, tapi berdirinya setegak gunung Thay yang kukuh, tampaknya bahkan lebih mantap daripada Lo cinjin.

Dia hanya berdiri begitu saja, tanpa pasang kuda-kuda, namun seluruh badannya seolah-olah terjaga rapat, sedikitpun tiada peluang yang dapat diserang musuh.

Diam-diam Pwe-giok mengerahkan tenaga, ia merasa jalan darahnya sudah lancar, tidak ada lagi rasa kaku, ia tahu khasiat obat bius sudah punah.

Akan tetapi setelah bekerja keras tiga hari tiga malam tanpa istirahat dan tidur, betapapun badan terasa pegal dan linu.

Dalam keadaan demikian sebenarnya bukan waktunya untuk berkelahi dengan orang, tapi musuh sudah berada di depan, terpaksa Pwe-giok membangkitkan semangat, ucapnya sambil memberi hormat.

"Silahkan!"

"Awas, sekali turun tangan biasanya aku tidak kenal ampun, kau harus hati-hati,"

Kata pemuda baju hitam dengan suara kereng.

Di tengah bentakan, langkah kedua orang saling bergeser, dalam sekejap keduanya samasama menyerang tiga kali.

Begitu menyerang segera keduanya sama menarik kembali serangannya, nyata mereka sama hendak menguji kekuatan lawan.

Memang beginilah sikap prihatin pada waktu bertempur antara tokoh terkemuka.

Baru sekarang Pwe-giok tahu pemuda angkuh ini tidaklah meremehkan dia.

Meski sejak mula Pwe-giok sudah merasakan orang pasti bukan lawan empuk, akan tetapi ia sendiri pun cukup bergaya dan berwibawa, kukuh laksana gunung.

Meski kedua orang ini sama-sama masih muda, tapi sekali bergebrak jelas kelihatan luar biasa, lamat-lamat sudah menyerupai gaya seorang pemimpin besar suatu aliran.

Dalam pada itu di sekeliling kereta tadi kecuali beberapa orang berseragam hitam, mendadak dari tempat gelap melompat keluar pula belasan orang sehingga mereka terkepung di tengah.

Sorot mata orang-orang ini menampilkan rasa cemas dan benci, namun sikap mereka tidak tegang, jelas mereka cukup yakin akan kemampuan si pemuda baju hitam.

Semuanya percaya betapa hebat lawannya akhirnya si pemuda baju hitam pasti akan menang.

Hanya sekejap saja kedua orang sudah saling labrak belasan jurus, namun tiada sesuatu jurus serangan yang istimewa.

Lebih-lebih si pemuda baju hitam, meski tenaganya kuat dan serangannya mantap, tapi jurus serangannya sangat umum.

Namun jurus-jurus serangannya yang umum itu justeru tidak sama dengan ilmu silat golongan manapun di dunia ini.

Biasanya ilmu silat dari suatu aliran tersendiri tentu ada jurus serangan istimewa yang diandalkannya, akan tetapi kungfu pemuda ini justeru begitu-begitu saja, tidak sedahsyat ilmu pukulan Siau-lim-pay, juga tidak selincah kungfu Bu-tong-pay.

Jadi tidak ada sesuatu yang aneh, malahan sepintas pandang seperti tidak ada gunanya sama sekali.

Diam-diam Lui-ji juga heran, belum pernah dilihatnya seorang yang bertenaga dalam sehebat ini justeru menggunakan jurus serangan tak becus begini.

Tanpa terasa ia bergembira.

Ia pikir kalau pemuda ini bukan belajar kepada guru yang bodoh seperti kerbau, tentunya dia berlatih sendiri secara ngawur, maka hasilnya juga kungfu kampungan seperti cakar kucing.

Ia pun heran mengapa Ji Pwe-giok tidak mengeluarkan Kungfu lihai seperti apa yang digunakan untuk menghadapi Lo-cinjin itu.

Padahal bertarung dengan lawan bodoh seperti pemuda baju hitam ini cukup dua-tiga jurus saja tentu Pwe-giok dapat merobohkannya, adalah kejadian aneh bila lawan dapat menangkis atau menghindar.

Saking tidak sabar, hampir saja Lui-ji berteriak.

"Orang sudah menyatakan tak kenal ampun padamu, mengapa Sicek sungkan padanya, memangnya kau hanya main-main saja dengan dia?"

Ia tidak tahu bahwa saat itu sama sekali Pwe-giok tidak bermaksud main-main, bahkan serba susah, malahan hampir saja dia menyerah kalah.

Kungfu pemuda baju hitam itu tampaknya bergaya kampungan, bodoh seperti kerbau, tapi bagi pandangan Pwe-giok, kungfu lawan justeru tiada tandingannya di dunia ini.

Hanya dia saja yang tahu betapa lihainya jurus serangan lawan.

Hal ini seperti halnya orang main catur, setiap langkah seorang master catur mungkin dianggap jamak oleh orang awam, tapi setelah pihak lain bergilir melangkah barulah dirasakan langkah lawan itu ternyata sangat hebat, hanya satu langkah itu saja telah membikin buntu semua jalannya sehingga sukar berkutik.

Pwe-giok sendiri tidak menyangka jurus serangan lawan yang kelihatan biasa itu bisa menimbulkan daya tekanan sekuat itu.

Melawan jurus serangan demikian, segala jurus serangan aliran dan golongan lain di dunia ini menjadi tidak ada nilainya lagi.

Sungguh ia tidak tahu apakah di dunia ini ada orang lain yang mampu mematahkan jurus serangan pemuda baju hitam ini?

Dalam pertempuran, bilamana setiap gerakannya telah tertutup buntu oleh lawan, maka baginya tidak ada jalan lain kecuali mandah disembelih orang saja.

Pantas pemuda baju hitam itu yakin pasti menang, sebab dia memang tidak mungkin terkalahkan.

Tiba-tiba pemuda baju hitam itu berkata.

"Apabila kau mendapat petunjuk guru pandai, kau memang bibit pilihan yang dapat dipupuk, cuma sayang guru yang kau temukan kebanyakan cuma tukang gegares belaka!"

Hati Pwe-giok menjadi panas, serunya dengan mendongkol.

"Kukira belum tentu tukang gegares semuanya!"

"Memangnya kau masih mempunyai jurus simpanan yang belum pernah kau keluarkan?"

Ejek pemuda baju hitam.

Darah Pwe-giok menjadi mendidih, ejekan lawan telah mendorongnya mengeluarkan segenap tenaga yang masih tersisa padanya.

Sebenarnya dia merasa lemas, kepala juga terasa pening, hakekatnya tidak tahu jurus serangan bagus apa yang harus digunakannya, malahan ia pun malas untuk memikirkannya.

Tapi kata-kata pemuda baju hitam itu telah menyinggung perasaannya, timbul sifatnya yang tidak mau tunduk biarpun mati sekalipun, bergolak darah keangkuhannya dan membangkitkan semangatnya yang gagah berani, maju terus pantang mundur.

Kini darah yang bergolak telah menyadarkan benaknya yang pening tadi, mendadak ia setengah berputar, kedua tangan menyerang bergantian.

Serangan berantai ini sambung menyambung, sekilas pandang kedua tangan seperti lagi membuat lingkaran demi lingkaran, tanpa putus dan tanpa berhenti.

Agaknya pemuda baju hitam itu pun menyangka perubahan serangan Pwe-giok itu, cepat ia menyurut mundur, ia tidak balas menyerang lagi, melainkan terbelalak mengikuti setiap jurus serangan Pwe-giok.

Bahwa pemuda baju hitam itu tidak menyerang lagi, sekarang Lui-ji malah dapat melihat kelihayannya.

Tangannya tidak bergerak, bahunya tidak bergoyang, tidak menangkis dan juga tidak balas menyerang.

Tapi betapa Pwe-giok berganti jurus serangan tetap tak dapat menyenggol seujung bajunya.

Jurus serangan Pwe-giok masih terus memburu laksana air raksa tertumpah, setiap lubang dimasukinya.

Tapi pemuda baju hitam itu tetap tenang-tenang saja, dia hanya menggeser dengan enteng saja dan entah cara bagaimana, tahu-tahu ia sudah meluncur ke bagian luang serangan Pwe-giok itu.

Jelas-jelas Lui-ji menyaksikan serangan Pwe-giok kacek beberapa senti saja pasti dapat mengenai sasarannya, tapi entah mengapa, tenaga Pwe-giok seolah-olah hanya sampai di situ saja dan sukar ditambah lagi sehingga sukar bergerak lebih jauh.

Setelah mengikuti sejenak pula pertarungan mereka itu, akhirnya tangan Lui-ji berkeringat dingin, diam-diam ia terkejut.

"Tak tersangka orang yang kelihatannya bodoh dalam gerakan dan lambat serangan ini, kakinya selincah ini?"

Ia tidak tahu bahwa pondasi ilmu silat justeru terletak pada kedua kaki, betapa lihaynya sesuatu serangan, bilamana tidak disertai langkah kaki yang kuat dan tepat, maka percumalah serangannya bahkan untuk bertahan juga memerlukan langkah kaki yang kuat.

Dan langkah kaki pemuda baju hitam ini justeru tiada bandingannya, langkah kaki yang khas.

Dalam sekejap saja Pwe-giok sudah menyerang belasan jurus.

Mendadak terdengar pemuda baju hitam itu membentak.

"Berhenti!"

Begitu terdengar suaranya, mendadak tubuhnya melayang ke atas, sekali loncat setinggi empat tombak.

Dalam keadaan demikian, sekalipun Pwe-giok tidak mau berhenti terpaksa juga harus berhenti.

Dari bawah memandang ke atas, tubuh pemuda baju hitam itu seolah-olah berhenti mengapung di udara dan tak bergerak lagi.

Ginkang sehebat ini, sungguh belum pernah dilihat Lui-ji selama ini.

Terdengar pemuda itu bertanya dengan suara kereng.

"Apakah kau anggota keluarga Hong dari Kanglam?"

Sebelum Pwe-giok bersuara, cepat Lui-ji mendahului.

"Apakah kau kenal sacekku?"

Belum habis ucapannya si pemuda baju hitam sudah hinggap di depannya, matanya yang terbelalak itu menampilkan rasa kejut dan heran, tanyanya.

"Apakah Hong sam adalah Sacekmu?"

"Hm, jika kau tahu nama beliau, kenapa bicaramu sekasar ini?"

Dengus Lui-ji. Pemuda baju hitam memandang Pwe-giok sekejap, lalu berkata.

"Kau panggil dia sicek, jangan-jangan dia ....."

"Sicek dengan sendirinya adalah saudara sacek,"

Tukas Lui-ji.

"Masa kau ini adiknya Hong sam?"

Seru si pemuda baju hitam. Ucapan ini ditujukan kepada Pwe-giok, tapi Lui-ji telah mendahului menjawab.

"Ya, dengan sendirinya."

Sejenak pemuda itu melototi Pwe-giok, lalu menghela napas gegetun dan berkata.

"Adik Hong sam ternyata mau menjual nyawa bagi Oh-lolo, pantas anggota keluarga Hong makin hari makin merosot."

Lui-ji tidak tahan, serunya.

"Sebabnya Sicek bergebrak denganmu bukan lantaran membela Oh-lolo, tapi demi diriku."

"Demi dirimu?"

Pemuda baju hitam itu menegas dengan melengak.

"Tentunya kau tahu betapa kemahiran menggunakan racun Oh-lolo yang tiada bandingannya,"

Kata Lui-ji.

"Huh, kepandaian rendahan begitu apa artinya bagiku?"

Jengek pemuda baju hitam.

"Bilamana kau sendiri terkena racunnya baru kau tahu rasa dan tidak dapat omong lagi,"

Luiji balas mengejek.

"Hah, untuk bisa meracuni diriku, mungkin dia harus bertambah lagi sepuluh buah kepala."

Seru pemuda baju hitam dengan tertawa pongah. Mendadak ia pandang Lui-ji dengan bertanya.

"Jangan-jangan kau terkena racunnya?"

"Betul, saat ini kami sedang menggiring dia pulang ke rumah untuk mengambil obat penawar. Orang mati tentunya tak dapat mengambil obat penawar, makanya kami merintangi maksudmu akan membunuhnya."

"Jika demikian, mengapa tidak sejak tadi kau katakan?"

Kata si pemuda dengan berkerut kening.

"Bilamana kami katakan tadi apakah kau percaya?"

Tanya Lui-ji. Pemuda itu termenung sejenak, jawabnya kemudian.

"Ya, tentu aku tidak percaya. Bila kalian katakan tadi, tentu kukira kalian adalah sanak keluarga Oh-lolo dan hendak membelanya, mana bisa ku lepas kalian pergi."

"Jujur juga kau ini,"

Ujar Lui-ji.

"Apalagi, seumpama kau percaya keteranganmu dan memberi kesempatan kepada kalian untuk mengambil obat penawar, habis itu baru ku turun tangan, tapi kukira kalian pun takkan mendapatkan obat penawarnya, sebab kalau Oh-lolo tahu akhirnya dia tetap akan mati, tidak nanti dia rela menyerahkan obat penawarnya kepada kalian."

"Betul, makanya sicekku terpaksa harus bergebrak denganmu,"

Kata Lui-ji.

"sebab Sicek sudah memperhitungkan dengan baik, bila ingin Oh-lolo menyelamatkan diriku, lebih dulu Oh-lolo harus diselamatkan."

Sorot mata si pemuda baju hitam pelahan bergeser ke arah Ji Pwe-giok, katanya.

"Telah bersusah payah juga kau demi untuk menolong dia."

Pwe-giok tersenyum hambar, ucapnya.

"Jika kau jadi diriku, kau pun akan berbuat demikian."

Mendadak pemuda baju hitam berkata dengan suara bengis.

"Tapi apakah kau tahu berapa banyak orang yang telah menjadi korban keganasan Oh-lolo, tahukah kau bila dia tidak mati, selanjutnya entah berapa lagi orang yang akan terbunuh olehnya. Hanya demi menyelamatkan jiwa nona ini, jiwa orang lain lantas tak terpikir olehmu?"

"Hal ini sudah kupikirkan,"

Jawab Pwe-giok sambil menghela napas. Gemerdep sinar mata pemuda baju hitam, katanya.

"Apakah maksudmu setalah Oh-lolo menyerahkan obat penawarnya, lalu akan kau serahkan dia kepada kami?"

Pwe-giok membungkam tanpa menjawab. Memang begitulah maksudnya, tapi hal ini tidak boleh diutarakannya, sebab kalau sampai Oh-lolo tahu jalan pikirannya, tentu dia takkan menolong Cu Lui-ji.

"Tapi seumpama begitulah jalan pikiranmu, sekarang kau tetap akan menggempur mundur kami, begitu bukan?"

Tanya pula si pemuda baju hitam. Pwe-giok tetap tutup mulut tanpa menjawab. Diam sama dengan mengiakannya.

"Jadi, apapun juga kau bertekad akan duel denganku?"

Pemuda baju hitam itu menegas pula. Pwe-giok menghela napas panjang, jawabnya "Ya, memang begitulah!"

"Tapi sekarang tentunya kau tahu, paling sedikit pada saat ini kau masih bukan tandinganku, jika kau ingin menggempur mundur kami, bisa jadi kau yang akan kubunuh lebih dulu."

"Sekalipun begitu, tetap akan kulakukan dan tiada pilihan lain,"

Jawab Pwe-giok.

"Kau pandang jiwa orang lain sedemikian pentingnya, mengapa memandang enteng jiwanya sendiri?"

Tanya pemuda baju hitam.

"Bagiku, ada yang tidak perlu kulakukan, tapi ada pula yang harus kulakukan, terhadap mati an hidup tidak terlalu kuperhatikan."

Jawab Pwe-giok hambar. Mendadak pemuda baju hitam bergelak tertawa, serunya.

"Bagus, bagus! Sudah lama kata 'ada yang tak perlu kulakukan dan ada pula yang harus kulakukan' tidak pernah kudengar, sekarang dapat ku dengar lagi, sungguh terasa menyegarkan."

Di tengah suara tertawanya ia terus mendekati kereta dengan langkah lebar. Cepat Pwe-giok menghadang di depan orang, ucapnya dengan suara berat.

"Bila saat ini hendak kau bunuh dia, terpaksa harus kau bunuh diriku lebih dulu."

"Aku hanya ingin minta obat penawar padanya,"

Kata pemuda baju hitam dengan tertawa. Pwe-giok melengak, ucapnya.

"Mana dia mau memberikan obat penawarnya kepadamu?!"

Kembali pemuda baju hitam tersenyum, katanya.

"Orang lain tak dapat menyuruh dia menyerahkan obat penawar, aku mempunyai caraku sendiri."

"Kau sanggup?"

Tanya Pwe-giok ragu.

"Kau tidak percaya?"

Belum lagi Pwe-giok menanggapi, pemuda it telah menyambung.

"Bila aku tidak dapat menyuruh dia menyerahkan obat penawarnya, biarlah kepalaku ini kuberikan padamu."

Dengan suatu gerakan enteng, tahu-tahu ia telah menyelinap lewat disamping Pwe-giok.

Keadaan di dalam kereta sunyi senyap, agaknya, Oh-lolo ketakutan setengah mati sehingga bernapas saja tidak berani keras-keras.

Sesungguhnya siapakah gerangan pemuda baju hitam ini sehingga membuat Oh-lolo ketakutan setengah mati?

Apakah dia benar-benar sanggup menyuruh Oh-lolo menyerahkan obat penawarnya?

Dalam pada itu kelihatan pintu kereta telah ditarik oleh pemuda baju hitam sambil berkata.

"Kau ....."

Hanya satu kata saja terucapkan, seketika ia melenggong dan tidak dapat bersuara pula.

Cahaya sang surya menembus ke dalam kabin kereta melalui pintu yang sudah terpentang itu sehingga kelihatan gemerlapan jok yang berlapiskan kain sutera emas itu.

Terlihat Oh-lolo berduduk setengah berbaring di atas jok yang bergemerlapan itu, dari lubang hidung, mata, mulut dan telinga mengalirkan darah hitam sehingga wajahnya yang sudah buruk itu bertambah menakutkan.

Akan tetapi pada ujung mulut nenek itu masih menampilkan secercah senyuman keji, senyuman mengejek seakan-akan berkata.

"Obat penawar takkan kau peroleh, siapapun tak mampu menyuruhku serahkan obat penawar. Aku mati, terpaksa Cu Lui-ji harus mengiringi kematianku!"

Darah dalam tubuh Pwe-giok serasa membeku, butiran keringat merembes keluar di dahinya.

Keji amat nenek ini, mati pun dia tetap membikin celaka orang lain.

Tiba-tiba si pemuda baju hitam berpaling dan bertanya kepada Lui-ji.

"Racun yang mengenai dirimu ini apakah benar tak dapat dipunahkan dengan cara lain kecuali obat penawarnya?"

Air mata Lui-ji berlinang-linang, ia seperti tidak mendengar apa yang dikatakannya. Pwe-giok juga sangat berduka, ucapnya.

"Sekalipun masih dapat dipunahkan dengan obat penawar lain juga waktunya mungkin tidak keburu lagi."

"Sebab apa?"

Tanya si pemuda baju hitam.

"Bilamana fajar menyingsing, tentu racun akan bekerja,"

Tutur Pwe-giok.

"Sampai fajar menyingsing nanti masih ada berapa jam lagi,"

Tanya pemuda baju hitam dengan suara parau. Pwe-giok tidak menjawab, tapi diantara orang yang berseragam hitam ada yang berseru.

"Saat ini baru lewat tengah malam, sampai fajar menyingsing nanti masih ada tiga-empat jam lagi."

"Tiga-empat jam!"

Pemuda baju hitam bergumam sambil termangu-mangu. Mendadak Pwe-giok membalik tubuh dan berteriak dengan suara serak.

"Sekarang sakit hati kalian sudah terbalas, bilamana kalian merasa belum cukup, boleh silahkan kalian mencacah mayatnya pula, dengan demikian barulah akan terbukti kalian adalah laki-laki sejati yang tidak lalai menuntut balas."

Karena emosi, cara bicaranya menjadi beringas, seakan-akan rasa duka dan marah yang memenuhi rongga dadanya itu hendak ditumpahkan seluruhnya.

Orang-orang berseragam hitam itu sama menunduk.

Pada dasarnya mereka adalah orang baikbaik, demi menuntut balas mereka bisa berubah sangat buas, tapi sekarang dalam hati mereka menjadi tidak tenteram bagi Pwe-giok, belasan orang itu memberi hormat kepada si pemuda baju hitam, lalu sama mengundurkan diri dan menghilang dalam kegelapan.

Tanpa terasa Pwe-giok juga menunduk, air mata pun bercucuran.

Mendadak Lui-ji menubruk ke dalam pangkuan Pwe-giok sambil menangis keras-keras, ratapnya.

"O, Sicek, aku... aku bersalah padamu...."

"Dalam hal apa kau bersalah padaku?"

Ujar Pwe-giok dengan pedih.

"Hanya akulah yang ber... bersalah padamu."

"Sicek, kau.... kau tidak tahu akan diriku,"

Kata Lui-ji dengan tersedu-sedan. Tiba-tiba Pwe-giok berkata.

"Kau tidak perlu panggil Sicek lagi padaku."

Tergetar tubuh Lui-ji.

"Seb... sebab apa?"

Pwe-giok tersenyum pedih, katanya.

"Sesungguhnya tidak seberapa banyak aku lebih tua dari padamu, pantasnya kau panggil kakak padaku, bukankah sejak mula kau tidak ingin menjadi keponakanku melainkan berharap akan menjadi adik perempuanku?"

Lui-ji menengadah dan memandang Pwe-giok dengan termangu-mangu, entah kejut, entah girang?

Meski di tengah air mata yang berlinang itu sekilas terunjuk rasa girangnya, tapi dalam sekejap ia menjadi berduka pula.

Memandangi wajah yang cantik bak bunga yang sedang mekar, memandangi kerlingan mata si nona yang menggetar sukma itu, dalam hati Pwe-giok juga berduka dan menyesal tak terkatakan.

Diam-diam ia memaki dirinya sendiri.

"Sudah jelas kutahu isi hatinya, mengapa baru sekarang kuterima permintaannya? Dan sekarang jiwanya tinggal tiga empat jam lagi, kehidupannya yang singkat ini boleh dikatakan tidak pernah merasakan bahagia, mengapa tidak sejak dulu-dulu kuterima kehendaknya agar dia mendapat kesempatan lebih banyak untuk bergembira?"

Si pemuda baju hitam seperti menghela napas panjang dan berkata.

"Sayang!"

Lalu berpaling lagi ke sana, pandangannya tertuju lagi ke dalam kabin kereta, baru sekarang dilihatnya di dinding kabin ada beberapa baris huruf.

Jelas huruf itu digores dengan kuku jari Oh-lolo yang mirip cakar burung itu, dengan sendirinya tulisannya tidak begitu jelas, namun masih dapat terbaca, begini bunyinya .

Di belakang ada Thian-sip.

di depan ada Thian-long.

Dunia seluas ini, tapi tiada tempat untuk bersembunyi; Dengan kematian terbebaslah segalanya, hendaklah kalian jangan cemas; Pulangkan jenazahku, akan kuhadiahi....

Segera Lui-ji dapat melihat tulisan tersebut, ia membacanya beberapa kali, tiba-tiba ia bergumam "Thian-long (serigala langit)?

Siapakah Thian-long?"

"Aku inilah Thian-long."

Kata si pemuda baju hitam. Lui-ji memandangnya sekejap, lalu berkata.

"Orang baik-baik, kenapa mesti memakai nama buas begitu?"

"Nama ini tidak buas, tapi melambangkan sebuah bintang besar,"

Tutur si pemuda berbaju hitam.

"Bintang besar?"

Lui-ji menegas.

"Ya,"

Jawab si pemuda baju hitam dengan angkuh.

"Menurut catatan kuno, di sebelah timur ada bintang besar mirip serigala. Bintang ini sukar terlihat dengan mata telanjang, sebab bintang ini selalu muncul dan menghilang bersama matahari."

"Kecuali itu apakah kau tidak mempunyai nama lain?"

Tanya Lui-ji sambil mengernyitkan kening.

"Ada, namaku yang lain ialah Hay Tong-jing,"

Tutur pemuda itu.

"Hay Tong-jing?"

Lui-ji mengulang nama tersebut. Pemuda berbaju hitam alias Hay Tong-jing itu tersenyum. Ia berpaling memandang Pwe-giok yang lagi dirundung kesedihan itu. Katanya kemudian.

"Kulihat kau ini seorang pemuda yang berbudi. Tapi kalian tidak perlu murung, kuyakin obat penawar yang dikatakan nenek celaka ini masih ada harapan untuk diperoleh, terutama bila melihat tulisan yang ditinggalkannya ini, di sini jelas dia menyatakan, asalkan jenazahnya dipulangkan ke rumahnya, maka dia akan menghadiahkan.... Hadiah apa tidak sempat ditulisnya, tapi kukira yang dimaksudkan adalah obat penawarnya."

"Walaupun begitu, kemana lagi harus kita kembalikan jenazahnya?"

Ujar Lui-ji "Kutahu, tempat tinggalnya tidak terlampau jauh dari sini, tentu masih keburu, tanggung beres,"

Kata Hay Tong-jing.

"Marilah kalian ikut padaku."

Segera ia angkat mayat Oh-lolo dan melompat ke atas kudanya, ia memberi tanda agar Pwegiok dan Lui-ji mengikutinya.

Tanpa ragu lagi Pwe-giok dan Lui-ji mengeluarkan Ginkang mereka mengintil di belakang kuda Hay Tong-jing.

Kira-kira dua-tiga jam mereka menempuh perjalanan, diam-diam Pwe-giok dan Lui-ji merasa gelisah mengingat waktu bekerjanya racun sudah sangat dekat.

"Apakah masih jauh?"

Tanya Lui-ji sambil berlari.

"Sudah dekat, itu, di dinding benteng sana,"

Jawab Hay Tong-jing.

Waktu mereka memandang ke muka, terlihatlah tembok benteng membentang megah di depan sana, dari tembok bentengnya yang tinggi besar itu dapat dibayangkan kota ini pasti sangat ramai dan makmur.

Cuma sekarang sudah jauh malam, bahkan dekat pagi, suasana sunyi senyap, pintu gerbang benteng tampak tertutup rapat.

"Apakah Oh-lolo tinggal di kota ini?"

Tanya Pwe-giok.

"Ya, tak tersangka olehmu bukan?"

Ujar Hay Tong-jing. Pwe-giok menghela napas. Katanya.

"Melihat tindak-tanduknya, selama hidup ini tentu tidak sedikit dia bermusuhan dengan orang, tadinya kukira tempat tinggalnya pasti di suatu tempat yang sangat terpencil dan dirahasiakan, tak tersangka dia justeru berdiam di dalam kota yang ramai."

"Tempat tinggalnya justeru sengaja diatur sehingga sukar diduga orang."

Tutur Hay Tong-jing.

"Bagaimana, sanggupkah kalian melintasi tembok kota ini?"

"Jangan kuatir,"

Kata Lui-ji.

"Biarpun lebih tinggi lagi tembok ini juga kami sanggup melintasinya, hanya kawanmu yang berkaki empat ini mungkin...."

"Kau pun tidak perlu kuatir baginya, ia pun sanggup manjat ke atas,"

Jengek Hay Tong-jing.

"Baik, kau sendiri yang bicara demikian, justeru kami ingin menyaksikan cara bagaimana dia akan naik ke atas tembok, memangnya mendadak dia akan tumbuh sayap?"

Jengek Lui-ji. Sambil bicara diam-diam ia menghimpun tenaga, tapi mendadak ia berkata kepada Pwe-giok.

"Wah, kepalaku terasa agak pening, bagaimana kalau kau pegang diriku?"

Meski demikian ucapnya, sesungguhnya dia kuatir Pwe-giok kekurangan tenaga, maka diamdiam ingin membantunya. Pwe-giok menepuk tangan si nona, ucapnya dengan suara lembut.

"Orang lain menganggap kau ini nakal dan jahil, padahal kau adalah nona yang halus budi, anak perempuan yang lemah lembut."

Muka Lui-ji menjadi merah, tapi hangat pula perasaannya, ia tidak tahu bahwa apa yang diucapkan Pwe-giok itu bukan ditujukan kepadanya.

Tiba-tiba terdengar suara kesiur angin seperti anak panah terlepas dari busurnya, tahu-tahu Hay Tong-jing sudah melayang ke atas tembok benteng, kedua tangannya terangkat lurus ke atas dengan menyanggah mayat Oh-lolo.

Lui-ji mencibir, jengeknya.

"Coba kau lihat lagaknya yang sombong itu, dimana dan kapanpun ia selalu ingin pamer kepandaiannya, mirip seorang yang kaya mendadak, sedapatnya ingin orang lain mengetahui akan kekayaannya."

Pwe-giok tersenyum, katanya.

"Orang muda yang sudah menguasai kungfu setinggi itu, seumpama agak sombong kan juga pantas, apalagi, orang sombong biasanya tentu dapat dipercaya, sebab dia pasti tidak sudi berbuat sesuatu yang memalukan."

"Tapi usiamu sendiri juga belum tua, kungfumu juga hebat, mengapa kau tidak sombong sedikitpun?"

"Sebab... sebab aku memang tidap dapat dibandingkan dia"

"Siapa bilang kau tidak dapat dibandingkan dia ?"

Ujar Lui-ji dengan suara lembut.

"Dalam pandanganku, biarpun sepuluh orang lihay Tong-jing juga tak dapat membandingi kau seorang."

Dia tidak memberi kesempatan bicara kepada Pwe-giok, segera ia menariknya dan melompat bersama ke atas tembok benteng.

Tatkala itu suasana aman sentosa, penjaga benteng sudah tertidur, sejauh mata memandang didalam benteng hanya berkelipnya lampu yang jarang, seluruh kuta sudah tenggelam di dalam tidur.

Lui-ji memandang Hay Tong-jing sekejap, ia bertanya.

"Mengapa cuma kau saja yang naik ke sini, kenapa kawanmu itu tidak kau ajak?"

"Bilakah pernah kulihat kuda yang main ginkang?"

Jawab Hay Tong-jing dengan tertawa.

"Tapi baru saja kau bilang kudamu dapat naik ke sini ?"

Kata Lui-ji dengan melengak.

"Kata kataku tadi hanya untuk mengapusi anak kecil saja."

Ujar Hay Tong-jing dengan tak acuh.

Sungguh tidak kepalang gemas Cu Lui-ji, tapi tidak mampu balas mendebat, sebab kalau dia mendebat, sama halnya dia mengakui dirinya adalah anak kecil.

Untuk pertama kalinya Cu Lui-ji benar-benar ketanggor alias ketemu batunya.

***** Di bawah sinar bulan, wuwungan rumah yang berderet deret itu laksana perak yang berserakan.

Dari kejauhan terkadang "berkumandang suara kentongan peronda sehingga bumi raya ini terasa semakin hening.

Setelah meraka melintasi beberapa jalan raya, samar-samar terdengar suara orang yang ramai.

Suara orang yang sedang memanggil kereta, ada yang sedang mengantar tamu dan ada yang sedang membual seperti orang mabuk.

Terdengar suara nyaring seorang gadis sedang berkata dengan tertawa.

"Ci-siauya dan Thiosiauya, besok malam hendaknya kalian datang agak siangan, akan ku turun ke dapur dan mengolah sendiri beberapa macam masakan lezat untuk dahar kalian."

Suara seorang lelaki menjawab dengan bergelak tertawa.

"Haha, bagus, bagus, bagus, asalkan si macan betina di rumah si Ci ini tidak meraung, tentu kami akan datang sedininya."

Lalu suara seorang nenek menukas dengan tertawa.

"Sebaiknya Tan-siauya juga kalian ajak sekalian, katakan kepadanya Bun-bun sudah sangat rindu padanya."

Seorang lelaki lain terkekeh kekeh dan berkata.

"Hehe, yang dirindukan Bun-bun kalian mungkin bukan orangnya melainkan fulusnya!"

"Ai, Ci-siauya, janganlah kau sembarangan menuduh,"

Kata nenek itu.

"Nona kami mungkin tidak bersungguh sungguh kepada orang lain, tapi terhadap kalian bertiga, sungguh kalau bisa para nona kami ingin memperlihatkan isi hatinya kepada kalian."

"Hiang-hiang, apakah benar kaupandang diriku tidak sama dengan orang lain?"

Tanya Tiosiauya kepada gadis langganannya.

"Sungguh mati, tentu saja lain,"

Jawab si nona yang bernama Hiang-hiang.

"Memangnya perlu ku korek keluar hatiku untuk membuktikan kesungguhanku ?"

Maka bergelak tertawalah Thio-siauya dan Ci-siauya, lalu berangkatlah keretanya. Sejenak kemudian terdengar suara si nenek mengomel.

"Sialan dasar pelit, kedua bocah ini paling-paling cuma habis satu cawan saja, tapi selalu ngendon hingga lewat tengah malam, hanya mengganggu langganan lain saja."

Si Hiang-hiang juga mengomel.

"memang, kalau datang lagi besok, bila gelang emas yang dia janjikan tidak terbukti, tentu akan kukerjai dia!" ***** Lui-ji melenggong setelah mengikuti percakapan meraka itu, tanyanya.

"Wah, apa pekerjaan orang-orang ini ?"

"Masa kau tidak tahu?"

Kata Hay Tong-jing.

"Kecuali kaum bandit, di dunia ini hanya pekerjaan inilah yang tidak memakai modal."

Lui-ji ingin bertanya pula, tapi mendadak ia paham apa arti ucapan Hay Tong-jing itu, dengan muka merah iapun mengomel.

"He. ken... kenapa kau bawa kami ke tempat setan ini ?"

"Kalau tidak kubawa kalian ke sini habis kubawa kemana?"

Jawab Hay Tong-jing. Pwe-giok terkejut, katanya.

"Masa di sinilah ru... rumah Oh-lolo ?"

"Ya, tak tersangka bukan?"

Kata Hay Tong-jing. Pwe-giok tertegun, ucapnya kemudian.

"Memang betul juga, tempat tinggalnya ini justru sengaja membikin orang tidak pernah menyangkanya, sebab siapa pun yang akan mencari dia untuk menuntut balas, tentu tiada seorang pun yang berpikir dia adalah germo rumah pelacuran ini."

"Bahkan, siapa saja yang masuk rumah pelacuran, tentu akan lupa daratan, apalagi kalau akar sudah masuk perut dan berhadapan dengan si cantik, maka sukarlah untuk menjaga rahasia, sebab itulah segala apa yang terjadi di dunia Kangouw, hampir semuanya diketahui oleh Ohlolo,"

Demikian tutur Hay Tong-jing. Tiba tiba Lui-ji menjengek.

"Hm, tampaknya banyak sekali pengetahuanmu mengenai tempat beginian, tentunya pengalamanmu juga sangat luas"

"Betul, pengalamanku memang sangat banyak,"

Jawab Hay Tong-jing tak acuh.

"melulu 'Bong-hoa lau' ini saja, sedikitnya ada tujuh orang nona cantik langgananku, salah satu diantaranya adalah Hiang-hiang (si harum) yang disebut sebut tadi."

Lui-ji mencibir. Baru saja ia hendak berkata pula, cepat Pwe-giok menyeletuk.

"Bila Hayheng tidak apal dengan tempat ini, mana tahu bahwa Bong-hoa-lau inilah serangnya Oh-lolo."

Sembari bicara mereka sudah belok ke jalan raya di depan sana, tertampaklah sebuah rumah dengan pintu bercat merah, di depan pintu tergantung sebuah lampu merah berkerudung, ada papan nama yang bertuliskan "Bong-hoa-lau" (Rumah memandang bunga).

Saat itu ada dua lelaki berbaju cekak sedang berbenah di luar pintu, tampaknya sebentar lagi rumah hiburan ini akan tutup pintu.

Terlihat ada seorang berjubah panjang warna hijau berdiri diambang pintu dan sedang mengamat-amati lampu berkerudung itu sambil memberi pesan kepada kedua pekerja tadi agar kerudung lampu yang sudah hangus itu besok diganti yang baru.

Agaknya ia pun merasakan ada orang mendekatinya, mendadak ia berpaling.

Di bawah cahaya lampu terlihatlah usia orang ini antara 40-an, tapi masih kelihatan gagah, rambut tersisir licin, jenggot juga terpelihara, bajunya juga perlente, tampaknya seorang yang biasa hidup senang-senang dan ongkang-ongkang, tapi juga mirip seorang ahli pelesir.

Orang macam begini ternyata berdiri diambang pintu rumah pelacuran, bahkan berlagak seperti germonya, hal ini sungguh sangat aneh.

Baru saja Hay Tong-jing mendekati, kedua lelaki berbaju cekak tadi lantas menyongsong kedatangannya sambil memberi hormat serta menyapa.

"Ah, kiranya Hay-siauya! Sudah lebih dua bulan anda tidak pernah berkunjung kemari, hari ini entah angin apa yang meniup anda ke sini ? Tapi mengapa Hay-siauya datang begini malam ?"

"untung nona Hiang-hiang belum lagi tidur, dia seolah-olah mengetahui akan kedatangan Hay-siauya, maka sejak petang tadi dia sudah duduk menunggu di kamarnya dan tidak mau terima tamu manapun juga,"

Demikian tukas seorang lagi. Hay Tong-jing tidak menghiraukan mereka, dia hanya terbelalak menatap orang berbaju hijau tadi. Terpaksa orang itu memberi hormat, katanya dengan mengiring tawa.

"Sudah jauh malam, rumah hiburan ini baru saja akan kami tutup, tapi lantaran anda adalah langganan, maka..."

"Kau inikah tuan rumahnya ?"

Potong Hay Tong-jing sebelum lanjut ucapan orang. Orang itu mengiakan dengan tertawa.

"Kenapa tidak pernah kulihat kau sebelum ini?"

Kata Hay tong-jing pula.

"Cajhe orang awam, bilamana sering muncul di depan umum, bukankah akan mengganggu kesenangan para tuan tamu ?"

Jawab orang itu dengan tertawa.

"Betul juga,"

Dengus Hay Tong-jing.

"Orang yang datang ke sini bertujuan mencari perempuan, bila mana dihadapi adalah lelaki, tentu seleranya akan berkurang. Tapi kukira sebabnya kau bersembunyi mungkin bukan lantaran kau kuatir akan menghilangkan selera langgananmu, betul tidak?"

Wajah lelaki perlente itu tadinya berseri seri, makin bicara makin terasa tidak klop.

maka senyum simpulnya perlahan lantas berubah menjadi menyengir dan akhirnya dia hendak angkat langkah seribu.

Akan tetapi sudah terlambat, mendadak Hay Tong-jing membentak.

"Berhenti!"

Orang itu menyengir dan berkata.

"Cayhe akan memanggil Hiang hiang untuk..."

"Tidak perlu kau panggil Hiang-hiang, yang kucari ialah dirimu,"

Kata Hay Tong-jing.

"Diriku?"

Orang itu menegas.

"Ya, meski kau tidak kenal aku, namun kukenal kau,"

Ujar Hay Tong-jing. Air muka orang itu berubah pucat, jawabnya sambil menyengir.

"Wah, jangan-jangan nona di sini telah berbuat kesalahan apa-apa sehingga membikin marah tuan tamu."

"Memang betul ada orang di sini yang bersalah padaku,"

Kata Hay Tong-jing.

"O, siapa dia? Apakah Hiang-hiang?"

Cepat orang itu bertanya.

"Bukan!"

Jawab Hay Tong jing.

"Apakah....apakah Siau-siau(si kecil)?"

"Bukan Siau-siau, tapi Lolo (situa)!"

Kembali air muka orang itu berubah, ia terkekeh dan berkata.

"Ai tuan sungguh suka bergurau."

Dalam pada itu Lui-ji juga sudah mendekat, ucapnya dengan tidak sabar.

"Untuk apa banyak omong dengan orang macam begini? Suruh dia memanggil lakinya Oh-lolo keluar saja!"

"Tahukah kau siapa orang ini?"

Tanya Hay Tong-jing tiba-tiba. Luiji terkejut, serunya.

"Apakah.....apakah dia inilah lakinya Oh-lolo?" ***** Bahwa nenek jompo itu ternyata bersuamikan seorang lelaki necis begini, sungguh mimpi pun tak pernah terbayang oleh Cu Lui-ji. Didengarnya Hay Tong-jing berkata pula.

"Apakah kau tahu sebabnya dia senantiasa bersembunyi dan tidak berani menemui orang luar?"

"Tidak tahu,"

Jawab Lui-ji.

"Sebabnya di masa lampau ia pun seorang tokoh yang cukup ternama di dunia Kangouw. tapi sekarang dia telah menjadi germo, bilamana hal ini diketahui oleh sahabatnya, bukankah pamor nenek moyangnya akan runtuh habis-habisan?"

Lui ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian.

"Apakah dia cukup terkenal di dunia Kangouw?"

"Ya, lumayan,"

Jawab Hay Tong-jing.

"Siapa namanya?"

Tanya Lui ji.

"Dia inilah tuan muda Bau-bok-sam-ceng dari Hong-san, di dunia Kangouw terkenal dengan julukan 'Ji-hoa-kiam-khek' (pendekar pedang laksana bunga), namanya Ji Yak ih."

"Ji-hoa-kiam-khek? Hah, boleh juga julukan ini,"

Ujar Lui ji dengan tertawa.

"Cuma sayang, hasratnya sekuntum bunga ditancapkan pada satu onggok kotoran sapi, orang ganteng begini ternyata beristerikan seorang nenek jompo sejelek siluman."

"Masakah kau tidak pernah melihat seorang nona cilik belasan tahun diperistri oleh seorang kakek jompo?"

Tanya Hay Tong-jing.

"Itu tidak dapat dipersamakan..."

"Kenapa tidak sama?"

Tukas Hay Tong-jing.

"Nona cilik menjadi isteri kakek jompo, tujuannya tentu ingin mendapat warisan si kakek. Tapi orang ini mengawini Oh-lolo bukan kemaruk kepada harta, melainkan mengincar ilmu silat Oh-lolo."

Wajah Ji Yak-ih sebentar merah sebenar pucat, Lui-ji menduga bilamana orang tidak kalap dan menyerang, tentu juga akan gemas setengah mati.

Siapa tahu, sampai sekian lamanya dia tetap diam saja, bahkan air mukanya berseri-seri pula, katanya.

"Jika kalian hendak mencari diriku, kenapa tidak berduduk di dalam saja!"

"Hm, seumpama tidak kau undang juga kami akan masuk sendiri ke situ,"

Jengek Hay Tongjing.

Kedua lelaki berbaju cekak yang sedang membersihkan lantai tadi sampai terkesima mengikuti percakapan mereka, mendadak mereka hendak mengeluyur pergi, tapi mendadak Hay Tong-jing membalik tubuh dan menyerahkan barang yang dijinjingnya kepada mereka sambil berkata.

"Gotong masuk ke dalam sana!"

Kedua orang itu takut-takut untuk menerimanya, tapi juga tidak berani menolak.

Mereka merasa tangan agak lemas, baru saja barang yang disodorkan itu mereka angkat, hampir saja terjatuh ke tanah.

Syukur Hay Tong-jing keburu menyanggah dengan tangannya, lalu berkata dengan bengis.

"Apakah kau tahu barang apa ini?"

"Ti... tidak tahu,"

Jawab lelaki perlente tadi. Belum Hay Tong-jing berkata pula, tiba-tiba Lui-ji menyela dengan tertawa.

"Barang ini tak ternilai harganya, jika terbanting rusak, tentu celakalah kalian!"

Lelaki perlente tadi berkedip-kedip, tanyanya.

"Apakah hadiahnya Hay-siauya untuk nona Hiang-hiang (si harum)?"

"Betul, memang hadiah yang sengaja kami antar kemari,"

Tukas Lui-ji.

"Tapi bukan untuk si nona harum, melainkan untuk si bau."

Orang itu melengak, dengan menyengir ia berkata.

"Ah, nona ini suka bergurau, di sini mana ada nona yang bernama si bau?"

"Sekuntum bunga ditancapkan di atas kotoran sapi, masakah tidak berbau?"

Ujar Lui-ji sambil mengikik tawa.

Kedua orang berbaju cekak tadi tidak berani bersuara lagi, mereka angkat lonjoran barang antaran itu dan digotong ke dalam.

Butiran keringat tampak menghiasi muka mereka.

Lelaki perlente alias Ji Yak-ih itu masih tersenyum simpul dan menyambut tamunya dengan ramah, namun biji matanya terus berputar, tiada sesuatu gerak-gerik orang yang dapat lolos dari pengawasannya.

***** Mereka dibawa menyusuri dua halaman rumah, namun belum lagi kelihatan Bong-hoa-lau ini ada bedanya dengan rumah pelacuran lain.

Kedua halaman rumah ini jelas hanya untuk menyambut tetamu biasa saja.

Tapi setiba di taman bunga belakang barulah mereka tahu tempat ini memang surga dunia yang lain daripada yang lain.

Meski sekarang sudah buntut musim rontok, tapi di dalam taman beraneka warna bunga masih mekar semerbak.

Harum bunga yang memabukkan itu bercampur dengan bau pupur orang perempuan, di sekitar pertamanan itu ada belasan paviliun indah.

Waktu itu semua pavilliun itu sudah tutup pintu, cahaya lampu juga sudah guram, tapi terkadang masih terdengar suara tertawa dan keluhan yang menggetar sukma.

Lui-ji memandang Hay Tong-jing sekejap, katanya.

"Yang tinggal di rumah-rumah itu mungkin adalah kenalanmu bukan?"

"Ehmm!"

Hay Tong-jing bersuara singkat.

"Sekarang mereka sedang sakit, kenapa tidak kau jenguk mereka?"

Kata Lui-ji pula.

"Sakit?"

Hay Tong-jing jadi melengak.

"Kalau tidak sakit, mengapa mengeluh begitu?"

Kata Lui-ji. Hay Tong-jing tidak tahan rasa gelinya, ia mengakak tawa.

"Kau tertawa apa? Apanya yang menggelikan?"

Semprot Lui-ji dengan mendelik.

Sekejap Hay Tong-jing memandang si nona, entah mengapa ia tidak dapat tertawa lagi.

Anak perempuan yang pintar dan cantik ini walaupun dibesarkan di tengah siksa derita, tapi hatinya masih suci bersih, mulus seperti sehelai kertas putih, masih kekanak-kanakan.

Apa yang diketahuinya terkadang memang jauh lebih banyak daripada orang tua yang sudah kenyang asam garam, tapi terkadang juga tidak lebih paham daripada anak yang sebaya dengan dia.

Diam-diam Pwe-giok menggeleng sambil menghela nafas gegetun.

Melihat sikap mereka, Lui-ji merasa apa yang diucapkannya tadi tentu ada yang keliru, tapi ia tidak berani bertanya, terpaksa ditahan di dalam hati dengan mendongkol.

Mendadak Ji Yak-ih tersenyum, katanya.

"Di sini memang ada beberapa orang lagi sakit, sebentar tentu akan kusampaikan maksud baik nona kepada mereka."

"Akupun tidak bermaksud baik apa-apa, kau pun tidak perlu sok menjadi orang baik hati, memangnya kau kira aku tidak tahu bahwa mereka tidak sakit?"

Seru Lui-ji.

Walaupun demikian, dalam hati ia merasa berterima kasih kepada Ji Yak-ih yang berusaha menghilangkan rasa canggungnya itu.

Di ujung taman sana ada sebuah pintu berbentuk bulan sabit, setelah melalui pintu itu, sampailah mereka di sebuah taman kecil yang lebih indah, di tengah taman itu juga ada sebuah paviliun berloteng, di atas loteng cahaya lampu masih terang benderang, jelas di sinilah tempat tinggal tuan rumahnya.

Setiba di sini, segera kedua orang tadi menaruh barang yang mereka gotong itu, tapi baru saja mereka mulai berjongkok, segera Hay Tong-jing membentak.

"Kenapa tidak kalian gotong ke dalam rumah?"

"Tapi... tapi disinilah tempat kediaman Thay-hujin (nyonya besar), hamba tidak berani masuk ke situ,"

Kata salah seorang itu dengan tergagap. Ji Yak-ih menepuk bahu mereka dan berkata.

"Gotong masuk saja, tidak apa-apa."

Kedua orang itu mengusap keringatnya, terpaksa mereka menurut dan menggotong lonjoran barang itu ke dalam rumah. Tiba-tiba Pwe-giok menghela nafas, ucapnya.

"Keji amat tangan Anda!"

Ji Yak-ih terkesiap, ucapnya sambil menyengir.

"Tajam amat pandangan Anda!"

Pwe-giok tidak menanggapinya, tapi ia lantas tanya kedua lelaki berbaju cekak itu.

"Di rumah kalian masing-masing masih ada anggota keluarga siapa lagi?"

Salah seorang itu menjawab setelah menaruh barang yang digotong itu ke atas meja.

"Khu Sam masih bujangan, hanya hamba saja yang sudah beristri."

"Jika begitu, lekas kau pulang untuk menyampaikan pesan terakhir padanya, kalau tertunda mungkin tidak keburu lagi,"

Ujar Pwe-giok. Orang itu terperanjat, serunya.

"Pes... pesan terakhir apa? Hamba... hamba belum lagi mati."

"Setelah kau tahu rahasianya, apakah kau pikir dapat hidup lebih lama lagi?"

Ujar Pwe-giok dengan menyesal. Orang itu memandang Ji Yak-ih sekejap, serunya kuatir.

"Hah, ap... apa artinya ini?"

"Buka bajumu dan periksalah tempat yang ditepuknya tadi, lalu kau akan tahu apa artinya,"

Kata Pwe-giok pula sambil menghela nafas.

Belum habis ucapannya, kedua orang itu cepat menarik bajunya sehingga telanjanglah tubuh bagian atas.

Ternyata bahu mereka yang ditepuk perlahan oleh Ji Yak-ih tadi telah meninggalkan bekas telapak tangan yang biru, malahan di bagian tengah bekas telapak tangan itu ada sebuah lubang kecil seperti bekas ditusuk jarum.

Dari lubang kecil itu tadinya ada darah segar yang merembes keluar, tapi sekarang warna darah sudah berubah hitam dan dari jauh dapat tercium bau amis busuk seperti bau ikan mati.

Kedua orang itu saling pandang sekejap dengan muka pucat seperti mayat.

"Begitu dia menepuk bahu kalian, kulihat pada jarinya terjepit jarum, tapi kalian sama sekali tidak merasa sakit meski tertusuk jarumnya, nyata pada jarumnya itu pasti terdapat racun yang jahat,"

Tutur Pwe-giok.

Diam-diam Hay Tong-jing memuji akan kesabaran dan ketelitian Pwe-giok, betapapun ia harus mengakui dirinya tidak secermat anak muda itu.

Serentak kedua orang itu berlutut dan memohon ampun dengan meratap.

Tapi Ji Yak-ih lantas tersenyum terhadap Pwe-giok, katanya.

"Ketajaman pandangan saudara ini sungguh sangat mengagumkan, cuman sayang Anda telah salah omong sesuatu."

"Oo? Sesuatu apa?"

Tanya Pwe-giok.

"Biarpun kulepaskan mereka pulang sekarang, tetap mereka tak mampu melangkah keluar halaman ini,"

Tutur Ji Yak-ih dengan tenang.

Kedua orang tadi lantas berteriak-teriak sambil merangkak bangun, mereka berlari dan terjatuh, merangkak bangun pula dan berlari lagi, tapi kembali jatuh dan setiba di luar pintu lalu tiada sesuatu suara apa pun.

"Pergilah kalian dengan tenang, tentu akan kubereskan segala urusan kalian,"

Gumam Ji Yakih, sekalian ia lantas menutup pintu, lalu berpaling dan berkata dengan tertawa.

"Eh, silahkan duduk, silahkan duduk!"

Meski ucapannya itu adalah basa-basi yang sangat umum, tapi tercetus dari mulut seorang yang baru saja mencabut nyawa dua orang, betapapun membikin orang mengkirik.

Sejak tadi Lui-ji melototi Ji Yak-ih, baru sekarang ia menghela nafas, lalu berkata.

"Kini baru ku tahu bahwa kau dan Oh-lolo memang suatu pasangan yang sangat setimpal."

Ji Yak-ih tersenyum, jawabnya.

"Sudah sekian tahun kami menjadi suami-isteri, sedikit banyak kepandaiannya tentu sudah kupelajari."

Lui-ji hampir tidak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulutnya, kembali ia menghela nafas gegetun, ucapnya.

"Tapi kalau bicara tentang tebalnya kulit muka, kukira dia harus belajar kepadamu."

"Ah, nona terlalu memuji,"

Jawab Ji Yak-ih tanpa malu.

"Tapi kalau benar tujuanmu hendak menutup mulut mereka, hanya mereka yang dibunuh saja masih belum cukup, kau masih harus pula membunuh kami bertiga,"

Kata Lui-ji. Sekali ini Ji Yak-ih tidak omong apa-apa lagi. Tapi Hay Tong-jing lantas mendengus.

"Bila dia sudah menyilakan kita masuk ke sini, apakah kau kira dia akan membiarkan kita keluar lagi dengan hidup?"

"Oo... kiranya dia memang berniat membunuh kita?"

Lui-ji terbelalak.

"Ya, cuman sayang dia belum lagi mampu,"

Jengek Hay Tong-jing. Ji Yak-ih tersenyum tanpa menanggapi. Mendadak Hay Tong-jing berpaling dan mendelik padanya, tanyanya.

"Apakah kau tahu barang apa yang kami antarkan kepadamu ini?"

"Jika tidak salah ku terka, mungkin mayat isteriku yang baik itu,"

Jawab Ji Yak-ih dengan tersenyum.

Kata-kata ini ternyata keluar dari mulutnya dan air mukanya tidak berubah sedikitpun, bahkan mata pun tidak berkedip, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Lui-ji jadi terkejut malah, serunya.

"Kau sama sekali tidak merasa heran?"

"Kalau terlalu sering naik gunung, akhirnya pasti ketemu harimau. Selama hidup isteriku terlalu banyak mengikat permusuhan dengan orang, sudah ku perhitungkan cepat atau lambat dia pasti akan mengalami nasib seperti sekarang ini."

"Dan... dan kau tidak berduka?"

Tanya Lui-ji pula. Kembali Ji Yak-ih tersenyum, jawabnya.

"Jika kalian sudah tahu tujuanku menikah dengan dia adalah ingin mendapatkan kungfunya. Bila sekarang kuperlihatkan rasa berduka, bukankah akan ditertawakan kalian malah?"

"Jika demikian, kami jadi seperti telah membantu kehendakmu malah,"

Kata Lui-ji. Ji Yak-ih hanya tersenyum saja tanpa menjawab, seperti membenarkan secara diam.

"Demi belajar kungfunya, maka kau mengawini dia, hal ini dapatlah dimengerti, dan bila sudah cukup, bolehlah kau angkat kaki meninggalkan dia, tapi... tapi mengapa kau justeru berharap dia lekas mati?"

Bicara sampai di sini, suara Lui-ji menjadi parau, begitu habis ucapannya itu, mendadak ia menerjang maju, sekaligus ia menyerang tiga kali, semuanya serangan maut.

Kaget juga Ji Yak-ih, cepat ia melompat ke samping, serunya dengan heran.

"He, mengapa nona malah membelanya?"

"Manusia tidak setia dan tidak berbudi macam kau ini setiap orang boleh membinasakan kau!"

Bentak Lui-ji dengan gusar, berbareng ia hendak menerjang maju pula, tapi Pwe-giok keburu menarik tangannya.

Hay Tong-jing tidak tahu bahwa Lui-ji teringat kepada nasib malang ibunya yang dikhianati suaminya sendiri, maka anak dara ini membenci setiap lelaki yang tidak setia di dunia ini.

Melihat Lui-ji masih berusaha melepaskan diri dari pegangan Pwe-giok, Hay Tong-jing juga mencegahnya, katanya dengan mengernyitkan dahi.

"Obat penawar, jangan lupa!"

"Aku lebih suka mati keracunan dan tetap akan kubinasakan dia!"

Teriak Lui-ji dengan histeris. Pada saat itulah mendadak terdengar suara papan loteng berdetak, suara seorang sedang mengomel.

"Siapa lagi yang terkena racun gendukku yang celaka itu, lekas bawa kemari biar kuperiksa dia!"

Oh-lolo yang sudah tua renta itu di mulut orang ini telah berubah menjadi 'genduk', maka siapapun dapat menerka orang ini pasti ibu Oh-lolo meski belum kelihatan orangnya.

Terdengarlah suara 'dak-duk-dak-duk', seorang nenek yang bertubuh sehat dan berdandan anggun dipapah turun oleh dua orang pelayan muda, tangan kiri nenek membawa tasbih dan tangan kanan memegang tongkat, meski rambutnya ubanan seluruhnya, tapi giginya masih rajin, tampaknya masih jauh lebih muda daripada Oh-lolo yang keriput itu.

Malahan kelihatan anggun seperti nyonya keluarga pembesar, mana ada tanda-tanda mirip ibu orang macam Ohlolo yang jahat itu.

Sampai Lui-ji juga melenggong melihat orang tua ini.

Ji Yak-ih menyongsong kedatangan si nenek dengan hormat, lalu bisik-bisik entah omong apa.

Maka bergemetarlah tangan si nenek, ucapnya dengan terputus-putus.

"Yang di ... di atas meja itu?"

"Ya,"

Jawab Ji Yak-ih.

"Pantas mati, pantas mampus!"

Seru Oh-lohujin atau nyonya besar Oh.

"entah sudah berapa kali kukatakan padanya agar jangan membikin celaka orang, ku tahu pada suatu hari dia pasti akan telan hasil perbuatannya sendiri, dan sekarang... sekarang hal itu benar-benar terjadi..."

Sambil berkata air mata pun meleleh, ia menghentakkan tongkatnya dan berseru pula.

"Lekas gotong keluar sana dan tanam saja di tempat sejauh-jauhnya, anggaplah aku tidak... tidak pernah mempunyai anak seperti dia, selanjutnya kalian jangan menyebut dia lagi di depanku."

Pwe-giok tidak menduga bahwa ibu Oh-lolo adalah seorang nenek yang bijaksana demikian, meski bencinya terhadap Oh-lolo merasuk tulang, tapi sekarang ia menjadi ikut sedih bagi si nenek.

Dilihatnya nenek itu memejamkan matanya sambil terengah-engah sejenak, lalu berkata dengan perlahan.

"Siapa yang keracunan?"

"Nona cilik itu,"

Kata Ji Yak-ih. Oh-lohujin membuka matanya sedikit dan memandang Lui-ji sekejap, ucapnya dengan menyesal.

"O, kasihan nona cilik secantik ini masa dia tega meracuninya... Anak Ih, lekas kau periksa racun apa yang mengenai dia?"

Baru saja Ji Yak-ih hendak mendekat, Lui-ji lantas berseru.

"Tidak perlu kau periksa segala, racun yang mengenai diriku berasal dari kukunya."

"O, masa kulit badanmu tergores luka oleh kukunya?"

Tanya Oh-lohujin. Lui-ji mengiakan.

"Di bagian mana lukamu itu?"

Tanya si nenek.

"Tangan,"

Jawab Lui-ji. Oh-lohujin berkerut kening, ucapnya kemudian.

"Bilakah dia melukai kau?"

"Bilamana fajar menyingsing, maka genaplah tiga hari,"

Tutur Lui-ji. Nenek itu memandang cuaca di luar jendela, lalu menghela nafas panjang, katanya.

"Syukur Thian memberkati kau, kedatanganmu ini ternyata belum terlambat!"

"Saat ini masih dapat ditolong?"

Cepat Pwe-giok bertanya.

"Nona cilik secantik ini, Thian juga tidak nanti mencabut nyawanya, kau tidak perlu kuatir,"

Kata Oh-lolo dengan suara halus.

Baru sekarang Pwe-giok dapat menghela nafas lega, penderitaan lahir batin selama beberapa hari ini baru sekarang mendapatkan imbalannya, tapi kelelahannya selama beberapa hari ini sekarang pun rasanya seakan-akan membanjir seluruhnya.

Ia merasa sekujur badan lemas lunglai dan hampir saja roboh, namun sedapatnya ia berkata.

"Meski Thayhujin sedemikian bijaksana, namun masih ada sesuatu persoalan terpaksa harus kukatakan."

"Soal apa?"

Tanya Oh-thayhujin.

"Kematian Oh-lolo bukan karena dibunuh orang lain, tapi dia membunuh diri karena putus asa, di dinding kabin kereta terukir tulisan tinggalannya, di situ juga disinggung tentang obat penawarnya,"

Tutur Pwe-giok. Oh-thayhujin menghela nafas panjang, ucapnya dengan muram.

"Jika bukan begini, apakah kau kira aku sampai hati tidak menolong nona cilik ini?"

Pwe-giok juga menghela nafas, katanya.

"Apapun juga, budi pertolongan Thay hujin tentu takkan kami lupakan."

"Tampaknya kalian sama lelah sekali, silahkan duduk dan istirahat sejenak, sekarang juga kuambil obat penawarnya,"

Kata si nenek.

Sambil bicara, dengan terhuyung-huyung ia pun melangkah keluar.

Kedua pelayan yang memapahnya tadi sudah pergi dengan menggotong mayat Oh-lolo.

Maka Ji Yak-ih lantas memburu maju untuk memayang ibu mertuanya itu.

Pwe-giok seperti ingin bicara apa-apa, tapi ia tidak tahan lagi, ia jatuh terkulai di atas kursinya.

"Jangan kuatir, sebentar saja tentu dia akan membawakan obat penawarnya,"

Ujar Hay Tongjing.

"Tapi kalau dia sengaja tidak mau memberikan obat penawarnya?"

Kata Lui-ji dengan mencibir. Hay Tong-jing menjengek.

"Dia cukup maklum bagaimana akibatnya apabila obat penawar tidak diserahkan... mungkin dia tidak seberani itu."

"Hm, dia kan tidak tahu siapa kau? Kenapa musti takut padamu?"

Kembali Lui-ji membantah.

"Begitu dia membaca tulisan di kabin kereta itu, segera dia tahu siapa diriku,"

Kata Hay Tongjing dengan angkuh.

Pada saat itu juga, mendadak terdengar suara 'cret' satu kali, menyusul lantas berbunyi pula 'trang' yang nyaring.

Semua pintu dan jendela telah terkurung oleh sebuah papan besi.

Pwe-giok terkejut hingga melonjak bangun, serunya.

"Wah, celaka! Akhirnya kita tetap terjebak!"

Air muka Hay Tong-jing juga berubah, ucapnya dengan melotot.

"Tidak tersangka nenek ini jauh lebih keji dan licin daripada anak perempuannya.

"Ya, nyalinya juga sangat besar, sampai-sampai Thiang long-sing juga tidak ditakutinya,"

Jengek Lui-ji.

Wajah Hay Tong-jing yang hitam itu jadi kehijau-hijauan saking gusarnya, mendadak ia meraung, ia menerjang ke depan pintu dan menghantam sekuatnya, kuda saja binasa oleh sekali pukulannya, maka betapa dahsyat pukulannya dapatlah dibayangkan.

Terdengar suara getaran keras, botol dan cangkir di atas meja terguling ke lantai dan hancur berantakan.

Lukisan yang digantung di dinding juga tergetar hingga jatuh, akan tetapi pelat besi yang membuntu pintu itu tidak bergeming sedikitpun.

Waktu diperiksa, kiranya kusen pintu dan jendela semuanya terbuat dari besi, lantaran diberi cat maka sukar diketahui.

Hay Tong-jing berdiri kesima, wajahnya juga pucat.

Lui-ji lantas menubruk ke dalam pelukan Pwe-giok, ratapnya dengan parau.

"Semuanya garagara diriku, aku... aku..."

Belum habis ucapannya, menangislah dia tergerung-gerung, dia seperti ingin bicara apa-apa, tapi setiap kali sebelum kata-katanya terucap, setiap kali keburu menangis lebih dulu sehingga sukar bicara.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara mendesis, di atas dinding mendadak tersembur asap.

Cepat Pwe-giok menyurut mundur sambil berseru.

"Awas, gas racun, tutup nafas!"

Padahal tanpa diberitahu juga Hay Tong-jing dan Cu Lui-ji sudah menahan nafas, tapi berapa lama mereka sanggup bertahan?

Betapapun batas waktu tahan nafas seseorang kan terbatas.

Gas racun itu terus menguap dari kanan kiri dinding kamar itu, sekalipun mereka dapat tahan nafas lebih lama daripada orang biasa juga takkan lebih dari setengah jam.

Hay Tong-jing mengertak gigi, dengan nekat ia menghantam dinding, tenaga pukulannya maha dahsyat, semua meja kursi yang mepet dinding sama bergetar roboh.

Tapi dinding tetap tak bergerak, retak sedikit saja tidak ada.

Sejenak kemudian, seluruh ruangan berubah seperti sebuah anglo, panas dan menyesakkan nafas.

Luka Lui-ji belum sembuh, dahinya penuh butiran keringat.

Baru saja Pwe-giok hendak mengusapkan keringat si nona, tiba-tiba dilihatnya lengan baju sendiri penuh kapur putih, padahal dia berdiri di dalam ruangan itu, darimana datangnya kapur itu?

Waktu ia menengadah, terlihat atap rumah merekah satu garis.

Pwe-giok terkejut dan bergirang, mendadak ia melompat ke atas, sepenuh tenaga ia menumbuk atap kamar.

"Blang", kapur dinding berhamburan seperti hujan gerimis, garis retakan atap rumah juga bertambah lebar. Kalau sekeliling ruangan ini terkurung dengan dinding besi, hanya atap rumah saja yang bukan. Tanpa disuruh, sebelum tubuh Pwe-giok anjlok ke bawah, serentak Hay Tong-jing juga menumbuk ke atas. Getaran sekali ini terlebih keras, bubuk kapur beterbangan, di tengah kabut asap tebal itu bayangan Hay Tong-jing sudah menghilang, di atap rumah juga bertambah sebuah lubang besar. Segera Cu Lui-ji dan Ji Pwe-giok ikut menerobos keluar melalui lubang atap itu. Tertampaklah di atas juga sebuah ruangan yang indah. Terdapat tempat tidur dengan kelambu terurai, agaknya disitulah kamar tidur Oh-lolo. Kamar itu tidak ada orangnya, Hay Tong-jing sudah melompat keluar, di atas loteng ini seluruhnya ada enam kamar, tapi tiada satupun berpenghuni. Setiap kamar yang mungkin dibuat sembunyi sudah mereka cari dan geledah, tapi tidak diketemukan seorangpun, baik di atas loteng maupun di bawah.

"Apakah orang she Ji dan nenek celaka itu sudah tahu kita bakal menerjang keluar, maka mereka telah kabur lebih dulu?"

Ujar Lui-ji sambil berkerut kening.

"Mereka takkan kabur, tempat ini adalah hasil jerih payah mereka. Mana bisa mereka tinggalkan begitu saja,"

Jengek Hay Tong-jing sambil bicara secepat terbang ia terus melayang keluar. Memandangi bayangan punggung orang, Lui-ji juga mengejek.

"Hm, cara bicara bocah hitam ini seolah-olah segalanya serba tahu, padahal segala apa sebenarnya dia tidak tahu."

"Tapi kau pun jangan lupa akan kebaikannya,"

Ujar Pwe-giok dengan suara lembut.

"Sekali ini, kalau tidak ada dia, mungkin kita akan terkurung dan mati sesak nafas di ruangan ini."

Lui-ji tidak dapat menerima alasan Pwe-giok itu, katanya.

"Jelas kau yang menolong dia, mengapa kau bilang dia yang menolong kita? Jika kau tidak menemukan retakan atap kamar ini, jiwanya kan sudah amblas sejak tadi?"

Pwe-giok tertawa, perlahan dia menghapus kapur yang mengotori rambut si nona, ucapnya.

"Kau tunggu di sini, akan coba kucari ke atas sana."

"Cari apa?"

Tanya Lui-ji.

Pwe-giok tidak menjawab, sebab ia kuatir bilamana menjawab 'obat penawar', hal ini tentu akan menimbulkan rasa cemas dan duka anak dara itu.

Tapi biarpun dia dapat berpikir dengan cermat dan bertindak halus, meski dia sama sekali tidak menyebut lagi hal yang menyangkut racun di tubuh Lui-ji, tapi tidak berarti Lui-ji tidak tahu apa yang hendak dicarinya.

Setelah menghela nafas lalu Lui-ji berkata.

"Kukira tidak perlu dicari lagi, mereka sudah kabur, mana bisa meninggalkan obat penawar di sini. Apalagi, hakekatnya kita pun tidak tahu macam apakah obat penawar yang dimaksud."

Pwe-giok termenung sejenak, katanya kemudian.

"Kupikir bilamana mereka sudah berhasil mengurung kita, tentunya mereka takkan lari. Mereka pasti baru lari setelah mengetahui kita berhasil menerjang keluar."

"Ya, akupun berpikir demikian,"

Kata Lui-ji.

"Sebab itulah mereka pasti belum kabur jauh, bisa jadi masih bersembunyi di salah satu tempat rahasia di atas loteng, tidak ada ruginya jika kucoba mencari lagi,"

Kata Pwe-giok. Tapi Lui-ji lantas menarik tangannya dan berkata.

"Tidak, jangan kau pergi!"

Pwe-giok melengak, tanyanya dengan suara lembut.

"Sebab apa?"

Lui-ji tidak menjawab, ia memandang jauh ke luar sana sambil termangu-mangu.

Pwe-giok juga ikut memandang menurut arah pandangan si nona, hanya sekejap saja ia memandang dan tanpa terasa tangannya berkeringat dingin, selangkah pun tidak sanggup bergeser lagi.

Ternyata di ufuk timur nun jauh di sana, lamat-lamat sudah muncul cahaya terang.

Fajar sudah menyingsing.

Pada saat yang sama inilah tiga hari yang lalu Lui-ji keracunan, jadi sekarang sudah genap tiga hari persis, racun dapat mendadak bekerja setiap saat.

Dan setiap detik pula si nona dapat roboh binasa.

Dengan sedih Lui-ji berkata.

"Sekarang tentunya kau tahu sebab apa kularang kau pergi meninggalkan diriku. Sisa waktuku sudah tidak banyak lagi, masakah kau tega meninggalkan aku?"

"Ti.. tidak, aku takkan... takkan pergi,"

Kata Pwe-giok dengan tersendat, tenggorokannya seakan-akan tersumbat, matanya sudah basah, yang diharapkannya kalau-kalau bisa terjadi keajaiban, umpamanya kalau Hay Tong-jing berhasil membawa kembali Ji Yak-ih dan nenek itu.

"Selamanya aku tidak... tidak pernah minum arak, sekarang aku ingin minum sepuas-puasnya, maukah kau mengiringi aku minum?"

Kata Lui-ji.

"Arak...?"

Pwe-giok merasa bingung.

"Mana ada arak?"

"Di tempat begini masakah tidak ada arak?"

Ujar Lui-ji dengan tersenyum, ia tarik tangan Pwe-giok dan mengajaknya keluar dari taman mini itu.

Taman di luar penuh dengan bunga yang mekar semerbak dengan warna-warni yang cemerlang.

Akan tetapi jiwa Cu Lui-ji sudah mendekati layu.

Terdengar suara jeritan kaget, suara bentakan serta suara orang ditempeleng di berbagai paviliun sana.

Menyusul dari setiap rumah itu lantas berlari keluar seorang lelaki dalam keadaan kedodoran, rambut kusut, muka bengap, lari ketakutan seperti anjing digebuk dengan menjinjing celana yang tidak keburu dipakai.

"Lagi kerja apa si setan hitam tadi?"

Tanya Lui-ji heran. Meski merasa geli juga, dengan sendirinya Pwe-giok tidak dapat tertawa. Lui-ji berkata pula.

"Jangan-jangan dia sedang mencari nenek tadi? Jika nenek itu mau bersembunyi di sini, kan sama bodohnya seperti dia. Caranya mengobrak-abrik tempat ini tentu sudah membikin orang yang hendak dicarinya kabur sejak tadi-tadi. Tiba-tiba bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Hay Tong-jing sudah berdiri di depan Lui-ji, mukanya yang hitam itu penuh keringat dan juga berlepotan kapur sehingga kelihatan lucu.

"Eh, apakah kau lagi main sebagai badut?"

Tegur Lui-ji dengan tertawa.

Sekali ini Hay Tong-jing hanya memandangnya sekejap dan tidak omong apa pun.

Siapa lagi yang sampai hati bicara kasar terhadap seorang nona jelita yang sudah dekat ajalnya?

Melihat sikap Hay Tong-jing itu, Pwe-giok tahu sudah tidak ada harapan lagi, namun ia tetap juga bertanya.

"Tidak kau temukan?"

"Mereka tak dapat lari, akan kucari lagi, kalian jangan meninggalkan tempat ini,"

Kata Hay Tong-jing.

Sudah begini, cara bicaranya masih penuh kepercayaan kepada kemampuan sendiri, bahkan hakekatnya tidak perlu mendengar pendapat orang lain, begitu habis omong, segera ia melayang pergi.

"He, tunggu!"

Seru Lui-ji. Tubuh Hay Tong-jing yang sudah mengapung ke atas itu hinggap di dahan pohon dan bertanya.

"Ada apa?"

"Nona Hiang-hiang itu tinggal di loteng mana, akan kujenguk dia,"

Kata Lui-ji.

Hay Tong-jing berkerut kening, tapi ia tidak menolak, ia menuding ke salah sebuah paviliun itu lalu melayang pula lebih tinggi, sekali berkelebat menghilanglah bayangannya.

Lui-ji tarik Pwe-giok ke depan sana, katanya dengan tertawa.

"Marilah, kita ke sana untuk minum arak. Arak di tempat si Harum tentu juga harum." ***** Di serambi bawah paviliun berloteng itu tergantung sebuah kurungan burung, ada seekor beo besar dengan paruhnya yang merah kekuning-kuningan, begitu melihat orang datang seketika burung itu berkaok-kaong.

"Hiang-hiang! Hiang-hiang! Lekas keluar menyambut tamu, kalau tidak awas, ku pukul pantatmu!"

Lalu suara seorang perempuan mengomel sambil tertawa di balik ruangan yang berkerai sana.

"Beo sialan!"

Lalu keluarlah si nona Harum.

Nona ini memang cantik, raut muka potongan daun sirih, belum bersuara sudah tertawa.

Rambutnya digelung tinggi, langkahnya lemah gemulai, gayanya menggiurkan.

Semalam waktu mengantar pulang tamunya, perempuan ini sudah dilihat oleh Pwe-giok dan Lui-ji, waktu itu dia bersolek berlebih-lebihan, tapi sekarang dia sudah berubah sama sekali, tidak lagi kelihatan dandanan sebagaimana perempuan nakal umumnya.

Sebaliknya sikapnya kelihatan anggun, gerak-geriknya sopan, tiada sedikitpun tanda genit.

Terhadap apa yang terjadi di dalam taman ini seolah-olah tidak tahu sama sekali.

Dengan lembut nona Harum itu memberi hormat dan menyambut kedatangan Lui-ji berdua, sikapnya yang simpatik ini jauh melebihi siapa pun yang menyambut kedatangan kawan karib sendiri.

Tiba-tiba Lui-ji bertanya.

"Apa yang terjadi di sini tadi, masakah kau tidak dengar sama sekali?"

"Seperti mendengar suara apa-apa,"

Jawab Hiang-hiang atau si Harum dengan biji mata berputar.

"Tahukah kau apa yang terjadi sebenarnya?"

Tanya Lui-ji pula.

"Ya, seperti tahu sedikit,"

Jawab Hiang-hiang dengan tertawa.

"Kau tidak kaget? Dan juga tidak takut?"

Hiang-hiang menghela nafas perlahan, ucapnya dengan tak acuh.

"Orang seperti kami ini, biarpun kaget dan takut di dalam hati, tapi kalau kedatangan tamu, lebih dulu kami harus melaksanakan tugas menyambut tamu, kalau sudah berada sendirian barulah boleh kaget dan takut."

"Tapi tentunya kau tahu bahwa kami bukanlah tamumu dan juga tidak akan memberi gelang emas segala,"

Ujar Lui-ji. Hiang-hiang tersenyum, jawabnya.

"Bagiku, siapa saja yang berkunjung ke sini adalah tamu agungku..."

"Tamu seperti diriku juga kau terima?"

Tanya Lui-ji.

"Nona cantik seperti engkau, mengundang saja sukar, masa tidak ku sambut dengan senang hati?"

Ujar Hiang-hiang dengan tertawa. Lui-ji memandangnya sejenak, tiba-tiba iapun tertawa, katanya.

"Sebenarnya hendak kucari perkara padamu, tapi setelah mendengar katamu yang manis ini, biarpun dada hampir meledak juga akan lenyap rasa gusarku. Pantas kaum lelaki suka datang ke sini, orang cantik seperti kau, aku saja suka, umpama aku disuruh memberi seratus pasang gelang emas padamu juga ku rela."

"Apabila nona suka sering-sering kemari, biarpun lelaki seluruh dunia ku tutup di luar pintu juga tidak menjadi soal bagiku,"

Kata Hiang-hiang dengan tertawa.

"Jika demikian, hendaklah kau sediakan arak bagiku."

"Kedatangan nona sungguh sangat kebetulan, di sini memang tersedia sebotol Li-ji-hong (nama arak), cuma sayang tidak ada santapan enak, biarlah kubuatkan sendiri ayam rebus untuk teman arak nona,"

Kata Hiang-hiang.

Kepandaian perempuan hiburan demikian memang luar biasa, cukup beberapa patah kata saja, Lui-ji sudah terbujuk hingga tunduk dan menurut.

Padahal dia cuma seorang anak perempuan, apalagi kalau seorang anak muda, kalau masuk ke tempat beginian, mustahil kalau tidak terus terjerumus.

Waktu santapan dan arak sudah disediakan, Lui-ji berbalik ingin menyuruh Hiang-hiang lekas pergi, cuma ia merasa serba susah untuk berkata.

Tapi tanpa Lui-ji bicara, Hiang-hiang cukup memandang sinar matanya saja sudah tahu apa kehendaknya, dengan tertawa ia berkata.

"Nona tumben kemari, seharusnya kuiringi minum satu dua cawan di sini, tapi... tapi tanpa kehadiranku tentu nona akan minum terlebih gembira, begitu bukan?"

Tanpa menunggu jawaban Lui-ji ia terus melangkah keluar dengan tertawa, bahkan pintu lantas dirapatkan dengan perlahan.

"Kita datang bersama, kukira yang akan dilayaninya tentu hanya kau saja, dan aku takkan dihiraukannya. Siapa tahu dia seperti tidak melihat kehadiranku, bahkan satu kata saja tidak mengajak bicara padamu,"

Kata Lui-ji dengan tersenyum. Pwe-giok hanya tertawa saja tanpa menanggapi. Dengan tertawa Lui-ji berkata pula.

"Bisa jadi dia dapat menduga aku ini tidak boleh direcoki, bila aku tidak dihiraukan, tentu akan kucari perkara padanya. Sebaliknya kalau tidak menghiraukan kau, tentu aku akan senang dan juga takkan marah."

Ia tidak tahu bahwa perempuan dari kalangan hiburan seperti Hiang-hiang ini, sekalipun ada 200 tamu datang sekaligus, cukup sekali pandang saja dia dapat mengetahui siapa diantaranya yang berkantong tebal dan kepada siapa dia harus merayu.

Dan kalau lelaki itu mengira si Harum telah jatuh cinta padanya, maka dia harus siap untuk menjual rumah, menjual tanah, bahkan bisa jadi bercerai dengan isterinya.

***** Arak Li-ji-hong memang harum dan sedap, cuman sayang dalam keadaan demikian, biarpun arak enak juga terasa hambar diminum Pwe-giok.

Setelah minum dua-tiga cawan, muka Lui-ji sudah merah, ucapnya sambil tertawa mengikik.

"Tak tersangka arak adalah minuman sebaik ini, waktu kuminum cegukan pertama, kurasakan tidak lebih enak daripada air jeruk, tapi setelah minum secawan barulah kurasakan arak memang minuman paling bagus di dunia ini. Apabila ada orang bilang air jeruk lebih enak daripada arak, maka orang itu pasti maha tolol."

"Ya, mi... minumlah beberapa cawan lagi,"

Kata Pwe-giok.

Mestinya dia bermaksud mencegahnya agar jangan minum terlalu banyak, tapi setelah dipikir lagi, ia merasa keadaan Lui-ji sekarang memang perlu minum arak lebih banyak, kalau tidak minum arak, urusan apa lagi yang dapat dikerjakannya?

Dengan tertawa Lui-ji menjawab.

"Baik, dan kau harus ikut minum."

"Berapa banyak kau minum tentu akan kuiringi,"

Kata Pwe-giok dengan tertawa. Lui-ji menatapnya lekat-lekat, sampai sekian lamanya barulah ia dapat berkata pula dengan kepala tertunduk.

"Kau tidak suka mengiringi aku minum?"

"Masa aku tidak suka mengiringi kau minum?"

Ujar Pwe-giok.

"Jika begitu... mengapa kau murung?"

"Aku..."

Sungguh Pwe-giok tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Dalam keadaan demikian dan pada saat begini, mana dia dapat bergembira? "Ku tahu engkau lagi sedih bagiku,"

Ucap Lui-ji dengan muram.

"Padahal, kaupun tidak perlu berduka. Aku hanya anak perempuan yang tidak ada artinya, mestinya tidak perlu kau pikirkan diriku."

"Meng... mengapa kau bicara demikian, kau..."

Suara Pwe-giok menjadi serak.

"Habis, apa yang harus kukatakan? Sedangkan aku tidak tahu apakah engkau benar-benar baik padaku atau tidak?"

"Sudah tentu benar-benar aku baik padamu."

Lui-ji menunduk dan memainkan ujung bajunya, katanya.

"Sebab apa kau baik terhadapku?"

Pwe-giok jadi melenggong, jawabnya tergagap.

"Sebab... sebab..."

"Memang sudah kuketahui tak dapat kau jawab,"

Tukas Lui-ji.

"sebab hakekatnya kau memang tidak suka padaku."

Belum habis ucapannya, air mata sudah bercucuran. Pwe-giok tidak tega, ia mendekati si nona dan membelai dengan perlahan, ucapnya.

"Siapa bilang aku tidak suka padamu?"

Mendadak Lui-ji mendongak, air mata yang mengembeng di kelopak matanya mencorong terang.

"Kau... benar-benar kau suka padaku?"

Ia menegas dengan pandangan lekat-lekat.

"Sudah tentu benar,"

Jawab Pwe-giok.

"Jika begitu, apakah kau sudi... sudi memperisterikan diriku?"

Kembali Pwe-giok melenggong, benar-benar melenggong. Dengan suara halus Lui-ji berucap pula.

"Meskipun aku sudah hampir mati, tapi asalkan aku masih hidup sejenak di dunia ini, dengan sepenuh hati aku akan menjadi istrimu. Sesudah ku mati, biarpun seketika kau kawin lagi dengan perempuan lain juga aku takkan menyalahkan kau."

Tak terkatakan rasa pilu hati Pwe-giok, setiap kata si nona seolah-olah jarum yang menusuk hulu hatinya. Lui-ji memandangnya dengan air mata berderai pula, ucapnya sambil menunduk.

"Jika kau tidak... tidak menerima, akupun tidak menyesalimu, aku toh..."

Ia tidak meneruskan ucapannya. Tapi mendadak Pwe-giok berseru.

"Kuterima permintaanmu."

Kejut dan girang Lui-ji, sekujur badannya bergemetaran, katanya.

"Dengan se... setulus hatimu atau karena terpaksa?"

"Mana bisa terpaksa,"

Ujar Pwe-giok dengan suara lembut.

"Lelaki manapun juga, kalau dapat mempersunting isteri seperti kau, maka beruntung dan bahagialah dia."

Dengan termangu-mangu Lui-ji memandangi Pwe-giok, mendadak ia merangkulnya erat-erat sambil berteriak.

"Oo, alangkah gembiranya aku! Ku ingin agar setiap orang di dunia ini mengetahui betapa gembira hatiku! Ingin kusuruh setiap orang di dunia ini ikut merasakan kegembiraanku!"

Lalu ia berlari keluar, sambil mementang kedua tangannya ia berteriak.

"Hiang-hiang! Hianghiang!... maukah kau undang semua kawanmu ke sini? Akan ku jamu mereka makan minum, perjamuan hari bahagiaku..." ***** Harapan Lui-ji benar-benar telah dipenuhi oleh Hiang-hiang, ia telah mengumpulkan segenap nona yang menghuni Bong-hoa-lau ini. Mungkin di dunia ini jarang ada tamu sebaik kawanan nona penghuni Bong-hoa-lau ini. Betapa tidak, makan mereka tidak banyak, tapi sanjung puji mereka tidak sedikit, semuanya pintar omong yang baik dan mahir berdoa bagi yang empunya hajat. Bahkan setiap orang membawa kado, biarpun cuma sekotak pupur, setangkai bunga mutiara goyang, atau sepotong sapu tangan bersulam. Semua kado itu tidak tinggi nilainya, tapi dalam pandangan Lui-ji terasa sedemikian berharga dan menyenangkan, padahal barang-barang itu hampir dimiliki oleh setiap anak perempuan. Tapi bagi Lui-ji yang malang ini, selama hidupnya belum pernah mendapatkan benda semacam itu. Di ruangan tamu yang sempit itu pun sudah dipajang dengan semarak, dinyalakan pula sepasang lilin merah tanda bahagia. Tidak kepalang gembira Lui-ji, dia seperti seekor burung kecil, mengoceh dan berkitaran di antara tetamunya, terkadang ia pun mendekati Pwe-giok dan bisik-bisik dengan asyik dan masyuk. Setiap orang sama kagum padanya, bahkan ada yang iri. Hanya Pwe-giok saja yang penuh rasa duka dan pedih. Sorot matanya sedetikpun tidak pernah meninggalkan Lui-ji, ia kuatir setiap saat anak dara itu akan roboh mendadak. Dilihatnya Lui-ji sedang menarik Hiang-hiang ke samping sana dan entah apa yang dibisikkannya. Dengan tertawa Hiang-hiang lantas berkata.

"Baik, akan kubawa kau ke sana."

Lui-ji memandang sekejap ke arah Pwe-giok, ucapnya dengan tersenyum.

"Tunggu sebentar, segera ku kembali!"

"Hendak kemana kau?"

Tanya Pwe-giok. Muka Lui-ji tampak merah, jawabnya.

"Urusan anak perempuan, jangan tanya!"

"Tapi sekarang dia sudah boleh mulai belajar bukan?"

Ujar Hiang-hiang.

Sambil mengikik tawa Lui-ji lantas mendorong keluar Hiang-hiang.

Kusut pikiran Pwe-giok memandangi kepergian Lui-ji.

Terdengar seorang nona bermuka bulat seperti apel berkata dengan tertawa.

"Ini namanya cinta sejati, satu detik saja merasa berat untuk berpisah. Sungguh entah betapa bahagianya nona Cu ini mendapatkan jodoh sebaik ini."

Meski Pwe-giok juga ingin berkelakar dengan mereka, tapi hatinya penuh rasa duka, apalagi ia memang sangat lelah, setelah minum arak tubuh bertambah lemas, benaknya juga terasa gelap, rasanya ingin tidur sekenyangnya.

Entah berapa lama pula, hati Pwe-giok tambah gelisah karena Lui-ji belum nampak kembali.

Syukurlah pada saat itu juga di luar terdengar suara langkah orang, ia merasa lega.

Siapa tahu yang muncul hanya Hiang-hiang saja seorang.

Seketika berubah air muka Pwe-giok, serunya.

"Dimana dia?"

"Kongcu jangan kuatir,"

Jawab Hiang-hiang dengan tertawa.

"tidak nanti pengantin perempuannya lari."

Meskipun agak rikuh, kembali Pwe-giok bertanya pula.

"Mengapa dia tidak ikut kembali?"

"Dia berada di loteng,"

Tutur Hiang-hiang dengan tertawa.

"Ada kerjaan di loteng, ia kuatir terlalu lama kau menunggu, maka aku disuruh menyampaikan sepucuk surat."

Para nona kembali tertawa cekakak dan cekikik lagi. Si muka apel berkata pula dengan tertawa.

"Orang bilang sehari tidak bertemu laksana berpisah tiga tahun. Tapi mereka baru berpisah sejenak sudah lantas main surat-suratan. Kalau sehari tidak bertemu, wah, entah bagaimana jadinya?"

Waktu Lui-ji masih berada di sini, memandang Pwe-giok sekejap saja mereka tidak berani.

Tapi setelah Lui-ji pergi, beramai-ramai mereka lantas berkerumun di sekitar Pwe-giok.

Dengan sendirinya Pwe-giok tak dapat mengusir mereka, juga malu untuk membaca surat di depan mereka.

Ia menjadi gelisah dan serba salah.

Akhirnya dia tidak tahan, ia membuka surat itu.

Dilihatnya surat itu berbunyi, Kakak Giok sayang, Ada suatu hal sudah lama ingin kukatakan padamu, tapi sebegitu jauh sukar terucapkan olehku, sebab ku kuatir akan didamprat olehmu.

Sesungguhnya aku tidak keracunan.

Hanya sedikit racun pada kuku Oh-lolo itu mana mampu mencelakai diriku?

Sebabnya aku pura-pura keracunan, tujuanku hanya ingin menguji hatimu, ingin ku tahu apakah kau akan cemas bagiku, apakah kau benar-benar memperhatikan diriku.

Sungguh tak terpikir olehku bahwa urusan ini akan mengakibatkan kau menderita sehebat ini, sampai jiwa pun hampir melayang.

Sudah berapa kali hendak kukatakan padamu bahwa aku tidak keracunan, tapi demi melihat penderitaanmu bertambah hebat, semakin tak berani kukatakan terus terang.

Ku tahu sekarang kau pasti sangat benci padaku, tapi terserahlah padamu.

Sebab akhirnya aku toh sudah menjadi istrimu.

Inilah cita-citaku yang paling utama selama hidupku, setelah cita-cita ini tercapai, urusan lain pun tidak kupikirkan lagi.

Kupikir, agar kegembiraan dan kebahagiaan hari ini dapat dipertahankan selama-lamanya jalannya hanya ada satu, yaitu mati.

Hanya dengan kematianlah dapat kubalas kebaikanmu, dan barulah hatiku dapat tenteram.....

Tulisan dalam surat itu makin lama makin tak keruan dan sukar dibaca, pandangan Pwe-giok juga tambah lama tambah kabur.

Nyata air matanya sudah berlinang linang dan sukar ditahan lagi.

Ketika membaca sampai dengan huruf "mati", serentak ia menerjang keluar, melompat ke atas loteng sambil berteriak.

"Lui-ji! Tunggu dulu! Harus kau tunggu dulu ...."

Tapi Lui-ji tidak mendengar lagi suaranya.

Sesudah Pwe-giok mendobrak pintu, Lui-ji sudah rebah di lantai, tangannya yang pucat itu memegang pisau, baju dibagian dadanya berlepotan darah.

Apabila Pwe-giok tak dapat menguasai emosinya, saat ini tentu dia akan menubruk ke atas tubuh Lui-ji dan menangis sekeras-kerasnya, dengan demikian sedikit banyak akan mengurangi rasa dukanya.

Tapi sekarang dia hanya berdiri kaku di situ, hatinya telah mati rasa oleh duka nestapanya, meski sudah banyak ia belajar menahan rasa duka, tapi sekarang seluruh badannya serasa runtuh habis-habisan.

Mendadak terdengar Hiang-hiang mendengus.

"Dia sudah mati, apakah kau hanya memandangnya begini saja? Kau tahu, meski bukan tanganmu sendiri yang membunuhnya, tapi dia tiada ubahnya seperti mati di tanganmu."

"Kutahu,"

Jawab Pwe-giok dengan hati remuk redam.

"Kalau sudah tahu, mengapa kau dapat hidup lagi?....."

Kata Hiang-hiang.

"Bila dia dapat membalas kebaikanmu dengan mati, mengapa tidak dapat kau balas cintanya dengan kematian pula?"

Pwe-giok masih berdiri seperti patung, sampai lama sekali tetap tidak bersuara.

"Hm, baru sekarang ku tahu apa sebabnya dia ingin mati,"

Jengek Hiang-hiang pula.

"Sebab dia tahu lantaran dia sudah dekat ajalnya, maka kau mau menikahi dia. Kalau dia tidak mati, mungkin kaupun takkan mengakui dia sebagai istrimu. Betul tidak!"

Pwe-giok tambah bingung dan tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Tiba-tiba suara Hiang-hiang berubah beringas, katanya.

"Mengapa kau diam saja? Tidakkah diam berarti mengakui? Hm, lelaki tidak berbudi dan tidak setia semacam kau, sungguh ingin ku....ingin kuhajar kau!"

Sambil bicara, tangannya terus menggampar ke muka Pwe-giok.

Sama sekali Pwe-giok tidak mengelak, ia masih memandangnya dengan termangu-mangu.

Maklumlah, setiap orang tentu berpendapat bahwa derita badaniah akan dapat meringankan siksaan rohaniah.

Dan beginilah jalan pikiran Pwe-giok.

Di luar dugaan, tangan Hiang-hiang yang putih dan lemas seperti tak bertulang itu, ketika mengenai badan Pwe-giok mendadak berubah menjadi keras seperti baja, bahkan tepat menghantam pada Hiat-tonya.

Seketika Pwe-giok merasa badan kaku kesemutan, kontan ia roboh terkulai, dengan terbelalak ia pandang Hiang-hiang, sorot matanya jelas menunjukkan rasa kaget dan tidak percaya.

Pelahan Hiang-hiang meraba muka Pwe-giok, ucapnya dengan terkikik.

"Dia sudah mati, ku tahu kau pasti tidak mau hidup sendiri, maka biarlah kupenuhi kehendakmu......" ***** Waktu Hay Tong-jing datang lagi, ia merasa tempat Hiang-hiang itu terang benderang dengan cahaya lilin, sisa makanan dan minuman masih berserakan, muka setiap nona merah, tampaknya kebanyakan sudah hampir mabuk disertai suasana gembira. Tapi Pwe-giok dan Lui-ji tidak berada di sini lagi, baru saja Hay Tong-jin hendak bertanya, dilihatnya Hiang-hiang telah menyongsongnya. Dengan riang gembira setengah mengomel Hiang-hiang tarik lengan baju Hay Tong-jing.

"O, sayang, sudah lebih sebulan tidak berjumpa, tampaknya kau sudah banyak berubah. Tadi para Taci sama ketakutan karena tindakanmu, sekarang kaupun sedingin ini padaku."

Ia tertawa genit sambil menggigit bibir, lalu berkata pula.

"Dan sesudah kau geledah, tentunya kau percaya bahwa di tempatku ini tidak menyembunyikan lelaki lain, bukan?"

Hay Tong-jing memandangnya dengan dingin, mendadak ia mengipatkan tangan Hiang-hiang yang memegangnya, lalu menuding lilin dan bertanya.

"Apa-apaan ini? Kau main gila apa lagi?"

Dengan muka merah dan mata basah Hiang-hiang menjawab dengan menunduk.

"Orang hina semacam kami ini dengan sendirinya tidak perlu kenal lilin merah dan perjamuan segala... Ku tahu kau pandang rendah diriku ini, tapi kan tidak perlu melukai perasaan orang dengan ucapan yang kejam ini?"

"Melukai perasaanmu? Jika kaupun punya perasaan, wah, boleh juga"

Dengus Hay Tong-jing. Mendadak ia menelikung tangan Hiang-hiang dan berkata dengan suara bengis.

"Hendaknya kau tahu, kedatanganku ini bukan untuk pelesir, kaupun tidak perlu merayu diriku. Tentunya kau kenal diriku, aku ini bukan orang yang kenal kasihan kepada siapapun"

Agaknya Hiang-hiang kesakitan sekali sehingga mengeluarkan air mata, jawabnya dengan suara gemetar.

"Ya,ku...ku tahu"

"Baik, sekarang harus kau jawab sejujurnya semua pertanyaanku, jangan coba-coba main gila, paham?"

"Ya, pah...paham"

"Nah, katakan, sesungguhnya apa yang terjadi di sini?"

"Ada orang kawin"

"Siapa yang kawin?"

"Siapa lagi, tentunya kedua kawanan itu, Ji-kongcu dan Cu-kohnio (nona Cu)"

Melengak juga Hay Tong-jing, serunya.

"Mereka kawin di sini? Kau kira aku percaya?"

Berbareng ia memencet sekerasnya sehingga Hiang-hiang menjerit kesakitan, serunya.

"Untuk apa ku bohong? Kuharap kau lepaskan tanganku! Jika tidak percaya, bolehlah kau tanya mereka saja!"

Pelahan Hay Tong-jing melepaskan genggamannya dengan hati bimbang.

Jilid 5________ Hiang-hiang memijit pergelangan tangannya yang kesakitan sambil memandang Hay Tongjing.

"Apa katamu?"

Tanya Hay Tong-jing.

"Kulihat kau pasti juga menyukai nona Cu itu, cuma sayang dia sudah...."

"Plak", belum habis ucapan Hian-hiang, tahu-tahu Hay Tong-jing telah menggamparnya sehingga dia mencelat jauh ke sana dan terbanting cukup keras. Keruan nona yang lain menjadi ketakutan dan tiada yang berani bergerak. Hiang-hiang menangis sambil mendekap mukanya, ratapnya.

"Kejam amat kau, jika mau, bunuh saja diriku sekalian!"

Dengan suara bengis Hay Tong-jing membentak.

"Supaya kau tahu, jangan kau main gila di depanku, jika kau berani menangis lagi, bisa kubinasakan kau dahulu"

Hiang-hiang benar-benar tidak berani menangis lagi.

"Orang galak hanya takut pada orang yang lebih galak", agaknya pepatah ini memang beralasan. Perempuan macam Hiang-hiang, bilamana kau sungkan padanya, maka yang celaka adalah dirimu sendiri. Hay Tong jing lantas berkata pula.

"Baik, sekarang berdirilah kau, tunjukkan padaku dimana mereka."

Sambil menangis Hiang-hiang menjawab.

"Tidak perlu cari lagi, mereka... mereka sudah pergi sejak tadi."

"Hm, memang sudah kuketahui tiada sepatah katapun ucapanmu dapat dipercaya."

Jengek Hay Tong-jing. Mendadak ia menyeret bangun Hiang-hiang, lalu membentak pula.

"Coba katakan, kemana mereka pergi? ...."

"Nona ... nona Cu itu seperti mengidap penyakit berat apa, rupanya dia menyadari umurnya tidak panjang lagi, maka Ji-kongcu didesak agar menikahi dia, bahkan kami dipaksa mengadakan perayaan bagi perkawinannya,"

Tutur Hiang-hiang. Cerita ini mau tak mau harus dipercaya oleh Hay Tong-jing, diam-diam ia seperti menghela napas, tanyanya kemudian.

"Lalu bagaimana?"

"Lalu merekapun masuk kamar pengantin, malahan aku diminta menjadi pengapitnya, dengan sendirinya akupun ikut bahagia bagi mereka, siapa tahu begitu masuk kamar pengantin, mendadak ... mendadak nona Cu itu ...."

"Mendadak kenapa?"

Hay Tong-hiang menegas dengan terkesiap.

"Baru saja mereka masuk kamar, seketika nona Cu roboh, tujuh lubang inderanya mengeluarkan darah, keadaannya sungguh sangat mengerikan. Aku menjadi kaget dan ketakutan, hampir saja ku jatuh pingsan. Kulihat Ji-kongcu itu menatap mayat nona Cu dengan terkesima seperti orang linglung, mendadak ia memondong mayat nona Cu terus dibawa keluar...."

Hiang-hiang menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan rawan.

"Ketika kususul keluar, ternyata mereka sudah menghilang entah kemana, sungguh cepat sekali lari Ji-kongcu itu seperti bisa terbang saja, betapapun tak dapat kususul dia."

"Mengapa kejadian ini tidak kau ceritakan sejak tadi?"

Bentak Hay Tong-jing.

"Karena...karena para saudara di sini tidak ada yang tahu kejadian ini, maka sengaja ku tutup rahasia ini,"

Jawab Hiang-hiang dengan menunduk.

"Mengapa kau tutup rahasia ini bagi mereka?"

Dengan muka merah Hiang-hiang menjawab.

"Ku kuatir bilamana diketahui di kamarku ada orang mati, kalau cerita ini tersiar dan diketahui para tamu langgananku, bisa jadi semua langgananku akan meninggalkan diriku."

Cerita ini memang cukup beralasan dan masuk akal, sedikitpun tidak ada titik kelemahannya.

Apalagi Hay Tong-jing juga mengetahui Cu Lui-ji memang keracunan dan racun akan bekerja hari ini, bilamana si nona mati keracunan, ia tahu Ji Pwe-giok pasti juga akan sangat berduka.

Dan seorang kalau terluka berduka, dengan sendirinya tindak-tanduknya akan luar biasa dan tidak mengherankan jika mendadak ia lari pergi dengan membawa mayat Cu Lui-ji.

Apalagi, para nona di rumah hiburan demikian pada umumnya tentu bersaing berebut langganan, jik orang lain mengetahui ada tamu mati di kamarnya Hiang-hiang, tentu mereka akan senang dan bersyukur malah.

Dan para tamu yang biasa berkunjung ke situ tentu juga tidak mau lagi datang lagi bila mengetahui kamar Hiang-hiang pernah ada kematian tamu.

Jadi hal ini tentu saja akan ditutupi oleh Hiang-hiang dan takkan diceritakannya kepada siapapun juga bilamana tidak terpaksa.

Mestinya Hay Tong-jing bukan orang yang gampang ditipu, tapi sekarang dia memang tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada keterangan Hiang-hiang itu, mau tak mau ia harus percaya.

Ia termangu-mangu sejenak, katanya kemudian sambil melototi Hiang-hiang.

"Untuk sementara ini biarlah kupercaya keteranganmu ini, tapi kelak bila diketahui kau dusta padaku sekata saja...Hmk!"

"Jika kelak diketahui ku dusta padamu, boleh kau bunuh saja diriku dan takkan kusesali dirimu,"

Jawab Hiang-hiang dengan menangis.

Hay Tong-jing tidak memandangnya lagi, dengan langkah lebar ia terus tinggal pergi.

Tapi mendadak Hiang-hiang memburu maju dan menarik lengan bajunya sambil berseru,"

Apa...apa betul kau akan pergi begini saja?"

"Sudah tentu pergi begini saja, ada apa lagi?"

Jawab Hay Tong-jing.

"Dengan setulus hati ku cinta padamu, mengapa kau berbalik tidak setia dan tidak berbudi padaku?"

Kata Hiang-hiang. Hay Tong-jing mendengus.

"Hm, terhadap orang macam kau ini juga bicara tentang setia dan budi, hah, mungkin kau ini seorang sinting."

Dengan keras ia kipatkan tangan Hiang-hiang dan melangkah pergi tanpa menoleh. Hiang-hiang tidak mencegahnya pula, setelah Hay Tong-jing sudah pergi jauh barulah ia meludah ke lantai sambil mencibir.

"Cis memangnya kau kira dirimu sangat cerdik? Huh, masih jauh! Biarpun kau pintar seperti setan juga dapat ku kerjai."

Baru sekarang si nona bermuka apel tadi mendekati Hiang-hiang, katanya.

"Bocah ini sudah buas lagi kejam, kenapa tidak mencari akal untuk membinasakan dia, tapi malah kau biarkan dia pergi?"

Hiang-hiang menghela napas, katanya.

"Meski bocah ini sok pintar. Namun kungfunya memang tidak boleh diremehkan. Untuk membunuhnya mungkin tidak terlalu mudah, sebab itulah hanya ku enyahkan dia dengan membohonginya.

"Dan kalau dia datang, lalu bagaimana?"

Tanya si muka apel.

"Seumpama dia datang lagi ke sini tentu juga dapat kuhadapi dia dengan akal lain. Apalagi jejak kita sudah ketahuan, betapapun kita tidak bisa mengendon lebih lama lagi di sini."

"Habis mau ke mana jika tinggal di sini?"

Tanya si muka apel.

"Orang semacam kita, kemanapun jadi,"

Ujar Hiang-hiang.

"Burung gagak di dunia ini sama hitamnya, lelaki di dunia ini sama busuknya, rata-rata pasti gila perempuan. Maka ke mana pun tidak menjadi soal bagi kita."

Si muka apel tertawa terkikik-kikik, tiba-tiba ia bertanya pula.

"Lantas kemanakah pengantin baru lelaki kita yang cakap dan menyenangkan itu? Apakah telah kau antar dia pulang ke rumah moyangnya?"

"O, belum,"

Jawab Hiang-hiang.

"Untuk apa menahannya lebih lama?"

Ujar si muka apel.

"Soalnya, bocah she Ji ini seperti orang yang hendak dicari oleh atasan kita. makanya Ji-lotoa berulang memberi pesan agar menangkapnya hidup-hidup dan tidak boleh dibunuh."

Si muka apel tertawa senang, katanya.

"Jika atasan menghendaki mereka, mustahil dia dapat hidup lagi?" ***** Ji Pwe-giok tidak sadar sama sekali, entah sudah berapa lamanya, ketika ia mendusin, di dalam rumah sudah dinyalakan lampu, Ji Yak-ih sedang duduk sambil minim arak di depannya. Seketika rasa duka membanjir pula, hanya sekejap saja rasa duka itu telah menguasai seluruh jiwa-raganya sehingga membuatnya lupa terkejut dan juga tidak tahut apapun. Ji Yak-ih tersenyum, katanya.

"Tampaknya tidur Ji-heng cukup lelap, sudah cukup lama kutunggu di sini dan tidak berani mengganggu tidur Ji-heng yang nyenyak."

Pwe-giok malas menggubrisnya, dilihatnya orang mengangkat guci arak Li ji-hong yang belum habis terminum itu dituangnya ke dalam poci, lalu isi guci arak lain jua dituangnya sebagian ke dalam poci terus diaduknya dengan sumpit, kemudian dia menuang arak dalam poci itu ke cawannya serta diminumnya seceguk.

"Apakah Ji-heng tahu, untuk minum Li-ji-hong ini harus dicampur sebagian dengan arak baru supaya rasanya sedap,"

Kata Ji Yak-ih dengan tertawa.

"Kalau tidak dicampur, betapapun kuatnya seorang juga pasti akan tidur nyenyak seperti Ji-heng tadi."

Ia terbahak-bahak, lalu menyambung pula "Melihat kegagahan Ji-heng, tadinya kukira Ji-heng adalah seorang Kongcu keluarga bangsawan yang gemar minum arak dan suka pelesir.

Siapa tahu Ji-heng ternyata tidak paham cara bagaimana harus minum arak."

Supaya maklum, arak yang diberi nama "Li-ji-hong"

Atau si merah anak perempuan, pada umumnya arak ini adalah sulingan sendiri keluarga hartawan di daerah Kanglam, yaitu dibuat pada waktu genap sebulan melahirkan anak perempuan, lalu arak baru itu ditanam di bawah tanah, arak itu baru dikeluarkan lagi bila anak perempuan itu sudah akil balig dan akan menikah.

Pada waktu itu arak simpanan tersebut sudah mengental dan tinggal setengah guci saja.

Sari arak ini tidak boleh diminum kalau tidak dicampur dengan arak sulingan baru.

Ji Pwe-giok sendiri meski berasal dari keluarga terpelajar dan juga kuat minum arak, tapi lantaran peraturan rumah tangganya sangat keras, mengenai hal-hal yang mengutamakan kesenangan ini boleh dikatakan sama sekali asing baginya.

Dan baru sekarang ia tahu sebabnya dia merasa pening dan ingin tidur tadi adalah karena pengaruh minum arak Li-ji-hong.

Didengarnya Ji Yak-ih lagi berkata pula dengan tertawa.

"Untung juga lantaran Ji-heng tidak paham cara minum arak sehingga sempat selamatkan jiwa seorang."

"Menolong jiwa siapa?"

Tanya Pwe-giok.

"Boleh Ji-heng melihatnya sendiri...."

Jawab Ji Yak-ih dengan tersenyum.

Tengah bicara, datanglah Hiang-hiang dengan memapah satu orang.

Orang ini memakai baju baru, walaupun tidak begitu cocok dengan ukuran badannya, tapi tetap tak dapat menutupi garis tubuhnya yang ramping, dia menunduk, rambutnya yang panjang terurai menutupi mukanya.

Siapa lagi kalau bukan Cu Lui-ji.

"He...Kau...kau tidak meninggal?"

Seru Pwe-giok terkejut dan girang. Semakin rendah Lui-ji menunduk, tidak berani menengadah dan juga tidak berani bersuara. Dengan tertawa genit Hiang-hiang berkata.

"Dia sebenarnya ingin mati, cuma sayang terlanjur mabuk, tangannya menjadi lemas, matanya menjadi kabur, pisau yang hendak digunakannya untuk menggorok leher itu salah tempat sehingga menyayat dadanya sendiri. Meski sekujur badan kelihatan berlumuran darah, padahal hanya terluka ringan saja dan tidak berbahaya."

Segera Pwe-giok hendak memburu maju, tapi segera diketahuinya bahwa kaki dan tangan sama sekali tak bisa bergerak meski pikirannya sudah sadar, agaknya Hiat-to kelumpuhannya tertutuk.

Didengarnya Cu Lui-ji sedang berkata dengan suara terputus-putus.

"Hiang... Hiang-hiang, kumohon sudilah kau bunuh saja ... bunuh saja diriku, sungguh aku... aku malu untuk bertemu lagi dengan dia."

Dengan suara halus Pwe-giok lantas berkata "Lui-ji, janganlah kau bicara demikian, sama sekali tidak kusalahkan kau, asalkan kau masih hidup, sungguh aku sangat gembira."

"Tapi, meski tidak kau salahkan diriku, padahal aku telah membikin susah padamu, mana... mana hatiku bisa... bisa tenteram dan tidak berduka?"

Ujar Lui-ji dengan air mata berderai. Mendadak Ji Yak-ih bergelak tertawa, katanya.

"Haha. sungguh adegan sandiwara yang mengharukan, sampai-sampai air mataku pun hampir bercucuran. Cuma sayang, sekarang bukan waktu main roman bagi kalian."

Dengan suara parau Lui-ji berseru.

"Kumohon sudilah kau bebaskan dia, sejauh ini dia sangat baik terhadap Oh-lolo, seumpama kau hendak membalas dendam, bagi Oh-lolo, jelas sasaranmu bukanlah dia."

"Sebenarnya aku sangat ingin membebaskan dia, cuma sayang aku tidak berkuasa."

Ujar Ji Yak-ih dengan tersenyum.

"Jika demikian, kuharap dapat bertemu dengan bunda Oh-lolo, akan ku bicara langsung dengan dia."

Kata Lui-ji.

"Akupun ingin mencarinya, cuma sayang, saat ini iapun tidak sanggup lagi mendengarkan uraianmu."

"Sebab apa?"

Tanya Lui-ji.

"Sebab dia sudah mati,"

Tutur Yak-ih dengan tak acuh.

"Hah, dia sudah mati?"

Tukas Lui-ji dengan melenggong.

"Apakah Hay Tong-jing yang membunuhnya?"

"Kukira Hay Tong-jing juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu untuk membunuhnya,"

Ujar Ji Yak-ih dengan tersenyum.

"Tadi waktu kulihat dia mengejar keluar untuk mencari diriku, sungguh perutku hampir meledak saking gelinya."

"Waktu itu kau sembunyi dimana?"

Tanya Lui-ji.

"Ketika kalian menjebol langit-langit kamar dan lolos keluar, saat itulah kubuka pintu dari bawah loteng dan sembunyi pula ke dalam kamar itu,"

Jawab Yak-ih.

"Kalian hampir membongkar segenap pelosok rumah ini, hanya kamar yang telah kalian bobol itulah yang kalian lewatkan."

Diam-diam Pwe-giok menghela napas gegetun, mau tak mau ia harus mengakui langkah Ji Yak-ih yang cerdik itu. Meski rada besar resikonya, tapi langkah itu memang benar tak terpikir oleh siapapun.

"jika begitu, siapa pula yang membunuh ibunda Oh-lolo?"

Tanya Lui-ji.

"Siapa lagi, ialah diriku ini,"

Kata Yak-ih. Sekali ini Lui-ji benar-benar terkejut, serunya "kau yang membunuh dia? Bilakah kau bunuh dia?"

"Pada waktu kalian datang kemari, mungkin mayatnya sudah membusuk,"

Tutur Yak-ih. Kembali Lui-ji melengak, ucapnya.

"Habis, siapa pula nenek yang kami lihat itu?"

Hiang-hiang tertawa, mendadak ia bicara dengan suara yang sudah berubah, ucapnya dengan terputus-putus.

"Biar... biarkan mati dia, entah sudah... sudah berapa kali kusuruh budak itu jangan... jangan mencelakai orang lain, tapi dia tidak... tidak mau menurut."

Seketika Lui-ji melongo, serunya.

"He, kiranya... kiranya nenek yang kami lihat itu ialah dirimu ini."

"Betul, memang aku inilah yang menyamarnya,"

Jawab Hiang-hiang dengan tersenyum.

"O, rupanya sesudah gagal mencelakai kami, segera kau kembali ke kamarmu sendiri dan cepat-cepat berdandan untuk memulihkan wajahmu yang asli, begitu bukan?....Pantas Hay Tong-jing tidak dapat menemukan dirimu."

"Ya, memang begitulah,"

Jawab Hiang-hiang.

"Jelas kalian berdua sudah berniat mengkhianati Oh-lolo, maka pada waktu dia keluar rumah, lalu kau sendiri menyamar sebagai orang tua itu, supaya penghuni rumah hiburan ini tidak curiga. Apalagi orang tua ini juga jarang-jarang muncul di depan umum dan orang luar pun tidak menaruh perhatian."

"Betul, cocok seperti apa yang kalian katakan, lantaran mengincar kungfunya, maka kukawin dengan Oh-lolo,"

Ujar Ji Yak-ih dengan tersenyum.

"Sekarang sudah hampir seluruh kepandaiannya telah kukuasai, dengan sendirinya aku tidak memerlukan dia lagi, malahan muak rasanya bila kulihat cecongornya itu, maka sudah lama ingin kubunuh dia, cuma sayang belum ada kesempatan baik."

"Dan pada waktu dia keluar rumah inilah lebih dulu kami membunuh ibunya,"

Sambung Hiang-hiang.

"Kami sedang menunggu pulangnya untuk membereskan dia sekalian, siapa tahu kalian sudah mendahului memberi bantuan kepada kami."

Lui-ji berdiam sejenak sambil berkedip-kedip ucapnya kemudian.

"Jika kami sudah membantu kehendak kalian, mengapa kalian masih juga ingin mencelakai kami?"

"Kan sudah kukatakan sejak tadi, semua ini adalah perintah atasan, kami sendiri tidak berkuasa,"

Ujar Ji Yak-ih.

"Perintah atasan apa? Masakan kalian juga mempunyai cukong?"

Lui-ji menegas dengan terkejut.

"Betul,"

Sahut Yak-ih.

"Siapa dia?"

Tanya LUI-ji.

"Bila kalian bertemu dengan beliau tentu kalian akan paham,"

Ujar Hiang-hiang dengan tertawa. Lui-ji tercengang sejenak, ucapnya kemudian "Maksudmu, kami kenal dia?"

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 1

Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert