Ceritasilat Novel Online

Imbauan Pendekar 1

Eps 1 Imbauan Pendekar - Khu Lung

Baca online Imbauan Pendekar - Khu Lung

Cersil Imbauan Pendekar - Khu Lung.

Imbauan Pendekar Karya Gulong/Khulung

Jilid 1________ Sang surya memancarkan cahayanya yang cerlang cemerlang, akan tetapi Li-toh-tin, kota kecil dengan hotel satu-satunya, Li-keh-can serta bangunan berloteng kecil di seberangnya telah berubah menjadi tumpukan puing.

Saat itu Ji Pwe-giok dan Cu Lui-ji bersembunyi di dalam tungku Li keh-can yang tidak terbakar dan asyik mengisahkan pengalaman masing-masing pada masa lampau.

Melalui lubang tungku yang biasanya digunakan untuk menambah kayu bakar itu dapatlah mereka melihat segala apa yang terjadi di luar.

Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah orang.

Empat lelaki berbaju hitam tampak masuk ke Li keh-can yang sudah hancur ini.

Ke empat orang ini semuanya tegap dan kekar, langkahnya cepat, tapi kaki dan tangan kelihatan kasar dan besar, kulit badannya hitam, sekali pandang saja dapat diketahui mereka pasti sudah biasa bekerja kasar.

Meski tubuh mereka kasar dan kuat, namun soal ilmu silat pasti tidak tinggi, bisa jadi belum lama mereka ikut berkecimpung di dunia Kangouw.

Untuk memimpin orang-orang semacam ini sudah tentu jauh lebih mudah daripada memerintah orang Kangouw kawakan.

Seorang yang berjalan paling depan membawa sebuah tombak, di belakangnya seorang membawa sejenis senjata garpu, dua orang lagi membawa golok dan perisai.

Begitu masuk ke hotel yang sudah berbentuk puing itu, mereka lantas membacok dan menabas kian kemari di sekeliling tumpukan puing itu, kelakuan mereka seperti ingin tahu kalau kalau di dalam tumpukan puing itu tersembunyi orang.

Lui-ji memandang Pwe-giok sekejap, meski tidak bersuara, namun dalam hati jelas si nona sangat memuji tindakan Pwe-giok yang teliti dan hati hati.

Apabila mereka bersembunyi di tempat lain, bukan mustahil saat ini sudah dipergoki orang.

Terdengar orang yang membawa tombak tadi tertawa dan berkata.

"Tindakan Tongcu terasa agak berlebihan. Setelah pembakaran ini, mana ada orang yang bersembunyi di sini?"

Orang yang membawa garpu menanggapi dengan tertawa.

"Apakah kau kira tindakan Tongcu ini adalah kehendaknya sendiri?"

"Bukan kehendaknya sendiri, memangnya kehendak siapa?"

Tanya orang yang membawa tombak. Tiba-tiba orang yang membawa garpu itu mendesis.

"Akan kuceritakan, tapi kalian tidak boleh bilang lagi kepada orang lain. Keluarnya Tongcu sekali ini konon hanya karena ingin membantu orang she Ji yang menjabat Bu-lim-bengcu itu."

"Masa membakar juga atas kehendaknya?"

Ujar yang membawa tombak.

"Dengan sendirinya juga kehendaknya,"

Kata yang membawa garpu.

"Kalau tidak untuk apa jauh-jauh Tongcu datang ke kota kecil ini untuk membakar?"

Baru sekarang Pwe-giok dan Lui-ji mengetahui ke empat orang ini bukan anak buah Ji Hongho.

Bahwa orang lain yang disuruh membakar oleh Ji Hong-ho, maka selanjutnya tanggung jawab ini dapat dibebankan kepada orang itu.

Sambil bicara, beberapa orang itu lantas menuju keluar.

Lui-ji menghela napas gegetun, ucapnya dengan suara tertahan.

"Ji Hong-ho benar-benar licik, berbuat apapun selalu mengatur jalan mundur dengan rapi, jika orang lain yang menanggung dosanya, tentu kedudukan Bu-lim-bengcunya takkan terganggu sedikitpun."

"Ya, memang,"

Tukas Pwe-giok.

"perbuatan apapun, baik membunuh atau membakar, dia selalu mendalangi di belakang layar, apabila terbongkar tentu juga orang lain yang menanggung dosanya."

"Kalau untuk membunuh dia mencari Lo-cin-jin, lalu siapa yang dia cari untuk membakar?"

Kata Lui-ji.

"Dan ... siapa pula 'Tongcu' yang disebut-sebut tadi?"

Pwe-giok berpikir, lalu berkata.

"Mungkin pemilik 'Pi-lik-tong' dari Kang-lam yang terkenal sebagai ahli dan pembuat mesiu yang tiada bandingnya di dunia ini, kalau bukan dia yang membakar, tidak mungkin api menjalar secepat ini."

"Tahukah kau siapa pemilik Pi-lik-tong itu?"

Tanya Lui-ji.

"Lui Hong,"

Jawab Pwe-giok.

"Pi-lik-tong, Lui Hong ... Pi-lik-tong, Lui Hong ..."

Lui-ji berguman mengulangi nama itu hingga belasan kali seolah-olah kuatir akan lupa lagi.

"Akan kau tuntut balas padanya?"

Ucap Pwe-giok sambil berkerut kening.

"Meski dia bukan biang keladi dalam persoalan ini, tapi apapun juga dia yang turun tangan membakar rumahku,"

Kata Lui-ji dengan perlahan.

"Apabila tidak kubalas bakar ludes rumahnya, kan kurang adil."

Pwe-giok termenung sejenak, tanpa terasa ia menghela napas panjang.

Perangai anak dara ini ternyata sedemikian keras dan tinggi hati, bilamana orang berbuat salah padanya, maka akan terukir dalam lubuk hatinya.

Usianya sekarang masih kecil, bila dia mengembara seorang diri, betapapun membuat orang kuatir.

Dalam pada itu, tiba-tiba di kejauhan sana ada seorang bergelak tertawa dan berseru.

"Aha, Lui-cu-sin-hwe (api sakti mutiara geledek) dari Pi-lik-tong memang tidak bernama kosong, baru hari ini terbuka mataku, sungguh sangat mengagumkan...". Jelas itulah suara Lim Soh-koan, dia sengaja bicara dengan suara keras seperti orang berteriak, seakan-akan kuatir bilamana orang tidak tahu bahwa Lui Hong yang telah membakar Li-toh-tin ini. Lalu seorang terbahak-bahak dan menanggapi.

"Hanya setitik apa ini saja mungkin sudah meludeskan bahan berlaksa tahil perak kami"

Suara tertawa ini penuh rasa bangga dan senang, jelas dia inilah Lui Hong, pemilik pabrik mesiu Pi-lik-tong di Kang-lam yang terkenal. Lui-ji mendengus, omelnya.

"Orang she Lui ini ternyata maha tolol, orang lain memperalat dan menonjolkan dia kepada musuh, tapi dia malah merasa bangga."

"Sssst,"

Desis Pwe-giok.

"mata-telinga orang-orang itu sangat tajam, hendaklah jangan bersuara"

Sementara itu kelihatan beberapa orang sedang melangkah ke sini sambil bersenda-gurau.

Terlihat Ji Hong-ho berjalan di depan bersama seorang tua yang gagah berjubah merah tua.

Lim Soh-koan dan beberapa orang lagi mengintil di belakang.

Kakek berjubah merah ini melangkah dengan lagak tuan besar, seolah-olah dia yang paling jempolan di dunia ini.

Hendaklah diketahui bahwa Pi-lik-tong sangat terkenal di dunia persilatan, bukan saja senjata rahasianya yang berwujud mesiu sangat ditakuti, bahkan juga berusaha menjual bahan peledak dan sebagainya sehingga mengeduk keuntungan yang tidak sedikit, kekayaan keluarga Lui yang memiliki pabrik mesiu itu sudah sukar dihitung.

Sebab itulah Lui Hong yang sudah biasa hidup senang dan dihormati itu merasa dirinya sebagai seorang tokoh jempolan.

Ke empat orang berseragam hitam yang masuk ke Li-keh-can tadi kini berdiri di tepi jalan dan menyambut kedatangan sang majikan dengan hormat.

"Diketemukan orang atau tidak?"

Tanya Lui Hong sambil mengerling anak buahnya.

"Kecuali perempuan tadi tidak diketemukan orang lain lagi"

Jawab orang yang memegang tombak tadi.

"Bagus, mundur saja kalian"

Kata Lui Hong.

Diam-diam Pwe-giok menghela napas menyesal, perempuan yang dimaksudkan mereka itu tidak perlu disangsikan lagi pasti Gin-hoa-nio adanya.

Meski sejak semula ia sudah tahu Ginhoa-nio tentu sukar meloloskan diri, kini setelah terbukti benar, hatinya tetap merasa tidak enak dan rada menyesal.

Betapapun juga kedatangan Gin-hoa-nio ini kan bersama dengan dirinya?

Dilihatnya ke empat lelaki berseragam hitam tadi masih berdiri dengan kepala tertunduk di tepi jalan, sedangkan rombongan Lui-hong sudah lalu ke sana.

Lim-Soh-koan yang membuntuti paling akhir mendadak tersenyum dan berkata kepada ke empat orang itu.

"kalian tentunya sama lelah"

"Ah, biasa."

Ucap salah seorang itu dengan hormat.

"Melihat cara kalian yang cekatan, tampaknya kalian tidak cuma sekali dua kali saja membereskan tempat kebakaran, makanya pengalaman kalian sedemikian banyak,"

Kata Lim-Soh-koan pula.

"Betul,"

Jawab orang tadi.

"Pekerjaan ini bagi kami boleh dikatakan pekerjaan biasa, pekerjaan rutin."

Mendadak Lim Soh-koan menarik muka, katanya dengan pelahan.

"Perbuatan membakar dan membunuh begini kalian anggap pekerjaan rutin?"

Orang itu jadi melengak, baru air mukanya berubah.

"Creng", tahu-tahu Lim Soh-koan sudah lolos pedangnya dan secepat kilat menusuknya. Leng-hoa-kiam andalan Lim Soh-koan terkenal cepat luar biasa, mana bisa ke empat orang itu berkelit, apalagi mimpi pun mereka tidak menyangka akan diserang oleh Lim soh-koan. Maka terlihatlah sinar pedang berkelebat.

"sret-sret-sret-sret"

Empat kali, susul menyusul terdengar, empat kali jeritan disertai berhamburnya darah.

Ke empat orang itu sudah menggeletak tak bernyawa dan menjadi setan penasaran karena tidak tahu sebab apa mereka terbunuh.

Keruan Lui Hong terkejut, ia berpaling dan berteriak.

"he, Lim Soh-koan. ap... apa yang kau lakukan?"

Lim soh-koan mengeluarkan sapu tangan putih dari bajunya dan pelahan mengusap darah yang mengotori pedangnya, lalu berkata dengan suara bengis.

"Di hadapan Bengcu, orangorang ini berani main bakar rumah rakyat yang tak berdosa, maka dapat dibayangkan betapa sewenang-wenangnya di hari-hari biasa. Kalau tidak dibinasakan mereka, apakah mereka harus dibiarkan membikin celaka rakyat jelata lebih banyak lagi?!"

"Apa... apa maksudmu ini?"

Teriak Lui Hong dengan gusar.

"Bengcu, coba... coba dengarkan apa ucapannya itu?"

Dengan tak acuh Ji Hong-ho menjawab.

"Ucapannya memang betul, setiap pengganas yang suka main bunuh dan bakar pantas dibinasakan oleh siapa pun jua"

Lui Hong menyurut mundur dua tindak, serunya dengan wajah pucat.

"Tapi... tapi engkau sendiri yang merencanakan pembakaran Li-toh-tiu ini, kau yang mengupahi Pi-lik-tong kami dengan lima laksa tahil perak dan menyuruh kami meledakkan tempat ini, mengapa... mengapa sekarang kau malah menuduh kami yang bersalah?' Ji Hong-ho tampak berkerut kening dan mendamprat pelahan.

"Huh, tindakan orang she Ji selamanya terang-terangan, mana bisa jauh-jauh mengundang kau ke sini untuk melakukan hal yang tak terpuji ini, Kau sembarangan menuduh orang, jangan menyesal kalau Bengcumu ini terpaksa bertindak untuk menumpas kejahatan bagi dunia Kangouw"

Air keringat tampak memenuhi kepala Lui Hong, teriaknya dengan suara parau.

"Kau... kau... manusia munafik, bangsat yang berlagak kesatria, meng... mengapa kau sengaja menjebak diriku? kau..."

Belum habis ucapannya, sinar pedang sudah bergulung menyambar tiba. Dengan suara bengis Lim-Soh-koan mendamprat.

"Kau berani bicara kotor kepada Bengcu, melulu dosamu ini saja harus dihukum mati"

Hanya dua tiga kalimat ia bicara, tapi pedangnya sudah menyerang tujuh atau delapan kali.

Meski pinggang Lui Hong juga bergantung sebatang golok, namun kesempatan menghunus golok saja tidak ada, tahu-tahu pundaknya sudah terluka, sembari berkelit ia terus berteriak teriak.

"Kalian semua yang hadir di sini apakah cuma menyaksikan aku dibinasakan secara begini? Dimana lagi letak keadilan dunia Kangouw?"

Namun orang-orang yang ikut datang bersama meraka itu semuanya berlagak memandang ke langit seolah-olah tidak melihat dan mendengar apapun.

Sementara itu jubah merah Lui Hong sudah terkoyak-koyak, sebuah kopiah emas pengikat rambut juga sudah terbatas putus, rambutnya semrawut seperti orang gila.

Meski nama Pi-lik-tong sangat terkenal, tapi bukan unggul dalam hal ilmu silat melainkan karena mesiunya.

Dari orang tua Lui Hong menerima warisan yang sangat besar, sejak kecil ia sudah hidup senang, hampir tidak pernah berlatih silat dengan sungguh-sungguh, sebaliknya Lim Soh-koan adalah ahli pedang yang berpengalaman, hakekatnya tidak memberi kesempatan kepada Lui Hong untuk mencabut goloknya.

Setelah terserang belasan kali lagi, napas Lui Hong sudah megap-megap dan mandi keringat, mendadak ia tertawa latah dengan suara serak, teriaknya.

"Bagus orang she Ji, kau hendak membunuhku untuk menghilangkan saksi, biarlah kusempurnakan niatmu ini !" -habis berkata, segera ia menubruk maju menyongsong ujung pedang li, Soh-koan. Rupanya ia tidak tahan serangan lawan dan menjadi nekat, tanpa ampun lagi pedang menembus dadanya. Waktu Lim Soh-koan menarik pedangnya, seketika darah segar menyembur seperti air mancur. Sambil mendekap dadanya Lui Hong lantas terhuyung huyung, matanya yang merah menyapu pandang sekejap semua orang, teriaknya pula dengan suara pedih.

"Bagus, bagus akhirnya baru kukenal betul kalian yang sok mengaku pendekar berbudi ini !"

Sedemikian seram tertawanya hingga membuat orang merinding.

Tanpa terasa Lui-ji menggenggam tangan Pwe-giok dengan telapak tangan berkeringat dingin.

sebaliknya tangan Pwe-giok juga dingin seperti es.

Dalam pada itu dari jauh tampak berlari datang dua orang, meski kedua orang ini pun memakai baju hitam ketat, namun air mukanya kaku dingin, sorot matanya lebih lebih dingin sehingga mirip orang yang memakai topeng.

Tampaknya mereka bukan anak buah Pi-lik-tong melainkan begundal Ji Hong-ho sendiri, tampaknya mereka pun membawa semacam senjata, sesudah dekat baru diketahui masing-masing membawa sebuah cangkul.

Lim Soh-koan menyimpan kembali pedangnya, lalu berkata.

"Beberapa mayat ini tidak perlu dikubur, bawa saja dan perlihatkan kepada segenap penduduk Li-toh tin, katakan Bengcu kita telah menjatuhkan hukuman setimpal kepada penjahat yang main bakar. Namun segala kerugian Li-toh-tin tetap akan diusut oleh Bengcu untuk mendapatkan ganti rugi sepenuhnya."

Kedua orang tadi mengiakan sambil memberi hormat. Tiba-tiba dari balik tumpukan puing sana ada orang berkeplok tertawa.

"Ha ha, bagus, bagus, bagus sekali! kata 'usut' ini sungguh istilah yang sangat indah!"

Berubah air muka Lim Soh-koan, sambil meraba pedangnya, ia membentak.

"Siapa itu?' "He he , Lim-tayhiap tidak perlu terkejut, aku tidak lebih hanya setengah potong nenek yang sudah hampir masuk liang kubur,"

Ucap orang itu dengan terkekeh kekeh.

"Jika Lim-Tayhiap juga ingin membunuh diriku sekalian untuk melenyapkan saksi hidup, kukira mudah daripada memites mati seekor semut."

Dari suaranya tahulah Pwe-giok dan Lui-ji bahwa pembicara itu ialah Oh-lolo.

Lui-ji menggertak gigi hingga gemerutuk, badan pun terasa gemetar.

Pwe-giok tahu anak dara ini membenci nenek keji itu sampai merasuk ke tulang, pelahan ia menepuk tangan Lui-ji agar anak dara ini bersabar.

Tangan yang kecil ini terasa dingin sekali, tanpa terasa timbul pula rasa kasihan Pwe-giok sehingga dipegangnya hingga lama.

Lui-ji lantas menunduk malah dan tidak memandangnya, entah mengapa tangan kecil yang dingin itu mendadak berubah menjadi panas membara.

Namun Pwe-giok tidak lagi memperhatikan perubahan ini, sebab waktu itu Oh lolo kelihatan muncul dengan langkahnya yang reyot, dari mulutnya terdengar suara "krat-krut"

Seperti lagi makan kacang goreng. Sembari berjalan nenek itu pun berkeluh kesah.

"Ai, semakin ompong seseorang semakin suka makan kacang. Sesuatu yang tak dapat dilakukan, semakin menarik pula untuk dikerjakan. Tampaknya setia orang memang mempunyai bakatnya sendiri-sendiri, betul tidak menurut kalian?"

Tadinya Lim Soh-koan bermaksud memburu maju, tapi demi melihat pendatang ini benarbenar seorang nenek yang sudah hampir masuk liang kubur, ia batal mendekatinya dan menantikan perkembangan selanjutnya dengan tenang.

Betapapun dia seorang Kangouw kawanan, ia tahu semakin aneh seseorang, semakin tidak boleh diremehkan dan direcoki, terutama sebangsa nenek-nenek dan kakek-kakek.

Air muka Ji Hong-ho tampak berubah juga, tapi sedapatnya ia tersenyum dan menyapa.

"Cianpwe ini apakah..."

Belum selesai ia berucap, berulang Oh-lolo menggoyang tangannya dan berseru.

"Wah, janganlah Ji-Tayhiap menyebut Cianpwe padaku, Nenek konyol macam diriku ini mana ada rejeki untuk menjadi Cianpwe seorang Bulim-bengcu. Sebutan Cianpwe barusan ini sedikitnya akan mengurangi umurku sepuluh tahun, bilamana kau panggil sekali lagi, bisa jadi nenek reyot ini akan menghadap Giam-lo-ong (Raja Akhirat)."

Meski bicaranya sangat pelahan, tapi ia seperti sengaja tidak memberi kesempatan bicara bagi orang lain. belum habis ucapannya tadi tatapannya sudah beralih lagi ke arah Lim Soh-koan, lalu menyambung.

"Nama besar Leng-hoa-kiam Lim-tayhiap sudah lama kukagumi, tapi yang keketahui adalah ilmu pedang Lim-tayhiap maha cepat, sama sekali aku tidak tahu bahwa Lim-tayhiap juga seorang ahli bahasa. Istilah 'usut' tadi sungguh sangat tepat dan sukar dicari dalam kamus."

Sudah tentu Lim Soh-koan merasakan kata yang bernada menyindir itu, terpaksa ia hanya menyengir dan menjawab.

"Tapi Cayhe tidak merasakan ada keistimewaan pada istilah itu."

"Hanya istilah yang tepat saja baru kelihatan keindahannya meski istilah itu cuma satu kata yang biasa,"

Ucap Oh-lolo dengan tertawa. Dia tunjuk puing yang masih mengepul itu dengan menyambung pula.

"Di situ tadinya adalah sebuah toko kelontong, meski tidak besar, tapi persediaan barangnya cukup banyak dan beraneka ragamnya, nilainya paling tidak ada beberapa ribu tahil perak, betul tidak?"

"Perkiraan Cianpwe tentunya tidak salah,"

Ujar Lim soh-koan dengan mengiring tawa.

"Dan toko yang serupa ini kukira ada belasan buah di Li-toh-tin ini, ada pula beberapa keluarga hartawan disekitar sini, maka kobaran api sedikitnya telah meludeskan beberapa puluh laksa tahil perak, betul tidak?"

"Taksiran Cianpwe tentunya benar,"

Kembali Lim Soh-koan mengiakan.

"Dan beberapa puluh laksa tahil perak yang ludes terbakar itu seharusnya adalah menjadi tanggung-jawab paduka tuan Bengcu kita untuk menggantinya, tapi anda tadi cuma menyatakan akan 'usut' kejadian ini, maka tanggung-jawab memberi ganti rugi ini lantas kau bebankan kepada orang lain,"

Sampai di sini Oh-lolo tertawa terkekeh-kekeh pula.

"Lantas cara bagaimana akan kau usut? siapa yang harus diusut? Kukira tidak perlu ditanyakan lagi, dengan sendirinya adalah Pi-lik-tong di Kang-lam sana. Harta kekayaan Pilik-tong sudah tentu tidak cuma berpuluh laksa tahil perak saja, sepuluh kali lipat kukira juga lebih, setelah mengganti kerugian Li-toh-tin yang terbakar ini tentu masih tersisa sebagian besar. Dengan demikian paduka tuan Bengcu kita tidak saja sudah menjadi orang yang maha bijaksana dan berbudi luhur telah membela penduduk Li-toh-tin yang menjadi korban, beliau sendiri juga akan mendapat rejeki nomplok. Hehe, jual beli cara begini sungguh nenek reyot macam diriku ini pun ingin melakukannya."

Air muka Lim Soh-koan dan lain-lain sudah sama berubah, tapi Ji Hong-ho masih tetap tak acuh, dengan tersenyum ia berkata.

"Jika demikian, bolehlah kuserahkan jual-beli ini kepada Hujin (nyonya)."

"Hujin?"

Oh-lolo menegas.

"Hehe, mengapa kau sebut Hujin padaku? Padahal selama hidupku ini belum pernah kawin. tahu tidak bahwa sampai saat ini aku ini masih perawan tulen. Ya, apa boleh buat, sudah tua begini, ingin menjadi Hujin rasanya juga sudah tidak ada yang mau lagi."

Ji Hong-ho tersenyum dan berkata pula.

"Kalau begitu, ada keperluan apakah kedatangan nona? Katakan saja terus terang, tentu akan kupenuhi,"

"Nona? Hahahaa! Nona?!"

Oh-lolo tertawa terpingkal-pingkal.

"Sedikitnya sudah 50 tahun tidak ada yang memanggil nona padaku. Panggilanmu ini membuat seluruh ruas tulangku seolah-olah lepas semua. cukup dengan panggilanmu ini maka nenek tak tega lagi mencari perkara padamu, kau tidak perlu kuatir."

Meski Ji Hong-ho masih tetap tersenyum, namun beberapa begundalnya sudah tidak tahan. Seorang bernama "Bu-eng-cu"

To hui, si tanpa bayangan, segera membentak dengan gusar.

"Kalau Bengcu bersikap baik hati padamu, hendaklah kau pun jangan terlalu latah, biarpun benar kau mempunyai sejurus dua, kukira Bengcu dan Lim-tayhiap juga tidak pandang sebelah mata, hendaklah kau tahu diri sedikit."

"Hehe, nenek reyot biasanya cukup tahu diri,"

Ujar Oh-lolo dengan tertawa.

"Jangankan di sini masih berkumpul sekian banyak kesatria dan pahlawan besar, melulu seorang Bu-eng-cu To Hui saja sudah lebih dari cukup untuk membereskan nenek reyot macam diriku ini."

To Hui hanya mendengus saja. Oh-lolo menghela napas, katanya pula.

"Cuma nenek reyot mungkin sudah bosan hidup, makanya berani datang ke sini. Ku harap To-toaya sekalian sempurnakan harapanku saja, berikan sekali bacok padaku."

Tanpa terasa To Hui memandang sekejap ke arah Ji hong-ho, seperti ingin tanya apakah sang Bengcu tahu asal-usul nenek ini.

Tapi wajah Ji hong-ho tidak memperlihatkan sesuatu perasaan pun mulut juga membungkam tanpa komentar.

dalam pada itu si nenek terus berjongkok malah sibuk makan kacangnya, tampaknya tiada sesuatu yang ditakutinya, seperti juga memang sudah bosan hidup dan menunggu orang membunuhnya.

To hui berdehem dua kali, lalu tertawa dan berkata.

"Jika kau kenal namaku, tentunya kau tahu orang she to takkan sembarang menyerang kau. Bila ku bunuh seorang nenek macam kau ini, kalau tersiar, bukankah akan ditertawakan oleh kawan dunia Kangouw?"

Oh-lolo terkekeh-kekeh, katanya.

"Hehe, tadinya kukira To-toaya ini seorang tokoh yang gilang-gemilang, siapa tahu kau tidak lebih hanya seekor beruang yang main gertak saja. Jika seorang nenek saja tidak berani kau hadapi, bila kelak tersiar, tidakkah kau akan lebih-lebih ditertawakan?"

Lim Soh-koan dan si berewok she Hiang saling pandang sekejap dan sama tersenyum.

Senyuman mereka inilah yang membikin panas hati To Hui.

Ia menjadi murka sekalipun tahu si nenek pasti bukan orang yang mudah direcoki, biarpun diketahuinya orang lain ingin menggunakan dia sebagai batu penguji untuk menjajal kemampuan si nenek.

Tapi ia tidak tahan lagi, mendadak ia meraung terus menerjang si nenek, bentaknya.

"Kau sendiri yang cari mampus, jangan kau sesalkan orang she To!"

Kalau dia berjuluk "Bu-eng-cu"

Atau si tanpa bayangan, maka Ginkangnya pasti tidak rendah.

Di tengah berkelebatnya bayangan, serentak golok juga sudah di cabutnya, baru lenyap suaranya, tahu-tahu ia pun sudah berada di depan Oh-lolo, kegesitannya memang cocok dengan julukannya sebagai "si tanpa bayang".

Orang hanya sempat melihat sinar golok berkilat dan membacok Oh-lolo, tidak juga kelihatan si nenek berdiri, bahkan tidak nampak dia melakukan sesuatu gerakan.

Tapi mendadak suara raungan To Hui berhenti ditengah jalan, sambil berjumpalitan di udara To Hui lantas melompat mundur dengan tangan mencengkeram leher sendiri dan mat melotot besar seperti mata ikan mas.

Dada juga naik-turun, napasnya seperti mau putus.

Tiada seorangpun yang tahu mengapa mendadak To hui bisa berubah menjadi demikian, semua orang saling pandang dengan bingung dan terkejut.

Waktu memandang Oh-lolo, nenek itu masih tetap berjongkok di tempatnya dan asyik makan kacang, sambil menggeleng kepala ia berkata.

"Ai, dasar anak rakus, hanya kuberi persen satu biji kacang goreng, lalu dia tidak sampai hati membunuhku. Agaknya kacang goreng si nenek sangat enak sekali rasanya."

Baru sekarang semua orang tahu bahwa pada saat To hui meraung tadi, si nenek telah menjentik satu biji kacang ke mulutnya.

Sampai-sampai tokoh semacam Lim soh-koan juga tidak melihat cara bagaimana Oh-lolo mengerjai To Hui.

Diam-diam Pwe-giok membatin.

"Sungguh luar biasa, cara menyambitkan senjata rahasia begini mungkin Tong Bu-siang pun akan mengaku tidak sanggup."

Berpikir demikian baru sekarang dia ingat kepada Tong Bu-siang gadungan yang ternyata tidak ikut serta dalam rombongan Ji Hong-ho ini.

Apa yang terjadi selama dua hari ini sungguh terlalu banyak sehingga membuatnya hampir lupa segalanya.

Padahal Tong Bu-siang gadungan itu satu-satunya petunjuk baginya untuk menyelidiki seluk beluk muslihat keji komplotan jahat yang menghancurkan keluarganya itu.

Lantaran ikut campur urusan orang lain sehingga melupakan urusan penting pribadi.

Lui-ji merasa kedua tangan Pwe-giok mendadak berubah lebih dingin, mukanya juga penuh keringat yang menghiasi dahinya.

Tapi Pwe-giok masih menatap ke depan sana, seperti tidak merasakan apa yang dilakukan anak dara itu.

Dalam pada itu butiran keringat yang memenuhi jidat To hui jauh lebih banyak daripada keringat yang diusap Lui-ji tadi.

Sekarang golok pun sudah dibuangnya, kedua tangan mencekik leher sendiri dan berteriak dengan suara parau.

"Kacang ..... ka ....."

"Ai, apakah barang kali kacangku telah membikin To-tayhiap keselak?"

Tanya Oh-lolo dengan tertawa.

"Kenapa tidak To-tayhiap tumpahkan keluar?"

Tapi mendadak To Hui meraung murka, seperti orang gregetan, tangannya dimasukan ke dalam mulut, tampaknya seperti hendak mengorek keluar kacang yang menyangkut di kerongkongannya, tentu saja ia terbatuk-batuk dan muka pun merah padam seperti orang yang tak dapat bernapas.

Maklum, tangannya terlalu besar, meski ia mengorek sebisanya, tetap sukar mengeluarkan biji kacang yang sudah tertelan itu, suara batuknya makin kerap dan tambah keras, air muka dari merah berubah menjadi biru, air matanya dan ingus juga bercucuran.

sekonyong-konyong tubuhnya mengejang, habis itu mendadak ia meraung keras-keras.

"Krek-krek, berbareng dengan suara gemertak di mulutnya ini, ia terus roboh terlentang. Darah segar muncrat dari mulutnya, kedua tangannya bergerak-gerak seperti orang gila, darah lantas terpercik dari jarinya seperti hujan gerimis. Ternyata tangan kanannya tersisa dua buah jari saja, rupanya ketiga jari yang digunakan mengorek kerongkongan tadi telah dikertaknya hingga putus. Si berewok she Hiang bermaksud membangunkan rekannya itu, tapi baru dua tindak ia malah terus menyurut mundur lagi tiga tindak, sebab mendadak ia teringat sesuatu, tanyanya kepada Lim Soh-koan.

"Apakah ..... apakah kacang itu beracun?..."

Lim Soh-koan hanya mengangguk saja tanpa menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara krak-kruk orang yang mengunyah sesuatu, rupanya To Hui sedang mengganyang jarinya sendiri.

Mungkin saking tersiksanya sehingga dia tidak sanggup bertahan lagi.

Melihat racun si nenek sedemikian keji dan lihay, semua orang sama berkeringat dingin dan tiada satu pun berani bicara.

Dengan adem-ayem Oh-lolo lantas berkata dengan tertawa.

"Wah, kacang goreng dimakan bersama jari, rasanya pasti lain daripada yang lain. Bagus juga caramu makan enak ini, selama hidup nenek justeru tidak pernah makan cara begini."

Melihat muka To Hui penuh berlumuran darah, mendengar pula suaranya mengganyang jari sendiri, tentu saja semua orang merasa mual, kini Oh-lolo menambahi lagi kata-kata demikian, si berewok Hiang yang tidak tahan, mendadak ia berlari ke pinggir dana dan tumpah-tumpah.

Waktu dia berpaling kembali, tangan To hui sudah tidak bisa bergerak lagi, suara mengunyah juga tidak terdengar, yang masih terdengar hanya suara napasnya yang lemah.

Sejenak kemudian, suara napas itupun lenyap, darah yang mengalir dari ujung mulut dan dari jari putus to Hui telah berubah juga menjadi warna hitam seperti tinta.

Oh-lolo menghela napas, gumamnya "Tak tersangka seorang jago ternama seperti Bu-eng-cu To Hui juga tidak tahan keselak satu biji kacang goreng!"

Tiba-tiba Ji Hong-ho menghela napas panjang dan berucap.

"Kiranya Oh-lolo yang tiba!"

Mendengar nama "Oh-lolo"

Disebut, seketika semua orang berteriak kaget. Sebaliknya Oh-lolo sendiri lantas terkekeh-kekeh, katanya.

"Dari ucapanmu ini, agaknya baru sekarang kau kenal aku ini Oh-lolo?"

"Hendaknya Lolo sudi memaafkan bilamana kami punya mata tapi tak bisa melihat,"

Ucap Ji Hong-ho.

Oh-lolo menatapnya lekat-lekat, seperti baru pertama kali melihatnya.

Wajahnya yang penuh keriput tapi bersifat licin itu pun menampilkan rasa kejut dan heran.

Meski Ji hong-ho masih tetap tersenyum, tapi jelas juga merasa tidak tenteram karena dipandang setajam itu oleh si nenek, siapa pun akan merasa tidak enak dipandang oleh mata yang licik dan licin seperti mata rase tua itu.

Akhirnya Oh-lolo menghela napas, katanya sambil menggeleng.

"Sungguh kau seorang yang hebat, sampai si nenek juga tidak dapat memahami dirimu. Jika tadi kau pinjam tanganku untuk membunuh To hui, sekarang To hui sudah mati, kenapa kau masih berlagak tidak kenal padaku?"

Ji Hong-ho tersenyum, jawabnya.

"Cayhe memang ........."

"Kau kan kenal diriku,"

Jengek Oh-lolo.

"Sudah 20 tahun lamanya kau kenal nenek ini. Setiap orang yang berjumpa satu kali saja dengan ku, selama hidup pula takkan kulupakan. Apalagi antara kau dan aku kan juga ada sedikit hubungan, masakah kau lupa."

Senyuman yang selalu menghiasi wajah Ji Hong-ho itu seketika beku, perubahan ini mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain, tapi tidak terlepas dari pengamatan Ji Pwe-giok.

Lui-ji merasakan tangan Pwe-giok sedingin es, tapi mendadak berubah panas membara, bahkan dapat dirasakannya denyut jantung dan gemetar tubuhnya.

Dalam pada itu terdengar Oh-lolo lagi berkata.

"Jelas kau kenal padaku, mengapa berlagak tidak kenal?"

Hampir saja berteriak.

"Dia tidak berlagak, tapi dia memang tidak kenal padamu, sebab dia bukan Ji Hong-ho yang kau temui 20 tahun yang lalu itu, dia ini Ji Hong-ho gadungan."

Terpaksa Pwe-giok menggertak gigi sekuatnya sehingga tidak sampai bersuara.

Otot daging mukanya sampai berkerut-kerut saking menahan derita perasaannya.

Melihat wajah yang demikian ini, Lui-ji ikut merinding, tak tersangka olehnya wajah Pwegiok dapat berubah sedemikian menakutkan.

Mendadak terdengar Ji Hong-ho bergelak tertawa, serunya.

"Kejadian 20 tahun yang lalau sudah lama kulupakan, untuk apa Lolo mengingatnya?"

"Tapi urusan demikian selamanya takkan kulupakan,"

Jengek Oh-lolo.

Ji Hong-ho bermaksud menutupi kecanggungannya dengan suara tertawanya, tapi demi mendengar ucapan si nenek yang terakhir ini, seketika suara tertawanya berubah lebih kasar daripada suara kayu digergaji.

Tanyanya kemudian dengan suara serak "Jadi kedatanganmu ini bermaksud menuntut balas?"

Gemerdep sinar mata Oh-lolo, dipandangnya sejenak pula, lalu menjawab dengan perlahan.

"Betul, tentunya kau tahu cara bagaimana si nenek akan menuntut balas. Barang siapa pernah bersalah padaku, si nenek pasti akan membalasnya dengan berlipat ganda, kalau ditambah lagi dengan rente selama 20 tahun, maka ..... hahaha ....."

Dia jejalkan dua biji kacang ke dalam mulut dan dikunyahnya dengan bernapsu seakan-akan kacang goreng itu adalah Ji hong-ho yang sedang diganyang. Tiba-tiba Lim Soh-koan berteriak.

"Sekalipun Cianpwe adalah orang kosen dunia persilatan, tapi hendaklah jangan kau lupa akan kedudukan Ji-tayhiap sekarang!"

"Kedudukan apa?"

Tanya Oh-lolo dengan mendelik.

"Jika Cianpwe melakukan sesuatu tindakan terhadap Bengcu, maka sama halnya Cianpwe memusuhi segenap orang Bu-lim,"

Ucap Lim Soh-koan dengan bengis. Oh-lolo tetap tertawa, katanya.

"Apakah seluruh orang Bu-lim berada di sini? Eh, kenapa tidak kulihat. Yang terlihat oleh nenek hanya kalian berlima, kalau cuma kalian berlima saja rasanya nenek masih sanggup melayani."

Lim Soh-koan menggenggam pedangnya erat-erat, butiran keringat sudah merembes di jidatnya. Si berewok Hiang berdehem sambil menyurut mundur dua tindak, lalu berkata.

"Jika Cianpwe ada permusuhan lama dengan Bengcu, sudah tentu Cayhe takkan ikut campur."

"Nah, tinggal empat orang sekarang,"

Ucap Oh-lolo dengan tenang. Seorang di sebelah si berewok Hiang berwajah kuning, ia pun berdehem dan berkata.

"Orang she Song biasanya tidak suka ikut campur urusan orang lain, apalagi urusan para Bu-limcianpwe. cayhe lebih-lebih tidak berani ikut campur."

"Nah, tinggal tiga,"

Tukas Oh-lolo pula. Seorang lagi berbadan jangkung, segera ia pun berseru.

"Selamanya Cayhe maju atau mundur bersama Song-heng, apa yang menjadi pikiran Song-heng juga menjadi pikiranku."

"Bagus, tinggal dua,"

Kata Oh-lolo dengan tertawa.

"Wah, tampaknya sahabat orang she Ji rata-rata memang kaum pendekar sejati, kalau mereka memang kaum pendekar sejati, kalau mereka bukan orang semacam ini, tentunya kau takkan mencari mereka, betul tidak ?"

"Creng", Lin Soh-koan meloloskan pedangnya, tapi baru saja terlolos separuh, mendadak Ji Hong-ho memegang tangannya. Lim Soh-koan terkesiap, tanyanya dengan suara tertahan.

"Apakah Bengcu ingin menunggu dia turun tangan lebih dulu?"

Ji Hong-ho tersenyum hambar, ucapnya.

"Dia takkan turun tangan, jika dia bermaksud bertindak sesuatu, tentu dia takkan bicara seperti ini."

Lim Soh-koan merasa sangsi, tapi Oh-lolo sudah lantas berkeplok tertawa, katanya.

"Betul juga, tampaknya orang yang bisa menduduki singgasana Bengcu memang lain daripada yang lain. Apa yang kukatakan ini hanya sebagai pemberitahuan saja bahwa sekarang kalian sudah berada dalam genggamanku, makanya kalau nenek bertanya hendaklah kalian menjawab sejujur-jujurnya."

"Apa yang hendak kau tanyakan"

Kata Ji hong-ho. Oh-lolo menuding si berewok bertiga, lalu berkata.

"Meski nama ketiga orang ini cukup terkenal di dunia Kangouw, tapi kalau dijumlahkan rasanya tidak laku satu tahil perak. Tapi sekarang kau sengaja membohongi Ang-lian-hoa dan lain-lain sehingga mereka telah pergi dari sini, sebaliknya kau malah membawa orang-orang ini ke sini, sesungguhnya apa maksud tujuanmu di balik semua perbuatanmu ini ?"

Ji hong-ho berdiam sejenak, jawabnya kemudian.

"Apa yang hendak kulakukan masakah Lolo tidak tahu?"

"Mungkin ku tahu, tapi juga mungkin tidak tahu,"

Uajr Oh-lolo.

"Pendek kata ingin kudengar dari mulutmu sendiri, dengan begitu barulah hati nenek bisa tenteram."

Ji Hong-ho berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Tujuanku adalah ingin mencari sesuatu barang di sini, nilai barang ini tidak dapat ditaksir oleh siapa pun, tapi nenek sendiri tentunya sudah tahu."

Mencorong sinar mata Oh-lolo, ucapnya.

"Dan kalau barang itu ditemukan, apakah nenek juga akan mendapat bagian?"

Hong-ho tersenyum, jawabnya .

"Setiap orang yang hadir disini akan mendapatkan bagiannya."

Serentak Oh-lolo melompat bangun, ia melemparkan sebuah cangkul kepada si Hiang berewok dan berseru.

"Jika demikian, kalian menunggu apa lagi?" ***** Pondasi bangunan berloteng kecil itu ternyata sangat kuat, ketika dicangkul, rasanya seperti mencangkul papan besi saja, selain menerbitkan suara nyaring memekakkan telinga, bahkan memercikkan lelatu api. Lelaki jangkung tadi berpakaian yang terbuat dari bahan sutera, baju yang mentereng itu sekarang sudah basah kuyup oleh air keringat,. Sembari ayun cangkulnya ia menggerundel.

"Cong-piauthau dari Tin-wan-piaukiok, Thi-kim-kong Han Tay-goan dan tuan muda dari Ban-bok-ceng Song In-seng, kini telah menjadi kuli penggali tanah, coba, apakah tidak runyam?"

Kawannya yang bernama Song Ing-seng yang berwajah kuning itu menyengir, katanya.

"Ini kan kita lakukan dengan sukarela, bukan?"

"Betul", kata si jangkung, Han Tay-goan.

"kita memang sukarela, demi mendapatkan barang itu, jangankan cuma menggali tanah, sekalipun aku disuruh menguras kakus juga tidak menjadi soal. Yang kukuatirkan hanya kalau nanti barang ini sudah ditemukan, lalu mereka akan melupakan kita."

Sembari bicara ia pun melirik ke sana, dilihatnya Ji Hong-ho, Oh-lolo dan Lim Soh-koan berdiri cukup jauh, maka beranilah dia bicara tanpa takut. Song Ing-seng menjawab.

"Jika mereka tidak mau memberi bagian pada kita, untuk apa pula kita didatangkan ke sini?"

"Justeru ku kuatir kita hanya akan dijadikan kuli belaka,"

Ujar Han Tay-goan. Sambil mengusap keringat song Ing-seng berkata.

"Kuyakin Ji Hong-ho bukan manusia demikian."

"Hm, semula akupun percaya dia bukan orang demikian, tapi sekarang ...."

Han Tay-goan mendengus.

"coba kau lihat nasib Lui Hong atau tidak? Bisa jadi nasib kita nanti juga tidak berbeda banyak dengan mereka."

Mendadak ia berpaling ke sana dan bertanya kepada si Hiang berewok.

"He. hiang-lotoa, kau dengar percakapan kami tidak?"

Cambang Hiang berewok juga penuh butiran keringat, dengan suara parau ia menjawab.

"Biarpun dengar lantas mau apa? Memangnya sekarang kita dapat berhenti?"

Tiba-tiba terdengar Lim soh-koan berteriak kepada mereka.

"Apakah kalian menemukan sesuatu?"

"Tidak, tidak menemukan apa-apa,"

Jawab si berewok Hiang. Oh-lolo lantas menjengek.

"Hm, hendaklah kalian kerja segiatnya, kalau tidak menemukan apa-apa tentu kalian yang akan menerima akibatnya."

"Tapi ..... tapi kalau barang itu tidak berada di sini?"

Tanya si berewok.

"Kalau barang itu tidak berada di situ, kalian lantas ku pendam hidup-hidup,"

Kata Oh-lolo. Dalam pada itu Lui-ji tidak tahan lagi, ia membisiki Pwe-giok "sekarang mereka tentu tak mendengar suara kita."

Pwe-giok mengangguk.

"Sesungguhnya barang apa yang ditanam ibu di situ? Setahuku, kedatangan ibu di sini bertekad akan menjadi nyonya yang baik, ingin hidup bahagia berumah tangga, maka barang perhiasan sedikit pun tidak dibawanya ke sini."

"Yang hendak mereka cari sekarang pasti bukan barang sebangsa perhiasan,"

Ujar Pwe-giok.

"Masa?"

Tanya Lui-ji "Tapi batu permata yang kau keluarkan itu kan tidak disimpan kembali, setiap orang yang naik ke loteng sana tentu juga melihatnya,"

Kata Pwe-giok.

"Ya, tapi kan terbungkus rapat dengan kain?"

"Biarpun terbungkus rapat, orang yang berpengalaman seperti mereka itu tentu dapat melihat apa yang terbungkus di dalamnya. apalagi dalam kegelapan, cahaya batu permata tetap dapat tembus keluar. Sebab itulah, bilamana yang mereka kehendaki adalah batu permata, tentu bungkusan benda berharga itu takkan dibiarkan ikut terbakar."

"Habis apa yang mereka cari?"

Ucap Lui-ji sambil berkerut kening.

Pwe-giok tidak menjawabnya, sebab ia sendiri pun tidak tahu.

Sementara itu lubang galian si Hiang berewok sudah cukup dalam, pondasi loteng kecil itu sudah berubah menjadi sebuah kubangan beberapa meter persegi.

Ketiga orang itu berada di dalam kubangan, dipandang dari tempat persembunyian Pwe-giok kepalanya saja tidak kelihatan, hanya terkadang terlihat ada sepotong dua potong batu atau kayu dilempar ke atas.

Kini Oh-lolo, Ji hong-ho dan Lim Soh-koan juga sudah berdiri di tepi kubangan itu, mereka kelihatan mulai gelisah.

Akhirnya suara galian itu berubah menjadi lunak, tiada batu kerikil lagi yang terlempar ke atas.

Nyata batu koral yang digunakan sebagai pondasi pun sudah tergali keluar semua dan telah menembus ke bagian yang cuma tanah liat melulu.

Sejenak kemudian, Lim Soh-koan berkata.

"Mungkin Siau-hun-kiongcu tidak menyembunyikan barang itu di sini, bisa jadi memang tidak dibawanya kemari."

"Dibawanya kemari, bahkan disembunyikan di sini,"

Ucap Oh-lolo.

"Darimana Cianpwe tahu?"

Tanya Soh-koan.

"Sudah tentu ku tahu, bilamana kau mau menggunakan otakmu tentu juga kau akan tahu,"

Jawab Oh-lolo dengan dingin.

"Ya, tentunya Tonghong Bi-giok mengetahui dengan pasti bahwa barang itu disembunyikan di sini, makanya dia tidak mau pergi,"

Kata Ji Hong-ho.

"Dengan sendirinya pula Tonghongsengcu menggunakan barang itu sebagai syarat pertukaran, makanya Li-thian-ong dan lainlain mau diundang ke sini."

Lim Soh-koan menggigit bibir, ucapnya.

"Tapi kalau Siau-hun-kiongcu sudah memiliki barang ini, mengapa dia tidak memanfaatkannya, sebaliknya malah dipendam di bawah tanah?"

"Hal ini disebabkan dia sudah bertekad akan menjadi seorang nyonya rumah tangga yang baik, tapi ia pun tidak ingin barang itu jatuh ditangan orang lain, maka....."

Sampai di sini Ohlolo mendengus lalu menyambung.

"itulah akibatnya kalau seorang perempuan sudah jatuh cinta, seringkali dia dapat bertindak sesuatu yang aneh dan lucu."

Pada sat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara ringkik kuda disusul dengan suara menggelindingnya roda kereta.

Oh-lolo, Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan sama kaget dan cepat berpaling.

Pada kesempatan itulah Lui-ji lantas membisiki Pwe-giok pula.

"Tahulah aku barang apa yang hendak mereka cari!"

"Oo?"

Pwe-giok merasa heran.

"Yang ingin mereka temukan pastilah se

Jilid kitab pusaka ilmu silat yang sangat hebat."

Bisik Lui-ji.

"Entah darimana ibu mendapatkan kitab pusaka itu, tapi sebelum beliau sempat berlatih sudah keburu bertemu dengan Tonghong Bi-giok, oleh karena ibu bertekad akan hidup berumah tangga dengan baik, maka segala macam ilmu silat sudah tidak ada gunanya lagi baginya. Sebab itulah ibu lantas menyembunyikan kitab pusaka itu. Celakanya, apa yang dilakukan ibu itu justeru diketahui oleh Tonghong Bi-giok."

Sembari mendengarkan, berulang Pwe-giok mengangguk, sebab penuturan anak dara itu memang sangat masuk di akal, betapapun Pwe-giok tidak menemukan jawaban lain yang melebihi cerita Lui-ji itu.

Ketika Lui-ji selesai bercerita, tertampak sebuah kereta kuda telah menerobos ke tengah kota yang sudah berwujud puing itu.

Daripada dikatakan sebuah kereta, akan lebih tepat kalau dikatakan sebuah rumah yang dapat bergerak.

Sebuah rumah yang dipasangi roda kereta dan ditarik oleh enam belas ekor kuda.

Jika tetap dikatakan sebuah kereta kuda, maka di dunia ini mungkin tidak ada kereta kuda yang lebih besar daripada kereta ini.

Mungkin ruang kereta ini cukup untuk memuat ratusan penumpang.

Ji Hong-ho mengernyitkan kening, tanyanya kepada Lim Soh-koan.

"Apakah sudah kau pasang penjaga di sekitar sini?"

"Sudah,"

Jawab Soh-koan.

"Jika begitu, apakah mereka semuanya tertidur, masa kereta ini dibiarkan menerobos ke sini, seumpama mereka tidak merintanginya, paling tidak kan mesti memberi tanda bahaya,"

Kata Ji Hong-ho pula.

Dalam pada itu kereta tadi sudah berhenti di kejauhan, mereka mengira percakapan mereka pasti tidak didengar oleh lawan.

Tak terduga, baru habis ucapan Ji Hong-ho, mendadak di dalam kereta itu ada orang menanggapi dengan tertawa.

"Hal ini pun tak dapat kau salahkan mereka, sebab mereka memang sudah siap hendak melepaskan panah api, tapi sayang sebelum sempat berbuat begitu kepala mereka sudah terpenggal lebih dulu,"

Orang itu tertawa terkikik-kikik, lalu menyambung.

"Tentunya dapat kau bayangkan seorang kalau sudah kehilangan kepala, lalu apa lagi yang dapat dibuatnya?"

Kata-kata ini sebenarnya berlebihan, tapi orang itu justeru menganggap sebagai lelucon yang paling lucu dan tertawa terkial-kial, seakan-akan di dunia ini tiada lelucon lain yang lebih lucu.

Begitulah sembari bicara sambil tertawa, suaranya kecil, tertawanya juga renyah, kedengarannya seperti suara anak perempuan yang belum akil balik, yang suka merasa geli terhadap kebanyakan kejadian di dunia ini, misalnya orang kentut saja dapat membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Orang semacam ini kebanyakan bersifat periang, ramah tamah, bila dapat bertemu dengan orang seperti ini kebanyakan orang akan merasa senang.

Akan tetapi, sekarang Oh-lolo justeru tidak merasa senang sedikit pun.

Begitu mendengar suara tertawa orang, segera nenek ini seperti mau mengeluyur pergi, tapi ketika ia memandang kubangan sana, tampaknya merasa berat pula untuk pergi.

Selagi ragu-ragu, mendadak pintu kereta raksasa itu terbuka, belasan lelaki kekar dengan setengah badan telanjang, hanya memakai celana satin merah, menggotong keluar sebuah ranjang besar.

Ukuran ranjang ini pun sangat mengejutkan, di atas ranjang penuh tertimbun beraneka macam barang, ada ayam dan babi panggang yang lezat, ada buah-buahan yang warnanya segar, ada manisan dan nyamikan, ada pula berbagai minuman botol dan kaleng, pokoknya makanan dan minuman enak apapun yang kau bayangkan pasti terdapat di tempat tidur itu.

Dan di tengah-tengah barang makanan dan minuman itulah berduduk seorang dengan setengah berbaring.

Melihat orang ini, sampai Ji Hong-ho juga hampir saja tertawa geli.

Sebab yang berbaring itu daripada dikatakan sebagai manusia, akan lebih tepat kalau dikatakan cuma seonggok daging.

Onggokan daging yang ditumpuk dengan beberapa ratus kati daging gemuk pilihan.

Badannya hampir tidak memakai kain apapun, ini pun tak dapat menyalahkan dia.

Bayangkan saja, kalau perutnya yang gendut itu sudah melambai sampai dengkul, cara bagaimana pula dia akan memakai celana?

Kalau dua orang menyunggih perutnya dengan kepala, bisa jadi sekadarnya dapat memberinya pakai sebuah cawat.

Waktu itu si Hiang berewok, Song Ing-seng dan Hay Tay-goan baru saja melompat naik dari dalam kubangan, ketika mendadak melihat makhluk seaneh itu, mereka terkejut dan juga geli.

Tapi orang gendut itu sudah mendahului tertawa terkikik-kikik, katanya.

"Orang suka bilang An Lok-san (seorang panglima perang di jaman dinasti Tong) gemuk seperti babi, tapi menurut keyakinanku, dua orang An-Lok-san juga tidak segemuk diriku. Di dunia ini kalau ada lomba orang gemuk, aku pasti akan ikut dan aku pasti akan keluar sebagai juara. Betul tidak?"

Makhluk raksasa begini suara bicaranya ternyata lirih rendah seperti anak perempuan kecil, maka si Hiang berewok dan lain-lain tidak tahan lagi, mereka sama tertawa geli.

Si gendut juga ikut tertawa, bahkan terlebih riang daripada siapa pun juga, sampai-sampai wajah Lim Soh-koan yang tadinya tampak tegang juga mengendor.

Di antara mereka hanya seorang saja yang sama sekali tidak menampilkan senyuman setitik pun, orang itu ialah Oh-lolo.

Dia berdiri kaku seperti patung.

Pada saat itulah si gendut telah memandangnya, ucapnya dengan tertawa terkikik-kikik.

"He, orang lain sama tertawa, mengapa kau malah tidak tertawa-tawa? Melihat orang gendut semacam diriku, masa kau tidak merasa geli?"

Muka Oh-lolo yang penuh keriput itu terpaksa menampilkan secercah senyuman, sudah tentu senyuman yang lebih tepat dikatakan menyengir.

Hal ini membuat si nenek tambah tua, mestinya dia kelihatan berusia 80-an tahun, kini tampaknya sudah 160 tahun.

Dengan menyengir ia berusaha mengumpak.

"Gendut? Mana ada orang gendut? kenapa nenek tidak melihatnya?"

"Kan jelas aku berada di depanmu, masa tidak kau lihat? kata si gendut.

"Ah, Cianpwe cuma bertubuh sangat kekar mana bisa dihitung gendut? ujar Oh-lolo sambil menyengir. Mendadak si gendut menarik muka, katanya dengan gusar.

"Kau kira setiap orang gemuk pantang dikatai oleh orang lain, makanya kau hendak menjilat pantatku?"

Melihat wajah orang yang menampilkan rasa marah, Oh-lolo berbalik merasa lega, dengan mengiring tawa ia menjawab.

"Tetapi yang kukatakan adalah sesungguhnya."

"Tidak, kau tidak omong sesungguhnya,"

Ujar si gendut.

"Mestinya akan ku potong lidahmu."

Mendadak ia menghela napas panjang, lalu menggeleng dan menyambung.

"Tapi aku benar terlalu gemuk, saking gemuknya sehingga bergerak saja malas, untuk itu hendaklah kau suka bantu aku, sudilah kau potong lidahmu sendiri? Kalau tidak potong lidah, potong hidung juga bolehlah!"

Dia bicara dengan serius, tentu saja orang lain akan tertawa geli, bahwasanya dia minta bantuan orang lain, yang diminta justeru agar orang lain suka memotong hidungnya sendiri.

Di dunia ini mungkin tiada sesuatu yang lebih mustahil daripada hal ini.

Siapa tahu, Oh-lolo tidak banyak cingcong lagi.

"sret", mendadak ia lolos pedang yang tergantung di pinggang Lim Soh-koan, kontan dia benar-benar memotong hidung sendiri. Baru saja hidung yang berlumuran darah itu jatuh, segera Oh-lolo membuang pedang dan berlari pergi dengan mendekap mukanya. Keruan Lim Soh-koan dan lain-lain sama melenggong dan tiada satupun yang sanggup tertawa lagi. Si gendut lantas berkeplok dan tertawa gembira, teriaknya.

"Haha, di dunia ini ternyata ada orang yang mengiris hidungnya sendiri, masa kalian tidak tertawa?"

Tapi semua orang hanya saling pandang saja betapapun mereka tidak sanggup tertawa. Si gendut menghela napas, katanya.

"Ai, kenapa kalian sama sekali tidak tahu hal-hal yang menarik, sungguh sangat mengecewakan aku,"

Mendadak ia tuding Song Ing-seng dan bertanya.

"Eh, siapa namamu."

"Cay ... Cayhe Song ... Song Ing-seng."

"Tadi kulihat kau tertawa dengan riang gembira mengapa sekarang kau tidak tertawa lagi?"

Tanya si gendut. Sebisanya Song Ing-seng ingin tertawa, akan tetapi wajahnya ternyata lebih buruk daripada menangis.

"Sudahlah, jika kau tidak paham akan kesenangan, apa gunanya kau mempunyai telinga, kumohon tolong padamu, sudilah kau bantu memotong kupingmu sendiri!"

Demikian pinta si gendut.

Jika kata-kata ini diucapkan orang lain, mungkin gigi Song Ing-seng akan copot saking tertawa geli.

Tapi sekarang dia tidak lagi merasakan lucu, bahkan ketakutan setengah mati.

Dia pandang perut si gendut yang kedodoran itu, pikirnya.

"Oh-lolo saja takut terhadap orang gemuk ini, tentunya dia memang sangat lihay. Tapi umpama aku tidak sanggup melawannya, masa aku tak dapat lari saja secepatnya?"

Berpikir demikian, tanpa bersuara lagi segera ia membalik tubuh dan angkat langkah seribu. Si gendut bergelak tertawa, katanya.

"Coba kalian lihat, orang ini telah lari, sebab apakah dia lari?"

Ilmu silat Song In-seng terhitung kelas tinggi juga di dunia Kangouw, kini dia lari dengan ketakutan, sudah tentu cepatnya seperti burung terbang, hanya sekejap saja, selagi si gendut bicara, dia sudah berlari berpuluh tombak jauhnya.

Semua orang merasa yakin si gendut pasti tak mampu mengejarnya.

Tak terduga, pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara "wuut", selarik cahaya perak terus meluncur ke sana secepat meteor jatuh, hanya sekejap saja sinar perak itu sudah menyusul Song In-seng, sekali berputar mengelilingi badan Song In-seng, segera cahaya perak itu melayang kembali ke tangan si gendut.

Waktu semua orang mengawasi, kiranya cuma sebuah piring perak tempat buah-buahan.

Song In-seng kelihatan masih terus berlari ke depan, tapi baru dua-tiga langkah, setengah badan bagian atas mendadak menekuk patah ke belakang, darah pun menyembur ke udara seperti air mancur.

Kedua kakinya masih sempat berlari lagi tiga langkah ke depan, habis itu barulah ambruk.

Hiang berewok dan lain-lain tergolong kaum pembunuh kejam, tapi adegan ngeri begini selama hidup pun belum pernah mereka lihat.

Hanya dengan sebuah piring perak si gendut sanggup menabas badan seorang sebatas pinggang hingga putus menjadi dua, kungfu sehebat ini sungguh dengar saja mereka belum pernah dengar.

Sekali ini mereka baru benar-benar melenggong ketakutan.

Tapi si gendut lantas berkeplok tertawa pula, serunya "Coba kalian lihat orang mati masih dapat berlari, lucu atau tidak?

Apakah kalian tidak merasa geli, mengapa tiada seorang pun yang tertawa?"

Tanpa disuruh lagi, sekali ini Han Tay-goan mengerahkan segenap tenaganya dan bergelak tertawa sekerasnya.

"Nah, tertawa, ada orang tertawa!"

Seru si gendut dengan senang.

"Eh siapa namau?"

"Cayhe Han .... Han Tay-goan!"

"Kau tertawa segembira ini, apakah karena kau merasa aku si gendut ini sangat lucu?"

"Ya, sangat lucu, kau si gendut ini benar-benar sangat lucu dan menggelikan."

"Haha, tampaknya cuma kau saja yang tahu hal-hal yang lucu, kuyakin kau pasti suka menolong berbuat sesuatu bagi si gendut."

Seketika Han Tay-goan seperti tercekik lehernya, dengan suara parau ia berkata.

"Aku sudah bicara demikian dan kau masih.... masih hendak...."

"Habis kalau bukan kau yang menolong diriku, siapa lagi yang akan menolong?"

Seketika Han Tay-goan melonjak dan meraung murka.

"Kau si gendut jahanam, kau babi mampus, biar ku adu jiwa denganmu!"

Di tengah raungannya, segera ia angkat cangkulnya dan menerjang ke sana.

Si gendut benar-benar seperti tidak mampu bergerak sedikitpun, sama sekali ia tidak mampu mengelakkan serangan Han Tay-goan, cangkul itu dengan tepat memacul di atas perutnya.

Orang segendut itu, perut sebesar itu, bilamana tercangkul, perut tentu akan robek dan darah pasti akan mengalir lebih banyak daripada orang biasa.

Siapa tahu, ketika pacul itu mengenai perutnya, badan si gendut sama sekali tidak terluka, apalagi mengucurkan darah.

Sebaliknya cangkul itu seolah-olah terisap oleh gumpalan daging, meski Han Tay-goan sudah mengerahkan segenap tenaganya tetap tak dapat menariknya kembali.

Si gendut masih tetap tertawa gembira, ketika sebelah tangannya menampar muka Han Taygoan, kontan sesosok tubuh mencelat seperti layangan yang putus benangnya, melayang ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, habis itu baru terbanting ke bawah.

Namun kepalanya sudah hancur seperti buah tomat lalu yang pecah.

Hiang berewok terkesima ketakutan, dia berjuluk "Sin-kun-bu-tek"

Atau pukulan sakti tanpa tandingan, dengan sendirinya tenaga pukulannya maha dahsyat, tapi tenaga pukulan si gendut ternyata berpuluh kali lipat lebih kuat daripadanya.

Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa di dunia ini ada orang bertenaga sebesar ini.

Dalam pada itu sorot mata si gendut sudah beralih ke arahnya dan bertanya dengan tertawa.

"Eh, siapa namamu?"

Kedua kaki si berewok terasa lemas seluruhnya, tanpa disuruh.

"brek", ia terus berlutut dan berkata dengan suara gemetar.

"Siaujin (hamba) she Hiang, jika Cianpwe suruh hamba potong hidung, segera hidung akan kupotong, bila hamba disuruh potong kuping, segera pula hamba akan potong kuping, pasti takkan lari dan juga pasti takkan melawan."

Si gendut menghela napas, katanya.

"Aku sangat tertarik oleh cambangmu yang lebat ini, sebenarnya aku cuma ingin memotong cambangmu saja, tapi kau sendiri rela memotong hidung dan mengiris kuping, ya, apa boleh buat?"

Seketika Hiang berewok jadi melenggong sendiri, ya takut ya menyesal. Si gendut berkata pula.

"Nah, kalau kau sendiri sudah sukarela, mengapa tidak lekas kau kerjakan?"

Terpaksa Hiang berewok nekat, golok dicabutnya, ia pikir seorang biarpun kehilangan hidung dan kuping kan jauh lebih baik daripada kepalanya hancur.

Akibatnya, dia menjerit terus jatuh pingsan.

Lalu si gendut berkata pula dengan tertawa.

"Konon di sini ada seorang yang menjabat Bulim-bengcu segala, siapakah gerangan sebenarnya?"

"Ialah diriku."

Jawab Ji Hong-ho. Sampai sekarang dia masih tetap tenang dan sabar, sampai Pwe-giok dan Lui-ji diam-diam merasa kagum juga.

"Ehm, tampaknya hanya kau yang menyerupai seorang Bu-lim-bengcu."

Ucap si gendut dengan tertawa.

"Eh, maukah kau menolong diriku?"

Akhirnya tiba juga giliran Ji Hong-ho!

Pwe-giok genggam kencang tangan Lui-ji, entah girang, tegang.

Meski dalam hatinya sangat ingin menyaksikan iblis jahat ini dibinasakan orang, tapi ia pun tidak menghendaki dia mati sekarang, lebih-lebih tidak ingin dia dibunuh oleh orang lain.

Betapapun Pwe-giok bertekad akan membunuh musuh ini dengan tangan sendiri untuk mencuci bersih nama kotor dan dendam keluarga Ji.

Akan tetapi, biarpun dia tidak rela, apa daya?

Jika kepandaiannya dibandingkan si gendut ibaratnya capung hendak menggoyangkan cagak.

Tiba-tiba terdengar Ji Hong-ho berkata dengan suara tertahan.

"Apabila sang Thian-cia-sing ada perintah, mana Cayhe berani membangkang?"

Seketika wajah si gendut memperlihatkan rasa kejut, tanyanya.

"Kau tahu namaku?"

Ji Hong-ho tersenyum, ia menjawab seperti berpantun.

"Thian-cia-sing (bintang pemakan), liang-cing-cing (terang benderang), semua dimakan habis tanpa tandingan, sepuluh laksa prajurit dapat mengisi perutnya.... Sudah lama kudengar keperkasaan Cianpwe, selama ini pula tidak pernah kulupakan."

"Dari siapa kau dengar cerita mengenai diriku?"

Kembali si gendut atau Thian-cia-sing, menarik muka pula.

Ji Hong-ho tidak bersuara, tapi memberi isyarat tangan.

Cuma sayang, dipandang dari tempat sembunyi Pwe-giok, gerak tangan Ji Hong-ho itu teraling tubuhnya sehingga tidak kelihatan.

Yang jelas air muka si gendut lantas rada berubah dan bertanya pula.

"O, kau kenal dia?"

Dengan tersenyum Ji Hong-ho menjawab.

"Berkat kebijaksanaan beliau, Cayhe tidak dipandangnya sebagai orang luar."

Thian-cia-sing tidak bicara lagi, tapi terus menerus mencomot makanan dan dijejalkan ke dalam mulut, entah makanan itu babi atau ayam panggang, buah-buahan, manisan atau asinan, semuanya di makan, seperti mesin pabrik, giling terus.

Baru sekarang Pwe-giok melihat makanan yang tertimbun di atas tempat tidur itu sekarang sudah lebih separuh dimakan oleh si gendut.

Nyata julukan "makan habis seluruh dunia tanpa tandingan"

Memang tidak bernama kosong. Selang agak lama, terlihatlah Thian-cia-sing tersenyum pula dan berkata.

"Jika kau ada hubungan dengan si makhluk tua aneh itu, maka aku pun takkan minta tolong lagi padamu. Tapi ada beberapa soal tidak boleh tidak harus kutanyai kau."

"Apa yang Cayhe ketahui pasti kukatakan, apa yang kukatakan pasti jelas,"

Jawab Ji Hong-ho "Konon demi membantu Cu Bi, si Hong Sam telah ngendon beberapa tahun di sini, apakah betul keterangan ini?"

Tanya Thian-cia-sing.

"Memang betul,"

Jawab Hong-ho.

"Dan di manakah mereka sekarang? Apakah mati terbakar?"

"Waktu api berkobar mereka masih berada di sini, sesudah api padam, ternyata tiada ditemukan mayatnya."

"Darimana kau tahu tiada terdapat mayatnya?"

Ji Hong-ho menghela napas, ucapnya.

"Sebab tidak terlihat sepotong tulang belulang apapun di sini."

Thian-cia-sing berkerut kening, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula.

"Konon entah dari siapa Cu Bi mendapatkan sesuatu barang, kabarnya barang siapa mendapatkan barang ini akan bisa malang melintang di dunia ini, entah berita ini betul atau tidak?"

"Sumber berita Cianpwe ternyata sangat tajam, berita ini memang betul"

Jawab Ji Hong-ho dengan tertawa.

"Jika demikian, tadi kalian sedang menggali di sini, agaknya kalian sedang mencari barang tersebut?"

"Memang begitulah."

Kata Hong-ho.

"Dan sudah kau temukan belum?"

Tanya Thian-cia-sing. Jawab Hong-ho sambil menyengir.

"Sudah dua tiga tombak dalamnya kami menggali tempat kediaman Cu Bi ini, makin lama makin basah tanahnya, jelas sudah hampir mencapai mata air di bawah tanah, tapi secarik kertas saja tidak diketemukan."

Thian-cia-sing terkikik-kikik, katanya.

"Bekerja harus sampai akhirnya, mana boleh kepalang tanggung, kenapa tidak kau gali lagi lebih dalam?"

Ji Hong-ho tidak bicara lagi, ia mengedipi Lim Soh-koan, keduanya mengangkat cangkul terus melompat ke dalam kubangan tadi.

Tidak lama kemudian, terlihatlah sumber air muncrat ke atas dengan kerasnya.

Dengan basah kuyup Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan lantas melompat ke atas.

"Tetap tidak ditemukan apa pun."

Tutur Hong-ho sambil menyengir. Thian-cia-sing berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Jika demikian, tampaknya Cu Bi tidak menyembunyikan barang itu di sini."

"Tampaknya memang demikian."

Ujar Ji Hong-ho dengan menyesal.

"Sudahlah, barang begini, tidak ketemu akan lebih baik, supaya tidak membikin celaka orang,"

Ujar Thian-cia-sing dengan tertawa. Makin riang tertawanya sehingga terkial-kial, bernapas saja kelihatan sesak. Ji Hong-ho berdehem, lalu berkata.

"Jika Cianpwe tidak ada pesan lain, Cayhe ingin mohon diri saja."

Thian-cia-sing tertawa sambil memberi tanda.

"Ya, pergilah, pergi lekas! Makin cepat makin baik. Selanjutnya sebaiknya juga jangan sampai kulihat kau lagi. Bila melihat kau, segera kuingat kepada si makhluk tua aneh itu, dan bila teringat kepada si makhluk tua aneh kepalaku lantas pusing."

Dan Ji Hong-ho dan Lim Soh-koan lantas pergi dengan sangat cepat.

Melihat kedua orang itu dapat lolos dengan selamat, diam-diam Pwe-giok menggeleng dan menghela napas gegetun.

Seperginya Ji Hong ho dan Lim Soh koan, terdengar Thian cia sing berseru pula dengan tertawa.

"Di dalam sana kan panas dan tak tembus hawa, lebih baik keluar saja lebih nyaman."

Kecuali anak buahnya yang menggotong ranjang besar itu, kini di sekitar situ tidak ada orang lain lagi.

Selagi Pwe giok heran dengan siapakah Thian cia sing berbicara, tiba-tiba dilihatnya orang gendut itu lagi menggapai-gapai ke arahnya.

Baru sekarang Pwe giok tahu tempat sembunyinya telah diketahui Thian cia sing.

Keruan ia terkejut dan keluar keringat dingin.

Lui ji menghela napas, gumamnya.

"Lihai amat orang gendut ini."

Habis berkata, segera ia mendahului menerobos keluar.

Pwe-giok ingin mencegahnya, tapi sudah terlambat.

Nyata keberanian anak dara ini tidak kalah dari siapapun juga.

Agaknya Thian cia sing juga tidak mengira orang yang mengintip di tempat gelap itu adalah seorang nona cilik cantik dan kelihatan lemah lembut, tanpa terasa ia pun memperlihatkan rasa heran.

Dalam pada itu Lui ji sudah berhadapan dengan dia, ucapnya sambil berkeplok dan tertawa.

"Wah, makanan enak sebanyak ini kenapa kau makan sendiri, bolehkah bagi sedikit padaku? Ai, hampir saja aku mengiler!"

Sembari bicara, tanpa permisi lagi ia terus mencomot sebuah apel besar dan digeragori dengan lahapnya. Sampai sekian lama Thian cia sing melototi Lui ji, tegurnya kemudian.

"Kau tidak takut padaku?"

"Ai, melihat orang ramah dan baik hati serta lucu seperti kau, hatiku justeru sangat gembira, kenapa ku takut padamu?"

Jawab Lui ji dengan tertawa.

"Tidakkah kau lihat caraku membunuh orang tadi?"

"Ah, ksatria besar seperti dirimu itu mana bisa membunuh seorang nona cilik, aku tidak perlu kuatir."

"Hahahaha, menarik, sungguh menarik!"

Seru Thian cia sing dengan tertawa.

"Tak tersangka anak dara sekecil ini ternyata bermulut lebih manis dari pada Oh lolo yang licin melebihi rase tua itu. Bahkan kaupun gemar makan, tampaknya seperti anak perempuanku malah."

"Menjadi anakmu juga boleh, setiap hari bisa makan enak, juga tidak takut dihina orang, cuma sayang..."

"Cuma sayang, tiada gunanya biarpun kau mengumpak diriku,"

Tukas Thian cia sing dengan tertawa.

"sebab sejak tadi sudah kulihat masih ada orang lain yang sembunyi bersamamu di sana. Kenapa dia belum lagi keluar, apakah takut?"

"Takut? Kau kira dia takut padamu?"

Tukas Lui ji dengan tertawa.

"Apakah kau tahu siapa dia?"

Tiba-tiba si gendut tersenyum penuh arti dan memicingkan sebelah matanya, ucapnya.

"Hahahaha, sekecil ini kau sudah punya pacar barangkali?"

Seketika Lui ji mendelik, omelnya.

"Jangan kau sembarang omong, meski sicekku orangnya tampan dan halus, tapi kalau marah, wah, sampai sacek juga rada takut padanya."

"Sacekmu? Siapa dia?"

Tanya Thian cia sing.

"Kau kenal dia,"

Jawab Lui ji dengan perlahan.

"Tadi baru saja kau sebut namanya."

"O, maksudmu Hong Sam?"

Si gendut jadi melengak.

"Betul, betapa lihaynya sacek tentunya kau tahu dengan jelas,"

Kata Lui ji dengan tertawa.

"Aha, sungguh lucu dan menggelikan,"

Seru Thian cia sing sambil berkeplok tertawa.

"Saudaranya Hong Sam ternyata main sembunyi di dalam tungku dan takut dilihat orang, tapi malah menyuruh seorang nona cilik untuk membual baginya, hahahaha, sungguh perutku bisa meledak saking gelinya."

Bahwa sampai saat ini Pwe giok masih tetap bersembunyi di sana, diam-diam Lui ji juga merasa heran.

Betapapun Ji Pwe giok pasti bukan seorang penakut, kalau dia tidak mau keluar tentu ada alasannya.

Tapi Lui ji juga tidak dapat menerka apa alasannya, terpaksa ia melototi Thian cia sing lagi dan mengomel.

"Kenapa kau berani bersikap kasar terhadap sacek dan sicekku?"

Si gendut tertawa terkial-kial, katanya.

"Hahaha, apakah kau kira aku takut kepada Hong Sam?.. Sungguh lelucon besar jika kutakut padanya.."

Lui ji memang belum pernah melihat ada orang tidak gentar terhadap Hong Sam. Selagi dia melenggong, tiba-tiba didalam tungku sana seorang berteriak dengan tertawa.

"Hahaha, apakah kau kira aku takut kepada Hong Sam?.. Sungguh lelucon besar jika kutakut padanya.."

Suara tertawa itu kecil melengking, serupa suara Thian cia sing, bila didengarnya sepintas lalu rasanya mirip gema suara Thian cia sing.

Keruan Lui ji sangat terkejut, sebab diketahuinya orang yang bersuara itu pasti bukan Ji Pwe giok, lalu siapa?

padahal di dalam tungku sana jelas-jelas cuma tinggal Pwe giok seorang saja.

Tampaknya Thian cia cing juga terkejut demi mendengar suara tertawa tadi, ia berkata pula.

"Jika kau tidak keluar, mengapa kau menirukan cara bicaraku?"

Kembali orang di dalam tungku juga berkata.

"Jika kau tidak berani keluar, mengapa kau menirukan cara bicaraku?"

"Se.... sungguhnya siapa kau?"

Tanya Thian cia sing, ia tak dapat tertawa lagi, bahkan suaranya sudah rada serak. Tiba-tiba orang di dalam tungku juga mengeluarkan suara serak yang sama dan menirukan.

"Se... sungguhnya siapa kau?"

Sampai sekian lamanya Thian cia sing tertegun, mendadak ia tertawa pula dan berseru.

"Aku keparat, jahanam, sontoloyo, selain menirukan orang bicara, kepandaian lain sama sekali tidak punya."

Kontan orang di tungku meniru pula, Aku keparat, jahanam, sontoloyo, selain menirukan orang bicara, kepandaian lain sama sekali tidak punya."

Si gendut berseru pula.

"Manusia paling tidak tahu malu, paling rendah di dunia ialah Eng seng diong (si kutu peniru suara) dari Hwe seng kok (lembah gema suara)!"

Orang itu menirukan.

"Manusia paling tidak tahu malu, paling rendah di dunia ialah Eng seng diong (si kutu peniru suara) dari Hwe seng kok (lembah gema suara)!"

Apa pun yang dikatakan Thian cia sing selalu ditirukan orang itu, satu kata saja tidak kurang bahkan suara tiruannya juga persis.

Lui ji merasa heran, kejut dan juga geli, terbayang olehnya apabila dirinya bicara apapun dan selalu ditirukan orang, maka betapa rasa dongkol dan gemas sungguh sukar dilukiskan.

Dilihatnya Thian cia sing telah mandi keringat, dengan suara serak ia menjerit.

"Jika kau berani menirukan suaraku lagi, segera kubunuh kau!"

Tapi orang itu pun menirukan lagi dengan suara serak.

"Jika kau berani menirukan suaraku lagi, segera kubunuh kau!"

"Kau.. kau.."

Thian cia sing jadi gelagapan sendiri, tubuhnya yang menyerupai gumpalan daging raksasa itu mendadak melejit ke udara, seperti angin puyuh saja ia terus menyusup ke dalam kereta raksasa tadi.

Menyusul kereta itu lantas dilarikan dengan cepat, belasan lelaki telanjang dada itupun berlari kesana dengan menggotong tempat tidur itu, begitu cepat seolah-olah diuber setan.

Lui ji terkesima menyaksikan itu, dari tungku sana juga tiada kumandang suara lagi.

Ia termangu-mangu sejenak, lalu melangkah kembali ke tungku dan memanggil dengan suara perlahan, 'Sicek, adakah kau berada di dalam?"

Namun tiada jawaban.

Pwe giok seperti sudah pergi dari situ.

Keruan Lui ji kaget, cepat ia memburu kesana dan melongok ke depan tungku, dilihatnya Pwe giok masih berada di situ, dengan mata melotot memandangnya.

Lui ji menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa.

"Tadi kukira orang lain, kiranya sicek masih mempunyai kepandaian simpanan, caramu menirukan suaranya telah membuat si gendut ketakutan dan kabur seperti melihat setan.

Jilid 2________ Tapi Ji Pwe-giok masih saja memandangnya dengan melongo, bahkan mata pun tidak berkedip. Kembali Lui ji terkejut, serunya.

"He, Sicek ken....kenapa kau tidak bicara?"

Waktu ia merabanya, tangan Pwe-giok ternyata kaku seperti kayu.

Tangan Lui ji sendiripun juga dingin saking kagetnya, cepat ia menyusup ke dalam tungku, dilihatnya sekujur badan Pwe giok sama kaku, mata melotot, jelas Hiat-to tertutuk orang.

Waktu ia pandang ujung belakang tungku, entah sejak kapan di situ sudah tembus satu lubang ingin terasa meniup masih dari sana, Lui ji mendapat ajaran ilmu Tiam hoat dari Hong-sam sianseng maka segala kungfu menutuk dari berbagai aliran dan golongan di dunia persilatan sedikit banyak di pahaminya.

Segera ia menepuk Hiat-to Pwe giok yang tertutuk sehingga terbuka lalu bertanya.

"Sicek, apa kah yang terjadi, masa ada orang datang ke sini?"

Pwe-giok termenung sejenak, lalu mengembus napas panjang, ucapnya kemudian.

"Betul, ada orang datang kemari, tapi aku sendiri tidak tahu jelas yang datang ini sesungguhnya manusia atau setan."

Kiranya tadi baru saja Pwe giok bermaksud keluar menyusul Lui ji, tiba-tiba sebuah tangan terjulur dari belakang tanpa suara dan menutuk Hiat-tonya.

"Tangan itu terjulur melalui lubang ini?"

Seru Lui ji terkejut.

"Betul."

Jawab Pwe giok.

"Jadi dia membuat lubang tepat di belakang Sicek, tapi sama sekali Sicek tidak mendengar suatu suara?"

Lui ji menegas pula.

"Ya, apapun tidak kudengar, batu yang khusus digunakan membuat tungku ini memang sangat kuat dan keras, tapi berada di tangan orang ini telah berubah menjadi empuk seperti tahu,"

Tutur Pwe giok dengan gegetun. Membayangkan betapa hebat tenaga orang, Lui ji merasa ngeri juga, tanyanya kemudian.

"Lalu bagaimana?"

"Lalu kurasakan ada seseorang menerobos masuk kesini melalui lubang ini.

"Tapi lubang ini hanya sebesar mangkuk, cara bagaimana dia mampu menerobos masuk?"

"Dengan sendirinya ilmu yang digunakannya adalah Siok-kut-kang."

Siok-kut-kang atau ilmu mengerutkan tulang bukan suatu kungfu yang luar biasa, tapi kalau taraf Siok kutkangnya sudah mampu membuat tubuhnya mengerut sehingga mampu menerobos lubang kecil ini, maka ilmu mengerutnya boleh dikatakan luar biasa.

Lui-ji termenung sejenak, katanya kemudian.

"Dan kemudian dia lantas menirukan cara bicara Thian-cia-siang tadi"

Pwe-giok mengiakan.

"Bagaimana bentuk orang itu, tentunya Sicek melihatnya?"

Tanya Lui-ji. Tapi Pwe-giok menggeleng, jawabnya dengan menyesal.

"Tidak, aku tidak melihatnya"

Lui ji terbelalak heran.

"Dia berada di sini dan Sicek tidak melihatnya, apakah dia mahir ilmu menghilang?"

"Hakikatnya aku tidak mampu berpaling untuk memandangnya, aku cuma merasakan dia menerobos masuk lalu merosot keluar lagi dengan cepat."

"Menerobos masuk dan memberosot keluar lagi, memangnya dia seekor ikan?"

Ujar Lui ji dengan geli.

"Bicara sejujurnya, biarpun ikan dalam air juga tidak segesit dia,"

Tutur Pwe-giok dengan gegetun.

"Tubuh orang ini hakekatnya seperti segumpal asap belaka, siapa pun jangan harap dapat merabanya."

Lui-ji berkerut kening, ucapnya.

"Dari nada ucapan Thian cia sing tadi, agaknya orang ini datang dari Hwe-seng-kok, mengapa tidak pernah kudengar nama tempat Hwe-seng-kok. Juga Sacek tidak pernah bercerita kepadaku. Kalau Thian-cia-sing tidak takut kepada Sacek, mengapa ketakutan setengah mati terhadap orang ini. Selain itu, tadi Ji Hong-ho telah memberi isyarat tangan kepada Thian cia sing, apakah tokoh yang dimaksudkan ialah orang yang suka menirukan bicara orang ini?"

Air muka Pwe-giok tampak berubah, ia tidak mendengar pertanyaan Lui-ji, tapi bergumam sendiri.

"Hwe seng kok....Hwe seng kok....., Sesungguhnya dimanakah letak Hwe sengkok ini?"

Lui ji tertawa, katanya.

"Seumpama ku tahu di mana letak Hwe sengkok itu juga aku tidak mau kesana, paling baik kalau selama hidupku ini jangan bertemu lagi dengan orang dari Hwe seng kok itu. Pikir saja, bilamana ada orang siang dan malam selalu mengintil di belakangku, apapun yang kukatakan selalu ditirukannya, andaikan tidak mati kaku saking gemasnya tentu juga akan gila."

Sungguh ia tidak berani membayangkan lebih jauh, bila teringat di dunia ini ada orang demikian, seketika itu merinding seperti lehernya di lilit oleh seekor ular.

Pada saat itulah, mendadak di luar sana berkumandang suara orang merintih.

Sambil menggenggam tangan Pwe giok, Lui ji mengintai keluar.

Dilihatnya seorang dengan muka berlumuran darah sedang berdiri sempoyongan di tengah puing sana.

Tampak tubuhnya mengejang, kedua tangan mendekap muka, apa bila bukan cambangbauknya yang memenuhi wajahnya, mungkin tiada orang yang mengenal lagi.

Diam-diam Lui ji menghela nafas lega, bisiknya kepada Pwe-giok.

"Si Hiang brewok, dia belum lagi mati."

Selagi Pwe giok bermaksud keluar untuk memeriksa keadaan Hiang brewok itu, tiba-tiba dilihatnya sinar mata orang gemeredep sambil celingukan kian kemari, sikapnya sangat misterius seperti kuatir kepergok orang lain.

Tatkala mana tiada bayangan seorang pun disekitar itu, Li toh tin yang tadinya jaya dan makmur kini telah berubah menjadi kota kuburan.

Mendadak Hiang brewok tertawa terkekeh-kekeh, padahal hidung dan kupingnya sudah terpotong, tapi ia masih sanggup tertawa.

Hal ini sungguh mengejutkan.

Mendingan kalau dia tidak tertawa, lantaran tertawa, maka lukanya pecah lagi, darah mengalir pula, namun sedikitpun dia tidak merasakan sakit, dia merasa terus tertawa tiada hentinya.

Suara tertawanya kedengaran seram, tampangnya lebih mirip setan.

Tambah kencang Lui ji menggenggam tangan Pwe-giok.

Terdengar si brewok lagi terkekeh-kekeh pula dan berseru.

"Ji Hong-ho, wahai Ji Hong-ho, biarpun kau lebih lihay dari pada siapapun juga, tapi kau tetap sia-sia belaka dan yang makan nangkanya adalah aku si brewok."

Sembari bicara ia terus melompat ke dalam kubangan. Lui ji terkejut dan bergirang, katanya dengan suara tertahan.

"He, kiranya barang itu sudah ditemukan olehnya, cuma dia menyadari, sekalipun barang itu diserahkan juga jiwanya tetap akan amblas, maka diam-diam ia menyembunyikan barang temuannya. Di dalam kubangan itu tentu penuh batu dan tanah liat, asalkan ditanam begitu saja pasti tidak terlihat orang."

Mata Pwe giok juga terbeliak.

Didengarnya suara tertawa latah si berewok berkumandang dari kubangan sana.

Cepat Pwe giok dan Lui ji menerobos keluar dari tempat sembunyinya dan merunduk ke tepi kubangan.

Tampak seperti anak kecil saja si berewok berduduk di dalam kubangan yang penuh lumpur itu, tubuhnya basah kuyup, kedua tangannya merangkul erat-erat sebuah peti besi kecil dan sedang berteriak gembira tertawa.

"Ini milikku, ini punyaku, kini tibalah saatnya si berewok melintang di dunia ini....."

"Hmm, tidaklah terlalu cepat kau bergirang?!"

Jengek Lui-ji mendadak.

Serentak Hiang berewok melompat bangun seperti kerbau gila, tapi ketika diketahuinya yang berdiri di atas adalah pemuda yang pernah mengalahkan Lo-cinjin itu, seketika ia menjadi lemas dan lesu, peti besi itu dirangkulnya semakin erat, serunya dengan suara gemetar.

"Ka.....kalian mau apa?"

"Kamipun tidak mau apa-apa,"

Kata Lui-ji "hanya ingin meminta kembali peti itu."

Dengan kelabakan si berewok berusaha menyembunyikan peti ke belakang, lalu menjawab dengan terkekeh "Peti apa maksudmu? Mana ada peti."

Melihat kelakuan orang, Lui-ji merasa geli dan juga kasihan, ia menggeleng, katanya dengan menyesal.

"Tidak ada gunanya biarpun kau sembunyikan juga tiada gunanya."

Kembali si berewok melonjak dan meraung gusar.

"Sekalipun peti ini berada padaku, lalu mau apa? Peti ini milikku, kudapatkan dengan imbalan sebuah hidung dan kedua kupingku. Barang siapa ingin merampasnya dariku harus penggal dulu kepalaku."

"Apakah kau ingin kepalamu dipenggal? Itukan bukan pekerjaan sulit!"

Kata Lui ji dengan tertawa. Si berewok memandangnya dengan mata mendelik, teriaknya dengan suara parau.

"Kau...kau....."

Mendadak tubuhnya mengejang pula, belum lanjut ucapannya lantas roboh terkulai. Lui ji melompat turun dan memeriksa napasnya, katanya kemudian sambil menggeleng.

"Sudah mati, orang ini sudah mati, sungguh tak disangka di dunia ini ada orang yang mati gemas begini.

"Jika seorang lagi kegirangan, lalu mendadak lenyaplah segala harapan, ku kira siapa pun takkan tahan oleh pukulan berat ini, apalagi lukanya memang cukup parah,"

Ujar Pwe giok dengan menyesal.

"Inikan tidak dapat menyalahkan aku,"

Kata Lui-ji.

"Betapapun barang ini kan tidak dapat kuberikan kepadanya."

"Betul, bukan salahmu, tapi dia yang terlalu tamak,"

Ucap Pwe giok. Meski sudah mati, tapi kedua tangan Hiang berewok masih tetap memeluk peti besi itu sekuatnya, untuk melepaskannya Lui-ji memerlukan mencongkelnya dengan cangkul.

"Ingin ku lihat sesungguhnya apa isi peti ini, mengapa orang-orang rela mati demi mendapatkannya,"

Gumam anak dara itu.

***** Isi peti itu ternyata bukan sesuatu benda mestika segala melainkan cuma sepotong belahan bambu dan satu buku jurnal, yaitu buku yang biasa terdapat pada dagang.

Belahan bambu hanya sepotong sebesar telapak tangan, diatasnya terukir sebuah karung, ukirannya sangat jelek, dipandang dari sudut manapun juga tiada dapat tanda berharga sepotong bambu ini.

Buku jurnal itupun buku dagang yang sangat umum, sama seperti buku jurnal yang biasa digunakan catatan sesuatu perusahaan dagang, malahan buku ini masih polos, tiada satu huruf apapun.

Pwe giok dan Lui-ji sama melongo, sungguh tak pernah terpikir oleh mereka bahwa barang yang diperebutkan orang dengan mati-matian ini tidak lebih cuma dua macam benda yang tak berharga sama sekali.

Sejenak Lui-ji termenung, katanya kemudian.

"Untuk dua macam benda ini Ji Hong-ho tidak sayang membakar sebuah kota, bahkan tidak sedikit orang yang rela mengorbankan jiwanya, huh, persetan benar!"

Segera ia buang dua macam barang itu ke tanah, bahkan hendak disepaknya dengan kaki. Tapi Pwe giok keburu mencegahnya, dipungutnya kedua benda itu, katanya.

"Apapun juga kedua barang ini diperoleh secara tidak mudah, boleh kau simpan saja sebagai tanda kenangkenangan."

"Mengenang siapa? Mengenangkan si berewok ini?"

Tukas Lui-ji dengan tertawa getir.

"Tahu begini, biarkan saja peti ini dibawa pergi oleh dia."

"Menurut pendapatku, ibumu pasti takkan menyembunyikan dua macam benda yang tak berharga secara prihatin dengan rahasia begini, bisa jadi nilai benda ini sekarang belum kita ketahui."

"Tapi kalau cuma satu buku catatan yang kosong begini, berapa harganya?"

Terpaksa Pwe giok hanya menyengir saja, sebab ia sendiri tidak dapat menjawabnya. Dengan tertawa Lui-ji berkata pula.

"Bila Sicek merasa sayang untuk membuangnya, bolehlah kau simpan saja buat dirimu sendiri, Aku tidak ingin menyimpan satu buku rongsokan begitu, untuk apa anak perempuan menyimpan barang demikian, kan terlalu tolol?"

"Tapi dipandang bagaimana pun kau tidak mirip seorang tolol,"

Ujar Pwe giok dengan tertawa.

Ia benar-benar menyimpan barang tak berharga itu ke dalam bajunya.

Lalu mayat yang bergelimpangan di situ diceburkannya ke dalam kubangan dan diuruk dengan tanah galian tadi.

Lui ji menghela nafas, ucapnya dengan tersenyum.

"Hati Sicek memang sangat baik, entah anak perempuan mana yang beruntung akan menjadi isteri Sicek."

Pwe-giok ingin tertawa, tapi tak dapat, sebab lantas teringat olehnya akan Lim Tay-ih, teringat juga kepada Kim-yan-cu. Tanpa terasa ia menghela nafas panjang, ucapnya dengan rawan.

"Kukira siapa pun juga sebaiknya jangan berkumpul bersamaku, sebab baginya hanya akan mengalami kesialan belaka."

Lui-ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian.

"Dengan ucapanmu ini apakah Sicek hendak menyatakan takkan membawa serta diriku."

Tanpa menunggu jawaban Pwe giok, dengan menunduk ia berkata lagi.

"Meski aku sudah sebatangkara dan tiada tempat tujuan, tapi kalau Sicek merasa keberatan membawa serta diriku, tentu aku pun tidak berani memaksa kehendak Sicek."

Pwe giok menepuk bahu anak dara itu, katanya dengan tertawa.

"Ai, nona cilik jangan berpikir yang bukan-bukan. Umpama betul Sicek tidak ingin membawa serta dirimu, setelah mendengar ucapanmu ini, mau tak mau Sicek harus berubah pikiran."

Maka tertawalah Lui-ji sambil menengadah, katanya.

"Jika demikian, sekarang kita akan pergi ke mana? Padahal Pwe-giok sendiri tidak tahu harus pergi kemana, sebab ia sendiripun tidak mempunyai rumah lagi. Setelah berpikir sejenak barulah ia berkata seperti bergumam sendiri.

"Entah orang Tong-kehceng sekarang sudah mengetahui lenyapnya Tong Bu-siang atau tidak, dan entah Kim-yan-cu sekarang apakah masih berada di sana?"

"Apakah Sicek bermaksud pergi ke Tong Keh ceng?"

Tanya Lui-ji.

"Ya, boleh juga ke sana,"

Kata Pwe giok.

"Bagus sekali,"

Lui-ji berkeplok senang.

"memang sudah lama ku dengar Toh-keh-ceng adalah tempat yang menarik."

Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara ribut orang banyak dari kejauhan sana, terdengar pula suara tangis anak kecil dan orang perempuan.

Agaknya Ji Hong-ho sudah melepas pulang penduduk Li-toh-tin ini.

Cepat Lui-ji menarik tangan Pwe-giok dan diajak berlari pergi dengan jalan memutar.

Setiba di luar kota, hawa terasa nyaman dan segar, tiada berbau anyirnya darah dan hangusnya puing, hanya suara tangisan penduduk Li-toh-tin sayup-sayup masih terdengar.

"Sicek,"

Tiba-tiba Lui-ji bertanya.

"kau kira Ji Hong-ho benar-benar akan mengganti rugi kepada penduduk Li-toh-tin atau tidak?"

"Orang ini sedang berusaha mencari nama dan menegakkan wibawa, sudah tentu dia tidak mau kehilangan kepercayaan para pendukungnya,"

Kata Pwe-giok.

"Akan tetapi penderitaan batin mereka apakah dapat diberi ganti rugi?"

Ujar Lui-ji.

"Seseorang kalau rumahnya sudah terbakar, biarpun diberi ganti sebuah rumah baru juga rasa derita itu sukar dihilangkan."

"Tapi luka betapa dalamnya tentu akan sembuh, betapa berat penderitaan seseorang, lamalama tentu juga akan terlupakan, hanya kenangan yang menggembirakan saja yang tetap hidup abadi, lantaran inilah maka manusia dapat hidup terus."

"Betul juga, seorang kalau tidak dapat melupakan penderitaan di masa lampau, tentu hidupnya tidak ada artinya lagi."

Sementara itu sang surya sudah terbit, tetumbuhan di musim rontok sudah mulai layu, namun padi di sawah sepanjang tepi jalan justeru menguning dengan suburnya, bumi raya ini penuh diliputi gairah hidup.

Memang, bau harum bunga apa di dunia ini yang bisa lebih harum daripada padi yang menguning di sawah?

Lui ji menarik nafas dalam-dalam, katanya dengan tertawa.

"Apa pun juga aku masih tetap hidup dan akan tetap hidup, aku masih muda, dunia seluas ini, kemanapun aku dapat pergi, apa yang mesti ku resahkan?"

Dia pentang kedua tangannya dan berlari ke depan menyongsong semilir angin sejuk.

Melihat senyum si nona yang cerah, hati Pwe giok tanpa terasa ikut lapang.

Pada saat itulah tiba-tiba dari tengah sawah sana berkumandang suara orang, merintih seorang mengeluh dengan terputus-putus.

"Ai, orang muda tidak....tidak seharusnya putus asa hanya nenek semacam...semacam diriku saja....."

Cara bicaranya seperti sangat susah payah, sampai di sini ia terus terbatuk-batuk dengan keras sehingga tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

Mendengar suara itu, Pwe giok dan Lui-ji terkejut.

Cepat Lui-ji berlari balk dan memegang tangan Pwe-giok, lalu melotot ke arah suara di tengah sawah tadi sambil menegur.

"Apakah kau Oh-lolo?"

Orang itu memang benar Oh-lolo, dia terbatuk-batuk lagi sejenak, habis itu baru -menjawab dengan napas megap-megap.

"Betul memang diriku O, siauya dan siocia yang berhati baik, sudilah memberi semangkuk air bagi nenek yang sudah sekarat ini? Berjalan saja aku tidak sanggup lagi. Lui-ji mengerling, tiba-tiba ia terbawa dan berseru.

"Hah, kau rase tua ini. kau kira kami dapat kau tipu?"

"O, nona yang baik, sekali ini sungguh-sungguh kumohon.....kumohon dengan sangat,"

Pinta Oh-lolo dengan suara gemetar.

"Mulutku hampir pecah saking...saking keringnya, ai, terlalu panas sinar matahari ini."

Segera Lui ji menarik tangan Pwe giok, katanya .

"Sicek marilah kita pergi, jangan gubris nenek setan ini, barang siapa menghiraukan dia tentu akan celaka sendiri."

Mendadak Oh-lolo menongol dari balik padi yang menguning itu lantas dengan wajahnya yang berlepotan darah, tapi segera ia roboh lagi sambil berseru dengan suara parau.

"Jikongcu, ku tahu engkau orang yang baik hati kumohon sudilah kau beri sedikit air padaku, matipun aku akan berterima kasih padamu."

Tanpa bicara Pwe giok melepaskan tangan Lui-ji, lalu berlari pergi. Lui-ji menghela napas, ucapnya.

"Dengarkan, nenek celaka, Sicek sudah pergi mengambil air bagimu, sebab dia memang orang yang baik hati. Tapi kalau kau berdusta padanya, tentu akan kupotong lidahmu supaya selanjutnya kau tak bisa membohongi orang lagi."

Sembari bicara ia terus melompat ke tengah sawah.

Maka terlihatlah Oh-lolo meringkuk di semak menjadi seperti seekor anjing yang terluka, tubuhnya penuh lumpur, bibirnya memang tampak kering hingga pecah.

Melihat Lui-ji, nenek itu seperti mau tersenyum, tapi baru saja bibirnya bergerak, seketika ia meringis kesakitan, sambil mendekap kepalanya ia terbatukbatuk lagi sekian lamanya.

lalu berkata dengan suara gemetar.

"Nona yang baik, tidakkah kau lihat nenek sudah hampir mati? Untuk apa ku tipu orang lagi?"

Lui-ji tidak mengira nenek celaka ini akan berubah menjadi begini, ia melongo sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng.

"bilamana kau tau akan berakhir dengan begini, mungkin kau takkan menipu orang."

"Ini memang akibat perbuatanku sendiri, aku pun tidak menyesali orang lain,"

Ucap Oh-lolo dengan pedih.

"Tapi kalau bukan usiaku sudah lanjut, biarpun terluka lebih parah juga takkan berubah sepayah ini."

Lui-ji tahu keadaan nenek ini bukan cuma akibat luka luar saja, yang gawat adalah karena hampir sebagian besar tenaga dalamnya telah disedot oleh Hong-sam-sianseng, karena kehilangan tenaga terlalu banyak, ditambah lagi sekarang banyak mengeluarkan darah, biarpun usia jauh lebih muda juga tak tahan.

Padahal usianya sudah selanjut ini, tampaknya tiada seorang sanak-kadang, apa bila dia mati di sini mungkin mayatpun tidak terkubur.

Tanpa terasa Lui-ji menjadi rada kasihan padanya.

Sampai sekian lama Pwe-giok belum lagi kembali, Lui-ji menjadi kuatir, barulah ia melongok ke arah sana sambil menggerundel.

"Tentu banyak juga orang lain yang berlalu di sini, seumpama kau hampir mati kehausan, kenapa tidak kau minta bantuan orang lain, tapi justeru kami yang kau temukan?"

"Hal ini bisa jadi lantaran nenek terlalu berbuat dosa sehingga terhadap siapapun tidak percaya lagi,"

Kata Oh-lolo dengan gegetun.

"Jika demikian, kenapa kau percaya pada Sicekku?"

Tanya Lui-ji.

"Di dunia ini memang ada semacam lelaki yang dapat dipercaya oleh setiap perempuan yang baru sekali melihatnya,"

Ucap Oh lolo.

"Dan dia adalah lelaki yang demikian ini. Biarpun nenek sudah ompong tapi kan masih tetap perempuan?!"

Luiji tertawa cerah, katanya.

"Apapun juga pandanganmu dalam hal ini tampaknya memang tidak salah."

Oh-lolo terengah-engah sejenak, tiba-tiba ia berkata pula.

"Dan mengapa kau panggil dia Sicek? Padahal usianya kan selisih tidak banyak dengan kau?"

Lui-ji tidak menjawab, ia potol sebatang padi dan dibuat mainan. Oh-lolo meliriknya sekejap, lalu berkata pula.

"Jika aku seusia kau dan ketemu lelaki semacam dia, pasti takkan kulepaskan dia, dengan cara apapun juga akan ku jadi istrinya dan tidak nanti ku panggil dia Sicek."

"Apakah kau merasa aku sudah boleh menjadi isteri orang?"

Lui-ji tertawa pula.

"Kenapa tidak?"

Jawab Oh-lolo.

"Ada orang seusia mu ini malahan sudah menjadi ibu."

Lui-ji menunduk termangu-mangu memandangi padi yang dipegangnya.

Sang surya menyinari wajahnya.

gemerdep sinar matanya, mukanya yang kemerah-merahan juga mencorong, tampaknya dia bukan lagi seorang dara.

Anak yang tumbuh ditengah penderitaan sering kali memang jauh lebih cepat dewasa daripada anak lain.

Tiba-tiba Lui-ji merasa nenek reyot ini tidak terlalu menjemukan lagi.

Dia tidak melihat bahwa demi mengucapkan kata-kata tadi, bukan saja mulut Oh-lolo yang kering semakin kering.

Darahpun mengucur dari lukanya.

Nenek yang sudah tua bangka ini sudah tentu tahu kata-kata apa yang paling di suka oleh nona cilik yang baru mulai akil baligh, yaitu bilamana orang bilang dia sudah dewasa, hal ini akan membuatnya sangat senang.

Tapi sebab apakah nenek yang keji ini berusaha membikin senang hati Lui-ji?

***** Akhirnya Ji Pwe-giok muncul kembali dengan membawa sebuah bumbung bambu yang penuh berisi air.

Dahinya kelihatan berkeringat, nyata air ini diperolehnya secara tidak mudah.

Oh-lolo tampak kegirangan, katanya,"

Terima kasih, terima kasih, sejak mula nenek memang sudah tahu engkau ini seorang yang berhati mulia."

Pwe-giok tidak berucap apapun, ia hanya menaruh bumbung berisi air itu di depannya. OHlolo meronta bangun dan bermaksud memegangnya, tapi tangannya tampak gemetar sehingga tidak kuat mengangkatnya.

"Hati-hati bilamana air itu tumpah, tiada orang yang mau mengambilkan lagi bagimu,"

Kata Lui-ji.

"Ku tahu.....ku tahu....."

Kata Oh-lolo dengan menggeh-menggeh.

Belum habis ucapannya, mendadak bumbung itu jatuh dari pegangannya.

Untung Lui-ji cukup cekatan dan sempat meraihnya, kalau tidak air di dalam bumbung pasti tumpah.

"Sudah kukatakan supaya hati-hati, apakah tidak kau dengar?"

Omel Lui-ji.

"Ai, sungguh tidak tersangka nenek akan berubah setidak becus begini,"

Ucap Oh lolo dengan suara gemetar, Tampaknya aku memang sudah... sudah akan masuk liang kubur...."

Bicara punya bicara, bisa juga dia mengucurkan air mata.

Lui-ji menggeleng dan menghela nafas, ia berjongkok dan menyodorkan ujung bambu ke mulut Oh-lolo.

Seketika sosok itu memegang bumbung seperti bayi yang menetek, air itu terus diminumnya dengan bernapsu.

Melihat kelakuan orang, Lui-ji tertawa geli dan berketa.

"Sicek, coba kau lihat...."

Belum habis ucapannya mendadak ia urung tertawa dan melompat mundur, sisa air di dalam bumbung tertumpah diatas badah Oh-lolo.

"He, kenapa kau?"

Seru Pwe giok terkejut. Merah padam air muka Lui-ji saking gemasnya, teriaknya sambil mengentak-entakkan kakinya.

"Tua...tua bangka ini sungguh bukan manusia!"

Sejak mula Pwe giok sudah kuatir kalau Oh-lolo akan main gila, maka senantiasa ia mengawasi gerak-geriknya.

Tapi nenek itu tidak kelihatan berbuat sesuatu, maka Pwe giok tidak jadi heran dan kejut, bentaknya dengan gusar,"

Kau main gila apa lagi?"

Oh-lolo dengan lagak seperti menyesal.

"Ai, barangkali kuku nenek terlalu panjang tanpa sengaja telah melukai tangan nona Cu."

Cepat Pwe giok melompat maju dan memeriksa tangan Lui-ji, dilihatnya punggung tangan anak dara yang putih bersih itu betul ada bekas goresan kuku.

"Kukunya beracun?"

Tanya Pwe giok dengan kuatir.

"Ehm,"

Lui-ji mengangguk.

"Apakah berbahaya?"

Tanya Pwe giok pula.

"Kalau kumakan racun ini tentu tidak menjadi soal,"

Tutur Lui-ji.

"Tapi sekarang dia melukai kulit dagingku, racun merembes masuk melalui darah, mungkin....mungkin......"

Pwe giok mengembus napas panjang-panjang ia berpaling menghadapi Oh-lolo dan bertanya sekata demi sekata.

"Sesungguhnya apa kehendakmu?"

Dengan suara gemetar Oh-lolo menjawab.

"Sungguh nenek tidak......tidak sengaja, nenek memang pantas mampus, sungguh aku berdosa kepada kalian, boleh....boleh Kongcu bunuh....bunuh saja diriku."

"Kau tahu tidak nanti ku bunuh kau."

Kata Pwe-giok. Mendadak Oh-lolo tertawa terkekeh-kekeh, nada bicaranya seketika berubah, katanya.

"Dengan sendirinya ku tahu kau tidak berani membunuhku. Toh sebelah kaki nenek sudah melangkah ke liang kubur, sedangkan hari depan nona cilik ini masih panjang, jika jiwanya digunakan menukar jiwaku tentu saja tidak klop."

"Cara bagaimana baru kau akan menyerahkan obat penawarnya?"

Tanya Pwe giok.

"Inilah satu-satunya jalan keselamatan bagi nenek, mana bisa ku simpan obat penawar dalam bajuku,"

Tutur Oh-lolo dengan adem-ayem.

"Jika dalam 72 jam tidak diberi obat penawar, jiwa si nona cilik yang berharga ini akan amblas."

"Dimana kau simpan obat penawarnya?"

Tanya Pwe giok sambil mengusap keringat di jidatnya.

"Bila kau menuruti setiap perkataan nenek, dengan sendirinya akan kuberikan obat penawarnya,"

Ujar Oh-lolo dengan tertawa. Mendadak Lui-ji berteriak.

"Sicek, jangan mau diperas oleh tua bangka ini, ku....."

Mendadak ia melolos sebilah pisau kecil dari pinggangnya terus menebas ke pergelangan tangan sendiri. Cepat Pwe-giok memegang tangan si nona, serunya kaget.

"He, apa yang hendak kau lakukan?"

"Mumpung racun belum menjalar ke atas, biarlah ku kutungi tanganku ini dan aku pun takkan mati,"

Kata Lui-ji.

"Ai, anak bodoh,"

Kata Pwe giok.

"Jika dia sudah mau memberikan obat penawarnya, buat apa....buat apa kau...."

Bahwa anak perempuan sekecil ini ternyata biasa berpikir secepat dan berbuat tegas dan nekat, sungguh hal ini sangat mengharukan hatinya, seketika kerongkongannya seperti tersumbat dan tidak sanggup bicara lagi.

Lui-ji lantas mengucurkan air mata, ucapnya dengan menunduk.

"Seumpama dia mau memberikan obat penawarnya, tapi aku tidak sampai hati membiarkan Sicek di bawah ancamannya. Biarpun tanganku buntung kan tidak jadi soal?"

Pwe-giok menoleh ke arah lain, katanya dengan tertawa.

"Demi membela Sicek kau tidak sayang membuntungi tangan sendiri, sekalipun Sicek mengalami sedikit kesusahan bagimu kan juga tidak apa-apa?"

Mendadak Oh-lolo berkeplok dan terkekeh-kekeh.

"Hehe, sungguh yang perempuan setia dan yang lelaki mulia. Tampaknya San-pek dan Eng-tay paling-paling juga cuma begini saja. Ai, sudah berpuluh tahun nenek tidak pernah lagi menyaksikan adegan mesra yang menarik ini."

Muka Lui-ji menjadi merah, dampratnya sambil menghentakkan kaki.

"Kau...kau tidak boleh sembarangan mencerca Sicek."

"Hahahaha, meski di mulut kau maki diriku, tapi di dalam hati tentu kau sangat senang,"

Seru Oh-lolo sambil bergelak.

"Kalau tadi nenek tidak bilang kalian adalah pasangan yang setimpal sehingga kau lupa daratan, mana kau setan cilik ini dapat ku tipu."

"Sicek, jangan kau percaya ocehannya,"

Seru Lui-ji sambil menangis dan mendekap dalam rangkulan Pwe-giok. Pwe-giok berdehem, tanyanya dengan menarik muka.

"Sesungguhnya dimana kau simpan obat penawarnya?"

"Nenek kan juga punya rumah,"

Jawab Oh-lolo.

"Jika dalam waktu tiga hari tiga malam kau sanggup mengantar pulang nenek, tentu jiwa anak dara ini dapat diselamatkan."

"Dimana letak rumahmu?"

Tanya Pwe-giok.

"Pendek kata, lekas kau sewa sebuah kereta kuda dan lekas kita berangkat menuju ke timur siang dan malam tanpa berhenti, dengan demikian mungkin masih keburu. Setiba di tempat tujuan tentu akan kuberitahukan padamu." ***** Sesudah berada di dalam kereta yang disediakan, Oh-lolo serupa orang sekarat lagi, matanya terpejam dan napasnya megap-megap, mulut pun tampak berbusa. Lui-ji melototinya dengan gemas, katanya.

"Rupanya kau sengaja sembunyi di tengah sawah untuk menjebak kami."

"Sebenarnya tiada maksudku yang demikian."

Jawab Oh-lolo dengan tertawa.

"Tapi kalau ada daging disodorkan ke mulut, masa nenek tidak mencaploknya?"

Lui-ji melototinya sejenak pula, akhirnya ia tertawa dan berkata.

"Karena perlakuanmu kepadaku ini, pada suatu hari akhirnya kau pasti akan menyesal."

Bilamana dia bicara dengan garang terhadap orang macam Oh-lolo ini, mungkin takkan berguna sama sekali, sebab ucapan kasar demikian sudah terlalu biasa bagi Oh-lolo, sudah bosan didengarnya dari setiap korbannya.

Akan tetapi sekarang Lui-ji berucap dengan tertawa manis, hal ini berbalik menimbulkan rasa ngeri bagi Oh-lolo, terpaksa ia menjawab.

"Sesungguhnya tidak pantas kau dendam padaku, tapi harus berterima kasih padaku."

"Berterima kasih padamu?"

Lui-ji menegas.

"Ya, jika tiada perbuatanku ini, darimana kau tahu dia sedemikian memperhatikan dirimu?"

Ujar Oh-lolo dengan tertawa sambil melirik Pwe-giok. Pwe-giok lantas terbatuk-batuk lagi, tiba-tiba ia menyela.

"Apakah kau dan Ji.....Ji Hong-ho itu memang benar ada permusuhan.?"

Oh-lolo tidak menjawabnya, ia terbelalak, lalu balas bertanya.

"Kau sendiri juga she Ji, logatmu juga seperti orang Kangsoh atau Ciatkang, apakah antara kau dengan dia ada hubungannya?"

Pedih hati Pwe giok, serunya.

"Mana aku bisa mempunyai hubungan dengan dia?"

"Jika demikian bolehlah kuberitahukan padamu, bila Ji Hong-ho ini bukan seorang pelupa, tentu dia telah berganti orang, bisa jadi Ji Hong-ho yang sekarang ini adalah palsu."

Darah sekujur badan Pwe-giok serasa bergolak.

Justeru kata-kata inilah yang setiap saat ingin diteriakkannya tanpa menghiraukan apa akibatnya.

Tak tersangka sekarang kata-kata tersebut tercetus dari mulut Oh-lolo.

Dia mengepal kedua tangannya dengan kencang sehingga kuku menyocok telapak tangan sendiri, sekuatnya ia menahan emosinya yang bergolak.

Katanya kemudian dengan hambar.

"Masa dia memalsu? Mana keteranganmu ini bisa dipercaya?"

"Aku pun tahu ucapanku ini takkan dipercaya orang,"

Ujar Oh-lolo. Tapi apa yang kukatakan ini adalah sungguh-sungguh, bukan bualan."

"Oo? Apa betul?"

Pwe-giok menegas.

"20 tahun yang lalu aku benar-benar pernah bertemu satu kali dengan Ji Hong-ho, tapi dia tidak berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, sebaliknya dia malah telah menyelamatkan jiwaku."

"Menyela...menyelamatkan jiwamu?"

"Ya, waktu dia menolong aku mungkin dia tidak tahu siapa diriku. Tapi ketika diketahuinya aku inilah Oh-lolo, tampaknya dia juga tidak menyesal, dia cuma menasehati aku agar selanjutnya jangan berbuat jahat kepada orang lain,"

Si nenek menggeleng dan menghela nafas gegetun, sambungnya pula.

"Orang baik seperti dia sekarang sudah sangat jarang, apa bila dia mengungkit kejadian dahulu, betapapun busuk hatiku juga takkan berbuat sesuatu yang tidak baik kepadanya. Siapa sangka dia seperti sama sekali tidak tahu apa yang pernah terjadi, sebaliknya malah mengira ada sesuatu permusuhan dengan nenek. Coba pikir, bukankah sangat aneh?"

Lui ji berkedip-kedip, katanya kemudian.

"Jika betul Ji Hong-ho ini palsu. Wah, tentu akan sangat menarik."

Sembari bicara diam-diam ia melirik Ji Pwe giok. Tapi Pwe-giok tidak memperlihatkan sesuatu perasaan apa pun. Kembali Lui-ji mengerling, katanya pula.

"Jika kau tahu rahasia ini, kenapa tidak kau bongkar saja?"

Oh-lolo menghela nafas, katanya "Jangan kau kira Ji Hong-ho ini orang yang mudah dihadapi, biarpun dia barang palsu, tapi menurut pandanganku, kungfunya mungkin jauh lebih lihay dari pada Ji Hong-ho yang tulen."

"Akan tetapi selama ini dia tidak pernah memperlihatkan kungfunya,"

Kata Lui-ji.

"Justeru lantaran dia tidak pernah turun tangan, makanya menakutkan,"

Ujar Oh-lolo.

"sekalipun dalam keadaan tidak kurang sesuatu apa pun nenek juga tidak berani bergebrak dengan dia."

"Masa kungfunya bisa lebih tinggi daripada kalian yang tergolong kesepuluh tokoh top?"

Tanya Lui-ji dengan tertawa.

"Tentunya kau tahu, setiap orang Kangouw akan merasa takut bila berhadapan dengan para pemimpin aliran dan golongan ternama betul tidak?"

"Ya,"

Jawab Lui-ji.

"Dan para pemimpin berbagai golongan dan aliran besar itu pun takut bila bertemu dengan kesepuluh tua bangka macam kami ini, begitu bukan?"

"Ya, seumpama tidak takut juga akan merasa pusing,"

Ujar Lui-ji dengan tertawa.

"Akan tetapi kesepuluh tokoh seperti kami ini sesungguhnya tidak selihai sebagaimana dibayangkan orang,"

Tutur Oh-lolo dengan gegetun.

"Hal ini cocok benar dengan pepatah yang mengatakan di luar langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai. Justeru nenek tidak pernah meremehkan siapa pun juga, makanya aku dapat hidup sampai sekarang."

"Bilamana Ji Hong ho itu benar orang kosen mengapa dia sudi bertekuk lutut dan minta bantuan Lo-cinjin?"

Ujar Lui-ji.

"Mungkin lantaran dia tidak berani memperlihatkan asal-usulnya, kuatir orang lain akan mengenali gaya ilmu silatnya,"

Ujar Oh-lolo.

"Orang yagn berambisi besar seperti dia ini, kalau mengalami sedikit penasaran tentu tidak menjadi soal."

"Pantas dia cuma memberi isyarat tangan kepada si gendut itu, lalu si gendut yang maha lihai itu lantas melepaskan dia begitu saja,"

Kata Lui-ji. Mendadak Oh-lolo merasa tegang, tanyanya.

"isyarat tangan apa yang diberikannya?"

"Sayang aku pun tidak melihatnya,"

Jawab Lui ji sambil menggeleng. Oh-lolo termenung sejenak, gumamnya kemudian.

"Jangan-jangan karena pergantian hawa udara akhir-akhir itu, maka kawanan makhluk tua yang sudah lama mengeram di sarangnya itu juga ingin mencari udara segar. Tampaknya hari-hari selanjutnya akan lebih sulit dilewatkan, apa bila sekali ini nenek tidak jadi mati, selanjutnya akan lebih baik menikmati sisa kehidupan tenteram di hari tua di rumah saja,..."

Lalu ia memejamkan mata dan tidak bicara lagi.

Udara cerah di luar.

Hawa yang sejuk membuat orang mengantuk.

Orang berlalu lalang sangat sedikit, juga tidak terdengar suara lain kecuali suara cambuk sais kereta yang menggeletar serta suara detak kaki kuda diselingi suara roda kereta.

Lui ji memandangi cambuk yang berulang-ulang menerbitkan suara nyaring itu, lalu memandang kaki kuda yagn dilarikan secepat terbang itu pandang punya pandang, akhirnya air muka Lui-ji mendadak berubah.

Teringat olehnya Li-toh-tin sudah menjadi timbunan puing, biasanya juga tiada terdapat kendaraan apapun, sekarang darimanakah mendadak Pwe-giok bisa mendapatkan kereta besar dan mewah ini, sampai jok di dalam kabin kereta ini pun terbuat dari alas yang empuk dilapisi kain satin.

Kereta semewah ini, andaikan di kota besar juga cuma dimiliki oleh keluarga hartawan atau orang berpangkat saja, mana bisa kereta ini mengompreng di suatu kota kecil yang sekarang malah sudah berwujud puing belaka?

Cepat Lui-ji menggoyang tubuh Pwe giok dan berbisik padanya.

"He, Sicek, darimana kau dapatkan kereta ini?"

Dia mengira Pwe giok juga pura-pura tidur tak tersangka Pwe giok benar-benar tertidur dengan lelapnya, sampai lama ia menggoyangi bahunya barulah Pwe giok membuka mata dan masih kelihatan rasa mengantuknya.

Lui ji menjadi gelisah, ia menggoyang bahu Pwe giok dengan lebih keras dan bertanya.

"Bangun dulu, Sicek. Coba lihatlah, kereta ini pasti tidak beres!"

"Tidak beres bagaimana?"

Tanya Pwe giok.

Ia seperti berusaha membuka matanya, tapi kelopak matanya terasa sangat berat, baru selarik terpentang segera terpejam lagi.

Apa yang diucapkan juga tidak begitu jelas.

Waktu Lui-ji pandang Oh-lolo, nenek ini pun tertidur, bahkan terdengar suara mendengkurnya.

Sekujur badan Lui-ji terasa dingin ia mendorong daun jendela dan berseru keluar.

"He, toako pengemudi kereta, aku tidak enak badan, ingin muntah, maukah kau hentikan keretamu sebentar?"

Kusir kereta itu menoleh dan tertawa, jawabnya.

"Tidur saja, tentu akan terasa segar lagi."

Maka si kusir memang hitam kemerah-merahan, karena tertawa, kulit yang kemerah-merahan itu di bagian ujung mirip disayat oleh pisau.

Habis itu kulit yang kelihatan sehat itu mendadak pula terkelupas sepotong demi sepotong sehingga kelihatan wajahnya yang pucat seperti mayat.

Keruan Lui-ji terkejut, sekuat ia mendorong pintu kereta, akan tetapi tangannya terasa lemas, pintu kereta dirasakan seperti terbuat dari pelat besi dan sukar dibuka.

Kusir itu terkekehkekeh, lalu berpaling ke depan lagi dan melarikan keretanya terlebih cepat.

"He, sesungguhnya kalian dari golongan mana dan bermaksud mengapakan kami?"

Seru Luiji.

Tapi si kusir tidak menggubrisnya lagi, cambuknya berbunyi lebih keras, kuda juga berlari lebih cepat.

Kini Lui-ji sendiri pun merasa kelopak matanya mulai berat dan ingin tidur.

Dia bersandar di jok kereta kuda itu dan menggigit bibir sekuatnya, maksudnya supaya pikirannya tetap jernih, tapi dipegangnya pula belatinya.

Sekarang ia tahu bahwa Ji Pwe-giok dan Oh-lolo telah terbius oleh semacam asap yang tak berwarna dan tak berbau, sedangkan dia sendiri lantaran sudah terlatih memakan berbagai macam racun sehingga daya tahannya lain dari pada yang lain, maka sampai saat ini dia masih dapat mempertahankan kejernihan pikirannya.

Tapi apa guna pikiran jernih?

Jelas dia tidak mampu menolong Pwe-giok, bahkan menolong dirinya sendiri juga tidak bisa, dari pada sadar tanpa berdaya, kan lebih baik ia pun tertidur saja.

Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan kereta kuda ini, jangan-jangan juga perbuatan Ji Hongho?

Tapi darimana Ji Hong-ho mengetahui mereka masih berada di Li-toh tin?

Sekonyong-konyong dilihat ada asap tipis melayang turun dari sebelah kecil atap kereta dengan cepat asap tipis itu lantas buyar tertiup angin.

Dengan menahan napas Lui-ji berdiri, dengan belatinya ia lantas mengorek sela-sela atap kereta.

Akan tetapi kedua kakinya terasa lemas, begitu tangan menggunakan tenaga, kaki tidak kuat lagi.

"bluk", ia jatuh terduduk pula. Di luar dugaan, pada saat itu juga papan atap kereta lantas merekah, kiranya pada atap kereta itu masih ada satu lapis langit-langit rahasia. Dengan menggertak gigi, sekuatnya Lui-ji merangkak ke atas jok lagi, ia coba melongok ke atas. Dilihatnya di atas situ memang ada satu lapis serupa bagasi kendaraan masa kini, di situ penuh tertaruh barang. Di samping ada setitik lelatu yang masih berkelip membara. Dengan belatinya Lui-ji mencongkelnya, lelatu api itu lantas jatuh ke bawah, ternyata sepotong lidi dupa yang baru terbakar separuh. Hanya setengah batang lidi dupa itu sudah mampu membius Oh-lolo dan Ji Pwe giok, betapa bagus buatan dupa bius itu sungguh berbeda jauh daripada dupa bius yang digunakan kaum Lok-lim (penjahat, bandit, perampok) umumnya. Cepat Lui ji memadamkan ujung dupa yang menyala itu, sisa setengah potong itu disimpannya dalam baju, lalu ia meraba bagasi kereta itu untuk mengetahui barang apa lagi yang tersimpan di situ. Ia merasa benda itu empuk, kenyal seperti kapas, juga seperti gumpalan daging. Ia menghela napas panjang, sekuatnya ia tolak papan bagasi dan "bluk", barang itu jatuh ke bawah, ternyata sosok tubuh manusia hidup. Sama sekali Lui ji tidak menyangka bahwa orang ini ternyata Gin hoa nio adanya. Padahal jelas diketahuinya Gin hoa nio telah jatuh dalam cengkeraman Ji Hong-ho, jika sekarang dia berada dalam kereta ini, maka tidak perlu disangsikan lagi kereta ini tentu milik Ji Hong-ho. Tampaknya Ji Hong ho memang bukan seorang tokoh yang mudah direcoki, setiap tindaktanduknya selalu diluar dugaan. Lui ji menghela nafas ia ingin tanya mengapa Gin hoa nio bisa dijejalkan di kolong bagasi kereta itu, akan tetapi Gin hoa nio juga dalam keadaan pingsan terbius, bahkan napasnya sudah sangat lemah. Pada saat itulah kereta itu terasa bergoncang hebat, agaknya jalan pegunungan tidak rata yang dilaluinya. Selang tak lama mendadak kabin kereta gelap gulita. Waktu Lui ji membuka daun jendela ingin memandang keluar, ternyata apa pun tidak terlihat lagi. Yang terdengar hanya suara gemuruh roda kereta yang bergema dan memekakkan telinga. Agaknya kereta itu telah memasuki sebuah gua yang gelap, setelah membelok satu tikungan, tiba-tiba di depan muncul bintik-bintik cahaya api. Lui-ji mengerling, lalu ia pun roboh di atas jok. Pada saat itulah kereta mendadak berhenti, terdengar ramai suara orang berlari mendekat, ada yang menahan kuda kereta, ada yang memayang turun si kusir, bahkan ada yang menyapa dengan mengiring tawa.

"Wah Toasuheng tentu sudah lelah."

Si kusir ternyata "Toa-suheng"

Orang-orang ini, apakah dia Ciangbun-tecu, murid ahli waris Ji-Hong-ho?

Tapi setiap orang Kangouw sama tahu bahwa Hong-ho Lojin tidak pernah mempunyai murid.

Terdengar Toa-suheng itu hanya mendengus saja tanpa berucap apa pun, sikapnya jelas sangat congkak, tapi mungkin orang-orang ini sudah biasa menghadapi sikap demikian, dengan mengiring tawa mereka berkata pula.

"Apakah Toa-suheng sudah menemukan kembali Ji-nio (nona kedua)?"

Mendadak terdengar "plak", yang ditanya itu telah dipersen sekali tamparan.

"Apakah ku temukan dia kembali atau tidak perduli apa dengan kau?"

Demikian sang Toasuheng menjengek. Orang yang kena digampar itu masih juga berkata dengan mengiring tawa.

"Ya, ya, lain kali siaute tidak berani banyak mulut lagi."

Kembali Toa-suheng mendengus, lalu berkata, didalam kereta masih ada tiga lagi orang lagi yang sengaja kubawa pulang untuk dipersembahkan kepada upacara sembahyang Kaucu, Jinio juga berada di atas kereta, boleh kalian bawa mereka ke atas panggung sembahyangan, tahu tidak?"

Sembari bicara ia terus melangkah pergi. Diam-diam Lui ji membatin.

"Aneh, mengapa sang Toa-suheng, demikian ganas terhadap semua saudara seperguruannya. Dari nada ucapannya, rupanya Gin hoa nio juga sekomplotan dengan mereka, dan entah siapa lagi Kaucu mereka? Dia tidak tahu bahwa Gin hoa nio berasal dari Thian-can kau, tapi sekarang ia tahu orangorang ini tiada sangkut pautnya dengan Ji Hong ho, diam-diam ini jadi tambah kuatir. Apapun juga tindak tanduk Ji Hong-ho masih pakai pertimbangan, jika jatuh dalam cengkeraman Ji Hong ho rasanya akan lebih baik dari pada berada dalam genggaman orangorang ini. Dalam pada itu pintu kereta sudah terbuka empat-lima orang berjubel di depan pintu kereta, semuanya memakai baju ringkas warna perak, air mukanya berbeda dari pada orang biasa. Seorang di matanya tinggi lagi kurus, mukanya yang pucat kehijauan hampir tiada terdapat secuil daging pun sekilas pandang serupa benar dengan jerangkong hidup. Biarpun cukup tabah, tidak urung Lui-ji merinding juga melihat orang aneh ini, sekali pandang cepat ia memejamkan mata. Terdengar orang-orang itu ramai-ramai berbicara.

"He, Ji-nio seperti terluka? Apakah ketiga orang ini yang melukainya? Siapa dan dari manakah ketiga orang ini?"

"Hah, lihat, nenek ini tidak punya hidung masa mampu mencelakai Ji-nio?"

"Tapi nona cilik ini sangat cantik, cuma sayang, belum cukup umur, kalau dua tahun lagi tentu...."

Begitulah ditengah gelak tertawa yang memuakkan itu, Lui-ji merasa sebuah tangan yang dingin mencolek pipinya, saking tak tahan hampir saja ia muntah. Tiba-tiba seorang berkata.

"Ayo lekas menggotong pergi mereka, bila diketahui Toa-suheng tentu akan dihajar atau didamprat lagi."

Dari suaranya jelas orang inilah yang digampar sang Toa-suheng tadi.

Lui-ji coba mengintip baru diketahuinya bahwa orang ini adalah si jerangkong hidup.

Rupanya orang-orang itu memang sangat takut kepada sang Toa-suheng, begitu si jerangkong menyinggung nama Toa-suheng, seketika orang-orang itu klakap-klakep, tiada satu pun berani bersuara lagi.

Sementara seorang diantara mereka menyeret Pwe-giok keluar kereta.

Seorang lagi lantas berkata.

"Jisuheng, apakah kita juga akan membawa Ji-nio ke atas panggung sembahyang?"

Dengan suara dingin ia menjawab.

"Inikan perintah Toa-suheng."

Setelah ragu sejenak, lalu ia berkata pula.

"Biasanya Ji-nio disayang oleh Kaucu, entah mengapa sekali ini dia telah melanggar peraturan, masa orang seperti dia sampai berbuat sesuatu kesalahan yang tak terampunkan?"

Lui ji masih mengintip dengan membuka sedikit kelopak matanya, dilihatnya sekeliling gua itu penuh obor, api obor yang gemerdep menyinari batu gua yang beraneka ragamnya itu.

Ditengah-tengah gua terdapat empat gunduk api unggun, di sekeliling api unggun itu adalah sepotong batu besar, mungkin batu inilah yang dimaksudkan sebagai panggung atau altar sembahyang.

Di luar sudah buntut musim rontok hawa sudah dingin, tapi di dalam gua ini hanya terasa hangat seperti di musim semi.

Bahkan Lui ji merasa kegerahan dan berkeringat.

Ia tidak paham mengapa orang-orang ini menyalakan obor sebanyak ini apakah mereka takut dingin?

Tapi segera ia melihat di samping setiap api unggun dikitari belasan kotak perak yang terukir sangat indah, dari dalam kotak itu terus menerus mengeluarkan suara kresek-kresek yang aneh suara seperti ular makan daun.

Waktu mula-mula mendengar suara itu tidak terasa apa-apa, tetapi lama-lama Lui-ji merasa berdiri bulu romanya badan terasa gatal seolah dirambati oleh ular kecil yang tak terhitung jumlahnya.

Orang yang berada dalam gua ini tidak banyak, termasuk Ji-suheng si jerangkong itu, seluruhnya cuma enam orang saja.

Ke enam orang itu menggotong Lui-ji berempat ke atas altar, lalu mengikat mereka dengan tali berwarna perak, habis itu mereka lantas berdiri khidmat di samping, tiada satu pun berani berbicara.

Tidak lama kemudian, orang yang dipanggil sebagai Toa suheng itu muncul di balik tonggak batu yang berwarna-warni sana, kini bajunya sudah berganti menjadi baju panjang berwarna perak mengkilat.

Tangannya malah membawa kipas sempit, di pandang dari jauh tampak ganteng juga.

Tapi sesudah dekat, ketika cahaya obor menyinari mukanya.....Wah, jangankan manusia, sekalipun setan juga tidak lebih menakutkan daripada wajahnya.

Raut sang Toa-suheng ini sebenarnya tidak kurus, tapi entah sebab apa daging pada mukanya itu hampir sebagian besar lenyap entah dimakan apa.

Setengah bagian sebelah kiri hidungnya masih utuh, tapi hidung sebagian kanan juga hilang.

Pada satu bagian kulit dagingnya masih baik, tapi diantara dibagian bawah kulitnya terkelupas sehingga kelihatan tulangnya yang putih kelabu.

Kedua tangannya juga cacat, sepuluh jari kini tersisa empat jari saja, tiga jari ditangan kanan dan tangan kiri cuma tersisa sebuah jari.

Enam jari yang lain entah hilang digerogoti makhluk apa?

Orang ini tampaknya adalah sisa-sisa dari mangsa segerombolan serigala lapar.

Namun ke enam orang lain ternyata sangat takut padanya, begitu melihat dia muncul, mereka lantas menunduk, memandang saja tidak berani mereka menyapa dengan mengiring tawa.

"Perintah Toa-suheng tadi sudah kami laksanakan dengan baik."

Sang Toa-suheng hanya mendengus saja, sinar matanya yang serupa mata ular itu memang sekejap ke arah empat orang yang menggeletak di altar itu, lalu berkata dengan tersenyum seram.

"Kukira orang-orang itupun perlu dibangunkan."

Sembari bicara ia terus pentang kipasnya ia mengipas beberapa kali di atas muka ke empat orang itu, seketika Lui-ji mengendus semacam bau aneh.

Toa-suheng itu menyapu pandang sekejap pula lalu tertawa terkekeh-kekeh, katanya.

"Hehe, tak tersangka Oh-lolo yang termasyhur kini juga jatuh didalam genggaman aku si Siang Ji-long."

Mendengar ucapannya, Pwe-giok dan Oh-lolo yang sudah siuman itu merasa tenang malah. Sedangkan Lui-ji berlagak terkejut.

"He, siapa kau? Mengapa kami dibawa ke sini?"

Siang Ji-long, si Toa-suheng, mendengus.

"Hm, jangan sok ceriwis, nona cilik, bila kau omong lagi segera ku copot satu biji gigimu!"

Dalam keadaan demikian, Lui-ji benar-benar tidak berani mengoceh lagi.

Kalau di depan Locinjin, Kun Hay-hong dan lain-lain ia berani bicara tajam untuk membikin marah mereka, sebab cukup kenal jalan pikiran mereka yang sok menjaga gengsi, biarpun gemas setengah mati juga takkan bertindak kepadanya.

Akan tetapi Siang Ji-long ini tidak boleh dibuat permainan, apa yang dikatakannya pasti juga dapat diperbuatnya, di depan orang demikian tentu saja Lui-ji bisa melihat gelagat dan membawa diri.

Lalu Siang Ji-long menuding Pwe-giok dengan kipasnya dan bertanya.

"Kau inikah Ji Pwegiok?"

"Betul,"

Jawab Pwe giok singkat. Untuk sekian lamanya Siang Ji-long melototi Pwe-giok, ucapnya sambil menyeringai.

"Ternyata memang betul seorang anak bagus, pantas ketiga Tongcu agama kami sama terpikat olehmu. Sebentar kalau tidak ku kembalikan mukamu berubah serupa mukaku, maka anggaplah aku kurang hormat padamu."

"Mungkin Anda berharap muka setiap orang di dunia ini akan berubah seperti mukamu, begitu bukan?"

Tanya Pwe-giok. Terpancar sinar mata buas pada kedua mata Siang Ji-long, mendadak ia gampar muka Pwegiok sambil membentak dengan suara parau.

"Kau kira mukaku memang begini sejak lahir? Hm, biar ku katakan padamu, sebenarnya aku....aku....."

Saking terangsang perasaannya sehingga dia tidak dapat melanjutkan "O, kasihan anak ini,"

Tiba-tiba Oh-lolo menimbrung dengan menghela napas.

"Tentunya kau pernah dihukum "Thian-can-po-te (badan digerogoti ulat), makanya wajahmu berubah menjadi begini. Tapi dapat kubayangkan, dahulu kau tentu sangat cakap, betul tidak?"

Napas Siang Ji-long tampak terengah karena emosi, jengeknya.

"Betapapun, Oh-lolo memang berpengetahuan luas, sampai hukuman digeragoti ular dari agama kami juga tahu, kau memang seorang Cianpwe sejati."

"Apakah hukuman Thian-can-po-te itu? Apakah kulit daging pada mukamu itu digeragoti ulat sehingga seperti sekarang ini?"

Seru Lui-ji. Siang Ji-long tertawa seram, ucapnya.

"Kukira kau tidak perlu tanya, sejenak lagi kau sendiri pun akan mencicipi rasanya digeragoti ulat."

Tiba-tiba Oh-lolo berseru.

"Bocah she Ji dan budak cilik itu tidak ada sesuatu hubungan dengan diriku, nenek reyot juga tidak ada permusuhan apapun dengan Thian-can-kau, bilamana mereka hendak kau bunuh, janganlah nenek juga kau masukkan hitungan bersama mereka."

Tapi Siang Ji-long hanya mendelik saja, apa pun yang dikatakan Oh-lolo tidak digubrisnya, dianggapnya tidak mendengar saja. Oh-lolo menghela napas, katanya kemudian, Ji Pwe-giok.

"Ji kongcu, bukankah kau ini pemuda maha cerdik, kenapa kali ini kau pun kena dikerjai orang dan menumpang kereta setan serta dibawa ke sini?"

Diam-diam Pwe-giok menyesal juga.

Waktu itu, yang terpikir olehnya hanya keselamatan Cu Lui-ji sehingga keanehan kereta ini tidak diperhatikan olehnya.

Melihat Pwe giok hanya termangu-mangu, Lui-ji menjadi terharu, basah matanya, sambil menggigit bibir ia berkata.

"Ku tahu semua ini dilakukan Sicek demi diriku, jika bukan lantaran diriku, tidak nanti Sicek terjebak."

"Ah, tidak ada sangkut-pautnya dengan kau."

Ujar Pwe-giok dengan tertawa sedapatnya.

"yang harus disesalkan adalah tidak pernah ku duga bahwa Thian-can-kau tetap tidak mau melepaskan Gin ho nio, dia....."

Pada saat itulah mendadak Gin-hoa-nio berteriak.

"He, Siang Ji-long, mengapa kau pun mengikat diriku di sini? Lekas bebaskan aku!"

Sejak kehilangan tenaga dalam, badan Gin hoa nio jadi lebih lemah dari pada seorang yang tidak mahir ilmu silat.

Kalau Pwe-giok bertiga sudah siuman sejak tadi, Gin hoa nio baru mendusin sekarang.

Siang Ji-long bersikap tak acuh, jengeknya "Ji-kohnio (nona kedua), apakah sekarang kau bermaksud bersikap garang lagi padaku?"

"Jangan lupa, orang she Siang", damprat Gin hoa nio dengan gusar.

"waktu kau sekarat dahulu siapakah yang telah menyelamatkan dirimu?"

"Betul kau yang menyelamatkan diriku"

Jawab Siang Ji-long.

"tapi kalau kau tidak mengadu kepada Kaucu bahwa aku telah mengganggu kau mana bisa Kaucu menghukum diriku dengan Thian-can-po-te?"

Mendadak sorot matanya memancarkan cahaya buas, ucapnya dengan dingin.

"Apalagi sekali ini kau telah mengkhianati Kaucu, siapa pun tidak mampu lagi menolong kau. Tapi kalau kau pun tidak meniru diriku, sanggup menahan siksaan digerogoti Thian-can, maka mengingat hubungan baik kita di masa lampau akan kuberi jalan hidup padamu,"

Tampaknya Gin hoa nio menjadi ketakutan sehingga mukanya berkerut-kerut, ucapnya dengan suara gemetar.

"Hendaklah kau tahu, Kaucu adalah ayahku sendiri, mana beliau akan menghukum diriku sekejam itu."

"Masa tidak?"

Jengek Siang Ji-long.

"Sudah tentu tidak, lekas kau lepaskan diriku,"

Seru Gin hoa nio dengan parau.

"Hm,"

Siang Ji long mengejek.

"apakah kau tahu, sejak kau curi pusaka Siau hun kiong dan mengelabui Kaucu diam-diam Kaucu sudah menyuruh kukuntit jejakmu. Ketika di tanah pekuburan di luar Li toh-tin sana, bila kau mau tunduk dan mengaku salah, mungkin dosamu akan diberi keringanan....."

Dia merandek sejenak, lalu menyambung pula, tapi kau percaya kepada kekuatan orang luar dan mengadakan perlawanan terhadap Kaucu, dari sini terbuktilah sudah lama ada niatmu akan berkhianat, sekarang apa pula yang dapat kau katakan?"

"Hah, jadi di tanah pekuburan dulu itu, kiranya cuma kau saja yang main gila padaku?"

Seru Gin hoa nio.

"Memang cuma diriku ini saja, bilamana Kaucu sendiri, mungkinkah kau hidup sampai saat ini?"

Kata Siang Ji long.

"Sejak dulu sudah kuketahui kau bukan manusia, nyatanya kau memang binatang."

Ucap Gin hoa nio dengan gemas.

"Dan sekarang kau telah jatuh di tangan si binatang,"

Jengek Siang ji long sambil menyeringai "Kau kira akan dapat lolos dari pengejaran Kaucu kita padahal sudah lama kutunggu kau di luar Li-toh-tin, baru waktu kau ditangkap oleh anak buah Ji Hong-ho di tengah kebakaran itu, lalu ku tolong kau, tujuanku justeru ingin membikin kau juga mencicipi bagaimana rasanya tersiksa seperti apa yang pernah ku alami."

Dia bergelak tertawa, lalu menyambung.

"Tapi sama sekali tak kusangka ketiga orang ini dapat mengantarkan nyawa sendiri padaku. Waktu itu kulihat bocah she Ji ini seperti orang kebingungan begitu melihat aku lantas seperti ketemu bintang penolong, tak tahunya aku justeru setan pencabut nyawa baginya."

Lui-ji menghela nafas, katanya.

"Baru sekarang ku tahu kiranya demikian adanya, rupanya nasibmu saja yang lagi mujur." ***** Hawa dalam gua semakin panas, Lui ji dan lain-lain sama basah kuyup oleh air keringat, tapi pada wajah Siang Ji-long tiada dapat sebutir keringatpun. Dengan perlahan dia menggoyangkan kipasnya dan mondar-mandir mengelilingi gundukan api unggun, mendadak ia mengangkat salah satu kotak perak itu dan diketuknya perlahan beberapa kali. Mendadak kotak yang berada di tangan itu bergerak-gerak, melonjak-lonjak, mengeluarkan semacam suara aneh, seperti ada barang apa didalam yang lagi menumbuk kian kemari dan berusaha menerjang keluar. Besar kotak perak itu kurang lebih 20 kali 30 senti, tingginya cuma belasan senti, dengan sendirinya isinya juga tidak mungkin berbentuk besar, akan tetapi tenaga gentakannya ternyata cukup keras sehingga kotak perak itu ikut melonjak-lonjak. Siang Ji-long tertawa terkekeh-kekeh, katanya "Tidak perlu tergesa-gesa, sudah ku sediakan satu partai daging segar dan sebentar lagi kalian pasti boleh berpesta pora."

Gin hoa nio tampak ketakutan memandang kotak yang dipegang Siang Ji-long, mukanya pucat pasi.

"Apakah isi kotak itu Thian-can?"

Tanya Lui ji.

"Ehm,"

Gin hoa nio mengangguk.

"Apakah Thian can suka makan manusia?"

Tanya Lui-ji pula. Tapi Gin hoa nio tampak gemetar sehingga giginya gemerutuk, bicara saja sukar.

"Jangan-jangan karena Thian can tidak tahan dingin, maka di sini dibuat api unggun sebanyak ini?"

Kata Lui-ji. Mendadak Siang Ji-long mendelik, ucapnya sambil menyeringai.

"Kau masih bisa iseng bertanya macam-macam, sebentar kalau Thian can sudah merayap tubuhmu, mungkin kau akan menyesal mengapa kau masih hidup di dunia ini."

"Huh, kata-katamu ini tidak dapat menggertak kami,"

Jawab Lui-ji dengan tak acuh.

"Betul tidak Sicek?"

Tapi waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya bibir Pwe-giok juga pucat, matanya buram, tampaknya juga ketakutan sehingga tidak mendengar apa yang ditanyakan itu.

Diam-diam Lui-ji menghela napas, pikirnya "Tak kusangka Sicek sedemikian mementingkan mati hidup, bisa jadi lantaran selama ini aku tidak kenal betapa bahagianya orang hidup, makanya aku tidak takut mati."

Dilihatnya Pwe-giok mengangkat kepala dan tanya Oh-lolo dengan melotot.

"Racun pada kukumu itu apakah betul tak tertolong lagi selewat 3 hari?"

Mendengar ini, Lui-ji jadi terharu, hampir saja ia mengucurkan air mata, perasaannya entah manis entah getir.

Baru sekarang diketahuinya bahwa yang dipikirkan Pwe-giok itu ternyata bukan mati atau hidupnya sendiri, dalam keadaan demikian yang senantiasa dipikirkannya justeru adalah racun yang menyerang Cu Lui ji itu dapat ditolong atau tidak.

Seketika Lui-ji termangu-mangu, apa yang diucapkan Oh-lolo tidak lagi didengar dan diperhatikannya.

Apakah racun yang menyerangnya bakal tertolong atau tidak juga tidak diperdulikannya lagi.

Cukup kata-kata Pwe-giok yang didengarnya tadi, andaikan sekarang dia harus mati juga rela.

Maklumlah, sejak kematian ibunya, dia tak pernah terbayang olehnya bahwa di dunia ini masih ada orang yang sedemikian memperhatikan dirinya tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri.

Entah sudah lewat beberapa lama lagi, sekonyong-konyong terdengar suara detak kaki binatang dari kejauhan dan makin mendekat ke arah gua ini.

"Sret", mendadak Siang Ji long melipat kipasnya, ia melayang kesana dan berdiri di atas sebuah tonggak batu yang serupa rebung itu lalu membentak.

"Siapa itu yang di luar?"

Tapi tidak ada jawaban apa pun, sebaliknya suara detak kaki binatang tunggangan itu semakin dekat.

Siang Ji-long memberi tanda, ke enam orang berseragam perak tadi segera bergerak dan mencari tempat sembunyi masing-masing di balik tonggak.

Melihat gerak tubuh mereka, baru sekarang Lui-ji tahu kungfu mereka memang selisih sangat jauh dengan Siang Ji-long, pantas mereka sangat takut padanya.

Terlihatlah Siang Ji-long berdiri tegak di ujung rebung batu tanpa bergerak sedikit pun, hanya kedua matanya tampak gemerdep, bentuknya itu jadi lebih mirip mayat hidup yang baru keluar dari liang kubur.

Dengan tangan kanan memegang kipas, tangan kiri Siang Ji-long tetap membawa kotak perak tadi hanya sebelah ujung kakinya saja yang menempel ujung rebung batu, tapi ternyata kukuh bagai terpaku di situ.

Oh-lolo bergumam dengan gegetun.

"Pantas bocah ini sedemikian congkak, tampaknya memang punya isi, bisa jadi kepandaian Thian can Kaucu sendiri juga selisih tidak banyak dengan dia."

Belum habis ucapannya, terlihatlah seekor keledai kecil menerobos masuk ke dalam gua.

Hampir sebagian besar bulu keledai ini sudah rontok sehingga mirip seekor anjing buduk yang menjijikkan.

Di punggung keledai buduk itu menumpang seorang kakek bermuka jelek, mukanya belangbonteng penuh keriput, dengan mata setengah terpejam kelihatan napasnya terengah-engah, dipandang sepintas lalu kakek ini dan Oh-lolo dapat dikatakan satu pasangan yang setimpal.

Lui-ji mendesis.

"Kakek ini berani menerjang masuk ke sini, jangan-jangan dia juga seorang kosen? Kau kenal dia tidak, Oh-lolo?"

Si nenek menggeleng, jawabnya.

"Kebanyakan tokoh Bu-lim yang punya nama tertentu pernah ku lihat sekali dua kali, tapi rasanya tidak ada seorang tua semacam dia ini."

Dengan kecewa Lui-ji menghela nafas, dilihatnya setelah keledai kecil itu berlari masuk ke dalam gua, belum lagi berhenti seakan-akan lantas berubah menjadi buta.

Mata si kakek juga keriap-keriap seperti tidak dapat melihat apa-apa lagi, orang bersama keledai itu langsung menerjang lurus ke arah Siang Ji-long, tampaknya sama sekali tidak menyadari bahaya apa yang sedang menantikan mereka.

Diam-diam Lui-ji ikut berkuatir bagi mereka.

Siang Ji-long hanya memandang saja tanpa bersuara, cuma sorot matanya penuh napsu membunuh, dengan sabar dia menunggu mendekatnya si kakek bersama keledainya.

Tampak keledai itu sudah hampir menumbuk tonggak batu itu, Lui-ji dan lain-lain tahu apa bila Siang Ji-long bergerak, maka orang berikut keledainya pasti akan tamat riwayatnya.

Selagi Lui-ji bermaksud memperingatkan, tak terduga Pwe-giok sudah mendahului berseru.

"Di sini ini bukan tempat yang baik silahkan Lo-sianseng (tuan tua) lekas putar balik ke sana saja!"

Baru sekarang kakek itu menengadah, dengan mata setengah terpicing ia memandang ke atas. Maka menyeringai lah Siang Ji-long, katanya "Setibanya di sini, apakah kau ingin putar balik kesana?"

Kakek itu mengucek-ngucek matanya lalu menjawab.

"Mungkin aku kesasar, apakah ini pun melanggar undang-undang?"

"Ya, anggaplah kau telah melanggar undang-undangku,"

Bentak Siang Ji-long dengan bengis "Nah, serahkan nyawamu!"

Mendadak tangan kirinya bergerak, seketika enam atau tujuh potong benda kuning yang mengeluarkan cahaya mengkilat terus melarang ke tubuh si kakek.

Lui-ji tahu itulah Thian can atau ulat langit, ulat yang berpuluh kali lipat lebih jahat daripada ular berbisa.

Tapi tak disangkanya gerakan ulat itu bisa secepat ini, seolah-olah bisa melayang mengikuti angin.

Ia menjerit keras, disangka kulit daging si kakek dalam sekejap saja bisa akan dimakan habis oleh kawanan ilat itu dan akan tersisa seonggok tulang belaka.

Sungguh ia tidak sampai hati untuk menyaksikan adegan ngeri itu, baru saja hendak memejamkan mata, mendadak dilihatnya tangan si kakek menggapai perlahan, tahu-tahu beberapa potong benda mengkilat itu tergulung seluruhnya ke dalam lengan bajunya.

Hampir saja Lui-ji berkeplok dan bersorak gembira, tampaknya kakek ini memang betul bintang penolong mereka.

Sekali ini jelas Oh-lolo telah salah lihat.

Wajah Siang Ji-long yang memang jelek itu berubah buruk, teriaknya dengan parau.

"Siapa kau sesungguhnya?"

Begitu pertanyaan diucapkan, serentak ia pun melayang ke atas terus menubruk ke bawah, kipasnya seolah-olah berubah menjadi belasan buah, entah serangan mana yang betul dan serangan mana yang cuma bayangan, yang jelas sebelum bayangan kipasnya menyambar tiba, lebih dulu tangan kiri sudah menghamburkan secomot titik-titik perak.

Serangan tidak saja keji dan cepat, bahkan dalam waktu sekejap saja sekaligus melancarkan berbagai serangan maut.

Betapa kejinya, sampai siapa pihak lawan juga tidak perlu diketahuinya lagi, tujuannya hanya satu, mematikan lawan, biarpun salah membunuhnya juga tidak terpikir.

Diam-diam Pwe giok terkejut, serangan maut yang hebat ini bila ditujukan kepadanya mungkin ia pun sukar mengelakkannya.

Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak terdengar suara "blang"

Yang keras, tubuh Siang Jilong mendadak pula melayang balik ke belakang lalu terbanting di tanah dengan terlentang.

Ternyata kipasnya sudah berpindah ke tangan si kakek "Sret", kakek itu membentang kipas rampasannya dan mengipas perlahan, kedua matanya sekonyong-konyong memancarkan sinar tajam, ucapnya terhadap Oh-lolo sambil tersenyum.

"Sekarang tentu nya kau tahu, meski kungfu Siang Ji-long memang hebat, tapi kalau dibandingkan Thian can kaucu jelas masih selisih sangat jauh."

Ucapan ini kembali membuat dingin hati Lui-ji.

Kiranya kakek ini samaran Thian kaucu, bosnya Siang Ji-long sendiri, pantas sekali gebrak saja serangan maut Siang Ji-long lantas dipatahkan.

Kungfu Siang Ji-long memang ajarannya, dengan sendirinya setiap gerak serangan dapat dibacanya seperti menghitung jarinya sendiri.

Lui-ji hanya menyengir saja.

Ternyata Thian can kaucu telah disangkanya sebagai bintang penolongnya.

Dalam pada itu Siang Ji-long telah merangkak bangun dan menyembah kepada kakek dengan ketakutan, ucapnya dengan gemetar.

"Tecu tidak tahu Kaucu yang datang, sungguh dosa Tecu pantas dihukum mati."

"Hm kudengar akhir-akhir ini kau sangat temberang, lantaran aku tidak di rumah, kau lantas bertindak sesukamu, siapa pun tidak kau pandang dengan sebelah mata, semua ini sekarang benar-benar telah ku saksikan sendiri,"

Demikian si kakek Thian can kaucu menjengek. Siang Ji-long sangat ketakutan, mengangkat kepala saja tidak berani, dengan tetap menyembah ia berkata.

"Kaucu mahir mengubah diri seribu macam, Tecu bermata tapi buta dan tidak tahu akan kedatangan Kaucu, Tecu menyangka ada orang asing berani menerobos ke daerah terlarang Thian-can-kau kita, karena kuatir sehingga terburu napsu melancarkan serangan maut."

"Hm, sekalipun begitu, pantasnya kau tanya dulu asal-usul pihak lawan, mana boleh tanpa membedakan hitam atau putih dan segera kau lepaskan Thian can,"

Damprat sang Kaucu dengan gusar "Apakah lantaran kau sendiri sudah menderita digerogoti Thian-can, maka kau pun ingin membikin orang lain juga mencicipi rasanya digeragoti Thian-can untuk menyenangkan hatimu?"

"Tecu tidak berani, Tecu memang pantas mampus,"

Ratap Siang Ji-long. Dengan suara lantang Thian can kaucu berkata pula.

"Setiap orang Kangouw sama tahu betapa keji kungfu Thian can kau kita dan tiada bandingannya di dunia ini, tapi semua orang juga tahu peraturan Kau kita yang tegas membedakan antara budi dan benci, apa bila ada orang berani melanggar kedaulatan Kau kita, apapun juga akibatnya akan kita lawan dan kita binasakan. Tapi setiap anak murid Thian can kau tidak boleh sembarangan membunuh orang yang tak berdosa, dengan perbuatanmu ini bukankah kau telah sengaja merusak nama baik Kau kita?"

Berulang Siang Ji-long menyembah lagi hingga jidatnya lecet dan berdarah, ia memohon.

"Tecu menyadari dosanya, mohon Kaucu memberi ampun."

Rasa gusar Thian can kaucu tampak berkurang, katanya dengan tegas.

"Mengingat kau pernah dihukum terlalu berat, maka ku perlakukan kau dengan lebih baik dari pada yang lain, siapa tahu kau malah tambah mengganas dan berbuat tidak semena-mena, jika selanjutnya sifatmu ini bisa berubah akan untunglah kau, kalau tidak, mungkin mati pun kau takkan terkubur."

Melihat Thian can kau cu ini, Pwe giok sendiri pun pangling, sebab orang sudah berganti rupa dari pada apa yang pernah dilihatnya dahulu, yaitu waktu kepergok di istana bawah tanah tinggalan Siau-hun-kongcu (ibu Cu-Lui-ji, bacalah dalam

Jilid 9 dan 10 Renjana Pendekar).

Ucapan dan tindakan si kakek tegas dan berwibawa sesuai seorang pemimpin besar suatu aliran tersendiri, sungguh tidak tersangka kakek jelek ini-lah orang tua yang dilihatnya di Siau-hun-kiong dahulu, padahal waktu itu si kakek berpakaian serba warna perak.

Pantaslah kalau anak muridnya sendiri juga pangling.

Tertampak Siang Ji-long masih mendekam di atas tanah dan menyembah beberapa kali lagi, mendadak ia merobek bajunya sendiri.

Maka tertampaklah badannya yang penuh bekas luka, hampir boleh dikatakan tiada satu bagian pun yang utuh, sungguh mengerikan bagi orang yang memandangnya.

Pada pinggangnya terdapat ikat pinggang, di situ terselip tujuh bilah pisau perak.

Siang Ji-long melepaskan ikat pinggangnya dengan deretan pisaunya, lalu dibentangkan di depannya serta menyembah pula.

Bahwa Siang Ji-long yang tadi tidak kepalang garangnya kini telah berubah menjadi ahli menyembah, hal ini tidak saja membuat heran Pwe-giok dan lain, bahkan Thian can kaucu sendiri juga rada terkesiap, ia bertanya.

"Apa yang kau lakukan ini?"

Jilid 3________ "Setelah mendapat petuah Suhu tadi, Tecu merasa dosa sendiri sudah kelewat takaran dan malu untuk hidup di dunia ini, Tecu rela menerima hukuman badan disayat pisau perak untuk menebus dosa"

Demikian ratap Siang Ji-long sambil mendekam di tanah. Ucapan ini membuat semua orang terkejut dan bertambah heran. Thian can kaucu juga berkerut kening, katanya.

"Tentunya kau tahu hukuman badan disayat pisau termasuk hukuman mati agama kita?"

"Ya, Tecu tahu,"

Jawab Siang Ji-long.

"Padahal sudah kuampuni kau, kenapa kau minta dihukum?"

Dengan pedih Siang Ji-long menjawab.

"Hal ini dilakukan Tecu dengan sukarela, sebab Tecu merasa berhutang budi kepada Suhu dan tidak dapat membalas, terpaksa menggunakan jiwa Tecu sebagai teladan bagi para Sute agar mereka bisa lebih prihatin."

Sikap Thian can kaucu tambah lunak, ucapnya.

"Tak tersangka kau mempunyai rasa kesadaran demikian, tidak percumalah ajaranku selama ini. Persoalan hari ini mestinya akan kuberi hukuman setimpal padamu, tapi karena kau sudah menyadari akan kesalahanmu, maka sudahlah, berdirilah kau."

Diam-diam Cu Lui-ji merasa geli, pikirnya "Kiranya Siang Ji-long menggunakan akal 'Kobak-keh' (akal menyiksa diri sendiri) untuk menghindarkan hukuman berat....."

Tak terduga, tiba-tiba Siang Ji-long berkata pula dengan menyesal.

"Meski Kaucu telah mengampuni Tecu, tapi Tecu tak dapat mengampuni dirinya sendiri, Tecu mohon sebelum ajal diperkenankan mengutarakan segenap dosanya supaya Tecu bisa merasa tenteram."

"Kesalahan apa yang telah kau lakukan sudah kuketahui seluruhnya, kukira tidak perlu lagi kau katakan,"

Ujar Thian can kaucu. Dengan pedih Siang Ji-long berkata.

"Meski pandangan Kaucu maha tajam, tapi ada pula perbuatan Tecu yang kulakukan di luar tahu Kaucu, sekarang setelah Tecu mengetahui betapa luhur budi Kaucu terhadap Tecu, bilamana perbuatan Tecu itu tidak kubeberkan di depan Kaucu, sekalipun hidup Tecu akan merasa tidak aman, mati pun akan merasa tidak tenteram."

Mau tak mau Thian can kaucu terkesiap oleh permintaan Siang Ji-long yang ngotot itu, Cu-lui ji juga terheran-heran, ia pikir.

"Kalau Siang Ji-long ini menggunakan akal Ko-bak-keh, tentu sekarang sudah cukup baginya, mengapa dia masih terus ngotot begini, apakah dia memang sudah bosan hidup? Sesungguhnya apa maksud tujuannya?"

Selang sejenak, terdengar Thian can kaucu berkata.

"Jika demikian, bolehlah kau uraikan."

"Selama ini Kaucu memandang Tecu seperti anak sendiri,"

Demikian Siang Ji-long mulai menutur.

"Kim-hoa, Gin-hoa dan Thi-hoa bertiga nona juga memandang Tecu sebagai saudara, akan tetapi Tecu ternyata tidak tahu budi, sebaliknya malah timbul napsu binatang...."

Dia melirik sekejap ke arah Gin hoa nio, lalu menyambung.

"lima tahun yang lalu, pada suatu malam di musim panas di bawah sinar bulan purnama, ketika Ji kohnio sedang mandi di sungai, waktu itu usianya masih kecil sehingga tidak menaruh prasangka apa pun terhadap Tecu, tapi demi melihat tubuh Ji kohnio yang putih mulus, tubuhnya yang sudah tumbuh cukup masak itu, mendadak timbul pikiran busuk Tecu dan hendak...hendak...memperkosanya...."

Cara bicara Siang Ji-long ternyata terang-terangan, bahkan melukiskan kejadian itu dengan gerakan nyata.

Geli dan juga gemas Lui-ji, ia merasa biarpun ingin mengaku dosa, mestinya juga tidak perlu bergaya sejelas itu.

Tak tahunya Thian can kaucu ternyata tidak menganggap berlebihan uraian Siang Ji-long itu.

sebaliknya malah memuji akan kejujurannya.

katanya dengan perlahan.

"Untuk kesalahanmu itu kau sudah dihukum dengan ulat menggeragoti badan, maka tidak perlu kau merasa menyesal."

"Namun sejak itu, bila Tecu teringat kepada kejadian itu, segera nafsu birahi Tecu akan terangsang,"

Tutur Siang Ji-long pula.

"Dari sini terbuktilah bahwa tecu sesungguhnya bukan manusia, bahkan lebih kotor daripada hewan."

Bicara sampai di sini, agaknya saking menyesal dan malunya, mendadak ia mencabut pisau mengkilap itu terus menikam pahanya sendiri. Thian can kaucu mengernyitkan dahi, tanyanya,"

Selain itu, ada hal lain apa lagi?"

"Tecu tidak percuma tidak setia terhadap Kaucu, juga tidak berbudi terhadap sesama saudara seperguruan, demi merebut kedudukan ahli-waris Tecu, Tecu telah menggunakan segala tipu daya untuk memfitnah Toa-suheng sehingga akhirnya Toa-suheng dihukum mati oleh Suhu."

"Siang Tay-long memang bermaksud jahat, sudah lama ada maksud hendak menghukum dia menurut penuturan rumah tangga kita, hal ini pun tidak dapat menyalahkan kau,"

Kata Thian can kaucu.

"Tapi apapun juga jalan pikiran Tecu memang jahat, apa lagi setelah Tecu menggantikan Toasuheng menjadi Ciangbun suheng (murid pertama ahli-waris), terhadap para Sute tidak pernah Tecu memperlihatkan kasih sayang, sebaliknya malah, memperlakukan mereka dengan kasar, mencaci mereka dan memukul mereka dengan cara sadis...."

"Sebagai To-asuheng, kan pantas juga jika kau memberi hajaran terhadap para Sute, ini bukan sesuatu yang luar biasa,"

Ujar Thian can Kaucu.

Tadinya dia mendamprat Siang Ji long dengan kata-kata keras, tapi sekarang keadaannya telah berubah.

Siang Ji-long seolah-olah sedang mencaci maki dirinya sendiri dan Thian can kaucu berbalik menjadi pembelanya.

Terdengar Siang Ji-long berkata pula,"

Suheng memberi hajaran kepada sute memang pantas, tapi Tecu bertindak kelewat batas, untuk ini silahkan Kaucu tanya kepada Jisute, tentu Kaucu akan tahu betapa keji tindakan Tecu."

Pandangan Thian can kaucu lantas beralih ke arah si jerangkong hidup, lalu bertanya.

"Apakah betul tindakan Toa-suhengmu agak kelewat batas?"

"Oo....ti.....tidak.....Tecu.....Tecu....."

Si jerangkong hidup menjadi gelagapan dan sukar untuk menjawab.

"Coba, sampai sekarang dia masih ketakutan dan tidak berani bicara terus terang, dari sinipun terbukti betapa dia merasa segan kepada Tecu,"

Kata Siang Ji-long pula. Dia menghela nafas, lalu menyambung.

"Ji-sute, sungguh banyak tindakanku yang tidak pantas terhadapmu, sekarang aku bertekad untuk menebus dosaku itu, hendaklah kau bicara terus terang, cacimakilah diriku, makin keras kata-katamu makin tenteram perasaanku."

Si jerangkong hidup memandangnya sekian lama, mendadak ia berseru.

"Betul, biasanya Toasuheng memang tidak menganggap Tecu sebagai manusia, tidak cuma main pukul dan caci maki saja padaku, bahkan....bahkan Tecu dipaksa melakukan hal-hal yang tidak berperikemanusiaan. Pernah satu kali tanpa sengaja Tecu telah memukul anjing kesayangan Toa-suheng, tapi Toa-suheng lantas paksa Tecu menyembah dan minta maaf kepada anjingnya, bahkan Tecu dipaksa makan kotoran anjing dan....."

"Sudahlah, cukup, tidak perlu dilanjutkan lagi,"

Kata Thian can kaucu dengan kereng. Siang Ji-long menghela nafas.

"Apa yang dikatakan Ji-sute memang benar, jika Tecu pikir sekarang, apa yang kulakukan itu memang....."

Sampai di sini ia mencabut lagi sebilah pisau dan menikam pula paha sendiri. Thian can kaucu termenung sejenak, ucapnya kemudian.

"Apa pun yang telah kau lakukan, sekarang kau telah mengaku secara terus terang di hadapanku, ini membuktikan kau masih sangat setia padaku, asalkan selanjutnya jangan lagi berbuat kesalahan demikian, maka anggap selesaikan urusan ini."

Mendadak Siang Ji-long mengucurkan air mata, katanya.

"semakin baik Kaucu terhadap Tecu, semakin pedih hati Tecu. Budi kebaikan Kaucu tak dapat kubalas lagi selama hidup ini terpaksa kutunggu sampai titisan yang akan datang."

Suaranya menjadi tersendat mendadak ia mencabut pula sebilah pisau terus menikam ke ulu hatinya sendiri.

Akan tetapi gerakan Thian can kaucu terlebih cepat, belum lagi ujung belati mengenai hulu hatinya, tahu-tahu Thian can kaucu sudah mencengkeram tangannya sambil membentak.

"Ku larang kau mati. maka kau tidak boleh mati, jika tidak berarti kau membangkang perintah guru."

Sembari bicara ia terus hendak merampas belati Siang Ji-long.

Sebaliknya Siang Ji-long seperti sudah nekat dan masih meronta sekuatnya.

Siapa tahu, pada saat itu juga mendadak dari gagang belati itu terpancar keluar selarik sinar perak, langsung menyambar ke muka Thian can kaucu.

Betapapun Thian can tidak menyangka akan terjadi perubahan demikian, meski ilmu silatnya maha tinggi juga sukar mengelak.

Ia meraung keras-keras satu kali, tangannya membalik untuk menghantam Siang Ji-long.

Namun Siang Ji-long sempat menjatuhkan diri dan menggelinding jauh kesana, serunya dengan tertawa latah.

"Siang Bok-kong, sekarang barulah kau tahu akan kelihaianku bukan?"

Apa yagn terjadi ini sungguh terlalu mendadak di luar dugaan siapapun juga, Gin hoa nio sampai menjerit kaget, bahkan Oh-lolo yang ulung itu pun terkejut.

Terlihat Thian can kaucu menutup mukanya dengan kedua tangan, teriaknya dengan suara parau.

"Binatang, kau..... keji amat kau!"-Sambil memaki tempaknya ia hendak menubruk maju. Tapi siang Ji-long lantas berseru dengan menyeringai.

"Apa yang tersembunyi di dalam gagang belatiku tentunya sudah kau ketahui, sekarang tidakkah lebih baik lekas kau duduk saja di situ, memangnya kau kuatir bekerjanya racun kurang cepat?"

Thian can kaucu Siang Bok kong benar-benar tidak berani bergerak lagi, kini langkahnya juga sempoyongan, berdiri saja tidak kuat, ia bergeliat sejenak, akhirnya jatuh terkulai.

Terdengar Siang Ji-long tertawa latah hingga lama sekali, jelas senangnya tidak kepalang.

Sebaliknya beberapa murid THian can kau yang berseragam hitam tampak ketakutan dengan muka pucat, bergerak sedikit saja tidak berani.

"Wahai Siang Bok-kong,"

Demikian Siang Ji long berteriak pula dengan tertawa.

"apa kau kira tadi aku memang tidak mengenali dirimu? Haha, bicara terus terang, sejak mula, begitu kau masuk ke sini segera ku tahu siapa kau, hanya saja aku pura-pura tidak kenal padamu agar aku dapat turun tangan padamu, dengan demikian seumpama aku gagal membunuhmu kan ada alasan yang dapat kugunakan untuk membela diri."

Sambil mendekap mukanya, tubuh Thian can kaucu tampak berkejang, jelas sedang menahan kesakitan yang luar biasa, bahkan ia terus bergulingan di tanah dan tidak sanggup bicara lagi.

Cu Lui-ji merasa penasaran, katanya "Baru sekarang ku tahu kau memang hebat , tapi mengapa kau berbuat seperti tadi?"

"Setelah ku serang dia tadi baru kuketahui tua bangka ini masih mempunyai ilmu simpanan yang tidak pernah diajarkan kepadaku, bila bertempur jelas aku bukan tandingannya, terpaksa ku robohkan dia dengan akal,"

Tutur Siang Ji-long.

Pada umumnya seorang kalau berhasil berbuat sesuatu yang menyenangkan, maka sedapatnya ia ingin pamer supaya orang lain tahu akan kehebatannya.

Kalau tidak maka sama halnya orang berpakaian perlente berjalan pada malam gelap.

kurang mentereng.

Siang Ji long juga demikian.

Begitulah dia berseri-seri dan sangat bangga, dengan tertawa ia lantas menyambung pula.

"Sudah belasan tahun ku tinggal bersama tua bangka ini, setiap ciri kelemahannya sudah kupahami. Ku tahu dia sok anggap awak paling pintar, urusan apa pun tak dapat mengelabui dia. Orang yang berbuat salah asalkan mau mengaku terus terang padanya, maka dia akan gembira mengira orang tidak berani berdusta padanya."

Makin omong makin bangga dia, setelah terbahak-bahak lebih keras, lalu berkata pula.

"Terhadap titik kelemahannya itulah ku turun tangan dan ternyata dapat ku jebak dengan baik."

"Lantas apa tujuanmu dengan berbuat demikian? Apakah karena kau ingin membalas dendam lantaran kau dihukum ulat menggeragoti badanmu?"

Tanya Lui-ji pula. Siang Ji-long menyeringai, katanya, Budak cilik, terlalu banyak kau bertanya."

Lui-ji tertawa, ucapnya pula dengan tertawa.

"Seumpama kemudian kau dapat naik tahta sebagai Kaucu, mungkin orang lain juga takkan takluk padamu."

Mendadak sorot mata Siang Ji-long yang tajam itu menyapu pandang sekejap ke arah para sutenya, lalu mendengus.

"Kalian takluk padaku tidak!"

Serentak beberapa orang itu menyembah di atas tanah dan menjawab dengan suara gemetar.

"Siaute takluk lahir batin!"

"Bagus, kalian ikut padaku, kelak kalian tentu akan mendapat pahala yang pantas,"

Kata Siang Ji-long dengan tertawa.

"Sebelum ini, meski orang Kangouw sama jeri terhadap Thian can kau kita, tapi diam-diam mereka sama bilang Kau kita adalah agama jahat, tapi selanjutnya nama Thian can kau pasti akan berdiri sejajar dengan Bu-tong pay dan Siau lim pay, Kau kita akan menjadi suatu aliran besar yang diagungkan di Bu-lim dan tak ada orang yang berani memandang hina lagi kepada kita."

"Hm, mungkin kau lagi mimpi,"

Jengek Lui ji tiba-tiba.

"Oo, kau tidak percaya?"

Tanya Siang Ji-long "Baik, akan ku beri waktu satu jam lebih banyak, biar kau saksikan apa yang terjadi."

Lui-ji tidak menanggapi lagi, tapi diam-diam bertambah heran, pikirnya.

"Dia ingin kusaksikan kejadian apa? Lewat satu jam lagi berdasarkan apa Thian can kau bisa mendadak berubah menjadi suatu aliran besar yang diagungkan?"

Dalam pada itu terdengar si Jerangkong hidup juga sedang menyembah dan berkata.

"Toasuheng maha bijaksana dan gagah perkasa, sudah lama juga Siaute bermaksud mendukung Toa-suheng sebagai Kaucu."

"Oo? Apa betul?"

Siang Ji-long menegas.

"Mana Siaute berani berdusta di hadapan Toa-suheng."

Jawab si jerangkong hidup. Siang Ji-long mendengus.

"Aku ini orang yang kejam dan buas, tidak menganggap kalian sebagai manusia, mengapa kau masih tetap hendak mendukung aku menjadi Kaucu? Apakah kau ini sakit ingatan?"

Seketika wajah si jerangkong hidup yang kelabu itu bertambah pucat, tapi setiap cuil kulit daging mukanya seolah-olah gemetar.

Siang Ji-long tidak memberi kesempatan bicara padanya dengan menyeringai ia menyambung pula.

"Ya, kau pasti mempunyai penyakit tertentu, atau mungkin kau ini sakit jiwa, kukira benakmu perlu direparasi."

Mendadak si jerangkong hidup membalik tubuh terus menerobos keluar gua.

Akan tetapi Siang Ji-long sudah memperhitungkan kemungkinan ini, begitu si jerangkong bergerak, segera ia mendahului menghadang di depannya sambil mengejek.

"Hm... kau ingin lari?"

"Tadi.....tadi Siaute sembarangan mengoceh seperti kentut anjing, mohon....mohon Toasuheng......"

Demikian si jerangkong menjadi ketakutan.

Namun dia masih berusaha mencari hidup sambil bicara mendadak berpuluh bintik perak terpancar dari kedua tangannya.

Padahal jarak kedua orang sedemikian dekatnya, bintik perak itu terpancar dengan cepat lagi mendadak, ia yakin Siang Ji-long sukar menghindar.

Siapa tahu antara dia dan Siang Ji-long serupa juga Siang Ji-long menghadapi Thian can kaucu, serangan mautnya dianggap seperti permainan anak kecil saja, dengan perlahan Siang Ji-long mengebaskan kipasnya, tahu-tahu berpuluh bintik perak itu menyambar ke arah si jerangkong sendiri.

Kontan dia menjerit dan roboh terjengkang menyusul lantas berguling-guling di tanah sambil menjerit dengan suara parau.

"Toa-suheng, mohon....mohon kau bunuh saja diriku, supaya.... ku mati dengan cepat!"

Jelas pada senjata rahasia itu terdapat racun yang maha lihay, begitu mengenai tubuh manusia akan menimbulkan rasa sakit yang lebih baik mati daripada hidup, maka dapat dibayangkan betapa tersiksanya si jerangkong.

Tapi sama sekali Siang Ji-long tidak menghiraukannya, ia berpaling ke arah para Sute yang lain dan membentak dengan bengis.

"selanjutnya barang siapa berani bersikap kurang sopan padaku, inilah contohnya!"

Di dalam gua itu seketika penuh diliputi suara keluhan dan rintihan yang membuat orang merinding.

Siang Ji-long mengerling sekelilingnya, tiba-tiba pandangannya berhenti pada wajah Gin-hoa-nio.

Seketika otot daging di wajah Gin hoa nio juga berkejang.

Sambil menggoyangkan kipasnya dengan pelahan.

Siang Ji-long mendekati Gin hoa nio, ucapnya dengan perlahan.

"Kejadian lima tahun yang lalu itu tentunya masih kau ingat dengan baik, bukan?"

Gin hoa nio mengangguk.

"Waktu itu kau tahu aku sedang berlatih di dalam gua di tepi sungai sana, tapi kau sengaja membuka baju di luar gua, bahkan memperagakan tubuhmu dengan macam-macam gaya merangsang untuk memikat diriku. Ketika aku tidak tahan dan menerjang keluar untuk mencarimu, tapi kau lantas menolak malah, bahkan mengadukan diriku di depan si tua bangka, katanya kuperkosa dirimu, sesungguhnya sebabnya kau sengaja membikin susah padaku?"

Saking emosi otot daging pada mukanya tampak ikut bergerak-gerak, dengan suara parau ia berteriak.

"Selama beberapa tahun ini senantiasa kupikirkan sebab apakah kau berbuat demikian padaku, tapi sukar kudapatkan jawabannya, dan baru sekarang ku tahu sebabnya kau berbuat begitu, hanya ingin membikin orang lain menjadi gila bagimu, menderita bagimu."

"Bu....bukan begitu maksudku, Toa-suheng."

Kaa Gin hoa nio.

"Habis apa maksud tujuanmu?"

Tanya Siang Ji-long.

"Seb.....sebenarnya sudah lama ku jatuh cinta padamu,"

Tutur Gin hoa nio.

"Waktu itu sebenarnya aku pun ingin dipeluk olehmu, tapi caramu terlalu kasar, terlalu buas, padahal waktu itu aku masih terlalu muda, melihat sikapmu itu aku menjadi takut."

Mendadak suaranya berubah menjadi penuh daya pikat, dada pun naik turun, dada yang montok itu tampaknya seakan-akan meledakkan bajunya yang singsat itu.

Siang Ji-long melototi dada orang, sinar matanya seperti api yang berkobar-kobar, ucapnya sambil menyeringai "Sekarang kau masih takut atau tidak?"

Gin hoa nio menggigit bibir dan menjawab.

"Sekarang aku..."

Dia tidak melanjutkan, sebab dia dapat bicara dengan matanya.

Tapi mendadak Siang Ji-long bergelak tertawa, ditengah tertawa latah itu mendadak ia menubruk maju, ditariknya baju Gin hoa nio hingga hancur seluruhnya dan tertampaklah badannya yang indah dan bernas.

Beberapa orang berseragam hitam itu sama melotot menyaksikan tubuh yang menggiurkan itu, meski tidak berani memandang terlalu lama, tidak jarang mereka main lirik lagi, semuanya bernapas terengah-engah seperti kerbau.

"Selama beberapa tahun ini senantiasa kuharapkan akan dapat melihat tubuhmu dalam keadaan telanjang bulat, ingin kulihat apakah tubuhmu berubah atau tidak,"

Demikian Siang Ji-long berteriak sambil tertawa latah. Gin hoa nio menghela nafas panjang-panjang sehingga dadanya semakin membusung dan perutnya mengecil, ucapnya dengan lirih.

"Kau lihat aku berubah atau tidak?"

"Tidak, kau tidak berubah,"

Gumam Siang Ji-long, sama sekali tidak berubah, tidak berubah..."

Satu kalimat itu diulanginya hingga beberapa kali, suaranya berubah rada gemetar mukanya berkerut-kerut dan butiran keringat menghiasi dahinya.

Melihat wajahnya yang beringas itu, Cu Lui ji merasa kuatir juga, dilihatnya sinar mata Siang Ji-long itu makin membara, seakan-akan sudah gila benar-benar.

Tapi Gin hoa nio tidak melihat apa pun, sebab sejak tadi dia sudah memejamkan matanya, ucapnya dengan suara memikat.

"Jika benar senantiasa kau pikirkan diriku, kenapa sekarang tidak kau...... Mendadak Siang Ji-long meraung satu kali, teriaknya dengan suara parau.

"Kau tidak berubah tapi...tapi aku sudah berubah!"

Sekonyong-konyong ia membuang kipasnya dan menubruk maju pula, tubuh Gin hoa nio dipukulnya, dicubit, digigi, dicakar, dan dijilatnya, napasnya ngos-ngosan, keadaannya mirip seekor anjing gila, Lelaki macam apa pun pernah dilihat Gin hoa nio, tapi tidak pernah melihat orang gila begini, keruan ia ketakutan dan menjerit.

"He, apa yang kau lakukan? Apa-apaan kau ini?"

Dengan napas terengah-engah Siang Ji-long berkata.

"Tahukah kau seorang lelaki akan berubah bagaimana setelah diganjar hukuman ulat menggeragoti badan? Ketahuilah, dia akan berubah menjadi bukan lelaki lagi. Dan karena gara-garamu sehingga aku bukan lagi seorang lelaki, maka aku pun akan membikin kau bukan lagi perempuan."

Gin hoa nio melenggong, tanyanya dengan terputus-putus.

"Masa....masa kau tidak...tidak dapat....."

"Ya, aku tidak dapat, aku tidak ......tidak mampu....tidak mampu lagi."

Demikian Siang Ji-long meraung kalap.

Kini sampai-sampai nenek reyot macam Oh-lolo juga tidak tega menyaksikan gerakan tangan Siang Ji-long itu.

Apa yang diperbuatnya sudah bukan lagi seorang lelaki, bahkan boleh dikatakan bukan perbuatan manusia, sebab kalau dia manusia tidak nanti melakukan perbuatan sadis semacam itu.

Terdengar Gin hoa nio merintih.

"O, kumohon...am..puni diriku, lebih...lebih baik kau bunuh saja diriku."

Semula dia masih memohon agar diampuni tapi akhirnya dia meminta agar lebih baik Siang ji-long membunuhnya saja, nyata penderitaannya sudah sukar untuk dibayangkan.

Namun Siang Ji long belum lagi berhenti ucapnya sambil menyeringai.

"Hm, kau ingin mati? Mana boleh semudah ini? Akan kubikin kau...."

Tubuh Gin hoa nio yang tadinya putih mulus itu kini sudah berlumuran darah, akhirnya ia tidak tahan dan jatuh pingsan.

Sekujur badan Siang Ji-long, mukanya dan tangannya juga berlepotan darah, gerak tangannya juga mulai lambat dan akhirnya berhenti, napsunya yang terengah-engah lambat laun juga mereda.

Kedua matanya yang merah membara tadi mendadak berubah menjadi buram seperti ikan mati.

sekujur badan serasa kehabisan tenaga, ia berdiri mematung tanpa bergerak sedikitpun.

Nyata napsu birahinya yang gila tadi akhirnya telah mendapatkan pelampiasan.

Didalam gua itu menjadi sunyi senyap, hening seperti kuburan.

Tiba-tiba di luar gua bergema pula detak kaki binatang tunggangan, tapi sekali ini Siang Jilong tidak lagi membentak dan bertanya, air mukanya yang menyerupai orang mati itu berbalik menampilkan rasa girang, agaknya sejak tadi dia sedang menantikan kedatangan seseorang, dan sekarang, orang yang di tunggu-tunggu itu telah tiba.

Diam-diam Lui-ji membatin.

"Jangan-jangan sudah lama dia berkomplot dengan orang luar, makanya berani bertindak terhadap Thian can kaucu. Tadi dia suruh aku menunggu lagi barang satu jam, apakah maksudnya akan menunggu kedatangan orang ini? Tapi siapakah gerangan orang yang datang ini? siapa pula yang bisa berkomplot dengan Siang Ji-liong yang menyerupai binatang buas dan gila ini? Mau tak mau Lui-ji menjadi tegang, ia tahu sekarang sudah tiba pula saat yang menentukan mati dan hidupnya, kalau tidak mencari akal untuk bertindak, bilamana orang ini sudah datang, maka baginya hanya ada satu jalan saja, yaitu mati. Akan tetapi berada dalam cengkeraman orang gila semacam ini apa pula yang dapat dilakukannya? Berada di tempat begini tentunya juga takkan datang orang yang akan menolong mereka. Lalu, apakah mereka harus pasrah nasib dan mati di tangan orang gila ini? Suara detak kaki kuda di luar semakin dekat, sekonyong-konyong seekor kuda berlari masuk secepat terbang, pelana kuda ini tampak mengkilat, seekor kuda yang bagus dan gagah. Penunggangnya seorang lelaki kekar juga berbaju mentereng walaupun wajahnya tidaklah menarik.

"Apakah kau kenal orang ini?"

Tanya Lui ji kepada Oh-lolo dengan suara bisik-bisik.

"Tidak,"

Jawab si nenek.

"Tampaknya tokoh Bu-lim kelas tinggi tidak banyak yang kau kenal,"

Ujar Lui-ji.

"Kalau orang inipun tokoh Bulim kelas tinggi biarlah nenek mencungkil mataku sendiri."

Kata Oh-lolo.

"Hidungmu sudah hilang, kalau matamu dicungkil lagi, kan tambah buruk?"

Ujar Lui-ji.

Meski dimulut ia berucap begitu, tapi sesungguhnya ia pun percaya pendatang ini memang bukan tokoh Bu-lim segala, kepandaiannya menunggang kuda tampaknya lumayan, tapi matanya tidak bersinar.

Dari gerakannya waktu turun dari kudanya juga dapat diukur ilmu silatnya pasti tidak tinggi.

Namun begitu air muka Siang Ji-long tetap kelihatan bergirang, sama sekali tidak terasa kecewa akan kedatangan orang.

Apakah memang orang inilah yang ditunggunya?

Masa orang ini dapat diandalkan untuk menjunjung nama Thian can kau sehingga diagungkan di dunia persilatan?

Tapi apapun juga, yang jelas orang yang di tunggu-tunggu Siang Ji-long kini sudah datang, jiwa Cu Lui-ji bertiga sudah terancam, betapapun mereka harus cepat mencari akal.

Terlihat orang berbaju mentereng itu memberi hormat kepada Siang Ji-long setelah melompat turun dari kudanya, katanya.

"Numpang tanya adakah di sini seorang Siang Ji-long?"

"Aku inilah Siang Ji-long, sudah lama kutunggu kedatanganmu,"

Jawab Ji long. Orang itu seperti merasa lega karena dapat menemukan orang yang dicari ucapnya pula dengan tertawa.

"Hamba ditugaskan kemari untuk....."

Belum lanjut ucapannya, secepat kilat tangan Siang Ji-long sudah bekerja, seperti pisau saja ujung jarinya sudah menusuk tenggorokan orang itu.

Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 7

Baca Juga: Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert